Ensiklopedia Ilmu Akidah – Imam Ahmad bin Hanbal JILID 02/02

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ensiklopedia Ilmu Akidah – Imam Ahmad bin Hanbal

الجَامِعُ لِعُلُومِ الإِمَامِ أَحْمَدَ – العَقِيدَةُ

JILID 02/02

BAGIAN AKIDAH (2)

Daftar Isi:

  1. Lanjutan: Sanggahan terhadap Jahmiyyah
  2. Iman kepada Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
  3. Kitab Takdir
  4. Kitab Fitnah dan Tanda-Tanda Kiamat
  5. Kitab Iman kepada Hari Akhir
  6. Kitab Para Sahabat

98 – Pasal Lain dalam Sanggahan terhadap Jahmiyyah

Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, dan Ali bin Ustam bin Ali bertanya kepadanya ketika menyebutkan cobaan para tawanan pada saat penebusan mereka. Maka Ahmad berkata: Mereka menolak—maksudnya: mereka menolak untuk menjawab—dan mereka menolak dengan penolakan yang sangat keras.

Ditanyakan: Apakah mereka memerangi? Ahmad berkata: Tidak.

“Masail Abi Dawud” (1701)

Ibnu Hani berkata: Dan dia (Ahmad) berkata: Bagaimana menurutmu tentang Jibril ‘alaihissalam, ketika dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu membacakan kepadanya? Bacaan Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah itu makhluk?! Itu bukan makhluk.

“Masail Ibni Hani” (1854)

Ibnu Hani berkata: Aku mendengar Dalawaih berkata kepada Abu Abdullah: Wahai Abu Abdullah, aku mendengar Ali bin Al-Ja’d berkata: Aku tidak mengatakan: Al-Quran itu makhluk, dan seandainya seseorang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, aku tidak akan mencacinya?

Ahmad berkata kepada Dalawaih: Aah aah, ini adalah ucapan yang paling keras yang sampai kepadaku darinya.

“Masail Ibni Hani” (1861)

Ibnu Hani berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdullah: Waki’ berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Ibrahim—yaitu Ibnu Muhajir—dari Mujahid, dari Ibnu Abbas dia berkata: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya. Perintah Allah berlaku di antara keduanya” (Surah Ath-Thalaq: 12). Dia berkata: Seandainya aku menceritakan kepada kalian penafsirannya, niscaya kalian akan kafir, dan kekafiran kalian adalah mendustakannya.

Ibnu Hani berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdullah: Rauh berkata: telah menceritakan kepada kami Syibl, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid: “Perintah Allah berlaku di antara keduanya” dari langit ketujuh, hingga bumi ketujuh.

Ibnu Hani berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdullah: Ali bin Hafs, dalam tafsir Warqa’, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid “Perintah Allah berlaku di antara keduanya” dari langit ketujuh, hingga bumi ketujuh.

Aku membacakan kepada Abu Abdullah: Abdurrazzaq berkata: telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dalam firman-Nya: “Tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya” dia berkata: Di setiap langit, dan di setiap bumi ada makhluk dari makhluk-Nya, dan perintah dari perintah-Nya, dan ketentuan dari ketentuan-Nya ‘Azza wa Jalla.

“Masail Ibni Hani” (1886 – 1889)

Ibnu Hani berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdullah: Yahya bin Sa’id, dari Sufyan dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhajir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, tentang firman-Nya: “Perintah Allah berlaku di antara keduanya” dia berkata: Seandainya aku memberitahukan kepada kalian penafsirannya, niscaya kalian akan merajamku dengan batu.

Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Hadits ‘Atha’ bin As-Saib di dalamnya ada: “Muhammad seperti Muhammad kalian, dan Adam seperti Adam, dan Ibrahim seperti Ibrahim”.

Dia berkata: Haditsnya dalam hal ini tidak ada nilainya, ‘Atha’ bin As-Saib telah ikhtilath (bercampur ingatannya), tidak ada di dalamnya sesuatu tentang Adam seperti Adam, dan tidak juga nabi seperti nabi kalian.

“Masail Ibni Hani” (1890 – 1891)

Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang iman, apakah ia makhluk?

Abu Abdullah berkata dan membaca: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri” (Surah Al-Baqarah: 255) Apakah ini makhluk? Tidak, demi Allah ini bukan makhluk.

“Masail Ibni Hani” (1899)

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, hal-hal yang dijadikan hujah melawan Jahmiyyah dari Al-Quran yang mulia:

Dalam Surah Al-Baqarah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah dari Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam perut mereka melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Surah Al-Baqarah: 174).

Dan Allah berfirman dalam Yasin: “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) Yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Surah Yasin: 82-83).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah juga: “(Dia adalah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: ‘Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami atau datang kepada kami suatu tanda?’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang yakin” (Surah Al-Baqarah: 117-118).

Dan Allah berfirman dalam Surah Ali Imran: “(Ingatlah), ketika malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (perintah) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat” (Surah Ali Imran: 45).

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Surah Ali Imran: 77).

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat” (Surah Al-Qiyamah: 22-23).

Dan Allah berfirman: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya” (Surah An-Nisa’: 171).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-An’am: “Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-An’am: 115).

Dan Allah berfirman dalam Surah An-Naml: “Maka ketika dia (Musa) datang kepadanya, diserulah dia: ‘Berkatlahlah (Musa dan) siapa yang berada di (sekitar) api ini, dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Wahai Musa, sesungguhnya Aku, Aku Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan lemparkanlah tongkatmu!’ Maka ketika dia melihatnya bergerak-gerak seakan-akan ia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman): ‘Wahai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut'” (Surah An-Naml: 8-10).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf: “Dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak-Nya. Maha Berkah Allah, Tuhan semesta alam” (Surah Al-A’raf: 54).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya. Bagi-Nyalah segala keputusan, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Surah Al-Qashash: 88).

Dan Allah berfirman dalam Surah Ar-Rahman: “Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan” (Surah Ar-Rahman: 26-27).

Dan Allah berfirman dalam Surah Thaha: “Dan agar kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (Ingatlah) ketika saudara perempuanmu berjalan” (Surah Thaha: 39-40).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: “Tidak memakan ke dalam perut mereka melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Surah Al-Baqarah: 174).

Dan Allah berfirman dalam Surah Ali Imran: “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang putra yang bernama) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi pemimpin, menahan diri (dari hawa nafsu), seorang nabi termasuk orang-orang yang saleh” (Surah Ali Imran: 39).

Dan Allah berfirman dalam Surah An-Nisa’: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Surah An-Nisa’: 164).

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan roh dari-Nya” (Surah An-Nisa’: 171).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-An’am: “Hingga datang kepada mereka pertolongan Kami dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah” (Surah Al-An’am: 34).

“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-An’am: 115).

Dan Allah berfirman dalam Surah Thaha: “Maka ketika ia sampai ke sana, ia dipanggil: ‘Wahai Musa. Sesungguhnya Aku, Aku Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; karena sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku'” (Surah Thaha: 11-14).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi: “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari-Nya” (Surah Al-Kahfi: 27).

Dan Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)'” (Surah Al-Kahfi: 109).

Dan Allah berfirman dalam Surah At-Taubah: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya” (Surah At-Taubah: 6).

Dan Allah berfirman dalam Surah Ha Mim ‘Ain Sin Qaf: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir” (Surah Asy-Syura: 51).

Dan Allah berfirman dalam Surah Luqman: “Dan sekiranya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Luqman: 27).

Dan dalam Surah Al-Qashash: “Maka ketika dia sampai ke sana, dia diseru dari pinggir lembah yang sebelah kanan (gunung) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku Allah, Tuhan semesta alam'” (Surah Al-Qashash: 30).

Dan dalam Surah Al-A’raf: “Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan berbicara (langsung) kepadanya, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu.’ (Allah) berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Ketika Tuhannya menampakkan (diri-Nya) kepada gunung itu, dijadikan-Nyalah gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka ketika dia sadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman.’ (Allah) berfirman: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku memilihmu dari manusia (yang lain) untuk (membawa) risalah-risalah-Ku dan untuk (menerima) firman-Ku. Sebab itu berpeganglah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur'” (Surah Al-A’raf: 143-144).

Dan dalam Surah Al-Fath: “Tangan Allah di atas tangan mereka” (Surah Al-Fath: 10).

Dan dalam Surah Al-Baqarah: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-Baqarah: 115).

Dan dalam Surah Al-Kahfi: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari, mereka mengharapkan wajah-Nya” (Surah Al-Kahfi: 28).

Dan dalam Surah Al-A’raf: “Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka” (Surah Al-A’raf: 137).

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan berbicara (langsung) kepadanya” (Surah Al-A’raf: 143).

Dan dalam Surah Al-Anfal: “Dan Allah menghendaki menetapkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya dan melenyapkan orang-orang kafir” (Surah Al-Anfal: 7).

Dan dalam Surah At-Taubah: “Dan (Allah) menjadikan kalimat orang-orang kafir yang rendah dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah At-Taubah: 40).

Dan dalam Surah Yunus: “Dan kalau tidaklah karena suatu kalimat yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah telah diberi keputusan di antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan” (Surah Yunus: 19).

Dan dalam Surah Yunus: “Demikianlah telah pasti berlaku kalimat Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, bahwa mereka tidak beriman” (Surah Yunus: 33).

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Itulah” (Surah Yunus: 64).

Dan Allah berfirman: “Dan Allah menetapkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya meskipun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya” (Surah Yunus: 82).

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman” (Surah Yunus: 96).

Dan dalam Surah Fushshilat: “Dan sekiranya tidak ada suatu kalimat yang telah terdahulu dari Tuhanmu, pastilah telah dijatuhkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam keraguan yang sangat terhadap itu” (Surah Fushshilat: 45).

Dan dalam Surah Hud: “Dan sempurnalah kalimat Tuhanmu: ‘Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya'” (Surah Hud: 119).

Dan dalam Surah Al-Kahfi: “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya” (Surah Al-Kahfi: 27).

Dan dalam Surah Thaha: “Dan sekiranya tidak ada kalimat yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya azab itu pasti menimpa (mereka)” (Surah Thaha: 129).

Dan dalam Surah Ash-Shaffat: “Dan sesungguhnya telah terdahulu kalimat Kami untuk hamba-hamba Kami yang menjadi rasul” (Surah Ash-Shaffat: 171).

Dan dalam Surah Al-Mu’min (Ghafir): “Dan demikianlah, telah pasti berlaku kalimat Tuhanmu terhadap orang-orang yang kafir, bahwa mereka adalah penghuni neraka” (Surah Ghafir: 6).

Dan Allah berfirman: “Dan sekiranya tidak ada suatu kalimat yang telah terdahulu dari Tuhanmu, pastilah telah dijatuhkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam keraguan yang sangat terhadap itu” (Surah Hud: 110).

Dan dalam Surah Ha Mim ‘Ain Sin Qaf: “Dan menetapkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada (manusia)” (Surah Asy-Syura: 24).

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir” (Surah Asy-Syura: 51).

Dan dalam Surah Al-Fath: “Mereka ingin mengubah kalimat Allah. Katakanlah: ‘Kamu sekali-kali tidak akan mengikuti kami'” (Surah Al-Fath: 15).

Dan dalam Surah At-Tahrim: “Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya” (Surah At-Tahrim: 12).

Dan dalam Surah Al-Mu’min (Ghafir): “Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Dia mengutus Ruh (Jibril) dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya” (Surah Ghafir: 15).

Dan dalam Surah An-Nahl: “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman'” (Surah An-Nahl: 102).

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya” (Surah An-Nahl: 2).

Dan dalam Surah Al-Isra’: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'” (Surah Al-Isra’: 85).

Dan dalam Surah Ha Mim ‘Ain Sin Qaf: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami” (Surah Asy-Syura: 52).

Dan dalam Surah Asy-Syu’ara’: “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (Surah Asy-Syu’ara’: 193-194).

Dan Allah berfirman dalam Surah ‘Amma Yatasa’alun (An-Naba’): “Pada hari ketika Ruh (Jibril) dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah” (Surah An-Naba’: 38).

Dan dalam Surah Al-Waqi’ah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang” (Surah Al-Waqi’ah: 63-65).

Dan Allah berfirman: “Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Surah Al-Waqi’ah: 69-70).

Dan Allah berfirman: “Maka apakah terhadap perkataan ini kamu merasa heran? Dan kamu menjadikan rezeki kamu (mempergunakannya) dengan mendustakannya?” (Surah Al-Waqi’ah: 81-82).

Dan dalam Surah Ar-Rum: “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Dia membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal” (Surah Ar-Rum: 48).

Dan dalam Surah Nun Wal Qalam: “Maka apakah Kami akan menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang berdosa?” (Surah Al-Qalam: 35).

Dan dalam Surah Al-Mursalat: “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan” (Surah Al-Mursalat: 20-22).

Dan dalam Surah Al-An’am: “Siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya Dia menyesatkannya; dan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus” (Surah Al-An’am: 39).

“Dan mereka menetapkan bagi Allah sebagian dari apa yang Dia ciptakan dari tanam-tanaman dan ternak” (Surah Al-An’am: 136).

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membuat-buat bagi-Nya anak laki-laki dan perempuan tanpa (berdasar) ilmu” (Surah Al-An’am: 100).

Dan di dalam surat Al-A’raf: “Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama kaum yang zalim.” (Al-A’raf: 47) “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad.” (Al-A’raf: 74).

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum Nuh.” (Al-A’raf: 69).

“Wahai Musa, buatlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.” (Al-A’raf: 138).

“Maka janganlah musuh-musuh mentertawakanku dan janganlah Engkau tempatkan aku bersama kaum yang zalim.” (Al-A’raf: 150).

Dan di dalam surat Ar-Ra’d: “Atau apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga ciptaan-ciptaan itu serupa bagi mereka.” (Ar-Ra’d: 16).

“Dan mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Katakanlah: Sebutlah nama-nama mereka. Ataukah kamu mengabarkan kepada-Nya apa yang tidak diketahui-Nya di bumi.” (Ar-Ra’d: 33).

Dan di dalam surat Hud: “Maka tatkala datang perintah Kami, Kami jadikan negeri itu yang di atas ke bawah.” (Hud: 82).

Dan Allah berfirman di dalam surat Asy-Syu’ara: “Berkata (Fir’aun): Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, pasti aku akan menjadikan kamu termasuk orang-orang yang dipenjarakan.” (Asy-Syu’ara: 29).

“Dan jadikanlah bagiku lisan yang benar pada orang-orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga kenikmatan.” (Asy-Syu’ara: 84-85).

Dan di dalam surat Fushshilat: “Katakanlah: Apakah sesungguhnya kamu benar-benar kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya? Yang demikian itu adalah Tuhan semesta alam.” (Fushshilat: 9).

Dan di dalam surat An-Naml: “Dan Yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi. Apakah ada tuhan bersama Allah? Amat sedikitlah kamu mengingat.” (An-Naml: 62).

“Apabila mereka memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina.” (An-Naml: 34).

Dan di dalam surat Al-Qashash: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah.” (Al-Qashash: 4).

Dan di dalam surat Adz-Dzariyat: “Dan pada kaum ‘Ad ketika Kami mengirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya melainkan menjadikannya seperti serbuk.” (Adz-Dzariyat: 41-42).

Dan Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah tuhan yang lain. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untukmu.” (Adz-Dzariyat: 51).

Dan di dalam surat Al-Qashash: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.” (Al-Qashash: 5) Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.” (Al-Qashash: 7).

Dan Allah berfirman: “Maka bakarlah untukku hai Haman tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi.” (Al-Qashash: 38).

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka.” (Al-Qashash: 41). Dan Allah berfirman: “Katakanlah: Bagaimana pendapatmu jika Allah menjadikan malam atasmu terus-menerus sampai hari kiamat.” (Al-Qashash: 71).

Dan Allah berfirman: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak berbuat kerusakan. Dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Dan di dalam surat: “Katakanlah: Bagaimana pendapatmu jika Allah menjadikan siang atasmu terus-menerus.” (Al-Qashash: 72).

Dan di dalam surat Ibrahim: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (Ibrahim: 35) “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (Ibrahim: 37) “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan salat dan demikian pula keturunanku.” (Ibrahim: 40).

“Dan mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu untuk menyesatkan dari jalan-Nya.” (Ibrahim: 30).

Dan di dalam surat Al-Hijr: “Orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an terbagi-bagi.” (Al-Hijr: 91) “Orang-orang yang menjadikan bersama Allah tuhan yang lain.” (Al-Hijr: 96) “Maka teriakan keras itu menimpa mereka di waktu matahari terbit.” (Al-Hijr: 73).

Dan di dalam surat An-Nahl: “Dan mereka menjadikan bagi sesuatu yang tidak mereka ketahui bagian dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka.” (An-Nahl: 56).

“Dan mereka menjadikan bagi Allah anak-anak perempuan, Mahasuci Dia, dan bagi mereka sendiri apa yang mereka inginkan.” (An-Nahl: 57).

“Dan mereka menjadikan bagi Allah apa yang mereka benci.” (An-Nahl: 62).

“Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit binatang ternak rumah-rumah.” (An-Nahl: 80).

“Dan Allah menjadikan bagimu dari apa yang Dia ciptakan tempat-tempat bernaung dan menjadikan bagimu dari gunung-gunung gua-gua.” (An-Nahl: 81). “Dan janganlah kamu melanggar sumpah-sumpah setelah diikatnya dengan teguh dan sungguh kamu telah menjadikan Allah sebagai penjamin atasmu.” (An-Nahl: 91).

Dan di dalam surat Al-Isra: “Dan Kami membantumu dengan harta dan anak-anak dan menjadikan kamu lebih besar jumlahnya.” (Al-Isra: 6).

“Janganlah kamu jadikan bersama Allah tuhan yang lain.” (Al-Isra: 22).

Dan di dalam surat Al-Furqan: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” (Al-Furqan: 23).

“Dan kaum Nuh, tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka pelajaran bagi manusia.” (Al-Furqan: 37).

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu keturunan dan hubungan kekeluargaan dan Tuhanmu adalah Mahakuasa.” (Al-Furqan: 54).

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa Kitab dan Kami jadikan bersamanya saudaranya Harun sebagai pembantunya.” (Al-Furqan: 35).

Dan di dalam surat Al-Ankabut: “Lalu Kami selamatkan dia dan penumpang-penumpang bahtera dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi seluruh umat manusia.” (Al-Ankabut: 15). “Dan di antara manusia ada yang berkata: Kami beriman kepada Allah, maka apabila dia disakiti karena Allah, dia menjadikan fitnah manusia seperti azab Allah.” (Al-Ankabut: 10).

Dan di dalam surat Saba: “Dan mereka menganiaya diri mereka sendiri maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan.” (Saba: 19).

“Dan Kami jadikan belenggu-belenggu di leher orang-orang yang kafir.” (Saba: 33).

Dan di dalam surat Ibrahim: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (Ibrahim: 35).

Dan di dalam surat Al-Maidah: “Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah dan saibah.” (Al-Maidah: 103).

Dan di dalam surat At-Taubah: “Apakah kamu menjadikan memberi minum jamaah haji dan memakmurkan Masjidil Haram.” (At-Taubah: 19).

Dan di dalam surat Yunus: “Maka mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka khalifah-khalifah dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (Yunus: 73) “Kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang zalim.” (Yunus: 85)

Dan di dalam surat Az-Zukhruf: “Maka Kami jadikan mereka umat yang telah lalu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian.” (Az-Zukhruf: 56).

“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan di antara kamu malaikat-malaikat yang menggantikan di bumi.” (Az-Zukhruf: 60).

Dan di dalam surat Al-Fil: “Maka Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (Al-Fil: 5).

Dan di dalam surat Al-Anbiya: “Dan demi Allah, sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. Maka dia menjadikan berhala-berhala itu hancur berkeping-keping, kecuali yang terbesar di antara mereka.” (Al-Anbiya: 57-58).

“Dan mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi.” (Al-Anbiya: 70).

“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub sebagai tambahan, dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (Al-Anbiya: 72-73). Dan Allah berfirman: “Maka tidak henti-hentinya demikianlah keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka laksana tanaman yang dituai, yang tidak bernyala lagi.” (Al-Anbiya: 15).

Dan di dalam surat Ash-Shaffat: “Maka mereka melemparkannya ke dalam api yang menyala-nyala. Dan mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling rendah.” (Ash-Shaffat: 97-98). “Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dan jin.” (Ash-Shaffat: 158).

Dan di dalam surat Shad: “Apakah Kami akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, ataukah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa seperti orang-orang yang berbuat maksiat.” (Shad: 28). Dan di dalam surat Az-Zumar: “Kemudian tanaman itu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian Dia menjadikannya hancur.” (Az-Zumar: 21).

Dan di dalam surat Yusuf: “Jadikanlah aku pengawas perbendaharaan negeri.” (Yusuf: 55).

Dan Allah berfirman: “Maka tatkala dia melengkapi mereka dengan bekal-bekal mereka, dia memasukkan piala minum ke dalam karung saudaranya.” (Yusuf: 70). “Masukkan barang dagangan mereka ke dalam karung-karung mereka.” (Yusuf: 62).

Dan di dalam surat Al-A’raf: “Dan bagi Allah nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpangkan nama-nama-Nya. Kelak mereka akan diberi balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180).

Dan di dalam surat Al-Isra: “Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang baik.” (Al-Isra: 110).

Dan di dalam surat An-Nisa: “Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (An-Nisa: 174).

Dan di dalam surat Al-Waqi’ah: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah bacaan yang mulia.” (Al-Waqi’ah: 77).

Dan di dalam surat Al-Buruj: “Bahkan Al-Qur’an itu adalah bacaan yang agung.” (Al-Buruj: 21).

Dan di dalam surat Az-Zukhruf: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab di sisi Kami benar-benar tinggi dan penuh hikmah.” (Az-Zukhruf: 4).

Dan di dalam surat Fushshilat: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.” (Fushshilat: 41).

“Ha Mim. Demi Kitab yang menjelaskan.” (Az-Zukhruf: 1-2).

“Ya Sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah.” (Ya Sin: 1-2).

Dan di dalam surat Al-Furqan: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, Dia Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada Yang Maha Mengetahui tentang Dia.” (Al-Furqan: 59).

“Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Kitab dan Al-Qur’an yang menjelaskan.” (Al-Hijr: 1).

Dan di dalam surat Fushshilat: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 41-42).

“Katakanlah: Ruhul Qudus menurunkannya dari Tuhanmu dengan kebenaran untuk meneguhkan orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang muslim.” (An-Nahl: 102). Dan di dalam surat Al-An’am: “Dan inilah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.” (Al-An’am: 155).

Dan di dalam surat Fushshilat: “Dan sekiranya Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah bacaan bukan Arab dan orang Arab? Katakanlah: Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang diseru dari tempat yang jauh.” (Fushshilat: 44).

Dan di dalam Ha Mim. ‘Ain Sin Qaf (Asy-Syura: 1-2): “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura dan orang-orang yang ada di sekelilingnya.” (Asy-Syura: 7).

“Ha Mim. Demi Kitab yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (Az-Zukhruf: 4).

Dan di dalam surat Al-Alaq: “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat? Sekali-kali jangan, sungguh jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya.” (Al-Alaq: 14-15).

Dan di dalam surat Al-Maidah: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahamengetahui perkara yang gaib.” (Al-Maidah: 116).

Dan di dalam surat Al-An’am: “Katakanlah: Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi? Katakanlah: Kepunyaan Allah. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat.” (Al-An’am: 12).

“Salam sejahtera bagimu, Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.” (Al-An’am: 54).

Dan di dalam surat Ath-Thur: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.” (Ath-Thur: 48).

Dan di dalam surat Al-Baqarah: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.” (Al-Baqarah: 37).

“Mereka mendengar kalam Allah kemudian mereka mengubahnya.” (Al-Baqarah: 75).

Dan di dalam surat Thaha: “Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Thaha: 46).

Dan di dalam surat Maryam: “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun.” (Maryam: 42).

“Dan telah Aku limpahkan kepadamu kecintaan dari-Ku dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Thaha: 39).

Dan di dalam surat Luqman: “Tidaklah menciptakan kamu dan membangkitkan kamu melainkan seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja.” (Luqman: 28). Dan di dalam surat An-Nisa: “Barangsiapa menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa: 134).

Dan di dalam surat Az-Zumar: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67).

Dan di dalam surat Al-Maidah: “Orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan. Bahkan kedua tangan Allah terbuka, Dia memberikan rezeki sebagaimana Dia kehendaki.” (Al-Maidah: 64).

Dan di dalam surat Al-Fath: “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10).

Dan di dalam surat Thaha: “Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami takut dia akan menyiksa kami atau dia akan melampaui batas. Allah berfirman: Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah: Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti dari Tuhanmu. Dan kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk.” (Thaha: 45-47).

Dan di dalam surat Al-Qiyamah: “Sekali-kali jangan, tetapi kamu mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan akhirat. Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri.” (Al-Qiyamah: 20-22).

Dan di dalam surat Al-Muthaffifin: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk neraka.” (Al-Muthaffifin: 15-16), “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Di atas dipan-dipan mereka memandang.” (Al-Muthaffifin: 22-23).

Dan di dalam surat Al-Mulk: “Katakanlah: Sesungguhnya ilmu itu hanya di sisi Allah dan sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang nyata. Maka tatkala mereka melihat azab itu sudah dekat, wajah orang-orang kafir menjadi muram.” (Al-Mulk: 26-27).

Dan di dalam surat An-Najm: “Maka Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya. Maka apakah kamu akan membantahnya tentang apa yang dilihatnya? Dan sesungguhnya dia telah melihatnya pada waktu yang lain. Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (An-Najm: 10-15).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/512-520 (1202) berkata Al-Khallal: Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marrudzi, dia berkata: Abu Abdullah berkata: Telah sampai kepadaku dari Ibrahim bin Sa’d, dan Sa’id bin Abdurrahman Al-Jumaih, dan Waki’ bin Al-Jarrah, dan Wahb bin Jarir, dan Sulaiman bin Harb, mereka berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an itu tidak diciptakan. Al-Marrudzi menambahkan nama Waki’.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/220 (1840)

Al-Khallal berkata: Ali bin Isa mengabarkan kepadaku bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa yang mengklaim bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sesungguhnya ia telah mengklaim bahwa Allah adalah makhluk.

Kemudian Abu Abdillah berkata: Tidak ada tuhan selain Allah, betapa besarnya perkataan ini dan betapa kerasnya! Inilah yang selama ini kita khawatirkan akan terjadi.

Abu Bakar Al-Khallal berkata: Menurut pendapatku—dan Allah yang lebih tahu—maksud perkataan Abu Abdillah adalah inilah yang selama ini kita khawatirkan sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Akan ada kaum yang berkata: Ini adalah Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?”, karena ini adalah makna dari perkataan itu.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: Apa pendapatmu tentang orang yang berkata bahwa nama-nama Allah Azza wa Jalla itu baru (diciptakan)? Maka ia menjawab: Kafir.

Kemudian ia berkata kepadaku: Allah adalah salah satu dari nama-nama-Nya, maka barangsiapa berkata bahwa nama-nama itu baru (diciptakan), ia telah mengklaim bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah makhluk. Maka ia memandang perbuatan mereka sangat besar dan mengkafirkan mereka, lalu ia membacakan kepadaku: “Allah adalah Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu” (Surah Ash-Shaffat: 126), dan ia membacakan ayat yang lain.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Sulaiman mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an? Ia berkata: Tentang apa engkau bertanya?

Aku berkata: Firman-Nya. Ia berkata: Kalam Allah, dan ia bukan makhluk, dan janganlah engkau takut untuk mengatakan: Bukan makhluk, karena sesungguhnya Kalam Allah Azza wa Jalla berasal dari Allah, dan dari Dzat Allah, dan Allah berbicara dengannya, dan tidak ada sesuatu pun dari Allah yang diciptakan.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Al-Qur’an adalah Kalam Allah, bukan makhluk, dan barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an itu makhluk maka ia telah kafir.

Aku berkata: Wahai Abu Abdillah, apa yang engkau katakan kepada Abu Al-Abbas? Maka ia berkata: Aku tidak mengatakan: bukan makhluk, kecuali jika ada dalam Kitabullah.

Aku berkata kepadanya: Apakah engkau mengatakan bahwa wajah Allah bukan makhluk? Maka ia berkata: Tidak, kecuali jika ada dalam kitabku secara nash. Maka Abu Abdillah gemetar dan berkata: Aku memohon ampun kepada Allah, Mahasuci Allah! Ini adalah kekafiran terhadap Allah, apakah ada orang yang meragukan bahwa wajah Allah bukan makhluk?!

Maka aku berkata: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya kaum Jahmiyyah tidak mengatakan ini. Ia berkata: Apa itu Jahmiyyah?! Mereka ini lebih jahat dari Jahm dan lebih buruk, ini adalah kekafiran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Al-Khallal berkata: Hanbal bin Ishaq bin Hanbal mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Al-Qur’an adalah Kalam Allah, bukan makhluk dari segala sisi dan dalam segala bentuknya, dan tidak ada sesuatu pun dari Allah yang diciptakan, janganlah engkau berdebat tentang hal ini dan janganlah berbicara tentangnya, dan aku tidak memandang baik perdebatan dan adu argumentasi tentangnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya, Muhammad bin Al-Mundzir, dan Ahmad bin Yahya Ash-Shaffar mengabarkan kepadaku, mereka berkata: Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad, aku berkata: Wahai Abu Abdillah, telah terjadi masalah tentang Al-Qur’an sebagaimana yang telah terjadi, jika aku ditanya tentangnya, apa yang harus aku katakan? Maka ia berkata kepadaku: Bukankah engkau makhluk?

Aku berkata: Ya. Maka ia berkata: Bukankah segala sesuatu darimu adalah makhluk? Aku berkata: Ya.

Ia berkata: Maka ucapanmu, bukankah ia berasal darimu dan ia makhluk? Aku berkata: Ya. Ia berkata: Maka Kalam Allah Azza wa Jalla, bukankah ia berasal dari-Nya? Aku berkata: Ya.

Ia berkata: Maka apakah mungkin ada sesuatu dari Allah yang diciptakan?!

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/221-223 (1843-1848)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ini adalah dalil yang digunakan Abu Abdillah untuk berargumentasi melawan kaum Jahmiyyah tentang Al-Qur’an, ia menulisnya dengan tulisan tangannya sendiri, dan aku menyalinnya dari bukunya. Maka Al-Marrudzi menyebutkan banyak ayat selain apa yang disebutkan oleh Al-Khadhir bin Ahmad dari Abdullah. Dan ia berkata: Di dalamnya aku mendengar Abu Abdillah berkata: Di dalam Al-Qur’an terdapat dalil-dalil terhadap mereka di berbagai tempat—maksudnya: kaum Jahmiyyah.

Al-Khallal berkata: Al-Khadhir bin Ahmad bin Al-Mutsanna Al-Kindi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku menemukan kitab ini dengan tulisan tangan ayahku mengenai dalil-dalil yang digunakan untuk berargumentasi melawan kaum Jahmiyyah, dan ia telah menyusun ayat-ayat dari berbagai surah. Yang pertama disebutkan oleh Abdullah adalah: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” (Surah Al-Anbiya: 87), “Apa yang Allah kehendaki, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” (Surah Al-Kahfi: 39), “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah” (Surah Ghafir: 44), “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” (Surah Al-Anbiya: 83). Wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Menyayangi, wahai Yang Maha Memiliki, wahai Raja, wahai Yang Maha Merajai, wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, wahai Yang Maha Pengampun, wahai Yang Maha Menerima Tobat, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Pemberi, wahai Yang Maha Mencintai, wahai Yang Maha Meliputi, wahai Yang Maha Pencipta, wahai Yang Maha Memisahkan, wahai Yang Maha Membelah, wahai Pelindung, wahai Yang Maha Melihat, wahai Yang Maha Luas, wahai Yang Maha Menggenggam, wahai Yang Maha Melapangkan, wahai Yang Maha Menghidupkan, wahai Yang Maha Mematikan, wahai Yang Maha Menolong, wahai Yang Maha Mencukupi, wahai Yang Maha Mengawasi, wahai Yang Maha Menyaksikan, wahai Yang Maha Berbuat Baik, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Pelindung, wahai Yang Maha Membukakan, wahai Yang Maha Memberi Karunia, wahai Yang Maha Dermawan, wahai Yang Maha Kokoh, wahai Yang Mahasuci, wahai Yang Maha Sejahtera, wahai Yang Maha Memberi Keamanan, wahai Yang Maha Mengawasi, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Memaksa, wahai Yang Maha Memiliki Kebesaran, wahai Yang Maha Menjadikan, wahai Yang Maha Membentuk, wahai Yang memiliki Asma Al-Husna, wahai sebaik-baik pembuat perhitungan, wahai Maha Penyayang di antara semua penyayang, wahai Maha Bijaksana di antara semua yang bijaksana, wahai sebaik-baik pencipta, wahai Yang Maha Besar, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Agung, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, wahai Yang Memiliki Karunia, tidak ada tuhan selain Engkau, wahai Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Berdiri di atas setiap jiwa dengan apa yang diperbuatnya, wahai Yang Maha Menebarkan, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Dermawan, wahai Yang Maha Mengatur, wahai sebaik-baik pemberi rezeki, wahai Tuhan semesta alam.

Kemudian aku menyusun apa yang diriwayatkan oleh Al-Marrudzi dan Abdullah dari sini dalam Surah Al-Baqarah: “Alif Lam Mim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” dan “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-Baqarah: 115), “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang” (Surah Al-Baqarah: 37), “Mereka mendengar Kalam Allah kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya” (Surah Al-Baqarah: 75), “Mereka tidak memakan dalam perut mereka melainkan api dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka” (Surah Al-Baqarah: 174), “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Surah Al-Baqarah: 186). Dan Allah berfirman: “Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami atau datang kepada kami suatu tanda? Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka” (Surah Al-Baqarah: 117-118). Dan Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman” (Surah Al-Baqarah: 126). Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Kitab dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam perut mereka melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Surah Al-Baqarah: 174).

(Dan dalam Surah Ali Imran) “(Ingatlah) ketika Malaikat berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat” (Surah Ali Imran: 45), “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia” (Surah Ali Imran: 47). Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia. Itulah yang hak dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Surah Ali Imran: 59-60). Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Surah Ali Imran: 77).

Dan Allah berfirman dalam Surah An-Nisa: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Surah An-Nisa: 164). Dan Allah berfirman: “Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surah An-Nisa: 58). Dan Allah berfirman: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya” (Surah An-Nisa: 171). Dan Allah berfirman: “(Mereka Kami utus) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (Surah An-Nisa: 165). Dan Allah berfirman: “Barangsiapa menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surah An-Nisa: 134).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah: “Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham” (Surah Al-Maidah: 103), “Dan orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan. (Tidak demikian), bahkan kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki” (Surah Al-Maidah: 64). Dan Allah berfirman: “Jika aku mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib” (Surah Al-Maidah: 116).

Dan dalam Surah Al-An’am: “Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat” (Surah Al-An’am: 12). Dan Allah berfirman: “Maka katakanlah: Salam sejahtera atas kamu. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang” (Surah Al-An’am: 54). Dan Allah berfirman: “Sehingga datang kepada mereka pertolongan Kami dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah” (Surah Al-An’am: 34), “Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-An’am: 115). Dan Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah kehendaki, niscaya Dia menyesatkannya dan barangsiapa yang Dia kehendaki, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus” (Surah Al-An’am: 39). Dan Allah berfirman: “Dan mereka menetapkan bagi Allah sebagian dari tanaman dan ternak yang telah Dia ciptakan” (Surah Al-An’am: 136), “Dan mereka menjadikan jin-jin sebagai sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakan mereka, dan mereka mengada-adakan bagi-Nya anak laki-laki dan perempuan” (Surah Al-An’am: 100), “Katakanlah: Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan suara yang lembut: Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, pastilah kami menjadi orang-orang yang bersyukur” (Surah Al-An’am: 63). Dan Allah berfirman: “Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat” (Surah Al-An’am: 155). Dan Allah berfirman: “Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab yang sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya” (Surah Al-An’am: 92). Dan Allah berfirman: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan pada hari Dia berkata: Jadilah! Maka jadilah. Firman-Nya adalah kebenaran dan kepunyaan-Nya-lah segala kekuasaan pada hari ditiup sangkakala” (Surah Al-An’am: 73).

Surah Al-A’raf: “Alif Lam Mim Shad. Ini adalah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dadamu karenanya, agar kamu memberi peringatan dengannya dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman”, “Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu yang baik untuk Bani Israil” (Surah Al-A’raf: 137), “Dan ketika Musa datang untuk waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya berfirman kepadanya” (Surah Al-A’raf: 143), “Sesungguhnya Aku telah memilihmu dari manusia lain untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku” (Surah Al-A’raf: 144), “Maka berimanlah kepada Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah ia agar kamu mendapat petunjuk” (Surah Al-A’raf: 158), “Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim” (Surah Al-A’raf: 47). Dan Allah berfirman: “Ketika Dia menjadikan kamu pengganti setelah kaum Nuh” (Surah Al-A’raf: 69). Dan Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah setelah kaum ‘Ad” (Surah Al-A’raf: 74), “Mereka berkata: Wahai Musa, buatlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan” (Surah Al-A’raf: 138), “Maka janganlah musuh-musuh mencelaku dan janganlah Engkau masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim” (Surah Al-A’raf: 150). Dan Allah berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan” (Surah Al-A’raf: 55-56), “Maka setelah Dia memberi mereka anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya” (Surah Al-A’raf: 190). Dan Allah berfirman: “Dan Allah memiliki Asma Al-Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma Al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Surah Al-A’raf: 180), “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Surah Al-A’raf: 205), “Dan matahari, bulan, dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya. Ingatlah, segala penciptaan dan urusan adalah milik-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (Surah Al-A’raf: 54), “Dan ketika Musa datang untuk waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya berbicara kepadanya, Musa berkata: Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. (Allah) berfirman: Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Ketika Musa sudah sadar kembali, dia berkata: Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman” (Surah Al-A’raf: 143), “Dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (Surah Al-A’raf: 144).

Surah Al-Anfal: “Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya dan memotong pangkal orang-orang kafir” (Surah Al-Anfal: 7).

Surah At-Taubah: “Dan jika seorang dari orang-orang musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar firman Allah” (Surah At-Taubah: 6). Dan Allah berfirman: “Dan Dia menjadikan kalimat orang-orang kafir yang rendah dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Surah At-Taubah: 40). Dan Allah berfirman: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan yang mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir” (Surah At-Taubah: 19).

Yunus

Dan Dia berfirman: “Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Al-Kitab yang penuh hikmah” (Yunus: 1), “Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah dijatuhkan keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan” (Yunus: 19), “Demikianlah telah pasti kalimat Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik” (Yunus: 33), “Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah” (Yunus: 64), “Dan Allah membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya” (Yunus: 82), “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti kalimat Tuhanmu atas mereka, tidaklah akan beriman” (Yunus: 96), dan berfirman: “Maka mereka mendustakan Nuh, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka khalifah-khalifah, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami” (Yunus: 73), dan berfirman: “Maka mereka berkata: Kepada Allah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang zalim” (Yunus: 85), dan berfirman: “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: Sediakanlah untuk kaummu rumah-rumah di Mesir dan jadikanlah rumah-rumah kamu tempat salat” (Yunus: 87), dan berfirman: “Tatkala datang perintah Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan tanaman itu laksana tanaman yang sudah disabit, seolah-olah belum pernah tumbuh kemarin” (Yunus: 24), dan berfirman: “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal” (Yunus: 59), dan berfirman: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia berlalu seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan” (Yunus: 12), dan berfirman: “Datanglah kepada mereka angin yang sangat kencang, dan datanglah kepada mereka gelombang dari segenap penjuru, dan mereka mengira bahwa mereka telah terkepung, maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya: Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di bumi tanpa alasan yang benar” (Yunus: 22-23).

Hud

“Alif Lam Ra. Ini adalah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna kemudian dijelaskan secara terperinci, dari sisi Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui” (Hud: 1) “Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah dijatuhkan keputusan di antara mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam keraguan yang membingungkan tentangnya” (Hud: 110), “Dan telah pasti kalimat Tuhanmu: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya” (Hud: 119), dan berfirman: “Maka tatkala datang perintah Kami, Kami jadikan negeri itu yang di atas ke bawah” (Hud: 82).

Surat Yusuf

“Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Al-Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui” (Yusuf: 1-3) “Yusuf berkata: Jadikanlah aku pengurus perbendaharaan negara” (Yusuf: 55), dan berfirman: “Maka tatkala dia membekali mereka dengan bekal-bekal mereka, dia memasukkan piala ke dalam karung saudaranya” (Yusuf: 70), “Dan dia berkata kepada pembantunya: Masukkan barang-barang dagangan mereka ke dalam karung mereka” (Yusuf: 62), “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu, sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan” (Yusuf: 100).

Ar-Ra’d

“Ataukah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” (Ar-Ra’d: 16), dan berfirman: “Dan mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Katakanlah: Sebutkanlah nama-nama mereka. Ataukah kamu ingin memberitahu Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi?” (Ar-Ra’d: 33).

Ibrahim alaihissalam

“Dan ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman” (Ibrahim: 35), dan berfirman: “Maka jadikanlah hati segolongan manusia cenderung kepada mereka” (Ibrahim: 37).

Dan berfirman: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan salat” (Ibrahim: 40), dan berfirman: “Dan mereka menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah supaya mereka menyesatkan manusia dari jalan-Nya” (Ibrahim: 30).

Al-Hijr

“Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Al-Kitab dan Quran yang nyata” (Al-Hijr: 1) “Yaitu orang-orang yang menjadikan Quran itu terpecah-pecah” (Al-Hijr: 91), dan berfirman: “Yaitu orang-orang yang menjadikan tuhan yang lain bersama Allah” (Al-Hijr: 96), dan berfirman: “Maka mereka disambar suara keras di waktu matahari terbit. Lalu Kami jadikan negeri itu yang di atas ke bawah” (Al-Hijr: 73-74), “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari orang-orang yang mengolok-olokkan. Yaitu orang-orang yang menjadikan tuhan yang lain bersama Allah, maka kelak mereka akan mengetahui” (Al-Hijr: 95-96).

An-Nahl

Berfirman: “Dan mereka menjadikan bagi apa yang tidak mereka ketahui suatu bahagian” (An-Nahl: 56), dan berfirman: “Dan mereka menjadikan anak-anak perempuan bagi Allah, Mahasuci Dia, dan bagi mereka apa yang mereka sukai” (An-Nahl: 57), “Dan mereka menjadikan bagi Allah apa yang mereka benci” (An-Nahl: 62), berfirman: “Dia menurunkan malaikat dengan membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya” (An-Nahl: 2), dan berfirman: “Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit binatang ternak rumah-rumah” (An-Nahl: 80) “Dan Dia menjadikan bagimu dari gunung-gunung tempat berlindung” (An-Nahl: 81), “Dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan dengan sungguh-sungguh, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi terhadapmu” (An-Nahl: 91), “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu dari kulit binatang ternak rumah-rumah” (An-Nahl: 80), “Dan Allah menjadikan bagimu dari apa yang Dia ciptakan tempat-tempat bernaung, dan Dia menjadikan bagimu dari gunung-gunung tempat berlindung” (An-Nahl: 81), dan berfirman: “Dan Kami turunkan dari Quran apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al-Isra’: 82), dan berfirman: “Katakanlah: Ruhul Qudus menurunkannya dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman” (An-Nahl: 102).

Bani Israil

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra’: 85) “Kemudian Kami memberi kamu kekuatan kembali mengalahkan mereka, dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu lebih banyak jumlahnya” (Al-Isra’: 6), “Dan janganlah kamu jadikan tuhan yang lain bersama Allah, maka kamu akan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam” (Al-Isra’: 39), “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu” (Al-Isra’: 29), dan berfirman: “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, hilang lah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling, dan manusia itu sangat ingkar” (Al-Isra’: 67) dan berfirman: “Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik, dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Al-Isra’: 110).

Al-Kahfi

“Maka apabila datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar” (Al-Kahfi: 98), “Katakanlah: Jika lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (Al-Kahfi: 109-110), “Dan bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya” (Al-Kahfi: 27), berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya” (Al-Kahfi: 28).

Maryam

Dan berfirman: “Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakaria. Yaitu tatkala dia menyeru Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah” (Maryam: 2-4).

Taha

“Ketika dia sampai ke sana, diserulah dia: Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah suci Tuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” (Taha: 11-14), dan berfirman: “Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (Taha: 46), “Dan telah Aku limpahkan kepadamu kecintaan dari-Ku, dan agar kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (Taha: 39), “Dan telah Aku pilih kamu untuk-Ku sendiri. Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku” (Taha: 41-42) “Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia akan menyiksa kami atau dia akan melampaui batas. Allah berfirman: Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah: Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti dari Tuhanmu. Dan kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk” (Taha: 42-47), “Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya azab itu pasti menimpa mereka” (Taha: 129).

Al-Anbiya’

“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Lalu dia menjadikannya berkeping-keping, kecuali yang terbesar dari patung-patung itu” (Al-Anbiya’: 57-58) dan berfirman: “Dan mereka hendak melakukan tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi” (Al-Anbiya’: 70), dan berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Yaqub sebagai suatu anugerah, dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami” (Al-Anbiya’: 72-73) dan berfirman: “Maka senantiasa itulah seruan mereka sehingga Kami jadikan mereka laksana tanaman yang telah dituai, tidak bernyawa lagi” (Al-Anbiya’: 15) dan berfirman: “Dan Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya: Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya” (Al-Anbiya’: 83-84) dan berfirman: “Dan Dzun Nun, ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia menyeru dalam kegelapan: Bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami memperkenankan seruannya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. Dan Zakaria, ketika dia menyeru Tuhannya: Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Pewaris yang paling baik” (Al-Anbiya’: 87-89).

Dan berfirman dalam surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang mukmin: “Dan sesungguhnya Kami telah azab mereka, tetapi mereka tidak tunduk kepada Tuhannya dan tidak pula merendahkan diri” (Al-Mu’minun: 76).

Al-Furqan

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan” (Al-Furqan: 23) “Dan kaum Nuh ketika mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka pelajaran bagi manusia” (Al-Furqan: 37), “Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan bersemenda, dan Tuhanmu adalah Mahakuasa” (Al-Furqan: 54) “Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Furqan: 74) “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab dan Kami jadikan bersama dia saudaranya Harun sebagai wazir” (Al-Furqan: 35) “Katakanlah: Tuhanmu tidak akan mempedulikan kamu seandainya bukan karena doa kamu, sungguh kamu telah mendustakan, maka kelak azab itu akan menjadi keniscayaan” (Al-Furqan: 77), “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, Ar-Rahman, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia” (Al-Furqan: 59) dari Al-Furqan.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu cahaya yang nyata” (An-Nisa’: 174), “Sesungguhnya Al-Quran itu adalah bacaan yang mulia” (Al-Waqi’ah: 77), “Dan sesungguhnya Al-Quran itu tersimpan dalam Ummul Kitab di sisi Kami, sangat tinggi lagi penuh hikmah” (Az-Zukhruf: 4), “Dan sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia” (Fushshilat: 41), “Ha Mim. Demi Kitab yang menerangkan” (Az-Zukhruf: 1-2).

Asy-Syu’ara’

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin, ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (Asy-Syu’ara’: 193-194) “Firaun berkata: Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, aku pasti akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan” (Asy-Syu’ara’: 29), dan berfirman: “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang sesudahku. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan” (Asy-Syu’ara’: 84-85).

An-Naml

“Ta Sin. Itulah ayat-ayat Quran dan Kitab yang nyata, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (An-Naml: 1-2), “Maka tatkala Musa datang ke api itu, diserulah dia: Berkat bagi yang berada di dalam api dan yang berada di sekitarnya, dan Mahasuci Allah Tuhan semesta alam. Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala dia melihat tongkat itu bergerak seakan-akan seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang dan tidak menoleh. Wahai Musa, janganlah kamu takut, sesungguhnya tidak takut di hadapan-Ku orang-orang yang menjadi rasul” (An-Naml: 8-10), “Dan Dialah yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi” (An-Naml: 62), “Apabila mereka memasuki suatu negeri, mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina” (An-Naml: 34).

Al-Qashash

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah” (Al-Qashash: 4), “Allah berfirman: Akan Kami perkuat lenganmu dengan saudaramu dan Kami akan memberikan kekuasaan kepada kamu berdua, sehingga mereka tidak dapat mencapai kamu berdua, karena ayat-ayat Kami. Kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamu akan menang” (Al-Qashash: 35), “Ketika Musa sampai ke tempat itu, diserulah dia dari sisi lembah yang kanan di tempat yang diberkati yaitu dari pohon kayu: Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam” (Al-Qashash: 30), “Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya. Bagi-Nya segala keputusan, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Al-Qashash: 88), “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi” (Al-Qashash: 5), dan berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul” (Al-Qashash: 7), dan berfirman: “Maka nyalakanlah untukku wahai Haman api untuk membakar tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi” (Al-Qashash: 38), dan berfirman: “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka” (Al-Qashash: 41), dan berfirman: “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan malam itu terus menerus atas kamu” (Al-Qashash: 71), dan berfirman: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Qashash: 83).

Al-‘Ankabut

Berfirman: “Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi seluruh umat manusia” (Al-‘Ankabut: 15), dan berfirman: “Dan di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah, tetapi apabila dia disakiti karena Allah, dia menjadikan fitnah manusia itu seperti azab Allah” (Al-‘Ankabut: 10), “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka mempersekutukan Allah” (Al-‘Ankabut: 65).

Ar-Rum

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya, kemudian apabila Dia merasakan kepada mereka rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya” (Ar-Rum: 33), “Allah yang mengirimkan angin lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit menurut kehendak-Nya, dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkan hujan itu kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka bergembira” (Ar-Rum: 48).

Luqman

“Alif Lam Mim. Itulah ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan” (Luqman: 1-3) “Tidaklah penciptaan kamu dan kebangkitan kamu melainkan seperti satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Luqman: 28), “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta ditambah lagi tujuh laut sesudahnya, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Luqman: 27), “Dan apabila mereka diliputi ombak seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka ke daratan, lalu sebagian dari mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar” (Luqman: 32).

As-Sajdah

“Alif Lam Mim. Diturunkannya Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya, dari Tuhan semesta alam. Bahkan mereka mengatakan: Dia mengada-adakannya. Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” (As-Sajdah: 1-3).

Al-Ahzab: “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (Al-Ahzab: 4).

Saba’: “Dan mereka telah menganiaya diri mereka sendiri, lalu Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.” (Saba’: 19). Disebutkan: “Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir.” (Saba’: 33). Dan disebutkan: “Ketika kamu menyuruh kami supaya kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya. Dan mereka menyembunyikan penyesalan ketika mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Saba’: 33).

Surat para Malaikat:

Yasin: “Yasin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah.” (Yasin: 1-2). “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan untuk mereka dari apa yang telah dibuat oleh tangan Kami, yaitu binatang ternak, lalu mereka menguasainya.” (Yasin: 71). “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Yasin: 82-83).

Ash-Shaffat: “Dan sungguh telah terdahulu ketetapan Kami untuk hamba-hamba Kami yang diutus (171)” [Ash-Shaffat: 171], dan Allah berfirman: “Mereka berkata: Buatlah bangunan untuk (membakar)nya lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala (97) Maka mereka bermaksud berbuat tipu daya terhadapnya, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina (98)” [Ash-Shaffat: 97-98], dan Allah berfirman: “Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dengan jin. Dan sungguh jin itu mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka) (158)” [Ash-Shaffat: 158].

Shad: “Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh seperti orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa seperti orang-orang yang berbuat jahat? (28)” [Shad: 28], dan Allah berfirman: “Dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri; dan orang-orang kafir berkata: Ini adalah tukang sihir yang pendusta (4) Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja?” [Shad: 4-5], “Allah berfirman: Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? (75)” [Shad: 75].

Az-Zumar: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (67)” [Az-Zumar: 67], dan Allah berfirman: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya” [Az-Zumar: 8], dan Allah berfirman: “Kemudian tanaman itu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai” [Az-Zumar: 21], dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah membuat perumpamaan bagi manusia dalam Al-Quran ini dari segala macam, agar mereka dapat pelajaran (27) (Ialah) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa (28)” [Az-Zumar: 27-28].

Al-Mu’min (Ghafir): “Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia (68)” [Ghafir: 68], “Dan Allah memutuskan dengan hak (keadilan), sedang berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat memutuskan sesuatu pun. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (20)” [Ghafir: 20], “Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan Tuhanmu terhadap orang-orang yang kafir” [Ghafir: 6], “Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang menurunkan ruh (wahyu) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya” [Ghafir: 15], dan Allah berfirman: “Dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah) (13) Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, kendatipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya) (14)” [Ghafir: 13-14], dan Allah berfirman: “Dialah Yang Maha Hidup, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka sembahlah Dia dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (65)” [Ghafir: 65], “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (60)” [Ghafir: 60], “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (56)” [Ghafir: 56].

Ha Mim As-Sajdah (Fushshilat): “Ha Mim (1) Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (2) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yaitu bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (3) Yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mendengarkan (4)” [Fushshilat: 1-4], dan Allah berfirman: “Dan sekiranya Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh (44)” [Fushshilat: 44], “Dan orang-orang yang kafir berkata: Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua makhluk yang menyesatkan kami dari jin dan manusia agar kami jadikan keduanya di bawah telapak kaki kami” [Fushshilat: 29], “Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam (9)” [Fushshilat: 9], dan Allah berfirman: “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri; dan jika dia ditimpa bahaya dia berdoa dengan banyak (51)” [Fushshilat: 51], “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Al-Quran ketika Al-Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia (41) Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (42)” [Fushshilat: 41-42].

Ain Sin Qaf (Asy-Syura): “Dia menciptakan kamu dalam kandungan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (11)” [Asy-Syura: 11], dan Allah berfirman: “Sekiranya tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah diputuskan (perkara) antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Al-Quran (14)” [Asy-Syura: 14], “Dan Dia membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati (24)” [Asy-Syura: 24], “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir” [Asy-Syura: 51], “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami” [Asy-Syura: 52], “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya” [Asy-Syura: 7].

Az-Zukhruf: Dan Allah berfirman: “Ha Mim (1) Demi Kitab (Al-Quran) yang menerangkan (2) Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya) (3) Dan sesungguhnya Al-Quran itu tersimpan pada Kami dalam Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh) yang sangat tinggi (nilainya) lagi penuh hikmah (4)” [Az-Zukhruf: 1-4], “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (55) Dan Kami jadikan mereka pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian” [Az-Zukhruf: 55-56], dan Allah berfirman: “Dan kalau Kami menghendaki benar-benar Kami jadikan di antara kamu malaikat-malaikat yang turun temurun di muka bumi (60)” [Az-Zukhruf: 60], “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungan jawab (19)” [Az-Zukhruf: 19].

Al-Jatsiyah, Asy-Syari’ah, Ad-Dukhan: “Kemudian Kami jadikan kamu mengikuti suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (18)” [Al-Jatsiyah: 18], dan Allah berfirman: “Atau apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh” [Al-Jatsiyah: 21].

Surah Al-Fath: “Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil harta rampasan: Biarkanlah kami mengikuti kamu; mereka hendak mengubah kalimat Allah. Katakanlah: Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah Allah telah menetapkan sejak semula. Maka mereka akan berkata: Sebenarnya kamu dengki kepada kami. Sebenarnya mereka hanyalah sedikit sekali memahami (persoalan) (15)” [Al-Fath: 15], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri” [Al-Fath: 10].

Adz-Dzariyat: Dan Allah berfirman: “Angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk (42) Dan (juga) pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu (43)” [Adz-Dzariyat: 42-43], dan Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (51)” [Adz-Dzariyat: 51].

Ath-Thur: “Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu” [Ath-Thur: 48].

An-Najm: “Maka dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (10) Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (11) Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? (12) Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain (13) Yaitu di Sidratul Muntaha (14)” [An-Najm: 10-14].

Al-Waqi’ah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam (63) Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? (64) Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang (65)” [Al-Waqi’ah: 63-65], dan Allah berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (69) Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? (70) Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (70)” [Al-Waqi’ah: 69-70], dan Allah berfirman: “Maka apakah terhadap perkataan ini kamu semua heran? (81) Dan kamu menjadikan rezekimu, bahwa kamu mendustakannya? (82)” [Al-Waqi’ah: 81-82].

Ar-Rahman: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27)” [Ar-Rahman: 26-27].

Qad Sami’a (Al-Mujadilah): “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (1)” [Al-Mujadilah: 1].

Dan Allah berfirman dalam At-Tahrim: “Dan membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya” [At-Tahrim: 12].

Surah Al-Mulk: “Katakanlah: Dia-lah Yang menciptakan kamu di muka bumi dan kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan (24) Dan mereka berkata: Bilakah (terjadinya) janji itu jika kamu adalah orang-orang yang benar? (25) Katakanlah: Sesungguhnya ilmu (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan (26) Maka tatkala mereka melihat azab itu sudah dekat, maka menjadi muramlah muka orang-orang kafir” [Al-Mulk: 24-27].

Al-Qalam: Allah berfirman: “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) itu sama dengan orang-orang yang berdosa? (35)” [Al-Qalam: 35].

Dan dalam Al-Qiyamah: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (20) Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (21) Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22) Kepada Tuhannya mereka melihat (23)” [Al-Qiyamah: 20-23].

Wailul Lil Muthaffifin (Al-Muthaffifin): “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka (14) Sekali-kali tidak; sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka (15) Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka yang menyala-nyala (16)” [Al-Muthaffifin: 14-16], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik benar-benar berada dalam (kenikmatan yang besar) (22) Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang (23)” [Al-Muthaffifin: 22-23], dan Allah berfirman: “Bahkan (Al-Quran) itu adalah Kalam yang mulia (21)” [Al-Buruj: 21].

Dan Allah berfirman dalam Alam Tara (Al-Fil): “Lalu Allah menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (5)” [Al-Fil: 5].

Dan Allah berfirman dalam Iqra’ (Al-‘Alaq): “Apakah dia tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (14) Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (15)” [Al-‘Alaq: 14-15].

Dan Allah berfirman dalam Lam Yakun (Al-Bayyinah): “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama” [Al-Bayyinah: 5].

Hadits dan Riwayat

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/240-252 (1906-1907) Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal memerintahkan aku untuk menulis surat kepada seorang laki-laki yang telah sampai berita kepadanya tentang keraguan orang itu. Ia berkata: Dan aku menulis apa yang dikatakannya, dan menjelaskan apa yang terjadi padanya.

Dan telah mengabarkan kepada kami […]

Di tempat lain ia berkata: Abu Abdullah memerintahkan aku untuk menulis kepada Muhammad bin Hamdun Al-Anthaki nasihat-nasihat dalam sebagian kitab, dan aku menulis surat itu, lalu aku tunjukkan kepadanya, maka ia membetulkannya dengan tangannya sendiri. Ia berkata: Dan ia memiliki pengetahuan tentang hadits, dan ia biasa datang kepadaku, maka inilah, aku menulis: Aku, dan lihatlah apa yang ada padamu dari para guru yang mengatakan: Al-Quran tidak makhluk, maka jadikan itu bersamanya; dan tulislah dengannya engkau kepadanya, tulislah dua salinan; karena aku tidak aman jika tidak […] bahwa ia akan menyembunyikannya, dan tulislah kepada Isa Al-Fattah satu salinan dan kepadanya satu salinan.

Abu Bakar Al-Marwadzi berkata: Dan Abu Abdullah menambahkan padanya dan mengurangi, kemudian ia memerintahkan aku untuk pergi dengannya kepadanya, dan ini adalah salinannya:

Semoga Allah memperbaiki bagi kami dan bagimu dalam semua urusan dengan rahmat-Nya, dan melindungi kami dan engkau dari hawa nafsu yang membinasakan dan fitnah yang menyesatkan dengan kekuasaan-Nya, dan menganugerahi kami dan engkau dengan berpegang teguh pada kitab-Nya, dan beramal dengan ketaatan kepada-Nya. Yang mendorongku untuk menulis surat kepadamu, meskipun tidak terjadi antara aku dan engkau pergaulan, adalah apa yang diwajibkan Allah Tabaraka wa Ta’ala atas orang-orang beriman dari nasihat sebagian mereka kepada sebagian lainnya, dan apa yang kulihat dari kesedihan Abu Abdullah tentang urusanmu karena kedudukan yang kamu miliki di hatinya, dan madzhab kamu dalam mengikuti atsar-atsar, dan meninggalkan orang yang menyelisihinya dan menjauhi mereka. Telah sampai kepadanya tentangmu keraguan dalam Al-Quran, dan bahwa kamu tidak mengatakan: Al-Quran tidak makhluk. Dan Abu Abdullah mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah tidak makhluk, dan sesungguhnya ia termasuk ilmu Allah, dan ia berdalil untuk itu dengan banyak hal.

Allah berfirman: “Dan jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan tidak (pula) pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah (120)” [Al-Baqarah: 120], dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah (37)” [Ar-Ra’d: 37], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya perbandingan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia (59) (Itulah) yang benar, yang datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu (60)” [Ali ‘Imran: 59-60], dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu” [Al-Baqarah: 145], ayat tersebut. Maka Al-Quran termasuk dari ilmu yang datang. Dan Allah berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya-lah penciptaan dan urusan” [Al-A’raf: 54], maka Dia mengabarkan bahwa penciptaan berbeda dengan urusan. Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya” [Ar-Rum: 25], dan Allah berfirman di tempat lain: “Dan matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya” [Al-A’raf: 54], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! Maka terjadilah ia (82)” [Yasin: 82], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: Jadilah! Maka terjadilah ia (40)” [An-Nahl: 40]. Maka Dia mengabarkan bahwa urusan-Nya adalah perkataan, dan Dia membedakan antara ciptaan-Nya dan urusan-Nya. Allah berfirman: “(Tuhan) Yang Maha Pemurah (1) Yang telah mengajarkan Al-Quran (2) Dia menciptakan manusia (3)” [Ar-Rahman: 1-3].

Dan Abu Dzar meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Pemberian-Ku adalah perkataan dan azab-Ku adalah perkataan”. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala mengabarkan bahwa penciptaan terjadi dengan kalam-Nya, dan Dia membedakan antara penciptaan dan urusan.

Dan Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah ‘azza wa jalla adalah Qalam, maka Dia berfirman kepadanya: Tulislah. Ia berkata: Wahai Tuhanku, apa yang aku tulis? Dia berfirman: Tulislah takdir. Maka mengalirlah apa yang akan terjadi sampai hari kiamat. Dan Al-A’masy meriwayatkannya dari Abu Zhibyan dari Ibnu Abbas.

Dan Waki’, Abu Mu’awiyah, Ats-Tsauri, dan Syu’bah meriwayatkannya, dan telah menceritakannya dari Al-Hakam dari Abu Zhibyan. Manshur bin Zadzan meriwayatkannya. Dan Mujahid meriwayatkannya dari Ibnu Abbas, dan ‘Urwah bin ‘Amir dari Ibnu Abbas, dan Abu Ad-Dhuha dari Ibnu Abbas.

Maka yang pertama kali diciptakan Allah adalah Qalam, dan Allah tidak pernah kosong dari ilmu dan kalam, dan keduanya bukan dari makhluk; karena Dia tidak pernah kosong dari keduanya. Maka Al-Quran adalah kalam Allah dan termasuk ilmu Allah, dan bukan makhluk, dan Allah senantiasa Maha Mengetahui lagi Maha Berbicara. Dan menurut mayoritas ulama bahwa mereka berkata: Tidak makhluk.

Maka bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah dirimu, karena sesungguhnya ini adalah perkara yang telah jelas bagi ahli Islam bahwa ia adalah kesesatan, dan bahwa ia menghidupkan pendapat Jahm. Dan sesungguhnya yang menyesatkan kalian dalam perkataan ini adalah dua orang, dan keduanya adalah yang mengatakannya: Salah satunya orang-orang telah mengetahui urusannya bagaimana keadaannya, dan bahwa sesungguhnya ia telah berfanatik kepada Jahmiyyah, dan bergaul dengan Bisyr Al-Marisi, kemudian ia datang kepada orang-orang lalu menampakkan pengkafiran terhadap Jahmiyyah dengan kemunafikan darinya -musuh Allah- ketika ia melihat kehinaan sehingga ketika ia mengira bahwa ia telah mantap, ia menampakkannya untuk kedua kalinya.

Dan yang lainnya, orang-orang telah mengetahui kebodohannya, meskipun ia telah mendengar hadits, namun para ahli ilmu telah mengetahui bahwa ia bukan termasuk orang yang memiliki pengetahuan tentang makna-makna khabar (riwayat), tidak pula tentang hukum-hukumnya, tidak pula tentang pemahaman fiqih di dalamnya, tidak pula tentang pembedaan antara hadits yang lemah dengan yang kuat, dan bahwasanya ia adalah orang yang suka bertengkar, ringan (sembrono), dan sedikit pemahaman, dengan segala puji dan nikmat Allah. Jika tidak demikian, maka apakah perkara orang-orang ini akan meragukan seseorang yang memiliki bagian (kedudukan) di sisi Allah? Sesungguhnya suatu kaum telah bermaksud untuk menjadikan Jahm, Dhirar, Abu Bakar Al-Asham, dan Bisyr Al-Marisi sebagai para pemimpin kesesatan dan kekufuran, dan (menyamakan mereka) dengan orang-orang seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Ibnu Uyainah, Waki’, dan Yazid bin Harun, lalu mereka berkata: “Mereka ini dan mereka itu sama, hukum mereka satu.”

Mereka dalam hal ini telah melakukan pendustaan terhadap kitab Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; ketika mereka mengingkari kalam Allah dan sifat-sifat-Nya, dan berkata: sesungguhnya nama-nama-Nya adalah makhluk, sehingga mereka tidak menetapkan sesuatu pun, hingga Hammad bin Zaid berkata: Sesungguhnya mereka (orang-orang Jahmiyyah) berusaha (menyatakan) bahwa tidak ada sesuatu pun di langit.

Diriwayatkan dari Hammad bin Zaid oleh Sulaiman bin Harb, dan diriwayatkan oleh Ibrahim bin Sa’d atau Syu’aib: Sesungguhnya mereka hanya menyembah berhala. Dan diriwayatkan dari mereka oleh Harun bin Ma’ruf, maka mereka menyamakan antara mereka dengan orang-orang yang tegak berdiri dengan kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan sungguh Allah telah menjelaskan kepada kami urusan mereka melalui para imam kami yang kami temui, dan dengan apa yang dinukil kepada kami oleh orang-orang tsiqah dari para pendahulu kami yang telah tiada, seperti: Ja’far bin Muhammad, Hammad bin Zaid, Ibnu ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’d, Waki’, Yazid bin Harun, Ibnu Mubarak, Yahya bin Abdurrahman, Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Hafs, Ibnu Idris, dan banyak makhluk Allah lainnya yang telah dikafirkan dan disesatkan oleh mereka; maka Allah telah menjelaskan kepada kami melalui mereka, dan dengan apa yang Dia jelaskan dalam kitab-Nya bahwa Dia Maha Berbicara, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, semua ini adalah sifat-sifat-Nya, dan Dia juga telah menjelaskan itu di lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam; ketika Beliau mengabarkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Rabb mereka pada hari Kiamat dan mereka berbicara kepada-Nya dan Dia bertanya kepada mereka, dan Dia tertawa kepada mereka, dan bahwa mereka menyaksikan itu dari-Nya, dan mereka melihat kepada-Nya dan mendengar dari-Nya, dan sungguh Beliau telah menegaskan itu dengan bersabda: Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan akan berbicara dengan Rabbnya tanpa ada penerjemah di antara dia dan-Nya dan tanpa ada penghalang Diriwayatkan oleh Abu Usamah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Khaitsamah, dari ‘Adiy bin Hatim, ia berkata Tidak ada di antara mereka dan Dia seorang penerjemah.

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Musa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Yunus, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari ‘Adiy bin Hatim, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan akan berbicara dengan Rabbnya tanpa ada penerjemah di antara dia dan-Nya.

Dan telah menceritakan kepada kami juga dari Abdul Wahid, juga dari Al-A’masy.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang mukmin mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, lalu Dia meletakkan perlindungan-Nya atasnya, lalu berkata: Apakah engkau mengetahui dosa ini dan itu? Maka ia menjawab: Ya Rabb, aku mengetahuinya. Lalu Dia berkata: Apakah engkau mengetahui? Maka ia menjawab: Ya Rabb, aku mengetahui. Lalu Dia berkata: Aku telah menutupinya untukmu di dunia.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Minhal Adh-Dharir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, dari Shafwan bin Muhriz, ia berkata: Suatu hari ketika aku bersama Ibnu Umar, tiba-tiba ada seorang syaikh menghadapnya lalu berkata kepadanya: Wahai Ibnu Umar, apakah engkau mendengar sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pembicaraan rahasia? Ia menjawab: Ya, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda… dan ia menyebutkan kisahnya.

Dan hingga Abdullah bin Mas’ud berkata: Dan tidak ada seorang pun melainkan Allah berbicara dengannya secara menyendiri.

Telah menceritakan kepada kami dari Syarik, dari Hilal Al-Wazzan, dari Abdullah bin ‘Ukaim, dari Abdullah bin Mas’ud. Kemudian apa yang dijelaskan tentang tambahan, kedekatan, dan keintiman, sesuai dengan tingkat kesegeraan dalam berjamaah.

Dan dalam berita-berita itu terdapat perkara yang sangat besar, tidak ada seorang pun dari ahli ilmu yang mengabaikannya sebagai bantahan terhadap musuh-musuh Allah yang mendustakan dan menolak terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabda Beliau: Bahwa mereka menyaksikan itu dari Rabb mereka dan mendengar.

Dan sungguh Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata: Barangsiapa meragukan Al-Quran, maka ia lebih buruk dari Jahmiyyah. Dan ia berkata: Sikap waqaf ini adalah kenzindikan.

Dan sungguh telah mengabarkan kepadaku seorang syaikh bahwa ia mendengar Ibnu ‘Uyainah berkata: Al-Quran keluar dari Allah.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Al-‘Ala’ bin Al-Harits, dari Zaid bin Artha’ah, dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian tidak akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang keluar dari-Nya. Maksudnya: Al-Quran. Dan telah menceritakan kepada kami Abbas Al-Warraq, dan lainnya -yakni dari Abu Nadhr Hasyim bin Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khunaish, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Zaid bin Artha’ah, dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah para hamba mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu yang serupa dengan apa yang keluar dari-Nya maksudnya: Al-Quran.

Dan telah menceritakan kepadaku Utsman bin Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Musa bin ‘Ubaidah, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi berkata: Apabila mereka mendengar Al-Quran dari mulut Ar-Rahman seakan-akan mereka belum pernah mendengarnya.

Dan telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Habbab Al-Maqri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Musa bin ‘Ubaidah, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, ia berkata: Apabila manusia mendengar Al-Quran pada hari Kiamat dari mulut Ar-Rahman Tabaraka wa Ta’ala seakan-akan mereka belum pernah mendengarnya sebelum itu sama sekali.

Dan dalam hadits-hadits shahih tentang ru’yah (melihat Allah) yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat penjelasan tentang hal ini bahwa orang-orang mukmin menyaksikan itu dari Allah ketika Dia berbicara sementara mereka melihat, dan ketika Dia tertawa kepada mereka, dan sungguh

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al-Hasan dan Al-Husain: Aku berlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hafs Al-Abbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Manshur dan Al-A’masy, dari Al-Minhal -yakni Ibnu ‘Amr- dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi membacakan ta’awudz untuk Al-Hasan dan Al-Husain: Aku berlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna… dan ia menyebutkan haditsnya.

Dan diriwayatkan juga oleh Sufyan Ats-Tsauri, dari Manshur.

Dan telah menceritakan kepada kami juga dari Ja’far bin Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu At-Tayyah, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Abdurrahman bin Khanbasyin, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat ketika setan-setan mengerjakannya? Ia berkata: Setan-setan turun menghampirinya dari gunung-gunung dan lembah-lembah menginginkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: Dan di antara mereka ada setan yang di tangannya membawa nyala api ingin membakar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah Jibril ‘alaihis salam kepadanya dan berkata: Wahai Muhammad, ucapkanlah. Beliau berkata: Apa yang harus aku ucapkan? Ia berkata: Ucapkanlah: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna… dan ia menyebutkan haditsnya. Dan telah menceritakan kepada kami dari ‘Affan, dari Wuhaib, dari Ibnu ‘Ajlan, dari Ya’qub bin Abdullah, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Sa’id bin Malik, dari Khaulah binti Hakim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya salah seorang dari kalian ketika turun di suatu tempat berkata: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna… dan ia menyebutkan haditsnya.

Dan telah menceritakan kepada kami dari Yazid bin Harun, dari Muhammad bin Ishaq, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda: Apabila salah seorang dari kalian ditimpa ketakutan ketika tidur, maka hendaklah ia mengucapkan: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya dan azab-Nya.

Dan telah menceritakan kepada kami dari Jarir bin Hazim, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda: Barangsiapa mengucapkan ketika sore hari: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan dan ia menyebutkan haditsnya.

Dan tidak boleh dikatakan: Aku berlindung denganmu dengan Nabi, atau dengan gunung-gunung, atau dengan para Nabi, atau dengan para Malaikat, atau dengan ‘Arasy, atau dengan bumi, atau dengan sesuatu dari apa yang Allah ciptakan, tidak boleh berlindung kecuali dengan Allah atau dengan kalimat-kalimat-Nya.

Dan sabdanya: Mereka mewajibkan bagi orang yang bersumpah dengan Al-Quran setiap ayat adalah sumpah.

Telah menceritakan kepada kami dari Husyaim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dan ‘Aun, dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa bersumpah dengan suatu surat dari Al-Quran, maka setiap ayat adalah sumpah.

Dan telah menceritakan kepada kami dari Husyaim, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Mughirah, dari Ibrahim bahwa ia berkata: Barangsiapa bersumpah dengan suatu surat dari Al-Quran, maka setiap ayat adalah sumpah.

Dan telah diriwayatkan dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah, dari Abu Kanaf, dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia mendengar seorang laki-laki bersumpah dengan surat Al-Baqarah, lalu ia berkata: Ketahuilah bahwa atasnya setiap ayat adalah sumpah.

Ini adalah perbedaan dengan apa yang dikatakan oleh para Jahmiyyah yang peraguan ini, mereka ketika berkata: Sesungguhnya ia makhluk, dan mereka ketika meragukan tentang hal itu, dan aku telah mendengar Wahb bin Baqiyyah Al-Wasithi berkata: Aku mendengar Waki’ dan aku menulis darinya -yakni Waki’- dan mereka bertanya kepadanya tentang Al-Quran?

Maka ia menjawab: Kalam Allah dan bukan makhluk.

Dan telah menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah dari ‘Ammar Ad-Duhni, ia berkata: Ja’far bin Muhammad ditanya tentang Al-Quran; lalu ia berkata: Bukan Khaliq (Pencipta) dan bukan makhluk.

Dan telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar Yazid bin Harun, ia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk.

Dan telah mengabarkan kepadaku Abbas Al-‘Anbari, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ‘Amr bin Harun Al-Maqri, ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Uyainah ditanya tentang Al-Quran, lalu ia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk. Dan telah mengabarkan hal itu kepadaku juga Abu Bakar Al-A’yan, bahwa ia mendengar dari ‘Amr bin Harun ini, ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Uyainah berkata demikian.

Dan aku mendengar Ja’far bin Makram berkata: Aku mendengar Wahb bin Jarir berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk.

Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata demikian, dan ia berkata: Telah sampai kepadaku ini dari Ja’far bin Muhammad, Sa’id bin Abdurrahman Al-Jumahi, Ibrahim bin Sa’d, Abu Nadhr, Wahb bin Jarir, Waki’, dan lainnya, bahwa mereka berkata: Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, sesungguhnya ia dari orang yang berkata: Tidak diciptakan, maka apakah di sisinya Jahmiyyah yang bermanfaat menempati kedudukan yang halal.

Dan aku telah mendengar orang yang berkata: Terjadi perdebatan antara aku dan Matsna Al-Anmathi, dan kami di jalan Mekkah, lalu aku mendatangi Waki’, dan aku bertanya kepadanya tentang orang yang berkata: Al-Quran makhluk; lalu ia berkata: Ini adalah kekufuran, ini adalah kekufuran, ini adalah kekufuran kekufuran.

Dan aku mendengar Fadhl Al-Anmathi berkata: Aku mendengar Yazid bin Harun dan Al-Furayabi keduanya berkata: Barangsiapa berkata: Al-Quran makhluk, maka ia adalah kafir.

Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ghailan, dan Muhammad bin Abdul Aziz bin Abi Rizmah Al-Marwaziyyan, bahwa keduanya mendengar Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq berkata: Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Dan kedua orang ini dari kalangan utama ahli Khurasan.

Dan telah mengabarkan kepadaku Abu Sa’id bin Akhi Hajjaj Al-Anmathi; bahwa ia mendengar pamannya berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan tidak ada sesuatu pun dari Allah yang makhluk, dan ia dari-Nya, dan tidak berbeda pendapat di antara kami.

Dari Abu Nadhr, ‘Affan, dan ‘Ashim, bahwa mereka berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk.

Dan aku mendengar Abbas Al-‘Anbari berkata: Aku mendengar Abu Al-Walid berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk; dan barangsiapa tidak mengakadkan dalam hatinya bahwa ia bukan makhluk, maka ia kafir.

Dan telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Isa maula Ibnu Mubarak, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Mubarak berkata: Jahmiyyah adalah orang-orang kafir.

Dan telah menceritakan kepadaku Abu ‘Umar Ad-Dauri Al-Maqri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Affan, ia berkata: Aku menyaksikan Salam Abu Al-Mundzir qari penduduk Bashrah, dan telah datang kepadanya seorang laki-laki Jahmiyyah sedangkan mushaf di pangkuannya, lalu ia berkata kepadanya: Apa ini wahai Abu Al-Mundzir? Ia berkata: Pergilah wahai zindiq, ini adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.

Dan aku mendengar Muhammad bin Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata: Ayahku dan Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata: Jahmiyyah berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun di langit.

Dan telah menceritakan kepadaku Al-Abbas Al-‘Anbari, ia berkata: Aku mendengar Syazan berkata: Aku mendengar Yazid bin Harun berkata: Barangsiapa berkata: Al-Quran makhluk, maka ia -demi Allah yang tiada tuhan selain Dia- adalah zindiq.

Dan Umar bin Utsman Al-Wasithi Ibnu Akhi Ali bin ‘Ashim berkata, ia berkata: Aku bertanya kepada Husyaim, Jarir, Mu’tamir, Marhum, pamanku Ali bin ‘Ashim, Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Abu Mu’awiyah, Sufyan, Al-Muththalib bin Ziyad, dan Yazid bin Harun tentang orang yang berkata: Al-Quran makhluk, maka mereka berkata: Zindiq-zindiq. Abu Bakar berkata: Zindiq-zindiq yang dibunuh.

Aku berkata kepada Yazid bin Harun: Mereka dibunuh wahai Abu Khalid dengan pedang? Ia berkata: Dengan pedang.

Dan telah mengabarkan kepada kami orang yang mendengar Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d berkata: Datanglah Sa’id bin Abdurrahman Al-Jumahi, lalu ia bertanya kepada ayahku tentang seorang laki-laki yang berkata: Al-Quran makhluk?

Maka ia berkata: Ini adalah kafir kepada Allah, lehernya dipukul dari sini, dan ia menunjuk dengan tangannya ke lehernya.

Maka aku berkata kepada Yaqub: Apa yang engkau katakan?

Ia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan tidak diciptakan. Dan Fithr bin Hammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Mu’tamir dan Hammad bin Zaid tentang orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk; maka keduanya berkata: Kafir.

Ia berkata: Dan aku bertanya kepada Yazid bin Zurai’: Apakah aku boleh shalat di belakang orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk? Maka ia berkata: Di belakang seorang muslim lebih aku sukai.

Dan aku mendengar Husain berkata: Aku mendengar Qabishah berkata: Barangsiapa berkata: baru (muhdats); maka ia berkata: Sesungguhnya ia diciptakan, dan barangsiapa berkata: Sesungguhnya ia diciptakan; maka ia kafir kepada Allah, aku mendengarnya dari Waki’, dan sungguh telah kukabarkan kepadamu siapa saja yang bangkit dalam perkara ini dan menegakkannya dalam mengkafirkan mereka, telah berlalu bagi mereka penjelasan tentang hal itu, hingga mereka berbicara tentang meminta mereka bertaubat dan mewarisi harta mereka, dan seandainya perkara ini yang dibawa oleh Jahmiyyah adalah perkara yang diragukan atau diragukan padanya, niscaya tidak lapang bagi ahli ilmu untuk mendustakannya, dan tidak mengeluarkan pengikutnya dari kebenaran, dan tidak menetapkan apa yang mereka ingkari dari sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya, dan klaim mereka bahwa Al-Quran diciptakan, dan tidak boleh bagi mereka untuk menentang mereka ketika mereka meminta Bisyr dan sahabat-sahabatnya untuk bertaubat, dan wajib atas mereka untuk diam terhadap mereka dan meninggalkan penolakan terhadap mereka dan perbedaan dengan mereka, tetapi mereka—demi Allah—lebih mengetahui tentang Allah, dan lebih kuat dalam urusan-Nya daripada mereka meragukan apa yang telah ditetapkan bagi mereka dari kebenaran, dan jelas bagi mereka dari kebatilan, maka bertakwalah kepada Allah, dan perhatikanlah dirimu, karena sesungguhnya aku telah menasihatimu, dan aku mencintai bagimu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri, dan aku mengajakmu kepada apa yang diikuti oleh Syaikhul Islam Abu Abdillah, dan ahli ilmu sebelum kita, dan ahli syura, taatlah kepada kebenaran dan rendah hatilah terhadapnya, dan agungkan urusannya, dan jelaskan itu dan singkapkanlah, karena sesungguhnya aku berharap Allah akan menerima dirimu dengan hati orang-orang mukmin, dan Allah melapangkan dadamu dengan apa yang Dia lapangkan dada mereka ketika Dia mengetahui darimu kejujuran dan kerendahan hati dan ketundukan kepada-Nya dan permohonan kepada-Nya, maka jika ada kaum yang menentangmu dalam hal ini dan mengingkarinya atasmu maka lembutkanlah sisimu kepada mereka, dan rendah hatilah terhadap kebenaran dan pemahaman, dan jelaskanlah itu, karena sesungguhnya telah ada dari Ibnu ‘Ulayyah perkataan dalam kemuliaan dan majelisnya bersama Ayyub, dan Yunus, dan Ibnu ‘Aun, dan At-Taimi, maka tidak mencegahnya itu bahwa dia menyingkapkannya di hadapan orang-banyak dan ia kembali darinya maka Allah mengangkatnya dengan hal itu, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan mencukupimu dari apa yang engkau khawatirkan, karena sesungguhnya aku telah melihat Abu Abdillah mencintai agar Allah memberimu taufik, dan aku melihatnya sangat peduli dengan urusanmu, mencintai agar Allah memberimu petunjuk untuk apa yang disepakati sahabat-sahabatmu dari ahli sunnah dan ahli hadits, karena sesungguhnya ini menurutnya seperti pendapat Jahmiyyah—Allah melindungi kami dan dirimu—dan kepada Allah taufik, dan Allah mengumpulkan bagi kami dan bagimu kebaikan dunia dan akhirat, dan telah sampai kepadaku bahwa Zakariya mengeluarkan kitab di hadapanmu, ia menceritakan di dalamnya cerita-cerita dalam masalah tawaqquf (sikap tidak tegas/netral) dari para syaikh yang orang-orang di sisi kami mengetahui bahwa itu adalah dusta.

Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Ini adalah akhir kitab yang ditulis Abu Abdillah di dalamnya dan ia sahkan dengan tulisan tangannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/255-270 (1909-1941)

Ibnu Baththah berkata: Abu Hafsh menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Nashr menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata: Wahai Abu Abdillah! Sesungguhnya aku telah berargumentasi kepada mereka dengan Al-Quran dan hadits dan aku ingin memaparkannya kepadamu, Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah.” (At-Taubah: 6); bukankah dari Muhammad (orang) mendengar kalam Allah?!

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan sesungguhnya ada segolongan dari mereka yang mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (75) (Al-Baqarah: 75).

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (98) (An-Nahl: 98).

Dan Dia berfirman: “Dan apabila kamu membaca Al-Quran…” (Al-Isra’: 45).

Dan Dia berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik…” (Al-A’raf: 204).

Dan Dia berfirman: “Dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Quran). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.” (27) (Al-Kahfi: 27). Dan Dia berfirman: “Dan hendaklah aku membacakan Al-Quran itu (kepada manusia). Maka barang siapa yang mendapat petunjuk…” (An-Naml: 92); bukankah (ia) membaca Al-Quran?! Dan Dia Azza wa Jalla berfirman: “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran.” (Al-Muzzammil: 20); maka dalam segala keadaan ia adalah Al-Quran.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Jabir: “Sesungguhnya Quraisy mencegahku untuk menyampaikan kalam Rabbku.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’awiyah bin Al-Hakam: “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia kecuali Al-Quran”; maka Al-Quran bukan perkataan manusia.

Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidak, demi Allah, tetapi ia adalah kalam Allah.

Maka ia berkata kepadaku: Betapa baiknya argumentasimu! Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan makhluk! Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada manusia dengan makhluk!

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 1/335-337 (141)

Ibnu Baththah berkata: Dan Abu Shalih mengabarkan kepadaku dan Abu Hafsh menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muhammad bin Dawud bin Ja’far Al-Bashrawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: makhluk; maka ia kafir kepada Allah dan hari akhir, dan hujjah di dalamnya: “Maka barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu…” (Ali ‘Imran: 61).

Dan Dia berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan tidak (pula) penolong bagimu dari (siksa) Allah.” (120) (Al-Baqarah: 120).

Dan Dia berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan tidak (pula) pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (37) (Ar-Ra’d: 37).

Maka yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari pengetahuan adalah Al-Quran, dan ia adalah pengetahuan yang datang kepadanya, dan pengetahuan itu tidak diciptakan, dan Al-Quran adalah dari pengetahuan dan ia adalah kalam Allah.

Dan Dia berfirman: “(Allah) Yang Maha Pemurah. (1) Yang telah mengajarkan Al-Quran. (2) Dia menciptakan manusia. (3)” (Ar-Rahman: 1-3).

Dan Dia berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya-lah segala penciptaan dan urusan.” (Al-A’raf: 54). Maka Dia mengabarkan bahwa penciptaan adalah ciptaan, dan urusan (perintah) bukan penciptaan, dan ia adalah kalam, karena sesungguhnya Allah tidak kosong dari pengetahuan.

Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Quran dengan berangsur-angsur.” (23) (Al-Insan: 23).

Dan Adz-Dzikr adalah Al-Quran, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak kosong dari keduanya, dan Allah tidak pernah berhenti menjadi Yang Berbicara dan Yang Mengetahui.

Dan ia berkata di tempat lain: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak kosong dari pengetahuan dan kalam dan keduanya bukan dari makhluk; karena sesungguhnya Dia tidak kosong dari keduanya, maka Al-Quran adalah dari ilmu Allah.

Dan Ibnu Abbas berkata: Pertama kali yang Allah ciptakan adalah Pena, maka Dia berkata kepadanya: Tulislah. Maka ia berkata: Wahai Rabb! Dan apa yang aku tulis? Dia berkata: Tulislah takdir. Maka mengalirlah dengan apa yang akan terjadi dari hari itu hingga hari kiamat. Diriwayatkan oleh Al-A’masy, dari Abu Zhabyan, dari Ibnu Abbas, dan Abu Adh-Dhuha, dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkannya Manshur bin Zadzan, dan diriwayatkannya Mujahid, dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkannya ‘Urwah bin ‘Amir, dari Ibnu Abbas, dan Al-Hakam menceritakannya, dari Abu Zhabyan, dari Ibnu Abbas, maka yang pertama kali Allah ciptakan dari syariat-Nya adalah Pena.

Dan dalam dua ayat ini ada penolakan terhadap Jahmiyyah: “Tiada yang mereka nantikan melainkan datangnya Allah kepada mereka dalam naungan awan…” (Al-Baqarah: 210), “Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris.” (22) (Al-Fajr: 22).

Dan Dia berfirman: “Dan tidak ada yang mengubah kalimat-kalimat (Allah)…” (Al-An’am: 34), dan mereka tidak berkata: Sesungguhnya ia makhluk.

Dan dalam ayat-ayat ini juga ada dalil bahwa yang datang kepadanya adalah Al-Quran; berdasarkan firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu…” (Ar-Ra’d: 37).

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah, Kitab: Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah 2/26-29 (218)

Al-Marrudzi berkata: Di sini ada seorang laki-laki yang telah berbicara di sisi lain itu dan berkata: Paparkan perkataanku kepada Abu Abdillah: maka ia menyebutkan dalam sebuah catatan beberapa hal di antaranya: bahwa shalat kita dan iman kita adalah makhluk atas dasar gerakan dan perbuatan bukan atas dasar perkataan, maka barangsiapa berkata: Iman adalah makhluk. Dan ia bermaksud perkataan maka ia kafir.

Maka ketika Ahmad membacanya dan sampai pada perkataannya: gerakan dan perbuatan, ia melemparkan catatan itu dan marah, kemudian berkata: Ini orang yang pantas untuk diwaspadai darinya, ini adalah perkataan Jahm, jika ia berkata: Iman adalah makhluk maka apa yang tersisa! Yang berkata: Iman adalah persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tiada tuhan selain Allah adalah makhluk!

“Ar-Riwayatayn wal-Wajhayn” hlm. 82-83

Ibrahim bin Al-Hakam Al-Qashshar berkata: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal ditanya tentang iman: makhluk atau bukan? Ia berkata: Adapun apa yang berupa yang didengar maka ia tidak diciptakan, dan adapun apa yang berupa amalan anggota badan maka ia diciptakan.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/238

Al-Marrudzi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Ali bin Al-Madini meriwayatkan dari Al-Walid hadits Umar: Serahkanlah kepada yang mengetahuinya. Maka ia berkata: Kepada penciptanya. Maka ia berkata: Ini adalah dusta. Kemudian ia berkata: Ini sungguh telah kami tulis dari Al-Walid, sesungguhnya hanya: Maka serahkanlah kepada yang mengetahuinya, dan lafazh ini telah diriwayatkan dari Ibnu Al-Madini selain itu.

“Tarikh Baghdad” 1/468

Al-Maimuni berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdillah: Aku pergi kepada Khalaf Al-Bazzar untuk membuatnya marah, sampai kepadaku bahwa ia meriwayatkan hadits dari (Abu) Al-Ahwash, dari Abdullah, ia berkata: Tidaklah Allah menciptakan sesuatu yang lebih agung… dan ia menyebutkan hadits itu.

Maka Abu Abdillah berkata: Tidak sepatutnya baginya meriwayatkan ini pada zaman ini—ia bermaksud masa fitnah—dan matan haditsnya: Tidaklah Allah menciptakan dari langit dan bumi yang lebih agung dari Ayat Kursi.

Dan sungguh Ahmad bin Hanbal berkata ketika mereka mengajukan ini kepadanya pada hari fitnah: Sesungguhnya penciptaan yang dimaksud di sini adalah tentang langit dan bumi dan hal-hal ini, bukan tentang Al-Quran.

“Siyar A’lam An-Nubala'” 10/578.

99 – Pasal: Hukum Jahmiyyah

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, ia berkata: Malik biasa berkata: Aku adalah mukmin, dan ia berkata: Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan ia berkata: Allah berbicara kepada Musa, dan ia memandang sangat buruk perkataan orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk; ia berkata: Dipukul dengan cambukan hingga sakit, dan dipenjara hingga ia bertaubat. Dan Malik berkata: Allah berada di langit, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada sesuatu pun yang kosong dari-Nya.

“Masa’il Shalih” (839)

Abu Al-Fadhl berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Isma’il Ibnu ‘Ulayyah berkata: Barangsiapa berkata: Al-Quran adalah makhluk; (maka ia) pelaku bid’ah.

Dan ayahku berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Quran adalah makhluk maka sungguh ia telah kafir, dan barangsiapa mengklaim bahwa nama-nama Allah adalah makhluk, ia kafir, tidak boleh shalat di belakang orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk; maka jika seorang laki-laki shalat (di belakangnya) hendaklah ia mengulangi.

“Sirah Al-Imam Ahmad” karya Shalih hlm. 66-67

Abu Dawud berkata: Aku berkata kepada Ahmad: (Bagaimana dengan shalat) Jumat? Ia berkata: Aku mengulangi, dan kapan pun aku shalat di belakang siapa saja dari orang yang berkata Al-Quran adalah makhluk maka aku ulangi. Aku berkata: Dan di Arafah? Ia berkata: Ya.

“Masa’il Abi Dawud” (305)

Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad disebutkan kepadanya seorang laki-laki bahwa seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya nama-nama Allah adalah makhluk, dan Al-Quran adalah makhluk? Maka Ahmad berkata: Kekafiran yang jelas. Ia berkata: Aku berkata kepada Ahmad: Barangsiapa berkata: Al-Quran adalah makhluk, apakah ia kafir? Ia berkata: Aku berkata: Ia kafir.

“Masa’il Abi Dawud” (1696-1697)

Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: Sesungguhnya Al-Quran adalah makhluk; maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung.

Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata: Seandainya aku memiliki kerabat dari orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, kemudian ia meninggal, aku tidak akan mewarisinya. Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Dan Al-Quran adalah ilmu dari ilmu Allah, dan barangsiapa mengklaim bahwa Al-Quran adalah makhluk maka sungguh ia telah kafir kepada Allah Ta’ala.

“Masa’il Ibnu Hani'” (1856-1858)

Dan aku mendengarnya berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Quran adalah makhluk maka ia kafir, dan Al-Quran adalah ilmu dari ilmu Allah, maka barangsiapa mengklaim bahwa ilmu Allah adalah makhluk.

“Masa’il Ibnu Hani'” (1860)

Ibnu Hani’ berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Empat tempat dalam Al-Quran: “…setelah datang pengetahuan kepadamu…” maka barangsiapa mengklaim bahwa Al-Quran adalah makhluk; maka ia kafir.

Ibnu Hani’ berkata: Dan aku mendengarnya berkata: Al-Quran adalah ilmu dari ilmu Allah, maka barangsiapa mengklaim bahwa ilmu Allah adalah makhluk, maka ia kafir.

“Masa’il Ibnu Hani'” (1862-1863)

Ibnu Hani’ berkata: Dan ia ditanya tentang seorang laki-laki yang bersumpah dengan talak tidak akan berbicara dengan seorang zindik, lalu ia bertemu seorang laki-laki yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, maka ia berbicara dengannya, maka Ahmad diam, maka Harun Ad-Dik berkata kepadanya: Sesungguhnya Sajjadah berkata: Istrinya telah tertalak. Abu Abdillah berkata: Betapa jauh (dari kebenaran).

“Masa’il Ibnu Hani'” (1872)

Ibnu Hani’ berkata: Ia berkata: Dan Al-Quran adalah kalam Allah, tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: Sesungguhnya ia adalah makhluk maka ia kafir? Maka ia berkata: Ya.

“Masa’il Ibnu Hani'” (1877)

Al-Marrudzi berkata: Al-Maimuni menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepadanya secara empat mata, dan aku meminta penjelasan darinya dan meminta penegasan, aku berkata: Wahai Abu Abdillah: Sungguh kami telah diuji dengan Jahmiyyah ini, apa pendapatmu tentang orang yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak berada di atas Arasy? Ia berkata: Perkataan mereka semua berkisar pada kekafiran.

Aku berkata: Apa pendapatmu tentang orang yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada Musa? Ia berkata: Kafir, tidak ada keraguan padanya.

Saya katakan: “Siapa yang mengatakan bahwa nama-nama Allah itu baru (diciptakan)?” Ia menjawab: “Kafir.” Kemudian ia berkata kepadaku: “Allah adalah salah satu dari nama-nama-Nya, maka siapa yang mengatakan bahwa nama-nama itu baru (diciptakan), maka sungguh ia telah menyangka bahwa Allah itu makhluk.” Dan ia mulai mengagungkan perkara mereka dan mengkafirkan, serta membaca: “Allah, Rabb kamu dan Rabb nenek moyang kamu yang terdahulu.” (Surat Ash-Shaffat ayat 126).

Dan ia menyebutkan ayat yang lain. Saya berkata: “Bagaimana dengan orang yang mengatakan: Allah ada padahal belum ada ilmu (bagi-Nya)?” Maka berubah wajahnya dalam hal ini semua, dan dalam perkara ini ia lebih keras perubahannya dan lebih besar kemarahannya, kemudian ia berkata kepadaku: “Kafir.” Dan ia berkata: “Setiap hari aku semakin bertambah pandangan terhadap orang-orang itu.”

“Al-‘Adl” riwayat Al-Marwazi dan lainnya (349)

Harb berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal, dan disebutkan di sisinya perkataan orang-orang tentang Al-Quran bahwa ia makhluk, maka ia berkata: “Kekafiran yang nyata.” Dua kali.

Ia berkata: Aku bertanya kepada Ishaq, aku katakan: “Bukankah engkau mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah, Dia berfirman dengannya, bukan makhluk?” Ia berkata: “Ya, Al-Quran adalah kalam Allah, Dia berfirman dengannya, bukan makhluk. Dan siapa yang mengatakan bahwa ia makhluk, maka ia kafir.”

Dan aku bertanya kepadanya tentang seseorang yang mengatakan: “Al-Quran adalah kalam Allah,” kemudian ia diam (tidak menjelaskan lebih lanjut). Ia berkata: “Ia menurutku lebih buruk daripada orang yang mengatakan bahwa ia makhluk, karena orang lain akan mengikutinya (mencontohnya).”

“Masail Harb” hlm. 41

Harb berkata: Aku mendengar Ishaq berkata: “Tidak ada perbedaan di antara ahli ilmu bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk. Dan bagaimana mungkin sesuatu dari Rabb Yang Maha Mulia itu makhluk?! Seandainya seperti yang mereka katakan, maka akan menjadi konsekuensi bagi mereka untuk mengatakan: ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya adalah makhluk. Jika mereka mengatakan demikian, maka akan menjadi konsekuensi bagi mereka untuk mengatakan: Allah Yang Maha Suci nama-Nya itu dahulu tidak memiliki ilmu, tidak memiliki kekuasaan, dan tidak memiliki kehendak. Dan ini adalah kekafiran yang murni dan jelas. Allah tidak pernah tidak berilmu dan tidak pernah tidak berbicara, bagi-Nya kehendak dan kekuasaan dalam ciptaan-Nya. Dan Al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Maka siapa yang menyangka bahwa ia makhluk, maka ia kafir. Dan siapa yang diam (tidak menjelaskan), maka ia lebih buruk darinya.”

Harb berkata: Ibrahim bin Al-Harith menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah, dan siapa yang mengatakan bahwa ia makhluk maka ia kafir. Dan Al-Quran termasuk dari ilmu Allah, dan di dalamnya terdapat nama-nama-Nya. Dan ilmu Allah bukan makhluk.” Dan Allah berfirman: “Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al-Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarnya berbicara.” (Surat Ar-Rahman ayat 1-4). Maka Al-Quran termasuk dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukan makhluk, di dalamnya terdapat nama-nama-Nya.

Harb berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah, Dia berfirman dengannya. Siapa yang mengatakan bahwa ia seperti hamba-hamba Allah, maka ia kafir.”

“Masail Harb” hlm. 41

Harb berkata: Dan Abu Abdullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia kafir.”

Aku bertanya: “Tidak boleh dishalatkan (jenazahnya)?” Ia berkata: “Tidak.”

Aku bertanya: “Dan tidak sah shalat di belakangnya?” Ia berkata: “Tidak.”

Aku bertanya: “Apakah jika seseorang shalat di belakangnya harus mengulangi shalatnya?” Ia berkata: “Ya.”

“Masail Harb” hlm. 42

Harb berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin A’yan menceritakan kepada kami bahwa ia menyaksikan Ibnu Al-Mubarak dan dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya Nadhr bin Muhammad berkata: ‘Siapa yang mengatakan: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (Surat Thaha ayat 14) adalah makhluk, maka ia kafir.'” Maka Ibnu Al-Mubarak berkata: “Nadhr benar.”

“Masail Harb” hlm. 42

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, ia berkata: Malik -yaitu Ibnu Anas- biasa berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan.” Dan ia berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah.” Dan ia berkata tentang orang yang mengatakan Al-Quran itu makhluk: “Ia harus dipukul dengan keras dan dipenjarakan hingga ia bertaubat.” Dan Malik berkata: “Allah di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada sesuatu pun yang kosong dari-Nya.”

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (1248)

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia menurut kami kafir, karena Al-Quran termasuk dari ilmu Allah Azza wa Jalla dan di dalamnya terdapat nama-nama Allah Azza wa Jalla.”

Dan ia berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Jika seseorang berkata: Ilmu itu makhluk, maka ia kafir, karena ia menyangka bahwa Allah tidak memiliki ilmu hingga Dia menciptakannya.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/102 (1-2)

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia menurut kami kafir, karena Al-Quran termasuk dari ilmu Allah Azza wa Jalla.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka barangsiapa yang membantahmu tentang hal ini setelah datang kepadamu ilmu” (Surat Ali Imran ayat 61). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu dari Allah.” (Surat Al-Baqarah ayat 120). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan sungguh jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab segala macam keterangan, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu saat itu termasuk orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Baqarah ayat 145). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya-lah penciptaan dan urusan. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Surat Al-A’raf ayat 54).

Ayahku rahimahullah berkata: “Dan penciptaan (al-khalq) berbeda dengan urusan (al-amr).” Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa yang mengingkarinya dari golongan-golongan (yang bersekutu)” (Surat Hud ayat 17).

Ayahku rahimahullah berkata: Sa’id bin Jubair berkata: “Dan golongan-golongan yang bersekutu: semua agama. Maka nerakalah tempatnya.” (Surat Hud ayat 17). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan di antara golongan-golongan yang bersekutu itu ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Kepada-Nya aku menyeru dan kepada-Nya aku kembali.’ Dan demikianlah, Kami telah menurunkannya sebagai hukum yang berbahasa Arab. Dan sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang kepadamu ilmu, tidak ada pelindung dan penolong bagimu dari Allah.” (Surat Ar-Ra’d ayat 36-37).

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/103 (3)

Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, ia berkata: Malik bin Anas rahimahullah biasa berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, harus dipukul dengan keras dan dipenjarakan hingga ia mati.”

Dan Malik rahimahullah berkata: “Allah di atas langit, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak ada sesuatu pun yang kosong dari-Nya,” dan ia membaca ayat ini: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya.” (Surat Al-Mujadilah ayat 7). Dan ia memandang besar pembicaraan dalam hal ini dan menganggapnya sangat buruk.

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/106-107 (11)

Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku: Kami mendengarnya dari Ibnu ‘Ulayyah, dan Manshur bin ‘Ammar datang kepadanya, maka Ibnu ‘Ulayyah berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia pelaku bid’ah.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/131-132 (80)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Syadzadz bin Yahya menceritakan kepadaku, aku mendengar Yazid bin Harun berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia -demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia- adalah zindiq.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/481 (1105)

Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung dan Hari Akhir.”

Al-Khallal berkata: Dari Ahmad bin Al-Husain, Yusuf bin Musa, dan Isma’il bin Ishaq Ats-Tsaqafi -maknanya satu- bahwa mereka mendengar Abu Abdullah berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan siapa yang mengatakan bahwa ia makhluk maka ia kafir.”

Al-Khallal berkata: Ya’qub bin Yusuf Abu Bakar Al-Muthawwi’i mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ahmad dan seorang laki-laki berkata kepadanya: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan?”

Ahmad berkata: “Begitulah kami katakan.”

Laki-laki itu berkata: “Wahai Abu Abdullah, inikah yang benar?” Ia berkata: “Begitulah kami katakan.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, seorang laki-laki berkata kepadanya: “Aku melihat di Bashrah telah ditulis di sebuah masjid: Al-Quran itu makhluk.” Maka Abu Abdullah sangat ketakutan karenanya, dan ia terus berkata: “Tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada tuhan selain Allah.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata: Shalih menceritakan kepada kami. Dan Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hasan bin Ibrahim menceritakan kepada kami. Dan Ahmad bin Bahr Ash-Shaffar mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Hasan bin Al-Bazzar. Dan Ibnu Jahdhar dan Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, bahwa Hasan bin Tsawwab menceritakan kepada mereka -maknanya berdekatan- semuanya mendengar Abu Abdullah bahwa ia berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan siapa yang mengatakan bahwa ia makhluk, maka ia kafir.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/217-218 (1828-1832)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Shalih menceritakan kepada kami bahwa ayahnya ditanya: “Apakah ada seorang ulama yang mengatakan: bukan makhluk?” Ia berkata: “Ja’far bin Muhammad.”

Ayahku menceritakan kepadaku -ia mendiktekannya kepadaku dengan dikte dari kitabnya- ia berkata: Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman Mu’bad menceritakan kepada kami…, lalu ia menyebutkan haditsnya. Ayahku berkata: “Dan aku telah melihat Mu’bad.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/219 (1837)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-‘Abbas Al-Qathi’i mengabarkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Mahna menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdul Wahhab Al-Warraq, yaitu tentang sesuatu dari Al-Quran? Maka ia berkata: Al-Marwazi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Abdullah berkata, atau ia berkata Ahmad: “Siapa yang mencela Al-Quran dengan keburukan maka ia seorang Jahmiyah.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/227 (1861)

Al-Khallal berkata: Abu An-Nadhr Isma’il bin Abdullah bin Maimun Al-‘Ijli mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Sesungguhnya nama-nama Allah itu makhluk, dan sesungguhnya ilmu Allah itu makhluk, maka ia kafir.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Dan siapa yang menyangka bahwa Al-Quran itu makhluk, maka sungguh ia telah kafir, karena ia menyangka bahwa ilmu Allah itu makhluk, dan bahwa Allah tidak memiliki ilmu hingga Dia menciptakannya.”

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik mengabarkan kepadaku bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah, ia berkata: Aku bertanya: “Bagaimana dengan orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah itu ada padahal belum ada ilmu (bagi-Nya)?” Maka berubah wajahnya dengan perubahan yang sangat keras, dan banyak sekali kemarahannya, kemudian ia berkata: “Kafir.” Dan ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya aku setiap hari semakin bertambah pandangan terhadap orang-orang itu.”

Ia berkata: Dan Abu Abdullah berkata kepadaku: “Aku mengetahui bahwa Bisyr Al-Marisi biasa mengatakan: Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu yang makhluk dan ilmu yang bukan makhluk, maka ini apa maksudnya?!”

Aku bertanya: “Wahai Abu Abdullah, bagaimana bisa demikian?” Ia berkata: “Aku tidak tahu, apakah ilmu-Nya semua itu sebagiannya makhluk dan sebagiannya bukan makhluk, aku tidak tahu bagaimana ini? Bisyr begitulah ia biasa berkata!” Dan Abu Abdullah sangat heran dengan heran yang sangat.

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Ashram Al-Muzani mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Harun Al-Hammal berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: “Siapa yang menyangka bahwa nama-nama Allah itu makhluk, maka sungguh ia telah kafir.”

Al-Khallal berkata: Musa bin Muhammad Al-Warraq mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Muhammad Al-Halabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Siapa yang mengatakan: Nama Allah itu makhluk, maka ia kafir. Dan nama-nama-Nya ada dalam Al-Quran.”

Al-Khallal berkata: Abu Muhammad ‘Ubaid bin Syuraik Al-Bazzar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ibrahim Al-Asymi Ibnu Al-Kurdiyyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku masuk menemui Ahmad bin Hanbal, aku dan ayahku, maka ayahku berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdullah, apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Ia berkata: “Al-Quran termasuk dari ilmu Allah, dan siapa yang mengatakan: Sesuatu dari ilmu Allah itu makhluk, maka sungguh ia telah kafir.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Hubaisy bin Sindi dan Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepadanya, Hubaisy berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Siapa yang menyangka bahwa ilmu Allah itu makhluk, maka ia kafir.”

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Aku berkata kepada Ibnu Al-Hajjam -yaitu pada hari ujian (mihnah)- apa pendapatmu tentang ilmu Allah? Maka ia berkata: “Makhluk.” Maka Ibnu Rabah memandang kepada Ibnu Al-Hajjam dengan pandangan mengingkari karena ia terlalu cepat (menjawab). Maka aku berkata kepada Ibnu Rabah: “Apa pendapatmu?” Maka ia tidak ridha dengan apa yang dikatakan Ibnu Al-Hajjam. Maka aku berkata kepadanya: “Engkau telah kafir.”

Abu Abdullah berkata: “Ia mengatakan: Sesungguhnya Allah itu dahulu tidak memiliki ilmu bagi-Nya, dan ini adalah kekafiran kepada Allah. Dan sungguh Al-Marisi biasa mengatakan: Sesungguhnya ilmu Allah dan kalam-Nya itu makhluk, dan ini adalah kekafiran kepada Allah.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/228-230 (1864-1872)

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Al-Husain Al-Warraq menulis kepadaku dari Mausil, ia berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdullah, dan ia mendengarnya berkata: “Siapa yang mengatakan: Sesungguhnya ilmu Allah itu makhluk, maka ia kafir. Dan siapa yang menyangka bahwa ilmu-Nya itu makhluk, maka seolah-olah Dia tidak mengetahui hingga Dia menciptakan ilmu. Dan siapa yang mengatakan: Sesungguhnya nama-nama Allah itu makhluk, maka seolah-olah nama-nama Allah itu tidak ada hingga diciptakan. Dan sesungguhnya setiap makhluk itu akan binasa, maka ini menurutku kafir jika ia mengatakan ini.”

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah berkata: “Tidak ada yang lebih berat bagi mereka daripada apa yang aku masukkan ke dalam (pertanyaan) ketika aku ditanya oleh orang yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk. Aku bertanya: ‘Apakah ilmu Allah itu makhluk?’ Mereka berkata: ‘Tidak.'”

Aku berkata: “Maka sesungguhnya ilmu Allah adalah Al-Quran.” Allah berfirman: “Maka barangsiapa yang membantahmu tentang hal ini setelah datang kepadamu ilmu” (Surat Ali Imran ayat 61).

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kepadaku Manshur bin Al-Walid, bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka, dia berkata: aku bertanya kepada Abu Abdillah: “Apakah Al-Qur’an termasuk ilmu Allah?” Maka dia menjawab: “Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu” (Surah Ali Imran: 61), dan ayat ini terdapat dalam Al-Qur’an di empat tempat.

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Jami’ Ar-Razi, dia berkata: menceritakan kepada kami Abu Zur’ah Ar-Razi, dia berkata: menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, dia berkata: menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mujalid, dari Abu Al-Waddak, dari Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh kaum Mudhar akan mengalahkan para hamba Allah hingga tidak tersisa nama Allah yang disembah, atau sungguh para hamba Allah akan mengalahkan mereka hingga mereka tidak dapat mencegah lembah kecil.” Abu Zur’ah berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: “Nama-nama Allah tidak diciptakan. Tidakkah kamu lihat bahwa beliau bersabda: ‘hingga tidak tersisa nama Allah yang disembah’.”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Abdul Malik Al-Maimuni, dia berkata: menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, dia berkata: menceritakan kepada kami ‘Abbad bin ‘Abbad, dari Mujalid bin Sa’id, dari Abu Al-Waddak, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh kaum Mudhar akan memukul para hamba Allah hingga tidak ada nama Allah yang disembah, dan sungguh orang-orang beriman akan memukul mereka hingga mereka tidak dapat mencegah lembah kecil.”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Muhammad bin Ali Abu Bakar, bahwa Ya’qub bin Bukhtan bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berkata: “Al-Qur’an adalah makhluk.” Maka dia menjawab: “Aku dahulu takut mengatakan kafir, lalu aku melihat firman Allah: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu’ (Surah Ali Imran: 61).”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kami Muhammad bin Dawud, dia berkata: menceritakan kepada kami Hanbal, dia berkata: aku mendengar Abu Abdillah—dan Ibnu Ad-Dauraqi bertanya kepadanya—maka dia berkata: “Kami dahulu takut berbicara tentang hal ini, kemudian hukumnya menjadi jelas bagi kami. Allah berfirman dalam kitab-Nya: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu’ (Surah Ali Imran: 61).”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kami Ahmad bin Muhammad bin Mathar, bahwa Abu Thalib menceritakan kepadanya bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: “Ada sekelompok orang yang berkata: ‘Siapa imammu dalam hal ini? Dari mana kamu mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak diciptakan?'” Dia berkata kepadaku: “Hujjahnya adalah apa yang telah kuberitahukan kepadamu. Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu’ (Surah Ali Imran: 61).”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kami Abu Bakar Al-Marrudzi, dia berkata: aku mendengar Abu Abdillah berkata: “Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan. Dan barangsiapa yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk,’ maka dia kafir kepada Allah dan Hari Akhir. Hujjahnya adalah: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu maka katakanlah: Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian’ (Surah Ali Imran: 61).” Dan Allah berfirman: “Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada bagimu dari Allah seorang pelindung pun dan tidak pula penolong” (Surah Al-Baqarah: 120). “Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim” (Surah Al-Baqarah: 145). Dan Allah berfirman: “Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada bagimu dari Allah seorang pelindung pun dan tidak pula pembela” (Surah Ar-Ra’d: 37). Dan yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Al-Qur’an, dan ilmu yang datang kepadanya ini tidak diciptakan. Al-Qur’an termasuk ilmu, dan ia adalah kalam Allah. Dan Allah berfirman: “Yang Maha Pengasih (1) Mengajarkan Al-Qur’an (2) Menciptakan manusia (3)” (Surah Ar-Rahman: 1-3).

Dan Allah berfirman: “Ingatlah, kepunyaan-Nya-lah penciptaan dan urusan” (Surah Al-A’raf: 54). Maka Dia mengabarkan bahwa Dia menciptakan makhluk, dan urusan berbeda dengan ciptaan, dan ia adalah kalam Allah. Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak pernah kosong dari ilmu. Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Surah Al-Hijr: 9). Dan Az-Zikr adalah Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Allah tidak pernah kosong dari keduanya, dan Dia senantiasa berbicara dan berilmu.

Dan dia berkata di tempat lain: Dan sesungguhnya Allah tidak pernah kosong dari ilmu dan kalam, dan keduanya bukan termasuk makhluk, karena Dia tidak pernah kosong dari keduanya. Maka Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah, dan ia adalah kalam-Nya. Dari Abu Abdillah.

Dan Al-Marrudzi mengeluarkan perbuatan dari kalam. Dan Al-Marrudzi menambahkan, dia berkata: Dan Ibnu Abbas berkata: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena berkata: ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir, perjalanan segala yang akan terjadi dari hari itu hingga hari kiamat.'”

Diriwayatkan oleh Al-A’masy dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas. Dan Abu Ad-Dhuha dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh Manshur bin Zadzan. Dan diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan oleh ‘Urwah bin ‘Amir dari Ibnu Abbas. Dan Al-Hakam menceritakannya dari Abu Zhibyan dari Ibnu Abbas: “Pertama kali yang Allah Azza wa Jalla ciptakan adalah pena.” Dan dalam dua ayat ini terdapat bantahan terhadap Jahmiyyah: “Tidakkah mereka menunggu kecuali Allah datang kepada mereka dalam naungan awan” (Surah Al-Baqarah: 210), “Dan datanglah Rabbmu sedang malaikat berbaris-baris” (Surah Al-Fajr: 22). Dan Allah berfirman: “Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah” (Surah Al-An’am: 34). Dan mereka (Jahmiyyah) berkata bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dan dalam ayat-ayat ini juga terdapat dalil bahwa yang datang kepada Nabi adalah Al-Qur’an, karena firman-Nya: “Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu” (Surah Al-Baqarah: 120).

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kepadaku Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far, bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, dia berkata: aku mendengar Abu Abdillah berkata: “Perkataan Ibnu Abbas adalah hujjah atas mereka: ‘Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena.’ Dan kalam Allah ada sebelum Dia menciptakan pena.”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah, dia berkata: aku mendengar Lauwin berkata: “Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak diciptakan. Bukan aku yang mengatakannya, tetapi Ibnu Abbas yang mengatakannya. Menceritakan kepada kami Husyaim, dia berkata: menceritakan kepada kami Manshur bin Zadzan, dari Al-Hakam, dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas, dia berkata: ‘Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena.'”

Lauwin berkata: “Maka Ibnu Abbas mengabarkan bahwa pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, hanyalah Kami berfirman kepadanya: Jadilah! Maka jadilah dia’ (Surah An-Nahl: 40). Maka sesungguhnya Dia menciptakan makhluk dengan ‘kun’ (jadilah), dan kalam-Nya ada sebelum ciptaan.”

Berkata Al-Khallal: Abu Bakar bin Shadaqah berkata: Al-Fadhl bin Ziyad berkata: “Lalu aku masuk menemui Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan aku telah menghadiri majelis Lauwin. Maka dia berkata kepadaku: ‘Wahai Abu Al-Abbas, apakah kamu menghadiri majelis syaikh ini?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apakah kamu mendengar apa yang syaikh katakan tentang Al-Qur’an?’ Aku menjawab: ‘Ya.'”

Dia berkata: “Subhanallah! Seakan-akan ada penutup di wajahku, lalu dia (Lauwin) menyingkapkannya. Tidakkah kamu mendengar perkataannya: ‘Sesungguhnya awal ciptaan adalah pena, dan sesungguhnya pena diciptakan dengan kalam-Nya, dan kalam-Nya ada sebelum ciptaan-Nya.’ Kemudian dia berkata kepadaku: ‘Tahukah kamu bahwa dia salah satu dari ulama Kufah?’ Maksudnya bahwa asal Lauwin adalah dari Kufah.”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kepadaku Abdul Karim bin Al-Haitsam Al-‘Aquli bahwa Al-Hasan bin Ash-Shabbah menceritakan kepada mereka bahwa kepada Abu Abdillah dikatakan: “Sesungguhnya Lauwin berkata: ‘Pertama kali yang Allah Azza wa Jalla ciptakan adalah pena, maka awal ciptaan adalah pena, dan kalam Allah ada sebelum penciptaan pena.'” Maka Abu Abdillah menganggap bagus perkataan ini dan berkata: “Sampaikan kepada mereka apa yang dia ceritakan.”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kami Abdullah bin Ahmad bahwa ayahnya ditanya: “Sesungguhnya Lauwin…”

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kepadaku Abdullah di tempat lain, dia berkata: aku berkata kepada ayahku: “Sesungguhnya Lauwin Muhammad bin Sulaiman Al-Asadi berkata: ‘Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, dan Allah senantiasa berbicara sebelum Dia menciptakan makhluk.'” Maka ayahku kagum dengan perkataan ini dan menganggapnya bagus.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/230-235 (1874-1887)

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Waki’, dia berkata: menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Zhibyan—Waki’ berkata: dia adalah Hushain bin Jundub—dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan dari sesuatu adalah pena, lalu Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena berkata: ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir.’ Maka pena mengalir dengan apa yang akan terjadi dari hari itu hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan Nun (ikan besar), lalu Dia bentangkan bumi di atasnya. Maka Nun bergerak sehingga bumi bergoyang. Lalu Allah menegakkannya dengan gunung-gunung. Maka sesungguhnya gunung-gunung berbangga di atas bumi hingga hari kiamat.”

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dia berkata: menceritakan kepada kami Ma’mar dan Ats-Tsauri, dari Al-A’masy, dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena berkata: ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir.’ Maka pena mengalir dengan apa yang akan terjadi pada hari itu hingga hari kiamat. Kemudian kitab digulung dan pena diangkat. Kemudian uap air naik, lalu langit-langit dipisahkan. Kemudian Nun diciptakan, lalu bumi dibentangkan di atasnya. Dan bumi berada di atas punggung Nun. Maka Nun bergerak sehingga bumi bergoyang. Kemudian Allah menciptakan gunung-gunung dan menegakkannya. Maka sesungguhnya gunung-gunung berbangga di atas bumi hingga hari kiamat.” Kemudian Ibnu Abbas membaca: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis” (Surah Al-Qalam: 1) hingga “gila” (Surah Al-Qalam: 2).

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami ‘Attab, dia berkata: menceritakan kepada kami Hasyim, dia berkata: menceritakan kepada kami ‘Atha’ bin As-Sa’ib, dia berkata: Abu Zhibyan menceritakan kepadaku, dari ‘Athiyyah dan Ibnu Abbas, keduanya berkata: “Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, dan Dia memerintahkannya untuk menulis. Maka manusia berjalan sesuai dengan apa yang telah ditulis hingga hari kiamat.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 3/235-236 (1890-1892)

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dia berkata: menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman—yaitu Al-A’masy—dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan dari sesuatu adalah pena, maka pena mengalir dengan apa yang akan terjadi. Kemudian uap air naik, lalu langit-langit diciptakan darinya. Kemudian Nun diciptakan, lalu bumi dibentangkan di atas Nun. Maka Nun bergerak sehingga bumi bergoyang. Lalu Allah menegakkannya dengan gunung-gunung. Maka sesungguhnya gunung-gunung berbangga di atas bumi.” Kemudian dia membaca ayat ini: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis (1) Kamu (Muhammad) bukanlah, berkat nikmat Rabbmu, orang gila (2)” (Surah Al-Qalam: 1-2).

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Syu’bah, dari Al-A’masy, dia berkata: aku mendengar Abu Zhibyan menceritakan dari Ibnu Abbas, lalu dia menyebutkan hadits tersebut.

Berkata Al-Khallal: Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, Ibnu Numair, dan Asbath, mereka berkata: menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena. Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena berkata: ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir.’ Maka pena mengalir dengan apa yang akan terjadi dari hari itu hingga hari kiamat.” Lalu dia menyebutkan hadits tersebut.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/237 (1894-1896)

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kepadaku Shalih bin Ali An-Naufali Al-Markhi dari keluarga Maimun bin Mihran, dia berkata: aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang orang yang berkata: “Al-Qur’an adalah makhluk.” Maka dia menjawab: “Barangsiapa yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk,’ maka dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung.” Kemudian dia menoleh kepadaku dan berkata: “Mungkin kamu bertanya bagaimana dia kafir?” Aku menjawab: “Tidak.”

Dia berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah. Dan barangsiapa yang menjadikan ilmu Allah sebagai makhluk, maka dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Tidakkah kamu mendengar firman Allah: ‘Yang Maha Mengetahui yang gaib’ (Surah Saba’: 48) dan ‘Mengetahui yang gaib’ (Surah Saba’: 48), dan di tempat lain dalam Al-Qur’an disebutkan tentang yang gaib.”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Al-Hasan bin Tsawwab Al-Makhrami bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah: “Dari mana kamu mengkafirkan mereka?” Dia menjawab: “Aku membaca dalam Kitabullah di beberapa tempat: ‘Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu’ (Surah Al-Baqarah: 145),” lalu dia menyebutkan penjelasan.

Al-Hasan bin Tsawwab berkata: “Aku berbicara dengan Ibnu Ad-Dauraqi, lalu dia pergi menemui Ahmad, kemudian datang dan berkata kepadaku: ‘Aku bertanya kepadanya, maka dia berkata kepadaku seperti yang dia katakan kepadamu: “Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya” (Surah An-Nisa’: 166).’ Kemudian Ahmad berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya mereka hanya menginginkan pembatalan.'”

Memberitahukan kepadaku Muhammad bin Abi Harun, bahwa Hubaisy bin Sindi menceritakan kepada mereka, dari Abu Abdillah. Allah berfirman: “Yang Maha Pengasih (1) Mengajarkan Al-Qur’an (2) Menciptakan manusia (3)” (Surah Ar-Rahman: 1-3). Maka Dia membedakan antara ilmu dan ciptaan.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/237-238 (1898-1900)

Berkata Al-Khallal: dan memberitahukan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Mathar bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka, dia berkata: aku mendengar Abu Abdillah berkata: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Surah Al-Hijr: 9). Dan Allah berfirman: “Shaad. Demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan” (Surah Shaad: 1). Maka Az-Zikr adalah Al-Qur’an, dan ia bukan makhluk. Dan dia berkata: “Ini adalah sesuatu yang terbuka bagiku.”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Muhammad bin Al-Abbas, dia berkata: aku mendengar Abu Ali Ash-Sha’igh, dan dia termasuk tokoh besar dari sahabat-sahabat Idris Al-Haddad Al-Muqri’, dia berkata: aku mendengar ‘Imran At-Tammar berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kalian sekali panggil dari bumi, seketika itu kalian keluar’ (Surah Ar-Rum: 25). Barangsiapa yang mengklaim bahwa panggilan Allah adalah makhluk, maka dia telah kafir.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/239 (1902-1903)

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Muhammad bin Ali Abu Bakar, bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka, dia berkata: aku berkata kepada Abu Abdillah: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Sajjadah…”

Dan memberitahukan kepadaku Abdul Karim bin Al-Haitsam Ad-Dair’aquli, dia berkata: Al-Hasan bin Al-Bazzar menceritakan kepadaku, dia berkata: “Dikatakan kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya Sajjadah ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata: ‘Istriku tertalak tiga kali jika aku berbicara dengan seorang zindiq,’ lalu dia berbicara dengan seorang laki-laki yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk.’ Maka Sajjadah berkata: ‘Istrinya telah tertalak.’ Maka Abu Abdillah berkata: ‘Betapa jauhnya.'”

Berkata Al-Khallal: memberitahukan kami Ali bin Al-Hasan bin Harun Al-Harbi, dia berkata: menceritakan kepada kami Abu Al-Fadhl Al-Warraq, dia berkata: aku bertanya kepada Abu Ali Al-Hasan bin Hammad Sajjadah, lalu aku berkata: “Sampai kepada kami bahwa kamu berkata: ‘Jika seorang laki-laki bersumpah dengan talak untuk tidak berbicara dengan seorang zindiq, lalu dia berbicara dengan seorang laki-laki yang berkata: Al-Qur’an adalah makhluk, apakah dia melanggar sumpah?'” Maka dia menjawab: “Ya. Barangsiapa yang bersumpah untuk tidak berbicara dengan seorang kafir, lalu dia berbicara dengan seorang laki-laki yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk,’ maka dia melanggar sumpah.” Abu Al-Fadhl berkata: “Dan Abu Bakar bin Zanjuwaih menceritakan kepadaku bahwa hal ini disebutkan kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia berkata: ‘Betapa jauhnya.'”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/271 (1942-1943)

Berkata Hanbal bin Ishaq: aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan Ya’qub Ad-Dauraqi bertanya kepadanya tentang orang yang berkata: “Al-Qur’an adalah makhluk.” Maka dia menjawab: “Barangsiapa yang mengklaim bahwa ilmu Allah Ta’ala dan nama-nama-Nya adalah makhluk, maka dia telah kafir dengan firman Allah Azza wa Jalla: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu’ (Surah Ali Imran: 61). Bukankah itu adalah Al-Qur’an? Dan barangsiapa yang mengklaim bahwa ilmu Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya adalah makhluk, maka dia kafir, tidak ada keraguan dalam hal itu. Jika dia meyakini hal itu dan itu menjadi pendapat dan mazhabnya sebagai agama yang dia anut, maka dia menurut kami adalah kafir.”

“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 71 (160)

Berkata Muhammad bin Yusuf bin Ath-Thaba’: aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, dia berkata: “Wahai Abu Abdillah, apakah aku boleh shalat di belakang orang yang minum khamar?” Maka dia menjawab: “Tidak.”

Dia berkata: “Apakah aku boleh shalat di belakang orang yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk’?” Maka dia menjawab: “Subhanallah! Aku melarangmu dari seorang muslim, lalu kamu bertanya kepadaku tentang seorang kafir?”

“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 72 (163)

Berkata Abu Thalib: Ahmad berkata: “Wahai Abu Thalib, tidak ada yang lebih berat bagi mereka daripada apa yang aku masukkan kepada orang yang berkata: ‘Al-Qur’an adalah makhluk.’ Aku berkata: ‘Apakah ilmu Allah Ta’ala adalah makhluk?’ Dia menjawab: ‘Tidak.’ Aku berkata: ‘Maka sesungguhnya ilmu Allah Ta’ala adalah Al-Qur’an.’ Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan sungguh jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim’ (Surah Al-Baqarah: 145). Dan Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: ‘Barangsiapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu’ (Surah Ali Imran: 61). Ini terdapat dalam Al-Qur’an di beberapa tempat.”

“Asy-Syari’ah” karya Al-Ajurri hal. 72 (164)

Berkata Ibnu Bathah: menceritakan kepada kami Hafsh, dia berkata: menceritakan kepada kami Abu Nashr—’Ishmah, dia berkata: menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaq, dia berkata: aku mendengar Abu Abdillah berkata: “Barangsiapa yang mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah mengklaim bahwa Allah adalah makhluk.”

Kemudian Abu Abdullah berkata, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Betapa agung dan beratnya ucapan ini! Inilah yang selama ini kami khawatirkan akan terjadi.” Telah sampai kepadaku dari sebagian guru kami bahwa beliau berkata, “Maksud ucapan Abu Abdullah ‘inilah yang kami khawatirkan’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Akan muncul suatu kaum yang berkata: Ini Allah, yang menciptakan makhluk. Maka siapa yang menciptakan Allah?’

(Sumber: Al-Ibânah karya Ibn Baththah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah, jilid 2 halaman 67–68)

Al-Maimuni berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah, “Bagaimana jika seseorang berkata: ‘Sesungguhnya Allah dahulu ada tanpa ilmu (belum mengetahui sesuatu).’” Maka wajah beliau berubah sangat marah, dan tampak sekali kemurkaan pada dirinya. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Dia kafir.” Lalu beliau menambahkan, “Setiap hari aku semakin memahami keburukan kaum itu.”

(Sumber: Al-Ibânah karya Ibn Baththah, Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah, jilid 2 halaman 70)

Abu Thalib berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah, “Ada seseorang berkata kepadaku: Mengapa engkau mengatakan bahwa siapa yang kafir terhadap satu ayat dari Al-Qur’an maka dia telah kafir? Apakah dia kafir seperti orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi? Ataukah dia hanya kafir terhadap nikmat Allah? Ataukah kafir karena ucapannya?”

Beliau menjawab, “Aku tidak mengatakan bahwa dia kafir seperti orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Akan tetapi seperti orang murtad; aku akan memintanya bertobat selama tiga hari. Jika dia bertobat, maka diterima; jika tidak, maka aku akan membunuhnya.”

Dia berkata: Betapa baiknya apa yang engkau katakan, siapakah yang mengingkari nikmat?! Barangsiapa yang mengingkari satu ayat maka sungguh dia telah kafir.

Aku berkata: Bukankah dia seperti orang murtad, jika dia bertobat (diterima) kalau tidak maka dibunuh? Dia berkata: Ya.

Dan Abu Thalib berkata: Dan aku bertanya kepada Abu Abdullah: Ada seseorang bertanya kepadaku tentang Jahmiyyah yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, apakah dia kafir?

Aku berkata: Ada sekelompok orang yang mengatakan: Halal darah dan hartanya, seandainya aku bertemu dengannya di tempat sepi pasti akan kubunuh.

Dia berkata: Siapa mereka? Ini adalah orang murtad yang diminta bertobat selama tiga hari, pendapat Umar dan Abu Musa, dan ini seperti orang murtad yang diminta bertobat.

Dan Abu Taubah ath-Tharsusi -Rabi’ bin Nafi’- berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal ketika dia berada di Tharsus -maksudnya: ketika dia dibawa dalam mihnan (ujian/siksaan)- : Apa pendapatmu tentang orang-orang ini yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk? Maka dia berkata: Kafir.

Aku berkata: Apa yang dilakukan terhadap mereka? Dia berkata: Maka dia berkata: Mereka diminta bertobat, jika mereka bertobat maka (selamat) kalau tidak maka dipancung lehernya. Dia berkata: Maka aku berkata: Engkau datang melemahkan pendapat penduduk Irak, tidak, justru mereka dibunuh dan tidak diminta bertobat.

Abu Bakar al-Atsram berkata: Maka Abu Ishaq al-‘Abbadani berkata suatu hari kepada Abu Abdullah sedang kami bersamanya: Wahai Abu Abdullah, Abu Taubah telah meriwayatkan darimu begini dan begini. Maka dia tersenyum, kemudian berkata: Semoga Allah memberi kesehatan kepada Abu Taubah.

Dan Abu Bakar Abdul Aziz bin Ja’far berkata: Menceritakan kepada kami al-Khallal, dia berkata: ‘Ali bin ‘Isa al-‘Ukbari menceritakan kepadaku; bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, dia mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa yang berkata: Bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih; maka sungguh dia telah kafir dan menolak perintah Allah dan firman-Nya, dia diminta bertobat, jika dia bertobat (diterima) kalau tidak maka dibunuh.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/77-79 (301-304)

Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang warisan Jahmiyyah jika dia memiliki keponakan yang mewarisinya. Dia berkata: Telah sampai kepadaku dari Abdurrahman bahwa dia berkata: Seandainya aku, aku tidak akan mewarisinya.

Aku berkata: Apa pendapatmu? Dia berkata: Apa yang engkau lakukan dengan pendapatku?

Aku berkata: Apakah seperti itu? Dia berkata: Aku tidak mengatakan sesuatu.

Aku berkata: Jika seseorang mengambil pendapat Abdurrahman, apakah engkau mengingkarinya?

Dia berkata: Aku tidak mengingkarinya. Seolah-olah dia menyukainya.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/80 (307)

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami al-Marrudzi; bahwa dia mendengar Abu Abdullah berkata: Telah sampai kepadaku dari Abdurrahman bahwa dia berkata: Seandainya aku memiliki kerabat dari orang yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk kemudian dia meninggal, aku tidak akan mewarisinya.

Ya’qub bin Bukhtan berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah rahimahullah: Seseorang yang memiliki kerabat Jahmiyyah, apakah dia mewarisinya? Dia berkata: Telah sampai kepadaku dari Abdurrahman bahwa dia berkata: Dia tidak mewarisinya.

Lalu dikatakan: Apa pendapatmu? Maka dia berkata: Jika dia kafir. Aku berkata: Dia tidak mewarisinya? Dia berkata: Tidak.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/81 (309-310)

Abu Muhammad Fauran berkata: Abu Abdullah rahimahullah tidak berpendapat bahwa seseorang mewarisi orang yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk.

Dan Abu Muhammad Fauran berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Tentang Jahmiyyah jika dia meninggal dan memiliki anak: Bahwa dia tidak mewarisinya.

Dan al-Marrudzi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang Jahmiyyah yang meninggal dan memiliki anak paman tidak ada ahli waris selain dia? Maka dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak mewarisi orang Muslim kepada orang kafir.”

Aku berkata: Jadi dia tidak mewarisinya? Dia berkata: Tidak. Aku berkata: Lalu apa yang dilakukan dengan hartanya? Dia berkata: Baitul mal, kami berpendapat bahwa harta orang murtad untuk baitul mal.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab: Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/82-83 (312-314)

Dan al-Marrudzi berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Seseorang shalat di belakang shaf, dia bersama seseorang, ketika salam dia melihat ke orang yang shalat di sampingnya ternyata dia Jahmiyyah; dia berkata: Dia mengulang shalatnya; karena sesungguhnya dia hanya shalat di belakang shaf sendirian. Atau ucapan yang maknanya seperti ini -insya Allah.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab: Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/122 (389)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya asy-Syarrak telah sampai kepadaku tentang dia bahwa dia telah bertobat dan kembali. Dia berkata: Dusta, orang-orang ini tidak bertobat, sebagaimana perkataan Ayyub: Jika salah seorang dari mereka keluar (dari agama) maka dia tidak kembali kepadanya atau semacam ini.

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab: Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/129-130 (404)

Abu al-Harits ash-Sha’igh berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya pengikut Ibnu ats-Tsallaj, kami telah mencela mereka dan kehormatan mereka, apakah kami meminta halal dari mereka tentang hal itu? Maka dia berkata: Tidak, mereka ini Jahmiyyah, dari hal apa mereka diminta menghalalkan?!

“Al-Ibanah” karya Ibnu Baththah kitab Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiyyah 2/131-132 (408)

Ahmad bin Salamah berkata: Menceritakan kepada kami Ishaq bin Rahawaih dia berkata: Mereka sampai pada perkataan: Nama-nama Allah itu makhluk; karena Allah ada sedang tidak ada nama. Dan ini adalah kekufuran yang murni; karena Allah memiliki nama-nama yang husna, maka barangsiapa yang memisahkan antara Allah dan nama-nama-Nya dan ilmu-Nya dan kehendak-Nya lalu menjadikan semua itu makhluk, sedangkan Allah menciptakannya; maka sungguh dia telah kafir, dan Allah Azza wa Jalla memiliki sembilan puluh sembilan nama. Telah shahih hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengatakannya, dan sungguh telah berbicara sebagian orang yang dinisbatkan kepada Jahm dengan perkara yang besar maka dia berkata: Seandainya aku mengatakan: Bahwa Rabb memiliki sembilan puluh sembilan nama pasti aku akan menyembah sembilan puluh sembilan tuhan, hingga dia berkata: Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah yang Maha Esa lagi Maha Dibutuhkan, sesungguhnya aku hanya menyembah yang dikehendaki dengan-Nya. Maka ucapan apa yang lebih keras kebohongan dan lebih besar dari ini, bahwa seseorang mengucapkan untuk mengatakan: Aku tidak menyembah Allah.

“Syarh Ushul al-I’tiqad” 2/240 (352)

Ya’qub bin Sufyan berkata: Aku mendengar Abu Hasyim Ziyad bin Ayyub, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdullah, seseorang berkata: Al-Quran itu makhluk. Lalu aku berkata kepadanya: Wahai kafir, apakah engkau melihat dosa atasku? Dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi pernah berkata: Seandainya aku memiliki kerabat di antara mereka kemudian dia meninggal, aku tidak akan mewarisinya.

Maka seorang Khurasani berkata kepadanya dengan bahasa Persia: Yang mengatakan Al-Quran itu makhluk, apakah aku katakan: Bahwa dia kafir? Dia berkata: Ya.

“Syarh Ushul al-I’tiqad” karya al-Lalaka’i 2/353 (513)

Dan Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad dan dia telah menceritakan kepadanya Sari as-Saqathi: Ketika Allah menciptakan huruf-huruf, semuanya sujud kepada-Nya kecuali Alif berkata: Aku tidak akan sujud sampai aku diperintahkan, maka dia berkata: Ini adalah kekufuran.

“Ar-Rawiyatain wal Wajhain” masa’il al-‘aqidah hal. 81

Dan dia berkata dalam riwayat Abu Thalib: Barangsiapa yang berkata: Al-Quran itu makhluk; maka dia kafir, dan barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang yang berkata: Al-Quran itu makhluk; maka kami tidak mengkafirkannya.

Dan demikian pula al-Marrudzi meriwayatkan tentang suatu kaum di Tharsus yang mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan, maka dia berkata: Aku tidak mendengar sesuatu tentang ini.

“Ar-Rawiyatain wal Wajhain” masa’il al-‘aqidah hal. 111, “Al-Furu'” 6/

Abu Ja’far ad-Darimi berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Aku katakan kepadamu perkataanku, dan jika engkau mengingkari sesuatu darinya? Maka katakan: Sesungguhnya aku mengingkarinya. Aku berkata kepadanya: Kami mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah dari awalnya sampai akhirnya, tidak ada sesuatu darinya yang makhluk, dan barangsiapa yang mengira bahwa sesuatu darinya itu makhluk maka dia kafir. Maka dia tidak mengingkari sesuatu darinya dan merestui perkataannya.

“Thabaqat al-Hanabilah” 1/104

Ibnu Mani’ al-Baghawi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal dan dia ditanya tentang orang yang berkata: Al-Quran itu makhluk, maka dia berkata: Kafir.

“Thabaqat al-Hanabilah” 1/184

Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’ berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya kami telah mendapati dari lemahnya penduduk Irak dalam Sunnah, lalu apa pendapatmu tentang orang yang mengira bahwa Al-Quran itu makhluk? Maka dia berkata: Aku katakan: Bahwa dia kafir.

Dia berkata: Aku berkata: Lalu apa pendapatmu tentang darahnya? Dia berkata: Halal setelah dia diminta bertobat.

Maka aku berkata: Engkau menyampaikannya cara orang Irak. Abu Taubah berkata: Dia tidak diminta bertobat, tetapi dia dibunuh.

“Thabaqat al-Hanabilah” 1/418

Ziyad bin Ayyub berkata: Aku berada di sisi ‘Ali bin al-Ja’d, lalu mereka bertanya kepadanya tentang Al-Quran, maka dia berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan barangsiapa yang berkata: Makhluk; aku tidak akan mencacinya.

Abu Hasyim Ziyad bin Ayyub berkata: Maka aku menyebutkan hal itu kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia berkata: Tidak sampai kepadaku tentang dia yang lebih keras dari ini.

“Thabaqat al-Hanabilah” 1/422

Al-Bukhari berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: Aku adalah seorang yang diuji, sungguh aku diuji agar aku mengatakan kepadamu, tetapi aku katakan, jika engkau mengingkari sesuatu maka tolak aku darinya, Al-Quran dari awalnya sampai akhirnya adalah kalam Allah, tidak ada sesuatu darinya yang makhluk, dan barangsiapa yang berkata: Sesungguhnya dia makhluk -atau sesuatu darinya itu makhluk- maka dia kafir, dan barangsiapa yang mengira bahwa lafalnya tentang Al-Quran itu makhluk maka dia Jahmiyyah kafir. Dia berkata: Ya.

“Thabaqat al-Hanabilah” 2/259

Ibnu Badina berkata: Dan aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang: Berkata dengan penciptaan Al-Quran, dan berkata: Bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa, apakah dia kafir? Maka dia cenderung bahwa dia kafir.

“Thabaqat al-Hanabilah” 2/285

Al-Khaniqini berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Al-Quran adalah kalam Allah, dan bukan makhluk, dan barangsiapa yang mengira bahwa Al-Quran itu makhluk maka dia kafir.

“Thabaqat al-Hanabilah” 2/420

Al-Hasan bin ash-Shabbah berkata: Dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal: Bahwa Sajjadah ditanya tentang seseorang yang berkata kepada istrinya: Engkau ditalak tiga kali jika berbicara kepada zindiq, lalu dia berbicara kepada seseorang yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, maka Sajjadah berkata: Istrinya telah ditalak. Maka Ahmad berkata: Betapa jauhnya.

“Siyar A’lam an-Nubala'” 11/392

Dan Ibrahim al-Atrush bertanya kepadanya: Tentang membunuh Jahmiyyah, dia berkata: Aku berpendapat membunuh para da’i (penyeru) di antara mereka.

“Al-Furu'” 6/158

100 – Bab: Menjauhi Golongan Jahmiyah

Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Bagaimana orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk? Ia menjawab: Timpakan padanya segala bencana.

Aku berkata: Apakah ia dikatakan kafir? Ia menjawab: Ya demi Allah, segala keburukan dan segala bencana ada pada mereka.

Aku berkata: Apakah kita menampakkan permusuhan kepada mereka ataukah kita bersikap baik kepada mereka? Ia menjawab: Penduduk Khurasan tidak kuat menghadapi mereka. Ia berkata seolah-olah bersikap baik.

“Masa’il al-Kausaj” (3386)

Abu al-Fadhl Shalih berkata: Ayahku berkata: Jika seseorang diuji maka janganlah ia menjawab, dan tidak ada keberatan, karena orang yang dipaksa menurutku tidaklah dianggap dipaksa kecuali ia mengalami pukulan atau penyiksaan. Adapun orang yang diancam, maka menurutku ia tidak dianggap dipaksa karena ancaman; karena ayat yang Allah berfirman di dalamnya: “Kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dalam iman” (An-Nahl: 106), yaitu iman, turun tentang Ammar, dan Ammar disiksa. Aku bertanya kepada ayahku: Jika berkumpul dua orang, salah satunya telah diuji dan yang lain tidak diuji kemudian tiba waktu shalat. Ia berkata: Yang maju adalah yang tidak diuji.

Ayahku berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan hadits ini, sedangkan aku tidak mendengarnya dari Ismail, dari Qais, ia berkata: Al-Asy’ats bin Qais dan Jarir berkumpul di sebuah jenazah, maka Al-Asy’ats mendahulukannya atasnya. Al-Asy’ats berkata kepada orang-orang: Sesungguhnya aku telah murtad sedangkan ia tidak murtad. Dan ayahku mengagumi hadits ini.

Abu al-Fadhl berkata: Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, dari Sufyan bin Uyainah. Abu al-Fadhl berkata: Dan ayahku mencoret hadits setiap orang yang menjawab.

Abu al-Fadhl berkata: Ibnu Rabbah datang menuju Bashrah, lalu sampai kepadanya bahwa Abdullah al-Qawariri mengantarnya atau memberi salam kepadanya, maka al-Qawariri mendatangi ayahku. Ketika ayahku melihatnya, ia berkata: Tidakkah cukup bagimu apa yang telah kamu lakukan dengan menjawab, hingga kamu memberi salam kepada Ibnu Rabbah? Lalu ia menutup pintu di depan wajahnya. Al-Hazami datang kepadanya—dan ia telah pergi kepada Ibnu Abi Du’ad—lalu mengetuk pintu. Ketika keluar menemuinya dan melihatnya, ia menutup pintu dan masuk.

Shalih berkata: Ayahku berkata: Janganlah seseorang bersaksi di hadapan hakim Jahmiyah.

Shalih berkata: Ayahku ditanya tentang seseorang yang telah mempersaksikan seseorang atas suatu kesaksian, lalu ia memanggilnya kepada hakim untuk bersaksi untuknya, dan hakimnya adalah Jahmiyah. Ia berkata: Janganlah ia pergi kepadanya.

Dikatakan kepadanya: Jika ia menuntutnya lalu membawanya kemudian diuji; ia berkata: Janganlah ia menjawab dan tidak ada keberatan, ia mengambil segenggam tanah lalu memukulkannya ke wajahnya.

“Sirah al-Imam Ahmad” hlm. 73-74

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Barangsiapa mengatakan perkataan itu: tidak boleh shalat di belakangnya, baik Jumat maupun selainnya, kecuali bahwa kita tidak meninggalkan untuk mendatanginya. Jika seseorang shalat, maka ia mengulangi shalatnya, maksudnya: di belakang orang yang berkata: Al-Qur’an adalah makhluk.

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah tentang shalat di belakang ahli bid’ah. Ia berkata: Tidak boleh shalat di belakang mereka seperti Jahmiyah dan Muktazilah.

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Jika hakim adalah Jahmiyah maka janganlah bersaksi di hadapannya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/103 (4-6)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Asy’ats bin Abdul Malik datang kepada Qatadah, maka Qatadah berkata kepadanya: Dari mana? Jangan-jangan kamu masuk ke dalam golongan Muktazilah ini, maka seorang laki-laki berkata kepadanya: Sesungguhnya ia telah menetapi Hasan dan Muhammad. Ia berkata: Demi Allah, jika demikian maka tetapilah mereka berdua.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (622)

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa dan Ismail bin Ishaq ats-Tsaqafi mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga Jahmiyah, apakah ia memberi salam kepadanya? Ia berkata: Tidak.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa al-Fadhl menceritakan kepadanya, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Adapun Jahmiyah, maka janganlah kalian berbicara kepada mereka.

Ali bin Abdul Shamad mengabarkan kepadanya, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetangga kami yang Jahmiyah yang memberi salam kepadaku; apakah aku menjawabnya? Ia berkata: Tidak.

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Abdul Wahhab mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Bakr bin Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Tsabit al-Haththab menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku dan Ishaq bin Abi Umar sedang duduk, lalu seorang laki-laki Jahmiyah lewat di depan kami, dan aku tahu bahwa ia Jahmiyah, lalu ia memberi salam kepada kami, maka aku menjawab salamnya, dan Ishaq bin Abi Umar tidak menjawabnya. Maka Ishaq berkata kepadaku: Apakah kamu menjawab salam orang Jahmiyah! Ia berkata: Maka aku berkata: Bukankah aku menjawab salam orang Yahudi dan Nasrani?

Ia berkata: Apakah kamu ridha dengan Abu Abdillah? Aku berkata: Ya.

Ia berkata: Maka aku pergi pagi-pagi kepada Abu Abdillah, lalu aku mengabarkan kepadanya tentang kejadian tersebut.

Maka ia berkata: Subhanallah! Apakah kamu menjawab salam orang Jahmiyah?!

Maka aku berkata: Bukankah aku menjawab salam orang Yahudi dan Nasrani? Maka ia berkata: Orang Yahudi dan Nasrani telah jelas urusan mereka.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdillah menyebut seorang laki-laki dari Jahmiyah lalu berkata: Semoga Allah menghinakannya.

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Bakr bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah menyebut seseorang lalu berkata: Semoga Allah membunuhnya.

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar mengabarkan kepada kami, dan Ibnu Yahya menyebutkannya bahwa Abu Thalib menceritakan kepadanya, bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: Mereka berkata: Kita memerangi mereka dan kita keluar melawan mereka.

Maka ia berkata: Tidak, pedang tidak kita inginkan, itu akan menjadi fitnah yang di dalamnya orang yang tidak bersalah terbunuh, berdoalah kalian dengan itu.

Ahmad bin Muhammad bin Mathar berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya mereka melewati sebuah kuburan seorang laki-laki di Tharsus, maka penduduk Tharsus berkata: Orang kafir, semoga Allah tidak merahmatinnya. Maka Abu Abdillah berkata: Ya, maka semoga Allah tidak merahmatinnya, ini orang yang meletakkan fondasi ini dan datang dengan ini.

Al-Khallal berkata: Musa bin Muhammad al-Warraq mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ubaidullah bin Ahmad al-Halabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, dan ia menceritakan kepadaku hadits Jarir bin Abdullah tentang ru’yah (melihat Allah), maka ketika selesai ia berkata: Laknat Allah atas Jahmiyah.

Al-Khallal berkata: Aku membaca kepada al-Husain bin Abdullah an-Nu’aimi, dari al-Husain bin al-Hasan, maka ia berkata: Abu Bakr al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Seorang guru mengaji didatangi oleh anak Jahmiyah, apakah engkau berpendapat bahwa ia boleh mengajarinya?

Ia berkata: Anaknya berumur berapa? Aku berkata: Tujuh atau delapan tahun.

Ia berkata: Janganlah mengajarinya dan janganlah menerimanya; agar sang ayah dihinakan karenanya.

Al-Khallal berkata: Abu Bakr al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Aku melewati kampung seorang Jahmiyah dan tidak ada bekal bersamaku, apakah engkau berpendapat bahwa aku berpuasa?

Ia berkata: Ya, berpuasalah dan janganlah membeli sesuatu darinya.

Al-Marwazi berkata di tempat lain: Ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, aku berkata: Apakah aku menjual pakaian kepada seorang laki-laki yang aku tidak suka perkataannya dan jual belinya, maksudnya: Jahmiyah?

Ia berkata: Biarkanlah aku sampai aku melihat. Maka setelah aku bertanya kepadanya tentang hal itu, ia berkata: Hindarilah jual beli dengannya.

Aku berkata kepada Abu Abdillah: Jika aku berjual beli dengannya dan aku tidak tahu.

Ia berkata: Jika kamu mampu untuk membatalkan jual beli itu maka lakukanlah.

Aku berkata: Jika aku tidak bisa, apakah aku bersedekah dengan harganya?

Ia berkata: Aku tidak suka membebani manusia dengan ini; maka harta mereka akan hilang.

Aku berkata: Bagaimana aku berbuat? Ia berkata: Aku tidak tahu, aku tidak suka berbicara di dalamnya dengan sesuatu.

Aku berkata: Sesungguhnya aku hanya ingin mengetahui mazhabmu. Ia berkata: Bukankah kamu menjual dan kamu tidak mengenalnya?

Aku berkata: Ya. Ia berkata: Aku tidak suka berbicara di dalamnya dengan sesuatu, tetapi paling tidak yang ada di sini adalah kamu bersedekah dengan keuntungannya dan hindari jual beli dengan mereka.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdillah: Apa pendapatmu tentang seseorang dari Jahmiyah yang meninggal dan tidak ada seorang pun dari sahabatnya yang menyaksikan, apakah kami menguburkannya?

Ia berkata kepadaku: Paling tidak yang seperti ini, aku berharap kamu tidak diuji dengan ini. Kemudian ia berkata: Sampai kepadaku bahwa sebagian […] dari seseorang dari mereka lehernya dipukul, maka mereka melemparkannya ke dalamnya, maka ia tidak dishalatkan.

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Abdullah an-Nu’aimi mengabarkan kepadaku, dari al-Husain bin al-Hasan, ia berkata: Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada kami, bahwa Abu Abdillah berkata: Tidak dishalatkan atas orang Jahmiyah.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik al-Maimuni mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah menyebutkan Jahmiyah, maka seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana pendapatmu jika ia meninggal di sebuah kampung yang tidak ada di dalamnya kecuali orang-orang Nasrani, siapa yang menyaksikannya? Abu Abdillah berkata menjawab: Aku tidak menyaksikannya, yang menyaksikannya adalah siapa yang mau. Ia berkata kepadaku: Abu Abdillah: Lebih dari satu orang menceritakan dari Waki’ bahwa ia berkata: Kafir.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/185-188 (1702-1713)

Al-Khallal berkata: Ali bin Isa mengabarkan kepadaku bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa berkata: Al-Qur’an adalah makhluk; maka janganlah ia diduduki bersama, dan aku tidak melihat bagi orang yang berkata dengan pendapat ini kecuali ia harus dijauhi, dan ditampakkan kepadanya sikap kasar.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Mereka tidak boleh diajak bicara, dan tidak boleh diduduki bersama.

Al-Khallal berkata: Ya’qub bin Yusuf Abu Bakr al-Muthawwi’i mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Mahmud bin Ghailan berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya Yahya bin Yahya an-Naisaburi berkata: Barangsiapa berkata: Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir. Tidak boleh diajak bicara, dan tidak boleh diduduki bersama.

Maka Ahmad berkata: Semoga Allah meneguhkan perkataannya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/316-317 (2089-2091)

Al-Khallal berkata: Abu Bakr al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa berkata: Al-Qur’an adalah makhluk; maka jika ia sakit janganlah engkau menjenguknya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdillah berkata: Mereka tidak dijenguk.

Al-Khallal berkata: Abu Bakr mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa berkata: Al-Qur’an adalah makhluk; maka janganlah menyaksikan jenazahnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku, bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Tidak dishalatkan atasnya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 2/317 (2093-2096)

Al-Khallal berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang diam lalu berkata: Aku tidak berkata bahwa ia bukan makhluk, jika ia bertemu denganku di jalan dan memberi salam kepadaku, apakah aku memberi salam kepadanya?

Ia berkata: Janganlah kamu memberi salam kepadanya dan janganlah berbicara kepadanya, bagaimana orang-orang mengenalnya jika kamu memberi salam kepadanya? Dan bagaimana ia mengetahui bahwa kamu mengingkarinya? Maka jika kamu tidak memberi salam kepadanya, ia mengetahui kehinaan, dan ia mengetahui bahwa kamu mengingkarinya dan orang-orang mengenalnya.

“Asy-Syari’ah” karya al-Ajurri hlm. 77 (176)

Syahin bin as-Sumaidda’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, aku berkata: Apakah aku shalat di belakang Jahmiyah? Ia berkata: Janganlah shalat di belakang Jahmiyah, dan jangan di belakang Rafidhah.

“Thabaqat al-Hanabilah” 2/460

Abu Thalib berkata: Dinukilkan dari Abu Abdillah dalam “Al-Iman”: Bahwa barangsiapa berkata: Makhluk; maka ia Jahmiyah, dan barangsiapa berkata: Sesungguhnya ia bukan makhluk, maka ia telah berbid’ah, dan sesungguhnya ia diboikot sampai ia kembali; bahwa itu adalah ancaman atas penyelisihan perintah yang tidak boleh menjawab di dalamnya.

“Thabaqat al-Hanabilah” 3/319

 

 

Kitab Iman terhadap Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

101 – Bab: Nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, ia berkata: Muhammad bin Idris—yaitu: asy-Syafi’i—menceritakan kepada kami, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, dan Abdul Muththalib adalah Syaibah, dan nama Hasyim adalah Amr bin Manaf, dan nama Abdul Manaf adalah al-Mughirah bin Qushay, dan nama Qushay adalah Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar.

Maka orang pertama yang bertemu dengannya adalah Bani Abdul Muththalib, dan keturunan mereka ada pada Bani Abbas bin Abdul Muththalib, dan pada keluarga Abu Thalib bin Abdul Muththalib, dari mereka adalah Ali dan Ja’far dan Aqil anak-anak Abu Thalib, dan anak-anak Abu Lahab, dan anak-anak al-Harits bin Abdul Muththalib.

Kemudian ia bertemu dengan Bani al-Muththalib bin Abdul Manaf, dari mereka adalah asy-Syafi’ dan keluarga Rukanah dan keluarga Ujair anak-anak Abdul Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib, dan dari mereka adalah Ubaidah dan al-Husain dan ath-Thufail anak-anak al-Harits bin al-Muththalib, dan Misthah bin Utsatsah bin al-Muththalib, dan keempat orang ini adalah ahli Badar.

Dari mereka adalah keluarga Abu Makhramah bin al-Muththalib, dan mereka adalah keluarga Abu Nabqah bin al-Muththalib, dan Bani Abdul Syams bin Abdul Manaf.

Dan di antara mereka ada Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, dan Marwan bin al-Hakam bin Abi al-Ash bin Umayyah.

Dan di antara mereka ada Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah.

Dan di antara mereka ada Said bin al-Ash bin Said bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams.

Dan di antara mereka ada Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams, dan dia termasuk peserta Badar.

Dan di antara mereka ada Abdullah bin Amir bin Kuraiz bin Habib bin Abdi Syams, dan Banu Naufal bin Abdi Manaf.

Dan di antara mereka ada Jubair bin Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdi Manaf.

Dan di antara mereka ada Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar bin Adi bin Naufal bin Abdi Manaf, dan di antara mereka ada keluarga Abu Husain, mereka dari Bani Suru’ah yang membunuh Khubaib, dan di antara mereka ada Banu Amir bin Naufal bin Abdi Manaf.

Dan di antara mereka ada Qarzhah bin Abdi Amr bin Naufal bin Abdi Manaf.

Kemudian bertemu dengannya Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan Banu Abdi ad-Dar bin Qushay, dan mereka adalah para penjaga Ka’bah.

Dan dari Bani Asad ada Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad, dan orang yang paling dekat dengannya adalah Hakim bin Hizam bin Khuwailid, dia masuk Islam sehari sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menaklukkan Mekah.

Dan di antara mereka ada az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid, dan kekerabatannya dengan kekerabatan Hakim darinya adalah satu.

Dan di antara mereka ada Waraqah bin Naufal bin Asad yang tentangnya dikatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian mencela Waraqah, karena aku melihat untuknya surga atau dua surga.” Dan di antara mereka ada keluarga Humaid bin Zuhair.

Dan dari Banu Abdi ad-Dar bin Qushay ada Mush’ab bin Umair yang terbunuh di Uhud.

Dan di antara mereka ada an-Nadhr bin al-Harits yang dibunuh oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai tawanan saat kembali dari Badar.

Dan di antara mereka ada putra Abu Thalhah, dan mereka adalah para penjaga Ka’bah, kebanyakan mereka terbunuh pada hari Uhud dalam keadaan musyrik, dan mereka adalah pembawa panji kaum Quraisy.

Dan dari Bani Abi Thalhah ada keluarga Syaibah bin Utsman, dan keluarga Nubaih bin Wahb, kemudian Banu Zuhrah bin Kilab.

Dan di antara mereka ada Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d bin Abi Waqqash, dan al-Miswar bin Makhramah, dan Abdurrahman bin Azhar bin Abdul Auf, dan Ibnu Syihab Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri, dan al-Aswad bin Abdul Yaghuts.

Kemudian Banu Taim bin Murrah, dan Banu Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah.

Maka dari Bani Taim bin Murrah, ada Abu Bakar ash-Shiddiq dan dia adalah Abdullah bin Utsman, dan Aisyah Ummul Mukminin, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Dan di antara mereka ada keluarga Jad’an bin Amr, dan keluarga Hisyam bin Zuhrah.

Dan di antara mereka ada kaum yang disebut: Banu Syutaim, dan mereka memiliki nasab yang baik di antara mereka, dan keluarga Muadz bin Abdurrahman.

Dan di antara mereka ada Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi.

Dan dari Bani Makhzum ada Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Dan di antara mereka ada keluarga A’idz bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Dan dari keluarga A’idz ada ash-Shayfi dan as-Sa’ib bin Abi as-Sa’ib, rekan dagang Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Abdullah keduanya putra Abbad bin Ja’far.

Dan di antara mereka ada Banu al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Maka dari Bani al-Mughirah bin Abdullah ada Ummul Mukminin Ummu Salamah binti Abi Umayyah, dan saudaranya Abdullah bin Abi Umayyah, dan dia telah menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perang Thaif.

Dan di antara mereka ada Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengutusnya kepada musuhnya dan di tangannya terjadi penaklukan sebagian besar kemurtadan, dan dia memiliki pengorbanan dalam Islam, dan di antara mereka ada al-Walid bin al-Walid, dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah yang keduanya didoakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam shalat.

Dan di antara mereka ada al-Muhajir bin Abi Umayyah yang menyaksikan penaklukan an-Najir, dan Ziyad bin Labid al-Anshari.

Dan di antara mereka ada Ikrimah bin Abi Jahl bin Hisyam, dan dia terpuji pengorbanannya dalam Islam, terpuji keislamannya, baik keislamannya ketika dia memasukinya.

Dan di antara mereka ada al-Harits bin Hisyam yang meninggal dalam wabah di Syam.

Dan di antara mereka ada Abdullah bin Abi Rabi’ah, gubernur Umar di sebagian Yaman, yaitu al-Jand.

Dan dari Bani Makhzum ada keluarga Imran bin Makhzum, dan mereka adalah paman-paman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bin Abdullah bin Abdul Muththalib dari mereka.

Maka dari Bani Imran bin Makhzum ada Said bin al-Musayyab.

Kemudian Jumah, dan di antara mereka ada paman-paman.

Dan Adi bin Ka’ab (orang-orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam bertemu dengannya) maka dari Bani Adi bin Ka’ab ada Umar bin al-Khaththab, dan Hafshah binti Umar Ummul Mukminin, dan Abdullah bin Umar dan Salim.

Dan di antara mereka ada Said bin Zaid bin Amr bin Nufail. Dan di antara mereka ada keluarga Muthi’, dan keluarga Suraqah, dan di Bani Suraqah ada keutamaan, dan mereka memiliki persekutuan.

Dan dari Bani Jumah keluarga Mazh’un semuanya berhijrah.

Maka dari Bani Jumah ada Utsman, dan Qudamah, dan dari Bani Jumah ada keluarga Abdullah bin Shafwan, dan keluarga Ubay bin Khalaf.

Dan dari Bani Sahm ada Abdullah bin Hudzafah, dan Amr bin al-Ash, dan Hisyam bin al-Ash, dan keluarga Nubaih, dan Munabbih keduanya putra al-Hajjaj, dan keluarga Abi Wada’ah.

Maka di antara mereka ada al-Muththalib bin Abi Wada’ah.

Dan di antara mereka ada Katsir bin Katsir bin al-Muththalib.

Dan dari Bani Sahm ada keluarga Qais bin Adi, maka di antara mereka ada Abdullah bin az-Ziba’ra bin Qais penyair, kemudian dari Bani Amir bin Luay, dan di antara mereka ada Abu Sabrah bin Abi Ruhm peserta Badar.

Dan di antara mereka ada keluarga Masahiq, dan keluarga Sahl bin Amr saudara Suhail bin Amr, yang membuat perjanjian Quraisy pada hari Hudaibiyah, dan yang berdiri di Mekah berkhotbah pada hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, dan meninggal di Syam dalam wabah, dan dia terpuji keislamannya sejak dia memasukinya pada tahun penaklukan.

Dan di antara mereka ada Huwaitib bin Abdul Uzza, dan dia baik keislamannya, dan dia yang tertua Quraisy di Mekah dalam masa jahiliyah.

Dan di antara mereka ada Amr bin Abd, yang terbunuh dalam keadaan musyrik pada hari Khandaq.

Dan di antara mereka ada keluarga Aus, dan Banu Fihr, maka di antara mereka ada Banu al-Harits bin Fihr, dan rumah Bani al-Harits adalah keluarga al-Harits bin Amr, dan dari Bani al-Harits ada al-Hilm, dan dari Bani Muharib bin Fihr ada Abu Ubaidah bin Abdullah bin al-Jarrah, dan ibu Nabi shallallahu alaihi wasallam Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah, dan Sa’d bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah.

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku, dia berkata: Muhammad bin Idris -yaitu: asy-Syafi’i- menceritakan kepadaku, dia berkata: Ketika Umar bin al-Khaththab hendak menyusun daftar-daftar, dan menempatkan orang-orang berdasarkan kabilah-kabilah mereka dan sebelumnya tidak ada daftar, dia bermusyawarah dengan orang-orang maka dia berkata: Menurut kalian dengan siapa aku harus memulai? Maka seorang yang berkata kepadanya: Mulailah dengan kerabatmu. Maka dia berkata: Bahkan aku akan memulai dengan yang paling dekat kemudian yang dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka dia memulai dengan Bani Hasyim dan Bani Muththalib, dan berkata: Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada tahun Hunain ketika dia memberikan seperlima kepada mereka bersama-sama tanpa Bani Abdi Manaf, dan usia jika ada di Bani Hasyim dia mendahulukannya, dan jika ada di Bani Muththalib dia mendahulukannya, dan demikian pula dia melakukan di semua kabilah, dia memanggil mereka berdasarkan usia. Kemudian dia memperhatikan dan kekerabatan Bani Abdi Syams dan Bani Naufal dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam setara baginya, maka dia melihat bahwa Abdi Syams adalah saudara Hasyim dari ibunya tanpa Naufal, maka dia melihatnya dengan ini lebih dekat, dan melihat di antara mereka ada keutamaan dan hubungan semenda dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa Bani Naufal, maka dia mendahulukan panggilan mereka atas panggilan Bani Naufal kemudian setelah mereka. Kemudian kekerabatan Bani Asad bin Abdul Uzza dan Bani Abdi ad-Dar setara baginya, maka dia melihat bahwa di Bani Asad ada keutamaan dan hubungan semenda -yaitu- dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bahwa mereka termasuk orang-orang yang memakai wangi-wangian, dan dari persekutuan al-Fudhul, dan bahwa mereka lebih membela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka dia mendahulukan mereka atas Bani Abdi ad-Dar, kemudian dia menempatkan Bani Abdi ad-Dar setelah mereka.

Kemudian dia melihat keluarga Bani Zuhrah dan mereka tidak disaingi oleh siapapun. Kemudian kekerabatan Bani Taim bin Murrah dan Bani Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah setara baginya, maka dia melihat bahwa Bani Taim memiliki keutamaan dan hubungan semenda dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam karena sesungguhnya Bani Taim termasuk orang-orang yang memakai wangi-wangian, dan dari persekutuan al-Fudhul, maka dia mendahulukan mereka atas Bani Makhzum, kemudian dia menempatkan Bani Makhzum setelah mereka.

Kemudian kekerabatan Bani Jumah dan Sahm dan Adi bin Ka’ab kaumnya setara baginya, maka dia berkata: Adapun Banu Adi bin Ka’ab dan Sahm keduanya bersama dan itu karena Islam masuk kepada mereka sementara mereka seperti itu, tetapi menurut kalian dengan siapa aku harus memulai, dengan Sahm atau Jumah? Sesungguhnya aku melihat bahwa aku akan memulai dengan Jumah maka aku tidak tahu apakah karena usia Jumah atau karena selain itu?

Kemudian dia menempatkan Bani Sahm dan Bani Adi setelah mereka. Kemudian dia menempatkan Bani Amir bin Luay kemudian Bani Fihr, dan mereka mengklaim bahwa Abu Ubaidah bin al-Jarrah ketika melihat orang yang didahulukan di hadapannya berkata: Apakah dia dipanggil? Ditempatkan sebelumku? Maka dia berkata: Kamu di tempat di mana Allah menempatkanmu, maka ketika dia melihat kegelisahannya dia berkata: Adapun atas diriku dan keluargaku maka aku rela untuk mendahulukanmu dan bicaralah dengan kaummu, maka jika mereka rela dengan itu, aku tidak mencegahmu.

Dan Bani al-Harits bin Fihr telah mengklaim bahwa Umar mendahulukan mereka, maka dia menempatkan mereka setelah Bani Abdi Manaf atau setelah Bani Qushay, maka aku bertanya tentang itu kepada ahli ilmu dari sahabat-sahabatnya, maka mereka mengingkarinya dan berkata: Abu Ubaidah dari Bani Muharib bin Fihr bukan dari Bani al-Harits, dan panggilan yang didahulukan ini di tempat yang bukan tempatnya adalah untuk Bani al-Harits bukan untuk Bani Muharib, dan sesungguhnya yang mendahulukan mereka adalah Muawiyah bin Abi Sufyan karena hubungan paman dari ibu yang ada padanya di antara mereka.

“al-Ilal” riwayat Abdullah (5810 a – b)

Bab 102: Keutamaan-keutamaan Nabi shallallahu alaihi wasallam

Harb berkata: Aku mendengar Ahmad berkata tentang hadits Anas: bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Wahai sebaik-baik makhluk. Dia bersabda: “Itu adalah ayahku Ibrahim.” Dia berkata: Sungguh telah diriwayatkan selain ini bahwa dia bersabda: “Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah untuknya.” Dan Allah berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Surah Ali Imran: 110) dan dia berpendapat di dalamnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bermaksud dengannya tawadhu.

“Masail Harb” hal. 322

Harb berkata: Aku bertanya kepada Ishaq: Hadits Maisarah al-Fajr dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kapan engkau ditetapkan sebagai nabi? Dia bersabda: “Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad.” Apa maknanya? Dia berkata: Sebelum ruh ditiupkan ke dalamnya dan dia telah diciptakan.

“Masail Harb” hal. 431

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid bin Jud’an: Mereka membicarakan bait syair mana; maka seorang laki-laki berkata perkataan Abu Thalib:

Dibelah untuknya dari nama-Nya untuk memuliakannya … Maka Pemilik Arsy adalah Mahmud dan ini adalah Muhammad

“al-Ilal” riwayat Abdullah 1/454 (1032)

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan dia berkata: Aku bertanya kepada as-Suddi: “Mereka mengenal nikmat Allah kemudian mereka mengingkarinya” (Surah an-Nahl: 83) dia berkata: Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

“al-Ilal” 2/93 (2757)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Husain memberitahuku, bahwa al-Fadhl menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku membaca kepada Abu Abdillah: Abu an-Nadhr, dia berkata: Abu Ja’far ar-Razi menceritakan kepada kami, lalu dia menyebutkan hadits Isra, dia berkata: “Dan Aku menjadikanmu yang pertama dari para nabi dalam penciptaan dan yang terakhir dalam pengutusan, dan yang pertama dari mereka yang dihukumi untuknya,” lalu dia menyebutkan hadits. Al-Fadhl berkata: Ahmad berkata kepadaku: Yang pertama dari para nabi -yaitu- dalam penciptaan “Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan darimu dan dari Nuh” (Surah al-Ahzab: 7) maka Dia memulai dengannya.

“as-Sunnah” oleh al-Khallal 1/156 (199)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah ditanya: Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam dilahirkan dalam keadaan berkhitan? Dia berkata: Allah lebih mengetahui, kemudian dia berkata: Aku tidak tahu.

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali bersamanya setan.” Mereka bertanya: Juga tidak engkau wahai Rasulullah? Dia bersabda: “Juga tidak aku, kecuali bahwa Allah menolongku atasnya maka dia masuk Islam,” Abu Abdillah berkata: Aku tidak tahu apakah dia selamat darinya atau Iblis yang masuk Islam. Aku bertanya: Sesungguhnya suatu kaum berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam selamat darinya. Dia berkata: Aku tidak tahu.

“as-Sunnah” oleh al-Khallal 1/157 (202-203)

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal memberitahu kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ziyad bin Abdullah al-Baka’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Manshur menceritakan kepada kami, dari Salim, dari ayahnya, dari Abdullah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun kecuali telah diserahkan kepadanya temannya dari jin.” Mereka bertanya: Juga engkau wahai Rasulullah? Dia bersabda: “Juga aku kecuali bahwa Allah menolongku atasnya maka dia masuk Islam, maka dia tidak memerintahku kecuali dengan kebaikan.”

“as-Sunnah” oleh al-Khallal 1/159 (206)

Ishmat bin Isham al-Ukbari berkata: Hanbal bin Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Bagaimana tentang orang yang mengklaim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dahulu menganut agama kaumnya sebelum diutus? Maka dia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk, patutlah orang yang mengatakan perkataan ini berhati-hati dengan ucapannya, dan jangan bergaul dengannya.

Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya tetangga kami, al-Naqid Abu al-Abbas mengatakan perkataan ini? Maka dia berkata: Semoga Allah membunuhnya! Apa lagi yang tersisa jika dia mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu menganut agama kaumnya padahal mereka menyembah berhala, sedangkan Allah azza wa jalla berfirman dan Isa memberikan kabar gembira tentangnya: “Namanya Ahmad.” (Surat Ash-Shaff: 6)

Aku berkata kepadanya: Dan dia mengklaim bahwa Khadijah juga menganut hal itu ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahinya pada masa Jahiliah? Maka dia berkata: Adapun Khadijah, aku tidak mengatakan apa-apa, dia adalah wanita pertama yang beriman kepadanya dari kalangan wanita. Lalu apa yang dikatakan orang-orang dari perkataan ini, mereka adalah ahli teologi; barangsiapa mencintai teologi maka dia tidak akan beruntung. Subhanallah, Subhanallah atas perkataan ini! Dan dia sangat mengecam hal itu, dan dia berargumen dengan perkataan yang tidak aku hafal, dan dia menyebutkan ibunya ketika melahirkan melihat cahaya, bukankah ini ketika dia melahirkan melihat ini, dan sebelum diutus dia suci dan disucikan dari berhala-berhala, bukankah dia tidak memakan apa yang disembelih di atas berhala, kemudian dia berkata: Berhati-hatilah terhadap ahli teologi, urusan mereka tidak akan berakhir kepada kebaikan.

Dari Ali bin Isa bin al-Walid, bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya Ribah melewati Abu Afif lalu terjadi percakapan antara keduanya, maka Ribah berkata kepada Abu Afif: Engkau bersaksi lima kali setiap hari dan malam dengan dusta. Maka Abu Afif berkata kepadanya -dan sangat terkejut-: Bagaimana? Celakalah kamu! Dia berkata: Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, padahal dia hanyalah utusan Jibril. Maka Abu Abdillah berkata: Semoga Allah membunuhnya! Sesungguhnya dia menolak perintah Allah dan firman-Nya, dan kafir terhadap Al-Quran serta mengingkarinya. Abu Abdillah berkata: Ini adalah kekafiran terhadap Allah secara terang-terangan, penolakan terhadap Allah dan pendustaan terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Abu Abdillah berkata: Aku telah mengetahui perkataan-perkataan kaum yang tidak aku sangka ada orang yang mengatakannya, dan tidak berargumen dengannya. Dan dia berbicara dengan perkataan dan berargumen dengannya, yang tidak aku tulis di sini.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/162-163 (212-214)

Muhammad bin Ali berkata: Abu Bakar al-Athram menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Maka dia berkata: Dia dapat melihat dari belakangnya sebagaimana dia melihat dari depannya.

Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya seseorang berkata kepadaku: Dia dalam hal ini sama seperti yang lain, dia hanya melihat mereka sebagaimana imam melihat orang yang di kanannya dan di kirinya. Maka dia sangat mengingkari hal itu dengan sangat keras.

Dari al-Husain bin al-Hasan bahwa Muhammad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Abu Abdillah ditanya tentang tafsir perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku,” maka dia berkata: Dia dapat melihat dari belakangnya. Dikatakan: Bukankah ini khusus untuknya? Dia berkata: Benar.

Dari Muhammad bin Abi Harun; bahwa Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Rapatkan shaf, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakangku sebagaimana aku melihat kalian dari depanku,” apa tafsirannya? Abu Abdillah berkata: Dia shallallahu alaihi wasallam melihat mereka dari belakangnya sebagaimana dia melihat mereka dari depannya, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan (Allah melihat) ketika engkau berbolak-balik di antara orang-orang yang sujud.” (Surat Asy-Syuara: 219) Ini adalah tafsirannya.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/164-165 (217-219)

Abu Bakar berkata: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, dia berkata: Hamzah menceritakan kepada kami, dari Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah berkata: Sebaik-baik anak Adam adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan yang terbaik dari mereka adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/294 (324)

Ahmad bin Muhammad bin Abdillah bin Shadaqah berkata: Aku mendengar Amr bin Muhammad ar-Rasibi -yang terpercaya- berkata: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: Tidak ada yang lebih kuat dalam masalah qarn (generasi) dan takdirnya.

Dia berkata: Abu Bakar bin Shadaqah: Dan tafsirannya -sesuatu yang lebih kuat dari hadits Abdullah bin Busr bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Anak laki-laki ini akan hidup selama satu qarn.” Dia berkata: Maka dia hidup seratus tahun.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/385 (774)

103 – Bab: Kekhususan Nabi shallallahu alaihi wasallam

Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata: Apakah seseorang boleh bershalawat atas seseorang?

Dia berkata: Bukankah Ali radhiyallahu anhu berkata kepada Umar radhiyallahu anhu.

Ishaq berkata: Sebagaimana dia katakan.

“Masail al-Kausaj” (3316)

Al-Khallal meriwayatkan: dari Muhammad bin al-Husain, bahwa al-Fadhl menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku menulis kepada Abu Abdillah bertanya kepadanya tentang apa yang diriwayatkan dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang khusus untuknya.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/165 (220)

Shalih berkata: Dan aku bertanya kepadanya tentang apa yang diriwayatkan dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang khusus untuknya, apa itu seperti tidur dan ash-shafi (bagian pilihan dari harta rampasan), dan apa yang semakna dengannya dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang lain?

Dia berkata: Seperti apa yang diperbolehkan untuknya dari wanita, dia wafat meninggalkan sembilan istri dan menikahi empat belas wanita. Dan dia bersabda: “Mataku tidur namun hatiku tidak tidur,” dan dia memilih dari harta rampasan perang.

Shalih berkata: Dan aku bertanya kepadanya tentang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah beliau menikahinya?

Dia berkata: Ada perbedaan pendapat di dalamnya, adapun Mujahid maka dia berkata: “Jika dia menghibahkan” (Surat Al-Ahzab: 50) artinya: dia tidak menghibahkan.

“Masail Shalih” (219-220)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Abbas bin Ibrahim berkata: Muhammad bin Manshur bin Muhammad bin Manshur al-Harbi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Saqlab menceritakan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Abdillah al-Khawarizmi menceritakan kepada kami, dia berkata: Dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal: Perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mataku tidur” lalu dia menyebutkan seperti pertanyaan Shalih sama.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/167 (234)

Al-Khallal meriwayatkan: dari al-Hasan bin al-Haitsam bahwa Muhammad bin Musa menceritakan kepada mereka: bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah: Apa makna perkataan asy-Sya’bi: Bagian Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ash-shafi?

Dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memilih dari harta rampasan.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/165-167 (222)

Al-Khallal berkata: Dan Ali bin Isa memberitahuku bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah dan aku bertanya kepadanya, maka dia berkata: Surga dan Neraka telah diciptakan, dan dalam hal ini ada hujjah bahwa mimpi para Nabi adalah penglihatan mata, dan mimpi mereka tidak seperti mimpi pada umumnya.

“Bayan Talbis al-Jahmiyyah” 7/273-274

104 – Bab: Menghapus Syair-Syair yang Merendahkan Kedudukan Nabi shallallahu alaihi wasallam

Muhammad bin Ali berkata: Shalih bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, bahwa dia bertanya kepada ayahnya tentang syair-syair ini yang ada dalam kitab “al-Maghazi”, kitab Muhammad bin Ishaq di dalamnya ada syair-syair yang merendahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dari apa yang dikatakan orang-orang kafir kepadanya, dalam qashidah ada satu atau dua bait, dan lebih sedikit atau lebih banyak, dia berkata: Dihapus dengan penghapusan yang keras.

Ali bin al-Hasan bin Harun berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Ahmad bin Hanbal: Apa yang ayahmu tulis dari syair al-Maghazi? Dia berkata: Apa yang orang-orang Muslim hujat kepada orang-orang musyrik, dan tidak menulis celaan orang-orang musyrik kepada orang-orang Muslim.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/168-169 (227-228)

Ishmat bin Isham berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, lalu menyebutkan hadits Jabir, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang akan (membunuh) Ka’ab bin al-Asyraf?! Dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya,” Hanbal berkata: Abu Abdillah berkata: Dia telah menyebut beberapa istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam si jahat itu, semoga Allah melaknatnya.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 1/376 (751)

105 – Bab: Kewajiban Mencintainya shallallahu alaihi wasallam

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku.

Dan Muhammad bin Ja’far berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Qatadah, dari Anas berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dan hingga dilemparkan ke dalam api lebih dia cintai daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya, dan tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”

Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Manshur, dia berkata: Aku mendengar Thalq bin Habib, menceritakan dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti itu juga.

“As-Sunnah” oleh al-Khallal 2/54 (1218-1220)

106 – Bab: Kewajiban Menaatinya shallallahu alaihi wasallam

Abu Abdurrahman Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Allah tabaraka wa taala menyebutkan ketaatan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam Al-Quran di banyak tempat, maka ayahku menyebutkan semuanya atau kebanyakannya namun aku tidak hafal, maka aku menulisnya setelah itu dari bukunya, dia berkata: Allah taala berfirman dalam Ali Imran: “Dan takutlah kepada api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul agar kalian mendapat rahmat.” (Surat Ali Imran: 131-132)

Dan Allah taala berfirman: “Dan taatlah kepada Rasul agar kalian mendapat rahmat.” (Surat An-Nur: 56)

Dan Allah taala berfirman: “Katakanlah: Taatlah kepada Allah dan Rasul. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Surat Ali Imran: 32)

Dan Allah berfirman dalam An-Nisa: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Surat An-Nisa: 65)

Dan Allah berfirman: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka” (Surat An-Nisa: 69) sampai di sini Abdullah bin Ahmad membacakan kepada kami.

Kemudian dibacakan kepada kami dari sini dan aku mendengar. Dan Allah taala berfirman: “Dan Kami mengutusmu kepada manusia sebagai Rasul dan cukuplah Allah menjadi saksi. Barangsiapa menaati Rasul maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (Surat An-Nisa: 79-80)

Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (Surat An-Nisa: 59)

Dan Allah berfirman: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang agung. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan baginya azab yang menghinakan.” (Surat An-Nisa: 13-14)

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar engkau mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat.” (Surat An-Nisa: 105)

Dan Allah berfirman dalam Al-Maidah: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.” (Surat Al-Maidah: 92)

Dan Allah taala berfirman dalam Al-Anfal: “Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Anfal: 1)

Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya sedang kalian mendengar.” (Surat Al-Anfal: 20)

Dan Allah taala berfirman: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surat Al-Anfal: 46) ayat.

Dan Allah berfirman dalam An-Nur: “Sesungguhnya perkataan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (perkara) mereka ialah ucapan: Kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat An-Nur: 51)

Dan Allah taala berfirman: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya maka mereka itulah orang-orang yang menang.” (Surat An-Nur: 52)

Dan Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul agar kalian mendapat rahmat.” (Surat An-Nur: 56)

Dan Allah berfirman: “Katakanlah: Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kalian apa yang dibebankan kepada kalian. Jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapat petunjuk. Dan tidak ada kewajiban Rasul melainkan menyampaikan dengan jelas.” (Surat An-Nur: 54)

Dan Allah berfirman: “Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menyelinap di antara kalian dengan berlindung. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Surat An-Nur: 63)

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka bersama-sama dengan Rasul dalam suatu urusan yang penting mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya.” (Surat An-Nur: 62)

Dan Dia berfirman di akhir surat Al-Ahzab: “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang agung.” (Surat Al-Ahzab: 71).

Dan Dia berfirman: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin laki-laki dan tidak pula bagi seorang mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Surat Al-Ahzab: 36).

Dan Dia berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (Surat Al-Ahzab: 21).

Dan Dia berfirman tentang orang-orang yang kafir: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu.” (Surat Muhammad: 33).

Dan Dia berfirman dalam surat Al-Hujurat: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat: 1). Dan Al-Hasan berkata: Janganlah kalian menyembelih sebelum beliau menyembelih.

Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata keras kepadanya sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak sia-sia amal-amalmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Surat Al-Hujurat: 2).

Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Hujurat: 3).

Dan Dia berfirman dalam surat Al-Fath: “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan barangsiapa berpaling, niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.” (Surat Al-Fath: 17).

Dan Dia berfirman dalam surat An-Najm: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (Surat An-Najm: 1-2). Dan Dia berfirman dalam surat Al-Hasyr: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Surat Al-Hasyr: 7).

Dan Dia berfirman dalam surat At-Taghabun: “Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul. Tetapi jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.” (Surat At-Taghabun: 12).

Dan Dia berfirman dalam surat At-Talaq: “Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, yaitu seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menjelaskan, supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya.” (Surat At-Talaq: 10-11).

Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan dan memuliakannya, dan bertasbih kepada-Nya pada pagi dan petang.” (Surat Al-Fath: 8-9).

Maka Ikrimah berkata: Mereka berperang bersama beliau dengan pedang, dan memuliakannya dan bertasbih pada pagi dan petang.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan mewajibkan kepada mereka kalimat takwa.” Maka dia berkata: Dan itu adalah: Tiada tuhan selain Allah.

Sampai di sini diringkas.

Dan Abdullah membacakan kepada kami dari sini: Dan Dia berfirman dalam surat Hud ayat 17: “Maka apakah orang yang berada di atas bukti yang nyata dari Tuhannya.”

Dan Ibnu Abbas berkata: Jibril. Dan Mujahid berkata: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Dan diikuti oleh saksi dari-Nya dan sebelumnya ada Kitab Musa sebagai pedoman dan rahmat. Mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya dari golongan-golongan yang bersekutu.” (Surat Hud: 17). Sa’id bin Jubair berkata: Golongan-golongan yang bersekutu: Semua agama. “Maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya, maka janganlah kamu ragu tentangnya. Sesungguhnya ia (Al-Quran) itu benar dari Tuhanmu.” (Surat Hud: 17).

Masail Abdullah (1635)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Imam Ahmad berkata: Saya melihat dalam Al-Quran dan menemukan ketaatan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di tiga puluh tiga tempat, kemudian dia membaca: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan.” (Surat An-Nur: 63), dan dia terus mengulanginya, dan berkata: Dan apakah cobaan itu? Kesyirikan, boleh jadi apabila dia menolak sebagian perkataannya, sesuatu akan jatuh di hatinya berupa penyimpangan sehingga hatinya menyimpang lalu dia binasa, dan dia terus membaca ayat ini: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (Surat An-Nisa: 65).

Ash-Sharim Al-Maslul (56)

107 – Bab: Isra dan Mi’raj

Al-Khallal berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Marrudzi rahimahullah, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadits-hadits yang ditolak oleh kaum Jahmiyyah tentang sifat-sifat Allah, ru’yah, Isra, kisah Arasy, maka Abu Abdillah membenarkannya, dan berkata: Sungguh para ulama telah menerimanya dengan penerimaan, kami menyerahkan hadits-hadits sebagaimana datangnya.

Dia berkata: Maka saya berkata kepadanya: Sesungguhnya ada seseorang yang menentang sebagian hadits-hadits ini sebagaimana datangnya, maka dia berkata: Dia harus dijauhi, dan berkata: Untuk apa dia menentang dalam masalah ini? Serahkan saja hadits-hadits sebagaimana datangnya.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/1199 (283)

Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah: Diriwayatkan dari Musa bin Uqbah bahwa dia berkata: Hadits-hadits Isra adalah mimpi. Maka dia berkata: Ini adalah ucapan kaum Jahmiyyah, dan berkata: Mimpi para nabi adalah wahyu.

Ar-Riwayatain wal-Wajhain/ Masail Al-Aqidah hal. 58

Ya’qub bin Bukhtan berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang Mi’raj, maka dia berkata: Ru’ya para nabi adalah wahyu. Dia berkata: Musa bin Uqbah diriwayatkan darinya bahwa dia berkata: Sesungguhnya hadits-hadits Isra adalah mimpi, maka dia berkata: Ini adalah ucapan kaum Jahmiyyah, dan dia mengumpulkan hadits-hadits Isra lalu memberikannya kepadaku dan berkata: Mimpi para nabi adalah wahyu.

Ibthal At-Ta’wilat 1/104

Al-Khallal berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Marrudzi, dia berkata: Dibacakan kepada Abu Abdillah: Abdullah bin Al-Walid, menceritakan kepada kami Sufyan tentang firman-Nya: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram.” (Surat Al-Isra: 1), dia berkata: Beliau diisra’kan dari lembah Abu Thalib.

Bayan Talbis Al-Jahmiyyah 7/278

108 – Bab: Al-Maqam Al-Mahmud (Kedudukan Terpuji)

Abu Bakar Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menyebutkan, dia berkata: Saya mendengar hadits Ibnu Fudhail, dari Laits, dari Mujahid: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Surat Al-Isra: 79) dari Abu Ma’mar dari saudaranya, dari Ibnu Fudhail, dia berkata: Maka saya membicarakannya dengan ayahku, lalu dia berkata: Hadits itu tidak sampai kepadaku dengan sanad yang tinggi. Dan seolah-olah dia menyesal, maksudnya: Karena tidak sampai kepadanya dengan sanad yang tinggi.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/173 (239)

Dan Harun bin Al-Abbas Al-Hasyimi berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal datang kepadaku, maka saya berkata kepadanya: Sesungguhnya orang Tarmidzi Jahmi yang menolak keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini berdalih dengan namamu, maka dia berkata: Dia berdusta atasku, dan dia menyebutkan hadits-hadits tentang hal itu, maka saya berkata kepada Abdullah: Tuliskan untukku, maka dia menulisnya dengan tulisan tangannya.

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail, dari Laits, dari Mujahid tentang firman-Nya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” dia berkata: Dia mendudukkannya di atas Arasy, maka saya menceritakannya kepada ayahku radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata: Muhammad bin Fudhail menceritakan hadits ini, tetapi tidak ditakdirkan bagiku untuk mendengarnya darinya.

Maka Harun berkata: Maka saya berkata kepadanya: Sungguh saya telah diberi tahu dari ayahmu bahwa dia menulisnya dari seseorang, dari Ibnu Fudhail, maka dia berkata: Ya, mereka telah meriwayatkan ini darinya.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/198 (277)

Abu Bakar berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim An-Naisaburi sahabat Ishaq bin Rahawayh, dan yang lainnya, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali – dan dia adalah Ibnu Rahawayh – dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail, dari Laits, dari Mujahid, tentang firman-Nya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (Surat Al-Isra: 79) dia berkata: Dia mendudukkannya bersama-Nya di atas Arasy. Ishaq bin Rahawayh berkata kepada Abu Ali Al-Qauhastani: Barangsiapa menolak hadits ini maka dia adalah Jahmi.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/200 (287)

Ibnu Umair berkata: Saya mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan dia ditanya tentang hadits Mujahid: Dia mendudukkan Muhammad di atas Arasy, maka dia berkata: Sungguh para ulama telah menerimanya dengan penerimaan, kami menyerahkan hadits ini sebagaimana datangnya.

Ibthal At-Ta’wilat 2/480, Al-I’tiqad karya Abu Al-Husain Al-Farra hal. 39

Abu Bakar bin Shidqah berkata: Hadits disebutkan – hadits Mujahid – di hadapan Abu Abdillah, lalu dia berkata: Hadits itu terlewat dariku dari Ibnu Fudhail. Dan dia menyesal.

Bayan Talbis Al-Jahmiyyah 6/214

109 – Bab: Apakah Boleh Tabarruk dengan Bekas-Bekas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Shalih berkata: Dia berkata tentang orang yang memasuki Madinah: Dan janganlah menyentuh dinding, dan meletakkan tangannya pada buah delima, dan tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di dalamnya, dan janganlah mencium dinding.

Dan Ibnu Umar mengusap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia mengikuti jejak-jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia tidak melewati tempat yang dishalati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan dia shalat di dalamnya, hingga dia melewati sebuah pohon yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menuangkan air di pangkalnya, maka dia menuangkan air di pangkalnya.

Masail Shalih (1062)

Abdullah berkata: Saya bertanya kepadanya tentang seseorang yang menyentuh mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertabarruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan melakukan hal seperti itu pada kuburan atau yang serupa dengan ini dengan mengharapkan mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Azza, maka dia berkata: Tidak mengapa dengan hal itu.

Al-‘Ilal (3243)

Sandi Al-Khawatimi berkata: Kami bertanya kepada Abu Abdillah tentang seseorang yang mendatangi tempat-tempat bersejarah ini, dan pergi ke tempat-tempat itu: Apakah Anda berpendapat demikian? Dia berkata: Adapun berdasarkan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwa dia meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam supaya beliau shalat di rumahnya sehingga dia menjadikannya sebagai musalla, dan berdasarkan apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia mengikuti tempat-tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekasnya; maka tidak mengapa dengan hal itu seseorang mendatangi tempat-tempat bersejarah, kecuali bahwa orang-orang telah berlebih-lebihan dalam hal ini sangat dan memperbanyaknya.

Dan demikian pula diriwayatkan dari beliau oleh Ahmad bin Al-Qasim. Lafazhnya: Dia ditanya tentang seseorang yang mendatangi tempat-tempat bersejarah ini yang ada di Madinah dan yang lainnya, dia pergi ke tempat-tempat itu? Dia berkata: Adapun berdasarkan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwa dia meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam supaya beliau mendatanginya, lalu shalat di rumahnya sehingga dia menjadikannya masjid dan berdasarkan apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar mengikuti tempat-tempat perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatannya, hingga sesungguhnya dia terlihat menuangkan air di suatu tempat, maka dia ditanya tentang hal itu; lalu dia berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuangkan di sini air.

Dia berkata: Adapun berdasarkan ini maka tidak mengapa.

Dia berkata: Dan dia memberikan keringanan dalam hal itu. Kemudian dia berkata: Akan tetapi orang-orang telah berlebih-lebihan sangat dan memperbanyak dalam makna ini, maka dia menyebutkan kubur Husain dan apa yang orang-orang lakukan di sisinya.

Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim hal. 304-305, 383, dan Al-Furu’ 3/168

Abu Bakar Al-Athram berkata: Saya berkata kepada Abu Abdillah: Kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disentuh dan diusap dengannya? Maka dia berkata: Saya tidak mengetahui ini.

Saya berkata kepadanya: Bagaimana dengan mimbar? Maka dia berkata: Adapun mimbar maka ya, sungguh telah datang dalam hal itu, Abu Abdillah berkata: Sesuatu yang mereka riwayatkan dari Ibnu Abi Fudaik, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Ibnu Umar bahwa dia mengusap mimbar, dia berkata: Dan mereka meriwayatkannya dari Sa’id bin Al-Musayyab tentang buah delima.

Saya berkata: Dan mereka meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id: bahwa ketika dia hendak berangkat ke Irak, dia datang ke mimbar lalu mengusapnya dan berdoa. Maka saya melihatnya memandang baik hal itu, kemudian dia berkata: Mungkin pada saat darurat dan dalam kondisi tertentu.

Dikatakan kepada Abu Abdillah: Sesungguhnya mereka menempelkan perut mereka pada dinding kubur, dan saya berkata kepadanya: Saya melihat ahli ilmu dari penduduk Madinah tidak menyentuhnya dan mereka berdiri di pinggir lalu memberi salam, maka Abu Abdillah berkata: Ya, dan demikianlah yang dilakukan Ibnu Umar, kemudian Abu Abdillah berkata: Dengan ayah dan ibuku sebagai tebusannya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim hal. 366, Al-Ikhna’iyyah hal. 305-306

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Abu Zaid Hammad bin Dalil berkata kepada Sufyan, dia berkata: Apakah ada seorangpun yang mengusap kubur? Dia berkata: Dan tidak memeluk kubur tetapi mendekat.

Ayahku berkata: Maksudnya: Pengagungan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Ikhna’iyyah hal. 415

Dan diriwayatkan Abdullah, dari ayahnya, dari An-Nuh bin Yazid, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq – maksudnya: Ibrahim bin Sa’d – dia berkata: Saya tidak pernah melihat ayahku mendatangi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia memakruhkan mendatanginya.

Al-Ikhna’iyyah hal. 415, 416

Al-Marwazi berkata: Imam Ahmad berkata: Bertawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya. “Al-Inshaf” 5/420

110 – Bab: Keutamaan Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Abu Abdillah berkata: dari Abdul Wahhab, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Abu Khalid berkata: Dan disebutkan kepadanya bahwa Musa ketika mengambil luh-luh (tablet) berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mendapati dalam luh-luh itu suatu umat yang mereka adalah yang pertama, yang terakhir, dan yang terdahulu -Qatadah berkata: Mereka adalah yang pertama dalam perkara pada hari kiamat, mereka adalah yang terakhir dalam penciptaan, yang terdahulu dalam memasuki surga- jadikanlah mereka umatku. Allah berfirman: Itu adalah umat Ahmad. Dia berkata: Sesungguhnya aku mendapati dalam luh-luh itu suatu umat yang injil-injil mereka di dalam dada mereka, mereka membacanya. Qatadah berkata: Dan dahulu sebelum kalian hanya membaca kitab-kitab mereka dengan melihat, jika mereka mengangkatnya maka mereka tidak memahaminya dan tidak menghafalnya, dan sesungguhnya Allah memberikan kepada umat ini dari hafalan apa yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, dan disebutkan sampai akhirnya. “Bada’i al-Fawa’id” 4/64

111 – Apakah Yahudi, Nasrani, dan Majusi Termasuk dari Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Shalih berkata: Aku berkata: Adakah orang yang berkata: Yahudi dan Nasrani termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka dia berkata: Subhanallah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku menyimpan syafaatku untuk umatku”, apakah beliau akan memberi syafaat kepada Yahudi dan Nasrani?! Adakah orang yang mengatakan ini?! “Masa’il Shalih” (1319)

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang Yahudi, Nasrani, dan Majusi, apakah mereka termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits syafaat “Maka aku berkata: Umatku, umatku”.

Ayahku berkata: Maka tidaklah dia berpendapat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syafaat kecuali untuk umatnya yang muslim.

Maka aku berkata kepada ayahku: Lalu mereka umat siapa?

Maka dia berkata: Beliau ‘alaihissalam bersabda: “Aku diutus kepada yang merah dan yang hitam” maka siapa yang masuk Islam dari mereka maka sungguh dia telah masuk dalam umatnya.

Abdullah berkata: Ayahku berkata: “Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya” (Surah An-Nisa: 159), maka Ibnu Abbas dan yang lain berkata: Isa. Kemudian membaca: “Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang dibunuh itu) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang dibunuh itu Isa. (157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (158) Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya” (Surah An-Nisa: 157-159).

Dan berkata: Maka ini menunjukkan bahwa dia adalah Isa, bukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sesungguhnya dia adalah Isa. “Masa’il Abdullah” (1596-1597)

Dan Abdullah berkata: Ayahku berkata dalam Surah Hud: “Maka apakah orang yang berpegang kepada kebajikan yang nyata dari Tuhannya” (Surah Hud: 17). Ibnu Abbas berkata: Jibril, dan Mujahid berkata: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. “Dan seorang saksi dari Allah mengikutinya dan sebelumnya ada kitab Musa sebagai pedoman dan rahmat. Mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya dari golongan-golongan (yang bersekutu), maka neraka adalah tempat yang dijanjikan baginya” (Surah Hud: 17).

Sa’id bin Jubair berkata: Al-Ahzab (golongan-golongan): Semua agama. “Maka neraka adalah tempat yang dijanjikan baginya, karena itu janganlah kamu (Muhammad) ragu tentangnya” (Surah Hud: 17). “Masa’il Abdullah” (1635)

Al-Khallal berkata: Al-Marwazi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Yahudi dan Nasrani, apakah mereka termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka dia marah dengan sangat marah, dan berkata: Ini adalah pertanyaan yang kotor, tidak boleh berbicara tentangnya.

Aku berkata: Apakah dia mengingkari orang yang mengatakan demikian? Dia berkata: Ini adalah pertanyaan yang sangat kotor, tidak boleh berbicara tentangnya. Dan Abu Abdillah mencela orang yang berbicara tentangnya.

Dan Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali bin Bahr memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada kami bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah tentang Yahudi dan Nasrani, apakah mereka termasuk dari umat Muhammad?

Maka dia marah dengan sangat marah dan berkata: Apakah seorang muslim mengatakan ini?! Atau sebagaimana yang dia katakan.

Dan berkata: Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim memberitahukan kepadaku bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, dia berkata: Ahmad bin al-Qasim menceritakan kepadaku, dan Zakariya bin al-Farraj memberitahukan kepadaku dari Ahmad bin al-Qasim berkata: Aku menyebutkan kepada Abu Abdillah tentang orang yang berkata: Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepadaku: Bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka -dan lafadz sebagian mereka dalam sebagian berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Yahudi dan Nasrani, apakah mereka termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau tidak? Karena sesungguhnya ada kaum yang berselisih tentang mereka.

Maka dia berkata: Apa ini?! Mengingkari pertanyaan itu dan marah. Aku berkata: Sesungguhnya ada di sini orang yang mengatakan ini, dia berkata: Tinggalkan kami. Dan wajahnya berubah.

Aku berkata: Apakah kami menolak mereka? Kami mengingkari apa yang mereka katakan?

Dia berkata: Ya, dengan penolakan dan pengingkaran yang keras.

Dan Abu Yasir duduk di majelis Abu Abdillah maka dia berkata: Ya Abu Abdillah: Ibnu Wahab al-Abid menceritakan kepada kami, dia berkata: Bukair bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, dari Muqatil bin Hayyan, dari Atha’ bin Abi Rabah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membenarkanku dan beriman kepadaku maka dia termasuk dari umatku, dan barangsiapa yang tidak membenarkanku dan tidak beriman kepadaku maka dia bukan dari umatku, dan dia di dalam neraka”.

Maka Abu Abdillah tersenyum dan menanyakan hadits dan pembicaraan itu, maka aku mengira bahwa dia menghafalnya. “Ahkam Ahli al-Milal” karya Al-Khallal 1/54-57 (1-4)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahukan kepadaku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepadaku bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah tentang Yahudi dan Nasrani, apakah mereka termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Dia berkata: Tidak, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umatku.. umatku”, apakah beliau memberi syafaat kepada Yahudi dan Nasrani?!

Aku berkata: Mereka mengatakan para rasul kepada seluruh manusia, dia berkata: Siapa yang mengatakan Yahudi dan Nasrani?!

“Ahkam Ahli al-Milal” karya Al-Khallal 1/59-60 (6)

 

 

Kitab Qadar

112 – Bab Iman kepada Qadar

Ibnu Hani berkata: Aku menghadiri seorang laki-laki di sisi Abu Abdillah dan dia bertanya kepadanya, maka laki-laki itu berkata: Ya Abu Abdillah, pokok perkara dan ijma’ kaum muslimin adalah iman kepada qadar, yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit, dan berserah diri kepada perintah-Nya, dan ridha dengan keputusan-Nya? Maka Abu Abdillah berkata: Ya. “Masa’il Ibnu Hani” (1873)

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Sulaiman ar-Razi menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Sinan, dari Wahb bin Khalid al-Himshi, dari Ibnu ad-Dailami berkata: Masuk dalam hatiku sesuatu dari qadar ini maka aku mendatangi Ubay bin Ka’ab, maka aku berkata: Wahai Abu al-Mundzir, masuk dalam hatiku sesuatu dari qadar ini, maka aku khawatir akan menjadi kebinasaan agamaku dan urusanku, ceritakanlah kepadaku tentang itu sesuatu; mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberiku manfaat dengannya, maka dia berkata: Seandainya Allah ‘azza wa jalla menyiksa penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya niscaya Dia menyiksa mereka dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal-amal mereka, dan seandainya engkau memiliki gunung Uhud -atau seperti gunung Uhud- emas yang engkau infakkan di jalan Allah niscaya Allah tidak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada qadar, dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan bahwa apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, dan sesungguhnya jika engkau mati atas selain ini maka engkau akan masuk neraka, dan tidak mengapa engkau mendatangi Abdullah bin Mas’ud lalu bertanya kepadanya. Maka aku mendatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya kepadanya, maka dia berkata seperti itu, Abu Sinan menceritakan hadits itu. Dia berkata: Dan tidak mengapa engkau mendatangi saudaraku Hudzaifah bin al-Yaman lalu bertanya kepadanya. Maka aku mendatangi Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya kepadanya, maka dia berkata seperti itu, dia berkata: Datangilah Zaid bin Tsabit lalu tanyakan kepadanya. Maka aku mendatangi Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya kepadanya maka dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya Allah menyiksa penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya niscaya Dia menyiksa mereka dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal-amal mereka, dan seandainya engkau memiliki gunung Uhud emas yang engkau infakkan di jalan Allah niscaya Allah tidak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada qadar, dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan bahwa apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, dan bahwa jika engkau mati atas selain ini maka engkau akan masuk neraka”.

Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Abu Sinan Sa’id bin Sinan menceritakan kepada kami, Wahb bin Khalid al-Himshi menceritakan kepada kami, dari Ibnu ad-Dailami berkata: Aku bertemu Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, maka dia menyebutkan makna hadits Ishaq ar-Razi, dan hadits Ishaq bin Sulaiman lebih lengkap kata-katanya dan lebih banyak.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman seorang hamba hingga dia beriman kepada empat perkara: hingga dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah yang mengutus aku dengan kebenaran, dan beriman kepada ba’ts (kebangkitan) setelah kematian, dan hingga dia beriman kepada qadar”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari seorang laki-laki, dari Ali karramallahu wajhahu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sepertinya dan menambahkan padanya: “Yang baik dan yang buruk”.

“As-Sunnah” karya Abdullah bin Ahmad 2/288-390 (843-846)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz bin Asad menceritakan kepada kami, Bisyr bin al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami, dari Abu Nadhrah, dari Usair bin Jabir berkata: Aku mencari Ali radhiyallahu ‘anhu di rumahnya maka aku tidak menemukannya, maka aku melihat ternyata dia berada di sudut masjid, dia berkata: Maka aku berkata kepadanya, seolah-olah menakutinya, dia berkata: Maka dia berkata: Sesungguhnya tidak ada seorang pun kecuali bersamanya ada malaikat yang membela darinya apa yang belum turun qadar, maka jika turun qadar tidaklah berguna sesuatu pun. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/404 (877)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Qatadah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu al-Musayyab tentang qadar, maka dia berkata: Apa yang Allah takdirkan maka itu adalah qadar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepadaku, dari Ma’mar berkata: Iyas bin Mu’awiyah berkata: Orang yang paling tahu tentang qadar adalah orang-orang lemah mereka, dia berkata: Sesungguhnya setiap orang yang tidak masuk dalam perdebatan qadar adalah dari ucapannya: Adalah dari qadar Allah begini dan begini. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/406 (883-884)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Hammad menceritakan kepada kami, Abu Awanah memberitahukan kepada kami, dari Ruqbah, dari Abu Sakhrah, dari Amr bin Maimun berkata: Aku mendengar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata ketika ditikam: “Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. (38)” (Surah Al-Ahzab: 38). “As-Sunnah” karya Abdullah 2/409 (892)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ikrimah berkata: Ibnu Abbas ditanya: Bagaimana Sulaiman kehilangan burung Hud-hud dari antara burung-burung? Dia berkata: Sesungguhnya Sulaiman shalawaatullahi ‘alaihi singgah di suatu tempat maka dia tidak mengetahui apa yang ada setelah air, dan burung Hud-hud adalah seorang surveyor, dia berkata: Maka dia ingin bertanya kepadanya tentang air maka dia kehilangannya. Aku berkata: Dan bagaimana dia menjadi surveyor sedangkan anak kecil memasang perangkap untuknya lalu menangkapnya?! Dia berkata: Jika datang qadar maka dia menghalangi antara penglihatan. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/412, 424 (900, 931)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far Ghundar menceritakan kepada kami, Kahmas menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah. Dan dia berkata: Ayahku berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Kahmas menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah.

Dan dia berkata: Ayahku berkata: Abdullah bin Yazid Al-Muqri menceritakan kepada kami, Kahmas menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah. Dan dia berkata: Ayahku berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Kahmas menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah.

Abdullah berkata: Ayahku berkata: Dan aku membaca di hadapan Yahya bin Sa’id, Utsman bin Ghiyats menceritakan kepada kami, Abdullah bin Buraidah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Ya’mar, dan Humaid bin Abdurrahman Al-Humairi, keduanya berkata: Kami bertemu Abdullah bin Umar—dan ini adalah lafal hadits Kahmas, dari Ibnu Buraidah, dari Yahya bin Ya’mar yang mendengar Ibnu Umar berkata: Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menceritakan kepadaku, dia berkata: Ketika kami sedang berada di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya, hingga ia duduk di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu menempelkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam, apakah Islam itu? Maka beliau bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. Dia berkata: Engkau benar. Dia berkata: Maka kami heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau dan membenarkannya! Dia berkata: Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang iman. Beliau bersabda: “Bahwa engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruknya”. Dia berkata: Engkau benar. Dia berkata: Maka beritahukan kepadaku tentang ihsan, apakah ihsan itu?—Yazid berkata:—”Bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dia berkata: Maka beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat. Beliau bersabda: “Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang bertanya”. Dia berkata: Maka beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya. Beliau bersabda: “Bahwa seorang budak perempuan melahirkan tuannya dan bahwa engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, papa, penggembala kambing, berlomba-lomba dalam membangun gedung tinggi”. Dia berkata: Kemudian dia pergi. Dia berkata: Maka aku diam beberapa lama—Yazid berkata: tiga hari—lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepadaku: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Dia berkata: Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian”.

As-Sunnah karya Abdullah 2/414-415 (904-908).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Isa menceritakan kepada kami, Malik memberitahukan kepadaku, dari Ziyad bin Sa’d, dari Amru bin Muslim, dari Thawus Al-Yamani, dia berkata: Aku mendapati beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengatakan: Segala sesuatu dengan takdir. Dia berkata: Dan aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Segala sesuatu dengan takdir, hingga kelemahan dan kecerdasan”.

As-Sunnah karya Abdullah 2/417 (913).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Anas bin Iyadh menceritakan kepada kami, Abu Hazim menceritakan kepadaku, dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah beriman seseorang hingga ia beriman kepada takdir baik dan buruknya”. Dan Abu Hazim berkata: Allah melaknat agama yang aku lebih tua darinya, yaitu pendustaan terhadap takdir.

As-Sunnah karya Abdullah 2/418 (916).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abu Hajjaj Al-Azdi, dari Salman, dia berkata: Aku menemuinya di mata air Sabdzan, dia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Beritahukan kepadaku bagaimana iman kepada takdir? Dia berkata: Bahwa engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu dan apa yang meleset darimu tidak mungkin menimpamu, dan jangan engkau berkata: Seandainya begini niscaya akan begitu, dan seandainya tidak melakukan begini niscaya akan begitu.

As-Sunnah karya Abdullah 2/421 (923).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Umar bin Muhammad, dari seorang laki-laki, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata: Iman kepada takdir adalah tatanan tauhid, maka barang siapa yang beriman namun mendustakan takdir maka itu adalah penolakan terhadap tauhid.

As-Sunnah karya Abdullah 2/422 (925).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dia berkata: Amru bin Ash berkata kepada Abu Musa Al-Asy’ari: Aku berharap aku menemukan orang yang dapat kupersalahkan kepada Tuhanku Azza wa Jalla. Maka Abu Musa berkata: Aku. Maka Amru bin Ash berkata: Apakah Dia berkuasa atasku untuk sesuatu yang Dia menyiksaku karenanya? Maka Abu Musa berkata: Ya. Dia berkata: Mengapa? Dia berkata: Karena sesungguhnya Dia tidak menzalimimu. Maka Amru berkata: Engkau benar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Umar bin Muhammad bin Zaid, dari seorang laki-laki, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata: Iman kepada takdir adalah tatanan tauhid, maka barang siapa yang mentauhidkan namun mendustakan takdir maka dia telah menolak tauhid.

As-Sunnah karya Abdullah 2/422 (927-928).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, Humaid menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku membaca di hadapan Al-Hasan di rumah Abu Khaliqah seluruh Al-Quran dari awal hingga akhir, maka dia menafsirkannya berdasarkan penetapan (itsibat/menetapkan takdir).

As-Sunnah karya Abdullah 2/428 (944).

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Affan menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Zaid menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dia berkata: Aku mendapati orang-orang dan tidak ada perkataan mereka kecuali: Dan jika Dia menakdirkan dan jika Dia menentukan.

Al-Ibanah, Kitab Al-Qadar 2/86 (1493).

Abu Raja’ Muhammad bin Hamdawaih berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Mu’adz An-Nahwi berkata tentang “Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui” (Surat Al-A’raf ayat 182): Dia menampakkan kepada mereka nikmat-nikmat, dan melupakan mereka dari syukur.

Al-Qadha wal-Qadar karya Al-Baihaqi halaman 243 (323).

Abdus bin Malik Al-Aththar berkata: Ahmad berkata: Wajib beriman kepada takdir, dan kepada hadits-hadits di dalamnya, dan seperti hadits-hadits tentang ru’yah (melihat Allah) semuanya meskipun asing bagi pendengaran dan membuat resah bagi yang mendengarnya.

Ibthal At-Ta’wilat 1/44.

Abdus bin Malik Al-Aththar berkata: Ahmad berkata: Dan termasuk sunnah yang wajib, yang barang siapa meninggalkan darinya satu sifat tidak mengatakannya dan tidak beriman kepadanya maka dia bukan termasuk ahlinya: Iman kepada takdir baik dan buruknya, dan membenarkan hadits-hadits di dalamnya, dan barang siapa yang tidak mengetahui tafsir hadits dan akalnya tidak mencapainya maka itu sudah dicukupkan untuknya dan dihukumkan baginya, maka wajib atasnya beriman dan berserah diri.

Ibthal At-Ta’wilat 1/55.

Ahmad bin Ja’far Al-Isthakhri berkata: Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: …Dan iman kepada takdir baik dan buruknya, sedikit dan banyaknya, lahir dan batinnya, manis dan pahitnya, yang dicintai dan yang dibenci, baik dan buruknya, awal dan akhirnya adalah dari Allah, takdir yang Dia takdirkan, dan qadar yang Dia tentukan atas mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang melampaui kehendak Allah, dan tidak melampaui takdir-Nya, bahkan mereka semua akan sampai kepada apa yang Dia ciptakan untuk mereka, dan berhenti pada apa yang Dia takdirkan atas mereka untuk perbuatan-Nya, dan itu adalah keadilan dari-Nya Azza Rabbuna wa Jalla. Dan zina, pencurian, meminum khamr, membunuh jiwa, memakan harta haram, syirik kepada Allah, dan semua kemaksiatan dengan qadha dan qadar, tanpa ada bagi siapa pun dari makhluk terhadap Allah sebuah hujjah, bahkan bagi Allah-lah hujjah yang sempurna atas makhluk-Nya “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan mereka akan ditanya” (Surat Al-Anbiya ayat 23), dan ilmu Allah Azza wa Jalla berlaku pada makhluk-Nya dengan kehendak dari-Nya, sungguh Dia telah mengetahui dari Iblis dan dari selainnya di antara mereka yang bermaksiat kepada-Nya—sejak dia bermaksiat Tabaraka wa Ta’ala hingga hari Kiamat—kemaksiatan tersebut, dan Dia menciptakan mereka untuknya, dan Dia mengetahui ketaatan dari ahli ketaatan dan Dia menciptakan mereka untuknya, dan setiap orang beramal untuk apa yang dia diciptakan untuknya, dan akan sampai kepada apa yang ditakdirkan atasnya dan diketahui darinya, tidak ada satu pun dari mereka yang melampaui qadar Allah dan kehendak-Nya, dan Allah-lah Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, Maha Melakukan apa yang Dia inginkan.

Dan barang siapa yang mengklaim bahwa Allah menghendaki bagi hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya kebaikan dan ketaatan, dan bahwa para hamba menghendaki untuk diri mereka sendiri keburukan dan kemaksiatan, maka mereka beramal atas kehendak mereka, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa kehendak para hamba lebih kuat daripada kehendak Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka kebohongan apakah yang lebih besar atas Allah daripada ini?!

Dan barang siapa yang mengklaim bahwa zina bukan dengan qadar, dikatakan kepadanya: Bagaimana pendapatmu tentang wanita ini, dia hamil dari zina, dan melahirkan seorang anak, apakah Allah Azza wa Jalla menghendaki untuk menciptakan anak ini, dan apakah itu telah berlalu dalam ilmu-Nya yang terdahulu? Maka jika dia berkata: Tidak, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa bersama Allah ada pencipta lain, dan ini adalah syirik yang terang-terangan.

Dan barang siapa yang mengklaim bahwa pencurian, meminum khamr, dan memakan harta haram bukan dengan qadha dan qadar maka sungguh dia telah mengklaim bahwa manusia ini mampu memakan rezeki orang lain, dan ini adalah perkataan yang terang-terangan dari Majusiyyah (pengikut Majusi), bahkan dia memakan rezekinya, dan Allah menakdirkan bahwa dia memakannya dari cara yang dia makannya.

Dan barang siapa yang mengklaim bahwa membunuh jiwa bukan dengan qadar dari Allah, dan bahwa itu dengan kehendak-Nya pada makhluk-Nya, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa orang yang terbunuh mati bukan dengan ajalnya, dan kekufuran apakah yang lebih jelas daripada ini?! Bahkan itu dengan qadha Allah Azza wa Jalla, dan itu dengan kehendak-Nya pada makhluk-Nya, dan pengaturan-Nya bagi mereka, dan apa yang mengalir dari ilmu-Nya yang terdahulu bagi mereka, dan Dia-lah Yang Maha Adil, Maha Benar yang melakukan apa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang mengakui ilmu maka wajib baginya mengakui qadar dan kehendak atas kehinaan dan kerendahan.

Thabaqat Al-Hanabilah 1/56-57.

Al-Hasan bin Ismail Ar-Rab’i berkata: Ahmad bin Hanbal imam ahli sunnah dan orang yang sabar di bawah fitnah berkata kepadaku: Sembilan puluh orang dari Tabi’in dan imam-imam muslimin dan imam-imam salaf, dan fuqaha negeri-negeri telah bersepakat bahwa sunnah yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat atasnya yang pertamanya adalah: Ridha terhadap qadha Allah, dan berserah diri kepada perintah-Nya, dan sabar atas hukum-Nya, dan mengambil apa yang Allah perintahkan, dan berhenti dari apa yang Dia larang, dan iman kepada takdir baik dan buruknya, dan meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam agama…

Thabaqat Al-Hanabilah 1/349-350.

Ahmad bin Muhammad At-Tamimi Az-Zarandi berkata: Ketika masalah fitnah membingungkan Musaddad bin Musarhad bin Musarbal, dan apa yang orang-orang jatuh di dalamnya berupa perselisihan tentang qadar, Rafidhah, Mu’tazilah, penciptaan Al-Quran, dan Irja’, dia menulis surat kepada Ahmad bin Hanbal: Tuliskan kepadaku sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Maka dia menulis kepadanya: …Dan kami beriman kepada qadha dan qadar baik dan buruknya, manis dan pahitnya, dan bahwa Allah menciptakan surga sebelum makhluk, dan Dia menciptakan untuknya penghuninya, dan nikmatnya kekal, dan barang siapa yang mengklaim bahwa akan musnah dari surga sesuatu maka dia kafir, dan Dia menciptakan neraka sebelum menciptakan makhluk, dan Dia menciptakan untuknya penghuninya, dan siksanya kekal, dan bahwa ahli surga akan melihat Tuhan mereka pasti, dan bahwa Allah akan mengeluarkan beberapa kaum dari neraka dengan syafaat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Thabaqat Al-Hanabilah 2/426, 430.

 

 

Bab: Tingkatan-tingkatan Iman kepada Takdir

113 – Tingkatan Pertama: Ilmu (Pengetahuan)

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Jika seseorang berkata: Ilmu itu makhluk maka dia kafir; karena dia mengklaim bahwa tidak ada bagi-Nya ilmu hingga Dia menciptakannya.

As-Sunnah karya Abdullah 1/102 (2).

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah—dan Ali bin Jahm bertanya kepadanya—tentang orang yang berkata dengan qadar, apakah dia menjadi kafir? Dia berkata: Jika dia mengingkari ilmu, jika dia berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengetahui hingga Dia menciptakan ilmu lalu Dia mengetahui, maka dia mengingkari ilmu Allah Azza wa Jalla maka dia kafir.

As-Sunnah karya Abdullah 2/385 (835).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Al-Harits Al-Makhzumi menceritakan kepada kami, Syabl bin Abbad—budak Abdullah bin Amir—menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid tentang firman Allah Azza wa Jalla “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Surat Al-Baqarah ayat 30), dia berkata: Dia mengetahui dari Iblis kemaksiatan dan Dia menciptakannya untuknya.

As-Sunnah karya Abdullah 2/408-409 (891).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ dan Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, Waki’ berkata, dari seorang laki-laki, dari Mujahid.

Dan Ibnu Bisyr berkata, dari Ali bin Badimah, dari Mujahid tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Dia berkata: Dia mengetahui dari Iblis kemaksiatan dan Dia menciptakannya untuknya.

As-Sunnah karya Abdullah 2/426 (938).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Khushaif mengabarkan kepada kami, ia berkata: Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ghailan: Bukankah engkau mengakui pengetahuan Allah? Ghailan menjawab: Ya.

Umar berkata: Lalu apa maksudmu dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah, tidaklah dapat menyesatkan (siapa pun) terhadapnya, kecuali orang-yang akan masuk ke neraka Jahim.” (Surah Ash-Shaffat: 161-163).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/428-429 (947).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang Amr bin Ubaid. Beliau berkata: Ia tidak mengakui pengetahuan Allah, dan ini adalah kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya Al-Kahhal mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Abdillah berkata: Kaum Qadari yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengetahui sesuatu hingga ia terjadi, ini adalah orang kafir.

Al-Khallal berkata: Ali bin Isa mengabarkan kepadaku, bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, bahwa Abu Abdillah berkata: Allah senantiasa Maha Mengetahui.

Al-Khallal berkata: Ishmah bin Isham mengabarkan kepadaku, bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Adam Alaihissalam diciptakan Allah untuk bumi, dan Allah mengetahui apa yang akan terjadi darinya sebelum hal itu terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Surah Al-Baqarah: 30), ini sebelum Adam diciptakan. Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi darinya sebelum hal itu terjadi. Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa Adam akan memakan dari pohon yang dilarang baginya sebelum Allah menciptakannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/417-418 (863-866)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Seseorang memiliki kerabat yang menganut Qadariyah? Beliau berkata: Qadariyah tidak mengeluarkannya dari Islam.

Aku berkata: Mereka dahulu tidak menyeru kepada Qadar, bagaimana dengan orang yang berilmu dan mengingkari pengetahuan Allah? Beliau berkata: Jika ia mengingkari, maka ia kafir.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Qadari, ia tidak mengkafirkannya jika ia mengakui pengetahuan Allah.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jika ia mengingkari pengetahuan Allah dan berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengetahui sesuatu hingga ia terjadi, maka ia diminta bertaubat. Jika ia bertaubat maka baik, jika tidak ia dibunuh.

Beliau berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata tentang firman Allah: “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi” (Surah Ali Imran: 81). Ini adalah hujjah atas kaum Qadariyah. Dan Allah berfirman: “Dan darimu (Muhammad) dan dari Nuh” (Surah Al-Ahzab: 7), ini adalah hujjah atas mereka.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berkata: Sesungguhnya di antara segala sesuatu ada hal-hal yang tidak Allah ciptakan, apakah ia menjadi musyrik?

Beliau berkata: Tidak diciptakan Allah! Jika ia mengingkari pengetahuan Allah, ia diminta bertaubat. Jika ia bertaubat maka baik, jika tidak ia dibunuh.

Al-Khallal berkata: Manshur bin Al-Walid An-Naisaburi mengabarkan kepadaku, bahwa Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas sahabat Abu Ubaid bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mengingkari pengetahuan Allah. Beliau berkata: Ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat maka baik, jika tidak lehernya dipenggal.

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang Qadari, apakah ia diminta bertaubat? Aku berkata: Sesungguhnya Malik dan Umar bin Abdul Aziz berpendapat bahwa ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat maka baik, jika tidak lehernya dipenggal. Beliau berkata: Aku berpendapat untuk meminta taubatnya jika ia mengingkari pengetahuan Allah.

Aku bertanya: Bagaimana ia mengingkari pengetahuan Allah? Beliau berkata: Jika ia berkata: Hal ini tidak ada dalam pengetahuan Allah, maka aku meminta taubatnya. Jika ia bertaubat maka baik, jika tidak lehernya dipenggal.

Beliau berkata: Sesungguhnya di antara mereka ada yang berkata: Hal itu ada dalam pengetahuan Allah, tetapi Dia tidak memerintahkanmu berbuat maksiat.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/417-420 (863-875).

Abu Dawud berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas tentang firman: “Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi”, ia berkata: As-Sirr (yang tersembunyi) adalah apa yang disembunyikan dalam dirinya, dan yang lebih tersembunyi adalah apa yang belum terjadi tetapi akan terjadi.

“Al-Ibanah” Kitab Al-Qadar 2/165 (1638).

Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya sebelum Dia menciptakan mereka adalah terdahulu, begitu pula kekuasaan dan kehendak-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan mengetahui kemaksiatannya sebelum menciptakannya. Demikianlah pengetahuan-Nya yang terdahulu meliputi perbuatan-perbuatan hamba dan segala apa yang mereka kerjakan.

“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 4/775 (1299).

114 – Tingkatan Kedua: Penulisan

Harb berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Baqiyah bin Al-Walid mengabarkan kepada kami, dari Arthah bin Al-Mundzir, dari Bisyr, dari Mujahid, dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah pertama kali mengambil Qalam (Pena) dengan tangan kanan-Nya, dan kedua tangan-Nya adalah kanan, lalu Dia menuliskan dunia dengan segala isinya dari perbuatan yang dikerjakan, baik atau jahat, basah atau kering, dan menghitungnya dalam Adz-Dzikr (catatan). Kemudian Allah berfirman: Bacalah jika kalian mau:” “Inilah Kitab Kami yang menuturkan tentang kamu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyalin apa yang telah kamu kerjakan” (Surah Al-Jatsiyah: 29). Apakah salinan itu kecuali dari sesuatu yang telah selesai darinya.

“Masa’il Harb” hlm. 380

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zaid bin Yahya Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Khalid bin Shabih Al-Marri menceritakan kepada kami, Ismail bin Ubaidillah menceritakan kepada kami, bahwa ia mendengar Ummu Ad-Darda menceritakan dari Abu Ad-Darda radiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah telah menyelesaikan untuk setiap hamba lima perkara: ajalnya, rizkinya, jejak (amal)nya, tempat tidurnya, dan celaka atau bahagia.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku, dari Anas, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menugaskan seorang malaikat untuk rahim, maka malaikat itu berkata: Wahai Tuhanku, nuthfah (air mani). Wahai Tuhanku, alaqah (segumpal darah). Wahai Tuhanku, mudghah (segumpal daging). Maka ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki untuk menciptakannya, malaikat berkata: Wahai Tuhanku, celaka atau bahagia, laki-laki atau perempuan? Berapa rizkinya dan berapa ajalnya? Maka semua itu dituliskan ketika masih dalam perut ibunya.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/395-396 (859-860).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Manshur bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari Budail, dari Abdullah bin Syaqiq, dari Maisarah Al-Fajr, ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kapan engkau ditetapkan sebagai nabi? Beliau bersabda: “Ketika Adam masih antara ruh dan jasad.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Suwaid Al-Kalbi, dari Abdul A’la bin Hilal As-Sulami -demikian Abdurrahman menyebutnya- dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku di sisi Allah adalah penutup para nabi, sedangkan Adam Alaihissalam masih tergeletak dalam tanah lihatnya. Dan aku akan memberitahukan kalian awal dari hal itu: doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira Isa tentangku.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/398 (864-865).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad yaitu Ibnu Salamah menceritakan kepada kami, dari Ammar, dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Adam bertemu dengan Musa Alaihimassalam, lalu Musa berkata: Engkau adalah Adam yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, Allah menempatkanmu di surga-Nya dan menyuruh para malaikat-Nya bersujud kepadamu, lalu engkau melakukan apa yang engkau lakukan? Adam berkata: Engkau adalah Musa yang Allah ajak bicara, Allah memilihmu dengan risalah-Nya, dan menurunkan Taurat kepadamu. Manakah yang lebih dahulu, aku atau catatan (takdir)? Musa berkata: Tentu catatan. Maka Adam mengalahkan Musa dengan hujjahnya, Adam mengalahkan Musa dengan hujjahnya.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/399-400 (868).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Jarir menceritakan kepada kami, dari Atha’, dari Abu Adh-Dhuha, dari Abbas radiyallahu anhu, ia berkata: Hal pertama yang Allah ciptakan adalah Qalam (Pena), kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah. Qalam bertanya: Apa yang harus aku tulis? Allah berfirman: Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/401 (871), 2/410 (894)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Manshur yaitu Ibnu Zadzan mengabarkan kepada kami, dari Al-Hakam bin Utaibah, dari Abu Zhibyan, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sesungguhnya hal pertama yang Allah ciptakan adalah Qalam. Allah memerintahkannya, lalu Qalam menuliskan apa yang akan terjadi. Ibnu Abbas berkata: Qalam menuliskan dalam apa yang ditulisnya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Surah Al-Masad: 1).

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/402 (872).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Muhammad bin Juhadah, dari Qatadah, dari Abu As-Sawwar Al-Adawi, dari Al-Hasan bin Ali radiyallahu anhu, ia berkata: Kitab telah terangkat dan Qalam telah kering, dan urusan-urusan telah ditetapkan dalam kitab yang telah ada!

“As-Sunnah” karya Abdullah 3/402 (875).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, dari Bakar bin Sawadah.

Ayahku berkata: Hasan menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, Bakar bin Sawadah menceritakan kepada kami, dari Katsir bin Gharib Al-Khaulani, dari Kuraib Al-Hadhrami, dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, ia berkata: Kitab-kitab telah berlalu dan Qalam-Qalam telah kering. Hasan berkata dalam haditsnya: Maka celaka atau bahagia, satu golongan di surga dan satu golongan di neraka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Sesungguhnya kalian tertulis di sisi Allah dengan nama-nama kalian, rupa kalian, isi kalian, perhiasan kalian, dan majelis-majelis kalian.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/404-405 (878-879).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Humaid, dari Tsabit, ia berkata: Dan aku tidak tahu kecuali aku mendengarnya dari Tsabit, dari Al-Hasan bin Ali radiyallahu anhu, ia berkata: Takdir telah ditetapkan dan Qalam telah kering, dan urusan-urusan tercukupi dalam kitab yang telah ada.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Ya’la bin Muslim menceritakan kepadaku, bahwa ia mendengar Sa’id bin Jubair menceritakan kisah Bukhtanashshar dan kerajaan anaknya, ia melihat sebuah telapak tangan terbuka di antara dua papan, kemudian menulis dua baris. Ia memanggil para dukun dan orang-orang berilmu, tetapi tidak menemukan pengetahuan tentang hal itu pada mereka. Ibunya berkata kepadanya: Jika engkau mengembalikan kedudukan Daniel sebagaimana kedudukannya pada ayahmu -padahal ia telah dijauhi- ia akan memberitahumu. Maka ia memanggilnya dan berkata: Sesungguhnya aku akan mengembalikan kedudukanmu seperti pada ayahku, beritahukanlah kepadaku apa dua baris ini? Daniel berkata: Adapun yang engkau sebutkan bahwa engkau akan mengembalikan kedudukanku seperti pada ayahmu, aku tidak membutuhkan itu. Adapun dua baris ini, maka sesungguhnya engkau akan dibunuh malam ini. Maka ia mengeluarkan semua yang ada di istana dan memerintahkan untuk menguncinya. Pintu-pintu dikunci atasnya, dan ia memasukkan bersamanya orang paling aman dari penduduk negeri itu dengan pedang, dan berkata kepadanya: Siapa pun dari makhluk Allah yang datang, bunuhlah dia walaupun ia berkata aku si fulan. Allah mengirimkan penyakit perut kepadanya, maka ia berjalan sementara yang lain masih terjaga. Ketika tengah malam tiba, ia tertidur dan temannya juga tertidur. Kemudian penyakit perut membangunkannya, lalu ia pergi berjalan sementara yang lain tertidur. Ia kembali dan temannya terbangun lalu berkata: Aku si fulan, maka ia memukulnya dengan pedang dan membunuhnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, bahwa Ibnu Syubrumah marah jika dikatakan kepadanya: Semoga Allah memperpanjang umurmu. Ia berkata: Sesungguhnya umur tidak ditambah dan tidak dikurangi.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ulatsah, dari Ali bin Badimah, dari Sa’id bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (Surah Ad-Dukhan: 4), ia berkata: Urusan dari satu tahun ke tahun berikutnya kecuali kematian, kehidupan, kecelakaan dan kebahagiaan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Hakim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sesungguhnya seseorang berjalan di pasar-pasar, padahal namanya sudah ada dalam catatan orang-orang yang akan mati.

“As-Sunnah” karya Abdullah 5/402-407 (881-887).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Hisyam yaitu Ad-Dustawai, Al-Qasim bin Abi Bazzah menceritakan kepadaku, Urwah bin Amir menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas radiyallahu anhu berkata: Sesungguhnya hal pertama yang Allah ciptakan adalah Qalam, lalu Allah memerintahkannya untuk menuliskan apa yang hendak Dia ciptakan. Maka kitab itu ada di sisi-Nya. Kemudian ia membaca: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (kedudukannya) lagi penuh hikmah” (Surah Az-Zukhruf: 4).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/411 (898).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, Abdul Aziz yaitu Ibnu Abi Salamah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ka’b bin Malik, dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu, ia berkata: Qadar disebutkan di hadapannya suatu hari, maka ia memasukkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah, ke dalam mulutnya lalu membuat tanda dengan keduanya pada bagian dalam kedua telapak tangannya, lalu berkata: Aku bersaksi bahwa dua tanda ini ada dalam Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/432 (955).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, dari Manshur bin Abdurrahman Al-Ghadani berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan tentang firman-Nya: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (Surat Al-Hadid: 22). Dia berkata: Mahasuci Allah! Siapa yang meragukan hal ini?! Setiap musibah antara langit dan bumi ada dalam Kitab Allah sebelum Dia menciptakan makhluk.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/433-434 (961).

Al-Khallal berkata: Ishmat bin Isham mengabarkan kepadaku, dia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah berkata: Kebaikan dan keburukan serta kecelakaan dan keberuntungan telah ditulis atas hamba, dan dia berdalil dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Di antara mereka ada yang lahir sebagai mukmin, hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai kafir, dan di antara mereka ada yang lahir sebagai kafir, hidup sebagai kafir, dan mati sebagai mukmin”. Dia berkata: Ini termasuk yang telah Allah tetapkan atasnya kecelakaan dan keberuntungan.

Dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang iman kepada takdir. Dia berkata: Kami beriman kepadanya, dan kami tahu bahwa apa yang menimpa kami tidak akan meleset dari kami, dan apa yang meleset dari kami tidak akan menimpa kami, dan bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu dari kebaikan dan keburukan, maka itu telah tertulis terlebih dahulu di Lauh Mahfuzh. Kecelakaan dan keberuntungan telah tertulis atas anak Adam sebelum dia diciptakan, dan kami berada di tulang punggung para ayah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/424 (886).

Al-Khallal berkata: Sulaiman bin Al-Asy’ats Abu Daud As-Sijistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Yazid Al-Asfathi Abu Abdullah Al-Asfathi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi sedang duduk bersama Umar bin Al-Khaththab rahimahullah. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud menceritakan hadits Ash-Shadiq Al-Mashdug—aku maksud hadits tentang takdir. Maka beliau bersabda: Aku demi Allah yang tiada tuhan selain Dia yang menceritakannya kepadanya, beliau mengulanginya tiga kali, Allah mengampuni Al-A’masy sebagaimana dia menceritakannya, dan Allah mengampuni orang yang menceritakannya sebelum Al-A’masy, dan Allah mengampuni orang yang menceritakannya setelah Al-A’masy.

Abu Abdullah berkata: Maka aku ceritakan hadits itu kepada Ibnu Daud Al-Khuraibi, lalu dia menangis—yaitu hadits Al-A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami, dan beliau adalah yang benar lagi dibenarkan…

Abu Daud berkata: Dan Al-Asfathi ini dipukul oleh Az-Zunj lalu meninggal, maka aku melihatnya dalam mimpi setelah kematiannya. Aku berkata kepadanya: Apakah kamu sudah mati? Dia berkata: Aku masih hidup.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/425 (889).

Abu Daud As-Sijistani berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Fithr, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami, dan beliau adalah yang benar lagi dibenarkan…

Abu Daud berkata: Aku berkata kepada Ahmad: Hadits “Dikumpulkan di perut ibunya…”?

Dia berkata: Ya. Ahmad berkata: Husain menceritakan seperti hadits Al-A’masy.

“Al-Ibanah” Kitab Al-Qadar 2/21 (1396).

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’adz—yaitu Ibnu Mu’adz—menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berada di sisi Amr bin Ubaid, maka datanglah Utsman bin Khasy—dia adalah saudara As-Sumari—lalu berkata: Wahai Abu Utsman, aku mendengar demi Allah hari ini kekufuran. Dia berkata: Apa itu? Jangan terburu-buru menuduh kufur. Dia berkata: Hasyim Al-Awqash mengklaim bahwa “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” (Surat Al-Masad: 1) dan firman Allah: “Biarkanlah Aku dengan orang yang Aku ciptakan seorang diri” (Surat Al-Muddatstsir: 11) tidak ada dalam Ummul Kitab (induk kitab), padahal Allah berfirman: “Ha Mim. Demi Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa Arab agar kalian mengerti. Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami benar-benar tinggi dan penuh hikmah” (Surat Az-Zukhruf: 1-4). Maka tidak ada kekufuran kecuali ini. Lalu Amr diam sejenak kemudian berbicara dan berkata: Demi Allah, jika perkara seperti yang kamu katakan, maka tidak ada celaan atas Abu Lahab dan tidak ada celaan atas Al-Walid. Ahmad berkata: Semoga Allah merahmati Mu’adz, dia mendiktekannya kepada kami di Bashrah di hadapan orang banyak.

“Al-Ibanah” Kitab Al-Qadar 2/303 (1969).

115 – Tingkatan Ketiga: Kehendak (Al-Masyiah)

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Abdul Hamid bin Bahram, dari Syahr bin Hausyab, dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa: “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”.

Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Za’ra’, dia mendengar Abu Al-Ahwash dari pamannya, dia mendengar Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Orang celaka adalah yang celaka di perut ibunya, dan orang beruntung adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain”.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/399 (866-867).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Shamad menceritakan kepada kami, Hammad—yaitu Ibnu Salamah—menceritakan kepada kami, Daud—yaitu Ibnu Abi Hind—menceritakan kepada kami, dari Abu Nadhrah, dari Asir bin Jabir, bahwa Ali radhiyallahu anhu berkata: Tidak ada seorang anak Adam pun melainkan bersamanya ada malaikat yang melindunginya dari apa yang belum ditakdirkan untuknya. Jika sudah datang takdir, maka malaikat itu membiarkannya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/204 (874).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Abdullah Ar-Razi, dari Sa’id bin Jubair tentang “Dia (Allah) menghalangi antara seseorang dan hatinya” (Surat Al-Anfal: 24), dia berkata: Dia menghalangi antara orang mukmin dan kekufuran, serta antara orang kafir dan keimanan.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/405 (880).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Fudail menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abdullah, dari Sa’id bin Jubair tentang firman-Nya: “Dia (Allah) menghalangi antara seseorang dan hatinya”, dia berkata: Dia menghalangi antara orang mukmin dan kekufuran serta kemaksiatan kepada Allah, dan Dia menghalangi antara orang kafir dan keimanan serta ketaatan kepada Allah.

“As-Sunnah” karya Abdullah 8/402 (888).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Anas bin Iyadh menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Hazim berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kemudian Dia mengilhamkan kepadanya (jiwa itu) kefasikan dan ketakwaannya” (Surat Asy-Syams: 8), dia berkata: Orang yang fasik, Allah Ta’ala mengilhamkan kepadanya kefasikan, dan orang yang bertakwa, Allah Azza wa Jalla mengilhamkan kepadanya ketakwaan.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/408 (890).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Laila menceritakan kepada kami, dari Al-Minhal bin Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas tentang “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)” (Surat Ar-Ra’d: 39), dia berkata: Kecuali kecelakaan dan keberuntungan serta hidup dan mati.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/411 (897).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Khalid Al-Hadzdzaa’ mengabarkan kepada kami, dari Abdul A’la bin Abdullah bin Amir Al-Qurasyi, dari Abdullah bin Al-Harits Al-Hasyimi berkata: Umar radhiyallahu anhu berkhutbah di Al-Jabiyah—dan Khalid pernah berkata di waktu lain: di Syam, sementara sang Jatsaliq (pemimpin Kristen) berdiri—lalu dia bertasyahhud dan berkata: Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Sang Jatsaliq berkata: Tidak. Umar berkata: Apa yang dia katakan? Mereka menjawab apa yang dia katakan.

Lalu dia mengulangi: Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Sang Jatsaliq memegang bajunya seperti ini—dan Ismail mengibaskan pakaiannya dan mengambilnya dari dadanya lalu mengibaskannya—dan berkata: Sesungguhnya Allah tidak menyesatkan siapa pun.

Umar berkata: Apa yang dia katakan? Mereka menjawab apa yang dia katakan. Maka dia berkata: Kamu telah berdusta wahai musuh Allah, Allah menciptakanmu dan Allah menyesatkanmu, kemudian Dia akan mematikanmu lalu memasukkanmu ke neraka jika Dia menghendaki. Demi Allah, kalau bukan karena perjanjian yang kamu miliki, niscaya aku penggal lehermu. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam alaihissalam lalu menyebarkan keturunannya di tangan-Nya, kemudian Dia menulis penghuni surga dan apa yang akan mereka kerjakan, dan menulis penghuni neraka dan apa yang akan mereka kerjakan, kemudian Dia berfirman: Golongan ini untuk surga dan golongan ini untuk neraka.

Perawi berkata: Maka orang-orang pun berpencar dan mereka tidak lagi berdebat tentang takdir.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/423 (929).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dia berkata: Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Arthah: Amma ba’du, sesungguhnya pengangkatanmu terhadap Sa’d bin Mas’ud atas Oman termasuk kesalahan yang telah Allah Azza wa Jalla takdirkan atasmu dan ditakdirkan bahwa kamu diuji dengannya.

Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Umar bin Dzar menceritakan kepada kami: Aku mendengar Umar bin Abdul Aziz berkata: Seandainya Allah menghendaki agar tidak ada yang bermaksiat kepada-Nya, niscaya Dia tidak menciptakan Iblis. Kemudian dia membaca: “Kalian tidak dapat menyesatkan siapa pun dengan ajakan kalian, kecuali orang yang memang ditakdirkan masuk neraka” (Surat Ash-Shaffat: 162-163).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/425 (935-936).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku bertanya kepada Umar bin Habib tentang firman-Nya: “Maka barangsiapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir” (Surat Al-Kahfi: 29), dia berkata: Daud bin Rafi’ menceritakan kepadaku bahwa Mujahid biasa berkata tentang “Barangsiapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir”: Maka dia tidak akan melemahkan-Ku. Maksudnya: Ini adalah ancaman dari Allah Azza wa Jalla.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/427-428 (943).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail—yaitu Ibnu Ulayyah—menceritakan kepada kami, Khalid Al-Hadzdzaa’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan: Bagaimana pendapatmu tentang Adam, apakah dia diciptakan untuk surga atau untuk bumi?

Dia berkata: Untuk bumi. Aku berkata: Bagaimana pendapatmu jika dia bertahan?

Dia berkata: Tidak mungkin kecuali dia pasti melakukan kesalahan itu.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/428 (945).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Masih Ibnu Maryam alaihissalam berkata: Bukan sebagaimana aku kehendaki tetapi sebagaimana Engkau kehendaki, dan bukan sebagaimana aku mau tetapi sebagaimana Engkau mau.

“Az-Zuhd” hlm. 119.

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya tentang amal makhluk, apakah ditakdirkan atas mereka baik ketaatan maupun kemaksiatan? Dia berkata: Ya.

Ditanya kepadanya: Dan kecelakaan serta keberuntungan telah ditakdirkan atas hamba? Dia berkata: Ya.

Ditanya kepadanya: Dan manusia akan berujung kepada kehendak Allah terhadap mereka baik yang baik maupun yang buruk?

Dia berkata: Ya.

Dan dia berkata: Manshur bin Al-Walid mengabarkan kepadaku bahwa Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan disebutkan di sisinya bahwa seorang muhaddits berkata: Apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi.

Maka seorang laki-laki di sisinya berkata: Apa yang Allah kehendaki atau apa yang tidak Allah kehendaki terjadi. Maka dia menganggap hal itu sangat besar. Aku berkata: Apakah dia diminta bertaubat? Dia berkata: Diminta bertaubat untuk apa? Dia berkata: Ini adalah kekufuran.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/440 (937-938).

Al-Khallal berkata: Ishmat bin Isham mengabarkan kepadaku, dia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah berkata: Kemampuan adalah milik Allah, dan kekuatan juga. Apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Bukan sebagaimana yang mereka katakan—maksudnya kaum Mu’tazilah—bahwa kemampuan itu ada pada mereka.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/440 (940).

Al-Fadhl berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Zaid bin Aslam berkata: Allah sangat marah kepada orang yang berkata: Siapa yang menghalangi antaraku dan dia? Allah Azza wa Jalla berfirman: Akulah yang menghalangi antara kamu dan dia.

“Al-Ibanah” Kitab Al-Qadar 2/87 (1496).

Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Humaid bin Ar-Rabi’ bin Abdurrahman Ar-Ru’asi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Al-A’masy berkata: Malik bin Al-Harits meminta bantuanku dalam suatu keperluannya. Dia berkata: Maka aku datang dengan mengenakan jubah yang robek.

Dia berkata: Maka dia berkata kepadaku: Seandainya kamu memakai pakaian selain ini.

Dia berkata: Aku berkata: Berjalanlah, karena sesungguhnya keperluanmu ada di tangan Allah Azza wa Jalla.

“Al-Ibanah” Kitab Al-Qadar 2/274 (1898).

116 – Tingkatan Keempat: Penciptaan

Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadits Abu Adh-Dhuha dari Ibnu Abbas. Abu Abdillah berkata: Adapun yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah. Abu Dawud berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, ia mendengar Abu Adh-Dhuha bercerita dari Ibnu Abbas yang berkata tentang firman-Nya: “Tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengan itu” (Surah Ath-Thalaq: 12), ia berkata: Di setiap bumi ada makhluk seperti Ibrahim.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Waki’ berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim -yaitu Ibnu Muhajir- dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang berkata: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengan itu” (Surah Ath-Thalaq: 12).

Ia berkata: Seandainya aku menceritakan kepada kalian tafsirnya, niscaya kalian akan kafir, dan kekafiran kalian adalah mendustakannya.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Rauh berkata: Syibl menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid: “Turun perintah di antara keduanya” dari langit ketujuh hingga bumi ketujuh.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Ali bin Hafs, dalam tafsir Warqa’, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid: “Turun perintah di antara keduanya” dari langit ketujuh hingga bumi ketujuh.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Abdurrazzaq berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Qatadah, tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengan itu”, ia berkata: Di setiap langit dan di setiap bumi ada makhluk dari makhluk-Nya, perintah dari perintah-Nya, dan ketetapan dari ketetapan-Nya Azza wa Jalla.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca di hadapan Abu Abdillah: Yahya bin Sa’id, dari Sufyan berkata: Ibrahim bin Muhajir menceritakan kepadaku, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, tentang firman-Nya: “Turun perintah di antara keduanya”, ia berkata: Seandainya aku memberitahukan kepada kalian tafsirnya, niscaya kalian akan merajamku dengan batu.

“Masa’il Ibni Hani” (1885 – 1890).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Allah selesai dari penciptaan, Dia menulis di atas Arasy-Nya: Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid memberitahukan kepada kami, aku mendengar Abu Ubaidah bin Abdullah bercerita, ia berkata: Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya nuthfah berada di dalam rahim selama empat puluh hari dalam keadaannya tanpa berubah. Apabila empat puluh hari telah berlalu, ia menjadi segumpal darah kemudian segumpal daging demikian pula, kemudian tulang demikian pula. Apabila Allah menghendaki untuk menyempurnakan penciptaannya, Dia mengutus seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat yang mengurusnya berkata: Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Pendek atau tinggi? Kurang atau lebih? Kekuatannya dan ajalnya? Sehat atau sakit?” Ia berkata: “Maka semua itu dituliskan.” Seorang lelaki dari kaum itu berkata: Lalu untuk apa amal perbuatan sedangkan semua ini telah selesai? Maka ia bersabda: “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa ia diciptakan.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/397 (863 – 863).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Ibnud-Dailami yang berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma tentang keringnya pena, maka ia berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika menciptakan makhluk-Nya melemparkan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka barang siapa yang terkena sesuatu darinya, ia akan mendapat petunjuk.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/424 (932)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan datang ke Makkah, lalu para fuqaha Makkah berkata kepadaku: Al-Hasan bin Muslim dan Abdullah bin Ubaid: Seandainya engkau berbicara kepada Al-Hasan agar ia menyendirikan kami suatu hari? Maka aku berbicara kepada Al-Hasan dan berkata: Wahai Abu Sa’id, saudara-saudaramu ingin agar engkau duduk bersama mereka suatu hari. Ia berkata: Baik, dan sebaik-baik pandangan. Maka ia menjanjikan mereka suatu hari, mereka datang dan berkumpul, lalu Al-Hasan berbicara, dan aku tidak pernah melihatnya sebelum hari itu maupun sesudahnya lebih fasih daripada hari itu. Mereka bertanya kepadanya tentang lembaran yang panjang, ia tidak salah dalam satu hal pun kecuali dalam satu masalah. Seorang lelaki berkata kepadanya: Wahai Abu Sa’id, siapa yang menciptakan setan? Maka ia berkata: Subhanallah, Subhanallah, apakah ada pencipta selain Allah?! Kemudian ia berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan setan, menciptakan kejahatan, dan menciptakan kebaikan. Maka seorang lelaki dari mereka berkata: Semoga Allah membinasakan mereka, mereka berdusta atas syaikh ini.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/427 (942).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Manshur bin Abdurrahman memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan tentang firman-Nya: “Dan mereka senantiasa berselisih. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu” (Surah Hud: 118-119), maka ia berkata: Manusia berselisih atas berbagai agama kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhannya, dan orang yang diberi rahmat tidak berselisih. Aku berkata: Dan untuk itulah Dia menciptakan mereka?

Ia berkata: Ya, Dia menciptakan golongan ini untuk surga-Nya, menciptakan golongan ini untuk neraka-Nya, menciptakan golongan ini untuk rahmat-Nya, dan menciptakan golongan ini untuk azab-Nya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/430 (950).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Hajjaj bin Muhammad bin Al-Yazidi menceritakan kepadaku, Syarik memberitahukan kepada kami, dari Abu Sinan Abdullah bin Abil-Hudzail, dari Ammar bin Yasir yang berkata: Musa ‘alaihissalam berkata: Wahai Tuhanku, Engkau menciptakan makhluk yang Engkau masukkan ke dalam neraka dan Engkau azab mereka! Maka Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya: Mereka semua adalah makhluk-Ku, kemudian berfirman: Tanamlah tanaman. Maka ia menanamnya, lalu berfirman: Siramilah. Maka ia menyiraminya, kemudian berfirman kepadanya: Rawatlah. Maka ia merawatnya atau sekehendak Allah dari itu, lalu ia memanennya dan mengangkatnya. Allah berfirman: Apa yang telah engkau lakukan dengan tanamanmu wahai Musa? Ia berkata: Aku telah selesai darinya dan mengangkatnya. Allah berfirman: Apakah engkau tidak meninggalkan sesuatu darinya? Ia berkata: Yang tidak ada kebaikan padanya, atau yang tidak aku butuhkan. Allah berfirman: Demikian pula Aku, Aku tidak mengazab kecuali yang tidak ada kebaikan padanya atau yang tidak Aku butuhkan.

“Az-Zuhd” riwayat Abdullah hal. 110-111

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang orang yang berkata: Sesungguhnya di antara segala sesuatu ada sesuatu yang tidak diciptakan oleh Allah, apakah ini menjadi musyrik?

Ia berkata: Jika ia mengingkari ilmu maka ia adalah musyrik, ia diminta bertaubat. Jika ia bertaubat (baik), dan jika tidak maka ia dibunuh jika ia berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mengetahui sesuatu hingga ia terjadi.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/440 (939).

117 – Bab: Fitrah

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata: Allah Jalla Jalaluhu mengeluarkan keturunan Adam ‘alaihissalam dari punggungnya seperti semut, lalu Dia menamakan mereka. Dia berfirman: Ini si Fulan dan ini si Fulan, kemudian Dia menggenggam dua genggaman, lalu berfirman kepada yang di tangan kanan-Nya: Masuklah ke surga. Dan berfirman kepada yang di tangan-Nya yang lain: Masuklah ke neraka dan Aku tidak peduli.

“As-Sunnah” karya Abdullah 3/402-404 (876).

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa memberitahukan kepadaku, bahwa Abu Abdillah ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Ia berkata: Fitrah yang Allah ciptakan hamba-hamba-Nya atasnya.

Ia berkata: Muhammad bin Al-Husain memberitahukan kepadaku, bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka.

‘Ishmah bin ‘Isham memberitahukan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami.

Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepadaku, bahwa Abul-Harits menceritakan kepada mereka, mereka mendengar Abu Abdillah dalam masalah ini berkata: Fitrah yang Allah Azza wa Jalla ciptakan hamba-hamba atasnya dari kecelakaan dan kebahagiaan.

Ia berkata: Manshur bin Al-Walid memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ali bin Sa’id menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Ia berkata: Atas kecelakaan dan kebahagiaan. Ia berkata: Ia kembali kepada apa ia diciptakan.

Ia berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku, ia berkata: Fitrah yang pertama yang Allah Azza wa Jalla ciptakan atasnya. Aku berkata kepadanya: Lalu apa fitrah yang pertama? Apakah itu agama? Ia berkata: Ya.

Ia berkata: Muhammad bin Yahya Al-Kahhal memberitahukan kepadaku, bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah,” apa tafsirnya? Ia berkata: Ia adalah fitrah yang Allah Azza wa Jalla ciptakan manusia atasnya, celaka atau bahagia.

Abu Abdillah berkata: Seseorang bertanya kepadaku tentang masalah ini di Makkah, dan ia adalah seorang Qodariyah. Ketika aku mengatakannya kepadanya, seakan-akan aku melemparkan batu ke mulutnya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/421-422 (878-882).

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Al-Husain bin Hassan memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Abdillah ditanya tentang hadits: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani.” Maka ia berkata: Fitrah yang Allah ciptakan, yang Allah ciptakan manusia atasnya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/422-423 (884).

Ia berkata: Abdul Malik Al-Maimuni memberitahukan kepadaku: Bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah” apakah masuk ke dalamnya jika kedua orang tuanya bersamanya bahwa hukumnya adalah hukum ketika mereka kecil? Maka ia berkata kepadaku: Ya, itu masuk kepadamu dalam hal ini. Maka kami berdiskusi tentang apa yang masuk kepadaku dari perkataan ini dengan apa yang bisa menguatkannya. Aku berkata kepada Abu Abdillah: Lalu apa yang engkau katakan di dalamnya? Dan kemana engkau cenderung?

Ia berkata: Kemana aku berkata?! Aku tidak tahu kabarmu? Ini adalah masalah sebagaimana engkau lihat. Kemudian ia berkata kepadaku: Dan orang yang berkata: Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan… perhatikan juga kepada fitrah yang pertama yang Allah ciptakan manusia atasnya. Aku berkata: Lalu apa fitrah yang pertama? Apakah itu agama?

Ia berkata kepadaku: Ya, di antara manusia ada yang berdalil dengan fitrah yang pertama bersama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Aku berkata kepada Abu Abdillah: Lalu apa yang engkau katakan; aku tidak mengetahui perkataanmu?

Ia berkata: Aku berkata: Sesungguhnya ia atas fitrah yang pertama.

“Ahkam Ahlil-Milal” 1/77 (28).

Abu Abdillah bin Nashr Al-Maruzi berkata: Dan mazhab ini mirip dengan apa yang diceritakan oleh Abu Ubaid, dari Abdullah bin Al-Mubarak, bahwa ia ditanya tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Maka ia berkata: Hadits yang lain menafsirkannya ketika ia ditanya tentang anak-anak orang musyrik, maka ia bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Al-Maruzi berkata: Dan sungguh Ahmad bin Hanbal dahulu cenderung kepada pendapat ini kemudian ia meninggalkannya.

“At-Tamhid” 18/79.

Muhammad bin Nasr Al-Maruzi berkata: Saya mendengar Ishaq bin Rahawaih berpendapat ke arah makna ini, dan beliau berdalil dengan perkataan Abu Hurairah: Bacalah jika kalian mau: “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (Ar-Rum: 30). Ishaq berkata: Maksudnya adalah tidak ada perubahan pada penciptaan yang dijadikan bagi seluruh anak cucu Adam, yakni dari segi kekufuran, keimanan, pengetahuan, dan pengingkaran.

Ishaq juga berdalil dengan firman Allah Azza wa Jalla: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka” (Al-A’raf: 172) – ayat tersebut. Ishaq berkata: Para ahli ilmu sepakat bahwa yang dimaksud adalah ruh-ruh sebelum jasad, Allah meminta mereka berbicara “dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar.'” Kemudian Allah berfirman: Perhatikanlah, jangan sampai kalian berkata: “Sesungguhnya kami lengah terhadap ini (172) atau kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak cucu yang datang sesudah mereka.'” (Al-A’raf: 172-173).

Ishaq juga berdalil dengan hadits Ubay bin Ka’ab dalam kisah anak kecil yang dibunuh oleh Khidir. Beliau berkata: Salim bin Qutaibah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abdul Jabbar bin Abbas Al-Hamdani menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Anak kecil yang dibunuh oleh Khidir, Allah telah menjadikannya kafir pada hari Allah menciptakannya.” Ishaq berkata: Yang tampak adalah apa yang dikatakan Musa: Apakah kamu membunuh jiwa yang bersih tanpa (alasan membunuh) jiwa (yang lain)! Maka Allah memberitahu Khidir tentang keadaan anak tersebut dalam fitrah yang Allah ciptakan padanya (dan sesungguhnya tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, maka Khidir diperintahkan untuk membunuhnya); karena dia telah dijadikan kafir pada hari penciptaannya.

Ishaq berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa beliau membaca: (Adapun anak muda itu, adalah seorang kafir sedangkan kedua orang tuanya adalah mukmin).

Ishaq berkata: Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan manusia dan tidak menjelaskan kepada mereka hukum anak-anak kecil, mereka tidak akan mengetahui siapa di antara mereka yang mukmin dan yang kafir; karena mereka tidak tahu apa yang dijadikan pada diri setiap orang ketika dikeluarkan dari sulbi Adam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hukum anak kecil di dunia dengan sabda beliau: “Maka kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Maksudnya: Kalian tidak mengetahui apa yang dijadikan pada dirinya dalam fitrah awal, tetapi hukum anak kecil di dunia adalah hukum kedua orang tuanya, maka ketahuilah itu dari kedua orang tuanya. Barangsiapa yang masih kecil antara dua orang tua yang kafir, maka ia dihubungkan dengan hukum keduanya. Dan barangsiapa yang masih kecil antara dua orang tua yang muslim, maka ia dihubungkan dengan hukum keduanya. Adapun keimanan atau kekufuran orang tersebut yang akan ia capai, maka ilmu tentang itu milik Allah. Dan dengan ilmu itu, Khidir memiliki keutamaan atas Musa, ketika Allah memberitahunya tentang anak tersebut dan mengkhususkannya dengan ilmu itu.

(Beliau berkata: Dan sungguh Ibnu Abbas pernah ditanya tentang anak-anak kaum muslimin dan kaum musyrikin, maka beliau menjawab: Cukuplah bagimu apa yang diperdebatkan antara Musa dan Khidir).

Ishaq juga berdalil dengan hadits Aisyah – ketika seorang anak kecil dari kaum Anshar meninggal antara dua orang tua muslim – maka Aisyah berkata: Berbahagialah dia, seekor burung pipit dari burung-burung pipit surga. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantahnya dengan bersabda: “Cukup, wahai Aisyah! Apa yang kamu ketahui? Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan untuknya penghuninya, dan menciptakan neraka dan menciptakan untuknya penghuninya.” Ishaq berkata: Inilah pokok yang dijadikan pegangan oleh para ahli ilmu.

At-Tamhid 18/84-88.

118 – Bab Memaksa Masuk Islam dan Apa yang Wajib untuk Masuk ke Dalamnya

Ishaq bin Manshur Al-Kausaj berkata: Saya bertanya kepada Ishaq: Jika datang seorang laki-laki dari ahli dzimmah lalu berkata: Tawarkan Islam kepadaku?

Beliau menjawab: Sesungguhnya sunnah dalam hal itu adalah ditawarkan kepadanya untuk mengucapkan: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan saya mengakui segala yang datang dari Allah dan berlepas diri dari setiap agama selain agama Islam.

Inilah penawaran yang sempurna yang disepakati para ulama untuk menerimanya, dan mereka menjadikannya sebagai pintu masuk ke dalam Islam dan pembebasan dari kesyirikan. Jika orang yang menawarkan Islam kepada orang musyrik hanya membatasi pada kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka ini adalah pintu masuk ke dalam Islam, jika itu berdasarkan makna masuk ke dalam Islam sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau memasuki tempat belajar orang-orang Yahudi lalu menawarkan Islam kepada orang Yahudi seukuran ini, ketika ia mengucapkannya dan orang Yahudi itu meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatilah saudara kalian.” Maka sesungguhnya kami berhati-hati agar orang yang menawarkan Islam kepada ahli dzimmah menawarkan kepadanya empat perkara tersebut, agar tidak ada perbedaan pendapat dari para ulama.

Masail Al-Kausaj (3370)

Ishaq bin Manshur berkata: Saya bertanya kepada Ahmad tentang seorang laki-laki yang ditawarkan Islam ketika menjelang kematiannya, dia mengakui dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, apakah ahli warisnya mewarisinya dengan warisan Islam? Beliau menjawab: Ya, dan siapa yang mengatakan selain ini, mereka dalam madzhab mereka tidak seharusnya kecuali seperti ini, tetapi yang mengherankan. Artinya: mereka tidak diberi taufik.

Masail Al-Kausaj (3410).

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, beliau berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Mughirah, dari Hammad, dari Ibrahim, beliau berkata: Jika wanita-wanita Yahudi dan Nasrani ditawan, mereka dipaksa masuk Islam. Jika mereka masuk Islam atau tidak masuk Islam: mereka boleh digauli dan dipekerjakan. Dan jika wanita-wanita Majusi dan penyembah berhala ditawan, mereka dipaksa masuk Islam. Jika mereka masuk Islam, mereka boleh digauli dan dipekerjakan. Dan jika mereka tidak masuk Islam, mereka dipekerjakan dan tidak boleh digauli.

Masail Shalih (630)

Abu Dawud berkata: Saya bertanya kepada Ahmad: Seorang laki-laki berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Beliau menjawab: Dia dipaksa masuk Islam. Dan beliau mengingkari orang yang berkata: Dia tidak dipaksa.

Masail Abu Dawud (1465).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, beliau berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, beliau berkata: Amr bin Murrah menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Salamah, dari Shafwan bin Assal, beliau berkata: Seorang laki-laki dari Yahudi berkata: Pergilah bersama kami kepada Nabi ini. Dia berkata: Jangan katakan Nabi, karena jika dia mendengarnya akan menjadi empat mata baginya, lalu dia menceritakan hadits tersebut. Maka keduanya berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.

Saya mendengar ayahku berkata: Yahya bin Sa’id menyelisihi yang lain. Maka mereka berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi.

Ayahku berkata: Seandainya mereka berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, maka keduanya telah masuk Islam.

Tetapi Yahya salah dalam hal itu dengan kesalahan yang buruk.

Al-‘Ilal riwayat Abdullah (4286)

Abdullah berkata: Saya bertanya kepada ayahku tentang kaum yang menikahkan anak-anak perempuan mereka kepada kaum dengan syarat bahwa anak laki-laki menjadi milik laki-laki muslim, dan anak perempuan menjadi musyrik, Yahudi, Majusi, atau Nasrani?

Beliau menjawab: Dipaksakan dari mereka semua siapa yang menolak untuk masuk Islam, karena ayah-ayah mereka adalah muslim; berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” Mereka semua dikembalikan kepada Islam.

Masail Abdullah (1263)

Al-Khallal berkata: Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdullah: Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki muslim dan seorang Nasrani di rumah mereka ada anak-anak, lalu kami tidak mengetahui anak Nasrani dari anak muslim? Beliau menjawab: Mereka dipaksa masuk Islam.

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 1/64 (13)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi menceritakan kepada kami, beliau berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya saya berada di Wasith, lalu mereka bertanya kepadaku tentang orang yang meninggal bersama istrinya dan meninggalkan dua anak kecil, dan mereka memiliki paman, apa pendapatmu tentang keduanya? Karena mereka menulis kepadaku dari Bashrah tentang hal itu, dan mereka berkata: Sesungguhnya mereka telah menulis kepadamu. Maka beliau berkata: Saya tidak suka mengatakan pendapat dalam hal itu, tinggalkan saya sampai saya melihat, semoga ada pendapat dari orang terdahulu.

Ketika sudah sebulan kemudian saya kembali kepadanya, maka beliau berkata: Saya telah melihatnya, ternyata ada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” Dan ini tidak memiliki kedua orang tua.

Saya bertanya: Apakah dia dipaksa masuk Islam? Beliau menjawab: Ya, mereka adalah muslim berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 1/89 (55).

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Abdullah berkata: Ahli dzimmah jika kedua orang tuanya meninggal dan dia masih kecil, dia dipaksa masuk Islam, dan beliau menyebutkan hadits: “Maka kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi atau Nasrani.”

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 1/89 (57).

Al-Khallal berkata: Al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa dia bertanya kepada Abu Abdullah tentang budak wanita Majusi yang dibeli, apakah dia dipaksa masuk Islam?

Beliau menjawab: Jika engkau membelinya dari orang Majusi maka jangan paksa dia, karena mereka memiliki dzimmah selama dia berada di sisi orang-orang itu; karena mereka membayar jizyah dengan dzimmah orang-orang itu, jangan paksa dia.

Dan beliau berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku di tempat lain, beliau berkata: Abu Abdullah ditanya: Jika kami memiliki wanita Majusi sebagai tawanan, apakah kami paksakan dia masuk Islam? Maka saya mendengarnya berkata: Ini tidak sama kedudukannya dengan ahli kitab, dia dipaksa masuk Islam.

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 1/277 (560-561)

Al-Khallal berkata: Harb Al-Kirmani mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Ditanyakan kepada Ahmad: Hadits Shafwan bin Assal yang mengatakan: Maka keduanya mencium tangannya dan berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi.

Beliau berkata: Ini mengatakan: nabi, dan tidak mengatakan utusan Allah, dan nabi berbeda dengan rasul. Dan jika dia berkata: Saya bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah mengakui bahwa dia diutus kepadanya dan kepada semua manusia.

Dan Al-Khallal berkata: Ahmad bin Hamdawaih Al-Hamdani mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Muhammad bin Abi Abdullah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ahmad bin Abi Abdah menceritakan kepadaku, beliau berkata: Saya bertanya kepada Ahmad: Hadits Shafwan bin Assal.

Lalu dia menyebutkan seperti masalah Harb dan menambahkan: Beliau berkata: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada semua manusia, dan jika dia berkata: nabi, maka ini berbeda dengan yang itu.

Dan beliau berkata: Al-Hasan bin Al-Haitsam mengabarkan kepadaku bahwa Muhammad bin Musa menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah ditanya: Seandainya seorang laki-laki berkata: Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah atau saya bersaksi bahwa Muhammad adalah nabi, apakah keduanya sama? Beliau menjawab: Tidak, jika dia berkata: Saya bersaksi bahwa dia adalah nabi, maka mungkin saja dia berkata: nabi, dan saya tidak tahu apakah dia diutus atau tidak.

Dan beliau berkata: Ibrahim mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Nashr bin Abdul Malik menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ya’qub mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya tentang ahli dzimmah yang berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Beliau menjawab: Dia dipaksa masuk Islam, dan jika dia berkata: Saya bersaksi bahwa dia adalah nabi, kami tidak mengatakan sesuatu kepadanya.

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 2/372-373 (830-833).

Al-Khallal berkata: Harb mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Ahmad ditanya tentang seorang Nasrani yang berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata: Sesungguhnya saya hanya bersaksi dengan kesaksian dan tidak bermaksud masuk Islam? Beliau menjawab: Dia dibunuh dan dipaksa masuk Islam.

Ahkam Ahl Al-Milal 2/374 (835)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku, keduanya berkata: Abu Al-Harits menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdullah ditanya tentang seorang Nasrani yang berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia dipaksa masuk Islam?

Beliau menjawab: Ya, dan apa yang lebih tegas atau lebih besar dari ini.

Dan Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Shalih menceritakan kepadaku bahwa dia bertanya kepada ayahnya: Orang Yahudi dan Nasrani jika berkata: Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian berkata: Saya tidak bermaksud masuk Islam, apakah dia dipaksa? Beliau menjawab: Adapun orang Yahudi maka dia dipaksa, karena dia mengesakan Allah, adapun orang Nasrani dan Majusi maka tidak; karena mereka tidak mengesakan Allah.

Dan beliau berkata: Abbas bin Ahmad Al-Mustamli An-Najjar di Tharsus mengabarkan kepada kami bahwa mereka bertanya kepada Abu Abdullah tentang seorang laki-laki Nasrani atau Yahudi yang berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Apakah dia telah masuk Islam?

Maka kami berkata kepadanya: Itu dikatakan oleh seorang laki-laki di sisi kami di Tharsus, lalu Ibnu Syabuyah berkata tentangnya: Saya melihatnya telah masuk Islam, dan yang lain berkata: Tidak, sampai dia berkata: Saya berlepas diri dari Nasrani dan meninggalkan agamaku. Maka beliau berkata: Subhanallah, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata kepada seorang laki-laki: “Katakanlah: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah.” Maka dia masuk Islam dengan itu.

Kemudian beliau berkata: Setiap orang yang melihat pendapat Abu Hanifah, kecuali dia akan menjadi orang yang hatinya rusak yang pergi kepadanya.

Dan beliau berkata: Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, beliau berkata: Abu Abdullah berkata: Sahabat-sahabat Abu Hanifah berkata: Dan dia berlepas diri dari agamanya, jika tidak maka dia tidak menjadi muslim.

Abu Abdullah berkata: Jika dia berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah ketika datang ingin masuk Islam, maka dia adalah muslim. Adapun jika dia berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah sedangkan dia tidak bermaksud masuk Islam, saya tidak memaksanya.

Dan beliau berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Muhammad bin Abi Hasyim menceritakan kepada kami, beliau berkata: Fauran menyerahkan kepadaku beberapa masalah Abu Abdullah, beliau berkata: Saya bertanyanya, saya berkata: Orang Yahudi, sebagian mereka berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Maka beliau berkata: Jika dia tidak bermaksud masuk Islam, adapun jika dia datang untuk masuk Islam lalu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya dan shalat, maka Islam mana yang lebih sempurna dari ini?! Bukankah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: tidak ada tuhan selain Allah, maka jika mereka mengucapkannya, mereka melindungi dariku darah dan harta mereka.”

Ahkam Ahl Al-Milal karya Al-Khallal 2/374-375 (837-841)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhanna menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang seorang dari ahli dzimmah, Yahudi atau Nasrani atau selain itu dari agama-agama lain yang berkata: Aku adalah seorang Muslim dan sesungguhnya Muhammad adalah Nabi?

Dia berkata: Dia adalah seorang Muslim, kemudian dia berkata: Adapun aku, maka aku dulu memaksanya untuk masuk Islam.

Dan dia berkata: Sungguh mengherankan terhadap Abu Hanifah, telah sampai kepadaku darinya bahwa dia berkata: Tidak menjadi Muslim hingga dia berkata: Aku berlepas diri dari kekufuran yang aku berada di dalamnya, dan jika tidak maka tidak menjadi Muslim dan tidak dipaksa untuk masuk Islam hingga dia berkata: Dan sesungguhnya aku berlepas diri dari kekufuran.

Dan dia berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami di tempat lain, dia berkata: Muhanna menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi yang berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia berkata: Dia dipaksa untuk masuk Islam. Aku bertanya: Jika dia menolak untuk masuk Islam? Dia berkata: Dia dipenjara.

Aku bertanya: Apakah dia dibunuh? Dia berkata: Tidak, tetapi dia dipenjara. Dan dia tidak berpendapat dia harus dibunuh.

Dan aku bertanya kepada Abu Abdillah, aku berkata: Jika dia berkata: Aku beriman kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tidak berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?

Dia berkata: Tidak, hingga dia berkata: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka jika dia berkata: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka sungguh dia telah masuk Islam, dan dia dipaksa untuk masuk Islam, maka sesungguhnya seorang Yahudi berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah kemudian dia meninggal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Shalatkanlah sahabat kalian”.

Aku bertanya kepada Abu Abdillah, aku berkata: Siapa yang meriwayatkannya? Dia berkata: Syarik, dari Abdullah bin Isa, dari Abdullah bin Jabr, dari Anas bin Malik.

Maka aku berkata: Siapa yang meriwayatkannya dari Syarik? Dia berkata: Lebih dari satu orang.

Aku berkata: Siapa lebih dari satu orang? Dia berkata: Muhammad bin Ash-Shabbah, dari Syarik, dari Abdullah bin Isa, dari Abdullah bin Jabr.

Aku berkata: Abdullah bin Jabr mendengar dari Anas bin Malik? Dia berkata: Ya, dan demikian dia telah mendengar darinya, Syu’bah dan dia berkata: Abdullah bin Jabr. Dan Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepadaku, dia berkata: Aku masuk menemui Abu Abdillah dan di sisinya ada seorang Yahudi yang telah masuk Islam di tangannya. Maka aku berkata kepadanya: Apa yang engkau katakan wahai Abu Abdillah?

Dia berkata: Aku berkata: Bersaksilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam, dan berimanlah kepada kebangkitan dan surga dan neraka.

Kemudian Abu Abdillah berkata: Para pengikut Abu Hanifah ini berkata: Tidak menjadi Muslim hingga dia berkata: Sesungguhnya aku keluar dari Yahudi masuk ke dalam Islam.

Dan Abu Abdillah berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada pamannya: “Aku menyerumu kepada satu kalimat yang aku bersaksi untukmu dengannya di sisi Allah: Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah”.

Dan dia berargumen dengan hadits-hadits yang tidak ada di dalamnya apa yang mereka sebutkan -yaitu: para pengikut Abu Hanifah- dan dia mengeluarkan hadits-hadits.

Dan Al-Marwadzi berkata di tempat lain: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Aku berada di sisi Abu Mu’awiyah maka seorang laki-laki berkata kepadanya: Sesungguhnya Abu Hanifah berkata: Jika ahli dzimmah masuk Islam tidak menjadi Muslim hingga dia berkata: Sesungguhnya aku keluar dari kekufuran masuk ke dalam Islam.

Maka Abu Mu’awiyah mengingkari dan terus tidak membenarkannya, dan sepertinya dia berkata: Maka dia mengutus seseorang dari pengikut Abu Hanifah dan ternyata memang seperti yang dikatakan laki-laki tersebut.

“Ahkam Ahli Al-Milal” karya Al-Khallal 2/376-378 (843-845).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwadzi mengabarkan kepadaku di tempat lain, Abu Abdillah berkata kepadaku: Jika orang Yahudi atau Nasrani berkata: Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah; maka dia adalah Muslim.

Dan dia berargumen dengan hadits Ibnu Abbas tentang sakitnya Abu Thalib.

Dan dia berkata: Aku membacakan kepada Abu Abdillah: Yahya bin Sa’id, dari Sufyan, dia berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Umarah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas dia berkata: Abu Thalib sakit maka kaum Quraisy mendatanginya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya dan di sisi kepalanya ada tempat duduk seorang laki-laki, maka Abu Jahal berdiri dan duduk di sana.

Maka mereka berkata: Sesungguhnya anak saudaramu mencela tuhan-tuhan kami, dia berkata: Ada apa dengan kaummu mereka mengeluhkanmu?

Dia berkata: “Wahai pamanku, aku menghendaki mereka atas satu kalimat yang orang-orang Arab tunduk kepada mereka dengannya dan orang-orang Ajam membayar jizyah kepada mereka”. Dia berkata: Apa itu? Dia berkata: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”.

Dia berkata: Maka mereka berdiri dan berkata: “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu” (Surat Shaad: 5).

Dia berkata: Dan turun Al-Quran: “Shaad. Demi Al-Quran yang mempunyai kemuliaan” (Surat Shaad: 1) hingga sampai: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat mengherankan” (Surat Shaad: 5).

“Ahkam Ahli Al-Milal” karya Al-Khallal 2/379-380 (847-848)

Abu Bakar Al-Khallal berkata: Masalah ini diriwayatkan dari Abu Abdillah oleh banyak orang, aku membatasi pada orang-orang ini saja dari mereka.

Adapun Muhanna Asy-Syami meriwayatkan dari Abu Abdillah sepertinya, dan dia berkata: Dia dipenjara dan tidak berpendapat dia harus dibunuh jika dia berkata: Aku tidak bermaksud dengan ini masuk Islam.

Adapun Abu Dawud dan Abu Al-Harits dan Shalih: Bahwa dia dipaksa untuk masuk Islam, maka mereka tidak menjelaskan penjelasan yang memuaskan, ini hanyalah penghentian darinya setelah perkataannya yang pertama.

Adapun apa yang dikatakan Ishaq Al-Kausaj: Maka dia mewajibkan Islam atasnya dan demikian juga Al-Marwadzi.

Kemudian Al-Masyakani dan Fauran menjelaskan darinya: Bahwa jika dia berkata ini dan dia telah datang menghendaki Islam maka itulah yang diamalkan jika dia kembali sebelumnya dan membenarkan keislamannya dengan kedatangannya menghendaki Islam, jika dia berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Adapun perkataan Abu Hanifah yang berkata: Sesungguhnya aku keluar dari ini masuk ke dalam ini, dan Abu Abdillah mengingkarinya dan berargumen dengan hadits-hadits dalam mengingkarinya.

Maka atas dasar ini adalah madzhab Abu Abdillah dan kepadanya aku berpendapat, adapun jika dia shalat dan bersaksi dan berkata: Aku adalah Muslim, maka ini lebih kuat, jika dia menolak dia diminta bertaubat tiga kali maka jika dia bertaubat dan jika tidak dia dibunuh.

Dan dia berkata: Ibrahim bin Al-Khalil mengabarkan kepadaku: Bahwa Ahmad bin Nashr Abu Hamid menceritakan kepada mereka: Abu Abdillah ditanya tentang ahli dzimmah yang berkata: Aku adalah Muslim dan tidak kembali?

Dia berkata: Jika dia shalat dan bersaksi dia dipaksa untuk masuk Islam.

Dan dia berkata: Ibnu Mathar mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami: Bahwa Abu Abdillah ditanya tentang orang Yahudi yang berkata: Sungguh aku telah masuk Islam dan aku adalah Muslim? Dia berkata: Dia dipaksa untuk masuk Islam, sungguh dia telah mengetahui apa yang kami kehendaki darinya, maka jika dia berkata: Aku adalah Muslim dan sungguh aku telah masuk Islam, dia dipaksa untuk masuk Islam.

Dan dia berkata: Manshur bin Al-Walid mengabarkan kepadaku bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jika ahli dzimmah berkata: Aku adalah Muslim, dia dipaksa.

Dikatakan: Jika dia berkata: Aku adalah mukmin? Dia berkata: Ini lebih kuat.

“Ahkam Ahli Al-Milal” karya Al-Khallal 2/380-381 (850-851).

119 – Bab: Anak-anak kaum Muslim dan kaum musyrik dari yang belum mencapai usia baligh

Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ahmad: Seorang laki-laki yang keluar dari perut ibunya dalam keadaan buta, tuli, dan bisu, maka dia hidup hingga menjadi seorang laki-laki, dia berkata: Ini semisal orang yang mati, dia bersama kedua orang tuanya.

Dia berkata: Aku berkata: Walaupun keduanya adalah orang musyrik kemudian mereka masuk Islam setelah dia menjadi laki-laki? Dia berkata: Dia bersama mereka berdua.

Ishaq berkata: Benar seperti yang dia katakan. Yaitu: Bahwa dia atas agama kedua orang tuanya.

“Masa’il Al-Kausaj” (1342).

Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ishaq: Anak-anak kecil kaum musyrik?

Dia berkata: Yang kami sandari adalah bahwa mereka tidak ditempatkan di surga dan tidak di neraka hingga Allah Azza wa Jalla-lah yang menempatkan mereka, adapun anak-anak kaum Muslim maka sesungguhnya mereka adalah ahli surga, tetapi tidak boleh bagi seseorang untuk bersaksi untuk anak seorang Muslim secara spesifik bahwa ini adalah dari ahli surga seperti apa yang kami katakan: Orang-orang mukmin adalah ahli surga. Dan tidak menunjuk seseorang secara spesifik.

“Masa’il Al-Kausaj” (3357).

Harb bin Ismail berkata: Aku bertanya kepada Ishaq tentang anak-anak kecil kaum musyrik; maka dia berkata: Serahkan urusan mereka kepada Allah, Allah lebih mengetahui dengan apa yang akan mereka kerjakan.

Dia berkata: Dan anak-anak kecil kaum Muslim mereka di dalam surga.

Ishaq berkata: Dan janganlah salah seorang dari kalian bersaksi untuk anak kecil yang meninggal: Sesungguhnya aku bersaksi bahwa ini di dalam surga.

Dia berkata: Dan Ibnu Abbas ditanya tentang anak-anak kecil apakah mereka di dalam surga? Dia berkata: Cukup bagimu apa yang diperdebatkan di dalamnya oleh Musa dan Khidhir alaihimassalam.

Dan Harb berkata: Dia berkata: Baqiyyah bin Al-Walid mengabarkan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ziyad menceritakan kepadaku, dia berkata: Abdullah bin Abi Qais menceritakan kepadaku, dia berkata: Aisyah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepadaku, dan aku bertanya kepadanya tentang anak-anak kaum musyrik dan kaum mukmin, maka dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang mereka, maka dia berkata: “Bersama bapak-bapak mereka”. Dia berkata: Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, tanpa amal? Dia berkata: “Allah lebih mengetahui dengan apa yang akan mereka kerjakan”.

Harb berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-‘Ala’ bin Al-Musayyab mengabarkan kepada kami, dari Al-Fadhl bin Amr Al-Fuqaimi, dari Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah Ummul Mukminin dia berkata: Seorang anak kecil dari kaum Anshar meninggal, maka aku berkata: Beruntunglah dia, burung pipit dari burung-burung pipit surga. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Wahai Aisyah, atau tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah menciptakan surga dan menciptakan neraka, maka Dia menciptakan untuk surga ahli dan untuk neraka ahli”.

“Masa’il Harb” (350).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Khalid Al-Hadzdza’ menceritakan kepada kami, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma dia berkata: Aku dulu berkata tentang anak-anak kaum musyrik: Mereka bersama mereka. Maka seorang laki-laki menceritakan kepadaku dari seorang laki-laki dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka aku menemuinya dan dia menceritakan kepadaku dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa dia berkata: “Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka, Dia menciptakan mereka, dan Dia lebih mengetahui tentang mereka dan apa yang akan mereka kerjakan”.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/400 (869).

Al-Khallal berkata: Manshur bin Al-Walid mengabarkan kepadaku; bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepadanya, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang anak-anak kecil kaum Muslim, maka dia berkata: Tidak ada perselisihan di dalamnya bahwa mereka di dalam surga.

“Ahkam Ahli Al-Milal” karya Al-Khallal 1/66 (14)

Al-Khallal berkata: Abdul Malik Al-Maimuni mengabarkan kepadaku bahwa mereka mendiskusikan kepada Abu Abdillah tentang anak-anak kecil kaum mukmin, mereka menyebutkan kepadanya hadits Aisyah radiyallahu anhuma wa ardlaha tentang kisah orang Anshari dan perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalamnya.

Maka aku mendengar Abu Abdillah berkata lebih dari satu kali: Dan ini adalah hadits yang lemah dan dia menyebutkan di dalamnya seorang laki-laki yang dia lemahkan yaitu Thalhah.

Dan aku mendengarnya berkata lebih dari satu kali: Dan apakah ada orang yang meragukan bahwa mereka di dalam surga? Kemudian dia mendiktekan kepada kami hadits-hadits di dalamnya.

Dan aku mendengarnya lebih dari satu kali berkata: Dia diharapkan untuk kedua orang tuanya bagaimana dia meragukan di dalamnya?

Dan Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya mereka hanya berselisih tentang anak-anak kecil kaum musyrik. Dan Ibnu Abbas berkata: Aku dulu berkata: Mereka bersama bapak-bapak mereka, hingga aku menemui seorang laki-laki dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam maka dia menceritakan kepadaku dari laki-laki lain dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa dia ditanya tentang mereka maka dia berkata: “Allah lebih mengetahui dengan apa yang akan mereka kerjakan”, maka Ibnu Abbas diam. Maka seorang laki-laki berkata kepadanya: Apakah Ibnu Abbas berkata ini?

Maka dia berkata: Adapun zhahir perkataannya maka menunjukkan atas itu.

Dan dia berkata: Hamid bin Ahmad bin Dawud mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Harits mendengar Abu Abdillah ditanya tentang janin jika belum ditiupkan ke dalamnya roh apakah dia dibangkitkan?

Maka dia berkata: Di dalam hadits: “Janin akan datang dalam keadaan marah (atau: melemparkan dirinya)”.

Abu Bakar berkata: Aku bertanya kepada Tsa’lab An-Nahwi tentang janin yang marah. Maka dia berkata: Dikatakan: marah, dan dikatakan: melemparkan dirinya.

Dan dia berkata: Aku membacakan kepada Al-Husain bin Abdillah An-Nu’aimi, dari Al-Husain bin Al-Hasan dia berkata: Abu Dawud menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, dikatakan kepadanya: Seorang wanita meninggal dan di dalam perutnya ada segumpal daging yang kami harapkan akan menjadi anak pada hari kiamat? Dia berkata: Allah lebih mengetahui.

Dan dia berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibnu Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Sulaiman -yaitu At-Taimi- dari Abu As-Salil, dari Abu Hassan dia berkata: Dua anakku meninggal, maka aku berkata kepada Abu Hurairah: Apakah engkau mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hadits yang engkau ceritakan kepadaku untuk menghibur jiwa kami?

Dia berkata: Ya, aku mendengarnya berkata: “Anak-anak kecil kalian adalah penghuni surga yang kecil-kecil, salah seorang dari mereka menemui kedua orang tuanya maka dia mengambil ujung pakaiannya sebagaimana dia mengambil ujung pakaianmu ini, dan dia tidak berpisah darinya hingga dia memasukkannya dan dirinya ke dalam surga”.

“Ahkam Ahli Al-Milal” karya Al-Khallal 1/66-71 (14-19)

Al-Khallal berkata: Saya melihat dalam sebuah kitab milik Harun al-Mustamli, Abu Abdullah berkata: Apabila seseorang bertanya tentang anak-anak orang musyrik bersama ayah-ayah mereka, maka itu adalah pokok setiap perselisihan, dan tidak ada yang bertanya tentang hal itu kecuali orang yang Allah lebih mengetahui tentangnya.

Beliau berkata: Kami menyampaikan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya dan kami diam, tidak mengatakan sesuatu pun.

Al-Khallal berkata: Ubaidullah bin Hanbal memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah dan Ibnu asy-Syafi’i —yang menjabat sebagai qadhi Aleppo— bertanya kepadanya, lalu ia berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, keturunan orang-orang musyrik atau orang-orang Muslim —saya tidak tahu yang mana yang ia tanyakan. Maka Abu Abdullah berteriak kepadanya dan berkata: Masalah-masalah ahli penyimpangan. Apa urusanmu dengan masalah-masalah ini? Maka ia diam dan pergi dan tidak kembali lagi kepada Abu Abdullah setelah itu hingga ia keluar.

Dan ia berkata: Abu Bakar al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Bisyr bin as-Sari bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri tentang anak-anak orang musyrik; maka ia berteriak kepadanya dan berkata: Apakah kamu Nashabi yang bertanya tentang hal ini?

Dan ia berkata: Manshur bin al-Walid dan Muhammad bin Musa memberitahukan kepadaku, dan ini adalah lafazh-nya bahwa Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah dan ditanyakan kepadanya tentang anak-anak orang musyrik, maka ia tidak mengatakan sesuatu pun tentang hal itu.

Dan ia berkata: Manshur bin al-Walid memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ali bin Sa’id menceritakan kepada kami; bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah: “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani.”

Beliau berkata: Masalahnya ada pada hal ini dan orang-orang telah berselisih dan kami tidak menemukan sesuatu pun di dalamnya yang kami ketahui.

Dan ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami; bahwa Abu Abdullah ditanyai tentang anak-anak orang musyrik, maka ia berkata: Ibnu Abbas pernah berkata: “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nashrani.” Hingga ia mendengar: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.” Maka ia meninggalkan perkataannya, dan hadits-hadits itu shahih dan sanadnya shahih. Az-Zuhri pernah mengatakan dari hadits apa yang ia sampaikan dengannya sebagaimana adanya.

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/73-76 (21-26)

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Muhammad memberitahukan kepadaku, ia berkata: Bakar bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdullah dan ia bertanya kepadanya tentang anak-anak orang musyrik, maka ia berkata: Aku condong kepada perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.”

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/78 (29)

Al-Khallal berkata: ‘Isham bin ‘Ishmah memberitahukan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Apabila kedua orang tuanya masuk Islam kemudian ia meninggal sedang ia masih kecil, maka dishalatkan untuknya dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, dan jika ia meninggal sedang keduanya musyrik, maka ia mengikuti keduanya.

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/79 (34)

Al-Khallal berkata: Abdul Karim bin al-Haitsam al-‘Aquli memberitahukan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata tentang dua orang Majusi yang dilahirkan bagi keduanya seorang anak lalu keduanya berkata: Ini adalah Muslim, maka ia tetap lima tahun kemudian ia meninggal; beliau berkata: Orang itu dikubur oleh kaum muslimin. Dan ia berkata: Muhammad bin al-Abbas bin Ibrahim memberitahukan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Karim bin al-Haitsam menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang anak kecil Majusi yang dijadikan Muslim oleh ayah dan ibunya, kemudian ia meninggal, di mana ia dikubur?

Beliau berkata: “Menjadikannya Yahudi dan Nashrani” bahwa maknanya adalah bahwa ia dikubur di pekuburan kaum muslimin.

Abu Bakar al-Khallal berkata: Saya kira bahwa al-Hasan mendengarnya dari Abdul Karim secara hafalan, dan yang saya dengar dari Abdul Karim adalah dari kitabnya dan maknanya satu, kecuali bahwa lafazh yang saya dengar itulah yang benar.

“Ahkam Ahlil Milal” 1/90 (62-63)

Abu Dawud as-Sijistani berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Utbah bin Dhamrah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Abi Qais, maula ‘Athiyyah menceritakan kepadaku bahwa ia datang kepada Aisyah Ummul Mukminin, lalu mengucapkan salam kepadanya, maka ia berkata: Siapa kamu? Ia berkata: Aku adalah Abdullah, maula ‘Athiyyah bin ‘Azib.

Maka ia berkata: Ibnu ‘Afif? Maka ia berkata: Ya.

Maka ia bertanya kepadanya tentang dua rakaat setelah shalat Ashar, apakah Rasulullah melaksanakannya? Maka ia berkata: Ya, dan ia bertanya kepadanya tentang keturunan orang-orang kafir? Maka ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bersama ayah-ayah mereka.” Maka aku berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, tanpa amal? Beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.”

“Al-Ibanah” kitab al-Qadar 2/81 (1485)

Hanbal bertanya kepadanya tentang anak dzimmi apabila salah satu dari kedua orang tuanya meninggal? Beliau berkata: Ia adalah Muslim selama belum baligh.

“Ar-Riwayatain wal Wajhain” 2/370

120 – Bab: Kapan Islam anak kecil diterima?

Ishaq bin Manshur berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Anak berusia sepuluh tahun masuk Islam?

Beliau berkata: Adapun aku, maka aku membolehkannya atas Islam; karena ia diperintahkan shalat pada usia sepuluh tahun.

Ishaq berkata: Demikianlah itu, dan demikian juga apabila ia mencapai tujuh tahun.

“Masail al-Kausaj” (2719)

Ia berkata: Ishaq bin Manshur: Aku berkata: Seorang perempuan masuk Islam dan ia memiliki anak-anak? Beliau berkata: Apabila mereka masih kecil dipaksa masuk Islam, dan apabila mereka sudah besar tidak dipaksa.

Aku berkata: Apa batasan itu? Beliau berkata: Anak berusia sepuluh tahun.

“Masail al-Kausaj” (3420)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Mahna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang seorang anak Yahudi atau Nashrani yang masuk Islam dan ia memiliki kedua orang tua, apakah Islamnya sah sedangkan kedua orang tuanya tidak menyukai? Beliau berkata: Apabila ia berakal terhadap Islam maka sah, dan jika tidak maka tidak sah.

Aku berkata: Dan apa akalnya? Beliau berkata: Ia mengenal shalat dan kecintaan terhadap Islam.

Aku berkata: Anak berusia berapa tahunkah seharusnya ia? Beliau berkata: Anak berusia sepuluh tahun.

Aku berkata: Maka jika ia murtad dari Islam sedang ia berusia sepuluh tahun, apakah ia dibunuh?

Beliau berkata: Tidak dibunuh, tetapi ia dipukul; karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dipukul karena shalat apabila ia berusia sepuluh tahun.”

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/106 (94)

Dan al-Khallal berkata: Zakariya bin Yahya memberitahukan kepada kami, ia berkata: Dan ia berkata Ibnu Mathar memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah ditanyai tentang anak kecil yang masuk Islam sedangkan kedua orang tuanya adalah Yahudi? Beliau berkata: Aku lebih menyukai apabila ia berusia sepuluh tahun maka sah; karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila anak mencapai usia sepuluh tahun maka pukullah ia untuk shalat.”

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/107-108 (95-97)

Muhammad bin Abi Harun memberitahukan kepadaku bahwa Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang seorang anak yang memiliki kedua orang tua Yahudi, lalu ia masuk Islam sedang ia berusia tujuh tahun.

Beliau berkata: Islamnya sah, dan ia dipaksa masuk Islam apabila salah satu dari kedua orang tuanya Muslim ia dipaksa masuk Islam, dan Islamnya sah sedang ia berusia tujuh tahun.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, ia berkata: Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku berkata: Apabila orang Yahudi dan Nashrani mencapai usia tujuh tahun kemudian masuk Islam, dipaksa masuk Islam; karena apabila ia mencapai usia tujuh tahun diperintahkan shalat.

Aku berkata: Dan jika ia berusia enam tahun? Beliau berkata: Tidak.

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/108 (99-100)

Al-Khallal berkata: Abdul Malik memberitahukan kepadaku bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Anak laki-laki di rumah kami dan bersamanya kedua orang tuanya lalu ia masuk Islam sedang ia berusia sepuluh tahun atau lebih dan belum mencapai baligh? Beliau berkata: Aku terima Islamnya.

Aku berkata: Dengan apa engkau berdalil padanya? Beliau berkata: Aku memukulnya untuk shalat pada usia sepuluh tahun; karena sabda: “Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.” Aku berkata: Maka jika ia murtad? Beliau berkata: Aku menghalangi antara ia dan kemurtadan.

Ia berkata: Ia lebih besar dari pada engkau memukulnya, apakah aku memenjarakannya?

Beliau berkata: Apa yang engkau lakukan kepadanya? Apakah aku membunuhnya?! Aku tidak membunuhnya; karena selama ia belum mencapai masa baligh aku tidak menegakkan hukuman had atasnya, tetapi aku menghalangi antara ia dan kemurtadan.

Kemudian ia berkata kepadaku: Dan engkau sungguh melihatnya sebagai anak laki-laki selama belum baligh diberlakukan atasnya beberapa hal: wasiatnya, talaknya dan membebaskan budaknya.

Dan al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepadaku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah ditanyai tentang sekelompok orang yang diserahkan kepada mereka seorang anak kecil lalu mereka membesarkannya, ketika ia dewasa ia berkata: Aku adalah Nashrani?

Beliau berkata: Tidak diterima darinya, ia dipaksa masuk Islam dengan pukulan dan siksaan.

Dan al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepadaku di tempat lain, keduanya berkata: Abu al-Harits ash-Shaigh menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdullah ditanyai tentang anak kecil Nashrani yang belum dewasa, ia masuk Islam kemudian murtad.

Beliau berkata: Ditunggu dengannya hingga ia dewasa atau mencapai usia lima belas tahun, maka jika ia tetap pada keNashranianya dan menolak untuk masuk Islam ia dibunuh.

Dan al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Hasan memberitahukan kepadaku bahwa al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang anak kecil Nashrani yang masuk Islam bagaimana diperlakukan?

Beliau berkata: Apabila ia mencapai usia sepuluh tahun aku memaksanya masuk Islam; karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ajarilah mereka shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka karenanya pada usia sepuluh tahun.”

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hal ini dua hadits.

Aku berkata kepadanya: Maka jika ia menolak Islam bagaimana diperlakukan?

Beliau berkata: Ditunggu dengannya hingga ia mencapai hukum had, maka apabila ia mencapai had ditawarkan kepadanya Islam, maka jika ia masuk Islam, dan jika tidak ia dibunuh.

Dan al-Khallal berkata: Muhammad bin Harun dan Ibnu Ja’far memberitahukan kepadaku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya seorang anak kecil mengakui Islam dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan ia shalat sedang ia masih kecil belum dewasa. Kemudian ia kembali dari Islam, apakah Islamnya sah sedang ia kecil?

Beliau berkata: Ya, apabila ia berusia tujuh tahun kemudian ia masuk Islam, ia dipaksa masuk Islam, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ajarilah mereka shalat pada usia tujuh tahun,” maka hukum shalat sungguh telah wajib apabila diperintahkan untuk mengajarkan kepadanya shalat pada usia tujuh tahun, maka jika ia kembali dari Islam ditunggu dengannya hingga ia baligh, maka jika ia tetap pada kembalinya dari Islam maka hukumnya adalah hukum orang murtad jika ia masuk Islam, dan jika tidak ia dibunuh.

“Ahkam Ahlil Milal” karya al-Khallal 1/109-110 (102-106)

121 – Bab: Perbuatan-Perbuatan Hamba Telah Ditakdirkan

Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, seorang laki-laki berkata kepadanya: Orang Qadariyah memaksaku untuk mengatakan: Zina itu dengan takdir dan pencurian itu dengan takdir? Maka Ahmad menjawab: Kebaikan dan kejahatan itu dari Allah.

“Masail Abi Dawud” (1755)

Ibnu Hani’ berkata: Dan Ahmad ditanya tentang takdir? Maka ia menjawab: Takdir itu adalah kekuasaan Allah atas hamba-hamba-Nya.

Penanya berkata: Apakah seseorang jika berzina maka itu dengan takdir Allah, dan jika mencuri maka itu dengan takdir Allah?

Ahmad menjawab: Ya, Allah Azza wa Jalla telah mentakdirkannya atas dirinya.

“Masail Ibnu Hani'” (1868).

Harb berkata: Aku mendengar Ishaq berkata: Kebaikan dan kejahatan dari Allah telah ditakdirkan atas hamba-hamba-Nya.

“Masail Harb” hal. 380

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdullah bin Yazid Al-Muqri, kami diceritakan oleh Haiwah dan Ibnu Lahi’ah, keduanya berkata: Kami diceritakan oleh Abu Hani’ Al-Khaulani bahwa ia mendengar Abu Abdurrahman Al-Hubuli berkata: Aku mendengar Abdullah bin Amru radiyallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabat: “Allah menakdirkan segala takdir lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/394 (856).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdurrahman bin Mahdi, kami diceritakan oleh Sufyan dari Amru bin Muhammad, ia berkata: Aku berada di sisi Salim bin Abdullah lalu datang seorang laki-laki kepadanya dan berkata: Zina itu dengan takdir? Salim menjawab: Ya. Penanya berkata: Allah menuliskannya atasku dan akan menyiksaku karenanya?! Salim lalu mengambil kerikil untuknya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/424 (933).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Muadz bin Muadz, kami diceritakan oleh Ibnu Aun, ia berkata: Seorang laki-laki menceritakan kepada Muhammad tentang dua orang yang berselisih tentang takdir, salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: Bagaimana pendapatmu tentang zina, apakah itu dengan takdir? Yang lain menjawab: Ya; maka Muhammad berkata: Ia telah menyetujui seorang yang hidup.

“As-Sunnah” karya Abdullah 8/402 (889).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-Ala’ bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, aku mendengar Mujahid berkata: “Dan mereka mempunyai amalan-amalan selain itu, yang mereka mengerjakannya” (Al-Mu’minun: 63), ia berkata: Amalan-amalan yang pasti mereka kerjakan.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Waki’ dan Ibnu Bisyr, keduanya berkata: Kami diceritakan oleh Ismail bin Abi Khalid, dari Abu Shalih: “Apa saja kebaikan yang menimpamu, maka dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri” (An-Nisa’: 79), dan Aku yang mentakdirkannya atasmu.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/426-427 (939-940).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muadz bin Muadz menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki dari sahabat-sahabat kami di Baghdad menceritakan kepada kami, ia berkata: Temanku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu Aun: Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengklaim bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Maka Ibnu Aun berkata: Aku berlindung dengan Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya yang Dia ciptakan” (Al-Falaq: 1-2).

“Al-Ilal” riwayat Abdullah (4860)

Al-Khallal berkata: Ishmath bin Isham mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah, aku berkata: Apakah perbuatan-perbuatan hamba diciptakan?

Ia menjawab: Ya, ditakdirkan atas mereka dengan kecelakaan dan kebahagiaan.

Aku bertanya kepadanya: Apakah kecelakaan dan kebahagiaan tertulis atas hamba?

Ia menjawab: Ya, telah mendahului dalam ilmu Allah, dan keduanya berada di Lauh Mahfuzh sebelum Dia menciptakannya, dan kecelakaan serta kebahagiaan itu dari Allah Azza wa Jalla, Abdullah berkata: Orang yang celaka adalah yang celaka di dalam perut ibunya, dan ia berkata di tempat lain: Orang yang celaka adalah yang celaka di dalam perut ibunya, dan orang yang bahagia adalah yang bahagia karena orang lain.

Ia berkata: Dan Allah Azza wa Jalla telah menulis atas Adam bahwa ia akan melakukan kesalahan sebelum Dia menciptakannya.

Aku bertanya: Apakah Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba untuk taat?

Ia menjawab: Ya, dan Dia menulis atas mereka kemaksiatan; untuk menetapkan hujjah atas mereka, dan Allah menyiksa hamba-hamba, dan Dia tidak menzalimi mereka.

Dan ia berkata: Tidak ada yang lebih keras bagi Qadariyah daripada firman Allah Azza wa Jalla: “Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu” (Al-Hijr: 21) dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Qamar: 49) dan di dalam Al-Quran di berbagai tempat terdapat penetapan takdir bagi siapa yang memahami dan merenungkannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/424 (885).

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku; bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan dikatakan kepadanya: Orang yang celaka adalah yang celaka di dalam perut ibunya?

Ia menjawab: Ya, orang yang celaka adalah yang celaka di dalam perut ibunya.

Dan ia berkata: Muhammad bin Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia ditanya tentang takdir, dikatakan kepadanya: Sesungguhnya mereka berkata: Bahwa Allah tidak menyesatkan seorang pun, Dia terlalu adil untuk menyesatkan seseorang kemudian menyiksanya karena itu, maka ia berkata: Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman: “Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Al-Muddatstsir: 31), maka Allah Azza wa Jalla menakdirkan ketaatan dan kemaksiatan, dan menakdirkan kebaikan dan kejahatan, dan barangsiapa ditulis sebagai orang yang bahagia maka ia adalah orang yang bahagia, dan barangsiapa ditulis sebagai orang yang celaka maka ia adalah orang yang celaka.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/425 (887-888).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah ditanya tentang zina, apakah dengan takdir? Maka ia berkata: Kebaikan dan kejahatan dengan takdir, kemudian ia berkata: Zina dan pencurian. Dan ia menyebutkan dari Salim dan Ibnu Abbas bahwa mereka berkata: Zina dan pencurian dengan takdir, kemudian Abu Abdullah berkata: Ibnu Mahdi pernah ditanya tentang hal itu, maka ia berkata: Kebaikan dan kejahatan dengan takdir. Lalu mereka mencaci maki dia, mereka berkata: Zina dan homoseksual dengan takdir? Maka seolah-olah ia mengingkari ini, dan berkata: Ia telah menjawab mereka bahwa kebaikan dan kejahatan dengan takdir, lalu mereka mulai menyebutkan kepadanya hal-hal kotor seperti ini.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/428 (894).

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan bin Tsawwab menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail menceritakan kepadaku, dari Abu Harun Al-Ghanawi, dari Abu Sulaiman Al-Azdi, dari Abu Yahya maula Bani Afra’, ia berkata: Aku berada di sisi Ibnu Abbas, maka seorang laki-laki berkata: Zina dengan takdir?

Abu Abdullah berkata: Dan di dalamnya ada pembicaraan lain.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/428 (897).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya di sisi kami ada sekelompok orang yang berkata: Bahwa Allah menciptakan kebaikan, dan tidak menciptakan kejahatan, dan mereka berkata: Al-Quran adalah makhluk, maka ia berkata: Ini adalah kekufuran, mereka ini adalah Qadariyah Jahmiyah, kebaikan dan kejahatan ditakdirkan atas hamba-hamba.

Dikatakan kepadanya: Apakah Allah menciptakan kebaikan dan kejahatan? Ia menjawab: Ya, Allah mentakdirkannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/429 (900)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia ditanya tentang takdir, maka ia berkata: Kebaikan dan kejahatan dengan takdir, dan zina, pencurian, dan minum khamr semuanya dengan takdir.

Dan ia berkata: Ishmath bin Isham mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk, dan perbuatan-perbuatan hamba diputuskan dengan keputusan dan takdir.

Aku bertanya: Apakah kebaikan dan kejahatan tertulis atas hamba-hamba?

Ia menjawab: Kemaksiatan dengan takdir, ia berkata: Dan aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata: Kemaksiatan dengan takdir. Abu Abdullah berkata: Dan kebaikan serta kejahatan dengan takdir, dan ketaatan serta kemaksiatan dengan takdir, dan perbuatan-perbuatan hamba semuanya dengan takdir.

Dan Hanbal berkata: Dari seorang laki-laki, dari Abdurrahman bin Mahdi, ia berkata: Barangsiapa berkata: Kemaksiatan bukan dengan takdir, maka sungguh ia telah membuat tuduhan besar terhadap Allah.

Abu Abdullah berkata: Betapa baiknya apa yang dikatakan Abdurrahman.

Abu Abdullah berkata: Maka barangsiapa tidak beriman kepada takdir dan menolaknya, sungguh ia telah memusuhi Allah Azza wa Jalla dalam urusan-Nya, dan menolak apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan mengingkari Al-Quran dan apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya,” adapun siapa yang termasuk penghuni neraka maka ia adalah penghuni neraka, dan siapa yang termasuk penghuni surga maka ia adalah penghuni surga, dan perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk yang diputuskan atas mereka dengan keputusan dan takdir, dan kebaikan serta kejahatan tertulis atas hamba-hamba, dan kemaksiatan dengan takdir, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Qamar: 49).

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/429-430 (902-903).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia menyebutkan suatu janji, lalu ia berkata: Jika ditakdirkan.

Dan ia berkata: Ahmad bin Al-Husain bin Hassan mengabarkan kepadaku; bahwa Abu Abdullah ditanya tentang takdir, maka ia berkata: Kebaikan dan kejahatan ditakdirkan.

Dan ia berkata: Dan Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang takdir, maka ia berkata: Kebaikan dan kejahatannya ditulis Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba.

Dikatakan kepadanya: Dari Allah? Ia berkata: Lalu dari siapa?! Dan kupikir ia berkata: Ya, lalu dari siapa?!

Dan ia berkata: Ishmath bin Isham mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya ada sekelompok orang yang berargumen dengan ayat ini: “Apa saja kebaikan yang menimpamu, maka dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri” (An-Nisa’: 79), maka Abu Abdullah berkata: “Apa saja kebaikan yang menimpamu, maka dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri,” dan Allah yang memutuskannya.

Dan ia berkata: Ishmath bin Isham mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Zina dengan takdir dan ketidakmampuan serta kecerdasan dengan takdir, Allah mentakdirkan itu atas hamba-hamba, maka barangsiapa melakukan sesuatu dari itu, maka urusannya terserah kepada Allah jika Dia menghendaki menyiksa, dan jika Dia menghendaki mengampuni, dan itu semua dari takdir Allah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/430-431 (906-910)

Al-Khallal berkata: Ali bin Isa mengabarkan kepadaku; bahwa Hanbal bin Ishaq menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Dan kami beriman kepada takdir, kebaikan dan kejahatannya, ia berkata: Dan barangsiapa berkata tentang takdir dan mengagungkan kemaksiatan maka ia lebih dekat, seperti Al-Hasan dan sahabat-sahabatnya.

Aku bertanya: Siapa dari sahabat-sahabat Al-Hasan? Ia berkata: Ali Ar-Rufa’i, dan Yazid Ar-Raqasyi, dan yang semisalnya, dan barangsiapa berkata dengan pembatalan terhadap melihat Allah maka lebih keras perkataannya dan lebih buruk.

Abu Abdullah berkata: Dan Amru bin Ubaid dan orang-orang yang semisalnya berkata demikian.

Kemudian Abu Abdullah berkata: Di dalam Al-Quran ada sekian dan sekian tempat sebagai bantahan terhadap Qadariyah.

Aku bertanya: Maka apa yang wajib bagi Qadariyah; ia berkata: Firman Allah Azza wa Jalla: “Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu” (Al-Hijr: 21), dan Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Qamar: 49), dan di berbagai tempat lainnya, dan seandainya seseorang merenungkan Al-Quran maka di dalamnya akan ada yang membantah setiap ahli bidah dengan bidahnya.

Dan Al-Khallal berkata: Hanbal berkata: Dan Al-Humaidi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amru, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu Munabbih, dan aku masuk menemuinya lalu ia memberi makan kepadaku dari buah walnut di rumahnya, maka aku berkata kepadanya: Aku berharap kamu tidak pernah menulis tentang takdir suatu kitab pun.

Ia berkata: Dan aku pun berharap aku tidak melakukannya.

Hanbal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang itu, maka ia berkata: Yang dimaksud adalah kitab Wahab yaitu Kitab Al-Hikmah, dan ia menyebutkan di dalamnya kemaksiatan, dan mensucikan Tuhan Jalla wa Azza dan mengagungkan-Nya.

Abu Abdullah berkata: Dan mereka ini berdalil dengannya. Maksudnya: kaum Qadariyah. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/432 (912-913).

Al-Khallal berkata: Abdul Malik berkata: Abu Abdullah menyebutkan kepadaku bahwa ia berkata: Wahb bin Munabbih pergi menunaikan haji pada tahun seratus, maka Atha’ dan Al-Hasan mendatanginya setelah shalat Isya untuk memberi salam dan membahas sesuatu tentang masalah qadar. Maka ia memulai dengan satu pintu pembahasan tentang pujian (kepada Allah), dan terus seperti itu hingga terbit fajar, kemudian mereka berpisah dan tidak membahas dengannya sesuatu pun. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/433.

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdullah ditanya tentang perbuatan makhluk, apakah sudah ditakdirkan atas mereka baik ketaatan maupun kemaksiatan? Ia menjawab: Ya. Ditanyakan: Dan kesengsaraan serta kebahagiaan sudah ditakdirkan atas para hamba? Ia menjawab: Ya. Ditanyakan kepadanya: Dan manusia akan berakhir pada kehendak Allah terhadap mereka, baik yang baik maupun yang buruk? Ia menjawab: Ya. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/440 (937)

122 – Bab: Tuntutan untuk Beramal

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Ubaidillah ia berkata: Aku mendengar Salim bin Abdullah menceritakan dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma ia berkata: Umar radiyallahu anhu berkata: Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kami kerjakan, apakah dalam perkara yang sudah selesai, ataukah perkara yang baru dimulai -atau yang diciptakan baru-? Beliau bersabda: “Dalam perkara yang sudah selesai, maka beramallah wahai Ibnu Khattab, karena sesungguhnya setiap orang dimudahkan. Adapun orang yang termasuk ahli kebahagiaan maka ia akan beramal untuk kebahagiaan, dan adapun orang yang termasuk ahli kesengsaraan maka ia akan beramal untuk kesengsaraan.” “As-Sunnah” karya Abdullah 2/942 (855).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah bahwa Suraqah bin Malik berkata: Ya Rasulullah, untuk apa amal perbuatan? Apakah dalam sesuatu yang sudah selesai, ataukah dalam sesuatu yang baru kita mulai? Beliau bersabda: “Bahkan dalam sesuatu yang sudah selesai.” Ia berkata: Lalu untuk apa amal perbuatan kalau begitu? Beliau bersabda: “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa ia diciptakan.”

Dan Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Yazid -yaitu Ar-Rusyk- menceritakan kepada kami dari Mutharrif bin Asy-Syakhir, dari Imran bin Hushain radiyallahu anhu ia berkata: Seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, apakah ahli surga diketahui dari ahli neraka? Beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata: Lalu untuk apa orang-orang beramal? Beliau bersabda: “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan” atau sebagaimana beliau bersabda. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/394-395 (857-858).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, aku membacakan kepada Yahya bin Sa’id, Utsman bin Ghiyats menceritakan kepada kami, Abdullah bin Buraidah menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdurrahman keduanya berkata: Kami bertemu Abdullah bin Umar lalu kami menyebutkan masalah qadar dan apa yang mereka katakan tentangnya, kemudian ia berkata: Umar bin Al-Khaththab radiyallahu anhu mengabarkan kepadaku bahwa mereka sedang duduk atau sedang bersila di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki berjalan, bagus wajahnya, bagus rambutnya, mengenakan pakaian putih… lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

Ia berkata: Dan seorang laki-laki dari Juhaynah atau Muzaynah bertanya kepada beliau: Ya Rasulullah, untuk apa amal perbuatan, apakah dalam sesuatu yang sudah terlewat atau sudah berlalu? Seorang laki-laki -atau sebagian mereka- berkata: Ya Rasulullah, untuk apa kami beramal? Beliau bersabda: “Ahli surga dimudahkan untuk amalan ahli surga dan ahli neraka dimudahkan untuk amalan ahli neraka,” maka Yahya bin Sa’id berkata: Demikianlah, maksudnya: sesuai dengan apa yang kamu bacakan kepadaku. “As-Sunnah” 2/402 (873).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isham bin Khalid Al-Hadhrami menceritakan kepada kami, Al-Aththaf bin Khalid menceritakan kepadaku, dari seorang syaikh dari penduduk Bashrah, Thalhah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar menceritakan kepadaku, ayahku menceritakan kepadaku, dari kakekku radiyallahu anhu bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Ya Rasulullah, apakah kami beramal atas perkara yang sudah selesai ataukah atas perkara yang baru? Beliau bersabda: “Bahkan atas perkara yang sudah selesai.” Mereka berkata: Ya Rasulullah, lalu untuk apa amal perbuatan? Beliau bersabda: “Sesungguhnya setiap orang dimudahkan untuk apa ia diciptakan.” “As-Sunnah” karya Abdullah 2/410-411 (896).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Yunus menceritakan kepada kami, Shalih menceritakan kepada kami, Sa’id Ar-Rabi’i menceritakan kepada kami bahwa Amir bin Abd Qais biasa berkata: Seandainya keyakinan datang kepadaku dan aku masih hidup di dunia bahwa aku termasuk ahli neraka, jiwaku tidak akan pernah rela dengan kebinasaan diriku selamanya. Aku akan beribadah kepada Allah dengan ibadah dan bersungguh-sungguh dengan kesungguhan agar aku binasa setelah adanya kesungguhan dariku, maka hal itu akan lebih dapat memaafkan diriku di sisi diriku sendiri. “Az-Zuhd” hlm. 269

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, Dhamrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syaudzab ia berkata: Hiram bin Hayyan berkata: Seandainya dikatakan kepadaku: Sesungguhnya kamu termasuk ahli neraka, aku tidak akan meninggalkan amal; agar jiwaku tidak mencelaku lalu berkata kepadaku: Mengapa kamu tidak berbuat, mengapa kamu tidak melakukan. “Az-Zuhd” hlm. 285

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak akan mati hingga ia menyempurnakan rezkinya, maka janganlah kalian menganggap lambat datangnya rezki. Bertakwalah kepada Allah wahai manusia, dan berbicaralah dengan baik dalam mencari rezki, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” “Al-Qadha’ wal-Qadar” karya Al-Baihaqi hlm. 208-209 (234).

123 – Bab: Bantahan terhadap kaum Jabariyah

Ibnu Hani berkata: Suatu hari aku berada di sisi Abu Abdullah, lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata kepadanya: Fulan berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaksa para hamba untuk taat? Maka ia berkata: Buruk apa yang ia katakan. Dan ia tidak mengatakan sesuatu selain ini. “Masa’il Ibnu Hani” (1867).

Harb berkata: Aku berkata kepada Ishaq: Apa makna “Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi orang yang ikut-ikutan”? Ia berkata: Maksudnya: Jika manusia sesat maka aku sesat, jika mereka mendapat petunjuk maka aku mendapat petunjuk. “Masa’il Harb” hlm. 349.

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Daud bin Abu Hind mengabarkan kepada kami, dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syakhir ia berkata: Tidaklah kita diserahkan dalam Al-Quran kepada qadar, padahal sudah diberitahukan kepada kita dalam Al-Quran bahwa kita akan kembali kepada-Nya?! “As-Sunnah” karya Abdullah 2/492 (899).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Manshur bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari Ammar bekas budak Bani Hasyim ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Hurairah tentang qadar, maka ia berkata: Cukuplah bagimu dengan akhir surah Al-Fath. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/423 (930).

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni mengabarkan kepadaku ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berdebat dengan Khalid bin Khiddasy -yaitu tentang qadar- lalu mereka menyebut seorang laki-laki, maka Abu Abdullah berkata: Sesungguhnya yang dimakruhkan dari ini adalah mengatakan: Allah Azza wa Jalla memaksa.

Dan ia berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya Allah memaksa para hamba, maka ia berkata: Begini jangan katakan, dan ia mengingkari ini, dan berkata: “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (Surah Al-Muddatstsir: 31). “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/434 (919-920).

Al-Khallal berkata: Dan Ishmah bin Isham mengabarkan kepadaku ia berkata: Hanbal berkata: Abu Abdullah menceritakan kepadaku ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Ibnu Sa’d.

Dan Abu Yahya Zakariya bin Yahya mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Manshur bin Sa’d, dari Ammar bin Abu Ammar ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Hurairah tentang qadar, ia berkata: Cukuplah bagimu akhir ayat dalam surah Al-Fath. Abu Abdullah berkata: Firman-Nya: “Itulah sifat mereka dalam Taurat dan sifat mereka dalam Injil” (Surah Al-Fath: 29). Abu Thalib menambahkan: Maka Allah Azza wa Jalla mensifati mereka dalam Taurat dan Injil sebelum menciptakan mereka.

Dan ia berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Mihna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Daud bin Abu Hind mengabarkan kepada kami, dari Mutharrif bin Asy-Syakhir ia berkata: Tidaklah kita diserahkan kepada qadar, dan kepada-Nya kita akan kembali.

Mihna berkata: Dan aku mendengar Dhamrah -yaitu Ibnu Rabi’ah- berkata: Malik bin Anas berkata: Tidaklah kita diperintahkan untuk bergantung pada qadar, dan kepada-Nya kita akan kembali.

Dan ia berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahhab menulis kepadaku tentang urusan Husain bin Khalaf bin Al-Bakhtari Al-Ukbari, dan ia berkata: Sesungguhnya ia telah menjauhkan diri dari warisan ayahnya, maka seorang laki-laki Qadari berkata: Sesungguhnya Allah tidak memaksa para hamba untuk bermaksiat, maka Ahmad bin Raja’ membantahnya dan berkata: Sesungguhnya Allah memaksa para hamba, ia bermaksud dengan itu menetapkan qadar, maka Ahmad bin Ali membuat tulisan yang ia berdalil dengannya, lalu aku membawanya kepada Abu Abdullah dan mengabarkan kepadanya tentang kejadian tersebut, maka ia berkata: Dan ia membuat tulisan! Dan Abu Abdullah mengingkari keduanya, kepada Ibnu Raja’ ketika ia berkata: Memaksa para hamba, dan kepada Qadari yang berkata: Tidak memaksa para hamba, dan mengingkari Ahmad bin Ali dan pembuatan tulisannya serta berdalilnya, dan memerintahkan untuk menjauhinya karena membuat tulisan tersebut, dan berkata kepadaku: Wajib atas Ibnu Raja’ untuk memohon ampun kepada Tuhannya atas apa yang ia katakan: Memaksa para hamba. Maka aku berkata kepada Abu Abdullah: Lalu apa jawaban dalam masalah ini? Ia berkata: “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Ia berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, dalam masalah ini bahwa ia mendengar Abu Abdullah, ketika ia mengingkari orang yang berkata: Tidak memaksa. Dan kepada orang yang membantahnya, maka Abu Abdullah berkata: Sebagaimana seseorang membuat bid’ah maka mereka memperluas dalam menjawabnya! Dan ia berkata: Hendaknya ia memohon ampun kepada Tuhannya orang yang membantah mereka dengan hal yang baru, dan mengingkari orang yang membantah dengan sesuatu dari jenis ilmu kalam jika tidak ada untuknya dalam hal itu seorang imam yang mendahului.

Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Maka tidak lama kemudian Ahmad bin Ali datang dari Ukbara, dan bersamanya para syaikh, dan tulisan dari penduduk Ukbara, maka aku memasukkan Ahmad bin Ali kepada Abu Abdullah, maka ia berkata kepadanya: Ya Abu Abdullah, inilah tulisannya, serahkan kepada Abu Bakar agar ia robekkan, dan aku akan berdiri di mimbar Ukbara dan memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Abu Abdullah berkata kepadaku: Seharusnya kalian menerima dan mengembalikan kepadanya. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/435-436 (933-926).

124 – Bab: Makruhnya Mendalami Masalah Qadar

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami -aku mendengarnya dari Abu Raja’-, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma ia berkata: Tidaklah urusan umat ini akan tetap lurus, atau hampir lurus, selama mereka tidak berbicara tentang anak-anak dan qadar. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/400-401 (870).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Ya’la bin Al-Harits menceritakan kepada kami, dari Wa’il bin Daud, dari Ibrahim ia berkata: Sesungguhnya kerusakan setiap agama yang ada sebelum kalian -atau ia berkata: kerusakan setiap agama: adalah qadar. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/410 (895).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Katsir bin Hisyam menceritakan kepada kami, Ja’far menceritakan kepada kami, bekas budak Ibnu Abu Rawwad berkata: Thawus sedang di Makkah shalat dan dua orang laki-laki di belakangnya berdebat tentang qadar, maka ia berpaling kepada keduanya dan berkata: Semoga Allah merahmati kalian berdua, kalian berdebat tentang hukum Allah Azza wa Jalla?! “As-Sunnah” karya Abdullah 2/415-416 (909).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far menceritakan kepada kami, dari Maimun bin Mihran, ia berkata: Tiga hal tinggalkanlah: Apa yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, perbintangan, dan memandang pada qadar. “Fadha’il Ash-Shahabah” 1/70 (19)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Idris bin Wahb bin Munabbih, dari ayahnya ia berkata: Kami bersama Ibnu Abbas, lalu ia diberitahu bahwa sekelompok orang di pintu Bani Sahm sedang bertengkar, ia berkata: Aku kira ia berkata: tentang qadar, ia berkata: Maka ia bangkit mendatangi mereka, dan memberikan tongkatnya kepada Ikrimah, dan meletakkan salah satu tangannya padanya, dan tangan yang lain pada Thawus. Ketika ia sampai kepada mereka, mereka memberi jalan untuknya dan menyambutnya, namun ia tidak duduk, dan berkata: Wahai Wahb, bagaimana kata pemuda itu? Ia berkata: Ia berkata: Sungguh dalam kebesaran Allah dan keagungan-Nya serta mengingat kematian ada hal yang membuat lidahmu terdiam, dan memutus hujahmu, dan mematahkan hatimu. Tidakkah kamu tahu wahai Ayyub bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang dibisukan oleh rasa takut kepada Allah bukan karena tuli atau bisu, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasih berbicara, mulia, berakal, mengetahui tentang Allah dan ayat-ayat-Nya, kecuali bahwa jika mereka mengingat Allah maka akal mereka melayang, dan hati mereka hancur, dan lidah mereka terpotong karena memuliakan Allah dan mengagungkan serta membesarkan-Nya. Jika mereka sadar dari keadaan itu mereka berlomba-lomba kepada Allah Azza wa Jalla dengan amal-amal yang suci, mereka menghitung diri mereka bersama orang-orang yang berlebih-lebihan, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang cerdas dan kuat bersama orang-orang zalim dan orang-orang yang bersalah, dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang suci lagi bersih kecuali bahwa mereka tidak menganggap banyak yang banyak bagi-Nya, dan tidak ridha bagi-Nya dengan yang sedikit, dan tidak menyombongkan diri kepada-Nya dengan amal-amal. Mereka di mana pun kamu jumpai mereka adalah orang-orang yang tunduk, khawatir, waspada, dan takut. Ia berkata: Kemudian ia berpaling dari mereka, lalu kembali ke tempat duduknya. “Az-Zuhd” hlm. 55

125 – Bab: Siapakah Kaum Qadariyah?

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Shamad menceritakan kepada kami, Ikrimah berkata: Kami bertanya kepada Yahya bin Abi Katsir tentang Qadariyah, maka ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah tidak menakdirkan keburukan.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/392 (850).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Al-Walid Al-Adani menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Dawud, dari Ibnu Sirin, ia berkata: Jika kaum Qadar bukan termasuk orang-orang yang membahas ayat-ayat Allah dengan sia-sia, maka aku tidak tahu siapa mereka?

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/432 (956).

Ahmad bin Ja’far Al-Istakhri berkata: Abu Abdullah berkata: Untuk para pengikut bid’ah ada julukan dan nama-nama, yang tidak menyerupai nama-nama orang-orang shalih, dan tidak pula ulama dari umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, di antara nama-nama mereka: Qadariyah: yaitu mereka yang mengira bahwa kepada mereka kemampuan, kehendak, dan kekuatan, dan bahwa mereka menguasai untuk diri mereka sendiri kebaikan dan keburukan, bahaya dan manfaat, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan bahwa para hamba beramal dengan kehendak sendiri, tanpa ada yang mendahului bagi mereka dari Allah Azza wa Jalla atau dalam ilmu-Nya, dan perkataan mereka mirip dengan perkataan Majusi dan Nashrani, dan itu adalah asal kesesatan (zindiq).

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/66.

Ahmad bin Ja’far Al-Istakhri berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Dan sungguh aku telah melihat para pengikut hawa nafsu, bid’ah, dan perselisihan memiliki nama-nama yang buruk dan jelek, mereka menamai dengannya Ahlus Sunnah, mereka menginginkan dengan itu mencela mereka, menuduh mereka, menjatuhkan mereka, dan merendahkan mereka di hadapan orang-orang bodoh dan jahil. Adapun Qadariyah: mereka menamai Ahlus Sunnah dan orang-orang yang menetapkan (takdir) dengan sebutan Mujabbirah (pengikut paham pemaksaan). Qadariyah telah berdusta, bahkan mereka lebih pantas dengan kebohongan dan perselisihan, mereka menghapuskan takdir Allah Azza wa Jalla dari makhluk-Nya, dan berkata: Bukan Dia yang berhak atas itu, Maha Suci Dia dan Maha Tinggi.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/72.

126 – Bab: Bantahan terhadap Qadariyah

Abu Dawud As-Sijistani berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal, seorang laki-laki berkata kepadanya: Orang Qadari memaksaku untuk mengatakan: Zina dengan takdir dan pencurian dengan takdir; maka ia berkata: Kebaikan dan keburukan dari Allah.

“Masail Abi Dawud” (1755).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ziyad bin Ismail Al-Makhzumi, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk berdebat dengannya tentang takdir, maka turunlah “(Ingatlah) hari ketika mereka diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka (dan dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah sentuhan api neraka Saqar.” Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (Surat Al-Qamar: 48-49) tentang kaum Qadar.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Khushaif, dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata: Ayat ini turun “(Ingatlah) hari ketika mereka diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka (dan dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah sentuhan api neraka Saqar.” Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (Surat Al-Qamar: 48-49) tentang kaum Qadar.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/419 (918-919).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Al-Hasan, ia berkata: Barangsiapa mendustakan takdir maka sungguh ia telah mendustakan Al-Quran.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/425 (934).

Abdullah berkata: Ayahku radhiyallahu anhu menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Abu Harun Al-Ghanawi menceritakan kepada kami, Abu Sulaiman Al-Azdi menceritakan kepadaku, dari Abu Yahya maula Ibnu Afra’, ia berkata: Aku datang kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dan bersamaku dua orang laki-laki dari orang-orang yang membicarakan takdir atau mengingkarinya, maka aku berkata: Wahai Ibnu Abbas, apa pendapatmu tentang takdir jika orang-orang ini datang kepadamu bertanya? Dan Ismail berkata suatu kali: Bertanya kepadamu tentang takdir jika berzina, dan jika mencuri atau minum khamr? Maka ia menyingkap bajunya hingga menampakkan pundaknya dan berkata: Wahai Abu Yahya, mungkin kamu termasuk orang-orang yang mengingkari takdir dan mendustakannya? Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa kamu termasuk mereka atau dua orang ini bersamamu, sungguh aku akan memerangi kalian. Jika berzina maka dengan takdir, jika mencuri maka dengan takdir, dan jika minum khamr maka dengan takdir.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/425-426 (937).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Salim bin Abi Hafshah, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi, ia berkata: Ayat ini turun sebagai celaan terhadap kaum Qadar “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (Surat Al-Qamar: 49).

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/427 (941).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid -yaitu: Al-Muqri- menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Habib bin Asy-Syahid menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Iyas bin Mu’awiyah berkata: Aku tidak pernah berdebat dengan siapa pun dari pengikut hawa nafsu dengan seluruh akalku kecuali dengan Qadariyah, maka aku berkata kepada mereka: Apa itu kezaliman menurut kalian? Mereka berkata: Bahwa seseorang mengambil apa yang bukan haknya. Maka aku berkata kepada mereka: Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Kuasa.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/428 (946).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Abu Ja’far Al-Khathami mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi bahwa Al-Fadhl Ar-Raqasyi duduk bersamanya lalu ia membahas sesuatu tentang takdir, maka Muhammad berkata kepadanya: Ucapkanlah syahadat. Ketika ia sampai pada “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada pemberi petunjuk baginya”, Muhammad mengangkat tongkat yang bersamanya lalu memukul dengannya kepalanya dan berkata: Berdirilah. Ketika ia berdiri dan pergi, ia berkata: Orang ini tidak akan kembali dari pendapatnya selamanya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/434 (962).

127 – Bab: Tokoh-tokoh Qadariyah dan Perkataan Para Ulama tentang Mereka

Ibnu Hani’ berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Amr bin Ubaid adalah pemimpin Mu’tazilah dan yang pertama dalam i’tizal, dan Ats-Tsauri meriwayatkan darinya, dan Ar-Rabi’ bin Shabih adalah seorang Mu’tazili, dan ia lebih baik daripada Amr bin Ubaid.

“Masail Ibnu Hani'” (1903).

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Amr berkata: Thawus berkata kepada kami: Hinalah Ma’bad Al-Juhani karena ia Qadari.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/390 (847).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Marhum bin Abdul Aziz Al-Aththar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku dan pamanku berkata: Kami mendengar Al-Hasan dan ia melarang dari duduk bersama Ma’bad Al-Juhani, ia berkata: Jangan kalian duduk bersamanya karena ia sesat dan menyesatkan.

Marhum berkata: Ayahku berkata: Dan aku tidak mengetahui seorang pun pada waktu itu yang berbicara tentang takdir selain Ma’bad dan seorang laki-laki dari Asawirah yang disebut Sisawaih.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/391 (849).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Sa’id menceritakan kepada kami, Rabi’ah bin Kaltsun menceritakan kepada kami, dari ayahnya, ia berkata: Para sahabat Muslim bin Yasar berkata: Muslim biasa duduk di tiang ini, maka ia berkata: Sesungguhnya Ma’bad mengatakan dengan perkataan Nashrani.

“Al-‘Ilal” (1166), “As-Sunnah” karya Abdullah 2/395 (852).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Laits mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Abi Ablah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Raja’ bin Haiwah berdiri di hadapan Makhul dan aku bersamanya, maka ia berkata: Wahai Makhul, telah sampai kepadaku bahwa kamu berbicara tentang sesuatu dari takdir, demi Allah seandainya aku mengetahui itu sungguh aku akan menjadi lawanmu di antara manusia. Maka Makhul berkata: Tidak demi Allah, semoga Allah memperbaikimu, itu bukan urusanku dan tidak pula perkataanku, atau semacam itu. Laits berkata: Dan Makhul menyukai perkataan Ghailan, maka jika ia menyebutkannya ia berkata: Kurangilah perkataannya, ia bermaksud: Sedikitlah sedikit, dan padanya ada pelat lidah yaitu: Makhul.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/409-410 (38).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, bahwa Abu Az-Zubair mengabarkan kepadanya bahwa ia sedang thawaf bersama Thawus di Baitullah lalu ia melewati Ma’bad Al-Juhani, maka seorang yang berkata kepada Thawus: Ini Ma’bad Al-Juhani yang berbicara tentang takdir.

Maka Thawus berpaling kepadanya hingga berdiri di hadapannya, lalu berkata: Apakah kamu yang memfitnah Allah dengan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui? Ma’bad berkata: Ia berdusta atasku.

Abu Az-Zubair berkata: Maka aku berpaling bersama Thawus hingga kami masuk menemui Ibnu Abbas, lalu Thawus berkata kepadanya: Wahai Abu Abbas, bagaimana dengan orang-orang yang berbicara tentang takdir?

Maka Ibnu Abbas berkata: Tunjukkan kepadaku sebagian dari mereka.

Ia berkata: Kami berkata: Apa yang akan engkau lakukan? Ia berkata: Jika begitu aku akan memasukkan tanganku ke kepalanya lalu mematahkan lehernya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/416 (911).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Hammad -yaitu: Ibnu Salamah- menceritakan kepada kami, Abu Ja’far Al-Khathami menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku menyaksikan Umar bin Abdul Aziz dan ia telah memanggil Ghailan untuk sesuatu yang sampai kepadanya tentang takdir, maka ia berkata kepadanya: Celakalah engkau wahai Ghailan, apa ini yang sampai kepadaku tentang dirimu?

Ia berkata: Mereka berdusta atasku wahai Amirul Mukminin, dan dikatakan atasku apa yang tidak aku katakan.

Ia berkata: Apa pendapatmu tentang ilmu (Allah)? Ia berkata: Ilmu telah habis.

Ia berkata: Maka engkau telah terkalahkan, pergilah sekarang dan katakanlah apa yang engkau mau, celakalah engkau wahai Ghailan, sesungguhnya jika engkau mengakui ilmu (Allah) maka engkau terkalahkan, dan jika engkau mengingkarinya maka engkau kafir, dan sesungguhnya jika engkau mengakuinya lalu terkalahkan itu lebih baik bagimu daripada engkau mengingkarinya lalu kafir, kemudian ia berkata: Apakah kamu membaca Yasin?

Ia berkata: Ya. Maka ia berkata: Bacalah: “Yasin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah,” maka ia membaca: “Yasin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah,” (Surat Yasin: 1-2) hingga firman-Nya “Sungguh, ketetapan itu pasti berlaku atas kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.” (Surat Yasin: 7) Ia berkata: Berhenti, bagaimana menurutmu?

Ia berkata: Seakan-akan aku belum pernah membaca ayat ini wahai Amirul Mukminin.

Ia berkata: Lanjutkan, maka ia membaca “Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka jadilah mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Surat Yasin: 8-9) Ia berkata: Umar radhiyallahu anhu berkata: Katakanlah: “Dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka ataukah engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (Surat Yasin: 9-10) Ia berkata: Bagaimana menurutmu? Ia berkata: Seakan-akan aku belum pernah membaca ayat-ayat ini sama sekali, dan sesungguhnya aku berjanji kepada Allah untuk tidak berbicara tentang sesuatu yang biasa aku bicarakan selamanya. Ia berkata: Pergilah.

Ketika ia pergi ia berkata: Ya Allah, jika ia berdusta dalam apa yang ia katakan maka rasakanlah kepadanya panasnya senjata.

Ia berkata: Maka ia tidak berbicara pada masa Umar rahimahullah, ketika pada masa Yazid bin Abdul Malik datanglah seorang laki-laki yang tidak peduli dengan ini dan tidak memperhatikannya, maka Ghailan berbicara, ketika Hisyam menjadi khalifah ia mengirim utusan kepadanya lalu berkata: Bukankah kamu telah berjanji kepada Allah Azza wa Jalla kepada Umar untuk tidak berbicara tentang sesuatu dari perkara ini selamanya?

Ia berkata: Berilah aku keringanan, demi Allah aku tidak akan mengulanginya.

Ia berkata: Tidak akan Allah memberi keringanan kepadaku jika aku memberi keringanan kepadamu, apakah kamu membaca pembukaan Al-Kitab (Al-Fatihah)? Ia berkata: Ya.

Ia berkata: Maka bacalah, lalu ia membaca: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (Surat Al-Fatihah: 2-5) Ia berkata: Berhenti, untuk apa kamu memohon pertolongan kepada-Nya? Untuk perkara yang ada di tangan-Nya yang tidak kamu mampu melakukannya kecuali dengan-Nya, ataukah untuk perkara yang ada dalam tanganmu atau di tanganmu? Pergilah dengan dia lalu potonglah kedua tangan dan kedua kakinya, penggallah lehernya dan salibkan dia.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/429-430 (948).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepadaku, Hammam menceritakan kepadaku, Mathar menceritakan kepada kami, ia berkata: Amr bin Ubaid menemuiku lalu berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku dan engkau berada di atas satu perkara. Ia berkata: Dan ia berdusta demi Allah, ia hanya bermaksud di atas bumi. Ia berkata: Maka Mathar berkata: Demi Allah, aku tidak membenarkannya dalam apapun.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/434 (963).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Affan, memberitahu kami Hammad bin Salamah, ia berkata: Adalah Humaid termasuk orang yang paling menjaga diri dari dia (Amr bin Ubaid), ia berkata: Lalu pada suatu hari ia datang kepada Humaid, ia berkata: Maka Humaid menceritakan kepada kami sebuah hadits, Amr berkata: Hasan biasa mengatakan demikian. Maka Humaid berkata: Jangan mengambil sesuatu pun dari orang ini karena sesungguhnya ia berdusta atas nama Hasan, seperti ia datang kepada Hasan setelah beliau sudah tua lalu ia berkata: Wahai Abu Sa’id, bukankah engkau mengatakan begini dan begitu terhadap sesuatu yang bukan dari perkataannya? Ia berkata: Maka orang tua itu menggerakkan kepalanya begini.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/436 (968).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Sulaiman bin Harb, memberitahu kami Hammad bin Zaid, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Ayyub: Sesungguhnya Amr bin Ubaid meriwayatkan dari Hasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar maka bunuhlah dia. Ia berkata: Amr telah berdusta.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Sulaiman bin Harb, memberitahu kami Hammad bin Zaid, ia berkata: Dikatakan kepada Ayyub: Sesungguhnya Amr meriwayatkan dari Hasan bahwa ia berkata: Tidak dicambuk orang yang mabuk karena nabidz. Ia berkata: Ia telah berdusta, aku mendengar Hasan berkata: Dicambuk orang yang mabuk karena nabidz.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/438-439 (977-978).

Abdullah berkata: Ayahku berkata: Al-Wadin bin Atha’ tidak mengapa dengannya, ia menganut paham Qadariyah.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (3550)

Abdullah berkata: Ia berkata: Ibnu Abi Najih menganut paham Qadariyah, mereka merusaknya di akhir hidupnya, ia bergaul dengan Amr bin Ubaid lalu ia merusaknya dan ia adalah seorang Qadariyah, dan Abu Mu’awiyah adalah Murji’ah.

Dan ia berkata: Aku mendengarnya berkata: Tsaur bin Zaid Ad-Daili adalah orang Madinah, Malik meriwayatkan darinya, haditsnya shalih, dan Tsaur bin Yazid Al-Kala’i kami diceritakan tentangnya oleh Yahya bin Sa’id dan Al-Walid bin Muslim, dan tidak mengapa dengannya, ia menganut paham Qadariyah, dan ia adalah penduduk Himsh, mereka mengeluarkannya lalu mengasingkannya dari sana karena ia menganut paham Qadariyah.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (3552-3553)

Al-Khallal berkata: Mengabarkan kepadaku Ahmad bin Muhammad Abu Hamid Al-Warraq Ath-Tharsusi, ia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim Al-Marwadzi, ia berkata: Menceritakan kepada kami Ali bin Sa’id, ia berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Orang pertama yang berbicara tentang Qadar di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani, dan Sisawayh seorang laki-laki dari Al-Asawirah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/316 (859).

Al-Fadhl berkata: Menceritakan kepada kami Ahmad, ia berkata: Menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz, ia berkata: Menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, ia berkata: Abdul Aziz Ad-Dabbagh datang kepadaku, ia berkata: Sesungguhnya aku telah mengingkari wajah Ibnu ‘Aun, maka aku tidak tahu apa masalahnya.

Ia berkata: Maka aku pergi bersamanya kepada Ibnu ‘Aun lalu aku berkata: Wahai Abu ‘Aun, apa masalah Abdul Aziz?

Ia berkata: Qutaibah pemilik sutera mengabarkan kepadaku bahwa ia melihatnya bersama Amr bin Ubaid berjalan di pasar, maka Abdul Aziz berkata kepadanya: Sesungguhnya aku hanya bertanya kepadanya tentang sesuatu, demi Allah aku tidak menyukai pendapatnya, maka ia berkata: Dan engkau juga bertanya kepadanya?!

“Al-Ibanah” kitab Qadar 2/303 (1970).

Al-Fadhl berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ibnu Uyainah berkata: Ayyub dan Amr bin Ubaid datang pada suatu tahun, lalu mereka berdua thawaf mengelilingi Ka’bah dari awal malam hingga pagi, kemudian mereka berdua datang setelah itu maka Ayyub thawaf hingga pagi dan Amr berargumen hingga pagi.

“Al-Ibanah” kitab Qadar 2/204 (1975).

Bab ke-128: Menjauhi Kaum Qadariyah

Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad ditanya tentang Qadariyah: Apakah boleh berbicara dengannya -maksudnya: berdebat? Ia berkata: Itu tidak menyenangkan bagiku. Ia berkata: Ia tidak membiarkanku? Ia berkata: Itu lebih pantas agar engkau tidak berbicara dengannya jika ia adalah orang yang suka berdebat.

“Masail Abi Dawud” (1756).

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Tidak boleh shalat di belakang kaum Qadariyah, Mu’tazilah, dan Jahmiyah.

Ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku pada kesempatan lain tentang shalat di belakang Qadariyah, maka ia berkata: Jika ia termasuk orang yang berargumen tentangnya dan menyerukan kepadanya maka tidak boleh shalat di belakangnya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 1/384-2/385 (833-834).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abdullah bin Yazid, memberitahu kami Sa’id bin Abi Ayyub, memberitahu kami Atha’ bin Dinar, dari Hakim bin Syuraik Al-Hudzali, dari Yahya bin Maimun Al-Hadhrami, dari Rabi’ah Al-Jurasyyi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayahku berkata: Dan Abu Abdurrahman berkata pada kesempatan lain: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian bergaul dengan kaum Qadariyah, dan jangan berdebat dengan mereka.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/387 (841).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Mu’adz bin Mu’adz, memberitahu kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Ad-Dhuha, ia berkata: Al-Hasan bin Muhammad bin Ali berkata: Janganlah kalian bergaul dengan kaum Qadariyah.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/91 (847 b).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Katsir, dari Furat, ia berkata: Aku mendengar Maimun berkata: Janganlah kalian mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan mempelajari perbintangan, dan janganlah kalian bergaul atau berdebat dengan kaum Qadariyah.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/16 (910).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Anas bin ‘Iyadh, mengabarkan kepadaku Umar bin Abdullah -mantan budak Ghufrah- dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap umat memiliki kaum majusi dan majusi umatku adalah mereka yang berkata: Tidak ada qadar; jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguk mereka dan jika mereka meninggal maka janganlah kalian menyaksikan (menshalatkan) mereka.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/418 (915).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abdullah bin Yazid, memberitahu kami Sa’id, menceritakan kepadaku Abu Shakhr, dari Nafi’, ia berkata: Ibnu Umar memiliki teman dari penduduk Syam yang berkirim surat dengannya, lalu ia menulis surat kepadanya: Dari Abdullah bin Umar, telah sampai kepadaku bahwa engkau berbicara tentang sesuatu dari Qadar maka berhati-hatilah agar engkau tidak menulis surat kepadaku, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada dalam umatku suatu kaum yang mendustakan qadar.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/418-419 (917).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu Umar -atau seorang laki-laki berkata kepadanya: Sesungguhnya kami bepergian lalu kami bertemu suatu kaum yang berkata: Tidak ada qadar? Ia berkata: Jika engkau bertemu mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri darinya -tiga kali.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/420 (921).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Mu’ammal, memberitahu kami Umar bin Muhammad, memberitahu kami Umar bin Abdullah mantan budak Ghufrah, dari seorang laki-laki dari kalangan Anshar, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada dalam umat ini suatu kaum yang berkata: Tidak ada qadar, mereka adalah kaum Qadariyah, dan mereka akan menjadi kaum majusi umat ini, maka barangsiapa di antara mereka yang sakit janganlah kalian menjenguknya, dan barangsiapa di antara mereka yang meninggal janganlah kalian menyaksikannya, mereka adalah pengikut Dajjal, hak atas Allah bahwa Allah menggabungkan mereka dengan Dajjal.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/433 (959).

Al-Khallal berkata: Mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali, ia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Atsram, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Seorang laki-laki Qadariyah, apakah aku menjenguknya? Ia berkata: Jika ia adalah da’iyah (penyeru) kepada hawa nafsunya maka tidak.

Dan ia berkata: Mengabarkan kepadaku Musa bin Sahl Asy-Syawi, ia berkata: Menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al-Asadi, ia berkata: Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Harits, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Qadariyah, apakah aku menjenguknya? Ia berkata: Jika ia adalah da’iyah yang menyeru maka tidak.

Dan ia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Atsram, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Apakah aku menshalatkannya -maksudnya: Qadariyah? Maka ia tidak menjawab, lalu Al-‘Abbadi berkata sedangkan Abu Abdillah mendengar: Jika ia adalah pelaku bid’ah, maka tidak memberi salam kepadanya, tidak shalat di belakangnya, dan tidak menshalatkannya, maka Abu Abdillah berkata: Semoga Allah memberimu kesehatan wahai Abu Ishaq, dan membalasmu dengan kebaikan. Yaitu: seakan-akan kagum dengan perkataannya.

Dan ia berkata: Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Harits, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Qadariyah, apakah aku menshalatkannya? Maka Abu Abdillah tidak menjawab, lalu aku berkata kepadanya -sedangkan Abu Abdillah mendengar: Jika ia adalah pelaku bid’ah maka tidak berbicara dengannya, tidak memberi salam kepadanya, tidak shalat di belakangnya, dan tidak menshalatkannya, maka Abu Abdillah berkata: Semoga Allah memberimu kesehatan wahai Abu Ishaq, dan membalasmu dengan kebaikan. Seakan-akan kagum dengan perkataanku.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/442-443 (946-949)

Bab ke-129: Celaan terhadap Kaum Qadariyah dan Hukum Ulama tentang Mereka

Shalih berkata: Aku bertanya kepada ayahku: Apakah seseorang shalat di belakang Qadariyah, lalu jika ia berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengetahui apa yang dikerjakan para hamba hingga mereka mengerjakannya. Ia berkata: Tidak boleh shalat di belakangnya.

“Sirah Al-Imam” karya Shalih hal. 75

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Bahz, memberitahu kami Ikrimah bin Ammar, ia berkata: Aku mendengar Al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah melaknat kaum Qadariyah yang mendustakan qadar Allah hingga mereka beriman dengan kebaikan dan keburukannya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/391 (848).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abdush-Shamad, memberitahu kami Ikrimah, ia berkata: Aku mendengar Salim dan Al-Qasim melaknat kaum Qadariyah.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/392 (851).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Muhammad bin Salamah, dari Abdullah bin Yazid, memberitahu kami ‘Ayyasy -yaitu: Ibnu Uqbah- menceritakan kepadaku Musa bin Wardan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Akan ada manusia yang membenarkan qadar dan mendustakan qadar, Musa berkata: Maka Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melaknat mereka ketika menyatakan ini.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/420 (920).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abu Mu’awiyah, memberitahu kami Al-A’masy, dari Abdul Malik bin Maisarah, dari Thawus, ia berkata: Aku bersama Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam suatu majelis lalu disebutkan kaum Qadariyah, maka ia berkata: Apakah di dalam majelis ada salah seorang dari mereka maka aku akan memegang kepalanya kemudian aku membacakan kepadanya: “Dan Kami tetapkan bagi Bani Israil dalam Kitab, ‘Sungguh, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.'” (Surat Al-Isra’: 4) dan aku membacakan kepadanya ayat ini dan ayat itu.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/420-429 (922).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Husyaim, menceritakan kepada kami Abu Hasyim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Disebutkan di hadapannya kaum Qadariyah maka ia berkata: Seandainya aku melihat salah seorang dari mereka niscaya aku akan menggigit hidungnya.

Mujahid berkata: Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Barangsiapa di antara kalian yang melihat salah seorang dari mereka maka hendaklah ia katakan kepadanya: Sesungguhnya Ibnu Umar berlepas diri dari kalian.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/421 (924).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, memberitahu kami Abdurrazzaq rahimahullah, memberitahu kami Ma’mar, dari Sa’id bin Hayyan, dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata: Aku berkata kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: Sesungguhnya ada manusia di tempat kami yang berkata: Kebaikan dan keburukan dengan qadar, dan ada manusia yang berkata: Kebaikan dengan qadar dan keburukan bukan dengan qadar, maka Ibnu Umar berkata: Jika engkau kembali kepada mereka maka katakan kepada mereka: Sesungguhnya Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya ia berlepas diri dari kalian dan kalian berlepas diri dari dirinya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/422 (926).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, Abu Makhzum menceritakan kepadaku, dari Sayar, ia berkata: Umar rahimahullah berkata tentang pengikut paham Qadariyah: Mereka diminta untuk bertobat, jika bertobat maka baik, jika tidak maka mereka diusir dari negeri kaum muslimin.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Isa menceritakan kepada kami, Malik mengabarkan kepadaku, dari pamannya Abu Suhail, ia berkata: Aku pernah bersama Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, lalu ia bertanya kepadaku: Bagaimana pendapatmu tentang kaum Qadariyah ini? Ia berkata: Aku menjawab: Aku berpendapat hendaknya mereka diminta untuk bertobat, jika mereka menerima itu maka baik, jika tidak maka engkau hadapkan mereka pada pedang. Maka Umar bin Abdul Aziz berkata: Itulah pendapat yang benar. Aku bertanya kepada Malik: Lalu bagaimana pendapatmu sendiri? Ia menjawab: Itulah pendapatku.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Anas bin Iyadh menceritakan kepada kami, Nafi’ bin Malik Abu Suhail menceritakan kepadaku bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yang berkata: Tidak ada takdir? Ia berkata: Aku berpendapat hendaknya mereka diminta untuk bertobat, jika bertobat maka baik, jika tidak maka penggallah leher mereka. Umar berkata: Itulah pendapat yang benar tentang mereka. Seandainya tidak ada kecuali satu ayat ini saja sudah cukup bagi mereka: “Maka sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah, tidaklah dapat menyesatkan (seorang pun), kecuali orang-orang yang akan masuk ke neraka yang menyala-nyala.” (Surat Ash-Shaffat: 161-163).

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Sa’id maula Bani Hasyim menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah berkata: Aku mendengar Nafi’ – maula Ibnu Umar – berkata kepada seorang penguasa yang berkuasa di Madinah: Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperbaikimu, penggallah leher mereka – maksudnya kaum Qadariyah. Ia berkata: Pada saat itu aku adalah penganut paham Qadariyah. Ia berkata: Hingga aku melihat dalam mimpi seolah-olah aku berdebat dengan seseorang, lalu aku membaca satu ayat. Ketika aku bangun pagi, teman-temanku datang kepadaku, maka aku berkata: Wahai kalian, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertobat kepada-Nya, lalu aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang aku lihat. Ia berkata: Maka sebagian dari mereka kembali (dari paham Qadariyah) dan sebagian yang lain menolak untuk kembali.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/430-432 (951-954).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Umar bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Salim berkata: Ibnu Umar berkata: Barangsiapa mengaku bahwa bersama Allah azza wa jalla ada pencipta lain atau hakim atau pemberi rezeki yang memiliki kekuasaan untuk dirinya sendiri dalam memberi mudarat atau manfaat atau kematian atau kehidupan atau kebangkitan, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat lalu membisukan lisannya, membutakan matanya, menjadikan amalnya sia-sia berterbangan, memutuskan sebab-sebabnya dan menelungkupkannya di atas wajahnya ke dalam neraka.

Dan ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Umar bin Muhammad menceritakan kepada kami, Nafi’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu anhu: Sesungguhnya ada sekelompok orang yang berkata tidak ada takdir. Ia berkata: Maka ia menjawab: Mereka itu kaum Qadariyah, mereka adalah Majusi umat ini.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/432-433 (957-958).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Abi Bukair menceritakan kepada kami, Ja’far – yaitu Ibnu Ziyad – menceritakan kepada kami dari Ubadah bin Muslim, ia berkata: Mujahid berkata: Tidak menjadi Majusi hingga menjadi Qadariyah terlebih dahulu, kemudian mereka menjadi zindiq, kemudian mereka menjadi Majusi.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/433 (960).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Aghdaf Amr bin Al-Walid menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abbad bin Manshur: Siapa yang menceritakan kepadamu bahwa Ubay bin Ka’ab menolak Ibnu Mas’ud dari haditsnya tentang takdir? Ia menjawab: Seorang laki-laki yang tidak aku kenal menceritakannya kepadaku. Ia berkata: Aku bertanya: Aku mengenalnya. Ia berkata: Siapa dia? Ia berkata: Aku menjawab: Setan.

“Al-Ilal” riwayat Abdullah (2106)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kaum Qadariyah lebih keras ijtihad mereka daripada kaum Mu’tazilah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/417 (861).

Al-Khallal berkata: Al-Maimuni mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Marwan bin Syuja’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Salim bin Ajlan Al-Afthas menceritakan kepadaku, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Tidaklah seseorang berlebihan dalam masalah takdir kecuali ia keluar dari iman.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/433 (918).

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid mengabarkan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Seorang laki-laki berkata: Aku kafir terhadap Tuhan yang memberi rezeki kepada Asynas.

Maka ia menjawab: Ini adalah kafir.

Dan Al-Maimuni berkata di tempat lain: Aku mendengar Abu Abdillah berkata setelah perkataan syaikh ini: Ini adalah kekafiran terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/440-441 (941).

Utsman bin Kharzad berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Abdullah Habib bin Abi Tsabit menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Kaum Qadariyah adalah Yahudi.

“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 4/760-761 (12611).

 

 

Kitab Fitnah dan Tanda-tanda Kiamat

130 – Bab: Fitnah dan Hijrah darinya

Abu Dawud berkata: Dan aku mendengar Ahmad berkata: Negeri Syam seluruhnya apabila terjadi fitnah maka tidak ada tempat bagi penduduk Khurasan di sana, ia mengatakan demikian tentang perpindahan ke sana bersama keluarga.

“Masa’il Abi Dawud” (1473)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Syuja’ bin Al-Walid mengabarkan kepada kami, dari Laits, dari Adzar, dari Muhammad bin Juhadah, ia berkata: Luqman berkata: Akan datang pada manusia suatu zaman di mana mata orang bijaksana tidak akan tenang di dalamnya.

“Az-Zuhd” 128

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Al-Ala’ bin Al-Musayyab, ia memarfu’kan hadits kepada Salman, ia berkata: Apabila ilmu tampak, amal disembunyikan, lisan-lisan saling menghancurkan, hati-hati saling berselisih, dan setiap yang memiliki ikatan kekerabatan memutuskan kekerabatannya, maka pada saat itulah Allah melaknat mereka, memekakkan mereka dan membutakan pandangan mereka.

“Az-Zuhd” 193

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Hisyam – yaitu Ad-Dustawa’i – menceritakan kepada kami dari Ja’far – yaitu penjual tikar – dari Abu Al-Aliyah, ia berkata: Akan datang pada manusia suatu zaman di mana dada mereka rusak dari Al-Quran, mereka tidak menemukan manisnya dan tidak merasakan lezatnya. Jika mereka lalai dari apa yang diperintahkan kepada mereka, mereka berkata: Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka mengerjakan apa yang dilarang untuk mereka, mereka berkata: Akan diampuni bagi kami, sesungguhnya kami tidak menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu apa pun. Urusan mereka semuanya berisi angan-angan tanpa disertai kejujuran. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala. Orang yang paling utama di antara mereka dalam agamanya adalah orang yang pandai berdiplomasi.

“Az-Zuhd” hal. 367

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sayyar menceritakan kepada kami, Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Hausyab suatu hari memegang tanganku lalu berkata: Hampir saja jika engkau hidup wahai Abu Sulaiman, engkau tidak akan menemukan teman yang menyenangkan. Hampir saja jika engkau hidup, engkau tidak akan menemukan pembimbing.

“Az-Zuhd” 396

Muhammad bin Al-Husain berkata: Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata: Shafwan bin Amr Abu Amr As-Saksakiy menceritakan kepadaku, ia berkata: Amr bin Qais As-Sakuni menceritakan kepadaku, ia berkata: Ashim bin Humaid menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Mu’adz bin Jabal berkata: Sesungguhnya kalian tidak akan melihat dari dunia kecuali bencana dan fitnah, dan tidak akan bertambah urusan kecuali kesulitan, dan kalian tidak akan melihat dari para pemimpin kecuali kekerasan, dan kalian tidak akan melihat suatu urusan yang menakutkan kalian dan menyusahkan kalian kecuali akan datang setelahnya yang lebih buruk lagi darinya. Semakin banyak penguasa semakin buruk pemerintahan.

Ahmad berkata: Ya Allah, kami ridha.

Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata: Shafwan bin Amr menceritakan kepada kami, dari Amr bin Qais, ia berkata: Ashim bin Humaid menceritakan kepadaku, dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Kalian tidak akan melihat dari para pemimpin kecuali kekerasan, dan kalian tidak akan melihat suatu urusan yang menakutkan kalian atau menyusahkan kalian kecuali akan datang setelahnya yang lebih jahat lagi darinya. Semakin banyak penguasa semakin buruk pemerintahan. Abu Abdillah berkata: Ya Allah, kami ridha. Ia mengulangnya dengan suara keras dua atau tiga kali.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/69-70 (29-30)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Akan datang pada manusia suatu zaman di mana tidak tersisa seorang mukmin pun kecuali ia lari ke negeri Syam. Dan akan datang pada manusia suatu zaman di mana mereka berkumpul di masjid-masjid sedangkan tidak ada seorang mukmin pun di antara mereka.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/77-78 (1308)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Ammar, dari Hudzaifah, ia berkata: Sungguh akan datang suatu kaum di akhir zaman, mereka membaca Al-Quran, meluruskannya sebagaimana meluruskan anak panah, mereka tidak mengetahui darinya alif dan tidak pula wawu, dan iman mereka tidak melewati kerongkongan mereka.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/84 (1331)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya’la bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Umarah, dari Abu Ammar, dari Hudzaifah, ia berkata: Sungguh akan datang pada kalian suatu zaman di mana seorang laki-laki di pagi hari masih bisa melihat, lalu di sore harinya ia tidak bisa melihat dengan matanya sama sekali.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/126 (1492)

Al-Khallal berkata: Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Umarah, ia berkata: Abu Ammar menceritakan kepada kami, ia berkata: Hudzaifah berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki di pagi hari masih bisa melihat, kemudian di sore harinya ia tidak bisa melihat dengan matanya sama sekali.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 2/158 (1611)

Umar bin Shalih Al-Baghdadi berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Akan datang pada seorang mukmin suatu zaman, jika ia mampu menjadi alas duduk maka hendaklah ia melakukannya.

Aku bertanya: Apa itu alas duduk? Ia menjawab: Secarik kain kusam yang terletak di dalam rumah.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/107-108

Al-Marwazi berkata: Abu Abdillah—yaitu Ahmad bin Hanbal—ditanya: “Kemana menurutmu seseorang sebaiknya pindah jika ia tidak menyukai tempat tinggalnya?” Ia menjawab: Ke Madinah.

Ditanyakan: “Kalau selain Madinah?” Ia menjawab: Mekkah.

Ditanyakan: “Kalau selain itu?” Ia menjawab: Syam (Suriah), dan Syam adalah tanah tempat mahsyar, kemudian ia berkata: Damaskus, karena di sanalah orang-orang akan berkumpul jika mereka dikalahkan oleh Romawi.

Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad dengan redaksi yang mirip, dan menambahkan: Aku bertanya kepadanya: “Apakah aku harus pergi ke Damaskus?” Ia menjawab: Ya.

Aku bertanya: “Bagaimana dengan Ramlah?” Ia menjawab: Tidak, ia dekat dengan pantai.

Hanbal meriwayatkan dari Ahmad, ia berkata: Jika seseorang tidak memiliki keluarga, maka pantai dan ribath (benteng perbatasan) lebih besar pahalanya, ia dapat membela kaum muslimin, dan Syam adalah negeri yang diberkahi.

Yaqub bin Bukhtan berkata: Aku mendengar Abu Abdillah—yaitu Ahmad—berkata: Aku dulu memerintahkan untuk membawa keluarga ke Syam, tetapi hari ini tidak lagi. Jafar bin Muhammad berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang keluarga, aku berkata: “Damaskus?” Ia menyukainya, dan kurasa ia berkata: Ya.

Hanbal berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: “Kemana yang paling engkau sukai untuk seseorang tinggal bersama keluarganya dan pindah?” Ia menjawab: Seluruh Madinah adalah benteng bagi kaum muslimin seperti Damaskus.

“Majmu Rasail Ibnu Rajab” 3/184-185

131 – Bab: Apa yang Diriwayatkan tentang Tanda-tanda Kiamat

Ibnu Hani berkata: Dan ia ditanya tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Akan tersisa ampas manusia”, ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang tidak dipedulikan.

“Masail Ibnu Hani” (2027)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Jarir bin Abdul Hamid menceritakan kepada kami, dari Qabus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Kiamat tidak akan terjadi sementara masih ada seorang pun yang mengatakan: Allah Allah.

“Az-Zuhd” hal. 236

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, Syubah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: Aku mendengar Abu Thufail…

Ayahku berkata dan Hajjaj: Syubah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, aku mendengar Abu Thufail berkata: Aku melewati Hudzaifah bin Usaid lalu aku berkata: “Apa yang menahanmu sementara Dajjal telah keluar?” Ia berkata: Duduk…, lalu ia menyebutkan hadits, ia berkata: Dan padanya ada tiga tanda: Bermata satu sedangkan Tuhanmu tidaklah bermata satu, tidak ada hewan yang patuh kepadanya kecuali keledai—najis di atas najis—tertulis di antara kedua matanya “kafir”, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin baik yang bisa menulis maupun tidak.

“As-Sunnah” Abdullah 2/443-444 (995)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq memberitahu kami, dari Dawud bin Amir bin Saad bin Malik, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu anhu: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan menggambarkan Dajjal dengan gambaran yang belum pernah digambarkan oleh siapa pun sebelumku, sesungguhnya ia bermata satu dan Allah radhiyallahu anhu tidaklah bermata satu.”

“As-Sunnah” Abdullah 2/445 (997)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Mamar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di hadapan orang-orang lalu memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian menyebut Dajjal lalu bersabda: “Sungguh aku memperingatkan kalian tentangnya, dan tidak ada nabi pun kecuali telah memperingatkan kaumnya, sungguh Nuh alaihissalam telah memperingatkan kaumnya, tetapi aku akan mengatakan kepada kalian tentangnya perkataan yang belum pernah dikatakan nabi kepada kaumnya: Ketahuilah bahwa ia bermata satu, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hammad bin Usamah Abu Usamah menceritakan kepada kami, Ubaidillah berkata: kepada kami—yaitu Ibnu Umar—ayahku berkata dan Muhammad bin Bisyr: Ubaidillah menceritakan kepada kami, dari Nafi, dari Ibnu Umar; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut Al-Masih Ad-Dajjal, dan Ibnu Bisyr berkata: Menyebut Dajjal di tengah-tengah orang banyak lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah bermata satu, ketahuilah bahwa Al-Masih Ad-Dajjal bermata satu pada mata kanannya, seolah-olah matanya seperti buah anggur yang mengapung.”

Abdullah berkata: Ayahku dan Abu Khaitsamah menceritakan kepadaku, keduanya berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Dinar, dari Ubaid—yaitu Ibnu Umair—ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Dajjal bermata satu, dan sesungguhnya Allah tidaklah bermata satu, tertulis di antara kedua matanya ‘kafir’, dibaca oleh setiap mukmin baik yang bisa menulis maupun tidak.”

“As-Sunnah” Abdullah 2/445-446 (999-1001)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, Syubah menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dajjal bermata satu, berkulit putih kemerahan, sepertinya kepalanya adalah ular, orang yang paling menyerupainya adalah Abdul Uzza bin Qathan—seorang laki-laki dari Khuzaah—maka jika kebinasaan itu terjadi, maka sesungguhnya Tuhan kalian Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

Syubah berkata: Lalu aku menceritakannya kepada Qatadah, maka ia menceritakan kepadaku dengan redaksi yang mirip seperti ini.

“As-Sunnah” Abdullah 2/446-449 (1003)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Amir Abdul Malik bin Amr menceritakan kepada kami, Zuhair—yaitu Ibnu Muhammad—menceritakan kepada kami, dari Zaid—yaitu Ibnu Aslam—dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengawasi dari sebuah celah di Harrah—sedang kami bersamanya—lalu bersabda: “Sebaik-baik tanah adalah Madinah ketika Dajjal keluar,” kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada fitnah dan tidak akan ada fitnah hingga tegaknya kiamat yang lebih besar dari fitnah Dajjal, dan tidak ada nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya, sungguh aku akan memberitahu kalian sesuatu yang belum pernah diberitahukan nabi kepada umatnya sebelumku,” kemudian beliau meletakkan tangannya di atas matanya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

“As-Sunnah” Abdullah 9/448 (1005)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Haiwah bin Syuraih dan Yazid bin Abdirabbih menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Baqiyyah menceritakan kepada kami, Buhair bin Said menceritakan kepadaku, dari Khalid bin Miadan, dari Amr bin Al-Aswad, dari Junadah bin Abi Umayyah bahwa ia menceritakan kepada mereka, dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah menceritakan kepada kalian tentang Dajjal hingga aku khawatir kalian tidak memahami, sesungguhnya Masih Dajjal adalah seorang laki-laki pendek berkaki bengkok, keriting, bermata satu, matanya buram tidak menonjol dan tidak cekung, maka jika Tuhan kalian membingungkan kalian, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian Azza wa Jalla tidaklah bermata satu, dan kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian mati.”

“As-Sunnah” Abdullah 2/448-449 (1007)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, Syubah menceritakan kepada kami dan Hajjaj, Syubah menceritakan kepadaku, dari Qatadah, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik bercerita, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya tentang yang bermata satu lagi pendusta, ketahuilah bahwa ia bermata satu, dan sesungguhnya Tuhan kalian Azza wa Jalla tidaklah bermata satu, tertulis di antara kedua matanya ‘kafir’.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin Qasim menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Bahram menceritakan kepada kami, Syahr bin Hausyab menceritakan kepada kami, ia berkata: Asma binti Yazid menceritakan kepadaku; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk dalam suatu majelis untuk menceritakan kepada mereka tentang Dajjal yang bermata satu lalu bersabda: “Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla sehat tidaklah bermata satu, dan sesungguhnya Dajjal bermata satu, matanya buram, di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’, yang dibaca oleh setiap mukmin baik yang bisa menulis maupun tidak.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yaqub bin Ibrahim bin Saad menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari Shalih—yaitu Ibnu Kaisan—Nafi menceritakan kepada kami bahwa Abdullah—yaitu Ibnu Umar—radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri lalu menyebut Al-Masih Ad-Dajjal lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah bermata satu, ketahuilah bahwa Al-Masih Ad-Dajjal bermata satu pada mata kanannya, seolah-olah matanya seperti buah anggur yang mengapung.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yaqub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ashim bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari saudaranya Umar bin Muhammad—yaitu Ibnu Zaid—bahwa Abu Umar bin Muhammad berkata: Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berkata: Kami menceritakan tentang haji perpisahan, dan kami tidak tahu bahwa itu adalah perpisahan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika tiba pada haji perpisahan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah lalu menyebut Al-Masih Ad-Dajjal dan memperpanjang pembicaraan tentangnya, kemudian bersabda: “Tidak ada nabi yang diutus Allah Azza wa Jalla kecuali telah memperingatkannya kepada umatnya, sungguh Nuh dan para nabi sesudahnya telah memperingatkannya, ketahuilah apa yang tersembunyi dari kalian tentang urusannya tidak akan menyembunyikan dari kalian bahwa Tuhan kalian Azza wa Jalla tidaklah bermata satu kecuali apa yang tersembunyi dari kalian.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, Syubah menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebut Dajjal lalu bersabda: “Bermata satu, berkulit putih kemerahan, sepertinya kepalanya adalah ular, orang yang paling menyerupainya dari kalian adalah Abdul Uzza bin Qathan, maka jika kebinasaan itu terjadi, maka sesungguhnya Tuhan kalian Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada nabi sebelumku melainkan ia telah menggambarkan kepada umatnya—yaitu Dajjal—dan sungguh aku akan menggambarkannya dengan gambaran yang belum pernah digambarkan oleh siapa pun sebelumku. Sesungguhnya ia bermata satu, sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah bermata satu. Mata kanannya seperti anggur yang menonjol.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ibnu ‘Aun mengabarkan kepada kami, dari Mujahid, ia berkata: Junadah bin Abi Umayyah adalah pemimpin kami di laut pada tahun enam puluh, suatu hari ia berkhutbah kepada kami lalu berkata: Kami menemui seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata: Ceritakanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah kami lalu bersabda: “Aku memperingatkan kalian tentang Al-Masih, aku memperingatkan kalian tentang Al-Masih. Ia adalah seorang laki-laki yang matanya terhapus, maka ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah bermata satu, tidaklah Allah ‘Azza wa Jalla bermata satu, tidaklah Allah bermata satu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Al-A’masy dan Manshur, dari Mujahid, dari Junadah bin Abi Umayyah Al-Azdi, ia berkata: Aku dan seorang laki-laki dari Anshar pergi kepada seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata: Ceritakanlah kepada kami apa yang engkau dengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang Dajjal, dan jangan ceritakan kepada kami dari selain engkau meskipun ada yang membenarkannya. Ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami lalu bersabda: “Aku memperingatkan kalian tentang Dajjal—tiga kali—sesungguhnya tidak ada nabi sebelumku melainkan telah memperingatkan umatnya tentangnya. Dan sesungguhnya ia ada di tengah kalian wahai umat ini. Ia berambut keriting, berkulit sawo matang, mata kirinya terhapus. Bersamanya ada surga dan neraka, maka nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Bersamanya ada gunung roti dan sungai air. Ia menurunkan hujan tetapi tidak menumbuhkan pohon. Ia berkuasa atas satu jiwa lalu membinasakan-nya, tidak berkuasa atas yang lain. Ia tinggal di bumi selama empat puluh pagi, mencapai setiap tempat air, tetapi tidak mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Thur, dan Masjidil Aqsha. Apa yang membuat kalian ragu, maka sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah bermata satu.”

As-Sunnah karya Abdullah 2/450-452 (1009-1016)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman—yaitu Al-A’masy—dari Mujahid, dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata: Aku mendatangi seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata kepadanya: Ceritakanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal, dan jangan ceritakan kepadaku dari selain engkau meskipun yang lain membenarkannya. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku memperingatkan kalian tentang fitnah Dajjal, sesungguhnya tidak ada nabi yang diutus melainkan memperingatkan umatnya tentangnya. Ia tidak akan mendekati—empat masjid—Masjidil Haram, Masjid Madinah, Thur, dan Masjidil Aqsha. Jika kalian ragu atau bimbang, maka sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ‘Affan dan Yunus menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Hammad—yaitu Ibnu Salamah—menceritakan kepada kami, Humaid dan Syu’aib bin Al-Hibhab mengabarkan kepada kami, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Dajjal bermata satu, dan sesungguhnya Tuhan kalian Jalla wa ‘Azza tidaklah bermata satu. Di antara kedua matanya tertulis K-F-R yang dapat dibaca oleh setiap mukmin, baik yang bisa membaca maupun yang tidak bisa membaca.”

As-Sunnah karya Abdullah 2/532-533 (1232-1233)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik semoga Allah meridhainya bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada nabi yang diutus sebelumku melainkan memperingatkan umatnya tentang Dajjal yang pendusta. Maka berhati-hatilah terhadapnya, sesungguhnya ia bermata satu. Ketahuilah bahwa Tuhan kalian ‘Azza wa Jalla tidaklah bermata satu.”

As-Sunnah karya Abdullah 2/533 (1235)

 

 

Kitab Iman kepada Hari Akhir

132 – Bab tentang orang yang mencintai perjumpaan dengan Allah

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Al-‘Ala’ bin Al-Musayyab, dari Ibrahim, ia berkata: Abdullah berkata: Tidak ada ketenangan bagi mukmin kecuali dengan berjumpa Allah.

Az-Zuhd hal. 194

133 – Bab tentang ruh-ruh: siapa yang mencabutnya? Dan di mana tempatnya?

Al-Kausaj berkata: Ishaq berkata: Adapun pencabutan ruh binatang buas, hewan ternak, dan berbagai hewan lainnya, maka sesungguhnya Baqiyyah bin Al-Walid mengabarkan kepada kami dalam hadits dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya, bahwa ia ditanya tentang ruh-ruh hewan: siapa yang mencabutnya?

Ia menjawab: Malaikat maut shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan telah disebutkan dalam hadits lain bahwa ruh-ruh itu adalah nafas-nafas yang keluar, dan semua telah datang (riwayatnya). Tidak ada mudarat bagi penuntut ilmu dalam hal seperti ini atau yang serupa dengannya, kecuali jika ia terjatuh ke dalamnya. Bahkan hendaknya ia menyampaikan apa yang ia dengar sebagaimana ia mendengarnya. Adapun memberikan keputusan tentang suatu perkara yang tidak disepakati, maka hal itu bukan untuknya.

Masa’il Al-Kausaj (3456)

Al-Kausaj berkata: Sa’id bin Zaid bertanya kepada Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhai keduanya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, lalu di mana beliau?

Ia menjawab: Aku tidak tahu apa hadits ini. Ishaq berkata: Ini jelas dan terang, karena menunjukkan keengganan memberikan kesaksian bagi yang tidak mendengarnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa mendengarnya, wajib baginya bersaksi.

Masa’il Al-Kausaj (3524)

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang ruh-ruh orang yang meninggal: apakah ruh-ruh itu berada di liang kubur mereka, ataukah di dalam tembolok burung? Ataukah mati sebagaimana jasad mati?

Ia menjawab: Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Ruh mukmin adalah burung yang bergantung di pohon-pohon surga, hingga kembali ke jasadnya pada hari ia dibangkitkan.”

Dan telah diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Sesungguhnya ruh-ruh mukmin berada di dalam perut burung-burung hijau, seperti pengunjung yang saling mengenal di dalamnya dan diberi rezeki dari buah-buahnya. Sebagian orang berkata: Ruh-ruh para syuhada berada di dalam perut burung-burung hijau yang bersarang di lampu-lampu di surga yang tergantung di ‘Arsy.

Masa’il Abdullah (546)

Hanbal berkata: Ahmad berkata: Ruh-ruh orang kafir di neraka, dan ruh-ruh mukmin di surga, sedangkan jasad-jasad di dunia. Allah menyiksa siapa yang Dia kehendaki dan merahmati dengan pengampunan-Nya siapa yang Dia kehendaki.

Majmu’ Al-Fatawa 4/224

134 – Bab tentang iman kepada malaikat dan setan

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Hasyim bin Al-Qasim Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad—yaitu Ibnu Thalhah—menceritakan kepada kami, dari Zubaid, dari Mujahid, ia berkata: Sesungguhnya Iblis memiliki lima orang anak, ia telah menempatkan setiap satu dari mereka pada suatu urusan dari urusannya. Ia berkata: Kemudian ia menyebutkan nama mereka: Tsabar, Al-A’war, Masuth, Dasim, dan Zalanbur.

Adapun Tsabar, ia adalah penanggungjawab musibah-musibah yang menyuruh meratap, merobek pakaian, menampar pipi, dan menyeru seruan jahiliah.

Adapun Al-A’war, ia adalah penanggungjawab zina yang menyuruh dan memperindahnya serta membutakan (orang) darinya.

Adapun Masuth, ia adalah penanggungjawab kebohongan yang menyebarkan kebohongan. Ia menemui seseorang lalu mengabarkan kepadanya suatu berita, kemudian orang itu pergi kepada kaum dan berkata: Aku bertemu seorang laki-laki yang aku kenal wajahnya, tetapi aku tidak tahu namanya, ia menceritakan kepadaku begini dan begitu. Padahal tidak lain adalah dia (Masuth) sendiri.

Adapun Dasim, ia yang masuk bersama laki-laki kepada keluarganya untuk menunjukkan kepadanya aib-aib mereka dan membuatnya marah kepada mereka.

Adapun Zalanbur, ia adalah penanggungjawab pasar yang menancapkan benderanya di pasar, dan mereka (manusia) tidak berhenti saling berdesakan.

Masa’il Shalih (843)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Khaitsamah, dan dari Hamzah, dari Syahr bin Hausyab, ia berkata: Malaikat maut masuk menemui Sulaiman, lalu ia terus menerus memandang kepada seorang laki-laki dari para tamu Sulaiman. Ketika ia keluar, laki-laki itu berkata: Siapa ini? Ia (Sulaiman) menjawab: Ini malaikat maut ‘alaihissalam. Ia berkata: Sungguh aku melihatnya memandangku seakan-akan ia menginginkanku. Ia (Sulaiman) berkata: Apa yang engkau inginkan? Ia berkata: Aku ingin angin membawaku dan menjatuhkanku di India. Ia berkata: Maka ia (Sulaiman) memohon dengan angin, lalu ia membawanya dan menjatuhkannya di India. Kemudian malaikat maut mendatangi Sulaiman ‘alaihissalam, lalu ia (Sulaiman) berkata: Sesungguhnya engkau terus menerus memandang kepada seorang laki-laki dari para tamuku? Ia berkata: Aku heran kepadanya. Aku diperintahkan untuk mencabut ruhnya di India, padahal ia bersamamu.

Az-Zuhd hal. 53

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada seorang laki-laki, ia berkata: Apakah bersama orang-orang kafir ada malaikat yang mencatat? Apa yang engkau katakan?

Ia menjawab: Pertanyaan macam apa ini? Tidak pantas berbicara tentang hal ini. Dan ia membenci pembicaraan tentangnya, lalu berkata: “Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Surat Qaaf: 18).

Ahkam Ahli Al-Milal 1/63

135 – Bab tentang iman kepada fitnah kubur, kenikmatan dan siksaannya

Ibnu Hani’ berkata: Ia berkata: Bagaimana dengan siksa kubur, Munkar dan Nakir?

Abu Abdullah berkata: Kami beriman kepada semua ini. Barangsiapa mengingkari salah satu dari ini, maka ia adalah Jahmiyyah.

Masa’il Ibnu Hani’ (1879)

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, ‘Aun bin Abi Juhaifah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Al-Bara’, dari Abu Ayyub semoga Allah meridhainya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar setelah matahari terbenam, lalu mendengar suara, maka beliau bersabda: “Orang-orang Yahudi disiksa di kubur mereka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Syaqiq, dari Masruq, dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, ia berkata: Seorang wanita Yahudi masuk menemuinya meminta sesuatu yang baik, maka ‘Aisyah memberikannya kepadanya. Lalu ia (‘wanita Yahudi) berkata: Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur. Ia (‘Aisyah) berkata: Maka hal itu masuk ke dalam hatiku hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. Ia berkata: Aku menyebutkan hal itu kepadanya dan aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah kubur ada siksanya? Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka disiksa di kubur mereka dengan siksa yang didengar oleh hewan-hewan.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ya’la bin ‘Ubaid menceritakan kepada kami, Qudamah bin Abdullah Al-‘Amiri menceritakan kepada kami, dari Jusrah, ia berkata: ‘Aisyah semoga Allah meridhainya menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang wanita dari Yahudi masuk menemuiku lalu berkata: Sesungguhnya siksa kubur adalah karena air kencing. Maka aku berkata: Engkau dusta.

Ia berkata: Ya, sesungguhnya kami memotong darinya pakaian dan kulit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju shalat dan suara kami telah meninggi. Beliau bersabda: “Apa ini?” Lalu aku mengabarkan kepadanya apa yang ia katakan. Beliau bersabda: “Ia benar.” Ia (‘Aisyah) berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak shalat sejak hari itu melainkan beliau berdoa di akhir shalat: “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, lindungilah aku dari panasnya api dan siksa kubur.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Al-Hakam bin Nafi’ menceritakan kepada kami, Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, ‘Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadaku bahwa ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku dan di sisiku ada seorang wanita dari Yahudi, ia berkata kepadaku: Apakah engkau tahu bahwa kalian akan difitnah di dalam kubur? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut dan bersabda: “Sesungguhnya hanyalah orang-orang Yahudi yang difitnah.” ‘Aisyah berkata: Maka kami berlalu beberapa malam, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau tahu bahwa telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan difitnah di dalam kubur?” ‘Aisyah berkata: Maka aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu berlindung dari siksa kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Sa’d bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya kubur memiliki tekanan, dan seandainya ada seseorang yang selamat darinya, niscaya Sa’d bin Mu’adz selamat darinya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka, fitnah api, fitnah kubur, siksa kubur, kejahatan fitnah kekayaan, kejahatan fitnah kefakiran, dan kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Ya Allah, basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air salju dan es, bersihkan hatiku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, dan jauhkanlah antaraku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, ketuaan, dan dosa.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Budail, dari Abdullah bin Syaqiq, dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwa beliau berlindung kepada Allah dari siksa kubur, dari siksa Jahannam, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dari Hassan bin ‘Athiyyah, dari Muhammad bin Abi ‘Aisyah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bertasyahhud, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat hal, ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam, siksa kubur, kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal, dan kejahatan fitnah kehidupan dan kematian.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu (hadits yang serupa).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad—yaitu Ibnu Salamah—menceritakan kepada kami, dari Muhammad—yaitu Ibnu Ziyad—ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah semoga Allah meridhainya berkata: Aku mendengar Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari fitnah kehidupan dan kematian, dari siksa kubur, dan dari kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Waki’, dari Sufyan, dari As-Suddi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah -Sufyan berkata: ia memarfu’kannya- ia berkata: “Sesungguhnya mayit itu mendengar derap sandal mereka ketika mereka pergi meninggalkannya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Husyaim, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, ia berkata: Kami mendengar Abu Hurairah berkata tentang bayi yang baru lahir yang belum pernah melakukan dosa sedikitpun, lalu ia berkata: Ya Allah lindungilah ia dari azab kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Yahya bin Sa’id, dari Humaid, kami diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kebun milik Bani Najjar lalu mendengar suara dari sebuah kubur, kemudian beliau bertanya: “Kapan pemilik kubur ini meninggal?” Mereka menjawab: Ia meninggal pada masa Jahiliah. Maka beliau bersabda: “Seandainya kalian tidak meninggalkan kebiasaan saling menguburkan, aku akan memohon kepada Allah agar menjadikan kalian mendengar azab kubur.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Sufyan bin ‘Uyaynah, ia berkata: Al-Qasim Ar-Rahhal mendengar Anas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki tanah lapang milik Bani Najjar seakan-akan beliau hendak buang hajat, lalu beliau keluar kepada kami dalam keadaan ketakutan atau terkejut, dan bersabda: “Seandainya kalian tidak meninggalkan kebiasaan saling menguburkan, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar menjadikan kalian mendengar azab penghuni kubur sebagaimana aku mendengarnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Isma’il bin Ibrahim Ibnu ‘Ulayyah, kami diceritakan oleh Sulaiman At-Taimi, kami diceritakan oleh Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan pikun serta kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Yahya bin Sa’id, kami diceritakan oleh Humaid, dari Anas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki salah satu kebun di Madinah milik Bani Najjar, lalu mendengar suara dari sebuah kubur kemudian bertanya tentangnya: “Kapan orang ini dikubur?” Mereka berkata: Wahai Rasulullah, ia dikubur pada masa Jahiliah, maka hal itu mengagumkan beliau dan beliau bersabda: “Seandainya kalian tidak meninggalkan kebiasaan saling menguburkan, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar menjadikan kalian mendengar azab kubur.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Yazid bin Harun, kami diceritakan oleh Humaid, dari Anas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan pikun, dari sifat pengecut dan kikir, dari fitnah Dajjal, dan dari azab kubur.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/592-598 (1408-1424)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdul Wahhab bin ‘Atha’, kami diceritakan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kebun kurma milik Bani Najjar, lalu mendengar suara kemudian terkejut, beliau bertanya: “Siapa pemilik kubur-kubur ini?” Mereka menjawab: Wahai Nabi Allah, orang-orang yang meninggal pada masa Jahiliah. Maka beliau bersabda: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur dan azab neraka serta fitnah Dajjal.” Mereka berkata: Apakah itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kubur mereka, dan sesungguhnya orang mukmin apabila diletakkan di kuburnya akan didatangi oleh seorang malaikat, lalu bertanya kepadanya: Apa yang biasa kamu katakan tentang laki-laki ini?” Beliau bersabda: “Maka ia menjawab: Ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Maka ia tidak ditanyai tentang sesuatu setelahnya,” beliau bersabda: “Maka ia dibawa menuju rumah yang pernah menjadi miliknya di neraka lalu dikatakan: Ini adalah rumahmu yang ada di neraka tetapi Allah melindungimu dan merahmatimu maka menggantinya dengan rumah di surga, lalu ia berkata: Biarkan aku pergi sehingga aku memberi kabar gembira kepada keluargaku. Dikatakan kepadanya: Diamlah. Dan sesungguhnya orang kafir apabila diletakkan di kuburnya akan didatangi oleh seorang malaikat lalu berkata: Apa yang biasa kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka ia menjawab: Aku dulu mengatakan apa yang orang-orang katakan. Maka ia dipukul dengan palu besi di antara kedua telinganya sehingga ia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdul Wahhab, kami dikabarkan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya dan teman-temannya berpaling darinya, sesungguhnya ia mendengar derap sandal mereka, lalu dua malaikat mendatanginya dan berkata kepadanya: Apa yang biasa kamu katakan tentang laki-laki ini? -yaitu: Muhammad- adapun orang mukmin maka ia berkata: Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Dikatakan kepadanya: Lihatlah tempatmu di neraka, Allah telah menggantinya untukmu dengan tempat di surga, maka ia melihat keduanya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Waki’, kami diceritakan oleh Abu Al-‘Umais, dari Abdullah bin Mikhariq, dari ayahnya, dari Abdullah, “maka sungguh, baginya kehidupan yang sempit” (Surat Thaha: 124), ia berkata: Azab kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari ayahnya, dari Khaitsamah, dari Al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim” (Surat Ibrahim: 27), ia berkata: Ayat ini turun tentang azab kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Husyaim, dari Al-‘Awwam, dari Al-Musayyab bin Rafi’, tentang firman Allah Ta’ala: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Surat Ibrahim: 27), ia berkata: Ayat ini turun tentang penghuni kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abdurrazzaq, kami diceritakan oleh Ibnu Juraij, aku dikabarkan oleh Abu Az-Zubair, bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari memasuki kebun kurma milik Bani Najjar, lalu mendengar suara-suara laki-laki di antara pohon-pohon kurma yang telah meninggal pada masa Jahiliah yang sedang diazab di kubur mereka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam keadaan ketakutan, memerintahkan para sahabatnya agar berlindung dari azab kubur.

Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Musa bin Dawud, kami diceritakan oleh Ibnu Lahi’ah, dari Musa bin Wardan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berjaga di perbatasan, ia akan dilindungi dari fitnah kubur, dan dijamin aman dari ketakutan yang dahsyat, dan diberi rezeki dari surga pagi dan sore, dan dituliskan baginya pahala penjaga perbatasan hingga hari kiamat.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Waki’, kami diceritakan oleh Hammad bin Salamah, dari Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas bin Malik, ia berkata: Seorang anak kecil meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya ada seseorang yang selamat dari tekanan kubur, niscaya anak kecil ini yang selamat.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/599-602 (1427-1434)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, kami diceritakan oleh Waki’, kami diceritakan oleh Fudhail bin Ghazwan, ia mendengarnya dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ditampakkan kepada anak Adam tempatnya di surga dan di neraka setiap pagi dan sore di dalam kuburnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Muhammad bin Ja’far, kami diceritakan oleh Syu’bah, dari ‘Alqamah bin Martsad, dari Sa’d bin ‘Ubaidah, dari Al-Bara’, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menyebutkan tentang azab kubur, beliau bersabda: “Dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu? Ia menjawab: Tuhanku adalah Allah, dan nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itulah firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Surat Ibrahim: 27) yakni dengan itu seorang muslim.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Abu Mu’awiyah, kami diceritakan oleh Al-A’masy, dari Minhal bin ‘Amr, dari Zadzan, dari Al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata: Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jenazah seorang laki-laki dari Anshar, lalu kami sampai di kubur dan belum dilahad, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk, dan kami duduk di sekelilingnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung, dan di tangannya ada ranting yang ia goreskan di tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur” dua atau tiga kali, kemudian bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila berada dalam masa terputus dari dunia dan kedatangan akhirat, turunlah kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang putih wajahnya seakan-akan wajah mereka adalah matahari, bersama mereka kain kafan dari kain kafan surga, dan wewangian dari wewangian surga hingga mereka duduk darinya sejauh pandangan mata, kemudian datang malaikat maut ‘alaihissalam hingga ia duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dari Allah dan ridha-Nya.” Beliau bersabda: “Maka keluar mengalir sebagaimana mengalir tetesan dari mulut wadah air, lalu ia mengambilnya, apabila ia mengambilnya mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkannya di kain kafan itu, dan di wewangian itu, dan keluar darinya seperti wewangian kesturi paling harum yang ditemukan di muka bumi.”

Beliau bersabda: “Maka mereka naik dengannya dan tidaklah mereka -yakni dengannya- melewati kumpulan dari malaikat melainkan mereka berkata: Apakah ruh yang baik ini? Maka mereka menjawab: Fulan bin fulan, dengan nama-namanya yang paling baik yang biasa mereka memanggil dengannya di dunia, hingga mereka sampai dengannya ke langit dunia, lalu mereka meminta dibukakan, maka dibukakan untuk mereka dan mengantarkannya dari setiap langit malaikat-malaikat yang dekat ke langit yang setelahnya hingga sampai dengannya ke langit yang ketujuh, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyin, dan kembalikan ia ke bumi, maka sesungguhnya dari sanalah Aku menciptakan mereka, dan ke sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah Aku mengeluarkan mereka kali yang lain.”

Beliau bersabda: “Maka dikembalikan ruhnya ke dalam jasadnya, lalu dua malaikat mendatanginya kemudian mendudukkannya, lalu mereka berkata kepadanya: Siapa Tuhanmu? Ia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Mereka berkata kepadanya: Apa agamamu? Ia menjawab: Agamaku adalah Islam. Mereka berkata kepadanya: Siapakah laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: Ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata kepadanya: Dan apa ilmumu? Ia menjawab: Aku membaca kitab Allah ‘Azza wa Jalla, lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya. Maka seorang penyeru menyeru di langit bahwa hamba-Ku telah benar, maka hamparkan untuknya dari surga, dan pakaikan ia dari surga, dan bukakan baginya pintu menuju surga.” Beliau bersabda: “Maka datang kepadanya dari kesejukan dan kebaikannya, dan dilapangkan baginya di kuburnya sejauh pandangan mata,” beliau bersabda: “Dan datang kepadanya seorang laki-laki yang bagus wajahnya, bagus pakaiannya, harum baunya, lalu berkata: Bergembiralah dengan apa yang menggembirakan engkau, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu. Maka ia berkata kepadanya: Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Ia menjawab: Aku adalah amal salehmu. Maka ia berkata: Ya Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat sehingga aku kembali kepada keluargaku dan hartaku.”

Beliau bersabda: “Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila berada dalam masa terputus dari dunia dan kedatangan akhirat, turunlah kepadanya dari langit malaikat-malaikat yang hitam wajahnya bersama mereka kain-kain kasar, lalu mereka duduk darinya sejauh pandangan mata, kemudian datang malaikat maut hingga ia duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju murka dari Allah ‘Azza wa Jalla dan kemurkaan-Nya,” beliau bersabda: “Maka ia tersebar di tubuhnya kemudian ia mencabutnya sebagaimana dicabut tusuk sate dari wol yang basah, lalu ia mengambilnya, apabila ia mengambilnya mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata hingga mereka meletakkannya di kain-kain kasar itu, dan keluar darinya seperti bau bangkai paling busuk yang ditemukan di muka bumi, maka mereka naik dengannya, dan tidaklah mereka melewatinya pada kumpulan dari malaikat melainkan mereka berkata: Apakah ruh yang buruk ini? Maka mereka menjawab: Fulan bin fulan dengan nama-namanya yang paling jelek yang biasa ia dipanggil dengannya di dunia, hingga sampai dengannya ke langit dunia, lalu mereka meminta dibukakan untuknya maka tidak dibukakan untuknya,” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk mereka ke dalam surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum” (Surat Al-A’raf: 40), “maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Tulislah kitabnya di Sijjin di bumi yang paling bawah, maka ruhnya dilemparkan dengan lemparan,” kemudian beliau membaca: “Dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh” (Surat Al-Hajj: 31), “maka dikembalikan ruhnya ke dalam jasadnya, dan dua malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya kemudian mereka berkata kepadanya: Siapa Tuhanmu? Ia menjawab: Hah hah aku tidak tahu, mereka berkata kepadanya: Apa agamamu? Ia menjawab: Hah hah aku tidak tahu, mereka berkata kepadanya: Siapakah laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: Hah hah aku tidak tahu. Maka seorang penyeru menyeru dari langit bahwa ia telah berdusta, maka hamparkan untuknya dari neraka dan bukakan baginya pintu menuju neraka. Maka datang kepadanya dari panasnya dan apinya yang beracun, dan disempitkan baginya kuburnya hingga tulang rusuknya saling bersilangan di dalamnya, dan datang kepadanya seorang laki-laki yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, busuk baunya, lalu berkata: Bergembiralah dengan apa yang menyusahkan engkau, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu. Maka ia berkata: Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan, ia menjawab: Aku adalah amal burukmu, maka ia berkata: Ya Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Ibnu Numair, kami diceritakan oleh Al-A’masy, kami diceritakan oleh Al-Minhal, dari Abu ‘Amr Zadzan, aku mendengar Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jenazah seorang laki-laki dari Anshar, lalu kami sampai di kubur dan belum dilahad, beliau bersabda: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk, dan kami duduk bersamanya, lalu ia menyebutkan seperti hadits itu, dan berkata: “Ia mencabutnya hingga putus bersamanya urat-urat dan syaraf.” Ayahku berkata: Dan demikian juga yang dikatakan oleh Za’idah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diceritakan oleh Mu’awiyah bin ‘Amr, kami diceritakan oleh Za’idah, kami diceritakan oleh Sulaiman Al-A’masy, kami diceritakan oleh Al-Minhal bin ‘Amr, kami diceritakan oleh Zadzan, dari Al-Bara’: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jenazah seorang laki-laki dari Anshar, lalu ia menyebutkan seperti maknanya kecuali bahwa ia berkata: “Dan menjelma baginya seorang laki-laki, bagus pakaiannya, bagus wajahnya,” dan berkata tentang orang kafir: “Dan menjelma baginya seorang laki-laki yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/602-605 (1436-1440)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Razzaq menceritakan kepada kami, Muammar menceritakan kepada kami, dari Yunus bin Khabbab, dari Minhal bin Amr, dari Zadzan, dari Baraa bin Azib radiyallahu anhu, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuju jenazah, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di atas kubur, dan kami duduk di sekelilingnya seolah-olah di atas kepala kami ada burung -sementara sedang dibuat lahad untuknya- maka beliau bersabda: “Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur” tiga kali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin ketika ia dalam kedatangan dari akhirat dan keterputusan dari dunia, para malaikat turun kepadanya seolah-olah di wajah mereka ada matahari, bersama setiap satu malaikat ada kain kafan dan harum-haruman, mereka duduk sejauh pandangan mata, sehingga apabila ruhnya keluar, setiap malaikat antara langit dan bumi bershalawat untuknya, dan setiap malaikat di langit, dan pintu-pintu langit dibukakan, tidak ada dari penduduk pintu melainkan mereka berdoa kepada Allah agar ruhnya dinaikkan kepada mereka terlebih dahulu, maka ketika ruhnya dinaikkan mereka berkata: Wahai Rabb, hamba-Mu si fulan, maka Allah berfirman: Kembalikanlah dia” kemudian ia menyebutkan hadits secara panjang lebar hingga akhirnya.

Abdullah berkata: Ayahku rahimahullah menceritakan kepadaku, Abdul Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Minhal, dari Zadzan, dari Baraa bin Azib, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam jenazah, lalu kami dapati kubur belum dibuatkan lahad. Maka beliau duduk dan kami pun duduk.

Al-Sunnah karya Abdullah 2/607 (1442-1443)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Kaisan, Abu Hazim menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa seorang mukmin ketika kematian turun kepadanya dan ia menyaksikan apa yang ia saksikan, ia berharap agar ruhnya segera keluar, dan Allah mencintai perjumpaan dengan mukmin, dan dinaikkan ruhnya ke langit, maka datanglah kepadanya ruh-ruh orang mukmin lalu mereka menanyakan kepadanya tentang orang-orang mereka yang meninggal dari penduduk bumi, maka apabila ia berkata: Sesungguhnya si fulan telah meninggalkan dunia, mereka berkata: Ruh orang itu tidak dibawa kepada kami; sungguh ruh orang itu telah dibawa ke neraka atau ke penduduk neraka.

Dan sesungguhnya seorang mukmin apabila diletakkan di kubur, ia ditanya: Siapa Tuhanmu? Maka ia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Lalu dikatakan: Siapa nabimu? Maka ia menjawab: Nabiku adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Lalu dikatakan: Apa agamamu? Maka ia menjawab: Islam adalah agamaku. Kemudian dibukakan untuknya pintu di kubur, lalu dikatakan: Lihatlah tempat dudukmu, kemudian ia mengikuti tidur seolah-olah itu adalah tidur sebentar, maka apabila musuh Allah menyaksikan apa yang ia saksikan, ia berharap agar ruhnya tidak pernah keluar selamanya, dan Allah membenci perjumpaannya, dan sesungguhnya ia apabila masuk kubur, ia ditanya: Siapa Tuhanmu? Ia menjawab: Aku tidak tahu. Dikatakan: Kamu tidak tahu. Dikatakan: Siapa nabimu? Ia menjawab: Aku tidak tahu. Mereka berdua berkata: Kamu tidak tahu. Dikatakan: Apa agamamu? Ia menjawab: Aku tidak tahu. Dikatakan: Kamu tidak tahu. Kemudian ia dipukul dengan satu pukulan yang didengar oleh setiap binatang kecuali jin dan manusia, kemudian dikatakan kepadanya: Tidurlah sebagaimana tidurnya orang yang digigit.

Aku berkata: Wahai Abu Hurairah, apa itu orang yang digigit? Ia berkata: Yaitu orang yang digigit oleh binatang-binatang buas dan ular, kemudian Abu Hurairah berkata: Dan kuburnya disempitkan sehingga tulang rusuknya saling bertautan seperti ini. Dan ia mengaitkan antara jari-jarinya.

Al-Sunnah karya Abdullah 2/609-609 (1446)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr bin Atha’, dari Dzakwan, dari Aisyah radiyallahu anha, ia berkata: Datanglah seorang wanita Yahudi lalu ia meminta makanan di pintuku, maka ia berkata: Berilah aku makan, semoga Allah melindungi kalian dari fitnah Dajjal dan dari fitnah azab kubur. Ia berkata: Maka aku terus menahannya hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang, lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang dikatakan wanita Yahudi ini? Beliau bersabda: “Apa yang ia katakan?” Aku berkata: Ia berkata: Semoga Allah melindungi kalian dari fitnah Dajjal dan dari fitnah azab kubur.

Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri lalu mengangkat kedua tangannya panjang, memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal dan dari fitnah azab kubur, kemudian beliau bersabda: *”Adapun fitnah Dajjal, maka sesungguhnya tidaklah ada seorang nabi pun melainkan ia telah memperingatkan umatnya, dan aku akan memperingatkan kalian dengan peringatan yang tidak pernah diperingatkan oleh nabi kepada umatnya, sesungguhnya ia buta sebelah sedangkan Allah tidaklah buta sebelah, tertulis di antara kedua matanya kafir, dapat dibaca oleh setiap orang mukmin, adapun fitnah kubur maka dengan diriku kalian difitnah dan tentang diriku kalian ditanya, maka apabila seorang laki-laki yang saleh didudukkan di kuburnya tanpa takut dan tanpa was-was, kemudian dikatakan kepadanya: Dalam apa kamu berada? Maka ia menjawab: Dalam Islam. Lalu dikatakan kepadanya: Siapakah laki-laki ini yang ada di antara kalian? Maka ia menjawab: Muhammad shallallahu alaihi wasallam datang kepada kami dengan bukti-bukti dari sisi Allah maka kami membenarkannya, maka dibukakannya celah menuju neraka, lalu ia melihat ke dalamnya yang berdesak-desakan sebagian dengan sebagian yang lain, lalu dikatakan: Lihatlah kepada apa yang telah Allah lindungi untukmu. Kemudian dibukakan untuknya celah menuju surga, lalu ia melihat keindahannya dan apa yang ada di dalamnya, lalu dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu di dalamnya, dan dikatakan kepadanya: Atas keyakinan kamu berada, dan atasnya kamu meninggal, dan atasnya kamu dibangkitkan insya Allah.

Dan apabila seorang laki-laki yang buruk didudukkan di kuburnya dengan takut dan was-was, maka dikatakan kepadanya: Dalam apa kamu berada? Maka ia menjawab: Aku tidak tahu. Lalu dikatakan: Siapakah laki-laki ini yang ada di antara kalian? Maka ia menjawab: Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu ucapan maka aku mengatakan sebagaimana mereka katakan. Maka dibukakannya celah menuju surga, lalu ia melihat keindahannya dan apa yang ada di dalamnya, lalu dikatakan kepadanya: Lihatlah kepada apa yang telah Allah palingkan darimu. Kemudian dibukakan untuknya celah menuju neraka, lalu ia melihat ke dalamnya yang berdesak-desakan sebagian dengan sebagian yang lain, dan dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu di dalamnya, atas keraguan kamu berada, dan atasnya kamu meninggal, dan atasnya kamu dibangkitkan insya Allah. Kemudian ia diazab.”*

Al-Sunnah karya Abdullah 2/609-610 (1448)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zubair, bahwa ia bertanya kepada Jabir tentang para penguji kubur, maka ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: *”Sesungguhnya umat ini diuji di kubur-kubur mereka, maka apabila seorang mukmin dimasukkan ke kuburnya dan para sahabatnya meninggalkannya, datanglah seorang malaikat yang sangat keras bentakannya, lalu ia berkata kepadanya: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka mukmin itu menjawab: Aku mengatakan bahwa ia adalah Rasulullah dan hamba-Nya. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Lihatlah kepada tempat dudukmu yang ada untukmu di neraka, sungguh Allah telah menyelamatkanmu darinya, dan Allah menggantikanmu dengan tempat dudukmu yang kamu lihat dari neraka dengan tempat dudukmu yang kamu lihat dari surga. Maka ia melihat keduanya, lalu mukmin itu berkata: Biarkanlah aku memberi kabar gembira kepada keluargaku. Maka dikatakan kepadanya: Diamlah.

Adapun orang munafik, maka ia didudukkan ketika keluarganya meninggalkannya, lalu dikatakan kepadanya: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka ia menjawab: Aku tidak tahu, aku mengatakan apa yang manusia katakan. Maka dikatakan kepadanya: Kamu tidak tahu, inilah tempat dudukmu yang ada untukmu dari surga, sungguh kamu diganti sebagai gantinya tempat dudukmu dari neraka.”* Jabir berkata: Maka aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap hamba dibangkitkan di kubur atas apa yang ia meninggal, mukmin atas imannya, dan munafik atas nifaknya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Utsman menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Alqamah bin Murtsid memberitakan kepadaku dari Sa’d bin Ubaidah, dari Baraa bin Azib, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Di kubur apabila ia ditanya lalu ia mengenal Tuhannya” ia berkata: Dan beliau mengatakan sesuatu yang aku tidak menghafalnya, maka itulah firman-Nya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Surah Ibrahim: 27).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Ubaidullah: Nafi’ memberitakan kepadaku, dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada seorang pun dari kalian melainkan ditunjukkan kepadanya tempat duduknya pada pagi dan petang, jika ia termasuk penduduk surga maka dari penduduk surga, dan jika ia termasuk penduduk neraka maka dari penduduk neraka, dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu hingga kamu dibangkitkan kepadanya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr memberitakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ia mendengar derap sandal mereka ketika mereka pergi.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Ismail, dari Abu Salih Al-Hanafi, “kehidupan yang sempit” (Surah Thaha: 124), ia berkata: Aku diberitahu bahwa itu adalah azab kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari orang yang mendengar Anas bin Malik, maka ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan orang-orang yang hidup ditunjukkan kepada orang-orang yang mati dari keluarga dan kerabat mereka, maka apabila mereka melihat kebaikan mereka memuji Allah dan bergembira, dan apabila mereka melihat selain itu mereka berkata: Ya Allah, janganlah Engkau mematikan mereka hingga Engkau memberi petunjuk kepada mereka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami, Abbad bin Rasyid menceritakan kepada kami, dari Dawud bin Abi Hind, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said Al-Khudri radiyallahu anhu, ia berkata: Kami menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jenazah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya umat ini diuji di kubur-kubur mereka, maka apabila seorang manusia dikubur lalu para sahabatnya berpencar darinya, datanglah kepadanya seorang malaikat di tangannya ada pemukul lalu ia mendudukkannya, ia berkata: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka jika ia seorang mukmin ia menjawab: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Maka ia berkata: Kamu benar. Kemudian dibukakan untuknya pintu menuju neraka lalu ia berkata: Inilah tempat tinggalmu seandainya kamu mengkafiri Tuhanmu, adapun karena kamu beriman kepada-Nya maka inilah tempat tinggalmu. Maka dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu ia ingin bangkit menujunya maka dikatakan kepadanya: Diamlah, dan dilapangkan untuknya di kuburnya, dan jika ia seorang kafir atau munafik dikatakan kepadanya: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka ia menjawab: Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan sesuatu. Maka ia berkata: Kamu tidak tahu dan tidak membaca dan tidak mendapat petunjuk. Kemudian dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu ia berkata: Inilah tempat tinggalmu seandainya kamu beriman kepada Tuhanmu, adapun karena kamu mengkafiri-Nya, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menggantikanmu dengannya dengan ini. Dan dibukakan untuknya pintu menuju neraka, kemudian ia dipukul dengan pukulan menggunakan pemukul yang didengar oleh seluruh makhluk Allah kecuali jin dan manusia.” Maka sebagian orang berkata: Wahai Rasulullah, tidaklah ada seorang pun yang berdiri di hadapannya malaikat di tangannya ada pemukul melainkan ia ketakutan pada saat itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh” (Surah Ibrahim: 27).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, dari Ubaid -yaitu: Ibnu Umair- ia berkata: Penduduk kubur menunggu berita-berita, maka apabila mayit datang kepada mereka ia berkata: Bukankah si fulan telah datang kepada kalian? Ia berkata: Maka mereka berkata: Benar. Maka penduduk kubur bertanya kepadanya: Bagaimana si fulan? Maka mereka berkata: Baik. Mereka berkata: Bagaimana si fulan? Maka mereka berkata: Bukankah ia belum datang kepada kalian? Mereka berkata tidak, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali, ia ditempuh dengan selain jalan kami.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Khalid, ia berkata: Aku mendengar Abu Salih Al-Hanafi: “kehidupan yang sempit” (Surah Thaha: 124) adalah azab kubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ala’ bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, dari Abu Karimah Al-Kindi, ia berkata: Kami sedang duduk di sisi Zadzan lalu dibacakanlah ayat ini: “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab sebelum itu” (Surah Ath-Thur: 47), Zadzan berkata: Azab kubur.

Al-Sunnah karya Abdullah 2/611-614 (1450-1459)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Said -yaitu: Ibnu Abi Arubah- menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik bahwa Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya lalu para sahabatnya meninggalkannya -hingga sesungguhnya ia mendengar derap sandal mereka- datanglah kepadanya dua malaikat lalu mereka mendudukkannya, lalu mereka berdua berkata kepadanya: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Adapun mukmin maka ia menjawab: Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Maka dikatakan: Lihatlah kepada tempat dudukmu dari neraka, sungguh Allah Azza wa Jalla telah menggantimu dengannya dengan tempat duduk dari surga,” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka ia melihat keduanya,” Qatadah berkata: Maka disebutkan kepada kami bahwa dilapangkan untuknya di kuburnya tujuh puluh hasta dan dipenuhkan untuknya dengan kehijauan hingga hari mereka dibangkitkan, kemudian kembali kepada Anas bin Malik lalu ia berkata: “Adapun orang kafir dan munafik maka dikatakan kepadanya: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini? Maka ia menjawab: Aku tidak tahu, apa yang manusia katakan. Maka dikatakan kepadanya: Kamu tidak tahu dan tidak membaca. Kemudian ia dipukul dengan pemukul dari besi satu pukulan di antara kedua telinganya, maka ia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh yang dekat dengannya selain jin dan manusia, dan sebagian mereka berkata: Disempitkan untuknya di kuburnya hingga tulang rusuknya saling bertautan.”

Al-Sunnah karya Abdullah 2/614-615 (1461)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dari ayahnya, ia berkata: Sesungguhnya kubur itu menangis seraya berkata: Aku adalah rumah kesunyian, aku adalah rumah kesepian, dan aku adalah rumah cacing.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abdul Aziz bin Rufi’, dari Qais bin Sa’d, dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Sesungguhnya penghuni kubur menyambut mayit sebagaimana para pengendara menyambut ketika ia datang kepada mereka. Mereka bertanya: Bagaimana keadaan si fulan? Bagaimana keadaan si fulan? Jika mereka bertanya tentang seseorang yang telah meninggal, ia berkata: Apakah ia tidak datang kepada kalian? Mereka menjawab: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali), ia telah dibawa ke ibunya yang menghancurkan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ali bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abdullah yaitu Ibnu Mubarak menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah mengabarkan kepada kami, Yazid bin Abi Habib menceritakan kepadaku bahwa Abdurrahman bin Syamasah menceritakan kepadanya, ia berkata: Ketika Amru bin Ash radiyallahu ‘anhu menghadapi kematian… lalu ia menyebutkan hadits tersebut. Ia berkata: Apabila kalian menguburkanku maka duduklah di sisiku selama waktu yang diperlukan untuk menyembelih unta dan memotong-motongnya, agar aku merasa terhibur dengan kehadiran kalian.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Al-Mas’udi, Abdullah bin Al-Mikhariq menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: Abdullah berkata: Sesungguhnya seorang mukmin apabila didudukkan di dalam kuburnya, akan ditanya kepadanya: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Maka Allah menetapkannya, lalu ia menjawab: Tuhanku Allah, dan nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kuburnya diluaskan untuknya, dan ia dilapangkan, kemudian Abdullah membaca: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” hingga firman-Nya: “Dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki” (Surah Ibrahim: 27). Dan sesungguhnya orang kafir apabila meninggal dunia didudukkan di dalam kuburnya lalu ditanya kepadanya: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Maka ia menjawab: Aku tidak tahu. Maka kuburnya disempitkan dan ia disiksa di dalamnya, dan Abdullah membaca: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit” (Surah Thaha: 124). Yahya berkata dalam setiap hadits dari keduanya: Apabila kami menceritakan kepada kalian sebuah hadits, kami memberitahukan kepada kalian pembenaran itu dari Kitabullah Azza wa Jalla.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Isma’il bin Muslim menceritakan kepada kami, Abu Al-Mutawakkil menceritakan kepada kami, bahwa ketika Sa’d bin Mu’adz diletakkan di dalam kuburnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerang tiga kali, beliau berkata: “Uh, uh, uh” kemudian berkata: “Seandainya ada seseorang yang selamat darinya (siksa kubur) niscaya Sa’d bin Mu’adz akan selamat darinya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Jarir bin Hazim, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah berkata: Aku mendengar Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: Sesungguhnya orang kafir akan didatangi di dalam kuburnya seekor ular yang botak (tanpa sisik) yang memakannya dari kepalanya hingga sampai ke kakinya, kemudian ia dibalut dengan daging, lalu ular itu memakannya dari kakinya hingga sampai ke kepalanya, kemudian dikembalikan lagi dan berulang hingga sampai ke kedua kakinya, kemudian begitu seterusnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Manshur bin Salamah -ia adalah Abu Salamah Al-Khuza’i- menceritakan kepada kami, Laits -yaitu: Ibnu Sa’d- menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Al-Had, dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, ketuaan, hutang, dan dosa. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa api neraka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, Baqiyyah menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Sa’id, dari Abu Qabil, dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, maka ia dilindungi dari fitnah kubur.”

Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam liang lahadnya dan keluarganya pergi meninggalkannya, rohnya dikembalikan ke dalam jasadnya, maka ia ditanya saat itu di dalam kuburnya. Ini adalah firman Allah “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Surah Ibrahim: 27), yaitu: kubur. Maka kita memohon kepada Allah agar menetapkan kita di atas ketaatan kepada-Nya dan memberkahi kita pada saat itu ketika ditanya. Maka orang yang beruntung adalah orang yang dibahagiakan oleh Allah Azza wa Jalla. Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: Kami beriman dengan siksa kubur, serta Munkar dan Nakir.

Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Abdi berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, Ali bin Abdullah Al-Madini menceritakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Affan radiyallahu ‘anhu apabila berdiri di atas kubur ia menangis hingga membasahi jenggotnya, maka dikatakan kepadanya: Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, tetapi menangis karena ini! Maka ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kubur adalah tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Barangsiapa selamat darinya maka yang setelahnya lebih mudah, dan barangsiapa tidak selamat darinya maka yang setelahnya lebih berat.” Ia berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada kubur.

Ahmad bin Al-Qasim berkata: Aku bertanya: Wahai Abu Abdullah, apakah engkau mengakui Munkar dan Nakir serta apa yang diriwayatkan tentang siksa kubur? Maka ia menjawab: Ya, Subhanallah! Kami mengakui itu dan kami mengatakannya. Aku bertanya: Lafazh ini: Munkar dan Nakir. Apakah engkau mengatakan ini, atau engkau mengatakan: dua malaikat? Ia berkata: Kami mengatakan: Munkar dan Nakir, dan keduanya adalah dua malaikat, dan siksa kubur.

Al-Marrudzi berkata: Abu Abdullah berkata kepada kami: Siksa kubur adalah benar, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat dan menyesatkan.

Shalih berkata: Ayahku berkata: Siksa kubur adalah benar, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat dan menyesatkan.

Yusuf bin Musa Al-Athar Al-Harbi berkata: Ditanyakan kepada Abu Abdullah: Apakah siksa kubur itu benar? Ia berkata: Ya.

Hanbal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang siksa kubur, maka ia berkata: Ini adalah hadits-hadits yang shahih, kami beriman dengannya dan mengakuinya. Setiap yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang baik, kami mengakuinya. Jika kita tidak mengakui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menolaknya serta mereduksinya, berarti kita menolak perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah” (Surah Al-Hasyr: 7). Aku bertanya kepadanya: Dan siksa kubur itu benar? Ia berkata: Benar, mereka disiksa di dalam kubur. Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: Kami beriman dengan siksa kubur, dengan Munkar dan Nakir, dan bahwa seorang hamba ditanya di dalam kuburnya “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Surah Ibrahim: 27), yaitu di dalam kubur.

136 – Bab: Hari Kiamat

Harb berkata: Aku bertanya kepada Ishaq: Mengapa hari kiamat dinamakan As-Sa’ah (saat)? Ia berkata: Karena ia datang pada diri setiap manusia.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Abdullah bin Buhair menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Yazid -ia adalah penduduk Shan’a- ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat, maka hendaklah ia membaca: Apabila matahari digulung (Surah At-Takwir).”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Amru bin Qais, dari Al-Minhal bin Amru, dari Abdullah bin Al-Harits, dari Ali radiyallahu ‘anhu, ia berkata: Orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim ‘alaihissalam dengan pakaian qibthiyyah (kain dari Mesir), kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi pakaian hibroh (kain bergaris), dan beliau berada di sebelah kanan Arasy.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami, dari Hilal Al-Wazzan, dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud di masjid ini, ia bersumpah sebelum menceritakan kepada kami, lalu berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian melainkan akan bersendirian dengan Tuhannya sebagaimana salah seorang dari kalian bersendirian dengan bulan pada malam purnama. Maka Dia berfirman: Wahai anak Adam, apa yang telah menipumu wahai anak Adam? Apa yang engkau jawab kepada para rasul wahai anak Adam? Apa yang telah engkau amalkan terhadap apa yang engkau ketahui?

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Basthom bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu At-Tayyah berkata: Aku mendengar Abu As-Sawwar Al-Adawi membaca ayat ini “Dan setiap manusia Kami kaitkan hasil perbuatannya di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka” (Surah Al-Isra’: 13), kemudian ia berkata: Dua kali dibentangkan dan dilipat. Adapun apa yang telah engkau perbuat wahai anak Adam maka itulah lembaran catatanmu yang terbentang, maka tulislah di dalamnya apa yang engkau kehendaki. Jika engkau mati maka ia dilipat, kemudian jika engkau dibangkitkan ia dibentangkan: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atasmu” (Surah Al-Isra’: 14).

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata tentang hadits Ibnu Abbas: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dan beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan menemui Tuhan kalian dalam keadaan bertelanjang kaki, telanjang, dan tidak berkhitan.” (Aku mendengar ayahku berkata: Al-Aqlaf artinya yang tidak berkhitan).

137 – Bab Timbangan

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Shamad menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman -yaitu Al-A’masy- dari Syamr bin Athiyah, dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah radiyallahu anhu, ia berkata: Manusia akan didatangkan pada Hari Kiamat ke timbangan, lalu mereka berdebat di sisinya dengan perdebatan yang sangat keras.

Kitab As-Sunnah karya Abdullah 2/472 (1077)

Hanbal berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami: Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada Hari Kiamat (Surat Al-Anbiya: 47) dan berfirman: Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya (Surat Al-A’raf: 8), maka hal itu ada dalam Kitabullah. Barangsiapa yang menolak Nabi shallallahu alaihi wasallam, berarti ia menolak Allah.

Kitab Syarh Ushul Al-I’tiqad 6/1245 (2211)

138 – Bab Shirath

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, Shafwan menceritakan kepada kami, aku mendengar Aifa’ bin Abdul Kala’i, dan ia sedang memberi nasihat kepada manusia, ia berkata: Sesungguhnya bagi Jahanam ada tujuh jembatan, dan shirath ada di atasnya, dan Allah Azza wa Jalla berada di jembatan yang keempat.

Shafwan berkata: Dan aku mendengar Abu Al-Yaman Al-Hauzani menyambungkan hadits ini: Maka makhluk-makhluk melewati Allah Azza wa Jalla dan Dia berada di jembatan yang keempat. Ia berkata: Dan itulah yang difirmankan Allah Azza wa Jalla: Sesungguhnya Jahanam itu (padanya) ada pengintai (Surat An-Naba’: 21) Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi (Surat Al-Fajr: 14) Tidak ada suatu makhluk bergerak melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus (Surat Hud: 56). Ia berkata: Maka Allah memegang ubun-ubun hamba-hamba-Nya. Ia berkata: Maka Dia melembutkan (shirath) bagi orang-orang beriman sehingga menjadi lebih lembut daripada seorang ayah terhadap anaknya, dan Dia berfirman kepada orang kafir: Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia? (Surat Al-Infithar: 6).

Kitab As-Sunnah karya Abdullah 2/525-526 (1208)

Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kami beriman kepada shirath, timbangan, surga, neraka, dan hisab (perhitungan). Kami tidak menolak hal itu dan tidak ragu.

Kitab Syarh Ushul Al-I’tiqad 6/1251 (2222)

139 – Bab Qishash pada Hari Kiamat

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Al-Awwam Al-Qaisi, dari Abu As-Sulayl, dari Abu Utsman, dari Salman bahwa ia berkata: Sesungguhnya Allah akan membalas (qishash) pada Hari Kiamat untuk manusia atau untuk para hamba, sehingga kambing yang tidak bertanduk akan dibalas dari kambing yang bertanduk yang telah menanduknya.

Kitab Masail Shalih (790)

140 – Bab tentang Bersaksi untuk Suatu Kaum dengan Surga atau Neraka

Harb berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim berkata: Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam telah berlalu, begitu juga para khalifah setelahnya, dan para ulama di berbagai kota sepakat tentang hal itu: Tidak boleh seseorang bersaksi tentang seseorang -setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam- bahwa ia di surga karena kebaikannya, keutamaannya, dan kedudukannya yang awal, dan tidak boleh (bersaksi) tentang seseorang bahwa ia termasuk penghuni neraka karena melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa, dan kami menyerahkan hal itu kepada Allah, karena Dialah yang mengetahui rahasia-rahasia.

Ia berkata: Dan wajib bagimu untuk mengetahui dan meyakini bahwa apa yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa ia berkata: “Di surga” maka ia di surga, demikianlah perkara menurut ahli ilmu tanpa menetapkan kesaksian.

Kitab Masail Harb hal. 390

141 – Bab Syafaat

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Razaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: Inilah yang diceritakan Abu Hurairah kepada kami, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, dan aku ingin insya Allah mengakhirkan doaku menjadi syafaat untuk umatku pada Hari Kiamat.”

Al-Marrudzi berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Awanah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ubaid bin Umair Al-Laitsi, dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: Aku diutus kepada yang berkulit merah dan hitam, bumi dijadikan untukku sebagai tempat bersuci dan masjid, harta rampasan dihalalkan untukku dan tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, aku ditolong dengan rasa takut maka musuh merasa takut kepadaku padahal ia berjarak sebulan perjalanan dariku, dan dikatakan: Mintalah niscaya kamu akan diberi. Aku menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku, dan ia akan diberikan kepada kalian insya Allah Ta’ala, yaitu siapa yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 2/43 (1177-1178)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, ia berkata: Fulait Al-Amiri menceritakan kepadaku, dari Jusrah Al-Amiriyyah, dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat pada suatu malam, lalu ia membaca hingga pagi sambil rukuk dan sujud dengan ayat ini: Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surat Al-Maidah: 118). Ketika pagi aku berkata: Ya Rasulullah, engkau terus membaca ayat ini hingga pagi sambil rukuk dan sujud dengannya? Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meminta kepada Tuhanku syafaat untuk umatku, maka Dia memberikannya kepadaku, dan ia akan diberikan insya Allah kepada siapa yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Dan ia berkata: Abu Bakar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muawiyah dan Ya’la bin Ubaid menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan aku menyimpan doaku -Ya’la berkata: syafaat untuk umatku, dan ia akan diberikan insya Allah kepada siapa dari umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 2/45 (1181-1182)

Hanbal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang syafaat? Ia berkata: Ini adalah hadits-hadits yang shahih, kami beriman kepadanya dan mengakuinya. Dan setiap yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang baik, kami beriman kepadanya dan mengakuinya.

Aku bertanya kepadanya: Dan ada kaum yang keluar dari neraka? Ia berkata: Ya, jika kami tidak mengakui apa yang dibawa oleh Rasul dan menolaknya, maka kami menolak perintah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (Surat Al-Hasyr: 7).

Aku bertanya: Dan syafaat?

Ia berkata: Berapa banyak hadits diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang syafaat dan telaga, namun mereka ini mendustakannya dan membicarakannya, dan ini adalah ucapan segolongan Khawarij, bahwa Allah Ta’ala tidak akan mengeluarkan seorang pun dari neraka setelah memasukkannya ke dalamnya. Segala puji bagi Allah yang menjauhkan dari kami apa yang Dia timpakan kepada mereka.

Kitab Syarh Ushul Al-I’tiqad 6/1183 (2090)

142 – Bab Neraka (Semoga Allah Melindungi Kita Darinya)

Harb berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Ala bin Al-Musayyab menceritakan kepada kami, dari Al-Fudhail bin Amr, dari Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan surga, dan menciptakan penghuninya, dan menciptakan neraka, dan menciptakan penghuninya.”

Kitab Masail Harb hal. 407

Harb berkata: Aku bertanya kepada Ishaq, aku berkata: Firman Allah: Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki lain (Surat Hud: 107), dan ia berkata: Ayat ini mencakup setiap ancaman dalam Al-Quran.

Kitab Masail Harb hal. 429

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Jablah menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku diceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Jibril alaihis salam: “Tidakkah kamu datang kepadaku melainkan kamu cemberut di antara kedua matamu?” Ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak tertawa sejak neraka diciptakan.”

Kitab Az-Zuhd hal. 36

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Yaman mengabarkan kepada kami, Ibnu Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Amarah bin Ghaziyah Al-Anshari, bahwa ia mendengar Humaid bin Ubaid mantan budak Bani Al-Mu’alla berkata: Aku mendengar Tsabit Al-Bunani bercerita dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ia berkata kepada Jibril alaihis salam: “Mengapa aku tidak pernah melihat Mikail alaihis salam tertawa sama sekali?” Ia berkata: “Mikail tidak tertawa sejak neraka diciptakan.”

Kitab Az-Zuhd hal. 88

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Amr bin Maimun, ia berkata: Abdullah berkata: Seandainya penghuni neraka dijanjikan bahwa akan diringankan dari mereka azab pada suatu hari, niscaya mereka mati karena gembira.

Kitab Az-Zuhd hal. 202

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Sayyar menceritakan kepada kami, Ja’far menceritakan kepada kami, Al-Mu’alla bin Ziyad Al-Qardusi menceritakan kepada kami, ia berkata: Saudara Mutharrif bin Abdillah berada di sisinya lalu mereka berbicara tentang surga, maka Mutharrif berkata: Aku tidak tahu apa yang kalian katakan, ingatan tentang neraka menghalangi antara aku dengan surga.

Kitab Az-Zuhd hal. 292

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Mu’tamir bin Sulaiman At-Taimi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari Sa’id bin Abi Al-Hasan, ia berkata: Lautan adalah penutup Jahanam.

Kitab Az-Zuhd hal. 350

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku rahimahullah: Abu Ubaid Al-Haddad Abdul Wahid bin Washil menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan tentang ayat ini: Mereka tinggal di dalamnya beberapa masa (Surat An-Naba’: 23), ia berkata: Adapun masa-masa itu, maka tidak ada hitungannya kecuali kekal di dalam neraka, tetapi mereka menyebutkan bahwa satu masa adalah tujuh puluh ribu tahun, dalam setiap hari dari tujuh puluh ribu itu: seribu tahun dari yang kalian hitung.

Kitab Az-Zuhd hal. 351

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sayyar menceritakan kepada kami, Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Malik berkata: Ketika penghuni neraka merasakan pukulan gada-gada besi di neraka, mereka menyelam ke dalam telaga-telaga neraka lalu mereka turun ke bawah seperti orang yang tenggelam di air di dunia, ia turun ke bawah.

Kitab Az-Zuhd hal. 386

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Abu Razin, dari Ar-Rabi’ bin Khaitsamah: Maka hendaklah mereka sedikit tertawa -yaitu dunia- dan banyak menangis (Surat At-Taubah: 82) -yaitu akhirat.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari ayahnya, dari Mundzir Ats-Tsauri, dari Ar-Rabi’ bin Khaitsamah: Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman, rezeki (yang baik) dan surga kenikmatan (Surat Al-Waqi’ah: 88-89), ia berkata: Ini untuknya saat kematian, dan disimpan untuknya di akhirat berupa surga. Dan adapun jika dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka yang menyala (Surat Al-Waqi’ah: 92-94), ia berkata: Ini untuknya saat kematian, dan disimpan untuknya di akhirat berupa neraka.

Kitab Az-Zuhd hal. 49

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, Rabbah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku diceritakan dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Ketika gunung-gunung dijalankan lalu mendengar suara neraka, kemarahannya, hembusan dan erangannya, gunung-gunung berteriak seperti wanita berteriak, kemudian bagian depannya kembali ke bagian belakangnya, sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain.

Kitab Az-Zuhd hal. 447

143 – Bab: Matahari dan Bulan di dalam Neraka pada Hari Kiamat

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Al-Mukhtar -disebut Ad-Dabbagh- menceritakan kepada kami, dari Abdullah Ad-Danaj, ia berkata: Aku menyaksikan Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf pada masa Khalid bin Abdillah bin Usaid di masjid ini -yaitu masjid jami’ di Bashrah, ia berkata: Dan Al-Hasan datang lalu duduk kepadanya, ia berkata: Lalu ia bercerita, ia berkata: Abu Hurairah menceritakan kepada kami dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua banteng jantan yang digulung di dalam neraka pada Hari Kiamat.” Ia berkata: Maka Al-Hasan berkata: Apa dosanya mereka? Ia berkata: Maka ia (Abu Salamah) berkata: Aku menceritakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Maka ia diam.

Kitab Masail Shalih (491)

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Waqid menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Ayyub, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Matahari dan bulan adalah dua banteng jantan yang mandul, diciptakan dari api, dan akan kembali ke neraka.

Kitab Masail Shalih (462)

BAB-BAB TENTANG SURGA

144 – Pasal: Bantahan terhadap Orang yang Mengatakan Fana (Lenyap)-nya Surga dan Neraka

Imam Ahmad berkata: Mereka mengklaim bahwa Allah ada sebelum makhluk, maka mereka benar. Dan mereka berkata: Dia akan menjadi Yang Akhir setelah makhluk, sehingga tidak akan tersisa sesuatu pun, tidak ada bumi, tidak ada surga, tidak ada neraka, tidak ada pahala, tidak ada siksa, tidak ada Arsy dan tidak ada Kursi.

Dan mereka mengklaim bahwa sesuatu bersama Allah tidak mungkin ada, Dia adalah Yang Akhir sebagaimana Dia ada, maka mereka telah menyesatkan banyak manusia dengan ini.

Dan kami berkata: Allah telah mengabarkan kepada kami tentang surga dan kekalnya penghuninya di dalamnya, maka Dia berfirman: “Bagi mereka di dalamnya kenikmatan yang kekal” (At-Taubah: 21). Apabila Allah Yang Maha Agung berfirman: “kekal”. Dan Dia berfirman: “mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (An-Nisa: 57). Dan Dia berfirman: “buahnya tetap ada” (Ar-Ra’d: 35). Apabila Allah berfirman: “tetap ada”, maka tidak akan terputus selama-lamanya.

Dan Dia berfirman: “dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya” (Al-Hijr: 48). Dan Dia berfirman: “dan sesungguhnya negeri akhirat itulah negeri yang kekal” (Ghafir: 39).

Dan Dia berfirman: “dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui” (Al-Ankabut: 64).

Dan Dia berfirman: “mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (Al-Kahf: 3), dan Dia berfirman: “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya” (Ali Imran: 107).

Dan Dia berfirman: “dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya” (Al-Waqi’ah: 32-33).

Dan yang serupa dengan itu dalam Al-Quran sangat banyak.

Dan Dia menyebutkan penghuni neraka, maka berfirman:

“Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya” (Fathir: 36).

Dan Dia berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang putus asa dari rahmat-Ku” (Al-Ankabut: 23). Dan Dia berfirman: “Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka” (Al-A’raf: 49).

Dan Dia berfirman: “Dan mereka berseru: Wahai Malik! Biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia (Malik) menjawab: Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)” (Az-Zukhruf: 77).

Dan Dia berfirman: “Sama saja bagi kami, apakah kami mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali tidak ada tempat lari bagi kami” (Ibrahim: 21).

Dan Dia berfirman: “mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk” (Al-Bayyinah: 6).

Dan Dia berfirman: “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain” (An-Nisa: 56).

Dan Dia berfirman: “Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya” (As-Sajdah: 20). Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya (neraka) itu tertutup rapat atas mereka” (Al-Humazah: 8). Dan yang serupa dengan itu dalam Al-Quran sangat banyak.

“Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Az-Zanadiqah” karya Imam Ahmad hal. 146-148

145 – Pasal: Sifat Surga

Al-Marwadzi berkata: Dibacakan kepada Abu Abdillah -dan aku mendengarnya- dari Affan, dari Abu Bakar bin Abu Musa, dari ayahnya tentang firman-Nya: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga” (Ar-Rahman: 46), dia berkata: Dua surga dari emas untuk orang-orang yang terdahulu (As-Sabiqun), dan dua surga dari perak untuk orang-orang yang mengikuti (At-Tabi’in).

“Al-Wara'” (375)

Al-Marwadzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Mereka berada di sisi Anas sebelum terbit matahari, maka dia berkata: Begini siang hari di surga.

“Akhbar Asy-Syuyukh wa Akhlaquhum” (310)

Baqi bin Makhlad berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, dia berkata: Ashim bin Khalid Al-Hadhrami menceritakan kepada kami, dia berkata: Shafwan bin Amr menceritakan kepada kami, dari Sulaim bin Amir Al-Khaba’iri dan Abu Al-Yaman Al-Hauzani, dari Abu Umamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku untuk memasukkan dari umatku ke dalam surga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.”

Maka Yazid bin Al-Akhnasi As-Sulami berkata: Demi Allah, mereka itu dalam umatmu wahai Rasulullah tidak lain seperti lalat kuning di antara lalat-lalat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhanku telah menjanjikan kepadaku tujuh puluh ribu, bersama setiap seribu tujuh puluh ribu lagi dan menambahkan kepadaku tiga genggaman.” Dia berkata: Berapa luas telagamu wahai Nabi Allah? Beliau bersabda: “Seperti antara Aden hingga Oman atau lebih luas lagi”, beliau memberi isyarat dengan tangannya, beliau bersabda: “Di dalamnya terdapat dua aliran dari emas dan perak.” Dia berkata: Bagaimana telagamu wahai Nabi Allah? Beliau bersabda: “Lebih putih dari susu, lebih manis rasanya dari madu, dan lebih harum baunya dari minyak kesturi. Barangsiapa minum darinya tidak akan haus selama-lamanya dan tidak akan hitam wajahnya selama-lamanya.”

“Al-Haudh wa Al-Kautsar” karya Baqi bin Makhlad hal. 80

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya: Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ada seorang qadhi di Bashrah yang berkunyah Abu Salim, lalu dia menyebutkan keutamaannya. Dia berkata: Dia berada di masjid salah seorang syaikh, Yunus berkata: Dan aku pernah duduk bersamanya. Dia berkata: Sampai kepadaku bahwa dia sedang shalat, lalu dia membaca ayat ini: “Alasnya terbuat dari sutra tebal” (Ar-Rahman: 54), maka dia berkata: Wahai Tuhanku, ini alasnya, lalu bagaimana bagian luarnya? Maka dipanggil -dan dia tidak tahu siapa yang memanggilnya-: Bagian luarnya adalah keridhaan Allah. Dan dia biasa berceramah dengan bahasa Persia.

“Az-Zuhd” hal. 216

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan, bahwa dia berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Maka sungguh akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik” (An-Nahl: 97), dia berkata: Kehidupan tidak akan baik bagi siapa pun kecuali di surga.

“Az-Zuhd” hal. 344

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Sayyar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Abbad bin Amr menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan, aku berkata: Wahai Abu Sa’id, siapakah bidadari surga? Dia berkata: Mereka adalah nenek-nenek kalian yang ompong ini, Allah menciptakan mereka dengan penciptaan yang lain. Maka Yazid bin Abi Maryam As-Sululi berkata kepada Al-Hasan: Siapa yang menceritakan hadits ini kepadamu wahai Abu Sa’id? Dia berkata: Lalu dia menyingsingkan lengan bajunya, lalu berkata: Fulan bin Fulan Al-Muhajiri menceritakan kepadaku, dan Fulan bin Fulan Al-Anshari menceritakan kepadaku, hingga dia menyebutkan lima orang dari Muhajirin dan empat orang dari Anshar.

“Masa’il Shalih” (707)

Abdullah berkata: Ayahku dan Ali bin Muslim menceritakan kepada kami, mereka berkata: Sayyar menceritakan kepada kami, Ja’far menceritakan kepada kami, Abbad bin Amr Al-Abdi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Al-Hasan: Wahai Abu Sa’id, siapakah bidadari surga? Dia berkata: Mereka adalah nenek-nenek ini, Allah menciptakan mereka dengan penciptaan yang lain. Dia berkata: Maka Yazid bin Abi Maryam As-Sululi berkata: Wahai Abu Sa’id, siapa yang menceritakan ini kepadamu? Dia berkata: Maka Al-Hasan menyingsingkan lengan bajunya, lalu berkata: Fulan bin Fulan Al-Muhajiri menceritakan kepadaku dan Fulan bin Fulan Al-Anshari, hingga dia menyebutkan lima orang dari Anshar dan empat orang dari Muhajirin, atau empat orang dari Anshar dan lima orang dari Muhajirin.

“Az-Zuhd” hal. 351

KITAB ASH-SHAHABAH (PARA SAHABAT)

146 – Bab: Keutamaan Para Sahabat dan Khilafah yang Rasyidah

Ishaq bin Manshur berkata: Ahmad ditanya: Siapa yang engkau utamakan? Dia berkata: Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum dalam urutan para khalifah.

“Masa’il Al-Kausaj” (3364)

Shalih berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang Sa’id bin Jumhan?

Dia berkata: Dia orang Bashrah, orang-orang Bashrah telah meriwayatkan darinya.

Aku berkata: Ke mana pendapatmu dalam hal keutamaan? Dia berkata: Kepada hadits Ibnu Umar.

Aku berkata: Apakah engkau berpendapat dengan hadits Safinah? Dia berkata: Ya, kami mengamalkan kedua riwayat tersebut, hadits Safinah: “Khilafah adalah tiga puluh tahun”, maka Abu Bakar memerintah selama dua tahun lebih, dan Umar sepuluh tahun, dan Utsman dua belas tahun, dan Ali enam tahun.

Aku berkata: Jika ada orang yang berkata: Seharusnya bagi siapa yang menetapkan kekhilafahan Ali agar menempatkannya di urutan keempat?

Dia berkata: Sesungguhnya kami hanya mengikuti apa yang datang. Adapun perkataan kami: Ali menurut kami adalah khalifah, dia telah menyebut dirinya sendiri sebagai Amirul Mukminin, dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Amirul Mukminin, dan para ahli Badar banyak yang menyebutnya sebagai Amirul Mukminin, dan dia menghajikan manusia, dan menjatuhkan hukuman qishash dan rajam.

Aku berkata: Jika ada orang yang berkata: Engkau akan mendapati orang Khawarij yang memberontak lalu menyebut diri sebagai Amirul Mukminin dan manusia menyebutnya sebagai Amirul Mukminin?

Dia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk dan jelek, Ali diqiyaskan dengan orang Khawarij? Dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diqiyaskan dengan orang-orang lain? Ini adalah perkataan yang jelek, lalu kami katakan: Apakah Ali adalah orang Khawarij? Kalau begitu, buruk sekali perkataan ini, kami berlindung kepada Allah dari sikap berlebih-lebihan.

“Masa’il Shalih” (349), dan “Sirah Al-Imam Ahmad” karya putranya Shalih hal. 76-77

Shalih berkata: Ayahku berkata: Semua ahli Kufah mengutamakan Ali atas Utsman kecuali dua orang: Thalhah bin Musharrif dan Abdullah bin Idris.

Aku berkata kepadanya: Zubaid? Dia berkata: Tidak, dia mencintai Ali -maksudnya: seolah dia mengutamakannya atas Utsman.

“Masa’il Shalih” (715)

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas (gunung) Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka beliau bersabda: “Tetaplah teguh, karena di atasmu tidak lain hanya seorang nabi, seorang shiddiq dan dua syahid.”

“Masa’il Shalih” (1275)

Shalih berkata: Dan beliau ditanya -dan aku menyaksikannya- tentang orang yang mendahulukan Ali atas Utsman, apakah dia dibid’ahkan?

Dia berkata: Ini layak untuk dibid’ahkan, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan Utsman.

“Sirah Al-Imam Ahmad” hal. 77

Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad, seorang laki-laki berkata kepadanya: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali -maksudnya: dalam pendahuluan dalam keutamaan?

Maka Ahmad berkata: Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan Ali dalam urutan para khalifah -maksudnya: Ali dihitung dalam para khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Muhammad bin Yahya bin Faris menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia berkata: Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan jika ada orang yang mengatakan: dan Ali, aku tidak akan memarahinya -maksudnya: dalam hal keutamaan.

“Masa’il Abi Dawud” (1794-1795)

Ibnu Hani berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata dalam hal keutamaan: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan jika seorang laki-laki berkata: Ali, aku tidak akan memarahinya. Dan dalam hal khilafah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.

Ibnu Hani berkata: Dikatakan kepadanya: Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengatakan Abu Bakar, Umar, dan Ali bersama keduanya, dan meninggalkan Utsman. Maka dia marah, kemudian berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Kami memerintahkan orang terbaik kami dan kami tidak lalai dari yang paling tinggi kedudukannya. Ini adalah orang yang buruk.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kitab yang berisi hadits-hadits ini, lalu aku membacakannya kepadanya.

Ibnu Hani berkata: Aku membaca kepada Abu Abdullah: Manshur bin Salamah Al-Khuza’i berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata: Kami pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyamakan siapapun setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami berhenti dan tidak membanding-bandingkan di antara mereka.

Dia berkata: Aku membaca kepada Abu Abdullah: Abu Mu’awiyah berkata: Telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dia berkata: Kami menghitung -ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih hidup dan para sahabatnya banyak-: Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman kemudian kami diam.

Dia berkata: Aku membaca kepada Abu Abdullah: Yahya dan Waki’, dari Mis’ar. Waki’ berkata: dari Abdul Malik bin Maisarah, dari An-Nazzal bin Sabrah -Waki’ berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Ketika Utsman diangkat menjadi khalifah, Abdullah berkata: Kami mengangkat yang terbaik dari yang tersisa, dan kami tidak menyia-nyiakan.

Aku bertanya kepadanya tentang orang yang mendahulukan Ali atas Utsman, maka dia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk, kita mulai dengan apa yang dikatakan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan dari orang yang difadilkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dia berkata: Aku membaca kepada Abu Abdullah: Abu Mu’awiyah berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah bin Sinan, dia berkata: Abdullah berkata ketika Utsman diangkat menjadi khalifah: Kami tidak menyia-nyiakan yang tertinggi, dia di atas.

Aku membaca kepada Abu Abdullah: Abu Al-Mughirah berkata: Telah menceritakan kepada kami Shafwan, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata: Orang-orang datang kepadaku untuk mencela Utsman, dan aku tidak melihat kecuali ini adalah kritikan, adapun darahnya maka aku berlindung kepada Allah dari darahnya, demi Allah sungguh aku berharap aku hidup di dunia dengan penyakit kusta yang mengelupas dan aku tidak pernah menyebut Utsman sama sekali. Kemudian dia menyebutkan ucapan yang memfadilkan Utsman atas Ali.

Dia berkata: Aku membaca kepada Abu Abdullah: Bisyr bin Syu’aib berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Az-Zuhri, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Umar berkata: Seorang laki-laki dari Anshar datang kepadaku pada masa kekhalifahan Utsman lalu berbicara kepadaku, ternyata dia memerintahku dalam ucapannya agar aku mencela Utsman, maka dia berbicara panjang lebar -dan dia adalah orang yang lidahnya berat- sehingga dia hampir tidak bisa menyelesaikan ucapannya dengan lancar, ketika dia menyelesaikan ucapannya aku berkata: Sesungguhnya kami dulu mengatakan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih hidup: Umat terbaik Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau adalah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

Dan sesungguhnya demi Allah kami tidak mengetahui Utsman membunuh jiwa tanpa hak, dan tidak melakukan dosa besar sedikitpun, tetapi ini adalah harta tersebut, jika dia memberikannya kepada kalian maka kalian ridha, dan jika dia memberikannya kepada kerabatnya maka kalian marah! Kalian hanya ingin menjadi seperti Persia dan Romawi, mereka tidak membiarkan pemimpin kecuali mereka membunuhnya.

Dia berkata: Maka mengalirlah kedua matanya dengan empat (tetes) air mata, kemudian dia berkata: Ya Allah kami tidak menginginkan itu.

Dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Maka setiap orang yang memfadilkan Ali atas Utsman maka sungguh dia telah meremehkan Muhajirin dan Anshar.

Dan dia ditanya tentang: Orang yang tidak memfadilkan Utsman atas Ali; dia berkata: Seharusnya dia memfadilkan Utsman atas Ali, dan tidak ada perbedaan di antara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa Utsman lebih afdhal dari Ali, dan aku tidak mengambil pendapat orang-orang Kufah dan lainnya, dan tidak juga pendapat penduduk Madinah yang tidak memfadilkan seorangpun atas yang lain.

Kemudian dia berkata: Kami mengatakan: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam, ini dalam hal keutamaan.

Kemudian kami mengatakan dalam hal para khalifah: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, ini dalam hal para khalifah, berdasarkan jalan ini, dan berdasarkan inilah pendapat para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Seandainya kamu tidak mendengar dari Abu Hammam, kecuali hadits Utsman bin Affan, maka itu sudah cukup bagimu. Dan Abu Hammam menceritakan kepada kami, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah, dari Abdullah bin Syawdzab, dari Abdullah bin Al-Qasim, dari Katsir maula Abdurrahman bin Samurah, dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata: Utsman datang pada pasukan Al-Usrah dengan seribu dinar, lalu dia menumpahkannya di pangkuan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau memasukkan tangannya ke dalamnya dan berkata: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan apa yang dia lakukan setelah hari ini, tidak akan membahayakan Ibnu Affan apa yang dia lakukan setelah hari ini”.

“Masa’il Ibnu Hani” (1935 – 1946)

Harb bin Ismail berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka dia berkata: Sebaik-baik umat setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Utsman berdasarkan hadits Ibnu Umar.

Ahmad berkata: Dan Ali termasuk dalam para khalifah.

Aku berkata: Bukankah engkau mengatakan: Ali adalah yang terbaik dari yang tersisa setelah tiga orang dalam hal kekhalifahan?

Dia berkata: Dia adalah khalifah.

Aku berkata: Dan tidak masuk dalam hal itu Thalhah dan Zubair?

Dia berkata: Tidak, ada apa dengan Thalhah dan Zubair, tidakkah engkau melihat bahwa Ali menegakkan hukuman had, membagi harta fai’, dan mengumpulkan orang-orang untuk shalat, jika kamu mengatakan: dia bukan khalifah; maka di dalamnya ada cacian yang keras.

Dan aku bertanya Ishaq tentang para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Maka dia berkata: Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, dan dia berkata: Dia adalah yang paling afdhal umat pada waktu itu dan dia adalah khalifah yang adil -yaitu setelah Utsman.

“Masa’il Harb” halaman 439

Harb berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Az-Zuhri, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdullah bahwa Abdullah bin Umar berkata: Kami mengatakan, ketika Rasulullah masih hidup: Umatnya yang paling afdhal adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

Dan Harb berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dia berkata: Kami menghitung -ketika Rasulullah masih hidup dan para sahabatnya banyak- Abu Bakar dan Umar dan Utsman, kemudian kami diam.

“Masa’il Harb” halaman 440

Harb berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim berkata: Siapa yang mendahulukan Ali atas Utsman maka dia salah.

“Masa’il Harb” halaman 441

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Adapun dalam hal keutamaan maka aku mengatakan: Abu Bakar, Umar, Utsman; berdasarkan ucapan Ibnu Umar: Kami menghitung -ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih hidup- maka kami mengatakan: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam.

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang para imam, maka dia berkata: Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman, dan Ali termasuk dalam para khalifah.

Dan Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sunnah dalam hal keutamaan yang dipegangnya adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar yang berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

Adapun dalam hal kekhalifahan maka dia mengambil hadits Safinah lalu berkata: Abu Bakar, dan Umar, dan Utsman, dan Ali termasuk dalam para khalifah. Dia menggunakan kedua hadits sekaligus.

“Masa’il Abdullah” (1592 – 1593)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dia berkata: Aku mendengar Abu Juhaifah berkata aku mendengar Ali berkata: Maukah kalian aku beritahu tentang yang terbaik dari umat ini setelah nabinya? Maka mereka berkata: Ya. Lalu dia berkata: Abu Bakar, kemudian dia berkata: Maukah kalian aku beritahu tentang yang terbaik dari umat ini setelah Abu Bakar? Mereka berkata: Ya. Lalu dia berkata: Umar. Kemudian dia berkata: Maukah kalian aku beritahu tentang yang terbaik dari umat ini setelah Umar? Maka mereka berkata: Ya. Lalu dia diam.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/95 (44)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al-Khuza’i, Manshur bin Salamah, dia berkata: Telah memberitahu kami Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah -yaitu: Al-Majisyun- dari Ubaidillah bin Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata: Kami pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyamakan setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami berhenti dan tidak membanding-bandingkan di antara mereka.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/105 – 106 (54)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah Abu Al-Qasim, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Az-Zuhri, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdullah; bahwa Abdullah bin Umar berkata: Sesungguhnya kami mengatakan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih hidup: Umat yang paling afdhal dari Rasulullah setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/107 – 108 (56)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, dia berkata: Telah memberitahu kami Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Uqbah bin Aus, dari Abdullah bin Amru, dia berkata: Aku menemukan dalam beberapa kitab pada hari kami berperang di Yarmuk: Abu Bakar Ash-Shiddiq kalian benar tentang namanya, Umar Al-Faruq tanduk dari besi kalian benar tentang namanya, Utsman Dzun Nurain diberi dua bagian rahmat; karena dia akan dibunuh, kalian benar tentang namanya, dia berkata: Kemudian akan ada penguasa tanah Baitul Maqdis dan anaknya, Uqbah berkata: Aku berkata kepada Ibnu Al-Ash: Sebutkan namanya sebagaimana kamu menyebutkan mereka, dia berkata: Mu’awiyah dan anaknya.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/125 (74)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan, Abu Abdurrahman Adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami Salim -yaitu: Ibnu Abi Hafshah- dan Al-A’masy dan Abdu bin Shahban, dan Katsir An-Nawa’, dan Ibnu Abi Laila, dari Athiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni derajat-derajat tinggi dilihat oleh orang-orang yang di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang muncul di ufuk dari cakrawala langit, dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk di antara mereka dan betapa baik mereka”.

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Amru Adh-Dhabbi, dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Dan betapa baik mereka, dia berkata: Dan pantas bagi mereka. Kemudian aku mendengar ayahku menceritakannya dari Ibnu Uyainah seperti itu.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/206 – 207 (162 – 163)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Tulaid bin Sulaiman Abu Idris, dia berkata: Telah memberitahu kami Abu Al-Jahhaf, dari Athiyyah Al-Aufi dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni derajat-derajat tinggi dilihat oleh penghuni surga yang lebih rendah dari mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang cemerlang, dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk di antara mereka dan betapa baik mereka”.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/210 (169)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil dan dia adalah Abdullah bin Aqil Ats-Tsaqafi, telah menceritakan kepada kami Katsir Abu Ismail, dari Shafwan bin Qabisah Al-Ahmasi, dari Abu Sarihah seorang syaikh dari Ahmas, dia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Ketahuilah sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang suka kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk, ketahuilah sesungguhnya Umar menasehati Allah maka Allah menasehatinya.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 5/211 – 216 (178)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Firas, dari Amir, dia merafa’kannya berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Kedua orang ini adalah pemimpin orang-orang tua penghuni surga dari orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, kecuali para nabi dan rasul”.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/216 – 217 (180)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ja’far bin ‘Aun menceritakan kepada kami, Abu al-‘Umais menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: Aku mendengar Aisyah ditanya: “Siapakah yang akan diangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi khalifah seandainya beliau mengangkat khalifah?” Ia menjawab: “Abu Bakar.” Kemudian ditanyakan kepadanya: “Siapa setelah Abu Bakar?” Ia menjawab: “Umar.” Kemudian ditanyakan kepadanya: “Setelah Umar?” Ia menjawab: “Abu Ubaidah,” kemudian ia berhenti sampai di situ.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/232 (204)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman dan Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Hasyim al-Qasim bin Katsir, dari Qais al-Kharifi, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama, dan shalat Abu Bakar, dan yang ketiga Umar, kemudian kami tertimpa atau kami mengalami fitnah, maka kehendak Allah, atau kami tertimpa fitnah yang Allah ampuni bagi siapa yang Dia kehendaki.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/263 (241)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ummu Umar -putri Hassan bin Zaid- menceritakan kepadaku -ayahku berkata: wanita tua yang jujur- ia berkata: Sa’id bin Yahya bin Qais bin ‘Abs menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Hafshah binti Umar berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika engkau sakit, engkau mendahulukan Abu Bakar!” Beliau bersabda: “Bukan aku yang mendahulukannya, tetapi Allah yang mendahulukannya.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/296 (298)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku mengabarkan kepada kami dari Ya’la -yakni: Ibnu Hakim- dari Nafi’ -ia berkata: dan aku telah mendengarnya dari Nafi’ kemudian Ya’la meninggalkannya- bahwa az-Zibriqan bin Badr dan al-Aqra’ bin Habis meminta kepada Abu Bakar agar memberikan tanah kepada mereka berdua, dan ia menulis surat untuk mereka berdua. Lalu Utsman berkata kepada mereka berdua: “Mintakan kesaksian Umar karena sesungguhnya ia adalah khalifah setelahnya dan ia lebih dapat memutuskan urusan kalian berdua.” Maka mereka berdua mendatangi Umar dengan surat itu, ketika ia melihatnya ia meludahinya, kemudian memukulkan surat itu ke wajah mereka berdua, kemudian berkata: “Tidak, dan tidak ada kesenangan mata, demi Allah kalian berdua membelah wajah kaum muslimin dengan pedang dan batu, kemudian kami menulis untuk kalian berdua untuk harta rampasan mereka.” Maka mereka berdua kembali kepada Abu Bakar dan berkata: “Demi Allah, kami tidak tahu apakah engkau khalifah ataukah Umar?” Ia berkata: “Ada apa?” Lalu mereka berdua mengabarkan kepadanya apa yang dilakukan Umar. Maka ia berkata: “Dan kami tidak melaksanakan kecuali apa yang Umar laksanakan.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengarnya dari Nafi’, ia berkata dan Wahb berkata: Dan ia menceritakan kepada kami darinya, dari Ya’la, dari Nafi’, ia berkata: Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, dan ‘Amr bin al-‘Ash menulis kepada Abu Bakar: “Tambahkan gaji kami, atau kirimkan kepada pekerjaanmu orang yang mencukupinya untukmu.” Maka Abu Bakar bermusyawarah tentang hal itu, lalu Umar berkata: “Jangan tambahkan kepada mereka satu dirham pun.” Ia berkata: “Siapa untuk pekerjaan mereka?” Ia berkata: “Aku mencukupinya, dan aku tidak mau engkau memberikan rizki kepadaku sesuatu pun.” Ia berkata: Lalu ia bersiap-siap, hal itu sampai kepada Utsman bin ‘Affan, maka ia berkata kepada Abu Bakar: “Wahai khalifah Rasulullah, sesungguhnya kedekatan Umar darimu dan musyawarahnya lebih bermanfaat bagi kaum muslimin daripada sesuatu yang sedikit, maka tambahkanlah untuk orang-orang ini dan ia adalah khalifah setelahmu.” Maka ia memerintahkan Umar agar tetap tinggal, ia berkata: Dan ia menambah apa yang mereka minta. Ia berkata: Ketika Umar menjadi khalifah, ia menulis kepada mereka: “Jika kalian ridha dengan gaji yang pertama, jika tidak maka tinggalkan pekerjaan kami,” dan ia berkata: Dan Mu’awiyah -yakni: Ibnu Abi Sufyan- telah diangkat menggantikan Yazid. Ia berkata: Adapun Mu’awiyah dan ‘Amr maka mereka ridha, adapun Khalid maka ia mundur, ia berkata, lalu Umar menulis kepada mereka berdua: “Tuliskanlah untukku setiap harta, dan itu untuk kalian berdua.” Maka mereka melakukannya, ia berkata: Lalu ia tidak dapat menghitung harta bagi mereka berdua setelahnya kecuali ia mengambilnya dan menjadikannya di baitul mal.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/358-359 (3/383-384)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Hushain, dari Ibnu Abi Laila, ia berkata: Mereka berdebat tentang urusan Abu Bakar dan Umar, lalu seorang laki-laki dari ‘Atarid berkata: “Umar lebih utama dari Abu Bakar.” Maka al-Jarud berkata: “Tidak, Abu Bakar, Abu Bakar lebih utama darinya.” Ia berkata: Lalu hal itu sampai kepada Umar. Ia berkata: Lalu ia terus memukul dengan cambuk hingga kakinya terangkat, kemudian ia menghadap kepada al-Jarud dan berkata: “Menjauh daripadaku.” Kemudian Umar berkata: “Abu Bakar adalah sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam ini dan itu.” Ia berkata: Kemudian Umar berkata: “Barangsiapa mengatakan selain ini, kami tegakkan atasnya apa yang kami tegakkan atas pendusta.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Harun bin Salman menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin Huraith, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Sebaik-baik umat setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar, dan jika aku mau aku akan menyebutkan yang ketiga.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/367-368 (396-397)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Khalid dan Abu Mu’awiyah, Isma’il menceritakan kepada kami, dari asy-Sya’bi, dari Abu Juhafah, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar, dan jika aku mau akan aku ceritakan kepada kalian yang ketiga. Abu Mu’awiyah tidak mengatakan: Aku mendengar Ali.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/370 (403)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur bin Abdurrahman -yakni: al-Ghadani- mengabarkan kepada kami, dari asy-Sya’bi, ia berkata: Abu Juhafah -yang ia beri nama Wahb al-Khair- menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali berkata kepadaku: “Wahai Abu Juhafah, maukah aku kabarkan kepadamu tentang yang paling utama dari umat ini setelah nabinya?” Aku berkata: “Ya,” dan aku tidak mengira bahwa ada yang lebih utama darinya. Ia berkata: “Yang paling utama dari umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar, dan setelah Abu Bakar adalah Umar, dan setelah mereka berdua ada yang ketiga.” Dan ia tidak menyebutkan namanya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/371 (405)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan dan Syu’bah, dari Habib bin Abi Tsabit, dari ‘Abd Khair, dari Ali, ia berkata: Maukah aku beritahu kalian siapa sebaik-baik umat ini setelah nabinya? Abu Bakar, kemudian Umar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Khalid bin ‘Alqamah, dari ‘Abd Khair, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Sebaik-baik umat ini adalah nabinya, dan sebaik-baik manusia setelah nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian kami mengadakan perkara-perkara baru yang Allah putuskan di dalamnya apa yang Dia kehendaki.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/378-379 (421-422)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin ‘Ubaid -yaitu ath-Thanafisi- menceritakan kepada kami, Salim al-Muradi menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin Hurm al-Azdi, dari Abu Abdullah dan Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah, ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak tahu berapa lama aku tinggal di tengah kalian, maka ikutilah dua orang setelahku,” beliau menunjuk kepada Abu Bakar dan Umar.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/406-407 (479)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ‘Affan menceritakan kepada kami, Hammad -yakni: Ibnu Salamah- menceritakan kepada kami, ‘Ashim bin Bahdalah menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il: Bahwa Abdullah bin Mas’ud berjalan dari Madinah ke Kufah selama delapan hari ketika Utsman bin ‘Affan diangkat menjadi khalifah, lalu ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Amma ba’du, sesungguhnya Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab telah meninggal, maka tidak terlihat hari yang lebih banyak isak tangisnya dari hari itu, dan sesungguhnya kami berkumpul para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami tidak lalai dari orang yang terbaik di antara kami yang memiliki keutamaan, lalu kami membaiat Amirul Mukminin Utsman, maka baiatilah dia.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/570-571 (759)

Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi ‘Arubah menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki, dari Mutharrif bin asy-Syikhkhir, ia berkata: Aku bertemu Ali di padang pasir ini, lalu ia berkata: “Apakah kecintaan kepada Utsman menghalangimu untuk datang kepada kami?” Dua kali, ketika ia merasa lega dari sahabat-sahabatnya ia berkata: “Jika engkau mencintainya maka sesungguhnya ia adalah orang terbaik di antara kami dan paling menyambung silaturahmi.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami, dari al-Khalil bin anak saudara Mutharrif, dari Mutharrif, ia berkata: Aku bertemu Ali di padang pasir ini -yaitu: di padang pasir ini- setelah perang Jamal dan ia dalam rombongannya, lalu ia mempercepat tunggangannya. Ia berkata: Lalu aku berkata: “Aku lebih berhak mempercepat kepadamu.” Maka ia berkata: “Apakah kecintaan kepada Utsman menghalangimu untuk datang kepada kami?” Lalu aku terus minta maaf kepadanya, maka ia berkata: “Apakah kecintaan kepada Utsman menghalangimu untuk datang kepada kami?” Ketika ia tahu bahwa sahabat-sahabatnya tidak mendengar perkataannya, ia berkata: “Demi Allah, jika engkau mencintainya, sesungguhnya ia adalah orang terbaik di antara kami dan paling utama.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/572-573 (761-762)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Abdullah bin az-Zubair menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharrib, ia berkata: Aku mendengar penggembala unta bernyanyi pada masa kepemimpinan Umar: Ketahuilah bahwa amir setelahnya adalah Utsman. Dan aku mendengarnya bernyanyi pada masa kepemimpinan Utsman: Sesungguhnya amir setelahnya adalah Ali.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/604 (802)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Sa’id bin Jumhan menceritakan kepada kami, dari Safinah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Khilafah itu tiga puluh tahun, kemudian setelah itu akan menjadi kerajaan.”

Safinah berkata: Khilafah Abu Bakar dua tahun, dan khilafah Umar sepuluh tahun, dan khilafah Utsman dua belas tahun, dan khilafah Ali enam tahun.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/744 (1027)

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang para imam, maka ia berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali dalam hal para khalifah.

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Adapun keutamaan, maka aku mengatakan: Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman, berdasarkan perkataan Ibnu Umar: Kami biasa menghitung ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, lalu ia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan Ali dalam hal para khalifah.

Aku mendengar ayahku berkata: Dan khilafah berdasarkan apa yang diriwayatkan Safinah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Khilafah dalam umatku tiga puluh tahun,” dan kami menggunakan kedua riwayat sekaligus, apa yang dikatakan Safinah dan apa yang dikatakan Ibnu Umar, dan kami tidak mencela orang yang menjadikan Ali sebagai yang keempat, karena kerabatnya dan menantunya dan keislamannya yang terdahulu dan keadilannya, dan bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersamanya memanggil dia Amirul Mukminin, dan ia menegakkan hukum had, dan melaksanakan rajam, dan mengimami haji bagi manusia, dan dipanggil Amirul Mukminin, kemudian tidak ada celaan atasnya dalam pembagiannya dengan adil, dan semua yang ada pada orang-orang yang telah lalu dalam mengikuti kebenaran.

Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah tentang keutamaan antara Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum, maka ia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan Ali yang keempat dari para khalifah.

Aku berkata kepada ayahku: Sesungguhnya ada orang-orang yang berkata: Sesungguhnya ia bukan khalifah.

Ia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk dan jelek.

Dan ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin. Apakah kami mendustakan mereka padahal ia telah mengimami haji dan memotong dan merajam, apakah ini tidak disebut khalifah?!

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/573-574 (1346-1349)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Suhail bin Abi Shalih menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata: Kami biasa menghitung -ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan para sahabatnya banyak- Abu Bakar dan Umar dan Utsman, kemudian kami diam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Sa’d, dari ‘Amr bin Usaid, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami biasa mengatakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Rasulullah adalah sebaik-baik manusia, kemudian Abu Bakar, kemudian Umar.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/574 (1350-1351)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah Abu al-Qasim menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari az-Zuhri, Salim bin Abdullah bin Umar mengabarkan kepadaku, ia berkata: Kami biasa mengatakan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup: Yang paling utama dari umat Rasulullah setelah beliau adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Salamah al-Khuza’i Manshur bin Salamah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah -yakni: al-Majisyun- mengabarkan kepada kami, dari ‘Ubaidullah bin Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Kami di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyamakan setelah Nabi dan dengan Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/575 (1353-1354)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Jami’ bin Abi Rasyid, dari Ibnu al-Hanafiyyah, ia berkata: Aku berkata kepada ayahku: “Siapa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah?” Ia berkata: “Abu Bakar.” Aku berkata: “Kemudian siapa?” Ia berkata: “Kemudian Umar.” Ia berkata: Aku berkata: “Kemudian engkau?” Ia berkata: “Ayahmu setelah itu adalah seorang laki-laki dari kaum muslimin.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Jami’ bin Abi Rasyid, dari Abu Ya’la -yakni: Mundzir ats-Tsauri- dari Muhammad Ibnu al-Hanafiyyah, ia berkata: Aku berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai ayahku, siapakah sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia berkata: “Abu Bakar.” Aku berkata: “Kemudian siapa?” Ia berkata: “Umar.” Ia berkata: Lalu aku takut jika aku berkata siapa, ia akan mengatakan: Utsman. Ia berkata: Aku berkata: “Kemudian engkau wahai ayahku?” Ia berkata: “Kemudian seorang laki-laki dari kaum muslimin.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/578 (1362-1363)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, dari Zaidah, dari Abdul Malik bin Umair, dari Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah radiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ikutilah dua orang yang akan datang sesudahku: Abu Bakar dan Umar.” “As-Sunnah” karya Abdullah 2/579 (136)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abdu Khair, dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu. Dan dari Asy-Sya’bi dari Abu Juhafah, dari Ali. Dan dari Aun bin Abi Juhafah, dari ayahnya, dari Ali bahwa ia berkata: Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik mereka setelah Abu Bakar adalah Umar, dan jika aku mau, aku akan menyebut yang ketiga. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/581 (1370 – a, b, c)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam, ia berkata: Aku mendengar Abu Juhafah berkata: Aku mendengar Ali radiyallahu anhu berkata: Maukah kalian aku kabarkan tentang sebaik-baik umat ini setelah Nabinya shallallahu alaihi wasallam? Mereka berkata: Ya. Maka ia berkata: Abu Bakar. Kemudian ia berkata: Maukah kalian aku kabarkan tentang sebaik-baik umat ini setelah Abu Bakar? Mereka berkata: Ya. Ia berkata: Umar. Kemudian ia berkata: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sebaik-baik umat ini setelah Umar? Mereka berkata: Ya, lalu ia diam. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/583-584 (1378)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abdu Khair, dari Ali radiyallahu anhu: Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/584 (1380)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan dan Syu’bah, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abdu Khair, dari Ali radiyallahu anhu bahwa ia berkata: Maukah aku kabarkan kepada kalian sebaik-baik umat ini setelah Nabinya? Abu Bakar kemudian Umar. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/586 (1387)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Khalid bin Alqamah, dari Abdu Khair, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya, dan sebaik-baik manusia setelah Nabinya shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar kemudian Umar, kemudian kami mengalami berbagai peristiwa yang akan Allah Ta’ala putuskan sesuai kehendak-Nya. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/587 (1390)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Waqa’ bin Iyas Al-Asadi menceritakan kepada kami, dari Ali bin Rabi’ah Al-Walibi, dari Ali radiyallahu anhu, ia berkata: Sesungguhnya aku mengetahui orang-orang terbaik umat ini setelah Nabinya: Abu Bakar dan Umar, dan jika aku mau menyebut yang ketiga, pasti akan aku lakukan. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/589 (1395)

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sunnah dalam hal keutamaan yang kami anut adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiyallahu anhu, ia berkata: Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman. Adapun tentang khilafah, kami mengikuti hadits Safinah maka kami katakan: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dalam hal khalifah. Kami mengamalkan kedua hadits tersebut dan tidak mencela orang yang menempatkan Ali pada urutan keempat karena kekerabatannya, perbesanannya, keislamannya yang dahulu, dan keadilannya. “As-Sunnah” karya Abdullah 2/590 (1400)

Abdullah berkata: Ayahku berkata: Penduduk Kufah mengutamakan Ali atas Utsman kecuali dua orang: Thalhah bin Musharrif dan Abdullah bin Idris. Aku bertanya kepadanya: Bagaimana dengan Zubaid? Ia berkata: Tidak, ia mencintai Ali. Artinya: ia mengutamakan Ali atas Utsman. “Al-‘Ilal” (3532)

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyraj menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Sa’id bin Jumhan: Di mana kamu bertemu Safinah? Ia berkata: Di Bathn Nakhlah pada masa Al-Hajjaj. “Al-‘Ilal” (1064)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Sabda Nabi: “Orang yang paling fasih bacaannya yang menjadi imam shalat,” tetapi ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sakit, beliau bersabda: “Majukanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat manusia,” padahal di antara kaum itu ada yang lebih fasih bacaannya daripada Abu Bakar? Maka Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya yang dimaksud adalah khilafah. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/243 (365)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Atsram menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Majukanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat manusia” apakah bertentangan dengan hadits Abu Mas’ud dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Orang yang paling fasih bacaannya yang menjadi imam kaum”? Maka ia berkata: Sesungguhnya sabda beliau kepada Abu Bakar menurutku: “Mengimami shalat manusia” adalah untuk khilafah, maksudnya adalah khilafah dengan itu, dan Abu Bakar memiliki keutamaan yang membedakannya dengan yang lain, dan masalahnya adalah pada bacaan, adapun Abu Bakar maka yang dimaksud dengannya adalah khilafah. Kemudian Abu Abdillah berkata: Tidakkah kamu lihat bahwa Salim mantan budak Abu Hudzaifah bersama para shahabat pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia mengimami mereka karena ia telah menghafalkan Al-Quran, dan hadits Amr bin Salamah: ia mengimami mereka karena Al-Quran.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Harun bin Abdillah berkata kepada Abu Abdillah: Datang kepadaku surat dari Ar-Raqqah bahwa ada kaum yang berkata: Jangan katakan bahwa Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang diangkat beliau? Maka ia marah dan berkata: Mengapa mereka mempermasalahkan hal ini, mereka harus dijauhi sampai mereka bertobat. Abu Musa berkata kepadanya: Bukankah Abu Barzah berkata kepada Abu Bakar: Wahai khalifah Rasulullah? Ia berkata: Ya, ini dan yang lainnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, Abu Abdillah berkata: Mereka harus dijauhi, tidak boleh duduk bersama mereka, dan perkara mereka harus dijelaskan kepada manusia.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Mereka mempersoalkan khilafahnya! Atau ia berkata: Sebaik-baik makhluk setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/243-245 (367-370)

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Abi Abdah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad berkata: Ibnu Uyainah berkata tentang hadits Nabi: “Dan keduanya sangat baik”: dan sangat layak. Ia berkata: Ia meriwayatkannya dari Malik bin Mighwal.

Al-Khallal berkata: Dan Zakariya bin Al-Faraj mengabarkan kepadaku, dari Ahmad bin Al-Qasim bahwa Abu Abdillah ditanya oleh Daud bin Amr: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar adalah dari mereka dan keduanya sangat baik” apa makna “dan keduanya sangat baik”? Ia berkata: Ya, aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: “Dan keduanya sangat baik”: dan sangat layak. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/247 (374-375)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Apakah ada orang yang mampu mencela khilafah Utsman, padahal telah diriwayatkan tentang kebaikan-kebaikannya yang terdahulu?! Dan Abdullah berkata: Dan menjadi pemimpin kami. Yang tertinggi itu di atas.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hamdan bin Ali berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Tidak ada baiat di antara kaum itu yang lebih kuat daripada baiat Utsman, baiatnya adalah dengan kesepakatan mereka.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka: Ia mendengar Abu Abdillah menyebut Nuh bin Habib, maka ia berkata: Jika yang dikatakan tentang Nuh bin Habib bahwa ia mendahulukan Ali atas Utsman, maka ini juga adalah cobaan -atau seperti ini- kemudian ia berkata: Bagaimana ia mendahulukan Ali atas Utsman?! Padahal tidak ada baiat yang lebih kokoh dari baiatnya, dan tidak ada yang lebih sahih darinya? Dan seorang khalifah yang dibunuh secara zalim, ia tidak menyerang mereka dengan sebatang tongkat pun. Maka ia terus mengatakan perkataan ini, dan ia sangat marah.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik Al-Maimuni mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Mereka telah menginginkan itu darinya -maksudnya dalam hadits Utsman “Jika mereka memaksamu untuk melepas jabatanmu, maka jangan kamu lepaskan.” “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/256-257 (404-407)

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan berkata: Ketika penduduk Madinah menyerang Utsman lalu membunuhnya, Sa’d berkata kepada mereka: Apakah Mu’awiyah lebih baik menurut kalian daripada Utsman? Mereka berkata: Tidak, bahkan Utsman. Ia berkata: Maka jangan kalian membunuhnya. Mereka berkata: Kami serahkan kepada Allah. Ia berkata: Demi Allah, itu dusta.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku menulis surat kepada Abu Abdillah bertanya tentang perkataan Ibnu Sirin: Mereka tidak pernah berselisih tentang hilal hingga Utsman terbunuh, apa maknanya? Maka datanglah jawabannya: Aku tidak tahu, biarkanlah.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Isma’il, ia berkata: Qais mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Zaid berkata kepada kaum di sekelilingnya: Seandainya seseorang rusak karena apa yang kalian lakukan terhadap Ibnu Affan, maka ia berhak untuk rusak. “As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/258 (410-412)

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abdullah bin Qais bahwa An-Nu’man bin Basyir menceritakan dari Aisyah, ia berkata: Wahai putraku, maukah aku ceritakan kepadamu sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah? Ia berkata: Aku berkata: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya pada suatu hari aku dan Hafshah berada di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Seandainya ada seorang laki-laki yang berbincang dengan kita.” Maka aku berkata: Ya Rasulullah, maukah aku mengutus seseorang untukmu memanggil Abu Bakar? Maka beliau diam, kemudian bersabda: “Tidak.” Kemudian beliau bersabda: “Seandainya ada seorang laki-laki yang berbincang dengan kita.” Maka Hafshah berkata: Maukah aku mengutus seseorang untukmu memanggil Umar? Maka beliau diam, kemudian bersabda: “Tidak.” Kemudian beliau memanggil seorang laki-laki, lalu berbisik kepadanya dengan sesuatu, maka tidak lama kemudian datanglah Utsman, maka beliau menghadapkan wajah dan pembicaraannya kepadanya, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah barangkali akan mengenakan baju kepadamu, maka jika mereka memaksamu untuk melepaskannya, maka jangan kamu lepaskan” tiga kali. Ia berkata: Aku berkata: Wahai Ummul Mukminin, ke mana kamu dengan hadits ini? Ia berkata: Wahai putraku, demi Allah, sesungguhnya aku telah melupakannya sehingga aku tidak menyangka aku pernah mendengarnya.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Qais bin Abi Hazim, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan beliau wafat: “Aku berharap di sisiku ada sebagian shahabatku.” Kami berkata: Ya Rasulullah, maukah kami panggil untukmu Abu Bakar? Maka beliau diam. Kami berkata: Ya Rasulullah, maukah kami panggil untukmu Umar? Maka beliau diam. Aku berkata: Ya Rasulullah, maukah kami panggil untukmu Ali? Maka beliau diam. Kami berkata: Maukah kami panggil untukmu Utsman? Beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata: Maka kami mengutus seseorang kepada Utsman lalu ia datang, maka beliau menyendiri dengannya, lalu beliau mulai berbicara kepadanya dan wajah Utsman berubah. Qais berkata: Maka Abu Sahl menceritakan kepadaku bahwa Utsman berkata pada hari rumah ketika ia terkepung: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membuat perjanjian kepadaku, maka aku bersabar atasnya. Isma’il berkata: Qais berkata: Maka mereka memandang itu pada hari itu.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Mis’ar, dari Imran bin Umair, dari Kaltsum Al-Khuza’i, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Aku tidak ingin melempar Utsman dengan anak panah dan bagiku seperti gunung Uhud emas. Mis’ar berkata: Aku melihatnya berkata: aku ingin membunuhnya.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Mundzir, dari Ibnu Al-Hanafiyyah, ia berkata: Ali berada di Ahjar Az-Zait, ia berkata: Maka dikatakan kepadanya: Orang ini akan dibunuh. Ia berkata: Maka ia pergi dan kami menahan. Ia berkata: Maka kami berkata: Sesungguhnya kaum itu ingin menyanderamu. Maka ia mengambil sorbannya yang hitam lalu melemparkannya kepada mereka, kemudian berkata: Ya Allah, aku tidak membunuh dan tidak condong.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Aku mendengar Ya’la bin Hakim menceritakan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar berkata: Ibnu Abbas senantiasa melarang pembunuhan Utsman dan mengagungkan perkaranya, hingga aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak mengatakan seperti apa yang ia katakan.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Mughirah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Utsman bin Affan: “Sesungguhnya Allah akan mengenakan kepadamu suatu hari nanti sebuah baju, maka jika orang-orang munafik menginginkanmu untuk melepaskannya, maka janganlah kamu melepaskannya.”

Berkata Abu Abdullah: Mereka memang menginginkan hal itu darinya, yakni: hadits ini.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim, bahwa ia mendengar ayahnya menceritakan bahwa ia mendengar Utsman bin Affan berkata: Inilah kedua kakiku; jika kalian menemukan dalam Kitab Allah agar kalian memasukkan keduanya ke dalam belenggu, maka lakukanlah.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, ia berkata: Ketika Utsman terbunuh, berkhotbahlah para pembicara di Ilya’, lalu berdirilah dari mereka yang terakhir seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dipanggil Murrah bin Ka’b, maka ia berkata: Seandainya bukan karena hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku tidak akan berdiri. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan fitnah – aku kira ia berkata: lalu ia mendekatkannya, keraguan ini dari Ismail – lalu lewatlah seorang laki-laki yang berselubung, maka beliau bersabda: “Inilah (orang) dan para sahabatnya pada hari itu berada di atas kebenaran.” Maka aku pergi dan memegang pundaknya, lalu aku palingkan wajahnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku bertanya: Inikah? Beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata: Dan ternyata dia adalah Utsman bin Affan.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Suwaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Az-Zubair dalam hadits tentang Abu Labid, ia berkata: Pembicara mereka berdiri pada hari Unta mencela Utsman, ia berkata: Fulan bin fulan dicambuk lima kali cambukan. Dan ia tidak mampu mengatakan: sepuluh kali cambukan.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah bahwa seorang laki-laki dari sahabat Anas yang dipanggil Tsamimah.. maka ia menyebutkan hadits tersebut.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Manshur, dari Ibnu Sirin, ia berkata: Nailah binti Al-Farafshah berkata: Sesungguhnya jika kalian membunuhnya atau membiarkannya, maka sesungguhnya ia menghidupkan malam dengan satu rakaat, dan ia mengumpulkan di dalamnya Al-Quran. Yakni: Utsman.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mis’ar. Dan telah mengabarkan kepada kami Al-Ahmasi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Mis’ar, dari Abdul Malik bin Maisarah, dari An-Nazzal bin Sabrah, ia berkata: Aku mendengar Utsman berkata: Aku bertaubat kepada Allah jika aku menzalimi atau dizalimi.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Abdullah bin Amir, ia berkata pada hari rumah – yakni: Utsman: Sesungguhnya yang paling besar pertolongannya bagiku adalah seorang laki-laki yang menahan tangannya dan senjatanya.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, dari Hisyam, dari Ibnu Sirin, ia berkata: Zaid datang kepada Utsman lalu berkata: Telah datang kepadaku kaum Anshar, dan mereka berkata: Kami adalah penolong Allah – dua kali – maka ia berkata: Adapun untuk berperang, tidak.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Muhammad, ia berkata: Bersama Utsman di dalam rumah pada hari itu ada tujuh ratus orang, seandainya ia menyeru mereka, niscaya mereka akan memukul mereka – insya Allah – hingga mengeluarkan mereka dari penjurunya, dan di antara mereka ada Ibnu Umar, Al-Hasan bin Ali, dan Ibnu Az-Zubair.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Ayyub, dari Abu Qilabah; bahwa Tsamimah bin Hazn – seorang laki-laki dari Quraisy yang berada di Sana’ – maka ketika datang kepadanya berita terbunuhnya Utsman, ia menangis dan menangis lama, maka ketika ia sadar ia berkata: Hari ini kenabian telah dicabut.

Ayyub berkata ketika ia mengatakan: Kekhilafahan kenabian dari umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan menjadi kerajaan dan kekuasaan dengan kekerasan, maka barangsiapa menguasai sesuatu, ia memakannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/260-264 (418-434)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari ‘Imran Al-Khayyath, dari Abu Sulaiman Zaid bin Wahb, ia berkata: Sesungguhnya kami bersama Hudzaifah di masjid ini, ia berkata: Dan itu ketika Ali menyeru manusia dan ia berada di Dzi Qar, maka ia menyebutkan hadits yang panjang di dalamnya, ia berkata: Kemudian Hudzaifah berbicara dengan perkataan yang lemah lalu berkata: Apakah kalian melihat hari rumah sebagai suatu pemenjaraan? Itu adalah fitnah atas kaum muslimin secara umum, maka orang Arab badui berkata – dan tidak ada di antara kami yang hidup pada hari itu selain dia -: Rumah apa? Rumah apa? Maka Hudzaifah berkata: Rumah Utsman bin Affan, maka ia berkata: Subhanallah, Subhanallah, khalifah Allah, dan mereka membunuhnya dalam keadaan teraniaya, ia berkata: Maka sesungguhnya itu adalah awal fitnah, dan akhirnya adalah fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, dari Humaid, dari Sa’id bin ‘Ubaid; bahwa Abu Abdurrahman menganggap zalim para pembunuh Utsman.

Berkata Al-Khallal: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Fithir, dari Zaid bin Ali, ia berkata: Zaid pada hari rumah menangisi Utsman.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Laits mengklaim, dari Thawus, ia berkata: Abdullah bin Salam berkata: Sesungguhnya Utsman akan memutuskan pada hari kiamat antara pembunuh dan orang yang mengkhianati.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, ia berkata: Abu Musa berkata: Sesungguhnya pembunuhan Utsman jika itu adalah petunjuk, niscaya umat akan memerah darinya susu, tetapi itu adalah kesesatan, maka umat memerah darinya darah.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, ia berkata: Ibnu Salam berkata: Janganlah kalian membunuh Utsman, maka demi Allah jika kalian membunuhnya, kalian tidak akan shalat bersama-sama selamanya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/260-266 (418-439)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abdullah bin Abi Mulaikah, dari Abdullah bin Az-Zubair, ia berkata: Aku berkata kepada Utsman: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya bersamamu di dalam rumah ada sekelompok orang yang Allah menolong dengan jumlah yang lebih sedikit dari mereka, maka izinkanlah maka kami akan berperang. Maka ia berkata: Aku ingatkan Allah kepada seseorang – atau ia berkata: Aku meminta kepada Allah kepada seseorang – darahnya tumpah. Ayyub berkata: Atau ia berkata: darah-darah tumpah.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: Aku mendengar Ya’la bin Hakim menceritakan, dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar berkata: Ibnu Abbas senantiasa melarang pembunuhan Utsman dan mengagungkan perkaranya, hingga aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak mengatakan seperti apa yang ia katakan.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/267 (443-444)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Shalih; bahwa ia bertanya kepada ayahnya tentang orang yang tidak mengutamakan Abu Bakar dan Umar atas yang lain? Ia berkata: Sunnah menurut kami dalam keutamaan adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar: Kami menghitung ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan kami diam.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/290 (507)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Al-Husain bin Hassan, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mencintai sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan tidak mengutamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan ia mencintai mereka? Ia berkata: Sunnah adalah mengutamakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dari para khalifah.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik bin Abdul Hamid bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Orang yang berkata: Abu Bakar dan Umar dan diam, dan tidak mengatakan Utsman, apakah ia sempurna dalam Sunnah?

Maka ia mulai heran, dan berkata: Apakah ia sempurna dalam Sunnah?! – yakni: ia tidak sempurna dalam Sunnah.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Zakariya bin Yahya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Thalib, ia berkata: Abu Abdullah berkata: Sampai kepadaku bahwa Yahya berhenti pada penyebutan Umar, dan ia mengambilnya dari Sufyan, lalu sampai kepada Abdurrahman maka ia mengingkarinya kepada Yahya dan berkata: Dengan siapa kamu mengikuti dalam hal ini, sedangkan ahli Bashrah bukan ini pendapat mereka?

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/290-291 (509-511)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Musa, ia berkata: Abu Ja’far Hamdan bin Ali berkata; bahwa ia mendengar Abu Abdullah berkata: Dan Yahya bin Sa’id berkata: Umar, berhenti, dan aku berhenti, Abu Abdullah berkata: Dan aku tidak mendengar ini dari Yahya, Abu ‘Ubaid menceritakannya kepadaku darinya, dan aku tidak bertanya kepada siapa pun tentang ini, atau apa yang aku lakukan dengan ini?

Abu Ja’far berkata: Maka aku bertanya: Wahai Abu Abdullah, orang yang berkata: Abu Bakar dan Umar, apakah ia menurutmu termasuk ahli Sunnah? Ia berkata: Jangan hentikan aku seperti ini, bagaimana kami berbuat dengan ahli Kufah? Abu Ja’far berkata: Dan telah menceritakan kepadaku darinya Abu As-Sirri ‘Abdus bin Abdul Wahid.

Ia berkata: Mengeluarkan manusia dari Sunnah itu berat.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Al-Hasan Ad-Dauri di Mashshishah secara dikte dari kitabnya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf Al-Himshi, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal dan ia ditanya tentang keutamaan; maka ia berkata: Barangsiapa mendahulukan Ali atas Abu Bakar maka ia telah mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan barangsiapa mendahulukannya atas Umar maka ia telah mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar, dan barangsiapa mendahulukannya atas Utsman, maka ia telah mencela Abu Bakar, Umar, ahli syura, kaum Muhajirin dan Anshar.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/291-292 (513-514)

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Ali bin ‘Isa bahwa Hanbal menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Ali lebih utama dari Abu Bakar maka ia adalah orang yang buruk, kami tidak bergaul dengannya, dan tidak duduk bersamanya.

Berkata Al-Khallal: Telah mengabarkan kepadaku Manshur bin Al-Walid bahwa Ja’far bin Muhammad An-Nasa’i menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar rahimahumallah. Ia berkata: Seburuk-buruk perkataan ini.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/294 (524-525)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun memberitahuku bahwa Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang mendahulukan Ali atas Utsman? Maka ia berkata: Ini adalah orang yang buruk, kita memulai dengan apa yang dikatakan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan siapa yang diutamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Hasan al-Warraq menulis kepadaku dari Mausil, ia berkata: Bakar bin Muhammad menyampaikan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdillah, dan ia bertanya kepadanya tentang orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman? Maka ia berkata: Aku tidak suka perkataan ini.

Aku berkata: Apakah dikatakan bahwa ia adalah ahli bid’ah? Ia berkata: Aku tidak suka membid’ahkannya, bid’ah yang keras.

Aku berkata: Bagaimana dengan orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, dan Ali, lalu diam, tidak mengutamakan siapa pun?

Ia berkata: Aku juga tidak suka perkataan ini.

Aku berkata: Apakah dikatakan: ahli bid’ah? Ia berkata: Aku tidak suka perkataan ini. Abu Abdillah berkata: Dan diriwayatkan dari sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka mengutamakan Utsman. Ibnu Mas’ud berkata: Sebaik-baik orang yang tersisa.

Dan Aisyah berkata: Utsman menjadi lebih baik daripada Ali.

Ia berkata: Dan Qabisah bin Uqbah menyampaikan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata: Barang siapa mendahulukan seseorang atas Abu Bakar dan Umar, maka sungguh ia telah meremehkan kaum Muhajirin dan Anshar, dan aku tidak menyangka amalannya akan bermanfaat baginya setelah itu.

Ia berkata: Dan Abdul Aziz bin Aban al-Qurasyi menyampaikan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata: Barang siapa mendahulukan seseorang atas Abu Bakar dan Umar, maka sungguh ia telah meremehkan dua belas ribu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridha terhadap mereka.

Al-Khallal berkata: Dan Zuhair bin Shalih bin Ahmad bin Hanbal memberitahuku, ia berkata: Ayahku menyampaikan kepadaku, ia berkata: Ayahku ditanya sementara aku mendengar tentang orang yang mendahulukan Ali atas Utsman: Apakah ia ahli bid’ah?

Ia berkata: Orang ini pantas dibid’ahkan, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendahulukan Utsman.

Al-Khallal berkata: Dan Ali bin Isa memberitahuku bahwa Hanbal menyampaikan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang orang yang mendahulukan Ali atas Utsman, apakah menurutmu ia ahli bid’ah? Ia berkata: Orang ini pantas dibid’ahkan, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendahulukan Utsman dalam keutamaan.

Dan Hanbal berkata di tempat lain: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan orang yang berkata: Ali dan Utsman? Ia berkata: Mereka ini lebih baik keadaannya daripada yang lain, kemudian ia menyebutkan sejumlah ulama ahli Kufah, dan berkata: Mereka ini lebih baik keadaannya daripada Rafidhah (Syiah).

Kemudian Abu Abdillah berkata: Sesungguhnya mereka itu -yaitu: orang-orang yang mendahulukan Ali atas Utsman- telah menyelisihi orang-orang yang mendahului mereka dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa berkata: Ali kemudian Utsman, maka aku berpendapat bahwa Utsman kemudian Ali rahimahumallah (semoga Allah merahmati keduanya).

Al-Khallal berkata: Dan Ali bin Abdul Shamad memberitahuku, ia berkata: Aku mendengar Harun ad-Dik berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Barang siapa berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka ia adalah pengikut Sunnah, dan barang siapa berkata: Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman, maka ia adalah Rafidhi (Syiah) – atau ia berkata: ahli bid’ah.

Al-Khallal berkata: Zakaria bin Yahya memberitahuku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, seorang laki-laki berkata kepadanya: Bagaimana dengan orang yang mendahulukan Ali atas Utsman? Ia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk.

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa memberitahuku bahwa Abu Abdillah ditanya: Seorang laki-laki menulis hadits, lalu datang hadits: Ali dan Utsman, apakah ia menulis: Utsman dan Ali? Ia berkata: Tidak mengapa.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun memberitahu kami bahwa Ishaq menyampaikan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Kami mengutamakan Abu Bakar dan Umar, dan Ali bersama mereka, dan kami meninggalkan Utsman? Maka ia marah, kemudian berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Kami mengangkat orang terbaik di antara kami dan kami tidak lalai dari yang tertinggi, itu di atas. Dan pembaiatan kepada Utsman lebih dahulu. Ini adalah orang yang buruk. Kemudian ia mengeluarkan kepadaku sebuah kitab yang berisi hadits-hadits ini, lalu aku membacakannya kepadanya.

Al-Khallal berkata: Dan al-Maimuni memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Hanbal menyampaikan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menyampaikan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menyampaikan kepada kami, dari Abdullah bin Sinan, ia berkata: Abdullah berkata ketika Utsman diangkat menjadi khalifah: Kami tidak lalai dari yang tertinggi, itu di atas.

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik memberitahuku, ia berkata: Ibnu Hanbal menyampaikan kepada kami, ia berkata: Bisyr menyampaikan kepada kami, ia berkata: Ayahku menyampaikan kepadaku, dari az-Zuhri, ia berkata: Salim memberitahuku bahwa Abdullah bin Umar berkata: Seorang laki-laki dari kaum Anshar datang kepadaku.. lalu ia menyebutkan hadits ini sampai akhir. Dan aku bertanya kepada Ibrahim al-Harbi tentang perkataan Ibnu Umar kepada laki-laki Anshar: Perkataannya tidak selesai dengan mudah. Ia berkata: Maksudnya: dengan mudah.

Al-Khallal berkata: al-Maimuni berkata: Abu Abdillah berkata dan aku membacakan kepadanya: Yahya bin Adam berkata: Syarik menyampaikan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Haritsah, ia berkata: Pembaiatan untuk Utsman datang ke Kufah, lalu Ibnu Mas’ud berdiri dan memuji Allah serta menyanjung-Nya, kemudian berkata: Kami tidak lalai dari yang tertinggi, itu di atas, dan kami membaiatnya.

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik al-Maimuni memberitahuku, ia berkata: Ibnu Hanbal menyampaikan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menyampaikan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menyampaikan kepada kami, dari Abdullah bin Sinan, ia berkata: Abdullah berkata ketika Utsman diangkat menjadi khalifah: Kami tidak lalai dari yang tertinggi, itu di atas. Aku bertanya kepada Ibrahim al-Harbi tentang perkataannya: Kami mengangkat orang terbaik yang tersisa, yang tertinggi, itu di atas? Maka ia berkata: Aku pernah berkata kepada Muhallab bin Abi Shufrah: Apa makna: setinggi-tingginya itu di atas? Ia berkata: Kami tidak tahu ada seorang pun yang menutup pintunya terhadap dua putri Nabi kecuali Utsman rahimahullah.

Kemudian aku kembali kepada pertanyaan Ishaq.

Abu Abdillah berkata: Maka setiap orang yang mendahulukan Ali atas Utsman, sungguh ia telah meremehkan kaum Muhajirin dan Anshar.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahu kami, ia berkata: Ishaq menyampaikan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya tentang orang yang tidak mengutamakan Utsman atas Ali?

Ia berkata: Seharusnya kita mengutamakan Utsman atas Ali, tidak ada perbedaan pendapat di antara sahabat Rasulullah bahwa Utsman lebih utama daripada Ali rahimahumallah, kemudian ia berkata: Kami berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, kemudian kami diam, ini dalam hal keutamaan. Dan dalam hal kekhilafahan: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, ini dalam urusan para khalifah menurut cara ini, dan demikianlah yang dianut para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi memberitahu kami, ia berkata: Aku menyebutkan kepada Abu Abdillah tentang sebagian orang Kufah bahwa ia berkata dalam keutamaan: Abu Bakar, Umar, dan Ali, maka ia heran dengan perkataan ini.

Aku berkata: Sesungguhnya ahli Kufah cenderung kepada ini, maka ia berkata: Tidak ada seorang pun yang mengatakan ini kecuali orang yang terganggu. Dan ia berargumen dengan orang yang mengutamakan Utsman atas Ali, lalu ia menyebutkan Ibnu Mas’ud, dan berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Kami mengangkat orang terbaik yang tersisa, dan kami tidak lalai, dan ia menyebutkan perkataan Ibnu Umar, dan perkataan Aisyah rahimahallah dalam peristiwa Utsman: bahwa ia mengutamakannya atas Ali.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa memberitahu kami, ia berkata: Abu Ja’far Hamdan bin Ali berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Dan Yazid bin Harun berkata: Tidak mengapa bagimu siapa yang kamu dahulukan, Ali atas Utsman, atau Utsman atas Ali.

Abu Abdillah berkata: Dan ini sekarang aku tidak tahu bagaimana, dan kebanyakan ahli Wasith cenderung kepada Syiah.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik memberitahuku bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah, ia berkata: Aku berkata: Bukankah engkau berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman?

Ia berkata: Adapun dalam hal urutan pilihan, maka Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Aku berkata: Sesungguhnya diceritakan kepadaku darimu bahwa engkau berkata: Jika ia berkata: Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman, dan Abu Bakar, Umar, bahwa ini menurutmu dekat satu sama lain. Maka wajahnya berubah, kemudian ia berkata kepadaku: Tidak, demi Allah, aku tidak pernah mengatakan ini, dan tidak pernah terjadi antaraku dan siapa pun perkataan seperti ini, dan aku sejak dulu selalu berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, lalu aku diam. Dan ia sedih dengan apa yang kuceritakan kepadanya dari perkataan itu.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Auf bin Sufyan al-Himshi memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata dalam hadits Abu al-Mughirah tentang peristiwa Aisyah mengenai Utsman; Ahmad bin Hanbal berkata: Kemudian Aisyah menyebutkan hadits yang dengannya ia mengutamakan Utsman atas Ali.

Aku mendengar Abu Bakar al-Marrudzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kufah tidak mengeluarkan kecuali dua orang: Thalhah bin Musharrif, dan Abdullah bin Idris.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jika engkau mendapati orang Kufah yang mengikuti Sunnah, maka ia mengungguli manusia.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Jika engkau mendapati orang Kufah yang berakal dan beragama, engkau akan melihatnya sebagai satu-satunya manusia, ia telah mengungguli manusia, dan ia berkata: Mereka adalah ahli Quran.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi, Muhammad bin Ahmad bin Washil, Muhammad bin Hasan bin Harun bin Ali bin Shalih al-Halabi dari keluarga Maimun bin Mihran, dan Ya’qub bin Yusuf al-Muthawwi’i memberitahu kami, bahwa mereka mendengar Abu Abdillah berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman; perkataan Ibnu Umar: Kami biasa menghitung -sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup- lalu kami berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam.

Al-Khallal berkata: Hasan bin Shalih al-Atthar memberitahuku, ia berkata: Harun bin Ya’qub al-Hasyimi menyampaikan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku Ya’qub bin Abbas berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadits keutamaan: hadits Ibnu Umar, dan Abu Ja’far berkata kepadanya: Perkataan Ibnu Umar: lalu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tidak mengatakan apa-apa, maka Ahmad berkata: Itu diriwayatkan oleh Yazid bin Abi Habib, dan yang kami anut adalah hadits Ibnu Umar: Kami biasa saling membandingkan keutamaan lalu berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dan kepadanya aku berpendapat.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya dan Muhammad bin Mundzir memberitahuku, keduanya berkata: Ahmad bin Hasan at-Tirmidzi menyampaikan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Kami berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, lalu kami diam, berdasarkan hadits Ibnu Umar.

Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Abi Khaitsyamah berkata: Dikatakan kepada Yahya bin Ma’in -dan aku menyaksikan: Sesungguhnya Ahmad bin Hanbal berkata: Barang siapa berkata: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, aku tidak mencela dia, maka Yahya berkata: Aku menyendiri dengan Ahmad di pintu Affan lalu aku bertanya kepadanya: Apa yang engkau katakan? Maka ia berkata: Aku berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, aku tidak mengatakan: Ali.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahuku, ia berkata: Abu Shaqr al-Warraq menyampaikan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menyampaikan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah al-Khuza’i dan Syadzban menyampaikan kepada kami, dari Abdul Aziz bin Abi Salamah, dari Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dalam hal keutamaan. Maksudnya: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

Al-Khallal berkata: Ubaidullah bin Hanbal memberitahuku, ia berkata: Ayahku menyampaikan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, dan ia ditanya tentang keutamaan, ia berkata: Aku berpendapat kepada hadits Ibnu Umar, ia berkata: Kami biasa membandingkan keutamaan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kami berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Abu Abdillah berkata: Dan kami tidak melampaui atsar (riwayat) dan ittiba’ (mengikuti), maka mengikuti adalah kepada Rasulullah dan setelah beliau kepada para sahabatnya. Jika para sahabatnya ridha dengan itu, maka mereka-lah yang saling membandingkan keutamaan satu sama lain, dan tidak saling mencela satu sama lain, maka kewajiban kami adalah mengikuti apa yang dilalui oleh salaf kami, dan kami meneladani mereka.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) menyebutkan tentang keutamaan, lalu ia berkata kepadaku: Ashim berbicara kepadaku tentang keutamaan sementara Abu Ubaid hadir, maka aku berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dan aku melihat ia berkata: Aku berargumen dengan hadits Ibnu Umar. Lalu Ashim berkata: Kami mengatakan: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan Abu Ubaid menyetujuinya. Ia berkata: Maka aku berkata kepada Abu Ubaid: Aku tidak menolak apa yang engkau katakan wahai Abu Ubaid. Ia berkata: Maka dia bergembira dengan hal itu.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain memberitahukan kepadaku bahwa Al-Fadhl menceritakan kepada mereka, ia mendengar Abu Abdillah, seorang laki-laki berkata kepadanya: Orang-orang tetap kami kenal mereka: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Maka ia berkata: Tidak ada yang menolak ini.

Al-Khallal berkata: Ali bin Sahl bin Al-Mughirah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Orang yang menghadiri majelis Ashim menceritakan kepadaku, lalu Ahmad berkata: Jika ada yang berkata: Siapa setelah Utsman? Aku katakan: Ali.

Al-Khallal berkata: Shalih bin Ali Al-Halabi dari keluarga Maimun bin Mihran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku berkata: Wahai Abu Abdillah, apakah engkau menegur orang yang mengatakan: Imamah dan Khilafah?

Ia berkata: Tidak.

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Shalih memberitahukan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Habib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan orang yang mengatakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Ia berkata: Pergilah kepadanya, dan aku senang untuk mengatakan: Abu Bakar, Umar, dan Utsman lalu aku diam, dan jika seorang laki-laki berkata: dan Ali; aku tidak menegurnya, dan aku tidak senang dengan perkataan ini.

Ibnu Umar berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Dan kami membiarkan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami tidak melebihkan di antara mereka.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa memberitahukan kepadaku, dari Hamdan bin Ali dan Muhammad bin Musa, dari Ishaq bin Ibrahim.

Dan Muhammad bin Musa, dan Muhammad bin Ja’far, dari Abu Al-Harits.

Dan Muhammad bin Al-Husain, dari Al-Fadhl.

Dan Abu Dawud As-Sijistani, dari Muhammad bin Yahya bin Faris, maknanya berdekatan, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, lalu ia berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan jika ada yang berkata: dan Ali; aku tidak menegurnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa memberitahukan kepadaku bahwa Hubaisy bin Sindi menceritakan kepada mereka, ia mendengar Abu Abdillah dan orang yang bertanya kepadanya yang merupakan orang asing berkata: Aku tidak tahu apa yang engkau katakan: dan barangsiapa berkata: Ali; aku tidak menegurnya.

Maka ia berkata kepadanya: Katakanlah engkau: dan Ali.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya tentang orang yang berkata: Abu Bakar dan Umar, lalu aku mendengarnya berkata: Itu tidak menyenangkanku.

Mereka berkata kepadanya: Bagaimana dengan orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali?

Ia berkata: Aku berharap tidak ada masalah dengannya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa dan Al-Hasan bin Jahdar memberitahukan kepadaku bahwa Al-Hasan bin Tsawab menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah: Bagaimana dengan orang yang berkata tentang para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Ia berkata: Ya.

Aku berkata: Sesungguhnya ada kaum yang berkata: Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman? Ia berkata: Mereka ini adalah ahli Badar radiyallahu anhum, mereka mendahulukan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, mereka tidak mendahulukan Ali atas Utsman, kecuali jika dalam hadits Yahya ada pendahuluan dan pengakhiran, adapun haditsnya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Aku berkata: Hadits Ibnu Umar: Kami biasa berkata, sedang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, kemudian kami diam, bukankah barangsiapa berkata dengan ini telah benar? Dan barangsiapa berkata dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, maka ia telah benar?

Ia berkata: Ya, telah benar, barangsiapa berkata salah satu dari dua perkataan ini maka ia telah benar, dan barangsiapa berkata: Abu Bakar, Umar, Ali, dan Utsman; maka ia telah salah.

Aku berkata: Apakah kita menuduhnya dalam agamanya? Maka aku melihat ia menyukai apa yang aku katakan kepadanya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali bin Mahmud Al-Warraq memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim Al-Baghawi menceritakan kepadaku -yaitu: Lu’lu’ bin paman Ahmad bin Mani’- ia berkata: Aku berkata kepada Ahmad: Wahai Abu Abdillah, bukankah orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, adalah penganut sunnah menurutmu?

Ia berkata: Benar, sungguh telah diriwayatkan tentang Ali rahimahullah apa yang membuat -kurasa: kulit- merinding, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa, kecuali tidak ada nabi setelahku.”

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah mendiktekan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Harun bin Sufyan berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman?

Ia berkata: Maka ia berkata: Ini adalah perkataan Ibnu Umar, dan kepada itu kami berpendapat. Aku berkata: Bagaimana dengan orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Ia berkata: Penganut sunnah. Aku berkata: Bagaimana dengan orang yang berkata Abu Bakar dan Umar? Ia berkata: Sufyan, Syu’bah, dan Malik telah mengatakannya. Aku berkata: Bagaimana dengan orang yang berkata: Abu Bakar, Umar, dan Ali? Maka ia berkata: Ini sekarang berat, ini sekarang berat.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ahmad bin Jami’ Ar-Razi memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Hatim Ar-Razi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal di Hims tentang keutamaan -dan sekelompok orang Hims berkata: Sesungguhnya Abu Al-Hasan adalah penganut sunnah, yaitu: dirinya sendiri.

Maka Ahmad berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.

Kemudian Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Lalu aku menyebutkan itu kepada Yahya bin Ma’in, maka ia berkata: Abu Abdillah benar, dan itu adalah mazhabku.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Isma’il Al-Athrush memberitahukan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Al-Fadhl Abu Bakar Al-Qasthani Ar-Razi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Hatim Ar-Razi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Ahmad bin Hanbal datang kepada kami lalu aku mendatanginya dan bertanya kepadanya tentang keutamaan, maka para sahabatnya berteriak kepadaku, lalu ia berkata: Biarkan dia; sesungguhnya ia dari ahli sunnah, apa yang engkau inginkan? Ia berkata: Aku berkata: Apa pendapatmu tentang keutamaan?

Ia berkata: Berdasarkan hadits Safinah tentang keutamaan dan khilafah.

Al-Khallal berkata: Ahmad memberitahukan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Salamah bin Syabib berkata: Terakhir kali aku berpisah dengan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dalam masalah keutamaan, ia berkata: Aku berpendapat kepada hadits Safinah tentang keutamaan dan khilafah.

Ia memberitahukan kepadaku Muhammad bin Idris Al-Mishishi berkata: Aku mendengar Hamid bin Yahya Al-Balkhi berkata: Ahmad bin Hanbal berpendapat dalam keutamaan: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/314-317 (593-607)

Ibnu As-Sumaid’ berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa mendahulukan Ali atas Abu Bakar maka ia telah meremehkan kaum Muhajirin yang pertama.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/461.

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal memberitahukan kepada kami, dan Abu Bakar Al-Marrudzi, dan Abdul Malik Al-Maimuni, dan Harb bin Isma’il Al-Kirmani, dan Abu Dawud As-Sijistani, dan Ahmad bin Al-Husain, dan Yusuf bin Musa, dan Muhammad bin Yahya, dan Muhammad bin Ahmad bin Washil, dan Shalih bin Ali Al-Halabi, dan Ya’qub bin Yusuf Al-Mutawwi’i, dan Muhammad bin Al-Hasan bin Harun, maknanya berdekatan, semuanya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam keutamaan, dan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dalam khilafah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/319 (610)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Mundzir bin Abdul Aziz memberitahukan kepada kami dan Muhammad bin Yahya memberitahukan kepadaku, keduanya berkata: Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah: Apakah engkau berkata Ali adalah khalifah? Ia berkata: Ya, dan ia menyebutkan hadits Safinah.

Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ali rahimahullah adalah imam yang adil.

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Al-Hasan memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Al-Harits menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya.

Dan Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, ia berkata: Al-Atsram menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang orang yang berkata: Aku menyamakan lima orang anggota Syura setelah Utsman, maka ia berkata: Adapun aku maka aku berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam pendahuluan, dan dalam khilafah Ali menurut kami termasuk para khalifah.

Al-Khallal berkata: ‘Ishmah bin ‘Isham memberitahukan kepadaku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah -dan ia menyebutkan Ali dan khilafahnya- maka ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ridha dengan dia dan bersepakat atasnya, dan sebagian mereka hadir sedang Ali menegakkan hukum-hukum hudud namun mereka tidak mengingkarinya, dan mereka menamainya khalifah, dan ia berkhutbah, dan membagikan ghanimah namun mereka tidak mengingkarinya.

Al-Khallal berkata: Hanbal berkata: Aku berkata kepadanya: Apakah khilafah Ali kokoh?

Maka ia berkata: Subhanallah! Ali rahimahullah menegakkan hukum-hukum hudud, memotong (dalam qishash), mengambil shadaqah, dan membagikannya tanpa hak yang wajib baginya! Aku berlindung kepada Allah dari perkataan ini, ya khalifah, para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meridhainya dan shalat di belakangnya, dan berperang bersamanya, dan berjihad, dan berhaji, dan mereka menamainya Amirul Mukminin dengan ridha tanpa mengingkarinya, maka kami pengikut mereka, dan kami berharap pahala dari Allah dengan mengikuti mereka insya Allah, bersama apa yang Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam perintahkan kepada kami.

Al-Khallal berkata: Hanbal berkata: Pamanku Abu Abdillah berkata: Kami mendahulukan siapa yang Allah dan Rasul-Nya dahulukan, Abu Bakar didahulukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu ia shalat dengan orang-orang sedang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup, maka pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadapnya adalah keutamaan dari antara para sahabatnya, kemudian Abu Bakar mendahulukan Umar sebagai keutamaan Umar setelah Abu Bakar, kemudian para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersepakat dalam musyawarah dan mereka adalah Syura, lalu pilihan mereka jatuh pada sebaik-baik orang yang tersisa setelah Umar yaitu Utsman, maka mereka adalah para imam, dan Ali rahimahullah adalah imam yang adil setelah mereka, imamahnya kokoh, dan hukum-hukumnya berlaku, dan perintahnya sah, ia adalah orang yang paling berhak atasnya setelah Utsman, maka mereka adalah para imam, imam-imam petunjuk rahimahumullah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/320-321 (611-613)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Abu Abdillah ditanya: Apakah engkau berargumen dengan hadits Safinah? Ia berkata: Dan apa yang menolaknya?

Dikatakan kepadanya: Khilafah Ali tanpa musyawarah, dan tanpa perintah.

Ia berkata: Jangan berbicara tentang ini, Ali menghajikan orang-orang, dan menegakkan hukum-hukum hudud, dan membagikan fai’, tidakkah ia khalifah sedang para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilnya wahai Amirul Mukminin!!

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Shalih Al-‘Atthar memberitahukan kepadaku, ia berkata: Harun bin Ya’qub Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Abu Abdillah berkata: Tidak ada yang menolak Ali dari khilafah, dan sungguh sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menamainya Amirul Mukminin di antaranya: Ammar bin Yasir dan Ibnu Mas’ud.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali bin Mahmud memberitahukan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar Al-Atsram menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Ali menurutku adalah khalifah, ia menegakkan hukum-hukum hudud, dan dikatakan kepadanya: Amirul Mukminin, dan tidak diingkari.

Dan Abu Abdillah berkata kepadaku: Tulislah ini; karena ini menguatkan orang yang berpendapat bahwa Ali adalah khalifah. Dan ia mendiktekannya kepada kami dari kitabnya.

Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Yusuf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Muhammad Ibnu Al-Hanafiyyah, ia berkata: Aku bersama Ali rahimahullah sedang Utsman dikepung, ia berkata: Lalu seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin terbunuh, kemudian yang lain datang lalu berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin terbunuh sekarang. Ia berkata: Maka Ali rahimahullah berdiri, Muhammad berkata: Lalu aku memegang pinggangnya karena khawatir terhadapnya, maka ia berkata: Lepaskan, tidak ada ibu bagimu. Ia berkata: Maka Ali mendatangi rumah, dan sungguh orang itu rahimahullah telah terbunuh, lalu ia mendatangi rumahnya dan memasukinya, dan menutup pintunya, maka orang-orang mendatanginya dan mengetuk pintunya, lalu mereka masuk kepadanya dan berkata: Sesungguhnya ini telah terbunuh, dan orang-orang memerlukan khalifah, dan kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak dengannya selain engkau. Ali berkata kepada mereka: Jangan menginginkanku, karena aku sebagai menteri bagi kalian lebih baik daripada aku sebagai amir bagi kalian. Maka mereka berkata: Tidak demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak dengannya selain engkau. Ia berkata: Jika kalian memaksa, maka sesungguhnya baiatku tidak akan rahasia, tetapi aku akan keluar ke masjid, maka barangsiapa mau membaiatku silakan membaiatku. Ia berkata: Maka ia keluar ke masjid lalu orang-orang membaiatnya.

Abu Abdillah berkata: Aku tidak mendengarnya kecuali darinya, betapa mengagumkannya hadits ini.

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Al-Hasan memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Al-Harits menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, sepertinya sama hingga akhirnya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/321-322 (617-621)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah memberitahuku, ia berkata: Al-Abbas menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Az-Zuhri menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Salamah dan Adh-Dhahhak bin Muzahim menceritakan kepadaku – demikian ia berkata, padahal sebenarnya adalah Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy – dari Abu Sa’id Al-Khudri, hadits yang panjang yang di dalamnya terdapat kisah Dzuts-Tsudayyah, dan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya. Abu Sa’id berkata: Aku bersaksi bahwa aku mendengar ini dari Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa aku bersama Ali ketika ia membunuh mereka, dan dicari di antara orang-orang yang terbunuh lalu didatangkan kepadanya sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata: Aku mendengar Abu Al-Qasim bin Al-Jabaliy berkata: Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata: Tidak ada sesuatu di sisiku dalam menetapkan kekhilafahan Ali yang lebih kuat daripada hadits Abu Salamah dan Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy dari Abu Sa’id, karena dalam hadits sebagian mereka disebutkan: “Mereka akan dibunuh oleh golongan yang paling dekat dengan kebenaran.”

Al-Khallal berkata: Dan Hamad bin Ali memberitahuku, ia berkata: Muhanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy yang diriwayatkan hadits darinya oleh Al-Auza’i, dari Az-Zuhri, dari Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy dalam hadits tentang Khawarij. Ia berkata: Ia dari Kufah.

Aku berkata: Siapa yang lebih dahulu, Adh-Dhahhak bin Muzahim?

Ia berkata: Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy, tetapi Adh-Dhahhak bin Muzahim lebih dikenal.

Aku berkata kepada Ahmad: Apakah engkau tidak mengetahui dari Adh-Dhahhak Al-Masyriqiy kecuali satu hadits?

Ia berkata: Tidak.

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marwaziy memberitahu kami, ia berkata: Aku menyebutkan kepada Abu Abdullah hadits Safinah, lalu ia membenarkannya dan berkata: Hadits itu shahih.

Aku berkata: Sesungguhnya mereka mencela Sa’id bin Jumhan.

Lalu ia berkata: Sa’id bin Jumhan adalah tsiqah (terpercaya), lebih dari satu orang meriwayatkan darinya, di antaranya: Hammad, Hasyrij, Al-‘Awwam, dan lebih dari satu orang.

Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya ‘Ayyasy bin Shalih menceritakan dari Ali bin Al-Madiniy, ia menyebutkan dari Yahya Al-Qaththan bahwa ia membicarakan Sa’id bin Jumhan.

Lalu ia marah dan berkata: Itu batil, aku tidak pernah mendengar Yahya membicarakannya. Sungguh lebih dari satu orang telah meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan. Dan ia berkata: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, mereka adalah para imam yang adil. Apa yang mereka berikan maka pemberiannya sah. Sungguh telah sampai dari keadilan Ali rahimahullahu bahwa ia membagikan delima dan kain, menegakkan hukuman had, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkata: Wahai Amirul Mukminin. Apakah mereka semua bersepakat tentangnya dan berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, sementara ia bukan Amirul Mukminin?! Dan Abu Abdullah mulai mencela keras orang yang tidak mengatakan bahwa ia adalah khalifah, dan ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya Amirul Mukminin, dan orang-orang ini – maksudnya orang-orang yang tidak menetapkan kekhilafahannya, seakan-akan maksud perkataannya: bahwa orang-orang ini telah menisbatkan mereka kepada pendusta.

Al-Khallal berkata: Ali bin Al-Hasan bin Sulaiman memberitahuku, ia berkata: Ali bin Zakariya At-Tammar menceritakan kepada kami, ia mendengar Abu Abdullah menyebut Ali lalu berkata: Amirul Mukminin, dan heran terhadap orang yang tidak mengatakan Amirul Mukminin, padahal ia telah merajam Syurahah.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/323-325 (624-627)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahuku, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Madhhar Al-Mishishiy berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang keutamaan, lalu ia menyebutkan jawabannya, dan menyebutkan hadits Hammad bin Salamah dari Sa’id bin Jumhan, dari Safinah tentang kekhilafahan.

Ia berkata: Ali menurut kami termasuk dari para khalifah yang rasyid dan mendapat petunjuk, dan Hammad bin Salamah menurut kami adalah tsiqah, dan setiap hari kami tidak bertambah kecuali pengetahuan tentangnya.

Al-Khallal berkata: Dan Yusuf bin Abdullah menulis kepadaku, ia berkata: Al-Hasan bin Ali bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata tentang keutamaan: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan barangsiapa yang mengatakan Ali, aku tidak mencegahnya. Kemudian ia menyebutkan hadits Hammad bin Salamah dari Sa’id bin Jumhan, dari Safinah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Kekhilafahan dalam umatku adalah tiga puluh tahun.”

Dan ia – yaitu Abu Abdullah – berkata: Ali menurut kami termasuk dari para imam yang rasyid, dan Hammad bin Salamah menurut kami adalah orang yang tsiqah, dan setiap hari kami tidak bertambah tentangnya kecuali pengetahuan.

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Hassan memberitahuku bahwa Abu Abdullah ditanya tentang sunnah mengenai para sahabat Muhammad, lalu ia berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam hadits Ibnu Umar, dan Ali termasuk dari para khalifah. Kekhilafahan adalah tiga puluh tahun.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/326-327 (628-630)

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Muhanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Hasyrij bin Nabatah, lalu ia berkata: Tidak ada masalah dengannya.

Aku berkata: Dari Bashrah?

Ia berkata: Aku tidak tahu, tetapi Sa’id bin Jumhan yang meriwayatkan darinya adalah dari Bashrah.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahuku di tempat lain, ia berkata: Muhanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Hasyrij bin Nabatah, lalu ia berkata: Tidak ada masalah dengannya.

Aku berkata: Dari mana asalnya? Ia berkata: Dari Bashrah.

Aku berkata: Apakah ia meriwayatkan dari selain Sa’id bin Jumhan? Ia berkata: Tidak.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/327 (633-634)

Al-Khallal berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata: Aku mendengar lebih dari satu orang dari para sahabat kami dan Abu Al-Qasim bin Al-Jabaliy lebih dari satu kali, bahwa mereka menghadiri Abu Abdullah ditanya tentang hadits Safinah, lalu ia membenarkannya. Lalu seorang laki-laki berkata: Sa’id bin Jumhan?! Seakan-akan ia melemahkannya, maka Abu Abdullah berkata: Wahai Shalih, pegang tangannya. Kurasa ia berkata: Keluarkan ia, orang ini ingin mencela hadits Safinah.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/327 (636)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahuku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Sejumlah orang datang kepada kami membawa catatan, mereka datang dari Ar-Raqqah, dan kami membawanya kepada Abu Abdullah: Apa pendapatmu – semoga Allah merahmatimu – tentang orang yang berkata: Hadits Safinah, hadits Sa’id bin Jumhan itu adalah batil?

Lalu Abu Abdullah berkata: Ini adalah perkataan yang buruk dan jelek. Orang-orang ini harus dijauhi dan tidak boleh diduduki bersama mereka, dan urusan mereka harus dijelaskan kepada manusia.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahuku, ia berkata: Shalih menceritakan kepada kami bahwa ia berkata kepada ayahnya dalam masalah ini: Jika ada orang yang berkata: Maka seharusnya bagi orang yang menetapkan kekhilafahan atas Ali untuk menempatkannya pada urutan keempat.

Ia berkata: Sesungguhnya kami hanya mengikuti apa yang datang, dan apa pendapat kami?! Dan Ali menurutku adalah khalifah. Ia telah menyebut dirinya sendiri Amirul Mukminin, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya Amirul Mukminin, dan ahli Badar semuanya menyebutnya Amirul Mukminin.

Aku berkata: Jika ada orang yang berkata: Engkau mendapati seorang Khawarij keluar lalu menyebut dirinya Amirul Mukminin, dan manusia menyebutnya Amirul Mukminin?

Ia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk dan keji. Ali radhiyallahu ‘anhu diqiyaskan dengan seorang Khawarij, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diqiyaskan dengan manusia lainnya?!! Ini adalah perkataan yang jelek. Apakah ia mengatakan bahwa Ali hanyalah seorang Khawarij?! Jika demikian maka buruk sekali perkataan ini.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/328 (638-639)

Al-Khallal berkata: Yahya bin Muhammad bin Sha’id menceritakan kepadaku, Ya’qub Ad-Dauraqiy menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang perkataannya: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ia berkata: Ini dalam hal keutamaan, dan Ali adalah yang keempat dalam kekhilafahan, dan kami mengatakan dengan perkataan Safinah: “Kekhilafahan dalam umatku adalah tiga puluh tahun.”

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/328 (641)

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Qadid Al-Warraq memberitahuku, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim Al-Baghawiy menceritakan kepada kami, ia berkata dan disebutkan di sisi Ahmad bin Hanbal suatu hari dan kami bersamanya, lalu mereka berkata: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya di sini ada orang yang berkata: Barangsiapa yang berkata bahwa Ali adalah imam yang adil maka ia telah mengabaikan darah Thalhah dan Az-Zubair. Maka sekelompok orang di sisinya berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah! Ini adalah kekufuran, karena ini adalah hukum Rabb semesta alam Tabaraka wa Ta’ala, maka barangsiapa yang mengatakan ini maka seakan-akan hukum diserahkan kepadanya. Dan ini adalah Thalhah bin Ubaidillah, Marwan bin Al-Hakam mencabut anak panah untuknya sedangkan ia bersama mereka berdiri pada hari Jamal dalam barisan dan berkata: Aku tidak menuntut darah Utsman kecuali darimu. Lalu ia melemparnya dengan anak panah dan membunuhnya. Dan ini adalah Az-Zubair bin Al-‘Awwam, Ibnu Jurmuz membunuhnya, dan Ali berkata: “Berikanlah kabar gembira kepada pembunuh Ibnu Shafiyyah dengan neraka.”

Maka ini adalah darah-darah yang Ali berlepas diri darinya, lalu ia mewajibkannya kepadanya. Maka Ahmad tidak menambah kecuali berkata: Ini adalah Haruriy, maksudnya bahwa dialah yang mengatakan itu, lalu ia berkata: Ia tidak memahami hadits dan tidak juga pendapat.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/330 (644)

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuniy memberitahuku, bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Aku dan sebagian saudaraku heran denganmu dalam memasukkan Ali ke dalam kekhilafahan.

Ia berkata kepadaku: Lalu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan tentang perkataan Ali rahimahullahu: Aku adalah Amirul Mukminin?! Dan dikatakan kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, dan ia menghajikan manusia, musim haji, hukum-hukum itu, shalat bersama manusia, dan apa yang ia putuskan dan bunuh dibiarkan?!

Aku berkata: Lalu apa yang engkau lakukan, dan apa yang engkau katakan tentang peperangan Thalhah dan Az-Zubair rahimahumallahu terhadapnya, dan darah-darah itu?

Ia berkata: Apa urusan kami dengan Thalhah dan Az-Zubair dan menyebut itu.

Kemudian ia mengulangi padaku beberapa kali: Apa urusan kami dengan peperangan orang-orang ini, dan apa yang terjadi dari darah-darah itu. Dan ia menyebutkan hajinya dan hukumnya juga.

Abdul Malik berkata: Dan ini adalah terakhir yang kami pisahkan darinya pada tahun dua puluh tujuh dan kami sedang duduk.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/330 (646)

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Shalih memberitahuku, ia berkata: Muhammad bin Habib menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Hassan menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata: Wahai Abu Abdullah, apakah Ali adalah imam?

Ia berkata: Ya, ia adalah imam yang adil rahimahullahu.

Dan pamannya hadir, lalu pamannya berkata kepadaku di hadapan Abu Abdullah dan Abu Abdullah mendengar: Orang-orang fasik dan jahat ini yang tidak menetapkan imamah Ali, aku mendengar Abu Abdullah berkata: Aku tidak melihat kebohongan yang lebih besar daripada orang yang tidak menetapkan imamah Ali, seorang laki-laki yang membagi harta rampasan perang, merajam, menegakkan hukuman had, dan disebut Amirul Mukminin, apakah ia adalah seorang Khawarij yang berdusta?! Dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta?! Dan Abu Abdullah diam sambil tersenyum.

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Salih memberitahuku, dia berkata: Muhammad bin Habib menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mengambilnya dari Fawran dan membenarkannya, dari Abu Bakar Al-Ahwal Al-Masyakani, dari Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal.

Dan Ahmad bin Al-Hasan Al-Warraq menulis kepadaku dari Mosul, dia berkata: Bakar bin Muhammad bin Al-Hakam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Abdullah, bahwa dia berkata kepadanya: Bukankah khilafah Ali telah terbukti?

Maka dia berkata: Subhanallah! Dia adalah seorang imam dari para khalifah yang mendapat petunjuk lagi berada di jalan yang benar.

Abu Abdullah berkata: Said bin Jumhan, beberapa orang meriwayatkan darinya.

Dan aku bertanya kepadanya tentang orang yang melemahkan hadits Safinah dari sisi Said bin Jumhan? Maka dia berkata: Buruk sekali perkataan ini, Said bin Jumhan adalah seorang yang dikenal, Hammad bin Salamah meriwayatkan darinya, dan Hammad bin Zaid, dan Al-Awwam, dan Abdul Warits, dan Hasyraj bin Nabatah, mereka berlima yang aku hafal telah meriwayatkan darinya.

Aku berkata: Lalu apa pendapatmu tentang orang yang tidak menetapkan khilafah Ali? Dia berkata: Buruk sekali perkataan ini.

Ahmad bin Al-Hasan menambahkan, dari Bakar, dari ayahnya: Aku berkata: Apakah dia termasuk dari Ahlus Sunnah?

Dia berkata: Aku tidak berani mengeluarkannya dari Sunnah; dia berijtihad lalu keliru.

Aku berkata: Orang yang berkata tentang hadits Ibnu Mas’ud: “Roda Islam berputar selama tiga puluh lima tahun” (dan Ahmad bin Al-Hasan berkata: enam dan tiga puluh) bahwa itu dari hijrahnya Nabi shallallahu alaihi wasallam? Maka dia berkata: Orang ini sungguh lancang, dan apa yang dia ketahui? Mungkinkah Nabi shallallahu alaihi wasallam menggambarkan Islam untuk tahun-tahun ketika dia masih hidup, sesungguhnya dia hanya menggambarkan apa yang akan terjadi setelahnya dari tahun-tahun.

Dia berkata: Dan aku bertanya kepada Abu Abdullah, aku berkata: Apa yang paling kuat diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang khilafah Ali?

Dia berkata: Orang yang tidak menetapkan khilafah Ali, apakah dia mengira bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada dalam kekacauan dan fitnah, dan membatalkan hukum-hukum mereka? Dia berkata: Maka diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam hadits Safinah, dan hadits Ibnu Mas’ud, hadits Al-Awwam bin Hausyab dari Asy-Syaibani, dari Al-Qasim bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Roda Islam berputar selama tiga puluh lima tahun”. Maka seakan-akan Nabi shallallahu alaihi wasallam menetapkan bahwa urusan manusia tiga puluh lima tahun, urusan mereka di atas kebenaran.

Dia berkata: Dan diriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa Muawiyah, urusannya lima tahun, tidak ada yang mengingkari sesuatu darinya. Dia berkata: Maka ini sesuai dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tiga puluh lima tahun”.

Dia berkata: Dan Manshur meriwayatkan dari Rib’i, dari Al-Bara bin Najiyah, dari Abdullah: “Roda Islam akan bergeser setelah tiga puluh lima tahun”.

Ahmad bin Al-Husain menambahkan, dari Bakar, dari ayahnya, dari Abu Abdullah, dia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dari Al-Awwam, dari Asy-Syaibani, dari Al-Qasim bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abdullah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia bersabda: “Roda Islam bergeser setelah tiga puluh lima tahun”.

“As-Sunnah” oleh Al-Khallal 1/330-333 (648-649) Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Al-Husain memberitahuku; bahwa Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah menceritakan dari Abdurrazaq, dari Muhammad bin Rasyid, dari Auf, dia berkata: Aku berada di sisi Al-Hasan, lalu ada seorang laki-laki yang merendahkan Abu Musa karena mengikuti Ali, maka Al-Hasan marah, kemudian berkata: Subhanallah, Amirul Mukminin Utsman terbunuh, lalu manusia berkumpul kepada orang terbaik mereka dan membaiatnya, apakah Abu Musa dan pengikutnya dicela?

“As-Sunnah” oleh Al-Khallal 1/334 (651) Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah juga ditanya tentang keutamaan, maka dia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, adapun khilafah maka Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali; karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Khilafah dalam umatku tiga puluh tahun”, dan Ibnu Umar berkata: Kami membandingkan keutamaan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka kami berkata: Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman.

Abu Abdullah berkata: Dan kita tidak melampaui atsar dan mengikuti, maka mengikuti adalah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan setelahnya untuk para sahabatnya ketika para sahabatnya ridha dengan itu, dan mereka membandingkan keutamaan sebagian mereka atas sebagian yang lain, seperti ini, maka sebagian mereka tidak mencela sebagian yang lain, maka wajib bagi kita mengikuti apa yang dilalui oleh salaf kita dan meneladani mereka, semoga Allah meridhai mereka.

“Syarh Ushul Al-I’tiqad” oleh Al-Lalaka’i 8/1453 (2625)

Muhammad bin Yazid Al-Mustamli berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang para khalifah yang mendapat petunjuk, maka dia berkata: Tinggalkan ini. Maka aku mendesaknya suatu hari sampai ke dinding lalu aku bertanya kepadanya tentang para khalifah yang mendapat petunjuk lagi berada di jalan yang benar – seakan-akan dia meyakinkan hal itu – maka dia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali dan Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah merahmati mereka.

Muhammad bin Sulaiman bin Dawud berkata: Wazirah bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku masuk menemui Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal ketika dia menampakkan urutan keempat untuk Ali, maka aku berkata: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya perkataan ini mewajibkan celaan terhadap Thalhah dan Az-Zubair, maka dia berkata kepadaku: Jelaskan apa yang kamu katakan dan apa urusan kita dengan perang kaum itu untuk kita sebutkan?

Maka aku berkata: Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya kami menyebutkannya ketika engkau menjadikannya urutan keempat dan mewajibkan khilafah untuknya dan apa yang wajib bagi para imam sebelumnya. Dia berkata: Apa yang menghalangiku dari itu?

Dia berkata: Aku berkata: Hadits Ibnu Umar.

Maka dia berkata kepadaku: Umar ketika ditikam telah meridhai Ali untuk khilafah atas kaum muslimin, dan memasukkannya dalam syura, dan Ali bin Abi Thalib telah menamakan dirinya Amirul Mukminin, lalu aku berkata: Dia bukan amir bagi kaum mukminin, lalu aku pergi darinya?

Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad ditanya tentang keutamaan; dia berkata: Hadits Abdullah bin Umar tentang keutamaan: Abu Bakar dan Umar dan Utsman, dan dalam khilafah Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali, hadits Safinah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Khilafah sepeninggalku tiga puluh tahun”.

“Syarh Ushul Al-I’tiqad” 8/1475-1476 (2669-2671)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku bertanya kepada ayahku, aku berkata: Siapa manusia paling utama setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Dia berkata: Abu Bakar.

Aku berkata: Wahai ayahku, kemudian siapa? Dia berkata: Umar.

Aku berkata: Wahai ayahku, kemudian siapa? Dia berkata: Utsman.

Aku berkata: Wahai ayahku, lalu Ali?

Dia berkata: Wahai anakku, Ali dari Ahlul Bait yang tidak ada seorang pun dibandingkan dengan mereka.

“Ar-Riwayatain wal Wajhain” 2/93

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang hadits Ibnu Umar: Kami apabila membandingkan keutamaan di antara sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman.

Maka dia berkata: Itu sebagaimana yang dia katakan.

Aku berkata: Lalu di mana Ali bin Abi Thalib? Dia berkata: Wahai anakku, dia tidak berkata: dari Ahlul Bait Rasulullah.

“Ar-Riwayatain wal Wajhain” 2/94

Muhammad bin Auf berkata: Wahai Abu Abdullah, mereka berkata: Sesungguhnya engkau berhenti pada Utsman?

Maka dia berkata: Mereka berdusta, demi Allah, atas diriku. Sesungguhnya aku menceritakan kepada mereka hadits Ibnu Umar: Kami membandingkan keutamaan di antara sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami berkata: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, lalu hal itu sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dia tidak mengingkarinya. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak berkata: Jangan kalian memilih setelahnya, dan tidak di antara seorang pun, tidak ada dalam itu hujjah untuk seorang pun, maka barangsiapa berhenti pada Utsman, dan tidak menjadikan Ali urutan keempat, maka dia tidak di atas Sunnah.

“Al-Masa’il Allati Halafa Alaiha Al-Imam” hal. 46

Al-Maimuni berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dia berkata: Syaikh kami berkata: Abdurrahman bin Auf berkata: Demi Allah, aku tidak membaiat Utsman hingga aku bertanya kepada anak-anak Madinah, maka mereka berkata: Utsman lebih baik daripada Ali.

“Al-Masa’il Allati Halafa Alaiha Al-Imam Ahmad” hal. 97

Ibrahim bin Suwaid berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Siapa para khalifah?

Dia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali, semoga Allah meridhai mereka.

Aku berkata: Lalu Muawiyah? Dia berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas khilafah pada masa Ali, semoga Allah meridhainya, dan Allah merahmati Muawiyah.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/244

Shadaqah bin Musa berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada kalian mencintai Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali, sebagaimana Dia mewajibkan kepada kalian shalat dan puasa dan haji dan zakat. Barangsiapa membenci salah satu dari mereka maka tidak ada shalat baginya, tidak ada haji dan tidak ada zakat dan dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dari kuburnya menuju neraka”.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 1/473

Ibnu Abi Ya’la berkata: Yusuf Al-Mahrawani memberitahu kami, dia berkata: Ali bin Bisyran mengabarkan kepada kami, Abu Umar Muhammad bin Abdul Wahid menceritakan kepada kami. Dia berkata: Dan As-Siyari mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abu Al-Abbas bin Masruq Ash-Shufi mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengabarkan kepadaku: Aku sedang duduk di hadapan ayahku suatu hari, lalu datang sekelompok dari Karkh, mereka menyebutkan khilafah Abu Bakar, dan khilafah Umar bin Al-Khaththab, dan khilafah Utsman bin Affan, semoga Allah meridhainya, lalu mereka memperbanyak, dan mereka menyebutkan khilafah Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridhainya, dan mereka menambah serta memperpanjang, maka ayahku mengangkat kepalanya kepada mereka lalu berkata: Wahai kalian, kalian telah memperbanyak perkataan tentang Ali dan khilafah, padahal khilafah tidak menghiasi Ali, bahkan Ali yang menghiasinya.

As-Siyari berkata: Lalu aku menceritakan hadits ini kepada sebagian Syi’ah, maka dia berkata kepadaku: Sungguh engkau telah mengeluarkan setengah dari apa yang ada dalam hatiku berupa kebencian terhadap Ahmad bin Hanbal.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/16 Al-Maimuni berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal dan dikatakan kepadanya: Ke mana pendapatmu tentang khilafah? Maka dia berkata: Abu Bakar dan Umar dan Utsman dan Ali, semoga Allah meridhainya.

Dia berkata: Lalu dikatakan kepadanya: Seakan-akan engkau cenderung kepada hadits Safinah?

Dia berkata: Aku cenderung kepada hadits Safinah dan kepada hal lain, aku melihat Ali pada masa Abu Bakar dan Umar dan Utsman tidak dinamakan Amirul Mukminin dan tidak menegakkan Jumat dan hudud, kemudian aku melihatnya setelah terbunuhnya Utsman telah melakukan itu, maka aku berkata: Sesungguhnya telah wajib baginya pada waktu itu apa yang tidak wajib baginya sebelum itu.

“Thabaqat Al-Hanabilah” 2/97

Abdus bin Malik Al-Aththar berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata: Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab, kemudian Utsman bin Affan, kami mendahulukan mereka bertiga sebagaimana sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendahulukan, mereka tidak berselisih dalam itu, kemudian setelah mereka bertiga adalah lima orang anggota syura: Ali, dan Az-Zubair, dan Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d, dan semuanya layak untuk khilafah, dan semuanya adalah imam. Dia cenderung dalam itu kepada hadits Ibnu Umar: Kami menghitung ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup, dan para sahabatnya masih lengkap: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam, kemudian setelah anggota syura adalah ahli Badar dari kaum Muhajirin, kemudian ahli Badar dari kaum Anshar dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesuai dengan hijrah dan keutamaan yang pertama terlebih dahulu, kemudian sebaik-baik manusia setelah mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, generasi yang di dalamnya dia diutus, setiap orang yang menyertai beliau: satu tahun atau satu bulan atau satu hari atau satu jam atau melihatnya maka dia dari para sahabatnya, dia memiliki dari persahabatan sesuai dengan apa yang dia sertai, dan keutamaannya bersamanya, dan dia mendengar darinya, dan memandang kepadanya dengan pandangan, maka yang paling rendah persahabatannya dia lebih utama dari generasi yang tidak melihatnya, sekalipun mereka bertemu Allah dengan semua amal, orang-orang yang menyertai Nabi dan melihatnya dan mendengar darinya ini lebih utama karena persahabatan mereka daripada tabi’in sekalipun mereka beramal dengan semua amal kebaikan, dan barangsiapa merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah, atau membencinya karena peristiwa yang terjadi darinya, atau menyebutkan keburukannya, maka dia adalah mubtadi’, hingga dia mendoakan rahmat kepada mereka semuanya, dan hatinya bersih untuk mereka.

“Manaqib Al-Imam Ahmad” oleh Ibnul Jauzi hal. 210

Amr bin Utsman Al-Himshi berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal dibawa dari pasukan ke Rum, dia singgah di sini di Homs, dia berkata: Maka aku masuk menemuinya lalu aku berkata: Wahai Abu Abdullah, apa pendapatmu tentang Ali dan Utsman?

Maka dia berkata: Utsman, kemudian Ali. Kemudian dia berkata: Wahai Abu Hafsh, barangsiapa mengutamakan Ali atas Utsman maka sungguh dia telah meremehkan anggota syura.

“Manaqib Al-Imam Ahmad” oleh Ibnul Jauzi hal. 211

Abu Said Hisyam bin Manshur Al-Yakhamiri berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Barangsiapa tidak menetapkan imamah untuk Ali maka dia lebih sesat daripada keledai keluarganya.

“Manaqib Al-Imam Ahmad” oleh Ibnul Jauzi hal. 213

147 – Bab: Sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan surga

Ishaq bin Manshur Al-Kausaj berkata: Aku berkata: Sa’id bin Zaid bin Mas’ud bertanya kepada shallallahu alaihi wasallam: Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, lalu di mana dia? Dia berkata: Aku tidak tahu hadits ini apa.

Ishaq berkata: Ini jelas terang; karena itu menunjukkan kebencian untuk menegakkan kesaksian bagi orang yang tidak mendengar itu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka barangsiapa mendengarnya wajib baginya untuk bersaksi.

“Masa’il Al-Kausaj” (3524)

Ibnu Hani berkata: Aku bertanya kepadanya tentang bersaksi bagi sepuluh orang bahwa mereka masuk surga. Maka ia berkata: Bukankah Abu Bakar semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridaan-Nya kepadanya telah berkata ketika memerangi kaum murtad: “Tidak, sampai kalian bersaksi bahwa orang-orang terbunuh kami ada di surga dan orang-orang terbunuh kalian ada di neraka.” Maka sesungguhnya para sahabat Abu Bakar lebih dari sepuluh orang.

Aku berkata kepadanya: Bagaimana dengan hadits Ibnu Musayyab: Seandainya aku bersaksi untuk seseorang bahwa ia ada di surga, maka aku akan bersaksi untuk Ibnu Umar.

Abu Abdullah berkata: Maka tidaklah Ibnu Musayyab mengatakan tentang seseorang yang masih hidup, melainkan agar engkau mengetahui bahwa orang yang telah meninggal telah disaksi bahwa ia masuk surga.

Kitab Masail Ibnu Hani nomor 1883

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku semoga Allah merahmatinya tentang bersaksi untuk Abu Bakar dan Umar bahwa keduanya di surga. Ia berkata: Ya, dan aku berpedoman pada hadits Saed bin Zaid bahwa ia berkata: Aku bersaksi bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ada di surga, demikian pula sembilan sahabat Nabi, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah yang kesepuluh.

Aku berkata kepada ayahku: Bagaimana dengan orang yang berkata: Aku mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar ada di surga tetapi aku tidak bersaksi? Ia berkata: Dikatakan kepadanya: Apakah perkataan ini adalah perkataan yang benar? Jika ia berkata: Ya, maka dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau bersaksi atas kebenaran, dan kesaksian adalah perkataan, dan engkau tidak bersaksi sampai engkau mengatakan. Maka jika ia berkata: Aku bersaksi, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Penghuni surga adalah seratus dua puluh shaf, delapan puluh di antaranya dari umatku.” Jika bukan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu siapa lagi?

Kitab Masail Abdullah nomor 1594-1595

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Khalid bin Nafi’ maula bani Asyariyin menceritakan kepada kami, Al-Hurr bin Ash-Shayyah An-Nakhai menceritakan kepada kami, ia berkata: Sampai kepada kami bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman di surga, Saad di surga, dan Saed bin Zaid di surga.”

Kitab Fadhailush Shahabah jilid 1 halaman 172-173 nomor 117

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam buku ayahku dengan tulisan tangannya sendiri: Muhammad bin Humaid Abu Abdullah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari Tsalabah, dari Jafar, dari Saed bin Jubair, ia berkata: Adalah posisi Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah, Az-Zubair, Saad, Abdurrahman bin Auf, dan Saed bin Zaid bin Amr bin Nufail, mereka berada di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam peperangan dan di belakang beliau dalam shalat di shaf. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin dan Anshar yang menempati posisi salah seorang dari mereka, baik ia tidak hadir maupun hadir.

Kitab Fadhailush Shahabah jilid 1 halaman 400 nomor 463

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sulaiman bin Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Syubah mengabarkan kepada kami, dari Manshur bin Abdurrahman Al-Ghadani, ia berkata: Aku mendengar Asy-Syabi berkata: Aku mendapati lebih dari lima ratus orang dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka mereka berkata: Sesungguhnya Utsman, Ali, Thalhah, dan Az-Zubair ada di surga.

Kitab Al-Ilal riwayat Abdullah nomor 414

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Hasan bin Harun mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang bersaksi untuk sepuluh orang. Ia berkata: Ya, aku bersaksi bagi sepuluh orang bahwa mereka di surga.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah berkata: Hujah kami dalam bersaksi bagi sepuluh orang bahwa mereka di surga adalah hadits Thariq bin Syihab. Muhammad bin Jafar membacakan kepadanya, ia berkata: Syubah menceritakan kepada kami, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Ketika Abu Bakar mendamaikan kaum murtad, ia berkata: Mendamaikan mereka dengan perang yang mengusir atau perdamaian yang menghinakan. Ia berkata: Mereka berkata: Kami sudah tahu perang yang mengusir, lalu apa perdamaian yang menghinakan? Ia berkata: Yaitu bahwa kalian bersaksi bahwa orang-orang terbunuh kami di surga dan orang-orang terbunuh kalian di neraka. Lalu ia menyebutkan haditsnya.

Al-Khallal berkata: Dan Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami dari ayahnya dalam masalah ini, ia berkata: Maka ia tidak ridha dari mereka kecuali dengan kesaksian. Dan dalam hadits delegasi Buzakhah, dan tidak ada perbedaan antara kesaksian dan perkataan.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepada kami bahwa Ishaq menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang bersaksi bagi sepuluh orang yang diberi kabar gembira dengan surga. Maka ia berkata: Bukankah Abu Bakar telah berkata kepada kaum murtad: Tidak, sampai kalian bersaksi bahwa orang-orang terbunuh kami di surga dan orang-orang terbunuh kalian di neraka. Maka sesungguhnya para sahabat Abu Bakar lebih dari sepuluh orang.

Al-Khallal berkata: Dan Al-Hasan bin Abdul Wahhab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Hammad Al-Maqri menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah dalam masalah ini, ia berkata: Apakah engkau membedakan antara ilmu dan kesaksian? Ia berkata: Tidak, jika aku berkata: Aku tahu, maka aku bersaksi. Allah berfirman: “Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang mereka mengetahui.” (Surat Az-Zukhruf ayat 86) Dan Dia berfirman: “Dan kami tidak bersaksi kecuali dengan apa yang kami ketahui.” (Surat Yusuf ayat 81)

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik bin Abdul Hamid mengabarkan kepadaku bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Bukankah engkau bersaksi untuk sepuluh orang dari suku Quraisy bahwa mereka di surga?

Ia berkata: Aku berkata: Sepuluh orang dari Quraisy ada di surga. Ia berkata: Mereka ini mampu untuk bersaksi, dan apakah makna perkataan dan kesaksian kecuali satu.

Aku berkata: Apa yang engkau katakan bahwa aku bersaksi? Ia berkata: Bersaksilah.

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar dan Abu Yahya mengabarkan kepadaku bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, ia berkata: Ilmu adalah kesaksian. Maka Abu Abdullah berkata: Ya, jika ia mengetahui bahwa ia adalah si anu bin si anu, dan budak si anu, dan rumah si anu, dan ia tidak mengetahui yang lain, demikian pula engkau bersaksi bahwa sepuluh orang ada di surga. Ia berkata: Dan seseorang bersaksi tentang rumah si anu, dan budak si anu, dan anak si anu, ini semua dengan pengenalan dan pengetahuannya terhadap sesuatu.

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami dalam masalah ini, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Aku bersaksi bahwa si anah adalah istri si anu, padahal aku tidak menyaksikan pernikahannya?

Ia berkata: Ya, jika perkara itu tersebar luas maka bersaksilah dengannya.

Ia berkata: Dan aku bersaksi bahwa rumah Bukhtan adalah milik Bukhtan, padahal ia tidak memintaku bersaksi? Ia berkata: Ini adalah perkara yang telah tersebar luas, bersaksilah dengannya untuknya.

Abu Bakar berkata: Dan aku mengira aku mendengarnya berkata: Ini seperti orang yang berkata: Sesungguhnya Fathimah adalah putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi aku tidak bersaksi bahwa ia putri Rasulullah. Bukankah Thariq bin Syihab berkata dari Abu Bakar: Sesungguhnya ia berkata kepada mereka: Kalian bersaksi bahwa orang-orang terbunuh kami di surga dan orang-orang terbunuh kalian di neraka, dan Abu Bakar tidak ridha sampai mereka bersaksi.

Abu Abdullah berkata: Dan ini adalah yang paling kokoh dan paling shahih yang diriwayatkan dalam kesaksian.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal jilid 1 halaman 280-282 nomor 474-481

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami dalam masalah ini, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya Ibnu Al-Haitham Al-Maqri telah diceritakan darinya bahwa ia berkata: Aku tidak bersaksi bagi sepuluh orang bahwa mereka di surga. Ia berkata: Ia tidak pernah membahas sesuatu denganku.

Aku berkata kepadanya: Apakah orang yang berpendapat seperti ini tidak dijauhi? Ia berkata: Sebagian kaum telah menjauhinya, dan ia telah mengalami gangguan.

Dan Muhammad bin Yahya Al-Kahhal berkata dalam masalah ini: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang tidak bersaksi untuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman bahwa mereka di surga. Maka ia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk, dan pernah ada di sisiku beberapa hari yang lalu orang yang menceritakan hal ini darinya, dan seandainya aku tahu maka aku akan menjauhinya.

Aku berkata kepadanya: Ibnu Al-Haitham? Ia berkata: Ya, mereka mengabarkan kepadaku bahwa ia telah menulis buku tentang hal ini.

Dan ia berkata: Demi Allah, tidaklah Abu Bakar Ash-Shiddiq ridha dari kaum murtad sampai mereka bersaksi bahwa orang-orang terbunuh kami di surga dan orang-orang terbunuh mereka di neraka.

Kemudian aku kembali kepada masalah Al-Marrudzi. Aku berkata: Sesungguhnya Ibnu Ad-Dawraqi Ahmad berkata kepadaku: Sesungguhnya ia berdebat denganmu di depan pintu Ismail, maka engkau berdiri menarik pakaianmu dengan marah?

Ia berkata: Aku tidak tahu.

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami: Ayahku berkata: Kami berselisih tentangnya di depan pintu Ismail bin Ulayyah. Maka ia berkata: Aku mengira ia adalah Aswad bin Salim. Tidak ada perbedaan tentang hal ini, dan kami berkata dengan kesaksian.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Atsram menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah sedang kami berada di depan pintu Affan, lalu mereka menyebutkan kesaksian bagi orang-orang yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa mereka di surga. Maka Abu Abdullah berkata: Ya, kami bersaksi. Dan ia mempertegas perkataan terhadap orang yang tidak bersaksi, dan berdalil dengan banyak hal, dan orang-orang berdalil kepadanya dengan berbagai hal, maka ia marah sampai ia berkata: Kami ini anak-anak! Kami tidak mengenal hadits-hadits ini!

Dan orang-orang berdalil kepadanya dengan perkataan Abdurrahman bin Mahdi. Maka ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi siapa dia! Yakni dibandingkan dengan hadits-hadits ini.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah berkata dalam masalah ini: Dan suatu kaum berdalil dengan Ibnu Al-Hanafiyyah yang berkata: Aku tidak bersaksi untuk siapa pun. Dan mereka berdalil dengan Al-Auza’i.

Abu Abdullah berkata: Dan aku berdalil kepada mereka dengan hadits Ibnu Abi Urubah, dari Qatadah, dari Anas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Dan aku berdalil dengan hadits Abu Utsman, dari Abu Musa: “Bukakan pintu untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.”

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, lalu Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, semuanya dalam masalah ini. Abu Abdullah berkata: Dan aku berdalil kepada mereka. Ia berkata: Dan hadits Jabir bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga lalu aku melihat sebuah istana, maka aku berkata: Untuk siapa ini? Mereka berkata: Untuk Umar.” Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, dari Amr dan Ibnu Al-Munkadir, keduanya mendengar Jabir.

Dan Humaid meriwayatkannya dari Anas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu.

Dan Az-Zuhri, dari Saed, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dan Shalih bin Kaisan atau yang lainnya meriwayatkannya.

Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa Abu Bakar meminta izin, maka beliau bersabda: “Izinkan dia dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga,” untuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Dan Anas dan Sahal bin Saad meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam perang Uhud: “Tenanglah, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami dalam masalah ini bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Ibnu Ad-Dawraqi berkata dalam hadits Abdullah bin Zhalim ada sesuatu?

Abu Abdullah berkata: Ia berkata kepada kalian: Aku tidak mengatakan bahwa mereka di surga dan tidak bersaksi; ini adalah perkataan yang buruk.

Abu Abdullah berkata: Ali bin Al-Madini datang ke sini dan menampakkan perkataan ini, dan suatu kaum mengikutinya dalam hal itu. Maka kami mengingkari hal itu kepada mereka, dan Abu Khaitsamah mengikutiku, dan kami berkata: Kami bersaksi.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali Abu Bakar mengabarkan kepada kami bahwa Yaqub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka dalam masalah ini. Abu Abdullah berkata: Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku bersaksi atas sepuluh orang dari Quraisy bahwa mereka di surga.”

Maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Mereka di surga, tetapi aku tidak bersaksi.

Maka ia berkata: Ini adalah orang yang bodoh, apakah kesaksian kecuali perkataan.

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar dan Abu Yahya mengabarkan kepada kami bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Saed, dari Qatadah, ia berkata: Saed bin Al-Musayyab berkata: Seandainya aku bersaksi untuk seseorang yang masih hidup, maka aku akan bersaksi untuk Abdullah bin Umar. Ini menunjukkan kepadamu bahwa ia bersaksi dengan hal itu bahwa ia di surga, dan ia tidak bersaksi untuk orang yang masih hidup karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Al-Khallal berkata: Dan Hamzah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dari Saed bin Abi Urubah, dari Qatadah, ia berkata: Aku mendengar Saed bin Al-Musayyab berkata: Seandainya aku bersaksi untuk seseorang yang masih hidup bahwa ia termasuk penghuni surga, maka aku akan bersaksi untuk Abdullah bin Umar. Maka aku melihat Abu Abdullah menganggapnya baik. Ia berkata: Untuk seseorang yang hidup, untuk seseorang yang hidup. Ia mengulang-ulang perkataan itu dan menyukainya.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal jilid 1 halaman 282-285 nomor 483-492

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun memberitahuku bahwa Abu al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku menulis surat kepada Abu Abdillah untuk menanyakan tentang kesaksian bagi Abu Bakar dan Umar, apakah keduanya di surga? Ia menjawab: Ya, dan aku berpegang pada hadits Said bin Zaid bahwa ia berkata: Aku bersaksi bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berada di surga.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahu kami, serta al-Hasan bin Abdul Wahhab, bahwa Muhammad bin Abi Harb menceritakan kepada mereka, ia berkata: Abu Abdillah berkata: Dan Said bin Zaid dalam sebagian haditsnya berkata: Aku bersaksi.

Kemudian aku kembali kepada pertanyaan Abdullah dan Abu al-Harits, Abdullah berkata: Ayahku berkata: Demikian pula para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang sembilan orang, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah yang kesepuluh dari mereka, dan Allah Tabaraka wa Taala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.” (Surah At-Taubah: 100) “Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.” (Surah Al-Fath: 18).

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahu kami, serta Zakariya bin Yahya, bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, Abu Abdillah berkata: “Agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Surah Al-Fath: 5) Dan ia berkata: “Dan orang-orang yang lebih dahulu, lagi lebih dahulu (beriman), mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Surah Al-Waqi’ah: 10-11).

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitahuku bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, dan ia berkata: “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah,” dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Penghuni surga ada seratus dua puluh shaf, umatku di antaranya ada delapan puluh.” Jika bukan Abu Bakar dan Umar rahimahullah di antara mereka, lalu siapa yang di antara mereka?!

Kemudian aku kembali kepada pertanyaan Abdullah dan Abu al-Harits, Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku: Jika ada yang berkata: Aku mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar di surga, tetapi aku tidak bersaksi?

Ia berkata: Dikatakan kepadanya: Apakah yang kamu katakan ini benar? Jika ia berkata: Ya, maka dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau bersaksi atas kebenaran? Dan kesaksian adalah perkataan, dan ia tidak bersaksi sampai ia berkata, dan jika ia berkata maka ia telah bersaksi, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Penghuni surga ada seratus dua puluh shaf, delapan puluh di antaranya dari umatku.” Jika bukan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di antara mereka, lalu siapa yang akan menjadi mereka?!

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar memberitahu kami, serta Zakariya bin Yahya, bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka dalam masalah ini, Abu Abdillah berkata: Dan aku bersaksi bahwa Abu Lahab di neraka, mereka tidak mengatakan: Abu Lahab di neraka, tidak ada hadits tentang Abu Lahab bahwa ia di neraka. Ia ada dalam Kitab (Al-Quran), dan kami bersaksi bahwa Abu Lahab dan Abu Jahal di neraka.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahu kami, ia berkata: Mutsanna al-Anbari menceritakan kepadaku bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: Apakah engkau berpendapat bahwa kita bersaksi untuk selain mereka (sepuluh orang yang dijamin masuk surga) dari orang yang Nabi shallallahu alaihi wasallam bersaksi untuknya?

Ia berkata: Ya, setiap orang yang Nabi shallallahu alaihi wasallam bersaksi untuknya maka kita bersaksi untuknya. Dan ia berdalil dengan hadits Mu’adz bahwa ia berkata: Demi Allah aku bersaksi bahwa Umar adalah kekasihku, bahwa ia termasuk ahli surga.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/285-288 (492-499).

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Shalih menceritakan kepadaku bahwa ia berkata kepada ayahnya: Perkataan Said bin Zaid kepada Ibnu Mas’ud: Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, lalu di mana beliau? Dan hadits-hadits darinya tentang sepuluh orang sebagaimana yang telah engkau ketahui?

Ia berkata: Ini diriwayatkan dari Abu Ubaidah bahwa Ibnu Mas’ud berkata perkataan ini, dan yang diriwayatkan dari Said bin Zaid tentang sepuluh orang lebih aku sukai.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/288 (501)

Al-Khallal berkata: Dan Abdullah bin Muhammad bin Abdul Hamid memberitahuku, ia berkata: Bakar bin Muhammad bin al-Hakam menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Abdillah bahwa ia bertanya kepadanya tentang seseorang yang berkata: Aku bersaksi bahwa Abu Bakar di surga, dan aku bersaksi bahwa Umar di surga, atau ia berkata: Aku bersaksi bahwa Utsman di surga, atau Ali di surga?

Ia berkata: Tidak mengapa dengannya, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda sesuatu perkataan maka aku bersaksi atasnya. Ia berkata: Dan dalam hadits Zaidah ia berkata: Muawiyah bin Amr menceritakan kepada kami, dari Zaidah, dari Hushain, dari Hilal dalam hadits Said bin Zaid, ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ali di surga. Ia berkata: Ali bin Ashim menceritakan kepada kami, dari Hushain juga ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ali di surga.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahuku, dan al-Hasan bin Abdul Wahhab, bahwa Muhammad bin Abi Harb menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah di serambinya tentang kesaksian untuk sepuluh orang, maka ia berkata: Kami bersaksi, Abu Bakar berkata: Kalian bersaksi bahwa orang-orang kami yang terbunuh di surga, dan mereka adalah orang banyak.

Dan Said bin Zaid dalam sebagian haditsnya berkata: Aku bersaksi, dan Said bin al-Musayyab berkata: Seandainya aku bersaksi untuk seseorang yang hidup niscaya aku bersaksi untuk Ibnu Umar.

Aku bertanya: Orang yang tidak bersaksi apakah dijauhi? Ia berkata, aku bertanya: Ia berkata apa?

Aku berkata: Ia berkata sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata dan aku tidak bersaksi, maka ia diam.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun memberitahuku bahwa Mutsanna al-Anbari menceritakan kepada mereka bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: Seorang ahli hadits, ditulis darinya hadits, ia berkata: Barangsiapa bersaksi bahwa sepuluh orang di surga maka ia adalah orang yang bid’ah. Maka ia menganggap hal itu besar (mengingkari), dan berkata: Mungkin ia orang yang bodoh, tidak tahu, dikatakan kepadanya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/289 (504-506)

Ibnu Badina berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang kesaksian untuk sepuluh orang, maka ia berkata: Aku bersaksi untuk sepuluh orang dengan surga.

“Thabaqat al-Hanabilah” 2/282

148 – Bab: Keutamaan Para Sahabat radhiyallahu anhum

Shalih berkata: Dan aku bertanya kepadanya tentang perkataan Ibrahim: Tidak ada yang tersimpan dari kaum itu sesuatu yang disembunyikan untuk kalian sebagai keutamaan pada kalian! Ia berkata: Ia berkata: Sesungguhnya para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada yang tersimpan dari mereka.

“Masail Shalih” (214)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, dari Ismail yaitu Ibnu Abi Khalid, dari Amir, ia berkata: Abdurrahman bin Auf mengadukan Khalid bin al-Walid kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Khalid, apa urusanmu dengan seseorang dari kalangan Muhajirin? Seandainya kamu menginfakkan seperti (gunung) Uhud emas niscaya kamu tidak akan mencapai amalnya.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/64-65 (12)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar memberitahuku, dari orang yang mendengar al-Hasan berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan para sahabatku di tengah manusia seperti perumpamaan garam pada makanan.” Kemudian al-Hasan berkata: Wahai, telah pergi garam kaum itu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husain bin Ali al-Ju’fi menceritakan kepada kami, dari Abu Musa yaitu Israil, dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kalian di tengah manusia seperti perumpamaan garam pada makanan.” Ia berkata: Al-Hasan berkata: Dan apakah makanan itu menjadi enak kecuali dengan garam. Ia berkata: Kemudian al-Hasan berkata: Lalu bagaimana dengan kaum yang garamnya telah hilang.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/67-69 (16-17)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku dan Sufyan dan Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari al-Bara’ bin Azib ia berkata: Kami pernah membicarakan bahwa jumlah para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari Badar sesuai dengan jumlah pasukan Thalut pada hari Jalut, tiga ratus lebih belasan orang yang menyeberangi sungai bersamanya. Ia berkata: Dan tidak menyeberangi sungai bersamanya kecuali orang mukmin.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (3674)

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin Shalih al-Atthar memberitahu kami, ia berkata: Harun bin Ya’qub al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku Ya’qub bin al-Abbas berkata: Kami berada di sisi Abu Abdillah pada tahun dua puluh tujuh, aku dan Abu Ja’far bin Ibrahim, maka Abu Ja’far berkata kepadanya: Bukankah kita mendoakan rahmat untuk semua sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Muawiyah, Amr bin al-Ash, dan untuk Abu Musa al-Asy’ari, dan al-Mughirah? Ia berkata: Ya, semuanya Allah telah mensifati mereka dalam kitab-Nya, maka Dia berfirman: “Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (Surah Al-Fath: 29).

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah, dan disebutkan kepadanya para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia berkata: Rahimahumullaahu ajma’in (semoga Allah merahmati mereka semuanya).

Al-Khallal berkata: Shalih bin Ali al-Halabi dari keluarga Maimun bin Mihran memberitahu kami bahwa ia mendengar Abu Abdillah mendoakan rahmat untuk semua sahabat Rasul.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/378 (755-757)

Al-Khallal berkata: Hanbal menceritakan kepada kami: Dan Abu Ghassan menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Abu Bisyr, dari al-Hasan: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Surah Al-Ma’idah: 54) Ia berkata: Abu Bakar dan para sahabatnya.

Hanbal berkata: Abu Abdillah berkata: Abu Bisyr ini adalah al-Halabi, ia melewati mereka di Kufah lalu mereka mendengar darinya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/382

Al-Marwazi berkata: Dan Abu Abdillah berkata: Kemunafikan tidak ada pada kalangan Muhajirin.

“Bada’i’ al-Fawa’id” 3/103

149 – Keutamaan Abu Bakar radhiyallahu anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri insya Allah, dari Urwah atau Amrah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada harta seseorang yang bermanfaat bagi kami sebagaimana bermanfaatnya harta Abu Bakar.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/75 (24)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muawiyah bin Amr menceritakan kepada kami, Zaidah menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia bersabda: “Barangsiapa menginfakkan sepasang dari apa yang ia miliki maka semua penjaga surga memanggilnya: Wahai hamba Allah, wahai muslim, ini adalah kebaikan, kemarilah kepadanya.” Maka Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, orang ini tidak akan celaka, jika ia meninggalkan satu pintu ia masuk dari pintu yang lain. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menepuk bahunya dengan tangannya, kemudian bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap engkau termasuk di antara mereka, dan demi Allah tidak ada harta yang bermanfaat bagiku sebagaimana bermanfaatnya harta Abu Bakar.” Ia berkata: Maka Abu Bakar menangis, kemudian berkata: Bukankah Allah membimbingku dan mengangkatku kecuali karena engkau?!

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/78-79 (27)

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah: Sesungguhnya Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku sebagaimana bermanfaatnya harta Abu Bakar.” Maka ia mengingkarinya, dan berkata: Siapa yang menceritakannya kepadamu? Aku berkata: Yahya bin Ma’in menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah. Yahya berkata: Maka seorang laki-laki berkata kepada Sufyan: Siapa yang menyebutkannya? Ia berkata: Wail.

Maka ayahku berkata: Kami berpendapat Wail tidak mendengar dari az-Zuhri, sesungguhnya Wail meriwayatkan dari ayahnya. Dan ia berkata: Ini adalah kesalahan. Kemudian ia berkata: Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Sa’id bin al-Musayyab ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/84-85 (34-35)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah memberitahuku, dari Abdul Wahid bin Abi Aun, dari al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah bahwa ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat maka orang-orang Arab murtad dan kemunafikan menjulang di Madinah, seandainya bukan yang menimpa gunung-gunung yang kokoh seperti yang menimpa ayahku niscaya ia menghancurkannya, maka demi Allah tidaklah mereka berbeda pendapat dalam suatu titik kecuali ayahku terbang membawa bagian dan manfaatnya dalam Islam, dan ia berkata bersama ini: Dan barangsiapa yang melihat Umar bin al-Khaththab maka ia tahu bahwa ia diciptakan sebagai manfaat bagi Islam, ia adalah demi Allah seorang yang berhati-hati, tenunan sendirian, sungguh ia telah menyiapkan untuk urusan-urusan pasangan-pasangannya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/118-119 (68)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Talid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abu al-Jahhaf menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika Abu Bakar dibaiat, dia menutup pintunya dari orang-orang selama tiga hari, setiap hari dia berkata: Aku telah membebaskan kalian dari baiatku, maka baiat siapa saja yang kalian kehendaki, katanya: Setiap kali itu Ali—yaitu Ibnu Abi Thalib—berdiri lalu berkata: Kami tidak membebaskanmu dan tidak meminta dibebaskan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mendahulukanmu, maka siapa yang akan mengakhirkanmu?

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/162 (102)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari al-Hasan, dia berkata: Umar berkata: Aku berharap aku berada di surga di tempat di mana aku melihat Abu Bakar. Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Talid menceritakan kepada kami, dari Abu al-Jahhaf, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan dia memiliki dua menteri dari penduduk langit dan dua menteri dari penduduk bumi, maka dua menteriku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, dan dua menteriku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar.”

Abu Abdurrahman berkata: Aku mengingatkan ayahku rahimahullah tentang hadits Abu Said al-Ashajj dari hadits Talid, dari Athiyah, dari Abu Said. Dia berkata: Itu mursal dari Talid dari Abu al-Jahhaf saja.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Talid menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Manshur berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?” Ash-Shiddiq berkata: Saya.

Beliau bersabda: “Siapa di antara kalian yang bersedekah hari ini kepada seorang peminta dengan sesuatu?” Ash-Shiddiq berkata: Saya. Beliau bersabda: “Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?” Ash-Shiddiq berkata: Saya.

Beliau bersabda: “Siapa di antara kalian yang mengiringi jenazah hari ini?” Ash-Shiddiq berkata: Saya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan mengumpulkan kebaikan-kebaikan ini kecuali pada seorang laki-laki dari penduduk surga.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/164-166 (104-107)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ghalib—yaitu al-Qaththan—menceritakan kepada kami, dia berkata: Bakar bin Abdullah berkata: Sesungguhnya Abu Bakar tidak melebihi manusia karena dia lebih banyak shalat dan puasanya, dia hanya melebihi mereka dengan sesuatu yang ada di dalam hatinya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/173 (118)

Abdullah berkata: Dan ayahku menceritakan kepadaku, Makki menceritakan kepada kami, Anis bin Abi Yahya menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Said al-Khudri, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada kami dalam sakitnya yang menyebabkan beliau wafat dan beliau mengikat kepalanya, katanya: Maka aku mengikutinya hingga beliau naik ke mimbar lalu bersabda: “Sesungguhnya sekarang aku akan berdiri di telaga,” kemudian bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba ditawarkan kepadanya dunia dan perhiasannya, lalu dia memilih akhirat.” Maka tidak ada seorang pun dari kaum yang menyadarinya kecuali Abu Bakar, lalu dia berkata: Dengan bapakku dan ibuku engkau, bahkan kami tebus engkau dengan harta kami, diri kami, dan anak-anak kami. Katanya: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun dari mimbar, maka beliau tidak terlihat di atasnya hingga saat ini.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/202-203 (154)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Abu Bakar—yaitu Ibnu Ayyasy—menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Abu Bakar untuk musim haji, lalu ketika dia berangkat, beliau mengutus Ali menyusulnya dengan ayat-ayat dari awal surat Bara’ah, maka Abu Bakar kembali lalu berkata: Wahai Rasulullah, ada apa denganku? Beliau bersabda: “Baik, engkau adalah teman­ku di gua dan temanku di telaga,” katanya: Maka Abu Bakar berkata: Aku ridha.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/215 (177)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariya bin Abi Za’idah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Jabbar bin Warad menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk bersama para sahabatnya ke sebuah kolam lalu membagi mereka menjadi dua kelompok, kemudian bersabda: Hendaklah setiap orang di antara kalian berenang menuju temannya, maka setiap orang dari mereka berenang menuju temannya hingga tersisa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berenang kepadanya hingga memeluknya kemudian bersabda: “Seandainya aku mengambil kekasih dari umat ini, niscaya aku mengambil Abu Bakar, tetapi dia adalah temanku” sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Nafi’ bin Umar, dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata: Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam hijrah, Abu Bakar keluar bersamanya, lalu mereka mengambil jalan Tsur, maka Abu Bakar berjalan di belakangnya dan berjalan di depannya, katanya: Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Ada apa denganmu?” Dia berkata: Wahai Rasulullah, aku khawatir engkau didatangi dari belakangmu maka aku di belakang, dan aku khawatir engkau didatangi dari depanmu maka aku maju. Katanya: Ketika sampai di gua, Abu Bakar berkata: Tetaplah di tempatmu hingga aku merapikannya, kata Nafi’: Seorang laki-laki menceritakan kepadaku dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Abu Bakar melihat lubang, lalu dia menutupnya dengan kakinya, dan berkata: Wahai Rasulullah, jika ada sengatan atau gigitan, biarlah mengenai diriku.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/217-218 (181-182)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Ibrahim—seorang laki-laki dari keluarga Rabi’ah—bahwa sampai kepadanya: Bahwa Abu Bakar ketika diangkat sebagai khalifah duduk di rumahnya dengan sedih lalu Umar masuk kepadanya, maka dia menghadap Umar mencela dia, katanya: Engkau yang membebani aku ini. Dan dia mengeluh kepadanya tentang hukum di antara manusia, maka Umar berkata kepadanya: Apakah engkau tidak tahu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penguasa jika berijtihad lalu benar maka baginya dua pahala, dan jika berijtihad lalu salah maka baginya satu pahala?” Katanya: Maka seolah-olah hadits Umar meringankan Abu Bakar.

Dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah, dia berkata: Ketika hari Badar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apa pendapat kalian tentang tawanan-tawanan ini?” Maka Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, kaummu dan keluargamu, pertahankanlah mereka dan minta mereka bertobat, mudah-mudahan Allah akan menerima tobat mereka, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk dan tidak menjawab mereka apa pun, katanya: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada mereka lalu bersabda: “Perumpamaanmu wahai Abu Bakar seperti perumpamaan Ibrahim alaihissalam, dia berkata: ‘Barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Surah Ibrahim: 36) Dan perumpamaanmu wahai Abu Bakar seperti perumpamaan Isa, dia berkata: ‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (Surah al-Ma’idah: 118)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Mu’awiyah—dia adalah Ibnu Amr—berkata: Za’idah menceritakan kepada kami, lalu dia menyebutkan sepertinya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Husain menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir—yaitu Ibnu Hazim—menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, lalu dia menyebutkan sepertinya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Hushain mengabarkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: Umar bin al-Khaththab berkhutbah lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Ketahuilah bahwa sebaik-baik umat ini setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, maka barangsiapa yang mengatakan selain itu setelah kedudukanku ini maka dia pembohong, atasnya seperti atas pembohong.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/220-222 (185-189)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun Abu Salamah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendapati para ulama kami dan orang yang kami ambil darinya, di antara mereka Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, Muhammad bin al-Munkadir, dan Utsman bin Muhammad al-Akhnasi, berkata: Abu Bakar adalah orang pertama dari laki-laki yang masuk Islam.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/274-275 (261)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hisyam menceritakan kepada kami, dari Mughirah, dari Ibrahim, dia berkata: Orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/276 (265)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Ibrahim, dia berkata: Abu Bakar. Yaitu: orang pertama yang masuk Islam.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/278 (270)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Burqan menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, dia berkata: Orang pertama yang memotong tangan adalah Abu Bakar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Mujahid, dia berkata: Orang pertama yang menampakkan Islam adalah tujuh orang: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah ibu Ammar.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/283 (281-282)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dia berkata: Ketika Abu Bakar mendamaikan orang-orang yang murtad, dia mendamaikan mereka dengan perang yang mengusir atau damai yang menghinakan. Katanya: Mereka berkata: Kami telah mengenal perang yang mengusir, lalu apa damai yang menghinakan? Dia berkata: Kalian bersaksi bahwa orang-orang kami yang terbunuh di surga dan orang-orang kalian yang terbunuh di neraka, dan bahwa kalian membayar diyat orang-orang kami yang terbunuh dan kami tidak membayar diyat orang-orang kalian yang terbunuh, dan bahwa apa yang kami ambil dari kalian maka itu untuk kami, dan apa yang kalian ambil dari kami kalian kembalikan kepada pemiliknya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1130 (1698)

150 – Keutamaan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika ada orang-orang yang diajari (muhaddatsun) dalam umat-umat, maka jika ada di dalam umatku adalah Umar bin al-Khaththab” yaitu dia diilhami sesuatu dari kebenaran. Dan sabda beliau: “Ketenangan berbicara melalui lisan Umar.”

“Masa’il Shalih” (1241)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muththalib bin Ziyad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Isa menceritakan kepada kami, dia berkata: Di wajah Umar ada dua garis hitam dari tangisan.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/310 (318)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Harun ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Ubaid—yaitu Ibnu Umair—dia berkata: Ketika Umar sedang membagi harta lalu mengangkat kepalanya tiba-tiba ada seorang laki-laki di wajahnya ada luka, dia berkata: Apa ini? Dia berkata: Aku terkena dalam perang ini dan itu, katanya: Maka dia memerintahkan untuknya seribu dirham, kemudian menunggu sebentar lalu memerintahkan untuknya seribu lagi hingga memerintahkan untuknya empat ribu dirham, maka mereka berkata: Malu. Lalu dia keluar, maka dia berkata: Seandainya dia tinggal, niscaya aku memberinya apa yang tersisa dari harta dirham demi dirham; seorang laki-laki dipukul di wajahnya dalam perang di jalan Allah yang menggali wajahnya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/321 (337)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dia berkata: Kami berbincang bahwa Umar bin al-Khaththab berbicara dengan lisannya seorang malaikat.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Sayyar, dari asy-Sya’bi, dia berkata: Jika mereka berselisih dalam sesuatu maka lihatlah kepada pendapat Umar bin al-Khaththab.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/323 (341-342)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: al-Awwam mengabarkan kepada kami, dari Mujahid, dia berkata: Jika manusia berselisih dalam sesuatu maka lihatlah apa yang Umar lakukan lalu ambillah dengannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Abu Syihab menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dia berkata: Tidak ada yang disamakan dengan pendapat Umar dan Abdullah jika keduanya berkumpul.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/326 (349-350)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Atab bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Abdullah – yakni Ibnu Mubarak – telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, ia berkata: Aku mendengar Nafi’ maula Abdullah bin Umar berkata: Orang-orang memperoleh kemenangan di Syam, di antara mereka ada Bilal – dan aku menyangka ia menyebutkan Muadz bin Jabal – lalu mereka menulis kepada Umar bin Khaththab: Sesungguhnya harta rampasan yang kami peroleh ini, untukmu seperlimanya dan untuk kami sisanya, tidak ada seorang pun yang berhak di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Hunain. Maka Umar menulis: Sesungguhnya bukan seperti yang kalian katakan, tetapi aku akan menjadikannya wakaf untuk kaum muslimin. Lalu mereka membalas suratnya, dan ia pun membalas surat mereka, mereka menolak dan ia pun menolak. Ketika mereka tetap menolak, Umar berdiri lalu berdoa terhadap mereka seraya berkata: Ya Allah, cukupkanlah aku dari Bilal dan sahabat-sahabat Bilal. Maka belum genap satu tahun hingga mereka semua meninggal, semoga Allah meridhai mereka.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/353-354 (378)

Abdullah berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya – yakni Ibnu Sa’id – telah menceritakan kepada kami Humaid – yakni al-Thawil – dari Anas – yakni Ibnu Malik – ia berkata: Umar berkata: Aku sesuai dengan Tuhanku dalam tiga hal, dan Tuhanku sesuai denganku dalam tiga hal. Aku berkata: Wahai Rasulullah, seandainya engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan: “Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat” (Surat Al-Baqarah: 125).

Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang masuk kepadamu ada orang baik dan orang jahat, seandainya engkau memerintahkan para ibu orang-orang beriman untuk berhijab, maka Allah menurunkan ayat hijab.

Dan sampai kepadaku tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegur sebagian istrinya, maka aku bertanya kepada para ibu orang-orang beriman, lalu aku masuk kepada mereka dan aku bertanya kepada mereka satu per satu: Demi Allah, hendaklah kalian berhenti, atau Allah akan mengganti Rasul-Nya dengan yang lebih baik dari kalian. Ia berkata: Lalu aku mendatangi sebagian istrinya, ia berkata: Wahai Umar, tidakkah Rasulullah dapat menasihati istri-istrinya sendiri sehingga engkau yang harus menasihati mereka? Maka Allah menurunkan: “Jika dia menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian” (Surat At-Tahrim: 5).

“Fadha’il al-Shahabah” 1/388 (437)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad – yakni Ibnu Salamah – ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Tsabit: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, berilah aku, demi Allah, jika engkau memberiku aku tidak akan memujimu, dan jika engkau menolakku aku tidak akan mencelamu. Umar berkata: Mengapa demikian? Ia berkata: Karena Allah Jalla Tsana’uhu-lah yang memberi dan Dia-lah yang mencegah. Umar berkata: Masukkanlah dia ke Baitul Mal, maka hendaklah ia mengambil apa yang ia mau. Maka mereka memasukkannya, ia berkata: Lalu ia mulai melihat emas dan perak, maka ia berkata: Apa ini? Aku tidak membutuhkan yang ada di sini, aku hanya menginginkan bekal dan kendaraan. Dan sesungguhnya Umar hanya bermaksud memberinya bekal. Maka Umar memerintahkan untuk memberinya bekal dan kendaraan, lalu dikendarailah untuk dia. Ketika ia menaiki kendaraannya, ia mengangkat tangannya lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya yang telah membawanya, yang telah memberinya. Dan Umar berjalan di belakangnya dan berharap agar ia mendoakannya. Ia berkata: Ya Allah, berilah balasan yang baik kepada Umar. Affan menggambarkan: Hammad mengisyaratkan dengan tangannya ke belakang di antara bahunya.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/390 (442)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: Aku mendengar Atha’ dan yang lain dari sahabat-sahabat kami menyebutkan bahwa Umar adalah orang pertama yang mengangkat Maqam lalu meletakkannya di tempatnya sekarang, padahal sebelumnya berada di depan Ka’bah.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/396-397 (455)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdul Hamid – ayahku berkata: Tetangga kami yang baik penampilannya – telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, dari ayahnya ia berkata: Ketika Amru bin al-Ash suatu hari berjalan di depan rombongannya sambil berbicara dalam hatinya, ia berkata: Sungguh hebat Ibnu Hantamah itu, dia laki-laki yang bagaimana! Ia maksudkan dengan itu: Umar bin Khaththab.

“Fadha’il al-Shahabah” 9/399 (459)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru, dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib, dari Abbas ia berkata: Sebaik-baik laki-laki adalah Umar, ia adalah tetanggaku, malamnya untuk berdiri shalat, siangnya untuk berpuasa, dan untuk mengurusi keperluan manusia. Ia berkata: Maka aku memohon kepada Tuhanku agar memperlihatkannya kepadaku dalam mimpi, maka Dia memperlihatkannya kepadaku pada awal tahun, ia datang dari pasar sambil malu-malu. Maka aku berkata: Apa yang terjadi padamu, atau apa yang kau alami? Ia berkata: Ia berkata: Hampir saja ArasyKu runtuh seandainya aku tidak bertemu dengan Tuhan yang Maha Penyayang.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1166-1167 (1762)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahna, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang perkataannya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam unggul, dan Abu Bakar shalat, dan Umar ketiga, apakah ini dalam pacuan kuda? Ia berkata: Tidak.

Aku bertanya: Dalam hal apa? Ia berkata: Dalam Islam.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/251 (388)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Mathar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Thalib bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua Umar. Ia berkata: Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz, rahimahullah keduanya.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali as-Simsar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahna, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, aku berkata: Siapa dua Umar?

Ia berkata: Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz.

Aku berkata: Sesungguhnya Abu Ubaid, sebagaimana mereka ceritakan kepadaku darinya, berkata: Dua Umar: Abu Bakar dan Umar. Maka ia berkata: Kami tidak mengenal dua Umar kecuali Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz.

“As-Sunnah” 1/252 (390-391)

151 – Keutamaan Utsman bin Affan semoga Allah meridhainya

Al-Kausaj berkata: Aku berkata: Ibnu Sirin berkata: Sesungguhnya tebusan hanya ada setelah Utsman semoga Allah meridhainya? Ahmad berkata: Aku tidak mengenalnya.

Ishaq berkata: Aku tidak mengenalnya.

“Masa’il al-Kausaj” (3310)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari az-Zuhri, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdillah bahwa Abdullah bin Umar berkata: Seorang laki-laki Anshar datang kepadaku pada masa kekhalifahan Utsman lalu berbicara denganku, ternyata ia memerintahkanku dalam pembicaraannya agar aku mencela Utsman. Maka ia berbicara panjang lebar dan ia adalah seorang yang lidahnya berat, hampir tidak selesai pembicaraannya dengan lancar. Ia berkata: Ketika ia selesai berbicara, aku berkata kepadanya: Sesungguhnya kami dulu mengatakan – ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup -: Yang paling utama dari umat Rasulullah setelahnya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan sesungguhnya kami demi Allah tidak mengetahui Utsman membunuh jiwa tanpa hak, dan tidak melakukan satu pun dosa besar, tetapi ini adalah harta ini, jika ia memberikannya kepada kalian, kalian ridha, dan jika ia memberikannya kepada kerabatnya, kalian marah! Kalian hanya ingin menjadi seperti Persia dan Romawi yang tidak membiarkan pemimpin mereka kecuali membunuhnya.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/113 (64)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami al-Muththalib bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Isa, ia berkata: Abdurrahman bin Abi Laila berkata: Aku melihat Ali mengangkat kedua ketiaknya seraya berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari darah Utsman.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/552-553 (727)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ummu Umar binti Hassan – ayahku berkata: Wanita tua yang jujur – ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sampai kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mempersiapkan pasukan al-Usrah maka baginya surga”. Ia berkata: Maka Utsman berkata: Aku akan menyiapkan seratus unta. Kemudian ia berkata: Bebaskan aku wahai Rasulullah. Maka beliau membebaskannya. Ia berkata: Aku akan menyiapkan sejumlah itu dari kuda. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang bersamanya gembira dengan itu, kemudian beliau berkata kepadanya pada saat itu perkataan yang baik. Ayahnya menghafalnya dan Ummu Umar melupakannya. Ia berkata: Dan aku mendengar ayahku berkata: Sesungguhnya Utsman mempersiapkan pasukan al-Usrah dua kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku al-A’masy, dari Abdullah bin Sinan, ia berkata: Abdullah berkata ketika Utsman diangkat menjadi khalifah: Kami tidak memilih kecuali yang paling tinggi yang di atas.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/554-555 (730-731)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Malik al-Asyja’i, dari Salim bin Abi al-Ja’d, dari Muhammad Ibnul Hanafiyyah, ia berkata: Sampai kepada Ali bahwa Aisyah melaknat pembunuh Utsman di Mirbad. Ia berkata: Maka Ali mengangkat kedua tangannya hingga sampai ke wajahnya lalu berkata: Dan aku pun melaknat pembunuh Utsman, Allah melaknat mereka di dataran dan di gunung. Ia berkata dua atau tiga kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Abdul Malik bin Umair, dari Musa bin Thalhah, ia berkata: Mereka berkata: Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepada kami tentang Utsman. Ia berkata: Maka ia duduk tegak menghadap orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami mencela kepada Utsman tiga hal: pengangkatan pemuda, tanah gembalaan, dan pukulan cemeti. Kemudian kalian meninggalkannya hingga ketika kalian mengisapnya seperti mengisap kain, kalian menyerangnya dengan tiga kehormatan: kehormatan darahnya yang haram, kehormatan negeri yang haram, dan kehormatan bulan yang haram. Utsman adalah yang paling bertakwa kepada Tuhan di antara mereka, yang paling menjaga kemaluannya, dan yang paling menyambung silaturahmi.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Yunus – yakni Ibnu Ubaid – dari al-Walid bin Muslim, dari Jundub, ia berkata: Aku datang ke pintu Hudzaifah lalu meminta izin tiga kali tetapi tidak diizinkan.

Husyaim menyebutkan kisah yang di dalamnya ia berkata: Mereka pergi untuk membunuhnya. Aku berkata: Di mana ia? Ia berkata: Di surga. Aku berkata: Di mana pembunuhnya? Ia berkata: Di neraka. Yakni: pembunuh Utsman.

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Qasim al-Asadi, dari al-Auza’i, dari Hassan bin Athiyyah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Allah mengampunimu wahai Utsman apa yang telah engkau kerjakan dan apa yang akan datang, apa yang engkau rahasiakan dan apa yang engkau tampakkan, apa yang engkau sembunyikan dan apa yang engkau nyatakan, dan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat”.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/555-557 (733-736)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Bahz bin Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Salamah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Arrar bin Suwaid al-Kufi, dari Umairah bin Sa’d, ia berkata: Kami bersama Ali di tepi sungai Eufrat, lalu lewat sebuah kapal dengan layar yang terangkat. Maka Ali berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan milik-Nya-lah kapal-kapal yang berlayar di laut bagaikan gunung-gunung” (Surat Ar-Rahman: 24). Demi Dzat yang menciptakannya di laut dari laut-laut-Nya, aku tidak membunuh Utsman dan tidak bersekongkol dalam pembunuhannya.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/559-560 (739)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Seandainya Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit meninggal di suatu zaman, niscaya hilang ilmu faraid hingga hari kiamat. Dan sungguh telah datang kepada manusia suatu masa yang tidak ada yang mengetahuinya selain mereka berdua.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/563 (745)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan Waki’, dari Mis’ar, dari Abdul Malik, Yahya berkata dalam haditsnya, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Maisarah, dari an-Nazzal, ia berkata: Ketika Utsman diangkat menjadi khalifah, Abdullah berkata: Kami memerintahkan yang terbaik dari yang tersisa, dan kami tidak memilih yang lain.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/563-564 (747)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Laits, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Uqail – yakni Ibnu Khalid – dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia biasa berkata: Duhai seandainya aku menjadi sesuatu yang terlupakan. Adapun perihal Utsman, demi Allah aku tidak pernah menyukai agar dilanggar suatu urusan dari Utsman kecuali dilanggar dariku yang serupa dengannya, sehingga jika aku menyukai pembunuhannya maka aku pun dibunuh. Wahai Ubaidullah bin Adi, janganlah engkau tertipu oleh siapa pun setelah apa yang engkau ketahui. Demi Allah, aku tidak meremehkan amalan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga muncul sekelompok orang yang mencela Utsman, mereka berkata perkataan yang tidak baik yang sepertinya, dan mereka membaca bacaan yang tidak baik yang sepertinya, dan mereka shalat dengan shalat yang tidak sepertinya. Ketika aku merenungkan perbuatan itu, ternyata demi Allah mereka tidak mendekati amalan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka jika engkau kagum dengan perkataan baik seseorang, katakanlah: “Bekerjalah, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (Surat At-Taubah: 105). Dan janganlah siapa pun menghinamu.

“Fadha’il al-Shahabah” 1/565 (750)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Musayyab—yaitu: Ibnu Rafi’—dari Musa bin Thalhah, dari Humran, ia berkata: Utsman bin Affan mandi setiap hari sekali sejak masuk Islam.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/569 (756)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Ibnu Aun menceritakan kepada kami, dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar memakai baju besi dua kali pada hari itu, yaitu: hari penyerbuan rumah.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/573 (763)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’tamir menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar ayahku, Abu Nadhrah menceritakan kepada kami, dari Abu Sa’id maula Anshar, ia berkata: Utsman mendengar bahwa utusan penduduk Mesir telah datang…, lalu ia menyebutkan hadits tersebut, dan berkata: Mereka mengepungnya di istana, maka pada suatu hari ia menghadap kepada mereka, lalu berkata: Aku memohon kepada kalian dengan Allah, apakah kalian mengetahui bahwa aku membeli (sumur) Rumah dengan hartaku agar orang-orang dapat mengambil air darinya, dan aku menjadikan timbaku di dalamnya seperti timba seorang Muslim (lainnya)? Mereka menjawab: Ya. Ia berkata: Lalu mengapa kalian melarangku minum darinya hingga aku berbuka dengan air laut?! Ia berkata: Mushaf berada di hadapannya, maka seseorang menebas ke arahnya dengan pedang, namun ia menangkis dengan tangannya sehingga tangannya terpotong. Aku tidak tahu apakah tangannya terputus sempurna atau terpotong namun tidak terputus sempurna, lalu ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya ini adalah telapak tangan pertama yang pernah menulis Mufashshal. Dalam hadits selain dari Abu Sa’id: Lalu al-Jujaubi masuk ke tempatnya dan menusuknya dengan anak panah, maka darah menetesi ayat ini {Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (137)} [Al-Baqarah: 137], dan ayat itu masih ada di dalam mushaf, tidak terhapus. Dan dalam hadits Abu Sa’id: Putri al-Farafshah mengambil perhiasannya lalu meletakkannya di pangkuannya, dan itu sebelum ia terbunuh. Ketika ia ditusuk dan terbunuh, ia membungkuk di atasnya, maka sebagian dari mereka berkata: Semoga Allah membinasakan dia, betapa besarnya pantatnya. Ia berkata: Maka aku mengetahui bahwa musuh-musuh Allah tidak menginginkan selain dunia.

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, aku mendengar Ya’la bin Hakim, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Utsman meminta pendapatku ketika ia dikepung, lalu berkata: Apa pendapatmu tentang apa yang dikatakan al-Mughirah bin al-Akhnas? Aku berkata: Apa yang ia katakan? Ia berkata: Ia berkata: Sesungguhnya orang-orang ini hanya menginginkan agar kamu melepaskan urusan ini dan membiarkan antara mereka dan urusan itu. Maka aku berkata: Bagaimana pendapatmu jika kamu melakukan itu, apakah kamu akan hidup selamanya di dunia? Ia berkata: Tidak. Aku berkata: Bagaimana pendapatmu jika kamu tidak melakukannya, apakah mereka akan menambah selain membunuhmu? Ia berkata: Tidak. Aku berkata: Apakah mereka menguasai surga dan neraka? Ia berkata: Tidak. Aku berkata: Maka sesungguhnya aku tidak berpendapat bahwa kamu menjadikan ini sebagai sunnah dalam Islam, setiap kali mereka tidak senang dengan seorang pemimpin mereka mencopotnya, dan aku tidak berpendapat kamu melepaskan pakaian yang telah dipakaikan Allah Azza wa Jalla kepadamu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami dari Nafi’, ia berkata: Mereka masuk ke tempat Utsman dari pintu, maka ia mengarahkan tombak kepada seorang dari mereka, lalu orang itu berbalik, dan berkata: Allah Allah wahai Utsman. Maka Utsman berkata: Allah Allah wahai Utsman. Allah Allah wahai Utsman, kemudian ia menahan diri hingga terbunuh.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Jangan kalian membunuh Utsman, karena sesungguhnya jika kalian melakukannya, kalian tidak akan shalat bersama-sama selamanya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Aun, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hathib berkata: Aku bertanya kepada Ali tentang Utsman, maka ia berkata: Ia termasuk orang-orang yang beriman kemudian bertakwa kemudian beriman kemudian bertakwa, dan ia tidak menyempurnakan ayat tersebut.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, ia berkata: Abu Bisyr menceritakan kepadaku, dari Yusuf bin Sa’d, dari Muhammad bin Hathib, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata—yaitu: {Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan baik dari Kami} [Al-Anbiya’: 101]—di antara mereka adalah Utsman.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hammad bin Usamah Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Hisyam, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin az-Zubair, ia berkata: Aku berkata kepada Utsman pada hari penyerbuan rumah: Perangilah mereka, maka demi Allah sungguh telah halal bagimu memerangi mereka. Maka ia berkata kepadanya: Demi Allah aku tidak akan memerangi mereka selamanya. Ia berkata: Maka mereka masuk ke tempatnya lalu membunuhnya dalam keadaan berpuasa, kemudian ia berkata: Dan sesungguhnya Utsman telah mengangkat Abdullah bin az-Zubair sebagai komandan rumah, maka Utsman berkata: Barangsiapa yang kepadaku wajib taat kepadanya maka hendaklah ia menaati Abdullah bin az-Zubair.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/578-580 (766-772), “az-Zuhd” hal. 160

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Utsman, ia berkata: Tidaklah seorang pekerja mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Allah akan memakaikan kepadanya baju pekerjaannya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/586 (777)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin al-Qasim menceritakan kepada kami, Abdul Hamid—yaitu: Ibnu Bahram—menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Muhallab Abu Abdullah menceritakan kepadaku, bahwa ia masuk menemui Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab, dan orang itu termasuk orang yang memuji Ali bin Abi Thalib dan mencela Utsman, maka orang itu berkata: Wahai Abu al-Fadhl, tidakkah kamu mengabarkan kepadaku apakah Utsman menyaksikan kedua bai’at, baik Bai’at ar-Ridhwan maupun Bai’at al-Fath? Maka Salim berkata: Tidak. Maka orang itu bertakbir, dan berdiri, dan mengibaskan kain luarnya, dan keluar pergi. Ketika ia keluar, teman-teman duduknya berkata kepadanya: Demi Allah aku tidak melihat kamu mengetahui urusan orang itu.

Ia berkata: Benar, memangnya apa urusannya? Mereka berkata: Sesungguhnya ia termasuk orang yang memuji Ali dan mencela Utsman. Maka ia berkata: Panggil orang itu. Maka diutuslah seseorang kepadanya, ketika ia datang ia berkata: Wahai hamba Allah yang saleh, sesungguhnya kamu bertanya kepadaku apakah Utsman menyaksikan kedua bai’at, baik Bai’at ar-Ridhwan maupun Bai’at al-Fath, maka aku menjawab: Tidak, maka kamu bertakbir dan keluar dengan gembira, barangkali kamu termasuk orang yang memuji Ali dan mencela Utsman. Maka ia berkata: Benar, demi Allah sesungguhnya aku termasuk mereka. Ia berkata: Maka dengarkanlah dariku dan pahamilah kemudian riwayatkanlah dariku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika membaiat orang-orang di bawah pohon telah mengutus Utsman dalam pasukan dan ia dalam keperluan Allah dan keperluan Rasul-Nya dan keperluan orang-orang mukmin, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Ketahuilah bahwa tangan kananku adalah tangan kananku dan tangan kiriku adalah tangan Utsman, maka ia memukulkan tangan kirinya pada tangan kanannya lalu berkata: Ini adalah tangan Utsman, dan sesungguhnya aku telah membaiat untuknya, kemudian ada urusan Utsman dalam bai’at yang kedua: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Utsman kepada Ali, yang merupakan panglima Yaman, maka ia melakukan seperti itu. Kemudian ada urusan Utsman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada seorang laki-laki dari penduduk Mekkah: Wahai fulan, tidakkah kamu menjual rumahmu kepadaku agar aku tambahkan pada Masjid Ka’bah dengan rumah yang aku jaminkan untukmu di surga? Maka laki-laki itu berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, demi Allah tidaklah aku memiliki rumah selain itu, maka jika aku menjual rumahku kepadamu, tidak ada sesuatu pun yang menaungi aku dan anakku di Mekkah. Ia berkata: Bahkan juallah rumahmu kepadaku agar aku tambahkan pada Masjid Ka’bah dengan rumah yang aku jaminkan untukmu di surga, maka laki-laki itu berkata: Demi Allah tidak ada keperluan bagiku dalam hal itu dan aku tidak menginginkannya. Maka hal itu sampai kepada Utsman, dan laki-laki itu adalah teman minum Utsman pada masa jahiliah dan sahabatnya, maka ia mendatanginya lalu berkata: Wahai fulan, sampai kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menginginkan rumahmu darimu untuk menambahkannya pada Masjid Ka’bah dengan rumah yang ia jaminkan untukmu di surga, maka kamu menolaknya. Ia berkata: Benar aku telah menolaknya. Maka Utsman terus membujuknya hingga ia membeli rumahnya dengan sepuluh ribu dinar, kemudian ia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, sampai kepadaku bahwa kamu menginginkan rumah fulan darinya untuk kamu tambahkan pada Masjid Ka’bah dengan rumah yang kamu jaminkan untuknya di surga, dan sesungguhnya itu adalah rumahku maka apakah kamu mengambilnya dariku dengan rumah yang kamu jaminkan untukku di surga? Ia berkata: Ya, maka ia mengambilnya darinya dan menjaminkan rumah untuknya di surga, dan mempersaksikan hal itu kepada orang-orang mukmin. Kemudian ada pembekalan Pasukan Kesulitan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berperang dalam Perang Tabuk, maka ia tidak menghadapi dalam perangnya dari perang-perangnya seperti apa yang ia hadapi di dalamnya berupa kelaparan dan kehausan, dan sedikitnya kendaraan dan kebutuhankebutuhan. Maka hal itu sampai kepada Utsman, maka ia membeli makanan dan bahan makanan dan lauk-pauk dan apa yang memperbaiki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka ia membekali kafilah kepadanya, maka ia memuat pada yang membawa dan yang dibawa, dan mengirimnya kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat dan meletakkan apa yang ada padanya dari makanan dan lauk-pauk dan apa yang memperbaiki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya meliukkannya ke langit: Ya Allah aku ridha terhadap Utsman, maka ridhailah ia tiga kali, kemudian ia berkata: Wahai manusia, berdoalah untuk Utsman, maka orang-orang semuanya berdoa untuknya dengan bersungguh-sungguh dan Nabi mereka shallallahu alaihi wasallam bersama mereka. Kemudian ada urusan Utsman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang duduk, maka ia berkata: Wahai Umar, sesungguhnya aku melamar maka nikahkanlah aku putrimu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengarnya lalu berkata: Wahai Umar, Utsman melamar putrimu kepadamu, nikahkanlah putrimu kepadaku dan aku akan menikahkan putriku kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi putri Umar, dan menikahkan putrinya kepadanya. Maka inilah apa yang terjadi dari urusan Utsman.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/591-593 (784)

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: Dan Ibnu Salam berkata: Sungguh akan dihukumi pembunuh-pembunuhnya pada hari kiamat.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/595 (788)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu al-Mughirah menceritakan kepada kami, Shafwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Syuraih bin Ubaid dan yang lainnya menceritakan kepadaku bahwa Abdullah bin Salam berkata: Wahai penduduk Madinah, janganlah kalian membunuh Utsman, maka demi Allah sesungguhnya pedang Allah tersarungkan dari kalian, dan sesungguhnya malaikat-malaikat Allah menjaga Madinah dari setiap arah, tidaklah dari celah-celah Madinah suatu celah melainkan di atasnya ada malaikat yang terhunus, maka janganlah kalian menghunus pedang Allah yang tersarungkan dari kalian, dan janganlah kalian mengusir malaikat-malaikat Allah yang menjaga kalian.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/601 (795)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku mendengar Utsman ketika dikepung berkata: Jika kalian mendapati dalam Kitabullah bahwa kalian meletakkan kakiku dalam belenggu maka letakkanlah keduanya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Azhar bin Sa’d as-Samman menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika urusan mereka memburuk pada hari penyerbuan rumah, ia berkata: Mereka berkata: Maka siapa maka siapa? Maka mereka mengutus kepada Ummu Habibah, maka mereka datang dengannya di atas bagal putih dan selimut yang menutupinya. Ketika ia mendekati pintu, mereka berkata: Apa ini? Mereka menjawab: Ummu Habibah. Mereka berkata: Demi Allah ia tidak akan masuk. Maka mereka mengusirnya kembali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abu Ja’far—yaitu: ar-Razi—menceritakan kepada kami dari Yunus bin Ubaid, dari al-Hasan, ia berkata: Aku melihat Utsman tidur siang di masjid dalam selimut tidak ada seorang pun di sekitarnya, dan ia adalah Amirul Mukminin.

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Mughirah bin Muslim menceritakan kepada kami, dari Mathar al-Waraq, dari Ibnu Sirin, dari Hudzaifah, ia berkata: Ketika sampai kepadanya pembunuhan Utsman, ia berkata: Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui pembebasanku dari darah Utsman, maka jika orang-orang yang membunuhnya benar dalam membunuhnya maka sesungguhnya aku berlepas darinya, dan jika mereka salah dalam membunuhnya maka sungguh Engkau mengetahui pembebasanku dari darahnya, dan orang-orang Arab akan mengetahui jika mereka benar dalam membunuhnya pasti mereka akan memerah dengan itu susu, dan jika mereka salah dalam membunuhnya pasti mereka akan memerah dengan itu darah. Maka mereka memerah dengan itu darah, tidaklah diangkat dari mereka pedang dan pembunuhan.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/602-603 (798-801)

Al-Khallal berkata: Al-Maimuni mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari ayahnya, dari Ibnul Hanafiyah, dari Ali, ia berkata: Seandainya Utsman mengasingkanku ke Sharar pasti aku akan mendengar dan menaati.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari al-Hasan, bahwa Utsman bin Affan datang dengan dinar-dinar lalu menyebarkannya di pangkuan Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membolak-baliknya sambil berkata: Tidak ada atas Utsman apa yang ia kerjakan setelah ini.

“as-Sunnah” karya al-Khallal 1/259-260 (416-417)

152 – Keutamaan Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhainya

Shalih berkata: ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sayyar bin Hatim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair, aku berkata: wahai Abu Abdillah, siapakah yang membawa panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ia berkata: maka ia memandang kepadaku dan berkata: sungguh engkau ini longgar kerahnya (tidak tahu).

Ia berkata: maka aku marah dan mengadukannya kepada saudara-saudaraku dari kalangan para pembaca Al-Qur’an, aku berkata: tidakkah kalian heran dengan Sa’id bin Jubair, sungguh aku bertanya kepadanya: siapakah yang membawa panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Maka ia memandang kepadaku dan berkata: sungguh engkau ini longgar kerahnya.

Maka mereka berkata kepadaku: dan bagaimana engkau bertanya kepadanya sementara ia sedang takut dari Al-Hajjaj dan telah berlindung di Baitullah! Yang membawanya adalah Ali, yang membawanya adalah Ali, yang membawanya adalah Ali.

“Masail Shalih” (870)

Ibnu Hani berkata: aku membacakan kepada Abu Abdillah: Muhammad bin Ja’far berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Al-Mughirah, dari Ibrahim, bahwa ia menceritakan bahwa Ali ditanya tentang seorang wanita yang merusak keperawanan seorang budak wanita yang berada dalam asuhan suaminya karena khawatir ia akan menikahinya, dan wanita itu berkata: sesungguhnya budak itu telah berzina, maka ia berkata: katakanlah wahai Hasan, ia berkata: atasnya mahar dan hukuman had. Ali berkata: seandainya aku membebankan unta untuk menggiling, niscaya mereka menggiling. Ia berkata: maka aku mendengar Abu Abdillah berkata: mereka menyangka bahwa sejak Ali mengucapkan hal itu, unta-unta dibebani untuk menggiling sejak hari itu.

“Masail Ibnu Hani” (1584)

Harb berkata: aku bertanya kepada Ishaq: perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali: “Engkau adalah penolong bagiku di tepi telagaku”. Ia berkata: itu di dunia ia membela beliau, dan menyeru kepada (ajarannya), dan menjelaskan kepada mereka, dan semacam itu dari perkataan. Namun itu di dunia.

“Masail Harb” hal. 441

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ali bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Hani bin Urwah Al-Muradi ia berkata: Ali keluar ke pinggir Kufah maka ia melihat seekor burung pipit terbang, lalu ia berkata:

Wahai dirimu burung pipit yang berumur panjang Lapanglah untukmu udara, maka betelur dan bertelur kuninglah

Dan yang lain menambahkan selain Ali:

Dan mematuk apa yang engkau kehendaki untuk mematuk

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami ia berkata: Umar bin Munabbih As-Sa’di menceritakan kepada kami, dari Aufa bin Dalham Al-Adawi ia berkata: telah sampai kepadaku dari Ali bahwa ia berkata: pelajarilah ilmu agar kalian dikenal dengannya, dan beramallah dengannya agar kalian termasuk ahlinya, karena sesungguhnya akan datang setelah kalian suatu zaman yang sembilan persepuluhnya mengingkari kebenaran, tidaklah selamat darinya kecuali setiap nu’mah (orang mulia), mereka adalah para imam petunjuk dan pelita ilmu, mereka bukan orang-orang yang tergesa-gesa yang suka menyebar-nyebarkan berita.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Zubaid ia berkata: Ali berkata. Waki’ berkata: dan Yazid bin Ziyad bin Abi Al-Ja’d menceritakan kepada kami, dari Muhajir Al-Amiri, dari Ali ia berkata: sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah dua perkara: panjangnya angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Adapun panjangnya angan-angan maka ia melupakan akhirat, dan adapun mengikuti hawa nafsu maka ia menghalangi dari kebenaran. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia telah pergi membelakangi dan akhirat sedang datang menghadap, dan bagi setiap salah satunya ada anak-anak, maka jadilah kalian dari anak-anak akhirat dan jangan kalian menjadi dari anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini adalah amal tanpa hisab dan esok adalah hisab tanpa amal.

“Fadhail Ash-Shahabah” 1/649-651 (879-881)

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Laits menceritakan kepada kami, dari Mujahid dari Abdullah bin Sakhbarah, dari Ali ia berkata: tidaklah pagi hari seseorang di Kufah kecuali dalam kenikmatan, sesungguhnya yang paling rendah kedudukannya di antara mereka memakan dari gandum, dan duduk di tempat teduh, dan minum dari air Furat.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Isma’il menceritakan kepada kami ia berkata: Muhammad bin Qais menceritakan kepada kami, dari Ali bin Rabi’ah Al-Walibi, dari Ali bin Abi Thalib ia berkata: Ibnu At-Tiyah datang kepadanya lalu berkata: wahai Amirul Mukminin, Baitul Mal kaum muslimin telah penuh dengan (koin) kuning dan putih. Ia berkata: Allahu Akbar. Ia berkata: maka ia berdiri bersandar pada Ibnu At-Tiyah hingga berdiri di Baitul Mal kaum muslimin, lalu berkata:

Inilah hasil jerih payahku dan yang terbaik di dalamnya Dan setiap orang yang berusaha, tangannya menuju mulutnya

Wahai Ibnu At-Tiyah, datangkan kepadaku para tetua Kufah. Ia berkata: maka diumumkan kepada manusia lalu ia memberikan seluruh apa yang ada di Baitul Mal kaum muslimin, dan ia berkata: wahai (koin) kuning wahai (koin) putih tipulah selain aku, ambillah dan ambillah, dan ia berkata: wahai (koin) kuning wahai (koin) putih tipulah selain aku, ambillah dan ambillah, hingga tidak tersisa di dalamnya dinar dan dirham kemudian ia memerintahkan untuk membersihkannya dengan air dan shalat di dalamnya dua rakaat.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Mis’ar menceritakan kepada kami, dari Abu Bahr, dari seorang syaikh bagi mereka ia berkata: aku melihat pada Ali sebuah kain sarung yang kasar, ia berkata: aku membelinya dengan lima dirham, barangsiapa yang menguntungkanku di dalamnya satu dirham maka aku jual, dan aku melihat bersamanya dirham-dirham yang terikat lalu ia berkata: ini adalah sisa bekal kami dari Yanbu’.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Abu Hayyan ia berkata: Mujamma’ -yaitu At-Taimi- menceritakan kepadaku bahwa Ali memerintahkan Baitul Mal untuk disapu kemudian diperciki air kemudian shalat di dalamnya; dengan harapan agar ia menjadi saksi baginya pada hari kiamat bahwa ia tidak menahan harta di dalamnya dari kaum muslimin.

Ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Bahz -yaitu Ibnu Asad- menceritakan kepada kami, Ja’far -yaitu Ibnu Sulaiman- menceritakan kepada kami, Malik bin Dinar menceritakan kepada kami, ia berkata: seorang wanita tua dari kampung menceritakan kepadaku: Abu Musa Al-Asy’ari menikahkan salah seorang putranya lalu ia mengadakan walimah untuk mereka dan mengundang manusia, ia berkata: maka Ali datang, dikatakan: Amirul Mukminin telah datang, lalu aku membuka pintu rumah, ia berkata: maka Ali masuk dan di tangannya ada cambuk, dan ia mengenakan baju yang tidak memiliki kerah.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Mandal menceritakan kepada kami, dari Mutharrif, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Wahb, dari Abdullah ia berkata: apa yang kalian katakan? Sesungguhnya orang yang paling berilmu tentang ilmu faraid di antara penduduk Madinah adalah Ali bin Abi Thalib.

Ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Mundzir Isma’il bin Umar menceritakan kepada kami ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Ubaid, dari Ali bin Rabiʻah bahwa Ali memiliki dua orang istri, apabila hari ini giliran (istri) yang ini ia membeli daging dengan setengah dirham, dan apabila hari ini giliran (istri) yang ini ia membeli daging dengan setengah dirham.

“Fadhail Ash-Shahabah” 1/653-657 (883-889)

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’ammar menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami ia berkata: Isma’il bin Salim menceritakan kepada kami, dari Ammar Al-Hadhrami, dari Zadzan Abu Umar, bahwa seorang laki-laki menceritakan kepadanya bahwa Ali bertanya kepada seorang laki-laki tentang hadits di Ar-Rahbah lalu ia mendustakannya, maka ia berkata: sesungguhnya engkau telah mendustakan aku. Maka ia berkata: aku tidak mendustakanmu. Ia berkata: maka aku akan berdoa kepada Allah terhadapmu jika engkau telah mendustakan aku agar Allah membutakan penglihatanmu. Ia berkata: maka ia berdoa kepada Allah agar membutakannya; maka ia menjadi buta.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dari Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Amr bin Murrah, dari Abu Shalih, ia berkata: aku masuk kepada Ummu Kultsum binti Ali maka ternyata ia sedang menyisir di balik tirai yang memisahkan aku dan dirinya, lalu Hasan dan Husain datang, maka mereka berdua masuk menemuinya sementara ia sedang duduk menyisir, maka mereka berdua berkata: tidakkah kalian memberi makan Abu Shalih sesuatu?

Ia berkata: maka mereka mengeluarkan untukku sebuah mangkuk di dalamnya kuah dengan biji-bijian, ia berkata: maka aku berkata: kalian memberi aku makan ini sementara kalian adalah para pemimpin. Maka Ummu Kultsum berkata: wahai Abu Shalih bagaimana seandainya engkau melihat Amirul Mukminin -yaitu: Ali- dan didatangkan kepadanya buah utrujah lalu Hasan hendak mengambil satu darinya maka ia mencabutnya dari tangannya, kemudian ia memerintahkan agar dibagikan di antara manusia.

“Fadhail Ash-Shahabah” 1/663-664 (900-901)

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Abu Al-Mughirah -yaitu Utsman bin Al-Mughirah- dari Zaid bin Wahb ia berkata: Ali datang dengan utusan dari penduduk Basrah di antara mereka seorang laki-laki dari pemimpin Khawarij -yang dipanggil: Al-Ja’d bin Ba’jah- maka ia berkhutbah kepada manusia lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata: wahai Ali, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya engkau akan mati, dan sesungguhnya engkau telah mengetahui jalan orang yang berbuat baik -yaitu dengan orang yang berbuat baik: Umar- kemudian ia berkata: sesungguhnya engkau akan mati. Maka Ali berkata: tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tetapi terbunuh dengan dibunuh, pukulan pada ini (leher) akan mewarnai ini (jenggot), takdir yang ditakdirkan dan perjanjian yang dijanjikan, dan sungguh merugi orang yang membuat-buat kebohongan. Kemudian ia menegurnya tentang pakaiannya lalu berkata: apa yang menghalangimu untuk memakai pakaian (yang lebih baik)? Ia berkata: apa urusanmu dengan pakaianku, sesungguhnya pakaianku ini lebih jauh dari kesombongan, dan lebih layak agar kaum muslimin meneladaninya.

“Fadhail Ash-Shahabah” 1/667 (908)

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Amr bin Qais ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku: terlihat pada Ali pakaian yang bertambal, maka ia ditegur tentang pakaiannya lalu ia berkata: agar orang beriman meneladani, dan agar hati khusyu’.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Utsman Ats-Tsaqafi, dari Zaid bin Wahb bahwa Ba’jah menegur Ali tentang pakaiannya, maka ia berkata: agar orang beriman meneladani, dan agar hati khusyu’.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami ia berkata: dan Abu Hayyan At-Taimi menceritakan kepada kami, dari Mujamma’ Abu Raja’ ia berkata: Ali keluar membawa pedang ke pasar lalu berkata: siapa yang mau membeli dariku ini, seandainya aku memiliki harga sebuah kain sarung niscaya aku tidak menjualnya. Ia berkata: aku berkata: wahai Amirul Mukminin, aku akan menjualkannya untukmu dan aku menangguhkannya hingga pemberian gaji.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Yaman menceritakan kepada kami ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: tidaklah Ali meninggalkan kecuali tujuh ratus dirham dari gajinya, ia bermaksud untuk membeli dengannya seorang pembantu.

Abdullah berkata: ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhzi, dari Ali ia berkata: sungguh aku melihat diriku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesungguhnya aku mengikat batu pada perutku karena kelaparan, dan sesungguhnya sedekahku hari ini adalah empat puluh ribu.

“Fadhail Ash-Shahabah” 1/675-677 (923-928)

Abdullah berkata: Ayahku, semoga Allah merahmatinya, berkata: Ali bin Abi Thalib, dan nama Abi Thalib adalah Abdul Manaf bin Abdul Muththalib, dan nama Abdul Muththalib adalah Syaibah bin Hasyim, dan nama Hasyim adalah Amru bin Abdul Manaf, dan nama Abdul Manaf adalah Al-Mughirah bin Qushay, dan nama Qushay adalah Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Khadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. “Fadha’ilush Shahabah” 1/677 (929)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Athiyyah bin Sa’d Al-Aufi dia berkata: Kami masuk menemui Jabir bin Abdullah dan alis matanya sudah jatuh menutupi matanya, lalu kami bertanya kepadanya tentang Ali, maka aku berkata: Beritahukanlah kepada kami tentangnya. Dia berkata: Maka dia mengangkat alisnya dengan kedua tangannya lalu berkata: Dia itu termasuk sebaik-baik manusia. “Fadha’ilush Shahabah” 2/696 (949)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Abu At-Tiyyah, dari Abu As-Sawwar dia berkata: Ali berkata: Akan ada suatu kaum yang mencintaiku sehingga mereka masuk neraka karena cinta mereka kepadaku, dan akan ada suatu kaum yang membenciku sehingga mereka masuk neraka karena kebencian mereka kepadaku. “Fadha’ilush Shahabah” 2/698 (952)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Ayyub, dari Ikrimah dan dari Abu Yazid Al-Madini, keduanya berkata: Ketika Fathimah dinikahkan kepada Ali, dia tidak menemukan—atau dia tidak menemukan—di sisinya kecuali pasir yang dibentangkan, bantal, kendi dan cangkir. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan kepada Ali: “Jangan dekati istrimu sampai aku datang kepadamu.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lalu meminta air, kemudian mengucapkan sesuatu yang Allah kehendaki untuk diucapkannya, kemudian memercikkannya ke dada Ali dan wajahnya. Kemudian dia memanggil Fathimah, maka dia berdiri mendatanginya dengan tersandung pada pakaiannya—dan terkadang Ma’mar berkata: pada kain panjangnya—karena malu, maka dia memercikkan air itu kepadanya juga dan berkata kepadanya: “Ketahuilah, aku tidak menyia-nyiakan untuk menikahkanmu dengan orang yang paling aku cintai dari keluargaku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bayangan hitam di belakang pintu maka berkata: “Siapa ini?” Dia berkata: Asma’. Dia berkata: “Asma’ binti Umais?” Dia berkata: Ya. Dia berkata: “Kamu datang bersama putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghormatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia berkata: Ya. Dia berkata: Maka dia mendoakan untukku dengan doa yang menjadi amalan paling kukuatkan di sisiku. Dia berkata: Kemudian dia keluar, lalu berkata kepada Ali: “Hanya istrimu,” kemudian dia pergi ke kamar, maka dia terus berdoa untuk mereka berdua sampai dia masuk ke dalam kamar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail dia berkata: Aku mendengar Abu Ath-Thufail menceritakan, dari Abu Suraihah atau Zaid bin Arqam—Syu’bah yang ragu—dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa aku adalah maulanya (pemimpinnya), maka Ali adalah maulanya.” Maka Sa’id bin Jubair berkata: Dan aku telah mendengar yang seperti ini dari Ibnu Abbas. Muhammad berkata: Aku kira dia berkata: maka aku merahasiakannya. “Fadha’ilush Shahabah” 2/702-703 (958-959)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Amir bin As-Sibth menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Juhaf menceritakan kepadaku, dari Mu’awiyah bin Tsa’labah, dari Abu Dzar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Ali, sesungguhnya barangsiapa berpisah dariku maka dia telah berpisah dari Allah, dan barangsiapa berpisah darimu maka dia telah berpisah dariku.” “Fadha’ilush Shahabah” 2/704-705 (962)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tidak berperang, beliau tidak memberikan senjatanya kecuali kepada Ali atau Usamah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Yunus menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Yutsi’, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bani Wali’ah harus berhenti atau aku akan mengutus kepada mereka seorang laki-laki seperti diriku sendiri, yang akan melaksanakan perintahku di tengah-tengah mereka, dia akan membunuh para pejuang dan menawan keturunan mereka.” Dia berkata: Maka Abu Dzar berkata: Tidaklah membuatku terkejut kecuali dinginnya telapak tangan Umar di sarung celanaku dari belakangku, maka dia berkata: Siapa menurutmu yang dimaksud? Aku berkata: Bukan kamu yang dimaksud, tetapi yang dimaksud adalah penjahit sandal. “Fadha’ilush Shahabah” 2/706 (965-966)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Yusuf menceritakan kepada kami, Abdul Malik—yaitu: Ibnu Abi Sulaiman—menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah dia berkata: Aku bersama Ali—sementara Utsman terkepung. Dia berkata: Maka seorang laki-laki datang kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin terbunuh. Kemudian orang lain datang lalu berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin akan terbunuh sebentar lagi. Dia berkata: Maka Ali berdiri, Muhammad berkata: Maka aku memegang pinggangnya karena takut atas keselamatannya, maka dia berkata: Lepaskan, tidak ada ibu bagimu. Dia berkata: Maka Ali datang ke rumah dan orang itu telah terbunuh, maka dia datang ke rumahnya lalu masuk ke dalamnya dan menutup pintunya. Maka orang-orang datang kepadanya lalu mengetuk pintunya dan masuk kepadanya, maka mereka berkata: Sesungguhnya orang ini telah terbunuh dan orang-orang harus ada seorang khalifah, dan kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak atasnya selain engkau. Maka Ali berkata kepada mereka: Jangan menginginkan aku; karena aku sebagai wazir kalian lebih baik bagiku daripada aku sebagai amir kalian. Maka mereka berkata: Tidak, demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak atasnya selain engkau. Dia berkata: Jika kalian menolakku maka sesungguhnya baiatku tidak akan secara rahasia, tetapi aku akan keluar ke masjid, maka barangsiapa ingin membaiatku silakan membaiatku. Dia berkata: Maka dia keluar ke masjid lalu orang-orang membaiatnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, Juwairiyyah bin Asma’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Malik bin Anas menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Al-Miswar bin Makhramah dia berkata: Utsman terbunuh dan Ali berada di masjid, dia berkata: Maka orang-orang cenderung kepada Thalhah, dia berkata: Maka Ali pergi menuju rumahnya, lalu seorang laki-laki dari Quraisy menemuinya di tempat jenazah-jenazah, maka dia berkata: Lihatlah pada seorang laki-laki yang membunuh anak pamannya dan merampas kerajaannya. Dia berkata: Maka dia kembali lalu naik ke mimbar, maka dikatakan: Itu Ali di atas mimbar, maka orang-orang berpaling kepadanya lalu membaiatnya dan meninggalkan Thalhah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Waqid bin Muhammad bin Zaid, bahwa dia mendengar ayahnya menceritakan, dari Ibnu Umar, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa dia berkata: Wahai sekalian manusia, jagalah Muhammad pada ahli baitnya. “Fadha’ilush Shahabah” 2/708-710 (969-971)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Akil, dari Asy-Sya’bi dia berkata: Aku bertemu Alqamah lalu dia berkata: Apakah kamu tahu apa perumpamaan Ali dalam umat ini? Dia berkata: Aku berkata: Dan apa perumpamaannya? Dia berkata: Perumpamaan Isa bin Maryam, suatu kaum mencintainya sehingga mereka binasa dalam cinta mereka kepadanya, dan suatu kaum membencinya sehingga mereka binasa dalam kebencian mereka kepadanya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Shalih menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Sa’id bin Amr Al-Qurasyi, dari Abdullah bin Ayyasy Az-Zurqi dia berkata: Aku berkata kepadanya: Beritahukanlah kepada kami tentang laki-laki ini Ali bin Abi Thalib. Dia berkata: Sesungguhnya kami memiliki reputasi dan kehormatan, dan kami tidak suka mengatakan tentangnya apa yang dikatakan anak-anak paman kami, Ali adalah seorang laki-laki yang suka bermain-main—yaitu: suka bercanda—dia berkata: Dan dia apabila diuji maka dia diuji sampai gigi besi—dia berkata: Aku berkata apa itu gigi besi? Dia berkata: Membaca Al-Quran dan pemahaman dalam agama serta keberanian dan kedermawanan. “Fadha’ilush Shahabah” 2/711-712 (974-975)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-A’masy memberitahukan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Ibnu Abi Laila dia berkata: Disebutkan di hadapannya ucapan orang-orang tentang Ali, maka Abdur Rahman berkata: Sungguh kami telah duduk bersamanya dan berbincang dengannya dan makan bersamanya dan minum bersamanya dan mengerjakan pekerjaan bersamanya, maka aku tidak mendengarnya mengatakan sesuatu dari apa yang kalian katakan, tidakkah cukup bagi mereka untuk mengatakan: Anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menantunya, dan menyaksikan baiat Ridwan dan menyaksikan (perang) Badar?!

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Ali memujinya, dan dia sebelumnya mencela Ali, maka Ali berkata: Aku tidak seperti yang kamu katakan, dan sesungguhnya aku lebih baik dari apa yang ada di dalam dirimu. “Fadha’ilush Shahabah” 2/717 (982-983)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Khaibar: “Sungguh akan aku berikan panji ini kepada seorang laki-laki yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya atau dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka beliau memanggil Ali, dan sesungguhnya dia sedang sakit mata sehingga tidak bisa melihat tempat kakinya, maka beliau meludahi matanya kemudian memberikannya kepadanya, maka Allah membuka (kemenangan) untuknya. “Fadha’ilush Shahabah” 2/722 (988)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair dan Abu Ahmad—yaitu Az-Zubairi—menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Ala’ bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Al-Minhal bin Amr, dari Abbad, dari Abdullah dia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya—Ibnu Numair berkata dalam haditsnya: Dan aku adalah Ash-Shiddiq Al-Akbar (orang yang paling benar)—tidak ada yang mengatakannya setelah—Abu Ahmad berkata: setelahku—kecuali pendusta pemalsuan, dan sungguh aku telah shalat sebelum orang-orang selama tujuh tahun. Abu Ahmad berkata: Dan sungguh aku telah masuk Islam sebelum orang-orang selama tujuh tahun. “Fadha’ilush Shahabah” 2/716 (993)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dia berkata: Utsman Al-Jazari memberitahukan kepadaku, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Ali adalah orang pertama yang masuk Islam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Qatadah, dari Al-Hasan dan yang lainnya, bahwa Ali adalah orang pertama yang masuk Islam setelah Khadijah, dan dia pada waktu itu berusia lima belas tahun atau enam belas tahun. “Fadha’ilush Shahabah” 2/728-729 (728-998)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Abu Hamzah, dari Zaid bin Arqam dia berkata: Orang pertama yang masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib. Dia berkata: Maka aku menyebutkan hal itu kepada An-Nakha’i lalu dia mengingkarinya, dan berkata: Orang pertama yang masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ikrimah bin Ammar menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Zumil memberitahukan kepada kami, bahwa dia mendengar Ibnu Abbas berkata: Yang menulis perjanjian pada hari Hudaibiyyah adalah Ali bin Abi Thalib.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Az-Zuhri: Siapa yang menulis perjanjian pada hari Hudaibiyyah? Maka dia tertawa dan berkata: Dia adalah Ali, dan jika kamu bertanya kepada mereka ini maka mereka akan berkata: Utsman. Yaitu: Bani Umayyah. “Fadha’ilush Shahabah” 2/730-731 (1000-1002)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah memberitahukan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dia berkata: Aku mendengar Abu Hamzah menceritakan, dari Zaid bin Arqam dia berkata: Orang pertama yang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali. Maka aku menyebutkan hal itu kepada An-Nakha’i lalu dia mengingkarinya, dan berkata: Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam bersama Rasulullah. Amr berkata: Maka aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim lalu dia mengingkari hal itu, dan berkata: Abu Bakar. “Fadha’ilush Shahabah” 2/732 (1004)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali ke Yaman, Buraidah Al-Aslami keluar bersamanya, lalu dia menyalahkan Ali dalam beberapa hal, maka Buraidah mengadukan Ali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa aku adalah maulanya, maka sesungguhnya Ali adalah maulanya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari Al-Muththalib bin Abdullah bin Hanthab dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada delegasi Tsaqif ketika mereka datang kepadanya: “Demi Allah, kalian harus masuk Islam atau sungguh akan aku utus kepada kalian seorang laki-laki dariku—atau beliau bersabda: seperti diriku sendiri—maka dia akan memenggal leher-leher kalian, dan menawan keturunan kalian, dan mengambil harta-harta kalian.” Umar berkata: Demi Allah, tidaklah aku menginginkan kepemimpinan kecuali pada hari itu, aku membusungkan dadaku untuknya dengan harapan beliau berkata: Ini dia, maka beliau menoleh kepada Ali lalu mengambil tangannya kemudian berkata: “Dia ini, dia ini” dua kali. “Fadha’ilush Shahabah” 2/733-734 (1007-1008)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Amr bin Hubsyi yang berkata: Hasan bin Ali berkhutbah kepada kami setelah terbunuhnya Ali semoga Allah meridhainya, lalu ia berkata: Sesungguhnya telah meninggalkan kalian kemarin seorang laki-laki yang tidak ada orang-orang terdahulu yang mendahuluinya dalam ilmu dan tidak ada orang-orang yang datang kemudian yang akan mencapainya. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengirimnya dan memberikan panji kepadanya, maka ia tidak kembali hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya. Ia tidak meninggalkan harta emas maupun perak kecuali tujuh ratus dirham dari pemberian negara yang ia persiapkan untuk pembantu bagi keluarganya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Abu Ishaq, dari Hubairah yang berkata: Ia berkhutbah kepada kami… lalu ia menyebutkan seperti itu, tidak ada di dalamnya: ia tidak meninggalkan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali bin Husain yang berkata: Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali mengutusku kepada Thalhah dan Zubair pada hari Jamal. Ia berkata: Aku berkata kepada keduanya: Sesungguhnya saudaramu menyampaikan salam kepadamu berdua dan berkata kepadamu berdua: Apakah kalian berdua mendapatkan dariku ketidakadilan dalam keputusan atau dalam mementingkan diri sendiri atau dalam hal ini. Ia berkata: Maka Zubair berkata: Tidak dalam satu pun dari hal itu, tetapi bersama ketakutan ada kerasnya ambisi.

Fadha’ilush-Shahabah 2/737-738 (1013-1015)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Musa, dari Hasan, dari Ali yang berkata: Demi Allah, ayat tentang kami: “Dan Kami cabut apa yang ada dalam dada mereka dari kedengkian, sebagai saudara-saudara yang (duduk) di atas dipan-dipan berhadap-hadapan.” (Surah Al-Hijr: 47).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zaid bin Hubab menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain bin Waqid menceritakan kepadaku, ia berkata: Mathar Al-Warraq menceritakan kepadaku, dari Qatadah, dari Sa’id bin Musayyab: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara para sahabatnya, maka tersisa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Ali, lalu beliau mempersaudarakan antara Abu Bakar dan Umar dan berkata kepada Ali: “Engkau adalah saudaraku dan aku adalah saudaramu.”

As-Sunnah 2/573-573 (1345), Fadha’ilush-Shahabah 2/739-740 (1018-1019)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Wahb berkata: Ali meminta kesaksian dari orang-orang, maka bangkitlah lima atau enam orang dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.”

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Amr Dza Murr, dan ia menambahkan di dalamnya: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, beri kasih kepada orang yang mengasihinya, dan musuhi orang yang memusuhinya, dan tolong orang yang menolongnya, dan cintai orang yang mencintainya.” Syu’bah berkata: Atau ia berkata: “Benci orang yang membencinya.”

Fadha’ilush-Shahabah 2/741-742 (1021-1022)

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Syarik menceritakan kepada kami, dari Ayyasy Al-Ghamiri, dari Abdullah bin Syaddad bin Al-Had, ia berkata: Datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rombongan dari penduduk Yaman, ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian mendirikan shalat, atau aku akan mengutus kepada kalian seorang laki-laki yang membunuh para pejuang dan menawan keturunan.” Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, aku atau yang ini,” dan beliau menarik tangan Ali.

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya dan aku kira aku telah mendengarnya darinya, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Utsman Abu Al-Yaqzhan, dari Zadzan, dari Ali yang berkata: Perumpamaanku dalam umat ini seperti perumpamaan Isa bin Maryam, sekelompok orang mencintainya dan berlebihan dalam mencintainya maka mereka binasa, dan sekelompok orang membencinya dan berlebihan dalam membencinya maka mereka binasa, dan sekelompok orang mencintainya dan bersikap moderat dalam mencintainya maka mereka selamat.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Ashim, dari Abu Razin yang berkata: Hasan bin Ali berkhutbah kepada kami setelah wafatnya Ali dan ia mengenakan sorban hitam, lalu berkata: Sesungguhnya telah meninggalkan kalian seorang laki-laki yang tidak ada orang-orang terdahulu yang mendahuluinya dalam ilmu dan tidak ada orang-orang yang datang kemudian yang akan mencapainya.

Fadha’ilush-Shahabah 2/742-744 (1024-1026)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Wuhaib menceritakan kepada kami, Suhail menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada hari Khaibar: “Sungguh aku akan memberikan panji kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah akan memberikan kemenangan kepadanya.” Ia berkata: Maka Umar berkata: Aku tidak pernah mencintai kepemimpinan sebelum hari itu, maka aku berdiri tegak untuk mendapatkannya dan berharap bahwa beliau akan memberikannya kepadaku. Ketika esok harinya, beliau memanggil Ali lalu memberikannya kepadanya, beliau bersabda: “Berperanglah dan jangan menoleh sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu.” Maka ia berjalan sebentar, kemudian berseru: Ya Rasulullah, untuk apa aku berperang? Beliau bersabda: “Sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika mereka melakukan itu maka sungguh mereka telah melindungi dariku darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka kepada Allah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada hari Khaibar: “Sungguh aku akan memberikan panji…” lalu ia menyebutkan seperti itu, kecuali bahwa ia berkata: Ia berdiri dan tidak menoleh karena tekad, lalu berkata: Untuk apa aku berperang?

Fadha’ilush-Shahabah 2/746 (1030-1031)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Alqamah, dari Abdullah yang berkata: Kami biasa menyampaikan bahwa orang paling utama penduduk Madinah adalah Ali bin Abi Thalib.

Fadha’ilush-Shahabah 2/747-748 (1033)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sa’id bin Muhammad Al-Warraq menceritakan kepada kami, dari Ali bin Hazur, ia berkata: Aku mendengar Abu Maryam Ats-Tsaqafi berkata: Aku mendengar Ammar bin Yasir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Wahai Ali, beruntunglah bagi orang yang mencintaimu dan jujur tentangmu, dan celakalah bagi orang yang membencimu dan berdusta tentangmu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sayyar yaitu Ibnu Hatim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far yaitu Ibnu Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik yaitu Ibnu Dinar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair, aku berkata: Wahai Abu Abdillah, siapakah pembawa panji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Maka ia memandangku dan berkata: Seakan-akan engkau berleha-leha. Maka aku marah dan mengadukan dia kepada saudara-saudaranya dari para pembaca Al-Quran, aku berkata: Tidakkah kalian heran dengan Sa’id; sesungguhnya aku bertanya kepadanya siapa pembawa panji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Maka ia memandangku dan berkata: Sesungguhnya engkau berleha-leha. Mereka berkata: Apakah engkau tidak melihat ketika engkau bertanya kepadanya sementara ia takut dari Hajjaj, ia telah berlindung di Baitullah! Yang membawanya adalah Ali.

Fadha’ilush-Shahabah 2/846-847 (1162-1163)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi bahwa Ali berkata: Sungguh aku melihat diriku bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sesungguhnya aku mengikat batu di perutku karena lapar, dan sesungguhnya sedekahku hari ini adalah empat puluh ribu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib, dari Muhammad bin Ka’b, dari Ali, lalu ia menyebutkan hadits, dan ia berkata di dalamnya: Dan sesungguhnya sedekah hartaku mencapai empat puluh ribu dinar.

Fadha’ilush-Shahabah 2/886 (1217-1218)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hilal menceritakan kepada kami, ia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abu Al-Aswad Ad-Du’ali: Semoga Allah memasukkanmu ke tempat masuk Ali. Ia berkata: Sesungguhnya engkau baik dan tidak menyadarinya.

Al-‘Ilal riwayat Abdullah (4198)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari yang berkata: Seorang laki-laki datang kepada Ali memujinya, padahal ia dahulu menjelek-jelekkannya. Maka Ali berkata: Aku tidak seperti apa yang engkau katakan, dan sesungguhnya aku lebih baik daripada apa yang ada di dalam hatimu.

As-Sunnah karya Abdullah 2/572 (1342)

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Muhammad Al-Hilali Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Al-Makhzumi berkata: Aku berkata kepada nenekku Asma’: Mengapa aku melihat Ali dijenguk oleh para pembesar dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Wahai anakku, berapa banyak taring tajam yang dimiliki Ali. Maka ia menyebutkan kepadaku kekerabatan, dan pendahuluan dalam Islam, dan kedermawanan dalam memberikan pertolongan, dan kemurahan hati, dan perkawinan, dan hal-hal lain.

Al-Khallal berkata: Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim Ar-Razi yaitu menantu Salamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Salamah bin Fadhl menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepadaku, dari Abdurrahman bin Harits, dari Khalid bin Salamah, dari Sa’id bin Amr bin Sa’id bin Al-Ash yang berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah: Tidakkah engkau mengabarkan kepadaku tentang Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib? Ia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar semoga Allah merahmatinya, dia memiliki usia dan pendahuluan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sementara ia berusia enam puluh tahun, dan Ali berusia tiga puluh empat tahun. Aku berkata: Apakah orang-orang condong kepada Ali? Ia berkata: Wahai anak saudaraku, demi Allah ia memiliki – apa yang dikehendaki, dari taring tajam, ketinggian dalam nasab, dan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan perkawinannya, dan pendahuluan dalam Islam, dan ilmu tentang Al-Quran, dan pemahaman dalam Sunnah, dan keberanian dalam perang, dan kedermawanan dalam memberikan pertolongan. Dan demi Allah ia memiliki apa yang dikehendaki dari taring tajam.

As-Sunnah karya Al-Khallal 1/269 (448-449)

Al-Khallal berkata: Dan Abdullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Dawud bin Amr Adh-Dhabbi menceritakan kepada kami – dan ayahku memilihnya darinya – ia berkata: Ali bin Hasyim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Jahaf menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Tsa’labah yang berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abu Dzarr sementara ia berada di masjid Rasul shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Abu Dzarr, tidakkah engkau mengabarkan kepadaku tentang manusia yang paling engkau cintai, maka sesungguhnya aku tahu bahwa orang yang paling engkau cintai adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah? Ia berkata: Ya, demi Rabb Ka’bah, sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu syaikh itu, dan ia menunjuk dengan tangannya kepada Ali, sementara ia sedang shalat di hadapannya.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata kepada laki-laki lain: Engkau adalah maula (pelindung/tuan) Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apa yang harus kami katakan? Ia berkata: Tinggalkanlah itu.

Al-Khallal berkata: Dan Zakariya bin Yahya mengabarkan kepadaku bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Ali: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya”, apa maksudnya? Ia berkata: Jangan berbicara tentang ini, biarkanlah hadits sebagaimana datangnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku bahwa Matsna menceritakan kepada mereka bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah, ia berkata: Aku bertanya: Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berkata kepada laki-laki lain: Engkau adalah maula Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apa yang engkau katakan? Ia berkata: Tinggalkanlah itu.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Ali: “Engkau bagiku adalah seperti kedudukan Harun bagi Musa” (Surah: Tidak disebutkan, Nomor Ayat: Tidak disebutkan), apa penafsirannya? Ia berkata: Diamlah tentang ini, jangan bertanya tentang hal itu, khabar sebagaimana datangnya.

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Mathar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Ali: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya”, apa maksudnya? Ia berkata: Jangan berbicara tentang ini, biarkanlah hadits sebagaimana datangnya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Sulaiman al-Hadhrami mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Harits bin Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada al-Hasan bin Shalih tentang sabdanya: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya”? Ia berkata: Dalam hal agama.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/272-275 (457-462)

Muhammad bin al-Manshur ath-Thusi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Tidak ada yang diriwayatkan dalam keutamaan salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang sahih seperti apa yang diriwayatkan tentang Ali bin Abi Thalib.

“Thabaqat al-Hanabilah” 3/216

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan hadits Safinah, lalu aku berkata: Wahai ayahku, apa pendapatmu tentang keutamaan (para sahabat)? Ia berkata: Dalam hal khilafah adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Lalu aku berkata: Bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib? Ia berkata: Wahai anakku, Ali bin Abi Thalib adalah dari Ahlul Bait yang tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengan mereka.

“Manaqib al-Imam Ahmad” karya Ibnu al-Jauzi hal. 212

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang memiliki keutamaan dengan sanad-sanad yang sahih seperti apa yang dimiliki Ali radhiyallahu anhu.

“Manaqib al-Imam Ahmad” karya Ibnu al-Jauzi hal. 213

153 – Keutamaan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radhiyallahu anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, ia berkata: Abdullah berkata: Teman-teman karibku dari umat ini ada tiga orang: Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/923 (1277)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Shakhr mengabarkan kepadaku bahwa Zaid bin Aslam menceritakan kepadanya, dari ayahnya, dari Umar bin al-Khaththab bahwa suatu hari ia berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: Berharap-haraplayalah. Lalu salah seorang dari mereka berkata: Aku berharap andai rumah ini penuh dengan emas maka aku akan menginfakkannya di jalan Allah. Kemudian ia berkata: Berharap-haraplayalah. Lalu seorang laki-laki berkata: Aku berharap andai ia penuh dengan mutiara atau zamrud atau permata maka aku akan menginfakkannya di jalan Allah dan bersedekah. Kemudian Umar berkata: Berharap-haraplayalah. Lalu mereka berkata: Kami tidak tahu wahai Amirul Mukminin. Umar berkata: Aku berharap andai ia penuh dengan laki-laki seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Muadz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah bin al-Yaman.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/924 (1280)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Humaid dan Ziyad al-A’lam, dari al-Hasan, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada seorang pun dari sahabatku melainkan jika aku mau aku akan mengambil kelemahannya, kecuali Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/925-926 (1283)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ja’far bin Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Umais mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: Aku mendengar Aisyah ditanya siapa yang akan diangkat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai khalifah seandainya beliau mengangkat khalifah? Ia berkata: Abu Bakar. Ditanyakan kepadanya: Siapa setelah Abu Bakar? Ia berkata: Umar. Kemudian ditanyakan kepadanya: Siapa setelah Umar? Ia berkata: Abu Ubaidah. Ia berkata: Kemudian ia berhenti sampai di situ.

Ia berkata: Aku membacakan kepada ayahku hadits ini, Marwan bin Muawiyah menceritakan kepada kami, Said bin Abi Arubah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Syahr bin Hausyab berkata: Umar bin al-Khaththab berkata: Jika aku mengangkat Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai khalifah lalu Tuhanku bertanya kepadaku tentang hal itu: apa yang membuatmu melakukan hal itu? Niscaya aku akan berkata: Ya Tuhan, aku mendengar Nabi-Mu sedang bersabda: “Sesungguhnya ia adalah orang yang amanah umat ini.” Dan jika aku mengangkat Salim maula Hudzaifah sebagai khalifah, lalu Tuhanku bertanya kepadaku tentang hal itu: apa yang membuatmu melakukan hal itu? Niscaya aku akan berkata: Ya Tuhan, aku mendengar Nabi-Mu sedang bersabda: “Sesungguhnya ia mencintai Allah dengan sungguh-sungguh dari hatinya.” Dan jika aku mengangkat Muadz bin Jabal sebagai khalifah, lalu Tuhanku bertanya kepadaku tentang hal itu: apa yang membuatmu melakukan hal itu? Niscaya aku akan berkata: Ya Tuhan, aku mendengar Nabi-Mu sedang bersabda: “Sesungguhnya para ulama ketika mereka menghadap Tuhan mereka, akan berada di hadapan-Nya dengan selisih sejauh lemparan batu.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/927-928 (1286-1287)

154 – Keutamaan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Aban bin Abdullah al-Bajali menceritakan kepada kami, dari Abu Bakar bin Hafs bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenakan dua lapis baju besi pada perang Uhud, ia berkata: Ketika beliau naik ke gunung sampai ke sebuah batu besar, beliau tidak mampu naikinya. Ia berkata: Lalu Thalhah datang dan berlutut untuknya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam naik di atas punggungnya. Ia berkata: Dan datanglah seorang laki-laki yang hendak memukulnya dengan pedang, ia berkata: Maka Thalhah melindunginya dengan tangannya hingga tangannya lumpuh. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Thalhah telah wajib (masuk surga).”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Abu Malik al-Asyja’i menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya pada hari itu: “Bergembiralah wahai Thalhah dengan surga hari ini.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/928-929 (1288-1289)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Ibrahim, ia berkata: Ibnu Jarmuz -yang membunuh Zubair atau turut serta dalam membunuhnya- meminta izin kepada Ali, lalu ia melihat sikap dingin dalam pemberian izin. Ketika ia masuk menemui Ali, ia berkata: Adapun si fulan dan si fulan maka diizinkan, adapun aku tidak, aku yang membunuh Zubair. Ali berkata kepadanya: Mulutmu penuh debu, mulutmu penuh debu. Sesungguhnya aku berharap bahwa aku, Zubair, dan Thalhah termasuk orang-orang yang Allah Azza wa Jalla firmankan: “Dan Kami cabut segala kedengkian yang ada di dalam dada mereka, sebagai saudara-saudara (mereka) duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Surah al-Hijr: 47)

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/930-931 (1291)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepada kami, dari al-Hasan: Bahwa Thalhah bin Ubaidillah menjual tanahnya dengan harga tujuh ratus ribu, lalu ia bermalam dengan harta itu di sisinya. Ia tidak bisa tidur karena takut terhadap harta tersebut hingga pagi, lalu ia membagikannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Abdurrahman maula keluarga Thalhah mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Thalhah: Bahwa telapak tangan Thalhah terluka pada perang Uhud, lalu ia berkata: Hiss. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Seandainya engkau mengucapkan: Bismillah, niscaya engkau akan melihat dibangunkannya rumah untukmu di surga sedangkan engkau masih hidup di dunia.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, dari Thalhah -yaitu Ibnu Yahya-, ia berkata: Abu Habibah menceritakan kepadaku, ia berkata: Imran bin Thalhah datang kepada Ali, lalu ia berkata: Kemari wahai keponakanku. Lalu ia mendudukkannya di atas permadani dan berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku berharap bahwa aku dan ayahmu seperti orang yang Allah Azza wa Jalla firmankan: “Dan Kami cabut segala kedengkian yang ada di dalam dada mereka, sebagai saudara-saudara (mereka) duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Surah al-Hijr: 47). Lalu Ibnu al-Kawwa’ berkata kepadanya: Allah lebih adil dari itu. Maka ia berdiri menuju kepadanya dengan tongkatnya lalu memukulnya, dan berkata: Engkau yang tidak punya ibu dan teman-temanmu mengingkari ini.

Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Abdullah -dari keturunan Thalhah- mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Musa bin Thalhah berkata: Thalhah terluka bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih dari dua puluh luka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Thalhah bin Yahya, dari Isa bin Thalhah, dari dirinya: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melewati Thalhah, lalu bersabda: “Ini termasuk orang yang telah memenuhi janjinya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Abu Malik al-Asyja’i menceritakan kepada kami, dari Abu Habibah maula Thalhah, ia berkata: Imran bin Thalhah masuk menemui Ali setelah selesai dari pertempuran Jamal. Ia berkata: Ia menyambutnya dengan baik dan berkata: Sesungguhnya aku berharap Allah menjadikanku dan ayahmu termasuk orang-orang yang Allah firmankan: “Sebagai saudara-saudara (mereka) duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Surah al-Hijr: 47). Ia berkata: Dan dua orang laki-laki duduk di sudut permadani, lalu keduanya berkata: Allah Azza wa Jalla lebih adil dari itu, engkau membunuh mereka kemarin dan kalian menjadi saudara di surga! Ali berkata: Pergi kalian ke tanah yang paling jauh dan paling terkutuk. Lalu siapa jika bukan aku dan Thalhah? Ia berkata: Kemudian ia berkata kepada Imran: Bagaimana keadaan istri-istri ayahmu yang tersisa? Ketahuilah, kami tidak mengambil tanahmu selama ini sedangkan kami berniat untuk mengambilnya, kami hanya mengambilnya karena takut dijarah orang. Wahai fulan, pergilah bersamanya kepada Ibnu Qarzhah lalu suruhlah ia agar menyerahkan kepadanya tanahnya dan hasil panen selama ini. Wahai keponakanku, datanglah jika ada keperluanmu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepadaku, dari Manshur, dari Ibrahim dan Ja’far, dari ayahnya, keduanya berkata: Ibnu Jarmuz pembunuh Zubair datang meminta izin kepada Ali lalu ia menahan izinnya lama, kemudian mengizinkannya. Maka ia berkata: Adapun orang yang berjasa maka engkau mengabaikannya. Maka Ali berkata: Mulutmu penuh debu. Sesungguhnya aku berharap bahwa aku, Thalhah, dan Zubair termasuk orang-orang yang Allah Azza wa Jalla firmankan: “Dan Kami cabut segala kedengkian yang ada di dalam dada mereka, sebagai saudara-saudara (mereka) duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Aban bin Abdullah al-Bajali menceritakan kepada kami, dari Nuaim bin Abi Hind, dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata: Ali berkata: Sesungguhnya aku berharap bahwa aku, Zubair, dan Thalhah termasuk orang yang Allah firmankan: “Dan Kami cabut segala kedengkian yang ada di dalam dada mereka, sebagai saudara-saudara (mereka) duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” Ia berkata: Maka berdirilah seorang laki-laki dari Hamdan lalu berkata: Allah lebih adil dari itu wahai Amirul Mukminin. Ia berkata: Maka Ali berteriak kepadanya dengan teriakan hingga istana hampir runtuh karenanya, kemudian berkata: Siapa mereka jika bukan kami?

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/931-935 (1293-1300)

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami Al-Maimuni, dia berkata: Menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, dia berkata: Menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah, dia berkata: Menceritakan kepada kami Ismail, dia berkata: Qais berkata: Aku melihat dua jari Thalhah lumpuh, yang dengannya ia melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari perang Uhud.

155 – Keutamaan Az-Zubair bin Al-Awwam semoga Allah meridhainya

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Hasan, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Said bin Al-Musayyab dia berkata: Orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah adalah Az-Zubair bin Al-Awwam, dan ketika Az-Zubair bin Al-Awwam sedang tidur siang di lembah Matabikh, tiba-tiba dia mendengar berita bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terbunuh, maka dia keluar dari rumah dengan membawa pedang terhunus di tangannya, lalu dia bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Dia berkata: Aku mendengar bahwa engkau terbunuh. Beliau bersabda: “Apa yang akan kamu lakukan?” Dia berkata: Demi Allah, aku ingin membabat penduduk Mekkah. Dia berkata: Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mendoakan kebaikan untuknya. Said berkata: Aku berharap doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya tidak sia-sia di sisi Allah.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Waki, menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah, dari ayahnya. Dan Yahya, dari Hisyam dia berkata: Menceritakan kepadaku ayahku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap nabi memiliki hawari (penolong setia), dan sesungguhnya hawariku adalah Az-Zubair anak bibiku.”

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dia berkata: Memberitakan kepada kami Hisyam dia berkata: Az-Zubair masuk Islam saat ia berusia enam belas tahun, dan ia tidak pernah absen dari peperangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia terbunuh saat berusia enam puluh sekian tahun.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Hammad dia berkata: Memberitakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya dia berkata: Sesungguhnya orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah adalah Az-Zubair bin Al-Awwam, ada tiupan yang ditiupkan syaitan: Rasulullah telah ditangkap. Maka Az-Zubair keluar membelah orang-orang dengan pedangnya sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam berada di bagian atas Mekkah, beliau bersabda: “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Dia berkata: Aku diberitahu bahwa engkau ditangkap. Beliau berkata: Maka beliau bershalawat untuknya dan mendoakan kebaikan untuknya dan untuk pedangnya.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah, dari Abbad bin Hamzah dia berkata: Az-Zubair mengenakan kain sutra kuning, dan sesungguhnya para malaikat turun pada hari perang Badar dengan memakai sorban kuning.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku dia berkata: Menceritakan kepada kami Abbad bin Abbad, dari Hisyam, dari ayahnya, bahwa Az-Zubair mengenakan sorban kuning pada hari perang Badar maka para malaikat turun dengan memakai sorban kuning.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, dari Mas’ar, dari Sanbalah, dari budak perempuannya dia berkata: Pembunuh Az-Zubair datang sementara aku sedang duduk di sisi Ali meminta izin, lalu pelayan datang dan berkata: Ini pembunuh Az-Zubair. Maka Ali berkata: Hendaknya pembunuh Az-Zubair masuk neraka. Dia berkata: Dan pembunuh Thalhah datang meminta izin, lalu pelayan berkata: Ini pembunuh Thalhah meminta izin. Maka Ali berkata: Hendaknya pembunuh Thalhah masuk neraka.

Dia berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muawiyah dia berkata: Menceritakan kepada kami Zaidah dia berkata: Menceritakan kepada kami Ashim bin Abi An-Nujud, dari Zirr, dari Ali dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap nabi memiliki hawari dan hawariku adalah Az-Zubair.”

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata: Memberitakan kepada kami Said bin Abi Ali, dari Nafi dia berkata: Ibnu Umar mendengar seseorang berkata: Aku anak dari hawari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Ibnu Umar berkata: Jika engkau dari keluarga Az-Zubair, maka ya, jika tidak maka tidak.

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami Abdullah bin Ahmad dia berkata: Menceritakan kepadaku ayahku dia berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Al-Hawari artinya penolong, yaitu maksud sabdanya: “Az-Zubair adalah hawariku dan anak bibiku.”

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepadaku ayahku dia berkata: Aku mendengar Sufyan berkata: Berapa banyak kesulitan yang telah disingkirkan dari wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan pedang Az-Zubair, pembunuhnya dikabarkan akan masuk neraka.

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami Al-Maimuni, dia berkata: Menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Usamah dia berkata: Menceritakan kepada kami Hisyam dia berkata: Az-Zubair masuk Islam saat berusia enam belas tahun, dan ia tidak pernah absen dari peperangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia terbunuh saat berusia enam puluh sekian tahun, semoga Allah merahmatinya.

Al-Khallal berkata: Memberitakan kepada kami Al-Maimuni: Menceritakan kepada kami Ahmad, menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dia berkata: Menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya dia berkata: Orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah adalah Az-Zubair bin Al-Awwam, ada tiupan yang ditiupkan syaitan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah ditangkap, maka Az-Zubair datang membelah orang-orang dengan pedangnya, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam berada di bagian atas Mekkah, beliau bersabda: “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Dia berkata: Aku diberitahu bahwa engkau ditangkap. Beliau berkata: Maka beliau bershalawat untuknya dan mendoakan kebaikan untuknya dan untuk pedangnya.

156 – Keutamaan Abdurrahman bin Auf semoga Allah meridhainya

Abu Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: Menceritakan kepadaku ayahku semoga Allah merahmatinya, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, dia berkata: Memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri dia berkata: Menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan kepada sekelompok orang di antara mereka ada Abdurrahman bin Auf, dan tidak memberinya bersama mereka sesuatu pun, maka Abdurrahman keluar sambil menangis, lalu Umar menemuinya, dan berkata: Apa yang membuatmu menangis? Maka dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan kepada sekelompok orang dan aku bersama mereka namun tidak memberiku, dan aku khawatir bahwa yang menghalanginya adalah kemarahan yang ada padaku, maka Umar masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberitahukan kabar Abdurrahman, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukan karena kemarahan dariku kepadanya, tetapi aku menyerahkannya kepada imannya.”

Abdullah berkata: Menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umar, dan menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, dari Abdurrahman bin Humaid, dari ayahnya, dia berkata: Al-Miswar berkata: Ketika aku berjalan dalam rombongan antara Utsman dan Abdurrahman di depanku dan ia mengenakan jubah hitam, maka Utsman berkata: Siapa pemilik jubah hitam? Mereka berkata: Abdurrahman. Dia berkata: Maka Utsman memanggilku, lalu berkata: Wahai Miswar, aku berkata: Labbaik wahai Amirul Mukminin, maka dia berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa ia lebih baik dari pamanmu dalam hijrah pertama dan hijrah terakhir maka dia telah berdusta.

Abdullah berkata: Menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abi Najih dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang menjaga istri-istriku” -dan Sufyan berkata suatu kali: (atas ummahatul mukminin)- “sesungguhnya yang menjaga mereka setelahku maka dia adalah orang yang benar dan berbakti.” Dia berkata: Maka Abdurrahman bin Auf biasa mengajak mereka haji, dan menutup tandu mereka dengan kain wol dan menurunkan mereka di lembah yang tidak memiliki jalan keluar.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata: Memberitakan kepada kami Zakariya, dari Sa’d bin Ibrahim dia berkata: Abdurrahman bin Auf jika tiba di Mekkah tidak turun di tempat yang biasa ia turun pada masa Jahiliyah sampai ia keluar darinya.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim dia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan bahwa ia mendengar Amr bin Al-Ash, dia berkata: Ketika Abdurrahman bin Auf meninggal dia berkata: Pergilah Ibnu Auf dengan perutmu yang kenyang, tidak berkurang sedikitpun darinya.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dia berkata: Menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim, dia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Qarizh, dia berkata: Aku mendengar Ali berkata pada hari meninggalnya Abdurrahman bin Auf: Pergilah Ibnu Auf, sungguh engkau telah meraih yang jernih dan mendahului yang keruh.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dia berkata: Menceritakan kepada kami Syu’bah. Dan Hajjaj berkata: Memberitakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim, dari ayahnya, dia berkata: Sungguh aku melihat Sa’d bin Abi Waqqash dalam jenazah Abdurrahman bin Auf di dekat tiang usungan, lalu ia berkata: Alangkah hebatnya gunung yang hilang.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Ya’qub, menceritakan kepada kami ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata pada hari meninggalnya Abdurrahman: Pergilah Ibnu Auf, sungguh engkau telah meraih yang jernih dan mendahului yang keruh.

Menceritakan kepada kami Shakhr bin Abdullah bin Harmalah, dia berkata: Menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Aisyah ummul mukminin dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya urusan kalian sungguh mengkhawatirkanku sepeninggalku, dan tidak akan sabar terhadap kalian kecuali orang-orang yang sabar.” Kemudian ia berkata kepadaku: Semoga Allah memberi minum ayahmu dari mata air Salsabil Surga -ia maksudkan Abdurrahman bin Auf; dan ia telah memberikan kepada istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam harta yang dijual dengan empat puluh ribu, dan menyambung tali silaturahmi dengan mereka dengannya.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Abu Said budak Bani Hasyim, menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far: Aku membaca surat untuk Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al-Miswar ia menceritakan dari Muhammad bin Jubair, dari ayahnya bahwa Umar berkata: Jika Abdurrahman memukul salah satu tangannya pada yang lain maka baiatlah dia.

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid, dari Ismail, dari Amir dia berkata: Abdurrahman bin Auf mengadukan Khalid bin Al-Walid kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Khalid, ada apa denganmu dan dengan seorang dari Muhajirin, seandainya engkau menginfakkan sebesar gunung Uhud tidak akan mencapai amalnya.”

Abdullah berkata: Menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepada kami Abu Amir Abdul Malik bin Amr, dan Abu Said -maknanya satu- mereka berkata: Menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, dari Ummu Bakr bahwa Abdurrahman bin Auf semoga Allah merahmatinya menjual tanah kepada Utsman bin Affan dengan empat puluh ribu dinar, lalu ia membagikannya kepada orang-orang fakir Bani Zuhrah, dan kepada orang-orang yang membutuhkan, dan kepada ummahatul mukminin semoga Allah meridhai mereka, dia berkata: Al-Miswar: Lalu aku masuk menemui Aisyah semoga Allah merahmatinya dengan bagiannya dari itu, maka dia berkata: Siapa yang mengutusmu dengan ini? Aku berkata: Abdurrahman, maka dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak akan berbelas kasih kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar.” Semoga Allah memberi minum Ibnu Auf dari mata air Salsabil Surga.

157 – Keutamaan Sa’d bin Abi Waqqash semoga Allah meridainya

Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Balj, ia berkata: Aku mendengar Mush’ab bin Sa’d, bahwa Sa’d telah membuat perjanjian mukatabah dengan seorang budaknya, kemudian ia meminta sesuatu darinya, maka budak itu berkata: Aku tidak memiliki apa yang bisa kuberikan kepadamu. Lalu ia mengambil beberapa dinar dan memasukkannya ke dalam sandalnya. Maka Sa’d mendoakan keburukan untuknya, kemudian sandalnya dicuri.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Razzaq memberitahu kami, ia berkata: Ma’mar memberitahu kami, dari Ayyub, dari Aisyah binti Sa’d, ia berkata: Aku adalah putri dari seorang Muhajir yang untuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menebus dengan kedua orang tuanya pada hari Uhud.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin al-Musayyab berkata: Aku mendengar Sa’d berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kedua orang tuaku untukku pada hari Uhud.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yusuf bin Ya’qub bin Abi Salamah al-Majisyun menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Aisyah binti Sa’d bin Abi Waqqash, ia berkata: Sungguh ayahku bertahan selama sehari hingga malam, padahal ia memiliki sepertiga Islam.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/935-936 (1301-1303)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayyub memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Aisyah binti Sa’d berkata: Demi Allah, ayahku adalah orang yang untuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kedua orang tuanya pada hari Uhud.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, Qais menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Sa’d bin Malik berkata: Sesungguhnya aku adalah orang Arab pertama yang melempar anak panah di jalan Allah, dan sungguh aku melihat kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kami tidak memiliki makanan untuk dimakan kecuali daun pohon Hablah dan pohon Samar ini, hingga salah seorang dari kami buang air besar seperti kambing yang buang air besar, kotorannya tidak tercampur. Kemudian Bani Asad mencela dan menghina diriku karena agama. Sungguh aku akan merugi dan sia-sia amalan perbuatanku.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya menceritakan kepada kami, dari Ismail, Qais menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku diberitahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Sa’d: “Ya Allah, kabulkanlah doanya ketika ia berdoa kepada-Mu.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Sa’id menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ismail bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Amir bin Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada hari Uhud: “Berikan anak panah kepada Sa’d, ya Allah, panah untuknya, panah, tebuslah dia dengan ayah dan ibuku.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Sa’id menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ismail bin Muhammad bin Amir bin Sa’d menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’d berkata: Sungguh aku menyaksikan perang Badar, padahal di wajahku tidak ada kecuali satu helai rambut saja yang aku usap dengan tanganku, kemudian setelah itu Allah memperbanyak jenggotku.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Syu’bah. Dan Abdurrahman berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Hushain, Abdurrahman berkata: Ia berkata: Aku mendengar Thariq bin Syihab, ia berkata: Terjadi pertengkaran antara Khalid bin al-Walid dan Sa’d, maka seseorang mencela Khalid, Abdurrahman berkata: Di sisi Sa’d. Maka Sa’d berkata: Sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai merusak agama kami.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya menceritakan kepada kami, dari Mujalid, Amir menceritakan kepada kami, dari Jabir, ia berkata: Aku berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Sa’d datang, maka beliau bersabda: “Ini adalah pamanku.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Ismail, dari Qais, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa-doa Sa’d.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/937-941 (1306-1313)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, dari Qais, ia berkata: Aku mendengar Sa’d berkata: Sesungguhnya aku adalah laki-laki Arab pertama yang melempar anak panah di jalan Allah.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/941 (1315)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, Za’idah menceritakan kepada kami, dari Sulaiman al-A’masy, dari Abu Khalid al-Walibi, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Orang pertama yang melempar anak panah di jalan Allah adalah Sa’d.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’awiyah berkata: Za’idah menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abdullah, ia berkata: Aku, Sa’d, dan Umair bin Malik berada di satu pasukan, dan sesungguhnya Sa’d benar-benar bertempur pada hari Badar seperti pertempuran seorang penunggang kuda melawan orang-orang berjalan kaki.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, ia berkata: Abdullah berkata: Sungguh aku melihat Sa’d bertempur pada hari Badar seperti pertempuran seorang penunggang kuda melawan orang-orang berjalan kaki.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Makki bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Hasyim menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa ia berkata: Tidak ada seorang pun yang masuk Islam kecuali pada hari ketika aku masuk Islam, dan sungguh aku bertahan selama tujuh malam sebagai sepertiga dari kaum muslimin.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dari Simak, dari Mush’ab bin Sa’d, ia berkata: Kepala ayahku berada di pangkuanku saat ia sedang dalam keadaan sakaratul maut, maka aku menangis dan air mataku menetes padanya. Lalu ia memandangku dan berkata: Apa yang membuatmu menangis wahai anakku? Aku berkata: Karena keadaanmu, dan apa yang aku lihat padamu. Ia berkata: Maka janganlah menangis untukku; sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyiksaku selamanya, dan sesungguhnya aku termasuk ahli surga. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan menghisab orang-orang mukmin pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan mereka, adapun orang-orang kafir maka akan diringankan siksa mereka dengan kebaikan-kebaikan yang mereka kerjakan untuk Allah ‘azza wa jalla, maka apabila kebaikan itu habis, Allah akan berfirman: Hendaklah setiap orang yang beramal mencari balasan amalannya dari siapa yang ia kerjakan untuknya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/942-943 (1317-1321)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas datang ke ar-Rasafah menemui Hisyam dan kami berada di sana, Ma’mar berkata: Kami masuk menemuinya, ternyata ada seorang laki-laki berkulit sawo matang tampan, mengenakan jubah wol berwarna gelap dan sorban dari sorban-sorban ini. Kami masuk menemui seorang laki-laki yang sedang bersedih, ia berkata: Kami tidak mampu agar ia menceritakan sesuatu kepada kami. Ia berkata: Seorang laki-laki dari penduduk Jazirah dari sahabat-sahabat kami yang dipanggil Daud menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’d bin Malik masuk menemui Mu’awiyah, lalu ia berkata: Salam sejahtera atasmu wahai sang raja. Maka Mu’awiyah berkata: Atau selain itu, kalian adalah orang-orang mukmin dan aku adalah pemimpin kalian? Maka Sa’d berkata: Ya, jika kami yang memerintahkanmu. Maka Mu’awiyah berkata: Janganlah sampai kepadaku bahwa ada seseorang yang mengklaim bahwa Sa’d bukan dari Quraisy kecuali akan kulakukan ini dan itu padanya. Maka Muhammad bin Ali berkata: Subhanallah! Demi umurku, sesungguhnya Sa’d benar-benar berada di tengah-tengah Quraisy dan nasabnya kokoh.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1253-1254 (1955)

158 – Keutamaan Hamzah bin Abdul Muththalib semoga Allah meridainya

Salih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Mu’awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Ibnu ‘Aun, dari Umair bin Ishaq, ia berkata: Hamzah bertempur pada hari Uhud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dua pedang, dan ia berkata: Aku adalah singa Allah.

“Masa’il Shalih” (866)

159 – Keutamaan Ja’far bin Abi Thalib semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, dari Amir, ia berkata: Ibnu Umar apabila memberi salam kepada putra Ja’far, ia berkata: Salam sejahtera atasmu wahai putra pemilik, dan pada suatu kali ia berkata: pemilik dua sayap.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1123 (1684)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid berkata: Ismail memberitahu kami, dari Amir, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepada istri Ja’far bin Abi Thalib agar kirimkan kepadaku anak-anak Ja’far. Lalu mereka didatangkan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya Ja’far telah datang kepada-Mu, maka berilah ia balasan yang terbaik, dan gantikan ia dalam keturunannya dengan kebaikan sebagaimana Engkau menggantikan seorang hamba dari hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid berkata: Ismail memberitahu kami, dari seorang laki-laki bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah melihatnya di surga dengan kedua sayapnya berlumuran darah, bulu-bulu sayapnya berwarna.” Maksudnya: Ja’far.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan kamu wahai Ja’far, kamu menyerupai penampilanku dan akhlakku, dan kamu diciptakan dari tanah yang sama dengan tanah yang darinya aku diciptakan.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1125-1127 (1690-1692)

Abdullah berkata: Aku membacakan kepada ayahku dua hadits ini dengan cara membaca, Yahya bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku dan Ibnu Abi Khalid menceritakan kepadaku, dari asy-Sya’bi, ia berkata: Ali menikahi Asma binti Umais setelah Abu Bakar, lalu kedua putra mereka saling berbangga, yaitu Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja’far. Salah satu dari mereka berkata: Aku lebih baik darimu dan ayahku lebih baik dari ayahmu. Maka Ali berkata kepada Asma: Putuskanlah di antara mereka berdua. Maka ia berkata kepada putra Ja’far: Adapun kamu wahai anakku, maka aku tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik dari ayahmu. Adapun kamu, maka aku tidak melihat orang dewasa dari Arab yang lebih baik dari ayahmu. Ia berkata: Maka Ali berkata: Kamu tidak meninggalkan apa pun untuk kami, dan seandainya kamu mengatakan selain ini, niscaya aku akan membencimu. Ia berkata: Maka ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya tiga orang yang kamu adalah yang paling rendah di antara mereka sungguh adalah orang-orang yang baik.

Abdullah berkata: Aku membacakan kepada ayahku dan aku telah mendengar darinya, Yahya bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Mujalid memberitahu kami, dari Amir, ia berkata: Abdullah bin Ja’far menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada Ali dengan hak Ja’far kecuali ia memberikannya kepadaku.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1142 (1720-1721)

160 – Keutamaan Zaid bin Haritsah semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazaq, dia berkata: menceritakan kepada kami Muammar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah pada suatu hari, lalu bersabda: “Orang-orang mencelaku karena aku mengangkat Usamah sebagai panglima, sebagaimana mereka mencelaku ketika aku mengangkat ayahnya sebelum ini. Sesungguhnya ayahnya (Zaid) adalah orang yang paling kucintai di antara kalian, dan sesungguhnya dia (Usamah) adalah orang yang paling kucintai di antara kalian setelah ayahnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Ismail, dari Qais dia berkata: Usamah bin Zaid berdiri di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah ayahnya terbunuh, maka kedua mata Nabi shallallahu alaihi wasallam berlinang air mata. Kemudian dia datang lagi keesokan harinya dan berdiri di tempat yang sama, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Aku merasakan hari ini seperti yang aku rasakan kemarin (melihatmu).”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Ismail, dari Ishaq, dari Abu Maisarah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika datang kepadanya berita terbunuhnya Zaid: “Ya Allah ampunilah Zaid, ya Allah ampunilah Ja’far dan Abdullah bin Rawahah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid dia berkata: Aku bersama Abu Salamah bin Abdurrahman, lalu lewatlah putra Usamah bin Zaid, maka Abu Salamah berkata: Ini adalah putra dari kekasih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazaq, Muammar berkata: Aku bertanya kepada Az-Zuhri lalu dia berkata: Kami tidak mengetahui seorang pun yang masuk Islam sebelum Zaid bin Haritsah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abi Khalid, dari Asy-Sya’bi dia berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus pasukan perang kecuali dia (Zaid) yang memimpinnya. Sufyan berkata: Yaitu Zaid bin Haritsah. Sufyan berkata: Dan yang lainnya berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila tidak berperang, beliau memberikan senjatanya kepada Zaid.

Fadhail ash-Shahabah 2/1054-1055 (1529-1534)

161 – Keutamaan Sa’d bin Ubadah semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazaq, menceritakan kepada kami Muammar, dari Az-Zuhri, bahwa Sa’d bin Ubadah adalah pembawa bendera kaum Anshar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari Badar dan peperangan lainnya.

Fadhail ash-Shahabah 2/1039 (1503)

162 – Keutamaan Sa’d bin Mu’adz semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dia berkata: menceritakan kepadaku Ashim bin Umar bin Qatadah al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur ketika sore hari, lalu ketika beliau terbangun datanglah Jibril -atau dia berkata: seorang malaikat- lalu berkata: Siapa seorang laki-laki dari umatmu yang meninggal malam ini yang penduduk langit bergembira dengan kematiannya? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mengetahuinya kecuali Sa’d bin Mu’adz yang sore tadi dalam keadaan sakit keras, bagaimana keadaan Sa’d?” Mereka berkata: Wahai Rasulullah dia telah wafat, dan kaumnya datang lalu membawanya ke rumah mereka. Beliau berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menshalatkan jamaah shalat Shubuh, kemudian beliau keluar dan orang-orang keluar dengan berjalan kaki sehingga tali-tali sandal mereka putus dari kaki mereka dan kain-kain mereka jatuh dari pundak mereka. Maka seorang berkata: Wahai Rasulullah, orang-orang telah kelelahan berjalan kaki. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku khawatir para malaikat mendahului kita kepadanya sebagaimana mereka mendahului kita kepada Handhalah.”

Fadhail ash-Shahabah 2/1031-1032 (1489)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad, dia berkata: mengabarkan kepadaku ayahku, dari ayahnya Alqamah, dari Aisyah dia berkata: Tidak ada seorang pun yang kehilangannya lebih berat bagi kaum muslimin setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dua sahabatnya atau salah satu dari keduanya selain Sa’d.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dia berkata: menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Munkadir, dari Muhammad bin Syurahbil -dan Yazid berkata suatu kali: Syurahbil- bahwa seorang laki-laki mengambil segenggam tanah dari kubur Sa’d pada hari pemakamannya lalu membukanya setelah itu, ternyata itu adalah minyak kasturi.

Fadhail ash-Shahabah 2/1034-1035 (1493-1494)

Dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata: menceritakan kepada kami Ismail, dari seorang laki-laki Anshar dia berkata: Ketika Sa’d bin Mu’adz memutuskan hukum terhadap Bani Quraizhah lalu dia kembali, maka tangannya memancarkan darah, hal itu sampai kepada Nabi lalu beliau datang bersama beberapa orang bersamanya, lalu masuk menemuinya, kemudian beliau meletakkan kepalanya di pangkuannya, lalu bersabda: “Ya Allah sesungguhnya Sa’d telah berjihad di jalan-Mu dan membenarkan rasul-rasul-Mu dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baik penerimaan-Mu terhadap ruh-ruh.”

Fadhail ash-Shahabah 2/1037 (1499)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu’bah dia berkata: menceritakan kepadaku Abu Ishaq, dari Amr bin Syurahbil dia berkata: Ketika luka Sa’d bin Mu’adz memancarkan darah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memeluknya dan darah mengalir pada tubuh Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka datanglah Abu Bakar lalu berkata: Wahai betapa hancurnya punggungku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Diamlah wahai Abu Bakar.” Kemudian datang Umar lalu berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Fadhail ash-Shahabah 2/1038-1039 (1502)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Bahz, dia berkata: menceritakan kepada kami Hammad, dia berkata: menceritakan kepada kami Simak, dari Abdullah bin Syaddad, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menjenguk Sa’d bin Mu’adz. Dia berkata: Lalu beliau mendoakan untuknya, ketika beliau keluar dari sisinya lewatlah angin yang harum. Dia berkata: Maka beliau bersabda: “Ini adalah ruh Sa’d yang lewat.” Dia berkata: Ketika dia diletakkan di kuburnya mereka berkata: Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sesungguhnya Sa’d adalah seorang yang bertubuh besar namun kami mendapatinya ringan. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian mengira bahwa kalian membawanya sendirian, para malaikat membantu kalian membawanya.”

Fadhail ash-Shahabah 2/1039-1040 (1540)

163 – Keutamaan Bilal bin Rabah semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Husyaim, dia berkata: menceritakan kepada kami Mughirah, dari al-Harits, dari Abu Zur’ah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah aku masuk surga kecuali aku mendengar suara langkah Bilal di hadapanku.” Maka ditanyakan kepada Bilal tentang hal itu, dikatakan: Dengan apa engkau meraih hal itu? Dia berkata: Sesungguhnya aku tidaklah berwudhu kecuali aku shalat dua rakaat.

Fadhail ash-Shahabah 2/1149 (1732)

164 – Keutamaan Khalid bin al-Walid semoga Allah meridainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya bin Abi Zaidah, dia berkata: menceritakan kepadaku Ismail bin Abi Khalid, dari Qais. Dan Ibnu Numair, menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid, dari Qais, dia berkata: Aku mendengar Khalid bin al-Walid bercerita kepada orang-orang di Hirah, dia berkata: Sungguh aku melihat diriku pada hari Mu’tah, patah di tanganku sembilan pedang, dan yang bertahan di tanganku adalah pedang pipih milikku dari Yaman.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya, dia berkata: menceritakan kepadaku Ismail bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim dia berkata: Khalid bin al-Walid berkata: Tidaklah ada malam ketika dihadiahkan kepadaku seorang pengantin yang aku mencintainya, atau aku dikabarkan dengannya seorang anak laki-laki, yang lebih aku cintai daripada malam yang sangat dingin dalam pasukan perang dari kaum Muhajirin yang aku jumpai musuh di pagi harinya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya, dia berkata: menceritakan kepadaku Ismail. Dan Ibnu Numair, dari Ismail, dari Qais, dia berkata: Aku mendengar Khalid bin al-Walid berkata: Sungguh jihad di jalan Allah telah menghalangiku banyak dari membaca -Ibnu Numair berkata: dari membaca al-Quran.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya, dia berkata: menceritakan kepadaku Yunus bin Abi Ishaq, dari Abu as-Safar dia berkata: Khalid bin al-Walid singgah di Hirah di tempat Bani Ummi al-Marazibah, maka mereka berkata kepadanya: Hati-hatilah dengan racun, jangan sampai orang-orang Ajam memberikannya kepadamu. Maka dia berkata: Bawalah kepadaku. Lalu didatangkan kepadanya sesuatu darinya, maka dia mengambilnya dengan tangannya kemudian meneguknya dan berkata: Bismillah. Maka tidak membahayakannya sama sekali.

Fadhail ash-Shahabah 2/1024-1026 (1475-1478)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari Qais, dia berkata: Aku mendengar Khalid berkata: Maka dia berkata: Sungguh patah di tanganku pada hari Mu’tah sembilan pedang, maka tidak tersisa di tanganku kecuali pedang pipih dari Yaman. Dan didatangkan kepadanya racun, lalu dia berkata: Apa ini? Mereka berkata: Racun. Dia berkata: Bismillah, lalu meminumnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari Qais: Didatangkan kepada Khalid racun, lalu dia berkata: Apa ini? Dikatakan: Racun. Lalu dia meminumnya.

Fadhail ash-Shahabah 2/1028 (1481-1482)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid, dari Ismail, dari Amir dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian menyakiti Khalid karena sesungguhnya dia adalah pedang dari pedang-pedang Allah yang Allah hunuskan terhadap musuh-musuh-Nya.”

Fadhail ash-Shahabah 2/1029 (1484)

165 – Keutamaan Miqdad bin Amru (semoga Allah meridainya)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepadaku, dari Haritsah, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Tidak ada pasukan berkuda di antara kami pada hari perang Badar kecuali Miqdad.

“Fadha’il ash-Shahabah” 12/123 (1686)

166 – Keutamaan Ammar bin Yasir (semoga Allah meridainya)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abu Laila al-Kindi, ia berkata: Khabbab datang kepada Umar, lalu Umar berkata kepadanya: Mendekatlah, tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas majelis ini selain kamu kecuali Ammar. Ia berkata: Maka Khabbab memperlihatkan kepadanya bekas-bekas di punggungnya akibat siksaan kaum musyrikin.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan berkata, dan Abu Qais berkata dari Hudzail, ia berkata: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dikatakan: Sesungguhnya Ammar tertimpa tembok dan meninggal, beliau bersabda: “Ammar tidak mati.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail, dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa urusan mereka dengan Ammar? Ia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka, dan itulah kebiasaan orang-orang celaka yang durhaka.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1082-1084 (1596-1598)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan berkata, dan al-A’masy berkata, dari Abu Ammar al-Hamdani, dari Amru bin Syurahbil, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ammar dipenuhi iman hingga ke sumsum tulangnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan berkata, dan al-A’masy berkata: dari Amru bin Murrah, dari Abdullah bin Salamah, ia berkata: Dua orang laki-laki datang yang baru keluar dari pemandian, tubuh mereka licin dan berminyak, kepada Ali, maka ia bertanya: Kalian berdua siapa? Mereka berkata: Kami dari kalangan Muhajirin. Maka Ali berkata: Muhajir itu adalah Ammar bin Yasir.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1084-1085 (1600-1601)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muthalib bin Ziyad menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, ia berkata: Aisyah berkata: Sesungguhnya Ammar dipenuhi iman dari tumitnya hingga ke ubun-ubunnya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1086 (1603)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Azhar menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Aun mengabarkan kepada kami, dari Hasan, ia berkata: Amru bin al-Ash berkata: Kami tidak menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sedangkan beliau mencintai seseorang lalu Allah memasukkannya ke neraka. Maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya beliau telah mengangkatmu sebagai pejabat. Ia berkata: Allah lebih mengetahui (apakah karena cinta atau karena menjinakkan). Tetapi beliau mencintai seorang laki-laki. Maka mereka bertanya: Siapakah dia? Ia berkata: Ammar bin Yasir. Dikatakan kepadanya: Dialah yang kalian bunuh pada hari perang Shiffin. Ia berkata: Demi Allah, kami telah membunuhnya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1087-1088 (1606)

167 – Keutamaan Mu’adz bin Jabal

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Tsabit, Yunus bin ‘Ubaid, dan Humaid, dari Hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Mu’adz memiliki derajat tinggi di depan para ulama.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/925 (1282)

168 – Keutamaan Abdullah bin Mas’ud (semoga Allah meridainya)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Yahya bin Urwah bin Zubair menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: Orang pertama yang mengeraskan bacaan al-Qur’an setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Mekah adalah Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata: Suatu hari sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul lalu berkata: Demi Allah, Quraisy belum pernah mendengar al-Qur’an ini dibacakan dengan keras kepada mereka, maka siapakah orang yang akan memperdengarkannya kepada mereka? Abdullah bin Mas’ud berkata: Saya.

Mereka berkata: Sesungguhnya kami khawatir mereka akan menyakitimu, kami menginginkan seorang laki-laki yang memiliki kabilah yang dapat melindunginya dari kaum jika mereka bermaksud jahat kepadanya. Ia berkata: Biarkanlah aku, sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan melindungiku.

Ia berkata: Maka Ibnu Mas’ud pergi di pagi hari hingga sampai di Maqam pada waktu dhuha, sedangkan Quraisy berada di perkumpulan-perkumpulan mereka. Ia berdiri di dekat Maqam, kemudian membaca dengan mengeraskan suaranya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Yang) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. (Surat ar-Rahman, ayat 1-2). Ia berkata: Kemudian ia menghadap mereka dan membaca di dalamnya. Ia berkata: Mereka memperhatikan lalu mulai berkata: Apa yang dikatakan oleh Ibnu Ummi ‘Abd?

Ia berkata: Kemudian mereka berkata: Sesungguhnya ia membacakan sebagian dari apa yang dibawa oleh Muhammad. Maka mereka bangkit mendekatinya dan mulai memukul wajahnya, sedangkan ia terus membaca hingga sampai pada bagian yang Allah kehendaki. Kemudian ia kembali kepada sahabat-sahabatnya sedangkan wajahnya telah terluka. Maka mereka berkata: Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu. Ia berkata: Musuh-musuh Allah tidak pernah lebih hina di mataku daripada sekarang ini, dan jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan mendatangi mereka dengan yang serupa. Mereka berkata: Cukuplah, engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Qasim bin Abdurrahman, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku ridha untuk umatku apa yang diridhai oleh Ibnu Ummi ‘Abd untuk mereka, dan aku benci untuk umatku apa yang ia benci untuk mereka.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1056-1057 (1535-1536)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Malik yaitu Ibnu Mighwal menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku ridha untuk umatku apa yang diridhai oleh Ibnu Ummi ‘Abd untuk mereka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Amarah, dari Huraith bin Zhahir, ia berkata: Berita wafatnya Abdullah sampai kepada Abu Darda’, maka ia berkata: Ia tidak meninggalkan setelahnya orang yang sepertinya.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1059-1060 (1539-1540)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far berkata dalam haditsnya: Abu Ishaq berkata, dari Sulaiman al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Hudzaifah: Sungguh orang-orang yang terpelihara dari sahabat-sahabat Muhammad mengetahui bahwa Ibnu Ummi ‘Abd adalah orang yang paling dekat di antara mereka kepada Allah sebagai perantara.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Haritsah, ia berkata: Surat Umar dibacakan kepada kami: Salam sejahtera atas kalian, amma ba’du, sesungguhnya aku telah mengutus kepada kalian Ammar sebagai amir dan Abdullah sebagai pengajar dan menteri, dan sesungguhnya mereka berdua dari orang-orang pilihan sahabat Muhammad dan dari orang-orang yang menyaksikan perang Badar, maka dengarkanlah kepada mereka berdua dan taatilah, dan aku telah mengutamakan kalian dengan mereka berdua atas diriku sendiri.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharib, ia berkata: Surat Umar dibacakan kepada kami di sini: Sesungguhnya aku mengutus kepada kalian Ammar sebagai amir, dan Abdullah bin Mas’ud sebagai pengajar dan menteri, dan mereka berdua dari orang-orang pilihan dari sahabat-sahabat Muhammad dari penduduk Badar, maka dengarkanlah kepada mereka berdua dan taatilah, dan aku mengutamakan kalian dengan Ibnu Ummi ‘Abd atas diriku sendiri, dan aku menjadikannya atas Baitul Mal kalian, dan rizki mereka setiap hari seekor kambing. Dan ia mengutus Hudzaifah dan Ibnu Hunaif atas as-Sawad, maka ia menjadikan untuk Ammar setengahnya dan perutnya, dan menjadikan setengah yang tersisa di antara tiga orang ini.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1061-1063 (1545-1547)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Aku sedang duduk di sisi Umar, lalu Abdullah datang menghampiri dan mendekat kepadanya, lalu ia membungkuk kepadanya dan berbicara dengannya. Ketika ia pergi, Umar berkata: Wadah yang dipenuhi ilmu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, ia berkata: Abdullah berkata: Sahabat-sahabat karibku dari umat ini adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1063-1064 (1550-1551)

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Dalam hadits Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Telah diizinkan bagimu untuk mengangkat tabir dan mendengar perkataanku yang rahasia, hingga aku melarangmu.” Penafsirannya: rahasiaku. Ia mengatakannya kepada kami semua: perkataanku yang rahasia, dengan mengangkat huruf sin.

“Masa’il Abdillah” (1611)

169 – Keutamaan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi (semoga Allah meridainya)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepada kami, dari Abu Utsman: Bahwa Shuhaib ketika hendak hijrah, kaum kafir Quraisy berkata kepadanya: Engkau datang kepada kami dalam keadaan fakir dan hina, kemudian engkau memperoleh harta di tengah-tengah kami, dan mencapai apa yang engkau capai, kemudian engkau ingin keluar bersama hartamu! Demi Allah, hal itu tidak akan terjadi. Ia berkata: Maka Shuhaib berkata: Bagaimana pendapat kalian jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan melepaskan jalanku? Mereka berkata: Ya. Maka ia melepaskan hartanya untuk mereka. Ia berkata: Maka berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1043-1044 (1509)

170 – Keutamaan Abbas bin Abdul Muththalib (semoga Allah meridainya)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Bisyr bin Ashim, dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata: Umar bermaksud memperluas masjid, sedangkan Abbas memiliki rumah, maka ia berkata: Aku tidak akan memberikannya, bukan begitu caranya. Ia berkata: Jadikanlah antara aku dan engkau Ubay bin Ka’ab sebagai hakim. Maka ia memutuskan atasnya. Lalu Abbas berkata: Rumah itu adalah sedekah atas kaum muslimin.

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1160 (1753)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, al-Hakam bin al-Mundzir menceritakan kepada kami, dari Umar bin Bisyr al-Khats’ami, dari Abu Ja’far, ia berkata: Abbas bin Abdul Muththalib datang mengenakan jubah dan ia memiliki dua kepangan rambut dan ia berkulit putih bersih, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau tersenyum. Lalu Abbas berkata kepadanya: Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah, semoga Allah membuatmu tertawa? Beliau bersabda: “Aku kagum dengan ketampananmu wahai paman Nabi.” Maka Abbas berkata: Apakah ketampanan itu pada laki-laki wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Lisannya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari ayahnya, dari Abu Dhuha, ia berkata: Abbas berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengenal di wajah-wajah suatu kaum kedengkian akibat peperangan yang aku lakukan terhadap mereka. Ia berkata: Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka tidak akan memperoleh kebaikan hingga mereka mencintai kalian karena Allah dan karena kekerabatanku. Mereka berharap syafa’atku, sedangkan Bani Abdul Muththalib tidak berharapnya.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1161-1162 (1755-1756)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur mengabarkan kepada kami, dari al-Hakam bin Utaibah, dari Hasan bin Muslim al-Makki, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Umar bin al-Khaththab atas zakat-zakat. Ia berkata: Maka ia mendatangi Abbas dan memintanya untuk zakat hartanya. Ia berkata: Lalu Abbas bermuka masam kepadanya, dan terjadi percakapan di antara mereka berdua. Ia berkata: Maka Umar pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengadu tentang Abbas kepadanya. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Tidakkah engkau mengetahui wahai Umar bahwa paman seseorang adalah saudara ayahnya? Sesungguhnya kami telah mengambil lebih dahulu zakat harta Abbas tahun ini pada tahun yang pertama.”

“Fadha’il ash-Shahabah” 2/1163-1164 (1759)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Hisyaim menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah dan Atha’ bin Abi Rabah; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Umar bin Al-Khaththab untuk mengumpulkan zakat. Ia berkata: Maka ia mendatangi Abbas dan meminta zakat hartanya. Abbas berwajah masam kepadanya, sehingga terjadi perdebatan di antara keduanya. Maka Umar pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan Abbas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Umar, tidakkah engkau tahu bahwa paman seseorang adalah seperti ayahnya? Sesungguhnya kami telah mengambil lebih dulu zakat Abbas tahun ini pada tahun yang lalu.”

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1167 (1763)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Abi Khalid menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku menyaksikan Asy-Sya’bi berkata: Tidak pernah mendengar orang tua maupun pemuda mendengar khutbah seperti itu.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1168 (1766)

171 – Keutamaan Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sulaiman bin Daud Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu At-Tiyah, ia berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Tidaklah datang ke Bashrah seorang penunggang kuda yang lebih baik bagi mereka daripada Abu Musa.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1123 (1685)

Keutamaan Abu Sinan Al-Asadi Radhiyallahu ‘Anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, dari Isma’il, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Orang pertama yang membaiat dalam Bai’at Ar-Ridhwan adalah Abu Sinan Al-Asadi.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1124 (1689)

172 – Keutamaan Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Lahi’ah memberitahu kami. Dan Al-Hasan bin Musa, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Abi Habib menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Al-Muththalib bin Abdullah bin Hanthab, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik keluarga adalah Abdullah, Abu Abdullah, dan Ummu Abdullah.”

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1155 (1746)

Al-Khallal berkata: Abdullah memberitahu kami, ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Laits bin Sa’d memberitahu kami, dari Yazid bin Abi Habib, dari Suwaid bin Qais, dari Zuhair bin Qais Al-Balawi, dari ‘Alqamah bin Rumthah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Amr bin Al-Ash, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dalam suatu pasukan, maka kami berangkat bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengantuk, kemudian terbangun lalu bersabda: “Semoga Allah merahmati Amr.” Ia berkata: Maka kami menyebutkan setiap orang yang bernama Amr. Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengantuk lalu bersabda: “Semoga Allah merahmati Amr.” Ia berkata: Kemudian mengantuk yang ketiga kalinya, lalu terbangun dan bersabda: “Semoga Allah merahmati Amr.” Kami bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah Amr ini? Beliau bersabda: “Amr bin Al-Ash.” Kami bertanya: Apa urusannya? Beliau bersabda: “Apabila aku menunjuk orang-orang untuk bersedekah, ia datang lalu memperbanyaknya, maka aku bertanya: ‘Wahai Amr, dari mana engkau mendapatkan ini?’ Ia menjawab: ‘Dari sisi Allah.’ Beliau bersabda: “Amr benar, sesungguhnya baginya di sisi Allah kebaikan yang banyak.” Zuhair bin Qais berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, aku berkata: Sungguh aku akan tetap bersama orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Sesungguhnya baginya di sisi Allah kebaikan yang banyak,” hingga aku meninggal.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/349-350 (688)

173 – Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, Shafwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Syuraih bin ‘Ubaid menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan: “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya Al-Kitab dan perhitungan, dan peliharalah ia dari azab.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Abu Hilal menceritakan kepada kami, Jabalah bin ‘Athiyyah menceritakan kepada kami, dari Maslamah bin Mukhlid atau dari seorang lelaki, dari Maslamah bin Mukhlid bahwa ia melihat Mu’awiyah sedang makan, lalu ia berkata kepada Amr bin Al-Ash: Sesungguhnya anak pamanmu ini sangat dermawan. Adapun aku mengatakan ini, padahal aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya Al-Kitab, kuatkanlah kedudukannya di negeri, dan peliharalah ia dari azab.”

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1158 (1749-1750)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Bakr bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, ia berkata: Ketika Mu’awiyah tiba, ia memberikan kepada orang-orang sesuai dengan pemberian kepada ayah-ayah mereka, hingga sampai kepadaku lalu ia memberiku tiga ratus dirham.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (1988)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Abu Al-Mu’tamir -yaitu Al-Hairi, namanya Yazid bin Thahman- dari Ibnu Sirin, ia berkata: Mu’awiyah tidak pernah dituduh dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (2273)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari Ibnu Sirin -ayahku berkata: Abu Al-Mu’tamir namanya adalah Yazid bin Thahman- dari Mu’awiyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menunggangi sutera atau kain bergaris.”

Ibnu Sirin berkata: Mu’awiyah tidak pernah dituduh dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (5912)

Al-Khallal berkata: Abu An-Nadhr Al-‘Ijli memberitahuku bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah tentang hadits Jabir bin Samurah: “Akan ada setelahku dua belas pemimpin -atau ia berkata: khalifah.”

Maka ia berkata: Memang telah datang hadits itu.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin ‘Ali memberitahuku bahwa Mihna menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan? Ia berkata: Ia memiliki persahabatan dengan Nabi. Aku bertanya: Dari mana asalnya? Ia berkata: Dari Makkah, lalu menetap di Syam.

Al-Khallal berkata: Dan Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni memberitahuku, aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap ikatan pernikahan dan nasab akan terputus kecuali ikatan pernikahan dan nasabku?” Ia berkata: Benar. Aku bertanya: Dan ini untuk Mu’awiyah? Ia berkata: Ya, baginya ikatan pernikahan dan nasab. Ia berkata: Dan aku mendengar Ibnu Hanbal berkata: Apa urusan mereka dengan Mu’awiyah! Kami memohon perlindungan kepada Allah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/335 (652-654)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar dan Zakariya bin Yahya memberitahuku bahwa Abu Thalib menceritakan kepada mereka; bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah: Apakah aku mengatakan: Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin? Dan Ibnu Umar adalah paman kaum mukminin? Ia berkata: Ya, Mu’awiyah adalah saudara Ummu Habibah binti Abi Sufyan, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah merahmati keduanya. Dan Ibnu Umar adalah saudara Hafshah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah merahmati keduanya.

Aku bertanya: Apakah aku mengatakan: Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin? Ia berkata: Ya.

Al-Khallal berkata: Abu Bakr Al-Marwadzi memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Harun bin Abdullah berkata kepada Abu Abdullah: Datang kepadaku surat dari Ar-Raqqah bahwa ada sekelompok orang yang berkata: Kami tidak mengatakan: Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin. Maka ia marah dan berkata: Apa sangkutannya mereka dalam masalah ini? Mereka harus dijauhi hingga mereka bertobat.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far memberitahuku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Kami mengirim surat kepada Abu Abdullah: Apa pendapatmu semoga Allah merahmatimu tentang orang yang berkata: Aku tidak mengatakan bahwa Mu’awiyah adalah penulis wahyu, dan aku tidak mengatakan bahwa ia paman kaum mukminin, karena sesungguhnya ia mengambilnya dengan pedang secara paksa? Abu Abdullah berkata: Ini adalah ucapan yang buruk dan jelek, orang-orang ini harus dijauhi dan tidak boleh duduk bersama mereka, dan keadaan mereka harus dijelaskan kepada orang-orang.

Al-Khallal berkata: Dan Abu Bakr Al-Marwadzi memberitahu kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah: Mana yang lebih utama: Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz?

Ia berkata: Mu’awiyah lebih utama. Kami tidak menyamakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan siapa pun; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku yang aku diutus di tengah-tengah mereka.”

Al-Khallal berkata: ‘Ishmah bin ‘Isham memberitahuku, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia ditanya: Mana yang lebih utama: Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz?

Ia berkata: Orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku.”

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa dan Ahmad bin Al-Husain bin Hassan memberitahuku bahwa Abu Abdullah ditanya: Apakah ada yang bisa disamakan dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia berkata: Maha suci Allah. Ditanyakan: Apakah Mu’awiyah lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz? Ia berkata: Ya, demi umurku. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku.”

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/339-340 (657-662)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yazid bin Sa’id An-Nahrwani memberitahuku, ia berkata: Aku menemukan dalam tulisan ayahku dengan tulisan tangannya, ia berkata: Al-Fadhl bin Ja’far menceritakan kepadaku, ia berkata: Wahai Abu Abdullah, apa pendapatmu tentang hadits Qubaishah, dari ‘Abbad As-Sammak, dari Sufyan: Pemimpin yang adil ada lima orang, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz? Ia berkata: Ini batil -maksudnya: apa yang diklaim dari Sufyan- kemudian ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada seorang pun yang mendekati mereka. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada seorang pun yang menyamai mereka.

Ia berkata: Dan aku bertanya kepada Abu Ma’mar Al-Karkhi tentang para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

Ia berkata: Abu Bakr, Umar, dan Utsman.

Aku bertanya: Sesungguhnya di tempat kami ada seseorang yang berkata: Dan Ali dan Umar bin Abdul Aziz.

Maka Abu Ma’mar berkata: Tidak ada yang mengatakan ini, celakalah kamu, siapa ini? Mengapa kalian menemani orang seperti ini? Mu’awiyah tidak salah. Para sahabat Muhammad adalah sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya orang-orang setelah mereka datang dengan amal sebesar gunung-gunung, mereka tetap lebih utama; karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah akan mencapai satu mud salah seorang dari mereka dan tidak pula seperduanya.” Seandainya ada seseorang yang dalam hatinya ada kebencian terhadap para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia adalah kafir; karena Allah Azza wa Jalla berfirman: “Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu menjadikannya kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” (Surah Al-Fath: 29) Maka barang siapa yang dalam hatinya ada kebencian, maka ia adalah kafir.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/341-342 (666)

Al-Khallal berkata: Abdul Malik Al-Maimuni memberitahuku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Marwan bin Syuja’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Khushaif menceritakan kepadaku dari Mujahid dan ‘Atha’, dari Ibnu Abbas bahwa Mu’awiyah memberitahunya bahwa ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memotong rambutnya dengan ujung anak panah. Ia berkata: Lalu aku berkata kepada Ibnu Abbas: Tidak sampai kepada kami ini kecuali dari Mu’awiyah. Ia berkata: Mu’awiyah tidak pernah tertuduh (berbohong) atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 4/13 (674)

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata tentang hadits Ibnu Umar: Aku tidak melihat seorang pun setelah Nabi yang lebih hitam dari Mu’awiyah. Ia berkata: Tafsirnya: lebih dermawan darinya.

Ad-Dauri menceritakan kepada kami, ia berkata: Nuh bin Yazid Al-Mu’addib menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku tidak melihat seorang pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih hitam dari Mu’awiyah.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Abu Bakr? Ia berkata: Ia -demi Allah- lebih baik darinya, dan ia -demi Allah- lebih hitam dari Abu Bakr.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Umar? Ia berkata: Umar -demi Allah- lebih baik darinya, dan ia -demi Allah- lebih hitam dari Umar.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Utsman? Ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya Utsman adalah seorang pemimpin, dan ia lebih hitam darinya.

Ad-Dauri berkata: Sebagian sahabat kami berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Makna “lebih hitam” adalah lebih dermawan.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Makhlad bin Hafs Al-‘Aththar memberitahuku, ia berkata: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Nuh bin Yazid bin Sayyar Abu Muhammad Al-Mu’addib menceritakan kepada kami, ia berkata: Dan Ahmad bin Hanbal bertanya tentangnya, lalu berkata: Tulislah darinya; karena sesungguhnya ia adalah pengajar Ibrahim bin Sa’d, dan ia berhaji bersamanya. Ia berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku tidak melihat seorang pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih hitam dari Mu’awiyah.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Abu Bakr?

Ia berkata: Abu Bakr lebih utama darinya, dan ia lebih hitam dari Abu Bakr.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Umar?

Ia berkata: Umar lebih utama darinya, dan ia -demi Allah- lebih hitam dari Umar.

Ia berkata: Aku bertanya: Apakah ia lebih hitam dari Utsman? Ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya Utsman adalah seorang pemimpin, dan Mu’awiyah -demi Allah- lebih hitam darinya.

Muhammad bin Makhlad berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Mutsanna -setelah ia menceritakan hadits ini kepadaku- berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Muhammad bin Hanbal lalu berkata: Wahai Abu Abdullah, apa makna pemimpin (sayyid)? Ia berkata: Pemimpin adalah orang yang penyabar, dan pemimpin adalah orang yang memberi. Mu’awiyah memberikan kepada penduduk Madinah pemberian yang tidak diberikan oleh khalifah mana pun sebelumnya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/346-347 (678-679)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahukan kepada kami, dia berkata: Mahna menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Ahmad tentang hadits Waki’, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Mu’awiyah: Tidak ada keteguhan hati kecuali dengan pengalaman, maka dia berkata: Betapa menakjubkannya hadits ini!

Mahna berkata: Dan saya bertanya kepada Yahya bin Ma’in, apakah Urwah bin Az-Zubair mendengar dari Mu’awiyah? Maka dia berkata: Ya. Saya berkata: Apa itu?

Dia berkata: Urwah berkata: Saya mendengar Mu’awiyah berkhutbah mengatakan: Tidak ada keteguhan hati kecuali dengan pengalaman. Saya berkata: Siapa yang mengatakan? Dia berkata: Hisyam bin Urwah mengatakan dari Urwah.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/348-349 (684) Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yunus bin Saif, dari Al-Harits bin Ziyad, dari Abu Rahm, dari Al-Irbadh bin Sariyah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan menyeru untuk sahur, beliau bersabda: “Mari datanglah untuk makan pagi yang penuh berkah”, dan saya mendengar beliau bersabda: “Ya Allah, ajarkanlah Mu’awiyah tentang hitungan dan tulisan, dan lindungilah dia dari azab”.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/352 (696)

Muhammad bin Al-Hakam berkata: Ahmad berkata: Diriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa Mu’awiyah memerintah selama lima tahun tanpa ada yang mengingkarinya, maka ini sesuai dengan hadits Nabi: “tiga puluh lima tahun”.

Ibnu Al-Hakam berkata: Saya berkata kepada Ahmad: Siapa yang mengatakan hadits Ibnu Mas’ud: “Berputarlah roda Islam selama tiga puluh lima tahun” bahwa itu dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

Dia berkata: Sungguh ini telah diberitahukan, dan tidaklah menjadi masalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan Islam (dengan perjalanannya dengan kesalahan), sesungguhnya beliau menggambarkan apa yang terjadi setelahnya dari tahun-tahun.

“Majmu’ Al-Fatawa” 35/26

174 – Keutamaan Adi bin Hatim radliyallahu ‘anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Abi Khalid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata: Adi berkata kepada Umar: Apakah kamu mengenalku? Dia berkata: Ya, aku mengenalmu dengan sebaik-baik pengenalan, kamu masuk Islam ketika mereka kafir, kamu datang ketika mereka berpaling, dan kamu menepati janji ketika mereka berkhianat.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1123-1124 (1687)

175 – Keutamaan Furat bin Hayyan radliyallahu ‘anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ishaq, dari Haritsah bin Mudlarrib, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara kalian ada yang diserahkan kepada imannya, di antaranya adalah Furat bin Hayyan”.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1124 (1688)

176 – Keutamaan Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu Ma’mar menceritakan kepadaku, Yusuf bin Al-Majisyun menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Aisyah rahimahallah dia berkata: Saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikubur dengan kain sederhana selain Abdullah bin Umar.

“Az-Zuhd” riwayat Abdullah hal. 242

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, dia berkata: Hushain memberitahukan kepada kami, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Jabir dia berkata: Saya tidak pernah melihat atau tidak pernah mendapati seorang pun kecuali dunia telah memiringkannya kecuali Abdullah bin Umar.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1130-1131 (1699)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim dia berkata: Abdullah berkata: Sesungguhnya di antara pemuda Quraisy yang paling menguasai dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Salam menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Al-Hasan berkata: Ketika terjadi peristiwa Utsman, dan kekacauan di kalangan manusia, mereka mendatangi Abdullah bin Umar lalu berkata: Engkau adalah pemimpin kami dan anak pemimpin kami, keluarlah agar orang-orang membaiatmu, dan semua orang ridha denganmu. Maka dia berkata: Tidak, demi Allah, tidak akan tertumpah karena diriku seteguk darah bekam, selama masih ada nyawa, kemudian mereka kembali kepadanya lalu mengancamnya dan berkata: Keluarlah atau kamu akan dibunuh di atas tempat tidurmu. Maka dia berkata seperti itu juga, dia diiming-imingi dan ditakuti, dia berkata: Demi Allah, mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya hingga dia bertemu dengan Allah ‘azza wajalla. Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Isma’il menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id memberitahukan kepada kami, dari Qatadah dia berkata: Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Seandainya aku menyaksikan seseorang yang hidup bahwa dia termasuk penghuni surga, niscaya aku akan bersaksi untuk Abdullah bin Umar.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1132-1133 (1701-1703)

177 – Keutamaan Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia menceritakan kepada kami. Dan Hajjaj berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik, dari Ummu Sulaim bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, Anas adalah pelayanmu, berdoalah kepada Allah untuknya, maka beliau bersabda: “Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, dan berkahilah baginya apa yang telah Engkau berikan kepadanya”.

Hajjaj berkata dalam haditsnya, dia berkata: Maka Anas berkata: Sebagian anakku memberitahuku bahwa telah dikubur dari anak dan cucu-cucuku lebih dari seratus orang.

Dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dan Hajjaj berkata: Syu’bah menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Hisyam bin Zaid, Hajjaj berkata: bin Anas bin Malik menceritakan dari Anas seperti itu.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/1070-1071 (1564-1565)

178 – Keutamaan Al-Hasan dan Al-Husain radliyallahu ‘anhuma

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ubaidah -yaitu Ibnu Humaid- menceritakan kepada kami, dia berkata: Ammar Ad-Duhni menceritakan kepadaku, dari Habib bin Abi Tsabit, bahwa Husain ingin berihram dan bersamanya para sahabatnya, maka dihadapkan kepada mereka wewangian lalu mereka meminyaki dengan itu dan dia meminyaki dengan minyak zaitun.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 1/676-677 (928)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Ibnu ‘Aun, dari Anas -yaitu Ibnu Sirin- dia berkata: Al-Hasan bin Ali berkata pada hari dia berbicara dengan Mu’awiyah: Tidak ada antara Jabirsa dan Jabilqa: seorang laki-laki yang kakeknya nabi selain aku, dan sesungguhnya aku melihat bahwa aku mendamaikan antara umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku adalah orang yang paling berhak untuk itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya kami telah membaiat Mu’awiyah, dan aku tidak tahu mungkin itu adalah fitnah bagi kalian dan kesenangan hingga waktu tertentu.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/964 (1355)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Shadaqah bin Al-Mutsanna dia berkata: Kakekku menceritakan kepadaku, bahwa orang-orang berkumpul untuk Al-Hasan bin Ali di Al-Mada’in setelah terbunuhnya Ali, lalu dia berkhutbah kepada mereka, dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Amma ba’du, sesungguhnya setiap yang akan datang itu dekat, dan sesungguhnya urusan Allah pasti terjadi meskipun manusia membencinya, dan sesungguhnya aku demi Allah tidak menyukai -Muhammad bin Ubaidillah berkata kalimat ini maka sesungguhnya aku demi Allah tidak menyukai- bahwa aku memimpin urusan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang seberat biji sawi, yang tertumpah karenanya seteguk darah bekam sejak aku berakal apa yang bermanfaat bagiku dari apa yang membahayakanku, maka pergilah ke tunggangan kalian.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/970 (1364) Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Salim bin Abi Al-Ja’d dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku menamai kedua anakku ini Hasan dan Husain dengan nama-nama kedua anak Harun yaitu Syabbar dan Syabir”.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/971 (1367)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Al-Jahaf, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Rabi’ bin Sa’d, dari Ibnu Sabit dia berkata: Husain bin Ali memasuki masjid, maka Jabir bin Abdullah berkata: Barangsiapa ingin melihat pemimpin pemuda penghuni surga maka lihatlah orang ini. Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dia berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ammar dia berkata: Saya mendengar Ummu Salamah berkata: Saya mendengar jin menangisi Husain.

Dia berkata: Dan Ummu Salamah berkata: Saya mendengar jin meratapi Husain radliyallahu ‘anhu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan -yaitu Ibnu Musa- menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari Al-Hasan dia berkata: Dua rahib Najran datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada keduanya: “Masuklah Islam niscaya kalian selamat”, maka keduanya berkata: Kami telah masuk Islam sebelummu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian berdua dusta, yang mencegah kalian dari Islam ada tiga: sujud kalian kepada salib, perkataan kalian: Allah mengambil anak, dan minum kalian khamr”, maka keduanya berkata: Lalu apa yang engkau katakan tentang Isa? Dia berkata: Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diam dan turunlah Al-Qur’an: “Itu Kami bacakan kepadamu dari ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah” (Surah Ali Imran: 58) hingga firman-Nya: “anak-anak kami dan anak-anak kalian” (Surah Ali Imran: 58-61). Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak keduanya untuk mubahalah (saling laknat), dia berkata: Dan beliau datang dengan Al-Hasan dan Al-Husain dan Fathimah, keluarga dan anak-anaknya, dia berkata: Ketika keduanya keluar dari sisinya, salah satu dari keduanya berkata kepada temannya: Ikrarlah dengan jizyah dan jangan saling melaknat dengannya, dia berkata: Maka keduanya kembali lalu berkata: Kami ikrar dengan jizyah dan tidak akan saling melaknat denganmu, dia berkata: Maka keduanya ikrar dengan jizyah.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/972-975 (1371-1374)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Razin bin Ubaid dia berkata: Aku berada di sisi Ibnu Abbas, lalu Ali bin Al-Husain datang maka Ibnu Abbas berkata: Selamat datang orang yang dicintai anak orang yang dicintai.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/976 (1377)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Fudlail menceritakan kepada kami, Salim -yaitu Ibnu Abi Hafshah- menceritakan kepada kami dari Mundzir dia berkata: Saya mendengar Ibnu Al-Hanafiyyah berkata: Hasan dan Husain lebih baik dariku, dan sungguh keduanya telah mengetahui bahwa dia (Ali) menyendirikanku selain keduanya dan aku adalah pemilik bagal putih.

“Fadha’il Ash-Shahabah” 2/977 (1379)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ammar bin Abi Ammar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas ia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mimpiku di tengah siang, sedang tidur siang, kusut dan berdebu, di tangannya ada botol yang berisi darah. Aku bertanya: Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah, apa ini? Beliau menjawab: Darah Husain dan para sahabatnya, aku terus mengumpulkannya sejak hari ini. Kami menghitung hari itu, dan kami dapati ia terbunuh pada hari itu.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/978 (1381)

179 – Keutamaan Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri ia berkata: Para Muhajirin berkata kepada Umar: Mengapa engkau tidak mengundang anak-anak kami sebagaimana engkau mengundang Ibnu Abbas? Ia menjawab: Ia adalah pemuda yang seperti orang tua, sungguh ia memiliki lidah yang suka bertanya dan hati yang berakal.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki yang terhapus dari catatan Ibnu Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik bin Mighwal menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kuhail ia berkata: Abdullah berkata: Sebaik-baik penerjemah Alquran adalah Ibnu Abbas.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas tentang ayat: “Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali sedikit” (Surah Al-Kahfi: 22), Ibnu Abbas berkata: Aku termasuk dari sedikit itu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Abu Ad-Duha, ia berkata: Abdullah berkata: Sebaik-baik penerjemah Ibnu Abbas untuk Alquran.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Sufyan, ia berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Muslim, dari Masruq, dari Abdullah ia berkata: Seandainya Ibnu Abbas mencapai usia kami, tidak akan ada seorang pun dari kami yang menyamainya sepersepuluh.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani Nashr menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Ali, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa untuk Ibnu Abbas: “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah ia takwil.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Laits, dari Abu Al-Jahdam, bahwa Ibnu Abbas melihat Jibril dua kali dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mendoakannya dengan hikmah dua kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Ad-Duha, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata: Seandainya Ibnu Abbas mencapai usia kami, tidak akan ada seorang pun dari kami yang menyamainya. Sebaik-baik penerjemah Ibnu Abbas untuk Alquran.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1066-1069 (1555-1562)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail yaitu Ibnu Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Syu’aib bin Yasar, ia berkata: Abbas mengutus Abdullah kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu ia berkata: Pergilah dan lihatlah siapa yang ada di sisi Rasulullah. Maka ia pergi kemudian datang, lalu berkata: Aku melihat di sisinya seorang laki-laki, aku tidak tahu bagaimana ia. Maka Abbas datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan Abdullah. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus kepada Abdullah lalu memanggilnya dan mendudukkannya di pangkuannya kemudian mengusap kepalanya dan mendoakannya dengan ilmu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Thawus ia berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengagungkan kehormatan Allah daripada Ibnu Abbas. Demi Allah, seandainya aku mau menangis ketika mengingatnya, pasti aku akan menangis.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail yaitu Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayyub mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku diberitahu dari Thawus ia berkata: Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengagungkan kehormatan Allah daripada Ibnu Abbas. Demi Allah, seandainya aku mau menangis ketika mengingatnya, pasti aku akan menangis.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dan aku yaitu Ayyub, dari Ibrahim bin Maisarah ia berkata: Thawus menyebutkan Ibnu Abbas lalu berkata: Aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang lebih mengagungkan larangan-larangan Allah daripadanya. Seandainya aku mau menangis ketika mengingatnya, pasti aku akan menangis.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ubaidah Al-Haddad yaitu Abdul Wahid menceritakan kepada kami, dari Shalih bin Rustam, dari Ibnu Abi Mulaikah ia berkata: Aku menemani Ibnu Abbas dari Mekkah ke Madinah. Apabila ia singgah, ia berdiri sebagian malam. Ayyub bertanya kepadanya: Bagaimana bacaannya? Ia berkata: Ia membaca “Dan datanglah kematian dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya” (Surah Qaaf: 19), maka ia terus membaca dengan tartil dan banyak menangis terisak-isak dalam itu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Karim yaitu Al-Jazari menceritakan kepada kami, dari Said bin Jubair ia berkata: Ibnu Abbas menceritakan hadits kepadaku, seandainya ia mengizinkanku untuk mencium kepalanya, pasti aku akan menciumnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Salim bin Abi Hafshah, ia berkata: Aku mendengar Mundzir berkata: Aku mendatangi Muhammad bin Ali dan Sufyan berkata suatu kali: Ibnu Al-Hanafiyah, aku dan anaknya. Maka ia berkata: Dari mana kalian berdua datang? Aku menjawab: Dari sisi Ibnu Abbas. Ia berkata: Telah selesai perkara yang kalian berdua ingin bertanya kepadanya. Dan ia berkata pada hari ia wafat: Hari ini meninggal sang guru umat ini.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari Syu’aib, dari Abu Raja’, ia berkata: Tempat ini dari Ibnu Abbas yaitu aliran air mata seperti tali sandal yang usang karena air mata.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Al-Hasan bin Abi Ja’far, dari Abu Ash-Shahba’, dari Said bin Jubair ia berkata: Aku melihat Ibnu Abbas memegang lidahnya dan ia berkata: Wahai lidah, katakanlah kebaikan maka engkau akan beruntung, atau diamlah maka engkau akan selamat, sebelum engkau menyesal.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Shalih bin Rustam mengabarkan kepadaku, dari Abdullah bin Abi Mulaikah ia berkata: Aku menemani Ibnu Abbas dari Madinah ke Mekkah dan dari Mekkah ke Madinah. Ia shalat dua rakaat, dan ia berdiri sebagian malam sambil banyak menangis terisak-isak, demi Allah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, dari Said Al-Jurairi, dari seorang laki-laki ia berkata: Aku melihat Ibnu Abbas memegang ujung lidahnya dan ia berkata: Celakalah engkau, katakanlah kebaikan maka engkau akan beruntung, dan diamlah dari kejahatan maka engkau akan selamat. Maka seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai Abu Abbas, mengapa aku melihatmu memegang ujung lidahmu, engkau mengatakan begini dan begitu? Ia menjawab: Sungguh telah sampai kepadaku bahwa seorang hamba pada hari kiamat tidak ada sesuatu pun yang lebih membuatnya marah selain lidahnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Bakr bin Isa Ar-Rasibi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Awanah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Jamrah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku melihat Ibnu Abbas, gamis bagiannya terangkat di atas mata kaki dan lengan baju mencapai pangkal jari-jari menutupi punggung telapak tangan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Abu Ahmad bin Az-Zubairi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Thawus ia berkata: Aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang lebih berilmu daripada Ibnu Abbas.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Katsir bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Abdul Muthalib bin Abdullah ia berkata: Ibnu Az-Zubair membaca sebuah ayat lalu berhenti padanya, yang membuatnya terjaga hingga pagi. Ketika pagi, ia berkata: Siapa ulama umat ini? Aku menjawab: Ibnu Abbas. Maka ia mengutusku kepadanya lalu aku memanggilnya. Ia berkata kepadanya: Sungguh aku membaca sebuah ayat yang biasanya aku tidak berhenti padanya, dan sungguh aku berhenti malam ini padanya yang membuatku terjaga hingga pagi “Dan tidaklah beriman kebanyakan mereka kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah” (Surah Yusuf: 106). Maka Ibnu Abbas berkata: Jangan membuat dirimu terjaga karenanya karena kami tidak dimaksudkan dengannya, yang dimaksud hanyalah Ahli Kitab “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Mereka pasti menjawab: Allah” (Surah Luqman: 25) dan Dia “Yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu” (Surah Yaasin: 83), mereka akan mengatakan Allah, maka mereka beriman di sini namun mereka mempersekutukan Allah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki melihat Ibnu Abbas sedang memasuki masjid. Ia bertanya: Siapa ini? Mereka menjawab: Ini adalah Ibnu Abbas anak paman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ishaq, dari Saif ia berkata: Aisyah berkata: Siapa yang diangkat untuk memimpin musim haji? Mereka menjawab: Ibnu Abbas. Ia berkata: Ia adalah yang paling mengetahui sunnah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hilal menceritakan kepada kami, ia berkata: Amr bin Dinar atau Utbah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Dinar ia berkata: Aku tidak pernah melihat majelis yang lebih mengumpulkan segala kebaikan daripada majelis Ibnu Abbas dalam halal dan haram, tafsir Alquran, bahasa Arab, silsilah manusia, dan makanan.

“Fadha’il al-Shahabah” 3/1202-1210 (1836-1852)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Zakariya, dari Amir. Maka Ibnu Abbas berkata: Sungguh aku melihat di sisinya seorang laki-laki. Maka Abbas berkata: Anak pamanmu mengklaim bahwa ia melihat di sisimu seorang laki-laki yang begini dan begitu. Ia berkata: “Benar.” Ia berkata: “Itu adalah Jibril.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Salim bin Abi Hafshah ia berkata: Orang yang menyaksikan Ibnu Al-Hanafiyah menceritakan kepadaku, ia berkata di sisi kubur Ibnu Abbas: Inilah guru umat ini.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1211 (1854-1855)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Sufyan ia berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Abu Ad-Duha ia berkata: Abdullah berkata: Sebaik-baik penerjemah Ibnu Abbas untuk Alquran.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Sufyan ia berkata: Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Muslim, dari Masruq, dari Abdullah ia berkata: Seandainya Ibnu Abbas mencapai usia kami, tidak akan ada seorang pun dari kami yang menyamainya sepersepuluh.

Maka jagalah dariku tiga perkara: Bertakwalah kepada Allah, jangan membocorkan rahasia-Nya, jangan sampai ditemukan padamu kebohongan, dan jangan menggunjing seseorang di sisinya. Amir berkata: Maka aku berkata kepada Ibnu Abbas: Wahai Abu Abbas, setiap satu lebih baik dari seribu. Ia berkata: Ya, bahkan dari sepuluh ribu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ja’far bin Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy mengabarkan kepada kami, dari Muslim bin Subayh, dari Masruq ia berkata: Abdullah berkata: Sebaik-baik penerjemah Alquran adalah Ibnu Abbas. Seandainya ia mencapai usia kami, tidak akan ada seorang pun dari kami yang menyamainya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik yaitu Ibnu Mighwal menceritakan kepada kami, dari Salamah yaitu Ibnu Kuhail ia berkata: Abdullah berkata: Sebaik-baik penerjemah Alquran adalah Ibnu Abbas.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Hushain mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah ia berkata: Aku menyaksikan Ibnu Abbas dan ia ditanya tentang bahasa Arab dalam Alquran, maka ia membaca syair. Dan Husyaim berkata suatu kali: Aku melihat Ibnu Abbas apabila ditanya tentang bahasa Arab dalam Alquran yang ia gunakan untuk membantu adalah syair.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, ia berkata: Syibl bin Abbad menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid ia berkata: Aku membacakan Alquran kepada Ibnu Abbas dua atau tiga kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Syarik: Siapakah dari dua laki-laki yang lebih mengetahui tafsir, Mujahid atau Said bin Jubair? Ia berkata: Mujahid. Kemudian ia menyebutkan dari Khushayf, dari Mujahid ia berkata: Aku membacakan Alquran kepada Ibnu Abbas tiga kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Muslim yaitu Abu Said Al-Muaddib menceritakan kepada kami, dari Khushayf ia berkata: Mujahid berkata kepadaku: Aku membaca Alquran kepada Ibnu Abbas tiga kali, aku menghentikannya pada setiap ayat.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yunus bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri ia berkata: Abu Salamah bertanya kepada Ibnu Abbas, maka ia menceritakan darinya. Dan Ubaidullah bersikap lembut kepadanya maka ia membuatnya tertarik.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Kamil dan Affan yang dimaksud keduanya berkata: Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ammar bin Abi Ammar mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abbas ia berkata: Aku bersama ayahku di sisi Nabi dan di sisinya ada seorang laki-laki berbisik dengannya. Affan berkata: Dan ia seperti berpaling dari Abbas. Maka kami keluar dari sisinya. Ayahku berkata: Tidakkah engkau melihat anak pamanmu seperti berpaling dariku? Maka aku berkata kepadanya: Sungguh di sisinya ada seorang laki-laki berbisik dengannya. Affan berkata: Maka ia berkata: Apakah di sisinya ada seseorang? Aku berkata: Ya. Ia berkata: Maka ia kembali kepadanya, lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah di sisimu ada seseorang? Karena Abdullah memberitahuku bahwa di sisimu ada seorang laki-laki berbisik denganmu. Beliau berkata: “Apakah engkau melihatnya wahai Abdullah?” Aku berkata: Ya. Beliau berkata: “Itu adalah Jibril, maka dialah yang menyibukkanku darimu.” Affan berkata: Sungguh di sisinya ada seorang laki-laki berbisik denganmu.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1213-1217 (1860-1870)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy dia berkata: Aku jika melihat Ibnu Abbas berkata: Orang yang paling tampan. Dan jika dia berbicara aku berkata: Orang yang paling fasih. Dan jika dia berfatwa aku berkata: Orang yang paling baik dalam memutuskan perkara. Dan jika dia menyebut tentang penduduk Persia aku berkata: Orang yang paling mengetahui. Kurang lebih seperti itu, kata Syarik.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, bahwa Ibnu Abbas ketika Zaid bin Tsabit dikuburkan, dia menaburkan tanah ke atasnya, kemudian berkata: Beginilah ilmu dikuburkan.

Ali berkata: Lalu aku menceritakannya kepada Ali bin Husain, maka dia berkata: Demi Allah, dengan meninggalnya Ibnu Abbas, banyak ilmu telah terkubur.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Ma’mar berkata: Ibnu Abbas berkata kepada saudaranya dari kalangan Anshar: Marilah kita pergi kepada para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mudah-mudahan mereka membutuhkan kita. Dia berkata: Dan jika dia selesai shalat, dia mendudukkan para pembantunya di belakangnya, maka jika dia melewati ayat yang tidak mendengar sesuatu tentangnya, dia mengulanginya dan mereka menuliskannya, kemudian jika dia keluar dia menanyakan tentangnya.

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, Muhammad bin An-Nausyajan menceritakan kepada kami, Basyir Abu Taubah menceritakan kepada kami, dia berkata: Khushayf mengabarkan kepada kami, dia berkata: Jika Atha’ menceritakan kepada kami dari Ibnu Abbas, dia telah menceritakan kepada kami lautan ilmu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, dari Abu Jamrah dia berkata: Aku menyaksikan wafatnya Ibnu Abbas di Thaif, maka yang mengurusnya adalah Muhammad bin Al-Hanafiyyah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Jarir menceritakan kepada kami, dari Mughirah dia berkata: Dikatakan kepada Ibnu Abbas: Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini? Dia berkata: Lidah yang suka bertanya dan hati yang berakal.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa Umar mendekatkannya, maka Abdurrahman bin Auf berkata: Sesungguhnya kami memiliki anak-anak seperti dia. Maka Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya dia dari kalangan yang kamu ketahui (keilmuannya).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Amr Al-Jazari Marwan bin Syuja’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Salim bin Ajlan Al-Jazari Al-Afthas menceritakan kepadaku, dari Sa’id bin Jubair dia berkata: Ibnu Abbas meninggal di Thaif, maka aku menyaksikan jenazahnya, lalu datanglah seekor burung yang tidak pernah terlihat bentuk penciptaannya, hingga dia masuk ke dalam kerandanya, kemudian tidak terlihat keluar darinya. Maka ketika dia dikuburkan, ayat ini dibacakan di bibir kubur, tidak terlihat siapa yang membacanya: “Wahai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai (28) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (29) Dan masuklah ke dalam surga-Ku (30)” (Surah Al-Fajr: 27-30). Marwan berkata: Adapun Ismail bin Ali dan Isa bin Ali, keduanya berkata: Itu adalah burung putih.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Hammad -yaitu: Ibnu Zaid- menceritakan kepada kami dari seorang laki-laki, dia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Jubair dan Yusuf bin Mihran keduanya berkata: Kami tidak dapat menghitung berapa kali kami mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang sesuatu dari Al-Quran, lalu dia berkata: Itu adalah begini dan begini. Apakah kamu tidak mendengar penyair berkata: Begini dan begini.

Abdullah berkata: Aku membaca kepada ayahku: Abu Yahya Ishaq bin Sulaiman Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abu Sinan menyebutkan dari Habib bin Abi Tsabit, bahwa Abu Ayyub Al-Anshari datang kepada Muawiyah lalu mengadukan kepadanya bahwa dia memiliki hutang, namun dia tidak melihat darinya apa yang dia sukai, dan dia melihat perkara yang dia benci, maka dia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku keistimewaan (yang diberikan kepada orang lain)”. Dia berkata: Apa yang beliau perintahkan kepada kalian? Dia berkata: Beliau bersabda: “Bersabarlah”.

Dia berkata: Maka dia berkata: Demi Allah, aku tidak akan meminta sesuatu kepadamu selamanya. Dan dia datang ke Bashrah lalu singgah di rumah Ibnu Abbas, dan dia mengetuk pintunya yang dia berada di dalamnya, dan berkata: Aku akan melakukan sebagaimana yang aku lakukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan dia berkata: Berapa hutangmu?

Dia berkata: Dua puluh ribu. Maka dia memberikan kepadanya empat puluh ribu dan dua puluh budak, dan berkata: Bagimu apa yang ada di dalam rumah seluruhnya.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/1217-1222 (1872-1881)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Jabir, dari Muslim bin Shubaih, dari Ibnu Abbas dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memboncengkan aku di belakangnya dan Qatsam di depannya.

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya, dia berkata: Aku diberitahu dari Mis’ar, dari Ghailan bin Amr bin Suwaid dia berkata: Ketika Ibnu Abbas meninggal, kami membungkusnya dengan kain kafannya, maka datanglah seekor burung putih lalu masuk ke dalam kain kafannya.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/1223 (1884-1885)

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya: Dia menceritakan kepada kami dari Husyaim, dia berkata: Khalid bin Shafwan mengabarkan kepada kami, dari Zaid bin Ali, bahwa Thalhah berkata kepada Ibnu Abbas: Apakah kamu mau bermubaahalah (saling mengutuk)? Dia berkata: Ya. Maka keduanya berhukum kepada Ka’ab. Maka Ka’ab berkata kepada keduanya: Adapun kalian wahai kaum Quraisy, kalian lebih mengetahui tentang nasab-nasab kalian. Adapun aku, maka sesungguhnya aku menemukan dalam kitab-kitab bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dari yang terbaik darinya, hingga sampai kepada dua saudara maka dia berasal dari yang terbaik dari keduanya. Maka dia memutuskan untuk Ibnu Abbas.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/1224 (1887)

180 – Keutamaan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu anha

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair menceritakan kepada kami, dia berkata: Hisyam mengabarkan kepada kami dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyembelih kambing lalu mengikuti dengan itu sahabat-sahabat Khadijah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dia berkata: Khadijah meninggal, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan untuk Khadijah sebuah rumah dari qashab (batang buluh), tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak ada kesusahan”. Dia berkata: Dan itu adalah qashab dari mutiara.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, seorang laki-laki menceritakan kepada kami yang terhapus dari kitab Ibnu Malik, dia berkata: Hammad mengabarkan kepada kami, dari Humaid, dari Al-Hasan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita-wanita dunia: Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir’aun, Fathimah binti Muhammad, dan Khadijah binti Khuwailid”.

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya: Sa’d bin Ibrahim dan Ya’qub menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ayah kami menceritakan kepada kami, dari Shalih dia berkata: Dikatakan: Aisyah berkata kepada Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Maukah aku memberimu kabar gembira bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pemimpin wanita-wanita penghuni surga ada empat: Maryam binti Imran, Fathimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun”. Ya’qub berkata: Binti Marajim.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/1074-1075 (1573-1576)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ dan Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Hisyam -yaitu Ibnu Urwah- mengabarkan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Ja’far, dari Ali bin Abi Thalib dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita-wanitanya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita-wanitanya adalah Khadijah radhiyallahu anha”.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/1077 (1583)

181 – Keutamaan Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Ubaidullah bin Ali bin Abi Rafi’, dari ayahnya, dari ibunya Salma, dia berkata: Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan sakit yang dia meninggal karenanya, maka aku merawatnya. Lalu pada suatu hari dia seperti yang terbaik yang pernah aku lihat dalam sakitnya itu. Dia berkata: Dan Ali keluar untuk suatu keperluannya, maka dia berkata: Wahai ibuku, tuangkan untukku air untuk mandi. Maka aku menuangkan untuknya air mandi, lalu dia mandi sebaik-baik mandi yang pernah aku lihat dia mandi. Kemudian dia berkata: Wahai ibuku, berikan kepadaku pakaian-pakaian baruku. Maka aku memberikannya kepadanya lalu dia memakainya. Kemudian dia berkata: Wahai ibuku, letakkan tempat tidurku di tengah rumah. Maka aku melakukannya, dan dia berbaring menghadap kiblat dan meletakkan tangannya di bawah pipinya. Kemudian dia berkata: Wahai ibuku, sesungguhnya aku akan dipanggil (meninggal) sekarang, dan aku telah bersuci, maka jangan biarkan seorangpun membuka (kain penutup)ku. Maka dia dipanggil (meninggal) di tempatnya. Dia berkata: Lalu Ali datang, maka aku mengabarkan kepadanya.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/903 (1243)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariya menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi dia berkata: Ali melamar putri Abu Jahal kepada pamannya Al-Harits bin Hasyim, maka dia meminta nasihat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentangnya. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau menanyakan kepadaku tentang nasabnya?” Ali berkata: Aku telah mengetahui bagaimana nasabnya, tetapi apakah engkau memerintahkanku dengannya? Maka beliau bersabda: “Tidak, Fathimah adalah bagian dariku, dan aku tidak suka dia bersedih atau khawatir”. Maka Ali berkata: Aku tidak akan melakukan sesuatu yang engkau benci.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail mengabarkan kepada kami, dari Abu Hanzhalah bahwa seorang laki-laki dari penduduk Makkah mengabarkan kepadanya: Bahwa Ali melamar putri Abu Jahal, maka keluarganya berkata kepadanya: Kami tidak akan menikahkan kamu selain dengan putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku, maka barangsiapa menyakitinya maka dia telah menyakitiku”.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/944-945 (1323-1324)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, dari Muhammad bin Ali bahwa Ali hendak menikahi putri Abu Jahal, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika beliau di atas mimbar: “Sesungguhnya Ali hendak menikahi Al-Aura’ (putri buta sebelah mata) binti Abu Jahal, dan hal itu tidak boleh baginya untuk menggabungkan antara putri musuh Allah dan putri Rasulullah, dan sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku”.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/946 (1326)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Abu Al-Yaman menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri dia berkata: Ali bin Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Miswar bin Makhramah mengabarkan kepadanya bahwa Ali bin Abi Thalib melamar putri Abu Jahal, sedangkan di sisinya ada Fathimah binti Nabi shallallahu alaihi wasallam, maksudnya: Maka ketika Fathimah mendengar hal itu, dia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu dia berkata kepadanya: Sesungguhnya kaummu membicarakan bahwa engkau tidak marah untuk anak-anak perempuanmu, dan ini Ali menikahi putri Abu Jahal. Al-Miswar berkata: Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berdiri, dan aku mendengarnya ketika beliau bertasyahhud kemudian bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku menikahkan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’, lalu dia bercerita kepadaku maka dia membenarkanku. Dan sesungguhnya Fathimah binti Muhammad adalah bagian dariku, dan aku khawatir mereka memfitnahnya. Dan sesungguhnya demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang laki-laki selamanya”. Dia berkata: Maka Ali membatalkan lamaran itu.

Dan dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Abdurrazaq mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah.

Dan dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ali bin Abi Thalib melamar putri Abu Jahal hingga dia berjanji akan menikah. Maka hal itu sampai kepada Fathimah radhiyallahu anha, lalu dia berkata kepada ayahnya shallallahu alaihi wasallam: Orang-orang mengira bahwa engkau tidak marah untuk anak-anak perempuanmu, dan ini Abul Hasan telah melamar putri Abu Jahal dan telah berjanji akan menikah. Nabi shallallahu alaihi wasallam berdiri berkhutbah, lalu memuji Allah dan memuji-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian menyebut Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan memujinya dalam perbesanannya. Kemudian bersabda: “Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku, dan sesungguhnya aku khawatir mereka memfitnahnya. Dan demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan putri musuh Allah pada seorang laki-laki”. Dia berkata: Maka Ali diam dari pernikahan itu dan meninggalkannya.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/946-948 (1326-1330)

Abu Abdurrahman berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya: Sa’d bin Ibrahim bin Sa’d, dan Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ayah kami menceritakan kepada kami, dari Shalih dia berkata: Aisyah berkata kepada Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Maukah aku memberimu kabar gembira bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pemimpin wanita-wanita penghuni surga ada empat: Maryam binti Imran, Fathimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah istri Fir’aun”. Dan Ya’qub berkata: Binti Muzahim.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita-wanita dunia: Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri dia berkata: Anas bin Malik mengabarkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita-wanita dunia” lalu menyebutkan seperti itu sama.

“Fadhail Ash-Shahabah” 2/952-953 (1336-1338)

182 – Keutamaan Aisyah Ummul Mukminin semoga Allah meridhainya

Abdullah bin Ahmad berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Isa tetangga Masruq, ia berkata: Masruq berkata: Seandainya bukan karena suatu perkara, niscaya aku akan mengadakan ratapan untuk Aisyah.

“Al-Ilal” riwayat Abdullah (994), (2843)

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku: Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, ia berkata: Raba menceritakan kepadaku, ia berkata: Mamar menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya dikumpulkan ilmu para wanita umat ini termasuk istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka sesungguhnya ilmu Aisyah lebih banyak dari ilmu mereka semua.”

“Al-Ilal” riwayat Abdullah (4776)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Mamar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Yahya bin Said bin Al-Ash, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta maaf kepada Abu Bakar tentang Aisyah, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak khawatir Abu Bakar akan menyakiti Aisyah seperti yang telah menyakitinya. Maka Abu Bakar mengangkat tangannya dan memukul dada Aisyah. Nabi shallallahu alaihi wasallam merasa tidak senang dengan hal itu dan berkata kepada Abu Bakar: “Aku tidak akan meminta maaf lagi kepadamu tentangnya setelah perbuatanmu ini.”

“Fadhailush Shahabah” 2/1099 (1629)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Mushab bin Ishaq bin Thalhah, dan Waki berkata suatu kali: dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah melihat Aisyah di surga seolah-olah aku melihat putihnya telapak tangannya agar hal itu meringankan bagiku saat kematianku.”

“Fadhailush Shahabah” 2/1101 (1633)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun bin Abi Ibrahim menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Ubaid, ia berkata: Ibnu Abbas meminta izin kepada Aisyah saat sakitnya yang ia meninggal karenanya, maka ia menolak memberinya izin. Ibnu Abbas terus memohon hingga ia mengizinkannya. Lalu ia mendengarnya sedang berkata: Aku berlindung kepada Allah dari neraka. Ibnu Abbas berkata: Wahai Ummul Mukminin, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah melindungimu dari neraka. Engkau adalah wanita pertama yang turun pembelaannya dari langit.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Qais, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus Amru bin Al-Ash dalam perang Dzatus Salasil. Amru bin Al-Ash berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau menjawab: “Aisyah.” Aku berkata: Aku bertanya tentang laki-laki? Beliau menjawab: “Ayahnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Hisyam dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Aku melihatmu dalam mimpi dua kali, seorang laki-laki membawamu dalam kain sutera, lalu ia berkata: ‘Ini istrimu.’ Maka aku berkata: ‘Jika ini dari Allah, Allah akan mewujudkannya.'”

“Fadhailush Shahabah” 2/1102-1104 (1636-1638)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zaid bin Al-Habbab menceritakan kepada kami, Umar bin Said menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abi Mulaikah menceritakan kepada kami, dari Dzakwan budak Aisyah, dari Aisyah: Bahwa sebuah kotak dibawa kepada Umar bin Al-Khaththab, lalu ia memandangnya dan para sahabatnya memandangnya, tetapi mereka tidak mengetahui nilainya. Maka ia berkata: Apakah kalian mengizinkanku untuk mengirimkannya kepada Aisyah karena cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya? Mereka berkata: Ya. Maka kotak itu dibawa kepada Aisyah, lalu ia membukanya dan dikatakan kepadanya: Ini dikirim oleh Umar bin Al-Khaththab. Maka ia berkata: Apa yang telah dibukakan oleh Ibnu Al-Khaththab bagiku setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ya Allah, jangan biarkan aku hidup hingga pemberiannya tahun depan.

“Fadhailush Shahabah” 2/1106 (1642)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Umar bin Said, ia berkata: Ibnu Abi Mulaikah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ibnu Abbas meminta izin kepada Aisyah menjelang kematiannya sementara ia sedang dalam keadaan lemah. Ia berkata: Sesungguhnya aku khawatir ia akan memuji-mujiku. Dikatakan kepadanya: Ia adalah putra paman Rasulullah dan termasuk tokoh-tokoh kaum muslimin. Ia berkata: Izinkan dia. Maka ia berkata: Bagaimana keadaanmu wahai ibuku? Ia menjawab: Baik jika aku bertakwa. Ia berkata: Maka engkau dalam keadaan baik insya Allah jika bertakwa, engkau istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau tidak menikahi gadis selainmu dan pembelaanmu turun dari langit. Lalu Ibnu Zubair masuk setelahnya. Maka ia berkata: Ibnu Abbas masuk lalu memuji-mujiku, aku berharap aku adalah sesuatu yang dilupakan dan terlupakan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muawiyah bin Amru menceritakan kepada kami, Zaidah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Abdurrahman bin Mamar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Anas berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas makanan.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muawiyah menceritakan kepada kami, Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami, dari Musa bin Thalhah, ia berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih daripada Aisyah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Uraib bin Humaid, ia berkata: Ammar melihat sekelompok orang pada hari Jamal, maka ia bertanya: Apa ini? Mereka berkata: Seorang laki-laki yang mencaci Aisyah dan menyerangnya. Maka Ammar berjalan ke arahnya dan berkata: Diamlah engkau yang hina dan tercela, apakah engkau menyerang kekasih Rasulullah? Sesungguhnya ia adalah istrinya di surga.

“Fadhailush Shahabah” 2/1107-1108 (1644-1647)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Said yaitu Ibnu Abi Ayyub menceritakan kepada kami, ia berkata: Uqail menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab bahwa Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat di rumahku dan pada hariku dan di dadaku, dan yang terakhir ia dapatkan dari dunia adalah air liurku. Aku mengunyahkan siwak untuknya lalu aku memberikannya kepadanya.

“Fadhailush Shahabah” 2/1108 (1649)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ummu Amrah binti Hassan bin Yazid menceritakan kepada kami -seorang wanita tua yang jujur- ia berkata: Dan Said bin Yahya bin Qais bin Abs menceritakan kepadaku -ayahku berkata: dan ia adalah suaminya- dari ayahnya bahwa Aisyah rahimahallahu taala berkata: Tidak ada seorangpun yang membenciku di dunia melainkan aku akan berlepas diri darinya di akhirat.

Abdullah berkata: Aku membacakan hadits-hadits ini kepada ayahku, lalu ia mengakuinya dan berkata: Riwayatkanlah dariku, Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, Harun yaitu Al-Barbari menceritakan kepada kami, dari Ubaidillah bin Abd, ia berkata: Seorang laki-laki datang setelah wafatnya Aisyah, maka Ubaid bin Umair bertanya kepadanya: Bagaimana engkau melihat kesedihan orang-orang atasnya? Ia berkata: Demi Allah, kesedihan mereka tidak begitu hebat. Ubaid bin Umair berkata: Sesungguhnya yang bersedih atas Aisyah adalah orang yang ia menjadi ibu baginya.

“Az-Zuhd” hal. 376-377

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marrudzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia menyebutkan Aisyah Ummul Mukminin, lalu ia menyebutkan kezuhudan, kewara’an, dan ilmunya. Sesungguhnya ia membagikan seratus ribu dan ia menambal bajunya, dan ia berusia delapan belas tahun. Para tokoh besar dari sahabat Muhammad bertanya kepadanya -yaitu tentang fikih dan ilmu- seperti Abu Musa Al-Asyari dan lainnya bertanya kepadanya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/376 (750)

183 – Keutamaan Al-Ghumaishah semoga Allah meridhainya

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Humaid menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku memasuki surga lalu aku melihat seorang wanita muda di hadapanku, ternyata ia adalah Al-Ghumaishah binti Milhan ibu Anas bin Malik.”

Abdullah berkata: Ayahku berkata: Abu Ishaq Al-Abadi berkata: Al-Ghumaishah adalah Ummu Haram binti Milhan, dan ia adalah saudara Ummu Sulaim, dan Ubadah menikahinya -maksudnya: Ummu Haram.

“Fadhailush Shahabah” 2/1072 (1568-1569)

184 – Bab: Keutamaan kaum Anshar semoga Allah meridhai mereka

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Syuja bin Al-Walid menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kaum Anshar adalah ujian, barangsiapa mencintai mereka maka karena cintaku ia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka maka karena kebencian terhadapku ia membenci mereka. Tidaklah mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik.”

“Fadhailush Shahabah” 2/994 (1411)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Said, dari seorang laki-laki yang ia sebutkan namanya An-Numan bin Murrah -atau yang lain- dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya setiap nabi memiliki warisan dan tanggungan, dan sesungguhnya warisanku atau tanggunganku adalah kaum Anshar. Ketahuilah bahwa manusia akan bertambah dan berkurang. Maka terimalah dari orang baik mereka dan maafkanlah orang yang berbuat salah di antara mereka.”

“Fadhailush Shahabah” 2/995 (1413)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Jabir, dari Abdullah bin Nuji, ia berkata: Ali berkata: Tidaklah ada seorang mukmin melainkan kaum Anshar memiliki hak atasnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Said, dari seorang laki-laki penduduk Mesir yang bernama Al-Harits, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencintai kaum Anshar maka karena cintaku ia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka maka karena kebencian terhadapku ia membenci mereka.”

“Fadhailush Shahabah” 2/996 (1415-1416)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasan menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencintai kaum Anshar, Allah mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka, Allah membencinya.”

“Fadhailush Shahabah” 2/997 (1418)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Abdullah bin Yazid bin Abdullah bin Unais Abu Zakariya Al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jabir bin Abdullah bin Amru Al-Anshari menceritakan kepadaku, dari ayahnya Jabir bin Abdullah, ia berkata: Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sungguh berkata: “Barangsiapa menakut-nakuti kelompok kaum Anshar ini, maka sungguh ia telah menakut-nakuti apa yang ada di antara dua ini,” dan beliau meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisinya.

“Fadhailush Shahabah” 2/999-1000 (1421)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zaid bin Al-Habbab menceritakan kepada kami, Muawiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Maryam menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kepemimpinan ada pada suku Quraisy, peradilan ada pada kaum Anshar, adzan ada pada orang Habasyah, dan kecepatan ada pada orang Yaman.” Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, seorang laki-laki menceritakan kepada kami, Muawiyah bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Az-Zahiriyah mengabarkan kepadaku, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu kecuali ia menambahkan: “Dan amanah ada pada suku Azd.”

“Fadhailush Shahabah” 2/1000-1001 (1423-1424)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zakariya bin Adi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ubaidullah bin Amr mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Thufail bin Ubai bin Ka’ab, dari ayahnya, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku adalah seorang laki-laki dari kaum Anshar, dan seandainya manusia menempuh suatu lembah atau jurang, niscaya aku bersama kaum Anshar”.

Al-Baqarah (2): 1003-1004, nomor 1428-1430

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada peristiwa Khandaq: “Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat… Maka rahmatilah Anshar dan Muhajirin. Dan kutuklah Adhal dan Qarah… Mereka membebani kami memindahkan batu-batu”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Zuhri, dari Urwah bin Zubair: bahwa kaum Anshar menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau tiba di Madinah.

Fadhail ash-Shahabah 2/1003-1004, nomor 1428-1430

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Zuhri, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pahala adalah pahala akhirat… Maka rahmatilah Anshar dan Muhajirin. Dan kutuklah Adhal dan Qarah… Mereka membebani kami memindahkan batu-batu”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1009, nomor 1441

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Dan Ayyub mengabarkan kepadaku, dari Abu Qilabah, dari Anas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu.

Ma’mar berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata: Tidak tersisa dari ahlud da’wah selain aku.

Fadhail ash-Shahabah 2/1010, nomor 1443

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Habib bin Syahid, dari Ikrimah, dia berkata: Tujuh orang dari kaum Anshar terluka di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Uhud, semuanya berkata: Leherku pengganti lehermu, dan jiwaku pengganti jiwamu.

Fadhail ash-Shahabah 2/1011, nomor 1445

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Zaid, dia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kaum Anshar: “Sesungguhnya kalian akan mengalami pengutamaan orang lain sepeninggalku, maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di telaga”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1017-1018, nomor 1458

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muththalib bin Ziyad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Isa menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah bersabda: “Ya Allah, ampunilah kaum Anshar, dan anak-anak Anshar, dan anak-anak dari anak-anak Anshar, dan keluarga Anshar”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muththalib menceritakan kepada kami, Abdullah bin Isa menceritakan kepada kami, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terimalah dari orang Anshar yang berbuat baik dan maafkanlah orang yang berbuat salah dari mereka”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1018, nomor 1460-1461

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Quraisy, Anshar, Asyja’, Ghifar, Aslam, Muzainah, dan Juhaynah adalah wali Allah dan Rasul-Nya, tidak ada wali bagi mereka selain Dia”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1020-1021, nomor 1467

Bab 185: Keutamaan Bangsa Arab

Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya, dia berkata: “Quraisy, Anshar, Muzainah, Juhaynah, Aslam, Ghifar, dan Asyja’ adalah wali, tidak ada wali bagi mereka selain Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Ahmad berkata: Allah ‘azza wa jalla telah menganugerahkan kepada mereka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorang pun yang memiliki anugerah atas mereka.

Ishaq berkata: Seperti yang dia katakan.

Masail al-Kausaj, nomor 3292

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, bangsa Arab murtad kecuali tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Bahrain.

Fadhail ash-Shahabah 2/1045, nomor 1510

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, al-Awwam menceritakan kepada kami, dari Ibrahim at-Taimi, dia berkata: Ketika terjadi peristiwa Dzu Qar, Bakr bin Wa’il membalas dendam kepada Persia, berita itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Bakr bin Wa’il membalas dendam kepada Persia dan semisalnya”, dia berkata: Ini adalah hari pertama Allah menghancurkan pasukan Persia dengan pasukan berkuda dari Bani Dzuhl bin Syaiban.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Dan seorang syaikh dari Qais yang dipanggil Hafsh bin Mujahid mengabarkan kepadaku, dan dia adalah orang yang mengetahui berita-berita manusia, dia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dengan aku mereka ditolong”, dia berkata: Dan itu terjadi ketika diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Fadhail ash-Shahabah 2/1045-1046, nomor 1511-1512, dan al-‘Ilal 1-2

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’awiyah berkata kepada para sahabatnya: Siapakah penyair terbaik bangsa Arab? Dia berkata: Mereka menjawab: Bani Fulan. Dia berkata: Sesungguhnya penyair terbaik bangsa Arab adalah az-Zurq dari Bani Qais bin Tsa’labah di akar-akar pohon ‘Urfuj. Mereka bertanya: Kemudian siapa? Dia berkata: Kemudian ash-Shufar dari Bani Najjar yang lengan-lengannya terpisah di akar-akar pohon kurma.

Fadhail ash-Shahabah 2/1046, nomor 1513

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu al-Wazi’ menceritakan kepada kami -seorang laki-laki dari Bani Rasib- dia berkata: Aku mendengar Abu Barzah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus utusannya kepada salah satu suku bangsa Arab untuk suatu urusan -Mahdi tidak tahu apa itu- dia berkata: Lalu mereka mencacinya dan memukulnya, maka dia mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Seandainya engkau mendatangi penduduk Oman, mereka tidak akan mencacimu dan tidak akan memukulmu”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Dan Zuhri berkata: Mereka adalah Bani Hanifah, pengikut Musailamah al-Kadzdzab -yaitu: firman-Nya: “Kalian akan diajak (berperang) menghadapi kaum yang mempunyai kekuatan yang sangat tangguh” (Surat al-Fath: 16).

Fadhail ash-Shahabah 2/1048, nomor 1516-1517

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Kamil menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Da’fal as-Sudusi, dia berkata: Tidaklah manusia berselisih kecuali kebenaran berada bersama Mudhar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami -yaitu: Ibnu Abi Ayyub, dia berkata: Abdullah bin Khalid menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Harits bin Hisyam al-Makhzumi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencaci Mudhar, karena sesungguhnya dia berada di atas agama Ibrahim, dan sesungguhnya orang pertama yang mengubah agama Ibrahim adalah Amr bin Luhay bin Qam’ah bin Khindif” dan beliau bersabda: “Aku melihatnya menyeret ususnya di neraka”.

Bab 186: Keutamaan Bani Asad

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki, dia berkata: Amir asy-Sya’bi melewati seorang laki-laki dari Bani Asad dan seorang laki-laki dari Qais, dia berkata: Lalu orang Asad itu berusaha melepaskan diri darinya, tetapi orang yang lain tidak membiarkannya. Dia berkata: Tidak, demi Allah, hingga aku mengenalkan kaummu kepadamu dan kamu mengetahui dari siapa kamu. Maka Amir berkata kepadanya: Biarkan laki-laki itu. Dia berkata: Tidak, hingga aku mengenalkan kaumnya dan dirinya.

Dia berkata: Biarkan dia, karena sesungguhnya dia akan menemukan kebanggaan jika dia tahu.

Dia berkata: Maka dia menolak. Dia berkata: Maka duduklah kalian berdua. Dan asy-Sya’bi duduk bersama mereka, lalu berkata: Wahai saudara Qais, apakah di kalian ada bendera pertama yang diikat dalam Islam? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu telah ada di Bani Asad.

Dia berkata: Apakah di kalian ada tujuh Muhajirin pada perang Badar?

Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu telah ada di Bani Asad.

Dia berkata: Apakah di kalian ada ghanimah pertama dalam Islam?

Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu telah ada di Bani Asad.

Dia berkata: Apakah di kalian ada seorang laki-laki yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan surga?

Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu telah ada di Bani Asad.

Dia berkata: Apakah di kalian ada seorang wanita yang dinikahkan oleh Allah dari langit, yang menjadi peminangnya adalah Rasulullah dan perantaranya adalah Jibril?

Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu telah ada di Bani Asad. Lepaskanlah laki-laki itu, karena sesungguhnya dia akan menemukan kebanggaan jika dia tahu. Maka laki-laki itu pergi dan meninggalkannya.

Abdullah bin Jahsy adalah orang yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bendera pertama, dan Ukkasyah bin Mihshan adalah orang yang diberi kabar gembira oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan surga.

Fadhail ash-Shahabah 2/1040-1041, nomor 1506

Bab 187: Keutamaan Penduduk Yaman

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di antara para sahabatnya suatu hari lalu bersabda: “Ya Allah, selamatkanlah penumpang kapal”, kemudian beliau diam sejenak lalu bersabda: “Mereka telah melanjutkan (perjalanan)”, ketika mereka mendekati Madinah, beliau bersabda: “Mereka telah datang dipimpin oleh seorang laki-laki saleh”. Dan orang-orang yang berada di kapal adalah kaum Asy’ariyyin, mereka empat puluh orang laki-laki, dan yang memimpin mereka adalah Amr bin Humaq al-Khuza’i.

Fadhail ash-Shahabah 2/1090-1091, nomor 1612

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami, dia berkata: Syurahbil bin Syuraik al-Ma’afiri menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Ali bin Rabah al-Lakhmi berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan kaum Asy’ariyyin di antara manusia adalah seperti bungkusan minyak kasturi”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1092, nomor 1615

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu dari Yaman sampai ke sini -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya sampai Judzam- semoga rahmat Allah atas Judzam”.

Fadhail ash-Shahabah 2/1094-1095, nomor 1699

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Affan, menceritakan kepada kami Hammad, ia berkata: menceritakan kepadaku Jabalah bin Athiyyah, dari Abdullah bin Auf bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda seperti ini, dan ia menggambarkan bahwa beliau menumpangkan kedua tangannya seraya bersabda: “Keimanan itu berasal dari Yaman sampai ke Hadasa dan Juzam”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Harits, ia berkata: menceritakan kepadaku Hanzhalah, bahwa ia mendengar Thawus berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih lembut hatinya dan lebih halus perasaannya, keimanan itu berasal dari Yaman dan hikmah itu dari Yaman”. Hanzhalah berkata: Maka aku bertanya: Wahai Abu Abdurrahman, apa yang disebut Yaman? Ia menjawab: Madinah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abu Kamil, menceritakan kepada kami Israil, menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: Keimanan itu berasal dari Yaman.

“Fadhailush Shahabah” 2/1095-1096 (1621-1623)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, ia berkata: memberitahukan kepada kami Syu’bah, dari seorang laki-laki yang bernama: Abdullah bin Amr, dari Amr bin Murrah, dari Khaitsamah bahwa ia mendengarnya darinya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: Siapa manusia yang paling baik? Beliau bersabda: “Penduduk Yaman”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Husain, menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata: memberitahukan kepada kami seorang laki-laki -yang bernama: Abdullah- dari kaum Amr bin Murrah, dan ia pernah mengimami mereka setelah ia meninggal, dari Amr bin Murrah, dari Khaitsamah bin Abdurrahman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: Siapa manusia yang paling baik? Beliau bersabda: “Penduduk Yaman”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, ia berkata: Umar melihat seorang wanita dalam pakaiannya, maka ia berkata: Apakah kamu menyangka kekerabatanmu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam akan menyelamatkanmu sedikit pun dari Allah? Maka ia menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya berharap mendapat syafaatku adalah Shada dan Sulhab”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: memberitahukan kepada kami Ma’mar, dari Khallad bin Abdurrahman, dari ayahnya, bahwa ia adalah Ummu Hani binti Abu Thalib, dan bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya sangat berharap mendapat syafaatku adalah Kha’ dan Hakam”. Abdurrazzaq berkata: Kha’ dan Hakam adalah dua kabilah, Kha’ adalah Khaulan dan Hakam adalah Madzhij.

“Fadhailush Shahabah” 2/1110-1111 (1651-1654)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, ia berkata: memberitahukan kepada kami Warqa’, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih lemah hatinya dan lebih halus perasaannya, keimanan itu berasal dari Yaman, dan hikmah itu dari Yaman”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: memberitahukan kepada kami Ma’mar, ia berkata: memberitahukan kepadaku orang yang jujur: bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang Asy’ari, Abu Musa dan Abu Malik: “Dari mana kalian datang?” Mereka berkata: Dari Zubaid. Beliau bersabda: “Ya Allah, berkahilah Zubaid”. Mereka berkata: Dan Rama’ juga ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Ya Allah, berkahilah Zubaid” sampai beliau mengucapkannya tiga kali, kemudian pada yang ketiga beliau bersabda: “Dan Rama'”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: memberitahukan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah -atau yang lainnya- ia berkata: Abu Musa al-Asy’ari datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama delapan puluh orang dari kaumnya. Ia berkata: Dan tidak datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Bani Tamim sepuluh orang pun. Qatadah berkata: Dan tidak ada seorang pun dari Bakar bin Wa’il yang berangkat menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Fadhailush Shahabah” 2/1113 (1659-1660)

Bab 188: Keutamaan Quraisy

Ibnu Hani berkata: Dan aku bertanya kepadanya tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari pembebasan Makkah: “Quraisy tidak akan diperangi setelah ini”.

Ia berkata: Ya, pada hari beliau memerangi mereka beliau bersabda: “Tidak boleh membunuh orang Quraisy dengan cara dipaksa”.

“Masail Ibnu Hani” (2013)

Bab 189: Keutamaan Madinah

Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku berkata dalam hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku diperintahkan untuk pergi ke sebuah negeri yang memakan negeri-negeri”: Penafsirannya -dan Allah lebih mengetahui- dengan fathul qura (pembebasan negeri-negeri), dibuka dengan Madinah, dan apa yang ada di sekitar Madinah dengannya, bukan bahwa ia memakannya dengan cara memakan. Sesungguhnya negeri-negeri dibuka dengan Madinah.

“Masail Abdullah” (1610)

Bab 190: Keutamaan Ahmas

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ismail -yaitu: Ibnu Abi Khalid- dari seorang laki-laki dari mereka, dari Abu ad-Darda’ bahwa ia berkata kepada seorang laki-laki: Dari mana kamu? Ia berkata: Dari Ahmas. Ia berkata: Tidak ada kaum setelah Quraisy dan Anshar yang lebih aku cintai untuk menjadi bagian dari mereka daripada Ahmas.

“Fadhailush Shahabah” 2/1072-1073 (1570)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Waki’, dari Ismail, dari Qais, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Bilal: “Apakah kamu sudah menyiapkan rombongan orang-orang Bajilah? Mulailah dengan orang-orang Ahmasi sebelum orang-orang Qusyri”.

“Fadhailush Shahabah” 2/1117 (1668)

Dan Abdullah berkata dalam hadits Jubair bin Muth’im: Aku kehilangan untaku di Arafah, maka aku pergi mencarinya, tiba-tiba Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri, aku berkata: Sesungguhnya ini dari kalangan Hums, apa urusannya di sini? Ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Hums adalah Quraisy dan siapa yang mendukung mereka.

“Masail Abdullah” (1606)

Bab: Keutamaan Bani Najiyah

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, menceritakan kepada kami, dan Hajjaj berkata: memberitahukan kepada kami Syu’bah, ia berkata: Aku bertanya kepada Sa’d bin Ibrahim tentang Bani Najiyah? Maka ia berkata: Mereka dari kami, dan Sa’id berkata: Mereka meriwayatkan, dan Hajjaj berkata: Diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Mereka adalah kaum dariku”. Syu’bah berkata: Dan aku mengira beliau bersabda: “Dan aku dari mereka”. Ia berkata: Dan mereka menghadiahkan kepada Abdurrahman bin Auf pelana-pelana Ilafiyah, Hajjaj berkata: Ilafiyah.

“Fadhailush Shahabah” 2/1073 (1571)

Bab: Keutamaan Bananah

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Rauh, menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ibrahim bin Muhajir, ia berkata: Aku mendengar Thariq bin Syihab berkata: Bananah datang kepada Umar bin al-Khaththab lalu mereka berkata: Kami darimu dan kamu dari kami, maka ia berkata: Aku tidak mendengar seorang pun dari bapak-bapakku menyebutkan hal itu.

“Fadhailush Shahabah” 2/1073 (1572)

Bab: Keutamaan Tsaqif

Abdullah berkata: Ayahku berkata, menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari seorang laki-laki, dari Imran bin Hushain, ia berkata: Dua orang laki-laki dari Tsaqif datang kepadanya, maka ia berkata: Dari mana kalian berdua? Keduanya berkata: Tsaqif. Ia berkata: Tsaqif dari Iyad, dan Iyad dari Tsamud. Seolah-olah hal itu menyakitkan kedua orang itu, maka ketika ia melihat hal itu menyakitkan keduanya, ia berkata: Apa yang menyakitkan kalian? Sesungguhnya yang selamat dari Tsamud adalah Shalih dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka kalian adalah keturunan kaum yang shalih.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud, menceritakan kepada kami Imran, dari Qatadah, dari Zurarah, ia berkata: Imran bin Hushain berkata -yaitu kepada seorang laki-laki-: Dari mana kamu? Ia berkata: Dari Tsaqif. Ia berkata: Sesungguhnya Tsaqif dari Iyad dan Iyad dari Tsamud. Ia berkata: Seolah-olah laki-laki itu merasa sakit hati, ia berkata: Maka Imran berkata: Jangan merasa sakit hati, karena sesungguhnya yang selamat dari mereka adalah orang-orang terbaik mereka.

“Fadhailush Shahabah” 2/1117-1118 (1669-1670), “Al-Ilal” riwayat Abdullah 2/556 (3632)

Bab: Keutamaan Aslam dan Ghifar

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud, ia berkata: memberitahukan kepada kami Syu’bah, dari Amr bin Murrah, ia mendengar Ibnu Abi Aufa berkata: Aslam pada hari itu -yaitu: hari di bawah pohon- adalah seperdelapan dari kaum Muhajirin.

“Fadhailush Shahabah” 2/1120 (1676)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, ia berkata: memberitahukan kepada kami Warqa’, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka, dan Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka”.

“Fadhailush Shahabah” 2/1122 (1682)

Bab 191: Keutamaan Syam

Ibnu Hani berkata: Dan ia ditanya tentang: hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang perintah Allah, mereka tetap seperti itu”. Ia berkata: Mereka adalah penduduk Maghrib (barat), sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memerangi Romawi, setiap orang yang memerangi kaum musyrik maka ia berada di atas kebenaran.

“Masail Ibnu Hani” (2041)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Waki’, menceritakan kepada kami Israil, dari Furat al-Qazzaz, dari al-Hasan, ia berkata: “Negeri yang Kami berkahi padanya” (Surat al-Anbiya: 81). Ia berkata: Syam.

“Fadhailush Shahabah” 2/1134 (1705)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid, ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, dari Waqid Abu Abdullah asy-Syaibani, dari Sa’id bin Abdullah bin Dhirar al-Asadi, dan ayahnya termasuk sahabat Abdullah, ia berkata: ayahku Abdullah bin Dhirar memberitahukan kepadaku bahwa ia keluar bersama Abdullah menuju tempat bersuci di dekat masjid besar, lalu keduanya bersuci di sana, maka Abdullah bin Dhirar selesai sebelum Ibnu Mas’ud, lalu Abdullah mendatanginya sementara ia menunggunya, maka ia berkata: Wahai Abdullah bin Dhirar, ke mana keinginanmu hari ini? Maka ia menunjuk dengan tangannya ke arah Syam, lalu Abdullah berkata kepadanya: Adapun kamu jika melakukan itu, maka sesungguhnya di sana ada sembilan persepuluh dari kebaikan dan sepersepuluh dari kejahatan, dan sesungguhnya di sini ada sembilan persepuluh kejahatan dan sepersepuluh kebaikan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid, menceritakan kepada kami al-A’masy, dari Abdullah bin Dhirar, dari ayahnya, ia berkata: Abdullah berkata: Sesungguhnya kebaikan dibagi menjadi sepuluh bagian, sembilan ada di Syam dan sepersepuluh di sini, dan sesungguhnya kejahatan dibagi menjadi sepuluh bagian, sembilan di sini dan sepersepuluh di Syam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Harits, ia berkata: menceritakan kepada kami Syibl bin Abbad, ia berkata: Aku mendengar Abu Qaza’ah menceritakan dari Hakim bin Mu’awiyah al-Bahzi, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Di sinilah kalian akan dikumpulkan, di sinilah kalian akan dikumpulkan, di sinilah kalian akan dikumpulkan -tiga kali- dengan berkendaraan dan berjalan kaki, dan dengan wajah kalian akan kalian dipenuhi pada hari kiamat, tujuh puluh umat, kalian adalah umat terakhir dan yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla”.

“Fadhailush Shahabah” 2/1135-1137 (1708-1710)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Tanah yang suci” (Surah Al-Ma’idah: 21), ia berkata: Itu adalah negeri Syam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husain menceritakan kepada kami dalam tafsir Syaiban, dari Qatadah tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah untuk kalian” (Surah Al-Ma’idah: 21), ia berkata: Kaum itu diperintahkan untuk memasukinya sebagaimana mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, zakat, haji, dan umrah, “Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang sangat kuat” (Surah Al-Ma’idah: 22), ia berkata: Dan disebutkan kepada kami bahwa kaum yang sangat kuat itu berada di tanah suci dengan tubuh-tubuh yang besar dan penampilan yang mengingkari.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husain menceritakan kepada kami dalam tafsir Syaiban, dari Qatadah tentang firmanNya: “Ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam” (Surah Al-Anbiya: 81), ia berkata: Allah menyelamatkan keduanya dari tanah Irak menuju tanah Syam.

Ia berkata: Dan Abu Qilabah menceritakan bahwa Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat dalam mimpi bahwa para malaikat mengangkat tiang kitab, lalu menuju dengannya ke Syam”, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika terjadi fitnah maka sesungguhnya iman ada di Syam”.

“Fadhailus Shahabah” 2/1138-1139 (1713-1716)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, dalam tafsir Sa’id, dari Qatadah tentang firmanNya: “Dan dengarkanlah pada hari ketika penyeru menyeru dari tempat yang dekat” (Surah Qaf: 41), Sa’id berkata: Qatadah berkata: Kami dulu membicarakan bahwa ia akan menyeru dari batu Baitul Maqdis, ia berkata: Dan itu adalah tengah-tengah bumi.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, dari Sa’id, dari Qatadah ia berkata: Kami diceritakan bahwa Ka’ab biasa mengatakan: Ia adalah bumi yang paling dekat dengan langit yaitu delapan belas mil.

“Fadhailus Shahabah” 2/1140-1141 (1718-1719)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Jika penduduk Syam telah rusak maka tidak ada kebaikan pada kalian, tidak akan berhenti ada sekelompok dari umatku yang ditolong, tidak membahayakan mereka orang-orang yang mengkhianati mereka hingga hari kiamat tiba”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami ia berkata: Imran memberitahukan kepada kami, dari Yazid bin Sufyan ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Jangan kalian mencela penduduk Syam karena sesungguhnya mereka adalah pasukan terdepan.

“Fadhailus Shahabah” 2/1142-1144 (1722-1723)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami ia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Ayyub, dari Abu Qilabah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada pasukan di Syam, pasukan di Irak, dan pasukan di Yaman”, ia berkata: Maka seorang laki-laki berkata: Pilihkan untukku wahai Rasulullah, beliau bersabda: “Hendaklah kamu ke Syam, barangsiapa yang menolak maka hendaklah ia pergi ke Yaman dan minum dari telaga-telaganya, karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya”.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Abdullah bin Shafwan, dan ia berkata suatu waktu: dari Abdullah bin Shafwan bin Abdullah ia berkata: Seorang laki-laki berkata pada hari Shiffin: Ya Allah laknatlah penduduk Syam. Maka Ali berkata: Jangan kamu mencela penduduk Syam semuanya secara massal; karena sesungguhnya di sana ada para Abdal, sesungguhnya di sana ada para Abdal, sesungguhnya di sana ada para Abdal.

“Fadhailus Shahabah” 2/1144-1146 (1725-1726)

Bab 192: Larangan Mencela Para Sahabat, Berlepas Diri dari Orang yang Berlepas Diri dari Mereka, dan Tidak Ikut Campur dalam Perselisihan yang Terjadi di Antara Mereka.

Al-Kausaj berkata: Ahmad ditanya tentang Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.

Ia berkata: Doakanlah rahmat untuk keduanya, dan berlepas dirilah dari orang yang merendahkan keduanya.

Ishaq berkata: Sebagaimana yang ia katakan.

“Masailul Kausaj” (3291)

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, ia berkata: Jubair bin Nufair berkata: Aku datang kepada Abdullah bin Umar meminta fatwa tentang suatu perkara, maka ia berkata: Dari manakah kamu? Aku berkata: Dari penduduk Himsh.

Ia berkata: Kamu meninggalkan pasukan terdepan yang merupakan pilihan para sahabat Muhammad yang berjalan dengan panji Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga mereka semua menetap di sana, adapun aku tidak akan memberimu fatwa tentang apapun.

“Masailush Shalih” (885)

Ibnu Hani berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah -dan Daluwayh berkata kepadanya: Aku mendengar Ali bin Al-Ja’d berkata: Demi Allah Mu’awiyah mati bukan dalam keadaan Islam.

Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata; dan ayahku berkata kepadanya, hadits-hadits yang datang tentang Ali tentang keutamaan.

Maka ia berkata: Sesuai dengan yang datang, kami tidak mengatakan tentang para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kecuali kebaikan.

Dan ia berkata: Ibnu Umar, dan Sa’d, dan orang yang menahan diri dari fitnah itu, bukankah ia menurut sebagian orang lebih terpuji. Kemudian ia berkata: Ini Ali, orang-orang tidak dapat mengendalikannya, bagaimana dengan hari ini sedangkan orang-orang dalam keadaan seperti ini dan semisalnya, dan pedang tidak aku sukai sama sekali.

“Masailul Ibni Hani” (1934)

Ibnu Hani berkata: Aku bertanya: Orang-orang Khawarij menangkap seseorang lalu berkata: Berlepas dirilah dari Ali dan Utsman, jika tidak kami akan membunuhmu, apa yang kamu lihat ia harus lakukan? Ia berkata: Jika disiksa dan dipukul maka hendaklah ia mengikuti apa yang mereka inginkan, dan Allah mengetahui darinya yang sebaliknya.

“Masailul Ibni Hani” (1957)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Khalid Adh-Dhabi menceritakan kepada kami, dari Atha -yaitu: Ibnu Abi Rabah- ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjagaku dalam hal para sahabatku maka aku akan menjaganya pada hari kiamat dan barangsiapa yang mencela para sahabatku maka atasnya laknat Allah”.

“Fadhailus Shahabah” 1/63-64 (10)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ dan Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Hisyam -yaitu: Ibnu Urwah- menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah: Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para sahabat Muhammad tetapi mereka mencela mereka. Dan Abu Mu’awiyah berkata dalam haditsnya: Wahai anak saudariku, mereka diperintahkan agar memohonkan ampunan untuk para sahabat Muhammad tetapi mereka mencela mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Nusair bin Dzu’luq, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Jangan kalian mencela para sahabat Muhammad, karena sesungguhnya berdiri salah seorang dari mereka sesaat lebih baik daripada amal salah seorang dari kalian sepanjang hidupnya.

“Fadhailus Shahabah” 1/66-67 (14-15)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami ia berkata: Dan seorang laki-laki menceritakan kepada kami, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jangan kalian mencela para sahabat Muhammad, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan untuk memohonkan ampunan bagi mereka padahal Dia mengetahui bahwa mereka akan saling membunuh.

“Fadhailus Shahabah” 1/69-70 (18)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Nusair bin Dzu’luq ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Jangan kalian mencela para sahabat Muhammad, karena sesungguhnya berdiri salah seorang dari mereka sesaat lebih baik daripada ibadah salah seorang dari kalian empat puluh tahun.

“Fadhailus Shahabah” 1/71 (20)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Asbath menceritakan kepada kami, dari Amr bin Qais, ia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Muhammad bin Ali berkata: Allah berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Asbath menceritakan kepada kami, Katsir An-Nawa’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin Ali tentang Abu Bakar dan Umar, maka ia berkata: Cintailah keduanya, maka apa yang ada dalam hal itu adalah di leherku.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Asbath menceritakan kepada kami, Katsir An-Nawa’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Zaid bin Ali tentang Abu Bakar dan Umar, maka ia berkata: Cintailah keduanya. Ia berkata: Aku bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang berlepas diri dari keduanya?

Ia berkata: Aku berlepas diri darinya hingga ia bertaubat.

“Fadhailus Shahabah” 1/196-197 (143-145), “As-Sunnah” karya Abdullah 2/557 (1300-1302)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, Salim -yaitu: Ibnu Abi Hafshah- menceritakan kepada kami ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Ja’far dan Ja’far tentang Abu Bakar dan Umar, maka keduanya berkata kepadaku: Wahai Salim cintailah keduanya dan berlepas dirilah dari musuh keduanya; karena sesungguhnya keduanya adalah imam petunjuk. Ia berkata: Dan Ja’far berkata kepadaku: Wahai Salim, Abu Bakar adalah kakekku, apakah seseorang mencela kakeknya sendiri? Ia berkata: Dan ia berkata: Tidak akan aku dapatkan syafaat Muhammad pada hari kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan berlepas diri dari musuh keduanya.

“Fadhailus Shahabah” 4/211-215 (176), “As-Sunnah” karya Abdullah 2/558 (1303)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ibnu Numair -yaitu Abdullah- menceritakan kepada kami: dari Syarik, dari Urwah bin Abdullah bin Qusyair, dari Abu Ja’far, ia berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata. Aku bertanya: Ash-Shiddiq? Ia berkata: Ya Ash-Shiddiq, dan ia menyebutkan hadits di dalamnya disebutkan Umar maka ia berkata: Amirul Mukminin Umar, aku bertanya: Amirul Mukminin? Ia berkata: Ya Amirul Mukminin.

“Fadhailus Shahabah” 1/293-294 (296)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Ummu Umar binti Hassan bin Yazid Abu Al-Ghushn menceritakan kepada kami -ayahku berkata: Dan dia adalah seorang wanita tua yang jujur- ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku masuk ke masjid besar -masjid Kufah- ia berkata: Dan Ali bin Abi Thalib berdiri di atas mimbar berkhotbah kepada orang-orang dan ia menyeru dengan suara paling keras tiga kali: Wahai manusia, wahai manusia, wahai manusia, sesungguhnya kalian banyak membicarakan tentang Utsman maka sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaannya adalah sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami cabut segala rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; sebagai saudara-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (Surah Al-Hijr: 47).

“Fadhailus Shahabah” 1/553-554 (729)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Habib bin Az-Zubair, ia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Asy-Syarid ia berkata: Aku mendengar Ali berkhotbah, maka ia berkata: Sesungguhnya aku benar-benar berharap bahwa aku dan Utsman sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami cabut segala rasa dendam yang ada di dalam dada mereka; sebagai saudara-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (Surah Al-Hijr: 47).

“Fadhailus Shahabah” 1/570 (758)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Hushain, dari Hilal bin Yasaf, dari Abdullah bin Zhalim, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Sa’id bin Zaid lalu berkata: Sesungguhnya aku mencintai Ali dengan cinta yang tidak pernah aku cintai sesuatu sedikitpun. Ia berkata: Sebaik-baik apa yang kamu lihat, kamu mencintai seorang laki-laki dari penduduk surga. Dan seorang laki-laki datang kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya aku membenci Utsman dengan kebencian yang tidak pernah aku benci sesuatu sedikitpun.

Ia berkata: Seburuk-buruk apa yang kamu lihat, kamu membenci seorang laki-laki dari penduduk surga.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Nu’aim bin Hakim, dari Abu Maryam, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Akan binasa karenaku dua orang: orang yang berlebihan dalam mencinta dan orang yang membenci, ia berkata.

“Fadhailus Shahabah” 2/705-706 (963-964)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Malik bin Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Qurrah menceritakan kepada kami ia berkata: Aku mendengar Abu Raja’ berkata: Jangan kalian mencela Ali dan tidak pula ahli bait ini; sesungguhnya tetangga kami dari Bani Al-Hujairn datang dari Kufah lalu berkata: Tidakkah kalian melihat orang fasik bin orang fasik ini? Sesungguhnya Allah membunuhnya -maksudnya Al-Husain-, ia berkata: Maka Allah melontarkan kepadanya dua bintang di kedua matanya lalu Allah membutakan penglihatannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Masruq, dari Mundzir, dari Ar-Rabi’ bin Khutsaim bahwa mereka menyebutkan Ali di hadapannya, maka ia berkata: Aku tidak melihat seorangpun dari orang-orang yang membencinya yang lebih keras kebenciannya dan tidak pula orang-orang yang mencintainya yang lebih keras cintanya dan aku tidak melihat mereka mendapatkan padanya dalam putusannya, dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa yang diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak” (Surah Al-Baqarah: 269).

“Fadhailus Shahabah” 2/710-711 (972-973)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abdur Razzaq berkata: Muhammad -yaitu Ibnu Rasyid- menceritakan kepada kami, ia berkata: Auf menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berada di sisi Hasan, lalu mereka menyebutkan para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka Ibnu Jausyan Al-Ghathafani berkata: Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya yang mencela Abu Musa adalah ia mengikuti Ali. Berkata (perawi): Maka Hasan marah hingga kemarahannya terlihat di wajahnya, ia berkata: Lalu siapa yang harus diikuti?! Amirul Mukminin Utsman dibunuh dalam keadaan teraniaya, lalu orang-orang menghadap kepada orang yang terbaik dari mereka dan membaiatnya, lalu siapa yang harus diikuti?! Hingga ia mengulanginya berulang kali.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/712-713 (976)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Aswad bin Amir, Qatsana Isra’il, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Sesungguhnya kami mengenali orang-orang munafik dari kalangan Anshar dari kebencian mereka kepada Ali.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/715 (976)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abdur Razzaq berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Al-Ala’ bin Arar berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang Ali dan Utsman, maka ia berkata: Adapun Ali, maka inilah rumahnya, aku tidak akan menceritakan kepadamu tentangnya selain ini, dan adapun Utsman maka sesungguhnya ia berdosa antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla dosa yang besar lalu Allah mengampuninya, dan ia berdosa antara kalian dan dirinya dosa yang kecil lalu kalian membunuhnya.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/736-737 (1012)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur bin Abdur Rahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Asy-Sya’bi: Apakah sampai kepadamu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tetaplah Gunung Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang nabi atau shiddiq atau syahid”? Maka ia berkata: Ya.

Aku berkata: Siapa yang berada di atas gunung pada hari itu? Ia berkata: Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair, dan engkau beserta teman-temanmu mengatakan sebagian dari mereka di surga dan sebagian di neraka.

Maka aku berkata: Wahai Abu Amr, dari siapa engkau mendengarnya? Maka ia berkata: Demi Allah, seandainya aku menceritakan kepadamu bahwa aku mendengarnya dari seribu orang, niscaya engkau melihat bahwa aku benar.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/921 (1274)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Yahya bin Zakariya, dari Isma’il, dari Qais berkata: Aku diberitahu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela Khalid, karena sesungguhnya ia adalah pedang dari pedang-pedang yang Allah turunkan atas orang-orang kafir.”

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1026-1027 (1479)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Al-Muthalib bin Ziyad, dari Abu Ishaq, bahwa seorang laki-laki mencela Aisyah dan mencelanya, maka Ammar berkata kepadanya: Celakalah engkau, apa yang engkau inginkan dari kekasih Rasulullah, apa yang engkau inginkan dari Ummul Mukminin? Maka aku bersaksi bahwa ia adalah istri beliau di surga. Di hadapan Ali, dan Ali diam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ummu Amr binti Hassan bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Dan menceritakan kepadaku -yaitu Sa’id bin Yahya bin Qais bin Abs- dari ayahnya, bahwa Aisyah biasa berkata: Tidaklah seseorang mencelaku di dunia kecuali aku akan berlepas diri darinya di akhirat.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1097-1098 (1625-1626)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abdur Razzaq berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri berkata: Aku berada di sisi Al-Walid dan ia hampir mencela Aisyah, maka aku berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, tidakkah aku ceritakan kepadamu tentang seorang laki-laki dari penduduk Syam yang diberi hikmah, ia berkata: Siapa dia? Aku berkata: Ia adalah Abu Muslim Al-Khaulani, dan ia mendengar penduduk Syam hampir mencela Aisyah, maka ia berkata: Tidakkah aku kabarkan kepada kalian tentang perumpamaan kalian dan ibumu ini, seperti dua mata di kepala yang menyakiti pemiliknya dan ia tidak mampu menghukum keduanya kecuali dengan yang lebih baik bagi keduanya, berkata: Maka ia diam. Az-Zuhri menyebutkannya dari Abu Idris dari Abu Muslim.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Waki’, dari ayahnya, dari Abu Ishaq, dari Uraib bin Humaid berkata: Seorang laki-laki datang kepada Ali lalu mencela Aisyah, maka Ammar berdiri dan berkata: Keluarlah engkau dalam keadaan tercela dan terhina, demi Allah sesungguhnya ia adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1099-1100 (1630-1631)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Nusair bin Dza’luq berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad, karena berdirinya salah seorang dari mereka sesaat lebih baik daripada ibadah salah seorang dari kalian selama empat puluh tahun.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abdur Razzaq berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami dari orang yang mendengar Hasan berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Perumpamaan para sahabatku di tengah manusia seperti perumpamaan garam dalam makanan.” Kemudian Hasan berkata: Jauh sekali, telah hilang garam kaum itu.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1148 (1729-1730)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abu Mu’awiyah, Qatsana Muhammad bin Khalid Adh-Dhabbi, dari Atha’ bin Abi Rabah berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa menjagaku dalam (menghormati) para sahabatku, maka aku akan menjaganya pada hari kiamat, dan barangsiapa mencela para sahabatku maka atasnya laknat Allah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Yunus bin Muhammad, Qatsana Hammad, dari Ali bin Zaid berkata: Sa’id bin Al-Musayyab berkata kepadaku: Suruhlah budakmu untuk melihat wajah laki-laki ini. Aku berkata: Bahkan ceritakanlah kepadaku engkau sendiri.

Ia berkata: Sesungguhnya laki-laki ini telah Allah hitamkan wajahnya. Aku berkata: Dan mengapa?

Ia berkata: Ia biasa mencela Ali, Thalhah dan Zubair, lalu aku melarangnya tetapi ia menolak, maka aku berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang memiliki keutamaan dan kemuliaan, maka jika apa yang ia katakan membuatMu murka maka tandailah dia dan jadikanlah dia sebagai pelajaran, berkata: Maka Allah hitamkan wajahnya.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1149-1150 (1733-1734)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Waki’, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Nusair bin Dza’luq berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad, karena berdirinya salah seorang dari mereka sesaat lebih baik daripada amal salah seorang dari kalian seumur hidupnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Waki’, dari Sufyan, dari Yunus, dari Hasan berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang terdahulu dari bangsa Arab, dan Salman orang yang terdahulu dari Persia, dan Shuhaib orang yang terdahulu dari Romawi, dan Bilal orang yang terdahulu dari Habasyah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Waki’ dan Abu Mu’awiyah, keduanya berkata: Hisyam menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Aisyah: Mereka diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi para sahabat Muhammad lalu mereka mencela mereka.

Dan Abu Mu’awiyah berkata: Ia berkata: Wahai anak saudaraku, mereka diperintahkan agar memintakan ampunan bagi para sahabat Muhammad lalu mereka mencela mereka.

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1150 (1736-1738)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Husain bin Ali, dari Abu Musa, dari Hasan berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Kalian di tengah manusia seperti perumpamaan garam dalam makanan,” berkata: Hasan berkata: Dan apakah makanan bisa enak kecuali dengan garam? Berkata: Hasan berkata: Lalu bagaimana dengan kaum yang telah hilang garamnya?

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Qatsana Abu Mu’awiyah, Qatsana seorang laki-laki, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas berkata: Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan untuk memintakan ampunan bagi mereka dan Dia mengetahui bahwa mereka akan saling berperang dan berbuat (kesalahan).

“Fadha’il al-Shahabah” 2/1152 (1740-1741)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, ia berkata: Salam bin Miskin menceritakan kepada kami, ia berkata: Imran bin Abdullah bin Thalhah Al-Khuza’i menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Aku menyaksikan Ali dan Utsman dan terjadi bisikan setan di antara keduanya, maka tidak ada satu pun yang ditinggalkan oleh salah seorang dari mereka untuk temannya kecuali dikatakannya, seandainya aku mau menceritakan kepadamu apa yang mereka katakan niscaya aku lakukan, kemudian mereka tidak beranjak hingga berdamai dan masing-masing dari mereka memintakan ampunan untuk temannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Umarah bin Mihran menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Nadhrah menceritakan kepada kami, dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Adapun awal kejadian maka aku tidak mengingatnya, lalu aku tidak shalat Zhuhur hingga salah seorang dari mereka masuk sambil memegang tangan temannya seakan-akan mereka berdua adalah dua saudara dari satu ayah dan ibu. Yakni: Utsman dan Ali.

“Al-Ilal” riwayat Abdullah (2053-2054)

Abdullah berkata: Aku bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci seorang laki-laki dari para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, semoga Allah meridhai mereka.

Maka ayahku berkata: Aku berpendapat bahwa ia dipukul.

Lalu aku berkata kepadanya: Hukuman had? Maka ia tidak menetapkan hukuman had, kecuali ia berkata: Ia dipukul.

Dan ia berkata: Aku tidak melihatnya kecuali tertuduh (merusak) Islam.

Aku mendengar ayahku berkata: Tidak dipukul lebih dari sepuluh kali kecuali dalam hukuman had.

“Masa’il Abdullah” (1559)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Sungguh aku telah melihat Ali dan Utsman semoga Allah meridhai keduanya saling mencaci dengan cacian yang tidak aku ceritakan kepada seorang pun setelahnya.

“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/556 (1298)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Badr Syuja’ bin Al-Walid menceritakan kepada kami, ia berkata: Khalaf bin Hausyab menyebutkan, dari Abu Ishaq, dari Abdu Khair, dari Ali semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah terdahulu, dan Abu Bakar shalat (berada di urutan kedua), dan Umar berada di urutan ketiga, kemudian fitnah menimpa kami -atau mengenai kami- maka Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki.

“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/564 (1319), 2/584 (1381)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Al-Aswad bin Qais, dari Amr bin Sufyan berkata: Seorang laki-laki berkhutbah suatu hari di Bashrah ketika Ali muncul, maka Ali berkata: Ini adalah khatib yang fasih, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah terdahulu, dan Abu Bakar shalat (berada di urutan kedua), dan Umar berada di urutan ketiga, kemudian setelah mereka fitnah menimpa kami, maka Allah Azza wa Jalla berbuat di dalamnya apa yang Dia kehendaki.

“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/567 (1328)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Hasyim Al-Qasim bin Katsir, dari Qais Al-Kharibi, dari Ali semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah terdahulu, dan Abu Bakar shalat (berada di urutan kedua), dan Umar berada di urutan ketiga, kemudian fitnah menimpa kami maka apa yang Allah kehendaki.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Rahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dan Abu Nu’aim, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Hasyim Al-Qasim bin Katsir penjual kain sabiri, dari Qais Al-Kharibi berkata: Aku mendengar Ali tetapi ia di atas mimbar ini.. lalu ia menyebutkan hadits tersebut.

“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/568 (1330-1331)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Khalid bin Salamah -seorang syaikh dari Quraisy- berkata: Aku mendengar Asy-Sya’bi berkata: Masruq berkata: Kecintaan kepada Abu Bakar dan Umar serta mengetahui keutamaan keduanya adalah termasuk dari sunnah.

“As-Sunnah” oleh Abdullah 2/580 (1368)

Abdullah bin Ahmad berkata: Abul Hasan Al-Aqili menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku biasa mendatangi Abu Abdullah, lalu ia menemuiku dan menyambutku dengan sambutan yang baik, lalu aku mendatanginya suatu hari, maka aku mengingkari sambutannya, lalu aku berkata dalam hatiku: Pasti kelompok Syiah kami telah melakukan sesuatu kepadanya tentangku, maka aku berkata: Wahai Abu Abdullah, apakah sampai kepadamu sesuatu dariku? Karena aku mengingkari sambutanmu hari ini.

Maka ia berkata: Dan ia menunjuk kepada seorang pemuda di sudut di bawah tangga masjid, lalu ia berkata: Orang itu memberitahuku -dan ia adalah dari penduduk Yamamah- bahwa engkau mencaci atau menyebutkan sebagian dari para sahabat.

Maka aku berkata: Tidak demi Allah, aku tidak mencaci seorang pun dari para sahabat selamanya, dan tidak menyebutkan seorang pun dari mereka dengan buruk, tetapi aku mendengar orang ini menyebutkan Ali dan Muawiyah lalu menyamakan antara keduanya, aku mengira ia berkata: Maka aku membantahnya.

Maka ia berkata: Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan hal ini dalam kitabNya. Kemudian ia berkata: Sungguh aku menerima darimu, dan jangan ulangi berbicara tentang hal ini.

“As-Sunnah” oleh Al-Khallal 1/275 (463)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku bahwa Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah ditanya tentang seorang laki-laki yang mencela Muawiyah dan Amr bin Al-Ash, apakah ia disebut Rafidhah? Maka ia berkata: Sesungguhnya ia tidak berani terhadap keduanya kecuali ia memiliki niat buruk tersembunyi, tidaklah seseorang mencela seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kecuali ia memiliki maksud buruk di dalam hatinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku”.

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Apakah boleh menulis dari seseorang jika ia berkata: Muawiyah mati dalam keadaan bukan Islam atau kafir?

Ia berkata: Tidak. Kemudian ia berkata: Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang dikafirkan.

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya tentang seorang laki-laki yang mencaci Muawiyah, apakah diserahkan kepada penguasa? Ia berkata: Sangat layak jika penguasa bertindak kepadanya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Sindi, kerabat Ibrahim Al-Harbi, berkata: Aku berada, atau hadir, atau mendengar Abu Abdillah, seorang laki-laki bertanya kepadanya: Wahai Abu Abdillah, aku memiliki paman yang menyatakan bahwa ia mencela Muawiyah, dan terkadang aku makan bersamanya. Maka Abu Abdillah segera berkata: Jangan makan bersamanya.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 1/350-351 (690-693)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Abi Harun dan Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepadaku bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku”, maka tidak ada seorang pun dari tabi’in yang dapat disamakan dengan para sahabatnya.

Dan Abu Abdillah berkata: Barangsiapa mencela salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka hal itu tidak lain kecuali menunjukkan bencana, dan ia memiliki niat buruk tersembunyi. Jika ia berniat menyerang sebaik-baik manusia, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, cukuplah itu.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 1/378 (758)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah: Apakah bara’ah (berlepas diri) itu bid’ah? Dan walayah (loyal kepada sebagian) itu bid’ah? Dan syahadah (persaksian) itu bid’ah? Ia berkata: Bara’ah adalah engkau berlepas diri dari salah seorang sahabat Rasulullah, dan walayah adalah engkau loyal kepada sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, dan syahadah adalah engkau bersaksi terhadap seseorang bahwa ia di neraka.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 1/379 (763)

Al-Khallal berkata: Ubaidillah bin Hanbal bin Ishaq bin Hanbal mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Berlebihan terhadap sahabat Muhammad adalah berlebihan dalam menyebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran”, dan bersabda: “Sesungguhnya mereka bagaikan bintang-bintang, siapa pun di antara mereka yang kalian ikuti, kalian akan mendapat petunjuk”. Maka Nabi telah melarang menyebut para sahabatnya dengan buruk, dan bahwa seseorang mencela salah seorang dari mereka, dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya dari para sahabatnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitakan hal itu. Maka mengikuti Rasulullah dan menahan diri dari menyebut para sahabatnya dalam hal yang terjadi di antara mereka, dan mendoakan rahmat bagi mereka, dan kita mendahulukan siapa yang didahulukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kita ridha kepada siapa yang diridhai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semasa hidupnya dan setelah wafatnya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Itu adalah umat yang telah lalu, bagi mereka apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan” (Surat Al-Baqarah: 134).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku yang aku diutus di tengah mereka, kemudian yang setelah mereka, kemudian, kemudian”.

Dan bersabda shallallahu alaihi wasallam: “Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sepenuh bumi, niscaya tidak akan menyamai satu mud salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya”. Maka keutamaan adalah bagi mereka, dan tinggalkanlah menyebut apa yang terjadi di antara mereka.

Ali rahimahullah berkata: Sesungguhnya aku benar-benar berharap bahwa aku dan Utsman termasuk orang yang difirmankan Allah Azza wa Jalla: “Sebagai saudara-saudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (Surat Al-Hijr: 47). Maka Ali mengatakan ini untuk dirinya sendiri, untuk Thalhah dan Az-Zubair, dan ia mendoakan rahmat bagi mereka semua. Dan kita, maka tidak menyebut mereka kecuali dengan apa yang Allah perintahkan kepada kita: “Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman” (Surat Al-Hasyr: 10). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Itu adalah umat yang telah lalu, bagi mereka apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan” (Surat Al-Baqarah: 134). Kemudian Abu Abdillah berkata: Inilah jalan yang jelas dan manhaj yang lurus bagi siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya dan Allah memberikan taufik kepadanya, semoga Allah melindungi kami dan kalian dari setiap kebinasaan dengan rahmat-Nya. Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa selamat dari apa yang menimpa sahabat Muhammad, aku berharap ia akan selamat.

Abu Abdillah berkata: Dan aku tidak mendapati dalam Islam keutamaan yang lebih besar bagi Islam setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam selain dari Abu Bakar rahimahullah karena peperangannya melawan ahli riddah dan keberdirian beliau bagi Islam, kemudian Umar bin Al-Khaththab rahimahullah, dan semoga Allah merahmati para sahabat Nabi dan memberi manfaat kepada kami dengan kecintaan kepada mereka.

Abu Abdillah berkata: Aku berharap bagi siapa yang selamat terhadap para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam kemenangan besok bagi siapa yang mencintai mereka; karena mereka adalah tiang-tiang agama, dan pemimpin-pemimpin Islam, dan penolong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para pendukungnya, dan para pembantunya di atas kebenaran. Dan mengikuti para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itulah sunnah, dan mereka tidak disebut kecuali dengan kebaikan, dan didoakan rahmat bagi yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka.

Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal 1/381-382 (768)

Ja’far Ash-Shaigh berkata -sambil menunjuk ke tiang masjid- yaitu di Madinah Al-Manshur: Di dekat tiang itu. Ia berkata: Sesungguhnya di antara tetangga Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal ada seorang laki-laki, dan ia termasuk orang yang melakukan maksiat dan perbuatan kotor. Maka suatu hari ia datang ke majlis Ahmad bin Hanbal lalu memberi salam kepadanya, seakan-akan Ahmad tidak menjawab salamnya dengan sempurna dan menjauh darinya. Maka ia berkata kepadanya: Wahai Abu Abdillah, mengapa engkau menjauh dariku, sesungguhnya aku telah berpindah dari apa yang biasa engkau ketahui dariku karena mimpi yang aku lihat.

Ia berkata: Dan mimpi apa yang engkau lihat? Ceritakan.

Ia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam tidur seakan-akan beliau berada di tempat tinggi dari bumi dan banyak orang duduk di bawah. Ia berkata: Maka maju seorang demi seorang dari mereka kepada beliau dan mereka berkata: Doakanlah kami. Hingga tidak tersisa dari kaum itu kecuali aku. Ia berkata: Maka aku ingin berdiri tetapi aku malu karena keburukan yang aku lakukan.

Ia berkata: Maka beliau berkata kepadaku: “Wahai fulan, mengapa engkau tidak berdiri dan memintaku agar aku mendoakan engkau?” Seakan-akan aku berkata: Wahai Rasulullah, rasa malu menghalangiku karena keburukan yang aku lakukan. Beliau bersabda: “Jika rasa malu menghalangimu maka berdirilah dan mintalah aku mendoakan engkau; sesungguhnya engkau tidak mencaci seorang pun dari sahabatku”.

Ia berkata: Maka aku berdiri dan beliau mendoakan aku. Ia berkata: Maka aku terbangun dan Allah telah membuat benci bagiku apa yang aku lakukan. Maka Abu Abdillah berkata kepada kami: Wahai Ja’far, wahai fulan, wahai fulan, ceritakanlah ini dan hafalkanlah, karena sesungguhnya hal itu bermanfaat.

Kitab Syarh Ushul Al-I’tiqad 7/332-1333 (2372)

Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maimuni berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: Wahai Abu Al-Hasan, jika engkau melihat seseorang menyebut salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan buruk, maka tuduh ia terhadap Islam.

Kitab Manaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnu Al-Jauzi hlm. 209

Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang mencaci sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ia berkata: Hukuman mati, aku takut tentang hal itu, tetapi aku memukulnya dengan pukulan yang menjadi pelajaran.

Kitab Ash-Sharim Al-Maslul hlm. 567

Al-Maimuni berkata: Aku mendengar Ahmad berkata: Apa urusan mereka dengan Muawiyah? Kami memohon keselamatan kepada Allah.

Dan ia berkata kepadaku: Wahai Abu Al-Hasan, jika engkau melihat seseorang menyebut sahabat Rasulullah dengan buruk, maka tuduh ia terhadap Islam.

Dan ia berkata: Aku tidak melihatnya di atas Islam. Dan ia berkata: Dan tuduh ia terhadap Islam.

Dan ia berkata: Aku takut tentang membunuhnya.

Dan Ishaq bin Rahawaih berkata: Barangsiapa mencaci sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dihukum dan dipenjara.

Kitab Ash-Sharim Al-Maslul hlm. 568

Abu Thalib berkata: Ahmad berkata tentang laki-laki yang mencaci Utsman: Ini adalah zindiq.

Kitab Ash-Sharim Al-Maslul hlm. 571

Al-Marwazi berkata: Ahmad berkata: Barangsiapa mencaci Abu Bakar dan Umar dan Aisyah, aku tidak melihatnya di atas Islam.

Kitab Ash-Sharim Al-Maslul hlm. 571

Bab 193: Peringatan Keras terhadap Orang yang Menulis Hadits-hadits yang di Dalamnya Ada Celaan terhadap Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Salam bin Abi Muthi’ termasuk orang-orang terpercaya, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami darinya. Kemudian ayahku berkata: Abu Awanah telah menyusun sebuah kitab yang di dalamnya ada aib-aib sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan di dalamnya ada berbagai bencana. Maka Salam bin Abi Muthi’ datang kepadanya, lalu berkata: Wahai Abu Awanah, berikan kepadaku kitab itu. Maka ia memberikannya, lalu Salam mengambilnya dan membakarnya.

Ayahku berkata: Dan Salam termasuk murid-murid Ayyub dan ia adalah laki-laki yang saleh.

Kitab Al-‘Ilal riwayat Abdullah (357)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah berkata: Sesungguhnya ada sekelompok orang yang menulis hadits-hadits buruk ini tentang para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka telah menceritakan tentangmu bahwa kamu berkata: Saya tidak mengingkari bahwa ahli hadits menulis hadits-hadits ini untuk mengenalinya.

Maka dia marah dan mengingkarinya dengan sangat keras, dan berkata: Batil, aku berlindung kepada Allah, apakah aku tidak mengingkari ini! Seandainya hal ini terjadi pada orang-orang biasa saja aku pasti mengingkarinya, lalu bagaimana dengan para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam! Dan dia berkata: Aku tidak menulis hadits-hadits ini.

Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Jika aku mengetahui seseorang menulis hadits-hadits buruk ini dan mengumpulkannya, apakah dia dijauhi? Dia berkata: Ya, pelaku hadits-hadits buruk ini pantas dirajam.

Dan Abu Abdullah berkata: Abdurrahman bin Shalih datang kepadaku, maka aku berkata kepadanya: Apakah kamu meriwayatkan hadits-hadits ini? Maka dia mulai berkata: Fulan telah meriwayatkannya, dan fulan telah meriwayatkannya, dan aku bersikap lemah lembut kepadanya, dan dia berdalih, maka aku melihatnya setelah itu lalu aku berpaling darinya, dan tidak mengajaknya bicara.

Al-Khallal berkata: Dan telah menulis kepadaku Ahmad bin Al-Husain, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Muhammad, dari ayahnya, dari Abu Abdullah, dan dia bertanya kepadanya tentang seorang laki-laki yang meriwayatkan hadits yang di dalamnya ada sesuatu terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, apakah dia berkata: Aku riwayatkan sebagaimana aku mendengarnya?

Dia berkata: Aku tidak suka seorang laki-laki meriwayatkan hadits yang di dalamnya ada sesuatu terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia berkata: Dan sesungguhnya aku mencoret banyak hadits yang di dalamnya ada sesuatu terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim saudara Aban bin Shalih, dia berkata: Aku adalah teman seperjalanan Ahmad bin Hanbal di tempat Abdurrazzaq, dia berkata: Maka kami mulai mendengar, ketika datang hadits-hadits tersebut yang di dalamnya ada sebagian dari apa yang ada padanya, Ahmad bin Hanbal berdiri lalu menyendiri di suatu sudut, dan berkata: Apa yang harus aku lakukan dengan ini?! Ketika hadits-hadits tersebut terputus, dia datang, lalu mulai mendengar.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepada kami Muqatil bin Shalih Al-Anmathi, dia berkata: Saya mendengar Abbas Ad-Dauri berkata: Dahulu ketika kami berkumpul dengan Ahmad bin Hanbal untuk mendengar hadits, ketika datang hadits-hadits tentang aib-aib ini, Ahmad bin Hanbal menyendiri sampai kami selesai, maka jika perawi hadits selesai dia kembali dan mendengar, Muqatil berkata: Dan saya mendengar lebih dari satu guru menceritakan hal ini dari Ahmad bin Hanbal.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Al-Abbas bin Muhammad bin Ibrahim, dia berkata: Saya mendengar Ja’far Ath-Thayalisi berkata: Saya mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Mereka berada di tempat Abdurrazzaq: Ahmad, Khalaf, dan seorang laki-laki lain, ketika berlalu hadits-hadits tentang aib-aib, Ahmad bin Hanbal memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua telinganya cukup lama hingga berlalu sebagian hadits, kemudian dia mengeluarkannya, kemudian mengembalikannya hingga berlalu semua hadits, atau seperti yang dia katakan.

Al-Khallal berkata: Saya mendengar Muhammad bin Ubaidillah bin Yazid Al-Munadi menceritakan tentang Ahmad bin Hanbal, tapi aku tidak menghafalnya dan tidak menulisnya, maka telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abi Harun, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Al-Munadi berkata: Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal, lalu datang Ahmad bin Ibrahim Al-Maushili yang dahulu meriwayatkan hadits, dan bersamanya anaknya, maka Al-Maushili mengeluarkan dari lengan baju anaknya sebuah catatan, lalu dia menyerahkannya kepada Abu Abdullah, maka Ahmad melihat ke dalam kitab tersebut, dan warnanya mulai berubah seolah-olah dia sedang tersinggung, ketika Ahmad selesai melihat catatan itu dia berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras” (Surah Al-Hujurat: 2), bukankah orang yang meriwayatkan ini takut bahwa amalnya akan terhapus, padahal dia tidak menyadarinya.

Kemudian Ahmad berkata setelah Al-Maushili pergi: Tahukah kamu siapa yang meriwayatkan ini? Aku berkata: Tidak. Dia berkata: Ini tetanggamu. Maksudnya: Khalaf.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar Al-Marwazi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang Khalaf Al-Makhrami.

Maka dia berkata: Dia pergi bersamaku ke Tharsus dan membawa bukunya di lehernya, kami pergi berjalan kaki, kami belum sampai di Rahbah Tauq hingga aku sudah kelelahan, dia berkata: Dan kami keluar untuk mengumpulkan hadits maksudnya di Tharsus dan aku tidak mengenalnya kecuali sebagai orang yang menjaga perut dan kemaluannya.

Abu Abdullah berkata: Kemudian setelah itu aku pergi ke rumah pamanku di Al-Makhram, maka aku melihatnya, lalu aku berpaling darinya, kemudian berkata: Dan apa yang diingkari orang terhadap Khalaf selain hadits-hadits buruk ini? Sungguh dahulu ada di sisi Ghundar selembar kertas, atau dia berkata: secarik kertas, maka Khalaf dan Yahya menyendiri dengannya lalu mereka mendengarnya, maka hal itu sampai kepada Yahya Al-Qaththan lalu dia berkata dengan perkataan yang keras.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Khalaf bin Salim, maka dia tidak memujinya, dan tidak memandang untuk menulis darinya.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Ubaidillah bin Musa Al-Absi. Maka dia berkata: Orang Kufah.

Maka aku berkata: Bagaimana dia? Dia berkata: Sebagaimana kehendak Allah.

Aku berkata: Bagaimana dia wahai Abu Abdullah? Dia berkata: Aku tidak suka meriwayatkan darinya.

Aku berkata: Mengapa? Dia berkata: Dia meriwayatkan hadits-hadits yang di dalamnya ada cacian terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Al-Khallal berkata: Saya mendengar Muhammad bin Ubaidillah bin Yazid Al-Munadi berkata: Kami berada di Mekah pada tahun sembilan, dan bersama kami ada Ubaidillah bin Musa, maka dia meriwayatkan hadits di perjalanan, lalu berlalu sebuah hadits tentang Muawiyah, maka dia melaknat Muawiyah, dan melaknat siapa yang tidak melaknatnya, Ibnu Al-Munadi berkata: Maka aku mengabarkan kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia berkata: Keterlaluan wahai Abu Ja’far.

Maka telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abi Harun bahwa Hubaisy bin Sandi menceritakan kepada mereka, bahwa Abu Abdullah disebutkan kepadanya hadits Ubaidillah bin Musa, maka dia berkata: Aku tidak menyangka dia pantas diriwayatkan darinya, dia menempatkan cacian terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sungguh telah menceritakan kepadaku beberapa hari yang lalu seorang laki-laki dari sahabat-sahabat kami yang aku harap dia jujur bahwa dia bersama dengannya di perjalanan Mekah, maka dia meriwayatkan hadits yang di dalamnya dia melaknat Muawiyah, lalu berkata: Ya, semoga Allah melaknatnya, dan melaknat siapa yang tidak melaknatnya, maka apakah ini pantas diriwayatkan darinya?! Dengan pengingkaran dari Abu Abdullah, maksudnya: Sesungguhnya dia tidak pantas diriwayatkan darinya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Atsram, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah, dan disebutkan kepadanya hadits Uqail, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang Ali dan Al-Abbas.

Dan Uqail, dari Az-Zuhri, bahwa Abu Bakar memerintahkan Khalid tentang Ali, maka Abu Abdullah berkata: Bagaimana? Maka dia tidak mengenalnya, lalu berkata: Aku tidak suka kamu menulis hadits-hadits ini.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dia berkata: Saya mendengar Harun bin Sufyan berkata: Saya mendengar Abu Abdullah berkata: Dan dia menyebutkan hadits-hadits ini yang di dalamnya ada penyebutan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia berkata: Ini adalah hadits-hadits orang mati.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Hamzah bin Al-Qasim, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hanbal, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah berkata: Ghundar, Muhammad bin Ja’far mengeluarkan kepada kami kitab-kitabnya dari Syu’bah maka kami menulis darinya: Aku dan Khalaf bin Salim, dan di dalamnya ada hadits-hadits tersebut, adapun aku tidak menulisnya, adapun Khalaf maka dia menulisnya semuanya secara lengkap.

Abu Abdullah berkata: Aku menulis sanad-sanad dan meninggalkan matan.

Aku berkata kepada Abu Abdullah: Mengapa? Dia berkata: Untuk mengetahui apa yang diriwayatkan oleh Syu’bah.

Abu Abdullah berkata: Aku tidak suka seorangpun menulis hadits-hadits ini yang di dalamnya ada penyebutan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak untuk halal, tidak untuk haram, dan tidak untuk sunnah-sunnah.

Aku berkata: Apakah aku menulisnya? Dia berkata: Jangan kamu melihatnya, dan ilmu apa yang ada dalam itu, kalian harus dengan sunnah-sunnah dan fiqih, dan apa yang bermanfaat bagi kalian.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi, dia berkata: Abu Abdullah berkata kepadaku: Apakah kamu mengenal Abu Sayyar, dia menyebutkan namanya, telah sampai kepadaku bahwa dia menolak terhadap Abu Hammam sebuah hadits yang dia riwayatkan.

Abu Bakar berkata: Dan Abu Hammam meriwayatkan hadits yang di dalamnya ada sesuatu terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Abu Hammam mengira bahwa itu adalah keutamaan, ketika datang majelis yang kedua, dan kami hadir, maka sekelompok orang bangkit, dan berkata: Wahai Abu Hammam, apakah kamu meriwayatkan hadits yang buruk?

Maka dia berkata: Sungguh aku telah salah, coretan itu, dan jangan kalian ceritakan dariku.

Abu Bakar berkata: Maka aku masuk menemui Abu Abdullah, dan aku telah pulang dari tempat Abu Hammam, maka dia berkata: Apa yang dia riwayatkan kepada kalian hari ini?

Maka aku mengeluarkan kepadanya kitab tersebut, lalu dia melihat, ternyata di dalamnya ada hadits-hadits rukhshah tentang siapa yang dahulu mengendarai kain sutera merah tua, maka dia marah, dan berkata: Ini zaman yang meriwayatkan hadits seperti rukhshah-rukhshah ini.

Abu Bakar berkata: Dan mereka datang dengan hadits-hadits yang ditulis dari Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari, maka mereka pergi kepadanya, lalu dia berkata: Di dalamnya ada yang tidak aku riwayatkan, dan sesungguhnya orang ini membeli keperluanku, maka dia menulis dari kitabku apa yang tidak aku bacakan kepadanya, tetapi aku akan mencoretnya dari kitabku, dan tidak meriwayatkan darinya sesuatu pun, dan aku memohon ampun kepada Allah, maka aku katakan di majelis ini, maka dia berdiri di majelisnya, lalu berkata perkataan seperti ini, kemudian Ibnu Al-Kurdiyyah berbicara agar mengambil hadits-hadits yang ada padaku, dan tidak meriwayatkan darinya sesuatu pun, maka Ibnu Al-Kurdiyyah datang dua kali, lalu berkata: Demi Allah demi Allah, bawa hadits-hadits itu agar kami potong, dan tidak meriwayatkan darinya sesuatu pun, dan mencoretnya dengan kehadiranmu, maka aku mengeluarkan kitab tersebut, lalu Ibnu Al-Kurdiyyah mulai mencoretnya hadits demi hadits, Abu Bakar berkata: Maka aku tidak mengetahui Ibrahim meriwayatkan darinya sesuatu pun hingga dia meninggal.

Al-Khallal berkata: Saya mendengar Ali bin Isma’il Al-Bandaniji berkata: Kami mengumpulkan hadits-hadits tentang apa yang terjadi antara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Maka aku berkata kepada Ali bin Isma’il: Hadits-hadits tentang aib-aib? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Dan kami datang dengannya kepada Suwaid bin Sa’id, dia berkata: Maka dia menolak membacakannya kepada kami, lalu berkata: Telah menulis kepadaku Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Muhammad, jangan meriwayatkan hadits-hadits ini, Ali berkata: Maka dahulu jika berlalu darinya sesuatu, aku tidak meriwayatkannya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/395-399 (799-813)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik Al-Maimuni, dia berkata: Kami membicarakan hadits Al-A’masy dan apa yang dia salah di dalamnya, dan apa yang terlihat dari hal-hal kelam tersebut, aku berkata: Wahai Abu Abdullah dengan ini? Maka dia berkata kepadaku: Ha, maksudnya: tetap, dan Abu Abdullah berkata kepadaku: Tidak sepatutnya bagimu mendengarnya, sungguh telah sampai kepada Yahya bin Sa’id bahwa Ghundar meriwayatkan sesuatu dari Syu’bah dari kisah ini, maka pergi kepadanya sahabat-sahabat kami, dan aku tidak pergi, maka Yahya berkata: Apa yang membawanya untuk meriwayatkannya, mungkin seorang laki-laki telah salah dalam sesuatu lalu meriwayatkannya, dia meriwayatkannya darinya!

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’d Az-Zuhri, dia berkata: Saya mendengar Ahmad bin Hanbal, dan dia ditanya tentang Abu Abdurrazzaq, dia berkata: Dia baik haditsnya, dalam apa yang dia riwayatkan dari Wahb bin Munabbih.

Dikatakan: Hadits Mina?

Dia berkata: Siapa Mina? Aku tidak menyelidiki hadits Abdurrazzaq tentang cacat para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidakkah kamu melihat bahwa Malik bin Anas selamat bagi manusia kecuali dengan meninggalkannya, hadits-hadits ini mewariskan kedengkian di dalam hati.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ja’far bahwa Abu Al-Harits menceritakan kepada mereka, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah, aku berkata: Hadits-hadits ini yang diriwayatkan tentang para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah kamu berpendapat seseorang boleh menulisnya? Dia berkata: Aku tidak berpendapat seorangpun menulis darinya sesuatu pun.

Aku berkata: Maka jika kami melihat seorang laki-laki mencarinya, dan bertanya tentangnya, di dalamnya ada penyebutan Utsman dan Ali dan Muawiyah, dan yang lain dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dia berkata: Jika kamu melihat seorang laki-laki mencari ini dan mengumpulkannya, maka aku khawatir ada niat buruk padanya.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Musa bin Hamdun, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hanbal, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah berkata: Salam bin Abi Muthii’ mengambil kitab Abu Awanah yang di dalamnya ada penyebutan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka dia membakar hadits-hadits Al-A’masy tersebut.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad, aku berkata: Telah menceritakan kepadaku Khalid bin Khidasy, dia berkata: Salam berkata.

Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dia berkata: Saya mendengar Khalid bin Khidasy berkata: Salam bin Abi Muthii’ datang kepada Abu Awanah, lalu berkata: Bawa kemari bid’ah-bid’ah ini yang telah kamu bawa kepada kami dari Kufah. Dia berkata: Maka Abu Awanah mengeluarkan kepadanya kitab-kitabnya, lalu dia melemparkannya ke dalam tanur, maka aku bertanya kepada Khalid apa yang ada di dalamnya? Dia berkata: Hadits Al-A’masy, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Luruskanlah diri kalian untuk Quraisy” dan yang semisalnya.

Aku berkata kepada Khalid: Dan apa lagi? Dia berkata: Hadits Ali: “Aku pembagi neraka”.

Aku berkata kepada Khalid: Apakah Abu Awanah meriwayatkannya kepada kalian, dari Al-A’masy? Dia berkata: Ya.

“As-Sunnah” karya Al-Khallal 1/400-401 (815-819)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi berkata: Saya berkata kepada Abu Abdullah: Saya meminjam dari seorang ahli hadits sebuah kitab, maksudnya: di dalamnya terdapat hadits-hadits yang buruk, apakah menurut Anda saya membakarnya atau merobeknya? Beliau menjawab: Ya, sungguh Salam bin Abi Muthi’ telah meminjam dari Abu Awanah sebuah kitab yang di dalamnya terdapat hadits-hadits semacam ini, lalu Salam membakar kitab tersebut.

Saya bertanya: Apakah saya membakarnya? Beliau menjawab: Ya.

Al-Khallal berkata: Al-Hasan bin Abdul Wahhab mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah, dan seorang laki-laki memberikan kepadanya sebuah kitab yang di dalamnya terdapat hadits-hadits terkumpul, yang mengingkari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan semacamnya; maka beliau melihatnya, kemudian berkata: Tidaklah mengumpulkan ini kecuali orang yang buruk.

Dan saya mendengar Abu Abdullah berkata: Telah sampai kepadaku tentang Salam bin Abi Muthi’ bahwa dia datang kepada Abu Awanah, lalu meminjam darinya sebuah kitab yang ada padanya yang berisi keburukan-keburukan dari apa yang diriwayatkan oleh al-A’masy, kemudian dia memberikannya kepada Abu Awanah, lalu Salam pergi membawanya dan membakarnya.

Seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdullah: Saya berharap hal itu tidak akan membahayakannya sedikitpun insya Allah? Abu Abdullah berkata: Membahayakannya?! Bahkan dia akan diberi pahala karenanya insya Allah.

Al-Khallal berkata: Harb bin Ismail al-Karmani mengabarkan kepadaku, dia berkata: Saya bertanya kepada Ishaq -maksudnya: Ibnu Rahawaih- saya berkata: Seorang laki-laki mencuri sebuah kitab dari seseorang yang di dalamnya terdapat pendapat Jahm, atau pendapat Qadariyah? Dia menjawab: Buanglah.

Saya bertanya: Sesungguhnya dia mengambilnya sebelum membakarnya atau membuangnya, apakah dia dikenai hukuman potong? Dia menjawab: Tidak ada hukuman potong atasnya.

Saya bertanya kepada Ishaq: Seorang laki-laki memiliki kitab yang di dalamnya terdapat pendapat Murji’ah atau Qadariyah atau bid’ah, lalu saya meminjamnya darinya, ketika sudah berada di tanganku saya membakarnya atau merobeknya? Dia menjawab: Tidak ada apa-apa atasmu.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah berkata: Kami tidak mengatakan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali kebaikan.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Harun mengabarkan kepadaku, bahwa Abu al-Harits berkata: Sejumlah orang datang kepada kami dan bersama mereka ada secarik kertas, mereka menyebutkan bahwa mereka dari ar-Raqqah, lalu kami menyampaikannya kepada Abu Abdullah, apa pendapat Anda tentang orang yang mengaku bahwa diperbolehkan baginya untuk berbicara tentang keburukan-keburukan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Abu Abdullah berkata: Ini adalah ucapan yang buruk dan keji, orang-orang itu harus dijauhi, dan tidak boleh diduduki bersama mereka, dan perkara mereka harus dijelaskan kepada manusia.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/402-403 (821-825)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali mengabarkan kepadaku, dia berkata: Mahnaa menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya berkata kepada Ahmad: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dia berkata: Ubaid bin Abi Ra’ithah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Ziyad, dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda hadits ini.

Dia berkata: Dan Ahmad bin Hanbal menceritakan kepadaku, dia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dari Ubaidah bin Abi Ra’ithah, dari Abdurrahman bin Ziyad.

Dan Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: Sa’d bin Ibrahim menceritakannya kepada kami, dari Ubaidah, dari Abdurrahman bin Ziyad.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 5/405 (832)

Sulaiman bin Safiri al-Wasithi berkata: Saya berada dalam majelis Ahmad bin Hanbal, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, saya melihat Yazid bin Harun dalam mimpi, lalu saya bertanya kepadanya: Apa yang Allah perbuat terhadapmu? Dia berkata: Allah mengampuniku dan merahmati aku dan menegurku.

Saya bertanya: Allah mengampunimu dan merahmatimu dan menegurmu? Dia berkata: Ya, Allah berkata kepadaku: Wahai Yazid bin Harun, apakah kamu menulis dari Huraiz bin Utsman? Dia berkata: Saya menjawab: Ya Rabb, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan.

Allah berkata: Sesungguhnya dia membenci Abu al-Hasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

“Thabaqat al-Hanabilah” 1/444

194 – Bab: Dalam Menyebutkan Shiffin dan Jamal

Al-Kausaj berkata: Saya bertanya: Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ammar radhiyallahu ‘anhu: “Engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.” Dia berkata: Aku tidak berbicara tentangnya, meninggalkannya lebih selamat.

Ishaq berkata: Bahkan itu adalah Muawiyah dan para sahabatnya.

“Masa’il al-Kausaj” (3509)

Shalih berkata: Ayahku berkata: Dan Abu Raja’ al-Atharadi berkata: Saya melempari Ali dengan anak panah. Dia berkata: Alangkah sesalnya aku atasnya.

“Masa’il Shalih” (875)

Ibnu Hani’ berkata: Dan Abu Abdullah berkata kepadaku: Masruq tidak menyaksikan perang Jamal, dan tidak pula Murrah, adapun Murrah maka sesungguhnya dia bergabung dengan Dailam, dan tidak menyaksikan perang Jamal. Kemudian dia berkata: Penduduk Kufah seandainya mereka mampu melumuri setiap orang pasti mereka akan melakukannya.

“Masa’il Ibnu Hani'” (2092)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Tulaid bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu al-Jahaf mengabarkan kepadaku, dia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, dia berkata: Tidaklah aku melewati rumah para tukang pemutih kain kecuali aku teringat hari Jamajim.

“Fadha’il ash-Shahabah” 1/211 (171)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dia berkata: Abdullah bin Budail bin Warqa’ al-Khuza’i melihat mimpi lalu dia menceritakannya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, maka dia berkata: Jika mimpimu benar, kamu akan terbunuh dalam urusan yang meragukan. Maka dia terbunuh bersama Ali radhiyallahu ‘anhu di Shiffin.

Abdurrazzaq berkata: Lalu aku menceritakannya kepada Ibnu Uyainah, maka dia menceritakan kepadaku dengan hadits yang dia sanadkan bahwa Budail bin Warqa’ melihat mimpi dan istrinya hamil dengan Abdullah, lalu dia menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Di dalam perut istrimu ada seorang anak laki-laki dan dia akan terbunuh sebagai syahid.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/552 (1288)

Abdullah berkata: Ayahku dan Ubaidullah bin Umar al-Qawariri menceritakan kepadaku -dan ini adalah lafadz hadits ayahku- mereka berkata: Yahya bin Hammad Abu Bakar menceritakan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Khalid al-Hadzdzaa’, dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu datang kepada mereka sebagai penjenguk dan bersamanya Ammar, lalu dia menyebutkan sesuatu. Maka Ammar berkata: Wahai Amirul Mukminin. Maka dia berkata: Diamlah, demi Allah sungguh aku akan bersama Allah terhadap siapa pun yang ada, kemudian dia berkata: Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mengalami apa yang aku alami, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat lalu dia menyebutkan sesuatu, maka manusia membaiat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu aku membaiat, dan dia berkata: Aku menyerahkan dan ridha, kemudian Abu Bakar wafat dan menyebutkan suatu perkataan, maka dia mengangkat Umar radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah, lalu dia menyebutkan seperti itu, maka aku membaiat dan menyerahkan, dan ridha, kemudian Umar wafat maka dia menjadikan urusan kepada enam orang ini, maka manusia membaiat Utsman lalu aku membaiat dan menyerahkan dan ridha, kemudian hari ini mereka memilih antara aku dan Muawiyah!

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/563 (1315)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari al-Aswad bin Qais, dari seorang laki-laki, dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata pada hari Jamal: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membuat janji kepada kami yang aku ambil dalam urusan kepemimpinan, tetapi itu adalah sesuatu yang kami lihat dari diri kami sendiri, kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu diangkat sebagai khalifah maka dia tegak dan istiqamah, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu diangkat sebagai khalifah maka dia tegak dan istiqamah hingga agama mencapai puncaknya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/566 (1327)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Zaid bin al-Hubab mengabarkan kepada kami, Sufyan ats-Tsauri mengabarkan kepada kami, dari al-Aswad bin Qais, dari seorang laki-laki, dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkhutbah ketika selesai dari perang Jamal, maka dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membuat janji kepada kami yang kami ambil dalam kepemimpinan ini, tetapi sesuatu yang kami lihat dari diri kami sendiri, jika itu benar maka dari Allah Azza wa Jalla dan jika itu salah maka dari diri kami sendiri, Abu Bakar memimpin kami maka dia tegak dan istiqamah hingga dia meninggal di jalannya semoga Allah merahmatinya, kemudian Umar memimpin kami setelahnya maka dia tegak dan istiqamah hingga Islam mencapai puncaknya kemudian dia meninggal semoga Allah merahmatinya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/569 (1333)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Umayyah bin Khalid menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya berkata kepada Syu’bah: Sesungguhnya Abu Syaibah menceritakan kepada kami dari al-Hakam, dari Abdurrahman bin Abi Laila bahwa dia berkata: Tujuh puluh orang dari ahli Badar menyaksikan Shiffin. Dia berkata: Demi Allah dia berdusta, sungguh aku telah menyebutkan hal itu kepada al-Hakam dan kami menyebutkannya di rumahnya, maka kami tidak menemukan seorang pun dari ahli Badar yang menyaksikan Shiffin selain Khuzaimah bin Tsabit.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (462)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Juhaifah bersama Ali pada hari Jamal terhadap penduduk Madinah.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (956)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku menyebutkan kepada al-Hakam siapa yang menyaksikan Shiffin dari ahli Badar, maka dia menetapkan di antara mereka Khuzaimah bin Tsabit, dan Syu’bah mengingkari bahwa Abu al-Haitsman bin at-Taihan menyaksikan Shiffin.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (958)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Manshur bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, dia berkata: Asy-Sya’bi berkata: Tidak menyaksikan perang Jamal dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain Ali dan Ammar dan Thalhah dan Zubair, jika mereka datang dengan yang kelima maka aku pendusta.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (4096)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id, bahwa Sa’id bin al-Musayyab berkata: Fitnah terjadi dan tidak tersisa dari ahli Badar seorang pun. Dan Yahya berkata pada kesempatan lain: Tidak tersisa dari kaum Muhajirin seorang pun.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (4321)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayyub menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Sirin, dia berkata: Fitnah terjadi dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh ribu orang, maka tidak ada yang terlibat di dalamnya dari mereka seratus orang, bahkan mereka tidak mencapai tiga puluh.

“Al-‘Ilal” riwayat Abdullah (4787)

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Abdullah dan kami berada di al-Askar, dan telah datang sebagian utusan Khalifah, yaitu Ya’qub; maka dia berkata: Wahai Abu Abdullah, apa pendapatmu tentang apa yang terjadi antara Ali dan Muawiyah semoga Allah merahmati keduanya? Abu Abdullah berkata: Aku tidak mengatakan tentangnya kecuali kebaikan, semoga Allah merahmati mereka semua.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Mundzir bin Abdul Aziz mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin al-Hasan at-Tirmidzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdullah, saya berkata: Apa pendapatmu tentang apa yang terjadi dari urusan Thalhah dan Zubair dan Ali dan Aisyah, dan saya kira dia menyebutkan Muawiyah? Maka dia berkata: Siapa aku?! Aku berbicara tentang para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada sesuatu terjadi di antara mereka?! Allah lebih mengetahui.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/362 (713-714)

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa mengabarkan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Abu Abdullah, dan dikatakan kepadanya: Salamah bin Kuhail meriwayatkan, dari Bukair ath-Tha’i, dari Adsah ath-Tha’i, dia berkata: Saya mendengar Ammar bin Yasir berkata: Kami tidak menemukan kecuali memerangi penduduk Syam atau masuk neraka. Siapa Bukair ini? Dia berkata: Aku tidak mengenalnya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/363 (718)

Al-Khallal berkata: Ismail bin al-Fadl memberitahukan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim berkata: Aku mendengar dalam majelis Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main, Abu Khaitsamah, dan al-Mu’aithi membahas hadits: “Ammar akan dibunuh oleh golongan yang memberontak”, mereka berkata: Tidak ada hadits shahih tentang hal ini.

Al-Khallal berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: Diriwayatkan tentang: “Ammar akan dibunuh oleh golongan yang memberontak” dua puluh delapan hadits, tidak ada satupun hadits yang shahih di dalamnya.

Ibnu al-Farra’ berkata: Ya’qub bin Syaibah menyebutkan dalam bagian pertama dari “Musnad Ammar”: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ditanya tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai Ammar: “Engkau akan dibunuh oleh golongan yang memberontak”. Maka Ahmad berkata: Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah; ia dibunuh oleh golongan yang memberontak. Dan ia berkata: Dalam hal ini ada beberapa hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan ia tidak suka membicarakan hal ini.

Al-Khallal berkata: Ishmat bin Isham memberitahukan kepadaku, ia berkata: Hanbal berkata: Aku ingin menulis kitab Shiffin dan al-Jamal dari Khalaf bin Salim, maka aku mendatangi Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) untuk berbicara dengannya tentang hal itu dan bertanya kepadanya. Maka ia berkata: Untuk apa engkau melakukan itu, padahal tidak ada halal dan haram di dalamnya?! Aku telah menulis bersama Khalaf ketika ia menulisnya, maka aku menulis sanad-sanadnya saja dan meninggalkan pembahasannya, sedangkan Khalaf menulisnya lengkap. Kami hadir di sisi Ghundar dan berkumpul bersamanya, maka aku menulis sanad-sanad hadits Shu’bah, sedangkan Khalaf menulisnya secara lengkap!

Aku bertanya kepadanya: Mengapa engkau menulis sanad-sanadnya saja dan meninggalkan pembahasannya? Ia berkata: Aku ingin mengetahui apa yang diriwayatkan oleh Shu’bah dari padanya.

Hanbal berkata: Maka aku mendatangi Khalaf dan menulisnya, lalu hal itu sampai kepada Abu Abdillah, maka ia berkata kepada ayahku: Ambil kitab itu dan simpan darinya, jangan biarkan ia melihatnya.

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin al-Hasan memberitahukan kepadaku bahwa Muhammad menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdillah berkata tentang hadits Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin al-Musayyab: Terjadi fitnah. Abu Abdillah berkata: Aku mendengarnya dari Yahya bin Sa’id dua kali, satu kali ia berkata: Tidak tersisa dari kaum Muhajirin, dan satu kali ia berkata: Tidak tersisa dari ahli Badar.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/364-366 (721-724)

Al-Khallal berkata: Al-Husain bin al-Hasan memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin al-Harits menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah menyebutkan Tulaid bin Sulaiman, maka ia berkata: Tulaid memberitahukan kepada kami dari Abu al-Jahaf, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Tidaklah aku melewati rumah para tukang pemutih kain kecuali aku teringat hari Jamal. Dikatakan kepada Abu Abdillah: Seakan-akan ia maksudkan karena suaranya? Ia berkata: Ya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/368 (732)

Al-Khallal berkata: Al-Maimuni memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ibnu Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Shalih menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Bakr bin Umar, ia berkata: Antara perang Jamal dan Shiffin adalah dua atau tiga bulan.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/377 (754)

195 – Bab: Penyebutan Orang-orang Rafidhah dan Keburukan Mereka

Shalih berkata: Ayahku berkata: Tidak boleh shalat di belakang orang Rafidhah jika ia mencela sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Sirat al-Imam” karya Shalih hal. 75

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku: Siapa itu Rafidhah? Maka ia berkata: Mereka yang mencaci atau mencela Abu Bakar dan Umar.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/48 (1273)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dan aku membacakan kepadanya: Yahya bin Zakariya bin Abi Za’idah Abu Sa’id menceritakan kepada kami pada tahun seratus tujuh puluh sembilan, dari Mujalid, ia berkata: Dikatakan kepada Amir: Mengapa engkau menjatuhkan Syiah ini padahal engkau belajar dari mereka? Ia berkata: Dari siapa di antara mereka? Mereka berkata: Dari al-Harits al-A’war, Sha’sha’ah bin Shuhan, dan Rasyid al-Hajari.

Maka ia berkata: Aku akan menceritakan kepada kalian tentang orang-orang ini: Adapun al-Harits, ia adalah seorang ahli hitung maka aku belajar ilmu hitung darinya. Adapun Sha’sha’ah bin Shuhan, ia adalah seorang orator dan tidak pernah memberi fatwa sama sekali. Adapun Rasyid, ia adalah temanku. Ia berkata: Bagaimana kalau kita ke tempat Rasyid? Maka kami shalat Subuh dan aku mengenakan pakaianku, lalu kami mendatanginya. Temanku melihatku tetapi ia tidak mengenaliku. Maka ia berkata kepada temanku dengan tangannya begini -dan menggerakkannya- maksudnya: Apa ini yang bersamamu?

Ia berkata: Maka ia memberi isyarat dengan tangannya dan membentuk angka tiga puluh. Ia berkata: Ia dalam ketenangan.

Kami berkata: Ceritakanlah kepada kami, semoga Allah merahmatimu.

Ia berkata: Kami mendatangi Husain bin Ali radhiyallahu anhu setelah Ali terbunuh, lalu kami berkata: Izinkan kami menemui Amirul Mukminin. Maka ia berkata: Ia sedang tidur -maksudnya Hasan.

Ia berkata: Maka kami berkata: Kami tidak maksudkan yang engkau maksudkan, tetapi kami maksudkan Amirul Mukminin dan Sayyidul Mursalin. Ia berkata: Maka Husain berkata: Ia telah terbunuh. Maka kami berkata: Demi Allah, ia tidak terbunuh dan sesungguhnya ia bernapas seperti napas orang hidup dan berkeringat karena selimut yang tebal. Ia berkata: Jika kalian sudah mengetahui, maka masuklah menemuinya dan ucapkanlah salam, dan jangan mengganggu ketentuannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dan aku membacakan kepadanya, Yahya bin Abi Za’idah menceritakan kepada kami dari Mujalid dari Amir, ia berkata: Aku berkata kepada Ziyad bin an-Nadhr: Engkau dahulu termasuk Syiah, mengapa engkau meninggalkan mereka? Ia berkata: Sesungguhnya aku melihat mereka mengambil ekor-ekor yang tidak memiliki kepala.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/558-559 (1304-1305)

Abdullah berkata: Aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya -dan kurasa aku telah mendengarnya darinya- Waki’ menceritakan kepada kami dari Syarik dari Utsman bin Abi al-Yaqzhan dari Zadzan dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Perumpamaanku dalam umat ini seperti perumpamaan Isa bin Maryam alaihissalam, ada kelompok yang mencintainya lalu berlebihan dalam cintanya sehingga binasa, ada kelompok yang membencinya lalu berlebihan dalam kebenciannya sehingga binasa, dan ada kelompok yang mencintainya lalu bersikap moderat dalam cintanya sehingga selamat.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/572-573 (1344)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Hushain menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkhutbah, ia memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian berkata: Ketahuilah bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, maka barangsiapa mengatakan selain ini setelah kedudukanku ini, maka ia adalah pendusta, dan baginya apa yang ada pada pendusta.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Hushain dari Ibnu Abi Laila, ia berkata: Mereka berbantahan tentang Abu Bakar dan Umar, maka seorang laki-laki dari Atharid berkata: Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka al-Jarud berkata: Bahkan Abu Bakar lebih utama darinya. Ia berkata: Maka hal itu sampai kepada Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Maka ia terus memukul dengan cambuk sampai kakinya terangkat, kemudian ia mendekati al-Jarud lalu berkata: Menjauh dariku. Kemudian Umar berkata: Abu Bakar adalah sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam ini dan itu, kemudian Umar berkata: Barangsiapa mengatakan selain ini, kami akan tegakkan padanya apa yang kami tegakkan pada pendusta.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/579 (1364-1365)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Hamdawaih al-Hamadzani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Abdillah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Abdah menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdillah ditanya tentang seorang laki-laki yang mereka katakan: Sesungguhnya ia mendahulukan Ali atas Abu Bakar dan Umar rahimahumullah, maka ia mengingkarinya dan mengagungkannya, dan berkata: Aku khawatir ia adalah Rafidhah.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/389 (776)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Yahya al-Kahhal memberitahukan kepadaku bahwa Abu Abdillah berkata: Rafidhah adalah yang mencaci.

Al-Khallal berkata: Abu Bakar al-Marwadzi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencaci Abu Bakar, Umar, dan Aisyah? Ia berkata: Aku tidak melihatnya berada di atas Islam.

Ia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdillah berkata: Malik berkata: Orang yang mencaci sahabat-sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak memiliki bagian, atau ia berkata: nasib dalam Islam.

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Barangsiapa mencaci, aku khawatir padanya kekufuran seperti Rafidhah, kemudian ia berkata: Barangsiapa mencaci sahabat-sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, kami tidak aman bahwa ia telah keluar dari agama.

Al-Khallal berkata: Zakariya bin Yahya memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib menceritakan kepada kami bahwa ia berkata kepada Abu Abdillah: Seorang laki-laki mencaci Utsman? Maka mereka memberitahukan kepadaku bahwa seorang laki-laki berbicara tentangnya, maka ia berkata: Ini adalah zindik.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/389-390 (778-781)

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Musa memberitahukan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya, dan Ali bin Abdul Shamad memberitahukan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetanggaku yang Rafidhah mengucapkan salam kepadaku, apakah aku membalas salamnya?

Ia berkata: Tidak. Al-Khallal berkata: Ismail bin Ishaq ats-Tsaqafi an-Naisaburi memberitahukan kepadaku bahwa Abu Abdillah ditanya tentang seorang laki-laki yang tetangganya Rafidhah mengucapkan salam kepadanya? Ia berkata: Tidak, dan jika ia mengucapkan salam kepadanya maka tidak perlu membalasnya.

Al-Khallal berkata: Yusuf bin Abdillah memberitahukan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan bin Ali bin al-Hasan menceritakan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdillah tentang ahli bidah, apakah mengucapkan salam kepadanya? Ia berkata: Jika ia Jahmiyyah atau Qadariyyah atau Rafidhah yang menyeru, maka jangan menshalatkan jenazahnya dan jangan mengucapkan salam kepadanya.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin al-Husain memberitahukan kepadaku bahwa al-Fadhl bin Ziyad menceritakan kepadanya bahwa Abu Abdillah berkata: Rafidhah tidak kita ajak bicara.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/390 (783-786)

Al-Khallal berkata: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitahukan kepadaku bahwa ia mendengar Abu Abdillah berkata tentang Rafidhah, ia berkata: Aku tidak akan menyaksikannya (menshalatkan jenazahnya), biarkan yang mau menyaksikannya. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah meninggalkan (tidak menshalatkan) yang kurang dari itu, karena berhutang, dan ghulul (berkhianat dalam harta rampasan perang), dan orang yang terbunuh tidak dishalatkan olehnya dan tidak diperintahkan untuk menshalatkannya. Abu Abdillah menyebutkan hadits mursal bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berperang melawan penduduk Khaibar dari sekitarnya, maka seorang laki-laki berdiri teguh lalu terbunuh, maka beliau tidak menshalatkannya. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkannya. Abdul Malik berkata: Mungkin aku telah menulisnya. Seorang laki-laki berkata kepada Abu Abdillah: Mereka berkata: Bagaimana pendapatmu jika ia meninggal di suatu kampung yang tidak ada padanya kecuali orang-orang Nashrani, siapa yang akan menyaksikannya? Abu Abdillah menjawab: Aku tidak akan menyaksikannya, biarkan yang mau menyaksikannya.

“As-Sunnah” karya al-Khallal 1/393 (793)

Dan Muhammad bin Manshur ath-Thusi meriwayatkan: Barangsiapa mengira bahwa di antara sahabat ada yang lebih baik dari Abu Bakar sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjadikannya pemimpin, maka ia telah membuat kebohongan terhadapnya dan kafir karena mengira bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan kemungkaran di antara para nabi-Nya terhadap manusia, maka hal itu akan menjadi sebab kesesatan mereka.

“Al-Furu'” 6/162

196 – Bab: Bantahan terhadap Kaum Rafidhah mengenai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Berwasiat kepada Ali

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Ismail bin Ibrahim, dari Ibnu Aun, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, ia berkata: Mereka menyebutkan di hadapan Aisyah radhiyallahu anha bahwa Ali radhiyallahu anhu adalah wasiat. Maka ia berkata: Kapan ia berwasiat kepadanya?! Sungguh aku menyandarkannya ke dadaku -atau ia berkata: di pangkuanku- lalu ia meminta wadah, dan sungguh ia meninggal di pangkuanku dan aku tidak menyadari bahwa ia telah meninggal, maka kapan ia berwasiat kepadanya?!

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Abdurrahman bin Mahdi, kami diberitahu oleh Malik bin Mighwal, dari Thalhah bin Musharrif, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwasiat? Ia berkata: Tidak.

Aku bertanya: Lalu mengapa wasiat diwajibkan atas kaum muslimin? Atau: mengapa mereka diperintahkan berwasiat?

Ia berkata: Ia berwasiat dengan Kitabullah Azza wa Jalla.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Hajjaj bin Muhammad, Malik bin Mighwal berkata: Thalhah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwasiat? Ia berkata: Tidak. Ia berkata: Aku bertanya: Lalu bagaimana ia memerintahkan orang-orang mukmin untuk berwasiat sedangkan ia tidak berwasiat? Ia berkata: Ia berwasiat dengan Kitabullah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Yahya bin Said. Dan Abu Khaitsamah menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Yahya bin Said, kami diberitahu oleh Said bin Abi Arubah, kami diberitahu oleh Qatadah, dari Al-Hasan, dari Qais bin Abbad, ia berkata: Aku dan Al-Asytar pergi menemui Ali radhiyallahu anhu, lalu kami berkata: Apakah Nabi Allah mengamanatkan sesuatu kepadamu yang tidak diamanatkan kepada manusia secara umum? Ia berkata: Tidak, kecuali apa yang ada dalam suratku ini, ia berkata: Dan ia mengeluarkan surat dari sarung pedangnya, ternyata di dalamnya tertulis: “Orang-orang mukmin darahnya setara, mereka adalah satu tangan atas orang-orang selain mereka, yang paling rendah di antara mereka dapat memberikan jaminan atas nama mereka, ketahuilah tidak boleh seorang mukmin dibunuh karena orang kafir, dan tidak boleh orang yang memiliki perjanjian dalam masa perjanjiannya, barangsiapa membuat perkara baru maka atas dirinya sendiri, dan barangsiapa membuat perkara baru atau melindungi orang yang membuat perkara baru maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” Dan ini adalah lafaz hadits ayahku rahimahullah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Husyaim, kami diberitahu oleh Mutharrif, dari Asy-Sya’bi, kami diberitahu oleh Abu Juhaifah, ia berkata: Aku bertanya kepada Ali radhiyallahu anhu: Wahai Amirul Mukminin, apakah kalian memiliki sesuatu yang hitam dalam putih yang tidak ada dalam Kitabullah Azza wa Jalla? Ia berkata: Maka ia berkata: Tidak, demi Dzat yang menciptakan biji dan menumbuhkan jiwa, aku tidak mengetahuinya kecuali pemahaman yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang laki-laki dalam Al-Quran, dan apa yang ada dalam shahifah. Ia berkata: Aku bertanya: Dan apa yang ada dalam shahifah? Ia berkata: Di dalamnya ada diyat dan tebusan tawanan, dan tidak boleh seorang mukmin dibunuh karena orang kafir.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Muhammad bin Ja’far, kami diberitahu oleh Syu’bah, ia berkata: Aku mendengar Al-Qasim bin Abi Bazzah, menceritakan dari Abu Thufail, ia berkata: Ali radhiyallahu anhu ditanya: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhususkan kalian dengan sesuatu? Maka ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengkhususkan kami dengan sesuatu yang tidak diumumkan kepada seluruh manusia, kecuali surat dalam sarung pedangku ini, ia berkata: Lalu ia mengeluarkan shahifah yang tertulis di dalamnya: “Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang membuat perkara baru, dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, dan Allah melaknat orang yang mencuri batas tanah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Aswad bin Amir, kami diberitahu oleh Abdul Hamid bin Abi Ja’far -yaitu: Al-Farra- dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Yutsi’, dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Dikatakan: Ya Rasulullah, siapa yang kami angkat sebagai pemimpin setelahmu? Ia bersabda: “Jika kalian mengangkat Abu Bakar kalian akan mendapatinya sebagai orang yang amanah, zuhud di dunia, menginginkan akhirat, dan jika kalian mengangkat Umar kalian akan mendapatinya sebagai orang yang kuat, amanah, tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah, dan jika kalian mengangkat Ali -dan aku tidak melihat kalian melakukannya- kalian akan mendapatinya sebagai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk yang membawa kalian ke jalan yang lurus.”

Abdullah berkata: Ayahku dan Abu Khaitsamah menceritakan kepadaku, keduanya berkata: Kami diberitahu oleh Abu Muawiyah, kami diberitahu oleh Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, ia berkata: Ali radhiyallahu anhu berkhutbah kepada kami, lalu ia berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitabullah Azza wa Jalla dan shahifah ini -ayahku rahimahullah berkata: shahifah yang berisi umur unta dan beberapa hal mengenai luka- maka ia telah berdusta. Ia berkata: Dan di dalamnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Madinah adalah tanah suci dari Gunung Air hingga Gunung Tsaur, barangsiapa membuat perkara baru di dalamnya atau melindungi orang yang membuat perkara baru di dalamnya maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, Allah Azza wa Jalla tidak menerima darinya pada hari kiamat nafl maupun fardhu, dan jaminan kaum muslimin adalah satu, yang paling rendah di antara mereka dapat menjalankannya.” Dan ayahku menambahkan dalam haditsnya: “Dan barangsiapa mengaku kepada selain ayahnya atau berpaling kepada selain tuannya maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, Allah tidak menerima darinya pada hari kiamat fardhu maupun nafl.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Kami tidak memiliki sesuatu kecuali Kitabullah Azza wa Jalla dan shahifah ini dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Madinah adalah tanah suci dari Gunung Air hingga Gunung Tsaur, barangsiapa membuat perkara baru di dalamnya atau melindungi orang yang membuat perkara baru maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia” lalu ia menyebutkan hadits hingga akhirnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Muhammad bin Ja’far, kami diberitahu oleh Syu’bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim At-Taimi, dari Al-Harits bin Suwaid, ia berkata: Dikatakan kepada Ali radhiyallahu anhu: Sesungguhnya utusan kalian mengkhususkan kalian dengan sesuatu tanpa manusia secara umum. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengkhususkan kami dengan sesuatu yang tidak mengkhususkan manusia dengannya, tidak ada sesuatu dalam sarung pedangku ini, lalu ia mengeluarkan shahifah kemudian menyebutkan hadits. Kecuali bahwa Syu’bah menyelisihi mereka, ia berkata: dari Al-Harits bin Suwaid, maka ia keliru, sesungguhnya itu adalah dari Ibrahim At-Taimi dari ayahnya, dan itu yang benar insya Allah.

Abdullah berkata: Aku membacakan kepada ayahku, ia berkata: Kami diberitahu oleh Yahya bin Zakariya bin Abi Zaidah, dari Mujalid, dari Amir, ia berkata: Sha’sha’ah bin Shauhan berkhutbah lalu ia menyebutkan penciptaan Adam alaihissalam, umat-umat, masa jahiliyah, dan pengutusan Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, Allah mengangkat Abu Bakar radhiyallahu anhu sebagai khalifah, ia menegakkan mushaf, dan memutuskan perkara kalalah, kemudian Abu Bakar wafat -rahimahullah Abu Bakar- dan Umar radhiyallahu anhu diangkat sebagai khalifah, ia menetapkan pemberian, menyusun catatan, dan membangun kota-kota, kemudian Umar terbunuh -yarhamullahu Umar- lalu manusia mengangkat Utsman radhiyallahu anhu sebagai khalifah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Abu Muawiyah, kami diberitahu oleh Ismail bin Abi Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, ia berkata: Kaum Syiah berlebihan terhadap Ali radhiyallahu anhu sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam alaihissalam. Ia berkata: Dan Asy-Sya’bi biasa berkata: Sungguh mereka membuat kami membenci hadits Ali radhiyallahu anhu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Al-Aswad bin Amir, kami diberitahu oleh Syu’bah, dari Hushain, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Wail: Ali lebih mengagumkan bagimu perbuatannya ataukah Utsman?

Ia berkata: Ali. Aku berkata: Lalu sekarang?

Ia berkata: Utsman; karena ia terbunuh rahimahullah alaih.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Bahz bin Asad, kami diberitahu oleh Hammam, kami diberitahu oleh Qatadah, dari Abu Hassan, bahwa Ali radhiyallahu anhu memerintahkan suatu perkara lalu ia didatangi dan dikatakan: Telah dilakukan begini dan begitu, lalu ia berkata: Allah dan RasulNya benar, maka Al-Asytar berkata kepadanya: Sesungguhnya perkataanmu ini telah tersebar di kalangan manusia, apakah ini sesuatu yang diamanatkan kepadamu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Ali radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah tidak mengamanatkan kepadaku sesuatu yang khusus tanpa manusia, kecuali sesuatu yang aku dengar darinya shallallahu alaihi wasallam yang ada dalam shahifah di sarung pedangku, maka mereka terus mendesaknya hingga ia mengeluarkan shahifah, ternyata di dalamnya tertulis: “Barangsiapa membuat perkara baru atau melindungi orang yang membuat perkara baru maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, tidak diterima darinya nafl maupun fardhu.”

197 – Bab: Penyebutan Kaum Khawarij, Ciri-ciri Mereka, Memerangi Mereka, dan Ancaman Allah terhadap Mereka

Al-Atsram berkata: Abu Abdullah menceritakan kepada kami dengan hadits yang disebutkan di dalamnya kaum Shafriyah, lalu ia berkata: Shafriyah adalah kaum Khawarij.

Ibnu Hani berkata: Dan ia ditanya tentang kaum Haruriyah dan Al-Mariqah, apakah mereka kafir? Dan apakah engkau berpendapat untuk memerangi mereka? Maka ia berkata: Maafkan aku dari ini, dan katakan sebagaimana yang disebutkan tentang mereka dalam hadits.

Abdullah berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang keutamaan antara Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali? Maka ayahku rahimahullah berkata: Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan Ali adalah khalifah keempat.

Aku berkata kepada ayahku: Sesungguhnya ada kaum yang mengatakan bahwa ia bukan khalifah. Ia berkata: Ini adalah perkataan yang buruk dan jelek. Dan ia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Ya Amirul Mukminin. Apakah kita mendustakan mereka padahal ia telah menghajikan manusia, menjatuhkan hukum potong tangan dan rajam, apakah ini tidak dianggap khalifah!

Aku berkata kepada ayahku: Bagaimana dengan orang yang berdalil dengan hadits Ubaidah bahwa ia berkata kepada Ali: Pendapatmu dalam jamaah lebih aku sukai daripada pendapatmu dalam perpecahan?

Maka ayahku berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin bermaksud dengan itu untuk merendahkan dirinya dengan kerendahan hati, perkataannya: Fitnah telah menimpa kita. Ia merendahkan diri dengan itu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Waki’, kami diberitahu oleh Jarir bin Hazim, dan Abu Amr bin Al-Ala, dari Ibnu Sirin, kami mendengarnya dari Ubaidah, dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar suatu kaum, di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya pendek atau tangannya seperti buah dada atau tangannya kecil, seandainya kalian tidak sombong niscaya aku kabarkan kepada kalian apa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang membunuh mereka atas lisan NabiNya.”

Abdullah berkata: Ayahku dan Abu Khaitsamah menceritakan kepadaku, keduanya berkata: Kami diberitahu oleh Ismail bin Ibrahim, kami diberitahu oleh Ayyub, dari Muhammad, dari Ubaidah, dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Ia menyebutkan kaum Khawarij lalu berkata: Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya kecil atau tangannya pendek, atau tangannya seperti buah dada, seandainya kalian tidak sombong niscaya aku ceritakan kepada kalian apa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang membunuh mereka atas lisan Muhammad, aku bertanya: Apakah engkau mendengarnya dari Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Ya, demi Tuhan Kakbah, ya, demi Tuhan Kakbah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Waki’, kami diberitahu oleh Jarir bin Hazim, dan Abu Amr bin Al-Ala mendengarnya dari Ibnu Sirin, lalu ia menyebutkan hadits kecuali bahwa ia berkata: tangannya seperti buah dada.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Yahya bin Adam, kami diberitahu oleh Israil, dari Abu Ishaq, dari Suwaid bin Ghaflah, dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada pada akhir zaman suatu kaum yang membaca Al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya, memerangi mereka adalah hak atas setiap muslim.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, kami diberitahu oleh Muhammad bin Abi Adi Abu Amr Dukain -di antara para laki-laki tidak ada yang lebih menyerupai para syaikh- dari Ibnu Aun, dari Muhammad, ia berkata: Ubaidah berkata: Aku tidak menceritakan kepadamu kecuali apa yang aku dengar darinya, Muhammad berkata: Maka Ubaidah bersumpah kepadaku tiga kali dan Ali radhiyallahu anhu bersumpah kepadanya, ia berkata: Seandainya kalian tidak sombong niscaya aku kabarkan kepada kalian apa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang memerangi mereka atas lisan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Aku bertanya: Apakah engkau mendengarnya darinya? Ia berkata: Ya, demi Tuhan Kakbah, ya, demi Tuhan Kakbah, ya, demi Tuhan Kakbah. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya kecil atau tangannya seperti buah dada.

Ia berkata: Muhammad berkata: Maka laki-laki itu dicari, lalu mereka menemukannya di antara orang-orang yang terbunuh, seorang laki-laki yang di salah satu bahunya seperti buah dada yang ditumbuhi rambut.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Abi Adiy menceritakan kepada kami, dari Sulaiman yaitu At-Taimi, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan suatu kaum yang akan ada di dalam umatnya, mereka keluar dari sekelompok manusia dengan ciri bercukur gundul, mereka adalah seburuk-buruk makhluk atau termasuk seburuk-buruk makhluk, mereka dibunuh oleh golongan yang paling dekat kepada kebenaran dari dua golongan yang berperang. Perawi berkata: Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat perumpamaan untuk mereka atau berkata suatu ucapan: Seorang laki-laki melempar anak panah atau sasaran, lalu dia melihat pada mata panah maka tidak melihat sesuatu yang menempel, dan dia melihat pada batang panah maka tidak melihat sesuatu yang menempel, dan dia melihat pada lekukan panah maka tidak melihat sesuatu yang menempel. Perawi berkata: Abu Sa’id berkata: Dan kalian telah membunuh mereka wahai penduduk Irak.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/622 (1482)

Abdullah berkata: Ayahku dan Abu Khaitsamah menceritakan kepadaku, keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghaflah, dia berkata: Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Jika aku menceritakan kepada kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah hadits, maka jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berdusta atas namanya, dan jika aku menceritakan kepada kalian dari selain beliau maka sesungguhnya aku adalah orang yang berperang dan perang itu adalah siasat. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang masih muda usianya, bodoh akal pikirannya, mereka mengatakan ucapan sebaik-baik makhluk, iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka, maka di manapun kalian jumpai mereka bunuhlah mereka, karena sesungguhnya membunuh mereka adalah pahala bagi yang membunuhnya di hari kiamat.”

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/624 (1487)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Suwaid bin Ghaflah, dari Ali radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tulang selangka mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya, memerangi mereka adalah hak atas setiap muslim.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Dan Abdurrahman dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghaflah dia berkata: Ali berkata: Jika aku menceritakan kepada kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah hadits, maka jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berdusta atas namanya, dan jika aku menceritakan kepada kalian mengenai perkara antara aku dan kalian maka sesungguhnya perang itu adalah siasat, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar suatu kaum di akhir zaman yang masih muda usianya, bodoh” dan Abdurrahman berkata di akhir haditsnya: “paling bodoh akal pikirannya…” lalu dia menyebutkan hadits itu secara panjang sampai akhirnya.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/625-626 (1461-1492)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Qurrah dia berkata: Telah binasa Khawarij dan para ahli hawa nafsu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Wahb dia berkata: Ketika terjadi hari An-Nahar, Ali radhiyallahu ‘anhu melaknat kaum Khawarij, mereka tidak bergerak hingga mereka ditusuk dengan tombak lalu semuanya terbunuh, maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku tidak berdusta dan tidak dibohongi, carilah Dzuts-Tsudayyah. Perawi berkata: Maka mereka mencarinya dan menemukan dia di suatu lembah dari bumi, di atasnya ada beberapa orang dari yang terbunuh, ternyata seorang laki-laki yang pada dadanya seperti puting kucing. Perawi berkata: Maka Ali bertakbir dan kagum dengan hal itu demikian pula orang-orang.

Abu Mu’awiyah berkata suatu kali: Maka Ali bertakbir dan orang-orang ikut bertakbir.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/628 (1495-1496)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Al-Walid bin Al-Qasim Al-Hamdani menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, Ibrahim yaitu Ibnu Abdul A’la menceritakan kepada kami, dari Thariq bin Ziyad dia berkata: Kami keluar bersama Ali radhiyallahu ‘anhu menghadapi Khawarij lalu dia membunuh mereka kemudian berkata: Lihatlah karena sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar suatu kaum yang berbicara dengan kebenaran namun tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka keluar dari kebenaran sebagaimana anak panah keluar dari buruannya, ciri mereka adalah di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang tangannya cacat, pada tangannya ada bulu-bulu hitam, jika dia memang ada maka kalian telah membunuh seburuk-buruk manusia, dan jika dia tidak ada maka kalian telah membunuh sebaik-baik manusia.” Maka kami menangis kemudian dia berkata: Carilah, maka kami mencari dan menemukan yang cacat tangannya, lalu kami bersujud dan Ali radhiyallahu ‘anhu ikut bersujud bersama kami, kecuali bahwa dia berkata: Mereka berbicara dengan kalimat kebenaran.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/628-629 (1498)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami, dari Muhammad, dari Ubaidah dia berkata: Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada penduduk An-Nahrawan: Di antara mereka ada seorang laki-laki yang dadanya bengkak atau tangannya cacat, dan seandainya kalian tidak sombong niscaya aku kabarkan kepada kalian apa yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam bagi siapa yang membunuh mereka. Ubaidah berkata: Maka aku berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Dia berkata: Ya demi Rabb Ka’bah. Dia bersumpah dengan itu tiga kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariyya bin Abi Zaidah menceritakan kepada kami, dari Ashim Al-Ahwal, dari Aun bin Abdullah dia berkata: Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengutusku kepada Khawarij untuk berbicara dengan mereka, maka aku berkata kepada mereka: Tahukah kalian apa tanda kalian pada pemimpin kalian yang jika dia bertemu kalian dengan tanda itu maka dia aman di sisi kalian dan dia adalah pemimpin kalian? Dan apa tanda kalian pada musuh kalian yang jika dia bertemu kalian dengan tanda itu maka dia takut di sisi kalian dan dia adalah musuh kalian?

Mereka berkata: Kami tidak tahu apa yang engkau katakan.

Aku berkata: Maka sesungguhnya tanda kalian pada pemimpin kalian yang jika dia bertemu kalian dengan tanda itu maka dia aman di sisi kalian, dan dia adalah pemimpin kalian adalah dia berkata: Aku seorang Nasrani atau Yahudi atau Majusi, dan tanda kalian pada musuh kalian yang jika dia bertemu kalian dengan tanda itu maka dia takut di sisi kalian, dan dia adalah musuh kalian adalah dia berkata: Aku seorang Muslim.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/630-631 (1501-1502)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir menceritakan kepadaku, dari Miqsam Abu Al-Qasim, maula Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dia berkata: Aku dan Tulaid bin Kilab Al-Laitsi pergi hingga kami mendatangi Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma dan dia sedang thawaf di Ka’bah sambil menggantungkan sandalnya di tangannya, maka kami berkata kepadanya: Apakah engkau menghadiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang Tamim berbicara kepadanya pada hari Hunain? Dia berkata: Ya, datang seorang laki-laki dari Bani Tamim yang dipanggil Dzul-Khuwaisharah, lalu dia berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di tengah orang-orang, maka dia berkata: Wahai Muhammad, sungguh aku telah melihat apa yang engkau lakukan pada hari ini. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan bagaimana menurutmu?” Dia berkata: Aku tidak melihatmu berbuat adil. Perawi berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah kemudian bersabda: “Celakalah engkau, jika tidak ada keadilan di sisiku maka di sisi siapa ada keadilan?” Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah kami membunuhnya? Beliau bersabda: “Tidak, biarkan dia karena sesungguhnya akan ada pengikutnya yang mendalami agama hingga mereka keluar darinya sebagaimana anak panah keluar dari buruannya, maka dilihat pada mata panah namun tidak ditemukan sesuatu, kemudian pada batang panah namun tidak ditemukan sesuatu, kemudian pada lekukan panah namun tidak ditemukan sesuatu, dia mendahului kotoran dan darah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Muhammad bin Ali bin Husain Abu Ja’far menceritakan kepadaku, seperti hadits Abu Ubaidah dan dia menamainya Dzul-Khuwaisharah.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Ishaq, dari seorang laki-laki, bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika sampai kepadanya berita terbunuhnya Al-Mukhadaj dia berkata: Sungguh telah terbunuh setan Radhah. Perawi berkata: Dan Sa’d bin Abi Waqqash berkata: Sungguh telah terbunuh jin Radhah.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/631-632 (1504-1506)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, Hizam bin Ismail Al-Amiri menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq Asy-Syaibani, dari Yasir bin Amr, dia berkata: Aku masuk menemui Sahl bin Hunaif di Madinah lalu aku berkata: Ceritakan kepadaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Haruriyyah, maka dia berkata: Aku ceritakan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah tentang Haruriyyah, aku tidak menambahkan untukmu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan suatu kaum yang keluar dari sini -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Irak- “mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari buruannya.” Perawi berkata: Aku berkata: Apakah beliau menyebutkan tanda untuk mereka? Dia berkata: Inilah yang aku dengar, aku tidak menambahkannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Kamil menceritakan kepada kami, Hammad yaitu Ibnu Salamah menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Jumhan dia berkata: Khawarij biasa mengajakku hingga hampir saja aku masuk bersama mereka, lalu saudara perempuan Abu Bilal melihat dalam mimpi bahwa Abu Bilal adalah seekor anjing berbulu kasar hitam matanya berlinangan, perawi berkata: Maka dia berkata: Demi bapakku wahai Abu Bilal, apa yang terjadi denganmu aku melihatmu begini? Dia berkata: Kami dijadikan setelah kalian sebagai anjing-anjing neraka. Dan Abu Bilal adalah salah satu pemimpin Khawarij.

“As-Sunnah” karya Abdullah 2/633-634 (1508-1509)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ikrimah bin Ammar menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Syumaikh, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bersumpah dalam sumpah beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Abu Al-Qasim berada di tangan-Nya, sungguh akan keluar suatu kaum yang kalian meremehkan amal kalian di sisi amal mereka, mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tulang selangka mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya.” Mereka berkata: Apakah ada tanda yang mereka dikenal dengannya? Beliau bersabda: “Di antara mereka ada seorang laki-laki yang mempunyai daging tumbuh, mereka bercukur gundul kepala mereka.” Abu Sa’id berkata: Maka dua puluh orang -atau lebih dari dua puluh- dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepadaku: Bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu yang membunuh mereka. Perawi berkata: Maka aku melihat Abu Sa’id setelah dia tua dan kedua tangannya gemetar dia berkata: Sesungguhnya memerangi mereka lebih halal padaku daripada memerangi sejumlah mereka dari orang Turki.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ishaq bin Yusuf yaitu Al-Azraq menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Ibnu Abi Aufa dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, atau dia berkata: Aku sendiri mendengar Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bertempur dua golongan besar, dakwah keduanya dalam agama adalah satu, keluar di antara keduanya golongan yang menyimpang, dibunuh oleh golongan yang paling dekat kepada kebenaran dari keduanya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepadaku, Suwaid bin Ubaid Al-Ijli menceritakan kepadaku, dari Abu Mu’min Al-Wa’ili dia berkata: Aku menyaksikan Ali radhiyallahu ‘anhu ketika selesai dari memerangi mereka dia berkata: Lihatlah karena sesungguhnya di antara mereka ada seorang laki-laki yang tangannya cacat. Maka mereka mencarinya namun tidak menemukannya, lalu Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku tidak berdusta dan tidak dibohongi. Perawi berkata: Maka Ali radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengeluarkannya dari bawah sebuah saluran air, lalu Ali radhiyallahu ‘anhu jatuh bersujud.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Bassam menceritakan kepada kami, dari Abu Ath-Thufail dia berkata: Ibnul-Kawwa’ bertanya kepada Ali tentang “Orang-orang yang paling merugi amalannya” (Surat Al-Kahf: 103), dia berkata: Di antara mereka adalah penduduk Harura’.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Hasan yaitu Ibnu Shalih menceritakan kepada kami, dari Abu Nu’amah Al-Asadi, dari pamannya dia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Sesungguhnya Najdah dan teman-temannya menghadang unta kami, dan seandainya aku berada bersama mereka niscaya aku akan memerangi mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dia berkata: Ibnu Umar diberitahu bahwa Najdah menyusulnya lalu dia melepaskan tali pengikat pedangnya kemudian aku mengikatnya, kemudian dia melewatinya lalu melepasnya lagi kemudian aku mengikatnya, kemudian dia melewatinya yang ketiga kalinya, maka dia berkata: Siapa yang mengikat ini? Seakan-akan tidak ada di dalam hati kalian apa yang ada di dalam hati kami?

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Utsman bin Asy-Syahham Abu Salamah menceritakan kepada kami, Muslim bin Abi Bakrah menceritakan kepadaku, dari ayahnya dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar suatu kaum yang muda-muda, keras, fasih lidah mereka dengan Al-Qur’an, mereka membacanya namun tidak melampaui tulang selangka mereka, jika kalian jumpai mereka maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya akan diberi pahala orang yang membunuhnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Bahz dan Affan keduanya berkata: Hammad yaitu Ibnu Salamah menceritakan kepada kami, Sa’id bin Jumhan menceritakan kepada kami, dia berkata: Kami bersama Abdullah bin Abi Aufa memerangi Khawarij dan seorang budak milik Ibnu Abi Aufa telah bergabung dengan Khawarij, maka kami memanggilnya: Wahai Fairuz ini adalah Ibnu Abi Aufa, maka dia berkata: Sebaik-baik laki-laki seandainya dia berhijrah. Perawi berkata: Apa yang dikatakan musuh Allah? Dia berkata: Sebaik-baik laki-laki seandainya dia berhijrah, maka dia berkata: Apakah ada hijrah setelah hijrahku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bahz berkata dalam haditsnya -dia mengulanginya tiga kali-: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah orang yang membunuh mereka,” Affan dan Yunus berkata: orang yang membunuh mereka dan mereka membunuhnya, tiga kali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, Utsman Asy-Syahham menceritakan kepada kami, Muslim bin Abi Bakrah menceritakan kepada kami -dan aku bertanya kepadanya-: Apakah engkau mendengar sesuatu tentang Khawarij? Maka dia berkata: Aku mendengar ayahku Abu Bakrah berkata: Dari Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya akan keluar dari umatku kaum-kaum yang keras, muda, fasih lidah mereka dengan Al-Qur’an namun tidak melampaui tulang selangka mereka, ketahuilah maka jika kalian melihat mereka maka bunuhlah mereka, kemudian jika kalian melihat mereka maka bunuhlah mereka, yang diberi pahala adalah orang yang membunuh mereka.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Abdul A’la, dari Ziyad bin Thariq, dia berkata: Aku melihat Ali ketika dia mengeluarkan Al-Mukhadaj -pada tangannya ada tiga helai rambut- dia jatuh bersujud.

Abdullah berkata: Sesungguhnya dia adalah Thariq bin Ziyad, tetapi demikianlah Waki’ mengatakan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Qais al-Hamdani, dari seorang syaikh mereka yang berkunyah Abu Musa, dia berkata: Aku melihat Ali sujud ketika orang Mukhdaj dibawa kepadanya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Imran al-Juni, dari Abdullah bin Rabah, dari Ka’b, dia berkata: Orang yang dibunuh oleh Khawarij memiliki sepuluh cahaya, kelebihan delapan cahaya atas para syuhada lainnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya. Dia berkata: Khawarij disebutkan di hadapannya, maka dia berkata: Mereka adalah kaum yang menyimpang, lalu Allah menyimpangkan hati mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Hammad bin Mas’adah menceritakan kepada kami, dari Yazid -yaitu Ibnu Abi Ubaid- dia berkata: Ketika Najdah al-Haruri berkuasa, dia mengambil sedekah-sedekah. Dikatakan kepada Salamah: Tidakkah engkau menjauh dari mereka? Dia berkata: Maka dia berkata: Demi Allah, aku tidak akan membaiatnya dan tidak akan mengikutinya selamanya. Dia berkata: Dan dia menyerahkan sedekahnya kepada mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Juwairiyah bin Asma’ menceritakan kepada kami, dia berkata: Nafi’ menyebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhu memandang memerangi Haruriyyah adalah hak yang wajib atas kaum muslimin.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, Ubaidullah menceritakan kepada kami, dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar ingin memerangi Najdah ketika dia datang ke Madinah menyerang keturunan mereka, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya orang-orang tidak akan membaiatmu atas hal ini. Dia berkata: Maka dia meninggalkannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mahbub bin al-Hasan menceritakan kepada kami, Khalid -yaitu: al-Hadhdha’- menceritakan kepada kami, dari Abu Ilyas Mu’awiyah bin Qurrah, dia berkata: Seorang Haruri Muhakkam keluar, maka sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Muzainah keluar menghadapinya dengan pedang-pedang mereka, di antara mereka adalah A’idh bin Amr.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami, Khalid al-Hadhdha’ menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Qurrah: Seorang Muhakkam keluar pada zaman para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menghadapinya dengan pedang, di antara mereka adalah A’idh bin Amr.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Affan menceritakan kepada kami, Salam Abu al-Mundhir menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Bahdalah, dia berkata: Seorang Khariji keluar di Kufah, lalu dikatakan: Wahai Abu Wa’il, ini seorang Khariji yang keluar lalu dibunuh. Dia berkata: Demi Allah, Allah tidak memuliakan orang ini dari agama dan tidak membela orang yang teraniaya. Demi ayahmu, inilah kebaikan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Kamil Muzhaffar bin Mudrik menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari al-Azraq bin Qais, dia berkata: Kami berada di Ahwaz memerangi Khawarij, dan di antara kami ada Abu Barzah al-Aslami. Maka dia datang ke sungai, lalu berwudhu kemudian berdiri shalat.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dari Abu al-Zubair, dari Abu al-Abbas maula Bani al-Dail, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Disebutkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang suatu kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang amat sangat, maka beliau bersabda: “Itu adalah kerakusan Islam dan keserakahannya. Setiap keserakahan ada kelemahannya. Barangsiapa kelemahannya menuju pertengahan, maka dialah sebaik-baik orang. Dan barangsiapa kelemahannya menuju selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, Hushain menceritakan kepada kami, dari Mush’ab bin Sa’d, dari Sa’d tentang firman Allah Azza wa Jalla: “mereka mengira bahwa mereka berbuat baik” (Surah Al-Kahfi: 104), dia berkata: Aku bertanya kepadanya: Apakah mereka Khawarij? Dia berkata: Tidak, tetapi mereka adalah penghuni biara-biara. Adapun Khawarij adalah mereka yang menyimpang, lalu Allah menyimpangkan hati mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, al-Awwam memberitahukan kepada kami, Abu Ghalib menceritakan kepada kami, dari Abu Umamah tentang “mereka menyimpang, maka Allah menyimpangkan hati mereka” (Surah Ash-Shaff: 5), dia berkata: Mereka adalah Khawarij.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hushain -dan dia adalah kepala polisi Ali- dia berkata: Ali radhiyallahu anhu berkata: Allah melaknat mereka, sungguh hadits yang mereka rusak -yaitu: Khawarij.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Numair memberitahukan kepada kami, Ubaidullah memberitahukan kepada kami, dari Nafi’, dia berkata: Ketika Ibnu Umar mendengar Najdah telah datang dan bahwa dia menuju Madinah dan bahwa dia menawan wanita dan membunuh anak-anak, dia berkata: Kalau begitu kami tidak akan membiarkannya dan itu. Dan dia berniat memeranginya dan menggerakkan orang-orang, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya orang-orang tidak akan berperang bersamamu, dan kami khawatir engkau ditinggalkan sendirian lalu terbunuh. Maka dia meninggalkannya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Bakar bin Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq, dari Abu al-Ahwash, dia berkata: Khawarij keluar, maka dia keluar menghadapi mereka lalu mereka membunuhnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariyya -yaitu: Ibnu Abi Za’idah- memberitahukan kepadaku, Abdul Malik memberitahukan kepadaku, dari Atha’, dari Ibnu Abbas, bahwa Ali mengirimnya kepada Khawarij, lalu dia berbicara kepada mereka dan memisahkan di antara mereka. Maka Khawarij berkata: “Bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (Surah Az-Zukhruf: 58).

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariyya bin Abi Za’idah menceritakan kepada kami, Ashim al-Ahwal memberitahukan kepadaku, dari Aun bin Abdullah, bahwa Umar bin Abdul Aziz mengirimnya kepada Khawarij, lalu dia berbicara kepada mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hisyam bin Hassan menceritakan kepada kami, Abu al-Wadhih al-Qaisi menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku berada di antara para sahabat Ali ketika dia selesai dari ahli Nahar. Dia berkata: Carilah di antara mereka Dzu ats-Tsudayyah. Dia berkata: Maka mereka mencarinya tetapi tidak menemukannya. Lalu mereka mendatanginya dan berkata: Kami tidak menemukannya. Dia berkata: Carilah dia, karena sesungguhnya dia ada di antara mereka. Dia berkata: Maka mereka mencarinya dan menemukannya, lalu dibawa kepadanya. Sesungguhnya aku melihatnya, dia memiliki di salah satu pundaknya seperti buah dada wanita, tidak ada tangan untuknya selain itu, padanya ada rambut-rambut.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, bahwa dia melihat kepala-kepala yang dipasang di tangga masjid Damaskus. Maka Abu Umamah berkata: Anjing-anjing neraka tiga kali, seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit. Sebaik-baik orang yang terbunuh adalah yang mereka bunuh. Kemudian dia membaca: “Pada hari ketika ada muka yang putih berseri dan ada muka yang hitam muram” (Surah Ali Imran: 106). Aku berkata kepada Abu Umamah: Engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Dia berkata: Seandainya aku tidak mendengarnya kecuali dua kali atau tiga kali atau empat kali atau lima kali atau enam kali atau tujuh kali, aku tidak akan menceritakannya kepadamu.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Ghalib berkata: Ketika kepala-kepala Azariqah dibawa lalu dipasang di tangga Damaskus, Abu Umamah radhiyallahu anhu datang. Ketika dia melihat mereka, matanya berlinang, dia berkata: Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka -tiga kali- Mereka ini adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah langit adalah mereka yang dibunuh oleh orang-orang ini. Aku berkata: Apa sebabnya matamu berlinang? Dia berkata: Belas kasihan kepada mereka, karena mereka dahulu adalah dari ahli Islam.

Aku berkata: Apakah dengan pendapatmu engkau berkata: Mereka adalah anjing-anjing neraka, atau sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Dia berkata: Kalau begitu aku berani sekali. Bahkan aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan sekali atau dua kali atau tiga kali. Dia berkata: Lalu dia menghitung beberapa kali. Kemudian dia membaca ayat ini “Pada hari ketika ada muka yang putih berseri dan ada muka yang hitam muram” (Surah Ali Imran: 106) hingga sampai “dan mereka kekal di dalamnya” (Surah Al-Baqarah: 25). Kemudian dia menyebutkan hadits hingga akhirnya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Anas bin Iyadh -dia adalah Abu Dhamrah al-Madani- berkata: Aku mendengar Shafwan bin Sulaim berkata: Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu masuk Damaskus, lalu dia melihat kepala-kepala ahli Harura’ telah dipasang. Maka dia berkata: Anjing-anjing neraka -tiga kali, seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah naungan langit, dari sebaik-baik orang yang terbunuh yang mereka bunuh. Kemudian dia menangis. Lalu seorang laki-laki berdiri menghadapinya dan berkata: Wahai Abu Umamah, apa yang engkau katakan ini dari pendapatmu atau engkau mendengarnya? Maka dia berkata: Kalau begitu aku berani sekali! Bagaimana aku mengatakan ini dari pendapatku?! Tetapi aku telah mendengarnya bukan sekali atau dua kali. Dia berkata: Lalu apa yang membuatmu menangis? Dia berkata: Aku menangis karena keluarnya mereka dari Islam, mereka ini yang berpecah belah dan menjadikan agama mereka sebagai golongan-golongan.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ismail -yaitu Ibnu Ulayyah- memberitahukan kepada kami, Sulaiman at-Taimi menceritakan kepada kami, Anas bin Malik menceritakan kepada kami, dia berkata: Disebutkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara kalian ada suatu kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh hingga mengagumkan orang-orang dan mengagumkan diri mereka sendiri. Mereka terlepas dari agama sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Khalid memberitahukan kepada kami, Rabbah memberitahukan kepada kami, dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi dalam umatku perselisihan dan perpecahan. Akan keluar di antara mereka suatu kaum yang membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Ciri mereka adalah mencukur habis dan menghilangkan rambut sama sekali. Maka apabila kalian melihat mereka, matikanlah mereka.” Ucapannya: at-tasbid, yaitu: menghilangkan rambut sama sekali.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abdur Razzaq memberitahukan kepada kami, Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Sa’id al-Khudri, tetapi dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang membagi-bagikan harta pembagian, tiba-tiba datang kepadanya Ibnu Dzi al-Khuwaishirah at-Tamimi, lalu berkata: Berlakulah adil wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Celakalah kamu! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil?” Maka Umar bin al-Khaththab berkata: Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk memenggal lehernya? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah dia. Sesungguhnya dia memiliki sahabat-sahabat. Salah seorang dari kalian akan meremehkan shalatnya dibanding shalat mereka, dan puasanya dibanding puasa mereka. Mereka terlepas dari agama sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya. Maka dilihat pada bulu panah ujungnya, tidak ditemukan padanya sesuatu. Kemudian dilihat pada kayu panahnya, tidak ditemukan padanya sesuatu. Kemudian dilihat pada ikatan bulu panahnya, tidak ditemukan padanya sesuatu. Dan sungguh telah mendahului kotoran dan darah. Tanda mereka adalah seorang laki-laki hitam di salah satu tangannya -atau dia berkata: salah satu buah dadanya- buah dada wanita, atau seperti segumpal daging yang bergerak. Dan mereka keluar pada saat kelengahan orang-orang. Maka turunlah tentang mereka ‘Dan di antara mereka ada yang mencela kamu dalam hal sedekah-sedekah’ (Surah At-Taubah: 58).” Abu Sa’id berkata: Maka sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku mendengar ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa Ali radhiyallahu anhu ketika membunuh mereka dan aku bersamanya, laki-laki itu dibawa dengan ciri yang dicirikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Hasyim bin al-Qasim menceritakan kepada kami, Hasyraj bin Nabatah al-Absi menceritakan kepada kami, Sa’id bin Jumhan menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku bertemu Abdullah bin Abi Aufa dan dia telah buta matanya. Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Dia berkata kepadaku: Siapa kamu? Dia berkata: Aku berkata: Aku Sa’id bin Jumhan. Dia berkata: Lalu bagaimana dengan ayahmu? Dia berkata: Aku berkata: Azariqah membunuhnya.

Dia berkata: Allah melaknat Azariqah, Allah melaknat Azariqah, Allah melaknat Azariqah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami: bahwa sesungguhnya mereka adalah anjing-anjing neraka.

Dia berkata: Azariqah saja ataukah Khawarij semuanya? Dia berkata: Tidak, bahkan Khawarij semuanya.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepadaku, dari Abu as-Salil, dia berkata: Aku mengikuti Shilah bin Asyim untuk belajar darinya. Dia berkata: Aku berkata kepadanya suatu hari: Ajarilah aku sesuatu, wasiatkan kepadaku sesuatu, berikanlah nasihat kepadaku tentang sesuatu. Dia berkata: Aku akan melakukannya: Nasihatilah Kitab Allah, nasihatilah kaum muslimin, perbanyaklah dalam berdoa kepada Allah Azza wa Jalla. Dan janganlah do’a orang awam membinasakanmu, dan janganlah engkau menjadi korban tongkat kayu. Dan jauhilah suatu kaum yang mengklaim bahwa mereka memiliki iman di bawah orang-orang beriman. Dia berkata: Aku berkata: Siapa mereka? Dia berkata: Mereka adalah Haruriyyah yang buruk ini.

Al-Khallal berkata: Harb bin Ismail al-Kirmani memberitahukan kepadaku, bahwa Abu Abdullah berkata: Khawarij adalah kaum yang buruk. Aku tidak mengetahui di muka bumi kaum yang lebih buruk daripada mereka. Dan dia berkata: Hadits tentang mereka shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan dari sepuluh jalur.

Al-Khallal berkata: Dan Yusuf bin Musa memberitahukan kepadaku, bahwa Abu Abdullah, dikatakan kepadanya: Apakah Khawarij kafir? Dia berkata: Mereka adalah orang yang murtad (keluar). Dikatakan: Apakah mereka kafir? Dia berkata: Mereka adalah orang yang murtad? Mereka keluar dari agama.

Al-Khallal berkata: Dan Muhammad bin Abi Harun memberitahukan kepadaku, bahwa Ishaq menceritakan kepada mereka, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang Haruriyyah dan orang yang murtad, apakah mereka kafir? Dia berkata: Maafkanlah aku dari hal ini, dan katakanlah sebagaimana hadits yang datang tentang mereka.

Al-Khallal berkata: Dan Ahmad bin Muhammad bin Hazim memberitahukan kepadaku, bahwa Ishaq bin Manshur menceritakan kepada mereka, bahwa dia berkata kepada Abu Abdullah: Haruriyyah, apa pendapatmu tentang mereka? Dia berkata: Jika mereka mengajak kepada apa yang mereka yakini, kepada agama mereka, maka perangilah mereka. Dan jika mereka menginginkan hartamu, maka perangilah mereka. Adapun jika mereka berkata: Kami adalah penguasa kalian, maka jangan kalian perangi. Ishaq bin Manshur berkata: Ishaq bin Rahawayh berkata: Sebagaimana yang dia katakan.

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali memberitahukan kepadaku, dia berkata: Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada kami, bahwa Abu Abdullah dikatakan kepadanya: Apakah engkau membenarkan dari Ibnu Umar bahwa dia menerima hadiah Mukhtar? Dia berkata: Aku tidak tahu, kecuali dikatakan: Sesungguhnya hadiah-hadiah Mukhtar datang kepadanya, dan itu adalah akhir kematiannya.

Abu Umayyah ath-Tharsusi berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang seorang laki-laki yang mendengar bersamaku dan dia berpandangan seperti Khawarij: Apakah aku memberikan sertifikat pendengarannya? Dia berkata: Ya, berikan kepadanya. Mudah-mudahan Allah memberinya manfaat dengannya.

198 – Bab: Hukum Harta Dan Tawanan Perang Antara Muslimin Dan Khawarij

Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Apakah penguasa adalah wali dari orang yang memerangi agama?

Ahmad menjawab: Jika mereka keluar sebagai pemberontak seperti kaum Khurramiyyah ini, maka apa yang mereka peroleh dalam hal itu, menjadi milik penguasa.

Ishaq berkata: Sebagaimana yang ia katakan, tidak boleh ada pengampunan dari para wali dalam hal itu, demikian juga pembunuhan tersembunyi adalah urusan penguasa.

Ishaq bin Manshur berkata: Aku bertanya: Jika aku memerangi kaum Haruriyyah, lalu mereka mengambil harta?

Ahmad menjawab: Semua yang mereka peroleh dari sesuatu dalam hal itu, maka itu adalah tanggungan mereka.

Ishaq berkata: Demikianlah itu.

Masail al-Kausaj (2411-2412)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik bin Abdul Hamid, ia berkata: Salinan surat Ahmad bin Hanbal kepada Ali bin al-Madini sebelum ia menulis hadits, alamatnya: Kepada Abu al-Hasan Ali bin Abdullah, dari Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, dan isinya: Kepada Abu al-Hasan Ali bin Abdullah, dari Ahmad bin Muhammad:

Salam untukmu, aku memuji kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, amma ba’du, semoga Allah berbuat baik kepadamu dalam semua urusan, dan menyelamatkanmu serta kami dari segala keburukan dengan rahmat-Nya. Aku menulis kepadamu dan aku serta orang yang aku maksudkan dalam nikmat Allah yang nyata, aku memohon pertolongan-Nya untuk menunaikan syukur atas itu, karena Dia adalah wali setiap nikmat. Aku menulis kepadamu semoga Allah merahmatimu tentang suatu urusan yang mungkin telah sampai kepadamu tentang urusan orang Khurrami ini yang telah menindas Islam dengan apa yang telah ia timpakan kepadanya berupa pembunuhan keturunan dan selainnya, melanggar kehormatan, menawan wanita, dan telah berbicara kepadaku tentang menulis surat kepadamu beberapa saudaramu dengan harapan manfaat itu bagi orang yang hadir bersamamu dari orang yang memiliki niat untuk bangkit ke penduduk Ardabil dan membela mereka serta kehormatan mereka, dari orang yang kau anggap akan menerima darimu hal itu. Jika kau berpendapat semoga Allah merahmatimu untuk orang yang hadir bersamamu dari orang yang kau anggap akan menerima darimu, karena mereka berada di tepi kehancuran, kehilangan, dan ketakutan dari musuh yang menindas mereka ini, semoga Allah mencukupimu dan kami dari setiap kesusahan, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dan ia menulis.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin al-Husain, bahwa al-Fadhl menceritakan kepada mereka, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah, dan ia ditanya tentang memerangi Babak?

Ia menjawab: Aku tidak mengenal seorang pun yang lebih berbahaya bagi Islam daripada dia, si fasik itu.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr al-Marrudzi, ia berkata: Aku mendengar Husain ash-Sha’igh berkata: Ketika terjadi urusan Babak, Abu Abdullah mulai mendorong untuk keluar menghadapinya, dan ia menulis bersamaku surat kepada Abu al-Walid wali Bashrah mendorong mereka untuk keluar menghadapi Babak.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Manshur, ia berkata: Aku mendengar Isa bin Ja’far berkata: Aku berpamitan dengan Ahmad bin Hanbal ketika aku hendak keluar menghadapi Babak, maka ia berkata: Semoga Allah tidak menjadikannya perpisahan terakhir dari kami dan darimu.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku al-Hasan bin al-Haitsam, bahwa Muhammad bin Musa bin Musyisy menceritakan kepada mereka, bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah: Jika orang yang terancam musuh seperti Babak dan semisalnya meminta tolong kepada penduduk kota ini, apakah wajib atas penduduk kota ini untuk keluar? Ia menjawab: Wajib atas orang yang paling dekat terlebih dahulu.

Ditanyakan: Jika mereka tidak menolong? Ia menjawab: Berarti mereka menyia-nyiakan kewajiban mereka.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku al-Hasan bin Abdul Wahhab, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Hammad, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: Seorang laki-laki jika ingin berperang, saat itu ada kaum Khurramiyyah, aku bertanya: Ke arah mana yang lebih engkau sukai? Ia menjawab: Di mana tempat tinggal orang itu? Aku berkata: Di kota ini. Maka ia menunjuk ke arah Khurramiyyah.

As-Sunnah karya al-Khallal 1/120-124 (115-120)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Abdah, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad, aku berkata: Hadits az-Zuhri: “Terjadi fitnah dan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih banyak, maka mereka bersepakat untuk tidak melakukan qishash dan tidak mengambil harta berdasarkan takwil Al-Quran, kecuali apa yang ditemukan dalam bentuk aslinya?” Ia menjawab: Ya.

Aku bertanya: Ini untuk kaum Haruriyyah dan semisalnya? Ia menjawab: Ya.

Aku bertanya: Adapun para perampok dan penjahat, mereka tidak diamankan atas sesuatu dari ini, mereka diambil semuanya? Ia menjawab: Ya.

Al-Khallal berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Atsram, ia berkata: Disebutkan kepada Abu Abdullah: Terjadi fitnah dan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih banyak, maka mereka berpendapat untuk menggugurkan setiap darah yang tumpah berdasarkan takwil Al-Quran, dikatakan kepadanya: Seperti kaum Haruriyyah? Ia menjawab: Ya. Abu Abdullah berkata: Adapun perampok, maka tidak.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Musa bin Sahl as-Sawi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad al-Asadi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya’qub, dari Ismail bin Sa’id, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang harta ahli bughat (pemberontak)? Ia menjawab: Harta mereka bukan harta bughat.

As-Sunnah karya al-Khallal 1/126 (124-126)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marja, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Mathar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Thalib, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang kaum Khurramiyyah yang memiliki bagian di sebuah desa lalu mereka keluar memerangi kaum muslimin kemudian kaum muslimin membunuh mereka, bagaimana diperlakukan tanah mereka?

Ia menjawab: Itu adalah fai’ (harta rampasan) bagi kaum muslimin, dari orang yang berperang untuk mengambilnya, maka diambil seperlimanya lalu dibagi kepada lima golongan, dan empat perlima untuk orang-orang yang mendapatkan fai’, bagian pemimpin menjadi kharaj (pajak tanah) untuk kaum muslimin, seperti yang dilakukan Umar terhadap Sawad yang diambil secara paksa, lalu ia wakafkan untuk kaum muslimin.

As-Sunnah karya al-Khallal 1/127 (128)

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr al-Marrudzi, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: Jika seorang laki-laki datang dari Armenia dengan tawanan, tidak boleh membeli? Ia menjawab: Tidak; karena kondisi apa yang ia lakukan, jual saja, tidak boleh baginya menawan keturunan.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik al-Maimuni, bahwa Abu Abdullah, al-Walid berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah, kami mengambil seorang wanita yang mengaku Islam, lalu ia berkata: Lepaskan aku dan aku akan kirimkan kepadamu sepuluh muslimah sebagai gantinya? Abu Abdullah berkata: Jika ia mengakui Islam, bagaimana ia bisa dilepaskan? Jangan dilepaskan. Dikatakan: Ia memiliki anak kemudian—yaitu: di tempat Babak— maka ia berkata kepadanya juga: Jangan dilepaskan untuk pergi kepada mereka.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdul Malik, ia berkata: Aku bertanya: Wahai Abu Abdullah, urusan orang kafir ini tidak seperti yang lainnya—maksudku: Babak—ia menawan wanita-wanita lalu mereka menyetubuhi mereka kemudian hamil, apa pendapatmu tentang anak-anak mereka? Ia menjawab: Anak mengikuti ibunya.

Aku bertanya: Bagaimana? Ia menjawab: Demikianlah hukum Islam, bukankah jika ia merdeka maka mereka merdeka, dan jika ia budak maka mereka budak? Maka mereka mengikuti ibu mereka.

Aku bertanya: Baik dewasa maupun kecil?

Ia menjawab: Ya—berkali-kali— kemudian ia berkata: Masalahnya adalah jika ia telah baligh kemudian keluar kepada kami sebagai pemberontak, sementara ia tinggal di negeri syirik, apa hukumnya? Begitulah hukum riddah (murtad), ataukah hukum—maksudnya hukum ibunya?

Abu Abdullah terus mengulang-ulang masalah ini, dan tidak tahu apa hukumnya dalam posisi ini jika ia baligh di tempat mereka, kemudian keluar lalu memerangi kami.

Sungguh aku telah bertanya kepada Abu Abdullah di awal masalah: Jika kami mengambil wanita itu; lalu ditegakkan bukti bahwa ia muslimah, atau ia mengaku Islam, maka anak yang bersamanya, bukankah mengikuti ibunya? Ia menjawab: Benar.

Abdul Malik berkata: Aku maksudkan dari ini bahwa perkataannya saja sudah cukup atas apa yang ia klaim tentang Islam.

Abdul Malik berkata, dan sesungguhnya aku berdebat dengannya tentang Babak karena apa yang ia ambil dari muslimah; lalu mereka menyerang mereka.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Harb bin Ismail al-Karmani, ia berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Seorang laki-laki menjual budaknya kepada kaum Khawarij? Ia menjawab: Tidak.

Aku bertanya: Apakah ia menjual makanan dan pakaian kepada mereka? Ia menjawab: Tidak.

Aku bertanya: Jika mereka memaksanya? Ia memakruhkan semua itu. Aku bertanya: Apakah ia membeli dari mereka? Ia menjawab: Jangan membeli dan jangan menjual.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali as-Simsar, bahwa Ya’qub bin Bukhtan menceritakan kepada mereka bahwa Abu Abdullah berkata: Jangan menjual makanan dan pakaian kepada mereka, dan jangan membeli dari mereka, ia berkata: Khawarij itu menyimpang, kaum yang buruk.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarikan kepadaku Hamid bin Ahmad, bahwa ia mendengar al-Hasan bin Muhammad bin al-Harits berkata: Aku bertanya: Wahai Abu Abdullah, apakah makruh bagi seseorang membawa ke tempat seperti Sijistan kain dan kulit, kami menjualnya di kota dari kaum yang tidak berpandangan Khawarij, hanya saja ia berpendapat untuk membawanya kepada mereka, maka ia tidak melihat masalah menjual kepada orang yang tidak berpandangan Khawarij, aku bertanya: Apakah kau berpendapat untuk membawanya kepada mereka? Ia berkata: Ia beramal sesuai dengan apa yang ia anggap. Seolah-olah ia tidak melihat masalah membawanya kepada mereka—yaitu: penduduk Sijistan dari orang yang tidak berpandangan Khawarij.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Harb bin Ismail bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah: Sesungguhnya negeri kami adalah negeri yang didatangi Khawarij setiap tahun, dan sesungguhnya orang-orang berbeda pendapat dengan kami tentang tinggal di negeri itu, maka ia cenderung memudahkan dalam hal tinggal itu.

Al-Khallal berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Hamid bin Ahmad, bahwa ia mendengar al-Hasan bin Muhammad bin al-Harits as-Sijistani, bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah tentang urusan Khawarij di tempat kami, ia berkata: Aku berkata: Sesungguhnya kami di kota menampakkan penentangan terhadap mereka dan kami shalat berjamaah dan Jumat, hanya saja jika mereka menulis kepada wali tentang suatu urusan, wali tidak dapat berbuat lain kecuali melaksanakannya.

Maka ia berkata: Mereka menampakkan penentangan terhadap mereka?

Aku berkata: Ya. Ia berkata: Aku memakruhkan bergaul dengan mereka.

Aku bertanya: Jika penghidupannya ada di sana—yaitu di negeri tempat mereka berada?

Ia menjawab: Aku berharap tidak ada masalah dengannya, dan jika kau menemukan jalan keluar maka menjauh.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin al-Husain, bahwa Abu Abdullah ditanya tentang Khawarij? Maka ia berkata: Jangan berbicara dengan mereka dan jangan menshalatkan mereka.

Al-Khallal berkata: Telah mengabarkan kepada kami al-Maimuni, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami al-Awwam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ghalib, dari Abu Umamah: “Mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah memalingkan hati mereka” (Surat ash-Shaff: 5), ia berkata: Mereka adalah Khawarij.

As-Sunnah karya al-Khallal 1/128-130 (129-138)

199 – Bab: Tentang Fitnah di Kalangan Bani Umayyah

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Harits bin Murrah bin Maja‘ah al-Yamami Abu Murrah al-Hanafi menceritakan kepada kami, ia berkata: Matar al-Warraq berkata, “Tidaklah ada seseorang dari keluarga kerajaan yang membunuh seseorang dari keluarga kenabian, melainkan Allah akan mencabut kekuasaan dari keluarga itu, dan tidak akan mengembalikannya kepada mereka selamanya.”

Abu Naufal lalu berkata kepadanya—karena ia sering bergurau dengannya—: “Sekarang pendapatmu salah, karena al-Husain telah dibunuh pada masa kekhalifahan Yazid bin Mu‘awiyah.”

Matar menjawab: “Bukan begitu, wahai Khomis. Maksudnya ialah bahwa Allah akan mencabut kekuasaan dari orang yang melakukannya, lalu tidak akan mengembalikannya lagi kepadanya maupun kepada keturunannya.”

(Diriwayatkan dalam Masā’il Shalih)

Shalih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu al-Asyhab (Huzaifah) menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Hassan, dari al-Hasan, ia berkata:

Anas bin Malik melewatiku—ketika Ziyad mengutusnya kepada Abu Bakrah untuk menegurnya—, maka aku pun pergi bersamanya. Kami masuk menemui Abu Bakrah yang saat itu sedang sakit. Anas menyampaikan pesan Ziyad kepadanya, seraya berkata: “Ia berkata: Bukankah aku telah mengangkat ‘Ubaidullah atas wilayah Fars? Bukankah aku telah mengangkat Ruad atas rumah perbendaharaan? Bukankah aku telah mengangkat Abdurrahman atas urusan diwan dan baitul mal?”

Abu Bakrah berkata: “Apakah yang ia lakukan selain memasukkan mereka ke dalam neraka?”

Anas berkata: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui kecuali ia berijtihad.”

Abu Bakrah lalu berkata: “Dudukkan aku!” Kemudian ia berkata: “Kamu berkata bahwa ia berijtihad, sedangkan orang-orang Harura (Khawarij) pun berijtihad. Apakah mereka benar atau salah?”

Al-Hasan berkata: “Maka kami pun kembali dalam keadaan kalah berargumen.”

(Diriwayatkan dalam Masā’il Shalih)

Abdullah berkata: Ayahku berkata: Dalam hadis Yazid bin Zurai‘, dari Syu‘bah, ia berkata: Diberitahukan kepadaku oleh ‘Amr bin Murrah, dari Abdullah bin Salamah, ia berkata: Kami datang kepada Umar sebagai utusan dari kabilah Madzhij, dan aku duduk paling dekat dengannya. Umar terus memandang al-Asytar, lalu mengalihkan pandangannya, dan berkata kepadaku: “Apakah dia dari golongan kalian?”

Aku menjawab: “Ya, wahai Amirul Mukminin.”

Umar berkata: “Apa yang terjadi dengannya? Semoga Allah memeranginya! Semoga Allah melindungi umat Muhammad dari kejahatannya. Demi Allah, aku yakin kaum muslimin akan mengalami hari yang berat karenanya.”

(Diriwayatkan dalam al-‘Ilal riwayat Abdullah)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Abu Sa‘d berkata, “Aku melihat di tangan mereka mushaf-mushaf dan pedang-pedang di tangan mereka, dan mereka berlari cepat—maksudnya pada hari peristiwa Shabib al-Khawariji.”

(Diriwayatkan dalam al-‘Ilal riwayat Abdullah)

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: “Para ulama mengatakan, tidak ada kelompok Khawarij yang lebih baik dari kelompok al-Jamajim dan al-Harrah.”

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar berkata: “Ibnu Zubair, al-Husain, dan Ibnu Umar tidak berbaiat kepada Yazid bin Mu‘awiyah selama ayahnya masih hidup.”

Maka Mu‘awiyah pun membiarkan mereka.

Abdullah berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar berkata: “Tidak ada satu negeri pun yang tersisa melainkan telah dikuasai oleh Ibnu Zubair, kecuali Yordania.”

(Diriwayatkan dalam al-‘Ilal riwayat Abdullah)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Mahna menceritakan kepadaku, bahwa Abdullah bin Ahmad mendengar Mahna berkata:

Aku bertanya kepada Ahmad tentang Malik al-Asytar, apakah boleh meriwayatkan hadis darinya? Ahmad menjawab: “Tidak.”

Aku bertanya tentang Abdullah bin al-Kawwa’, Ahmad menjawab: “Ia seorang dari Kufah.” Aku bertanya lagi: “Apakah boleh meriwayatkan darinya?” Ia menjawab: “Tidak.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Atsram menyebutkan tentang Abu Abdullah (Ahmad bin Hanbal) mengenai Ibn al-Kawwa’. Ia berkata: “Ya, ia adalah Abu al-Kawwa’, namanya Abdullah bin al-Kawwa’.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Mahna berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Thalhah bin Ubaidillah, siapa yang membunuhnya? Ia menjawab: “Dikatakan bahwa Muruanlah yang membunuhnya.”

Aku bertanya: “Bagaimana ceritanya?” Ia berkata: Ismail bin Abi Khalid meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim bahwa Muruan memandang Thalhah bin Ubaidillah pada hari Perang Jamal, lalu berkata: “Hari ini aku tidak akan menuntut balas dendamku lagi setelah ini.” Lalu ia melepaskan anak panah dan membunuhnya.

Aku bertanya: “Siapa yang mengatakan hal ini?” Ia menjawab: “Waki‘ meriwayatkan dari Ismail bin Abi Khalid.”

Aku berkata: “Telah diceritakan kepadaku dari ‘Amr bin Marzuq, dari Imran al-Qaththan, dari Qatadah, dari al-Jarud bin Abi Sabrah bahwa Muruan memandang Thalhah pada hari Jamal lalu berkata hal yang sama dan membunuhnya dengan anak panah.”

Ahmad berkata: “Aku tidak tahu.”

(Diriwayatkan dalam As-Sunnah karya al-Khallal)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Mahna berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Umar bin Sa‘d, ia menjawab: “Tidak pantas meriwayatkan hadis darinya.”

Aku bertanya: “Siapa dia?” Ia menjawab: “Saudara ‘Amir bin Sa‘d dan saudara Mush‘ab bin Sa‘d.”

Aku bertanya: “Mengapa?” Ia menjawab: “Karena ia adalah panglima pasukan dan pelaku pertumpahan darah.”

Aku berkata kepadanya: “Telah sampai kepadaku dari Yahya bin Sa‘id bahwa Umar bin Sa‘d tidak bisa dipercaya.”

(Diriwayatkan dalam As-Sunnah karya al-Khallal)

Al-Khallal berkata: Ahmad bin Muhammad bin Mathar dan Zakariya bin Yahya menceritakan kepadaku bahwa Abu Thalib berkata kepada mereka: Aku bertanya kepada Abu Abdullah (Ahmad bin Hanbal): “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang berkata, ‘Semoga Allah melaknat Yazid bin Mu‘awiyah?’”

Ia menjawab: “Jangan berbicara tentang hal ini.”

Aku berkata: “Apa pendapatmu? Sesungguhnya orang yang mengatakannya adalah orang yang tidak apa-apa keadaannya, dan aku ingin mengikuti pendapatmu.”

Maka Abu Abdullah berkata: “Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: ‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Yazid termasuk dalam generasi tersebut. Dan beliau juga bersabda: ‘Barang siapa yang aku laknat atau aku cela, maka jadikanlah itu sebagai rahmat baginya di sisi-Mu.’ (HR. Muslim). Maka aku memandang diam adalah sikap yang lebih aku sukai.”

(Diriwayatkan dalam As-Sunnah karya al-Khallal)

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ja‘far menceritakan kepadaku bahwa Abu al-Harits berkata kepada mereka: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: “Jika seseorang menyebut al-Hajjaj (bin Yusuf) lalu berkata: Kafir, bagaimana?”

Ia menjawab: “Aku tidak menyukainya.”

Aku bertanya lagi: “Jika seseorang melaknatnya?” Ia menjawab: “Katakan saja: ‘Ketahuilah, laknat Allah bagi orang-orang yang zalim.’ (Surat Hud: 18)”

Abu Abdullah berkata: “Dia adalah orang jahat.”

Ibnu Sirin meriwayatkan bahwa ada yang berkata: ‘Kasihan Abu Muhammad (al-Hajjaj).’ Ada pula yang berkata kepadanya: ‘Bagaimana mungkin engkau tidak mengatakan bahwa al-Hajjaj kafir, tidak beriman pada hari pembalasan, dan termasuk penghuni neraka?’” Maka Ahmad hanya diam dan tidak menjawab.

Al-Khallal berkata: Zakariya bin Yahya menceritakan kepadaku bahwa Abu Thalib berkata: Abu Abdullah berkata: “Al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang jahat.”

Al-Khallal berkata: Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku, ia berkata: Mahna berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang Yazid bin al-Muhallab. Ia menjawab: “Ia orang Bashrah.”

Aku bertanya: “Bagaimana dia?”

Ia berkata: “Ia adalah pembuat fitnah.”

Ahmad berkata: “Dialah yang dimaksud oleh Syu‘bah ketika meriwayatkan dari al-Hasan yang berkata: ‘Inilah musuh Allah, Ibnu al-Muhallab.’”

(Diriwayatkan dalam As-Sunnah karya al-Khallal)

Shalih berkata: Aku berkata kepada ayahku: “Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka mencintai Yazid.”

Ayahku menjawab: “Wahai anakku! Apakah ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai Yazid?”

Aku berkata: “Wahai ayahku, lalu mengapa engkau tidak melaknatnya?”

Ia menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu pernah melaknat seseorang?”

(Diriwayatkan dalam Majmu‘ al-Fatawa jilid 4 halaman 483)

 

 

Kesalahan Cetak dan Koreksi

Telah diperhatikan adanya kesalahan-kesalahan berikut dalam kitab Al-Jami‘ li ‘Ulum al-Imam setelah dicetak:

Jilid Ketiga

  • Halaman 235: Riwayat Ismail bin Sa‘id yang dikutip dari Fath al-Bari karya Ibnu Rajab (jilid 1 halaman 139) tercetak ganda, maka harus dihapus. Riwayat tersebut telah dicantumkan sebelumnya secara lengkap dengan penukilan dari Ahkam an-Nisa’ karya al-Khallal (nomor 91).
  • Halaman 273: Nama “al-Hasan bin Ali bin al-Husain” harus diperbaiki menjadi “al-Hasan bin Ali bin al-Hasan”.
  • Halaman 504 baris ke-17: “Abu Hamad al-Muqri’” harus diperbaiki menjadi “Ibnu Hamad al-Muqri’”.
  • Halaman 541 baris ke-19: “asy-Syatri” harus diperbaiki menjadi “at-Tustari”.

Jilid Keempat

  • Halaman 171: “as-Siqilli” harus diperbaiki menjadi “al-Mustamli”.
  • Halaman 351: “Hisyam bin Manshur al-Bukhari” harus diperbaiki menjadi “Hisyam bin Manshur al-Yakhmari”.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Khalid ar-Rabat, Sayyid Izzat Ied, Muhammad Ahmad Abduttawab

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 5 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB