AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)
الفَوَائِدُ
Pengarang:
Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d Syamsuddin Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat 751 H)
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Berkata Syekh Muhyiddin As-Sunnah, penumpas bid’ah, Abu Abdullah yang terkenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.
Kaidah Mulia: Jika Engkau Ingin Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an, Kumpulkanlah Hatimu Ketika Membaca dan Mendengarkannya
Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an, maka kumpulkanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya. Pasanglah pendengaranmu dan hadirkanlah dirimu sebagai orang yang sedang diajak bicara oleh Dzat Yang berbicara dengannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Dia sedang berbicara dariNya kepadamu melalui lisan RasulNya.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.” (Qaf: 37)
Hal ini karena sempurnanya pengaruh bergantung pada: sebab yang berpengaruh, tempat yang menerima, syarat terjadinya pengaruh, dan tidak adanya penghalang yang mencegahnya. Ayat ini mencakup penjelasan semua itu dengan lafal yang paling ringkas, paling jelas, dan paling menunjukkan pada maksud yang dimaksud.
FirmanNya “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan” – ini menunjuk pada apa yang telah disebutkan dari awal surat hingga tempat ini, dan inilah sebab yang berpengaruh.
FirmanNya “bagi orang yang mempunyai hati” – inilah tempat yang menerima. Yang dimaksud dengan hati di sini adalah hati yang hidup yang dapat memahami dari Allah, sebagaimana firmanNya: “Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan dan kitab yang memberi penjelasan, untuk memperingatkan orang yang hidup” (Yasin: 69-70), yaitu orang yang hidup hatinya.
FirmanNya “atau yang menggunakan pendengarannya” – yaitu mengarahkan pendengarannya dan memfokuskan indera pendengarannya kepada apa yang dikatakan kepadanya. Ini adalah syarat terpengaruh oleh perkataan.
FirmanNya “sedang dia menyaksikan” – yaitu hati yang menyaksikan, hadir, tidak ghaib. Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan kitab Allah sedang hati dan pemahaman hadir, tidak lalai dan tidak lengah.” Ini menunjukkan pada penghalang terjadinya pengaruh, yaitu lalainya hati dan ketidakhadirannya dari memahami apa yang dikatakan kepadanya, tidak memperhatikan dan merenungkannya.
Jika telah ada sebab yang berpengaruh yaitu Al-Qur’an, tempat yang menerima yaitu hati yang hidup, syarat terpenuhi yaitu mendengarkan dengan seksama, dan penghalang tidak ada yaitu kesibukan hati dan kelalaiannya dari makna pembicaraan serta berpaling darinya kepada hal lain, maka terjadilah pengaruh yaitu mengambil manfaat dan mengingat.
Jika ditanya: “Jika pengaruh hanya sempurna dengan keseluruhan hal ini, mengapa masuk huruf ‘atau’ dalam firmanNya ‘atau yang menggunakan pendengarannya’ padahal tempatnya adalah waw (dan) yang menunjukkan kumpulan, bukan ‘atau’ yang menunjukkan salah satu dari dua hal?”
Jawabannya: Ini pertanyaan yang bagus. Jawabannya adalah bahwa pembicaraan keluar dengan ‘atau’ dengan mempertimbangkan keadaan orang yang diajak bicara dan yang didakwahi.
Sesungguhnya di antara manusia ada yang hatinya hidup, sadar, sempurna fitrahnya. Jika dia berpikir dengan hatinya dan berkelana dengan pikirannya, hati dan akalnya menunjukkannya pada kebenaran Al-Qur’an dan bahwa itu adalah kebenaran. Hatinya menyaksikan apa yang diberitakan Al-Qur’an, maka kedatangan Al-Qur’an pada hatinya adalah cahaya di atas cahaya fitrah.
Ini adalah sifat orang-orang yang disebutkan dalam firmanNya: “Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah kebenaran” (Saba’: 6).
Dan Allah berfirman tentang mereka: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang dia kehendaki” (An-Nur: 35).
Ini adalah cahaya fitrah di atas cahaya wahyu, dan ini adalah keadaan pemilik hati yang hidup dan sadar.
Ibnu Qayyim berkata: “Kami telah menyebutkan apa yang terkandung dalam ayat ini dari rahasia-rahasia dan pelajaran dalam kitab ‘Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwi Al-Mu’aththilah wa Al-Jahmiyyah’.”
Pemilik hati menggabungkan antara hatinya dengan makna-makna Al-Qur’an, maka dia mendapatinya seakan-akan telah tertulis di dalamnya. Dia membacanya dari hati (hafalan).
Di antara manusia ada yang tidak sempurna kesiapannya, tidak sadar hatinya, dan tidak sempurna kehidupannya. Dia membutuhkan saksi yang membedakan untuknya antara hak dan batil. Kehidupan hatinya, cahayanya, dan kesucian fitrahnya belum mencapai tingkat pemilik hati yang hidup dan sadar.
Jalan memperoleh hidayahnya adalah dengan mengosongkan pendengarannya untuk perkataan dan hatinya untuk merenungkannya, memikirkannya, dan memahami maknanya. Maka dia mengetahui saat itu bahwa itu adalah kebenaran.
Yang pertama adalah keadaan orang yang melihat dengan matanya apa yang didakwahkan kepadanya dan diberitakan kepadanya. Yang kedua adalah keadaan orang yang mengetahui kejujuran pemberi berita dan meyakininya, lalu berkata: “Cukup bagiku beritanya.” Dia berada di maqam iman, sedangkan yang pertama di maqam ihsan.
Yang ini telah sampai pada ilmu yakin dan hatinya naik darinya ke tingkat ‘ain al-yaqin (mata kepastian). Yang itu bersamanya pembenaran yang pasti yang dengannya dia keluar dari kekufuran dan masuk ke dalam Islam.
‘Ain al-yaqin ada dua jenis: jenis di dunia dan jenis di akhirat. Yang diperoleh di dunia nisbahnya pada hati seperti nisbah yang disaksikan pada mata. Apa yang diberitakan para Rasul tentang yang ghaib disaksikan di akhirat dengan penglihatan dan di dunia dengan bashirah (mata hati). Itu adalah ‘ain al-yaqin pada dua tingkatan.
Pasal: Surat Ini Telah Mengumpulkan Pokok-Pokok Iman
Surat ini telah mengumpulkan dari pokok-pokok iman apa yang mencukupi, menyembuhkan, dan menjadikan tidak butuh pada pembicaraan ahli kalam dan rasional ahli rasional. Sesungguhnya surat ini mencakup penetapan asal mula dan hari akhir, tauhid, kenabian, iman kepada malaikat, terbaginya manusia menjadi yang binasa dan celaka serta yang menang dan bahagia, sifat-sifat mereka dan mereka, dan mencakup penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah serta mensucikanNya dari apa yang bertentangan dengan kesempurnaanNya berupa kekurangan dan cacat.
Disebutkan di dalamnya dua kebangkitan: kecil dan besar, dua alam: yang besar yaitu alam akhirat dan yang kecil yaitu alam dunia. Disebutkan di dalamnya penciptaan manusia, kematiannya, pengembaliannya, keadaannya ketika mati, hari kembalinya, dan meliputi Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya dari segala sisi, bahkan ilmuNya tentang bisikan jiwanya, penempatan malaikat penjaga atasnya yang menghitung setiap kata yang diucapkannya, dan bahwa dia akan datang pada hari kiamat bersamanya penggiringan yang menggiringnya kepada Allah dan saksi yang bersaksi atasnya.
Ketika yang menggiring menghadirkannya, dia berkata: “Inilah yang ada padaku dengan siap sedia” (Qaf: 23), yaitu inilah yang Engkau perintahkan untuk kuhadirkan telah kuhadirkan. Maka dikatakan ketika menghadirkannya: “Lemparkanlah ke dalam neraka Jahannam setiap orang yang sangat kafir dan keras kepala” (Qaf: 24), sebagaimana penjahat dihadirkan ke hadapan penguasa lalu dikatakan: “Ini si fulan telah kuhadirkan.” Maka dia berkata: “Pergilah dengannya ke penjara dan hukumlah dia dengan apa yang pantas diterimanya.”
Perhatikanlah bagaimana surat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengembalikan jasad ini dengan zatnya yang telah taat dan bermaksiat, lalu Dia memberikan kenikmatan dan menyiksanya, sebagaimana Dia memberikan kenikmatan pada ruh yang beriman dengan zatnya dan menyiksa yang kafir dengan zatnya, bukan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan ruh lain selain ruh ini lalu memberikan kenikmatan dan menyiksanya, sebagaimana dikatakan oleh orang yang tidak mengenal hari akhir yang diberitakan para Rasul.
Mereka mengira bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan badan selain badan ini dari segala sisi yang padanya terjadi kenikmatan dan siksaan. Ruh menurut mereka adalah hal yang melekat pada badan, maka Dia menciptakan ruh selain ruh ini dan badan selain badan ini. Ini berbeda dengan apa yang disepakati para Rasul dan ditunjukkan Al-Qur’an, Sunnah, dan seluruh kitab Allah Ta’ala.
Ini pada hakikatnya adalah pengingkaran terhadap hari akhir dan pembenaran terhadap perkataan orang yang mengingkarinya dari para pendusta. Sesungguhnya mereka tidak mengingkari kemampuan Allah untuk menciptakan jasad-jasad lain selain jasad-jasad ini untuk disiksa dan diberi kenikmatan. Bagaimana mungkin, padahal mereka menyaksikan jenis manusia diciptakan sesuatu demi sesuatu, setiap waktu Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jasad-jasad dan ruh-ruh selain jasad-jasad yang telah punah. Bagaimana mereka heran terhadap sesuatu yang mereka saksikan secara nyata?
Sesungguhnya mereka heran dari kembalinya mereka dengan zat mereka setelah kemusnahan memisah-misahkan mereka dan mereka menjadi tulang belulang dan debu. Mereka heran bahwa mereka dengan zat mereka akan dibangkitkan untuk pembalasan. Karena itulah mereka berkata: “Apakah bila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?” (As-Saffat: 16). Dan mereka berkata: “Itu adalah suatu pengembalian yang mustahil” (Qaf: 3).
Seandainya pembalasan hanya untuk jasad-jasad selain jasad ini, itu bukan kebangkitan dan bukan pengembalian, tetapi permulaan. Dan tidak ada arti besar bagi firmanNya: “Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka” (Qaf: 4). Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ini jawaban untuk pertanyaan yang diperkirakan, yaitu bahwa Dia membedakan bagian-bagian yang telah bercampur dengan bumi dan berubah menjadi unsur-unsur sehingga tidak dapat dibedakan.
Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengetahui apa yang dikurangi bumi dari daging, tulang, dan rambut mereka, dan bahwa sebagaimana Dia mengetahui bagian-bagian itu, Dia mampu mengumpulkannya setelah berpisah dan menyusunnya menjadi ciptaan baru.
Dia Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hari akhir dengan menyebutkan kesempurnaan ilmuNya, kesempurnaan kuasaNya, dan kesempurnaan hikmahNya. Sesungguhnya keraguan para pengingkarnya semuanya kembali kepada tiga jenis:
Pertama: Bercampurnya bagian-bagian mereka dengan bagian-bagian bumi sehingga tidak dapat dibedakan dan tidak dapat dibedakan antara satu orang dengan orang lain.
Kedua: Bahwa kekuasaan tidak terkait dengan hal itu.
Ketiga: Bahwa itu adalah perkara yang tidak ada faedahnya, atau sesungguhnya hikmah menghendaki kelangsungan jenis manusia ini sesuatu demi sesuatu seperti ini selamanya. Setiap kali satu generasi mati, diganti dengan generasi lain. Adapun mematikan seluruh jenis manusia kemudian menghidupkannya setelah itu, tidak ada hikmah dalam hal itu.
Maka datanglah dalil-dalil hari akhir dalam Al-Qur’an berdasarkan tiga pokok:
Pertama: Penetapan kesempurnaan ilmu Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya dalam menjawab orang yang berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” – “Katakanlah: ‘Yang akan menghidupkannya ialah Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk'” (Yasin: 78-79).
Dan firmanNya: “Dan sesungguhnya hari berbangkit itu akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui” (Al-Hijr: 85-86).
Dan firmanNya: “Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka” (Qaf: 4).
Kedua: Penetapan kesempurnaan kuasaNya, seperti firmanNya: “Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu?” (Yasin: 81).
Dan firmanNya: “Bahkan Kami berkuasa menyusun (kembali) ujung jarinya” (Al-Qiyamah: 4).
Dan firmanNya: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya Dia menghidupkan orang mati dan sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Hajj: 6).
Dia Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan kedua perkara itu sebagaimana dalam firmanNya: “Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, dan Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui” (Yasin: 81).
Ketiga: Kesempurnaan hikmahNya, seperti firmanNya: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (Al-Anbiya: 16).
Dan firmanNya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia” (Shad: 27).
Dan firmanNya: “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al-Qiyamah: 36).
Dan firmanNya: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya” (Al-Mu’minun: 115-116).
Dan firmanNya: “Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, sama antara hidup dan matinya? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu” (Al-Jatsiyah: 21).
Dan karena itulah pendapat yang benar adalah bahwa hari akhir diketahui dengan akal bersama dengan syariat, dan bahwa kesempurnaan Tuhan Yang Maha Tinggi serta kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menghendaki dan mewajibkannya, dan bahwa Dia Maha Suci dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang mengingkarinya, sebagaimana kesempurnaan-Nya disucikan dari segala cacat dan kekurangan.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa orang-orang yang mengingkari hal tersebut, ketika mereka mendustakan kebenaran, maka urusan mereka menjadi kacau. “Maka mereka berada dalam keadaan yang bercampur aduk” (Surat Qaf: 5) – bercampur aduk sehingga mereka tidak memperoleh sesuatu pun darinya.
Kemudian Allah mengajak mereka untuk memperhatikan alam atas dengan bangunannya, ketinggiannya, kesempurnaannya, keindahannya, dan keterpaduannya. Kemudian kepada alam bawah yaitu bumi, dan bagaimana Dia meratakan dan mempersiapkannya dengan perataan untuk apa yang dikehendaki darinya, memantapkannya dengan gunung-gunung, menyimpan manfaat-manfaat di dalamnya, dan menumbuhkan di dalamnya dari setiap jenis yang indah dari jenis-jenis tumbuhan dengan berbagai bentuk, warna, ukuran, manfaat, dan sifatnya.
Dan bahwa hal itu merupakan pelajaran bagi hamba yang bertobat jika dia merenungkannya dan mengambil pelajaran darinya, dia akan mengingat apa yang ditunjukkan olehnya dari apa yang diberitahukan oleh para rasul tentang tauhid dan hari akhir. Maka orang yang memperhatikannya akan memperoleh pandangan yang jernih terlebih dahulu, kemudian mengingat kedua kalinya. Dan bahwa hal ini tidak terjadi kecuali bagi hamba yang bertobat kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya.
Kemudian Allah mengajak mereka untuk merenung tentang bahan rezeki, makanan, pakaian, kendaraan, dan surga mereka, yaitu air yang diturunkan-Nya dari langit dan diberkahi-Nya sehingga menumbuhkan dengannya taman-taman dengan buah-buahan dan buah-buahan yang berbeda, antara yang putih, hitam, merah, dan kuning, manis dan asam, dan di antara keduanya, dengan perbedaan sumber dan keragaman jenisnya.
Dan Dia menumbuhkan dengannya semua biji-bijian dengan keragamannya, perbedaan manfaat, sifat, bentuk, dan ukurannya. Kemudian Dia mengkhususkan pohon kurma karena di dalamnya terdapat tempat pelajaran dan petunjuk yang tidak tersembunyi bagi orang yang merenungkan. Dan Dia menghidupkan bumi dengannya setelah matinya.
Kemudian Allah berfirman: “Demikianlah kebangkitan” (Surat Qaf: 11) – yaitu seperti pengeluaran ini dari bumi berupa buah-buahan, buah-buahan, makanan, dan biji-bijian, demikianlah keluarnya kalian dari bumi setelah kalian dikuburkan di dalamnya.
Dan kami telah menyebutkan qiyas ini dan contoh-contoh serupa dari qiyas-qiyas yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam kitab kami “Al-Ma’alim” dan menjelaskan sebagian rahasia dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Kemudian Allah Subhanahu beralih untuk menetapkan kenabian dengan penetapan yang paling baik, lafal yang paling ringkas, dan paling jauh dari segala syubhat dan keraguan. Maka Dia memberitahukan bahwa Dia telah mengutus kepada kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan kaum Fir’aun para rasul, namun mereka mendustakan mereka. Maka Allah membinasakan mereka dengan berbagai jenis kebinasaan dan membenarkan ancaman-Nya yang dijanjikan kepada mereka melalui rasul-rasul-Nya jika mereka tidak beriman.
Dan ini adalah penetapan bagi kenabian mereka dan kenabian orang yang memberitahukan tentang mereka tanpa mempelajari hal itu dari seorang guru dan tidak membacanya dalam kitab, tetapi memberitahukan hal itu secara terperinci yang sesuai dengan apa yang ada pada Ahli Kitab.
Tidak ada yang dapat menolak hal ini kecuali pertanyaan yang mengingkari dan membantah dengan menolak hal-hal yang darurat, bahwa tidak ada sesuatu pun dari hal itu atau bahwa peristiwa-peristiwa zaman dan bencana-bencana menimpa mereka sebagaimana menimpa yang lain. Dan orang yang mengajukan pertanyaan ini mengetahui dari dirinya sendiri bahwa dia adalah pembantah yang mengingkari apa yang disaksikan oleh mata kepala dan disampaikan dari generasi ke generasi. Maka pengingkarannya seperti mengingkari keberadaan raja-raja, ulama, dan negeri-negeri yang terkenal.
Kemudian Allah Subhanahu kembali kepada penetapan hari akhir dengan firman-Nya: “Maka apakah Kami merasa lemah dengan penciptaan yang pertama?” (Surat Qaf: 15). Dikatakan kepada setiap orang yang tidak mampu melakukan sesuatu: “dia lemah terhadapnya” dan “si fulan lemah terhadap perkara ini”. Penyair berkata:
“Mereka menjadi lemah dengan urusan mereka sebagaimana merpati menjadi lemah dengan telurnya”
Dan dari sini firman Allah Ta’ala: “dan Dia tidak lemah dalam menciptakan mereka” (Surat Al-Ahqaf: 33). Ibnu Abbas berkata: artinya “apakah Kami tidak mampu”. Demikian juga yang dikatakan Muqatil.
Aku berkata: ini adalah tafsir dengan konsekuensi lafal, dan hakikatnya lebih umum dari itu. Sebab orang Arab berkata: “membuatku lemah untuk mengetahui begini” dan “aku lemah terhadapnya” jika tidak mendapat petunjuk untuk arahnya dan tidak mampu mengetahui dan mencapainya. Maka mereka berkata: “obatmu membuatku lemah” jika tidak mendapat petunjuk dan tidak mengetahuinya. Dan konsekuensi makna ini adalah ketidakmampuan terhadapnya.
Dan syair yang mereka jadikan dalil adalah saksi untuk makna ini. Sebab merpati tidak lemah terhadap telurnya, tetapi dia bingung ketika hendak bertelur di mana dia akan meletakkan telur itu. Maka dia berputar-putar dan berkeliling hingga meletakkannya. Jika dia sudah bertelur, dia bingung di mana menyimpan dan menitipkannya agar tidak diambil. Maka dia memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain dan bingung di mana menjadikan tempat penetapannya, sebagaimana keadaan orang yang bingung dengan urusannya sehingga tidak tahu dari mana menghadapinya dan dari mana mendatanginya.
Dan yang dimaksud dengan kelemahan dalam ayat ini bukanlah kelelahan sebagaimana disangka oleh orang yang tidak mengetahui tafsir Al-Qur’an, bahkan makna inilah yang dinafikan Allah Subhanahu dari diri-Nya di akhir surat dengan firman-Nya: “dan Kami tidak merasa lelah sedikit pun” (Surat Qaf: 38).
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa mereka “dalam keraguan tentang penciptaan yang baru” (Surat Qaf: 15) – yaitu bahwa mereka bingung tentang mengembalikan makhluk sebagai ciptaan yang baru.
Kemudian Allah mengingatkan mereka kepada apa yang merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang paling besar, bukti-bukti ketuhanan-Nya, dan dalil-dalil hari akhir, yaitu penciptaan manusia. Sesungguhnya itu adalah dalil yang paling besar tentang tauhid dan hari akhir. Dalil apa yang lebih jelas dari susunan sosok manusia ini dengan anggota-anggota, kekuatan-kekuatan, dan sifat-sifatnya, dan apa yang ada padanya dari daging, tulang, urat, saraf, pengikat, lubang-lubang, alat-alat, ilmu-ilmu, kehendak-kehendak, dan keahlian-keahlian, semua itu dari setetes air mani.
Seandainya hamba itu berlaku adil kepada Tuhannya, niscaya dia akan merasa cukup dengan pikirannya tentang dirinya sendiri dan mengambil dalil dari keberadaannya tentang semua yang diberitahukan oleh para rasul tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan tentang meliputi ilmu-Nya terhadapnya hingga Dia mengetahui bisikan-bisikan jiwanya. Kemudian Dia memberitahukan tentang kedekatan-Nya kepadanya dengan ilmu dan meliputi, dan bahwa hal itu lebih dekat kepadanya daripada urat leher yang ada di dalam badannya. Maka Dia lebih dekat kepadanya dengan kekuasaan atas dirinya dan ilmu tentang dirinya daripada urat itu.
Dan guru kami berkata: yang dimaksud dengan perkataan “Kami” yaitu malaikat-malaikat Kami, sebagaimana firman-Nya: “Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya itu” (Surat Al-Qiyamah: 18) – yaitu apabila rasul Kami Jibril telah membacakannya kepadamu. Dia berkata: dan yang menunjukkan hal itu adalah firman-Nya: “ketika dua malaikat mencatat” (Surat Qaf: 17). Maka Dia mengikat kedekatan yang disebutkan dengan pencatatan kedua malaikat. Seandainya yang dimaksud dengannya adalah kedekatan zat, niscaya tidak diikat dengan waktu pencatatan kedua malaikat. Maka tidak ada dalam surat ini untuk golongan hulul dan tidak pula untuk golongan mu’aththil.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa di sebelah kanan dan kirinya ada dua malaikat yang mencatat perbuatan-perbuatan dan perkataannya. Dan Dia mengingatkan dengan menghitung perkataan-perkataan dan penulisannya kepada penulisan perbuatan-perbuatan yang lebih sedikit terjadinya dan lebih besar pengaruhnya daripada perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan itu adalah tujuan dan akhir dari perkataan-perkataan.
Kemudian Allah memberitahukan tentang kiamat kecil, yaitu sakaratul maut, dan bahwa ia datang dengan kebenaran, yaitu pertemuan dengan-Nya Subhanahu, kedatangan kepada-Nya, pemaparan ruh kepada-Nya, dan pahala serta siksa yang disegerakan baginya sebelum kiamat besar.
Kemudian Dia menyebutkan kiamat besar dengan firman: “Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari ancaman” (Surat Qaf: 20).
Kemudian Allah memberitahukan tentang keadaan makhluk pada hari itu dan bahwa setiap orang datang kepada Allah Subhanahu pada hari itu dengan ditemani seorang penghalau yang menghalau dan seorang saksi yang bersaksi atasnya. Dan ini selain kesaksian anggota-anggota tubuhnya, selain kesaksian bumi yang dia berada di atasnya, selain kesaksian rasulnya dan orang-orang beriman.
Sesungguhnya Allah Subhanahu meminta kesaksian atas hamba dari para malaikat penjaga, para nabi, tempat-tempat yang mereka kerjakan kebaikan dan keburukan di atasnya, dan kulit-kulit yang mereka gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Dan Dia tidak memutuskan di antara mereka hanya dengan ilmu-Nya, dan Dia adalah Yang Maha Adil di antara yang adil dan Yang Maha Bijaksana di antara yang bijaksana.
Dan karena itulah Allah memberitahukan kepada nabi-Nya bahwa dia memutuskan di antara manusia dengan apa yang didengarnya dari pengakuan mereka dan kesaksian saksi-saksi, bukan hanya dengan ilmu-Nya. Maka bagaimana pantas bagi seorang hakim untuk memutuskan hanya dengan ilmunya tanpa saksi dan tanpa pengakuan.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa manusia dalam keadaan lalai dari urusan ini yang sepatutnya dia tidak lalai darinya dan sepatutnya dia selalu mengingat dan memikirkannya. Dan Dia berfirman: “dalam keadaan lalai dari ini” (Surat Qaf: 22) dan tidak berfirman “tentang ini” sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam keraguan yang meragukan tentang itu” (Surat Hud: 110) dan tidak berfirman “dalam keraguan padanya”.
Dan hal ini datang dalam masdar meskipun tidak datang dalam fi’il. Maka tidak dikatakan “aku lalai darinya” dan tidak “aku ragu darinya” seakan-akan kelalaian dan keraguannya bermula darinya, maka dia adalah awal kelalaian dan keraguannya. Dan ini lebih balig daripada jika dikatakan “dalam keadaan lalai tentang itu” dan “ragu padanya”. Karena Dia menjadikan apa yang sepatutnya menjadi awal peringatan dan keyakinan serta sumbernya menjadi awal kelalaian dan keraguan.
Kemudian Allah memberitahukan bahwa penutup kelalaian dan kealpaan akan disingkap darinya pada hari itu sebagaimana penutup tidur disingkap dari hati sehingga terbangun dan dari mata sehingga terbuka. Maka perbandingan penyingkapan penutup ini dari hamba ketika melihat seperti perbandingan penyingkapan penutup tidur darinya ketika terbangun.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa temannya – yaitu yang dipasangkan dengannya di dunia dari kalangan malaikat yang menulis amal dan perkataannya – berkata ketika dia dihadirkan: “Ini yang telah aku diperintahkan untuk mengurusnya di dunia, telah aku hadirkan dan aku datangkan kepadamu”. Ini adalah perkataan Mujahid.
Dan Ibnu Qutaibah berkata: maknanya adalah “ini yang telah aku tulis atasnya dan aku hitung dari perkataan dan perbuatannya hadir di sisiku”.
Dan yang benar adalah bahwa ayat itu mencakup kedua perkara, yaitu “ini orangnya yang telah aku diperintahkan untuk mengurusnya dan ini amalnya yang telah aku hitung atasnya”. Maka saat itulah dikatakan: “Lemparkanlah ke dalam neraka Jahannam” (Surat Qaf: 24).
Dan ini adalah perintah kepada penghalau dan saksi, atau perintah kepada malaikat yang ditugaskan untuk menyiksanya meskipun dia satu, dan ini adalah mazhab yang dikenal dari mazhab-mazhab orang Arab dalam pembicaraan mereka, atau alif berubah dari nun ta’kid khafifah kemudian dijalankan washal seperti waqaf.
Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat orang yang dilemparkan ini. Maka Dia menyebutkan untuknya enam sifat:
Pertama: bahwa dia adalah kaffar (sangat kufur) terhadap nikmat-nikmat Allah dan hak-hak-Nya, kaffar terhadap agama-Nya dan tauhid-Nya serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kaffar terhadap rasul-rasul dan malaikat-malaikat-Nya, kaffar terhadap kitab-kitab-Nya dan pertemuan dengan-Nya.
Kedua: bahwa dia menentang kebenaran dengan menolaknya secara ingkar dan keras kepala.
Ketiga: bahwa dia mencegah kebaikan. Dan ini mencakup pencegahannya terhadap kebaikan yang merupakan berbuat baik kepada dirinya sendiri dari ketaatan dan kedekatan kepada Allah, dan kebaikan yang merupakan berbuat baik kepada manusia. Maka tidak ada kebaikan padanya untuk dirinya sendiri dan tidak pula untuk sesama jenisnya, sebagaimana keadaan kebanyakan makhluk.
Keempat: bahwa dia dengan pencegahan kebaikannya juga melampaui batas terhadap manusia, sangat zhalim dan kasar, melampaui batas terhadap mereka dengan tangan dan lisannya.
Kelima: bahwa dia miriib (penuh keraguan) yaitu pemilik keraguan dan keraguan, dan dengan ini dia datang untuk setiap perbuatan yang meragukan. Dikatakan “si fulan miriib” jika dia adalah pemilik perbuatan yang meragukan.
Keenam: bahwa dia dengan itu semua adalah musyrik kepada Allah, telah mengambil bersama Allah tuhan yang lain yang dia sembah, cintai, marah untuknya, ridha untuknya, bersumpah dengan namanya, bernazar untuknya, berwalak karenanya, dan bermusuhan karenanya.
Maka dia dan temannya dari setan-setan bertengkar dan menyalahkan perkara kepadanya, dan bahwa dialah yang menyombongkan dan menyesatkannya. Maka temannya berkata: “Aku tidak mempunyai kekuatan untuk menyesatkan dan menyombongkannya, tetapi dia berada dalam kesesatan yang jauh yang dipilihnya untuk dirinya sendiri dan lebih mengutamakannya daripada kebenaran”, sebagaimana yang dikatakan Iblis kepada penghuni neraka: “Dan tidak ada kekuasaan bagiku atas kalian, melainkan aku hanya menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku” (Surat Ibrahim: 22).
Dan atas dasar ini, teman di sini adalah setannya, mereka bertengkar di sisi Allah.
Dan sekelompok orang berkata: bahkan temannya di sini adalah malaikat, maka dia mengklaim bahwa malaikat menambah-nambah atas dirinya dalam apa yang ditulisnya atasnya dan melampaui batas, dan bahwa dia tidak melakukan semua itu, dan bahwa malaikat terburu-buru dalam penulisan sehingga tidak memberi kesempatan untuk bertobat dan tidak memberi waktu hingga dia bertobat. Maka malaikat berkata: “Aku tidak menambah dalam penulisan atas apa yang dia kerjakan dan tidak membuatnya terburu-buru dari bertobat, tetapi dia berada dalam kesesatan yang jauh”.
Maka Tuhan Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian bertengkar di sisi-Ku” (Surat Qaf: 28).
Dan Allah Subhanahu telah memberitahukan tentang pertengkaran orang-orang kafir dan setan-setan di hadapan-Nya dalam Surat As-Shaffat dan Al-A’raf, dan memberitahukan tentang pertengkaran manusia di hadapan-Nya dalam Surat Az-Zumar, dan memberitahukan tentang pertengkaran penghuni neraka di dalamnya dalam Surat Asy-Syu’ara’ dan Surat Shad.
Kemudian Allah Subhanahu memberitahukan bahwa Dia tidak mengubah perkataan di sisi-Nya. Maka dikatakan yang dimaksud dengan itu adalah firman-Nya: “Sungguh akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia” (Surat As-Sajdah: 13).
Semua mereka dan janji-Nya untuk ahli iman dengan surga dan bahwa ini tidak berubah dan tidak diingkari. Ibnu Abbas berkata: maksudnya adalah seandainya janjinya diingkari untuk ahli taat-Nya dan tidak untuk ahli maksiat-Nya. Mujahid berkata: sungguh telah Aku tetapkan apa yang akan Aku tetapkan. Dan ini adalah pendapat yang paling benar dari dua pendapat dalam ayat ini. Dalam ayat ini terdapat pendapat lain bahwa maknanya adalah tidak berubah perkataan di sisi-Ku dengan dusta dan penipuan sebagaimana berubah di sisi raja-raja dan hakim-hakim. Maka yang dimaksud dengan perkataan adalah perkataan orang-orang yang bersengketa. Dan ini adalah pilihan Al-Farra dan Ibnu Qutaibah. Al-Farra berkata: maknanya adalah tidak berdusta di sisi-Ku karena pengetahuan-Ku tentang yang gaib. Dan Ibnu Qutaibah berkata: yaitu tidak diubah perkataan di sisi-Ku dan tidak ditambahi padanya dan tidak dikurangi darinya. Dia berkata: karena Dia berfirman “perkataan di sisi-Ku” dan tidak berfirman “perkataan-Ku”. Dan ini seperti dikatakan: tidak berdusta di sisi-Ku. Berdasarkan pendapat pertama, maka firman-Nya “Dan Aku sekali-kali bukanlah Penganiaya terhadap hamba-hamba” adalah bagian dari firman-Nya “Tidak berubah perkataan di sisi-Ku” dalam makna yaitu apa yang telah Kukatakan dan Kujanjikan pasti akan Kulakukan. Dan dengan ini, Dia adalah Maha Adil, tidak ada kezaliman di dalamnya dan tidak ada kecurangan. Berdasarkan pendapat kedua, Dia telah menyifati diri-Nya dengan dua perkara: pertama, bahwa kesempurnaan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya mencegah dari perubahan perkataan di hadapan-Nya dan meluluskan kebatilan atas-Nya. Dan kesempurnaan keadilan-Nya dan kecukupan-Nya mencegah dari menganiaya hamba-hamba-Nya.
Kemudian Dia mengabarkan tentang keluasan neraka Jahannam dan bahwa setiap kali dilemparkan ke dalamnya, ia berkata: “Apakah ada tambahan lagi?” Dan salah orang yang berkata bahwa itu untuk penafian yaitu tidak ada tambahan lagi. Dan hadis yang sahih menolak takwil ini. Kemudian Dia mengabarkan tentang mendekatkan surga kepada orang-orang yang bertakwa dan bahwa penghuninya adalah mereka yang bersifat dengan empat sifat ini:
Pertama: hendaknya ia menjadi awwab yaitu yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan-Nya kepada ketaatan-Nya dan dari kelalaian tentang-Nya kepada mengingat-Nya. Ubaid bin Umair berkata: awwab adalah yang mengingat dosa-dosanya kemudian meminta ampun darinya. Mujahid berkata: dia adalah yang apabila mengingat dosanya di tempat sunyi, meminta ampun darinya. Sa’id bin Al-Musayyib berkata: dia adalah yang berbuat dosa kemudian bertobat, kemudian berbuat dosa kemudian bertobat.
Kedua: hendaknya ia menjadi hafidz. Ibnu Abbas berkata: terhadap apa yang Allah amanatkan kepadanya dan diwajibkan-Nya. Qatadah berkata: menjaga apa yang Allah titipkan kepadanya dari hak-Nya dan nikmat-Nya. Karena jiwa memiliki dua kekuatan: kekuatan mencari dan kekuatan menahan, maka awwab menggunakan kekuatan mencari dalam kembalinya kepada Allah dan ridha-Nya dan ketaatan-Nya. Dan hafidz menggunakan kekuatan menjaga dalam menahan dari kemaksiatan-kemaksiatan-Nya dan larangan-larangan-Nya. Maka hafidz adalah yang menahan dirinya dari apa yang diharamkan atasnya, dan awwab adalah yang menghadap kepada Allah dengan ketaatan-Nya.
Ketiga: firman-Nya “yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah secara gaib” mencakup pengakuan terhadap wujud-Nya dan ketuhanan-Nya dan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya terhadap rincian keadaan hamba. Dan mencakup pengakuan terhadap kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya dan perintah-Nya dan larangan-Nya. Dan mencakup pengakuan terhadap janji-Nya dan ancaman-Nya dan perjumpaan dengan-Nya. Maka tidak sah takut kepada Ar-Rahman secara gaib kecuali setelah semua ini.
Keempat: firman-Nya “dan datang dengan hati yang bertaubat”. Ibnu Abbas berkata: kembali dari kemaksiatan Allah, menghadap kepada ketaatan Allah. Dan hakikat inabah adalah bertekunnya hati pada ketaatan Allah dan kecintaan-Nya dan menghadap kepada-Nya.
Kemudian Allah Yang Maha Suci menyebutkan balasan bagi yang memiliki sifat-sifat ini dengan firman-Nya: “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera. Itulah hari kekal. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada Kami ada tambahan.”
Kemudian Dia menakuti mereka agar tidak menimpa mereka kehancuran sebagaimana yang menimpa orang-orang sebelum mereka. Dan bahwa mereka lebih kuat cengkeramannya daripada mereka, dan tidak dapat menghindarkan kehancuran dari mereka kekuatan cengkeraman mereka. Dan mereka ketika kehancuran berkeliling dan mengelilingi negeri-negeri. Apakah mereka mendapat tempat lari dan keselamatan dari azab Allah? Qatadah berkata: musuh-musuh Allah berlari tapi mereka mendapati perintah Allah mengejar mereka. Az-Zajjaj berkata: mereka berkeliling dan mencari tapi tidak melihat tempat lari dari kematian. Hakikat itu adalah bahwa mereka mencari tempat lari dari kematian tapi tidak mendapatkannya.
Kemudian Allah Yang Maha Suci mengabarkan bahwa dalam apa yang disebutkan itu terdapat peringatan bagi siapa yang memiliki hati atau yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Kemudian Dia mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari dan tidak menyentuh-Nya keletihan dan kelemahan, untuk mendustakan musuh-musuh-Nya dari kalangan Yahudi ketika mereka berkata bahwa Dia beristirahat pada hari ketujuh.
Kemudian Dia memerintahkan nabi-Nya untuk meneladani-Nya Yang Maha Suci dalam bersabar atas apa yang dikatakan musuh-musuhnya tentangnya sebagaimana Dia Yang Maha Suci bersabar atas perkataan Yahudi bahwa Dia beristirahat. Dan tidak ada yang lebih sabar atas gangguan yang didengar-Nya daripada Dia. Kemudian Dia memerintahkannya dengan apa yang menolongnya dalam bersabar yaitu bertasbih dengan memuji Tuhannya sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya dan di malam hari dan di belakang sujud-sujud. Dikatakan: itu adalah witir. Dan dikatakan: dua rakaat setelah Maghrib. Yang pertama adalah pendapat Ibnu Abbas dan yang kedua adalah pendapat Umar dan Ali dan Abu Hurairah dan Al-Hasan bin Ali dan salah satu dari dua riwayat dari Ibnu Abbas. Dan dari Ibnu Abbas ada riwayat ketiga bahwa itu adalah tasbih dengan lisan di belakang salat-salat fardhu.
Kemudian Dia mengakhiri surat dengan menyebutkan hari kembali dan seruan penyeru dengan kembalinya ruh-ruh kepada jasad-jasadnya untuk dikumpulkan. Dan Dia mengabarkan bahwa seruan ini dari tempat yang dekat yang didengar setiap orang pada hari mereka mendengar teriakan dengan hak, dengan kebangkitan dan perjumpaan dengan Allah. Hari bumi terbelah dari mereka sebagaimana terbelah dari tumbuhan, maka mereka keluar dengan cepat tanpa kelambatan dan tanpa kelamban. Itu adalah pengumpulan yang mudah bagi-Nya Yang Maha Suci.
Kemudian Allah Yang Maha Suci mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang dikatakan musuh-musuh-Nya. Dan itu mencakup pembalasan-Nya kepada mereka dengan perkataan mereka karena tidak tersembunyi bagi-Nya. Dan Dia Yang Maha Suci menyebutkan ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya untuk merealisasikan pembalasan. Kemudian Dia mengabarkannya bahwa dia tidak berkuasa atas mereka dan tidak memaksa dan tidak diutus untuk memaksa mereka masuk Islam dan memaksa mereka kepadanya. Dan Dia memerintahkannya untuk mengingatkan dengan kalam-Nya siapa yang takut ancaman-Nya. Maka dialah yang mendapat manfaat dari peringatan. Adapun yang tidak beriman kepada perjumpaan dengan-Nya dan tidak takut ancaman-Nya dan tidak mengharap pahala-Nya, maka tidak mendapat manfaat dari peringatan.
Faidah:
Perkataan Nabi kepada Umar: “Dan apa yang membuatmu tahu bahwa Allah melihat ahli Badar lalu berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian'” membingungkan banyak orang maknanya. Karena zhahirnya adalah membolehkan semua amal bagi mereka dan memberi pilihan kepada mereka dalam apa yang mereka kehendaki darinya. Dan itu tidak mungkin.
Maka berkata segolongan dari mereka Ibnu Al-Jawzi: bukan maksud dari sabdanya “berbuatlah” untuk masa depan, melainkan untuk masa lalu. Dan takdirnya: amal apa pun yang kalian lakukan, sesungguhnya telah Aku ampuni. Dia berkata: Dan menunjukkan hal itu dua perkara. Pertama: seandainya untuk masa depan, maka jawabannya adalah sabdanya “maka Aku akan mengampuni kalian”. Kedua: bahwa itu akan menjadi keluasan dalam dosa-dosa dan tidak ada wajah untuk itu. Dan hakikat jawaban ini adalah: sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian dengan perang ini apa yang telah lalu dari dosa-dosa kalian.
Tetapi itu lemah dari dua segi. Pertama: bahwa lafaz “berbuatlah” menolaknya karena ia untuk masa depan bukan masa lalu. Dan sabdanya “sesungguhnya telah Aku ampuni kalian” tidak mewajibkan bahwa “berbuatlah” sepertinya. Karena sabdanya “sesungguhnya telah Aku ampuni” adalah tahkik terjadinya ampunan di masa depan seperti firman-Nya “Telah datang perintah Allah” dan “Datang Tuhanmu” dan yang sejenisnya. Kedua: bahwa hadis itu sendiri menolaknya. Karena sebabnya adalah kisah Hatib dan mata-matanya terhadap Nabi. Dan itu adalah dosa yang terjadi setelah perang Badar bukan sebelumnya. Dan itu adalah sebab hadis maka ia dimaksud darinya secara pasti.
Yang kami duga dalam hal itu – dan Allah lebih mengetahui – bahwa ini adalah khitab untuk kaum yang telah Allah ketahui bahwa mereka tidak akan berpisah dari agama mereka, bahkan akan mati dalam Islam. Dan bahwa mereka mungkin melakukan sebagian dari apa yang dilakukan orang lain dari dosa-dosa, tetapi Dia Yang Maha Suci tidak akan membiarkan mereka menetap padanya, bahkan akan memberi taufik kepada mereka untuk taubat nasuha dan istighfar dan kebaikan-kebaikan yang menghapus bekas itu. Dan mengkhususkan mereka dengan ini tanpa yang lain karena hal itu telah terealisasi pada mereka dan bahwa mereka diampuni. Dan itu tidak menghalangi bahwa ampunan terjadi dengan sebab-sebab yang berdiri pada mereka sebagaimana tidak mengharuskan bahwa mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dengan berharap pada ampunan. Seandainya telah terjadi tanpa terus melakukan perintah-perintah, mereka tidak akan membutuhkan setelah itu kepada salat dan puasa dan haji dan zakat dan jihad. Dan ini mustahil. Dan di antara kewajiban yang paling wajib adalah taubat setelah dosa. Maka jaminan ampunan tidak mewajibkan meninggalkan sebab-sebab ampunan.
Seperti ini adalah sabdanya dalam hadis yang lain: “Seorang hamba berbuat dosa lalu berkata: ‘Ya Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.’ Maka Dia mengampuninya. Kemudian dia tinggal sekehendak Allah untuk tinggal, kemudian berbuat dosa lain lalu berkata: ‘Ya Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.’ Maka Dia mengampuninya. Kemudian dia tinggal sekehendak Allah untuk tinggal, kemudian berbuat dosa lain lalu berkata: ‘Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.’ Maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukumnya. Sesungguhnya telah Aku ampuni hamba-Ku, maka hendaklah dia berbuat apa yang dia kehendaki.'”
Tidak ada dalam ini keluasan dan izin dari-Nya Yang Maha Suci baginya dalam yang haram dan kejahatan. Dan hanya menunjukkan bahwa Dia akan mengampuninya selama dia tetap seperti itu: apabila berbuat dosa, bertaubat. Dan pengkhususan hamba ini dengan ini karena dia telah mengetahui bahwa dia tidak akan menetap pada dosa dan bahwa setiap kali berbuat dosa, dia bertaubat. Hukum yang meliputi setiap orang yang keadaannya seperti keadaannya. Tetapi hamba itu dipastikan baginya hal itu sebagaimana dipastikan bagi ahli Badar.
Demikian juga setiap orang yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah dengan surga atau diberitahu bahwa dia diampuni, tidak dipahami darinya dia dan tidak pula yang lain dari sahabat keluasan dosa dan kemaksiatan baginya dan kelonggaran dalam meninggalkan kewajiban-kewajiban. Bahkan mereka ini lebih keras dalam berijtihad dan berhati-hati dan takut setelah kabar gembira daripada mereka sebelumnya, seperti sepuluh yang dipersaksikan bagi mereka dengan surga. Dan Ash-Shiddiq sangat berhati-hati dan takut, demikian juga Umar. Maka mereka mengetahui bahwa kabar gembira yang mutlak dibatasi dengan syarat-syaratnya dan terus-menerus padanya sampai mati dan dibatasi dengan tidak adanya penghalang-penghalangnya. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang memahami dari itu keluasan dan izin dalam apa yang mereka kehendaki dari amal-amal.
Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Mulk ayat 15: “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan bumi itu mudah dan tunduk untuk diinjak, digali, dibelah, dan dibangun di atasnya. Dia tidak menjadikannya keras dan menolak bagi siapa yang menginginkan hal tersebut darinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikannya sebagai hamparan, permadani, karpet, tempat menetap, dan tempat berkumpul. Dia mengabarkan bahwa Dia meratakan dan menghamparkannya, mengeluarkan darinya air dan tumbuhannya, meneguhkannya dengan gunung-gunung, membuat di dalamnya jalan-jalan dan lorong-lorong, mengalirkan di dalamnya sungai-sungai dan mata air, memberkahinya, dan menentukan di dalamnya makanan-makanannya.
Di antara berkah bumi adalah bahwa semua hewan beserta rezeki dan makanan mereka keluar darinya. Di antara berkahnya adalah bahwa engkau menitipkan benih kepadanya, lalu ia mengeluarkannya untukmu berlipat ganda dari yang semula. Di antara berkahnya adalah bahwa ia menanggung kotoran di punggungnya dan mengeluarkan untukmu dari perutnya hal-hal yang paling baik dan paling bermanfaat. Ia menyembunyikan segala yang buruk dan mengeluarkan segala yang indah.
Di antara berkahnya adalah bahwa ia menutupi aib-aib hamba dan kotoran tubuhnya, menyembunyikannya, memeluknya, melindunginya, dan mengeluarkan untuknya makanan dan minumannya. Ia adalah sesuatu yang paling sabar menanggung kotoran dan paling banyak memberikan manfaat. Tidak ada yang terbuat dari tanah yang lebih baik darinya, lebih jauh dari kotoran, dan lebih dekat kepada kebaikan.
Yang dimaksud adalah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan bumi bagi kita seperti unta yang jinak yang bagaimanapun ia digiring akan tunduk. Indahnya ungkapan “manaakibihaa” (pundak-pundaknya) untuk menyebut jalan-jalan dan lorong-lorongnya, sesuai dengan penggambaran sebelumnya bahwa ia jinak. Orang yang berjalan di atasnya menginjak pundak-pundaknya, yaitu bagian yang tertinggi darinya. Karena itulah manaakib ditafsirkan dengan gunung-gunung, seperti pundak manusia yang merupakan bagian tertingginya.
Para ulama berkata: “Hal itu menunjukkan bahwa berjalan di dataran rendahnya lebih mudah.” Segolongan ulama berkata: “Manaakib adalah sisi-sisi dan sudut-sudut, seperti pundak manusia untuk sisi-sisinya.” Yang tampak adalah bahwa yang dimaksud dengan manaakib adalah bagian-bagian yang tinggi. Permukaan yang dijalani hewan adalah bagian yang tinggi dari bumi, bukan permukaan yang berhadapan dengannya. Karena permukaan bola adalah bagian tertingginya, dan berjalan hanya terjadi di permukaannya. Indahnya ungkapan “manaakib” sesuai dengan penggambaran sebelumnya bahwa ia jinak.
Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk memakan rezeki-Nya yang Dia titipkan di dalamnya. Dia menjinakkannya untuk mereka, melapangkannya, membuka di dalamnya jalan-jalan dan lorong-lorong yang mereka lalui, dan menitipkan rezeki mereka di dalamnya. Dia menyebut penyiapan tempat tinggal untuk dimanfaatkan dan berkeliling di dalamnya dengan pergi dan datang, serta memakan apa yang Dia titipkan di dalamnya untuk penghuninya.
Kemudian Dia mengingatkan dengan firman-Nya “wa ilaihi an-nusyuur” (dan hanya kepada-Nya kamu dibangkitkan) bahwa kita di tempat tinggal ini bukanlah penduduk tetap dan bukan pula penghuni permanen, melainkan kita memasukinya sebagai musafir yang sedang dalam perjalanan. Maka tidak pantas kita menjadikannya sebagai kampung halaman dan tempat tinggal tetap. Kita memasukinya hanya untuk berbekal darinya menuju negeri yang kekal. Ia adalah tempat persinggahan perjalanan, bukan tempat tinggal kegembiraan; tempat perlintasan dan jalan lewat, bukan kampung halaman dan tempat menetap.
Ayat ini mencakup petunjuk tentang rububiyyah-Nya, keesaan-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, kelembutan-Nya, pengingatan terhadap nikmat-nikmat-Nya dan kebaikan-Nya, peringatan dari condong kepada dunia dan menjadikannya sebagai kampung halaman dan tempat menetap. Sebaliknya, kita harus mempercepat perjalanan di dalamnya menuju rumah-Nya dan surga-Nya.
Maha Suci Allah dengan apa yang tercakup dalam ayat ini berupa ma’rifat kepada-Nya, tauhid kepada-Nya, pengingatan terhadap nikmat-nikmat-Nya, dorongan untuk berjalan menuju-Nya, persiapan untuk bertemu dengan-Nya dan datang kepada-Nya, pemberitahuan bahwa Dia Subhanahu Wa Ta’ala akan melipat dunia ini seakan-akan tidak pernah ada, dan bahwa Dia akan menghidupkan penduduknya setelah mematikan mereka, dan kepada-Nya kebangkitan.
Manusia memiliki dua kekuatan: kekuatan ilmiah-teoretis dan kekuatan praktis-iradat. Kebahagiaan sempurnanya bergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ilmiah-iradatnya.
Penyempurnaan kekuatan ilmiah hanya dapat terjadi dengan mengenal Pencipta dan Pembentuknya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengenal jalan yang menghantarkan kepada-Nya, mengenal bahaya-bahayanya, mengenal dirinya sendiri, dan mengenal cacat-cacatnya. Dengan lima pengenalan ini, kesempurnaan kekuatan ilmiahnya tercapai. Orang yang paling berilmu adalah yang paling mengenal hal-hal tersebut dan paling memahaminya.
Penyempurnaan kekuatan praktis-iradat tidak dapat dicapai kecuali dengan memelihara hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas hamba dan menunaikannya dengan ikhlas, kejujuran, nasehat, ihsan, mengikuti (sunnah), dan menyaksikan karunia-Nya kepadanya serta kelalaiannya sendiri dalam menunaikan hak Allah. Maka ia malu menghadap-Nya dengan pelayanan tersebut karena mengetahui bahwa itu masih di bawah apa yang seharusnya bagi Allah, jauh di bawah itu.
Ia tidak memiliki jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan-Nya. Maka ia terpaksa memohon agar Allah membimbingnya ke jalan yang lurus yang telah Dia tunjukkan kepada wali-wali dan orang-orang khusus-Nya, dan agar Allah menghindarkannya dari keluar dari jalan tersebut, baik karena kerusakan dalam kekuatan ilmiahnya sehingga jatuh dalam kesesatan, maupun dalam kekuatan praktisnya sehingga mendatangkan murka.
Kesempurnaan manusia dan kebahagiaannya tidak akan sempurna kecuali dengan kumpulan semua perkara ini. Surat Al-Fatihah telah mencakup dan mengaturnya dengan pengaturan yang paling sempurna.
Firman Allah dalam Surat Al-Fatihah ayat 2-4: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan.”
Ayat ini mencakup asas pertama, yaitu mengenal Rabb Ta’ala, mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Nama-nama yang disebutkan dalam surat ini adalah pokok-pokok Asmaul Husna, yaitu nama Allah, Ar-Rabb, dan Ar-Rahman. Nama Allah mencakup sifat-sifat uluhiyyah, nama Ar-Rabb mencakup rububiyyah, dan nama Ar-Rahman mencakup sifat-sifat ihsan, kemurahan, dan kebaikan. Makna nama-nama-Nya berputar pada hal ini.
Firman-Nya dalam Surat Al-Fatihah ayat 5: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
Ayat ini mencakup pengenalan terhadap jalan yang menghantarkan kepada-Nya, yaitu tidak lain kecuali menyembah-Nya saja dengan apa yang Dia cintai dan ridhai, serta meminta pertolongan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.
Firman-Nya dalam Surat Al-Fatihah ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Ayat ini mencakup penjelasan bahwa hamba tidak memiliki jalan menuju kebahagiaannya kecuali dengan istiqamah di atas jalan yang lurus, dan ia tidak memiliki jalan untuk istiqamah kecuali dengan hidayah Rabbnya kepadanya. Sebagaimana ia tidak memiliki jalan untuk beribadah kepada-Nya tanpa pertolongan-Nya, maka ia tidak memiliki jalan untuk istiqamah di atas jalan lurus kecuali dengan hidayah-Nya.
Firman-Nya dalam Surat Al-Fatihah ayat 7: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Ayat ini mencakup penjelasan tentang dua ujung penyimpangan dari jalan yang lurus. Penyimpangan ke salah satu ujung adalah penyimpangan kepada kesesatan yang merupakan kerusakan ilmu dan keyakinan. Penyimpangan ke ujung yang lain adalah penyimpangan kepada murka yang sebabnya adalah kerusakan tujuan dan amal.
Awal surat adalah rahmat, tengahnya adalah hidayah, dan akhirnya adalah nikmat. Bagian hamba dari nikmat sesuai dengan bagiannya dari hidayah, dan bagiannya dari hidayah sesuai dengan bagiannya dari rahmat. Maka seluruh perkara kembali kepada nikmat dan rahmat-Nya.
Nikmat dan rahmat adalah konsekuensi dari rububiyyah-Nya. Maka Dia tidak akan tidak menjadi Maha Penyayang dan Pemberi nikmat. Hal itu adalah konsekuensi dari uluhiyyah-Nya. Maka Dia adalah Ilah yang hak, meskipun orang-orang yang mengingkari mengingkari-Nya dan orang-orang musyrik menyekutukan-Nya.
Barangsiapa yang merealisasikan makna-makna Al-Fatihah dalam ilmu, ma’rifat, amal, dan keadaan, maka ia telah meraih bagian yang paling banyak dari kesempurnaannya. Penghambaan dirinya menjadi penghambaan orang-orang khusus yang derajat mereka terangkat dari kebanyakan orang yang beribadah. Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.
Rabb Ta’ala mengajak hamba-hamba-Nya dalam Al-Quran untuk mengenal-Nya melalui dua jalan. Pertama: memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya. Kedua: merenungkan ayat-ayat-Nya dan mentadabburi-nya. Yang pertama adalah ayat-ayat-Nya yang disaksikan, dan yang kedua adalah ayat-ayat-Nya yang didengar dan dipahami.
Jenis pertama seperti firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 164: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia…” dan seterusnya.
Dan firman-Nya dalam Surat Ali Imran ayat 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Hal ini banyak dalam Al-Quran.
Yang kedua seperti firman-Nya dalam Surat An-Nisa ayat 82: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran?”
Dan firman-Nya dalam Surat Al-Mu’minun ayat 68: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Al-Quran)?”
Dan firman-Nya dalam Surat Shad ayat 29: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya.”
Hal ini juga banyak dalam Al-Quran.
Adapun ciptaan-ciptaan, maka ia menunjukkan kepada perbuatan-perbuatan, dan perbuatan-perbuatan menunjukkan kepada sifat-sifat. Karena yang diciptakan menunjukkan kepada yang menciptakan perbuatannya. Hal itu mengharuskan wujud-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan ilmu-Nya, karena mustahil keluarnya perbuatan ikhtiyari dari yang tidak ada, atau dari yang ada tetapi tidak memiliki kekuasaan, kehidupan, ilmu, dan iradat.
Kemudian apa yang ada pada ciptaan-ciptaan berupa berbagai kekhususan menunjukkan kepada iradat Sang Pencipta dan bahwa perbuatan-Nya bukan karena tabiat yang mengharuskan perbuatan itu satu dan tidak berulang. Apa yang ada padanya berupa kemaslahatan, hikmah, dan tujuan-tujuan yang terpuji menunjukkan kepada hikmah-Nya Ta’ala. Apa yang ada padanya berupa manfaat, ihsan, dan kebaikan menunjukkan kepada rahmat-Nya. Apa yang ada padanya berupa hantaman, pembalasan, dan hukuman menunjukkan kepada murka-Nya. Apa yang ada padanya berupa pemuliaan, pendekatian, dan perhatian menunjukkan kepada kecintaan-Nya. Apa yang ada padanya berupa penghinaan, penjauhan, dan pengabaian menunjukkan kepada kebencian dan kemurkaan-Nya.
Apa yang ada padanya berupa permulaan sesuatu dalam keadaan sangat kurang dan lemah kemudian dikembangkan menuju kesempurnaan dan puncaknya menunjukkan kepada terjadinya hari akhir. Apa yang ada padanya berupa keadaan tumbuhan, hewan, dan perputaran air adalah dalil kemungkinan hari akhir. Apa yang ada padanya berupa munculnya bekas-bekas rahmat dan nikmat pada ciptaan-Nya adalah dalil kebenaran kenabian. Apa yang ada padanya berupa kesempurnaan-kesempurnaan yang seandainya tidak ada maka ia akan menjadi kurang adalah dalil bahwa Pemberi kesempurnaan-kesempurnaan tersebut lebih berhak memilikinya.
Maka ciptaan-ciptaan-Nya adalah sesuatu yang paling menunjukkan kepada sifat-sifat-Nya dan kebenaran apa yang diberitakan oleh rasul-rasul-Nya tentang-Nya. Ciptaan-ciptaan itu bersaksi membenarkan ayat-ayat yang didengar dan mengingatkan untuk ber-istidlal dengan ayat-ayat yang diciptakan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Fusshilat ayat 53: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.”
Maksudnya bahwa Al-Quran itu benar. Allah mengabarkan bahwa Dia pasti akan memperlihatkan kepada mereka dari ayat-ayat-Nya yang disaksikan apa yang menjelaskan kepada mereka bahwa ayat-ayat-Nya yang dibacakan itu benar. Kemudian Dia mengabarkan kecukupan kesaksian-Nya terhadap kebenaran berita-Nya dengan apa yang Dia tegakkan berupa dalil-dalil dan bukti-bukti atas kebenaran rasul-Nya.
Maka ayat-ayat-Nya bersaksi dengan kebenaran-Nya, dan Dia bersaksi dengan kebenaran rasul-Nya melalui ayat-ayat-Nya. Dia adalah saksi dan yang disaksikan untuk-Nya. Dia adalah dalil dan yang ditunjuki kepada-Nya. Maka Dia adalah dalil dengan diri-Nya sendiri atas diri-Nya sendiri, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ahli ma’rifat: “Bagaimana aku mencari dalil tentang Dzat yang Dia adalah dalil atas segala sesuatu? Dalil apa pun yang kamu cari tentang-Nya, maka kamu akan mendapati-Nya lebih jelas daripada dalil itu.”
Karena itulah para rasul berkata kepada kaum mereka dalam Surat Ibrahim ayat 10: “Apakah tentang Allah masih ada keraguan?”
Maka Dia lebih dikenal dari setiap yang dikenal dan lebih jelas dari setiap dalil. Segala sesuatu dikenal melalui-Nya dalam hakikat, meskipun Dia dikenal melalui-nya dalam pandangan dan istidlal dengan perbuatan-perbuatan dan hukum-hukum-Nya kepada-Nya.
Manfaat dari Musnad dan Shahih Abu Hatim dari Hadits Abdullah bin Mas’ud
Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba tertimpa kesedihan dan kegelisahan, lalu dia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari budak perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu, adil padaku ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang dengannya Engkau menamai diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai musim semi hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku, dan penghilang kegelisahan serta kegundahanku’, kecuali Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kegundahannya serta menggantinya dengan kegembiraan.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya, sepatutnya siapa saja yang mendengarnya mempelajarinya.”
Hadits agung ini mengandung beberapa perkara tentang ma’rifah (pengenalan terhadap Allah), tauhid, dan penghambaan (ubudiyyah), di antaranya:
Pengakuan Sebagai Hamba
Orang yang berdoa memulai permohonannya dengan ucapan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari budak perempuan-Mu.” Ini mencakup siapa saja yang berada di atasnya dari bapak-bapak dan ibu-ibunya hingga kedua orang tua pertama, Adam dan Hawa. Dalam hal ini terdapat kerendahan hati di hadapan-Nya, penyerahan diri di hadapan-Nya, dan pengakuan bahwa dia adalah milik-Nya dan nenek moyangnya adalah milik-Nya. Bahwa seorang hamba tidak memiliki apa pun selain pintu tuannya, karunia-Nya, dan kebaikan-Nya. Jika tuannya mengabaikan dan meninggalkannya, maka dia akan binasa dan tidak ada yang akan menolongnya, tidak ada yang akan mengasihaninya, bahkan dia akan tersesat dengan kesesatan yang sangat besar.
Di bawah pengakuan ini terkandung: “Aku tidak bisa hidup tanpa-Mu walau sekejap mata pun, dan tidak ada bagiku tempat berlindung dan berteduh selain tuan yang aku adalah hambanya.” Dalam pengakuan ini juga terkandung bahwa dia adalah makhluk yang dipelihara, diatur, diperintah, dilarang, yang hanya bertindak berdasarkan hukum penghambaan, bukan berdasarkan hukum pilihan untuk dirinya sendiri. Ini bukanlah urusan seorang hamba, melainkan urusan para raja dan orang-orang merdeka. Adapun para hamba, maka mereka dikenal dengan penghambaan murni.
Mereka inilah hamba-hamba ketaatan yang dinisbahkan kepada-Nya Yang Maha Suci dalam firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka” (Al-Hijr: 42), dan firman-Nya: “Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati” (Al-Furqan: 63).
Adapun selain mereka adalah hamba-hamba kepemilikan dan ketuhanan, maka penisbahan mereka kepada-Nya seperti penisbahan rumah-rumah lainnya kepada kepemilikan-Nya. Sedangkan penisbahan mereka (para hamba ketaatan) seperti penisbahan Baitul Haram kepada-Nya, penisbahan unta-Nya kepada-Nya, rumah-Nya yang merupakan surga kepada-Nya, dan penisbahan penghambaan Rasul-Nya kepada-Nya dalam firman-Nya: “Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami” (Al-Baqarah: 23), “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam” (Al-Isra’: 1), “Dan bahwasanya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya” (Al-Jin: 19).
Makna Hakiki Penghambaan
Dalam merealisasikan makna “sesungguhnya aku adalah hamba-Mu” terkandung komitmen terhadap penghambaan kepada-Nya berupa kehinaan, kepatuhan, taubat, melaksanakan perintah tuannya, menjauhi larangan-Nya, selalu membutuhkan kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan tidak menggantungkan hatinya kepada selain-Nya dalam cinta, takut, dan harap.
Dalam hal ini juga terkandung bahwa aku adalah hamba dari segala segi, kecil dan besar, hidup dan mati, taat dan durhaka, sehat dan sakit, dengan ruh, hati, lisan, dan anggota badan. Juga terkandung di dalamnya bahwa harta dan diriku adalah milik-Mu, karena hamba dan apa yang dimilikinya adalah untuk tuannya. Juga terkandung di dalamnya bahwa Engkaulah yang telah menganugerahkan kepadaku segala nikmat yang aku berada di dalamnya, maka semua itu adalah dari pemberian-Mu kepada hamba-Mu.
Ubun-ubun di Tangan Allah
Kemudian dia berkata: “Ubun-ubunku berada di tangan-Mu”, artinya Engkaulah yang mengendalikanku, mengurusku sebagaimana Engkau kehendaki. Bukanlah aku yang mengendalikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin dia memiliki kendali atas dirinya sendiri, padahal dirinya berada di tangan Tuhannya dan ubun-ubunnya di tangan-Nya, hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari-Nya, kematian dan kehidupannya, kebahagiaan dan kesengsaraannya, kesehatan dan cobaan semuanya kepada-Nya Yang Maha Suci. Tidak ada sedikit pun yang bergantung kepada hamba, bahkan dia berada dalam genggaman tuannya, lebih lemah dari budak yang lemah dan hina yang ubun-ubunnya berada di tangan penguasa yang berkuasa dan memilikinya, di bawah kendali dan kekuasaannya. Bahkan keadaannya melebihi dari itu.
Ketika seorang hamba menyaksikan bahwa ubun-ubunnya dan ubun-ubun semua hamba berada di tangan Allah semata, Dia mengendalikan mereka sebagaimana Dia kehendaki, maka setelah itu dia tidak akan takut kepada mereka, tidak akan mengharap mereka, dan tidak akan menempatkan mereka pada kedudukan pemilik, melainkan pada kedudukan hamba-hamba yang dikuasai dan dipelihara yang dikendalikan oleh selain mereka dan diatur oleh yang lain. Barang siapa menyaksikan dirinya dengan pemandangan ini, maka kefakirannya dan kebutuhannya kepada Tuhannya menjadi sifat yang melekat padanya. Dan ketika dia menyaksikan manusia seperti itu, dia tidak akan membutuhkan mereka dan tidak akan menggantungkan harapannya kepada mereka, maka lurus tauhidnya, tawakalnya, dan penghambaan dirinya.
Karena itulah Hud berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu sekalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (Hud: 56).
Keadilan dalam Ketetapan Allah
Ucapan “berlaku padaku hukum-Mu, adil padaku ketetapan-Mu” mengandung dua perkara: pertama, berlakunya hukum-Nya pada hamba-Nya; kedua, mengandung pujian kepada-Nya dan keadilan-Nya. Dia Yang Maha Suci memiliki kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Ini adalah makna perkataan Nabi-Nya Hud: “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya”, kemudian dia berkata: “Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”, artinya sekalipun Dia adalah Pemilik yang berkuasa lagi mengendalikan hamba-hamba-Nya dengan ubun-ubun mereka di tangan-Nya, namun Dia berada di atas jalan yang lurus, yaitu keadilan yang dengannya Dia mengendalikan mereka.
Dia berada di atas jalan yang lurus dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, ketetapan-Nya, takdir-Nya, perintah-Nya, larangan-Nya, pahala-Nya, dan hukuman-Nya. Berita-Nya semuanya benar, ketetapan-Nya semuanya adil, perintah-Nya semuanya mengandung kemaslahatan, dan apa yang Dia larang semuanya mengandung kerusakan. Pahala-Nya bagi yang berhak mendapat pahala adalah karena karunia dan rahmat-Nya, dan hukuman-Nya bagi yang berhak mendapat hukuman adalah karena keadilan dan hikmah-Nya.
Bertawassul dengan Nama-nama Allah
Ucapan “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama…” hingga akhir adalah bertawassul kepada-Nya dengan semua nama-nama-Nya, baik yang diketahui hamba maupun yang tidak diketahuinya. Ini adalah wasilah yang paling dicintai-Nya, karena ini adalah wasilah dengan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang merupakan makna dari nama-nama-Nya.
Al-Qur’an Sebagai Musim Semi Hati
Ucapan “agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai musim semi hatiku dan cahaya dadaku” – ar-rabi’ (musim semi) adalah hujan yang menghidupkan bumi. Al-Qur’an diumpamakan dengannya karena menghidupkan hati dengannya. Demikian pula Allah mengumpamakannya dengan hujan dan menggabungkan antara air yang dengannya terjadi kehidupan dan cahaya yang dengannya terjadi penerangan dan kecerahan, sebagaimana Dia menggabungkan keduanya dalam firman-Nya: “Dia menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang” (Ar-Ra’d: 17).
Dan dalam firman-Nya: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka” (Al-Baqarah: 17), kemudian Dia berfirman: “Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit” (Al-Baqarah: 19).
Dan dalam firman-Nya: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah” hingga ayat-ayat selanjutnya, kemudian Dia berfirman: “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya” (An-Nur: 43).
Doa ini mengandung agar Allah menghidupkan hatinya dengan musim semi Al-Qur’an dan menerangi dadanya dengannya, sehingga terkumpul baginya kehidupan dan cahaya. Allah berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Al-An’am: 122).
Menghilangkan Kesedihan dengan Al-Qur’an
Karena kesedihan, kegelisahan, dan kegundahan berlawanan dengan kehidupan hati dan pencerahan, maka dia memohon agar hilangnya hal-hal tersebut dengan Al-Qur’an, karena dengan demikian lebih tidak mungkin untuk kembali lagi. Adapun jika hilang dengan selain Al-Qur’an seperti kesehatan, dunia, kedudukan, istri, atau anak, maka akan kembali lagi ketika hal-hal tersebut hilang.
Keburukan yang menimpa hati, jika dari perkara yang telah lalu menimbulkan kesedihan, jika dari perkara yang akan datang menimbulkan kegelisahan, dan jika dari perkara yang sedang terjadi menimbulkan kegundahan.
Wallahu a’lam (Dan Allah lebih mengetahui).
Makhluk yang paling suci, paling jelas, paling bercahaya, paling mulia, dan paling tinggi dari segi zat dan kedudukannya, serta paling luas adalah Arsy Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih) – Maha Suci Dia. Oleh karena itu, Arsy layak untuk tempat bersemayam-Nya. Setiap yang lebih dekat kepada Arsy akan lebih bercahaya, lebih suci, dan lebih mulia daripada yang jauh darinya. Karena itulah Jannah Al-Firdaus menjadi surga yang paling tinggi, paling mulia, paling bercahaya, dan paling agung karena kedekatannya dengan Arsy, karena Arsy adalah atapnya. Dan setiap yang jauh darinya akan lebih gelap dan lebih sempit. Karena itulah tempat yang paling bawah (asfala safilin) adalah tempat yang paling buruk, paling sempit, dan paling jauh dari segala kebaikan.
Allah menciptakan hati-hati dan menjadikannya tempat untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan mengharapkan-Nya. Maka hati adalah arsy bagi sifat-sifat yang paling tinggi, yaitu mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan mengharapkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, bagi mereka sifat yang buruk; dan bagi Allah sifat yang paling tinggi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nahl: 60).
Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan yang demikian itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang paling tinggi di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ar-Rum: 27).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11). Ini termasuk dari sifat yang paling tinggi, dan Dia bersemayam di atas hati orang mukmin, maka hati itu adalah arsy-Nya.
Jika hati tidak menjadi yang paling suci, paling bersih, paling baik, dan paling jauh dari segala kotoran dan keburukan, maka tidak layak untuk tempat bersemayamnya sifat-sifat yang paling tinggi berupa pengenalan, kecintaan, dan harapan. Maka yang bersemayam di atasnya adalah sifat-sifat dunia yang rendah, kecintaan kepadanya, mengharapkannya, dan keterikatan dengannya. Akibatnya hati menjadi sempit, gelap, dan jauh dari kesempurnaan serta keberhasilannya.
Hingga akhirnya hati-hati terbagi menjadi dua jenis:
- Hati yang menjadi arsy Ar-Rahman: Di dalamnya terdapat cahaya, kehidupan, kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan, dan simpanan-simpanan kebaikan.
- Hati yang menjadi arsy syaitan: Di sana terdapat kesempitan, kegelapan, kematian, kesedihan, kedukaan, dan kekhawatiran. Pemiliknya bersedih atas masa lalu, khawatir terhadap masa depan, dan tertekan dalam keadaan sekarang.
Telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Apabila cahaya masuk ke dalam hati, maka hati itu melapang dan lapang.” Para sahabat bertanya: “Apa tanda-tandanya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kembali kepada negeri yang kekal (akhirat), menjauh dari negeri yang menipu (dunia), dan bersiap-siap untuk kematian sebelum datangnya.”
Cahaya yang masuk ke dalam hati tidak lain adalah pengaruh dari sifat-sifat yang paling tinggi. Oleh karena itu hati menjadi lapang dan lega. Sedangkan jika di dalam hati tidak ada pengenalan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya, maka bagiannya adalah kegelapan dan kesempitan.
Penerimaan suatu tempat terhadap apa yang ditempatkan di dalamnya disyaratkan dengan mengosongkannya dari lawannya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada zat-zat dan benda-benda, demikian pula halnya dengan keyakinan-keyakinan dan keinginan-keinginan.
Apabila hati dipenuhi dengan kebatilan dalam hal keyakinan dan kecintaan, maka tidak tersisa tempat di dalamnya untuk keyakinan yang benar dan kecintaan yang benar. Sebagaimana lidah, apabila sibuk berbicara dengan hal yang tidak bermanfaat, maka pemiliknya tidak dapat mengucapkan hal yang bermanfaat kecuali jika mengosongkan lidahnya dari mengucapkan kebatilan.
Demikian pula anggota tubuh, apabila sibuk dengan selain ketaatan, maka tidak mungkin menyibukkannya dengan ketaatan kecuali setelah mengosongkannya dari lawannya. Begitu juga hati yang sibuk dengan kecintaan kepada selain Allah, mengharapkannya, merindukan kepadanya, dan merasa tenteram dengannya, tidak mungkin disibukkan dengan kecintaan kepada Allah, mengharapkan-Nya, mencintai-Nya, dan merindukan untuk berjumpa dengan-Nya kecuali dengan mengosongkannya dari keterkaitan dengan selain-Nya.
Tidak mungkin ada gerakan lidah dengan zikir kepada-Nya dan anggota tubuh dengan mengabdi kepada-Nya kecuali setelah mengosongkannya dari zikir kepada selain-Nya dan mengabdi kepada selain-Nya.
Apabila hati dipenuhi dengan kesibukan kepada makhluk dan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, maka tidak tersisa tempat di dalamnya untuk sibuk dengan Allah, mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hukum-hukum-Nya.
Rahasia hal ini adalah bahwa perhatian hati seperti perhatian telinga. Apabila ia memperhatikan selain pembicaraan Allah, maka tidak tersisa di dalamnya perhatian dan pemahaman terhadap pembicaraan-Nya. Sebagaimana apabila hati condong kepada selain kecintaan Allah, maka tidak tersisa di dalamnya kecenderungan kepada kecintaan-Nya.
Apabila hati berkata dengan selain zikir-Nya, maka tidak tersisa di dalamnya tempat untuk berkata dengan zikir-Nya, seperti halnya lidah.
Oleh karena itu, dalam hadits shahih dari Nabi, beliau bersabda: “Sungguh, jika perut salah seorang di antara kalian dipenuhi dengan nanah sampai merusaknya, itu lebih baik baginya daripada dipenuhi dengan syair.”
Beliau menjelaskan bahwa perut bisa dipenuhi dengan syair. Demikian juga hati bisa dipenuhi dengan syubhat, keraguan, khayalan, perkiraan-perkiraan yang tidak ada wujudnya, ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, percakapan sia-sia, candaan, cerita-cerita, dan yang semacamnya.
Apabila hati dipenuhi dengan hal-hal tersebut, lalu datang kepadanya hakikat-hakikat Al-Quran dan ilmu yang dengannya ia mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan, maka tidak ditemukan kekosongan dan penerimaan di dalamnya. Maka hal itu melewatinya dan berpindah ke tempat yang lain, sebagaimana ketika nasihat diberikan kepada hati yang penuh dengan lawannya, tidak ada jalan masuk baginya. Maka hati itu tidak menerima nasihat dan nasihat tidak masuk ke dalamnya, tetapi hanya lewat begitu saja tanpa menetap.
Oleh karena itu dikatakan: “Sucikan hatimu dari selain kami, niscaya kau akan menemukan kami Karena tempat kami hanya cocok untuk orang yang menyucikan diri Dan sabar adalah jimat untuk harta hubungan dengan kami Siapa yang memecahkan jimat ini, ia akan beruntung dengan hartanya”
Dan kepada Allah-lah taufik diberikan.
Firman Allah Ta’ala: “Telah melalaikan kamu berbangga-banggaan (dengan harta dan anak)” hingga akhir surat. Surat ini khusus berisi janji, ancaman, dan peringatan. Dan cukuplah surat ini sebagai nasihat bagi orang yang memahaminya.
Firman Allah Ta’ala “Telah melalaikan kamu” artinya menyibukkan kalian dengan cara yang tidak bisa kalian berdalih padanya. Karena “ilaha” (melalaikan) dari sesuatu adalah sibuk darinya. Jika disengaja, maka itu adalah tempat taklif (pembebanan). Jika tidak disengaja, seperti sabda Nabi tentang kain bergaris: “Sesungguhnya kain itu telah melalaikan aku tadi dari shalatku”, maka pemiliknya dimaafkan. Dan itu adalah jenis kelupaan.
Dalam hadits: “Maka dia lupa dari anaknya”, artinya lengah darinya. Dan dikatakan “laha” dengan sesuatu, artinya sibuk dengannya. Dan “laha” darinya, artinya berpaling darinya.
“Lahw” (kelalaian) untuk hati, dan “la’ib” (permainan) untuk anggota tubuh. Oleh karena itu keduanya digabungkan. Maka firman “Telah melalaikan kamu berbangga-banggaan” lebih keras dalam celaan daripada “menyibukkan kalian”.
Karena orang yang bekerja mungkin menggunakan anggota tubuhnya untuk apa yang dia kerjakan, tetapi hatinya tidak lalai dengannya. Kelalaian adalah kelengahan dan keengganan.
“At-takatsur” (berbangga-banggaan) adalah bentuk “tafa’ul” dari kata “katsrah” (banyak), artinya saling membanggakan sebagian kalian kepada sebagian yang lain. Disebutkan secara umum tanpa menyebutkan apa yang dibanggakan untuk menunjukkan keumuman dan menyeluruh, bahwa segala sesuatu yang dibanggakan hamba kepada yang lain selain ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan apa yang kembali kepadanya dengan manfaat akhiratnya, maka itu termasuk dalam takatsur ini.
Takatsur dalam segala hal, baik harta, kedudukan, kepemimpinan, istri, pembicaraan, atau ilmu, terutama jika tidak membutuhkannya. Takatsur dalam buku-buku dan karangan tulis, banyaknya masalah dan memecah-mecahnya serta melahirkannya.
Takatsur adalah seseorang berusaha agar menjadi lebih banyak dari yang lain. Ini tercela kecuali dalam hal yang mendekatkan kepada Allah. Maka takatsur di dalamnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan dan berpacu kepadanya.
Dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Syakkhir bahwa dia sampai kepada Nabi dan beliau sedang membaca: “Telah melalaikan kamu berbangga-banggaan”. Beliau bersabda: “Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal tidak ada bagimu dari hartamu kecuali apa yang kamu sedekahkan lalu kamu laksanakan, atau kamu makan lalu kamu habiskan, atau kamu pakai lalu kamu usangkan.”
Barang siapa yang tidak mengambil manfaat dengan matanya, dia tidak akan mengambil manfaat dengan telinganya.
Bagi hamba ada hijab antara dia dan Allah, dan hijab antara dia dan manusia. Barang siapa yang merobek hijab yang antara dia dan Allah, maka Allah akan merobek hijab yang antara dia dan manusia.
Bagi hamba ada Tuhan yang akan ditemuinya dan rumah yang akan ditempatinya. Maka sebaiknya dia berusaha meraih ridha Tuhannya sebelum berjumpa dengan-Nya, dan memakmurkan rumahnya sebelum pindah kepadanya.
Menyia-nyiakan waktu lebih keras daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.
Dunia dari awal hingga akhir tidak sebanding dengan kesedihan satu jam, apalagi kesedihan seumur hidup.
Yang dicintai hari ini akan mengakibatkan yang dibenci besok, dan yang dibenci hari ini akan mengakibatkan yang dicintai besok.
Keuntungan terbesar di dunia adalah menyibukkan dirimu setiap waktu dengan apa yang lebih utama baginya dan lebih bermanfaat dalam akhiratnya.
Bagaimana bisa disebut berakal orang yang menjual surga dengan segala isinya karena syahwat sesaat?
Orang yang mengenal Allah keluar dari dunia dan belum puas dengan dua hal: menangisinya atas dirinya sendiri dan memuji Tuhannya.
Makhluk, jika kamu takut kepadanya, kamu akan merasa asing dan lari darinya. Tetapi Tuhan Ta’ala, jika kamu takut kepada-Nya, kamu akan merasa tenteram dengan-Nya dan dekat kepada-Nya.
Seandainya ilmu bermanfaat tanpa amal, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mencela ahli-ahli kitab dari Ahli Kitab. Dan seandainya amal bermanfaat tanpa keikhlasan, Dia tidak akan mencela orang-orang munafik.
Lawan bisikan (pikiran buruk), jika tidak kamu lawan akan menjadi pemikiran. Lawan pemikiran, jika tidak kamu lawan akan menjadi syahwat. Perangi syahwat, jika tidak kamu lawan akan menjadi tekad dan keinginan. Jika tidak kamu lawan akan menjadi perbuatan. Jika tidak kamu perbaiki dengan lawannya akan menjadi kebiasaan, sehingga sulit bagimu untuk berpindah darinya.
Takwa ada tiga tingkatan:
- Pertama: Melindungi hati dan anggota tubuh dari dosa dan yang haram
- Kedua: Melindunginya dari yang makruh
- Ketiga: Melindungi dari yang berlebihan dan yang tidak berguna
Yang pertama memberikan kehidupan kepada hamba, yang kedua memberikan kesehatan dan kekuatan, yang ketiga memberikan kegembiraan, kebahagiaan, dan keceriaan.
Kesamaran kebenaran ketika kamu membelanya Mengurangi penolong lawan yang benar Kamu tersesat dari yang teliti, padahal dia tegak Lalu kamu memutuskan untuk yang umum atas yang teliti
Dengan Allah aku capai apa yang aku usahakan dan aku raih Bukan karena ayahku dan tidak ada yang memberi syafaat untukku dari manusia Ketika aku putus asa dan hampir putus asa memutuskanku Datang harapan dengan tergesa-gesa dari sisi keputusasaan
Bagian Pertama: Tentang Takdir dan Ujian
Barangsiapa yang diciptakan Allah untuk surga, maka petunjuk-petunjuk untuknya senantiasa datang dari kesulitan-kesulitan. Dan barangsiapa yang diciptakan untuk neraka, maka petunjuk-petunjuknya senantiasa datang dari hawa nafsu.
Ketika Adam memohon keabadian di surga melalui pohon tersebut, dia dihukum dengan dikeluarkan darinya. Dan ketika Yusuf memohon keluar dari penjara melalui sahabat yang bermimpi, dia tetap tinggal di dalamnya beberapa tahun.
Apabila terjadi pada seorang hamba suatu takdir yang tidak disukainya, maka dia memiliki enam pandangan dalam menghadapinya:
Pertama: Pandangan tauhid, yaitu bahwa Allah-lah yang mentakdirkannya, menghendakinya, dan menciptakannya. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.
Kedua: Pandangan keadilan, yaitu bahwa hukum-Nya berlaku padanya dengan adil, dan keputusan-Nya adil.
Tercinta: Pandangan rahmat, yaitu bahwa rahmat-Nya dalam takdir ini mengalahkan murka dan pembalasan-Nya, dan rahmat adalah isinya.
Keempat: Pandangan hikmah, yaitu bahwa hikmah-Nya Yang Maha Suci menghendaki hal itu. Dia tidak mentakdirkannya dengan sia-sia dan tidak memutuskannya dengan main-main.
Kelima: Pandangan pujian, yaitu bahwa bagi-Nya segala pujian yang sempurna atas hal itu dari segala sisinya.
Keenam: Pandangan penghambaan, yaitu bahwa dia adalah hamba murni dari segala sisi, di mana hukum-hukum Tuhannya dan keputusan-keputusan-Nya berlaku padanya karena statusnya sebagai milik dan hamba-Nya. Maka Dia mengendalikannya di bawah hukum-hukum takdir-Nya sebagaimana Dia mengendalikannya di bawah hukum-hukum agama-Nya. Maka dia adalah tempat berjalannya hukum-hukum ini padanya.
Bagian Kedua: Akibat-akibat Kemaksiatan
Kurangnya taufik, rusaknya pendapat, tersembunyinya kebenaran, rusaknya hati, memudarnya ingatan, terbuangnya waktu, larinya makhluk, kesendirian antara hamba dan Tuhannya, tertolaknya doa, kerasnya hati, hilangnya berkah dalam rezeki dan umur, terhalangnya ilmu, pakaian kehinaan, penghinaan musuh, sesak dada, ujian dengan teman-teman buruk yang merusak hati dan menyia-nyiakan waktu, panjangnya kekhawatiran dan kesedihan, sempitnya kehidupan, dan gelisahnya pikiran – semuanya lahir dari kemaksiatan dan kelalaian dari mengingat Allah, sebagaimana tanaman lahir dari air dan pembakaran dari api. Dan kebalikan dari semua ini lahir dari ketaatan.
Bagian Ketiga: Tentang Keadilan kepada Tuhan
Pasal: Berbahagialah orang yang berlaku adil kepada Tuhannya, maka dia mengakui bagi-Nya kebodohan dalam ilmunya, cacat dalam amalnya, aib dalam dirinya, kelalaian dalam hak-Nya, dan kezaliman dalam muamalahnya.
Jika Dia menghukumnya karena dosa-dosanya, dia melihat keadilan-Nya. Dan jika Dia tidak menghukumnya, dia melihat karunia-Nya. Jika dia beramal baik, dia melihatnya sebagai pemberian dan sedekah-Nya kepadanya. Jika diterima, itu adalah pemberian dan sedekah kedua. Dan jika ditolak, karena amalan seperti itu tidak layak untuk dihadapkan kepada-Nya.
Jika dia berbuat buruk, dia melihatnya karena Dia meninggalkannya dan tidak menolongnya serta menahan perlindungan-Nya darinya. Dan itu adalah keadilan-Nya padanya. Maka dia melihat dalam hal itu kefakirannya kepada Tuhannya dan kezalimannya terhadap dirinya. Jika Dia mengampuninya, itu karena murni kebaikan, kemurahan, dan kemuliaan-Nya.
Inti dan rahasia masalah ini adalah bahwa dia tidak melihat Tuhannya kecuali berbuat baik, dan tidak melihat dirinya kecuali berbuat buruk atau lalai atau kurang. Maka dia melihat segala yang membuatnya senang dari karunia Tuhannya kepadanya dan kebaikan-Nya, dan segala yang menyedihkannya dari dosa-dosanya dan keadilan Allah padanya.
Para pencinta, ketika rumah-rumah kekasih mereka rusak, mereka berkata: “Semoga disiram hujan untuk penghuninya.” Demikian pula pencinta, ketika tahun-tahun berlalu atasnya di bawah tanah, dia ingat saat itu kebaikan ketaatannya di dunia dan kasih sayangnya kepada-Nya, dan terbaharui rahmat dan siraman-Nya bagi yang dahulu menghuni jasad-jasad yang telah lapuk itu.
Bagian Keempat: Tentang Ghirah (Cemburu)
Faidah: Ghirah itu ada dua: ghirah terhadap sesuatu dan ghirah dari sesuatu.
Ghirah terhadap yang dicintai adalah keserakahan terhadapnya. Ghirah dari yang dibenci adalah agar dia tidak menyaingimu padanya. Ghirah terhadap yang dicintai tidak sempurna kecuali dengan ghirah dari penyaing.
Ini terpuji di mana yang dicintai itu buruk jika ada yang ikut mencintainya seperti makhluk. Adapun yang baik jika ada yang ikut mencintainya seperti Rasul dan ulama, bahkan Kekasih yang dekat Yang Maha Suci, maka tidak terbayangkan ghirah penyaingan terhadap-Nya, bahkan itu adalah hasad.
Ghirah yang terpuji dalam hak-Nya adalah agar pencinta cemburu pada cintanya kepada-Nya agar tidak dialihkan kepada selain-Nya, atau cemburu padanya agar orang lain tidak mengetahuinya sehingga merusaknya, atau cemburu pada amal-amalnya agar tidak ada di dalamnya sesuatu untuk selain kekasihnya, atau cemburu padanya agar tidak tercampur dengan apa yang dibenci kekasihnya berupa riya atau ujub atau cinta agar orang lain mengawasinya atau ketidakhadirannya dari menyaksikan pemberian-Nya padanya di dalamnya.
Secara keseluruhan, ghirahnya menuntut agar semua keadaan, amal, dan perbuatannya untuk Allah. Demikian pula dia cemburu pada waktu-waktunya agar tidak hilang darinya waktu dalam selain ridha kekasihnya.
Ini adalah ghirah dari sisi hamba, yaitu ghirah dari penyaing yang menghalangi dan memutuskannya dari keridhaan kekasihnya.
Adapun ghirah kekasihnya padanya, yaitu benci jika hatinya berpaling dari cinta-Nya kepada cinta selain-Nya sehingga ada yang ikut serta dalam cintanya. Karena itulah ghirah Allah adalah hamba datang kepada apa yang diharamkan-Nya. Dan karena ghirah-Nya Yang Maha Suci, Dia mengharamkan kekejian yang tampak dan yang tersembunyi, karena makhluk adalah hamba-hamba dan budak-budak-Nya. Maka Dia cemburu pada budak-budak-Nya sebagaimana tuan cemburu pada budak wanitanya – dan Allah memiliki perumpamaan yang tertinggi. Dan Dia cemburu pada hamba-hamba-Nya agar cinta mereka tidak untuk selain-Nya sehingga cinta itu membawa mereka pada syahwat terhadap bentuk-bentuk dan meraih kekejian darinya.
Bagian Kelima: Tentang Kemuliaan dan Penghormatan
Barangsiapa yang mengagungkan kemuliaan Allah di hatinya agar tidak bermaksiat kepada-Nya, Allah akan memuliakannya di hati makhluk agar mereka tidak menghinakannya.
Apabila akar-akar pengetahuan melekat di tanah hati, tumbuh di dalamnya pohon cinta. Ketika menguat dan kuat, berbuah ketaatan. Maka pohon itu tidak henti-hentinya memberikan buahnya setiap saat dengan izin Allah Tuhannya.
Maqam pertama kaum: “Ingatlah Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)
Maqam tengahnya: “Dialah yang bershalawat atasmu dan malaikat-malaikat-Nya agar Dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al-Ahzab: 43)
Maqam akhirnya: “Salam ucapan mereka pada hari mereka menemui-Nya.” (QS. Al-Ahzab: 44)
Tanah fitrah itu luas, menerima apa yang ditanam di dalamnya. Jika ditanam pohon iman dan takwa, menghasilkan manisnya keabadian. Dan jika ditanam pohon kebodohan dan hawa nafsu, maka semua buahnya pahit.
Kembalilah kepada Allah dan carilah Dia dari mata, telinga, hati, dan lidahmu. Jangan lari dari-Nya dari keempat ini. Maka tidak ada yang kembali kepada-Nya dengan taufik-Nya kecuali dari keempat ini, dan tidak ada yang lari dari-Nya dengan kehinaan kecuali dari keempat ini.
Yang diberi taufik mendengar, melihat, berbicara, dan menggenggam dengan Tuhannya. Yang dihinakan melakukan itu dengan dirinya dan hawa nafsunya.
Bagian Keenam: Perumpamaan Ketaatan dan Kemaksiatan
Perumpamaan lahir, tumbuh, dan bertambahnya ketaatan seperti biji yang kamu tanam lalu menjadi pohon kemudian berbuah. Lalu kamu makan buahnya dan menanam bijinya. Setiap kali berbuah, kamu petik buahnya dan tanam bijinya. Demikian pula saling mengajak kemaksiatan.
Hendaklah orang berakal merenungkan perumpamaan ini. Maka pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan hukuman keburukan adalah keburukan setelahnya.
Bukanlah keajaiban seorang budak yang merendahkan diri kepada Allah dan menyembah-Nya serta tidak bosan melayani-Nya dengan kebutuhan dan kefakirannya kepada-Nya. Sesungguhnya keajaiban adalah seorang Pemilik yang menunjukkan cinta kepada budaknya dengan berbagai pemberian dan menunjukkan kasih sayang kepadanya dengan berbagai kebaikan padahal Dia tidak membutuhkannya.
“Cukuplah bagimu kemuliaan bahwa kamu hamba bagi-Nya, Dan cukuplah bagimu kebanggaan bahwa Dia Tuhanmu.”
Bagian Ketujuh: Peringatan tentang Kemaksiatan
Pasal: Jauhilah kemaksiatan karena sesungguhnya kemaksiatan telah menghilangkan kemuliaan “Sujudlah” dan mengeluarkan pemberian “Aku jadikan kamu penghuni.”
Wahai, betapa sebuah pandangan menghasilkan panasnya kegelisahan seribu tahun! Masih terus menulis dengan darah penyesalan baris-baris kesedihan dalam kisah-kisah dan mengirimkannya dengan napas penyesalan hingga datang kepadanya surat “Maka Dia menerima taubatnya.”
Iblis bergembira dengan turunnya Adam dari surga dan tidak tahu bahwa turunnya penyelam ke dalam lautan untuk mencari mutiara adalah kenaikan.
Betapa jauhnya antara firman-Nya kepada Adam: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah” (QS. Al-Baqarah: 30) dengan firman-Nya kepadamu: “Pergilah, maka barangsiapa mengikutimu di antara mereka” (QS. Al-Isra: 63).
Apa yang terjadi pada Adam adalah yang dikehendaki dari keberadaannya. “Seandainya kalian tidak berdosa…”
“Wahai Adam, jangan bersedih dari perkatan-Ku kepadamu ‘Keluarlah darinya’, karena untukmu dan untuk keturunanmu yang saleh Aku jadikan dia sebagai pengganti.”
“Wahai Adam, dahulu kamu masuk kepada-Ku seperti masuknya raja-raja kepada raja-raja, dan hari ini kamu masuk kepada-Ku seperti masuknya hamba-hamba kepada raja-raja.”
“Wahai Adam, jangan bersedih dari gelas kesalahan yang menjadi sebab kecerdasanmu. Sesungguhnya telah dikeluarkan darimu penyakit ujub dan kamu dipakaikan pakaian penghambaan.” “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu…” (QS. Al-Baqarah: 216)
“Wahai Adam, Aku tidak mengeluarkan pembagianmu kepada selain-mu. Sesungguhnya Aku menjauhkanmu darinya untuk menyempurnakan pembangunannya untukmu, dan untuk mengirim kepada para pekerja nafkah.” “Lambung mereka menjauh dari tempat tidur” (QS. As-Sajdah: 16)
Demi Allah, tidak bermanfaat baginya ketika bermaksiat kemuliaan “Sujudlah” dan tidak kehormatan “Dan Aku ajarkan kepada Adam” dan tidak kekhususan “Karena Aku ciptakan dengan tangan-Ku” dan tidak kebanggaan “Dan Aku tiupkan ke dalamnya roh-Ku.” (QS. Shad: 75)
Sesungguhnya dia mendapat manfaat dengan kehinaan: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri.” (QS. Al-A’raf: 23)
Ketika dia memakai baju besi tauhid di atas badan syukur, panah musuh mengenainya di tempat yang tidak mematikan lalu melukainya. Maka dia meletakkan di atasnya obat penawar kepatahan, lalu kembali seperti semula. Maka bangkitlah yang terluka seolah tidak ada luka apa-apa padanya.
Bagian Kedelapan: Tentang Takdir dan Hidayah
Pasal: Unta-unta keselamatan disiapkan untuk yang dikehendaki, dan kaki-kaki yang diusir diikat dengan belenggu.
Bertiup badai takdir di padang gurun alam semesta, maka terbalik-balik keberadaan dan tenggelam bintang kebaikan. Ketika angin reda, tiba-tiba Abu Thalib tenggelam dalam lautan kebinasaan, dan Salman di pantai keselamatan.
Al-Walid bin Al-Mughirah memimpin kaumnya dalam kesesatan, dan Shuhaib telah datang dengan kafilah Rum. An-Najasyi di tanah Habasyah berkata: “Kami sambut panggilan-Mu ya Allah,” dan Bilal menyeru: “Shalat lebih baik dari tidur,” sementara Abu Jahal dalam tidur perlawanan.
Ketika ditetapkan dalam takdir terdahulu keutamaan Salman, naiklah dia dengan petunjuk taufik dari jalan bapak-bapaknya dalam Majusi. Maka dia mulai berdebat dengan ayahnya tentang agama syirik. Ketika dia mengalahkannya dengan hujah, tidak ada jawaban baginya kecuali belenggu. Dan ini jawaban yang dipakai ahli batil sejak hari mereka mengada-adakannya.
Dengan jawaban ini Firaun menjawab Musa: “Sungguh jika kamu mengambil tuhan selain aku” (QS. Asy-Syu’ara: 29). Dengan jawaban ini kaum Jahmiyyah menjawab Imam Ahmad ketika mereka menampilkan cambuk kepadanya. Dengan jawaban ini ahli bid’ah menjawab Syaikhul Islam ketika mereka memanggilnya ke penjara. Dan inilah kami mengikuti jejaknya.
Maka turunlah kepadanya tamu “Dan sungguh Kami akan menguji kalian” (QS. Al-Baqarah: 155). Dengan memuliakan tamu itu dia meraih derajat “Salman dari kami ahlul bait.”
Dia mendengar bahwa ada rombongan yang berniat bepergian, maka dia mencuri dirinya dari ayahnya – dan tidak ada hukuman potong. Dia naik kendaraan tekad berharap meraih tujuan kebahagiaan. Dia menyelam di lautan pencarian untuk menemukan mutiara keberadaan. Maka dia menghentikan dirinya untuk melayani para petunjuk dengan berhenti seperti orang-orang hina.
Ketika para rahib merasakan berakhirnya masa kekuasaan mereka, mereka menyerahkan kepadanya tanda-tanda kemuliaan tentang kenabian Nabi kita dan berkata: “Sesungguhnya zamannya telah dekat, maka berhati-hatilah agar tidak tersesat.” Maka ia pergi bersama rombongan yang tidak memperlakukannya dengan baik, lalu mereka menjualnya dengan harga yang murah, dirham yang sedikit. Kemudian pengikutnya adalah seorang Yahudi di Madinah. Ketika ia melihat tanah Harrah menyala-nyala, hal itu membakar kerinduannya, dan pemilik rumah tidak mengetahui kerinduan si tamu. Sementara ia berjuang melawan jam-jam penantian, datanglah pembawa kabar gembira dengan kedatangan si pembawa kabar gembira, dan Salman berada di puncak pohon kurma. Kegelisahan hampir membuatnya terjatuh, seandainya tidak ada kehati-hatian yang menahannya sebagaimana yang terjadi pada hari “Jika dia hampir saja menampakkannya, seandainya Kami tidak menguatkan hatinya” (QS. Al-Qashash: 10). Maka ia bergegas turun untuk menjemput rombongan kabar gembira, dan keadaan hatinya berkata:
“Wahai dua temanku dari Najd, berdirilah bersamaku di atas bukit… karena angin sejuk telah bertiup dari negeri itu.”
Maka tuannya berteriak kepadanya: “Malik, kembalilah ke pekerjaanmu!” Maka ia berkata:
“Bagaimana aku kembali, sedangkan aku memiliki urusan di rumah kalian?”
Kemudian keadaan hatinya mulai bersenandung, seandainya si tuli mendengar: “Wahai dua temanku, tidak demi Allah, aku bukan dari kalian berdua… jika aku mengetahui kabar dari keluarga Laila di Daalia.”
Ketika ia bertemu dengan Rasul, ia mencocokkan salinan para rahib dengan kitab asli, maka cocok. “Wahai Muhammad, engkau menginginkan Abu Thalib, dan kami menginginkan Salman. Abu Thalib jika ditanya tentang namanya, ia berkata: ‘Abdu Manaf’, dan jika dinasabkan, ia berbangga dengan para leluhur, dan jika disebut harta, ia adalah hamba unta. Sedangkan Salman jika ditanya tentang namanya, ia berkata: ‘Abdullah’, dan tentang nasabnya ia berkata: ‘Anak Islam’, dan tentang hartanya ia berkata: ‘Kemiskinan’, dan tentang tokonya ia berkata: ‘Masjid’, dan tentang pekerjaannya ia berkata: ‘Kesabaran’, dan tentang pakaiannya ia berkata: ‘Takwa dan rendah hati’, dan tentang bantalnya ia berkata: ‘Begadang’, dan tentang kebanggaannya ia berkata: ‘Salman adalah dari kami’, dan tentang tujuannya ia berkata: ‘Mereka menginginkan wajah-Nya’, dan tentang perjalanannya ia berkata: ‘Menuju surga’, dan tentang pemandunya di jalan ia berkata: ‘Imam makhluk dan penuntun para imam’.”
“Jika kami berangkat di malam hari dan engkau adalah imam kami… cukuplah bagi kendaraan kami, harum kenangan engkau sebagai penuntun.
Dan jika kami tersesat di jalan dan tidak menemukan… petunjuk, cukuplah bagi kami cahaya wajahmu sebagai petunjuk.”
Dosa-dosa adalah luka-luka, dan adakalanya luka mengenai tempat yang mematikan. Jika akalmu keluar dari kekuasaan hawa nafsumu, kekuasaan akan kembali kepadanya. Engkau memasuki rumah hawa nafsu, lalu berjudi dengan umurmu. Jika pandangan yang tidak halal terlihat, ketahuilah bahwa itu adalah pemicu perang, maka berlindunglah darinya dengan hijab “Katakanlah kepada orang-orang mukmin” (QS. An-Nur: 30), maka engkau akan selamat dari akibatnya, “dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dalam peperangan” (QS. Al-Ahzab: 25). Lautan hawa nafsu jika pasang akan menenggelamkan, dan celah yang paling ditakuti oleh perenang adalah terbukanya pandangan di dalam air.
Tidak ada yang lebih mulia dari seseorang yang menyendiri… di kuburnya amal-amalnya menemaninya.
Bersenang-senang di kubur dalam taman… tidak seperti hamba yang kuburnya adalah penjara.
Sesuai dengan keutamaan seseorang datanglah ujiannya… dan diketahui saat sabar dalam apa yang menimpanya.
Dan barangsiapa yang sedikit kesabarannya dalam apa yang ia takuti… maka sedikit pula bagiannya dari apa yang ia harapkan.
Berapa banyak tanaman yang dipotong sebelum sempurna, maka apa sangkaan tanaman yang sudah dipanen? Belilah dirimu, karena pasar masih buka dan harga masih ada. Pasti ada masa lalai dan tidur hawa nafsu, tetapi jadilah ringan tidur, karena penjaga negeri berteriak: “Pagi telah dekat.” Cahaya akal menyinari di malam hawa nafsu, maka terlihat jalan yang benar, dan orang yang tajam pandangannya dapat melihat dalam cahaya itu akibat-akibat perkara. Keluarlah dengan tekad dari halaman sempit ini yang penuh dengan bencana menuju halaman luas itu yang di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, maka di sana tidak sulit didapat yang diinginkan dan tidak hilang yang dicintai. Wahai penjual dirimu dengan cinta kepada seseorang yang cintanya menyiksa, pertemuannya menyakitkan, dan keindahannya akan sirna, sungguh engkau telah menjual barang yang paling berharga dengan harga yang murah, seolah-olah engkau tidak mengetahui nilai barang dan murahnya harga, sehingga ketika engkau datang pada hari kerugian, jelas bagimu bahwa kerugian adalah dalam akad jual beli.
“Tidak ada tuhan selain Allah” adalah barang dagangan Allah, pembelinya adalah Allah, dan harganya adalah surga, dan dalangnya adalah Rasul. Apakah engkau rela menjualnya dengan sebagian kecil dari sesuatu yang keseluruhannya tidak sebanding dengan sayap nyamuk?
Jika ada sesuatu yang keseluruhannya tidak sebanding… dengan sayap nyamuk di sisi Dia yang telah engkau jadikan tuan,
Dan sebagian darinya menguasai seluruh dirimu, maka apa… yang akan menjadi nilaimu di sisi-Nya dalam keadaan ini?
Dan engkau menjual dengannya jiwa yang telah Dia tawar dengan apa… yang ada pada-Nya dari kebaikan, padahal cinta-Nya telah hilang.
Wahai orang yang lemah tekadnya, di mana engkau sedangkan jalan adalah jalan yang melelahkan Adam, memuat tangisan Nuh, melemparkan Khalil ke dalam api, menjadikan Ismail terbaring untuk disembelih, menjual Yusuf dengan harga murah, menahan (Yusuf) di penjara beberapa tahun, menggergaji Zakaria dengan gergaji, menyembelih pemimpin yang suci Yahya, menderita Ayyub, menambah tangisan Daud melebihi kadar, berjalan bersama binatang buas Isa, dan mengalami kemiskinan serta berbagai penderitaan Muhammad. Apakah engkau berbangga dengan main-main dan permainan?
“Wahai rumahnya di kesedihan, sesungguhnya kunjungan kepadanya… dekat, tetapi sebelum itu ada hal-hal yang menakutkan.”
Perang sedang berlangsung dan engkau tidak bersenjata dalam tontonan. Jika engkau menggerakkan kendaraanmu, itu untuk kekalahan. Barangsiapa yang tidak mengalami panasnya tengah hari dalam mencari kemuliaan, tidak akan berkata dalam naungan kehormatan.
Sulaima berkata: “Seandainya engkau tinggal di negeri kami… dan tidak berkeliling, untuk tinggal aku akan berkeliling.”
Dikatakan kepada sebagian ahli ibadah: “Sampai kapan engkau melelahkan dirimu?” Maka ia berkata: “Ketenangan itulah yang aku inginkan.”
Wahai orang yang sombong, apa yang lebih mulia dari jubah iman setelah jubah kesehatan, sedangkan ia menciptakan keduanya dalam melawan Sang Pencipta? Jangan ingkari pencabutan. Layaklah dicabut dari seseorang yang menggunakan nikmat Sang Pemberi nikmat dalam hal yang Dia benci. Pengantin-pengantin makhluk telah berhias untuk orang yang melihat untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang lebih mengutamakan mereka daripada pengantin-pengantin akhirat. Maka barangsiapa yang mengetahui kadar perbedaan, ia akan mengutamakan apa yang seharusnya diutamakan.
Dan para cantik alam ketika tampak… mendekat kepadaku dan berkata: “Kepadaku!”
Maka aku berpura-pura tidak melihat seolah tidak melihatnya… ketika aku melihat tujuanku ada padaku.
Bintang-bintang keinginan orang-orang arif dalam burj tekad mereka beredar, tidak ada di dalamnya Zuhal (Saturnus). Wahai orang yang menyimpang dari jalan mereka, jadilah di belakang rombongan, dan tidurlah jika engkau tidur di jalan, karena pemimpin akan menjaga yang di belakang. Dikatakan kepada Hasan: “Kaum itu mendahului kita dengan kuda-kuda hitam, sedangkan kita dengan keledai yang dipotong.” Maka ia berkata: “Jika engkau berada di jalan mereka, maka betapa cepatnya menyusul mereka.”
Barangsiapa yang kehilangan keakraban dengan Allah di antara manusia dan menemukannya dalam kesendirian, maka ia jujur yang lemah.
Dan barangsiapa yang menemukannya di antara manusia dan kehilangannya dalam khalwat, maka ia sakit. Dan barangsiapa yang kehilangannya di antara manusia dan dalam khalwat, maka ia mati yang diusir. Dan barangsiapa yang menemukannya dalam khalwat dan di antara manusia, maka ia adalah pecinta yang jujur yang kuat dalam keadaannya. Dan barangsiapa yang pembukaan (spiritual)nya dalam khalwat, maka tambahannya tidak akan kecuali darinya. Dan barangsiapa yang pembukaan (spiritual)nya di antara manusia dan menasihati serta membimbing mereka, maka tambahannya bersama mereka. Dan barangsiapa yang pembukaan (spiritual)nya dalam berdiri bersama kehendak Allah di mana Dia menempatkannya dan dalam hal apa Dia mempergunakannya, maka tambahannya dalam khalwat dan bersama manusia. Maka yang paling mulia di antara keadaan-keadaan adalah bahwa engkau tidak memilih untuk dirimu keadaan selain apa yang Dia pilih untukmu dan Dia tempatkan engkau di dalamnya. Maka jadilah bersama kehendak-Nya darimu, dan jangan bersama kehendakmu dari-Nya.
Pelita-pelita hati yang suci dalam asal fitrah bersinar sebelum syariat. “Hampir saja minyaknya bersinar walau tidak disentuh api” (QS. An-Nur: 35). Quss bertauhid padahal tidak melihat Rasul. Dan kafir Ibnu Ubay padahal telah shalat bersamanya di masjid bersama orang-orang sabar. Tidak ada air, dan berapa banyak orang yang haus di tengah lautan. Ilmu mendahului tentang kenabian Musa dan iman Asiyah, maka peti Musa dihanyutkan ke rumahnya. Maka datanglah anak kecil yang terpisah dari ibu kepada perempuan yang tidak punya anak. Maka demi Allah, betapa banyak pelajaran dalam kisah ini. Berapa banyak anak yang dibunuh Firaun dalam mencari Musa, dan lisan takdir berkata: “Kami tidak akan membesarkannya kecuali di pangkuanmu.”
Dzul Bijadain adalah yatim di masa kecil, maka pamannya merawatnya. Jiwanya terpanggil untuk mengikuti Rasul, maka ia berniat untuk berangkat. Tiba-tiba sisa penyakit menghalangi, maka ia duduk menunggu paman. Ketika kesehatannya sempurna, kesabaran habis, maka hati nuraninya memanggil:
“Sampai kapan engkau menahannya mengeluh kepadaku… Mungkin suatu saat ia menemukan jalan.”
Maka ia berkata: “Wahai paman, lama aku menunggu keislamanmu dan aku tidak melihat semangat darimu.” Maka ia berkata: “Demi Allah, jika aku masuk Islam, aku akan mengambil semua yang telah aku berikan kepadamu.” Maka berteriaklah lisan kerinduan: “Satu pandangan dari Muhammad lebih aku cintai daripada dunia dan isinya.”
Dan seandainya dikatakan kepada si gila: “Laila dan pertemuannya… apakah engkau inginkan atau dunia dan apa yang di dalamnya?”
Niscaya ia akan berkata: “Debu dari jejak sandalnya… lebih lezat bagiku dan lebih menyembuhkan penyakitku.”
Ketika ia bersiap untuk perjalanan menuju Rasul, pamannya menanggalkan pakaiannya, maka ibu memberinya kain wol. Maka ia memotongnya untuk perjalanan pertemuan menjadi dua bagian, memakai sarung dengan yang satu dan memakai selendang dengan yang lain. Ketika penyeru jihad memanggil, ia rela berada di barisan para kekasih, dan pecinta tidak melihat panjangnya jalan karena tujuan membantunya.
“Mudah-mudahan Allah sampai kepada tanah haram orang yang menginginkannya… dan sampai ke tepi tanah haram orang yang menginginkannya.”
Ketika ia meninggal dunia, Rasul turun meratakan kuburnya dan terus berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku ridha terhadapnya di sore hari, maka ridhailah dia.” Maka Ibnu Mas’ud berteriak: “Seandainya aku adalah pemilik kubur itu.”
Wahai orang yang lemah tekad, hal yang paling sedikit dalam permainan catur adalah bidak. Ketika ia bangkit lalu menjadi ratu. Seorang hakim melihat bagal yang sedang diberi minum, maka ia berkata: “Seandainya kaki-kaki tekad ini bergerak dengan suluk, niscaya terangkat dari hadapan mereka bendungan penghalang-penghalang.” Penghalang-penghalang adalah ujian-ujian yang dengan itu dibedakan yang jujur dari yang dusta. Jika engkau mengarunginya, ia akan berubah menjadi penolong bagimu yang mengantarkanmu kepada tujuan.
Pasal 1
Dunia bagaikan seorang wanita pelacur yang tidak menetap dengan seorang suami. Ia hanya melamar para suami agar mereka tertarik kepadanya, namun ia tidak rela dengan kehinaan.
Aku membedakan antara kecantikan dan perbuatannya… Ternyata keindahan tidak dapat menutupi keburukan.
Ia bersumpah kepada kami bahwa tidak akan mengkhianati perjanjian kami… Seakan-akan ia bersumpah kepada kami bahwa tidak akan menepati janji.
Perjalanan dalam mengejarnya adalah perjalanan di tanah yang penuh binatang buas, dan berenang di dalamnya adalah berenang di kolam buaya. Yang menggembirakan darinya adalah mata yang bersedih karenanya. Kesakitannya lahir dari kenikmatan-kenikmatan, dan kesedihan-kesedihannya dari kegembiraan-kegembiraannya.
Keinginan-keinginan yang di masa muda adalah milik pemiliknya… Siksaan, lalu menjadi siksaan di masa tua.
Burung naluri melihat biji-bijian, dan mata akal melihat jerat, namun mata hawa nafsu itu buta.
Dan mata ridha dari setiap cacat menjadi lemah… Sebagaimana mata murka menampakkan kejelekan-kejelekan.
Syahwat-syahwat telah berhias untuk mata-mata tabiat, maka mereka yang beriman kepada yang gaib memejamkan mata darinya, dan pengikut-pengikutnya jatuh ke dalam gurun penyesalan. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan kepada mereka ini dikatakan: “Makan dan bersenang-senanglah sedikit, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang berdosa” (QS. Al-Mursalat: 46).
Ketika orang-orang yang diberi taufik mengetahui kadar kehidupan dunia dan sedikitnya tempat tinggal di dalamnya, mereka tidak mengikuti hawa nafsu mencari kehidupan kekal. Ketika mereka terbangun dari tidur kelalaian, mereka merebut kembali dengan sungguh-sungguh apa yang telah dirampas musuh dari mereka di masa kemalasan. Ketika jalan terasa panjang bagi mereka, mereka melihat tujuan, maka yang jauh menjadi dekat bagi mereka. Dan setiap kali kehidupan terasa pahit bagi mereka, mereka mengingat: “Inilah hari kalian yang telah dijanjikan kepada kalian” (QS. Al-Anbiya: 103).
Dan rombongan yang berjalan malam telah melemparkan tenda… Di atas setiap yang berdebu fajar berdiri.
Mereka menggemakan tekad-tekad, bumi hilang di antara keduanya… Maka perjalanan mereka menjadi terbitnya tekad-tekad. Bintang-bintang malam menunjukkan kepada mereka apa yang mereka ikuti… Di atas pundak Sirius dan kepala-kepala burung unta.
Jika mereka bergerak maju dalam medan pertempuran kesungguhan… Mereka menghancurkan tombak-tombak pemberian di dada-dada kemuliaan.
Pasal 2
Di antara hal yang paling mengherankan adalah bahwa kamu mengenal-Nya kemudian tidak mencintai-Nya, mendengar panggilan-Nya kemudian terlambat menjawab, mengetahui kadar keuntungan dalam bermuamalah dengan-Nya kemudian mengerjakan selain-Nya, mengetahui kadar murka-Nya kemudian menghadapi-Nya, merasakan sakit kesendirian dalam bermaksiat kepada-Nya kemudian tidak mencari ketenangan dengan taat kepada-Nya, merasakan tertekannya hati ketika membicarakan selain pembicaraan-Nya dan pembicaraan tentang-Nya kemudian tidak merindukan lapangnya dada dengan mengingat-Nya dan bermunajat kepada-Nya, merasakan azab ketika hati terikat pada selain-Nya dan tidak lari darinya kepada kenikmatan menghadap kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.
Yang lebih mengherankan dari ini adalah pengetahuanmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya, bahwa kamu adalah makhluk yang paling membutuhkan-Nya, sedangkan kamu berpaling dari-Nya dan ingin pada apa yang menjauhkanmu dari-Nya.
Seorang hamba tidak mengambil apa yang diharamkan atas dirinya kecuali dari dua segi: pertama, buruk sangka kepada Tuhannya dan bahwa jika ia taat kepada-Nya dan mengutamakan-Nya, Dia tidak akan memberinya yang lebih baik secara halal. Kedua, ia mengetahui hal itu dan bahwa barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, tetapi syahwatnya mengalahkan kesabarannya dan hawa nafsunya mengalahkan akalnya. Yang pertama karena lemahnya ilmunya, dan yang kedua karena lemahnya akal dan wawasannya.
Yahya bin Muadz berkata: “Barangsiapa yang Allah kumpulkan hatinya dalam doa, Allah tidak akan menolaknya.” Aku berkata: “Jika hatinya terkumpul padanya dan sungguh-sungguh kebutuhan dan kefakirannya serta kuat harapannya, maka hampir tidak ditolak doanya.”
Pasal 3
Ketika orang-orang yang terjaga melihat kekuasaan dunia atas penduduknya, tipu daya angan-angan terhadap pemilik-pemiliknya, penguasaan setan dan kepemimpinan jiwa-jiwa, mereka melihat kekuasaan jiwa yang menyuruh kejahatan, maka mereka berlindung ke benteng permohonan dan perlindungan sebagaimana hamba yang ketakutan berlindung ke tempat suci tuannya.
Syahwat-syahwat dunia seperti permainan khayalan, dan pandangan orang jahil terbatas pada yang zahir. Adapun orang yang berakal, ia melihat apa yang ada di balik tirai. Ketika yang diinginkan tampak bagi mereka, ketika mereka mengulurkan tangan untuk meraih, mata hati melihat kepakan perangkap, maka mereka terbang dengan sayap kewaspadaan dan menuju kepergian kedua.
Andai kaum mengetahui. Kaum itu melihat wujud lalu memahami maksud, maka mereka sepakat untuk pergi sebelum kepergian dan bersiap untuk berjalan di jalan yang lurus.
Manusia sibuk dengan hal-hal berlebihan sementara mereka dalam memotong padang pasir, dan burung-burung hawa nafsu dalam ikatan jaring menunggu penyembelihan.
Dua serigala jatuh dalam jaring, salah satunya berkata kepada yang lain: “Di mana tempat pertemuan setelah ini?” Yang lain menjawab: “Setelah dua hari di tempat penyamakan.” Demi Allah, hari-hari itu hanyalah mimpi, maka hendaklah mereka terbangun dan telah mendapat kemenangan.
Yang telah berlalu dari dunia adalah mimpi-mimpi, dan yang tersisa darinya adalah angan-angan, dan waktu terbuang di antara keduanya.
Bagaimana selamat orang yang memiliki istri yang tidak menyayanginya, anak yang tidak memaafkannya, tetangga yang tidak menjaminnya, sahabat yang tidak menasihatinya, mitra yang tidak berlaku adil kepadanya, musuh yang tidak tidur dari permusuhannya, jiwa yang menyuruh kejahatan, dunia yang berhias, hawa nafsu yang memberontak dan syahwat yang mengalahkannya, amarah yang menguasai, setan yang menghiasi, dan kelemahan yang menguasainya.
Jika Allah menguasainya dan menariknya kepada-Nya, semua ini akan tunduk kepadanya. Dan jika Allah meninggalkannya dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri, semuanya akan berkumpul melawannya, maka jadilah kehancuran.
Ketika manusia berpaling dari menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai hukum dan berhukum kepada keduanya, dan mereka meyakini ketidakcukupan keduanya, lalu condong kepada pendapat-pendapat, qiyas, istihsan, dan perkataan para syaikh, timbul bagi mereka kerusakan dalam fitrah mereka, kegelapan dalam hati mereka, keruhnya pemahaman mereka, dan kehilangan akal mereka.
Perkara-perkara ini merata dan menguasai mereka hingga yang kecil dibesarkan di dalamnya dan yang besar menjadi tua karenanya, sehingga mereka tidak melihatnya sebagai tipu daya. Lalu datang kepada mereka masa yang lain di mana bid’ah menggantikan posisi sunnah, nafsu menggantikan posisi akal, hawa nafsu menggantikan posisi petunjuk, kesesatan menggantikan posisi hidayah, kemungkaran menggantikan posisi ma’ruf, kebodohan menggantikan posisi ilmu, riya menggantikan posisi ikhlas, kebatilan menggantikan posisi kebenaran, kebohongan menggantikan posisi kejujuran, basa-basi menggantikan posisi nasihat, dan kezaliman menggantikan posisi keadilan.
Maka kekuasaan dan kemenangan menjadi milik perkara-perkara ini dan pemiliknya adalah orang-orang yang ditunjuk, padahal sebelum itu adalah milik lawan-lawannya dan pemiliknya adalah orang-orang yang ditunjuk.
Jika kamu melihat masa perkara-perkara ini telah datang, panji-panjinya telah ditegakkan, dan tentara-tentaranya telah berkuda, maka perut bumi demi Allah lebih baik dari permukaannya, puncak-puncak gunung lebih baik dari dataran, dan bergaul dengan binatang buas lebih aman daripada bergaul dengan manusia.
Bumi menggigil dan langit menggelap, kerusakan tampak di darat dan laut karena kezaliman orang-orang jahat. Keberkahan hilang, kebaikan berkurang, binatang-binatang kurus, dan kehidupan keruh karena kefasikan para zalim. Cahaya siang dan kegelapan malam menangis karena perbuatan-perbuatan buruk dan tindakan-tindakan keji.
Para malaikat mulia yang mencatat dan yang mengikuti mengadu kepada Tuhan mereka karena banyaknya kemungkaran, merajalelanya kemungkaran dan kejelekan. Ini demi Allah adalah pemberi peringatan akan banjir azab yang telah berkumpul awannya dan pemberitahu malam bencana yang telah gelap kegelapannya.
Maka menyingkirlah dari jalan ini dengan taubat nasuha selama taubat masih mungkin dan pintunya terbuka. Seakan-akan kalian dengan pintu telah tertutup, dengan gadai telah terkunci, dan dengan sayap telah tergantung. “Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy-Syu’ara: 227).
Belilah dirimu hari ini karena pasar masih berdiri, harga masih ada, dan barang-barang murah. Akan datang pada pasar dan barang-barang itu hari di mana kamu tidak bisa mencapai sedikit pun atau banyak. Itulah hari penipuan, hari orang zalim menggigit kedua tangannya.
Jika kamu tidak pergi dengan bekal takwa… Dan melihat di hari kiamat orang yang telah berbekal.
Kamu akan menyesal karena tidak menjadi seperti dia… Dan karena kamu tidak mempersiapkan sebagaimana dia mempersiapkan.
Amal tanpa ikhlas dan tanpa mengikuti teladan seperti musafir yang mengisi kantongnya dengan pasir yang memberatkannya dan tidak bermanfaat baginya.
Jika kamu membebankan pada hati kekhawatiran dunia dan beban-bebannya, dan menyepelekan wirid-wiridnya yang merupakan kekuatan dan kehidupannya, kamu seperti musafir yang membebani hewan tunggangannya melebihi kemampuannya dan tidak memberi makanan yang cukup. Betapa cepatnya ia berhenti dengannya.
Dan orang yang terpecah tekadnya menghabiskan umurnya… Bingung, tidak menang dan tidak kalah.
Apakah penggembala yang tergesa-gesa menguasai urusannya… Tidak semua perjalanan adalah perjalanan yang menyendiri.
Pelan-pelan dengan telapak unta, karena sesungguhnya… Yang diinjak adalah dahi-dahi dan pipi-pipi di bawahnya.
Barangsiapa yang melihat manisnya afiat, pahitnya sabar terasa ringan baginya.
Tujuan adalah yang pertama dalam takdir, terakhir dalam wujud, permulaan dalam pandangan akal, berakhir di tempat-tempat pertemuan.
Kamu terbiasa dengan ketidakmampuan kebiasaan. Seandainya cita-citamu mengangkatmu naik ke kemuliaan, akan tampak bagimu cahaya-cahaya tekad. Sesungguhnya perbedaan kaum adalah dengan cita-cita, bukan dengan bentuk.
Cita-cita orang malas hilang di sumur kotoran. Antara kamu dan orang-orang yang menang ada gunung hawa nafsu. Mereka turun di hadapannya dan kamu turun di belakangnya. Maka lipatlah kelebihan tempat, kamu akan menyusul kaum itu.
Dunia adalah medan perlombaan, debu telah mengumpul, yang mendahului tersembunyi, dan manusia di medan antara penunggang kuda, pejalan kaki, dan pemilik keledai yang cedera.
Kelak kamu akan melihat ketika debu telah hilang… Kuda di bawahmu atau keledai.
Dalam tabiat ada keserakahan, dan diet lebih tepat. Pencuri keserakahan tidak berjalan kecuali dalam kegelapan hawa nafsu.
Biji yang diinginkan di bawah perangkap kehancuran, maka pikirkanlah penyembelihan ketika sabar telah ringan.
Kekuatan tamak dalam mencapai harapan mewajibkan kesungguhan dalam mencari dan ketatnya kehati-hatian dari kehilangan yang diharapkan.
Orang pelit adalah orang fakir yang tidak diberi pahala karena kefakirannya.
Sabar atas dahaga kemalangan dan tidak minum dari tempat minum pemberian.
Wanita mulia kelaparan dan tidak memakan kedua susunya.
Jangan meminta kecuali kepada Tuanmu, karena permohonan hamba kepada selain tuannya adalah penghinaan terhadapnya.
Tanaman khalwat berbuah ketenangan.
Merasa asing dari apa yang tidak kekal bersamamu dan akrablah dengan yang tidak akan meninggalkanmu.
Menyendiri orang jahil adalah kerusakan, adapun menyendirinya orang alim, bersamanya ada sandal dan kantong airnya.
Jika akal dan keyakinan berkumpul di rumah menyendiri dan fikir hadir serta terjadi munajat di antara mereka…
Datang kepadamu suatu hadits yang tidak membosankan untuk didengar… manis bagi kami prosa dan puisinya. Jika jiwa mengingatnya, lenyaplah kesusahannya… dan hilang dari hati kegelapan maknanya.
Jika keluar dari musuhmu kata-kata bodoh, maka janganlah kau susul dengan yang serupa yang akan membuahinya. Dan keturunan pertengkaran adalah keturunan yang tercela. Kau melindungi dirimu dari akibat kebodohan terhadapnya. Seandainya kau mengenalnya dengan sebenar-benarnya, niscaya kau akan membantu lawan terhadapnya.
Jika kau menyalakan api balas dendam dari api kemarahan, maka ia akan mulai membakar yang menyalakannya. Ikatlah kemarahanmu dengan rantai kesabaran, karena ia adalah anjing yang jika terlepas akan merusak siapa yang mendahuluinya.
Barang siapa yang didahului oleh kebahagiaan, ia akan diberi petunjuk kepada dalil sebelum pencarian. Jika takdir menghendaki seseorang, maka Dia menabur di tanah hatinya benih taufik, kemudian menyiraminya dengan air keinginan dan ketakutan, kemudian menegakkannya dengan berbagai tingkatan muraqabah dan mempekerjakan baginya penjaga ilmu. Maka tiba-tiba tanaman itu tegak di atas batangnya.
Jika terbit bintang semangat dalam kegelapan malam kemalasan dan diikuti bulan tekad, maka bersinar bumi hati dengan cahaya Tuhannya. Jika malam tiba, bertempur tidur dan begadang. Maka ketakutan dan kerinduan di barisan depan tentara kewaspadaan, sedangkan kemalasan dan kelambanan di pasukan kelalaian. Jika tekad menyerang, ia menyerang sayap kanan dan terkalahlah tentara kelalaian. Maka tidak terbit fajar kecuali setelah dibagi-bagi saham dan dingin rampasan untuk pemiliknya.
Perjalanan malam tidak sanggup dilakukan kecuali oleh kuda-kuda pilihan yang kurus karena lapar di awal dan pembawa bekal di akhir. Janganlah bosan berdiri di pintu walau diusir, dan jangan putus meminta maaf walau ditolak. Jika pintu terbuka untuk orang-orang yang diterima selain kamu, maka seranlah seperti serangan pendusta dan masuklah seperti masuknya tukang nebeng, dan ulurkan tangan “bersedekahlah kepada kami.”
Wahai orang yang membuka pintu penghidupan tanpa kunci takwa, bagaimana kau melapangkan jalan dosa dan mengeluh sempitnya rezeki? Seandainya kau berhenti pada kehendak takwa, niscaya tidak akan luput darimu kehendak kemaksiatan yang menutup pintu usaha. Sesungguhnya seorang hamba dapat terhalang rezekinya karena dosa yang dilakukannya.
Demi Allah, aku tidak datang mengunjungimu… kecuali aku dapati bumi terlipat untukku. Dan tidak surut tekadku dari pintumu… kecuali aku tersandung ujung jubahku.
Roh-roh dalam jasad seperti burung-burung dalam sangkar. Dan tidaklah yang dipersiapkan untuk bertelur seperti yang disiapkan untuk berlomba. Barang siapa dari para pekerja yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi penguasa, maka hendaklah ia melihat pekerjaan apa yang diserahkan kepadanya dan dengan kesibukan apa ia disibukkan.
Jadilah dari anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena anak mengikuti ibu. Dunia tidak sebanding dengan langkah kakimu kepadanya, bagaimana kau berlari mengejarnya? Dunia adalah bangkai dan singa tidak memakan bangkai. Dunia adalah tempat singgah dan akhirat adalah kampung halaman, sedangkan keinginan hanya dicari di kampung halaman.
Berkumpul dengan saudara ada dua bagian: pertama, berkumpul untuk menghibur tabiat dan mengisi waktu. Ini mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, dan paling tidak ia merusak hati dan menyia-nyiakan waktu. Kedua, berkumpul dengan mereka untuk saling membantu dalam sebab-sebab keselamatan dan saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran. Ini termasuk rampasan yang paling besar dan paling bermanfaat.
Namun di dalamnya ada tiga bala: pertama, mereka saling menghias untuk satu sama lain. Kedua, pembicaraan dan pergaulan lebih dari keperluan. Ketiga, hal itu menjadi syahwat dan kebiasaan yang memutuskan dari tujuan. Secara keseluruhan, berkumpul dan bergaul adalah penyerbukan, baik untuk nafsu yang memerintahkan kejahatan maupun untuk hati dan nafsu yang tenang. Hasilnya diperoleh dari penyerbukan. Maka barang siapa yang menginginkan penyerbukannya, baiglah buahnya.
Demikianlah roh-roh yang baik, penyerbukannya dari malaikat dan yang buruk penyerbukannya dari setan. Allah Subhanahu telah menjadikan dengan hikmah-Nya yang baik-baik untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang baik untuk yang baik-baik, dan sebaliknya adalah kaidah.
Tidak ada dalam wujud yang mungkin satu sebab yang mandiri dalam berpengaruh, bahkan tidak berpengaruh sebab sama sekali kecuali dengan bergabungnya sebab lain kepadanya dan hilangnya penghalang yang menghalangi pengaruhnya. Ini dalam sebab-sebab yang terlihat dengan mata dan dalam sebab-sebab yang gaib dan sebab-sebab maknawi.
Seperti pengaruh matahari pada hewan dan tumbuhan, sesungguhnya itu tergantung pada sebab-sebab lain berupa adanya tempat yang bisa menerima dan sebab-sebab lain yang bergabung dengan sebab itu. Demikian juga terjadinya anak tergantung pada beberapa sebab selain kawin jantan. Demikian juga semua sebab dengan yang disebabkannya.
Maka segala yang ditakuti dan diharapkan dari makhluk, paling tingginya hanyalah menjadi bagian sebab yang tidak mandiri dalam berpengaruh. Dan tidak ada yang mandiri dalam berpengaruh sendirian tanpa tergantung pengaruhnya pada yang lain kecuali Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Maka tidak pantas berharap dan takut kepada selain-Nya.
Ini adalah dalil pasti bahwa tergantungnya harapan dan ketakutan kepada selain-Nya adalah batil. Sebab seandainya diandaikan bahwa itu adalah sebab yang mandiri sendiri dalam berpengaruh, maka penyebabnya dari yang lain bukan darinya. Maka tidak ada baginya dari dirinya sendiri kekuatan untuk berbuat, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Maka Dialah yang di tangan-Nya segala daya dan segala kekuatan. Daya dan kekuatan yang diharapkan karena keduanya dari makhluk dan ditakuti, sesungguhnya keduanya milik Allah dan di tangan-Nya dalam kenyataan. Bagaimana bisa ditakuti dan diharapkan dari yang tidak punya daya dan tidak punya kekuatan?
Bahkan takut kepada makhluk dan berharap kepadanya adalah salah satu sebab kekurangan dan turunnya yang tidak disukai kepada orang yang berharap dan takut kepadanya. Karena seukuran ketakutanmu kepada selain Allah, ia akan dikuasakan atasmu. Dan seukuran harapanmu kepada selain-Nya akan terjadi kekurangan. Ini keadaan seluruh makhluk walau hilang dari kebanyakan mereka secara ilmu dan keadaan.
Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi walau seluruh makhluk bersepakat atasnya.
Tauhid adalah tempat berlindung musuh-musuh-Nya dan wali-wali-Nya. Adapun musuh-musuh-Nya, ia menyelamatkan mereka dari kesusahan dunia dan kesulitannya: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke darat, tiba-tiba mereka mempersekutukan-Nya.” (Al-Ankabut: 65)
Adapun wali-wali-Nya, Dia menyelamatkan mereka dengannya dari kesusahan dunia dan akhirat dan kesulitannya. Karena itulah Yunus berlindung kepadanya lalu Allah menyelamatkannya dari kegelapan-kegelapan itu. Dan berlindung kepadanya para pengikut rasul lalu mereka selamat dengannya dari apa yang dengannya diazab orang-orang musyrik di dunia dan apa yang disiapkan untuk mereka di akhirat.
Dan ketika Firaun berlindung kepadanya saat menyaksikan kebinasaan dan mengejar tenggelam, hal itu tidak bermanfaat baginya karena iman saat penyaksian tidak diterima. Ini sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya.
Maka tidak ada yang menolak kesulitan dunia seperti tauhid. Karena itulah doa kesusahan dengan tauhid, dan doa Dzun Nun yang tidak ada orang yang susah berdoa dengannya kecuali Allah melapangkan kesusahannya dengan tauhid. Maka tidak ada yang melemparkan dalam kesusahan besar kecuali syirik, dan tidak ada yang menyelamatkan darinya kecuali tauhid. Maka ia adalah tempat berlindung makhluk dan tempat berlarinya dan bentengnya dan penolongnya. Dan dengan Allah taufik.
Faedah: Kenikmatan mengikuti kecintaan, menguat dengan kekuatannya dan melemah dengan kelemahannya. Maka semakin kuat keinginan pada yang dicintai dan kerinduan kepadanya, semakin sempurna kenikmatan dengan sampai kepadanya. Kecintaan dan kerinduan mengikuti mengenalnya dan mengetahuinya. Maka semakin sempurna pengetahuan tentangnya, semakin sempurna kecintaannya.
Jika kembali kesempurnaan kenikmatan di akhirat dan kesempurnaan kelezatan kepada ilmu dan cinta, maka barang siapa yang lebih mengenal Allah dan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dan agama-Nya, maka ia lebih mencintai-Nya. Dan kelezatannya dengan sampai kepada-Nya, bertetangga dengan-Nya, melihat wajah-Nya dan mendengar kalam-Nya adalah lebih sempurna.
Dan setiap kelezatan dan kenikmatan dan kegembiraan dan kebahagiaan dibandingkan dengan itu seperti setetes dalam lautan. Bagaimana orang yang berakal lebih memilih kelezatan yang lemah, sebentar, bercampur dengan kesakitan daripada kelezatan yang besar, kekal selamanya?
Kesempurnaan hamba sesuai dengan dua kekuatan ini: ilmu dan cinta. Sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang Allah, setinggi-tinggi cinta adalah cinta kepada-Nya, dan sesempurna-sempurna kelezatan sesuai keduanya. Dan Allah yang diminta pertolongan.
Kaidah: Pencari Allah dan negeri akhirat tidak lurus berjalannya dan pencariannya kecuali dengan dua tahanan: menahan hatinya dalam pencarian dan yang dicarinya dan menahannya dari menoleh kepada selain-Nya. Menahan lisannya dari apa yang tidak bermanfaat dan menahannya pada zikir Allah dan apa yang menambah iman dan ma’rifahnya.
Menahan anggota badannya dari kemaksiatan dan syahwat dan menahannya pada kewajiban dan sunah. Maka ia tidak meninggalkan tahanan sampai bertemu Tuhannya lalu Dia membebaskannya dari penjara ke lapangan yang paling luas dan paling baik.
Kapan ia tidak sabar atas dua tahanan ini dan lari darinya ke lapangan syahwat, maka itu mengakibatkan tahanan yang mengerikan saat keluarnya dari dunia. Maka setiap yang keluar dari dunia, ia terbebas dari tahanan atau pergi ke tahanan. Dan dengan Allah taufik.
Ibnu Aun melepas seorang laki-laki lalu berkata: “Hendaklah kau bertakwa kepada Allah, karena orang yang bertakwa tidak ada kesendirian baginya.”
Zaid bin Aslam berkata: “Dahulu dikatakan: barang siapa bertakwa kepada Allah, manusia mencintainya walau mereka benci.”
Ats-Tsauri berkata kepada Ibnu Abi Dzi’b: “Jika kau bertakwa kepada Allah, Allah mencukupimu dari manusia. Jika kau bertakwa kepada manusia, mereka tidak akan menolongmu dari Allah sedikitpun.”
Sulaiman bin Daud berkata: “Kami diberi dari apa yang diberi manusia dan dari apa yang tidak mereka beri. Kami diajar dari apa yang diajar manusia dan dari apa yang tidak mereka ketahui. Maka kami tidak mendapati sesuatu yang lebih utama dari takwa kepada Allah dalam rahasia dan terang-terangan, adil dalam marah dan ridha, dan sederhana dalam fakir dan kaya.”
Dalam kitab Zuhd Imam Ahmad ada atsar ilahi: “Tidaklah ada makhluk yang berlindung kepada makhluk selain-Ku kecuali Aku putuskan sebab-sebab langit dan bumi darinya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku tidak memberi. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku tidak mengabulkan. Jika ia meminta ampun kepada-Ku, Aku tidak mengampuni.
Dan tidaklah ada makhluk yang berlindung kepada-Ku tanpa makhluk-Ku kecuali Aku jamin langit dan bumi rezekinya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku beri. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Jika ia meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni.”
Faedah Mulia: Nabi menggabungkan antara takwa kepada Allah dan akhlak yang baik karena takwa kepada Allah memperbaiki apa yang antara hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak yang baik memperbaiki apa yang antara dia dan makhluk-Nya. Takwa kepada Allah mewajibkan baginya kecintaan Allah, dan akhlak yang baik mengajak kepada kecintaannya.
Faedah Mulia: Antara hamba dan Allah serta surga ada jembatan yang dilalui dengan dua langkah: langkah dari dirinya dan langkah dari makhluk. Maka ia menjatuhkan dirinya dan melenyapkannya dalam apa yang antara dia dan manusia, dan menjatuhkan manusia serta melenyapkan mereka dalam apa yang antara dia dan Allah. Maka ia tidak menoleh kecuali kepada yang menunjukkannya kepada Allah dan kepada jalan yang menghubungkan kepada-Nya.
Berteriak kepada para sahabat seorang penasihat: “Telah dekat bagi manusia perhitungan mereka.” Maka gelisahlah karena takut hati-hati mereka. Lalu mengalir karena waspada mata-mata. Maka mengalirlah lembah-lembah sesuai ukurannya.
Dunia berhias untuk Ali lalu ia berkata: “Kamu talak tiga, tidak ada rujuk bagiku kepadamu.” Padahal cukup baginya satu karena sunnah, tetapi ia menghimpun tiga agar tidak terbayangkan oleh hawa nafsu bolehnya rujuk kembali. Agamanya yang benar dan tabiatnya yang sehat enggan dari muhallil, apalagi dia salah satu perawi hadits: “Allah melaknat muhallil.”
Tidak ada di rumah ini tempat khalwat, maka jadikanlah dalam dirimu. Pasti ada yang menarikmu, maka kenalilah dan berhati-hatilah darinya. Kesibukan tidak mudharatmu jika kau kosong darinya sedang kau di dalamnya.
Cahaya kebenaran lebih terang dari matahari, maka pantas bagi kelelawar-kelelawar mata batin untuk buta darinya. Jalan kepada Allah kosong dari ahli keraguan dan dari orang-orang yang mengikuti syahwat. Ia makmur dengan ahli keyakinan dan kesabaran. Mereka di jalan seperti tanda-tanda.
“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Kaidah tentang Syahadat La ilaha illa Allah di Saat Kematian
Kaidah: Syahadat “La ilaha illa Allah” (Tiada Tuhan selain Allah) ketika menjelang kematian memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menghapus dan menggugurkan dosa-dosa. Hal ini karena syahadat tersebut diucapkan oleh seorang hamba yang meyakininya, mengetahui kandungannya, telah mati daripadanya syahwat-syahwat, telah lembut jiwa yang dahulu memberontak, telah tunduk setelah sebelumnya menolak dan membangkang, telah menghadap setelah sebelumnya berpaling, telah hina setelah sebelumnya tinggi hati. Telah keluar daripadanya keserakahan terhadap dunia dan hal-hal berlebihan di dalamnya. Jiwa telah tunduk di hadapan Rabb-nya, Pencipta-nya, dan Penguasa-nya yang hak dengan kehinaan yang paling besar baginya, serta dengan harapan yang paling besar terhadap maaf, ampunan, dan rahmat-Nya.
Telah bersih daripadanya tauhid dengan terputusnya sebab-sebab syirik dan terbuktinya kebatilan syirik. Maka hilanglah daripadanya pertentangan-pertentangan yang dahulu menyibukkannya. Berkumpullah perhatiannya kepada Dzat yang telah diyakininya akan datang kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Maka hamba tersebut menghadapkan wajahnya secara total kepada-Nya, menghadap dengan hati, ruh, dan perhatiannya kepada-Nya. Maka ia berserah diri kepada-Nya semata secara lahir dan batin, sama antara yang tersembunyi dan yang tampak. Maka ia mengucapkan “La ilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya, sementara hatinya telah bersih dari keterikatan kepada selain-Nya dan dari berpaling kepada selain-Nya.
Telah keluar seluruh dunia dari hatinya, hampir datang kepada Rabbnya, padam api syahwatnya, penuh hatinya dengan akhirat sehingga akhirat menjadi di depan matanya dan dunia menjadi di belakang punggungnya. Maka syahadat yang ikhlas itu menjadi penutup amalnya, membersihkannya dari dosa-dosanya, dan memasukkannya kepada Rabbnya. Karena sesungguhnya ia menemui Rabbnya dengan syahadat yang benar dan ikhlas, sesuai antara lahir dan batinnya, antara yang tersembunyi dan yang tampak.
Seandainya syahadat itu terjadi baginya dengan cara seperti ini di hari-hari sehatnya, niscaya ia akan merasa asing dari dunia dan penduduknya, lari kepada Allah dari manusia, dan merasa tenteram dengan-Nya tanpa yang lainnya. Tetapi ia bersaksi dengan hati yang penuh dengan syahwat dan cinta kehidupan serta sebab-sebabnya, dengan jiwa yang penuh dengan mencari kesenangan dan berpaling kepada selain Allah. Seandainya ia bersih seperti bersihnya ketika menjelang mati, niscaya baginya ada kehidupan lain dan kehidupan lain selain kehidupan hewaninya. Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Ketergantungan Mutlak Hamba kepada Allah
Apa yang dimiliki seseorang dari urusannya, padahal ubun-ubunnya di tangan Allah, jiwanya di tangan-Nya, hatinya di antara dua jari dari jari-jari-Nya yang membolak-balikkannya sekehendak-Nya, hidupnya di tangan-Nya, matinya di tangan-Nya, kebahagiaannya di tangan-Nya, kesengsaraannya di tangan-Nya, gerak dan diamnya, perkataan dan perbuatannya dengan izin dan kehendak-Nya. Maka ia tidak bergerak kecuali dengan izin-Nya, tidak berbuat kecuali dengan kehendak-Nya.
Jika Allah menyerahkannya kepada dirinya sendiri, maka Dia menyerahkannya kepada kelemahan, kehinaan, kelalaian, dosa, dan kesalahan. Jika menyerahkannya kepada selain-Nya, maka Dia menyerahkannya kepada yang tidak memiliki untuknya mudarat, manfaat, mati, hidup, dan kebangkitan. Jika Allah meninggalkannya, maka musuhnya akan menguasainya dan menjadikannya tawanan baginya.
Maka ia tidak dapat lepas dari-Nya walau sekejap mata, bahkan ia sangat memerlukan-Nya setiap saat dalam setiap bagian kecil dari bagian-bagiannya, lahir dan batin. Kebutuhannya kepada-Nya adalah sempurna. Namun dengan semua itu, ia lengah dari-Nya, berpaling dari-Nya, menjadikan dirinya dibenci oleh-Nya dengan bermaksiat kepada-Nya, padahal sangat memerlukan-Nya dari segala segi. Ia telah menjadi lupa akan mengingat-Nya dan menjadikan-Nya di belakang punggung. Ini semua padahal kepada-Nya tempat kembalinya dan di hadapan-Nya tempat berdirinya.
Nasihat tentang Rezeki dan Ajal
Kosongkan pikiranmu untuk mengurusi apa yang diperintahkan kepadamu, jangan sibukkan dengan apa yang dijamin untukmu. Sesungguhnya rezeki dan ajal adalah dua hal yang berpasangan dan dijamin. Selama ajal masih ada, maka rezeki akan datang. Jika Allah menutup bagimu dengan hikmah-Nya satu jalan dari jalan-jalan-Nya, maka Dia akan membuka bagimu dengan rahmat-Nya jalan yang lebih bermanfaat bagimu daripadanya.
Perhatikanlah keadaan janin, datang kepadanya makanannya yaitu darah dari satu jalan yaitu tali pusar. Ketika ia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan itu, dibukakan baginya dua jalan dan dialirkan padanya rezeki yang lebih lezat dan enak dari yang pertama yaitu susu yang murni dan mudah ditelan. Ketika masa menyusui selesai dan terputus kedua jalan dengan penyapihan, dibukakan empat jalan yang lebih sempurna daripadanya yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan dari hewan dan tumbuhan, dua minuman dari air dan susu serta apa yang ditambahkan kepadanya dari manfaat dan kelezatan.
Ketika ia mati, terputuslah daripadanya empat jalan ini, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan baginya jika ia beruntung delapan jalan yaitu delapan pintu surga, masuk dari mana saja yang ia kehendaki. Demikianlah Rabb Subhanahu wa Ta’ala tidak menghalangi hamba-Nya yang beriman dari sesuatu dunia kecuali memberikan kepadanya yang lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Hal itu tidak berlaku bagi selain orang beriman, karena Dia menghalanginya dari bagian yang rendah dan hina, tidak ridha baginya dengannya agar memberikan kepadanya bagian yang tinggi dan mulia.
Hamba karena kebodohannya tentang kemaslahatan dirinya, kebodohannya tentang kemuliaan Rabbnya, hikmah dan kelembutan-Nya, tidak mengetahui perbedaan antara apa yang dihalangi daripadanya dengan apa yang disimpan baginya. Bahkan ia terpesona dengan cinta yang segera walau rendah, dan kurang berminat pada yang tertunda walau tinggi.
Seandainya hamba berbuat adil kepada Rabbnya – dan dari mana ia bisa melakukan itu – niscaya ia akan tahu bahwa karunia-Nya kepadanya dalam apa yang dihalangi dari dunia, kelezatan dan kenikmatan dunia, lebih besar dari karunia-Nya kepadanya dalam apa yang diberikan dari itu. Maka Dia tidak menghalanginya kecuali untuk memberinya, tidak mengujinya kecuali untuk menyembuhkannya, tidak mengujinya kecuali untuk bersahabat dengannya, tidak mematikannya kecuali untuk menghidupkannya, tidak mengeluarkannya ke dunia ini kecuali agar bersiap-siap daripadanya untuk datang kepada-Nya dan menempuh jalan yang menghubungkan kepadanya.
Maka Dia jadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur. “Dan orang-orang yang zalim tidak menolak kecuali kufur” (Al-Furqan: 50). Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Barangsiapa mengenal dirinya akan sibuk memperbaikinya daripada mencari aib orang lain. Barangsiapa mengenal Rabbnya akan sibuk dengan-Nya daripada mengikuti hawa nafsunya.
Amal yang paling bermanfaat adalah engkau ghaib di dalamnya dari manusia dengan keikhlasan dan ghaib dari dirimu dengan menyaksikan pemberian, sehingga engkau tidak melihat dirimu di dalamnya dan tidak melihat makhluk.
Manusia masuk neraka dari tiga pintu: pintu syubhat yang mewariskan keraguan dalam agama Allah, pintu syahwat yang mewariskan mendahulukan hawa nafsu atas ketaatan dan keridhaan-Nya, dan pintu kemarahan yang mewariskan permusuhan terhadap makhluk-Nya.
Tiga Akar Kesalahan
Akar semua kesalahan ada tiga: kesombongan, yaitu yang menjadikan Iblis sampai pada keadaannya; keserakahan, yaitu yang mengeluarkan Adam dari surga; dan kedengkian, yaitu yang memberanikan salah satu anak Adam terhadap saudaranya. Barangsiapa terlindungi dari kejahatan tiga hal ini, maka ia telah terlindungi dari kejahatan. Kekufuran dari kesombongan, kemaksiatan dari keserakahan, dan kedhaliman serta kezaliman dari kedengkian.
Hikmah Penciptaan Anggota Tubuh
Allah jadikan dengan hikmah-Nya setiap bagian dari bagian-bagian anak Adam, lahir dan batin, sebagai alat untuk sesuatu. Jika digunakan untuk itu, maka itulah kesempurnaannya. Mata alat untuk melihat, telinga alat untuk mendengar, hidung alat untuk mencium, lidah alat untuk berbicara, kemaluan untuk nikah, tangan untuk memukul, kaki untuk berjalan, hati untuk tauhid dan ma’rifat, ruh untuk mahabbah, akal alat untuk berpikir dan mempertimbangkan akibat urusan agama dan dunia, mengutamakan apa yang pantas diutamakan dan mengabaikan apa yang pantas diabaikan.
Orang yang Paling Rugi
Orang yang paling rugi perniagaannya adalah yang sibuk dari Allah dengan dirinya, bahkan lebih rugi daripadanya adalah yang sibuk dari dirinya dengan manusia.
Hadits tentang Lidah
Dalam Sunan dari hadits Abu Sa’id secara marfu’: “Jika anak Adam bangun pagi, maka semua anggota badan tunduk kepada lidah. Mereka berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya kami tergantung kepadamu. Jika engkau lurus, kami akan lurus, dan jika engkau bengkok, kami akan bengkok.'”
Kata “tunduk kepada lidah” dikatakan artinya khusyu’ kepadanya. Dalam hadits bahwa para sahabat ketika masuk kepada Najasyi tidak tunduk kepadanya, artinya tidak sujud dan tidak khusyu’. Karena itu Amr bin Ash berkata kepadanya: “Wahai raja, sesungguhnya mereka tidak tunduk kepadamu.”
Adapun anggota badan tunduk kepada lidah karena lidah adalah utusan hati dan penerjemahnya serta perantara antara hati dengan anggota badan. Ucapan mereka “sesungguhnya kami tergantung kepadamu” artinya keselamatan kami dan kebinasaan kami tergantung kepadamu. Karena itu mereka berkata: “Jika engkau lurus, kami akan lurus, dan jika engkau bengkok, kami akan bengkok.”
Pasal tentang Takwa dan Kesederhanaan dalam Mencari Rizki
Nabi mengumpulkan dalam sabdanya: “Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah sederhana dalam mencari rizki” antara kemaslahatan dunia dan akhirat. Kenikmatan dan kelezatan akhirat hanya diperoleh dengan takwa kepada Allah. Ketenangan hati dan badan serta meninggalkan kegelisahan, keserakahan yang berlebihan, kepayahan, keras kepala, susah payah, dan kesengsaraan dalam mencari dunia hanya diperoleh dengan kesederhanaan dalam mencari.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah, ia beruntung dengan kelezatan akhirat dan kenikmatan akhirat. Barangsiapa bersikap sederhana dalam mencari, ia beristirahat dari kesulitan dunia dan kegelisahannya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Dunia telah berteriak tentang dirinya sendiri… seandainya ada dalam makhluk ini yang mendengar. Betapa banyak yang percaya dengan kehidupan, dibinasakan olehnya… dan pengumpul, dicerai-beraikan apa yang dikumpulkannya.
Faedah tentang Dosa dan Hutang
Faedah: Nabi mengumpulkan antara dosa (ma’tsam) dan hutang (maghram). Karena dosa menyebabkan kerugian akhirat, dan hutang menyebabkan kerugian dunia.
Bagian Pertama: Tentang Jihad dan Hidayah
Faidah: Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut: 69). Allah Subhanahu menggantungkan hidayah dengan jihad. Maka manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah jihad melawan nafsu, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Barangsiapa yang berjihad melawan keempat hal ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah menuju jalan-jalan ridha-Nya yang mengantarkan ke surga-Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad, maka akan terluput darinya hidayah sesuai dengan apa yang ditinggalkannya dari jihad.
Al-Junaid berkata: “Dan orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu mereka untuk (mencari keridhaan) Kami dengan taubat, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan ikhlas.” Tidaklah seseorang mampu berjihad melawan musuhnya di lahir kecuali orang yang berjihad melawan musuh-musuh ini secara batin. Barangsiapa yang menang atas mereka, maka dia akan menang atas musuhnya. Dan barangsiapa yang dikalahkan oleh mereka, maka dia akan dikalahkan oleh musuhnya.
Bagian Kedua: Tentang Peperangan Batin
Pasal: Allah Subhanahu menjadikan permusuhan antara setan dengan malaikat, permusuhan antara akal dengan hawa nafsu, dan permusuhan antara nafsu amarah dengan hati. Allah menguji hamba dengan hal itu dan mengumpulkan untuk hamba semua pihak tersebut, dan memberi bantuan kepada setiap kelompok dengan tentara dan penolong. Maka perang tidak akan berhenti bergantian dan berputar antara kedua kelompok sampai salah satunya menguasai yang lain dan yang lain menjadi tertaklukkan bersamanya.
Apabila giliran untuk hati, akar, dan malaikat, maka di sanalah kegembiraan, kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan, kesenangan, penyejuk mata, kehidupan yang baik, kelapangan dada, dan kemenangan dengan rampasan perang. Dan apabila giliran untuk nafsu, hawa nafsu, dan setan, maka di sanalah kesedihan, kegelisahan, kesusahan, berbagai keburukan, kesempitan dada, dan tertahannya malaikat.
Bagaimana pendapatmu tentang seorang raja yang dikuasai oleh musuhnya, lalu musuh itu menurunkannya dari tahta kerajaannya, menawannya, memenjarakannya, menghalanginya dari perbendaharaan dan hartanya serta para pembantunya, dan menjadikan semua itu untuk dirinya? Dan dengan semua itu, raja tersebut tidak bergerak untuk menuntut balasannya, tidak meminta pertolongan kepada orang yang dapat menolongnya, dan tidak meminta bantuan kepada orang yang dapat membantunya.
Di atas raja itu ada Raja Yang Maha Menguasai yang tidak dapat dikalahkan, Yang Maha Mengalahkan yang tidak dapat dikalahkan, Yang Maha Mulia yang tidak dapat dihinakan. Dia mengutus kepadanya: “Jika engkau meminta pertolongan kepada-Ku, Aku akan menolongmu. Jika engkau meminta pertolongan kepada-Ku, Aku akan menolongmu. Jika engkau berlindung kepada-Ku, Aku akan membalaskan dendammu. Jika engkau lari kepada-Ku dan berlindung kepada-Ku, Aku akan menguasakan engkau atas musuhmu dan menjadikannya di bawah tawananmu.”
Jika raja yang tertawan itu berkata: “Musuhku telah mengikat erat ikatanku, mengukuhkan belengguku, memastikan aku dengan belenggu, dan menghalangiku untuk bangkit kepadamu, lari kepadamu, dan berjalan menuju pintumu. Jika Engkau mengutus tentara dari sisi-Mu yang melepaskan ikatanku, membebaskan belengguku, dan mengeluarkanku dari penjaranya, maka aku dapat datang ke pintu-Mu. Jika tidak, aku tidak dapat meninggalkan penjaraku dan tidak dapat mematahkan belengguku.”
Jika dia mengatakan hal itu sebagai bantahan kepada Sultan tersebut, menolak pesannya, dan rela dengan keadaannya di sisi musuhnya, maka Sultan Yang Maha Agung akan meninggalkannya dalam keadaannya dan menyerahkannya kepada apa yang dia pilih.
Jika dia mengatakan hal itu karena membutuhkan kepada-Nya, menampakkan ketidakberdayaan dan kehinaannya, bahwa dia terlalu lemah dan tidak mampu untuk berjalan kepada-Nya dengan dirinya sendiri, keluar dari penjara musuhnya, dan terbebas darinya dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri, dan bahwa dari kesempurnaan nikmat-Nya kepadanya sebagaimana Dia telah mengutus pesan ini kepadanya adalah membantunya dengan tentara dan budak-budak-Nya dengan orang yang membantunya untuk terbebas, memecahkan pintu penjaranya, dan melepaskan belenggunya…
Jika Dia melakukan hal itu kepadanya, maka Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya. Dan jika Dia meninggalkannya, maka Dia tidak menzaliminya dan tidak mencegah hak yang menjadi miliknya. Bahwa pujian dan hikmah-Nya menghendaki pencegahan dan peninggalannya dalam penjaranya, terutama jika dia mengetahui bahwa penjara itu adalah penjara-Nya, dan bahwa musuh yang memenjarakannya itu adalah budak dari budak-budak-Nya dan hamba dari hamba-hamba-Nya yang ubun-ubunnya berada di tangan-Nya, tidak bertindak kecuali dengan izin dan kehendak-Nya.
Maka dia tidak menoleh kepadanya, tidak takut padanya, tidak meyakini bahwa dia memiliki sesuatu dari urusan, dan tidak ada manfaat atau mudarat di tangannya. Tetapi dia melihat kepada Pemiliknya, yang mengurus urusannya, dan yang ubun-ubunnya berada di tangan-Nya. Dia telah mengkhususkan kepada-Nya rasa takut, harapan, permohonan, perlindungan, keinginan, dan ketakutan. Di sanalah datang kepadanya pasukan kemenangan dan kemenangan.
Bagian Ketiga: Tentang Cita-cita dalam Ilmu dan Ibadah
Cita-cita tertinggi dalam mencari ilmu adalah mencari ilmu Al-Quran dan Sunnah serta memahami tentang Allah dan Rasul-Nya maksud yang sebenarnya, dan mengetahui batasan-batasan yang diturunkan. Cita-cita terendah para penuntut ilmu adalah membatasi cita-citanya pada mengejar masalah-masalah yang aneh dan yang tidak turun dan tidak akan terjadi, atau cita-citanya adalah mengetahui perbedaan pendapat dan mengejar perkataan manusia tanpa memiliki cita-cita untuk mengetahui yang benar dari perkataan-perkataan tersebut. Jarang sekali salah satu dari mereka ini dapat mengambil manfaat dari ilmunya.
Cita-cita tertinggi dalam bab kehendak adalah bahwa cita-cita terkait dengan cinta kepada Allah dan berdiri dengan kehendak agama dan perintah-Nya. Yang terendah adalah bahwa cita-cita berhenti pada kehendak pemiliknya dari Allah. Dia hanya menyembah-Nya untuk kehendaknya dari-Nya, bukan untuk kehendak Allah darinya. Yang pertama menginginkan Allah dan menginginkan kehendak-Nya. Yang kedua menginginkan dari Allah dan dia kosong dari kehendak-Nya.
Bagian Keempat: Tentang Ulama Su’
Ulama su’ (ulama yang buruk) duduk di pintu surga, mengajak manusia kepadanya dengan perkataan mereka dan mengajak mereka ke neraka dengan perbuatan mereka. Setiap kali perkataan mereka mengatakan kepada manusia “marilah”, perbuatan mereka berkata “jangan dengarkan mereka”. Seandainya apa yang mereka ajak kepadanya adalah kebenaran, mereka akan menjadi orang pertama yang meresponnya. Mereka dalam bentuk adalah petunjuk, tetapi dalam kenyataan adalah perampok jalan.
Jika Allah sendiri adalah bagianmu dan keinginanmu, maka semua keutamaan mengikutimu dan mendekat kepadamu. Jenis apapun darinya, engkau memulainya. Dan jika bagianmu adalah apa yang engkau peroleh dari-Nya, maka keutamaan tertahan darimu karena dia berada di tangan-Nya, mengikutinya, perbuatan dari perbuatan-perbuatan-Nya.
Jika itu diperoleh untukmu, maka keutamaan diperoleh untukmu dengan cara terpaksa dan mengikuti. Dan jika keutamaan adalah tujuanmu, maka Allah tidak diperoleh dengan cara terpaksa dan mengikuti. Jika engkau telah mengenal-Nya dan merasa tenang dengan-Nya kemudian jatuh untuk mencari keutamaan, Dia akan mencegahmu darinya sebagai hukuman untukmu. Maka engkau kehilangan Allah dan kehilangan keutamaan.
Bagian Kelima: Tentang Perjalanan Rasulullah
Pasal: Ketika Rasulullah keluar dari kepungan musuh, dia memasuki kepungan kemenangan. Tangan-tangan pasukannya bermain-main dengan kemenangan di daerah-daerah pinggiran, maka terbanglah namanya di seluruh penjuru. Makhluk menjadi tiga bagian bersamanya: yang beriman kepadanya, yang berdamai dengannya, dan yang takut padanya.
Dia menaburkan benih kesabaran di ladang “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul” (QS. Al-Ahqaf: 35). Maka cabang-cabang tanaman bergoyang dengan bunga lavender dan kehormatan adalah qisas. Lalu dia memasuki Mekah dengan cara masuk yang tidak pernah dimasuki oleh siapapun sebelumnya dan sesudahnya. Di sekelilingnya para Muhajirin dan Anshar, tidak terlihat dari mereka kecuali mata mereka. Para sahabat sesuai tingkatan mereka, para malaikat di atas kepala mereka, dan Jibril bolak-balik antara dia dan Tuhannya. Dan Allah telah menghalalkan baginya tanah haram-Nya yang tidak Dia halalkan untuk siapapun selain dia.
Ketika dia membandingkan antara hari ini dengan hari “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuh kamu atau mengusir kamu” (QS. Al-Anfal: 30), dan mereka mengusirnya sebagai yang kedua dari dua orang…
Dia masuk dengan dagunya menyentuh pelana kudanya karena tunduk dan hina kepada Yang telah memakainya jubah kemuliaan ini yang kepadanya seluruh makhluk mengangkat kepala mereka dan para raja menjulurkan leher mereka. Dia memasuki Mekah sebagai pemilik yang didukung dan ditolong. Bilal naik di atas Ka’bah setelah sebelumnya dia diseret di atas pasir panas di atas bara fitnah. Lalu dia menyebarkan kain yang dilipat dari kaum sejak hari perkataannya “Ahad, Ahad” dan mengangkat suaranya dengan adzan. Suku-suku menjawabnya dari setiap penjuru, mereka datang menuju suara itu. Mereka memasuki agama Allah secara berkelompok, padahal sebelum itu mereka datang satu per satu.
Ketika Rasulullah duduk di atas mimbar kemuliaan dan tidak pernah turun darinya, para raja menjulurkan leher mereka dengan tunduk kepadanya. Di antara mereka ada yang menyerahkan kunci-kunci negeri kepadanya, di antara mereka ada yang meminta gencatan senjata dan perdamaian, di antara mereka ada yang mengakui dengan jizyah dan kehinaan, dan di antara mereka ada yang mulai mengumpulkan dan bersiap untuk perang tanpa mengetahui bahwa dia tidak menambah selain mengumpulkan rampasan perang dan menggiring tawanan kepadanya.
Ketika kemenangannya sempurna, dia menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan datang kepadanya surat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap apa yang telah lalu dari dosamu dan yang akan datang dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolong kamu dengan pertolongan yang kuat” (QS. Al-Fath: 1-3).
Dan setelahnya surat “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong” (QS. An-Nasr: 1-2). Datang kepadanya utusan Tuhannya yang mengabarkan kepadanya antara tinggal di dunia dan bertemu dengan-Nya. Dia memilih bertemu dengan Tuhannya karena rindu kepada-Nya. Maka surga-surga berhias untuk hari kedatangan rohnya yang mulia, bukan seperti hiasan Madinah di hari kedatangan raja.
Jika Arsy Ar-Rahman saja bergoncang karena kematian sebagian pengikutnya karena gembira dan bergembira dengan kedatangan rohnya, bagaimana dengan roh pemimpin seluruh makhluk? Wahai yang menisbatkan diri kepada selain pintu ini, wahai yang berdiri di selain pintu ini, engkau akan mengetahui pada hari berkumpul rahasia apa yang akan engkau jalani pada hari ketika rahasia-rahasia diuji.
Bagian Keenam: Peringatan bagi yang Terpedaya
Pasal: Wahai yang terpedaya dengan angan-angan! Iblis dilaknat dan diturunkan dari tempat kemuliaan karena meninggalkan satu sujud yang diperintahkan kepadanya. Adam dikeluarkan dari surga karena suapan yang diambilnya. Pembunuh terhalang darinya setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri karena segenggam darah. Dan diperintahkan membunuh pezina dengan cara pembunuhan yang paling buruk karena memasukkan sebesar ujung jari ke dalam yang tidak halal. Dan diperintahkan memukulkan cambuk di punggung karena kata qadzaf atau setetes arak. Dan memotong anggota dari anggotamu karena tiga dirham.
Maka jangan merasa aman dari-Nya bahwa Dia akan memenjarakanmu di neraka karena satu kemaksiatan dari kemaksiatan-kemaksiatan-Nya “dan dia tidak takut akan akibatnya” (QS. Asy-Syams: 15). Seorang wanita masuk neraka karena kucing. “Sesungguhnya seseorang mengucapkan perkataan yang tidak dia pedulikan, lalu dia terjatuh karenanya ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” “Sesungguhnya seseorang beramal dengan ketaatan kepada Allah selama enam puluh tahun, ketika menjelang kematian dia berbuat curang dalam wasiat, lalu ditutup baginya dengan amal buruknya, maka dia masuk neraka.”
Umur dengan akhirnya dan amal dengan penutupnya. “Barangsiapa berhadats sebelum salam, batallah apa yang telah berlalu dari shalatnya. Barangsiapa berbuka sebelum matahari terbenam, puasanya hilang sia-sia. Barangsiapa berbuat buruk di akhir umurnya, dia akan menemui Tuhannya dalam wajah itu.”
“Seandainya engkau mendahulukan suapan, engkau akan mendapatkannya, tetapi yang menyakitimu adalah kerakusan.” Berapa banyak pahala datang berlari kepadamu lalu berhenti di pintu, lalu ditolak oleh penjaga “nanti”, “mungkin”, dan “mudah-mudahan”. Bagaimana keberuntungan antara iman yang kurang, harapan yang berlebihan, penyakit tanpa dokter dan penjenguk, hawa nafsu yang terjaga dan akal yang tidur? Lengah dalam kebodohannya, buta dalam kemabukkannya, berenang dalam lautan kejahilannya, merasa asing dengan Tuhannya, merasa akrab dengan makhluk-Nya. Dzikir manusia adalah buah dan kekuatannya, dzikir Allah adalah penjara dan kematiannya. Untuk Allah darinya bagian yang sedikit dari lahirnya, hati dan keyakinannya untuk selain-Nya.
“Tidak ada yang tersisa dari selain-Mu di dalamnya Yang dapat menemukan jalan untuk mencela-Nya”
Bagian Ketujuh: Tentang Penciptaan Adam
Pasal: Yang pertama dari makhluk adalah Qalam untuk menulis takdir sebelum terjadinya, dan Adam dijadikan sebagai makhluk terakhir. Dalam hal itu ada hikmah-hikmah:
Pertama: Mempersiapkan rumah sebelum penghuninya.
Kedua: Bahwa dia adalah tujuan yang untuk kepentingannya diciptakan selain dia dari langit, bumi, matahari, bulan, daratan, dan lautan.
Ketiga: Bahwa pengrajin yang paling ahli mengakhiri karyanya dengan yang paling baik dan tujuannya sebagaimana dia memulainya dengan dasar dan permulaannya.
Keempat: Bahwa jiwa-jiwa selalu menantikan akhir-akhir dan penutup. Karena itu Musa berkata kepada para penyihir “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan” (QS. Thaha: 66). Ketika manusia melihat perbuatan mereka, mereka menantikan apa yang akan datang setelahnya.
Kelima: Bahwa Allah Subhanahu mengakhirkan kitab, nabi, dan umat yang paling utama sampai akhir zaman, dan menjadikan akhirat lebih baik dari yang pertama dan akhir-akhir lebih sempurna dari permulaan. Berapa banyak perbedaan antara perkataan malaikat kepada rasul “Bacalah” lalu dia menjawab “Aku tidak bisa membaca” dengan firman-Nya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS. Al-Maidah: 3).
Keenam: Bahwa Dia Subhanahu mengumpulkan apa yang dipisah-Nya di alam dalam Adam. Dia adalah alam kecil dan di dalamnya apa yang ada di alam besar.
Ketujuh: Bahwa dia adalah sari dan buah wujud, maka pantas bahwa penciptaannya setelah yang ada.
Kedelapan: Bahwa dari kemuliaannya kepada Khaliq-nya bahwa Dia menyiapkan untuknya kemaslahatannya, kebutuhannya, alat kehidupannya, dan sebab-sebab hidupnya. Dia tidak mengangkat kepalanya kecuali semua itu sudah hadir dan siap.
Kesembilan: Bahwa Dia Subhanahu menginginkan untuk menampakkan kemuliaan dan keutamaannya atas seluruh makhluk, maka Dia mendahulukan mereka dalam penciptaan. Karena itu para malaikat berkata: “Biarlah Tuhan kami menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia tidak akan menciptakan makhluk yang lebih mulia kepada-Nya dari kami.” Ketika Dia menciptakan Adam dan memerintahkan mereka bersujud kepadanya, tampaklah keutamaan dan kemuliaannya atas mereka dengan ilmu dan pengetahuan.
Ketika dia jatuh dalam dosa, para malaikat mengira bahwa keutamaan itu telah dihapus dan mereka tidak mengetahui tentang penghambaan taubat yang tersembunyi. Ketika dia bertaubat kepada Tuhannya dan datang dengan penghambaan itu, para malaikat mengetahui bahwa Allah memiliki rahasia dalam makhluk-Nya yang tidak diketahui selain Dia.
Kesepuluh: Bahwa Dia Subhanahu ketika memulai penciptaan alam ini dengan qalam, dari keserasian yang paling baik bahwa Dia mengakhirinya dengan penciptaan manusia. Karena qalam adalah alat ilmu dan manusia adalah yang berilmu. Karena itu Dia Subhanahu menampakkan keutamaan Adam atas para malaikat dengan ilmu yang dikhususkan baginya tanpa mereka.
Perhatikanlah bagaimana Allah Subhanahu menulis uzur Adam sebelum turunnya ke bumi, mengingatkan para malaikat tentang keutamaan dan kemuliaannya, dan menyebut namanya sebelum mewujudkannya dengan firman-Nya “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Perhatikanlah bagaimana Dia menamakannya dengan khilafah dan itu adalah wilayah baginya sebelum keberadaannya, dan Dia menegakkan uzurnya sebelum turun dengan firman-Nya “di bumi”. Kekasih menegakkan uzur yang dicintai sebelum kejahatan.
Ketika Dia membentuknya, Dia membaringkannya di pintu surga selama empat puluh tahun karena kebiasaan kekasih adalah berdiri di pintu kekasih. Dia melemparkannya di jalan kehinaan “bukanlah dia suatu apa pun” (QS. Al-Insan: 1) agar dia tidak kagum.
Pada hari “Sujudlah” Iblis melewati jasadnya lalu kagum padanya dan berkata: “Untuk urusan apa dia diciptakan?” Kemudian dia masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya sambil berkata: “Jika aku diberi kuasa atasmu, aku akan membinasakanmu. Jika aku diberi kuasa atasku, aku akan durhaka kepadamu.” Dia tidak tahu bahwa kehancurannya berada di tangannya.
Dia melihat tanah yang terkumpul lalu meremehkan. Ketika tanah dibentuk menjadi bentuk, meresaplah ke dalamnya penyakit hasad. Ketika ditiupkan ke dalamnya roh, matilah yang hasad. Ketika dibentangkan baginya permadani kemuliaan, makhluk-makhluk ditampilkan kepadanya lalu dia menghadirkan pengaku…
Dan kami bertasbih kepada Hakim. Beritakanlah kepadaku, padahal wakil telah menyembunyikan darinya bukti yang jelas dan telah mengajarkan. Maka mereka menundukkan kepala-kepala tuntutan di atas dada pengakuan. Lalu berdirilah penyeru keutamaan di perkumpulan para malaikat seraya menyeru: “Sujudlah kalian, maka bersucilah kalian dari pembicaraan tuntutan, dan kami dengan air uzur dalam bejana ‘Kami tidak memiliki ilmu’ (QS. Al-Baqarah: 32).” Maka mereka sujud dalam kesucian penyerahan diri. Dan Iblis berdiri di satu sisi, dia tidak sujud karena dia najis dan telah berubah warna dengan kenajisan bantahan. Dan kenajisan itu tidak dapat dihilangkan dengan bersuci karena itu adalah kenajisan hakiki.
Ketika kesempurnaan Adam telah lengkap, Allah berfirman: “Tidak ada pilihan selain keindahan pada wajah, maka sujudlah!” Maka berjalananlah takdir dengan dosa agar tampak jelas pengaruh penghambaan dalam kehinaan. Wahai Adam, seandainya dimaafkan bagimu gigitan itu, niscaya orang-orang yang dengki akan berkata: “Bagaimana mungkin diutamakan orang yang rakus yang tidak sabar pada satu pohon?” Seandainya bukan karena turunmu, tidak akan naik keluhan nafas-nafas, tidak akan turun surat-surat “Adakah dari perantara?”, dan tidak akan tercium aroma bau mulut orang yang berpuasa. Maka tampaklah saat itu bahwa makan itu bukan karena kerakusan.
Wahai Adam, tawamu di surga adalah untukmu, dan tangismu di dunia ujian adalah untuk kami. Tidak merugikan orang yang Aku patahkan kekuasaannya jika Aku perbaiki dengan karunia-Ku. Sesungguhnya jubah kemuliaan hanya pantas pada tubuh yang hancur. Aku bersama orang-orang yang hatinya hancur karena-Ku. Makanan itu masih terus menimpa hingga penyakitnya menguasai anak-anaknya. Maka Aku kirimkan kepada mereka Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui obat melalui tangan para dokter wujud: “Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaaha: 123).
Dokter melindungi mereka dengan larangan-larangan, menjaga kekuatan dengan perintah-perintah, dan mengeluarkan cairan-cairan buruk mereka dengan taubat. Maka datanglah kesehatan dari segala penjuru.
Wahai orang yang menyia-nyiakan kekuatan dan tidak menjaganya, bercampur dalam sakitnya dan tidak menjaga diri serta tidak sabar pada pahitnya pengobatan, jangan ingkari kedekatan kebinasaan! Penyakit itu menjalar menuju kerusakan. Seandainya takdir membantu dan engkau membantu dokter terhadap dirimu dengan menjaga diri dari syahwat yang hina, niscaya engkau meraih berbagai jenis kelezatan dan macam-macam yang diinginkan. Tetapi uap syahwat telah menutupi mata batin, sehingga engkau mengira bahwa kebijaksanaan adalah menjual janji dengan tunai. Alangkah buta basiranya! Engkau tidak sabar pada satu saat dan menanggung hina selamanya. Engkau bepergian mencari dunia padahal ia akan lenyap, dan engkau duduk tidak bepergian menuju akhirat padahal engkau akan pergi kepadanya. Jika engkau melihat seseorang membeli yang hina dengan yang berharga dan menjual yang agung dengan yang remeh, ketahuilah bahwa dia bodoh.
Pasal: Ketika diserahkan kepada Adam asal penghambaan, dosa tidak merusaknya. “Wahai anak Adam, seandainya engkau menemui-Ku dengan dosa sebesar bumi, kemudian engkau menemui-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku temui engkau dengan ampunan sebesar itu.” Ketika Tuan mengetahui bahwa dosa hambanya bukan karena maksud menentang-Nya dan bukan meragukan hikmah-Nya, Dia mengajarkan bagaimana memohon maaf kepada-Nya: “Lalu Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya” (QS. Al-Baqarah: 37).
Hamba tidak bermaksud dengan kemaksiatannya menentang tuannya dan tidak pula berani melanggar larangan-Nya, tetapi karena kekuatan tabiat, hiasan nafsu dan setan, kekuasaan hawa nafsu, keyakinan akan pengampunan, dan harapan akan ampunan. Ini dari sisi hamba. Adapun dari sisi ketuhanan, maka berjalannya hukum, menampakkan kemuliaan ketuhanan dan kehinaan penghambaan, kesempurnaan kebutuhan, dan tampaknya pengaruh Asma-asma Husna seperti Al-‘Afuww, Al-Ghafuur, At-Tawwaab, Al-Haleem bagi yang datang bertaubat dengan penyesalan, dan Al-Muntaqim, Al-‘Adl, Dzul Batysyisy Syaidiid bagi yang bersikeras dan terus dalam kejahatan.
Maka Dia Subhanahu ingin melihat hamba-Nya menyendirikan-Nya dengan kesempurnaan, kekurangan hamba dan kebutuhannya kepada-Nya, menyaksikan kesempurnaan kekuasaan dan kemuliaan-Nya, kesempurnaan ampunan dan pengampunan serta rahmat-Nya, kesempurnaan kebaikan dan penutupan serta kelembutan dan pemaafan dan penghapusan-Nya, dan bahwa rahmat-Nya kepadanya adalah kebaikan kepadanya bukan perlawanan, bahwa jika Dia tidak melingkupinya dengan rahmat dan karunia-Nya maka dia pasti binasa. Maka Allah, betapa banyak hikmah dalam takdir dosa, dan betapa banyak maslahat dan rahmat di dalamnya dengan merealisasikan taubat bagi hamba. Taubat dari dosa seperti minum obat bagi orang sakit. Betapa banyak penyakit yang menjadi sebab kesehatan.
Barangkali celaan-Mu terpuji akibatnya… Dan terkadang tubuh sehat karena penyakit.
Seandainya tidak ada takdir dosa, anak Adam akan binasa karena ujub. Dosa yang membuatnya hina lebih dicintai daripada ketaatan yang membuatnya sombong. Lilin kemenangan hanya turun pada tempat lilin kehancuran. Hamba tidak memuliakan dirinya dengan cara seperti menghinakannya, tidak memuliakannya seperti menghinakannya, tidak mengistirahatkannya seperti melelahkannya. Sebagaimana dikatakan:
“Aku akan melelahkan diriku atau menemukan istirahat… Sesungguhnya merendahkan jiwa adalah dalam kemuliaan jiwa.”
Dan tidak membuatnya kenyang seperti melaparkannya, tidak membuatnya aman seperti menakut-nakutinya, tidak membuatnya tenteram seperti membuat waswas dari semua selain Yang Menjadikan dan Pencipta-nya, dan tidak menghidupkannya seperti mematikannya. Sebagaimana dikatakan:
“Kematian jiwa-jiwa adalah kehidupannya… Barangsiapa ingin hidup hendaklah mati.”
Minuman hawa nafsu manis tetapi menimbulkan tersedak. Siapa yang mengingat cekikan jerat akan mudah baginya meninggalkan biji-bijian. Wahai yang terjerat dalam jerat hawa nafsu, sebuah lompatan tekad dan kau telah merobek jaring. Tidak ada pilihan selain berjalannya takdir, maka condonglan pada perdamaian! Allah memiliki langit dan bumi, meminjam darimu sebutir biji lalu engkau pelit dengannya. Dia menciptakan tujuh samudra dan mencintai darimu setetes air mata lalu mata mu kering karenanya.
Melepas pandangan menggambar di hati bentuk yang dilihat. Hati adalah Ka’bah dan Yang Disembah tidak rela dengan saingan berhala-berhala. Kelezatan dunia seperti wanita berkulit hitam yang telah menguasai atas dirimu, sedangkan bidadari surga heran dengan buruknya pilihanmu atas mereka. Hanya saja angin topan hawa nafsu jika mengamuk akan menerbangkan debu ke mata batin sehingga jalan yang benar tersembunyi.
Subhanallah! Surga berhias untuk para pelamar maka mereka bersungguh-sungguh dalam mengumpulkan mahar. Rabb Yang Mulia memperkenalkan diri kepada para pecinta dengan Asma dan sifat-Nya maka mereka beramal untuk pertemuan. Sedangkan engkau sibuk dengan bangkai.
“Tidak ada orang yang hatinya untuk selain-Mu darinya… Dan untukmu lisan dengan kasih yang palsu.”
Ma’rifah adalah permadani yang tidak diinjak kecuali oleh orang yang dekat. Mahabbah adalah nyanyian yang tidak bergetar dengannya kecuali pecinta yang tergila-gila. Cinta adalah kolam di padang pasir yang tidak ada jalan menuju kepadanya, karena itu sedikit yang datang kepadanya. Pecinta lari ke kesendirian dan khalwat dengan kekasihnya dan senang dengan dzikir kepadanya seperti larinya ikan ke air dan anak kecil kepada ibunya.
“Dan aku keluar dari antara rumah-rumah semoga… aku berbicara kepadamu dengan hati secara rahasia.”
Tidak ada tempat istirahat bagi ahli ibadah kecuali di bawah pohon Tuba, dan tidak ada ketenangan bagi pecinta kecuali pada hari mazeed (tambahan). Sibukkan diri denganNya dalam hidup, Dia akan mencukupimu setelah mati. Wahai yang menghabiskan modal umur dalam menentang kekasihnya dan menjauhi darinya, tidak ada dalam musuh-musuhmu yang lebih merugikan dirimu selain dirimu.
“Musuh-musuh tidak mencapai dari orang bodoh… apa yang dicapai orang bodoh dari dirinya.”
Himah yang tinggi adalah pemiliknya bersiap untuk bertemu kekasih dan menyiapkan persembahan di hadapan pertemuan, maka bergembira saat kedatangan: “Dan sediakanlah untuk diri kalian dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian akan bertemu dengan-Nya, dan gembirakanlah orang-orang beriman” (QS. Al-Baqarah: 223).
Demi Allah, musuh tidak menyerangmu kecuali setelah wali berpaling darimu. Jangan mengira setan yang menang, tetapi pelindung yang berpaling. Berhati-hatilah dengan dirimu karena tidak ada bencana yang menimpamu kecuali darinya. Jangan berdamai dengannya, demi Allah tidak ada yang memuliakannya dari yang tidak menghinakannya, tidak memuliakannya dari yang tidak merendahkannya, tidak memperbaiki dari yang tidak mematahkannya, tidak mengistirahatkannya dari yang tidak melelahkannya, tidak mengamankannya dari yang tidak menakut-nakutinya, tidak menggembirakan dari yang tidak menyedikhkannya.
Subhanallah! Lahiriahmu berhias dengan pakaian takwa sedangkan batinmu botol khamer hawa nafsu. Setiap kali engkau harum pakaian, tercium bau minuman keras dari bawahnya. Maka orang-orang jujur menjauh darimu dan orang-orang fasik condong kepadamu. Pencuri hawa nafsu masuk kepadamu saat engkau di sudut ibadah, dia tidak melihat darimu pengusiran untuknya, maka dia terus bersamamu hingga mengeluarkanmu dari masjid.
Jujurlah dalam meminta dan telah datang kepadamu pertolongan. Seorang laki-laki berkata kepada Ma’ruf: “Ajari aku cinta.” Ma’ruf berkata: “Cinta tidak datang dengan pengajaran.”
“Itulah kerinduan yang menunjukkan pada pembunuhan fana… Jika tidak kembali subuh dengan pertemuan kekasihnya.”
Bukan keajaiban dari firman-Nya “mereka mencintai-Nya”, sesungguhnya keajaiban dari firman-Nya “Dia mencintai mereka”. Bukan keajaiban dari orang fakir miskin yang mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, sesungguhnya keajaiban dari orang yang berbuat baik mencintai orang fakir miskin.
Pasal: Al-Quran adalah kalam Allah dan Allah telah tajalli (menampakkan diri) di dalamnya kepada hamba-hamba-Nya dengan sifat-sifat-Nya. Terkadang Dia bertajalli dengan jubah kemegahan, keagungan dan kemuliaan maka leher-leher tunduk, jiwa-jiwa hancur, suara-suara khusyuk, dan kesombongan meleleh seperti garam meleleh dalam air. Terkadang Dia bertajalli dengan sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yaitu kesempurnaan Asma, keindahan sifat, dan keindahan perbuatan yang menunjukkan kesempurnaan Dzat, maka menghabiskan cinta-Nya dari hati hamba seluruh kekuatan cinta dengan mencintai sifat-sifat keindahan dan na’ut kesempurnaan yang dikenalnya, maka hati hamba-Nya menjadi kosong kecuali dari cinta kepada-Nya.
Jika Dia ingin darinya cemburu untuk menggantungkan cinta itu kepada-Nya, hati dan isi perutnya menolak itu dengan penolakan total. Sebagaimana dikatakan:
“Dikehendaki dari hati melupakanmu… Dan tabiat menolak yang memindahkan.”
Maka cinta kepadaNya tetap menjadi tabiat bukan keterpaksaan. Dan jika Dia bertajalli dengan sifat-sifat rahmat, kebaikan, kelembutan dan kebaikan, maka terpancar kekuatan harapan dari hamba, harapannya meluas, tamaknya kuat, dia berjalan menuju Rabbnya dengan pengendara harapan mengendara kendaraan perjalanannya. Setiap kali harapan kuat maka bersungguh-sungguh dalam amal, sebagaimana penanam setiap kali kuat tamaknya pada hasil, dia mengunci tanahnya dengan benih. Jika harapannya lemah, dia mengurangi dalam benih.
Jika Dia bertajalli dengan sifat-sifat keadilan, pembalasan, kemarahan, kemurkaan dan hukuman, maka jiwa yang menyuruh kejahatan tertunduk dan batal atau lemah kekuatan-kekuatannya dari syahwat, kemarahan, permainan, main-main dan keserakahan pada yang haram, dan terkekang tali kekang keliaran-keliarannya maka menghadirkan kendaraan bagiannya dari takut, khasyah dan kehati-hatian.
Jika Dia bertajalli dengan sifat-sifat perintah dan larangan, janji dan wasiat, mengutus rasul-rasul dan menurunkan kitab-kitab, mensyariatkan syariat-syariat, maka terpancar darinya kekuatan pelaksanaan dan perealisasian perintah-perintah-Nya, penyampaian untuknya, saling berwasiat dengannya, mengingat dan mengingatnya, membenarkan berita dan melaksanakan permintaan dan menjauhi larangan.
Jika Dia bertajalli dengan sifat pendengaran, penglihatan dan ilmu, maka terpancar dari hamba kekuatan malu, dia malu kepada Rabbnya bahwa dilihat-Nya dalam keadaan yang dibenci-Nya atau didengar dari darinya apa yang dibenci-Nya atau disembunyikan dalam batinnya apa yang dimurkai-Nya, maka gerakan-gerakan, ucapan-ucapan dan khatir-khatirnya tetap tertimbang dengan timbangan syariat, tidak terabaikan dan tidak terlepas di bawah hukum tabiat dan hawa nafsu.
Jika Dia bertajalli dengan sifat-sifat kecukupan, kepantasan dan berdiri dengan maslahat hamba-hamba, mengalirkan rizki-rizki mereka kepada mereka, menolak musibah-musibah dari mereka, pertolongan-Nya untuk wali-wali-Nya dan perlindungan-Nya untuk mereka dan ma’iyyah khusus-Nya untuk mereka, maka terpancar dari hamba kekuatan tawakal kepada-Nya, tafwidh kepada-Nya, ridha kepada-Nya dengan semua yang dijalankan-Nya atas hamba-Nya dan ditegakkan-Nya dari apa yang diridhai-Nya. Tawakal adalah makna yang tersusun dari ilmu hamba akan kecukupan Allah dan baiknya pilihan-Nya untuk hamba-Nya, kepercayaan kepadanya, dan ridhanya dengan apa yang diperbuat-Nya kepadanya dan dipilih-Nya untuknya.
Jika Dia bertajalli dengan sifat-sifat kemuliaan dan keagungan, maka jiwa yang tenang memberikan apa yang dicapainya dari kehinaan untuk keagungan-Nya, kehancuran untuk kemuliaan-Nya, tunduk untuk keagungan-Nya, khusyuk hati dan anggota badan kepadaNya, maka sakinah dan waqar menguasainya dalam hatinya, lisannya, anggota badannya dan penampilannya, dan hilang kecerobohan, kekuatan dan ketajamannya.
Ringkasan dari itu bahwa Dia Subhanahu memperkenalkan diri kepada hamba dengan sifat-sifat ketuhanan-Nya terkadang dan dengan sifat-sifat rububiyyah-Nya terkadang. Maka menyaksikan sifat-sifat ketuhanan mewajibkan untuknya cinta khusus, kerinduan kepada pertemuan dengan-Nya, ketenangan dan kegembiraan dengan-Nya, kesenangan dengan pelayanan-Nya, persaingan dalam kedekatan kepada-Nya, merayu kepada-Nya dengan ketaatan-Nya, sibuk dengan dzikir kepada-Nya, lari dari makhluk kepada-Nya, dan Dia sendirian menjadi perhatiannya tanpa selain-Nya.
Dan mewajibkan untuknya menyaksikan sifat-sifat rububiyyah: tawakal kepadanya, kebutuhan kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, kehinaan dan ketundukan dan kehancuran kepada-Nya. Kesempurnaan itu adalah dia menyaksikan rububiyyah-Nya dalam ketuhanannya dan ketuhanan-Nya dalam rububiyyah-Nya, pujian-Nya dalam kerajaan-Nya, kemuliaan-Nya dalam pengampunan-Nya, hikmah-Nya dalam qadha dan qadar-Nya, nikmat-Nya dalam bencana-Nya, pemberian-Nya dalam pencegahan-Nya, kebaikan, kelembutan, kebaikan dan rahmat-Nya dalam qiyumiyyah-Nya, kemuliaan-Nya dalam pembalasan-Nya, kedermawanan dan kemurahan-Nya dalam pengampunan, penutupan dan pemaaf-Nya.
Dan dia menyaksikan hikmah dan nikmat-Nya dalam perintah dan larangan-Nya, kemuliaan-Nya dalam ridha dan kemarahan-Nya, kesabaran-Nya dalam penangguhan-Nya, kemurahan-Nya dalam sambutan-Nya, kekayaan-Nya dalam berpaling-Nya.
Dan engkau jika merenungi Al-Quran dan membebaskannya dari tahrif dan dari memutuskan atasnya dengan pendapat-pendapat para mutakallimin dan pikiran-pikiran orang yang berlebih-lebihan, dia memperlihatkan kepadamu raja qiyyum di atas langit-langit-Nya di atas arasy-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya, memerintah dan melarang, mengutus rasul dan menurunkan kitab-kitab, ridha dan marah, memberi pahala dan menghukum, memberi dan mencegah, memuliakan dan menghinakan, merendahkan dan meninggikan, melihat dari atas tujuh dan mendengar dan mengetahui rahasia dan yang terbuka, yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, berssifat dengan setiap kesempurnaan, bersuci dari setiap aib, tidak bergerak zarah dan yang di atasnya kecuali dengan izin-Nya, tidak jatuh daun kecuali dengan ilmu-Nya, tidak ada yang memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya, tidak ada bagi hamba-hamba-Nya dari selain-Nya wali maupun pemberi syafaat.
Pasal
Ketika Rasulullah membaiat penduduk Aqabah, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah. Maka kaum Quraisy mengetahui bahwa para sahabatnya telah bertambah banyak dan bahwa mereka akan melindunginya. Lalu mereka mengumpulkan pendapat-pendapat mereka dalam mencari berbagai cara dan tipu daya. Ada di antara mereka yang berpendapat untuk memenjarakannya, dan ada yang berpendapat untuk mengasingkannya. Kemudian pendapat mereka bersatu untuk membunuhnya.
Maka datanglah kabar dari langit dan Allah memerintahkannya untuk meninggalkan tempat tidurnya. Lalu Ali bermalam di tempatnya, dan Ash-Shiddiq (Abu Bakar) bersiap untuk menemani perjalanan. Ketika mereka meninggalkan rumah-rumah Makkah, kehati-hatian Ash-Shiddiq semakin bertambah. Dia terus menyebutkan penjagaan, maka dia berjalan di depannya. Terkadang dia menyebutkan pengejaran, maka dia berjalan di belakangnya. Terkadang di sebelah kanannya, dan terkadang di sebelah kirinya, hingga mereka sampai di gua.
Ash-Shiddiq memulai dengan memasukinya untuk menjadi perisai bagi Rasulullah jika ada sesuatu yang berbahaya di sana. Allah menumbuhkan pohon yang sebelumnya tidak ada, lalu membayangi yang dicari dan menyesatkan yang mencari. Datanglah seekor laba-laba yang menguasai mulut gua, lalu dia menenun kain sarangnya dengan pola tirai, sehingga menutup celah sampai pengejak jejak tidak dapat melihat tempat yang dicari.
Allah mengirim dua ekor merpati yang membuat sarang di sana, yang membuat mata para pencari menjadi tertutup. Dan ini lebih menakjubkan dalam kemukjizatan daripada menghadapi kaum dengan pasukan. Ketika kaum itu berdiri di atas kepala mereka dan pembicaraan mereka dapat didengar oleh Rasulullah dan Ash-Shiddiq, Ash-Shiddiq berkata dengan kegelisahan yang hebat: “Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita di bawah kakinya.”
Maka Rasulullah berkata: “Wahai Abu Bakar, apa sangkaanmu terhadap dua orang yang Allah adalah yang ketiganya?” Ketika Rasulullah melihat kesedihannya bertambah, namun dia menguatkan dirinya, maka Allah menguatkan hatinya dengan kabar gembira: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah: 40)
Maka tampaklah rahasia persekutuan ini dalam kebersamaan secara lafaz sebagaimana tampak secara hukum dan makna. Ketika itu dikatakan: Rasulullah dan sahabat Rasulullah. Ketika dia meninggal, dikatakan: Khalifah Rasulullah. Kemudian terputuslah penisbatan khilafah dengan kematiannya, maka dikatakan: Amirul Mukminin.
Mereka tinggal di gua selama tiga hari, kemudian keluar darinya. Dan lisan takdir berkata: “Sungguh kamu akan memasukinya dengan cara yang tidak pernah dimasuki oleh siapa pun sebelummu dan tidak pantas bagi siapa pun setelahmu.”
Ketika mereka berangkat di padang pasir, Suraqah bin Malik mengejar mereka. Ketika dia hampir mencapai kemenangan, Rasulullah mengirimkan kepadanya anak panah dari anak-anak panah doa, maka kaki-kaki kudanya terbenam ke dalam tanah sampai perutnya. Ketika dia tahu bahwa tidak ada jalan baginya untuk mencapai mereka, dia mulai menawarkan harta kepada orang yang telah menolak kunci-kunci perbendaharaan, dan memberikan bekal kepada orang yang kenyang, yang bermalam di sisi Tuhannya yang memberinya makan dan minum.
Ini adalah kehormatan yang kedua dari dua orang yang disimpan khusus untuk Ash-Shiddiq tanpa yang lain. Maka dia adalah yang kedua dalam Islam, dalam pengorbanan jiwa, dalam zuhud, dalam persahabatan, dalam khilafah, dalam umur, dan dalam sebab kematian. Karena Rasulullah meninggal karena bekas racun, dan Abu Bakar diracuni lalu meninggal.
Masuk Islam di tangannya dari sepuluh orang yang dijanjikan surga: Utsman, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Pada hari dia masuk Islam, dia memiliki empat puluh ribu dirham, lalu dia menginfakkan semuanya ketika Islam sangat membutuhkannya. Karena itulah nafkahnya mendatangkan pujian kepadanya: “Tidak ada harta yang lebih bermanfaat bagiku selain harta Abu Bakar.”
Dia lebih baik dari mukmin keluarga Firaun, karena orang itu menyembunyikan imannya sedangkan Ash-Shiddiq menampakkannya. Dan dia lebih baik dari mukmin keluarga Yasin, karena orang itu berjihad sebentar sedangkan Ash-Shiddiq berjihad bertahun-tahun.
Dia melihat burung kefakiran mengitari biji altruisme dan berteriak: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik?” Maka dia melemparkan kepadanya biji harta di taman ridha dan berbaring di kasur kemiskinan. Lalu burung itu membawa biji itu ke dalam kantong pelipat gandaan, kemudian naik ke dahan-dahan pohon kejujuran sambil berkicau dengan berbagai macam pujian.
Kemudian dia berkata di mihrab-mihrab Islam sambil membaca: “Dan akan dijauhkan darinya orang yang paling takwa, yang memberikan hartanya untuk menyucikan (diri).” (Al-Lail: 17-18)
Ayat-ayat dan berita-berita berbicara tentang keutamaannya, dan kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul untuk membaiatnya. Wahai para pembencinya, di hati kalian ada api dari menyebut namanya. Setiap kali keutamaan-keutamaannya dibacakan, kehinaan menimpa mereka.
Tidakkah kalian mendengar, wahai Rafidhah yang kafir: “Yang kedua dari dua orang ketika mereka berdua dalam gua.” (At-Taubah: 40)
Dia diajak kepada Islam, maka dia tidak terbata-bata dan tidak menolak. Dia berjalan di atas jalan yang lurus, maka dia tidak tergelincir dan tidak tersandung. Dia sabar dalam masanya dari serangan musuh terhadap mata pedang. Dia banyak berinfak sehingga tidak sedikit sampai dia berpakaian dengan jubah.
Demi Allah, sungguh dia telah melebihi kualitas emas dalam setiap dinar: “Yang kedua dari dua orang ketika mereka berdua dalam gua.” (At-Taubah: 40)
Siapakah yang menjadi teman Nabi dalam masa mudanya? Siapakah yang mendahului beriman dari para sahabatnya? Siapakah yang berfatwa dengan cepat dalam menjawab di hadapannya? Siapakah orang pertama yang shalat bersamanya? Siapakah orang terakhir yang dishalatkan olehnya? Siapakah yang berbaring bersamanya setelah mati dalam tanahnya?
Maka kenalilah hak tetangga. Dia bangkit pada hari riddah dengan pemahaman dan kewaspadaan, dan menjelaskan dari nash Al-Quran makna yang halus dari ketajaman pandangan. Maka orang yang mencintai bergembira dengan keutamaan-keutamaannya, dan orang yang membenci menjadi geram.
Penyesalan Rafidhah adalah melarikan diri dari majelis menyebut namanya, tetapi ke mana pelarian? Betapa banyak dia melindungi Rasulullah dengan harta dan jiwa, dan dia paling khusus bersamanya dalam hidupnya, dan dia teman tidurnya dalam kubur.
Keutamaan-keutamaannya agung dan bersih dari kerancuan. Sungguh mengherankan orang yang menutupi mata cahaya matahari di tengah hari.
Sungguh mereka berdua telah memasuki gua yang tidak dihuni oleh penghuni tetap. Maka Ash-Shiddiq merasa cemas karena takut akan kejadian-kejadian. Lalu Rasulullah berkata: “Apa sangkaanmu terhadap dua orang dan Allah yang ketiga?”
Maka turunlah ketenangan, lalu terangkatlah ketakutan akan kejadian. Maka hilanglah kegelisahan dan nikmat lah hidup penghuni. Maka berdirilah muadzin kemenangan menyeru di atas menara-menara negeri: “Yang kedua dari dua orang ketika mereka berdua dalam gua.” (At-Taubah: 40)
Mencintainya demi Allah adalah kepala agama hanif, dan membencinya menunjukkan buruknya niat. Maka dia adalah sebaik-baik sahabat dan kerabat, dan dalil atas hal itu kuat. Seandainya tidak sahih kepemimpinannya, tidak akan dikatakan putra hanifah.
Pelan-pelan, karena celaan Rafidhah telah mendidih. Demi Allah, kami tidak mencintainya karena kehinaan kami, dan kami tidak meyakini kehinaan pada yang lain. Tetapi kami mengambil perkataan Ali dan itu cukup bagi kami: “Rasulullah meridhaimu untuk agama kami, tidakkah kami meridhaimu untuk dunia kami?”
Demi Allah, sungguh aku telah mengambil pembalasan dari Rafidhah. Demi Allah, sungguh telah wajib hak Ash-Shiddiq atas kami. Maka kami memutuskan dengan pujian-pujiannya dan bangga dengan apa yang kami akui dari kemuliaan sebagai mata (hati).
Barangsiapa yang Rafidhah, maka janganlah dia kembali kepada kami, dan hendaklah dia berkata kepadaku alasan-alasan.
Peringatan
Jauhilah orang yang memusuhi Ahlu Kitab dan Sunnah agar tidak menulari kerugiannya kepadamu. Berhati-hatilah dari dua musuh yang telah menghancurkan kebanyakan makhluk: penghalang dari jalan Allah dengan syubhat-syubhatnya dan hiasan perkataannya, dan yang terpesona dengan dunianya dan kepemimpinannya.
Barangsiapa yang diciptakan padanya kekuatan dan kesiapan untuk sesuatu, maka kenikmatannya dalam menggunakan kekuatan itu. Kelezatan orang yang diciptakan padanya kekuatan dan kesiapan untuk bersetubuh adalah menggunakan kekuatannya dalam hal itu. Kelezatan orang yang diciptakan padanya kekuatan marah dan pahala adalah menggunakan kekuatan marahnya dalam objeknya.
Orang yang diciptakan padanya kekuatan makan dan minum, maka kelezatannya dengan menggunakan kekuatannya dalam keduanya. Orang yang diciptakan padanya kekuatan ilmu dan pengetahuan, maka kelezatannya dengan menggunakan kekuatannya dan mengarahkannya kepada ilmu.
Orang yang diciptakan padanya kekuatan cinta kepada Allah dan kembali kepada-Nya dan tekun dengan hati kepada-Nya dan rindu kepada-Nya dan tenang dengan-Nya, maka kelezatan dan kenikmatannya adalah menggunakan kekuatan ini dalam hal itu. Sedangkan kelezatan-kelezatan lainnya selain kelezatan ini adalah lenyap dan fana. Paling baik akibatnya adalah tidak menguntungkan dan tidak merugikan.
Wahai orang-orang yang tidak bersenjata, hati-hatilah dengan firasat orang yang bertakwa, karena dia melihat aib amalmu dari balik tirai. “Takutlah akan firasat mukmin.”
Subhanallah, dalam jiwa ada kesombongan Iblis dan hasad Qabil dan keangkuhan Ad dan kedurhakaan Tsamud dan keberanian Namrud dan kesewenang-wenangan Firaun dan kezaliman Qarun dan kekasaran Haman dan hawa nafsu Bil’am dan tipu daya Ashhabussabt dan pemberontakan anak Walid dan kebodohan Abu Jahal.
Dan padanya dari akhlak binatang: keserakahan gagak dan kerakusan anjing dan kecerobohan merak dan kerendahan kumbang dan durhaka biawak dan dendam unta dan serangan macan dan kekuatan singa dan kefasikan tikus dan keburukan ular dan main-main kera dan mengumpulkan semut dan tipu daya rubah dan ringannya kupu-kupu dan tidurnya dubuk.
Kecuali bahwa riyadhah dan mujaahadah menghilangkan hal itu. Barangsiapa yang mengikuti tabiatnya, maka dia dari tentara ini dan tidak layak barangnya untuk akad: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka.” (At-Taubah: 111)
Maka Allah tidak membeli kecuali barang yang telah dididik oleh iman sehingga keluar dari tabiatnya menuju negeri yang penduduknya adalah orang-orang yang bertaubat dan beribadah.
Serahkanlah barang yang dijual sebelum rusak di tanganmu sehingga pembeli tidak menerimanya. Pembeli telah mengetahui cacat barang sebelum membelinya, maka serahkanlah dan bagimu keamanan dari pengembalian.
Kadar barang diketahui dengan kadar pembelinya dan harga yang dibayarkan dan pelelang atasnya. Jika pembeli agung dan harga penting dan pelelang mulia, maka barang itu berharga.
Wahai penjual dirimu dengan jual beli kehinaan, seandainya kamu mengambil kembali jual beli itu sebelum terlewat, kamu tidak akan kecewa.
Wahai penjual kehidupan yang baik yang tidak ada bandingannya dengan bayangan kehidupan yang dirampas penderitaan. Kamu tertipu, demi Allah, dengan penipuan yang keji. Pada hari penipuan kamu akan menemui puncak perang.
Wahai yang mendatangi kehidupan yang jernih yang semuanya keruh, di depanmu tempat minum yang benar, bukan kebohongan.
Wahai pengumpul malam dalam kegelapan yang berdiri untuk setiap malapetaka yang mendatangkan kebinasaan. Kamu mengharap kesembuhan dengan mata yang padanya ada penyakit. Pernahkah kamu mendengar kesembuhan yang datang dari penyakit?
Wahai yang menghabiskan dirinya mengikuti yang paling buruk di antara mereka, dan sifat tercela itu keindahan yang terampas darinya.
Wahai pemberi dirimu kepada orang seperti itu karena bodoh, seandainya kamu mengenal kadar jiwa, kamu tidak akan memberi.
Masa muda telah menua dan kekanak-kanakan tidak menua. Waktumu hilang antara hiburan dan permainan. Matahari umurmu telah tiba waktu terbenamnya, dan bayangan di ufuk timur belum hilang.
Beruntunglah dengan pertemuan orang yang telah bersungguh-sungguh. Tersingkaplah dari ufuknya kegelapan malam dan awan.
Sampai kapan keterlambatan ini sedangkan dunia telah berangkat, dan utusan Tuhanmu telah mendatangimu dalam pencarian?
Tidak ada di rumah-rumah setelah kendaraan orang yang kamu cintai telah pergi untuk orang yang sedih, syukur dan kepentingan.
Maka hamparkanlah pipi itu pada tanah dan katakanlah apa yang dikatakan pemilik kerinduan dan masa.
Tidak ada kampung Mayyah yang dikelilingi yang mengitarinya Ghailan lebih disukai baginya dari kampungmu yang rusak.
Tempat-tempat yang dahulu dicintai dan dikenalnya pada hari-hari ketika pencapaian pertemuan dekat.
Tidak ada pipi-pipi meskipun berdarah dari merah lebih disukai di mataku dari kampungmu yang rusak.
Setiap kali tempat-tempat tinggi itu tampak baginya, dia mencintainya seperti cinta air dalam kemiringan.
Hidupkanlah baginya kerinduan dengan mengingat perjanjian-perjanjian dengannya. Seandainya hati dipanggil untuk lupa, dia tidak akan menjawab.
Ini dan betapa banyak tempat di bumi yang dikenalnya, dan tidak ada baginya keinginan pada selainnya sepanjang masa.
Tidak ada di kemah-kemah saudara yang layak, jika kamu menceritakan kepadanya sebagian urusan cinta, maka pergilah.
Berjalanlah dalam gelombang malam dengan terpimpin oleh hembusan wangi, bukan dengan kayu dan kayu bakar.
Kembalilah setiap saudara pengecut dan lemah, dan berperanglah dengan jiwa, jangan sampai dia menemukanmu dalam perang.
Ambillah untuk dirimu cahaya yang kamu gunakan untuk menerangi pada hari pembagian manusia cahaya-cahaya dengan tingkatan.
Jika kesabaranku mewajibkan rahmat-Ku sebagai kewajiban karena buruknya keadaanku dan kemampuanku untuk menanggung penderitaan.
Aku berikan kepadamu ruh, aku tidak menginginkan harganya kecuali ridha-Mu, dan kemiskinanku kecuali harga.
Aku merindukan di siang hari dengan kerinduan, dan di malam hari cinta memanggilku maka aku menjawab.
Jika tidak ada jalan lain dari cinta, maka orang yang lemah cinta selain yang indah.
Seandainya apa yang aku perjuangkan untuk kehidupan yang dipercepat, cukup bagiku sebagian dari apa yang aku alami.
Tetapi aku bercita-cita untuk kerajaan yang kekal, maka celakalah aku jika aku tidak menemuinya.
Wahai orang yang memiliki pengalaman dan kebijaksanaan, tahukah engkau nilai dirimu? Sesungguhnya seluruh alam semesta diciptakan untukmu. Wahai orang yang diberi makan dengan susu kebajikan dan hatinya dibolak-balik oleh tangan-tangan kelembutan Allah, segala sesuatu adalah pohon dan engkau adalah buahnya, segala sesuatu adalah bentuk dan engkau adalah maknanya, segala sesuatu adalah kerang dan engkau adalah mutiaranya, segala sesuatu adalah mentega dan engkau adalah lemaknya.
Surat pilihan Kami untukmu telah jelas tulisannya, namun pemahamanmu masih lemah. Apabila engkau hendak mencari-Ku, maka carilah Aku pada dirimu. Carilah Aku dari dirimu, niscaya engkau akan mendapati-Ku dekat. Dan janganlah mencari-Ku dari selain dirimu, karena Aku lebih dekat kepadamu daripada yang lain.
Seandainya engkau mengetahui kedudukan dirimu di sisi Kami, niscaya engkau tidak akan menghinakannya dengan bermaksiat. Sesungguhnya Kami mengusir Iblis ketika dia tidak mau bersujud kepadamu, padahal engkau masih berada di tulang punggung ayahmu. Sungguh mengherankan, bagaimana engkau berdamai dengannya dan meninggalkan Kami.
Seandainya ada cinta di hatimu, niscaya akan tampak bekasnya pada tubuhmu.
Dan ketika engkau mengaku cinta, dia berkata: “Engkau berdusta… Bukankah aku melihat anggota tubuhmu sedang lesu?”
Seandainya hati itu diberi makan dengan cinta, niscaya akan hilang darinya kekenyang-an dari syahwat.
“Seandainya engkau benar-benar sedang jatuh cinta, niscaya engkau tidak akan gemuk, dan cinta tidak akan membuatmu lupa karena banyak makan.”
Seandainya cintamu benar, niscaya engkau akan merasa asing dari orang yang tidak mengingatkanmu kepada Yang Dicintai. Sungguh mengherankan orang yang mengaku cinta namun membutuhkan orang lain untuk mengingatkannya kepada kekasihnya, sehingga dia tidak ingat kecuali dengan pengingat. Paling sedikit dalam cinta adalah bahwa cinta itu tidak membuatmu lupa mengingat yang dicintai.
“Aku mengingatmu, bukan karena aku melupakanmu sejenak pun, dan yang paling mudah dalam mengingat adalah mengingat dengan lisan.”
Apabila seorang pecinta bepergian untuk menemui kekasihnya, maka bala tentaranya akan ikut bersamanya. Cinta berada di barisan terdepan pasukan, harapan menggiring unta-unta, kerinduan menggiringnya, dan ketakutan mengumpulkannya di jalan. Ketika sudah dekat dengan negeri pertemuan, keluarlah penyambut kekasih dengan pertemuan.
“Obatilah penyakit tubuh yang engkau rusak, dan sejukkanlah api cinta di hati yang engkau bakar.
Dan janganlah serahkan aku pada jarak negeri kepada kesabaranku yang lemah, karena kesabaranku engkau mengetahuinya.
Temuilah hatinya, karena sesungguhnya aku telah mengirimkannya dengan tergesa-gesa kepada pertemuanmu, dan kerinduan mendahuluinya.”
Ketika dia masuk menemui kekasih, dituangkan kepadanya pakaian kehormatan dari segala penjuru untuk mengujinya: apakah dia akan tenang dengan itu sehingga menjadi bagiannya, ataukah perhatiannya tertuju kepada Dzat yang memakaikannya pakaian itu kepadanya.
Mereka memenuhi kapal-kapal hati dengan barang dagangan yang tidak akan laku kecuali kepada Raja. Ketika bertiup angin fajar, berlayarlah kapal-kapal itu. Tidak terbit fajar kecuali kapal-kapal itu sudah sampai di pelabuhan.
Mereka melintasi padang gurun cinta dengan kaki-kaki kesungguhan. Tidak berapa lama kemudian mereka sudah kembali dari perjalanan, maka Allah memberikan mereka istirahat di jalan penerimaan. Mereka memasuki negeri pertemuan dan telah meraih keuntungan yang kekal.
Kaum itu mengosongkan hati mereka dari gangguan-gangguan, maka ditegakkan di dalamnya kemah-kemah cinta. Mereka mendirikan mata untuk berjaga kadang-kadang dan menyiram kemah cinta di waktu lain. Kemah cinta tidak ditegakkan kecuali di lembah yang bersih dan kosong.
“Bersihkanlah hatimu dari selain Kami dan puaskanlah, karena di sisi Kami ada tempat bagi setiap orang yang menyucikan diri.”
“Kesabaran adalah jimat untuk harta pertemuan dengan Kami. Barangsiapa yang membuka jimat ini, maka dia akan mendapatkan harta karunnya.”
Ketahuilah kadar apa yang hilang darimu dan menangislah dengan tangisan orang yang mengetahui ukuran yang terlewatkan. Seandainya engkau membayangkan dekatnya para kekasih, niscaya engkau akan mengadakan acara berkabung atas jauhmu. Seandainya engkau menghirup angin fajar, niscaya akan sadar hatimu yang mabuk.
Barangsiapa yang merasa jalan itu panjang, maka lemah jalannya.
“Dan engkau bukanlah orang yang merindukan jika engkau berkata di antara kita ada malam-malam yang panjang atau jarak yang jauh.”
Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang jujur apabila dia berkehendak, dia menempatkan tekadnya di antara kedua matanya. Apabila turun bulan Rajab di hati, maka turunlah bulan Maret di mata. Mudah bagi para penjaga untuk begadang ketika mereka tahu bahwa suara mereka didengar oleh Raja.
Barangsiapa yang tampak baginya keadaan akhirat, maka mudah baginya berpisah dengan dunia. Apabila tampak bagi burung elang buruannya, dia lupa pada kebiasaan di tangan.
Wahai kaki-kaki kesabaran, pikullah aku. Tinggal sedikit lagi. Ingatlah manisnya pertemuan, maka akan mudah bagimu pahitnya perjuangan. Engkau telah mengetahui di mana rumah itu, maka berjalan keras menujunya.
Tertinggi cita-cita adalah cita-cita orang yang pemiliknya bersiap untuk menemui kekasih. Dia mendahulukan hadiah di hadapan pertemuan, maka dia bergembira dengan ridha ketika kedatangan.
Mereka mendahulukan untuk diri mereka sendiri. Surga ridha darimu dengan menunaikan kewajiban-kewajiban. Neraka tertolak darimu dengan meninggalkan kemaksiatan. Cinta tidak puas darimu kecuali dengan mengorbankan jiwa.
Demi Allah, betapa manisnya masa di mana kaki-kaki ketaatan berjalan di atas bumi kerinduan. Ketika hati menyerahkan jiwa-jiwa kepada pelatih syariat, dia mengajarkan mereka keserasian dalam menentang tabiat. Maka mereka lurus dengan ketaatan bagaimanapun ketaatan itu berputar, mereka berputar bersamanya.
“Dan sesungguhnya aku, apabila beradu leher unta-unta mereka, dan terbangkis seorang pemandu yang gesit dengan rombongan,
Aku meletakkan kedua telapak tangan di dada dan melihat bahwa aku berselimut, maka aku condong.”
Pasal
Engkau telah mengajari anjingmu, maka dia meninggalkan syahwatnya dalam mengambil apa yang dia buru karena menghormati nikmatmu dan takut kepada kekuasaanmu. Betapa banyak guru syariat yang mengajarimu, namun engkau tidak menerima. Haram buruan orang bodoh dan orang yang menahan untuk dirinya sendiri. Apa sangka orang bodoh yang amalannya untuk hawa nafsunya?
Dikumpulkan padamu akal raja, syahwat binatang, dan hawa nafsu setan. Engkau mengikuti yang paling menguasai dirimu dari ketiga itu. Jika engkau mengalahkan syahwat dan hawa nafsumu, engkau akan melebihi derajat malaikat. Jika hawa nafsu dan syahwatmu mengalahimu, engkau akan kurang dari derajat anjing.
Ketika anjing berburu untuk tuannya, dibolehkan buruannya. Ketika dia menahan untuk dirinya sendiri, diharamkan apa yang dia buru.
Sumber apa yang ada pada hamba dari kebaikan dan keburukan serta sifat-sifat yang terpuji dan tercela adalah dari sifat Yang Memberi dan Yang Mencegah. Maka Dia Subhanahu mengatur hamba-hamba-Nya di antara tuntutan kedua nama ini. Bagian hamba yang jujur dari penghambaan dengan keduanya adalah syukur ketika diberi dan membutuhkan ketika dicegah. Maka Dia Subhanahu memberinya agar dia bersyukur dan mencegahnya agar dia membutuhkan kepada-Nya. Maka dia senantiasa bersyukur dan fakir.
Firman Allah Ta’ala: “Dan adalah orang kafir itu menjadi penolong terhadap Tuhannya” (Al-Furqan: 55)
Ini termasuk khitab Al-Quran yang paling halus dan makna-maknanya yang paling mulia, yaitu bahwa orang mukmin senantiasa bersama Allah melawan dirinya, hawa nafsunya, setannya, dan musuh Tuhannya. Inilah makna dia termasuk golongan Allah, tentara-Nya, dan wali-wali-Nya. Maka dia bersama Allah melawan musuhnya yang ada di dalam dirinya dan yang di luar dirinya, memerangi mereka, memusuhi mereka, dan memarah mereka untuk Allah Subhanahu, sebagaimana para pembesar raja bersama raja dalam memerangi musuh-musuhnya. Adapun yang jauh dari raja, mereka lengah dari itu dan tidak peduli dengannya.
Sedangkan orang kafir bersama setannya, nafsunya, dan hawa nafsunya melawan Tuhannya. Perkataan para salaf tentang hal ini berkisar pada makna ini.
Disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Atha’ bin Dinar dari Said bin Jubair, dia berkata: “Penolong setan terhadap Tuhannya dengan permusuhan dan syirik.” Lais berkata dari Mujahid: “Dia membantu setan dalam bermaksiat kepada Allah, menolongnya dalam hal itu.” Zaid bin Aslam berkata: “Penolong, yaitu pembantu.” Maknanya adalah dia membantu musuhnya dalam bermaksiat dan menyekutukan dengan-Nya, sehingga dia bersama musuhnya, menolongnya dalam hal-hal yang memurkai Tuhannya.
Maka kebersamaan khusus yang dimiliki orang mukmin dengan Tuhannya dan Tuhannya, telah menjadi milik orang kafir dan orang fasik ini bersama setan, nafsunya, dan hawa nafsunya serta penyembahan mereka. Karena itulah Dia mengawali ayat dengan firman-Nya: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak membahayakan mereka” (Al-Furqan: 55)
Ibadah ini adalah pembelaan, cinta, dan ridha terhadap sesembahan mereka yang mengandung kebersamaan khusus mereka. Maka mereka membantu musuh-musuh Allah dalam memusuhi-Nya, menentang-Nya, dan memurkai-Nya, berbeda dengan wali-Nya Subhanahu, karena dia bersama-Nya melawan dirinya, setannya, dan hawa nafsunya.
Makna ini termasuk harta karun Al-Quran bagi siapa yang memahami dan memahaminya. Dan kepada Allah-lah pertolongan.
Firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, tidaklah mereka menghadapinya sebagai orang tuli dan buta” (Al-Furqan: 73)
Muqatil berkata: “Apabila mereka dinasihati dengan Al-Quran, mereka tidak jatuh ke atasnya dalam keadaan tuli tidak mendengarnya dan buta tidak melihatnya, tetapi mereka mendengar, melihat, dan yakin dengannya.”
Ibnu Abbas berkata: “Mereka tidak menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta, tetapi mereka takut dan khusyuk.”
Al-Kalbi berkata: “Mereka jatuh ke atasnya dalam keadaan mendengar dan melihat.”
Al-Farra berkata: “Apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak tetap dalam keadaan pertama mereka seolah-olah mereka tidak mendengarnya. Itulah yang dimaksud dengan jatuh.” Aku mendengar orang Arab berkata: “Dia duduk mencaciku” seperti perkataanmu “Dia berdiri mencaciku” dan “Dia datang mencaciku”. Maknanya sebagaimana yang disebutkan: mereka tidak menjadi tuli dan buta di hadapannya.
Az-Zajjaj berkata: “Maknanya, apabila dibacakan kepada mereka, mereka jatuh sujud dan menangis dalam keadaan mendengar dan melihat sebagaimana mereka diperintahkan.”
Ibnu Qutaibah berkata: “Yaitu mereka tidak mengabaikannya seolah-olah mereka tuli tidak mendengarnya dan buta tidak melihatnya.”
Aku katakan: Di sini ada dua perkara, yaitu penyebutan jatuh dan peniadaan terhadapnya. Apakah itu jatuhnya hati ataukah jatuhnya badan untuk sujud? Dan apakah makna “tidaklah” bahwa jatuh mereka bukan karena tuli dan buta, sehingga mereka jatuh ke atasnya dengan hati tunduk atau dengan badan sujud, ataukah tidak ada jatuh di sana dan dinyatakan dengannya tentang duduk?
Asal-asal kemaksiatan semuanya, yang besar dan kecil, ada tiga: tergantungnya hati kepada selain Allah, taat kepada kekuatan marah, dan kekuatan syahwat. Itulah syirik, kezaliman, dan perbuatan keji.
Puncak ketergantungan kepada selain Allah adalah syirik, yaitu menyeru tuhan lain bersama-Nya. Puncak taat kepada kekuatan marah adalah pembunuhan. Puncak kekuatan syahwat adalah zina. Karena itulah Allah Subhanahu mengumpulkan ketiga hal ini dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang tidak menyeru tuhan lain bersama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina” (Al-Furqan: 68)
Ketiga hal ini saling mengajak sebagian kepada sebagian yang lain. Syirik mengajak kepada kezaliman dan perbuatan keji, sebagaimana keikhlasan dan tauhid menjauhkan keduanya dari pemiliknya. Allah Ta’ala berfirman: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24)
Kemungkaran adalah cinta dan kekejian adalah zina. Demikian pula kezaliman mengajak kepada syirik dan kekejian, karena syirik adalah kezaliman yang paling zalim, sebagaimana keadilan yang paling adil adalah tauhid. Maka keadilan adalah pasangan tauhid dan kezaliman adalah pasangan syirik. Karena itulah Dia Subhanahu mengumpulkan keduanya.
Adapun yang pertama, maka dalam firman-Nya: “Allah menyaksikan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Dia, dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu (juga menyaksikan yang demikian itu), sambil menegakkan keadilan” (Ali Imran: 18)
Adapun yang kedua, seperti firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar” (Luqman: 13)
Dan kekejian itu mengajak kepada syirik dan kezaliman, terutama ketika keinginannya menguat dan tidak dapat diperoleh kecuali dengan suatu bentuk kezaliman, dan dengan meminta pertolongan kepada sihir dan setan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menggabungkan antara zina dan syirik dalam firman-Nya:
Surat An-Nur ayat 3: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.”
Ketiga hal ini (zina, syirik, dan kezaliman) saling menarik satu sama lain dan saling memerintahkan. Oleh karena itu, semakin lemah tauhid hati dan semakin besar syiriknya, maka semakin banyak kekejaannya dan semakin besar keterikatan serta cintanya kepada bentuk-bentuk (wujud).
Serupa dengan hal ini adalah firman Allah Ta’ala: Surat Asy-Syura ayat 36-37: “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi, dan apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan kepada Tuhan mereka bertawakal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”
Allah mengabarkan bahwa apa yang ada di sisi-Nya lebih baik bagi orang yang beriman kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya, dan inilah tauhid. Kemudian Allah berfirman: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji” – ini adalah menjauhi ajakan kekuatan syahwat. Kemudian Allah berfirman: “dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” – ini adalah menyelisihi kekuatan amarah. Maka Allah menggabungkan antara tauhid, kesucian diri, dan keadilan, yang merupakan kumpulan seluruh kebaikan.
Mengabaikan Al-Quran itu ada beberapa jenis:
Pertama: mengabaikan mendengarkannya, beriman kepadanya, dan memperhatikannya.
Kedua: mengabaikan mengamalkannya dan berhenti pada halal dan haramnya, meskipun membacanya dan beriman kepadanya.
Ketiga: mengabaikan menjadikannya sebagai hukum dan berhukum kepadanya dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, serta meyakini bahwa Al-Quran tidak memberikan keyakinan dan dalil-dalilnya hanya bersifat lafziah yang tidak menghasilkan ilmu.
Keempat: mengabaikan mentadabburinya, memahaminya, dan mengetahui apa yang dikehendaki oleh Yang berbicara (Allah) dengannya.
Kelima: mengabaikan berobat dan menyembuhkan diri dengannya untuk semua penyakit hati dan penyakitnya, lalu mencari kesembuhan penyakitnya dari selain Al-Quran dan mengabaikan berobat dengannya.
Semua ini termasuk dalam firman Allah: Surat Al-Furqan ayat 30: “Dan berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan.'” Meskipun sebagian pengabaian lebih ringan dari sebagian yang lain.
Demikian pula dengan kesempitan yang ada di dalam dada dari Al-Quran. Kadang-kadang berupa kesempitan dari turunnya dan kenyataan bahwa ia adalah kebenaran dari sisi Allah. Kadang-kadang dari segi siapa yang berbicara dengannya atau anggapan bahwa ia makhluk dari sebagian makhluk-Nya yang diilhami kepada orang lain untuk berbicara dengannya. Kadang-kadang dari segi kecukupannya dan ketidakcukupannya, bahwa ia tidak mencukupi para hamba, bahkan mereka membutuhkan bersamanya kepada hal-hal yang masuk akal, qiyas-qiyas, atau pendapat-pendapat, atau politik-politik. Kadang-kadang dari segi petunjuknya dan apa yang dikehendaki dengannya: apakah hakikat-hakikat yang dipahami darinya ketika berbicara ataukah dikehendaki dengannya takwil-takwilnya dan mengeluarkannya dari hakikat-hakikatnya kepada takwil-takwil yang dipaksakan dan umum. Kadang-kadang dari segi bahwa hakikat-hakikat tersebut, meskipun dikehendaki, apakah tetap dalam kenyataan ataukah hanya dikira bahwa ia dikehendaki untuk kepentingan kemaslahatan.
Semua orang ini di dalam dada mereka ada kesempitan dari Al-Quran, dan mereka mengetahui hal itu dari jiwa mereka serta merasakannya di dalam dada mereka. Engkau tidak akan mendapati seorang pun yang berbuat bid’ah dalam agamanya kecuali di dalam hatinya ada kesempitan dari ayat-ayat yang menyelisihi bid’ahnya, sebagaimana engkau tidak akan mendapati orang yang zalim lagi durhaka kecuali di dalam dadanya ada kesempitan dari ayat-ayat yang menghalangi antara dia dan keinginannya. Maka renungkanlah makna ini, kemudian ridhailah untuk dirimu apa yang engkau kehendaki.
Kesempurnaan jiwa yang dicari mencakup dua perkara:
Pertama: bahwa ia menjadi sifat yang kokoh dan karakter yang melekat padanya.
Kedua: bahwa ia merupakan sifat kesempurnaan pada dirinya sendiri.
Jika tidak demikian, maka ia bukan kesempurnaan. Maka tidak pantas bagi orang yang berusaha dalam kesempurnaan jiwanya untuk berlomba-lomba dalam hal itu dan menyesal karena kehilangannya. Hal itu tidak lain adalah mengenal Pencipta, Pembentuk, sesembahan, dan Tuhannya yang haq, yang tidak ada kebaikan, kenikmatan, dan kelezatan bagi jiwa kecuali dengan mengenal-Nya, menginginkan wajah-Nya, dan menempuh jalan yang menghantarkan kepada-Nya dan kepada ridha serta kemuliaan-Nya. Dan hendaklah jiwa membiasakan hal itu sehingga menjadi sifat yang kokoh dan melekat padanya.
Adapun selain itu dari ilmu-ilmu, keinginan-keinginan, dan amal-amal, maka semuanya antara yang tidak bermanfaat dan tidak menyempurnakannya, dan yang kembali dengan membahayakan, mengurangi, dan menyakitinya, terutama jika hal itu menjadi sifat yang kokoh baginya, karena ia akan tersiksa dan kesakitan karenanya sesuai dengan melekatnya padanya.
Adapun keutamaan-keutamaan yang terpisah darinya seperti pakaian, kendaraan, tempat tinggal, kedudukan, dan harta, maka itu sebenarnya adalah pinjaman yang dipinjamkan kepadanya untuk suatu masa, kemudian Sang Pemberi pinjaman akan mengambilnya kembali. Maka ia akan kesakitan dan tersiksa dengan pengambilan kembali itu sesuai dengan keterikatan hatinya kepadanya, terutama jika hal-hal itu menjadi tujuan kesempurnaannya. Jika ia dirampas darinya, maka ia mendatangkan kekurangan, kesakitan, dan penyesalan yang sangat besar.
Maka hendaklah orang yang menginginkan kebahagiaan jiwanya dan kelezatannya merenungkan poin ini. Kebanyakan makhluk ini hanya berusaha dalam merampas jiwa mereka, menyakiti, menyesali, dan menguranginya dari sisi yang mereka sangka bahwa mereka menginginkan kebahagiaan dan kenikmatan serta kelezatannya. Maka kelezatannya sesuai dengan apa yang diperoleh jiwa dari ma’rifah, cinta, dan suluk itu, dan kesakitan serta penyesalannya sesuai dengan apa yang terluput darinya.
Apabila kehilangan hal itu dan kosong darinya, maka tidak tersisa padanya kecuali kekuatan-kekuatan badaniah nafsaniah yang dengannya ia makan, minum, menikah, marah, dan meraih seluruh kelezatan dan keperluan hidupnya. Tidak ada kemuliaan dan keutamaan yang menimpanya dari segi itu, bahkan kehinaan dan kekurangan, karena ia hanya menyerupai binatang-binatang dengan kekuatan-kekuatan itu dan terhubung dengan jenisnya serta masuk dalam kelompoknya dan menjadi seperti salah satunya. Bahkan binatang-binatang bisa melebihinya dalam mengambil bagiannya dan khusus tanpa dia dengan keselamatan kesehatannya dan keamanan dari mendatangkan bahaya atasnya.
Maka kesempurnaan yang binatang-binatang turut serta denganmu di dalamnya dan melebihi serta khusus tanpa engkau di dalamnya dengan keselamatan akibat, patut engkau tinggalkan menuju kesempurnaan hakiki yang tidak ada kesempurnaan selainnya. Dan dengan Allah-lah taufik.
Jika hamba pagi dan petang dan tidak ada yang menjadi perhatiannya selain Allah semata, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memikul semua keperluannya dan menanggung darinya semua yang membuatnya khawatir, serta mengosongkan hatinya untuk cinta kepada-Nya, lisannya untuk zikir kepada-Nya, dan anggota badannya untuk taat kepada-Nya.
Dan jika ia pagi dan petang sedangkan dunia menjadi perhatiannya, maka Allah membebankan kepadanya kekhawatiran-kekhawatiran dunia, kesedihan-kesedihannya, dan kesulitan-kesulitannya, serta menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Maka hatinya sibuk dari cinta kepada-Nya dengan cinta kepada makhluk, lisannya dari zikir kepada-Nya dengan menyebut mereka, dan anggota badannya dari taat kepada-Nya dengan mengabdi kepada mereka dan urusan-urusan mereka. Maka ia bekerja keras seperti kerja kerasnya binatang buas dalam mengabdi kepada selain dirinya, seperti pandai besi yang menghembuskan perutnya dan menekan tulang rusuknya untuk kemanfaatan orang lain.
Setiap orang yang berpaling dari penghambaan kepada Allah, taat kepada-Nya, dan cinta kepada-Nya, pasti diuji dengan penghambaan kepada makhluk, cinta kepadanya, dan pengabdian kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman: Surat Az-Zukhruf ayat 36: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Penyayang, Kami adakan baginya setan yang menjadi teman karibnya.”
Sufyan bin Uyainah berkata: “Kalian tidak akan mendatangkan kepadaku suatu peribahasa Arab yang terkenal kecuali aku akan mendatangkan kepadamu dari Al-Quran.” Maka seseorang berkata kepadanya: “Di manakah dalam Al-Quran: ‘Berilah saudaramu kurma, jika ia tidak mau menerima maka berilah dia bara api’?” Maka ia berkata: “Dalam firman-Nya: Surat Az-Zukhruf ayat 36: ‘Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Penyayang, Kami adakan baginya setan…'” (ayat).
Ilmu adalah memindahkan gambaran yang diketahui dari luar dan menetapkannya dalam jiwa, sedangkan amal adalah memindahkan gambaran ilmiah dari jiwa dan menetapkannya di luar. Jika yang tetap dalam jiwa sesuai dengan hakikat pada dirinya, maka itulah ilmu yang benar. Dan sering kali ditetapkan dalam jiwa gambaran-gambaran yang tidak memiliki wujud hakiki, lalu orang yang telah menetapkannya dalam jiwanya menyangka bahwa itu adalah ilmu, padahal itu hanya perkiraan, bukan hakikat.
Kebanyakan ilmu manusia dari jenis ini. Dan yang sesuai dengan hakikat di luar ada dua jenis: Jenis pertama: yang menyempurnakan jiwa dengan memahami dan mengetahuinya, yaitu ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, kitab-kitab-Nya, perintah dan larangan-Nya. Jenis kedua: yang tidak menghasilkan kesempurnaan bagi jiwa, yaitu setiap ilmu yang tidak membahayakan jika tidak mengetahuinya, karena tidak bermanfaat mengetahuinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dan ini adalah keadaan kebanyakan ilmu yang benar dan sesuai yang tidak membahayakan jika tidak mengetahuinya sedikitpun, seperti ilmu tentang falak dan perinciannya serta derajat-derajatnya, jumlah bintang-bintang dan ukuran-ukurannya, ilmu tentang jumlah gunung-gunung, warna-warnanya, dan luasnya, dan semacam itu.
Maka kemuliaan ilmu sesuai dengan kemuliaan yang diketahui dan besarnya kebutuhan kepadanya. Dan itu tidak lain adalah ilmu tentang Allah dan yang mengikutinya.
Adapun amal, maka bahayanya adalah tidak sesuainya dengan kehendak Allah yang agamawi yang dicintai dan diridhai Allah. Hal itu terjadi karena rusaknya ilmu kadang-kadang dan karena rusaknya keinginan kadang-kadang.
Kerusakan dari segi ilmu adalah meyakini bahwa ini disyariatkan dan dicintai Allah padahal tidak demikian, atau meyakini bahwa dengannya ia mendekatkan diri kepada Allah meskipun tidak disyariatkan, sehingga ia menyangka bahwa ia mendekatkan diri kepada Allah dengan amal ini meskipun tidak mengetahui bahwa itu disyariatkan.
Adapun kerusakannya dari segi maksud adalah tidak bermaksud dengannya wajah Allah dan negeri akhirat, tetapi bermaksud dengannya dunia dan makhluk.
Kedua bencana ini dalam ilmu dan amal tidak ada jalan untuk selamat darinya kecuali dengan mengetahui apa yang dibawa Rasul dalam bab ilmu dan ma’rifah, dan menginginkan wajah Allah dan negeri akhirat dalam bab maksud dan keinginan. Maka apabila kosong dari ma’rifah ini dan keinginan ini, maka rusaklah ilmu dan amalnya.
Iman dan yakin melahirkan benarnya ma’rifah, dan benarnya keinginan melahirkan iman dan menguatkannya. Dari sini terlihat penyimpangan kebanyakan manusia dari iman karena penyimpangan mereka dari benarnya ma’rifah dan benarnya keinginan.
Tidak sempurna iman kecuali dengan menerima ma’rifah dari pelita kenabian dan memurnikan keinginan dari campuran hawa nafsu dan keinginan makhluk. Maka jadilah ilmunya diambil dari pelita wahyu dan keinginannya untuk Allah dan negeri akhirat. Maka inilah orang yang paling benar ilmu dan amalnya, dan ia termasuk imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Allah dan termasuk khalifah rasul-Nya di umatnya.
Kaidah Pertama: Hakikat Iman
Iman memiliki aspek lahir dan batin. Aspek lahirnya adalah perkataan lisan dan amal perbuatan anggota badan, sedangkan aspek batinnya adalah pembenaran hati, ketundukan hati, dan kecintaan hati. Aspek lahir tidak bermanfaat tanpa aspek batin, meskipun dapat memelihara darah, harta, dan keturunan. Aspek batin juga tidak mencukupi tanpa aspek lahir, kecuali jika terhalang karena ketidakmampuan, paksaan, atau takut akan kebinasaan.
Tidak adanya amal lahir padahal tidak ada penghalang menunjukkan rusaknya batin dan kosongnya dari iman. Kekurangan amal menunjukkan kekurangan iman, dan kekuatan amal menunjukkan kekuatan iman. Iman adalah jantung Islam dan intinya, sedangkan keyakinan adalah jantung iman dan intinya. Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan iman dan keyakinan adalah cacat. Setiap iman yang tidak mendorong pada amal adalah cacat.
Kaidah Kedua: Tawakal kepada Allah
Tawakal kepada Allah ada dua jenis:
Pertama: Tawakal kepada-Nya dalam mendatangkan kebutuhan-kebutuhan hamba dan kepentingan-kepentingan duniawinya, atau menolak hal-hal yang dibenci dan musibah-musibah duniawi.
Kedua: Tawakal kepada-Nya dalam memperoleh apa yang Dia cintai dan ridhai, yaitu iman, keyakinan, jihad, dan dakwah kepada-Nya.
Antara kedua jenis ini terdapat keutamaan yang hanya Allah yang dapat menghitungnya. Apabila hamba bertawakal kepada-Nya dalam jenis kedua dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan mencukupinya dalam jenis pertama dengan sempurna. Apabila ia bertawakal kepada-Nya dalam jenis pertama tanpa yang kedua, Allah juga akan mencukupinya, namun ia tidak akan memiliki akibat baik seperti orang yang bertawakal dalam hal yang Allah cintai dan ridhai.
Tawakal yang paling agung adalah tawakal dalam hidayah, memurnikan tauhid, mengikuti Rasul, dan berjihad melawan ahli kebatilan. Inilah tawakal para rasul dan orang-orang pilihan dari pengikut mereka.
Tawakal terkadang berupa tawakal darurat dan terpaksa, dimana hamba tidak menemukan tempat berlindung dan benteng selain tawakal, seperti ketika sebab-sebab menjadi sempit baginya, jiwanya menjadi sempit, dan ia yakin bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya. Dalam kondisi ini, pertolongan dan kemudahan pasti datang tanpa terkecuali.
Terkadang tawakal berupa tawakal pilihan, yaitu tawakal disertai dengan adanya sebab yang mengarah pada tujuan yang diinginkan. Jika sebab itu diperintahkan, maka ia tercela jika meninggalkannya. Jika sebab telah dilakukan namun tawakal ditinggalkan, ia juga tercela karena meninggalkannya, sebab tawakal wajib berdasarkan kesepakatan umat, nash Al-Qur’an. Yang wajib adalah melakukan keduanya dan menggabungkan antara keduanya.
Jika sebab itu haram, maka haram baginya melakukannya, dan sebab menjadi tunggal dalam haknya yaitu tawakal saja. Tidak tersisa sebab selainnya, karena tawakal termasuk sebab yang paling kuat dalam mencapai tujuan dan menolak yang dibenci, bahkan ia adalah sebab yang paling kuat secara mutlak.
Jika sebab itu mubah, maka perlu dilihat: apakah melakukannya melemahkan tawakal atau tidak? Jika melemahkan tawakal, memecah-belah hati, dan menyebarkan perhatian, maka meninggalkannya lebih utama. Jika tidak melemahkan, maka melakukannya lebih utama, karena hikmah Dzat Yang Maha Bijaksana menghendaki dikaitkannya akibat dengan sebabnya. Jangan sia-siakan hikmah-Nya selama mampu melakukannya, terutama jika dilakukan sebagai ibadah, sehingga engkau telah melakukan ibadah hati dengan tawakal dan ibadah anggota badan dengan sebab yang diniatkan untuk mendekatkan diri.
Yang menyempurnakan tawakal adalah melakukan sebab-sebab yang diperintahkan. Barangsiapa yang mengabaikannya, maka tawakalnya tidak sah, sebagaimana melakukan sebab-sebab yang mengarah pada kebaikan menyempurnakan harapannya. Barangsiapa yang tidak melakukannya, maka harapannya hanya angan-angan, sebagaimana barangsiapa yang mengabaikannya menjadikan tawakalnya kelemahan dan kelemahannya menjadi tawakal.
Rahasia tawakal dan hakikatnya adalah bergantung hati kepada Allah semata. Tidak akan merugikannya melakukan sebab-sebab dengan hati yang kosong dari bergantung kepadanya dan bersandar kepadanya, sebagaimana tidak bermanfaat baginya berkata “aku bertawakal kepada Allah” sementara hatinya bergantung kepada selain-Nya, bersandar kepada selain-Nya, dan percaya kepada selain-Nya.
Tawakal lisan adalah satu hal, dan tawakal hati adalah hal lain, sebagaimana taubat lisan dengan berkeras hati adalah satu hal, dan taubat hati meskipun lisan tidak mengucapkan adalah hal lain. Perkataan hamba “aku bertawakal kepada Allah” sementara hatinya bergantung kepada selain-Nya seperti perkataannya “aku bertaubat kepada Allah” sementara ia berkeras pada kemaksiatannya dan melakukannya.
Faidah: Tingkatan dalam Menghadapi Musibah
Orang jahil mengadukan Allah kepada manusia. Ini adalah puncak kejahilan terhadap yang diadukan dan yang diadukan kepadanya. Seandainya ia mengenal Tuhannya, niscaya ia tidak akan mengadu tentang-Nya. Seandainya ia mengenal manusia, niscaya ia tidak mengadu kepada mereka.
Sebagian salaf melihat seseorang mengadukan kefakirannya dan keperluannya kepada orang lain, lalu berkata: “Wahai orang ini, demi Allah, engkau tidak melakukan apa-apa kecuali mengadukan Dzat Yang Maha Penyayang kepada yang tidak penyayang.”
Dalam hal itu dikatakan: Jika engkau mengadu kepada anak Adam, sesungguhnya Engkau mengadukan Yang Maha Penyayang kepada yang tidak penyayang
Orang yang mengenal (Allah) hanya mengadu kepada Allah semata. Yang paling mengenal di antara orang-orang yang mengenal adalah yang menjadikan aduannya kepada Allah tentang dirinya sendiri, bukan tentang manusia. Ia mengadukan hal-hal yang menyebabkan manusia diizinkan menguasainya. Ia memperhatikan firman Allah Ta’ala:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)
“Dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu, kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.'” (QS. Ali Imran: 165)
Maka tingkatannya ada tiga: yang paling rendah adalah mengadukan Allah kepada makhluk-Nya, yang paling tinggi adalah mengadukan dirimu kepada-Nya, dan yang tengah adalah mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.
Kaidah Mulia tentang Kehidupan Hakiki
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Ketahuilah bahwa Allah menghalangi antara seseorang dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ayat ini mengandung beberapa perkara:
Pertama: Kehidupan yang bermanfaat hanya diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang tidak memperoleh pemenuhan seruan ini, maka tidak ada kehidupan baginya, meskipun ia memiliki kehidupan hewani yang sama dengannya dan dengan hewan yang paling hina. Kehidupan hakiki yang baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul secara lahir dan batin. Mereka inilah orang-orang yang hidup meskipun mereka mati, sedangkan selain mereka adalah orang-orang mati meskipun mereka hidup secara jasmaniah.
Karena itu, orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Rasul. Segala yang diserukan Rasul mengandung kehidupan. Barangsiapa yang kehilangan sebagian darinya, maka ia kehilangan sebagian dari kehidupan. Dalam dirinya terdapat kehidupan sesuai dengan kadar pemenuhan seruannya kepada Rasul.
Mujahid berkata: “kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu” yaitu kepada kebenaran. Qatadah berkata: “Yaitu Al-Qur’an ini, di dalamnya terdapat kehidupan, kepercayaan, keselamatan, dan perlindungan di dunia dan akhirat.” As-Suddi berkata: “Yaitu Islam, Dia menghidupkan mereka dengannya setelah kematian mereka karena kekafiran.” Ibnu Ishaq dan Urwah bin Az-Zubair berkata: “kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu yaitu kepada perang yang Allah memuliakan kamu dengannya setelah kehinaan, menguatkan kamu setelah kelemahan, dan melindungi kamu dengannya dari musuh kamu setelah mereka mengalahkan kamu.”
Semua ini adalah ungkapan tentang satu hakikat, yaitu melaksanakan apa yang dibawa Rasul secara lahir dan batin.
Al-Wahidi berkata: “Mayoritas berpendapat bahwa makna firman-Nya ‘kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu’ adalah jihad.” Ini adalah pendapat Ibnu Ishaq dan pilihan mayoritas ahli makna. Al-Farra berkata: “Apabila Rasul menyeru kamu untuk menghidupkan urusan kamu dengan berjihad melawan musuh kamu,” maksudnya urusan mereka hanya kuat dengan perang dan jihad. Seandainya mereka meninggalkan jihad, urusan mereka akan lemah dan musuh akan berani kepada mereka.
Aku berkata: Jihad termasuk hal yang paling agung yang menghidupkan mereka di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat.
Adapun di dunia, maka kekuatan dan kemenangan mereka atas musuh adalah dengan jihad.
Adapti di alam barzakh, Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)
Adapun di akhirat, maka bagian para mujahid dan syuhada dari kehidupan dan kenikmatan akhirat lebih besar dari bagian selain mereka.
Karena itu Ibnu Qutaibah berkata: “kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu” yaitu kesyahidan. Sebagian mufassir berkata: “kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu” yaitu surga, karena surga adalah negeri kehidupan dan di dalamnya terdapat kehidupan yang kekal dan baik. Ini diriwayatkan oleh Abu Ali Al-Jurjani.
Ayat ini mencakup semua ini, karena iman, Islam, Al-Qur’an, dan jihad menghidupkan hati dengan kehidupan yang baik, dan kesempurnaan kehidupan adalah di surga. Rasul adalah da’i kepada iman dan kepada surga, maka ia adalah da’i kepada kehidupan di dunia dan akhirat.
Manusia membutuhkan dua jenis kehidupan:
Kehidupan jasmaniah yang dengannya ia dapat merasakan yang bermanfaat dan yang berbahaya, dan mengutamakan apa yang bermanfaat baginya daripada yang membahayakannya. Apabila kehidupan ini berkurang dalam dirinya, ia akan mengalami sakit dan kelemahan sesuai dengan itu. Karena itu, kehidupan orang sakit, orang yang bersedih, orang yang punya masalah, ketakutan, kemiskinan, dan kehinaan berada di bawah kehidupan orang yang terbebas dari itu semua.
Kehidupan hati dan ruh yang dengannya ia dapat membedakan antara haq dan batil, antara petunjuk dan kesesatan, antara hawa nafsu dan kesesatan, sehingga ia memilih kebenaran atas lawannya. Kehidupan ini memberikan kepadanya kekuatan membedakan antara yang bermanfaat dan yang berbahaya dalam ilmu, kehendak, dan amal. Memberikan kepadanya kekuatan iman, kehendak, dan cinta kepada kebenaran, serta kekuatan benci dan tidak suka kepada kebatilan. Maka perasaan, pembedaan, cinta, dan kebenciannya sesuai dengan bagiannya dari kehidupan ini.
Sebagaimana jasad yang hidup, perasaan dan kepekaannya terhadap yang bermanfaat dan yang menyakitkan lebih sempurna, kecenderungannya kepada yang bermanfaat dan penolakan terhadap yang menyakitkan lebih besar. Ini sesuai dengan kehidupan jasad, dan yang itu sesuai dengan kehidupan hati.
Apabila kehidupan hati hilang, pembedaannya pun hilang. Meskipun ia memiliki jenis pembedaan, tidak ada kekuatan padanya untuk mengutamakan yang bermanfaat daripada yang berbahaya.
Sebagaimana manusia tidak memiliki kehidupan hingga malaikat yang merupakan utusan Allah meniupkan ruh-Nya kepadanya, sehingga ia menjadi hidup dengan tiupan itu, padahal sebelumnya ia termasuk orang-orang mati, demikian pula tidak ada kehidupan bagi ruh dan hatinya hingga Rasul meniupkan kepadanya ruh yang disampaikan kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh atas perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.” (QS. An-Nahl: 2)
“Dia menyampaikan ruh atas perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir: 15)
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)
Allah mengabarkan bahwa wahyu-Nya adalah ruh dan cahaya. Kehidupan dan pencerahan bergantung pada tiupan rasul malaikat. Barangsiapa yang mendapat tiupan rasul malaikat dan tiupan rasul manusia, ia memperoleh kedua kehidupan. Barangsiapa yang memperoleh tiupan malaikat tanpa tiupan rasul, ia memperoleh salah satu dari kedua kehidupan dan kehilangan yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dia, dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (QS. Al-An’am: 122)
Allah mengumpulkan baginya cahaya dan kehidupan, sebagaimana Dia mengumpulkan bagi orang yang berpaling dari kitab-Nya kematian dan kegelapan. Ibnu Abbas dan semua mufassir berkata: “Ia dahulu kafir dan sesat, lalu Kami beri hidayah.”
Firman Allah “Dan Kami jadikan baginya cahaya yang ia gunakan untuk berjalan di tengah-tengah manusia” (QS. Al-An’am: 122) mengandung beberapa makna:
Pertama, bahwa ia berjalan di tengah manusia dengan cahaya sementara mereka berada dalam kegelapan. Perumpamaan dia dan mereka seperti suatu kaum yang diliputi kegelapan malam sehingga mereka tersesat dan tidak mendapat petunjuk jalan, sedangkan yang lain memiliki cahaya untuk berjalan di jalan itu, ia dapat melihat jalan dan melihat apa yang harus diwaspadainya.
Kedua, bahwa ia berjalan di antara mereka dengan cahayanya, maka mereka mengambil cahaya darinya karena kebutuhan mereka akan cahaya.
Ketiga, bahwa ia berjalan dengan cahayanya di hari kiamat di atas shirath ketika orang-orang musyrik dan munafik tetap berada dalam kegelapan syirik dan kemunafikan mereka.
Firman Allah “Dan ketahuilah bahwa Allah menghalangi antara seseorang dan hatinya” (QS. Al-Anfal: 24) yang masyhur dalam ayat ini adalah bahwa Allah menghalangi antara orang mukmin dan kekafiran, dan antara orang kafir dan keimanan. Dia menghalangi antara ahli ketaatan-Nya dan kemaksiatan, dan antara ahli kemaksiatan dan ketaatan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan jumhur mufassirin.
Dalam ayat ini ada pendapat lain bahwa maknanya adalah bahwa Allah Subhanahu dekat dengan hatinya, tidak tersembunyi dari-Nya sesuatu yang tersembunyi, maka Dia berada antara dirinya dan hatinya. Ini disebutkan Al-Wahidi dari Qatadah.
Pendapat ini lebih sesuai dengan konteks karena istijabah (respons) pada dasarnya dengan hati, maka tidak bermanfaat istijabah dengan badan tanpa hati. Sesungguhnya Allah Subhanahu berada antara hamba dan hatinya, maka Dia mengetahui apakah hatinya merespons kepada-Nya, apakah ia menyembunyikan hal itu atau menyembunyikan yang sebaliknya.
Berdasarkan pendapat pertama, sisi kesesuaiannya adalah: jika kalian berat untuk merespons dan lambat darinya, maka jangan merasa aman bahwa Allah akan menghalangi antara kalian dan hati kalian sehingga kalian tidak dapat merespons setelah itu sebagai hukuman atas meninggalkan respons setelah kebenaran jelas dan nyata. Ini seperti firman-Nya “Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada kali pertama” (QS. Al-An’am: 110) dan firman-Nya “Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka” (QS. As-Saff: 5) dan firman-Nya “Maka mereka tidak akan beriman kepada apa yang mereka dustakan sebelumnya” (QS. Al-Baqarah: 74).
Dalam ayat ini terdapat peringatan dari meninggalkan istijabah dengan hati meskipun merespons dengan anggota badan. Dalam ayat ini ada rahasia lain yaitu bahwa Allah menggabungkan bagi mereka antara syariat dan perintah dengannya yaitu istijabah, dan antara takdir dan keimanan kepadanya. Ini seperti firman-Nya “Bagi siapa di antara kamu yang ingin lurus, dan kamu tidak menghendaki kecuali Allah Tuhan semesta alam menghendaki” (QS. At-Takwir: 28-29) dan firman-Nya “Barangsiapa yang menghendaki mengingat-Nya, dan mereka tidak mengingat kecuali jika Allah menghendaki” (QS. Al-Muddatstsir: 55-56). Wallahu a’lam.
Faidah Mulia
Firman Allah Ta’ala: “Diwajibkan atas kamu berperang padahal kamu tidak menyukainya. Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagi kamu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kamu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216) dan firman-Nya “Dan jika kamu tidak menyukai mereka, maka mungkin kamu tidak menyukai sesuatu dan Allah menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak” (QS. An-Nisa: 19).
Ayat pertama tentang jihad yang merupakan kesempurnaan kekuatan marah, dan yang kedua tentang pernikahan yang merupakan kesempurnaan kekuatan syahwat. Hamba tidak suka menghadapi musuhnya dengan kekuatan marahnya karena takut pada dirinya, dan yang tidak disukai ini adalah kebaikan baginya dalam kehidupan dan akhiratnya. Ia menyukai perdamaian dan meninggalkan, dan yang dicintai ini adalah keburukan baginya dalam kehidupan dan akhiratnya.
Demikian pula ia tidak menyukai istri karena sifat dari sifat-sifatnya, padahal dalam mempertahankannya ada kebaikan banyak yang tidak diketahuinya. Dan ia menyukai istri karena sifat dari sifat-sifatnya, padahal dalam mempertahankannya ada keburukan banyak yang tidak diketahuinya.
Manusia sebagaimana Allah menggambarkannya adalah sangat zalim dan sangat bodoh. Maka tidak pantas ia menjadikan ukuran atas apa yang membahayakan dan bermanfaat baginya adalah kecenderungan, cinta, penolakan, dan kebenciannya. Tetapi ukuran itu adalah apa yang Allah pilih baginya dengan perintah dan larangan-Nya.
Hal yang paling bermanfaat baginya secara mutlak adalah ketaatan kepada Tuhannya dengan lahir dan batin, dan hal yang paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya dengan lahir dan batin.
Jika ia tegak dengan ketaatan dan penghambaan kepada-Nya dengan ikhlas, maka segala yang menimpanya yang tidak disukainya akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia meninggalkan ketaatan dan penghambaan kepada-Nya, maka segala yang dicintainya adalah keburukan baginya.
Barang siapa yang benar ma’rifahnya kepada Tuhannya dan fiqh dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, ia akan tahu dengan yakin bahwa hal-hal yang tidak disukai yang menimpanya dan cobaan-cobaan yang turun kepadanya mengandung berbagai jenis kemaslahatan dan manfaat yang tidak dapat dihitung oleh ilmu dan pikirannya. Bahkan kemaslahatan hamba dalam apa yang tidak disukainya lebih besar daripada dalam apa yang disukainya.
Umumnya kemaslahatan jiwa-jiwa ada dalam hal-hal yang tidak disukainya, sebagaimana umumnya kemudaratan dan penyebab kehancurannya ada dalam hal-hal yang dicintainya.
Lihatlah kepada seorang penanam kebun yang ahli dalam pertanian. Ia menanam kebun dan merawatnya dengan penyiraman dan perbaikan hingga pohon-pohonnya berbuah. Kemudian ia datang kepadanya memotong bagian-bagiannya dan memotong cabang-cabangnya karena pengetahuannya bahwa jika dibiarkan dalam keadaannya, buahnya tidak akan baik. Maka ia mencangkoknya dari pohon yang buahnya baik hingga ketika menyatu dan bersatu serta menghasilkan buahnya, ia datang memangkasnya dan memotong cabang-cabangnya yang lemah yang menghabiskan kekuatannya dan merasakan sakitnya pemotongan dan besi untuk kemaslahatan dan kesempurnaannya agar buahnya layak berada di hadapan raja-raja.
Kemudian ia tidak membiarkannya mengikuti naluri alaminya untuk minum setiap saat, tetapi ia membuatnya haus kadang dan menyiraminya kadang. Ia tidak membiarkan air terus-menerus padanya meskipun itu lebih hijau untuk daunnya dan lebih cepat untuk pertumbuhannya.
Kemudian ia sengaja kepada hiasan yang menghiasinya dari daun-daun, lalu ia membuang banyak darinya karena hiasan itu menghalangi antara buahnya dan kesempurnaan kematangan dan kesiapannya, seperti pada pohon anggur dan sejenisnya. Maka ia memotong anggota-anggotanya dengan besi dan membuang banyak dari hiasannya, dan itu adalah inti kemaslahatan baginya.
Seandainya pohon itu memiliki daya pembeda dan pemahaman seperti hewan, tentu ia akan menyangka bahwa itu adalah kerusakan dan bahaya baginya, padahal itu adalah inti kemaslahatan baginya.
Demikian pula ayah yang penyayang kepada anaknya dan mengetahui kemaslahatan anaknya. Jika ia melihat kemaslahatan anaknya dalam mengeluarkan darah yang rusak darinya, ia melukai kulitnya, memotong uratnya, dan membuatnya merasakan sakit yang sangat. Jika ia melihat kesembuhan dalam memotong salah satu anggota badannya, ia memisahkannya darinya. Itu adalah rahmat dan kasih sayang kepadanya.
Jika ia melihat kemaslahatan anaknya dalam menahan pemberian, ia tidak memberi dan tidak melapangkan kepadanya karena pengetahuannya bahwa itu adalah sebab terbesar untuk kerusakan dan kehancurannya. Demikian pula ia melarangnya dari banyak syahwatnya sebagai penjagaan dan kemaslahatan baginya, bukan karena kikir kepadanya.
Maka Hakim yang paling bijaksana, Penyayang yang paling penyayang, dan Maha Mengetahui yang paling mengetahui, yang lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada mereka kepada diri mereka sendiri dan daripada ayah dan ibu mereka, jika menurunkan kepada mereka apa yang mereka benci, itu lebih baik bagi mereka daripada tidak menurunkannya kepada mereka sebagai perhatian dari-Nya kepada mereka, kebaikan kepada mereka, dan kelembutan kepada mereka.
Seandainya mereka diberi kebebasan memilih untuk diri mereka sendiri, mereka akan lemah dalam menjalankan kemaslahatan mereka dalam ilmu, kehendak, dan amal. Tetapi Dia Subhanahu mengambil alih pengaturan urusan mereka dengan kehendak ilmu, hikmah, dan rahmat-Nya, baik mereka suka atau tidak suka.
Orang-orang yang yakin dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya mengetahui hal itu, maka mereka tidak menuduh-Nya dalam sesuatu dari hukum-hukum-Nya. Hal itu tersembunyi bagi orang yang jahil kepada-Nya dan kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya, maka mereka menentang pengaturan-Nya, mencela hikmah-Nya, tidak tunduk kepada hukum-Nya, dan menentang hukum-Nya dengan akal mereka yang rusak, pendapat-pendapat mereka yang batil, dan kebijakan-kebijakan mereka yang zalim. Maka mereka tidak mengenal Tuhan mereka dan tidak memperoleh kemaslahatan mereka. Wallahu al-muwaffiq.
Ketika hamba berhasil memperoleh ma’rifah ini, ia akan tinggal di dunia sebelum akhirat dalam surga yang tidak menyerupai kenikmatan akhirat. Sesungguhnya ia senantiasa ridha kepada Tuhannya, dan ridha adalah surga dunia dan tempat istirahat orang-orang yang mengenal Allah.
Sesungguhnya ia senang hati dengan apa yang terjadi padanya dari takdir-takdir yang merupakan inti pilihan Allah baginya dan ketenangan hatinya kepada hukum-hukum agama-Nya. Inilah ridha kepada Allah sebagai Tuhan, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad sebagai rasul. Tidak merasakan rasa iman orang yang tidak memperoleh hal itu.
Ridha ini sesuai dengan ma’rifahnya kepada keadilan Allah, hikmah-Nya, rahmat-Nya, dan kebaikan pilihan-Nya. Semakin ia mengetahui hal itu, semakin ia ridha kepada-Nya.
Takdir Tuhan Subhanahu terhadap hamba-Nya berputar antara keadilan, kemaslahatan, hikmah, dan rahmat, tidak keluar dari itu sama sekali, sebagaimana yang disebutkan dalam doa yang masyhur: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak sahaya-Mu. Ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu, adil padaku takdir-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau namakan untuk diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai musim semi hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahan dan kegundahanku.”
Tidak ada seorang pun yang mengucapkannya kecuali Allah menghilangkan kegelisahan dan kegundahannya serta menggantikannya dengan kelapangan. Mereka berkata: “Tidakkah kami mempelajarinya, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Ya, sepatutnya bagi siapa yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”
Yang dimaksud adalah sabda beliau “adil padaku takdir-Mu”. Ini mencakup setiap takdir yang Allah takdirkan atas hamba-Nya berupa hukuman, sakit, dan sebabnya. Maka Dialah yang mentakdirkan sebab dan yang disebabkan, dan Dia adil dalam takdir ini. Takdir ini adalah kebaikan bagi mukmin sebagaimana sabda beliau: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Allah tidak mentakdirkan bagi mukmin suatu takdir kecuali itu baik baginya, dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin.”
Al-Allamah Ibnu Qayyim berkata: “Aku bertanya kepada syaikh kami: ‘Apakah masuk dalam itu takdir dosa?’ Beliau menjawab: ‘Ya, dengan syaratnya.’ Beliau meringkas dalam kalimat ‘dengan syaratnya’ apa yang muncul dari dosa berupa akibat-akibat yang dicintai Allah seperti taubat, patah hati, penyesalan, tunduk, hina, menangis, dan lain-lain.”
Kerinduan kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan berzuhud dari dunia. Dan zuhud dari dunia tidak akan lurus kecuali setelah dua pandangan yang benar:
Pandangan Pertama: Melihat dunia dengan kecepatan hilangnya, kepunahannya, kehancurannya, kekurangannya, kehinaannya, dan penderitaan dalam berlomba meraihnya serta keserakahan terhadapnya. Dan apa yang ada di dalam itu berupa kesedihan, kekecewaan, dan kegelisahan. Akhir dari semua itu adalah hilang dan terputus, disertai dengan penyesalan dan kesedihan yang menyusul. Maka orang yang mengejarnya tidak akan lepas dari kekhawatiran sebelum memperolehnya, kekhawatiran saat berhasil meraihnya, dan kesedihan serta duka setelah kehilangannya. Inilah salah satu dari dua pandangan tersebut.
Pandangan Kedua: Melihat akhirat dengan kedatangannya yang pasti, kekekalannya, kemuliaan kebaikan dan kegembiraan yang ada di dalamnya, serta perbedaan yang ada antara akhirat dengan dunia ini. Akhirat adalah kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala “dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (Surat Al-A’la: 17). Akhirat adalah kebaikan yang sempurna dan kekal, sedangkan dunia ini hanyalah khayalan yang kurang, terputus, dan hancur.
Apabila kedua pandangan ini telah sempurna baginya, maka ia akan mengutamakan apa yang dikehendaki akal untuk diutamakan dan berzuhud terhadap apa yang dikehendaki untuk dizuhudi. Setiap orang memiliki sifat bawaan untuk tidak meninggalkan manfaat yang cepat dan kenikmatan yang hadir menuju manfaat yang tertunda dan kenikmatan yang tidak tampak yang dinanti-nantikan, kecuali jika telah jelas baginya kelebihan yang tertunda atas yang cepat dan kuatnya keinginannya terhadap yang lebih tinggi dan lebih utama.
Jika ia mengutamakan yang fana dan kurang, maka itu karena tidak jelasnya keutamaan baginya atau karena tidak adanya keinginannya terhadap yang lebih utama. Masing-masing dari kedua perkara ini menunjukkan lemahnya iman, lemahnya akal, dan lemahnya bashirah (penglihatan batin).
Orang yang berkeinginan kepada dunia, rakus terhadapnya, dan mengutamakannya, pasti salah satu dari dua kondisi: Pertama, ia membenarkan bahwa yang di akhirat itu lebih mulia, lebih utama, dan lebih kekal, atau kedua, ia tidak membenarkan hal itu. Jika ia tidak membenarkannya, maka ia kehilangan iman sama sekali. Dan jika ia membenarkan hal itu namun tidak mengutamakannya, maka ia rusak akalnya dan buruk pilihannya untuk dirinya sendiri.
Ini adalah pembagian yang jelas dan pasti. Hamba tidak akan lepas dari salah satu dari kedua bagian ini. Mengutamakan dunia atas akhirat disebabkan oleh kerusakan iman atau kerusakan akal. Betapa seringnya hal ini terjadi dari keduanya.
Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuang dunia ke belakang punggungnya, begitu juga para sahabatnya. Mereka memalingkan hati mereka darinya, mencampakkannya, tidak terbiasa dengannya, meninggalkannya, tidak condong kepadanya, dan menganggapnya sebagai penjara, bukan surga. Mereka benar-benar berzuhud terhadapnya dengan zuhud yang hakiki.
Seandainya mereka menginginkannya, niscaya mereka akan memperoleh darinya segala yang dicintai dan mencapai segala yang diinginkan. Kunci-kunci harta karunnya telah ditawarkan kepada Nabi, namun beliau menolaknya. Dunia mengalir kepada para sahabatnya, namun mereka mengutamakan orang lain dengannya dan tidak menjual bagian mereka dari akhirat dengannya.
Mereka mengetahui bahwa dunia adalah tempat penyeberangan dan jalan berlalu, bukan tempat tinggal dan tempat menetap. Dunia adalah rumah perjalanan, bukan rumah kegembiraan. Dunia seperti awan musim panas yang akan sirna sebentar lagi, seperti bayangan mimpi yang belum sempat selesai bertamu sudah memberikan izin untuk pergi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Aku tidak lain seperti seorang pengendara yang singgah di bawah naungan pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.”
Beliau juga bersabda: “Dunia di akhirat tidak lain seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang kembali (menempel di jarinya).”
Allah Pencipta dunia berfirman: “Perumpamaan kehidupan dunia hanyalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan subur karena air itu tanaman-tanaman bumi yang dimakan manusia dan hewan-hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasaininya, tiba-tiba datanglah keputusan Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan tanaman-tanamanya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Dan Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Surat Yunus: 24-25)
Allah memberitahukan tentang hinanya dunia dan menzuhudkan darinya, serta memberitahukan tentang darussalam (surga) dan menyeru kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan buatlah bagi mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Surat Al-Kahf: 45-46)
Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Surat Al-Hadid: 20)
Allah Ta’ala berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (disediakan) pada sisi Tuhan mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikarunia) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Surat Ali Imran: 14-15)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Surat Ar-Ra’d: 26)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam dengan ancaman yang sangat besar bagi orang yang ridha dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, dan lalai dari ayat-ayat-Nya serta tidak mengharap perjumpaan dengan-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan dunia) itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surat Yunus: 7-8)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang mukmin yang ridha dengan dunia, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu apabila dikatakan kepadamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Surat At-Taubah: 38)
Sesuai dengan kadar keinginan hamba terhadap dunia dan keridhaan-nya dengannya, akan menjadi beratnya ia dalam ketaatan kepada Allah dan mencari akhirat.
Cukuplah untuk zuhud terhadap dunia firman Allah Ta’ala: “Maka terangkanlah kepadaku jika Kami biarakan mereka bersenang-senang bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan (kepada mereka), niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang telah mereka nikmati itu.” (Surat Asy-Syu’ara: 205-207)
Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali sesaat pada siang hari, mereka saling berkenalan.” (Surat Yunus: 45)
Dan firman-Nya: “Seakan-akan pada hari mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka itu, mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu penyampaian. Maka tidak ada yang dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (Surat Al-Ahqaf: 35)
Dan firman Allah Ta’ala: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Dalam hal apa kamu menyebut-nyebutnya? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Surat An-Nazi’at: 42-46)
Dan firman-Nya: “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa (bahwa) mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat.” (Surat Ar-Rum: 55)
Dan firman-Nya: “Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) kecuali sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Surat Al-Mu’minun: 112-114)
Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala dan Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa pada waktu itu dalam keadaan biru (mata mereka karena ketakutan). Mereka berbisik-bisik di antara sesamanya: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) kecuali sepuluh (hari).’ Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkatalah orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) kecuali sehari saja.'” (Surat Taha: 102-104)
Dan hanya kepada Allah kita meminta pertolongan dan kepada-Nya kita berserah diri.
Dasar segala kebaikan adalah mengetahui bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Maka yakinlah ketika itu bahwa kebaikan-kebaikan adalah dari nikmat-Nya, maka bersyukurlah kepada-Nya atas kebaikan-kebaikan itu dan bermohonlah kepada-Nya agar tidak memutuskannya darimu. Dan bahwa keburukan-keburukan adalah dari kehinaan dan hukuman-Nya, maka berdoalah kepada-Nya agar Dia menghalangi antara kamu dan keburukan-keburukan itu, dan jangan menyerahkanmu dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada dirimu sendiri.
Para ahli ma’rifah telah sepakat bahwa setiap kebaikan, asalnya adalah dengan taufiq Allah kepada hamba. Dan setiap keburukan, asalnya adalah dengan kehinaan-Nya terhadap hamba-Nya. Mereka sepakat bahwa taufiq adalah Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri, dan kehinaan adalah Dia membiarkan antara kamu dan diri kamu sendiri.
Jika setiap kebaikan asalnya adalah taufiq dan itu berada di tangan Allah, bukan di tangan hamba, maka kuncinya adalah doa, kemiskinan (kepada Allah), kejujuran dalam berlindung, keinginan, dan ketakutan kepada-Nya. Kapan hamba diberi kunci ini, maka Allah telah menghendaki untuk membukakan baginya. Dan kapan Dia menyesatkannya dari kunci itu, maka pintu kebaikan tetap tertutup untuknya.
Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata: “Aku tidak memikul beban penjawaban (doa), tetapi beban mendoa. Jika aku diilhami untuk berdoa, maka sesungguhnya jawaban bersamanya.”
Sesuai dengan niat hamba, semangatnya, tujuannya, dan keinginannya dalam hal itu, maka akan ada taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pertolongan-Nya. Pertolongan dari Allah turun kepada hamba-hamba sesuai dengan semangat mereka, keteguhan mereka, keinginan dan ketakutan mereka. Dan kehinaan turun kepada mereka sesuai dengan hal itu juga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakim yang paling bijaksana dan Yang Maha Mengetahui dari segala yang mengetahui. Dia menempatkan taufiq di tempat-tempat yang layak baginya, dan kehinaan di tempat-tempat yang layak baginya. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Tidak ada yang ditimpa (kehinaan) kecuali karena menyia-nyiakan syukur dan mengabaikan kemiskinan (kepada Allah) dan doa. Dan tidak ada yang berhasil dengan kehendak Allah dan pertolongan-Nya kecuali dengan tegaknya dalam bersyukur dan kejujuran dalam kemiskinan (kepada Allah) dan doa. Inti dari itu semua adalah sabar, karena sabar dalam iman berkedudukan seperti kepala dalam tubuh. Jika kepala dipotong, maka tidak ada kehidupan bagi tubuh.
Tidak ada hamba yang dipukul dengan hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya dari Allah. Neraka diciptakan untuk melelehkan hati-hati yang keras. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras. Jika hati mengeras, mata menjadi kering.
Kerasnya hati disebabkan oleh empat perkara jika melampaui batas kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan bergaul.
Sebagaimana badan jika sakit tidak bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian juga hati jika sakit dengan syahwat tidak bermanfaat baginya nasihat-nasihat.
Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya, hendaklah ia mengutamakan Allah atas syahwatnya.
Hati-hati yang terikat dengan syahwat terhalang dari Allah sesuai dengan kadar keterikatan mereka dengannya.
Hati-hati adalah bejana-bejana Allah di bumi-Nya. Yang paling dicintai-Nya di antara hati-hati itu adalah yang paling lembut, paling kuat, dan paling jernih.
Mereka menyibukkan hati mereka dengan dunia. Seandainya mereka menyibukkan hati mereka dengan Allah dan negeri akhirat, niscaya hati-hati itu akan berkelana dalam makna-makna kalam-Nya dan ayat-ayat-Nya yang disaksikan, dan kembali kepada pemiliknya dengan keanehan-keanehan hikmah dan permata-permata faedah.
Jika hati diberi makan dengan dzikir, diberi minum dengan pikir, dan dibersihkan dari kotoran, maka ia akan melihat keajaiban-keajaiban dan diilhami hikmah.
Tidak semua orang yang berhias dengan ma’rifah dan hikmah serta mengklaimnya adalah termasuk ahlinya. Akan tetapi ahli ma’rifah dan hikmah adalah mereka yang menghidupkan hati mereka dengan membunuh hawa nafsu. Adapun orang yang membunuh hatinya lalu menghidupkan hawa nafsunya, maka ma’rifah dan hikmah hanya pinjaman di lidahnya.
Kerusakan hati disebabkan oleh rasa aman dan kelalaian. Kemakmuran hati disebabkan oleh rasa takut dan dzikir.
Apabila hati-hati telah berzuhud (tidak tertarik) terhadap hidangan-hidangan dunia, maka mereka akan duduk di hidangan-hidangan akhirat bersama para ahli dakwah tersebut. Dan apabila mereka ridha dengan hidangan-hidangan dunia, maka mereka akan kehilangan hidangan-hidangan tersebut.
Kerinduan kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya adalah angin sejuk yang bertiup ke dalam hati, menyejukkannya dari panas dunia. Barangsiapa yang menetapkan hatinya di sisi Tuhannya, maka dia akan tenang dan beristirahat. Dan barangsiapa yang melepaskannya ke dalam urusan manusia, maka dia akan goncang dan ditimpa kegelisahan yang hebat.
Tidak akan masuk cinta Allah ke dalam hati yang di dalamnya terdapat cinta dunia, kecuali sebagaimana masuknya unta ke dalam lubang jarum.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan membuatnya untuk diri-Nya, memilihnya untuk kecintaan-Nya, dan mengkhususkannya untuk beribadah kepada-Nya. Maka Dia akan menyibukkan perhatiannya dengan-Nya, lisannya dengan zikir kepada-Nya, dan anggota badannya dengan pelayanan kepada-Nya.
Hati itu bisa sakit sebagaimana badannya sakit, obatnya adalah taubat dan menjaga diri. Hati itu bisa berkarat sebagaimana cermin berkarat, penyemir kilauannya adalah zikir. Hati itu bisa telanjang sebagaimana badan telanjang, perhiasannya adalah takwa. Hati itu bisa lapar dan haus sebagaimana badan lapar, makanan dan minumannya adalah ma’rifat, mahabbah, tawakal, inabah (kembali kepada Allah), dan pengabdian.
Hati-hatilah terhadap kelalaian dari Dzat yang telah menjadikan hidup bagi kehidupanmu, bagi hari-harimu dan nafas-nafasmu suatu batas waktu. Dan dari segala sesuatu selain-Nya ada pengganti, tetapi tidak ada pengganti dari-Nya.
Barangsiapa yang meninggalkan pilihan dan perencanaan dalam mencari tambahan dunia atau kedudukan, atau dalam ketakutan akan kekurangan, atau dalam menyelamatkan diri dari musuh, dengan bertawakal kepada Allah dan percaya kepada perencanaan-Nya baginya serta pilihan-Nya yang baik baginya, maka dia telah melemparkan perlindungannya di hadapan-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, dan ridha dengan apa yang Dia tetapkan baginya, maka dia akan beristirahat dari kekhawatiran, kesedihan, dan kesusahan.
Dan barangsiapa yang menolak kecuali merencanakan sendiri untuk dirinya, maka dia akan jatuh dalam kesengsaraan, kepayahan, keadaan buruk, dan keletihan. Maka tidak ada kehidupan yang jernih, tidak ada hati yang gembira, tidak ada amal yang bersih, tidak ada harapan yang tegak, dan tidak ada ketenangan yang kekal.
Allah Subhanahu telah memudahkan jalan bagi makhluk-Nya kepada-Nya, dan menghalangi mereka dari-Nya dengan perencanaan. Maka barangsiapa yang ridha dengan perencanaan Allah baginya, tenang dengan pilihan-Nya, dan tunduk kepada hukum-Nya, maka dia telah menghilangkan hijab tersebut, sehingga hati sampai kepada Tuhannya, tenang kepada-Nya, dan diam.
Orang yang bertawakal tidak meminta kepada selain Allah, tidak menolak terhadap Allah, dan tidak menyimpan bersama Allah.
Barangsiapa yang disibukkan dengan dirinya, maka dia disibukkan dari selainnya. Dan barangsiapa yang disibukkan dengan Tuhannya, maka dia disibukkan dari dirinya.
Ikhlas adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga dia menulisnya, tidak diketahui oleh musuh sehingga dia merusaknya, dan pemiliknya tidak takjub dengannya sehingga dia membatalkannya.
Ridha adalah ketenangan hati di bawah berlakunya hukum-hukum.
Manusia di dunia tersiksa sesuai dengan kadar perhatian mereka kepadanya.
Hati memiliki enam tempat yang dia berkeliling di dalamnya, tidak ada yang ketujuh. Tiga yang rendah dan tiga yang tinggi.
Yang rendah adalah: dunia yang dihias baginya, nafsu yang berbicara kepadanya, dan musuh yang membisikkan kepadanya. Inilah tempat-tempat ruh-ruh rendah yang senantiasa berkeliling di dalamnya.
Dan tiga yang tinggi adalah: ilmu yang menjadi jelas baginya, akal yang membimbingnya, dan Ilah yang dia sembah. Hati-hati berkeliling dalam tempat-tempat ini.
Mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan adalah bahan setiap kerusakan. Karena mengikuti hawa nafsu membutakan dari kebenaran secara pengetahuan dan tujuan, dan panjang angan-angan melupakan akhirat dan menghalangi dari bersiap-siap untuknya.
Tidak akan mencium seorang hamba aroma kejujuran jika dia menipu dirinya atau menipu orang lain.
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menjadikannya mengakui dosanya, menahan diri dari dosa orang lain, dermawan dengan apa yang ada padanya, zuhud terhadap apa yang ada pada orang lain, sabar terhadap gangguan orang lain. Dan jika Dia menghendaki kejahatan baginya, maka Dia membalikkan hal itu padanya.
Himah yang tinggi senantiasa mengitari tiga perkara: Mengenal sifat dari sifat-sifat yang tinggi, bertambah dengan pengenalan itu cinta, keinginan, dan perhatian. Memperhatikan nikmat, bertambah dengan perhatian itu syukur dan ketaatan. Mengingat dosa, bertambah dengan mengingat itu taubat dan rasa takut. Apabila himah terkait dengan selain tiga hal ini, maka dia berkeliling dalam lembah-lembah was-was dan pikiran-pikiran.
Barangsiapa yang mencintai dunia, maka dunia melihat pada kedudukannya di sisinya dan menjadikannya dari para pelayan dan budaknya serta menghinakannya. Dan barangsiapa yang berpaling darinya, maka dunia melihat pada besarnya kedudukannya dan melayaninya serta tunduk kepadanya.
Sesungguhnya yang memotong perjalanan dan menghubungkan musafir adalah dengan berpegang teguh pada jalan yang lurus dan berjalan di malam hari. Apabila musafir menyimpang dari jalan dan tidur sepanjang malam, maka kapan dia akan sampai ke tujuannya?
Faidah yang mulia: Setiap orang dari ahli ilmu yang mengutamakan dunia dan memilihnya, maka tidak dapat tidak dia akan berkata atas Allah yang bukan kebenaran dalam fatwanya, hukumnya, beritanya, dan kewajiban yang dia tetapkan. Karena hukum-hukum Tuhan Subhanahu sering kali datang berlawanan dengan tujuan-tujuan manusia, terutama para pemimpin dan mereka yang mengikuti syubhat. Karena mereka tidak akan sempurna tujuan-tujuan mereka kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan menolaknya dalam banyak hal.
Apabila alim dan hakim mencintai kepemimpinan dan mengikuti syahwat, maka tidak akan sempurna bagi mereka hal itu kecuali dengan menolak apa yang bertentangan dengannya dari kebenaran, terutama jika baginya berdiri syubhat, maka bertemu syubhat dan syahwat, dan bangkitlah hawa nafsu sehingga tersamarlah yang benar dan terhapuslah wajah kebenaran.
Dan jika kebenaran itu zahir, tidak ada kesamaran padanya dan tidak ada syubhat di dalamnya, dia berani menyelisihinya dan berkata: “Bagiku ada jalan keluar dengan taubat.”
Pada mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka, Allah Ta’ala berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu.” (Surat Maryam, ayat 59)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman tentang mereka: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang mewarisi Al Kitab, mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun.’ Dan jika datang kepada mereka harta benda dunia seperti itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah sudah diambil perjanjian (dari) mereka di dalam Al Kitab, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar? Padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (Surat Al-A’raf, ayat 169)
Allah Subhanahu memberitahukan bahwa mereka mengambil harta yang rendah dengan mengetahui pengharamannya atas mereka, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan jika datang kepada mereka harta yang lain, mereka mengambilnya. Maka mereka terus-menerus dalam hal itu. Dan hal itulah yang mendorong mereka untuk berkata atas Allah yang bukan kebenaran. Maka mereka berkata: “Ini hukum-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya,” padahal mereka mengetahui bahwa agama-Nya, syariat-Nya, dan hukum-Nya berlawanan dengan itu. Atau mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah agama-Nya, syariat-Nya, dan hukum-Nya. Maka terkadang mereka berkata atas Allah apa yang tidak mereka ketahui, dan terkadang mereka berkata atas-Nya apa yang mereka ketahui kebatilannya.
Adapun mereka yang bertakwa, maka mereka mengetahui bahwa kampung akhirat lebih baik dari dunia. Maka tidak mendorong mereka cinta kepemimpinan dan syahwat untuk mengutamakan dunia atas akhirat. Dan jalan itu adalah bahwa mereka berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, meminta pertolongan dengan sabar dan shalat, dan merenung tentang dunia dan hilangnya serta kehinaannya, dan akhirat serta kedatangannya dan kekekalan.
Mereka ini tidak dapat tidak akan berbuat bid’ah dalam agama dengan kefasikan dalam amal. Maka berkumpul bagi mereka dua perkara. Karena mengikuti hawa nafsu membutakan mata hati sehingga tidak membedakan antara sunnah dan bid’ah, atau membalikkannya sehingga melihat bid’ah sebagai sunnah dan sunnah sebagai bid’ah. Inilah bencana para ulama apabila mereka mengutamakan dunia dan mengikuti kepemimpinan dan syahwat.
Dan ayat-ayat ini tentang mereka hingga firman-Nya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (dengan godaannya), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diapun menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia juga menjulurkan lidahnya.” (Surat Al-A’raf, ayat 175-176)
Inilah perumpamaan alim yang buruk yang beramal berlawanan dengan ilmunya.
Dan perhatikanlah apa yang tercakup dalam ayat ini dari celaan terhadapnya, yaitu dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa dia sesat setelah berilmu dan memilih kekufuran atas iman dengan sengaja bukan karena jahil.
Kedua: Bahwa dia berpisah dari iman dengan perpisahan orang yang tidak akan kembali kepadanya selamanya. Karena dia terlepas dari ayat-ayat secara keseluruhan sebagaimana ular terlepas dari kulitnya. Seandainya masih tersisa padanya sesuatu darinya, dia tidak akan terlepas darinya.
Ketiga: Bahwa syaitan mengejarnya dan menyusulnya sehingga berhasil menguasainya dan memburunya. Karena itu Allah berkata: “lalu dia diikuti oleh syaitan” dan tidak berkata “dia mengikuti syaitan.” Karena dalam makna “diikuti” terdapat makna “dikejar dan disusul,” dan itu lebih besar dari “mengikuti” secara lafadz dan makna.
Keempat: Bahwa dia sesat setelah mendapat petunjuk. Sesat adalah kesesatan dalam ilmu dan tujuan, dan lebih khusus pada kerusakan tujuan dan amal, sebagaimana sesat lebih khusus pada kerusakan ilmu dan keyakinan. Apabila salah satunya disebutkan sendiri, maka yang lain masuk di dalamnya. Dan jika keduanya disebutkan bersama, maka perbedaannya seperti yang disebutkan.
Kelima: Bahwa Allah Subhanahu tidak berkehendak mengangkatnya dengan ilmu, maka ilmu menjadi sebab kehancurannya karena dia tidak diangkat dengannya. Maka ilmu menjadi bencana baginya. Seandainya dia tidak berilmu, itu akan lebih baik baginya dan lebih ringan azabnya.
Keenam: Bahwa Allah Subhanahu memberitahukan tentang rendahnya cita-citanya dan bahwa dia memilih yang lebih rendah dan hina daripada yang lebih mulia dan tinggi.
Ketujuh: Bahwa pilihannya terhadap yang rendah bukan karena pikiran sekilas dan pembicaraan jiwa, tetapi karena cenderung kepada bumi dan condong dengan seluruhnya kepada apa yang ada di sana. Asal kata “akhlaada” adalah kelekatan secara terus-menerus, seakan-akan dikatakan: dia melekat condong kepada bumi. Dari sini dikatakan: “Fulan akhlaada bil makaan” jika dia melekat tinggal di sana. Malik bin Nuwairah berkata:
“Dengan anak-anak suatu kaum dari kabilah-kabilah Malik… dan Amr bin Yarbu’ mereka menetap dan melekat”
Dan diungkapkan condongnya kepada dunia dengan “akhlaada ilal ardh” karena dunia adalah bumi dan apa yang ada di dalamnya serta apa yang dikeluarkan darinya berupa perhiasan dan kesenangan.
Kedelapan: Bahwa dia tidak menginginkan petunjuk-Nya dan mengikuti hawa nafsunya, maka dia menjadikan hawa nafsunya sebagai imam yang dia ikuti dan teladani.
Kesembilan: Bahwa Allah menyerupakan dia dengan anjing yang adalah hewan yang paling hina cita-citanya, paling rendah jiwanya, paling bakhil, dan paling keras kelakuannya. Karena itu dinamakan anjing.
Kesepuluh: Bahwa Allah menyerupakan terengah-engahnya terhadap dunia, ketidaksabarannya terhadapnya, kegelisahannya karena kehilangannya, dan keserakahannya untuk mendapatkannya dengan terengah-engahnya anjing dalam kedua keadaan meninggalkannya dan mengusirnya. Demikian juga orang ini, jika ditinggalkan maka dia terengah-engah terhadap dunia, dan jika dinasihati dan dicegah maka dia tetap seperti itu. Maka terengah-engah tidak akan berpisah darinya dalam setiap keadaan seperti terengah-engahnya anjing.
Ibnu Qutaibah berkata: “Setiap sesuatu yang terengah-engah, maka dia terengah-engah karena lelah atau haus, kecuali anjing. Karena dia terengah-engah dalam keadaan lelah dan istirahat, dalam keadaan kenyang dan haus. Maka Allah menjadikannya perumpamaan untuk kafir ini dan berkata: Jika kamu menasihatinya maka dia sesat, dan jika kamu meninggalkannya maka dia sesat, seperti anjing: jika kamu mengusirnya dia terengah-engah, dan jika kamu meninggalkannya dalam keadaannya dia juga terengah-engah.”
Perumpamaan ini tidak terjadi pada setiap anjing, tetapi hanya terjadi pada anjing yang terengah-engah. Dan itu adalah yang paling hina dan paling buruk.
Pasal: Inilah keadaan alim yang mengutamakan dunia atas akhirat. Adapun ahli ibadah yang jahil, maka bencanya dari berpaling dari ilmu dan hukum-hukumnya, serta dominasi khayalan, rasa, perasaan, dan apa yang dikehendaki jiwanya.
Karena itu Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya berkata: “Hati-hatilah terhadap fitnah alim yang fasik dan fitnah ahli ibadah yang jahil. Karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi setiap orang yang terfitnah.”
Yang satu dengan kebodohannya menghalangi dari ilmu dan kewajibannya, dan yang satunya dengan kesesatannya mengajak kepada kefasikan.
Allah Subhanahu telah membuat perumpamaan untuk jenis yang lain dengan firman-Nya: “Seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu’, maka tatkala manusia itu kafir dia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri daripadamu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam’, maka adalah akibat keduanya.” (Surat Al-Hasyr, ayat 16-17)
Bahwa keduanya kekal di dalam neraka, dan itulah balasan bagi orang-orang zalim. Kisahnya sudah dikenal, sesungguhnya dia membangun dasar urusannya di atas ibadah kepada Allah dengan kejahilan, maka setan menjatuhkannya dengan kejahilannya dan mengkafirkannya dengan kejahilannya. Maka inilah imam bagi setiap ahli ibadah yang jahil yang kafir tanpa menyadarinya, dan yang itu adalah imam bagi setiap orang alim yang fasik yang memilih dunia daripada akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan ridha hamba terhadap dunia, ketenangan dan kelalaiannya dari mengenal ayat-ayat-Nya, merenungkannya dan mengamalkannya sebagai sebab kesengsaraan dan kehancurannya. Kedua hal ini – yaitu ridha terhadap dunia dan lalai dari ayat-ayat Rabb – tidak akan berkumpul kecuali dalam hati orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan dan tidak mengharapkan pertemuan dengan Rabb semesta alam. Seandainya kakinya teguh dalam iman kepada hari pembalasan, niscaya dia tidak akan ridha dengan dunia, tidak akan tenang kepadanya, dan tidak akan berpaling dari ayat-ayat Allah.
Jika engkau merenungkan keadaan manusia, engkau akan mendapati golongan ini adalah yang mendominasi manusia. Mereka adalah pemakmur dunia, sedangkan yang paling sedikit jumlahnya adalah orang yang berlawanan dengan itu. Dia adalah orang yang paling asing di antara mereka. Mereka memiliki urusan tersendiri dan dia memiliki urusan tersendiri. Ilmunya berbeda dengan ilmu mereka, kehendaknya berbeda dengan kehendak mereka, dan jalannya berbeda dengan jalan mereka. Dia berada di lembah tersendiri sedangkan mereka di lembah yang lain.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, mereka ridha dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, dan mereka yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itulah yang tempatnya neraka, disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)
Kemudian Allah menyebutkan sifat yang berlawanan dengan mereka serta tempat kembali dan akibat mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Rabb mereka akan membimbing mereka karena keimanan mereka; mengalir sungai-sungai di bawah mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Yunus: 9)
Maka mereka ini, iman mereka kepada pertemuan dengan Allah mewariskan kepada mereka ketidakridaan terhadap dunia dan tidak merasa tenteram kepadanya serta senantiasa mengingat ayat-ayat-Nya. Ini adalah warisan-warisan iman kepada hari pembalasan, sedangkan yang tadi adalah warisan-warisan dari tidak beriman kepadanya dan lalai darinya.
Sebaik-baik yang diperoleh jiwa-jiwa dan didapatkan hati-hati seorang hamba serta dengannya hamba memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat adalah ilmu dan iman. Karena itulah Allah Subhanahu menggandengkan keduanya dalam firman-Nya: “Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu dan iman: ‘Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit.'” (QS. Ar-Rum: 56) dan firman-Nya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Mereka inilah inti sari wujud dan intinya, serta yang layak untuk martabat-martabat tinggi. Namun kebanyakan manusia keliru dalam hakikat makna ilmu dan iman yang dengannya kebahagiaan dan kemuliaan, juga dalam hakikat keduanya, sehingga setiap golongan mengira bahwa ilmu dan iman yang ada pada mereka itulah yang dengannya meraih kebahagiaan. Padahal tidak demikian, bahkan kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan tidak pula ilmu yang mengangkat derajat. Mereka bahkan telah menutup bagi diri mereka jalan-jalan ilmu dan iman yang dibawa oleh Rasul dan yang beliau serukan kepada umat, dan yang ada pada beliau serta para sahabatnya setelahnya dan para pengikut mereka yang mengikuti manhaj dan jejak mereka.
Setiap golongan meyakini bahwa ilmu adalah apa yang ada pada mereka, lalu mereka bergembira “dan mereka memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka.” (QS. Ar-Rum: 32) Padahal kebanyakan yang ada pada mereka hanyalah perkataan, pendapat-pendapat dan dugaan-dugaan. Sedangkan ilmu itu di balik perkataan, sebagaimana kata Hammad bin Zaid: “Aku berkata kepada Ayyub: ‘Ilmu hari ini lebih banyak ataukah di masa lalu?’ Maka dia berkata: ‘Perkataan hari ini lebih banyak, sedangkan ilmu di masa lalu lebih banyak.'”
Orang yang mantap ini membedakan antara ilmu dan perkataan. Kitab-kitab sangat banyak, perkataan, perdebatan dan kemampuan-kemampuan pikiran banyak, sedangkan ilmu terpisah dari kebanyakan itu semua. Ilmu adalah apa yang dibawa oleh Rasul dari Allah.
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu sesudah datang pengetahuan kepadamu” (QS. Ali Imran: 61) dan berfirman: “Dan sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 145) dan berfirman tentang Al-Qur’an: “Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya” (QS. An-Nisa: 166) yakni di dalamnya terdapat ilmu-Nya.
Ketika masa menjadi jauh dari ilmu ini, keadaan berubah bagi banyak orang sehingga mereka menjadikan bisikan-bisikan pikiran, kelintas khatir dan pendapat-pendapat sebagai ilmu. Mereka menyusun kitab-kitab tentangnya dan menghabiskan nafas-nafas untuk itu, menyia-nyiakan waktu dengannya dan memenuhi lembaran-lembaran dengan tinta dan hati-hati dengan kegelapan, sehingga banyak di antara mereka terang-terangan mengatakan bahwa tidak ada ilmu dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dan bahwa dalil-dalilnya hanya lafzhiyah yang tidak memberikan keyakinan dan tidak pula ilmu.
Setan berteriak dengan kalimat ini kepada mereka dan mengumumkannya di tengah-tengah mereka sehingga didengar oleh yang dekat maupun yang jauh. Maka hati-hati terlepas dengannya dari ilmu dan iman seperti terlepasnya ular dari kulitnya dan baju dari yang memakainya.
Imam Al-Allamah Syamsuddin Ibnu Qayyim berkata: “Salah seorang sahabat kami memberitahuku tentang sebagian pengikut dari pengikut-pengikut murid-murid mereka bahwa dia melihatnya sibuk dengan sebagian kitab mereka padahal dia belum hafal Al-Qur’an. Maka dia berkata kepadanya: ‘Seandainya engkau hafal Al-Qur’an terlebih dahulu, itu lebih utama.’ Dia berkata: ‘Apakah di dalam Al-Qur’an ada ilmu?'”
Ibnu Qayyim berkata: “Salah seorang imam mereka berkata kepadaku: ‘Kami mendengar hadits hanya untuk mendapat berkah, bukan untuk mengambil ilmu darinya, karena selain kami telah mencukupi kami dari kesusahan ini. Sandaran kami adalah pada apa yang mereka pahami dan tetapkan.'”
Tidak diragukan bahwa orang yang seperti inilah kadar ilmunya, maka dia sebagaimana kata penyair: “Mereka turun di Mekah dalam kabilah-kabilah Hasyim Sedangkan aku turun di Bathha’ tempat yang paling jauh”
Dia berkata: “Syaikh kami berkata kepadaku suatu ketika dalam menggambarkan mereka bahwa mereka mengelilingi pemilik-pemilik mazhab lalu mereka memperoleh tuntutan yang paling hina.”
Cukuplah menjadi dalil bahwa ini yang ada pada mereka bukan dari sisi Allah, apa yang engkau lihat di dalamnya berupa pertentangan dan perbedaan serta sebagiannya bertabrakan dengan sebagian yang lain. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
Ini menunjukkan bahwa apa yang dari sisi-Nya Subhanahu tidak akan bertentangan, dan apa yang bertentangan dan bertentangan maka bukan dari sisi-Nya. Bagaimana mungkin pendapat-pendapat, khayalan-khayalan dan kelintas pikiran menjadi agama yang diagamakan dan dihukumi dengannya kepada Allah dan Rasul-Nya? Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan besar.
Ilmu para sahabat yang mereka bahas berbeda dengan ilmu-ilmu orang-orang yang berselisih dan banyak menduga ini, sebagaimana diriwayatkan Al-Hakim dalam biografi Abu Abdullah Al-Bukhari. Dia berkata: “Adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkumpul, mereka hanya membahas kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi mereka. Tidak ada di antara mereka pendapat dan qiyas.”
Sungguh baik perkataan penyair: “Ilmu adalah ‘Allah berfirman, Rasul-Nya berfirman’ Para sahabat berkata, bukan dengan kebohongan Bukan ilmu bila engkau mendebat dengan kebodohan Antara Rasul dan pendapat faqih Tidak juga mengingkari sifat-sifat dan menafikannya Karena takut tashbih dan tamtsil”
Adapun iman, maka kebanyakan atau semua manusia mengklaimnya. “Dan kebanyakan manusia tidak beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103) Kebanyakan orang mukmin hanya memiliki iman ijmali (global), adapun iman mufassal (terperinci) dengan apa yang dibawa Rasul berupa ma’rifat, ilmu, iqrar, cinta, mengenal lawannya, membenci dan benci kepadanya, maka ini adalah iman khawash (orang-orang khusus) umat dan para sahabat khusus Rasul. Ini adalah iman Ash-Shiddiq dan golongannya.
Banyak orang, bagian mereka dari iman hanyalah pengakuan terhadap wujud Sang Pencipta dan bahwa Dia adalah satu-satunya yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya. Ini tidaklah diingkari oleh penyembah-penyembah berhala dari Quraisy dan semisalnya.
Yang lain, iman menurut mereka adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, baik disertai amal atau tidak, baik sesuai dengan pembenaran hati atau menyelisihinya.
Yang lain lagi, menurut mereka iman hanyalah pembenaran hati bahwa Allah Subhanahu adalah pencipta langit dan bumi dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, walaupun tidak mengakui dengan lisannya dan tidak beramal apa-apa, bahkan walaupun mencaci Allah dan Rasul-Nya dan melakukan setiap kemungkaran besar selama dia meyakini keesaan Allah dan kenabian rasul-Nya, maka dia mukmin.
Yang lain, menurut mereka iman adalah mengingkari sifat-sifat Rabb Ta’ala seperti ketinggian-Nya di atas Arsy-Nya, berbicara dengan kalimat-kalimat dan kitab-kitab-Nya, pendengaran, penglihatan, kehendak, kekuasaan, iradat, cinta, benci dan selain itu dari apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya kepada-Nya. Maka iman menurut mereka adalah mengingkari hakikat semua itu dan mengingkarinya serta berdiam dengan apa yang dituntut oleh pendapat orang-orang yang tersesat dan pikiran orang-orang yang banyak menduga yang sebagian mereka menolak sebagian dan sebagian membatalkan perkataan sebagian, yang mereka sebagaimana kata Umar bin Khattab dan Imam Ahmad: “Berselisih dalam kitab, menyelisihi kitab, sepakat dalam meninggalkan kitab.”
Yang lain, menurut mereka iman adalah beribadah kepada Allah berdasarkan hukum cita rasa dan temuan-temuan mereka serta apa yang dikehendaki jiwa mereka tanpa terikat dengan apa yang dibawa Rasul.
Yang lain, iman menurut mereka adalah apa yang mereka dapati dari bapak-bapak dan pendahulu mereka berdasarkan hukum kesepakatan bagaimanapun keadaannya. Bahkan iman mereka dibangun atas dua mukadimah: salah satunya bahwa ini adalah perkataan pendahulu dan bapak-bapak kami, dan yang kedua bahwa apa yang mereka katakan itulah yang benar.
Yang lain, menurut mereka iman adalah akhlak mulia, bagus pergaulan, wajah yang cerah, berbaik sangka kepada setiap orang, membiarkan manusia dalam kelalaian mereka.
Yang lain, menurut mereka iman adalah berlepas diri dari dunia dan keterikatan-keterikatan dengannya, mengosongkan hati darinya dan zuhud di dalamnya. Jika mereka melihat seseorang seperti ini, mereka menjadikannya dari para pemimpin ahli iman walaupun dia terlepas dari iman secara ilmu dan amal.
Yang lebih tinggi dari mereka adalah yang menjadikan iman hanyalah ilmu semata walaupun tidak disertai amal.
Semua ini tidak mengenal hakikat iman, tidak pula berdiri dengannya dan tidak pula berdiri iman pada mereka. Mereka adalah macam-macam: di antara mereka ada yang menjadikan iman sebagai apa yang bertentangan dengan iman, di antara mereka ada yang menjadikan iman sebagai apa yang tidak dianggap dalam iman, di antara mereka ada yang menjadikannya sebagai apa yang merupakan syarat di dalamnya namun tidak cukup untuk terwujudnya, di antara mereka ada yang mensyaratkan dalam penetapannya apa yang menentangnya dan berlawanan dengannya, dan di antara mereka ada yang mensyaratkan di dalamnya apa yang bukan darinya dengan wajah iman.
Hakikat Iman
Iman berada di belakang semua itu, dan ia adalah hakikat yang tersusun dari pengetahuan tentang apa yang dibawa oleh Rasul secara ilmiah, membenarkannya secara keyakinan, mengikrarnya secara lisan, tunduk kepadanya dengan penuh cinta dan kepatuhan, mengamalkannya secara batin dan lahir, melaksanakannya dan menyeru kepadanya sesuai kemampuan. Kesempurnaannya terletak pada cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, mencegah karena Allah, dan menjadikan Allah semata sebagai Tuhan dan yang disembah. Jalan menuju-Nya adalah dengan memurnikan ketaatan kepada Rasul-Nya secara lahir dan batin, serta memejamkan mata hati dari memperhatikan selain Allah dan Rasul-Nya. Dan dengan pertolongan Allah.
Barangsiapa disibukkan dengan Allah dari dirinya sendiri, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan dirinya. Barangsiapa disibukkan dengan Allah dari manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan dari manusia. Barangsiapa disibukkan dengan dirinya sendiri dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa disibukkan dengan manusia dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada mereka.
Faidah Mulia tentang Meninggalkan Kebiasaan
Sesungguhnya orang yang merasakan kesulitan dalam meninggalkan hal-hal yang biasa dilakukan dan kebiasaan-kebiasaan adalah orang yang meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun orang yang meninggalkannya dengan jujur dan ikhlas dari hatinya karena Allah, maka ia tidak akan merasakan kesulitan dalam meninggalkannya kecuali pada awal mula saja, untuk menguji apakah ia benar-benar jujur dalam meninggalkannya ataukah berdusta. Jika ia sabar terhadap kesulitan itu sebentar, maka akan berubah menjadi kenikmatan.
Ibnu Sirin berkata: “Aku mendengar Syuraih bersumpah demi Allah, tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah lalu ia merasakan kehilangannya.” Perkataan mereka: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya” adalah benar. Ganti rugi itu bermacam-macam jenisnya, dan yang paling mulia dari ganti rugi itu adalah keakraban dengan Allah, cinta kepada-Nya, ketenangan hati kepada-Nya, kekuatan dan semangat hati, dan kegembiraan serta ridha terhadap Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Tentang Akal dan Pemahaman
Orang yang paling bodoh adalah yang tersesat di akhir perjalanannya padahal ia telah mendekati tempat tujuan. Akal-akal yang didukung dengan taufik melihat bahwa apa yang dibawa oleh Rasul adalah kebenaran yang sesuai dengan akal dan hikmah. Sedangkan akal-akal yang dilanda dengan kehinaan melihat adanya pertentangan antara akal dan naql (wahyu), serta antara hikmah dan syariat.
Wasilah yang paling dekat kepada Allah adalah konsisten dengan sunnah dan berdiri bersamanya secara lahir dan batin, serta senantiasa membutuhkan Allah dan menginginkan wajah-Nya semata dengan perkataan dan perbuatan. Tidaklah seseorang sampai kepada Allah kecuali melalui tiga hal ini, dan tidaklah seseorang terputus dari-Nya kecuali karena terputus dari ketiganya atau salah satunya.
Tiga Fondasi Kebahagiaan Hamba
Fondasi-fondasi yang menjadi dasar kebahagiaan hamba ada tiga, dan setiap satunya memiliki lawan. Barangsiapa kehilangan fondasi tersebut, maka ia akan mendapatkan lawannya:
- Tauhid, lawannya adalah syirik
- Sunnah, lawannya adalah bid’ah
- Ketaatan, lawannya adalah kemaksiatan
Ketiga hal ini memiliki satu lawan, yaitu kosongnya hati dari keinginan kepada Allah dan apa yang ada di sisi-Nya, serta dari takut kepada-Nya dan apa yang ada di sisi-Nya.
Kaidah Mulia tentang Jalan Orang Beriman dan Penjahat
Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa.” (Al-An’am: 55)
Dan firman-Nya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu…” (An-Nisa: 115)
Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya jalan orang-orang beriman secara terperinci, jalan orang-orang berdosa secara terperinci, akibat kelompok ini secara terperinci, dan akibat kelompok itu secara terperinci, amal-amal kelompok ini dan amal-amal kelompok itu, wali-wali kelompok ini dan wali-wali kelompok itu, kehinaan-Nya terhadap kelompok ini dan taufik-Nya terhadap kelompok itu, sebab-sebab yang dengannya Dia memberikan taufik kepada kelompok ini dan sebab-sebab yang dengannya Dia menghinakan kelompok itu. Allah Maha Suci telah menjelaskan kedua perkara itu dalam kitab-Nya, mengungkapkannya, menjelaskannya, dan menerangkannya dengan penjelasan yang sangat jelas hingga mata hati menyaksikannya sebagaimana mata kepala menyaksikan cahaya dan kegelapan.
Pengetahuan Para Ulama tentang Kedua Jalan
Para ulama yang mengenal Allah, kitab-Nya, dan agama-Nya telah mengenal jalan orang-orang beriman dengan pengetahuan yang terperinci, dan jalan orang-orang berdosa dengan pengetahuan yang terperinci. Maka jelaslah bagi mereka kedua jalan itu sebagaimana jelasnya bagi musafir jalan yang mengantarkan kepada tujuannya dan jalan yang mengantarkan kepada kebinasaan. Mereka inilah makhluk yang paling berilmu, paling bermanfaat bagi manusia, dan paling menasihati mereka. Mereka adalah petunjuk-petunjuk yang memberi petunjuk.
Keistimewaan Para Sahabat
Para sahabat unggul atas semua orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat, karena mereka tumbuh dalam jalan kegelapan, kekufuran, kesyirikan, dan jalan-jalan yang mengantarkan kepada kebinasaan, dan mereka mengenalnya secara terperinci. Kemudian Rasul datang kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan itu menuju jalan hidayah dan shirath Allah yang lurus. Maka mereka keluar dari kegelapan yang sangat menuju cahaya yang sempurna, dari syirik menuju tauhid, dari kebodohan menuju ilmu, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kezaliman menuju keadilan, dan dari kebimbangan dan kebutaan menuju hidayah dan bashirah (mata hati).
Maka mereka mengenal kadar apa yang mereka peroleh dan raih, serta kadar keadaan mereka sebelumnya. Sesungguhnya lawan menampakkan kebaikan lawannya, dan segala sesuatu menjadi jelas dengan lawannya. Maka bertambahlah keinginan dan cinta mereka terhadap apa yang mereka pindah kepadanya, serta kebencian dan antipati terhadap apa yang mereka tinggalkan. Mereka adalah orang-orang yang paling mencintai tauhid, iman, dan Islam, serta paling membenci lawannya, dengan mengetahui jalan secara terperinci.
Kondisi Generasi Setelah Sahabat
Adapun orang-orang yang datang setelah para sahabat, di antara mereka ada yang tumbuh dalam Islam tanpa mengetahui secara terperinci lawannya. Maka tercampurlah baginya sebagian detail jalan orang-orang beriman dengan jalan orang-orang berdosa. Sesungguhnya kerancuan hanya terjadi ketika melemah pengetahuan tentang kedua jalan atau salah satunya.
Sebagaimana kata Umar bin Khathab: “Sesungguhnya tali-tali Islam akan putus satu persatu apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengenal jahiliyyah.” Ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Umar radhiyallahu ‘anhu. Sesungguhnya jika ia tidak mengenal jahiliyyah dan hukumnya – yaitu segala sesuatu yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul, maka itu termasuk jahiliyyah karena dinisbatkan kepada kebodohan, dan segala yang menyelisihi Rasul adalah dari kebodohan.
Maka barangsiapa tidak mengenal jalan orang-orang berdosa dan tidak jelas baginya, maka hampir saja ia menyangka sebagian jalan mereka sebagai jalan orang-orang beriman. Sebagaimana yang terjadi pada umat ini dalam banyak perkara dalam bidang akidah, ilmu, dan amal yang merupakan jalan orang-orang berdosa, orang-orang kafir, dan musuh-musuh rasul. Orang yang tidak mengenal bahwa itu adalah jalan mereka memasukkannya ke dalam jalan orang-orang beriman, menyeru kepadanya, mengkafirkan orang yang menyelisihinya, dan menghalalkan darinya apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.
Sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan ahli bid’ah dari golongan Jahmiyyah, Qadariyyah, Khawarij, Rafidhah, dan yang sejenisnya dari orang-orang yang membuat bid’ah, menyeru kepadanya, dan mengkafirkan orang yang menyelisihinya.
Bagian Pertama: Empat Golongan Manusia
Manusia dalam masalah ini terbagi menjadi empat golongan:
Golongan Pertama: Mereka yang telah jelas baginya jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang yang berdosa secara terperinci, baik dalam ilmu maupun amal. Mereka inilah yang paling mengetahui di antara seluruh makhluk.
Golongan Kedua: Mereka yang buta terhadap kedua jalan tersebut, seperti binatang ternak. Mereka ini lebih dekat dan lebih menempuh jalan orang-orang yang berdosa.
Golongan Ketiga: Mereka yang memusatkan perhatiannya untuk mengetahui jalan orang-orang beriman tanpa memperhatikan lawannya. Mereka mengetahui lawannya secara umum dan dengan cara membedakan, bahwa setiap yang menyelisihi jalan orang-orang beriman adalah batil, meskipun mereka tidak membayangkannya secara terperinci. Bahkan jika mereka mendengar sesuatu yang menyelisihi jalan orang-orang beriman, mereka memalingkan pendengaran mereka darinya dan tidak menyibukkan diri mereka untuk memahami dan mengetahui segi kebatilannya. Mereka seperti orang yang jiwanya selamat dari keinginan terhadap syahwat, sehingga tidak terlintas di hatinya dan jiwanya tidak mengajaknya kepada syahwat tersebut.
Berbeda dengan golongan pertama, mereka mengetahui syahwat tersebut dan jiwa mereka condong kepadanya, namun mereka berjihad melawan jiwa mereka untuk meninggalkannya karena Allah.
Pernah mereka menulis kepada Umar bin Khattab untuk menanyakan masalah ini: Mana yang lebih utama, seorang laki-laki yang tidak pernah terlintas syahwat di benaknya dan tidak pernah melintas di pikirannya, ataukah seorang laki-laki yang jiwanya menggodanya kepada syahwat namun dia meninggalkannya karena Allah?
Maka Umar menulis: “Sesungguhnya orang yang jiwanya menginginkan kemaksiatan namun meninggalkannya karena Allah Azza wa Jalla, termasuk orang-orang yang Allah uji hati mereka untuk ketakwaan. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Demikian pula orang yang mengetahui bid’ah, syirik, kebatilan dan jalan-jalannya, lalu membencinya karena Allah, berhati-hati darinya, memperingatkan darinya, menolaknya dari dirinya dan tidak membiarkannya mencoreng wajah imannya, tidak mewariskan kepadanya syubhat atau keraguan, bahkan bertambah dengan mengetahuinya dalam ketajaman pandangan terhadap kebenaran, cinta kepadanya, dan benci serta menjauh dari kebatilan – lebih utama daripada orang yang tidak terlintas di benaknya dan tidak melintas di hatinya.
Karena setiap kali kebatilan melintas di hatinya dan terbayang baginya, bertambahlah cintanya kepada kebenaran, pengetahuannya akan nilainya, dan kegembiraannya dengannya, sehingga kuatlah imannya kepada kebenaran. Sebagaimana pemilik bisikan-bisikan syahwat dan kemaksiatan, setiap kali melintas padanya lalu dia tidak menginginkannya dan beralih kepada lawannya, bertambahlah cintanya kepada lawannya, keinginannya kepadanya, pencarian dan ketekunannya untuk mendapatkannya.
Allah Subhanahu tidak menguji hamba-Nya yang beriman dengan cinta kepada syahwat dan kemaksiatan serta condongnya jiwa kepadanya, melainkan untuk membawanya kepada cinta terhadap yang lebih utama, lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih kekal baginya, dan agar dia berjihad melawan jiwanya untuk meninggalkannya karena-Nya Subhanahu. Perjuangan tersebut akan mewariskan kepadanya pencapaian kepada yang dicintai yang paling tinggi.
Setiap kali jiwanya menggodanya kepada syahwat tersebut dan keras keinginannya kepadanya serta kerinduannya kepadanya, dia mengalihkan kerinduan, keinginan dan cinta tersebut kepada jenis yang tinggi dan kekal. Maka pencahariannya kepadanya lebih keras dan ketekunannya kepadanya lebih sempurna, berbeda dengan jiwa yang dingin dan kosong dari hal tersebut. Meskipun dia mencari yang paling tinggi, namun antara kedua pencarian tersebut ada perbedaan yang besar.
Tidakkah engkau lihat bahwa orang yang berjalan kepada kekasihnya di atas bara api dan duri lebih besar dari orang yang berjalan kepadanya dengan mengendarai unta-unta cepat? Bukanlah orang yang mengutamakan kekasihnya dengan adanya godaan jiwa sama dengan orang yang mengutamakannya tanpa adanya godaan jiwa kepada selainnya.
Maka Dia Subhanahu menguji hamba-Nya dengan syahwat, baik sebagai hijab baginya dari-Nya atau sebagai perantara yang mengantarkannya kepada ridha-Nya, kedekatan-Nya dan kemuliaan-Nya.
Golongan Keempat: Golongan yang mengetahui jalan kejahatan, bid’ah dan kekufuran secara terperinci, serta jalan orang-orang beriman secara umum. Ini adalah keadaan banyak orang yang memperhatikan pendapat-pendapat umat dan pendapat-pendapat ahli bid’ah, sehingga mereka mengetahuinya secara terperinci, namun tidak mengetahui apa yang dibawa oleh Rasul seperti itu, melainkan mengetahuinya dengan pengetahuan umum, meskipun terperinci baginya dalam beberapa hal. Barangsiapa merenungkan kitab-kitab mereka akan melihat hal itu dengan jelas.
Demikian pula orang yang mengetahui jalan-jalan kejahatan, kezaliman dan kerusakan secara terperinci dan menempuhnya, jika dia bertaubat dan kembali dari jalan tersebut kepada jalan orang-orang yang berbakti, ilmunya tentang jalan kebajikan menjadi umum, tidak mengetahuinya secara terperinci seperti pengetahuan orang yang menghabiskan umurnya dalam mendalami dan menempuhnya.
Tujuan utamanya adalah bahwa Allah Subhanahu menyukai agar engkau mengetahui jalan musuh-musuh-Nya untuk menghindari dan membencinya sebagaimana seharusnya, dan agar engkau mengetahui jalan wali-wali-Nya untuk mencintai dan menempuhnya.
Dalam pengetahuan ini terdapat faedah-faedah dan rahasia-rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, berupa pengetahuan tentang keumuman rububiyah-Nya Subhanahu, hikmah-Nya, kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kaitannya dengan objek-objeknya, tuntutannya terhadap pengaruh-pengaruh dan akibat-akibatnya. Hal tersebut termasuk dalil terbesar atas rububiyah-Nya, kerajaan-Nya, uluhiyah-Nya, cinta dan benci-Nya, pahala dan siksa-Nya. Wallahu a’lam.
Bagian Kedua: Perumpamaan Orang yang Membutuhkan
Orang-orang yang memiliki keperluan berada di pintu raja untuk meminta dipenuhi keperluan mereka. Adapun wali-wali-Nya yang mencintai-Nya, yang Dia adalah keprihatinan dan tujuan mereka, adalah teman duduk dan orang-orang khususnya. Jika Dia menghendaki memenuhi keperluan salah seorang dari mereka, Dia mengizinkan sebagian teman duduk dan orang khususnya untuk memberi syafaat kepadanya sebagai rahmat baginya dan kemuliaan bagi yang memberi syafaat. Adapun orang-orang lainnya terusir dari pintu, dipukul dengan cambuk-cambuk hamba.
Bagian Ketiga: Sepuluh Hal yang Terbuang
Sepuluh hal terbuang yang tidak bermanfaat:
- Ilmu yang tidak diamalkan
- Amal yang tidak ada keikhlasan dan tidak ada keteladanan di dalamnya
- Harta yang tidak dibelanjakan darinya, sehingga pemiliknya tidak menikmatinya di dunia dan tidak mengutamakannya untuk akhirat
- Hati yang kosong dari cinta Allah, kerinduan kepada-Nya, dan ketenangan dengan-Nya
- Badan yang diabaikan dari ketaatan dan pengabdian kepada-Nya
- Cinta yang tidak terikat dengan ridha yang dicintai dan mengikuti perintah-perintahnya
- Waktu yang diabaikan dari mengejar yang tertinggal atau memanfaatkan kebaikan dan ketaatan
- Pikiran yang berkelana pada hal yang tidak bermanfaat
- Pengabdian kepada orang yang pengabdian kepadanya tidak mendekatkanmu kepada Allah dan tidak memberi manfaat bagimu untuk kebaikan duniamu
- Takut dan harapanmu kepada orang yang ubun-ubunnya di tangan Allah dan dia lebih lemah dalam genggaman-Nya, tidak memiliki untuk dirinya sendiri pencegahan atau manfaat, tidak kematian, tidak kehidupan, dan tidak kebangkitan.
Yang paling besar di antara pemborosan-pemborosan ini adalah dua pemborosan yang menjadi asal setiap pemborosan: pemborosan hati dan pemborosan waktu.
- Pemborosan hati terjadi karena mengutamakan dunia atas akhirat
- Pemborosan waktu terjadi karena panjangnya angan-angan
Maka berkumpullah seluruh kerusakan dalam mengikuti hawa nafsu dan panjangnya angan-angan. Sedangkan seluruh kebaikan dalam mengikuti petunjuk dan bersiap-siap untuk pertemuan dengan Allah. Wallahu al-musta’an.
Bagian Keempat: Keheranan terhadap Manusia
Sungguh mengherankan orang yang menghadapi suatu keperluan lalu mengalihkan keinginan dan perhatiannya dalam keperluan tersebut kepada Allah agar Dia memenuhinya baginya, namun dia tidak berusaha meminta untuk kehidupan hatinya dari kematian karena kebodohan dan berpaling, serta penyembuhannya dari penyakit syahwat dan syubhat. Tetapi jika hati telah mati, dia tidak merasakan kemaksiatannya.
Bagian Pertama:
Maha Suci Allah telah menetapkan bagi hamba-Nya tiga perkara: perintah yang harus ditaati, ketentuan yang ditetapkan atas dirinya, dan nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hamba tidak akan terlepas dari ketiga hal ini. Ketentuan Allah ada dua macam: berupa musibah atau berupa kesalahan/dosa. Bagi hamba terdapat bentuk penghambaan dalam semua tingkatan ini.
Makhluk yang paling dicintai Allah adalah yang mengetahui bentuk penghambaan dalam semua tingkatan ini dan memenuhi haknya dengan sempurna. Inilah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Sedangkan yang paling jauh dari-Nya adalah yang tidak mengetahui bentuk penghambaan dalam tingkatan-tingkatan ini, sehingga mengabaikannya baik dalam ilmu maupun amal.
Penghambaan dalam hal perintah adalah menaatinya dengan ikhlas dan mengikuti Rasulullah. Dalam hal larangan adalah menjauhinya karena takut kepada Allah, mengagungkan-Nya, dan karena cinta kepada-Nya.
Penghambaan dalam ketentuan berupa musibah adalah bersabar atasnya, kemudian ridha dengannya (yang lebih tinggi dari sabar), kemudian bersyukur atasnya (yang lebih tinggi dari ridha). Hal ini hanya bisa terjadi jika cinta kepada Allah telah tertanam kuat di hatinya, dan ia mengetahui bahwa pilihan Allah untuknya adalah yang terbaik, Allah berbuat baik kepadanya, lemah lembut dengannya, dan berbuat ihsan kepadanya melalui musibah itu, meskipun ia tidak menyukai musibah tersebut.
Penghambaan dalam ketentuan berupa kesalahan/dosa adalah segera bertobat darinya, melepaskan diri, berdiri dalam posisi meminta maaf dan tunduk, dengan mengetahui bahwa tidak ada yang dapat mengangkat kesalahan itu dari dirinya kecuali Allah, dan tidak ada yang dapat melindunginya dari keburukan dosa tersebut selain Allah. Jika dosa itu terus berlanjut, akan menjauhkannya dari Tuhannya dan mengusirnya dari pintu-Nya.
Ia melihat dosa sebagai bahaya yang tidak dapat dihilangkan selain oleh Allah, hingga ia melihatnya lebih besar dari bahaya jasmani. Ia berlindung dengan ridha Allah dari murka-Nya, dengan ampunan-Nya dari hukuman-Nya, dan kepada Allah ia meminta perlindungan dan tempat berlindung dari diri-Nya kepada-Nya sendiri.
Ia tahu bahwa jika Allah meninggalkannya dan membiarkannya dengan dirinya sendiri, maka ia akan melakukan kesalahan serupa dan bahkan yang lebih buruk. Ia tidak memiliki jalan untuk berhenti dan bertobat kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah. Semua itu ada di tangan Allah Maha Suci, bukan di tangan hamba. Hamba terlalu lemah, tidak berdaya, dan kecil untuk dapat memberi taufik kepada dirinya sendiri atau mendatangkan keridhaan tuannya tanpa izin, kehendak, dan pertolongan-Nya.
Maka ia berlindung kepada Allah, memohon dengan tunduk, hina, miskin, menjatuhkan dirinya di hadapan-Nya, tergeletak di pintu-Nya, merendahkan diri sebagai sesuatu yang paling hina, paling hancur bagi-Nya, paling fakir dan paling membutuhkan-Nya, paling mengharap-Nya, dan paling mencintai-Nya. Badannya sibuk dengan urusan-urusannya, tetapi hatinya sujud di hadapan Allah.
Ia mengetahui dengan yakin bahwa tidak ada kebaikan pada dirinya, tidak ada kebaikan untuknya, tidak ada kebaikan dengannya, tidak ada kebaikan dari dirinya. Sesungguhnya semua kebaikan milik Allah, ada di tangan-Nya, dengan-Nya, dan dari-Nya. Allah adalah pelindung nikmat-Nya dan yang memulainya tanpa ada kepatutan dari hamba, serta mengalirkannya kepada hamba meskipun hamba membenci-Nya dengan berpaling, lalai, dan bermaksiat.
Bagian Allah Maha Suci adalah pujian, syukur, dan sanjungan. Bagian hamba adalah celaan, kekurangan, dan cacat. Allah telah mengkhususkan diri-Nya dengan segala pujian, sanjungan, dan pujian, serta menyerahkan kepada hamba celaan, kekurangan, dan cacat.
Segala pujian bagi-Nya, segala kebaikan di tangan-Nya, segala keutamaan bagi-Nya, segala sanjungan bagi-Nya, segala karunia bagi-Nya. Dari-Nya datang kebaikan, dari hamba datang keburukan. Dari-Nya datang rasa cinta kepada hamba dengan nikmat-nikmat-Nya, dari hamba datang kebencian kepada-Nya dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Dari-Nya datang nasihat untuk hamba-Nya, dari hamba datang penipuan kepada-Nya dalam bermuamalah.
Adapun penghambaan dalam nikmat adalah mengetahuinya dan mengakuinya terlebih dahulu, kemudian berlindung kepada Allah agar jangan sampai terbersit dalam hatinya menisbatkan dan mengaitkan nikmat itu kepada selain Allah, meskipun ada sebab-sebab tertentu, karena Allah-lah yang menciptakan sebab dan menegakkannya. Nikmat itu dari-Nya semata dengan segala segi dan pertimbangan.
Kemudian memuji Allah karenanya, mencintai-Nya karenanya, dan bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat itu dalam ketaatan kepada-Nya. Di antara kehalusan beribadah dengan nikmat adalah menganggap banyak nikmat-Nya yang sedikit itu, dan menganggap sedikit syukurnya yang banyak atasnya.
Ia mengetahui bahwa nikmat itu sampai kepadanya dari tuannya tanpa harga yang dibayarkannya dan tanpa wasilah dari dirinya yang digunakan kepada Allah dan tanpa kepatutan dari dirinya atasnya. Sesungguhnya nikmat itu pada hakikatnya milik Allah, bukan milik hamba.
Nikmat tidak menambahkan kepada hamba kecuali kehinaan, kerendahan, kerendahan hati, dan cinta kepada Yang Memberi nikmat. Setiap kali Allah memperbaharui nikmat untuknya, ia memperbaharui penghambaan, cinta, tunduk, dan rendah hati karenanya. Setiap kali Allah memberikan penyempitan kepadanya, ia memperbaharui ridha. Setiap kali ia melakukan dosa, ia memperbaharui tobat, kehinaan, dan permintaan maaf.
Inilah hamba yang cerdas. Adapun yang lemah berada jauh dari hal itu. Dan hanya dengan pertolongan Allah lah (semua ini terwujud).
Bagian Kedua:
Barangsiapa meninggalkan pilihan dan pengaturan karena mengharap penambahan atau takut pengurangan atau mencari kesehatan atau lari dari penyakit, dan ia mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dia-lah yang menyendiri dengan pilihan dan pengaturan, dan bahwa pengaturan Allah untuk hamba-Nya lebih baik dari pengaturan hamba untuk dirinya sendiri, dan bahwa Allah lebih mengetahui kemaslahatan hamba daripada hamba itu sendiri, lebih mampu mendatangkan dan mewujudkannya daripadanya, lebih memberikan nasihat kepada hamba daripada hamba kepada dirinya sendiri, lebih penyayang kepadanya daripada dirinya kepada dirinya sendiri, dan lebih berbuat baik kepadanya daripada dirinya kepada dirinya sendiri.
Ia mengetahui bersama itu bahwa ia tidak mampu maju selangkah pun mendahului pengaturan Allah dan tidak dapat mundur selangkah pun dari pengaturan Allah untuknya. Tidak ada yang maju mendahului qadha dan qadar-Nya dan tidak ada yang mundur.
Maka ia menjatuhkan dirinya di hadapan Allah dan menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, menundukkan diri di hadapan-Nya seperti tunduknya hamba sahaya yang lemah di hadapan raja yang mulia lagi menguasai, yang memiliki hak untuk bertindak terhadap hambanya dengan apa saja yang dikehendaki-Nya, sedangkan hamba tidak memiliki hak untuk bertindak terhadapnya dengan cara apa pun.
Maka ia merasa tenang dari segala kekhawatiran, kesedihan, penderitaan, dan penyesalan. Ia menyerahkan semua kebutuhan dan kemaslahatan kepada Dzat yang tidak peduli dengan memikul beban itu dan tidak merasa berat dan tidak ambil pusing karenanya. Allah mengurusnya tanpa dirinya dan menunjukkan kepadanya kelembutan, kebaikan, rahmat, dan ihsan-Nya dalam hal itu tanpa lelah dari hamba, tanpa kesusahan, dan tanpa kekhawatiran darinya, karena ia telah mengalihkan semua kekhawatirannya kepada Allah dan menjadikan Allah satu-satunya kekhawatirannya.
Maka Allah mengalihkan darinya kekhawatiran tentang kebutuhan dan kemaslahatan dunianya dan mengosongkan hatinya darinya. Alangkah nikmatnya hidupnya, alangkah tenangnya hatinya, dan alangkah besar kegembiraan dan kegembiraannya.
Jika ia menolak kecuali mengatur dirinya sendiri dan memilih untuknya serta peduli dengan bagiannya tanpa memedulikan hak Tuhannya, maka Allah membiarkannya dengan apa yang dipilihnya dan menyerahkannya kepada apa yang diurusnya sendiri. Maka datanglah kepadanya kekhawatiran, kesedihan, duka, penderitaan, ketakutan, kelelahan, keruhnya pikiran, dan buruknya keadaan.
Tidak ada hati yang jernih, tidak ada amal yang bersih, tidak ada harapan yang tercapai, tidak ada ketenangan yang diperoleh, tidak ada kenikmatan yang dirasakan. Bahkan ia terhalang dari kegembiraan, kesenangan, dan penyejuk matanya. Ia bekerja keras di dunia seperti kerasnya binatang buas, tetapi tidak meraih harapan apa pun dan tidak berbekal darinya untuk hari akhir.
Allah Maha Suci memerintahkan hamba dengan suatu perintah dan menjamin jaminan untuknya. Jika ia menunaikan perintah-Nya dengan nasihat, kejujuran, keikhlasan, dan kesungguhan, maka Allah Maha Suci akan menunaikan apa yang dijanjikan-Nya berupa rezeki, kecukupan, pertolongan, dan pemenuhan hajat.
Sesungguhnya Allah Maha Suci menjamin rezeki bagi yang beribadah kepada-Nya, pertolongan bagi yang bertawakal kepada-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, kecukupan bagi yang menjadikan Allah sebagai kekhawatiran dan tujuannya, ampunan bagi yang meminta ampunan kepada-Nya, dan pemenuhan hajat bagi yang benar dalam meminta kepada-Nya, mempercayai-Nya, kuat harapannya, dan optimis terhadap keutamaan dan kemurahan-Nya.
Orang yang cerdas dan pandai hanya peduli dengan perintah Allah dan menegakkannya serta menunaikannya, bukan dengan jaminan-Nya, karena Allah Maha Menepati janji dan benar. Siapa yang lebih menepati janji daripada Allah?
Di antara tanda-tanda kebahagiaan adalah mengalihkan perhatian kepada perintah Allah, bukan kepada jaminan-Nya. Di antara tanda-tanda kekurangan adalah kosongnya hati dari peduli terhadap perintah Allah, cinta dan takut kepada-Nya, tetapi peduli dengan jaminan-Nya. Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Bisyr bin al-Harits berkata: “Ahli akhirat ada tiga: abid (penyembah), zahid (orang yang zuhud), dan shiddiq (orang yang sangat membenarkan). Abid beribadah kepada Allah sambil masih memiliki kelekatan (dunia). Zahid beribadah kepada-Nya dengan meninggalkan kelekatan. Shiddiq beribadah kepada-Nya dengan ridha dan menyetujui. Jika Allah menunjukkan kepadanya untuk mengambil dunia, ia mengambilnya. Jika Allah menunjukkan kepadanya untuk meninggalkannya, ia meninggalkannya.”
Jika Allah dan Rasul-Nya berada di satu sisi, berhati-hatilah agar jangan sampai kamu berada di sisi yang lain, karena hal itu akan berujung pada permusuhan dan penentangan. Inilah asal-usulnya dan darinya terjadi penurunan makna. Permusuhan (musyaqah) adalah berada di satu sisi (syiq) sedangkan yang menentang berada di sisi (syiq) yang lain. Penentangan (muhaddah) adalah berada di satu batas (hadd) sedangkan dia berada di batas yang lain.
Jangan meremehkan hal ini, karena permulaannya akan menarik kepada ujungnya, dan yang sedikit akan mengajak kepada yang banyak. Beradlah di sisi yang di dalamnya terdapat Allah dan Rasul-Nya, meskipun semua manusia berada di sisi yang lain, karena hal itu memiliki akibat-akibat yang terpuji dan paling utama. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada hal itu dalam dunianya sebelum akhiratnya.
Kebanyakan makhluk berada di sisi yang lain, terutama ketika keinginan dan ketakutan menguat. Di sanalah kamu hampir tidak menemukan seorang pun di sisi yang di dalamnya terdapat Allah dan Rasul-Nya. Bahkan manusia menganggapnya kurang akal, buruk pilihannya untuk dirinya sendiri. Bahkan mereka kadang menisbatkannya kepada kegilaan. Hal itu adalah warisan dari musuh-musuh rasul, karena mereka menisbatkan para rasul kepada kegilaan ketika mereka berada di satu sisi dan golongan, sedangkan manusia berada di sisi dan golongan yang lain.
Tetapi barangsiapa membiasakan dirinya dengan hal itu, maka ia membutuhkan ilmu yang mendalam tentang apa yang dibawa oleh Rasul yang menjadi keyakinan baginya, tidak ada keraguan padanya terhadap hal itu, dan kesabaran yang sempurna terhadap permusuhan orang yang memusuhinya dan celaan orang yang mencela. Hal itu tidak akan sempurna baginya kecuali dengan keinginan yang kuat kepada Allah dan negeri akhirat, sehingga akhirat lebih dicintainya daripada dunia dan lebih diutamakan daripadanya, dan Allah serta Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya.
Tidak ada yang lebih sulit bagi manusia daripada hal itu di permulaan urusan, karena dirinya, hawa nafsunya, tabiatnya, syaitannya, saudara-saudaranya, dan teman bergaulnya dari sisi itu mengajaknya kepada yang segera. Jika ia menentang mereka, mereka bersiap untuk berperang dengannya.
Jika ia bersabar dan teguh, datanglah pertolongan dari Allah, dan yang sulit itu menjadi mudah, dan penderitaan itu menjadi kenikmatan. Sesungguhnya Rabb Maha Berterima kasih, maka pasti Dia akan merasakan kenikmatan yang membawanya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dan menunjukkan kepadanya kemuliaan hal itu. Maka bertambahlah kegembiraan dan kegembiraannya, bergembira hatinya, dan ia meraih kekuatan, kegembiraan, dan kegembiraannya.
Orang yang dahulu berperang dengannya dalam hal itu akan tinggal antara yang takut kepadanya lalu berdamai dengannya, atau membantu, atau meninggalkannya. Pasukannya menguat dan pasukan musuh melemah.
Jangan merasa sulit menentang manusia dan berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya meskipun kamu sendirian, karena Allah bersamamu, dan kamu dalam pandangan, penjagaan, dan pemeliharaan-Nya. Sesungguhnya Dia menguji keyakinan dan kesabaranmu.
Pertolongan terbesar bagimu setelah pertolongan Allah adalah pembebasan diri dari tamak dan takut. Jika kamu membebaskan diri dari keduanya, mudahlah bagimu berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kamu akan selalu berada di sisi yang di dalamnya terdapat Allah dan Rasul-Nya.
Jika tamak telah berdiri padamu, jangan berharap dalam urusan ini dan jangan berkata kepada dirimu dengannya. Jika kamu berkata: “Dengan apa aku meminta pertolongan untuk membebaskan diri dari tamak dan takut?” Aku katakan: dengan tauhid, tawakal, kepercayaan kepada Allah, dan pengetahuanmu bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Dia, tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Dia, dan bahwa segala urusan milik Allah, tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu bersama Allah.”
Mari menuju kepada Allah dan bertetangga dengan-Nya di negeri yang penuh kedamaian tanpa lelah, tanpa kesusahan, dan tanpa kepayahan, bahkan melalui jalan yang paling dekat dan paling mudah. Hal itu adalah karena engkau berada di waktu antara dua waktu, dan itulah sesungguhnya umurmu yaitu waktu sekarang antara yang telah berlalu dan yang akan datang. Yang telah berlalu dapat engkau perbaiki dengan taubat, penyesalan, dan istighfar. Hal itu adalah sesuatu yang tidak melelahkan bagimu, tidak menyusahkan, dan tidak memerlukan pekerjaan yang berat. Itu hanyalah pekerjaan hati. Dan engkau menahan diri dari dosa-dosa yang akan datang, dan penahanan dirimu itu adalah meninggalkan dan istirahat, bukan pekerjaan dengan anggota badan yang sulit untuk engkau lakukan. Itu hanyalah tekad dan niat yang kuat yang akan membuat badanmu, hatimu, dan batinmu menjadi tenang. Maka yang telah berlalu engkau perbaiki dengan taubat, dan yang akan datang engkau perbaiki dengan menahan diri, tekad, dan niat. Tidak ada bagian bagi anggota badan dalam dua hal ini untuk lelah dan susah. Tetapi masalahnya adalah pada umurmu yaitu waktumu yang berada di antara dua waktu tersebut. Jika engkau menyia-nyiakannya, maka engkau menyia-nyiakan kebahagiaan dan keselamatanmu. Dan jika engkau menjaganya dengan memperbaiki dua waktu yang sebelum dan sesudahnya dengan apa yang telah kusebutkan, maka engkau akan selamat dan beruntung dengan istirahat, kenikmatan, dan kebahagiaan. Menjaganya lebih sulit daripada memperbaiki yang sebelum dan sesudahnya, karena menjaganya adalah dengan mewajibkan dirimu melakukan apa yang lebih utama dan lebih bermanfaat baginya serta lebih besar dalam meraih kebahagiaannya. Dalam hal ini manusia sangat berbeda-beda. Demi Allah, itulah hari-harimu yang kosong di mana engkau mengumpulkan bekal untuk hari kemudian, baik menuju surga atau neraka. Jika engkau menjadikannya sebagai jalan menuju Tuhanmu, maka engkau akan meraih kebahagiaan yang agung dan kemenangan yang besar dalam masa yang singkat ini yang tidak ada bandingannya dengan keabadian. Dan jika engkau lebih memilih syahwat, istirahat, permainan, dan kesenangan, maka hal itu akan berlalu darimu dengan cepat dan mengakibatkan kepadamu penderitaan yang besar dan kekal yang menanggung dan mengalaminya lebih sulit, lebih berat, dan lebih kekal daripada menanggung kesabaran dari larangan Allah dan kesabaran atas ketaatan kepada-Nya serta menyelisihi hawa nafsu demi-Nya.
Pasal: Tanda kesehatan keinginan adalah bahwa yang dikehendaki hamba adalah ridha Tuhannya dan persiapannya untuk bertemu dengan-Nya
Dan kesedihannya atas waktu yang berlalu tidak dalam ridha-Nya, dan penyesalannya atas kedekatan dengan-Nya dan ketenangan bersama-Nya. Kesimpulan dari semua itu adalah bahwa ia memasuki pagi dan sore hari dan tidak ada yang dikhawatirkannya selain Allah.
Pasal: Jika manusia merasa cukup dengan dunia, maka merasa cukuplah engkau dengan Allah
Dan jika mereka bergembira dengan dunia, maka bergembiralah engkau dengan Allah. Dan jika mereka tenang dengan kekasih-kekasih mereka, maka jadikanlah ketenangan bersama Allah sebagai ketenangan. Dan jika mereka berkenalan dengan raja-raja mereka dan orang-orang besar mereka serta mendekatkan diri kepada mereka agar mereka memperoleh kemuliaan dan keagungan melalui mereka, maka berkenalanlan engkau dengan Allah dan bermanja-manjalah kepada-Nya, engkau akan memperoleh dengan itu puncak kemuliaan dan keagungan. Berkata sebagian orang zahid: “Aku tidak tahu ada seorang pun yang mendengar tentang surga dan neraka kemudian ada satu saat pun yang tidak ia gunakan untuk mentaati Allah dengan zikir, shalat, atau membaca Al-Qur’an atau berbuat baik.” Maka berkata kepadanya seorang laki-laki: “Sesungguhnya aku banyak menangis.” Maka ia berkata: “Sesungguhnya jika engkau tertawa sedangkan engkau mengakui dosamu lebih baik daripada engkau menangis sedangkan engkau sombong dengan amalmu. Dan sesungguhnya orang yang sombong, amalnya tidak naik melebihi kepalanya.” Maka ia berkata: “Berikan aku nasihat.” Maka ia berkata: “Tinggalkanlah dunia untuk ahlinya sebagaimana mereka meninggalkan akhirat untuk ahlinya. Dan jadilah di dunia seperti lebah: jika ia makan, ia makan yang baik, dan jika ia memberi makan, ia memberi makan yang baik, dan jika ia jatuh pada sesuatu, ia tidak merusaknya dan tidak mencakarnya.”
Pasal: Zuhud terbagi menjadi beberapa bagian
Zuhud terhadap yang haram dan itu adalah fardhu ain (kewajiban individual). Zuhud terhadap yang syubhat dan itu sesuai dengan tingkatan syubhat. Jika kuat, maka ia termasuk kewajiban, dan jika lemah, maka ia sunnah. Zuhud terhadap yang berlebihan. Zuhud terhadap apa yang tidak berguna dari pembicaraan, pandangan, pertanyaan, pertemuan, dan lainnya. Zuhud terhadap manusia. Zuhud terhadap diri sendiri sehingga dirinya menjadi ringan demi Allah. Zuhud yang menghimpun semua itu yaitu zuhud terhadap selain Allah dan terhadap segala sesuatu yang menyibukkanmu dari-Nya. Zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan zuhud. Yang paling sulit adalah zuhud terhadap kesenangan-kesenangan. Perbedaan antara zuhud dan wara’ adalah bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara’ adalah meninggalkan apa yang dikhawatirkan bahayanya di akhirat. Hati yang tergantung pada syahwat tidak akan sehat zuhud dan wara’nya. Berkata Yahya bin Mu’az: “Aku heran dengan tiga orang: seorang laki-laki yang riya dengan amalnya kepada makhluk yang seperti dirinya dan meninggalkan beramal untuk Allah. Seorang laki-laki yang bakhil dengan hartanya padahal Tuhannya meminjam darinya tetapi ia tidak meminjamkan kepada-Nya sedikitpun. Dan seorang laki-laki yang tertarik pada persahabatan makhluk dan kasih sayang mereka padahal Allah mengajaknya kepada persahabatan dan kasih sayang-Nya.”
Berkata Sahl bin Abdullah: “Meninggalkan perintah di sisi Allah lebih besar daripada melakukan larangan, karena Adam dilarang memakan pohon lalu ia memakannya maka Allah bertaubat kepadanya. Sedangkan Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam tetapi ia tidak sujud maka Allah tidak bertaubat kepadanya.” Aku berkata: Ini adalah masalah yang besar dan penting yaitu bahwa meninggalkan perintah-perintah lebih besar di sisi Allah daripada melakukan larangan-larangan. Hal itu dari beberapa segi:
Pertama: Apa yang disebutkan Sahl tentang Adam dan musuh Allah Iblis.
Kedua: Bahwa dosa melakukan larangan sumbernya pada umumnya adalah syahwat dan kebutuhan, sedangkan dosa meninggalkan perintah sumbernya pada umumnya adalah kesombongan dan keangkuhan. Dan tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan seberat biji sawi, tetapi akan masuk surga orang yang mati dalam keadaan tauhid meskipun ia berzina dan mencuri.
Ketiga: Bahwa melakukan yang diperintahkan lebih dicintai Allah daripada meninggalkan yang dilarang sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash seperti sabda-Nya: “Amal yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” Dan sabda-Nya: “Maukah aku beritahu kalian tentang amal kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Raja kalian dan paling tinggi derajatnya dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Mereka berkata: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Zikir kepada Allah.” Dan sabda-Nya: “Ketahuilah bahwa amal kalian yang paling baik adalah shalat” dan nash-nash lainnya. Meninggalkan larangan adalah amal karena ia adalah menahan diri dari perbuatan. Oleh karena itu Allah SWT mengaitkan kecintaan dengan melakukan perintah-perintah seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan” (Ash-Shaff: 4), “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Ali Imran: 134), firman-Nya: “Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Al-Hujurat: 9), “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (Ali Imran: 146). Adapun dalam sisi larangan, yang paling banyak datang adalah peniadaan kecintaan, seperti firman-Nya: “Dan Allah tidak menyukai kerusakan” (Al-Baqarah: 205), firman-Nya: “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman: 18), firman-Nya: “Dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Al-Baqarah: 190), firman-Nya: “Allah tidak menyukai ucapan buruk, kecuali dari orang yang didzalimi” (An-Nisa: 148), firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al-Hadid: 23) dan yang serupa dengannya. Dan Dia mengabarkan di tempat lain bahwa Dia membenci dan murka terhadapnya seperti firman-Nya: “Semua itu kejahatannya dibenci di sisi Tuhanmu” (Al-Isra: 38), dan firman-Nya: “Yang demikian itu karena mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah” (Muhammad: 28).
Jika hal ini dipahami, maka melakukan apa yang dicintai-Nya adalah tujuan dengan sendirinya. Oleh karena itu Dia menakdirkan apa yang dibenci dan dimurkai-Nya karena mengantarkan kepada apa yang dicintai-Nya, sebagaimana Dia menakdirkan kemaksiatan, kekufuran, dan kefasikan karena apa yang tertib dari takdir-Nya yang dicintai-Nya dari konsekuensi-konsekuensinya seperti jihad, mengambil syuhada, terjadinya taubat dari hamba, tunduk kepada-Nya, kehinaan, menampakkan keadilan-Nya, maaf-Nya, pembalasan-Nya, kemuliaan-Nya, dan terjadinya loyalitas dan permusuhan karena-Nya, dan selain itu dari akibat-akibat yang keberadaannya karena takdir-Nya terhadap apa yang dibenci-Nya lebih dicintai-Nya daripada hilangnya karena hilangnya sebab-sebabnya. Dan Dia tidak menakdirkan apa yang dicintai-Nya karena mengantarkan kepada terjadinya apa yang dibenci dan dimurkai-Nya sebagaimana Dia menakdirkan apa yang dibenci-Nya karena mengantarkan kepada apa yang dicintai-Nya. Maka diketahui bahwa melakukan apa yang dicintai-Nya lebih dicintai-Nya daripada apa yang dibenci-Nya.
Keempat: Bahwa melakukan yang diperintahkan adalah tujuan untuk dirinya sendiri, sedangkan meninggalkan yang dilarang adalah tujuan untuk menyempurnakan melakukan yang diperintahkan. Maka ia dilarang karena dapat merusak melakukan yang diperintahkan atau memperlemah dan menguranginya, sebagaimana Allah memberikan isyarat tentang hal itu dalam larangan khamr dan judi karena keduanya menghalangi dari zikir Allah dan dari shalat. Maka larangan-larangan adalah pemutus, penghalang, dan penghadir dari melakukan perintah-perintah atau dari kesempurnaannya. Maka larangan darinya termasuk bab yang ditujukan untuk selainnya, sedangkan perintah dengan kewajiban-kewajiban termasuk bab yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Kelima: Bahwa melakukan perintah-perintah termasuk bab memelihara kekuatan iman dan kelangsungannya, sedangkan meninggalkan larangan-larangan termasuk bab diet dari apa yang mengganggu kekuatan iman dan mengeluarkannya dari keseimbangan. Memelihara kekuatan lebih didahulukan daripada diet, karena kekuatan semakin kuat akan mendorong bahan-bahan yang rusak, dan jika lemah akan dikalahkan oleh bahan-bahan yang rusak. Maka diet dikehendaki untuk selainnya yaitu memelihara kekuatan, menambah, dan kelangsungannya. Oleh karena itu semakin kuat kekuatan iman akan mendorong bahan-bahan yang buruk dan mencegah dari kekalahannya dan banyaknya sesuai dengan kekuatan dan kelemahannya. Dan jika lemah akan dikalahkan oleh bahan-bahan yang rusak. Maka perhatikanlah segi ini.
Keenam: Bahwa melakukan perintah-perintah adalah kehidupan hati, makanannya, perhiasannya, kegembiraannya, penyejuk matanya, kenikmatannya, dan kebahagiaan. Meninggalkan larangan-larangan tanpa itu tidak akan memperoleh sesuatu pun dari hal itu. Sesungguhnya jika ia meninggalkan semua larangan-larangan dan tidak datang dengan iman dan amal-amal yang diperintahkan, maka peninggalan itu tidak akan bermanfaat baginya sedikitpun dan ia akan kekal di neraka.
Ketujuh: Bahwa orang yang melakukan perintah-perintah dan larangan-larangan, maka ia akan selamat mutlak jika kebaikan-kebaikannya mengalahkan keburukan-keburukannya, atau selamat setelah diambil darinya hak dan dihukum atas keburukan-keburukannya, maka tujuan akhirnya adalah keselamatan. Dan itu dengan melakukan yang diperintah. Sedangkan orang yang meninggalkan perintah-perintah dan larangan-larangan, maka ia binasa dan tidak selamat. Dan tidak akan selamat kecuali dengan melakukan yang diperintah yaitu tauhid.
Jika dikatakan: “Sesungguhnya ia binasa karena melakukan yang dilarang yaitu syirik.” Dikatakan: “Cukup dalam kebinasaan meninggalkan tauhid itu sendiri yang diperintahkan meskipun tidak datang dengan lawan yang wujudi dari syirik, bahkan ketika hatinya kosong dari tauhid sama sekali dan tidak mengesakan Allah maka ia binasa meskipun tidak menyembah selain-Nya. Jika ditambahkan kepadanya menyembah selain-Nya, maka ia disiksa karena meninggalkan tauhid yang diperintahkan dan melakukan syirik yang dilarang.”
Kedelapan: Bahwa orang yang diajak kepada iman jika berkata: “Aku tidak membenarkan dan tidak mendustakan, tidak mencintai dan tidak membenci, tidak menyembah-Nya dan tidak menyembah selain-Nya,” maka ia kafir hanya karena meninggalkan dan berpaling, berbeda dengan jika ia berkata: “Aku membenarkan Rasul, mencintainya, beriman kepadanya, dan melakukan apa yang diperintahkannya kepadaku, tetapi syahwatku, keinginanku, dan tabiatku menguasaiku tidak membiarkanku meninggalkan apa yang dilarangnya kepadaku. Dan aku tahu bahwa ia telah melarangku dan membenci perbuatan yang dilarang bagiku, tetapi aku tidak sabar meninggalkannya.” Maka orang ini tidak dianggap kafir karena itu dan tidak hukumnya seperti hukum yang pertama. Sesungguhnya orang ini taat dari satu segi, sedangkan yang meninggalkan yang diperintah secara keseluruhan tidak dianggap taat dari segi manapun.
Kesembilan: Bahwa ketaatan dan kemaksiatan sesungguhnya berkaitan dengan perintah secara asli dan dengan larangan secara mengikuti. Maka yang taat adalah yang melaksanakan yang diperintah, dan yang bermaksiat adalah yang meninggalkan yang diperintah. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya” (At-Tahrim: 6). Dan Musa berkata kepada saudaranya: “Apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka sesat, bahwa kamu tidak mengikutiku? Apakah kamu durhaka terhadap perintahku?” (Thaha: 93). Dan berkata Amr bin Al-Ash ketika kematiannya: “Akulah yang Engkau perintahkan lalu aku durhaka, tetapi tiada tuhan selain Engkau.” Dan berkata penyair: “Aku memerintahmu dengan perintah yang tegas lalu kamu durhaka kepadaku.”
Perintah dan Larangan
Yang dimaksud dari pengutusan para rasul adalah ketaatan kepada Yang mengutus, dan hal itu tidak tercapai kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Menjauhi larangan-larangan adalah bagian dari kesempurnaan pelaksanaan perintah dan konsekuensinya. Oleh karena itu, jika seseorang menjauhi larangan-larangan tetapi tidak melakukan apa yang diperintahkan, dia tidak dianggap taat, bahkan dianggap durhaka. Berbeda dengan orang yang melakukan perintah-perintah tetapi melanggar larangan-larangan, maka meskipun dia dianggap durhaka dan berdosa, namun dia tetap taat dalam melaksanakan perintah dan durhaka dalam melanggar larangan, berbeda dengan orang yang meninggalkan perintah, karena dia tidak dianggap taat hanya dengan menjauhi larangan saja.
Aspek Kesepuluh: Melaksanakan perintah adalah ibadah, mendekatkan diri, dan pengabdian. Itulah ibadah yang menjadi tujuan penciptaan makhluk, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Surah Adz-Dzariyat: 56)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan mereka hanya untuk beribadah. Demikian pula, Dia mengutus para rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar mereka beribadah kepada-Nya. Maka ibadah adalah tujuan yang menjadi alasan mereka diciptakan, dan mereka tidak diciptakan hanya untuk sekadar meninggalkan (larangan), karena hal itu adalah perkara yang bersifat negatif (ketiadaan) yang tidak mengandung kesempurnaan dari segi ketiadaannya. Berbeda dengan melaksanakan perintah, karena itu adalah perkara yang bersifat positif (keberadaan) yang diinginkan kehadirannya.
Aspek Kesebelas: Yang dituntut dari larangan adalah tidak adanya perbuatan, dan itu adalah perkara yang bersifat negatif. Sedangkan yang dituntut dari perintah adalah mengadakan perbuatan, dan itu adalah perkara yang bersifat positif. Maka objek perintah adalah pengadaan, sedangkan objek larangan adalah peniadaan atau ketiadaan, dan itu adalah perkara yang tidak mengandung kesempurnaan kecuali jika mengandung perkara yang bersifat positif. Karena ketiadaan dari segi ketiadaannya tidak mengandung kesempurnaan dan tidak ada kemaslahatan kecuali jika mengandung perkara yang bersifat positif secara mutlak. Dan perkara positif itu adalah yang dituntut dan diperintahkan. Maka hakikat larangan kembali kepada perintah, dan yang dituntut darinya adalah apa yang terkandung dalam larangan berupa perintah positif yang dituntut darinya.
Aspek Keduabelas: Para ulama berbeda pendapat tentang yang dituntut dari larangan menjadi beberapa pendapat:
Pendapat Pertama: Yang dituntut darinya adalah menahan diri dari perbuatan dan menahannya dari perbuatan tersebut, dan itu adalah perkara yang bersifat positif. Mereka berkata: “Karena taklif (pembebanan) hanya berkaitan dengan yang mampu dilakukan, sedangkan ketiadaan murni tidak mampu dilakukan.” Ini adalah pendapat jumhur ulama.
Abu Hasyim dan lainnya berkata: Yang dituntut adalah tidak adanya perbuatan. Oleh karena itu, maksud tercapai dengan tetap berada dalam ketiadaan meskipun perbuatan itu tidak terlintas dalam pikirannya, apalagi berniat untuk menahan diri darinya. Jika yang dituntut adalah menahan diri, maka dia akan dianggap durhaka jika tidak melakukannya. Dan karena orang-orang memuji dengan tidak melakukan perbuatan jelek dari orang yang tidak terlintas dalam pikirannya untuk melakukan perbuatan dan menahan diri darinya. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Qadhi Abu Bakr. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa tidak adanya perbuatan adalah dalam kemampuan hamba dan masuk dalam kategori perbuatan. Dia berkata: “Yang dimaksud dari larangan adalah mempertahankan ketiadaan asli, dan itu dalam kemampuan.”
Kelompok lain berkata: Yang dituntut dari larangan adalah melakukan kebalikannya, karena itulah yang mampu dilakukan dan itulah yang dimaksud oleh yang melarang. Karena dia melarang dari perbuatan keji untuk menuntut kesucian yang diperintahkan, dan melarang dari kezaliman untuk menuntut keadilan yang diperintahkan, dan dari kebohongan untuk menuntut kejujuran yang diperintahkan. Demikian seterusnya semua larangan. Menurut kelompok ini, hakikat larangan adalah menuntut kebalikan dari yang dilarang. Maka persoalan kembali bahwa tuntutan hanya berkaitan dengan melakukan yang diperintahkan.
Penjelasan yang benar adalah bahwa yang dituntut ada dua jenis: yang dituntut untuk dirinya sendiri yaitu yang diperintahkan, dan yang dituntut peniadaannya karena bertentangan dengan yang diperintahkan yaitu yang dilarang karena mengandung kerusakan yang bertentangan dengan yang diperintahkan.
Jika tidak terlintas dalam pikiran mukallaf dan dirinya tidak mengajaknya kepadanya, bahkan tetap dalam ketiadaan asli, maka dia tidak diberi pahala atas meninggalkannya. Jika terlintas dalam pikirannya dan dia menahan dirinya darinya karena Allah dan meninggalkannya dengan pilihan, maka dia diberi pahala atas menahan dirinya dan menjauhkan diri, karena itu adalah perbuatan yang bersifat positif. Pahala hanya diberikan atas perkara yang bersifat positif, bukan atas ketiadaan murni.
Jika dia meninggalkannya dengan tekad yang kuat untuk melakukannya tetapi meninggalkannya karena ketidakmampuan, maka meskipun dia tidak dihukum dengan hukuman pelaku, tetapi dia dihukum atas tekad dan kehendaknya yang kuat yang tidak terwujud keinginannya hanya karena ketidakmampuan.
Telah menunjukkan hal itu nash-nash yang banyak, maka tidak perlu memperhatikan yang menyelisihinya, seperti firman Allah Ta’ala:
“Dan jika kamu nyatakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadamu tentang hal itu. Maka Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki.” (Surah Al-Baqarah: 284)
Dan firman-Nya tentang orang yang menyembunyikan kesaksian: “Maka sesungguhnya dia berdosa hatinya.” (Surah Al-Baqarah: 283)
Dan firman-Nya: “Tetapi Allah menghukum kamu karena apa yang disengaja oleh hatimu.” (Surah Al-Baqarah: 225)
Dan firman-Nya: “Pada hari diuji segala yang tersembunyi.” (Surah At-Tariq: 9)
Dan sabda Nabi: “Apabila dua orang Muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh keduanya di neraka.” Mereka bertanya: “Ini si pembunuh, lalu mengapa yang terbunuh?” Beliau menjawab: “Karena dia berkeinginan membunuh temannya.”
Dan dalam hadits lain: “Dan seorang laki-laki berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta, pasti aku akan beramal seperti perbuatan si fulan,’ maka dia sesuai dengan niatnya, dan keduanya sama dalam dosanya.”
Pendapat yang mengatakan bahwa yang dituntut dari larangan adalah melakukan kebalikannya tidaklah demikian, karena yang dimaksud adalah tidak adanya perbuatan dan keterlibatan dengan kedua kebalikan. Karena apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka itu tidak dimaksudkan dengan maksud pertama, meskipun yang dimaksud dengan maksud pertama adalah yang diperintahkan yang dilarang dari apa yang menghalangi dan melemahkannya.
Yang dilarang adalah yang dituntut peniadaannya sebagai tuntutan wasilah dan jalan, sedangkan yang diperintahkan adalah yang dituntut pengadaannya sebagai tuntutan tujuan dan maksud.
Pendapat Abu Hasyim bahwa orang yang meninggalkan perbuatan jelek dipuji meskipun tidak terlintas dalam pikirannya menahan diri, jika dia bermaksud dengan pujiannya bahwa dia tidak dicela, maka itu benar. Jika dia bermaksud bahwa dia dipuji karenanya dan dicintai karenanya serta berhak mendapat pahala, maka itu tidak benar. Karena orang-orang tidak memuji orang yang dicintai karena meninggalkan zina, dan tidak memuji orang bisu karena tidak menggunjing dan mencaci. Mereka hanya memuji orang yang mampu yang menahan diri dari kemampuan dan dorongan untuk berbuat.
Pendapat Qadhi bahwa mempertahankan ketiadaan asli adalah dalam kemampuan, jika dia bermaksud dengannya menahan diri dan mencegahnya, maka itu benar. Jika dia bermaksud sekadar ketiadaan, maka tidak demikian.
Aspek Ketigabelas: Perintah terhadap sesuatu adalah larangan terhadap kebalikannya dari segi konsekuensi logis, bukan dari segi maksud tuntutan. Karena perintah hanya dimaksudkan untuk melakukan yang diperintahkan. Jika meninggalkan kebalikan adalah konsekuensinya, maka meninggalkannya menjadi dimaksudkan untuk yang lain. Inilah yang benar dalam masalah apakah perintah terhadap sesuatu adalah larangan terhadap kebalikannya atau tidak. Maka itu adalah larangan terhadapnya dari segi konsekuensi, bukan dari segi maksud dan tuntutan.
Demikian juga larangan terhadap sesuatu, yang dimaksud oleh yang melarang dengan maksud pertama adalah berhenti dari yang dilarang, dan keterlibatannya dengan kebalikannya datang dari segi konsekuensi logis. Tetapi dia hanya melarang dari apa yang bertentangan dengan apa yang dia perintahkan sebagaimana telah disebutkan. Seakan-akan yang diperintahkan adalah yang dimaksudkan dengan maksud pertama dalam kedua tempat.
Inti masalah adalah bahwa menuntut sesuatu adalah menuntutnya secara dzati dan untuk apa yang merupakan keharusan darinya secara konsekuensi. Larangan terhadap sesuatu adalah menuntut meninggalkannya secara dzati dan untuk melakukan apa yang merupakan keharusan dari meninggalkan secara konsekuensi. Yang dituntut dalam kedua tempat adalah perbuatan dan menahan diri, dan keduanya adalah perkara yang bersifat positif.
Aspek Keempatbelas: Perintah dan larangan dalam bab tuntutan serupa dengan peniadaan dan penetapan dalam bab kabar. Pujian dan sanjungan tidak tercapai dengan peniadaan murni jika tidak mengandung penetapan. Karena peniadaan seperti namanya adalah ketiadaan yang tidak mengandung kesempurnaan dan tidak ada pujian di dalamnya. Jika mengandung penetapan, maka pujian dengannya menjadi sah, seperti meniadakan lupa yang mengharuskan kesempurnaan ilmu dan penjelasannya, meniadakan letih, capek, dan lelah yang mengharuskan kesempurnaan kekuatan dan kemampuan, meniadakan mengantuk dan tidur yang mengharuskan kesempurnaan hidup dan berdiri, meniadakan anak dan istri yang mengharuskan kesempurnaan kekayaan, kepemilikan, dan ketuhanan, meniadakan sekutu, pelindung, dan pemberi syafaat tanpa izin yang mengharuskan kesempurnaan tauhid dan kesendirian dengan kesempurnaan, ketuhanan, dan kepemilikan, meniadakan kezaliman yang mengandung kesempurnaan keadilan, meniadakan jangkauan penglihatan terhadap-Nya yang mengandung keagungan-Nya dan bahwa Dia lebih mulia dari yang dapat dijangkau meskipun penglihatan melihat-Nya. Kalau tidak, tidak ada pujian dalam kenyataan bahwa Dia tidak terlihat dengan cara apa pun, karena ketiadaan murni demikian.
Jika hal ini dipahami, maka yang dilarang jika tidak mengandung perkara yang bersifat positif dan tetap, tidak dipuji dengan meninggalkannya dan tidak berhak mendapat pahala dan pujian dengan sekadar meninggalkan. Tidak berhak mendapat pujian dan sanjungan dengan sekadar sifat yang bersifat negatif.
Aspek Kelimabelas: Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan balasan perintah-perintah sepuluh kali lipat dari perbuatannya, dan balasan larangan-larangan satu kali lipat. Ini menunjukkan bahwa melakukan apa yang Dia perintahkan lebih dicintai-Nya daripada meninggalkan apa yang Dia larang. Jika sebaliknya, maka kejelekan akan sepuluh kali lipat dan kebaikan satu kali lipat, atau keduanya sama.
Aspek Keenambelas: Yang dilarang adalah yang dimaksudkan peniadaannya dan tidak masuk dalam wujud, baik diniatkan atau tidak, baik terlintas dalam pikiran atau tidak. Yang dimaksud adalah tidak adanya. Adapun yang diperintahkan, yang dimaksud adalah keberadaannya, pengadaan, dan mendekatkan diri dengannya dengan niat dan perbuatan.
Rahasia masalah adalah bahwa wujud apa yang dituntut pengadaannya lebih dicintai-Nya daripada ketiadaan apa yang dituntut peniadaannya. Ketiadaan apa yang dicintai-Nya lebih dibenci-Nya daripada wujud apa yang dibenci-Nya. Maka kecintaan-Nya terhadap melakukan apa yang Dia perintahkan lebih besar daripada kebencian-Nya terhadap melakukan apa yang Dia larang.
Aspek Ketujuhbelas: Melakukan apa yang dicintai-Nya, membantu terhadapnya, balasannya, dan yang berkaitan dengannya berupa pujian dan sanjungan adalah dari rahmat-Nya. Melakukan apa yang dibenci-Nya, balasannya, dan yang berkaitan dengannya berupa celaan, kesakitan, dan hukuman adalah dari murka-Nya. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya dan mengalahkannya. Semua yang dari sifat rahmat mengalahkan yang dari sifat murka. Karena Dia Subhanahu wa Ta’ala selalu penyayang, dan rahmat-Nya adalah konsekuensi dzat-Nya seperti ilmu, kemampuan, hidup, pendengaran, penglihatan, dan kebaikan-Nya. Mustahil Dia selain dari itu. Tidak demikian murka-Nya, karena itu bukan konsekuensi dzat-Nya dan Dia tidak selalu murka dengan murka yang tidak mungkin terlepas. Bahkan para rasul-Nya dan orang yang paling mengenal-Nya berkata pada hari kiamat: “Sesungguhnya Tuhanku telah murka hari ini dengan murka yang tidak pernah murka sebelumnya seperti itu dan tidak akan murka sesudahnya seperti itu.”
Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, murka-Nya tidak meliputi segala sesuatu. Dia Subhanahu wa Ta’ala menetapkan atas diri-Nya rahmat dan tidak menetapkan atas diri-Nya murka. Dia meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu, dan tidak meliputi segala sesuatu dengan murka dan pembalasan. Maka rahmat dan yang darinya, konsekuensi-konsekuensinya, dan akibat-akibatnya mengalahkan murka dan yang darinya serta akibat-akibatnya. Wujud yang dari rahmat lebih dicintai-Nya daripada wujud yang dari konsekuensi murka. Oleh karena itu, rahmat lebih dicintai-Nya daripada siksaan, dan pengampunan lebih dicintai-Nya daripada pembalasan. Wujud yang dicintai-Nya lebih dicintai-Nya daripada lenyapnya yang dibenci-Nya, apalagi jika dalam lenyapnya yang dibenci-Nya terdapat lenyapnya yang dicintai-Nya dari konsekuensi-konsekuensinya. Karena Dia membenci lenyapnya konsekuensi-konsekuensi yang dicintai itu sebagaimana Dia membenci wujud yang mewajibkan yang dibenci itu.
Aspek Kedelapanbelas: Akibat-akibat apa yang dibenci-Nya yaitu larangan-larangan lebih cepat hilang dengan apa yang dicintai-Nya daripada hilangnya akibat-akibat apa yang dicintai-Nya dengan apa yang dibenci-Nya. Akibat-akibat kebencian-Nya cepat hilang dan mungkin dihilangkan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dengan pengampunan dan pemaafan. Hilang dengan taubat, istighfar, amal saleh, musibah yang menghapus dosa, syafaat, dan kebaikan-kebaikan menghilangkan kejelekan-kejelekan. Seandainya dosa hamba mencapai awan langit kemudian meminta ampun kepada-Nya, Dia akan mengampuninya. Seandainya dia menemui-Nya dengan dosa sebesar bumi kemudian menemui-Nya tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, pasti Dia akan mendatanginya dengan pengampunan sebesar itu. Dia Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa meskipun besar dan tidak peduli. Dia membatalkannya dan membatalkan akibat-akibatnya dengan sedikit usaha dari hamba, taubat nasuha, dan penyesalan atas yang telah dilakukan. Itu tidak lain karena wujud apa yang dicintai-Nya dari taubat hamba, ketaatan, dan tauhidnya. Maka menunjukkan bahwa wujud itu lebih dicintai-Nya dan lebih diridhai-Nya.
Aspek Kesembilanbelas: Dia Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan apa yang dibenci dan dibenci-Nya dari larangan-larangan karena yang berkaitan dengannya dari apa yang dicintai dan digembirakan-Nya dari perintah-perintah. Karena Dia Subhanahu wa Ta’ala lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada orang yang kehilangan lalu menemukan, orang mandul yang beranak, dan orang haus yang mendapat air. Rasulullah telah membuat perumpamaan untuk kegembiraan-Nya dengan taubat hamba dengan perumpamaan yang tidak ada yang lebih menggembirakan dari yang digembirakan. Kegembiraan ini hanya dengan melakukan yang diperintahkan yaitu taubat. Maka Dia menakdirkan dosa karena yang berkaitan dengannya dari kegembiraan besar ini yang wujudnya lebih dicintai-Nya daripada lenyapnya. Wujudnya tanpa konsekuensinya mustahil. Maka menunjukkan bahwa wujud apa yang dicintai lebih dicintai-Nya daripada lenyapnya apa yang dibenci.
Bukan maksudnya bahwa setiap individu dari individu-individu yang dicintai lebih dicintai-Nya daripada lenyapnya setiap individu dari yang dibenci, hingga dua rakaat Duha lebih dicintai-Nya daripada lenyapnya pembunuhan Muslim. Yang dimaksud adalah bahwa jenis melakukan perintah-perintah lebih utama daripada jenis meninggalkan larangan-larangan, sebagaimana jika laki-laki diutamakan atas perempuan dan manusia atas malaikat, maka yang dimaksud adalah jenisnya, bukan keumuman individu-individu.
Yang dimaksud adalah bahwa kegembiraan yang tiada kegembiraan menyamainya ini merupakan perbuatan yang diperintahkan dalam taubat, yang menunjukkan bahwa yang diperintahkan ini lebih dicintai-Nya daripada hilangnya larangan yang akan menghilangkan taubat beserta pengaruh dan akibatnya. Jika dikatakan bahwa Dia bergembira dengan taubat karena taubat itu meninggalkan yang dilarang, maka kegembiraan itu adalah karena meninggalkan, maka dikatakan: tidaklah demikian, karena meninggalkan semata-mata tidak menimbulkan kegembiraan ini, bahkan tidak menimbulkan pahala dan pujian. Taubat bukanlah meninggalkan, meskipun meninggalkan adalah konsekuensinya. Taubat adalah perbuatan yang bersifat positif yang mencakup kembalinya orang yang bertaubat kepada Tuhannya, kembali kepada-Nya, dan komitmen untuk menaati-Nya. Dari konsekuensi hal tersebut adalah meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya” (Hud: 3). Taubat adalah kembali dari apa yang dibenci kepada apa yang dicintai, bukan sekedar meninggalkan. Sesungguhnya orang yang meninggalkan dosa secara semata-mata tanpa kembali kepada apa yang dicintai Allah Ta’ala, maka dia tidak disebut bertaubat. Taubat adalah kembali, menghadap, dan kembali kepada Allah, bukan meninggalkan semata-mata.
Aspek kedua puluh: Bahwa yang diperintahkan jika terlewatkan, maka terlewatkanlah kehidupan yang diinginkan bagi hamba, yaitu kehidupan yang Allah Ta’ala berfirman tentangnya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (Al-Anfal: 24). Dan firman-Nya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita” (Al-An’am: 122). Dan firman-Nya tentang orang-orang kafir: “Mereka itu adalah orang-orang mati; bukan orang-orang hidup” (An-Nahl: 21). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu dapat mendengar” (An-Naml: 80). Adapun yang dilarang, maka batasnya adalah menimbulkan penyakit, dan kehidupan dengan sakit lebih baik daripada mati. Jika dikatakan: di antara yang dilarang ada yang menyebabkan kebinasaan yaitu syirik, maka dikatakan: kebinasaan itu terjadi karena tidak adanya tauhid yang diperintahkan untuk kehidupan. Ketika tauhid hilang, maka terjadilah kebinasaan. Maka tidak ada yang binasa kecuali karena tidak melakukan yang diperintahkan, yaitu tauhid.
Ini adalah aspek kedua puluh satu dalam masalah ini, yaitu bahwa dalam hal-hal yang diperintahkan terdapat sesuatu yang jika terlewatkan akan menyebabkan kebinasaan dan kesengsaraan yang kekal, sedangkan dalam hal-hal yang dilarang tidak terdapat yang mengakibatkan hal itu.
Aspek kedua puluh dua: Bahwa melakukan yang diperintahkan mengharuskan meninggalkan yang dilarang jika dilakukan dengan cara yang benar, yaitu dengan keikhlasan, mengikuti (sunnah), dan berbuat baik karena Allah dalam hal itu. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Al-Ankabut: 45). Sementara sekedar meninggalkan yang dilarang tidak mengharuskan melakukan yang diperintahkan dan tidak mengharuskannya.
Aspek kedua puluh tiga: Bahwa apa yang dicintai-Nya dari hal-hal yang diperintahkan berkaitan dengan sifat-sifat-Nya, sedangkan apa yang dibenci-Nya dari hal-hal yang dilarang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Ini adalah wajah yang halus yang memerlukan penjelasan. Maka kami katakan: hal-hal yang dilarang adalah kejahatan dan mengarah kepada kejahatan, sedangkan hal-hal yang diperintahkan adalah kebaikan dan mengarah kepada kebaikan. Kebaikan berada di tangan-Nya Yang Maha Suci, sedangkan kejahatan bukan berasal dari-Nya. Sesungguhnya kejahatan tidak masuk dalam sifat-sifat-Nya, tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak dalam nama-nama-Nya. Kejahatan hanya ada dalam makhluk-makhluk-Nya, dengan catatan bahwa itu adalah kejahatan secara relatif dan nisbi terhadap hamba. Adapun dari segi kaitannya dan nisbinya kepada Sang Pencipta Yang Maha Suci, maka itu bukan kejahatan dari segi ini. Batas melakukan larangan adalah menyebabkan kejahatan secara relatif terhadap hamba, padahal pada dirinya sendiri itu bukan kejahatan. Adapun terlewatkannya yang diperintahkan, maka terlewatkanlah kebaikan yang dengan terlewatkannya itu terjadi lawannya berupa kejahatan. Semakin dicintai yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar kejahatan yang terjadi karena terlewatkannya, seperti tauhid dan iman.
Rahasia wajah-wajah ini adalah bahwa yang diperintahkan adalah yang dicintai-Nya dan yang dilarang adalah yang dibenci-Nya. Terjadinya yang dicintai-Nya lebih dicintai-Nya daripada terlewatkannya yang dibenci-Nya, dan terlewatkannya yang dicintai-Nya lebih dibenci-Nya daripada terjadinya yang dibenci-Nya. Wallahu a’lam.
Pasal
Dasar agama dibangun atas dua kaidah: zikir dan syukur. Allah Ta’ala berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Al-Baqarah: 152). Dan Nabi berkata kepada Muaz: “Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, maka janganlah kamu lupa mengucapkan setelah setiap shalat: ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan berbuat baik dalam beribadah kepada-Mu.'”
Yang dimaksud dengan zikir bukan sekedar zikir lisan, tetapi zikir hati dan lisan. Zikir kepada-Nya mencakup zikir nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, zikir perintah dan larangan-Nya, dan zikir kepada-Nya dengan kalam-Nya. Hal itu mengharuskan mengenal-Nya, beriman kepada-Nya dan kepada sifat-sifat kesempurnaan-Nya serta sifat-sifat keagungan-Nya, dan memuji-Nya dengan berbagai macam pujian. Hal itu tidak sempurna kecuali dengan mengesakan-Nya. Maka zikir yang hakiki kepada-Nya mengharuskan semua itu dan mengharuskan zikir nikmat-nikmat-Nya, karunia-karunia-Nya, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya.
Adapun syukur, maka itu adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam yang dicintai-Nya, lahir dan batin. Kedua perkara ini adalah keseluruhan agama. Zikir kepada-Nya mengharuskan mengenal-Nya, dan syukur kepada-Nya mencakup ketaatan kepada-Nya. Kedua hal ini adalah tujuan yang untuk itu diciptakan jin dan manusia, langit dan bumi, dan untuk itu diletakkan pahala dan siksa, diturunkan kitab-kitab, dan diutus rasul-rasul. Inilah kebenaran yang dengannya diciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Lawannya adalah kebatilan dan sia-sia yang Allah Ta’ala Maha Tinggi dan Maha Suci darinya. Itulah sangkaan musuh-musuh-Nya terhadap-Nya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir” (Shad: 27). Dan firman-Nya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak” (Ad-Dukhan: 38-39). Dan firman-Nya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan hak. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang” (Al-Hijr: 85). Dan firman-Nya setelah menyebutkan ayat-ayat-Nya di awal surat Yunus: “Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak” (Yunus: 5). Dan firman-Nya: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36). Dan firman-Nya: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu tanpa tujuan (secara main-main) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun: 115). Dan firman-Nya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56). “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi (pula) seperti itu. Perintah Allah berlaku di antara keduanya agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” (At-Talaq: 12). Dan firman-Nya: “Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia dan (demikian pula) bulan haram, had-ya, qalaid. Yang demikian itu agar kamu tahu, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Maidah: 97).
Maka terbukti dengan apa yang disebutkan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar Dia dizikir dan disyukuri: dizikir sehingga tidak dilupakan, dan disyukuri sehingga tidak dikufuri. Dia Subhanahu wa Ta’ala mengingat orang yang mengingat-Nya dan bersyukur kepada orang yang bersyukur kepada-Nya. Maka zikir kepada-Nya adalah sebab zikir-Nya, dan syukur kepada-Nya adalah sebab bertambahnya karunia-Nya. Zikir adalah untuk hati dan lisan, sedangkan syukur adalah untuk hati berupa cinta dan kembali kepada Allah, untuk lisan berupa pujian dan hamdalah, dan untuk anggota badan berupa ketaatan dan pelayanan.
Pasal
Berulang kali dalam Al-Quran dijadikan amal-amal yang berdiri dengan hati dan anggota badan sebagai sebab hidayah dan kesesatan. Maka berdiri dengan hati dan anggota badan amal-amal yang mengharuskan petunjuk sebagaimana sebab mengharuskan akibatnya dan yang berpengaruh mengharuskan pengaruhnya. Demikian pula kesesatan. Amal-amal kebajikan menghasilkan petunjuk, dan semakin bertambah darinya, semakin bertambah petunjuk. Amal-amal kefasikan sebaliknya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai amal-amal kebajikan, maka Dia membalasnya dengan petunjuk dan keberuntungan, dan membenci amal-amal kefasikan, maka Dia membalasnya dengan kesesatan dan kesengsaraan. Juga karena Dia mencintai kebajikan dan mencintai ahli kebajikan, maka Dia mendekatkan hati mereka kepada-Nya sesuai dengan apa yang mereka lakukan dari kebajikan, dan membenci kefasikan dan ahlinya, maka Dia menjauhkan hati mereka dari-Nya sesuai dengan apa yang mereka sifati dari kefasikan.
Dari asal yang pertama adalah firman Allah Ta’ala: “Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah: 1-2). Ini mencakup dua perkara. Pertama, bahwa Dia memberi petunjuk dengannya kepada orang yang bertakwa terhadap apa yang digariskan-Nya sebelum turunnya kitab. Sesungguhnya manusia dengan berbagai agama dan kepercayaan mereka telah menetap pada mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci kezaliman, kekejian, dan kerusakan di muka bumi, dan murka kepada pelakunya, serta mencintai keadilan, kebaikan, kedermawanan, kejujuran, dan perbaikan di muka bumi, dan mencintai pelakunya. Ketika kitab turun, Subhanahu wa Ta’ala memberi pahala kepada ahli kebajikan dengan memberikan taufik kepada mereka untuk beriman kepadanya sebagai balasan atas kebajikan dan ketaatan mereka, dan menghentikan ahli kefasikan, kekejian, dan kezaliman dengan menghalangi mereka dari mendapat petunjuk dengannya.
Perkara kedua adalah bahwa hamba jika beriman kepada kitab dan mendapat petunjuk dengannya secara global serta menerima perintah-perintahnya dan membenarkan berita-beritanya, maka hal itu menjadi sebab bagi hidayah lain yang diperolehnya secara terperinci. Sesungguhnya hidayah tidak ada batasnya, dan seandainya hamba mencapai dalam hidayah setinggi apa pun, maka di atas hidayahnya ada hidayah lain, dan di atas hidayah itu ada hidayah lain lagi tanpa batas. Maka setiap kali hamba bertakwa kepada Tuhannya, dia naik ke hidayah lain. Maka dia selalu bertambah hidayah selama dia bertambah takwa. Setiap kali dia melewatkan suatu langkah takwa, maka terlewatkanlah baginya bagian dari hidayah sesuai dengan itu. Maka setiap kali dia bertakwa, bertambahlah hidayahnya, dan setiap kali dia mendapat hidayah, bertambahlah takwanya.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (Al-Maidah: 15-16). Dan firman Allah Ta’ala: “Allah memilih orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (orang) yang kembali kepada-Nya” (Asy-Syura: 13). Dan firman-Nya: “Kelak akan mendapat pelajaran orang yang takut (kepada Allah)” (Al-A’la: 10). Dan firman-Nya: “Dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)” (Ghafir: 13). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanan mereka” (Yunus: 9). Maka Dia memberi hidayah kepada mereka pertama kali untuk iman, kemudian ketika mereka beriman, Dia memberi hidayah kepada mereka karena iman mereka, hidayah setelah hidayah.
Seperti ini pula firman-Nya: “Dan Allah menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk” (Maryam: 76). Dan firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepadamu” (Al-Anfal: 29). Di antara furqan itu adalah apa yang diberikan-Nya kepada mereka berupa cahaya yang dengan itu mereka membedakan antara yang hak dan yang batil, serta pertolongan dan kemuliaan yang dengan itu mereka dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan yang batil. Furqan ditafsirkan dengan ini dan dengan itu.
Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah)” (Qaf: 8). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang sabar lagi bersyukur” dalam surat Luqman (31: 31), surat Ibrahim (14: 5), surat Saba (34: 19), dan surat Asy-Syura (42: 33).
Maka Allah mengabarkan tentang ayat-ayat-Nya yang disaksikan dengan mata kepala bahwa sesungguhnya yang dapat mengambil manfaat daripadanya hanyalah orang-orang yang memiliki sifat sabar dan syukur, sebagaimana Dia mengabarkan tentang ayat-ayat-Nya yang berupa iman dari Al-Qur’an bahwa sesungguhnya yang dapat mengambil manfaat daripadanya hanyalah orang-orang yang bertakwa, khasyah (takut kepada Allah), dan inabah (kembali kepada Allah), serta orang yang tujuannya adalah mengikuti keridhaan-Nya. Dan sesungguhnya orang yang mengingat dengan ayat-ayat tersebut adalah orang yang takut kepada-Nya Yang Maha Suci, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Thaha: “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)” (Thaha: 2-3). Dan Allah berfirman tentang hari kiamat: “Sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya” (An-Nazi’at: 45).
Adapun orang yang tidak beriman kepadanya, tidak mengharapkannya, dan tidak takut kepadanya, maka ayat-ayat yang dapat disaksikan mata kepala maupun ayat-ayat Al-Qur’an tidak akan bermanfaat baginya. Oleh karena itu, ketika Allah Yang Maha Suci menyebutkan dalam Surat Hud tentang azab-azab terhadap umat-umat yang mendustakan para rasul dan apa yang menimpa mereka di dunia berupa kehinaan, Dia berfirman setelah itu: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang takut terhadap azab akhirat” (Hud: 103). Maka Allah mengabarkan bahwa azab-azab-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan adalah pelajaran bagi orang yang takut terhadap azab akhirat. Adapun orang yang tidak beriman kepadanya dan tidak takut terhadap azabnya, maka hal itu tidak menjadi pelajaran dan tanda baginya. Ketika ia mendengar hal tersebut, ia berkata: “Di dalam masa ini selalu ada kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan penderitaan, kebahagiaan dan kesengsaraan.” Dan terkadang ia mengembalikan hal itu kepada sebab-sebab falakiah (perbintangan) dan kekuatan-kekuatan jiwa.
Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab bagi pemiliknya untuk mengambil manfaat dari ayat-ayat karena iman itu dibangun atas sabar dan syukur. Separuhnya adalah sabar dan separuhnya adalah syukur. Sesuai dengan kadar kesabaran dan rasa syukur seorang hamba, maka demikianlah kekuatan imannya. Ayat-ayat Allah sesungguhnya hanya dapat diambil manfaatnya oleh orang yang beriman kepada Allah. Dan iman tidak akan sempurna baginya kecuali dengan sabar dan syukur. Sesungguhnya pokok syukur adalah tauhid, dan pokok sabar adalah meninggalkan ajakan hawa nafsu. Apabila seseorang musyrik dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia bukanlah orang yang sabar dan bersyukur, sehingga ayat-ayat tidak bermanfaat baginya dan tidak berpengaruh terhadapnya untuk menimbulkan iman.
PASAL
Adapun asas yang kedua, yaitu bahwa kefasikan, kesombongan, dan kebohongan mengakibatkan kesesatan, hal ini juga banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah Ta’ala: “Dengan Al-Qur’an itu Allah menyesatkan banyak orang, dan dengan itu pula Dia memberi petunjuk kepada banyak orang. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al-Baqarah: 26-27).
Allah Ta’ala berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan kalimat yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dikehendaki-Nya” (Ibrahim: 27).
Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri” (An-Nisa: 88).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup.’ Sebenarnya Allah telah mengutuk mereka disebabkan kekafirannya, karena itu sedikit sekali mereka beriman” (Al-Baqarah: 88).
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya” (Al-An’am: 110). Maka Allah mengabarkan bahwa Dia mengazab mereka karena keengganan mereka dari iman ketika iman itu datang kepada mereka dan mereka mengenalnya namun berpaling darinya, dengan cara membolak-balikkan hati dan penglihatan mereka serta menghalang-halangi antara mereka dengan iman.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (Al-Anfal: 24). Maka Allah memerintahkan mereka untuk memenuhi seruan-Nya dan seruan Rasul-Nya ketika menyeru mereka kepada sesuatu yang di dalamnya terdapat kehidupan mereka. Kemudian Dia memperingatkan mereka dari keengganan dan penundaan dalam memenuhi seruan yang menjadi sebab Allah menghalangi antara mereka dengan hati mereka.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (As-Saff: 5).
Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (Al-Muthaffifin: 14). Maka Allah Yang Maha Suci mengabarkan bahwa perbuatan mereka telah menutupi hati mereka dan menghalangi antara hati mereka dengan iman kepada ayat-ayat-Nya, sehingga mereka berkata: “(Al-Qur’an itu) dongengan-dongengan orang dahulu” (Al-Muthaffifin: 13).
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “Mereka melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka” (At-Taubah: 67). Maka Allah membalas mereka atas kelupaan mereka terhadap-Nya dengan melupakan mereka, sehingga Dia tidak menyebut mereka dengan petunjuk dan rahmat. Dan Allah mengabarkan bahwa Dia melupakan mereka dari diri mereka sendiri, sehingga mereka tidak mencari kesempurnaan diri mereka dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh – dan keduanya adalah petunjuk dan agama yang haq. Maka Allah melupakan mereka dari mencari hal tersebut, mencintainya, mengenalnya, dan bersemangat terhadapnya sebagai balasan atas kelupaan mereka terhadap-Nya.
Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Mereka itu adalah orang-orang yang hati mereka telah dimeterai oleh Allah dan mereka mengikuti hawa nafsunya. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka takwanya” (Muhammad: 16). Maka Allah menggabungkan bagi mereka antara mengikuti hawa nafsu dan kesesatan yang merupakan buah dan akibatnya, sebagaimana Dia menggabungkan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk antara takwa dan petunjuk.
PASAL
Sebagaimana Allah Yang Maha Suci menggabungkan antara petunjuk dengan takwa dan kesesatan dengan kekafiran, maka demikian pula Dia menggabungkan antara petunjuk dengan rahmat dan kesesatan dengan kesengsaraan.
Dari yang pertama adalah firman-Nya: “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (Al-Baqarah: 5).
Dan firman-Nya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah: 157).
Dan firman-Nya tentang orang-orang mukmin: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (Ali Imran: 8).
Dan firman-Nya tentang Ahli Kahfi: “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi Engkau dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami (ini)” (Al-Kahf: 10).
Dan firman-Nya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Yusuf: 111).
Dan firman-Nya: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (An-Nahl: 64).
Dan firman-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (An-Nahl: 89).
Dan firman-Nya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus: 57). Kemudian Allah Yang Maha Suci mengulangi penyebutan keduanya, maka Dia berfirman: “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan dengan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'” (Yunus: 58).
Telah beragam ungkapan salaf dalam menafsirkan fadhl (kurnia) dan rahmat. Yang benar adalah bahwa keduanya adalah petunjuk dan nikmat. Maka kurnia-Nya adalah petunjuk-Nya dan rahmat-Nya adalah nikmat-Nya. Oleh karena itu, Dia menggabungkan antara petunjuk dan nikmat, seperti firman-Nya dalam Surat Al-Fatihah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Al-Fatihah: 6-7).
Dan di antara hal tersebut adalah firman-Nya kepada Nabi-Nya yang menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (Ad-Dhuha: 6-8). Maka Allah menggabungkan baginya antara petunjuk-Nya kepadanya dan nikmat-Nya kepadanya dengan melindunginya dan memberikan kecukupan kepadanya.
Dan di antara hal tersebut adalah perkataan Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku ada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya” (Hud: 28).
Dan perkataan Syu’aib: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku berada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia telah memberiku rezeki yang baik dari-Nya” (Hud: 88).
Dan firman-Nya tentang Khidir: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Al-Kahf: 65).
Dan firman-Nya kepada Rasul-Nya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolong kamu dengan pertolongan yang besar” (Al-Fath: 1-3).
Dan firman-Nya: “Dan Allah telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (An-Nisa: 113).
Dan firman-Nya: “Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari dosa) selama-lamanya” (An-Nur: 21). Maka kurnia-Nya adalah petunjuk-Nya, rahmat-Nya, nikmat-Nya, dan kebaikan-Nya kepada mereka serta kebajikan-Nya kepada mereka.
Dan firman-Nya: “Maka apabila datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (Thaha: 123). Petunjuk mencegahnya dari kesesatan dan rahmat mencegahnya dari kesengsaraan. Dan inilah yang disebutkan-Nya di awal surat dalam firman-Nya: “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (Thaha: 1-2). Maka Allah menggabungkan baginya antara turunnya Al-Qur’an kepadanya dan meniadakan kesengsaraan darinya, sebagaimana yang Dia katakan di akhir surat tentang pengikut-pengikutnya: “ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
Maka petunjuk, kurnia, nikmat, dan rahmat adalah saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan sebagiannya dari sebagian yang lain, sebagaimana kesesatan dan kesengsaraan saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan yang satu dari yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan dan api neraka” (Al-Qamar: 47). As-su’ur adalah jamak dari sa’ir, yaitu azab yang merupakan puncak kesengsaraan.
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya akan Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf: 179).
Dan Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala'” (Al-Mulk: 10).
Dan di antara hal ini adalah bahwa Allah Yang Maha Suci menggabungkan antara petunjuk dengan lapangnya dada dan kehidupan yang baik, serta antara kesesatan dengan sempitnya dada dan kehidupan yang sempit.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit” (Al-An’am: 125).
Dan firman-Nya: “Dan apakah orang-orang yang dadanya telah dilapangkan oleh Allah untuk (memeluk) Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Az-Zumar: 22).
Demikian pula Allah menggabungkan antara petunjuk dengan inabah (kembali kepada Allah) dan antara kesesatan dengan kerasnya hati.
Allah Ta’ala berfirman: “Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya untuk (mendekatkan diri) kepada-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (Asy-Syura: 13).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi mereka yang keras hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (Az-Zumar: 22).
PASAL
Petunjuk, rahmat, dan segala yang mengikutinya dari kurnia dan nikmat, semuanya adalah dari sifat pemberian. Sedangkan kesesatan, azab, dan segala yang mengikutinya adalah dari sifat pencegahan. Dan Allah Yang Maha Suci mengendalikan makhluk-Nya antara pemberian-Nya dan pencegahan-Nya. Dan semua itu keluar dari hikmah yang sempurna, kepemilikan yang sempurna, dan pujian yang sempurna. Maka tidak ada Tuhan selain Allah.
PASAL
Apabila engkau melihat jiwa-jiwa yang bathil yang kosong dari keinginan dan pencarian terhadap urusan ini (yaitu akhirat) telah bergantung padanya dunia yang rendah ini dan telah bergantung padanya, maka serahkanlah kepadanya, karena itulah yang pantas baginya karena rusaknya susunannya. Dan janganlah engkau ukir padanya hal tersebut, karena sesungguhnya hal itu cepat terlepas darinya dan tetaplah kebergantugannya padanya setelah terputus darinya sebagai azab baginya sesuai dengan ketertarikan tersebut. Maka tetaplah syahwat dan keinginannya padanya padahal telah dihalangi antara dirinya dengan apa yang diinginkannya dengan cara yang membuatnya putus asa dari tercapainya syahwat dan kenikmatan. Seandainya orang yang berakal membayangkan apa yang ada dalam hal tersebut berupa rasa sakit dan penyesalan, niscaya ia akan segera memutuskan ketertarikan ini sebagaimana ia segera memotong sumber-sumber kerusakan. Dan dengan hal ini, sesungguhnya ia akan memperoleh bagiannya dari hal tersebut sedangkan hatinya dan perhatiannya terkait dengan tujuan yang lebih tinggi. Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.
Pasal Pertama
Berhati-hatilah terhadap kedustaan, karena kedustaan akan merusak gambaran pengetahuan sebagaimana mestinya dan akan merusak pemahaman serta pengajarannya kepada orang lain. Sesungguhnya orang yang berdusta menggambarkan yang tidak ada menjadi ada, yang ada menjadi tidak ada, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar, kebaikan menjadi kejahatan, dan kejahatan menjadi kebaikan. Maka rusaklah gambaran dan pengetahuannya sebagai hukuman baginya, kemudian dia menggambarkan hal tersebut kepada orang yang diajak bicara yang tertipu dan bergantung padanya, sehingga rusaklah gambaran dan pengetahuan orang tersebut.
Jiwa pendusta itu berpaling dari kebenaran yang ada, cenderung kepada ketiadaan, dan memilih kebatilan. Apabila telah rusak kekuatan gambaran dan pengetahuannya yang merupakan awal dari setiap perbuatan kehendak, maka rusaklah perbuatan-perbuatan tersebut dan merebaklah hukum kedustaan kepadanya, sehingga keluarnya perbuatan-perbuatan tersebut darinya seperti keluarnya kedustaan dari lisan. Maka dia tidak akan mendapat manfaat dari lisannya dan tidak pula dari perbuatan-perbuatannya.
Karena itulah kedustaan adalah dasar kefasikan, sebagaimana sabda Nabi: “Sesungguhnya kedustaan menuntun kepada kefasikan, dan sesungguhnya kefasikan menuntun kepada neraka.” Pertama kali kedustaan menjalar dari jiwa ke lisan lalu merusaknya, kemudian menjalar ke anggota-anggota tubuh sehingga merusak perbuatan-perbuatannya sebagaimana telah merusak perkataan-perkataan pada lisan. Maka meratatlah kedustaan pada perkataan, perbuatan, dan keadaan-keadaannya, sehingga mengokohkan kerusakan padanya dan penyakitnya merambat kepada kebinasaan jika Allah tidak menjumpainya dengan obat kejujuran yang mencabut semua itu dari akarnya.
Karena itulah asal segala amal hati adalah kejujuran, sedangkan lawan-lawannya seperti riya, ujub, sombong, membanggakan diri, takabur, angkuh, gila kehormatan, lemah, malas, pengecut, hina, dan lain-lainnya asal-usulnya adalah kedustaan. Maka setiap amal saleh lahir atau batin sumbernya adalah kejujuran, dan setiap amal rusak lahir atau batin sumbernya adalah kedustaan.
Allah Ta’ala menghukum pendusta dengan menghalanginya dan membuatnya malas dari kemaslahatan dan manfaat-manfaatnya, dan Allah memberikan balasan kepada orang yang jujur dengan memberikan taufik untuk melaksanakan kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Tidak ada yang dapat menarik kemaslahatan dunia dan akhirat seperti kejujuran, dan tidak ada yang mendatangkan kerusakan dan bahayanya seperti kedustaan.
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Surat At-Taubah: 119)
Dan Allah berfirman: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka.” (Surat Al-Maidah: 119)
Dan Allah berfirman: “Maka apabila telah bulat tekad (untuk berperang), kalau sekiranya mereka jujur terhadap Allah, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Surat Muhammad: 21)
Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beruzur dari kalangan Arab badui datang (kepada Nabi) agar diizinkan (tidak ikut berperang), dan orang-orang yang berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya tinggal (di rumah). Kelak akan menimpa orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.” (Surat At-Taubah: 90)
Pasal Kedua
Mengenai firman Allah Ta’ala: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Surat Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat ini terdapat beberapa hikmah, rahasia, dan kemaslahatan bagi hamba. Sesungguhnya hamba apabila mengetahui bahwa yang dibenci mungkin mendatangkan yang dicintai dan yang dicintai mungkin mendatangkan yang dibenci, dia tidak akan merasa aman bahwa kemudharatan akan datang dari sisi yang menggembirakan dan tidak akan putus asa bahwa kegembiraan akan datang dari sisi kemudharatan karena ketidaktahuannya tentang akibat-akibat, sebab Allah mengetahui darinya apa yang tidak diketahui hamba.
Hal ini mewajibkan beberapa perkara baginya, di antaranya: tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada mentaati perintah meskipun berat baginya pada mulanya, karena akibat-akibatnya semuanya adalah kebaikan, kegembiraan, kelezatan, dan kebahagiaan. Meskipun jiwanya membencinya, sesungguhnya itu baik dan lebih bermanfaat untuknya.
Demikian pula, tidak ada yang lebih berbahaya baginya daripada melanggar larangan meskipun jiwanya menginginkannya dan condong kepadanya. Sesungguhnya akibat-akibatnya semuanya adalah kesakitan, kesedihan, kejahatan, dan musibah. Kekhususan akal adalah menanggung kesakitan yang ringan karena kelezatan besar dan kebaikan yang banyak yang mengikutinya, serta menghindari kelezatan yang ringan karena kesakitan besar dan keburukan yang panjang yang mengikutinya.
Pandangan orang jahil tidak melampaui permulaan-permulaan hingga tujuan-tujuannya, sedangkan orang yang berakal dan cerdas senantiasa melihat kepada tujuan-tujuan dari balik tirai-tirai permulaannya. Dia melihat apa yang ada di balik tirai-tirai tersebut dari tujuan-tujuan yang terpuji dan tercela. Dia melihat larangan-larangan seperti makanan lezat yang telah dicampur dengan racun pembunuh, sehingga setiap kali kelezatannya mengajaknya untuk memakannya, racun yang ada di dalamnya melarangnya. Dan dia melihat perintah-perintah seperti obat yang pahit rasanya namun menuju kepada kesehatan dan kesembuhan, sehingga setiap kali kepahamannya melarangnya dari meminumnya, manfaatnya memerintahkannya untuk meminumnya.
Namun ini memerlukan kelebihan ilmu untuk mengetahui tujuan-tujuan dari permulaannya, dan kekuatan sabar untuk membiasakan dirinya menanggung kesulitan jalan karena apa yang akan diperoleh di akhir tujuan. Apabila dia kehilangan keyakinan dan kesabaran, maka sulit baginya hal tersebut. Dan apabila keyakinan dan kesabarannya kuat, maka mudah baginya setiap kesulitan yang ditanggungnya dalam mencari kebaikan yang kekal dan kelezatan yang kekal.
Di antara rahasia ayat ini adalah bahwa ayat ini menghendaki dari hamba untuk menyerahkan urusan kepada Zat yang mengetahui akibat-akibat perkara dan ridha dengan apa yang dipilih-Nya untuknya dan ditentukannya untuknya karena mengharapkan baiknya akibat di dalamnya. Dan di antaranya adalah bahwa dia tidak mengusulkan kepada Tuhannya dan tidak memilih atasnya serta tidak meminta apa yang tidak diketahuinya, karena mungkin kemudharatan dan kehancurannya ada di dalamnya sedangkan dia tidak mengetahui. Maka dia tidak memilih atas Tuhannya sesuatu apa pun, tetapi meminta-Nya baik pilihan untuknya dan agar Dia meridhainya dengan apa yang dipilih-Nya. Tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada itu.
Di antaranya adalah bahwa apabila dia menyerahkan kepada Tuhannya dan ridha dengan apa yang dipilih-Nya untuknya, Dia akan membantunya dalam apa yang dipilih-Nya untuknya dengan kekuatan, tekad, dan kesabaran, serta menghindarkan darinya bencana-bencana yang merupakan akibat pilihan hamba untuk dirinya sendiri. Dan Dia akan memperlihatkan kepadanya kebaikan akibat pilihan-Nya untuknya yang tidak mungkin dia mencapai sebagiannya dengan apa yang dipilihnya untuk dirinya sendiri.
Pasal Ketiga
Tidak akan mendapat manfaat dari nikmat Allah berupa iman dan ilmu kecuali orang yang mengenal dirinya dan berdiri pada kadarnya, tidak melampaui batas kepada apa yang bukan haknya, tidak melewati batas kemampuannya, tidak berkata “ini milikku”, dan yakin bahwa itu adalah milik Allah, dengan Allah, dan dari Allah. Maka itu adalah iman kepada-Nya, permulaan dan kelanjutan, tanpa sebab dari hamba dan tanpa hak darinya.
Maka nikmat-nikmat Allah membuatnya rendah hati dan mematahkannya dengan kerendahan orang yang tidak melihat bagi dirinya dan tidak pada dirinya kebaikan sama sekali, dan bahwa kebaikan yang sampai kepadanya adalah milik Allah, dengan-Nya, dan dari-Nya. Maka nikmat-nikmat menghasilkan baginya kerendahan hati dan kepatahan yang menakjubkan yang tidak dapat diungkapkan. Setiap kali Allah memperbarui nikmat untuknya, bertambahlah kerendahan hati, kepatahan, kekhusyukan, kecintaan, ketakutan, dan pengharapan.
Ini adalah hasil dari dua ilmu yang mulia: ilmunya tentang Tuhannya dan kesempurnaan-Nya, kebaikan-Nya, kekayaan-Nya, kedermawanan-Nya, ihsan-Nya, dan rahmat-Nya, dan bahwa segala kebaikan ada di tangan-Nya dan itu adalah milik-Nya, diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dicegah dari siapa yang dikehendaki-Nya, dan bagi-Nya segala puji atas ini dan itu – itulah pujian yang paling sempurna dan paling lengkap.
Dan ilmunya tentang dirinya dan mengetahui batas dan kadarnya, kekurangannya, kezalimannya, dan kebodohannya, dan bahwa tidak ada kebaikan padanya sama sekali, tidak untuknya, tidak dengannya, dan tidak darinya, dan bahwa tidak ada padanya dari zatnya kecuali ketiadaan. Demikian pula dari sifat-sifat dan kesempurnaannya, tidak ada padanya kecuali ketiadaan yang tidak ada yang lebih hina dan kurang darinya. Maka kebaikan yang ada padanya mengikuti wujudnya yang bukan kepadanya dan bukan dengannya.
Apabila kedua ilmu ini menjadi tabiat baginya, bukan hanya ucapan di lidahnya, maka dia mengetahui saat itu bahwa segala puji adalah milik Allah, segala urusan adalah milik-Nya, segala kebaikan ada di tangan-Nya, dan bahwa Dia-lah yang berhak atas pujian, sanjungan, dan pujian tanpa dirinya, dan bahwa dia lebih berhak dengan celaan, aib, dan teguran.
Barang siapa yang tidak mencapai kebenaran dengan kedua ilmu ini, maka berubahlah perkataan, perbuatan, dan keadaan-keadaannya, dan dia akan bingung dan tidak mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang menghantarkannya kepada Allah. Maka sampainya hamba adalah dengan merealisasikan kedua pengetahuan ini secara ilmu dan keadaan, dan terputusnya dengan kehilangannya.
Inilah makna perkataan mereka: “Barang siapa yang mengenal dirinya, dia mengenal Tuhannya.” Sesungguhnya barang siapa yang mengenal dirinya dengan kebodohan, kezaliman, aib, kekurangan, kebutuhan, kefakiran, kehinaan, kemiskinan, dan ketiadaan, dia mengenal Tuhannya dengan kebalikan dari itu. Maka dia berdiri dengan dirinya pada kadarnya dan tidak melampaui batas dengannya, serta memuji Tuhannya dengan sebagian dari apa yang Dia layak dapatkan. Dan tertujulah kekuatan cinta, takut, harap, taubat, dan tawakkalnya kepada-Nya semata. Dan Dia menjadi yang paling dicintai dan paling ditakuti serta paling diharapkan olehnya. Inilah hakikat penghambaan. Dan Allah yang dimohon pertolongan.
Dikisahkan bahwa sebagian orang bijak menulis di pintu rumahnya: “Sesungguhnya tidak akan mendapat manfaat dari hikmah kami kecuali orang yang mengenal dirinya dan berdiri dengannya pada kadarnya. Barang siapa yang demikian, silakan masuk, dan jika tidak, kembalilah hingga memiliki sifat ini.”
Pasal Keempat
Bersabar dari syahwat lebih mudah daripada bersabar atas apa yang diwajibkan syahwat, karena syahwat itu mewajibkan salah satu dari beberapa hal: kesakitan dan hukuman; memutus kelezatan yang lebih sempurna darinya; menyia-nyiakan waktu yang penyia-nyiaannya adalah penyesalan dan sesal; melukai kehormatan yang menjaganya lebih bermanfaat bagi hamba daripada melukainya; menghilangkan harta yang kekal lebih baik baginya daripada hilang; menurunkan kedudukan dan pangkat yang tegaknya lebih baik daripada jatuhnya; menghilangkan nikmat yang kekekalan lebih nikmat dan baik daripada memenuhi syahwat; membuka jalan bagi orang hina untuk mencapainya yang sebelumnya tidak bisa dia temukan; mendatangkan kerisauan, kesedihan, kesusahan, dan ketakutan yang tidak sebanding dengan kelezatan syahwat; melupakan ilmu yang mengingatnya lebih nikmat daripada meraih syahwat; membahagiakan musuh dan menyedihkan wali; memutus jalan nikmat yang akan datang; atau menimbulkan aib yang tetap menjadi sifat yang tidak hilang, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan melahirkan sifat-sifat dan akhlak.
Pasal Pertama: Tentang Batas-Batas Akhlak
Setiap akhlak memiliki batas, apabila melampaui batas tersebut akan menjadi kezaliman, dan apabila kurang dari batas tersebut akan menjadi kekurangan dan kehinaan.
Untuk amarah ada batasnya, yaitu keberanian yang terpuji dan rasa malu terhadap keburukan dan kekurangan. Inilah kesempurnaannya. Apabila melampaui batasnya, maka pemiliknya akan berbuat zalim dan melampaui batas. Dan apabila kurang dari batasnya, maka akan menjadi pengecut dan tidak merasa malu terhadap keburukan.
Untuk keserakahan ada batasnya, yaitu kecukupan dalam urusan dunia dan memperoleh kebutuhan darinya. Apabila kurang dari itu, maka akan menjadi kehinaan dan penyia-nyiaan. Dan apabila berlebihan darinya, maka akan menjadi rakus dan keinginan terhadap sesuatu yang tidak terpuji untuk diinginkan.
Untuk hasad (iri hati) ada batasnya, yaitu bersaing dalam mencari kesempurnaan dan rasa malu apabila orang yang setara dengannya mendahului dirinya. Apabila melampaui itu, maka akan menjadi kedengkian dan kezaliman yang bersamanya berharap hilangnya nikmat dari orang yang dihasad dan berusaha menyakitinya. Dan apabila kurang dari itu, maka akan menjadi kerendahan, lemahnya semangat, dan kecilnya jiwa.
Nabi bersabda: “Tidak ada hasad (yang dibolehkan) kecuali dalam dua hal: seseorang yang Allah berikan harta kepadanya lalu dia menguasainya untuk kehancurannya dalam kebenaran, dan seseorang yang Allah berikan hikmah kepadanya lalu dia memutuskan dengan hikmah tersebut dan mengajarkannya kepada manusia.” Ini adalah hasad persaingan yang menuntut orang yang berhasad agar dirinya menjadi seperti orang yang dihasad, bukan hasad kehinaan yang berharap hilangnya nikmat dari orang yang dihasad.
Untuk syahwat ada batasnya, yaitu istirahat hati dan akal dari lelahnya ketaatan dan memperoleh keutamaan-keutamaan serta meminta pertolongan dengan memenuhinya untuk hal tersebut. Apabila berlebihan dari itu, maka akan menjadi kerakusan dan nafsu berahi, dan pemiliknya akan berada pada derajat hewan. Dan apabila kurang darinya, padahal tidak ada kekosongan dalam mencari kesempurnaan dan keutamaan, maka akan menjadi kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan.
Untuk istirahat ada batasnya, yaitu menyegarkan jiwa dan kekuatan-kekuatan yang dapat memahami dan bertindak untuk persiapan ketaatan dan memperoleh keutamaan-keutamaan serta menyimpan tenaga untuk hal tersebut, sehingga kelelahan dan kepayahan tidak melemahkan daya dan mengurangi pengaruhnya. Apabila berlebihan dari itu, maka akan menjadi kemalasan dan kelalaian serta penyia-nyiaan, dan akan hilang dengannya sebagian besar kemaslahatan hamba. Dan apabila kurang darinya, maka akan membahayakan kekuatan-kekuatan dan melemahkannya, bahkan mungkin akan terputus dengannya seperti orang yang kelelahan yang tidak berhasil memotong tanah dan tidak pula menyisakan punggung (kendaraan).
Kedermawanan memiliki batas di antara dua ujung. Apabila melampaui batasnya, maka akan menjadi pemborosan dan penyia-nyiaan. Dan apabila kurang darinya, maka akan menjadi kebakhilan dan kekikiran.
Untuk keberanian ada batasnya. Apabila melampaui batasnya, maka akan menjadi kecerobohan. Dan apabila kurang darinya, maka akan menjadi pengecut dan lemah. Batasnya adalah maju di tempat-tempat yang seharusnya maju dan mundur di tempat-tempat yang seharusnya mundur.
Sebagaimana Muawiyah berkata kepada Amr bin Ash: “Aku tidak tahu apakah engkau pemberani atau pengecut. Engkau maju hingga aku katakan engkau adalah orang paling berani, dan engkau mundur hingga aku katakan engkau adalah orang paling pengecut.” Maka Amr menjawab: “Pemberani jika ada kesempatan bagiku, namun jika tidak ada kesempatan bagiku, maka aku pengecut.”
Untuk ghirah (cemburu) ada batasnya. Apabila melampaui batasnya, maka akan menjadi prasangka dan sangka buruk terhadap orang yang tidak bersalah. Dan apabila kurang darinya, maka akan menjadi mengabaikan dan permulaan dayuts (tidak memiliki ghirah).
Untuk tawadhu (rendah hati) ada batasnya. Apabila melampaui batasnya, maka akan menjadi kehinaan dan penghinaan. Dan apabila kurang darinya, maka akan condong kepada kesombongan dan kemegahan.
Untuk kemuliaan ada batasnya. Apabila melampaui batasnya, maka akan menjadi kesombongan dan akhlak yang tercela. Dan apabila kurang darinya, maka akan condong kepada kehinaan dan penghinaan.
Pengendali semua ini adalah keadilan, yaitu mengambil pertengahan yang ditempatkan di antara dua ujung berlebihan dan kekurangan. Atas dasar inilah dibangun kemaslahatan dunia dan akhirat. Bahkan kemaslahatan badan tidak dapat tegak kecuali dengannya. Sesungguhnya apabila sebagian campuran (dalam tubuh) keluar dari keadilan dan melampaui atau kurang darinya, maka akan hilang dari kesehatannya dan kekuatannya sesuai dengan hal tersebut.
Demikian pula perbuatan-perbuatan alami seperti tidur dan begadang, makan dan minum, bersetubuh, bergerak dan olahraga, menyendiri dan bergaul, dan lain sebagainya. Apabila berada di tengah-tengah antara dua ujung yang tercela, maka akan menjadi adil. Dan apabila condong kepada salah satunya, maka akan menjadi kekurangan dan menghasilkan kekurangan.
Maka di antara ilmu yang paling mulia dan paling bermanfaat adalah ilmu tentang batas-batas, terutama batas-batas syariat yang diperintahkan dan yang dilarang. Orang yang paling berilmu adalah yang paling mengetahui batas-batas tersebut, sehingga tidak memasukkan ke dalamnya apa yang bukan termasuk di dalamnya dan tidak mengeluarkan darinya apa yang termasuk di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang Arab Badui itu lebih keras kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih pantas untuk tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.” (Surat At-Taubah, ayat 97)
Maka orang yang paling adil adalah yang menegakkan batas-batas akhlak, perbuatan, dan syariat-syariat dengan pengetahuan dan pelaksanaan. Dan kepada Allah-lah pertolongan diminta.
Pasal Kedua: Tentang Pemahaman Abu Darda tentang Ibadah
Abu Darda radhiyallahu anhu berkata: “Alangkah baiknya tidur orang-orang cerdas dan berbuka puasa mereka. Bagaimana mereka bisa mengalahkan dengan itu shalat malam orang-orang bodoh dan puasa mereka. Dan sebuah zarah dari pemilik takwa lebih baik daripada gunung-gunung ibadah dari orang-orang yang tertipu.”
Ini termasuk permata perkataan dan paling menunjukkan kesempurnaan fikih para sahabat dan keunggulan mereka atas orang-orang setelah mereka dalam segala kebaikan, radhiyallahu anhum.
Ketahuilah bahwa hamba hanya menempuh perjalanan menuju Allah dengan hati dan semangatnya, bukan dengan badannya. Dan takwa yang sebenarnya adalah takwa hati, bukan takwa anggota badan.
Allah Ta’ala berfirman: “Demikian (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Surat Al-Hajj, ayat 32)
Dan Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Surat Al-Hajj, ayat 37)
Dan Nabi bersabda: “Takwa itu di sini,” dan beliau menunjuk ke dadanya.
Maka orang yang cerdas menempuh jarak perjalanan dengan sahihnya tekad, tingginya semangat, memurnikan maksud, dan sahihnya niat bersama sedikit amal, berkali-kali lipat dari apa yang ditempuh oleh orang yang kosong dari hal tersebut dengan kelelahan yang banyak dan perjalanan yang berat.
Sesungguhnya tekad dan kecintaan menghilangkan kesulitan dan menyenangkan perjalanan. Dan kemajuan serta mendahului kepada Allah Subhanahu hanyalah dengan semangat, ketulusan keinginan, dan tekad. Maka orang yang memiliki semangat tinggi akan mendahului orang yang banyak beramal walaupun dia diam. Apabila dia menyamainya dalam semangat, maka dia akan mendahuluinya dengan amalnya.
Ini adalah tempat yang memerlukan penjelasan yang sesuai dengan Islam dan Ihsan.
Maka petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah. Beliau memberikan hak kepada masing-masing dari keduanya. Beliau dengan kesempurnaannya, iradat, dan keadaan-keadaannya bersama Allah, beliau shalat hingga kedua kakinya bengkak, puasa hingga dikatakan beliau tidak berbuka, berjihad di jalan Allah, bergaul dengan para sahabat dan tidak bersekat dari mereka, dan tidak meninggalkan sesuatu pun dari sunnah-sunnah dan wirid-wirid karena datangnya inspirasi-inspirasi yang tidak mampu dipikul oleh kekuatan manusia.
Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya agar menegakkan syariat-syariat Islam di lahir mereka dan hakikat-hakikat iman di batin mereka. Dan Dia tidak menerima salah satunya kecuali dengan pasangannya.
Dalam Musnad secara marfu’: “Islam itu lahiriah dan iman itu di dalam hati.”
Maka setiap Islam lahir yang pemiliknya tidak menembus darinya kepada hakikat iman batin, maka tidak bermanfaat hingga bersamanya ada sesuatu dari iman batin. Dan setiap hakikat batin yang pemiliknya tidak menegakkan syariat-syariat Islam yang lahir, maka tidak bermanfaat walaupun apapun itu.
Seandainya hati terkoyak karena kecintaan dan ketakutan, namun tidak beribadah dengan perintah dan lahir syariat, maka hal itu tidak menyelamatkannya dari neraka. Sebagaimana apabila dia menegakkan lahiriah Islam namun tidak ada di batinnya hakikat iman, maka tidak menyelamatkannya dari neraka.
Apabila telah dipahami ini, maka orang-orang yang jujur yang berjalan menuju Allah dan negeri akhirat terbagi menjadi dua bagian:
Bagian pertama: mereka menyibukkan waktu yang tersisa setelah fardu-fardu kepada sunnah-sunnah badaniah dan menjadikannya kebiasaan mereka tanpa semangat dari mereka untuk merealisasikan amal-amal hati, tempat-tempatnya, dan hukum-hukumnya, walaupun mereka tidak kosong dari asalnya. Namun semangat mereka tersibuk kepada memperbanyak amal-amal.
Bagian kedua: mereka menyibukkan waktu yang tersisa dari fardu-fardu dan sunnah-sunnah kepada perhatian terhadap kebaikan hati-hati mereka, iktikafnya kepada Allah semata, berkumpul kepada-Nya, menjaga khatir-khatir dan iradat-iradat bersama-Nya, dan menjadikannya kekuatan untuk beribadah dengan amal-amal hati seperti membenarkan kecintaan, ketakutan, harapan, tawakal, inabah. Dan mereka melihat bahwa sedikit bagian dari inspirasi-inspirasi yang datang kepada hati-hati mereka dari Allah lebih mereka cintai daripada banyak tathawwu’ badaniah.
Apabila terjadi pada salah seorang dari mereka kumpulan dan inspirasi berupa ketenangan atau kecintaan atau kerinduan atau kepatahan dan kehinaan, dia tidak menukarnya dengan sesuatu selainnya sama sekali, kecuali datang perintah maka dia segera melaksanakannya dengan inspirasi tersebut jika memungkinkan. Jika tidak, dia segera melaksanakan perintah walaupun inspirasi tersebut hilang.
Apabila datang sunnah-sunnah, maka di sinilah tempat pertarungan keraguan. Jika memungkinkan melaksanakannya dengan inspirasi tersebut, maka itulah yang terbaik. Jika tidak, dia melihat mana yang lebih utama dan lebih dicintai Allah: apakah melaksanakan sunnah tersebut walaupun inspirasi hilang, seperti menolong orang yang kesusahan, memberi petunjuk orang yang sesat, menyembuhkan orang yang patah hati, mendapat manfaat iman, dan semacamnya. Maka di sini seharusnya mendahulukan sunnah yang lebih utama.
Apabila dia mendahulukannya karena Allah dengan keinginan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya, maka Allah akan mengembalikan kepadanya apa yang hilang dari inspirasinya lebih kuat dari sebelumnya di waktu yang lain. Dan apabila inspirasi lebih utama dari sunnah, maka bijaksana baginya adalah meneruskan inspirasinya hingga hilang darinya. Sesungguhnya inspirasi akan hilang sedangkan sunnah tidak akan hilang.
Ini adalah tempat yang memerlukan fikih yang lebih dalam jalan, tingkatan-tingkatan amal, dan mendahulukan yang lebih penting dari yang penting. Allah-lah yang memberi taufik untuk itu, tidak ada Tuhan selain-Nya dan tidak ada Rabb selain-Nya.
Pasal Ketiga: Tentang Asal Akhlak Terpuji dan Tercela
Asal semua akhlak tercela adalah kesombongan, kehinaan, dan kerendahan. Sedangkan asal semua akhlak terpuji adalah khusyu’ dan tingginya semangat.
Maka kemegahan, keangkuhan, kesombongan, ujub, hasad, kedengkian, kekejian, kezaliman, kekerasan hati, kesombongan, berpaling, menolak menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kemuliaan, cinta jabatan dan kepemimpinan, ingin dipuji karena yang tidak dilakukan, dan semacamnya, semuanya timbul dari kesombongan.
Adapun kebohongan, kehinaan, khianat, riya, tipu daya, penipuan, tamak, ketakutan, pengecut, bakhil, ketidakmampuan, kemalasan, hina kepada selain Allah, menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik, dan semacamnya, maka semua itu dari kehinaan, kerendahan, dan kecilnya jiwa.
Adapun akhlak-akhlak yang mulia seperti sabar, keberanian, keadilan, muru’ah, iffah, menjaga diri, kedermawanan, hilm, maaf, lapang dada, menahan diri, mengutamakan orang lain, mulia jiwa dari kerendahan, tawadhu, qana’ah, kejujuran, akhlak baik, membalas kebaikan dengan yang serupa atau lebih baik, mengabaikan kesalahan manusia, meninggalkan kesibukan dengan yang tidak berguna, dan selamatnya hati dari akhlak-akhlak tercela tersebut dan semacamnya, maka semuanya timbul dari khusyu’ dan tingginya semangat.
Allah Subhanahu memberitakan tentang bumi bahwa ia menjadi khusyu’ kemudian diturunkan air kepadanya lalu ia bergetar, tumbuh, dan mengambil perhiasan serta kecantikannya. Demikian pula makhluk darinya apabila mendapat bagiannya dari taufik.
Adapun api, maka tabiatnya adalah tinggi dan merusak, kemudian padam dan menjadi sesuatu yang paling hina dan rendah. Demikian pula makhluk darinya. Api selalu antara tinggi ketika berkobar dan bergetar, dan antara hina dan rendah ketika padam dan tenang.
Akhlak tercela mengikuti api dan makhluk darinya. Akhlak mulia mengikuti bumi dan makhluk darinya. Maka siapa yang tinggi semangatnya dan khusyu’ jiwanya, dia akan bersifat dengan setiap akhlak yang indah. Dan siapa yang rendah semangatnya dan melampaui batas jiwanya, dia akan bersifat dengan setiap akhlak yang buruk.
Pasal Keempat: Tentang Pencapaian Tujuan Tertinggi
Tujuan tertinggi, tercapainya tergantung pada semangat yang tinggi dan niat yang benar. Siapa yang kehilangan keduanya, maka sulit baginya untuk mencapainya.
Sesungguhnya apabila semangat tinggi, maka akan terkait kepada-Nya saja tanpa yang lain. Dan apabila niat benar, maka hamba akan menempuh jalan yang mengantarkan kepadanya.
Niat menyendirikan jalan untuknya, dan semangat menyendirikan tujuan untuknya. Apabila tujuannya dan jalan yang mengantarkan kepadanya menjadi satu, maka pencapaian adalah tujuannya.
Dan apabila semangatnya rendah, maka akan terkait dengan hal-hal rendah dan tidak terkait dengan tujuan tertinggi. Dan apabila niat tidak benar, maka jalannya tidak mengantarkan kepadanya.
Bab dari Perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Seorang laki-laki berkata di hadapannya: “Saya tidak ingin menjadi golongan ashab al-yamin (golongan kanan), saya ingin menjadi golongan muqarrabin (yang didekatkan).” Maka Abdullah berkata: “Tetapi di sini ada seorang laki-laki yang berharap seandainya dia mati dan tidak dibangkitkan lagi” – maksudnya dirinya sendiri.
Suatu hari dia keluar, lalu beberapa orang mengikutinya. Dia berkata kepada mereka: “Apakah kalian punya keperluan?” Mereka menjawab: “Tidak, tetapi kami ingin berjalan bersamamu.” Dia berkata: “Kembalilah, karena sesungguhnya ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”
Dia berkata: “Seandainya kalian mengetahui tentang diriku apa yang aku ketahui tentang diriku, niscaya kalian akan menabur tanah di atas kepalaku.”
Dia berkata: “Alangkah baiknya dua hal yang dibenci: kematian dan kemiskinan. Demi Allah, tidak ada selain kekayaan dan kemiskinan. Aku tidak peduli dengan yang mana dari keduanya aku diuji, aku berharap kepada Allah dalam masing-masing keduanya. Jika kekayaan, maka di dalamnya ada kedermawanan. Jika kemiskinan, maka di dalamnya ada kesabaran.”
Dia berkata: “Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan siang dan malam dengan ajal yang terus berkurang dan amal yang terus dicatat. Kematian datang tiba-tiba. Barangsiapa menanam kebaikan, maka dia akan segera menuai keinginannya. Barangsiapa menanam keburukan, maka dia akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam akan mendapat seperti apa yang ditanamnya. Yang lambat tidak akan mendahului bagiannya, dan yang rakus tidak akan mencapai apa yang tidak ditakdirkan untuknya. Barangsiapa diberi kebaikan, maka Allah yang memberinya. Barangsiapa dijauhkan dari keburukan, maka Allah yang menjauhkannya.”
“Orang-orang bertakwa adalah para pemimpin, para ulama adalah para penunjuk jalan, dan bergaul dengan mereka adalah tambahan (kebaikan).”
“Sesungguhnya hanya ada dua perkara: petunjuk dan perkataan. Sebaik-baik perkataan adalah kalam Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru (bid’ah), setiap yang baru adalah bid’ah.”
“Janganlah masa yang panjang membuat kalian lalai, dan jangan sampai angan-angan menipu kalian, karena setiap yang akan datang itu dekat. Yang jauh adalah yang tidak akan datang. Orang celaka adalah yang celaka di perut ibunya. Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain.”
“Ketahuilah, sesungguhnya memerangi muslim adalah kekafiran, mencacinya adalah kefasikan. Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, hingga dia mengucapkan salam kepadanya ketika bertemu, menjawab panggilannya ketika dipanggil, dan menjenguknya ketika sakit.”
“Ketahuilah, sesungguhnya seburuk-buruk riwayat adalah riwayat dusta. Ketahuilah, dusta tidak baik, baik dalam keseriusan maupun candaan, dan tidak baik seseorang menjanjikan sesuatu kepada anaknya kemudian tidak menepatinya.”
“Ketahuilah, dusta mengarah kepada kefasikan, dan kefasikan mengarah kepada neraka. Kejujuran mengarah kepada kebaikan, dan kebaikan mengarah kepada surga. Sesungguhnya orang yang jujur dikatakan: ‘jujur dan berbakti’, sedangkan orang yang dusta dikatakan: ‘dusta dan fasik’.”
“Muhammad telah menceritakan kepada kami bahwa seseorang senantiasa jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq), dan dia senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
“Sesungguhnya sebenar-benar hadits adalah Kitab Allah, seerat-erat tali adalah kalimat takwa, sebaik-baik agama adalah agama Ibrahim, sebaik-baik sunnah adalah sunnah Muhammad, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk para nabi, semulia-mulia perkataan adalah dzikir kepada Allah, sebaik-baik kisah adalah Al-Quran, sebaik-baik perkara adalah akibatnya, dan seburuk-buruk perkara adalah bid’ah-bid’ahnya.”
“Apa yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada yang banyak tetapi melalaikan. Jiwa yang kau selamatkan lebih baik daripada kepemimpinan yang tidak dapat kau hitung. Seburuk-buruk uzur adalah ketika kematian hadir. Seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat. Seburuk-buruk kesesatan adalah kesesatan setelah hawa nafsu.”
“Sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa. Sebaik-baik bekal adalah takwa. Sebaik-baik yang dilemparkan ke dalam hati adalah keyakinan. Keraguan adalah bagian dari kekafiran. Seburuk-buruk kebutaan adalah kebutaan hati.”
“Khamar adalah kumpulan dosa. Wanita adalah jerat setan. Masa muda adalah cabang dari kegilaan. Meratap adalah perbuatan jahiliyah.”
“Di antara manusia ada yang tidak datang ke shalat Jumat kecuali di bagian akhir, dan tidak berdzikir kepada Allah kecuali dengan lalai.”
“Dosa yang paling besar adalah dusta. Barangsiapa memaafkan, Allah akan memaafkannya. Barangsiapa menahan amarah, Allah akan memberinya pahala. Barangsiapa memaafkan, Allah akan memaafkannya. Barangsiapa sabar atas musibah, Allah akan memberinya ganti.”
“Seburuk-buruk pencaharian adalah riba. Seburuk-buruk makanan adalah harta anak yatim. Sesungguhnya cukup bagi salah seorang kalian apa yang membuatnya qana’ah (merasa cukup). Sesungguhnya dia hanya akan kembali kepada empat hasta, dan urusan kepada akhirnya. Penentu amal adalah penutupnya.”
“Semulia-mulia kematian adalah terbunuhnya para syuhada. Barangsiapa menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah, berarti dia taat kepada setan.”
“Seyogyanya bagi pembawa Al-Quran dikenal dengan malamnya ketika orang-orang tidur, dengan siangnya ketika orang-orang berbuka, dengan kesedihannya ketika orang-orang bergembira, dengan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dengan diamnya ketika orang-orang membicarakan hal sia-sia, dan dengan khusyuknya ketika orang-orang sombong.”
“Seyogyanya bagi pembawa Al-Quran menjadi orang yang menangis, sedih, bijaksana, sabar, dan tenang. Tidak seyogyanya bagi pembawa Al-Quran menjadi kasar, lalai, suka bertengkar, suka berteriak, atau keras.”
“Barangsiapa meninggikan diri karena sombong, Allah akan merendahkannya. Barangsiapa merendah karena tawadhu, Allah akan meninggikannya.”
“Sesungguhnya malaikat memiliki bisikan dan setan memiliki bisikan. Bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Jika kalian melihat hal itu, maka berhambulah kepada Allah. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Jika kalian melihat hal itu, maka berlindunglah kepada Allah.”
“Sesungguhnya manusia telah pandai berbicara. Barangsiapa yang sesuai perkataannya dengan perbuatannya, maka itulah yang mendapat bagiannya. Barangsiapa yang bertentangan perkataannya dengan perbuatannya, maka dia hanya mencela dirinya sendiri.”
“Jangan sampai aku mendapati salah seorang kalian menjadi bangkai di malam hari dan qitrib (setan kecil) di siang hari. Sesungguhnya aku membenci seorang laki-laki jika aku melihatnya menganggur, tidak dalam sesuatu dari pekerjaan dunia dan tidak pula pekerjaan akhirat.”
“Barangsiapa yang shalatnya tidak menyuruhnya berbuat ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang mungkar, maka dia tidak bertambah apa-apa kecuali jauh dari Allah.”
“Termasuk keyakinan adalah: jangan menyenangkan manusia dengan murka Allah, jangan memuji seseorang atas rezeki Allah, dan jangan menyalahkan seseorang atas apa yang tidak Allah berikan kepadamu. Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat didatangkan oleh kerakusan orang yang rakus dan tidak dapat ditolak oleh kebencian orang yang benci.”
“Sesungguhnya Allah dengan keadilan, kesabaran, dan keadilan-Nya menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam keyakinan dan ridha, serta menjadikan kesedihan dan duka dalam keraguan dan kemarahan.”
“Selama kamu dalam shalat, maka kamu sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, pintu akan dibukakan untuknya.”
“Sesungguhnya aku menganggap seorang laki-laki lupa ilmu yang pernah dipelajarinya karena dosa yang dikerjakannya.”
“Jadilah kalian mata air ilmu, pelita petunjuk, penghuni rumah, pelita malam, hati yang baru, pakaian yang usang. Kalian dikenal di langit dan tersembunyi dari penduduk bumi.”
“Sesungguhnya hati memiliki syahwat dan keengganan. Manfaatkanlah ketika ada syahwat dan kecenderungannya, dan biarkanlah ketika ada keengganan dan kemundurannya.”
“Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut (kepada Allah).”
“Sesungguhnya kalian melihat orang kafir memiliki tubuh yang paling sehat tetapi hatinya paling sakit. Kalian melihat orang mukmin memiliki hati yang paling sehat tetapi tubuhnya paling sakit. Demi Allah, seandainya hati kalian sakit dan tubuh kalian sehat, niscaya kalian lebih hina di sisi Allah daripada kumbang tanah.”
“Seorang hamba tidak mencapai hakikat iman hingga dia mencapai puncaknya. Dia tidak mencapai puncaknya hingga kemiskinan lebih dicintainya daripada kekayaan, tawadhu lebih dicintainya daripada kemuliaan, hingga orang yang memujinya dan yang mencacinya sama saja baginya.”
“Sesungguhnya seorang laki-laki keluar dari rumahnya dengan membawa agamanya, lalu dia pulang tanpa membawa apa-apa darinya. Dia mendatangi seorang laki-laki yang tidak memiliki kemampuan memberi mudarat atau manfaat baginya dan bagi dirinya sendiri, lalu dia bersumpah kepadanya dengan nama Allah: ‘Sungguh kamu telah begini dan begitu’, lalu dia pulang tanpa mendapat apa-apa dari keperluannya dan Allah murka kepadanya.”
“Seandainya aku mengejek seekor anjing, niscaya aku khawatir akan diubah menjadi anjing.”
“Dosa adalah penghalang hati. Apa yang berupa pandangan, maka setan memiliki harapan di dalamnya.”
“Bersama setiap kegembiraan ada kesedihan. Tidak ada rumah yang dipenuhi kesenangan kecuali akan dipenuhi pelajaran. Tidak ada di antara kalian kecuali tamu, dan hartanya adalah pinjaman. Tamu akan pergi, dan pinjaman akan dikembalikan kepada pemiliknya.”
“Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang paling utama amal mereka adalah saling menyalahkan di antara mereka. Mereka disebut orang-orang yang hina.”
Jika seseorang ingin berbuat adil terhadap dirinya sendiri, hendaklah seseorang bertindak kepada orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan. Kebenaran itu berat dan pahit, sedangkan kebatilan itu ringan dan manis. Setiap syahwat yang menyenangkan akan mewariskan kesedihan yang panjang.
Tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih membutuhkan penjara yang panjang daripada lisan. Apabila zina dan riba muncul di suatu kampung, maka sungguh telah diizinkan kehancurannya.
Barangsiapa di antara kalian yang mampu menjadikan hartanya sebagai simpanan di langit, di mana ngengat tidak dapat memakannya dan pencuri tidak dapat meraihnya, maka hendaklah dia melakukannya. Sesungguhnya hati seseorang berada di tempat hartanya berada.
Janganlah salah seorang dari kalian meniru agama seseorang, jika orang itu beriman maka dia beriman, dan jika orang itu kafir maka dia kafir. Jika kalian harus meniru, maka tirulah orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah.
Janganlah salah seorang dari kalian menjadi orang yang mudah terpengaruh (ammaah). Para sahabat bertanya: “Apakah ammaah itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang berkata: ‘Aku ikut orang-orang, jika mereka mendapat petunjuk maka aku mendapat petunjuk, dan jika mereka sesat maka aku sesat.’ Ketahuilah, hendaklah salah seorang dari kalian memantapkan dirinya bahwa jika manusia kafir, dia tidak akan kafir.”
Seorang laki-laki berkata kepadanya: “Ajarkanlah kepadaku kalimat-kalimat yang ringkas dan bermanfaat.” Maka beliau berkata: “Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Bergeraklah bersama Al-Quran ke mana pun Al-Quran bergerak. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah darinya meskipun dia jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolakla, meskipun dia dicintai dan dekat.”
Seorang hamba akan didatangkan pada hari kiamat, lalu dikatakan kepadanya: “Tunaikanlah amanatmu!” Dia berkata: “Wahai Tuhanku, dari mana, padahal dunia telah berlalu.” Maka amanat itu akan diwujudkan dalam bentuknya pada hari dia mengambilnya di dasar neraka Jahannam. Lalu dia tergelincir dan mengambilnya, kemudian meletakkannya di pundaknya dan naik dengannya. Ketika dia mengira akan keluar dengannya, amanat itu jatuh dan dia pun jatuh mengikutinya untuk selama-lamanya.
Carilah hatimu di tiga tempat: ketika mendengar Al-Quran, dalam majelis dzikir, dan di waktu-waktu menyendiri. Jika kamu tidak menemukannya di tempat-tempat ini, maka mintalah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu tidak memiliki hati.
Al-Junaid berkata: Aku masuk menemui seorang pemuda, lalu dia bertanya kepadaku tentang taubat. Aku menjawabnya. Kemudian dia bertanya tentang hakikat taubat. Aku berkata: “Yaitu engkau menempatkan dosamu di hadapan kedua matamu hingga datang kematian.” Dia berkata kepadaku: “Hei! Ini bukanlah hakikat taubat.” Aku berkata kepadanya: “Lalu apa hakikat taubat menurutmu, wahai pemuda?” Dia berkata: “Yaitu melupakan dosamu.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Lalu aku bertanya: “Bagaimana menurutmu, wahai Abu Qasim?” Aku berkata: “Perkataan pemuda itulah yang benar.” Dia bertanya: “Bagaimana?” Aku berkata: “Jika aku bersamanya dalam suatu keadaan, kemudian Dia memindahkanku dari keadaan kekerasan (jafa) menuju keadaan kesetiaan (wafa), lalu Dia mengingatkanku akan kekerasan dalam keadaan kesetiaan, maka itu adalah kekerasan.”
Bagian Kedua: Tentang Keikhlasan
Pasal: Keikhlasan dalam hati tidak dapat berkumpul dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain, kecuali sebagaimana berkumpulnya air dan api, atau ular dan ikan.
Jika jiwamu berbicara kepadamu untuk mencari keikhlasan, maka hadapilah tamak terlebih dahulu dan sembelihlah dengan pisau putus asa. Hadapilah pujian dan sanjungan, lalu berlakulah zuhud terhadap keduanya sebagaimana orang-orang yang cinta dunia berzuhud terhadap akhirat.
Jika telah lurus bagimu penyembelihan tamak dan zuhud terhadap sanjungan dan pujian, maka keikhlasan akan mudah bagimu. Jika kamu berkata: “Apakah yang akan memudahkan bagiku penyembelihan tamak dan zuhud terhadap sanjungan dan pujian?”
Aku katakan: Adapun penyembelihan tamak, yang memudahkannya bagimu adalah pengetahuanmu dengan yakin bahwa tidak ada sesuatu yang kamu tamaki kecuali perbendaharaannya ada di tangan Allah semata. Tidak ada yang memilikinya selain-Nya, dan tidak ada seorang hamba pun yang diberi sesuatu dari perbendaharaan itu kecuali dari-Nya.
Adapun zuhud terhadap sanjungan dan pujian, yang memudahkannya bagimu adalah pengetahuanmu bahwa tidak ada seorang pun yang pujiannya bermanfaat dan menghiasi, serta celanya berbahaya dan merusak, kecuali Allah semata. Sebagaimana yang dikatakan seorang Arab Badui kepada Nabi: “Sesungguhnya pujianku menghiasi dan celaanku merusak.” Maka Nabi berkata: “Yang demikian itu adalah Allah Azza wa Jalla.”
Maka berzuhudlah terhadap pujian orang yang pujiannya tidak menghiasimu, dan terhadap celaan orang yang celaannya tidak merusakmu. Dan berharaplah kepada pujian dari Dzat yang segala keindahan ada dalam pujian-Nya dan segala keburukan ada dalam celaan-Nya.
Tidak akan mampu melakukan hal itu kecuali dengan sabar dan yakin. Ketika kamu kehilangan kesabaran dan keyakinan, maka kamu seperti orang yang ingin bepergian di laut tanpa perahu.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkanmu.” (Ar-Rum: 60)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Bagian Ketiga: Tentang Tingkatan Kenikmatan
Pasal: Kenikmatan setiap orang sesuai dengan kadar, cita-cita, dan kemuliaan jiwanya. Orang yang paling mulia jiwanya, paling tinggi cita-citanya, dan paling luhur kadarnya adalah orang yang kenikmatannya dalam mengenal Allah, mencintai-Nya, kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Kenikmatannya adalah dalam menghadap kepada-Nya dan terpusatnya cita-citanya kepada-Nya. Di bawah itu terdapat tingkatan-tingkatan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah, hingga berakhir kepada orang yang kenikmatannya dalam hal-hal yang paling hina berupa kotoran dan kekejian dalam segala hal, baik perkataan, perbuatan, maupun kesibukan.
Seandainya ditawarkan kepadanya apa yang dinikmati oleh orang pertama (yang mulia), jiwanya tidak akan rela menerimanya dan tidak akan menoleh kepadanya, bahkan mungkin akan merasa sakit karenanya. Sebagaimana orang pertama, jika ditawarkan kepadanya apa yang dinikmati oleh orang ini (yang hina), jiwanya tidak akan rela dan tidak akan menoleh kepadanya, bahkan jiwanya akan lari darinya.
Orang yang paling sempurna kenikmatannya adalah orang yang dikumpulkan baginya antara kenikmatan hati dan ruh serta kenikmatan badan. Dia mengambil kenikmatan-kenikmatan yang halal dengan cara yang tidak mengurangi bagiannya dari dunia dan akhirat, dan tidak memutuskan darinya kenikmatan ma’rifat, cinta, dan keakraban dengan Tuhannya.
Orang ini termasuk yang Allah Ta’ala berfirman tentangnya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (makanan) yang baik-baik dari rezeki?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.'” (Al-A’raf: 32)
Orang yang paling sedikit bagiannya dari kenikmatan adalah orang yang mengambilnya dengan cara yang menghalangi antara dia dan kenikmatan akhirat. Dia termasuk orang yang akan dikatakan kepada mereka pada hari pemenuhan kenikmatan: “Kamu telah menghabiskan hal-hal yang baik dalam kehidupan duniawimu dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (Al-Ahqaf: 20)
Mereka ini menikmati hal-hal yang baik dan mereka itu juga menikmati hal-hal yang baik, tetapi mereka berbeda dalam cara menikmatinya. Mereka itu menikmatinya dengan cara yang diizinkan kepada mereka, maka dikumpulkan bagi mereka antara kenikmatan dunia dan akhirat. Sedangkan yang ini menikmatinya dengan cara yang didorong oleh hawa nafsu dan syahwat, baik diizinkan bagi mereka atau tidak. Maka terputus dari mereka kenikmatan dunia dan luput dari mereka kenikmatan akhirat.
Barangsiapa yang mencintai kenikmatan dan kelanggengannya serta kehidupan yang baik, maka hendaklah dia menjadikan kenikmatan dunia sebagai penghubung baginya kepada kenikmatan akhirat, dengan cara meminta pertolongan dengannya untuk kekosongan hatinya bagi Allah, keinginan, dan ibadah kepada-Nya. Dia mengambilnya dengan hukum meminta pertolongan dan kekuatan untuk mencari-Nya, bukan dengan hukum syahwat dan hawa nafsu semata.
Bagian Keempat: Manfaat Meninggalkan Maksiat
Subhanallah, Tuhan semesta alam! Seandainya dalam meninggalkan dosa dan maksiat tidak ada kecuali menegakkan harga diri, menjaga kehormatan, memelihara kedudukan, melindungi harta yang dijadikan Allah sebagai penegak kemaslahatan dunia dan akhirat, kecintaan makhluk, baiknya ucapan di antara mereka, baiknya penghidupan, istirahat badan, kekuatan hati, baiknya jiwa, kenikmatan hati, lapangnya dada, aman dari ketakutan orang-orang fasik dan jahat, sedikitnya kekhawatiran, kesedihan dan duka, harga diri jiwa dari menanggung kehinaan, terjaganya cahaya hati agar tidak dipadamkan oleh kegelapan maksiat, memperoleh jalan keluar dari apa yang menyempitkan orang-orang fasik dan jahat, dimudahkannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dimudahkannya apa yang sulit bagi pelaku kefasikan dan maksiat, dimudahkannya ketaatan, dimudahkannya ilmu, pujian yang baik di kalangan manusia, banyaknya doa untuknya, manisnya wajah yang diperolehnya, wibawa yang diletakkan dalam hati manusia, pembelaan dan perlindungan mereka untuknya ketika dia disakiti dan dizalimi, pembelaan mereka terhadap kehormatannya ketika digunjing, cepatnya terkabulnya doanya, hilangnya keterasingan antara dia dan Allah, dekatnya malaikat darinya, jauhnya setan-setan jin dan manusia darinya, berlomba-lombanya manusia untuk melayaninya dan memenuhi kebutuhannya, permintaan mereka untuk persahabatan dan menemaninya, tidak takutnya dia terhadap kematian bahkan gembira karenanya karena kedatangannya kepada Tuhannya, kecilnya dunia di hatinya dan besarnya akhirat di sisinya, semangatnya untuk kerajaan yang besar dan kemenangan yang agung di akhirat, merasakan manisnya ketaatan, menemukan manisnya iman, doa para pembawa Arsy dan malaikat di sekelilingnya untuknya, gembiranya para malaikat penulis amal dengannya dan doa mereka untuknya setiap waktu, bertambahnya akal, pemahaman, iman, dan ma’rifahnya, memperoleh cinta Allah kepadanya, perhatian-Nya kepadanya, kegembiraan-Nya dengan taubatnya – demikianlah Dia membalasnya dengan kegembiraan dan kesenangan yang tidak ada bandingannya dengan kegembiraan dan kesenangannya karena maksiat dalam segi apa pun.
Ini sebagian dari dampak meninggalkan maksiat di dunia. Ketika dia mati, malaikat menyambutnya dengan kabar gembira dari Tuhannya berupa surga dan bahwa tidak ada ketakutan atasnya dan tidak ada kesedihan. Dia berpindah dari penjara dunia dan kesempitannya menuju taman dari taman-taman surga yang dia nikmati hingga hari kiamat.
Ketika hari kiamat tiba, manusia berada dalam panas dan keringat sedangkan dia berada dalam naungan Arsy. Ketika mereka pergi dari hadapan Allah, dia dibawa ke sebelah kanan bersama kekasih-kekasih-Nya yang bertakwa dan golongan-Nya yang beruntung.
“Dan yang demikian itu adalah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah: 4)
Bab 1
Ibnu Sa’d menyebutkan dalam kitab Ath-Thabaqat tentang Umar bin Abdul Aziz bahwa dia apabila berkhutbah di atas mimbar lalu khawatir terhadap dirinya akan sombong, maka dia menghentikan khutbahnya. Dan apabila dia menulis sebuah surat lalu khawatir akan sombong karenanya, maka dia merobeknya. Dan dia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku sendiri.”
Ketahuilah bahwa seorang hamba apabila memulai suatu perkataan atau perbuatan yang dia tujukan untuk mencari ridha Allah, sambil memperhatikan karunia Allah kepadanya dan taufik-Nya baginya dalam hal tersebut, dan bahwa itu adalah dengan Allah, bukan dengan dirinya sendiri, bukan dengan pengetahuannya, pikirannya, daya dan kekuatannya, melainkan dengan Dzat yang menciptakan baginya lisan, hati, mata, dan telinga. Maka Dzat yang menganugerahkan semua itu kepadanya adalah Dzat yang menganugerahkan perkataan dan perbuatan kepadanya.
Apabila hal itu tidak luput dari perhatiannya dan pandangan hatinya, maka tidak akan hadir padanya kesombongan yang asalnya adalah melihat dirinya sendiri dan tidak memperhatikan karunia Tuhannya, taufik-Nya, dan pertolongan-Nya. Namun apabila dia lengah dari perhatian tersebut dan jiwa bangkit serta berdiri dalam posisi mengklaim, maka terjadilah kesombongan yang merusak perkataan dan perbuatannya.
Terkadang dia dihalangi dari menyelesaikan perbuatannya dan diputus darinya, dan itu merupakan rahmat baginya agar tidak lengah dari menyaksikan karunia dan taufik. Terkadang perbuatannya selesai tetapi tidak berbuah, dan jika berbuah maka buahnya lemah dan tidak mencapai tujuan yang diinginkan. Terkadang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya dan melahirkan berbagai kerusakan sesuai dengan kelengahannya dari memperhatikan taufik dan karunia serta melihat dirinya sendiri, dan bahwa perkataan dan perbuatan itu adalah darinya.
Dari sinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki perkataan dan perbuatan hamba-Nya serta membesarkan buahnya baginya, atau merusaknya dan mencegah buahnya. Tidak ada yang lebih merusak amal-amal selain kesombongan dan melihat diri sendiri. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia memperlihatkan kepadanya karunia-Nya, taufik-Nya, dan pertolongan-Nya dalam setiap yang dia katakan dan lakukan, sehingga dia tidak sombong karenanya. Kemudian Dia memperlihatkan kepadanya kekurangannya dalam hal tersebut dan bahwa dia tidak ridha dengan perbuatan itu untuk Tuhannya, sehingga dia bertaubat kepada-Nya darinya dan memohon ampunan-Nya serta malu untuk meminta pahala atasnya.
Apabila dia tidak menyaksikan hal itu dan dilengahkan darinya, lalu melihat dirinya dalam amal dan melihatnya dengan pandangan kesempurnaan dan keridhaan, maka amal tersebut tidak akan diterima dengan penerimaan, keridhaan, dan kecintaan.
Orang yang mengenal Allah beramal karena Allah sambil menyaksikan di dalamnya karunia-Nya, keutamaan-Nya, dan taufik-Nya, meminta maaf kepada-Nya darinya, dan malu kepada-Nya karena tidak menunaikan hak-Nya. Sedangkan orang yang jahil beramal untuk kepentingan dan hawa nafsunya, memandang dirinya dalam amal tersebut, mengungkit-ungkit kepada Tuhannya, dan ridha dengan amalnya. Ini adalah satu warna dan yang itu adalah warna lain.
Bab 2
Sampai kepada yang dituju bergantung pada meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dan memutus penghalang-penghalang. Adapun kebiasaan-kebiasaan adalah: kecenderungan kepada kemudahan dan kenyamanan, serta apa yang telah dibiasakan dan dijadikan kebiasaan oleh manusia dari aturan-aturan dan cara-cara yang mereka jadikan seperti syariat yang diikuti, bahkan bagi mereka itu lebih agung daripada syariat. Mereka mengingkari orang yang keluar dan menyelisihinya dengan pengingkaran yang tidak mereka lakukan kepada orang yang menyelisihi syariat yang jelas. Bahkan mungkin mereka mengkafirkan atau membid’ahkan dan menyesatkannya, atau mengucilkan dan menghukumnya karena menyelisihi aturan-aturan tersebut. Mereka mematikan sunnah-sunnah demi aturan-aturan itu dan menjadikannya tandingan bagi Rasul. Mereka memusuhi dan bersahabat karenanya. Yang ma’ruf bagi mereka adalah yang sesuai dengan mereka, dan yang munkar adalah yang menyelisihinya.
Aturan-aturan dan cara-cara ini telah menguasai kelompok-kelompok bani Adam dari para raja, penguasa, fuqaha, sufi, fakir, mutathawwi’in, dan awam. Anak kecil dibesarkan di dalamnya, orang dewasa tumbuh di atasnya, dan dijadikan sebagai sunnah-sunnah, bahkan itu lebih agung bagi para penganutnya daripada sunnah-sunnah. Orang yang berhenti padanya terkurung, yang terikat dengannya terputus dari yang lain. Orang yang terkena musibah karenanya telah meninggalkan sunnah dan Al-Quran demi aturan-aturan itu. Barangsiapa meminta pertolongan dengannya maka dia terhina di sisi Allah. Barangsiapa mengikutinya selain kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya maka dia tidak diterima di sisi Allah. Ini adalah hijab dan penghalang terbesar antara hamba dan masuk kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bab 3
Adapun penghalang-penghalang, maka itu adalah jenis-jenis pelanggaran zahir dan batinnya. Sesungguhnya itu menghalangi hati dari berjalannya kepada Allah dan memutus jalannya. Itu adalah tiga perkara: syirik, bid’ah, dan maksiat. Penghalang syirik hilang dengan menjauhkan tauhid, penghalang bid’ah dengan merealisasikan sunnah, dan penghalang maksiat dengan memperbaiki taubat. Penghalang-penghalang ini tidak tampak bagi hamba sampai dia mulai bersiap-siap untuk safar dan betul-betul berjalan kepada Allah dan negeri akhirat. Saat itulah penghalang-penghalang ini tampak baginya dan dia merasakan penghalangannya sesuai dengan kekuatan perjalanannya dan kesungguhannya untuk bersafar. Selain itu, selama dia masih duduk, tidak tampak baginya hal-hal yang tersembunyi dan yang memutus perjalanannya.
Bab 4
Adapun ikatan-ikatan, maka itu adalah segala sesuatu yang mengikat hati selain Allah dan Rasul-Nya dari kenikmatan dunia, syahwat-syahwatnya, kepemimpinannya, pergaulan dengan manusia, dan keterikatan kepada mereka. Tidak ada jalan baginya untuk memutus tiga perkara ini dan meninggalkannya kecuali dengan kekuatan keterikatan kepada tujuan yang tertinggi. Selain itu, memutusnya tanpa keterikatan kepada yang ditujunya adalah mustahil. Sesungguhnya jiwa tidak akan meninggalkan yang biasa dan yang dicintainya kecuali untuk yang dicintai yang lebih dicintai darinya dan lebih diutamakan darinya. Semakin kuat keterikatan kepada yang dituju, semakin lemah keterikatan kepada selainnya, dan demikian sebaliknya. Keterikatan kepada yang dituju adalah kuatnya keinginan kepadanya, dan itu sesuai dengan kadar pengenalan kepadanya, kemuliaannya, dan keutamaannya atas selain-Nya.
Bab 5
Ketika Rasul menyempurnakan maqam kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah menjadikan seluruh makhluk membutuhkan kepadanya di dunia dan akhirat. Adapun kebutuhan mereka kepadanya di dunia, maka lebih keras daripada kebutuhan mereka kepada makanan, minuman, dan nafas yang dengannya kehidupan badan mereka. Adapun kebutuhan mereka kepadanya di akhirat, maka mereka meminta syafaat para rasul kepada Allah hingga Dia melepaskan mereka dari sempitnya tempat berdiri mereka. Semuanya mundur dari syafaat, lalu dia yang memberikan syafaat kepada mereka, dan dialah yang membukakan pintu surga bagi mereka.
Bab 6
Di antara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah bahwa seorang hamba semakin ditambahi ilmunya, semakin ditambahi kerendahan hati dan kasih sayangnya. Semakin ditambahi ketakutannya dan kehati-hatiannya. Semakin ditambahi umurnya, semakin berkurang keserakahannya. Semakin ditambahi hartanya, semakin ditambahi kedermawanan dan pemberiannya. Semakin ditambahi kedudukannya dan jabatannya, semakin ditambahi kedekatan kepada manusia, memenuhi kebutuhan mereka, dan merendahkan diri kepada mereka.
Tanda-tanda kecelakaan adalah bahwa semakin ditambahi ilmunya, semakin ditambahi kesombongan dan keangkuhannya. Semakin ditambahi amalnya, semakin ditambahi kebanggaan dan penghinaan kepada manusia serta baik sangkanya kepada dirinya sendiri. Semakin ditambahi umurnya, semakin ditambahi keserakahannya. Semakin ditambahi hartanya, semakin ditambahi kekikiran dan keberatirannya. Semakin ditambahi kedudukannya dan jabatannya, semakin ditambahi kesombongan dan keangkuhannya.
Perkara-perkara ini adalah ujian dari Allah dan cobaan yang dengannya Dia menguji hamba-hamba-Nya. Sebagian kaum beruntung karenanya dan sebagian kaum celaka karenanya. Demikian juga karamah-karamah adalah ujian dan cobaan seperti kerajaan, kekuasaan, dan harta. Allah Ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Sulaiman ketika dia melihat singgasana Balqis di sisinya: “Ini dari karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)
Nikmat-nikmat adalah ujian dari Allah dan cobaan yang dengannya Dia menampakkan syukur orang yang bersyukur dan kufur orang yang kufur, sebagaimana musibah-musibah adalah cobaan dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Dia menguji dengan nikmat-nikmat sebagaimana Dia menguji dengan musibah-musibah. Allah Ta’ala berfirman: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kenikmatan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan apabila Dia mengujinya lalu disempitkan-Nya rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15-17) Yakni, tidak setiap orang yang Aku lapangkan dan Aku muliakan serta Aku beri nikmat itu merupakan pemuliaan dari-Ku kepadanya. Dan tidak setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya dan Aku uji itu merupakan penghinaan dari-Ku kepadanya.
Bab 7
Barangsiapa menghendaki tingginya bangunannya, maka hendaknya dia menguatkan fondasinya, membuatnya kokoh, dan sangat memperhatikannya. Sesungguhnya tingginya bangunan sesuai dengan kuatnya fondasi dan kekokohanlnya. Amal-amal dan derajat-derajat adalah bangunan dan fondasinya adalah iman. Apabila fondasi kokoh, maka bangunan akan kokoh dan tinggi di atasnya. Apabila ada sesuatu dari bangunan yang rusak, mudah diperbaiki. Apabila fondasi tidak kokoh, bangunan tidak akan tinggi dan tidak akan tegak. Apabila ada sesuatu dari fondasi yang rusak, bangunan akan jatuh atau hampir jatuh.
Orang yang mengenal Allah perhatiannya adalah memperbaiki fondasi dan membuatnya kokoh. Orang yang jahil membangun bangunan tanpa fondasi, maka tidak lama bangunannya akan runtuh. Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu lebih baik, ataukah orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam?” (QS. At-Taubah: 109)
Fondasi untuk bangunan amal-amal seperti kekuatan untuk badan manusia. Apabila kekuatan kuat, maka akan menopang badan dan menolak darinya banyak bencana. Apabila kekuatan lemah, lemah pula dukungannya untuk badan dan bencana-bencana menjadi hal yang paling cepat menyerangnya.
Maka bangunlah bangunanmu atas fondasi iman yang kuat. Apabila ada sesuatu dari bagian atas bangunan dan atapnya yang rusak, memperbaikinya lebih mudah bagimu daripada rusaknya fondasi. Fondasi ini ada dua perkara: pertama, benarnya pengenalan kepada Allah, perintah-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Kedua, menjauhkan kepatuhan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya tanpa kepada selain-Nya. Ini adalah fondasi yang paling kokoh yang dapat didirikan hamba untuk bangunannya. Sesuai dengannya, bangunan akan setinggi yang dikehendaki.
Maka kokohkanlah fondasi, jagalah kekuatan, tetaplah dalam penjagaan, dan keluarkanlah apabila cairan (penyakit) bertambah padamu. Kesederhanaan, kesederhanaan, dan kamu telah mencapai yang diinginkan. Selain itu, selama kekuatan lemah, bahan yang rusak ada, dan pengeluaran tidak ada, maka ucapkanlah salam kepada kehidupan karena sesungguhnya dia telah memberi kabar kepadamu dengan cepatnya perpisahan.
Apabila bangunan sempurna, maka putihkanlah dengan akhlak yang baik dan berbuat baik kepada manusia. Kemudian lindungilah dengan pagar kehati-hatian yang tidak dapat diterobos musuh dan tidak tampak darinya aurat. Kemudian turunkanlah tirai-tirai di pintu-pintunya. Kemudian kuncilah pintu utama dengan diam dari apa yang kamu khawatir akibatnya. Kemudian pasanglah untuknya kunci dari dzikir Allah yang dengannya kamu membuka dan menutupnya. Apabila kamu membuka, maka bukalah dengan kunci, dan apabila kamu menutup pintu, tutuplah dengannya. Maka saat itu kamu telah membangun benteng yang kamu berlindung di dalamnya dari musuh-musuhmu. Apabila musuh mengelilinginya, dia tidak menemukan jalan masuk darinya sehingga berputus asa darimu.
Kemudian jagalah bangunan benteng setiap waktu. Sesungguhnya musuh apabila tidak berharap bisa masuk dari pintu, dia akan membuat lubang-lubang dari jauh dengan peralatan dosa-dosa. Apabila kamu mengabaikan urusannya, lubang akan sampai kepadamu. Apabila musuh bersamamu di dalam benteng, sulit bagimu mengeluarkannya. Kamu bersamanya dalam tiga keadaan: entah dia mengalahkanmu atas benteng dan menguasainya, atau dia tinggal bersamamu di dalamnya, atau dia menyibukkanmu dengan menghadapinya dari menyempurnakan kemaslatahanmu dan kembali untuk menutup lubang dan memperbaiki benteng.
Apabila dia masuk lubangnya kepadamu, kamu akan mendapat darinya tiga bencana: merusak benteng, menyerang harta dan simpanan-simpanannya, dan menunjukkan para pencuri dari bangsanya kepada auratnya. Dia tidak akan berhenti membuatmu menderita dengan serangannya hingga melemahkan kekuatan-kekuatanmu dan melunakkan tekadmu, sehingga kamu meninggalkan benteng dan membiarkan antara mereka dan benteng itu.
Ini adalah keadaan kebanyakan jiwa dengan musuh ini. Karena itu kamu melihat mereka membuat Tuhan mereka murka demi keridhaan diri mereka, bahkan demi keridhaan makhluk seperti mereka yang tidak menguasai mudharat dan manfaat bagi mereka. Mereka menyia-nyiakan keuntungan agama dengan keuntungan harta. Mereka membinasakan diri mereka dengan apa yang tidak kekal bagi mereka. Mereka serakah kepada dunia padahal dunia telah berpaling dari mereka. Mereka zuhud terhadap akhirat padahal akhirat telah mendekat kepada mereka. Mereka menyelisihi Tuhan mereka dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Mereka bergantung kepada kehidupan dan tidak mengingat kematian. Mereka mengingat syahwat dan bagian mereka dan melupakan apa yang telah Allah janjikan kepada mereka. Mereka memikirkan apa yang telah Allah jamin dan tidak memikirkan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Mereka gembira dengan dunia dan sedih atas hilangnya bagian mereka darinya. Mereka tidak sedih atas hilangnya surga dan apa yang ada di dalamnya. Mereka tidak gembira dengan iman sebagaimana kegembiraan mereka dengan dirham dan dinar. Mereka merusak hak dan petunjuk mereka dengan kesesatan mereka, kebaikan mereka dengan kemungkaran mereka. Mereka mencampur iman mereka dengan prasangka mereka. Mereka mencampur halal mereka dengan haram mereka. Mereka bimbang dalam kebingungan pendapat dan pikiran mereka. Mereka meninggalkan petunjuk Allah yang telah Allah berikan kepada mereka.
Yang mengherankan adalah bahwa musuh ini mempekerjakan penghuni benteng untuk meruntuhkan bentengnya dengan tangannya sendiri.
Bab: Empat Rukun Kekufuran
Rukun-rukun kekufuran ada empat: kesombongan, hasad (dengki), kemarahan, dan syahwat. Kesombongan menghalanginya dari kepatuhan, hasad menghalanginya dari menerima dan memberikan nasihat, kemarahan menghalanginya dari berlaku adil, dan syahwat menghalanginya dari berkonsentrasi untuk beribadah.
Apabila rukun kesombongan runtuh, maka mudah baginya untuk patuh. Apabila rukun hasad runtuh, maka mudah baginya untuk menerima dan memberikan nasihat. Apabila rukun kemarahan runtuh, maka mudah baginya untuk berlaku adil dan tawadu (rendah hati). Apabila rukun syahwat runtuh, maka mudah baginya untuk bersabar, menjaga kehormatan, dan beribadah.
Berpindahnya gunung-gunung dari tempatnya lebih mudah daripada hilangnya keempat sifat ini dari orang yang diuji dengannya, terutama apabila sifat-sifat ini telah menjadi karakter yang mengakar, kebiasaan yang menetap, dan sifat-sifat yang tetap. Sesungguhnya tidak akan lurus sama sekali amalannya bersamaan dengan keempat sifat ini, dan tidak akan suci jiwanya selama keempat sifat ini masih ada padanya. Setiap kali ia bersungguh-sungguh dalam beramal, keempat sifat ini akan merusaknya. Semua bencana dan malapetaka lahir dari keempat sifat ini.
Apabila keempat sifat ini telah menguat di dalam hati, maka ia akan menampakkan kebatilan dalam bentuk kebenaran, kebenaran dalam bentuk kebatilan, kebaikan dalam bentuk kemungkaran, dan kemungkaran dalam bentuk kebaikan. Dunia menjadi dekat darinya dan akhirat menjadi jauh darinya.
Apabila engkau memperhatikan kekufuran umat-umat, engkau akan melihatnya timbul dari keempat sifat ini. Atas dasar keempat sifat inilah azab turun, dan ringan beratnya azab sesuai dengan ringan beratnya keempat sifat ini. Barangsiapa membuka keempat sifat ini pada dirinya, maka ia telah membuka semua pintu keburukan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupnya pada dirinya, maka ia telah menutup pintu-pintu keburukan dari dirinya.
Keempat sifat ini menghalangi dari kepatuhan, keikhlasan, taubat, kembali kepada Allah, menerima kebenaran, menerima nasihat kaum muslimin, dan tawadu kepada Allah serta kepada makhluk-Nya.
Sumber Keempat Sifat Buruk Ini
Sumber keempat sifat ini adalah ketidaktahuan terhadap Tuhannya dan ketidaktahuan terhadap dirinya sendiri. Seandainya ia mengenal Tuhannya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan, serta mengenal dirinya dengan segala kekurangan dan cacatnya, niscaya ia tidak akan sombong, tidak akan marah untuk dirinya, dan tidak akan hasad kepada siapa pun atas apa yang Allah berikan kepadanya.
Sesungguhnya hasad pada hakikatnya adalah sejenis permusuhan terhadap Allah, karena ia membenci nikmat Allah pada hamba-Nya, padahal Allah menyukainya. Ia menyukai hilangnya nikmat itu dari hamba tersebut, padahal Allah membenci hal itu. Maka ia berlawanan dengan Allah dalam takdir-Nya, ketentuan-Nya, kecintaan-Nya, dan kebencian-Nya. Oleh karena itu, Iblis adalah musuh yang sesungguhnya, karena dosanya lahir dari kesombongan dan hasad.
Cara Menghilangkan Keempat Sifat Buruk Ini
Cabut kedua sifat ini (kesombongan dan hasad) dengan mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, ridha kepada-Nya dan dari-Nya, serta kembali kepada-Nya.
Cabut kemarahan dengan mengenal diri dan bahwa diri tidak layak untuk dimarahi dan dibelanya. Sesungguhnya hal itu adalah mengutamakan diri dengan ridha dan marah atas Pencipta dan Pembentuknya. Yang paling besar untuk menolak bencana ini adalah membiasakan diri untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridha karena-Nya. Setiap kali masuk ke dalam diri sesuatu dari kemarahan dan keridhaan karena Allah, maka keluarlah dari dirinya lawannya berupa kemarahan dan keridhaan untuk diri, dan demikian pula sebaliknya.
Adapun syahwat, maka obatnya adalah kuatnya ilmu dan pengetahuan bahwa memberikan syahwat-syahwat kepada diri adalah sebab terbesar untuk mengharamkannya dari syahwat tersebut dan mencegahnya darinya. Sedangkan menjaganya dari syahwat adalah sebab terbesar untuk sampainya syahwat tersebut kepadanya. Setiap kali engkau membuka pintu syahwat untuk diri, engkau sedang berusaha mengharamkannya dari syahwat tersebut. Setiap kali engkau menutup pintu itu dari diri, engkau sedang berusaha menyampaikan syahwat tersebut kepadanya dengan cara yang paling sempurna.
Bagian Pertama: Tentang Amarah, Syahwat, Kesombongan dan Hasad
Amarah itu seperti binatang buas, jika pemiliknya melepaskannya maka ia akan mulai memakannya terlebih dahulu. Syahwat itu seperti api, jika pemiliknya menyalakannya maka ia akan mulai membakarnya terlebih dahulu. Kesombongan itu seperti merebut kerajaan seorang raja, jika tidak membunuhmu maka ia akan mengusirmu darinya. Hasad itu seperti memusuhi orang yang lebih berkuasa darimu. Dan orang yang dapat mengalahkan syahwat dan amarahnya, maka setan akan takut pada bayangannya. Sedangkan orang yang dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya, maka ia akan takut pada khayal belaka.
Bagian Kedua: Pasal yang Sangat Bermanfaat
Orang-orang yang jahil terhadap Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta yang meniadakan hakikat-hakikatnya, mereka membuat makhluk membenci Allah dan memutus jalan mereka untuk mencintai-Nya serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan, padahal mereka tidak menyadari hal itu. Kami akan menyebutkan beberapa contoh yang dapat dijadikan teladan.
Di antara contoh tersebut adalah bahwa mereka menetapkan dalam jiwa orang-orang lemah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mendapat manfaat dari ketaatan seseorang meskipun ia lama beribadah, meskipun hamba itu bersungguh-sungguh dan melakukannya dengan lahir dan batin. Mereka mengatakan bahwa hamba tidak memiliki kepastian dan keamanan dari tipu daya-Nya, bahkan urusan-Nya Subhanahu wa Ta’ala adalah mengambil orang yang taat dan bertakwa dari mihrab (tempat shalat) ke tempat maksiat, dan dari tauhid serta tasbih menuju syirik dan nyanyian. Dia membalik hati dari iman yang murni menuju kekafiran.
Mereka meriwayatkan dalam hal itu atsar-atsar yang shahih namun tidak mereka pahami, dan yang batil yang tidak pernah diucapkan oleh yang maksum (Nabi). Mereka mengklaim bahwa ini adalah hakikat tauhid, dan mereka membaca firman Allah Ta’ala:
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya” (Surat Al-Anbiya ayat 23)
dan firman-Nya:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah melainkan orang-orang yang merugi” (Surat Al-A’raf ayat 99)
dan firman-Nya:
“Dan ketahuilah bahwa Allah menghalangi antara manusia dan hatinya” (Surat Al-Anfal ayat 24)
Mereka menjadikan Iblis sebagai dalil bagi mereka atas pengetahuan ini, bahwa ia adalah burung merak para malaikat dan bahwa ia tidak meninggalkan satu tempat pun di langit maupun di bumi kecuali ia memiliki sujud atau rakaat di sana. Namun takdir telah berbuat jahat kepadanya dan hukum telah menimpanya, lalu membalik sifat baiknya dan menjadikannya seburuk-buruk sesuatu.
Sampai-sampai sebagian dari orang-orang yang mengaku arif berkata: “Sesungguhnya engkau seharusnya takut kepada Allah sebagaimana engkau takut kepada singa yang menerkammu tanpa ada kesalahan darimu dan tanpa ada dosa yang engkau lakukan kepadanya.”
Mereka berdalil dengan sabda Nabi: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta, lalu kitab takdir mendahuluinya, maka ia beramal dengan amalan ahli neraka lalu memasukinya.”
Mereka meriwayatkan dari sebagian salaf: “Dosa yang paling besar adalah tidak takut dari tipu daya Allah dan berputus asa dari rahmat Allah.”
Imam Ahmad menyebutkan dari Aun bin Abdullah atau selainnya bahwa ia mendengar seorang laki-laki berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau amankan aku dari tipu daya-Mu,” maka ia mengingkari hal itu dan berkata: “Katakanlah: ‘Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang merasa aman dari tipu daya-Mu.'”
Mereka membangun hal itu di atas prinsip batil mereka yaitu mengingkari hikmah, sebab-akibat, dan alasan-alasan. Bahwa Allah tidak berbuat karena hikmah dan tidak ada sebab, melainkan hanya berbuat dengan kehendak yang terlepas dari hikmah, sebab-akibat, dan alasan. Maka Dia tidak berbuat untuk sesuatu dan tidak berbuat dengan sesuatu.
Bahwa tidak boleh bagi-Nya untuk mengazab ahli ketaatan-Nya dengan azab yang paling keras dan membahagiakan musuh-musuh-Nya serta ahli kemaksiyatan-Nya dengan pahala yang berlimpah. Bahwa kedua perkara itu sama saja bagi-Nya. Tidak diketahui kemustahilan hal itu kecuali dengan kabar dari Yang Benar bahwa Dia tidak akan melakukannya. Maka ketika itu diketahuilah kemustahilannya karena terjadinya kabar bahwa hal itu tidak akan terjadi, bukan karena hal itu dalam dirinya batil dan kezaliman.
Karena kezaliman dalam dirinya adalah mustahil, sebab ia tidak mungkin terjadi, bahkan ia seperti menjadikan satu benda berada di dua tempat dalam satu waktu, atau menggabungkan malam dan siang dalam satu jam, atau menjadikan sesuatu ada dan tiada sekaligus dalam satu waktu. Inilah hakikat kezaliman menurut mereka.
Ketika orang yang beramal kembali kepada dirinya, ia berkata: “Orang yang tidak memiliki urusan yang tetap dan tidak dapat dipercaya dari tipu dayanya, bagaimana mungkin dapat dipercaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya? Bagaimana mungkin bergantung pada ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-perintah-Nya? Sedangkan kita hanya memiliki masa yang sedikit ini. Jika kita meninggalkan kelezatan-kelezatan di dalamnya dan meninggalkan syahwat-syahwat serta memikul beban-beban ibadah, sementara kita dengan itu semua tidak memiliki kepercayaan kepada-Nya bahwa Dia akan membalik iman kita menjadi kekafiran, tauhid menjadi syirik, ketaatan menjadi kemaksiyatan, dan kebaikan menjadi kefasikan, serta Dia akan melanggengkan hukuman atas kita, maka kita akan rugi di dunia dan akhirat.”
Ketika keyakinan ini menguat dalam hati mereka dan mengendap dalam jiwa mereka, maka mereka ketika diperintahkan untuk berbuat ketaatan dan meninggalkan kelezatan-kelezatan, menjadi seperti seseorang yang berkata kepada anaknya: “Gurumu, jika engkau menulis dan berbuat baik serta sopan dan tidak mendurhakai-nya, mungkin ia akan menghukummu. Dan jika engkau malas dan menganggur serta tidak melakukan apa yang diperintahkannya, mungkin ia akan mendekatkanmu dan memuliakanmu.”
Dengan ucapan ini, ia menanamkan dalam hati anak itu sesuatu yang membuatnya tidak percaya lagi kepada ancaman guru atas keburukan dan tidak percaya pula kepada janjinya atas kebaikan.
Ketika anak itu tumbuh dewasa dan layak untuk urusan-urusan dan jabatan-jabatan, ia berkata kepadanya: “Penguasa negeri kita ini mengambil pencuri dari penjara lalu menjadikannya menteri dan pemimpin, dan mengambil orang yang cerdas dan berbuat baik dalam pekerjaannya lalu mengabadikannya dalam penjara, membunuhnya dan menyalibnya.”
Ketika ia berkata demikian kepadanya, ia membuat takut penguasanya dan membuatnya tidak yakin kepada janji dan ancamannya, serta menghilangkan cintanya dari hatinya dan membuatnya takut kepadanya seperti takut kepada orang zalim yang menghukum orang yang berbuat baik dan menyiksa orang yang tidak bersalah.
Maka rusaklah orang malang ini dari keyakinan bahwa amal-amal itu bermanfaat atau berbahaya. Ia tidak merasa tenang dengan berbuat kebaikan dan tidak merasa takut dengan berbuat kejahatan.
Adakah dalam menjauhkan dari Allah dan membuat benci kepada-Nya di antara hamba-hamba-Nya yang lebih dari ini? Seandainya orang-orang mulhid berusaha untuk membuat benci agama dan menjauhkan dari Allah, mereka tidak akan datang dengan yang lebih dari ini.
Pemilik jalan ini mengira bahwa ia sedang menetapkan tauhid dan takdir serta membantah ahli bidah dan menolong agama. Demi hidup Allah, musuh yang berakal lebih sedikit bahayanya daripada teman yang jahil.
Kitab-kitab Allah yang diturunkan semuanya dan rasul-rasul-Nya semuanya bersaksi dengan kebalikan dari itu, terutama Al-Quran. Seandainya para da’i menempuh jalan yang digunakan Allah dan Rasul-Nya untuk mengajak manusia kepada-Nya, niscaya dunia akan baik dengan kebaikan yang tidak ada kerusakan bersamanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan – dan Dia adalah Yang Benar lagi Menepati janji – bahwa Dia hanya memperlakukan manusia sesuai dengan usaha mereka dan membalas mereka sesuai dengan amal mereka. Orang yang berbuat baik tidak takut kepada-Nya akan kezaliman dan pengurangan. Ia tidak takut akan kecurangan dan penindasan. Dia tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat baik selamanya dan tidak akan menyia-nyiakan bagi hamba seberat zarrah pun.
“Dan jika ada kebaikan seberat zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (Surat An-Nisa ayat 40)
“Dan jika (amal baik itu) seberat biji sawi, niscaya Kami akan membalasnya” (Surat Al-Anbiya ayat 47)
dan Dia tidak akan menyia-nyiakannya bagi hamba itu.
Sesungguhnya Dia membalas kejahatan dengan seumpamanya dan menghapuskannya dengan taubat, penyesalan, istighfar, kebaikan-kebaikan, dan musibah-musibah. Dia membalas kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya dan melipatgandakannya hingga tujuh ratus kali lipat bahkan kelipatan yang banyak.
Dia-lah yang memperbaiki orang-orang yang rusak, menghadapkan hati orang-orang yang berpaling, menerima taubat orang-orang yang berdosa, memberi petunjuk orang-orang yang sesat, menyelamatkan orang-orang yang binasa, mengajari orang-orang yang jahil, memberi penglihatan kepada orang-orang yang buta, mengingatkan orang-orang yang lalai, dan memberi tempat berlindung kepada orang-orang yang lari.
Jika Dia menjatuhkan hukuman, Dia menjatuhkannya setelah kedurhakaan dan pembangkangan yang keras kepada-Nya serta ajakan kepada hamba untuk kembali kepada-Nya dan mengakui rububiyah dan hak-Nya berulang kali, hingga ketika Dia putus asa dari responnya dan pengakuannya akan rububiyah dan keesaan-Nya, barulah Dia mengambilnya karena sebagian kekafiran, kedurhakaan, dan pembangkangannya, sehingga hamba itu memaafkan dirinya sendiri dan mengakui bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak menzhaliminya dan bahwa dialah yang menzhalimi dirinya sendiri.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang ahli neraka:
“Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (Surat Al-Mulk ayat 11)
Dan Dia berfirman tentang orang-orang yang dibinasakan-Nya di dunia bahwa mereka ketika melihat ayat-ayat-Nya dan merasakan kehancuran karena azab-Nya, mereka berkata:
“Aduhai celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Maka itulah seruan mereka sehingga Kami jadikan mereka seperti tanaman yang sudah dituai lagi mati” (Surat Al-Anbiya ayat 14-15)
Dan pemilik kebun yang Allah rusak bagi mereka ketika mereka melihatnya berkata:
“Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim” (Surat Al-Qalam ayat 29)
Al-Hasan berkata: “Mereka masuk neraka sedangkan pujian kepada-Nya masih ada dalam hati mereka. Mereka tidak menemukan dalil dan jalan untuk menyalahkan-Nya.”
Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
“Maka Kami binasakan orang-orang yang zalim itu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (Surat Al-An’am ayat 45)
Kalimat ini dalam posisi hal, artinya Dia memutus akar mereka dalam keadaan Dia Subhanahu wa Ta’ala dipuji atas hal itu. Maka Dia memutus akar mereka dengan pemotongan yang disertai dengan pujian kepada-Nya. Itu adalah pemotongan dan kebinasaan yang Tuhan Ta’ala dipuji karenanya karena hikmah dan keadilan-Nya serta penempatan hukuman pada tempatnya yang tidak layak bagi selainnya. Maka Dia menempatkannya pada tempat yang dikatakan oleh orang yang mengetahui keadaan: “Hukuman tidak layak kecuali bagi tempat ini dan tidak layak baginya kecuali hukuman.”
Oleh karena itu Allah berfirman setelah memberitakan tentang hukuman di antara hamba-hamba-Nya dan kembalinya ahli kebahagiaan ke surga dan ahli kesengsaraan ke neraka:
“Dan diputuskan di antara mereka dengan kebenaran dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam'” (Surat Az-Zumar ayat 75)
Maka Dia menghilangkan pelaku ucapan sebagai isyarat keumuman dan bahwa seluruh alam berkata: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” ketika mereka menyaksikan hikmah Yang Haq, keadilan dan karunia-Nya.
Oleh karena itu Dia berfirman tentang ahli neraka:
“Dikatakan: ‘Masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam'” (Surat Az-Zumar ayat 72)
seolah-olah seluruh alam mengucapkan hal itu, hingga anggota tubuh mereka, roh mereka, bumi mereka, dan langit mereka mengucapkannya.
Dia Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa ketika Dia membinasakan musuh-musuh-Nya, Dia menyelamatkan kekasih-kekasih-Nya dan tidak mengazab mereka semua dengan kebinasaan karena kehendak semata. Ketika Nuh meminta-Nya untuk menyelamatkan anaknya, Dia mengabarkan bahwa Dia akan menenggelamkannya karena buruknya amal dan kekafiran anaknya, dan Dia tidak berkata: “Sesungguhnya Aku menenggelamkannya karena kehendak dan iradah-Ku semata tanpa sebab dan tanpa dosa.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin penambahan petunjuk bagi orang-orang yang berjihad di jalan-jalan-Nya dan tidak mengabarkan bahwa Dia akan menyesatkan mereka dan membatalkan usaha mereka. Demikian pula Dia menjamin penambahan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa yang mengikuti keridhaan-Nya.
Dia mengabarkan bahwa Dia tidak menyesatkan kecuali orang-orang fasik yang melanggar perjanjian-Nya setelah ikrar mereka, dan bahwa Dia hanya menyesatkan orang yang memilih kesesatan dan memilihnya daripada petunjuk. Maka Dia cap pada waktu itu pendengaran dan hatinya.
Bahwa Dia membalik hati orang yang tidak ridha dengan petunjuk-Nya ketika datang kepadanya dan tidak beriman dengannya serta menolak dan memungkirinya, maka Dia membalik hati dan penglihatannya sebagai hukuman baginya karena penolakan dan pemungkirannya terhadap apa yang ia yakini dan ketahui.
Bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala seandainya mengetahui pada tempat-tempat yang telah Dia hukumi dengan kesesatan dan kesengsaraan itu ada kebaikan, niscaya Dia akan memahami dan memberi petunjuk kepada mereka. Tetapi mereka tidak layak untuk nikmat-Nya dan tidak pantas bagi mereka kemuliaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghilangkan alasan-alasan dan menegakkan hujah-hujah serta memungkinkan sebab-sebab petunjuk. Bahwa Dia tidak menyesatkan kecuali orang-orang fasik dan zalim, tidak mencap kecuali hati orang-orang yang melampaui batas, tidak menjerumuskan dalam fitnah kecuali orang-orang munafik karena perbuatan mereka.
Bahwa karat yang menutupi hati orang-orang kafir adalah perbuatan dan amal mereka sendiri, sebagaimana firman-Nya:
“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (Surat Al-Muthaffifin ayat 14)
Dan Dia berfirman tentang musuh-musuh-Nya dari kalangan Yahudi:
“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup.’ Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya” (Surat Al-Baqarah ayat 88)
Dia mengabarkan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang telah Dia beri petunjuk hingga Dia jelaskan kepadanya apa yang harus ia takuti, lalu ia memilih untuk kecelakaannya dan keburukan tabiatnya kesesatan daripada petunjuk dan kekacauan daripada kebenaran, dan ia bersama nafsunya, setannya, dan musuh Tuhannya melawan dirinya sendiri.
Bagian Pertama: Tentang Sifat-sifat Allah
Adapun tipu daya yang Allah sifatkan pada diri-Nya, maka itu adalah pembalasan-Nya terhadap orang-orang yang menipu wali-wali-Nya dan rasul-rasul-Nya. Maka Dia membalas tipu daya mereka yang buruk dengan tipu daya-Nya yang baik. Sehingga tipu daya dari mereka adalah sejelek-jelek sesuatu, sedangkan dari Allah adalah sebaik-baik sesuatu, karena itu adalah keadilan dan pembalasan.
Demikian pula penipuan dari Allah adalah balasan atas penipuan mereka terhadap rasul-rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Maka tidak ada yang lebih baik dari penipuan dan tipu daya tersebut.
Adapun tentang seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga hingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sehasta, lalu takdir mendahuluinya – sesungguhnya ini adalah amalan ahli surga menurut yang tampak bagi manusia. Seandainya itu adalah amalan saleh yang diterima untuk surga yang telah dicintai dan diridhai Allah, niscaya Allah tidak akan membatalkannya.
Sabda Nabi “tidak tersisa antara dia dan surga kecuali sehasta” menimbulkan keberatan terhadap takwil ini. Maka dikatakan: karena amalan itu dinilai dari akhir dan penutupnya, orang yang beramal ini tidak sabar dengan amalannya hingga sempurna baginya. Bahkan ada cacat tersembunyi dan titik kehinaan yang dengannya dia dikhianati di akhir umurnya. Maka cacat, bencana, dan penyakit batin itu mengkhianatinya di saat dibutuhkan, sehingga dia kembali kepada konsekuensinya dan berbuat sesuai dengannya.
Seandainya tidak ada penipuan dan cacat, Allah tidak akan membalik imannya setelah memberikannya dengan kejujuran dan keikhlasan tanpa sebab darinya yang mengharuskan kerusakannya. Allah mengetahui dari seluruh hamba-Nya apa yang tidak diketahui sebagian mereka dari sebagian yang lain.
Adapun urusan Iblis, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Rabb Ta’ala mengetahui apa yang ada di hati Iblis berupa kekufuran, kesombongan, dan kedengkian yang tidak diketahui para malaikat.
Ketika mereka diperintahkan untuk bersujud, tampak apa yang ada di hati mereka berupa ketaatan, kecintaan, ketakutan, dan kepatuhan, maka mereka bergegas untuk memenuhi perintah. Dan tampak pula apa yang ada di hati musuh Allah berupa kesombongan, penipuan, dan kedengkian, maka dia menolak dan menyombongkan diri serta menjadi termasuk orang-orang kafir.
Adapun ketakutan para wali-Nya dari tipu daya-Nya adalah benar, karena mereka takut bahwa Allah akan mengecewakan mereka karena dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka sehingga mereka menjadi celaka. Maka ketakutan mereka adalah dari dosa-dosa mereka dan harapan mereka adalah pada rahmat-Nya.
Firman Allah: “Maka apakah mereka merasa aman dari tipu daya Allah?” (Surah Al-A’raf ayat 99) – ini hanya berlaku bagi orang-orang fasik dan kafir. Makna ayat tersebut adalah: tidak ada yang bermaksiat lalu merasa aman dari pembalasan Allah atas perbuatan buruknya dengan tipu daya-Nya terhadapnya, kecuali kaum yang merugi.
Yang ditakuti para arif billah dari tipu daya-Nya adalah bahwa Allah menunda azab perbuatan dari mereka sehingga terjadi semacam tertipu, lalu mereka menjadi senang dengan dosa-dosa, kemudian datang azab kepada mereka secara tiba-tiba dalam keadaan lengah dan lemah.
Perkara lain adalah bahwa mereka lalai dari-Nya dan lupa mengingat-Nya, maka Allah menjauhkan diri dari mereka ketika mereka menjauhkan diri dari mengingat dan mentaati-Nya, sehingga bala dan fitnah cepat menimpa mereka. Maka tipu daya-Nya terhadap mereka adalah dengan menjauhkan diri dari mereka.
Perkara lain adalah bahwa Allah mengetahui dari dosa-dosa dan aib-aib mereka apa yang tidak mereka ketahui dari diri mereka sendiri, maka tipu daya datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.
Perkara lain adalah bahwa Allah menguji dan menghimpitkan mereka dengan sesuatu yang tidak sanggup mereka sabar menghadapinya, maka mereka terfitnahkan karenanya. Dan itulah tipu daya.
Tahun adalah pohon, bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, hari-hari adalah ranting-rantingnya, jam-jam adalah daun-daunnya, dan nafas-nafas adalah buahnya.
Barangsiapa nafas-nafasnya dalam ketaatan, maka buah pohonnya baik. Dan barangsiapa dalam kemaksiatan, maka buahnya pahit. Sesungguhnya panen akan terjadi pada hari kembali (akhirat). Pada saat panen itulah akan tampak jelas buah-buahan yang manis dari yang pahit.
Keikhlasan dan tauhid adalah pohon di dalam hati, cabang-cabangnya adalah amalan-amalan, dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan yang kekal di akhirat. Sebagaimana buah-buahan surga tidak putus dan tidak terlarang, demikian pula buah tauhid dan keikhlasan di dunia.
Syirik, dusta, dan riya adalah pohon di dalam hati, buahnya di dunia adalah ketakutan, kegelisahan, kesedihan, sempitnya dada, dan gelapnya hati. Sedangkan buahnya di akhirat adalah pohon zaqqum dan azab yang kekal.
Allah telah menyebutkan kedua pohon ini dalam Surah Ibrahim.
Pasal: Tentang Perjanjian dengan Allah
Ketika seorang hamba mencapai usia baligh, dia diberi perjanjian yang diperjanjikan kepadanya oleh Khaliq dan Pemiliknya. Jika dia mengambil perjanjiannya dengan kuat, penerimaan, dan tekad untuk melaksanakan apa yang ada di dalamnya, maka dia layak untuk kedudukan-kedudukan dan jabatan-jabatan yang layak bagi orang-orang yang menepati perjanjian mereka.
Jika dia bangga diri ketika mengambil perjanjian dan berkata: “Aku telah dipandang layak untuk perjanjian Rabbku, maka siapa yang lebih berhak menerimanya, memahaminya, dan melaksanakannya dariku?” – maka dia bersemangat pertama-tama untuk memahami perjanjiannya, merenungkannya, dan mengetahui wasiat-wasiat tuannya kepadanya.
Kemudian dia mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan apa yang ada dalam perjanjiannya, mengamalkannya, dan melaksanakannya sesuai dengan apa yang tercakup dalam perjanjiannya. Maka dia melihat dengan hatinya hakikat perjanjian dan apa yang dicakupnya, lalu timbul padanya semangat lain dan tekad yang berbeda dari tekad yang ada padanya ketika masa kanak-kanak sebelum sampainya perjanjian.
Dia meminta pembebasan dari kegelapan tertipu masa kanak-kanak dan kepatuhan pada kebiasaan dan lingkungan, serta bersabar atas kemulian cita-cita dan merobek tabir kegelapan menuju cahaya keyakinan. Maka dia meraih sesuai dengan kesabarannya dan kejujuran usahanya apa yang Allah anugerahkan kepadanya dari karunia-Nya.
Tingkat pertama kebahagiaannya adalah memiliki telinga yang mendengar dan hati yang memahami apa yang didengar telinga. Jika dia mendengar, memahami, dan jelas baginya jalan yang lurus, serta melihat tanda-tanda di atasnya, dan melihat kebanyakan manusia menyimpang darinya ke kanan dan kiri, maka dia berpegang teguh padanya dan tidak menyimpang bersama orang-orang yang menyimpang.
Sebab penyimpangan mereka adalah tidak menerima perjanjian, atau mereka menerimanya dengan terpaksa dan tidak mengambilnya dengan kuat, tekad, atau memperbaharui diri mereka dengan memahami, merenungkan, dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya serta melaksanakan wasiat-wasiatnya.
Bahkan ketika perjanjian ditawarkan kepada mereka, mereka dalam keadaan masih terikat dengan masa kanak-kanak, agama kebiasaan, dan apa yang mereka dapati dari bapak-bapak dan ibu-ibu mereka. Maka mereka menerima perjanjian seperti penerimaan orang yang merasa cukup dengan apa yang didapatinya dari nenek moyang dan pendahulunya.
Kebiasaan mereka tidak cukup bagi orang yang mengumpulkan cita-cita dan hatinya untuk memahami perjanjian dan mengamalkannya, hingga seakan-akan perjanjian itu datang kepadanya sendiri dan dikatakan kepadanya: “Renungkanlah apa yang ada di dalamnya, kemudian amalkanlah sesuai konsekuensinya.”
Jika dia tidak menerima perjanjiannya dengan penerimaan seperti itu, dia condong kepada perjalanan kerabat dan apa yang menjadi kebiasaan keluarganya, sahabat-sahabatnya, tetangga-tetangganya, dan penduduk negerinya. Jika cita-citanya tinggi, dia condong kepada apa yang dianut pendahulu dan orang-orang sebelumnya tanpa memperhatikan perenungan dan pemahaman perjanjian, sehingga dia rela agamanya menjadi agama kebiasaan.
Ketika setan menciumnya dan melihat bahwa itulah puncak cita-cita dan tekadnya, dia melemparnya dengan fanatisme dan pembelaan terhadap nenek moyang dan pendahulunya, serta menghiasi baginya bahwa itulah yang benar dan apa yang menyelisihinya adalah batil. Dia menampilkan petunjuk dalam bentuk kesesatan dan kesesatan dalam bentuk petunjuk dengan fanatisme dan pembelaan yang dibangun tanpa ilmu.
Keridhaannya menjadi bersama kaumnya: baginya apa yang bagi mereka dan atasnya apa yang atas mereka. Maka dia terhalang dari petunjuk dan Allah menyerahkannya kepada apa yang dipilihnya. Seandainya datang kepadanya setiap petunjuk yang menyelisihi kaum dan sukunya, dia tidak akan melihatnya kecuali sebagai kesesatan.
Jika cita-citanya lebih tinggi dari itu, dirinya lebih mulia, dan kedudukannya lebih tinggi, dia menghadap kepada menghafal perjanjiannya, memahaminya, dan merenungkannya. Dia mengetahui bahwa pemilik perjanjian memiliki kedudukan yang tidak seperti kedudukan selainnya.
Maka dia menuntut dirinya mengenali-Nya dari perjanjian itu sendiri. Dia mendapati bahwa Allah telah memperkenalkan diri kepada dia dan mengenalkannya pada diri-Nya, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukum-hukum-Nya.
Dia mengetahui dari perjanjian itu: Dzat yang berdiri dengan diri-Nya sendiri, yang menegakkan selain-Nya, yang kaya dari segala sesuatu selain-Nya, dan segala sesuatu selain-Nya butuh kepada-Nya. Dia bersemayam di atas Arsy-Nya di atas seluruh ciptaan-Nya. Dia melihat dan mendengar, ridha dan murka, cinta dan benci, mengatur urusan kerajaan-Nya. Dia di atas Arsy-Nya, berkata-kata, memerintah dan melarang, mengutus rasul-rasul-Nya ke penjuru kerajaan-Nya dengan kalam-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya.
Sesungguhnya Dia berdiri dengan keadilan, membalas kebaikan dan keburukan. Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, Maha Dermawan, Maha Berbuat Baik, yang disifati dengan segala kesempurnaan, dan disucikan dari segala cacat dan kekurangan. Tidak ada yang serupa dengan-Nya.
Dia menyaksikan hikmah-Nya dalam mengatur kerajaan-Nya dan bagaimana Dia menentukan takdir-takdir-Nya dengan kehendak yang tidak bertentangan dengan keadilan dan hikmah-Nya. Berkumpul padanya akal, syariat, dan fitrah, maka masing-masing membenarkan yang lainnya.
Dia memahami dari Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya dalam kitab-Nya dari hakikat-hakikat nama-nama-Nya yang dengannya turun kitab, yang dengannya berbicara, yang untuknya ditetapkan dan dihakikkan, dan yang dengannya Dia mengenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya, hingga akal-akal mengakuinya dan fitrah-fitrah menyaksikannya.
Ketika dia mengenal dengan hatinya dan meyakini sifat-sifat pemilik perjanjian, dan cahaya-cahayanya bersinar di hatinya sehingga menjadi baginya seperti melihat langsung, dia melihat keterkaitannya dengan makhluk dan perintah, kaitan keduanya dengannya, dan berjalannya pengaruh keduanya di alam inderawi dan alam ruhani.
Dia melihat pengaruhnya dalam makhluk-makhluk: bagaimana ia menyeluruh dan mengkhusus, mendekat dan menjauh, memberi dan mencegah. Maka dia menyaksikan dengan hatinya tempat-tempat keadilan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, keadilan-Nya, karunia-Nya, dan rahmat-Nya.
Berkumpul baginya iman dengan kewajiban hujjah-Nya beserta berlakunya ketetapan-ketetapan-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya beserta kesempurnaan keadilan dan hikmah-Nya, puncak ketinggian-Nya atas seluruh makhluk-Nya beserta ihata dan ma’iyyah-Nya, keagungan dan kemuliaan-Nya, kebesaran-Nya, kekuatan dan pembalasan-Nya beserta rahmat, kebaikan, kelembutan, kemurahan, ampunan, dan kesabaran-Nya.
Dia melihat kewajiban hujjah beserta kekuasaan takdir-takdir yang tidak ada makhluk yang keluar darinya, dan bagaimana sifat-sifat itu saling menyertai dan bersesuaian, sebagian menyaksikan sebagian yang lain, dan bersandarnya hikmah yang merupakan akhir dan tujuan kepada takdir-takdir yang merupakan awal dan permulaan, serta kembalinya cabang-cabang kepada pokok-pokoknya dan permulaan-permulaan kepada tujuan-tujuannya.
Hingga seakan-akan dia menyaksikan permulaan-permulaan hikmah dan peletakan dasar-dasar perkara sesuai dengan hikmah, keadilan, kemaslahatan, rahmat, dan kebaikan. Tidak ada satu perkara pun yang keluar dari itu sampai berakhirnya alam-alam dan terpisahnya hukum-hukum pada hari pemisahan antara hamba-hamba, dan tampaknya keadilan dan hikmah-Nya serta pembenaran rasul-rasul-Nya dan apa yang mereka kabarkan tentang-Nya bagi seluruh makhluk, manusia dan jin, mukmin dan kafir.
Ketika itu akan tampak dari sifat-sifat keagungan-Nya dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya bagi makhluk apa yang tidak mereka ketahui sebelum itu, hingga sesungguhnya orang yang paling mengenal-Nya di antara makhluk-Nya di dunia akan memuji-Nya pada hari itu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya yang tidak pernah dia kuasai di dunia.
Sebagaimana itu tampak bagi makhluk-Nya, akan tampak pula bagi mereka sebab-sebab yang dengannya orang-orang yang sesat menjadi sesat, yang tersesat menjadi sesat, dan yang terputus menjadi terputus.
Maka perbedaan antara mengetahui hakikat-hakikat nama-nama dan sifat-sifat pada hari itu dengan mengetahuinya di dunia adalah seperti perbedaan antara mengetahui surga dan neraka dengan menyaksikan keduanya, bahkan lebih besar dari itu.
Demikian pula hamba memahami bagaimana nama-nama dan sifat-sifat-Nya mengharuskan adanya kenabian dan syariat-syariat, dan bahwa Dia tidak membiarkan makhluk-Nya sia-sia. Bagaimana ia mengharuskan apa yang tercakup di dalamnya berupa perintah-perintah dan larangan-larangan. Bagaimana ia mengharuskan terjadinya pahala dan hukuman serta hari pembalasan, dan bahwa itu termasuk konsekuensi nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sehingga Dia disucikan dari apa yang dituduhkan musuh-musuh-Nya berupa pengingkaran terhadap itu.
Dia melihat menyeluruhnya kekuasaan dan ihata-nya terhadap seluruh makhluk hingga tidak ada yang lepas darinya walau seberat atom. Dia melihat bahwa seandainya ada tuhan lain bersama-Nya, niscaya rusak alam ini, maka rusaklah langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya.
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala seandainya Dia bisa tidur atau mati, niscaya hancur berantakan alam ini seluruhnya dan tidak akan bertahan sekejap mata.
Dia melihat bahwa Islam dan iman yang Allah perintahkan kepada seluruh hamba-Nya, bagaimana keduanya muncul dari sifat-sifat yang suci dan bagaimana keduanya mengharuskan pahala dan hukuman di dunia dan akhirat.
Dia melihat bersamaan dengan itu bahwa tidak akan lurus penerimaan perjanjian ini dan komitmen terhadapnya bagi orang yang mengingkari sifat-sifat-Nya dan mengingkari ketinggian-Nya atas makhluk-Nya serta perkataan-Nya dengan kitab-kitab dan perjanjian-perjanjian-Nya, sebagaimana tidak akan lurus penerimaannya bagi orang yang mengingkari hakikat pendengaran, penglihatan, kehidupan, kehendak, dan kekuatan-Nya.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menolak perjanjian-Nya dan enggan menerimanya. Dan orang yang menerima dari mereka tidak menerimanya dengan seluruh isinya.
Dan dengan Allah-lah taufik.
Bab: Penciptaan Tubuh Anak Adam dari Bumi dan Rohnya dari Kerajaan Langit serta Perpaduan Keduanya
Sesungguhnya tubuh anak Adam diciptakan dari bumi dan rohnya dari kerajaan langit, lalu keduanya dipadukan. Jika seseorang melaparkan tubuhnya, membuatnya begadang, dan membuatnya berdiri dalam pelayanan (kepada Allah), maka rohnya akan merasakan keringan dan ketenangan, sehingga ia merindukan tempat asalnya diciptakan dan berhasrat kepada alam atasnya. Namun jika ia mengenyangkan tubuhnya, memanjakan, dan membuatnya tidur serta sibuk dengan pelayanan dan kenyamanan tubuh, maka tubuh akan condong kepada tempat asalnya diciptakan, dan roh akan tertarik bersamanya sehingga menjadi seperti di dalam penjara. Seandainya roh tidak terbiasa dengan penjara itu, niscaya ia akan meminta tolong karena kesakitan dan meninggalkan serta terputus dari alamnya yang asli tempat ia diciptakan, sebagaimana orang yang disiksa meminta tolong.
Kesimpulannya, semakin ringan tubuh, semakin halus dan ringan roh serta mencari alam atasnya. Semakin berat tubuh dan condong kepada syahwat dan kenyamanan, semakin berat roh dan turun dari alamnya serta menjadi bersifat duniawi rendah. Maka engkau akan melihat seseorang yang rohnya berada di ar-Rafiq al-A’la (Teman Tertinggi) sementara tubuhnya di sisimu. Ia tidur di tempat tidurnya namun rohnya berada di Sidratul Muntaha berkeliling Arasy. Sementara yang lain berdiri dalam pelayanan dengan tubuhnya, namun rohnya di bawah berkeliling hal-hal rendah. Jika roh berpisah dari tubuh, ia akan bergabung dengan temannya yang tertinggi atau yang terendah. Di sisi ar-Rafiq al-A’la terdapat segala penyejuk mata, kenikmatan, kegembiraan, kebahagiaan, kelezatan, dan kehidupan yang baik. Sedangkan di sisi ar-Rafiq al-Asfal (teman terendah) terdapat segala kepedihan, kesedihan, kesempitan, duka, kehidupan yang sengsara, dan penghidupan yang sempit.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Taha ayat 124: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Peringatan-Nya adalah kalam-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Berpaling darinya adalah meninggalkan perenungan dan pengamalan dengannya. Adapun penghidupan yang sempit, sebagian besar penafsiran menyebutkan bahwa itu adalah azab kubur. Demikian dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, dan Ibnu Abbas, dan terdapat hadis marfu’ tentang hal itu. Asal kata “dank” dalam bahasa Arab adalah kesempitan dan kesusahan. Segala yang sempit disebut “dank”, seperti rumah yang sempit dan kehidupan yang sempit.
Penghidupan yang sempit ini berkebalikan dengan meluaskan diri dan tubuh dengan syahwat, kelezatan, dan kenyamanan. Sesungguhnya jiwa, semakin dilonggarkan untuknya, semakin menyempitkan hati hingga menjadi penghidupan yang sempit. Semakin disempitkan untuknya, semakin meluaskan hati hingga lapang dan lega. Sempitnya penghidupan di dunia dengan sebab takwa akan menjadi keluasannya di alam barzakh dan akhirat. Luasnya penghidupan di dunia dengan mengikuti hawa nafsu akan menjadi sempitnya di alam barzakh dan akhirat. Maka pilihlah penghidupan yang terbaik, paling baik, paling kekal. Berikanlah kesusahan pada tubuh demi kenikmatan roh, dan jangan berikan kesusahan pada roh demi kenikmatan tubuh. Sesungguhnya kenikmatan dan kesengsaraan roh lebih besar dan lebih kekal, sedangkan kenikmatan dan kesengsaraan tubuh lebih pendek dan lebih ringan. Hanya Allah yang diminta pertolongan.
Bab: Orang Arif Tidak Memerintahkan Manusia Meninggalkan Dunia
Orang yang arif tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia karena mereka tidak mampu meninggalkannya, tetapi ia memerintahkan mereka meninggalkan dosa-dosa sambil tetap berada dalam dunia mereka. Meninggalkan dunia adalah keutamaan, sedangkan meninggalkan dosa adalah kewajiban. Bagaimana mungkin diperintahkan keutamaan kepada orang yang belum menunaikan kewajiban? Jika sulit bagi mereka meninggalkan dosa-dosa, maka bersungguh-sungguhlah untuk membuat mereka mencintai Allah dengan menyebutkan karunia-Nya, nikmat-Nya, kebaikan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya. Sesungguhnya hati-hati diciptakan untuk mencintai-Nya. Jika hati telah terpaut dengan cinta-Nya, akan mudah meninggalkan dosa-dosa, menganggap remeh, dan tidak bersikeras melakukannya.
Yahya bin Mu’adz berkata: “Pencarian orang berakal terhadap dunia lebih baik daripada peninggalan orang bodoh terhadapnya.” Orang arif mengajak manusia kepada Allah dari dunia mereka, sehingga mudah bagi mereka untuk menjawab. Sedangkan zahid mengajak mereka kepada Allah dengan meninggalkan dunia, sehingga sulit bagi mereka untuk menjawab. Sesungguhnya menyapih dari puting yang tidak pernah manusia mengenal dirinya kecuali sambil menyusu darinya adalah berat. Tetapi yang terbaik dari para ibu menyusui adalah yang paling suci dan paling utama, karena air susu berpengaruh pada tabiat anak yang menyusu. Menyusui pada wanita bodoh akan menyebabkan kebodohan pada anak. Penyusuan yang paling bermanfaat adalah yang dilakukan saat lapar. Jika engkau kuat dengan pahitnya penyapihan, jika tidak, menyusulah secukupnya, karena di antara kekenyangan ada yang membunuh.
Antara penjagaan hak-hak saat dalam kesusahan dan penjagaannya saat dalam keadaan sehat terdapat jarak yang jauh. Sesungguhnya hamba-Ku, setiap hamba-Ku yang mengingat-Ku saat ia sedang menghadapi musuhnya…
Allah berfirman dalam Surat al-Anfal ayat 45: “Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
Bukanlah keajaiban jika orang yang sehat dan senggang berdiri dalam pelayanan. Keajaiban justru dari orang yang lemah dan sakit yang disibukkan berbagai urusan dan berubah-ubah keadaannya, namun hatinya tetap berdiri dalam pelayanan tanpa tertinggal dengan kemampuan yang ia miliki.
Ma’rifah Allah Subhanahu ada dua macam: ma’rifah pengakuan, yaitu yang sama-sama dimiliki oleh manusia, baik yang berbakti maupun yang durhaka, yang taat maupun yang bermaksiat. Yang kedua adalah ma’rifah yang menimbulkan rasa malu kepada-Nya, cinta kepada-Nya, keterikatan hati kepada-Nya, kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, takut kepada-Nya, taubat kepada-Nya, keakraban dengan-Nya, dan lari dari makhluk kepada-Nya. Inilah ma’rifah yang murni yang berlaku pada lisan kaum sufi, dan perbedaan mereka di dalamnya tidak dapat dihitung kecuali oleh Yang memperkenalkan mereka kepada diri-Nya sendiri dan mengungkap kepada hati mereka dari ma’rifah-Nya apa yang Ia sembunyikan dari selain mereka. Setiap orang menunjukkan ma’rifah ini sesuai dengan maqamnya dan apa yang diungkap kepadanya darinya.
Orang yang paling mengenal makhluk tentang-Nya telah berkata: “Aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Dan ia mengabarkan bahwa Allah Subhanahu akan membukakan kepadanya pada hari kiamat dari pujian-Nya apa yang tidak ia kuasai sekarang.
Ma’rifah ini memiliki dua pintu yang luas: pintu pertama adalah tafakkur dan ta’ammul dalam ayat-ayat al-Quran seluruhnya dan pemahaman khusus dari Allah dan Rasul-Nya. Pintu kedua adalah tafakkur dalam ayat-ayat-Nya yang disaksikan dan merenungkan hikmah-Nya di dalamnya, kekuasaan-Nya, kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, keadilan-Nya, dan tegaknya Ia dengan keadilan atas makhluk-Nya. Keseluruhan itu adalah fiqh dalam makna Asma-Nya yang Husna, keagungan dan kesempurnaannya, keunikan-Nya dengan itu, dan keterkaitan dengan makhluk dan perintah. Maka ia akan menjadi faqih dalam perintah dan larangan-Nya, faqih dalam qada dan qadar-Nya, faqih dalam Asma dan sifat-Nya, faqih dalam hukum agama syar’i dan hukum alam qadari.
Allah berfirman dalam Surat al-Jumu’ah ayat 4: “Yang demikian itu adalah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
Bab: Empat Macam Dirham
Dirham itu ada empat macam: dirham yang diperoleh dengan ketaatan kepada Allah dan dikeluarkan untuk hak Allah, itulah sebaik-baik dirham. Dirham yang diperoleh dengan kemaksiatan kepada Allah dan dikeluarkan untuk kemaksiatan kepada Allah, itulah sejelek-jelek dirham. Dirham yang diperoleh dengan menyakiti muslim dan dikeluarkan untuk menyakiti muslim, demikian juga hukumnya. Dirham yang diperoleh dengan cara halal dan dibelanjakan untuk syahwat yang halal, itu tidak untuknya dan tidak atasnya.
Inilah pokok-pokok dirham dan darinya bercabang dirham-dirham lain, di antaranya: dirham yang diperoleh dengan hak dan dibelanjakan untuk batil, dirham yang diperoleh dengan batil dan dibelanjakan untuk hak maka pembelanjaannya adalah kaffaratnya, dirham yang diperoleh dari syubhat maka kaffaratnya adalah membelanjakannya untuk ketaatan.
Sebagaimana pahala, siksa, pujian, dan celaan berkaitan dengan pengeluaran dirham, demikian juga berkaitan dengan perolehannya. Demikian juga ia akan ditanya tentang cara memperoleh dan membelanjakannya: dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.
Bab: Muwasah (Berbagi) untuk Mukmin
Muwasah untuk mukmin ada beberapa macam: muwasah dengan harta, muwasah dengan kedudukan, muwasah dengan badan dan pelayanan, muwasah dengan nasihat dan bimbingan, muwasah dengan doa dan istighfar untuk mereka, muwasah dengan ikut merasakan kesedihan mereka. Sesuai kadar iman, muwasah ini akan ada. Semakin lemah iman, semakin lemah muwasah. Semakin kuat iman, semakin kuat muwasah.
Rasulullah adalah manusia yang paling besar muwasahnya kepada para sahabatnya dengan semua itu. Maka para pengikutnya mendapat muwasah sesuai kadar mengikutinya. Mereka masuk menemui Bisyr al-Hafi pada hari yang sangat dingin. Ia telah menanggalkan pakaian dan menggigil. Mereka berkata: “Apa ini wahai Abu Nasr?” Ia menjawab: “Aku teringat orang-orang fakir dan dingin mereka. Aku tidak memiliki apa-apa untuk berbagi dengan mereka, maka aku ingin berbagi dalam dingin mereka.”
Bab: Ketidaktahuan tentang Jalan
Ketidaktahuan tentang jalan, bahaya-bahayanya, dan tujuan akan menyebabkan kelelahan yang banyak dengan faedah yang sedikit. Sesungguhnya pemiliknya terkadang bersungguh-sungguh dalam sunnah sambil menyia-nyiakan fardhu, atau beramal dengan anggota badan tanpa sejalan dengan amal hati, atau beramal dengan batin dan zahir tanpa terikat dengan iqtida’ (mengikuti), atau berhimmah kepada amal tanpa terangkat kepada memperhatikan tujuan, atau beramal tanpa berhati-hati dari bahaya-bahaya yang merusaknya saat beramal dan sesudahnya, atau beramal dengan lalai dari menyaksikan pemberian sehingga tidak terlepas dari syirkah jiwa di dalamnya, atau beramal tanpa menyaksikan kekurangannya sehingga berdiri sesudahnya dalam maqam meminta maaf darinya, atau beramal tanpa memberikan haknya dari nasehat dan ihsan padahal ia mengira telah memberikan haknya.
Semua ini mengurangi buah dengan banyaknya lelah. Allah yang memberikan taufik.
Bab: Rintangan dalam Perjalanan kepada Allah
Jika hamba bertekad untuk bersafar kepada Allah Ta’ala dan mengira-Nya, akan muncul kepadanya tipu daya dan penghalang. Pertama ia akan tertipu dengan syahwat, kepemimpinan, kelezatan, pernikahan, dan pakaian. Jika ia berhenti padanya, ia akan terputus. Jika ia menolaknya dan tidak berhenti padanya serta jujur dalam pencariannya, ia akan diuji dengan orang-orang yang mencium tumit dan tangannya, memberikan tempat luas untuknya dalam majlis, menunjuknya dengan doa, mengharap berkahnya, dan semacam itu. Jika ia berhenti padanya dan terputus karenanya dari Allah, itu menjadi bagiannya darinya. Jika ia memutuskannya dan tidak berhenti padanya, ia akan diuji dengan karamah dan kasyf. Jika ia berhenti padanya, ia akan terputus karenanya dari Allah dan itu menjadi bagiannya. Jika ia tidak berhenti padanya, ia akan diuji dengan tajrid, takhallu, kelezatan berkumpul, kemuliaan menyendiri, dan kosong dari dunia. Jika ia berhenti pada itu, ia akan terputus dari tujuan. Jika ia tidak berhenti padanya dan berjalan sambil memandang kepada yang diinginkan Allah darinya dan apa yang Ia cintai darinya, sehingga ia menjadi hamba yang berhenti pada kecintaan dan keridhaan-Nya di mana pun dan bagaimana pun—lelah karenanya atau istirahat, nikmat atau sakit, mengeluarkannya kepada manusia atau mengasingkan dari mereka—ia tidak memilih untuk dirinya selain apa yang dipilih walinya dan tuannya untuknya, berdiri dengan perintah-Nya melaksanakannya sesuai kemungkinan, dan dirinya di sisinya lebih hina daripada mendahulukan kenyamanan dan kelezatannya atas keridhaan tuannya dan perintah-Nya, maka inilah hamba yang telah sampai dan berhasil, tidak ada yang memutuskannya dari tuannya. Dengan Allah-lah taufik.
Bagian: Tentang Nikmat
Nikmat itu ada tiga macam: nikmat yang sudah ada yang diketahui oleh hamba, nikmat yang ditunggu-tunggu dan diharapkan, dan nikmat yang sedang dialami tapi tidak disadari. Ketika Allah hendak menyempurnakan nikmat-Nya kepada hamba-Nya, maka Dia akan mengenalkan nikmat yang sedang ada kepadanya dan memberikan kepadanya rasa syukur sebagai pengikat agar nikmat itu tidak lari, karena sesungguhnya nikmat itu akan lari karena kemaksiatan dan terikat karena syukur. Allah juga memberikan taufik untuk beramal yang dapat mendatangkan nikmat yang ditunggu-tunggu, dan memberikan pandangan terhadap jalan-jalan yang dapat menghalangi dan memutus jalannya nikmat tersebut, serta taufik untuk menjauhinya. Ketika itu nikmat tersebut datang kepadanya dengan cara yang paling sempurna, dan Allah mengenalkan kepadanya nikmat-nikmat yang sedang ia alami tapi tidak disadarinya.
Diceritakan bahwa seorang Arab Badui masuk menemui Khalifah Harun Ar-Rasyid, lalu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah menetapkan atasmu nikmat-nikmat yang sedang kau alami dengan melanggengkan syukur terhadapnya, dan semoga Allah mewujudkan bagimu nikmat-nikmat yang kau harapkan dengan berbaik sangka kepada-Nya dan melanggenkan ketaatan kepada-Nya, dan semoga Allah mengenalkanmu nikmat-nikmat yang sedang kau alami tapi belum kau ketahui agar kau bersyukur atasnya.” Harun Ar-Rasyid terkesan dengan ucapannya dan berkata: “Betapa bagusnya pembagiannya.”
Permulaan setiap ilmu teoretis dan amal pilihan adalah khawatir dan pikiran-pikiran, karena sesungguhnya hal itu menimbulkan berbagai konsep, dan konsep-konsep itu mengajak kepada keinginan-keinginan, dan keinginan-keinginan itu menuntut terjadinya perbuatan. Seringnya pengulangan memberikan kebiasaan. Maka kebaikan tahapan-tahapan ini karena baiknya khawatir dan pikiran, dan kerusakannya karena rusaknya hal tersebut.
Baiknya khawatir adalah dengan memperhatikan Wali dan Tuhannya, naik kepada-Nya, berputar pada ridha-Nya dan kecintaan-Nya. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu dengan-Nya segala kebaikan, dari sisi-Nya segala petunjuk, dari taufik-Nya segala kebenaran, dari perlindungan-Nya untuk hamba-Nya segala pemeliharaan, dan dari pengalihan dan perpaling-Nya darinya segala kesesatan dan kesengsaraan.
Hamba akan memperoleh segala kebaikan, petunjuk, dan kebenaran sesuai dengan kadar penetapan mata hati pikirannya pada karunia-karunia-Nya dan nikmat-nikmat-Nya, tauhid-Nya, jalan-jalan mengenal-Nya, dan jalan-jalan menghamba kepada-Nya, serta menganggap-Nya hadir bersamanya, menyaksikan-Nya, memandang kepada-Nya, mengawasi-Nya, mengetahui khawatir-khawatirnya, keinginan-keinginannya, dan ketertarikannya.
Ketika itu ia akan malu kepada-Nya dan mengagungkan-Nya, tidak mau Dia melihat darinya aurat yang ia benci untuk dilihat oleh makhluk sejenisnya, atau melihat dari dirinya khawatir yang dibenci-Nya. Apabila ia menempatkan Tuhannya pada kedudukan ini darinya, maka Allah akan mengangkat dan mendekatkannya kepada-Nya, memuliakannya, memilihnya, dan melindunginya. Sesuai dengan itu pula ia akan menjauh dari kotoran-kotoran, kehinaan-kehinaan, khawatir-khawatir buruk, dan pikiran-pikiran hina.
Sebagaimana ia jika menjauh dari-Nya dan berpaling dari-Nya, maka akan dekat dengan kotoran-kotoran, kehinaan-kehinaan, dan najis-najis, terputus dari semua kesempurnaan dan terhubung dengan semua kekurangan. Manusia adalah sebaik-baik makhluk jika mendekatkan diri kepada Penciptanya dan berpegang teguh pada perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, beramal dengan ridha-Nya dan mengutamakan-Nya atas hawa nafsunya. Dan manusia adalah seburuk-buruk makhluk jika menjauh dari-Nya dan hatinya tidak bergerak untuk mendekat kepada-Nya, taat kepada-Nya, dan mengharap ridha-Nya.
Apabila ia memilih mendekat kepada-Nya dan mengutamakan-Nya atas diri dan hawa nafsunya, maka sungguh ia telah memenangkan hatinya, akalnya, dan imannya atas dirinya dan syaitannya, dan memenangkan kearifannya atas kesesatannya serta petunjuknya atas hawa nafsunya. Dan apabila ia memilih menjauh dari-Nya, maka sungguh ia telah memenangkan diri, hawa nafsu, dan syaitannya atas akal, hati, dan kearifannya.
Ketahuilah bahwa khawatir-khawatir dan bisikan-bisikan mengantarkan hal-hal yang berkaitan dengannya kepada pikiran, lalu pikiran mengambilnya dan mengantarkannya kepada ingatan, lalu ingatan mengambilnya dan mengantarkannya kepada keinginan, lalu keinginan mengambilnya dan mengantarkannya kepada anggota badan dan amal, lalu menguat dan menjadi kebiasaan. Menolaknya dari permulaan lebih mudah daripada memutusnya setelah kuat dan sempurna.
Diketahui bahwa manusia tidak diberi kemampuan untuk mematikan khawatir dan tidak diberi kekuatan untuk memutusnya, karena sesungguhnya hal itu menyerang seperti serangan napas. Tetapi kekuatan iman dan akal membantunya untuk menerima yang terbaik darinya dan ridha terhadapnya serta bermukim dengannya, dan menolak yang terburuk darinya serta benci dan menjauh darinya.
Sebagaimana dikatakan para sahabat: “Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai terbakar hingga menjadi arang daripada mengucapkannya.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?” Mereka berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Itulah iman yang murni.” Dan dalam lafaz lain: “Segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipudayanya kepada waswaas.”
Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama, bahwa menolak dan membencinya adalah iman yang murni. Kedua, bahwa keberadaannya dan pelemparan syaitan kepadanya dalam jiwa adalah iman yang murni, karena sesungguhnya syaitan melemparkannya dalam jiwa untuk menentang iman dan menghilangkannya.
Allah Subhanahu telah menciptakan jiwa menyerupai penggiling yang berputar yang tidak diam dan pasti butuh sesuatu untuk digiling. Jika dimasukkan kepadanya biji-bijian, maka akan digilingnya, dan jika dimasukkan tanah atau kerikil, maka akan digilingnya juga. Maka pikiran-pikiran dan khawatir-khawatir yang berkeliling dalam jiwa adalah seperti biji-bijian yang dimasukkan dalam penggiling. Penggiling itu tidak pernah berhenti sama sekali, pasti butuh sesuatu yang dimasukkan kepadanya.
Di antara manusia ada yang penggilingnya menggiling biji-bijian yang mengeluarkan tepung yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, dan kebanyakan mereka menggiling pasir, kerikil, jerami, dan sejenisnya. Ketika tiba waktu menguleni dan memanggang, baru terlihat hakikat tepungnya.
Bagian
Jika kau menolak khawatir yang datang kepada mu, maka akan terdorong darimu apa yang setelahnya. Dan jika kau menerimanya, maka menjadi pikiran yang berkeliling, lalu menggunakan keinginan, lalu keinginan dan pikiran saling membantu untuk menggunakan anggota badan. Jika sulit menggunakannya, maka kembali kepada hati dengan angan-angan dan syahwat serta mengarahkannya kepada arah yang diinginkan.
Diketahui bahwa memperbaiki khawatir lebih mudah daripada memperbaiki pikiran, memperbaiki pikiran lebih mudah daripada memperbaiki keinginan, memperbaiki keinginan lebih mudah daripada memperbaiki kerusakan amal, dan memperbaikinya lebih mudah daripada memutus kebiasaan-kebiasaan.
Obat yang paling bermanfaat adalah engkau menyibukkan dirimu dengan berpikir dalam hal yang berguna bagimu tanpa yang tidak berguna bagimu. Berpikir dalam hal yang tidak berguna adalah pintu segala keburukan. Barangsiapa berpikir dalam hal yang tidak berguna, maka terlewatlah darinya apa yang berguna, dan tersibuk dari hal yang paling bermanfaat baginya dengan apa yang tidak ada manfaatnya baginya.
Pikiran, khawatir, keinginan, dan tekad adalah hal yang paling berhak diperbaiki dari dirimu, karena ini adalah kekhususanmu dan hakikatmu yang dengannya kau menjauh atau mendekat dari Tuhanmu dan sesembahanmu yang tidak ada kebahagiaan bagimu kecuali dalam kedekatan kepada-Nya dan ridha-Nya kepadamu, dan semua kesengsaraan dalam jauhmu dari-Nya dan murka-Nya kepadamu.
Barangsiapa yang dalam khawatir-khawatirnya dan lapangan pikirannya hina dan rendah, maka tidak akan ada dalam seluruh urusannya kecuali seperti itu. Janganlah kau biarkan syaitan menguasai rumah pikiran-pikiranmu dan keinginanmu, karena sesungguhnya ia akan merusaknya kepadamu dengan kerusakan yang sulit diperbaiki, dan ia melemparkan kepadamu berbagai jenis bisikan dan pikiran-pikiran yang merugikan, serta menghalangi antara kau dan berpikir dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan kaulah yang telah membantunya atas dirimu dengan memungkinkannya menguasai hati dan khawatir-khawatirmu, maka ia menguasainya atasmu.
Perumpamaanmu dengannya seperti pemilik penggiling yang menggiling di dalamnya biji-bijian yang baik, lalu datang kepadanya seseorang membawa beban tanah, kotoran, arang, dan sampah untuk digiling dalam penggilingannya. Jika ia mengusirnya dan tidak memungkinkannya melemparkan apa yang dibawanya dalam penggiling, maka akan terus menggiling apa yang bermanfaat baginya. Dan jika ia memungkinkannya melemparkan itu dalam penggiling, maka akan merusak apa yang ada di dalamnya dari biji-bijian, dan keluarlah semua tepung dalam keadaan rusak.
Apa yang dilemparkan syaitan dalam jiwa tidak keluar dari berpikir dalam hal yang telah terjadi dan masuk dalam wujud seandainya berbeda dari itu, dan dalam hal yang belum terjadi seandainya terjadi bagaimana akan terjadi, atau dalam hal yang dapat dikuasai pikiran darinya dari berbagai jenis kekejian dan haram, atau dalam khayalan-khayalan yang tidak ada hakikatnya, atau dalam kebatilan, atau dalam hal yang tidak ada jalan untuk mencapainya dari berbagai jenis apa yang disembunyikan dari ilmunya. Maka ia melemparkannya dalam khawatir-khawatir yang tidak dapat dicapai ujungnya dan tidak dapat ditemukan akhirnya, lalu menjadikan itu lapangan pikiran dan gelanggang kekhawatirannya.
Kesimpulan perbaikan itu adalah engkau menyibukkan pikiranmu dalam bidang ilmu-ilmu dan konsep-konsep dengan mengetahui apa yang wajib bagimu dari tauhid dan hak-haknya, tentang kematian dan apa sesudahnya hingga masuk surga dan neraka, tentang kerusakan-kerusakan amal dan jalan-jalan berhati-hati darinya. Dan dalam bidang keinginan-keinginan dan tekad adalah engkau menyibukkan dirimu dengan menginginkan apa yang bermanfaat bagimu menginginkannya dan membuang keinginan apa yang merugikanmu menginginkannya.
Menurut para arif, berangan-angan khianat dan menyibukkan pikiran serta hati dengannya lebih berbahaya bagi hati daripada khianat itu sendiri, apalagi jika hatinya kosong darinya setelah melakukannya. Karena berangan-angannya menyibukkan hati dengannya, memenuhi hati darinya, dan menjadikannya kekhawatiran dan keinginannya.
Kau akan mendapati dalam kenyataan bahwa raja dari manusia jika ada di antara pengikut dan pelayannya yang berangan-angan khianat kepadanya, sibuk hati dan pikiran dengannya, penuh darinya, dan ia dengan itu dalam pelayanannya dan menyelesaikan urusan-urusannya, maka jika ia mengetahui rahasia dan maksudnya, ia akan sangat membencinya dan membencinya serta menghadapinya dengan apa yang ia pantas dapatkan, dan ia akan lebih dibenci daripada orang yang jauh darinya yang melakukan sebagian kejahatan sedangkan hati dan rahasianya bersama raja, tidak mengandung angan-angan khianat, kecintaan terhadapnya, dan keserakahan atasnya.
Yang pertama meninggalkannya karena lemah dan sibuk dengan apa yang ia lakukan sedangkan hatinya penuh dengannya, dan yang kedua melakukannya sedangkan hatinya benci terhadapnya, tidak ada dalam hatinya penyembunyian khianat dan tidak bersikeras atasnya. Maka ini lebih baik keadaannya dan lebih selamat akibatnya daripada yang pertama.
Secara keseluruhan, hati tidak akan kosong dari berpikir, baik dalam kewajiban akhiratnya dan kemaslahatan-kemaslahatan-nya, atau dalam kemaslahatan dunianya dan kehidupannya, atau dalam bisikan-bisikan dan angan-angan batil serta perhitungan-perhitungan yang diandaikan.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa jiwa perumpamaannya seperti penggiling yang berputar dengan apa yang dilemparkan kepadanya. Jika dilemparkan kepadanya biji-bijian maka berputar dengannya, dan jika dilemparkan kepadanya kaca, kerikil, dan kotoran maka berputar dengannya. Allah Subhanahu adalah pengurus penggiling itu, pemiliknya, dan yang mengaturnya. Dia telah mengangkat untuknya malaikat yang melemparkan kepadanya apa yang bermanfaat maka berputar dengannya, dan syaitan yang melemparkan kepadanya apa yang merugikan maka berputar dengannya.
Malaikat menghampirinya sekali dan syaitan menghampirinya sekali. Biji-bijian yang dilemparkan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan pembenaran terhadap janji. Biji-bijian yang dilemparkan syaitan adalah janji dengan keburukan dan pendustaan terhadap janji. Tepung sesuai dengan kadar biji-bijian.
Pemilik biji-bijian yang merugikan tidak dapat melemparkannya kecuali jika mendapati penggiling kosong dari biji-bijian yang bermanfaat dan pengurusnya telah mengabaikannya dan berpaling darinya. Ketika itu ia segera melemparkan apa yang bersamanya kepadanya.
Secara keseluruhan, pengurus penggiling jika meninggalkannya dan meninggalkan perbaikannya serta pelemparan biji-bijian yang bermanfaat kepadanya, maka musuh akan mendapat jalan untuk merusaknya dan membuatnya sesuai keinginannya dengan apa yang bersamanya.
Asal perbaikan penggiling ini adalah dengan menyibukkan diri dengan apa yang berguna bagimu, dan semua kerusakannya dalam menyibukkan diri dengan apa yang tidak berguna bagimu.
Betapa bagusnya apa yang dikatakan sebagian orang berakal: “Ketika aku mendapati berbagai jenis harta kekayaan ditetapkan sebagai sasaran bagi yang mengumpulkannya, dan aku melihat kehilangan menguasainya dan mencapainya, aku berpaling dari semuanya kepada apa yang tidak diperdebatkan oleh akal bahwa ia adalah paling bermanfaat dari harta kekayaan, paling utama dari perolehan, dan paling menguntungkan dari perdagangan.” Dan Allah yang diminta pertolongan.
Syaqiq bin Ibrahim berkata: “Pintu taufik tertutup dari makhluk karena enam hal: kesibukan mereka dengan nikmat tanpa bersyukur atasnya, keinginan mereka pada ilmu tapi meninggalkan amal, tergesa-gesa dalam dosa dan menunda taubat, tertipu dengan bergaul dengan orang-orang saleh tapi meninggalkan ikut-ikutan terhadap perbuatan mereka, dunia berpaling dari mereka tapi mereka mengikutinya, dan akhirat menghadap kepada mereka tapi mereka berpaling darinya.”
Aku katakan: Asal itu adalah tidak adanya keinginan dan ketakutan, dan asalnya adalah lemahnya keyakinan, dan asalnya adalah lemahnya pandangan, dan asalnya adalah kehinaan jiwa dan kerendahannya serta menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik. Selain itu, jika jiwa mulia dan besar, tidak akan rela dengan yang rendah.
Asal segala kebaikan dengan taufik Allah dan kehendak-Nya serta kemuliaan jiwa, kemuliaannya, dan kebesarannya. Dan asal keburukan adalah kehinaan, kerendahan, dan kekecilan jiwa.
Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Asy-Syams: 9-10), yaitu beruntung orang yang membesarkan, memperbanyak, dan menumbuhkannya dengan ketaatan kepada Allah, dan rugi orang yang mengecilkan dan menghinakannya dengan kemaksiatan kepada Allah.
Jiwa-jiwa yang mulia tidak rela dari hal-hal kecuali yang paling tinggi, paling utama, dan paling terpuji akibatnya. Jiwa-jiwa yang hina berkeliling di sekitar kehinaan-kehinaan dan hinggap padanya sebagaimana lalat hinggap pada kotoran.
Jiwa yang mulia dan tinggi tidak rela dengan kezaliman, kekejian, pencurian, dan khianat karena ia lebih besar dan lebih mulia dari itu. Jiwa yang hina, rendah, dan buruk kebalikan dari itu. Setiap jiwa cenderung kepada apa yang sesuai dan serupa dengannya.
Ini makna firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Setiap orang berbuat menurut keadaannya” (Al-Isra: 84), yaitu menurut apa yang serupa dan sesuai dengannya. Maka ia beramal menurut jalannya yang sesuai dengan akhlak dan tabiatnya. Setiap manusia berjalan menurut jalan, mazhab, dan kebiasaannya yang dikenalnya dan diciptakan atasnya.
Orang yang durhaka beramal dengan apa yang menyerupai jalannya dari membalas nikmat dengan kemaksiatan dan berpaling dari nikmat. Orang yang beriman beramal dengan apa yang sesuai dengannya dari bersyukur atas nikmat, mencintainya, memujinya, mendekatkan diri kepada-Nya, malu kepada-Nya, mengawasinya, mengagungkannya, dan memuliakannya.
Bab
Barangsiapa yang tidak mengenal dirinya, bagaimana ia dapat mengenal Penciptanya? Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan di dalam dadamu sebuah rumah, yaitu hati, dan meletakkan di dalam dadanya sebuah singgasana untuk mengenal-Nya. Di atas singgasana itu bersemayam sifat yang paling tinggi. Allah bersemayam di atas Arsy-Nya dengan Zat-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Sifat yang paling tinggi dari pengenalan, kecintaan, dan tauhid kepada-Nya bersemayam di atas tahta hati. Di atas tahta itu terdapat hamparan ridha, dan Dia letakkan di sebelah kanan dan kirinya bantal-bantal syariat dan perintah-perintah-Nya.
Allah membukakan kepadanya pintu dari surga rahmat-Nya, ketenangan bersama-Nya, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Dia turunkan kepadanya hujan dari kalam-Nya yang menumbuhkan di dalamnya berbagai jenis bunga dan pohon-pohon berbuah dari aneka ketaatan, tahlil, tasbih, tahmid, dan takdis.
Allah menjadikan di tengah taman itu pohon pengenalan yang berbuah setiap saat dengan izin Tuhannya, berupa kecintaan, taubat, rasa takut, kegembiraan kepada-Nya, dan kebahagiaan karena dekat dengan-Nya. Dia alirkan ke pohon itu air yang menyiraminya dari pemahaman kalam-Nya, memahaminya, dan mengamalkan wasiat-wasiat-Nya.
Allah gantungkan di rumah itu sebuah pelita yang dinyalakan dengan cahaya pengenalan kepada-Nya, iman kepada-Nya, dan tauhid kepada-Nya. Pelita itu mendapat cahaya dari “pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api” (Surah An-Nur: 35).
Kemudian Allah kelilingi rumah itu dengan tembok yang mencegah masuknya segala kerusakan dan perusak, serta mereka yang menyakiti taman itu, sehingga tidak ada yang dapat merusaknya jika mereka berniat jahat. Allah tempatkan penjaga dari para malaikat yang menjaganya dalam keadaan terjaga maupun tidur.
Kemudian Allah memberitahukan kepada pemilik rumah dan taman tentang penghuni di dalamnya. Maka senantiasa perhatiannya tertuju untuk memperbaiki tempat tinggal dan merapikan kekurangannya agar penghuni itu ridha dengan tempat tinggalnya. Jika ia merasakan sedikit saja kekurangan dalam tempat tinggal itu, ia segera memperbaiki dan merapikannya karena takut penghuni itu akan pindah darinya. Maka sebaik-baik penghuni dan sebaik-baik tempat tinggal. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Betapa berbedanya rumah ini dengan rumah yang telah dikuasai kehancuran dan menjadi sarang serangga dan binatang melata, tempat membuang kotoran dan najis. Barangsiapa yang ingin buang air dan memenuhi hajatnya akan menemukan tempat roboh yang tidak berpenghuni dan tidak terjaga. Tempat itu dipersiapkan untuk buang air, gelap di segala penjuru, berbau busuk, telah diliputi kehancuran dan dipenuhi kotoran. Tidak ada yang merasa nyaman dan tidak ada yang mau tinggal di dalamnya kecuali yang sesuai dengan penghuninya dari serangga, cacing, dan binatang melata.
Setan duduk di atas tahtanya, di atas tahta itu hamparan kebodohan, di dalamnya berkibar hawa nafsu. Di sebelah kanan dan kirinya bantal-bantal syahwat. Telah dibukakan kepadanya pintu dari ladang kehinaan, kesendirian, kecenderungan kepada dunia, ketenangan dengannya, dan zuhud terhadap akhirat.
Diturunkan kepadanya hujan kebodohan, hawa nafsu, syirik, dan bid’ah yang menumbuhkan di dalamnya berbagai jenis duri, pohon hanzhal (pahit), dan pohon-pohon berbuah dengan aneka kemaksiatan dan pelanggaran berupa hal-hal berlebihan, cercaan, keanehan, gurauan, hal-hal yang mentertawakan, syair-syair percintaan dan kemabukan yang mendorong untuk melakukan yang haram dan menjadikan zuhud terhadap ketaatan.
Allah jadikan di tengah ladang itu pohon kejahilan terhadap-Nya dan berpaling dari-Nya. Pohon itu berbuah setiap saat berupa kefasikan, kemaksiatan, kelalaian, permainan, kebebasan, mengikuti setiap angin, dan mengikuti setiap syahwat. Di antara buahnya adalah keumuman, kesedihan, kedukaan, dan kesakitan. Namun semua itu tersembunyi dengan kesibukan jiwa dengan kelalaian dan permainannya. Jika ia sadar dari mabuknya, muncullah segala kekhawatiran, kesedihan, kedukaan, kegelisahan, dan kehidupan yang sempit.
Dialirkan ke pohon itu air yang menyiraminya berupa mengikuti hawa nafsu, panjang angan, dan kekeliruan. Kemudian rumah itu ditinggalkan dalam kegelapan dan kehancuran dindingnya sehingga tidak dapat mencegah perusak, binatang, penyakiti, dan kotoran. Maha Suci Pencipta rumah ini dan rumah itu.
Barangsiapa yang mengenal rumahnya, menghargai penghuni di dalamnya, dan menilai apa yang ada di dalamnya berupa harta karun, simpanan, dan peralatan, maka ia akan mengambil manfaat dari hidupnya dan jiwanya. Barangsiapa yang tidak mengetahui hal itu, ia tidak mengenal dirinya dan menyia-nyiakan kebahagiaannya. Dan hanya kepada Allah lah pertolongan diminta.
Sahl At-Tustari pernah bertanya kepada seseorang: “Apakah engkau makan dalam sehari sekali?” Orang itu menjawab: “Ya.” Sahl berkata: “Itu makanan para shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur).” Ditanya lagi: “Bagaimana jika dua kali?” Dia berkata: “Itu makanan orang-orang beriman.” Ditanya lagi: “Bagaimana jika tiga kali makan?” Maka dia berkata: “Katakan kepada keluarganya agar membangunkan kandang untuknya.”
Al-Aswad bin Salim berkata: “Dua rakaat shalat yang aku kerjakan untuk Allah lebih aku cintai daripada surga dengan segala isinya.” Dikatakan kepadanya: “Ini salah.” Maka dia berkata: “Biarkanlah kami dari pembicaraan kalian. Surga adalah keridhaan jiwaku, sedangkan dua rakaat adalah keridhaan Tuhanku. Dan keridhaan Tuhanku lebih aku cintai daripada keridhaan jiwaku.”
Orang yang mengenal (Allah) di bumi adalah bunga dari bunga-bunga surga. Jika orang yang menginginkan (Allah) mencium aromanya, jiwanya akan merindukan surga.
Hati orang yang mencintai berada di antara keagungan kekasihnya dan keindahannya. Jika ia memperhatikan keagungan-Nya, ia akan takut dan mengagungkan-Nya. Jika ia memperhatkan keindahan-Nya, ia akan mencintai dan merindukan-Nya.
Di antara manusia ada yang mengenal Allah melalui kemurahan, anugerah, dan kebaikan. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui pemaaf, kelembutan, dan toleransi. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui kekuasaan dan pembalasan. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui ilmu dan hikmah. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui kemuliaan dan kebesaran. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui rahmat, kebaikan, dan kelembutan. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui kekuatan dan kerajaan. Di antara mereka ada yang mengenal-Nya melalui pengabulan doanya, pertolongan terhadap kesusahannya, dan pemenuhan kebutuhannya.
Yang paling umum pengetahuannya di antara mereka adalah yang mengenal-Nya melalui kalam-Nya. Karena ia mengenal Tuhan yang telah terkumpul bagi-Nya sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan, yang disucikan dari persamaan, bebas dari kekurangan dan cacat. Bagi-Nya segala nama yang baik dan segala sifat kesempurnaan. Dia Maha Pelaksana apa yang dikehendaki-Nya, di atas segala sesuatu, bersama segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, dan mengatur segala sesuatu.
Dialah yang memerintah kami, yang berbicara dengan kalimat-kalimat-Nya yang agama dan kauniyah (alam semesta), lebih besar dari segala sesuatu, lebih indah dari segala sesuatu, Yang Maha Penyayang di antara yang penyayang, Maha Kuasa di antara yang berkuasa, dan Maha Bijaksana di antara yang bijaksana. Al-Quran diturunkan untuk memperkenalkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya, kepada jalan-Nya yang mengantarkan kepada-Nya, dan kepada keadaan para pejalan setelah sampai kepada-Nya.
Di antara bencana tersembunyi yang umum adalah bahwa hamba berada dalam nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan pilihkan untuknya, lalu hamba itu merasa bosan dan ingin berpindah darinya kepada apa yang ia sangka karena kebodohannya bahwa itu lebih baik baginya. Tuhannya dengan rahmat-Nya tidak mengeluarkannya dari nikmat itu dan memaafkannya karena kebodohan dan buruknya pilihan untuk dirinya.
Hingga ketika ia merasa sempit dengan nikmat itu, tidak senang dengannya, dan muak terhadapnya, serta menguat rasa bosannya, Allah mencabutnya darinya. Ketika ia berpindah kepada apa yang dimintanya dan melihat perbedaan antara apa yang dahulu dialaminya dengan apa yang sekarang dialaminya, bertambahlah kegelisahan dan penyesalannya, serta ia meminta untuk kembali kepada apa yang dahulu dialaminya.
Jika Allah menghendaki kebaikan dan petunjuk bagi hamba-Nya, Dia perlihatkan kepadanya bahwa apa yang dialaminya adalah nikmat dari nikmat-nikmat-Nya kepadanya, ridha-Nya dengannya, dan mengilhamkannya untuk bersyukur atas nikmat itu. Jika jiwanya berbisik untuk berpindah darinya, ia meminta petunjuk kepada Tuhannya dengan istikharah orang yang bodoh tentang kemaslahatan dirinya, lemah terhadapnya, menyerahkan kepada Allah, meminta kepada-Nya kebaikan pilihan-Nya baginya.
Tidak ada yang lebih berbahaya bagi hamba daripada rasa bosannya terhadap nikmat-nikmat Allah. Karena ia tidak melihatnya sebagai nikmat, tidak bersyukur karenanya, tidak bergembira dengannya, bahkan tidak senang dengannya, mengeluhkannya, dan menganggapnya sebagai musibah. Padahal itu adalah nikmat terbesar Allah kepadanya.
Kebanyakan manusia adalah musuh-musuh nikmat Allah kepada mereka tanpa mereka sadari. Allah membukakan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka sementara mereka bersungguh-sungguh menolak dan mengembalikannya karena kebodohan dan kezaliman. Betapa banyak nikmat yang datang kepada salah seorang dari mereka sementara ia berusaha menolaknya dengan sekuat tenaga, dan betapa banyak yang sampai kepadanya sementara ia berusaha menolak dan menghilangkannya karena kezaliman dan kebodohannya.
Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Surah Al-Anfal: 53)
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Surah Ar-Ra’d: 11)
Tidak ada musuh nikmat-nikmat yang lebih besar daripada jiwa hamba itu sendiri. Ia bersekutu dengan musuhnya melawan dirinya sendiri. Musuhnya melemparkan api ke dalam nikmat-nikmatnya, sementara ia meniup api itu. Dialah yang memungkinkan musuhnya melemparkan api, kemudian membantunya dengan meniup. Ketika nyala api menguat, ia meminta pertolongan dari kebakaran, dan tujuannya hanyalah menyalahkan takdir.
“Orang yang lemah akal menyia-nyiakan kesempatannya, Hingga ketika urusan berlalu, ia menyalahkan takdir.”
Bab
Di antara jenis pengenalan yang paling mulia adalah mengenal Tuhan Subhanahu melalui keindahan. Ini adalah pengenalan para hamba pilihan. Semuanya mengenal-Nya melalui satu sifat dari sifat-sifat-Nya. Yang paling sempurna pengenalan mereka adalah yang mengenal-Nya melalui kesempurnaan, keagungan, dan keindahan-Nya. Subhanahu, tidak ada yang menyerupai-Nya dalam segala sifat-sifat-Nya.
Seandainya engkau membayangkan seluruh makhluk dengan bentuk yang paling indah, dan semuanya dalam bentuk itu, lalu engkau bandingkan keindahan lahir dan batin mereka dengan keindahan Tuhan Subhanahu, maka itu akan lebih kecil daripada perbandingan pelita yang lemah dengan matahari.
Cukuplah sebagai bukti keindahan-Nya bahwa seandainya Dia menyingkap hijab dari wajah-Nya, niscaya akan terbakar segala yang terjangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya. Cukuplah sebagai bukti keindahan-Nya bahwa segala keindahan lahir dan batin di dunia dan akhirat adalah dari bekas-bekas perbuatan-Nya. Maka bagaimana sangkaanmu terhadap Zat yang darinya muncul keindahan ini?
Cukuplah sebagai bukti keindahan-Nya bahwa bagi-Nya segala kemuliaan, segala kekuatan, segala kemurahan, segala kebaikan, segala ilmu, segala keutamaan. Dengan cahaya wajah-Nya bersinar kegelapan-kegelapan sebagaimana sabda Nabi dalam doa di Thaif: “Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang untuknya bersinar kegelapan-kegelapan, dan dengannya baik urusan dunia dan akhirat.”
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidak ada malam dan siang di sisi Tuhanmu. Cahaya langit dan bumi dari cahaya wajah-Nya.” Maka Dia Subhanahu adalah cahaya langit dan bumi. Dan pada hari kiamat ketika Dia datang untuk memutuskan perkara, “Dan bersinar bumi dengan cahaya Tuhannya” (Surah Az-Zumar: 69).
Di antara nama-nama-Nya yang baik adalah Al-Jameel (Yang Maha Indah). Dalam hadits sahih dari-Nya: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.”
Keindahan-Nya Subhanahu terdiri dari empat tingkatan: keindahan Zat, keindahan sifat-sifat, keindahan perbuatan-perbuatan, dan keindahan nama-nama. Nama-nama-Nya semuanya baik, sifat-sifat-Nya semuanya sifat kesempurnaan, perbuatan-perbuatan-Nya semuanya hikmah, kemaslahatan, keadilan, dan rahmat.
Adapun keindahan Zat dan apa yang ada pada-Nya, maka itu adalah perkara yang tidak dapat dipahami oleh selain-Nya dan tidak diketahui oleh yang lain. Tidak ada pada makhluk darinya kecuali pemberitahuan-pemberitahuan yang dengan itu Dia memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang dimuliakan-Nya. Karena keindahan itu terjaga dari yang lain, tertutup dengan tirai kebesaran dan kemegahan sebagaimana sabda Rasul-Nya dalam hadits qudsi: “Kebesaran adalah selendang-Ku dan kemegahan adalah sarung-Ku.”
Karena kebesaran lebih besar dan lebih luas, maka lebih pantas dengan nama selendang. Karena Dia Subhanahu adalah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Maka Dia Subhanahu adalah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Ibnu Abbas berkata: “Zat tertutup dengan sifat-sifat, dan sifat-sifat tertutup dengan perbuatan-perbuatan.” Maka bagaimana sangkaanmu terhadap keindahan yang tertutup dengan sifat-sifat kesempurnaan dan terselubung dengan sifat-sifat keagungan dan kemuliaan?
Dari makna inilah dapat dipahami sebagian makna keindahan Zat-Nya. Karena hamba naik dari pengenalan perbuatan-perbuatan kepada pengenalan sifat-sifat, dan dari pengenalan sifat-sifat kepada pengenalan Zat. Jika ia menyaksikan sesuatu dari keindahan perbuatan-perbuatan, ia menjadikannya dalil atas keindahan sifat-sifat, kemudian menjadikan keindahan sifat-sifat sebagai dalil atas keindahan Zat.
Dari sini jelaslah bahwa Dia Subhanahu berhak mendapat segala pujian dan bahwa tidak seorang pun dari makhluk-Nya dapat menghitung pujian kepada-Nya. Bahkan Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan bahwa Dia pantas disembah karena Zat-Nya, dicintai karena Zat-Nya, dan disyukuri karena Zat-Nya. Dan bahwa Dia Subhanahu mencintai diri-Nya, memuji diri-Nya, dan mensyukuri diri-Nya.
Sesungguhnya kecintaan-Nya kepada diri-Nya, pujian-Nya kepada diri-Nya, sanjungan-Nya kepada diri-Nya, dan pengesaan-Nya terhadap diri-Nya itulah hakikatnya pujian, sanjungan, cinta, dan tauhid. Maka Dia Subhanahu sebagaimana Dia memuji diri-Nya dan melebihi apa yang dipuji oleh makhluk-Nya kepada-Nya.
Dia Subhanahu sebagaimana Dia mencintai Zat-Nya, Dia juga mencintai sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka segala perbuatan-Nya baik dan terpuji. Walaupun pada makhluk-makhluk-Nya ada yang dibenci dan dimurkai-Nya, namun tidak ada dalam perbuatan-perbuatan-Nya yang dimurkai dan tidak disukai.
Tidak ada dalam wujud yang dicintai karena zatnya dan dipuji karena zatnya kecuali Dia Subhanahu. Segala yang dicintai selain-Nya, jika kecintaan itu lahir dari kecintaan kepada-Nya Subhanahu sehingga dicintai karena-Nya, maka kecintaan itu benar. Jika tidak, maka itu adalah kecintaan yang batil.
Tentang Hakikat Ketuhanan dan Kecintaan kepada Allah
Dan inilah hakikat ketuhanan. Sesungguhnya Tuhan yang hak adalah Dia yang dicintai karena Zat-Nya dan dipuji karena Zat-Nya. Bagaimana lagi jika ditambahkan kepada hal itu kebaikan-Nya, karunia-Nya, kesabaran-Nya, ampunan-Nya, maaf-Nya, kebajikan-Nya, dan rahmat-Nya. Maka wajib bagi hamba untuk mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, lalu mencintai-Nya dan memuji-Nya karena Zat-Nya dan kesempurnaan-Nya. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa tidak ada yang benar-benar berbuat baik dengan berbagai macam nikmat yang zhahir dan batin kecuali Dia, maka hendaklah ia mencintai-Nya karena kebaikan dan karunia-Nya serta memuji-Nya atas hal tersebut. Maka ia mencintai-Nya dari kedua segi sekaligus.
Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, maka tidak ada kecintaan yang seperti kecintaan kepada-Nya. Dan kecintaan yang disertai dengan kerendahan hati itulah ibadah yang untuk itulah makhluk diciptakan. Karena ibadah adalah puncak kecintaan dengan puncak kerendahan hati, dan hal itu tidak layak kecuali untuk-Nya Yang Maha Suci. Menyekutukan-Nya dalam hal ini adalah syirik yang tidak akan diampuni Allah dan Dia tidak akan menerima amal dari pelakunya.
Dan memuji-Nya mencakup dua dasar: memberitakan tentang sifat-sifat terpuji-Nya dan kesempurnaan-Nya, serta mencintai-Nya karena hal tersebut. Barang siapa yang memberitakan kebaikan orang lain tanpa mencintainya, maka ia bukanlah orang yang memuji. Dan barang siapa yang mencintainya tanpa memberitakan kebaikan-kebaikannya, maka ia pun bukanlah orang yang memuji, hingga ia menggabungkan kedua perkara tersebut.
Dan Dia Yang Maha Suci memuji diri-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan memuji diri-Nya dengan apa yang Dia alirkan di lisan orang-orang yang memuji-Nya dari kalangan malaikat-Nya, nabi-nabi-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka Dia adalah yang memuji diri-Nya dengan cara ini dan itu. Karena pujian mereka kepada-Nya adalah dengan kehendak-Nya, izin-Nya, dan penciptaan-Nya. Sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang yang memuji sebagai pememuji, orang muslim sebagai muslim, orang yang shalat sebagai penyembah, dan orang yang bertaubat sebagai pentaubat.
Dari-Nya bermula segala nikmat dan kepada-Nya berakhir, maka dimulai dengan pujian-Nya dan berakhir dengan pujian-Nya. Dialah yang mengilhami hamba-Nya untuk bertaubat dan Dia bergembira karenanya dengan kegembiraan yang sangat besar, padahal taubat itu dari karunia dan kemurahan-Nya. Dia mengilhami hamba-Nya untuk taat dan menolong atasnya, kemudian memberinya pahala karenanya, padahal ketaatan itu dari karunia dan kemurahan-Nya.
Dan Dia Yang Maha Suci adalah Maha Kaya dari segala sesuatu selain-Nya dalam segala segi, sedangkan segala sesuatu selain-Nya adalah fakir kepada-Nya dalam segala segi. Dan hamba membutuhkan-Nya karena zatnya dalam sebab-sebab dan tujuan-tujuan. Karena apa yang tidak ada dengan-Nya tidak akan ada, dan apa yang tidak ada untuk-Nya tidak akan bermanfaat.
Pasal: Tentang Hadits “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan Mencintai Keindahan”
Dan sabda-Nya dalam hadits “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan” mencakup keindahan pakaian yang ditanyakan dalam hadits itu sendiri, dan masuk ke dalamnya secara umum keindahan dari segala sesuatu. Sebagaimana dalam hadits yang lain “Sesungguhnya Allah bersih dan mencintai kebersihan”. Dan dalam hadits shahih “Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik”. Dan dalam hadits sunan “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya”.
Di dalamnya dari Abu Al-Ahwash Al-Jushami, ia berkata: “Nabi melihatku mengenakan pakaian lusuh, lalu beliau berkata: ‘Apakah kamu memiliki harta?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Beliau bertanya: ‘Harta apa?’ Aku menjawab: ‘Dari segala yang Allah berikan berupa unta dan kambing.’ Beliau bersabda: ‘Maka hendaklah terlihat nikmat dan kemuliaan-Nya padamu.'”
Maka Dia Yang Maha Suci menyukai tampaknya bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya, karena hal itu termasuk keindahan yang Dia cintai. Dan itu termasuk syukur atas nikmat-nikmat-Nya. Dia adalah keindahan batin, maka Dia menyukai melihat pada hamba-Nya keindahan zahir dengan nikmat dan keindahan batin dengan bersyukur atasnya.
Dan karena kecintaan-Nya Yang Maha Suci kepada keindahan, Dia menurunkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian dan perhiasan yang memperindah zahir mereka dan takwa yang memperindah batin mereka. Maka Dia berfirman: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raf: 26)
Dan Dia berfirman tentang ahli surga: “Dan Dia memberikan kepada mereka keceriaan wajah dan kegembiraan. Dan Dia membalasi kesabaran mereka dengan surga dan sutera.” (Al-Insan: 11-12) Maka Dia memperindah wajah mereka dengan keceriaan, batin mereka dengan kegembiraan, dan badan mereka dengan sutera.
Dan Dia Yang Maha Suci sebagaimana mencintai keindahan dalam perkataan, perbuatan, pakaian, dan penampilan, Dia juga membenci keburukan dalam perkataan, perbuatan, pakaian, and penampilan. Maka Dia membenci yang buruk dan pelakunya, dan mencintai keindahan dan pelakunya.
Tetapi dalam masalah ini tersesat dua golongan. Golongan pertama berkata: “Semua yang Dia ciptakan itu indah, maka Dia mencintai semua yang Dia ciptakan, dan kami mencintai semua yang Dia ciptakan, maka kami tidak membenci apa pun darinya.” Mereka berkata: “Siapa yang melihat segala yang ada dari-Nya, maka ia melihat semuanya indah.” Dan penyair mereka mendendangkan:
“Dan jika engkau melihat segala yang ada dengan mata-Nya Maka semua yang ada dalam wujud itu indah”
Mereka berargumen dengan firman-Nya: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan baik” (As-Sajdah: 7), dan firman-Nya: “Ciptaan Allah yang telah membuat segala sesuatu dengan sempurna” (An-Naml: 88), dan firman-Nya: “Tiada yang kamu lihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang” (Al-Mulk: 3).
Dan orang yang mengenal menurut mereka adalah yang menyatakan keindahan secara mutlak dan tidak melihat dalam wujud sesuatu yang buruk. Mereka ini telah hilang ghirah kepada Allah dari hati mereka, kebencian karena Allah, permusuhan karena-Nya, pengingkaran kemungkaran, jihad di jalan-Nya, dan penegakan hukum-hukum-Nya. Dan mereka melihat keindahan bentuk dari laki-laki dan perempuan sebagai keindahan yang dicintai Allah, maka mereka beribadah dengan kefasikan mereka. Dan terkadang sebagian mereka berlebihan hingga mengklaim bahwa sesembahan mereka tampak dalam bentuk itu dan bersemayam di dalamnya. Dan jika ia seorang yang berpaham ittihad (kesatuan), ia berkata: “Itu adalah salah satu manifestasi Yang Hak,” dan menyebutnya manifestasi keindahan.
Pasal: Golongan Kedua
Dan golongan kedua menentang mereka dengan berkata: “Allah Yang Maha Suci telah mencela keindahan bentuk, kesempurnaan perawakan dan penciptaan.” Maka Dia berfirman tentang orang-orang munafik: “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum” (Al-Munafiqun: 4). Dan Dia berfirman: “Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal mereka lebih bagus alat-alat rumah tangganya dan pemandangannya” (Maryam: 74), yaitu harta dan pemandangan. Al-Hasan berkata: “Yaitu bentuk-bentuk.”
Dan dalam Shahih Muslim dari Nabi: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk-bentuk dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” Mereka berkata: “Dan diketahui bahwa Dia tidak menafikan pandangan pengetahuan, tetapi menafikan pandangan kecintaan.”
Mereka berkata: “Dan Dia telah mengharamkan kepada kami pakaian sutera dan emas, serta bejana emas dan perak, padahal itu termasuk keindahan dunia yang paling besar.” Dan Dia berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, (yaitu) bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya” (Taha: 131).
Dan dalam hadits: “Kesederhanaan termasuk dari iman.” Dan Allah telah mencela orang-orang yang berlebih-lebihan, dan berlebih-lebihan sebagaimana terjadi dalam makanan dan minuman, juga terjadi dalam pakaian.
Penyelesaian perselisihan adalah dengan mengatakan: Keindahan dalam bentuk, pakaian, dan penampilan ada tiga macam: ada yang terpuji, ada yang tercela, dan ada yang tidak terkait dengan pujian maupun celaan.
Yang terpuji adalah yang untuk Allah dan membantu dalam ketaatan kepada Allah, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan merespons-Nya, sebagaimana Nabi berpenampilan indah untuk menerima delegasi. Dan itu seperti memakai perlengkapan perang untuk bertempur, memakai sutera dalam perang, dan kesombongan di dalamnya. Karena itu terpuji jika mencakup meninggikan kalimat Allah, menolong agama-Nya, dan membuat musuh marah.
Yang tercela adalah yang untuk dunia, kepemimpinan, kesombongan, keangkuhan, dan sebagai sarana untuk syahwat, dan menjadikannya sebagai tujuan hamba dan permintaan tertingginya. Karena banyak jiwa yang tidak memiliki cita-cita selain hal itu.
Adapun yang tidak terpuji dan tidak tercela adalah yang terlepas dari kedua tujuan ini dan terlepas dari kedua sifat ini.
Dan yang dimaksud adalah bahwa hadits mulia ini mengandung dua dasar besar: awalnya adalah pengetahuan dan akhirnya adalah perilaku. Maka ia mengenal Allah Yang Maha Suci dengan keindahan yang tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya di dalamnya, dan beribadah dengan keindahan yang Dia cintai dari perkataan, amal, dan akhlak.
Maka Dia menyukai dari hamba-Nya untuk memperindah lisannya dengan kejujuran, hatinya dengan keikhlasan, kecintaan, kembali kepada Allah, dan tawakal, anggota badannya dengan ketaatan, dan badannya dengan menampakkan nikmat-Nya padanya dalam pakaiannya dan mensucikannya dari najis, hadats, kotoran, bulu-bulu yang tidak disukai, khitan, dan memotong kuku.
Maka ia mengenal-Nya dengan sifat-sifat keindahan dan mengenalkan diri kepada-Nya dengan perbuatan, perkataan, dan akhlak yang indah. Maka ia mengenal-Nya dengan keindahan yang merupakan sifat-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan keindahan yang merupakan syariat dan agama-Nya. Maka hadits ini menghimpun dua kaidah: pengetahuan dan perilaku.
Pasal: Tentang Kejujuran kepada Allah
Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada kejujurannya kepada Tuhannya dalam semua urusannya dengan kejujuran tekad. Maka ia jujur kepada-Nya dalam tekadnya dan dalam perbuatannya. Allah berfirman: “Maka apabila telah ditetapkan (untuk berperang), maka jikalau mereka benar terhadap Allah, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (Muhammad: 21).
Maka kebahagiaannya terletak pada kejujuran tekad dan kejujuran perbuatan. Kejujuran tekad adalah mengumpulkannya, memantapkannya, dan tidak ragu-ragu di dalamnya, bahkan menjadi tekad yang tidak tercampur keraguan dan penyesalan. Jika tekadnya sudah jujur, maka tinggal baginya kejujuran perbuatan, yaitu mencurahkan kemampuan dan mencurahkan usaha di dalamnya, dan tidak tertinggal darinya dengan sesuatu dari zahir dan batinnya.
Tekad yang kuat mencegahnya dari lemahnya keinginan dan semangat, dan kejujuran perbuatan mencegahnya dari kemalasan dan kelesuan. Dan barang siapa yang jujur kepada Allah dalam semua urusannya, Allah akan berbuat untuknya melebihi apa yang Dia lakukan untuk orang lain. Dan kejujuran ini adalah makna yang tergabung dari sahihnya keikhlasan dan kejujuran tawakal. Maka orang yang paling jujur adalah yang sahih keikhlasan dan tawakalnya.
Tuhan yang memiliki kehendak memerintahkan hamba yang memiliki kehendak. Jika Dia memberi taufik dan menghendaki dari diri-Nya untuk menolongnya dan mengilhaminya untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya, (maka ia akan melakukannya). Dan jika Dia meninggalkannya dan menyerahkannya kepada kehendaknya dan dirinya sendiri, maka ia dari sifat ini tidak akan memilih kecuali apa yang diinginkan nafsunya dan tabiatnya. Maka ia dari sisi ia adalah manusia tidak menginginkan kecuali itu.
Dan karena itulah Allah mencela dalam kitab-Nya dari sifat ini dan tidak memujinya kecuali dengan perkara yang lebih dari sifat itu, yaitu menjadi muslim, mukmin, sabar, berbuat baik, bersyukur, bertakwa, berbakti, dan semisalnya. Dan ini adalah perkara yang lebih dari sekadar menjadi manusia. Dan kehendaknya layak, tetapi tidak cukup hanya kelayakannya jika tidak didukung dengan takdir yang lebih dari itu, yaitu taufik. Sebagaimana tidak cukup dalam penglihatan hanya kelayakan mata untuk melihat jika tidak ada sebab lain yaitu cahaya yang terpisah darinya.
Pasal: Tentang Mengagungkan Allah
Termasuk kezaliman dan kebodohan yang paling besar adalah engkau meminta pengagungan dan penghormatan dari manusia sedangkan hatimu kosong dari mengagungkan Allah dan menghormati-Nya. Maka engkau menghormati makhluk dan memuliakannya agar tidak melihatmu dalam keadaan yang engkau tidak menghormati Allah untuk melihatmu dalam keadaan itu.
Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak mengharapkan keagungan kepada Allah?” (Nuh: 13), yaitu tidak memperlakukan-Nya dengan perlakuan orang yang menghormati-Nya. Dan penghormatan dan pengagungan, dan termasuk darinya firman-Nya: “Dan menghormati-Nya” (Al-Fath: 9).
Al-Hasan berkata: “Mengapa kalian tidak mengetahui hak Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya?” Mujahid berkata: “Kalian tidak peduli dengan keagungan Tuhan kalian.” Ibnu Zaid berkata: “Kalian tidak melihat ketaatan kepada Allah.” Ibnu Abbas berkata: “Kalian tidak mengetahui hak keagungan-Nya.”
Ucapan-ucapan ini kembali kepada satu makna, yaitu bahwa seandainya mereka mengagungkan Allah dan mengetahui hak keagungan-Nya, niscaya mereka akan mengesakan-Nya, menaati-Nya, dan bersyukur kepada-Nya. Maka ketaatan kepada-Nya Yang Maha Suci adalah menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan-Nya dan malu kepada-Nya sesuai dengan keagungan-Nya di dalam hati.
Dan karena itulah sebagian salaf berkata: “Hendaklah keagungan Allah besar di hati salah seorang kalian hingga ia menyebut-Nya ketika ia malu menyebut-Nya, lalu menggandengkan nama-Nya dengannya, seperti engkau berkata: ‘Allah menghinakan anjing, babi, dan bau,’ dan semisalnya. Maka ini termasuk mengagungkan Allah.”
Dan termasuk mengagungkan-Nya adalah tidak menyamakan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya, tidak dalam lafaz dengan mengatakan: “Demi Allah dan hidupmu, aku tidak memiliki kecuali Allah dan engkau,” dan “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki,” dan tidak dalam kecintaan, pengagungan, dan pemuliaan, dan tidak dalam ketaatan dengan menaati makhluk dalam perintah dan larangannya sebagaimana menaati Allah, bahkan lebih besar sebagaimana yang dilakukan kebanyakan orang zalim dan fasik.
Dan tidak dalam ketakutan dan harapan, dan menjadikan-Nya sebagai yang paling ringan dari orang-orang yang melihatnya, dan tidak meremehkan hak-Nya dengan berkata: “Dia dibangun atas toleransi,” dan tidak menjadikan-Nya sebagai yang terakhir dan mendahulukan hak makhluk atas-Nya, dan tidak menjadikan Allah dan Rasul-Nya di satu sisi dan manusia di sisi lain, lalu ia berada di sisi yang di dalamnya manusia tanpa di sisi yang di dalamnya Allah dan Rasul-Nya.
Dan tidak memberikan kepada makhluk dalam pembicaraannya hati dan intinya, dan memberikan kepada Allah dalam pengabdiannya badan dan lisannya tanpa hati dan ruhnya, dan tidak menjadikan keinginan dirinya didahulukan atas keinginan Tuhannya.
Semua ini termasuk tidak mengagungkan Allah di dalam hati. Dan barang siapa yang demikian, maka Allah tidak akan menanamkan baginya di hati manusia keagungan dan kewibawaan, bahkan keagungan dan kewibawaannya akan jatuh di hati mereka. Dan jika mereka menghormatinya karena takut pada kejahatannya, maka itu adalah penghormatan kebencian, bukan penghormatan kecintaan dan pengagungan.
Dan termasuk mengagungkan Allah adalah malu dari pandangan-Nya terhadap rahasia dan hati sanubari, lalu Dia melihat di dalamnya apa yang Dia benci. Dan termasuk mengagungkan-Nya adalah malu kepada-Nya ketika sendirian lebih besar daripada malu kepada pembesar-pembesar manusia.
Dan yang dimaksud adalah bahwa barang siapa yang tidak mengagungkan Allah, kalam-Nya, dan apa yang Dia berikan kepadanya berupa ilmu dan hikmah, bagaimana ia meminta dari manusia untuk menghormati dan mengagungkannya?
Al-Quran, ilmu, dan perkataan Rasul adalah shalawat dari kebenaran, peringatan-peringatan, pencegah-pencegah, dan penghalang-penghalang yang datang kepadamu. Dan uban adalah pencegah, penghalang, dan pembangkit yang tetap bersamamu. Maka tidak yang datang kepadamu menasihatimu dan tidak yang tetap bersamamu memberimu nasihat, namun dengan itu engkau meminta penghormatan dan pengagungan dari orang lain.
Maka engkau seperti orang yang terkena musibah yang tidak terpengaruh olehnya dengan nasihat dan peringatan, sedangkan ia meminta dari orang lain agar mengambil pelajaran dan peringatan dengan melihat kepada musibahnya. Pukulan tidak berpengaruh padanya dengan peringatan, sedangkan ia menginginkan peringatan dari orang yang melihat pukulannya.
Bagaimana dengan orang yang mendengar tentang hukuman-hukuman dan azab-azab serta tanda-tanda terhadap orang lain dan ia tidak seperti orang yang melihatnya secara langsung pada orang lain? Bagaimana lagi dengan orang yang menemukannya pada dirinya sendiri?
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri” (Fushshilat: 53). Maka tanda-tanda-Nya di ufuk terdengar dan diketahui, dan tanda-tanda-Nya pada diri disaksikan dan dilihat.
Maka kami berlindung kepada Allah dari kehinaan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti berlaku atas mereka ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman, walaupun datang kepada mereka segala macam tanda, hingga mereka melihat siksaan yang pedih” (Yunus: 96-97).
Dan Dia berfirman: “Dan kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka, mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki” (Al-An’am: 111).
Bagian 1: Tentang Orang yang Berakal dan Menghadapi Ujian Hidup
Orang yang berakal lagi diberi taufik oleh Allah akan mengambil pelajaran tanpa harus mengalami hal-hal yang berat, dan ia akan menyempurnakan kekurangan penciptaannya dengan keutamaan akhlak dan amal perbuatannya. Maka setiap kali hilang suatu bekas dari tubuhnya, bertambahlah imannya. Dan setiap kali berkurang kekuatan badannya, bertambahlah kekuatan iman, keyakinan, dan kerinduan kepada Allah serta negeri akhirat.
Jika tidak demikian, maka kematian lebih baik baginya, karena kematian akan menghentikannya pada batas tertentu dari rasa sakit dan kerusakan, berbeda dengan cacat dan kekurangan yang disertai umur panjang, maka hal itu justru akan menambah rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, dan penyesalannya.
Sesungguhnya baiknya umur panjang dan manfaatnya adalah untuk memperoleh peringatan, perbaikan diri, meraih tujuan, dan taubat yang murni, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bukankah Kami telah memberikan umur yang cukup kepadamu untuk mengingat bagi siapa yang mau mengingat?”
Barangsiapa yang tidak dijadikan umur panjang dan lamanya hidup sebagai sarana untuk memperbaiki cacatnya, mengejar yang tertinggal, dan memanfaatkan sisa nafasnya untuk bekerja menghidupkan hatinya dan memperoleh kenikmatan yang kekal, maka tidak ada kebaikan baginya dalam hidupnya. Sesungguhnya hamba sedang dalam perjalanan, entah menuju surga atau neraka.
Jika umurnya panjang dan amalnya baik, maka panjangnya perjalanan akan menjadi tambahan baginya dalam memperoleh kenikmatan dan kelezatan. Sebab semakin panjang perjalanan, semakin mulia dan utama kerinduan (kepada tujuan). Dan jika umurnya panjang tetapi amalnya buruk, maka panjangnya perjalanan akan menjadi tambahan rasa sakit dan siksaan serta penurunan ke tingkat yang lebih rendah. Musafir itu ada yang naik dan ada yang turun.
Dalam hadits yang marfu’: “Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, dan seburuk-buruk kalian adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”
Bagian 2: Tentang Pencari yang Sungguh-sungguh
Pencari yang sungguh-sungguh dalam pencariannya, ketika ada sesuatu dari dirinya yang rusak, ia jadikan hal itu sebagai pembangunan untuk hati dan jiwanya. Setiap kali berkurang sesuatu dari dunianya, ia jadikan sebagai tambahan untuk akhiratnya. Setiap kali ia dicegah dari kelezatan dunianya, ia jadikan sebagai tambahan kelezatan akhiratnya. Setiap kali ia tertimpa kegelisahan, kesedihan, atau kedukaan, ia jadikan sebagai kegembiraan akhiratnya.
Maka berkurangnya badan, dunia, kelezatan, kedudukan, dan kepemimpinannya, jika hal itu menambah dalam memperoleh dan menyimpan hal-hal tersebut di hari kemudian, maka itu adalah rahmat dan kebaikan baginya. Jika tidak, maka itu adalah kehilangan dan hukuman atas dosa-dosa yang tampak atau tersembunyi, atau karena meninggalkan kewajiban yang tampak atau tersembunyi. Sesungguhnya kehilangan kebaikan dunia dan akhirat terjadi karena empat hal ini. Dan kepada Allah-lah pertolongan diminta.
Bagian 3: Faidah tentang Perjalanan Hidup Manusia
Manusia sejak diciptakan tidak pernah berhenti menjadi musafir, dan tidak ada perhentian dari perjalanan mereka kecuali di surga atau neraka. Orang yang berakal mengetahui bahwa perjalanan dibangun atas dasar kesulitan dan menghadapi bahaya-bahaya. Tidak mungkin secara adat untuk mencari kenikmatan, kelezatan, dan kenyamanan dalam perjalanan. Semua itu baru didapat setelah perjalanan berakhir.
Diketahui bahwa setiap langkah kaki atau setiap saat dari waktu perjalanan tidak berhenti, dan orang yang mukallaf pun tidak berhenti. Telah terbukti bahwa ia adalah musafir dalam keadaan yang seharusnya ada pada seorang musafir, yaitu menyiapkan bekal yang dapat mengantarkannya. Jika ia singgah, tidur, atau istirahat, maka itu dalam keadaan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Bagian 4: Faidah tentang Kesibukan dengan Musyahadah
Menurut para arif, kesibukan dengan musyahadah (menyaksikan Allah) dari pada berbuat baik dalam perjalanan spiritual adalah berhenti, karena pada waktu musyahadah, jika ia memiliki amal lahir atau batin atau menambah pengetahuan dan iman yang terperinci, itu lebih baik baginya. Sesungguhnya hakikat kemanusiaan akan dibangkitkan sesuai dengan bentuk amal, pengetahuan, cita-cita, dan kehendaknya. Sedangkan badan akan dibangkitkan sesuai dengan bentuk amal baiknya atau buruknya.
Ketika berpindah dari dunia ini, ia akan menyaksikan hakikat hal itu. Sesuai dengan kedekatan hatimu kepada Allah, kamu akan menjauh dari bergaul dengan manusia dan hidup bersama mereka. Sesuai dengan penjagaanmu terhadap rahasia dan kehendakmu, akan terjaga pula. Poros semua itu adalah benarnya tauhid, kemudian benarnya ilmu tentang jalan, kemudian benarnya kehendak, kemudian benarnya amal.
Berhati-hatilah sekali dari tujuan manusia kepadamu, perhatian mereka kepadamu, dan mereka menemukan tempat tujuanmu, karena itu adalah bencana yang besar.
Bagian 5: Faidah tentang Jalan-jalan Setan
Setiap orang yang berakal tahu bahwa tidak ada jalan bagi setan kepadanya kecuali dari tiga sisi:
Pertama: Berlebih-lebihan dan pemborosan, sehingga ia menambah dari kadar kebutuhan dan menjadi kelebihan. Itulah bagian setan dan jalan masuknya ke hati. Cara berhati-hati adalah dengan tidak memberikan kepada jiwa seluruh yang dimintanya dari makanan, tidur, kelezatan, atau istirahat. Jika pintu ini ditutup, akan terjadi keamanan dari masuknya musuh.
Kedua: Kelalaian. Sesungguhnya orang yang berdzikir berada dalam benteng dzikir. Jika ia lalai, maka pintu benteng terbuka dan musuh masuk, sehingga sulit atau sukar mengeluarkannya.
Ketiga: Menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat dari segala sesuatu.
Bagian 6: Faidah tentang Pencari yang Ingin Menembus Jalan kepada Allah
Pencari yang ingin menembus jalan kepada Allah dan negeri akhirat, bahkan kepada setiap ilmu, keahlian, dan kepemimpinan sehingga ia menjadi pemimpin dan teladan di dalamnya, memerlukan sifat-sifat berikut:
- Pemberani dan nekat
- Menguasai prasangkanya dan tidak dikalahkan di bawah kekuasaan khayalannya
- Zuhud terhadap segala sesuatu selain yang dicarinya
- Mencintai apa yang ditujunya
- Mengetahui jalan untuk mencapainya dan jalan-jalan yang menghalanginya
- Berambisi tinggi dan teguh hati
- Tidak dipalingkan dari tujuannya oleh celaan pencela
- Banyak diam dan selalu berpikir
- Tidak condong dengan kelezatan pujian atau rasa sakit celaan
- Melakukan apa yang dibutuhkan dari sebab-sebab pertolongannya
- Tidak tergesa-gesa oleh tantangan-tantangan
- Simbol sabar dan istirahat dalam kelelahan
- Mencintai akhlak mulia
- Menjaga waktunya
- Tidak bergaul dengan manusia kecuali dengan hati-hati seperti burung yang mematuk biji-bijian di antara mereka
- Berdiri di atas dirinya dengan harap dan takut
- Mengharapkan hasil-hasil kekhususan atas sesama jenisnya
- Tidak melepaskan sesuatu dari panca inderanya dengan sia-sia
- Tidak membiarkan khayalan-khayalannya berkeliaran dalam tingkatan-tingkatan alam
Poros semua itu adalah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dan memutus hubungan-hubungan yang menghalangi antara dirimu dan yang dicari. Menurut orang awam, menjaga adab dengan hijab lebih baik daripada membuang adab dengan kashf (penyingkapan).
Bagian 7: Faidah tentang Cara-cara Berdzikir
Di antara orang-orang yang berdzikir ada yang memulai dengan dzikir lisan meskipun dalam keadaan lalai, kemudian terus melakukannya hingga hatinya hadir sehingga keduanya bersepakat dalam dzikir.
Di antara mereka ada yang tidak melihat cara itu dan tidak memulai dalam keadaan lalai, tetapi diam hingga hatinya hadir lalu memulai dzikir dengan hatinya. Jika kuat, ia mengikutsertakan lisannya sehingga keduanya bersepakat.
Yang pertama berpindah dzikir dari lisannya ke hatinya. Yang kedua berpindah dari hatinya ke lisannya tanpa hatinya kosong darinya, tetapi diam dulu hingga merasakan munculnya yang berucap di dalamnya. Jika merasakan itu, hatinya berucap kemudian ucapan hati berpindah ke dzikir lisan, kemudian tenggelam dalam hal itu hingga mendapati segala sesuatu darinya berdzikir.
Dzikir yang paling utama dan bermanfaat adalah yang disetujui hati dan lisan, dari dzikir-dzikir nabawi, dan sang pengdzikir menyaksikan makna-makna dan tujuan-tujuannya.
Bagian 8: Tentang Orang yang Paling Bermanfaat dan Paling Berbahaya
Pasal: Orang yang paling bermanfaat bagimu adalah orang yang memungkinkanmu berbuat baik kepadanya hingga kamu menanam kebaikan padanya atau berbuat ma’ruf kepadanya. Sesungguhnya dia adalah sebaik-baik penolong bagimu untuk manfaat dan kesempurnaanmu. Manfaatmu darinya sebenarnya sama dengan manfaatnya darimu atau lebih.
Orang yang paling berbahaya bagimu adalah yang memungkinkan dirinya darimu hingga kamu bermaksiat kepada Allah karenanya. Sesungguhnya dia adalah penolong bagimu untuk mudarat dan kekuranganmu.
Bagian 9: Tentang Kelezatan Haram dan Ketaatan
Pasal: Kelezatan yang haram bercampur dengan keburukan saat mengambilnya dan menghasilkan rasa sakit setelah berakhir. Jika dorongan yang kuat darimu kepadanya, maka pikirkanlah tentang putusnya dan bekasnya keburukan serta rasa sakitnya. Kemudian timbang antara kedua perkara itu dan lihatlah perbedaan di antara keduanya.
Kelelahan dengan ketaatan bercampur dengan kebaikan dan menghasilkan kelezatan dan kenyamanan. Jika berat pada jiwa, maka pikirkanlah tentang putusnya kelelahannya dan bekasnya kebaikan, kelezatan, dan kegembiraannya. Timbang antara kedua perkara dan dahulukan yang lebih kuat atas yang lemah.
Jika kamu merasa sakit karena sebabnya, maka lihatlah apa yang ada pada akibatnya berupa kegembiraan, kesenangan, dan kelezatan, maka akan ringan bagimu menanggungnya. Jika kamu merasa sakit karena meninggalkan kelezatan yang haram, maka lihatlah rasa sakit yang mengikutinya dan timbang antara kedua rasa sakit itu.
Sifat akal adalah memperoleh manfaat yang terbesar dengan melepaskan yang terkecil dan menanggung rasa sakit yang terkecil untuk menolak yang terbesar.
Ini memerlukan ilmu tentang sebab-sebab dan akibat-akibatnya, dan akal untuk memilih yang lebih baik. Barangsiapa yang disempurnakan bagiannya dari akal dan ilmu dan memilih yang terbaik serta mengutamakannya (maka beruntunglah ia). Barangsiapa yang kurang bagiannya dari keduanya atau salah satunya, ia memilih sebaliknya.
Barangsiapa yang berpikir tentang dunia dan akhirat, ia tahu bahwa ia tidak akan memperoleh salah satunya kecuali dengan kesulitan. Maka hendaklah ia menanggung kesulitan untuk yang terbaik dan yang kekal di antara keduanya.
Bagian 10: Tentang Kewajiban terhadap Setiap Anggota Tubuh
Pasal: Allah memiliki perintah kepada hamba pada setiap anggota tubuhnya, memiliki larangan kepadanya di dalamnya, memiliki nikmat di dalamnya, dan memiliki manfaat serta kelezatan dengannya.
Jika ia menunaikan perintah Allah pada anggota tubuh itu dan menjauhi larangan-Nya di dalamnya, maka ia telah menunaikan syukur nikmat-Nya kepadanya di dalamnya dan berusaha menyempurnakan manfaat dan kelezatannya dengannya.
Jika ia menonaktifkan perintah dan larangan Allah di dalamnya, Allah akan menonaktifkannya dari manfaat anggota tubuh itu dan menjadikannya sebagai salah satu sebab terbesar rasa sakit dan mudharatnya.
Allah memiliki hak atas hamba pada setiap waktu berupa penghambaan yang mendekatkannya kepada-Nya. Jika ia menyibukkan waktunya dengan penghambaan waktu, ia akan maju kepada Tuhannya. Jika ia menyibukkannya dengan hawa nafsu dan kebatilan, ia akan mundur.
Hamba tidak pernah berhenti maju atau mundur, dan tidak ada berhenti sama sekali di jalan. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur.”
Bagian 11: Tentang Pembagian Manusia dalam Menghadapi Perintah Allah
Pasal: Allah Subhanahu wa Ta’ala menegakkan makhluk ini antara perintah dan larangan, pemberian dan pencegahan. Maka mereka terbagi menjadi dua golongan:
Golongan pertama: Menyambut perintah-Nya dengan meninggalkan, larangan-Nya dengan melanggar, pemberian-Nya dengan lalai dari syukur, dan pencegahan-Nya dengan marah. Mereka ini adalah musuh-musuh-Nya, dan pada mereka ada permusuhan sesuai dengan apa yang ada pada mereka dari hal itu.
Golongan kedua: Berkata, “Sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau memerintah kami, kami bersegera untuk menjawab. Jika Engkau melarang kami, kami menahan jiwa-jiwa kami dan mencegahnya dari apa yang Engkau larang. Jika Engkau memberi kami, kami memuji dan mensyukuri-Mu. Jika Engkau mencegah kami, kami bersabar kepada-Mu dan mengingat-Mu.”
Tidak ada antara golongan ini dengan surga kecuali tirai kehidupan dunia. Jika kematian merobeknya dari mereka, mereka akan menuju kenikmatan yang kekal dan penyejuk mata. Sebagaimana golongan pertama, tidak ada antara mereka dengan neraka kecuali tirai kehidupan. Jika kematian merobeknya, mereka akan menuju penyesalan dan rasa sakit.
Bagian 12: Tentang Pertempuran Batin antara Dunia dan Akhirat
Jika bala tentara dunia dan akhirat saling bertabrakan dalam hatimu dan kamu ingin tahu dari golongan mana kamu, maka lihatlah kepada siapa kamu condong dan bersama siapa kamu berperang. Karena kamu tidak mungkin berdiri di antara dua bala tentara, maka kamu pasti bersama salah satunya.
Golongan pertama: Mereka menganggap hawa nafsu sebagai musuh sehingga menyelisihinya, menganggap akal sebagai penasihat sehingga bermusyawarah dengannya. Mereka mengosongkan hati untuk berpikir tentang apa yang mereka diciptakan untuknya, anggota tubuh untuk bekerja dengan apa yang diperintahkan, dan waktu-waktu untuk memakmurkannya dengan apa yang memakmurkan tempat tinggal mereka di akhirat.
Mereka minta pertolongan atas cepatnya ajal dengan bersegera kepada amal-amal. Mereka tinggal di dunia dengan hati yang bepergian darinya, menetap di akhirat sebelum berpindah kepadanya, peduli kepada Allah dan ketaatan-Nya sesuai dengan kebutuhan mereka kepadanya, berbekal untuk akhirat sesuai dengan kedudukan mereka di dalamnya.
Maka Allah Subhanahu menyegerakan untuk mereka dari kenikmatan surga dan rohnya bahwa Dia menghibur mereka dengan diri-Nya, memajukan hati-hati mereka kepada-Nya, mengumpulkannya pada kecintaan-Nya, membuat mereka rindu pada pertemuan dengan-Nya, memberi mereka kenikmatan dengan kedekatan-Nya.
Dia mengosongkan hati-hati mereka dari apa yang memenuhi hati-hati selain mereka berupa kecintaan dunia, kegelisahan, dan kesedihan atas kehilangannya, serta kedukaan karena takut hilangnya. Mereka menganggap mudah apa yang dianggap sulit oleh orang-orang mewah, dan merasa tenang dengan apa yang ditakuti oleh orang-orang jahil.
Mereka berteman dengan dunia dengan badan-badan mereka dan dengan al-mala’ul a’la (penduduk langit) dengan ruh-ruh mereka.
Tauhid adalah perkara yang paling asli, paling suci, paling bersih, dan paling murni. Hal yang paling kecil sekalipun dapat menggaruk, mengotori, dan mempengaruhinya. Ia bagaikan kain putih yang akan terpengaruh oleh noda sekecil apapun, dan seperti cermin yang sangat jernih yang akan terpengaruh oleh hal sekecil apapun. Oleh karena itu, pandangan, ucapan, dan syahwat tersembunyi dapat mengganggunya. Jika pemiliknya segera bertindak dan mencabut pengaruh tersebut dengan lawannya, maka baik. Tetapi jika tidak, maka pengaruh itu akan menguat dan menjadi tabiat yang sulit dicabut.
Pengaruh-pengaruh dan tabiat-tabiat yang terjadi pada tauhid ini ada yang cepat terjadi dan cepat hilang, ada yang cepat terjadi tetapi lambat hilang, ada yang lambat terjadi tetapi cepat hilang, dan ada yang lambat terjadi dan lambat hilang.
Namun di antara manusia ada yang tauhidnya besar dan agung sehingga banyak pengaruh-pengaruh tersebut tenggelam di dalamnya dan larut, seperti air yang banyak yang bercampur dengan najis atau kotoran sedikit. Maka orang yang memiliki tauhid yang lebih lemah tertipu olehnya, sehingga ia mencampurkan tauhidnya yang lemah dengan apa yang dicampurkan oleh pemilik tauhid yang besar dan banyak. Akibatnya, pengaruh itu tampak padanya sedangkan tidak tampak pada tauhid yang banyak.
Selain itu, tempat yang sangat bersih akan menampakkan kepada pemiliknya apa yang mengotorinya, yang tidak tampak pada tempat yang belum mencapai tingkat kebersihan seperti itu, sehingga ia dapat segera membersihkannya, berbeda dengan yang lain yang tidak merasakannya.
Juga, kekuatan iman dan tauhid jika sangat kuat akan mengubah bahan-bahan buruk dan mengalahkannya, berbeda dengan kekuatan yang lemah.
Selain itu, pemilik kebaikan yang banyak dan yang menutupi kejelekan akan dimaafkan dengan apa yang tidak dimaafkan bagi orang yang melakukan kejelekan serupa tetapi tidak memiliki kebaikan seperti itu, sebagaimana dikatakan:
“Dan jika kekasih melakukan satu dosa… maka kebaikan-kebaikannya datang dengan seribu pembela”
Juga, kejujuran dalam mencari, kekuatan keinginan, dan kesempurnaan ketundukan akan mengubah gangguan-gangguan dan penutup-penutup asing itu sesuai dengan tuntutan dan akibatnya, sebagaimana kebohongan, rusaknya niat, dan lemahnya ketundukan akan mengubah perkataan dan perbuatan yang terpuji sesuai dengan tuntutan dan akibatnya, sebagaimana terlihat pada cairan-cairan yang dominan dan perubahannya terhadap makanan yang baik sesuai dengan tabiatnya.
Faedah: Meninggalkan Syahwat karena Allah
Meninggalkan syahwat karena Allah walaupun menyelamatkan dari azab Allah dan mewajibkan keberuntungan dengan rahmat-Nya, namun perbendaharaan Allah, harta kebajikan, kelezatan kedekatan dan kerinduan kepada-Nya, kegembiraan dan kebahagiaan dengan-Nya tidak akan diperoleh dalam hati yang berisi selain-Nya, walaupun dia termasuk ahli ibadah, zuhud, dan ilmu. Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci menolak untuk menjadikan perbendaharaan-Nya dalam hati yang berisi selain-Nya dan yang perhatiannya terkait dengan selain-Nya.
Allah hanya menitipkan perbendaharaan-Nya dalam hati yang melihat kemiskinan sebagai kekayaan bersama Allah, kekayaan sebagai kemiskinan tanpa Allah, kemuliaan sebagai kehinaan tanpa-Nya, kehinaan sebagai kemuliaan bersama-Nya, kenikmatan sebagai azab tanpa-Nya, dan azab sebagai kenikmatan bersama-Nya. Secara ringkas, ia tidak melihat kehidupan kecuali dengan-Nya dan bersama-Nya, sedangkan kematian, sakit, kekhawatiran, kesedihan, dan duka cita jika tidak bersama-Nya. Orang seperti ini memiliki dua surga: surga di dunia yang disegerakan dan surga di hari kiamat.
Faedah: Tentang Inabah (Kembali kepada Allah)
Inabah adalah i’tikafnya hati kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, seperti i’tikafnya badan di masjid, tidak meninggalkannya. Hakikat hal itu adalah i’tikafnya hati pada cinta dan dzikir kepada-Nya dengan pengagungan dan pemuliaan, dan i’tikafnya anggota badan pada ketaatan kepada-Nya dengan ikhlas untuk-Nya dan mengikuti Rasul-Nya.
Barangsiapa yang hatinya tidak ber-i’tikaf kepada Allah saja, maka ia akan ber-i’tikaf kepada patung-patung yang beragam, sebagaimana yang dikatakan oleh imam orang-orang hanif (Ibrahim) kepada kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. Al-Anbiya: 52). Maka ia dan kaumnya terbagi dalam hakikat i’tikaf. Bagian kaumnya adalah i’tikaf kepada patung-patung, sedangkan bagiannya adalah i’tikaf kepada Rabb Yang Maha Agung.
Patung-patung adalah jamak dari patung, yaitu gambar-gambar yang dibentuk. Maka terkaitnya hati dengan selain Allah, kesibukannya dengan itu, dan condongnya kepadanya adalah i’tikaf darinya kepada patung-patung yang berdiri di hatinya. Itu serupa dengan i’tikaf kepada patung-patung berhala.
Oleh karena itu, syirik penyembah berhala adalah dengan i’tikafnya hati, perhatian, dan keinginan mereka kepada patung-patung mereka. Jika di dalam hati ada patung-patung yang telah menguasai dan memperbudaknya sehingga ia ber-i’tikaf kepadanya, maka itu serupa dengan i’tikaf kepada berhala-berhala.
Karena itulah Nabi menyebutnya sebagai hamba bagi itu dan mendoakan keburukan dan kejatuhan baginya, beliau bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celaka dan terjatuh, dan jika ditusuk maka tidak dapat dicabut.”
Manusia di dunia ini berada dalam perjalanan, semuanya, dan setiap musafir berangkat menuju tujuannya dan singgah kepada orang yang ia senang singgah kepadanya. Pencari Allah dan akhirat hanya berangkat kepada Allah dalam keadaan perjalanannya dan singgah kepada-Nya ketika tiba kepada-Nya. Inilah perhatiannya dalam perjalanan dan ketika berakhir: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Dan berkata isteri Fir’aun: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga” (QS. At-Tahrim: 11). Ia meminta agar rumah itu berada di sisi-Nya sebelum meminta agar berada di surga, karena tetangga lebih penting daripada rumah, dari ucapan Syaikh Ali.
Dikatakan kepadaku dalam mimpi seperti terjaga atau terjaga seperti mimpi: “Jangan tunjukkan kekurangan kepada selain-Ku, maka Aku akan melipatgandakannya kepadamu sebagai balasan karena keluarmu dari batasmu dalam penghambaan. Aku mengujimu dengan kemiskinan agar kamu menjadi emas murni, maka jangan kamu rusak setelah peleburan.
Aku putuskan kemiskinan dan untuk diri-Ku kekayaan. Jika kamu sambungkan dirimu dengan-Ku, Aku sambungkan kamu dengan kekayaan. Jika kamu sambungkan dengan selain-Ku, Aku putuskan darimu bahan-bahan pertolongan-Ku sebagai pengusiran bagimu dari pintu-Ku.
Jangan condong kepada sesuatu selain Kami, karena itu adalah bala bagimu dan pembunuh bagimu. Jika kamu condong kepada amal, Kami kembalikan kepadamu. Jika kamu condong kepada ma’rifah, Kami ingkari atasmu. Jika kamu condong kepada wajd (ekstasi), Kami tarik kamu ke dalamnya. Jika kamu condong kepada ilmu, Kami hentikan kamu bersamanya. Jika kamu condong kepada makhluk, Kami serahkan kamu kepada mereka. Kami ridha kepadamu sebagai Rabb, maka ridhailah Kami sebagai hamba.”
Faedah: Tentang Keluhan (Syahqah) saat Mendengar Al-Quran
Keluhan yang muncul ketika mendengar Al-Quran atau selainnya memiliki beberapa sebab:
Pertama: Tampak baginya ketika mendengar suatu derajat yang bukan miliknya, maka ia merasa senang kepadanya sehingga terjadi keluhan. Ini adalah keluhan kerinduan.
Kedua: Tampak baginya dosa yang telah dilakukannya, maka ia mengeluh karena takut dan sedih atas dirinya. Ini adalah keluhan kekhawatiran.
Ketiga: Tampak baginya kekurangan dalam dirinya yang tidak mampu dihilangkannya, maka hal itu menimbulkan kesedihan sehingga ia mengeluh dengan keluhan kesedihan.
Keempat: Tampak baginya kesempurnaan kekasihnya dan ia melihat jalan kepadanya tertutup, maka hal itu menimbulkan keluhan penyesalan dan kesedihan.
Kelima: Ia pernah terhalang dari kekasihnya dan sibuk dengan selainnya, lalu pendengaran mengingatkannya kepada kekasihnya sehingga tampak baginya keindahannya dan ia melihat pintu terbuka dan jalan tampak, maka ia mengeluh karena gembira dan senang dengan apa yang tampak.
Dalam setiap keadaan, sebab keluhan adalah kuatnya yang datang dan lemahnya tempat untuk menahan. Kekuatan adalah agar yang datang itu bekerja secara internal dan tidak tampak padanya, dan itu lebih kuat dan lebih kekal. Jika ia menampakkannya, maka lemah pengaruhnya dan hampir terputus. Ini adalah hukum keluhan dari orang yang benar, karena yang mengeluh itu ada tiga: yang benar, yang mencuri, dan yang munafik.
Kaidah Mulia: Asal Kebaikan dan Kejahatan dari Pemikiran
Asal kebaikan dan kejahatan adalah dari pemikiran, karena pikiran adalah permulaan keinginan dan pencarian dalam zuhud, meninggalkan, cinta, dan benci. Pemikiran yang paling bermanfaat adalah pemikiran tentang kemaslahatan akhirat dan cara-cara mendapatkannya, serta menolak kerusakan akhirat dan cara-cara menghindarinya. Ini adalah empat pemikiran yang paling mulia.
Kemudian diikuti empat pemikiran lainnya: pemikiran tentang kemaslahatan dunia dan cara memperolehnya, pemikiran tentang kerusakan dunia dan cara berhati-hati darinya. Pada delapan bagian inilah berputar pemikiran orang-orang berakal.
Kepala bagian pertama adalah pemikiran tentang nikmat-nikmat Allah, perintah dan larangan-Nya, cara-cara mengetahui-Nya dan mengetahui nama-nama serta sifat-sifat-Nya dari kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya serta yang mengikutinya. Pemikiran ini akan berbuah bagi pemiliknya cinta dan ma’rifah.
Jika ia berpikir tentang akhirat dan kemuliaan serta kekekalannya, dan tentang dunia serta kehinaan dan fananya, maka hal itu akan berbuah baginya keinginan pada akhirat dan zuhud di dunia.
Setiap kali ia berpikir tentang pendeknya angan-angan dan sempitnya waktu, hal itu mewariskan baginya kesungguhan dan ijtihad serta mencurahkan kemampuan dalam memanfaatkan waktu. Pemikiran-pemikiran ini akan meninggikan cita-citanya dan menghidupkannya setelah mati dan rendahnya, serta menjadikannya di satu lembah sedangkan manusia di lembah lain.
Berkebalikan dengan pemikiran-pemikiran ini adalah pemikiran-pemikiran buruk yang berkeliaran di hati kebanyakan makhluk ini, seperti pemikiran tentang apa yang tidak ditugaskan untuk dipikirkan dan tidak diberi kemampuan untuk menguasainya dari hal-hal yang tidak berguna dalam ilmu, seperti pemikiran tentang bagaimana dzat Rabb dan sifat-sifat-Nya dari hal yang tidak ada jalan bagi akal untuk memahaminya.
Di antaranya juga pemikiran tentang kesenian-kesenian halus yang tidak bermanfaat bahkan merugikan, seperti pemikiran tentang catur, musik, berbagai bentuk dan gambar.
Di antaranya pemikiran tentang ilmu-ilmu yang seandainya benar, pemikiran tentangnya tidak memberikan kesempurnaan atau kemuliaan bagi jiwa, seperti pemikiran tentang hal-hal halus dalam mantiq (logika), ilmu riyadhi (matematika), dan ilmu alam, serta kebanyakan ilmu-ilmu filosof yang seandainya manusia mencapai puncaknya, ia tidak akan sempurna karenanya dan tidak akan suci jiwanya.
Di antaranya pemikiran tentang syahwat dan kelezatan serta cara memperolehnya. Walaupun jiwa merasakan kelezatan di dalamnya, namun tidak ada akibat baiknya, dan bahayanya di akhir dunia sebelum akhirat berlipat ganda dari kesenangannya.
Di antaranya pemikiran tentang apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana jadinya, seperti pemikiran tentang jika menjadi raja atau menemukan harta karun atau memiliki kebun, apa yang akan dilakukan dan bagaimana bertindak, mengambil, memberi, membalas dendam, dan semacam itu dari pemikiran orang-orang rendah.
Di antaranya pemikiran tentang hal-hal detail keadaan manusia, apa urusan mereka, pemasukan dan pengeluaran mereka, dan hal-hal yang mengikutinya, dari pemikiran jiwa-jiwa yang batil dan kosong dari Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.
Di antaranya pemikiran tentang hal-hal halus tipu daya dan akal bulus yang dengannya dapat mencapai tujuan dan hawa nafsunya, baik yang halal maupun yang haram.
Di antaranya pemikiran tentang jenis-jenis syair dan bentuk-bentuknya serta ragamnya dalam pujian, hinaan, percintaan, ratapan, dan semacamnya, karena itu menyibukkan manusia dari pemikiran tentang apa yang mengandung kebahagiaan dan kehidupan abadi.
Di antaranya pemikiran tentang hal-hal yang dikira-kira dalam pikiran yang tidak ada wujudnya di luar dan manusia tidak membutuhkannya sama sekali. Hal itu terdapat dalam setiap ilmu, bahkan dalam ilmu fiqh, ushul, dan kedokteran.
Semua pemikiran ini bahayanya lebih besar dari manfaatnya, dan cukup dengan bahayanya adalah menyibukkan dari pemikiran tentang apa yang lebih prioritas dan lebih bermanfaat baginya segera maupun nanti.
Kaidah: Pencarian adalah Penyerbukan Iman
Pencarian adalah penyerbukan iman. Jika iman dan pencarian berkumpul, maka berbuah amal saleh.
Husnuzzan (berprasangka baik) kepada Allah adalah penyerbukan kebutuhan dan keterpaksaan kepada-Nya. Jika keduanya berkumpul, maka berbuah terkabulnya doa.
Khauf (takut) adalah penyerbukan mahabbah (cinta). Jika keduanya berkumpul, maka berbuah pelaksanaan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.
Sabar adalah penyerbukan yakin. Jika keduanya berkumpul, mewariskan kepemimpinan dalam agama. Allah berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
Betulnya mengikuti Rasul adalah penyerbukan ikhlas. Jika keduanya berkumpul, maka berbuah diterimanya amal dan diperhitungkannya.
Amal adalah penyerbukan ilmu. Jika keduanya berkumpul, maka terjadi keberuntungan dan kebahagiaan. Jika salah satunya terpisah dari yang lain, tidak akan bermanfaat apa-apa.
Hilm (kelembutan) adalah penyerbukan ilmu. Jika keduanya berkumpul, maka diperoleh kepemimpinan dunia dan akhirat, dan diperoleh manfaat dari ilmu orang alim. Jika salah satunya terpisah dari pasangannya, maka hilang manfaat dan kemanfaatan.
Azam (tekad) adalah penyerbukan bashirah (pandangan batin). Jika keduanya berkumpul, pemiliknya memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, dan cita-citanya mencapai setiap tempat yang tinggi. Tidak tercapainya kesempurnaan karena tidak adanya bashirah atau tidak adanya azam.
Husnul qashd (baiknya niat) adalah penyerbukan untuk sehatnya pikiran. Jika kedua-duanya hilang, maka hilang semua kebaikan. Jika keduanya berkumpul, maka berbuah berbagai jenis kebaikan.
Betulnya pendapat adalah penyerbukan keberanian. Jika keduanya berkumpul, maka terjadi kemenangan dan keberhasilan. Jika keduanya lemah, maka kehinaan dan kegagalan. Jika ada pendapat tanpa keberanian, maka pengecut dan lemah. Jika ada keberanian tanpa pendapat, maka tergesa-gesa dan celaka.
Sabar adalah penyerbukan bashirah. Jika keduanya berkumpul, maka kebaikan ada dalam perkumpulan keduanya. Al-Hasan berkata: “Jika kamu ingin melihat orang yang memiliki pandangan batin tetapi tidak sabar, kamu akan melihatnya. Jika kamu ingin melihat orang yang sabar tetapi tidak memiliki pandangan batin, kamu akan melihatnya. Jika kamu melihat orang yang sabar dan memiliki pandangan batin, maka itulah orangnya.”
Nasihat adalah penyerbukan akal. Semakin kuat nasihat, semakin kuat akal dan semakin terang.
Tadzakkur (mengingat) dan tafakkur (berpikir), masing-masing adalah penyerbukan yang lain. Jika keduanya berkumpul, menghasilkan zuhud di dunia dan keinginan pada akhirat.
Takwa adalah penyerbukan tawakal. Jika keduanya berkumpul, hati menjadi lurus.
Penyerbukan mengambil persiapan kesiapan untuk menghadapi (Allah) adalah pendeknya angan-angan. Jika keduanya berkumpul, maka semua kebaikan ada dalam perkumpulan keduanya, dan kejahatan dalam perpisahan keduanya.
Penyerbukan cita-cita tinggi adalah niat yang benar. Jika keduanya berkumpul, hamba mencapai puncak yang diinginkan.
Kaidah: Seorang hamba memiliki dua posisi di hadapan Allah: posisi di hadapan-Nya dalam salat dan posisi di hadapan-Nya pada hari pertemuan dengan-Nya. Barangsiapa yang menunaikan hak posisi yang pertama, maka Allah akan meringankan baginya posisi yang kedua. Dan barangsiapa yang meremehkan posisi ini dan tidak menunaikan haknya, maka Allah akan mempersulit baginya posisi tersebut. Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang. Sesungguhnya mereka ini (orang-orang kafir) menyukai kehidupan yang segera dan mereka mengabaikan hari yang berat (hari akhirat) di belakang mereka.” (QS. Al-Insan: 26-27)
Kaidah: Kenikmatan dari segi hakikatnya adalah sesuatu yang diinginkan oleh manusia, bahkan oleh setiap makhluk hidup. Maka kenikmatan tidak dicela dari segi kenikmatan itu sendiri. Kenikmatan baru dicela dan meninggalkannya lebih baik daripada meraihnya serta lebih bermanfaat, jika kenikmatan tersebut mengandung kehilangan kenikmatan yang lebih besar dan lebih sempurna, atau jika kenikmatan itu mengakibatkan kesakitan yang lebih besar daripada kesakitan karena kehilangannya. Di sinilah tampak perbedaan antara orang yang berakal cerdas dengan orang yang bodoh dan tidak tahu. Ketika akal mengetahui perbedaan antara dua kenikmatan dan dua kesakitan, serta mengetahui bahwa tidak ada perbandingan antara keduanya, maka mudahlah baginya meninggalkan kenikmatan yang lebih rendah untuk memperoleh kenikmatan yang lebih tinggi, dan menanggung kesakitan yang lebih ringan untuk menolak kesakitan yang lebih berat. Ketika kaidah ini telah ditetapkan, maka kenikmatan akhirat lebih besar dan lebih kekal, sedangkan kenikmatan dunia lebih kecil dan lebih singkat. Demikian pula kesakitan akhirat dan kesakitan dunia. Yang menjadi sandaran dalam hal ini adalah iman dan keyakinan. Apabila keyakinan menguat dan menyentuh hati, maka hati akan mengutamakan yang lebih tinggi daripada yang lebih rendah dalam hal kenikmatan, dan menanggung kesakitan yang lebih mudah daripada yang lebih sulit. Dan kepada Allah kita meminta pertolongan.
Faidah: Firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.'” (QS. Al-Anbiya: 83). Ia menggabungkan dalam doa ini antara hakikat tauhid, menampakkan kefakiran dan kebutuhan kepada Tuhannya, merasakan kelezatan mahabbah dalam bermunajat kepada-Nya, mengakui sifat rahmat-Nya dan bahwa Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, bertawassul kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya Yang Maha Suci, dan menunjukkan kebutuhan yang sangat serta kefakirannya. Ketika orang yang diuji menemukan hal ini, Allah akan menyingkirkan ujiannya. Dan telah dicoba bahwa barangsiapa yang mengucapkannya tujuh kali, terutama dengan pemahaman ini, Allah akan menyingkirkan kesulitannya.
Faidah: Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf bahwa ia berkata: “Engkau adalah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101). Doa ini menggabungkan pengakuan tauhid, penyerahan diri kepada Tuhan, menampakkan kefakiran kepada-Nya, berlepas diri dari kewalian selain-Nya Yang Maha Suci, bahwa wafat dalam keadaan Islam adalah tujuan paling mulia bagi seorang hamba, bahwa hal itu ada di tangan Allah bukan di tangan hamba, pengakuan akan hari kebangkitan, dan memohon kebersamaan dengan orang-orang yang berbahagia.
Faidah: Firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya” (QS. Al-Hijr: 21) mengandung salah satu harta karun, yaitu bahwa setiap sesuatu tidak boleh diminta kecuali dari Yang memiliki khazanahnya, dan kunci-kunci khazanah tersebut ada di tangan-Nya. Memintanya dari selain-Nya berarti meminta dari yang tidak memilikinya dan tidak mampu memberikannya. Dan firman-Nya: “Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali” (QS. An-Najm: 42) mengandung harta karun yang besar, yaitu bahwa setiap yang diinginkan jika tidak diinginkan karena-Nya dan tidak berhubungan dengan-Nya, maka ia akan sirna dan terputus. Karena bukan kepada-Nya tempat kembali, dan tempat kembali hanyalah kepada Yang kepadanya semua urusan berakhir. Semuanya berakhir kepada penciptaan-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Maka Dia adalah tujuan setiap yang dicari dan setiap yang dicintai. Setiap yang dicintai bukan karena-Nya, maka kecintaan itu adalah penderitaan dan siksaan. Setiap amal yang tidak dikehendaki karena-Nya, maka ia sia-sia dan batil. Setiap hati yang tidak sampai kepada-Nya, maka ia celaka, terhalang dari kebahagiaan dan kemenangan. Maka berkumpullah semua yang diminta dari-Nya dalam firman-Nya: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya”, dan berkumpullah semua yang dikehendaki karena-Nya dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali.” Maka tidak ada tujuan di balik-Nya Yang Maha Suci yang dicari, dan tidak ada tujuan selain-Nya yang menjadi tempat kembali.
Di bawah ini terdapat rahasia besar dari rahasia-rahasia tauhid, yaitu bahwa hati tidak akan tenang, tidak akan tenteram dan tidak akan diam kecuali dengan sampai kepada-Nya. Semua selain-Nya yang dicintai dan diinginkan adalah yang diinginkan untuk yang lain, dan bukan yang diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Yang Esa yang kepada-Nya tempat kembali. Mustahil tempat kembali kepada dua, sebagaimana mustahil permulaan makhluk dari yang dua. Barangsiapa yang akhir kecintaan, keinginan, kehendak, dan ketaatannya kepada selain-Nya, maka itu akan batal darinya, akan hilang dan meninggalkannya di saat ia paling membutuhkannya. Dan barangsiapa yang akhir kecintaan, keinginan, ketakutan, dan permintaannya adalah kepada-Nya Yang Maha Suci, maka ia akan memperoleh nikmat, kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaannya untuk selama-lamanya.
Seorang hamba senantiasa berubah-ubah antara hukum-hukum perintah dan hukum-hukum musibah. Maka ia membutuhkan, bahkan sangat memerlukan pertolongan ketika ada perintah dan kelembutan ketika ada musibah. Sesuai dengan kadar ia menunaikan perintah-perintah, ia akan memperoleh kelembutan ketika ada musibah. Jika ia sempurna dalam menunaikan perintah-perintah lahir dan batin, ia akan memperoleh kelembutan lahir dan batin. Jika ia hanya menunaikan bentuk luarnya tanpa hakikat dan batinnya, ia akan memperoleh kelembutan di lahir dan sedikit bagian kelembutan di batin. Jika engkau bertanya: apa kelembutan batin? Maka itu adalah apa yang diperoleh hati ketika ada musibah berupa ketenangan, ketenteraman, hilangnya kegelisahan, keresahan, dan kepanikan. Maka ia tunduk di hadapan tuannya dengan hina, khusyuk kepada-Nya, memandang kepada-Nya dengan hatinya, tenang kepada-Nya dengan ruh dan rahasianya. Ia telah disibukkan oleh penyaksian kelembutan-Nya kepadanya dari beratnya kesakitan yang ia alami. Dan ia telah dilupakan dari menyaksikan itu oleh pengetahuannya tentang baiknya pilihan-Nya untuknya, dan bahwa ia adalah hamba murni yang tuannya menjalankan keputusan-keputusan-Nya kepadanya, ridha atau marah. Jika ia ridha, ia memperoleh keridhaan, dan jika ia marah, maka bagiannya adalah kemarahan. Inilah kelembutan batin yang merupakan buah dari muamalah batin tersebut, bertambah dengan bertambahnya muamalah itu dan berkurang dengan berkurangnya.
Faidah mulia: Seseorang akan terus terputus dari Allah hingga kehendak dan kecintaannya tersambung dengan Wajah Yang Maha Tinggi. Yang dimaksud dengan sambungan ini adalah bahwa kecintaan sampai kepada-Nya dan terkait dengan-Nya saja, tidak ada yang menghalanginya selain-Nya. Dan pengenalan tersambung dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya, sehingga kegelapan ta’thil tidak memadamkan cahayanya, sebagaimana kegelapan syirik tidak memadamkan cahaya kecintaan. Dan dzikir-nya tersambung dengan-Nya Yang Maha Suci, sehingga hilang antara yang berdzikir dan yang didzikir hijab kelengahan dan perhatiannya saat berdzikir kepada selain yang didzikir. Ketika itulah dzikir tersambung dengan-Nya dan amal tersambung dengan perintah dan larangan-Nya. Maka ia melakukan ketaatan karena Dia yang memerintahkannya dan mencintainya, dan meninggalkan yang dilarang karena Dia yang melarangnya dan membencinya. Inilah makna tersambungnya amal dengan perintah dan larangan-Nya, dan hakikat hilangnya sebab-sebab yang mendorong pada perbuatan dan meninggalkan karena tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang menyegerakan. Dan tawakkal serta kecintaan tersambung dengan-Nya, sehingga ia menjadi orang yang mempercayai-Nya Yang Maha Suci, tenteram kepada-Nya, ridha dengan baiknya pengaturan-Nya untuknya, tidak menuduh-Nya dalam keadaan apa pun. Dan kefakiran dan kebutuhannya tersambung dengan-Nya Yang Maha Suci, bukan dengan selain-Nya. Dan ketakutan, harapan, kegembiraan, kesenangan, dan kegembiraannya tersambung dengan-Nya saja. Maka ia tidak takut kepada selain-Nya, tidak mengharap selain-Nya, dan tidak bergembira dengannya dengan sepenuh kegembiraan, tidak senang dengannya dengan puncak kesenangan. Meskipun ia memperoleh dari makhluk sebagian kegembiraan dan kesenangan, tetapi kegembiraan yang sempurna, kesenangan yang lengkap, kegembiran, kenikmatan, penyejuk mata, dan ketenangan hati hanyalah dengan-Nya Yang Maha Suci. Selain-Nya, jika membantu mencapai tujuan ini, maka ia bergembira dan senang dengannya. Jika menghalangi darinya, maka ia lebih berhak bersedih karenanya, merasa asing darinya, dan hatinya resah karena kehadirannya daripada bergembira dengannya. Maka tidak ada kegembiraan dan kesenangan kecuali dengan-Nya atau dengan apa yang mengantarkan kepada-Nya dan membantu meraih keridhaan-Nya. Allah Yang Maha Suci telah memberitahukan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang bergembira dengan dunia dan perhiasannya, dan memerintahkan untuk bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya, yaitu Islam, iman, dan Al-Quran sebagaimana ditafsirkan oleh para sahabat dan tabi’in. Yang dimaksud adalah bahwa barangsiapa yang tersambung kepadanya hal-hal ini dengan Allah Yang Maha Suci, maka ia telah sampai. Jika tidak, maka ia terputus dari Tuhannya, tersambung dengan kepentingan dan nafsunya, terkelabui dalam pengenalan, kehendak, dan perjalanannya.
Kaidah mulia: Aku telah memikirkan masalah ini, dan ternyata dasarnya adalah engkau mengetahui bahwa semua nikmat adalah dari Allah saja, nikmat ketaatan dan nikmat kenikmatan. Maka berharap lah kepada-Nya agar Dia mengilhamkan dan memberikan taufik kepadamu untuk mensyukurinya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nya-lah kamu meminta tolong.” (QS. An-Nahl: 53) Dan firman-Nya: “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Al-A’raf: 69) Dan firman-Nya: “Dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 114) Sebagaimana nikmat-nikmat itu darinya dan dari murni karunia-Nya, maka mengingat dan mensyukurinya tidak dapat diperoleh kecuali dengan taufik-Nya. Dan dosa-dosa adalah dari kehinaan-Nya dan meninggalkan hamba-Nya serta membiarkannya antara dia dan nafsunya. Jika Dia tidak menyingkirkan itu dari hamba-Nya, maka tidak ada jalan baginya untuk menyingkirkannya dari dirinya. Maka ia terpaksa bermunajat dan berdoa kepada-Nya agar Dia menolak darinya sebab-sebabnya sehingga tidak keluar darinya. Ketika terjadi karena takdir dan tuntutan sifat manusia, maka ia terpaksa bermunajat dan berdoa agar Dia menolak darinya akibat dan hukumannya. Maka tidak terlepas dari hamba keperluannya kepada tiga dasar ini, dan tidak ada keberuntungan baginya kecuali dengannya: syukur, meminta afiat, dan taubat nasuha.
Kemudian aku memikirkan, ternyata inti dari itu adalah ragbah (keinginan) dan rahbah (ketakutan), dan keduanya bukan di tangan hamba, tetapi di tangan Yang membolak-balik hati dan mengaturnya sesuka-Nya. Jika Dia memberi taufik kepada hamba-Nya, Dia mengarahkan hatinya kepada-Nya dan memenuhinya dengan keinginan dan ketakutan. Jika Dia menghinakannya, Dia membiarkannya dengan nafsunya dan tidak menarik hatinya kepada-Nya dan tidak meminta itu. Dan apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Kemudian aku memikirkan apakah taufik dan penghinaan itu ada sebabnya ataukah keduanya karena kehendak murni tanpa sebab. Ternyata sebabnya adalah kelayakan tempat dan ketiadaannya. Maka Dia Yang Maha Suci menciptakan tempat-tempat yang berbeda-beda dalam kesiapan dan penerimaan dengan perbedaan yang sangat besar. Benda mati tidak menerima apa yang diterima hewan. Demikian pula kedua jenis itu, masing-masing berbeda dalam penerimaan. Hewan yang berakal menerima apa yang tidak diterima hewan bisu, dan ia berbeda dalam penerimaan dengan perbedaan yang sangat besar. Demikian pula hewan bisu berbeda dalam penerimaan, tetapi tidak ada perbedaan dalam satu jenis seperti perbedaan dalam jenis manusia. Ketika tempat itu dapat menerima nikmat, sehingga ia mengenalinya, mengetahui kadar dan nilainya, mensyukuri yang memberinya, memuji-Nya karenanya, mengagungkan-Nya karenanya, dan mengetahui bahwa itu dari murni kemurahan dan pemberian tanpa ia berhak atasnya, dan nikmat itu bukan untuknya dan bukan darinya, tetapi hanya untuk Allah saja dan dari-Nya saja. Maka ia mengesakan dengan nikmat-Nya secara ikhlas dan menggunakannya dalam kecintaan-Nya sebagai syukur, menyaksikannya dari murni kemurahan-Nya sebagai pemberian, mengetahui kekurangan dan kelalaiannya dalam mensyukurinya karena ketidakmampuan atau kelemahan dan kelalaian, dan mengetahui bahwa jika Dia mengkekalkannya padanya, itu adalah murni sedekah, karunia, dan kebaikan-Nya. Jika Dia merampasnya darinya, maka ia layak untuk itu dan berhak mendapatkannya. Setiap kali Dia menambahkan nikmat kepadanya, ia semakin bertambah hina, tunduk, dan khusyuk di hadapan-Nya, berdiri dengan syukur dan takut kepada-Nya Yang Maha Suci agar Dia tidak merampas nikmat-nikmat itu darinya karena tidak sempurnanya syukur, sebagaimana Dia merampas nikmat-Nya dari orang yang tidak mengenalinya dan tidak memeliharanya dengan sebenar-benarnya. Jika ia tidak mensyukuri nikmat-Nya dan menghadapinya dengan kebalikan dari apa yang layak dihadapi, maka Dia pasti akan merampasnya darinya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, supaya mereka berkata: ‘Apakah mereka ini yang diberi karunia Allah di antara kita?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (QS. Al-An’am: 53) Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kadar nikmat, menerimanya, mencintainya, memuji yang memberinya, mencintai-Nya, dan berdiri dengan syukur kepada-Nya. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu ayat, mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman hingga kami diberi seperti apa yang diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.” (QS. Al-An’am: 124)
Bagian Pertama
Pasal: Sebab kehinaan adalah ketidaklayakan tempat (hati) dan ketidakpantasannya serta ketidakderimaannya terhadap nikmat, sehingga jika nikmat-nikmat datang kepadanya, ia akan berkata “Ini milikku” dan “Sesungguhnya aku diberi ini karena aku layak dan berhak mendapatkannya”, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi (kekayaan itu) karena ilmu yang ada padaku'” (Surat Al-Qashash ayat 78) – yaitu karena ilmu yang kuketahui pada diriku, aku berhak mendapatkan itu dan pantas memperolehnya serta layak menerimanya.
Al-Farra berkata: yaitu karena keutamaan yang ada padaku, sesungguhnya aku adalah orang yang layak dan berhak mendapatkannya ketika aku diberi. Muqatil berkata: ia mengatakan karena kebaikan yang diketahui Allah ada padaku.
Abdullah bin Al-Harits bin Naufal menyebut Sulaiman bin Daud dalam hal kerajaan yang diberikan kepadanya, kemudian membaca firman Allah Ta’ala: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)” (Surat An-Naml ayat 40) dan tidak berkata “Ini dari kemuliaanku”. Kemudian ia menyebut Qarun dan perkataannya “Sesungguhnya aku hanya diberi (kekayaan itu) karena ilmu yang ada padaku”, yang berarti bahwa Sulaiman melihat apa yang diberikan kepadanya sebagai karunia Allah atasnya dan pemberian-Nya, dan bahwa dia diuji dengannya untuk bersyukur. Sedangkan Qarun melihat itu dari dirinya sendiri dan haknya.
Demikian juga firman Allah Subhanahu: “Dan sungguh jika Kami rasakan kepadanya rahmat dari Kami sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Ini hakku'” (Surat Hud ayat 10) – yaitu aku layak mendapat ini dan pantas memilikinya, maka kekhususanku dengannya seperti kekhususan pemilik dengan miliknya.
Sedangkan orang beriman melihat itu sebagai milik Tuhannya dan karunia dari-Nya yang diberikan kepada hambanya tanpa ada hak dari hambanya, tetapi sebagai sedekah yang diberikan kepada hambanya. Dan Dia berhak untuk tidak memberikannya, sehingga jika Dia mencegahnya, Dia tidak mencegah sesuatu yang menjadi haknya yang berhak dia dapatkan dari-Nya.
Jika dia tidak menyaksikan hal itu, dia melihat dirinya layak dan berhak, maka dirinya takjub dengan dirinya sendiri dan melampaui batas dengan nikmat itu serta sombong dengannya dan membanggakan diri atas yang lain. Maka bagiannya dari nikmat itu adalah kegembiraan dan kesombongan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh jika Kami rasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami, kemudian Kami cabut darinya, sesungguhnya dia sangat putus asa lagi sangat ingkar. Dan sungguh jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bala bencana itu dari diriku.’ Sesungguhnya dia sangat gembira lagi sangat sombong” (Surat Hud ayat 9-10).
Maka Allah mencela dia dengan keputusasaan dan kekufuran ketika diuji dengan bencana, dan dengan kegembiraan dan kesombongan ketika diuji dengan kebahagiaan. Dia mengganti pujian kepada Allah dan syukur serta pujian kepada-Nya ketika Dia menghilangkan bencana darinya dengan perkataannya “Telah hilang bala bencana itu dari diriku”. Seandainya dia berkata “Allah telah menghilangkan bala bencana dari diriku dengan rahmat dan karunia-Nya”, dia tidak akan dicela karena itu, bahkan akan dipuji karenanya. Tetapi dia lalai dari Pemberi nikmat yang menghilangkannya dan menisbatkan penghilangan itu kepadanya dengan gembira dan sombong.
Jika Allah Subhanahu mengetahui hal ini dari hati seorang hamba, maka itu termasuk sebab terbesar kehinaannya dan Allah meninggalkannya, karena tempatnya tidak sesuai dengan nikmat mutlak yang sempurna.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah mereka yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan kalau seandainya Allah menjadikan mereka dapat mendengar, tentulah mereka tetap berpaling juga dengan keadaan mereka tetap menolak” (Surat Al-Anfal ayat 22-23).
Maka Allah Subhanahu mengabarkan bahwa tempat mereka tidak dapat menerima nikmat-Nya, dan dengan ketidakderimaannya, pada mereka ada penghalang lain yang menghalangi sampainya nikmat kepada mereka, yaitu berpaling dan menolaknya ketika mereka mengenalnya dan meyakininya.
Yang perlu diketahui adalah bahwa sebab-sebab kehinaan berasal dari jiwa yang tetap pada keadaan asalnya ketika diciptakan dan diabaikan serta dibiarkan. Maka sebab-sebab kehinaan berasal darinya dan ada padanya. Sedangkan sebab-sebab taufik berasal dari Allah Subhanahu yang menjadikannya dapat menerima nikmat. Maka sebab-sebab taufik berasal dari-Nya dan dari karunia-Nya. Dan Dia adalah Pencipta yang ini dan yang itu, sebagaimana Dia menciptakan bagian-bagian bumi ini dapat menerima tumbuhan dan yang ini tidak dapat menerimanya, dan menciptakan pohon ini dapat menerima buah dan yang ini tidak dapat menerimanya, dan menciptakan lebah dapat mengeluarkan dari perutnya minuman yang bermacam-macam warnanya sedangkan tawon tidak dapat melakukan itu. Dan Dia menciptakan jiwa-jiwa yang baik dapat menerima zikir-Nya, syukur-Nya, hujah-Nya, pengagungan-Nya, pengagungan-Nya, mengesakan-Nya dan menasihati hamba-hamba-Nya. Dan Dia menciptakan jiwa-jiwa yang buruk tidak dapat menerima itu, bahkan sebaliknya. Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Berkata Syaikh Al-Islam, lautan ilmu, mufti kelompok-kelompok, Abu Al-Abbas Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah.
Bagian Kedua
Pasal: Allah Ta’ala berfirman:
“Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan dapat lolos dari (azab) Kami? Amat buruklah apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan (balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami wajibkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan di antara manusia ada orang yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah’, maka apabila ia disakiti (karena) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah bersama kamu.’ Bukankah Allah mengetahui apa yang ada dalam dada semesta alam? Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang munafik” (Surat Al-Ankabut ayat 1-11).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Surat Al-Baqarah ayat 214).
Dan Allah Ta’ala berfirman ketika menyebut orang murtad dan yang dipaksa dengan firman-Nya “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman”, Dia berfirman setelah itu: “Kemudian sesungguhnya Tuhanmu (Maha Pengampun) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah mereka diuji kemudian mereka berjihad dan bersabar, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat An-Nahl ayat 110).
Maka manusia ketika diutus kepada mereka rasul-rasul berada antara dua perkara: entah salah seorang dari mereka berkata “kami beriman” atau tidak berkata “kami beriman” tetapi terus melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Barangsiapa yang berkata “kami beriman”, Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa mengujinya dan menimpakan kepadanya ujian dan cobaan untuk membedakan yang jujur dari yang dusta. Dan barangsiapa yang tidak berkata “kami beriman”, maka janganlah dia mengira bahwa dia akan mendahului Tuhan dalam ujian-Nya, karena tidak seorang pun yang akan mengalahkan Allah Ta’ala.
Ini adalah sunnatullah Ta’ala: Dia mengutus rasul-rasul kepada makhluk, lalu manusia mendustakan mereka dan menyakiti mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin” (Surat Al-An’am ayat 112). Dan firman-Nya Ta’ala: “Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila'” (Surat Adz-Dzariyat ayat 52). Dan firman-Nya Ta’ala: “Tidak dikatakan kepadamu melainkan apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu” (Surat Fussilat ayat 43).
Dan barangsiapa yang beriman kepada rasul-rasul dan taat kepada mereka, mereka memusuhinya dan menyakitinya, maka dia diuji dengan apa yang menyakitkannya. Dan jika dia tidak beriman kepada mereka, dia dihukum sehingga terjadi padanya apa yang menyakitkannya lebih besar dan lebih kekal. Maka tidak ada jalan lain selain terjadinya rasa sakit bagi setiap jiwa, baik dia beriman maupun kafir. Tetapi orang beriman akan mendapat rasa sakit di awal dunia, kemudian baginya kesudahan yang baik dan akhirat. Sedangkan orang kafir mendapat nikmat di awal, kemudian menjadi dalam kesakitan.
Seorang laki-laki bertanya kepada Asy-Syafi’i, dia berkata: “Wahai Abu Abdullah, mana yang lebih baik bagi seseorang, diberi kemampuan atau diuji?” Asy-Syafi’i berkata: “Tidak diberi kemampuan hingga diuji, karena Allah menguji Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihim ajma’in. Ketika mereka sabar, Allah memberi mereka kemampuan. Maka janganlah seseorang mengira bahwa dia akan terbebas dari rasa sakit sama sekali.”
Dan ini adalah prinsip yang agung, maka patutlah orang yang berakal mengetahuinya. Dan ini terjadi pada setiap orang, karena manusia adalah makhluk sosial secara tabiat, dia harus hidup bersama manusia. Dan manusia memiliki keinginan-keinginan dan anggapan-anggapan, mereka meminta darinya untuk menyetujui mereka. Jika dia tidak menyetujui mereka, mereka akan menyakiti dan menyiksanya. Dan jika dia menyetujui mereka, dia akan mendapat gangguan dan siksaan, kadang dari mereka dan kadang dari yang lain.
Barangsiapa yang mencoba keadaannya dan keadaan manusia akan menemukan dari hal ini banyak sekali, seperti kaum yang menginginkan perbuatan keji dan kezaliman, dan mereka memiliki perkataan-perkataan batil dalam agama atau syirik. Mereka melakukan sebagian dari apa yang disebutkan Allah dari hal-hal yang diharamkan dalam firman-Nya Ta’ala: “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui'” (Surat Al-A’raf ayat 33).
Dan mereka berada di tempat bersama seperti rumah bersama atau penginapan atau pasar atau madrasah atau ribath atau desa atau gang atau kota yang di dalamnya ada orang lain, dan mereka tidak dapat melakukan apa yang mereka inginkan kecuali dengan persetujuan orang-orang itu atau dengan diam mereka dari mengingkari mereka. Maka mereka meminta dari orang-orang itu persetujuan atau diam. Jika mereka menyetujui atau diam, mereka selamat dari kejahatan mereka dalam ujian itu, kemudian boleh jadi mereka sendiri menguasai orang-orang itu, merendahkan mereka dan menghukum mereka berlipat-lipat dari apa yang mereka takutkan di awal.
Seperti orang yang diminta darinya kesaksian palsu atau berbicara dalam agama dengan kebatilan, baik dalam berita maupun dalam perintah, atau membantu dalam perbuatan keji dan kezaliman. Jika dia tidak memenuhi mereka, mereka akan menyakiti dan memusuhinya. Dan jika dia memenuhi mereka, mereka sendiri akan menguasainya lalu merendahkan dan menyakitinya berlipat-lipat dari apa yang dia takutkan, atau dia akan disiksa oleh selain mereka.
Maka yang wajib adalah apa yang ada dalam hadits Aisyah yang dia kirimkan kepada Mu’awiyah dan diriwayatkan secara mauquf dan marfu’: “Barangsiapa yang menyenangkan Allah dengan murka manusia, Allah akan mencukupinya dari urusan manusia” dan dalam lafaz lain “Allah ridha kepadanya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang menyenangkan manusia dengan murka Allah, mereka tidak akan berguna baginya sedikitpun dari (azab) Allah”, dan dalam lafaz lain “yang memujinya dari manusia akan menjadi yang mencela”.
Dan hal ini berlaku bagi orang yang membantu raja-raja dan para pemimpin dalam tujuan-tujuan mereka yang rusak, dan bagi orang yang membantu ahli bidah yang mengklaim sebagai ahli ilmu dan agama dalam bidah mereka. Barangsiapa yang diberi petunjuk dan bimbingan oleh Allah, ia akan menahan diri dari melakukan yang haram dan bersabar atas gangguan dan permusuhan mereka. Kemudian akibatnya di dunia dan akhirat akan seperti yang terjadi pada para rasul dan pengikut mereka dengan orang-orang yang menyakiti dan memusuhi mereka, seperti para Muhajirin dalam umat ini dan orang-orang yang diuji dari kalangan ulama, ahli ibadah, pedagang, dan para penguasa mereka.
Terkadang dibolehkan dalam beberapa perkara menampakkan persetujuan dan menyembunyikan penentangan, seperti orang yang dipaksa untuk kafir, sebagaimana yang dijelaskan secara rinci di tempat lain. Karena maksud di sini adalah bahwa ujian dengan hal-hal yang menyakiti manusia tidak dapat dihindari, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat terlepas dari hal yang menyakitinya sama sekali.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di berbagai tempat bahwa Dia pasti akan menguji manusia. Ujian itu berupa kesenangan dan kesulitan, dan manusia pasti diuji dengan apa yang menyenangkannya dan apa yang menyedihkannya. Maka ia membutuhkan untuk menjadi penyabar lagi bersyukur.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.” (Al-Kahf: 7)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al-A’raf: 168)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Taha: 123-124)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)
Ini dalam surah Ali Imran. Dan sebelumnya telah berfirman dalam surah Al-Baqarah – yang sebagian besarnya turun sebelum Ali Imran -: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)
Hal itu karena jiwa tidak akan suci dan baik hingga dimurnikan dengan ujian, seperti emas yang tidak dapat dibedakan antara yang baik dan yang buruk hingga diuji dalam tungku ujian. Karena jiwa itu jahil dan zalim, dan ia adalah sumber segala keburukan yang menimpa hamba. Tidak ada keburukan yang menimpa seseorang kecuali dari jiwanya.
Allah Ta’ala berfirman: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisa: 79)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada perang Badr), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.'” (Ali Imran: 165)
Dan Allah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)
Allah telah menyebutkan hukuman-hukuman terhadap umat-umat dari Adam hingga akhir zaman, dan dalam semua itu Dia berfirman bahwa mereka menzalimi diri mereka sendiri. Maka mereka adalah orang-orang yang zalim, bukan yang terzalimi. Dan yang pertama mengakui hal itu adalah kedua orang tua mereka (Adam dan Hawa), mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23)
Dan Allah berkata kepada Iblis: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan kamu dan pengikut-pengikutmu semuanya.” (Shad: 85)
Dan Iblis hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat di antara mereka, sebagaimana dia berkata: “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Al-Hijr: 39-40)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al-Hijr: 42)
Dan kesesatan adalah mengikuti hawa nafsu. Para salaf senantiasa mengakui hal itu, seperti perkataan Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Mas’ud: “Aku berpendapat dalam masalah ini menurut pendapatku. Jika benar, maka dari Allah, dan jika salah, maka dari diriku dan dari setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.”
Dan dalam hadits qudsi, hadits Abu Dzar yang diriwayatkan Rasul dari Rabbnya Azza wa Jalla: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku berikan balasannya kepada kalian. Barangsiapa menemukan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa menemukan selain itu, janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”
Dan dalam hadits sahih, hadits sayyid al-istighfar (penghulu istighfar), yaitu hamba berkata: “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam janji dan perjanjian-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” Barangsiapa mengucapkannya ketika pagi dengan meyakininya, lalu ia mati pada hari itu, maka ia masuk surga. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore dengan meyakininya, lalu ia mati pada malam itu, maka ia masuk surga.
Dan dalam hadits Abu Bakar Ash-Shiddiq dari jalur Abu Hurairah dan Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah mengajarkannya apa yang diucapkan ketika pagi, sore, dan ketika hendak tidur: “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Rabb segala sesuatu dan Rajanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku, kejahatan setan dan syiriknya, dan dari berbuat buruk terhadap diriku atau menyeret seorang muslim (ke dalam kejahatan). Ucapkanlah ketika engkau pagi, sore, dan ketika hendak tidur.”
Dan Nabi biasa bersabda dalam khutbahnya: “Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami.”
Dan Nabi telah bersabda: “Sesungguhnya aku menarik kalian dari tepi neraka, sedangkan kalian berhamburan seperti hambur-hamburnya ngengat.” Beliau menyamakan mereka dengan ngengat karena kebodohan dan ringannya gerakan mereka, dan ngengat itu kecil jiwanya. Sesungguhnya jiwa itu jahil dan cepat bergerak.
Dalam hadits: “Perumpamaan hati seperti bulu yang terbuang di tanah lapang.” Dan dalam hadits lain: “Hati itu lebih cepat berubah daripada panci ketika sedang mendidih penuh.” Diketahui cepatnya gerakan bulu dan panci disertai dengan kebodohan.
Oleh karena itu dikatakan kepada orang yang menaati orang yang menyesatkannya bahwa dia telah dipermudah olehnya. Allah berkata tentang Fir’aun: “Maka dia meremehkan kaumnya, lalu mereka menaatinya.” (Az-Zukhruf: 54)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan janganlah sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum: 60)
Sesungguhnya yang ringan tidak akan teguh, bahkan akan goyah. Dan pemilik keyakinan itu teguh. Dikatakan “ayqana” (yakin) jika dia sudah mantap. Dan keyakinan adalah mantapnya iman di hati dengan ilmu dan amal. Terkadang ilmu hamba itu baik, tetapi jiwanya tidak sabar ketika musibah, bahkan goyah.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jika engkau ingin melihat orang yang berwawasan tetapi tidak sabar, engkau akan melihatnya. Dan jika engkau ingin melihat orang yang sabar tetapi tidak berwawasan, engkau akan melihatnya. Jika engkau melihat orang yang berwawasan lagi sabar, itulah dia.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Oleh karena itu jiwa diserupakan dengan api dalam cepatnya bergerak, merusaknya, marah dan syahwatnya berasal dari api. Dan setan dari api. Dalam sunan dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Marah itu dari setan, dan setan dari api. Sesungguhnya api dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu.”
Dan dalam hadits lain: “Marah adalah bara api yang menyala di dalam dada anak Adam. Tidakkah engkau lihat merahnya kedua matanya dan mengembangnya urat lehernya?” Itu adalah mendidihnya darah hati untuk menuntut balas.
Dalam hadits yang disepakati keshahihannya: “Sesungguhnya setan mengalir pada anak Adam seperti mengalirnya darah.”
Dan dalam Shahihain bahwa dua orang berselisih di hadapan Nabi, dan salah seorang dari mereka sangat marah. Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, seandainya ia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang dirasakannya. Seandainya ia berkata: ‘A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).'”
Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 34-36)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang jahil. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 199-200)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah kejahatan dengan kebaikan. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.'” (Al-Mu’minun: 96-98)
Telah selesai kitab ini dan segala puji bagi Allah di awal dan di akhir. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Rasul kami Muhammad, Nabi yang ummi, kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabi’innya, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari pembalasan. Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.







