SEPULUH FAKTOR PENYEBAB KESELAMATAN
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Abdullah dan Rasul-Nya serta kekasih-Nya, Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya semuanya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Amma ba’du (Adapun selanjutnya):
Sesungguhnya hamba yang diberi taufik akan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dirinya, mensucikannya, dan menyelamatkannya di dunia dan akhirat dari segala keburukan dan kebinasaan. Ini adalah tujuan yang agung, dan cita-cita mulia yang diperjuangkan oleh orang-orang beriman. Perhatian mereka tercurah untuk memikirkan urusan keselamatan mereka, dan mencari sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemenangan dan keselamatan mereka. Bahkan, kekhawatiran ini pernah menimpa sebaik-baik umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu tiga orang Khalifah pertama yang utama.
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika aku sedang duduk di bawah naungan sebuah benteng dari benteng-benteng, Umar radhiyallahu ‘anhu lewat dan memberi salam kepadaku. Namun aku tidak menyadari bahwa ia lewat dan memberi salam. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu pergi menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu berkata kepadanya: ‘Tahukah engkau, sungguh aku lewat di hadapan Utsman dan aku memberi salam kepadanya, tetapi ia tidak menjawab salamku!'”
“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu datang kepadaku di masa pemerintahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu keduanya memberi salam kepadaku bersama-sama. Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Saudaramu Umar datang kepadaku dan menyebutkan bahwa ia lewat di hadapanmu lalu memberi salam, tetapi kamu tidak menjawab salamnya. Apa yang membuatmu melakukan itu?'”
“Aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak menyadari bahwa engkau lewat di hadapanku dan tidak pula menyadari salammu.'”
“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Utsman benar, ada sesuatu yang menyibukkanmu!'”
“Aku berkata: ‘Benar.'”
“Ia bertanya: ‘Apa itu?'”
“Utsman berkata: ‘Allah telah mewafatkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum kami bertanya kepadanya tentang keselamatan urusan ini.'”
“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Aku telah bertanya kepadanya tentang hal itu.’ Utsman berkata: ‘Maka aku mendatanginya dan berkata: ‘Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, engkau lebih berhak untuk hal ini.’ Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang menyelamatkan urusan ini?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menerima dariku kalimat yang aku tawarkan kepada pamanku, lalu ia menolaknya kepadaku, maka itu adalah keselamatan baginya.'”[1]
Barangsiapa merenungkan kisah agung ini, ia akan mengetahui bahwa urusan keselamatan adalah urusan yang sangat besar, hingga menjadi kekhawatiran dan menyibukkan pikiran orang-orang beriman yang jujur. Inilah Utsman radhiyallahu ‘anhu yang sangat mengkhawatirkan urusan keselamatan, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Dan Utsman di surga,” [2] dan sabdanya tentangnya: “Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini.”[3]
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berada di rumahnya bersama istrinya lalu menangis. Istrinya bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata: “Aku teringat firman Allah: ‘Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan akan melaluinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang pasti terjadi. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.’“ (Maryam: 71-72), “maka aku tidak tahu apakah aku akan selamat darinya atau tidak!”
Jika demikianlah keadaan generasi pertama dari kalangan sahabat dalam mencari sebab-sebab keselamatan di dua negeri (dunia dan akhirat), padahal mereka telah diberi kabar gembira dengan masuk surga, maka bagaimana keadaan orang-orang setelah mereka?!
Ini adalah risalah ringkas yang di dalamnya aku berusaha menunjukkan sepuluh perkara yang termasuk di antara perkara-perkara besar dan paling menonjol yang dengannya keselamatan hamba dapat dicapai. Setiap muslim patut bersungguh-sungguh mempelajarinya dan mengamalkannya, menempuh jalan-jalannya, dan mengajarkannya kepada keluarga dan saudara-saudaranya yang ia mampu; agar ia meraih keselamatan di dunia dan pada hari kiamat, dan memperoleh kebahagiaan abadi di surga-surga yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya menyeru hamba-hamba kepada keselamatan, mempersiapkan jalan-jalannya, dan mengingatkan sebab-sebabnya adalah petunjuk yang tegak dan sunnah yang terus berlangsung, sebagaimana datang dalam Al-Quran: “Dan wahai kaumku, mengapa aku menyeru kalian kepada keselamatan, sedangkan kalian menyeruku kepada neraka.” (Ghafir: 41)
Dan telah dikatakan:
“Mengapa agamamu engkau rela untuk dinodai
Sementara pakaianmu selamanya bersih dari noda
Engkau mengharap keselamatan namun tidak menempuh jalan-jalannya
Sesungguhnya kapal tidak berlayar di daratan”
Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan keselamatan bagi hamba, membukakan pintu-pintunya baginya, mengenalkan kepadanya jalan-jalan untuk meraih kebahagiaan, memberikan kepadanya sebab-sebabnya, memperingatkannya dari akibat buruk kemaksiatan kepada-Nya, dan memperlihatkan kepadanya dan kepada orang lain keburukan dan siksanya.[4]
Dan sang penyair berkata dengan baik:
“Alangkah sesal diriku, umur telah habis dan berlalu
Waktu-waktunya antara kehinaan kelemahan dan kemalasan
Sedangkan kaum telah mengambil kendaraan keselamatan
Dan telah berjalan menuju tujuan tertinggi dengan tenang”
Dan semoga Allah memberkahi, melimpahkan salam, berkah, dan karunia kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta keluarga dan para sahabatnya semuanya.[5]
Sebab Pertama: Tauhid Kepada Allah Dan Keikhlasan Dalam Beragama Kepada-Nya
Sebab terbesar untuk selamat pada hari kiamat, bahkan tidak ada keselamatan kecuali dengannya adalah: bertauhid kepada Allah dan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Telah disebutkan sebelumnya dalam kisah besar tersebut perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa menerima dariku kalimat yang aku tawarkan kepada pamanku namun dia menolaknya, maka kalimat itu akan menjadi keselamatan baginya”[6].
Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah).
Bukan maksudnya hanya sekedar mengucapkan kalimat itu dengan lisan saja, tetapi maksudnya adalah: mewujudkan apa yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut berupa keikhlasan dalam beragama kepada Allah dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya semata.
Tauhid adalah tujuan yang untuk itu Allah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka untuk mewujudkannya, sebagaimana firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56), dan firman-Nya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada-Nya” (Al-Isra: 23), dan firman-Nya: “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus” (Al-Bayyinah: 5).
Maka dasar keselamatan dan keberuntungan pada hari kiamat adalah bertauhid kepada Allah.
Dan keselamatan yang diperoleh dengan tauhid ini terbagi menjadi dua jenis:
(Pertama): Selamat dari masuk neraka. Seseorang jika telah mewujudkan tauhid dengan sempurna maka ia tidak akan masuk neraka, bahkan ia akan masuk surga secara langsung tanpa hisab dan tanpa azab.
(Kedua): Selamat dari kekal di neraka. Ini bagi orang yang tidak menyempurnakan tauhid dan tidak melengkapinya, bahkan ia melakukan sejumlah kemaksiatan dan dosa-dosa besar yang melemahkan iman dan tauhidnya, sehingga ia berhak masuk neraka karenanya. Maka tauhid akan menyelamatkannya dari kekal di neraka, kemudian akhirnya ia akan masuk surga.
Adapun orang yang datang pada hari kiamat tanpa membawa tauhid maka tidak ada harapan baginya untuk selamat selamanya, dan tidak ada jalan baginya untuk memperoleh rahmat dan ampunan.
Allah berfirman melalui lisan Rasul-Nya Isa alaihissalam: “Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka” (Al-Maidah: 72). Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam, tidak ditetapkan hukuman mati atas mereka sehingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalamnya: Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh selain yang telah kami kerjakan. (Allah berfirman): Bukankah Kami telah memberi umur kepadamu cukup lama bagi orang yang mau mengambil pelajaran, dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab itu), dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun” (Fathir: 36-37).
Allah telah menyebutkan ketiga golongan ini – yang selamat dari masuk neraka, yang selamat dari kekal di dalamnya, dan yang tidak selamat sama sekali – disebutkan secara berurutan dalam firman-Nya: “Kemudian Kami wariskan Al-Kitab kepada orang-orang yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami, maka di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar” hingga firman-Nya: “Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam, tidak ditetapkan hukuman mati atas mereka sehingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir” (Fathir: 32-36).
Golongan pertama dalam firman-Nya: “Dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan”, maka mereka inilah yang selamat dari masuk neraka dan masuk surga secara langsung tanpa hisab dan tanpa azab.
Perbedaan antara yang pertengahan (muqtashid) dan yang berlomba dalam kebaikan (sabiq bil khairat) adalah: yang pertengahan adalah orang yang melakukan kewajiban dan meninggalkan yang haram, adapun yang berlomba dalam kebaikan adalah orang yang menambah dari itu dengan melakukan amalan-amalan sunnah dan yang dianjurkan.
Golongan kedua dalam firman-Nya: “Maka di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri”, mereka inilah yang selamat dari kekal di neraka jika mereka memasukinya karena dosa-dosa mereka.
Yang menzalimi dirinya adalah orang yang menzaliminya dengan kemaksiatan dan dosa-dosa yang belum sampai pada tingkat kufur. Orang ini terancam hukuman dan masuk neraka, kecuali bahwa jika ia memasukinya maka ia tidak kekal di dalamnya, bahkan ia akan selamat dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa tauhid dan keikhlasan dalam beragama kepada Allah.
Adapun golongan ketiga: dalam firman-Nya: “Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam, tidak ditetapkan hukuman mati atas mereka sehingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir”.
Mereka ini tidak ada harapan bagi mereka untuk selamat pada hari kiamat karena mereka tidak bertauhid kepada Allah, bahkan mereka datang dengan apa yang membatalkannya berupa syirik dan kufur.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia berkata: “Ketika turun ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (Al-An’am: 82), hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka berkata: “Siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan seperti yang kalian duga, sesungguhnya maksudnya seperti perkataan Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar” (Luqman: 13)[7].
Maka beliau menafsirkannya dengan syirik, sehingga keamanan dari azab yang kekal.
Dari Umar radhiallahu ‘anhu bahwa ia menafsirkannya dengan dosa, maka keamanan dari semua azab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dan orang-orang yang merasa berat akan hal itu mengira bahwa kezaliman yang disyaratkan adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri, dan bahwa tidak ada keamanan dan petunjuk kecuali bagi orang yang tidak menzalimi dirinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka apa yang menunjukkan bahwa syirik adalah kezaliman dalam Kitab Allah, dan pada saat itu maka tidak akan diperoleh keamanan dan petunjuk kecuali bagi orang yang tidak mencampuradukkan imannya dengan kezaliman ini. Barangsiapa tidak mencampuradukkan imannya dengannya maka ia termasuk ahli keamanan dan petunjuk, sebagaimana ia termasuk ahli pilihan dalam firman-Nya: “Kemudian Kami wariskan Al-Kitab kepada orang-orang yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami, maka di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri”.
Dan ini tidak menafikan bahwa salah seorang dari mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kezalimannya terhadap dirinya jika ia tidak bertaubat, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya” (Az-Zalzalah: 7-8).
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mengerjakan kejelekan?!” Maka beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, bukankah engkau merasa lelah? Bukankah engkau merasa sedih? Bukankah engkau tertimpa kesusahan? Maka itulah yang kalian dibalas dengannya”[8].
Maka beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin yang jika bertaubat akan masuk surga, bisa jadi akan dibalas keburukannya di dunia dengan musibah-musibah yang menimpanya… Maka barangsiapa yang selamat dari ketiga jenis kezaliman, ia akan mendapat keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Dan barangsiapa yang tidak selamat dari kezalimannya terhadap dirinya, ia akan mendapat keamanan dan petunjuk secara mutlak, dalam arti ia pasti akan masuk surga sebagaimana dijanjikan dalam ayat yang lain, dan ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus yang akhirnya akan membawanya ke surga. Dan ia akan mendapat kekurangan keamanan dan petunjuk sesuai dengan apa yang kurang dari imannya karena kezalimannya terhadap dirinya[9].
Sebab Kedua: Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Perhatian terhadap Sunnah Nabawi dan petunjuk yang penuh berkah yang dimiliki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal mempelajari dan mengamalkannya merupakan salah satu sebab yang sangat besar untuk keselamatan di hari Kiamat. Oleh karena itu, Imam Malik bin Anas berkata: “Barangsiapa menginginkan keselamatan, maka hendaklah ia berpegang pada Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.”[10]. Dan ia berkata kepadanya: “Sunnah adalah bahtera Nuh; barangsiapa menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tidak menaikinya akan tenggelam.”[11].
Sesungguhnya dunia “perumpamaannya seperti lautan yang semua makhluk pasti harus mengarunginya agar bisa menyeberanginya menuju pantai yang di sana terdapat rumah-rumah mereka, negeri mereka, dan tempat tinggal mereka. Dan tidak mungkin menyeberanginya kecuali dengan bahtera keselamatan. Maka Allah mengutus para Rasul-Nya untuk memberitahu umat-umat tentang cara membuat bahtera keselamatan, memerintahkan mereka untuk membuatnya dan menaikinya; yaitu: menaati-Nya, menaati para Rasul-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, mengikhlaskan amal untuk-Nya, bersungguh-sungguh untuk akhirat, menginginkannya, dan berjuang untuk akhirat dengan sungguh-sungguh. Maka orang-orang yang diberi taufik bangkit dan menaiki bahtera, dan mereka tidak mau mengarungi lautan; karena mereka mengetahui bahwa lautan tidak bisa diseberangi dengan mengarunginya atau berenang. Adapun orang-orang bodoh menganggap sulit membuat bahtera beserta peralatannya dan menaikinya, dan berkata: ‘Kita akan mengarungi lautan, jika tidak mampu kita akan menyeberanginya dengan berenang’, dan mereka adalah mayoritas penduduk dunia, maka mereka mengarunginya. Ketika mereka tidak mampu mengarungi, mereka mulai berenang hingga mereka tenggelam, dan penumpang bahtera selamat sebagaimana mereka selamat bersama Nuh ‘alaihissalam, sedangkan penduduk bumi tenggelam. Maka renungkanlah perumpamaan ini dan keadaan penduduk dunia, akan jelas bagimu kesesuaiannya dengan kenyataan.”[12].
Maka di antara penyebab keselamatan adalah: perhatian terhadap sunnah Nabi yang mulia dan melekat pada jalan lurus beliau. Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Surat Al-Ahzab ayat 21).
Dan Allah berfirman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Surat An-Nur ayat 63), dan ayat-ayat dengan makna ini sangat banyak.
Ibnu Qayyim berkata: “Yang dimaksud adalah: bahwa sesuai dengan kadar mengikuti Rasul maka akan didapat kemuliaan, kecukupan, dan pertolongan, sebagaimana sesuai dengan kadar mengikutinya akan didapat petunjuk, keberuntungan, dan keselamatan. Maka Allah mengaitkan kebahagiaan kedua negeri (dunia dan akhirat) dengan mengikutinya, dan menjadikan kesengsaraan kedua negeri dengan menyelisihinya. Bagi para pengikutnya ada petunjuk dan keamanan, keberuntungan dan kemuliaan, kecukupan dan pertolongan, perlindungan dan dukungan, serta kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Sedangkan bagi yang menyelisihinya ada kehinaan dan kerendahan, ketakutan dan kesesatan, ketertinggalan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.”.
Adapun orang yang amal perbuatannya tidak sesuai dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan jauh dari keselamatan, dan amal perbuatannya akan ditolak. Amal perbuatan yang diterima yang akan menyelamatkan pelakunya di hari Kiamat adalah yang sesuai dengan petunjuk Nabi yang mulia, sebagaimana beliau bersabda: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka amalan itu tertolak.”[13].
Maka barangsiapa mencari keselamatan hendaklah ia melekat pada jejaknya, berpegang teguh pada jalannya, dan berhati-hati dari berbuat bid’ah dalam agama, dan mengganti sunnah Khatamul Mursalin (penutup para Rasul) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, termasuk nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya ketika beliau berkhutbah adalah memperingatkan mereka dari bid’ah, dan mendorong mereka untuk berpegang teguh pada sunnahnya, beliau bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[14].
Dan beliau memberitahukan bahwa barangsiapa melekat pada sunnahnya maka ia akan mendatangi telaga mulia beliau di hari Kiamat, dan minum darinya. Adapun barangsiapa mengganti sunnahnya dan menggantinya dengan bid’ah maka ia akan diusir dan dijauhkan dari telaganya, dan dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, maka aku berkata: Jauh-jauh untuk orang yang mengubah (agama) sepeninggalku.”[15].
Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang memberi nasihat kepada dirinya sendiri, yang menginginkan keselamatannya untuk menjauhi hawa nafsu dan bid’ah, dan melekat pada Sunnah dalam semua urusannya sesuai dengan pemahaman para Sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Mereka bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”[16].
Dan jalan untuk mewujudkan pengikutan ini adalah dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i yang dibangun di atas Al-Quran dan Sunnah; agar seorang Muslim beribadah kepada Rabbnya dengan berdasarkan pengetahuan, dan sesuai dengan petunjuk Nabi kita yang terpercaya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan ilmu keselamatan dari kehinaan
Dan dengan kebodohan kerendahan dan kelemahan
Ia adalah pembimbing petunjuk menuju kemuliaan
Dan pelita yang menerangi kegelapan
Demikian pula dari Rasul datang kepadanya
Dari Allah salam penghormatan dan keselamatan
Sebab Ketiga: Ketakutan Kepada Allah Dan Takwa Kepada-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surah An-Nur: 52)
Allah menyebutkan dalam ayat ini beberapa perkara yang tanpanya tidak akan tercapai kemenangan, keselamatan, dan kesuksesan, yaitu: ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketaatan kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Adapun dua perkara lainnya adalah: takut kepada Allah dan takwa kepada-Nya.
Mengenai ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya ia merupakan landasan yang agung untuk mencapai keselamatan pada hari kiamat. Allah telah menggambarkan orang-orang yang selamat dan beriman bahwa mereka “Dari takut kepada Tuhan mereka, mereka merasa khawatir.” (Surah Al-Mu’minun: 57)
Dan Allah menggambarkan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.” (Surah Al-Anfal: 2)
Hal itu karena ketakutan kepada Allah mendorong manusia untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk, melakukan ketaatan, dan mengerjakan ibadah-ibadah.
Karena itulah Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Orang mukmin menggabungkan antara kebaikan dan kekhawatiran, sedangkan orang munafik menggabungkan antara keburukan dan rasa aman.” Kemudian Al-Hasan membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang dari takut kepada Tuhan mereka merasa khawatir.”[17]
Ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya terwujud dengan mengenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, serta merenungkan ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah (alam semesta) dan syar’iyah (hukum agama). Semakin besar pengetahuan seorang hamba tentang Allah, maka semakin besar pula ketakutannya kepada-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Surah Fathir: 28)
Adapun takwa kepada Allah, ia merupakan kumpulan segala kebaikan bagi seorang hamba, dan ia adalah sebab yang agung untuk mencapai keselamatan pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak akan disentuh oleh keburukan dan mereka tidak bersedih hati.” (Surah Az-Zumar: 61) Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Surah Fushshilat: 18)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Surah An-Naml: 53)
Takwa pada asalnya diambil dari kata “wiqayah” (perlindungan). Di antara definisi terbaik tentang takwa adalah perkataan Thalq bin Habib rahimahullah ketika ditanya: Jelaskan kepada kami tentang takwa? Maka ia menjawab: “Takwa adalah: beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan mengharap rahmat Allah, berdasarkan cahaya dari Allah. Dan takwa adalah: meninggalkan kemaksiatan kepada Allah karena takut akan siksa Allah, berdasarkan cahaya dari Allah.”[18] Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa menunaikan kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban-kewajiban agama, serta menjauhi yang haram dan dosa, maka dialah orang yang selamat dan beruntung di dunia dan akhirat.
Telah shahih dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwa An-Nu’man bin Qauqal radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan shalat wajib, mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal, apakah aku akan masuk surga?” Beliau bersabda: “Ya.”[19]
Setiap orang yang berjihad melawan dirinya dan bersabar untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang haram, maka Allah akan menyelamatkannya dan membimbingnya kepada jalan yang lurus, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Surah Al-Ankabut: 69)
Melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang ini harus berdasarkan cahaya dan ilmu, agar seorang hamba mengetahui apa yang harus dijauhinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Surah Asy-Syura: 52)
Bakr bin Khunais rahimahullah berkata: “Bagaimana seseorang bisa menjadi orang yang bertakwa jika ia tidak mengetahui apa yang perlu ditakuti?!”[20]
Salah satu cara untuk selamat dan terhindar dari bahaya adalah menjaga lisan dan memeliharanya dari segala sesuatu yang buruk. Dalam hadits dari Uqbah bin Amir dia berkata:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Beliau bersabda: “Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu, dan tangislah atas kesalahanmu.”[21]
Sabda beliau “Kendalikan lisanmu” adalah peringatan tentang pentingnya menjaga lisan, yaitu dengan cara seorang hamba memperhatikan perkataannya. Jika itu baik, maka ia mengucapkannya, dan jika tidak demikian, maka ia menahan diri, sebagaimana beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[22]
Sesungguhnya bahaya lisan sangat besar, dan kejahatannya sangat besar terhadap seseorang, terhadap agamanya, terhadap masyarakatnya dan orang-orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, ancaman tentang hal ini sangat keras, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang ia tidak memperhatikannya, lalu ia tergelincir karenanya ke dalam Neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”[23]
Karena keselamatan sangat erat kaitannya dengan lisan, maka semua anggota tubuh bergantung padanya dalam nasibnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila anak Adam berada di pagi hari, maka seluruh anggota tubuh merendahkan diri kepada lisan seraya berkata: Bertakwalah kepada Allah dalam hal kami, karena sesungguhnya kami ini tergantung padamu. Jika engkau lurus, maka kami lurus, dan jika engkau bengkok, maka kami bengkok.”[24]
Menjaga dan memelihara lisan adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat, sedangkan mengabaikannya, melepaskannya, dan tidak berhati-hati dengannya adalah sebab kehancuran dan kerugian. Oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan kepada Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu dasar-dasar agama dan pintu-pintu kebaikan dalam hadits yang panjang, beliau mengakhirinya dengan sabda beliau: “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci dari semua itu?” Aku berkata: “Ya, wahai Nabiyullah.” Maka beliau memegang lisannya dan berkata: “Tahanlah ini.” Aku bertanya: “Wahai Nabiyullah, apakah kami dipertanggungjawabkan atas apa yang kami ucapkan?” Maka beliau berkata kepadanya: “Celakalah engkau wahai Muadz! Tidakkah orang-orang itu diterjunkan ke dalam Neraka dengan wajah mereka—atau: dengan hidung mereka—kecuali karena hasil tuaian lisan mereka?”[25]
Hendaklah seorang mukmin bersungguh-sungguh untuk tidak melepaskan lisannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, karena sesungguhnya diam dalam kondisi seperti ini adalah keselamatan dan penyelamatan, sebagaimana shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa diam, maka ia selamat.”[26]
Sebab Kelima: Lari Dari Fitnah
Sesungguhnya lari dari fitnah, menjauh darinya, dan menutup pintu-pintu terhadapnya adalah penyelamat bagi seorang hamba di dunia dan pada Hari Kiamat, serta keselamatan bagi agama dan dunianya. Banyak nash yang menunjukkan hal itu, di antaranya adalah yang telah disebutkan sebelumnya dalam hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu ketika dia bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Beliau bersabda kepadanya: “Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu, dan tangislah atas kesalahanmu.”[27]
Sabda beliau “Hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu” artinya adalah hendaknya seseorang bersungguh-sungguh untuk menetap di rumahnya, terutama ketika fitnah bermunculan, agar ia jauh dari menghadapinya. Karena sesungguhnya di dalam rumah-rumah terdapat keamanan dan keselamatan bagi seseorang dari fitnah. Jika ia keluar dari rumahnya dan menghadapi fitnah, maka ia telah membahayakan dirinya sendiri. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak memohon perlindungan dari fitnah, sebagaimana shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sabda beliau kepada para sahabatnya: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi.”[28]
Pada zaman ini telah muncul perangkat-perangkat modern yang mungkin ada bersama seseorang di rumahnya, dan memasukkan kepadanya berbagai jenis fitnah dan kejahatan, dalam hal syahwat dan syubhat. Banyak orang telah terjerat dalam persoalan yang sangat besar akibat kelalaian dalam menggunakan perangkat-perangkat ini dan masuk ke sejumlah situs serta program yang rusak. Oleh karena itu, keselamatan yang terkait dengan menetap di rumah dalam hadits sebelumnya dibatasi dengan menjauhi penggunaan perangkat modern yang dapat mendatangkan fitnah kepada manusia, dan menghancurkan akhlak, dunia, dan akhiratnya. Dan kerugiannya saat itu sangat besar.
Kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan menghindari fitnah dan selamat dari kejahatannya, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.”[29]
Sebab Keenam: Memperbanyak Doa Dan Berlindung Kepada Allah
Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat. Apabila seorang hamba mengetahui bahwa tidak ada keselamatan di dunia maupun di akhirat kecuali bagi orang yang diselamatkan oleh Allah, maka wajib baginya untuk meminta keselamatan itu kepada-Nya. Keselamatan itu berada di tangan Allah semata, tidak ada yang lain. Maka mintalah keselamatanmu dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'” (QS. Ghafir: 60).
Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan untuk dirinya, hendaklah ia memperbanyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala kebaikan. Ia berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan, berdoa agar selamat dari penyimpangan, berdoa agar diberi kebaikan, dan berbagai kebaikan dunia dan akhirat lainnya.
Doa yang paling agung secara mutlak adalah doa yang terdapat dalam Surah Pembuka (Al-Fatihah): “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6), hingga akhir surah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila memberi petunjuk kepada hamba-Nya menuju jalan-Nya, maka ia pasti akan selamat di dunia dan akhirat.
Karena pentingnya doa ini bagi hamba dan besarnya kebutuhan mereka kepadanya, Allah mewajibkan untuk mengucapkannya dalam sehari semalam sebanyak tujuh belas kali, sesuai dengan jumlah rakaat salat wajib. Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim ketika membaca Surah Al-Fatihah untuk merasakan doa yang agung ini dan kebutuhannya yang terus-menerus kepadanya. Sesungguhnya keberhasilan dan kemenangan dengan mendapat petunjuk akan menghasilkan kebaikan, keselamatan, dan kemenangan besar di kedua negeri (dunia dan akhirat).
Doa dan berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memohon kepada-Nya dengan sangat termasuk penyebab terbesar untuk mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, para nabi berdoa kepada Allah memohon keselamatan, lalu Allah mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah yang menimpa mereka. Di antara contohnya:
Doa Nabi Allah Nuh alaihissalam: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka berilah keputusan antara aku dengan mereka dengan suatu keputusan dan selamatkanlah aku beserta orang-orang mukmin yang bersamaku.”
Lalu Allah berfirman: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 117-119).
Doa Nabi Allah Luth alaihissalam: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari apa yang mereka kerjakan.”
Lalu Allah berfirman: “Maka Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya.” (QS. Asy-Syu’ara: 169-170).
Doa Nabi Allah Yunus alaihissalam: “Maka ia berseru dalam kegelapan: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.'”
Lalu Allah berfirman: “Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 87-88).
Dan Allah berfirman tentang keadaan Musa dan Harun: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi karunia kepada Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya beserta kaumnya dari bencana yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 114-115).
Demikianlah, barangsiapa merenungkan Al-Quran akan menemukan banyak sekali doa-doa para nabi, permintaan mereka kepada Tuhan mereka, dan ketundukan mereka di hadapan-Nya dalam segala keadaan mereka. Maka Allah mengabulkan doa mereka dan mewujudkan permintaan mereka. Demikian pula siapa saja yang berlindung kepada Tuhan semesta alam dan berdoa kepada-Nya, sesungguhnya Dia tidak akan mengecewakan hamba yang berdoa kepada-Nya dan tidak akan menolak orang yang memohon kepada-Nya dengan penuh harap. Maka barangsiapa menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berdoa.
Seorang hamba hendaknya mengingat setiap malam bahwa keselamatannya berada di tangan Allah dan tidak ada keselamatan kecuali bagi orang yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaklah ia berlindung kepada Tuhannya dengan penuh harap, merendahkan diri, dan berharap agar Allah menjadikannya termasuk golongan orang-orang yang selamat dan beruntung.
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu ucapkanlah: (Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus). Jika kamu meninggal pada malam itu, maka kamu mati dalam keadaan fitrah (Islam), dan jadikanlah kata-kata itu sebagai ucapan terakhirmu.”[30]
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Maka Dialah yang menyelamatkan dari diri-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan melindungi dari diri-Nya dengan diri-Nya sendiri. Demikian pula dengan lari menyelamatkan diri; hamba-Nya lari dari-Nya kepada-Nya. Dan semua ini adalah perwujudan tauhid dan takdir, bahwa tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada pencipta selain-Nya, dan makhluk tidak memiliki untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain kemudharatan dan kemanfaatan, kematian, kehidupan, maupun kebangkitan. Bahkan segala urusan itu milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada seorang pun selain-Nya yang memiliki sesuatu dari-Nya.”[31]
Sebab Ketujuh: Senantiasa Bertobat Dan Beristighfar
Telah banyak dalil dari Al-Quran dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan tobat dan istighfar, dan bahwa keduanya merupakan penyebab besar untuk mendapat keselamatan pada hari kiamat. Oleh karena itu, sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku heran terhadap orang yang binasa padahal keselamatan bersamanya!” Ditanyakan: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Istighfar (memohon ampun).”[32]
Dan ketika Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keselamatan, beliau bersabda: “Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu mencukupimu (tidak banyak keluar), dan menangislah atas kesalahanmu.”[33]
Sabda beliau: “dan menangislah atas kesalahanmu”: merupakan isyarat untuk bertobat dan beristighfar. Yang dimaksud dengan kesalahan adalah semua kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh manusia. Kata mufrad (tunggal) bila diidhafahkan menunjukkan keumuman. Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa seorang hamba dalam kondisi beristighfar dan bertobat hendaknya menghadirkan banyaknya dosa dan kesalahannya, baik yang dilakukan secara tersembunyi maupun terang-terangan, baik yang lama maupun yang baru, dan hendaknya ia memohon ampun kepada Allah dan bertobat dari semuanya agar memperoleh keselamatan dan kemenangan besar.
Oleh karena itu, termasuk doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya: “Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya; yang kecil dan yang besar, yang awal dan yang akhir, yang terang-terangan dan yang tersembunyi.”[34]
Apabila seorang hamba bertobat kepada Tuhannya dengan tobat yang tulus, dengan meninggalkan semua dosa, menyesal telah melakukannya, dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi, serta memperbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sesungguhnya Allah akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33). Maka tobat dan istighfar mereka menjadi sebab keselamatan mereka dan terhindarnya azab dari mereka.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Beruntunglah orang yang menemukan dalam catatan amalnya banyak istighfar.”[35]
Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak tobat dan istighfar di siang dan malamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”[36]
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Sungguh kami menghitung untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu majelis seratus kali: (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).”[37]
Sebab Kedelapan: Berhati-Hati Dari Sikap Ujub Dan Tertipu
Di antara penyebab keselamatan adalah: seorang tidak boleh ujub (bangga) dengan amal salehnya, tidak boleh tertipu dengan dirinya dan ketaatannya, dan harus berhati-hati dari hal tersebut dengan sangat wati-hati. Karena kehati-hatiannya dari hal tersebut adalah sebab keselamatannya. Adapun orang yang mengabaikan aspek ini dan memasukkan ke dalam dirinya kebanggaan dan ujub, maka sesungguhnya ia akan binasa tanpa bisa dielakkan. Syaikh Hafizh Al-Hakami rahimahullah telah berkata:
“Dan ujub, maka berhati-hatilah darinya. Sesungguhnya ujub itu merusak amal-amal pelakunya dalam banjir bandangnya yang dahsyat.”
Sebagian manusia memiliki amal-amal saleh dan ketaatan yang beragam, lalu masuklah kepadanya sesuatu berupa kebanggaan atau ujub, dan ia bersandar pada amalnya, maka ia binasa karenanya dan seluruh amalnya menjadi sia-sia.
Kewajiban bagi manusia adalah mengetahui bahwa ia adalah orang yang lalai, dan bahwa bagaimanapun tinggi amalnya, ia tidak akan mampu menunaikan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah kepadanya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan ada seorang pun yang amalnya memasukkannya ke surga.” Mereka bertanya: Tidak juga engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak, dan tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku karunia dan rahmat-Nya.”[38]
Inilah keadaan orang-orang terbaik dari umat ini, yaitu para sahabat dan orang-orang setelah mereka. Di antaranya adalah perkataan Abdullah bin Abi Mulaikah rahimahullah, dan ia termasuk ulama tabi’in: “Aku mendapati tiga puluh orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya takut akan kemunafikan pada diri mereka sendiri.”[39]
Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu —yang merupakan orang paling jujur dari umat ini dan sebaik-baik manusia setelah para nabi— meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengajarkan kepadanya doa yang ia panjatkan kepada Allah dalam shalatnya, beliau mengajarkan kepadanya untuk membaca: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[40] Lalu bagaimana keadaan orang yang di bawahnya?!
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun yang boleh menyangka bahwa ia tidak memerlukan taubat kepada Allah dan istighfar dari dosa-dosa. Bahkan setiap orang membutuhkan hal tersebut selamanya.”[41]
Kesimpulannya adalah bahwa seorang hamba jika diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang baik, maka janganlah ia bersandar pada amal-amalnya, jangan tertipu dan ujub dengannya, bahkan hendaknya ia takut amal-amalnya tidak diterima, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah), sedang hati mereka takut karena sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Surah Al-Mu’minun: 60)
Ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna ayat ini dan berkata: Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri? Beliau menjawab: “Bukan wahai putri Ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.”[42]
Sebab Kesembilan: Mengingat Perhitungan dan Berdiri di Hadapan Allah
Di antara sebab-sebab keselamatan adalah: mengingat hari yang agung itu, di mana semua makhluk akan berdiri di hadapan Tuhan semesta alam untuk dihisab dan dibalas amal perbuatannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan, memberi manfaat, atau mencelakakan orang lain. “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (Surat Al-Infithar: 17-19).
Apabila seorang mukmin mengingat hari itu beserta kengerian dan kesulitannya, hal itu akan menimbulkan dalam dirinya rasa takut dan kesiapan untuk akhiratnya, serta mengambil sebab-sebab yang menjadi jalan bagi keselamatannya dan kemenangannya.
Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang selamat di akhirat menyebutkan bahwa menghadirkan dalam pikiran mereka di dunia tentang perhitungan dan pembalasan adalah sebab kemenangan dan keselamatan mereka. Allah berfirman: “Adapun orang yang diberi kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku. Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui perhitunganku.'” (Surat Al-Haqqah: 19-20).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu (di dunia) merasa takut (akan azab Allah) ketika kami berada di tengah-tengah keluarga kami. Maka Allah menganugerahkan nikmat kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'” (Surat Ath-Thur: 25-28).
Maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah, dan bahwa Allah akan menanyainya tentang amal perbuatannya, hendaklah dia bersiap untuk hari itu, dan hendaklah dia menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu, dan hendaklah dia bersungguh-sungguh agar jawabannya benar.
Dari Ibrahim bin Basysyar rahimahullah, dia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: “Ingatlah apa yang akan kamu hadapi dengan sebenar-benar ingatan, dan renungkanlah apa yang telah berlalu dari umurmu; apakah kamu yakin dengannya dan mengharapkan keselamatan dari azab Tuhanmu?! Sesungguhnya jika kamu seperti itu, kamu akan menyibukkan hatimu dengan memikirkan jalan keselamatan dari jalan orang-orang yang lalai, yang merasa aman, yang tenang; mereka yang mengikuti hawa nafsu mereka sendiri, lalu hawa nafsu itu menjatuhkan mereka ke jalan kebinasaan mereka. Pasti mereka akan mengetahui, pasti mereka akan menyesal, dan pasti mereka akan menyesal.” “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Surat Asy-Syu’ara: 227)[43].
Dari Mu’alla bin Ziyad, dia berkata: Al-Mughirah bin Mukhadisy bertanya kepada Hasan Al-Bashri, lalu berkata: “Wahai Abu Sa’id, bagaimana cara kami menghadapi majelis-majelis orang-orang di sini yang menceritakan kepada kami hingga hati kami hampir melayang?”
Hasan menjawab: “Wahai syaikh, sesungguhnya kamu—demi Allah—jika kamu menemani kaum yang menakut-nakutimu hingga kamu mendapatkan rasa aman, itu lebih baik bagimu daripada kamu menemani kaum yang memberimu rasa aman hingga ketakutan-ketakutan itu menimpamu.”[44]
Sebab Kesepuluh: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Dan ini termasuk syiar Islam yang agung dan amalan-amalannya yang mulia serta perisai keselamatan bagi umat, bahkan termasuk sebab terbesar yang mewujudkan keselamatan umat dari kebinasaan.
Dengannya kemungkaran akan surut, kebaikan bertambah banyak, keberkahan merata, dan rahmat turun. Dan ia memiliki dampak terhadap kebaikan hamba dan masyarakat yang tidak diketahui kecuali oleh Rabb Penguasa langit dan bumi. Telah banyak nash yang mendorong untuk melaksanakan syiar ini dan menjelaskan pentingnya, Allah Ta’ala berfirman: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar” (Ali Imran: 110).
Dan Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).
Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar” (At-Taubah: 71).
Dan Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al-Hajj: 41).
Dan di antara yang menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar termasuk sebab-sebab keselamatan adalah firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, karena mereka selalu berbuat fasik” (Al-A’raf: 165).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti kaum yang berundi untuk menempati sebuah kapal, sebagian mereka mendapat bagian di atasnya dan sebagian lagi di bawahnya. Orang-orang yang berada di bawah apabila mengambil air harus melewati orang-orang yang di atasnya, maka mereka berkata: ‘Seandainya kita melubangi bagian kita dan tidak mengganggu orang yang di atas kita.’ Maka jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka inginkan, niscaya binasalah mereka semua. Dan jika mereka mencegah tangan mereka (dari melubangi kapal), niscaya selamatlah mereka dan selamatlah semuanya.”[45]
Maka manusia akan tetap dalam kebaikan selama masih ada di antara mereka yang memperhatikan syiar ini. Adapun jika manusia mengabaikannya maka bahayanya sangat besar dan hukumannya sangat berat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran lalu tidak mengubahnya, hampir saja Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua.”[46]
Maka hendaklah seorang muslim bersungguh-sungguh dalam melaksanakan syiar agung ini, dan hendaklah ia bersikap jujur dalam hal itu kepada Allah, senantiasa mengikuti jalan ahli kebenaran dan petunjuk dalam hal tersebut.
Oleh karena itu, sahabat mulia Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ketika melihat sekelompok orang dari ulama terbaik penduduk Bashrah menyebutkan amar ma’ruf nahi mungkar dalam pembicaraan mereka, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti hari ini suatu kaum yang lebih berhak mendapatkan keselamatan jika mereka benar-benar jujur.”[47]
Dan hendaklah seorang muslim berhati-hati dalam bab ini dari jalan-jalan ahli kesesatan dan cara-cara ahli kebatilan. Maka tidak boleh tidak untuk memperhatikan dhabith (ketentuan-ketentuan) syiar yang lurus ini, adab-adabnya yang diberkahi, dan kaidah-kaidahnya yang kokoh; yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya jika ia ditegakkan sesuai dengan kaidah-kaidah dan dhabith tersebut, maka akan terwujud kebaikan, kebajikan, dan keberuntungan.
Adapun jika syiar ini diarahkan ke arah yang menyalahi kaidah-kaidah syariat dan dhabith-dhabithnya yang diketahui, maka ia akan berubah menjadi sejenis madharat (bahaya) bagi masyarakat muslim; sehingga keamanan terganggu, kekacauan merajalela, harta-harta dirampok, darah ditumpahkan, kehormatan dilanggar, dan berbagai jenis kerusakan dan madharat lainnya yang mungkin disebabkan oleh orang yang tidak memiliki pemahaman dan tidak memiliki ilmu tentang kaidah-kaidah syariat dan pokok-pokoknya, sehingga ia berbuat jahat terhadap dirinya sendiri dan terhadap umatnya.
Ketika sekelompok orang bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman dan berkata kepadanya: Tidakkah kita menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Ia berkata: “Itu memang baik, tetapi bukan termasuk sunnah jika kamu mengangkat pedang terhadap pemimpinmu.”[48]
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menukil dari Abu Hanifah, bahwa seorang penanya bertanya kepadanya tentang seseorang yang mulai menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, kemudian bergabung dengannya sejumlah orang dan memberontak terhadap jama’ah; ditanyakan tentang perbuatannya ini, apakah sah?, ia berkata: “Tidak,” kemudian dikatakan kepadanya: “Bukankah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar dan itu adalah kewajiban yang wajib?” Ia berkata: “Benar, tetapi kerusakan yang mereka timbulkan lebih banyak daripada kebaikan yang mereka lakukan; berupa penumpahan darah dan menghalalkan yang haram.”[49]
Seorang laki-laki dari sahabat-sahabat Sufyan Ats-Tsauri menulis kepadanya: Berilah aku nasihat secara ringkas, maka ia menulis kepadanya:
Semoga Allah melindungi kita dan engkau dari segala keburukan wahai saudaraku. Sesungguhnya dunia, kesedihannya tidak berkurang, kegembiraannya tidak kekal, dan pemikirannya tidak habis-habisnya; maka beramallah untuk dirimu hingga engkau selamat, dan janganlah bermalas-malasan sehingga engkau binasa, wassalam.[50]
Dan Muhammad bin As-Sammak berkata: “Cita-cita orang berakal adalah pada keselamatan dan melarikan diri, sedangkan cita-cita orang bodoh adalah pada main-main dan kesenangan.”[51]
Dan kami memohon kepada Allah kesempurnaan nikmat-Nya dengan kemenangan meraih surga dan keselamatan dari neraka, dan agar Dia menetapkan hati-hati kami di atas agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Dan semoga Allah bershalawat dan memberi salam kepada hamba dan Rasul-Nya Nabi kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.
[1] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Musnad” (20) dengan sanad yang hasan.
[2] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam “Sunan” (4649), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam “Ar-Raudh An-Nadhir” (425).
[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3701) dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam “Al-Mishkah” (6073).
[4] Dari perkataan Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam “Uddat al-Shabirain”, halaman 284
[5] Risalah ini berasal dari sebuah kuliah yang disampaikan di Masjid Birr al-Walidain di Tabuk, pada tanggal 22/8/1435 Hijriah. Beberapa cendekiawan telah berusaha menanskrip dan merapikannya. Saya telah meninjaunya kembali dan menambahkan beberapa manfaat. Saya memohon kepada Allah untuk memberikan balasan terbaik kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam mengeluarkan dan menyebarkan materi ini di antara kaum muslimin, khususnya saudara-saudara di kantor Itqan di negara Kuwait atas perhatian dan usaha mereka dalam mengeluarkannya dengan sempurna.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad dengan sanad yang hasan.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim dalam “Sahih Muslim” (1041)
[8] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Musnad”-nya (71), dan asalnya dalam “Jami’ at-Tirmidzi” (3039), dalam penelitian dan diberi hukum sahih oleh Al-Albani dalam “al-Iman” karya Ibnu Taimiyah (halaman 67).
[9] “al-Iman” karya Ibnu Taimiyah (halaman 66-67).
[10] Kitab “Dzam al-Hawā wa Ahluh” karya Abu Isma’il al-Harawi (4/118).
[11] Diriwayatkan oleh Al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “At-Tarikh” (8/308).
[12] Merupakan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam “Uddah Ash-Shabiriin” (halaman 456).
[13] Diriwayatkan oleh Muslim dalam “Sahih”-nya (1718).
[14] Diriwayatkan oleh Muslim dalam “Sahih”-nya (867).
[15] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam “Sahih”-nya (6584).
[16] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam “Jami’-nya” (2641), dan Al-Albani mengesahkannya dalam “As-Silsilah Ash-Shahihah” (203 dan 1492).
[17] Al-Thobari meriwayatkannya dalam tafsirnya (juz 17, halaman 68).
[18] Diriwayatkan oleh Hannad bin As-Sarri dalam kitab Az-Zuhd (hlm. 552).
[19] Muslim meriwayatkannya dalam kitab Shahih-nya (nomor hadits 15).
[20] Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab (1/402).
[21] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (no. 2406), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah (no. 890).
[22] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6018), dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 47).
[23] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6477), dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 2988).
[24] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (no. 2407), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ (no. 3244).
[25] HR. At-Tirmidzi no. 2616, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 977
[26] Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitabnya (2501), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (536).
[27] Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitabnya (2406), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (890).
[28] Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (2867).
[29] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (4263), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1975).
[30] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahihnya (nomor 247), dan oleh Muslim dalam Sahihnya (nomor 2710), dan lafal ini dari riwayat Bukhari.
[31] “Syifa’ Al-Alil” (halaman 273).
[32] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam “Al-Majalisah wa Jawahir Al-Ilm” (jilid 4, halaman 49).
[33] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam “Jami’nya” (nomor 2406), dan Syaikh Al-Albani mengesahkan dalam “Ash-Shahihah” (nomor 890).
[34] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (483).
[35] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (3818), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ (3930).
[36] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Sahihnya (6307).
[37] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (1516) dan lafal miliknya, serta At-Tirmizi dalam Jami’nya (3434), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (556).
[38] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5733) dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 6816), dan lafazhnya milik Al-Bukhari.
[39] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, diriwayatkan secara mu‘allaq dan dijadikan bagian darinya (no. 48).
[40] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 834) dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 2705).
[41] Al-Furqān bayna Auliyā’ ar-Raḥmān wa Auliyā’ asy-Syaithān, halaman 131.
[42] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Jāmi‘ (no. 2175), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahīhah (no. 163).
[43] “Hilyah Al-Auliya'” (8/18)
[44] Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak dalam “Az-Zuhd” (303)
[45] Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya (2493).
[46] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (1), dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1671).
[47] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam Al-Ahad wa Al-Mathani (2314).
[48] Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushannaf” (3761)
[49] “al-Fatwa al-Hamawiyah” (halaman 321)
[50] Hadis diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Hilyah al-Auliya'” (7/5)
[51] Sumber sebelumnya (8/204).
Penulis : Syaikh Abdul Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







