AD-DAKHIL DALAM TAFSIR

Rabu, 4 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AD-DAKHIL DALAM TAFSIR

الدَّخِيلُ فِي التَّفْسِيرِ

Penyusun:

Kurikulum Universitas Islam Madinah Internasional
Tingkat:

Magister

Penerjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag., Lc.

 

Pelajaran 1: Pengenalan Ad-dakhil dalam Tafsir dan Jenisnya – Israiliyyat (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Pertama

(Pengenalan Ad-dakhil dalam Tafsir dan Jenisnya – Israiliyyat (1))

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas rasul yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan atas keluarga serta sahabatnya semuanya. Adapun setelah itu:

Yang perlu kita ingat adalah bahwa ad-dakhil dan israiliyyat itu ada dalam lipatan-lipatan kitab-kitab tafsir, tetapi tidak ditulis secara khusus kecuali pada masa akhir-akhir yang terlambat. Oleh karena itu, kita akan melihat bahwa referensi mata kuliah mandiri ini yang ditulis dalam ilmu ini secara mandiri adalah referensi-referensi modern, walaupun para ulama terdahulu telah menjelaskan hadis-hadis lemah dan palsu, serta membahas banyak jenis dari ilmu ini.

Di antara kitab-kitab yang terkenal dalam hal ini:

  1. (Israiliyyat dan Maudhu’at) karya Dr. Muhammad Abu Syuhbah, juga
  2. (Tafsir dan Mufassirin) karya Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi, dan
  3. (Israiliyyat dalam Tafsir dan Hadis) juga karyanya. Kita juga akan melihat
  4. (Ad-dakhil dalam Tafsir) karya Dr. Abdul Wahhab Fayid, dan
  5. (Ad-dakhil dalam Tafsir) karya guru kami Prof. Dr. Ibrahim Abdul Rahman Khalifah.

Dan untuk rekan-rekan kami di bidang tafsir jaman sekarang dan dalam bidang dakwah, kita akan melihat:

  1. (Ad-dakhil dan Israiliyyat) karya Dr. Samir Syaliuah, dan
  2. (Ad-dakhil dalam Tafsir) karya Dr. Ali Ridwan, dan
  3. (Ad-dakhil dalam Tafsir) karya Dr. al-Muhammadi.

Adapun para ulama terdahulu, sudah jelas bahwa Imam as-Suyuthi dan Ibnu Arraq serta lainnya, mereka memiliki kitab-kitab. Ada

  1. (Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Akhbar asy-Syani’ah al-Maudhu’ah) karya Ibnu Arraq ad-Dimasyqi, ada juga
  2. (Tadrib ar-Rawi ‘ala Syarh Taqrib an-Nawawi) karya Imam as-Suyuthi, ada
  3. (Tahdzir al-Khawash min Akadziib al-Qushash) karya as-Suyuthi dan lainnya.

Pendahuluan yang kita masuki untuk ilmu ini:

Al-Quran al-Karim adalah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan-Nya kepada rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam agar menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Al-Quran yang diturunkan Tuhan kita ini telah dijamin penjagaannya, maka Dia berfirman – Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr: 9). Allah Jalla wa ‘Ala telah menugaskan rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk menjelaskan, menafsirkan, dan menerangkan kepada manusia sebagaimana firman-Nya Jalla wa ‘Ala: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (An-Nahl: 44). Sebagaimana Tuhan telah menjaminnya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya” (Al-Qiyamah: 17-19).

Rasul yang mulia ini – shallallahu alaihi wasallam – telah menyampaikan dan menjelaskan, serta mengajarkan umat, dan para sahabatnya – radhiyallahu anhum – mengikutinya. Maka di antara sahabat ada kelompok yang terkenal dengan tafsir, mereka ini adalah para pembawa petunjuk dan imam-imam tafsir: Abdullah bin Abbas khabar (ahli) umat, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Umar, dan Ibnu Amr serta lainnya.

Mereka selalu membaca, mengamalkan, menjelaskan dan menafsirkan Al-Quran al-Karim kepada orang-orang di sekitar mereka dari kalangan tabi’in, sehingga diketahui bahwa Abdullah bin Abbas memiliki madrasahnya di Makkah al-Mukarramah dan murid-muridnya, dan Abdullah bin Mas’ud memiliki madrasahnya di Kufah, dan Ubay memiliki madrasahnya di Madinah al-Munawwarah – atas penghuninya shalawat dan salam yang terbaik.

Yang tidak tersembunyi adalah bahwa mengetahui tafsir dan memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran al-Karim adalah dari tujuan-tujuan yang paling agung dan maksud-maksud yang paling mulia. Oleh karena itu, kita dapati penulis (al-Itqan) Imam as-Suyuthi membuat bab lengkap tentang kemuliaan ilmu tafsir mungkin bab ketujuh puluh tujuh, dan membahas firman-Nya Subhanahu: “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak” (Al-Baqarah: 269). Dan ia menyampaikan kepada kita apa yang diriwayatkannya dari Ibnu Abbas berkata tentang hikmah: “Pengetahuan tentang Al-Quran: halal dan haramnya, nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, yang didahulukan dan yang diakhirkan, dan perumpamaan-perumpamaan Al-Quran serta kisah-kisahnya.” Dan semacam itu. Semua ini menunjukkan bahwa tafsir adalah dari fardhu kifayah, dan dari ilmu-ilmu syar’i yang paling agung seluruhnya, karena objeknya adalah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah generasi sahabat datanglah tabi’in, maka mereka bersandar pada sumber-sumber sebelumnya: Al-Quran, perkataan Rasul, perkataan sahabat, dan setelah itu tabi’in dan tabi’ut tabi’in dalam menjelaskan kitab Allah dan menerangkan apa yang ada di dalamnya.

Hingga datanglah masa-masa yang mulai muncul di dalamnya kekeliruan dalam pemahaman, atau kejahatan dan kedengkian dari musuh-musuh Islam, maka mereka memasukkan ke dalam kitab-kitab kita dan ke dalam tafsir-tafsir Al-Quran apa yang bukan darinya. Bahkan sebagian mufassirin terdahulu seperti ats-Tsa’labi dalam kitabnya (al-Kasyf wa al-Bayan fi Tafsir al-Quran) dan ada juga Imam al-Wahidi dalam tafsirnya (al-Wasith) dan ada juga tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari.

Kitab-kitab lama ini tidak luput dari beberapa israiliyyat dan perkataan-perkataan lemah yang membuat ad-dakhil mulai menyusup ke dalam kitab-kitab tafsir yang merupakan penjelasan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Definisi Ad-dakhil dan Yang Asli

Definisi Ad-dakhil:

Ad-dakhil dalam bahasa adalah: pendatang yang menyusup dari luar, dan tidak memiliki asal dalam lingkungan yang disusupinya, dan kata ini digunakan untuk: orang-orang, lafadz-lafadz, kata-kata, makna-makna, dan yang semacam itu.

Jika kita kembali kepada kitab-kitab bahasa, kita akan melihat penulis (al-Qamus) dan (Lisan al-Arab) dan penulis kitab (al-Asas) al-Allamah az-Zamakhsyari dan (al-Mishbah al-Munir) dan (al-Mufradat) karya ar-Raghib al-Ashfahani, semua mereka menceritakan kepada kita tentang makna kata “ad-dakhil”: ad-dakhal adalah apa yang memasukanmu dari kerusakan dalam akal atau badan, dan telah dakhala seperti fariha, dan dakhila seperti ‘aniya dakhlan wa dukhlan. Makna ini memberi faedah penghianatan, tipu daya, kelicikan, penipuan dan cacat, baik dalam nasab atau dalam pohon atau dalam manusia atau dalam kaum yang dinisbatkan kepada selain mereka. Dan mereka berkata: penyakit dakhil, dan dakhala urusnya; yaitu: rusak dalamnya. Si fulan dakhil dalam kaum; yaitu: bukan dari mereka, dia dari selain mereka. Jadi kata ad-dakhil adalah kata jika dimasukkan dalam kalimat Arab menunjuk pada kata yang menyelinap dalam kalimat Arab, dan bukan dari kalimat Arab.

Kesimpulan dari itu bahwa ad-dakhil berputar di sekitar makna: cacat, kerusakan internal, baik dari keanehan atau dari tipu daya atau dari penipuan atau kecurigaan atau busuk perut dan semacam itu. Dan jika kita mengatakan kata dakhil fa’il, apakah ia bermakna fa’il atau maf’ul?

Jika digunakan untuk cacat itu sendiri, maka kata dakhil bermakna dakhil, bermakna fa’il. Dan jika digunakan untuk sesuatu yang cacat itu sendiri, maka bermakna madkhul yaitu: ia maf’ul, dan ini adalah mubalaghah. Maka ad-dakhil dalam tafsir: cacat dan kerusakan, cacat dan kerusakan yang pemiliknya berusaha menyelipkan hakikatnya dan menyembunyikannya dalam lipatan yang asli dalam tafsir Al-Quran al-Karim.

Mungkin ini menjelaskan sekarang bahwa ad-dakhil dalam bahasa adalah pendatang yang menyusup dari luar, dan tidak memiliki asal dalam lingkungan yang disusupinya. Dan ketika kita sampai pada makna istilah: yaitu yang tidak memiliki asal yang sahih dalam agama, menyusup ke dalam ranah tafsir secara tiba-tiba, dan pada waktu kelengahan dari masa; karena pengaruh-pengaruh yang berbeda setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dan jika kita bertanya: Apa yang mempengaruhi dalam menampakkan ad-dakhil ini lebih dan lebih?

Kita katakan: dua sisi:

Sisi pertama: sisi eksternal, dan ini terwakili dalam musuh-musuh Islam yang dengki dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan komunis, dan dari orang-orang kafir musyrik yang bersemangat pada kelalaian dan menampakkan Al-Quran seakan bertentangan; untuk meragukan padanya, karena Al-Quran menyerang kesyirikan dengan serangan hebat, sebagaimana akan jelas sekarang. Mereka menyelipkan khurafat dan kebatilan mereka seputar Al-Quran ingin memfitnah kaum muslimin dalam agama mereka, ingin meragukan kaum muslimin pada kitab Tuhan mereka, ingin memecah belah persatuan umat Islam yang telah ditegakkan dasarnya oleh Rasul Islam Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Sisi lainnya: sisi internal, dan ini terwakili dalam kelompok-kelompok berbeda yang dinisbatkan kepada Islam secara palsu, tetapi sebenarnya mereka memiliki hubungan erat dengan musuh-musuh Islam. Di antara mereka adalah kelompok-kelompok yang mengacaukan dengan khurafat dan penyimpangan mereka, dan mereka memiliki rencana-rencana yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan Majusi. Mereka semua ingin menipu, dan benar Allah ketika berfirman: “Dan mereka merencanakan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Al-Anfal: 30), “Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai” (At-Taubah: 32).

Dengan ini jelas bagi kita makna ad-dakhil. Apa yang berhadapan dengan kata ini? Al-ashil (yang asli).

Para ahli bahasa berkata: al-ashil atau al-ashl: dasar dan bagian bawah setiap sesuatu, dan laki-laki ashil: memiliki asal laki-laki yang tetap pendapat, berakal. Si fulan ashil ar-ra’y, dan telah ashala pendapatnya, dan kemuliaan ashil yaitu: memiliki keaslian. Maka al-ashil dalam istilah adalah: tafsir yang tetap melalui Al-Quran atau Sunnah Nabawi yang sahih atau perkataan sahabat atau perkataan tabi’in dengan ketetapan yang dapat diterima, atau apa yang datang melalui pendapat yang sahih yang memenuhi syarat-syarat pendapat yang terpuji.

Jenis-jenis Ad-dakhil dan Faedahnya

Setelah ini kita dapat bertanya: Apakah ad-dakhil ini memiliki jenis-jenis? Jenis-jenis yang banyak. Dan kita katakan: sesungguhnya ad-dakhil pertama ada dua bagian, ad-dakhil ini ada ad-dakhil dalam ma’tsur (yang diriwayatkan), dan kita akan mulai dengannya. Dan ad-dakhil dalam ra’y (pendapat), dan kita akan kedua dengannya secara global, kemudian kita akan berbicara tentang faedah dari mempelajari ad-dakhil, dan bagaimana ia muncul? Dan bagaimana ia berkembang, dan bagaimana ia menyebar dan merambat ke dalam ilmu tafsir dalam kehidupan umat Islam?

Jenis-jenis Ad-dakhil:

Ad-dakhil dalam ma’tsur mencakup secara ringkas tujuh jenis berikut:

  1. Mencakup hadis-hadis palsu atas Nabi shallallahu alaihi wasallam.
  2. Hadis-hadis lemah, khususnya jika kelemahannya tidak dapat diperkuat.
  3. Mencakup israiliyyat yang bertentangan dengan Al-Quran atau Sunnah atau yang tidak diketahui kesesuaian atau pertentangannya, dan inilah yang kita kenal sebagai yang disukutkan, adapun israiliyyat yang sesuai dengan apa yang ada pada kita maka tidak dianggap dari jenis ad-dakhil.
  4. Keempat: masuk dalam bagian ini apa yang dinisbatkan kepada sahabat, dan tidak tetap dari mereka.
  5. Kelima: apa yang dinisbatkan kepada tabi’in, dan tidak tetap dari mereka.
  6. Keenam: apa yang bertentangan dari perkataan sahabat dengan Al-Quran atau Sunnah atau akal dengan pertentangan hakiki, dan tidak dapat dikompromikan antara ia dengan hal-hal tersebut.
  7. Ketujuh: apa yang bertentangan dari perkataan tabi’in dengan Al-Quran atau Sunnah atau perkataan sahabat atau akal dengan pertentangan hakiki.

Kedua: Jenis-jenis Ad-dakhil dalam Ra’y:

Kita katakan: sesungguhnya ad-dakhil ada dalam ma’tsur dan yang dinukil dan ada dalam ra’y.

Jenis-jenis Ad-dakhil dalam Ra’y:

Kita katakan: sesungguhnya jenis-jenis ini mencakup sebab-sebab yang membawa kepada adanya ad-dakhil dalam ra’y, dan jenis-jenis ini terjadi karena kedengkian atau kebodohan pemiliknya.

Dan inilah secara berurutan:

  1. Ilhad dalam ayat-ayat Allah: ada kelompok yang kafir pada syari’at Islam, hati mereka dipenuhi dengki dan ilhad, maka mereka ber-ilhad dalam ayat-ayat Allah; menafsirkan Al-Quran dengan perkataan-perkataan batil, dan dengan apa yang meluap dari hati dan jiwa mereka.
  2. Kedua: mengambil zhahir yang dinukil tanpa melihat apa yang wajib dan pantas bagi zat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau apa yang tidak pantas, mereka mengambil zhahir nash-nash, dan mereka ini terhitung pada Islam.
  3. Ketiga: menyimpangkan nash-nash syar’i dari tempatnya, dan menon-aktifkannya serta mengalihkannya dari zhahirnya.
  4. Keempat: berlebihan atau pemaksaan yang berlebihan dalam mengeluarkan makna-makna dari batin nash-nash, tanpa dalil yang menunjukkan kesahihan atau kebolehannya.
  5. Kelima: berlebihan dalam bahasa dan nahwu dan i’rab, sehingga pemilik hal tersebut keluar dari kaidah-kaidah yang biasa dalam nahwu dan sharf dan ilmu-ilmu bahasa.
  6. Keenam: menafsirkan Al-Quran karena kebodohan tanpa memahami syarat-syarat mufassir atau melengkapi ilmu-ilmu yang wajib ada padanya.
  7. Ketujuh: pemaksaan dalam kompromi antara nash-nash Al-Quran, dan apa yang menjadi fitnah banyak pemuda dari penemuan-penemuan ilmiah modern, maka kita lihat banyak orang membebankan Al-Quran dengan teori-teori ilmiah yang baru dan terjadi dalam kenyataan manusia, mereka bebankan padanya ayat-ayat Al-Quran al-Hakim, yang: “Yang tidak didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Fushshilat: 42) dan teori-teori ilmiah berubah, dan mungkin datang setelahnya apa yang membatalkan atau mengubahnya, maka membebankan Al-Quran pada jenis penemuan ini adalah jenis dari ad-dakhil dalam ra’y yang merusak banyak tafsir dalam kehidupan umat Islam.

Faedah Mempelajari Ilmu Ini:

Sangat jelas bahwa mengetahui ad-dakhil dalam tafsir adalah tujuan agar muslim menghindari kesalahan dan terjerumus dalam kekeliruan, sebagaimana berkata sebagian mereka:

Aku mengetahui kejahatan bukan … untuk kejahatan tetapi untuk menghindarinya
Dan barang siapa tidak mengetahui kejahatan … dari manusia akan terjerumus ke dalamnya

Maka faedah dari mempelajari ilmu ad-dakhil secara ringkas dan ikhtisar yang tidak mengurangi, teringkas dalam tiga hal:

Pertama: memanfaatkan tafsir Al-Quran al-Karim, dan mendapat petunjuk dengan petunjuk Al-Quran al-Karim yang sahih, dan mentaati syari’at Islam dengan ketaatan yang sahih.

Kedua: menolak cercaan para pencerca terhadap Al-Quran al-Karim, dan membuka kesesatan dan tipu daya mereka, serta kedengkian yang meluap dari mereka. Mengetahui itu membantu kita untuk menolak tipu daya mereka, dan membela Al-Quran kita, yang: “Yang tidak didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.

Akhirnya: berdiri pada tafsir yang sahih dan selamat sehingga kita menyampaikan dakwah Islam dengan penyampaian yang sahih, maka kita menghindari kebatilan yang diselipkan dalam tafsir, dan dilengketkan padanya. Jika muslim mengetahui hal-hal ini ia mampu membedakan antara yang sahih dan yang lemah, dan antara yang asli dan ad-dakhil, dan dengan itu ia mampu selamat dari dengki dan kesalahan mereka yang menginginkan Islam agar tidak terangkat benderanya.

Bagaimana Ad-dakhil Muncul?

Bagaimana ad-dakhil muncul? Bagaimana ia menyusup ke dalam ilmu tafsir, padahal tafsir berkaitan dengan penjelasan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Kita katakan: sesungguhnya ad-dakhil memiliki dua sumber utama:

Sumber Pertama: musuh-musuh Islam.

Sumber Kedua: kekeliruan, dan buruknya pemahaman dari firaq (kelompok) yang dinisbatkan kepada Islam, atau bahkan sebagian sahabat dan tabi’in, dan kita akan melihat itu dengan jelas.

Sumber Pertama: Yang Berkaitan dengan Musuh-Musuh Islam:

Sumber ini adalah: musuh-musuh Islam dari kalangan kafir, musyrik, Yahudi dan Nasrani, yang menaruh dendam kepada Islam. Ketika Al-Quran yang mulia diturunkan dan benderanya ditegakkan, mulailah syubhat-syubhat dari orang-orang kafir yang ingin menampilkan Al-Quran dalam bentuk yang kontradiktif, agar mereka dapat mencapai kesimpulan bahwa Al-Quran itu bukan dari Allah, dan melemahkan otoritasnya, kemudian mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa Al-Quran kepada mereka. Terlebih lagi karena Al-Quran telah mengangkat bendera tauhid dan menunjukkan bahwa berhala-berhala mereka adalah syirik, menghancurkan kedudukan berhala-berhala tersebut, dan merendahkan semangat mereka. Al-Quran itulah yang berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar jahannam, kamu pasti akan memasukinya” (Al-Anbiya: 98). Dan Al-Quran menjelaskan kepada mereka bahwa berhala-berhala tersebut tidak bermanfaat dan tidak berbahaya, serta tidak berguna sama sekali. Al-Quran menghancurkan apa yang sudah mereka biasakan sembah selama ratusan tahun atau berabad-abad lamanya.

Maka mulailah orang-orang kafir menimbulkan syubhat-syubhat, mereka keberatan dengan beberapa ayat, menyebarkan perkataan dan kebatilan mereka, serta mengumumkannya di antara manusia. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim yang mengatakan: dari Mughirah bin Syu’bah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku ke Najran, lalu mereka berkata: “Bukankah kamu melihat apa yang kalian baca: “Wahai saudari Harun” (Maryam: 28), padahal Musa hidup ratusan tahun sebelum Isa?” Lalu dia berkata: “Aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: ‘Mengapa kamu tidak memberitahu mereka bahwa mereka biasa memberikan nama sesuai dengan nama nabi-nabi saleh sebelum mereka?'”

Sesungguhnya penduduk Najran ingin mengacaukan perkara bagi kaum muslimin dengan mengklaim bahwa Al-Quran berbicara tentang Harun, dan menjadikan Maryam sebagai saudari Harun, padahal Harun adalah saudara Musa ‘alaihimassalam, sementara ada jarak waktu beberapa abad antara Musa dan Isa. Mereka ingin menunjukkan bahwa perkataan Al-Quran itu tidak benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi syubhat yang merusak ini dan menjelaskan bahwa Harun yang dinisbatkan kepada Maryam dalam firman “Wahai saudari Harun” bukanlah saudara Musa ‘alaihissalam, melainkan Harun yang lain, dan sebagainya.

Orang-orang kafir mulai mengolok-olok beberapa ayat ketika turun: “Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang berdosa, seperti tembaga cair yang mendidih di dalam perut” (Ad-Dukhan: 43-45) hingga ayat-ayat lainnya: “Buahnya seperti kepala-kepala setan” (Ash-Shaffat: 65). Orang-orang kafir mulai mengolok-olok dan membicarakan ayat-ayat tentang pohon zaqqum.

Dan ketika turun firman Allah – Jalla wa ‘Ala -: “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat)” (Al-Muddatstsir: 30) tentang neraka, mereka mulai berbicara dan mengolok-olok perkataan dan ayat-ayat ini.

Sebagaimana orang-orang Yahudi mengolok-olok ketika turun firman Allah – Jalla wa ‘Ala -: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik” (Al-Baqarah: 245). Mereka mulai berbicara: “Allah butuh pinjaman? Allah miskin?” Dan mereka menimbulkan syubhat-syubhat. Allah – Jalla wa ‘Ala – menurunkan bantahan terhadap fitnahan mereka: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’ Kami akan mencatat apa yang mereka katakan dan pembunuhan mereka terhadap para nabi tanpa hak, dan Kami akan berkata: ‘Rasakanlah azab yang membakar'” (Ali ‘Imran: 181).

Ayat-ayat semacam ini diturunkan untuk mereka, menyatakan kepada mereka kenyataan dan kebenaran, namun kekufuran memenuhi dada mereka, dan dendam kepada Islam serta kepada Al-Quran yang telah menghancurkan berhala-berhala mereka dan mengangting bendera tauhid tinggi-tinggi. Mereka mulai menimbulkan syubhat-syubhat, hal-hal yang merusak, dan kebatilan-kebatilan seputar ayat-ayat ini.

Sumber kedua munculnya hal yang merusak di masa Nabi yang mulia, baik berupa kerancuan atau kesalahan pemahaman dari sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dari sebagian kelompok yang dianggap bagian dari Islam, dan pengaruhnya muncul setelah itu:

Ada yang tanpa maksud buruk, terjadi kerancuan. Sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terburu-buru dalam memahami beberapa ayat ketika turun firman Allah – Jalla wa ‘Ala -: “Dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (Al-Baqarah: 187). Belum turun kata “yaitu fajar”. Ada hadits di Shahih Bukhari dari Sahl bin Huzam: ketika ayat ini turun, dan belum turun firman-Nya “yaitu fajar”, jika ada laki-laki yang ingin berpuasa, salah seorang dari mereka mengikat benang putih dan benang hitam di kakinya, dan dia terus makan hingga dia bisa melihat perbedaannya. Maka Allah – Jalla wa ‘Ala – menurunkan setelah itu: “yaitu fajar”. Lalu mereka mengetahui bahwa yang dimaksud dengan benang putih dan benang hitam adalah putihnya siang dan hitamnya malam.

Begitulah dimulai kerancuan dalam pemahaman, maka masuklah sesuatu dari pemahaman ini di masa turunnya Al-Quran. Mereka tidak menginginkan kerancuan ini dan tidak bermaksud demikian, namun hal itu terjadi.

Demikian pula ketika turun firman Allah – Jalla wa ‘Ala -: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh terhadap apa yang mereka makan, apabila mereka bertakwa dan beriman serta mengerjakan amal saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka tetap bertakwa dan berbuat ihsan” (Al-Maidah: 93). Ada sikap dari sebagian sahabat yang akan kita ketahui.

Demikian pula: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (Al-An’am: 82). Sebagian sahabat menangis dan memahami bahwa kezaliman itu adalah kezaliman apa pun walaupun sedikit, dan ayat tersebut memperingatkan bahwa jika seseorang mencampuradukkan imannya – yaitu mencampur imannya – dengan sesuatu dari kezaliman, maka dia tidak akan selamat. Kerancuan ini terjadi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya kepada mereka.

Adapun ayat: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh terhadap apa yang mereka makan, apabila mereka bertakwa dan beriman serta mengerjakan amal saleh”. Abdurrazzaq mengeluarkan dalam Mushannaf-nya, dan Hafizh Ibnu Hajar mengutipnya darinya dalam (Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah) bahwa salah seorang sahabat menakwilkan ayat ini, yaitu Qudamah bin Mazh’un, saudara Utsman bin Mazh’un, lalu dia minum khamar dan mengklaim bahwa tidak ada dosa dalam meminumnya jika seseorang beriman dan bertakwa. Ketika Umar mengetahui hal itu, dia membantahnya dan menjelaskan pemahaman yang benar tentang ayat tersebut serta berkata kepadanya: “Wahai Qudamah, kamu salah dalam menakwilkan. Jika kamu bertakwa kepada Allah, kamu akan menjauhi apa yang Allah haramkan.” Umar bersikeras untuk mencambuknya setelah terbukti dia mabuk dengan saksi-saksi, meskipun Qudamah bin Mazh’un adalah paman anak-anak Umar, paman Hafshah, dan paman Abdullah bin Umar.

Hadits ini diriwayatkan dengan sanad dan riwayatnya, dan berakhir pada kesimpulannya – agar tidak memperpanjang pembicaraan – bahwa Umar menegakkan had atasnya, dan masing-masing dari mereka marah kepada yang lain. Umar marah kepada Qudamah karena pemahamannya yang keliru, dan Qudamah marah sehingga ketika Qudamah berhaji pada salah satu tahun, dia bertemu dengan Umar, dan masing-masing dari mereka marah kepada yang lain. Umar marah karena dia menakwilkan dengan takwil yang salah. Maka Umar berdiri dan memanggilnya, namun Qudamah menolak untuk datang. Umar memerintahkan agar dia dihadirkan, lalu dia berbicara dengannya dan memintakan ampun untuknya karena ini adalah takwil yang tidak benar.

Mari kita lihat setelah itu di masa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu – terjadi apa yang tidak diharapkan umat, terjadi fitnah tahkim (arbitrase), yang akibatnya terjadi perpecahan di antara kaum muslimin. Kita tahu bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu – adalah yang paling berhak menjadi Amirul Mukminin setelah Utsman, dan terjadi fitnah tahkim. Kaum muslimin terpecah akibatnya – sebagaimana kita baca dalam sirah dan sejarah – mereka terpecah menjadi sekte-sekte dan kelompok-kelompok. Muncul di arena kelompok Khawarij yang keluar menentang Ali, sebagaimana muncul kelompok Syiah, Murji’ah, Qadariyah, dan Mu’tazilah. Setiap kelompok ini ingin menafsirkan Al-Quran sesuai dengan hawa nafsunya, sehingga tafsir tersebut mengabdi kepada prinsip-prinsip yang didakwahkan setiap kelompok, paling tidak tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip mereka. Mereka menjadikan madzhab sebagai pokok dan tafsir sebagai cabang.

Sebagaimana muncul di arena jamaah-jamaah dari kalangan sufi. Kami tidak membenci tasawuf, kami menyukai tasawuf yang moderat yang berdiri di atas cabang-cabang iman: zuhud, sabar, tawakal, takut, harap, wara’. Adapun jika tasawuf itu berupa syathahat (ucapan-ucapan ekstrim) dan nathhahat serta makna-makna batil yang keluar dari nash-nash Al-Quran, inilah yang muncul. Muncul kelompok Bathiniyah yang mengklaim bahwa Al-Quran memiliki zahir dan batin, dan bahwa nash zhahiri ini adalah ilmu awam, sedangkan ilmu batini adalah ilmu hakiki laduni. Syathahat mereka sampai pada tingkat mengutamakan pengikut mereka daripada para nabi, dan mereka berkata: “Kalian menerima ilmu kalian dari manusia, sedangkan kami menerima ilmu kami dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Perkataan yang merusak Islam dan yang diselundupkan ke dalam syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka ingin dengan itu lepas dan bebas dari syariat Islam, dan menghancurkan tafsir Al-Quran yang benar, maka mereka condong kepada tafsir-tafsir yang rusak. Kelompok Bathiniyah ini meluas pengikutnya dan berwarna-warni di setiap waktu dan tempat sehingga kita melihat darinya kelompok-kelompok: Babiyah, Bahaiyah, dan Qadianiyah, sebagaimana kita temukan kelompok-kelompok yang berwarna-warni dengan nama-nama baru di dunia kita yang kita hidupi.

Semua mereka, perkataan mereka, tafsir mereka, ijtihad mereka, semuanya dianggap merusak tafsir Al-Quran.

Dan akhirnya kami katakan: Sesungguhnya ada jenis lain yang muncul di tangan sebagian ulama yang ingin mendamaikan antara nash-nash Al-Quran dengan teori-teori ilmiah dan penemuan-penemuan ilmu modern. Setiap kali muncul teori atau setiap kali mereka menemukan kemukjizatan ilmiah, mereka berkata: “Sesungguhnya Al-Quran telah membicarakannya dan menyerukan kepadanya.” Mereka membebankan kepada ayat-ayat Al-Quran apa yang tidak dapat dipikulnya. Mereka ini dengan dalih kemukjizatan ilmiah Al-Quran, muncul dalam upaya mereka mencocokkan ayat-ayat banyak pemaksaan, banyak membebankan Al-Quran dengan apa yang tidak dapat dipikulnya. Ini adalah satu warna dari warna-warna yang merusak dalam tafsir Al-Quran.

Setelah ini meluas cakupan kelompok-kelompok ini, banyak pengikutnya, bertambah fanatisme mereka, sehingga kita mendapati kelompok-kelompok ini dengan pengikut dan pengikut pengikutnya menyingsingkan lengan baju mereka dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka, baik orang-orang musyrik, dendam dari kelompok-kelompok sesat, atau dari kalangan sufi, atau dari orang-orang yang mengklaim mengetahui teori-teori ilmiah. Kita dapati semuanya mengerahkan kemampuan mereka untuk menghancurkan kaum muslimin, meragukan kaum muslimin terhadap Al-Quran Tuhan mereka, dan mengacaukannya, sebagaimana orang-orang kafir mengarah dan sangat bersemangat ketika Al-Quran diturunkan untuk memalingkan manusia darinya, sebagaimana Al-Quran mengisahkan tentang mereka: “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Quran ini, dan buatlah kegaduhan terhadapnya supaya kamu menang'” (Fushshilat: 26).

Serangan musuh-musuh ini tidak berhenti pada abad-abad pertama Islam, bahkan kelompok-kelompok mereka beragam, metode mereka diperbaharui, penyimpangan dan takwil mereka bertambah banyak sehingga muncul di arena jenis-jenis dari yang merusak dan kebatilan yang menyusup ke dalam kitab-kitab tafsir. Apakah kerusakan ini akan tetap ada dan menyebar cabang-cabang serta warnanya?! Sesungguhnya Allah Subhanahu menakdirkan bagi agama ini orang yang menangkis tipu daya orang-orang penipu, takwil orang-orang yang membuat kebatilan, dan penyimpangan orang-orang yang berlebih-lebihan, sebagaimana Tuhan kita Subhanahu berjanji: “Mereka bermaksud memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (Ash-Shaff: 8).

Makna Israiliyyat dan Hubungan antara yang Merusak dengan Israiliyyat

Sekarang kita beralih kepada yang merusak dalam hal yang dinukilkan, maka kita mengenal makna Israiliyyat, pembagian Israiliyyat, sebab-sebab penyebarannya, tokoh-tokoh periwayatan Israel, kemudian contoh-contoh banyak dari Israiliyyat dalam kisah-kisah Al-Quran.

Pertama: Israiliyyat: Apa hubungan kata Israiliyyat dengan yang merusak? Dan apa maknanya?

Adapun makna Israiliyyat: ia adalah jamak yang mufradnya Israiliyyah, dinisbatkan kepada Bani Israil. Nisbat dalam susunan ini – Bani Israil – susunan idhafi ini nisbatnya kepada yang belakang bukan yang depan, maka kita katakan: Israeli, dan kisah Israiliyyah, berita Israeli, dan kisah Israiliyyah atau peristiwa Israiliyyah. Apa makna Israiliyyah? Yaitu kisah atau peristiwa yang diriwayatkan dari sumber Israeli. Kata Israeli dinisbatkan kepada Bani Israil atau kepada bapak pertama mereka, karena Bani Israil adalah anak-anak nabi kita Yakub ‘alaihissalam.

Lafazh Israiliyyat – sebagaimana dikatakan Doktor Muhammad Adz-Dzahabi – meskipun menunjukkan kisah yang diriwayatkan asalnya dari sumber-sumber Yahudi, para ulama tafsir dan hadits menggunakannya untuk hal yang lebih luas dan lebih menyeluruh dari kisah Yahudi. Ia digunakan pada tafsir dan hadits dari dongeng-dongeng kuno yang dinisbatkan kepada sumber Yahudi atau Nasrani.

Jadi kata Israiliyyat tidak terbatas pada yang dinisbatkan kepada Yahudi, melainkan kata tersebut mencakup apa yang dinisbatkan kepada Yahudi atau kepada Nasrani, bahkan para ulama memperluas sehingga menganggap sebagai Israiliyyat apa yang diselundupkan musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan lainnya ke dalam tafsir dan hadits, serta berita-berita yang tidak memiliki dasar dalam sumber kuno. Mereka menyebut semuanya: Israiliyyat.

Para ulama tafsir dan hadits menggunakan lafazh Israiliyyat untuk semua itu dari segi penggolongan warna Yahudi atas lainnya, karena orang-orang Yahudi tinggal di Madinah, dan pertemuan-pertemuan yang terjadi antara orang Arab dan Yahudi dalam perjalanan musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam, dan di Yaman serta Syam banyak Ahli Kitab, sebagaimana ada pertemuan-pertemuan banyak antara Yahudi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan antara Yahudi dengan sebagian muslimin. Orang-orang Yahudi mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyampaikan apa yang terlintas dalam pikiran mereka, baik sebagai ujian dan tes untuk kebenaran kenabiannya ‘alaihish shalatu wassalam atau sebagai tantangan dan penyulitan. Maka Allah menolak tipu daya mereka, menjadikan kalimat mereka rendah, dan menjadikan kalimat Allah yang tinggi Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula dapat kita katakan: Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum buhtan (suka menuduh), mereka suka mendengar kebohongan, pemakan suap, pembohong. Mereka adalah orang yang paling keras permusuhan dan kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin. Mereka memiliki banyak tipu muslihat dan penipuan, mereka pura-pura cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal mereka menyimpan permusuhan dan kebencian kepada kaum muslimin. Betapa benarnya Al-Quran ketika berfirman: “Sungguh kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyekutukan Allah” (Al-Maidah: 82).

Adapun orang-orang Nasrani, budaya mereka pada umumnya bergantung pada Injil yang Al-Quran tunjukkan bahwa ia termasuk kitab-kitab samawi dalam firman-Nya: “Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putera Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil” (Al-Hadid: 27).

Bagaimanapun Injil-Injil disebut juga dan apa yang bergabung dengannya dari surat-surat rasul dengan nama “Perjanjian Baru” dan Kitab Suci menurut orang Nasrani mencakup: Taurat dan Injil, yaitu mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan ini yang sepatutnya tidak kita abaikan. Bagaimanapun juga pengaruh Israiliyyat lebih banyak, dan umumnya warna Yahudi adalah yang merusak dari perkataan Yahudi, maka diluncurkanlah lafazh Israiliyyat pada perkataan Yahudi dan pada perkataan selain mereka.

Hubungan antara yang Merusak dengan Israiliyyat:

Setelah kita mengetahui makna yang merusak dan makna Israiliyyat, dan bahwa keduanya asing bagi tafsir dan jauh darinya, kita katakan: Sesungguhnya Israiliyyat adalah bagian dari yang merusak. Yang merusak lebih umum daripada Israiliyyat, karena lafazh yang merusak adalah kata yang luas mencakup dua bagian: yang merusak dalam maathuur (riwayat), dan yang merusak dalam pendapat, sedangkan Israiliyyat hanya bagian dari jenis-jenis yang merusak dalam nukilan dan maathuur.

Keduanya, Israiliyyat dan yang merusak, adalah perkara yang ditolak karena ia datang dengan apa yang tidak sesuai dengan Al-Quran sebagai penjelasan yang benar, meskipun kita akan mengatakan: Sesungguhnya dari Israiliyyat ada yang sesuai dengan Al-Quran atau yang tidak bertentangan dengannya, dan ini akan dapat diterima insyaallah.

Tentang Israiliyyat

Israiliyyat dalam lafazh dan maknanya mencakup banyak jenis: Israiliyyat dalam tafsir, hadits lemah dan palsu dalam Al-Quran yang mulia, sebagaimana juga mencakup takwil-takwil batiniyyah dalam tafsir, juga mencakup perkataan berlebihan kaum sufi dalam tafsir, juga mencakup bid’ah-bid’ah tafsir kebahasaan dan i’rab, juga mencakup penyelewengan kelompok-kelompok sesat: Bahaiyyah, Qadianiyyah dan semisalnya.

Sebagaimana juga mencakup penyimpangan dan pemaksaan yang condong kepadanya para modernis dalam teori-teori ilmiah, semua ini dianggap sebagai israiliyyat, dan dianggap keluar dari makna-makna ayat yang benar, dan pemotongan ayat-ayat dari konteks sebelum dan sesudahnya, dan dari konteks ayat-ayat, serta pengambilan dalil dengan ayat-ayat tidak sesuai dengan yang dapat ditampungnya.

Maka kita dapat mengatakan: bahwa hubungan antara israiliyyat dengan Israiliyyat adalah hubungan umum dan khusus mutlak, semua Israiliyyat adalah israiliyyat, namun tidak semua israiliyyat adalah Israiliyyat.

Dan Allah lebih mengetahui.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada penghulu kami Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya dan memberikan salam, dan Allah lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran: 2 Israiliyyat (2)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kedua (Israiliyyat (2))

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberikan shalawat kepada penghulu kami Muhammad dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.

Pembagian Israiliyyat

Israiliyyat terbagi berdasarkan makna berita Israili dan pokok bahasannya, dan dengan ini terbagi menjadi yang berkaitan dengan aqidah, yang berkaitan dengan hukum, dan yang berkaitan dengan nasihat atau peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan aqidah maupun hukum. Kita ambil contoh cepat tentang setiap jenis dari jenis-jenis ini, kemudian kita lanjutkan dengan yang lebih penting, yaitu pembagian Israiliyyat dari sisi penerimaan dan penolakan.

Pertama: Yang berkaitan dengan aqidah

Telah diriwayatkan kepada kita hadits-hadits shahih, di antaranya yang diriwayatkan Bukhari dalam kitab Tafsir, bab firman Allah Ta’ala: {Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya} (Al-An’am: 91) dan nash hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari berkata: Datang seorang ahli kitab dari para ahli kitab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan langit-langit di atas satu jari, dan bumi-bumi di atas satu jari, dan pohon-pohon di atas satu jari, dan air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman -Jalla wa ‘Ula-: Akulah Raja. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi taring beliau; membenarkan perkataan ahli kitab itu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: {Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya}.

Makna perkataan perawi: “Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi taring beliau membenarkan perkataan ahli kitab itu”: Para ulama kita berselisih tentang perkataan perawi ini, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tertawanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkataan ahli kitab itu bukanlah membenarkannya, sebagaimana yang dipahami perawi, dan hal itu dinyatakan dengan tegas dalam riwayat lain, namun itu adalah keheranan dan pengingkaran terhadap perkataan Yahudi yang menunjukkan tajsim dan penyerupaan.

Di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Khathabi, sebagaimana dinukil darinya oleh Ibnu Hajar dalam syarahnya terhadap hadits ini. Dia berkata: Khathabi berkata: Tidak disebutkan jari dalam Al-Quran, dan tidak dalam hadits yang dapat dipastikan, dan telah ditetapkan bahwa tangan bukanlah anggota tubuh sehingga dibayangkan pada penetapannya ada jari-jari, namun itu adalah tauqif yang diucapkan oleh Syari’ maka tidak boleh dikualitatifkan ini, dan tidak diserupakan, dan mungkin penyebutan jari-jari dari kekacauan Yahudi; karena orang-orang Yahudi sebagaimana kita ketahui adalah penyeru, dan dalam apa yang mereka klaim dari Taurat ada lafazh-lafazh yang masuk dalam bab penyerupaan, dan tidak masuk dalam madzhab-madzhab kaum muslimin.

Adapun tertawanya shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkataan ahli kitab itu, maka itu mengandung kemungkinan ridha dan pengingkaran; artinya: mengandung kemungkinan ini dan itu, adapun perkataan perawi: “membenarkannya”, maka ini prasangka dari perawi dan perkiraan, dan hadits itu telah datang dari jalur-jalur lain yang tidak ada tambahan ini di dalamnya, dan bagaimanapun atas dasar kebenaran hal itu, mungkin dapat dijadikan dalil dengan merahnya wajah atas rasa malu, sebagaimana dijadikan dalil dengan kuningnya atas ketakutan, dan urusannya berbeda dengan itu, sebagaimana kita pahami.

Dan atas dasar bahwa hal itu adalah mahfuzh, maka itu dimaksudkan pada takwil firman Allah -Jalla wa ‘Ula-: {Dan langit-langit terlipat dengan tangan kanan-Nya} (Az-Zumar: 67).

Sebagaimana Imam Ibnu Hajar menukil di tempat lain dari (Fathul Bari) dari Ibnu Tiin bahwa dia berkata: Khathabi bersusah payah dalam mentakwil jari, dan berlebihan hingga dia menjadikan tertawanya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai keheranan dan pengingkaran terhadap apa yang dikatakan ahli kitab itu, dan menolak apa yang terdapat dalam riwayat lain: “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa heran dan membenarkan” dengan bahwa itu sesuai dengan apa yang dipahami perawi.

Imam Nawawi berkata: Dan zhahir konteks bahwa dia tertawa membenarkannya dengan dalil pembacaan ayat yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan ahli kitab itu.

Dan bagaimanapun yang lebih utama dalam hal-hal ini adalah menahan dari takwil dengan keyakinan mensucikan Allah -Jalla wa ‘Ula- karena sesungguhnya setiap yang mengharuskan kekurangan dari zhahirnya tidak dimaksudkan dalam nash-nash ini.

Kedua: Jenis kedua: Yang berkaitan dengan hukum

Dan di sini juga Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Tafsir dalam bab: {Katakanlah: “Datangkanlah Taurat lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”} (Ali Imran: 93) meriwayatkan kepada kita hadits dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seorang laki-laki dan perempuan dari mereka yang telah berzina, maka beliau berkata kepada mereka: “Bagaimana kalian berbuat terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka berkata: Kami menghitamkannya; yaitu: kami menghitamkan wajahnya, atau kami menghitamkan mereka berdua dan memukul mereka. Maka Nabi ‘alaihish shalatu wassalam berkata: “Tidakkah kalian mendapati dalam Taurat hukuman rajam?” Mereka berkata: Kami tidak mendapati sesuatu di dalamnya. Maka Abdullah bin Salam -ulama mereka dan ahli kitab mereka dan imam mereka- berkata kepada mereka: Kalian berdusta: {Datangkanlah Taurat lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar} (Ali Imran: 93). Maka orang yang mengajarkannya di antara mereka meletakkan telapak tangannya pada ayat rajam, lalu dia terus membaca yang di bawah tangannya dan yang di belakangnya, dan tidak membaca ayat rajam. Maka dia melepaskan tangannya dari ayat rajam, dia berkata: Apa ini? Ketika mereka melihat itu mereka berkata: Ini adalah ayat rajam, maka beliau memerintahkan keduanya lalu dirajam dekat dari tempat jenazah.

Dia berkata: Maka aku melihat bahwa mereka miring dan membungkuk atasnya, dan dia dipukul dengan batu, contoh itu, dan yaitu yang berkaitan dengan nasihat atau peristiwa yang tidak ada kaitannya dengan aqidah dan hukum apa yang disebutkan Ibnu Katsir pada firman-Nya: {Dan buatlah bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan} (Hud: 37). Muhammad bin Ishaq menyebutkan dari Taurat bahwa Allah memerintahkan Nuh untuk membuat kapal dari kayu jati, dan menjadikan panjangnya delapan puluh dzira’ dan lebarnya lima puluh dzira’ dan melapisi dalamnya dan luarnya dengan ter, dan menjadikan untuknya bagian depan yang miring membelah air… semua ini dari ucapan Israiliyyat dengan berbagai pertimbangannya yang kami sebutkan bahwa ia berkaitan dengan aqidah atau hukum atau nasihat.

Adapun pembagian Israiliyyat dari sisi penerimaan dan penolakan

Maka terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama: Bagian pertama: Yang datang sesuai dengan yang ada dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang ada dalam Quran Tuhan kita, maka ini kita imani dan kita benarkan. Contoh itu: yang diriwayatkan Bukhari dari Atha’ bin Yasar dia berkata: Aku bertemu Abdullah bin Amru maka aku berkata: Beritakan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Taurat. Dia berkata: “Demi Allah sesungguhnya dia diterangkan sifatnya dalam Taurat sebagaimana sifatnya dalam Al-Quran: Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan penjaga bagi orang-orang ummi, engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku namai engkau Al-Mutawakkil, bukan kasar, dan bukan keras, dan bukan penyeru keras di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dia memaafkan dan berlapang dada, dan Allah tidak akan mencabut nyawanya hingga Dia menegakkan dengannya agama yang bengkok dengan mereka berkata: Tidak ada tuhan selain Allah, dan membuka dengannya hati-hati yang tertutup, dan telinga-telinga yang tuli, dan mata-mata yang buta”.

Atha’ berkata: Kemudian aku bertemu Ka’b, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka mereka tidak berbeda satu huruf pun kecuali bahwa Ka’b berkata dengan bahasanya: “hati-hati yang tertutup, dan telinga-telinga yang tuli, dan mata-mata yang buta”.

Ini adalah bagian pertama datang dalam sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkataan mereka apa yang sesuai sepenuhnya dengan yang ada dalam Al-Quran Al-Karim.

Bagian kedua: Yang datang dari mereka menyelisihi syariat kita, seperti riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Allah ketika selesai dari penciptaan beristirahat pada hari ketujuh, dan yang menyebutkan bahwa Tuhan bersedih; karena Dia menjadikan manusia di bumi, dan bahwa Dia menyesal dalam hati-Nya ketika banyak dosa-dosa manusia, dan seperti yang disebutkan dalam hal Nuh minum khamer, maka dia mabuk dan telanjang, dan yang disebutkan dalam urusan Luth dan bahwa dia berzina dengan kedua putrinya dan mereka hamil dan melahirkan!! Semua kebohongan dan khurafat dan kebatilan ini tidak mungkin diterima akal, dan tidak dapat dibayangkan bahwa ia datang dalam syariat.

Bagian ini bertentangan dengan aqidah Islam dan kaum muslimin; oleh karena itu ia ditolak dan dikembalikan ke muka pemiliknya hingga dia bertemu Tuhannya maka Dia membalasnya dengan apa yang pantas baginya berupa kehinaan yang kekal, dan penghinaan yang besar.

Bagian ketiga: Tidak datang sesuai, dan tidak menyelisihi, namun ia didiamkan, tidak ada dalil atasnya dalam syariat kita yang mendukung kebenarannya, dan tidak ada bukti dalam agama kita yang menyebutkan kebohongannya dan pengingkarannya. Contoh itu apa yang diriwayatkan tentang nama laki-laki yang melewati kampung sementara ia roboh di atas anjung-anjungnya, dan tentang jumlah orang yang dihidupkan Isa putra Maryam dengan izin Allah Subhanahu dan nama-nama mereka, atau tentang jenis-jenis makanan yang ada di atas hidangan Isa ‘alaihissalam atau tentang bagian sapi yang dipukul dengannya mayit Bani Israil, sebagaimana Tuhan kita berfirman: {Maka Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagiannya”} (Al-Baqarah: 74).

Hal-hal ini tidak dibatasi, dan tidak dirincikan pada kita, maka kebanyakan itu -sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam (Muqaddimah Ushul Tafsir)nya: ini termasuk yang tidak ada faedahnya yang kembali kepada urusan agama. Maka bagian ini ditangguhkan dalam hukum atasnya, maka kita tidak membenarkannya, mungkin ia bohong, dan kita tidak mendustakannya mungkin ia benar. Penangguhan di sini lebih utama karena tidak adanya dalil yang jelas yang menunjukkan kebenarannya atau kebohongannya, dan ini sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengarahkan umat maka berkata: “Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab, dan janganlah kalian mendustakan mereka, dan katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”.

Sebab-sebab merebaknya Israiliyyat, dan bahayanya bagi umat Islam

Adapun sebab-sebab merebaknya Israiliyyat dan penyebarannya, maka ia kembali kepada beberapa sebab, kami ringkas dalam hal-hal berikut:

Telah membantu penyebaran Israiliyyat ini hal-hal:

Pertama: Kekuatan Islam, dan kemenangannya, dan cepatnya penyebaran di bumi Allah, dan sejauh mana keyakinan manusia dengan kitabnya, dan toleransi syariatnya, dan keadilan ahlinya, semua ini meresahkan musuh-musuh Islam, dan khususnya orang-orang Yahudi, maka mereka mulai merencanakan tipu daya dan makar untuknya dengan segala senjata dan segala cara, mereka ingin menghentikan perjalanan Islam yang diberkahi, dan memalingkan manusia darinya, maka beragamlah cara-cara mereka, dan beraneka ragam sarana-sarana mereka; untuk sampai kepada tujuan-tujuan mereka yang hina, maka mereka menyemburkan racun-racun mereka dengan mengada-ada dan berdusta dan mengarang-ngarang dan menyusupkan dalam riwayat-riwayat Islam tentang Rasulullah, dan tentang para sahabatnya, dan tentang para tabi’in ridha Allahu ‘anhum ajma’in.

Dan orang-orang Yahudi pemilik lidah yang lebih manis dari madu -sebagaimana dikatakan- mereka adalah pemilik media, tetapi hati-hati mereka dipenuhi dengan kehitaman karena teramat benci kepada Islam dan ahlinya, maka mereka mengarang cerita dan merangkainya dengan rangkaian yang sempurna, dan menimbulkan fitnah dan perpecahan dengan licik dan mahir di antara manusia, dan menyebarkan itu di antara orang awam, dan menisbatkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka pura-pura masuk Islam sejumlah orang dari mereka, dan hati-hati mereka kosong, bahkan mereka bersyi’ah kepada Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- dan dada-dada mereka menyimpan kebencian kepada Rasulullah, dan kepada Ahlul Baitnya, dan kepada kaum muslimin umumnya.

Orang-orang ini kita lihat mereka mencurahkan air mata kesedihan dan duka memperlihatkan terpengaruhnya mereka dengan apa yang terjadi kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berlebihan dalam itu dalam penghargaan dan pengudusan mereka kepada Ahlul Bait, maka mereka sampai dengan mereka hingga mengangkat kedudukan mereka ke tingkat kenabian, dan menggambarkan Abu Bakar dan Umar dan Utsman bahwa mereka merampas hak-hak mereka, dan menyerang apa yang menjadi hak mereka, dan merampas khilafah yang mereka klaim bahwa itu hak Ali dan keturunannya setelahnya, maka mereka mengada-ada dalam hal itu hadits-hadits aneh, dan mereka menjalin cerita-cerita mengagumkan kebanyakannya diambil dari asal Yahudi.

Pemilik (Al-Iqd Al-Farid) meriwayatkan dari Sya’bi bahwa dia berkata kepada Malik bin Mu’awiyah: Aku memperingatkanmu dari hawa nafsu yang menyesatkan, dan aku memperingatkanmu dari keburukan Rafidhah, karena sesungguhnya mereka adalah Yahudi umat ini, mereka membenci Islam sebagaimana orang-orang Yahudi membenci Islam dan ahlinya, dan sebagaimana orang-orang Nashrani membenci Islam dan ahlinya, sesungguhnya mereka tidak masuk dalam Islam karena cinta kepadanya, dan tidak karena takut atau gentar kepada Allah, tetapi karena benci kepada ahli Islam dan menzhalimi mereka, dan sungguh Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu telah membakar mereka dan itu karena sesungguhnya cinta Rafidhah adalah cinta kepada orang-orang Yahudi, orang-orang Yahudi berkata: Tidak ada kerajaan kecuali dalam keluarga Dawud. Dan Rafidhah berkata: Tidak ada kerajaan kecuali dalam keluarga Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.

Sebab kedua dalam merebaknya Israiliyyat dan penyebarannya: banyaknya para pencerita, para pencerita yang duduk dan bercerita kepada manusia tentang sirah dan sejarah dan cerita-cerita, mereka ini banyak sekali hingga meresahkan ulama-ulama kaum muslimin, sebagaimana meresahkan sebagian penguasa di antara mereka, dan para pencerita -pada tabiatnya- menarik hati orang awam dan memikat mereka dengan hal-hal aneh dan menakjubkan dan langka, maka mereka mengarang sebagian cerita batil dan mempromosikan sebagian yang mereka nukil, dan dalam hal ini banyak dari Israiliyyat, dan banyak dari khurafat, dan banyak dari kebatilan, tetapi orang awam menerima ini dengan kebodohan atau dengan niat baik, dan mereka tidak tahu bahwa ini dari kebohongan-kebohongan.

Dan tentang para pencerita dan sejauh pengaruh mereka terhadap orang awam disebutkan Ibnu Qutaibah, dia berkata: Sesungguhnya mereka condong menarik wajah-wajah orang awam kepada mereka, dan menarik perhatian mereka dengan hal-hal munkar dan kebohongan dan aneh dari hadits-hadits. Dan orang-orang awam yang duduk di sisi para pencerita dari sifat mereka bahwa mereka membenarkan ini, dan ini di dalamnya keanehan, dan perkataan aneh terhadap akal, atau di dalamnya perkataan di dalamnya pelembutan hati, maka mereka menyukai ini, dan mengeluarkan air mata, dan menangis untuk itu, maka jika disebutkan surga dia berkata: di dalamnya ada bidadari dari misk atau za’faran, dan di dalamnya dan di dalamnya, dan di dalamnya dari mutiara, dan di dalamnya dari istana-istana, dan di dalamnya tujuh puluh ribu kubah, dan dalam setiap kubah tujuh puluh ribu permadani, dan dalam setiap permadani tujuh puluh ribu begini dan begitu, berita-berita bohong ini memikat banyak orang awam, dan masih begitu dalam tujuh puluh ribu dan tujuh puluh dan tujuh puluh, seakan-akan dia melihat bahwa tidak mungkin bilangan kecuali dengan ini, maka banyak orang membenarkannya.

Terkenal dari para mufassir dengan cerita dan Israiliyyat juga Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad Ats-Tsa’labi An-Naisaburi, yang hidup pada abad keempat dan kelima, meninggal tahun empat ratus dua puluh tujuh, kitabnya (Al-Kasyf wal Bayan ‘an Tafsir Al-Quran) dan kitabnya yang lain (Al-Ara’is Al-Hisan fi Qishash Al-Anbiya) kedua kitab penuh dengan cerita-cerita dan hikayat-hikayat yang memikat orang-orang awam, dan kitab Khazin juga mengutip darinya banyak dan banyak, yang tidak ada kaitannya dengan kebenaran.

Ketiga: Di antara sebab-sebab: sebagian ahli zuhud dan mutashawwifah, telah membolehkan untuk diri-diri mereka mengada-ada hadits-hadits dan cerita-cerita dalam targhib dan tarhib, dan mereka mentakwil hadits mutawatir sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempatnya di neraka” dan mereka berkata: Sesungguhnya kami berdusta untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak berdusta atas beliau; yaitu: untuk mempromosikan agamanya, dan membela syariatnya, bukan untuk mencela, dan ini dari mereka terjadi secara berlebihan dan ini semua bohong terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik bohong untuknya atau bohong atasnya, maka mereka mengarang cerita-cerita banyak, dan mereka berkata: Kami mengatakannya bohong untuk Rasulullah bukan atasnya, dan ini salah.

Keempat: Di antara sebab-sebab: pemindahan banyak perkataan dan pendapat yang dinisbatkan kepada para sahabat atau tabi’in tanpa ketetapan atau kehati-hatian tentang perawi-perawinya, maka dari situ tercampur yang benar dengan yang sakit, ketika mereka memindahkan perkataan dan pendapat yang tidak ada sanadnya, dan mencampurnya dengan yang ada sanadnya; tercampur pada manusia, dan bercampur haq dengan batil, dan menjadi setiap orang yang mendapat pendapat mengandalkannya dan menyebutkannya, kemudian datang orang setelahnya lalu memindahkannya atas dasar bahwa untuknya ada asal, tanpa memberatkan dirinya dengan beban pencarian tentang asal riwayat, dan dari siapa diriwayatkan, dan siapa yang meriwayatkannya.

Ibnu Shalah berkata dalam kitabnya (Ulum Al-Hadits): Dan begitu hadits panjang yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keutamaan Al-Quran Al-Karim surat demi surat. Dan dia telah meneliti tentang hadits ini, dan mengetahui sumber keluarnya hingga berakhir kepada orang yang mengaku bahwa dia dan sekelompok orang telah mengada-adakannya dan menulisnya dengan bohong dan mengarang itu, dan hadits ini mungkin kami sebutkan dalam ungkapan-ungkapan, dan ia menyeluruh untuk semua surat Al-Quran Al-Karim, dan ia hadits yang diketahui bahwa ia bohong dan palsu dari Ubay atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kelima: Di antara sebab-sebab yang membantu merebaknya Israiliyyat: pemindahan atas Ahli Kitab, Ahli Kitab pemilik budaya, masuk Islam di antara mereka jumlah besar, di antara mereka para sahabat, dan di antara mereka para tabi’in, dan yang terkenal di antara mereka: Abdullah bin Salam, dan Tamim bin Aus Ad-Dari, dan Ka’b Al-Ahbar, dan Wahb bin Munabbih, dan semisalnya, dan mereka semua telah membawa dari riwayat-riwayat bohong dan khurafat batil yang ada dalam Taurat dan syarah-syarahnya, dan kitab-kitab lama mereka yang mereka terima dari ahli-ahli kitab dan rahib-rahib mereka generasi demi generasi, mereka meriwayatkan kepada kita banyak dari cerita-cerita dan hikayat-hikayat yang tidak benar.

Israiliyyat ini di antaranya yang berkaitan dengan pokok-pokok agama dan halal dan haram, dan yaitu yang para ulama dari sahabat dan tabi’in berjalan atas ketetapan darinya, dan kehati-hatian tentang riwayat-riwayatnya, dan di antaranya yang berkaitan dengan cerita-cerita dan peperangan, dan permulaan penciptaan, dan berita umat-umat yang lalu, dan fitnah-fitnah, dan rahasia-rahasia alam, dan keadaan-keadaan kiamat, semua ini dipindahkan dari mereka, Israiliyyat ini diriwayatkan Ahli Kitab yang masuk Islam, entah mereka tidak mengetahui hakikatnya, atau mewarisinya dari kitab-kitab mereka sebelumnya, atau meriwayatkannya untuk memperingatkan darinya, meskipun mereka tidak menyebutkan dengan tegas tentang itu, maka para perawi menerimanya dan menyebarkannya di antara manusia, dan generasi-generasi mewarisinya, dan kitab-kitab tafsir dipenuhi dengannya.

Ini adalah kisah-kisah Israeliyat yang diriwayatkan oleh salah seorang penulis yang masuk Islam, baik karena mereka tidak mengetahui hakikatnya, atau mereka mewarisinya dari kitab-kitab mereka sebelumnya dan hal itu memenuhi kitab-kitab Islam, termasuk kitab-kitab tafsir sebagaimana yang telah saya katakan.

Keenam: Dan mungkin inilah alasan yang kita akhiri dengannya: adanya sejumlah besar khatib yang tidak memenuhi syarat secara ilmiah di masjid-masjid, yang mengambil informasi mereka dari sumber mana pun, dan mengambil peristiwa atau cerita apa pun, lalu menyampaikannya kepada telinga orang-orang tanpa memverifikasi atau mengetahui kebenaran dari apa yang mereka baca dan sampaikan, sehingga mereka menjadi penyebab yang jelas dalam menyebarkan Israeliyat di kalangan umat Islam, dan inilah kesesatan yang nyata.

Adapun pengaruh Israeliyat dan bahayanya terhadap umat Islam, hal ini dapat diringkas sebagai berikut:

Pertama: Israeliyat ini telah menimbulkan pengaruh buruk, yang berdampak pada Islam dan umat Islam karena alasan-alasan berikut:

Pertama: Bahwa hal itu merusak akidah umat Islam dengan kebatilan dan kebohongan yang terkandung dalam Israeliyat ini terhadap Allah, dengan hal yang tidak layak bagi zat-Nya yang Mahasuci, dan dengan apa yang disebutkan terhadap malaikat, dan terhadap para nabi dan rasul, dengan hal yang bertentangan dengan kemaksuman mereka, dan sebagian dari Israeliyat ini menggambarkan para rasul tersebut dalam bentuk yang dikuasai oleh nafsu syahwat, kesenangan, dan keinginan mereka, sehingga menjerumuskan mereka ke dalam keburukan dan aib yang tidak pantas bagi mereka. Contohnya: apa yang datang dalam kitab-kitab terdahulu dalam (Kitab Kejadian) yang tidak pantas dengan keagungan Allah dan kesempurnaan-Nya, dalam kisah Nuh mereka berkata: “Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia telah banyak di bumi, dan bahwa segala bentuk pemikiran di dalam hatinya hanyalah jahat setiap hari, maka Tuhan menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia di bumi, dan Dia menyesal di dalam hati-Nya, lalu Tuhan berfirman: Aku akan menghapuskan manusia ini dari muka bumi”.

Perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh manusia, dan ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla menyesal menciptakan manusia, dan seolah-olah Dia tidak mengetahui perkara-perkara sebelum terjadinya, dan yang seperti ini adalah kebatilan yang memenuhi kitab-kitab.

Dan di antara contohnya: apa yang diriwayatkan dalam kisah Ayub alaihissalam bahwa dia dilemparkan ke tempat pembuangan sampah Bani Israil, binatang-binatang berbeda-beda menggigit tubuhnya, dan memakannya. Ini adalah perkataan yang tidak pantas bagi seorang nabi yang ditugaskan Tuhannya untuk berada di antara manusia sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.

Israeliyat ini dapat kita katakan:

Kedua: Bahwa keberadaannya dalam kitab-kitab tafsir hampir menghilangkan kepercayaan terhadap ulama salaf, dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para tabiin; dimana banyak hal dari Israeliyat yang mungkar ini disandarkan kepada salaf kita yang salih yang dikenal dengan kepercayaan dan keadilan, dan terkenal di kalangan umat Islam dengan ilmu tafsir dan ilmu hadits, dan mereka dianggap sebagai sumber dan rujukan bagi umat ini, maka menuduh mereka dengan Israeliyat ini adalah tuduhan yang paling keji, yang tidak pantas, dan tidak layak.

Oleh karena itu, sebagian orientalis dan orang-orang Muslim yang mengikuti jejak mereka menganggap mereka sebagai orang-orang yang disisipkan ke dalam Islam, sungguh perkataan ini yang dinisbatkan kepada mereka membuat orang-orang meragukan mereka, dan telah memalingkan hati umat dari salaf kita yang salih karena tuduhan-tuduhan seperti ini yang tidak pantas, dan tidak layak, dan ini dimaksudkan untuk meragukan ulama Islam, dan mereka yang memikul beban menyampaikannya kepada umat Islam, maka mereka mencela dengan ini dalam sanad berita Islam, dan membuat orang-orang kehilangan kepercayaan terhadap agama Islam itu sendiri, dan menjauhkan orang-orang dari mengikutinya dan berkomitmen serta berpegang teguh dengannya.

Ketiga: Bahwa Israeliyat dalam tafsir ini hampir memalingkan orang-orang dari tujuan yang benar, dan sasaran yang diinginkan yang Al-Quran diturunkan karenanya, yaitu membimbing manusia dan mengarahkan mereka kepada Tuhan mereka dan penghambaan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena hal ini telah melalaikan banyak orang dari perenungan terhadap ayat-ayat, dan menjauhkan mereka dari mengambil manfaat dari nasihat-nasihat ayat-ayat Al-Quran yang agung.

Keempat: Bahwa Israeliyat telah menggambarkan Islam dalam bentuk agama yang penuh takhayul yang peduli dengan omong kosong, kebatilan, dan kebohongan yang tidak memiliki dasar kebenaran, tetapi ia adalah hasil karya akal-akal yang sesat dan khayalan kelompok-kelompok yang menyesatkan, dan ini meragukan ulama Islam dan pemimpin-pemimpin kita dari kalangan salaf salih radhiyallahu anhum dan menggambarkan mereka seolah-olah tidak ada perhatian mereka kecuali kebatilan, sehingga kita kehilangan kepercayaan terhadap mereka.

Misalnya: apa yang diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih bahwa dia berkata dalam kisah Adam: “Ketika Allah menurunkan Adam dari surga, dan dia menetap duduk di bumi, dia bersin satu kali maka mengalirlah darah dari hidungnya, ketika dia melihat aliran darah dari hidungnya, dan dia belum pernah melihat darah sebelum itu, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya, dan bumi tidak menyerap darah itu sehingga menghitam di permukaannya seperti arang, maka Adam sangat ketakutan karena hal itu, lalu dia mengingat surga dan kenyamanan yang ada, maka dia jatuh pingsan, dan menangis selama empat puluh tahun, lalu Allah mengirim seorang malaikat kepadanya, malaikat itu mengusap punggung dan perutnya, dan meletakkan tangannya di atas jantungnya, maka hilanglah kesedihan darinya, maka dia merasa lega dari apa yang menimpanya”.

Ini adalah riwayat-riwayat dan yang serupa dengannya yang diriwayatkan dalam kisah Ayub, dan kisah-kisah banyak nabi, ini adalah kebohongan, dan dilemparkan dari Bani Israil kepada umat Islam, sehingga pengaruhnya buruk, dan bahayanya sangat besar.

Tokoh-tokoh Periwayatan Israeliyat:

Sesungguhnya orang-orang yang meriwayatkan Israeliyat ini kepada kita adalah sejumlah orang yang tidak sedikit, mereka dikenal bahwa sebagian mereka adalah dari kalangan sahabat, dan sebagian mereka adalah dari kalangan tabiin, kita dapat mengatakan: bahwa yang terkenal dari mereka dengan apa yang kita sebut tokoh-tokoh periwayatan Israeliyat, di depan mereka adalah orang-orang yang dinukil dari mereka sebagian Israeliyat: Abdullah bin Abbas, dan juga Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dan juga Abdullah bin Salam yang dahulunya dari Ahlul Kitab lalu masuk Islam, dan juga terkenal tentang Ka’ab Al-Ahbar, dan tentang Wahb bin Munabbih.

Dan terkenal juga dari kalangan tabi’ut tabiin: Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, dan Muqatil bin Sulaiman, dan Muhammad bin Marwan As-Suddi As-Shaghir, mereka adalah kelompok yang banyak dinukil dari mereka.

Adapun Abdullah bin Abbas, dia adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ahli ilmu umat dan lautannya, dan dia adalah pemilik modal terbesar dalam ilmu tafsir dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Nabi telah mendoakan untuknya doa khusus ketika beliau bersabda: “Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama, dan ajarilah dia takwil”.

Apakah Ibn Abbas merujuk kepada Israeliyat, atau menafsirkan sebagian ayat Al-Quran dengan Israeliyat?

Dia telah dituduh bahwa dia menafsirkan sebagian ayat melalui banyak mengambil dari Ahlul Kitab, dan bahwa dia membenarkan mereka dalam apa yang mereka katakan dengan demikian menyelisihi ajaran-ajaran yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di antara yang paling menonjol menuduhnya dengan itu adalah orientalis Yahudi terkenal “Goldziher” dan juga diikuti oleh Ahmad Amin, dan mereka memiliki banyak perkataan tentang Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu. Dan ketika kita membela Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu dan dia adalah ahli ilmu umat, kita katakan: bahwa rujukannya kepada orang-orang Muslim dari Ahlul Kitab tidaklah sebanyak yang dicoba digambarkan oleh musuh-musuh Islam kepada kita, bahkan apa yang dinukil Ibn Abbas itu sedikit bahkan sangat sedikit, bahkan kita tidak melampaui kebenaran jika kita katakan: bahwa apa yang dinukilnya sangat sedikit sekali.

Kedua: Bahwa hal yang langka ini yang terjadi rujukan dari sahabat kepada Ahlul Kitab, tidaklah dalam perkara yang berkaitan dengan akidah atau urusan syariat, dan jika terjadi maka itu sebagai cara untuk bersaksi dan menguatkan apa yang datang dalam sebagian ayat, dan tidaklah berkaitan dengan pokok-pokok akidah, dan tidak dengan pokok-pokok syariat.

Ketiga: Bahwa para sahabat tidak bertanya kepada Ahlul Kitab tentang sesuatu yang Rasul shallallahu alaihi wa sallam memiliki perkataan di dalamnya, maka para sahabat lebih mulia dari mendahulukan sesuatu di hadapan Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka mengambil hanya sebagai cara bersaksi saja.

Keempat: Bahwa para sahabat khususnya Ibn Abbas melarang bertanya kepada Ahlul Kitab; karena Ahlul Kitab telah mengubah dan mengganti dan menukar, dan kepercayaan hilang sama sekali dari mereka, maka tidak tersisa di dunia kitab samawi yang benar kecuali Al-Quran, dan dialah yang menaungi kitab-kitab sebelumnya, dan di dalamnya ada kecukupan dari yang lainnya.

Bukhari mengeluarkan dalam shahihnya dari Ibn Abbas radhiyallahu anhu dia berkata: “Wahai sekalian umat Islam, kalian bertanya kepada Ahlul Kitab? Padahal kitab kalian yang diturunkan Allah kepada nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam adalah yang paling baru beritanya tentang Allah kalian membacanya yang tidak tercampur, dan sungguh telah diberitakan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengubah apa yang ditulis Allah, dan menggantinya dengan tangan mereka kitab itu lalu berkata: ini dari sisi Allah agar mereka membeli dengannya harga yang sedikit, tidakkah mencegah kalian apa yang datang kepada kalian dari ilmu dari bertanya kepada mereka, dan tidak demi Allah kita tidak pernah melihat seorang pun dari mereka bertanya kepada kalian tentang yang diturunkan kepada kalian”.

Adapun apa yang disebutkan para pembohong ini bahwa Ibn Abbas bertanya tentang makna kilat yang disebutkan dalam Surat Ar-Ra’d, maka ini dengan anggapan kebenarannya tidak berkaitan dengan akidah atau pokok-pokok syariat, dan jika kita melihat hadits ini kita dapati dia lemah, dan tidak shahih.

Ini yang berkaitan dengan Abdullah bin Abbas sahabat yang mulia.

Adapun Abu Hurairah yang diberi kuniyah oleh Rasul shallallahu alaihi wa sallam dengan kuniyah yang baik ini, dia memiliki daya hafal yang kuat, dan hafalannya yang baik menjadi sebab celaan para pencela terhadapnya, mereka berkata: bahwa dia banyak meriwayatkan, dan bahwa dia adalah wadah ilmu untuk budaya Ahlul Kitab, di antara para pencela ini: Abu Rayyah dimana dia menyatakan secara tegas dalam bukunya (Adhwa’un ‘ala As-Sunnah Al-Muhammadiyyah) dia berkata: bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling percaya kepada orang-orang Muslim dari Ahlul Kitab, dan paling banyak mengambil dari mereka, dan patuh kepada mereka, dan bahwa Ka’ab Al-Ahbar, yang menampakkan Islam secara menipu, dan menyembunyikan hatinya atas Yahudi-nya!! Dan ini adalah kebohongan dari Abu Rayyah terhadap Ka’ab, dan terhadap Abu Hurairah radhiyallahu anhum ajma’in.

Jawaban atas ini, kita dapat meringkas sebagai berikut:

Bahwa Abu Hurairah tidaklah naif sama sekali sampai batas ini, dan dalil atas itu bahwa Rasul shallallahu alaihi wa sallam menggunakan jasanya untuk menjaga harta zakat, dan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu anhu telah menjadikannya amir Bahrain, dan Abu Hurairah menghadapi fatwa, dan banyak sahabat dan tabiin mengambil ilmu darinya. Berkata Imam Bukhari sebagaimana disebutkan Ibn Hajar dalam (Al-Ishabah): delapan ratus ahli ilmu meriwayatkan darinya, dan dia adalah yang paling hafal yang meriwayatkan hadits di masanya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’ab Al-Ahbar, maka itu tidak mencela Abu Hurairah, dan tidak menunjukkan kenaifannya; karena Abu Hurairah dan para sahabat memiliki ukuran khusus dan kriteria yang benar dalam segala yang mereka dengar, sebagaimana kita riwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhum dan dari ini bahwa mereka menggunakan akal mereka dalam apa yang mereka dengar dan dalam apa yang mereka nukil dari yang lain.

Adapun riwayat-riwayat yang meriwayatkan bahwa Abu Hurairah, atau dinisbatkan kepadanya, maka ia diperlakukan seperti riwayat yang lain, diletakkan di atas kaidah-kaidah penerimaan dan penolakan, maka apa yang shahih diterima, dan apa yang lemah maka tidak masalah untuk menolaknya.

Abdullah bin Amr bin Al-Ash: sahabat yang mulia itu, Rasul shallallahu alaihi wa sallam memujinya dimana beliau bersabda: “Sebaik-baik ahlul bait: Abdullah, dan Abu Abdullah, dan Ummu Abdullah” ini terdapat dalam kitab (Tahdzibut Tahdzib) dia masuk Islam sebelum ayahnya, dan dia adalah seorang alim yang utama membaca Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, dan meminta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menulis darinya, maka beliau mengizinkannya, lalu dia berkata: “Ya Rasulullah: apakah saya menulis apa yang saya dengar dalam keadaan ridha dan marah? Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya, karena aku tidak mengatakan kecuali kebenaran”.

Abdullah bin Amr memiliki kedudukan yang tinggi ini, dan ketika dia memiliki kedudukan ini kita dapati banyak riwayat Israeliyat dinisbatkan kepadanya; sehingga mengambil kedudukannya dari penyebaran dan ketenaran, meskipun mengandung yang jelek dan yang baik dan yang benar dan yang batil, maka kita dapati yang mencela dan menganggapnya tertipu dari orang-orang Muslim Ahlul Kitab seperti Ka’ab Al-Ahbar. Abu Rayyah berkata: dalam bukunya (Adhwa’un ‘ala As-Sunnah): bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash ditipu oleh orang-orang Yahudi, dan menunjukkan ini dengan hadits kabar gembira tentang kenabian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menggambarkan hadits itu sebagai dongeng Israeliyat yang meluas dan menyebar kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash dari salah seorang murid Ka’ab Al-Ahbar.

Perkataan ini dapat dijawab dan ditolak: bahwa hadits yang digambarkan sebagai dongeng atau bahwa ia dari karangan Abdullah bin Salam dan Ka’ab Al-Ahbar adalah hadits shahih, Al-Quran Al-Karim bersaksi untuknya, dan datang dalam sumber-sumber Sunnah yang paling shahih, yaitu (Shahih Bukhari) maka dalam Al-Quran Al-Karim Allah Ta’ala berfirman: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Ku-tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (Al-A’raf: 156, 157) sampai akhir ayat-ayat.

Adapun hadits dalam Bukhari maka telah datang dalam kitab tafsir: bab firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Kami mengutus kamu menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan” (Al-Ahzab: 45) datang hadits dari Atha’ bin Yasar, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhum bahwa ayat ini yang dalam Al-Quran: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan” dia berkata: dalam Taurat: Hai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang ummi, engkau hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku menamaimu Al-Mutawakkil …” sampai akhir hadits.

Maka apakah masuk akal bahwa hadits ini adalah dongeng, sebagaimana yang diklaim Abu Rayyah dan lainnya, ini perkataan yang tidak benar.

Abdullah bin Salam: sahabat yang mulia itu yang disaksi untuknya surga, dan dia dari orang-orang yang masuk Islam dari Ahlul Kitab, Abdullah bin Salam bin Harits Abu Yusuf, dari keturunan Yusuf An-Nabi alaihissalam sekutu kafilah dari Khazraj, dan dia Israili, kemudian Anshari, ahli besar dari ahli-ahli Yahudi, masuk Islam ketika Rasulullah datang ke Madinah shallallahu alaihi wa sallam Al-Quran bersaksi untuknya dengan iman dan kejujuran, maka telah turun untuknya firman Allah: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kamu, jika Al Quran itu dari sisi Allah, sedang kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan itu, lalu ia beriman dan kamu menyombongkan diri'” (Al-Ahqaf: 10).

Dan Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Sa’d bin Abi Waqqash berkata: “Aku tidak mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seseorang bahwa dia berjalan di bumi bahwa dia dari ahli surga kecuali untuk Abdullah bin Salam. Dia berkata: dan untuknya turun ayat ini: “Dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan itu, lalu ia beriman dan kamu menyombongkan diri”.

Dan aku tahu bahwa turun untuknya ayat yang lain: “Katakanlah: ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan (demikian pula) orang yang mempunyai ilmu Al Kitab'” (Ar-Ra’d: 43).

Meskipun kedudukan yang agung ini untuk Ibn Salam, para pendendam mencela seperti Abu Rayyah dalam bukunya (Adhwa’un ‘ala As-Sunnah Al-Muhammadiyyah) dengan seperti apa yang dia cela dalam Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan lainnya dari para sahabat yang mulia, dan menyebutkan hadits kabar gembira tentang Nabi bahwa itu dongeng, dan telah kami jelaskan sebelumnya tentang keshahihan hadits dan ketetapannya dalam (Shahih Imam Bukhari).

Tamim bin Aus Ad-Dari: ini yang datang ke Madinah lalu masuk Islam tahun sembilan, dan sahabat yang mulia ini yang dicela oleh Abu Rayyah dan lainnya, dia berkata tentangnya: bahwa dia mengotori Islam dengan Kristen. Dan ini perkataan yang bertentangan dengan kebenaran, maka sesungguhnya Tamim adalah jujur, adil, dan dari ahli ilmu, dan ahlinya adalah ulama jarh dan ta’dil, dan mereka lebih tahu dengannya dimana mereka mempercayai dan membenarkannya, dan meriwayatkan untuknya dalam kitab-kitab Sunnah yang paling shahih. Adapun apa yang diriwayatkan darinya atau dinisbatkan kepadanya dari riwayat-riwayat, maka urusannya adalah urusan semua riwayat yang berbeda-beda dipaparkan pada kaidah-kaidah penerimaan dan penolakan, maka apa yang shahih diterima, dan apa yang lemah ditolak, dan tidak ada dosa dan tidak ada salah bagi Tamim di dalamnya, sesungguhnya dosanya pada yang menisbatkannya kepadanya dan mempromosikannya darinya.

Ini yang terkenal dari tokoh-tokoh periwayatan Israeliyat, dan dinisbatkan kepada mereka ini dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun tingkatan tabiin, mereka juga sejumlah yang cukup banyak, kita dapat meringkas perkataan tentang dua orang dari mereka, yaitu Ka’ab Al-Ahbar, dan dia adalah Ka’ab bin Mani’ Al-Himyari, yang dikenal dengan Ka’ab Al-Ahbar, Ibn Sa’d menyebutkannya dalam tingkatan pertama dari tabiin ahli Syam, dan berkata tentangnya: dia beragama Yahudi lalu masuk Islam, datang ke Madinah, kemudian keluar ke Syam, maka tinggal di Homs sampai wafat tahun tiga puluh dua dalam khalifah Utsman radhiyallahu anhu.

Sebagian orang sezaman melemparnya dengan zindiq, munafik dan dusta, sebagaimana yang terjadi dari Abu Rayyah dan Ahmad Amin, dan yang berjalan dalam orbit mereka, dan kenyataannya: bahwa tuduhan-tuduhan ini dikembalikan kepada pemiliknya, dan jawabannya dengan kesaksian para sahabat untuknya dan pujian mereka kepadanya, Muawiyah berkata tentangnya: “Ketahuilah bahwa Ka’ab Al-Ahbar adalah salah seorang ulama, sesungguhnya padanya ada ilmu seperti buah-buahan, dan sesungguhnya kami sangat berlebihan padanya”.

Ulama jarh dan ta’dil mempercayainya, imam-imam besar yang menulis Sunnah meriwayatkan untuknya, seperti Imam Muslim dan Tirmidzi dan Abu Dawud dan Nasai, dan lainnya yang banyak.

Dan semoga Allah memberkahi sayyidina Muhammad, dan keluarganya dan para sahabatnya dan memberikan keselamatan.

 

 

Pelajaran 3: Israiliyyat (2) – Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Lanjutan Tokoh-tokoh Periwayat Israiliyyat

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga Allah mengutus shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya. Adapun setelah itu:

Adapun Wahb bin Munabbih, dia berasal dari Khurasan. Dia masuk Islam pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Islamnya baik, demikianlah yang diriwayatkan.

Dia lahir di Yaman, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mendapat kehormatan bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia dikritik oleh sebagian ulama Islam, seperti Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dan oleh Ahmad Amin yang menulis tentang para ulama tafsir dari kalangan sahabat dan tabi’in. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan Ahmad Amin menuduhnya berbohong, meskipun dia termasuk ulama yang mulia. Jika ada beberapa riwayat yang dinisbahkan kepadanya, mungkin dia tidak sengaja berbohong atau menipu atau menyusupkan kebohongan, sebagaimana yang dinisbahkan kepadanya.

Bantahan terhadap perkataan ini tentang Wahb bin Munabbih, tentang Ka’ab al-Ahbar dan lainnya, kami katakan:

Pertama, tidak semua yang dinisbahkan kepada mereka dari israiliyyat itu benar. Ada kisah-kisah dan riwayat-riwayat yang tidak dinukil dari mereka secara asli, tetapi dinisbahkan kepada mereka, dan disusun secara dusta atas nama mereka.

Kedua, para ulama telah memutuskan untuk menerima dan mempercayai serta berlaku adil terhadap perkataan mereka. Hadis-hadis mereka ada dalam kitab-kitab shahih, dalam kitab-kitab sunnah. Bukhari meriwayatkan dari mereka, sebagaimana dia meriwayatkan dari yang lain. Para ulama berkata tentang Wahb bin Munabbih: “Dia adalah tabi’i yang terpercaya, dan dia pernah menjadi hakim di Shan’a.” Abu Zur’ah dan An-Nasa’i berkata tentangnya: “Terpercaya,” dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab “Ats-Tsiqat” (Orang-orang Terpercaya). Cukuplah bahwa Imam Bukhari meriwayatkan untuknya beberapa hadis dari riwayatnya melalui saudaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Setelah menyebutkan para tokoh besar dari kalangan sahabat dan tabi’in ini, dan jangan sampai kita lupa bahwa apa yang dinisbahkan kepada mereka mengandung banyak fitnah, maka para imam dari kalangan sahabat dan tabi’in ini tidak menyampaikan kepada kita hal ini dengan tujuan menyakiti Islam atau merusak akidah kaum muslimin atau menyusupkan kebohongan dan tipu daya, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang ini.

Yang Terkenal dari Kalangan Tabi’ut Tabi’in

Di sini terkenal Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, sebagaimana terkenal pula Abdul Malik bin Juraij, demikian juga Muqatil bin Sulaiman, dan Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir.

Kami katakan: Sesungguhnya Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, dia adalah pemilik tafsir dan ilmu nasab, dan dia adalah pengikut Saba’i dari pengikut Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Para ulama mendustakannya dan bersepakat untuk meninggalkannya. Abu Hatim berkata: “Orang-orang bersepakat untuk meninggalkan hadisnya, dan dia hilang hadisnya, tidak dapat diandalkan.” An-Nasa’i berkata tentangnya: “Tidak terpercaya, dan tidak boleh ditulis hadisnya.” Bagaimanapun juga, jika begini keadaannya, maka setiap riwayat yang dia sampaikan kepada kita ditolak dan tidak diterima.

Adapun Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, dia ini dulunya Nasrani kemudian masuk Islam dengan budaya Nasrani yang dimilikinya. Ketika dia masuk Islam, dia memiliki ilmu yang luas, dan dia terpercaya, hanya saja apa yang dia ceritakan mengandung yang buruk dan yang baik, maka apa yang dinukil darinya ditimbang dengan timbangan penerimaan dan penolakan.

Apa yang diriwayatkan darinya dari israiliyyat: Maka kita menghukumnya dengan apa yang kita ketahui. Apa yang sesuai dengan syariat kita diterima, dan apa yang bertentangan ditolak dan tidak diterima. Adapun apa yang tidak terbukti sesuai atau bertentangan, maka kita berhenti pada sikap sebagaimana telah disebutkan dalam manhaj ini.

Adapun Muqatil bin Sulaiman: Dia benar-benar banyak mengambil dari Ahli Kitab, dan dia menafsirkan Al-Quran dengan apa yang mereka miliki dari nash-nash. Para ulama mengkritik ilmunya, akidahnya, dan tafsirnya. Apa yang dinukil darinya mengandung banyak israiliyyat, kesesatan, dan khurafat, terutama yang berkaitan dengan tajsim dan tasybih. Atas dasar ini, apa yang dinukil darinya sebagian besar ditolak.

Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir, para ulama bersepakat untuk meninggalkannya dan mendustakannya. Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Dia tidak terpercaya.” Yang lain berkata: “Tidak boleh ditulis hadisnya.”

Setelah ini kita dapat mengatakan: Bahwa mereka inilah tokoh-tokoh periwayat israiliyyat yang dinukil dan menyebar ke kitab-kitab tafsir, dan ke kitab-kitab hadis pada kita.

Sesungguhnya setiap mufassir dalam tafsirnya memiliki manhaj khusus terhadap israiliyyat. Di antara para mufassir ada yang menyebutkan israiliyyat tersebut dengan sanad-sanadnya tanpa komentar berupa tashih atau tadh’if, sebagaimana yang dilakukan oleh syaikh para mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya. Apakah dia salah dalam hal itu?

Kami katakan: Sesungguhnya hujjah mereka dalam hal itu adalah bahwa dia telah menyampaikan sanad kepadamu, dan barangsiapa yang menyandkan kepadamu maka dia telah membebankanmu; artinya: mereka telah membawa sanad untukmu, dan kamu harus meneliti sejauh mana kebenaran dan kebatilannya.

Di antara para mufassir ada yang menyebutkan israiliyyat tersebut dengan sanad-sanadnya disertai komentar padanya kebanyakan, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-‘Allamah Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ini adalah manhajnya, dan ini adalah usaha yang besar, hanya saja kebingungan masih menempel pada pembaca terhadap apa yang tidak dia putuskan hukumnya dari israiliyyat.

Di antara para mufassir ada yang menyebutkan dalam tafsirnya apa yang dapat dia sebutkan, maka dia tidak meninggalkan yang kecil, tidak pula yang besar, tidak yang menyimpang, tidak pula yang datang, kecuali dia mendatangkannya tanpa sanad dan tanpa komentar. Ini adalah tafsir yang paling berbahaya, karena ketika pembaca membaca israiliyyat ini, dia mengira bahwa itu benar atau bahwa itu berita-berita yang dapat dipercaya, padahal mengandung dalam lipatan-lipatannya apa yang dusta dan palsu yang sampai pada beberapa waktu merusak akidah. Contoh paling jelas untuk tafsir-tafsir ini adalah tafsir Muqatil bin Sulaiman, dan tafsir Ats-Tsa’labi yang bernama “Al-Kasyf wa Al-Bayan ‘an Tafsir Ayi Al-Quran”. Kitab ini mengumpulkan banyak israiliyyat, dan dianggap sebagai salah satu referensi kuno yang para mufassir saling mengambil darinya sebagian besar israiliyyat dan perkataan-perkataan batil.

Di antara para mufassir ada yang menyebutkan israiliyyat tanpa sanad tanpa isyarat kepada kelemahannya kecuali jarang ketika dia berkata: “Diriwayatkan” atau “Dikatakan”, dan contohnya adalah tafsir Imam Al-Khazin yang bernama “Lubab At-Ta’wil fi Ma’ani At-Tanzil”. Dikatakan: bahwa itu adalah ringkasan dari tafsir Al-Baghawi, sebagaimana Al-Khazin menyebutkan dalam muqaddimahnya tentang hal itu, dan tafsir Al-Baghawi adalah ringkasan dari tafsir Ats-Tsa’labi, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam “Muqaddimah Ushul At-Tafsir”. Hanya saja tafsir Imam pemilik “Ma’alim At-Tanzil” Imam Al-Baghawi dianggap lebih dekat kepada kebenaran, dan jauh lebih sedikit dari israiliyyat.

Di antara para mufassir ada yang menyebutkan israiliyyat tanpa sanad dengan tujuan menjelaskan apa yang ada di dalamnya dari kebatilan dan memperingatkan manusia akan kesalahannya. Jika dia menyebutkan sesuatu darinya, dia mengiringinya dengan kritik dan penjelasan, serta membebaskan tanggungan. Yang melakukan ini adalah imam para mufassir dengan ra’yu, dia menggabungkan antara tafsir dengan ra’yu dan tafsir dengan ma’tsur, dan lainnya, yaitu Al-‘Allamah Syihab Ad-Din Al-Alusi dalam tafsirnya “Ruh Al-Ma’ani fi Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim wa As-Sab’ Al-Matsani”.

Kami tutup dan katakan: Di antara para mufassir besar yang agung ada yang menempuh dalam tafsirnya terhadap israiliyyat jalan pejuang yang memperingatkan, yang mencela israiliyyat dan para perawinya, meskipun mereka dari tingkatan sahabat, yang menyaksikan wahyu. Yang melakukan hal itu adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya “Al-Manar” yang kami berharap dia telah menyelesaikan tafsir ini dan menyempurnakannya. Bagaimanapun juga, dia tidak menafsirkan kecuali sekitar sepertiga Al-Quran, sampai pada firman-Nya: “Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian dari kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian dari takwil mimpi-mimpi. (Ya Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh” (Yusuf: 101). Maka Allah mewafatkannya dan dia tidak menyelesaikan tafsirnya. Dia banyak mengutip dari Taurat dalam tafsirnya, dan ini memberikan kesan bahwa itu tidak berubah, tetapi dia menunjukkan bahwa itu dinukil, dan menjelaskan sebagian besarnya.

Dengan ini kita telah berkeliling dengan contoh-contoh dari tafsir-tafsir dengan berbagai warnanya. Di antaranya ada yang memperbanyak israiliyyat tanpa peringatan, dan di antara para ulama ada yang memperbanyak dalam tafsir mereka dari israiliyyat dan memperingatkannya, dan di antara mereka ada yang mengurangi, dan di antara mereka ada yang memeranginya dengan perang yang nyata.

Contoh-contoh Israiliyyat

Contoh-contoh israiliyyat dalam kisah-kisah Al-Quran:

Kisah Harut dan Marut

Firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Dan Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan itu mereka dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu tidak dapat memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan memberi mudarat kepada mereka. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui” (Al-Baqarah: 102).

Ya, ayat ini terdapat banyak israiliyyat di dalamnya. Imam Ats-Tsa’labi dan An-Nasafi serta yang mengikuti jejak mereka, dan mengutip dari mereka, mereka mengutip banyak israiliyyat dalam kisah ini. Yang diketahui bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan apa yang terjadi pada zaman Sulaiman. Kita akan mulai dengan tafsir yang benar, kemudian menyebutkan apa yang terjebak di dalamnya para pemilik tafsir dari kisah-kisah dan israiliyyat.

Ayat ini ada dalam surat Al-Baqarah, dan tafsir yang benar adalah: bahwa orang-orang Yahudi yang diberi Taurat, mereka membuang Al-Quran setelah wajib bagi mereka menerimanya dengan penerimaan. Oleh karena itu sebelum ayat ini Allah mencela mereka dan menyebutkan keburukan-keburukan mereka, maka Dia berfirman: “Dan tatkala datang kepada mereka seorang Rasul dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab itu melemparkan kitab Allah ke belakang punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 101). Kemudian Dia berfirman: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Dan Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut”.

Sesungguhnya orang-orang Yahudi yang diberi Taurat tidak membenarkan Al-Quran, dan melemparkannya ke belakang punggung mereka karena merasa tidak membutuhkannya, dan kurang memperhatikannya, seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kitab Allah. “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan” artinya: orang-orang Yahudi membuang kitab Allah, dan mengikuti kitab-kitab sihir dan perdukunan yang biasa dibaca oleh setan-setan pada zaman Sulaiman ‘alaihis salam dan di masa kerajaannya. Adapun yang terjadi adalah bahwa setan-setan biasa mencuri-curi dengar, kemudian mereka menggabungkan kepada apa yang mereka dengar dengan kebohongan-kebohongan, mereka merangkai dan menyampaikannya kepada para dukun. Mereka telah menuliskannya dalam kitab-kitab yang mereka baca, dan mengajarkannya kepada manusia.

Hal itu tersebar pada zaman Sulaiman ‘alaihis salam hingga mereka berkata: Sesungguhnya jin mengetahui gaib, dan mereka berkata: Ini adalah ilmu Sulaiman, dan kerajaan Sulaiman tidak sempurna kecuali dengan ilmu ini, dan dengan itu dia menundukkan jin, menundukkan manusia, menundukkan angin, menundukkan hewan, dan menundukkan ini dan itu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Sulaiman tidak kafir”. Dia berfirman demikian untuk mendustakan setan-setan, dan menolak apa yang mereka katakan sebagai tuduhan terhadap Sulaiman tentang keyakinan sihir dan mengamalkannya, dan bahwa dia menundukkan jin dan lainnya dengan sihir ini. Maka ayat menyatakan: “tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia”. Mereka kafir karena menggunakan sihir, menuliskannya dan mengajarkannya kepada manusia serta menyesatkan mereka.

Kemudian ayat berkata: “dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut”. Jumhur berpendapat bahwa “ma” di sini: “dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat” adalah athaf kepada sihir; artinya: bahwa jin mengajarkan manusia sihir, dan mengajarkan mereka apa yang diturunkan kepada dua malaikat, atau athaf kepada: “apa yang dibaca oleh setan-setan”, “dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat” artinya: mereka mengikuti apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil Harut dan Marut.

Tentang Harut dan Marut, mereka adalah dua malaikat, diturunkan kepada keduanya ilmu sihir; sebagai ujian dari Allah kepada manusia. Barangsiapa mempelajarinya dari keduanya dan mengamalkannya maka dia kafir jika di dalamnya ada penolakan terhadap apa yang wajib dalam syarat iman, dan seterusnya.

Kemudian ayat berkata: “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun” artinya: dan kedua malaikat itu tidak mengajarkan seseorang hingga keduanya berkata kepadanya dan menasihatinya dengan perkataan mereka: Sesungguhnya kami hanya cobaan, kami diturunkan sebagai ujian dan cobaan untuk makhluk dari Allah, maka janganlah kamu kafir dengan mempelajari sihir dan mengamalkannya dengan cara yang menjadi kekafiran. Maka pengajaran sihir ini adalah cobaan dan ujian bagi orang-orang ini. Manusia mempelajari sihir dari kedua malaikat, dan sihir ini memiliki pengaruh. Mereka memisahkan dengan itu antara seorang suami dengan istrinya, artinya: dalam ilmu sihir yang menjadi sebab pemisahan antara suami istri, dan ini tidak terjadi kecuali dengan qadha dan qadar Allah dengan terjadinya perselisihan suami istri atau nusyuz atau kemudaratan, dan ini adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan mereka itu tidak dapat memberi mudarat dengan itu” artinya: dengan sihir. “kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah” dengan pengetahuan dan kehendak-Nya.

Inilah tafsir yang benar. Harut dan Marut adalah dua malaikat, diturunkan dari langit untuk menjelaskan bahwa Sulaiman tidak berurusan dengan sihir, tetapi kedua malaikat turun dengan sihir untuk mengajarkan manusia bahwa Sulaiman memiliki mukjizat dan bahwa dia menundukkan jin dan alam angin dan burung dan hewan serta selain itu sebagai mukjizat, dan hal itu bukan karena pengaruh sihir.

Sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama: Sesungguhnya pengajaran kedua malaikat kepada manusia untuk sihir ini juga untuk pengobatan dan penyelamatan diri dengannya dari apa yang terjadi dari para penyihir dan setan-setan dalam menyakiti manusia. Seolah-olah pengajaran itu untuk menguji manusia, dan untuk menjelaskan perbedaan antara sihir dan mukjizat, dan bahwa Sulaiman sesungguhnya berurusan dengan mukjizat-mukjizat dari Tuhannya, dan bukan dengan sihir. Sebagaimana ilmu ini bermanfaat bagi manusia dalam menolak gangguan dan mencegah kerusakan, serta menyelamatkan diri dari bahayanya.

Para mufassir menyebutkan banyak israiliyyat. Imam An-Nasafi dan lainnya yang mengutip dari mereka berkata: Sesungguhnya Harut dan Marut adalah dua malaikat, dipilih oleh para malaikat untuk ditanamkan pada keduanya syahwat; karena malaikat-malaikat mencela Bani Adam karena mereka berbuat kerusakan di bumi dan membunuh dan begini begitu. Keduanya menjadi hakim di bumi, dan naik pada malam hari, kedua malaikat itu. Maka keduanya jatuh cinta kepada Zahrah sehingga dia membawa keduanya untuk minum khamr, maka keduanya terjebak dalam kejahatan zina. Seorang manusia melihat keduanya maka keduanya membunuhnya. Keduanya memilih azab dunia daripada azab akhirat, maka keduanya diazab tergantung terbalik dalam sumur di kota Babil, dan dinamakan Babil karena kekacauan lidah-lidah di sana.

Ini dalam kitab An-Nasafi, dan dia mengutipnya dari yang lain. Kenyataannya, apa yang disebutkan An-Nasafi dalam kisah ini adalah ringkasan dari apa yang disebutkan oleh para pendahulu, di antaranya Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lainnya dari para mufassir, yang mengutip kisah dari Ats-Tsa’labi dan dari yang lain.

Telah diriwayatkan dalam kisah Harut dan Marut dari sekelompok tabi’in seperti Mujahid dan As-Suddi dan Al-Hasan dan Qatadah dan Abu Al-‘Aliyah dan Az-Zuhri dan Ar-Rabi’ bin Anas dan Muqatil dan lainnya, disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari kalangan mutaqaddimin dan muta’akhkhirin dan disampaikan oleh manusia.

Bantahan Terhadap Israiliyyat Ini

Tidak pantas sama sekali seorang muslim yang berakal apalagi ahli ilmu meragukan bahwa apa yang disebutkan dalam kisah Harut dan Marut itu batil. Imam Ibnu Al-Jauzi berkata: “Itu palsu.” Dia berkata: “Dan apa yang dirafa’kan dalam kisah ini, Al-Faraj bin Fadhalah menceritakan kepada kami bahwa orang ini didha’ifkan oleh Yahya, dan Ibnu Hibban berkata: Sesungguhnya dia membalik sanad-sanad dan menempelkan matan-matan yang lemah dengan sanad-sanad yang sahih, sebagaimana sanad Ibnu Dawud didha’ifkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i, dan ini menunjukkan bahwa riwayat ini palsu. Al-Faraj bin Fadhalah menempelkannya dengan sanad yang sahih.”

At-Tsa’labi berkata dalam tafsirnya: Iyad berkata: Adapun apa yang disebutkan oleh ahli-ahli berita dan dinukil oleh para mufassir dalam kisah Harut dan Marut, serta apa yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang berita dan ujian mereka, maka ketahuilah -semoga Allah memuliakanmu- bahwa berita-berita ini tidak ada yang sakit (yaitu: lemah) dan tidak ada yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan qiyas. Adapun yang ada dalam Al-Quran, para mufassir berselisih pendapat tentangnya, dan banyak dari kalangan salaf mengingkari apa yang sebagian mereka katakan tentangnya. Berita-berita ini berasal dari kitab-kitab Yahudi dan kebohongan mereka, sebagaimana Allah nyatakan dalam ayat: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman” (Al-Baqarah: 102).

Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata setelah menyebutkan kisah tersebut dengan riwayatnya: Ketahuilah bahwa riwayat ini rusak, tertolak, tidak dapat diterima, karena tidak ada dalam kitab Allah yang menunjukkan hal tersebut, bahkan di dalamnya ada yang membatalkannya dari beberapa segi:

Pertama: Dalil-dalil yang menunjukkan kesucian malaikat dari dosa. Allah berfirman dalam sifat malaikat: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan” (An-Nahl: 50). Ayat ini mencakup semua malaikat dalam melakukan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang, karena setiap orang yang dilarang dari suatu perbuatan, maka ia diperintahkan untuk meninggalkannya. Apakah apa yang disifatkan kepada Harut dan Marut dalam riwayat batil ini termasuk dari jenis ketakutan kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya?

Kedua: Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan malaikat: “Bahkan (mereka adalah) hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-Nya” (Al-Anbiya: 26-27).

Ketiga: Allah berfirman tentang mereka: “Mereka bertasbih pada malam dan siang hari tanpa berhenti” (Al-Anbiya: 20). Dan yang sifatnya seperti itu tidak akan mengeluarkan dosa. Firman Allah Ta’ala: “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan” (Fathir: 1). Maka mereka adalah utusan Allah, dan para utusan terpelihara dari segala kekurangan dan cacat, tidak pantas bagi mereka karena firman-Nya dalam memuliakan mereka: “Allah memilih dari malaikat utusan-utusan dan dari manusia” (Al-Hajj: 75).

Kedua: Bahwa perkataan mereka bahwa keduanya diberi pilihan antara azab dunia dan azab akhirat adalah fasid (rusak). Bahkan yang lebih utama adalah keduanya diberi pilihan antara taubat dan azab, karena Allah Ta’ala telah memberi pilihan antara keduanya bagi orang yang menyekutukan Allah sepanjang hidupnya, bagaimana mungkin Dia akan bakhil kepada keduanya dengan hal tersebut? Ini adalah perkataan Imam Ar-Razi.

Ketiga: Bahwa di antara hal yang paling mengherankan adalah perkataan mereka bahwa keduanya mengajarkan sihir dalam keadaan sedang disiksa dan mengajak kepadanya sedangkan mereka sedang dihukum.

Adapun Imam Al-Qurthubi, ia berkata dalam kisah Harut dan Marut: Kami berkata: Ini adalah atsar yang lemah dan jauh dari Ibnu Umar dan lainnya, tidak sahih sedikitpun darinya, karena ini adalah perkataan yang ditolak oleh dasar-dasar tentang malaikat yang merupakan amanah Allah atas wahyu-Nya dan utusan-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Kemudian ia menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya dari Imam Ar-Razi tentang kesucian mereka.

Imam Ibnu Katsir telah memutuskan palsu terhadap yang marfu’ dari kisah ini. Ia berkata: Dan ini berasal dari riwayat-riwayat Israiliyyat yang diambil dari Ka’b Al-Ahbar dan lainnya, dan orang-orang zindik Ahli Kitab menempelkannya pada Islam dengan bohong dan dusta. Asy-Syihab Al-Iraqi menyatakan bahwa barangsiapa yang meyakini tentang Harut dan Marut bahwa keduanya adalah malaikat yang disiksa karena dosa mereka, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung.

Penulis kitab Al-Mizan berkata setelah menyebutkan sanad-sanad riwayat: Dan ini adalah kisah dongeng yang dinisbatkan kepada malaikat-malaikat yang dimuliakan, yang Al-Quran telah mewasiatkan tentang kesucian tempat mereka dan kesuciaan wujud mereka dari syirik. Kemaksiatan adalah syirik yang paling kasar dan kemaksiatan yang paling buruk, yaitu: menyembah berhala, membunuh, zina, dan minum khamar. Semua ini dinisbatkan kepada mereka. Dan dinisbatkan kepada planet Venus bahwa ia adalah wanita pezina yang disihir. Sungguh ini menggelikan. Lalu bagaimana akal dapat menerima bahwa wanita jahat Venus diangkat ke langit, dimuliakan, dan menjadi bintang yang bersinar.

Ini adalah isyarat kepada detail riwayat ini dalam kitab-kitab yang telah disebutkan secara terperinci. Ibnu Jarir berkata: Haddasani Al-Mutsanna, haddasana Al-Hajjaj, haddasana Hammad dari Khalid dari si anu dari si anu, aku mendengar Ali radhiyallahu anhu. Semua ini menunjukkan bahwa para perawi memindahkan riwayat dari sahabat dan tabiin dengan bohong. Ali berkata: Adalah Az-Zahra seorang wanita cantik dari Persia, dan bahwa ia mengadukan perkara kepada kedua malaikat Harut dan Marut, lalu keduanya merayunya, namun ia menolak keduanya kecuali jika keduanya mengajarkannya kalimat yang jika diucapkan oleh seseorang maka ia akan naik ke langit. Lalu keduanya mengajarkannya, maka ia mengucapkannya dan naik ke langit, lalu disihir menjadi bintang. Padahal bintang yang mereka klaim ini berada di tempatnya sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Bahwa langit ketika diciptakan, diciptakan padanya bintang-bintang dan planet-planet yaitu: Saturnus, Jupiter, Merkurius, Venus, Matahari, Bulan dan lainnya: “Masing-masing beredar dalam garis edarnya” (Yasin: 40). Maka Venus telah ada sebelum penciptaan Adam, dan Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang mundur, yang beredar dan bersembunyi” (At-Takwir: 15-16).

Yang menunjukkan kedustaan riwayat-riwayat ini juga adalah bahwa riwayat-riwayat itu berbeda-beda, di antara mereka ada kekacauan dan pertentangan serta riwayat-riwayat yang saling bertentangan. Ini adalah riwayat-riwayat lain yang datang dalam sebagian riwayat, Ka’b berkata: Demi Dzat yang jiwa Ka’b di tangan-Nya, keduanya tidak menyelesaikan harinya yang mereka turun padanya sampai mereka melakukan apa yang Allah haramkan atas mereka. Dan datang dalam riwayat lain dari Ka’b Al-Ahbar: Lalu Allah menurunkan keduanya ke bumi, lalu dimasukkan ke dalam keduanya syahwat, maka tidak berlalu sebulan sampai keduanya terfitnahkan oleh seorang wanita yang namanya dalam bahasa Nabathi “Baidakht”, dalam bahasa Persia “Nashil”, dan dalam bahasa Arab “Az-Zahra”. Lihatlah atsar ini, pertentangan jelas dan nyata, dan tidak ada di dalamnya riwayat yang lebih sahih dari yang lain.

Juga dikatakan bahwa turunnya kedua malaikat Harut dan Marut adalah setelah zaman Sulaiman, sebagaimana yang jelas dari ayat dan jelas dari perkataan Imam An-Nasafi. Dan datang dalam sebagian riwayat dari Ar-Rabi’ bin Anas bahwa mereka berada di zaman Idris ‘alaihis salam, dan datang bahwa keduanya pergi kepada Idris ‘alaihis salam lalu memberitahukan kepadanya tentang urusan mereka dan meminta agar ia memberi syafaat bagi mereka kepada Allah Ta’ala. Dari yang diketahui bahwa antara Idris dan Sulaiman adalah waktu yang panjang.

Yang menunjukkan kedustaan riwayat juga adalah hadits palsu yang diangkat dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat Venus, karena dialah yang memfitnah kedua malaikat Harut dan Marut.” Ibnu Katsir berkata tentangnya: Tidak sahih, dan sangat munkar.

Para peneliti tafsir Ibnu Katsir berkata: Sesungguhnya hadits yang diangkat kepada Nabi tentang urusan Venus adalah hadits yang diragukan sanadnya, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari salaf tidak keluar dari apa yang datang dalam hadits ini. Dan meskipun sebagian sanadnya sahih, ia termasuk sam’iyyat yang tidak ditetapkan kecuali dengan berita dari yang ma’shum. Maka riwayat-riwayat ini dari Israiliyyat yang tidak bersandar kepada burhan atau dalil. Dari sini tampak bagimu wahai peneliti, bahwa riwayat-riwayat dalam hal ini dan dalam kisah ini semuanya dari Israiliyyat.

Kedua: Kita ambil contoh lain, yaitu apa yang datang dalam kisah Ayyub ‘alaihis salam. Rasul ini yang dipuji Allah dalam kitab-Nya bahwa ia termasuk orang-orang yang sabar. Ayat-ayat tentang Ayyub datang dalam lebih dari satu surat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang. Maka Kami memperkenankan doanya, lalu Kami hilangkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (Al-Anbiya: 83-84). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami karuniakan kepadanya keluarganya dan ditambah lagi sebanyak mereka sebagai rahmat dari Kami dan menjadi peringatan bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)” (Shad: 41-44).

Jelas dalam ayat-ayat ini bahwa Ayyub ‘alaihis salam diuji Tuhannya dengan penyakit, lalu ia berdoa kepada Tuhannya dengan adab: Engkau Maha Penyayang dari semua penyayang, sesungguhnya aku ditimpa penyakit dan Engkau Maha Penyayang dari semua penyayang. Lalu Allah mengabulkan doanya, menghilangkan penyakit darinya, memberikan keluarganya dan sebanyak mereka bersamanya. Dan ayat-ayat lain: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”, maka Allah memerintahkannya untuk menghentakkan kakinya ke bumi, lalu keluarlah untuknya tempat mandi yang sejuk, ia bersuci darinya dan mandi, lalu Tuhannya menyembuhkannya dan kembali kepadanya, dan menganugerahkan kepadanya keluarganya dan apa yang telah hilang darinya dalam hidupnya.

Dan ketika Ayyub ‘alaihis salam istrinya menghilang darinya dalam beberapa situasi dan ia bersumpah akan memukulnya, maka Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan kepadanya untuk memukulnya dengan seikat ranting-ranting yang ringan. Allah berfirman: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah”. Dhights adalah sekumpulan ranting kecil seperti ikatan kecil, untuk menepati janji atau memenuhi apa yang dikatakannya dalam memukul istrinya dengan sesuatu yang tidak menyakitkan, dan tidak melanggar sumpah. Al-Quran memujinya: “Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”.

Datang dalam kisah ini Israiliyyat yang banyak, dan datang dalam kitab-kitab tafsir seperti yang kami sebutkan dalam Ibnu Jarir, dan “Al-Kasyf wal Bayan” karya Ats-Tsa’labi dan mungkin juga “Al-Wasith” karya Al-Wahidi, dan para mufassir menyebarkannya. Banyak dari para mufassir seperti Ar-Razi dan Al-Qurthubi dan lainnya menyebutkan kisah untuk menjelaskan Israiliyyat di dalamnya.

Kami katakan: Pertama: Mereka berkata: Sebab ujiannya adalah menyembelih kambing lalu memakannya sedangkan tetangganya lapar. Ini perkataan yang tidak masuk akal bahwa ia melihat kemungkaran lalu diam terhadapnya. Pendapat yang benar tentang ujian ini, tentang sebab ujiannya adalah bahwa Allah Jalla wa ‘Ala mengujinya untuk mengangkat derajatnya tanpa ada kesalahan yang mendahului, sebagaimana Tuhan kita berfirman dalam kitab-Nya yang muhkam: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut: 2). Ujian datang untuk mengangkat derajat.

Kedua: Mereka berkata dari Israiliyyat tentang istrinya, mereka berkata bahwa istrinya menjual kepangan rambutnya dengan dua roti untuk memberi makan suaminya yang tidak menemukan makanan. Perkataan ini tidak dapat diterima karena Allah Jalla wa ‘Ala lebih mulia dari memaparkan nabi-Nya kepada keadaan seperti ini. Para nabi diutus dari kalangan menengah manusia dan yang paling mulia di antara manusia. Di mana keluarga dan sanak saudaranya? Bagaimana keadaan orang-orang mukmin di sekitarnya? Apakah mereka meninggalkannya dalam ujian dan cobaan? Pasti kerabat mengelilingi manusia.

Ketiga: Mereka berkata dalam Israiliyyat bahwa perselisihan tentang jumlah anak-anaknya, harta, dan tanahnya besar. Perkataan mereka tidak kita hukumi benar atau salah. Sebagian melebih-lebihkan dan sebagian mengurangi, perkataan yang saling bertentangan. Demikian juga yang dikatakan tentang masa ujiannya, perkataan yang banyak. Sebagian berkata: bertahun-tahun, tujuh puluh tahun dan lebih dari itu.

Keempat: Mereka berkata dalam firman-Nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”, mereka berkata bahwa syaitan telah disalahkan atas hartanya, anaknya, dan tubuhnya sampai ia mendapat darinya. Yang benar dalam makna ayat adalah bahwa Ayyub ‘alaihis salam, apa yang diwaswaswaskan syaitan kepadanya dalam sakitnya dari membesarkan bala yang menimpanya, dan ia membawakannya kepada kebencian dan keluhan, maka ia berlindung -yaitu Ayyub- kepada Allah agar Dia mencukupkannya dari hal itu dengan menghilangkan bala darinya dan dengan taufik dalam menolaknya dan menangkisnya dengan sabar yang indah.

Kelima: Dalam riwayat-riwayat yang disebutkan, disebutkan bahwa penyakitnya -penyakit sayyidina Ayyub- adalah menjijikkan. Dikatakan bahwa penyakit telah sampai kepadanya hingga tubuhnya berbau busuk, lalu penduduk kampung mengeluarkannya dari kampung ke tempat sampah di luar kampung, tidak ada yang mendekatinya kecuali istrinya. Perkataan batil, karena para nabi terpelihara dari setiap penyakit yang menjijikkan atau setiap penyakit menular dan dari segala yang menjauhkan manusia dari mereka. Boleh bagi mereka keadaan-keadaan biasa, penyakit-penyakit biasa, tetapi tidak yang menjijikkan, karena Allah Jalla wa ‘Ala menugaskan mereka dengan penyampaian dan risalah serta dakwah kepada manusia. Maka perkataan ini bertentangan dengan dasar-dasar ini dalam hak para rasul.

Keenam: Yang dikatakan bahwa istri Ayyub melayani manusia dan bahwa ia menjual rambutnya dan kepangannya, lalu ia bersumpah akan memukulnya. Perkataan ini dari Israiliyyat.

Yang benar adalah bahwa istri Ayyub pergi dalam keperluannya untuk mengurus kepentingan membawa makanan atau sesuatu lalu lama tidak pulang, sedangkan keadaannya tidak tahan dengan ketidakhadiran yang lama ini, maka ia bersumpah atasnya untuk memukulnya.

Israiliyyat dalam hal ini banyak. Sebenarnya pembicaraan tentang urusan Ayyub adalah pembicaraan yang banyak, tidak cukup tempat untuk menyebutkannya secara terperinci, jika tidak kita akan membaca halaman-halaman yang banyak dan menemukan perkataan-perkataan yang panjang pembicaraannya.

Dengan kembali kepada kitab-kitab tafsir, kamu akan mengetahui kisah dengan apa yang ada di dalamnya dari pembicaraan tentang sebab ujiannya. Cukup firman Allah Jalla wa ‘Ala tentangnya bahwa ia adalah orang yang sabar: “Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”.

Kita kembali kepada kisah Musa ‘alaihis salam: Contoh ketiga dari Israiliyyat, dan kisah Musa dalam Al-Quran Al-Karim banyak, situasinya beragam, dan ayat-ayatnya banyak sampai Musa ‘alaihis salam disebutkan dalam Al-Quran lebih dari seratus kali, seingat saya 134 kali. Ini menunjukkan bahwa kehidupan Musa dengan kaumnya penuh dengan pelajaran dan nasihat serta manhaj dakwah yang lengkap. Sebagaimana Musa diutus kepada Bani Israel, dan Bani Israel adalah kaum yang lengkap pada mereka semua penyakit: akal, badan, jiwa, dan pendustaan. Semua sikap yang menentang dakwah terjadi dari mereka. Oleh karena itu, jika kamu merenungkan Al-Quran Al-Karim dan mengetahui bahwa di dalamnya ada dua puluh lima rasul, maka lebih dari separuh jumlah ini ditujukan kepada Bani Israel. Kira-kira tiga belas rasul dari yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim, semuanya diutus kepada Bani Israel.

Bagaimanapun juga, Israiliyyat dalam kisah-kisah Musa banyak, mengikuti banyaknya penyebutan Musa dan sikap kaumnya, serta apa yang terjadi dari Firaun, dan apa yang terjadi dari Musa dengan kaumnya, pembicaraan yang banyak.

Kisah Musa ‘alaihis salam: Mereka berselisih tentang jumlah orang yang dibunuh yang dibantai Firaun dalam mencari Musa. Sebagaimana kita ketahui, Allah Jalla Jalaluhu berfirman dalam kitab-Nya yang muhkam: “Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul” (Al-Qashash: 7).

Firaun telah melihat mimpi dan menceritakannya kepada para tukang tenung bahwa mimpi yang mengganggunya, lalu mereka berkata kepadanya: Akan lahir seorang anak dalam kerajaanmu yang akan menjadi kehancuran negara dan kerajaanmu di tangannya. Maka ia memerintahkan membunuh bayi-bayi laki-laki. Ketika orang-orang terdekatnya menyadari bahwa membunuh bayi-bayi selama beberapa tahun akan menghabisi tenaga kerja, karena yang ada akan mengalami tua dan pikun, dan negara membutuhkan kekuatan baru, maka ia meringankan hukuman. Membunuh bayi-bayi satu tahun dan membiarkan mereka tahun yang lain.

Allah berkehendak bahwa Musa lahir pada tahun yang di dalamnya diperintahkan membunuh bayi-bayi, dan Allah berkehendak bahwa Musa dipindahkan ke rumah Firaun dan dibesarkan di antara tangannya dan di pangkuannya. Dialah yang menggendongnya dan membesarkannya. Ketika Musa menolak untuk disusui, Firaun sendiri yang berusaha mencari orang yang menyusuinya dan membayar anggaran lengkap untuk membesarkan, merawat, dan mengasuh Musa sedangkan ia di rumah ibunya. Musa kembali ke rumah Firaun. Alih-alih menjadi penyejuk mata bagi keluarga ini, justru sebagaimana Yang Maha Benar Jalla wa ‘Ala kabarkan, Musa datang kepada mereka untuk menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.

Imam An-Nasafi berkata -dan ia salah satu perawi Israiliyyat-: Diriwayatkan bahwa dalam mencari Musa dibantai sembilan puluh ribu bayi, yaitu: karena keserakahan Firaun untuk menghabisi bayi yang akan lahir dan hidup serta menjadi kehancuran Firaun dan hilangnya kerajaannya di tangan bayi ini, ia memerintahkan membunuh bayi-bayi.

Orang-orang penganut Israiliyyat berselisih tentang jumlah ini. Sebagian berkata: sembilan puluh ribu bayi dibunuh. Riwayat ini disebutkan oleh sejumlah mufassir: Az-Zamakhsyari dalam “Al-Kasysyaf” dan Fakhruddin Ar-Razi dalam “Mafatih Al-Ghaib” sampai Imam An-Naisaburi dalam tafsirnya di “Hasyiyah Ath-Thabari” dan Allamah Al-Alusi juga menyebutkan jumlah ini. Riwayat ini menentukan jumlah yang dibunuh, berbeda dengan jumlah yang disebutkan perawi-perawi lain. Imam Ats-Tsa’labi dalam riwayatnya dari Wahb bin Munabbih, Ats-Tsa’labi berkata: Wahb berkata: Sampai kepadaku bahwa dibantai dalam mencari Musa tujuh puluh ribu bayi.

Yang dapat diperhatikan bahwa kedua riwayat tersebut sumbernya sama, yaitu perawi dari Ahli Kitab, dan Al-Quran tidak menerangkan jumlah korban yang terbunuh itu bahkan dengan isyarat sekalipun, namun hanya menyebutkan bahwa diketahui dari Al-Quran bahwa Firaun adalah seorang penguasa yang zalim dan melampaui batas, maka Al-Quran bahkan dengan isyarat pun tidak menunjukkan pada banyaknya jumlah korban yang terbunuh sehingga kita dapat memahami batasan tersebut, namun Allah berfirman: “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4).

Dan hal-hal yang tidak dijelaskan oleh Al-Quran dan disampaikan secara global, serta tidak merinci detail-detailnya, kita harus berhenti padanya sepenuhnya.

Inilah yang diarahkan kepada kita oleh para ulama bahwa apa yang disebutkan Al-Quran secara global, kita berhenti pada globalitasnya, dan tidak mendalami atau memaksakan diri untuk merinci, karena mungkin kita tidak selamat dari kesalahan.

Dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

 

 

Pelajaran: 4 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (2)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Keempat

(Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (2))

Penyusupan Israiliyyat ke dalam Kitab-kitab Tafsir

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada penghulu kami Muhammad dan kepada keluarga serta semua sahabatnya, dan selanjutnya:

Pertama: Israiliyyat adalah bahaya besar yang menyusup dan merembes ke dalam kitab-kitab tafsir, sehingga menjadi bahaya bagi budaya kaum muslimin secara umum dan bagi kitab-kitab tafsir secara khusus; karena orang-orang Yahudi adalah Ahli Kitab yang paling banyak berhubungan dengan kaum muslimin, dan mereka adalah manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, dan mereka karena permusuhan mereka terhadap Islam tidak kehabisan akal; artinya: tidak kurang cara, tipu daya, dan penipuan yang mereka gunakan untuk merusak akidah kaum muslimin, maka mereka masuk ke dalam arena dari berbagai pintu: dari kebohongan, dari mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya, dan dari menyembunyikan apa yang diturunkan Allah, belum lagi ada satu golongan dari mereka yang sengaja menampakkan Islam, sebagian dari mereka memeluk Islam, bukan karena cinta kepada Islam, tetapi karena ingin menghancurkannya, mengubahnya, dan menampakkannya di hadapan manusia dengan dongeng-dongeng, khurafat, dan kebatilan.

Dan kita semua mengetahui kisah Abdullah bin Saba, orang Yahudi asal ini, masuk Islam untuk menyesatkan siapa saja yang bisa dari kaum muslimin, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya (Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal) dia berkata: Ibnu Saba masuk Islam untuk menyesatkan kaum muslimin, maka dia condong kepada golongan rendah yang bermazhab Syiah kepada Ali, mereka mengatakan ketuhanannya, mengikuti apa yang dikatakan salah seorang pengikut Masih yaitu Paulus ketika dia berkata kepada pengikutnya agar mereka mengatakan ketuhanan Isa alaihissalam padahal dia suci dari hal itu. Maka Al-Quran menjelaskan bahwa tidak ada ketuhanan kecuali bagi Allah dan bahwa Allah akan bertanya kepada Isa alaihissalam: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya)'” (Al-Maidah: 116) dan ayat-ayat banyak yang tidak pada tempatnya untuk membalas syubhat-syubhat mereka. Bagaimanapun golongan dari Ibnu Saba dan pengikutnya ini, bermaksud memasukkan banyak kebatilan dalam budaya kaum muslimin untuk merusak agama kaum muslimin, dan kedudukan kaum muslimin.

Bagaimana Israiliyyat menyusup ke dalam tafsir?

Hal ini kembali kepada masa para sahabat semoga Allah meridhai mereka karena Al-Quran sepakat dengan Taurat dan Injil dalam banyak hal, dalam akidah, dalam akhlak, dan juga dalam sebagian kisah; artinya: ada kisah yang disebutkan dalam Taurat dan Injil dan disebutkan dalam Al-Quran dengan satu perbedaan, yaitu bahwa kisah-kisah ini disebutkan dalam Al-Quran secara ringkas, sementara dalam Taurat dan Injil ada perluasan dan perincian untuk sebagiannya.

Maka adalah dari sumber-sumber tafsir di kalangan para sahabat bahwa mereka merujuk kepada Ahli Kitab, namun para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kecerdasan; karena mereka tidak bertanya kepada Ahli Kitab tentang segala sesuatu, dan tidak menerima dari mereka segala sesuatu, dan jika kita sajikan beberapa contoh di hadapan kita ada riwayat-riwayat, maka ada yang terjadi antara sahabat mulia Abu Hurairah dan Ka’ab al-Ahbar, dan yang terjadi juga antara Abu Hurairah dan Abdullah bin Salam.

Dan riwayat-riwayat dalam hal ini sebagaimana disebutkan Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jumat lalu berkata: “Di dalamnya ada saat yang tidak bertepatan dengan seorang hamba muslim dan dia dalam keadaan berdiri shalat, meminta sesuatu kepada Allah, kecuali Allah memberikannya kepadanya dan dia mengisyaratkan dengan tangannya untuk menguranginya” Para salaf berselisih dalam menentukan saat ini, dan apakah masih ada atau sudah diangkat? Dan jika masih ada, apakah dalam satu Jumat dalam setahun atau pada setiap hari Jumat? Maka kita dapati Abu Hurairah semoga Allah meridhainya bertanya kepada Ka’ab al-Ahbar tentang hal itu, maka Ka’ab menjawab bahwa itu dalam satu Jumat dalam setahun, maka Abu Hurairah menolak perkataannya ini, dan menjelaskan kepadanya bahwa itu pada setiap Jumat, maka Ka’ab kembali kepada Taurat lalu melihat kebenaran ada pada Abu Hurairah, maka dia kembali kepadanya. Contoh lain: Abu Hurairah juga bertanya kepada Abdullah bin Salam tentang penentuan saat ini: kapan terjadinya? Dan berkata kepadanya: “Beritahukan aku, dan jangan pelit terhadapku.” Maka Ibnu Salam menjawab bahwa itu adalah saat terakhir pada hari Jumat, maka Abu Hurairah menolak dengan berkata: Bagaimana bisa saat terakhir pada hari Jumat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lalu berkata: “Tidak akan bertepatan dengannya seorang hamba muslim, dan dia sedang shalat” dan saat itu tidak ada yang shalat, maka Ibnu Salam menjawab dengan berkata: Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa duduk di suatu tempat menunggu shalat, maka dia dalam shalat sampai dia shalat”. Perhatikan diskusi-diskusi ini antara Abu Hurairah dan Ka’ab, dan antara Abu Hurairah dengan Ibnu Salam, semuanya menunjukkan bahwa para sahabat mendengarkan, berdiskusi dengan Ahli Kitab, dan berusaha mencari kebenaran semampu mereka, tidak menerima semua yang dikatakan kepada mereka dari Ahli Kitab, namun mereka menimbang apa yang mereka katakan, jika sesuai dengan yang ada pada kita mereka membenarkan, dan jika menyelisihi mereka tidak membenarkan.

Mereka bertanya tentang hal-hal yang tidak lebih dari sekedar penjelasan suatu kisah atau keterangan tentang apa yang diglobalkan Al-Quran darinya, mereka mengetahui detail, dan berhenti terhadap apa yang disampaikan kepada mereka dengan kebenaran atau kebohongan dengan mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jangan kalian benarkan Ahli Kitab, dan jangan kalian dustakan mereka dan katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail…” ayat (Al-Baqarah: 136), sebagaimana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang berkaitan dengan akidah atau berhubungan dengan hukum kecuali jika untuk bersaksi dan menguatkan, sebagaimana mereka tidak bertanya tentang hal-hal yang sepertinya pertanyaan tentangnya merupakan jenis permainan atau kesia-siaan, artinya: para sahabat Rasulullah tidak bertanya tentang hal-hal yang tidak bermanfaat seperti warna anjing Ashab al-Kahf, dan misalnya tongkat Musa terbuat dari pohon apa, burung yang dihidupkan Allah untuk Ibrahim apa nama-namanya, hal-hal ini tidak berguna dan tidak memberikan manfaat, inilah batas rujukan para sahabat Rasulullah kepada Ahli Kitab. Adapun para tabiin, maka keadaannya berbeda, karena para tabiin memperluas pengambilan dari Ahli Kitab, dan tidak mewajibkan diri mereka dengan manhaj yang dijalani pendahulu mereka yaitu menguji berita-berita, dan menimbangnya dengan timbangan syariat yang teliti, maka banyaklah pada masa mereka riwayat-riwayat Israiliyyat dalam tafsir, dan hal ini juga kembali kepada banyaknya Ahli Kitab yang masuk Islam, dan kecenderungan jiwa kaum untuk mendengar detail-detail tentang apa yang diisyaratkan Al-Quran dari peristiwa-peristiwa Yahudi atau Nasrani, maka munculah pada masa ini sekelompok mufassir, yang ingin menutup celah-celah yang ada dalam tafsir dengan apa yang ada pada orang Yahudi dan Nasrani, maka mereka memenuhi kitab-kitab tafsir dengan banyak kisah yang bertentangan atau batil atau yang bertabrakan dengan sebagian ayat Al-Quran. Di antara mereka: Muqatil bin Sulaiman, dan Ka’ab al-Ahbar, dan Wahb bin Munabbih, dan selain mereka.

Kemudian datang setelah masa tabiin orang-orang yang sangat terpesona dengan Israiliyyat, dan berlebihan dalam mengambil darinya, sampai tingkat yang membuat mereka menerima segala sesuatu, tidak menolak perkataan, dan tidak segan melekatkkan pada Al-Quran semua yang mereka dengar, dan semua yang diriwayatkan kepada mereka, meskipun menyelisihi akal atau syariat, sampai datang masa penulisan tafsir, terutama tafsir bil ma’tsur, maka ada dari kalangan mufassir yang memenuhi kitab-kitab mereka dengan kisah-kisah Israiliyyat ini, yang hampir menghalangi manusia dari melihat ayat-ayat Allah dan mendapat petunjuk dengan petunjuk-Nya.

Dan masa setelah tabiin penuh dengan riwayat-riwayat Israiliyyat, dan banyak mufassir yang memindahkan kisah-kisah dan riwayat-riwayat dalam kitab-kitab mereka yang bertentangan dengan kemakshuman para nabi, dan membantu hal ini adalah orang-orang yang memindahkan ini kepada kita, kita meragukan akidah mereka, bahkan ahli hadis dan kitab-kitab yang membicarakan tentang para perawi menjelaskan bahwa mereka bersifat dusta, seperti Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbi, dan Muhammad bin Marwan as-Suddi ash-Shaghir, di samping Muqatil bin Sulaiman, yang disebutkan tadi. Adapun al-Kalbi maka dia adalah Saba’i yang menyembunyikan diri dengan cintanya kepada Ahlu Bait, Ibnu Hibban berkata: Al-Kalbi adalah seorang Saba’i, dari orang-orang yang mengatakan bahwa Ali tidak mati, dan bahwa dia akan kembali ke dunia, dan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman, dan jika mereka melihat awan mereka berkata: Amirul mukminin ada di dalamnya. Dan Ahmad bin Zuhair berkata: Saya berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Apakah halal melihat tafsir al-Kalbi? Dia berkata: Tidak. Dan as-Suyuthi menyebutkan bahwa jalur paling lemah dari Ibnu Abbas adalah jalur al-Kalbi dari Abu Shalih, maka jika bergabung dengannya riwayat Muhammad bin as-Suddi bin Marwan as-Suddi ash-Shaghir, maka itu adalah rantai kebohongan.

Adapun Muqatil bin Sulaiman maka dia dituduh tajsim, Ibnu Hibban berkata: Muqatil menyerupakan Rabb dengan makhluk, dan dia berdusta dalam hadis sebagaimana dia dituduh dalam ilmunya. Dan Yahya bin Ma’in berkata: Muqatil bin Sulaiman hadisnya tidak ada artinya. Dan begitu juga Ibnu Hanbal berkata tentangnya.

Dan demikianlah saudara-saudara Islam bertambah banyaklah Israiliyyat dan hadis-hadis palsu dalam kitab-kitab tafsir akan tetapi semuanya bersanad; artinya: riwayat-riwayat disebutkan dengan sanad-sanadnya, dan dalih orang yang menyebutkan riwayat-riwayat ini menyebutkan sanad sesuai perkataan orang yang berkata: Barangsiapa bersanad maka dia telah membebaskanmu, orang yang menyebutkan riwayat kepadamu dengan sanadnya, maka mungkin dia keluar dari tanggung jawab; maka kamu bisa menilai sanad, dan menghukumi tingkat hadis, dan Ibnu Jarir dan lainnya dari kalangan mufassir melakukan ini.

Kemudian terjadi bencana besar ketika datang setelah itu dari kalangan mufassir yang meriwayatkan Israiliyyat-Israiliyyat ini tanpa sanad, dan tidak teliti dalam apa yang dia pindahkan, maka hal itu menjadi bala dan kejahatan yang tersebar; karena membuang sanad dan membuang sanad-sanad membuat orang yang melihat riwayat-riwayat dan kitab-kitab ini mengira bahwa semuanya shahih, maka dia meyakini kebenaran semua yang ada di dalamnya; karena kepercayaannya kepada pemilik-pemiliknya yang memindahkannya, dan datang orang yang memindahkan dari mereka semua yang dimuat riwayat-riwayat mereka dari kebohongan dan kebatilan dengan meyakini kebenaran dan kebenarannya, maka penuhlah kitab-kitab tafsir dengan Israiliyyat.

Hukum Meriwayatkan Israiliyyat

Apakah boleh meriwayatkan Israiliyyat?

Kita membaginya menjadi tiga bagian, dengan mengkaji nash-nash syariat khusus tentang bercerita dari Bani Israil kita dapati bahwa ada nash-nash dalam Al-Quran dan Sunnah yang menunjukkan larangan mengambil dari Ahli Kitab, sebagaimana ada nash-nash yang menunjukkan boleh dan diizinkan.

Kita kaji nash-nash yang menunjukkan larangan, kemudian kita kaji nash-nash yang menunjukkan kebolehan, kemudian kita gabungkan antara riwayat-riwayat, dan kita padukan dan kita ambil dari petunjuk-petunjuknya pendapat yang benar.

Nash-nash yang menunjukkan larangan banyak, di antaranya: ayat-ayat yang menunjukkan pengubahan mereka terhadap kitab-kitab mereka, dan menghilangkan kepercayaan kita padanya: “Maka apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Al-Baqarah: 75) dan firman-Nya: “Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya dan mereka melupakan sebagian dari apa yang mereka diberi peringatan dengannya” (An-Nisa’: 46) dan firman-Nya: “Dan mereka tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang semestinya ketika mereka berkata: ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia’. Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan lembaran-lembaran kertas yang kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya'” (Al-An’am: 91).

Dan tentang orang-orang Nasrani saja Allah berfirman: “Dan di antara orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani’, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka melupakan sebagian dari apa yang mereka diberi peringatan dengannya” (Al-Maidah: 14) dan tentang orang-orang Nasrani dan Yahudi keduanya datang ayat-ayat, di antaranya firman-Nya: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya” (Al-Maidah: 15) ayat-ayat banyak dalam makna ini. Dan dari hadis-hadis: yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab semoga Allah meridhainya yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnadnya dia berkata: Umar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kitab yang didapatnya dari sebagian Ahli Kitab, lalu dia membacakannya kepada beliau, maka Nabi marah, dan berkata: “Apakah kalian bingung di dalamnya wahai Ibnu Khattab? Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan yang putih bersih, jangan kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu mereka memberitahu kalian dengan kebenaran lalu kalian mendustakannya atau dengan kebatilan lalu kalian membenarkannya, dan demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa masih hidup, tidak lapang baginya kecuali mengikutiku” dan hadis-hadis banyak dalam Al-Bukhari dan lainnya, ini hadis Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dia berkata: “Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani, dan mereka membacakannya dengan bahasa Arab untuk Ahli Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jangan kalian benarkan Ahli Kitab, dan jangan kalian dustakan mereka, dan katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami'”.

Dan di antaranya juga: yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya dia berkata: “Bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baru? Kalian membacanya murni -artinya: murni- tidak bercampur, dan sungguh mereka telah memberitahu kalian bahwa Ahli Kitab telah mengubah kitab Allah dan menggantinya, dan mereka menulis dengan tangan mereka kitab, dan berkata: ini dari Allah untuk membeli dengannya harga yang sedikit, tidakkah melarang kalian apa yang datang kepada kalian dari ilmu dari bertanya kepada mereka, tidak demi Allah kami tidak melihat dari mereka seorang pun yang bertanya kepada kalian tentang yang diturunkan kepada kalian”. Dan hadis umum yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud juga, dan disebutkan Ibnu Hajar bahwa dia berkata: “Jangan bertanya kepada Ahli Kitab, karena mereka tidak akan memberi petunjuk kepada kalian dan mereka telah menyesatkan diri mereka sendiri, maka kalian mendustakan kebenaran atau membenarkan kebatilan”.

Hadis-hadis shahih, dan ayat-ayat sharih, semuanya menunjukkan larangan mengambil dari Bani Israil.

Adapun kelompok kedua, yaitu nash-nash yang menunjukkan boleh dan diizinkan mengambil dari Bani Israil, maka juga banyak, di antaranya firman Allah: “Tanyalah kepada Bani Israil berapa banyak bukti yang nyata telah Kami berikan kepada mereka” (Al-Baqarah: 211) dan firman-Nya: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu” (Yunus: 94) dan dari ayat-ayat juga firman-Nya: “Katakanlah: ‘Maka datangkanlah Taurat itu, lalu bacakanlah dia jika kamu memang orang-orang yang benar'” (Ali ‘Imran: 93) ayat-ayat yang sharih. Dan dari hadis-hadis juga hadis-hadis banyak, hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Rasul alaihishshalatu wassalam kadang dipanggil beberapa situasi, maka dia mendengarkan apa yang ada pada orang Yahudi, datang dalam (Musnad Ahmad) hadis: menceritakan kepada kami Ismail, dari Abu Shakhr al-Uqaili, menceritakan kepada kami seorang laki-laki dari orang Arab badui dia berkata: “Datang kafilah perdagangan ke Madinah pada masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketika selesai dari jual beliku aku berkata: Aku akan menemui orang ini, dan aku akan mendengar darinya, dia berkata: maka aku menemui dia bersama Abu Bakar dan Umar berjalan, lalu aku mengikuti mereka di belakang mereka sampai mereka datang kepada seorang laki-laki Yahudi yang membentangkan Taurat membacanya untuk menghibur dirinya karena anaknya yang meninggal, dia memiliki anak yang mengalami sakaratul maut, dan anak itu tampan seperti pemuda yang paling bagus dan paling tampan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Yahudi itu: ‘Aku bersumpah kepadamu dengan Allah yang menurunkan Taurat, apakah kamu dapati dalam kitabmu sifatku dan tempatku keluar’ maka dia berkata -yaitu: orang Yahudi- dengan kepalanya begini -yaitu: tidak- maka anaknya berkata, yang mengalami sakaratul maut, Allah membuatnya berbicara maka dia berkata: Ya, demi Dzat yang menurunkan Taurat sesungguhnya kami dapati dalam kitab kami sifatmu, dan tempatmu keluar wahai Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau utusan Allah, maka Nabi alaihishshalatu wassalam berkata: ‘Jauhkanlah orang Yahudi dari saudara kalian’, kemudian Rasul mengurus kain kafannya dan shalat untuknya”.

Al-Allamah Ibnu Katsir berkata: Ini hadis baik kuat, memiliki syahid dalam Shahih dari Anas. Dan dari hadis-hadis kebolehan hadis yang masyhur sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil, dan tidak mengapa, dan barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah dia menempati tempatnya dari neraka” hadis dalam Al-Bukhari dalam kitab para Nabi.

Jika kita telusuri hadits-hadits, kita melihatnya sangat banyak, maka terbukti dari Abdullah bin Amru bin Ash radiyallahu anhuma bahwasanya dia telah memperoleh pada hari Yarmuk dua karung dari kitab-kitab ahli kitab; yaitu: sekumpulan dari kitab-kitab mereka, maka dia bercerita dari keduanya dengan apa yang dia pahami dari hadits ini yang membolehkan menceritakan dari mereka, hal ini ditulis oleh penulis (Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir) Ibnu Taimiyyah, semua ini menunjukkan pada kebolehan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membolehkan Nabi-Nya untuk bertanya kepada ahli kitab, demikian juga membolehkan umatnya untuk bertanya tentang apa yang telah ditetapkan secara syariat, dan perhatikanlah firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan (cukuplah pula) orang yang mempunyai ilmu Kitab.'” (Ar-Ra’d: 43)

Yang dimaksud dengan “orang yang mempunyai ilmu Kitab” adalah para ulama ahli kitab yang telah masuk Islam, sebagaimana dikatakan oleh mayoritas para mufassir.

Setelah ini ada nash-nash yang melarang, dan ada nash-nash yang menyetujui dan membolehkan, adakah jalan tengah antara nash-nash tersebut?

Ya, sesungguhnya di hadapan kita sekarang ada nash-nash yang membolehkan mengambil dari Bani Israil, berhadapan dengan nash-nash yang melarang mengambil dari Bani Israil karena mereka telah mengubah kalam Allah setelah mereka memahaminya, dan menyembunyikan banyak darinya, dan melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka, nash-nash ini di satu sisi, dan yang itu di sisi lain.

Dan untuk menengahi antara nash-nash ini kami katakan:

Bahwasanya apa yang datang dari mereka yang sesuai dengan syariat kita, maka itu dapat diterima, dan boleh diriwayatkan, dan atas dasar ini dapat ditafsirkan nash-nash Al-Quran yang mengandung kebolehan kembali kepada mereka, demikian juga hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, dan tidak mengapa”

dan berbagai nash lain dalam makna ini. Adapun yang datang menyalahi syariat kita, maka tidak masuk akal untuk ditafsirkan dengan nash-nash syariat yang menunjukkan rujukan kepada mereka dan menceritakan dari mereka; karena apa yang dinukil dari mereka adalah dusta, dan meriwayatkan yang dusta tidak dibolehkan kecuali jika riwayat itu disertai dengan penjelasan dustanya apa yang ada di dalamnya, dan atas dasar ini ditafsirkan hadits-hadits dan ayat-ayat yang menunjukkan larangan mengambil dari ahli kitab, seperti ayat-ayat yang telah kita bicarakan, dan hadits-hadits juga demikian.

Adapun apa yang didiamkan oleh syariat kita, maka tidak ada cara bagi kita untuk memastikan kebenarannya, dan tidak pula untuk mendustainya juga, dan atas dasar itu tidak ada pilihan bagi kita kecuali berhenti dalam perkaranya, dan atas dasar ini berlaku hadits: “Jangan kalian percayai ahli kitab, dan jangan kalian dustakan.”

Setelah ini kita dapat mengatakan: dengan berhenti dari percaya dan dari mendustakan, golongan ketiga yang tidak kita dukung, dan tidak kita tentang, yang didiamkan, apakah boleh diriwayatkan? Israeliyyat yang didiamkan oleh syariat kita, apakah boleh diriwayatkannya?

Kami katakan:

Para ulama berbeda pendapat dalam hal itu, sebagian ulama membolehkan meriwayatkan jenis Israeliyyat ini, di antara ulama yang membolehkan hal tersebut adalah Imam Ibnu Taimiyyah, dan juga menyetujuinya Ustadz Dr. Adz-Dzahabi rahimahullah, di mana Syaikh Adz-Dzahabi berkata: Dan apa yang didiamkan oleh syariat kita, kita berhenti di dalamnya, maka kita tidak memutuskan atasnya dengan benar, dan tidak dengan dusta, dan boleh diriwayatkannya; karena kebanyakan apa yang diriwayatkan dari hal itu kembali kepada kisah-kisah dan berita-berita bukan kepada akidah-akidah dan hukum-hukum, dan meriwayatkannya tidak lain hanyalah sekedar menceritakannya, sebagaimana adanya dalam kitab-kitab mereka, atau sebagaimana mereka ceritakan dengan tidak memandang apakah itu benar atau tidak benar.

Namun sebagian ulama lain berkata: tidak boleh meriwayatkan jenis Israeliyyat ini, di antara mereka adalah Dr. Abdul Wahhab Fayid, dan yang lain akan saya sebutkan sekarang; di mana dia berkata: Namun saya melihat bagian yang didiamkan ini, yaitu yang kita tidak tahu kebenarannya, dan tidak pula dustanya, tidak boleh diriwayatkannya, bahkan harus kita berhenti dalam meriwayatkannya, sebagaimana kita berhenti dalam menerimanya; karena meriwayatkannya memberikan kesan menerimanya dan mempercayainya, dan selama kita telah berhenti dalam menerimanya, maka yang lebih hati-hati adalah kita berhenti juga dalam meriwayatkannya, jadi ukuran dalam penerimaan dan periwayatan adalah satu, yaitu apa yang datang dari nash-nash dalam Al-Quran atau Sunnah, maka apa dari Israeliyyat yang sesuai dengan itu kita terima dan kita bolehkan periwayatannya, dan apa yang menyalahi hal itu kita tolak mengambilnya, dan kita batalkan periwayatannya, dan apa yang didiamkan dalam agama kita; sehingga tidak ada dalam nash-nash Al-Quran atau Sunnah yang menyetujuinya, dan tidak ada yang menyalahinya, kita berhenti dalam menerimanya; mengamalkan hadits yang mulia, dan saya melihat juga bahwa kita berhenti dalam meriwayatkannya sebagai qiyas atas berhentinya kita dalam menerimanya dan untuk menutup pintu fitnah.

Dan yang benar bahwa jiwa condong kepada tidak meriwayatkan Israeliyyat sama sekali, saya condong kepada pendapat ustadz kita Dr. Abdul Wahhab Fayid; karena riwayat-riwayat yang didiamkan oleh syariat kita, maka yang lebih utama adalah kita diam juga tentangnya, maka kita tidak mendukung apa yang dilakukan oleh banyak mufassir yang mendatangkan Israeliyyat yang didiamkan, dan menafsirkan dengannya nash Al-Quran, karena hal itu memberikan kesan atau berarti perincian untuk yang global atau penjelasan untuk yang samar, dan ini bertentangan juga dengan hadits: “Jangan kalian percayai ahli kitab, dan jangan kalian dustakan.”

Kami katakan juga: tidak ada pertentangan antara kenyataan riwayat Israeliyyah shahih sanadnya atau hasan atau tsabit, dengan kenyataannya dari israeliyyat Bani Israil dan khurafat mereka, maka dia shahih sanad sampai kepada Ibnu Abbas atau kepada Abdullah bin Amru bin Ash, atau kepada Mujahid atau Ikrimah atau Said bin Jubair, namun dia tidak diterima dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak langsung, dan tidak pula dengan perantara, melainkan dia diterima dari ahli kitab yang masuk Islam, maka ketetapannya kepada orang yang diriwayatkan darinya adalah satu hal, dan kenyataannya dusta dalam dirinya atau batil atau khurafat adalah hal lain.

Sebagian hadits yang di dalamnya ada kecocokan dan di dalamnya ada penyimpangan di masa lalu:

Kami katakan: bahwasanya hadits yang disebutkan Jabir di masa lalu, dan yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya mereka membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya, kita ingin memberikan pandangan sekilas, hadits yang diriwayatkan Jabir, dan yang berfaedah larangan kaum muslimin dari bertanya kepada ahli kitab, sebab larangan Rasul shallallahu alaihi wa sallam dari hal itu adalah bahwa budaya-budaya ahli kitab tidak dapat dipercayai; karena mereka telah mengubah kalam dari tempatnya, dan mengganti kitab-kitab yang Allah turunkan kepada rasul-rasul mereka, dan di dalamnya ada kekacauan dan di dalamnya ada kebingungan, maka larangan ini hanyalah dalam bertanya kepada mereka tentang apa yang tidak ada nashnya; karena syariat kita mencukupi dirinya sendiri, sempurna dan menguasai, tidak kurang sesuatu darinya, maka jika tidak ditemukan di dalamnya nash, maka dalam pemikiran dan pengambilan dalil ada yang cukup dari bertanya kepada mereka, yang dimasuki oleh sebagian.

Adapun hadits Abu Hurairah yang berfaedah bahwa ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani, dan menafsirkannya dengan bahasa Arab, dan bahwa Rasul alaihish shalatu was salam memerintahkan kaum muslimin untuk tidak membenarkan mereka, dan tidak mendustakan mereka, maka dimaksudkan darinya adalah berhenti dalam apa yang diceritakan oleh ahli kitab dari apa yang mungkin benar dan mungkin dusta; karena tidak mudah bagi kita untuk membedakan dalam apa yang ada pada mereka antara yang selamat dari perubahan dan selainnya, dan karena itu Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Dan dikhususkan larangan ini dalam hadits ini dengan sabdanya: “Jangan kalian percayai ahli kitab, dan jangan kalian dustakan” sampai akhirnya, dan karena itu mengingatkan hal ini Imam Syafii juga maka dia berkata: Dan atas dasar ini kita tafsirkan apa yang datang dari salaf tentang hal itu.

Adapun hadits yang dikeluarkan Bukhari dari Abdullah bin Amru, dan yang berfaedah bahwa Nabi membolehkan kaum muslimin untuk menceritakan dari Bani Israil, maka kebolehan ini setelah kaum muslimin menjadi tidak dikhawatirkan atas mereka dari apa yang ada pada ahli kitab dari berita-berita mereka, dan kebolehan bercerita tentang Bani Israil hanyalah tertuju kepada yang didiamkan dalam syariat kita, dan mungkin benar dan mungkin dusta, dan atas dasar itu ditafsirkan hadits Abdullah bin Amru dari dua karung yang dia peroleh dua kitab yang dia temukan pada hari Yarmuk, adapun apa yang dipastikan kebenarannya atau dustanya, maka tidak ditafsirkan atas izin ini.

Dan Syafii rahimahullah berkata: Yang diketahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak membolehkan bercerita dengan dusta, maka sabdanya: “Ceritakanlah dari Bani Israil” yaitu: dengan apa yang kalian tidak tahu dustanya, dan adapun apa yang kalian perbolehkan, maka tidak mengapa bagi kalian dalam bercerita dengannya dari mereka, dan dia serupa dengan sabdanya: “Jika ahli kitab menceritakan kepada kalian maka jangan kalian percayai mereka, dan jangan kalian dustakan” dan tidak kembali izin dan tidak pula larangan dari bercerita dengan apa yang dipastikan kebenarannya.

Dari apa yang terdahulu kita simpulkan bahwa hukum bertahap dari larangan kepada berhenti, kemudian kepada izin dengan bercerita dari mereka dalam apa yang tidak diketahui kebenarannya atau dustanya, dan setiap tahap dari tahap-tahap ini ada yang mengajak kepadanya, Al-Allamah Ibnu Hajar berkata, menengahi antara ketiga tahap itu: Dan seolah-olah larangan terjadi sebelum ketetapan hukum-hukum Islam dan kaidah-kaidah agama; karena takut fitnah, kemudian ketika hilang yang dilarang terjadi izin dalam hal itu karena apa yang ada dalam mendengar berita-berita yang ada di zaman mereka dari pelajaran. Dan dari perkataan Ibnu Hajar dapat dipahami bahwa larangan dari kembali kepada ahli kitab adalah hal itu di permulaan Islam; karena takut fitnah dan kekacauan, dan bahwa izin dan kebolehan adalah setelah ketetapan pokok-pokok syariat Islam, dan hilangnya yang dilarang, jadi tidak ada pertentangan antara nash-nash ini, wallahu a’lam.

Dan Dr. Muhammad Abu Zahrah berkata: Dan sebagian mereka melihat bahwa makna hadits Ibnu Umar: “Ceritakanlah dari Bani Israil” dengan apa yang terbukti pada kalian dustanya dalam nasihat dan kisah-kisah, bukan dalam akidah dan hukum, dan memahami hadits atas makna ini; yaitu: bercerita dari Bani Israil dengan apa yang tidak diketahui dustanya, dan tidak pula kebenarannya dalam nasihat dan kisah-kisah, adapun yang diketahui dustanya maka harus dinashkan atasnya, ya apa yang tidak terbukti dustanya pada kita dua macam:

Pertama: apa yang terbukti kebenarannya, dan ini boleh diceritakan dengan kesepakatan, dan tidak sepatutnya dikhususkan dengan nasihat dan kisah-kisah.

Dan kedua: apa yang tidak terbukti kebenarannya dan tidak pula dustanya, dan tidak ada faedah kembali kepada kaum muslimin dari bercerita dengan jenis ini, maka syariat kita di dalamnya ada kecukupan, dan kita tidak membutuhkan kepada seperti ini, dan demikian condong kepada pendapat ini fadhilah Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah karena sesungguhnya dia melihat tidak menyelami hal itu; menjaga kitab-kitab kita dan warisan kita dari apa yang dipahami bahwasanya benar, dan bukan demikian. Wallahu a’lam.

Kisah Musa alaihis salam dengan putri-putri Syuaib, dan apa yang datang dalam penentuan nama-nama mereka

Contoh-contoh dari Israeliyyat:

Kisah Musa alaihis salam:

Sesungguhnya dalam kisah-kisah Musa dalam Al-Quran ada pelajaran-pelajaran dan ibrah yang banyak, sebagaimana kitab-kitab tafsir memuat banyak dari Israeliyyat yang harus dijelaskan terlebih karena Musa adalah nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Quran yang mulia, dan dia dengan ini memiliki situasi-situasi yang sangat banyak, dan setiap situasi dia memiliki di dalamnya manhaj dakwah dan manhaj hidayah, dan Al-Quran yang mulia hanya menyebutkan hal itu untuk umat Islam; agar kita mengambil darinya pelajaran dan ibrah, sebagaimana firman Rabb kita:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)

Di antara situasi-situasi yang datang dalam urusan Musa dan di dalamnya ada pelajaran-pelajaran dan nasihat, sebagaimana juga di dalamnya banyak dari Israeliyyat dalam tafsir, pelajaran-pelajaran dan nasihat dari ayat-ayat, namun tafsir tidak kosong dari Israeliyyat.

Kisah Musa alaihis salam dengan putri-putri Syuaib:

Ayat-ayat dalam hal ini adalah firman Allah Jalla wa Ala:

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu untuk memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita (yang dialaminya), bapak itu berkata: “Jangan kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim”. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia (Syuaib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Berkata Musa: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu; mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.” (Al-Qashash: 25-28)

Ayat-ayat di dalamnya ada pelajaran yang banyak dan nasihat, maka Musa yang kuat lagi amanah, dan sifat malu dari putri-putri Syuaib, dan pernikahan Musa dengan salah satu dari keduanya, dan ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun” adalah upah dan mahar bahwa Musa bekerja pada ayah gadis itu delapan tahun, maka jika dia menyempurnakan sepuluh, maka ini dari dirinya.

Dan pelajaran-pelajaran jelas dalam ayat-ayat, namun kitab-kitab tafsir masuk ke dalamnya sebagian Israeliyyat dalam hal ini, maka Imam Nasafi dan Abu Suud dan Ibnu Jarir dan selain mereka berkata bahwa mertua Musa adalah Syuaib alaihis salam dan Ibnu Katsir berkata: Dan ini yang menjadi pendapat banyak mufassir, dan Thabari berkata meriwayatkan dari Hasan: mereka berkata: Syuaib sahabat Musa, namun dia adalah pemimpin ahli air pada waktu itu. Dan dijawab tentangnya: bahwasanya Syuaib alaihis salam adalah sebelum zaman Musa dengan masa yang panjang, karena dia berkata kepada kaumnya: “Dan kaum Luth itu tidak jauh dari kamu” (Hud: 89) dan sungguh telah terjadi kebinasaan kaum Luth di zaman Khalil Ibrahim alaihis salam dengan nash Al-Quran yang mulia, dan sungguh diketahui bahwasanya antara Musa dan Khalil Ibrahim ada masa panjang lebih dari empat ratus tahun, sebagaimana disebutkan lebih dari satu.

Dan apa yang dikatakan: bahwasanya Syuaib hidup masa yang panjang, hanyalah kehati-hatian dari masalah ini, dan datang dalam riwayat Hasan: namun dia adalah pemimpin ahli air pada waktu itu, bagaimana bisa Syuaib alaihis salam menjadi pemimpin ahli air, dan kedua putrinya menunggu tanpa minum hingga para penggembala pulang; yaitu: mereka kembali dengan ternak mereka dan menginginkan minumnya, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.” (Al-Qashash: 23)

Di antara jawaban juga: seandainya mertua Musa alaihis salam adalah Syuaib maka tidak akan menunggu kedua putrinya minum hingga selesai para penggembala dan pulang, dan dia memiliki keluarga besar, Allah Ta’ala berfirman: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih mulia di sisimu dari pada Allah” (Hud: 92).

Di antara jawaban juga: tidak disebutkan hadits shahih, dan tidak ada nash qath’i yang berfaedah bahwasanya Syuaib ini yang adalah rasul alaihish shalatu was salam adalah mertua Musa alaihis salam semua yang datang di dalamnya tidak kuat sampai derajat pertimbangan dalam masalah seperti ini, dan tidak cukup di dalamnya dengan kemashuran, dan banyaknya pengambilan mufassirin dengannya; karena hal itu saja tidak cukup, dan yang diandalkan atas hal itu adalah nukilan shahih dari sumber-sumber yang diandalkan secara syariat, yaitu Kitab dan Sunnah.

Perkataan yang memutuskan dalam masalah ini: jika pembicaraan yang telah disebutkan tadi tidak ada faedah yang banyak di dalamnya, kenyataan Syuaib adalah rasul yang Allah utus, dan disebut namanya dalam Al-Quran yang mulia di antara dua puluh lima rasul atau bukan selainnya, yaitu: masalah tidak ada faedah banyak dari belakangnya, namun Al-Allamah Ibnu Jarir Thabari melihat berkata: berhenti dalam penentuan mertua Musa alaihis salam adalah yang terbaik, dan itu yang paling selamat, dan ini adalah pendapat Ibnu Jarir, di mana dia berkata: bahwasanya penentuan mertua Musa termasuk apa yang tidak dapat dicapai ilmunya kecuali dengan berita, dan tidak ada berita dengan hal itu yang wajib hujjahnya, maka tidak ada pendapat dalam hal itu yang lebih utama dengan kebenaran dari apa yang dikatakan Allah Jalla Tsanauhu: “sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya” dan dipahami bahwasanya dia adalah lelaki shalih, namun namanya tidak terbukti darinya dari sumber yang shahih.

Dan adapun atsar yang disebutkan Imam Nasafi dari Ibnu Masud radiyallahu anhu: maka telah meriwayatkannya Al-Hafizh Ibnu Katsir seperti ini: Sufyan Ats-Tsauri berkata: dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Masud radiyallahu anhum berkata: Orang yang paling berfirasat adalah tiga: Abu Bakar ketika berfirasat pada Umar, dan sahabat Yusuf ketika berkata: “Muliakanlah tempat tinggalnya” (Yusuf: 21) dan sahabat Musa ketika berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai pekerja, karena sesungguhnya sebaik-baik orang yang kamu ambil bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Dan itu yang sesuai dengan kebenaran; karena sesungguhnya tanpa penentuan nama ayahnya.

Apa yang datang dalam kitab-kitab tafsir tentang penentuan nama-nama putri Syuaib, apakah datang dalam penamaan mereka nash yang dapat diandalkan?

Kebenaran yang Disebutkan Para Mufasir tentang Nama Putri Syu’aib

Sesungguhnya para mufasir, di antaranya Imam An-Nasafi, menyebutkan bahwa yang sulung namanya Shafraa’, dan yang bungsu Shufairaa’, dan bahwa Musa alaihissalam menikahi Shafraa’ yang sulung. Demikian yang disebutkan An-Nasafi, akan tetapi apa yang disebutkan Imam An-Nasafi ini bertentangan dengan apa yang diriwayatkan Ath-Thabari melalui jalur Ibnu Juraij dari Syu’aib Al-Juba’i, dia berkata: nama kedua gadis itu adalah Liya dan Shafura, dan istri Musa adalah Shafura binti Yitsrun, rahib Madyan, dan rahib adalah pendeta. Sebagaimana Ath-Thabari juga meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dengan redaksi yang mirip, dan dia berkata: bahwa nama yang kedua adalah Syarfa dan dikatakan juga Liya.

Yang lebih tepat dalam hal ini adalah tidak menentukan nama kedua gadis tersebut, karena jalur-jalur riwayat penentuan namanya tidak shahih sehingga tidak terbukti. Dan sesungguhnya Ibnu Juraij dan Ibnu Ishaq telah kita sebutkan sebelumnya bahwa keduanya meriwayatkan Israiliyyat. Dan jika Al-Quran Al-Karim tidak menentukan nama salah satu dari keduanya, maka wajib bagi kita untuk tidak membahas apa yang tidak disebutkan Al-Quran, dan kita berhenti pada apa yang digambarkan secara global oleh Al-Quran Al-Karim, karena tidak ada faedah dan manfaat dari membahas dan berlebih-lebihan, atau mencari dan menyelidiki di balik apa yang digambarkan secara global oleh Al-Quran Al-Karim. Pelajaran dan hikmah ada dalam apa yang digambarkan secara global, dan tidak ada faedah dari menyelidiki detail-detail apa yang digambarkan secara global atau menjelaskan apa yang disamarkan Al-Quran Al-Karim, karena di dalamnya terdapat pelajaran dan ibrah.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada sayyidina Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya, dan Allah lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran 5: Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (3)

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Kelima (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (3))

Kisah Tongkat Musa Alaihissalam dan Masalah Dua Masa

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberikan shalawat kepada sayyidina Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarga serta seluruh sahabatnya, amma ba’du:

Kami sebutkan bahwa kitab-kitab tafsir yang memperhatikan Israiliyyat, atau menyebutkannya baik dengan niat baik maupun tanpa sengaja, adalah: Ibnu Jarir Ath-Thabari, (Ma’alim At-Tanzil) karya Al-Baghawi, (Lubab At-Tanzil) karya Al-Khazin, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Abu As-Su’ud, An-Nasafi. Kitab-kitab ini, meskipun Ibnu Katsir adalah yang paling unggul dan terbaik di antaranya karena dia memberikan komentar pada banyak hal yang disebutkan dan meneliti banyak riwayat, namun sebagian besar yang terdapat dalam kitab-kitab ini masih memerlukan penyaringan.

Riwayat-riwayat tentang Tongkat dengan Menantu Musa Alaihissalam

Terdapat dalam tafsir An-Nasafi: bahwa Musa alaihissalamlah yang mengambil tongkat setelah mengembalikannya tujuh kali, dan bahwa tongkat ini diwariskan para nabi hingga sampai kepada Syu’aib alaihissalam yang buta matanya, maka ketika dia menyentuhnya Allah memberinya hidayah dan memuliakan dia dengannya, dan bahwa dia kikir dengannya alaihissalam.

Dan dalam riwayat Ath-Thabari: bahwa tongkat itu dititipkan seorang malaikat dalam wujud manusia kepada Syu’aib, dan bahwa yang memberikan tongkat kepada Musa adalah putri Syu’aib. Dan dalam riwayat lain dari Ath-Thabari: bahwa tongkatlah yang terbang kepada Musa, bukan Musa atau putri Syu’aib yang mengambilnya atau memberikannya kepadanya. Dan ini adalah riwayat Muqatil pada Ats-Tsa’labi dalam kisah-kisahnya. Dan ada riwayat ketiga lainnya pada Ath-Thabari: bahwa yang memberikan tongkat kepada Musa adalah Jibril alaihissalam.

Tidak diragukan bahwa pertentangan riwayat-riwayat ini dan perbedaannya menunjukkan kebatilannya. Dan kita dapat mengatakan:

Sesungguhnya pembatalan riwayat-riwayat ini datang dari beberapa segi: riwayat-riwayat ini semuanya dhaif. Riwayat An-Nasafi melalui jalur Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi yang dikenal lemah, dan riwayat Ath-Thabari yang pertama dari jalur As-Suddi yang juga lemah, dan riwayat-riwayat lainnya datang melalui jalur keduanya. Dan kedua perawi ini terkenal meriwayatkan Israiliyyat.

Sebagaimana riwayat Imam An-Nasafi menyebutkan bahwa Syu’aib itu buta, dan dalam hal ini terdapat penggambaran para nabi dengan apa yang tidak pantas bagi mereka, karena kebutaan adalah kekurangan manusiawi, sedangkan para nabi terbebas dari setiap kekurangan manusiawi, karena mereka diutus kepada manusia, dan sudah pasti mereka harus memiliki kecerdasan, penyampaian, kejujuran, amanah, dan bentuk mereka harus dapat diterima dan baik, tidak merusak penyampaian risalah mereka.

Ketiga: kami katakan: sesungguhnya terdapat dalam riwayat An-Nasafi bahwa Musa alaihissalam mengetahui nilai tongkat, dan datang dalam tafsir firman Allah Ta’ala: {Dan bagiku padanya ada keperluan-keperluan yang lain} (Thaha: 18) bahwa Musa alaihissalam ketika menyebutkan sebagian keperluan sebagai ucapan syukur, dia menyederhanakan yang lainnya karena malu untuk memperpanjang, atau agar ditanya tentangnya oleh Raja Yang Maha Mengetahui sehingga menambah kemuliaan. Dan keperluan-keperluan lain adalah bahwa tongkat itu menemaninya, berbicara dengannya, memerangi musuh dan binatang buas, menjadi tali ember sehingga memanjang sepanjang sumur yaitu seperti tali yang diturunkan untuk mengambil air dengan ember, dan kedua cabangnya menjadi ember, dan menjadi dua lilin di malam hari dan membawa bekalnya. Dan dia menancapkannya maka berbuah buah yang dia inginkan, dan dia menancapkannya maka memancar air, maka jika dia mengangkatnya air surut, dan tongkat itu melindunginya dari binatang berbisa.

Ini adalah pemaksaan yang sulit dan ta’assuf yang sangat keras, karena jika demikian halnya, mengapa Musa alaihissalam mengingkari tongkat itu menjadi ular, atau ular yang meluncur, atau jin, sebagaimana dia lari darinya dengan terburu-buru dan berpaling membelakangi.

Jadi semua itu dari Israiliyyat yang dinukil dari ahli berita dan kisah, demikian pula ucapan mereka: bahwa tongkat itu milik Adam alaihissalam atau diberikan kepadanya oleh Jibril alaihissalam. Dan juga antara apa yang disebutkan Imam An-Nasafi tentang tongkat dan apa yang datang dalam Al-Quran Al-Karim terdapat pertentangan yang jelas, yaitu dalam firman Allah Ta’ala: {Dan apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa? Dia menjawab: “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku padanya ada keperluan-keperluan yang lain.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Maka dia melemparkannya, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap. Allah berfirman: “Ambillah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula. Dan dekapkan tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar putih tanpa cacat (sebagai) mukjizat yang lain, supaya Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”} (Thaha: 17-23)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Musa alaihissalam tidak mengetahui rahasia apa yang ada dalam tongkat, dan dia baru mengetahui hal itu setelah melemparkannya dengan perintah Tuhannya, dan ketika berubah menjadi ular yang merayap dia takut darinya, maka Allah menenangkannya.

Dan kenyataan bahwa tongkat adalah ayat dari ayat-ayat besar Allah membatalkan semua yang disebutkan tentangnya dari riwayat-riwayat, maka sesungguhnya tongkat adalah tongkat biasa sama sekali, dan bukan sebagaimana mereka gambarkan. Dan mereka telah menggambarkan dan mendeskripsikannya dengan semua sifat-sifat ini yang tidak dapat dibayangkan sebelum Allah mewahyukan kepada Musa alaihissalam. Dan tongkat menjadi ayat dan mukjizat bagi Musa setelah wahyu, sebagaimana ada perbedaan antara dua kedudukan sebagaimana datang dalam keadaan Musa dan tongkat dalam surat An-Naml dan Al-Qashash.

Imam An-Nasafi berkata tentang keperluan-keperluan: sesungguhnya kedua cabang tongkat menjadi dua lilin di malam hari, maka jika demikian halnya mengapa Musa berkata kepada keluarganya: {Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari sana atau (membawa) bara api supaya kamu dapat menghangatkan badan.} (Al-Qashash: 29).

Masalah Dua Masa:

Masa yang mana yang digenapi Musa alaihissalam dengan menantunya?

Yang tampak dari nash Al-Quran Al-Karim bahwa Musa menggenapi masa yang paling jauh yaitu sepuluh tahun di rumah menantunya, dan ini yang ditunjukkan oleh ayat: {Maka tatkala Musa telah menyelesaikan masa (yang ditetapkan) dan ia berjalan dengan keluarganya, ia melihat api dari arah gunung Thur} (Al-Qashash: 29). Ayat menyebutkan kalimat ini, dan diatah’afkan dengan fa’, dan fa’ untuk tartib (urutan) dan ta’qib (mengiringi), artinya: setelah berakhirnya masa tersebut Musa berjalan dengan keluarganya. Dan telah disebutkan padanya berita-berita mauquf kepada Ibnu Abbas yang menunjukkan hal ini.

Adapun apa yang disebutkan Imam An-Nasafi dari Wahab bin Munabbih dia berkata: Musa tinggal di rumah Syu’aib dua puluh delapan tahun, sepuluh tahun di antaranya dia menikah dengan Shafura, dan dia tinggal di rumahnya delapan belas tahun setelahnya, hingga lahir baginya anak-anak. Maka jelas bahwa ini dari Israiliyyat yang tidak kita butuhkan, dan tidak sesuai dengan nash Al-Quran.

Setelah itu, putri yang mana yang dinikahi Musa alaihissalam?

Datang riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Musa alaihissalam menikahi yang bungsu, tetapi riwayat-riwayat itu lemah, dan yang lebih tepat adalah bahwa Musa alaihissalam menikahi salah satu dari kedua putri syaikh tua itu, dan Allah lebih mengetahui apakah dia yang bungsu atau yang sulung.

Beberapa Sikap Musa Alaihissalam dengan Fir’aun

Sikap lain dengan Musa dan Fir’aun, dan apa yang terjadi dari sikap-sikap antara keduanya dan tongkat serta ular yang nyata… dan seterusnya:

Israiliyyat dalam kisah Musa dengan Fir’aun mulai dari pertemuan pertamanya dengannya hingga menyeberangi laut dengan Bani Israil: dalam firman Allah Ta’ala: {Fir’aun berkata: “Jika kamu datang dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat), maka datangkanlah tanda itu jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata. Dan dia mengeluarkan tangannya maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.} (Al-A’raf: 106-108).

Datang riwayat-riwayat tentang ular yang menyatakan bahwa dia jantan yang menganga mulutnya, antara kedua rahangnya delapan puluh hasta, meletakkan rahang bawah di tanah dan yang atas di benteng istana, lalu menghadap Fir’aun maka dia lari dan buang air besar padahal dia tidak pernah buang air besar sebelum itu, dan menyerang orang-orang maka mati dari mereka dua puluh lima ribu, sebagian membunuh sebagian lainnya, dan Fir’aun berteriak: wahai Musa wahai Musa ambillah dia, dan aku beriman kepadamu, maka Musa mengambilnya, lalu kembali menjadi tongkat.

Ucapan yang disebutkan dalam An-Nasafi dan Al-Kasysyaf serta kitab-kitab tafsir, dan tidak diragukan bahwa ini semua riwayat Israiliyyat, dan Al-Quran Al-Karim di dalamnya cukup dari Israiliyyat seperti ini.

Dan kamu lihat juga dari yang dinukil, Wahab bin Munabbih berkata: ketika Musa masuk menemui Fir’aun, Fir’aun berkata kepadanya: apakah aku mengenalmu? Dia berkata: ya, dia berkata: bukankah kami telah membesarkanmu di antara kami sebagai anak kecil? Dia berkata: maka Musa membalas kepadanya apa yang dia balas. Fir’aun berkata: tangkap dia, maka Musa mendahuluinya dan melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menjadi ular yang nyata, maka menyerang orang-orang lalu mereka lari darinya, maka mati dari mereka dua puluh lima ribu, sebagian membunuh sebagian lainnya, dan Fir’aun berdiri lari hingga masuk rumah.

Semua ini ucapan yang Ibnu Katsir katakan tentangnya: di dalamnya ada keanehan dalam susunannya. Dan riwayat ini Israiliyyat karena sesungguhnya di antara perawinya As-Suddi, dan dia dikenal dengan kedustaan.

Putihnya Tangan Musa Alaihissalam:

Datang padanya ucapan banyak, Imam An-Nasafi menyebutkan bahwa putihnya tangan Musa mengalahkan sinar matahari, dan ini dari Israiliyyat, dan cukup apa yang disebutkan Al-Quran Al-Karim bahwa ia: {putih tanpa cacat} (Thaha: 22).

Israiliyyat dalam Isra’ Musa dengan Bani Israil, ke Mana Mereka Pergi, Bagaimana Keadaan Loh-loh Taurat, dan Ucapan tentang Marah Musa Alaihissalam

Ayat-ayat, Allah Ta’ala berfirman: {Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan hamba-hamba-Ku, karena sesungguhnya kamu akan dikejar.” Kemudian Fir’aun mengirim orang ke kota-kota (untuk mengumpulkan tentaranya), (seraya berkata): “Sesungguhnya mereka itu benar-benar golongan yang sedikit, dan sesungguhnya mereka benar-benar telah membuat kita marah, dan sesungguhnya kita benar-benar semuanya orang-orang yang berjaga-jaga.”} (Asy-Syu’ara: 52-56).

Datang riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa tentara Musa adalah enam ratus tujuh puluh ribu, dan dari Adh-Dhahhak tentara itu tujuh ribu ribu (tujuh juta), dan diriwayatkan bahwa tentara itu satu juta tujuh ratus ribu. Ibnu Katsir berkata: riwayat-riwayat ini dari Israiliyyat yang tidak ada faedahnya, sesungguhnya pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa tentara Musa lebih sedikit dari tentara Fir’aun, karena Allah Azza wa Jalla berfirman atas lisan mereka: {Sesungguhnya mereka itu benar-benar golongan yang sedikit, dan sesungguhnya mereka benar-benar telah membuat kita marah, dan sesungguhnya kita benar-benar semuanya orang-orang yang berjaga-jaga.}

Lihatlah Israiliyyat yang banyak yang kita tidak membutuhkannya, tetapi dijejalkan ke dalam kitab-kitab tafsir.

Israiliyyat dalam Loh-loh Taurat:

Allah Ta’ala berfirman: {Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada loh-loh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu, maka (Kami berfirman): “Ambillah (loh-loh itu) dengan sungguh-sungguh dan suruhlah kaummu mengambil (mengamalkan) yang sebaik-baiknya. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.”} (Al-A’raf: 145) dan ada ayat-ayat lain dengan makna yang sama.

Datang padanya ayat-ayat tentang jumlah loh-loh, dan Allah Subhanahu berfirman: {Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada loh-loh segala sesuatu} ayat ini bersifat global dan umum, tetapi riwayat-riwayat Israiliyyat menyatakan bahwa jumlahnya sepuluh, dan dikatakan tujuh, dan dikatakan dari jenis zamrud, dikatakan dari kayu, dan dikatakan Taurat diturunkan dan ia tujuh puluh beban unta yaitu muatan unta, Taurat dibawa oleh tujuh puluh unta. Ucapan yang berlebih-lebihan, kemudian mereka berkata: tidak ada yang membacanya secara lengkap kecuali empat orang: Musa, Yusya’, Uzair, dan yang lainnya.

Dan Ibnu Juraij berkata: loh-loh itu dari zamrud, Allah memberikannya kepada Jibril hingga dia datang dengannya dari tiada, dan menulisnya dengan pena yang dengannya ditulis dzikir, dan mengambil tinta dari sungai cahaya. Semua ini Israiliyyat.

Dan apa yang diriwayatkan bahwa Taurat diturunkan dan ia tujuh puluh beban unta dan seterusnya diriwayatkan Rabi’ bin Anas, demikian kata Syaikh Muhammad Abu Syuhbah dalam kitabnya (Al-Israiliyyat wal Maudhu’at).

Dan tahqiq bahwa semua riwayat ini Israiliyyat yang dibawa darinya oleh siapa yang membawanya seperti Al-Hasan Al-Bashri dengan niat baik, dan Ibnu Juraij, As-Suddi, dan yang lainnya, dan yang lainnya, dan semuanya riwayat lemah dan di antara keduanya terdapat pertentangan, dan di antara keduanya ada perbedaan dan pertentangan.

Kamu lihat misalnya riwayat-riwayat tentang dari apa dibuat loh-loh ini, dan bagaimana ditulis, dan berapa jumlahnya, dan berapa beratnya hingga menjadi beban tujuh puluh unta? Kemudian Taurat dan loh-loh dengan kadar yang sangat besar yang dibawa tujuh puluh unta, dan tidak dibaca kecuali oleh empat orang!!

Dan berdasarkan ini maka penelitian dalam semua itu tidak ada gunanya, dan kita harus beriman dengan apa yang datang dalam Al-Quran dari topik ini sebagaimana dinyatakan oleh ayat.

Apakah Musa Mematahkan Loh-loh dalam Kemarahannya dan Melemparkannya?

Ayat dalam hal ini berbicara dengan apa yang berikut: {Dan tatkala Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah ia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudahku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan ia lemparkan loh-loh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya.} (Al-A’raf: 150)

Ini kemarahan Musa, tetapi riwayat-riwayat yang disebutkan menyatakan bahwa ketika dia melemparkan loh-loh itu pecah maka terangkat enam per tujuhnya, dan tinggal darinya satu per tujuh, dan dalam apa yang terangkat terdapat penjelasan segala sesuatu, dan dalam apa yang tinggal terdapat hidayah dan rahmat. Tafsir An-Nasafi dan Ath-Thabari dan yang lainnya.

Sesungguhnya apa yang diriwayatkan An-Nasafi dalam riwayat ini semuanya dari Israiliyyat. Mengapa?

Pertama: karena Ibnu Ishaq dan dia pemilik riwayat pada Ath-Thabari dikenal meriwayatkan Israiliyyat.

Kedua: Bagaimana bisa terangkat rincian segala sesuatu dalam enam per tujuh bagian loh-loh, padahal hal itu adalah segala sesuatu yang dibutuhkan Bani Israil dalam agama mereka berupa nasihat-nasihat dan rincian hukum-hukum. Al-Quran telah membuktikan kebatilan riwayat ini dengan firman-Nya: “Dan tatkala amarah Musa telah reda, ia mengambil loh-loh itu, dan dalam suratannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (Al-A’raf: 154). Loh-loh ini disebutkan dengan alif lam (kata sandang), maka alif lam di sini disebutkan pada kata loh-loh sebagai kata yang didefinisikan dengan alif lam, dan dalam firman Allah Taala pada ayat lain: “Dan telah Kami tuliskan untuk dia (Musa) di dalam loh-loh segala sesuatu” dan dalam firman-Nya: “dan ia melemparkan loh-loh itu” dan dalam: “ia mengambil loh-loh itu” semuanya dengan alif lam. Apabila suatu kata diulang dalam bentuk definit, maka yang kedua adalah sama dengan yang pertama. Jadi Musa alaihissalam mengambil seluruh loh-loh, bukan sebagiannya saja, dan firman-Nya: “petunjuk dan rahmat” mencakup seluruh isi loh-loh berupa syariat-syariat, nasihat-nasihat dan lainnya, kalau tidak demikian apa makna petunjuk dan rahmat?!

Ketiga: Bagaimana bisa terangkat rincian segala sesuatu padahal Allah Taala telah berfirman: “Mengapa mereka (orang-orang Yahudi) memohon keputusan kepadamu, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya terdapat hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu, dan mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman * Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim dalam agama dan pendeta-pendeta, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir * Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya.” (Al-Maidah: 43-45).

Kisah Pernikahan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan Zainab binti Jahsy

Kisah pernikahan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan Zainab binti Jahsy, putri bibinya alaihishalatu wassalam, dan radhiyallahu taala anha:

Kisah ini yang diriwayatkan para mufasir mengandung israiliyyat yang tidak dapat diterima karena di dalamnya terdapat hal yang bertentangan dengan kemakshuman para nabi, terdapat hal yang mencela akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang seharusnya beliau sifati dengan kejujuran, amanah, dan kemakshuman. Adapun ayat-ayatnya adalah firman Allah Subhanahu: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan yang telah kamu beri nikmat (kepadanya): ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Al-Ahzab: 37).

Sebagian mufasir meriwayatkan: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat Zainab, memandangnya setelah dia menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah dan mengangkatnya sebagai anak setelah memerdekakannya, maka Zainab jatuh hati kepadanya, lalu beliau berkata: “Mahasuci Dzat yang membolak-balik hati” dan itu karena hatinya dulu menolaknya, tidak menginginkannya. Mereka juga menyebutkan bahwa Rasul suatu hari keluar hendak menemui Zaid, dan di pintu ada tirai dari bulu yang diangkat angin sehingga terbuka Zainab binti Jahsy ketika dia berada di kamarnya dalam keadaan bertelanjang dada; maka kekaguman terhadapnya jatuh ke hati Nabi, Mahasuci beliau shallallahu alaihi wasallam.

Kisah batil ini yang disebutkan sebagian mufasir mengenai hal ini tidak lain adalah kebohongan-kebohongan, kebatilan dan israiliyyat. Jika kita meneliti masalah ini, kita akan mengetahui bahwa yang menjadi penyebab serangan orientalis terhadap Islam dan Rasul ini pada asalnya kembali kepada Yuhanna Ad-Dimasyqi, seorang Nasrani yang hidup pada akhir abad pertama dan awal abad kedua hijriah. Orang ini memutuskan untuk menyebarkan israiliyyat ini, dan dia hidup pada masa Abdul Malik bin Marwan dengan nama Arab Manshur. Orang ini yang pertama kali menyusupkan fitnah tentang apa yang disebarkan orang setelahnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam jatuh cinta kepada Zainab binti Jahsy. Fitnah ini tersebar dan beredar di kalangan tabi’ut tabi’in hingga sampai pada lisan Qatadah yang dinisbatkan kepadanya, dan Ibn Jarir At-Thabari menyebutkannya dan mufasir lain mengutipnya darinya sehingga menjadi fitnah terbesar, padahal itu bertentangan dengan susunan ayat dan kemakshuman nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam serta akhlaknya.

Tidak ada satupun dari hal ini yang shahih dalam kitab-kitab shahih, dan tidak ada yang menisbatkan sejarah ini kepada seseorang dengan jalan yang dapat diterima. Yuhanna ini adalah seorang Nasrani yang mahir dalam perdebatan dan diskusi, dan dia mampu dengan perdebatan dan diskusinya mengalahkan sebagian kaum muslimin awam dengan dalil-dalil palsu dari israiliyyat. Dari dalil-dalil israiliyyah ini dia menyusupkan kisah bohong ini dengan membandingkannya dengan apa yang dinisbatkan secara bohong dan dusta kepada Daud alaihissalam bahwa dia menyingkirkan Uriya setelah mencintai istrinya hingga dia terbunuh lalu menikahinya. Semua itu adalah rekayasa murahan terhadap rasul-rasul Allah alaihimush shalatu wassalam.

Kami katakan sebagai penjelasan dalam firman Allah Taala: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan yang telah kamu beri nikmat (kepadanya): ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti” para lawan menafsirkan ungkapan ini bahwa yang disembunyikannya dalam hatinya adalah cinta kepada Zainab dan keinginannya yang pasti agar dia dicerai Zaid supaya bisa menikahinya setelahnya. Ini adalah kebohongan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tafsir yang salah besar, dan pengalihan ayat dari makna hakikinya, serta membebankan kepadanya apa yang tidak dapat ditanggungnya.

Tafsir yang benar untuk firman-Nya: “sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya” adalah apa yang disebutkan ayat setelahnya, yaitu penjelasan: yakni kamu menyembunyikan apa yang telah Allah beritahukan kepadamu sebelumnya bahwa Zaid akan menceraikannya dan kamu akan menikahinya setelahnya sebagai penghancuran terhadap fenomena pengangkatan anak, dan sebagai penetapan syariat bagi umat bahwa istri anak angkat tidak haram jika dicerai oleh yang mengangkat anak karena dia bukan anak kandung sesungguhnya bagi manusia, dan ini: “supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya”.

Mengapa Nabi menyembunyikan hal itu? Karena mempertimbangkan perasaan Zaid, karena malu kepadanya, meski Allah Jalla wa Ala akan menampakkan perkara ini pasti, dan menampakkannya ke alam nyata. Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya khawatir dari celaan manusia karena mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan berkata: Sesungguhnya Muhammad menikah dengan istri anak angkatnya. Inilah makna ayat: “dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti” yakni kamu takut manusia akan berkata Muhammad menikah dengan istri anaknya. “sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti” karena Dia yang menguasai penciptaan dan urusan, dan Dia yang mensyariatkan bagimu apa yang diwahyukan kepada mu dalam masalah ini, maka jangan menoleh kepada ucapan manusia selama perintah-perintah itu adalah wahyu dari Allah, dan jangan malu kepada siapapun karena Allah lebih berhak untuk dimalu-malui.

Yang mengherankan adalah bahwa Al-Quran Al-Karim telah menetapkan bahwa pernikahan dengan istri anak angkat ini halal, tidak ada dosa di dalamnya, bahkan disyariatkan dan telah ditetapkan dalam syariat-syariat sebelumnya. Perhatikan ayat: “Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Begitulah) sunnah Allah pada orang-orang yang telah berlalu sebelum (Nabi), dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Al-Ahzab: 38). Jadi yang disembunyikan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bahwa suami Zaid yaitu Sayyidah Zainab binti Jahsy akan menceraikannya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan menikahinya supaya manusia mengetahui bahwa menikah dengan istri anak angkat ini adalah perkara yang boleh dan disyariatkan, dan harus dibatalkan apa yang dikenal bangsa Arab yaitu keharaman menikah dengan istri anak angkat, dan bahwa itu seperti istri anak kandung.

Al-Quran Al-Karim menginginkan setelah Rasulullah mengangkat Zaid sebagai anak kemudian memerdekakannya dan menikahkannya dengan putri bibinya Zainab, padahal dia ada di hadapan Rasulullah, jika beliau menginginkannya pasti beliau menikahi sejak awal, tetapi Allah menghendaki dengan hal ini berakhirnya keadaan yang dulu bangsa Arab enggan melakukannya, dan mereka tidak rela seorang laki-laki menikah dengan istri anak angkatnya.

Jadi yang disembunyikan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam firman-Nya: “sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya” adalah yang ditampakkan dan diperlihatkan Allah dengan firman-Nya: “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” Inilah yang disembunyikan Nabi shallallahu alaihi wasallam karena khawatir akan kerepotan dari Zaid, dan khawatir celaan sebagian orang karena mereka tidak memahami hukum syar’i, dan karena itu ayat-ayat menjadi jelas.

Maka pembicaraan orang-orang dalam riwayat-riwayat israiliyyah bahwa Nabi melihatnya dan terpesona kepadanya, dan memandangnya, ini termasuk israiliyyat dan kebohongan yang diselundupkan ke dalam kitab-kitab tafsir pada masa awal oleh orang Nasrani yang menjadi musuh Islam ini yaitu Yuhanna Ad-Dimasyqi. Dengan ini menjadi jelas bahwa kisah ini kebenaran di dalamnya nyata, dan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditugaskan Tuhannya untuk memberitahukan hal ini supaya membatalkan kebiasaan pengangkatan anak, dan kebiasaan keharaman menikah dengan istri anak angkat, dan ini ditetapkan dalam syariat-syariat sebelumnya sebagaimana diucapkan ayat Al-Quran yang mulia.

Kisah “Iram yang Memiliki Tiang-Tiang”

Ayat-ayat: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri manapun?” (Al-Fajr: 6-8). Sebagian mufasir menyebutkan bahwa Iram dzat al-imad adalah kota yang agung, istana-istananya dari emas dan perak, tiang-tiangnya dari zamrud dan yakut, dan di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan dan taman-taman serta macam-macam pohon dan sungai-sungai. Lihat tafsir An-Nasafi, dan (Qashash al-Anbiya) karya Ats-Tsa’labi, dan (Al-Kasysyaf), serta kitab-kitab lain yang memperluas dalam menyebutkan israiliyyat ini dalam kisah Iram dzat al-imad.

Kaum ‘Aad adalah manusia yang paling kuat di bumi, sebagaimana tidak tersembunyi bahwa Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang mereka bahwa mereka berkata: “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” pertanyaan (Fushshilat: 15) dan bahwa Al-Quran Al-Karim tidak mengingkari mereka dalam hal ini, maka Al-Quran Al-Karim tidak mengatakan: Sesungguhnya mereka bukan manusia terkuat di bumi, tetapi beralih kepada hal lain. Setelah mereka berkata dalam firman Allah Taala: “Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?'” (Fushshilat: 15) Allah Jalla wa Ala berfirman setelahnya: “Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka? Dan mereka mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Fushshilat: 15). Mereka adalah kaum raksasa yang kuat, ya, dan kaum ‘Aad, kaum Tsamud, dan kaum Fir’aun disebutkan dalam surat ini karena mereka melampaui batas di negeri-negeri.

Sebagian mufasir menyebutkan bahwa Iram dzat al-imad adalah kota yang agung, dan masuk dalam kisah ini khurafat-khurafat Bani Israil dari karangan orang-orang zindik mereka. Ketika kita membaca ayat-ayat, kita mengetahui bahwa tafsir yang benar untuk firman Allah Taala: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi” bahwa suku ini atau orang-orang ini baik Iram nama suku atau nama kakek besar mereka, atau nama negeri, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membinasakan mereka setelah mereka durhaka kepada Allah Subhanahu wa Taala dan melampaui batas di negeri-negeri serta memperbanyak kerusakan di dalamnya, dan ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak.

Kata Iram adalah penamaan bagi mereka dengan nama kakek mereka, dan bagi yang setelah mereka, maka Iram adalah keterangan untuk kata ‘Aad: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) Iram” adalah keterangan bagi mereka, dan penjelasan bahwa mereka adalah ‘Aad yang pertama yang kuno.

“Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”, “yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”: mereka adalah badui di antara pemilik tiang-tiang, atau mereka berperawakan tinggi, inilah yang disebutkan para mufasir, mereka adalah kaum yang kuat dan perkasa, dan pendapat ini jelas tetapi banyak mufasir yang berlebihan dalam menyampaikan perkataan, maka yang berasal dari mereka, yang paling benar tentu saja adalah pendapat ini yaitu kaum yang kuat badannya, dan mereka punya pekerjaan yang kuat di bumi, nabi mereka menyeru mereka untuk menyembah Allah saja, dan mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, dan agar mereka menggunakan nikmat Allah dalam ketaatan kepada-Nya, sebagaimana firman Tuhan kita: “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan Allah telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-A’raf: 69) dan berfirman juga: “Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?'” dan berfirman tentang mereka: “yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri manapun?” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ‘Aad Iram adalah suku yang dikenal dan terkenal yang tidak diciptakan seperti mereka di negeri-negeri mereka, dan tidak pada zaman mereka karena kekuatan dan ketangguhan mereka, serta keagungan susunan tubuh mereka; juga karena ayat setelahnya berkata: “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (Al-Fajr: 9) maka disebutkan suku Tsamud.

Banyak israiliyyat yang masuk tentang tinggi kaum-kaum ini, pendapat-pendapat banyak, sebagian mufasir berkata: Tinggi seorang laki-laki di antara mereka empat ratus hasta, bayangkan empat ratus hasta artinya dua ratus meter tingginya, begitu, dan At-Thabari berkata: Seorang laki-laki di antara mereka dua belas hasta, satu berkata empat ratus, yang kedua berkata dua belas hasta tingginya ke langit!! Ini adalah perkataan yang disebutkan An-Nasafi dan At-Thabari, dan semua dari israiliyyat. Karena itu kami katakan: Kita tidak ditugaskan untuk melihat ukuran-ukuran tinggi ini selama yang satu tidak, pendapat ini maupun yang itu tidak terbukti dan tidak datang melalui jalan yang shahih, tetapi kita harus meyakini apa yang dinyatakan tegas oleh ayat-ayat, dan beriman dengan apa yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah yang shahih. Ayat-ayat telah menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yang kuat dan perkasa. Adapun penetapan tinggi badan mereka dan umur mereka dan semua ini, ini adalah perkataan yang tidak terbukti bagi kita dengan nash atau dalil yang shahih.

Fitnah Sulaiman alaihissalam

Nabi Allah Sulaiman alaihissalam sebagai contoh lain yang mengandung israiliyyat:

Firman Allah Jalla wa Ala tentang Sulaiman dan tentang burung hud-hud: “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.'” (An-Naml: 22) ayat-ayat. Jika kita merenungkan ayat-ayat, kita melihat firman Allah Jalla wa Ala dari lisan Sulaiman: “Dan ia memeriksa burung-burung lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? Sesungguhnya aku akan mengazabnya dengan azab yang keras atau aku akan menyembelihnya kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang terang.’ Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.'” (An-Naml: 20-22).

Sesungguhnya Allah telah menundukkan kepada rasul-Nya Sulaiman dan memberikan kepadanya kerajaan sebagaimana dia berdoa, dan berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku” (Shad: 35) maka Allah berfirman kepadanya: “Ini adalah pemberian Kami, maka berikanlah (kepada siapa yang kamu kehendaki) atau tahanlah dengan tidak ada pertanggungjawaban.” Dari pemberian ini bahwa Allah menundukkan kepada Sulaiman burung-burung, dan hud-hud ini yang biasa diutus dengan tugas-tugas khusus, lalu kembali dengan laporan-laporan dan kembali dengan tugas-tugas yang ditugaskan kepadanya, dan ini adalah salah satu sikap dari sikap-sikapnya. Datanglah hud-hud lalu memberitahu nabi Allah Sulaiman: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

Para mufasir, di antara mereka Al-Allamah Al-Alusi meskipun dia membedakan antara yang buruk dan yang baik, berkata: Dan dalam sebagian riwayat bahwa Sulaiman alaihissalam ketika tidak melihat hud-hud, dia memanggil pengenal burung yaitu elang, lalu bertanya kepadanya tetapi tidak mendapat ilmu darinya, kemudian berkata kepada pemimpin burung yaitu rajawali: Carikan dia untukku, maka dia naik lalu melihat, ternyata dia sedang datang maka dia menuju kepadanya. Dia (hud-hud) memohon kepadanya dengan nama Allah Taala, dan berkata: Demi Allah yang menguatkanmu dan memberimu kekuatan atasku, kasihilah aku, maka dia meninggalkannya, dan berkata: Celaka kamu, sesungguhnya nabi Allah Taala telah bersumpah akan mengazabmu atau akan menyembelihmu. Dia berkata: Apakah dia tidak mengecualikan? Aku berkata: Ya, dia berkata: “kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang terang” maka dia berkata: Aku selamat kalau begitu. Ketika dia dekat dengan Sulaiman, dia merendahkan ekornya dan sayap-sayapnya dengan menyeretnya di tanah karena merendahkan diri kepadanya. Ketika dia dekat darinya, dia memegang kepalanya lalu mengulurkannya kepadanya, lalu berkata: Wahai nabi Allah, ingatlah berdirimu di hadapan Allah Azza wa Jalla, maka Sulaiman bergetar lalu memaafkannya. Dan dari Ikrimah bahwa dia memaafkannya karena dia berbakti kepada kedua orang tuanya, dia datang kepada mereka dengan makanan lalu menyuapi mereka karena ketuaan mereka.

Kisah tersebut sebagaimana kamu lihat, tampak padanya tanda-tanda kebohongan. Siapakah yang menyampaikan kepada kita percakapan burung-burung, dan menerjemahkan kepada kita bahasa mereka? Dan siapakah yang memberitahu Qatadah bahwa hud-hud berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bahwa karena itulah Sulaiman memaafkannya? Tampak kisah itu dibuat-buat dan tidak diragukan.

Tetapi Al-Allamah Al-Alusi dalam tempat ini tidak seperti kebiasaannya, dia meriwayatkannya, dan tidak berkomentar dengan apa yang menunjukkan kebatilannya. Ya Al-Allamah Al-Alusi termasuk mufasir terbesar, dan yang paling bersih ketika memaparkan israiliyyat, dia memilah-milahnya dan meneliti-nya, serta berkomentar tentangnya, tetapi lolos darinya beberapa israiliyyat, posisi ini termasuk di antaranya.

Pernyataan Doktor Muhammad Hussein Az-Zahabi dalam menanggapi sikap Ulama Al-Alusi: “Kami berharap Al-Alusi selalu bersikap keras terhadap periwayatan kisah-kisah Israiliyyat, sehingga ia tidak meriwayatkan suatu riwayat lalu diam saja tanpa komentar.” Hal itu disebutkan oleh Doktor Muhammad Hussein Az-Zahabi dalam bukunya (Al-Israiliyyat fi At-Tafsir wal-Hadits).

Ini adalah kisah burung hud-hud dan pembahasan tentangnya sangatlah panjang dan banyak, begitu juga pembahasan tentang semut, dan tentang cara Allah menundukkan dunia burung, dunia binatang, dan dunia jin untuk Nabi Allah Sulaiman alaihissalam.

Ayat lain tentang Sulaiman alaihissalam yang menimbulkan perdebatan luas dan pembahasan yang banyak dari orang-orang yang menyusupkan kisah-kisah Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir adalah:

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (mayat) yang tidak bernyawa di atas kursinya, kemudian dia kembali (kepada Allah).” (Shad: 34)

Ayat ini dikelilingi banyak kisah Israiliyyat yang disebutkan para mufassir, ada yang sedikit dan ada yang banyak, dalam penjelasan yang membutuhkan waktu panjang untuk merincikannya, namun secara singkat:

Ibnu Jarir At-Tabari disebutkan, dan dia termasuk yang paling awal membicarakan kisah cobaan yang menimpa Sulaiman dan ujian yang dialaminnya, serta membicarakan jasad yang diletakkan di atas kursinya alaihissalam. Ibnu Jarir berkata: Bisyr menceritakan kepada kami, dia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Said menceritakan kepada kami dari Qatadah tentang ayat tersebut: Bahwa Sulaiman diperintahkan membangun Baitul Maqdis, lalu dikatakan kepadanya: “Bangunlah, dan jangan sampai terdengar suara besi di dalamnya.” Dia berkata: Maka dia mencarinya namun tidak mampu. Lalu dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya ada setan di laut yang disebut Shakhr Al-Maridah.” Dia berkata: Maka dia mencarinya, dan ada mata air di laut yang didatanginya setiap tujuh hari sekali. Lalu airnya dikeringkan dan diisi dengan khamar. Ketika datang hari kedatangannya, tiba-tiba dia melihat khamar itu, lalu berkata: “Sungguh engkau minuman yang baik, namun engkau membuat orang bijak menjadi bodoh dan menambah kebodohan orang bodoh.” Kemudian dia kembali hingga sangat haus, lalu mendatanginya lagi dan berkata: “Sungguh engkau minuman yang baik, namun engkau membuat orang bijak menjadi bodoh dan menambah kebodohan orang bodoh.” Kemudian dia meminumnya hingga akalnya hilang. Lalu diperlihatkan cincin atau dicap di antara kedua pundaknya, maka dia tunduk. Kekuasaannya ada dalam cincinnya. Lalu dia dibawa kepada Sulaiman dan berkata: “Kami telah diperintahkan membangun rumah ini, dan dikatakan kepada kami: tidak boleh terdengar suara besi di dalamnya.” Lalu didatangkan telur burung hud-hud dan diletakkan gelas di atasnya. Burung hud-hud datang dan berkeliling melihat telurnya namun tidak bisa mencapainya. Lalu dia membawa intan dan meletakkannya di atas gelas hingga terpotong. Kemudian dia sampai ke telurnya, lalu intan itu diambil dan mereka memotong batu dengannya.

Sulaiman jika ingin masuk ke tempat buang air atau kamar mandi tidak masuk dengan membawa cincin. Suatu hari dia pergi ke kamar mandi, setan itu bernama Shakhr bersamanya ketika berpisah karena dosa yang dilakukan sebagian istrinya. Dia masuk kamar mandi dan memberikan cincinnya kepada setan itu, lalu setan melemparkannya ke laut dan dimakan ikan. Kekuasaan Sulaiman dicabut darinya dan dilemparkan ke atas setan yang menyerupai Sulaiman. Setan itu datang dan duduk di atas kursi dan tempat tidur Sulaiman, dikuasakan atas seluruh kerajaan Sulaiman kecuali para istrinya. Dia mulai memutuskan perkara di antara mereka, dan mereka mengingkari hal-hal darinya hingga mereka berkata: “Sungguh Nabi Allah telah terkena fitnah.” Di antara mereka ada seseorang yang mereka samakan dengan Umar bin Khattab, lalu berkata: “Demi Allah, aku akan mengujinya.” Dia berkata: “Wahai Nabi Allah” – dan dia tidak melihat kecuali bahwa dia adalah Nabi Allah – “salah seorang dari kami terkena janabah di malam yang dingin lalu sengaja meninggalkan mandi hingga matahari terbit, apakah menurutmu ada masalah?” Dia menjawab: “Tidak.” Keadaan seperti itu berlangsung empat puluh malam hingga Nabi Allah menemukan cincinnya di perut ikan. Lalu dia datang, tidak ada jin yang menghadapinya kecuali sujud kepadanya hingga dia sampai kepada mereka: “Dan Kami jadikan (mayat) yang tidak bernyawa di atas kursinya” dia berkata: Itu adalah setan Shakhr.

Kisah ini sangat jelas bahwa itu adalah Israiliyyat, kebohongan dan fitnah; karena mustahil Allah menjadikan sosok yang menyerupai Sulaiman alaihissalam pada setan, sehingga mengacaukan urusan agama manusia. Mustahil Allah memberikan kemampuan kepada setan untuk menguasai kerajaan Sulaiman dan mengendalikannya sesuka hatinya. Mustahil Sulaiman meminum khamar atau sesuatu seperti itu. Semua ini tidak dapat diterima akal maupun syariat. Bagaimana mungkin setan dapat menyerupai Nabi Allah Sulaiman dan menguasai kerajaannya? Lalu untuk apa kita pergi dalam menafsirkan ayat ini kepada kisah yang tidak berdasar ini, padahal Bukhari telah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuatu yang dapat dijadikan penafsiran ayat tersebut?

Yang diletakkan di atas kursi Sulaiman dapat dipahami dari hadits Imam Bukhari rahimahullah. Dia telah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuatu yang dapat dijadikan penafsiran ayat tersebut tanpa kita mengatakan kedustaan atau melakukan sesuatu yang terlarang. Hadits dalam Bukhari dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sulaiman bin Daud alaihissalam berkata: ‘Malam ini aku akan mendatangi seratus wanita, atau sembilan puluh sembilan, semuanya akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.’ Temannya berkata kepadanya: ‘Insya Allah.’ Namun dia tidak mengatakan ‘Insya Allah.’ Maka tidak ada yang hamil dari mereka kecuali seorang wanita yang melahirkan setengah anak, atau setengah manusia. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya dia mengatakan ‘Insya Allah,’ niscaya mereka semua akan berjihad di jalan Allah sebagai penunggang kuda.”

Maka mungkin inilah yang menjadi cobaan bagi Sulaiman dan diletakkan di atas kursinya, yaitu anak kecil yang tidak sempurna itu, atau Allah mengujinya dengan seorang anak yang dicintai dan diperhatikannya, lalu anak itu meninggal atau terbunuh, dan setan-setan melemparkannya ke atas kursi Sulaiman sebagai jasad yang tidak bergerak. Maka dia menyadari bahwa Allah mengujinya dengan itu, lalu kembali kepada Allah dan berdoa agar diberi kerajaan yang tidak layak bagi siapapun setelahnya.

Dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad dan keluarga serta sahabat-sahabatnya.

 

 

Pelajaran: 6 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (4)

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Keenam (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (4))

Makhluk-makhluk yang Dimutasi dalam Riwayat Bani Israil

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Makhluk-makhluk yang Dimutasi:

Al-Masukh jamak dari masakh, yaitu yang dimutasi dari satu keadaan ke keadaan lain. Artinya ada makhluk-makhluk yang Allah mutasi dan ubah dari sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghukum sekelompok Bani Israil yaitu Ashab As-Sabt, ketika mereka durhaka kepada Rabb mereka dan melanggar pada hari Sabtu. Hukumannya sebagaimana dinyatakan ayat: “Maka Kami katakan kepada mereka: ‘Jadilah kalian kera yang hina.'” (Al-Baqarah: 65).

Pembahasan kita tentang hadits atau Israiliyyat yang disebutkan oleh para zindiq ahli kitab. Mereka membuat-buat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa khurafat yang tidak dapat dipercaya akal. Mereka berkata: Sesungguhnya ada beberapa jenis hewan yang mereka klaim dimutasi – Subhanallahil ‘Azhim. Seandainya khurafat ini dinisbatkan kepada orang-orang yang masuk Islam dari ahli kitab, yang kita sebut tokoh-tokoh periwayatan Israiliyyat seperti Ka’ab Al-Ahbar dan sejenisnya, atau bahkan dinisbatkan kepada sebagian sahabat atau tabi’in, masih ringan perkaranya. Namun yang memperburuk dosa adalah menisbatkan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum. Jenis kebohongan dan penyusupan ini termasuk yang paling keji dalam memusuhi Islam dan Nabi Islam shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam As-Suyuti disebutkan – semoga Allah memaafkannya, setelah dia mengutip hal-hal buruk dan Israiliyyat dalam kisah Harut dan Marut tanpa memberikan komentar sepatah kata pun – hadits aneh ini dengan teksnya: Dikeluarkan oleh Az-Zubair bin Bakkar dalam (Al-Muwaffaqiyyat) dan Ibnu Mardawaih dan Ad-Dailami: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang makhluk-makhluk yang dimutasi, lalu beliau bersabda:

“Mereka ada tiga belas: gajah, beruang, babi, kera, ikan jurais, biawak, kelelawar, kalajengking, da’muts, laba-laba, kelinci, bintang Suhail, dan bintang Zuhrah. Lalu dikatakan: ‘Wahai Rasulullah, apa sebab mereka dimutasi?’ Seolah-olah makhluk-makhluk ini dulunya adalah ciptaan lain, kemudian dimutasi menjadi hewan-hewan ini. Maka beliau berkata – menurut klaim mereka -: ‘Adapun gajah, dahulu seorang laki-laki yang zalim dan pelaku homoseksual yang tidak meninggalkan yang basah maupun yang kering. Adapun beruang, dahulu seorang wanita yang mengajak manusia kepada dirinya. Adapun babi, dahulu dari kalangan Nasrani yang meminta hidangan, ketika turun mereka mengingkarinya. Adapun kera, orang-orang Yahudi yang melanggar pada hari Sabtu. Adapun jurais – beratnya seperti sukait, sejenis ikan – dahulu seorang dayuts yang tidak cemburu kepada istrinya – dimutasi menjadi jurais yang mengajak laki-laki kepada pasangannya dan tidak marah.

Adapun biawak, dahulu seorang Badui yang mencuri harta jamaah haji dengan tongkatnya. Adapun kelelawar, dahulu seorang laki-laki yang mencuri buah-buahan dari puncak pohon kurma. Adapun kalajengking, dahulu seorang laki-laki yang tidak ada yang selamat dari lisannya. Adapun da’muts – binatang kecil seperti ulat kecil, atau cacing hitam yang berada di tempat-tempat terkumpulnya air jika airnya surut – dahulu seorang pengadu yang memisahkan orang-orang yang saling mencintai. Adapun laba-laba, dahulu seorang wanita yang menyihir suaminya. Adapun kelinci, dahulu seorang wanita yang tidak bersuci dari haidnya. Adapun Suhail, dahulu seorang ‘usyar di Yaman – ‘usyar adalah yang mengambil sepersepuluh dari buah-buahan dan hasil, pajak yang diambil tanpa imbalan, dan diketahui bahwa ini termasuk penghasilan haram. Adapun Zuhrah, dahulu seorang putri dari raja-raja Bani Israil yang mempesona Harut dan Marut.”

Hadits yang disebutkan As-Suyuti dan dinukil dari orang lain, berkaitan dengan masalah makhluk-makhluk yang dimutasi. Sungguh terkutuklah orang yang membuat-buat kebohongan, kedustaan dan kebatilan ini serta menisbatkannya kepada yang ma’shum, kepada yang tidak berkata berdasarkan hawa nafsu shallallahu ‘alaihi wasallam.

Guru kami yang mulia Syaikh Muhammad Abu Syuhbah berkata:

Yang mengherankan bahwa Imam As-Suyuti menyebutkan omong kosong ini tanpa sanad dan tidak memberikan komentar pengingkaran sepatah kata pun. Subhanallah, padahal Imam As-Suyuti memiliki banyak sikap baik dalam mengomentari hadits-hadits batil dan maudhu’ dan semacamnya. Seperti ini tidak diragukan oleh penuntut ilmu akan kebatilannya, apalagi oleh ulama besar. Adapun Ulama Ibnu Al-Jauzi telah memutuskan bahwa itu maudhu’, begitu juga As-Suyuti menyebutkannya dalam (Al-La’ali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah) dan mengomentarinya dengan sesuatu yang tidak berguna, seolah-olah dia mengomentarinya dengan kata-kata lemah yang tidak menjelaskan kebatilan dan kerusakannya. Dari amanah ilmiah – kata guru kami Syaikh Abu Syuhbah – seharusnya dia – yaitu As-Suyuti – menunjukkan hal ini. Setelah kebohongan dan omong kosong ini, Imam As-Suyuti mengutip apa yang diriwayatkan At-Tabrani dalam (Al-Ausath) dengan sanad dhaif, demikian katanya, dari Umar bin Al-Khattab berkata: Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pada waktunya, kemudian disebutkan kisah panjang dalam penggambaran neraka, dan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangis, dan Jibril menangis hingga dipanggil: “Sesungguhnya Allah mengamankan kalian berdua agar tidak mendurhakai-Nya.” Perkataan ini disebutkan dalam tafsir Imam As-Suyuti (Ad-Durr Al-Mantsur) jilid pertama halaman 102 dan seterusnya. Sangat mungkin – kata guru kami Syaikh Abu Syuhbah – bahwa ini termasuk Israiliyyat yang disusupkan dalam periwayatan Islam di saat orang-orang lengah.

Apa yang Diriwayatkan tentang Pembangunan Ka’bah Al-Musyarrafah

Ka’bah Al-Musyarrafah adalah Baitullah Al-Haram. Ketika kita mengingat rumah tua ini dalam sejarah yang sangat lampau, kita mengetahui bahwa ia dibangun lebih dari sekali. Al-Quran Al-Karim menjelaskan bahwa yang membangunnya adalah Ibrahim alaihissalam, dan setelah itu dibangun beberapa kali. Disebutkan bahwa ia dibangun malaikat dan dibangun Adam, dan sebagainya, pembahasan yang banyak.

Apa yang disebutkan Ulama As-Suyuti dalam tafsirnya (Ad-Durr Al-Mantsur) pada firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (Al-Baqarah: 127) Dia mengutip dari Al-Azraqi dan sejenisnya dari para sejarawan dan mufassir yang seperti pengumpul kayu di malam hari, tidak membedakan antara yang buruk dan baik, yang jahat dan baik, yang dapat diterima dan yang ditolak dalam pembangunan rumah: Siapa yang membangunnya sebelum Ibrahim, apakah malaikat atau Adam? Hajar Aswad dari mana datangnya? Dan disebutkan dalam keutamaannya perkataan yang banyak. Dia larut dalam nukilan ini yang sebagian besarnya dari Israiliyyat yang diambil dari ahli kitab beberapa belas halaman.

Apa yang disebutkan Imam As-Suyuti tidak sahih sepersepuluhnya dari riwayat yang disebutkan. Seandainya Imam As-Suyuti membatasi pada riwayat-riwayat sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya dalam kitab: Hadits-hadits Para Nabi, bab: “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih” (An-Nisa: 125) dan diriwayatkan selain dia dari ulama-ulama yang tsiqah, niscaya dia mengistirahatkan kita dan dirinya, dan tidak merusak akal serta meracuni jiwa dengan semua Israiliyyat yang kita tidak membutuhkannya dengan apa yang mutawatir dari Al-Quran Al-Karim dan thabit dari Sunnah yang sahih.

Yang benar bahwa Ibnu Jarir bersikap sedang dalam memperbanyak Israiliyyat ini meskipun tidak selamat darinya, dan menyebutkan sebagiannya, seperti apa yang diriwayatkannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash berkata: Ketika Allah menurunkan Adam dari surga, Dia berkata: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan bersamamu rumah yang ditawaf di sekelilingnya sebagaimana ditawaf di sekitar Arasy-Ku, dan dishalati di sisinya sebagaimana dishalati di sisi Arasy-Ku. Ketika terjadi banjir besar, ia diangkat. Para nabi berhaji kepadanya namun tidak mengetahui tempatnya hingga Allah menunjukkan kepada Ibrahim alaihissalam dan memberitahu tempatnya, lalu dia membangunnya dari lima gunung: Hira, Tsabir, Lubnan, Jabal Ath-Thur, dan Jabal Al-Khamr.” Perkataan!!

Yang lebih mengherankan dari itu adalah apa yang diriwayatkannya dengan sanadnya dari Atha bin Abi Rabah berkata: Ketika Allah menurunkan Adam dari surga, kedua kakinya di bumi dan kepalanya di langit, dia mendengar pembicaraan ahli langit dan doa mereka, bergembira dengan mereka. Malaikat takut kepadanya hingga mengadu kepada Allah dalam doa dan shalat mereka. Maka Allah mengarahkannya ke Makkah, tempat kakinya menjadi negeri dan langkahnya menjadi padang pasir hingga sampai ke Makkah. Allah menurunkan yakut dari yakut surga, berada di tempat rumah sekarang. Dia terus bertawaf di sekelilingnya hingga Allah menurunkan banjir besar, yakut itu diangkat hingga Allah mengutus Ibrahim alaihissalam lalu membangunnya. Itulah firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah” (Al-Hajj: 26) dan lain-lain yang kembali kepada berita Bani Israil dan khurafat mereka.

Tidak sahih tentang itu berita dari yang ma’shum shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah merahmati Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir yang telah menjelaskan kepada kita asal sebagian besar riwayat-riwayat ini yang merupakan buatan Bani Israil dan serapan para zindiq mereka. Dia berkata tentang apa yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam (Ad-Dalail) dari berbagai jalan dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Allah mengutus Jibril kepada Adam, lalu memerintahkannya membangun rumah. Adam membangunnya kemudian diperintahkan bertawaf di sekelilingnya dan dikatakan kepadanya: ‘Kamu manusia pertama, dan ini rumah pertama yang diletakkan bagi manusia.'”

Ulama Imam Ibnu Katsir berkata: Sesungguhnya ini termasuk riwayat tunggal Ibnu Lahi’ah dan dia dhaif. Yang lebih mirip – wallahu a’lam – adalah mauquf kepada Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash, dan termasuk dari dua zamlah yang diperolehnya pada perang Yarmuk, yaitu sejumlah kitab yang diambilnya dengan unta yang memuat barang-barangnya; mungkin dia memperoleh dua zamlah unta dengan apa yang ada di dan di atasnya. Dalam apa yang dipindahkannya dan diambilnya pada perang Yarmuk ada beberapa kitab kecil yang berisi dari ahli kitab banyak hal seperti ini. Ini termasuk dari kitab-kitab ahli kitab, dia menceritakan apa yang ada di dalamnya.

Ulama Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya (Al-Bidayah): “Tidak datang dalam berita sahih dari yang ma’shum bahwa rumah itu dibangun sebelum Al-Khalil alaihissalam. Barang siapa berpegang dalam hal ini dengan firman-Nya: ‘Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah’ maka itu tidak kuat dan tidak zhahir; karena maksudnya adalah tempatnya yang ditakdirkan dalam ilmu Allah Ta’ala, yang ditetapkan dalam takdir-Nya, yang diagungkan di sisi para nabi tempatnya dari Adam hingga zaman Ibrahim alaihissalam.”

Meskipun demikian saya katakan: Sesungguhnya banyak dari penulis sejarah menyebutkan bahwa Ka’bah dibangun sepuluh kali, hingga mereka merangkai dalam itu bait-bait syair:

Membangun rumah Rabb Arasy sepuluh … maka ambillah mereka Malaikat-malaikat Allah yang mulia Dan Adam lalu Syits lalu Ibrahim kemudian Amaliq … Qushayy Quraisy sebelum keduanya Jurhum Dan Abdullah bin Az-Zubair membangun … demikian bangunan Al-Hajjaj dan ini sempurna Kemudian datang setelah itu Sultan Murad Al-Utsmani membangun yang kesebelas.

Berdasarkan perkataan ini seolah Ka’bah dibangun sebelas kali. Yang penting bagi kita hanyalah apa yang disebutkan Al-Quran Al-Karim bahwa Ibrahim yang membangun rumah dan bersama dia Ismail, dan ini tetap dalam Al-Quran. Adapun yang setelahnya dari bangunan Quraisy, Abdullah bin Az-Zubair, Al-Hajjaj dan semacamnya, ini disebutkan kitab-kitab sejarah. Adapun sebelum Ibrahim, sebagaimana disebutkan Ulama Ibnu Katsir bahwa rumah itu tidak disebutkan dalam berita sahih dari yang ma’shum siapa yang membangunnya sebelum Ibrahim alaihissalam.

Israeliyat dalam Kisah Tabut

Tabut adalah sesuatu yang disebutkan dalam kisah Talut yang menjadi raja atas Bani Israil, dan ayat-ayat Al-Quran menunjukkan hal ini. Yang disebutkan tentang tabut dalam Al-Quran hanyalah isyarat-isyarat yang tidak dijelaskan secara terperinci.

Israeliyat secara ringkas yang dikemukakan para mufasir mengenai tabut ini, berkah-berkahnya, dan bekas-bekas yang ada di dalamnya.

Di antara Israeliyat yang bercampur antara yang benar dan yang batil adalah apa yang disebutkan kebanyakan mufasir dalam tafsir mereka tentang kisah Talut, pengangkatannya sebagai raja atas Bani Israil, bantahan Bani Israil terhadapnya, dan pemberitahuan nabi mereka kepada mereka tentang tanda yang menunjukkan kerajaannya, yaitu tabut. Ayat-ayat tentang hal ini jelas, Allah Taala berfirman: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda kerajaan Talut ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang beriman.'” (Al-Baqarah: 248)

Kita tahu bahwa nabi Bani Israil berkata kepada mereka: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Talut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup?’ Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Dan Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.'” (Al-Baqarah: 247) “Dan nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda kerajaan Talut ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.'”

Allama Ibnu Jarir, At-Tsa’labi, Al-Baghawi, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, As-Suyuthi dalam kitabnya (Ad-Durr), dan lainnya menyebutkan dalam tafsir mereka banyak berita dari para sahabat dan tabi’in, dan dari Wahab bin Munabbih serta lainnya dari ahli kitab yang masuk Islam. Ketika kami mengatakan “ahli kitab yang masuk Islam”, kami menggambarkan mereka yang masuk Islam dari kalangan ahli kitab dan memeluk Islam. Tentu saja di antara mereka ada yang menyampaikan berita-berita tanpa bermaksud menyelipkan dalam budaya kaum muslimin, melainkan hanya menyampaikan dari berita-berita mereka. Maka diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dan lainnya dari ahli kitab yang masuk Islam tentang sifat tabut, bagaimana kedatangannya, apa saja isinya, dan tentang sakinah serta bagaimana sifatnya. Semua ini diriwayatkan dalam banyak hal yang kami ceritakan secara ringkas, meskipun saya telah membaca dalam (Ma’alim at-Tanzil) karya Imam Al-Baghawi tentang tabut ini dan tentang Dawud, Jalut, dan Talut, riwayat-riwayat Israeliyat lebih dari tiga belas halaman.

Mereka menyebutkan tentang tabut bahwa ia terbuat dari kayu syamsyad, berukuran sekitar tiga hasta kali dua hasta. Kata syamsyad atau syamsad adalah sejenis kayu yang baik. Kayu ini ada pada Adam hingga ia wafat – semua ini adalah berita-berita – kemudian ada pada Syits, lalu diwariskan anak-anaknya kepada Ibrahim, kemudian ada pada Ismail, kemudian Yakub, kemudian ada di Bani Israil hingga sampai kepada Musa alaihi as-salam. Musa meletakkan di dalamnya Taurat dan barang-barangnya, maka tabut itu ada padanya hingga ia wafat, kemudian digunakan bergantian oleh para nabi Bani Israil hingga masa Syamu’il, dan ada pada mereka hingga mereka durhaka, maka kaum Amalik mengalahkan mereka dan mengambil tabut itu. Pembicaraan ini walaupun mungkin benar atau salah, namun kita tidak membutuhkannya, dan tafsir ayat tidak bergantung padanya. Di mana letaknya? Berapa ukurannya? Siapa yang mewariskannya dari Adam kepada Syits kepada Ibrahim kepada Ismail kepada Yakub? Semua ini adalah pembicaraan yang tidak berguna dan tidak bermanfaat.

Sebagian berkata: Sesungguhnya tabut itu hanya ada di Bani Israil dan bukan sejak zaman Adam alaihi as-salam, dan ia adalah peti yang digunakan Musa alaihi as-salam untuk menyimpan Taurat. Barangkali ini lebih dekat kepada kebenaran sebagaimana dikatakan guru kami Syaikh Abu Syuhbah.

Demikian juga mereka memperbanyak riwayat tentang sakinah. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu: “Ia adalah angin kencang dan sejuk yang memiliki dua kepala dan wajah seperti wajah manusia.” Angin kencang adalah yang berlalu dengan keras tanpa keteraturan. Namun perhatikanlah bagaimana mungkin angin memiliki dua kepala dan wajah seperti wajah manusia. Semua ini Israeliyat!

Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia berkata: Sakinah adalah binatang seperti kucing yang memiliki dua sayap dan ekor, dan matanya bercahaya. Jika ia memandang tentara, maka tentara itu akan kalah. Muhammad bin Ishaq berkata dari Wahab bin Munabbih: Sakinah adalah kepala kucing mati. Jika ia berteriak dalam tabut dengan teriakan kucing, mereka yakin akan kemenangan. Ini termasuk dongeng dan kebatilan Bani Israil. Dari Wahab bin Munabbih ia berkata: Sakinah adalah ruh dari Allah yang berbicara. Jika mereka berselisih tentang sesuatu, ia berbicara dan memberitahu mereka penjelasan tentang apa yang mereka inginkan. Dari Ibnu Abbas: “Sakinah adalah mangkuk emas yang digunakan untuk mencuci hati para nabi yang Allah berikan kepada Musa alaihi as-salam.” Semua riwayat ini tidak ada yang terbukti. Yang benar adalah tidak ada dalam Al-Quran yang menunjukkan sesuatu dari itu, dan tidak ada dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Semua ini hanya berita Bani Israil yang dinukil kepada kita oleh ahli kitab yang masuk Islam, dan diambil dari mereka oleh sebagian sahabat dan tabi’in lalu disebarkan. Sumbernya kembali kepada Ka’ab al-Ahbar atau Wahab bin Munabbih dan yang seumpama mereka.

Tafsir yang Benar tentang Sakinah:

Tafsir yang benar – dan yang seharusnya ditafsirkan dengannya – adalah bahwa yang dimaksud dengannya adalah ketenangan dan ketenteraman yang turun ke hati ketika tabut dibawa di depan tentara. Ia termasuk sebab-sebab ketenteraman: ketenangan. Dengan demikian jiwa mereka menjadi kuat, mengeras, dan semangat mereka meningkat, maka hal itu menjadi salah satu sebab kemenangan. Ia seperti firman Allah Jalla wa Ala: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya” (At-Taubah: 40), yaitu ketenangan-Nya dan apa yang memperkuat hatinya. Dan seperti firman Allah Taala: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (Al-Fath: 4) “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya” (Al-Fath: 26). Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan hati, keteguhan jiwa, keyakinan yang turun ke hati orang yang mengikuti syariat Allah dan mengikuti rasul-Nya.

Guru kami Syaikh Abu Syuhbah berkata:

Yang saya sukai dalam hal ini adalah apa yang dikatakan Imam Abu Muhammad Syaikh Abdul Haq bin Athiyyah, di mana ia berkata: Yang benar adalah bahwa tabut berisi benda-benda mulia dari peninggalan para nabi dan bekas-bekas mereka, maka jiwa-jiwa menjadi tenang karenanya, merasa nyaman, dan menjadi kuat. Demikian juga mereka menyebutkan tentang kedatangan tabut pendapat-pendapat yang bertentangan dan berbenturan yang saling membantah satu sama lain, yang menunjukkan bahwa sumbernya kembali kepada berita-berita Bani Israil dan rekaan-rekaan mereka, dan bahwa tidak ada di dalamnya nukilan yang dapat diandalkan dan dipercaya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: “Para malaikat datang membawa tabut di antara langit dan bumi hingga meletakkannya di hadapan Talut, dan orang-orang melihat.” Diriwayatkan dari as-Suddi: Tabut muncul di rumah Talut pada pagi hari, maka mereka beriman pada kenabian Syam’un dan taat kepada Talut. Al-Hasan berkata: Tabut itu bersama para malaikat di langit. Ketika Talut menjadi raja, para malaikat membawanya. Subhanallah! Ini padahal mereka juga meriwayatkan – sebagaimana telah lalu – bahwa ketika mereka durhaka dan berbuat kerusakan, kaum Amalik mengalahkan mereka dan mengambil tabut. Riwayat dari al-Hasan: Ketika Talut menjadi raja, para malaikat membawanya dan meletakkannya di antara mereka. Qatadah berkata: Tabut itu berada di Tih, ditinggalkan Musa pada Yusya’ bin Nun, dan tetap di sana hingga para malaikat membawanya dan meletakkannya di rumah Talut, maka mereka mengakui kerajaannya.

Selain mereka menyebutkan: Bahwa tabut itu berada di Ariha, dan yang menguasainya menempatkannya di rumah tuhan-tuhan mereka di bawah patung terbesar mereka. Pada pagi hari tabut berada di atas kepala patung, maka mereka menurunkannya dan meletakkannya di bawahnya. Keesokan paginya seperti itu juga, maka mereka memakukannya di bawah mereka. Pagi-pagi patung itu rusak kakinya dan terlempar jauh. Mereka tahu bahwa ini adalah urusan Allah yang tidak dapat mereka tangani, maka mereka mengeluarkan tabut dari negeri mereka dan meletakkannya di salah satu desa. Penduduk desa itu terkena penyakit di leher mereka. Ini semua Israeliyat.

Dikatakan: Bahkan mereka meletakkannya di tempat buang air besar suatu kaum – tempat yang mereka tuju untuk buang air besar – maka setiap orang yang buang air besar di sana terkena penyakit wasir atau ambeien. Mereka bingung dalam urusan ini, maka seorang wanita dari tawanan Bani Israil dari keturunan para nabi berkata kepada mereka: Kalian akan terus melihat hal yang kalian benci selama tabut ini ada pada kalian, maka keluarkanlah dari kalian. Atas petunjuk wanita itu mereka membawa pedati dan memuat tabut di atasnya, kemudian mengikatkannya pada dua ekor sapi jantan dan memukul pantatnya. Kedua sapi itu berjalan, dan Allah menugaskan empat malaikat untuk menggiringnya. Keduanya datang hingga berhenti di tanah Bani Israil, lalu memotong kuk mereka – yaitu yang diletakkan di leher sapi saat membajak dan menarik dengan tarikan. Riwayat mengatakan: Keduanya memotong kuk mereka, memutus tali mereka, meletakkan tabut di tanah yang ada panen Bani Israil, dan kembali ke tanah mereka. Bani Israil terkejut dan memperhatikan tabut itu, maka mereka bertakbir dan memuji Allah Taala. Itulah firman Allah Taala: “yang dibawa oleh para malaikat” yaitu menggiringnya. Semua ini dari berita Bani Israil yang telah mengubah, mengganti, dan memutarbalikkan. Allah lebih tahu kebenarannya. Yang paling dekat dengan kebenaran dari pendapat-pendapat ini dan yang ditunjukkan Al-Quran adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Demikian juga mereka berbeda pendapat dalam menentukan peninggalan yang ditinggalkan keluarga Musa dan keluarga Harun. Yaitu setiap perincian yang berkaitan dengan tabut di dalamnya ada berita-berita, perbedaan, dan pertentangan. Mereka berbeda pendapat dalam menentukan firman Allah Taala: “dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.” Apa peninggalan ini? Yang dimaksud dengan keluarga Musa dan keluarga Harun adalah keduanya sendiri, dan ini sudah biasa dalam bahasa Arab. Hadis syarif: “Sungguh telah diberi seruling dari seruling keluarga Dawud” yaitu suara yang bagus, padahal tidak ada dalam keluarga Dawud yang bersuara bagus kecuali dia sendiri. Yang dimaksud dengan keluarga Dawud adalah Dawud sendiri. Ketika kita mengatakan: “yang ditinggalkan keluarga Musa dan keluarga Harun” artinya: Musa dan Harun. Benda-benda ini disimpan dalam tabut. Dari Abdullah bin Abbas ia berkata: “Tongkatnya dan pecahan lembaran-lembaran” yaitu peninggalan ini adalah tongkat Musa, dan pecahan adalah lembaran-lembaran. Pecahan adalah serpihan yang terpisah dari gesekan dua lembaran dan yang hancur darinya. Ibnu Abbas berkata: “Ini adalah peninggalan yang tersisa dari yang ditinggalkan keluarga Musa dan keluarga Harun.” Karena lembaran-lembaran ketika pecah saat Musa alaihi as-salam melemparkannya ketika kembali dan mendapati mereka menyembah anak sapi, tersisa darinya bekas-bekas ini.

Demikian juga dikatakan Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah. Sebagian berkata: dan Taurat. Abu Shalih berkata: Bekas-bekas ini adalah tongkat Musa dan tongkat Harun, dua lembaran dari Taurat, dan segantang manna. Segantang adalah takaran dari manna yang turun kepada Bani Israil di Tih. Dikatakan: tongkat Musa dan sandalnya, tongkat Harun dan sebannya, pakaian Musa dan pakaian Harun, dan pecahan lembaran-lembaran. Dan lain-lain.

Bagaimanapun, ini adalah pendapat-pendapat yang berdekatan, sebagaimana dikatakan guru kami Syaikh Abu Syuhbah, dan tidak saling membantah, semuanya mungkin. Allah lebih tahu mana yang benar.

Bagaimanapun, ini termasuk berita yang mungkin benar atau salah, maka kita tidak membenarkan atau mendustakannya, tetapi berhenti padanya. Yang kita pastikan dan wajib diimani adalah bahwa ada pada Bani Israil sebuah tabut, yaitu peti dari kayu misalnya dan semacamnya, tanpa meneliti hakikat dan bentuknya. Dari mana datangnya? Tidak wajib bagi kita bertanya dari mana datangnya, karena tidak ada berita sahih tentang hal itu dari yang maksum shallallahu alaihi wa sallam. Dan bahwa tabut ini berisi peninggalan dan bekas-bekas dari peninggalan Musa dan Harun alaihi as-salam dengan kemungkinan bahwa penentuan itu ada dalam sebagian yang kami sebutkan tadi. Dan bahwa tabut ini adalah sumber sakinah dan ketenangan bagi Bani Israil, terutama ketika berperang melawan musuh mereka. Dan bahwa tabut itu kembali kepada Bani Israil dibawa oleh para malaikat, tanpa meneliti jalan yang ditempuh para malaikat membawanya. Dengan demikian tabut menjadi tanda yang menunjukkan kebenaran Talut dalam kerajaannya atas mereka. Adapun berita-berita lain yang kami nukil atau sebagiannya, tidak ada dalil yang menguatkannya.

Pohon Tuba

Di antara hal-hal yang masuk di dalamnya Israeliyat: pohon Tuba.

Kata Tuba: kata yang baik, bagus, dan indah, namun Israeliyat tidak meninggalkannya juga. Para mufasir mengemukakan dalam kata tuba dan maknanya pembicaraan yang banyak dan Israeliyat yang banyak.

Inilah Israeliyat ini: Di antara Israeliyat adalah apa yang disebutkan sebagian mufasir pada ayat yaitu firman Allah Jalla wa Ala: “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik” (Ar-Ra’d: 29). Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dan lainnya dari Wahab, ia berkata: Sesungguhnya di surga ada pohon yang disebut Tuba, pengendara berjalan dalam naungannya seratus tahun tidak dapat memotongnya. Bunganya adalah mutiara, daunnya adalah sutra, rantingnya adalah emas, batunya adalah yakut, tanahnya adalah kafur, dan lumpurnya adalah misk. Dari akarnya keluar sungai-sungai khamar, susu, dan madu. Ia adalah tempat duduk ahli surga. Ketika mereka duduk-duduk, tiba-tiba datang kepada mereka malaikat-malaikat dari Tuhan mereka menggiring unta-unta pilihan yang dikekang dengan rantai emas, wajah-wajahnya seperti lampu karena keindahannya, dan bulunya seperti sutra yang halus. Di atasnya ada pelana yang papannya dari yakut, bantalan-bantalannya dari emas, dan pakaiannya dari sutra halus dan tebal. Mereka membukanya sambil berkata: Sesungguhnya Tuhan kami mengutus kami kepadamu untuk menziarahi-Nya dan memberi salam kepada-Nya. Ia berkata: Maka mereka menungganginya, dan ia lebih cepat dari burung, lebih empuk dari tempat tidur, unta-unta pilihan tanpa kesulitan. Seseorang berjalan di samping saudaranya sambil berbicara dan bermunajat dengannya. Telinga unta yang satu tidak menyentuh telinga yang lain, dan dada unta yang satu tidak menyentuh dada yang lain, hingga pohon pun menyingkir dari jalan mereka agar tidak memisahkan antara seseorang dengan saudaranya.

Ia berkata: Mereka datang kepada Ar-Rahman Ar-Rahim, maka Dia menyingkap wajah-Nya yang mulia untuk mereka hingga mereka melihat-Nya. Ketika mereka melihat-Nya, mereka berkata: Ya Allah, Engkau adalah As-Salam dan dari-Mu datang salam, dan berhak bagi-Mu keagungan dan kemuliaan. Ia berkata: Maka Allah Taala berfirman: Aku adalah As-Salam dan dari-Ku datang salam dan atas kalian salam. Rahmat-Ku dan cinta-Ku telah terwujud. Selamat datang hamba-hamba-Ku yang takut kepada-Ku tanpa melihat dan mentaati perintah-Ku. Ia berkata: Maka mereka berkata: Ya Tuhan kami, kami tidak menyembah-Mu sesuai haknya, dan tidak mengagungkan-Mu sesuai hak-Mu, maka izinkanlah kami sujud di hadapan-Mu. Ia berkata: Maka Allah berfirman: Sesungguhnya ini bukan negeri kelelahan dan ibadah, tetapi negeri kerajaan dan nikmat. Aku telah mengangkat dari kalian kelelahan ibadah, maka mintalah kepada-Ku apa yang kalian kehendaki, karena bagi setiap orang di antara kalian ada keinginan. Mereka meminta kepada-Nya hingga orang yang paling sedikit keinginannya berkata: Ya Tuhanku, ahli dunia saling bersaing dalam dunia mereka lalu mereka berdesakan, ya Tuhanku berikanlah kepadaku seperti segala sesuatu yang mereka miliki sejak Engkau menciptakannya hingga dunia berakhir. Maka Allah Taala berfirman: Sungguh keinginanmu telah pendek, dan sungguh engkau meminta di bawah kedudukanmu. Ini untukmu dari-Ku, karena tidak ada dalam pemberian-Ku kesusahan atau kekurangan tangan.

Ia berkata: Kemudian Dia berfirman: Perlihatkanlah kepada hamba-hamba-Ku apa yang tidak sampai keinginan mereka dan tidak terlintas dalam pikiran mereka. Ia berkata: Maka mereka memperlihatkan kepada mereka hingga keinginan yang ada dalam diri mereka menjadi pendek. Termasuk yang mereka perlihatkan kepada mereka adalah kuda-kuda yang berpasangan, setiap empat ekor di antaranya ada tempat tidur dari satu yakut, di atas setiap tempat tidur ada kubah emas yang berongga. Di setiap kubah ada kasur-kasur surga yang berlapis-lapis. Di setiap kasur ada dua bidadari dari para houri. Setiap bidadari memakai dua pakaian dari pakaian surga, tidak ada warna di surga kecuali ada padanya, tidak ada angin dan parfum kecuali harum padanya. Cahaya wajah mereka tembus kubah hingga yang melihatnya mengira keduanya di bawah kubah. Dia melihat sumsum mereka dari atas kaki mereka seperti benang putih dalam yakut merah. Mereka berdua melihatnya memiliki kelebihan atas yang lain seperti kelebihan matahari atas batu atau lebih. Dia melihat keduanya seperti itu juga. Dia masuk kepada keduanya, mereka memberinya salam, menciumnya, dan bergelayut dengannya sambil berkata: Demi Allah, kami tidak mengira Allah menciptakan sepertimu. Kemudian Allah memerintahkan para malaikat, mereka berjalan dengan mereka berbaris di surga hingga setiap orang sampai ke tempat tinggalnya yang telah disediakan untuknya.

Pembicaraan ini diriwayatkan Ibnu Jarir ketika menafsirkan ayat ini, demikian juga (Ad-Durr al-Mantsur) karya Imam As-Suyuthi ketika menafsirkan ayat ini.

Adapun Allama Ibnu Katsir, ia menggambarkan dalam tafsirnya atsar ini setelah mengemukakannya secara ringkas bahwa ia aneh dan mengherankan, dan mengemukakannya. Atsar ini diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Wahab juga, dan menambah tambahan-tambahan lain meskipun Ibnu Abi Hatim telah mensyaratkan tidak mengeluarkan kecuali yang sahih, namun ia mengemukakan atsar ini juga. Demikian juga disebutkan Al-Baghawi dan lainnya.

Tafsir yang Benar untuk Firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan bekerja amal saleh, bagi mereka kebahagiaan” (Surah Ar-Ra’d: 29):

Yang diriwayatkan dari para salaf dalam menafsirkan “tuba” berbeda dengan yang telah disebutkan. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dalam menafsirkannya, ia berkata: “Kegembiraan bagi mereka dan penyejuk mata: Orang-orang yang beriman dan bekerja amal saleh, bagi mereka kebahagiaan. Ikrimah berkata: sebaik-baik harta mereka. Qatadah berkata: kebaikan bagi mereka. Ibrahim an-Nakha’i berkata: kebaikan dan kemuliaan bagi mereka. Juga diriwayatkan dari beberapa sahabat dan tidak seorang pun dari salaf: bahwa tuba adalah pohon di surga. Bahkan hal itu diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfu’: “Tuba adalah pohon di surga, naungannya dapat ditempuh perjalanan seratus tahun, pakaian ahli surga keluar dari kuncup-kuncupnya”. Ini adalah perkataan yang disebutkan oleh Allamah Ibnu Katsir.

Bahkan juga dikatakan: bahwa pohon yang disebutkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam haditsnya: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang dapat ditempuh pengendara dalam naungannya seratus tahun namun tidak dapat memotongnya”. Hadits ini tentu saja ada dalam Musnad Ahmad dan disepakati dalam Bukhari dan Muslim. Dikatakan bahwa pohon itu yaitu pohon tuba adalah yang digambarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa pengendara berjalan dalam naungannya seratus tahun namun tidak dapat memotong naungannya. Dalam beberapa riwayat Imam Ahmad dan Bukhari, bacalah jika kalian mau: “Dan naungan yang terbentang” (Surah Al-Waqi’ah: 30) hingga akhirnya.

Kami tidak mengingkari kemungkinan bahwa pohon yang disebutkan dalam hadits sahih itu adalah pohon ini, namun yang kami ingkari dan kami katakan bahwa itu termasuk israiliyyat adalah tambahan-tambahan yang ditambahkan oleh Wahb dan orang-orang yang mengambil darinya berupa dongeng dan hal-hal menakutkan ini. Kami sudah cukup dengan apa yang terbukti dalam hadits-hadits sahih, dan kami berpendapat bahwa hadits-hadits sahih datang tanpa dongeng dan hal-hal menakutkan yang kami bersihkan dari riwayat Islam.

Semoga Allah memberikan shalawat kepada penghulu kami Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya dan memberikan keselamatan.

 

 

Pelajaran: 7 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (5)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Ketujuh (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (5))

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga Allah memberikan shalawat kepada penghulu kami Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya, amma ba’du:

Kisah Dzulkarnain:

Orang yang dibicarakan oleh Surah “Al-Kahf”, dan dijelaskan kepada kita bahwa dia adalah seorang raja yang diberikan Allah segala sesuatu. Al-Quran al-Karim ketika mengisyaratkan kepada sesuatu, ia mengisyaratkan kepada sesuatu secara singkat sesuai dengan pelajaran dan ibrah yang diambil, namun israiliyyat membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak ada kisah nabi, atau kisah tokoh seperti Dzulkarnain, Luqman, Ashabul Ukhdud, Uzair, dan lainnya, kecuali israiliyyat menyebar ke dalam kitab-kitab tafsir dengan berita-berita banyak dalam hal ini.

Maka kami katakan: Di antara israiliyyat yang meluap dalam sebagian kitab tafsir adalah yang mereka sebutkan dalam tafsir mereka ketika ayat-ayat yang disebutkan dalam Surah Al-Kahf.

Adapun ayat-ayatnya adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentang dia. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan'” (Surah Al-Kahf: 83-85) dan ayat-ayat berlanjut: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari” (Surah Al-Kahf: 86) “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari” (Surah Al-Kahf: 90) “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung” (Surah Al-Kahf: 93). Ayat-ayat turun dalam hal ini dengan jelas, meringkas pemberitaan tentang raja yang taat kepada Allah ini, dan Allah menundukkan baginya banyak hal sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan”.

Imam Ibnu Jarir biasanya adalah orang pertama yang berbicara dan meriwayatkan berita-berita ini seperti tafsir-tafsir kuno lainnya. Dia menyebutkan dalam tafsirnya dengan sanadnya dari Wahb bin Munabbih al-Yamani, yang memiliki pengetahuan tentang hadits-hadits terdahulu, memiliki keahlian dan hubungan dengan berita-berita kuno dan kisah-kisah lama, dan apa yang ada sebelum Islam. Ia berkata: Dzulkarnain adalah seorang laki-laki dari Rum, anak seorang nenek tua dari nenek-nenek tua mereka, tidak memiliki anak selain dia, dan namanya adalah Iskandar, dan dia disebut Dzulkarnain karena kedua sisi kepalanya terbuat dari tembaga. Ketika dia dewasa: dan dia adalah hamba yang saleh, Allah Azza wa Jalla berkata kepadanya: Wahai Dzulkarnain, sesungguhnya Aku mengutusmu kepada umat-umat bumi, dan mereka adalah umat-umat yang berbeda bahasa mereka, dan mereka semua adalah penduduk bumi, dan di antara mereka ada dua umat di antara keduanya sepanjang bumi seluruhnya, dan di antara mereka ada dua umat di antara keduanya selebar bumi seluruhnya, dan umat-umat di tengah bumi di antara mereka jin dan manusia serta Ya’juj dan Ma’juj.

Kemudian dia melanjutkan menyebutkan sifat-sifatnya, dan apa yang diberikan Allah kepadanya berupa ilmu dan hikmah, dan sifat-sifat kaum yang dia temui, dan apa yang dia katakan kepada mereka, dan apa yang mereka katakan kepadanya. Di tengah itu dia menyebutkan apa yang tidak disaksikan oleh akal atau naql, dan dia telah menghitamkan dengan berita-berita ini lebih dari empat halaman dari kitabnya (Jami’ al-Bayan) yang tidak memiliki sandaran.

Sesungguhnya telah datang dalam kisah Dzulkarnain berita-berita dan riwayat-riwayat banyak, yang disebutkan Ibnu Jarir dalam tafsirnya dan lainnya, dan kami telah sampai bahwa dia menyebutkan hal-hal yang tidak disaksikan oleh akal atau naql, dan apa yang datang dalam penggambaran Dzulkarnain dan umat-umat yang dia saksikan.

Datang juga riwayat-riwayat lain dalam sebab penamaannya dengan “Dzulkarnain” yang tidak lepas dari kesalahan atau kekacauan dan kebingungan. Hal itu disebutkan selain Ibnu Jarir, Imam as-Suyuti dalam kitabnya tafsir (ad-Durr al-Mantsur), di mana dia berkata:

Dan mengeluarkan Ibnu Ishaq dan Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim, dan asy-Syirazi dalam (al-Alqab), dan Abu asy-Syaikh, dari Wahb bin Munabbih al-Yamani juga, dan dia adalah pemilik riwayat yang diriwayatkan Ibnu Jarir, yang memiliki pengetahuan tentang hadits-hadits terdahulu bahwa dia berkata: Dzulkarnain adalah seorang laki-laki dari Rum, anak seorang nenek tua dari nenek-nenek tua mereka yang tidak memiliki anak selain dia, dan namanya adalah “Iskandar”, dan dia disebut Dzulkarnain karena kedua sisi kepalanya terbuat dari tembaga, demikian sebagaimana datang riwayat Ibnu Jarir. Kami tidak ragu bahwa itu termasuk apa yang diterima Wahb bin Munabbih dari kitab-kitab mereka, dan di dalamnya ada kebatilan dan kebohongan.

Kemudian sebagian Tabi’in mengambilnya darinya, dan Muhammad bin Ishaq dan lainnya dari pemilik kitab-kitab tafsir, sirah dan berita mengambilnya dari mereka. Semoga Allah merahmati Imam Hafizh Ibnu Katsir di mana dia berkata dalam tafsirnya:

Dan Ibnu Jarir telah menyebutkan di sini dari Wahb bin Munabbih atsar yang panjang dan menakjubkan dalam perjalanan Dzulkarnain, dan pembangunannya bendungan, dan bagaimana apa yang terjadi padanya, dan di dalamnya ada kepanjangan dan keanehan dan keingkaran dalam bentuk mereka dan sifat-sifat mereka dan tinggi mereka dan pendek sebagian mereka dan telinga mereka, hingga selain itu.

Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits aneh dalam hal itu yang tidak sahih sanad-sanadnya, wallahu a’lam.

Ini adalah perkataan Ibnu Katsir, dan meskipun sanadnya sahih kepadanya, tidak diragukan bahwa itu termasuk israiliyyat; karena tidak ada pertentangan antara dua hal; itu sahih sanadnya kepada orang yang diriwayatkan darinya, namun pada dirinya termasuk kisah-kisah Bani Israil yang bohong dan batil serta berita-berita mereka yang tidak sahih. Seandainya israiliyyat ini berhenti pada sumber-sumbernya atau orang-orang yang membawanya dari mereka dari kalangan sahabat dan tabi’in, maka perkara itu dapat diterima, namun dosa dan kebohongan dan kebatilan adalah menisbatkan berita-berita ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Seandainya itu sebagaimana kami sebutkan sebelumnya, sahih dalam makna dan strukturnya, tidak halal menisbatkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selamanya, apalagi itu adalah kebohongan yang dibuat-buat dan berita-berita batil.

Ibnu Jarir dan lainnya juga meriwayatkan ketika menafsirkan firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentang dia'” (Surah Al-Kahf: 83), dia menyebutkan hadits marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mengatakan: Menceritakan kepada kami Abu Kuraib berkata: menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab dari Ibnu Lahi’ah berkata: menceritakan kepada saya Abdurrahman bin Ziyad bin An’um, dari dua orang tua dari Tujib bahwa keduanya pergi kepada Uqbah bin Amir lalu berkata kepadanya: kami datang agar engkau bercerita kepada kami, maka dia berkata: “Aku pada suatu hari melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu aku keluar dari sisinya, maka aku bertemu dengan kaum dari Ahli Kitab, lalu mereka berkata: kami ingin bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka mintalah izin untuk kami kepadanya, maka aku masuk kepadanya lalu aku memberitahunya, maka dia berkata: apa urusanku dan mereka, aku tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang diajarkan Allah kepadaku, kemudian dia berkata: tuangkan air untukku, lalu dia berwudhu kemudian shalat, berkata: ketika dia selesai hingga aku mengenali kegembiraan di wajahnya, kemudian dia berkata: masukkan mereka kepadaku dan siapa yang engkau lihat dari sahabat-sahabatku, maka mereka masuk lalu berdiri di hadapannya, maka dia berkata: jika kalian mau bertanya maka aku akan memberitahu kalian tentang apa yang kalian dapati tertulis dalam kitab kalian, dan jika kalian mau aku yang memberitahu kalian, mereka berkata: ya, beritahu kami, dia berkata: kalian datang bertanya tentang Dzulkarnain, dan apa yang kalian dapati dalam kitab kalian, dia adalah seorang pemuda dari Rum, lalu dia datang dan membangun kota Mesir Iskandariah, ketika dia selesai datanglah seorang malaikat, lalu naik bersamanya ke langit, lalu berkata kepadanya: apa yang engkau lihat, maka dia berkata: aku melihat kotaku dan kota-kota, kemudian naik bersamanya lalu berkata: apa yang engkau lihat? Dia berkata: aku melihat kotaku, kemudian naik bersamanya, lalu berkata: apa yang engkau lihat? Dia berkata: aku melihat bumi, berkata: maka inilah lautan yang mengelilingi dunia, sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu untuk mengajar yang bodoh, dan meneguhkan yang alim, lalu dia dibawa ke bendungan, dan itu adalah dua gunung yang lembut yang licin segala sesuatu darinya, kemudian berjalan bersamanya hingga melewati Ya’juj dan Ma’juj, kemudian berjalan bersamanya ke umat lain, wajah-wajah mereka wajah anjing, mereka memerangi Ya’juj dan Ma’juj, kemudian berjalan bersamanya hingga memotong dengan dia umat lain yang memerangi mereka yang wajah-wajahnya wajah anjing, kemudian berjalan hingga memotong bersamanya mereka ke umat lain yang telah dia namakan”, kemudian mengomentari itu dengan menyebutkan riwayat-riwayat dalam sebab penamaannya dengan Dzulkarnain.. dst. Semua ini disebutkan (Jami’ al-Bayan) Ibnu Jarir.

Dan Imam as-Suyuti menyebutkan dalam (ad-Durr al-Mantsur) seperti itu, dan berkata: sesungguhnya dia mengeluarkannya Ibnu Abdul Hakam dalam (Tarikh Mesir), dan Ibnu Abi Hatim dan Abu asy-Syaikh dan al-Baihaqi dalam (ad-Dalail). Kenyataannya bahwa semua ini termasuk israiliyyat yang diselipkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Seandainya aku mau bersumpah antara Rukun dan Maqam bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan ini, pasti aku bersumpah. Ibnu Lahi’ah lemah dalam hadits, dan Imam Hafizh Ibnu Katsir telah membuka untuk kami hakikat riwayat ini dalam tafsirnya, dan menyalahkan orang yang meriwayatkannya, maka dia berkata rahimahullah:

Dan Ibnu Jarir telah menyebutkan di sini dan al-Umawi dalam maghazi-nya, hadits yang dia sanadkan dan itu lemah, dari Uqbah bin Amir, bahwa beberapa orang Yahudi datang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang Dzulkarnain maka dia memberitahu mereka dengan apa yang mereka datangi dari awal, maka di antara apa yang dia beritahukan kepada mereka: bahwa dia adalah seorang pemuda dari Rum, dan bahwa dia membangun Iskandariah, dan bahwa seorang malaikat naik bersamanya ke langit, dan pergi bersamanya ke bendungan, dan melihat kaum-kaum yang wajah-wajah mereka seperti wajah anjing, dan di dalamnya ada kepanjangan dan keingkaran, dan menisbatkannya tidak sahih, dan paling banyak yang ada di dalamnya bahwa itu dari berita-berita Bani Israil. Yang mengherankan bahwa Abu Zur’ah ar-Razi, dengan keagungan kedudukannya, menyebutkannya seluruhnya dalam kitabnya (Dalail an-Nubuwwah), dan itu aneh darinya, dan di dalamnya ada keingkaran bahwa dia dari Rum, dan sesungguhnya yang dari Rum adalah Iskandar yang kedua dan dia adalah putra Philippus Makedoni, yang dijadikan penanggalan oleh Rum, dan menterinya adalah Aristoteles filsuf terkenal, wallahu a’lam. Ini adalah perkataan Allamah Ibnu Katsir.

Dan di sini kami bertanya siapa Dzulkarnain?

Yang kami yakini bahwa dia bukan Iskandar Makedoni; karena apa yang disebutkan para sejarawan dalam sejarahnya tidak sesuai dengan apa yang diceritakan Al-Quran al-Karim tentang Dzulkarnain. Yang kami yakini juga bahwa dia adalah seorang laki-laki mukmin yang saleh, menguasai timur bumi dan baratnya, dan dari perkaranya sebagaimana Allah Ta’ala kisahkan dalam kitab-Nya, dan inilah yang seharusnya kita imani dan kita benarkan. Adapun mengetahui identitasnya, dan apa namanya? Dan dari mana? Dan di zaman kapan dia ada? Maka tidak ada dalam Al-Quran dan tidak dalam Sunnah sahih yang menunjukkan itu. Padahal mengambil pelajaran dari kisahnya dan mengambil manfaat darinya tidak tergantung pada sesuatu dari itu, dan itu adalah ciri dari ciri-ciri kisah Qurani, dan kekhususan dari kekhususannya bahwa dia tidak peduli dengan orang-orang dan waktu dan tempat sebagaimana dia peduli dengan mengambil ibrah darinya, dan mengambil manfaat darinya, dan pelajaran-pelajaran yang diambil manfaat oleh manusia untuk apa yang diceritakan.

Kisah Ya’juj dan Ma’juj

Berkaitan juga dengan kisah “Dzulkarnain” apa yang berkaitan dengan kisah “Ya’juj dan Ma’juj”, dan itu juga tidak selamat dari penyebutan israiliyyat. Guru kami Syaikh Abu Syuhbah berkata: Di antara israiliyyat yang dicirikan dengan keanehan, dan keluar dari sunnah Allah dalam fitrah dan penciptaan Bani Adam adalah apa yang disebutkan sebagian mufassir dalam tafsir mereka ketika firman-Nya: “Mereka berkata: ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?'” (Surah Al-Kahf: 94). Dalam maknanya mereka menyebutkan tentang Ya’juj dan Ma’juj banyak hal dari keajaiban dan keanehan.

Allamah as-Suyuti berkata dalam (ad-Durr al-Mantsur) juz kelima, dalam tafsir ayat-ayat ini: mengeluarkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Adi dan Ibnu Asakir dan Ibnu an-Najjar, dari Hudzaifah berkata: aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang Ya’juj dan Ma’juj, maka dia berkata: “Ya’juj dan Ma’juj adalah umat, setiap umat empat ratus ribu umat, tidak mati seorang pun dari mereka hingga dia melihat seribu laki-laki dari tulang belakangnya, setiap yang membawa senjata, aku berkata: ya Rasulullah gambarkan mereka untuk kami, dia berkata: mereka tiga golongan; golongan dari mereka seperti pohon araz, aku berkata: apa itu araz? Dia berkata pohon di Syam tinggi pohon itu seratus dua puluh hasta ke langit, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: mereka inilah yang tidak dapat menghadapi mereka gunung atau besi, dan golongan dari mereka menghamparkan salah satu telinganya dan berselimut dengan yang lain, mereka tidak melewati gajah atau binatang buas atau unta atau babi kecuali memakannya, dan siapa yang mati dari mereka mereka memakannya, barisan depan mereka di Syam dan barisan belakang mereka meminum sungai-sungai Mashriq dan danau Thabariyyah”. Dan Ibnu Jarir telah menyebutkan dalam tafsirnya riwayat ini dan riwayat-riwayat lain yang mauquf, dan demikian pula al-Qurthubi dalam tafsirnya. Jika sebagian zindiq membolehkan diri mereka menisbatkan ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka bagaimana imam-imam ini membolehkan menyebutkan riwayat-riwayat yang dibuat-buat dan didustakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kitab-kitab mereka. Dan hadits marfu’ ini, Imam Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi dalam Maudu’atnya dan lainnya menyatakan bahwa itu maudu’, dan dia juga menyebutkan (al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudu’ah), dan as-Suyuti menyetujuinya dalam kitabnya (al-La’ali). Maka bagaimana dia menyebutkannya dalam tafsirnya dan tidak mengomentarinya. Dan memang pantas dia maudu’, karena yang maksum shallallahu alaihi wa sallam lebih mulia dari diriwayatkan darinya khayalan-khayalan seperti ini.

Dan dalam kitab-kitab tafsir terdapat banyak sekali percampuran dan hadits-hadits khurafat seperti ini, dan mereka meriwayatkan dalam hal ini dari Abdullah bin Amru dan Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Mas’ud dan dari Ka’b Al-Ahbar, dan agar kamu yakin bahwa apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sesungguhnya adalah isra’iliyat yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bohong dan dusta, kami sebutkan untukmu apa yang diriwayatkan dari Ka’b, dia berkata:

“Ya’juj dan Ma’juj diciptakan tiga jenis; satu jenis seperti pohon cedar, satu jenis tingginya empat hasta dan lebarnya empat hasta, dan satu jenis mereka menghamparkan telinga mereka dan berselimut dengan yang lain, mereka memakan ari-ari para wanita mereka.” Ari-ari tentu saja jamak dari ari-ari, yaitu sesuatu yang turun bersama janin ketika dilahirkan, dan darinya janin mendapat makanan di dalam perut ibunya, hal-hal yang menakjubkan, dan sementara kita melihat mereka menyebutkan tentang dahsyat dan besarnya penciptaan mereka seperti yang saya sebutkan sekarang dan apa yang kita dengar ketika mereka meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj sejengkal dan dua jengkal, dan yang paling tinggi di antara mereka tiga jengkal, dan mereka adalah dari keturunan Adam,” semua ini perkataan yang saling bertentangan, bahkan mereka meriwayatkan dari dia bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Allah mengutusku pada malam aku diisra’kan ke Ya’juj dan Ma’juj, maka aku menyeru mereka kepada agama Allah dan ibadah kepada-Nya, namun mereka menolak memenuhi seruanku, maka mereka di dalam neraka bersama orang-orang yang bermaksiat dari keturunan Adam dan Iblis,” dan yang mengherankan bahwa Imam As-Suyuthi berkata tentang hadits ini: Sesungguhnya sanadnya lemah, dan aku tidak tahu mengapa dia menyebutkannya padahal sanadnya lemah, Imam Syaikh Abu Syuhbah heran dengan perbuatan Imam As-Suyuthi; jika dia sudah menghukumi sanadnya lemah maka mengapa dia menyebutkannya?

Pengarang (Ad-Dur) Imam As-Suyuthi berkata:

“Dan mengeluarkan Abd bin Humaid dan Ibnu Al-Mundzir dan Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dalam (Al-Ba’ts) dan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Ya’juj dari keturunan Adam, dan jika mereka dilepaskan niscaya mereka akan merusak kehidupan manusia, dan tidak mati seorang pun dari mereka melainkan dia meninggalkan dari keturunannya seribu orang atau lebih, dan sesungguhnya di belakang mereka ada tiga kaum, Tawil dan Taris dan Mansak.”

Dia berkata: Dan mengeluarkan Ahmad dan At-Tirmidzi dan dia menilainya hasan dan Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan dia menshahihkannya dan Al-Baihaqi dalam (Al-Ba’ts) dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj menggali tembok setiap hari, hingga ketika mereka hampir melihat sinar matahari, berkatalah pemimpin mereka: Kembalilah, kalian akan membukanya besok dan dia tidak ber-istitsnanya” yakni: tidak berkata: insya Allah; karena jika dia berkata: insya Allah itu dalam makna pengecualian; yakni: kecuali jika Allah menghendaki dia berkata: kalian akan membukanya besok dan dia tidak ber-istitsnanya, “maka ketika mereka bangun pagi mereka mendapati tembok itu telah kembali seperti semula, maka ketika Allah menghendaki keluarnya mereka kepada manusia, berkatalah pemimpin mereka: Kembalilah, kalian akan membukanya insya Allah dan dia ber-istitsnanya, maka mereka kembali kepadanya dan dia dalam keadaan seperti saat mereka meninggalkannya, lalu mereka menggalinya dan keluar kepada manusia, maka mereka meminum air-air dan manusia berlindung dari mereka di dalam benteng-benteng mereka, lalu mereka melemparkan anak panah mereka ke langit maka kembali berlumuran darah, maka mereka berkata: Kami telah mengalahkan yang di bumi, dan kami menguasai yang di langit, mereka sangat kejam dan sombong, maka Allah mengirimkan kepada mereka naghaf (sejenis serangga) di leher-leher mereka maka mereka binasa,” Allah mengirimkan kepada mereka naghaf, naghaf: sejenis serangga dan cacing, biasanya ada di hidung unta dan kambing, dan naghaf jamak tunggalnya naghfah, Allah mengutus kepada mereka serangga dan cacing ini di leher-leher mereka maka mereka binasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya binatang-binatang bumi menjadi gemuk dan bersyukur sekali karena daging-daging mereka,” ini adalah akibat mereka memakan dari mereka, hadits ini bagaimanapun, disebutkan oleh pengarang (Ad-Dur Al-Mantsur) Imam As-Suyuthi, dan apapun sanad seperti ini, maka dia dari isra’iliyat dari Ka’b dan sejenisnya, dan mungkin menisbatkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kesalahan dan kekeliruan dari sebagian perawi, atau tipu daya yang digunakan orang-orang zindiq Yahudi untuk menyerang Islam, dan menampilkan Rasul-nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tampilan orang yang meriwayatkan apa yang bertentangan dengan Al-Quran, maka Al-Quran telah menetapkan dengan tidak dapat diragukan bahwa mereka tidak mampu menaklukkan tembok itu, ayat-ayatnya jelas: {Maka mereka tidak dapat menaklukkannya dan tidak dapat (pula) melobanginya} (Surat Al-Kahf: 97), maka mereka tidak mampu menaklukkan tembok itu, dan tidak mampu pula melobanginya sebagaimana datang dalam ayat yang ketujuh puluh tujuh.

Dan inilah yang disebutkan dalam hal ini oleh Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dan dia adalah kritikus yang cerdas, Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya setelah menyebutkan siapa yang meriwayatkan hadits ini, dia berkata: Dan mengeluarkannya At-Tirmidzi dari hadits Abu Awanah dari Qatadah, kemudian dia berkata: gharib tidak dikenal kecuali dari jalan ini, dan sanadnya baik kuat, tetapi matannya dalam marfu’nya ada keanehan; karena zhahir ayat menuntut bahwa mereka tidak mampu menaikinya, dan tidak mampu melobanginya, karena kuat bangunannya dan kerasnya serta kekuatannya, tetapi ini telah diriwayatkan dari Ka’b Al-Ahbar bahwa mereka sebelum keluar mereka mendatanginya lalu menjilatnya, hingga tidak tersisa darinya kecuali sedikit, lalu mereka berkata: besok kami akan membukanya, lalu mereka datang esok harinya dan sudah kembali seperti semula lalu mereka menjilatnya, hingga tidak tersisa darinya kecuali sedikit, lalu mereka berkata demikian maka mereka bangun pagi dan dia seperti semula, lalu mereka menjilatnya dan berkata: besok kami akan membukanya, dan mereka diberi ilham untuk berkata: insya Allah, maka mereka bangun pagi dan dia seperti saat mereka meninggalkannya lalu mereka membukanya, dan ini masuk akal, dan mungkin Abu Hurairah menerimanya dari Ka’b karena dia sering duduk bersamanya dan bercerita dengannya, lalu Abu Hurairah bercerita dengannya, maka dikira sebagian perawi darinya bahwa itu marfu’, maka mereka men-marfu’-kannya, wallahu a’lam. Ini disebutkan dalam (Tafsir Ibnu Katsir). Sesungguhnya dari isra’iliyat yang mungkar dalam hal ini apa yang juga diriwayatkan, bahwa Ya’juj dan Ma’juj diciptakan dari air mani yang keluar dari Adam, lalu bercampur dengan tanah, dan mereka mengklaim bahwa Adam sedang tidur lalu bermimpi basah, maka dari situlah air maninya bercampur dengan tanah, dan diketahui bahwa para nabi tidak bermimpi basah; karena mimpi basah dari setan, Ibnu Katsir berkata: Dan ini perkataan yang sangat aneh sekali tidak ada dalil atasnya tidak dari akal maupun dari naql, dan tidak boleh bergantung di sini pada apa yang diceritakan sebagian Ahli Kitab; karena apa yang ada pada mereka dari hadits-hadits buatan, wallahu a’lam. Tentu saja ini disebutkan pada Ibnu Katsir dan pada selainnya.

Dan kesimpulannya: Sesungguhnya Dzulqarnain, dan Ya’juj Ma’juj adalah kenyataan yang tetap, dan Ashabul Kahf adalah kenyataan yang tetap, disebutkan oleh Surat “Al-Kahf”, tidak diragukan dalam hal itu, apalagi sudah mengabarkan kepada kita Al-Quran yang tidak datang kepadanya kebatilan dari hadapan dan dari belakangnya, tetapi yang kita ingkari dengan sangat adalah khurafat dan dongeng ini yang dirajut seputar mereka, dan diselundupkan ke dalam riwayat-riwayat Isra’iliyat, dan Allah berlepas diri darinya, dan Rasul-Nya berlepas diri darinya, dan sesungguhnya itu dari berita-berita Bani Israil dan kebohongan serta tahrif mereka.

Kisah Anak yang Disembelih putra Ibrahim alaihissalam –

Kita beralih ke topik luas yang banyak diperbincangkan di dalamnya, dan juga dipenuhi dengan isra’iliyat yang banyak, yaitu apa yang datang dalam kisah anak yang disembelih putra Ibrahim alaihissalam apakah dia Sayyidina Ismail atau bahwa dia Sayyidina Ishaq?.

Datang dalam hal ini isra’iliyat yang banyak dan banyak; dan dari isra’iliyat apa yang disebutkan banyak mufassir ketika menafsirkan ayat-ayat yang menyebutkan ini secara terperinci, dalam firman-Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi dalam Surat “Ash-Shaffat”: {Dan dia berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku * Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh * Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar * Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar * Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya) * Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim * Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik * Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata * Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar * Dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian * Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim * Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik * Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman * Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shaleh * Dan Kami limpahkan berkat atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata} (Surat Ash-Shaffat: 99 – 113).

Ayat-ayat ini dalam tafsirnya di sebagian besar kitab tafsir, para mufassir meriwayatkan riwayat-riwayat yang banyak dipimpin oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya untuk ayat-ayat dalam (Jami’ Al-Bayan), dan demikian juga Al-Baghawi dalam (Ma’alim At-Tanzil), dan pengarang (Ad-Dur Al-Mantsur) Imam As-Suyuthi, riwayat-riwayat banyak dari sebagian sahabat dan tabi’in dan Ka’b Al-Ahbar, dan kebanyakannya menitikberatkan bahwa yang disembelih adalah Ishaq, Subhanallah Al-Azhim, yang diketahui bahwa yang disembelih adalah Sayyidina Ismail dan bukan Ishaq, dan meskipun demikian para mufassir menyebutkan riwayat-riwayat banyak dalam hal ini, kita akan berdiri padanya insya Allah.

Dan perkara tidak berhenti dan tidak terbatas pada yang disebutkan dari sahabat dan tabi’in, bahkan sebagian dari mereka menisbatkan itu secara bohong kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka telah meriwayatkan Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib dari Zaid bin Hubab dari Al-Hasan bin Dinar, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf bin Qais dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Yang disembelih adalah Ishaq,” dan ini hadits dha’if yang gugur, tidak sah untuk berdalil dengannya, maka Al-Hasan bin Dinar tertolak, dan gurunya Ali bin Zaid bin Jud’an mungkar hadits-haditsnya, maka ini menunjukkan derajat hadits ini.

Dan mengeluarkan Ad-Dailami dalam (Musnad Al-Firdaus) dengan sanadnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Dawud meminta kepada Tuhannya suatu permintaan, lalu dia berkata: Jadikanlah aku seperti Ibrahim dan Ishaq dan Ya’qub, maka Allah mewahyukan kepadanya; Sesungguhnya Aku telah menguji Ibrahim dengan api maka dia sabar, dan Aku menguji Ishaq dengan disembelih maka dia sabar, dan Aku menguji Ya’qub maka dia sabar,” ini tentu saja perkataan yang tidak sahih. Dan juga mengeluarkan Ad-Daraquthni dan Ad-Dailami dalam (Musnad Al-Firdaus) dengan sanad mereka, dari Ibnu Mas’ud dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang disembelih adalah Ishaq,” dan ini hadits-hadits yang tidak sahih, begitu kata ulama kita; ulama jarh wa ta’dil, dan ulama hadits, dan di depan mereka guru kita “Syaikh Abu Syuhbah” berkata: Dan ini hadits-hadits yang tidak tetap dan tidak sahih, dan hadits-hadits Ad-Dailami dalam (Musnad Al-Firdaus) keadaannya diketahui, dan Ad-Daraquthni mungkin mengeluarkan dalam (Sunan-nya) apa yang maudhu’.

Sebagaimana mengeluarkan Ath-Thabrani dalam (Al-Ausath), dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dari jalan Al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Atha bin Yasar, dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberiku pilihan antara mengampuni separuh umatku atau syafa’atku; maka aku pilih syafa’atku, dan aku berharap kepada-Nya agar itu lebih umum untuk umatku, seandainya yang mendahuluiku pada itu hamba yang shalih, niscaya aku mempercepat doaku, sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menghilangkan dari Ishaq kesusahan penyembelihan, dikatakan kepadanya: Wahai Ishaq, mintalah niscaya kamu diberi, dia berkata: Adapun demi Allah sungguh aku akan menyegerakannya sebelum bisikan setan, Ya Allah barangsiapa mati tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan dia berbuat baik maka ampunilah dia.”

Dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dha’if, sebagaimana kata guru kita “Syaikh Abu Syuhbah”, dan Ibnu Zaid meriwayatkan hal-hal mungkar dan ghaib, maka tidak berdalil dengan riwayatnya, dan telah berkata Ibnu Katsir: Hadits gharib mungkar dan aku khawatir di dalamnya ada tambahan yang masuk, yaitu ucapannya: Sesungguhnya Allah ketika menghilangkan dari Ishaq kesusahan penyembelihan, dan jika itu mahfuzh maka yang lebih mirip bahwa dia Ismail dan mereka ubah dengan Ishaq.

Kepada selain itu dari berita-berita dan di dalamnya dari yang mauquf dan dha’if dan maudhu’ banyak, dan kapan sahih hadits marfu’ bahwa yang disembelih Ishaq kita terima, dan kita letakkan di atas mata dan kepala, tetapi itu sebagaimana kamu lihat tidak sahih darinya sesuatu, begitu kata Al-Allamah Al-Alusi ketika dia menyajikan itu. Dan yang benar bahwa riwayat-riwayat bahwa yang disembelih Ishaq adalah dari isra’iliyat Ahli Kitab, dan telah memindahkannya siapa yang masuk Islam dari mereka seperti Ka’b Al-Ahbar, dan membawanya dari mereka sebagian sahabat dan tabi’in, dengan berprasangka baik kepada mereka, maka mereka pergi kepadanya, dan datang setelah mereka ulama lalu tertipu dengannya, dan pergi kepada bahwa yang disembelih Ishaq, dan tidak ada satu kitab pun dari kitab-kitab tafsir dan sirah dan tarikh kecuali menyebutkan di dalamnya khilaf antara salaf dalam hal ini, kecuali bahwa di antara mereka ada yang mengikuti dengan penjelasan wajah kebenaran dalam hal ini, dan di antara mereka ada yang tidak mengikuti karena yakin dengannya dan tunduk kepadanya.

Berkata guru kita Al-Allamah fadhilah Syaikh Doktor “Muhammad Abu Syuhbah”: Dan hakikat riwayat-riwayat ini bahwa itu dari buatan Ahli Kitab; karena permusuhan mereka yang mengakar sejak dahulu kala kepada Nabi yang ummi Arab Muhammad alaihisshalaatu wassalam dan kaumnya orang Arab, maka mereka telah menginginkan agar tidak ada bagi Ismail kakek tertinggi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang Arab keutamaan bahwa dia yang disembelih; agar tidak mengalir itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada jenis Arab.

Kita katakan juga: Sesungguhnya mereka mengubah Taurat; Ahli Kitab mengubah Taurat, dan demi ini dan demi agar keutamaan ini menjadi milik kakek mereka Ishaq bukan milik saudaranya Ismail mereka mengubah Taurat dalam hal ini, tetapi Allah menolak kecuali mengabaikan apa yang menunjukkan kejahatan keji ini, dan pelaku kejahatan umumnya meninggalkan dari jejak-jejak apa yang menunjukkan kejahatannya, dan kebenaran tetap baginya sinar walau redup menunjukkan kepadanya meskipun orang-orang batil berusaha menyembunyikan cahayanya dan menghapus tanda-tandanya, maka mereka telah menghapus dari Taurat lafazh Ismail, dan meletakkan sebagai gantinya lafazh Ishaq, tetapi mereka lengah dari sebuah kata yang membuka kedok pemalsuan ini, dan pekerjaan kotor yang memalukan itu, dan inilah naskah Taurat:

Maka dalam Taurat pasal dua puluh dua, ayat kedua ini nash: “Maka Tuhan berkata ambillah anakmu tunggalmu yang kamu cintai Ishaq, dan pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran di atas salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” lihatlah ungkapan itu, maka tidak ada yang lebih menunjukkan kebohongan ini dari kata tunggalmu, dan Ishaq alaihissalam tidak pernah tunggal sama sekali; karena dia lahir dan Ismail berumur sekitar empat belas tahun, kita ketahui bahwa yang pertama diberi kabar gembira kepadanya Sayyidina Ibrahim dari anak-anak Sayyidina Ismail, kemudian adalah Ishaq setelah itu, dan ini tegas dalam Taurat mereka perkataan ini, dan telah tetap Ismail alaihissalam hingga mati ayahnya Al-Khalil Ibrahim dan hadir wafatnya dan menguburkannya.

Dan inilah yang datang dalam hal ini juga dalam kitab Kejadian, pasal enam belas, ayat enam belas ini nash yang lain: “Dan adalah Abram –kata Abram maksudnya Ibrahim– berumur delapan puluh enam tahun ketika Hajar melahirkan Ismail untuk Abram.”

Dan dalam kitab Kejadian pasal dua puluh satu ayat kelima: “Dan adalah Ibrahim berumur seratus tahun ketika lahir baginya Ishaq anaknya.”

Dan juga ungkapan lain: “Dan melihat Sarah anak Hajar Mesir yang dilahirkannya untuk Ibrahim bersenda gurau, maka Sarah berkata kepada Ibrahim: Usirlah budak wanita ini dan anaknya; karena anak budak wanita ini tidak akan mewarisi dengan anakku Ishaq, maka buruk sekali perkataan itu di mata Ibrahim karena anaknya, maka Allah berkata kepada Ibrahim: Jangan buruk di matamu karena anak laki-laki itu dan karena budak wanita-mu dalam segala yang Sarah katakan dengarkanlah perkataannya; karena melalui Ishaq akan disebut bagimu keturunan dan anak budak wanita juga akan Kujadikan satu kaum karena dia keturunanmu” .. hingga akhir kisah.

Maka perkataan di sini, apa kata orang-orang Yahudi yang mengubah dalam perkataan ini? Dan bagaimana mungkin Ishaq tunggal dengan nash-nash ini yang dari Taurat mereka yang mereka yakini kebenarannya dan mereka mengklaim bahwa itu tidak diubah? Kemudian apa pendapat mereka tentang riwayat-riwayat yang mengatakan: Sesungguhnya yang disembelih Ishaq setelah mereka yakin pengubahan Taurat dalam hal ini?. Telah menunjukkan Al-Quran Al-Karim dan menunjukkan Taurat dan riwayat Bukhari dalam shahihnya bahwa Al-Khalil Ibrahim alaihissalam menempatkan Hajar dan anaknya di sisi tempat Baitul Haram, dan telah dibangun setelahnya, dan berdiri Makkah di sisi Bait ini, dan telah mengungkapkan Taurat bahwa mereka berdua berada di padang gurun Faran, dan Faran adalah Makkah sebagaimana diungkapkan oleh Perjanjian Lama, dan inilah kebenaran bahwa kisah penyembelihan adalah panggungnya di Makkah dan Mina, dan di sana para haji menyembelih sembelihan mereka hari ini, dan telah mengubah orang Yahudi nash yang pertama dan menjadikannya gunung Moria, dan dia yang terletak di atasnya kota Urusyalim lama; kota Quds Islam hari ini; agar sempurna bagi mereka apa yang mereka inginkan maka menolak kebenaran kecuali menampakkan pengubahan mereka.

Dan telah menyebutkan Al-Allamah Syaikhul Islam “Ibnu Taimiyah” dan muridnya “Ibnu Katsir” bahwa dalam sebagian naskah Taurat lafazh “sulungmu” sebagai ganti kata “tunggalmu”, mereka berdua memindahkan ungkapan tunggalmu, “ambillah anakmu tunggalmu” dalam sebagian riwayat “ambillah anakmu sulungmu” sebagai ganti tunggalmu, dan ini lebih jelas dalam kebatilan dan lebih menunjukkan pengubahan perkataan orang Yahudi dalam Taurat mereka; sebab tidak pernah Ishaq sulung bagi Al-Khalil dengan nash Taurat.

Mari kita tegaskan bahwa yang disembelih adalah Ismail alaihissalam, maka kebenaran bahwa yang disembelih adalah Ismail alaihissalam dan dialah yang ditunjukkan oleh zhahir ayat-ayat Al-Quran, dan atsar-atsar dari sahabat dan tabi’in, dan di antaranya ada yang memiliki hukum rafa’ dengan taqrir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, maka tidak heran bahwa menuju kepadanya mayoritas sahabat dan tabi’in dan setelah mereka, dan imam-imam ilmu dan hadits; di antara mereka sahabat yang terpilih dan tuan-tuan ulama, di antara mereka Ali dan Ibnu Umar dan Abu Hurairah, maka telah disebutkan bahwa Al-Faruq Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya dia Ishaq, dan aku sangat meragukan itu, Imam Syaikh Abu Syuhbah berkata: Dan aku sangat meragukan itu bahwa Umar berkata: Sesungguhnya dia Ishaq, dan dia lebih terjaga dari tertipu dengan riwayat Ka’b, dan seandainya sahih apa yang dinukilkan darinya; niscaya anak terpengaruh dengan ayahnya, dan demikian juga berselisih dalam Ali, maka Al-Baghawi atas bahwa dia berkata: Ishaq, dan Ibnu Abi Hatim atas bahwa dia berkata: Ismail, tafsir Ibnu Katsir di dalamnya banyak.

Sahabat Terkenal: Ali, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abu Tufail, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Sya’bi, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Ka’b Al-Quradzi, Ibnu Al-Musayyab, Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir, Abu Shalih, Ar-Rabi’ bin Anas, Abu Amru bin Al-Ala’, Ibnu Hanbal Al-Imam, dan lain-lain; semua itu dalam riwayat-riwayat kuat yang tetap dari mereka bahwa dia adalah Ismail radiyallahu anhu, dan demikian pula diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Dalam (Zad Al-Mi’ad) karya Ibnu Qayyim disebutkan: Bahwa yang benar adalah yang disembelih adalah Ismail menurut para ulama sahabat dan tabi’in serta yang sesudah mereka, dan pendapat ini terkenal di kalangan orang Arab sebelum masa kenabian, mereka menyampaikannya secara mutawatir generasi demi generasi, dan Umayyah bin Abi Shalt menyebutkannya dalam syairnya.

Ulama besar “Syaikh Abu Syahbah” juga menyampaikan kepada kita dengan berkata di bawah judul: Para ulama muhaqqiq sepakat bahwa dia adalah Ismail alaihissalam, dia berkata: Ulama Ibnu Qayyim meriwayatkan dari kedua gurunya Ibnu Taimiyah perkataan yang intinya: Tidak ada perselisihan di antara para ahli nasab bahwa Adnan adalah keturunan Ismail alaihissalam, dan Ismail adalah pendapat yang benar menurut para ulama sahabat dan tabi’in serta yang sesudah mereka. Adapun pendapat bahwa dia adalah Ishaq maka itu batil dari dua puluh segi, dan aku mendengar Syaikhul Islam “Ibnu Taimiyah” -qaddasa Allahu ruhahu- berkata: “Pendapat ini diterima dari Ahli Kitab, pendapat bahwa dia adalah Ishaq, padahal itu batil berdasarkan nash kitab mereka sendiri, karena di dalamnya: Sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anak sulungnya, dan di dalamnya ada lafaz anak tunggalnya, dan tidak diragukan Ahli Kitab bersama kaum Muslimin bahwa Ismail adalah sulung anak-anaknya. Yang menyesatkan mereka adalah bahwa dalam Taurat yang ada di tangan mereka disebutkan ‘sembelihlah anakmu Ishaq’, beliau berkata: Dan tambahan ini adalah dari penyelewengan dan kebohongan mereka; karena itu bertentangan dengan perkataannya: sembelihlah anak sulungmu dan anak tunggalmu. Tetapi orang Yahudi iri kepada Bani Ismail atas kehormatan ini dan mereka ingin memilikinya, dan mengarahkannya kepada mereka, dan memilihnya untuk diri mereka sendiri tanpa orang Arab, dan Allah menolak kecuali menjadikan keutamaan-Nya untuk ahlinya. Kemudian kami berkata: Dan bagaimana dapat dikatakan: bahwa yang disembelih adalah Ishaq? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kabar gembira kepada ibu Ishaq dengan dia dan dengan anaknya Ya’qub, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan isterinya berdiri (di belakangnya), lalu dia tertawa, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (akan lahir) Ya’qub.” (Hud: 71), maka mustahil Dia memberi kabar gembira kepadanya bahwa akan ada anak baginya, dan bagi anak itu ada anak, kemudian memerintahkan untuk menyembelihnya. Ini perkataan agung dari guru kami Syaikh Abu Syahbah, dan tidak diragukan bahwa Ya’qub alaihissalam termasuk dalam kabar gembira. Yang menunjukkan hal itu juga adalah bahwa Allah menyebutkan kisah Ibrahim dan anaknya yang disembelih dalam surah “Ash-Shaffat”, kemudian setelah itu Dia berfirman: “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang shalih.” (Ash-Shaffat: 112), dan ini sangat jelas bahwa yang diberi kabar gembira berbeda dari yang pertama, bahkan seperti nash dalam hal itu. Tidak masuk akal dalam kalam yang paling fasih dan paling balagah untuk memberi kabar gembira dengan Ishaq setelah kisah di mana dia adalah yang disembelih; maka jelaslah bahwa yang disembelih adalah yang lain, dan ini tidak lain adalah Ismail alaihissalam.

Juga tidak diragukan bahwa yang disembelih berada di Mekah; karena itu jadilah kurban pada hari raya kurban di sana, sebagaimana dijadikan sa’i antara Shafa dan Marwah serta lempar jumrah; sebagai peringatan akan urusan Ismail dan ibunya, dan menegakkan dzikir Allah. Diketahui bahwa Ismail dan ibunya adalah yang berada di Mekah selain Ishaq dan ibunya. Seandainya penyembelihan di Syam -sebagaimana diklaim Ahli Kitab- niscaya kurban dan penyembelihan akan berada di Syam bukan di Mekah. Juga sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai yang disembelih “halim” (penyabar); karena tidak ada yang lebih sabar dari yang menyerahkan dirinya untuk disembelih dalam ketaatan kepada Tuhannya. Dan ketika menyebutkan Ishaq, Dia menamakannya “alim” (berilmu): “Maka dia merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: ‘Janganlah kamu takut’, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang berilmu (Ishaq).” (Adz-Dzariyat: 28), dan ini adalah Ishaq tanpa ragu; karena dia dari isterinya dan dialah yang diberi kabar gembira dengannya. Adapun Ismail maka dari gundik. Juga karena mereka berdua diberi kabar gembira dengannya pada masa tua dan putus asa dari anak, maka ujian mereka dengan menyembelihnya adalah perkara yang jauh. Adapun Ismail maka dia lahir sebelum itu.. sampai akhir perkataannya. Dan perkataan Ismail dari gundik; gundik: yaitu budak perempuan. Adapun atsar-atsar yang menunjukkan bahwa yang disembelih adalah Ismail maka banyak. Telah menunjukkan beberapa hadits dari para sahabat dan tabi’in, hadits-hadits dan atsar-atsar bahwa yang disembelih adalah Ismail. Al-Hakim meriwayatkan dalam (Al-Mustadrak) dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya dengan sanadnya, dan selain keduanya, dari Abdullah bin Sa’id Ash-Shanabhi dia berkata: “Kami menghadiri majelis Mu’awiyah, lalu orang-orang membicarakan Ismail dan Ishaq, siapa di antara keduanya yang disembelih? Sebagian berkata: Ismail, dan sebagian berkata: Ishaq. Maka Mu’awiyah berkata: Kalian telah sampai kepada yang ahli, kami pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu seorang Arab badui datang kepadanya, mereka berkata: Wahai Rasulullah, aku tinggalkan rumput kering, dan harta yang suram -maksudnya kehidupan penuh kesulitan dan kepahitan, kesulitan lapar dan haus- anak-anak binasa dan harta hilang, maka berilah aku dari apa yang telah Allah Ta’ala fa’kan kepadamu wahai anak dua yang disembelih. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersenyum dan tidak mengingkarinya. Maka orang-orang berkata: Siapa dua yang disembelih wahai Amirul Mukminin? Maka dia berkata: Sesungguhnya Abdul Muthalib ketika diperintahkan menggali sumur zamzam bernadzar kepada Allah jika urusan itu dimudahkan dia akan menyembelih sebagian anak-anaknya. Ketika selesai dia mengundi di antara mereka dan mereka sepuluh orang, maka undi keluar atas Abdullah, lalu dia hendak menyembelihnya tetapi dicegah oleh paman-pamannya dari Bani Makhzum, dan mereka berkata: Ridhai Tuhanmu dan tebusglah anakmu. Maka dia menebusnya dengan seratus unta. Mu’awiyah berkata: Ini satu dan yang lain adalah Ismail.”

Syaikh “Abu Syahbah” berkata dalam pentakhrijnya terhadap hadits ini: Hadits ini dalam hukum marfu’ karena taqrir Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap Arab badui atas perkataannya, dan terjadi perselisihan tentangnya; sebagian menshahihkannya, dan sebagian melemahkannya, tetapi itu atsar yang ada.

Dan bersaksilah seorang saksi atas keluarganya, telah meriwayatkan Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Ka’b Al-Quradzi, bahwa dia menyebutkan itu kepada Umar bin Abdul Aziz ketika dia menjadi khalifah, maka Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku perhatikan, dan sungguh aku melihatnya sebagaimana yang kamu katakan. Kemudian dia mengutus kepada seorang laki-laki yang dahulu Yahudi, lalu masuk Islam, dan Islam-nya baik, dan dia termasuk ulama mereka, lalu dia bertanya kepadanya: Anak Ibrahim yang mana yang diperintahkan untuk disembelih? Maka dia berkata: Ismail demi Allah wahai Amirul Mukminin, dan sesungguhnya orang Yahudi mengetahui hal itu, tetapi mereka iri kepada kalian wahai golongan Arab. Dan inilah kebenaran yang harus dituju. Ulama Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: Dan apa yang dijadikan dalil oleh Muhammad bin Ka’b Al-Quradzi bahwa dia adalah Ismail lebih tetap dan lebih shahih dan lebih kuat, wallahu a’lam. Lihat tafsir Ibnu Katsir, dan lihat juga (Ma’alim At-Tanzil) karya Al-Baghawi, mereka telah mengemukakan riwayat ini dan mengatakan perkataan ini.

Setelah penelitian dan pembahasan ini jelaslah bagi kita bahwa yang benar adalah yang disembelih adalah Ismail alaihissalam, dan apa yang diriwayatkan bahwa dia adalah Ishaq yang marfu’ darinya baik maudhu’ (palsu) atau dhaif tidak sah untuk dijadikan hujjah. Yang mauquf darinya kepada para sahabat atau kepada tabi’in jika sahih sanadnya kepada mereka, kami katakan: Sanadnya shahih tetapi dalam matan dari israiliyyat yang diriwayatkan Ahli Kitab yang masuk Islam, dan bahwa itu pada asalnya dari tipu daya Yahudi dan kebohongan mereka serta penyelewengan mereka terhadap nash-nash; karena iri kepada orang Arab dan nabi orang Arab, maka Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka dipalingkan. Mereka ingin mengatakan: Bahwa nabi dari orang Arab dari keturunan Ismail alaihissalam, kami katakan: Dia adalah rasul kami dari keturunan Ismail alaihissalam, tetapi mereka ingin mengatakan: Bahwa dia adalah nabi untuk orang Arab saja. Dan kami katakan: Dia adalah nabi Allah kepada kaumnya dan kepada seluruh manusia, maka dia adalah rasul Allah kepada semua manusia.

Sisipan Yahudi ini lolos pada sebagian ulama besar seperti Ibnu Jarir dan Qadhi Iyadh dan As-Suhail; maka mereka berpendapat bahwa dia adalah Ishaq. Dan sebagian mereka bingung dengan riwayat-riwayat lalu berhenti; Imam As-Suyuthi yang mengherankan dari dia bahwa kita melihatnya berhenti pada riwayat-riwayat ini. Dan sebagian mencoba mengumpulkan di antara keduanya lalu mengklaim bahwa penyembelihan terjadi dua kali, sesuatu yang mengherankan. Dan kebenaran adalah apa yang telah disebutkan sebelumnya yaitu bahwa dia adalah Ismail alaihissalam, maka itu adalah pendapat yang didukung oleh bukti-bukti dan atsar-atsar dan nash-nash, wallahu a’lam.

Kemudian kami berkomentar bahwa israiliyyat dalam kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu banyak, betapa banyaknya, dan betapa keras bahayanya bagi buku-buku kebudayaan Islam; khususnya buku-buku tafsir. Buku-buku tafsir dengan berbagai manhajnya datang di dalamnya israiliyyat yang dusta, riwayat-riwayat batil yang tidak terhitung jumlahnya. Dan ini berkaitan dengan kisah-kisah para nabi dan rasul serta umat-umat dan kaum-kaum terdahulu. Yang mengherankan bahwa sebagian sahabat dan tabi’in meriwayatkan omong kosong ini, dan mungkin menyandarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal riwayat-riwayat dan cerita-cerita ini tidak berkaitan dengan kebenaran, dan tidak berkaitan dengan Islam, tetapi itu dari khurafa Bani Israil dan kebohongan mereka serta kebohongan mereka kepada Allah dan rasul-Nya. Diriwayatkan dari Ahli Kitab yang masuk Islam dan diambil dari mereka oleh para sahabat atau sebagian sahabat dan tabi’in. Di dalamnya ada yang diselewengkan, dan di dalamnya ada yang dipindahkan dari kebatilan. Kenyataannya tidak mungkin menghitung semua yang datang dari israiliyyat atau kita butuh jilid-jilid, tetapi kita akan cukup dengan apa yang datang dalam manhaj dan menjelaskan kebatilannya dan kesalahannya, khususnya yang merusak akidah yang benar insya Allah.

Dan shallallahu ala sayyidina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi wa sallam.

 

 

Pelajaran: 8 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (6).

Bismillahir rahmanir rahim

Pelajaran Kedelapan (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (6))

Kisah Sulaiman alaihissalam

Alhamdulillahi rabbil alamin, wa shallallahu ala sayyidina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du:

Sesungguhnya kisah Sulaiman alaihissalam datang di dalamnya israiliyyat yang banyak dan banyak. Dan telah menyebutkan sebagian mufassir di dalamnya kalam yang panjang, terutama Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dan Ats-Tsa’labi dan Al-Baghawi dan selain mereka. Mereka menyebutkan dalam tafsir mereka riwayat-riwayat banyak, aku ringkas sebagiannya di masa lalu dan akan aku rinci sekarang, maka semua yang diriwayatkan dalam hal ini teringkas dari beberapa riwayat:

Mereka menyebutkan israiliyyat tanpa membedakan antara yang shahih dan dhaif, dan yang buruk dan yang baik. Imam As-Suyuthi juga dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) menyebutkannya, dan seandainya -ketika dia melakukan itu- dia mengkritik riwayat-riwayat yang dia sampaikan, dan menjelaskan kedudukannya dari segi penerimaan dan penolakan, dan mana yang dari israiliyyat, dan mana yang bukan darinya.

As-Suyuthi berkata dalam (Ad-Durr): “An-Nasa’i, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim mengeluarkan dengan sanad yang kuat, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma dia berkata: Sulaiman alaihissalam ingin masuk ke kamar kecil, maka dia memberikan cincin kepada Al-Jaradah, dan Al-Jaradah adalah isterinya, dan dia adalah wanita yang paling dicintainya. Maka setan datang dalam wujud Sulaiman, lalu berkata kepadanya: Berilah aku cincinku. Maka dia memberikannya. Ketika dia memakainya, jin, manusia dan setan-setan tunduk kepadanya.

Ketika Sulaiman keluar dari kamar kecil, dia berkata kepadanya: Berilah aku cincinku. Maka dia berkata: Sungguh aku telah memberikannya kepada Sulaiman. Dia berkata: Aku adalah Sulaiman. Dia berkata: Kamu bohong, kamu bukan Sulaiman. Maka dia terus tidak mendatangi siapa pun dan berkata kepadanya: Aku adalah Sulaiman, kecuali orang itu mendustakannya, sampai anak-anak kecil melemparinya dengan batu. Ketika dia melihat hal itu, dia tahu bahwa itu dari urusan Allah Azza wa Jalla, dan setan itu berdiri menghukumi di antara manusia.

Ketika Allah Ta’ala berkehendak mengembalikan kepada Sulaiman alaihissalam kekuasaannya, Allah melemparkan ke dalam hati manusia pengingkaran terhadap setan itu. Maka mereka mengutus kepada isteri-isteri Sulaiman alaihissalam lalu berkata kepada mereka: Apakah terjadi sesuatu dari Sulaiman? Mereka berkata: Ya -maksudnya: apakah terjadi sesuatu yang tidak wajar- Para wanita berkata: Ya, sesungguhnya dia mendatangi kami sedang kami haid, padahal sebelum itu dia tidak pernah mendatangi kami. Ketika setan melihat bahwa dia telah diketahui, dia menyangka bahwa urusannya telah terputus, maka mereka menulis kitab-kitab di dalamnya sihir dan tipu daya, lalu mereka menguburkannya di bawah singgasana Sulaiman, kemudian mereka mengeluarkannya dan membacakannya kepada manusia. Mereka berkata: Dengan ini Sulaiman menang atas manusia dan mengalahkan mereka. Maka manusia mengkafirkan Sulaiman, dan mereka terus mengkafirkannya. Dan setan itu mengutus cincin itu lalu melemparkannya ke laut, maka seekor ikan menerimanya dan mengambilnya. Sulaiman berada di tepi laut bekerja dengan upah. Seorang laki-laki datang lalu membeli ikan yang di dalamnya ada ikan yang di perutnya ada cincin itu, lalu dia memanggil Sulaiman alaihissalam dan berkata kepadanya: Bawalah untukku ikan ini? Kemudian dia pergi ke rumahnya. Ketika laki-laki itu sampai di pintu rumahnya, dia memberikan kepadanya ikan yang di perutnya ada cincin itu. Maka Sulaiman alaihissalam mengambilnya dan membelah perutnya, maka cincin itu ada di dalamnya. Lalu dia mengambilnya dan memakainya. Ketika dia memakainya, manusia, jin dan setan-setan tunduk kepadanya, dan dia kembali ke keadaannya. Setan itu lari sampai bergabung dengan sebuah pulau dari pulau-pulau laut. Maka Sulaiman alaihissalam mengutus untuk mencarinya, dan dia adalah setan pemberontak yang mereka cari tetapi tidak mampu menangkapnya, sampai mereka menemukannya suatu hari sedang tidur, lalu mereka datang dan membangun atasnya bangunan dari timah. Maka dia terbangun dan melompat, dia terus melompat di setiap tempat dari rumah itu kecuali timah itu berputar bersamanya. Maka mereka menangkapnya dan mengikatnya kuat-kuat dan datang dengannya kepada Sulaiman alaihissalam. Maka dia memerintahkannya, lalu dilubangi untuknya dalam marmer, kemudian dimasukkan ke dalamnya lalu ditutup dengan tembaga, kemudian diperintahkannya lalu dilemparkan ke laut. Maka itulah firman-Nya: “Dan sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan di atas singgasananya tubuh (yang tidak bernyawa), kemudian dia bertaubat.” (Shad: 34), tubuh; maksudnya setan.”

Imam As-Suyuthi meriwayatkan dalam (Ad-Durr) riwayat-riwayat lain, dari Ibnu Abbas dan dari Qatadah, bahwa setan ini bernama “Shakhr”, dan dia meriwayatkan dari Mujahid bahwa namanya “Ashif” dan bahwa Sulaiman bertanya kepadanya; bagaimana kalian memfitnah manusia? Maka setan berkata: Perlihatkan kepadaku cincinmu aku beritahu kamu. Ketika dia memberikannya, Ashif melemparkannya ke laut, maka Sulaiman mengembara dan hilang kerajaannya dan Ashif duduk di atas singgasananya, sampai terjadi apa yang terjadi dari urusan ikan dan ditemukannya cincin serta kembalinya kerajaan Sulaiman kepadanya. Hanya saja dalam riwayat Qatadah dan Mujahid; bahwa setan tidak diberi kuasa atas isteri-isteri Sulaiman dan Allah mencegah mereka darinya, maka dia tidak mendekati mereka dan mereka tidak mendekatinya.

Bagaimanapun juga, riwayat-riwayat berbeda dalam urusan ini, dan semuanya israiliyyat.

Guru kami Syaikh Abu Syahbah rahimahullah berkata: Dan kami tidak ragu bahwa khurafa-khurafa ini dari kebohongan Bani Israil dan kebatilan mereka, dan bahwa Ibnu Abbas dan selainnya menerimanya dari orang yang masuk Islam dari Ahli Kitab; yaitu: yang masuk Islam dari Ahli Kitab. Dan tidak ada yang lebih menunjukkan hal ini dari apa yang disebutkan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr), dia berkata: Dan Abdul Razzaq dan Ibnu Al-Mundzir mengeluarkan, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma dia berkata: Empat ayat dari kitab Allah aku tidak tahu apa itu, sampai aku bertanya tentangnya kepada Ka’b Al-Ahbar radiyallahu anhu dan dia menyebutkan di antaranya, dan aku bertanya kepadanya tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Kami letakkan di atas singgasananya tubuh (yang tidak bernyawa), kemudian dia bertaubat”, dia berkata: Setan mengambil cincin Sulaiman alaihissalam yang di dalamnya ada kerajaannya, lalu melemparkannya ke laut, maka jatuh di perut ikan, lalu Sulaiman pergi berkeliling; ketika disedekahi kepadanya ikan itu lalu dia membakarnya dan memakannya, maka di dalamnya ada cincinnya, lalu kerajaannya kembali kepadanya.

Dan demikian pula disebutkannya secara sangat panjang oleh Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya seperti kebiasaannya, dia meriwayatkan kisah-kisah dengan riwayat-riwayatnya yang panjang, diriwayatkannya dari Muhammad bin Ishaq, dari Wahb bin Munabbih.

Mungkin ada yang bertanya: Jika riwayat ini sanadnya kuat, apakah ini berarti bahwa itu dapat diterima? Jawabannya: Tidak, kekuatan sanad tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa itu israiliyyat. Dan harus kita ketahui dan pastikan bahwa kekuatan sanad tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa kisah itu adalah apa yang diambil Ibnu Abbas dan selainnya dari Ka’b Al-Ahbar dan semisalnya dari orang yang masuk Islam dari Ahli Kitab. Ketetapannya pada dirinya sendiri tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa itu dari israiliyyat Bani Israil dan kebohongan mereka serta khurafa dan kebohongan mereka kepada para nabi.

Syaikh Abu Syahbah berkata: Kami memiliki pendahulu di kalangan ulama dalam menolak kebohongan ini, sebagaimana telah mendahului untuk mengingatkan hal itu Qadhi Iyad dalam kitab Asy-Syifa’, ia berkata: “Tidak benar apa yang dikisahkan para ahli sejarah tentang setan yang menyerupai dirinya, berkuasa atas kerajaannya, dan menguasai umatnya dengan berlaku zalim dalam hukuman dan kezaliman; karena setan-setan tidak diberi kuasa atas hal seperti ini, dan para nabi telah dilindungi dari hal seperti ini.” Demikian perkataan Qadhi Iyad dalam kitabnya Asy-Syifa’.

Demikian pula Imam Al-Hafizh kritikus Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata setelah menyebutkan banyak riwayat-riwayat ini, ia berkata: “Semua ini adalah dari Israiliyyat.”

Dan di antara yang mengingkarinya juga adalah apa yang dikatakan Ibnu Abi Hatim: “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Husain, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Ala’ dan Utsman bin Abi Syaibah dan Ali bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-A’masy, dari Al-Minhal bin Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan di atas singgasananya tubuh, kemudian dia bertobat” (Surah Shad: 34), ia berkata: Sulaiman alaihi shalaatu wa salam ingin masuk ke toilet dan sebagainya; ia menyebutkan riwayat yang telah disebutkan sebelumnya, kemudian ia berkata -yakni berkata Allamah Ibnu Katsir-: “Sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma kuat, tetapi yang tampak adalah Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma hanyalah menerimanya -jika benar darinya- dari Ahli Kitab, dan di antara mereka ada golongan yang tidak meyakini kenabian Sulaiman alaihis shalatu wassalam, maka yang tampak adalah mereka berdusta atasnya, oleh karena itu dalam kisah ini terdapat kemungkaran-kemungkaran yang paling keras di antaranya adalah penyebutan para wanita, karena yang masyhur dari Mujahid dan lebih dari satu imam salaf, bahwa jin tersebut tidak diberi kuasa atas wanita-wanita Sulaiman, bahkan Allah Azza wa Jalla melindungi mereka darinya sebagai penghormatan dan pemuliaan kepada nabi-Nya alaihi salam. Dan kisah ini telah diriwayatkan dari sekelompok salaf radhiyallahu anhum secara panjang; seperti Sa’id bin Al-Musayyab dan Zaid bin Aslam dan yang lainnya, dan semuanya diambil dari Ahli Kitab, dan Allah Subhanahu lebih mengetahui yang benar.”

Para ulama kami berkata: Semuanya adalah kebohongan dan rekayasa, tetapi sebagian pendusta dari Bani Israil lebih berhati-hati dan lebih dalam penyelamannya daripada sebagian yang lain; maka ia tidak terjerumus dalam apa yang dijerumuskan sebagian lainnya yaitu menyebutkan penguasaan setan atas wanita-wanita Sulaiman; hal itu agar apa yang ia rekayasa dan ia dusta-kan memiliki sedikit penerimaan di kalangan manusia. Adapun sebagian lainnya adalah polos dalam kedustaannya, lalai dalam rekayasanya, maka ia meninggalkan jejak kejahatan yang jelas dan nyata, dan dengan demikian apa yang ia rekayasa mengandung dalil kedustaannya.

Demikian perkataan guru kami Syaikh Abu Syahbah, dan ia melanjutkan dengan berkata: Yang mengherankan adalah bahwa Imam As-Suyuthi mengingatkan dalam kitabnya Takhrij Ahadits Asy-Syifa’ bahwa itu adalah Israiliyyat yang diterima Ibnu Abbas dari Ahli Kitab, dan andai ia mengingatkan hal itu dalam tafsir tetapi ia tidak melakukannya.

Dan yang benar adalah bahwa anyaman kisah itu rapuh memiliki jejak rekayasa dan kebohongan dan dusta, sebagaimana kisah ini bertentangan dengan akal yang sehat dan dalil naqli yang shahih dalam hal ini.

Dan jika diperbolehkan bagi setan untuk menyerupai Rasulullah Sulaiman alaihi salam maka kepercayaan apakah yang tersisa setelah itu terhadap syariat-syariat? Dan bagaimana Allah memberikan kuasa kepada setan atas wanita-wanita nabi-Nya Sulaiman, padahal ia lebih mulia di sisi Allah daripada itu? Dan kerajaan atau kenabian apakah yang bergantung urusannya pada sebuah cincin yang keduanya kekal dengan kekekalannya, dan hilang dengan hilangnya? Dan kita tidak pernah mengalami dalam sejarah manusia sesuatu seperti itu. Dan jika cincin Sulaiman alaihi salam seperti itu; bagaimana Allah mengabaikan urusannya dalam kitab-Nya yang menjadi saksi atas kitab-kitab samawi, dan tidak menyebutkannya dengan sepatah kata pun? Dan apakah selain Allah Subhanahu mengubah ciptaan Sulaiman dalam sekejap sehingga orang yang paling mengenalnya mengingkarinya, yaitu isterinya Jaradah? Ini adalah perkataan yang tidak masuk akal.

Yang benar adalah bahwa anyaman kisah itu rapuh tidak tahan menghadapi kritik, dan jejak-jejak dusta dan rekayasa tampak padanya.

Menisbatkan sebagian kebohongan ini kepada Rasulullah; merupakan masalah lain ketika kita melihat bahwa telah berani sebagian perawi atau keliru lalu mengangkat sebagian Israiliyyat ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; Imam As-Suyuthi berkata dalam Ad-Durr Al-Mantsur: “Dan telah mengeluarkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath, dan Ibnu Mardawaih dengan sanad yang dhaif, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dilahirkan bagi Sulaiman seorang anak, maka ia berkata kepada para setan sembunyikan dia dari kematian, mereka berkata: Kami bawa dia ke timur, ia berkata: Kematian akan sampai kepadanya, mereka berkata: Ke barat, ia berkata: Kematian akan sampai kepadanya, mereka berkata: Ke lautan, ia berkata: Kematian akan sampai kepadanya, mereka berkata: Kami letakkan dia di antara langit dan bumi, ia berkata: Ya. Dan turunlah kepadanya malaikat maut lalu berkata: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mencabut nyawa yang telah kucari di lautan dan kucari di ujung-ujung bumi, maka tidak kudapatkan, maka sementara aku duduk kudapatkan dia lalu kucabut nyawanya, dan datanglah jasadnya hingga jatuh di atas singgasana Sulaiman, maka itulah firman Allah: ‘Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan di atas singgasananya tubuh, kemudian dia bertobat'”.

Hadits ini palsu bohong diada-adakan atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mungkin itu dari perbuatan sebagian zindiq, atau dari kelalaian sebagian perawi, dan telah mengingatkan kepaluannya Imam Al-Hafizh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi, dan berkata: Yahya bin Katsir meriwayatkan dari orang-orang tsiqah apa yang bukan dari hadits mereka, dan tidak dinisbatkan kepada Nabi Allah Sulaiman itu, dan As-Suyuthi menyetujuinya tentang kepaluannya, lihat kitab Al-La’ali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah miliknya, dan tidak meragukan kepaluan ini kecuali orang yang meragukan perlindungan para nabi dari hal seperti itu, dan lebih pantas hal seperti ini diada-adakan atas Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan atas Nabi Allah Sulaiman, dan sesungguhnya itu dari Israiliyyat Bani Israil dan kebohongan-kebohongan mereka.

Kami kembali kepada penutup perkataan dalam fitnah ini, dan telah terdahulu isyarat pada sesuatu darinya, dan aku ingin merincikannya; untuk menolak kerusakan-kerusakan yang mungkin dipahami seputar kisah ini, maka berkata guru kami Syaikh Abu Syahbah rahimahullah: Dan yang benar yang wajib dalam tafsir fitnah adalah apa yang datang dalam Shahihain, dan lafazhnya menurut Imam Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ia bersabda: “Sulaiman bin Daud berkata: Sungguh akan aku kunjungi malam ini tujuh puluh wanita, setiap wanita akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah, maka berkatalah kepadanya temannya -qarin dari para malaikat-: Katakanlah: Insya Allah, maka ia tidak mengatakannya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengandung sesuatu, kecuali satu yang melahirkan anak yang cacat separuh tubuhnya”, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya ia mengatakannya niscaya mereka semua berjihad di jalan Allah”. Maka inilah yang rajih dan wajib dalam tafsir ayat, dan sebaik-baik yang ditafsirkan dengan kalam Allah adalah apa yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan telah dijelaskan sebagian riwayat bahwa meninggalkan itu karena lupa, dan yang dimaksud dengan temannya; malaikat, sebagaimana datang dalam sebagiannya.

Israiliyyat yang terdapat dalam kisah Ayyub alaihi salam

Kisah lain yang juga kami komentari apa yang datang dalam sebagiannya, yaitu: “Kisah Ayyub alaihi salam” yaitu rasul yang juga banyak Israiliyyat di sekelilingnya, dan telah terdahulu perkataan tentangnya secara global, dan kepada rincian yang menjelaskan sisi-sisi yang asing dan Israiliyyat lebih dan lebih dalam kisah rasul yang mulia ini yang memiliki kisah, dan memiliki keadaan-keadaan yang berulang dalam Al-Quran Al-Karim, maka di antara kisah-kisah yang berlebihan di dalamnya orang-orang yang berlebihan dan dimanfaatkan para pencerita dan mereka melepas khayalan mereka dalam kisah ini, maka mereka telah meriwayatkan di dalamnya apa yang Allah lindungi para nabi-Nya darinya, dan menggambarkannya dengan gambaran yang tidak diridhai Allah bagi seorang rasul dari rasul-rasul-Nya.

Sebagian mufassir menyebutkan pada ayat-ayat dalam firman Allah Jalla wa Ala: “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ Hantamlah dengan kakimu; ini air sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami karuniakan kepadanya keluarganya dan ditambah lagi seperti mereka itu sebagai rahmat dari Kami dan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal. Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Surah Shad: 41-44).

Ayat-ayat ini selain ayat-ayat lain yang menyebutkan penyakit dan kesengsaraan yang menimpa sayidina Ayyub, dan datang ayat-ayat lain sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam surah Al-Anbiya’: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya: ‘Bahwasanya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami memperkenankan doanya, lalu Kami hilangkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Surah Al-Anbiya’: 83-84), di sini dalam ayat-ayat ini As-Suyuthi menyebutkan dalam Ad-Durr Al-Mantsur, dan selain As-Suyuthi, mereka menyebutkan dari Qatadah dalam firman-Nya: “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub” ayat, ia berkata: Hilangnya keluarga dan harta, adapun kesengsaraan yang menimpanya dalam tubuhnya, maka mereka berkata: Dia diuji tujuh tahun dan beberapa bulan, dilemparkan di tempat sampah Bani Israil, binatang-binatang berkeliaran di tubuhnya, maka Allah melapangkannya, dan membesarkan baginya pahala dan memperindah pujian.

Ia berkata: Dan telah mengeluarkan Imam Ahmad dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata: Sesungguhnya setan naik ke langit, lalu berkata: Ya Tuhanku, berilah aku kuasa atas Ayyub alaihi salam, Allah berkata: Sesungguhnya Aku telah memberimu kuasa atas hartanya dan anaknya, dan tidak Kuberi kamu kuasa atas tubuhnya, maka ia turun lalu mengumpulkan bala tentaranya, lalu berkata kepada mereka: Sesungguhnya aku telah diberi kuasa atas Ayyub alaihi salam maka perlihatkanlah kepadaku kekuatan kalian, maka mereka menjadi api, kemudian menjadi air, maka sementara mereka di timur tiba-tiba mereka di barat, dan sementara mereka di barat tiba-tiba mereka di timur, maka ia mengirim sekelompok dari mereka kepada tanamannya, dan sekelompok kepada keluarganya, dan sekelompok kepada sapinya -yakni: ternaknya- dan sekelompok kepada kambingnya, maka ia berkata: Sesungguhnya ia tidak akan terlindungi dari kalian kecuali dengan kebaikan, maka datangkanlah kepadanya musibah-musibah satu demi satu, maka datang pemilik tanaman lalu berkata: Wahai Ayyub tidakkah engkau melihat bahwa Tuhanmu mengirim musuh kepada tanamanmu maka menghancurkannya, dan datang pemilik unta lalu berkata: Tidakkah engkau melihat bahwa Tuhanmu mengirim musuh kepada untamu maka menghancurkannya, kemudian datang pemilik sapi lalu berkata: Tidakkah engkau melihat bahwa Tuhanmu mengirim musuh kepada sapimu maka menghancurkannya; dan ia menyendiri dengan anak-anaknya mengumpulkan mereka di rumah yang tertua dari mereka, maka sementara mereka makan dan minum; tiba-tiba bertiup angin lalu mengambil sendi-sendi rumah lalu melemparkannya kepada mereka.

Maka datang setan kepada Ayyub dengan wujud seorang pemuda, lalu berkata: Wahai Ayyub tidakkah engkau melihat bahwa Tuhanmu mengumpulkan anak-anakmu di rumah yang tertua dari mereka maka sementara mereka makan dan minum tiba-tiba bertiup angin lalu mengambil sendi-sendi rumah lalu melemparkannya kepada mereka, seandainya engkau melihat mereka ketika bercampur darah mereka dan daging mereka dengan makanan dan minuman mereka, maka Ayyub berkata kepadanya: Engkau setan, kemudian berkata kepadanya: Aku hari ini seperti hari ibu melahirkanku, maka ia berdiri lalu mencukur kepalanya, dan berdiri shalat, maka iblis merintih rintihan yang didengar penduduk langit dan penduduk bumi, kemudian keluar ke langit lalu berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya ia telah terlindungi maka berilah aku kuasa atasnya karena sesungguhnya aku tidak mampu mengalahkannya kecuali dengan kekuatan-Mu, Dia berkata: Sesungguhnya Aku telah memberimu kuasa atas tubuhnya, dan tidak Kuberi kamu kuasa atas hatinya.

Maka ia turun lalu meniup di bawah kakinya satu tiupan, bernanah apa yang antara kepalanya sampai kakinya, maka menjadi satu luka, dan dilemparkan di atas abu hingga tampak selaput hatinya maka isterinya berlari kepadanya hingga berkata kepadanya: Tidakkah engkau melihat wahai Ayyub sesungguhnya telah turun kepadaku demi Allah dari kesulitan dan kefakiran apa yang sesungguhnya aku telah menjual rambutku dengan sepotong roti lalu aku beri kamu makan, maka berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanmu dan meringankanmu, ia berkata: Celakalah kamu kami berada dalam kenikmatan tujuh puluh tahun maka bersabarlah hingga kita berada dalam kesulitan tujuh puluh tahun, maka ia berada dalam bencana tujuh tahun dan berdoa, maka datang Jibril alaihi salam suatu hari, lalu mengambil tangannya kemudian berkata: Bangunlah maka ia berdiri, lalu memindahkannya dari tempatnya dan berkata: “Hantamlah dengan kakimu; ini air sejuk untuk mandi dan untuk minum” maka ia menghantam dengan kakinya maka memancar mata air, lalu berkata: Mandilah, maka ia mandi darinya, kemudian datang lagi lalu berkata: Hantamlah dengan kakimu, maka memancar mata air lain, lalu berkata kepadanya: Minumlah darinya dan itulah firman-Nya: “Hantamlah dengan kakimu; ini air sejuk untuk mandi dan untuk minum”, dan Allah memakaikan kepadanya jubah dari surga, maka Ayyub menyingkir lalu duduk di suatu sisi, dan datang isterinya maka tidak mengenalinya, lalu berkata: Wahai hamba Allah dimana orang yang tertimpa bencana yang ada di sini? Jangan-jangan anjing-anjing membawanya pergi atau serigala-serigala, dan ia mulai berbicara dengannya sebentar, maka ia berkata: Celakalah kamu aku Ayyub, sesungguhnya Allah telah mengembalikan kepadaku tubuhku, dan Allah mengembalikan kepadanya hartanya dan anak-anaknya secara nyata dan seperti mereka beserta mereka.

Dan Imam Ahmad juga telah mengeluarkan dalam Az-Zuhd, dari Abdurrahman bin Jubair radhiyallahu anhu ia berkata: Ayyub diuji dengan hartanya dan anaknya dan tubuhnya, dan dilempar di tempat sampah, maka datang isterinya keluar lalu berusaha untuknya apa yang dapat ia berikan makan kepadanya, maka setan iri dengan itu, maka ia datang kepada pemilik-pemilik kebaikan dan kekayaan, lalu berkata: Usirlah wanita ini yang mengunjungi kalian; karena sesungguhnya ia merawat temannya, dan menyentuhnya dengan tangannya, maka manusia merasa jijik makanan kalian karena dia, maka mereka mulai tidak mendekatkannya -yakni: tidak mendekatinya- dan berkata: Jauhilah dan kami akan memberimu makan dan jangan mendekat kepada kami. Demikian pula Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim menyebutkan banyak dari riwayat-riwayat ini dalam tafsir mereka; di antaranya yang mauquf, dan di antaranya yang marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan Ibnu Jarir dan Al-Baghawi dan lainnya ketika menafsirkan firman-Nya: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya: ‘Bahwasanya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.'” ayat-ayat yang disebutkan dalam surah Al-Anbiya’, mereka menyebutkan banyak Israiliyyat di sana, meriwayatkan kisah Ayyub dan bencana yang menimpanya, dari Wahb bin Munabbih dalam lembaran-lembaran yang banyak, dan tercampur di dalamnya yang benar dengan yang batil dan yang jujur dengan yang dusta, sebagaimana dikatakan guru kami Allamah Syaikh Abu Syahbah.

Adapun Imam Ibnu Katsir maka ia berkata dalam tafsirnya pada ayat ini: Dan telah diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dalam kabarnya -yakni: Ayyub- kisah panjang yang dikemukakan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad darinya, dan disebutkan banyak mufassir mutaakhkhirin, dan di dalamnya keanehan yang kami tinggalkan karena terlalu panjang.

Dan yang mengherankan adalah bahwa Al-Hafizh kritikus Ibnu Katsir jatuh dalam apa yang dijatuhkan lainnya dalam kisah Ayyub yaitu menyebutkan banyak Israiliyyat, dan tidak mengkritiknya, dan ini yang patut kita ingatkan kepada anak-anak kita para penuntut ilmu, bahwa Ibnu Katsir dengan menjadi hafizh kritikus allamah dan muhaddits dan mufassir; akan tetapi ia memiliki beberapa kelalaian dalam beberapa kisah yang ia sebutkan Israiliyyat dalam tafsirnya dan tidak mengkritiknya, padahal kebiasaan kami dengannya adalah ia tidak menyebutkan sesuatu kecuali menjelaskannya dan mengingatkan sumbernya, dan darimana masuknya dalam riwayat Islam? … dan seterusnya.

Dan kami tidak menyangka bahwa ia melihat dalam hal ini bahwa itu termasuk yang dibolehkan meriwayatkannya, maka ia telah menyebutkan bahwa dikatakan: Sesungguhnya ia terkena penyakit kusta di seluruh tubuhnya -perkataan Ibnu Katsir- dan tidak tersisa darinya yang sehat selain hatinya dan lidahnya; ia mengingat dengan keduanya Allah Jalla wa Ala hingga muak teman duduknya, dan menjadi Ayyub terbuang di suatu sisi dari negeri, dan tidak tersisa seorang pun dari manusia yang menyayanginya selain isterinya, dan ia memikul dalam bencana yang menimpanya apa yang ia pikul, hingga ia menjadi melayani manusia, bahkan sungguh telah menjual rambutnya karena hal itu, kemudian ia berkata: Dan telah diriwayatkan bahwa ia bertahan dalam bencana itu waktu yang lama, kemudian mereka berbeda pendapat dalam sebab yang mendorongnya pada doa ini. Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah berkata: Ayyub alaihi salam diuji tujuh tahun dan beberapa bulan, dilemparkan di tempat sampah Bani Israil, binatang-binatang berkeliaran di tubuhnya -sebagaimana telah disebutkan- maka Allah melapangkannya, dan membesarkan baginya pahala, dan memperindah pujian atasnya.

Wahb bin Munabbih berkata: Ia bertahan dalam bencana tiga tahun, tidak bertambah dan tidak berkurang.

Dan As-Suddi berkata: Berjatuhan daging Ayyub -lihat As-Suddi, dan jika As-Suddi Ash-Shaghir maka ia pendusta, dan jika As-Suddi Al-Kabir maka berbeda pendapat dalam keadilannya, bagaimana pun perkatannya tidak diterima- ia berkata: Berjatuhan daging Ayyub hingga tidak tersisa kecuali urat dan tulang; kemudian menyebutkan kisah secara panjang, dan menyebutkan juga apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Az-Zuhri, dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Nabi Allah Ayyub bertahan bencana yang menimpanya delapan belas tahun.”

Sekali mereka mengatakan tujuh tahun, dan sekali tiga tahun, dan sekali delapan belas tahun, dan perbedaan-perbedaan ini menunjukkan kedustaan perkataan dan bahwa itu dari Israiliyyat, terus menerus dalam bencana yang menimpanya delapan belas tahun maka menolaknya yang dekat dan yang jauh, kecuali dua orang dari saudara-saudaranya, keduanya dari saudara yang paling khusus baginya, keduanya datang kepadanya pagi dan sore, maka salah satu dari keduanya berkata kepada temannya: Ketahuilah -demi Allah- sesungguhnya Ayyub telah berbuat dosa yang tidak pernah diperbuat siapa pun dari penduduk dunia, maka temannya berkata kepadanya: Apa itu? Ia berkata: Selama delapan belas tahun Allah tidak menyayanginya sehingga mengungkap apa yang ada padanya, maka ketika keduanya pulang kepadanya orang itu tidak sabar hingga menyebutkan hal itu kepadanya, maka Ayyub alaihi salam berkata: Aku tidak tahu apa yang engkau katakan, selain bahwa Allah Azza wa Jalla mengetahui bahwa aku biasa melewati dua orang yang bertengkar lalu mereka menyebut Allah, maka aku kembali ke rumahku lalu aku kaffarah untuk mereka berdua; karena tidak suka mereka menyebut Allah kecuali dalam kebenaran. Ia berkata: Dan ia biasa keluar untuk keperluannya, maka jika telah selesai isterinya memegang tangannya hingga sampai, maka ketika suatu hari isterinya terlambat darinya, maka Allah mewahyukan kepada Ayyub di tempatnya; bahwa hantamlah dengan kakimu ini air sejuk untuk mandi dan minum. Dan Allamah Ibnu Katsir berkata: Mengangkat hadits ini sangat aneh, demikian pula dikatakan Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan paling shahih yang datang dalam kisahnya adalah apa yang dikeluarkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir, dan disahihkan Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan sanad dari Anas: Bahwa Ayyub; kemudian menyebutkan seperti itu.

Guru kami Syaikh Abu Syahbah berkata: Dan para muhaqqiq dari ulama berpendapat bahwa menisbatkan ini kepada yang ma’shum shallallahu alaihi wa sallam baik dari perbuatan sebagian pemalsu yang memasang sanad-sanad untuk matan-matan, atau dari kelalaian sebagian perawi, dan bahwa itu dari Israiliyyat Bani Israil dan kebohongan-kebohongan mereka atas para nabi, dan keshahihan di sini relatif, karena sahihnya sanad tidak menafikan bahwa asalnya dari Israiliyyat.

Saya mengingatkan kembali kepada para pemuda kita, para penuntut ilmu, tentang masalah ini; bahwa keabsahan sanad tidak berarti menafikan kemungkinan bahwa matan (isi hadis, berita itu sendiri, atau riwayatnya) berasal dari Isra’iliyyat. Bisa jadi sanad yang shahih dipakaikan pada riwayat tersebut. Ini adalah hal yang tidak boleh kita lalaikan. Imam Ibnu Hajar –meskipun memiliki kedudukan yang sangat agung– terkadang menyetujui kesahihan sebagian riwayat yang sebenarnya bertentangan dengan dalil akal maupun dalil naqli.

Ini adalah penjelasan dari guru kita, Abu Syahbah; maksudnya: Imam Ibnu Hajar bukanlah ma’shum. Bisa jadi beliau meriwayatkan sesuatu dan mengakui kesahihan sanadnya, namun tidak memberikan pendapat yang jelas mengenai nilai riwayat itu sendiri, padahal isinya bertentangan dengan akal sehat dan dalil syar’i.

Guru kita, Abu Syahbah, juga menyebutkan hal yang sama dalam kasus kisah al-Gharaniq, kisah Harut dan Marut, dan semua riwayat yang dinukil baik secara mauquf maupun marfu’. Semua itu tidak lepas dari apa yang disebutkan oleh Wahb bin Munabbih dalam kisah Nabi Ayyub yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa sebagian besar riwayat tentang kisah Nabi Ayyub sebenarnya diambil dari Ahlul Kitab yang masuk Islam. Lalu para pencerita kisah yang gemar dengan hal-hal aneh menambahkan detail-detail dalam kisah Nabi Ayyub dan menyebarkannya, sampai-sampai para pengemis dan pengamen menjadikannya sebagai bahan cerita untuk menyentuh hati orang-orang dan menarik simpati mereka.

Kemudian kami tutup dengan kebenaran dalam kisah ini, berkata guru kami Syaikh Abu Syahbah: Sesungguhnya kami menemukan dia seorang yang sabar. Sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia sangat taat kembali (kepada Allah) [Shad: 44]. Kitab Allah yang benar telah menunjukkan melalui lisan nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang benar, bahwa Allah tabaraka wata’ala telah menguji nabi-Nya Ayub alaihisshalatu wassalam pada tubuh, keluarga, dan hartanya. Dan bahwa beliau bersabar hingga menjadi teladan dalam hal tersebut. Allah telah memujinya dengan pujian yang baik ini, maka Dia Yang Maha Tinggi kedudukannya berfirman: Sesungguhnya kami menemukan dia seorang yang sabar. Sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia sangat taat kembali (kepada Allah) [Shad: 44].

Maka cobaan adalah sesuatu yang tidak boleh diragukan sama sekali, dan wajib bagi seorang Muslim untuk berhenti pada kitab Allah, dan tidak berlebih-lebihan dalam kisah seperti berlebih-lebihannya orang-orang zindik ahli kitab. Mereka menuduhkan kepada para nabi apa yang tidak pantas bagi mereka. Dan ini tidaklah mengherankan dari Bani Israil yang tidak hanya berani kepada para nabi dan rasul Allah, bahkan mereka berani kepada Allah tabaraka wata’ala dan mencela-Nya serta berkata keji. Mereka menisbatkan kepada-Nya apa yang telah tegak dalil-dalil akal dan naql yang mutawatir atas kemustahilannya bagi-Nya subhanahu wata’ala.

Kita semua tahu bahwa Bani Israil adalah mereka yang berkata: Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya [Ali Imran: 181]. Perkataan ini datang dalam surat Ali Imran dari lisan mereka. Dan mereka juga yang dari lisan mereka datang perkataan: Tangan Allah terbelenggu. Terbelenggulah tangan-tangan mereka dan terkutuklah mereka karena apa yang mereka katakan [Al-Maidah: 64]. Atas mereka laknat Allah.

Yang wajib kita yakini adalah bahwa Ayub memang diuji tetapi ujiannya tidak sampai pada tingkat kebohongan-kebohongan ini; seperti bahwa beliau terkena penyakit kusta. Kita tahu bahwa kusta adalah penyakit yang paling buruk dan paling kotor. Juga bahwa tubuhnya menjadi borok, ini adalah ucapan yang tidak dapat diterima. Dan bahwa beliau dibuang di tempat sampah Bani Israil, ini ucapan yang tidak dapat diterima. Dan bahwa cacing-cacing memakan tubuhnya dan hewan-hewan Bani Israil mengusiknya, atau beliau terkena penyakit cacar air. Semua ini adalah ucapan yang bertentangan dengan kesempurnaan para nabi dan rasul yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan risalah.

Ayub alaihish shalawatu wassalam lebih mulia di sisi Allah daripada dibuang di tempat pembuangan sampah, dan terkena penyakit yang membuat manusia lari dari dakwahnya dan jijik kepadanya. Manfaat apa yang diperoleh dari risalah sementara beliau dalam keadaan buruk yang tidak diridhai Allah untuk para nabi dan rasul-Nya? Para nabi hanya diutus dari kalangan pertengahan kaum mereka; yaitu dari yang terbaik, paling mulia, dan paling utama nasab, kekerabatan, dan kedudukannya. Di mana kekerabatannya yang menyembunyikannya atau memberinya makan? Alih-alih istrinya yang melayani manusia dan menjual kepangannya untuk memberinya makan. Bahkan di mana para pengikutnya dan orang-orang beriman darinya? Apakah mereka meninggalkannya dalam ujiannya? Bagaimana mungkin sedangkan iman menafikan hal itu?

Kebenaran adalah bahwa kisah ini dari kebohongan-kebohongan dan bahwa tenunannya rusak, tidak dapat bertahan di hadapan kritik, dan tidak didukung oleh akal yang sehat, dan tidak pula naql yang sahih. Dan bahwa apa yang menimpa Ayub dari penyakit hanyalah dari jenis yang tidak menjijikkan dan tidak menyebabkan muak, dan bahwa itu dari penyakit-penyakit yang tidak tampak pengaruhnya pada kulit; yaitu: mungkin penyakit sendi atau rematik, hal-hal yang kita kenal, yang tidak menjijikkan dan tidak membuat seseorang dibuang di tempat sampah… dan sebagainya, penyakit-penyakit tulang, hal-hal ini menimpa banyak orang.

Yang menguatkan hal itu adalah bahwa Allah ketika memerintahkannya untuk memukul bumi dengan kakinya maka muncullah mata air, lalu beliau mandi darinya dan minum, maka sembuhlah dengan izin Allah. Dan dikatakan: bahwa beliau memukul bumi dengan kakinya maka muncullah mata air panas lalu beliau mandi darinya, dan memukulnya sekali lagi maka muncullah mata air dingin lalu beliau minum darinya, wallaahu a’lam bisshawaab.

Zhahir Al-Quran menunjukkan tidak ada keragaman dalam pukulan dan tidak pula dalam munculnya air; karena dikatakan: pukullah dengan kakimu.

Setelah itu kami juga menyinggung perkataan Imam Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi dalam masalah ini, dan kami tutup dengannya kisah Ayub alaihissalam. Berkata guru kami Imam Abu Syahbah: Saya suka apa yang dikatakan Imam Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi rahimahullah, beliau berkata: Tidak ada yang sahih tentang Ayub dalam urusannya kecuali apa yang Allah kabarkan kepada kita tentangnya dalam kitab-Nya dalam dua ayat. Yang pertama dalam firman-Nya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit” [Al-Anbiya: 83], dan yang kedua dalam Shad: Sesungguhnya aku telah diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan [Shad: 41].

Adapun Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak sahih darinya bahwa beliau menyebutnya dengan satu huruf pun, kecuali sabdanya: “Ketika Ayub sedang mandi, tiba-tiba jatuh kepadanya sekawanan belalang dari emas” – hadits yang kita hafal. Dan telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketika Ayub sedang mandi telanjang, jatuh kepadanya sekawanan belalang – kumpulan belalang – dari emas, maka dia mulai mengumpulkannya dalam bajunya, berharap dapat mengumpulkannya. Lalu Tuhannya memanggilnya: ‘Wahai Ayub, bukankah Aku telah mencukupimu dari apa yang kau lihat?’ Dia menjawab: ‘Benar wahai Tuhanku, tetapi aku tidak merasa cukup dari berkah-Mu.'”

Inilah yang sampai kepada kita dari hadits-hadits sahih dari rasul kita shallallahu alaihi wasallam tentang Ayub. Adapun penyakitnya, dan apa yang menimpanya, dan apa yang dilakukan syaitan kepadanya dari penyakit, dan apa yang menimpanya; ini adalah sesuatu yang tidak sahih di dalamnya dari rasul kita shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau menyebut sesuatu tentangnya. Dan jika tidak sahih di dalamnya Quran dan Sunnah kecuali yang telah disebutkan sebelumnya, maka mengapa riwayat-riwayat yang dibuat-buat ini dikisahkan?!

Maka saudara Islam, palingkanlah pandanganmu dari tulisan-tulisannya, dan tulikanlah telingamu dari mendengarnya, karena ia tidak memberikan kepada pikiranmu kecuali khayalan, dan tidak menambah kepada hati kecuali kebingungan. Dan dalam Shahih dengan lafazh Bukhari, dari Ibnu Abbas berkata: “Wahai kaum muslimin, janganlah bertanya kepada ahli kitab, sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada nabi kalian adalah berita paling baru tentang Allah ta’ala – kalian membacanya murni tidak tercampur. Dan telah diceritakan kepada kalian bahwa ahli kitab telah mengubah dari kitab Allah dan menggantinya, dan menulis dengan tangan mereka kitab-kitab, lalu berkata: ‘Ini dari sisi Allah’ agar mereka membeli dengannya harga yang sedikit. Tidakkah melarang kalian apa yang datang kepada kalian dari ilmu tentang bertanya kepada mereka? Maka tidak, demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.”_ Hadits ini dalam Shahih Imam Bukhari.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengingkari dalam hadits Muwaththa’ kepada Umar pembacaannya terhadap Taurat.

Marilah kita ke Imam Al-Alusi rahimahullah, beliau berkata dalam tafsirnya setelah menyebutkan sebagian dari kisah-kisah ini, dan besarnya ujian alaihissalam dari yang telah tersebar dan terkenal, dan tidak ada dua orang yang berbeda padahal, tetapi dalam sampainya urusannya hingga dibuang di tempat sampah dan semacam itu, di dalamnya ada khilaf, bahkan mungkin tidak dapat diterima. Berkata Ath-Thabasi: Berkata ahli tahqiq: Sesungguhnya tidak boleh nabi dalam sifat yang membuat manusia jijik kepadanya; karena dalam hal itu ada penolakan. Adapun kefakiran, penyakit, dan hilangnya keluarga, maka boleh Allah ta’ala mengujinya dengan hal itu.

Juga dalam Hidayah Al-Murid karya Az-Zarqani bahwa boleh atas para nabi setiap gejala manusiawi yang bukan haram, bukan makruh, bukan mubah yang memalukan, bukan menahun, bukan yang dibenci jiwa-jiwa, dan bukan yang mengarah kepada penolakan.

Adapun pingsan, An-Nawawi berkata: Tidak diragukan kebolehannya atas mereka; karena itu penyakit berbeda dengan gila; karena itu kekurangan.

Adapun Abu Hamid Al-Ghazali telah membatasi pingsan dengan yang bukan lama, dan Al-Balqini memastikannya, dan As-Subki berkata: Dan bukan seperti pingsannya orang lain; karena itu hanya menyembunyikan indra-indra lahir mereka tanpa hati mereka; karena ia terjaga dari tidur yang ringan. Dan tercegah atas mereka kegilaan meskipun sedikit; karena itu kekurangan dan dihubungkan dengannya kebutaan, dan tidak pernah buta seorang nabi pun. Dan apa yang disebutkan tentang Syu’aib bahwa dia buta, ini ucapan yang tidak tetap. Adapun Ya’qub maka terjadi padanya kabut dan hilang.

Inilah yang berkaitan dengan kisah ini, dan cukup bagi kita darinya apa yang jelas dari kebatilannya dan apa yang datang padanya dari kebohongan-kebohongan.

Semoga Allah bershalawat atas penghulu kami Muhammad, dan atas keluarga dan sahabatnya dan salam, wallaahu a’lam.

 

 

Pelajaran: 9 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Qurani (7)

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Kesembilan (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Qurani (7))

Komentar tentang kisah “Iram yang mempunyai tiang-tiang”

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga Allah bershalawat atas penghulu kami Muhammad, dan atas keluarga dan sahabatnya semuanya, amma ba’du:

Kami kembali dan juga menyinggung apa yang saya sebutkan tentang “Iram yang mempunyai tiang-tiang”. Telah disebutkan sebelumnya tentang apa yang disebutkan dalam kisah ini dari Israiliyyat, tetapi kami beri komentar sebagai pelengkap apa yang telah lalu. Ath-Thabari, Ats-Tsa’labi, Az-Zamakhsyari dan lainnya menyebutkan dalam firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) Iram yang mempunyai tiang-tiang, yang belum pernah dibangun (kota) seperti itu di negeri manapun [Al-Fajr: 6-8].

Mereka menduga bahwa “Iram” adalah sebuah kota, dan mereka menyebutkan dalam pembangunan dan hiasannya apa yang termasuk khayalan. Mereka meriwayatkan dalam hal itu bahwa ‘Ad mempunyai dua anak laki-laki; Syaddad dan Syadid, lalu keduanya menjadi raja dan menguasai, kemudian Syadid meninggal dan urusan diserahkan kepada Syaddad, lalu dia menguasai dunia. Dia mendengar tentang surga, lalu berkata: Aku akan membangun sepertinya; maka dia membangun “Iram” di sebagian gurun Aden dalam tiga ratus tahun, dan umurnya sembilan ratus tahun. Itu adalah kota besar dengan tembok dari emas dan perak, dan tiang-tiangnya dari zamrud dan yakut. Ketika pembangunannya selesai, dia berjalan menujunya dengan semua perlengkapan kerajaannya. Ketika dia berada sejauh perjalanan satu hari satu malam darinya, Allah ta’ala mengirimkan kepada mereka teriakan dari langit maka mereka binasa.

Wahb bin Munabbih meriwayatkan dari Abdullah bin Qilabah, bahwa dia keluar mencari unta-untanya lalu menemukan kota itu, yaitu: kota “Iram”, maka dia membawa apa yang dia mampu, dan beritanya sampai kepada Muawiyah lalu dia memanggilnya dan dia menceritakan kepadanya. Lalu dia mengutus kepada Ka’ab Al-Ahbar untuk bertanya, maka dia berkata: Itu adalah “Iram yang mempunyai tiang-tiang”, dan akan masuk kepadanya seorang laki-laki dari kaum muslimin di zamannya, merah, pirang, pendek, di alisnya ada tanda lahir – yaitu: tanda. Kemudian dia menoleh dan melihat Ibnu Qilabah, lalu berkata: Ini demi Allah adalah orang itu. Kisah ini bagaimanapun juga adalah palsu, sebagaimana telah ditegaskan oleh para hafizh, dan mereka menunjukkan tanda-tanda pemalsuan yang tampak padanya. Demikian juga yang diriwayatkan bahwa “Iram” adalah kota Damaskus, atau itu adalah kota Iskandariyah.

As-Suyuti berkata dalam Ad-Durr Al-Mantsur: Abdurrazak bin Humaid dan Ibnu Abi Hatim mengeluarkan dari Ikrimah, dia berkata: “Iram” adalah Damaskus.

Ibnu Jarir dan Abd bin Humaid dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari Sa’id Al-Maqburi hal yang sama.

Dan yang lain mengeluarkan seperti Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir bahwa itu adalah kota Iskandariyah.

Semua itu dari khurafat Bani Israil, dan dari pemalsuan orang-orang zindik mereka, kemudian diriwayatkan oleh orang-orang yang masuk Islam dari ahli kitab dalam apa yang mereka riwayatkan, dan dipikul dari mereka oleh sebagian sahabat dan tabi’in, dan dilekatkan pada tafsir Al-Quran Al-Karim.

Ibnu Katsir berkata: Dan barangsiapa mengira bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: Iram yang mempunyai tiang-tiang, adalah sebuah kota baik Damaskus atau Iskandariyah atau lainnya, maka di dalamnya ada pertimbangan. Karena bagaimana kalimat bisa tersusun dengan ini Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) Iram yang mempunyai tiang-tiang, jika dijadikan badal atau athaf bayan; karena kalimat tidak akan tersusun ketika itu. Kemudian yang dimaksud hanyalah memberitakan tentang kehancuran suku yang bernama “‘Ad”, dan apa yang Allah timpakan kepada mereka dari azab-Nya yang tidak dapat ditolak; karena yang dimaksud adalah memberitakan tentang sebuah kota atau wilayah, hanya saja saya tegaskan hal itu; agar tidak tertipu dengan banyak yang disebutkan oleh sekelompok mufassir tentang ayat ini.

Ini dari penyebutan kota yang disebut: Iram yang mempunyai tiang-tiang, yang dibangun dengan bata emas dan perak, dan kerikilnya dari mutiara dan permata, dan tanahnya adalah bola-bola minyak kasturi. Sesungguhnya semua ini dari khurafat Israiliyyat dari pemalsuan orang-orang zindik mereka; agar mereka menguji dengan perkataan itu orang-orang bodoh dari manusia supaya membenarkan mereka dalam semua itu. Para ulama menyampaikan bahwa semua ini dari khurafat Israiliyyat. Dan yang patut disebutkan bahwa telah diriwayatkan juga dari Ibnu Kulabah ucapan dalam masalah ini, dan ini tidak sahih sanadnya, bahkan seandainya sahih itu sampai kepada orang Arab, mungkin dia mengada-ada itu, atau menimpanya sejenis khayalan yang menggambarkan sifat-sifat ini dan menyebutkannya.

Maka kenyataan semua yang disebutkan tidak mempunyai dalil, dan akal memutuskan ketidaksahihannya, lihat Tafsir Ibnu Katsir. Dan kenyataan ini juga dekat dengan apa yang diberitakan oleh orang-orang bodoh dan yang tamak, dan yang berkata tentang adanya harta karun di bawah tanah di dalamnya qinthar-qinthar emas dan perak, maka mereka menipu harta orang-orang kaya dan orang-orang bodoh dan lemah, lalu memakan harta itu dengan batil dalam membelanjakannya untuk hal-hal ini.

Yang sahih dalam tafsir ayat dan ayat-ayat yang turun Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) Iram yang mempunyai tiang-tiang [Al-Fajr: 6-7], yang sahih sebagaimana disebutkan guru kami Syaikh Abu Syahbah bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya ta’ala: ‘Ad, (yaitu) Iram yang mempunyai tiang-tiang adalah suku ‘Ad yang terkenal yang tinggal di Al-Ahqaf di selatan Jazirah Arab utara Hadhramaut, dan itu adalah ‘Ad yang pertama yang disebutkan Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Najm, Dia subhanahu berfirman: Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Ad yang pertama [An-Najm: 50]. Dan dikatakan untuk yang setelah mereka: ‘Ad yang akhir, dan mereka adalah anak ‘Ad bin Iram bin ‘Ush bin Sam bin Nuh, demikian kata Ibnu Ishaq dan lainnya. Dan mereka adalah yang diutus kepada mereka rasul Allah Hud alaihissalam setelah itu, lalu mereka mendustakannya dan menentangnya, maka Allah menyelamatkannya dari tengah-tengah mereka, dan orang-orang yang beriman bersamanya dari mereka, dan membinasakan mereka sebagaimana diucapkan Al-Quran Al-Karim dalam ayat-ayat yang banyak. Allah membinasakan mereka dengan angin yang amat kencang lagi dingin yang Dia kuasakan atas mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, maka kamu akan melihat kaum itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka batang-batang pohon kurma yang kosong. Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa dari mereka?

Allah menyebutkan kisah mereka dalam Al-Quran di berbagai tempat; agar orang-orang beriman mengambil pelajaran dari kehancuran mereka. Dalam firman-Nya subhanahu: Iram yang mempunyai tiang-tiang, ayat ini “Iram” adalah badal dari “‘Ad”, atau athaf bayan sebagai tambahan pengenalan terhadap mereka. Dan firman-Nya ta’ala: yang mempunyai tiang-tiang karena mereka di zaman mereka adalah manusia yang paling kuat penciptaan, paling besar tubuh, dan paling kuat cengkeramannya; ini satu pendapat. Dan dikatakan: yang mempunyai tiang-tiang; yaitu: yang mempunyai bangunan-bangunan yang mereka bangun dan rumah-rumah serta benteng-benteng yang mereka kokohkan. Dan dikatakan: karena mereka tinggal di rumah-rumah bulu yang ditinggikan dengan tiang-tiang yang tebal dan kuat; dan pendapat yang pertama lebih dekat kepada kebenaran, dan itu lebih sahih dan lebih wajib. Nabi mereka Hud mengingatkan mereka dengan nikmat ini dan mengarahkan mereka untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah tabaraka wata’ala yang menciptakan mereka dan menganugerahkan kepada mereka kekuatan ini. Maka beliau alaihissalam berkata: Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah sesudah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu dalam penciptaan dengan tubuh yang besar. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu beruntung [Al-A’raf: 69]. Dan Dia jalla wa’ala berfirman: Adapun kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka? [Fushshilat: 15]. Dan Dia subhanahu berfirman tentang mereka: yang belum pernah dibangun (kota) seperti itu di negeri manapun [Al-Fajr: 8]; yaitu: suku yang terkenal dan masyhur yang tidak diciptakan seperti mereka di negeri-negeri mereka di zaman mereka karena kekuatan, keteguhan, dan besarnya susunan tubuh mereka.

Dan apapun tafsiran mengenai ذات العماد” (yang memiliki tiang-tiang), yang dimaksud adalah suku bangsa, dan bukan kota. Sebab pembicaraan dalam surah ini adalah tentang kaum-kaum yang telah berlalu, yang Allah telah berikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi. Ketika mereka tidak bersyukur atas nikmat-nikmat Allah kepada mereka dan tidak beriman kepada-Nya serta kepada para rasul-Nya, Allah menghukum mereka dan mengambil mereka dengan kekuasaan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Dalam hal ini terkandung peringatan kepada orang-orang kafir Mekah yang lebih rendah dari mereka dalam segala hal, dan memperingatkan mereka agar tidak ditimpa seperti apa yang menimpa mereka.

Masih tersisa beberapa kata yang menggambarkan atau menjelaskan apa yang diriwayatkan mengenai besarnya tubuh mereka, dan bahwa hal itu tidak benar; sebab tidaklah makna kekuatan kaum itu, kekuatan suku itu, besarnya penciptaan mereka, dan dahsyatnya kekuatan mereka, berarti bahwa mereka keluar dari kelaziman fitrah. Oleh karena itu, kita hampir tidak percaya terhadap apa yang diriwayatkan mengenai besarnya tubuh mereka, dan tinggi badan mereka yang keluar dari kelaziman yang dikenal bahkan di zaman ini.

Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim dan lainnya meriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Kami pernah menceritakan bahwa “Iram” adalah suku dari ‘Ad yang disebut dzat al-imad (yang memiliki tiang-tiang). Mereka adalah ahli kemah, sebagaimana firman al-Quran: “Yang tidak pernah diciptakan sepertinya di negeri-negeri” (Al-Fajr: 8). Ia berkata: Disebutkan kepada kami bahwa mereka berukuran dua belas hasta; yaitu: enam meter tingginya ke langit. Ini sejenis dengan apa yang diriwayatkan tentang kaum Amalik, dan sangat mungkin menurut kami bahwa yang menyebutkan hal itu kepada mereka adalah ahli Kitab yang masuk Islam, dan bahwa itu termasuk Israiliyyat yang tercampur.

Kami juga hampir tidak percaya terhadap apa yang diriwayatkan atau yang dinisbatkan kepada yang makshum shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: telah menceritakan kepadaku ayahku, berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Shalih penulis al-Laits, berkata: telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari al-Miqdam bin Ma’dikarib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau menyebut “Iram dzat al-imad” lalu berkata: Seseorang dari mereka datang ke batu besar lalu memikul batu itu di pundaknya kemudian melemparkannya ke kabilah mana pun yang dikehendaki lalu menghancurkan mereka. Tentu saja riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, dan mungkin kerusakan dan kebohongannya berasal dari orang yang majhul (tidak dikenal). Ibnu Mardawaih meriwayatkan hal serupa sebagaimana disebutkan oleh penulis ad-Durr al-Mantsur. Semoga Allah melaknat orang yang menisbatkan kebatilan seperti ini kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak ragu bahwa ini adalah perbuatan zindik-zindik Yahudi dan Persia serta sejenisnya yang tidak mampu melawan kekuasaan Islam, maka mereka menempuh jalan perang melawan Islam dengan cara menyusupkan dan mengada-ada dengan menisbatkan dongeng-dongeng seperti ini kepada yang makshum shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Guru kami Syaikh Abu Syuhbah berkomentar: Saya heran terhadap seorang Muslim yang menerima riwayat-riwayat semacam ini yang merendahkan Islam dan membuat orang menjauh darinya, terutama di zaman ini di mana ilmu pengetahuan telah maju, dan menyebutkan hal seperti ini menimbulkan ejekan, pengingkaran, dan olok-olok.

Israiliyyat yang Terdapat dalam Pertanyaan Musa kepada Tuhannya tentang Melihat-Nya

Sesungguhnya Musa ‘alaihis salam telah disebut dalam al-Quran al-Karim lebih dari seratus tiga puluh kali – sebagaimana telah disebutkan sebelumnya – dan beliau memiliki banyak sikap, berbagai peristiwa, dan keadaan-keadaan yang di dalamnya terdapat pertentangan dengan Bani Israil yang telah terbiasa dengan kebohongan, pendustaan, dan keras kepala. Telah disebutkan sebelumnya mengenai sikap sayyidina Musa terhadap pernikahan dengan putri-putri Syu’aib, telah dibahas tentang tongkat Musa, dan tentang tangannya yang keluar berwarna putih bagi yang melihat. Sekarang kita beralih kepada Israiliyyat yang terdapat dalam pertanyaan Musa kepada Tuhannya tentang melihat-Nya.

Di antara Israiliyyat yang terdapat dalam masalah ini adalah apa yang disebutkan oleh sebagian mufassir ketika menafsirkan firman Allah – Jalla wa ‘Ala -: “Dan ketika Musa datang untuk (memenuhi) janji dengan Kami, dan Tuhan berbicara kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Tuhanku, nampakkanlah (Diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.’ Tuhan berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana ada sekarang) niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nyalah gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'” (Al-A’raf: 143).

Ats-Tsa’labi dan al-Baghawi serta lainnya menyebutkan dari Wahb bin Munabbih dan Ibnu Ishaq bahwa keduanya berkata: Ketika Musa meminta kepada Tuhannya untuk melihat-Nya, Allah mengirimkan kabut, petir, kegelapan, guntur, dan kilat, dan mengelilingi gunung yang di atasnya Musa empat farsakh dari setiap sisi. Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit untuk menghadang Musa. Maka lewatlah padanya malaikat-malaikat langit dunia seperti banteng-banteng sapi – seperti banteng; ini adalah bentuk kurang ajarnya Bani Israil dalam menggambarkan malaikat – seperti banteng-banteng sapi yang mulut mereka memancarkan tasbih dan taqdis dengan suara-suara yang dahsyat seperti suara guntur yang keras.

Kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit kedua: Turunlah kepada Musa dan hadangi dia. Maka turunlah mereka kepadanya seperti singa-singa yang memiliki lafazh tasbih dan taqdis. Maka ketakutanlah hamba yang lemah Ibnu Imran dari apa yang dilihat dan didengarnya, dan merinding setiap helai rambut di kepala dan tubuhnya. Kemudian ia berkata: Sungguh aku telah menyesal atas pertanyaanku; apakah aku akan selamat dari tempat di mana aku berada ini? Maka berkata kepadanya sebaik-baik malaikat dan pemimpin mereka – yaitu: Jibril -: Wahai Musa, bersabarlah terhadap apa yang kamu minta karena sedikit dari banyak yang telah kamu lihat.

Kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit ketiga: Turunlah kepada Musa dan hadangi dia. Maka turunlah mereka seperti burung-burung elang yang memiliki gemuruh, getaran, dan lafazh yang keras, mulut mereka memancarkan tasbih dan taqdis seperti gerombolan tentara yang besar, warna mereka semua seperti nyala api. Maka ketakutanlah Musa dan semakin keras ketakutannya, dan putus asalah ia dari kehidupan. Berkata kepadanya sebaik-baik malaikat: Tetaplah di tempatmu hingga kamu melihat apa yang tidak dapat kamu sabari.

Kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit keempat: Turunlah dan hadangi Musa bin Imran. Maka turunlah mereka kepadanya tidak menyerupai sesuatu pun dari mereka yang telah lewat sebelumnya, warna mereka seperti nyala api dan seluruh penciptaan mereka seperti salju putih, suara mereka tinggi dengan taqdis dan tasbih, tidak ada yang mendekati sesuatu pun dari suara-suara mereka yang telah lewat sebelumnya. Maka bergemelutulah lututnya dan bergetarlah hatinya dan semakin keras tangisannya. Berkata kepadanya sebaik-baik malaikat dan pemimpin mereka: Wahai Ibnu Imran, bersabarlah terhadap apa yang kamu minta karena sedikit dari banyak yang telah kamu lihat.

Kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit kelima: Turunlah dan hadangi Musa. Maka turunlah mereka kepadanya memiliki tujuh warna. Musa tidak sanggup mengikuti mereka dengan penglihatannya, tidak pernah melihat seperti mereka dan tidak pernah mendengar seperti suara mereka; maka penuh dadanya dengan ketakutan, keras kesedihannya dan banyak tangisannya. Berkata kepadanya sebaik-baik malaikat dan pemimpin mereka: Wahai Ibnu Imran, tetaplah di tempatmu hingga kamu melihat sebagian dari apa yang tidak dapat kamu sabari.

Kemudian Allah memerintahkan malaikat-malaikat langit keenam: Turunlah kepada Musa dan hadangi dia. Maka turunlah mereka kepadanya, di tangan setiap malaikat dari mereka seperti pohon kurma yang tinggi berupa api yang lebih terang cahayanya dari matahari, pakaian mereka seperti nyala api. Ketika mereka bertasbih dan bertaqdis, dijawab oleh yang sebelum mereka dari malaikat-malaikat langit semua dengan berkata dengan keras suara mereka: Subbuh Quddus Rabb al-Mala’ikah wa ar-Ruh, Rabb al-‘Izzah abadan la yamut (Maha Suci Maha Kudus Tuhan para malaikat dan ruh, Tuhan kemuliaan selamanya tidak mati). Di kepala setiap malaikat dari mereka terdapat empat wajah. Ketika Musa melihat mereka, ia mengeraskan suaranya bertasbih bersama mereka ketika mereka bertasbih, sambil menangis dan berkata: Tuhanku, ingatlah aku dan jangan lupakan hambamu, aku tidak tahu apakah aku akan terlepas dari keadaan ini atau tidak, jika keluar aku akan terbakar, jika tinggal aku akan mati. Berkata kepadanya ketua malaikat dan pemimpin mereka: Hampir saja wahai Ibnu Imran ketakutanmu menjadi keras dan hatimu tercabut, maka bersabarlah terhadap apa yang telah kamu lihat. Ini adalah kalimat sebagaimana yang dikomentar oleh penulis kitab Syaikh Abu Syuhbah, bagaimana ini sesuai dengan apa yang disebutkan sebelumnya tentang keras ketakutan dan kepanikannya di lima kali? Ini adalah tanda-tanda kebohongan dan kekacauan.

Kemudian Allah memerintahkan agar Arsy-Nya dipikul oleh malaikat-malaikat langit ketujuh. Ketika cahaya Arsy tampak, terbelahlah gunung karena keagungan Tuhan – jalla jalaluhu, dan malaikat-malaikat langit mengeraskan suara mereka semua berkata: Subhan al-Malik al-Quddus Rabb al-‘Izzah abadan la yamut (Maha Suci Raja Yang Maha Kudus Tuhan kemuliaan selamanya tidak mati) dengan keras suara mereka. Maka berguncanlah gunung dan hancurlah setiap pohon yang ada padanya dan jatuhlah hamba yang lemah Musa pingsan dengan wajahnya tanpa rohnya. Maka Allah mengirimkan dengan rahmat-Nya ruh yang menyelimutinya, dan membalik atasnya batu yang ada di atas Musa dan menjadikannya seperti bentuk kubah agar Musa tidak terbakar. Maka tinggallah Musa bertasbih kepada Allah dan berkata: Aku beriman kepada-Mu Tuhanku dan aku membenarkan bahwa tidak ada seorang pun yang melihat-Mu, maka hidup dari yang melihat malaikat-malaikat-Mu tercabut hatinya, maka betapa besarnya malaikat-malaikat-Mu dan betapa besarnya Engkau, Engkau Tuhan segala tuhan, dan Tuhan segala tuhan, dan Raja segala raja, tidak ada yang menyamai-Mu sesuatu, dan tidak ada yang dapat berdiri bagi-Mu sesuatu, Tuhanku aku bertaubat kepada-Mu, segala puji bagi Allah tidak ada sekutu bagi-Mu, betapa besarnya Engkau, dan betapa agungnya Engkau Tuhan semesta alam. Maka itulah firman-Nya – Ta’ala -: “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nyalah gunung itu hancur luluh” (Al-A’raf: 143).

Dan setelah menyebutkan pendapat-pendapat yang banyak mengenai apa yang tampak dari cahaya Allah, ia berkata: Dan terdapat dalam sebagian tafsir bahwa karena keagungan-Nya terbang enam gunung, jatuh tiga di Madinah; Uhud, Waraqan dan Radwa, dan jatuh tiga di Mekah; Tsur, Sabir dan Hira. Semua ini adalah kalimat sebagaimana kita lihat dari tanda-tanda kebohongan dan kedustaan yang tidak dapat diterima. Riwayat-riwayat ini dan sejenisnya adalah yang tidak kita ragukan bahwa ia termasuk Israiliyyat, dari Israiliyyat Bani Israil dan kebohongan mereka terhadap Allah, para nabi, dan para malaikat. Maka jangan berikan perhatian kepadanya wahai saudara Islam. Tafsir ayat tidak membutuhkan riwayat-riwayat ini, dan ayat itu jelas dan terang, tidak ada di dalamnya yang menunjukkan ketidakmungkinan melihat Allah di akhirat, sebagaimana telah ditunjukkan oleh al-Quran al-Karim. Kita tahu bahwa menggantungkan penglihatan pada sesuatu yang mungkin menunjukkan kemungkinan penglihatan. Pada kita, al-Quran al-Karim dan as-Sunnah ash-Shahihah al-Mutawatirah telah menunjukkan, dan puncak yang ditunjukkan adalah ketidakmungkinan penglihatan mata di dunia; karena mata yang fana tidak mampu melihat Dzat Yang Kekal.

Di antara hal itu juga adalah apa yang disebutkan oleh ats-Tsa’labi, al-Baghawi dan az-Zamakhsyari dalam tafsir mereka ketika menafsirkan firman-Nya – Ta’ala -: “dan Musa pun jatuh pingsan” yaitu: pingsan dan bukan yang dimaksud mati sebagaimana kata Qatadah. Al-Baghawi berkata: Dan dalam sebagian kitab bahwa malaikat-malaikat langit datang kepada Musa ketika ia pingsan, lalu mereka menendangnya dengan kaki mereka dan berkata: Wahai anak perempuan-perempuan haid, apakah kamu mengharapkan melihat Tuhan kemuliaan. Ini adalah kalimat, dan lihatlah kepadanya. Az-Zamakhsyari menyebutkan hal serupa dalam tafsirnya dan ia mengutipnya karena hal itu membantunya untuk menetapkan mazhab fasidnya. Maksudnya: Imam az-Zamakhsyari memperbanyak riwayat-riwayat yang menghalangi dan mencegah penglihatan; karena Imam az-Zamakhsyari adalah Mu’tazilah, dan dari mazhab dan keyakinannya adalah mustahilnya melihat Allah di dunia dan akhirat.

Ini dan sejenisnya adalah yang tidak kita ragukan bahwa ia termasuk Israiliyyat, demikian kata ulama kita; dan di kepala mereka guru kita Syaikh Abu Syuhbah, ini termasuk Israiliyyat yang dusta, dan sikap Bani Israil terhadap Musa dan terhadap semua nabi Allah sudah dikenal. Mereka berusaha merendahkan para nabi sedapat mereka. Imam Ahmad bin al-Munir penulis kitab al-Intishaf min Shahib al-Kasysyaf telah menyadari hal ini – ia selalu mencetak komentarnya di pinggir Tafsir al-Kasysyaf untuk menjelaskan apa yang ada di dalamnya dari akidah-akidah Mu’tazilah. Imam Syaikh Ahmad bin al-Munir ini berkata: Dan ini adalah hikayah yang hanya disampaikan oleh orang yang memaksakan ketidakmungkinan penglihatan, maka ia mengambilnya sebagai penolong dan punggung atas akidah fasid dan cara memutar balik dengan kesalahan pada penukilnya. Lafazh “at-taurik”, taurik ar-rajul dzanbahu ghairahu, seakan-akan ia mewajibkan kepadanya, dan warak fulan dzanbahu ‘ala ghairihi taurikan jika ia menisbatkannya kepadanya dan menuduhnya dengannya, dan sesungguhnya ia lamuwarik dalam perkara ini; yaitu: tidak ada baginya dosa di dalamnya. Maksudnya: dengan ungkapan ini ia ingin menjelaskan bahwa Imam az-Zamakhsyari membebankan apa yang diyakininya dari mazhab fasid pada kalimat orang lain, dan berdalil dengan kalimat orang lain untuk menguatkan mazhabnya dalam mencegah melihat Allah – jalla wa ‘ala.

Adapun kami ahlus sunnah, kami beriman bahwa Allah – jalla wa ‘ala – boleh dilihat di dunia, walaupun tidak terjadi atau ada perbedaan apakah terjadi untuk Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra dan Mi’raj atau tidak terjadi, di dalamnya ada perbedaan. Adapun di akhirat maka kami yakin bahwa Allah – Subhanahu – akan dilihat di akhirat “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 22-23) dan hadits shahih tentang melihat Allah di akhirat sudah dikenal oleh kita semua.

Kami katakan kalimat Syaikh Ibnu al-Munir bahwa kalimat az-Zamakhsyari berkata dalam hal ini dan apa yang ada di dalamnya dari penghinaan Musa al-Karim, dan di dalamnya ada ketidakjelasan dalam ucapan dan kalimat yang banyak.

Semoga Allah merahmati Imam al-Alusi ketika ia berkata dalam tafsirnya dengan berkomentar: Dan sebagian pencerita mengutip bahwa malaikat-malaikat lewat padanya saat itu lalu menendangnya dengan kaki mereka – yaitu: bahwa malaikat-malaikat menendang Musa dan berkata: Wahai anak perempuan-perempuan haid, apakah kamu mengharapkan melihat Tuhanmu, dan itu adalah kalimat yang buruk yang tidak dapat diandalkan dengan cara apa pun, dan telah disebutkan sebelumnya penyampaian kalimat ini.

Al-Alusi berkata: Sesungguhnya malaikat-malaikat ‘alaihimus salam harus kita bersihkan dari menghina yang mulia ‘alaihis salam dengan tendangan kaki, dan ketidaksopanan dalam ucapan. Kami cukup dengan ini mengenai masalah sayyidina Musa ‘alaihis salam dan yang berkaitan dengan melihat Tuhannya.

Sikap Musa terhadap Loh-loh Taurat, dan Kemarahannya ketika Melemparkannya

Sikap lain dari sikap-sikap nabi Allah Musa: Sesungguhnya Israiliyyat dalam kisah-kisah para nabi tidak berhenti, dan sekarang kita dengan sikap kedua dari sikap-sikap Israiliyyat, atau dari perkataan-perkataan Israiliyyat pada sikap Musa terhadap loh-loh Taurat.

Di antara Israiliyyat adalah apa yang disebutkan oleh Imam ats-Tsa’labi, Imam al-Baghawi, az-Zamakhsyari, Imam al-Qurthubi dan al-‘Allamah al-Alusi ketika menafsirkan firman-Nya – jalla wa ‘ala -: “Dan telah Kami tuliskan untuk dia (Musa) pada loh-loh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): ‘Ambillah ia dengan sungguh-sungguh dan suruhlah kaummu mengambil (mengamalkan) yang sebaik-baiknya. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.'” (Al-A’raf: 145). Ayat ini disebutkan padanya ketika menafsirkannya kalimat tentang loh-loh, apa itu? Maksudnya: loh-loh dari bahan apa? Dan berapa jumlahnya?

Disebutkan dalam hal ini pendapat-pendapat yang banyak dari sebagian sahabat dan tabi’in dan dari Ka’b al-Ahbar, dan dari Wahb bin Munabbih dari ahli Kitab yang masuk Islam yang menunjukkan sumber riwayat-riwayat ini, dan bahwa ia dari kebohongan-kebohongan Bani Israil dan Israiliyyat mereka; karena di dalamnya terdapat riwayat-riwayat yang menyelisihi yang masuk akal dan yang dinukilkan.

Dan inilah apa yang disebutkan oleh Imam al-Baghawi dalam hal ini; ia berkata: Firman-Nya Tabarakallahu wa Ta’ala: “Dan telah Kami tuliskan untuk dia” yaitu: untuk Musa pada loh-loh. Ibnu Abbas berkata: maksudnya loh-loh Taurat. Dan dalam hadits: “Adalah dari pohon bidara surga, panjang loh dua belas hasta” – yaitu: enam meter – dan datang dalam hadits “Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan menulis Taurat dengan tangan-Nya, dan menanam pohon Thuba dengan tangan-Nya”. Kedua hadits itu tidak dikeluarkan oleh al-Baghawi dan tidak menampakkan sanadnya, hanya al-‘Allamah al-Alusi menyebutkan bahwa hadits pertama diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan memilih pendapat dengannya jika sahih sanadnya kepadanya. Adapun hadits kedua maka ia berkata: bahwa ia diriwayatkan dari Ali, dari Ibnu Umar dan dari selain keduanya dari tabi’in, dan lihat tafsir al-‘Allamah al-Alusi pada ayat ini. Al-Hasan berkata: loh-loh adalah dari kayu. Al-Kalbi berkata: adalah dari zamrud hijau. Sa’id bin Jubair berkata: adalah dari yaqut merah. Ar-Rabi’ berkata: loh-loh adalah dari barid; yaitu: kain campuran.

Ini adalah kalimat yang kita lihat bertentangan, meskipun demikian Ibnu Juraij berkata: adalah dari zamrud, Allah memerintahkan Jibril hingga ia datang dengannya dari Adn dan menuliskannya dengan pena yang dengannya ditulis az-Dzikr, dan mengambil tinta dari sungai cahaya. Wahb berkata: Allah memerintahkan memotong loh-loh dari batu pejal yang dilunakkan Allah untuknya lalu memotongnya dengan tangan-Nya, kemudian membelahnya dengan tangan-Nya, dan Musa mendengar derit pena dengan kalimat-kalimat sepuluh, dan hal itu pada hari pertama bulan Dzulqa’dah, dan loh-loh itu sepuluh hasta menurut panjang Musa.

Muqatil dan Wahb berkata dalam firman-Nya: “Dan telah Kami tuliskan untuk dia pada loh-loh”, ia berkata: seperti ukiran cincin. Ar-Rabi’ bin Anas berkata: Turun Taurat dan ia tujuh puluh beban unta yang dibaca sebagiannya dalam setahun, tidak membacanya kecuali empat orang; Musa, Yusya’, Uzair, dan Isa. Subhanallah, penulis kitab Syaikh Abu Syuhbah berkomentar terhadap kalimat ini: bagaimana akal dapat menerima bahwa ia beban tujuh puluh unta, dan jika tidak membacanya kecuali empat orang maka mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya?

Perhatikanlah kenyataan riwayat-riwayat ini yang tidak dapat diterima akal, maka kami katakan dan kami komentari perkataan ini: Dan semua riwayat yang saling bertentangan ini yang sebagiannya menolak sebagian yang lain, mustahil dapat bersumber dari yang maksum shallallahu alaihi wasallam, tetapi ini adalah dari Israiliyyat Bani Israil yang diambil dari mereka oleh sebagian sahabat dan tabi’in dengan niat baik, dan tafsir ayat tidak bergantung pada semua yang mereka riwayatkan ini. Yang wajib kita imani adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan luh-luh kepada Musa dan di dalamnya terdapat Taurat. Adapun luh-luh ini terbuat dari apa, berapa panjangnya dan berapa lebarnya, serta bagaimana cara penulisannya, maka ini tidak wajib kita imani, dan lebih baik tidak meneliti hal itu karena penelitian tentang hal itu tidak menghasilkan manfaat dan tidak mencapai tujuan. Tentu saja dikatakan bahwa luh-luh diberikan kepada Musa sebelum Taurat, dan yang benar adalah bahwa Allah menurunkan luh-luh kepada Musa dan di dalamnya terdapat Taurat.

Setelah itu kami katakan: dari yang mereka sebutkan seputar makna ini dalam firman Allah Ta’ala: “dari segala sesuatu pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu” (Al-A’raf: 145), yaitu: dan Kami tuliskan baginya dalam luh-luh dari segala sesuatu pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu, maka mereka menjadikan Taurat mencakup semua yang telah ada dan semua yang akan terjadi, dan ini tidak masuk akal dan tidak dapat dipercaya.

Di antaranya adalah apa yang disebutkan Imam Al-Alusi dalam tafsirnya, dia berkata: Dan apa yang diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dalam Ad-Dala’il dari Muhammad bin Yazid Ats-Tsaqafi, dia berkata: Qais bin Kharsyah dan Ka’ab Al-Ahbar bepergian bersama hingga ketika mereka sampai di Shiffin, Ka’ab berhenti, kemudian melihat sebentar, lalu berkata: “Sungguh akan ditumpahkan di tempat ini darah kaum muslimin dalam jumlah yang tidak akan ditumpahkan di tempat lain di bumi seperti itu.” Maka Qais berkata: “Dari mana kamu tahu, sedangkan ini termasuk perkara gaib yang Allah Ta’ala rahasiakan untuk diri-Nya?” Maka Ka’ab berkata: “Tidak ada sejengkal pun dari bumi kecuali tertulis dalam Taurat yang Allah Ta’ala turunkan kepada Musa apa yang akan terjadi darinya dan apa yang akan keluar darinya sampai hari kiamat.”

Dan ini termasuk berlebihan yang diriwayatkan banyak orang semacam itu dari Ka’ab, dan kami tidak membenarkan hal itu. Mungkin ini termasuk kebohongan yang diperhatikan oleh sahabat yang cerdik Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhu sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Sama sekali tidak masuk akal bahwa dalam Taurat terdapat semua peristiwa dunia sampai hari kiamat atau sampai hari pembalasan.

Para mufassir yang teliti dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa yang dimaksud adalah bahwa dalam Taurat atau dalam luh-luh terdapat penjelasan bagi segala sesuatu yang mereka butuhkan dari halal dan haram, kebaikan dan keburukan yang sesuai dengan syariat Musa dan masanya. Jika tidak demikian, maka Al-Quran Al-Karim telah datang dengan hukum-hukum, adab, dan akhlak yang sama sekali tidak terdapat dalam Taurat. Imam Al-Alusi menyebutkan berita ini sebagai dalil bagi yang berpendapat bahwa lafazh “dari segala sesuatu” ini bersifat umum, dan seolah-olah dia merasakan setelah perkataan ini, maka dia berkata setelahnya: “Mungkin penyebutan itu dari segi isyarat sebagaimana kami klaim dalam Al-Quran Al-Karim.”

Dan sungguh aku berkata kepada Allamah Al-Alusi dan yang mengikutinya – perkataan ini untuk Syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah: Sesungguhnya dia ingin menjelaskan bahwa ini ditolak dan tidak masuk akal untuk dikatakan bahwa dalam Taurat terdapat penjelasan segala sesuatu. Tidak, di dalamnya hanya terdapat penjelasan untuk apa yang mereka butuhkan dalam syariat mereka dalam hal halal dan haram, kebaikan dan keburukan saja. Adapun bahwa Taurat mencakup segala sesuatu yang telah terjadi dan semua yang akan terjadi, ini adalah perkataan yang tidak masuk akal, ditolak dan tidak dapat diterima. Kami juga tidak menerima bahwa dalam Al-Quran terdapat simbol dan isyarat untuk peristiwa-peristiwa, meskipun sebagian orang mengatakannya, dan kebenaran lebih berhak untuk diikuti.

Kemudian kami beralih kepada apa yang disebutkan tentang kemarahan Musa ketika dia melemparkan luh-luh. Termasuk Israiliyyat yang disebutkan dalam kemarahan Musa – ayat dengan tegas menyatakan bahwa Musa alaihissalam ketika kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan sedih, dia melemparkan luh-luh. Seputar makna ini banyak disebutkan Israiliyyat. Ibn Jarir dalam tafsirnya dan Al-Baghawi dalam tafsirnya serta yang lainnya meriwayatkan sebab kemarahan Sayyidina Musa alaihissalam ketika dia melemparkan luh-luh dari tangannya. Ini dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan dilemparkannya luh-luh itu dan dipeganglah kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira terhadapku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.'” (Al-A’raf: 150).

“Melemparkan luh-luh” – makna kalimat ini yaitu: mencampakkannya dan melemparkannya. Tetapi Israiliyyat telah membanjiri tafsir ini pada ayat ini. Diriwayatkan dari Qatadah bahwa dia berkata: Musa melihat dalam Taurat lalu berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat yang merupakan sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, mereka menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran. Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat yang merupakan yang terakhir – yaitu terakhir dalam penciptaan – tetapi terdepan dalam memasuki surga. Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat yang kitab-kitab mereka ada dalam dada mereka, mereka membacanya, sedangkan orang-orang sebelum mereka membaca kitab mereka dengan melihat sehingga apabila mereka mengangkatnya, mereka tidak hafal apa-apa dan tidak mengenalnya. Dan bahwa Allah memberikan kepada mereka dari hafalan sesuatu yang tidak diberikan kepada umat mana pun.” Dia berkata: “Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat yang beriman kepada kitab yang pertama dan kitab yang terakhir, dan mereka memerangi golongan-golongan kesesatan sehingga mereka tidak memerangi si pendajjal yang dusta, maka jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati suatu umat yang sedekah mereka dimakan dalam perut mereka dan mereka mendapat pahala karenanya, sedangkan orang-orang sebelum mereka apabila bersedekah lalu diterima, Allah mengirimkan api yang memakannya, dan jika ditolak dibiarkan sehingga dimakan binatang buas dan burung. Dan sesungguhnya Allah mengambil sedekah mereka dari orang kaya untuk orang fakir.” Dia berkata: “Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat apabila salah seorang dari mereka berniat berbuat kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, dicatatkan baginya satu kebaikan, jika dia mengerjakannya dicatatkan baginya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Dia berkata: “Tuhanku, aku mendapati dalam luh-luh suatu umat yang memberikan syafa’at dan mendapat syafa’at, maka jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Qatadah berkata: Maka disebutkan kepada kami bahwa Nabi Allah Musa membuang luh-luh, lalu berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku dari umat Muhammad.”

Inilah riwayat itu. Aku katakan – perkataan ini untuk Syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah: Sesungguhnya bekas-bekas pemalsuan dan kebohongan tampak padanya, dan sanadnya tercela. Ini adalah perkara-perkara yang diambil dari Al-Quran dan hadis-hadis, kemudian disusun dengan susunan yang rapi ini, dan diletakkan atas nama Musa alaihissalam. Yang tampak dan pasti adalah bahwa pelemparan luh-luh oleh Sayyidina Musa hanyalah karena marah dan ghirah untuk agama Allah, dan cemburu karena dilanggarnya kehormatan tauhid Allah Tabarakallahu wa Ta’ala. Adapun apa yang disebutkan Qatadah maka tidak dapat diterima.

Meskipun kami melihat bahwa makna-makna yang disebutkan bahwa umat Islam umat Muhammad alaihisshallatu wassalam adalah yang terdepan ke surga, ya, dan bahwa Al-Quran mereka dihafal dalam dada, kitab-kitab mereka dalam dada mereka, ini adalah keistimewaan umat Islam karena kami tidak menemukan suatu umat dari umat-umat yang menghafal kitab dan wahyunya seperti umat Islam yang Allah jadikan baginya Al-Quran Al-Karim dimudahkan “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran” (Al-Qamar: 17). Dan sifat-sifat yang disebutkan tentang sedekah, kebaikan, dan syafa’at, semuanya masya Allah termasuk keutamaan umat Islam.

Dan inilah yang dikatakan Imam Al-Hafizh An-Naqil Ibnu Katsir dalam tafsirnya pada ayat ini, dia berkata: Kemudian yang tampak dari konteks adalah bahwa dia – yaitu Sayyidina Musa – melemparkan luh-luh karena marah kepada kaumnya, dan ini adalah pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah dalam hal ini suatu perkataan yang aneh yang tidak sahih sanadnya kepada hikayat Qatadah. Ibnu Athiyyah dan beberapa ulama lainnya telah menolaknya, dan memang pantas ditolak. Sepertinya dia menerimanya dari sebagian Ahli Kitab, dan di antara mereka ada pembohong, pemalsu, penipu, dan zindik. Ibnu Katsir benar dalam apa yang dikatakannya, dan lebih kuat bahwa ini adalah hasil pemalsuan kaum zindik mereka agar para nabi tampak dalam wujud saling hasad, bukan dalam wujud saudara yang saling mencintai.

Imam Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan firman-Nya: “Dan dilemparkannya luh-luh itu” yaitu karena yang menimpanya dari kemarahan dan kesedihan ketika dia melihat kaumnya sedang tekun menyembah anak sapi, dan kepada saudaranya dalam mengabaikan urusan mereka. Sa’id bin Jubair berkata: Karena itu dikatakan: “Tidak sama berita dengan melihat langsung.” Dan tidak perlu memperhatikan apa yang diriwayatkan dari Qatadah jika sahih, dan tidak sahih. Tidak sahih bahwa pelemparan luh-luh itu karena melihat keutamaan umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan bukan untuk umatnya, maka ini adalah perkataan yang buruk yang tidak pantas dinisbahkan kepada Musa alaihissalam.

Yang menguatkan bahwa ini adalah hasil pemalsuan sebagian orang Israil yang licik adalah bahwa semacam ini yang diriwayatkan dari Qatadah telah diriwayatkan Ats-Tsa’labi dan muridnya Al-Baghawi dari Ka’ab Al-Ahbar, tidak ada perbedaan kecuali dalam mendahulukan sebagian keutamaan dan mengakhirkan sebagiannya, tetapi dia tidak menyebutkan pelemparan luh-luh. Di akhirnya disebutkan: “Ketika Musa takjub dengan kebaikan yang Allah berikan kepada Muhammad dan umatnya, dia berkata: ‘Ya, andai aku termasuk sahabat Muhammad.’ Maka Allah mewahyukan kepadanya tiga ayat untuk merelkannya ‘Dia berfirman: Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih kamu melebihi manusia lain (pada masamu) dengan membawa risalah-risalah-Ku dan dengan berbicara langsung kepadamu’ (Al-A’raf: 144) sampai firman-Nya ‘negeri orang-orang yang fasik’ (Al-A’raf: 145), ‘Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan’ (Al-A’raf: 159). Dia berkata: Maka Musa ridha dengan segala keridaan.”

Inilah yang disebutkan tentang pelemparan luh-luh dan kemarahan Musa alaihissalam.

Termasuk Israiliyyat dan khurafat adalah apa yang disebutkan juga sebagian mufassir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan” dalam surat Al-A’raf. Surat Al-A’raf termasuk surat yang banyak menyebutkan sikap-sikap Bani Israil dengan Musa, dan pertentangan yang terjadi dalam hidup mereka dengan rasul-rasul Allah, khususnya Rasul Allah Musa alaihissalam.

Ibnu Jarir menyebutkan dalam tafsir ayat ini suatu berita yang aneh, dia berkata: Al-Qasim menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij dalam firman-Nya: “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan”, dia berkata: Sampai kepadaku bahwa ketika Bani Israil membunuh nabi-nabi mereka dan kafir – mereka adalah dua belas suku – maka satu suku dari mereka berlepas diri dari apa yang mereka perbuat, meminta maaf, dan memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memisahkan antara mereka dengan yang lain. Maka Allah membukakan bagi mereka terowongan di bumi, mereka berjalan hingga keluar dari balik Cina. Mereka di sana adalah orang-orang hanif yang muslim, menghadap kiblat kami.

Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas berkata: Itulah firman-Nya: “Dan Kami berfirman kepada Bani Israil sesudah (Fir’aun mati): ‘Tinggallah kamu di bumi ini, maka apabila datang janji (hari) akhir, Kami datangkan kamu semuanya (ke Mahsyar) bercampur baur'” (Al-Isra’: 104). Dan janji akhir itu adalah Isa bin Maryam.

Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas berkata: Mereka berjalan dalam terowongan selama satu setengah tahun.

Ibnu Uyainah berkata: dari Shadaqah dari Abu Al-Hazil dari As-Suddi “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan”, dia berkata: Suatu kaum antara kalian dan mereka ada sungai dari madu.

Allamah Ibnu Katsir menyifati apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir sebagai berita yang aneh.

Al-Baghawi berkata dalam tafsirnya: Al-Kalbi, Adh-Dhahhak, dan Ar-Rabi’ berkata: Mereka adalah kaum di balik Cina di ujung timur di tepi sungai yang mengalir pasir bernama sungai Al-Ardaf. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki harta tanpa temannya. Mereka diturunkan hujan di malam hari dan cerah di siang hari, mereka bercocok tanam. Tidak ada seorang pun dari kami yang dapat sampai kepada mereka, dan mereka menjalankan agama yang benar.

Disebutkan bahwa Jibril alaihissalam pergi kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam dia diisra’kan kepada mereka lalu berbicara dengan mereka. Jibril berkata kepada mereka: “Apakah kalian tahu dengan siapa kalian berbicara?” Mereka berkata: “Tidak.” Maka dia berkata kepada mereka: “Ini adalah Muhammad Nabi yang ummi, maka berimanlah kepadanya.” Mereka berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya Musa mewasiatkan kepada kami bahwa siapa di antara kalian yang mendapati Ahmad hendaklah menyampaikan salam dariku kepadanya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membalas salam kepada Musa dan kepada mereka, kemudian membacakan kepada mereka sepuluh surat dari Al-Quran yang turun di Makkah, memerintahkan mereka dengan shalat dan zakat, memerintahkan mereka agar tetap tinggal di tempat mereka. Mereka dahulu memuliakan hari Sabtu seperti orang Yahudi, maka dia memerintahkan mereka agar memuliakan hari Jum’at dan meninggalkan hari Sabtu. Dikatakan: Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan Yahudi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan yang pertama lebih sahih.

Dan ini dalam hal apa pun termasuk khurafat Bani Israil tanpa diragukan, dan yang aneh dari Imam Al-Baghawi bahwa dia menjadikan kebohongan-kebohongan ini lebih sahih dari pendapat yang lain yang lebih layak diterima dan lebih pantas benar. Kami tidak ragu bahwa Ibnu Juraij dan yang lainnya dari yang meriwayatkan itu hanyalah mengambilnya dari Ahli Kitab yang masuk Islam, dan tidak mungkin sama sekali bahwa itu diterima dari yang maksum shallallahu alaihi wasallam.

Imam Al-Alusi berkata setelah menyebutkan apa yang kami sebutkan: “Kelemahan hikayat ini jelas, dan telah dilemahkan Ibnul Khazin, dan aku tidak menganggapnya sesuatu, dan aku kira kamu tidak akan menemukan baginya sanad yang dapat diandalkan, sekalipun kamu mencari terowongan di bumi atau tangga di langit.”

Kami akhiri kisah ini dengan tafsir yang benar untuk ayat dan apa yang disebutkan di dalamnya. Ayat “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan”. Syaikh Abu Syuhbah menceritakan kepada kami dengan mengutip dari tafsir-tafsir, dia berkata: Yang kuat menurut saya bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang dari kaum Musa alaihissalam yang mendapat petunjuk kepada kebenaran, mengajak manusia kepadanya, dan dengan kebenaran mereka berlaku adil dalam apa yang dihadapi berupa hukum-hukum dan perkara. Dan bahwa orang-orang ini ada pada zaman Musa dan sesudahnya, bahkan pada zaman Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam seperti Abdullah bin Salam dan teman-temannya.

Allah Tabarakallahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa orang Yahudi meskipun mayoritas besar dari mereka mengingkari kebenaran dan mengingkarinya, berbuat zalim dalam hukum-hukum, memusuhi para nabi, membunuh sebagian mereka, mendustakan sebagian yang lain, dan pada mereka terdapat sifat keras kepala dalam akhlak dan tabiat seperti yang ada pada mereka, namun di sana ada umat yang besar dari mereka yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan hak itu mereka berlaku adil. Mereka tidak enggan dari kebenaran. Dalam hal ini terdapat kesaksian dan pujian bagi mereka, dan sindiran terhadap mayoritas dari mereka yang tidak demikian, yaitu yang mengingkari kenabian Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam di antara yang mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, dan memusuhinya dengan permusuhan dan kebencian. Inilah yang diisyaratkan oleh firman-Nya sebelumnya: “Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (Al-A’raf: 158).

Dengan demikian tampak kesesuaian antara ayat ini dengan yang sebelumnya secara langsung dan ayat-ayat sebelum itu. Adapun apa yang mereka sebutkan, maka tidak ada yang menjadi saksi baginya dari akal atau naqal yang sahih, bahkan bertentangan dengan kenyataan yang nyata dan yang disaksikan dengan yakin. Cina dan yang di baliknya serta negeri-negeri di daerah ini dan lainnya telah diketahui semua yang ada di dalamnya, setiap jengkal di dalamnya diketahui, maka di mana mereka? Kemudian sungai madu apa ini? Dan sungai pasir apa ini? Dan di mana keduanya? Kemudian manfaat apa yang kembali kepada Islam dan kaum muslimin dari berpegang teguh pada riwayat-riwayat ini yang tidak ada manfaatnya, tidak ada tali kekangnya, dan tidak ada kendalinya? Dan bagaimana sikap da’i kepada Islam pada zaman yang kita hidup ini jika dia membela riwayat-riwayat khurafat yang batil semacam ini? Riwayat-riwayat ini sekalipun sanadnya sahih, karena bertentangan dengan yang masuk akal dan yang disaksikan secara nyata, menjadikan kita bebas untuk tidak menerimanya, apalagi sanadnya lemah dan rapuh? Dan kami telah mengatakan berkali-kali: Bahwa sahihnya sanad misalnya tidak menafikan bahwa itu dari Israiliyyat.

Dan Allah bershalawat kepada Sayyidina Muhammad, dan kepada keluarganya serta sahabatnya dan memberikan salam.

Bismillahirrahmanirrahim

 

 

Pelajaran: 10 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (8)

Pelajaran Kesepuluh (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (8))

Israiliyyat yang Terdapat dalam Tafsir Ayat: {Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Al-Kitab: “Sungguh kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”} (Surat Al-Isra ayat 4)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya seluruhnya. Amma ba’du:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: {Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Al-Kitab: “Sungguh kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar * Maka apabila datang saat hukuman yang pertama, Kami datangkan atas kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana * Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami banyakkan kamu dengan harta dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar * Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kerusakan) yang kedua, (Kami datangkan musuh-musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama dan untuk menghancurkan apa saja yang mereka kuasai * Mudah-mudahan Rabb kamu akan mengasihi kamu, dan jika kamu kembali (kepada kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazab) dan Kami jadikan jahannam penjara bagi orang-orang kafir”} (Surat Al-Isra ayat 4-8).

Syaikh Abu Syuhbah berkata dalam bukunya: Bukan tujuan kami di sini untuk memverifikasi kedua kali kerusakan mereka, dan siapa yang Allah kuasakan atas mereka pada kedua kali tersebut, karena hal itu memiliki tempat lain insya Allah. Bagaimanapun juga, yang lebih kuat pendapatnya adalah bahwa hamba-hamba yang memiliki kekuatan besar yang mengazab mereka – Bani Israil – dan menghinakan serta menawan mereka adalah “Bukhtanashshar” dan tentaranya. Sedangkan yang kedua yang menyuramkan wajah mereka dan memasuki Masjid Al-Aqsha; baik mereka dari bangsa Romawi dan tentara mereka, atau dari kaum muslimin setelah itu, maka mereka telah menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Perhatikanlah kesimpulan ayat dalam firman Allah Jalla wa Ala: {dan jika kamu kembali (kepada kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazab)}, maka sesungguhnya ini menunjukkan bahwa mereka akan kembali lagi kemudian berbuat kerusakan, maka Allah akan mengutus kepada mereka orang yang akan menimpakan berbagai macam azab kepada mereka.

Sekarang kami kembali kepada hal yang berkaitan dengan penjelasan apa yang diriwayatkan dari israiliyyat dalam dua kali kerusakan ini, dan pembicaraan tentang dua kerusakan tersebut, nama orang yang dikuasakan atas mereka, sifatnya, bagaimana keadaannya, dan bagaimana akhir urusannya. Kebanyakan riwayat dalam menjelaskan hamba-hamba yang memiliki kekuatan besar yang dikuasakan atas mereka berkisar seputar orang ini yaitu “Bukhtanashshar” sang Babilonia, namun mereka mengelilinginya dengan lingkaran keajaiban-keajaiban, keanehan-keanehan dan berlebih-lebihan yang tidak dapat dipercaya. Yang mengherankan adalah riwayat-riwayat ini telah dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, dan sangat banyak sekali, demikian juga Ibnu Abi Hatim, Al-Baghawi dan lainnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin Al-Musayyab, dari As-Suddi, dari Wahb bin Munabbih, Ibnu Ishaq, dan lainnya. Yang menyebutkan sanad-sanadnya dengan merujuk kepada para pengeluarnya adalah Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya (Ad-Durr Al-Mantsur).

Dalam riwayat-riwayat ini tidak diragukan lagi terdapat banyak kebohongan Bani Israil yang diada-adakan oleh nenek moyang mereka, dan diteruskan kepada mereka, serta diriwayatkan oleh penerus mereka dari para mualaf ahli kitab yang telah masuk Islam. Sebagian sahabat dan tabi’in mengambilnya dari mereka dengan berprasangka baik kepada mereka, dan meriwayatkannya tanpa memberikan peringatan terhadap kebohongan yang ada di dalamnya. Dalam berita-berita israiliyyat ini ada yang mungkin benar dan ada yang bohong, namun yang utama adalah tidak menyibukkan diri dengannya, dan tidak menafsirkan Al-Quran dengannya, serta berhenti pada apa yang Allah kisahkan kepada kita tanpa merusak keindahan dan keagungan Al-Quran dengan israiliyyat semacam ini.

Ibnu Jarir di sini banyak mengutip dari Ibnu Ishaq, dan dalam sebagian riwayat dia meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dari orang yang tidak dituduh berdusta dari Wahb bin Munabbih, dan dalam sebagiannya lagi dengan sanadnya dari Wahb bin Munabbih tanpa menyebut Ibnu Ishaq. Dengan demikian kami mengetahui siapa sumber sebenarnya dari riwayat-riwayat ini, yaitu Wahb bin Munabbih dan orang-orang seperti dia dari para mualaf ahli kitab. Ibnu Jarir telah menghitamkan beberapa halaman bukunya dalam mengutip dari Ibnu Ishaq dan dari Wahb, dan kami tidak suka mengutip semua yang disebutkannya dengan teksnya, karena jika demikian pembicaraan akan panjang, dan dalam hal itu akan menghitamkan halaman-halaman. Namun kami akan menyebutkan sebagian agar pembaca, penuntut ilmu, peneliti dan yang ingin mengetahui tafsir berhati-hati dari hal semacam itu.

Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Salamah, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Ishaq, dia berkata: Termasuk yang diturunkan Allah kepada Musa alaihissalam dalam beritanya tentang Bani Israil dan dalam peristiwa-peristiwa yang akan mereka lakukan setelahnya, maka Dia berfirman: Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Al-Kitab: “Sungguh kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Kami katakan: dari apa yang Allah turunkan kepada Musa alaihissalam; maksudnya: Allah menurunkan maknanya bukan lafazh ini, karena Taurat tentu saja tidak dalam bahasa Arab, dan bukan lisan Musa alaihissalam berbahasa Arab; melainkan diturunkan kepadanya dengan bahasanya dan dengan makna tersebut.

Maka Bani Israil dengan mereka terdapat peristiwa-peristiwa dan dosa-dosa, dan Allah Jalla wa Ala dalam hal itu memaafkan mereka, berbelas kasih kepada mereka dan berbuat baik kepada mereka.

Termasuk yang Allah turunkan kepada mereka dalam dosa-dosa mereka adalah apa yang telah Dia sampaikan kepada mereka dalam berita melalui lisan Musa alaihissalam dari apa yang Allah turunkan kepada mereka dalam dosa-dosa mereka. Maka yang pertama yang Allah turunkan kepada mereka dari peristiwa-peristiwa itu adalah bahwa ada seorang raja dari mereka yang dipanggil sahabatnya, dan Allah jika merajakan raja atas mereka mengutus seorang nabi yang membimbingnya dan mengarahkannya, dan berada di antara dia dan Allah, serta berbicara kepadanya tentang urusan mereka. Mereka tidak diturunkan kitab-kitab, melainkan hanya diperintahkan mengikuti Taurat dan hukum-hukum yang ada di dalamnya, dan melarang mereka dari kemaksiatan, serta menyeru mereka kepada ketaatan yang mereka tinggalkan.

Ketika raja itu berkuasa, Allah mengutus bersamanya Sya’ya bin Amshiya, dan itu sebelum diutusnya Zakariya, Yahya dan Isa alaihimussalam. Sya’ya adalah yang memberikan kabar gembira tentang Isa alaihissalam dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka raja itu memerintah Bani Israil dan Baitul Maqdis untuk waktu yang lama. Ketika masa pemerintahannya berakhir, terjadilah peristiwa-peristiwa besar dalam diri mereka sementara Sya’ya bersama mereka; maka Allah mengutus kepada mereka seorang laki-laki yang disebut “Sinjarib” raja Babil bersama enam ratus ribu panji. Dia datang berjalan hingga turun mendekati Baitul Maqdis, sementara raja sedang sakit pada kakinya karena borok. Maka datanglah Nabi Sya’ya lalu berkata kepadanya: Wahai raja Bani Israil, sesungguhnya “Sinjarib” raja Babil telah turun kepadamu bersama tentaranya enam ratus ribu panji, dan manusia telah takut kepada mereka, dan lari dari mereka. Maka hal itu berat bagi raja, lalu dia berkata: Wahai Nabi Allah, apakah telah datang kepadamu wahyu dari Allah tentang apa yang terjadi sehingga engkau dapat memberitahu kami, bagaimana Allah akan berbuat kepada kami, dan kepada “Sinjarib” serta tentaranya? Maka nabi alaihissalam berkata kepadanya: Belum datang kepadaku wahyu yang baru kepadaku tentang urusanmu.

Sementara mereka dalam keadaan demikian, Allah mewahyukan kepada Nabi Sya’ya: Datangilah raja Bani Israil lalu perintahkan dia untuk berwasiat dengan wasiatnya, dan mengangkat khalifah atas kerajaannya dari siapa yang dia kehendaki dari keluarganya; karena engkau akan mati. Kemudian Ibnu Jarir melanjutkan riwayat hingga menghabiskan empat halaman besar dari bukunya, tidak diragukan oleh yang melihatnya bahwa itu dari berita-berita Bani Israil. Dalam apa yang disebutkan Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq ada yang benar dan bohong, haq dan bathil, dan kita tidak membutuhkannya dalam menafsirkan ayat-ayat.

Adapun kerusakan yang kedua, di dalamnya: Dan siapa yang Allah kuasakan atas mereka, Ibnu Jarir juga meriwayatkan, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl bin Askar dan Muhammad bin Abdul Malik bin Zanjuwaih, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdul Karim, dia berkata: Dia berkata dari Wahb bin Munabbih hingga dia berkata dari Ibnu Ishaq, dari orang yang tidak dituduh berdusta, dari Wahb bin Munabbih Al-Yamani, dan lafazhnya untuk hadits Ibnu Humaid bahwa dia berkata -yaitu: Wahb-: Allah Tabaraka wa Ta’ala berkata kepada “Irmiya” ketika mengutusnya sebagai nabi kepada Bani Israil: Wahai Irmiya, sebelum Aku menciptakanmu Aku telah memilihmu, dan untuk urusan besar Aku menyembunyikanmu. Maka Allah mengutus “Irmiya” kepada raja dari Bani Israil itu untuk membimbingnya dan mengarahkannya, serta mendatanginya dengan berita dari Allah dalam urusan antara dia dan Allah.

Dia berkata: Kemudian terjadilah peristiwa-peristiwa besar dalam Bani Israil, dan mereka melakukan kemaksiatan, menghalalkan yang haram, dan melupakan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat kepada mereka dan apa yang menyelamatkan mereka dari musuh mereka “Sinjarib” dan tentaranya. Maka Allah mewahyukan kepada “Irmiya”: Datangilah kaummu dari Bani Israil, dan kisahkanlah kepada mereka apa yang Aku perintahkan kepadamu, ingatkan mereka nikmat-Ku atas mereka dan beritahukan kepada mereka peristiwa-peristiwa mereka.

Wahb bin Munabbih melanjutkan apa yang disebutkannya dari berita-berita Bani Israil hingga hal itu menghabiskan dari tafsir Ibnu Jarir beberapa halaman; tiga halaman besar dan lainnya. Termasuk yang disebutkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari kisah yang aneh dan ajaib tentang “Bukhtanashshar” ini, dan apa yang dia rusak dari negeri-negeri dan apa yang dia bunuh dari hamba-hamba Allah adalah pembahasan yang banyak.

Perhatikanlah kebohongan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan menisbatkan israiliyyat ini kepadanya. Seandainya israiliyyat dan kebathilan ini berhenti pada perawi-perawinya dari ahli kitab yang telah masuk Islam, atau pada yang meriwayatkannya dari mereka dari kalangan sahabat dan tabi’in; maka perkara itu ringan. Namun dosanya menjadi besar ketika israiliyyat ini dinisbatkan kepada yang ma’shum shallallahu alaihi wa sallam secara terang-terangan. Kami tidak meragukan bahwa penyusupan ini adalah perbuatan orang-orang zindiq dari Yahudi atau Persia.

Inilah yang diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsirnya, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishham bin Rawwad bin Al-Jarrah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Manshur bin Al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dia berkata: Aku mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil ketika mereka melampaui batas dan sombong serta membunuh para nabi; Allah mengutus kepada mereka raja Persia “Bukhtanashshar”, dan Allah telah memberikan kekuasaan kepadanya selama tujuh ratus tahun. Maka dia mendatangi mereka hingga memasuki Baitul Maqdis lalu mengepungnya, dan menaklukkannya, dan membunuh karena darah Zakariya tujuh puluh ribu orang, kemudian menawan penduduknya, dan anak-anak para nabi, dan mengambil perhiasan Baitul Maqdis, dan mengeluarkan darinya tujuh puluh ribu dan seratus ribu dari perhiasan hingga dia bawa ke Babil”.

Lihatlah berlebih-lebihan dan kebohongan yang mereka nisbatkan kepada Rasulullah alaihishshalatu wassalam.

Hudzaifah berkata: Maka aku berkata: Ya Rasulullah, sungguh Baitul Maqdis dahulu agung di sisi Allah? Beliau bersabda: “Ya, Sulaiman bin Dawud membangunnya dari emas, mutiara, yakut, dan zamrud. Dan dindingnya dari emas, dan dinding dari perak, dan tiang-tiangnya emas. Allah memberikan itu kepadanya dan menundukkan syaitan-syaitan untuknya yang mendatanginya dengan benda-benda ini dalam sekejap mata. Maka “Bukhtanashshar” membawa benda-benda ini hingga dia masuk dengan membawanya ke Babil. Maka Bani Israil tinggal di tangannya seratus tahun, orang-orang Majusi dan anak-anak Majusi menyiksa mereka, di antara mereka ada para nabi dan anak-anak para nabi. Kemudian Allah mengasihi mereka lalu mewahyukan kepada seorang raja dari raja-raja Persia yang disebut “Qurasy” dan dia adalah seorang mukmin bahwa pergilah kepada sisa-sisa Bani Israil hingga engkau selamatkan mereka. Maka “Qurasy” berjalan dengan Bani Israil dan perhiasan Baitul Maqdis hingga dia kembalikan kepadanya.

Maka Bani Israil berdiri dalam ketaatan kepada Allah seratus tahun, kemudian mereka kembali dalam kemaksiatan maka Allah menguasakan atas mereka “Bathyanmus”, maka dia menyerang dengan anak-anaknya dari orang yang menyerang bersama “Bukhtanashshar”, maka dia menyerang Bani Israil hingga mendatangi mereka di Baitul Maqdis lalu menawan penduduknya, dan membakar Baitul Maqdis, dan berkata kepada mereka: Wahai Bani Israil, jika kalian kembali dalam kemaksiatan kami kembali atas kalian dengan penawanan. Maka mereka kembali dalam kemaksiatan, lalu Allah mengirimkan atas mereka penawanan yang ketiga, raja Romawi yang disebut “Faqis bin Isbayus”, kalimat ini ada dalam kitab-kitab tafsir hingga dalam (Tafsir Al-Baghawi) “Qaqis bin Istiyanus”, maka dia menyerang mereka di darat dan laut, lalu menawan mereka dan menawan perhiasan Baitul Maqdis, dan membakar Baitul Maqdis dengan api. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ini dari buatan perhiasan Baitul Maqdis, dan Al-Mahdi akan mengembalikannya ke Baitul Maqdis, dan dengan itu Allah akan mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terkemudian”.

Semoga Allah memaafkan Ibnu Jarir -ini adalah perkataan guru kami Syaikh Abu Syuhbah-, bagaimana Ibnu Jarir membolehkan dirinya menyebutkan omong kosong ini, dan khurafat-khurafat ini dari yang ma’shum shallallahu alaihi wa sallam. Seharusnya dia menjaga bukunya dari menghitamkannya dengan riwayat-riwayat bathil semacam ini.

Semoga Allah merahmati juga Imam Al-Hafizh Al-Naqid Ibnu Katsir ketika dia berkata dalam tafsirnya: Dan sungguh Ibnu Jarir telah meriwayatkan di tempat ini sebuah hadits yang dia sanadkan dari Hudzaifah secara marfu’ yang panjang, dan itu adalah hadits maudhu’ (palsu) tanpa diragukan lagi, tidak akan meragukan hal itu orang yang memiliki pengetahuan tentang hadits sedikit saja. Yang mengherankan sekali bagaimana hal itu dapat menipu dia dengan keagungan posisinya dan kepemimpinannya. Sungguh guru kami Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi rahimahullah telah menyatakan dengan tegas bahwa itu maudhu’ (palsu) dan berbohong, dan menulis itu di pinggiran kitab; kitab (Tafsir Ibnu Jarir). Dan sungguh telah datang dalam hal ini atsar-atsar israiliyyat yang banyak yang tidak aku lihat memperpanjang kitab dengan menyebutkannya; karena di antaranya ada yang maudhu’ (palsu) dari pemalsuan sebagian orang zindiq mereka, dan di antaranya ada yang mungkin benar, dan kita tidak membutuhkannya, segala puji bagi Allah. Dalam apa yang Allah kisahkan kepada kita dalam kitab-Nya cukup dari yang lainnya dari sisa kitab-kitab sebelumnya, dan Allah tidak menjadikan kita dan rasul-Nya membutuhkan kepada mereka. Dan sungguh Allah telah mengabarkan tentang mereka bahwa ketika mereka melampaui batas dan berbuat aniaya, Allah menguasakan atas mereka musuh mereka sehingga menghancurkan kekuatan mereka, dan berjalan di antara rumah-rumah mereka, serta menghinakan dan menundukkan mereka; sebagai balasan yang setimpal, dan Rabbmu tidak menganiaya hamba-hamba. Sesungguhnya mereka telah durhaka, dan membunuh banyak sekali dari para nabi dan ulama. Rujuk dalam hal itu (Tafsir Ibnu Katsir), dan (Tafsir Al-Baghawi) juga.

Adapun tafsir yang benar untuk ayat dan dengannya kami akhiri; maka kami katakan: Dan inilah kebenaran yang seharusnya dituju dalam ayat tersebut. Kisah-kisah Al-Quran tidak mempedulikan penyebutan orang-orang maupun tempat-tempat; karena tujuan darinya adalah ibrah, peringatan, pengajaran dan pelajaran. Yang ditunjukkan oleh ayat adalah bahwa mereka berbuat kerusakan dua kali di masa terdahulu, dan berbuat zhalim serta aniaya; maka Allah menguasakan atas mereka pada yang pertama orang yang menghinakan dan menawan mereka. Tidak penting bagi kita apakah yang menghinakan mereka itu adalah “Sinjarib” atau “Bukhtanashshar” dan tentaranya, atau yang lain; karena tidak ada faedah yang berarti dari mengetahui hal itu. Dan Allah menguasakan atas mereka pada yang kedua orang yang menghinakan mereka dan menyuramkan wajah mereka, serta memasuki Masjid Al-Aqsha lalu merusak di dalamnya dan menghancurkan. Tidak penting bagi kita apakah yang mengazab mereka itu adalah “Thithus” orang Romawi atau yang lain; karena yang dimaksud dari konteks kisahnya adalah apa yang Allah tetapkan atas Bani Israil bahwa mereka adalah ahli kerusakan, kesombongan, kezhaliman dan permusuhan. Dan bahwa ketika mereka berbuat kerusakan, melampaui batas dan sombong, Allah menguasakan atas mereka dari hamba-hamba-Nya orang yang mengazab, menghinakan, menawan dan menyerakkan mereka.

Kemudian sesungguhnya ayat-ayat juga menunjukkan bahwa Bani Israil tidak berhenti keangkuhan, permusuhan dan kerusakan mereka pada dua kali yang pertama, bahkan ayat menunjukkan bahwa hal itu berlanjut hingga Allah menghendaki, dan bahwa Allah akan menguasakan atas mereka orang yang akan menimpakan azab yang buruk kepada mereka, dan menghantam mereka serta membalas kezhaliman dan permusuhan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman: {Mudah-mudahan Rabb kamu akan mengasihi kamu, dan jika kamu kembali (kepada kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazab) dan Kami jadikan jahannam penjara bagi orang-orang kafir}. Bukankah dalam firman-Nya ini ada peringatan dan ancaman bagi mereka hingga hari kiamat? Ya benar.

Yang menegaskan peringatan dan ancaman ini adalah firman-Nya Ta’ala: {Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengumumkan bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (Surat Al-A’raf ayat 167). Apakah Allah menguasakan atas mereka hari ini orang yang membalas kezhaliman, permusuhan dan pengusiran mereka terhadap penduduk Palestina dari negeri mereka, perampasan negeri, eksploitasi hamba-hamba, dan meremehkan mereka terhadap nilai-nilai akhlak dan hak-hak kemanusiaan? Kami berdoa dan berharap kepada Allah agar merealisasikan hal itu pada orang yang mengazab mereka dan menguasakan dia atas mereka, dan hal itu tidak sulit bagi Allah. Dalam kemampuan umat Islam jika bersatu kata mereka, mengumpulkan barisan mereka, mengangkat panji Islam dan jihad, mengambil kewaspadaan dan persiapan, serta menyiapkan peralatan; maka Allah akan memberi kekuatan kepada mereka insya Allah.

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Ashab Al-Kahfi

Sesungguhnya kisah Ashab Al-Kahfi yang surat dinamakan dengan nama ini, terdapat di dalamnya israiliyyat sebagaimana yang terdapat. Dari kisah-kisah orang terdahulu yang kebanyakan mufassir memperbanyak di dalamnya israiliyyat adalah kisah Ashab Al-Kahfi yang disebutkan Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih dan lainnya. Tentu saja kebanyakan dari berita-berita mereka ini tidak ditunjukkan oleh atau atasnya Kitab Allah, dan pemahaman serta perenungan Al-Quran tidak bergantung pada apa yang disebutkan para mufassir dari israiliyyat ini.

Di antaranya adalah apa yang disebutkan Ibnu Jarir dalam tafsirnya dari Ibnu Ishaq penulis (As-Sirah) dalam kisah mereka, maka dia menyebutkan sekitar tiga halaman atau lembaran, dan mengutip dari Wahb bin Munabbih, Ibnu Abbas, Mujahid berita-berita lain yang banyak. Demikian juga As-Suyuthi menyebutkan dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) banyak dari apa yang disebutkan para mufassir tentang Ashab Al-Kahfi; tentang identitas mereka, siapa mereka, di zaman apa, dan di tempat mana mereka berada, dan berbicara tentang nama-nama mereka, dan nama anjing mereka, apakah Qithmir atau yang lain, dan tentang warnanya apakah kuning atau merah.

Bahkan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sufyan berkata: Ada seorang laki-laki di Kufah yang disebut Ubaid, dan dia tidak dituduh berdusta, berkata: Aku melihat anjing Ashab Al-Kahfi merah seperti kain Anbajaini, dinisbatkan kepada negeri bernama Anbaj yang terkenal dengan pembuatan selimut. Kami tidak tahu bagaimana dia tidak dituduh berdusta, padahal yang dia klaim adalah kebohongan yang tidak diragukan lagi. Apakah anjing Ashab Al-Kahfi masih hidup hingga hari ini, atau hingga Islam sehingga mereka ini melihatnya? Pembicaraan yang tidak masuk akal.

Bahkan Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sufyan yang berkata: ada seorang laki-laki di Kufah yang disebut Ubaid, dan dia tidak dituduh berbohong. Dia berkata: aku melihat anjing para penghuni gua berwarna merah seperti kain Anbajani, dinisbahkan kepada negeri bernama Anbaj yang terkenal dengan pembuatan kain-kain penutup. Kita tidak tahu bagaimana dia tidak dituduh berbohong, padahal apa yang dia klaim adalah kebohongan yang tidak diragukan lagi. Apakah anjing para penghuni gua masih ada sampai hari ini, atau sampai masa Islam sehingga orang-orang ini melihatnya? Ini adalah perkataan yang tidak masuk akal.

Mereka menyebutkan berita-berita aneh tentang Ar-Raqim. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah desa, dan Kaab Al-Ahbar meriwayatkan hal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah lembah di Palestina dekat desa Ailah. Ada yang mengatakan itu adalah nama gunung para penghuni gua, dan lain sebagainya. Padahal yang jelas adalah seperti yang dikatakan banyak ulama salaf: bahwa itu adalah kitab atau batu yang di dalamnya ditulis kisah dan berita mereka, atau selain itu yang tidak kita pastikan, maka Allah lebih mengetahuinya.

Kata Ar-Raqim adalah fa’il dalam arti maf’ul, yaitu marqum (yang ditulis). Dalam Kitab Suci disebutkan firman-Nya Yang Maha Suci: “Dan tahukah kamu apakah Illiyyun itu? (Yaitu) kitab yang tertulis (marqum), yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” (Al-Muthaffifin: 19-21), “Dan tahukah kamu apakah Sijjin itu? (Yaitu) kitab yang tertulis (marqum)” (Al-Muthaffifin: 8-9), artinya: raqim dalam arti maf’ul.

Dalam berita-berita yang dinukil tentang Ar-Raqim, para penghuni gua, sifat-sifat mereka, jumlah mereka, dan nama-nama mereka terdapat yang benar dan yang batil, yang benar dan yang dusta, dan di dalamnya ada yang mungkin benar dan mungkin dusta. Namun apa yang ada pada kita sudah mencukupi darinya, dan tidak ada faedah dari menyibukkan diri dengan mengetahui hal ini dan menafsirkan Al-Quran Al-Karim dengannya. Karena ayat-ayat tidak memerlukan tafsir seperti ini. Yang lebih baik dan lebih utama adalah kita berpaling darinya. Allah telah mendidik kita dengan hal itu ketika Dia berfirman kepada Nabi-Nya setelah menyebutkan perselisihan Ahli Kitab tentang jumlah para penghuni gua, Allah Yang Maha Suci berfirman: “Katakanlah: ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui mereka kecuali sedikit’. Maka janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja, dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (para penghuni gua itu) kepada seorang pun di antara mereka” (Al-Kahf: 22). Kebanyakan hal tersebut sebagaimana yang telah kita isyaratkan dan lainnya diterima dari Ahli Kitab yang masuk Islam, dan sebagian sahabat serta tabi’in menerimanya dari mereka karena keanehannya dan mereka heran karenanya.

Al-Allamah Ibn Katsir berkata dalam tafsirnya: Dalam penyebutan mereka dengan nama-nama ini dan nama anjing mereka ada keraguan dalam keshahihannya, dan Allah lebih mengetahui. Karena kebanyakan hal itu diterima dari Ahli Kitab, dan Allah Taala telah berfirman: “Maka janganlah kamu bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja”, yaitu mudah, ringan, lembut. Karena masalah mengetahui hal itu tidak mengakibatkan faedah yang besar, dan jangan kamu menanyakan tentang mereka kepada seorang pun di antara mereka, yaitu karena mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu kecuali apa yang mereka katakan dari diri mereka sendiri dengan menebak-nebak yang ghaib tanpa bersandar kepada perkataan yang ma’shum. Padahal Allah telah mendatangkan kepadamu wahai Muhammad dengan kebenaran yang tidak diragukan dan tidak ada keraguan padanya, maka itulah yang didahulukan atas setiap kitab dan perkataan yang mendahuluinya. Lihat dalam hal itu (Tafsir Ibn Katsir).

Israiliyyat yang Disebutkan dalam Kisah Yusuf alaihissalam

Di hadapan kita ada kisah yang sangat berpengaruh, yaitu kisah yang unik yang disebutkan dalam satu surah. Karena yang kita kenal dalam Al-Quran Al-Karim bahwa kebanyakan kisah para nabi dan rasul disebutkan di beberapa tempat dan berbagai situasi, setiap situasi sesuai dengan apa yang disebutkan untuk mengambil pelajaran dan ibrah. Kecuali kisah Nabi dan Rasul Allah Yusuf alaihissalam, karena kisah Yusuf disebutkan dalam surah “Yusuf” dalam satu situasi, dan semua bagiannya dikumpulkan dalam surah yang mulia ini.

Surah Yusuf alaihissalam dan kisahnya disebutkan terkumpul dalam surah ini saja. Meskipun demikian, dalam kisah Yusuf alaihissalam terdapat israiliyyat dan riwayat-riwayat palsu yang dibuat-buat, dan hadits-hadits banyak yang disebutkan dalam hal ini yang mencela kemakshuman para nabi dan rasul, terutama yang berkaitan dengan firman-Nya Jalla wa Ala: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) terhadapnya, kalau saja dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24), meskipun ayat-ayat dalam hal ini menunjukkan dengan jelas kebersihan Yusuf dan kemakshumannya, dan bahwa dia termasuk hamba-hamba Allah yang terpilih, dan bahwa wanita itulah yang merayunya sebagaimana akan kita jelaskan melalui ayat-ayat dalam hal ini.

Dalam kisah Yusuf alaihissalam terdapat israiliyyat dan riwayat-riwayat. Di antaranya adalah apa yang dikeluarkan oleh Ibn Jarir dalam tafsirnya dan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) dan lainnya dalam firman-Nya Taala di awal surah: “Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku'” (Yusuf: 4). As-Suyuthi berkata: Dan Sa’id bin Manshur, Al-Bazzar, Abu Ya’la, Ibn Jarir, Ibn Al-Mundzir, Ibn Abi Hatim, Al-Aqili dalam (Adh-Dhu’afa), Abu Asy-Syaikh, dan Al-Hakim mengeluarkan dan menshahihkannya. Tentu saja ketika As-Suyuthi mengatakan bahwa Al-Hakim menshahihkannya, kita harus mengingat bahwa pentashihan Al-Hakim tidak dianggap kecuali jika disetujui oleh Syaikh Adz-Dzahabi atau ulama hadits lainnya.

Dia juga meriwayatkan bahwa Ibn Mardawaih dan Abu Nu’aim serta Al-Baihaqi bersama-sama dalam (Ad-Dala’il) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu berkata: Seorang tukang kebun Yahudi datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang bintang-bintang yang dilihat Yusuf alaihissalam sujud kepadanya, apa nama-namanya?” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam diam dan tidak menjawab apa-apa. Kemudian turunlah Jibril alaihissalam dan memberitahukan nama-namanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim utusan kepada tukang kebun Yahudi itu dan berkata: “Apakah kamu akan beriman jika aku memberitahukan nama-namanya?” Dia berkata: Ya. Nabi bersabda: “Harfan, Ath-Thariq, Az-Zayal, Dzul Kaftain, Qabis, Danan, Hadan, Al-Failaq, Al-Mushbih, Adh-Dharuh, Al-Farikh, Adh-Dhiya, dan An-Nur”.

Nama-nama ini dalam (Tafsir Ibn Jarir) ada yang berbeda: sebagai ganti Harfan adalah Jarban, sebagai ganti Danan adalah Fi Wattsab, sebagai ganti Haudan adalah Amudan, sebagai ganti Al-Failaq adalah Al-Faliq. Artinya nama-nama yang berbeda dalam riwayat-riwayat lainnya. Sisa hadits: “Dia melihatnya di cakrawala langit sujud kepadanya. Ketika Yusuf menceritakan kepada Yakub, dia berkata: ‘Ini adalah urusan yang tercerai-berai yang akan Allah kumpulkan setelah ini.'” Maka berkatalah orang Yahudi itu: “Demi Allah, itulah nama-nama mereka.” Yang tampak bagiku -dan ini perkataan syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah- bahwa ini dari israiliyyat dan disangkakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta. Kemudian sesungguhnya sayyiduna Yusuf melihat bintang-bintang dengan bentuknya bukan dengan namanya. Ya, dia melihatnya dengan bentuknya bukan dengan namanya. Kemudian apa hubungan nama dalam apa yang dilambangkan oleh mimpi itu. Dasar riwayat ini adalah Al-Hakam bin Zhahir, dan para imam telah mendhaifkannya dan kebanyakan meninggalkannya. Al-Jauzajani berkata: Ini adalah orang yang jatuh dan dia adalah pemilik hadits tentang kecantikan Yusuf dan semuanya adalah kebohongan.

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam (Mizan Al-I’tidal): Ibn Ma’in berkata: Dia tidak tsiqah, yaitu perawi riwayat ini yang diriwayatkan darinya, yaitu Al-Hakam bin Zhahir. Ibn Ma’in berkata tentangnya: Tidak tsiqah. Dan dia berkata suatu kali: Tidak ada apa-apanya. Al-Bukhari berkata: Munkar Al-Hadits. Dan dia berkata suatu kali: Mereka meninggalkannya. Dan dia adalah perawi hadits “Jika kalian melihat Muawiyah di atas mimbarku maka bunuhlah dia.”

Apakah seperti ini riwayatnya dianggap dalam hal seperti ini? Cukup baginya kejatuhan dengan perkataan Al-Bukhari padanya: Munkar Al-Hadits dan mereka meninggalkannya. Tentu saja riwayatnya tidak dianggap.

Israiliyyat dalam ayat yang membingungkan sebagian mufassir dan banyak pembicaraan di dalamnya dari israiliyyat. Ayat itu adalah firman-Nya Taala: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) terhadapnya, kalau saja dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya”. Di antara israiliyyat yang bohong yang tidak sesuai dengan akal dan naql adalah apa yang disebutkan oleh Ibn Jarir dalam tafsirnya dan penulis (Ad-Durr Al-Mantsur) dan para mufassir lainnya dalam ayat ini. Mereka telah menyebutkan dalam maksud Yusuf alaihissalam apa yang bertentangan dengan kemakshuman para nabi, dan apa yang membuat pena malu menuliskannya seandainya bukan karena ini adalah tempat penjelasan dan peringatan dari dusta kepada Allah dan para rasul-Nya, dan itu adalah salah satu kewajiban yang paling wajib bagi ahli ilmu.

Mereka meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma bahwa dia ditanya tentang maksud Yusuf alaihissalam sampai mana? Dia berkata: Dia melepas ikat pinggang -yaitu celana- dan duduk pada posisi orang yang akan menggauli, maka dia dipanggil: “Wahai Yusuf, janganlah seperti burung yang memiliki bulu, jika berzina maka dia duduk tanpa bulu.” Mereka meriwayatkan seperti ini dari Ali radhiyallahu anhu, dari Mujahid, dan dari Sa’id bin Jubair. Maazallah.

Mereka juga meriwayatkan tentang tanda yang dia lihat, dan seandainya tidak ada itu dia akan jatuh dalam perbuatan keji, bahwa dia dipanggil: “Kamu tertulis dalam para nabi, tetapi beramal seperti orang-orang bodoh.” Dan dikatakan: Dia melihat gambaran ayahnya Yakub di dinding. Dan dikatakan: di langit-langit kamar, dan bahwa dia melihatnya menggigit ibu jarinya, dan bahwa dia tidak mengambil pelajaran dari panggilan sampai dia melihat ayahnya dalam keadaan seperti itu.

Bahkan penyebar israiliyyat batil ini berlebihan, mereka mengklaim bahwa ketika dia tidak sadar dari melihat gambaran ayahnya yang menggigit jari-jarinya, ayahnya Yakub memukulnya, maka keluarlah syahwatnya dari ujung-ujung jarinya. Dan untuk memperkuat mereka yang memfitnah Allah dan Nabi-Nya Yusuf dengan fitnah ini, mereka juga mengklaim bahwa setiap anak Yakub lahir baginya dua belas anak kecuali Yusuf, karena dia berkurang dengan syahwat yang keluar dari ujung jarinya itu, sehingga tidak lahir baginya kecuali sebelas anak.

Bahkan mereka juga mengklaim dalam tafsir tanda sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa dia melihat tiga ayat dari Kitab Allah, yaitu firman-Nya Taala: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu)” (Al-Infithar: 10-11), dan firman-Nya Taala: “Dan kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya” (Yunus: 61), dan firman-Nya Taala: “Maka Apakah Dia yang tetap mengawasi setiap jiwa terhadap apa yang dikerjakannya” (Ar-Ra’d: 33).

Dan dikatakan: Dia melihat firman-Nya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra: 32).

Sudah jelas bahwa ayat-ayat ini dengan lafazh Arab ini tidak turun kepada seorang pun sebelum nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, meskipun orang-orang yang memfitnah ini tidak kehilangan jawaban dengan mengatakan: Dia melihat apa yang menunjukkan makna ayat-ayat ini dengan bahasa mereka yang mereka ketahui.

Bahkan dikatakan dalam tanda: Dia diperlihatkan patung raja yaitu Al-Aziz. Dan dikatakan: bayangannya. Semua itu kembali kepada berita Bani Israil dan kebohongan mereka yang mereka fitnah kepada Allah dan para rasul-Nya, dan dibawa kepada sebagian sahabat dan tabi’in seperti Kaab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih dan semacam mereka. Tidak ada yang lebih menunjukkan hal ini daripada apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: Ketika Yusuf dan istri Al-Aziz bersepi, keluarlah sebuah tangan tanpa tubuh di antara mereka yang tertulis padanya dengan bahasa Ibrani: “Maka apakah Dia yang tetap mengawasi setiap jiwa terhadap apa yang dikerjakannya?” Kemudian tangan itu pergi, dan mereka berdiri di tempat mereka. Kemudian tangan itu kembali di antara mereka yang tertulis padanya dengan bahasa Ibrani: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Kemudian tangan itu pergi dan mereka berdiri di tempat mereka. Maka tangan itu datang yang ketiga kalinya tertulis padanya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Dan tangan itu pergi dan mereka berdiri di tempat mereka. Maka tangan itu datang yang keempat kalinya tertulis padanya dengan bahasa Ibrani: “Dan takutlah kepada hari (ketika) kamu dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya.” Maka Yusuf alaihissalam pergi melarikan diri.

Perkataan ini dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) diriwayatkan oleh Imam As-Suyuthi dan lainnya.

Wahb atau orang yang meriwayatkan dari Wahb adalah orang yang cerdas dan pandai ketika dia mengklaim bahwa itu tertulis dengan bahasa Ibrani, dan dengan demikian dia menjawab apa yang dipermasalahkan. Tetapi meskipun demikian, kebohongan ini tidak akan berlalu kecuali pada orang-orang awam dan orang-orang bodoh dari ahli ilmu. Aku tidak tahu makna apa yang tersisa untuk kemakshuman setelah dia duduk di antara kedua pahanya dan melepas celananya. Tidaklah penolakan zina menurut riwayat mereka yang diada-adakan kecuali dalam keadaan terpaksa dan terkalahkan. Seandainya seorang preman melihat gambaran ayahnya setelah kematiannya yang memperingatkannya dari kemaksiatan, pasti dia akan menahan diri dan mundur. Lalu apa kelebihan Yusuf jika demikian, padahal dia adalah nabi dari keturunan para nabi?

Syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah melanjutkan dengan berkata: Bahkan apa kelebihannya dalam tidak melakukan perbuatan keji setelah syahwatnya keluar dari ujung-ujung kaki tangannya? Tidaklah penolakannya saat itu kecuali karena ketidakmampuan dan keterpaksaan. Kemudian apa kekacauan yang mencolok ini dalam riwayat-riwayat? Bukankah kekacauan yang tidak dapat didamaikan seperti ini adalah salah satu illat yang dengannya para muhaddits menolak banyak riwayat, karena itu adalah tanda dari tanda-tanda kebohongan dan kebohongan? Yang batil itu bengkok, sedangkan yang benar itu jelas.

Kemudian bagaimana sesuai apa yang dikarang seputar Nabi Allah Yusuf alaihissalamu dengan perkataan Yang Maha Benar Tabarak wa Taala setelah menyebutkan maksud: “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24). Apakah yang melepas tali dan melepas celana, dan duduk di antara kedua kakinya sampai akhir yang mereka sebutkan dari kebohongan, layak mendapat pujian ini? Aku tidak tahu, apakah kita membenarkan Al-Quran ataukah kita membenarkan pembohong Bani Israil dan tukang dongeng mereka?! Bahkan bagaimana sesuai apa yang dia riwayatkan dan apa yang Allah Azza wa Jalla ceritakan tentang Zulaika tokoh yang merayu, dimana dia berkata: “Akulah yang merayunya untuk menggauli diriku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (Yusuf: 51), dan ini adalah pengakuan terang-terangan dari tokoh yang kehabisan akal dengan cara berdandan kadang-kadang, dan menggoda dengan perkataan manis kadang yang lain, dan mengancam serta menakut-nakuti kadang yang ketiga tetapi tidak berhasil. Dia berkata: “Dan sesungguhnya jika dia tidak mau melakukan apa yang aku perintahkan, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina” (Yusuf: 32).

Kemudian lihatlah apa jawaban tuan yang suci mulia anak orang mulia anak orang mulia anak orang mulia, Yusuf bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim alaihimusshalawatu wassalam. Dia berkata: “Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya. Dan jika tidak Engkau palingkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil” (Yusuf: 33).

Maksudnya alaihissalamu dengan perkataannya: “Dan jika tidak Engkau palingkan dari padaku tipu daya mereka” adalah berlepas diri dari daya dan kekuatan, dan bahwa daya dan kekuatan itu hanya dari Allah Jalla wa Ala. Itu adalah permohonan darinya kepada Tuhannya dan meminta pertolongan kepada-Nya agar mempalingkan dari dirinya tipu daya mereka. Demikianlah keadaan para nabi.

Hakikatnya ketika kita merenungkan ayat-ayat, kita menemukan di dalamnya lebih dari sepuluh dalil yang semuanya jelas. Setelah apa yang telah lalu dari perkataannya: “Akulah yang merayunya untuk menggauli diriku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (Yusuf: 51), dan perkataan Allah Azza wa Jalla: “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian” (Yusuf: 24), dan firman-Nya Azza wa Jalla: “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24), kita melihat bahwa setan sendiri telah bersaksi untuk Yusuf alaihissalam dalam perkatannya sebagaimana disebutkan Al-Quran dan Allah ceritakan dari dia dengan firman-Nya: “Iblis berkata: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka'” (Shad: 82-83), dan Yusuf dengan kesaksian Yang Maha Benar di atas adalah termasuk orang-orang yang mukhlas.

Demikian juga bersaksi untuk Yusuf seorang saksi dari keluarganya. Saksi ini sebagaimana yang diucapkan ayat ketika Allah Jalla wa Ala berfirman: “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: ‘Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itu dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: ‘Sesungguhnya (ini) dari tipu dayamu wahai wanita-wanita. Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar'” (Yusuf: 26-28). Saksi ini dikatakan: adalah seorang laki-laki yang berakal bijaksana berpengalaman dari orang khusus raja, dan dia dari keluarganya. Dan dikatakan: adalah seorang bayi dalam buaian, dan itu adalah mukjizat di hadapan Nabi Allah Yusuf sebagai penghormatan baginya.

Bagaimanapun juga, saksi ini mengucapkan perkataan yang memutuskan ketika dia berkata: “Jika baju gamisnya koyak di muka”, yaitu robek dan putus dari depan, “maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta”, seakan-akan dialah yang maju kepadanya dan mendekati, maka dia mendorongnya. “Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itu dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”, karena koyaknya baju gamis dan robeknya dari belakang bermakna bahwa dia berlari dan melarikan diri darinya. “Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: ‘Sesungguhnya (ini) dari tipu dayamu wahai wanita-wanita. Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar'” dan seterusnya ayat-ayat.

Penyelidikan telah menunjukkan kebersihan Yusuf dan kesalahan Zulaika istri Al-Aziz. Bagaimana semua kesaksian yang jelas dan benar ini sesuai dengan riwayat-riwayat yang dipalsukan dari israiliyyat? Keduanya tidak sesuai. Banyak dari riwayat-riwayat ini disebutkan oleh Ibn Jarir Ath-Thabari, Ats-Tsa’labi, Al-Baghawi, Ibn Katsir, dan As-Suyuthi.

Ketahuilah wahai saudara Muslim dan para pencari ilmu, bahwa kitab-kitab tafsir ini meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, namun tidak terlepas dari penyebaran riwayat-riwayat israiliyat yang banyak. Ibn Katsir telah melalui riwayat-riwayat tersebut setelah memindahkannya sebagai pencerita tanpa memberikan peringatan tentang kepalsuan riwayat-riwayat itu. Hal ini termasuk kesalahan Ibn Katsir karena ia memindahkan israiliyat dan riwayat-riwayat ini tanpa memberikan komentar dan tanpa menyatakan kepalsuannya, padahal Ibn Katsir hidup di masa yang lebih belakang. Seandainya seperti Ibn Jarir at-Tabari yang wafat di awal abad keempat atau ats-Tsa’labi atau al-Baghawi, atau mereka yang hidup lebih awal di abad keempat atau kelima. Namun Ibn Katsir yang wafat pada tahun 774 di akhir abad kedelapan seharusnya menolak kebatilan-kebatilan ini, mengkritiknya, dan menjelaskan kepalsuannya.

Yang mengherankan adalah bahwa Imam Ibn Jarir meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, berusaha melemahkan dalam tafsirnya madzhab khalaf (generasi belakangan) yang menolak kebohongan dan fitnahan ini. Mereka menafsirkan ayat-ayat berdasarkan tuntutan bahasa dan kaidah syariat, serta berdasarkan apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah yang shahih dan tsabit. Ibn Jarir menganggap riwayat-riwayat yang telah kita sebutkan tadi sebagai pendapat semua ahli ilmu dalam takwil Al-Quran yang dapat dijadikan rujukan. Silakan lihat Tafsir Ibn Jarir.

Demikian pula ats-Tsa’labi dan al-Baghawi mengikuti pendapatnya dalam tafsir mereka; Tafsir al-Baghawi (Ma’alim at-Tanzil), dan ats-Tsa’labi juga dalam (al-Kasyf wa al-Bayan) tafsirnya. Riwayat-riwayat buruk dan bohong yang ditolak oleh susunan Al-Quran yang mulia, dan yang dianggap mustahil oleh akal dan naqal untuk para nabi alaihimus salam, inilah yang dianggap at-Tabari dan pengikutnya sebagai pendapat salaf. Bahkan ia berjalan dalam garis menganggap riwayat-riwayat ini sebagai rujukan, lalu ia mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri: “Jika ada yang berkata: Bagaimana mungkin Yusuf digambarkan seperti ini, padahal ia adalah nabi Allah?” Kemudian ia menjawab dengan jawaban yang tidak berdasar dan tidak pantas bagi kedudukan para nabi dan rasul. Maka berhati-hatilah wahai saudara Muslim.

Kemudian kami juga menyebutkan apa yang dilakukan oleh Imam al-Wahidi yang merupakan penulis tafsir (al-Basith), (al-Wasith), dan (al-Wajiz). Ia memiliki kedudukan yang kokoh dalam ilmu tafsir, namun ia juga mengambil jalan yang sama dengan mereka. Al-Wahidi dalam tafsirnya (al-Basith) berkata: Para mufassir yang dapat dipercaya ilmunya dan dirujuk riwayatnya, yang mengambil takwil dari orang yang menyaksikan turunnya wahyu berkata: Yusuf alaihis salam berniat pada wanita itu dengan niat yang sungguh-sungguh, dan ia duduk darinya dalam posisi seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Ketika ia melihat bukti dari Tuhannya, hilanglah segala syahwat darinya. Ini adalah kelengahan yang sangat dari para imam seperti al-Wahidi dan lainnya yang tidak kita ridhai dan tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta memberikan salam.

 

 

Pelajaran: 11 Contoh-contoh Israiliyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (9)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kesebelas (Contoh-contoh Israiliyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (9))

Lanjutan Israiliyat yang terdapat dalam kisah Yusuf alaihis salam

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada semulia-mulia rasul, junjungan kami Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Kita masih membahas nabi Allah Yusuf alaihis salam dalam kisah yang disebutkan lengkap dalam surat “Yusuf” dan di dalamnya terdapat israiliyat yang dikutip oleh para mufassir dalam tafsir mereka. Telah lalu pembahasan kita tentang Yusuf alaihis salam dan tentang ayat-ayat yang menjelaskan bahwa istri al-Aziz merayunya untuk berbuat keji, dan bahwa ia adalah orang yang jujur karena tidak mendekati sisi kesalahan. Ayat-ayat dalam surat ini dan lainnya banyak sekali. Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24).

Saya katakan: di antara ayat-ayat yang menjelaskan kesucian rasul yang makshum ini -semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya- adalah setelah firman Allah -Jalla wa Ala-: “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku, yang telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (Yusuf: 23).

Ayat-ayat berlanjut dan kita melihat ayat: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24).

Sungguh setan sendiri memberikan kesaksian dari ayat-ayat untuk Yusuf alaihis salam ketika ia berkata: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (Shad: 82). Maka Yusuf termasuk hamba-hamba Allah yang mukhlis.

Dan ayat-ayat yang diucapkan wanita pelaku rayuan ketika ia berkata: “Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan akan menjadi golongan orang-orang yang hina”. Ketika mereka berdua berlomba menuju pintu dan Yusuf sampai ke pintu sambil lari darinya, maka saat itu raja menemuinya dan kemudian datang seorang saksi untuk bersaksi dalam perkara tersebut: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka perempuan itu dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar. Maka tatkala suami perempuan itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) ini adalah dari tipu daya kamu wahai para wanita. Sesungguhnya tipu daya kamu adalah sangat besar. Hai Yusuf, berpalinglah dari ini. Dan kamu (hai isteriku) mohonlah ampun untuk dosamu itu, sesungguhnya kamu adalah termasuk orang-orang yang bersalah” (Yusuf: 26-29). Ayat-ayatnya banyak, dan ia juga berkata: “Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak”, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (Yusuf: 51).

Kemudian kita beralih setelah itu kepada firman-Nya -Jalla wa Ala-: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya” (Yusuf: 52) dan di dalamnya terdapat israiliyat banyak yang dikutip. Sebelum itu kita sebutkan apa yang disebutkan para mufassir juga ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf berniat pada wanita itu dengan niat yang sungguh-sungguh dan duduk darinya dalam posisi seorang laki-laki terhadap wanita, ketika ia melihat bukti dari Tuhannya hilanglah segala syahwat darinya.

Ini adalah perkataan yang tidak dapat diterima akal dan merusak kemakshuman para nabi. Dari sini kita lanjutkan apa yang telah kita mulai. Para ulama berkata; berkata Dr. Muhammad Abu Syuhbah, dan para ulama yang memiliki basharah berkata: Sesungguhnya perkataan ini mengandung kelengahan yang sangat dari para imam yang menyebutkan perkataan ini, dan ini adalah perkataan yang tidak kita ridhai. Seandainya bukan karena kita menjaga lisan dan pena kita dari ucapan yang tidak pantas, dan bahwa mereka mencampuradukkan dalam karya-karya mereka amal shalih dan yang lainnya buruk, niscaya kita akan keras kepada mereka dalam menghukumi pemindahan mereka terhadap perkataan ini. Maka kita mohon kepada Allah untuk kita dan mereka pengampunan dan maghfirah.

Berkata guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah: Perkataan-perkataan yang berlebihan disebutkan oleh para mufassir ini; baik israiliyat dan khurafat yang dibuat oleh zindiq ahli kitab terdahulu yang hendak menyerang para nabi dan rasul, kemudian dibawa serta oleh ahli kitab yang masuk Islam dan diterima dari mereka oleh sebagian sahabat dan tabi’in dengan niat baik atau mengandalkan tampaknya kebohongan dan kepalsuan, atau bisa jadi disusupi kepada para imam ini oleh musuh-musuh agama agar tersebarkan di balik kedok ini, dan dengan itu mereka sampai kepada apa yang mereka inginkan yaitu merusak akidah dan mengeruhkan kejernihan budaya Islam yang asli dan benar; dan inilah yang kita condongkan.

Kita beralih kepada fitnahan lain terhadap sayyidina Yusuf; yaitu apa yang mereka sebutkan dalam firman-Nya -Jalla wa Ala-: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya”. Untuk mendukung kebatilan mereka yang disebutkan sebelumnya, mereka meriwayatkan dari sahabat dan tabi’in apa yang tidak pantas bagi kedudukan para nabi, dan mereka mengarang kebohongan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan mengatakan kepadanya apa yang tidak pernah ia katakan. Berkata pemilik (ad-Durr): Dikeluarkan oleh al-Firayabi dan Ibn Jarir dan Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim dan Abu asy-Syaikh dan al-Baihaqi dalam (Syu’ab al-Iman) dari Ibn Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata: Ketika raja mengumpulkan para wanita, ia berkata kepada mereka: Kamu “Apakah kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepada kamu)?” Mereka menjawab: “Maha suci Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.” Berkatalah isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (Yusuf: 51). Yusuf berkata: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya”. Maka Jibril alaihis salam menyikutnya dan berkata: Dan tidak juga ketika kamu berniat kepadanya. Ia berkata: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (Yusuf: 53). Ini adalah perkataan yang tidak dapat diterima baik secara akal maupun syariat. Lihatlah perkataan para wanita: “Mereka menjawab: “Maha suci Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya” (Yusuf: 51), dan lihatlah pengakuan wanita pemilik kisah “Berkatalah isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu” -yaitu tampak- “akulah yang menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”.

Adapun menisbatkan ucapan ini: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya” kepada Yusuf dan apa yang mereka tambahkan bahwa Jibril datang kepadanya dan berkata kepadanya: Dan tidak juga ketika kamu berniat kepadanya, ini adalah perkataan yang pasti disusupi. Dikeluarkan Ibn Jarir dari Mujahid dan Qatadah dan adh-Dhahhak dan Ibn Zaid, dan as-Suddi seperti perkataan ini.

Dan dikeluarkan al-Hakim dalam (Tarikhnya) dan Ibn Mardawaih dan ad-Dailami dari Anas radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca ayat ini: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya”, beliau bersabda: “Ketika Yusuf berkata demikian, Jibril alaihis salam berkata kepadanya: Dan tidak juga pada hari ketika kamu berniat dengan apa yang kamu niatkan. Maka ia berkata: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan””.

Ia berkata: Dan dikeluarkan Ibn Jarir dari Ikrimah sepertinya, dan dikeluarkan Sa’id bin Manshur dan Ibn Abi Hatim dari Hakim bin Jabir dalam ayat yang sama, Jibril berkata: “Dan tidak juga ketika kamu melepas celana”. Dan selain itu dari riwayat-riwayat yang pasti bohong dan israiliyat batil yang dikeluarkan oleh sebagian mufassir yang manhajnya menyebutkan riwayat-riwayat, dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya baik yang shahih maupun yang tidak shahih, dan para akhbari yang tidak ada tahqiq pada mereka terhadap riwayat-riwayat. Tidak ada yang lebih menunjukkan hal itu selain bahwa tidak ada seorang pun dari ahli kitab-kitab shahih yang mengeluarkannya, dan tidak pula pemilik kitab-kitab mu’tamadah yang dirujuk dalam hal seperti ini.

Berkata guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah: Telah luput dari para penyusup pembohong ini bahwa firman-Nya Ta’ala: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya” bukanlah dari ucapan sayyidina Yusuf alaihis salam, melainkan dari ucapan istri al-Aziz dan itulah yang sesuai dengan konteks ayat. Hal itu karena al-Aziz ketika mengutus utusannya kepada Yusuf untuk membawanya dari penjara berkata kepadanya: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya” (Yusuf: 50). Maka ia membawa para wanita dan bertanya kepada mereka, dan mereka bersaksi akan kesucian Yusuf. Maka istri al-Aziz tidak menemukan jalan lain selain mengakui, maka ia berkata: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (Yusuf: 51-53).

Semua itu adalah dari ucapannya, dan Yusuf tidak hadir di sana -yaitu di tempat itu- melainkan berada di penjara. Bagaimana mungkin dapat dipahami bahwa ucapan itu keluar darinya dalam majlis tahqiq yang diselenggarakan oleh al-Aziz.

Telah membela pendapat ini yang selaras dengan konteks dan latar belakang Syaikhul Islam Imam Ibn Taimiyyah, dan ia mengarang dalam hal itu karya tersendiri.

Berkata Imam al-Hafizh al-Mufassir Ibn Katsir dalam tafsirnya: “Yang demikian itu supaya dia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat terhadapnya di belakangnya”, ia (wanita itu) berkata: Sesungguhnya aku mengakui ini terhadap diriku, atau sesungguhnya aku mengakui ini atasku, agar suamiku mengetahui bahwa aku tidak berkhianat kepadanya secara sembunyi-sembunyi dalam kenyataannya, dan tidak terjadi larangan yang lebih besar, dan sesungguhnya aku hanya merayu pemuda ini lalu ia menolak. Karena itulah aku mengakui agar ia mengetahui bahwa aku bersih “dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)” berkata wanita itu: Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya nafsu itu berbicara dan berangan-angan, karena itulah aku merayunya “karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku”, yaitu kecuali yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala “Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dan pendapat ini adalah yang paling masyhur, paling pantas dan paling sesuai dengan konteks kisah dan makna-makna kalimat. Telah menceritakannya al-Mawardi dalam tafsirnya, dan telah bangkit membela Imam Abu al-Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah lalu ia mengkhususkannya dengan karya tersendiri. Ini adalah perkataan Allamah Ibn Katsir.

Setelah menyebutkan sebagian dari apa yang disebutkan Ibn Jarir yang telah kita sebutkan sebelumnya dari Ibn Abbas dan murid-muridnya dan lainnya, ia berkata: Pendapat pertama lebih kuat dan lebih jelas, dan itulah pendapat Ibn Abbas yang mendukung apa yang dibela oleh Imam Ibn Taimiyyah; karena konteks pembicaraan semuanya dari ucapan istri al-Aziz di hadapan raja, dan Yusuf alaihis salam tidak berada bersama mereka, melainkan setelah itu raja membawanya.

Kita beralih setelah itu kepada tafsir yang benar untuk ayat ini yang banyak orang tergelincir di dalamnya; yaitu firman-Nya: “Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu” (Yusuf: 24).

Berkata guru kami Syaikh Abu Syuhbah dan para ulama yang memiliki basharah: Yang benar dalam tafsir firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya” bahwa pembicaraan selesai pada firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf” dan tidak diragukan bahwa niatnya adalah untuk berbuat keji “dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya”. Pembicaraan termasuk jenis taqdim dan takhir (mendahulukan dan mengakhirkan), dan takdirnya: “Dan sekiranya ia tidak melihat bukti Tuhannya, niscaya ia berniat kepadanya”. Firman-Nya Ta’ala: “dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu” ini adalah jawab “laula” yang didahulukan atasnya. Diketahui dalam bahasa Arab bahwa “laula” adalah huruf imtina’ liwujud (tidak terjadi karena adanya); yaitu tidak terjadinya jawab karena adanya syarat. Maka tidak terjadi niat karena adanya bukti; yaitu maka niat itu tidak terjadi karena adanya bukti yang Allah tanamkan dalam fitrahnya. Yang didahulukan baik jawab atau dalilnya; berdasarkan perbedaan dalam hal ini di antara para nahwiyyin. Namun di sini kita bertanya: Apa yang dimaksud dengan bukti yang ia lihat? Yang dimaksud adalah hujjah Allah yang nyata yang menunjukkan keburukan zina, dan itu adalah sesuatu yang tertanam dalam fitrah para nabi, dan pengetahuan akan hal itu pada mereka sampai kepada ‘ainul yaqin, dan itulah yang kita sebut dengan ‘ishmah (kemakshuman). Maka bukti ini adalah fitrah yang bersih dan hati yang selamat dan keikhlasan yang Allah tanamkan dalam hati para nabi, dan ‘ishmah itulah yang menghalangi antara para nabi dan rasul dengan jatuh dalam kemaksiatan.

Semoga Allah merahmati Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq radhiallahu anhuma ketika ia berkata: Bukti adalah kenabian yang Allah titipkan dalam dadanya yang menghalangi antara dirinya dengan apa yang memurkai Allah Azza wa Jalla. Dan inilah pendapat yang tepat yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan akal tentang ‘ishmah para nabi, dan yang didukung oleh konteks sebelum dan sesudahnya.

Adapun tentang jawab “laula” tidak boleh didahulukan atasnya; maka ini bukan hal yang penting sehingga kita berpaling dari pendapat yang benar ini kepada tafsir-tafsir lain yang batil tentang niat Yusuf alaihis salam. Al-Quran adalah asal bahasa; maka kemunculan gaya apa pun dalam Al-Quran cukup menjadikannya gaya Arab yang fasih, dan dalam mengasaskan kaidah nahwu apa pun; yaitu kata-kata Al-Quran dan bahasa Al-Quran dijadikan kaidah darinya, bukan dikaidahi atasnya. Maka tidak boleh karena mengambil kaidah nahwu kita jatuh dalam larangan yang tidak pantas bagi para nabi seperti ini, terutama bahwa kaidah-kaidah nahwu adalah kaidah yang bersifat umum dan tidak disepakati oleh semua orang Arab.

Telah berkata Imam al-Alusi dalam tafsirnya dalam menolak al-Mubarrad dalam celaan terhadap qira’ah Hamzah -ini di tempat lain- dan Hamzah adalah salah satu dari qurra’ sab’ah. Ia memiliki qira’ah dalam firman-Nya: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim” (an-Nisa: 1) dengan men-jer lafazh “al-arham” sebagai ‘athf kepada dhamir yang di-jer tanpa mengulangi huruf jer. Hamzah adalah salah satu qurra’ sab’ah yang para ulama agung katakan: Sesungguhnya qira’ah mereka mutawatir dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Meskipun demikian, ia tidak sendirian yang membaca dengan itu, melainkan dibaca oleh sekelompok dari selain yang tujuh; seperti Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas dan an-Nakha’i dan al-Hasan al-Bashri dan Qatadah dan Mujahid dan lainnya sebagaimana dinukil oleh Ibn Ya’isy. Maka mencela imam ini dalam puncak keburukan, dan puncak keberanian serta kebejatan, dan mungkin dikhawatirkan darinya kekufuran. Apa yang disebutkan tentang tidak bolehnya ‘athf kepada dhamir yang di-jer adalah madzhab Bashriyyin, dan kita tidak dituntut mengikuti mereka. Abu Hayyan telah memperpanjang dalam (al-Bahr) pembicaraan dalam menolak mereka, dan mengklaim bahwa apa yang mereka tuju tidak benar, bahkan yang benar adalah apa yang dituju Kufiyyin yaitu boleh.

Dan hal itu datang dalam (Lisan al-Arab) dalam bentuk natsr dan nazhm, dan ke sana pergi Allamah Ibn Malik.

Dikatakan: Sesungguhnya apa yang terjadi dari niat Yusuf adalah khatrah dan hadits nafs berdasarkan tuntutan fitrah manusia, dan tidak menetap serta tidak tampak pengaruhnya. Berkata al-Baghawi dalam tafsirnya: Berkata sebagian ahli haqaiq: Niat itu ada dua; niat tetap: yaitu jika bersamanya ada tekad dan ikatan dan ridha, seperti niat istri al-Aziz, dan hamba dituntut karena itu. Dan niat yang datang: yaitu khatrah dan hadits nafs tanpa pilihan dan tanpa tekad, seperti niat Yusuf alaihis salam dan hamba tidak dituntut karenanya selama tidak berbicara dengannya dan tidak mengamalkannya. Demikianlah kata al-Baghawi.

Dan dikatakan: Ia berniat kepadanya dengan niat syahwat dan maksud untuk berbuat keji, dan ia berniat untuk memukulnya. Berkata guru kami Syaikh Abu Syuhbah: Dan saya tidak tahu bagaimana pendapat ini selaras dengan firman-Nya Ta’ala: “sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya”.

Yang saya sebutkan juga bahwa pendapat bahwa niat Yusuf adalah untuk memukul dan mendorongnya dikatakan oleh banyak mufassir, dan baik itu selaras atau tidak selaras; di dalamnya ada pensucian bagi dirinya. Namun yang benar adalah apa yang telah didahulukan dalam pembahasan; yaitu bahwa jawab “laula” di dalamnya ada taqdim dan takhir, maka sekiranya ia tidak melihat bukti Tuhannya niscaya ia berniat kepadanya. Maka niat itu tidak terjadi dan tidak terjadi darinya karena adanya bukti, dan itulah yang Allah tanamkan dalam fitrah para nabi dan rasul berupa kejernihan hati dan ‘ishmah yang wajib bagi mereka.

Kami mengatakan: Pendapat yang tegas adalah pandangan yang kami yakini, dan rahasia menampilkannya dalam gaya ini – dan Allah Maha Mengetahui – adalah penggambaran pemandangan yang mengharukan dan menggoda luar biasa yang dipersiapkan istri Al-Aziz untuk Nabi Allah Yusuf alaihissalam, dan bahwa seandainya bukan karena perlindungan Allah kepadanya dan fitrah kenabian yang cerdas, pasti ia akan memenuhi keinginannya dan berniat kepadanya sebagai sesuatu yang pasti. Dan dalam hal ini terdapat penghormatan kepada Yusuf dan kesaksian baginya tentang kesucian yang tinggi dan kebersihan yang sempurna.

Kami beralih setelah itu kepada apa yang diriwayatkan tentang masa tinggal Yusuf alaihissalam di penjara, dan mungkin ini adalah pemandangan terakhir yang kami ceritakan dari apa yang dikemukakan para mufassir.

Dari kisah-kisah Israiliyyat adalah apa yang disebutkan sebagian mufassir tentang masa penjara Yusuf alaihissalam dan tentang sebab ia tinggal dan menetap di penjara beberapa tahun, yaitu ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Dan dia berkata kepada orang yang dikiranya akan selamat di antara mereka berdua: ‘Ingatlah aku di sisi tuanmu.’ Maka syaitan menjadikan dia lupa menyebut (Yusuf kepada) tuannya. Karena itu tetaplah dia dalam penjara beberapa tahun.” (Yusuf: 42).

Ibnu Jarir, Ats-Tsa’labi, Al-Baghawi dan lainnya menyebutkan banyak pendapat dalam hal ini. Wahb bin Munabbih berkata: Ayyub ditimpa bala selama tujuh tahun, Yusuf ditinggalkan di penjara selama tujuh tahun, dan “Bukhtanashshar” disiksa berubah menjadi binatang buas selama tujuh tahun.

Sesungguhnya Syaikh Abu Syuhbah berkomentar: “Saya tidak tahu apa hubungan antara Nabi Allah dengan ‘Bukhtanashshar’ yang menghinakan orang-orang Yahudi dan menawan mereka.”

Bagaimanapun juga, Malik bin Dinar berkata: Ketika Yusuf berkata kepada juru minuman: “Ingatlah aku di sisi tuanmu,” dikatakan kepadanya: “Wahai Yusuf, engkau mengambil selain Aku sebagai wakil, sungguh akan Kuperpanjang penjaramu.” Maka Yusuf menangis dan berkata: “Wahai Rabbku, hatiku lupa karena banyaknya cobaan, aku mengucapkan sebuah kalimat dan tidak akan mengulanginya lagi.”

Hasan Al-Bashri berkata: Jibril alaihissalam masuk menemui Yusuf di penjara, ketika Yusuf melihatnya ia mengenalinya, lalu berkata kepadanya: “Wahai saudara para pemberi peringatan, aku melihatmu berada di antara orang-orang berdosa.” Jibril berkata kepadanya: “Wahai yang suci, wahai anak orang-orang suci, Rabb semesta alam menyampaikan salam kepadamu dan berkata kepadamu: ‘Tidakkah engkau malu kepada-Ku karena meminta syafa’at kepada manusia? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh akan Aku tinggalkan engkau di penjara beberapa tahun.'” Yusuf berkata: “Apakah Dia dalam hal itu ridha kepadaku?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Kalau begitu aku tidak peduli.”

Ka’ab Al-Ahbar berkata: Jibril berkata kepada Yusuf: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Siapa yang menciptakanmu?'” Dia berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla.” Dia berkata: “Siapa yang membuatmu dicintai ayahmu?” Dia berkata: “Allah.” Dia berkata: “Siapa yang menyelamatkanmu dari kesusahan sumur?” Dia berkata: “Allah.” Dia berkata: “Siapa yang mengajarkanmu takwil mimpi?” Dia berkata: “Allah.” Dia berkata: “Siapa yang menghindarkanmu dari keburukan dan kekejian?” Dia berkata: “Allah.” Dia berkata: “Lalu bagaimana engkau meminta syafa’at kepada manusia sepertimu?” Ketika tujuh tahun berlalu, Al-Kalbi berkata: “Dan tujuh tahun ini selain lima tahun yang sebelumnya.”

Guru kami Syaikh Abu Syuhbah berkomentar: “Sebagian mufassir tidak puas dengan tujuh tahun, bahkan menambahkan lima tahun sebelumnya, dan saya tidak tahu apa dasar mereka dalam hal ini, dan zahir Al-Quran tidak mendukungnya. Seandainya demikian, Al-Quran pasti akan menyatakannya secara tegas atau mengisyaratkannya. Ketika tahun-tahun berlalu, datanglah pertolongan dari Allah. Raja bermimpi apa yang dilihatnya berupa mimpi aneh, dan para pembesar tidak mampu menafsirkannya. Juru minuman teringat kepada Yusuf dan kebenaran penafsiran mimpinya, lalu pergi kepada Yusuf dan Yusuf menafsirkannya dengan sebaik-baik penafsiran. Itulah sebab keselamatannya dari penjara, dan ucapan istri Al-Aziz: ‘Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.'”

Dugaan terkuat menurut saya bahwa ini dari Israiliyyat. Ini adalah perkataan para ulama kami. Dr. Muhammad Abu Syuhbah berkata: “Dan ini dari Israiliyyat, karena menggambarkan penjara Yusuf sebagai hukuman dari Allah karena kalimat yang dikatakannya, padahal ia alaihissalam tidak berkata sia-sia atau munkar. Mengambil sebab-sebab penyelamatan biasa dan sebab-sebab menampakkan kebenaran dan kebenaran sama sekali tidak bertentangan dengan tawakkal kepada Allah Ta’ala. Bala bagi para nabi bukanlah hukuman, melainkan untuk mengangkat derajat mereka dan agar mereka menjadi teladan dan panutan bagi orang lain dalam bab cobaan.”

Dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang lebih utama lalu yang lebih utama.”

Ibnu Jarir meriwayatkan di sini sebuah hadits marfu’: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’ berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Muhammad, dari Ibrahim bin Yazid, dari ‘Amru bin Dinar, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seandainya dia -yaitu Yusuf- tidak mengucapkan kalimat yang dikatakannya, ia tidak akan tinggal di penjara selama itu, karena ia mencari pertolongan dari selain Allah.'”

Seandainya hadits ini shahih atau hasan, maka orang-orang yang berpegang teguh pada Israiliyyat seperti ini yang menampilkan Sayyidina Yusuf dalam sosok laki-laki yang berdosa dan terhukum akan memiliki alasan. Akan tetapi hadits ini sangat lemah, sebagaimana dikatakan para ulama kami: tidak boleh berdalil dengannya sama sekali. Dan ini adalah perkataan guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah.

Imam Hafizh Naqid Ibnu Katsir berkata: “Dan hadits ini sangat lemah sekali, yaitu tidak dapat dijadikan hujjah, tidak dalam hukum-hukum dan tidak pula dalam keutamaan-keutamaan, apalagi dalam hal seperti ini, karena Sufyan bin Waki’ yang diriwayatkan darinya oleh Ibnu Jarir adalah lemah, dan Ibrahim bin Yazid lebih lemah lagi darinya. Dan telah diriwayatkan dari Hasan dan Qatadah secara mursal; hadits diriwayatkan mursal dari keduanya. Dan mursal-mursal ini di sini tidak dapat diterima, seandainya mursal diterima secara umum di tempat lain, wallahu a’lam, tentu saja tidak dapat dijadikan hujjah.”

Sebagian mufassir telah memaksakan diri menjawab apa yang ditunjukkan hadits ini padahal kondisinya seperti yang telah Anda dengar, bahkan sebagian mereka memaksakan diri menjadikan dhamir dalam {فَأَنْسَاهُ}, menjadikan dhamir untuk Yusuf dan itu tidak benar.

Yang wajib kita yakini adalah bahwa Yusuf alaihissalam tinggal di penjara sebagaimana yang Allah Ta’ala katakan beberapa tahun, dan kata “beberapa” adalah dari tiga hingga sembilan atau hingga sepuluh tanpa pembatasan masa tertentu. Boleh jadi tujuh tahun, boleh jadi sembilan tahun, dan boleh jadi lima tahun, selama tidak ada riwayat shahih dari yang ma’shum shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga kami yakini bahwa penjara itu bukanlah hukuman atas sebuah kalimat, melainkan cobaan dan peningkatan derajat.

Lalu bagaimana hadits lemah ini sejalan dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam (Shahihain), dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku tinggal di penjara seperti Yusuf tinggal, pasti aku akan memenuhi panggilan orang yang memanggil.” Dan dalam lafazh Imam Ahmad: “Seandainya aku, pasti aku akan mempercepat jawaban dan tidak mencari alasan.”

Israiliyyat yang diriwayatkan dalam kisah Ma’idah

Dari Israiliyyat yang disebutkan para mufassir ketika menafsirkan ayat-ayat firman Allah Ta’ala: “(Ingatlah), ketika hawariun berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?’ Isa menjawab: ‘Bertakwalah kepada Allah jika betul kamu orang mukmin.’ Mereka berkata: ‘Kami ingin makan daripadanya dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan supaya kami menjadi saksi atasnya.’ Isa putera Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang ada sekarang dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Baik.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, tetapi barangsiapa yang kafir sesudah itu di antara kamu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksa yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'” (Al-Ma’idah: 112-115).

Para ulama berselisih tentang Ma’idah apakah turun atau tidak. Jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa ia turun, dan ini adalah zahir Al-Quran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji dan janji-Nya pasti terwujud dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu.”

Hasan dan Mujahid berpendapat bahwa Ma’idah tidak turun, karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam mereka atas kekafiran mereka setelah turunnya Ma’idah dengan siksa yang sangat keras, mereka takut ada yang kafir di antara mereka, lalu mereka meminta maaf dan berkata: “Kami tidak menginginkannya,” maka Ma’idah tidak turun. Dan kami tidak tahu apa yang mendorong mereka pada pendapat ini.

Ma’idah telah dikelilingi -sebagaimana kata guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah- dengan banyak berita, dan dugaan terkuat bahwa itu dari Israiliyyat, diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, Ka’ab Al-Ahbar, Salman, Ibnu ‘Abbas, Muqatil, Al-Kalbi, ‘Atha’ dan lainnya. Bahkan mereka meriwayatkan dalam hal itu sebuah hadits dari ‘Ammar bin Yasir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Ma’idah turun berupa roti dan daging, dan mereka diperintahkan agar tidak berkhianat dan tidak menyimpan untuk besok.” Dan dalam riwayat lain dengan tambahan “dan tidak menyembunyikan.” Maka mereka berkhianat, menyimpan, dan mengangkat untuk besok, lalu mereka dimutasi menjadi kera dan babi.

Mengangkat hal seperti ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah dan keliru dari salah seorang perawi menurut yang saya rajihkan. Ibnu Jarir meriwayatkannya dalam tafsirnya secara marfu’ dan mauquf, dan yang mauquf lebih shahih. Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi telah menegaskan bahwa yang marfu’ tidak memiliki asal, lalu berkata setelah meriwayatkan riwayat-riwayat marfu’: “Ini adalah hadits yang telah diriwayatkan Abu ‘Ashim dan lebih dari satu orang, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah dari Qatadah, dari Khalash, dari ‘Ammar bin Yasir secara mauquf, dan kami tidak mengetahuinya marfu’ kecuali dari hadits Hasan bin Qaza’ah.”

Setelah menyebutkan riwayat mauquf dari Abu Hurairah, ia berkata: “Dan ini lebih shahih dari hadits Hasan bin Qaza’ah, dan kami tidak mengetahui hadits marfu’ memiliki asal.” Lihat (Sunan At-Tirmidzi) dalam Kitab Tafsir Bab Surat “Al-Ma’idah”.

Riwayat-riwayat tentang hal ini berbeda-beda. Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ma’idah adalah khiwan (meja makan) di atasnya roti dan ikan, mereka makan darinya di mana pun mereka turun, kapan saja mereka mau. ‘Ikrimah berkata, dari Ibnu ‘Abbas: Ma’idah adalah ikan dan roti-roti. Sa’id bin Jubair berkata, dari Ibnu ‘Abbas: Diturunkan di atas Ma’idah segala sesuatu kecuali roti dan daging. Ka’ab Al-Ahbar berkata: Ma’idah turun dibawa terbang oleh malaikat-malaikat antara langit dan bumi, di atasnya segala makanan kecuali daging. Wahb bin Munabbih berkata: Allah menurunkannya dari langit kepada Bani Israil, maka turunlah kepada mereka setiap hari di Ma’idah itu buah-buahan surga, lalu mereka makan apa yang mereka mau dari berbagai jenis. Empat ribu orang duduk di atasnya, dan ketika mereka makan, Allah menurunkan sebagai gantinya untuk yang serupa dengan mereka. Mereka tetap dalam keadaan itu sekehendak Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahb juga berkata: Turun kepada mereka roti-roti dari gandum dan ikan-ikan, dan Allah mengisi di sela-sela mereka dengan berkah. Ada kaum yang makan lalu keluar, kemudian datang yang lain dan makan lalu keluar hingga semuanya makan dan masih tersisa. Demikianlah para perawi tidak sepakat pada sesuatu yang menunjukkan bahwa itu adalah Israiliyyat yang dibuat-buat, dan sumbernya bukan dari yang ma’shum shallallahu ‘alaihi wasallam. Kebenaran itu jelas dan kebatilan itu bingung, umumnya tidak disepakati.

Kami akan cukup menyebutkan riwayat panjang yang disebutkan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya dengan sanadnya, dari Wahb bin Munabbih, dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, dari Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu dan ringkasannya: Bahwa ketika para hawari meminta Ma’idah kepada Isa bin Maryam, ia tidak suka hal itu karena khawatir Ma’idah turun kepada mereka lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka akan ada kebinasaan mereka di dalamnya. Ketika mereka tetap bersikeras agar ia berdoa kepada Allah agar Ma’idah turun, maka ia berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkannya. Lalu Allah Ta’ala menurunkan hidangan merah antara dua awan, awan di atasnya dan awan di bawahnya, dan mereka melihatnya di udara sebagai meja dari langit, turun kepada mereka. Isa alaihissalam menangis karena takut akan syarat yang telah ditetapkan kepada mereka di dalamnya. Ia terus berdoa hingga hidangan itu menetap di hadapannya, dan para hawari mengelilinginya. Mereka mencium aroma harum yang belum pernah mereka cium sebelumnya, dan Isa alaihissalam serta para hawari bersujud syukur kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang Yahudi datang memandang mereka, melihat apa yang menyedihkan mereka lalu pergi. Isa alaihissalam dan orang-orang bersamanya datang memandangnya, ternyata ia tertutup dengan kain. Ia alaihissalam berkata: “Siapa di antara kita yang paling berani mengungkapnya dan paling percaya pada dirinya serta paling baik cobaan di sisi Rabbnya, hingga kita melihatnya dan memuji Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala serta makan dari rezeki yang diberikan-Nya kepada kita?” Mereka berkata: “Wahai Ruh Allah dan Kalimat-Nya, engkaulah yang paling berhak untuk itu.” Maka ia berdiri, mengambil wudhu yang baru, kemudian masuk ke tempat shalatnya dan shalat beberapa rakaat, kemudian menangis lama dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar mengizinkannya mengungkapnya dan menjadikan padanya dan kaumnya berkah dan rezeki. Kemudian ia kembali dan duduk mengelilingi hidangan, mengambil kain dan berkata: “Bismillah khair ar-raziqin (Dengan nama Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki),” dan mengungkapnya. Ternyata di atasnya ikan besar yang dipanggang tanpa sisik dan tanpa duri di dalam perutnya, mengalir minyak darinya. Di sekelilingnya dikelilingi sayuran dari segala jenis kecuali bawang prei. Di atas kepalanya cuka dan di ekornya garam. Di sekeliling sayuran lima roti, pada salah satunya zaitun, pada yang lain kurma, pada yang lain lima buah delima. Dalam riwayat lain: Pada salah satunya zaitun, pada yang kedua madu, pada yang ketiga minyak samin, pada yang keempat keju, pada yang kelima qadid (daging kering).

Sham’un -kepala para hawari- berkata kepada Isa: “Wahai Ruh Allah dan Kalimat-Nya, apakah ini makanan dunia atau makanan surga?” Isa berkata: “Belum waktunya kalian mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang kalian lihat dan berhenti dari pertanyaan-pertanyaan yang mendetail? Betapa takutnya aku kalian akan dihukum karena sebab turunnya ayat ini.” Sham’un berkata kepadanya: “Tidak, demi Tuhan Israil, aku tidak bermaksud bertanya seperti itu wahai putra wanita yang jujur.” Isa alaihissalam berkata: “Tidak ada sesuatu pun dari yang kalian lihat dari makanan dunia atau makanan surga. Ini hanyalah sesuatu yang Allah ciptakan di udara dengan kekuasaan yang mengatasi dan mengalahkan.” Mereka berkata: “Wahai Ruh Allah dan Kalimat-Nya, kami ingin Allah menunjukkan kepada kami suatu ayat dalam ayat ini.” Ia alaihissalam berkata: “Subhanallah Ta’ala, belum cukupkah kalian?” Kemudian berkata: “Wahai ikan, kembalilah dengan izin Allah Ta’ala hidup sebagaimana engkau dulu.” Maka Allah menghidupkannya dan ia kembali hidup segar. “Wahai ikan, kembalilah dengan izin Allah Ta’ala sebagaimana engkau dulu terpanggang.” Maka ia kembali. Kemudian ia mengajak mereka makan, mereka menolak hingga ia memulai, namun ia menolak. Kemudian ia memanggil orang-orang fakir dan orang-orang tua dan berkata: “Makanlah dari rezeki Rabb kalian dan doa nabi kalian, dan pujilah Allah Ta’ala yang menurunkannya untuk kalian, maka jadilah kebahagiaan atasnya untuk kalian dan siksaan atasnya untuk selain kalian. Mulailah makan kalian dengan nama Allah Ta’ala dan akhirilah dengan pujian kepada Allah.” Mereka melakukannya. Seribu tiga ratus orang makan darinya antara laki-laki dan perempuan, semuanya kembali dalam keadaan kenyang dan bersendawa. Isa dan para hawari melihat, ternyata apa yang ada di atasnya seperti keadaannya ketika turun dari langit, tidak berkurang sedikitpun. Kemudian ia diangkat ke langit sedangkan mereka memandang. Setiap orang fakir yang makan darinya menjadi kaya, dan setiap orang tua yang makan darinya menjadi sehat. Para hawari dan sahabat-sahabat mereka yang menolak makan darinya menyesal dengan penyesalan yang membasahi kelopak mata mereka, dan penyesalan itu tetap di hati mereka hingga hari kematian.

Berkomentar tentang kisah ini: “Ini yang melemahkan kisah dan menunjukkan kebohongan, jika tidak bagaimana mereka memintanya kemudian menolak makan karena Isa tidak memulainya.” Komentar terhadap perkataan kisah ini.

Ma’idah setelah itu jika turun, Bani Israil datang berlari kepadanya dari segala tempat, saling mendorong. Ketika melihat itu, ia menjadikannya bergiliran, turun sehari dan tidak turun sehari. Mereka dalam keadaan itu empat puluh hari, turun kepada mereka secara berselang ketika pertengahan siang, dan tetap diletakkan dimakan darinya hingga ketika mereka qail (istirahat siang di tengah hari), ia terangkat dari mereka ke langit sedangkan mereka melihat bayangannya di bumi hingga menghilang dari mereka.

Ada komentar tentang hal ini: Al-Quran Al-Karim menunjukkan dengan jelas bahwa Ma’idah tidak turun kecuali sekali saja, dan perkataan ini menunjukkan berulangnya turunnya, dan ini juga menunjukkan perbedaan detail-detail kisah, dan ini jelas bahwa itu dari tambahan-tambahan Bani Israil.

Lanjutan pembicaraan: Maka Allah yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Isa alaihis salam agar ia menjadikan rezeki untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang lumpuh tanpa orang-orang kaya dari manusia. Ketika ia melakukan hal itu, orang-orang kaya menjadi ragu dan meremehkannya hingga mereka meragukan dalam hati mereka sendiri, dan mereka meragukan hal itu kepada manusia serta menyebarkan hal yang buruk dan mungkar tentang perkara tersebut. Setan pun mencapai kebutuhannya dari mereka dan melemparkan bisikan-bisikannya ke dalam hati orang-orang yang ragu.

Ketika Isa mengetahui hal itu dari mereka, ia berkata: “Celakalah kalian demi Tuhan Al-Masih! Kalian meminta nabi kalian agar memohon hidangan kepada Tuhan kalian. Ketika ia melakukannya dan menurunkannya kepada kalian sebagai rahmat dan rezeki serta memperlihatkan kepada kalian ayat-ayat dan pelajaran di dalamnya, kalian mendustakannya dan meragukan hal itu. Maka bergembiralah dengan azab, karena sesungguhnya azab itu akan turun kepada kalian kecuali Allah yang Maha Tinggi merahmati kalian.”

Allah yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Isa alaihis salam: “Sesungguhnya Aku akan mengambil orang-orang yang mendustakan dengan syarat-Ku. Sesungguhnya Aku akan menyiksa di antara mereka yang kafir terhadap hidangan setelah turunnya dengan siksaan yang tidak pernah Aku siksakan kepada seorang pun dari alam semesta.”

Ketika sore hari tiba bagi orang-orang yang ragu terhadapnya dan mereka berbaring di tempat tidur mereka dalam bentuk yang paling baik bersama istri-istri mereka dalam keadaan aman, ketika tiba akhir malam, Allah mengubah mereka menjadi babi. Maka mereka bangun pagi dengan mengikuti kotoran-kotoran di tempat-tempat sampah.

Ulama Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya setelah menyebutkan hal itu: “Ini adalah riwayat yang sangat aneh.” Apa arti aneh? Yang aneh adalah apa yang diriwayatkan secara menyendiri oleh para perawinya dalam seluruh sanad atau sebagiannya, di antaranya ada yang sahih, dan di antaranya ada yang tidak sahih, dan yang tidak sahih itulah yang dominan dan banyak.

“Ini adalah riwayat yang sangat aneh yang dipotong-potong oleh Ibnu Abi Hatim dari berbagai tempat dari kisah ini, dan aku telah mengumpulkannya agar narasinya menjadi lebih lengkap dan sempurna, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.” Ini adalah perkataan ulama Ibnu Katsir.

Aku berkata – guru kami Syeikh Abu Syuhbah -: “Dari riwayat-riwayat aneh inilah masuk bencana kepada Islam dan kaum muslimin, karena kebanyakannya tidak sahih. Oleh karena itu Imam yang mulia Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Jangan kalian tulis hadits-hadits aneh ini, karena sesungguhnya itu adalah hal-hal mungkar dan kebanyakannya dari orang-orang yang lemah.'”

Imam Malik radhiyallahu anhu berkata: “Seburuk-buruk ilmu adalah yang aneh, dan sebaik-baik ilmu adalah yang jelas yang telah diriwayatkan oleh manusia.”

Ibnu Mubarak berkata: “Ilmu yang datang kepadamu dari sini dan sini” – yakni yang masyhur yang diriwayatkan oleh banyak orang – diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam “Al-Madkhal”.

Diriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa ia berkata: “Bukan termasuk ilmu apa yang tidak dikenal. Sesungguhnya ilmu adalah apa yang dikenal dan disepakati oleh lisan-lisan.” Lihatlah dalam hal ini “Tadrib Ar-Rawi” karya Imam As-Suyuthi.

Guru kami berkata: “Aku ingin mengingatkan bahwa asal kisah itu tetap dengan Al-Quran yang tidak diragukan, dan sesungguhnya tempat keraguan adalah pada semua tambahan-tambahan ini yang berasal dari Israiliyyat.”

Para mufasir semuanya telah menyebutkan segala sesuatu yang berputar seputar kisah hidangan, meskipun mereka berbeda dalam hal itu dalam sedikit dan banyak. Lihatlah “Tafsir Ibnu Jarir” pada ayat-ayat ini dan “Ad-Durr Al-Mantsur”, Az-Zamakhsyari dan Fakhr Ar-Razi, dan “Tafsir Abu As-Su’ud” bahkan Ibnu Katsir dan Al-Baghawi dan Al-Alusi dan Al-Qurthubi, mereka menyebutkan seluruh kisah ini, kecuali bahwa Imam Al-Qurthubi berkata: “Dalam hadits ini ada pembicaraan, dan tidak sahih dari segi sanadnya.”

Kami masih mengikuti sebelum kami menjelaskan tafsir yang benar untuk ayat-ayat tersebut. Kami melanjutkan, guru kami berkata: “Aku ingin mengingatkan bahwa asal kisah itu tetap, dan para mufasir semuanya telah menyebutkan segala sesuatu yang berputar seputar kisah hidangan, meskipun mereka berbeda dalam hal itu dalam sedikit dan banyak. Yang mengherankan adalah tidak seorang pun yang mengingatkan tentang asal riwayat-riwayat ini” – ini perkataan guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah – “tidak seorang pun yang mengingatkan tentang asal riwayat-riwayat ini, dan sumber yang darinya ia muncul, bahkan dua imam yang mulia Ibnu Katsir dan Al-Alusi, padahal mereka termasuk ulama yang kuat lagi kritikus. Meskipun Ibnu Katsir telah mengisyaratkan secara samar-samar tentang ketidaksahihan sebagian besar yang diriwayatkan, dan mungkin mereka menganggap hal itu termasuk yang dibolehkan untuk diriwayatkan, dan dimungkinkan benar dan dustanya. Maka mereka menyebutkannya tanpa mengingkarinya, padahal seharusnya mereka membersihkan tafsir dari hal ini dan yang sepertinya.”

Ini perkataan guru kami. Imam Al-Qurthubi telah meragukan kisah panjang yang kami ringkas itu. Ia berkata: “Aku berkata: dalam hadits ini ada pembicaraan, dan tidak sahih dari segi sanadnya.” Kemudian ia memaparkan setelahnya apa yang diriwayatkan secara marfu’ dan mauquf, dan menyebutkan apa yang dikatakan Imam At-Tirmidzi bahwa yang mauquf lebih sahih, dan yang marfu’ tidak ada asalnya.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada sayyidina Muhammad, kepada keluarganya dan para sahabatnya dan memberikan salam.

 

 

Pelajaran: 12 – Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (10)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kedua Belas

(Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (10))

Lanjutan Israiliyyat yang Disebutkan dalam Kisah Al-Maidah

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga Allah melimpahkan sholawat kepada junjungan kami Muhammad, dan kepada keluarga serta para sahabatnya semuanya, amma ba’du:

Tafsir yang Benar untuk Ayat-ayat

Ayat-ayat yang dimaksud adalah firman Allah Jalla wa ‘Ula: {Ketika hawariyin berkata: “Wahai Isa putera Maryam, apakah Tuhanmu dapat menurunkan hidangan dari langit untuk kami?”} (Al-Maidah: 112).

{Ketika} adalah keterangan waktu yang telah lalu, dan merupakan objek bagi kata kerja yang tersembunyi, yakni: ingatlah wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi pada zaman yang telah lampau itu; agar menjadi dalil atas kebenaran kenabianmu; karena kamu tidak bersamanya, dan kamu tidak bergaul dengan ahli kitab, dan kamu tidak pernah membaca maupun menulis; maka pengetahuanmu tentang kisah ini adalah dalil bahwa kamu menerimanya dari wahyu dari Tuhanmu.

{Ketika hawariyin berkata} Al-hawariyin adalah bentuk jamak dari hawariy: yaitu orang-orang yang ikhlas dan pilihan dari para pengikut Isa alaihi salaam, dan juga digunakan untuk sahabat-sahabat yang ikhlas dari para pengikut nabi-nabi. Dalam hadits shahih: ((Setiap nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah Az-Zubair)) yakni: putera Al-Awam.

Al-Maidah“: adalah khiwan yang di atasnya terdapat makanan; jika tidak ada makanan di atasnya, maka itu disebut khiwan.

As-sama” dalam {menurunkan hidangan dari langit untuk kami} adalah langit yang dikenal, atau yang dimaksud dengannya adalah arah ketinggian, karena kadang-kadang digunakan untuk mengacu pada segala sesuatu yang tinggi.

Pertanyaan dalam ayat ini: {apakah Tuhanmu dapat} bukan bermaksud menanyakan dasar kemampuan dan bahwa mereka tidak mengetahui hal ini; karena para penanya adalah orang-orang beriman yang mengenal dan mengetahui Allah beserta sifat-sifat-Nya; bahkan dalam tingkatan yang paling tinggi dari sifat-sifat ini; melainkan yang dimaksud dengan pertanyaan: penurunan secara nyata; artinya: apakah Tuhanmu dapat menurunkan hidangan untuk kami, maknanya: apakah Tuhan kami akan menurunkan hidangan untuk kami? Maka pertanyaan ini tidak bermaksud menanyakan dasar kemampuan; melainkan yang dimaksud adalah menurunkan sesuatu secara nyata, termasuk penggunaan sebab untuk menginginkan akibat, dan maknanya: apakah Tuhan kami akan mengabulkan permintaan kami wahai nabi kami Isa atau tidak?

Sebagian ulama berkata: Itu bukanlah keraguan terhadap kemampuan; melainkan kelembutan dalam bertanya dan adab kepada Allah Ta’ala dengan kalimat yang sopan; seperti ucapan seseorang kepada yang lain: apakah kamu dapat membantu saya dalam hal ini dan itu? padahal dia tahu bahwa orang itu mampu.

Adapun pendapat yang mengatakan: bahwa itu dari perkataan orang yang bersama hawariyin, maka itu jauh; karena keluar dari makna lahir ayat; apalagi tafsir ayat sudah sangat lurus atas apa yang kami sebutkan dan apa yang diketahui dalam kaidah-kaidah bahasa.

Pertanyaan ini mungkin karena kefakiran dan kebutuhan mereka, atau untuk mengetahui keutamaan nabi mereka Isa alaihi salaam dan keutamaan serta kemuliaan mereka di sisi Tuhan mereka.

Adapun yang diriwayatkan bahwa Isa memerintahkan mereka berpuasa tiga puluh hari kemudian meminta kepada Tuhan mereka apa yang mereka inginkan; maka mereka berpuasa dan meminta; ini adalah ucapan yang tidak kami yakini kebenarannya.

Sisa ayat: {Dia berkata: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”} (Al-Maidah: 112) Ini bukanlah keraguan terhadap iman mereka; melainkan gaya bahasa yang biasa untuk mendorong ketakwaan; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang beriman yang benar dari umat Muhammad ini: {Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman} (Al-Anfal: 1) Dan maknanya: bertakwalah kepada Allah dan jangan meminta kepada-Nya; mungkin itu akan menjadi fitnah bagi kalian, dan bertawakallah kepada Allah dalam mencari rezeki, atau bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan banyak bertanya; karena kalian tidak tahu apa yang akan menimpa kalian ketika mengusulkan ayat-ayat; karena Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya melakukan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

{Jika kamu orang-orang yang beriman} yakni: termasuk orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; apalagi Dia Subhanahu telah memberi kalian ayat-ayat yang sudah cukup dari yang lainnya. {Mereka berkata: “Kami ingin makan daripadanya”} (Al-Maidah: 113) Mereka memulai dengan makanan material, kemudian menyebutkan makanan rohani, maka mereka berkata: {dan supaya tentram hati kami} (Al-Maidah: 113) dan ini seperti ucapan Khalil Ibrahim alaihi salaam: {tetapi agar hatiku tentram} (Al-Baqarah: 260).

Sisa ayat: {dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami} (Al-Maidah: 113); yakni kami bertambah ilmu dan yakin akan kejujuranmu dan kebenaran risalahmu {dan supaya kami menjadi saksi atasnya} (Al-Maidah: 113); yakni: orang yang mengakui dan mengaku kepada Allah dengan keesaan dan kepadamu dengan kenabian dan kerasulan, atau kami menjadi saksi atasnya bagi orang yang tidak melihat dan menyaksikannya.

{Isa putera Maryam berkata: “Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, untuk orang-orang yang terdahulu dan yang terkemudian di antara kami”} (Al-Maidah: 114) Eid: hari kegembiraan dan kesenangan, {untuk orang-orang yang terdahulu di antara kami}: untuk generasi pertama umat kami, {dan yang terkemudian di antara kami}: generasi terakhir umat kami atau untuk kami dan orang setelah kami, {dan menjadi tanda dari Engkau}; yakni: dalil dan hujah atas kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, dan atas pengabulan-Mu terhadap doaku; maka mereka akan membenarkanku dalam apa yang aku sampaikan dari-Mu. {dan berilah rezeki kepada kami} yakni: dari sisi-Mu rezeki yang enak tanpa kesulitan dan keletihan di dalamnya, {dan Engkau adalah Pemberi rezeki yang paling baik} dan Engkau adalah yang paling baik di antara yang memberi dan merezekkan; karena Engkau Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

{Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepadamu; barangsiapa yang kafir sesudah itu di antaramu, maka sesungguhnya akan Aku siksa dia dengan siksa yang tidak pernah Aku saksakan kepada seorangpun dari umat manusia.”} (Al-Maidah: 115); yakni: orang yang mendustakan atau menentangnya dari umatmu wahai Isa; maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksa yang tidak Aku siksakan kepada seorangpun dari alam zaman kalian, dan ini sebagai ancaman dan intimidasi kepada mereka, dan tidak ada dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa mereka kafir, atau orang lain kafir karenanya, atau bahwa mereka meminta dibebaskan dari turunnya al-maidah; melainkan yang mendorong sebagian mufassir kepada pendapat-pendapat ini adalah apa yang kalian dengar dari riwayat-riwayat Israiliyyat yang telah kami sebutkan, dan inilah kami – alhamdulillah – telah menafsirkan ayat-ayat dengan tafsir yang benar tanpa perlu kepada apa yang diriwayatkan dan dinukil dari Israiliyyat; yang menunjukkan secara tegas bahwa mufassir Al-Quran tidak membutuhkan Israiliyyat yang telah merusak keindahan Al-Quran Al-Karim.

Israiliyyat yang Disebutkan dalam Kisah “Bilqis”, dan Apa yang Terjadi pada Nabi Allah Sulaiman alaihi salaam

Kami beralih setelah itu kepada apa yang dinukil dalam kisah ratu Saba dan apa yang terjadi pada nabi Allah Sulaiman alaihi salaam sebagai pelengkap apa yang telah berlalu tentang Sulaiman dan burung hud-hud serta apa yang terjadi, dan ayat-ayat Sulaiman disebutkan di lebih dari satu tempat, dan di setiap tempat para mufassir menyebutkan beberapa Israiliyyat, dan sekarang kami berada di hadapan firman Allah Jalla wa ‘Ula dalam kisah Bilqis ratu Saba dalam ayat-ayat; yaitu firman-Nya: {Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihatnya, dia mengiranya kolam air yang besar, dan dia menyingkapkan kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin yang terbuat dari kaca.” Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”} (An-Naml: 44).

Ibnu Jarir, Ats-Tsa’labi, Al-Baghawi, Al-Khazin dan lain-lain menyebutkan bahwa Sulaiman ingin menikahinya, maka dikatakan kepadanya: sesungguhnya kakinya seperti kuku keledai, dan dia berbulu betis, maka dia memerintahkan mereka untuk membangun istana ini dengan sifat ini; ketika dia melihatnya dia mengiranya kolam air dan menyingkapkan betisnya untuk menyeberanginya; maka Sulaiman melihat ternyata dia adalah manusia yang paling bagus kaki dan betisnya kecuali bahwa dia berbulu betis; maka dia tidak suka hal itu; lalu dia bertanya kepada manusia: apa yang menghilangkan ini? Mereka berkata: pisau cukur – yaitu: alat kecil yang menghilangkan bulu, maka Bilqis berkata: belum pernah besi menyentuhku, dan Sulaiman tidak suka hal itu karena takut kakinya terpotong, maka dia bertanya kepada jin; mereka berkata: kami tidak tahu, kemudian dia bertanya kepada setan-setan; mereka berkata: sesungguhnya kami akan menyiasatimu sehingga menjadi seperti perak putih; maka mereka buatkan untuknya nura – bahan penghilang bulu – dan pemandian; maka jadilah nura dan pemandian sejak hari itu. Dan telah diriwayatkan ini dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma – dan Mujahid dan Ikrimah dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi dan As-Suddi dan Ibnu Juraij dan lain-lain, dan juga diriwayatkan bahwa dia bertanya kepada sayyidina Sulaiman tentang dua perkara, dia berkata kepadanya: saya ingin air yang bukan dari bumi dan bukan dari langit; maka Sulaiman bertanya kepada manusia kemudian jin kemudian setan-setan; maka setan-setan berkata: ini mudah, larikan kuda-kuda kemudian ambil keringatnya kemudian penuhilah wadah-wadah darinya; maka dia memerintahkan kuda-kuda untuk berlari, kemudian mengambil keringat, lalu memenuhi wadah-wadah darinya, kemudian dia bertanya kepadanya tentang warna Allah Azza wa Jalla maka Sulaiman bangkit dari singgasananya dan terkejut dari pertanyaan itu, dan berkata: sungguh kamu telah bertanya kepadaku ya Tuhan tentang suatu perkara yang sungguh besar dalam hatiku untuk menyebutkannya kepada-Mu, tetapi Allah membuatnya lupa dan membuat mereka lupa apa yang dia tanyakan kepadanya, dan bahwa setan-setan takut jika Sulaiman menikahinya dan melahirkan anak maka mereka akan tetap dalam perhambaan kepadanya; maka mereka buatkan untuknya istana licin ini lalu dia mengiranya air; maka dia menyingkapkan betisnya untuk menyeberanginya; ternyata dia berbulu; maka Sulaiman meminta nasihat mereka: apa yang menghilangkannya? Maka setan-setan buatkan untuk Sulaiman nura.

Ini adalah ucapan yang tentu saja mengandung kebohongan yang nyata; seakan-akan nura dan pemandian tidak ada kecuali untuknya, dan seakan-akan Sulaiman alaihi salaam tidak memiliki kepedulian kecuali menghilangkan bulu betisnya, dan ini adalah tuduhan dan kebohongan yang nyaring kepada para nabi, dan menampilkan para nabi dengan penampilan yang tergila-gila pada wanita dan kecantikan mereka, semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi yang berada di balik itu.

Kata “Ash-sharh“: mereka buatkan untuknya istana ini: adalah istana yang dibangun dengan kokoh dan kuat, yang tinggi di langit.

Dan “Al-mumarrad“, yaitu: yang halus dan licin, dan qararir di sini: adalah kaca yang jernih dan bersih.

Syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah berkata kepada kami – mengomentari ucapan ini dan mengutip dari Allamah Ibnu Katsir dalam (Tafsir)nya -: Ibnu Katsir berkata -setelah menyebutkan beberapa riwayat-: Dan yang paling dekat dalam konteks-konteks seperti ini adalah bahwa itu diterima dari ahli kitab dari apa yang ditemukan dalam lembaran-lembaran mereka; seperti riwayat Ka’ab dan Wahb, semoga Allah mengampuni keduanya dalam apa yang mereka nukil kepada umat ini dari berita-berita Bani Israel dari al-awabid; yaitu: perkara-perkara yang sulit dan jauh maknanya yang diambil dari kata: “abidah” yaitu binatang liar yang lari yang sulit ditangkap.

Itu dari berita-berita Bani Israel dari al-awabid dan keanehan dan keajaiban dari apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi, dan dari apa yang diubah dan diganti dan dinasakh, dan Allah telah mencukupkan kami dari itu dengan apa yang lebih shahih darinya dan lebih bermanfaat dan lebih jelas dan lebih fasih – dan bagi Allah segala puji dan karunia.

Adapun tafsir yang benar untuk pembangunan istana; maka yang benar adalah bahwa Sulaiman alaihish sholatu was salaam ingin dengan membangun istana untuk memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan kekuasaannya, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya dari kerajaan dan dari sebab-sebab peradaban dan kemajuan apa yang tidak diberikan-Nya kepadanya; selain kenabian yang berada di atas kerajaan, dan yang di bawahnya adalah nikmat apapun dari nikmat-nikmat, dan mustahil bagi Sulaiman alaihi salaam yang memohon kepada Allah agar memberinya hukum yang sesuai dengan hukum Allah lalu diberikan kepadanya, mustahil baginya melakukan tipu daya ini sehingga melihat apa yang diharamkan Allah kepadanya: yaitu kedua betisnya, dan dia lebih mulia dari itu dan lebih tinggi.

Seandainya dia tidak melihat dari Sulaiman apa yang ada padanya berupa agama yang kokoh dan akhlak yang tinggi, tentu dia tidak akan tunduk kepadanya ketika dia mengajaknya kepada Allah Yang Maha Esa Yang Haq, dan tentu dia tidak akan menyesal atas apa yang telah dia lakukan berupa penyembahan bintang-bintang dan matahari dan berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam, inilah yang berkaitan dengan istana.

Adapun yang diriwayatkan tentang hadiah: yang disebutkan dalam firman-Nya Jalla wa ‘Ula atas lisannya: {Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”} (An-Naml: 35) maka telah disebutkan di dalamnya juga Israiliyyat dan kami tidak akan memperpanjang pembicaraan di dalamnya.

Di antara Israiliyyat adalah apa yang disebutkan banyak mufassir seperti Ibnu Jarir, Ats-Tsa’labi, Al-Baghawi dan penulis “Ad-Durr” tentang hadiah yang dikirim Bilqis kepada sayyidina Sulaiman alaihish sholatu was salaam dan inilah yang disebutkan Al-Baghawi dalam (Tafsir)nya pada ayat ini: {Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu}: Al-Baghawi berkata: maka dia menghadiahkan kepadanya budak laki-laki dan budak perempuan – yaitu: pelayan dari laki-laki dan perempuan – Ibnu Abbas berkata: dia memakaikan mereka pakaian yang sama agar tidak diketahui laki-laki dari perempuan, dan Mujahid berkata: budak laki-laki dipakaikan pakaian budak perempuan, dan budak perempuan dipakaikan pakaian budak laki-laki, dan mereka berselisih tentang jumlah mereka; Ibnu Abbas berkata: seratus budak laki-laki dan seratus budak perempuan, dan Mujahid dan Muqatil berkata: dua ratus anak laki-laki dan dua ratus budak perempuan, dan Qatadah dan Said bin Jubair dan lain-lain berkata: dia mengirim kepadanya bata emas dalam sutera dan brokat – al-libnah: potongan dari batu, yaitu: dengan bobot dan beratnya emas.

Wahb dan lain-lain berkata: Bilqis menyiapkan lima ratus anak laki-laki dan lima ratus budak perempuan; dia memakaikan anak laki-laki pakaian budak perempuan dan memasang di pergelangan tangan mereka gelang emas, dan di leher mereka kalung emas, dan di telinga mereka anting-anting dan perhiasan yang dihiasi dengan berbagai jenis permata, dan memakaikan budak perempuan pakaian anak laki-laki; jubah dan sabuk, dan mengangkut budak perempuan di atas lima ratus kuda betina – yaitu: kuda dan bagal – dan mengangkut anak laki-laki di atas lima ratus bagal – yaitu bagal juga – di setiap kuda kekang yang dihiasi dengan permata dan penutupnya dari brokat berwarna-warni, dan mengirim kepadanya lima ratus bata emas, dan lima ratus bata perak, dan mahkota yang dihiasi dengan mutiara dan yakut, dan mengirim kepadanya minyak kesturi dan ambar dan kayu gaharu, dan menyiapkan kotak lalu memasukkan ke dalamnya mutiara berharga yang tidak berlubang dan manik-manik berlubang yang lubangnya bengkok, dan mengirim bersama hadiah itu laki-laki dari orang-orang cerdas kaumnya dan menulis bersama mereka surat kepada Sulaiman dengan hadiah, dan berkata: jika kamu nabi maka bedakan untukku antara budak perempuan dan budak laki-laki – yaitu: antara perempuan dan laki-laki – dan beritahu aku apa yang ada dalam kotak sebelum kamu membukanya, dan lubangi mutiara dengan lubang yang lurus, dan masukkan benang ke dalam manik-manik yang berlubang tanpa usaha manusia maupun jin.

Mereka juga meriwayatkan bahwa Sulaiman alaihi salaam memerintahkan jin untuk membuat bata-bata emas dan bata-bata perak, kemudian memerintahkan mereka untuk membentangkan jalan dari tempatnya berada hingga sembilan farsakh menjadi satu lapangan dengan bata-bata emas dan perak … ucapan yang mengherankan … dan untuk menyiapkan di lapangan itu hewan-hewan darat dan laut yang paling menakjubkan; maka mereka menyiapkannya, kemudian dia duduk di atas singgasananya dan memerintahkan setan-setan untuk berbaris dalam barisan selama beberapa farsakh, dan memerintahkan manusia untuk berbaris beberapa farsakh, dan memerintahkan binatang buas dan binatang pemangsa dan serangga dan burung untuk berbaris beberapa farsakh di sebelah kanan dan kirinya; ketika kaum itu mendekati lapangan dan melihat kerajaan Sulaiman dan melihat hewan-hewan yang tidak pernah dilihat mata mereka seperti itu buang air di atas bata emas dan perak; jiwa mereka menjadi kecil, dan mereka membuang apa yang mereka bawa berupa hadiah-hadiah, kemudian Sulaiman meminta bantuan Jibril dan setan-setan dan rayap dalam menjawab apa yang dia tanyakan kepadanya. Lihat (Tafsir Al-Baghawi) dan lain-lain.

Syaikh Abu Syuhbah berkata: dan kebanyakan itu dari apa yang tidak kami ragukan bahwa itu dari Israiliyyat yang dibuat-buat dan kerajaan mana di dunia yang cukup luas untuk megelar sembilan farsakh dengan bata-bata emas dan perak?! Dan dalam riwayat Wahb ada yang menunjukkan asal dari mana riwayat-riwayat ini datang; dan bahwa siapa yang meriwayatkan itu dari kalangan salaf maka dia mengambilnya dari muslim ahli kitab, dan alangkah baiknya jika kitab-kitab tafsir dibersihkan dari omong kosong dan khurafat seperti ini yang menyusup ke dalam riwayat Islam lalu merusaknya.

Israiliyyat yang Disebutkan dalam Kisah Adam alaihi salaam

Adapun Adam alaihi salaam maka dia memiliki dalam Al-Quran posisi-posisi yang juga tidak luput dari yang asing dan dari Israiliyyat, dan itu termasuk kisah-kisah; kisah-kisah para nabi:

Allah Ta’ala berfirman: {Lalu syaitan menggelincirkan keduanya dari surga dan mengeluarkan keduanya dari keadaan semula} (Al-Baqarah: 36):

Disebutkan dalam ayat ini juga Israiliyyat; di antara Israiliyyat tersebut adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dalam (Tafsir)nya dengan sanadnya dari Wahb bin Munabbih dia berkata: ketika Allah menempatkan Adam dan keturunannya atau istrinya -keraguan dari Abu Ja’far, dan dalam asli kitabnya: dan keturunannya- dan melarangnya dari pohon, dan itu adalah pohon yang cabang-cabangnya bercabang satu sama lain, dan dia memiliki buah yang dimakan malaikat untuk keabadian mereka. Ini adalah ucapan, lihatlah; malaikat tidak makan dan tidak minum, perhatikan Israiliyyat ini; dan dia memiliki buah yang dimakan malaikat untuk keabadian mereka dan itu adalah buah yang Allah larang Adam darinya dan istrinya; ketika iblis ingin mengelabui keduanya dia masuk ke dalam perut ular, dan ular memiliki empat kaki seperti unta – unta betina dari unta-unta dan unta betina Khurasani – dari hewan paling indah yang Allah ciptakan.

Ketika ular masuk surga, iblis keluar dari perutnya; lalu dia mengambil dari pohon yang Allah larang Adam dan istrinya darinya; maka dia datang dengannya kepada Hawa, lalu berkata: lihatlah pohon ini, betapa harum baunya dan enak rasanya dan bagus warnanya; maka Hawa mengambil lalu makan darinya, kemudian pergi kepada Adam; lalu berkata kepadanya seperti itu sehingga dia makan darinya; maka tampaklah bagi keduanya aurat mereka; maka Adam masuk ke dalam batang pohon, lalu Tuhannya memanggilnya: wahai Adam di mana kamu? Dia berkata: aku di sini ya Tuhan, Dia berkata: tidakkah kamu keluar? Dia berkata: aku malu kepada-Mu ya Tuhan, Dia berkata: terkutuklah bumi yang kamu diciptakan darinya dengan kutukan yang pohonnya berubah menjadi duri, kemudian Dia berkata: wahai Hawa, kamu yang telah memperdaya hamba-Ku; maka kamu tidak akan mengandung kandungan kecuali dengan keengganan; jika kamu ingin melahirkan apa yang ada dalam perutmu kamu akan menghadapi kematian berkali-kali, dan Dia berkata kepada ular: kamu yang dimasuki si terkutuk ke dalam perutmu sehingga memperdaya hamba-Ku? Terkutuklah kamu dengan kutukan kakimu berubah menjadi perutmu, dan tidak ada rezeki untukmu kecuali tanah … kamu musuh anak Adam dan mereka musuhmu. Umar berkata: dikatakan kepada Wahb: dan apa yang malaikat makan? Dia berkata: Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Lihatlah ketika Umar salah seorang perawi bertanya: apakah malaikat makan? Maka dia berkata: Allah berbuat apa yang Dia kehendaki … ini adalah pelarian dari jawaban dan ketidakmampuan untuk memperbaiki kebohongan yang nyata ini.

Ibnu Jarir berkata: dan Ibnu Abbas meriwayatkan seperti kisah ini, kemudian Ibnu Jarir menyebutkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas dan dari Ibnu Mas’ud dan dari beberapa orang dari para sahabat seperti ucapan ini, dan dalam sanad:

أسباط من السدي” dan berdasarkan keduanya lah riwayat-riwayat tersebut berporos, dan telah kami kemukakan sebelumnya kondisi riwayat-riwayat ini dan kondisi Asbath serta As-Suddi.

Demikian pula As-Suyuthi menyebutkan dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya dalam hal ini yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, namun dia tidak menyebutkan riwayat dari Wahb bin Munabbih, dan kebanyakan kitab tafsir bir-ra’yi juga menyebutkan hal ini, dan semua ini dari kisah-kisah Bani Israil yang mereka berlebih-lebihan di dalamnya dan mereka mencampur antara yang haq dan yang bathil, kemudian Ibnu Abbas dan lainnya dari kalangan para sahabat dan tabi’in mengambilnya dari mereka dan menafsirkan dengannya Al-Quran Al-Karim.

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Jarir, karena dengan menyebutkan riwayat dari Wahb dia telah menunjukkan bahwa apa yang diriwayatkannya dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud sesungguhnya sumbernya kembali kepada Wahb dan lainnya dari kalangan Ahli Kitab yang masuk Islam, andai saja dia tidak menyampaikan sesuatu dari ini, dan andai saja para mufassir yang datang setelahnya menjaga tafsir-tafsir mereka dari yang semacam ini, dan dalam riwayat Ibnu Jarir yang pertama terdapat petunjuk bahwa orang-orang yang meriwayatkan dari Wahb dan lainnya meragukan apa yang mereka riwayatkan kepada mereka, karena disebutkan di akhirnya: Umar berkata: dikatakan kepada Wahb: apa yang dimakan para malaikat? Dia berkata: Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Maka mereka telah mempertanyakan kepadanya: bagaimana para malaikat bisa makan? Dan dia tidak memberikan jawaban yang dapat dipercaya.

Bisikan Iblis kepada Adam alaihis salam tidak tergantung pada masuknya ke dalam perut ular, karena bisikan tidak memerlukan kedekatan dan tidak perlu bicara langsung, bisa saja dia membisikkan kepadanya padahal dia berada berjauhan bermil-mil darinya, dan ular diciptakan Allah pada hari penciptaannya seperti ini, dan tidak memiliki kaki-kaki seperti unta jantan dan tidak ada sesuatu dari ini.

Ini adalah pernyataan yang perlu dikomentar. Lihatlah Taurat Kitab Kejadian pasal ketiga, di sana terdapat pernyataan ini agar semakin bertambah keyakinan seorang Muslim bahwa ini dari Israiliyyat yang dipindahkan kepada kita dari kitab-kitab mereka dan bukan milik kita sesuatu dari Yang Ma’shum shallallahu alaihi wa sallam. Setelah ini kita beralih ke posisi lain yaitu apa yang disebutkan dalam firman-Nya Jalla wa Ala: “Kemudian Adam menerima dari Tuhannya beberapa kata, lalu Dia menerima taubatnya” (Al-Baqarah: 37) dari riwayat-riwayat yang tidak shahih: apa yang disebutkan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr) dia berkata: Ath-Thabrani mengeluarkan dalam (Al-Mu’jam Ash-Shaghir) dan Al-Hakim dan Abu Nu’aim dan Al-Baihaqi keduanya dalam (Ad-Dala’il) dan Ibnu Asakir: dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Adam melakukan dosa yang dia lakukan, dia mengangkat kepalanya ke langit lalu berkata: aku memohon kepadamu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku, maka Allah mewahyukan kepadanya: siapakah Muhammad? Dia berkata: Maha Suci nama-Mu, ketika Engkau menciptaku aku mengangkat kepalaku ke ‘Arasy-Mu, maka di sana tertulis: Laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah, maka aku tahu bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mulia kedudukannya di sisi-Mu daripada orang yang Engkau jadikan namanya bersama nama-Mu, maka Allah mewahyukan kepadanya: wahai Adam, sesungguhnya dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu, dan seandainya bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu”.

Kemudian dia berkata: Dan Ad-Dailami mengeluarkan dalam (Musnad Al-Firdaus) dengan sanad yang wahiy -sanad yang wahiy yaitu sangat lemah yang mungkin mencapai tingkat jatuh dan palsu- dari Ali dia berkata: aku bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang firman Allah: “Kemudian Adam menerima dari Tuhannya beberapa kata, lalu Dia menerima taubatnya” maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan Adam di Hindia, dan Hawa di Jeddah, dan Iblis di Baisan, dan ular di Ashbahan, dan ular tersebut memiliki kaki-kaki seperti kaki unta, dan Adam tinggal di Hindia seratus tahun menangisi dosanya hingga Allah mengutus kepadanya Jibril, dan berkata: wahai Adam, bukankah Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku? Bukankah Aku meniupkan ke dalam dirimu dari ruh-Ku? Bukankah para malaikat-Ku bersujud kepadamu? Bukankah Aku menikahkanmu dengan Hawa hamba-Ku? Dia berkata: benar, dia berkata: maka apa tangisan ini? Dia berkata: dan apa yang menghalangiku dari menangis padahal aku telah dikeluarkan dari kedekatan Ar-Rahman? Dia berkata: maka berpeganglah dengan kata-kata ini, karena Allah akan menerima taubatmu dan mengampuni dosamu, katakanlah: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, Subhanaka laa ilaaha illa Anta aku telah berbuat buruk dan menganiaya diriku maka ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, Subhanaka laa ilaaha illa Anta aku telah berbuat buruk dan menganiaya diriku, maka terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Maka itulah kata-kata yang diterima Adam.

Syaikh Abu Syuhbah berkata: aku tidak tahu selama sanadnya wahiy -yaitu sangat lemah- mengapa dia menyebutkannya?! Dan yang seperti ini memiliki tanda-tanda palsu dan dibuat-buat serta bohong.

As-Suyuthi melanjutkan dalam (Ad-Durr) lalu menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kata-kata yang diterima Adam dari Tuhannya lalu Dia menerima taubatnya, beliau bersabda: “dia memohon dengan hak Muhammad dan Ali dan Fatimah dan Hasan dan Husain agar Engkau menerima taubatku, maka Dia menerima taubatnya”, dan yang seperti ini tidak diragukan oleh penuntut hadits dalam kepalsuannya, dan bahwa itu dari pemalsuan kaum Syiah dan kebohongan mereka.

Kemudian dia melanjutkan riwayat lalu menyebutkan: bahwa Adam ketika turun badannya menghitam, kemudian Allah memutihkan badannya dengan puasanya tiga hari, oleh karena itu dinamakan hari-hari putih, dan bahwa dia alaihis salam minum dari awan, bahkan diriwayatkan dari Ka’b: bahwa dia orang pertama yang mencetak dinar dan dirham… hingga selain itu yang tidak keluar dari Israiliyyat.

Tafsir yang Shahih:

Setelah kita mengetahui kebohongan dan Israiliyyat ini, patut bagi kita untuk mengetahui tafsir yang shahih untuk kata-kata yang disebutkan dalam firman-Nya: “Kemudian Adam menerima dari Tuhannya beberapa kata, lalu Dia menerima taubatnya”:

Yang shahih tentang kata-kata tersebut: adalah apa yang diriwayatkan dari beberapa jalur: bahwa itu adalah firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala dalam Al-Quran: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al-A’raf: 23) tafsir Al-Quran dengan Al-Quran, dan telah diriwayatkan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr) dari beberapa jalur, namun dia mencampur perbuatan yang shalih dan yang buruk, dan Ibnu Jarir telah menguraikan panjang lebar dalam (tafsirnya) dalam memenangkan pendapat ini walaupun dia menyebutkan pendapat lain yang jauh dari kebenaran.

Posisi lain Adam alaihis salam:

Ada peristiwa kedua anak Adam ketika salah satunya membunuh yang lain, juga tidak luput dari Israiliyyat, karena apa yang dinisbatkan kepada kedua anak Adam ketika salah satunya membunuh yang lain banyak dari Israiliyyat, di antaranya apa yang disebutkan Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam (tafsirnya) dan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) dalam kisah ini, kisah kedua anak Adam Qabil dan Habil dan pembunuhan yang pertama terhadap yang kedua, karena diriwayatkan dari Ka’b: bahwa darah yang ada di gunung Qasiyun adalah darah anak Adam, dan dari Wahb: bahwa bumi menyerap darah anak Adam yang terbunuh, maka anak Adam melaknat bumi, karena itulah bumi tidak menyerap darah setelah darah Habil hingga hari kiamat, dan bahwa Qabil membawa Habil setahun dalam karung di lehernya hingga busuk dan berubah, maka Allah mengutus dua burung gagak yang salah satunya membunuh yang lain, lalu menggali untuknya dan menguburkannya dengan kakinya dan paruhnya, maka dia tahu bagaimana Qabil harus berbuat dengan saudaranya.

Padahal Al-Quran mengungkapkan dengan huruf fa yang menunjukkan urutan dan ta’qib tanpa kelambatan, Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana cara menutupi mayat saudaranya” (Al-Ma’idah: 31), dan juga diriwayatkan bahwa ketika dia membunuhnya badannya menghitam -padahal sebelumnya putih- maka Adam bertanya kepadanya tentang saudaranya, dia berkata: aku bukan penjaganya, dia berkata: bahkan kamu telah membunuhnya, karena itulah badanmu menghitam… hingga yang semacam itu.

Semua ini dan yang serupa -selain apa yang datang dalam Al-Quran- dari Israiliyyat Bani Israil, dan telah datang beberapa riwayat yang tegas dari Ka’b dan Wahb, dan apa yang datang dari Ibnu Abbas dan Mujahid dan lainnya sumbernya kembali kepada Ahli Kitab yang masuk Islam, dan ayat-ayat adalah firman Allah Jalla wa Ala: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah kedua anak Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Dia berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosaku dan dosamu, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itu adalah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Maka nafsu (yang jahat) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, lalu dibunuhnyalah dia. Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang merugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana cara menutupi mayat saudaranya. Dia berkata: ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menutupi mayat saudaraku?’ Karena itu jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal” (Al-Ma’idah: 27-31) hingga akhir ayat-ayat.

Kita beralih setelah itu kepada apa yang dinisbatkan kepada Adam alaihis salam dan kita singkat perkataan dalam hal itu, dinisbatkan kepada Adam dari perkataan syair juga pembicaraan.

Dari Israiliyyat: apa yang diriwayatkan Ibnu Katsir dalam (tafsirnya) dan apa yang disebutkan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr) bahwa Adam ketika salah satu dari kedua anaknya membunuh yang lain dia tinggal seratus tahun tidak tertawa karena sedih atasnya, maka ketika genap seratus tahun dikatakan kepadanya: semoga Allah menghidupkanmu dan memutihkanmu, dan diberi kabar gembira dengan anak laki-laki, maka pada saat itulah dia tertawa.

Demikian pula apa yang disebutkannya bahwa Adam alaihis salam meratapi anaknya dengan syair, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dia berkata: ketika anak Adam membunuh saudaranya, Adam menangis lalu berkata:

Negeri-negeri telah berubah dan yang ada di atasnya … maka wajah bumi menjadi berdebu jelek

Segala sesuatu yang berwarna dan berasa berubah … dan berkurang kegembiraan wajah yang indah

As-Suyuthi berkata: Dan Al-Khatib dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari Ibnu Abbas dia berkata: ketika anak Adam membunuh saudaranya Adam alaihis salam berkata… dan menyebutkan dua bait sebelumnya dengan sedikit perbedaan… maka Iblis alaihi al-la’nah menjawabnya:

Pergilah dari negeri-negeri dan penghuninya … karena aku di surga menyempitkanmu tempat yang luas

Dan kamu bersama istri di dalamnya dalam kemudahan … dan hatimu dari gangguan dunia nyaman

Maka tidak berhenti tipu dayaku dan kecerdikanku … hingga luput darimu harga yang menguntungkan

Subhanallah! Perkataan yang disebutkan dalam kitab-kitab, dan telah dikritik penisbatan syair-syair ini kepada nabi Allah Adam oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya (Mizan Al-I’tidal) dan berkata: bahwa kerusakannya dari Al-Mukharimi atau syaikhnya. Lihat kitab (Mizan Al-I’tidal).

Syair yang mereka sebutkan hanyalah palsu dan dibuat-buat, karena para nabi tidak bersyair, dan Az-Zamakhsyari benar ketika berkata: diriwayatkan bahwa Adam tinggal setelah terbunuhnya anaknya seratus tahun tidak tertawa, dan bahwa dia meratapnya dengan syair -dan itu bohong belaka- dan syair itu hanyalah palsu dan salah, dan telah shahih bahwa para nabi ma’shum dari syair. (Lihat tafsir Al-Kasysyaf).

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berfirman: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya dan bukan pula layak baginya (bersyair). Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan dan kitab yang nyata” (Yasin: 69). Imam Al-Alusi berkata dalam (tafsirnya): Dan diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dari Al-Hibr Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa dia berkata: barangsiapa berkata bahwa Adam alaihis salam telah bersyair maka dia telah berdusta, sesungguhnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para nabi semuanya sama dalam larangan dari syair, namun ketika Qabil membunuh Habil, Adam meratapnya dalam bahasa Suriah, maka terus dipindahkan hingga sampai kepada Ya’rub bin Qahtan dan dia berbicara dengan bahasa Arab dan Suriah, maka dia mendahulukan di dalamnya dan mengakhirkan dan menjadikannya syair Arab, dan sebagian ulama bahasa Arab menyebutkan bahwa di dalamnya ada kesalahan dan iqwa’ dan melakukan darurat, dan yang lebih baik tidak menisbatkannya kepada Ya’rub karena kelemahan yang tampak di dalamnya. Lihat tafsir (Ruh Al-Ma’ani) karya Allamah Al-Alusi.

Syaikh kita Dr. Muhammad Abu Syuhbah berkata: Dan yang benar bahwa itu syair dalam puncak kelemahan, dan yang lebih mirip bahwa syair ini dari pemalsuan seorang Israil yang tidak memiliki dari bahasa Arab kecuali sedikit, atau seorang pencerita yang ingin menguasai hati manusia dengan omong kosong seperti ini.

Kita selesai dari apa yang dinisbatkan kepada Adam dari perkataan syair, tersisa bagi kita dalam hak Adam bagian lain yang sangat penting yaitu: apa yang dinisbatkan kepadanya alaihis salam dari syirik untuknya dan Hawa dalam firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala: “Maka ketika Allah memberikan kepada keduanya anak yang baik, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Al-A’raf: 190):

Di sini posisi lain Adam alaihis salam, di dalamnya terdapat Israiliyyat yang datang, dan ayat ini banyak perkataan di dalamnya yang dinisbatkan kepada Adam padahal dia rasul yang ma’shum seperti rasul-rasul lainnya.

Dari riwayat-riwayat yang tidak shahih dan sumbernya kembali kepada Israiliyyat: apa yang disebutkan sebagian mufassir ketika menafsirkan firman-Nya Ta’ala: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang baik, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’. Maka ketika Allah memberikan kepada keduanya anak yang baik, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Al-A’raf: 189-190).

Ayat ini dianggap dari ayat-ayat yang paling sukar dalam Al-Quran dari segi bahwa lahiriahnya menunjukkan penisbatan syirik kepada Adam dan Hawa, dan itu berdasarkan apa yang dituju oleh jumhur mufassir bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang satu: jiwa Adam alaihis salam dan dengan firman-Nya Ta’ala: “dan darinya Dia menciptakan istrinya”: Hawa radhiyallahu anha dan para ulama yang tahqiq telah menta’wil ayat ini dengan takwil yang shahih yang sesuai dengan kemaksuman para nabi dalam tidak bolehnya menyandarkan syirik kepada mereka alaihimus salam sebagaimana akan kami jelaskan itu insya Allah.

Hadits Marfu’ dan Atsar yang Datang dalam Hal Ini:

Dan telah menambah buruk keadaan apa yang datang dalam hadits marfu’ dan beberapa atsar dari sebagian sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan firman-Nya: “keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” dan telah tertipu dengan riwayat-riwayat ini banyak mufassir seperti Imam Ibnu Jarir, dan Ats-Tsa’labi, dan Al-Baghawi, dan Al-Qurthubi, walaupun yang terakhir telah melemahkan riwayat-riwayat dan jiwanya tidak condong kepadanya dan menganggapnya dari Israiliyyat, dan pemilik (Ad-Durr Al-Mantsur) juga.

Anehnya bahwa imam besar yang memiliki keutamaan tidak terbantah dalam menolak yang palsu dan Israiliyyat dan mufassir mutaakhir dan dia ulama besar yaitu Imam Al-Alusi telah tertipu dengan riwayat-riwayat ini, dan pembicaraan dalam hal ini untuk syaikh kita Dr. Muhammad Abu Syuhbah, dia berkata: bahwa Imam Al-Alusi telah tertipu dengan riwayat-riwayat ini lalu berkata: dan ayat ini menurutku dari yang bermasalah, dan para ulama memiliki pembicaraan panjang dan perselisihan luas di dalamnya, dan apa yang kami sebutkan adalah yang ditunjukkan Al-Juba’i dan itu yang tidak apa-apa setelah menutup mata dari menyelisihi riwayat-riwayat.

Kemudian dia berkata: dan bisa dikatakan: Ibnu Jarir mengeluarkan dari Al-Hibr bahwa ayat turun dalam penamaan Adam dan Hawa kedua anaknya dengan Abdul Harits, dan yang seperti itu hampir tidak bisa dikatakan dari pendapat, dan itu jelas dalam khabar sebagai tafsir ayat, dan kamu telah tahu bahwa jika hadits shahih maka itu mazhabku, dan aku melihatnya telah shahih, karena itu aku tahan seperti kumiyt penaku dari berlari di medan takwil, kata kumiyt mereka katakan: itu dari kuda dan unta dan itu jenis-jenis yang baik, dia menahan penanya dari berlari di medan takwil sebagaimana berlari lainnya, dan Allah Ta’ala yang memberi taufik untuk kebenaran.

Sebagian mufassir berpaling dari menyebutkan riwayat-riwayat ini, dan itu sebagaimana dilakukan pemilik (Al-Kasysyaf) dan diikuti An-Nasafi, dan sebagian mufassir menyinggungnya kemudian menjelaskan ketidakridaannya terhadapnya, dan itu sebagaimana dibuat Imam Al-Qurthubi dalam (tafsirnya) lalu berkata: dan seperti ini disebutkan dalam hadits lemah dalam At-Tirmidzi dan lainnya, dan dalam Israiliyyat banyak yang tidak ada penetetapannya, maka tidak diandakan padanya, dan tidak diandakan padanya dari yang memiliki hati, karena Adam dan Hawa walaupun ditipu oleh penipu dengan Allah, maka tidak boleh orang mukmin terluka dari lubang dua kali, padahal telah ditulis dan dicatat dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “dia menipu keduanya dua kali: menipu keduanya di surga, dan menipu keduanya di bumi”.

Pahlawan medan ini adalah Imam Ibnu Katsir, karena dia telah mengkritik riwayat-riwayat dengan kritik ilmiah asli berdasarkan manhaj para muhaddits dan cara mereka dalam mengkritik perawi, dan menjelaskan asal riwayat-riwayat ini dan bahwa sumbernya kembali kepada Israiliyyat, dan kita heran bagaimana Imam Al-Alusi yang mutaakhir tidak menunjukkan perkataannya? Mungkin dia tidak melihatnya.

Wa shallallahu ala sayyidina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi wa sallam, wallahu a’lam.

Pelajaran: 13 Contoh-contoh dari Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (11).

 

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Ketiga Belas

(Contoh-contoh dari Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (11))

Lanjutan Israiliyyat yang Datang dalam Kisah Adam alaihis salam

Alhamdulillahi rabbil alamin, wa ash-shalatu wa as-salamu ala asyrafil mursalin sayyidina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’d:

Perkataan Imam Ibnu Katsir akan kita sebutkan dengan teksnya karena berharganya dan baiknya sebagaimana kata syaikh kita fadhilah Dr. Muhammad Abu Syuhbah, dan karena sangat butuhnya kepada perkataan Ibnu Katsir dalam maqam ini dia berkata rahimahullah: para mufassir menyebutkan di sini atsar-atsar dan hadits-hadits akan aku sebutkan dan aku jelaskan apa yang ada padanya, kemudian kita ikuti itu dengan penjelasan yang shahih dalam hal itu insya Allah dan kepada-Nya lah kepercayaan. Imam Ahmad berkata dalam musnadnya: menceritakan kepada kami Abdush-Shamad, dia berkata: menceritakan kepada kami Umar bin Ibrahim, dia berkata: menceritakan kepada kami Qatadah dari Al-Hasan, dari Samurah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia bersabda: “Dan ketika Hawa melahirkan Iblis mengelilinginya, dan tidak ada anaknya yang hidup, lalu dia berkata: namai dia Abdul Harits maka dia akan hidup, maka mereka menamai Abdul Harits lalu dia hidup, dan itu dari bisikan syaitan dan perintahnya”.

Demikian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Muhammad bin Basyar Bundar, dari Abdush-Shamad bin Abdul Warits dengannya, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dalam tafsir ayat ini, dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Abdush-Shamad dengannya, dan berkata: ini hadits hasan gharib -yaitu menyendiri riwayatnya- kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Umar bin Ibrahim.

Sebagian dari mereka meriwayatkannya dari Abdush-Shamad dan tidak merafa’kannya -yaitu tidak menisbatkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan Al-Hakim meriwayatkannya dalam mustadraknya dalam hadits Abdush-Shamad marfu’an, kemudian berkata: ini hadits shahihul isnad, dan kata shahihul isnad diketahui di kalangan yang tahqiq bahwa Al-Hakim terlalu longgar dalam tashih, maka tidak diambil dengan perkataannya, apalagi dalam yang seperti ini, dia berkata: shahihul isnad dan tidak dikeluarkan keduanya.

Imam Abu Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkannya dalam tafsirnya dari Abu Zur’ah Ar-Razi, dari Hilal bin Fiyadh, dari Umar bin Ibrahim dengannya -yaitu dengan sisa sanad- marfu’an.

Dan demikianlah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih dalam tafsirnya dari hadits Syaz bin Fiyadh dari Umar bin Ibrahim secara marfu’. Aku berkata -yakni berkata Ibnu Katsir- dan Syaz ini adalah Bilal, dan kata “Syaz” adalah gelarnya. Yang dimaksud adalah bahwa hadits ini bermasalah dari tiga segi:

Pertama: bahwa Umar bin Ibrahim ini adalah Al-Bashri, dan telah ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in, namun Abu Hatim Ar-Razi berkata: tidak dapat dijadikan hujjah dengannya. Tetapi Ibnu Mardawaih meriwayatkannya dari hadits Al-Mu’tamar dari ayahnya dari Al-Hasan dari Samurah secara marfu’, maka Allah yang lebih mengetahui.

Yang kedua -yakni dari segi-segi kecacatan-: bahwa ia telah diriwayatkan dari perkataan Samurah sendiri, bukan secara marfu’ sebagaimana dikatakan Ibnu Jarir: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abd Al-A’la berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamar dari ayahnya berkata: telah menceritakan kepada kami Bakr bin Abdullah dari Sulaiman At-Taimi dari Abi Al-Ala bin Asy-Syakhir dari Samurah bin Jundub berkata: “Adam menamakan anaknya dengan Abd Al-Harits”.

Dan yang ketiga dari segi-segi kecacatan: bahwa Al-Hasan sendiri menafsirkan ayat dengan selain ini. Seandainya ini ada padanya dari Samurah secara marfu’, tentu dia tidak akan berpaling darinya. Berkata Ibnu Jarir: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wakii’ berkata: telah menceritakan kepada kami Sahl bin Yusuf dari Amru dari Al-Hasan dalam firman Allah Ta’ala: {Mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu dalam apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berdua} (Al-A’raf: 190) berkata: ini terjadi pada sebagian ahli agama dan bukan pada Adam.

Dan telah menceritakan kepada kami -perkataan ini dari Ibnu Jarir- Muhammad bin Abd Al-A’la berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tsaur dari Ma’mar berkata: berkata Al-Hasan: yang dimaksud adalah keturunan Adam dan orang-orang yang berbuat syirik setelahnya, yakni maksud firman-Nya: {Mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu dalam apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berdua}. Ibnu Jarir melanjutkan berkata: dan telah menceritakan kepada kami Bisyr berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah berkata: Al-Hasan berkata: mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang Allah berikan kepada mereka anak-anak, lalu mereka menjadikannya Yahudi dan Nasrani. Di dalamnya ada isyarat kepada hadits Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” hadits ini muttafaq ‘alaih.

Dan berkata Ibnu Katsir: ini adalah sanad-sanad yang shahih dari Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu bahwa dia menafsirkan ayat dengan demikian, yakni bahwa kemusyrikan ini hanyalah yang dinisbatkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan ini adalah salah satu tafsir yang paling baik dan yang paling layak untuk diterapkan pada ayat. Seandainya hadits ini terpelihara padanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu dia dan yang lainnya tidak akan berpaling darinya, apalagi dengan ketakwaannya kepada Allah dan kehati-hatiannya.

Maka ini menunjukkan kepadamu bahwa itu mauquf kepada sahabat, dan kemungkinan dia menerimanya dari sebagian Ahli Kitab yang beriman di antara mereka seperti Ka’ab atau Wahb bin Munabbih dan yang lainnya sebagaimana akan dijelaskan insya Allah Ta’ala. Namun kita telah terbebas dari tanggungan yang marfu’ dan Allah yang lebih mengetahui. Inilah yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Katsir.

Adapun mengenai atsar-atsar: berkata Muhammad bin Ishaq bin Yasar dari Dawud bin Al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: “Hawa melahirkan anak-anak untuk Adam alaihissalam lalu dia menyembah mereka kepada Allah dan menamakan mereka Abdullah, Ubaidullah dan semacam itu, lalu mereka meninggal. Kemudian datanglah kepada mereka berdua Iblis lalu berkata: sesungguhnya kalian berdua jika menamainya dengan selain nama yang kalian berdua namakan padanya, niscaya dia akan hidup. Berkata: lalu Hawa melahirkan seorang laki-laki lalu dia menamakannya Abd Al-Harits, maka dalam hal itulah Allah menurunkan firman-Nya: {Dia-lah yang menciptakan kamu dari satu jiwa…} sampai akhir ayat-ayat.

Dan berkata Al-Aufi dari Ibnu Abbas: firman-Nya tentang Adam {Dia-lah yang menciptakan kamu dari satu jiwa} sampai firman-Nya: {lalu dia mengandungnya} dia ragu apakah dia hamil atau tidak. {Maka tatkala kandungannya bertambah berat, keduanya berdoa kepada Allah Tuhan mereka} ayat tersebut. Lalu datanglah kepada mereka syaitan berkata: apakah kalian berdua tahu apa yang akan dilahirkan buat kalian ataukah kalian berdua tahu apa yang akan terjadi, apakah binatang atau bukan? Dan dia menghiasi kebatilan bagi mereka, sesungguhnya dia adalah penyesat yang nyata. Dan sebelumnya dia telah melahirkan dua anak lalu meninggal. Lalu syaitan berkata kepada mereka: sesungguhnya kalian berdua jika tidak menamakannya dengan namaku, dia tidak akan keluar dengan selamat dan akan mati seperti yang pertama. Maka mereka menamai anak mereka Abd Al-Harits, maka itulah firman-Nya: {Maka tatkala Allah memberikan kepada keduanya anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka} ayat tersebut.

Dan berkata Abdullah bin Al-Mubarak dari Syarik dari Khushayf dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dalam firman Allah Ta’ala: {Maka tatkala Allah memberikan kepada keduanya anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka} berkata: Allah Ta’ala berfirman: {Maka tatkala laki-laki itu menggaulinya} Adam hamil, datanglah kepada mereka Iblis -laknat Allah atasnya- lalu berkata: aku adalah temanmu yang mengeluarkanmu agar kalian mentaatiku atau aku akan menjadikannya bertanduk rusa jantan, dan rusa jantan -yakni jantan kambing gunung atau jantan jenis-jenis hewan- sehingga keluar dari perutmu lalu merobeknya dan aku akan berbuat dan berbuat, dia menakut-nakuti mereka. Maka mereka enggan mentaatinya lalu keluar dalam keadaan mati. Kemudian hamil -yakni yang kedua- lalu dia datang kepada mereka berkata seperti yang pertama, maka mereka enggan mentaatinya lalu keluar dalam keadaan mati. Kemudian hamil yang ketiga, lalu dia datang kepada mereka juga menyebutkan kepada mereka, maka cinta anak menguasai mereka lalu mereka menamakannya Abd Al-Harits. Dan itulah firman Allah Ta’ala: {Maka tatkala Allah memberikan kepada keduanya anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka}. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Dan atsar ini diterima oleh Abdullah bin Abbas dan diterima darinya oleh sekelompok sahabat-sahabatnya seperti Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan dari generasi kedua: Qatadah dan As-Suddi serta beberapa salaf yang lain, dan sekelompok khalaf, dan dari para mufassir mutaakhkhirin kelompok-kelompok yang tidak terhitung banyaknya. Dan sepertinya -wallahu a’lam- diambil dari Ahli Kitab. Maka sesungguhnya Ibnu Abbas meriwayatkannya dari Ubayy bin Ka’ab, dan berdasarkan ini maka tidak akan memiliki hukum rafa’ karena dia mendengarnya dari sahabat seperti dirinya, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Jamahir berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id -yakni Ibnu Basyir- dari Uqbah dari Qatadah dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Ubayy bin Ka’ab -dan tentu saja dia berkata: Ubayy mungkin menerimanya dan mendengarnya dari orang-orang Ahli Kitab yang masuk Islam- dari Ubayy bin Ka’ab berkata: “Ketika Hawa hamil, datanglah syaitan kepadanya lalu berkata: apakah kamu mau mentaatiku dan anakmu selamat, namailah dia Abd Al-Harits. Maka dia tidak melakukannya lalu melahirkan dan meninggal. Kemudian hamil lalu dia berkata kepadanya seperti itu, maka dia tidak melakukannya. Kemudian hamil yang ketiga lalu dia datang berkata: jika kamu mentaatiku dia akan selamat, jika tidak maka dia akan menjadi binatang, maka dia menakutinya lalu mereka mentaatinya.”

Berkata: dan atsar-atsar ini tampak padanya -wallahu a’lam- bahwa itu dari atsar-atsar Ahli Kitab. Dan setelah menjelaskan bahwa berita-berita Ahli Kitab terbagi menjadi tiga bagian: di antaranya ada yang kita ketahui kebenarannya dari apa yang ada di tangan kita berupa kitab atau sunnah, di antaranya ada yang kita ketahui kedustannya karena adanya dalil yang menunjukkan sebaliknya dari kitab dan sunnah, dan di antaranya ada yang didiamkan maka itulah yang diizinkan untuk diriwayatkan dengan sabda beliau alaihishshalatu wassalam: “Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa” dan itulah yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan.

Berkata: dan atsar ini dari yang kedua -yakni yang kita ketahui kedustaannya- atau yang ketiga masih perlu dilihat. Dan sebenarnya adalah dari bagian ketiga, dan yang kita putuskan -wallahu a’lam- bahwa itu dari bagian kedua, yakni dari yang kita dengar dari Bani Israil dan kita ketahui kedustaannya karena bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil kitab dan sunnah. Maka ini dari bagian kedua karena berdirinya dalil-dalil aqliyah dan naqliyah atas ismah para nabi dari hal seperti itu.

Berkata: adapun yang menceritakannya dari sahabat atau tabi’in maka sesungguhnya dia melihatnya dari bagian ketiga, yakni yang memungkinkan benar dan dusta. Adapun kita maka mengikuti madzhab Al-Hasan Al-Bashri dalam hal ini, dan bahwa yang dimaksud dari konteks ini bukanlah Adam dan Hawa. Rahimahullah syaikh kami Dr. Abu Syuhbah, ini adalah perkataannya. Adapun kami maka mengikuti madzhab Al-Hasan Al-Bashri dalam hal ini, yakni dalam menafsirkan ayat, dan bahwa yang dimaksud dari konteks ini bukanlah Adam dan Hawa, melainkan yang dimaksud adalah orang-orang musyrik dari keturunannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: {Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan} maka disebutkan Adam dan Hawa sebagai pengantar bagi yang datang setelah mereka dari para keturunan, dan itu seperti perpindahan dari individu kepada jenis. Ini tafsir Ibnu Katsir dan Al-Baghawi dalam makna ini.

Dan inilah yang dipilih oleh imam hafizh kritikus Ibnu Katsir ini dalam mentakhrij hadits dan atsar-atsar, itulah yang harus dituju, dan itulah yang dengannya kita beragama kepada Allah, terlebih karena tafsir yang benar untuk kedua ayat tidak tergantung pada sesuatu yang diriwayatkan.

Tersisa bagi kita untuk mengetahui tafsir yang benar dan yang dapat diterima setelah memaparkan pendapat-pendapat Ibnu Katsir dan guru-guru kami yang datang setelahnya. Para mufassir yang teliti di antara mereka ada yang mengikuti jalan Al-Allamah Ibnu Katsir, menjadikan ayat pertama tentang Adam dan Hawa, dan menjadikan firman Allah Ta’ala: {Maka tatkala Allah memberikan kepada keduanya anak yang saleh} ayat tersebut tentang orang-orang musyrik dari keturunan mereka, yakni anak-anak mereka menjadi sekutu bagi Allah dalam apa yang dianugerahkan-Nya kepada keduanya. Yang dimaksud dengan keduanya adalah jenis, yakni jenis laki-laki dan perempuan, maka dari sinilah baik firman-Nya: {Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan} dengan bentuk jamak. Dan ini adalah kalam yang bersambung lafazhnya namun terpisah maknanya. Di antara mereka ada yang menjadikan kedua ayat tentang keturunan Adam dan Hawa, yakni menciptakan kalian dari satu jiwa yaitu jiwa laki-laki, dan menjadikan darinya yakni dari jenisnya pasangannya yaitu perempuan. {Maka tatkala Allah memberikan kepada keduanya anak yang saleh} yakni manusia yang lurus sempurna. {Keduanya menjadikan} yakni pasangan suami istri yang kafir menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka, dengan demikian mereka mengganti syukur kepada Allah dengan kekafiran dan pengingkaran. Berdasarkan ini tidak ada penyebutan Adam dan Hawa dalam kedua ayat. Dan di sana ada tafsir-tafsir lain yang tidak kita setujui. Guru kami berkata: aku tidak merasa tenang dan tenteram dengannya, sebagaimana diriwayatkan dalam tafsir Al-Kasysyaf, Al-Qurthubi, Abu As-Su’ud, Al-Alusi dan lainnya.

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Nuh alaihissalam

Kisah Nuh alaihissalam termasuk kisah-kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, dan metodenya dalam berdakwah, kesabarannya terhadap kaumnya, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya atas orang-orang yang mendustakannya, dan memerintahkannya membuat kapal untuk mengangkut orang-orang yang beriman bersamanya. Kisah ini yang disebutkan dalam lebih dari satu surat, tafsir yang diriwayatkan oleh para mufassir dan disebutkan seputar kisah ini tidak luput dari beberapa israiliyyat. Dan selalu kami katakan: sesungguhnya Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Abu As-Su’ud, Al-Qurthubi, dan (Ad-Durr Al-Mantsur), tafsir-tafsir ini mengandung sekian banyak israiliyyat.

Di antara israiliyyat yang terdapat dalam sebagian kitab tafsir seperti Ibnu Jarir dan (Ad-Durr Al-Mantsur) adalah apa yang diriwayatkan tentang kapal Nuh alaihissalam. Mereka mengelilinginya dengan lingkaran keajaiban dan keanehan: dari kayu apa dibuat? berapa panjangnya? berapa lebarnya? berapa tingginya? bagaimana tingkat-tingkatnya? Dan mereka menyebutkan khurافat dalam penciptaan sebagian hewan dari yang lain. Bahkan sebagian perawi sampai menisbatkan sebagian ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata penulis (Ad-Durr Al-Mantsur): dan mengeluarkan Abu Asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kapal Nuh alaihissalam memiliki sayap-sayap, dan di bawah sayap-sayap itu ada serambi”. Aku berkata: celakalah orang yang menisbatkan ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perkataan syaikh kami Syaikh Abu Syuhbah.

Dan mengeluarkan Ibnu Mardawaih dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sam adalah bapak orang-orang Arab, Ham adalah bapak orang-orang Habsyi, dan Yafits adalah bapak orang-orang Rum -anak-anak Sayyidina Nuh-, dan disebutkan bahwa panjang kapal adalah tiga ratus hasta, lebarnya lima puluh hasta dan tingginya di langit tiga puluh hasta, dan pintunya di sisinya.

Kemudian disebutkan dari Ibnu Abbas seperti itu dalam panjang dan tingginya. Ini adalah pertanda bahwa itu dari riwayat Ibnu Abbas dari Ahli Kitab, dan bahwa orang yang merafa’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keliru. Kemudian berkata -yakni Ibnu Mardawaih-: dan mengeluarkan Ishaq bin Bisyr dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas: bahwa Nuh ketika diperintah membuat kapal, berkata: ya Rabb, di mana kayunya? berkata: tanamlah pohon. Maka dia menanam kayu jati selama dua puluh tahun sampai dia berkata: lalu dia membuat kapal enam ratus hasta panjangnya dan enam puluh hasta di tanah -yakni kedalamannya- dan lebarnya tiga ratus tiga puluh tiga hasta. Perkataan yang saling bertentangan, kita tidak tahu riwayat mana yang harus kita percaya, apakah riwayat Ibnu Abbas yang ini ataukah riwayatnya yang sebelumnya? Dan kekacauan ini adalah pertanda kebohongan dan kedustaan dari orang-orang yang membuatnya pertama kali, dan dibawa dari mereka oleh Ibnu Abbas dan yang lainnya.

Dan diperintahkan -yakni Nuh- untuk melapisinya dengan ter. Ter dan qir yaitu cat hitam yang digunakan untuk melapisi kayu dan unta, yaitu yang dikenal dengan aspal atau sesuatu dengan makna ini. Dia diperintah melapisinya dengan ter, dan tidak ada ter di bumi, maka Allah memancarkan untuknya mata air ter di tempat kapal dipahat mendidih sampai dia melapisinya. Ketika selesai darinya dia membuat tiga pintu untuknya, menutupnya dan mengangkut di dalamnya binatang buas dan hewan ternak. Maka Allah menimpakan demam kepada singa dan menyibukkannya dengan dirinya sendiri daripada hewan-hewan, dan menjadikan binatang buas dan burung di pintu kedua, kemudian menutup keduanya.

Dan mengeluarkan Ibnu Jarir dan Abu Asy-Syaikh dari Al-Hasan berkata: panjang kapal Nuh alaihissalam adalah seribu hasta dan dua ratus hasta, lebarnya enam ratus hasta.

Dan inilah yang disebutkan setelahnya yang mengherankan. Berkata: dan mengeluarkan Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: berkata para hawariyun kepada Isa bin Maryam alaihimassalam: seandainya engkau mengutus kepada kami seorang yang menyaksikan kapal lalu menceritakan kepada kami tentangnya. Maka dia pergi bersama mereka hingga sampai ke sebuah bukit tanah, lalu mengambil segenggam tanah itu. Berkata: tahukah kalian apa ini? mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Berkata: ini adalah tumit Ham bin Nuh. Lalu dia memukul bukit itu dengan tongkatnya berkata: bangkitlah dengan izin Allah. Tiba-tiba dia berdiri menepuk tanah dari kepalanya, telah beruban. Isa alaihissalam berkata kepadanya: begitukah kamu mati? berkata: tidak, aku mati dalam keadaan muda, tetapi aku mengira bahwa hari kiamat telah datang, maka dari situlah aku beruban. Berkata: ceritakanlah kepada kami tentang kapal Nuh. Berkata: panjangnya seribu hasta dan dua ratus hasta, lebarnya enam ratus hasta. Kapal itu terdiri dari tiga tingkat: tingkat di dalamnya hewan ternak dan binatang buas, tingkat di dalamnya manusia, dan tingkat di dalamnya burung-burung. Ketika kotoran hewan-hewan banyak, Allah mewahyukan kepada Nuh: tekan ekor gajah, maka dia menekannya, lalu keluarlah darinya babi jantan dan betina, maka keduanya memakan kotoran. Ketika tikus merusak kapal dengan menggerogotinya, Allah mewahyukan kepada Nuh: pukullah di antara mata singa, maka keluarlah dari mulutnya kucing jantan dan betina, lalu keduanya memakan tikus. -sinnur: kucing- Dan dalam riwayat lain: singa bersin lalu keluarlah dari hidungnya dua kucing -dua kucing jantan dan betina- lalu memakan tikus, dan gajah bersin lalu keluarlah dari hidungnya dua babi jantan dan betina, lalu memakan kotoran kapal. Dan bahwa ketika keledai ingin masuk kapal, Nuh memegang kedua telinga keledai, dan Iblis memegang ekornya. Nuh alaihissalam menariknya dan Iblis menariknya. Maka Nuh berkata: masuk syaitan -dia maksudkan keledai- maka keledai masuk dan bersamanya masuk Iblis. Ketika kapal berlayar, Iblis duduk di belakangnya bernyanyi. Nuh alaihissalam berkata kepadanya: celakalah kamu! siapa yang mengizinkanmu? berkata: kamu. berkata: kapan? berkata: bahwa kamu berkata kepada keledai masuk wahai syaitan, maka aku masuk dengan izinmu.

Dan mereka mengklaim juga bahwa kambing ketika sulit bagi Nuh untuk masuk kapal, maka dia mendorongnya di ekornya, maka dari situlah ekornya patah dan kelihatan kemaluannya. Dan domba betina pergi lalu masuk tanpa perlawanan, maka dia mengusap ekornya, lalu Allah menutupi kemaluannya -yakni kemaluannya.

Dan mereka mengklaim juga bahwa kapal Nuh alaihissalam mengelilingi Baitullah tujuh kali -yakni Ka’bah, yaitu tujuh kali- bahkan mereka meriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya kapal Nuh mengelilingi Baitullah tujuh kali dan shalat di Maqam dua rakaat”. Subhanallah! perkataan yang mengherankan.

Syaikh kami Dr. Abu Syuhbah berkata: dan ini termasuk kebodohan Abdurrahman ini. Telah tetap darinya melalui jalan lain yang dinukil oleh penulis (At-Tahdzib) dari As-Saji dari Ar-Rabi’ dari Asy-Syafi’i berkata: dikatakan kepada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: telah menceritakan kepadamu ayahmu dari kakekmu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya kapal Nuh mengelilingi Baitullah dan shalat di belakang Maqam dua rakaat” berkata: ya. Dan telah dikenal Abdurrahman dengan keajaiban-keajaiban seperti ini yang bertentangan dengan akal, dan para ulama menjadikannya bahan sindiran.

Berkata Asy-Syafi’i dalam apa yang dinukil dalam (At-Tahdzib) juga: seorang laki-laki menyebutkan kepada Malik hadits yang terputus, maka dia berkata: pergilah kepada Abdurrahman bin Zaid, dia akan menceritakan kepadamu dari ayahnya dari Nuh.

Dan bahwa ketika kapal berlabuh di Judi, dan itu hari Asyura, Nuh puasa dan memerintah semua yang bersamanya dari binatang buas dan hewan ternak untuk puasa sebagai syukur kepada Allah, sampai yang lain dari kebohongan dan kebatilan yang datang dalam (Tafsir Ibnu Jarir) dan dalam tafsir (Ad-Durr Al-Mantsur) dan tafsir-tafsir lainnya. Dan kebohongan dan kebatilan ini yang masih kita dengar dan kita dengar semisalnya dari orang awam dan nenek-nenek, ini tidak mungkin berhubungan dengan Islam sama sekali.

Dan sesungguhnya kita mensucikan yang maksum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mengeluarkan apa yang mereka nisbatkan kepadanya. Melainkan ini adalah hadits-hadits khurافat yang dibuat-buat oleh orang-orang Yahudi dan semisalnya di sepanjang masa, dan tersebar terkenal di zaman jahiliyah. Ketika Islam datang, disebarkan oleh Ahli Kitab yang masuk Islam di antara kaum muslimin, dan mereka meriwayatkannya dengan niat baik dan tidak memalsukan karena mengandalkan bahwa itu jelas kebatilannya. Tetapi orang-orang Yahudi zindiq merekalah dan semisalnya berlebihan dalam menipu Islam dan nabinya, maka mereka memalsukan sebagiannya dan menisbatkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita tidak suka untuk Ibnu Jarir, As-Suyuthi, dan mufassir lainnya menghitamkan halaman-halaman kitab mereka dengan khurافat dan kebatilan ini. Maka berhati-hatilah wahai pembaca, di kitab tafsir mana pun kamu menemukan seperti ini, jangan jadikan ini sebagai perkataan yang dibenarkan, dan lemparkan ini ke belakang telingamu -yakni lemparkan ke belakang punggungmu- dan jadilah pembela kebenaran dan pembatalkan kebatilan.

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Dawud alaihissalam

Mari kita beralih setelah itu ke kisah lain, yaitu kisah Dawud alaihissalam, rasul yang Al-Qur’an menyebutkan untuknya beberapa peristiwa. Ada peristiwa dengan para penentangnya yang datang kepadanya, dua orang yang berselisih, salah satunya berbuat zalim kepada yang lain, dan mereka memiliki kisah yang disebutkan dalam surah “Shad”. Demikian juga kisah Dawud alaihissalam dengan Jalut dan Thalut. Para mufassir telah berbicara tentang hal itu dan memperpanjang pembicaraan, dan dinukil dalam tafsir-tafsir mereka israiliyyat yang banyak yang merusak kedudukan para nabi dan bertentangan dengan ismah mereka. Dan inilah yang disebutkan secara ringkas seputar kisah Dawud alaihissalam.

Cerita Israeliyat dalam Kisah Nabi Daud Alaihissalam

Di antara cerita Israeliyat yang diriwayatkan para mufasir adalah apa yang disebutkan sebagian mereka dalam kisahnya ketika Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan apakah telah sampai kepadamu berita tentang orang-orang yang bersengketa ketika mereka memanjat tembok bilik ibadah? Yaitu ketika mereka masuk menemui Daud, lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: ‘Jangan takut, (kami ini adalah) dua orang yang bersengketa yang salah satu dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka putuskanlah (perkara) antara kami dengan adil, dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran, dan tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor kambing betina, lalu dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku’, dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.’ Daud berkata: ‘Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka itu.’ Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur dengan ruku’ dan bertaubat. Maka Kami ampuni kesalahan itu baginya. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada Kami dan tempat kembali yang baik.” (Sad: 21-25)

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Al-Baghawi, dan As-Suyuthi dalam “Ad-Durr Al-Mantsur” menyebutkan dari berbagai riwayat yang membuat bulu kuduk merasa ngeri, dan tidak sesuai dengan akal maupun dalil yang sahih. Dari Ibnu Abbas, Mujahid, Wahb bin Munabbih, Ka’ab Al-Ahbar, As-Suddi dan lainnya, ada riwayat-riwayat yang intinya:

Bahwa Daud alaihissalam berkata dalam hatinya jika ia diuji, ia akan berpegang teguh. Maka dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan diuji dan kamu akan mengetahui hari di mana kamu diuji, maka berhati-hatilah.” Dikatakan kepadanya: “Ini adalah hari di mana kamu diuji.” Maka ia mengambil Zabur dan masuk ke dalam mihrab, menutup pintunya, dan menempatkan pelayannya di depan pintu. Ia berkata: “Jangan izinkan siapa pun masuk hari ini.”

Sementara ia sedang membaca Zabur, tiba-tiba datang seekor burung emas yang berjalan di hadapannya. Burung itu mendekat sehingga hampir bisa ditangkap, lalu terbang dan hinggap di jendela mihrab. Ia mendekat untuk menangkapnya, lalu burung itu terbang. Ia mengawasi untuk melihat di mana burung itu hinggap, dan tiba-tiba ia melihat seorang wanita di dekat kolamnya sedang mandi setelah haid. Ketika wanita itu melihat bayangannya, ia menggerai rambutnya untuk menutupi tubuhnya. Suaminya sedang berperang di jalan Allah.

Maka Daud menulis surat kepada komandan perang agar menempatkan suami wanita itu di barisan pembawa Tabut – yaitu peti yang berisi sebagian peninggalan nabi-nabi Bani Israil. Pembawa Tabut itu entah akan diberi kemenangan atau akan terbunuh. Maka ia ditempatkan di barisan pembawa Tabut lalu terbunuh. Dalam beberapa riwayat palsu ini disebutkan bahwa ia melakukan hal itu tiga kali hingga terbunuh pada kali ketiga. Setelah masa iddahnya selesai, Daud alaihissalam melamarnya, maka dua malaikat datang kepadanya, dan terjadilah apa yang diceritakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat tersebut.

Perkara ini tidak berhenti pada riwayat-riwayat mauquf dari sebagian sahabat dan tabi’in serta orang-orang Ahli Kitab yang masuk Islam, bahkan sebagiannya diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Penulis “Ad-Durr” berkata: Al-Hakim At-Tirmidzi dalam “Nawadir Al-Ushul”, Ibnu Jarir, dan Ibnu Hatim meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Anas radhiyallahu anhu yang berkata:

Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Daud alaihissalam ketika melihat wanita itu memutuskan (hubungan) dengan Bani Israil.”

Demikian dalam “Ad-Durr Al-Mantsur” dan dalam “Tafsir Al-Baghawi”. Mungkin ungkapannya adalah “faza’a” (terkejut), maksudnya terkejut dengan hal ini.

“Sesungguhnya Daud alaihissalam ketika melihat wanita itu memutuskan (hubungan) dengan Bani Israil dan berpesan kepada komandan tentara. Ia berkata: ‘Jika musuh datang, maka dekatkanlah si fulan ke depan Tabut’ – dan Tabut pada masa itu digunakan untuk meminta pertolongan. Siapa yang ditempatkan di depan Tabut tidak akan kembali sampai ia terbunuh atau tentara mundur bersamanya. Maka ia terbunuh dan Daud menikahi wanita itu. Dua malaikat turun kepada Daud alaihissalam, maka ia sujud dan tetap sujud selama empat puluh malam sampai tumbuh tanaman dari air matanya di atas kepalanya. Bumi memakan dahinya sementara ia berkata dalam sujudnya: ‘Ya Rabbi, hinakanlah Daud dengan kehinaan yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Ya Rabbi, jika Engkau tidak merahmati kelemahan Daud dan mengampuni dosanya, jadikanlah dosanya menjadi pembicaraan di kalangan makhluk setelahnya.'”

“Maka datanglah Jibril alaihissalam setelah empat puluh malam dan berkata: ‘Wahai Daud, sesungguhnya Allah telah mengampunimu. Kamu telah mengetahui bahwa Allah itu adil dan tidak condong. Bagaimana dengan si fulan ketika hari kiamat tiba? Ia akan berkata: Ya Rabbi, darahku yang ada pada Daud.’ Jibril berkata: ‘Aku belum menanyakan hal itu kepada Tuhanmu. Jika kamu mau, akan kulakukan.’ Ia berkata: ‘Ya.’ Maka Jibril naik dan Daud alaihissalam sujud, dan ia tinggal sekehendak Allah. Kemudian Jibril turun dan berkata: ‘Aku telah menanyakan kepada Allah wahai Daud tentang apa yang kamu utus aku untuknya. Allah berfirman: Katakan kepada Daud bahwa Allah akan mengumpulkan kalian berdua pada hari kiamat, lalu Allah akan berkata kepadanya: Berikanlah kepadaKu darahmu yang ada pada Daud. Ia akan berkata: Itu untukMu wahai Rabbi. Maka Allah berfirman: Maka bagimu di surga apa yang kamu kehendaki dan inginkan, sebagai gantinya.'”

Al-Baghawi juga meriwayatkannya melalui jalur Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya.

Guru kami Dr. Abu Syuhbah berkata: Riwayat ini munkar (diingkari) dan dibuat-buat atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dalam sanad riwayat yang dibuat-buat atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini ada Ibnu Lahi’ah yang lemah dalam hadits. Dalam sanadnya juga ada Yazid bin Aban Ar-Raqasyi yang lemah dalam hadits. An-Nasa’i dan Al-Hakim Abu Ahmad berkata tentangnya: Ia matruk (ditinggalkan). Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Ia termasuk hamba-hamba Allah yang terbaik, dari orang-orang yang sering menangis di malam hari. Ia lalai dalam menghafal hadits karena sibuk dengan ibadah, sampai-sampai ia membolak-balik perkataan Al-Hasan; ia jadikan dari Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka tidak halal meriwayatkan darinya kecuali untuk ta’ajjub (keheranan).”

Al-Allamah Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Para mufasir telah menyebutkan di sini sebuah kisah yang sebagian besar diambil dari Israeliyat, dan tidak ada hadits shahih dari yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) yang wajib diikuti. Namun Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di sini sebuah hadits yang tidak shahih sanadnya karena dari riwayat Yazid Ar-Raqasyi dari Anas radhiyallahu anhu. Yazid meskipun termasuk orang-orang shalih, namun lemah dalam hadits menurut para imam.”

Dari sini menjadi jelas bagi kita kebohongan marfu’nya riwayat munkar ini kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kita hampir tidak percaya hal ini datang dari yang ma’shum alaihisshalatu wassalam. Ini hanyalah rekayasa dan kebohongan dari Israeliyat Ahli Kitab.

Apakah seorang mukmin yang berakal yang mengakui ishmah (kemakshuman) para nabi akan meragukan kemustahilan keluarnya hal ini dari Daud alaihissalam? Lalu ini akan ada di lisan siapa? Di lisan orang yang bersemangat mensucikan saudara-saudaranya para nabi dari apa yang tidak layak bagi kemakshuman mereka, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam!

Tipu daya buruk dan kelangsungan seperti ini yang mereka riwayatkan, seandainya keluar dari seorang awam biasa, akan dianggap sebagai perkara yang hina dan buruk. Bagaimana mungkin keluar dari seorang rasul yang datang untuk membimbing manusia, yang jiwanya suci dan batinnya bersih, dan Allah melindunginya dari perbuatan keji yang zahir maupun yang batin, dan ia adalah uswah hasanah bagi yang diutus kepadanya?

Seandainya kisah itu benar, niscaya akan menghilangkan kemakshuman Daud dan membuat manusia lari darinya. Mereka akan punya alasan untuk tidak beriman kepadanya. Maka tidak akan tercapai tujuan yang karenanya Allah mengutus para rasul.

Bagaimana mungkin berada dalam keadaan seperti ini orang yang Allah katakan tentangnya: “Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada Kami dan tempat kembali yang baik.”

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Dan sesungguhnya ia pada hari kiamat memiliki kedekatan yang didekatkan Allah Azza wa Jalla kepadanya, dan tempat kembali yang baik, yaitu derajat-derajat tinggi di surga karena kenabian dan keadilannya yang sempurna dalam kerajaannya.” Sebagaimana yang datang dalam shahih: “Orang-orang yang adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi Yang Maha Pengasih, dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukuman mereka dan apa yang mereka pimpin.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai pada hari kiamat dan paling dekat tempatnya denganku adalah pemimpin yang adil. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci pada hari kiamat dan paling keras siksaannya adalah pemimpin yang zalim.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Untuk meluruskan kebatilan ini, mereka berkata: Yang dimaksud dengan kambing betina dalam ayat: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor kambing betina” (Sad: 23) adalah wanita. Kisah ini keluar dalam bentuk simbol dan isyarat.

Mereka meriwayatkan bahwa ketika dua malaikat mendengar hukuman dan keputusan Daud tentang kezaliman pemilik sembilan puluh sembilan kambing betina terhadap pemilik satu kambing betina, mereka berkata kepadanya: “Apa hukuman orang yang melakukan hal itu?” Ia berkata: “Dipotong ini” – sambil menunjuk ke lehernya. Dalam riwayat lain: “Dipukul dari sini dan sini” – sambil menunjuk ke dahi, hidung dan bagian bawahnya. Maka keduanya tertawa dan berkata: “Kamu lebih berhak mendapat hukuman itu daripadanya.” Kemudian mereka naik.

Mari kita beralih ke apa yang disebutkan Al-Baghawi dalam tafsirnya. Ia menyebutkan dalam tafsirnya dan yang lainnya menyebutkan dari Wahb bin Munabbih: Bahwa ketika Allah bertaubat atas Daud, ia menangisi kesalahannya selama tiga puluh tahun. Air matanya tidak kering siang malam. Ia melakukan kesalahan ketika berusia tujuh puluh tujuh tahun. Maka ia membagi masa setelah kesalahan menjadi empat hari: Satu hari untuk memutus perkara antara Bani Israil, satu hari untuk istri-istrinya, satu hari ia berkeliling di padang, gunung, dan pantai, dan satu hari ia menyendiri di rumahnya yang di dalamnya ada empat ribu mihrab. Para rahib berkumpul kepadanya dan ia meratap bersama mereka atas dirinya, dan mereka membantu dalam hal itu.

Jika hari ratapannya tiba, ia keluar ke padang dan mengeraskan suaranya dengan mazmur, lalu ia menangis dan ikut menangis bersamanya pohon-pohon, pasir, burung-burung, dan binatang buas sampai mengalir dari air mata mereka seperti sungai-sungai. Kemudian ia datang ke gunung-gunung dan mengeraskan suaranya dengan mazmur, lalu ia menangis dan ikut menangis bersamanya gunung-gunung, batu-batuan, hewan-hewan, dan burung-burung sampai mengalir dari tangisan mereka ke lembah-lembah. Kemudian ia datang ke pantai dan mengeraskan suaranya dengan mazmur, lalu ia menangis dan ikut menangis bersamanya ikan-ikan, hewan laut, burung air, dan binatang buas… dan seterusnya.

Yang benar adalah bahwa ayat-ayat tidak mengandung apa pun yang mereka sebutkan. Hal ini tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad (dipercaya) yang menjadi sandaran. Tidak ada yang mengalihkan lafazh kambing betina dari hakikatnya ke majazinya, dan tidak ada yang mengalihkan kisah dari zahirnya ke simbol dan isyarat.

Betapa baiknya apa yang dikatakan Imam Qadhi Iyadh: “Jangan memperhatikan apa yang ditulis para akhbariyin dari Ahli Kitab yang telah mengubah dan mengganti, dan dinukil oleh sebagian mufasir. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan sesuatu pun dari itu dalam kitabNya, dan tidak datang dalam hadits yang shahih. Yang disebutkan dalam kisah Daud adalah firmanNya: ‘Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya.’ Tidak ada kabar yang tetap dalam kisah Daud dan Uriya.”

Perkataan ini dinukil Al-Qadhi dalam kitabnya “Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Mushthafa” shallallahu alaihi wasallam.

Para muhaqiq (peneliti) mengikuti apa yang diikuti Al-Qadhi. Ad-Dawudi berkata: “Tidak ada dalam kisah Daud dan Uriya kabar yang tetap. Tidak layak disangka pada seorang nabi kecintaan membunuh seorang muslim.”

Diriwayatkan dari sayyidina Ali radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: “Siapa yang menceritakan hadits Daud sebagaimana diriwayatkan para qusshas (tukang cerita), akan kucambuk seratus enam puluh cambukan.” Itu adalah had (hukuman) fitnah terhadap para nabi. Mengapa? Karena had qadzaf (tuduhan zina) selain para nabi adalah delapan puluh. Maka ia radhiyallahu anhu melihat untuk melipatgandakan had ini berkenaan dengan para nabi. Dalam berbohong kepada mereka ada tuduhan kepada mereka dengan apa yang mereka bersih darinya. Dalam hal ini ada makna qadzaf kepada Daud dengan menyerang kehormatan dan menyiasati jalan untuk itu. Ini perkataan yang bisa diterima dari segi makna, hanya saja tidak shahih dari Imam tersebut sebagaimana dikatakan Al-Iraqi. Baik tetap atau tidak tetap, siapa yang menuduh para nabi layak mendapat lebih dari itu.

Tinggal bagi kita sebuah penutup: yaitu tafsir yang benar untuk ayat-ayat. Jika apa yang diriwayatkan dari Israeliyat palsu yang tidak boleh ditafsirkan dengannya ayat-ayat, maka apa tafsir yang benar untuknya?

Jawabannya: Bahwa Daud alaihissalam telah membagi tugas-tugas pekerjaannya dan tanggung jawabnya terhadap dirinya dan rakyat pada hari-hari, dan mengkhususkan setiap hari dengan pekerjaan. Ia menjadikan satu hari untuk ibadah, satu hari untuk memutus perkara dan menyelesaikan persengketaan, satu hari untuk mengurus urusan dirinya dan keluarganya, dan satu hari untuk menyampaikan nasihat kepada Bani Israil.

Penutup: Bahwa Nabi Allah Daud alaihissalam bersih dari apa yang dinisbatkan kepadanya oleh para pendusta dan pemilik cerita-cerita Israil yang memasukkannya ke dalam kitab-kitab tafsir.

Semoga Allah bershalawat atas sayyidina Muhammad, keluarga, dan sahabatnya, dan semoga Allah memberi salam.

 

 

Pelajaran 14: Contoh-contoh Israeliyat dalam Kisah-kisah Qurani (12)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Keempat Belas (Contoh-contoh Israeliyat dalam Kisah-kisah Qurani (12))

Lanjutan Israeliyat yang Terdapat dalam Kisah Daud alaihissalam

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah bershalawat atas sayyidina Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Pada hari ibadahnya, sementara ia sedang sibuk beribadah kepada Tuhannya di mihrabnya, dua orang yang bersengketa masuk kepadanya. Mereka memanjat dinding, tidak masuk dari pintu masuk yang biasa. Maka ia terkejut karenanya, merasa heran dan mengalami sesuatu yang mengejutkan. Ia merasa takut dengan ketakutan yang tidak layak bagi orang-orang mukmin sepertinya, apalagi para nabi yang bertawakal kepada Allah dengan sepenuh-penuhnya dan yakin dengan penjagaan serta pemeliharaan-Nya.

Ia berprasangka buruk kepada keduanya, mengira bahwa mereka datang untuk membunuhnya atau berbuat jahat kepadanya. Tetapi ternyata perkara itu berbeda dari yang ia sangka. Keduanya adalah dua orang yang bersengketa yang datang untuk meminta keputusan darinya. Ketika ia memutus perkara di antara keduanya dan ternyata keduanya bersih dari yang ia sangkakan, ia meminta ampun kepada Tuhannya dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mewujudkan ketulusan taubatnya dan keikhlasan kepada-Nya, serta kembali kepada Allah dengan sepenuh-penuhnya.

Para nabi dengan kemuliaan kedudukan mereka dan kuatnya kepercayaan mereka kepada Allah serta tawakal kepada-Nya, seharusnya jiwa mereka tidak tergantung pada prasangka-prasangka seperti ini terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Prasangka seperti ini meskipun bukan dosa menurut kebiasaan, tetapi bagi para nabi dianggap menyalahi yang lebih utama dan lebih layak bagi mereka. Dahulu dikatakan: “Kebaikan orang-orang baik adalah keburukan orang-orang yang dekat (kepada Allah).”

Kedua orang itu benar-benar dua yang bersengketa dan bukan dua malaikat sebagaimana mereka sangka. Kambing-kambing betina menurut hakikatnya, bukan ada simbol dan isyarat. Takwil ini yang sesuai dengan susunan Al-Quran dan cocok dengan kemakshuman para nabi. Maka wajib mengambilnya dan membuang khurafat serta kebatilan yang merupakan buatan Bani Israil, yang diambil para qusshas dan semacamnya dari orang-orang yang tidak punya ilmu dan tidak bisa membedakan antara yang buruk dan yang baik.

Dikatakan: Yang dilakukan Daud adalah ia melamar atas lamaran “Uriya”, maka keluarganya lebih memilihnya daripada Uriya. Melamar atas lamaran telah haram dalam syariat mereka, sebagaimana haram dalam syariat kita.

Dikatakan: Ia meminta dari suaminya “Uriya” agar menyerahkan istrinya kepadanya. Hal ini dalam syariat mereka dan dianggap wajar oleh mereka.

Dikatakan: Ia ditegur karena ia memutus hanya dengan mendengar perkataan salah satu yang bersengketa sebagaimana kita lihat. Yang pertama datang kepadanya dan berkata: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina” (Sad: 23), dan berkata bahwa ia memiliki satu kambing betina. Maka Daud alaihissalam memutuskan untuknya tanpa mendengar argumen yang lain. Pendapat ini ada, dan dikatakan bahwa ia ditegur karena memutus hanya dengan mendengar perkataan salah satu yang bersengketa, padahal seharusnya ia mendengar perkataan pihak lain yang bersengketa.

Dikatakan: “Jika salah satu yang bersengketa datang kepadamu dan matanya buta sebelah, jangan memutuskan untuknya, karena mungkin saja lawannya kedua matanya buta.” Ketiga pendapat ini dan semacamnya, sebagian mufasir tidak tenang dengannya.

Guru kami Syaikh Abu Syuhbah berkata: “Aku tidak tenang dengannya” – maksudnya tidak menyejukkan hati dan tidak tenang dengannya. Meskipun tidak merusak kemakshuman, tetapi mencederainya. Kemudian tidak layak bagi orang-orang pilihan terbaik dari makhluk yaitu para nabi.

Pendapat yang layak diterima dalam menafsirkan ayat-ayat adalah pendapat pertama. Maksudnya adalah bahwa dua yang bersengketa datang tiba-tiba, memanjat mihrab, maka ia terkejut dan takut kepada keduanya. Ia berprasangka buruk kepada keduanya, mengira bahwa mereka datang untuk membunuhnya atau berbuat jahat. Tetapi ternyata perkara itu berbeda dari yang ia sangka dan keduanya adalah dua yang bersengketa yang datang meminta keputusan darinya dalam urusan khusus. Ketika ia memutus di antara keduanya dan ternyata keduanya bersih dari yang ia sangkakan, ia meminta ampun kepada Tuhannya dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah pendapat yang diridhai banyak mufasir. Insya Allah ini tetap menjadi pendapat yang rajih (kuat). Dalam maqam ini telah jelas perkara-perkara dalam masalah dua yang bersengketa dengan Nabi Allah Daud alaihissalam.

Sekarang mari kita beralih ke kisah yang disebutkan dalam surat “Al-Baqarah” tentang kisah pembunuhan Daud terhadap Jalut. Di dalamnya juga terdapat banyak sekali Israeliyat. Para mufasir seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Baghawi, Ats-Tsa’labi, Al-Khazin, pemilik “Ad-Durr Al-Mantsur” dan lainnya memindahkan banyak hal yang lebih dari dua belas halaman. Aku akan meringkas dan menyingkatnya.

Di antara Israeliyat adalah apa yang disebutkan para mufasir dalam kisah pembunuhan Daud – dan ia adalah seorang prajurit kecil dalam tentara Thalut – Daud membunuh Jalut, raja yang perkasa. Hal itu dalam tafsir ayat-ayat firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

“Mereka mengalahkan tentara itu dengan izin Allah; dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah, dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251)

Diketahui bahwa ayat ini didahului oleh ayat-ayat: “Tidakkah kamu memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: ‘Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.’ Nabi itu berkata: ‘Mungkinkah jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang?'” (Al-Baqarah: 246), ayat-ayat, dan berlanjut: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup?’ Nabi itu berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.’ Nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.’ Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, berkatalah dia: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai.'” (Al-Baqarah: 247-249)

Dan ayat-ayat itu terus bersambung dalam menjelaskan apa yang terjadi antara Thalut sang raja, apa yang menimpa Jalut, serta apa yang terjadi melalui Nabi Allah Dawud `alaihis salam. Hingga ayat-ayat itu membawa kita pada firman Allah Ta’ala: “Maka mereka mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberinya kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Dia kehendaki” hingga akhir ayat.

Al-Tsa’labi, al-Baghawi, al-Khaazin, pemilik kitab (ad-Durr) dan lainnya menyebutkan inti cerita sebagai berikut:

Bahwa Daud menyeberangi sungai bersama orang-orang yang menyeberang bersama Thalut. Daud seorang prajurit kecil yang menyeberangi sungai bersama Thalut, raja Bani Israil. Ayah Daud adalah Aisya yang memiliki tiga belas anak laki-laki. Maksudnya, yang menyeberang bersama Thalut adalah Aisya, ayah Daud. Dia memiliki banyak anak, tiga belas anak laki-laki, dan Daud adalah yang termuda di antara mereka. Daud pandai melempar dengan ketapel – sesuatu yang digunakan untuk melempar seperti sejenis ketapel – dan tidak pernah meleset dari sasaran. Dia menceritakan kepada ayahnya tentang ketapelnya tersebut. Dia pernah masuk ke antara gunung-gunung dan menemukan seekor singa, lalu memegang telinganya tanpa merasa takut. Ketika dia berjalan di antara gunung-gunung, dia bertasbih, maka tidak ada gunung yang tersisa kecuali ikut bertasbih bersamanya. Ayahnya berkata kepadanya: “Bergembiralah, karena ini adalah kebaikan yang Allah Subhanahuwata’ala berikan kepadamu.”

Berita dan kisah-kisah terus berlanjut. Jalut mengirim pesan kepada Thalut: “Keluarkan seseorang untukku yang akan berperang melawanku. Jika dia membunuhku, maka kerajaan ku menjadi milik kalian. Dan jika aku membunuhnya, maka kerajaan kalian menjadi milikku.” Hal ini membuat Thalut merasa berat. Dia mengumumkan di pasukannya: “Siapa yang membunuh Jalut, akan kunikahkan dengan putriku dan kubagi kerajaanku dengannya.” Namun orang-orang takut kepada Jalut, sehingga tidak ada yang menjawab.

Thalut meminta nabi mereka untuk berdoa kepada Allah Subhanahuwata’ala. Nabi itu berdoa kepada Allah tentang hal tersebut. Kemudian datanglah sebuah tanduk yang berisi minyak suci dan tungku dari besi. Dikatakan: “Sesungguhnya orang yang akan membunuh Jalut adalah orang yang jika tanduk ini diletakkan di atas kepalanya, minyak akan mendidih hingga meminyaki kepalanya, namun tidak akan mengalir ke wajahnya, melainkan akan berada di kepalanya seperti mahkota – mahkota adalah topi yang dipakai raja-raja di kepala mereka – dan dia akan masuk ke tungku ini sehingga memenuhinya, namun tidak akan bergerak-gerak di dalamnya.” Thalut memanggil Bani Israil dan menguji mereka, namun tidak ada satu pun dari mereka yang cocok. Allah mewahyukan kepada nabi mereka: “Sesungguhnya di antara anak-anak Aisya ada yang akan Allah gunakan untuk membunuh Jalut.”

Thalut memanggil Aisya dan berkata: “Coba ujikan ini pada anak-anakmu.” Aisya mengeluarkan dua belas orang laki-laki yang tinggi seperti tiang – as-sawaari berarti orang-orang tinggi seperti tiang-tiang. Thalut menguji mereka dengan tanduk tersebut namun tidak melihat tanda apa pun. Dia berkata kepada Aisya: “Apakah masih ada anakmu selain mereka?” Aisya menjawab: “Tidak.” Nabi pada masa itu berkata: “Ya Rabbku, dia mengklaim tidak memiliki anak selain mereka.” Allah berfirman: “Dia berbohong.” Nabi berkata kepada Aisya: “Sesungguhnya Allah mendustakan mu.” Aisya berkata: “Allah benar, wahai Nabi Allah. Sesungguhnya aku memiliki anak kecil yang bernama Daud. Aku malu jika orang-orang melihatnya karena tubuhnya pendek dan kecil, maka aku tinggalkan dia menggembalakan domba di lembah tertentu.”

Daud adalah seorang laki-laki pendek, sakit-sakitan, pucat, biru, dan sedikit rambut – maksudnya: lemah fisik, sedikit rambut, dan kurus tubuh. Meskipun semua ini – wahai saudaraku dalam Islam – adalah kebohongan Bani Israil dan tuduhan mereka terhadap para nabi dengan sifat-sifat yang paling buruk. Semoga Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka dapat dipalingkan.

Tidak mungkin ayahnya, padahal Daud telah menceritakan kepadanya apa yang disebutkan di awal kisah, merendahkannya dan menggambarkannya dengan sifat-sifat seperti itu. Meskipun demikian, kami akan menceritakan kisah Israiliyyat ini. Thalut memanggilnya, atau dikatakan: dia keluar menemuinya, dan menemukan lembah telah terisi air antara dia dan kandang domba yang biasa dia gunakan untuk istirahat. Dia menemukannya sedang menggendong dua ekor domba, menyeberangkan mereka tanpa mengarungi air. Ketika Thalut melihatnya, dia berkata: “Ini dia, tidak diragukan lagi. Orang ini mengasihi hewan, maka dia lebih mengasihi manusia.” Dia memanggilnya dan meletakkan tanduk di atas kepalanya, maka minyak mengalir – tanpa menetes ke wajahnya. Thalut berkata: “Apakah kamu bersedia membunuh Jalut, dan aku akan menikahkanmu dengan putriku dan menjalankan stempelmu di kerajaanku?” Daud menjawab: “Ya.” Thalut berkata: “Apakah kamu merasakan dalam dirimu sesuatu yang dapat memperkuatmu untuk membunuhnya?” Daud menjawab: “Ya,” dan menyebutkan sebagian dari itu.

Thalut mengambil Daud dan membawanya kembali ke pasukannya. Di tengah perjalanan, Daud melewati sebuah batu, dan batu itu memanggilnya: “Wahai Daud, bawalah aku, karena aku adalah batu Harun alaihi as-salaam yang denganku raja tertentu dibunuh.” Daud membawanya dalam kantongnya. Kemudian dia melewati batu lain yang memanggilnya: “Aku adalah batu Musa alaihi as-salaam yang dengannya raja tertentu dibunuh.” Dia mengambilnya dalam kantongnya. Kemudian dia melewati batu ketiga yang memanggilnya: “Bawalah aku, karena aku adalah batumu yang denganku kamu akan membunuh Jalut.” Dia meletakkannya dalam kantongnya. Ketika mereka bersiap untuk berperang dan Jalut maju serta meminta pertarungan satu lawan satu, Daud maju untuknya. Thalut memberinya kuda, baju zirah, dan senjata. Daud memakai senjata tersebut dan menunggang kuda, lalu berjalan sebentar. Kemudian dia melepaskan semua itu dan berkata kepada Thalut: “Jika Allah tidak menolongku, senjata ini tidak akan berguna bagiku sedikit pun. Biarkan aku berperang melawan Jalut sesuai kemauanku.” Thalut berkata: “Lakukan apa yang kamu inginkan.” Daud mengambil kantongnya, menggantungkannya – yaitu memakainya di bahunya – mengambil ketapel dan berjalan menuju Jalut.

Jalut adalah salah seorang laki-laki paling kuat dan paling perkasa. Dia bisa mengalahkan pasukan sendirian. Dia memiliki helm yang beratnya tiga ratus ratl besi – helm adalah yang dipakai pejuang di kepala – tetapi berat ini, tiga ratus ratl besi, adalah kebohongan dan omong kosong Bani Israil. Orang yang berakal mana yang tahu bagaimana mungkin Jalut bisa berperang dengan beban seberat itu di kepalanya, dengan berat besi sebesar itu. Tiga ratus ratl berarti 150 kilogram besi. Tentu saja ini adalah perkataan yang tidak masuk akal. Mereka juga menyebutkan bahwa dia membawa di kepalanya lebih dari tiga kwintal besi. Dalam deskripsi mereka, disebutkan bahwa bayangannya sepanjang satu mil. Ini tidak diragukan lagi adalah dongeng Bani Israil.

Yang penting, Jalut maju seperti yang mereka ceritakan dengan beban berat di kepalanya. Ketika dia melihat Daud, Allah memasukkan rasa takut ke dalam hatinya. Setelah terjadi percakapan di antara mereka dan masing-masing mengancam yang lain, Daud mengeluarkan sebuah batu dari kantongnya, meletakkannya di ketapelnya, dan berkata: “Dengan nama Tuhan Ibrahim alaihi as-salaam.” Kemudian dia mengeluarkan yang kedua dan berkata: “Dengan nama Tuhan Ishaq alaihi as-salaam” dan meletakkannya di ketapelnya. Kemudian dia mengeluarkan yang ketiga dan berkata: “Dengan nama Tuhan Ya’qub alaihi as-salaam” dan meletakkannya di ketapelnya. Ketiganya menjadi satu batu. Daud memutar ketapelnya dan melemparkannya. Allah menundukkan angin untuknya sehingga batu itu mengenai hidung helm dan menembus ke otaknya, keluar dari tengkuknya – yaitu Jalut – dan membunuh tiga puluh orang di belakangnya. Allah mengalahkan pasukan itu dan Jalut tumbang terbunuh. Daud menyeretnya hingga melemparkannya di depan Thalut. Pasukan Thalut sangat bergembira karena Allah menolong Daud atas Jalut. Mereka kembali ke kota mereka dengan selamat, dan orang-orang menyebut nama Daud dengan baik.

Daud datang kepada Thalut dan berkata: “Penuhilah janjimu kepadaku.” Thalut berkata: “Di mana maharnya?” Daud berkata: “Kamu tidak mensyaratkan mahar apa pun kepadaku selain membunuh Jalut.” Kemudian Thalut mengusulkan kepadanya untuk membunuh dua ratus orang dari musuh-musuh mereka dan membawa kulup mereka – kulup adalah yang dipotong saat khitan. Daud melakukannya, maka Thalut menikahkannya dengan putrinya dan menjalankan stempelnya di kerajaannya. Orang-orang condong kepada Daud dan mencintainya, serta banyak menyebut namanya, maka Thalut iri kepadanya dan bertekad untuk membunuhnya. Seorang pengikut Thalut memberitahu putri Thalut, maka dia memperingatkan Daud dan memberitahunya tentang rencana ayahnya. Setelah petualangan Thalut untuk membunuh Daud dan tipu daya Daud, Allah menyelamatkan Daud alaihi as-salaam.

Ketika pagi tiba dan Thalut yakin bahwa Daud tidak terbunuh, dia takut kepadanya, merasa cemas dan berhati-hati untuk dirinya sendiri. Tetapi Allah memungkinkan Daud menguasainya tiga kali namun dia tidak membunuhnya. Kemudian Daud melarikan diri dari Thalut ke padang gurun. Lihatlah kebohongan ini: Thalut melihatnya suatu hari di sana dan ingin membunuhnya, tetapi Daud masuk ke sebuah gua. Allah memerintahkan laba-laba untuk menenun sarangnya di mulut gua. Dengan demikian dia selamat dari Thalut dan berlindung ke gunung, beribadah bersama para ahli ibadah.

Orang-orang mencela Thalut karena Daud dan pelariannya. Thalut berlebihan dalam membunuh ulama dan ahli ibadah. Kemudian taubat masuk ke dalam hatinya, dia menyesal atas apa yang telah dilakukannya dan bersedih dalam waktu lama. Dia mencari orang yang bisa memberikan fatwa bahwa dia bisa bertaubat, namun tidak menemukan siapa pun, hingga dia diberitahu tentang seorang wanita yang mengetahui asma Allah yang paling agung. Dia pergi kepadanya dan menenangkan rasa takutnya. Wanita itu membawanya ke makam Ismaail alaihi as-salaam. Ismaail alaihi as-salaam keluar dari kuburnya dan menunjukkan jalan taubat, yaitu dengan mengorbankan anak-anaknya dan dirinya sendiri di jalan Allah hingga mereka terbunuh. Thalut melakukannya. Pembunuh Thalut datang kepada Daud untuk memberitahukan tentang kematiannya. Imbalannya atas hal itu adalah Daud membunuhnya. Bani Israil datang kepada Daud, memberikan perbendaharaan Thalut, dan menjadikannya raja atas mereka.

Inilah Israiliyyat-Israiliyyat tersebut. Syaikh kami berkomentar: “Ini memakan beberapa halaman dari Tafsir al-Baghawi. Kisah ini dalam tafsir-tafsir dan pembicaraan di dalamnya ada yang benar dan batil, ada yang benar dan bohong, dan kita tidak memiliki dalil yang menunjukkan dengan yakin tentang kebenaran sesuatu dari itu.”

Syaikh kami berkata: “Dalam apa yang mereka sebutkan itu ada yang benar dan batil, benar dan bohong. Kita tidak memerlukan hal itu karena apa yang ada di tangan kita berupa Al-Quran dan Sunnah. Tidak ada dalam Kitab Allah yang menunjukkan apa yang mereka sebutkan. Kita tidak memerlukan sesuatu dari ini dalam memahami Al-Quran dan merenungkannya. Maksudnya, tafsir ayat-ayat tidak memerlukan pembicaraan ini dan Israiliyyat-Israiliyyat itu yang sebagian besarnya batil, tidak dapat dipercaya dan tidak masuk akal. Jangan perdulikan hal itu dan buanglah ke belakang telingamu, sebagaimana kata syaikh kami Syaikh Abu Syubbah. Karena di dalamnya ada kezaliman terhadap orang yang Allah pilih sebagai raja atas mereka – maksudnya sifat-sifat yang mereka sebutkan tentang Thalut, yaitu raja yang Allah pilih atas mereka, adalah sifat-sifat merendahkan yang tidak pantas bagi orang yang Allah pilih dan jadikan raja atas mereka.”

Sebagaimana dalam Israiliyyat-Israiliyyat ini ada kebohongan terhadap Nabi Allah Daud alaihi as-salaam. Semoga Allah merahmati Imam Allamah Ibnu Katsir. Dia tidak menyebutkan omong kosong dan kebatilan ini, dan menjelaskan bahwa itu dari Israiliyyat. Dia berkata dalam firman Allah Subhanahuwata’ala: “Dan Daud membunuh Jalut” (Al-Baqarah: 251), “Mereka menyebutkan dalam Israiliyyat bahwa dia membunuhnya dengan ketapel yang ada di tangannya, melemparkannya sehingga mengenai dan membunuhnya.” Bahkan perkataan Ibnu Katsir ketika dia berkata: “Mereka menyebutkan dalam Israiliyyat” – ini menegaskan bahwa itu dari Israiliyyat, dan bahwa sebagian besarnya diambil dari kitab-kitab mereka yang telah diubah dan menuduh para nabi dan rasul dengan hal-hal yang tidak pantas bagi kemaksumannya. “Lihat (Taurat) Kitab Samuel yang Pertama, pasal 16, 17, 18” – di dalamnya kamu akan melihat kebohongan-kebohongan yang dipindahkan secara harfiah dalam kitab-kitab tafsir, dan kita tidak memerlukan semua itu.

Perkataan Ibnu Katsir: “Mereka menyebutkan dalam Israiliyyat bahwa Daud membunuh Jalut dengan ketapel yang ada di tangannya, mengenainya dan membunuhnya. Thalut telah berjanji kepadanya jika dia membunuh Jalut, akan menikahkannya dengan putrinya, membagi nikmatnya, dan menyertakannya dalam urusannya. Dia menepati janjinya. Kemudian kerajaan beralih kepada Daud alaihi as-salaam bersama dengan kenabian agung yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “Dan Allah memberikan kepadanya kerajaan dan hikmah” – kerajaan yang ada di tangan Thalut, dan hikmah yaitu kenabian setelah Syamuil alaihi as-salaam. “Dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki” – yaitu dari ilmu yang Allah khususkan untuknya alaihissholatu wassalaam.”

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Musa alaihi as-salaam

Dalam kisah Musa alaihi as-salaam banyak sekali Israiliyyat. Kita telah membicarakan tentang Nabi Allah Musa alaihi as-salaam dan pernikahannya dengan putri-putri Syu’aib alaihi as-salaam, membicarakan tentang kerusakan Bani Israil, dan membicarakan beberapa peristiwa. Sekarang kita beralih kepada judul baru, yaitu: Israiliyyat tentang kebesaran tubuh orang-orang zalim – kaum zalim yang disebutkan Bani Israil kepada Musa alaihi as-salaam: “Sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang zalim,” dan mereka takut kepada mereka, serta apa yang disebutkan tentang Uj bin Anaq dari dongeng-dongeng.

Israiliyyat yang terdapat dalam hal ini juga banyak. Adapun ayat-ayatnya adalah firman Allah Subhanahuwata’ala: “Mereka berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang zalim dan sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan masuk.'” (Al-Maidah: 22). Sesungguhnya sikap-sikap Bani Israil banyak sekali, di dalamnya ada ketegaran, ada pengecut dan kelemahan, ada ketakutan, ada kesombongan, ada kerusakan yang tidak pernah terjadi seperti itu di antara manusia, selain apa yang disebutkan dalam hal ini.

As-Suyuthi menyebutkan dalam (Ad-Durr) – ketika kita membicarakan As-Suyuthi, kita tentukan kitabnya. Mengapa? Karena Imam As-Suyuthi berbeda dengan ulama tafsir dan mufassir lainnya sepanjang abad, dia memiliki lebih dari satu tafsir. Jika Ibnu Jarir dikenal dengan satu tafsirnya dalam tafsir Al-Quran, yaitu Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir satu tafsir, tetapi Imam As-Suyuthi memiliki Ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bil-Ma’tsur, Tafsir al-Jalaalain, Mathla’ al-Badrain wa Majma’ al-Bahrain, Tarjuman al-Quran, dan juga tafsir Nawaahid al-Abkaar wa Syawaahid al-Afkaar. Ketika kita menyebut As-Suyuthi, kita tentukan tafsirnya.

Kitab yang banyak memuat Israiliyyat adalah kitab yang dia perhatikan tentang tafsir bil-ma’tsur, yaitu Ad-Durr al-Mantsur, dan mungkin itu adalah tafsir yang paling luas di sisinya. Dia menyebutkan banyak riwayat tentang sifat kaum tersebut dan kebesaran tubuh mereka, yang tidak sesuai dengan sunnatullah dalam penciptaan-Nya, dan menyalahi apa yang tetap dalam hadis-hadis sahih. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Abdul Hakam dari Abu Dhamrah yang berkata: “Tujuh puluh orang dari kaum Musa berteduh di dalam sepatu seorang dari bangsa Amalik.” Sepatu seorang yang muat tujuh puluh orang – seperti tenda besar yang dapat menampung suku dari suku-suku.

Seperti apa yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Zaid bin Aslam yang berkata: “Sampai kepadaku bahwa seekor dubuk dan anak-anaknya terlihat rebah dalam alis mata seorang dari bangsa Amalik.” Dalam alis mata – yaitu alis yang besar, hanya alis saja, dubuk itu dan anak-anaknya duduk di dalam bola mata yang besar itu.

Seperti apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang berkata: “Musa diperintahkan untuk masuk kota orang-orang zalim, maka dia berjalan bersama orang-orang yang bersamanya hingga turun dekat kota – yaitu Ariha. Dia mengutus kepada mereka dua belas pemimpin dari setiap suku, seorang mata-mata, agar memberikan kabar tentang kaum tersebut. Mereka masuk kota dan melihat hal yang menakjubkan dari keangkuhan, tubuh, dan kebesaran mereka. Mereka masuk ke kebun salah seorang dari mereka. Pemilik kebun datang untuk memetik buah, lalu melihat jejak mereka dan mengikuti mereka. Setiap kali dia mendapat salah seorang dari mereka, dia mengambilnya dan memasukkannya ke dalam bajunya bersama buah-buahan, kemudian pergi kepada raja mereka. Dia menumpahkan mereka di hadapannya. Raja berkata: ‘Kalian telah melihat keadaan dan urusan kami. Pergilah dan kabarkan kepada pemimpin kalian.’ Mereka kembali kepada Musa dan mengabarkan apa yang mereka saksikan tentang keadaan mereka. Musa berkata: ‘Rahasiakan dari kami.’ Maka setiap orang mengabari saudaranya dan temannya, berkata: ‘Rahasiakan dariku.’ Hal itu tersebar di perkemahan mereka, dan tidak ada yang merahasiakannya kecuali dua orang: Yusya’ bin Nun dan Kaarim bin Yuhanna. Merekalah yang disebutkan Allah dalam firman: ‘Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut yang Allah telah memberi nikmat kepada keduanya: “Masuklah ke pintu gerbang (kota) mereka. Apabila kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang.”‘” (Al-Maidah: 23).”

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid kurang lebih seperti yang kami sebutkan tadi, kemudian menyebutkan: “Tandan anggur mereka tidak bisa diangkat kecuali oleh lima orang dengan tongkat di antara mereka, dan masuk ke dalam setengah delima ketika bijinya dikeluarkan, lima orang atau empat.” dan lain-lain dari Israiliyyat yang batil.

Mari kita beralih kepada dongeng Uj bin Anaq:

Dari Israiliyyat yang jelas kebatilannya juga yang gemar disebutkan sebagian mufassir dan akhbariyyin ketika menyebut orang-orang zalim adalah kisah Uj bin Anaq, bahwa tingginya tiga ribu hasta, bahwa dia mengambil ikan dan membakarnya di mata matahari, bahwa banjir Nuh alaihi as-salaam tidak sampai ke lututnya, bahwa dia menolak naik kapal bersama Nuh alaihi as-salaam, bahwa tinggi Musa alaihi as-salaam sepuluh hasta dan tongkatnya sepuluh hasta, dia melompat di udara sepuluh hasta lalu mengenai tumit Uj bin Anaq dan membunuhnya, jasadnya menjadi jembatan bagi penduduk Nil selama setahun, dan dongeng-dongeng serta kebatilan lainnya yang bertentangan dengan akal dan naql, serta menyalahi sunnatullah dalam penciptaan.

Syaikh kami Dr. Muhammad Abu Syubbah berkata: “Aku tidak tahu bagaimana kebatilan ini sesuai dengan firman Allah Tabarakawa Ta’ala: ‘Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh: “Hai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah kamu bersama dengan orang-orang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah ini.” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah yang memberi rahmat.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.'” (Hud: 42-43) Kecuali jika Uj lebih tinggi dari gunung-gunung bumi.

Di antara riwayat-riwayat batil yang dibuat-buat adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Asbath dari As-Suddi dalam kisah yang disebutkannya tentang urusan Musa alaihi as-salaam dan Bani Israil, dan pengiriman Musa alaihi as-salaam kepada dua belas pemimpin, dalam kisah itu: “Mereka bertemu dengan seorang laki-laki dari orang zalim yang bernama Uj. Dia mengambil dua belas orang itu dan memasukkan mereka ke dalam ikatannya – ikatan adalah tempat tali pada celana – maksudnya mengambil dua belas orang dan memasukkan mereka ke dalam bagian dari kain sarung, di atas kepalanya ada ikatan kayu bakar. Dia pergi bersama mereka kepada istrinya dan berkata: ‘Lihatlah kaum ini yang mengklaim ingin berperang dengan kami.’ Dia melemparkan mereka di hadapannya dan berkata: ‘Tidakkah aku injak mereka dengan kakiku?’ Istrinya berkata: ‘Tidak, biarkan mereka pergi agar mereka mengabari kaumnya tentang apa yang mereka lihat.’ Dia melakukan itu.” Perkataan yang tidak bisa dipercaya akal.

Demikian juga disebutkan hal seperti ini dan yang lebih buruk lagi oleh selain Ibnu Jarir dan As-Suyuthi, sebagian mufassir dan qashashiyyun. Ini sebagaimana kata Ibnu Qutaibah: hadis-hadis dongeng yang terkenal di masa jahiliah, dilekatkan pada hadis dengan maksud merusak.

Syaikh kami Dr. Muhammad Abu Syubbah menyebutkan: “Inilah apa yang disebutkan Imam Hafizh pengkritik Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dia berkata: ‘Banyak mufassir menyebutkan di sini berita-berita buatan Bani Israil tentang kebesaran tubuh orang-orang zalim ini, bahwa di antara mereka ada Uj bin Anaq, bahwa tingginya tiga ribu hasta tiga ratus tiga puluh tiga hasta dan dua pertiga hasta’ – perhitungan yang tepat. ‘Ini adalah sesuatu yang memalukan untuk disebutkan, kemudian menyalahi apa yang tetap dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dan tingginya enam puluh hasta, kemudian makhluk terus berkurang hingga sekarang.'”

Saya akan berhenti sejenak pada hadits ini. Enam puluh hasta, artinya sekitar tiga puluh meter. Dan makhluk setelah Nabi Adam semakin berkurang ukurannya. Maka ketika disebutkan bahwa ‘Uj bin ‘Unuq tingginya tiga ribu hasta — padahal Nabi Adam ‘alaihissalam enam puluh hasta, lalu generasi setelahnya ada yang tingginya tiga ribu hasta, konon dia memegang ikan besar lalu memanggangnya di bawah terik matahari, bahwa banjir besar di zaman Nabi Nuh tidak sampai ke lututnya, bahwa Nabi Musa dengan tinggi itu ditambah sepuluh hasta, ditambah tongkatnya sepuluh hasta, lalu melompat ke udara, namun tetap tidak sampai ke mata kaki ‘Uj itu — semua ini adalah perkataan yang tidak masuk akal.

Betapa indahnya cara Ibnu Katsir menyampaikan hadits ini: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta. Lalu makhluk terus berkurang tingginya hingga sekarang.”

Kemudian mereka menyebutkan bahwa lelaki ini adalah seorang kafir, dan bahwa dia adalah anak zina, dan bahwa dia menolak menaiki kapal Nabi Nuh alaihis salam, dan bahwa air bah tidak sampai ke lututnya, dan ini adalah kebohongan dan kebohongan belaka; benar kata Ibnu Katsir, ulama yang cermat dan hafizh yang kritis, dia melanjutkan atau meneruskan pembicaraan seraya berkata: dan ini adalah kebohongan dan kebohongan belaka, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa Nuh alaihis salam berdoa menentang penduduk bumi dari kalangan orang-orang kafir maka dia berkata: “Dan Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di atas bumi.” (Nuh: 26), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.” (As-Syuara: 119-120), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah kecuali orang yang diberi rahmat-Nya,” dan jika anak Nuh yang kafir telah tenggelam maka bagaimana mungkin Oj bin Anaq tetap hidup padahal dia kafir dan anak zina atau anak perempuan pezina, ini tidak dapat diterima secara akal, dan tidak pula secara syariat, kemudian dalam keberadaan seorang lelaki yang dikatakan bernama Oj bin Anaq ada keraguan; maksudnya: dalam keberadaan seorang lelaki dengan nama ini ada keraguan dan Allah yang lebih mengetahui. Ini adalah perkataan ulama Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Dan Dr. Abu Syahbah mengutip, seraya berkata: Dan berkata ulama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, setelah dia menyebutkan hadits Oj bin Anaq: Dan bukanlah keheranan dari keberanian orang yang membuat hadits ini, dan berbohong atas nama Allah, namun yang mengherankan adalah orang yang memasukkan ini ke dalam kitab-kitab ilmu dari tafsir dan lainnya, maka semua itu adalah buatan para zindiq ahli kitab, yang bermaksud mengolok-olok dan mencemooh para rasul dan pengikut-pengikut mereka, aku berkata -pembicaraan dari Ibnu Qayyim-: dan sama saja apakah Oj bin Anaq adalah tokoh yang benar-benar ada, atau tokoh khayalan maka yang aku ingkari adalah apa yang mereka sifatkan kepadanya dari sifat-sifat, dan apa yang mereka karang di sekelilingnya dari jubah-jubah kebohongan dan dusta dan keberanian untuk menafsirkan kitab Allah dengan omong kosong ini, dan tidak ada dalam nash Al-Quran apa yang menunjukkan kepada apa yang mereka karang dan sebutkan, walau dari jauh atau dengan kemungkinan, kemudian di mana masa Nuh dari masa Musa alaihimas salam dan apa yang ditunjukkan oleh ayat: “Mereka berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada kaum yang pemberani dan sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya.” (Al-Maidah: 22), ada pada masa Musa secara pasti, dan tidak diragukan dalam hal ini, maka apakah hidup Oj memanjang hingga sampai ke masa Musa? bahkan mereka berkata: sesungguhnya Musa yang membunuhnya, ketahuilah laknat Allah atas orang-orang Yahudi, betapa banyak ilmu yang mereka rusak, dan betapa banyak khurafat dan kebatilan yang mereka buat dan hiasi.

Dengan ini kita selesai dari pembicaraan tentang tokoh yang dikatakan Oj bin Anaq dan khurafat-khurafat yang tersebar dan meluas dalam israiliyyat Bani Israil.

Kisah Tih (Pengembaraan di Padang Pasir)

Kita beralih setelah itu kepada kisah lain yaitu yang berkaitan dengan Musa alaihis salam dan betapa banyak peristiwa Musa dalam Al-Quran.

Ada kisah yang disebut kisah Tih yang di dalamnya terdapat ayat, yaitu firman Allah Jalla wa Ala setelah Musa berkata: “Dia (Musa) berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik.’ Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun (lamanya) mereka akan mengembara di muka bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.'” (Al-Maidah: 25-26).

Seputar ayat ini dalam tafsirnya ada berita-berita mengherankan, yang diriwayatkan para mufassir, dan mereka saling menyampaikan dalam kisah Tih, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ar-Rabi’, dia berkata: ketika kaum berkata kepada mereka apa yang mereka katakan, dan Musa berdoa menentang mereka, Allah mewahyukan kepada Musa: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun (lamanya) mereka akan mengembara di muka bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu,” dan mereka pada hari itu enam ratus ribu pejuang, maka Allah menjadikan mereka fasik karena kemaksiatan mereka, maka mereka tinggal empat puluh tahun dalam jarak enam farsakh, atau kurang dari itu, mereka berjalan setiap hari dengan sungguh-sungguh; agar mereka keluar darinya hingga sore dan turun, maka tiba-tiba mereka berada di tempat yang dari sana mereka berangkat, dan sesungguhnya mereka mengadu kepada Musa apa yang Allah perbuat kepada mereka, maka Allah menurunkan kepada mereka manna dan salwa.

Manna dan salwa termasuk nikmat Allah kepada Bani Israil, manna adalah sesuatu seperti madu yang turun pada pohon dari langit maka mereka mengambil dan makan, dan salwa adalah burung yang sangat lezat rasanya menyerupai burung puyuh, sebagaimana dikatakan para ulama.

Allah menurunkan kepada mereka manna dan salwa, dan memberi mereka pakaian yang tetap untuk mereka, tumbuh yang tumbuh maka pakaian itu bersamanya sesuai dengan bentuknya, dan Musa meminta kepada Tuhannya agar memberi mereka minum, maka dia datang dengan batu Tursina, dan itu adalah batu putih, apabila kaum turun, dia memukulnya dengan tongkatnya maka keluarlah darinya dua belas mata air, untuk setiap suku dari mereka satu mata air “Sesungguhnya tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing” (Al-A’raf: 160).

Dan demikian juga diriwayatkan bahwa pakaian mereka tidak pernah rusak dan tidak kotor, dan demikian juga dipindahkan sebagian mufassir; seperti Az-Zamakhsyari dan lainnya: bahwa mereka adalah enam ratus ribu dan luas perkemahan dua belas mil, dan demikian juga mereka sebutkan bahwa batu itu dari surga, dan bukan batu duniawi, dan di antara mereka ada yang berkata: bentuknya seperti kepala manusia, dan di antara mereka ada yang berkata: bentuknya seperti kepala kambing, dan dikatakan: panjangnya sepuluh hasta dan memiliki dua cabang yang menyala dalam kegelapan hingga selain itu dari tambahan-tambahan Bani Israil.

Dan tidak ada dalam Al-Quran yang menunjukkan kepada apa yang mereka sebutkan dalam deskripsi batu, padahal seandainya yang dimaksud dengan batu adalah jenis dan bahwa memukul batu apa saja, tentu lebih menunjukkan kepada kekuasaan dan lebih tampak dalam kemukjizatan.

Ibnu Khaldun sebelumnya memperhatikan kesalahan-kesalahan yang masuk dalam riwayat-riwayat seperti ini, maka dia berkata dalam muqaddimahnya: ketahuilah bahwa ilmu sejarah adalah ilmu yang mulia cara pandangnya, banyak manfaat, mulia tujuannya, karena ia menginformasikan kita tentang keadaan orang-orang terdahulu dari umat-umat dalam akhlak mereka, dan para nabi dalam perjalanan hidup mereka, dan raja-raja dalam negara dan politik mereka, hingga sempurna manfaat teladan dalam hal itu bagi yang ingin dalam urusan agama dan dunia, maka ia membutuhkan berbagai sumber, dan berbagai pengetahuan, dan pandangan yang baik serta penelitian.

Dan dia melanjutkan dengan berkata: dan seandainya yang gaib darinya diukur dengan yang tampak, dan yang sekarang dengan yang telah pergi, maka mungkin tidak aman di dalamnya dari tersandung dan tergelincirnya kaki, dan menyimpang dari jalan kebenaran, dan seringkali terjadi bagi para sejarawan dan mufassir dan para imam periwayatan dari kesalahan-kesalahan dalam hikayat dan peristiwa; karena mereka bergantung di dalamnya pada sekedar periwayatan saja buruk atau baik, dan mereka tidak memaparkannya pada dasar-dasarnya, dan tidak mengukurnya dengan yang serupa dengannya dan tidak menelitinnya dengan standar hikmah dan mengetahui tabiat makhluk-makhluk.

Dan dia melanjutkan dan berkata: sesungguhnya hikayat-hikayat ini adalah tempat dugaan dusta, dan kendaraan omong kosong dan tidak boleh tidak dikembalikan kepada dasar-dasar dan dipaparkan pada kaidah-kaidah, dan ini sebagaimana dipindahkan Al-Mas’udi dan banyak sejarawan dalam pasukan Bani Israil dan bahwa Musa menghitung mereka dalam Tih, setelah dia melewatkan yang mampu memikul senjata khusus dari anak dua puluh tahun ke atas, maka mereka enam ratus ribu atau lebih, dan dia terlupa dalam hal itu dari memperkirakan Mesir dan Syam dan keluasan keduanya untuk jumlah seperti ini, dan sungguh kerajaan Persia dan negara mereka lebih besar dari kerajaan Bani Israil dengan banyak, menjadi saksi untuk itu apa yang terjadi dari kemenangan Bukhtanashar atas mereka dan menelan negeri-negeri mereka dan menyerang urusan mereka dan merusak Baitul Maqdis, hingga akhirnya, dan kerajaan-kerajaan mereka di Irak dan Khurasan dan apa di seberang sungai, lebih luas dari kerajaan-kerajaan Bani Israil dengan banyak, dan dengan itu tidak pernah sampai pasukan Persia seperti jumlah ini atau mendekatinya, dan yang terbesar pasukan mereka di Qadisiyyah seratus dua puluh ribu semuanya diikuti hingga akhirnya.

Dan Ibnu Khaldun melanjutkan, dia berkata: seandainya Bani Israil mencapai seperti jumlah ini niscaya meluas lingkup kerajaan mereka, dan lapang jangkauan negara mereka, hingga akhirnya, dan juga yang antara Musa dan Israil tidak lain hanya empat bapak sebagaimana disebutkan orang-orang yang teliti, maka sesungguhnya dia Musa bin Imran bin Yashar bin Qahats bin Lawi bin Ya’qub, dan dia adalah Israil; Israil Allah, demikian nasabnya dalam Taurat, dan masa antara keduanya sebagaimana dipindahkan Al-Mas’udi, dia berkata: Israil masuk Mesir dengan anak-anaknya yang Asbath, dan anak-anak mereka ketika mereka datang kepada Yusuf, hingga akhir apa yang dia sebutkan.

Kemudian dia berkata pada akhir perkataannya: sesungguhnya apa yang mereka sebutkan ini dari jumlah-jumlah, dan yang melampaui apa yang masuk akal, dan semua ini kita dapati sebagai klaim batil dan periwayatan dusta, maka yang tetap dalam israiliyyat bahwa tentara Sulaiman adalah dua belas ribu khusus, dan bahwa kendaraannya adalah seribu empat ratus kuda.

Ini adalah yang benar dari berita-berita mereka, dan tidak boleh memperhatikan khurafat orang awam, dari mereka, dan di hari-hari Sulaiman alaihis salam dan kerajaannya adalah puncak kejayaan negara mereka.

Dan fasal ini sangat berharga; maka karena itu aku bersemangat menyebutkannya; karena ia memberi manfaat kepada kita dalam menolak banyak israiliyyat yang terjadi di dalamnya kesalahan-kesalahan dan berita-berita batil dan khurafat yang lazim di masa-masa awal.

Ini yang ditutup oleh guru kami Dr. Muhammad Abu Syahbah, mengutip dari Ibnu Khaldun dari muqaddimahnya apa yang menegaskan dustanya berita-berita mereka dan khurafat-khurafat mereka yang disampaikan para mufassir dalam makna-makna ayat.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada junjungan kami Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabatnya dan memberikan salam, dan Allah yang lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran 15: Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (13)

Bismillahir-rahmanir-rahim

Pelajaran Kelima Belas (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (13))

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Idris alaihissalam

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas yang paling mulia di antara para rasul yaitu junjungan kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan atas keluarga dan sahabatnya semuanya. Amma ba’du:

Junjungan kita Idris alaihissalam adalah salah satu rasul yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim. Al-Quran Al-Karim membahas sebagian rasul dengan banyak peristiwa, metode dakwah, dan sikap kaum mereka; seperti Musa, Nuh, Ibrahim, dan Isa alaihissalam. Ada pula di antara para rasul yang hanya dibahas dalam beberapa ayat saja, mereka tidak disebutkan kecuali di tempat-tempat tertentu yang terbatas dalam Al-Quran Al-Karim; di antara mereka adalah junjungan kita Idris alaihissalam. Mari kita mulai dengan ringkasan tentangnya:

Beliau adalah Idris bin Yard bin Mahlaail bin Qainan bin Anush bin Syits bin Adam alaihissalam. Entah nasab ini benar-benar shahih atau dari perkataan kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab sirah, bagaimanapun juga beliau dekat dengan bapak kita Adam alaihissalam. Jelas bahwa jika antara beliau dan bapaknya Adam ada lima bapak, maka beliau tentu saja sebelum junjungan kita Nuh alaihissalam. Disebutkan bahwa namanya dalam Taurat adalah “Akhnukh” dan dalam terjemahan Arab dengan makna yang sama. Ini ditulis oleh para penulis kisah para nabi, seperti Syaikh Abdul Wahhab An-Najjar dan lainnya.

Ayat-ayat yang membicarakan tentang junjungan kita Idris sebagaimana saya katakan hanya sedikit. Allah Ta’ala berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Idris dalam Al Kitab (Al Quran), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam: 56-57).

Imam Abu As-Su’ud berkata ketika menafsirkan firman-Nya: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”, yaitu kehormatan kenabian dan kedekatan di sisi Allah Ta’ala. Ada yang berkata: tingginya derajat dengan sebutan yang baik di dunia, sebagaimana yang datang dalam firman Allah Ta’ala tentang Rasul kita alaihish-shalatu wassalam: “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (Asy-Syarh: 4). Ada pula yang berkata: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”, dikatakan: di surga, dan ada yang berkata: langit keenam atau keempat.

Diriwayatkan dari Ka’ab dan lainnya mengenai sebab diangkatnya Idris alaihissalam: Bahwa pada suatu hari beliau diminta untuk suatu keperluan, lalu terkena terik matahari, maka beliau berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berjalan di bawahnya selama sehari, dan aku terkena dari padanya apa yang menimpaku, lalu bagaimana dengan yang memikul matahari ini sepanjang perjalanan lima ratus tahun dalam satu hari?! Ya Allah, ringankanlah baginya dari beban dan panasnya.” Ketika pagi hari malaikat mendapati dari ringannya matahari dan panasnya sesuatu yang tidak diketahui, maka ia berkata: “Ya Tuhanku, apa yang telah Engkau putuskan tentang hal ini?” Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-Ku Idris meminta kepada-Ku agar Aku meringankan bagimu beban dan panasnya, maka Aku kabulkan.” Ia berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah antara aku dan dia persahabatan.” Maka Allah Ta’ala mengizinkannya lalu mengangkatnya ke langit.

Yang dakhil (asing/tidak asli) dalam hal ini sebagaimana dikatakan rekan kita Dr. Ali Hasan Ridwan: Saya katakan bahwa apa yang disebutkan Abu As-Su’ud dari beberapa pendapat dalam makna ayat tersebut adalah mungkin makna yang dimaksudkan; karena apa yang diberitakan ayat tersebut mengandung beberapa kemungkinan: mungkin ketinggian itu bersifat maknawi, yaitu tingginya derajat dengan kehormatan kenabian, atau dengan sebutan baik di dunia -sebagaimana dikatakan Abu As-Su’ud- dan mungkin ketinggian itu bersifat indrawi dengan mengangkatnya ke langit. Dan saya cenderung pada pendapat kedua karena ada khabar shahih dari yang Ma’shum shallallahu alaihi wasallam yang mendukungnya, yaitu apa yang tetap dalam Shahihain dari Anas radhiyallahu anhu dalam hadits Isra’ Mi’raj bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam melihat Idris di langit keempat. Hadits ini ada dalam Bukhari dalam “Kitab Manaqib Al-Anshar, Bab Al-Mi’raj”.

Inilah yang dipilih oleh Fakhr Ar-Razi dalam tafsirnya di mana beliau berkata: Yang dimaksud dengannya adalah ketinggian tempat ke suatu tempat yang tinggi dan ini lebih utama; karena ketinggian yang disertai dengan tempat adalah ketinggian dalam tempat bukan dalam derajat.

Adapun perkataan bahwa Idris alaihissalam berada di surga dan memasukinya setelah merasakan kematian lalu dihidupkan kembali, maka itu adalah khabar palsu dan yang dituduh melakukannya adalah Ibrahim bin Abdullah Al-Mishishi; karena Al-Haitsami memuatnya dalam Majma’ Az-Zawaid dari hadits Ummu Salamah, dan menisbahkannya kepada Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, dan berkata: Dalam sanadnya ada Ibrahim bin Abdullah bin Khalid Al-Mishishi, dan dia matruk (ditinggalkan); lihat Majma’ Az-Zawaid “Kitab Dzikr Al-Anbiya'” karya Al-Haitsami. Saya katakan -perkataan Dr. Ali Ridwan-: Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam Al-Mizan: Orang ini pembohong, dan Al-Hakim berkata: Hadits-haditsnya maudhu’ (palsu).

Adapun apa yang disebutkan Abu As-Su’ud mengenai sebab diangkatnya Idris alaihissalam yaitu bahwa beliau berjalan suatu hari di bawah matahari lalu terkena teriknya, maka meminta kepada Tuhannya agar meringankan beratnya dari yang memikulnya lalu dikabulkan untuknya, dan ketika pagi hari malaikat mendapati dari ringan dan panasnya sesuatu yang tidak diketahui, maka bertanya kepada Tuhannya tentang hal itu lalu Tuhannya berkata kepadanya: “Sesungguhnya hamba-Ku Idris meminta kepada-Ku untuk meringankan bebannya darimu, maka Aku kabulkan.” Lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah antara kami persahabatan,” maka diizinkan untuknya lalu diangkatnya ke langit, maka tidak diragukan orang berakal bahwa itu dari khabar-khabar Ka’ab Al-Israiliyyah yang dinukil dari Ahli Kitab yang tidak shahih sanad maupun isinya, karena itu tidak layak dinukil dan diriwayatkan.

Dan apa yang disebutkan Abu As-Su’ud ini telah didahului oleh para mufassir sebelumnya; Ibnu Jarir Ath-Thabari, karena beliau telah meriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar juga sebuah khabar yang berkaitan dengan sebab yang sama, tetapi dengan konteks lain, beliau berkata: Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata: Jarir bin Hazim mengabarkan kepadaku, dari Sulaiman Al-A’masy, dari Syamr bin Athiyyah, dari Hilal bin Yasar ia berkata: Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab, dan aku hadir, ia berkata: Bagaimana firman Allah Ta’ala kepada Idris: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”? Maka Ka’ab berkata: Adapun Idris, sesungguhnya Allah mewahyukan kepadanya bahwa Aku akan mengangkat untukmu setiap hari seperti amal seluruh bani Adam, maka ia ingin bertambah amal. Lalu datang kepadanya seorang kekasih dari kalangan malaikat, maka ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku begini dan begitu, maka bicarakanlah kepada malaikat maut agar menunda kematianku sampai aku bertambah amal.” Maka malaikat itu memikul beliau di antara dua sayapnya, lalu naik dengannya ke langit. Ketika sampai di langit keempat mereka bertemu dengan malaikat maut yang sedang turun, maka malaikat itu berbicara kepada malaikat maut tentang hal yang dibicarakan Idris kepadanya. Maka malaikat maut berkata: “Di mana Idris?” Ia berkata: “Dia ini di punggungku.” Maka malaikat maut berkata: “Aneh, aku diutus dan dikatakan: Cabutlah roh Idris untukku di langit keempat, maka aku berkata dalam hati: Bagaimana aku mencabut rohnya di langit keempat, padahal dia di bumi?” Maka dicabutlah rohnya di sana, maka itulah firman Allah Ta’ala: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”. Ibnu Katsir berkata: Ini dari khabar-khabar Ka’ab Al-Ahbar.

Dalam riwayat lain dari Ka’ab bahwa Idris berkata kepada malaikat: “Apakah kamu bisa meminta kepada malaikat maut, berapa sisa ajalku agar aku bertambah amal?” Dan di dalamnya bahwa ketika ia bertanya kepadanya, ia berkata: “Aku tidak tahu, sampai aku melihat.” Maka ia melihat lalu berkata: “Kamu bertanya kepadaku tentang seorang laki-laki yang sisa umurnya hanya sekejap mata.” Maka malaikat melihat di bawah sayapnya, ternyata rohnya telah dicabut alaihissalam dan ia tidak menyadarinya. Ini dari Israiliyyat.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari As-Suddi dengan konteks seperti ini, dan dalam Al-Qurthubi, As-Suddi berkata: Sesungguhnya pada suatu hari ia tidur -yaitu junjungan kita Idris- dan terik matahari sangat menyiksanya, maka ia berkata dalam kesusahan karenanya: “Ya Allah, ringankanlah kepada malaikat matahari panasnya, dan tolonglah dia atas beratnya.” Kemudian disebutkan seperti hadits Ka’ab. Ibnu Katsir berkata: Dan ini dari khabar-khabar Ka’ab Al-Akhbar Al-Israiliyyat, dan di sebagiannya ada keanehan, dan Allah lebih mengetahui.

Dan dalam hal itu ada petunjuk jelas bahwa apa yang disebutkan dari Israiliyyat yang disebutkan para perawi dari Ahli Kitab, maka itu dari Israiliyyat. Adapun riwayat As-Suddi cukup untuk membatalkannya dengan menisbahkannya kepadanya, karena dia dikenal suka berbohong dan tidak dapat dipercaya riwayat-riwayatnya; karena itu Imam Bukhari berkata tentangnya: “Mereka diam tentangnya, tidak ditulis haditsnya.” Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Tidak tsiqah (terpercaya).” An-Nasa’i berkata: “Matruk (ditinggalkan).” Ibnu Hibban berkata: “Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi yang tsabt (kuat), tidak halal menulis hadits-haditsnya.”

Adapun hadits Ka’ab, maka Hafizh Ibnu Katsir telah menyebutkannya dalam At-Tafsir, dinukil dari Ibnu Jarir, dan menggambarkannya sebagai atsar yang ganjil dan aneh, kemudian menghukuminya sebagaimana telah saya sebutkan tadi, bahwa itu dari Israiliyyat, dan berkata: Sesungguhnya di dalamnya ada keanehan yang sangat. Diikuti dalam hal itu oleh Hafizh Ibnu Hajar, di mana beliau berkata sebagai komentar atas khabar ini: Dan ini dari Israiliyyat dan Allah lebih mengetahui kebenaran hal tersebut.

Kita bertanya sekarang: apa pendapat yang benar dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”? Kita katakan: Yang paling selamat adalah menyerahkan ilmu tentang hal itu kepada Allah Ta’ala. Bukhari berkata: Dan disebutkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwa Ilyas adalah Idris, dan mereka merasa tenang dengan apa yang datang dalam hadits Az-Zuhri, dari Anas dalam Isra’, bahwa ketika beliau shallallahu alaihi wasallam melewatinya, beliau berkata: “Selamat datang saudara yang shalih”, dan tidak berkata sebagaimana yang dikatakan Adam dan Ibrahim: “Selamat datang nabi yang shalih dan anak yang shalih.” Seandainya ia dalam garis keturunannya, tentu beliau akan berkata kepadanya sebagaimana yang mereka katakan kepadanya.

Hafizh Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan hal itu: Dan ini tidak menunjukkan, dan harus demikian; karena mungkin perawi tidak mengingat dengan baik, atau mungkin beliau mengatakannya dengan cara merendahkan diri dan tawadhu, dan tidak menisbahkan diri kepadanya dalam posisi kebapakan sebagaimana menisbahkan diri kepada Adam bapak manusia, dan Ibrahim yang merupakan kekasih Ar-Rahman dan yang terbesar di antara Ulul Azmi setelah Muhammad shallawatullahi alaihim ajma’in.

Dari apa yang telah disebutkan tampak jelas bahwa apa yang disebutkan Abu As-Su’ud dan para mufassir lainnya dalam sebab diangkatnya Idris alaihissalam bahwa ini dari Israiliyyat yang tidak kita perlukan dan dari tambahan-tambahan yang tidak ada asalnya. Dalam Al-Kitab Al-Karim dan Sunnah yang shahih sudah cukup dari hal-hal aneh dan pendapat-pendapat ijtihadi. Cukup bagi kita dalam hal ini, bahwa kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Idris dan mengangkatnya ke martabat yang tinggi; baik ketinggian itu dalam derajat maupun dalam tempat; yaitu secara maknawi atau indrawi. Ayat telah menyatakan derajat ini dan tidak menjelaskan kepada kita hakikat dan cara bagaimananya sampai akhir perkataan, maka wajib beriman kepadanya sebagaimana wajib berhenti pada kadar yang diberitakan Allah tanpa merinci apa yang tidak ada nash Al-Quran yang sharih atau khabar mutawatir dari yang Ma’shum shallallahu alaihi wasallam. Dan tidak boleh bagi kita mengambil dugaan dalam akidah seperti ini, dan ketika itu kita mengambil apa yang ditegakkan atas dalil yang pasti, bukan apa yang diceritakan para qashash dan orang-orang Yahudi.

Ini secara ringkas apa yang dinukil kebanyakan mufassir dalam hal Idris alaihissalam.

Israiliyyat yang Terdapat dalam Kisah Ilyas alaihissalam

Di antara Israiliyyat yang terdapat dalam sebagian kitab tafsir adalah apa yang mereka sebutkan dalam kisah Ilyas alaihissalam ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk orang-orang yang diutus. Ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Mengapa kamu menyembah Ba’al dan meninggalkan Tuhan Yang Maha Baik yang menciptakan? Yaitu Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu.’ Maka mereka mendustakan Ilyas, karena itu mereka benar-benar akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman” (Ash-Shaffat: 123-132).

Al-Baghawi, Al-Khazin, penulis Ad-Durr Al-Mantsur yaitu Imam As-Suyuthi dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan, Ka’ab Al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih riwayat-riwayat yang berkaitan dengan Ilyas alaihissalam.

Penulis Ad-Durr Al-Mantsur berkata: Ibnu Asakir mengeluarkan dari Al-Hasan radhiyallahu anhu dalam firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk orang-orang yang diutus”, beliau berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Ilyas ke Ba’albak, dan mereka adalah kaum yang menyembah berhala. Raja-raja Bani Israil tersebar di atas rakyat, setiap raja di suatu daerah yang dimakannya. Raja yang Ilyas bersamanya mengurus urusannya dan mengikuti pendapatnya, dan dia dalam petunjuk di antara sahabat-sahabatnya, sampai datang kepadanya kaum dari penyembah berhala, maka mereka berkata kepadanya: “Dia tidak mengajakmu kecuali kepada kesesatan dan kebathilan.” Dan mereka berkata kepadanya: “Sembahlah berhala-berhala ini, patung-patung yang disembah raja-raja, dan mereka dalam keadaan seperti yang kita alami yaitu makan dan minum, dan mereka dalam kerajaan mereka berbolak-balik, dan dunia mereka tidak berkurang dari Tuhan mereka yang kamu klaim bahwa Dia batil, dan kami tidak punya kelebihan atas mereka.” Maka Ilyas mengucapkan istirja’, berdiri bulu kepalanya dan kulitnya, lalu Ilyas keluar.

Al-Hasan berkata: Dan sesungguhnya yang menghias hal itu bagi raja tersebut adalah istrinya, dan ia sebelumnya berada di bawah raja yang kejam, dan dia dari bangsa Kan’an yang tinggi, berbadan besar dan tampan. Maka suaminya meninggal, lalu ia membuat patung sesuai rupa suaminya dari emas, dan membuat untuknya dua bola mata dari yakut dan memahkotainya dengan mahkota yang dihiasi mutiara dan permata, kemudian mendudukkannya di atas singgasana, masuk kepadanya lalu membakarnya dengan dupa dan meminyakinya serta sujud kepadanya, kemudian keluar darinya. Lalu ia menikah setelah itu dengan raja yang Ilyas bersamanya ini, dan ia adalah wanita yang fasik, telah mengalahkan suaminya, dan menempatkan Ba’al di rumah itu, dan menjadikan tujuh puluh sajin untuk menyembah Ba’al -sajin adalah pelayan yang bertugas melayani berhala-berhala, menjadikan tujuh puluh sajin untuk menyembah Ba’al- maka Ilyas menyeru mereka kepada Allah tetapi hal itu tidak menambah mereka kecuali menjauh.

Maka Ilyas berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Bani Israil telah menolak kecuali kufur kepada-Mu dan menyembah selain-Mu, maka ubahlah apa yang ada pada mereka dari nikmat-Mu.” Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah menjadikan rezeki mereka di tanganmu.” Beliau berkata: “Ya Allah, tahanlah dari mereka hujan selama tiga tahun.” Maka Allah menahan dari mereka hujan, dan mengutus kepada raja pemudanya “Al-Yasa'” -Al-Yasa’ ini telah tumbuh di tangannya- maka beliau berkata kepadanya: “Katakan kepadanya: Sesungguhnya Ilyas berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu telah memilih menyembah Ba’al daripada menyembah Allah, dan mengikuti hawa nafsu istrimu, maka bersiaplah untuk azab dan bala’.” Maka Al-Yasa’ pergi dan menyampaikan pesannya kepada raja, maka Allah melindunginya dari kejahatan raja. Allah menahan dari mereka hujan sampai binasa ternak dan hewan, dan manusia mengalami kesusahan yang sangat.

Ilyas keluar ke puncak gunung, maka Allah mendatangkan untuknya rezeki, dan memancurkan untuknya mata air untuk minuman dan bersucinya, sampai manusia mengalami kesusahan. Maka raja mengutus kepada yang tujuh puluh, lalu berkata kepada mereka: “Mintalah kepada Ba’al agar menghilangkan apa yang menimpa kita.” Maka mereka mengeluarkan berhala-berhala mereka dan mempersembahkan kurban kepada mereka dan berdoa kepada mereka sampai hal itu berlangsung lama bagi mereka. Maka raja berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Tuhan Ilyas lebih cepat mengabulkan daripada ini.” Maka mereka mencari Ilyas, lalu ia datang dan berkata: “Apakah kalian ingin agar dihilangkan dari kalian?” Mereka berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka keluarkanlah berhala-berhala kalian.” Maka Ilyas alaihissalam berdoa kepada Tuhannya agar menghilangkan dari mereka, maka naik awan seperti perisai -perisai yaitu pakaian yang dikenakan prajurit, yaitu datang awan yang menutupi tempat- dan mereka melihat, kemudian Allah menurunkan kepada mereka hujan, maka mereka bertaubat dan kembali.

Beliau berkata: Dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari Ka’ab radhiyallahu anhu berkata: Empat nabi hari ini masih hidup; dua di dunia: Ilyas dan Khidir, dan dua di langit: Isa dan Idris.

Beliau berkata: Dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari Wahb radhiyallahu anhu berkata: Ilyas alaihissalam berdoa kepada Tuhannya agar mengistrahatkannya dari kaumnya, maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah hari ini dan itu, maka jika kamu melihat hewan yang warnanya seperti warna api, maka naiklah dia.” Maka ia terus menunggu hari itu, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang datang dalam bentuk kuda, warnanya seperti warna api, sampai berhenti di hadapannya. Maka ia melompat naik, lalu pergi dengannya, dan itulah akhir yang dilihat darinya. Maka Allah mengenakan kepadanya bulu dan mengenakan kepadanya cahaya, dan memutuskan darinya kenikmatan makanan dan minuman, maka ia menjadi dalam golongan malaikat alaihissalam.

Beliau berkata: Dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari Al-Hasan radhiyallahu anhu berkata: Ilyas alaihissalam diberi tugas atas padang-padang sahara, dan Khidir alaihissalam diberi tugas atas gunung-gunung, dan telah diberi keabadian di dunia sampai tiupan yang pertama -yaitu sampai tiupan pertama- dan bahwa mereka berkumpul setiap tahun di musim haji. Perkataan yang tidak ada dalilnya, mengklaim bahwa Ilyas bertemu dengan Khidir alaihima assalam dan setiap tahun mereka berkumpul, ini perkataan yang diriwayatkan mereka dari Ibnu Asakir.

Dan Al-Hakim mengeluarkan dari Ka’ab radhiyallahu anhu berkata: Ilyas adalah penghuni gunung dan padang belantara, menyendiri di sana untuk menyembah Tuhannya Azza wa Jalla. Ia berkepal besar, perut kecil, kaki kurus, di dadanya ada tanda lahir merah. Dan sesungguhnya Allah mengangkatnya ke tanah Syam, tidak menaikkannya ke langit, dan dialah yang Allah namai Dzun Nun. Semua ini dari riwayat-riwayat As-Suyuthi dalam Ad-Durr.

Komentar atas hal ini dari syaikh kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah berkata: Dan semua ini dari khabar-khabar Bani Israil dan tambahan-tambahan mereka serta kebohongan-kebohongan mereka. Apa yang diriwayatkan darinya dari sebagian sahabat dan tabi’in, rujukannya kepada muslimin Ahli Kitab; seperti Ka’ab dan Wahb dan lainnya. Dan kamu telah melihat bagaimana Ka’ab dan Wahb bertentangan dan berbenturan; Ka’ab berkata: Tidak dinaikkan ke langit, dan mengklaim bahwa dia Dzun Nun. Wahb berkata: Sesungguhnya Allah mengangkatnya ke langit dan menjadi dalam golongan malaikat alaihimussalam. Dan sebagian riwayat mengatakan: Sesungguhnya dia Khidir, dan sebagian lain mengatakan: Sesungguhnya dia bukan Khidir, sampai selain itu dari kekacauan dan kebatilan, seperti klaim pembuat riwayat-riwayat pertama; bahwa Allah mewahyukan kepada Ilyas “Sesungguhnya Aku telah menjadikan rezeki mereka di tanganmu,” sementara dalam sebagian riwayat lain bahwa Allah menolak permintaannya dua kali dan mengabulkannya yang ketiga. Dan demikianlah yang batil menjadi kacau dan ragu-ragu, adapun yang haq maka tetap terang dan jelas.

Dan masalah ini tidak berhenti pada pemindahan kisah-kisah Israiliyat dari orang-orang yang telah kami sebutkan, bahkan fitnah sampai pada sebagian orang-orang zindik dan pendusta yang menisbatkan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dapat mendukung kebohongan dan khurarat Bani Israil, dan agar hal itu dapat mencemarkan pembawa risalah yang umum dan kekal – semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.

As-Suyuthi berkata dalam Ad-Durr: Dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Khidr adalah Ilyas.”

Dan Al-Hakim meriwayatkan dan menshahihkannya, serta Al-Baihaqi dalam Dala’il dan melemahkannya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan, kemudian kami singgah di suatu tempat. Tiba-tiba ada seorang laki-laki di lembah yang berkata: Ya Allah, jadikanlah aku dari umat Muhammad yang diberi rahmat, diampuni, dan diberi pahala. Maka aku melihat ke lembah itu, ternyata ada seorang laki-laki yang tingginya tiga ratus hasta atau lebih. Dia bertanya: “Siapa kamu?” Aku menjawab: “Anas, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dia berkata: “Di mana dia?” Aku menjawab: “Dia di sana mendengar perkataanmu.” Dia berkata: “Datanglah kepadanya dan sampaikanlah salamku, dan katakan padanya: Saudaramu Ilyas menyampaikan salam kepadamu.” Maka aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkannya. Beliau datang hingga memeluknya dan mereka duduk berbincang-bincang. Lalu dia berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku hanya makan sekali dalam setahun, dan ini adalah hari berbukaku, maka makanlahhh engkau dan aku.” Kemudian turunlah kepada keduanya hidangan dari langit berupa roti, ikan, dan seledri. Keduanya makan dan memberiku makan, kemudian shalat Ashar bersama. Lalu dia berpamitan denganku dan aku pun berpamitan dengannya. Kemudian aku melihatnya berlalu di atas awan menuju langit.

Al-Hakim berkata: Sanadnya shahih. Imam Adz-Dzahabi berkata: Bahkan ini adalah hadits palsu, Allah murka kepada siapa yang memalsukannya. Kemudian dia berkata -yaitu Adz-Dzahabi-: Dan aku tidak mengira dan tidak membenarkan bahwa kebodohan sampai pada Al-Hakim sehingga menshahihkan hadits seperti ini. Dan sudah sepantasnya ini adalah hadits palsu, sebagaimana dikatakan oleh imam hafizh yang kritis dan berpandangan tajam, Imam Adz-Dzahabi. Kisah ini juga memiliki sisi-sisi lain yang dibahas oleh banyak mufassir, dapat dikumpulkan bagian-bagiannya sebagai berikut:

At-Thabari berkata tentang penamaan Ilyas: Dia adalah Ilyas bin Yasin bin Finhas, nasabnya berakhir pada Harun, saudara Musa, maka dia adalah orang Israil dari suku Harun. Dalam Al-Aja’ib karya Al-Kirmani: bahwa dia adalah Dzul Kifl. Dari Wahb bahwa dia berumur panjang sebagaimana Al-Khidr berumur panjang, dan akan tetap hidup hingga akhir dunia. Telah disebutkan sebelumnya perkataan Ibn Asakir dari Al-Hasan bahwa Ilyas ditugaskan di padang pasir, dan Al-Khidr ditugaskan di laut-laut -ini adalah perbedaan dalam riwayat-riwayat tentang padang pasir; yaitu: gurun-gurun dan Al-Khidr ditugaskan di laut-laut- dan pulau-pulau, dan bahwa keduanya bertemu setiap tahun.

Dan hadits tentang pertemuannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan dan makannya bersama dari hidangan yang turun kepada keduanya ‘alaihimas salam dari langit berupa roti dan ini dan itu, dan shalat Ashar bersama, ini adalah apa yang diriwayatkan Al-Hakim dan menshahihkannya, tetapi telah disebutkan sebelumnya bahwa itu adalah hadits palsu sebagaimana dikomen oleh guru kami Imam Adz-Dzahabi.

Allamah Al-Alusi berkata: Dan semua itu tentang umur panjang bahwa dia berumur panjang, dan bahwa dia bertemu dengan Rasul dan sebagainya, dan makan semua ini, dan apa yang setelahnya tidak dapat diandalkan. Dan hadits Al-Hakim dilemahkan oleh Al-Baihaqi, dan telah disebutkan sebelumnya bahwa Adz-Dzahabi berkata: Sesungguhnya itu palsu, semoga Allah ta’ala murka kepada siapa yang memalsukannya.

Dan banyak yang meriwayatkan: Abd bin Humaid, Ibn Jarir, Ibn Al-Mundzir, Ibn Abi Hatim, dan Ibn Asakir, dari Ibn Mas’ud: bahwa Ilyas adalah Idris. Dan dinukil darinya bahwa dia membaca -yaitu Abdullah bin Mas’ud-: “Dan sesungguhnya Idris adalah termasuk orang-orang yang diutus”, seakan-akan ayat: {Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk orang-orang yang diutus} (Ash-Shaffat: 123), ada bacaan Ibn Mas’ud: “Dan sesungguhnya Idris benar-benar termasuk orang-orang yang diutus”, dan putusan bahwa dia adalah Idris ini juga pendapat Adh-Dhahhak. Al-Alusi berkata: Dan yang masyhur dalam qira’ah dari Ibn Mas’ud bahwa dia membaca seperti jumhur: {Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk orang-orang yang diutus}, ya, Ibn Watsab, Al-A’masy, Al-Minhal bin Amr, dan Al-Hakam bin Utaibah Al-Kufi membaca seperti itu juga. Kemudian Allamah Al-Alusi mulai menolak pendapat yang mengklaim bahwa Ilyas adalah Idris, yang Allah katakan tentangnya: {Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi} (Maryam: 57) karena Idris hidup tidak lama setelah Adam sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam penyebutan nasabnya di awal kisah, dia dekat dengan Adam, antara dia dan bapaknya Adam ada empat atau lima kakek, dan dia hidup sebelum Nuh dengan yakin dan dengan masa yang lama, sebagaimana disebutkan para sejarawan.

Maka dia menurut apa yang dikatakan -dan perkataannya untuk Allamah Al-Alusi: namanya adalah Akhnukh bin Yazd bin Mahla’il bin Anush bin Qainan bin Syits bin Adam; tidak mengapa sanad ini yaitu jika sesuai dengan yang sebelumnya atau sedikit berbeda, maka dia dari keturunan Adam, sebelum Nuh.

Dan dalam Al-Mustadrak dari Ibn Abbas: bahwa antara dia dan Nuh ada seribu tahun. Dan dari Wahb: bahwa dia adalah kakek Nuh. Semua ini menegaskan bahwa Idris hidup sebelum Nuh ‘alaihi as-salam.

Allamah Al-Alusi berkata: Dan ini menimbulkan masalah; karena ayat menjelaskan bahwa Ilyas dari keturunan Nuh, atau Ibrahim, maka dia bukan Idris yang dikenal hidup sebelum Nuh dengan yakin pada masanya. Adapun ayatnya adalah firman Allah ta’ala: {Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (telah Kami beri petunjuk), dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang shalih} (Al-An’am: 83-85). Maka firman Allah ta’ala: {Dan kepada sebagian dari keturunannya}, dhamir di dalamnya bisa untuk Ibrahim; karena pembicaraan tentang dia, dan bisa untuk Nuh; karena dia lebih dekat, dan karena Yunus dan Luth bukan dari keturunan Ibrahim. Dan pada kedua perkiraan, perkiraan bahwa dhamir {Dan kepada sebagian dari keturunannya} baik untuk Ibrahim atau untuk Nuh, tidak memungkinkan untuk menggabungkan Ilyas yang dimaksud dengan Idris, yang hidup sebelum Nuh; yaitu ini menunjukkan bahwa Ilyas hidup setelah Nuh, dan setelah Ibrahim, dan dari keturunan keduanya pada suatu masa, atau dari keturunan salah seorang dari keduanya. Adapun Idris yang disebutkan pertama, maka dia hidup sebelum Nuh.

Maka Allamah Al-Alusi berkata: Maka menggabungkan Ilyas yang dimaksud dengan Idris yang hidup sebelum Nuh ini tentu saja bertentangan, maka Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman tentangnya: {Ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?”} (Ash-Shaffat: 124), pembicaraan melanjutkan apa yang disebutkan: {Ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?”}, pembicaraan tentang Ilyas: {Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan Allah Yang Maha Baik yang menciptakan?} (Ash-Shaffat: 125) pengingkaran dari Nabi Allah Ilyas kepada kaumnya, patutkah kalian menyembah Ba’l -yaitu: apakah kalian menyembah Ba’l, dan itu adalah nama berhala mereka. Dikatakan: dia terbuat dari emas tingginya dua puluh hasta dan memiliki empat wajah, mereka terpesona dengannya dan mengagungkannya hingga menjadikan empat ratus pelayan untuknya dan menjadikan mereka sebagai nabinya, maka setan masuk ke dalam perutnya, dan berbicara dengan syariat kesesatan, dan para pelayan menghafalkannya dan mengajarkannya kepada manusia, ini adalah perkataan yang ada.

Dan dikatakan: Ba’l adalah nama seorang wanita yang datang kepada mereka dengan kesesatan lalu mereka mengikutinya. Al-Alusi berkata: Dan dia terbantu dengan qira’ah sebagian dari mereka: “Patutkah kamu menyembah Ba’la'” dengan mad, maka kata tersebut di dalamnya ada alif ta’nits yang di-mad seperti “hamra'”.

Dan Ibn Katsir menyebutkan: bahwa Ilyas adalah anak Nasiy bin Finhas yang nasabnya berakhir pada Harun, dan barangkali ini dinukil dari apa yang disebutkan At-Thabari, kemudian dia berkata: Allah mengutusnta dalam Bani Israil dan mereka telah menyembah berhala, dan kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, kemudian telah tumbuh di tangannya Al-Yasa’, maka Ilyas diperintahkan untuk pergi ke tempat ini dan itu, kemudian datanglah kuda dari api lalu dia naik dan Allah mengenakan cahaya padanya, dan mengenakan bulu, dan terbang bersama malaikat sebagai malaikat manusiawi langit bumi, demikianlah diceritakan Wahb bin Munabbih dari Ahli Kitab, dan Imam Ibn Katsir mengomentarinya dengan perkataannya: Dan Allah lebih mengetahui kebenaran ini.

Kisah-kisah Israiliyat yang Terdapat dalam Kisah Ibrahim ‘alaihi as-salam

Telah disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim penyebutan bapak para nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam dan dia adalah siapa dia, dia adalah bapak para nabi, dan dia memiliki kedudukan-kedudukan agung dalam Al-Quran Al-Karim, maka kita mengetahui apa yang Allah sebutkan tentangnya: {Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah lagi hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)} (An-Nahl: 120), dan Ibrahim ‘alaihi as-salam adalah pemilik millah agung yang diikuti para nabi setelahnya, dan dia adalah bahwa dia seorang muslim, semoga shalawat Allah dan salam-Nya tercurah kepadanya.

Dan Ibrahim dalam Al-Quran memiliki kedudukan-kedudukan beragam, maka dia memiliki kedudukan dengan kaumnya, dan dia memiliki kedudukan dengan Namrudz, dan dia memiliki kedudukan dengan ayahnya: {Hai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan} (Maryam: 45), ayat-ayat…, dia memiliki kedudukan banyak, dan apakah ayahnya adalah Azar yang disebutkan dengan nash dalam ayat-ayat? Ataukah Azar ini bukan ayahnya tetapi dia adalah pamannya? Ada pembicaraan seputar ini dalam kitab-kitab tafsir, Israiliyat yang disebutkan dalam ayat-ayat mulia ini, dan mari kita kembali kepada Ibrahim Al-Khalil ‘alaihi as-salam.

Mereka menyebutkan bahwa namanya adalah Ibrahim bin Tarih bin Nahur bin Saruj bin Ra’u bin Falij bin Abir bin Shalih bin Arfaj Syaz bin Sam bin Nuh ‘alaihi as-salam. Wajar bahwa nasab ini tidak disebutkan baik dalam Al-Quran maupun dalam sunnah yang shahih, hanya saja ini ditulis dalam tafsir ayat-ayat dari para mufassir, dan barangkali dinukil dari Taurat, atau kitab-kitab sejarah kuno, ya; dan oleh karena itu ini disebutkan dan tidak dipercaya begitu saja, dan tidak pula diingkari begitu saja, ini adalah nasab yang ada dalam Taurat.

Dan telah datang dalam Kitab Mulia, Al-Quran Rabbku: {Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar: “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”} (Al-An’am: 74).

Dan para mufassir telah berselisih tentang nama ayah Ibrahim, maka sebagian dari mereka berkata: Sesungguhnya lafazh “Azar” dalam ayat, adalah badal dari lafazh ayahnya, dan menjadi maqul al-qaul: {Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan} menjadi perkataan ini ditujukan kepada ayahnya “Azar”, dan yang lain berkata: Sesungguhnya namanya “Tarih” dan bahwa lafazh “Azar” adalah kata celaan dalam sifatnya dan artinya pincang, sebagaimana As-Suhaili berkata dalam At-Takmalah, dan yang lain berkata: Sesungguhnya artinya adalah yang bersalah, dan dalam At-Takmalah: wahai yang salah, wahai yang pikun, sebagaimana dia berkata: Sesungguhnya kata “Azar” berarti sifat yang tidak baik maka artinya adalah yang bersalah dan pikun, dan dikatakan: artinya: wahai orang tua, atau itu adalah kata peringatan dari kebatilan.

Bagaimanapun jika makna-makna ini dalam arti Azar secara bahasa, maka tidak ada pada kita yang memutuskan, atau memotong dengan menentukan salah satu darinya, bahkan kita katakan: Sesungguhnya sangat jauh bahwa Ibrahim ‘alaihi as-salam telah menghadapi ayahnya dengan kata-kata yang di dalamnya ada penghinaan atau cacat ini, atau peringatan seperti pincang atau pikun atau salah; karena Ibrahim ‘alaihi as-salam adalah lembut dalam pembicaraannya, dan dia berbakti kepada ayahnya bahkan dalam dakwahnya, dan jika kita sampai pada ayat-ayat yang di dalamnya Ibrahim berbicara kepada ayahnya: {Hai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan} hingga sampai pada ayat-ayat: {Berkata ayahnya: “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Sesungguhnya jika engkau tidak berhenti (dari mengejek tuhan-tuhanku) niscaya aku rajam engkau, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”} (Maryam: 46), maka lihatlah bagaimana jawaban Ibrahim ‘alaihi as-salam, dia berkata: {Ibrahim berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku} (Maryam: 47), maka tidak diterima bahwa kata “Azar” adalah kata cacian atau peringatan keras atau pencegahan dari Ibrahim kepada ayahnya ‘alaihi as-salam dan ayat-ayat dalam masalah ini jelas.

Kita lihat setelah itu bahwa Ibrahim ketika berkata kepada ayahnya: {Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu} ini jelas dalam kebaikan jawaban dan berbakti yang baik kepada orang tua. Yang lain berkata: Sesungguhnya “Tarih” ini yang mereka jadikan nama untuk ayah Ibrahim dan itu nama aslinya, dan bahwa “Azar” adalah sifat untuknya seakan itu sifatnya dan itu sebutan untuknya.

Kita katakan: Jika benar bahwa orang tua Ibrahim memiliki nama asli dan nama sifat yang artinya kuat atau penolong atau pembantu; karena lafazh “Azar” dari al-azr; yaitu: kekuatan dan pertolongan dan bantuan, dan darinya kita katakan: al-wazir; yaitu: pembantu, dan ini dalam lafazh dan bahasa dikenal.

Dan telah datang dalam Dairah Al-Ma’arif Al-Islamiyyah apa yang nashnya, dan perkataan yang disebutkan guru kami dan saudara kami Dr. Ali Hasan Ridhwan dia berkata: Datang nash ini dalam Dairah Al-Ma’arif: Azar nama ayah Ibrahim dalam Al-Quran, dalam surat Al-An’am “ayat 74”, dan tampak bahwa dalam ini ada kekeliruan; karena nama “Azar” tidak disebutkan sama sekali sebagai ayah Ibrahim di tempat lain selain tempat ini, sebagaimana “Tarih” atau “Tarekh” telah disebutkan dalam riwayat-riwayat sebagian sejarawan dan mufassir dari kaum muslimin sebagai ayah Ibrahim juga; dan oleh karena itu mereka berusaha melakukan tipu daya untuk mencocokkan antara kedua riwayat ini.

Dan kami mengomentari ini; karena tipu daya ini tidak ada nilainya, dan kita sampai pada pendapat yang benar:

Pendapat yang benar adalah bahwa “Azar” nama berhala yang disembah “Tarekh” ayah Ibrahim dan dia adalah pelayannya, ini pendapat yang ada.

Dan diriwayatkan dari Mujahid mengenai firman Allah: {Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar: ‘Apakah kamu akan menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan-tuhan?’} (QS. Al-An’am: 74), beliau berkata: ‘Ayahnya bukan bernama Azar, namun “Azar” adalah nama sebuah berhala. Maka, posisi kata tersebut adalah sebagai objek dari penghilangan kata kerja, dan bacaan ini seolah-olah mengatakan: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Apakah kamu akan menjadikan Azar sebagai Tuhan?’ yaitu: Apakah kamu akan menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan?’ Dan menurut As-San’ani: ‘Apakah kamu akan menjadikan Azar sebagai Tuhan?’, dan tidak ada pengaruh dari kata yang mengikuti, karena pertanyaan tidak mempengaruhi apa yang ada sebelumnya, dan karena telah terpenuhi objeknya.’

Telah dikutip oleh almarhum Ahmad Zaki dalam kata pembukaan bukunya, dan beliau berkata: ‘Pendapat yang dikatakan oleh Mujahid ini adalah pendapat yang paling saya terima dengan baik.’ Berdasarkan hal ini, ayah Ibrahim tidak disebutkan dengan nama aslinya dalam Al-Qur’an. Dan sebagai tambahan, kita dapat mendukung hal ini dengan fakta bahwa “Azar” adalah nama sebuah dewa, karena dalam mitologi kuno Mesir ada dewa bernama ‘Osiris’ dan ‘Isis’, yang artinya adalah dewa yang kuat dan pemberi pertolongan. Dan bangsa-bangsa terdahulu sering meniru satu sama lain dalam memberikan nama-nama bagi para dewa mereka.

Bagaimanapun juga, ini adalah perkataan yang para mufasir berbeda pendapat mengenainya, bahwa tidak ada penghalang jika nama ini yaitu “Azar” adalah nama ayah Ibrahim alaihissalam, dan kata-kata itu digunakan dalam berbagai penggunaan serta riwayat dan makna yang banyak.

Kita beralih setelah itu kepada tempat kedua yang menimbulkan banyak pembicaraan dan israiliyyat, yaitu ayat-ayat dalam surat “Al-Anbiya”: Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Ibrahim petunjuk yang benar sejak dahulu, dan Kami mengetahui tentang (keadaan)nya (Al-Anbiya: 51) sampai kita sampai kepada firman-Nya yang Mahamulia: Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar orang yang bertindak.” Kami berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim” (Al-Anbiya: 69).

Ketika menafsirkan ayat yang pertama yaitu firman Allah yang Mahamulia: Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar orang yang bertindak”, para mufasir menyebutkan, di antaranya Abu Sa’ud berkata: Dikatakan bahwa yang mengatakan itu adalah Namrud bin Kan’an bin As-Sanjarid bin Namrud bin Kush bin Ham bin Nuh, dan dikatakan: seorang laki-laki dari suku Kurdi Persia bernama Hayun, dan dikatakan: Hadīr, yang telah ditenggelamkan bumi terhadap mereka.

Diriwayatkan bahwa ketika mereka sepakat untuk membakar Ibrahim alaihissalam, mereka membangun untuknya kandang di “Kushi”, sebuah desa dari desa-desa Nabath. Mereka membuat untuknya lapangan besar atau kandang besar, tempat yang luas di desa ini; dan itulah firman Allah ta’ala: Mereka berkata: “Buatkanlah bangunan untuk dia, kemudian lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala” (Ash-Shaffat: 97).

Maka mereka mengumpulkan untuknya kayu bakar yang keras dari berbagai jenis kayu selama empat puluh hari, lalu mereka menyalakan api besar yang hampir tak ada seorang pun bisa mendekat kepadanya, bahkan burung-burung yang terbang melewatinya di langit yang paling tinggi pun terbakar karena hebatnya nyala api itu. Hampir tak ada seorang pun yang bisa mendekat kepadanya, sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara melemparkan Ibrahim alaihissalam ke dalamnya. Lalu datanglah Iblis dan mengajarkan kepada mereka cara membuat manjaniq. Mereka pun membuatnya – manjaniq adalah berupa tali yang diletakkan di dalamnya gulungan tempat diletakkan korban atau sasaran dan dilemparkan dari jauh – maka mereka membuatkan ini untuknya. Dan dikatakan: seorang laki-laki dari suku Kurdi yang membuatnya untuk mereka, maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dia berguling-guling di dalamnya sampai hari kiamat. Kemudian mereka menuju Ibrahim alaihissalam dan menempatkannya di dalamnya dalam keadaan terbelenggu dan terikat, lalu mereka melemparkannya ke dalam api. Maka datanglah Jibril kepadanya dan berkata: “Apakah kamu memerlukan sesuatu?” Dia berkata: “Adapun kepadamu, tidak.” Jibril berkata: “Kalau begitu mintalah kepada Tuhanmu.” Ibrahim berkata: “Cukuplah bagiku dari permintaanku, pengetahuan-Nya terhadap keadaanku.” Maka Allah menjadikan dengan berkah perkataannya, kandang tempat yang terbakar ini, api yang sangat bernyala-nyala itu, dijadikan Allah taman yang indah untuknya.

Dan ketika menafsirkan ayat yang kedua, yaitu firman Allah ta’ala dalam masalah ini: Kami berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”, para mufasir berkata: Diriwayatkan bahwa para malaikat memegang baju Ibrahim alaihissalam dan mendudukkannya di atas tanah, tiba-tiba ada mata air yang segar dan bunga-bunga merah; mawar dan narsis, dan api tidak membakar kecuali ikatannya – tali yang mengikatnya.

Dan diriwayatkan bahwa Ibrahim alaihissalam tinggal di dalam api selama empat puluh hari atau lima puluh hari, dan berkata: Aku tidak pernah hidup senyaman ketika aku berada di dalamnya.

Dan semoga Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya dan memberi salam, dan Allah lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran: 16 Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (14)

Bismillahir Rahmanir Rahim

Pelajaran Keenam Belas (Contoh-contoh Israiliyyat dalam Kisah-kisah Al-Quran (14))

Lanjutan Israiliyyat yang disebutkan dalam kisah Ibrahim alaihissalam

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in; amma ba’d:

Pembicaraan berlanjut tentang kisah Ibrahim alaihissalam, rasul yang mulia dan terpilih yang memiliki banyak kedudukan dalam Al-Quran. Kita telah sampai kepada ayat-ayat yaitu firman Allah yang Mahamulia: Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar orang yang bertindak.” Kami berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim” (Al-Anbiya: 68, 69). Dan kita telah sampai kepada apa yang diriwayatkan bahwa Ibrahim alaihissalam – dan ini adalah perkataan dari israiliyyat yang tidak ada dalilnya – tinggal di dalam api selama empat puluh hari, dan dikatakan: lima puluh hari, dan bahwa dia berkata: Aku tidak pernah hidup senyaman ketika aku berada di dalamnya.

Ibn Yasar berkata: Dan Allah mengutus malaikat bayangan, maka dia duduk di sampingnya untuk menemaninya. Namrud melihat dari istananya, dia mengawasinya lalu melihatnya duduk di taman yang rindang, dan bersamanya ada teman duduk dengan penampilan yang paling baik; api mengelilinginya. Maka dia memanggilnya: “Wahai Ibrahim, apakah kamu mampu keluar darinya?” Ibrahim berkata: “Ya.” Namrud berkata: “Kalau begitu berdirilah dan keluarlah.” Maka Ibrahim berdiri berjalan dan keluar darinya. Namrud menemuinya dan mengagungkannya, berkata: “Siapakah laki-laki yang kulihat bersamamu?” Ibrahim berkata: “Itu adalah malaikat bayangan yang diutus Tuhanku untuk menemaniku.” Namrud berkata: “Sesungguhnya aku akan mempersembahkan kurban kepada Tuhanmu karena apa yang kulihat dari kekuasaan dan kemuliaan-Nya dalam apa yang dilakukan-Nya kepadamu.” Maka Ibrahim alaihissalam berkata: “Allah tidak akan menerima darimu selama kamu masih dalam agamamu ini.” Namrud berkata: “Aku tidak mampu meninggalkan kerajaanku, tetapi aku akan menyembelih empat ribu sapi.” Maka dia menyembelihnya dan berhenti mengganggu Ibrahim alaihissalam. Ketika itu Ibrahim berusia enam belas tahun.

Dan demikianlah seperti yang kita lihat dari mukjizat yang paling menakjubkan.

Dan kita membahas dengan agak terperinci aspek-aspek yang menyimpang dalam apa yang disebutkan para mufasir tentang hal ini:

Pertama: Yang menyimpang mencakup beberapa poin:

Yang pertama: Apa yang disebutkan Abu Sa’ud tentang Namrud bahwa namanya adalah Namrud bin Kan’an bin As-Sanharib bin Namrud bin Kush bin Ham bin Nuh. Ini bertentangan dengan apa yang disebutkan Allāmah Ibnu Katsir dalam kitabnya (Al-Bidayah wan Nihayah) dari Mujahid bahwa namanya adalah: An-Namrud bin Kan’an bin Kush bin Sam bin Nuh.

Dan Ibnu Al-Atsir berkata: Sesungguhnya nasab ini adalah pendapat para mufasir dan selain mereka dari ulama nasab dan ahli sejarah. Pendapat ini telah dipilih dari para mufasir oleh Imam Ar-Razi, dan dari para sejarawan oleh Ibnu Al-Atsir, dan ini yang zhahir. Ini adalah kontradiksi yang jelas.

Kedua: Apa yang disebutkannya tentang perbedaan riwayat mengenai siapa yang berkata kepada mereka: “Bakarlah dia.” Apakah yang mengatakan perkataan ini adalah Namrud ataukah salah satu dari suku Kurdi Persia bernama Mayun atau bernama Hairz sebagaimana disebutkan dalam Al-Qurthubi, atau dia adalah Hadīr atau selain itu? Riwayat-riwayat yang berbeda dalam menentukan si pembicara dan dalam menyebutkan namanya dalam kitab-kitab tafsir, kita tidak melihat sebab menyebutkannya kecuali membuang-buang waktu dalam hal yang tidak bermanfaat.

Allāmah Al-Alusi berkata: Dan dalam (Al-Bahr) – yaitu (Al-Bahr Al-Muhith) karya Ibnu Hayyan – bahwa mereka menyebutkan untuknya nama yang diperselisihkan, yang tidak bisa diketahui kebenarannya. Aku berkata: Dan apa manfaatnya bagi kita menentukan siapa yang mengatakan perkataan ini, dan dengan nama apa dia disebut? Ini adalah perkataan yang tidak ada gunanya. Dan apa salahnya jika kita berhenti pada nash Al-Quran saja? Al-Quran berkata: Mereka berkata: “Bakarlah dia” yaitu: sebagian kaum Ibrahim berkata kepada sebagian yang lain: bakarlah Ibrahim dengan api, dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar orang yang bertindak. Dan demikianlah yang diikuti oleh jumhur mufasirin.

Maka pendapat yang benar dan yang harus kita katakan: Sesungguhnya pendapat menentukan si pembicara atau menyebutkan namanya adalah dari hal yang menyimpang yang harus kita abaikan dan tutup mata darinya. Bahkan kita berpegang pada apa yang digambarkan Al-Quran secara global tanpa tambahan-tambahan yang tidak diturunkan Allah padanya keterangan apapun.

Ketiga: Di antara yang menyimpang adalah apa yang dikemukakan para mufasir, di antaranya Abu Sa’ud dan banyak yang lain, bahwa mereka – yaitu kaum Ibrahim – ketika memutuskan untuk membakarnya, mereka membangun untuknya kandang untuk melemparkannya ke dalamnya. Untuk itu mereka mengumpulkan kayu bakar yang keras selama empat puluh hari – yaitu kayu yang tebal dan batang-batang pohon dan lain-lain – dan mereka memasukkan Al-Khalil ke dalam mangkuk manjaniq atas petunjuk Iblis yang terkutuk, atau seorang laki-laki dari suku Kurdi membuatkannya untuk mereka, maka Allah ta’ala menenggelamkannya ke dalam bumi, dia berguling-guling di dalamnya sampai hari kiamat.

Ini adalah berita-berita yang kita tidak memiliki dalil yang mendukung kebenarannya. Dan yang seperti ini tidak bisa diketahui kecuali melalui jalan yang terpercaya atau berita yang ma’shum. Dan karena tidak ada yang ini maupun yang itu, maka berita-berita ini termasuk dalam kategori yang tidak bisa dibenarkan dan tidak bisa didustakan.

Adapun berita-berita yang disebutkan Abu Sa’ud tanpa menisbatkannya kepada siapa yang mengatakannya, sesungguhnya itu dari riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi dan Muqatil bin Sulaiman Al-Balkhi. Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa apa yang diriwayatkan melalui jalan Muhammad bin Marwan As-Suddi dan Al-Kalbi adalah riwayat-riwayat yang tidak bisa diterima, karena Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi dan Muqatil bin Sulaiman dan Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir semuanya dituduh. Al-Kalbi dituduh sebagai Saba’i yang menyembunyikan diri dengan cinta kepada Ahlul Bait, sebagaimana disebutkan sebelumnya dan menyembunyikan diri dengan keikhlasan kepada Ahlul Bait.

Ibnu Hibban berkata tentangnya: Al-Kalbi adalah Saba’i dari orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Ali tidak mati, dan dia akan kembali ke dunia dan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana dia dipenuhi dengan kezaliman. Imam Ahmad berkata: Tidak halal melihat tafsir Al-Kalbi.

Adapun Muqatil bin Sulaiman, dia dituduh mengatakan tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk). Ibnu Hibban berkata: Muqatil menyerupakan Tuhan dengan makhluk-makhluk, dan dia berdusta dalam hadits sebagaimana dia dituduh dalam ilmunya.

Dan adapun Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir, riwayatnya bersama riwayat Al-Kalbi jika datang maka itu adalah rangkaian kebohongan, sebagaimana dikatakan Imam As-Suyuthi dan lain-lain.

Bagaimanapun juga, apa yang disebutkan Imam Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir dan Imam Ar-Razi dalam tafsir mereka: bahwa riwayat-riwayat ini dinukil dari tiga serangkai ini: Al-Kalbi dan Muqatil bin Sulaiman dan Muhammad bin Marwan As-Suddi. Dan apa yang disebutkan Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir dan Ar-Razi dalam tafsir mereka hanya kami nukil dari mereka; dan mereka ini dituduh berdusta oleh ulama jarh dan ta’dil.

Mari kita renungkan: Yang pertama, bahwa mereka ini pembohong sebagaimana dikatakan Ibnu Numair, dan mereka membuat-buat hadits. Al-Bukhari berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat mereka ini diabaikan, dan mereka membuat-buat hadits sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Keempat: Di antara bidang-bidang yang menyimpang dalam kisah tentang sayyidina Ibrahim, kita katakan berita yang dikemukakan Abu Sa’ud dan lain-lain, yaitu bahwa Ibrahim alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api, Jibril alaihissalam mendatanginya dan berkata: “Apakah kamu memerlukan sesuatu?” Ibrahim berkata: “Adapun kepadamu, tidak.” Jibril alaihissalam berkata: “Kalau begitu mintalah kepada Tuhanmu.” Ibrahim berkata: “Cukuplah bagiku dari permintaanku, pengetahuan-Nya terhadap keadaanku.”

Perkataan ini diriwayatkan Ibnu Jarir dari Mu’tamar bin Sulaiman dari para sahabatnya, dan dalam sanadnya ada yang majhul. Al-Hafizh Ibnu Katsir juga berkata: Sesungguhnya ini adalah perkataan yang tidak bisa diterima. Al-Syaikh Al-‘Ajluni menyebutkannya dalam (Kasyf Al-Khafa wa Muzil Al-Ilbas) dari riwayat Al-Baghawi dari Ka’b Al-Ahbar, dan banyak mufasir menyebutkannya dari Ubay bin Ka’b secara mauquf kepadanya.

Dari sini tampak bagi kita bahwa ini dari israiliyyat, dan tidak ada asalnya dalam marfu’. Ibn ‘Iraq telah mengutipnya dalam (Tanzih Asy-Syari’ah) kemudian mengomentarinya dengan perkataannya: Ibnu Taimiyyah berkata: Sesungguhnya itu adalah hadits palsu. Meskipun perkataannya bagus bahwa Jibril mendatanginya lalu berkata: “Apakah kamu memerlukan sesuatu?” “Adapun kepadamu, tidak.” Jibril berkata: “Mintalah kepada Tuhanmu.” Ibrahim berkata: “Cukuplah bagiku dari permintaanku, pengetahuan-Nya terhadap keadaanku.” Perkataan yang bagus dan baik, tetapi ini tidak terbukti.

Pendapat yang benar adalah bahwa berita itu tidak sahih karena menunjukkan meninggalkan doa padahal doa adalah intinya ibadah sebagaimana sahihnya hadits. Dan nash-nash Al-Quran dan hadits-hadits Nabi telah datang dengan perintah berdoa dan anjuran kepadanya. Tidaklah jauh dari kita firman Tuhan kita: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Ghafir: 60).

Kelima: Apa yang mereka kemukakan bahwa para malaikat memegang kedua lengan atas Ibrahim; yaitu para malaikat memegang Ibrahim dari kedua lengan atasnya, lalu mendudukkannya di atas tanah, tiba-tiba ada mata air yang segar, dan bunga mawar dan narsis serta hal-hal harum, dan bahwa api tidak membakar kecuali ikatan – yaitu tali yang mengikatnya – dan bahwa dia tinggal di dalam api selama empat puluh hari atau lima puluh hari.

Dijawab tentang ini: bahwa tidak ada penghalang untuk itu dalam kekuasaan Allah yang Mahamulia, kecuali bahwa itu tergantung pada nukilan yang sahih. Tidak setiap perkataan yang diterima itu terbukti. Dan karena tidak ada nukilan yang sahih, maka kita bebas menghadapi riwayat-riwayat ini. Dan jika kita mengetahui bahwa itu dari riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi, dan Ka’b Al-Ahbar, dan Wahb bin Munabbih, sebagaimana datang dalam kitab (Zad Al-Masir) dan tafsir-tafsir lainnya, kita mengetahui nilai riwayat-riwayat ini; yaitu tidak ada nilainya.

Dengan ini jelaslah tanpa meninggalkan ruang keraguan bahwa itu dari israiliyyat yang disebutkan para perawi dari Ahlul Kitab. Dan sikap kita terhadapnya bahwa itu termasuk kategori yang tidak bisa dibenarkan dan tidak bisa didustakan. Melemparkan Ibrahim ke dalam api ini adalah kenyataan, dan berdiri di hadapan itu adalah ayat; tetapi jika kita melampaui apa yang ditunjukkan ayat dari rincian dan cara-cara yang tidak datang padanya nash, maka ini adalah sesuatu yang tidak mewajibkan kita.

Ibrahim alaihissalam, ayat menyatakan bahwa dia dilemparkan ke dalam api, dan bahwa Allah yang Mahamulia dengan kekuasaan-Nya memerintahkan dan berfirman: Kami berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”.

Keenam: Di antara yang menyimpang dalam kisah Ibrahim dan kita tutup dengannya dan tidak memperpanjang, apa yang disebutkan tentang malaikat bayangan yang diutus Allah kepada Ibrahim untuk menemaninya dalam cobaan, dan bahwa Namrud mengawasinya dari istananya dan melihatnya duduk, lalu memanggilnya: “Wahai Ibrahim, apakah kamu bisa keluar dari api?” Ibrahim berkata: “Ya.” Namrud berkata: “Kalau begitu keluarlah,” maka Ibrahim keluar lalu Namrud menemuinya, dan berkata: malaikat bayangan bersamanya. Namrud berkata: “Sungguh aku akan mempersembahkan kurban kepada Tuhanmu karena apa yang kulihat” – perkataan yang telah disebutkan sebelumnya – dan bahwa Ibrahim alaihissalam berkata kepada Namrud: “Allah tidak menerima darimu selama kamu dalam agamamu.” Namrud berkata: “Aku tidak bisa meninggalkannya,” dan bahwa dia menyembelih empat ribu sapi dan berhenti mengganggu Ibrahim, dan lain-lain dari riwayat-riwayat. Semua ini tidak sahih dan patut dipertanyakan, dan tidak didukung oleh atsar yang sahih.

Adapun dongeng malaikat bayangan yang diciptakan para pendongeng, sumber aslinya adalah Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi. Telah disebutkan sebelumnya bahwa dia adalah salah satu pemasok israiliyyat dan kebohongan, dan bahwa Muhammad bin As-Sa’ib adalah seorang Saba’i yang menyamar untuk menyajikan kepada kita kebatilan dan khurafat. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat telah menyatakan bahwa ini dari perkataan Muhammad bin Sa’ib Al-Kalbi. Al-Kalbi adalah pembohong yang ditinggalkan, tidak bisa diandalkan. Dan cukuplah untuk membatalkan riwayat ini dengan menisbatkannya kepadanya. Tetapi para pendongeng dan orang yang mengikuti mereka dari para mufasir datang dengan selain apa yang Allah kisahkan kepada kita. Semua ini dari khurafat Bani Israil dan para zindik mereka yang ingin merusak gambaran Al-Quran dan Islam serta kaum muslimin, dan menyebarkan dalam akidah kita apa yang merusak akidah kita.

Beberapa mufassir menyadari hal itu; maka mereka tidak memberikan bobot padanya, bahkan mereka memperingatkan tentang kebatilannya; di antaranya adalah Imam Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah. Beliau adalah salah satu imam terkemuka, penulis kitab (Adhwa’ul Bayan), ketika berkata: “Mereka menyebutkan dalam kisah itu bahwa Namrud mengawasi api dari atas istana; lalu ia melihat Ibrahim duduk di atas tempat tidur ditemani oleh malaikat penaung; maka ia berkata: ‘Baik sekali Tuhanmu, wahai Ibrahim! Sungguh aku akan mempersembahkan untuk-Nya empat ribu sapi betina,’ dan ia berhenti mengganggu Ibrahim. Semua ini dari Israiliyyat dan para mufassir banyak menyebutkannya dalam kisah ini dan kisah-kisah nabi lainnya.” Lihat (Adhwa’ul Bayan) karya Asy-Syinqithi jilid keempat dalam tafsir ayat-ayat ini.

Komentar akhir kami:

Yang benar adalah apa yang disebutkan Imam Asy-Syinqithi dan lainnya bahwa ini adalah Israiliyyat yang tidak dapat diterima karena tidak ada nash yang menetapkannya, dan inilah yang benar, yang lebih utama dan terbaik, yaitu kita tidak melampaui apa yang diucapkan Al-Quran Al-Karim; apa yang digambarkannya secara global, kita berhenti pada keglobalannya, dan kita tidak menyelami atau ikut campur dalam detail-detailnya; karena masuk pada detail-detail itu tidak disebutkan dalam Al-Quran, dan tidak ada riwayat shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Israiliyyat yang terdapat dalam kisah Luth alaihissalam

Kita beralih kepada sayyiduna Luth alaihissalam dan mulai dengan menyebutkan nasabnya alaihishshalatu wassalam. Beliau adalah: Luth bin Haran – saudara Ibrahim – bin Tarukh. Ia beriman kepada Ibrahim dan mengikuti petunjuknya sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Maka Luth beriman kepadanya (Ibrahim) dan berkata: ‘Sesungguhnya aku akan berhijrah kepada Tuhanku'” (Al-Ankabut: 26). Luth alaihissalam mengikuti pamannya Ibrahim dalam perjalanan-perjalanannya, ia bersama Ibrahim di Mesir dan raja Mesir memberikan kekayaan kepadanya, sebagaimana ia berikan kepada Ibrahim; maka bertambahlah harta dan ternaknya. Kemudian keduanya berpisah dengan cara baik-baik; karena tanah tidak cukup luas untuk ternak keduanya – ini keterangan yang ada – dan Luth turun ke Sadum, sebuah negeri di wilayah Yordania.

Penduduk negeri ini – penduduk Sadum – memiliki akhlak yang buruk dan jahat, tidak malu melakukan kemungkaran yang mereka lakukan, dan tidak menahan diri dari kemaksiatan yang mereka kerjakan di hadapan orang banyak, sebagaimana Allah katakan atas lisan Luth alaihissalam ketika ia menasihati dan melarang mereka: “Dan kamu mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu” (Al-Ankabut: 29); artinya: mereka terang-terangan melakukan kemaksiatan dan kesalahan-kesalahan yang tidak pantas dipermalukan.

Penduduk negeri ini mengintai setiap orang yang masuk kota mereka dari kalangan pedagang, mereka berkumpul mengerubunginya dari segala penjuru, mengulurkan tangan mereka ke barang dagangannya, setiap orang mengambil sedikit darinya; sehingga tidak tersisa di tangannya; ketika ia duduk, ia duduk dengan sedih dan mengeluh. Lalu datang salah seorang dari mereka dan berkata: “Semua ini karena aku mengambil barang sedikit darimu, ambillah ini” – maksudnya ambillah – maka pedagang itu berkata: “Apa gunanya yang kau bawa ini setelah barang daganganku hilang, pergilah dengan barang yang kau bawa ini”; ketika orang itu pergi, datang yang lain dengan barang remeh ingin mengembalikannya kepadanya, maka orang itu meninggalkannya karena sedikitnya yang dibawa dan pergi, demikianlah orang itu kehilangan barang dagangannya karena tersebar di tangan-tangan banyak – artinya mereka adalah pencuri – dan mereka adalah pelaku kemungkaran dan kekejian, mereka sebagaimana Allah Ta’ala katakan tentang mereka: “Dan kamu menghadang jalan dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu” (Al-Ankabut: 29) sampai akhir ayat-ayat.

Penduduk negeri ini adalah orang-orang zalim; di antara bukti kezaliman mereka dan tenggelamnya mereka dalam kezaliman adalah bahwa Sarah istri Ibrahim mengutus Eliezer, kepala budak Ibrahim, agar membawa kabar keselamatan Luth; ketika ia masuk kota Sadum, seorang lelaki dari penduduk kota itu menemuinya; maka Eliezer dengan batu memukul kepala orang itu; sehingga banyak darah mengalir darinya, kemudian orang itu bergelayut padanya sambil berkata: “Sesungguhnya darah ini jika dibiarkan akan membahayakanmu, maka berikanlah upahku.” Kemudian perkara di antara mereka sampai ke pengadilan hakim Sadum. Ketika hakim mendengar kedua pihak yang bersengketa, ia memutuskan untuk Eliezer agar memberikan kepada orang Sadum itu upah atas pukulan batu yang mengeluarkan darahnya; ketika Eliezer melihat ketidakadilan dari hakim dan lawan dalam perkaranya; ia mengambil batu dan memukul kepala hakim; sehingga darahnya mengalir dan berkata: “Baginya upah yang wajib bagiku atas darah yang kau keluarkan, kau harus memberikannya kepada orang Sadum yang memukulku sebagai balasan pukulannya kepadaku dan pengeluaran darahku.” Hikayat ini dengan kemungkinan dikarang-karang memberi manfaat kepada kita untuk mengetahui pemikiran umum tentang keadaan orang-orang ini, dan bahwa mereka begitu jahat sehingga pantas disandarkan kepada mereka hal-hal semacam itu; mereka memutarbalikkan ucapan, mengubah… dan seterusnya.

Mari kita beralih kepada Ibrahim alaihissalam bersama Luth alaihimassalam; sesungguhnya para malaikat memberitahu Ibrahim bahwa mereka akan pergi untuk membalas dendam kepada kaum Luth yang merupakan penduduk negeri ini; penduduk Sadum dan Amura; maka Ibrahim khawatir Luth akan terkena bahaya; lalu mereka memberitahunya bahwa Luth selamat beserta orang-orang yang beriman bersamanya. Kemudian mereka memberitahunya – yaitu para malaikat – bahwa turunnya azab kepada kaum itu adalah perkara yang pasti, tidak menerima syafaat dan perdebatan tidak berguna; ayat-ayatnya: “Hai Ibrahim, berpalinglah dari ini. Sesungguhnya keputusan Tuhanmu telah datang dan sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (Hud: 76).

Mari kita mulai kisah Luth sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran; kisah Luth disebutkan dalam Al-Quran secara lengkap dalam beberapa surat yang saling melengkapi, dan terangkum bahwa kaum Luth adalah orang-orang yang sangat jahat, dan mereka menghadang jalan orang-orang yang lewat; yaitu orang-orang yang melintas, dan rasa malu telah hilang dari wajah-wajah mereka; mereka tidak memandang buruk sesuatu yang buruk, dan tidak menginginkan kebaikan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman sebagai hikayat dari mereka: “Dan kamu mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu”.

Mereka telah menciptakan kemungkaran yang belum pernah didahului oleh siapa pun dari makhluk Allah; yaitu mereka mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat selain perempuan, dan mereka terang-terangan melakukannya tanpa menyembunyikan – ma’adzallah – dan mereka tidak melihat dalam hal itu kejelekan atau keburukan. Luth telah menasihati mereka, memberi nasihat, melarang, dan menakut-nakuti mereka dengan azab Allah Ta’ala; tapi mereka tidak peduli dan tidak berhenti. Ketika ia mendesak mereka dengan nasihat dan peringatan, mereka mengancamnya kadang dengan lemparan batu, kadang dengan pengusiran dari tengah-tengah mereka, sampai datang kepada Luth para malaikat; mereka datang kepadanya dalam wujud pemuda-pemuda tampan berwajah indah; maka datanglah penduduk kampung kepada Luth meminta tamu-tamunya; agar mereka melakukan perbuatan keji kepada mereka. Luth berusaha keras menghalau mereka dan sangat berupaya dalam hal itu; sampai ia meminta kepada mereka agar mengambil anak-anak perempuannya tapi mereka tidak mendengarkannya saat itu; artinya: ia meminta mereka menikahi anak-anak perempuannya tapi mereka tidak mendengarkannya. Saat itu Luth berpaling kepada para malaikat dan berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi kalian atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat, niscaya aku akan memerangi mereka dan menimpakan kepada mereka apa yang pantas mereka terima.” Ia tidak mengetahui bahwa mereka adalah malaikat sampai saat itu, dan saat itulah para malaikat memberitahukan kepadanya hakikat perkara mereka, dan bahwa mereka datang untuk menghukum orang-orang itu. Ketika penduduk kampung mencoba mengambil pemuda-pemuda itu dengan paksa, dan menyerbu rumah Luth; Allah menutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat, dan tidak dapat menemukan tempat untuk menerobos masuk kepada Luth dan orang-orang yang bersamanya.

Kemudian para malaikat mengeluarkan Luth beserta kedua anak perempuannya dan istrinya dari kampung, dan memerintahkan mereka agar tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh, dan agar mereka pergi ke tempat yang diperintahkan; mereka menaati perintah kecuali istrinya; ia menoleh ke kampung untuk melihat apa yang menimpanya, dan kecenderungan hatinya pada penduduk kampung bukan pada Luth; maka ia ditimpa murka dan azab sebagaimana yang menimpa mereka, dan ia adalah kafir bukan mukmin; maka Allah menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar, dan membalikkan negeri kaum itu, menjadikan yang atas menjadi yang bawah.

Kami meyakini bahwa Laut Mati yang sekarang dikenal sebagai laut Luth dan danau Luth tidak ada sebelum peristiwa ini, dan ini terjadi akibat gempa bumi yang menjadikan bagian atas negeri menjadi bagian bawah, dan menjadi lebih rendah dari permukaan tempat ini sekitar empat ratus meter. Mereka telah menemukan bekas-bekas kaum Luth di tepi Laut Mati, sebagaimana disebutkan penulis kisah-kisah para nabi.

Pendapat yang benar tentang tawaran Luth alaihissalam kepada orang-orang fasik itu mengenai anak-anak perempuannya:

Allah Ta’ala berfirman dalam kisah ini: “Dia (Luth) berkata: ‘Ini adalah tamu-tamuku'” (Al-Hijr: 68), ucapan atas lisan sayyiduna Luth: “Dia berkata: ‘Ini adalah tamu-tamuku, maka janganlah kamu mempermalukan aku. Dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menghinakan aku.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah kami telah melarangmu dari (menerima) orang lain?’ Luth berkata: ‘Inilah anak-anak perempuanku jika kamu hendak berbuat'” (Al-Hijr: 68-71).

Pendapat yang benar: bahwa Luth menawarkan kepada orang-orang fasik itu anak-anak perempuannya dengan tawaran sabiri; yaitu tawaran yang tidak pasti. As-sabiri adalah jenis dari jenis kain yang tenunannya rapat, dan penjualnya tidak mendesak dalam penawarannya, dan tidak memperindahnya, seakan-akan ia menawarkan tawaran yang tidak pasti. Maksudnya ia menawarkan anak-anak perempuannya sesuai dengan syariat, jika kalian menginginkan syahwat maka nikahilah anak-anak perempuan. Ada yang menyebutkan bahwa ia menawarkan mereka kepada orang-orang itu untuk mengecoh; tapi ia menawarkan anak-anak perempuannya kepada mereka dengan harapan mereka malu padanya, menjauh dan malu; agar mereka berhenti dari mempermalukan tamunya. Sebagian mufassir berkata: seperti kamu berkata kepada seseorang yang memukul orang lain dan kamu menghalanginya, kamu berkata kepadanya: “Biarkan dia dan pukul aku saja”; karena kamu mengucapkan perkataan itu dan kamu yakin bahwa ia tidak akan memukulmu. Ini adalah pendapat yang bagaimanapun ada dalam kitab-kitab tafsir. Tetapi kami tidak pantas menisbatkan kepada sayyiduna Luth bahwa ia menawarkan anak-anak perempuannya kepada kaumnya yang fasik dan jahat sebagai tawaran syahwat, sebagaimana mereka melakukan perbuatan-perbuatan keji. Mungkin ia berkata: “Ini anak-anak perempuanku, nikahilah mereka, dan syahwat dapat dipenuhi dengan cara halal.” Tapi mereka adalah kaum yang terbiasa dengan kefasikan dan kejahatan; dan seterusnya. Pendapat ini dikemukakan oleh banyak mufassir.

Ada pendapat-pendapat batil mengenai ayat-ayat ini “Dia berkata: ‘Inilah anak-anak perempuanku jika kamu hendak berbuat'” di antaranya bahwa Luth tidak menawarkan kepada mereka anak-anak perempuannya sendiri; melainkan menawarkan kepada mereka anak-anak perempuan kampung, yaitu istri-istri mereka; karena setiap nabi yang diutus kepada suatu kaum maka anak-anak mereka adalah anak-anaknya dan perempuan-perempuan mereka adalah anak-anak perempuannya secara majaz; lalu bagaimana mungkin Luth menjadi ayah bagi perempuan-perempuan kafir yang tidak beriman itu, dan bagaimana ia menyebut mereka dengan “anak-anak perempuanku” sementara mereka menolak kebapakan Luth, mengkafirkannya dan mengingkari kenabiannya dan risalahnya?! Ini adalah pendapat yang batil dan menyimpang.

Kedua: Kami katakan: sesungguhnya para malaikat yang diinginkan oleh orang-orang jahat itu ada tiga; dan tidak masuk akal bahwa setiap orang dari penduduk kampung yang datang kepada Luth dengan bergegas, berharap dapat memenuhi keinginannya dari mereka, sedangkan penduduk kampung berjumlah ribuan atau lebih. Yang masuk akal adalah ada dua atau tiga pemimpin yang ditaati dalam kaum itu, dan merekalah yang meminta para malaikat, dan ungkapan “penduduk kampung” hanya karena mereka mendukung mereka agar tercapai maksud mereka; maka Luth menawarkan kepada kaum itu anak-anak perempuannya atau kedua anak perempuannya sendiri; agar mereka mengambil mereka dengan cara pernikahan bukan dengan cara perbuatan keji atau kemungkaran.

Ketiga: Kami katakan: apa rujukan kaf khithab: “Kalau seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk melawan) kamu atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)” (Hud: 80)? Sesungguhnya rujukan kaf adalah kepada kaumnya yang datang bergegas kepadanya, dan maknanya: seandainya aku mendapat kekuatan yang memungkinkanku menghalau kalian, dan menimpakan hukuman kepada kalian; tentu aku lakukan.

Kedua: Seandainya rujukan khithab adalah para malaikat; dan berdasarkan itu maka Luth berharap seandainya jumlah tamunya banyak; agar ia mendapat kekuatan dari mereka untuk memerangi kaumnya, menghalau mereka dan menimpakan hukuman kepada mereka. Ini adalah pendapat yang bagaimanapun ada.

Kami kembali menjelaskan kemuliaan asal sayyiduna Luth dan pemeliharaannya terhadap tetangga, serta perdebatan Ibrahim tentang kaum Luth:

Ayat-ayat dalam kisah Luth alaihissalam menunjukkan bahwa ia mulia, dan ia memelihara hak tetangga; ketika kaumnya menginginkan keburukan terhadap tamunya, ia bangkit membela mereka, melawan penduduk negerinya demi mereka; maka Abu Saud berkata tentang ayat-ayat ini: “Sesungguhnya jika tamu atau tetangga seseorang diambil; maka orang itu telah dihina, dan karena itulah dari kemuliaan asli dan keaslian muru’ah serta kezaliman tetangga adalah penghinaan terhadap yang memberikan perlindungan.”

Kisah itu juga menunjukkan bahwa Luth memiliki iman yang besar, hati yang tenang; sehingga ia tidak membutuhkan pengobatan dari pamannya, dan bahwa demi iman kepada Allah ia rela berhijrah dari tanah airnya, dan pindah dari mereka.

Kami kembali kepada perdebatan Ibrahim tentang kaum Luth:

Ibrahim alaihissalam adalah seorang laki-laki yang lembut hatinya; ketika ia mengetahui bahwa kaum Luth akan binasa, dan bahwa azab akan turun kepada mereka, dan bahwa para malaikat akan datang untuk melaksanakan perintah terhadap mereka, ia dihinggapi rasa kasihan kepada mereka; maka ia mulai berdebat mengenai urusan kaum Luth, meminta rahmat dan berharap agar Allah memandang mereka dengan pandangan rahmat. Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala rasa takut telah hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, ia membantah (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi suka memohon ampun dan suka kembali (kepada Allah)” (Hud: 74-75). Perdebatan ini tentang mereka tidak dirinci dalam Al-Quran Al-Karim. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tatkala utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) datang kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit'” (Hud: 77). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu; dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” (Hud: 82-83).

Ketika menafsirkan ayat pertama; Abu As-Saud dan lainnya menyebutkan tentang perdebatan Ibrahim dengan para malaikat; ia berkata: “Perdebatannya dengan mereka adalah bahwa ia berkata kepada mereka ketika mereka berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk kampung ini,’ ia berkata: ‘Bagaimana pendapat kalian seandainya di dalamnya ada lima puluh orang laki-laki dari kalangan mukmin, apakah kalian akan membinasakan kampung itu?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Bagaimana dengan empat puluh?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Bagaimana dengan tiga puluh?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Sampai mencapai sepuluh, mereka berkata: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Bagaimana pendapat kalian jika di dalamnya ada seorang laki-laki muslim, apakah kalian akan membinasakan kampung itu?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Saat itu ia berkata: ‘Sesungguhnya di dalamnya ada Luth;’ mereka menjawab: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di dalamnya; kami akan menyelamatkan dia dan keluarganya.'”

Ketika menafsirkan ayat kedua; ia membicarakan tentang perginya para malaikat kepada Luth alaihissalam. Pada ayat kedua bahwa mereka datang kepadanya; ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Mereka berangkat dari sisi Ibrahim alaihissalam dan antara kedua kampung itu ada empat farsakh, dan mereka masuk menemuinya dalam bentuk pemuda-pemuda, atau dalam bentuk pemuda-pemuda tampan; karena itu ia merasa susah karena mereka, artinya: ia merasa susah karena kedatangan mereka; karena ia mengira mereka adalah manusia maka ia khawatir kaumnya akan mengincar mereka, dan ia tidak mampu membela mereka.” Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Jangan binasakan mereka sampai Luth bersaksi atas mereka empat kali kesaksian;” ketika ia berjalan bersama mereka menuju rumahnya, ia berkata kepada mereka: “Apakah belum sampai kepada kalian kabar tentang kampung ini?” Mereka berkata: “Apa kabarnya?” Ia berkata: “Aku bersaksi dengan nama Allah bahwa kampung ini adalah kampung yang paling jahat amalnya di bumi,” ia mengatakan hal itu empat kali. Lalu mereka masuk bersamanya ke rumahnya, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu.

Ketika menafsirkan ayat ketiga; ia menyebutkan bahwa jumlah kampung Luth ada lima; ia berkata: “Kampung-kampung kaum Luth yaitu yang disebut dengan al-Mu’tafikat lima kota, di dalamnya ada empat ratus ribu ribu.” Kemudian ia membicarakan tentang cara binasanya kaum Luth, ia berkata: “Diriwayatkan bahwa Jibril alaihissalam meletakkan sayapnya di bagian bawah kampung itu kemudian mengangkatnya ke langit sampai penduduk langit mendengar suara gonggongan anjing dan suara kokok ayam, kemudian membalikkannya kepada mereka.” Ucapan ini ada dalam (Tafsir Abu As-Saud) jilid keempat dalam tafsir ayat-ayat ini, dan disebutkan oleh yang lain.

Penjelasan tentang apa yang menyimpang dalam hal itu:

Apa yang disebutkan Abu As-Saud mengenai jumlah yang diperdebatkan Ibrahim dengan para malaikat tidak dapat diandalkan; karena di dalamnya terdapat kontradiksi antara riwayat-riwayatnya; sebab riwayat Abu Saud yang menyebutkan bahwa Ibrahim berdebat dengan mereka dengan jumlah paling banyak lima puluh, kemudian ia terus menguranginya; sampai mencapai sepuluh, berbeda dengan jumlah yang disebutkan Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya dari riwayat As-Suddi; dimana disebutkan bahwa Ibrahim berdebat dengan mereka tentang seratus orang muslim, dan ia terus menurunkan sampai mencapai sepuluh, dan demikian juga dari riwayat Ibnu Jarir bahwa ia berdebat dengan mereka tentang seratus juga; sampai turun ke lima. Sementara kita dapati Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan dalam riwayat Ibnu Ishaq dan lainnya bahwa perdebatan ayah kita Ibrahim dengan mereka adalah tentang tiga ratus, dan ia terus mengurangi sampai bersama mereka mencapai seorang mukmin, dan Ibnu Abbas serta lainnya menyebutkan bahwa Ibrahim alaihissalam berdebat dengan mereka tentang empat ratus, dan ia terus mengurangi dari mereka sampai mencapai empat belas. Lihat (Qashash Al-Anbiya’).

Dengan demikian kita menemukan pertentangan dan kontradiksi yang jelas dalam penentuan jumlah yang diperdebatkan Ibrahim alaihissalam dengan para malaikat, yang menunjukkan dengan jelas bahwa riwayat-riwayat tersebut hanyalah hasil ijtihad para perawi. Oleh karena itu, Allamah Imam Al-Alusi berkata dalam komentarnya terhadap apa yang disebutkan: “Diriwayatkan hal serupa dengan beberapa riwayat, Allah yang lebih mengetahui kebenarannya.”

Adapun perdebatan yang disebutkan para mufasir tersebut tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran Al-Karim, dan tidak pula dalam sunnah Nabi yang agung Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Namun dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab yang telah diubah di kalangan Yahudi. Detail-detail ini terdapat dalam pasal kedelapan belas dari Kitab Kejadian. Di antara ungkapan-ungkapan tersebut adalah: “Lalu Abraham maju dan berkata: Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama orang berdosa jika ada lima puluh orang di kota itu? Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu dan tidak mengampuninya demi lima puluh orang yang ada di dalamnya? Jauh dari-Mu untuk melakukan hal seperti ini, membunuh orang benar bersama orang berdosa, sehingga orang benar sama seperti orang berdosa. Jauh dari-Mu.” Maka Tuhan berkata: “Jika Aku menemukan lima puluh orang benar di kota itu, maka Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.” Abraham menjawab dan berkata: “Aku telah mulai berbicara kepada Tuhan, padahal aku hanyalah debu dan abu. Mungkin lima puluh orang benar itu kurang lima, apakah Engkau akan membinasakan seluruh kota karena lima orang?” Dia berkata: “Aku tidak akan membinasakan jika Aku menemukan empat puluh lima di sana.” Kata-kata yang dinukil para mufasir dari Taurat ini adalah kata-kata yang kontradiktif: lima puluh, empat puluh, tiga puluh, dua puluh; hingga dia berkata: “Aku tidak akan membinasakan demi dua puluh.” Dia berkata: “Jangan marah Tuhan, biarkan aku berbicara kali ini.” Dia berkata: “Mungkin ada sepuluh di sana.” Dia berkata: “Aku tidak akan membinasakan demi sepuluh.”

Dari ini terlihat jelas bahwa perdebatan-perdebatan ini dinukil secara harfiah dari Taurat, dan betapa banyak perubahan, kontradiksi dan kebatilan yang ada di dalamnya.

Kesimpulan masalahnya: Al-Quran Al-Karim tidak menjelaskan apa yang diperdebatkan Ibrahim alaihissalam dan para malaikat tentang kaum Luth alaihissalam, tetapi Al-Quran mengisyaratkannya dalam surat Al-Ankabut dengan firman-Nya: “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.’ Dia (Ibrahim) berkata: ‘Sesungguhnya di dalamnya ada Luth.’ Mereka berkata: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di dalamnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan dia dan keluarganya, kecuali isterinya; dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).'” (Al-Ankabut: 31-32).

Maka inti perdebatannya dengan mereka adalah dia berkata: Jika kalian membinasakan negeri padahal di dalamnya ada seorang mukmin, kalian akan membinasakan mukmin tersebut tanpa dosa. Maka mereka menjawabnya dengan perkataan mereka: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di dalamnya” hingga akhir ayat. Dan dari sini dipahami bahwa perdebatan tersebut menyangkut pribadi Nabi Allah Luth alaihissalam, dan Allah Ta’ala Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.

Adapun yang disebutkan Abu As-Su’ud bahwa azab tidak turun kepada kaum ini hingga Luth alaihissalam bersaksi atas mereka dengan empat kesaksian bahwa mereka adalah seburuk-buruk kaum dalam perbuatan, maka hal itu menimbulkan keheranan dan pertanyaan: siapa yang ada di sana dan menyaksikan peristiwa-peristiwa ini sehingga bisa bersaksi atas mereka sekarang? Andaikan Luth alaihissalam tidak memberikan kesaksiannya – sebagaimana diklaim bahwa dia bersaksi – apakah para rasul yang diutus Allah untuk membinasakan orang-orang yang tertinggal akan kembali ke tempat asal mereka tanpa melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka, padahal mereka yang berkata kepada Ibrahim: “Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”? Apakah turunnya azab kepada mereka memerlukan kesaksian rasul mereka di hadapan para malaikat? Kami katakan: Sesungguhnya kata-kata yang disebutkan Abu As-Su’ud dan para mufasir ini, yang didahului oleh Ibnu Katsir ketika dia menukilnya dari riwayat Qatadah dan As-Suddi, dugaan ini bahwa hal itu dinukil dari Ahli Kitab.

Demikian juga mengenai jumlah negeri kaum Luth, apakah lima kota atau kurang atau lebih, ini adalah kata-kata yang memerlukan dalil, karena zhahir tanzil dan ayat-ayat menunjukkan bahwa negeri itu hanya satu, Allah Jalla Qudratuh berfirman: “Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri ini” dan Dia berfirman, Jalla Hikmhatuh: “Sesungguhnya kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk negeri ini, karena mereka berbuat fasik” (Al-Ankabut: 34). Dan sebaik-baik penafsir Al-Quran adalah Al-Quran.

Apa yang disebutkan para mufasir tentang cara binasanya kaum Luth, yaitu Jibril meletakkan sayapnya di bawah negeri kemudian mengangkatnya ke langit hingga terdengar gonggongan anjing dan kokok ayam lalu membalikkannya atas mereka tanpa menisbatkan perkataan ini kepada yang mengatakannya, ini adalah riwayat dari As-Suddi sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir dan juga disebutkan Ibnu Al-Jauzi dalam tafsir mereka. Dan ini menunjukkan bahwa hal tersebut dari Israiliyyat yang dinukil dari Ahli Kitab.

Inilah penulis Fath Al-Qadir, Imam Asy-Syaukani, menjelaskan kepada kita bahwa apa yang disebutkan para mufasir dari riwayat-riwayat tidak ada faedahnya dalam menyebutkannya, dan kebanyakannya diambil dari Ahli Kitab. Dia berkata: Para mufasir telah menyebutkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah tentang cara binasanya kaum Luth yang panjang dan saling berbeda, dan tidak ada faedah dalam menyebutkannya, apalagi antara yang mengatakan sesuatu dari itu dengan binasanya kaum Luth ada masa yang panjang yang tidak memungkinkan baginya dalam hal semacam itu sanad yang sahih, dan kebanyakannya diambil dari Ahli Kitab. Kita telah diperintahkan untuk tidak membenarkan dan tidak mendustakan mereka. Maka ketahuilah hal ini wahai saudara Islam, bahwa itu adalah riwayat-riwayat dari kisah para nabi yang tidak memiliki sumber dan dokumentasi.

Penulis Tafsir Al-Manar, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata: Dalam dongeng-dongeng para mufasir yang diriwayatkan dari Israiliyyat disebutkan bahwa Jibril alaihissalam mencabut negeri itu dari perbatasan bumi dengan sayapnya, dan naik dengannya ke awan langit hingga penduduk langit mendengar suara-suara anjing dan ayam di dalamnya, kemudian membalikkannya secara rata, menjadikan yang atasnya menjadi bawah. Ini adalah gambaran yang dibangun atas keyakinan yang membayangkannya bahwa benda-benda langit yang dihuni penduduk dapat didekati oleh penduduk bumi dan apa yang ada di dalamnya dari hewan, dan mereka tetap hidup.

Telah terbukti dengan penglihatan dan percobaan aktual bahwa pesawat terbang dan balon udara yang terbang di angkasa mencapai tempat di mana tekanan udara menipis dan kehidupan manusia menjadi tidak mungkin di sana. Mereka membuat berbagai jenisnya dengan menempatkan oksigen dan sebagainya di dalamnya. Telah diisyaratkan dalam Kitab Yang Mulia tentang apa yang terjadi pada pendakian di angkasa langit berupa pengaruh pada sesak dada dengan firman-Nya: “Barang siapa yang Allah kehendaki akan mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (Al-An’am: 125).

Jika dikatakan: Sesungguhnya perbuatan yang diriwayatkan dari Jibril alaihissalam ini termasuk kemungkinan-kemungkinan akal, dan kejadiannya termasuk hal-hal luar biasa, maka tidak benar menjadikan pembenaran terhadapnya bergantung pada apa yang diketahui dari sunnatullah dalam makhluk-makhluk. Dia (penulis Al-Manar) berkata: Ya, tetapi syarat pertama untuk menerima riwayat dalam suatu perkara yang terjadi tidak sesuai dengan sunnatullah dan hukum-hukum yang dengannya Allah menegakkan sistem alam dari kemakmuran dan kehancuran adalah bahwa riwayat itu dari wahyu Ilahi yang dinukil secara mutawatir dari yang ma’shum shallallahu alaihi wa sallam atau dengan sanad sahih yang bersambung tanpa ada kejanggalan di dalamnya dan tanpa cacat minimal. Tidak disebutkan dalam Kitab Allah Ta’ala sesuatu dari ini, tidak pula datang di dalamnya hadits marfu’ kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak tampak hikmah Allah di dalamnya. Hanya diriwayatkan dari sebagian tabi’in tanpa sahabat, dan tidak diragukan bahwa itu dari Israiliyyat.

Di antara yang mereka katakan di dalamnya: bahwa jumlah penduduknya adalah empat juta, sedangkan negeri Palestina seluruhnya tidak cukup untuk jumlah ini. Di mana jutaan orang ini tinggal dari empat negeri tersebut? Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui tentang kata-kata ini. Berakhirlah kata-kata Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (Tafsir Al-Manar) jilid kedua belas.

Kita menyimpulkan bahwa apa yang disebutkan Al-Quran Al-Karim adalah ringkasan dan isyarat-isyarat yang tidak ada perluasan dan perincian di dalamnya tentang apa yang dinukil dari Israiliyyat. Renungkanlah wahai saudara Islam: Jibril datang untuk menghilangkan negeri, bersamanya keputusan penghilangan dan kehancuran. Meskipun demikian, penduduk negeri berani dan terus-menerus dalam kebatilan, kemungkaran dan perbuatan keji mereka. Bukankah mereka pantas mendapat hukuman yang pedih ini, bahwa Allah menjadikan yang atas menjadi bawah, dan menurunkan atas mereka batu-batu dari tanah liat yang berlapis-lapis yang ditandai di sisi Tuhanmu, dan hal itu tidak jauh dari orang-orang zalim? Demikianlah orang yang mengingkari syariat-syariat Allah, mendustakannya dan memberontak terhadap ketaatan kepada Allah pantas mendapat hukuman yang pedih ini.

Dan semoga sholawat dan salam Allah tercurah kepada junjunan kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Allah yang lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran 17: Yang Menyelinap dalam Yang Dinukil Melalui Hadits-Hadits Palsu (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Ketujuh Belas (Yang Menyelinap dalam Yang Dinukil Melalui Hadits-Hadits Palsu (1))

Definisi Hadits Palsu

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga sholawat dan salam Allah tercurah kepada junjunan kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya seluruhnya. Amma ba’du:

Kita beralih kepada jenis kedua, yaitu: yang menyelinap dalam yang dinukil melalui hadits-hadits palsu.

Yang perlu diketahui bahwa hadits-hadits palsu adalah seburuk-buruk jenis hadits dhaif, karena dinisbatkan secara dusta dan palsu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan dalam hal itu terdapat akibat terburuk dan pengaruh terjelek. Hadits-hadits palsu juga merupakan hal paling berbahaya dalam bidang tafsir bil ma’tsur, karena dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga orang awam meyakini kebenarannya lalu beriman dengannya dan mengamalkan sesuai dengannya.

Oleh karena itu datanglah peringatan-peringatan dari Nabi alaihissalatu wassalam agar tidak dikatakan atas namanya apa yang tidak dia katakan, dan ancaman-Nya bagi yang menempuh jalan ini dengan neraka Jahannam pada hari Kiamat. Beliau alaihissalatu wassalam bersabda: “Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, hendaklah dia menempati tempatnya dari neraka.” Sesungguhnya sejelek-jelek dusta adalah yang ditujukan kepada Rasulullah, karena dusta atas namanya tidak seperti dusta atas nama manusia lainnya. Dusta atas nama Rasulullah adalah dusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini beliau alaihissalatu wassalam bersabda: “Sesungguhnya dusta atasku tidak seperti dusta atas orang lain. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah dia menempati tempatnya dari neraka.”

Kemudian kita mulai dengan definisi hadits palsu dalam bahasa dan istilah, dan mengenali kapan munculnya pemalsuan dalam tafsir bil ma’tsur.

Hadits palsu definisinya dalam bahasa diambil dari wadha’a asy-syai’a yadha’uhu wadh’an jika dia menurunkan dan menjatuhkannya, atau dari wadha’at al-mar’ah waladaha jika dia melahirkannya. Maka hadits palsu itu jatuh dan rendah dari pertimbangan, dan lahir karena dia adalah sesuatu yang baru dan wujud yang tidak ada sebelumnya. Ini definisinya dalam bahasa.

Adapun dalam istilah, para imam hadits, dan di depan mereka Imam An-Nawawi telah mendefinisikan hadits ini. Dia berkata: Hadits palsu adalah yang dibuat-buat, dikarang, didusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau atas nama orang setelahnya dari sahabat dan tabi’in. Dan ini adalah seburuk-buruk jenis hadits dhaif. Hadits palsu ini dampak buruknya banyak dan sangat berbahaya. Dan penulis Al-Ba’its Al-Hatsits mendefinisikannya dengan katanya: Khabar palsu adalah yang dibuat-buat dan dikarang, yaitu yang dinisbatkan para pendusta dan pemfitnah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan ini adalah seburuk-buruk jenis riwayat.

Kita kembali kepada hadits palsu ini, baik yang dikarang para pemalsu dari diri mereka sendiri dan dinisbatkan secara dusta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atau yang mereka ambil dari kata-kata orang lain dari Israiliyyat, atau bahkan dari kata-kata sahabat dan dinisbatkan secara dusta kepada Rasulullah, atau dari kata-kata tabi’in atau kaum sufi atau dokter atau ahli hikmah, kemudian menisbatkannya secara dusta kepada Rasul shallallahu alaihi wa sallam agar mendapat sambutan dan penerimaan.

Dari kata-kata Israiliyyat adalah hadits yang sering diriwayatkan yang bunyinya: “Tidak meluasku bumi-Ku dan tidak pula langit-Ku, tetapi yang meluasku adalah hati hamba-Ku yang mukmin.” Imam Ibnu Taimiyyah berkata: Tidak ada asalnya yang dikenal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Israiliyyat juga dan dinisbatkan kepada Ibnu Abbas – maksudnya: mungkin hadits dinisbatkan kepada Rasulullah dan itu karangan perkataannya, atau dinukilnya dari orang lain dan dinisbatkan kepada Rasul, dan mungkin juga dinisbatkan kepada salah satu sahabatnya juga, dan itu jenis dusta. Telah diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas: “Bahwa umur dunia tujuh ribu tahun,” dan ini juga perkataan yang tidak benar.

Dari kata-kata kaum sufi apa yang mereka nisbatkan juga kepada hadits hingga mereka menjadikannya hadits qudsi yang bunyinya: “Aku adalah harta karun tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, lalu Aku ciptakan makhluk, maka Aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka, lalu mereka mengenal-Ku.” Hadits-hadits ini dan jenis-jenis lain akan kita sebutkan, dan kita sebutkan darinya contoh-contoh banyak untuk mengenal apa yang disebutkan di bawah judul ini dalam hadits-hadits palsu yang merusak dan berdampak buruk dalam kitab-kitab warisan kita, khususnya kitab-kitab tafsir.

Hukum dusta atas nama Rasulullah secara ringkas: Jumhur ulama sepakat bahwa dusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam termasuk dosa besar dan dosa paling buruk. Bahkan salah satu ulama menganggapnya kufur. Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini, ayah Imam Al-Haramain, memutuskan kufurnya pemalsu hadits. Al-Juwaini ini dari negeri bernama Juwain, suatu wilayah dari wilayah Naisabur. Dia memutuskan kufurnya pemalsu hadits, dan ini perkataan yang dinisbatkan kepadanya. Imam Nashiruddin Ahmad bin Muhammad bin Al-Munir Al-Maliki, penulis ta’liq dan Kasyf Al-I’tizaliyyat dalam kitab Al-Kasysyaf karya Az-Zamakhsyari menyetujuinya, dan sebagian Hanabilah juga mengikutinya, serta Imam Adz-Dzahabi menyetujui mereka dalam pendapat ini tentang kesengajaan dusta dalam halal dan haram. Dia berkata: Sesungguhnya dusta dalam halal dan haram, pelakunya menjadi kafir. Ini secara sangat ringkas. Dan bersama kita hadits yang mencapai tingkat mutawatir: “Sesungguhnya dusta atasku tidak seperti dusta atas orang lain. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah dia menempati tempatnya dari neraka.” Hadits muttafaq alaih, diriwayatkan dari jalur-jalur banyak hingga para ulama berkata: Sesungguhnya itu mutawatir.

Masalah berikutnya: pemalsuan dalam tafsir bil ma’tsur ini – pemalsuan hadits – dan penuhnya kitab-kitab tafsir dengannya, kapan muncul?

Pemalsuan dalam tafsir muncul bersamaan dengan munculnya pemalsuan dalam hadits, karena tafsir dan hadits adalah campuran yang tidak berdiri sendiri satu dengan lainnya. Sebagaimana kita menemukan hadits sahih, hasan, dhaif, dalam riwayat dari yang terpercaya, yang diragukan, dan yang dikenal dengan pemalsuan, kita menemukan hal serupa dalam apa yang diriwayatkan tentang tafsir dan dari para mufasir yang meriwayatkannya.

Permulaan munculnya pemalsuan dalam hadits, sebagaimana dikatakan banyak ulama: tahun empat puluh atau empat puluh satu Hijriyyah, sebagaimana disebutkan guru kami Syaikh Adz-Dzahabi dalam At-Tafsir wal Mufassirun, atau di akhir masa Khulafaur Rasyidin dan awal masa Bani Umayyah ketika terjadi fitnah di antara kaum muslimin, dan terbunuhnya sayyidina Utsman radhiyallahu anhu serta berselisihnya kaum muslimin secara politik, dan terpecahnya mereka menjadi Syiah, Khawarij, dan jumhur Ahlu Sunnah. Khawarij memusuhi Syiah, dan ada kelompok-kelompok lain.

Dan ditemukan dari kalangan ahli bid’ah yang mempromosikan bid’ah mereka dan berfanatik terhadap hawa nafsu mereka, dan masuk ke dalam Islam orang-orang dari kalangan ahli bid’ah, dan di antara mereka ada yang menyembunyikan kekafiran dan bergabung dengan Islam, dan di antara mereka ada yang menyembunyikan keislamannya dengan tujuan menipu Islam dan menyesatkan umatnya, maka mereka membuat riwayat-riwayat bathil untuk mencapai tujuan buruk mereka dan untuk memenangkan kelompok mereka serta menguatkan mazhab mereka, dan gerakan pemalsuan terus berkembang, kebohongan tersebar dan meluas hingga memenuhi kitab-kitab tafsir dan lainnya dengan kebatilan.

Gerakan pemalsuan terus berlanjut, lalu apa sebab-sebabnya?

Kami katakan: jika kita melihat pada sebab-sebab pemalsuan dalam tafsir bil ma’tsur, dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsur adalah kitab-kitab tafsir yang paling banyak mengandung hadits-hadits palsu dalam jumlah besar; sebab pertama dalam pemalsuan hadits:

Zindiq: Zindiq disebut untuk pengikut agama Majusi dengan menampakkan Islam, mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan Islam, dan penyebutan zindiq telah meluas sehingga disebut untuk orang-orang ateis yang tidak beragama, sebagaimana juga disebut untuk orang-orang yang menghalalkan segala sesuatu yang berdalih dengan perkataan dalam hal-hal yang menyentuh agama, dan jalan yang ditempuh zindiq untuk menyebarkan kesesatan adalah berbohong kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimbulkan keraguan dan mencela, dengan keinginan mereka untuk menjauhkan manusia dari Islam dan lepas dari hukum-hukumnya hingga melemahkan kekuatan kaum muslimin.

Lihat (Fathul Mughits) karya Imam As-Sakhawi, dan lihat juga kitab (As-Sunnah An-Nabawiyyah fi Muwajahatit Tahaddiy) karya Profesor Dr. Ahmad Umar Hasyim guru kami; dia telah memindahkan hal seperti ini dan menjelaskan bahwa sebab-sebab zindiq atau sebab-sebab pemalsuan di antaranya adalah zindiq dan kebencian, dan dendam yang mengakar dalam pikiran para pengikutnya terhadap Islam dan kaum muslimin; ketika para zindiq ini menemukan yang paling suci dari kesucian kaum muslimin adalah Al-Qur’an Al-Karim, dan ketika mereka tidak mampu merusak Al-Qur’an karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji bahwa Dia akan menjaga kitab-Nya, maka janji ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr: 9) ketika mereka tidak mencapai tujuan mereka dari nash Al-Qur’an secara langsung, mereka membayangkan bahwa mereka akan menemukan tujuan mereka dalam mengatakan atas nama Nabi Islam dan berbohong kepadanya, dan dari sini mereka mulai menyuntikkan racun mereka dan mempromosikan kebatilan mereka, dengan itu mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, dan menyeru kepada mazhab-mazhab kufur dan kesesatan.

Lihat apa yang dikatakan Imam As-Suyuthi dalam (Tadrib Ar-Rawi) dia berkata: Para zindiq membuat sejumlah hadits untuk merusak agama, tetapi para ahli hadits; yaitu: para perawi dan pengkritiknya menjelaskan bahwa hadits-hadits itu palsu dan mengungkap kepalsuan mereka, dan segala puji bagi Allah.

Al-‘Uqayli meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hammad bin Zaid berkata: Para zindiq membuat empat belas ribu hadits atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara mereka: Abdul Karim bin Abil ‘Urja yang dibunuh dan disalib pada zaman Al-Mahdi, Ibnu ‘Adiy berkata: ketika dia ditangkap untuk dipenggal lehernya, dia berkata: Aku telah membuat di antara kalian empat ribu hadits; aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram di dalamnya, ini pengakuan salah satu dari para zindiq tersebut.

Dan di antara mereka adalah Bayan bin Sam’an An-Nahdi yang muncul di Irak setelah seratus tahun, dan mengklaim ketuhanan Ali, dan mengatakan klaim-klaim yang rusak maka Khalid bin Abdullah Al-Qasri membunuhnya karena itu, dan membakarnya dengan api.

Dan Al-Hakim berkata: seperti Muhammad bin Sa’id Asy-Syami yang disalib karena zindiq, dia telah meriwayatkan dari Humaid dari Anas secara marfu’: “Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku kecuali jika Allah menghendaki” dia membuat pengecualian ini karena apa yang dia serukan dari kesesatan dan zindiq, dan seruan kepada kenabian. Lihat juga: (Tadrib Ar-Rawi) Jilid Pertama, dan lihat: (Al-Milal wan Nihal) karya Asy-Shahrastani, dan (Al-Ba’its Al-Hatsits) semuanya memindahkan kepada kami contoh-contoh nama-nama zindiq ini. Jadi para zindiq membuat hadits dalam jumlah besar dalam akidah dan akhlaq, dan halal haram untuk merusak agama, tetapi Allah menyiapkan bagi umat Islam orang-orang yang menjaga agama mereka dari kerusakan para zindiq dan main-main mereka; maka para ahli hadits dan pengkritiknya bangkit untuk menjelaskan hadits-hadits palsu ini dan mengungkap kebatilannya.

Kedua kami katakan: dari sebab-sebab pemalsuan dalam hadits selain zindiq; membela bid’ah dan pendapat-pendapat dan hawa nafsu serta mengikuti kesesatan dan mengikuti hawa nafsu tanpa dalil dari Al-Qur’an atau Sunnah; kaum muslimin tetap satu pemikiran dan kelompok yang kuat bersatu tidak dikuasai hawa nafsu dan tidak dikuasai setan selama periode waktu hingga musuh-musuh Islam berhasil menanamkan fitnah, dan fitnah ini terwujud dalam pembunuhan khalifah ketiga Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu setelah itu kaum muslimin terpecah setelah itu, mereka terpecah menjadi Syiah dan Khawarij dan mayoritas Ahlus Sunnah, Syiah adalah mereka yang memihak Ali dan menerima tahkim, Khawarij adalah mereka yang keluar dari Ali setelah menerima tahkim dan berpaling darinya dan memusuhi Syiah, dan alasan mereka adalah: mereka menganggap menerima tahkim sebagai kekafiran, dan muncul tentu saja mayoritas kaum muslimin dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu mereka yang berdiri netral, tidak terlibat dalam tasyi’ dan tidak keluar bersama Khawarij; maka mereka tidak mencelupkan tangan mereka dalam fitnah itu, dan tidak mengotorinya dengan bid’ah keluar atau tasyi’.

Sebagaimana muncul banyak kelompok kalam seperti Mu’tazilah setelah itu, dan Murji’ah, dan Jabriyyah, dan Jahmiyyah, dan Karramiyyah; banyak kelompok, dan tentu saja setiap kelompok dari kelompok-kelompok ini memiliki pendapat dan mazhab, dan setiap kelompok mengklaim bahwa hanya mereka yang berada di atas kebenaran yang yakin, dan yang lain tersesat dalam kesesatan yang nyata, bahkan setiap kelompok melihat pada zahir nash dari Kitab dan Sunnah, dan berusaha tanpa lelah atau bosan memutar leher nash -yaitu: mereka mentakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits sesuai dengan hawa nafsu mereka, dan membela mazhab mereka dan semoga perkara berhenti sampai di sini, bahkan sebagian mereka pergi untuk membuat hadits dalam jumlah besar, dan menisbatkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau berlepas dari itu.

Imam Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan kepada kami dengan sanadnya dari seorang syaikh dari Khawarij yang telah bertaubat dan kembali, syaikh ini berkata: “Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah agama; maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian; karena kami dahulu jika kami menginginkan suatu perkara kami menjadikannya hadits”.

Sebagaimana Ibnu Al-Jauzi juga meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hammad bin Salamah, berkata: seorang syaikh dari mereka; Syiah Rafidhah bercerita kepadaku, yaitu kelompok dari Syiah Kufah dinamakan demikian karena mereka menolak yaitu meninggalkan Zaid bin Ali bin Al-Husain radhiyallahu ‘anhu ketika dia melarang mereka dari mencela para sahabat, ketika mereka mengetahui perkataannya dan bahwa dia tidak berlepas dari dua syaikh Abu Bakar dan Umar mereka menolaknya, dan sejak itu julukan ini digunakan untuk setiap orang yang berlebihan dalam mazhab ini dan membolehkan mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia berkata: seorang syaikh dari mereka tentang Rafidhah bercerita kepadaku berkata: kami dahulu jika berkumpul dan menganggap baik sesuatu kami menjadikannya hadits.

Dan Al-Hakim juga berkata: Muhammad bin Al-Qasim Ath-Thaykani adalah dari pemimpin-pemimpin Murji’ah, dan dia membuat hadits atas mazhab mereka, kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Muhamili berkata: aku mendengar Abu Al-‘Aina’ berkata: aku dan Al-Jahizh membuat hadits Fadak, dan kami masukkannya kepada para syaikh di Baghdad mereka menerimanya, kecuali Ibnu Abi Syaibah Al-‘Alawi; dia berkata: tidak menyerupai akhir hadits ini awalnya, dan dia menolak untuk menerimanya.

Dan jika kelompok-kelompok yang berbid’ah ini telah membuat semua hadits ini untuk melayani tujuan mereka; maka ulama kaum muslimin pemilik akidah yang benar telah memperhatikannya sejak kelahirannya, dan mereka mengawasinya. Imam Muslim meriwayatkan dalam muqaddimah shahihnya dari Ibnu Sirin berkata: mereka dahulu tidak bertanya tentang sanad, ketika fitnah terjadi mereka berkata: sebutkan kepada kami orang-orang kalian, maka dilihat kepada Ahlus Sunnah dan diambil hadits mereka, dan dilihat kepada ahli bid’ah maka tidak diambil hadits mereka. Muqaddimah Imam Muslim dalam shahihnya.

Sebab ketiga dari sebab-sebab pemalsuan dalam hadits; fanatisme ras; dan dalam hal ini kami dapati Syu’ubiyyah membuat banyak hadits, Syu’ubiyyah adalah kelompok yang meremehkan perkara Arab dan mengutamakan Ajam atas Arab, dan kelompok ini muncul di akhir masa Umawiyyah dan menguat pada masa khalifah-khalifah Abbasiyyah, Syu’ubiyyah membuat beberapa hadits dalam mengutamakan Persia atas Arab, dan dalam mengutamakan negeri-negeri mereka, dan ulama mereka serta bahasa Persia dengan lainnya seperti hadits: “Sesungguhnya kalam Allah di sekitar Arsy dengan bahasa Persia, dan sesungguhnya Allah jika mewahyukan perkara yang keras Dia wahyukan dengan bahasa Arab” Subhanallah hadits yang jelas mereka meremehkan bahasa Arab.

Dan ungkapan yang lain: “Jika Dia mewahyukan perkara yang keras Dia wahyukan dengan bahasa Arab” mereka ingin membenci kepada manusia bahasa Arab. Imam Asy-Syaukani berkata: hadits ini diriwayatkan Ibnu ‘Adiy dari Abu Umamah secara marfu’, dan ini palsu dan bathil, tidak ada asalnya, dan semua yang datang dalam makna ini maka itu palsu, dan barangsiapa mengklaim selain itu maka dia telah berbuat sewenang-wenang.

Dan dari itu juga apa yang mereka buat dalam keutamaan Abu Hanifah An-Nu’man: bahwa dia dari asal Persia, dan dari celaan terhadap Asy-Syafi’i karena dia Arab, seperti hadits: “Akan ada dalam umatku seorang laki-laki yang dikatakan: Muhammad bin Idris lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis, dan akan ada dalam umatku seorang laki-laki yang dikatakan: Abu Hanifah, dan dia adalah pelita umatku dia adalah rahasia umatku”. Lihat: (Tadrib Ar-Rawi) karya As-Suyuthi. Subhanallah lihat bagaimana mereka membela Abu Hanifah padahal dia imam, dan mencela Asy-Syafi’i padahal dia imam; karena fanatisme terhadap Ajam dan Persia dan melawan Arab. Dan dari contoh apa yang mereka buat dalam bidang ini hadits: “Akan ada dalam umatku seorang laki-laki yang dikatakan An-Nu’man bin Tsabit yang berkunyah Abu Hanifah, Allah akan menghidupkan agama-Ku dan sunnah-Ku melalui tangannya” (Tadrib Ar-Rawi).

Keempat: fanatisme mazhab fiqih yang tercela; fanatisme dihasilkan dari kebodohan di mana pemilik fanatisme mazhab fiqih tidak mengambil prinsip yang disepakati di antara para imam fiqih, dan diserukan oleh setiap pemilik mazhab, yaitu jika hadits shahih maka itu mazhabku; mereka tidak mengambil perkataan ini. Fanatisme yang tercela mungkin mendorong sebagian pemilik fanatisme mazhab untuk membuat hadits-hadits yang mendukung dan bersaksi bagi mereka dengan kebenaran apa yang mereka lihat.

Dan dari itu apa yang diriwayatkan: bahwa dikatakan kepada Muhammad bin ‘Akasyah Al-Kirmani: sesungguhnya suatu kaum mengangkat tangan mereka dalam ruku’ dan dalam mengangkat darinya; maka dia berkata: Musayyab bin Wadhih menceritakan kepada kami dari Anas secara marfu’: “Barangsiapa mengangkat tangannya dalam ruku’; maka tidak ada shalat baginya” hadits yang dikeluarkan Ibnu Al-Jauzi dalam (Al-Maudhu’at) Asy-Syaukani berkata: diriwayatkan Al-Jauzaqani dari Anas secara marfu’, dan ini palsu, dan yang dituduh adalah Muhammad bin ‘Akasyah Al-Kirmani.

Dan demikianlah fanatisme mazhab memiliki pengaruh buruk pada budaya Islam; di mana setiap pemilik mazhab berbohong, dan menisbatkan hadits-hadits yang dibuat-buat, dan mengangkatnya dengan bohong untuk membela mazhabnya.

Kelima: dari sebab-sebab adalah menyenangkan khalifah dan penguasa, dan mendekatkan diri kepada mereka dengan apa yang sesuai hawa nafsu mereka; telah sampai pada sebagian jiwa lemah yang mencintai dunia, dan menginginkan perhiasannya yang fana bahwa mereka membuat hadits-hadits, dan melihat bahwa itu adalah cara terbaik untuk menjilat dan mendekatkan diri kepada para amir, dan mendekatkan diri kepada khalifah-khalifah karena apa yang sesuai hawa nafsu mereka, dan mengikuti keinginan mereka; karena itu apa yang diriwayatkan dari Ghiyats bin Ibrahim di mana dia membuat untuk Al-Mahdi dalam hadits: “Tidak ada perlombaan kecuali dalam mata panah atau kaki atau kuku atau sayap” maka dia menambahkan di dalamnya kata atau sayap, dan hadits dikeluarkan para pemilik Sunan yang empat, dan Al-Mahdi saat itu sedang bermain dengan merpati; maka dia meninggalkannya setelah itu, dan memerintahkan untuk menyembelihnya, dan berkata: aku membuatnya melakukan itu; yaitu amir ini menyadari bahwa hadits itu ditambahi, dan dibohongi dengan penambahan lafaz “atau sayap”, dan disebutkan: bahwa ketika dia berdiri khalifah ini berkata: aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta.

Dan mungkin jenis ini mengandung dimensi politik, sebagaimana diceritakan Abu Abdullah wali Al-Mahdi, berkata: Al-Mahdi berkata kepadaku: tidakkah kamu melihat apa yang dikatakan Muqatil kepadaku, dia berkata: jika kamu mau aku buat untukmu hadits-hadits tentang Abbas, dia berkata: tidak perlu bagiku Subhanallah.

Keenam: dari sebab-sebab juga yang mempromosikan hadits-hadits palsu adalah targhib dan tarhib dengan keinginan dalam kebaikan dan kebodohan tentang agama; yaitu bahwa suatu kaum dari para ahli ibadah dan zuhud melihat manusia telah berpaling dari Al-Qur’an, maka mereka ingin mengalihkan mereka kepada Al-Qur’an dan mengembalikan mereka kepadanya, meskipun cara dalam itu tidak disyariatkan, dan terwujud dalam berbohong kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka melakukannya.

Dan dari contoh apa yang dibuat dengan perhitungan apa yang diriwayatkan Al-Hakim dengan sanadnya kepada Abu ‘Ammar Al-Maruzi bahwa dia berkata kepada Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam: dari mana kamu dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas dalam keutamaan Al-Qur’an surat demi surat? Dan tidak ada pada sahabat-sahabat ‘Ikrimah ini? Maka dia berkata: aku melihat manusia telah berpaling dari Al-Qur’an dan sibuk dengan fiqih Abu Hanifah dan maghazi Muhammad bin Ishaq; maka aku buat hadits ini karena perhitungan, dan dikatakan kepada Abu ‘Ishmah ini: Nuh Al-Jami’, Ibnu Hibban berkata: Nuh ini mengumpulkan segala sesuatu kecuali kejujuran.

Dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam (Adh-Dhu’afa’) dari Ibnu Mahdi berkata: aku berkata kepada Maysarah bin ‘Abdirabbih: dari mana kamu datang dengan hadits-hadits ini? barangsiapa membaca begini maka baginya begini, dan barangsiapa membaca surat begini maka baginya begini?, dia berkata: aku membuatnya untuk membuat orang berminat, dan perbuatan ini meskipun mengandung niat baik tetapi ditolak tidak diterima; karena nash-nash syariat di dalamnya terdapat targhib dan tarhib yang menjadikan kami tidak perlu kebohongan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan ini seakan-akan mengoreksi Allah dan bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah: 3).

Bagaimanapun juga apapun kebohongan itu kebohongan untuk Al-Qur’an atau untuk Rasulullah adalah kebohongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tercakup dalam keumuman hadits yang telah lewat, dan kami katakan: bahwa itu mutawatir: “Barangsiapa berbohong kepadaku dengan sengaja; maka hendaklah dia menempati tempatnya di neraka”.

Ketujuh: dari sebab-sebab yang menyebabkan penyebaran dan meluasnya hadits-hadits palsu; cinta tampil; cinta tampil membawa pemiliknya untuk membuat hadits maka mereka membuat untuk sanad yang lemah sanad yang shahih, dan sebagian membuat hadits dengan sanad yang bukan sanadnya yang masyhur agar dianggap aneh dan dicari, Al-Hakim Abu Abdullah berkata: dan di antara mereka Ibrahim bin Yasa’, dan dia adalah Ibnu Abi Hayyah dia bercerita dari Ja’far Ash-Shadiq dan Hisyam bin ‘Urwah maka dia menggabungkan hadits yang satu pada yang lain agar hadits-hadits itu dianggap aneh dengan sanad-sanad itu, dia berkata: dan di antara mereka Hammad bin ‘Amr An-Nashihi, dan Bahlul bin ‘Ubaid, dan Ashgham bin Haushab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: dan ini masuk dalam bagian Maqlub, jenis dari hadits-hadits lemah hadits-hadits Maqlubah dia mengambil sanad yang satu pada hadits yang lain dan sanad hadits yang lain pada hadits pertama, dan membalik yang ini dan itu.

Dan dari contoh itu apa yang disebutkan Ibnu Al-Jauzi dalam (Al-Maudhu’at) maka dia berkata: Muslim bin Al-Hajjaj meriwayatkan: bahwa Yahya bin Aktsam masuk dengan Amirul Mukminin ke Hims dan melihat setiap orang di sana menyerupai banteng, maka masuk seorang syaikh di kepalanya destar, dan dia memakai jubah, maka dia dekatkan, dan berkata: wahai syaikh siapa kamu? dia berkata: aku tidak butuh kepada semua manusia karena syaikhku, dia berkata: dan siapa yang bertemu syaikhmu, dia berkata Al-Auza’i: dari siapa? dia berkata: dari Makhul, dia berkata: dan Makhul dari siapa? dia berkata: dari Sufyan bin ‘Uyainah, dia berkata: dan Sufyan dari siapa? dia berkata: dari ‘Aisyah, dia berkata kepadanya: Yahya berkata: wahai syaikh aku melihatmu naik ke bawah” hadits ini dipindahkan Ibnu Al-Jauzi dalam (Al-Maudhu’at).

Kesembilan: Di antara sebab-sebab pemalsuan hadits adalah mengejar dunia dengan menceritakan kisah-kisah aneh dan riwayat-riwayat menakjubkan untuk menarik hati manusia

Sebagian juru cerita telah memanfaatkan kecenderungan fitrah manusia untuk mendengar hal-hal yang aneh dan luar biasa, lalu mereka berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meriwayatkan hal-hal menakjubkan, aneh, dan tidak masuk akal untuk menarik perhatian manusia.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dalam kitab al-Maudu’at dengan sanadnya dari Ja’far bin Muhammad at-Tayalisi, ia berkata: Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in sedang shalat di masjid ar-Rasafah, tiba-tiba berdirilah seorang juru cerita di hadapan mereka. Orang tersebut berkata: “Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdurrazaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’, maka Allah menciptakan dari setiap kata tersebut seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan.'” Kemudian ia melanjutkan ceritanya sekitar dua puluh lembar. Ahmad bin Hanbal mulai memandang Yahya bin Ma’in, dan Yahya pun memandang Ahmad. Yahya berkata kepadanya: “Apakah kamu yang menceritakan hadits ini kepadanya?” Ahmad menjawab: “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar hadits ini kecuali baru saja sekarang.”

Setelah selesai bercerita dan mengambil sumbangan, ia duduk menunggu sisanya. Yahya bin Ma’in memanggil dengan tangannya: “Kemari!” Orang itu datang dengan harapan mendapat hadiah yang banyak. Yahya bertanya: “Siapa yang menceritakan hadits ini kepadamu?” Ia menjawab: “Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.” Yahya berkata: “Aku ini Yahya bin Ma’in, dan ini Ahmad bin Hanbal. Kami tidak pernah mendengar hadits ini dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika memang harus berdusta, berdustalah atas nama orang lain, bukan kami.”

Orang itu berkata: “Kamu ini Yahya bin Ma’in?” Yahya menjawab: “Ya.” Orang itu berkata: “Aku selalu mendengar bahwa Yahya bin Ma’in itu bodoh, dan baru sekarang aku yakin.” Yahya bertanya: “Bagaimana kamu tahu bahwa aku bodoh?” Orang itu menjawab: “Apakah tidak ada Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal lain di dunia ini selain kalian berdua? Aku sudah menulis dari tujuh belas orang yang bernama Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.” Ahmad kemudian menutup wajahnya dengan lengan bajunya dan berkata: “Biarkan dia pergi.” Maka pergilah orang itu sambil mengejek mereka berdua.

Riwayat-riwayat seperti ini banyak. Sebagian pembuat dusta, jika ada yang mengingkari dan membetulkan kebohongannya atau membongkar dustanya, malah menyerang ulama yang membetulkan kebohongannya.

Kesepuluh: Membuat dalil untuk fatwa yang telah dikeluarkan

Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata: “Ada cara lain yaitu mereka terpaksa membuat dalil untuk fatwa yang telah mereka keluarkan berdasarkan pendapat pribadi, maka mereka membuat hadits palsu.” Dikatakan bahwa al-Hafizh Abu al-Khathab bin Dihyah melakukan hal ini, dan sepertinya dialah yang membuat hadits tentang memperpendek maghrib.

Di antaranya adalah yang diriwayatkan Ibnu Jauzi dari Sa’id bin Tharif: bahwa ia melihat anaknya menangis, lalu bertanya: “Ada apa?” Anaknya menjawab: “Guru memukulku.” Sa’id berkata: “Demi Allah, aku akan mempermalukan mereka.” Lalu ia berkata: “‘Ikrimah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Guru-guru anak-anak kalian adalah orang-orang terburuk di antara kalian.'”

Lihat kitab al-Maudu’at karya Ibnu Jauzi. Demikianlah cara mereka berdusta untuk membuat dalil bagi fatwa yang telah mereka keluarkan.

Kesebelas: Sebagaimana yang disebutkan Imam as-Suyuthi

“Ada cara lain yaitu mereka diuji melalui anak-anak mereka, anak tiri, atau penulis, lalu orang-orang ini membuat hadits palsu dan menyelipkannya, sehingga mereka meriwayatkannya tanpa sadar.” Seperti Abdullah bin Muhammad bin Rabi’ah al-Qudami, dan seperti Hammad bin Salamah yang diuji melalui anak tirinya Ibnu Abi al-‘Arja yang menyelipkan hadits palsu ke dalam kitab-kitabnya. Dan seperti Umar yang memiliki keponakan seorang Rafidhah yang menyelipkan hadits palsu ke dalam kitab-kitabnya dari az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Abbas, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memandang Ali lalu bersabda: ‘Kamu adalah pemimpin di dunia dan pemimpin di akhirat. Barangsiapa mencintaimu maka ia telah mencintaiku, dan kekasihku adalah kekasih Allah. Musuhmu adalah musuhku, dan musuhku adalah musuh Allah. Celakalah orang yang membencimu setelahku.'”

Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma’mar, padahal hadits ini batil dan palsu, sebagaimana dikatakan Ibnu Ma’in.

Itulah sebab-sebab pemalsuan hadits dan penyebarannya dalam tafsir, khususnya dalam kitab-kitab tafsir bil-ma’tsur.

Tanda-tanda Hadits Palsu

Tanda-tanda hadits palsu sangat beragam. Ada yang berkaitan dengan perawi, ada yang berkaitan dengan matan (teks hadits), dan ada yang mencakup keduanya.

Tanda-tanda yang terdapat pada perawi:

Pertama: Perawi mengakui bahwa dialah yang membuat hadits palsu tersebut. Seperti pengakuan Maisarah bin Abd Rabbih al-Farisi bahwa dialah yang membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan al-Quran surat demi surat. Dan seperti pengakuan Umar bin Shabh bahwa ia membuat khutbah palsu atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Daqiq al-‘Id menolak putusan kepalsuan berdasarkan pengakuan orang yang mengaku membuatnya. Bagaimana bisa kita terima perkataannya padahal ia mengaku pembohong? Kemudian ia menjawab keberatan ini dengan mengatakan: “Ini sudah cukup untuk menolaknya karena ia pembohong dan pembuat hadits palsu. Apa yang ia riwayatkan setelah itu ditolak, tetapi tidak mutlak bahwa hadits itu palsu, karena mungkin saja ia berbohong dalam pengakuan itu sendiri.”

Demikian menurut Imam as-Suyuthi. Ibnu Irak berkata: “Ini adalah tindakan menghukumnya berdasarkan pengakuannya sendiri, sebagaimana seseorang dihukum berdasarkan pengakuannya melakukan zina atau pembunuhan.”

Kedua: Tanda yang terdapat pada perawi yang setara dengan pengakuan kepalsuan, yaitu adanya indikasi yang menghalangi sahihnya hadits. Misalnya ia meriwayatkan hadits dari seseorang padahal tidak terbukti pernah bertemu dengannya, atau ia lahir setelah orang itu meninggal, atau ia tidak pernah masuk ke tempat kelahiran orang itu.

Imam as-Suyuthi berkata: “Ismail bin Ayyasy bertanya kepada seseorang untuk mengujinya: ‘Tahun berapa kamu menulis dari Khalid bin Ma’dan?’ Orang itu menjawab: ‘Tahun seratus tiga belas.’ Ismail berkata: ‘Kamu mengaku mendengar darinya tujuh tahun setelah ia meninggal, padahal ia meninggal tahun seratus enam.'”

Al-Hakim bertanya kepada Muhammad bin Hatim al-Kaini tentang kelahirannya ketika ia meriwayatkan dari Abd bin Humaid. Orang itu menjawab: “Tahun dua ratus enam puluh.” Al-Hakim berkata: “Orang ini mendengar dari Abd bin Humaid tiga belas tahun setelah ia meninggal.”

Oleh karena itu, para ahli hadits sangat memperhatikan pengetahuan tentang wafat dan kelahiran para perawi, serta usia mereka. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk mengetahui ketersambungan sanad dan keterputusannya, serta mengetahui para pembohong dan mudalis. Sufyan ats-Tsauri berkata: “Ketika para perawi menggunakan kebohongan, kami menggunakan tarikh (sejarah) untuk melawan mereka.”

Tanda-tanda kepalsuan yang berkaitan dengan matan hadits:

Pertama: Hadits bertentangan dengan al-Quran. Contohnya hadits: “Jika diriwayatkan hadits dariku, maka cocokkan dengan Kitab Allah. Jika sesuai maka terimalah, jika bertentangan maka tolak.”

Imam asy-Syaukani berkata tentangnya: “Al-Khathabi berkata bahwa hadits ini dibuat oleh zindiq, dan dibantah oleh hadits ‘Aku diberi Kitab dan yang serupa dengannya.'” As-Shan’ani berkata: “Sebenarnya Imam Yahya bin Ma’in lebih dulu menisbahkan pembuatannya kepada zindiq, sebagaimana dikutip adz-Dzahabi.”

Pada hadits palsu ini sendiri terdapat yang menunjukkan penolakannya. Jika kita cocokkan dengan Kitab Allah, ia bertentangan dengannya. Dalam Kitab Allah ada firman-Nya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (al-Hasyr: 7).

Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diterima berdasarkan nash al-Quran: “Katakanlah: ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku'” (Ali Imran: 31) dan ayat: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.” Semua yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahih riwayatnya diterima, dan kita tidak akan menemukan pertentangan dengan Kitab Allah, karena sumber wahyu adalah satu. Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Kawanmu tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (an-Najm: 2-4).

Kedua: Hadits bertentangan dengan sunnah. Contohnya hadits: “Jika kalian meriwayatkan hadits dariku yang sesuai dengan kebenaran, maka ambillah, baik aku mengatakannya atau tidak.” Ini bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits mutawatir: “Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.”

Ketiga: Hadits bertentangan dengan ijma’. Contohnya hadits: “Barangsiapa mengqadha satu shalat fardhu pada Jumat terakhir bulan Ramadhan, maka itu akan menutupi semua shalat yang terlewat dalam hidupnya hingga tujuh puluh tahun.” Al-Qadhi berkata tentang hadits ini: “Batil, karena bertentangan dengan ijma’ umat bahwa tidak ada ibadah yang dapat menggantikan shalat yang terlewat bertahun-tahun.”

Keempat: Hadits didustakan oleh indera dan pengamatan. Seperti hadits yang diriwayatkan tentang beberapa sayuran dan makanan: “Sesungguhnya terong adalah obat dari segala penyakit, dan tidak ada penyakit padanya.” Ibnu Jauzi berkata: “Ini hadits palsu yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga hujan tidak menyirami kubur orang yang membuatnya, karena ia bermaksud mencela syariat dengan menisbahkan kepada Rasul sesuatu yang tidak sesuai dengan hikmah dan pengobatan.”

Yang dituduh dalam hadits ini adalah Ahmad bin Muhammad bin Harb. Ibnu Adi berkata: “Ia sengaja berbohong dan mengajari kebohongan. Ia terkenal sebagai pembohong dan pembuat hadits palsu.”

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

 

 

Pelajaran 18: Yang Menyusup dalam Riwayat melalui Hadits-hadits Palsu (2) – Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kedelapan Belas (Yang Menyusup dalam Riwayat melalui Hadits-hadits Palsu (2) – Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (1))

Lanjutan Tanda-tanda Hadits Palsu

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Tanda kelima dari tanda-tanda hadits palsu yang berkaitan dengan nash: Hadits bertentangan dengan akal. As-Suyuthi memberikan contoh dengan berkata: “Yang bertentangan dengan akal adalah yang diriwayatkan Ibnu Jauzi dari jalur Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya secara marfu’: ‘Sesungguhnya bahtera Nuh mengelilingi Baitullah tujuh kali dan shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim.'”

Hadits ini telah kita bahas sebelumnya ketika membicarakan yang menyusup dalam kisah bahtera Nuh ‘alaihis salam.

Dan yang disandarkan dari jalur Muhammad bin Syuja’ al-Balkhi, dari al-Hassan bin Hilal, dari Hammad bin Salamah, dari Abi al-Muhazzam, dari Abu Hurairah secara marfu’: “Sesungguhnya Allah menciptakan kuda lalu menjalankannya hingga berkeringat, lalu Dia menciptakan diri-Nya dari keringat itu.”

Hadits ini akan kita uraikan lebih detail dan kita tahu bahwa tidak ada Muslim atau orang berakal yang akan membuat hadits ini. Hadits ini sebagaimana dinukil dalam kitab-kitab kritik yang jelas, telah dinukil dari Ibnu Qutaibah.

Hadits dimasuki kerusakan dari tiga segi oleh para zindiq dan tipu daya mereka terhadap Islam, seperti hadits-hadits yang mereka sebutkan tentang keringat kuda, penjengukan malaikat, kisah emas di atas unta belang, bulu dada, dan cahaya lengan, bersama hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak tersembunyi dari ahli hadits.

Syaikh kita Abu Syuhbah meriwayatkan hadits ini dengan detail: “Hadits keringat kuda adalah yang diriwayatkan secara dusta: ‘Ketika Allah hendak menciptakan diri-Nya, Dia menciptakan kuda dan menjalankannya hingga berkeringat, lalu Dia menciptakan diri-Nya dari keringat itu.'”

Ibnu Asakir berkata: “Ini hadits palsu yang dibuat zindiq untuk mencela ahli hadits karena meriwayatkan yang mustahil. Ini termasuk yang pasti batil secara akal dan syar’i.”

Adapun hadits penjengukan malaikat: yaitu yang diriwayatkan secara dusta: “Allah sakit mata, maka malaikat menjenguk-Nya.”

Adapun hadits kisah emas: mungkin maksudnya yang diriwayatkan secara dusta: “Tuhan kita turun sore hari Arafah dengan menunggang unta belang, bersalaman dengan para penunggang dan memeluk pejalan kaki.”

Al-‘Allamah Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini termasuk kebohongan terbesar.”

Adapun hadits bulu dada: yaitu yang diriwayatkan secara dusta: “Allah menciptakan malaikat dari bulu lengan dan dada-Nya, atau cahayanya.”

Hadits-hadits ini semua bohong, tidak dapat diterima baik secara akal, syar’i, maupun logika. Mungkin kita akan kembali membahas jenis-jenis hadits yang disebutkan kelompok-kelompok sesat dan zindiq, seperti yang dilakukan Khawarij, Qadariyyah, Murji’ah, Karramiyyah, dan Bathiniyyah.

Pandangan singkat:

  • Khawarij: Mereka yang keluar melawan Ali dan Muawiyah serta pengikut keduanya setelah Ali dan Muawiyah sepakat dengan tahkim, dan mereka berkata: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.”
  • Qadariyyah: Mereka yang berkata bahwa hamba menciptakan perbuatan pilihannya sendiri, sehingga mereka merampasnya dari Allah dan menisbahkannya kepada diri mereka.
  • Murji’ah: Mereka yang mengakhirkan amal dari iman dan berkata: “Tidak membahayakan bersama iman adanya kemaksiatan, sebagaimana tidak bermanfaat bersama kekafiran adanya ketaatan.”
  • Karramiyyah: Pengikut Muhammad bin Karram as-Sijistani.
  • Bathiniyyah: Mereka yang berkata bahwa al-Quran memiliki zhahir dan bathin, dan yang dimaksud adalah bathinnya. Hubungan bathin dengan zhahir seperti hubungan isi dengan kulit.

Kelompok-kelompok ini memiliki hadits-hadits yang mereka buat untuk mendukung madzhab mereka dan membela hawa nafsu mereka. Kita akan kembali membahas contoh-contoh perkataan mereka di masa mendatang, insya Allah.

Kembali melengkapi hadits yang disebutkan Imam as-Suyuthi rahimahullah dalam Tadrib ar-Rawi: Hadits “Sesungguhnya Allah menciptakan kuda lalu menjalankannya hingga berkeringat, lalu menciptakan diri-Nya dari keringat itu” tidak akan dibuat oleh seorang Muslim atau orang berakal. Yang dituduh adalah Muhammad bin Syuja’ yang menyimpang dalam agamanya, dan di dalamnya ada Abu al-Muhazzam. Syu’bah berkata: “Aku melihatnya, seandainya diberi satu dirham ia akan membuat lima puluh hadits.”

Keenam: Tanda kepalsuan hadits yang berkaitan dengan matannya adalah hadits bertentangan dengan fakta sejarah yang telah tetap.

Seperti hadits yang diriwayatkan Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at tentang keutamaan Sayyidah Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini diriwayatkan dari dua jalur dari Umar radhiyallahu ‘anhu dan empat jalur dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Hadits ini menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering mencium Fatimah. Ummu al-Mukminin Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, aku melihat engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau bersabda: “Tidakkah kamu tahu wahai Humayra, bahwa ketika Allah mengisra’kan aku ke langit, Allah memerintahkan Jibril memasukkanku ke surga dan menghentikanku di sebuah pohon yang tidak pernah aku lihat yang lebih harum baunya dan lebih lezat buahnya. Jibril mendekat menggosok dan memberiku makan, maka Allah menciptakan dalam tulang sulbiku dari pohon itu sperma. Ketika aku kembali ke dunia dan menggauli Khadijah, ia hamil Fatimah. Setiap kali aku merindukan aroma pohon itu, aku mencium Fatimah dan menemukan aroma pohon itu padanya. Sesungguhnya ia bukan dari wanita penghuni dunia dan tidak berbuat seperti yang dilakukan penghuni dunia.”

Ada riwayat yang isinya lebih dari itu. Ibnu Jauzi berkata tentang hadits ini: “Ini hadits palsu, tidak diragukan kepalsuannya oleh pemula dalam ilmu, apalagi yang mendalam. Yang membuatnya adalah orang paling bodoh dalam penukilan dan sejarah. Fatimah lahir lima tahun sebelum kenabian. Hadits ini diambil oleh sekelompok orang yang lebih bodoh darinya sehingga jalur-jalurnya bertambah. Penyebutan Isra’ semakin memperparah kebohonannya, karena Isra’ terjadi setahun sebelum hijrah setelah wafat Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ketika hijrah, beliau tinggal di Madinah sepuluh tahun. Menurut pembuat hadits ini, umur Fatimah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat adalah sepuluh tahun lebih beberapa bulan.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Fatimah lahir sebelum malam Isra’ berdasarkan ijma’.”

Adz-Dzahabi berkata: “Fatimah lahir sebelum kenabian, apalagi sebelum Isra’.”

Semua ini menunjukkan bahwa perawi hadits ini jelas bohongnya, karena ia menyebutkan kelahirannya bertahun-tahun setelah waktu yang benar.

Ketujuh: Di antara tanda-tanda hadis palsu adalah apabila berita tersebut bertentangan dengan sunnatullah dalam alam semesta dan manusia, seperti hadis: “Putriku Fatimah adalah bidadari manusia, ia tidak haid dan tidak mengalami menstruasi, dan Allah menamainya Fatimah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyapihnya dan melindunginya dari neraka”. Ibnu Irak berkomentar tentang hadis ini: Diriwayatkan oleh Al-Khatib dari hadis Ibnu Abbas, dan ia berkata: tidak shahih, dan di dalamnya terdapat lebih dari satu orang yang majhul (tidak dikenal).

Kedelapan: Berita tersebut lemah maknanya; ini adalah tanda hadis palsu yang berkaitan dengan matan (isi) hadis: bahwa berita tersebut lemah dalam maknanya, baik disertai dengan kelemahan lafaz atau tidak. Hafiz Ibnu Hajar berkata: Yang menjadi patokan adalah kelemahan makna, ketika ditemukan hal itu menunjukkan kepalsuan, meskipun tidak disertai dengan kelemahan lafaz, karena agama ini seluruhnya adalah kebaikan, sedangkan kelemahan kembali kepada keburukan. Adapun kelemahan lafaz, maka tidak menunjukkan hal itu karena kemungkinan diriwayatkan secara makna sehingga mengubah lafaz-lafaznya dengan yang tidak fasih.

Kesembilan: Di antara tanda-tanda kepalsuan adalah hadis yang mengandung berlebihan dan hiperbola dalam pahala yang besar atas amal yang ringan, atau mengandung ancaman yang berlebihan atas perkara yang sepele.

Hal ini paling banyak terjadi dalam berita-berita para qashash (pencerita) dan hikayat-hikayat para sufi, contohnya hadis “Barangsiapa mendengar surat Yasin, maka ia mendapat pahala seperti dua puluh dinar di jalan Allah, barangsiapa membacanya mendapat pahala seperti dua puluh haji, barangsiapa menulisnya dan meminumnya maka masuk ke dalam perutnya seribu keyakinan, seribu cahaya, seribu rahmat, seribu rezeki, seribu petunjuk, dan dicabut darinya segala kedengkian”. Imam Asy-Syaukani berkata tentangnya: Diriwayatkan oleh Al-Khatib dari Ali radhiyallahu anhu secara marfu’, dan hadis ini lemah.

Contoh yang kedua adalah hadis yang mengandung ancaman keras atas amal yang ringan, yaitu hadis “Barangsiapa tidak istiqamah mengerjakan empat rakaat sebelum Zuhur, maka ia tidak akan mendapat syafaatku”. Ibnu Irak Ad-Dimasyqi berkata: Hafiz Ibnu Hajar ditanya tentang hadis ini, maka ia berkata: tidak ada asalnya.

Dan termasuk juga berita “Barangsiapa menolong orang yang meninggalkan shalat dengan sesuap makanan, maka seakan-akan ia menolong pembunuhan semua nabi”. Asy-Syaukani berkata: As-Suyuthi berkata dalam (Adz-Dzail): hadis palsu.

Kesepuluh: Di antara tanda-tanda kepalsuan adalah perawi yang bersifat rafidhi (Syiah ekstrem) sedangkan hadis tersebut tentang keutamaan Ahli Bait, karena kaum Rafidhah fanatik terhadap Ahli Bait, seperti hadis “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya, dan kami berada di sebelah kanan Arsy sebelum Adam diciptakan dengan dua ribu tahun, kemudian Allah menciptakan Adam, lalu kami berpindah-pindah dalam tulang sulbi lelaki, kemudian Allah menempatkan kami dalam tulang sulbi Abdul Muthalib, kemudian Allah memisahkan nama-nama kami dari nama-Nya, maka Allah Mahmud dan aku Muhammad, Allah Al-A’la dan ini Ali”. Asy-Syaukani berkata: Hadis ini palsu, dipalsu oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali, dan ia adalah seorang Rafidhi yang suka memalsukan hadis.

Kepalsuan juga dapat diketahui, dan ini nomor kesebelas dan terakhir: kepalsuan diketahui dari qarainah (indikasi) pada perawi; hal-hal ini berkaitan dengan perawi atau yang diriwayatkan atau keduanya. Contohnya apa yang disandarkan oleh Al-Hakim dari Saif bin Umar At-Tamimi, bahwa ia berkata: Aku berada di sisi Sa’d bin Tharif, lalu datang anaknya dari kuttab (tempat belajar) sambil menangis. Ia bertanya: Ada apa? Anaknya menjawab: Guru memukulku. Ia berkata: Aku akan membuatnya malu hari ini, dengan hadis yang telah ia dengar sebelumnya, lalu ia menyebutkan hadis tersebut. Ia berkata: Ikrimah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Guru anak-anak kalian adalah orang terburuk di antara kalian; paling sedikit kasih sayangnya kepada anak yatim dan paling kasar kepada orang miskin”. Ini jelas merupakan ucapan palsu dari perawi. Sa’d bin Tharif yang disebutkan dalam sanad ini, Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: Tidak halal bagi siapa pun meriwayatkan darinya. Ibnu Hibban berkata: Ia suka memalsukan hadis. Perawi cerita darinya adalah Saif bin Umar, Al-Hakim berkata tentangnya: Dituduh zindiq, dan dalam periwayatan ia sangat buruk.

Hukum Meriwayatkan Hadis Palsu

Jika hadis-hadis palsu ini begitu banyak, dengan berbagai sebab dan tanda-tanda kepalsuan yang berbeda, maka apakah boleh meriwayatkan hadis palsu?

Sesungguhnya: tidak boleh meriwayatkan hadis palsu, kecuali jika disertai dengan penjelasan kepalsuan dan pernyataan kebohongannya, agar masyarakat tidak meyakini keshahihannya dan mengamalkan isinya. Ibnu Jauzi rahimahullahu mengkritik sebagian ulama yang meriwayatkan hadis palsu tanpa menjelaskan derajatnya atau mengungkap kepalsuan­nya, dan ia menganggapnya sebagai tipu daya Iblis terhadap mereka. Ibnu Jauzi berkata: Termasuk tipu daya Iblis terhadap ulama hadis adalah meriwayatkan hadis palsu tanpa menjelaskan bahwa hadis itu palsu, dan ini merupakan kejahatan mereka terhadap syariat. Tujuan mereka adalah mempromosikan hadis-hadis mereka dan memperbanyak riwayat-riwayat mereka.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meriwayatkan dariku suatu hadis yang ia duga sebagai dusta -atau ia melihat- bahwa itu dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta”. Hadis ini dibaca dengan dua harakat.

“Yuraa” artinya: ia menduga bahwa itu dusta, bahkan hanya sekedar menduga bahwa ini adalah dusta atas Rasulullah, maka orang yang menyampaikannya dianggap ikut serta dalam berdusta atas Rasulullah. “Atau yaraa” dan ia mengetahui bahwa itu dusta, maka musibah dan dosanya lebih besar. “Maka ia salah satu dari dua pendusta” seakan-akan orang yang berdusta adalah orang yang menyampaikan hadis dari para pendusta dan orang yang mengatakannya yang pertama kali berdusta, atau “ia salah satu dari para pendusta” seakan-akan para pendusta itu adalah kelompok, dan ia salah satu dari mereka.

Demikian kata ulama salaf dan khalaf, tidak halal meriwayatkan hadis palsu dalam bab apa pun, baik dalam masalah halal dan haram, atau dalam targhib atau tarhib, atau dalam kisah-kisah dan semacamnya, kecuali disertai dengan penjelasan bahwa hadis itu palsu dan bohong; baik dalam masalah halal dan haram, atau dalam sejarah, atau dalam jenis apa pun dari jenis-jenis hadis palsu.

Dan termasuk dalam hukum hadis palsu adalah Israiliyyat yang ditempelkan secara dusta dan bohong kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan pelakunya layak mendapat hukuman dan sanksi, bahkan layak mendapat pukulan keras dan penjara panjang sebagaimana dinukil dari Imam Bukhari. Bahkan sebagian ulama berlebihan sehingga menghalalkan darah orang yang berdusta atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Guru kami Dr. Muhammad Abu Syuhbah telah menyampaikan pendapat ini dari Yahya bin Ma’in rahimahullahu ta’ala.

Ini adalah ringkasan hukum meriwayatkan hadis palsu.

Hadis-hadis Palsu tentang Keutamaan Surat-surat Al-Quran

Guru kami Syaikh Abu Syuhbah dalam bidang ini mengutip dari Umar bin Khattab dan dari ulama-ulama kita dan tokoh-tokoh kita, mereka memperingatkan kita dengan sangat keras dari meriwayatkan hadis-hadis palsu ini, karena merusak akidah umat dan mempengaruhi orang yang membacanya, karena ia melihat dalam hadis-hadis ini celaan terhadap agama dan budaya Islam kita.

Tidak ada salahnya kita melalui dengan cepat apa yang dinukil dari sebagian kelompok-kelompok ini yang menyampaikan hadis-hadis dan menyusupkannya dalam kitab-kitab tafsir. Ada Khawarij dan Qadariyyah dan kelompok-kelompok lain yang membuat hadis-hadis yang mendukung mazhab mereka. Guru kita Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Kemudian karena ekstremisme dan kesesatan mereka, masuklah Rafidhah Imamiyyah lalu filosof-filosof lalu Qaramithah dan lain-lain dalam hal yang lebih parah dari ini, dan permasalahan bertambah parah pada filosof-filosof, karena mereka menafsirkan Al-Quran dengan berbagai jenis yang tidak habis-habisnya keheranan orang yang mengetahui.

Rafidhah misalnya berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Binasa kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa” (Al-Masad: 1), mereka berkata kedua tangan itu adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Sungguh jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu” (Az-Zumar: 65), mereka berkata: yaitu antara Abu Bakar dan Umar dan Ali dalam masalah khilafah: “Sungguh jika engkau mempersekutukan” seakan-akan khitab itu jika engkau mempersekutukan Abu Bakar dan Umar dalam khilafah. Mereka berkata tentang firman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina” (Al-Baqarah: 67), mereka berkata: yang dimaksud adalah Aisyah. Mereka berkata tentang firman: “Maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran itu” (At-Taubah: 12), mereka berkata: mereka adalah Thalhah dan Zubair. Mereka berkata tentang firman: “Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya kemudian bertemu” (Ar-Rahman: 19) dan ayat: “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (Ar-Rahman: 22). “Dia membiarkan dua laut mengalir” adalah Ali dan Fatimah, “mutiara dan marjan” adalah Hasan dan Husain. Mereka berkata: sesungguhnya wali kalian dalam firman-Nya: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk” (Al-Maidah: 55), mereka berkata: itu adalah Ali.

Mereka menyebutkan hadis palsu dengan ijmak ahli ilmu, bahwa Ali bersedekah dengan cincinnya saat shalat, dan kami akan menyebutkan hal itu nantinya insya Allah.

Tentang firman Allah Ta’ala: “Mereka itulah yang memperoleh keberkatan yang dilimpahkan oleh Rabb mereka dan rahmat” (Al-Baqarah: 157), mereka berkata: turun tentang Ali ketika ia tertimpa musibah Hamzah. Dan yang mendekati ini adalah apa yang mereka sebutkan juga dalam firman: “Orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun pada waktu sahur” (Ali Imran: 17), bahwa “orang-orang yang sabar” adalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, “yang benar” Abu Bakar, “yang taat” Umar, “yang menafkahkan hartanya” Utsman, “yang memohon ampun” Ali, padahal sifat-sifat itu baik, tetapi ini tidak ada penentuan di dalamnya. Ada banyak pembahasan yang kita abaikan sekarang, dan mari kita kembali kepada contoh-contoh hadis palsu lainnya.

Kita mulai dengan yang paling terkenal yang diriwayatkan dalam jenis hadis palsu ini.

Kami katakan: kami tidak bermaksud dalam menyebutkan hadis-hadis palsu dalam bidang tafsir untuk menghitung semua yang disebutkan, tetapi kami hanya menunjukkan contoh-contohnya secara global tanpa rincian. Kebenaran yang tidak tersembunyi dan tidak hilang adalah bahwa jika kita ingin menghitung dan mengkaji semua hadis palsu atau Israiliyyat yang disebut dakhil dan hadis palsu dalam kitab-kitab tafsir, maka hal itu membutuhkan puluhan jam. Karena kita terikat dengan metode yang terbatas, maka kami akan menyebutkan contoh-contoh sebagai penyebutan dan perumpamaan, bukan sebagai pembatasan dan penghitungan.

Di antara hadis-hadis itu adalah hadis-hadis palsu tentang keutamaan surat-surat Al-Quran. Dari situ juga kita akan mengetahui kemudian apa yang diriwayatkan dalam asbab an-nuzul. Sesungguhnya orang yang berakal ketika mengkaji kitab-kitab tafsir akan melihat jumlah yang banyak dan kadar yang besar dalam hadis-hadis palsu, baik dalam keutamaan surat-surat, atau dalam pembukaan surat-surat, atau dalam kisah-kisah para nabi, atau dalam sebab-sebab turun. Bagaimanapun, sebagian besar yang dikemukakan para mufassir tentang keutamaan surat-surat Al-Quran adalah hadis-hadis palsu. Perhatikan wahai saudara Islam, tidak semua hadis yang diriwayatkan tentang keutamaan surat-surat adalah palsu. Ada surat-surat yang sahih hadis-hadis tentang keutamaannya yang dijelaskan oleh Imam Suyuthi. Jika kita merujuk kepada hadis-hadis ini akan kita lihat bahwa hadis-hadis itu shahih untuk beberapa surat dan sedikit ayat.

Adapun hadis yang mencakup semua surat, seratus empat belas surat, yaitu hadis terkenal yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab, itu adalah hadis palsu insya Allah.

Hadis-hadis yang diriwayatkan dan sahih tentang keutamaan sebagian surat adalah sebagaimana dijelaskan Imam Suyuthi dengan perkataannya: Ketahuilah bahwa surat-surat yang sahih hadis-hadis tentang keutamaannya adalah Al-Fatihah, Az-Zahrawain -Al-Baqarah dan Ali Imran-, surat Al-An’am, As-Sab’ Ath-Thiwal -thiwal jamak dari thula, dan thiwal jamak dari thawilah- yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf dan Bara’ah atau Al-Anfal dengan Bara’ah, secara ringkas. Dan surat Al-Kahfi, surat Yasin, Ad-Dukhan, Al-Mulk, Az-Zalzalah, An-Nashr, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan Al-Mu’awwidzatain. Selain itu tidak sahih apa pun di dalamnya.

Kami sedikit berhati-hati dengan perkataan Imam Suyuthi. Hadis-hadis Al-Fatihah shahih, Az-Zahrawain, Al-An’am dan Al-Kahfi. Adapun hadis Yasin, sebagian menshahihkannya, sebagian menhasankannya dan sebagian mendhaifkannya. Demikian juga yang diriwayatkan tentang Ad-Dukhan, Al-Mulk dan Az-Zalzalah. Adapun surat An-Nashr, Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain, hadis-hadisnya shahih dan sebagian besar muttafaq alaih.

Bagaimanapun: di antara hadis-hadis palsu tentang keutamaan surat-surat yang disebutkan Abu Su’ud, ketika selesai dari surat Yunus, ia menyebutkan hadis tentang keutamaannya dan memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Barangsiapa membaca surat Yunus, maka ia diberi pahala sepuluh kebaikan dengan jumlah orang yang membenarkan Yunus dan yang mendustakannya, dan dengan jumlah yang tenggelam bersama Fir’aun”.

Hadis-hadis itu mencakup semua surat dan merupakan hadis-hadis yang dikenal, hadis Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu yang diletakkan dalam keutamaan surat-surat secara menyeluruh untuk semua surat dari hadis-hadis. Orang-orang yang memalsukannya bermaksud untuk mendorong manusia membaca Al-Quran dan mereka mengklaim bahwa dalam hal itu ada hisbah kepada Allah Ta’ala. Ini adalah kekeliruan, tujuan mereka rusak dan klaim mereka batil, karena semua ini masuk dalam ancaman hadis: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka”, dan tidak ada perbedaan antara berdusta atas Rasulullah dan berdusta untuknya.

Adapun hadis panjang Ubai bin Ka’ab, hadis ini diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sanad hadis ini sebagaimana disebutkan para ulama, Mu’ammal bin Ismail meneliti hingga sampai kepada orang yang mengaku memalsukannya. Mu’ammal berkata: Seorang syaikh menceritakan kepadaku hadis ini -ini adalah asal hadis yang dinisbatkan secara dusta kepada Ubai-. Mu’ammal berkata: Seorang syaikh menceritakan kepadaku hadis ini, lalu aku berkata kepadanya: Siapa yang menceritakan kepadamu hadis ini? Ia berkata: Seorang lelaki di Madain, dan ia masih hidup. Aku pergi kepadanya dan bertanya: Siapa yang menceritakan kepadamu hadis ini? Ia berkata: Seorang syaikh di Wasith menceritakan kepadaku. Aku pergi kepadanya dan bertanya: Siapa yang menceritakan kepadamu hadis ini? Ia berkata: Seorang syaikh di Bashrah menceritakan kepadaku. Aku pergi kepadanya dan bertanya: Siapa yang menceritakan kepadamu hadis ini? Ia berkata: Seorang syaikh di Abbadan menceritakan kepadaku. Aku pergi kepadanya, lalu ia memegang tanganku dan memasukkanku ke sebuah rumah. Di dalamnya ada sekelompok sufi dan bersama mereka seorang syaikh. Ia berkata: Syaikh inilah yang menceritakan kepadaku. Aku bertanya kepadanya: Wahai syaikh, siapa yang menceritakan kepadamu hadis ini? Ia berkata: Tidak ada yang menceritakan kepadaku. Tetapi kami melihat manusia telah berpaling dari Al-Quran -yaitu menjauhinya-, maka kami membuat hadis ini untuk mereka agar mereka mengarahkan hati mereka kepada Al-Quran.

Hadis ini diriwayatkan melalui Ali bin Zaid bin Jad’an dan Atha bin Abi Maimunah, keduanya dari Zirr bin Hubays dari Ubai bin Ka’ab, dan melalui Harun bin Katsir dari Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Abu Umamah dari Ubai bin Ka’ab, dan melalui jalan lain. Hadis dengan semua jalannya batil dan palsu.

Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa ia berkata: Aku menduga hadis ini dari pemalsuan kaum Zanadiqa. Termasuk juga hadis Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang keutamaan Al-Quran, hadis yang serupa tetapi disandarkan kepada Ibnu Abbas, menyerupai hadis yang dinisbatkan kepada Ubai bin Ka’ab, dan hadis itu tentang keutamaan Al-Quran surat demi surat juga. Orang yang memalsukannya, Nuh bin Abi Maryam, yang telah disebutkan sebelumnya bahwa ia adalah pengumpul, karena ia mengumpulkan banyak ilmu. Subhanallah, ia menguasai ilmu dari para ulama tetapi ia adalah pendusta. Ia mengambil fikih dari Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila, mengambil tafsir dari Al-Kalbi, ilmu sirah dan maghazi dari Muhammad bin Ishaq, mengambil hadis dari Hajjaj bin Artah. Dikatakan bahwa ia adalah pengumpul segala sesuatu kecuali kejujuran, sebagaimana telah aku isyaratkan sebelumnya.

Nuh bin Abi Maryam berkata: Saya melihat orang-orang telah berpaling dari Al-Quran, dan mereka sibuk dengan fikih Abu Hanifah dan maghazi Muhammad bin Ishaq, maka saya membuat hadits-hadits ini dengan niat baik.

Doktor Muhammad Abu Syahbah berkata: Para ahli hadits telah mencela para mufasir yang menyebutkan hadits-hadits ini dalam kitab-kitab mereka; seperti Imam Tsa’labi dan Imam Wahidi dan Zamakhsyari, dan Nasafi dan Baidhawi dan Abu Su’ud. Yang sebenarnya adalah bahwa pemilik kitab-kitab ini, mereka adalah dari kalangan ulama terdahulu yang dinukil dari mereka hadits-hadits ini; baik yang disebutkan para mufasir di akhir surat-surat karena seperti deskripsi baginya, atau dalam penjelasan keutamaannya di awal surat-surat, dan Nasafi dan Baidhawi dan Abu Su’ud semuanya menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka.

Namun siapa yang menampilkan sanadnya dan menyebutkannya seperti Tsa’labi dan Wahidi maka dia lebih ringan uzurnya, semoga uzurnya dapat diterima; karena dia merujuk pembaca kepada penelusuran sanad, dan penelitian tentang para perawi, meskipun tidak boleh baginya diam terhadapnya. Adapun yang tidak menampilkan sanad, dan mengutip hadits dengan shighat jazm (tegas) maka kesalahannya besar, bahkan kesalahannya lebih keji dan uzurnya lebih jauh, seperti para muta’akhirin dan Zamakhsyari yang datang setelah mereka, dan Nasafi, dan Baidhawi, dan Abu Su’ud.

Imam Ibnu Jauzi berkata: Abu Ishaq Tsa’labi telah memisah-misahkan hadits ini dalam tafsirnya, maka dia menyebutkan pada setiap surat darinya apa yang mengkhususkannya dari perkataan, dan Abu Hasan Wahidi mengikutinya dalam hal itu. Dia berkata: Saya tidak heran kepada keduanya; karena keduanya bukan dari ahli hadits, dan saya hanya heran kepada Abu Bakar bin Abi Daud dalam kitabnya yang disusunnya dengan judul (Fadhail al-Quran), dan dia menyebutkan hadits tersebut, padahal dia tahu bahwa itu adalah hadits yang mustahil dan dibuat-buat tanpa keraguan.

Syaikh kami Doktor Abu Syahbah berkata: Saya merujuk kepada (Tafsir Tsa’labi) dan mendapatinya menampilkan sanad lengkap kadang-kadang, dan kadang-kadang dia berkata: dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Dan dia menyebutkan kepada kami contoh-contoh dari surat Hud, dia berkata: Nabi bersabda: “Barangsiapa membaca surat Hud akan diberi pahala sepuluh kebaikan, sebanyak orang yang membenarkan Nuh, dan Hud, dan Shalih, dan Luth, dan Musa”. Dan di awal surat Yusuf, dia berkata: dan dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah surat Yusuf; karena tidak ada seorang muslim yang membacanya dan mengajarkannya kepada keluarganya kecuali Allah akan meringankan atasnya sakaratul maut, dan memberikan kepadanya kekuatan agar tidak iri kepada siapapun”.

Dan Wahidi menyebutkan keutamaan-keutamaan di awal surat-surat agar lebih mengundang perhatian pembaca dan semangat mereka. Zamakhsyari dan pengikut-pengikutnya menyebutkan keutamaan-keutamaan di akhir surat-surat, dan ketika Zamakhsyari ditanya tentang hal ini, maka dia menjawab bahwa keutamaan adalah sifat-sifat, dan ia memerlukan yang disifati, dan yang disifati didahulukan atas sifatnya, sebagaimana mereka tidak menyebutkan apapun dari sanad bahkan shahabinya.

Dan inilah contoh dari apa yang disebutkan Zamakhsyari dari hadits panjang ini setelah setiap surat agar pembaca waspada darinya. Di antara contoh-contohnya adalah apa yang disebutkannya di akhir surat Ali Imran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa membaca surat Ali Imran, akan diberi dengan setiap ayat darinya keamanan di atas jembatan neraka Jahannam”. Dan dari beliau ‘alaihish shalatu wassalam: “Barangsiapa membaca surat yang disebutkan di dalamnya Ali Imran pada hari Jumat, Allah dan malaikat-malaikat-Nya akan bershalawat atasnya sampai matahari tertutupi”. Dan di akhir al-Ma’idah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa membaca surat al-Ma’idah akan diberi pahala sepuluh kebaikan, dan dihapus darinya sepuluh kejelekan, dan diangkat baginya sepuluh derajat, sebanyak setiap orang Yahudi dan Nasrani yang bernapas di dunia”. Hadits-hadits yang banyak.

Meskipun surat al-Baqarah dan al-Fatihah dan Ali Imran dan al-Kahf sahih dalam keutamaannya hadits-hadits, namun mereka juga mengeluarkan kalimat-kalimat dari hadits-hadits maudhu’ dalam surat-surat ini. Dan sebelum kami meninggalkan perkataan Ubay, atau hadits yang disandarkan kepada Ubay, kami katakan: bahwa ada hadits-hadits maudhu’ dari selain Ubay bin Ka’ab; maka sebagian mufasir mungkin menyebutkan dalam keutamaan surat-surat hadits-hadits dari selain Ubay, seperti yang disebutkan Zamakhsyari dan Baidhawi dalam keutamaan al-Fatihah, keduanya berkata: dan dari Hudzaifah bin Yaman: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya suatu kaum, Allah menimpakan kepada mereka azab yang pasti dan sudah ditetapkan, lalu seorang anak dari anak-anak mereka membaca di sekolah: alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, maka Allah mengangkat dari mereka azab selama empat puluh tahun”. Waliyuddin al-Iraqi berkata: dalam sanadnya al-Juwaibari, dan Ma’mun al-Harawi, keduanya pendusta, maka itu dari buatan salah satu dari keduanya.

Para mufasir mungkin menyebutkan dalam keutamaan ayat-ayat apa yang tidak diketahui para ahli hadits; dan itu seperti apa yang disebutkan Zamakhsyari dan diikuti Nasafi dan lainnya dalam keutamaan ayat Kursi dari perkataannya: “Tidaklah dibaca ayat ini di suatu rumah kecuali setan-setan meninggalkannya selama tiga puluh hari, dan tidak akan masuk ke dalamnya penyihir laki-laki maupun perempuan, selama empat puluh malam, wahai Ali ajarkanlah kepada anakmu, dan keluargamu dan tetanggamu, karena tidak turun ayat yang lebih agung darinya”. Meskipun ayat Kursi memang memiliki hadits-hadits lain dalam keutamaannya, namun teks ini dari hadits-hadits maudhu’.

Demikian juga hadits yang disebutkannya setelahnya, yaitu bahwa para sahabat saling bertukar pikiran tentang yang terbaik dalam Al-Quran, maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka: Di manakah kalian dari ayat Kursi? Kemudian dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Ali, pemimpin manusia adalah Adam, dan pemimpin Arab adalah Muhammad dan tidak ada kebanggaan, dan pemimpin Persia adalah Salman, dan pemimpin Rum adalah Shuhaib, dan pemimpin Habasyah adalah Bilal, dan pemimpin gunung-gunung adalah Thur, dan pemimpin hari-hari adalah hari Jumat, dan pemimpin perkataan adalah Al-Quran, dan pemimpin Al-Quran adalah al-Baqarah, dan pemimpin al-Baqarah adalah ayat Kursi”.

Al-Hafizh berkata dalam takhrij hadits-hadits (al-Kasysyaf): Saya tidak menemukannya; al-Hafizh Ibnu Hajar.

Ini tidak berarti bahwa semua yang disebutkan dalam keutamaan surat-surat lemah sebagaimana saya tunjukkan; karena telah sahih dalam sebagian surat sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya, dan sahih dalam ayat Kursi dan dalam dua ayat dari akhir surat al-Baqarah, karena telah datang hadits: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah pada suatu malam, keduanya akan mencukupinya”. Maka telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan juga hadits yang lain: “Aku diberi penutup-penutup surat al-Baqarah dari perbendaharaan di bawah Arsy, tidak diberikan kepada nabi sebelumku”. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ahmad.

Juga perlu diketahui bahwa tidak semua yang disebutkan Zamakhsyari, dan sejenisnya dari Ubay bin Ka’ab itu maudhu’; karena dia mungkin menyebutkan dari Ubay bin Ka’ab apa yang sahih atau hasan, dan itu seperti apa yang disebutkannya dalam tafsir surat al-Fatihah, di mana dia berkata dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berkata kepada Ubay bin Ka’ab: “Maukah aku beritahu kepadamu surat yang tidak turun dalam Taurat dan Injil dan Al-Quran yang sepertinya?” Saya berkata: ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Fatihatul Kitab, sesungguhnya ia adalah as-sab’ul matsani, dan Al-Quran al-‘azhim yang diberikan kepadaku”. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata: hadits hasan sahih, dan Nasa’i dan Hakim dan dia menshahihkannya atas syarat Muslim.

Tafsir al-Hafizh Ibnu Katsir adalah di antara yang paling mulia untuk diandalkan dalam hadits-hadits keutamaan, yang sahih darinya dan yang tidak sahih. Dan surat-surat yang sahih dalam keutamaannya hadits-hadits adalah al-Fatihah, dan az-Zahrawain, dan as-sab’uth thiwal, dan al-Kahf, dan Yasin -sebagaimana kami katakan- dan al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain. Dan tentu saja Imam Ibnu Katsir adalah rujukan dalam menyebutkan hadits-hadits dan dia menshahihkan yang sahih dan melemahkan yang dha’if.

Apa yang Datang dalam Keutamaan Yunus ‘alaihis salam, dan Apa yang Diriwayatkan dalam Pembinasaan Kaum Luth

Maka kepada contoh-contoh lain kami melengkapi darinya jenis hadits ini dalam keutamaan surat-surat; rekan-rekan kami meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka apa yang juga datang dari hadits-hadits; apa yang datang dalam keutamaan sayyidina Yunus ‘alaihis salam. Abu Su’ud telah mengeluarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin Mata, karena sesungguhnya baginya setiap hari seperti amal ahli bumi”. Hadits ini tentu saja selain hadits sahih yang diriwayatkan dalam (ash-Shahihain): “Tidak pantas bagi seorang hamba mengatakan: Aku lebih baik dari Yunus bin Mata”. Maka tentu saja tambahan ini dalam hadits pertama tidak sahih, dimasukkan kepada hadits kalimat “diangkat baginya setiap hari seperti amal ahli bumi”, sama sekali perkataan yang tidak sahih. Maka asy-Syaikhan dan ashab as-sunan tidak meriwayatkan kepada kami kalimat ini.

Diriwayatkan dalam pembinasaan kaum Luth pada firman-Nya Ta’ala tentang batu-batu yang dilemparkan kepada mereka: “Yang diberi tanda di sisi Tuhanmu dan tidaklah ia jauh dari orang-orang yang zalim” (Hud: 83). Dia berkata: Sesungguhnya mereka -yaitu kaum Luth- karena kezaliman mereka berhak mendapatkannya, dan mereka memakai padanya; yaitu: pada batu-batu yang mereka diazab dengannya, dan di dalamnya ada ancaman keras bagi ahli kezaliman semua. Dan dari Rasulullah bahwa dia bertanya kepada Jibril ‘alaihis salam, maka dia berkata: “Yaitu para zalim umatmu, dan tidak ada seorang zalim dari mereka melainkan diperlihatkan kepadaku sebuah batu, jatuh atasnya dari waktu ke waktu”.

Berita yang dikutip Abu Su’ud dalam tafsir ayat ini ditolak dari dua segi; pertama: bahwa hukum tetap pada umumnya, adapun perkataannya dalam hadits yaitu: “para zalim umatmu” maka itu pengkhususan yang memerlukan dalil dan tidak ada dalil. Kedua: bahwa berita itu majhul al-ashl (tidak diketahui asalnya) tidak diketahui baginya sanad, dan tentangnya al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Disebutkan Tsa’labi tanpa sanad.

Dan firman-Nya Ta’ala: “Mereka itu atas mereka shalawat dari Tuhan mereka dan rahmat dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (al-Baqarah: 157). Sebagian mufasir berkata: Sesungguhnya tidak diberikan istirja’ kepada suatu umat kecuali umat ini, maka Allah Ta’ala memuliakan mereka ketika mereka ditimpa musibah. Ini menurut kami lemah, ini perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar, dan ini menurutku lemah; karena firman-Nya: “Inna lillahi” (al-Baqarah: 156) isyarah kepada bahwa kami adalah milik Allah, dan Dia yang menciptakan kami dan mewujudkan kami, dan firman-Nya: “wa inna ilaihi raji’un” (al-Baqarah: 156) isyarah kepada bahwa tidak dapat tidak dari kebangkitan dan kiamat, dan mustahil: bahwa suatu umat dari umat-umat tidak mengetahui itu. Maka siapa yang mengetahui ketika turun sebagian musibah atau mengetahui bahwa tidak dapat tidak pada akhirnya dari kembalinya kepada Allah Ta’ala, maka di sana terjadi penghiburan sempurna pada musibah itu, dan mustahil: bahwa orang yang beriman kepada Allah tidak mengetahui itu. Dari itu kita lihat berita yang dikutip Abu Su’ud lemah sanad dan matan.

Apa yang Dikatakan tentang Durhaka kepada Kedua Orang Tua

Kami tutup dengan apa yang dikatakan tentang durhaka kepada kedua orang tua dalam tafsir firman-Nya Ta’ala: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”” (al-Isra’: 23, 24).

Maka pada tafsir kedua ayat ini Abu Su’ud menyebutkan sejumlah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ridha Allah dalam ridha kedua orang tua, dan murka-Nya dalam murka keduanya”. Hadits ini diriwayatkan Haitsami dalam (Majma’ az-Zawa’id) dalam riwayat Bazzar dari Ibnu Umar, dia berkata: dalam sanadnya Ishmah bin Muhammad, dan dia matruk. Dan Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: Sesungguhnya dia pendusta membuat-buat hadits. Ini perawi hadits yang di dalamnya Ishmah bin Muhammad. Dan diriwayatkan Suyuthi dalam (al-Jami’ ash-Shaghir) dinisbatkan dalam Thabrani dalam (al-Kabir) dari Ibnu Mas’ud, dan Munawi mengkritiknya bahwa yang dituduh dengannya Ishmah bin Muhammad sebagaimana dikatakan Haitsami. Dan Tirmidzi meriwayatkan dalam (Sunannya) hadits ini dengan sanad lain marfu’ dan mauquf; akan tetapi dia menguatkan yang mauquf. Karena telah tsubut darinya bahwa dia meriwayatkannya dari hadits Khalid bin Harits dari Syu’bah dari Ya’la bin Atha’ dari ayahnya dari Abdullah bin Amru marfu’, kemudian dia menyebutkannya dari hadits Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dengannya sepertinya dan tidak diangkat. Dia berkata: dan ini lebih sahih.

Demikianlah diriwayatkan ashab Syu’bah dari Syu’bah dari Ya’la bin Atha’ dari ayahnya dari Abdullah bin Amru mauquf, dan kami tidak mengetahui seorangpun yang mengangkatnya selain Khalid bin Harits, dan dia tsiqah ma’mun, dan demikianlah tampak bahwa waqf dengannya lebih mirip. Dan jika diketahui bahwa hadits mauquf maka dari kesalahan mengangkatnya sebagaimana disangka Abu Su’ud dan lainnya, meskipun dalam sanad marfu’ ada yang mencegah penerimaannya sebagaimana telah dijelaskan.

Di antara hadits-hadits yang dikatakan dalam durhaka kepada kedua orang tua dan dinukil Abu Su’ud juga hadits ini: “Orang yang berbakti berbuat apa yang dia ingin berbuat, maka dia tidak akan masuk neraka, dan orang yang durhaka berbuat apa yang dia ingin berbuat, maka dia tidak akan masuk surga”. Hadits-hadits ini yang datang dalam durhaka kepada kedua orang tua lemah atau tidak sahih, maka hadits ini disebutkan Ibnu Imran dari riwayat Dailami dari hadits Husain bin Ali, dan dia berkata: di dalamnya Isa bin Abdullah, dan Ashram bin Hausyab; yang pertama dituduh dengan dusta, dan yang kedua: munkar al-hadits, Yahya berkata tentangnya: pendusta jahat, dan Bukhari dan Muslim dan Nasa’i berkata tentangnya: matruk, dan Ibnu Hibban berkata: Sesungguhnya dia suka membuat-buat hadits. Dan Syaukani menyebutkan hadits ini dalam (al-Ahadits al-Maudhu’ah fi al-Fawa’id al-Majmu’ah) dan berkata tentangnya: dalam sanadnya pendusta.

Berdasarkan hal ini maka hadits itu tidak sahih dari segi sanad dan tidak dari segi matan, maka demikianlah dari segi matan tidak sahih; karena dia menunjukkan dengan zhahirnya bahwa orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya tidak akan masuk neraka dengan keadaan apapun, dan ini tidak ada seorang muslimpun yang mengatakannya, karena masuk neraka tidak terhalang atas siapapun manusia bagaimanapun keadaannya kecuali dengan rahmat dari Allah Ta’ala, hingga dikatakan: bahwa orang yang berbakti tidak akan masuknya, meskipun dia melakukan kemaksiatan apa yang dia kehendaki. Demikian juga masuk surga tidak terlindung darinya siapapun manusia yang mengucapkan syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hingga dikatakan: bahwa orang yang durhaka tidak akan masuknya, meskipun dia beramal ketaatan apa yang dia kehendaki.

Bagaimanapun: ketaatan tidak terbatas pada berbakti kepada kedua orang tua, dan kemaksiatan tidak terbatas pada durhaka kepada kedua orang tua.

Semoga Allah bershalawat atas sayyidina Muhammad, dan atas keluarga dan sahabatnya dan semoga diberi keselamatan, dan Allah lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran: 19 Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (2)

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Kesembilan Belas (Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (2))

Lanjutan Pembahasan tentang Durhaka kepada Orang Tua

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan shalawat serta salam atas yang paling mulia di antara para nabi dan rasul, yaitu Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan atas keluarga serta sahabatnya semuanya. Amma ba’du:

Kita telah membicarakan tentang hadits-hadits palsu, khususnya yang berkaitan dengan berbakti kepada orang tua. Ada banyak hadits yang dikutip oleh para mufassir mengenai berbakti kepada orang tua. Di antaranya adalah yang dikemukakan oleh Abu Su’ud dalam tafsirnya mengenai firman Allah jalla wa ‘ala: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni apa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa: 116)

Dia mengemukakan dalam ayat ini, berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya kedua orang tuaku telah mencapai usia lanjut, dan aku merawat mereka sebagaimana mereka merawatku ketika kecil. Apakah aku telah memenuhi hak mereka? Beliau bersabda: Belum, karena mereka dahulu melakukan itu dalam keadaan mengharapkan kelangsungan hidupmu, sedangkan engkau melakukannya dalam keadaan mengharapkan – atau menanti-nanti – kematian mereka.” Hadits ini dikomentari oleh Hafizh Ibnu Hajar ketika membahasnya dalam takhrij hadits-hadits (Al-Kasysyaf): Aku tidak menemukannya.

Di antara hadits-hadits lemah juga mengenai durhaka kepada orang tua adalah yang dikemukakan oleh banyak mufassir, mereka meriwayatkan: Bahwa seorang lelaki tua datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya anakku ini memiliki harta yang banyak, dan dia tidak menafkahi aku dari hartanya, maka turunlah Jibril ‘alaihissalam berkata: Sesungguhnya orang tua ini telah menggubah syair untuk anaknya, yang belum pernah didengar telinga sepertinya, maka mintalah dia membacakannya. Lalu orang tua itu membacakan syairnya:

Aku memberimu makan ketika kau masih bayi dan menyusumu ketika remaja
Kau minum dengan apa yang aku berikan kepadamu dan menyusu

Jika suatu malam kau tertimpa sakit, aku tidak tidur
Karena sakitmu kecuali sambil menangis gelisah

Seolah-olah akulah yang tertimpa penyakit itu dibandingmu
Yang menimpamu dariku dan mataku berlinang air mata

Ketika kau mencapai usia dan tujuan yang
Kepadanya batas harapanku tentangmu

Kau jadikan balasanku berupa kekasaran dan kekerasan
Seolah-olah kaulah yang memberi nikmat dan berbuat baik

Seandainya ketika kau tidak memelihara hak kebapakan ku
Kau berbuat seperti tetangga sebelah berbuat

Dan dia membacakan syair-syair ini, maka marahlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” Riwayat ini dikemukakan oleh Abu Su’ud dan lainnya. Hadits ini mengandung kelemahan dan keterputusan. Penulis kitab (Tamyiz Ath-Thayyib min Al-Khabits) berkata: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Ath-Thabrani dalam (Al-Awsath) dan (Ash-Shaghir) melalui jalur Al-Munkadir bin Muhammad Al-Munkadir dari ayahnya dari Jabir. Al-Munkadir ini dilemahkan dari segi hafalannya, dan pada asalnya dia terpercaya, tetapi dalam sanadnya ada yang tidak dikenal, dan hadits menurut Al-Bazzar terputus. Guru kami berkata setelah mengemukakannya dari berbagai jalur: Dan ini kuat.

Hadits ini dikemukakan oleh Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi dari jalur yang sama dalam (Ahkam Al-Quran), dan berkata sebagai komentar: Sulaiman berkata: Hadits ini tidak diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir dengan kelengkapan dan syair ini kecuali dengan sanad ini, hanya diriwayatkan oleh Abdullah bin Khalshah.

Hadits ini juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir dalam (Al-Mathalib Al-‘Aliyah) dari riwayat Ibnu Abi ‘Umar dari Asy-Sya’bi, dan tentangnya berkata Habib Ar-Rahman dalam komentarnya dalam kitabnya (Al-Mathalib Al-‘Aliyah), Al-Bushiri melemahkan sanadnya karena kelemahan Muhammad bin Abi Laila. Jika terbukti bahwa hadits itu lemah sanadnya, terputus, tidak bersambung, kita tidak mengetahui kebenaran atribusinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka adalah kesalahan yang nyata menyandarkannya kepada yang ma’shum ‘alaihishshalatu wassalam. Padahal telah diriwayatkan mengenai berbakti kepada orang tua dalam (Shahihain) dan lainnya yang dapat menggantikan hadits-hadits ini. Sungguh telah datang mengenai keutamaan berbakti hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya, dan sahih tentang durhaka bahwa itu termasuk dosa besar yang paling besar dan dosa yang paling keji.

Atsar-atsar dan Hadits-hadits Palsu serta Lemah dalam Sebab Turunnya Ayat-ayat

Kemudian kita beralih kepada sebab-sebab dan hadits-hadits lain yang berkaitan dengan hal seperti ini:

Kita melihat banyak mufassir seputar yang palsu dan lemah dari sebab-sebab turunnya ayat, mereka telah mengemukakan banyak sebab. Mereka menyebutkan dalam tafsir-tafsir mereka sebab-sebab turunnya ayat, dan mereka tidak berkomitmen pada kesahihan dalam apa yang mereka sebutkan dari sebab-sebab, bahkan mereka menghitamkan kitab-kitab mereka dengan yang lemah sanadnya atau rapuh dasarnya. Dan mungkin mereka menyebutkan apa yang bertentangan dengan nash dari nash-nash Islam, atau bertentangan dengan ijma’.

Di antara riwayat-riwayat tersebut dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala mengenai ayat ini: “Ketahuilah bahwa mereka memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri dari Allah. Ketahuilah bahwa ketika mereka menutupi diri dengan kain mereka, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan.” (Hud: 5)

Abu Su’ud berkata ketika menafsirkan ayat ini: Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ayat ini turun mengenai Al-Akhnas bin Syariq, dan dia adalah seorang laki-laki yang manis tutur katanya, bagus alur ceritanya, menampakkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menyimpan dalam hatinya kedengkian dan kebencian. Sebab ini dikemukakan oleh Al-Wahidi dari Al-Kalbi tanpa sanad, dan Al-Kalbi ini dituduh berdusta oleh ulama jarh dan ta’dil. Abu An-Nadhr berkata: Al-Kalbi ditinggalkan oleh Yahya bin Ma’in dan Ibnu Mahdi. Kemudian Bukhari berkata: Ali berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan, dia berkata kepadaku Al-Kalbi: Semua yang aku ceritakan kepadamu dari Abu Shalih, itu dusta. Lihat: (Mizan Al-I’tidal) karya Adz-Dzahabi. Juga disebutkan oleh Ibnu Jawzi dalam (Al-Mawdhu’at) dalam tafsirnya (Zad Al-Masir) dan menjelaskan bahwa itu hadits lemah, dan berkata: Diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan diketahui: bahwa jalur Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas termasuk jalur yang paling lemah.

Hafizh Ibnu Hajar berkata: Sesungguhnya apa yang disebutkan Abu Su’ud sebagai sebab turunnya ayat, dan bahwa ayat itu turun mengenai orang-orang munafik sangat jauh dari kebenaran, karena ayat itu Makkiyah, sedangkan kemunafikan baru terjadi di Madinah, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa ayat itu turun mengenai orang-orang munafik. Ini yang dikemukakan oleh sebagian orang.

Dalam firman-Nya jalla wa ‘ala: “Dan kalau sekiranya ada Al-Quran yang dengannya gunung-gunung dapat diperintah berjalan atau bumi dapat dibelah atau orang-orang mati dapat diajak berbicara (tentulah Al-Quran ini). Tetapi segala urusan itu adalah kepunyaan Allah semuanya.” (Ar-Ra’d: 31), Abu Su’ud berkata mengenai sebab turunnya ayat ini, dikatakan: Sesungguhnya Abu Jahal dan para pengikutnya berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika engkau nabi, perintahkanlah dengan Al-Quranmu gunung-gunung dari Makkah agar berpindah, sehingga menjadi lapang bagi kami, dan kami akan membuat di dalamnya kebun-kebun dan ladang-ladang. Sungguh telah ditundukkan untuk Dawud ‘alaihissalam, maka engkau tidak lebih hina kepada Allah dari padanya, jika engkau nabi sebagaimana klaim mu, atau tundukkan bagi kami angin seperti yang ditundukkan untuk Sulaiman ‘alaihissalam agar kami berdagang dengannya ke Syam, karena sungguh berat bagi kami menempuh perjalanan jauh, atau bangkitkanlah bagi kami dua atau tiga orang dari bapak-bapak kami yang telah mati” maka turunlah ayat.

Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya, setelah menyebutkan ucapan ini secara tekstual: Aku tidak menemukannya dengan susunan ini. Dan Ath-Thabari Ibnu Jarir menyebutkannya dengan makna serupa, di mana dia mengemukakan dalam tafsirnya beberapa riwayat seputar makna ini dengan sanad yang lemah, demikian juga Al-Wahidi dalam sebab-sebabnya, dengan makna ini secara panjang lebar dengan sanad yang mengandung kelemahan, di mana dia mengeluarkannya dari jalur Abdul Jabbar bin ‘Umar Al-Ili dari Abdullah bin ‘Atha dari neneknya Ummu ‘Atha budak Az-Zubair. Ibnu ‘Umar lemah, padanya ada hal-hal mungkar, sebagaimana yang dikatakan tentangnya oleh Imam Bukhari, dan Ibnu ‘Atha, Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam (At-Taqrib): Jujur tetapi salah dan mudallas.

Selain apa yang telah disebutkan: Sesungguhnya surat itu Madaniyah menurut pendapat kebanyakan ulama, demikian kata penulis (Al-Itqan). Berdasarkan ini jika surat itu Madaniyah, maka apa yang disebutkan Abu Su’ud sebagai sebab turunnya ayat, realitas sejarah masa turunnya menghalangi kebenarannya, karena surat “Ar-Ra’d” Madaniyah yang turun di Madinah, sedangkan Abu Jahal berada di Makkah, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa ayat itu turun mengenai Abu Jahal.

Juga dari sebab-sebab dalam firman-Nya tabarakallahu wa ta’ala: “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat-buat yang lain terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu menjadi teman akrab.” (Al-Isra: 73), mereka mengemukakan dalam sebab turunnya hadits-hadits dan sebab-sebab yang lemah. Abu Su’ud berkata: Turun mengenai Tsaqif, ketika mereka berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kami tidak akan masuk dalam urusanmu, sampai kau memberi kami sifat-sifat yang kami banggakan atas orang Arab; kami tidak dihimpun, kami tidak dikenai pajak, kami tidak sujud dalam shalat kami, dan setiap riba untuk kami maka itu milik kami, dan setiap riba yang kami tanggung maka itu digugurkan dari kami, dan agar kau biarkan kami menikmati Al-Lat selama satu tahun, dan agar kau haramkan lembah kami sebagaimana kau mengharamkan Makkah. Jika orang Arab berkata: Mengapa kau lakukan? Maka katakanlah: Sesungguhnya Allah memerintahku demikian” (Tafsir Abu Su’ud). Sebab ini juga disebutkan oleh Al-Wahidi dalam sebab-sebabnya tanpa sanad, dari ‘Atha dari Ibnu ‘Abbas, dan tentangnya Hafizh Ibnu Hajar berkata: Aku tidak menemukannya. Dan disebutkan oleh Ats-Tsa’labi dari Ibnu ‘Abbas tanpa sanad.

Dan terus berlanjutlah sebab-sebab turunnya ayat yang lemah dan Isra’iliyyat, dan betapa banyaknya. Kami ringkas dari antara contoh-contoh ini juga situasi-situasi yang datang kepada kami dalam kurikulum.

Juga seputar surat “Qaaf. Demi Al-Quran yang mulia.” (Qaaf: 1), mereka menyebutkan seputar gunung “Qaaf” yang diklaim dan terjadinya gempa bumi yang terjadi, ucapan yang lemah atau batil yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima. Di antaranya yang disebutkan oleh sebagian mereka dalam menafsirkan firman Allah ta’ala: “Qaaf. Demi Al-Quran yang mulia.” Penulis (Ad-Durr Al-Mantsur) dan lainnya menyebutkan riwayat-riwayat yang banyak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah menciptakan di belakang bumi ini, laut yang mengelilinginya, kemudian Allah menciptakan di belakang laut ini gunung yang disebut: “Qaaf” langit dunia ditinggikan di atasnya, kemudian Allah ta’ala menciptakan di belakang gunung ini juga seperti bumi itu tujuh kali, dan berlanjut seperti ini sampai dia menghitung tujuh bumi, dan tujuh lautan, dan tujuh gunung, dan tujuh langit.” Atsar ini tidak sahih sanadnya dari Ibnu ‘Abbas, dan di dalamnya ada keterputusan, dan mungkin kerusakan di dalamnya dari yang terhapus.

Seandainya kita menerima kesahihannya darinya, maka Ibnu ‘Abbas mengambilnya dari Isra’iliyyat.

Dan mengeluarkan Ibnu Abi Dunya dan Abu Asy-Syaikh darinya juga, berkata: “Allah menciptakan gunung yang disebut: “Qaaf” mengelilingi alam, dan akar-akarnya sampai kepada batu yang di atasnya bumi. Jika Allah ta’ala ingin mengguncang suatu kampung, Dia perintahkan gunung itu lalu menggerakkan akar yang berdekatan dengan kampung itu, maka menggempakannya dan menggerakkannya. Maka dari situ bergeraklah kampung tanpa kampung lain.” Dan semua itu sebagaimana kata Al-Qarafi: tidak ada wujudnya, dan tidak boleh mengandalkan apa yang tidak ada dalilnya, dan itu dari khurafat Bani Israil yang terjadi dalam ucapan mereka kedustaan dan perubahan serta penggantian, disisipkan kepada imam-imam ini, atau mereka menerima dengan niat baik, dan mereka riwayatkan karena keanehannya bukan karena meyakini kebenarannya. Dan kami memuji Allah bahwa ditemukan di kalangan ulama umat yang menolak kebatilan ini dan memperhatikannya, sebelum ilmu-ilmu kauniyah maju sebagaimana keadaannya hari ini.

Yang mengherankan adalah bahwa Ibnu Hajar Al-Haitami mengikuti ucapan Al-Qarafi, lalu berkata: Apa yang datang dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan dari jalur-jalur yang dikeluarkan oleh para hafizh, dan sekelompok orang yang berkomitmen mengeluarkan yang sahih, dan ucapan sahabat dalam yang tidak ada tempat bagi pendapat di dalamnya hukumnya seperti hukum yang marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan aku berkata kepada Syaikh Al-Haitami: Sesungguhnya takhrij orang yang berkomitmen kesahihan bukanlah hujjah, dan betapa banyak orang yang berkomitmen pada sesuatu tetapi tidak menepatinya. Dan seseorang mungkin lalai dan salah dengan kejujurannya, dan pandangan ulama berbeda-beda. Ini ucapan guru kami Abu Syuhbah, dia berkata: Lihat pandangan ulama berbeda-beda, dan Imam Al-Hakim dengan keagungannya, menshahihkan hadits-hadits yang dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi dan lainnya dengan kepalsuannya. Demikian juga Ibnu Jarir dengan keagungan kedudukannya mengeluarkan riwayat-riwayat dalam tafsirnya yang dihukumi oleh para hafizh dengan kepalsuannya dan kedustaannya. Seandainya kita menerima kesahihannya dari Ibnu ‘Abbas, itu tidak menafikan bahwa itu dari Isra’iliyyat yang batil, sebagaimana kata ulama berkali-kali.

Adapun bahwa itu memiliki hukum rafa’ maka tidak diterima, karena para muhaqiq di antara imam hadits berpendapat bahwa apa yang tidak ada tempat bagi pendapat di dalamnya memiliki hukum rafa’ jika sahabat itu bukan orang yang dikenal mengambil dari muallaf Ahli Kitab. Dan Ibnu ‘Abbas termasuk orang yang mengambil dari mereka, maka tidak diterima ucapannya bahwa itu memiliki hukum rafa’. Kemudian Syaikh Abu Syuhbah berkata: Aku berkata kepada Al-Haitami dan yang berpendapat seperti pendapatnya: Manfaat apa yang kita peroleh dari riwayat-riwayat ini yang tidak dapat diterima oleh akal murid-murid sekolah apalagi oleh ulama, kecuali bahwa kita membuka dengan membela riwayat-riwayat itu pintu untuk mencela kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ini dibolehkan di masa-masa jahil dan khurafat maka tidak boleh hari ini, dan telah menjadi para penjelajah angkasa mengelilingi bumi, dan melihatnya tergantung di angkasa tanpa tiang dan tanpa gunung dan tanpa lautan dan tanpa batu yang bumi berada di atasnya. Maka Isra’iliyyat ini mخالف dengan perasaan dan pengamatan secara pasti, maka bagaimana kita berpegang dengannya?

Dan yang dimaksud dengan kata masa-masa jahil dan khurafat adalah masa-masa jahil Ahli Kitab yang mengganti dan mengubah, adapun masa-masa kaum muslimin dan pemerintahan kaum muslimin maka itu – dengan karunia Allah – cemerlang, dan masa-masa kemajuan dan kemakmuran.

Guru kami berkata: Dan rahmat Allah atas Imam Al-Alusi di mana dia berkata: Dan yang aku pilih adalah apa yang dipilih Al-Qarafi, bahwa tidak ada wujudnya gunung ini dengan kesaksian perasaan, karena mereka telah melintasi bumi ini daratan dan lautannya di lingkar kanker berkali-kali, maka mereka tidak menyaksikan itu. Dan mencela kesahihan berita-berita, walaupun sekelompok dari perawinya termasuk orang yang berkomitmen mengeluarkan yang sahih, lebih ringan daripada mendustakan perasaan. Dan urusan gempa bumi tidak tergantung urusannya pada gunung itu, tetapi itu dari uap-uap yang terjadi dari panasnya perut bumi yang sangat panas, dan mencarinya untuk keluar dengan kekerasan bumi, maka terjadilah guncangan ini. Dan mengingkari itu adalah keras kepala bagi yang memiliki urat keadilan.

Ini ucapan Allamah Al-Alusi, dan dia pada setiap hal bukan spesialis dalam ilmu fisika dan alam, tetapi ini ijtihadnya. Dan yang disaksikan dan perasaan yang kita lihat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan dengan gunung-gunung dan lautan-lautan yang disebutkan, karena itu khurafat dan kebatilan yang dinukil dari Bani Israil.

Guru kami berkata: Dan aku tidak tahu seandainya Imam yang mulia Al-Alusi hidup di masa kita ini, dan mengetahui apa yang kita ketahui dari keajaiban-keajaiban perjalanan angkasa, apa yang akan dia katakan? Sesungguhnya setiap muslim seharusnya memiliki akal yang sadar terbuka dan pandangan yang tajam jauh seperti yang dimiliki imam besar ini.

Dan inilah yang dikatakan oleh seorang alim hafizh pengkritik yang mendahului Imam Al-Alusi sekitar lima abad, yaitu Imam Ibnu Katsir, yang wafat tahun empat ratus tujuh puluh empat sebelum Imam Al-Alusi lima abad. Dia berkata dalam tafsirnya pada ayat ini, dan telah diriwayatkan dari salaf bahwa mereka berkata: “Qaaf” gunung yang mengelilingi seluruh bumi yang disebut gunung “Qaaf”, dan seolah-olah ini – wallahu a’lam – dari khurafat Bani Israil yang diambil dari mereka oleh sebagian orang, ketika melihat bolehnya meriwayatkan dari mereka apa yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan. Dan menurutku ini dan yang serupa dan sebangsanya dari kebohongan sebagian zindiq mereka, mereka menipu orang tentang urusan agama mereka, sebagaimana dibuat-buat dalam umat ini dengan keagungan kedudukan ulama-ulamanya dan para hafizh-hafizh serta imam-imamnya hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal masa belum lama, maka bagaimana dengan urusan Bani Israil dengan panjangnya masa dan sedikitnya para hafizh pengkritik di antara mereka, dan minum khamar mereka, dan ulama mereka mengubah kalam dari tempat-tempatnya, dan mengganti kitab-kitab Allah dan ayat-ayat-Nya?

Dan sesungguhnya syari’ membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam sabdanya: “Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa” dalam apa yang dapat diterima akal, adapun dalam apa yang ditolak akal, dan dihukumi dengan kebatilan, dan diduga kuat kedustaannya, maka bukan dari kategori ini wallahu a’lam. Ini ucapan Allamah Ibnu Katsir.

Dia berkata: Dan telah banyak banyak dari salaf para mufassir, dan demikian juga sekelompok besar dari khalaf dari menceritakan dari kitab-kitab Ahli Kitab dalam menafsirkan Al-Quran yang mulia, dan mereka tidak butuh kepada berita-berita mereka walillahilhamdu wal mannah. Sehingga Imam Ibnu Abi Hatim Ar-Razi mengemukakan di sini atsar aneh yang tidak sahih sanadnya dari Ibnu ‘Abbas, kemudian menyebutkan sanad dan matan yang telah disebutkan sebelumnya, kemudian berkata: Maka sanad atsar ini di dalamnya ada keterputusan, yaitu: perawi yang gugur dari perawi-perawinya.

Dan yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam firman-Nya ‘azza wa jalla {ق} adalah nama dari nama-nama Allah ‘azza wa jalla. Dan yang tetap dari Mujahid, dan dia termasuk murid-murid Ibnu ‘Abbas yang melekat padanya dan menyebarkan ilmunya, bahwa itu huruf dari huruf-huruf hijaiyah, seperti firman-Nya ta’ala: {ص} (Shaad: 1) {ن} (Al-Qalam: 1) {حم} (Ghafir: 1) {طس} (An-Naml: 1) {الم} (Al-Baqarah: 1). Maka ini menjauhkan apa yang terdahulu dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ta’ala ‘anhuma.

Mari kita beralih ke sebab lain yang dikemukakan oleh para mufasir, mengenai firman Allah subhanahu wa taala: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis” (Al-Qalam: 1-2). Terdapat kisah-kisah Israiliyyat di dalamnya; dalam firman Allah subhanahu wa taala: “Nun. Demi pena”, mereka menyebutkan bahwa itu adalah ikan paus yang di atas punggungnya terdapat bumi dan disebut Al-Yahmut. Ibn Jarir dan As-Suyuthi telah menyebutkan riwayat-riwayat dari Ibnu Abbas; di antaranya: “Yang pertama diciptakan Allah adalah pena, maka mengalirlah dengannya segala yang akan terjadi, kemudian terangkatlah uap air, dan diciptakanlah dari uap itu langit-langit, kemudian diciptakan Nun (ikan paus), lalu dihamparkannya bumi di atasnya, maka bergolak ikan paus itu sehingga bergoyangnya bumi; yakni bergerak dan miring, lalu ditetapkan atau ditetapkan dengan gunung-gunung”.

Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas dalam makna “Nun” bahwa itu adalah tinta, dan barangkali ini yang lebih dekat dan sesuai dengan penyebutan pena. Az-Zamakhsyari telah mengingkari adanya “Nun” dengan makna tinta dalam bahasa. Diriwayatkan pula darinya bahwa itu adalah huruf yang berada di akhir kata “Ar-Rahman”; yakni diriwayatkan dari Ibnu Abbas ini, bahwa nama yang mulia ini tersebar dalam “Alif Lam Ra” (Al-Hijr: 1), “Ha Mim” (Ghafir: 1), dan “Nun” (Al-Qalam: 1). Kegoyahan periwayatan darinya mengurangi kepercayaan terhadap apa yang diriwayatkan darinya, khususnya riwayat pertama darinya. Yang jelas bahwa itu adalah kebohongan atasnya atau merupakan Israiliyyat yang ditempelkan kepadanya radhiya Allah anhu.

Dan inilah apa yang dikatakan oleh imam hafizh; yaitu Imam Ibnu Qayyim, seorang imam hafizh yang kritis dari mazhab yang terkenal dengan keaslian kritiknya. Beliau berkata dalam pembahasannya tentang hadits-hadits palsu: “Termasuk dari ini adalah hadits bahwa “Qaf” adalah gunung dari zamrud hijau yang mengelilingi dunia, seperti tembok yang mengelilingi kebun, dan langit meletakkan sayapnya di atasnya. Termasuk dari ini juga hadits bahwa bumi berada di atas batu, dan batu berada di atas tanduk lembu, bila lembu itu menggerakkan tanduknya maka bergeraklah batu; ini adalah buatan Ahli Kitab yang bermaksud mengolok-olok para rasul”.

Imam Abu Hayyan berkata dalam tafsirnya: “Tidak ada yang shahih dari itu semua kecuali sebagai nama dari nama-nama huruf hijaiyah”. Barangkali pendapat ini bahwa “Qaf” dan “Nun” hanyalah nama-nama dari nama-nama huruf, adalah pendapat yang rajih dalam pembuka surat-surat seperti “Alif Lam Mim”, “Ha Mim” dan lainnya. Itu adalah nama-nama yang penamaannya huruf-huruf hijaiyah, untuk menjadi sebagai dalil atas kemukjizatan Al-Quran dan dalil bahwa ia dari sisi Allah jalla wa ala, seakan-akan Allah berfirman: “Sesungguhnya Al-Quran tersusun dari jenis huruf-huruf ini dan dari kata-kata yang terbuat dari huruf-huruf ini, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menantang dengannya manusia dan jin, namun mereka lemah, dan itu tidak lain karena ia bukan perkataan manusia, melainkan dari sisi Pencipta kekuatan dan takdir”.

Bila kita beralih ke hadits-hadits palsu dan sebab-sebab yang dikemukakan para mufasir, kita akan melihatnya banyak. Kita mengambil sebagian darinya juga apa yang mereka kemukakan dalam keutamaan surat-surat dan ayat-ayat, dan barangkali judul ini telah disinggung secara ringkas.

Para mufasir telah mengemukakan yang berkaitan dengan sebab-sebab turunnya ayat, dalam hal keutamaan surat-surat, dalam hal sirah Nabi shallallahu alaihi wa sallam seperti kisah Gharaniq, dan pernikahannya alaihish shalatu was salam dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy radhiya Allah anha. Dari hal-hal palsu ini ada yang tersembunyi dan halus yang tidak dapat dipahami kecuali oleh para hafizh yang teliti dan mengetahui kaidah-kaidah jarh dan tadil serta sejarah para perawi. Di antaranya ada yang tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak memiliki kedudukan yang kuat dalam menghafal hadits dan kritiknya serta pengetahuan tentang para perawinya dan keadaan perawi-perawinya, karena itu bertentangan dengan akal dan menentang apa yang disepakati para ulama tentang ishmah (kesucian) para nabi alaihimush shalatu was salam. Oleh karena itu para ulama kritikus menolak kebohongan-kebohongan ini yang dibantah oleh akal dan pandangan, dan mereka tidak memperluas dalam memindahkan dan meriwayatkannya. Maka seharusnya semua orang mengoreksi apa yang terlewat dari mereka, dan kita memperluas kritik terhadap apa yang mereka kemukakan baik dari segi sanad maupun dari segi matan.

Dari riwayat-riwayat yang dibuat-buat ini ada yang disepakati para ulama untuk memutuskan bahwa itu palsu dan dibuat-buat, namun mengetahui perkataan dan kitab-kitab mereka tidaklah mudah dan tidak mudah bagi setiap pembaca. Dari situ terjadi apa yang terjadi pada banyak orang yaitu tertipu dengan riwayat-riwayat ini dan sejenisnya. Oleh karena itu, untuk melengkapi manfaat dan menyempurnakan penelitian, menjadi kewajiban bagi kita untuk mengungkap apa yang kita ketahui dari hal-hal palsu dan mengungkap apa yang dikatakan para ulama dalam memalsukan hal-hal palsu ini.

Hadits-hadits Palsu dalam Keutamaan Surat-surat dan Ayat-ayat:

Dibuat-buatlah hadits-hadits banyak dalam keutamaan surat-surat dan ayat-ayat. Para pembuatnya bermaksud mendorong manusia untuk membaca Al-Quran, dan mereka mengaku bahwa dalam hal itu terdapat hisbah (perhitungan baik) kepada Allah subhanahu wa taala. Ini adalah kesalahan, buruknya niat, dan klaim yang batil, karena hadits itu jelas, yaitu sabda Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. Hadits muttafaq alaih.

Dari hadits-hadits dalam keutamaan surat-surat adalah hadits Ubayy bin Kaab, dan barangkali saya telah menyebutkannya sebelumnya secara ringkas. Hadits panjang ini yang diriwayatkan dari Ubayy bin Kaab dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keutamaan Al-Quran surat demi surat. Muammal bin Ismail telah meneliti hingga sampai kepada orang yang mengaku membuat hadits ini. Muammal berkata: “Seorang syaikh menceritakan hadits ini kepadaku, maka aku berkata kepadanya: ‘Siapa yang menceritakan ini kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang laki-laki di Madain, dan dia masih hidup’. Maka aku pergi kepadanya dan berkata: ‘Siapa yang menceritakan ini kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang syaikh menceritakannya kepadaku di Wasith’. Maka aku pergi kepadanya dan berkata: ‘Siapa yang menceritakan ini kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang syaikh menceritakannya kepadaku di Bashrah’. Maka aku pergi kepadanya dan berkata: ‘Siapa yang menceritakan ini kepadamu?’ Dia berkata: ‘Seorang syaikh menceritakannya kepadaku di Abadan’. Maka aku pergi kepadanya, dia memegang tanganku dan memasukkanku ke dalam rumah, ternyata di dalamnya terdapat kaum sufi dan bersama mereka seorang syaikh. Dia berkata: ‘Ini syaikh yang menceritakannya kepadaku’. Aku berkata: ‘Wahai syaikh, siapa yang menceritakan ini kepadamu?’ Dia berkata: ‘Tidak ada yang menceritakannya kepadaku, tetapi kami melihat manusia telah berpaling dari Al-Quran, maka kami buat untuk mereka hadits ini agar mereka mengalihkan hati mereka kepada Al-Quran Al-Karim'”.

Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur; diriwayatkan dari jalur Ali bin Zaid bin Judaan dan Atha bin Abi Maimunah, keduanya dari Dzar bin Hubaysy dari Ubayy bin Kaab, dan dari jalur Harun bin Katsir dari Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Abu Umamah dari Ubayy bin Kaab, dan dari jalur lain. Hadits dengan seluruh jalurnya batil dan palsu. Dari Ibnu Mubarak diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku kira itu dari buatan kaum zindiq”.

Termasuk juga dari itu adalah hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas dalam keutamaan Al-Quran surat demi surat. Ketika pembuatnya Nuh bin Abi Maryam ditanya tentangnya, dia berkata: “Aku melihat manusia telah berpaling dari Al-Quran dan sibuk dengan fiqh Abu Hanifah dan maghazi Muhammad bin Ishaq, maka aku buat hadits-hadits ini sebagai hisbah”. Nuh bin Abi Maryam ini dijuluki Al-Jami karena mengumpulkan ilmu-ilmu yang banyak; dia belajar fiqh dari Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila, belajar tafsir dari Al-Kalbi, maghazi dan sirah dari Muhammad bin Ishaq, hadits dari Hajjaj bin Artha. Dikatakan bahwa dia mengumpulkan segala sesuatu kecuali kejujuran, dan telah disinggung sebelumnya hal serupa ini.

Bagaimanapun juga, para muhaddits telah salah karena menyebutkan hadits-hadits ini dalam tafsir mereka, seperti Ats-Tsalabi dalam “Al-Kasyf wal Bayan”, Al-Wahidi dalam tafsirnya dan Asbab Nuzulnya, Az-Zamakhsyari, An-Nasafi, Al-Baidhawi, Abu Suud dan lain-lain yang banyak. Namun kami mencari sedikit uzur bagi para pendahulu. Barangsiapa yang menampakkan sanad dan menyebutkannya seperti Ats-Tsalabi dan Al-Wahidi, maka uzurnya lebih mudah, karena dia menyerahkan kepada pembacanya untuk mengungkap sanadnya. Adapun yang tidak menampakkan sanad dan mengemukakan dengan shighat al-jazm (penegasan), maka kesalahannya besar dan uzurnya besar, seperti Az-Zamakhsyari, An-Nasafi, Al-Baidhawi, Abu Suud dan lainnya sampai akhir.

Kita beralih setelah itu kepada apa yang dikemukakan para mufasir. Terdapat hadits-hadits palsu dari selain Ubayy bin Kaab. Dalam keutamaan surat-surat, Az-Zamakhsyari dan Al-Baidhawi menyebutkan dalam keutamaan Al-Fatihah, keduanya berkata: “Dari Hudzaifah bin Yaman bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab kepada suatu kaum secara pasti dan telah ditetapkan, lalu seorang anak dari anak-anak mereka membaca dalam kitab: Alhamdulillahi rabbil alamiin, maka Allah mengangkat dari mereka azab selama empat puluh tahun'”. Waliyyuddin Al-Iraqi berkata: “Dalam sanadnya terdapat Al-Juwaibari dan Mamun Al-Harawi, dan keduanya adalah pendusta, maka perkataan ini adalah buatan salah satu dari keduanya”, sampai akhir apa yang dikemukakan para mufasir seputar beberapa ayat.

Mereka juga mengemukakan dalam keutamaan Ayat Kursi perkataan yang banyak dan hadits-hadits palsu yang banyak. Lihatlah “Al-Kasysyaf” dalam apa yang dikemukakan, dia telah mengemukakan seputar ayat ini: “Ayat ini tidak dibaca di rumah kecuali setan-setan meninggalkannya selama tiga puluh hari, dan tidak masuk ke dalamnya tukang sihir laki-laki atau perempuan selama empat puluh malam. Wahai Ali, ajarkanlah kepada anakmu, keluargamu, dan tetanggamu, karena tidak turun ayat yang lebih besar darinya”.

Dengan hadits-hadits palsu ini, tidak tersembunyi bahwa surat Al-Fatihah dan Ayat Kursi telah datang dalam keutamaannya hadits-hadits shahih yang banyak, ini bukan tempat untuk menyebutkannya sekarang.

Yang perlu kami tunjukkan bahwa para mufasir mungkin menyebutkan hadits-hadits shahih dalam keutamaan-keutamaan, maka janganlah saudara-saudara kita para penuntut ilmu menyangka bahwa semua yang dikemukakan para mufasir seperti Az-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, An-Nasafi dan lainnya dalam keutamaan adalah palsu. Ada hadits-hadits yang sangat shahih, seperti “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka keduanya cukup baginya” (muttafaq alaih).

Ada juga: “Aku diberi penutup-penutup surat Al-Baqarah dari perbendaharaan dari bawah Arsy, tidak diberikan kepada nabi sebelumku”. Ada pula hadits-hadits tentang Al-Fatihah: “Maukah aku beritahu kepadamu surat yang tidak diturunkan dalam Taurat, Injil dan Al-Quran yang sepertinya? Aku berkata: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: ‘Fatihah Al-Kitab, sesungguhnya ia adalah As-Sabu Al-Matsani dan Al-Quran Al-Azhim yang diberikan kepadaku'”. Tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Al-Allamah Al-Alusi, keduanya termasuk yang paling dapat diandalkan dalam hadits-hadits keutamaan, yang shahih dan yang tidak shahih darinya.

Tidak tersembunyi bahwa surat-surat yang shahih dalam keutamaannya hadits-hadits adalah Al-Fatihah, Az-Zahrawain (yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran), Al-Anaam, As-Sabu Ath-Thiwal secara umum, surat Al-Kahf, surat Yasin, Ad-Dukhan, Al-Mulk, Az-Zalzalah dengan perbedaan dalam menshahihkan atau menghasankan hadits-hadits ini, surat An-Nashr, Al-Kafirun, Al-Ikhlash dan Al-Muawwidzatain. Selain surat-surat ini tidak sampai kepada pengetahuan kami bahwa ada yang shahih di dalamnya sesuatu yang mencapai derajat keshahihan. Yang paling shahih yang datang dalam keutamaan surat-surat adalah yang datang dalam surat Al-Ikhlash dan Al-Baqarah. Alhamdulillahi, datang hadits-hadits yang banyak dan hasan, sebagiannya para ulama berbeda pendapat dalam menghasankan atau melemahkannya, tetapi tidak sampai ke batas pemalsuan.

Mari kita beralih ke bagian lain dari hadits-hadits palsu dalam sebab-sebab turunnya ayat. Dari hadits-hadits dan atsar-atsar palsu dalam kitab-kitab tafsir dan yang berkaitan dengan sebab-sebab turunnya ayat adalah apa yang akan saya sebutkan dalam riwayat-riwayat ini.

Termasuk dari itu adalah kisah Gharaniq dan kisah pernikahan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy radhiya Allah anha. Telah lewat pembahasan secara rinci tentang kisah Sayyidah Zainab, tetapi tidak ada salahnya kita menambah penjelasan tentang apa yang ada di dalamnya dari hal-hal yang masuk (dakhil) dan bantahan para ulama terhadap syubhat ini yang diperbanyak para mufasir dalam apa yang mereka riwayatkan dari hadits-hadits batil dan palsu dalam kisah ini.

Dan apa yang diriwayatkan dalam sebab turunnya firman Allah subhanahu wa taala juga: “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami beriman’. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami sertamu, kami hanyalah berolok-olok'” (Al-Baqarah: 14). Ibnu Abbas meriwayatkan: bahwa ayat itu turun tentang Abdullah bin Ubayy dan teman-temannya, ketika mereka keluar suatu hari, lalu beberapa orang sahabat menyambut mereka. Ibnu Ubayy berkata: “Lihatlah bagaimana aku menolak orang-orang bodoh ini dari kalian”. Dia memegang tangan Ash-Shiddiq radhiya Allah anhu dan berkata: “Selamat datang kepada Ash-Shiddiq, pemimpin Bani Tamim dan yang kedua setelah Rasulullah di gua”. Dia memegang tangan Umar dan berkata: “Selamat datang kepada Al-Faruq”. Kemudian dia memegang tangan Ali dan berkata: “Selamat datang kepada sepupu Nabi dan menantunya (khatannya, yaitu suami putri, karena dia adalah suami Sayyidah Fatimah radhiya Allah taala anha), pemimpin Bani Hasyim, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”. Kemudian mereka berpisah, Ibnu Ubayy berkata kepada teman-temannya: “Lihatlah bagaimana aku menolak mereka? Bila kalian menemui mereka, lakukanlah seperti yang aku lakukan”. Ini dari riwayat As-Suddi Ash-Shaghir dari Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Ibnu Hajar berkata dalam takhrij hadits-hadits “Al-Kasysyaf”: “Itu adalah silsilah kebohongan bukan silsilah emas, dan bekas-bekas pemalsuan tampak jelas padanya”. Surat Al-Baqarah turun di awal hijrah, sedangkan pernikahan Ali dengan Fatimah adalah pada tahun kedua. Lihatlah bagaimana Al-Hafizh mengkritik kisah itu dari segi sanad dan matan. Ini menolak tuduhan para orientalis dan pengikut mereka bahwa mereka hanya memperhatikan kritik sanad tanpa matan. Sebab ini disebutkan oleh Ats-Tsalabi, Al-Wahidi, Az-Zamakhsyari dan An-Nasafi dalam tafsir mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyadarinya. Syaikh Al-Mufassirin Ibnu Jarir menyadarinya sehingga tidak menyebutkannya. Demikian pula As-Suyuthi menyebutkannya dalam “Ad-Durr” kecuali bahwa dia berkata: “Dengan sanad yang lemah”. Seharusnya dia tidak menyebutkannya selama sanadnya lemah. Kamu telah mendengar perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar tentangnya.

Termasuk juga dari sebab-sebab turunnya ayat yang palsu adalah apa yang disebutkan sebagian mufasir dalam sebab turunnya firman Allah subhanahu wa taala: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): ‘Raaina’, tetapi katakanlah: ‘Unzhurna'” (Al-Baqarah: 104). Abu Nuaim meriwayatkan dalam “Ad-Dalail” dari riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi dari Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Raaina dalam bahasa Yahudi adalah makian yang buruk. Orang-orang Yahudi biasa mengatakannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam secara diam-diam. Ketika para sahabatnya mendengarnya, mereka mengatakannya secara terang-terangan, mereka mengatakannya sambil tertawa karenanya. Saad bin Muadz mendengarnya dari mereka, maka dia berkata: ‘Demi Allah, bila aku mendengarnya dari seorang laki-laki di antara kalian, pasti aku pancung lehernya’. Maka turunlah ayat itu”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam takhrijnya: “As-Suddi Ash-Shaghir matruk (ditinggalkan) demikian pula gurunya”. Aku berkata: Dan itu adalah silsilah kebohongan sebagaimana telah lewat. Az-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, Al-Alusi dan lainnya telah menyebutkan ini.

Termasuk dari itu adalah apa yang disebutkan para mufasir juga seperti Az-Zamakhsyari, An-Nasafi, Al-Khazin dan lainnya dalam sebab turunnya firman Allah subhanahu wa taala: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (Al-Maidah: 55). Mereka menyebutkan bahwa ayat itu turun tentang sayyidina Ali. Lihatlah perkataan Syiah dan fanatisme golongan. Mereka berkata bahwa ayat itu turun tentang sayyidina Ali radhiya Allah anhu ketika seorang pengemis lewat di hadapannya sementara dia dalam shalat, maka dia melemparkan cincinnya dan bersedekah dengannya kepada pengemis itu, sementara dia sedang rukuk. Ibnu Jawzi telah memutuskan bahwa itu palsu, sebagaimana Imam Ibnu Taimiyyah dan imam-imam lainnya juga memutuskannya palsu. Pengaruh Syiah tampak jelas padanya, dan seluruh sanad-sanadnya tidak lepas dari kelelemahan dan ketidakjelasan.

Yang dikenal dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam radhwanullahi alaihim adalah bahwa mereka tidak pernah sibuk dalam shalat dengan selainnya, bahkan mereka dalam puncak kekhusyukan dan keasyikan dalam shalat. Rukuk di sini menurut makna bahasanya yaitu tunduk dan khusyuk. Sebab ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan memutuskan bahwa semua jalurnya lemah atau palsu, karena datang dari jalur Al-Kalbi.

Bila kita beralih kepada kisah yang besar pengaruhnya, memiliki gema luas dalam kitab-kitab tafsir, dan diambil oleh para orientalis dan mereka menenun darinya benang-benang banyak, yaitu kisah Gharaniq. Sesungguhnya kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya. Tidak tersembunyi bagi seorang alim bahwa itu dari tenunan musuh-musuh Islam dan bahwa itu dari hal-hal palsu, maka kita akan memulai dengannya.

Kita katakan bahwa sebagian mufasir menyebutkan dalam tafsir firman Allah subhanahu wa taala: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitan memasukkan godaannya terhadap keinginan itu, kemudian Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Allah berbuat demikian) supaya Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan yang keras hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang jauh. Dan supaya orang-orang yang diberi pengetahuan, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya. Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (Al-Hajj: 52-54). Berkaitan dengan ayat-ayat ini juga apa yang datang dalam tafsir firmannya: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (An-Najm: 1-2) hingga kita sampai kepada ayat: “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta, Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (An-Najm: 19-20) dan ayat-ayat selanjutnya.

Beberapa mufasir menyebutkan dalam sebab turunnya ayat-ayat ini sebagaimana yang dikatakan Imam As-Suyuti. Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan melalui berbagai jalur dengan sanad yang sahih – sebagaimana yang mereka klaim – mereka mengklaim bahwa sanadnya sahih. Mereka menyebutkan dari Sa’id bin Jubair berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di Makkah “Dan demi bintang ketika terbenam” (An-Najm ayat 1). Ketika sampai pada: “Maka terangkanlah kepadaku tentang Lata dan Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling akhir” (An-Najm ayat 19-20), setan memasukkan ke dalam lisannya: “Itulah burung-burung bangau yang tinggi dan sesungguhnya syafaat mereka sangat diharapkan”. Maka orang-orang musyrik berkata: “Muhammad tidak pernah menyebut tuhan-tuhan kami dengan kebaikan sebelum hari ini”, lalu mereka sujud dan dia pun ikut sujud. Kemudian turunlah ayat-ayat.

Imam Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkannya dengan jalur lain dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas – menurut perkiraan kami – dan berkata: “Tidak diriwayatkan kecuali dengan sanad yang bersambung ini.” Setelah menyebutkan banyak jalur, dia berkata: “Semuanya baik lemah atau terputus kecuali jalur Sa’id bin Jubair yang pertama. Jalur ini dan dua jalur lain yang mursal menurut Ibnu Jarir adalah sandaran para ulama yang menshahihkan kisah ini seperti Ibnu Hajar dan As-Suyuti.”

Yang benar adalah: kisah ini tidak terbukti baik dari segi periwayatan maupun dari segi akal dan pandangan. Adapun dari segi periwayatan: banyak ulama peneliti dan ahli hadits yang mencela kisah ini. Imam Al-Baihaqi – yang merupakan salah satu tokoh besar Ahlu Sunnah – berkata: “Kisah ini tidak terbukti dari segi periwayatan.” Qadhi Iyadh dalam bukunya “Asy-Syifa” berkata: “Ini adalah hadits yang tidak dikeluarkan oleh seorang pun dari ahli hadits shahih, dan tidak diriwayatkan oleh seorang perawi terpercaya dengan sanad yang selamat dan bersambung. Hanya para mufasir dan sejarawan saja yang tertarik padanya dan yang semisalnya, dan orang-orang yang gemar dengan setiap yang aneh, yang mengambil dari lembaran-lembaran setiap yang benar dan yang rusak. Dan orang-orang yang dikutip ucapan ini dari kalangan mufasir dan tabi’in, tidak ada seorang pun dari mereka yang menyandarkanya atau mengangkatnya kepada sahabat. Kebanyakan jalur dari mereka dalam hal ini lemah dan rapuh.”

Jika kita ingin mengikuti pendapat para ulama kritikus, Abu Bakar Al-Bazzar berkata: “Hadits ini tidak kami kenal diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang bersambung. Yang dikenal hanyalah dari Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Dan hadits-hadits Al-Kalbi adalah yang tidak boleh diriwayatkan darinya atau disebutkan karena kuatnya kelemahan dan kebohongannya.”

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya. Wallahu a’lam.

 

 

Pelajaran: 20 – Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (3) dan yang Masuk dalam Tafsir bir-Ra’yi

Bismillahirrahmanirrahim

Pelajaran Kedua Puluh

(Contoh-contoh Hadits Palsu dalam Tafsir (3) dan yang Masuk dalam Tafsir bir-Ra’yi)

Lanjutan Atsar dan Hadits-hadits Palsu serta Lemah dalam Asbabun Nuzul

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi juga mengingkari kisah ini dan mencela dari segi periwayatan. Ketika Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah ditanya tentang kisah ini, dia berkata: “Ini adalah buatan para zindiq,” dan dia menyusun kitab tentang hal itu, sebagaimana yang dikatakan Imam Ar-Razi dalam tafsirnya dan juga dalam Al-Alusi dengan mengutip dari “Tafsir Al-Bahr” bahwa dia adalah Muhammad bin Ishaq penyusun sirah. Namun ternyata bagi kami bahwa Ibnu Ishaq penyusun sirah menyebutkannya dalam “Sirahnya”, maka mungkin yang dimaksud adalah Ibnu Khuzaimah yang lain.

Bagaimanapun, para imam yang berpendapat bahwa kisah ini adalah palsu di antaranya: Imam Abu Manshur Al-Maturidi dalam kitab “Hushush Al-Atqiya'” dimana dia berkata: “Yang benar adalah bahwa ucapan ‘itulah burung-burung bangau yang tinggi’ adalah dari bisikan setan-setan kepada para walinya dari kalangan zindiq, dimana mereka menyebarkan di antara orang-orang lemah dan rendah agama ucapan ini agar mereka ragu dalam kebenaran agama. Kemuliaan risalah bersih dari riwayat semacam ini.”

Demikianlah kita melihat bahwa para ulama telah mengingkarinya dan memutuskan kepalsuan-nya. Jika kita meringkas perkataan, kami katakan: kisah ini tidak dikeluarkan oleh seorang pun yang berkomitmen pada kesahihan, dan penelitian ilmiah membuktikan bahwa hadits gharaniq adalah bohong dan dibuat-buat, yang diciptakan oleh para zindiq yang berusaha merusak agama dan mencela penutup para nabi dan rasul Muhammad ‘alaihi ash-shalatu was-salam. Kisah ini bertentangan dengan Al-Qur’an. Ucapan mereka bahwa setan menguasai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menambahkan kata-kata adalah bohong, karena Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak mempunyai kekuasaan atas mereka” (Al-Hijr ayat 42). Tidak ada seorang pun yang lebih berhak dengan penghambaan ini daripada para nabi. Kebatilan kisah ini dari segi akal sangat jelas, dan umat telah bersepakat serta tegak dalil tentang kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal semacam ini.

Dengan apa yang kami sebutkan dari perkataan para peneliti tentang kisah ini, Imam Ibnu Hajar dikuasai oleh keahlian dan kaidah-kaidah istilah, maka dia berkata: “Kisah ini sanadnya sahih,” dan dia menjadikannya mempunyai asal, demikian dia katakan dalam “Al-Fath.” Namun yang benar: jika sanadnya sahih dalam sebagian riwayat, maka matannya pasti bertentangan dengan akal dan naqal. Jika hal itu sudah ditetapkan, maka wajib menta’wilkan apa yang ada di dalamnya atas kemungkinan apa yang dikatakan Ibnu Hajar, karena di dalamnya ada yang diingkari, yaitu ucapan mereka bahwa setan memasukkan ke lisan Nabi “itulah burung-burung bangau yang tinggi.” Ini tidak boleh diartikan secara zahir, karena mustahil bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa keluar dari lisannya lafazh atau huruf atau bertambah dalam Al-Qur’an sesuatu yang bukan darinya baik sengaja maupun lupa, karena itu bertentangan dengan kemaksuman. Nabi ‘alaihi ash-shalatu was-salam membaca Al-Qur’an dengan tartil. Perkataan yang dikatakan sebagian orang ini adalah perkataan yang tidak benar dan kisahnya dibuat-buat, ditolak, dan tidak dikeluarkan oleh seorang pun dari pemilik kitab-kitab sahih.

Dari sini kita bisa berkata: lalu apa makna ayat: “Apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, kemudian Allah menghapuskan apa yang dimasukkan oleh setan itu” (Al-Hajj ayat 52)? Jawabannya: Para ulama imam menyebutkan dalam menafsirkannya dua wajah.

Pertama: bahwa tamanni bermakna membaca. Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari secara ta’liq namun dia menjadikannya marjuh bukan rajih, yaitu menafsirkan tamanni dengan berharap dan membaca, kecuali bahwa ilqa’ bukan dengan makna yang disebutkan oleh para pembatal ini, tapi dengan makna memasukkan kebatilan dan syubhat dari apa yang dimungkinkan oleh perkataan. Setan memasukkan kebatilan dan syubhat, bukan yang dimaksudkan pembicara dan tidak dimungkinkannya, tapi diklaim bahwa itu mengarah kepadanya. Menisbatkan ilqa’ kepada setan ketika itu karena dia membangkitkan syubhat dengan was-was dan rintangan.

Maknanya: Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul atau nabi melainkan jika dia bercerita kepada kaumnya tentang Tuhannya atau membaca wahyu yang Allah turunkan yang di dalamnya ada petunjuk bagi mereka, berdiri menghadapinya orang-orang yang membuat keributan dan menentang yang mengatakan atas namanya apa yang tidak dia katakan, mereka mengubah kalimat dari tempatnya dan menyebarkannya di antara manusia. Para nabi senantiasa berjuang melawan mereka dan berjuang di jalan kebenaran hingga menang. Maka Allah menghapuskan apa yang dimasukkan setan dari syubhat dan menetapkan kebenaran serta menguatkannya. Allah telah menetapkan sunnah ini dalam penciptaan untuk membedakan yang kotor dari yang baik, maka orang-orang lemah iman yang dalam hati mereka ada penyakit terfitnahkan, kemudian Allah memurnikan kebenaran dan menampakkannya, dan diterima oleh orang yang Allah kehendaki baginya petunjuk, yaitu mereka yang diberi ilmu, maka mereka mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka, dan hati mereka tunduk kepadanya.

Kedua: bahwa yang dimaksud dengan tamanni adalah berharap terjadinya perkara yang diinginkan dan pembicaraan jiwa dengan apa yang telah dan akan terjadi. Umniyah dari makna ini seperti makna: Allah tidak mengutus rasul atau nabi untuk menyeru kaumnya kepada petunjuk baru dan syariat sebelumnya melainkan tujuan maksudnya dan seluruh cita-citanya adalah agar kaumnya beriman dan membenarkan petunjuk yang dibawanya. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal itu berada di maqam yang paling tinggi, sangat bersemangat terhadap iman kaumnya. Jika mereka berpaling darinya, dia sedih, maka Tuhannya berfirman kepadanya: “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada Al Qur’an ini” (Al-Kahf ayat 6). “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya” (Yusuf ayat 103). “Maka janganlah kamu bersedih hati karena perkataan mereka” (Yasin ayat 76). Ayat-ayat semacam ini menjelaskan bahwa Nabi menginginkan petunjuk mereka.

Maknanya: Kami tidak mengutus rasul atau nabi melainkan jika dia mempunyai cita-cita mulia ini, yaitu petunjuk kaumnya, setan memasukkan di jalannya rintangan-rintangan dan mengadakan antara dia dan maksudnya penghalang-penghalang, dan membisikkan di dada manusia sehingga mereka bangkit menghadapinya, berargumen dengannya dengan senjata di satu waktu dan dengan perkataan di waktu lain. Jika mereka menang atasnya dan dakwah di awalnya dan mereka berhasil darinya sedang dia sedikit pengikutnya, mereka menyangka bahwa kebenaran di pihak mereka. Allah mungkin memanjakan mereka sebagai sunnah-Nya, menjadikan perang antara mereka dan orang-orang mukmin saling berganti, maka tertipu oleh hal itu orang-orang yang dalam hati mereka ada keragu-raguan dan kemunafikan. Namun Allah segera menghapus apa yang dimasukkan setan dari syubhat dan menghilangkan penghalang, menumbuhkan dari kelemahan para pendukung ayat-ayat kekuatan dan mengganti kehinaan mereka dengan kemuliaan. Pada akhirnya kalimat Allah yang tinggi dan kalimat orang-orang kafir yang rendah, agar orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa apa yang dibawa rasul-rasul itu adalah kebenaran, maka hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.

Kisah Sayyidah Zainab binti Jahsy

Kita kembali setelah itu kepada syubhat yang dibangkitkan oleh sebagian zindiq dan sebagian musuh Islam seputar kisah Sayyidah Zainab binti Jahsy radliyallahu ‘anha. Telah berlalu pembahasan di dalamnya dan dalam kisah ini serta bantahan terhadap ucapan mereka. Namun tidak ada halangan melengkapi jawaban dalam perkara ini agar posisi menjadi jelas dan kita berada di atas keterangan tentang perkara ini.

Ayat yang dalam surah Al-Ahzab: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (Al-Ahzab ayat 37).

Para pembatal meriwayatkan perkataan banyak yang telah disebutkan sebelumnya: bahwa Rasul ‘alaihi ash-shalatu was-salam pergi ke rumah Zaid dalam ketidakhadirannya, lalu melihat Zainab, dan angin membuka tirai rumahnya sehingga dia melihatnya dalam kecantikannya, maka jatuh cintanya di hatinya. Dari perkataan jahat yang disebutkan para pembatal ini, kita tahu bahwa ketika Zaid hadir, Zainab mengabarkan kepadanya tentang perkataan Rasulullah, maka Zaid pergi dan berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa engkau datang ke rumahku, mengapa tidak masuk ya Rasulullah, barangkali Zainab mengagumkanmu sehingga aku menceraikannya.” Ini perkataan yang disebutkan sebagian mufasir. Rasul ‘alaihi ash-shalatu was-salam berkata kepadanya: “Tahanlah isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” maka turunlah ayat.

Yang tersisa bagi kita adalah apa hal yang Tuhannya menegur dia di dalamnya yaitu firman-Nya: “Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” Rasul ‘alaihi ash-shalatu was-salam adalah orang yang menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah, mantan budaknya. Dia adalah wanita yang dikenal dan diketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Zaid menikahinya, dia tidak suka dengan hal itu, kemudian ridha dengan apa yang diperbuat Rasulullah dan perintahnya, maka dia menikahkannya dengannya. Kemudian Allah memberitahukan kepada rasul-Nya setelah Zaid menikahinya bahwa Zainab akan menjadi salah satu isterinya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam malu untuk mengumumkan hal itu.

Ketika terjadi antara sayyidina Zaid dan isterinya beberapa masalah, dan dia mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasul memerintahkannya untuk mempertahankan isterinya dan bertakwa kepada Allah. Rasulullah khawatir bahwa manusia akan mencela dan berkata: “Muhammad menikahi isteri anaknya,” padahal dia telah mengangkat Zaid sebagai anak. Inilah sebab yang benar dalam riwayat ini.

Ibnu Abi Hatim dan At-Thabari meriwayatkan dengan sanad mereka, mereka berkata: Allah memberitahukan kepada nabi-Nya bahwa Zainab akan menjadi salah satu isterinya sebelum dia menikahinya. Ketika Zaid datang kepadanya mengadukan isterinya, Nabi berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah dan pertahankan isterimu.” Allah berfirman: “Sungguh telah Aku beritahukan kepadamu bahwa Aku akan menikahkanmu dengannya, dan kamu menyembunyikan dalam dirimu apa yang Allah nyatakan.” Yang disembunyikan Nabi ‘alaihi ash-shalatu was-salam adalah bahwa Allah memberitahukan kepadanya bahwa Zainab akan menjadi salah satu isterinya. Nabi khawatir bahwa orang Arab akan menyalahkan tindakan ini karena orang Arab dari kebiasaan mereka adalah mengangkat anak, dan orang Arab menyambungkan anak angkat dengan nasab dan memberlakukan hak-haknya dalam warisan serta mengharamkan isterinya atas ayah atau bapak yang mengangkatnya. Kebiasaan itu mengakar dalam jiwa mereka.

Ketika Allah memberitahukan hal itu kepada rasul-Nya dan bahwa Allah akan menikahkan rasul-Nya dengannya, Nabi khawatir celaan dan teguran orang Arab terhadap apa yang mereka biasakan dan lakukan, dan bahwa Islam akan menghapuskan keharaman isteri anak angkat, akan memutuskan bahwa isteri anak angkat bukan seperti isteri anak kandung. Ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa hal itu: “(Demikian itu sebagai) sunnah Allah yang telah berlaku bagi orang-orang yang terdahulu, dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang sudah ditetapkan” (Al-Ahzab ayat 38).

Jelas dalam ayat-ayat ini bahwa pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Zainab adalah dengan perintah dari Allah, dan bahwa Allah ‘azza wa jalla ingin membatalkan apa yang dibiasakan orang Arab yaitu keharaman isteri anak angkat. Ketika Allah memutuskan hal itu, Dia menyempurnakan urusan-Nya dan menampakkan perkara ini. Jibril telah memberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Zainab akan menjadi isteri baginya, dan Allah akan membatalkan dengan pernikahannya dengannya kebiasaan orang Arab. Namun Nabi merasa tidak pantas pada dirinya untuk memerintahkan Zaid menceraikannya, sehingga tersebarlah perkataan di antara manusia bahwa Muhammad menikahi isteri anaknya. Dengan begitu dia menjadi sasaran omongan dari musuh-musuhnya, padahal dalam dakwahnya kepada agama Allah dia lebih membutuhkan dukungan para pendukung. Sejumlah rasa takut kepada manusia ini hingga dia menyembunyikan apa yang Allah beritahukan kepadanya yaitu pernikahan dengannya, dan itulah yang Allah tegur kepadanya.

Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an dalam kalam-Nya sebab yang mendorong pernikahan ini, Dia berfirman: “Supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” Inilah tafsir yang sesuai dengan kebenaran dan kenyataan. Adapun orientalis dan misionaris serta musuh-musuh Islam, mereka telah merajut dari riwayat-riwayat batil yang dibuat-buat dan rapuh itu kain dari kebohongan dan khayalan untuk mencela agama dan mencela rasul kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Palsu tentang Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain

Mari kita beralih kepada beberapa sebab yang diriwayatkan yang lemah untuk melengkapi pembahasan tentang asbabun nuzul:

Ada juga dalam firman-Nya Jalla wa ‘Ala: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (Al-Insan ayat 8-9). Kebanyakan mufasir menyebutkan dalam sebab turunnya ayat ini riwayat-riwayat tentang sayyidina Ali dan tentang Hasan dan Husain.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Hasan dan Husain sakit, lalu kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk mereka bersama Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan menjenguk mereka siapa yang menjenguk dari para sahabat. Mereka datang untuk menziarahi keduanya, lalu berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: “Seandainya kamu bernazar atas kedua anakmu,” yakni memberikan nazar. Maka Ali, Fatimah, dan Fadhlah seorang budak wanita yang mereka miliki bernazar jika keduanya sembuh – yakni jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkan keduanya – bahwa mereka akan berpuasa tiga hari sebagai syukur kepada Allah. Allah mengenakan kepada kedua anak itu pakaian kesembuhan. Sayyidina Ali meminjam tiga sha’ – yakni sejumlah tepung atau gandum – meminjam dari seorang laki-laki Yahudi Syam’un Al-Khaibari. Dia datang dengannya, maka Sayyidah Fatimah bangun ke satu sha’ lalu menggilingnya dan membuat roti darinya lima ketul sesuai jumlah mereka. Mereka meletakkannya di hadapan mereka untuk berbuka, lalu berdirilah di pintu seorang pengemis: “Assalamu ‘alaikum ya ahla baiti Muhammad, aku orang miskin, berilah aku makan, Allah akan memberi kalian makan dari meja-meja surga.” Maka mereka mengutamakannya dan mereka bermalam tidak mencicipi sedikitpun makanan.

Pada hari kedua datang seorang anak yatim, maka mereka beri lima ketul roti seperti sebelumnya. Pada hari ketiga datang seorang tawanan, dia berbuat seperti yang sebelumnya. Ali dan Fatimah bermalam tanpa makanan. Demikian disebutkan dalam riwayat. Khabar ini mengandung syair yang dikatakan dalam urusan ini yang buruk. Kemudian Jibril turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ambillah ya Muhammad,” lalu membacakan kepadanya: “Apakah telah datang atas manusia waktu dari masa yang dia belum merupakan sesuatu yang disebut-sebut?” (Al-Insan ayat 1) hingga firman-Nya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah.”

Kebanyakan mufasir mengeluarkan khabar ini dan hampir tidak selamat tafsir dari mereka, bahkan Hafizh As-Suyuti menyebutkannya dalam “Ad-Dur” meskipun dia setuju tentang kelemahannya dalam “Al-La’ali.”

Hakim At-Tirmidzi dalam bukunya “Nawadir Al-Ushul” dalam ashl ke empat puluh empat telah mengingatkan tentang kepalsuan-nya, dimana dia berkata: “Di antara hadits yang diingkari oleh hati orang-orang yang teliti,” lalu dia menyebut kisah ini dan berkata: “Ini hadits yang dibuat-buat.” Lihat juga “Takhrij Hadits Al-Kasysyaf” oleh Hafizh Az-Zaila’i, dan lihat “Al-Maudhu’at” oleh Ibnu Al-Jauzi. Semua mereka menyebutkan bahwa hadits ini palsu.

Hafizh Ibnu Al-Jauzi menyebutkannya, dan Ibnu Hajar dalam kitab “At-Takhrij” dimana dia mengkritik hadits ini dalam “Al-Kasysyaf” dan berkata: “Dikeluarkan oleh Ats-Tsa’labi dari Ibnu Abbas dari riwayat Al-Kalbi.” Dia berkata: “Bekas-bekas kepalsuan tampak jelas padanya lafazh dan makna.” Pembangunan rumah tangga sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah adalah di Madinah pada tahun kedua, sedangkan surah ini Makkiyah. Surah ini Makkiyah, dan sayyidina Ali tidak menikahi Fatimah kecuali di Madinah, kemudian beliau memperoleh keturunan setelah itu – setelah itu beberapa tahun. Jelas bahwa kisah ini di dalamnya ada kebohongan yang nyata dan kebatilan yang terang.

Surah ini Makkiyah sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan jumhur, maka tidak masuk akal bahwa inilah sebabnya. Yang mengherankan: Imam Al-Alusi telah berusaha membuktikan khabar ini dengan khilaf dalam Makkiyah dan Madaniyah surah, dan bahwa Ibnu Al-Jauzi longgar dalam memutuskan kepalsuan. Kebanyakan tafsir menyebut sebab ini karena hukum kepalsuannya tersembunyi kecuali bagi hafizh pengkritik yang ahli.

Ada banyak sebab; pada kita juga terdapat: apa yang dikemukakan sebagian orang dari hadits: “Aku adalah putra dua orang yang disembelih” yang disebutkan Imam Al-Zamakhsyari dalam kitab Kasyafnya dan diikuti oleh An-Nasafi dalam tafsirnya dan lain-lain ketika membahas firman Allah Ta’ala:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (As-Shaffat: 102)

Ayat-ayat ini mereka sebutkan dalam dalil bahwa yang disembelih adalah Ismail berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Aku adalah putra dua orang yang disembelih” yaitu: kakek moyangnya Ismail, dan ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib. Hadits ini tidak terbukti menurut para ahli hadits. Imam Az-Zaila’i dan Ibnu Hajar berkata dalam (Takhrij Ahadits Al-Kasyaf): kami tidak menemukan hadits ini dengan lafazh ini. Hafizh Al-Iraqi berkata: bahwa ia tidak menemukannya, dan tidak dikenal dengan lafazh ini.

Adapun hadits orang Arab badui yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta pemberian, lalu berkata dalam perkataannya: maka berikanlah kepadaku dari apa yang Allah berikan kepadamu wahai putra dua orang yang disembelih, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersenyum dan tidak mengingkarinya. Ini adalah hadits hasan bahkan dishahihkan oleh Al-Hakim, dan telah diriwayatkan melalui beberapa jalur yang saling menguatkan.

Adapun hadits: “Aku adalah putra dua orang yang disembelih” maka ini tidak terbukti.

Perhatikan Beberapa Pendapat Syiah

Sebagian mufassir seperti Ibnu Jarir dan As-Suyuthi dalam (Ad-Durr Al-Mantsur) serta mufassir Syiah dalam tafsir mereka ketika membahas firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat dari Tuhannya?’ Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi tiap-tiap kaum ada seorang pemimpin.” (Ar-Ra’d: 7)

Mereka menafsirkan “pemberi peringatan” dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan “pemimpin” dengan Ali radhiyallahu anhu. Sedangkan jumhur mufassir salaf dan khalaf sepakat bahwa pemberi peringatan dan pemimpin adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Demikian pula yang diriwayatkan dalam tafsir firman Allah Ta’ala:

“Dan telinga yang mendengar itu akan mengingatnya.” (Al-Haqqah: 12)

Mereka berkata: yang dimaksud adalah telinga Ali. Mereka meriwayatkan: bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika ayat itu turun, memegang telinga Ali dan berkata: “Itu telingamu wahai Ali.” Dalam riwayat lain: “Ya Allah, jadikanlah itu telinga Ali.” Ini adalah ucapan palsu, kedua hadits tersebut adalah palsu, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan imam-imam lainnya.

Ada juga yang tersebar dan terkenal dari ucapan mereka: “Perut adalah rumah penyakit dan berpantang adalah kepala obat” yang disebutkan Az-Zamakhsyari dalam Kasyafnya dan diikuti An-Nasafi dalam tafsirnya mengenai firman Allah Ta’ala:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Mereka menyebutkan riwayat: diceritakan bahwa Rasyid mempunyai dokter Nasrani yang pandai, lalu berkata kepada Ali bin Husain bin Waqid: tidak ada dalam kitab kalian sesuatu dari ilmu kedokteran, padahal ilmu itu ada dua; ilmu agama dan ilmu badan. Ali berkata kepadanya: Allah telah mengumpulkan seluruh ilmu kedokteran dalam setengah ayat dari kitab-Nya. Dokter itu bertanya: apa itu? Ali menjawab: yaitu firman Allah Ta’ala: “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” Dokter Nasrani itu berkata: tidakkah diriwayatkan dari rasul kalian sesuatu dalam kedokteran? Ali menjawab: rasul kami telah mengumpulkan ilmu kedokteran dalam kata-kata yang sedikit. Dokter bertanya: apa itu? Ali menjawab: dalam sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam: “Perut adalah rumah penyakit dan berpantang adalah kepala obat.” Berpantang sudah dikenal yaitu mengurangi makanan dan menahan diri darinya, sebagian orang mengira bahwa berpantang adalah dengan cara dibakar.

Bagaimanapun: hadits yang mereka kemukakan: “Perut adalah rumah penyakit, dan berpantang adalah kepala obat, dan berikanlah kepada setiap badan apa yang sudah dibiasakan”, dokter Nasrani itu berkata: “tidak tersisa bagi Galenus kedokteran dari kitab kalian dan nabi kalian.” Syaikh kami Abu Syuhbah berkomentar tentang hal ini sambil mengutip dan mengkritik, berkata: jika benar dalam ayat bahwa ayat itu mengandung kedokteran dan hikmah; maka salah dalam menyebutkan hadits; maksudnya: ayat memang: “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan” masya Allah di dalamnya terdapat kedokteran dan hikmah, adapun penyebutan mereka terhadap hadits: mereka telah salah; karena bukan dari ucapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam melainkan dari ucapan sebagian dokter Arab; yaitu dari ucapan Al-Harits bin Kaldah dokter Arab. Maka menisbahkan hadits kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah dusta dan kebohongan; karena Rasul tidak mengucapkannya. Ya, ada dari ucapan Nabi yang lebih agung, lebih tepat, dan lebih sempurna dari ini; yaitu sabda beliau alaihish shalatu was salam:

“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk dari perutnya, cukup bagi anak Adam beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya; jika memang harus, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya” (HR. Tirmidzi, katanya: hadits hasan).

Imam Al-Baidhawi benar ketika menyebutkan kisah yang disebutkan Az-Zamakhsyari, tetapi ia cukup dengan penjelasan ayat, dan tidak menyebutkan hadits; sebagaimana kamu ketahui bahwa itu bukan dari ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Beberapa Qiraat Palsu

Ada kitab-kitab tafsir (Az-Zamakhsyari) dan (An-Nasafi) yang mencantumkan beberapa qiraat syaz yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah, dan hal itu telah dijelaskan oleh Imam Al-Khatib dalam Tarikhnya, Imam Adz-Dzahabi dalam (Thabaqat Al-Qurra) dan Ibnu Al-Jazari dalam (Ath-Thabaqat). Yang memalsukan qiraat ini adalah Muhammad bin Ja’far Al-Khuza’i yang wafat tahun 407 H, dan dinukil darinya oleh Abu Al-Qasim Al-Huzali.

Adz-Dzahabi berkata dalam (Al-Mizan) dalam biografi Muhammad bin Ja’far Al-Khuza’i ini; bahwa ia menyusun kitab tentang qiraat Imam Abu Hanifah, maka Ad-Daruquthni menulis catatannya bahwa ini palsu, tidak ada asalnya, seperti firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

dengan merafa’ lafazh Allah dan menashab lafazh ulama seakan-akan ia membaca: “Innama yakhsya Allahu min ‘ibadihi al-‘ulama’.” Tentu ini ucapan yang tidak benar, dan jika palsu; maka tidak perlu bersusah payah membenarkan maknanya, sebagaimana dilakukan Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya wallahu a’lam.

Tafsir bi Ar-Ra’yi

Marilah kita beralih kepada tafsir bi ar-ra’yi agar kemudian kita bergerak untuk menjelaskan bagian-bagian yang menyusup dalam pendapat serta jenis dan ragamnya, dan sebelum kita mulai membicarakan tafsir kelompok-kelompok bid’ah, dan apa yang bercabang dari tafsir bi ar-ra’yi, kita akan melewati secara ringkas seputar tafsir bi ar-ra’yi.

Kita katakan: tafsir bi ar-ra’yi apakah boleh atau tidak boleh? Apa batasan-batasan tafsir bi ar-ra’yi? Kita tidak akan membahas dalil secara detail kepada yang membolehkan atau yang melarang, melainkan gambaran umum tentang tafsir bi ar-ra’yi agar kemudian kita sampai kepada tafsir kelompok-kelompok bid’ah.

Kita mulai dengan tafsir bi ar-ra’yi: para ulama berbeda pendapat tentang tafsir selain yang ma’tsur; yaitu: tafsir dengan pendapat dan ijtihad; maka sekelompok orang berpendapat bahwa tidak boleh bagi siapapun menafsirkan sesuatu dari Al-Quran, meskipun ia seorang yang berilmu, beradab, luas dalam pengetahuan dalil dan ilmu-ilmu yang diperlukan bagi mufassir, dan tidak boleh baginya berakhir kecuali kepada apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan kepada sahabat-sahabatnya yang mengambil darinya dan orang yang mengambil dari mereka dari kalangan tabi’in.

Mayoritas salaf shalih dan para ulama membolehkan tafsir Al-Quran dengan pendapat dan ijtihad; masing-masing pihak memiliki dalil, dan kita akan mengetahui bahwa tafsir bi ar-ra’yi jika sudah lengkap sebab-sebab dan syarat-syaratnya maka menjadi diterima dan terpuji, adapun jika syarat-syarat tidak terpenuhi dan tidak melengkapi ilmu-ilmu yang memadai yang membuat pemiliknya layak untuk tafsir bi ar-ra’yi; maka akan diklasifikasikan sebagai tafsir bi ar-ra’yi yang tercela, dari situ masuklah pendapat-pendapat Bathiniyyah, Syiah, Mu’tazilah, Khawarij, dan lain-lain dari kelompok-kelompok yang dengan pendapat mereka telah merusak banyak tafsir ayat-ayat Al-Quran Al-Karim.

Mari kita mulai secara singkat dan ringkas: yang berpendapat tidak bolehnya tafsir bi ar-ra’yi dan ijtihad, dalil mereka; diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“Barangsiapa berkata tentang Al-Quran dengan pendapatnya lalu benar, maka ia telah salah”

dan hadits lain:

“Takutlah berkata atasku kecuali apa yang kalian ketahui, barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka, dan barangsiapa berkata tentang Al-Quran dengan pendapatnya; maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka”

Ketiga: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ditanya tentang tafsir satu huruf dari Al-Quran, maka ia berkata: langit mana yang menaungi aku, dan bumi mana yang menggendong aku, dan kemana aku pergi dan bagaimana aku berbuat, jika aku berkata tentang satu huruf dari kitab Allah; yaitu: tentang satu kata dari kitab Allah dengan selain yang Allah kehendaki, dan dalam riwayat: jika aku berkata tentang kitab Allah dengan apa yang tidak aku ketahui.

Juga mereka kemukakan dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa ia ditanya tentang tafsir satu ayat dari ayat-ayat Al-Quran, ia berkata: aku tidak berkata tentang Al-Quran apapun, padahal jika ditanya tentang halal dan haram ia berbicara.

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa ia berkata: tiga hal aku tidak berkata tentangnya hingga aku mati; Al-Quran, ruh, dan mimpi -mimpi yaitu tafsir mimpi- diriwayatkan seperti ini dalil-dalil yang banyak.

Yang membolehkan tafsir bi ar-ra’yi dan ijtihad mendiskusikan dalil-dalil ini; mereka berkata: adapun hadits-hadits yang disebutkan dalam kesahihan dan ketetapannya ada pertimbangan, dan yang dimaksud dari ucapan yang berkata tentang Al-Quran: sesungguhnya aku tidak berbicara, dan takutlah berkata serta pengingkaran Abu Bakar ini dimaksudkan kepada yang menafsirkan hanya dengan pendapat dan hawa nafsunya, dengan menjadikan pendapat sebagai asas dan Al-Quran mengikuti pendapatnya; yaitu dengan cara ada masalah yang di dalamnya ada pendapat, dan kepadanya ia condong dengan tabiat dan hawa nafsunya, lalu ia takwilkan sesuai dengan pendapat dan hawa nafsunya; ini tidak diragukan lagi ditolak.

Dan yang dimaksud dengan hadits-hadits yang menolak, dan yang memperingatkan dari berkata tentang Al-Quran adalah yang menafsirkan mutasyabih yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala atau yang menafsirkan Al-Quran, dan tidak melengkapi ilmu-ilmu kebahasaan dan syar’i yang memadainya, maka seperti ini meskipun benar ucapan dan kebenaran; maka ia telah salah jalan yang benar dalam tafsirnya.

Apa yang disebutkan dari salaf bahwa mereka menghindari berbicara tentang Al-Quran maka juga ini ditentang oleh apa yang datang dari Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, ia pernah ditanya tentang makna kalalah, maka ia berkata: aku berkata tentangnya dengan pendapatku; jika benar maka dari Allah, dan jika salah maka dariku dan dari syaitan, dan Allah serta rasul-Nya berlepas darinya; kalalah adalah yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki bapak; ketika Al-Faruq Umar radhiyallahu anhu wa ardhaahu menjadi khalifah berkata: sesungguhnya aku malu mخالفة Abu Bakar dalam pendapat yang dilihatnya.

Ini menunjukkan bahwa ucapannya: langit mana yang menaungi aku, dan bumi mana yang menggendong aku? sesungguhnya yang dimaksudkannya adalah berbicara dengan apa yang tidak ada dalilnya, atau dengan apa yang tidak ada ilmu baginya tentangnya, atau karena takut tidak tepat sasaran kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkata kepada kita Al-Allamah Al-Hafizh Ibnu Katsir: maka atsar-atsar sahih ini, dan yang serupa dengannya dari imam-imam salaf dimaksudkan atas kehati-hatian mereka dari berbicara dalam tafsir dengan apa yang tidak ada ilmu mereka di dalamnya, adapun yang berbicara dengan apa yang ia ketahui dari itu secara bahasa dan syara’; maka tidak ada dosa baginya, karena itu diriwayatkan dari mereka dan lainnya pendapat-pendapat dalam tafsir yang banyak, dan tidak ada pertentangan; karena mereka berbicara tentang apa yang mereka ketahui, dan diam tentang apa yang mereka jahili, dan ini adalah kewajiban atas setiap orang, demikian juga wajib berkata tentang apa yang ditanyakan kepada manusia mengamalkan firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya kamu harus menerangkannya kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya” (Ali Imran: 187)

dan berdasarkan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang datang dari beberapa jalur:

“Barangsiapa ditanya tentang ilmu lalu menyembunyikannya; akan dikekang pada hari kiamat dengan kekang dari api”

Juga kita katakan sebagai dalil bolehnya tafsir bi ar-ra’yi dengan terikat pada syarat-syarat: diriwayatkan dari banyak sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam tafsir Al-Quran yang banyak dan banyak, seperti para pemimpin yang baik; Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas ahli kitab umat yang tidak kamu dapati satu ayat dari kitab Allah, kecuali ada baginya pendapat di dalamnya, demikian juga Ubayy bin Ka’ab, Abdullah bin Amru bin Al-Ash, Anas, Abu Hurairah, dan lain-lain; jika tafsir Al-Quran tidak boleh bagi yang layak untuknya; tentulah mereka tidak melakukannya; karena mereka adalah orang-orang yang paling wara’ dan takwa, dan berhenti di batas-batas Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian ingat bahwa tafsir Al-Quran telah diriwayatkan dari banyak tabi’in terpilih; Sa’id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, Atha, Masruq, Asy-Sya’bi dan lain-lain; yang menunjukkan bahwa yang menahan diri dari mereka dari tafsir Al-Quran hanyalah kehati-hatian lebih, dan berlebihan dalam kewaspadaan mereka.

Setelah itu kita katakan: tafsir bi ar-ra’yi dan ijtihad, apakah kebolehannya lebih kuat? Kita katakan: ya, dan jika dalil-dalil yang dijadikan sandaran oleh yang melarang tidak kuat di hadapan penelitian dan pandangan, maka telah jelas kebolehan tafsir bi ar-ra’yi jika melengkapi syarat-syarat.

Yang harus kita perhatikan bahwa tafsir bi ar-ra’yi bukan termasuk yang menyusup dalam tafsir; maka sesungguhnya tafsir bi ar-ra’yi dan ijtihad yang terpenuhi bagi pemiliknya sebab-sebabnya; yaitu ilmu tentang ilmu-ilmu, dan ilmu tentang hukum-hukum syar’i, dan cabang-cabang bahasa Arab ini dibolehkan, dan ini jelas.

Juga jika kita tidak menafsirkan Al-Quran dengan ijtihad; akan terlewat makna tadabbur dan perenungan dalam Al-Quran, yang Allah anjurkan kepada kita dalam beberapa ayat, dan akan terlewat banyak yang terkandung dalam kitab suci dari hukum-hukum dan adab, dan tidak diragukan bahwa yang sahih tetap diriwayatkan dalam tafsir Al-Quran dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedikit dibanding dengan apa yang tidak diriwayatkan darinya sesuatu di dalamnya, demikian juga yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in tidak mencakup semua ayat Al-Quran Al-Karim ini ada di dalamnya sebagian yang dhaif, palsu, dan isra’iliyyat.

Setelah itu kita dapat berkata: harus dimulai dalam tafsir Al-Quran Al-Karim dengan pendapat dan ijtihad, dan dalil-dalil dalam hal itu banyak, andai kita berhenti pada firman Allah Jalla wa Ala:

“Dan kalau mereka mengembalikannya kepada Rasul dan kepada pemimpin-pemimpin mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan pemimpin-pemimpin)” (An-Nisa: 83)

dan kepada firman-Nya:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

dan ayat-ayat yang mencela penyembunyi ilmu:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, sesudah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (malaikat dan manusia) yang melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

Tidak tersembunyi bahwa sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah pemilik madrasah-madrasah besar; seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: madrasah tafsir terbesar tiga; madrasah Ibnu Abbas di Makkah, madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah, dan madrasah Ubayy di Madinah; setiap madrasah dari madrasah-madrasah ini memiliki tokoh-tokoh dan murid-muridnya, dan telah memenuhi budaya umat dengan pendapat-pendapat yang benar, dan tafsir-tafsir yang diridhai.

Kesimpulan: apakah tafsir bi ar-ra’yi semuanya diterima?

Jawaban: sesungguhnya tafsir bi ar-ra’yi dua bagian;

Pertama: Tafsir yang terpuji dan diterima:

Yaitu tafsir yang dibangun atas pengetahuan yang memadai tentang ilmu-ilmu kebahasaan, dan kaidah-kaidah syar’i dan ushuliyyah; ushul ad-din dan ushul fiqh, dan ilmu hadits dan musthalah, dan tidak bertentangan dengan nukilan yang sahih, tidak dengan akal yang sehat, tidak dengan ilmu yang yakin tetap mapan, dengan mencurahkan kemampuan terbaik dalam penelitian dan ijtihad, dan berlebihan dalam mencari kebenaran dan kebenaran.

Dari ini tafsir-tafsir banyak di antaranya: tafsir Imam Ar-Razi, dan di antaranya (Al-Bahr Al-Muhith) karya Abu Hayyan dan (Tafsir Al-Baidhawi) dan (Ruh Al-Ma’ani) karya Al-Alusi dan (Zad Al-Masir) karya Ibnu Al-Jauzi, tafsir-tafsir banyak yang memenuhi budaya Islam kita.

Bagian kedua dari tafsir bi ar-ra’yi: yaitu tafsir yang tercela dan ditolak:

Yaitu tafsir tanpa kelayakan untuknya dengan ilmu-ilmu yang harus ada bagi mufassir, atau tafsir dengan hawa nafsu dan perkiraan, atau tafsir yang dimaksudkan untuk mendukung madzhab yang rusak dan aliran khusus serta pendapat yang batil, atau tafsir mutasyabih yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan warna tafsir ini sering mengandung riwayat-riwayat yang lemah dan batil, dan kita tidak membahas secara terperinci; maka sesungguhnya kita mengetahui tafsir Syiah, tafsir Mu’tazilah, tafsir Khawarij, tafsir isyari sebagian sufi yang berlebihan, dan termasuk dalam ini tafsir Bathiniyyah, dan pendapat Babiyyah, dan Baha’iyyah, dan mulhidin, dan semacam itu.

Adapun sekarang; jika kita mengatakan: bahwa tafsir dengan akal (ra’yu) apabila telah memenuhi syarat-syaratnya dan melengkapi ilmu-ilmu yang diperlukan adalah boleh; maka apakah metode yang benar dalam menafsirkan Al-Quran yang mulia?

Kita dapat mengatakan: bahwa metode yang benar bagi siapa yang menafsirkan kitab Allah Ta’ala, wajib baginya untuk mencari di dalam Al-Quran tentang makna ayat-ayat; jika tidak menemukan tafsir Al-Quran dengan Al-Quran, maka hendaklah ia mencarinya dalam apa yang sahih dan tetap dalam Sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; jika tidak mendapatkannya maka hendaklah ia mencarinya dalam perkataan para sahabat, dan hendaklah ia menghindari yang lemah dan yang palsu serta Israiliyyat; jika tidak mendapatkan dalam perkataan para sahabat, maka hendaklah ia mencarinya dalam perkataan para tabi’in.

Dan perlu diperhatikan bahwa para tabi’in apabila sepakat tentang sesuatu, maka itu merupakan tanda bahwa umumnya mereka menerimanya dari para sahabat. Adapun jika mereka berselisih, maka hendaklah kita memilih dari perkataan-perkataan mereka dan menguatkan apa yang didukung oleh dalil; jika kita tidak menemukan dalam perkataan mereka apa yang layak menjadi tafsiran ayat; maka hendaklah penafsir berijtihad dengan akalnya, dan jangan ia bersikap malas jika telah melengkapi perangkat ijtihad, dan hendaklah ia memperhatikan kaidah-kaidah berikut yang akan saya kemukakan secara ringkas:

  1. Hendaknya ia berhati-hati dalam tafsir agar penafsiran sesuai dengan yang ditafsirkan, dan hendaknya ia berhati-hati dari kekurangan terhadap apa yang dibutuhkan dalam menjelaskan makna, atau kelebihan yang tidak diperlukan.
  2. Hendaknya ia memperhatikan sebab-sebab turunnya ayat; karena sebab-sebab turun seringkali membantu dalam memahami maksud dari ayat.
  3. Hendaknya ia memperhatikan penyebutan munasabah (keterkaitan) antar ayat, dan metode para penafsir telah berbeda dalam hal apakah munasabah didahulukan ataukah sebab turunnya ayat? Di antara mereka ada yang menyebutkan munasabah; karena itu yang membenarkan susunan kalimat dan mendahuluinya, dan sebagian mereka menyebutkan sebab terlebih dahulu; karena sebab mendahului yang disebabkan, dan dengannya makna menjadi jelas. Penelitian yang benar: bahwa perinciannya antara jika wajah munasabah bergantung pada sebab turunnya ayat seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (An-Nisa: 58) maka ini sebaiknya sebab didahulukan dari munasabah; karena saat itu termasuk bab mendahulukan wasilah dari tujuan, dan jika wajah munasabah tidak bergantung pada sebab; maka lebih utama mendahulukan munasabah.
  4. Hendaknya penafsir membebaskan dirinya dari kecenderungan kepada mazhab tertentu; agar hal itu tidak membuatnya menafsirkan Al-Quran dengan akal dan mazhabnya; sehingga ia jatuh dalam penyimpangan dan kesesatan.
  5. Memperhatikan makna hakiki dan majazi; agar tidak mengalihkan kalimat dari hakikatnya kepada majaznya kecuali dengan pengalih, dan hendaklah ia mendahulukan hakikat syar’i dari hakikat kebahasaan, demikian juga hakikat ‘urfi, dan hendaklah ia memperhatikan membawa kalam Allah kepada makna-makna baru lebih utama dari membawanya kepada ta’kid (penguatan).
  6. Sebaiknya memperhatikan susunan kalimat dan komposisinya serta tujuan yang dimaksudkan untuknya; karena hal itu membantunya untuk memahami makna yang dimaksud dan mengenai yang benar, berkata Imam Az-Zarkasyi dalam (Al-Burhan): Hendaknya menjadi fokus perhatian penafsir adalah memperhatikan susunan kalimat yang dimaksudkan untuknya.
  7. Wajib bagi penafsir memulai dengan apa yang berkaitan dengan mufradat dan memastikan makna-maknanya, kemudian berbicara tentangnya menurut susunan; maka ia memulai dengan i’rab jika samar, kemudian makna-makna, kemudian bayan, kemudian badi’, kemudian ia menjelaskan makna yang dimaksud, kemudian apa yang dapat diistinbathkan dari ayat-ayat berupa hukum-hukum dan adab, dan hendaklah ia memperhatikan maksud dalam apa yang disebutkan dari kebahasaan atau nahwu atau balaghah, maka jangan ia memperluas dalam apa yang tidak ada faedahnya.

Akhirnya; wajib menghindari menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang lemah dan palsu, dan menghindari riwayat-riwayat yang diselundupkan dari Israiliyyat dan sejenisnya agar tidak jatuh dalam apa yang dialami banyak penafsir terdahulu berupa hal-hal palsu dan Israiliyyat dalam sebab-sebab turunnya ayat, atau dalam kisah-kisah para nabi dan orang-orang terdahulu, dan permulaan penciptaan serta hari akhir, dan semisalnya; maka tafsirnya akan selamat dari kebatilan-kebatilan ini yang melemahkan sisi tafsir.

Ini berkaitan dengan syarat-syarat dan metode yang benar yang harus dipatuhi oleh siapa yang menafsirkan Al-Quran dengan akal dan ijtihad.

Dan semoga Allah memberi shalawat kepada junjunan kita Muhammad, dan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya dan memberi salam, dan Allah Maha Mengetahui.

 

 

Pelajaran: 21 Jenis-jenis Yang Menyusup dalam Akal (1). Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kedua Puluh Satu

(Jenis-jenis Yang Menyusup dalam Akal (1))

Makna Yang Menyusup dalam Akal

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga Allah memberi shalawat kepada junjunan kita Muhammad dan kepada keluarga dan semua sahabatnya, dan selanjutnya:

Kita telah selesai dari yang menyusup dalam periwayatan dan hal-hal palsu serta Israiliyyat, dan penjelasan tentang kadar besar dari apa yang dimuat oleh kitab-kitab tafsir dari jenis ini, dan sekarang kita beralih kepada yang menyusup dalam tafsir dengan akal, dan ini mencakup makna yang menyusup dalam akal – jenis-jenis yang menyusup dalam akal – penyebutan contoh-contoh untuk setiap jenis dari yang menyusup dalam akal.

Pertama: Yang Menyusup dalam Akal: Yang menyusup dalam akal adalah: apa yang berasal dari tafsir yang timbul dari akal yang rusak dan ijtihad yang tidak benar, dan sebab-sebabnya kembali kepada entah ketidaktahuan terhadap hukum-hukum bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya, atau syariat dan dasar-dasar agama, atau fanatisme kepada salah satu golongan dari golongan-golongan yang menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, atau tipu daya terhadap agama Islam dengan mengubah Al-Quran dari tempatnya, dan mereka tidak mampu merusak ayat-ayat; maka mereka sengaja menyusupkan kebatilan dan kerusakan mereka ke dalam kitab-kitab tafsir, maka penyelewengan mengenai tafsir Al-Quran, mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya dan yang mendorong mereka pada hal itu adalah dendam kepada Islam dan tipu daya terhadap para pengikutnya.

Adapun jenis-jenis yang menyusup dalam akal sangatlah banyak: yang paling terkenal adalah yang menyusup melalui bahasa; di mana banyak penafsir mengemukakan pembicaraan dalam bahasa dan i’rab serta pendapat-pendapat dan perkataan-perkataan yang tidak benar.

Kedua: Yang Menyusup melalui Firqah-firqah Bid’ah: Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya adalah firqah-firqah yang banyak, tetapi ketiga firqah ini adalah firqah-firqah paling terkenal yang menulis dalam tafsir Al-Quran pembicaraan yang rusak, dan pendapat-pendapat yang batil, mereka fanatik dengannya untuk akidah-akidah mereka yang sesat, dan mereka menang dengannya untuk hawa nafsu mereka.

Ketiga: Yang Menyusup melalui Kesesatan yang Disengaja: dari firqah-firqah yang mengenakan pakaian Islam secara dusta dan palsu: Zindiq, Bathiniyyah, Qadyaniyyah, Babiyyah, dan Bahaiyyah, ini adalah firqah-firqah paling terkenal yang sesat dalam agama Allah, mereka menampakkan Islam, tetapi mereka menyimpan dalam hati mereka dendam hitam yang tertanam yang mereka inginkan untuk menghancurkan Islam, dan meruntuhkan kaidah-kaidahnya, dan merusak Rasul Islam, dan merendahkan kedudukan ulama umat dari kalangan salaf dan khalaf, dan mencela Al-Quran yang mulia.

Keempat: Yang Menyusup melalui Sufisme, dan dalam sufisme ada kaum yang moderat yang berpegang pada syariat Allah dan petunjuk-Nya, dan mereka ini tidak kita bicarakan, mereka ini adalah orang-orang yang adil yang bangga dengan iman mereka, dan berpegang pada akhlak Islam, dan cabang-cabang iman: tawakkal kepada Allah, sabar, yakin, muraqabah, khauf, raja’, zuhud, wara’, sifat-sifat agung ini, tetapi keluar dari kalangan sufi orang-orang yang berlebihan; mereka berlebihan dalam tasawuf mereka, maka mereka keluar dan menyimpang, dan mereka memiliki sikap-sikap banyak yang mخالف منهج الإسلام.

Kelima: Yang Menyusup melalui Tafsir Ilmiah: pintu ini yang dibuka agar menjadi pintu kemukjizatan untuk kitab Allah, dan seandainya para pengikutnya berpegang pada kaidah-kaidah yang benar, dan maksud serta keseimbangan; maka ini adalah pintu kemukjizatan, adapun karena mereka telah melampaui batas, dan membebankan Al-Quran apa yang tidak dapat ditanggungnya, dan mengeluarkannya dari maksud dan petunjuk-petunjuknya; maka sisi tafsir ilmiah ini harus kita tunjukkan bahwa di dalamnya ada yang menyusup, dan pembebanan kepada kitab Allah apa yang tidak dapat ditanggungnya.

Dan sekarang kita mulai dengan yang menyusup melalui bahasa:

Dan yang menyusup melalui bahasa meliputi beberapa jenis; maka yang dimaksud dari yang menyusup di sini adalah apa yang terjadi pada sebagian penafsir berupa i’rab terhadap sebagian kata-kata Al-Quran, atau mengarahkannya dengan pengarahan yang salah dan menyimpang, tidak sejalan dengan kaidah-kaidah yang disepakati; yang menyebabkan kesalahan dalam makna, dan kekacauan dalam pemahaman.

Contoh itu: apa yang datang dalam tafsir firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Dia (Iblis) berkata: ‘Karena Engkau telah menggoda aku, pasti aku akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus'” (Al-A’raf: 16) Ayat ini diucapkan atas lisan Iblis, maka sebagian penafsir membolehkan “ma” sebagai istifham seakan-akan dikatakan: dengan apa Engkau menggodaku, kemudian memulai dengan ucapannya: “pasti aku akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus” maka i’rab ini menyimpang; karena ucapannya “Dia berkata: ‘Karena Engkau telah menggoda aku” di sini “ma” bukan istifhamiyyah.

Dan kita akan mengetahui sekarang apa yang dimaksud oleh mereka yang mengubah ayat dengan i’rab yang menyimpang ini, mereka menjadikan “ma” istifhamiyyah, seakan-akan dikatakan: karena apa Engkau menggodaku? seakan-akan dikatakan: dengan apa Engkau menggodaku? kemudian memulai dengan ucapannya: “pasti aku akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus” i’rab yang menyimpang dan kacau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, dan karenanya tidak layak untuk mentakhrij ayat yang mulia; karena istifham di sini tidak ada maknanya; karena bagaimana Iblis bertanya kepada Rabbnya Azza wa Jalla dengan apa Dia menggoda dan menyesatkannya, kemudian bahwa “ma” istifhamiyyah jika jatuh setelah huruf-huruf jar; maka alifnya dihapus, sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu kaidah-kaidah nahwu yang benar seperti firman-Nya: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (An-Naba: 1) alifnya dihapus.

Dan seperti firman-Nya: “Dalam hal apakah kamu (dapat mengetahui) tentang terjadinya hari itu?” (An-Nazi’at: 43) Maka adapun menetapkan alif dalam keadaan itu adalah sedikit dan menyimpang sebagaimana dikatakan Az-Zamakhsyari; dan atas dasar ini maka pendapat bahwa “ma” dalam ayat adalah istifhamiyyah adalah pendapat yang batil, dan yang benar bahwa itu masdariyyah bukan istifhamiyyah, dan maknanya: maka karena Engkau menggodaku; pasti aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, yaitu pasti aku akan menghadang mereka di jalan Islam, sebagaimana musuh menghadang di jalan untuk memotongnya dari pejalan dan yang lewat, maka di sini “ma” masdariyyah sababiyyah.

Contoh lain: kita katakan: datang dalam tafsir firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (Al-Qashash: 68) Yang jelas: bahwa “ma” dalam ucapan-Nya “Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” adalah nafiyah, yaitu: meniadakan pilihan manusia dalam perkara yang telah dipilih Allah Subhanahu, ini adalah makna yang benar untuk “ma”, tetapi ada kaum yang menjadikannya, yaitu: “ma” mausulah, dan sebagian mereka menjadikannya masdariyyah, dan itu adalah puncak kebatilan, seakan-akan mereka berkata: dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki kehendak-Nya, dan memilih apa yang merupakan pilihan bagi mereka, mereka menjadikan “ma” dalam “Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” di sini mausulah dan sebagian menjadikannya masdariyyah; padahal yang jelas: bahwa itu nafiyah; karena maknanya akan menjadi bahwa Allah memilih bagi mereka perkara yang merupakan pilihan, dan atas dasar menjadikan “ma” masdariyyah, maknanya menjadi memilih pilihan mereka di dalamnya, dan ini adalah jelas kebatilannya.

Dan dari contoh-contoh jenis ini juga: apa yang dikemukakan para penafsir dalam tafsir firman-Nya: “Maka tatkala mereka masuk menemui Yusuf, dia merangkul ibu bapaknya dan berkata: ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman'” (Yusuf: 99) di mana sebagian mereka mengklaim bahwa “insya Allah” tempatnya setelah firman-Nya: “Kelak aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku” (Yusuf: 98) dan ini jelas lemah dan batil; oleh karena itu Az-Zamakhsyari berkata: Dan di antara bid’ah-bid’ah tafsir bahwa firman-Nya: “insya Allah” termasuk bab taqdim dan ta’khir, dan bahwa tempatnya setelah ucapannya: “Kelak aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku” dalam pembicaraan Ya’qub; yaitu: kelak aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku insya Allah, dan aku tidak tahu apa yang harus kukatakan tentangnya dan yang serupa dengannya.

Kedua: apa yang berkaitan dengan kandungan lafazh: Ada jenis lain yang dikemukakan para penafsir, dan itu termasuk bahasa yang batil, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan selain apa yang ditunjukkannya dalam bahasa Arab yang menghasilkan kesalahan dalam takwil, contoh itu: apa yang datang dari sebagian pengklaim ilmu dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “(Ingatlah) hari (ketika) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpin mereka” (Al-Isra: 71) mereka menyebutkan dalam tafsir ayat ini bahwa kata imamihim. Mereka berkata: bahwa imam adalah jamak “umm”, atau jamak ibu, dan bahwa manusia dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama ibu mereka bukan dengan bapak mereka sebagai penutup atas mereka, dan ini salah; karena jamak ibu adalah ummahat, sebagaimana firman-Nya: “dan ibu-ibumu yang menyusui kamu” (An-Nisa: 23) dan bukan atas imam. Dan makna yang benar untuk ayat: hari Kami panggil setiap manusia dari Bani Adam dengan siapa mereka mengikutinya dari nabi, atau pemimpin dalam agama, atau kitab agama, maka dikatakan: wahai pengikut fulan, wahai ahli agama begini, wahai ahli kitab begini; maka membawa mereka kata imam pada bahwa itu jamak ibu ini adalah pembicaraan yang tidak benar.

Kedua: meletakkan kalimat pada selain tempatnya: contoh itu firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Al-Baqarah: 255) sebagian mereka mengemukakan pembicaraan dan tafsiran yang tidak pantas dan bukan yang dimaksud dari ayat; maka sebagian mutasawwifah menafsirkan ayat bahwa maknanya: “man dzalla dzi yasyfa ‘aw” perhatikan pemotongan ayat dan mereka menafsirkan setiap kata dengan makna, man dzal: yaitu dari kehinaan, dzi: isyarat kepada jiwa, yasyfa: dari syifa jawaban man, ‘aw: perintah dari wa’yi, dan ini adalah kesesatan dalam ayat-ayat Allah.

Dan tidak tersembunyi bahwa “man” dalam ayat adalah istifhamiyyah; maka Allah Jalla Jalaluhu dalam ayat ini menyebutkan “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” istifham dengan makna peniadaan, istifham inkari, seakan-akan Allah berkata: tidak ada seorang pun yang memberi syafa’at di sisi Allah di akhirat kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan kecuali untuk siapa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan ayat-ayat yang saling menafsirkan satu sama lain maka “man” di sini istifhamiyyah bukan syarthiyyah, dan istifham inkari dengan makna peniadaan oleh karena itu datang istitsna setelahnya. Dan yang dimaksud dari ayat: penjelasan keagungan Allah, dan kebesaran kedudukan-Nya, dan bahwa tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya, atau mendekati-Nya; sehingga ia mandiri dapat menolak apa yang dikehendaki Allah secara syafa’ah; apalagi mandiri menolaknya secara permusuhan, atau pembangkangan, atau peperangan, dan ini adalah putus asa bagi orang-orang kafir; di mana mereka mengklaim bahwa tuhan-tuhan mereka adalah pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala tafsir (Al-Baidhawi) dan (Al-Alusi) dan (Al-Kasysyaf) dan lainnya.

Contoh lain: Menafsirkan ayat dengan sesuatu yang tidak pantas dengan selera yang sehat dan bahasa Arab yang fasih. Contohnya adalah perkataan mereka dalam menafsirkan ayat: “Dan tanah yang belum pernah kalian jejaki” (Al-Ahzab: 27). Sebagian kaum menafsirkan tanah dengan makna istri-istri musuh, dan Az-Zamakhsyari menggambarkan tafsir ini sebagai bid’ah. Adalah diketahui bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang Perang Ahzab dan tentang Bani Quraizhah, serta apa yang Allah anugerahkan kepada kaum Muslim berupa pewarisan tanah Bani Quraizhah dan harta benda mereka yang melanggar janji dan berkhianat dalam Perang Ahzab. Menafsirkan ayat bahwa tanah yang belum pernah kalian jejaki adalah istri-istri musuh, ini adalah tafsir ayat dengan sesuatu yang tidak benar dan sama sekali tidak pantas secara selera.

Contoh-contoh lain: Menafsirkan ayat dengan bahasa yang janggal atau aneh.

Meskipun Al-Qur’an turun dengan bahasa yang paling fasih, wajib bagi mufasir untuk menafsirkannya dengan cara yang paling baik dan menjauhi penafsiran ayat dengan bahasa yang janggal atau aneh. Contohnya adalah apa yang disebutkan dalam tafsir firman Allah: “Bagaimana mungkin, padahal jika mereka dapat menguasai kalian, mereka tidak akan memelihara hubungan kekerabatan dan tidak pula perjanjian” (At-Taubah: 8). Kata “illa” artinya adalah kekerabatan, dan ada yang mengatakan: perjanjian, dan ada yang mengatakan: sumpah. Namun sebagian kaum menafsirkan “illa” dengan makna Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana ini bisa benar, sedangkan nama-nama Allah bersifat tauqifi (harus berdasarkan nash)? Artinya: tidak sah Allah dinamai dengan suatu nama kecuali jika datang secara tegas dalam ayat seperti nama-nama yang disebutkan di akhir Surat Al-Hasyr atau disebutkan dalam hadits yang sahih. Perkataan mereka ini adalah tafsir ayat dengan bahasa yang aneh dan janggal.

Ambillah contoh lain juga dari jenis ini: apa yang mereka sebutkan dalam firman Allah yang Maha Tinggi: “Dan rapatkan tanganmu ke dadamu untuk menghilangkan rasa takut” (Al-Qashash: 32). Kata “rahab” di sini dimaksudkan adalah rasa takut. Dalam hal ini Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ia bermakna takut, dan maknanya: jika kamu terkejut dengan keadaan tanganmu dan sinarnya, maka masukkan ke dalam sakumu dan kembalikan kepadamu, ia akan kembali seperti semula.” Ada sebagian kaum yang menafsirkan “rahab” dengan makna lengan baju, dan ini adalah tafsir yang aneh yang tidak sesuai dengan pemahaman ayat.

Ada juga menafsirkan ayat dengan tafsir yang bertentangan dengan syariat dan ditolak akal, yaitu seperti penafsiran sebagian mereka terhadap firman Allah: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya. Itulah yang dahulu kamu hindari” (Qaf: 19). Mereka berkata: sesungguhnya khitab di sini ditujukan kepada Rasul. Manusia heran dengan hal itu, sedangkan Allah berkata kepada Rasul-Nya: “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang” (Ad-Dhuha: 4). Ini adalah tafsir yang bertentangan dengan ayat ini, dan akal menolak menerimanya; bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menyukai kehidupan fana daripada akhirat yang kekal dengan kenikmatan abadi dan kesenangan tetap.

Yang benar: sesungguhnya ayat ini turun untuk orang fasik atau kafir. Adapun orang yang beriman dan berbakti tidak akan menghindar dari kematian dan tidak lari darinya, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana Nabi menghindar dari kematian, sedangkan dia adalah orang yang diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu ia memilih apa yang ada di sisi Allah sebagaimana disebutkan dalam Shahihain.

Juga, di sini kita dapati contoh-contoh yang tidak memperhatikan konteks pembicaraan saat menafsirkan, yaitu seperti perkataan mufasir dalam menafsir firman Allah: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu karena takut mati” (Al-Baqarah: 243). Yang diketahui bahwa kata “uluuf” adalah jamak dari “alf”, namun sebagian mufasir menafsirkan “uluuf” dengan “ulfah” (keakraban), dan tafsir ini jauh dari konteks pembicaraan; karena tidak ada makna menyebutkan keakraban di sini, dan tidak ada kesesuaian yang menuntutnya. Tafsir yang benar untuk firman Allah: “sedang mereka beribu-ribu” adalah jumlah mereka banyak, maka “uluuf” adalah jamak dari “alf”, dan inilah yang sesuai dengan konteks pembicaraan.

Kita beralih dari contoh-contoh bahasa kepada yang berkaitan dengan ilmu qiraat. Qiraat juga termasuk dari bahasa. Sesungguhnya bid’ah yang berkaitan dengan qiraat dalam kitab-kitab tafsir ada dua macam: ada penolakan qiraat yang turun dengannya Jibril Amin ‘alaihissalam dari sisi Allah kepada hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada penciptaan qiraat yang tidak memiliki sanad yang sahih.

Contoh pertama: Yang disebutkan para mufasir, sebagian mereka menolak qiraat Hamzah salah satu dari qurra’ tujuh untuk firman Allah: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekerabatan” (An-Nisa: 1). Qiraat dengan jar pada “al-arham” adalah qiraat Hamzah. Yang membuat mereka menolak qiraat ini adalah mengikuti madzhab Bashriyyah dalam kaidah athaf yang mengatakan: bahwa dhamir yang majrur tidak boleh di-athaf-kan kecuali dengan mengulang jar, seperti: marartu bika wa bizaid, dan mereka berkata: tidak boleh: marartu bika wa zaidin. Demikian dijelaskan Ibnu Aqil dan kitab-kitab bahasa, namun ini bukan tempat kesepakatan di antara para nahwiyyin; Kufiyyun telah membolehkan athaf ini; dan karena datang dalam natsar dan nazham maka condong kepadanya Al-Allamah Ibnu Malik di mana dia berkata:

“Dan pengembalian khafidh ketika athaf pada Dhamir khafidh wajib telah dijadikan Dan menurutku tidak wajib karena telah datang Dalam nazham dan natsar yang shahih terbukti”

Al-Allamah Ibnu Malik condong kepada kebolehan, dan itulah pendapat Kufiyyun.

Imam Al-Qusyairi merespons pendapat ini dengan tanggapan yang berdiri atas dua pilar: Pertama: bahwa qiraat datang dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan qiraat ini diambil dari Rasul melalui jalan mutawatir. Kedua: sesungguhnya bahasa Arab diambil dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul adalah orang Arab, dan yang paling fasih berbicara dengan bahasa Dhad, dan Al-Qur’an adalah kalam Rabbul ‘alamin yang darinya diambil kaidah-kaidah, bukan dikaidahi atasnya.

Juga dari contoh-contoh ini di mana mereka menolak qiraat yang sahih, apa yang disebutkan dalam qiraat Jibril kepada hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ayat: “Dan demikianlah dijadikan indah bagi kebanyakan orang musyrik membunuh anak-anak mereka oleh sekutu-sekutu mereka untuk membinasakan mereka” (Al-An’am: 137). Az-Zamakhsyari menolak qiraat Ibnu Amir dengan membangun fi’il untuk yang tidak disebutkan pelakunya dengan mengangkat “qatl” dan menambahkan kepada “syurakaaihim”, sehingga menjadi “qatlu auladahum syurakaaihim”, dengan men-khafadh “syurakaaihim”, dan men-nashab “auladahum”, karena jatuhnya pembunuhan kepada mereka, dan memisahkan antara keduanya dengan mudhaaf ilaihi.

Dalam hal itu dia berkata: “Adapun qiraat Ibnu Amir: dengan mengangkat pembunuhan, dan men-nashab anak-anak, dan men-jar sekutu-sekutu atas penambahan pembunuhan kepada sekutu-sekutu mereka, dan pemisahan antara keduanya dengan selain zharf; itu adalah sesuatu yang seandainya berada di tempat darurat yaitu syair akan jelek dan tertolak hingga dia berkata: bagaimana lagi dalam kalam natsar, bagaimana lagi dalam Al-Qur’an yang mu’jiz dengan keindahan lafazh dan nazmnya, serta keagungannya.”

Yang membuatnya berkata demikian: bahwa dia melihat dalam sebagian “syurakaaihim” ditulis dengan ya, dan seandainya dia membaca dengan jar pada “aulad” dan “syuraka” karena anak-anak adalah sekutu mereka dalam harta mereka, tentunya dia akan mendapati dalam hal itu jalan keluar dari pelanggaran ini.

Az-Zamakhsyari berdalil dalam menolak qiraat ini: bahwa ia bertentangan dengan kaidah nahwu yang tidak membolehkan pemisahan antara mudhaaf dan mudhaaf ilaihi dengan selain zharf, sebagaimana dia mengembalikan kesalahan Ibnu Amir dalam qiraatnya ini kepada rasm mushaf; di mana dia berkata: “Yang membuatnya melakukan itu bahwa dia melihat dalam sebagian mushaf ‘syurakayahum’ ditulis dengan ya.” Sebab penolakan qiraat ini menurut Az-Zamakhsyari adalah: rasm mushaf, dan bahwa Ibnu Amir bergantung pada mushaf, tidak bergantung pada riwayat, dan ini tidak benar; bahkan itu munkar dan tertolak; karena qiraat ini diriwayatkan, dan tersebar qiraat dengannya sebelum penulisan mushaf-mushaf, dan pengumpulan Al-Qur’an, kemudian ketika mushaf-mushaf ditulis belum dikenal titik, dan syakal belum ditemukan; maka muncul harakat qiraat sebelum penulisan dan dhaby; maka mereka membaca kata sesuai dengan apa yang mereka riwayatkan dan nukil, bukan atas apa yang mereka baca dalam mushaf-mushaf.

Dengan demikian kami katakan: yang menjadi sandaran dalam qiraat adalah riwayat dan musyafahah serta talaqqi, bukan rasm mushaf atau khatnya. Kami tidak mungkin menerima dari Az-Zamakhsyari kesalahannya terhadap qiraat Ibnu Amir, bahkan kami mengingkari penolakannya terhadap qiraat ini, dan alasannya dalam hal itu bahwa pemisahan antara mudhaaf dan mudhaaf ilaihi tidak boleh menurut para nahwiyyin. Kami katakan: bahwa hal itu boleh menurut mereka; jika sebagian nahwiyyin melarangnya, maka yang lain telah membolehkan pemisahan antara mudhaaf dan mudhaaf ilaihi dengan selain zharf jika mudhaaf menyerupai fi’il dengan menjadi mashdar atau ism fa’il, dan beramal men-nashab apa yang menjadi pemisah sebagaimana keadaan dalam ayat yang sedang kita tafsirkan.

Bahkan seandainya kita terima: bahwa qiraat Ibnu Amir bertentangan dengan qiyas Arab, wajib menerimanya juga setelah terbukti kebenaran nuklannya, sebagaimana diterima hal-hal yang telah terbukti meskipun bertentangan dengan qiyas selama kebenaran nuklannya adalah yang dipegang, dan tentu saja kebenaran qiraat lebih utama… hingga akhir pembicaraan dalam contoh ini.

Pembicaraan dalam hal ini telah dibahas Abu Hayyan dan lainnya, dan kami cukupkan dengan ini dalam merespons perkataan Al-Kasysyaf di mana tampak bagi kami bahwa qiraat Ibnu Amir adalah qiraat yang sahih yang wajib diterima. Para imam qurra’ telah menegaskan bahwa sandaran dalam menerima qiraat hanyalah dalam kebertahanannya dan kebenaran nuklannya, bukan pada apa yang dikenal dalam bahasa atau tersebar atau qiyas di dalamnya, bahkan yang paling kuat adalah atsar, dan yang paling sahih dalam nuqil dan riwayat, dan itu tetap bagi kami.

Dari itu juga: apa yang diciptakan sebagian orang; penciptaan qiraat yang tidak memiliki sanad sahih. Apa yang dibaca dalam firman Allah: “Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka bersungguh-sungguhlah (untuk urusan yang lain)” (Asy-Syarh: 7). Diriwayatkan dari sebagian Rafidhah bahwa dia membaca “fanshib” dengan kasrah shad, dan dimaksudkan dengan itu Ali untuk imamah. Tidak diragukan bahwa qiraat ini dari Rafidhah, dan ia ditolak karena tidak datang dari jalan yang sahih. Baik qiraat yang dibicarakan orang-orang ini mereka tolak qiraat yang tetap, atau mereka buat-buat qiraat yang tidak sahih; ini adalah perkataan yang tidak diterima, dan hanyalah tertolak. Datang seseorang dan menta’wil ayat untuk kepentingannya, dan menjadikan “fanshib” amr dari “nashb” yang adalah permusuhan Ali dan kebencian kepadanya; karena itu Az-Zamakhsyari berkata: “Dari bid’ah apa yang diriwayatkan dari sebagian perawi bahwa dia membaca ‘fanshib’ dengan kasrah shad yaitu: angkatlah Ali untuk imamah. Seandainya ini benar bagi Rafidhah, akan benar bagi Nashabi yang adalah kebencian Ali dan permusuhan kepadanya, dan ini perkataan yang tidak diterima.”

Dari contoh jenis ini juga, yaitu penciptaan qiraat yang tidak ada sandarannya, apa yang disebutkan sebagian orang dalam tafsir firman: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya'” (Al-Falaq 1, 2). Sebagian Mu’tazilah membaca “min syarrin ma khalaq” dengan tanwin pada “syarr”, dan menjadikan “ma” sebagai nafi, dan maknanya: bahwa mereka berlindung kepada Tuhan subuh dari kejahatan yang tidak diciptakan-Nya, tetapi diciptakan oleh pelakunya, dan itu sesuai dengan madzhab Mu’tazilah mereka, dan ini tanpa diragukan adalah tahrif dalam Kitab Allah Yang Mulia.

Ibnu Athiyyah berkata sebagaimana dinukil darinya oleh Al-Allamah Al-Alusi tentang qiraat ini: “Ini adalah qiraat Umar bin Ubaid, dan sebagian Mu’tazilah yang mengatakan: bahwa Allah tidak menciptakan kejahatan, dan mereka membawa ‘ma’ pada peniadaan, dan menjadikan kalimat dalam penjelasan sifat, yaitu: dari kejahatan yang tidak diciptakan Allah dan tidak diadakan-Nya, dan ia qiraat yang ditolak yang dibangun atas madzhab yang batil.”

Yang Masuk Melalui Firqah-Firqah Bid’ah

Pembicaraan tentang firqah-firqah bid’ah mencakup jenis-jenis yang banyak; ia meliputi firqah Syiah atau Khawarij atau Mu’tazilah.

Firqah Syiah: Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang memihak Ali dan keturunannya, dan ahlul bait, dan mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah yang paling berhak atas khilafah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung, dan bahwa khilafah tidak keluar darinya dalam hidupnya, dan tidak dari anak-anaknya setelah kematiannya. Firqah tersebut muncul di akhir masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, ketika masa Ali radhiyallahu ‘anhu mereka muncul di panggung secara jelas dan bertambah jumlahnya, meluas urusan mereka. Ketika masa Umawiyah, dan banyak kezaliman dari Umawiyah terhadap Alawiyyin, dan bangkit belas kasihan manusia kepada Alawiyyin, kezaliman ini menjadi sebab meluasnya madzhab Syiah.

Meskipun Syiah terpecah menjadi beberapa firqah, namun mereka semua hampir sepakat pada satu prinsip, yaitu sebagaimana dikatakan Al-Allamah Ibnu Khaldun: bahwa imamah bukanlah dari kemaslahatan umum yang diserahkan kepada pandangan umat, dan ditunjuk yang menjalankannya dengan penunjukan mereka, tetapi ia adalah rukun agama, dan dasar Islam, dan tidak boleh bagi Nabi mengabaikannya, dan tidak menyerahkannya kepada umat. Bahkan wajib atasnya menunjuk imam bagi mereka, dan ia ma’shum dari dosa besar dan kecil, dan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu adalah yang ditunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di atas firqah Syiah ada dua firqah: Zaidiyyah, dan Imamiyyah Itsna Asyariyyah, dan Isma’iliyyah, meskipun sebenarnya firqah-firqah Syiah sangat banyak, sebagian mencapai dua puluh lima firqah, namun di atas firqah-firqah ini ada dua firqah: Zaidiyyah dan Imamiyyah.

Adapun Zaidiyyah: mereka adalah pengikut Zaid bin Ali bin Husain radhiyallahu ‘anhum yang memberontak terhadap khalifah Umawi Hisyam bin Abdul Malik karena mengharapkan kembalinya khilafah, lalu para pengikutnya mengkhianatinya sehingga dia terbunuh dan disalib, kemudian tubuhnya dibakar. Zaidiyyah berpandangan: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat imamah kepada Ali radhiyallahu ‘anhu.

Adapun Imamiyyah: mereka berpandangan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjuk imamah Ali dengan nash bukan hanya isyarat seperti kata Zaidiyyah, dan mereka membatasi imamah setelah Ali pada anaknya dari Fathimah radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Imamiyyah terpecah menjadi banyak firqah, yang paling menonjol: Isma’iliyyah Itsna Asyariyyah dan Imamiyyah Isma’iliyyah.

Adapun Imamiyyah Itsna Asyariyyah: dinamakan demikian karena imam kedua belas Muhammad Al-Mahdi Al-Muntazhar, yang mereka klaim masuk ke dalam sebuah basement di rumah ayahnya, dan tidak kembali lagi, tetapi ia bersembunyi, dan ia akan keluar di akhir zaman untuk memenuhi alam dengan keadilan dan keamanan menggantikan kezaliman dan ketakutan. Adapun Imamiyyah Isma’iliyyah: mereka dinisbatkan kepada Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq, yang berasal dari Muhammad Al-Baqir hingga Husain hingga Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Ke contoh-contoh yang masuk dalam tafsir melalui firqah ini dengan bagian-bagiannya:

Imamiyyah Itsna Asyariyyah: dalam firman Allah tabaraka wa ta’ala: “Sungguh, kamu pasti akan mengalami tingkat demi tingkat” (Al-Insyiqaq: 19) mereka berkata: dalam ayat ini isyarat bahwa umat ini akan menempuh jalan umat-umat sebelumnya, dalam mengkhianati para wasiat setelah para nabi. Dalam firman Allah: “Berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: ‘Datangkanlah Al-Qur’an selain ini atau gantilah'” (Yunus: 15) mereka berkata: sesungguhnya dhamir dalam “gantilah” kembali kepada Ali bin Abi Thalib, meskipun Ali tidak disebutkan sebelumnya dan konteks pembicaraan tidak dalam urusan khilafahnya atau wilayahnya.

Ketiga: Urusan sampai pada mereka hingga menambahi lafazh-lafazh Al-Qur’an. Lihatlah kebatilan dan kesesatan mereka. Dalam firman Allah tabaraka wa ta’ala “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (Al-Maidah: 67) mereka menambahkan lafazh “dalam urusan Ali”, mereka berkata “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dalam urusan Ali” dan itu penambahan batil yang dibuat-buat yang tidak datang kecuali dalam klaim dan dusta serta kebohongan mereka.

Keempat: Abbas meriwayatkan dari Al-Baqir bahwa dia berkata: ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khaththab atau dengan Amr bin Hisyam” mereka klaim bahwa Allah menurunkan “Dan Aku sekali-kali tidak akan menjadikan orang-orang yang menyesatkan sebagai penolong” (Al-Kahf: 51) dan ini dusta dari mereka. Datang dalam Ushul Al-Kafi -dan betapa banyak dusta dan kebatilan dalam tafsir-tafsir mereka- dalam firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kufur, maka Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus” (An-Nisa: 137) mereka berkata: sesungguhnya ayat ini turun tentang Abu Bakar, Umar, dan Utsman; mereka beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama, kemudian kafir ketika ditawarkan kepada mereka wilayah Ali, kemudian beriman dengan baiat kepada Ali, kemudian kafir setelah wafat Nabi, kemudian bertambah kafir dengan mengambil baiat dari seluruh umat -la haula wa la quwwata illa billah.

Lihat: kitab Al-Wasi’ah fi Naqadh Aqa’id Asy-Syi’ah karya Musa Jad Allah, nukilan dari ushul tafsir mereka Al-Kafi. Betapa banyak kebatilan yang disebarkan Rafidhah Syiah dalam tafsir ayat-ayat yang banyak. Mereka membawa ayat-ayat pujian dan keimanan kepada Ali dan anak-anaknya, dan ayat-ayat kekafiran dan celaan serta ancaman mereka bawa kepada pilihan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu kita beralih kepada jenis lain dari kelompok-kelompok yang sesat, yaitu golongan-golongan yang bid’ah dan pendapat-pendapat mereka, tidak lain adalah golongan Khawarij:

Sebagai permulaan kita akan melihat secara ringkas golongan ini: Golongan ini muncul karena peristiwa tahkim (arbitrase) yang terjadi antara sayyidina Ali dan sayyidina Muawiyah radhiyallahu anhuma mengenai siapa yang lebih berhak atas kekhalifahan di antara keduanya; hal itu karena terjadi beberapa peperangan antara Ali dan Muawiyah, dan masing-masing dari mereka memiliki pendukung dan pengikutnya, dan kemenangan selalu berpihak kepada Ali radhiyallahu anhu dan pasukannya hingga datang perang Shiffin; hampir saja pasukan Muawiyah mengalami kekalahan yang tidak dapat bangkit lagi setelahnya; maka Muawiyah menggunakan kelicikannya, dia mengangkat mushaf-mushaf Al-Quran di ujung tombak dan memamerkannya, meminta penghentian pertempuran, dan arbitrase antara kedua kelompok, pada saat itulah Ali radhiyallahu anhu mempertimbangkan beberapa masukan dan perdebatan lalu menerima arbitrase karena keinginannya untuk tidak menumpahkan darah, dan menjaga darah umat, semoga Allah dengan arbitrase ini dapat menyatukan kalimat umat dan menyatukan barisan mereka.

Namun sekelompok sahabat Ali radhiyallahu anhu menolak ide ini dan keluar dari barisan Ali, dan mereka tidak mau kembali kepadanya kecuali jika dia mengkafirkan dirinya sendiri, dan membatalkan kesepakatan yang ada antara dirinya dan Muawiyah, dan ketika mereka putus asa dari kembalimya Ali kepada mereka, mereka keluar ke Harura’, sebuah desa dekat Kufah, dan terjadi beberapa perang antara mereka dan Ali yang semuanya dimenangkan oleh Ali tanpa memusnahkan mereka sepenuhnya, maka mereka merencanakan konspirasi untuk membunuhnya di mana setelah itu dia dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam. Dan golongan ini memiliki keberadaan yang kuat pada masa Bani Umayyah; di mana mereka menjadi duri yang kuat di punggung mereka; maka Bani Umayyah memerangi mereka; kemudian datang masa Bani Abbas, maka terjadi peperangan antara kedua kelompok hingga terpecah kalimat Khawarij, dan melemah kekuatan mereka, dan bertambah banyak kelompok mereka, sehingga mereka menjadi sekte-sekte dan partai-partai hingga mencapai dua puluh partai, dan meskipun partai-partai ini berbeda-beda dalam akidah dan prinsip, namun seluruh Khawarij sepakat pada dua perkara: Perkara pertama: mengkafirkan Ali dan Utsman, dan kedua hakam, dan para sahabat dalam perang Jamal, dan semua orang yang ridha, atau berpartisipasi dalam arbitrase.

Dan perkara kedua: wajib keluar melawan penguasa yang zalim, dan ada perkara ketiga yang diyakini oleh sebagian besar partai Khawarij yaitu: mengkafirkan pelaku dosa besar.

Mari kita beralih kepada contoh-contoh pendapat mereka dalam tafsir:

Khawarij menjadikan akidah dan prinsip mereka sebagai tujuan utama pada tempat pertama, adapun tafsir: maka datang pada urutan berikutnya, dan seperti cabang yang dihasilkan dari mazhab, maka mereka menjadikan mazhab sebagai pokok, padahal seharusnya prinsip dan keyakinan mengikuti tafsir yang benar terhadap Al-Quran, dan berdasarkan kondisi ini datanglah tafsir-tafsir mereka yang mengandung banyak penyimpangan, di antaranya dalam firman Allah Yang Maha Tinggi: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, tidak memerlukan alam semesta” (Ali Imran: 97) mereka berkata: sesungguhnya orang yang meninggalkan haji adalah kafir; karena Allah taala menjadikan orang yang meninggalkan haji sebagai kafir.

Kedua: dalam firman Allah taala: “Pada hari ketika ada wajah-wajah yang putih bersih dan ada wajah-wajah yang hitam. Adapun orang-orang yang hitam wajahnya (kepada mereka dikatakan): ‘Mengapa kamu kafir setelah kamu beriman? Karena itu rasailah azab disebabkan kekafiranmu itu'” (Ali Imran: 106) ayat ini, mereka berkata: orang fasik tidak boleh termasuk orang-orang yang wajahnya putih, maka wajib dia termasuk orang-orang yang wajahnya hitam, dan wajib dia disebut kafir; karena firman Allah taala “disebabkan kekafiranmu itu”.

Dalam firman Allah taala: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat” (Al-Hijr: 42) mereka berkata: sesungguhnya orang sesat yang mengikuti setan adalah musyrik dengan dalil firman Allah taala dalam surat An-Nahl: “Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pelindung dan orang-orang yang mempersekutukannya (dengan Allah)” (An-Nahl: 100) dan begitulah datang tafsir-tafsir Khawarij dengan mengkafirkan pelaku dosa-dosa besar, padahal nash-nash syar’i menjelaskan bahwa pelaku dosa besar bukanlah kafir, dan perkara mereka diserahkan kepada kehendak Allah, jika Dia kehendaki Dia ampuni mereka dengan karunia-Nya, dan jika Dia kehendaki Dia siksa mereka dengan keadilan-Nya, dan siksaan ini tidak akan bersifat kekal, dan hadits tentang syafaat terkenal dan ada dalam Shahihain: “Aku simpan doaku sebagai syafaat untuk ahli dosa besar dari umatku”.

Dan dalam surat Al-Hujurat juga Allah menggambarkan orang-orang yang berperang dengan sifat iman, dan tidak mencabut iman dari mereka maka Dia berfirman “Dan apabila ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya” (Al-Hujurat: 9) maka Dia menjadikan kedua golongan dari orang-orang mukmin, dan ketika Hatib bin Abi Balta’ah mengirim surat kepada penduduk Makkah memberitahu mereka tentang kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam penaklukan Makkah, Allah menurunkan surat Al-Mumtahanah, dan di bagian awalnya Allah Yang Maha Tinggi menyapanya dengan sifat iman maka Dia berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia” (Al-Mumtahanah: 1) dan ketika Umar bin Khattab hendak membunuhnya; dengan alasan bahwa dia munafik, dia membela dirinya di hadapan Rasulullah, bahwa dia melakukan apa yang dia lakukan bukan karena kemunafikan darinya dan bukan karena pendustaan, tetapi dia ingin memiliki kedudukan di sisi Quraisy agar mereka melindungi kerabatnya yang tinggal di Makkah, seandainya para sahabat Rasulullah menginginkan keburukan bagi mereka ketika penaklukan Makkah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenarkannya dan berkata: “Barangkali Allah melihat ahli Badr lalu berkata kepada mereka: berbuat apa saja yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian” dan hadits ini ada dalam Shahihain.

Golongan Muktazilah: Sebab munculnya golongan Muktazilah adalah apa yang terkenal dan dikenal dalam majelis Hasan Bashri rahimahullah yang merupakan pemimpin Tabiin di zamannya; di mana dia memiliki majelis yang kaya dengan ilmu dan para penuntut ilmu, dan di antara murid-muridnya yang paling menonjol adalah Washil bin Atha, dan sementara Hasan sedang sibuk dengan pelajaran ilmu tiba-tiba seorang laki-laki masuk kepada Hasan, dan memberitahunya tentang munculnya dua kelompok, salah satunya mengkafirkan pelaku dosa besar, yaitu Khawarij.

Dan yang lain: bersikap terlalu toleran terhadap dosa-dosa besar dengan toleransi yang sangat berlebihan hingga mereka berkata: tidak membahayakan bersama iman ada maksiat, sebagaimana tidak bermanfaat bersama kufur ada ketaatan, yaitu Murjiah, kemudian dia bertanya kepadanya tentang pendapatnya dalam masalah tersebut dan sebelum Hasan menjawab, Washil bin Atha mendahuluinya dengan jawaban, maka dia berkata: sesungguhnya dia berada dalam manzilah (kedudukan) antara dua manzilah, tidak mukmin secara mutlak, dan tidak kafir secara mutlak, kemudian dia menyendiri dari majelis di samping salah satu tiang masjid “tiang dari tiang-tiang masjid” maka Hasan Bashri berkata: Washil telah menyendiri dari kami; maka golongan tersebut dinamakan Muktazilah, berkelompok di sekelilingnya orang-orang yang yakin dengan pendapatnya; maka disebut dia dan orang-orang yang mengikutinya dengan nama Muktazilah.

Dan prinsip-prinsip Muktazilah berdiri secara ringkas pada perkara-perkara berikut:

Pertama: kemustahilan melihat Allah azza wajalla.

Kedua: bahwa orang fasik berada dalam manzilah antara dua manzilah, tidak mukmin dan tidak kafir.

Ketiga: segala sesuatu yang tidak diperintahkan Allah atau tidak dilarang-Nya dari perbuatan-perbuatan hamba, Allah tidak menghendaki sesuatu pun darinya.

Keempat: mereka berkata dengan prinsip husun dan qubuh aqliyain (baik dan buruk menurut akal), dan bahwa akal sudah cukup tentang pengutusan rasul-rasul, adapun para rasul sesungguhnya mereka datang sebagai pengingat, atau pemberitahu manusia dari kelalaiannya.

Kelima: mereka berkata: sesungguhnya jin tidak menguasai manusia secara mutlak, dan hal paling jauh yang mereka lakukan adalah bisikan dan ilham.

Keenam: tidak ada pengampunan bagi orang yang tidak bertobat dari dosanya, dan mereka menyelisihi dengan itu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dan semoga Allah memberikan shalawat kepada sayyidina Muhammad dan kepada keluarga dan para sahabatnya dan semoga Allah memberikan keselamatan dan Allah lebih mengetahui.

 

 

Pelajaran: 22 Jenis-jenis Pendapat Menyimpang (2)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pelajaran Kedua Puluh Dua (Jenis-jenis Pendapat Menyimpang (2))

Lanjutan Penyimpangan melalui Kelompok-kelompok Bid’ah

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberikan shalawat kepada penghulu kami Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kepada keluarga serta para sahabatnya seluruhnya. Amma ba’du:

Sekarang kita lanjutkan dengan menyebutkan contoh-contoh penyimpangan dalam tafsir mereka. Mengingat tafsir mereka banyak mengandung penyimpangan, maka kita cukup dengan empat contoh saja, meskipun yang menginginkan lebih banyak dapat merujuk kepada (Tafsir al-Kasyasyaf) karya az-Zamakhsyari yang merupakan tafsir terbesar mereka. Di pinggiran tafsir tersebut kita melihat Allamah Ibnu al-Munir memiliki kitab (al-Inshaf bi Bayan ma fi al-Kasyasyaf min al-I’tizal).

Contoh pertama dari penyimpangan dalam tafsir Mu’tazilah pada firman Allah Ta’ala: “Para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada hujjah bagi manusia atas Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu” (an-Nisa: 165). Mereka mengatakan: Akal sudah cukup tanpa perlu mengutus para rasul. Adapun para rasul, mereka hanya datang untuk mengingatkan manusia dari kelalaiannya. Imam az-Zamakhsyari dalam menafsirkan ayat ini berkata: Jika kamu bertanya: Bagaimana mungkin manusia memiliki hujjah atas Allah sebelum diutusnya para rasul, padahal mereka sudah terbantahkan dengan dalil-dalil yang telah Allah tetapkan yang memerlukan pemikiran, dan pemikiran itu menghantarkan kepada ma’rifah, sedangkan para rasul sendiri tidak sampai kepada ma’rifah kecuali dengan berpikir terhadap dalil-dalil tersebut, dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka adalah utusan Allah kecuali dengan berpikir terhadapnya.

Imam az-Zamakhsyari berkata: Para rasul adalah penegur dari kelalaian dan pendorong untuk berpikir, sebagaimana yang dilihat oleh para ulama ahli keadilan dan tauhid -maksudnya ulama Mu’tazilah- bersama dengan menyampaikan apa yang mereka bawa berupa keutamaan-keutamaan agama, penjelasan keadaan-keadaan taklif, dan pengajaran syariat… dan seterusnya, serta sebagai penyempurna dalam mewajibkan hujjah agar mereka tidak berkata: “Seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul yang membangunkan kami dari tidur kelalaian dan mengingatkan kami terhadap apa yang wajib untuk diperhatikan.”

Tidak diragukan bahwa Mu’tazilah dalam prinsip ini keliru dan terbantahkan dengan jelas oleh ayat lain yaitu firman Allah: “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (al-Isra: 15).

Ayat kedua: Firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” (al-Baqarah: 275). Berdasarkan prinsip mereka yang mengatakan bahwa jin tidak dapat menguasai manusia sama sekali, dan yang paling maksimal yang dapat mereka lakukan adalah membisikkan. Az-Zamakhsyari berkata: Mereka tidak dapat berdiri ketika dibangkitkan dari kubur mereka kecuali seperti berdirinya orang yang dilanda setan karena kesurupan, yaitu: orang yang kerasukan. Gangguan setan adalah dari anggapan-anggapan orang Arab, mereka mengira bahwa setan mengganggu manusia sehingga ia kerasukan, dan “al-mass” adalah kegilaan, dan seseorang disebut “mamsuus” dan itu juga dari anggapan mereka bahwa jin menyentuhnya sehingga akalnya kacau.

Pengingkaran terhadap penguasaan tersebut dari Mu’tazilah bertentangan dengan nash-nash syar’i yang sahih, di antaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Apabila malam telah gelap, maka tahanlah anak-anak kalian dari jalan, karena sesungguhnya setan-setan berkeliaran pada saat itu. Apabila telah berlalu satu jam dari waktu Isya, maka lepaskanlah mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.

Ketiga: Pada firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (an-Nisa: 93). Berdasarkan prinsip Mu’tazilah tentang tidak adanya ampunan bagi orang yang tidak bertaubat dari dosanya. Az-Zamakhsyari berkata dalam ayat ini: Sungguh mengherankan ada kaum -maksudnya Ahlus Sunnah- yang membaca ayat ini dan melihat apa yang ada di dalamnya, mendengar hadits-hadits besar ini dan perkataan Ibnu Abbas: “Ia menghalangi taubat”, kemudian tidak menghalangi mereka dari angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsu serta apa yang mereka impikan dalam tidur mereka untuk mengharapkan ampunan bagi pembunuh mukmin tanpa taubat: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24). Tafsir ini dari Mu’tazilah adalah tafsir menyimpang yang menentang Al-Quran yang jelas yang berfirman dalam beberapa ayat: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an-Nisa: 48).

Contoh keempat: Pada firman Allah Ta’ala: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat” (al-Qiyamah: 22-23). Az-Zamakhsyari menafsirkan firman-Nya: “melihat” yaitu: mengharapkan. Maka ia menafsirkan ru’yah (melihat) dengan makna berharap dan mengharap. Maknanya: Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan nikmat dan kemuliaan kecuali dari Tuhan mereka, sebagaimana mereka di dunia tidak takut dan tidak berharap kecuali kepada-Nya. Az-Zamakhsyari menafsirkan ru’yah kepada Allah Azza wa Jalla dengan makna mengharapkan, dan agar ayat ini tidak bertentangan dengan prinsip Mu’tazilah dalam menafikan ru’yah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka berkata demikian. Padahal ayat ini jelas dan terang dalam menetapkan ru’yah Allah bagi orang-orang mukmin di akhirat.

Oleh karena itu Allamah Ibnu al-Munir mengomentarinya dengan berkata: Alangkah pendeknya lidahnya, yaitu lidah az-Zamakhsyari ketika menghadapi ayat ini. Betapa sering ia berkokok dan menabuh gendang dalam mengingkari ru’yah, membelah-belah jubah, memperbanyak dan mendalami. Ketika ayat ini menganga mulutnya, ia berbuat dalam menentangnya dengan dalil.

Ini adalah contoh-contoh dari tafsir Mu’tazilah dan betapa banyaknya dalam tafsir Allamah az-Zamakhsyari. Barangsiapa yang menginginkan lebih banyak, hendaknya merujuk kepada tafsir ini yang telah dibongkar aibaibnya oleh Imam Ibnu al-Munir dalam kitabnya (al-Inshaf fima Ja’a min al-I’tizal fi Tafsir al-Kasyasyaf).

Penyimpangan melalui Ilhad (Ateisme)

Ilhad yang disengaja dalam tafsir ini berasal dari kelompok-kelompok yang masuk Islam dengan tujuan menghancurkannya, bukan karena cinta kepada Islam dari kelompok-kelompok bathiniyyah ini. Bathiniyyah adalah nama yang diberikan kepada berbagai kelompok dari ghulat Syi’ah, seperti Ismailiyyah, Qaramithah, Khuramiyyah, dan Rafidhah. Nama ini diberikan kepada mereka semua karena kesamaan mereka dalam prinsip ta’wil bathini terhadap nash-nash syar’i. Dakwah ini pertama kali muncul pada masa al-Ma’mun, menyebar pada masa al-Mu’tasim, memiliki cabang-cabang, dan kelompok ini berkembang biak, kemudian melahirkan kelompok-kelompok Qadyaniyyah, Babiyyah, dan Bahaiyyah.

Jika kita ingin menjelaskan asal-usul kelompok ini secara singkat, kita katakan: Para ahli sejarah menyebutkan bahwa dakwah Bathiniyyah setelah muncul pada masa al-Ma’mun dan al-Mu’tasim, menyebar. Yang mendirikan dakwah ini adalah sekelompok orang di antaranya: Maimun bin Daishan yang dikenal dengan al-Qaddah, dan ia adalah budak Ja’far bin ash-Shadiq. Mereka semua berkumpul dengan Maimun al-Qaddah di penjara wali Irak, lalu mereka mendirikan mazhab-mazhab Bathiniyyah. Kemudian dakwah mereka muncul setelah mereka keluar dari penjara. Ketika Maimun bin al-Qaddah pindah ke wilayah Maghrib, ia di wilayah ini menisbahkan dirinya kepada Aqil bin Abu Thalib dan mengklaim bahwa ia dari keturunannya. Ketika sebagian kaum Rawafidh dan para ghulat serta Hululliyyah masuk dalam dakwahnya, sebagian dari mereka mengklaim bahwa ia dari anak-anak Ismail bin Ja’far ash-Shadiq.

Dalam dakwahnya kepada Bathiniyyah muncul Hamdan Qarmath, karena itu ia dijuluki demikian karena qarmathah dalam tulisannya atau dalam langkahnya, dan kepadanyalah dinisbahkan Qaramithah.

Setelahnya muncul dalam dakwah Abu Sa’id al-Janabi, dan ia termasuk orang yang menyambut dakwah Hamdan, ia menguasai wilayah Bahrain. Kemudian fitnah ini muncul di Maghrib atas tangan Sa’id bin al-Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Maimun al-Qaddah. Fitnah juga muncul di tanah Persia atas tangan Ma’mun saudara Hamdan Qarmath, dan muncul di tanah Dailam. Dakwah ini menyebar, dan kelompok ini tidak lama kemudian tersebar di banyak negeri.

Barangsiapa yang ingin mengetahui garis perjalanannya, naik-turunnya, kemunculan dan penyusutannya, hendaknya merujuk kepada kitab-kitab tentang kelompok-kelompok seperti kitab (al-Farq bain al-Firaq), kitab (Fadhaih al-Bathiniyyah), kitab (Talbis Iblis), (Misykat al-Anwar) dan lainnya.

Harus kita ketahui bahwa kelompok ini -kelompok Bathiniyyah- memiliki hubungan dan akar yang menuju kepada Majusi. Barangsiapa yang mencermati prinsip-prinsipnya akan menyadari bahwa ada hubungan yang kuat antara kelompok ini dengan Majusiyyah. Para da’i Bathiniyyah menta’wilkan pokok-pokok agama dan hukum-hukum syariat dengan ta’wil yang pada akhirnya mengarah kepada mengutamakan Majusiyyah, menolak syariat, menafikannya atau menjadikan dua syariat Majusiyyah dan syariat Islam dalam dua timbangan yang setara… dan seterusnya.

Imam al-Baghdadi menjelaskan kepada kita kebenaran ini dengan berkata: Sesungguhnya orang-orang yang meletakkan dasar Bathiniyyah adalah dari anak-anak Majusi, dan mereka condong kepada leluhur mereka, namun mereka tidak berani menampakkan hal itu karena takut terhadap pedang kaum Muslim. Kamu melihat mereka menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam sesuai dengan dasar-dasar mereka.

Al-Baghdadi berkata: Kemudian sesungguhnya Bathiniyyah setelah menta’wilkan pokok-pokok agama kepada kesyirikan, juga berdalih untuk menta’wilkan hukum-hukum syariat dengan cara-cara yang mengarah kepada menghapuskan syariat secara keseluruhan. Yang menunjukkan bahwa inilah yang mereka maksudkan dengan ta’wil syariat adalah bahwa mereka menghalalkan bagi pengikut-pengikut mereka menikahi anak perempuan dan saudara perempuan, menghalalkan minum khamar dan menghalalkan semua kelezatan. Perbuatan mereka tidak berhenti sampai di situ, bahkan mereka mencampurkan ucapan mereka dengan keyakinan para filosof yang keluar dari agama Islam.

Imam asy-Syahrastani juga berkata: Kemudian sesungguhnya Bathiniyyah lama mencampurkan ucapan mereka dengan ucapan para filosof, dan menyusun kitab-kitab mereka dengan manhaj ini. Mereka berkata tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala: Kami tidak mengatakan Dia ada atau tidak ada, tidak berilmu atau bodoh, tidak berkuasa atau lemah.

Mereka memiliki tujuan tertentu yang untuk itu mereka bekerja. Dari ucapan mereka, sebagian berkata: Aku berwasiat kepadamu untuk meragukan manusia terhadap Al-Quran, Taurat, Zabur, dan Injil. Mereka menyeru kepada pembatalan syariat-syariat. Disebutkan dari mereka bahwa mereka membatalkan ucapan tentang ma’ad, ucapan tentang siksa dan pahala, dan berkata: Sesungguhnya surga adalah kenikmatan dunia, dan bahwa azab hanyalah kesibukan para penganut syariat dengan shalat, puasa, haji, dan jihad.

Mereka berkata: Sesungguhnya ahli syariat menyembah tuhan yang tidak mereka kenal, dan mereka tidak memperoleh darinya kecuali nama tanpa jasad. Ucapan mereka banyak yang fasad. Jika kita ingin melihat sekilas beberapa contoh dari ucapan batil mereka, kita melihat mereka menta’wilkan wudhu sebagai imam, shalat sebagai an-nathiq, dan al-hajj yaitu rasul yang mewakili imam. Mereka berkata: Sesungguhnya mandi adalah pembaruan janji. Mereka berkata: Zakat adalah tazkiyah an-nafs. Yang dimaksud dengan Ka’bah adalah Nabi, yang dimaksud dengan pintu adalah Ali, yang dimaksud dengan Shafa adalah Nabi, dan Marwah adalah Ali. Surga adalah ketenangan badan, dan neraka adalah kesusahan badan. Demikianlah ucapan mereka yang batil.

Mereka memiliki ucapan dalam ta’wil ayat-ayat yang sangat mengherankan: Pada firman Allah Ta’ala: “Binasa kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (al-Masad: 1), mereka berkata keduanya adalah Abu Bakar dan Umar. Pada firman-Nya: “Sesungguhnya jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu” (az-Zumar: 65), yaitu: antara Abu Bakar dan Umar. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”, mereka berkata yang dimaksud adalah Aisyah. Mereka berkata: Imam-imam kekafiran, mereka katakan: Thalhah, az-Zubair dan para sahabatnya. Pada firman: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu” (ar-Rahman: 19), mereka berkata: Ali dan Fathimah. “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (ar-Rahman: 22) yaitu Hasan dan Husain. Ucapan mereka banyak yang menentang syariat kita, membatalkan syariat kita, dan dengan itu mereka keluar dari syariat kepada kebatilan-kebatilan mereka yang fasad.

Mereka berkata: Sesungguhnya zina adalah membocorkan rahasia mereka. “Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (al-Hijr: 99) adalah ta’wil yang mereka katakan. Mereka memiliki ucapan dalam hal ini, dan sesungguhnya para ulama telah meredakan kebatilan-kebatilan mereka.

Kita melihat Ibnu al-Jauzi dalam pembahasan yang tenang berkata: Ta’wil-ta’wil simbolik Bathiniyyah ini adalah ucapan batil. Ia berkata: Jika kalian berkata tentang imam ma’shum misalnya, maka apa yang mendorong kalian untuk menerimanya, atau menerima ucapannya tanpa mu’jizat, dan meninggalkan ucapan Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan mu’jizat-mu’jizat? Kemudian apa yang menjamin kalian bahwa apa yang didengar dari imam ma’shum memiliki bathin selain zhahir?

Mereka berkata: Sesungguhnya ini adalah rahasia-rahasia dan semacamnya. Jika dikatakan: Bathin-bathin dan ta’wil-ta’wil ini, apakah wajib menyembunyikannya ataukah menampakkannya? Jika mereka berkata: Wajib menampakkannya, kami katakan: Mengapa Muhammad shallallahu alaihi wasallam menyembunyikannya? Jika mereka berkata: Wajib menyembunyikannya, kami katakan: Apa yang wajib disembunyikan oleh Rasul, bagaimana halal bagi kalian untuk membocorkannya?! Sesungguhnya mereka menghapuskan zhahir-zhahir syara’ dengan apa yang mereka klaim dari tafsir-tafsir mereka, dan membatalkan pokok-pokok agama dengan ucapan batil mereka ini dan itu.

Di antara kelompok-kelompok yang sengaja berilhad dalam tafsir juga: Qadyaniyyah. Kelompok Qadyaniyyah ini adalah jamaah yang muncul atas tangan Mirza Ghulam Ahmad, yang lahir tahun 1252 H / 1839 M pada akhir masa pemerintahan Sikh dari keluarga yang dahulu pindah dari Samarkand dan menetap di desa Qadyan. Keluarga ini berasal dari Turki dari silsilah Mongol, dari mereka silsilah Timur Lenk Qadyaniyyah… dan seterusnya.

Qadyaniyyah dari prinsip-prinsip mereka: Pemimpinnya mengklaim bahwa Allah menamainya nabi. Dari prinsip-prinsip mereka: Mengkafirkan orang yang tidak beriman dengan prinsip-prinsip mereka. Dari prinsip-prinsip mereka: Menyamakan wahyu Qadyani dengan Al-Quran al-Karim, padahal mereka tidak memiliki wahyu atau apa pun, hanyalah waham dan khurafat. Dari prinsip-prinsip mereka: Keyakinan Qadyani terhadap Allah, para nabi, dan para sahabat, dengan keyakinan yang sampai kepada puncak kekafiran.

Di antara prinsip-prinsip mereka: larangan shalat di belakang orang-orang Muslim yang masih hidup, dan tidak boleh menshalatkan orang-orang Muslim yang telah meninggal.

Di antara prinsip-prinsip mereka: menghapuskan kewajiban jihad. Pernyataan yang jelas dalam ateisme yang menentang Islam.

Jika kita ingin mengambil beberapa contoh dari penyimpangan-penyimpangan mereka, maka ini adalah ayat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad” (Ash-Shaff: 6). Mereka berkata: Sesungguhnya ayat tersebut memberikan kabar gembira tentang kedatanganku, dan yang dimaksud dengan Ahmad adalah aku, yaitu: Ghulam Ahmad pendiri jamaah ini.

Dan dalam firman-Nya: “Dan karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat” (Ash-Shaff: 13) mereka berkata: Yang dimaksud dengan itu adalah kaum Qadiyani, bukan para sahabat yang terkenal. Dalam firman-Nya: “dan penutup para nabi” (Al-Ahzab: 40) dalam menggambarkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka berkata: Bukan berarti beliau adalah nabi terakhir, melainkan beliau adalah perhiasan para nabi, dan mereka berdalil dengan bacaan-bacaan lain. Perkataan yang tidak memiliki hujjah, dan tidak diragukan lagi bahwa tafsir ini bertentangan dengan apa yang dibawa oleh hadis-hadis Nabawi yang jelas: bahwa Nabi kita adalah penutup semua nabi, baik ayat dibaca “khotama” atau “khotima” dengan kedua bacaan tersebut.

Di antara hadis-hadisnya: apa yang diriwayatkan Imam Ahmad dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sesungguhnya risalah telah terputus; maka tidak ada rasul setelahku dan tidak ada nabi” hadis hasan shahih. Dan hadis Bukhari dan Muslim yang disepakati: “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, lalu memperbagus dan mempercantiknya kecuali tempat sebuah batu bata dari sudut, maka orang-orang berkeliling mengitarinya dan mereka kagum kepadanya, dan mereka berkata: mengapa batu bata ini tidak diletakkan? Beliau bersabda: Maka akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para nabi” hadis yang disepakati.

Kelompok-kelompok sesat lainnya Babiyah dan Bahaiyah:

Juga pandangan sekilas tentang kelompok-kelompok ini, kita dapati bahwa Babiyah dinisbatkan kepada pendiri pertama jamaah yang bergelar Al-Bab, dan Bahaiyah dinisbatkan kepada pendiri kedua; dimana dia bergelar Bahauddin, dan aliran ini didirikan oleh Mirza Ali Muhammad, yang bergelar Al-Bab yang tumbuh di Shiraz selatan Iran, dan mengambil sesuatu dari prinsip-prinsip ilmu kemudian bergelut dengan perdagangan. Ketika dia mencapai usia dua puluh lima tahun dia mengaku bahwa dia adalah Mahdi yang ditunggu, dan pengumuman dakwahnya ini adalah pada tahun 1260 H. Maka sekelompok orang bodoh menerimanya dengan penyerahan, dan dia mengirim sebagian orang-orang bodoh ini ke berbagai wilayah Iran untuk mengumumkan kemunculannya, dan menyebarkan klaim-klaim dan kebohongan-kebohongannya. Dan Babiyah dan Bahaiyah, dan banyak perkataan semuanya dari kebatilan.

Mari kita beralih ke contoh-contoh dari tafsir-tafsir mereka: Mirza Ali yang bernama Al-Bab pendiri kelompok ini berkata dalam tafsir firman: “Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku” (Yusuf: 4). Yang dimaksud dengan Yusuf adalah Husain bin Ali, dan yang dimaksud dengan matahari adalah Fathimah, dan dengan bulan adalah Muhammad, dan dengan bintang-bintang adalah imam-imam kebenaran; maka mereka yang menangis atas Yusuf dengan bersujud.

Dan Nizham Baha memiliki perkataan dalam wasiat dan warisan yang datang darinya dengan teksnya: Bahauddin menetapkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengelola harta bendanya dalam keadaan hidupnya, dengan cara apa pun yang dipilihnya, dan mewajibkan setiap orang membuat wasiatnya dimana dia menetapkan bagaimana pembagian warisannya setelah wafatnya; jika seseorang meninggal tanpa wasiat, maka apa yang ditinggalkannya dibagi dengan proporsi tertentu kepada tujuh golongan ahli waris, yaitu anak-anak, istri atau suami, ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, dan para guru. Ini adalah perkataan mereka dalam ajaran-ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam dalam banyak hal.

Pendapat Al-Azhar tentang kelompok ini?

Dan Al-Azhar Asy-Syarif telah mengeluarkan beberapa fatwa tentang kekafiran aliran Babiyah dan Bahaiyah ini; karena memeluk prinsip-prinsip sesat yang bertentangan dengan kaidah-kaidah paling mendasar dalam Islam; mereka mengingkari surga dan neraka dan berkata: Sesungguhnya kisah Adam bukanlah kenyataan, melainkan khayalan, dan mereka mengingkari dalam warisan hal-hal yang jelas dalam Al-Quran Al-Karim. Dan yang terakhir dikeluarkan dari kalangan agama di Mesir mengenai aliran ini adalah laporan yang diajukan oleh sekretaris Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah kepada Kejaksaan Keamanan Negara Tinggi setelah penangkapan sekelompok dari kelompok Babiyah dan Bahaiyah yang sesat ini.

Datang dalam pernyataan dan laporan: Sesungguhnya semua fatwa yang dikeluarkan dari Al-Azhar dari Syaikh Al-Khidr Husain memfatwakan pengkafiran kelompok ini, dan keluarnya mereka dari agama Islam; karena hal-hal berikut:

  1. Karena perkataan bahwa Muhammad Rasulullah bukan penutup para nabi, dan ini bertentangan dengan jelas Al-Quran dan Sunnah dan apa yang diketahui dari agama secara pasti.
  2. Mereka mengingkari apa yang datang dalam Al-Quran, bahkan berkata dengan menghapuskannya, dan ini adalah kekafiran yang jelas.
  3. Bahaiyah adalah mazhab yang mencoba merumuskan agama dari baru; dengan mencampur antara Yahudi dan Kristen dan Islam; untuk menipu orang-orang bodoh bahwa itu adalah agama yang menghimpun antara semua agama, dan ini bertentangan dengan Islam dan Yahudi dan Kristen.

Dan ketika dakwah ini muncul di Iran, para ulama memeranginya dan mengeksekusi pemimpinnya setelah mengadilinya, dan tampaknya kekafirannya. 5. Menganggap kota Haifa sebagai kiblat mereka menggantikan Ka’bah, dan ini adalah kekafiran dan kesesatan yang nyata; permusuhan yang jelas terhadap Al-Quran dan Sunnah, dan apa yang disepakati oleh umat.

Dalam penutup pembicaraan tentang kelompok ini diperhatikan: bahwa Bathiniyyah dan Bahaiyah bertemu, dan bersamaan dalam takwil nash-nash dengan batil bersama Majusi dan bersama Yahudi; untuk merusak bagi kaum Muslim agama mereka. Maka Bahaiyah adalah perpanjangan dari Bathiniyyah dan dengan apa yang mereka bersama padanya dari prinsip-prinsip merusak dan akidah-akidah rusak. Dan telah mengaku Mirza Ali yang bergelar Al-Bab: bahwa dia rasul Allah, dan meletakkan sebuah kitab, dan mengklaim bahwa apa yang di dalamnya syariat yang diturunkan dari langit, dan menamakannya (Al-Bayan) dan mengklaim bahwa syariatnya menasakh syariat Islam, dan membatalkan kewajiban-kewajiban Islam dan menyimpangkannya. Dengan ini setuju dan bersamaan dengan apa yang ada dalam Bathiniyyah.

Dan mereka juga memiliki yang mengaku hulul Ilah dalam beberapa orang maka Qaramithah berkata dengan ketuhanan Muhammad bin Ismail bin Ja’far, dan mengaku hulul, dan klaim mereka tampak dalam perkataan-perkataan mereka. Dan telah berkata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah: Sesungguhnya Bathiniyyah selamanya bersama setiap musuh bagi kaum Muslim. Dan hubungan antara mereka erat antara mereka dan antara Zionisme; maka telah melihat Zionisme dalam Bahaiyah sarana terbesar untuk merusak akidah Islam, bahkan sesungguhnya Zionisme mentakwil nash-nash Taurat dengan apa yang sesuai dengan hawa Bahaiyah; agar mereka bersama dalam permusuhan mereka terhadap Islam.

Kadar ini cukup tentang kelompok ini.

Yang masuk melalui tafsir sufi

Dan mari kita beralih ke apa yang ditransmisikan oleh kaum sufi juga.

Ada yang masuk melalui tafsir sufi:

Dan kesimpulan perkataan dalam tafsir sufi: Sesungguhnya makna-makna bathin batil ini yang berdiri atas klaim ilham-ilham, dan mukasyafah-mukasyafah tidak mungkin bagi kita dalam keadaan apa pun untuk menerimanya apa pun yang dikatakan tentangnya, kecuali jika tersedia padanya dua syarat dasar: sesuainya perkataan mereka dengan hukum-hukum syariat, dan kedua: agar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang benar, dan ini yang dikatakan para imam.

Dan kepada contoh-contoh sepintas cepat dari kegilaan-kegilaan sufi dalam tafsir, disebutkan Abu Abdirrahman As-Sulami dalam tafsirnya di Fatihah Al-Baqarah berkata: “Alif Lam Mim” (Al-Baqarah: 1) Alif adalah alif keesaan, dan Lam adalah lam kelembutan, dan Mim adalah mim kerajaan.

Dan maknanya: siapa yang menemukanku atas hakikat dengan menggugurkan pertalian-pertalian dan tujuan-tujuan aku berlemah lembut kepadanya; maka aku keluarkan dia dari perbudakan menuju alam tinggi, dan itu adalah bersambung dengan Malik Al-Mulk tanpa kesibukan dengan sesuatu dari kerajaan. Dan dikatakan: “Alif Lam Mim” Alif yaitu: pisahkan rahasiamu, dan Lam lembutkan anggota badanmu untuk ibadahku, dan Mim berdirilah bersamaku dengan menghapus lukisan-lukisanmu dan sifat-sifatmu; aku hias kamu dengan sifat-sifat keakraban denganku dan menyaksikanku dan dekat denganku.

Contoh lain dari sufi: datang dalam tafsir Ibnu Arabi untuk firman-Nya “Dan sebutlah nama Tuhanmu dan berkhidmatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia adalah) Tuhan timur dan barat” (Al-Muzzammil 8: 9). Berkata Muhyiddin Ibnu Arabi pemilik kitab (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim) dan semuanya hulul dan ilhad, dan kekafiran jelas, berkata dalam makna ayat: dan sebutlah Tuhanmu yang adalah kamu, yaitu: kenalilah dirimu, dan ingatlah dia dan jangan lupakan dia, maka Allah melupakanmu, dan bersungguh-sungguhlah untuk memperoleh kesempurnaannya setelah mengenal hakikatnya, “Tuhan timur dan barat”, yaitu: yang tampak atasmu cahaya-Nya, maka terbit dari ufuk wujudmu dengan mewujudkanmu, dan barat yang tersembunyi dengan wujudmu, dan tenggelam cahaya-Nya padamu, dan bertirai denganmu Subhanallah!!.

Kita perhatikan bahwa tafsirnya berdiri atas dasar teorinya dalam akidahnya yang berdiri atas kesatuan wujud, dan semua ini ilhad tanpa perbedaan. Tafsir-tafsir sufi datang atas prinsip juga: untuk setiap ayat ada zhahir dan bathin, dan para ulama berbicara dalam hal itu berbicara Imam Al-Ghazali dalam Ihya-nya dan Al-Alusi dalam tafsirnya tentang itu, dan mensyaratkan mengambil makna zhahir terlebih dahulu. Bahwa dari para ulama ada yang didominasi oleh sisi tafsir bathin, sebagaimana yang dilakukan Sahl At-Tustari, dan dari mereka ada yang mengarahkan semua perhatiannya untuk tafsir bathin, dan tidak mengenai makna-makna zhahir, sebagaimana yang dilakukan Abu Abdirrahman As-Sulami dalam kitabnya, dan Muhyiddin Ibnu Arabi dalam kitabnya tafsir dan dalam (Fushush Al-Hikam) dan dalam (Al-Futuhat Al-Makkiyyah) hingga selain itu dari yang masuk yang disebutkan dari sufi dan betapa banyaknya, dan itu jelas kebatilannya; karena tidak sesuai tidak dengan nash syar’i, dan tidak dengan kaidah-kaidah bahasa.

Yang masuk melalui tafsir ilmiah

Kita beralih setelah itu ke jenis terakhir dari yang masuk dalam tafsir ilmiah:

Dan yang masuk melalui tafsir ilmiah banyak dan tersebar dalam waktu akhir-akhir ini, maka apa makna tafsir ilmiah? Dan apa prinsip-prinsip dan hakikat-hakikat yang harus diperhatikan ketika tafsir ilmiah? Dan apa pendapat para ulama seputar tafsir ilmiah? Kemudian kita tutup dengan contoh-contoh dari tafsir ilmiah yang masuk batil, yang bertentangan dengan tafsir Al-Quran Al-Karim.

  1. Tafsir ilmiah: adalah yang menjelaskan ayat-ayat Al-Quran yang datang dalam urusan alam semesta dan jiwa-jiwa, dan mereka berangkat dari firman Tabaraka Wa Ta’ala: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar” (Fushshilat: 53) berangkat sekelompok ulama seputar penemuan-penemuan ilmiah di alam semesta dan jiwa-jiwa; maka mereka memikul banyak dari ayat-ayat, dan menafsirkannya dengan penemuan-penemuan ilmu modern.
  2. Ada hakikat-hakikat dan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan ketika tafsir ilmiah.
  3. Ilmu yang diajak oleh Islam adalah ilmu yang membimbing manusia kepada hidayahnya, dan baik nasibnya dan baik keadaannya di dunia dan akhirat.
  4. Sesungguhnya Al-Quran Al-Karim melimpah dalam pembicaraan tentang alam semesta, dan mengarahkan pandangan para ulama kepada ayat-ayat kekuasaan, dan ayat-ayat ibda’ dalam alam semesta ini yang sampai kepada mengesakan Allah, mengesakan rububiyyah dan uluhiyyah dan asma dan sifat.
  5. Sesungguhnya kemukjizatan Al-Quran tidak berhenti dalam keadaan apa pun atas kesesuaian penemuan-penemuan ilmiah modern dengan beberapa ayat Al-Quran; maka kemukjizatan Al-Quran tetap dengan wajuh-wajuh yang tidak terbatas dari sebelum tampak penemuan-penemuan ilmiah ini, dan jika kita melihat bahwa jika telah ditemukan hakikat ilmiah yakin tetap yang ditunjukkan oleh ayat-ayat, ini jenis dari kemukjizatan, mungkin selaras dengan zaman-zaman yang menemukan itu, dan dengan bahwa Al-Quran adalah mukjizat Allah yang kekal abadi hingga hari kiamat; maka sesungguhnya itu telah mengandung jenis-jenis kemukjizatan yang sesuai dengan semua zaman dan semua negara hingga hari kiamat.
  6. Mustahil ada hakikat ilmiah tetap yakin yang bertentangan dengan Al-Quran Al-Karim; karena pencipta alam semesta adalah Allah, dan yang menurunkan Al-Quran adalah Allah maka mustahil bahwa ini bertentangan dengan yang itu.
  7. Al-Quran kaya dari ilmu-ilmu modern untuk dalil atas kebenarannya, sedangkan ilmu-ilmu modern yang membutuhkan dalil atas kebenarannya; dan dengan demikian bukan dari keadilan bahwa kita mengadili apa yang datang dalam penemuan-penemuan ilmiah – kita mengadili perkataan Allah kepada perkataan-perkataan manusia.
  8. Hakikat ilmiah satu hal, dan paksaan dalam menafsirkan Al-Quran dengannya dan menanggungkannya padanya hal lain, maka bukan perlu bahwa kita tanggung setiap hakikat ilmiah, dan kita berusaha keras bahwa kita tanggung nash padanya, dan kita takwilkan dengannya, atau kita putar leher ayat-ayat, dan ungkapan-ungkapan dengan putaran; untuk kita katakan: sesungguhnya Al-Quran telah mendahului ilmu modern.
  9. Harus atas kita bahwa kita melihat Al-Quran bahwa semua yang padanya hakikat-hakikat, maka apa yang sesuai dengannya dari penemuan-penemuan modern atas wajah kepastian dan keyakinan kita terima, dan selain itu maka sesungguhnya teori-teori tunduk pada percobaan dan pengujian, dan mungkin benar hari ini dan lenyap besok; maka Al-Quran adalah kalam Allah yang benar yang tidak datang kepadanya kebatilan dari depannya dan tidak dari belakangnya.
  10. Harus memperhatikan makna-makna mufradat atas cara yang telah digunakan dalam ketika turun Al-Quran, dan larangan dari apa yang terjadi padanya dari perkembangan setelah abad-abad pertama.
  11. Tidak boleh bagi kita bahwa kita ubah dari hakikat lafazh Al-Quran, dan jika mengarah kepada makna majazi kecuali jika ada qorinah-qorinah, dan tanda-tanda yang mewajibkan itu.

Kesepuluh: Harus memperhatikan gaya-gaya balaghah dalam Al-Quran dan makna-maknanya.

Kesebelas: Tidak membatasi lafaz pada satu makna saja dan menolak makna-makna lain yang benar tanpa alasan yang kuat.

Akhirnya: Harus menggabungkan semua ayat Al-Quran yang membahas satu topik yang sama, dan kita tidak dapat memastikan bahwa apa yang disebut sebagai fakta ilmiah akan tetap demikian selamanya, karena banyak dari apa yang ditemukan para ilmuwan, dan mereka katakan sebagai fakta ilmiah, dan bertahan dalam waktu yang lama – kemudian datang apa yang membantahnya, dan menggoyahkan pondasinya di kemudian hari.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahwa kebenaran manusiawi tidaklah mutlak, sedangkan kebenaran ilahi Al-Quran adalah mutlak dan final.

Sebelum kita beralih pada contoh-contoh penyimpangan dalam tafsir ilmiah, kita akan membahas pendapat para ulama tentang tafsir ilmiah, jadi apa yang dikatakan para ulama, atau apa pendapat mayoritas mereka?

Kami katakan: Para ulama telah berbeda pendapat tentang tafsir ilmiah sejak abad-abad pertama, dan dalam sejarah umat Islam kembali ke masa Abbasiyah, dan di antara yang paling menonjol dan paling aktif mempromosikan hal ini adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullahu, kemudian kecenderungan ini berkembang dari hari ke hari dengan Fakhruddin Ar-Razi, dan Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi, dan Ibnu Abi Al-Fadhl Al-Mursi, dan Jalaluddin As-Suyuthi, namun kecenderungan ini mendapat tentangan yang kuat dari pihak lain.

Berdasarkan hal ini, maka kami katakan: Bahwa kecenderungan tafsir ini, sebagaimana kami temukan memiliki pendukung dan penyokong; kami juga menemukan penentang dan pembangkang; jadi siapakah tokoh-tokoh terkemuka dari setiap kelompok? Abu Hamid Al-Ghazali, adalah di antara yang paling menonjol yang mendukung hal ini dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, dan dalam dua bukunya (Ihya Ulumuddin) dan (Jawahir Al-Quran) dia menyebutkan banyak hal; dia mengkhususkan dalam (Al-Ihya) bab keempat dari bab-bab adab tilawah Al-Quran dalam memahami Al-Quran dan menafsirkannya dengan pendapat tanpa riwayat. Dan dia berpendapat: bahwa Al-Quran mengandung isyarat kepada kumpulan ilmu-ilmu yang tidak terbatas, hingga dia berkata: setiap ayat memiliki enam puluh ribu pemahaman, dan yang tersisa dalam pemahamannya lebih banyak lagi.

Dan yang lain berkata: Al-Quran mengandung tujuh puluh tujuh ribu ilmu dan dua ratus ilmu; karena setiap kata di dalamnya adalah ilmu, kemudian itu berlipat ganda empat kali lipat; karena setiap kata memiliki zhahir dan bathin, had dan muthla’. Adapun dalam bukunya (Jawahir Al-Quran) yang terlambat dari (Al-Ihya) dia menjadikan di dalamnya fasal keempat dan kelima tentang semua ilmu agama dan dunia, seperti kedokteran, astronomi, struktur, anatomi, jimat dan lain-lain, dan berkata: renungkan Al-Quran dan carilah keajaibannya; agar bertemu di dalamnya kumpulan ilmu orang terdahulu dan kemudian.

Selain Imam Al-Ghazali, kita lihat Imam Ar-Razi; dia mengangkat bendera tinggi-tinggi, dan tidak meninggalkan ayat yang berbicara tentang langit dan bumi, laut dan sungai, gunung-gunung, dan semua ayat-ayat afaq dan anfus kecuali dia gunakan akalnya dan menafsirkannya dengan apa yang dicapai ilmu pada masanya, dan datang Imam Az-Zarkasyi dalam (Al-Burhan) dan As-Suyuthi dalam (Al-Itqan) dan mereka terpengaruh oleh Al-Ghazali, dan mengutip ungkapannya: bahwa Al-Quran mengandung tujuh puluh tujuh ribu ilmu, dan kata memiliki zhahir dan bathin, had dan muthla’… sampai akhir; kemudian Imam As-Suyuthi mengutip dari Abu Al-Fadhl Al-Mursi, dan dari Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu Al-Arabi banyak hal dari itu.

Dan datang setelah masa ini masa modern dengan penemuan-penemuan, dan pengetahuan tentang rahasia alam semesta, dan mereka menemukan rahasia-rahasia yang mereka bicarakan, di antara mereka adalah Imam Al-Qasimi dalam tafsirnya dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dan Syaikh Muhammad Abdullah Daraz, dan Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi mereka berbicara tentang banyak penemuan ilmiah, dan menghubungkan antara itu dengan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim, dan antara apa yang ditemukan ilmu, dan antara kemukjizatan ilmiah dalam Al-Quran Al-Karim. Syaikh Muhammad Abdullah Daraz memiliki buku (Madkhal ila Al-Quran Al-Karim) dia menyebutkan aspek-aspek kemukjizatan yang banyak yang dia dukung dengan ayat-ayat, dan Syaikh Sya’rawi memiliki buku (Mu’jizah Al-Quran) dan khususnya berbicara tentang kemukjizatan ilmiah, dan menyebutkan bahwa pemberian Al-Quran adalah terbarukan, dan di dalamnya terdapat kemukjizatan yang memuaskan semua generasi sepanjang abad, dan bahwa ayat-ayat kemukjizatan sepanjang zaman terbarukan dengan petunjuk-petunjuk Al-Quran yang abadi hingga tegaknya agama, dan juga kita lihat di sana Syaikh Thanthawi Jauhari dan dia memiliki tafsirnya yang terkenal dalam hal ini tafsir untuk Al-Quran secara lengkap.

Dan datang juga Dokter Muhammad Al-Ghamrawi, dan dia memiliki: (Islam fi Ashr Al-Ilm) dan Ustadz Hanafi Ahmad memiliki (At-Tafsir Al-Ilmi lil Ayat Al-Kauniyyah) dan Dokter Abdul Aziz Ismail memiliki: (Islam wal Thibb Al-Hadits) dan Dokter Abdul Razaq Naufal memiliki: (Al-I’jaz Al-Adadi) dan mereka memiliki pembahasan yang banyak dalam makna ini.

Dan mereka berkata: Bahwa ayat-ayat faraidh, ayat-ayat fiqih dan ibadah terhitung; jika ada tujuh ratus ayat tentang alam semesta, di dalamnya terdapat keajaiban dunia dalam Al-Quran, bukankah layak untuk memiliki kajian-kajian besar untuk kemukjizatan Al-Quran… sampai akhir.

Adapun di sisi lain; kita temukan ada barisan oposisi, ada penentang kecenderungan ini, dan kebanyakan mereka dari yang mengkhususkan diri dalam ilmu syariah atau sastra dengan dipimpin oleh: Imam Asy-Syathibi, dan Syaikh Mahmud Syaltut, dan Ustadz Abbas Al-Aqqad, dan Dokter Muhammad Husain Adz-Dzahabi, dan Ustadz Amin Al-Khuli dalam beberapa bukunya.

Dan kita lihat Imam Asy-Syathibi dalam (Al-Muwafaqat) dan Syaikh Syaltut dalam tafsirnya untuk Al-Quran, dan Abbas Al-Aqqad dalam bukunya (Al-Falsafah Al-Quraniyyah) berbicara tentang ilmu dan Al-Quran, dan mereka memperbanyak dengan judul-judul yang mereka sebutkan: pengingkaran tafsir ilmiah, dan mereka menyebutkan: bahwa Al-Quran adalah kitab petunjuk, dan bukan teori-teori geometri, atau kedokteran, atau astronomi, dan kita membaca Al-Quran mengajak kepada ilmu, dan itulah ilmu yang membimbing manusia kepada Allah tabaraka wa ta’ala, dan asal dalam perkataan mereka: bahwa Al-Quran adalah aqidah dan syariah dan petunjuk, kecuali bahwa Allah menyebarkan di dalamnya isyarat-isyarat ilmiah yang menjadi jelas bagi manusia di setiap zaman dan tempat; karena firman-Nya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar (Fushshilat: 53) sampai akhir.

Dan mari kita kembali kepada contoh-contoh sepintas dengan cepat tentang apa yang masuk dalam tafsir dari penyimpangan dalam tafsir ilmiah:

Datang dalam firman Allah Ta’ala Dan mereka melempar dengan gaib dari tempat yang jauh (Saba’: 53) berkata Dokter Shalahuddin Khaththab: mereka melempar dengan gaib adalah: telepon, dan telepon, dan telegraf, dan televisi, dan radio, maksudnya: dia ingin berkata: bahwa Al-Quran meramalkan keberadaan penemuan-penemuan modern ini; padahal tafsir yang benar untuk ayat ini, sebagaimana dikatakan Qatadah dan para sahabat dan tabi’in: bahwa orang-orang kafir melempar dengan sangkaan; tidak ada kebangkitan, tidak ada surga, tidak ada neraka, dan Al-Quran menolak kepada mereka kebohongan-kebohongan ini.

Contoh lain: adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala: Katakanlah: “Dia berkuasa menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu” (Al-An’am: 65). Berkata penulis buku (Al-Janib Al-Ilmi fi Al-Quran) Dokter Shalahuddin Khaththab: Bahwa adzab yang ditempatkan ayat dari atas kalian berlaku pada bom-bom yang turun dari pesawat, dan dari atas kepala, dan dari tempat tinggi, dan adapun adzab dari bawah kaki; maka isyarat kepada ranjau dan kapal selam yang dipasang di bumi, atau di laut, maka lewat di atasnya orang yang dikehendaki untuk dimusnahkan maka meledak di bawah kakinya atau mobilnya sehingga menyebabkan kehancuran baginya.

Dan kita bertanya siapa yang datang dengan perkara-perkara ini? Dan apakah kemampuan manusia setara dengan kemampuan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tidakkah dia membaca firman-Nya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). Pada hari ketika kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya (Al-Hajj: 1-2) ayat-ayat… sampai akhir. Dan juga mereka berkata dalam contoh ketiga dalam firman: Hingga apabila bumi telah memakai perhiasannya dan menjadi indah, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah keputusan Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin (Yunus: 24). Dia berkata: ini isyarat kepada pembuatan bom atom yang merusak dunia. Dan menakjubkan perkataan ini!! Maka Al-Quran Al-Karim lebih umum, dan lebih besar, dan lebih agung dari tafsiran-tafsiran mereka yang terbatas dalam perkataan seperti ini.

Dan kita beralih kepada contoh-contoh lain yang kita akhiri dengan apa yang masuk dalam kitab-kitab tafsir dari penyimpangan tafsir ilmiah:

Di sana juga ada fakta-fakta ilmiah yang memukau banyak manusia; lalu mereka kaitkan kepada itu tahayul-tahayul ini mereka kaitkan kepada ayat-ayat, sebagian ulama terpukau dengan penemuan-penemuan ilmiah, lalu mereka berbicara dan menghubungkan antara itu dengan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim, hingga mereka kaitkan tahayul-tahayul ilmiah kepada Islam, dan mereka meragukan dengan itu kemakshuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama dan dia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dengan dalih ilmu dan pengetahuan, dan seandainya riwayat-riwayat itu benar sanadnya mungkin ada beberapa alasan bagi yang berpegang kepada itu, adapun sedangkan itu lemah sanadnya, maka tidak ada nilai baginya.

Dan Syaikh Abu Syuhbah penulis buku (Al-Isra’iliyyat wal Maudhu’at fi At-Tafsir) berkata: Dan saya ingin mengatakan: bahwa kebanyakan ini yang diriwayatkan dalam perkara-perkara kauniah bertentangan dengan jelas ketetapan-ketetapan dan fakta-fakta ilmiah yang menjadi dalam hukum aksioma dan yang diterima, seperti kebulatan bumi dan perputarannya, dan terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari, dan semacam itu, dan ini perkataan yang mereka katakan bertentangan dengan fakta-fakta.

Mereka menyebutkan untuk gerhana matahari, dan gerhana bulan banyak hal di antaranya yang benar, dan di antaranya yang tidak demikian, tetapi mengkaitkan itu kepada kitab-kitab tafsir dan Al-Quran ini perkataan yang membutuhkan peninjauan kembali, dan di sana masih sebagian pada masa kita mengingkari kebulatan bumi dan perputarannya, dan sebab-sebab terjadinya fenomena-fenomena ini, dan mereka berbicara tentang gerhana bulan, dan gerhana matahari, dan guntur dan kilat dan petir, dan hukum gravitasi dan semacam itu yang tidak dapat diterima akal, mereka juga memiliki perkataan dalam umur dunia, mereka sebutkan dalam umur dunia bahwa itu tujuh ribu tahun; dan bahwa Nabi Muhammad diutus pada akhir yang keenam, dan Ibnu Al-Jauzi menghukumi perkataan mereka ini bahwa itu perkataan maudhu’ (palsu), tidak diterima.

Mereka berbicara tentang penciptaan matahari dan bulan, dan meriwayatkan perkataan dalam penciptaan matahari dan bulan, dan gerhana bulan dan gerhana matahari tidak cukup tempat untuk menyebutkannya secara rinci.

Dan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dan lainnya, dan Ibnu Al-Jauzi menghukumi pada apa yang diriwayatkan dari perkataan mereka dalam hal ini bahwa itu hadits-hadits batil.

Dan juga di sana ada hadits bahwa Allah menugaskan pada matahari sembilan malaikat dan mereka melemparkannya dengan salju setiap hari, dan seandainya tidak demikian matahari tidak datang pada sesuatu kecuali membakarnya, perkataan dan hadits-hadits lemah, tidak shahih.

Mereka sebutkan juga perkataan tentang gerhana matahari dan gerhana bulan, dan bahwa cahaya-cahaya mereka ditugaskan kepada itu malaikat-malaikat, perkataan tidak shahih dan tidak diterima, maka mereka riwayatkan bahwa Ibnu Abbas ditanya tentang pasang dan surut? Maka dia berkata: Sesungguhnya malaikat yang ditugaskan dengan hukum laut; maka jika dia meletakkan kakinya maka meluaplah laut-laut, dan jika dia mengangkatnya maka surutlah laut-laut, mereka kaitkan pasang dan surut kepada hadits-hadits maudhu’ (palsu) ini yang tidak shahih.

Dan yang benar: bahwa Imam Adz-Dzahabi menghukumi dengan kebatilan berita-berita ini, dan bahwa itu hadits-hadits tidak shahih, bahkan berkata syaikh kita Syaikh Abu Syuhbah: Sesungguhnya di sana ada yang meletakkan zindiq-zindiq hadits, dan kebohongan-kebohongan mereka kaitkan kepada Rasul, berkaitan dengan kauniyyat dan falakiyyat, dan sebab-sebab kejadian-kejadian, dan semua itu dari kebatilan-kebatilan yang mereka sebutkan. Yang berkaitan dengan guntur dan kilat: juga kebanyakan kitab-kitab tafsir, menyebutkan bahwa guntur nama malaikat yang menggembalakan awan, dan bahwa suara yang didengar adalah suara bentakannya kepada awan, atau suara tasbihnya, dan bahwa kilat bekas dari cambuk yang dia bentakkan kepada awan, atau nyala yang keluar darinya, dan bahwa Allah dalam firman-Nya: Dan guntur bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) malaikat-malaikat karena takut kepada-Nya (Ar-Ra’d: 13) mereka berkata: bahwa para filosof menyebutkan guntur dan kilat, dan bahwa ini suara malaikat, atau suara begini atau tawa atau begini, ini perkataan yang mereka bawa, dan disebutkan kebanyakan mufassir dalam menafsirkan fenomena guntur, dan kilat, dan perkataan tidak sesuai dengan kebenaran.

Dan di antara ulama ada yang berkata: bahwa tasbih guntur dengan lisan hal bukan dengan lisan maqal; di mana menyerupakan petunjuk guntur atas kekuasaan Allah dan kebesaran-Nya, dan mensucikan Allah dari sekutu dan kelemahan dengan tasbih dan pensucian, dan meminjam lafaz yusabbihu, perkataan yang disebutkan para mufassir. Dan Al-Alamah Al-Alusi berkata: Dan yang dipilih kebanyakan muhaddits bahwa isnad hakiki, guntur nama untuk malaikat yang menggembalakan awan: “Dan orang-orang Yahudi ketika mereka bertanya kepada Rasulullah, beritahu kami apa guntur ini? Dia berkata: malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugaskan dengan awan, di tangannya cambuk dari api, dia bentakkan kepada awan, dia gembalakan ke mana Allah Ta’ala memerintahkannya, mereka berkata: lalu apa suara itu yang kita dengar? Dia berkata: suaranya” dan hadits ini jika shahih dapat dibawa pada tamtsil, dan tidak tenteram kepadanya hati, sebagaimana berkata Syaikh Abu Syuhbah: dan hampir tidak percaya dari yang makshum shallallahu ‘alaihi wa sallama, bahkan menjadikannya dari Isra’iliyyat.

Bagaimanapun, dari kebenaran bahwa kita katakan bahwa sebagian mufassir memiliki usaha-usaha atas apa yang ada dari ilmu dari fenomena-fenomena pada masa mereka, seperti tafsir guntur dan kilat, berbicara Ibnu Athiyyah dan selain Ibnu Athiyyah, dan Al-Alusi dan lainnya, dan kebenaran dalam fenomena-fenomena kauniah ini: apa yang sepatutnya Al-Quran dibawa kecuali atas kebenaran. Kita akhiri dengan apa yang biasa dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama ketika mendengar guntur dan kilat: dari Ibnu Umar dia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama jika mendengar suara guntur dan petir berkata: “Allahumma la taqtulna bi ghadhabika, wa la tuhlikna bi adzabika, dan berkata: jika kalian mendengar guntur maka bertasbihlah, dan jangan bertakbir, dan dia biasa berkata jika mendengar guntur: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil azhim” berkata Syaikh Abu Syuhbah: maka ini yang pantas bagi Rasulullah dan kemakshumannya.

Adapun apa yang dinukil bahwa guntur malaikat, atau suaranya bentakan kepada awan, dan bahwa kilat bekas suaranya- maka dia tidak mengakui perkataan ini, dan kita memiliki perkataan dalam angin dan listrik udara, dan terjadinya guntur, dan kilat, dan petir, disebutkan dalam kitab-kitab banyak tidak cukup tempat untuk menyebutkan itu secara rinci.

Dan kita akhiri dengan kata-kata ringkas: Demikianlah kita lihat banyak dari musuh-musuh Islam, mereka bersemangat untuk menampakkan agama Islam dengan penampakan agama batil yang mengandung tahayul-tahayul dan kebatilan-kebatilan, dan itu melalui tafsir Al-Quran; karena mereka tidak sampai kepada nash Al-Quran, setelah mereka lemah untuk melecehkan Al-Quran itu sendiri sesuatu dari kebatilan-kebatilan mereka berlindung kepada tafsir, maka mereka selipkan racun-racun mereka seputar Al-Quran dalam tafsirnya; yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmu, dan sunnatullah dalam alam semesta, atau apa yang bertabrakan dengan akal dan logika, dan penyusun perkataan ini adalah orang-orang yang menginginkan permusuhan terhadap Islam, mereka sebutkan dalam umur dunia dari Isra’iliyyat bahwa umurnya tujuh ribu tahun, dan ini bertentangan; karena pengetahuan tegaknya kiamat diserahkan kepada ilmu Allah saja Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia” (Al-A’raf: 187). Dan mereka sebutkan dalam fenomena guntur dan kilat, dan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan qaf dan nun, dan perkataan yang sudah lewat penyebutannya secara rinci, dan yang memikul besar dosa ini adalah pendeta-pendeta dan orientalis; di mana mereka temukan dalam kebatilan-kebatilan ini apa yang menyembuhkan dendam mereka kepada Islam dan orang-orang Muslim.

Dan mereka menyerang sunnah, dan dalam rangka memuaskan salib mereka yang diwariskan mereka menghisahihkan hadits-hadits maudhu’ (palsu), dan menghukumi dengan kemaudhu’an banyak dari hadits-hadits shahih, dan mungkin mengikuti mereka sebagian ulama Muslim yang berpendidikan; maka mereka nukil perkataan mereka karena husnuzh-zhan, atau tidak tahu, dan mereka mengira jika dinukil perkataan ini dari ulama Islam bahwa itu benar; maka jatuh banyak dari para pengikut dalam bahaya ini yang dinukil dari orientalis, dan dari musuh-musuh Islam.

Dan shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam, wallahu a’lam.

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

AL-ITQAN FI ‘ULUM AL-QUR’AN “Ketuntasan Dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur’an” JILID 01
AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)
Agama-agama dan Mazhab-mazhab
TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:48 WIB

AL-ITQAN FI ‘ULUM AL-QUR’AN “Ketuntasan Dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur’an” JILID 01

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:45 WIB

AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:44 WIB

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:39 WIB

AD-DAKHIL DALAM TAFSIR

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Artikel Terbaru

Pendidikan

KETIKA KEJUJURAN PUN BISA MENJADI FITNAH

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:49 WIB

Dakwah

Fawaid ilmiya 12

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:46 WIB

Kitab Ulama

AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:45 WIB

Kitab Ulama

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:44 WIB