MASJID JAMI’ UMAWI DAMASKUS

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MASJID JAMI’ UMAWI DAMASKUS

Deskripsi dan Sejarah

Pengantar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Saya menulis pengantar edisi pertama di Damaskus tahun 1960, saat perpustakaan saya ada di hadapan saya dan kertas-kertas saya ada di tangan saya. Dan saya menulis pengantar ini di Mekkah Al-Mukarramah tahun 1989, ketika perpustakaan telah jauh dari saya, kertas-kertas telah hilang dari saya, dan laci yang saya simpan berita-berita tentang Masjid Umawi di dalamnya, saya tidak tahu lagi apa yang Allah perbuat dengannya, dan apa yang terjadi dengan kertas-kertas yang ada di dalamnya, dan saya tidak lagi mampu menggantinya. Dan dari mana saya bisa kembali kepada buku-buku yang telah saya baca, dan tahun-tahun panjang yang telah saya habiskan untuk melacak berita-berita Masjid Umawi dari halaman-halaman buku dan dari mulut para ulama, dan setiap kali saya menemukan berita saya salin dan sebutkan dari mana saya mengambilnya, atau dari siapa saya mendengarnya. Dan mungkin ini pelajaran yang datang kepada saya dari Allah, ketika saya lebih mengutamakan kepentingan saya daripada kepentingan kaum muslimin, dan saya pelit dengan apa yang telah saya temukan kepada orang-orang, dan saya takut mereka mengambil sumber-sumber yang telah saya kumpulkan dan tidak menisbatkannya kepada saya… Dan saya berharap dapat menjadikannya sebuah buku besar tentang Masjid Umawi, namun harapan itu sirna. Dan tidak tersisa kecuali ringkasan ini.

Saya memohon kepada Allah agar memberi manfaat dengannya, dan memberi pahala kepada penulisnya dan penerbitnya karenanya.

Mekkah Al-Mukarramah 3/5/1409 H 1/1/1989 M

Pengantar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Muhammad bin Abdullah, dan atas seluruh rasul Allah dan para nabi-Nya. Ya Allah, dari-Mu pertolongan, dan kepada-Mu kami bertawakal, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Setelah itu, sesungguhnya kebiasaan saya setiap kali kesulitan menumpuk pada saya, kekhawatiran menghimpit saya, dada saya sesak, dan hati saya menciut, adalah berjalan hingga saya menemukan masjid yang sepi, lalu saya memasukinya dan shalat dua rakaat, kemudian duduk, merasakan ketenangan masjid di sekeliling saya, dan keagungan Yang Maha Benar dari atas saya, hingga saya menemukan ketentraman dan keridaan, seolah-olah saya selamat dari lautan yang bergejolak menuju pulau yang aman, dan meninggalkan gurun yang membakar menuju oasis yang teduh, dan seolah-olah apa yang saya alami dari berbagai masalah, dan apa yang ada di dada saya dari berbagai kekhawatiran, semuanya telah hilang, ketika saya memasuki perlindungan Allah dan berada di rumah-Nya dan berlindung kepada-Nya dari manusia dan kejahatan mereka, dari diri saya dan keburukannya, dan dari setan dan bisikannya. Dan jika adat internasional menetapkan bahwa rumah-rumah duta besar negara-negara asing adalah bagian dari negara mereka meskipun berada di negeri orang lain, maka sesungguhnya rumah-rumah Allah adalah taman-taman dari taman surga, meskipun berada di dunia ini, maka barangsiapa memasukinya adalah tamu Allah, dan tetangga-Nya. Maka ia adalah pintu-pintu surga yang terbuka selamanya jika tertutup di hadapan orang-orang sengsara yang putus asa pintu-pintu bumi, dan ia adalah mercusuar petunjuk jika tersesat oleh orang-orang yang berjalan di jalan, dan jika di dunia ada kebaikan dan kejahatan, maka di sini ada kebaikan yang tidak ada kejahatan bersamanya, dan jika di dalamnya ada kebenaran dan kebatilan, maka di sini ada kebenaran yang tidak ada kebatilan di dalamnya. Dan dari sinilah keluar kalimat dari tenggorokan para muadzin, dan mulut para khatib dan pengajar, lalu berjalan di angkasa, dari atas kepala para raja dan pembesar, dan orang-orang kaya dan penguasa, semuanya tunduk kepadanya dan mendengarkannya, karena ia adalah kalimat Sang Pencipta, meskipun datang melalui lidah manusia dari makhluk.

Inilah benteng-benteng keimanan di hadapan ateisme.

Inilah benteng-benteng keutamaan, di hadapan kejahatan dan hawa nafsu.

Dan masjid adalah tempat ibadah dalam Islam, dan ia adalah parlemen, dan ia adalah sekolah, dan ia adalah perkumpulan, dan ia adalah pengadilan.

Ia adalah (tempat ibadah): kaum muslimin meninggalkan kedengkian, ambisi, kejahatan, dan kerusakan mereka di pintu, dan mereka masuk ke dalamnya dengan hati yang terbuka untuk keimanan, menengadah ke langit, berhias dengan kekhusyukan, kemudian mereka berdiri dalam satu barisan, sama di dalamnya yang besar dan yang kecil, dan penguasa dan yang hina, dan yang kaya dan yang miskin, kaki-kaki mereka rapat, bahu-bahu mereka berdempetan, dan dahi mereka semua di atas tanah, mereka sama dalam kehormatan penghambaan, dan dalam syariat ibadah.

Dan ia adalah (parlemen): tidak ada masalah yang menimpa kaum muslimin, dan tidak ada hal yang muncul bagi mereka, kecuali dipanggil: “Shalat berjemaah” maka berkumpullah para pemuda di masjid. Maka di masjid terjadi pemilihan khalifah, dan di dalamnya terjadi baiat, dan di dalamnya dibahas undang-undang, diambil dari syariat kemudian diumumkan di dalamnya kepada orang-orang.

Dan ia adalah (perkumpulan): jika seorang amir datang ke suatu negeri, yang pertama kali ia masuki dari negeri itu adalah masjid, di atas mimbarnya ia mengumumkan kebijakannya, dan menyiarkan programnya, dan jika ada perang, panji-panji diikatkan di masjid, dan tidak ada dalam Islam perang ofensif hanya untuk penaklukan dan penjajahan dan keuntungan, melainkan di dalamnya hanya ada perang defensif, perang membela akidah: agar tidak ada yang menghalangi jalannya, dan membela para pemeluknya: agar tidak ada yang menghalangi antara mereka dan melaksanakan kewajiban dakwah kepadanya. Sesungguhnya mereka ditugaskan membawa pelita yang dinyalakan dari gua Hira, untuk menerangi dengannya dunia, dan menghilangkan dengannya kegelapan dari penduduknya, maka jika ada yang menghadang mereka yang mencoba memadamkan pelita, dan yang ingin menghalangi cahaya Allah sampai kepada hamba-hamba-Nya, mereka memeranginya hingga ia kembali dan rujuk, maka jika ia kembali dan rujuk kepada kebenaran, ia menjadi salah satu dari mereka, baginya apa yang mereka miliki dan atasnya apa yang mereka tanggung, dan jika ia menolak kecuali keras kepala lalu berperang kemudian dikalahkan dalam urusannya, mereka tidak memaksanya untuk masuk Islam, dan tidak membebaninya secara berlebihan, dan tidak membebankan kepadanya kecuali pajak yang terbatas, yaitu biaya pertahanan yang mereka tanggung sendiri. Pajak yang menyerupai (denda militer), yang dibayarkan oleh yang dikalahkan dari harta mereka, dan kaum muslimin yang menang membayar pajak jihad dari nyawa mereka.

Dan masjid adalah (sekolah): dan di masjid-masjid diletakkan fondasi kebudayaan Islam, dan di dalamnya ditinggikan puncaknya, dan dibangun gedung-gedungnya. Dan diajarkan di masjid setiap ilmu yang bermanfaat bagi manusia: dari ilmu-ilmu Al-Quran, dan ilmu-ilmu Sunnah, dan ilmu-ilmu Syariat, dan ilmu-ilmu bahasa, dan ilmu-ilmu sunnatullah di alam semesta. Dan setiap ilmu yang dibutuhkan oleh umat Islam menjadi fardhu kifayah dalam pandangan Islam untuk mempelajarinya, bahkan kimia dan fisika dan matematika. Dan kita dapati setelah itu ada yang sampai pada tingkat kebodohan sehingga mencap dengan jumud (kejumudan) agama yang menjadikan mempelajari kimia sebagai kewajiban seperti kewajiban ibadah.

Dan masjid adalah (pengadilan): dan di atas permadani masjid dan di depan tiang-tiangnya dan pilar-pilarnya dikeluarkan keputusan yang paling adil dan paling berani, dan di dalamnya ditulis halaman-halaman paling mengagumkan dari peradilan manusia, dan berapa kali para hakim menyamakan tukang unta dan tukang angkut dengan amirul mukminin, dan buruh upahan dan orang miskin dengan penguasa besar, kemudian mereka memutuskan baginya atau melawannya, tidak peduli dengan kebenaran yang kecil atau yang besar.

Dan saya telah memperoleh kehormatan mengunjungi ribuan masjid, di berbagai penjuru negeri Islam yang dekat, yang makmur dan yang terbengkalai, maka saya melihat Masjidil Haram, dan masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Masjidil Aqsha, dan Al-Azhar yang makmur, dan masjid Abu Hanifah dan Al-Jailani di Baghdad, dan Ibnu Thulun dan Al-Mutawakkil di Kairo, Samarra, dan bekas masjid Kufah dan Bashrah, dan dua masjid agung: Masjid Jami’ di Delhi, dan bekas masjid Quwwatul Islam di Delhi lama, dan masjid-masjid Malaya dan Jawa, maka tidak saya lihat di dalamnya semua setelah tiga masjid yang Allah istimewakan dan jadikan shalat di dalamnya lebih utama dengan derajat-derajat, sebuah masjid yang lebih tua kedudukannya, dan lebih megah penampilannya, dan lebih indah bangunannya, dan lebih manis di mata pemandangannya, daripada Masjid Jami’ Umawi di Damaskus.

Ia adalah sekolah Damaskus, di berbagai halaqah dipelajari di dalamnya setiap ilmu, dan ia adalah perkumpulan yang berkumpul di dalamnya orang-orang setiap kali negeri ditimpa musibah, dan Masjid Umawi pada masa awal pertumbuhan kami adalah jantung Damaskus, maka rumah yang dekat adalah yang dekat dari Masjid Umawi, dan yang jauh adalah yang jauh dari Masjid Umawi, dan tanah yang mahal adalah yang berdekatan dengan Masjid Umawi, dan Masjid Umawi adalah tempat bermain kami saat kami kanak-kanak, kemudian ia adalah sekolah kedua kami saat kami pelajar, kami memasukinya jika kami pulang dari sekolah lalu kami shalat di dalamnya, dan kami berdiri di halaqah-halaqahnya, dan tidak pernah kosong waktu di dalamnya dari dua halaqah atau lebih, dan kami mengambil tempat duduk kami di sebagian darinya, kami mengambil fikih dan hadits dan bahasa dan nahwu, dan kami mendatanginya di sore-sore musim panas bersama ayah-ayah kami, kami menjadikan dari halamannya tempat bersantai dan keakraban, dan kami mendatanginya di malam-malam musim dingin kami menjadikan dari ruangannya tempat berlindung dan keamanan, dan Masjid Umawi adalah tempat berkumpulnya perjuangan nasional pada masa mandat, di dalamnya disampaikan pidato-pidato, dan di dalamnya disiapkan demonstrasi-demonstrasi, dan darinya mengalir roh perjuangan dalam diri orang-orang, maka ia untuk agama dan dunia, dan untuk ibadah dan ilmu, dan untuk segala sesuatu di dalamnya ada ridha Allah dan manfaat bagi manusia, dan demikianlah seharusnya masjid dalam Islam.

Dan yang paling banyak bertambah kunjungan saya kepadanya, dan terus terhubung tali saya dengannya, ketika saya di Madrasah Jaqmaqiyah, kemudian ketika saya setelah itu di Maktab Anbar, dan saya gemar sejak hari-hari Jaqmaqiyah (tahun 1919 M) untuk menyalin setiap berita yang saya temukan tentang Masjid Umawi, dan itu berlanjut lebih dari empat puluh tahun, dari hari-hari itu hingga sekarang, maka terkumpul bagi saya dari kertas-kertas dan catatan-catatan kecil dan memo-memo yang memenuhi laci besar. Dan saya setiap kali bertekad untuk menata-nya, dan mengeluarkannya dalam sebuah buku, urusan itu terasa berat bagi saya lalu saya takut padanya, dan saya telah mengumpulkan semua yang saya temukan tentangnya dalam Ibnu Asakir, dan “Ad-Daris”, dan “Mahasin Asy-Syam”, dan “Masalik Al-Abshar”, dan “Al-Bidayah wan-Nihayah”, dan “Ar-Raudhatain” dan tambahannya, dan “Syadzarat Adz-Dzahab”, dan “Mu’jam Al-Buldan”, dan “An-Nujum Az-Zahirah”, dan sejarah Ibnu Al-Qalanisi, dan “As-Suluk” karya Al-Maqrizi, dan buku-buku Ibnu Thulun, dan apa yang ditulis oleh Al-Qasimi dan Badran. Dan saya melihat beberapa risalah tulisan tangan, dan buku-buku lain yang tidak ingin saya hitung sekarang.

Dan saya setiap kali waktu berlalu, kertas-kertas ini bertambah banyak, dan saya bertambah takut terhadapnya, hingga jika tekad saya agak kuat, saya keluarkan rangkaian pembicaraan-pembicaraan yang pernah saya sampaikan dari radio Damaskus tentang Masjid Umawi dari beberapa tahun lalu kemudian saya tinggalkan, maka ketika Direktorat Jenderal Wakaf meminta kepada saya agar menulis sesuatu tentang Masjid Umawi, yang menjadi seperti panduan bagi wisatawan, saya keluarkan darinya ringkasan ini yang saya persembahkan hari ini, dan saya tidak menisbatkan setiap berita di dalamnya dengan mengandalkan bahwa saya akan mengeluarkan insya Allah buku besar tentang Masjid Umawi dan setiap berita di dalamnya dinisbatkan kepada sumbernya, dan karena saya telah mencoba dalam buku saya tentang Abu Bakar dan Umar untuk menyebutkan setiap sumber, dan menentukan edisi dari buku dan jilid dan halaman, lalu ada orang-orang dari (paling besar) penulis kami dan pengarang kami mengambil apa yang ada di keduanya dan tidak mereka isyaratkan kepada keduanya, dan mereka mengklaim bahwa mereka mengambil dari sumber-sumber asli yang saya ambil darinya.

Dan saya memohon kepada Allah taufik, dan agar menjadikan kami dari orang-orang yang ikhlas.

Damaskus: 4 Ramadhan 1379 H 1 Maret 1960 M

Ali Thanthawi

 

 

Kehidupan Jami’ Al-Umawi

Setiap yang ada jika kau telaah memiliki kehidupan: gunung-gunung dan sungai-sungai, kota-kota dan bangunan-bangunan, semuanya hidup, dilahirkan dan mati, tumbuh dan menua, sehat dan sakit.

Jami’ Al-Umawi yang akan saya paparkan kepada kalian garis-garis gambarannya dan ciri-ciri sejarahnya ini, memiliki kehidupan yang panjang, dan kehidupannya memiliki sejarah yang panjang.

Sejarah yang hanya sebagiannya saja yang diketahui oleh sejarah, karena Jami’ Al-Umawi lahir sebelum sejarah ditulis.

Kita tidak tahu dan tidak seorang pun tahu siapa yang meletakkan batu pertamanya, dan kapan ia dibangun, seolah-olah ia berdiri untuk menghubungkan azali dengan abadi.

Ia berjuang melawan api dan kehancuran, dan bertahan menghadapi masa dan zaman, ombak abad-abad pecah di dinding-dindingnya sebagaimana ombak pecah di batu karang pantai, kemudian surut darinya dalam keadaan mati sementara ia tetap hidup berdiri.

Bani Umayyah telah pergi dengan harta dan kekuasaannya, namun ia tetap tinggal sendirian mengabadikan nama Umayyah di dunia, maka ia lebih kekal dari semua yang diperoleh Bani Umayyah berupa harta dan kekuasaan.

Ia adalah tempat ibadah sejak lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, berganti-ganti dalam genggaman orang-orang Yunani dan Romawi serta kaum-kaum yang ada sebelum mereka, kemudian menjadi milik Al-Masih, kemudian berakhir menjadi milik Muhammad.

Gereja yang menjadi masjid… hadiah dari Pemimpin untuk Pemimpin. Shalawat Allah atas Nabi Isa alaihissalam dan atas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi yang syariatnya menghapus syariat-syariat sebelumnya dan atas setiap nabi yang diutus Allah dengan petunjuk dan tauhid serta agama yang lurus. Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya, kami beriman kepada setiap nabi yang diutus Allah sesuai dengan apa yang ia diutus untuk menyampaikannya, dan setiap kitab yang diturunkan Allah sesuai dengan apa yang ia diturunkan untuk mengajarkannya, dan kami berkata: “Semuanya dari sisi Tuhan kami dan kami berserah diri kepada-Nya.”

Masjid ini lahir pada malam penaklukan, ketika Allah memuliakan negeri Syam dan menghendaki kebaikan untuknya, maka ia bernaung di bawah panji Al-Quran, mengikuti penyeru Allah dan menempuh jalan yang mengantarkan insya Allah ke surga. Kemudian ia tumbuh dan dewasa, berkembang dan sempurna, pada masa Al-Walid, ketika Damaskus bermain-main dalam taman yang ditanam oleh Muhammad, dan menikmati dengan senang hati keamanan dan kemakmuran dalam naungan bangunan yang didirikan Muhammad shallallahu alaihi wasallam atas nama Muhammad, ketika malam-malam bagaikan pesta pernikahan, dan hari-hari penuh kegembiraan, dan dunia menari gembira dan berlenggak-lenggok karena kebahagiaan.

Di sanalah Jami’ Al-Umawi menempati kedudukan kerajaan di Damaskus, telah mengenakan mozaik, berhias dengan emas, berselimut tirai sutera berhias dan brokat, dan sombong terhadap setiap bangunan di muka bumi.

Kemudian zaman menunjukkan kepadanya dari manisnya dan pahitnya, dan dari kenikmatan apa yang dilihat oleh setiap makhluk yang hidup di alam semesta.

Dan saya tidak mampu memaparkan kepada kalian sejarah Jami’ Al-Umawi, hari demi hari, karena tangan-tangan selalu bergantian mengurusnya: tangan-tangan musibah dan pemberontak dengan kehancuran dan kerusakan, dan tangan-tangan para pembaharu dengan pembangunan dan perbaikan, hingga setiap jengkal darinya menjadi sejarah, dan menjadi seperti mozaiknya, setiap kepingnya memiliki sifat dan warnanya sendiri, dan setiap hari dari kehidupannya yang panjang memiliki kisah! Dan barangsiapa memiliki rumah yang ia tempati, dan ayahnya menempatinya sebelumnya selama lima puluh tahun, merawatnya dengan perbaikan dan pembaruan, tidak akan mampu menentukan sejarah setiap pintu di dalamnya dan setiap dinding, maka bagaimana dengan Jami’ Al-Umawi yang selama seribu tiga ratus tahun menjadi sasaran perbaikan dan pembaruan.

Jami’ Al-Umawi tetap dalam bentuk aslinya (yang akan kalian baca setelah beberapa halaman) atau mendekati itu selama sekitar empat ratus tahun, yaitu hingga tahun 461 Hijriah ketika kebakaran besar terjadi di dalamnya, yang menghapus ayat-ayat keindahannya, menghapus wajah kecantikannya, dan menjadikannya tumpukan-tumpukan tanah, dan tetap dalam keadaan itu selama empat belas tahun hingga tahun 475 Hijriah ketika diperbaharui atas perintah Malikshah As-Saljuqi.

Kemudian gempa bumi dan kebakaran-kebakaran terus menimpanya sebagaimana akan dijelaskan secara rinci, dan perbuatan manusia di halaman masjid tidak kurang dari perbuatan alam. Sesungguhnya kelalaian pernah menimpanya hingga ia menjadi seperti penginapan atau hotel, dan halamannya dipenuhi oleh para pengungsi dan penghuni, dan seseorang menemukan tempat untuk dirinya di dalamnya lalu meletakkan barang-barangnya dan peti miliknya, dan mendirikan serambi atau gubuk untuk dirinya, dan menetap di sana, dan jumlah serambi-serambi ini mencapai lebih dari tiga ratus, dan para pangeran menjadikannya gudang dan tempat penyimpanan, dan hal itu berlangsung selama waktu yang tidak diketahui lamanya hingga datang Al-Malik Azh-Zhahir, maka di antara awal perbaikannya adalah mengusir orang-orang tersebut, membersihkannya dan mencuci marmernya, melapisinya dan mengembalikannya menjadi masjid untuk ibadah dan ilmu. Dan orang-orang Tatar dan Mongol merusaknya dua kali, pertama pada akhir abad ketujuh Hijriah, ketika mereka menutupnya dan menjadikannya sebagai kemah militer mereka, dan memasang ketapel di dalamnya untuk menyerang benteng, dan melakukan berbagai jenis dosa dan kemaksiatan.

Dan kedua pada masa Timur Lenk yang berbuat buruk kepada Damaskus dengan keburukan yang tidak pernah dilakukan orang lain seperti itu.

Kemudian terjadi kebakaran terakhir pada tahun 1311 Hijriah yang menghanguskan seluruh masjid (yaitu ruang shalat), dan penduduk Syam membangunnya kembali. Dan pada bab-bab berikut ada beberapa rincian dari gambaran umum ini.

 

 

Perjalanan Di Jami’ Al-Umawi

Mari, pertama-tama, kita lihat seluruh masjid dengan satu pandangan, saya akan menjadi pemandu kalian, menggambarkannya untuk kalian secara ringkas dan singkat, kemudian saya akan kembali pada bab-bab berikut, merinci apa yang saya ringkas, dan memperpanjang uraian apa yang saya singkatkan.

Tembok Dan Lorong-Lorong:

Sekarang kita berada di Pintu Barid (Pintu Pos), apakah kalian melihat lengkungan ini dan tiang-tiang besar ini? Ini adalah sisa-sisa tiang-tiang tembok luar kuil, dan tulisan-tulisan yang tampak di atasnya adalah tulisan-tulisan baru dari masa Mamluk.

Adapun lengkungan-lengkungan tembok dalam, kalian melihat sisa-sisa pondasinya menempel di dinding pada kedua sisi pintu masjid. Dan setiap pintu dari empat pintu memiliki lorong, dan yang paling besar adalah lorong Pintu Timur, kemudian Pintu Barat (yaitu ini), kemudian Pintu Utara, dan jejak-jejak semua itu masih jelas, dan sisa-sisa tiang-tiang lorong timur dan tiang-tiang besarnya masih miring tertutup oleh toko-toko.

Dan lorong-lorong ini tetap ada hingga abad keenam, dan kalian melihat deskripsinya dalam apa yang ditulis oleh Ibnu Jubair dan kami tetapkan di akhir penelitian ini.

Pintu-Pintu Masuk Jami’ Al-Umawi:

Dan toko-toko ini yang merusak pemandangan masjid di pasar sempit dari sini, dan di Al-Qabaqibiyah dari sana, para pangeran dulu melarang yang serupa dengan itu karena menghormati Jami’ Al-Umawi, dan telah dikeluarkan perintah pada tahun 647 Hijriah untuk menghancurkan semuanya. Dan perhatian mereka terhadap pintu-pintu masuk Jami’ Al-Umawi dan sekitarnya seperti perhatian mereka terhadap masjid itu sendiri, pada tahun 610 Hijriah Al-Malik Al-Adil memerintahkan untuk menempatkan rantai-rantai pada hari-hari Jumat di jalan yang menuju ke masjid agar binatang tunggangan tidak sampai ke sana, seperti rantai yang terbentang sekarang di pintu masuk Pasar Al-Hamidiyah, di tempat Pintu An-Nashr yang merupakan salah satu pintu gerbang Damaskus.

Dan pada tahun 663 Hijriah jalan dari pintu masjid ke saluran air yang ada di tangga Al-Miskiyah dipaving. Tangga itu telah dihilangkan lebih dari lima puluh tahun yang lalu dan kita mengenalnya. Dan dibangun di sisi qiblinya kolam dan syadzirwan (syadzirwan artinya bagi mereka lidah dari bangunan yang mengalir air darinya atau semacam itu, dan masih digunakan dengan makna ini di Hijaz. Dan kata ini berasal dari bahasa Persia), dan saluran air yang ada di sana ditutup, dan dibuat untuk kolam pipa-pipa yang mengalirkan air ke sisi yang berhadapan, dan airnya ditarik dari sungai Qanawat agar orang-orang dapat memanfaatkannya ketika air sungai Nablus (Banias) terputus.

Dan pengurus masjid Syaikh Hamdi Al-Halabi memberitahu saya bahwa saluran air itu masih ada tetapi tertutup dan melewati bawah rumah khutbah.

Air Mancur (An-Nawfarah):

Dan termasuk perhatian mereka terhadap memperindah pintu-pintu masuk Jami’ Al-Umawi, didirikannya air mancur (an-nawfarah) di bawah tangga masjid di Pintu Jirun. Dan ia didirikan pada tahun 416 Hijriah dan air dialirkan kepadanya dari sungai Qanawat di luar Istana Hajjaj (dinisbatkan kepada Al-Hajjaj bin Al-Walid bin Abdul Malik), maka air sampai kepadanya pada malam Jumat 7 Rabiul Awal 417 Hijriah, dan yang mengurus pembuatannya adalah Qadhi Hamzah Al-Husaini pengurus masjid.

Dan ia roboh pada tahun 457 Hijriah karena unta yang menabraknya lalu dibangun kembali. Kemudian tiangnya dan yang di atasnya roboh dalam kebakaran Al-Labbadin (an-nawfarah) dan Pintu Jam pada tahun 516 Hijriah, dan itu adalah kebakaran yang dahsyat. Dan dibangun kembali.

Dan pada tahun 514 Hijriah didirikan syadzirwan di atasnya.

Dan pada tahun 607 Hijriah ia rusak lalu diperbaiki, dan syadzirwan serta kolam diperbaharui, dan masjid dibangun di depannya dan dibuat untuknya imam tetap.

Dan pada tahun 814 Hijriah syadzirwan air mancur dicat putih, dan air dialirkan kembali di dalamnya setelah terputus beberapa waktu.

Pintu-Pintu Jami’ Al-Umawi:

Dan masjid memiliki enam pintu:

Pintu ini yang kalian berdiri di atasnya sekarang yaitu Pintu Barid, dan ia sebagaimana kalian lihat tiga pintu, pintu besar di tengah, dan dua pintu di kedua sisinya, dan ia adalah pintu utama kedua dari kuil.

Adapun pintu utama pertama adalah Pintu Jirun yang berhadapan dengannya, dan dikenal setelah abad kelima dengan Pintu Jam dan Pintu Al-Labbadin, dan ia sama sepertinya dengan tiga pintu dan sekarang dinamakan Pintu An-Nawfarah, dan lengkungannya masih seperti dahulu sejak zaman dulu. Dan pintu kuil asli tetap ada yaitu dari kayu pinus yang sangat keras, dan telah dilapisi dengan tembaga, memiliki paku-paku besar yang menonjol hingga kebakaran pada tahun 753 Hijriah yang merusaknya dan api mempengaruhinya maka dipindahkan ke gudang hasil (yaitu ke tempat penyimpanan) kemudian hilang. Dan para sejarawan memperkirakan umur pintu ini ketika kebakaran lebih dari seribu tahun.

Kemudian pintu yang sekarang tertutup yaitu di belakang mihrab dan memiliki pintu besar di tengah dan dua kecil di kedua sisi dan Muawiyah serta para khalifah masuk dari yang tengah, maka ketika Al-Walid membangun dan menghilangkan gereja, para khalifah mulai masuk dari pintu yang lebih kecil di sebelah kiri mihrab.

Dan pintu qibli adalah yang dikenal dengan Pintu Az-Ziyadah, dan disebut Pintu Jam, kemudian nama ini berpindah ke Pintu Jirun karena jam-jam dipindahkan ke sana, dan sekarang dinamakan Pintu Al-Qawafin.

Dan Pintu An-Nathfaniyin yaitu Pintu Al-Faradis dan sekarang dinamakan Pintu Al-Imarah.

Dan pintu yang dibuat baru menuju madrasah Al-Kalasah.

Dan pada tahun 607 Hijriah Pintu Barid diperbaharui (yaitu ketiga pintunya) dan dipasang lembaran-lembaran tembaga kuning di atasnya. Dan Al-Malik Azh-Zhahir memperbarui­nya demikian pada tahun 673 Hijriah.

Dan pada tahun 719 Hijriah pintu-pintu dihiasi dan dipercantik. Dua pintu kecil dari Pintu Timur (Pintu Jirun) telah ditutup setelah peristiwa Timur Lenk, dan toko-toko dibangun di lapangan masjid lalu dihancurkan pada awal tahun 820 Hijriah, dan dua pintu kecil barat dipasang pada tahun 819 Hijriah, dan dua pintu timur pada tahun 820 Hijriah, dan lembaran-lembaran tembaga di pintu-pintu telah diperbaharui belum lama ini.

 

 

Melepas Alas Kaki:

Dan sekarang mari kita lepas alas kaki dan masuk.

Dan dulu masuk ke masjid-masjid pada awal Islam dengan alas kaki, karena tanah di Hijaz kering dan masjid-masjid tidak beralaskan karpet, dan demikian pula masuk ke halaman Jami’ Al-Umawi, sebagaimana tampak, dan pada bulan Rabi’ tahun 827 Hijriah pengawasan masjid didelegasikan kepada imamnya yang bermazhab Hanafi, yaitu seorang laki-laki Mesir yang disebut Taqiyuddin Al-Imadi, maka ia mewajibkan orang-orang agar tidak berjalan di halaman kecuali tanpa alas kaki, maka hal itu memberatkan mereka, tetapi ia bersikeras dan membuat di pintu-pintu pagar-pagar dan penghalang untuk melepas alas kaki dan hal itu tetap berlaku hingga Syawal tahun itu, kemudian Al-Imadi dipecat, dan orang-orang kembali kepada keadaan mereka semula.

Dan pada tahun 722 Hijriah ketika masjid diperbaharui setelah peristiwa Tatar, pengurus masjid Ibnu Al-Mirhil (yaitu Muhammad bin Umar Al-Utsmani) melarang masuk dengan alas kaki, atas perintah wakil Syam Tankiz. Dan pada bulan Syakban tahun 816 Hijriah diizinkan berjalan di dalamnya dengan alas kaki, kemudian hal itu dilarang pada suatu waktu, dan larangan itu terus berlaku hingga sekarang.

 

 

Di Halaman Masjid Umayyah

Kami memasuki masjid dari Pintu Barid, kami berada di antara dua pintu di sebelah kanan dan kiri. Mari kita masuk dari sebelah kiri. Aula besar ini yang dijadikan oleh Dinas Wakaf sebagai tempat penerimaan tamu adalah Masyhad Utsman.

Masyhad-masyhad adalah masjid-masjid kecil yang melekat pada masjid besar, setiap masyhad memiliki imam khusus.

Jika kita keluar dari sana, kita akan menemukan setelahnya sebuah pintu menuju ruangan yang luas, yang dahulu disebut Rumah Minyak Barat, dan dahulu (sebagaimana hingga hari ini) merupakan gudang untuk masjid.

Ketika kita berada di sudut serambi, kita menemukan bekas-bekas sebuah ruangan yang dahulu ada di sana, yaitu Sudut al-Ghazali karena beliau pernah tinggal di sana. Ruangan ini pada asalnya adalah dasar menara barat yang telah dihilangkan bersama menara timur yang berhadapan dengannya sebelum penaklukan Islam.

Pintu kecil yang terbuka di utara masjid ini adalah pintu Madrasah al-Kalasah yang didirikan oleh Nuruddin tahun 555 Hijriah, kemudian terbakar bersama Menara al-Arus tidak lama setelah pembuatannya. Lalu Salahuddin memperbaruinya bersama menaranya. Inilah menara utama hari ini, dan di sanalah adzan berjamaah yang dimulai pada masa-masa akhir. Hal itu karena menara ini menghadap ke halaman masjid, dan di dalamnya terdapat alat astronomi yang disebut al-Basith. Al-Basith yang ada di sana dibuat oleh Ibnu asy-Syathir, ketua muazin di masjid ini pada abad kedelapan, kemudian rusak oleh tangan kakek kami Syekh Muhammad ath-Thanthawi yang wafat tahun 1304 Hijriah. Maka dibuatlah al-Basith yang sekarang terpasang. Syekh al-Khani berkata dalam bukunya “al-Hadaiq”: bahwa alat ini lebih sempurna dari yang pertama karena ia menambahkan busur sisa waktu untuk Fajar.

Setelah menara itu ada Pintu al-Faradis, kemudian Khanqah (asalnya adalah khanah qah yang artinya rumah ibadah) as-Sumaisathiyah, yang dibangun oleh as-Sumaisathi yang wafat tahun 453 Hijriah. Dulunya adalah rumah Umar bin Abdul Aziz. Kemudian jendela-jendela Makam al-Kamiliyah tempat dimakamkannya Raja al-Kamil al-Ayyubi. Kemudian Masyhad Zainul Abidin yang hari ini dikenal dengan Masyhad Husain, di sebelah timur halaman. Di sana sekarang terdapat kuburan yang terkenal berisi kepala Husain. Di masjid yang bersebelahan dengan al-Azhar di Mesir terdapat kuburan lain untuk kepala Husain. Ibnu Taimiyah memiliki risalah tentang penentuan lokasi pemakaman kepala ini yang sudah dicetak dan dikenal, di dalamnya ia menyangkal bahwa kepala itu berada di Mesir. Kemudian ada Pintu Jairun.

Kubah-kubah:

Di halaman terdapat tiga kubah.

Pertama: Kubah Barat (Kubah Harta), didirikan oleh al-Fadhl bin Shalih bin Ali al-Abbasi (sepupu al-Manshur), ketika ia menjadi amir Damaskus tahun 171 Hijriah pada masa al-Mahdi. Tampaknya kubah ini tertutup, dan orang-orang mengira di dalamnya ada harta. Saya tidak menemukan berita tentang pembukaannya kecuali yang terjadi tahun 922 Hijriah ketika Sibai membukanya dan tidak menemukan apa pun di dalamnya kecuali kertas-kertas dan mushaf-mushaf dengan tulisan Kufi. Kubah ini dibuka kembali tahun 1306 Hijriah dan ditemukan di dalamnya mushaf-mushaf dan naskah-naskah kuno yang dipindahkan ke Istanbul.

Kedua: Kubah Timur, dibangun juga pada masa al-Mahdi tahun 160 Hijriah, dikenal dengan Kubah Zainul Abidin. Dahulu disebut Kubah Yazid, dan sekarang disebut Kubah Jam karena di dalamnya terdapat jam-jam masjid.

Ketiga: Kubah yang berada di atas kolam air. Dahulu terbuat dari marmer, didirikan tahun 369 Hijriah. Kubah ini memiliki pipa-pipa dari tembaga. Ada yang mengatakan dalam menggambarkannya:

Air mancur yang setiap kali memancar, hatiku terluka Airnya mengalir dengan napas-napas dan meluap Seolah-olah ia adalah Kakbah Agung, maka setiap pemuda Dari arah mana pun ia menghadap pipanya, ia ruku

Saya mendengar bahwa kubah ini telah dihilangkan sekarang.

Ubin:

Tanah halaman seluruhnya dahulu ditutupi dengan kepingan-kepingan mosaik, tidak ada ubin di dalamnya. Keadaan itu berlangsung hingga kebakaran tahun 461 Hijriah, semua mosaik itu hilang dan tanahnya menjadi lumpur di musim dingin dan debu di musim panas, terbengkalai. Keadaan seperti itu terus berlangsung hingga bulan Syakban tahun 602 Hijriah. Jembatan Romawi di dekat Pintu Timur kemudian dibongkar, batu-batunya disebarkan, dan dimulailah pemasangan ubin di halaman Masjid Umayyah pada masa Wazir Shafiuddin, wazir al-Adil. Pemasangan ubin selesai tahun 604 Hijriah. Hal itu terjadi ketika mereka ingin membuka jendela untuk Makam al-Kamiliyah yang baru dibangun menghadap ke masjid, mereka tidak mengizinkannya kecuali dengan syarat memasang ubin di halaman masjid.

Pada tahun 611 Hijriah, ubin lantai masjid dari dalam diperbaharui setelah menjadi lubang-lubang dan cekungan, dan selesai tahun 614 Hijriah. Gubernur Damaskus Mubarez ad-Din Ibrahim (yang wafat tahun 623 Hijriah) meletakkan ubin terakhir dengan tangannya sendiri, yaitu di dekat Pintu az-Ziyadah. Itu terjadi pada masa Raja al-Adil.

Raja adh-Dhahir telah melakukan banyak perbaikan di masjid, di antaranya ia memasang ubin di Pintu Barid sekitar tahun 670 Hijriah. Adapun ubin yang ada sekarang dipasang sekitar tahun 1300 Hijriah, pada masa pengawas Syekh Ahmad al-Halabi. Ubin ini rusak akibat jatuhnya tiang-tiang di atasnya saat pembangunan masjid setelah kebakaran terakhir.

Ketinggian tanah masjid hari ini lebih tinggi dari tanah pada masa al-Walid. Terungkap dari penggalian yang dilakukan oleh insinyur Wakaf tidak lama ini, di sekitar Kubah Harta, bahwa dasar-dasar tiang berada pada kedalaman tiga meter. Kubah ini dibangun pada masa al-Mahdi al-Abbasi. Syekh Abdul Qadir al-Ani, tetangga masjid, memberitahu saya bahwa ia melihat saat penggalian untuk pembaruan tembok, sepotong tanah masjid asli yang ditutupi dengan kepingan-kepingan berbentuk mosaik pada kedalaman dua setengah meter, tetapi kepingan-kepingan ini lebih besar dari kepingan mosaik di dinding. Bagian ubin tertua hari ini adalah yang berada di depan tiang keempat dari serambi barat, di dalamnya ada dua batu besar yang tampaknya berasal dari jembatan yang dibongkar untuk memasang ubin di masjid tahun 602 Hijriah.

 

 

Di Dalam Ruang Utama

Sekarang mari kita masuk ke ruang utama (haram). Pintu-pintu yang bersambungan ini yang menuju ke ruang utama, pada awalnya tidak memiliki daun pintu, tetapi hanya ditutupi dengan tirai hingga kebakaran tahun 461 Hijriah. Ketika kita masuk, kita menemukan di sebelah kiri Masyhad Abu Bakar, yang sekarang dikenal dengan Masyhad as-Safarjalani, kemudian pintu masuk Menara Timur, kemudian Mihrab Maliki. Ini adalah mihrab asli masjid sebelum dibangun oleh al-Walid, dan dahulu disebut Mihrab ash-Shahabah (Mihrab Para Sahabat). Mihrab besar didirikan saat pembangunan oleh al-Walid dan dijadikan untuk khatib.

Pada tahun 617 Hijriah, Mihrab Hanabilah dipasang di serambi ketiga barat (dekat sumur), yaitu di belakang barisan tiang ketiga. Sebagian orang menentang pemasangannya, tetapi Ruknuddin al-Muadhdhami membela kaum Hanabilah, dan al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi shalat di mihrab itu. Kemudian mihrab ini dipindahkan sekitar tahun 730 Hijriah, dan diganti dengan mihrab barat di dekat Pintu az-Ziyadah, yang masih ada hingga hari ini.

Mihrab Syafii yang ada sekarang dibuat tahun 728 Hijriah atas perintah Tankaz, dan dikhususkan untuk Hanafiyah. Maka mihrab-mihrab menjadi empat: Mihrab Khatib, Mihrab Hanafi (yang sekarang adalah Syafii), Maliki, dan Hanbali.

Sebelum tahun 694 Hijriah mereka shalat pada waktu yang sama, kemudian ditetapkan untuk Hanabilah untuk shalat sebelum imam besar. Pada tahun 819 Hijriah, imam pertama pindah dari Mihrab Malikiyah ke Mihrab Hanafiyah (yang sekarang adalah Syafii). Kemudian keadaan menetap bahwa yang pertama shalat adalah imam al-Kalasah, kemudian imam Masyhad Husain, kemudian Syafii, kemudian Maliki, kemudian Hanbali, kemudian imam Masyhad Abu Bakar, kemudian imam Masyhad Urwah, kemudian imam Masyhad Utsman. Kemudian hal itu dibatasi hanya pada empat imam masjid. Pelaksanaan hingga sekarang dengan urutan ini, yaitu Syafii kemudian Hanafi kemudian Maliki kemudian Hanbali.

Makam:

Adapun makam, Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa mereka melihat saat pembangunan masjid sebuah gua, lalu mereka memberitahu al-Walid. Ia turun ke gua itu dengan lilin-lilin di hadapannya dan menemukan sebuah gereja kecil, tiga hasta kali tiga hasta, di dalamnya ada peti yang berisi keranjang, di dalamnya ada kepala yang utuh kulitnya dan rambutnya, tertulis di atasnya bahwa itu adalah kepala Yahya bin Zakariya. Ia memerintahkan untuk membiarkannya sebagaimana adanya, dan membuat tanda pada tiang yang berdiri di atas gua untuk membedakannya. Keadaan itu berlangsung beberapa waktu, kemudian diletakkan di atasnya sebuah peti jenazah bertuliskan nama Yahya, yang dilihat dan digambarkan (sebagaimana akan datang) oleh Ibnu Jubair pada akhir abad keenam Hijriah. Keadaan itu terus berlangsung hingga waktu perjalanan Ibnu Bathuthah, kemudian kubah ini didirikan pada waktu yang belum saya temukan keterangannya hingga sekarang.

Al-Walid tidak membuat makam di atasnya, karena tidak terbukti baginya bahwa kepala itu adalah kepala Yahya, dan karena mendirikan makam di dalam masjid atau membangun masjid di atasnya dilarang dalam Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperingatkan dari hal itu dan melaknat pelakunya, dan itu adalah termasuk ucapan terakhir yang disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam sebelum wafat beliau.

Tidak boleh dijadikan dalil untuk diperbolehkannya menjadikan kuburan sebagai masjid dengan makam Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya makam beliau tidak berada di dalam masjid, melainkan di rumah beliau. Ketika rumah itu masuk ke dalam masjid saat perluasan, barulah makam itu berada di dalamnya. Para ulama Hanafiyah telah menegaskan bahwa termasuk adab ziarah ke makam Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah peziarah tidak menghadap ke makam, tetapi berdiri sejajar dengan kepala beliau yang mulia dan bershalawat kepada beliau serta berdoa untuknya, sementara ia menghadap kiblat. Padahal yang tetap dari sejarah Nabi Yahya bin Zakariya alaihimassalam, yang disebut oleh orang Kristen sebagai Yohanes Pembaptis, adalah bahwa ia hidup pada masa Nabi Isa alaihissalam, dan bahwa kaisar Romawi memerintahkan untuk membunuhnya dan menyerahkan kepalanya kepada penari yang keji itu, lalu ia mempermainkannya dan tidak diketahui kemana kepalanya pergi. Ia dibunuh di Yordania, sekitar enam ratus tahun sebelum pembangunan Masjid Umayyah. Dari mana kepala itu sampai ke gua ini? Dan bagaimana ia menempuh jarak di bumi ini, dan jarak dalam waktu ini, kemudian tetap utuh dalam keranjang ini?

Adapun penamaan gereja dengan Mar Yohanes tidak menunjukkan apa-apa, karena orang Kristen memiliki lebih dari dua puluh gereja, di setiap gereja terdapat makam Yahya alaihissalam. Selain itu, mereka memiliki lebih dari dua puluh orang suci bernama Mar Yohanes. Siapa yang mengatakan bahwa nama yang dimaksud di sini adalah Yohanes Pembaptis?

Dengan asumsi berita yang diriwayatkan Ibnu Asakir itu benar, itu hanya membuktikan bahwa mereka menemukan kepala yang bertuliskan nama Yahya, tidak diketahui siapa yang menulisnya dan kapan penulisannya. Kita tidak memiliki bukti apa pun bahwa makam ini adalah makam Yahya, dan kita juga tidak memiliki bukti untuk menyangkal bahwa di dalamnya terdapat kepala Yahya alaihissalam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui kebenaran keadaan ini.

Di belakang mihrab dan mimbar, terdapat pintu yang telah ditutup sejak lama, dan bagian atasnya sekarang tampak bagi yang melewati al-Qabaqibiyah, terlihat dari balik toko-toko.

Dahulu dihitung mimbar, maqshurah (ruang khusus) khotbah, kemudian Rumah Khotbah yang masih ada, kemudian Mihrab Syafii, kemudian Pintu az-Ziyadah, kemudian Mihrab Hanbali di tempat maqshurah yang disebut Maqshurah al-Khidhr, kemudian Aula Hanabilah, kemudian menara barat, kemudian Masyhad Urwah (atau Ibnu Urwah) di sisi kanan Pintu Barid untuk yang masuk.

Bangunan Masjid Umayyah

Membangun masjid adalah bagian dari petunjuk para nabi dan sunnah orang-orang beriman. Ibrahim dan putranya Ismail alaihimash shalatu wassalam membangun Ka’bah, Baitullah. Hal pertama yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah hijrah adalah membangun Masjid Madinah. Meskipun memakmurkan masjid dengan ibadah, ilmu, dan keimanan lebih diutamakan daripada menguatkan tiang-tiang, meninggikan dinding-dinding, dan memperbanyak hiasan serta warna-warna. Bahkan menghias masjid dan menambah pembangunannya melebihi batas keperluan adalah hal yang dibenci oleh Islam dan tidak disukai oleh para salafush shalih.

Mazhab Hanafi menyatakan bahwa menulis di dinding-dinding masjid, terutama di arah kiblat, tidak dianjurkan.

Pada awalnya, masjid ini adalah kuil penyembah berhala, kemudian diambil alih oleh orang-orang Nasrani dan dijadikan gereja. Ketika terjadi penaklukan Islam dan Khalid memasuki kota dengan paksa dari arah pintu timur, sementara Abu Ubaidah masuk secara damai dari arah pintu Jabiyah, disepakati bahwa gereja dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang berada di wilayah yang dicapai Abu Ubaidah secara damai tetap menjadi gereja, dan bagian yang ditaklukkan dengan paksa menjadi masjid. Ini adalah hukum perang yang berlaku, dan pihak pemenang berhak memiliki fasilitas umum di wilayah yang ditaklukkan dengan pedang. Dengan hukum yang sama, orang-orang Nasrani sebelumnya mengambil kuil penyembah berhala ini dan menjadikannya gereja. Masjid pada saat itu kurang dari setengah luas masjid sekarang (yaitu dari pintu Naufara sampai sebelum kubah), dan hanya memiliki satu mihrab yaitu mihrab Malikiyah sekarang.

Kondisi ini berlangsung sampai masa Walid. Orang-orang Nasrani beribadah lalu kaum Muslim mengumandangkan adzan yang mengganggu mereka, dan kaum Muslim salat lalu orang-orang Nasrani membunyikan lonceng. Masjid menjadi sempit bagi jemaahnya, dan Walid ingin menggabungkan gereja ke dalam masjid. Walid adalah penguasa mutlak atas kurang lebih dua puluh negara dari negara-negara saat ini, yaitu: Republik Arab Bersatu, Irak, Yordania, Palestina, Hijaz, Yaman, Turki, Libya, Tunisia, Maroko, Aljazair, Spanyol, Habasyah (Ethiopia), Iran, Afghanistan, dan republik-republik Armenia, Bukhara, Turkistan, serta sebagian Pakistan. Namun dengan kekuasaan ini, ia terikat oleh batasan Al-Quran. Al-Quran dan Sunnah mengharamkan kezaliman terhadap warga negara dzimmi, yaitu warga negara Kristen menurut istilah orang-orang sekarang, dan tidak boleh menyerang mereka selama mereka tidak melanggar perjanjian. Karena itu ia tidak bisa mengeluarkan perintah untuk mengambil gereja secara paksa. Ia memanggil pemimpin-pemimpin Nasrani dan menawarkan kepada mereka untuk memberikan sisa gereja dan membangun gereja yang lebih besar sebagai gantinya, tetapi mereka menolak. Kemudian ia menawarkan untuk membangun empat gereja bagi mereka dan memberikan sejumlah besar uang, tetapi mereka menolak dan berkata: “Kami berpegang pada perjanjian yang ada antara kami dan kalian.” Maka ia berkata kepada mereka: “Kalian telah melanggar perjanjian dan membangun gereja-gereja baru yang tidak disebutkan dalam perjanjian, maka aku akan menghancurkannya.”

Ia bertekad melakukan itu. Saudaranya Mughirah menemuinya dan mendapatinya sedang gelisah, lalu berkata: “Apa yang terjadi, wahai Amirul Mukminin?”

Ia menceritakannya. Mughirah berkata: “Keluarkan perjanjiannya agar aku melihatnya.” Ia mengeluarkannya dan memeriksanya, ternyata bagian yang ditaklukkan dengan paksa membentang sampai akhir gereja, sehingga seluruhnya menjadi hak kaum Muslim. Maka dibentuklah panitia bersama (Islam dan Nasrani) yang melakukan pengukuran, dan dari pengukuran itu terbukti bahwa seluruh gereja adalah hak kaum Muslim dan masuk ke dalam masjid. Mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah memberikan kepada kami empat gereja dan menawarkan sejumlah uang, jika engkau berkenan memberikannya kepada kami.” Awalnya ia menolak, kemudian memberikan kepada mereka empat gereja tersebut dan membangun bagi mereka Gereja Mar Yuhana yang besar. Artinya, negara Islam pada masa kejayaannya membangun gereja-gereja bagi orang-orang Nasrani dari hartanya sendiri, namun penjajah kemudian berdalih dengan ketakutan terhadap nasib orang-orang Nasrani di negeri-negeri kita dari pemerintahan Islam!

Mereka berkata: “Siapa yang menghancurkan gereja akan menjadi gila.” Walid mengambil beliung dan berkata: “Aku ingin menjadi gila di jalan Allah,” lalu memukulkannya dan orang-orang mengikutinya. Kemudian mereka memanggil orang-orang Yahudi untuk menyelesaikan penghancurannya. Yang tersisa dari gereja di masjid hanyalah dinding-dinding dan fondasi dua menara bagian depan. Penulis “Mu’jam al-Buldan” meriwayatkan bahwa ia membongkar tembok-tembok dan membangunnya kembali di atas fondasi baru yang digali sampai mencapai air.

Kaisar Konstantinopel mendengar hal itu dan ingin mengalihkan perhatiannya dari pembangunan masjid. Ia menulis kepadanya: “Jika menghancurkan gereja itu benar dan baik, namun ayahmu tidak melakukannya, maka itu adalah aib bagimu.” Ketika surat itu sampai kepada Walid, ia duduk memikirkan jawabannya. Faradzaq, seorang penyair, menemuinya dan berkata kepadanya: “Jawabannya sudah ada, yaitu firman Allah Ta’ala: ‘Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hal itu, dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.’” (Surat Al-Anbiya: 79)

Ia mengumpulkan para pekerja dari setiap tempat dan ingin mendirikan atap di atas tiang-tiang (pilar). Seorang pembangun dari Syam menyarankan kepadanya untuk memendekkan tiang-tiang dan menghubungkan sebagian dengan lengkungan-lengkungan, kemudian menempatkan tiang-tiang kecil di atasnya dengan lengkungan yang menopang atap. Hal itu dilakukan dan bertahan hingga hari ini.

Arsitektur Masjid Umayyah

Arsitekturnya inovatif, diakui oleh semua yang melihatnya dari masa lampau dan modern, baik Muslim maupun non-Muslim.

Contohnya, ketika Mahdi datang ke Syam dalam perjalanannya ke Baitul Maqdis, ia memasuki Masjid Damaskus bersama sekretarisnya Abu Ubaidullah al-Asy’ari. Ia berkata kepadanya: “Wahai Abu Ubaidullah, Bani Umayyah telah mendahului kita dengan tiga hal.”

Ia bertanya: “Apa saja itu, wahai Amirul Mukminin?”

Ia berkata: “Bangunan ini (maksudnya masjid), kemuliaan maula mereka, karena mereka memiliki maula yang tidak ada bandingannya bagi kita, dan Umar bin Abdul Aziz yang tidak akan pernah ada yang sepertinya di antara kita.”

Ketika sampai ke Baitul Maqdis dan melihat Kubah Shakhrah, ia berkata: “Wahai Abu Ubaidullah, dan ini yang keempat.”

Ketika Ma’mun memasuki Masjid Damaskus bersama Mu’tashim dan Yahya bin Aktsam, ia berkata kepada mereka:

“Apa yang paling menakjubkan di masjid ini?”

Mu’tashim berkata: “Emasnya dan ketahanannya, karena kita memasangnya di istana-istana kita tetapi tidak sampai dua puluh tahun sudah berubah.”

Ia berkata: “Bukan itu yang menakjubkan bagiku.”

Yahya berkata: “Susunan marmernya, karena aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.”

Ia berkata: “Bukan itu yang menakjubkan bagiku.”

Mereka bertanya: “Lalu apa yang menakjubkanmu?”

Ia berkata: “Bangunannya yang tidak mencontoh model sebelumnya.”

Salah seorang penulis menggambarkannya, ketika ia datang ke Damaskus tahun 432 H, sebagai keajaiban zaman dan fenomena langka, dan bahwa Bani Umayyah meninggalkan kenangan dengannya yang tidak akan terputus. Teman kami Dr. Shalah al-Munjid berkata bahwa para orientalis yang mengenal peninggalan sejarah mengakui bahwa perencanaan dan arsitektur masjid adalah sesuatu yang inovatif, tidak menyerupai arsitektur gereja-gereja Bizantium, dan banyak darinya keluar dari cara arsitektur Suriah Nasrani yang diwariskan.

Pembangunan Kubah

Ketika rangka bangunan didirikan, Walid berusaha meninggikan kubah dan menginginkannya tinggi menjulang. Ketika selesai, kubah itu runtuh. Hal itu menyedihkan Walid. Datanglah seorang pembangun dari Syam dan berkata: “Aku akan meninggikannya dengan syarat.” Ia bertanya: “Apa syaratnya?” Ia berkata: “Engkau memberikan jaminan kepada Allah bahwa tidak ada yang selain aku yang mengulurkan tangan untuk membangunnya.” Ia berkata: “Itu untukmu.”

Ia menggali sampai mencapai air, kemudian meletakkan fondasi dan menutupinya dengan tikar, lalu menghilang. Mereka mencarinya selama satu tahun penuh tetapi tidak menemukannya. Setelah setahun ia datang. Walid bertanya kepadanya: “Apa yang mendorongmu melakukan itu?” Ia berkata: “Keluarlah bersamaku agar aku tunjukkan.” Ia keluar bersama orang-orang, lalu membuka tikar dan menemukan bangunan telah turun dan mengendap sedikit. Ia berkata: “Dari sinilah penyebab keruntuhannya. Bangunlah sekarang, maka insya Allah tidak akan runtuh.” Ia membangun dan kubah pun kokoh.

Hadiah dari Wanita Yahudi

Ia bertekad melapisi kubah dengan emas, tetapi orang-orang bijak melarangnya dan menunjukkan bahwa hal itu akan menghabiskan perbendaharaan dan tidak bermanfaat apa-apa. Maka ia memerintahkan agar kubah dilapisi dengan timah. Timah dikumpulkan dari setiap tempat, tetapi masih ada bagian atap yang tidak menemukan timah kecuali pada seorang wanita yang menolak menjualnya kecuali dengan berat emasnya. Petugas menulis hal itu kepada Walid, dan ia berkata: “Belilah darinya dengan berat emasnya.” Ketika ia mengatakan itu kepadanya, wanita itu berkata: “Ini hadiah dariku untuk masjid.” Ia bertanya: “Mengapa engkau pelit dengannya kecuali dengan berat emasnya, lalu sekarang memberikannya sebagai hadiah?” Ia berkata: “Aku tidak menginginkan emas tetapi aku ingin menguji keadilan Islam.” Mereka berkata: “Ia adalah wanita Yahudi.” Maka ditulis di lembaran-lembarannya kata “Allah.”

Serambi dan Mozaik

Masjid selesai dengan halaman terbuka, dikelilingi tiga baris tiang dari barat, utara, dan timur, serta ruang salat beratap di tengahnya dengan serambi tinggi dari utara ke selatan yang dimahkotai Kubah Nusur (Kubah Elang), dan tiga serambi dari timur ke barat yang disebut balat (koridor). Semuanya dari marmer. Di pintu-pintu ruang salat dan sepertiga bawah dindingnya digantung tirai ganda, seperti yang ada di rumah orang-orang kaya pada masa itu, tetapi dari sutra dan kain berhias. Sisa dinding dan dinding halaman ditutupi dengan mozaik. Mozaik (kata Yunani asalnya psephosis) adalah kepingan-kepingan kecil yang terbuat dari kaca, batu, marmer, dan kerang, dengan berbagai warna dan bentuk. Ada yang segitiga, persegi, bulat, dan persegi panjang, disusun di atas lapisan gipsum berperekat atau sejenisnya. Kadang-kadang kepingannya dibuat dari bahan-bahan berbeda yang dicampur dan dimasak dengan cara yang sudah dikenal. Kadang dihiasi dengan emas dan ditutupi lapisan kaca atau sejenisnya. Kementerian Wakaf Syam berhasil membuat yang serupa pada masa ini. Lantai masjid, dinding, dan langit-langitnya ditutupi dengan kepingan berlapis emas ini yang menggambarkan negeri-negeri dunia (sebagaimana dikatakan para sejarawan). Seseorang yang menginginkan suatu wilayah akan menemukannya di masjid, tergambar seperti bentuk aslinya, sehingga ia melihatnya tanpa harus bersusah payah bepergian ke sana. Tergambar juga setiap pohon, yang berbuah dan tidak berbuah, Makkah dan Ka’bah di atas mihrab, dan di sampingnya gambar pohon anggur. Mereka menghitung biaya yang dikeluarkan untuknya dan dikatakan mencapai tujuh puluh ribu dinar. Wallahu a’lam.

Dari kisah Ma’mun (yang telah disebutkan sebelumnya) tampak bahwa ukiran-ukiran ini tetap dalam keindahan dan hiasannya sampai masanya.

Dalam kisah Abu Laits yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir disebutkan bahwa ukiran-ukiran itu bertahan sampai tahun 432 H, bahkan bertahan dalam kondisi aslinya sampai kebakaran tahun 461 sebagaimana dinukil Ibnu Katsir.

Pelita-Pelita

Di masjid digantung pelita-pelita kristal dengan rantai berlapis emas, dan di dalamnya diisi minyak wangi musk. Orang-orang ketika pelita dimatikan memegang hidung mereka karena aroma musk. Di sana ada lampu gantung berharga langka bernama “al-Qalilah” yang bertahan sampai masa Amin. Ia menyukai kristal, maka ia menulis kepada gubernur Damaskus untuk mengirimkannya kepadanya. Ketika ia terbunuh, Ma’mun mengembalikannya ke tempatnya. Lampu itu berada di Mihrab Shahabat (Mihrab Maliki sekarang), kemudian hilang dan diganti dengan kendi dari kaca, lalu pecah dan tidak diganti dengan apapun.

Biaya Pembangunan

Orang-orang terkejut dengan pengeluaran Walid untuk masjid dan membicarakannya. Rakyat memiliki pengawasan efektif terhadap khalifah, meskipun saat itu belum ada surat kabar atau parlemen. Pengawalnya datang dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang membicarakan bahwa engkau mengeluarkan harta untuk hal yang tidak tepat.” Ia berseru: “Ash-shalatu jami’ah” (salat berkumpul). Seruan ini seperti panggilan rakyat untuk rapat umum dadakan. Mereka berkumpul di masjid. Ia berkata kepada mereka: “Pengawalku melaporkan kepadaku bahwa kalian berkata: Walid mengeluarkan harta untuk hal yang tidak tepat. Hai Umar bin Muhajir (bendahara), berdirilah dan hadirkan harta yang ada di Baitul Mal.” Bagal-bagal masuk membawa harta dan menuangkannya di atas hamparan, sampai orang yang berada di sisi utara tidak bisa melihat orang yang berada di sisi kiblat. Ia berkata: “Timbangan!” Timbangan dibawa, harta ditimbang dan dihitung, ternyata di Baitul Mal terdapat simpanan yang cukup untuk membiayai negara selama bertahun-tahun.

Lembaran Sejarah

Sejarah masjid ditulis pada lembaran-lembaran berlapis emas yang berisi:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Surat Al-Baqarah: 255)

Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kami tidak menyembah selain Dia. Rabb kami adalah Allah Yang Maha Esa, agama kami adalah Islam, dan nabi kami adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Memerintahkan pembangunan masjid ini dan penghancuran gereja yang ada di dalamnya adalah Abdullah al-Walid Amirul Mukminin pada bulan Dzulqa’dah tahun delapan puluh enam.”

 

 

Orang-Orang Nasrani dan Masjid Umayyah

Ketika masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, orang-orang Nasrani melihat keadilannya, kepemimpinannya, dan putusannya yang mengembalikan kota Samarkand kepada penduduknya ketika mereka membawa bukti bahwa kota itu ditaklukkan dengan pengkhianatan. Mereka berharap mendapatkan kembali gereja, mengajukan gugatan kepadanya, dan menunjukkan perjanjian yang mensyaratkan bagi mereka agar gereja-gereja mereka tidak dihancurkan atau ditempati. Ia berbicara dengan mereka dan berusaha memuaskan mereka serta memberikan kepada mereka seratus ribu dinar, yaitu sekitar dua juta dirham. Mereka menolak. Ia memerintahkan agar gereja dikembalikan kepada mereka dan menugaskan Muhammad bin Suwaid al-Qahri dengan tugas ini. Muhammad dan orang-orang menganggapnya hal besar, dan berkata: “Bagaimana engkau menyerahkan masjid kami kepada mereka setelah kami salat di dalamnya dan membaca (Al-Quran) di dalamnya, lalu dihancurkan dan dikembalikan menjadi gereja?”

Salah seorang dari mereka berkata: “Ajukan gugatan (balasan) kepada Amirul Mukminin, bahwa kami berpegang pada perjanjian, dan perjanjian melindungi gereja-gereja mereka yang ada saat penaklukan, tetapi melarang mereka membangun yang lain. Mereka telah membangun tujuh gereja setelah penaklukan yang bukan hak mereka, dan menurut perjanjian mereka harus menghancurkannya. Jika mereka mau, kami memberikan gereja yang menjadi masjid, dan menghancurkan semua gereja yang mereka bangun. Jika mereka mau, kami biarkan setiap gereja yang mereka bangun, dan kami buat lampiran perjanjian yang mengakui hak mereka.” Mereka meminta waktu, kemudian menyetujuinya, dan mencabut gugatan mereka.

Umar dan Hiasan-Hiasan Masjid Umayyah:

Kemudian Umar memandang kepada hiasan dan ornamen-ornamen ini, lalu ia bertekad untuk menghilangkannya, karena semua itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun masjid-masjid. Islam tidak menyukai penghiasan masjid dan pemborosan dalam pembangunannya, agar tidak menyibukkan para jamaah yang sedang shalat dengan keindahan bangunannya sehingga melalaikan mereka dari memperhatikan Tuhan mereka dan kekhusyukan menghadap kepada-Nya. Segala yang kita lihat sekarang di masjid-masjid berupa ornamen, seni, ukiran, ketinggian bangunan, dan berlebihan dalam permadani, semua itu adalah hal-hal yang tidak disukai dan dibenci oleh Islam, sebagaimana Islam juga membenci pendirian kubur-kubur di dalamnya dan penulisan di dinding-dindingnya.

Kemudian Umar bin Abdul Aziz berkata: Sungguh aku telah berniat untuk mencabut mozaik dan marmer itu, menggantinya dengan batu bata, melepas rantai-rantai itu dan menggantinya dengan tali, serta melepas tirai-tirai lalu menjual semuanya dan memasukkan hasilnya ke Baitul Mal. Berita itu sampai kepada penduduk Damaskus, dan hal itu sangat memberatkan mereka. Maka keluarlah para pembesar mereka kepadanya, dan di antara mereka ada seorang laki-laki bernama Khalid. Ia berkata: Izinkanlah aku untuk menjadi juru bicara. Mereka pun mengizinkannya. Ketika mereka tiba di Dair Sam’an, mereka meminta izin kepada Umar, lalu ia mengizinkan mereka. Ketika mereka masuk dan memberi salam kepadanya, Khalid berkata: Wahai Amirul Mukminin, telah sampai kepada kami bahwa engkau berniat melakukan ini dan itu terhadap masjid kami. Ia menjawab kepada mereka: Aku melihat harta yang dibelanjakan tidak pada tempatnya, dan aku akan mengambil kembali apa yang bisa kuambil lalu menyimpannya di Baitul Mal. Khalid berkata kepadanya: Demi Allah, itu bukan hakmu wahai Amirul Mukminin. Umar berkata kepadanya: Lalu milik siapa? Milik ibumu yang kafir? Umar pun marah, padahal ibu Khalid beragama Nasrani. Khalid berkata kepadanya: Jika ia seorang kafir, maka ia telah melahirkan seorang mukmin. Umar pun merasa malu dan berkata: Engkau benar. Kemudian berkata: Apa maksud perkataanmu bahwa itu bukan hakku? Khalid menjawab: Karena kami, penduduk Syam, dan saudara-saudara kami dari penduduk Mesir serta saudara-saudara kami dari penduduk Irak, berperang dan diwajibkan kepada setiap orang di antara kami untuk membawa dari tanah Romawi sebagian mozaik dan marmer berukuran satu hasta kali satu hasta. Maka penduduk Irak dan penduduk Aleppo membawanya ke Aleppo lalu menyewa orang untuk membawanya ke Damaskus, penduduk Homs membawanya ke Homs lalu menyewa orang untuk membawanya ke Damaskus, dan penduduk Damaskus serta yang di belakang mereka membawa bagian mereka ke Damaskus. Itulah maksud perkataanku bahwa itu bukan hakmu. Umar pun terdiam.

Kemudian datanglah surat dari Yazid bin Ma’mar yang mengabarkan bahwa sebuah kapal tiba kepadanya dari Romawi dengan membawa sepuluh orang Romawi, dipimpin oleh seorang dari mereka, yang hendak menghadap Amirul Mukminin. Maka ia menulis kepadanya: Arahkan mereka kepadaku, dan kirimkan bersama mereka sepuluh orang Muslim, pimpin mereka dengan seorang dari mereka yang pandai berbicara dalam bahasa Romawi, tetapi jangan biarkan mereka tahu bahwa kalian mengerti bahasa mereka. Hal itu agar mereka dapat mendengar pembicaraan mereka. Maka ia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Mereka pun berjalan hingga tiba di Damaskus dan turun di luar Bab al-Barid. Orang-orang Romawi itu meminta pemimpin rombongan sepuluh Muslim untuk meminta izin kepada wali agar mereka dapat memasuki masjid. Izin pun diberikan kepada mereka. Mereka melewati halaman hingga masuk dari pintu yang menghadap kubah. Yang pertama kali mereka hadapi adalah mimbar, kemudian mereka mengangkat kepala mereka ke kubah, lalu pemimpin mereka terjatuh pingsan. Ia dibawa ke tempat tinggalnya dan tinggal sekian waktu yang Allah kehendaki, kemudian ia sadar. Mereka bertanya kepadanya dalam bahasa Romawi: Apa yang terjadi padamu? Kami mengenalmu sejak dari Romawi dan tidak kami lihat sesuatu yang aneh darimu, engkau menemani kami dalam perjalanan kami dan kami tidak melihat yang aneh darimu, lalu apa yang terjadi padamu ketika memasuki masjid ini? Ia menjawab: Sungguh kami, penduduk Romawi, berbincang bahwa keberadaan orang Arab hanya sebentar. Namun ketika aku melihat apa yang mereka bangun, aku tahu bahwa mereka memiliki masa yang akan mereka jalani, maka itulah yang menimpaku. Ketika mereka menghadap Umar, mereka mengabarkan kepadanya apa yang mereka dengar darinya. Umar berkata: Aku tidak melihat Masjid Damaskus kecuali sebagai kemarahan terhadap orang-orang kafir. Maka ia pun membatalkan apa yang telah ia niatkan terhadap masjid tersebut.

 

 

Fase-Fase dan Peristiwa-Peristiwa Masjid Umayyah

Masjid ini telah mengalami berbagai peristiwa besar, yang tidak dapat saya uraikan secara menyeluruh dalam tulisan singkat ini. Saya hanya menyajikannya secara sekilas, dan janji kita adalah dengan rincian lengkapnya dalam buku besar saya tentang masjid Jami’, jika Allah memberikan taufik dan mengizinkan penyempurnaannya.

Kebakaran dan Gempa Bumi:

Di antara peristiwa terbesar yang menimpanya adalah kebakaran. Masjid ini tetap utuh, dengan seluruh dinding dan langit-langitnya tertutup oleh mozaik emas, ukirannya tampak jelas, dan tirainya tergantung, hingga tahun 461 H, ketika negara terpecah menjadi dua negara dan khilafah menjadi dua khilafah. Bani Ubaid mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Fatimah radhiyallahu ‘anha, dan mendirikan pemerintahan atas namanya dengan mazhab yang berbeda dari mazhab mayoritas kaum muslimin, serta melakukan berbagai kemungkaran dan bid’ah. Perselisihan telah memuncak di Damaskus antara pengikut Abbasiyah dan pengikut Fatimiyah, hingga terjadi tasungan pedang dan pertumpahan darah, serta saling lempar api. Api mengenai Dar al-Imarah yaitu Dar al-Khadhra (yang kini tidak tersisa darinya kecuali sebuah tempat pencelupan kecil di gang sempit bernama al-Mashbagha al-Khadhra). Dar tersebut terbakar dan api menjalar ke masjid, memakan masjid habis-habisan, menghapus keindahannya, dan melenyapkan semua yang ada di dalamnya, sehingga tidak tersisa kecuali empat dinding. Lantainya yang dulunya bermozaik yang memukau pikiran berubah menjadi timbunan tanah, berlumpur di musim dingin dan berdebu di musim panas. Kepingan-kepingan mozaik dikumpulkan dan disimpan di masyahid (tempat ziarah), hingga dikeluarkan oleh pengurus masjid Qadhi Syahrazuri di masa Sultan Nuruddin. Masjid tetap rusak selama empat belas tahun hingga pembangunan kembali atap dan kubah diperbaharui di masa Malikshah Saljuqi oleh tangan Wazir Nizham al-Mulk (pendiri Madrasah Nizhamiyah). Adapun halaman, ia tetap berupa tanah dan lumpur hingga dipasang ubin di masa al-Malik al-Adil setelah tahun 600 H, sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang ubin masjid.

Pada tahun 562 H terjadi kebakaran di kawasan al-Labbadin (al-Naufarah), api menjalar ke Masjid Umayyah dan membakar sebagian darinya dari arah Bab Jirun.

Pada tahun 570 H terjadi kebakaran sebagian lainnya, ketika Madrasah al-Kallasah terbakar dan api meluas ke menara al-Arus hingga terbakar.

Pada tahun 646 H terbakar tangga-tangga menara timur dan rumah-rumah yang ada di bawahnya sehingga runtuh.

Pada tahun 681 H terjadi kebakaran sebagian lainnya, ketika Suq al-Labbadin dan Suq Jirun terbakar, api menjalar ke dinding masjid dan mencapai sebagian dari atap.

Pada tahun 740 H terjadi kebakaran besar di Damaskus, api memakan pasar-pasar seluruhnya dan terjadi kerugian besar dalam harta benda. Api mencapai masjid dan membakar menara timur serta sebagian dari sisi timur.

Masjid mengalami dua kebakaran sebagian pada tahun 1064 H dan tahun 1131 H.

Kebakaran kedua yang meliputi seluruh masjid adalah kebakaran terakhir pada tahun 1311 H dan akan dibahas kemudian.

Adapun gempa bumi yang berturut-turut menimpa masjid di antaranya:

Gempa tahun 131 H yang menyebabkan atap masjid retak sepanjangnya.

Pada tahun 233 H terjadi gempa bumi dahsyat yang meruntuhkan menara sehingga batu-batunya berjatuhan ke masjid dan merusak seperempatnya, menumpuk di dalamnya seperti gunung.

Pada tahun 552 H terjadi gempa besar yang meruntuhkan banyak mozaik yang masih tersisa.

Pada tahun 597 H terjadi gempa paling dahsyat terhadap Masjid Umayyah, karena meruntuhkan sebagian dari menara timur dan membuat kubah al-Nasr retak, dan dikatakan bahwa kubah itu kemudian jatuh menimpa orang-orang.

Gempa tahun 702 H yang menyebabkan sebagian dinding masjid retak.

Gempa tahun 1173 H yang menyebabkan kubah Aisyah jatuh dan sebagian masjid rusak.

Perbaikan-Perbaikan di Masjid Umayyah:

Adapun perbaikan-perbaikan besar di dalamnya di antaranya:

Pembangunan kembali dinding utara pada tahun 503 H, di masa al-Mustazhhir al-Abbasi atas perintah wali Tughtikin.

Pada tahun 827 H marmer dicabut dari dinding kiblat dari sisi barat, ditemukan ada kerusakan, maka Tankiz sendiri datang bersama para qadhi dan ahli teknik dan diputuskan untuk merobohkan dan memperbaikinya. Ia meminta izin kepada Sultan dan diizinkan, lalu ia membangunnya kembali dan mengerahkan orang-orang, mereka pun dengan sukarela bekerja dan mengambil batu-batu yang mereka temukan di dasar menara barat yang telah dihancurkan di dekat al-Ghazaliyah. Pembangunan selesai dalam waktu kurang dari enam bulan. Pada tahun 729 H selesai perbaikan dinding kiblat.

Pada tahun 730 H diperbaiki sisi timur hingga sama seperti sisi barat.

Kubah:

Kubah al-Nasr diperbaharui pada tahun 475 H dan atap maqshurah, jendela-jendela, dan empat sudut pada masa Nizham al-Mulk, wazir Malikshah Saljuqi. Pada tahun 575 H Shalahuddin memperbaharui dua sudut dari kubah.

Pada bulan Syawal tahun 602 H diperbaiki beberapa tiang kubah dari sisi utara.

Pada tahun 611 H kubah al-Nasr disangga dengan empat tiang kayu, panjang masing-masing 32 hasta dengan hasta pekerja, didatangkan dari kebun-kebun Ghutah.

Pada tahun 678 H diperbaharui empat tiang di kubah al-Nasr dari sisi barat. Adapun kubah yang berdiri sekarang bersama seluruh mihrab adalah dari bangunan penduduk Syam setelah kebakaran terakhir, sebagaimana akan dijelaskan.

Menara-Menara:

Adapun menara-menara, dulunya di empat sudut sebelum menjadi masjid ada empat menara, kemudian dua menara utara runtuh sejak zaman dahulu dan tidak diperbaharui, hanya tersisa fondasinya. Batu-batu fondasi menara barat laut diambil untuk membangun dinding kiblat pada tahun 728 H. Ketika al-Walid membangun masjid, ia meninggikan dua menara depan (barat dan timur) dan membangun menara di tengah dinding utara, yaitu menara al-Arus, dan menjadikannya berlapis emas semuanya dari atas hingga bawah. Menara utara (al-Arus) terbakar dalam kebakaran Madrasah al-Kallasah pada bulan Muharram tahun 570 H, lalu Sultan Shalahuddin memperbaharuinya. Pada tahun 646 H bagian atas menara timur dan tangganya serta kamar-kamar di bawahnya terbakar dan runtuh, kemudian dikembalikan oleh al-Malik al-Shalih al-Ayyubi.

Di bagian bawah menara timur ada tempat bersuci dan dua kamar. Adapun menara barat, di bawahnya ada ruangan tanpa air yang diperbaharui oleh Sultan Qaitbay yang wafat tahun 901 H setelah kehancurannya dalam perang Timur Lenk. Hari pertama adzan dikumandangkan di sana setelah tidak difungsikan dan diperbaharui adalah tanggal 2 Ramadhan 814 H. Pada bulan Dzulqa’dah 814 H dipasang pagar menara al-Arus. Pada tahun 816 H selesai pembangunan menara barat, yang puncaknya telah rusak dalam perang Timur Lenk.

Separuh bagian atas menara al-Arus telah diperbaharui sejak masa yang tidak lama. Di zaman kita, separuh bagian atas menara timur dibongkar karena ada kerusakan yang tampak di dalamnya dan dibangun kembali seperti semula.

Masyahid (Tempat-Tempat Ziarah):

Pada tahun 596 H diperbaharui masyahid Urwah dan dibuka setelah ditutup beberapa waktu (dan mungkin disebut masyahid Ibnu Urwah dan dahulu disebut masyahid Ali dan sekarang disebut masyahid al-Yafi dan sekarang digunakan untuk wudhu).

Pada tahun 668 H al-Malik al-Zhahir memperbaharui masyahid Zainul Abidin (masyahid al-Husain), setelah kehancuran menguasainya, dan mengusir orang-orang yang menjadikannya tempat berlindung kecuali satu orang di antara mereka yang ia lihat kesalehan dan ibadahnya. Ditutup beberapa waktu di masa Utsmaniyah dan terbengkalai, lalu Wali Sulaiman Pasya memperbaharuinya dan membukanya.

Pada tahun 698 H diperbaharui masyahid Utsman (yang sekarang dijadikan ruang penerimaan tamu), dengan pengawasan pengurus masjid al-Nashir bin Abdul Salam, dan ditetapkan untuknya imam tetap.

Marmer dan Mozaik:

Pada tahun 630 H diperbaharui pemasangan marmer di pintu masjid timur.

Al-Zhahir memperbaharui sekitar tahun 668 H banyak marmer di dinding utara dan banyak mozaik di dinding barat, serta memperbaiki dan merenovasi marmernya dan mendatangkan marmer dari segala penjuru, sehingga menjadi lebih baik dari yang lama, dan menghabiskan untuk itu dua puluh ribu dinar. Pada tahun 727 H selesai pemasangan marmer dinding utara, atas perintah Tankiz dan masa pengurus Ibnu al-Mirhal.

Pada tahun 730 H dikumpulkan kepingan mozaik yang tersisa untuk ditempatkan di dinding kiblat halaman, di masa Ibnu al-Mirhal pengurus masjid dan dengan izin wakil kesultanan Tankiz dan Qadhi al-Ikhna’i asy-Syafi’i. Namun tampaknya hal itu tidak terlaksana.

Pada tahun 740 H al-Nashir bin Qalawun memperbaharui pemasangan marmer masyahid Abu Bakar.

 

 

Dari Berita-berita Tentang Masjid Umayyah

Pada bulan Ramadan tahun 411 Hijriah, didirikan dua tiang di halaman dari arah timur dan barat untuk penerangan masjid, dengan izin qadhi kota. Keduanya masih ada sampai sekarang.

Pada tahun 736 Hijriah, dinding Dar al-Khithabah (rumah khutbah) ditemukan retak sehingga roboh. Di dalamnya ditemukan batu-batu besar, dan tampak pintu besar yang indah dengan ambang dan sisi-sisinya. Semuanya sudah rusak, maka batu-batu besar itu dipindahkan ke Bab al-Faraj untuk digunakan dalam pembangunannya.

Pada tahun 699 Hijriah, Malik al-Zhahir meninjau wakaf-wakaf masjid dan apa yang dikeluarkan darinya untuk para penerima gaji. Barang siapa di antara mereka yang berkecukupan dan tidak bermanfaat dalam ilmu, maka diberhentikan. Barang siapa di antara mereka yang membutuhkan tetapi tidak memiliki ilmu, maka ditetapkan untuknya dari baitul mal apa yang mencukupinya. Dana yang semula dialokasikan untuk yang diberhentikan disalurkan untuk kepentingan masjid dan untuk orang-orang yang ilmunya bermanfaat bagi kaum muslimin. Dia menetapkan di masjid pembacaan mushaf yang dibaca setelah shalat Subuh di bawah kubah an-Nasr (elang), dan mengalokasikan untuk pembacanya setiap bulan sejumlah tertentu.

Di halaman Masjid Umayyah dahulu terdapat gudang-gudang untuk manjaniq dan gudang-gudang para amir yang berisi tenda dan barang lainnya. Dia memerintahkan untuk menghilangkannya, sehingga masjid menjadi lebih luas dan bertambah keindahannya. Dia meninjau kitab-kitab wakaf yang telah lama diabaikan pengelolaannya, dan menjalankan wakaf sesuai syarat-syarat dari pewakafnya. Sebelumnya, pengelola wakaf bertindak menurut pendapatnya sendiri dalam mencegah dan memberi. Kitab-kitab itu dibawa kepadanya setelah susah payah mencarinya. Dia menemukan kitab-kitab yang lama sudah robek, dan wakaf dari Malik al-Adil Nuruddin Mahmud dan para raja setelahnya hampir rusak tulisannya. Dia memerintahkan untuk memperbaharui tulisan-tulisannya dan menetapkannya di hadapan seluruh qadhi. Dia bersungguh-sungguh dalam hal itu sesuai dengan pandangan-pandangannya yang baik dan perbuatan-perbuatannya yang bijaksana. Demikian pula dia lakukan terhadap wakaf Bimaristan al-Kabir (rumah sakit besar).

Hal itu tidaklah mengherankan dari perangainya dalam menegakkan syi’ar Islam dan mengangkat kedudukan para ulama yang telah direndahkan oleh kemalangan. Seluruh wakaf umum yang dia temukan digabungkan dengan wakaf Masjid Umayyah, padahal tidak disalurkan kepada yang berhak, melainkan disalurkan untuk keperluan masjid. Maka dia memisahkannya dan menunjuk pengelola yang menyalurkannya sesuai syarat pewakafnya, serta menetapkan kitab-kitabnya sebagaimana dia lakukan terhadap wakaf-wakaf masjid dan rumah sakit lainnya.

Pada tahun 830 Hijriah, mereka memeriksa ujung-ujung jembatan di masjid dan menemukan belasan jembatan yang lapuk, lalu diperbaiki.

Pada masa Malik an-Nashir al-Ayyubi, dialokasikan dari air saluran tambahan atas air Banyas untuk Masjid Umayyah sebesar 17 isba’ (ukuran jari).

Masjid Umayyah pada Akhir Abad Keenam Hijriah

Ibnu Jubair mengunjungi Masjid Umayyah pada akhir abad keenam dan menggambarkannya dalam perjalanannya dengan deskripsi yang teliti dan jujur. Saya memandang perlu untuk mencantumkannya dengan lengkap dalam risalah ini, dan setelahnya mencantumkan pembicaraannya tentang naiknya ke kubah masjid.

Ibnu Jubair berkata: Ukurannya memanjang dari timur ke barat: dua ratus langkah yaitu tiga ratus hasta. Ukuran lebarnya dari kiblat ke utara seratus tiga puluh lima langkah yaitu dua ratus hasta. Maka pembagiannya dari sudut barat adalah dua puluh empat bagian, sama dengan pembagian masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya saja panjang di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kiblat ke utara.

Lorong-lorongnya yang berhubungan dengan kiblat ada tiga memanjang dari timur ke barat, lebar setiap lorong delapan belas langkah, dan satu langkah sama dengan satu setengah hasta. Berdiri di atas enam puluh delapan tiang, di antaranya lima puluh empat pilar, delapan kaki dari gips yang diselingi, dan dua kaki marmer yang melekat pada dinding yang menghadap halaman. Empat kaki marmer dengan hiasan marmer yang paling indah, dihiasi dengan potongan marmer berwarna-warni, telah disusun seperti cincin dan dibentuk mihrab serta bentuk-bentuk aneh yang berdiri di lorong tengah menopang kubah timah bersama kubah yang dekat mihrab. Lebar setiap kaki enam belas jengkal, panjangnya dua puluh jengkal. Antara setiap kaki dan kaki lainnya memanjang tujuh belas langkah dan melebar tiga belas langkah. Maka keliling setiap kaki tujuh puluh dua jengkal.

Mengelilingi halaman terdapat lorong dari tiga sisi: timur, barat, dan utara, lebarnya sepuluh langkah. Jumlah tiangnya empat puluh tujuh, di antaranya empat belas kaki dari gips, sisanya pilar. Maka lebar serambi halaman selain yang beratap kiblat dan utara adalah seratus hasta. Atap masjid seluruhnya dari luar adalah lempengan timah.

Yang paling agung di masjid yang penuh berkah ini adalah kubah timah yang berhubungan dengan mihrab, menjulang tinggi di udara, besar melingkar, ditopang oleh bangunan besar yang menjadi punggungnya, berhubungan dari mihrab ke halaman. Di bawahnya ada tiga kubah: kubah yang berhubungan dengan dinding menuju halaman, kubah yang berhubungan dengan mihrab, dan kubah di bawah kubah timah di antaranya. Kubah timah telah menembus udara. Jika kau menghadapinya, kau melihat pemandangan yang mengagumkan dan penampakan yang menakjubkan yang orang-orang menyerupakannya dengan elang terbang, seolah-olah kubah adalah kepalanya, punggung adalah dadanya, setengah dinding lorong di kanan dan setengah di kiri adalah sayap-sayapnya. Lebar punggung ini dari sisi halaman tiga puluh langkah. Maka mereka mengenal tempat ini di masjid dengan sebutan an-Nasr (elang), karena perumpamaan ini.

Dari arah mana pun kau menghadap kota, kau akan melihat kubah di udara menjulang di atas setiap ketinggian seolah-olah tergantung dari langit. Masjid yang mulia ini condong ke arah utara kota.

Jumlah jendela kaca berlapis emasnya yang berwarna-warni adalah tujuh puluh empat: di kubah yang di bawah kubah timah sepuluh, di kubah yang berhubungan dengan mihrab dan sekitarnya empat belas jendela, di sepanjang dinding kanan dan kiri mihrab empat puluh empat, di kubah yang berhubungan dengan dinding halaman enam, dan di belakang dinding menuju halaman empat puluh tujuh jendela.

Di masjid yang mulia ini terdapat tiga maqshurah (sekat). Maqshurah as-Shahabah radhiyallahu ‘anhum, yaitu maqshurah pertama yang diletakkan dalam Islam, diletakkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Di hadapan mihrabnya terdapat maqshurah, di sebelah kanan yang menghadap kiblat ada pintu besi tempat Muawiyah radhiyallahu ‘anhu masuk ke maqshurah menuju mihrab. Di hadapan mihrabnya ke arah kanan adalah mushalla Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Di belakangnya adalah rumah Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, yang sekarang menjadi pasar besar untuk para tukang tembaga yang berhubungan sepanjang dinding masjid kiblat. Tidak ada pasar yang lebih indah pemandangannya dan lebih besar panjang dan lebarnya darinya.

Di belakang pasar ini tidak jauh darinya adalah Dar al-Khail (rumah kuda) untuk keperluan itu, sekarang ditempati, dan di dalamnya ada tempat-tempat untuk tukang kayu. Panjang maqshurah as-Shahabah yang disebutkan empat puluh empat jengkal, lebarnya setengah panjang. Sebelahnya ke arah barat di tengah masjid adalah maqshurah yang dibangun ketika menambahkan setengah bagian yang dulunya gereja ke masjid sebagaimana disebutkan sebelumnya. Di dalamnya ada mimbar khutbah dan mihrab shalat.

Maqshurah as-Shahabah dahulu berada di tengah bagian Islam dari gereja, dan dinding berada di tempat mihrab dikembalikan di maqshurah yang baru. Ketika seluruh gereja dikembalikan menjadi masjid, maqshurah as-Shahabah menjadi ujung di sisi timur, dan maqshurah lainnya dibangun di tengah, di tempat dinding masjid sebelum penyatuan. Maqshurah yang baru ini lebih besar dari yang Shahabah.

Di sisi barat berhadapan dengan dinding ada maqshurah lain untuk mazhab Hanafi, mereka berkumpul di dalamnya untuk pengajaran dan shalat. Berhadapan dengannya ada sudut yang dikelilingi kayu, seperti maqshurah kecil. Di sisi timur ada sudut lain dengan bentuk ini, seperti maqshurah, diletakkan untuk shalat oleh salah seorang amir dari Dinasti Turki, melekat pada dinding timur.

Di masjid yang mulia ini ada beberapa sudut dengan susunan ini, digunakan para penuntut ilmu untuk menyalin, belajar, dan menyendiri dari kerumunan orang. Itu termasuk fasilitas para penuntut ilmu.

Di dinding yang berhubungan dengan halaman yang mengelilingi lorong-lorong kiblat ada dua puluh pintu berhubungan sepanjang dinding, di atasnya ada lengkungan gips berlubang semuanya seperti jendela, sehingga mata melihat dari hubungannya semuanya pemandangan yang paling indah dan bagus.

Lorong yang berhubungan dengan halaman yang mengelilingi lorong-lorong dari tiga sisi di atas tiang-tiang, dan di atas tiang-tiang itu pintu-pintu melengkung, ditopang tiang-tiang kecil yang mengelilingi seluruh halaman. Pemandangan halaman ini termasuk pemandangan paling indah dan bagus.

Di dalamnya adalah tempat berkumpul penduduk kota, tempat tamasya dan rekreasi mereka. Setiap petang kau melihat mereka di dalamnya pergi-pulang, dari timur ke barat, dari Bab Jirun ke Bab al-Barid. Ada yang berbincang dengan temannya, ada yang membaca, terus-menerus dalam keadaan pergi-pulang ini sampai selesai shalat Isya. Kemudian mereka pulang. Sebagian dari mereka di pagi hari juga seperti itu, tetapi perhatian terbesar adalah di sore hari.

Sehingga bagi yang melihat itu terbayang seolah-olah malam dua puluh tujuh Ramadan yang diagungkan, karena melihat perhatian dan berkumpulnya orang-orang. Mereka terus seperti itu setiap hari. Orang-orang pengangguran menyebut mereka “al-Harain” (para penganggur).

Masjid memiliki tiga menara. Satu dari sisi timur seperti benteng yang kokoh berisi tempat tinggal yang luas dan sudut-sudut yang lega, semuanya tertutup, dihuni oleh orang-orang asing yang saleh. Kamar paling atas darinya adalah tempat i’tikaf Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah. Kedua di sisi barat dengan bentuk ini. Ketiga di sisi utara pada pintu yang dikenal dengan Bab an-Natafiyyin (Bab al-Amarah).

Di halaman ada tiga kubah. Salah satunya di sisi barat halaman dan itu yang terbesar, berdiri di atas delapan tiang marmer, memanjang seperti menara, dihias dengan potongan dan cat berwarna-warni. Dikatakan bahwa itu dahulu adalah gudang harta masjid. Masjid memiliki harta besar dari hasil tanah dan pendapatan yang melebihi (sebagaimana disebutkan kepada kami) delapan ribu dinar setahun yaitu lima belas ribu dirham.

Kubah lain kecil di tengah halaman berlubang segi delapan dari marmer yang direkatkan dengan sangat indah, berdiri di atas empat tiang kecil dari marmer. Di bawahnya ada kisi-kisi besi melingkar dan di tengahnya pipa dari tembaga yang memancarkan air ke atas sehingga naik dan melengkung, seolah-olah batang perak. Orang-orang minum darinya dengan meletakkan mulut mereka di dalamnya karena senang dan kagum, mereka menyebutnya “qafash al-ma'” (sangkar air). Kubah ketiga di sisi timur berdiri di atas delapan tiang seperti kubah besar, tetapi lebih kecil darinya.

Di sisi utara halaman ada pintu besar yang menuju masjid besar, di tengahnya ada halaman yang dikelilingi kolam dari marmer yang besar. Air mengalir di dalamnya terus-menerus dari lempengan marmer putih segi delapan yang berdiri di tengah kolam di atas tiang berlubang yang air naik darinya ke atasnya.

Di sisi timur halaman ada pintu yang menuju masjid yang paling indah dan paling bagus letaknya, paling indah bangunannya. Mereka menyatakan bahwa itu adalah maqam Ali bin Abi Thalib. Berhadapan dengannya di sisi barat di sudut lorong utara dari halaman adalah tempat yang merupakan pertemuan akhir lorong utara dengan awal lorong barat, ditutupi tirai di atasnya, dan di depannya juga tirai yang tergantung. Kebanyakan orang menyatakan bahwa itu adalah tempat untuk Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan bahwa dia mendengar hadits di dalamnya. Semua itu tidak ada dasarnya, tetapi kami sebutkan karena terkenalnya di masjid.

Masjid yang penuh berkah ini dahulu luar dan dalamnya semuanya dihiasi dengan potongan emas, dihias dengan hiasan bangunan yang paling indah dengan keahlian yang mengagumkan. Kemudian terkena kebakaran dua kali, lalu runtuh dan diperbaharui, sebagian besar marmernya hilang sehingga kecantikannya berubah. Yang selamat sekarang adalah kiblatnya bersama tiga kubah yang berhubungan dengannya.

Mihrabnya termasuk mihrab Islam yang paling mengagumkan dalam keindahan dan keanehan pembuatan, semuanya berkilau emas. Di tengahnya berdiri mihrab-mihrab kecil yang berhubungan dengan dindingnya dikelilingi tiang-tiang kecil yang dipuntir seperti gelang seolah-olah dipahat, tidak terlihat sesuatu yang lebih indah darinya. Sebagiannya merah seolah-olah koral. Keadaan kiblat masjid yang penuh berkah ini bersama apa yang berhubungan dengannya dari tiga kubahnya dan cahaya jendela-jendela emasnya yang berwarna-warni padanya serta hubungan sinar matahari dengannya dan pantulannya ke setiap warna darinya sehingga pandangan memantulkan darinya sinar berwarna-warni yang berhubungan dengan seluruh dinding kiblatnya sangat agung, tidak bisa dilukiskan dan ungkapan tidak mencapai sebagian dari apa yang terbayangkan. Semoga Allah memakmurkannya dengan kesaksian Islam dan kalimatnya dengan karunia-Nya.

Di sudut timur maqshurah baru di mihrab ada lemari besar di dalamnya ada mushaf dari mushaf-mushaf Utsman radhiyallahu ‘anhu, yaitu mushaf yang dia kirim ke Syam. Lemari dibuka setiap hari setelah shalat, orang-orang mencari berkah dengan menyentuh dan menciumnya, dan sangat berdesakan padanya.

Masjid memiliki empat pintu: Pintu kiblat dikenal dengan Bab az-Ziyadah, memiliki koridor besar luas dengan tiang-tiang besar dan di dalamnya ada toko-toko untuk tukang manik-manik dan lainnya. Memiliki pemandangan yang mengagumkan, darinya menuju ke dalam Dar al-Khail. Di sebelah kiri yang keluar darinya adalah pasar tukang tembaga yang dahulu adalah rumah Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dan dikenal dengan al-Khadhra’.

Pintu timur adalah yang paling besar, dikenal dengan Bab Jirun.

Pintu barat dikenal dengan Bab al-Barid.

Pintu utara dikenal dengan Bab an-Natafiyyin.

Pintu timur, barat, dan utara juga memiliki koridor-koridor yang luas. Setiap koridor menuju pintu besar yang dahulu adalah pintu masuk gereja lalu tetap dalam keadaannya.

Yang paling agung pemandangannya adalah koridor yang berhubungan dengan Bab Jirun. Keluar dari pintu ini ke lorong panjang lebar, di depannya berdiri lima pintu melengkung dengan enam tiang tinggi. Di sisi kiri ada maqam besar megah, dahulu di dalamnya ada kepala Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, kemudian dipindahkan ke Kairo. Berhadapan dengannya ada masjid kecil yang dinisbahkan kepada Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu. Di maqam itu ada air yang mengalir.

Di depan lorong tersusun tangga-tangga yang menurun ke koridor, seperti parit besar yang berhubungan ke pintu yang sangat tinggi sehingga pandangan tidak sampai tingginya. Dikelilingi tiang-tiang seperti batang pohon dalam panjangnya, seperti gunung dalam besarnya. Di kedua sisi koridor ini ada tiang-tiang yang di atasnya berdiri jalan-jalan melingkar, di dalamnya ada toko-toko yang tersusun untuk penjual parfum dan lainnya. Di atasnya ada jalan-jalan lain memanjang di dalamnya ada kamar-kamar dan rumah-rumah untuk disewakan, menghadap ke koridor. Di atasnya ada atap tempat penghuni kamar dan rumah bermalam.

Di tengah koridor ada kolam besar melingkar dari marmer, di atasnya kubah yang ditopang tiang-tiang dari marmer. Di bagian atasnya melingkar pinggiran dari timah yang luas terbuka untuk udara. Di tengah kolam marmer ada pipa kuningan yang mendorong air dengan kuat sehingga naik ke udara lebih dari tinggi seorang laki-laki. Di sekelilingnya ada pipa-pipa kecil yang melempar air ke atas sehingga keluar darinya seperti batang-batang perak, seolah-olah itu ranting-ranting dari pohon air itu. Pemandangannya lebih mengagumkan dan indah dari yang bisa dilukiskan.

Di sebelah kanan pintu keluar Bab Jirun pada dinding serambi yang di hadapannya terdapat sebuah ruangan, memiliki bentuk lengkungan besar bundar, di dalamnya terdapat jendela-jendela kuningan yang terbuka menjadi pintu-pintu kecil sejumlah jam-jam siang hari, telah diatur dengan pengaturan teknik yang canggih, (jam), maka ketika berlalu satu jam dari siang hari, jatuh dua bola tembaga dari mulut dua burung elang yang digambarkan dari tembaga, berdiri di atas dua mangkuk tembaga, di bawah masing-masing terdapat dua mangkuk, yang pertama di bawah pintu pertama dari pintu-pintu itu, dan yang kedua di bawah yang terakhir, kedua mangkuk itu berlubang, ketika kedua peluru jatuh ke dalamnya, keduanya kembali masuk ke dalam dinding menuju ruangan, dan terlihat kedua burung elang itu mengulurkan lehernya dengan kedua peluru ke dua mangkuk, dan melemparkannya dengan cepat dengan pengaturan mengagumkan yang dikira oleh pikiran sebagai sihir, dan ketika kedua peluru jatuh ke dalam kedua mangkuk terdengar suara dengungnya, dan tertutup pintu yang untuk jam tersebut dengan segera tampak dari kuningan, terus seperti itu setiap berlalunya jam dari siang hari, hingga semua pintu tertutup dan jam-jam berlalu. Kemudian kembali ke keadaan awalnya dan memiliki pengaturan lain di malam hari, yaitu pada lengkungan yang melengkung di atas jendela-jendela tersebut terdapat dua belas lingkaran tembaga yang berlubang dan melintasi setiap lingkaran sebuah gelas dari dalam dinding di ruangan, semua itu diatur darinya di belakang jendela-jendela tersebut, dan di belakang gelas tersebut terdapat lampu yang diputar olehnya air dengan pengaturan ukuran jam, maka ketika berlalu, cahaya lampu merata di gelas, dan memancar pada lingkaran di depannya sinarnya, sehingga tampak oleh penglihatan sebagai lingkaran merah, kemudian berpindah ke yang lain, hingga berlalu jam-jam malam dan semua lingkaran memerah, telah ditugaskan padanya di ruangan seorang pengawas keadaannya yang terlatih dalam urusannya dan perpindahannya, mengembalikan pembukaan pintu-pintu dan mengembalikan bola-bola ke tempatnya, itulah yang disebut orang Al-Manjanah.

(Lorong Barat) Adapun lorong pintu barat di dalamnya terdapat toko-toko pedagang bahan makanan dan penjual minyak wangi, dan di dalamnya terdapat barisan untuk menjual buah-buahan, dan di bagian atasnya terdapat pintu besar yang naik kepadanya melalui tangga-tangga, dan memiliki tiang-tiang tinggi di udara, dan di bawah tangga-tangga terdapat dua tempat air bundar, tempat air di kanan dan tempat air di kiri, setiap tempat air memiliki lima pipa yang melemparkan air ke dalam bak marmer memanjang.

(Lorong Utara) Adapun lorong pintu utara di dalamnya terdapat sudut-sudut pada bangku-bangku yang dikelilingi tiang-tiang yang merupakan tempat mengajar untuk para guru anak-anak, dan di sebelah kanan orang yang keluar di lorong terdapat khanqah yang dibangun untuk para sufi, di tengahnya terdapat tangki yang dikatakan bahwa itu dahulu rumah Umar bin Abdul Aziz semoga Allah meridhoinya, dan memiliki kisah yang akan disebutkan setelah ini, dan tangki yang di tengahnya mengalir air di dalamnya dan memiliki tempat bersuci mengalir air di kamar-kamarnya, dan di sebelah kanan orang yang keluar juga dari Bab Al-Barid terdapat madrasah untuk mazhab Syafii di tengahnya tangki mengalir air di dalamnya, dan memiliki tempat bersuci dengan sifat yang disebutkan, dan di halaman antara kubah-kubah yang disebutkan terdapat dua tiang yang berjauhan memiliki dua kepala dari tembaga memanjang yang telah dilubangi dengan lubang terbaik, dinyalakan pada malam lima belas bulan Syakban sehingga tampak seperti dua lampu gantung yang menyala.

Perayaan penduduk negeri ini pada malam yang disebutkan ini lebih banyak daripada perayaan mereka pada malam dua puluh tujuh dari bulan Ramadhan yang diagungkan.

Dan di masjid yang diberkahi ini terdapat perkumpulan besar setiap hari setelah shalat Subuh untuk membaca seperujuh dari Al-Quran secara terus-menerus, (Para Pembaca) dan seperti itu setelah shalat Ashar untuk bacaan yang disebut Kautsariyah, mereka membaca di dalamnya dari Surah Al-Kautsar hingga penutup, dan menghadiri perkumpulan Kautsari ini setiap orang yang tidak mahir hafalan Al-Quran, dan bagi yang berkumpul untuk itu terdapat pemberian setiap hari yang menghidupi lebih dari lima ratus orang, dan ini dari kebanggaan masjid yang dimuliakan ini, maka tidak kosong bacaan darinya pagi maupun sore.

Halaqah dan Pelajaran

Dan di dalamnya terdapat halaqah-halaqah untuk mengajar para pelajar, dan bagi para pengajar di dalamnya terdapat pemberian yang luas, dan untuk mazhab Maliki terdapat sudut untuk mengajar di sisi barat berkumpul di dalamnya orang-orang Maghrib dan mereka memiliki pemberian tertentu, dan fasilitas masjid yang dimuliakan ini untuk orang-orang asing dan pencari ilmu banyak dan luas, dan yang paling aneh yang diceritakan darinya bahwa sebuah tiang dari tiang-tiangnya yang berada di antara dua mihrab yang lama dan yang baru memiliki wakaf tertentu yang diambil oleh yang bersandar kepadanya untuk belajar dan mengajar, kami melihat di sana seorang faqih dari penduduk Ishbiliyah yang dikenal dengan Al-Muradi, dan ketika selesai perkumpulan pembaca seperujuh dari bacaan di pagi hari, bersandar setiap orang dari mereka ke tiang, dan duduk di hadapannya seorang anak kecil yang mengajarkannya Al-Quran, dan bagi anak-anak juga atas bacaan mereka terdapat jatah tertentu, maka orang-orang kaya dari para ayah menjauhkan anak-anak mereka dari mengambilnya, dan yang lainnya mengambilnya, dan ini dari kebanggaan Islam, dan bagi anak-anak yatim dari anak-anak kecil terdapat tempat belajar besar di negeri memiliki wakaf besar yang diambil darinya guru untuknya apa yang mencukupinya, dan dibelanjakan darinya untuk anak-anak kecil apa yang mencukupi mereka dan pakaian mereka, dan ini juga dari hal paling aneh yang diceritakan dari kebanggaan negeri-negeri ini. Dan pengajaran anak-anak kecil Al-Quran di semua negeri-negeri timur ini hanyalah pengajaran lisan, dan mereka mengajarkan tulisan dalam syair-syair dan lainnya untuk menghormati Kitab Allah azza wajalla dari kebiasaan anak-anak kecil terhadapnya dengan penetapan dan penghapusan, dan mungkin di kebanyakan negeri guru pengajar lisan sendiri dan guru menulis sendiri, maka berpisah dari pengajaran lisan ke pembelajaran menulis bagi mereka dengan cara yang baik, dan oleh karena itu tidak mungkin bagi mereka tulisan yang baik karena guru untuknya tidak sibuk dengan yang lain, maka dia mencurahkan usahanya dalam mengajar, dan anak kecil dalam belajar, demikian dan mudah baginya karena dengan penggambaran dia meniru jejaknya.

(Penampakan Masjid) Dan mengelilingi masjid yang dimuliakan ini empat tempat air, di setiap masjid terdapat tempat air, setiap satu darinya seperti rumah besar yang dikelilingi oleh kamar-kamar toilet, dan air mengalir di setiap kamar darinya, dan sepanjang halamannya terdapat bak dari batu memanjang, menuangkan ke dalamnya beberapa pipa yang teratur sepanjangnya, dan salah satu dari tempat-tempat air ini di lorong Bab Jirun dan itu yang terbesar darinya, dan di dalamnya dari kamar-kamar lebih dari tiga puluh, dan di dalamnya selain tempat air memanjang bersama dindingnya terdapat dua bak besar bundar hampir menguasai karena luasnya lebar rumah yang mengandung tempat air ini, dan yang satu jauh dari yang lain, dan keliling setiap satu darinya sekitar empat puluh hasta dan air memancar di keduanya. Dan yang kedua di lorong Bab Al-Natfiyyin di hadapan para guru. Dan yang ketiga di sebelah kiri orang yang keluar dari Bab Al-Barid. Dan yang keempat di sebelah kanan orang yang keluar dari Bab Al-Ziyadah.

Makam Yahya

Dan di dalamnya terdapat makam kepala Yahya bin Zakariya alaihissalam dan dia dimakamkan di masjid yang dimuliakan di sisi selatan berhadapan dengan sudut kanan dari mihrab para sahabat, semoga Allah meridhoi mereka. Dan di atasnya terdapat peti kayu melintang dari tiang, dan di atasnya terdapat pelita seperti dari kristal berlubang, seperti cangkir besar, tidak diketahui apakah dari kaca Irak atau dari Shur ataukah selainnya?.

Naik ke Kubah:

Dan dari hal paling besar yang kami saksikan dari pemandangan dunia yang aneh keadaannya, dan bangunan-bangunannya yang aneh konstruksinya yang menakjubkan pembuatan dan ketelitiannya, dan yang diakui dengan penggambarannya dengan kekurangan lidah setiap pernyataan, naik ke puncak kubah timah yang disebutkan dalam catatan ini yang berdiri di tengah masjid yang dimuliakan, dan masuk ke dalam rongga dalamnya, dan mengedarkan pandangan pertimbangan dalam keanehan letaknya bersama kubah yang di tengahnya, seolah-olah kubah berlubang yang masuk di tengah kubah lain yang lebih besar darinya.

Kami naik kepadanya dalam kelompok sahabat-sahabat Maghrib, pagi hari Senin tanggal delapan belas Jumadil Awal tahun 580 dari tangga di sisi barat dari serambi halaman, dahulu menara, dan kami berjalan di atas atap masjid yang dimuliakan dan semuanya lembaran-lembaran timah yang teratur, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan panjang setiap lembaran empat hasta dan lebarnya tiga hasta, dan mungkin dijumpai dalam lembaran-lembaran kekurangan atau kelebihan, hingga kami sampai ke kubah yang disebutkan, maka kami naik kepadanya dengan tangga yang dipasang, dan angin hampir menerbangkan kami, maka kami merangkak di jalan yang mengelilinginya dan itu dari timah, dan lebarnya enam hasta, maka kami tidak mampu berdiri di atasnya karena mengerikannya tempat berdiri di dalamnya, maka kami cepat masuk ke dalam rongga kubah, pada salah satu jendela-jendelanya yang terbuka di timah, maka kami melihat pemandangan yang membuat akal terheran-heran, dan berhenti sebelum meraihnya kewibawaan penggambaran pemahaman, dan kami berkeliling di atas papan-papan dari kayu-kayu besar, mengelilingi kubah kecil yang masuk di dalam rongga kubah timah dengan sifat yang kami sebutkan, dan memiliki dua tingkat dilihat darinya masjid dan siapa yang di dalamnya, maka kami melihat orang-orang di dalamnya seolah-olah mereka anak-anak kecil. Dan kubah ini bundar seperti bola, bagian luarnya dari kayu, telah diikat dengan tulang-tulang rusuk dari kayu-kayu besar, diikat dengan sabuk-sabuk dari besi, melengkung setiap tulang rusuk di atasnya seperti lingkaran, dan berkumpul semua tulang rusuk di pusat lingkaran dari kayu bagian atasnya, dan bagian dalam kubah ini – yaitu yang menghadap masjid yang dimuliakan – cincin-cincin dari kayu yang teratur sebagian dengan sebagian telah tersambung dengan sambungan yang menakjubkan, dan semuanya dilapisi emas dengan pembuatan paling indah dari pelapisan emas, dihias pewarnaan, indah ukiran, terpantul pandangan sinar emasnya, dan terheran-heran akal tentang bagaimana cara mengikat dan meletakkannya karena sangat tingginya.

Kami melihat dari cincin-cincin kayu itu sebuah cincin yang terletak di dalam rongga kubah, tidak kurang panjangnya dari enam hasta dengan lebar empat, dan mereka terlihat dalam keteraturannya bagi mata seolah-olah keliling setiap satu darinya satu hasta atau dua hasta paling banyak, karena sangat tingginya. Dan kubah mengandung kubah yang disebutkan ini, dan telah diikat juga dengan tulang-tulang rusuk besar dari kayu-kayu besar, diikat bagian tengahnya dengan sabuk-sabuk besi, dan jumlahnya empat puluh delapan tulang rusuk, antara setiap tulang rusuk dan tulang rusuk empat hasta, telah melengkung dengan lengkungan menakjubkan, dan berkumpul ujung-ujungnya di pusat lingkaran dari kayu, bagian atasnya, dan keliling kubah timah ini delapan puluh langkah, yaitu dua ratus enam puluh hasta, dan keadaan di dalamnya lebih besar dari yang dapat digambarkan. Hanyalah ini yang kami sebutkan contoh kecil yang menunjukkan pada apa yang di belakangnya, dan di bawah punuk memanjang yang disebut elang yang di bawah dua kubah ini terdapat pintu masuk besar, yaitu atap untuk mihrab, antara itu dan itu langit khusus yang dihias, dan telah teratur di dalamnya dari kayu-kayu yang tidak terhitung jumlahnya, dan terikat sebagian dengan sebagian, dan melengkung sebagian di atas sebagian, dan tersusun dengan susunan yang mengerikan penampakannya, dan telah dimasukkan ke dalam dinding seluruhnya penyangga-penyangga dua kubah yang disebutkan, dan di dinding itu terdapat batu-batu setiap satu darinya beratnya berkuntal-kuntal, tidak mengangkatnya gajah-gajah, apalagi selainnya, maka keajaiban semuanya dari menaikkannya ke tempat itu yang sangat tinggi, dan bagaimana kemampuan manusia mampu untuk itu, maka Maha Suci yang mengilhami hamba-hamba-Nya kepada kerajinan-kerajinan menakjubkan ini, dan menolong mereka pada yang kedua untuk apa yang tidak ada dalam tabiat-tabiat manusia mereka, dan menampakkan tanda-tanda-Nya atas tangan siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, tidak ada tuhan selain-Nya. Dan dua kubah di atas dasar bundar dari batu-batu besar, telah berdiri di atasnya kaki-kaki pendek besar dari batu-batu padat besar, dan telah dibuka antara setiap kaki dan kaki jendela, dan berputar jendela-jendela dengan putarannya, dan dua kubah dalam pandangan mata satu. Dan kami sebut keduanya karena yang satu rongga dari yang lain dan yang tampak darinya kubah timah.

Dan dari keajaiban-keajaiban apa yang kami saksikan di dua kubah ini bahwa kami tidak menemukan di keduanya laba-laba yang menenun, meskipun sudah lama tidak ada yang memeriksa keduanya dari siapa pun, dan menjaga untuk membersihkan luasnya. Dan laba-laba di yang seperti keduanya ada banyak, dan telah benar pada kami bahwa masjid yang dimuliakan tidak menenun di dalamnya laba-laba dan tidak masuk kepadanya burung yang dikenal dengan burung walet.

Dan telah disebutkan sebelumnya untuk itu dalam catatan ini, maka kami pergi turun, dan telah kami lihat keajaiban yang menakjubkan dari pemandangan besar ini.

 

 

Masjid Umayyah pada Abad Kedelapan:

Dan telah mengunjungi masjid sang pengembara Ibnu Bathuthah, pada awal abad kedelapan, dan menggambarkan masjid, dan tidak dalam penggambarannya perbedaan besar dari penggambaran Ibnu Jubair.

Kebakaran Terakhir

Kakek-kakek kami yang pertama adalah orang-orang yang tegas dan kuat, dan mereka adalah pemilik pikiran dan pernyataan, maka mereka menulis sejarah mereka semua, dan mencatat kemuliaan dan aib mereka, dan berita-berita keseriusan dan main-main mereka. Maka kami mengetahui tentang abad-abad pertama yang telah lewat lebih dari seribu tahun segala sesuatu, seolah-olah kami hidup di dalamnya, dan kami tidak tahu dari berita-berita abad-abad terakhir segala sesuatu, terutama abad yang lalu.

Dan ini perintah yang menakjubkan tetapi itulah kenyataannya.

Dan engkau jika ingin mengetahui kisah kebakaran masjid Umayyah misalnya, tidak akan menemukanya dalam sejarah dari sejarah-sejarah, meskipun di Damaskus ratusan yang menyaksikannya dengan matanya sendiri.

Oleh karena itu saya bergantung dalam pembicaraan ini pada apa yang diceritakan kepada saya oleh guru besar kami Syaikh yang berumur panjang yang mulia Abdul Muhsin Efendi Al-Ustuwani, dan dia – semoga Allah menjaganya – keajaiban keajaiban-keajaiban, telah melewati seratus (tahun) dari tahun-tahun dan masih dalam kesegaran pikirannya dan kekuatan ingatannya, dan banyaknya ilmunya, dan kecepatan inisiatifnya, dan kehadiran jenakanya sebagaimana dia di masa mudanya, dan atas apa yang diceritakan kepada saya Syaikh Hamdi Al-Halabi cucu ulama Syam Syaikh Said Al-Halabi, dan dia pengurus masjid sekarang dan dari orang yang paling tahu tentang sejarahnya dan keadaan-keadaannya. Sebagaimana saya bergantung pada apa yang ditulis ulama ustadz Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi, dan Mukhtar Bey Al-Azhem semoga Allah merahmati mereka, dan itu penggambaran yang sangat ringkas yang dipublikasikan oleh Dr. Shalahuddin Al-Munajjid, semoga Allah berbuat baik kepadanya seukuran apa yang dia berbuat baik kepada sejarah Damaskus dan peninggalan-peninggalannya dan manuskrip-manuskrip-nya.

Dan setelah itu inilah kisahnya:

Adalah pagi hari Sabtu tanggal empat Rabiul Akhir tahun 1311 Hijriah (yaitu sekitar tujuh puluh tahun qamariyah), dan Damaskus aman tenteram, dan orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka di pasar-pasar yang mengelilingi masjid Umayyah, dan para wanita di rumah-rumah mereka yang berada di sekitar masjid, maka tidak ada yang mengagetkan mereka kecuali teriakan yang berteriak, seolah-olah dia pemberi peringatan telanjang: bahwa sungguh telah terbakar masjid Umayyah, maka para pedagang meninggalkan toko-toko mereka terbuka dan mereka melompat melihat, dan naik para wanita di atas atap-atap, dan berlari-larian orang-orang dari setiap arah, dan tiba-tiba asap muncul dari atap masjid, dan tidak ada di Damaskus pemadam kebakaran (dan telah didirikan setelah peristiwa), dan bingung orang-orang apa yang mereka perbuat, maka mereka berlomba ke permadani masjid dan mushaf-mushafnya mengeluarkan apa yang mereka sampai kepadanya darinya, dan beralih sebagian mereka ke air menyiramkannya, dan ke linggis semoga mereka membatasi api, tetapi api lebih cepat dari mereka, karena kayu atap lama kering, dan di atasnya dari cat-cat dan minyak-minyak lapisan-lapisan, maka tidak mencium bau api hingga terbakar semuanya sekaligus, seolah-olah telah disiram di atasnya bensin, dan angin di hari itu barat kencang, maka tidak lewat setengah jam hingga menjadi atap semuanya satu nyala api, dan mulai potongan-potongan api jatuh dari setiap tempat, maka terbakar masjid semuanya, dan tidak lagi siapa pun mampu mendekatinya, maka mereka berdiri melihat dan seolah-olah api yang memakan masjid mereka memakan hati-hati mereka, tetapi ketidakmampuan menahan mereka dan membelenggu mereka, dan tiang-tiang masjid lama kebanyakannya patah dan diikat dengan gelang-gelang besi, maka retak dari api, kemudian runtuh bangunan semuanya, dan berguncang bumi, dan itu jam dari jam-jam yang mengerikan, dan api memanjang mendorongnya angin barat ke pasar Al-Qabaqibiyah dan Al-Qawafin dan gang Al-Hamrawi, dan tersingkap asap dari kehancuran menyeluruh, tidak tersisa dari masjid Umayyah kecuali dua makam di Bab Al-Barid dan serambi halaman, selain serambi yang membentang antara Bab Al-Naufara hingga makam Husain, maka telah terkena kebakaran sehingga goyah, dan kebakaran mengenai menara barat.

Dan di hadapan saya sekarang ada foto yang dipublikasikan oleh Doktor Al-Munjid tentang (Masjid) Umayyah setelah kebakaran, yang ada di foto itu hanya dinding haram bagian utara (dari arah pelataran) dan fasad segitiga yang tinggi, adapun seluruh atap dan kubahnya tidak tersisa bekas sedikit pun, seluruh masjid lenyap dalam dua setengah jam, masjid yang telah dikeluarkan untuk pembangunannya harta dan waktu, dan digunakan dalam pembangunannya pemikiran dan tangan selama seribu tiga ratus tahun, semuanya lenyap hanya dalam seratus lima puluh menit, lenyap karena narghile (pipa rokok air).

Hal itu terjadi karena seorang pekerja yang sedang memperbaiki timah atap, di tengah-tengah sisi barat, kagum dengan pemandangan, dan bergejolak dalam dirinya kerinduan untuk menghirup asap, maka dia datang dengan narghile dan menyalakan api untuk membakarnya, lalu api itulah yang membakar (Masjid) Umayyah.

Damaskus kehilangan masjidnya, tetapi jiwa-jiwa tidak kehilangan imannya, kubah dan dindingnya runtuh tetapi kewajiban shalat tidak gugur dari manusia, dan apa salahnya bagi orang yang shalat jika kubah masjid roboh dan keindahannya terhapus serta ukirannya hilang, sedangkan masjid Muhammad yang dibangun atas takwa dan yang menjadi cahaya bagi dunia tidak memiliki kubah dan tidak ada ukiran di dalamnya, ia hanyalah sebuah atap dari tanah liat dan kayu, dan apa salahnya jika tetap tanpa masjid sedangkan seluruh bumi bagi seorang Muslim adalah masjid dan tempat shalat.

Oleh karena itu, bencana di (Masjid) Umayyah terjadi pada pagi hari, dan shalat Dzuhur tetap dilaksanakan di (Masjid) Umayyah, shalat didirikan, yang mendirikannya adalah ulama yang wara’ Syaikh Abdul Hakim Al-Afghani, di pelataran di belakang kolam dan orang-orang di belakangnya, sedangkan api masih tersisa di sudut-sudut masjid, dan mereka rukuk sambil mengucapkan: Allahu Akbar, Allahu Akbar lebih besar dari masjid, jika masjid lenyap maka Allah tetap ada, dan shalat tetap ada, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat mengalihkan orang beriman dari shalatnya betapa pun besarnya, karena shalat adalah untuk Allah, dan Allah Maha Besar.

Mereka shalat di pelataran, kemudian mereka menuju mashad (bangunan) barat yang masih selamat, lalu memindahkan sebagian perlengkapan masjid ke sana, dan mendirikan mimbar kecil untuk berkhutbah, dan membangun panggung kecil untuk para muazin, dan shalat Jumat mulai dilaksanakan di sana, dan mashad kedua (yang dikenal sekarang dengan mashad Ghazi) yang sekarang menjadi ruang penerimaan, adalah gudang untuk perlengkapan masjid, maka dikosongkan dan dipasang langit-langit dan dihamparkan karpet dan pintu kiblatnya dibuka, maka kedua mashad (yang berada di kedua ujung pintu Barid) dipersiapkan untuk shalat, dan mashad timur telah terbakar seluruhnya, dan mashad Husain sebagiannya terbakar, maka orang-orang bersungguh-sungguh untuk memperbaikinya, lalu keduanya diperbaharui dan dipersiapkan untuk shalat sebelum bulan Ramadhan tiba. Kemudian orang-orang beralih untuk membersihkan masjid, dan masjid itu karena puing-puing yang menumpuk seperti bukit besar, dan mereka bergiliran membersihkannya, penduduk setiap kampung bekerja sehari, mereka semua datang, orang tua dan pemuda mereka, orang kaya dan miskin mereka, mereka bekerja dengan tangan mereka sendiri karena iman dan mengharap pahala, memindahkan tanah dan batu, dan orang-orang kaya berlomba-lomba untuk memberi mereka makan, maka orang-orang kaya kampung menanggung penyediaan makanan untuk para pekerja, dan mereka makan siang di masjid, maka itu adalah pemandangan yang menakjubkan tentang persaudaraan dan pengorbanan, dan orang-orang menjadi seperti satu keluarga, mereka semua bekerja di rumah Allah, dan turun sebagai tamu-Nya, hingga ketika masjid telah dibersihkan dari puing-puing, dibentuk di setiap kampung komite untuk mengumpulkan uang untuk pembangunan masjid, dan Damaskus menunjukkan salah satu semangat pengorbanan yang beriman dan menakjubkan, dan orang-orang berebut untuk memberi, di antara mereka ada yang mengeluarkan seluruh hartanya, di antara mereka ada yang memberikan separuh hartanya, dan setiap orang membantu dengan akalnya dan keahliannya dan kerajinannya, dan orang miskin bekerja gratis dengan tangannya, dan kalian mengingat apa yang telah Damaskus lakukan dalam minggu persenjataan yang baru-baru ini, maka besarkan itu sepuluh kali akan kalian lihat apa yang Damaskus lakukan untuk membangun masjid.

Dan dilakukan pemeriksaan dan biaya pembangunan diperkirakan tujuh puluh ribu lira emas, dan jika kita melihat daya beli setiap lira dan menjadikan roti sebagai ukuran dan menghitung harganya saat itu dan harganya sekarang, kita melihat jumlah itu setara dengan dua puluh juta lira dari mata uang hari-hari ini.

Dan mereka melihat ternyata tiang-tiang yang menjadi penopang atap haram telah rusak, dan mereka memikirkan tiang-tiang baru, dan pendapat berbeda tentangnya, dari mana mereka didapatkan dan bagaimana dipindahkan, kemudian mereka mengambil pendapat Sayyid Abdullah Al-Hamawi, lalu memutuskan bahwa tiang-tiang dipotong dari gunung-gunung Mezzeh, tetapi bagaimana mereka didatangkan? Di sinilah terlihat kehebatan pria ini yang bukan insinyur dan bukan orang berpendidikan. Dia mengusulkan kepada mereka untuk membuat kereta berbentuk persegi panjang rendah yang ditarik sapi, memiliki penjepit dari bawahnya sehingga ia mengangkat tiang, dan membawanya dari Mezzeh ke masjid, dan mereka meragukan itu, lalu dia memberitahu mereka bahwa dia melihat yang seperti itu di tempat pemotongan batu di Italia, maka mereka menyetujuinya untuk membuatnya, maka dibuat dengan arahannya, dan mulai membawa tiang-tiang besar dari tiang-tiang yang berdiri sekarang di (Masjid) Umayyah dan datang dengan tiang itu dikelilingi orang-orang dan para pemuda dengan pertunjukan dan nyanyian.

Dan ketika tiang pertama tiba dan komite berterima kasih kepada Sayyid Hamawi atas apa yang dia lakukan, dia tertawa dan berkata kepada mereka: Sekarang saya beritahu kalian yang sebenarnya, saya tidak melihat kereta seperti ini di Italia, dan tidak pergi ke sana atau ke tempat lain, tetapi saya takut jika saya katakan kepada kalian: bahwa ini dari temuan saya, maka kalian tidak akan menerimanya dariku maka saya mengklaim bahwa saya melihatnya di Italia.

Dan kereta ini masih ada, saya berharap diletakkan di museum untuk dipamerkan sebagai bukti kejeniusan orang Syam.

Dan pembangunan dimulai pada tahun 1314 H dan tidak tersisa di Damaskus pemilik keahlian kecuali menempatkan keahliannya dalam pembangunan masjid, dan tidak ada pekerja kecuali mengkhususkan pekerjaannya untuk masjid, dan bekerja di sana setiap hari lebih dari lima ratus pekerja, maka tidak lewat dua tahun sampai selesai pembangunan separuh bagian timur masjid dan dihamparkan karpet dan digantung lampu-lampu gantung dan lampu-lampu dan didirikan sekat dari kayu di bagian baratnya dan diletakkan mimbar di samping mihrab Malikiyah, dan diresmikan pada bulan Ramadhan tahun 1316 H dalam perayaan besar yang dihadiri gubernur, para ulama, dan para pembesar.

Kemudian dimulai bagian lainnya, dan yang pertama dibangun darinya adalah mihrab Hanafiyah, dan mereka menghiasinya dengan hiasan ini yang kalian lihat sekarang dan biaya pembangunan mihrab seperti yang diberitahukan kepada saya oleh Ustadz Al-Ustuwani adalah seribu lira emas, dan orang-orang mencela komite karena memulai dengannya, maka komite berargumen bahwa jika tidak dimulai dengannya maka tidak akan dibangun. Dan selesai pembangunan bagian tengah masjid pada pertengahan Syakban tahun 1318, dan pembangunan selesai seluruhnya dan perayaan peresmiannya pada 28 Jumadil Awal 1320, setelah kebakaran hanya sembilan tahun saja.

Dan selanjutnya, wahai para pembaca, sesungguhnya masjid agung ini yang para turis memotong setengah bola bumi untuk melihatnya dan kagum dengan kebesaran dan kemegahannya, dan kubah yang menjulang ini yang tidak ada bangunan di Damaskus yang menandinginya, bahkan gedung-gedung tampak bersamanya seperti anak-anak kecil dengan pria tinggi besar, dan hiasan ini dan keindahan ini, semuanya dari buatan penduduk Damaskus, mereka mengeluarkan dari harta mereka, dan mengerjakannya dengan tangan mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka yang merancang dan membangunnya adalah sekelompok tukang kayu orang Syam yang tidak belajar di sekolah dan tidak mendapat ijazah dalam teknik, Al-Hamawi dan para pembantunya dan Al-Tawam dan Malash dan saudara-saudara mereka, dan sesungguhnya mereka yang mengukirnya dengan ukiran menakjubkan ini yang datang menyerupai ukiran kuno dan melebihinya adalah anak-anak Abu Nujayb Al-Dahhan orang Syam yang awam, dan merekalah yang membuat jendela-jendela menakjubkan tiga buah ini yang berada di atas mihrab, dan tiga yang berhadapan dengannya.

Sungguh Damaskus telah membangun masjid agung ini dengan sedikitnya ilmu saat itu, dan lemahnya peralatan, dan hilangnya alat-alat, agar berdiri sebagai bukti bahwa iman dan keikhlasan dapat membuat segala sesuatu.

Maka jika kalian meragukan bahwa iman dapat melakukan keajaiban dan mendatangkan hal-hal luar biasa, maka inilah kubah Umayyah berdiri berbicara, menjadi saksi bahwa iman adalah kekuatan yang mengalahkan yang kuat, dan harta yang melampaui harta-harta.

Dan rahmat Allah dan salam-Nya dan berkah-Nya atas semua orang yang berpartisipasi dengan kekuasaannya atau tangannya atau pikirannya dalam mendirikan bangunan yang diberkahi ini, dari Muawiyah dan Al-Walid hingga hari ini, dan atas semua orang yang akan bekerja di dalamnya di hari-hari mendatang, dan semoga Allah membalas mereka semua dengan balasan terbaik.

Perbaikan-Perbaikan Baru

Laporan dari Insinyur Wakaf

Sayyid Makin Al-Muayyad

Sesungguhnya periode yang kita uraikan sekarang terbatas antara tahun 1919 Masehi dan tahun 1959, yaitu dimulai dari berakhirnya Perang Dunia Pertama.

Dan dapat dibagi menjadi tiga tahap: Tahap pertama dimulai dari tahun 1919 hingga tahun 1940, dan Tahap kedua dimulai dari tahun 1941 hingga tahun 1949, dan Tahap ketiga dimulai dari tahun 1950 hingga tahun 1959.

Tahap Pertama:

Perbaikan tahap pertama dilakukan dengan pengetahuan Dinas Wakaf dan pengawasan yang bertanggung jawab atas masjid, dan biaya perbaikan ini mencapai sekitar dua ribu lira emas Utsmaniyah, dan di antara pekerjaan terpenting yang selesai selama periode ini: pemasangan ubin pada dua halaman pintu masuk pintu Barid dan Naufara bagian dalam dengan marmer dan pemasangan marmer dinding pintu Barid, dan pemasangan ubin keramik hias, dan penggantian tiang besar di halaman Umayyah di sisi timur laut, dan perbaikan menara barat, yaitu pagar-pagar diperbaiki dan bulan sabit tembaga diperbaharui, dan pemasangan dua baris keramik hias yang dipindahkan dari kubah Al-Wazir (Aqusy Al-Nujaibiy) di Al-Suwaiqa, di atas mihrab haram besar, berisi ayat-ayat Al-Quran dari Surah Ar-Rahman, dan pengangkatan kapur dari mosaik, dan penyelesaian bagian yang kurang di pintu masuk pintu Barid, dan serambi barat, dan pembuatan saluran air di atap pelana (atap haram) dari beton bertulang, sebagai pengganti saluran timah yang merembes airnya ke kayu atap, dan perbaikan marmer retak di mihrab Syafiiyah, dan pemasangan ubin pada bagian timur dari lantai halaman pelataran dengan ubin merah Mezze.

Tahap Kedua:

Ikut serta dalam perbaikan pada periode ini Dinas Wakaf dan Direktorat Purbakala, dan biayanya mencapai sekitar seratus ribu lira Suriah, dan ini pekerjaan terpenting yang selesai selama periode ini:

Pada tahun 1941 selesai pembongkaran bagian atas segi delapan yang retak dari menara Sayyidina Isa alaihissalam (yaitu yang timur), dan dikembalikan diperbaharui seperti semula, dan selesai pemugaran dan perbaikan dan pembersihan bagian bawah dari sisa menara, dan diperbaharui pagar-pagar kayu, dan pada tahun 1942 selesai perbaikan mosaik yang akan jatuh di lengkungan sudut barat laut, dan dari tahun 1943 hingga tahun 1947 selesai pekerjaan-pekerjaan berikut:

  1. … Setelah penguatan dinding dan pengamanan bahaya dan penggantungan lengkungan atas dan bawah di halaman, dari dinding serambi utara ke arah timur, pembongkaran bagian pertama yang rusak yang miring.
  2. … Dibongkar pilar batu yang retak, dan lengkungan-lengkungan di sudut timur, dan dibuka atap serambi kayu, dan dibongkar batu-batu rusak dari fondasi dinding.
  3. … Dikembalikan pembangunan seperti semula setelah penghilangan batu-batu yang hancur dan retak dan rusak, dan dikembalikan pilar dan lengkungan-lengkungan, dan dilakukan pemasangan tiang bawah besar kembali sebagai pengganti yang lama yang usang. Sebagaimana dilakukan penggantian tiang atas kecil yang baru sebagai pengganti yang lama. Kemudian dibongkar bagian kedua yang retak dari dinding utara tersebut, kemudian dikembalikan pembangunannya dari baru.

Dan akhirnya dibongkar bagian ketiga dari dinding tersebut yang terletak di belakang serambi di dekat rumah muazin, dan dihilangkan bagian yang rusak darinya, dan dikembalikan yang baru setelah pemugaran dan perbaikan fondasi.

Dan dari tahun 1948 hingga 1949 selesai perbaikan-perbaikan berikut:

Dibuka bagian dari lorong yang ditemukan di bawah halaman pintu Naufara luar, dan dibersihkan dari timbunan dan diperbaiki dinding dan atapnya, dan selesai penghancuran dinding luar yang terletak di selatan pintu masuk Naufara, karena retaknya dan dikembalikan pembangunannya yang baru, kemudian dilakukan perbaikan dinding yang berhadapan yang terletak di utara pintu masuk Naufara di belakang mashad Husain dan selesai pembersihannya, dan diperbaiki fasad luar pintu masuk Naufara dan dibersihkan dengan semen, dan akhirnya diperbaharui empat tiang yang retak di sudut barat laut serambi dengan alas-alasnya.

Tahap Ketiga:

Dimulai dari tahun 1950 hingga akhir tahun 1959, dan pekerjaan periode ini dilakukan oleh Direktorat Wakaf di Damaskus, di bawah pengawasan Direktorat Purbakala, dengan biaya mencapai sekitar 365 ribu lira. Di antara pekerjaan terpenting yang diselesaikan selama periode ini adalah pekerjaan-pekerjaan berikut:

Pada tahun 1950, dinding timur tempat suci (yang terkenal dengan nama Safarjalani) yang retak akibat kebakaran dihancurkan dan dibangun kembali dengan memperbaharui fondasinya, kemudian lantai tempat tersebut dipasang ubin, mihrabnya diperbaiki, dan dibangun tempat wudu serta tangki air di dalamnya.

Pada tahun 1951, tiga lengkungan yang rusak di serambi utara bagian timur dibongkar, dan dua tiang batu yang rusak diganti dengan dua tiang besar, fondasi diperbaharui, kemudian lengkungan dan bagian atasnya dipasang kembali. Dua pintu kayu di pintu masuk Naufara diperbaharui, hiasan tembaga dipasang kembali dan kekurangannya dilengkapi, serta pintu besar tengah diperbaiki.

Pada tahun 1952, dibuat terali kayu berhias dengan kaca berwarna di lengkungan pintu Naufara dan pintu Maskiyah yang besar, atap bagian serambi utara yang telah selesai diperbaiki dipasang kembali dari kayu baru dan timah yang dicetak ulang dengan pengecatan minyak seperti aslinya. Mosaik dipasang kembali pada ketiga lengkungan, mihrab tempat suci Dukhuliyah (Ghazi) yang runtuh diperbaiki dari ukiran Arab marmer seperti sebelumnya, dan mushqaf di mihrab Maliki di dalam tempat suci diperbaiki.

Pada tahun 1953, tiga lengkungan ganda di serambi timur dibongkar, dan dua tiang kecil yang rusak diganti, kemudian lengkungan dipasang kembali persis seperti sebelumnya. Plester dinding di serambi tempat suci Husein dari sisi halaman dilepas, tempat-tempat yang rusak diperbaiki, ambang jendela dituang dengan semen dan bingkainya diperbaharui, serta lantai tempat suci wudu dipasang ubin.

Pada tahun 1954, pembongkaran plester dinding serambi dan lengkungan diselesaikan dan dihilangkan sepenuhnya, batu alami ditonjolkan setelah dibersihkan dan nat-natnya diisi, atap serambi dicat dengan cat minyak, dan pintu kayu Imarah yang rusak diperbaharui serta hiasan tembaganya dipasang kembali dan dilengkapi kekurangannya. Tiang-tiang serambi utara yang berukir diperbaiki seperti aslinya, perbaikan menara waktu di samping menara Arus diselesaikan, halaman luar di depan pintu masuk Naufara dipasang ubin dari marmer dan batu hitam serta kerikil batu. Talang air hujan dari sisi timur diperbaharui dari pipa besi menggantikan pipa tanah liat yang usang, dan tiang granit besar yang retak dan diikat dengan gelang besi diganti dengan tiang lain yang dipindahkan dari masjid Tankiz.

Pada tahun 1955, dua tiang besar yang rusak di serambi barat diganti dengan dua tiang granit, seperti yang dilakukan pada tahun 1954, salah satunya diambil dari halaman tanah, dan yang kedua didatangkan dari Latakia. Alas batu untuk tiang-tiang ini diperbaharui setelah fondasi diperbaharui, mosaik beberapa lengkungan serambi barat diperbaiki dan kekurangannya dilengkapi. Bagian atas sudut barat laut serambi diselesaikan pembangunannya. Atap kayu yang rusak dari tempat suci wudu diperbaharui dan beton bertulang dituang di atas atap, serta atap kayu tersebut dicat dengan cat minyak. Enam tiang kecil di bagian atas serambi diperbaharui.

Pada tahun 1956, marmer mushqaf dan berhias yang terletak di tiang utara pintu Barid diperbaiki dan kekurangannya dilengkapi, talang air hujan di bagian barat diperbaharui menggantikan talang tanah liat yang usang, fasad luar pintu Barid diplester, bagian batu diisi natnya dengan semen, atap tempat suci menghadap halaman dipasang dengan beton bertulang dan cat minyak untuk atap tersebut, dengan melanjutkan perbaikan mosaik yang rusak.

Pada tahun 1957, marmer berhias yang hampir runtuh dan rusak di dinding pintu masuk dalam pintu Naufara dibongkar, dan dipasang kembali dengan rapi setelah bagian yang rusak disingkirkan dan diganti dengan marmer baru. Pintu yang ditemukan tersembunyi di bawah marmer lama dibuka, yaitu pintu kecil ke arah makam Husein. Dua pintu samping di pintu masuk pintu Barid diperbaharui dari kayu baru, hiasan tembaga dan ukiran bersejarah dipasang kembali dan kekurangannya dilengkapi. Tangga batu di tiga menara diperbaiki dan direnovasi, ayat-ayat Al-Quran yang terukir di batu di dinding serambi barat dibongkar, dipasang kembali dan kekurangannya dilengkapi dengan mempertahankan posisi bersejarahnya. Kubah Khazanah barat diperbaiki dengan mengisi natnya dengan semen, menyuntikkan kapur dan adukan serta menuang lembaran timah baru untuk permukaan luarnya.

Pada tahun 1958, perbaikan mosaik yang rusak di lengkungan serambi barat dilanjutkan, pintu kayu bersejarah besar di pintu masuk pintu Barid diperbaiki, dan setelah bagian yang rusak (dari kayu atau tembaga) dihilangkan, dipasang kembali seperti sebelumnya dengan hiasan, ukiran, dan kawat tembaga. Pintu masuk Kalasah diperbaiki, perancah dipasang di pintu masuk pintu Barid, dan perbaikan cat minyak Arab berhias di atap pintu masuk dimulai, yang telah dimakan usia dan tertutup lapisan tebal yang mengubah warnanya menjadi gelap akibat rembesan air hujan. Pembongkaran bagian-bagian mosaik yang hampir runtuh di daerah pintu Barid bagian atas dilanjutkan, dan dipasang kembali setelah melengkapi kekurangannya seperti semula. Kayu atap daerah pintu masuk pintu Barid diperbaiki, timah atap dicetak ulang, saluran beton bertulang dituang, dan injeksi dalam untuk atap pintu masuk (kura-kura) dibuat untuk mencegah kebocoran air sepenuhnya. Dua tiang kecil di bagian atas pintu masuk pintu Barid diganti.

Pada tahun 1959, pengecatan minyak untuk atap pintu Barid dilanjutkan, serta perbaikan, renovasi dan pelengkapan mosaik di tempat tersebut yang hampir runtuh dilanjutkan.

Selama pekerjaan berlangsung, potongan-potongan mosaik yang tersedia di Umayyah dan terkumpul di gudang dari sisa-sisa potongan yang jatuh dari dinding tempo dulu habis. Pekerjaan perbaikan mosaik hampir terhenti karena hilangnya potongan (manik-manik), dan meskipun telah dilakukan pencarian di kota tentang kemungkinan membuatnya secara modern dan menghubungi negara-negara Barat melalui Direktorat Wakaf untuk memproduksinya secara lokal oleh para ahli lokal, setelah usaha besar dilakukan, sebuah pabrik kaca kecil didirikan, dan bengkel seni dibuat yang berhasil memproduksi mosaik baru yang mirip dengan yang lama (hanya kaca), dan upaya terus berlanjut untuk memproduksi mosaik dari kaca berlapis emas dan perak. Potongan-potongan mosaik ini berupa potongan kaca khusus dengan berbagai warna dan potongan kaca lain yang berlapis emas dan perak serta potongan marmer berwarna, dan ukuran setiap potongan atau manik tidak melebihi 1×1 cm. Upaya yang dilakukan untuk memproduksi semua jenis mosaik menunjukkan harapan keberhasilan dalam waktu dekat.

Di antara pekerjaan yang sedang berlangsung sekarang adalah persiapan dan penyiapan alas dan tiang kubah waktu untuk mengembalikannya ke bentuk bersejarah lamanya dan menghilangkan pelapis batu Turki yang dibangun di sekelilingnya.

Kesimpulan: Jelas dari ringkasan pekerjaan yang sedang berlangsung bahwa Masjid Umayyah sangat membutuhkan perbaikan yang mendesak, terutama di bagian utaranya, yaitu di halaman, serambi, dan tempat-tempat suci. Kerusakan dan bahaya telah dihilangkan dari semua sisi yang retak, dan tersisa bagian-bagian pekerjaan pelengkap yang tidak lagi berkaitan dengan kekuatan bangunan, yang terpenting adalah perbaikan mosaik di seluruh bagian masjid, yang paling penting adalah yang ada di pintu Sinjaq, perbaikan mihrab-mihrab tempat suci yang rusak akibat kelembaban, mimbar dan cat minyak Ajamnya, pemasangan ubin lantai halaman dan serambi, serta pekerjaan pelengkap lainnya seperti hiasan marmer, kayu, dan gips.

Biaya pekerjaan ini diperkirakan mencapai satu setengah juta lira Suriah, belum termasuk biaya proyek pembebasan di sekitar Umayyah yang sedang dalam studi di Amanah Ibu Kota.

 

 

Penutup

Ternyata semua kebakaran Umayyah (kecuali yang terakhir) merambat kepadanya dari rumah-rumah yang menempel padanya, yang menutupi keindahannya, menyembunyikan keagungannya, merusak penampilannya, dan membahayakannya. Padahal yang menempel dengannya sekarang dari sisi tempat suci hanyalah toko-toko rendah dari kayu dan tanah liat yang biaya penghapusannya tidak banyak, yaitu toko-toko pembuat sepatu di pasar sempit, dan toko-toko pembuat sandal kayu yang di dalamnya dinyalakan api sepanjang hari. Jika dihapus, seluruh dinding tempat suci akan tersingkap dan pintu Qibli lama akan terlihat. Ini adalah usulan pertama.

Kedua – Bahwa setiap pintu memiliki lorong, dan yang terbesar adalah dari arah Naufara. Beberapa tahun yang lalu terungkap secara kebetulan bahwa tangga Naufara tidak dibangun di tanah kosong, melainkan ada ruangan yang dibangun di bawahnya. Jika jalan dialihkan setelah menghapus toko-toko pembuat sandal kayu, hingga membentang sejajar dengan dinding Qibli, dan tangga Naufara dihapus serta ruangan ini ditonjolkan dan diberi pintu agar dikunjungi wisatawan dan orang-orang, akan ada manfaat bagi yang mempelajari dan sumber penghasilan bagi negara.

Dahulu tersebar luas bahwa di bawah Umayyah ada kuil orang Sabean, disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam salah satu bukunya. Orang Sabean kadang merujuk pada kelompok-kelompok penyembah berhala seperti pemilik kuil pertama. Jika penggalian diperluas dari bawah tangga, kuil tersebut akan terlihat, sebagaimana terungkap secara kebetulan beberapa tahun lalu bahwa di bawah Masjid Beirut ada masjid lain dan di bawah setiap tiang ada tiang lainnya.

Ketiga – Dan ini permintaan yang sulit terpenuhi, yaitu bahwa Damaskus adalah kota tertua yang dihuni saat ini di muka bumi, tidak ada perselisihan tentang ini. Setiap kali tanahnya digali untuk pembangunan atau saluran, muncul peninggalan yang terpendam. Di antara yang paling baru muncul adalah tiang-tiang yang terungkap di jalan Bab Syarqi, dan Direktorat Purbakala salah dengan mengangkatnya dan meletakkannya di atas tanah, padahal yang seharusnya adalah membiarkannya pada kedalaman tempat ia muncul agar terlihat perubahan ketinggian tanah kota.

Jika penggalian telah menunjukkan di kota Babil tiga kota bertumpuk (saya melihat itu dengan mata kepala sendiri), maka Damaskus, jika diambil wilayahnya seperti wilayah antara ujung Jalan Muawiyah yang telah dibuka dan Bab Syarqi dan tembok selatan, lalu dikosongkan dan dilakukan penggalian, akan terlihat enam kota bertumpuk, dan studi sejarah kuno akan berubah, dan akan menjadi kawasan bersejarah terbesar di dunia, serta menjadi sumber penghasilan finansial yang tidak terputus bagi kita, dan kita akan menemukan barang-barang antik dan harta karun yang nilainya tak ternilai.

Dan biarlah penggalian dimulai dari Kharab. Diketahui bahwa wilayah ini dinamai Kharab karena hancur pada masa Timur Lenk semoga Allah tidak memberinya kebaikan, dan bahwa di sana terlihat halaman-halaman rumah lama dan kolam-kolamnya dengan sedikit penggalian.

Di bawahnya ada lapisan-lapisan Islam, kemudian lapisan Romawi, kemudian lapisan-lapisan yang hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya.

Keempat – Membuka jalan lurus dari pintu Umayyah ke luar kota. Cara terdekat untuk itu adalah membuka jalan dari pintu Imarah ke Jalan Baghdad, dan sebagian besarnya sudah terbuka, dan rumah-rumah yang tersisa di jalurnya termasuk rumah-rumah murah. Dalam pembukaannya ada manfaat bagi kawasan-kawasan tersebut, dan apa yang diambil dari para pemilik dari biaya administratif akan menutupi biaya pembukaan dan pemilik rumah yang dihancurkan diberi pengganti di perumahan rakyat, seperti yang terjadi saat pembukaan Jalan Bahsah.

Saya berterima kasih kepada Profesor Abdurrahman Ath-Thabba, Sekretaris Jenderal Kementerian Wakaf, yang menyarankan penyusunan buku ini, dan kepada Profesor Zhahir Al-Kazbari, Inspektur Jenderalnya, yang mengawasi penerbitannya.

Saya berterima kasih kepada kedua profesor Abdul Qadir Al-Ani dan Hamdi Al-Halabi atas berita-berita masjid pada masa terakhirnya yang belum dicatat oleh sejarah yang mereka berikan kepada saya.

Saya berterima kasih kepada kedua profesor Shalahuddin Al-Munajjid dan Muhammad Ahmad Dahman atas apa yang saya peroleh dari pembahasan dan publikasi mereka.

Saya berterima kasih kepada kedua profesor Abdul Qadir Ar-Rihawi, Inspektur Purbakala, dan Abu Al-Faraj Al-Asy atas penelaahan mereka terhadap buku ini dan atas catatan-catatan yang mereka berikan.

Saya berterima kasih kepada setiap orang yang berkenan menunjukkan kekurangan di dalamnya atau membimbing saya pada kesalahan, terutama pada angka-angka yang saya tidak aman dari kesalahan pencetakan.

Dan segala puji bagi Allah dari awal dan akhir.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Ali bin Musthofa At-Thanthawi

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB