MADARIJUS SALIKIN JILID 02/03

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MADARIJUS SALIKIN JILID 02/03

مَدَارِجُ السَّالِكِينَ بَيْنَ مَنَازِلِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Tingkatan-Tingkatan Para Penempuh Jalan (Menuju Allah) di Antara Kedudukan Hanya kepada-Mu Kami Menyembah dan Hanya kepada-Mu Kami Memohon Pertolongan.”

Pasal Tentang Kedudukan Ikhbat

Dan di antara kedudukan-kedudukan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan ikhbat (tunduk dan tenang kepada Allah).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang ikhbat” (Surah Al-Hajj: 34) kemudian Dia menjelaskan maksud mereka dengan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Surah Al-Hajj: 35). Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan ikhbat kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya” (Surah Hud: 23).

Dan “khubut” dalam asal bahasa adalah: tempat yang rendah dari bumi. Dan dengan makna ini Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Qatadah menafsirkan kata mukhbitin dan mereka berkata: mereka adalah orang-orang yang tawadhu. Dan Mujahid berkata: Mukhbit adalah orang yang tenang kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia berkata: Dan khubut adalah tempat yang tenang dari bumi. Dan Al-Akhfasy berkata: orang-orang yang khusyu. Dan Ibrahim An-Nakha’i berkata: orang-orang yang salat dan ikhlas. Dan Al-Kalbi berkata: mereka adalah orang-orang yang hatinya lembut. Dan ‘Amr bin Aws berkata: mereka adalah orang-orang yang tidak menzalimi, dan jika dizalimi mereka tidak membalas dendam.

Dan pendapat-pendapat ini berkisar pada dua makna: tawadhu, dan ketenangan kepada Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu kata itu di-ta’diyah-kan dengan kata “ila” sebagai tadzmin (penyertaan makna) untuk makna tuma’ninah (ketenangan), inabah (kembali), dan ketenangan kepada Allah.

Penulis kitab Al-Manazil berkata:

“Ikhbat adalah dari awal tingkatan-tingkatan tuma’ninah (ketenangan).”

Seperti sakinah (ketenangan hati), yakin, kepercayaan kepada Allah dan sejenisnya. Maka ikhbat adalah permulaannya dan awalnya.

Dia berkata: Ikhbat adalah mendatangi tempat aman dari kembali dan ragu-ragu.

Karena ikhbat adalah tingkatan pertama di mana salik terlepas dari keragu-raguan – yang merupakan sejenis kelalaian dan berpaling – dan salik adalah musafir kepada Tuhannya, berjalan kepada-Nya sepanjang tarikan napasnya. Tidak berakhir perjalanannya kepada-Nya selama napasnya menyertainya – maka dia menyerupakan tercapainya ikhbat baginya dengan air tawar yang didatangi oleh musafir dalam kondisi haus dan membutuhkan di awal tempat-tempat airnya. Maka tempat air itu membuatnya puas, dan menghilangkan darinya pikiran-pikiran keragu-raguan dalam menyelesaikan perjalanannya, atau kembali ke kampung halamannya karena beratnya perjalanan. Maka ketika dia mendatangi air itu hilanglah darinya keragu-raguan dan pikiran untuk kembali. Demikian pula salik ketika mendatangi tempat ikhbat, dia terlepas dari keragu-raguan dan kembali, dan turun di awal kedudukan ketenangan dengan perjalanannya, dan bersungguh-sungguh dalam perjalanan.

Dia berkata: Dan ikhbat itu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Bahwa perlindungan menguasai syahwat, dan kehendak mengejar kelalaian, dan pencarian menarik pelipur lara.

Murid salik: mengalami kelalaian dari tujuannya, yang melemahkan kehendaknya. Dan syahwat yang menentang kehendaknya sehingga menghalanginya dari tujuannya. Dan kembali dari tujuannya, dan pelipur lara darinya.

Maka tingkatan ikhbat ini melindunginya dari ketiga hal ini. Maka perlindungannya menguasai syahwatnya.

Dan ‘ismah (perlindungan) adalah pemeliharaan dan penjagaan. Dan syahwat adalah kecenderungan kepada tuntutan nafsu. Dan istighraq (penguasaan) terhadap sesuatu adalah meliputi dan mengelilinginya.

Maksudnya: perlindungannya mengalahkan syahwatnya dan menundukkannya, dan menyempurnakan semua bagiannya. Maka ketika perlindungan menyempurnakan semua bagian syahwat, maka itu adalah bukti atas ikhbatnya dan masuknya dalam tingkatan tuma’ninah, dan turunnya di awal kedudukannya, dan terbebasnya dalam kedudukan ini dari keragu-raguan pikiran antara menghadap dan berpaling, kembali dan bertekad, kepada istiqamah dan tekad yang mantap, dan kesungguhan dalam perjalanan. Dan itu adalah tanda sakinah.

Dan kehendaknya mengejar kelalaiannya. Dan iradah (kehendak) menurut ahli tasawuf adalah nama untuk awal kedudukan orang-orang yang menuju kepada Allah. Dan murid adalah orang yang keluar dari kampung halaman tabiat dan nafsunya. Dan mulai berjalan kepada Allah, dan akhirat, maka ketika dia turun di kedudukan ikhbat, kehendaknya meliputi kelalaiannya. Maka dia mengejarnya, dan mengejar dengannya yang terlewatkan.

Adapun istihwa’ (menarik) pencariannya terhadap pelipur laranya, yaitu dominasi kecintaannya terhadap pelipur laranya, dan mengalahkannya. Sehingga pelipur lara itu jatuh, seperti sesuatu yang jatuh ke dalam sumur. Dan ini adalah tanda kecintaan yang benar bahwa dia mengalahkan datangnya pelipur lara, dan menguburkannya dalam jurang yang tidak akan hidup lagi selamanya.

Maka kesimpulannya: Bahwa perlindungannya dan pemeliharaannya mengalahkan syahwatnya. Dan kehendaknya mengalahkan kelalaiannya. Dan kecintaannya mengalahkan pelipur laranya.

Dia berkata: Tingkatan kedua: Bahwa kehendaknya tidak dibatalkan oleh sebab apapun. Dan hatinya tidak merasa asing dengan sesuatu yang datang. Dan tidak terputus jalannya oleh fitnah.

Inilah tiga hal lainnya yang menimpa orang yang benar niatnya: sebab yang menimpa dirinya yang membatalkan tekad dan keinginannya, kegelisahan yang menimpanya di jalan pencariannya, terutama ketika menyendiri, dan fitnah yang menimpanya, yang bermaksud memutus jalannya.

Apabila ia berhasil mencapai tingkatan kekhusyukan, maka bahaya-bahaya ini akan terhindari darinya, karena apabila niatnya kuat dan perjalanannya serius, tidak ada sebab ketinggalan yang dapat membatalkannya.

Pembatalan adalah kembalinya dari niatnya dan berpindahnya dari tujuan perjalanannya.

Tidak mengganggu ketentramannya dengan Allah di jalannya sesuatu yang mengganggu hati dan menariknya dari Dia yang ia tuju.

Yang dimaksud dengan penghalang adalah yang menyalahi, seperti sesuatu yang menghalangimu di jalanmu, datang memotong jalannya. Di antara penghalang terkuat ini adalah kegelisahan karena menyendiri. Maka janganlah ia memperhatikannya, sebagaimana kata sebagian orang yang jujur: Kesendirian di jalan pencarianmu adalah bukti kejujuran pencarianmu. Dan yang lain berkata: Janganlah merasa gelisah di jalanmu karena sedikitnya orang yang berjalan, dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang binasa.

Adapun fitnah yang memutus jalannya adalah yang datang ke hati, yang menghalanginya dari memperhatikan kebenaran dan menujunya. Apabila ia berhasil di tingkatan kekhusyukan dan kebenaran niat serta pencarian, maka fitnah tidak akan menguasainya.

Tekad-tekad ini tidak benar kecuali bagi orang yang hatinya bersinar dengan cahaya bekas-bekas nama-nama dan sifat-sifat Allah, makna-maknanya tersingkap baginya, dan hatinya mengalami hakikat keyakinan dengannya.

Telah dikatakan: Barangsiapa mengambil ilmu dari sumber ilmu, ia akan teguh. Dan barangsiapa mengambilnya dari alirannya, akan diseret oleh ombak keraguan, dan pernyataan-pernyataan menyimpangkannya, serta perkataan-perkataan berbeda padanya.

Ia berkata: Tingkat ketiga adalah sama baginya pujian dan celaan, terus-menerus mencela dirinya sendiri, dan buta terhadap kekurangan makhluk dari tingkatannya.

Ketahuilah bahwa apabila kaki hamba tegak di tingkatan kekhusyukan dan ia kokoh di dalamnya, maka cita-citanya terangkat, dan jiwanya tinggi dari sergapan pujian dan celaan. Ia tidak gembira dengan pujian orang dan tidak sedih karena celaan mereka. Ini adalah sifat orang yang keluar dari kepentingan dirinya dan siap untuk lenyap dalam penghambaan kepada Tuhannya. Hatinya menjadi tempat jatuhnya sinar-sinar cahaya nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan hatinya menyentuh manisnya iman dan keyakinan. Berhenti pada pujian dan celaan manusia adalah tanda terputusnya hati, kosongnya dari Allah, dan bahwa ruh cinta dan makrifatnya tidak menyentuhnya, dan ia tidak merasakan manisnya keterikatan dengan-Nya dan ketenangan kepada-Nya.

Adapun ucapannya: Dan terus-menerus mencela dirinya sendiri, maksudnya adalah bahwa penghuni tingkatan ini tidak ridha terhadap dirinya, ia membenci dirinya dan berharap berpisah darinya.

Yang dimaksud dengan diri (nafs) menurut kaum sufi adalah apa yang diketahui dari sifat-sifat hamba, yang tercela dari akhlak dan perbuatannya, baik itu yang diperoleh maupun bawaan. Maka ia sangat keras mencela dirinya. Ini adalah salah satu dari dua penafsiran dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Aku bersumpah demi jiwa yang mencela.” (Al-Qiyamah: 2) Said bin Jubair dan Ikrimah berkata: Ia mencela pada kebaikan dan keburukan, tidak sabar dalam kesenangan maupun kesusahan.

Qatadah berkata: Yang mencela adalah yang berdosa.

Mujahid berkata: Ia menyesal atas yang terlewat, dan berkata: Seandainya aku melakukan? Seandainya aku tidak melakukan?

Al-Farra berkata: Tidak ada jiwa yang baik maupun yang durhaka kecuali ia mencela dirinya sendiri. Jika ia melakukan kebaikan berkata: Mengapa tidak menambah? Dan jika melakukan keburukan berkata: Seandainya aku tidak melakukannya.

Al-Hasan berkata: Ia adalah jiwa mukmin. Demi Allah, engkau tidak melihat mukmin kecuali mencela dirinya: Apa yang kumaksud dengan perkataan ini? Apa yang kumaksud dengan makanan ini? Apa yang kumaksud dengan ini? Apa yang kumaksud dengan ini? Sedangkan orang yang durhaka berjalan terus tanpa menghisab dirinya dan tidak menegurnya.

Muqatil berkata: Ia adalah jiwa kafir, yang mencela dirinya di akhirat atas kelalaiannya terhadap perintah Allah di dunia.

Intinya: Barangsiapa memberikan dirinya kepada Allah dengan sungguh-sungguh, ia membenci keberadaannya dengan dirinya, karena ia ingin dirinya diterima oleh Dia yang ia berikan untuknya. Karena ia telah mendekatkannya kepada-Nya sebagai kurban. Dan barangsiapa mendekatkan kurban lalu diterima darinya tidak seperti yang ditolak kurbannya. Maka keberadaan dirinya bersamanya adalah bukti bahwa kurbannya tidak diterima.

Juga karena di antara kaidah kaum sufi yang disepakati oleh mereka, yang disetujui oleh yang pertama dan terakhir mereka, yang benar dan yang salah di antara mereka, adalah bahwa diri adalah hijab antara hamba dengan Allah, dan ia tidak sampai kepada Allah sampai ia memutus hijab ini. Sebagaimana Abu Yazid berkata: Aku melihat Tuhan Yang Mulia dalam mimpi. Aku berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana jalan kepada-Mu? Dia berkata: Tinggalkan dirimu dan datanglah.

Maka diri adalah gunung besar yang sulit di jalan menuju Allah Azza wa Jalla. Dan setiap orang yang berjalan tidak ada jalan baginya kecuali melewati gunung itu. Pasti ia akan sampai kepadanya, tetapi di antara mereka ada yang sulit baginya dan ada yang mudah baginya. Dan sungguh mudah bagi siapa yang Allah mudahkan baginya.

Di gunung itu ada lembah-lembah dan jurang-jurang, tanjakan-tanjakan dan cekungan-cekungan, duri dan semak belukar, ranting dan tanaman berduri, dan para perampok yang memotong jalan para musafir, terutama orang-orang malam yang berjalan di kegelapan. Apabila tidak bersama mereka perbekalan iman dan lentera-lentera keyakinan yang menyala dengan minyak kekhusyukan, jika tidak, penghalang-penghalang itu akan menempel pada mereka, pemutus-pemutus itu akan melekat pada mereka dan menghalangi mereka dari perjalanan.

Maka kebanyakan yang berjalan di dalamnya kembali ke belakang karena mereka tidak mampu memotongnya dan melewati tanjakannya. Dan setan berada di puncak gunung itu memperingatkan orang-orang dari mendakinya dan ketinggiannya, serta menakut-nakuti mereka darinya. Maka bertemulah kesulitan pendakian, dudukannya penakut-nakut itu di puncaknya, dan lemahnya tekad dan niat musafir. Dari itu lahirlah terputusnya dan kembalinya. Dan yang terjaga adalah yang Allah jaga.

Semakin tinggi musafir mendaki gunung itu, semakin keras teriakan pemotong jalan, peringatan dan ketakutan yang ditimbulkannya. Apabila ia melewatinya dan sampai di puncaknya, semua ketakutan itu berubah menjadi keamanan. Saat itulah perjalanan menjadi mudah, penghalang-penghalang jalan hilang darinya, kesulitan tanjakannya, dan ia melihat jalan yang luas dan aman yang mengantarkannya ke tempat-tempat singgah dan sumber-sumber air. Di atasnya ada tanda-tanda, dan di dalamnya ada tempat-tempat istirahat yang telah disediakan untuk rombongan Ar-Rahman.

Maka antara hamba dengan kebahagiaan dan keberuntungan adalah kekuatan tekad, kesabaran sejenak, keberanian jiwa, dan keteguhan hati. Dan karunia di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Pemilik karunia yang agung.

Pasal

Ucapannya: Dan buta terhadap kekurangan makhluk dari tingkatannya.

Maksudnya adalah bahwa ia—meskipun lebih tinggi dari yang di bawahnya dari orang-orang yang kurang dari tingkatannya—namun karena kesibukannya dengan Allah dan penuhnya hatinya dengan cinta dan makrifat-Nya, serta menghadap kepada-Nya, ia sibuk dengan itu dari memperhatikan keadaan orang lain, dan dari menyaksikan perbandingan antara keadaannya dan keadaan manusia. Ia menganggap kesibukan dengan itu dan perhatiannya padanya sebagai turun dari tingkatannya, jatuh dari tingkatannya, dan kembali ke belakang. Apabila itu datang kepadanya—tanpa permintaan dan pilihan—maka hendaklah ia mengobatinya dengan menyaksikan nikmat, takut akan tipu daya, dan tidak mengetahui akhir yang akan ia hadapi. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Pasal Tingkatan Zuhud

Hakikat Zuhud

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan zuhud.

Allah Ta’ala berfirman: “Apa yang ada pada kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah kekal.” (An-Nahl: 96) Dan firman-Nya: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megah di antara kalian serta berlomba-lomba dalam harta dan anak. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan petani, kemudian (tanaman itu) menjadi kering dan engkau melihatnya menguning, kemudian ia menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20) Dan firman-Nya: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan di bumi.” (Yunus: 24) sampai akhir ayat. Dan firman-Nya: “Dan buatlah perumpamaan bagi mereka kehidupan dunia seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian menjadi kering yang diterbangkan angin.” (Al-Kahfi: 45) sampai firman-Nya: “Dan lebih baik harapannya.” (Al-Kahfi: 46) Dan firman-Nya: “Katakanlah: Kesenangan dunia itu sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (An-Nisa’: 77) Dan firman-Nya: “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17) Dan firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menginginkan apa yang dengannya Kami telah memberikan kesenangan kepada beberapa golongan dari mereka, (yaitu) bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131) Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapa di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan apa yang ada di atasnya menjadi tanah rata yang tandus.” (Al-Kahfi: 7-8) Dan firman-Nya: “Dan seandainya bukan karena manusia akan menjadi satu umat, tentu Kami akan menjadikan bagi orang-orang yang kafir kepada Ar-Rahman atap-atap rumah mereka dari perak.” (Az-Zukhruf: 33) sampai firman-Nya: “Dan akhirat di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 35) Al-Quran penuh dengan kezuhudan terhadap dunia, pemberitahuan tentang rendahnya, sedikitnya, terputusnya, dan cepatnya kemusnahannya, serta penggambaran tentang akhirat, pemberitahuan tentang kemuliaan dan kekekalannya. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia tegakkan di hatinya saksi yang dengannya ia menyaksikan hakikat dunia dan akhirat, dan mengutamakan di antara keduanya yang lebih layak diutamakan.

Orang-orang banyak berbicara tentang zuhud dan setiap orang menunjuk pada pengalamannya dan berbicara dari keadaan dan saksiannya. Karena kebanyakan ungkapan kaum sufi adalah dari pengalaman dan keadaan mereka. Dan berbicara dengan bahasa ilmu lebih luas daripada berbicara dengan bahasa pengalaman, dan lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah mensucikan ruhnya—berkata: Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat. Dan wara’ adalah meninggalkan apa yang ditakuti bahayanya di akhirat.

Ungkapan ini adalah yang terbaik yang dikatakan tentang zuhud dan wara’ dan paling komprehensif.

Sufyan Ats-Tsauri berkata: Zuhud terhadap dunia adalah pendeknya angan-angan, bukan dengan memakan yang kasar dan memakai jubah kasar.

Al-Junaid berkata: Aku mendengar Sari berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencabut dunia dari wali-wali-Nya dan melindunginya dari orang-orang pilihan-Nya, dan mengeluarkannya dari hati ahli cinta-Nya, karena Dia tidak meridhainya untuk mereka.

Dan ia berkata: Zuhud dalam firman-Nya Ta’ala: “Agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian, dan tidak pula bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadid: 23) Maka orang zahid tidak bergembira dari dunia dengan yang ada dan tidak bersedih darinya atas yang hilang.

Yahya bin Mu’adz berkata: Zuhud melahirkan kedermawanan dengan kepemilikan, dan cinta melahirkan kedermawanan dengan ruh.

Ibnul Jalla berkata: Zuhud adalah memandang dunia dengan mata kehancuran, maka ia mengecil di matamu, sehingga mudah bagimu berpaling darinya.

Ibnu Khafif berkata: Zuhud adalah mendapatkan kenyamanan dalam keluar dari kepemilikan.

Dan ia juga berkata: Zuhud adalah hiburnya hati dari sebab-sebab, dan mengosongkan tangan dari kepemilikan.

Dikatakan: Ia adalah berpaling hati dari dunia tanpa dibuat-buat.

Al-Junaid berkata: Zuhud adalah kosongnya hati dari apa yang kosong darinya tangan.

Imam Ahmad berkata: Zuhud terhadap dunia adalah pendeknya angan-angan.

Dari beliau ada riwayat lain bahwa ia adalah tidak bergembira dengan datangnya dan tidak bersedih dengan perginya. Karena ia ditanya tentang laki-laki yang memiliki seribu dinar, apakah ia bisa menjadi zahid? Ia berkata: Ya, dengan syarat ia tidak bergembira apabila bertambah dan tidak bersedih apabila berkurang.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Ia adalah kepercayaan kepada Allah dengan cinta kemiskinan. Ini adalah perkataan Syaqiq dan Yusuf bin Asbath.

Abdul Wahid bin Zaid berkata: Zuhud adalah zuhud terhadap dunia dan dirham.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Meninggalkan apa yang menyibukkan dari Allah. Ini adalah perkataan Asy-Syibli.

Ruwaim bertanya kepada Al-Junaid tentang zuhud? Ia berkata: Meremehkan dunia dan menghapus bekas-bekasnya dari hati.

Dan dia berkata pada suatu waktu: Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan, dan hati dari kecenderungan mengikuti (dunia).

Dan Yahya bin Muadz berkata: Seseorang tidak akan mencapai hakikat zuhud hingga ada padanya tiga sifat: beramal tanpa keterikatan, berkata tanpa tamak, dan memiliki kehormatan tanpa kepemimpinan.

Dan dia juga berkata: Orang zahid menetesi hidungmu dengan cuka dan sawi, sedangkan orang yang mengenal Allah membaui kepadamu minyak kesturi dan ambar.

Dan dikatakan: Hakikat zuhud adalah zuhud terhadap diri sendiri. Ini adalah perkataan Dzunnun Al-Mishri.

Dan dikatakan: Zuhud adalah mendahulukan orang lain ketika berkecukupan, sedangkan futuwwah (kedermawanan) adalah mendahulukan orang lain ketika membutuhkan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Surat Al-Hasyr: 9)

Dan seorang laki-laki berkata kepada Yahya bin Muadz: Kapan aku dapat memasuki kedai tawakal, mengenakan pakaian orang-orang zahid, dan duduk bersama mereka? Maka dia menjawab: Jika kamu telah sampai dari melatih dirimu kepada suatu tingkatan di mana seandainya Allah memutuskan rezeki darimu selama tiga hari, dirimu tidak menjadi lemah. Adapun selama kamu belum mencapai tingkatan ini, maka dudukmu di permadani para zahid adalah kebodohan, kemudian aku tidak aman atasmu bahwa kamu akan mempermalukan diri.

Dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Zuhud ada tiga macam. Pertama, meninggalkan yang haram. Ini adalah zuhud orang awam. Kedua, meninggalkan kelebihan dari yang halal. Ini adalah zuhud orang-orang khusus. Ketiga, meninggalkan apa yang menyibukkan dari Allah. Ini adalah zuhud para arif.

Dan perkataan Imam Ahmad ini mencakup semua perkataan para masyayikh yang telah disebutkan sebelumnya, dengan tambahan perincian dan penjelasan tingkatan-tingkatannya. Ini termasuk perkataan yang paling komprehensif. Dan perkataan ini menunjukkan bahwa beliau semoga Allah meridhainya berada pada kedudukan paling tinggi dalam ilmu ini. Dan Al-Syafii rahimahullah telah bersaksi tentang kepemimpinan beliau dalam delapan hal, salah satunya adalah zuhud. Dan yang disepakati oleh para arif adalah bahwa zuhud adalah perjalanan hati dari tempat tinggal dunia, dan berangkatnya menuju tempat-tempat tinggal akhirat. Dan berdasarkan hal ini, para pendahulu menyusun kitab-kitab zuhud. Seperti Az-Zuhd karya Abdullah bin Al-Mubarak, dan karya Imam Ahmad, dan karya Wakii’, dan karya Hannad bin As-Sari, dan karya lainnya.

Dan yang berkaitan dengannya ada enam hal. Seorang hamba tidak berhak mendapat sebutan zuhud hingga dia berzuhud terhadapnya. Yaitu harta, rupa/bentuk, kepemimpinan, manusia, diri sendiri, dan setiap yang selain Allah.

Dan yang dimaksud bukan melepaskan semuanya dari kepemilikan. Karena Sulaiman dan Daud alaihimassalam termasuk orang paling zahid di zamannya. Dan keduanya memiliki harta, kerajaan, dan istri-istri. Dan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam termasuk orang paling zahid dari seluruh manusia secara mutlak. Dan beliau memiliki sembilan istri. Dan Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Az-Zubair, dan Utsman radhiyallahu anhum termasuk orang-orang zahid. Dengan harta yang mereka miliki. Dan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu anhu termasuk orang-orang zahid, meskipun dia termasuk umat yang paling banyak mencintai wanita dan menikahi mereka, dan paling kaya. Dan Abdullah bin Al-Mubarak termasuk imam-imam zahid, dengan harta yang banyak. Demikian juga Al-Laits bin Sa’d termasuk imam-imam zahid. Dan dia memiliki modal usaha yang dia katakan: Seandainya tidak ada modal ini, niscaya orang-orang ini akan merendahkan kita.

Dan di antara perkataan terbaik tentang zuhud adalah perkataan Al-Hasan atau selainnya: “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan bukan pula menyia-nyiakan harta. Tetapi bahwa kamu lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada yakinmu dengan apa yang ada di tanganmu, dan bahwa kamu lebih menginginkan pahala musibah – jika kamu ditimpa musibah – daripada keinginanmu terhadapnya seandainya kamu tidak ditimpa.” Maka ini termasuk perkataan paling komprehensif dan paling baik tentang zuhud. Dan telah diriwayatkan secara marfu (dari Nabi shallallahu alaihi wasallam).

Pasal: Perbedaan Pendapat Manusia tentang Zuhud

Pasal

Dan manusia telah berbeda pendapat tentang zuhud, apakah ia mungkin terjadi di zaman-zaman ini atau tidak?

Maka Abu Hafsh berkata: Zuhud tidak ada kecuali pada yang halal. Dan tidak ada yang halal di dunia, maka tidak ada zuhud. Dan orang-orang menentangnya dalam hal ini. Dan mereka berkata: Bahkan yang halal ada padanya. Dan padanya juga ada yang haram banyak sekali. Dan jika dianggap: tidak ada yang halal padanya, maka ini lebih menuntut untuk berzuhud padanya, dan mengambil darinya apa yang diambil orang yang terpaksa, seperti mengambil bangkai, darah, dan daging babi.

Dan Yusuf bin Asbath berkata: Seandainya sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki telah mencapai dalam zuhud kedudukan Abu Dzar, Abu Ad-Darda, Salman, Al-Miqdad, dan yang serupa dengan mereka dari kalangan sahabat radhiyallahu anhum, aku tidak akan mengatakannya zahid; karena zuhud tidak ada kecuali pada yang halal murni. Dan yang halal murni tidak ditemukan di zaman kita ini. Adapun yang haram, maka jika kamu melakukannya, Allah Azza wa Jalla akan menyiksamu.

Kemudian kelompok-kelompok ini berbeda pendapat tentang apa yang berkaitan dengan zuhud.

Maka sekelompok orang berkata: Zuhud hanyalah pada yang halal; karena meninggalkan yang haram adalah kewajiban.

Dan sekelompok orang berkata: Bahkan zuhud tidak ada kecuali pada yang haram. Adapun yang halal maka ia adalah nikmat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dan Allah menyukai untuk melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya. Maka mensyukuri-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, dan meminta pertolongan dengannya untuk ketaatan kepada-Nya, dan menjadikannya jalan menuju surga-Nya lebih utama daripada berzuhud padanya, dan meninggalkannya, dan menjauhi sebab-sebabnya.

Dan yang benar adalah bahwa jika nikmat-nikmat itu menyibukkannya dari Allah, maka berzuhud padanya lebih utama. Dan jika tidak menyibukkannya dari Allah, bahkan dia bersyukur kepada Allah padanya, maka keadaannya lebih utama. Dan zuhud padanya adalah membebaskan hati dari keterikatan dengannya, dan ketenangan kepadanya. Wallahu a’lam.

Pasal: Zuhud bagi Orang Awam dan bagi Murid

Pasal

Penulis kitab Al-Manazil berkata:

Zuhud adalah menghilangkan keinginan terhadap sesuatu secara total.

Yang dimaksud dengan sesuatu yang dizuhudinya adalah apa yang selain Allah. Dan menghilangkannya darinya adalah menghilangkannya dari hati dan menghilangkan keterikatan keinginan dengannya.

Dan perkataannya: secara total; artinya sehingga tidak menoleh kepadanya, dan tidak rindu kepadanya.

Dia berkata: Dan zuhud bagi orang awam adalah kedekatkan. Dan bagi murid adalah keharusan. Dan bagi orang khusus adalah ketakutan.

Artinya bahwa orang awam mendekatkan diri dengannya kepada Allah. Dan kedekatkan adalah sesuatu yang dengannya orang yang mendekatkan diri mendekat kepada kekasihnya. Dan zuhud adalah keharusan bagi murid; karena dia tidak akan mendapatkan kekosongan (untuk menghadap Allah) dengan apa yang sedang dia jalani, kecuali dengan menghilangkan keinginan pada selain yang dia tuju. Maka dia terpaksa untuk berzuhud, seperti keperluannya pada makanan dan minuman. Karena keterikatan dengan selain yang dia tuju pasti mengakibatkan baginya hijab, atau perhentian, atau kemunduran, sesuai dengan jauhnya sesuatu itu dari yang dia tuju, dan kuatnya keterikatan dengannya atau lemahnya.

Dan zuhud hanya menjadi ketakutan bagi orang khusus karena mereka takut terhadap apa yang telah mereka peroleh berupa kedekatkan dan ketenangan dengan Allah, dan kenikmatan mata mereka dengan-Nya, akan menjadi keruh kemurniannya dengan berpaling mereka kepada selain Allah. Maka zuhud mereka adalah ketakutan dan kekhawatiran.

Tingkatan-Tingkatan Zuhud

Tingkatan Pertama: Zuhud pada Syubhat

Dia berkata: Dan zuhud ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: zuhud pada syubhat. Setelah meninggalkan yang haram dengan berhati-hati dari teguran, dan penghormatan diri dari kekurangan, dan tidak suka menyerupai orang-orang fasik.

Adapun zuhud pada syubhat, maka ia adalah meninggalkan apa yang meragukan hamba apakah ia halal atau haram, sebagaimana dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Tidak mengetahuinya banyak dari manusia. Barangsiapa menjaga diri dari syubhat maka dia telah menjaga diri dari yang haram. Dan barangsiapa jatuh dalam syubhat maka dia jatuh dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan. Dia hampir saja menggembalakan di dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki tanah larangan. Ketahuilah bahwa tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad karenanya. Dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad karenanya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

Maka syubhat adalah penghalang antara yang halal dan yang haram. Dan Allah Azza wa Jalla telah menjadikan antara setiap dua hal yang berlawanan suatu penghalang, sebagaimana Dia menjadikan kematian dan apa yang setelahnya sebagai penghalang antara dunia dan akhirat. Dan menjadikan kemaksiatan sebagai penghalang antara iman dan kufur. Dan menjadikan Al-A’raf sebagai penghalang antara surga dan neraka.

Dan demikian juga Dia menjadikan antara setiap dua tempat dari tempat-tempat manasik haji suatu penghalang pemisah antara keduanya yang bukan dari ini dan bukan dari itu. Maka Muhassir adalah penghalang antara Mina dan Muzdalifah, bukan dari salah satu dari keduanya, maka jamaah haji tidak bermalam di sana malam Jam’ (Muzdalifah), dan tidak pula malam-malam Mina. Dan lembah Arafah adalah penghalang antara Arafah dan tanah haram. Maka ia bukan dari tanah haram dan bukan dari Arafah. Dan demikian juga antara terbit fajar dan terbit matahari adalah penghalang antara malam dan siang. Bukan dari malam, karena telah habis dengan terbit fajar. Dan bukan dari siang karena siang dimulai dari terbit matahari. Meskipun ia masuk dalam sebutan hari secara syariat.

Dan demikian juga tempat-tempat tinggal dalam perjalanan, antara setiap dua tempat tinggal ada penghalang yang diketahui oleh musafir yang berjalan di tempat-tempat tinggal itu. Dan banyak dari keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi yang datang menjadi penghalang, lalu pemiliknya mengiranya sebagai tujuan akhir. Dan tidak terlepas dari ini kecuali para ahli fikih jalan (tarekat), dan para ulama yang menjadi pembimbing padanya.

Dan perkataannya: setelah meninggalkan yang haram; artinya meninggalkan syubhat tidak terjadi kecuali setelah meninggalkan yang haram.

Dan perkataannya: dengan berhati-hati dari teguran, artinya bahwa sebab meninggalkannya syubhat adalah kehati-hatian dari tertuju teguran Allah kepadanya.

Dan perkataannya: dan penghormatan diri dari kekurangan; artinya dia menghormati dirinya dari kekurangannya di sisi Tuhannya, dan jatuhnnya dari pandangan-Nya. Bukan penghormatan diri dari kekurangannya di sisi manusia, dan jatuhnnya dari pandangan mereka. Meskipun hal itu tidak tercela, bahkan ia juga terpuji. Tetapi yang tercela adalah bahwa penghormatan dirinya hanya dari manusia, dan dia tidak menghormati diri dari Allah.

Dan perkataannya: dan tidak suka menyerupai orang-orang fasik; artinya bahwa orang-orang fasik berdesakan di tempat-tempat keinginan terhadap dunia. Dan tempat-tempat itu penuh sesak dengan desakan mereka. Maka orang zahid menghormati dirinya dari menyerupai mereka di tempat-tempat itu. Dan meninggikan dirinya darinya, karena rendahnya rekan-rekannya padanya, sebagaimana dikatakan kepada sebagian mereka: Apa yang membuatmu berzuhud di dunia? Dia berkata: Sedikitnya kesetiaannya, banyaknya kekerasannya, dan rendahnya rekan-rekannya.

Jika aku tidak meninggalkan air karena menjaga diri Aku tinggalkan karena banyaknya sekutu di dalamnya Jika lalat jatuh di atas makanan Aku mengangkat tanganku padahal diriku menginginkannya Dan singa-singa menghindari datang ke air Jika anjing-anjing menjilat di dalamnya

Tingkatan Kedua: Zuhud pada Kelebihan

Dia berkata: Tingkatan kedua: zuhud pada kelebihan. Yaitu apa yang lebih dari pegangan dan kecukupan dari makanan pokok, dengan memanfaatkan kekosongan untuk memakmurkan waktu. Dan mengurangi goncangan jiwa, dan berhias dengan hiasan para nabi dan para shiddiqin.

Kelebihan adalah apa yang melebihi kadar kebutuhan. Sedangkan kebutuhan pokok adalah apa yang menahan jiwa dari makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pernikahan jika memang membutuhkannya. Adapun cukup sekedarnya adalah yang cukup dari semua itu, yang digunakan musafir untuk membekali perjalanannya. Maka hendaklah bersikap zuhud terhadap yang lebih dari itu, untuk memanfaatkan waktu luangnya guna memakmurkan waktunya.

Ketika zuhud bagi ahli tingkat pertama adalah karena takut akan celaan dan waspada dari kekurangan, maka zuhud bagi ahli tingkat ini lebih tinggi dan lebih mulia. Yaitu memanfaatkan waktu luang untuk memakmurkan waktu-waktu mereka bersama Allah; karena apabila ia sibuk dengan kelebihan dunia, maka akan hilang bagiannya untuk memanfaatkan kesempatan waktu. Waktu adalah pedang, jika engkau tidak memotongnya maka ia akan memotongmu.

Memakmurkan waktu adalah dengan sibuk di setiap saat-saatnya dengan apa yang mendekatkan kepada Allah, atau yang membantu untuk itu berupa makanan, minuman, pernikahan, tidur, atau istirahat. Karena jika ia melakukannya dengan niat untuk mendapat kekuatan dalam melakukan apa yang Allah cintai dan menjauhi apa yang membuatNya murka, maka itu termasuk memakmurkan waktu, meskipun ia merasakan kenikmatan sempurna di dalamnya, jangan kira memakmurkan waktu itu dengan meninggalkan kenikmatan dan hal-hal yang baik.

Maka seorang kekasih yang benar terkadang perjalanan batinnya ketika makan, minum, berhubungan dengan istrinya dan beristirahat, lebih kuat daripada perjalanan lahiriahnya dalam beberapa keadaan.

Telah diceritakan dari sebagian mereka bahwa ia mengalami kondisi—ketika sedang bersetubuh dengan istrinya—yang tidak ia alami dalam kondisi lain.

Dan ini memiliki sebab yang benar, yaitu berkumpulnya kekuatan jiwa dan tidak menoleh pada sesuatu pun pada saat itu, disertai dengan kegembiraan dan kesenangan yang diperolehnya. Kegembiraan mengingatkan pada kegembiraan, dan kenikmatan mengingatkan pada kenikmatan. Maka bangkitlah ruh dari kegembiraan dan kenikmatan itu menuju sesuatu yang tidak ada perbandingan antara keduanya dengan berkumpulnya kekuatan, semangat, dan terputusnya sebab-sebab penolakan pandangan, maka hal itu menghasilkan kondisi yang menakjubkan.

Jangan terburu-buru mengingkarinya. Lihatlah ke hatimu ketika datangnya sesuatu yang paling dicintainya dalam keadaan ini, bagaimana engkau melihatnya? Demikian pula keadaan orang lain.

Tidak diragukan bahwa jiwa jika memperoleh bagian yang baik dari dunia, ia akan kuat karenanya dan bergembira, dan terkumpul kekuatan-kekuatannya dan kesatuannya, serta hilang perpecahannya.

Ya Allah ampunilah, karena pena telah melampaui batas dan kata-kata telah berlebihan, maka aku berlindung kepadaMu ya Allah dari murkaMu.

Adapun menenangkan hati adalah memutuskan kegoncangan hati yang berkaitan dengan sebab-sebab dunia, baik keinginan maupun ketakutan, cinta dan benci, serta usaha. Maka tidak akan benar zuhud bagi seorang hamba hingga ia memutuskan kegoncangan ini dari hatinya, dengan tidak menoleh padanya dan tidak tergantung padanya dalam dua keadaan: ketika bersentuhan dengannya maupun meninggalkannya. Karena zuhud adalah zuhud hati, bukan zuhud meninggalkannya dari tangan dan anggota tubuh lainnya. Ia adalah kosongnya hati darinya, bukan kosongnya tangan darinya.

Adapun berhias dengan hiasan para Nabi dan orang-orang yang sangat membenarkan, maka mereka adalah ahli zuhud dalam dunia sesungguhnya, karena mereka bersungguh-sungguh menuju ilmu yang telah ditinggikan bagi mereka selain dunia. Maka mereka adalah orang-orang zuhud, meskipun mereka bersentuhan dengannya.

Pasal: Tingkat Ketiga adalah Zuhud terhadap Zuhud

Ia berkata: Tingkat ketiga adalah zuhud terhadap zuhud. Yaitu dengan tiga hal: meremehkan apa yang engkau tinggalkan, kesamaan kondisi-kondisi tentangnya di sisimu, dan tidak menyaksikan perolehan, dengan melihat ke lembah hakikat-hakikat.

Syaikh telah menafsirkan maksudnya tentang zuhud terhadap zuhud dengan tiga hal.

Pertama: meremehkan apa yang ditinggalkannya. Karena orang yang hatinya dipenuhi dengan cinta Allah dan pengagungan kepadaNya tidak melihat bahwa apa yang ia tinggalkan untuk Allah dari dunia layak untuk dijadikan persembahan; karena dunia seluruhnya tidak sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk. Maka orang yang mengenal tidak melihat zuhudnya pada dunia sebagai perkara besar yang diperhitungkan dan diperhatikan, sehingga ia malu—jika zuhudnya benar—untuk memberikan nilai pada apa yang ditinggalkannya untuk Allah dan memperhatikan zuhudnya padanya, bahkan ia sirna dari zuhudnya padanya sebagaimana ia sirna darinya, dan malu menyebutkannya dengan lisannya dan menyaksikannya dengan hatinya.

Adapun kesamaan kondisi-kondisi tentangnya di sisinya adalah bahwa ia melihat meninggalkan apa yang ia tinggalkan dan mengambilnya sama di sisinya, karena tidak ada nilai baginya di sisinya. Dan ini termasuk dari hal-hal halus dari fiqih zuhud. Maka ia menjadi zuhud dalam keadaan mengambilnya, sebagaimana ia zuhud dalam keadaan meninggalkannya, karena cita-citanya lebih tinggi daripada memperhatikan pengambilan dan peninggalannya, karena kecilnya di matanya.

Adapun tidak menyaksikan perolehan, maknanya adalah bahwa orang yang meremehkan dunia dengan hatinya dan sama kondisi-kondisi dalam mengambil dan meninggalkannya di sisinya, tidak melihat bahwa ia memperoleh tingkatan di sisi Allah dengan meninggalkannya sama sekali; karena dunia terlalu kecil di matanya untuk melihat bahwa ia memperoleh tingkatan-tingkatan dengan meninggalkannya.

Dan di dalamnya ada makna lain, yaitu bahwa ia menyaksikan ketunggalan Allah Azza wa Jalla dalam memberi dan mencegah. Maka ia tidak melihat bahwa ia meninggalkan sesuatu atau mengambil sesuatu, bahkan Allah sendirilah yang Maha Memberi dan Maha Mencegah. Maka apa yang diambilnya adalah sebagai saluran pemberian Allah kepadanya, seperti saluran air di sungai. Dan apa yang ditinggalkannya untuk Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang mencegahnya darinya. Maka dengan menyaksikan Sang Pelaku sendirilah, ia sirna dari menyaksikan perbuatan dan peninggalannya. Jika ia melihat segala sesuatu dengan mata kesatuan dan berjalan di lembah hakikat, ia sirna dari menyaksikan perolehannya. Ini adalah makna dari perkataannya: melihat ke lembah hakikat-hakikat. Dan ini adalah makna yang paling sesuai dengan perkataannya. Inilah zuhud para khawas. Seorang penyair berkata: Jika engkau membuat aku zuhud dalam cinta karena takut kebinasaan, maka tampak bagiku wajah yang membuat zuhud terhadap zuhud

Pasal: Tingkatan Wara’

Hakikat Wara’

Pasal: Tingkatan Wara’

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah, ayat 5) adalah tingkatan wara’.

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Surat Al-Mu’minun, ayat 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan pakaianmu, bersihkanlah” (Surat Al-Muddatstsir, ayat 4). Qatadah dan Mujahid berkata: bersihkan dirimu dari dosa. Maka ia mengkinayahkan diri dengan pakaian. Ini adalah pendapat Ibrahim An-Nakha’i, Adh-Dhahhak, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, dan para muhakkik dari ahli tafsir. Ibnu Abbas berkata: jangan memakainya dalam kemaksiatan atau pengkhianatan. Kemudian ia berkata: tidakkah engkau mendengar perkataan Ghailan bin Salamah Ats-Tsaqafi:

Dan aku—dengan pujian kepada Allah—tidak memakai pakaian pengkhianat dan tidak berselimut dengan pengkhianatan

Dan orang Arab mengatakan dalam menggambarkan seseorang dengan kejujuran dan kesetiaan: bersih pakaiannya. Dan mereka mengatakan kepada pengkhianat dan orang jahat: najis pakaiannya. Dan Ubay bin Ka’ab berkata: jangan memakainya dengan pengkhianatan, kezaliman dan dosa. Tetapi pakailah ia dan engkau berbuat baik dan suci. Adh-Dhahhak berkata: amalimu, maka perbaikilah. As-Sa’di berkata: dikatakan kepada seseorang jika ia saleh: sesungguhnya ia bersih pakaiannya. Dan jika ia jahat: sesungguhnya ia buruk pakaiannya. Sa’id bin Jubair berkata: dan hatimu serta rumahmu, bersihkanlah. Al-Hasan dan Al-Qardhi berkata: dan akhlakmu, perbaikilah.

Ibnu Sirin dan Ibnu Zaid berkata: diperintahkan untuk membersihkan pakaian dari najis-najis yang tidak sah shalat bersamanya; karena orang-orang musyrik tidak bersuci dan tidak membersihkan pakaian mereka.

Thawus berkata: dan pakaianmu, pendekkan; karena memendekkan pakaian adalah kesucian baginya.

Pendapat pertama adalah yang paling benar dari semua pendapat.

Tidak diragukan bahwa membersihkannya dari najis dan memendekkannya termasuk dari kesucian yang diperintahkan, karena dengannya sempurnalah perbaikan amal dan akhlak; karena najis lahir menghasilkan najis batin. Dan karena itu diperintahkan kepada orang yang berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla untuk menghilangkannya dan menjauh darinya.

Dan yang dimaksud adalah bahwa wara’ membersihkan kotoran hati dan najisnya, sebagaimana air membersihkan kotoran pakaian dan najisnya. Dan antara pakaian dan hati ada kesesuaian yang jelas dan tersembunyi. Karena itu pakaian seseorang dalam mimpi menunjukkan hatinya dan kondisinya. Dan masing-masing mempengaruhi yang lain. Karena itu dilarang memakai sutra dan emas, serta kulit binatang buas, karena mempengaruhi hati dengan kondisi yang bertentangan dengan penghambaan dan kekhusyukan. Pengaruh hati dan jiwa pada pakaian adalah perkara tersembunyi yang diketahui oleh ahli bashirah dari kebersihannya, kotornya, baunya, keindahannya dan kusamnya, hingga sesungguhnya pakaian orang baik dapat dikenali dari pakaian orang jahat, padahal keduanya tidak dipakainya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumpulkan wara’ semuanya dalam satu kalimat. Beliau bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”. Ini mencakup meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dari perkataan, pandangan, pendengaran, tindakan, berjalan, pikiran, dan seluruh gerakan lahir dan batin. Maka kalimat ini cukup dan menyembuhkan dalam wara’.

Ibrahim bin Adham berkata: Wara’ adalah meninggalkan setiap syubhat, dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagimu adalah meninggalkan kelebihan. Dan dalam Tirmidzi secara marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Abu Hurairah, jadilah wara’, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling banyak ibadahnya”.

Asy-Syibli berkata: Wara’ adalah berwara’ dari segala sesuatu selain Allah. Ishaq bin Khalaf berkata: Wara’ dalam perkataan lebih berat daripada dalam emas dan perak, dan zuhud dalam kepemimpinan lebih berat daripada dalam emas dan perak, karena keduanya dikeluarkan dalam mencari kepemimpinan.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Wara’ adalah awal zuhud, sebagaimana qana’ah adalah awal ridha.

Yahya bin Mu’adz berkata: Wara’ adalah berdiri pada batas ilmu tanpa takwil. Dan ia berkata: Wara’ ada dua wajah: wara’ lahir dan wara’ batin. Wara’ lahir adalah tidak bergerak kecuali untuk Allah, dan wara’ batin adalah tidak memasukkan ke dalam hatimu selain Dia. Dan ia berkata: Barangsiapa tidak melihat pada wara’ yang halus, tidak akan sampai pada pemberian yang agung.

Dikatakan: Wara’ adalah keluar dari syahwat dan meninggalkan kejahatan.

Dikatakan: Barangsiapa halus wara’nya—atau pandangannya—di dunia, maka agung kedudukannya di hari kiamat.

Yunus bin ‘Ubaid berkata: Wara’ adalah keluar dari setiap syubhat dan menghisab diri dalam setiap kedipan mata.

Dan berkata Sufyan ats-Tsauri: Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara’, apa yang mengganjal di hatimu maka tinggalkanlah.

Dan berkata Sahl: Halal itu adalah sesuatu yang tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah, dan yang paling bersih darinya adalah yang tidak membuat lupa kepada Allah. Dan al-Hasan bertanya kepada seorang budak muda. Lalu ia berkata kepadanya: Apakah tiang agama? Ia menjawab: Wara’. Berkata lagi: Lalu apa cacatnya? Ia menjawab: Tamak. Maka al-Hasan heran terhadapnya.

Dan berkata al-Hasan: Seberat dzarrah dari wara’ lebih baik daripada seribu mitsqal dari puasa dan shalat.

Dan berkata Abu Hurairah: Para teman duduk bersama Allah besok adalah para ahli wara’ dan zuhud.

Dan berkata sebagian salaf: Tidak mencapai seorang hamba hakikat takwa hingga ia meninggalkan apa yang tidak mengapa demi kehati-hatian dari apa yang mengapa (bermasalah).

Dan berkata sebagian sahabat: Kami meninggalkan tujuh puluh pintu dari yang halal karena takut jatuh ke dalam pintu dari yang haram.

[Pasal: Definisi Wara’ Menurut Ibnu al-Qayyim]

Pasal

Berkata penulis Manazil:

Wara’ adalah kehati-hatian yang menyeluruh atas dasar kewaspadaan, dan sikap berhati-hati atas dasar pengagungan.

Maksudnya adalah berhati-hati dari yang haram dan syubhat, dan apa yang dikhawatirkan akan membahayakannya sejauh yang ia mampu untuk berhati-hati; karena kehati-hatian (at-tawaqi) dan kewaspadaan (al-hadzar) keduanya berdekatan. Hanya saja kehati-hatian adalah perbuatan anggota badan, sedangkan kewaspadaan adalah perbuatan hati. Maka terkadang seorang hamba berhati-hati dari sesuatu bukan atas dasar waspada dan takut, tetapi karena perkara-perkara lain seperti menampakkan kehormatan diri, harga diri dan tasawuf, atau tujuan lain, seperti kehati-hatian orang-orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan, tidak kepada surga dan tidak kepada neraka terhadap apa yang mereka hindari dari perbuatan-perbuatan keji dan hina, menjaga diri darinya, dan keinginan memuliakan diri mereka dari mengerjakannya, serta mencari pujian, dan semacam itu.

Dan ucapannya: “Atau sikap berhati-hati atas dasar pengagungan” maksudnya bahwa pendorong kepada wara’ dari hal-hal yang diharamkan dan syubhat adalah antara kehati-hatian akan datangnya ancaman, atau pengagungan terhadap Rabb jalla jalaluhu, dan pengagungan kepada-Nya bahwa ia terjerumus ke dalam apa yang dilarang-Nya.

Maka wara’ dari kemaksiatan adalah: antara ketakutan, atau pengagungan. Dan cukup dengan menyebutkan pengagungan dari menyebutkan kecintaan yang mendorong untuk meninggalkan kemaksiatan kepada yang dicintai; karena itu tidak ada kecuali bersama pengagungan terhadapnya. Bahkan jika hati kosong dari pengagungan terhadapnya, tidak mesti kecintaannya menuntut meninggalkan penyelisihannya; seperti kecintaan manusia kepada anaknya, budaknya dan budak perempuannya. Maka jika disertai dengan pengagungan, wajib meninggalkan penyelisihan.

Berkata: Dan itu adalah tingkatan terakhir dari zuhud bagi orang awam, dan tingkatan pertama dari zuhud bagi murid.

Maksudnya bahwa kehati-hatian dan sikap berhati-hati ini – dengan sifat kewaspadaan dan pengagungan – adalah puncak dari zuhud orang awam, dan permulaan dari zuhud murid. Dan hanya demikian karena wara’ – sebagaimana telah lewat – adalah awal zuhud dan rukunnya, dan zuhud murid di atas zuhud orang awam. Dan puncak orang awam adalah permulaan murid. Maka puncak tingkatan ini adalah permulaan tingkatan ini. Jika wara’ orang awam sampai pada puncaknya, menjadilah zuhud. Dan itu adalah awal wara’ murid.

[Tingkatan-tingkatan Wara’]

[Tingkatan Pertama: Menjauhi Perbuatan-perbuatan Buruk untuk Menjaga Diri]

Berkata: Dan itu terdiri atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Menjauhi perbuatan-perbuatan buruk untuk menjaga diri, memperbanyak kebaikan, dan memelihara iman.

Ini adalah tiga faedah dari faedah-faedah menjauhi perbuatan-perbuatan buruk.

Salah satunya: Menjaga diri. Yaitu memelihara dan melindunginya dari apa yang mencemarkannya, mencacatnya dan merendahkannya di sisi Allah azza wa jalla, malaikat-malaikat-Nya, hamba-hamba-Nya yang beriman dan seluruh makhluk-Nya. Maka barangsiapa yang dirinya mulia baginya dan besar di sisinya, ia menjaga dan melindunginya, mensucikan dan meninggikannya, dan menempatkannya di tempat yang paling tinggi. Dan bersaing dengannya dengan para ahli keteguhan dan kesempurnaan. Dan barangsiapa yang dirinya hina baginya dan kecil di sisinya, ia melemparkannya ke dalam keburukan-keburukan, melepaskan tali kekangnya, mengendurkan kendalinya. Dan menyembunyikannya dan tidak menjaganya dari keburukan. Maka paling sedikit yang ada dalam menjauhi perbuatan-perbuatan buruk adalah: menjaga diri.

Adapun memperbanyak kebaikan maka dari dua sisi:

Salah satunya: Memperbanyak waktunya untuk memperoleh kebaikan. Maka jika ia sibuk dengan perbuatan-perbuatan buruk, berkurang baginya kebaikan-kebaikan yang ia siap untuk mendapatkannya.

Dan yang kedua: Memperbanyak kebaikan-kebaikan yang telah dikerjakan dari kekurangannya dengan ditimbang oleh keburukan-keburukan dan hilangnya, sebagaimana telah lewat dalam tingkatan taubat bahwa keburukan-keburukan terkadang menghilangkan kebaikan-kebaikan, dan terkadang menyerapnya secara keseluruhan atau menguranginya. Maka tidak bisa tidak bahwa ia melemahkannya pasti, maka menjauhkannya memperbanyak catatan kebaikan-kebaikan. Dan itu seperti orang yang memiliki harta yang sudah ada. Maka jika ia berhutang atasnya, maka antara hutang itu menyerapnya atau memperluasnya atau menguranginya, maka begitulah kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan sama saja. Adapun memelihara iman maka sesungguhnya iman menurut seluruh Ahlus Sunnah bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan telah menghikayatkannya asy-Syafi’i dan selainnya dari para Sahabat dan Tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Dan pelemahannya kemaksiatan-kemaksiatan terhadap iman adalah perkara yang diketahui dengan pengalaman dan kenyataan. Maka sesungguhnya hamba – sebagaimana datang dalam hadits – “Jika ia berbuat dosa, ditotolkan di hatinya totolan hitam. Maka jika ia bertaubat dan beristighfar, dibersihkanlah hatinya. Dan jika ia kembali lalu berdosa, ditotolkan padanya totolan lain, hingga menutupi hatinya. Dan itulah ar-Ran (karat) yang Allah ta’ala berfirman: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (al-Muthaffifin: 14). Maka perbuatan-perbuatan buruk menghitamkan hati, dan memadamkan cahayanya. Dan iman adalah cahaya di dalam hati. Dan perbuatan-perbuatan buruk menghilangkannya atau menguranginya pasti. Maka kebaikan-kebaikan menambah cahaya hati. Dan keburukan-keburukan memadamkan cahaya hati. Dan telah mengkhabarkan Allah azza wa jalla bahwa perolehan hati-hati adalah sebab untuk ar-Ran (karat) yang menutupinya. Dan mengkhabarkan bahwa Dia telah membalikkan orang-orang munafik karena apa yang mereka perbuat. Maka Dia berfirman: Dan Allah telah membalikkan mereka karena dosa-dosa mereka (an-Nisa: 88). Dan mengkhabarkan bahwa pelanggaran janji yang Dia ambil atas hamba-hamba-Nya adalah sebab untuk pengerasan hati. Maka Dia berfirman: Maka disebabkan mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya (al-Ma’idah: 13). Maka Dia menjadikan dosa pelanggaran sebagai penyebab timbulnya akibat-akibat ini dari pengerasan hati, kutukan, pengubahan perkataan, dan melupakan ilmu.

Maka kemaksiatan-kemaksiatan bagi iman seperti penyakit dan demam bagi kekuatan, sama saja. Dan karena itu berkata para salaf: Kemaksiatan-kemaksiatan adalah kurir kekufuran, sebagaimana demam adalah kurir kematian.

Maka iman pelaku perbuatan-perbuatan buruk seperti kekuatan orang sakit sesuai dengan kekuatan penyakit dan kelemahannya.

Dan tiga perkara ini – yaitu menjaga diri, memperbanyak kebaikan, dan memelihara iman – adalah lebih tinggi dari pendorong orang awam kepada wara’; karena pemiliknya lebih tinggi cita-citanya, karena ia beramal atas penyucian dirinya dan menjaganya, dan mempersiapkannya untuk sampai kepada Rabbnya. Maka ia menjaganya dari apa yang mencemarkannya di sisi-Nya, dan menghalanginya dari-Nya. Dan menjaga kebaikan-kebaikannya dari apa yang menjatuhkannya dan melemahkannya; karena ia berjalan dengannya kepada Rabbnya, dan mencari dengan itu keridaan-Nya. Dan memelihara imannya kepada Rabbnya dari kecintaannya kepada-Nya, dan pengesaan-Nya, dan pengenalan-Nya kepada-Nya, dan pengawasan-Nya kepada-Nya dari apa yang memadamkan cahayanya, menghilangkan keindahannya, dan melemahkan kekuatannya.

Berkata asy-Syaikh:

“Dan ketiga sifat ini: adalah dalam tingkatan pertama dari wara’ para murid. Maksudnya bahwa bagi para murid ada dua tingkatan lain dari wara’ di atas ini. Kemudian ia menyebutkannya lalu berkata:

[Tingkatan Kedua: Menjaga Batasan-batasan pada Apa yang Tidak Mengapa]

Menjaga batasan-batasan pada apa yang tidak mengapa, mempertahankan kehormatan diri dan takwa, naik dari kehinaan, dan terbebas dari menerobos batasan-batasan.

Ia berkata: Sesungguhnya barangsiapa naik dari tingkatan pertama ke tingkatan wara’ ini, ia meninggalkan banyak dari apa yang tidak mengapa dari yang mubah, mempertahankan kehormatannya, dan takut atasnya bahwa keruhnya akan keruh dan cahayanya padam. Maka sesungguhnya banyak dari yang mubah mengotori kejernihan kehormatan diri, menghilangkan keindahannya, memadamkan cahayanya, dan memudarkan keindahan dan kecantikannya.

Dan berkata kepadaku suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – quddisa Allahu ruhahu – dalam sesuatu dari yang mubah: Ini bertentangan dengan martabat-martabat yang tinggi, walaupun meninggalkannya bukan syarat dalam keselamatan. Atau semacam ucapan ini.

Maka orang yang arif meninggalkan banyak dari yang mubah mempertahankan kehormatannya. Dan terutama jika yang mubah itu adalah perantara antara halal dan haram, maka sesungguhnya di antara keduanya ada perantara – sebagaimana telah lewat – maka meninggalkannya bagi pemilik tingkatan ini seperti yang pasti yang tidak bisa tidak darinya karena bertentangan dengan tingkatannya.

Dan perbedaan antara pemilik tingkatan pertama dan pemilik ini: bahwa yang itu berusaha dalam mendapatkan kehormatan diri. Dan yang ini berusaha dalam menjaga kejernihannya agar tidak keruh, dan cahayanya agar tidak padam dan hilang. Dan itu makna ucapannya: Mempertahankan kehormatan diri.

Adapun naik dari kehinaan maka adalah mengangkat diri dari jalan-jalan dan perbuatan-perbuatannya.

Adapan terbebas dari menerobos batasan-batasan, maka batasan-batasan adalah batas-batas akhir. Dan adalah pemisah-pemisah halal dan haram. Maka di mana ia terputus dan berakhir, maka itulah batasnya. Maka barangsiapa menerobosnya, jatuh dalam kemaksiatan. Dan telah melarang Allah ta’ala dari melampaui batasan-batasan-Nya dan mendekatinya. Maka Dia berfirman: Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya (al-Baqarah: 187).

Dan berfirman: Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kamu melampauinya (al-Baqarah: 229). Maka sesungguhnya batasan-batasan dimaksudkan dengannya ujung-ujung halal. Dan di mana melarang dari mendekati maka batasan-batasan di sana: awal-awal haram.

Dia subhanahu berfirman: Janganlah kamu melampaui apa yang Aku halalkan bagimu, dan janganlah kamu mendekati apa yang Aku haramkan atasmu.

Maka wara’ membebaskan hamba dari mendekati ini dan melampaui ini. Dan itulah menerobos batasan-batasan.

[Tingkatan Ketiga: Berwara’ dari Setiap Ajakan yang Mengajak kepada Terseraknya Waktu]

Dan berkata: Tingkatan ketiga: Berwara’ dari setiap ajakan yang mengajak kepada terseraknya waktu, keterikatan dengan perpecahan, dan penghalang yang menghalangi keadaan jam’u (terkumpul).

Perbedaan antara terseraknya waktu, dan keterikatan dengan perpecahan: seperti perbedaan antara sebab dan yang disebabkan, dan peniadaan dan penetapan. Maka sesungguhnya waktunya tersebar. Maka ia tidak menemukan jalan lain kecuali terikat dengan selain tujuan yang benar. Karena tidak ada peniadaan dalam jiwa dan tidak dalam keinginan. Maka barangsiapa yang Allah bukan tujuannya, ia menginginkan selain-Nya.

Dan barangsiapa yang bukan Dia sendiri yang disembahnya, ia menyembah selain-Nya. Dan barangsiapa yang bukan amalannya untuk Allah maka tidak bisa tidak bahwa ia beramal untuk selain-Nya. Dan telah lewat ini.

Maka orang yang ikhlas, Allah menjaganya dengan beribadah kepada-Nya sendiri, dan menginginkan wajah-Nya dan takut kepada-Nya sendiri, dan mengharap kepada-Nya sendiri, dan meminta kepada-Nya, dan merendah kepada-Nya, dan memerlukan kepada-Nya sendiri.

Dan hanya demikian ini lebih tinggi dari tingkatan kedua: karena para pemiliknya sibuk dengan menjaga kehormatan diri dari keruh dan memperhatikannya. Dan itu menurut ahli tingkatan ketiga: perpecahan dari Yang Hak. Dan kesibukan dari mengawasi-Nya dengan keadaan diri-diri mereka. Maka adab ahli ini adab hadir, dan adab mereka adab ghaib.

Adapun “Berwara’ dari setiap keadaan yang menghalangi keadaan jam’u (terkumpul)”.

Maka maknanya bahwa hamba tenggelam dalam penyaksian fananya dalam tauhid, dan keterkumpulannya pada Allah ta’ala padanya dari setiap keadaan yang menghalangi fana dan keterkumpulan ini.

Dan ini menurut asy-Syaikh ketika ia adalah tujuan yang tidak ada tuntutan setelahnya, ia menjadikan setiap keadaan yang menghalanginya dan memutus darinya sebagai kurang dengan perbandingannya. Maka keinginan darinya adalah wara’ pemiliknya. Dan sungguh kamu telah mengetahui apa yang ada padanya. Dan bahwa di atas ini ada tingkatan yang lebih tinggi darinya dan lebih luhur. Dan adalah berwara’ dari setiap kesenangan yang menyaingi kehendak-Nya darimu, walaupun kesenangan itu adalah fana dan keterkumpulan, atau apapun itu. Dan telah kami jelaskan bahwa fana dan keterkumpulan adalah kesenangan hamba. Dan bahwa hak Rabb di belakang itu. Dan adalah kekal dengan kehendak-Nya bercerai dan berkumpul dengan-Nya dan untuk-Nya.

Dan atas ini maka wara’ khusus: Berwara’ dari setiap keadaan yang menghalangi keadaan melaksanakan perintah, dan kekal dengannya bercerai dan berkumpul. Dan Allah-lah yang dimintai pertolongan.

[Pasal: Ketakutan Menghasilkan Wara’]

Pasal

Ketakutan menghasilkan wara’, meminta pertolongan, dan memendekkan angan-angan. Dan kekuatan iman kepada pertemuan menghasilkan zuhud. Dan ma’rifat menghasilkan kecintaan, ketakutan, dan harapan. Dan qana’ah menghasilkan ridha. Dan dzikir menghasilkan hidupnya hati.

Dan iman kepada takdir menghasilkan tawakal. Dan senantiasa merenungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah menghasilkan makrifat. Dan warak menghasilkan zuhud juga. Dan taubat menghasilkan mahabbah (kecintaan) juga, dan senantiasa berdzikir menghasilkannya. Dan ridha menghasilkan syukur. Dan tekad yang kuat serta kesabaran keduanya menghasilkan semua keadaan dan tingkatan. Dan ikhlas serta kejujuran, masing-masing menghasilkan yang lain dan mengharuskannya. Dan makrifat menghasilkan akhlak. Dan berfikir menghasilkan tekad yang kuat. Dan muraqabah (merasa diawasi Allah) menghasilkan pemakmurkan waktu, menjaga hari-hari, dan malu, serta khasyah (takut kepada Allah) dan inabah (kembali kepada Allah). Dan mematikan hawa nafsu, menghinakannya dan mematahkannya akan melahirkan kehidupan hati, kemuliaan dan kekuatannya. Dan mengenal diri serta membencinya akan melahirkan rasa malu kepada Allah azza wa jalla, dan menganggap banyak apa yang dari-Nya, serta menganggap sedikit ketaatan yang datang darimu. Dan menghapus jejak pengakuan (diri) dari hati dan lisan, serta kesehatan bashirah (mata hati) menghasilkan keyakinan. Dan baik dalam merenungkan apa yang kamu lihat dan dengar dari ayat-ayat yang disaksikan dan yang dibaca menghasilkan kesehatan bashirah.

Dan inti dari semua itu adalah dua perkara: Pertama: bahwa engkau memindahkan hatimu dari tempat tinggal dunia lalu engkau menetapkannya di tempat tinggal akhirat, kemudian engkau menghadapkan sepenuhnya untuk makna-makna Al-Quran, menjelaskannya, merenungkannya, dan memahami apa yang dikehendaki darinya dan untuk apa ia diturunkan, dan mengambil bagian dan hakmu dari setiap ayat dari ayat-ayatnya, dan menurunkannya pada penyakit hatimu.

Maka inilah jalan yang ringkas, dekat dan mudah. Yang mengantarkan kepada ar-Rafiq al-A’la (Allah). Aman, tidak akan menimpa orang yang menempuhnya rasa takut, tidak pula celaka, tidak kelaparan dan tidak kehausan, dan tidak ada di dalamnya bencana dari bencana-bencana jalan lainnya sama sekali. Dan di atasnya ada dari Allah penjaga dan pemelihara yang menjaga orang-orang yang menempuhnya, melindungi mereka, dan membela mereka. Dan tidak ada yang mengetahui kedudukan jalan ini kecuali orang yang mengenal jalan-jalan manusia beserta bahayanya, bencananya dan perampoknya. Dan kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Bab Tingkatan Tabaatul (Memutuskan Diri)

Hakikat Tabaatul

Bab tingkatan tabaatul

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan tabaatul.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh” (QS Al-Muzzammil: 8).

Dan tabaatul adalah memutuskan diri. Dan ia adalah bentuk tafa’ul dari batl yaitu memotong. Dan Maryam alaihassalam dinamakan al-Batul karena terputusnya dia dari suami-suami, dan dari adanya orang yang setara dengannya dari wanita-wanita di zamannya. Maka dia mengungguli wanita-wanita pada zamannya dalam kemuliaan dan keutamaan. Dan terputus dari mereka. Dan masdar batala adalah tabattul seperti ta’allum dan tafahhum, tetapi datang dengan bentuk taf’il – masdar tafa’ul – untuk rahasia yang lembut. Karena sesungguhnya dalam fi’il ini terdapat isyarat kepada bertahap, memaksakan diri, berusaha, banyak melakukan dan melebih-lebihkan. Maka datanglah dengan fi’il yang menunjukkan salah satunya, dan dengan masdar yang menunjukkan yang lain. Seakan-akan dikatakan: putuskanlah dirimu kepada Allah dengan pemutusan, dan putuskanlah dirimu kepada-Nya dengan pemutusan. Maka dipahami dua makna dari fi’il dan masdarnya. Dan ini banyak dalam Al-Quran. Dan ini termasuk ringkasan dan ijaaz yang paling baik.

Pengarang kitab Al-Manazil berkata:

Tabaatul adalah memutuskan diri kepada Allah dengan sepenuhnya. Dan firman-Nya azza wa jalla: “Bagi-Nya-lah doa yang benar” (QS Ar-Ra’d: 14) yaitu tajrid (penyucian) murni.

Dan maksudnya dengan tajrid murni adalah tabaatul dari memperhatikan imbalan. Sehingga orang yang bertatatul tidak seperti buruh upahan yang tidak mengabdi kecuali karena upah. Maka bila dia mengambilnya, dia pergi dari pintu yang mempekerjakan, berbeda dengan hamba. Karena dia mengabdi dengan konsekuensi kehambaan-nya, bukan untuk upah. Maka dia tidak pergi dari pintu tuannya kecuali bila dia melarikan diri. Dan yang melarikan diri telah keluar dari kemuliaan penghambaan. Dan tidak memperoleh baginya kebebasan yang sebenarnya. Maka dengan itu dia menjadi terbalik di sisi tuannya dan di sisi hamba-hambanya. Dan puncak kemuliaan jiwa adalah masuknya di bawah perbudakan kehambaan dengan suka rela dan pilihan dan kecintaan, bukan karena terpaksa dan paksaan. Sebagaimana dikatakan:

Kemuliaan jiwa-jiwa adalah masuknya dalam perbudakan mereka Dan hamba menghimpun kebanggaan dengan dimiliki

Dan yang membuat baik istisyhadnya dengan firman-Nya: “Bagi-Nya-lah doa yang benar” (QS Ar-Ra’d: 14) di tempat ini: karena menghendaki makna ini. Dan bahwa Allah Ta’ala adalah pemilik doa yang benar karena Dzat dan sifat-sifat-Nya. Dan meskipun Dia tidak mewajibkan bagi yang berdoa kepada-Nya dengan itu pahala. Karena Dia berhak disembah sendirian, dan didoa sendirian, dan dituju dan disyukuri dan dipuji, dan dicintai dan diharap dan ditakuti, dan ditawakal kepada-Nya, dan diminta pertolongan kepada-Nya, dan dimohon perlindungan kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya, dan dituju kepada-Nya. Maka doa ilahiyah yang benar adalah untuk-Nya seorang.

Dan barangsiapa tegak di hatinya ini – pengenalan dan rasa dan keadaan – maka sahih baginya tingkatan tabaatul, dan tajrid murni. Dan sungguh salaf telah menafsirkan doa yang benar dengan tauhid dan ikhlas di dalamnya dan kejujuran. Dan maksud mereka adalah makna ini.

Maka Ali radhiallahu anhu berkata: Doa yang benar adalah tauhid. Dan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan dikatakan: Doa dengan ikhlas. Dan doa yang khalis tidak ada kecuali untuk Allah. Dan doa yang benar adalah doa ketuhanan dan hak-haknya dan tajridnya dan ikhlasnya.

Tingkatan Tabaatul

Tingkatan Pertama: Tajrid Pemutusan Diri dari Kenikmatan dan Perhatian kepada Dunia

Dia berkata: Dan ia memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: tajrid pemutusan diri dari kenikmatan dan perhatian kepada dunia, karena takut atau mengharap, atau peduli dengan keadaan.

Aku berkata: Tabaatul menghimpun dua perkara yaitu bersambung dan berpisah. Tidak sah kecuali dengan keduanya.

Adapun perpisahan: adalah terputusnya hatinya dari kenikmatan nafsu yang bersaingan dengan kehendak Tuhan darinya. Dan dari berpaling hatinya kepada selain Allah, karena takut kepada-nya, atau keinginan kepadanya, atau peduli dengannya, atau memikirkannya, sehingga menyibukkan hatinya dari Allah.

Dan penyambungan: tidak sah kecuali setelah perpisahan ini. Dan ia adalah sambungan hati dengan Allah, dan menghadapnya kepada-Nya, dan menegakkan wajahnya untuk-Nya, dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan, inabah dan tawakal.

Kemudian Syaikh menyebutkan apa yang membantu tajrid ini, dan dengan apa ia diperoleh. Maka dia berkata:

Dengan memotong harapan dengan ridha, dan memutus rasa takut dengan taslim (berserah diri), dan membuang kepedulian dengan menyaksikan hakikat.

Dia mengatakan: Sesungguhnya yang memotong sumber mengharapkan makhluk dari hatimu adalah ridha dengan hukum Allah azza wa jalla dan bagian-Nya untukmu. Maka barangsiapa ridha dengan hukum Allah dan bagian-Nya, tidak tersisa bagi harapan kepada makhluk di hatinya tempat.

Dan yang memotong sumber rasa takut adalah taslim kepada Allah. Karena barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya, dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tulis untuknya – tidak tersisa bagi rasa takut kepada makhluk di hatinya tempat juga. Karena dirinya yang dia takuti atasnya telah diserahkan kepada walinya dan maulanya. Dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditulis untuknya. Dan bahwa apa yang ditulis untuknya pasti akan menimpanya. Maka tidak ada makna takut kepada selain Allah dengan cara apapun.

Dan dalam taslim juga ada faedah yang lembut. Yaitu bahwa bila Allah menyerahkannya maka sungguh Dia telah menitipkannya kepada-Nya. Dan mengamankannya di tempat aman-Nya. Dan menjadikannya di bawah perlindungan-Nya. Di mana tidak dapat digapai oleh tangan musuh yang memusuhi dan tidak penganiaya yang melampaui batas.

Dan yang memotong sumber kepedulian terhadap manusia adalah menyaksikan hakikat. Yaitu melihat segala sesuatu dari Allah, dan dengan Allah, dan dalam genggaman-Nya, dan di bawah kekuasaan dan kekuatan-Nya. Tidak bergerak darinya sesuatu kecuali dengan daya dan kekuatan-Nya. Dan tidak bermanfaat dan tidak berbahaya kecuali dengan izin-Nya dan kehendak-Nya. Maka apa wajah kepedulian terhadap makhluk setelah penyaksian ini?

Tingkatan Kedua: Tajrid Pemutusan Diri dari Berpaling kepada Diri dengan Menjauhi Hawa Nafsu

Dia berkata: Tingkatan kedua: tajrid pemutusan diri dari berpaling kepada diri dengan menjauhi hawa nafsu. Dan menghirup ruh ketenangan, dan mencium kilat kashf (penyingkapan).

Perbedaan antara tingkatan ini dan sebelumnya: bahwa yang pertama adalah pemutusan dari makhluk, dan ini adalah pemutusan dari diri. Dan menjadikannya dengan tiga hal:

Pertamanya: menjauhi hawa nafsu dan menyelisihinya serta melarang dirinya darinya; karena mengikutinya menghalangi dari tabaatul.

Dan keduanya: – yaitu setelah menyelisihi hawa nafsu – menghirup ruh ketenangan dengan Allah, dan ruh bagi ruh seperti ruh bagi badan. Maka ia adalah ruhnya dan kenyamanannya. Dan hanyalah diperoleh baginya ruh ini ketika dia berpaling dari hawa nafsunya. Maka ketika itu menghirup ruh ketenangan dengan Allah. Dan menemukan baunya. Karena jiwa pasti memerlukan ikatan. Maka ketika terputus ikatannya dari hawa nafsunya, menemukan ruh ketenangan dengan Allah. Dan berhembus atasnya hembusan-Nya. Maka menyegarkannya dan menghidupkannya.

Dan ketiganya: mencium kilat kashf. Yaitu melihatnya dan mengintainya, dan memandang kepadanya. Agar mengetahui dengan itu tempat jatuh hujan dan tempat turun rahmat.

Dan bukan maksudnya dengan kashf di sini adalah kashf juz’i yang rendah, yang sama antara orang baik dan jahat, dan mukmin dan kafir, seperti kashf tentang barang tersembunyi manusia dan kerahasiaan mereka. Sesungguhnya ia adalah kashf tentang tiga hal, yang merupakan ujung kashf orang-orang shiddiq pemilik bashirah.

Pertama: Kashf tentang tingkatan-tingkatan perjalanan.

Dan kedua: Kashf tentang aib-aib diri, dan bahaya-bahaya amalan serta perusaknya.

Dan ketiga: Kashf tentang makna-makna nama-nama dan sifat-sifat, dan hakikat-hakikat tauhid dan makrifat.

Dan tiga pintu ini adalah kumpulan ilmu-ilmu kaum. Dan terhadapnya mereka berkeliling. Dan di sekelilingnya mereka bersenandung. Dan kepadanya mereka bersungguh-sungguh. Maka di antara mereka ada yang kebanyakan perkataannya dan sebagian besarnya tentang perjalanan dan sifat tingkatan-tingkatan. Dan di antara mereka ada yang kebanyakan perkataannya tentang bahaya-bahaya dan penghalang-penghalang. Dan di antara mereka ada yang kebanyakan perkataannya tentang tauhid dan makrifat, dan hakikat-hakikat nama-nama dan sifat-sifat.

Dan orang yang jujur dan cerdas mengambil dari setiap mereka apa yang ada padanya dari kebenaran. Maka dia meminta pertolongan dengannya atas tujuannya. Dan tidak menolak apa yang dia temukan padanya dari kebenaran karena kekurangannya dalam kebenaran yang lain. Dan menyia-nyiakannya dengannya. Maka kesempurnaan mutlak adalah milik Allah Tuhan semesta alam, dan tidak ada dari hamba-hamba kecuali baginya tingkatan yang diketahui.

TINGKATAN KETIGA: MEMURNIKAN PEMUTUSAN HUBUNGAN MENUJU KEUTAMAAN DENGAN MEMPERBAIKI ISTIQAMAH

Dia berkata: Tingkatan ketiga adalah memurnikan pemutusan hubungan menuju keutamaan dengan memperbaiki istiqamah, tenggelam dalam tujuan untuk sampai kepada Allah, dan memandang kepada permulaan al-jam’u (pengumpulan/penyatuan).

Setelah menjadikan tingkatan pertama sebagai pemutusan hubungan dari makhluk, dan tingkatan kedua sebagai pemutusan hubungan dari diri sendiri, dia menjadikan tingkatan ketiga sebagai mencari keutamaan. Dan dia menjadikannya dengan memperbaiki istiqamah, yaitu berpaling dari segala sesuatu selain Yang Haq, terus-menerus menghadap kepada-Nya, dan sibuk dengan hal-hal yang dicintai-Nya. Kemudian dengan tenggelam dalam tujuan untuk sampai kepada-Nya.

Yaitu, keinginannya untuk sampai kepada Allah menyibukkannya dari segala sesuatu, sehingga menghabiskan semua perhatiannya, tekadnya, kehendaknya, dan waktunya. Hal ini hanya terjadi setelah terlihatnya kilatan penyingkapan yang disebutkan kepadanya.

Adapun memandang kepada permulaan al-jam’u, maka al-jam’u adalah berdirinya seluruh makhluk dengan Yang Haq saja, dan berdiri-Nya atas mereka dengan ketuhanan dan pengaturan.

Dan memandang kepada permulaannya adalah memperhatikan pendahuluan-pendahuluan dan awal-awalnya. Ini adalah jalan menurun yang darinya dia turun ke lembah fana’.

Dan telah dikatakan: Sesungguhnya ini adalah pemberhentian yang menghadang orang yang melewati lembah-lembah tafarruq (perpisahan) sebelum sampai kepada al-jam’u. Dan darinya dia mengawasi al-jam’u.

Pemberhentian ini menghadang setiap penempuh yang bersungguh-sungguh dalam penempuhannya. Dari sini dia kembali ke belakang, atau sampai kepada tujuannya, sebagaimana dikatakan:

Tidak bisa tidak bagi orang yang jatuh cinta ada pemberhentian Antara melupakan dan antara cinta yang mendalam… dan di situ dia memindahkan langkahnya, baik ke belakang maupun ke depan

Yang tampak bagiku dari perkataannya adalah bahwa permulaan al-jam’u adalah awal-awalnya, penampakan-penampakannya, dan kilatan-kilatannya.

Dan setelah ini ada tingkatan keempat, yaitu pemutusan hubungan dari keinginannya kepada Tuhannya, dan fana’ darinya menuju keinginan Tuhannya kepadanya, dan fana’ dengan-Nya. Maka dia tidak menginginkan sesuatu dari-Nya, bahkan dia menginginkan apa yang dikehendaki-Nya, terputus dengan-Nya dari setiap kehendak. Maka dia memandang dalam permulaan al-jam’u kepada kehendak-Nya yang bersifat agama dan perintah yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

Kebanyakan orang yang menempuh jalan tasawuf menurut mereka: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tafarruq (perpisahan), “dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah al-jam’u.

Kemudian di antara mereka ada yang berpendapat bahwa meninggalkan al-jam’u adalah zindiq dan kufur. Maka dia berpaling dari al-jam’u menuju tafarruq.

Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tingkatan tafarruq adalah kurang dan tidak disukai. Dan dia melihat buruknya keadaan ahlinya dan ketercerai-beraiannya. Maka dia tidak menyukainya sambil berusaha mencapai al-jam’u. Dia menghadap bersamanya ke mana pun arahnya.

Dan orang-orang yang lurus di antara mereka berkata: Tidak bisa tidak bagi hamba yang menempuh jalan dari al-jam’u dan tafarruq, dan tegaknya penghambaan dengan keduanya. Barangsiapa yang tidak memiliki tafarruq maka dia tidak memiliki penghambaan. Dan barangsiapa yang tidak memiliki al-jam’u maka dia tidak memiliki ma’rifat dan tidak ada keadaan spiritual.

Maka: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tafarruq. “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah al-jam’u.

Dan yang benar: bahwa setiap dari dua penyaksian “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) mengandung tafarruq dan al-jam’u, dan kesempurnaan penghambaan dengan berdiri dengan keduanya dalam setiap penyaksian.

Maka tafarruq dari: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah keberagaman apa yang disembah dengan-Nya, dan banyaknya kaitannya dan macam-macamnya.

Dan al-jam’u-nya: mentauhidkan Yang Disembah dengan semua itu, menginginkan wajah-Nya saja, dan fana’ dari setiap keuntungan dan keinginan yang menyaingi hak-Nya dan kehendak-Nya.

Maka penyaksian ini mengandung tafarruq dalam al-jam’u, dan banyak dalam satu. Maka pemiliknya berpindah dalam tingkatan-tingkatan penghambaan dari ibadah kepada ibadah, dan yang disembah satu, tidak ada tuhan selain Dia.

Adapun tafarruq dari: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah menyaksikan apa yang dimintai pertolongan dengan-Nya, tingkatnya, kedudukannya, tempatnya dalam manfaat dan bahaya, awalnya dan akhirnya, hubungannya – bahkan terputusnya – dan apa yang ditimbulkan dari hubungan dan terputusnya ini.

Dan dia menyaksikan – bersama itu – kefakiran orang yang meminta pertolongan dan kebutuhannya serta kekurangannya, dan keperluannya kepada kesempurnaan-kesempurnaan yang dia meminta pertolongan Tuhannya dalam mencapainya, dan bahaya-bahaya yang dia meminta pertolongan Tuhannya dalam menolaknya. Dan dia menyaksikan hakikat meminta pertolongan dan kecukupan Yang Dimintai Pertolongan. Dan ini semua adalah tafarruq yang menghasilkan penghambaan dari penyaksian ini.

Adapun al-jam’u-nya: menyaksikan kesendirian-Nya Subhanahu dalam perbuatan-perbuatan, dan keluarnya semua yang ada dari kehendak-Nya, dan pengaturan-Nya dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Maka keghaiban-nya dengan penyaksian ini dari tafarruq sebelumnya: adalah kekurangan dalam penghambaan, sebagaimana tafarruq-nya dalam yang sebelumnya tanpa memperhatikannya: juga kekurangan. Dan kesempurnaan adalah memberikan hak tafarruq dan al-jam’u dalam penyaksian ini dan penyaksian yang pertama.

Maka jelaslah bahwa: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) mengandung al-jam’u dan tafarruq. Dan Allah-lah Yang dimintai pertolongan.

Pasal: Kedudukan Harapan (Ar-Raja’)

Hakikat harapan

Pasal: Kedudukan harapan. Dan di antara kedudukan-kedudukan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan harapan.

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka itu orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya mencari jalan yang terdekat kepada-Nya, siapakah di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (Surat Al-Isra’: 57). Maka mencari wasilah kepada-Nya adalah: mencari kedekatan kepada-Nya dengan penghambaan dan kecintaan. Maka Dia menyebutkan tiga tingkatan keimanan yang di atasnya bangunannya: cinta, takut, dan harapan. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah itu pasti datang” (Surat Al-Ankabut: 5), dan Dia berfirman: “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (Surat Al-Kahfi: 110), dan Dia berfirman: “Mereka itu mengharapkan rahmat Allah; dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat Al-Baqarah: 218).

Dan dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda – tiga hari sebelum wafatnya -: “Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Tuhannya”, dan dalam Shahih dari beliau shallallahu alaihi wasallam: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah dia berprasangka kepada-Ku apa yang dia kehendaki”.

“Harapan” adalah penghalau yang menghalau hati-hati menuju negeri Yang Dicintai, yaitu Allah dan negeri akhirat, dan menyenangkan perjalanan bagi mereka.

Dan dikatakan: dia adalah gembira dengan kemuliaan dan karunia Rabb Tabaraka wa Ta’ala, dan riang karena melihat kemuliaan-Nya Subhanahu. Dan dikatakan: dia adalah kepercayaan kepada kemuliaan Rabb Ta’ala.

Dan perbedaan antara harapan denganangan-angan adalah bahwa angan-angan terjadi bersama kemalasan, dan tidak menempuh jalan dengan pemiliknya dengan kesungguhan dan kesungguhan. Sedangkan “harapan” terjadi dengan mengerahkan usaha dan tawakal yang baik.

Yang pertama seperti keadaan orang yang berangan-angan bahwa dia memiliki tanah yang akan ditaburi dan diambil tanamannya.

Dan yang kedua seperti keadaan orang yang mencangkul tanahnya, membajak, menaburi, dan mengharapkan munculnya tanaman.

Oleh karena itu para ‘arif sepakat bahwa harapan tidak sah kecuali dengan amal.

Berkata Syah Al-Kirmani: Tanda sahnya harapan adalah baiknya ketaatan.

Dan harapan ada tiga macam: dua macam yang terpuji, dan satu macam tipu daya yang tercela.

Adapun dua yang pertama: harapan seseorang yang beramal dengan ketaatan kepada Allah atas cahaya dari Allah. Maka dia mengharapkan pahala-Nya. Dan harapan seseorang yang berbuat dosa kemudian bertaubat darinya. Maka dia mengharapkan ampunan Allah Ta’ala, maaf-Nya, kebaikan-Nya, kemuliaan-Nya, kelembutan-Nya, dan kemurahan-Nya.

Dan yang ketiga: seseorang yang terus-menerus dalam kelalaian dan kesalahan, mengharapkan rahmat Allah tanpa amal. Maka ini adalah tipu daya, angan-angan, dan harapan yang dusta.

Dan bagi penempuh jalan ada dua pandangan: pandangan kepada dirinya, aib-aibnya, dan bahaya-bahaya amalnya, membukakan baginya pintu takut kepada luasnya karunia Tuhannya, kemuliaan-Nya, dan kebaikan-Nya. Dan pandangan membukakan baginya pintu harapan.

Oleh karena itu dikatakan dalam definisi harapan: dia adalah memandang kepada luasnya rahmat Allah.

Dan berkata Abu Ali Ar-Rudzabari: Takut dan harapan seperti dua sayap burung, jika keduanya seimbang maka burung itu lurus dan sempurna terbangnya. Dan jika salah satunya kurang maka terjadi kekurangan padanya. Dan jika keduanya hilang maka burung itu dalam kondisi mati. Dan ditanya Ahmad bin Ashim: Apa tanda harapan pada hamba? Maka dia berkata: Bahwa dia jika diliputi kebaikan mendapat ilham syukur, mengharapkan sempurnanya nikmat dari Allah kepadanya di dunia dan akhirat, dan sempurnanya maaf-Nya kepadanya di akhirat.

Dan mereka berbeda pendapat, mana dari dua harapan yang lebih sempurna: harapan orang yang berbuat baik akan pahala kebaikannya, atau harapan orang yang berbuat buruk yang bertaubat akan ampunan Tuhannya dan maaf-Nya?

Maka sekelompok mengunggulkan harapan orang yang berbuat baik, karena kuatnya sebab-sebab harapan bersamanya. Dan sekelompok mengunggulkan harapan orang yang berdosa; karena harapannya terlepas dari sebab melihat amal, disertai dengan kehinaan melihat dosa.

Berkata Yahya bin Mu’adz: Hampir-hampir harapanku kepada-Mu dengan dosa-dosa mengalahkan harapanku kepada-Mu dengan amal-amal; karena sesungguhnya aku mendapatiku bergantung dalam amal-amal kepada keikhlasan, dan bagaimana aku membersihkannya dan menjaganya? Dan aku dengan bahaya-bahaya dikenal. Dan aku mendapatiku dalam dosa-dosa bergantung kepada maaf-Mu, dan bagaimana Engkau tidak mengampuninya sedang Engkau dengan kemuliaan dikenal?

Dan dia juga berkata: Tuhanku, yang paling manis pemberian di hatiku adalah harapan kepada-Mu. Dan yang paling lezat perkataan di lisanku adalah pujian kepada-Mu. Dan yang paling aku cintai waktu-waktu bagiku adalah waktu di mana di dalamnya ada perjumpaan-Mu.

 

 

Pasal: Pembahasan Syaikhul Islam Dalam Definisinya Tentang Harapan

Pasal

Berkata penulis kitab “Al-Manazil”:

Harapan adalah yang paling lemah di antara kedudukan-kedudukan orang-orang yang berkeinginan; karena dia adalah pertentangan dari satu sisi, dan keberatan dari satu sisi, dan dia adalah jatuh dalam kecerobohan dalam madzhab kelompok ini. Dan satu faedah yang diucapkan oleh Alquran dan Sunnah. Dan faedah itu adalah menjadi penolak panasnya takut, hingga tidak berakhir dengan pemiliknya kepada putus asa.

Syaikhul Islam itu dicintai oleh kami. Dan kebenaran lebih dicintai oleh kami darinya. Dan setiap yang selain yang ma’shum shallallahu alaihi wasallam maka diambil dari perkataannya dan ditinggalkan, dan kami menanggung perkataannya atas tanggungan yang terbaik. Kemudian kami menjelaskan apa yang ada di dalamnya. Adapun perkataannya: Harapan adalah yang paling lemah di antara kedudukan-kedudukan orang-orang yang berkeinginan, maka yang dimaksud adalah berkaitan dengan apa yang di atasnya dari kedudukan-kedudukan, seperti kedudukan ma’rifat, kecintaan, keikhlasan, kejujuran, dan tawakal, bukan bahwa yang dimaksudnya adalah lemahnya keadaan kedudukan ini pada dirinya, dan bahwa dia adalah kedudukan yang kurang.

Adapun perkataannya: Karena dia adalah pertentangan dari satu sisi, dan keberatan dari satu sisi.

Maka karena dia bergantung pada keinginan hamba dari Tuhannya, dari kebaikan, pahala, dan karunia. Dan mungkin kehendak-Nya Ta’ala dari hamba-Nya adalah pemenuhan hak-Nya, dan memperlakukannya dengan hukum keadilan-Nya kepadanya, karena apa yang ada pada-Nya dalam itu dari hikmah. Maka jika hamba menginginkan dari-Nya perlakuan kepada-Nya dengan hukum karunia, maka masuk dalam jenis pertentangan. Dan seolah-olah orang yang mengharap bergantung hatinya dengan apa yang menentang tindakan Pemilik dalam kepemilikan-Nya. Dan itu menafikan hukum penyerahannya dan ketundukannya, dan terlemparnya di hadapan Tuhannya, menyerah kepada apa yang diputuskan dengan-Nya padanya. Maka harapannya menentang hukum-Nya dan kehendak-Nya, dan berhenti dengan keinginannya dari tuannya. Dan itu menentang keinginan tuannya darinya. Dan pencinta yang jujur adalah orang yang fana’ dengan keinginan kekasihnya dari keinginannya dari-Nya. Walaupun di dalamnya ada penyiksaan-Nya.

Adapun sisi keberatan: maka dia adalah bahwa hati jika bergantung dengan harapan dan tidak memperoleh yang diharapkannya akan keberatan, karena tidak memperoleh yang diharapkannya dan tidak memperolehnya. Dan jika memperolehnya akan keberatan, karena luput darinya selain yang diharapkan itu; karena setiap orang mengharapkan karunia Allah, dan membuat harapan dirinya dengan-Nya.

Dan di dalamnya ada sisi lain dari keberatan: yaitu bahwa dia keberatan kepada Tuhannya Ta’ala dengan apa yang dia harapkan dari-Nya; karena orang yang mengharap mengangan-angankan apa yang dia harapkan, memilihnya. Dan itu adalah keberatan kepada takdir, menafikan kesempurnaan penyerahan dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan oleh takdir. Maka jika yakin baginya bahwa telah ditakdirkan dengan sesuatu maka sesungguhnya dia tidak bisa tidak akan mendapatkannya. Maka dia menggantungkan hatinya dengan harapan sesuatu dari karunia. Maka dia telah keberatan kepada takdir, dan tidak mengenal hak penyerahan kepada hukum. Dan itu adalah jatuh dalam kecerobohan, dalam madzhab orang-orang yang berjalan di jalan fana’, yang memandang kepada hakikat al-jam’u. Karena kecerobohan adalah berhenti dengan keuntungan diri. Dan harapan adalah berhenti dengan keuntungan; karena dia bergantung dengan keuntungan-keuntungan.

Dan ashab jalan ini awal jalan mereka adalah keluar dari diri-diri mereka, apalagi dari keuntungan-keuntungannya, karena mereka berusaha untuk menjadi dengan Allah bukan dengan diri-diri mereka. Maka puncak pencinta adalah dia ridha dengan hukum-hukum kekasihnya kepadanya, membuatnya sedih atau membuatnya senang, hingga sampai pada salah seorang dari mereka keadaan ini hingga dia menyanyikan:

Aku mencintaimu bukan aku mencintaimu untuk pahala… tetapi sesungguhnya aku mencintaimu untuk siksaan Dan semua keinginanku telah aku peroleh darinya, kecuali kenikmatan kerinduan hatiku dengan siksaan

Dan seandainya kerinduan hatinya sendiri dengan siksaan adalah tujuannya dari siksaan maka dia juga berhenti dengan keuntungannya, tetapi dia menginginkan bahwa ridhanya dengan keinginan kekasihnya darinya – walaupun itu adalah siksa-Nya – tidak membiarkan di dalamnya tempat untuk harapan dan tidak untuk takut. Bahkan dia berkata: Aku mencintai apa yang Engkau inginkan denganku, walaupun itu adalah siksa-Ku. Dan sebagian orang yang tertipu telah membuka tentang ini dengan perkataannya:

Dan penyiksaanmu dengan perpisahan bagiku… lebih aku cintai bagiku daripada baiknya pertemuan Karena sesungguhnya aku dalam pertemuan hamba keuntunganku, dan dalam perpisahan hamba untuk majikan

Maka dia mengabarkan bahwa penyiksaan dengan perpisahan lebih dicintai baginya daripada baiknya pertemuan, karena pertemuan di dalamnya ada apa yang diinginkan jiwa. Adapun penyiksaan maka tidak ada bagi jiwa di dalamnya tujuan.

Kemudian ia mengabarkan bahwa hal itu tidak datang dalam Al-Quran dan Sunnah kecuali untuk satu faedah saja, yaitu untuk mendinginkan panasnya rasa takut agar tidak membawa pemiliknya kepada putus asa.

Inilah maksud perkataannya, dan kami membawanya kepada penafsiran yang paling baik.

Maka dikatakan: ini dan semisalnya termasuk perkataan yang keluar dari batas (syathahat) yang diharapkan ampunannya dengan banyaknya kebaikan, dan tenggelam dalam kesempurnaan kejujuran, kebenaran muamalah, kekuatan keikhlasan, dan kemurnian tauhid. Dan tidak ada jaminan keselamatan dari kesalahan bagi seorang manusia pun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Syathahat-syathahat ini telah menimbulkan fitnah pada dua golongan manusia. Golongan pertama terhalang olehnya dari melihat kebaikan-kebaikan golongan ini, kelembutan jiwa mereka, dan kejujuran muamalah mereka, maka mereka menolak mereka karena syathahat ini, dan mengingkarinya dengan sangat keras. Mereka bersangka buruk kepada mereka secara mutlak, dan ini adalah permusuhan dan berlebihan. Seandainya setiap orang yang salah atau keliru ditinggalkan seluruhnya dan kebaikan-kebaikannya diabaikan, niscaya rusaklah ilmu pengetahuan, keahlian, dan hikmah, serta terlantarlah pedoman-pedomannya.

Golongan kedua: terhalang dengan apa yang mereka lihat dari kebaikan-kebaikan kaum tersebut, kejernihan hati mereka, kebenaran tekad mereka, dan kebaikan muamalah mereka, sehingga tidak melihat aib-aib syathahat mereka dan kekurangannya. Maka mereka menyeret atas syathahat itu ekor kebaikan-kebaikan. Dan mereka memberlakukan atasnya hukum penerimaan dan pembelaan. Serta mereka menggunakannya sebagai pegangan dalam perjalanan spiritual mereka.

Golongan ini juga melampaui batas dan berlebih-lebihan.

Golongan ketiga – yaitu ahli keadilan dan pertimbangan yang adil – yang memberikan kepada setiap pemilik hak haknya, dan menempatkan setiap pemilik kedudukan pada kedudukannya, maka mereka tidak menghukumi yang shahih dengan hukum yang cacat dan rusak, dan tidak pula yang cacat dan rusak dengan hukum yang shahih. Bahkan mereka menerima apa yang dapat diterima dan menolak apa yang harus ditolak.

Syathahat-syathahat ini dan semisalnya adalah yang telah diperingatkan oleh para pemimpin kaum sufi, dan mereka mencela akibatnya serta berlepas diri darinya. Bahkan Abu al-Qasim al-Qusyairi menyebutkan dalam risalahnya bahwa Abu Sulaiman ad-Darani terlihat setelah kematiannya, maka ditanyakan kepadanya: Apa yang Allah perbuat kepadamu? Ia berkata: Dia mengampuniku. Dan tidak ada sesuatu yang lebih merugikanku selain isyarat-isyarat kaum sufi.

Abu al-Qasim berkata: Aku mendengar Abu Said asy-Syahham berkata: Aku melihat Abu Sahl ash-Sha’luki dalam mimpi, maka aku berkata kepadanya: Wahai Syaikh. Ia berkata: Tinggalkan kesyaikhan itu. Aku berkata: Lalu bagaimana dengan keadaan-keadaan spiritual itu? Ia berkata: Tidak berguna apa-apa bagi kami. Aku berkata: Apa yang Allah perbuat kepadamu? Ia berkata: Dia mengampuniku karena pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh perempuan-perempuan tua.

Dan disebutkan dari al-Jurairi: bahwa ia melihat al-Junaid dalam mimpi setelah kematiannya, maka ia berkata: Bagaimana keadaanmu wahai Abu al-Qasim? Ia berkata: Lenyap sudah isyarat-isyarat itu. Dan hilang sudah ungkapan-ungkapan itu. Dan tidak ada yang bermanfaat bagi kami kecuali tasbih-tasbih yang biasa kami ucapkan pada pagi hari.

Abu Sulaiman ad-Darani berkata: Terlintas padaku suatu pemikiran dari pemikiran-pemikiran kaum sufi, maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil: Kitab (Al-Quran) dan Sunnah.

Al-Junaid berkata: Mazhab kami terikat dengan Kitab dan Sunnah. Maka barangsiapa yang tidak membaca Al-Quran dan tidak menulis hadits, tidak boleh diteladani dalam jalan kami.

Ini di samping perkataan-perkataan lainnya yang diriwayatkan dari mereka, semoga Allah meridhai mereka.

Adapun perkataannya: Harapan adalah kedudukan paling lemah di antara para murid, maka tidaklah demikian, bahkan ia termasuk kedudukan mereka yang paling mulia, paling tinggi, dan paling terhormat. Dan di atasnya bersama cinta dan takut berputarlah perjalanan kepada Allah. Dan Allah Taazza telah memuji ahlinya dan menyanjung mereka. Firman-Nya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah (al-Ahzab: 21).

Dan dalam hadits shahih Qudsi dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam apa yang diriwayatkannya dari Rabbnya Azza wa Jalla: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu, Aku ampuni bagimu atas apa yang ada padamu dan Aku tidak peduli.” Dan diriwayatkan al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku menurut prasangka hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya. Jika ia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Dan jika ia mengingatKu dalam suatu kumpulan, Aku mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka. Dan jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dan Allah Taala telah mengabarkan tentang hamba-hambaNya yang pilihan yang orang-orang musyrik mengira mereka mendekatkan diri kepada Allah Taala melalui mereka: bahwa mereka adalah orang-orang yang berharap kepadaNya dan takut kepadaNya. Maka Allah Taala berfirman: Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak (pula) mengubahnya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti (al-Isra’: 56-57).

Allah Taala berfirman: Mereka yang kalian seru selain Aku: mereka adalah hamba-hambaKu, mereka mendekatkan diri kepadaKu dengan ketaatan kepadaKu, dan mengharapkan rahmatKu, dan takut akan azabKu, lalu mengapa kalian menyeru mereka selain Aku? Maka Dia memuji mereka dengan keadaan dan kedudukan mereka yang paling utama, yaitu cinta, takut, dan harapan.

Perkataannya: Karena ia adalah penentangan dari satu sisi, dan keberatan dari sisi lain. Dikatakan: Sedangkan ia adalah penghambaan dan keterikatan kepada Allah dari sisi namaKu Yang Maha Pengasih, Maha Berbuat Baik. Maka keterikatan dan penghambaan dengan nama ini serta ma’rifat kepada Allah inilah yang menimbulkan harapan bagi hamba, baik ia menyadarinya maupun tidak. Maka kekuatan harapan sesuai dengan kekuatan ma’rifat kepada Allah dan nama-nama serta sifat-sifatNya, dan kemenangan rahmatNya atas murkaNya. Dan seandainya bukan karena ruh harapan, niscaya penghambaan hati dan anggota tubuh akan terbengkalai. Dan akan runtuh biara-biara, gereja-gereja, tempat-tempat ibadah, dan masjid-masjid di mana nama Allah banyak disebut. Bahkan seandainya bukan karena ruh harapan, anggota tubuh tidak akan bergerak dengan ketaatan. Dan seandainya bukan karena anginnya yang baik, kapal-kapal amal tidak akan berlayar di lautan kehendak. Dan bagiku beberapa bait syair:

Seandainya bukan karena berpegang pada harapan, niscaya tercabik-cabik jiwa pecinta karena penyesalan dan terkoyak

Demikian pula seandainya bukan karena kesejukannya pada panasnya hati yang meleleh karena hijab terbakar

Mungkinkah seorang kawan cinta tidak terlihat dengan harapannya kepada kekasihnya berpegang?

Atau setiap kali kuat cintanya kepadanya, kuatlah harapan maka bertambahlah padanya kerinduan

Seandainya bukan harapan membimbing kendaraan, niscaya tidak berjalan dengan bawaannya ke negeri mereka mengharap perjumpaan

Sesuai dengan kecintaan dan kekuatannya adalah harapan. Maka setiap pecinta adalah berharap dan takut secara pasti. Ia paling berharap kepada kekasihnya, ketika ia paling mencintainya. Demikian pula ketakutannya, karena ia takut jatuh dari pandangannya, dan pengusiran kekasihnya kepadanya serta penjarakannya, dan terhalangnya daripadanya. Maka ketakutannya adalah ketakutan yang paling keras. Dan harapannya adalah hakikat dari kecintaan. Karena ia mengharapkannya sebelum bertemu dengannya dan sampai kepadanya. Maka jika ia bertemu dengannya dan sampai kepadanya, semakin kuatlah harapan kepadanya, karena apa yang ia peroleh daripadanya dari kehidupan ruhnya, dan kenikmatan hatinya dari kelembutan kekasihnya, kebaikannya, perhatiannya kepadanya, pandangannya kepadanya dengan mata ridha, dan penunjukannya dalam kecintaannya, dan selain itu dari apa yang tidak ada kehidupan bagi pecinta, dan tidak ada kenikmatan dan tidak ada kemenangan kecuali dengan sampainya kepada kekasihnya. Maka harapannya adalah harapan yang paling besar, paling mulia, dan paling sempurna.

Maka perhatikanlah tempat ini dengan sebenar-benar perhatian, ia akan menampakkan kepadamu rahasia-rahasia besar dari rahasia-rahasia penghambaan dan kecintaan. Maka setiap kecintaan disertai dengan takut dan harapan. Dan menurut kadar kokohnya dalam hati pecinta, semakin kuatlah takut dan harapannya. Namun takut pecinta tidak disertai dengan keterasingan, berbeda dengan takut orang yang berbuat jahat. Dan harapan pecinta tidak disertai dengan cacat, berbeda dengan harapan pekerja upahan. Dan di manakah harapan pecinta dari harapan pekerja upahan? Dan di antara keduanya seperti di antara kedua keadaan mereka.

Kesimpulannya: harapan adalah keharusan bagi murid yang menempuh jalan, dan orang yang mengenal Allah. Seandainya harapan meninggalkannya sesaat, niscaya ia binasa atau hampir binasa. Karena ia berputar antara dosa yang ia harapkan ampunannya, dan aib yang ia harapkan perbaikannya, dan amal saleh yang ia harapkan penerimaannya, dan istiqamah yang ia harapkan terwujudnya dan kelangsungannya, dan kedekatan kepada Allah dan kedudukan di sisiNya yang ia harapkan sampai kepadanya. Dan tidak lepas seorang pun dari para penempuh jalan dari perkara-perkara ini atau sebagiannya. Maka bagaimana mungkin harapan adalah kedudukan paling lemah di antara kedudukan-kedudukannya, sedangkan ini keadaannya? Adapun masalah penentangan dan keberatan adalah batil. Karena orang yang berharap bukanlah penentang dan bukan pula yang keberatan, bahkan ia rindu dan takut, berharap kepada karunia Rabbnya, baik sangka kepadaNya, tergantung harapan kepada kebaikan dan kemurahanNya, menyembahNya dengan nama-namaNya: Yang Maha Berbuat Baik, Yang Maha Baik, Yang Maha Memberi, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi Karunia, Yang Maha Pemberi Rezeki. Dan Allah Subhanahu wa Taala menyukai dari hambaNya untuk berharap kepadaNya. Dan karena itulah Dia berada pada harapan hambaNya dan prasangkanya kepadaNya.

Dan harapan termasuk sebab-sebab yang dengan dengannya hamba meraih apa yang ia harapkan dari Rabbnya, bahkan ia termasuk sebab yang paling kuat. Dan seandainya ia mengandung penentangan dan keberatan, niscaya hal itu dalam doa dan permohonan lebih utama. Maka doa hamba kepada Rabbnya dan permohonannya – agar Dia memberinya petunjuk, taufik, ketepatan, pertolongan atas ketaatan kepadaNya, menjauhkannya dari maksiat kepadaNya, mengampuni dosa-dosanya, memasukkannya ke dalam surgaNya, dan menyelamatkannya dari neraka – adalah penentangan dan keberatan; karena orang yang berdoa adalah berharap dan meminta apa yang ia harapkan. Maka ia lebih patut pada saat itu dengan penentangan dan keberatan.

Dan yang menimbulkan bagi Syaikh kadar ini adalah: melepaskan diri dalam takdir, dan fana dalam menyaksikan hakikat kauniyah (ketentuan takdir). Karena ia termasuk yang kukuh di dalamnya, yang tidak mengambil mereka dalam hal itu celaan orang yang mencela. Dan ia keras dalam mengingkari sebab-sebab. Dan ini adalah tempat tergelincirnya kaki para imam yang alim.

Dan seandainya bukan karena hak kebenaran lebih wajib daripada hak makhluk, niscaya dalam diam ada kelapangan dan keluasan.

Dan tidak ada dalam harapan dan tidak pula dalam doa penentangan terhadap tasharruf (penguasaan) Pemilik atas milikNya. Karena ia hanya berharap tasharrufNya atas milikNya juga dengan apa yang lebih patut dan lebih dicintai dari dua perkara kepadaNya. Karena karunia lebih dicintai kepadaNya daripada keadilan, dan maaf lebih dicintai kepadaNya daripada pembalasan, dan toleransi lebih dicintai kepadaNya daripada ketepatan, dan meninggalkan lebih dicintai kepadaNya daripada pemenuhan, dan rahmatNya mengalahkan murkaNya.

Maka orang yang berharap menggantungkan harapannya pada tasharruf yang dicintai kepadaNya dan diridhai kepadaNya. Maka harapannya tidak menimbulkan keluarnya dari tasharrufNya atas milikNya. Bahkan mengharuskan penghambaan kepadaNya, dan terwujudnya yang paling dicintai dari dua tasharruf kepadaNya. Dan Dia Subhanahu wa Taala tidak mendapat manfaat dengan pemenuhan hakNya dan pemberian hukuman kepada hambaNya, sehingga harapannya membatalkan hal itu. Dan hanyalah hamba yang mendatangkan hukuman, dan mengambil hak darinya karena kemusyrikannya kepada Allah dan kekufurannya kepadaNya, dan usahanya dalam kemurkaan. Dan bagi kemurkaan ada yang menimbulkan dan akibat serta yang mengharuskan, dan hamba lebih memilihnya, berusaha untuk memperolehnya, bekerja atasnya dengan memilihnya dan berusaha dalam sebab-sebabnya. Maka dialah yang membinasakan dirinya. Dan Rabbnya memperingatkannya dan menjelaskannya dan memanggilnya: Kemarilah kepadaKu Aku akan melindungimu dan menjagamu, dan menyelamatkanmu dari apa yang engkau waspadai, dan mengamankanmu dari semua yang engkau takuti. Sedangkan ia menolak kecuali lari daripadaNya dan menjauh daripadaNya, dan berdamai dengan musuhnya, dan membantu musuh atas Rabbnya. Dan mencari keridhaan makhlukNya dengan kemurkaan Rabbnya. Ridha makhluk lebih diutamakan baginya daripada ridha Khaliqnya. Dan haknya lebih penting baginya daripada hakNya. Dan takutnya, harapannya, dan cintanya dalam hatinya lebih besar daripada takutnya kepada Allah, harapannya, dan cintaNya. Maka ia tidak menyisakan jalan kepada karunia Rabbnya, kemuliaan, dan pahalaNya kepadanya, bahkan ia menutup di bawahnya jalan-jalan alirannya dengan usahanya. Dan menyerahkan tangannya kepada musuhnya. Maka ia berdamai dengannya dan mendengarkan untuknya dan menaatinya. Dan tunduk kepada keridhaan musuh. Maka datanglah dari kezaliman dengan yang paling buruk dan paling kerasnya.

Maka dialah yang menentang kehendakNya kepadanya darinya dengan kehendaknya dan hawa nafsunya dan syahwatnya. Dan keberatan terhadap kecintaan dan keridhaan dengan penolakan. Dan tidak mengizinkan baginya untuk masuk kepadanya. Maka ia menyia-nyiakan bagiannya dan merugikan haknya. Dan menzalimi dirinya. Dan memusuhi kekasihnya. Dan bersekutu dengan musuhnya. Dan memurkai Dia yang kehidupannya dalam keridhaan-Nya. Dan meridhakan Dia yang kehidupannya dalam kemurkaan-Nya. Dan bermurah hati dengan dirinya kepada musuhnya. Dan bakhil dengannya kepada kekasihnya dan walinya.

Dan Rabb Tabaraka wa Taala tidak ada balas dendam untukNya pada hambaNya sehingga Dia meraihnya dengan hukumanNya. Dan tidak memuaskan diri dengan siksaNya. Dan tidak bertambah dengan itu dalam kerajaanNya sebesar berat zarrah dari kerajaanNya. Bagaimana, sedangkan rahmat lebih luas daripada hukuman dan lebih dahulu daripada murka dan lebih mengalahkannya? Dan Dia telah menetapkan atas diriNya rahmat. Maka harapan hamba kepadaNya tidak mengurangi sesuatu dari hikmahNya. Dan tidak mengurangi zarrah dari kerajaanNya. Dan tidak mengeluarkannya dari kesempurnaan tasharrufNya. Dan tidak menimbulkan kebalikan kesempurnaanNya. Dan tidak menghilangkan sifat-sifat dan nama-namaNya. Dan seandainya bukan hamba yang menutup atas dirinya jalan-jalan kebaikan, dan menutup di bawahnya pintu-pintu rahmat dengan buruknya pilihannya untuk dirinya, niscaya Rabbnya untuknya melebihi harapannya dan melebihi amal-nya.

Adapun penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya, dan ketundukkannya dengan merebahkan diri di hadapan-Nya, serta keridhaannya terhadap tempat-tempat jatuhnya keputusan Allah padanya, maka semua itu tidak lain adalah karena harapannya agar Allah merahmatinya, memaafkan kesalahannya, memberi ampunan kepadanya, menerima kebaikan-kebaikannya meski dengan cacat dan aib amal-amalnya, dan memaafkan keburukan-keburukannya. Maka kuatnya harapannya telah mewajibkan baginya penyerahan diri, ketundukan, dan merebahkan diri di pintu Allah. Dan tidak mungkin terjadi hal ini tanpa adanya harapan sama sekali. Maka harapan adalah kehidupan permintaan, dan keinginan adalah ruhnya.

Adapun keridhaannya terhadap kehendak Allah padanya meskipun Allah menyiksanya, maka ini adalah kenaifan yang sebenar-benarnya. Karena kehendak Allah Yang Mahasuci ada dua jenis: kehendak yang Dia cintai dan ridhai, Dia memuji pelakunya dan memuliakan mereka. Maka menyetujui kehendak ini adalah inti dari kecintaan kepada-Nya, dan menginginkan sebaliknya adalah kenaifan, perlawanan, dan protes. Dan kehendak yang Dia benci dan murkai, Dia mencela pelakunya dan memusuhi mereka. Maka menyetujui kehendak ini adalah inti dari permusuhan, pertentangan, dan perlawanan terhadap-Nya, serta mengundang kebencian dan murka-Nya.

Maka tempat ini adalah tempat pembedaan. Persetujuan yang sebenarnya adalah menentang kehendak ini dan memprotesnya dengan penolakan dan penangkalan dengan kehendak yang lain.

Maka penghambaan yang benar adalah menentang kehendak-Nya dengan kehendak-Nya yang lain, dan menyaingi hukum-hukum-Nya dengan hukum-hukum-Nya yang lain.

Maka penyerahan diri pada kehendak yang dibenci dan dimurkai ini, beserta apa yang diwajibkan dan dituntutnya, adalah inti dari kenaifan dan keluar dari penghambaan. Dan ini adalah inti dari klaim yang bohong; karena seandainya sumber penyerahan diri, persetujuan, dan meninggalkan protes serta perlawanan itu benar, maka hal itu akan dikhususkan untuk hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya, serta perintah-perintah-Nya yang penyerahan diri pada hal tersebut, persetujuan padanya, dan meninggalkan perlawanan serta protes terhadapnya adalah inti dari kecintaan dan kesetiaan.

Adapun fana dengan kehendak Tuhannya, maka telah disebutkan sebelumnya bahwa yang terpuji dari hal itu adalah fana dengan kehendak agama dan perintah-Nya, bukan kehendak takdir dan qadar-Nya. Karena seluruh alam semesta adalah kehendak qadar-Nya, baik dan buruknya.

Adapun keterikatan harapan pada kehendaknya sendiri bukan kehendak tuannya, maka dia hanya menggantungkan harapannya pada kehendak yang dicintai baginya, sambil lari dari kehendak yang dimurkai dan dibenci baginya. Dan dengan anggapan bahwa hal itu dicintai baginya – jika itu berupa pembalasan – maka pengampunan dan karunia lebih dicintai-Nya dari pembalasan itu. Maka dia hanya menggantungkan harapannya pada yang paling dicintai dari dua kehendak itu bagi-Nya.

Adapun anggapan bahwa harapan adalah protes terhadap apa yang telah ditetapkan dengan keputusan: maka tidak demikian. Bahkan itu adalah keterikatan pada apa yang telah ditetapkan dengan keputusan. Karena dia hanya mengharapkan karunia, kebaikan, dan rahmat yang telah ditetapkan dengan qadha dan qadar, dan menjadikan harapan sebagai salah satu sebab untuk mendapatkannya. Maka harapan bukanlah protes terhadap takdir, bukan pula perlawanan terhadap takdir, melainkan permintaan untuk apa yang telah ditetapkan dengan takdir.

Adapun protestnya ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan, maka ini adalah kekurangan dalam penghambaan dan kebodohan tentang hak ketuhanan. Karena orang yang berharap dan berdoa, dia berharap dan berdoa untuk mendapat karunia yang tidak berhak dia dapatkan dan tidak wajib baginya dengan ganti rugi. Jika dia diberi, maka itu murni karunia dan sedekah kepadanya, dan jika dicegah, maka Allah tidak mencegah hak yang menjadi miliknya. Maka protestnya adalah kenaifan dan kebodohan. Dan tidak mengharuskan dari hilangnya yang diharapkan atau tidak terkabulnya yang didoakan pada hamba yang jujur, adanya perlawanan atau protes.

Dan sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah meminta kepada Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala tiga hal untuk umatnya. Maka Allah memberinya dua dan menolak satu. Maka beliau ridha dengan apa yang diberikan dan tidak protes terhadap apa yang ditolak, bahkan ridha dan berserah diri.

Adapun anggapan bahwa harapan adalah berhenti pada kepentingan pribadi, sedangkan para penempuh jalan ini telah keluar dari diri mereka sendiri, lalu bagaimana dengan kepentingan mereka?

Demi Allah Yang Mengherankan! Kenaifan macam apa pada orang yang menjadikan harapan hamba kepada Tuhannya, keinginannya akan kebaikan, kebaikan hati dan karunia-Nya, serta permintaannya akan hal itu dengan hati dan lisannya sebagai kenaifan? Karena harapan adalah pandangan hati untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Jika hamba senantiasa memandang dengan hatinya, meminta dengan lisannya, memohon karunia Tuhannya, maka kenaifan macam apa di sini? Dan bukankah kenaifan yang sebenar-benarnya adalah selain dari hal itu?

Dan yang mengherankan adalah klaim mereka keluar dari diri mereka sendiri, padahal mereka adalah orang-orang yang paling besar penghambaan pada diri mereka sendiri. Dan tidak ada yang keluar dari dirinya kecuali orang yang menjadikan dirinya tahanan untuk kehendak agama dan perintah Allah yang bersumber dari Nabi. Dan mengorbankan diri untuk Allah dalam menegakkan agama-Nya dan melaksanakannya di antara para penentang, pelawan, dan pemberontak. Maka dia terjun ke tengah mereka yang merobek kulitnya, melempar tuduhan besar kepadanya, menakut-nakutinya dengan berbagai ketakutan, dan berusaha membunuhnya dengan segala upaya mereka, dia tidak mengambil celaan pencela dalam berjihad di jalan Allah. Dia menyerukan kebenaran kepada orang yang dia takuti dan harapkan, telah zuhud dari pujian dan sanjungan mereka, dari pengagungan dan penghormatan mereka kepadanya, dan mencium tangannya serta memenuhi kebutuhannya. Dia berteriak kepada mereka dengan nasihat-nasihat secara terang-terangan, mengumumkannya kepada mereka, dan menyampaikannya secara rahasia. Telah bebas dari kedudukan, ikatan, dan formalitas, dan terikat pada keridhaan Al-Hayy Al-Qayyum. Tingkatannya sesaat dalam jihad melawan musuh-musuh Allah dan menjaga malam di benteng keimanan lebih utama dan lebih dicintai baginya daripada fana, musyahadah, dan ahwal yang merupakan kehidupan terbesar jiwa, makanan tertingginya, dan bagian terpenuhnya. Dan dia mengklaim telah keluar dari dirinya; lalu bagaimana dengan bagiannya? Dan barangkali dia telah keluar dari kehendak Tuhannya dari penghambaan-Nya menuju inti kehendak-Nya sendiri yang merupakan bagiannya. Dan seandainya dia memeriksa dirinya, niscaya dia akan melihat hal itu di dalamnya dengan jelas.

Dan bukankah kenaifan yang sebenar-benarnya adalah klaimnya bahwa dia mencintai Tuhannya untuk siksa-Nya bukan untuk pahala-Nya? Dan bahwa jika dia mencintai dan taat kepada-Nya untuk mendapat pahala, maka itu adalah kepentingan pribadi dan mengutamakan kehendak jiwa? Berbeda dengan jika dia mencintai dan taat kepada-Nya agar Dia menyiksanya. Maka tidak ada kepentingan pribadi jiwa dalam hal itu?

Demi Allah, tidak ada dalam jenis-jenis kenaifan dan kebodohan yang lebih buruk dan tidak pantas dari ini. Dan betapa setan mempermainkan jiwa-jiwa! Dan sungguh jiwa yang sampai pada penipuan setan hingga kondisi ini membutuhkan doa untuk kesembuhan.

Maka timbang keadaan para nabi, rasul, dan shiddiqin, serta permintaan mereka kepada Tuhan mereka, dengan keadaan orang-orang yang keliru ini yang jiwa-jiwa mereka telah membuat mereka kacau. Kemudian bandingkan antara keduanya dan perhatikan perbedaannya.

Maka di manakah ini dengan doa Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan kesejahteraan-Mu dari hukuman-Mu, dan dengan-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri”? Dan sabdanya kepada pamannya Abbas radhiyallahu anhu: “Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah, mintalah kepada Allah kesejahteraan.” Dan sabdanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ketika dia memintanya mengajarkan doa untuk dia panjatkan dalam shalatnya – “Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan sabdanya kepada Fatimah pemimpin para wanita – ketika dia memintanya doa untuk dipanjatkan, jika bertemu malam Lailatul Qadar – maka beliau bersabda: “Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Dan sabdanya dalam doanya yang tidak pernah beliau tinggalkan, dan jika beliau berdoa dengan doa lain, beliau menyusulkannya dengannya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka” (Surat Al-Baqarah: 201)?

Dan Allah Ta’ala telah memuji orang-orang pilihan-Nya, yaitu ulul albab, karena mereka meminta kepada-Nya agar melindungi mereka dari siksa neraka, maka mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini sia-sia, Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari siksa neraka” (Surat Ali Imran: 191). Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ummu Habibah: “Seandainya engkau meminta kepada Allah agar melindungimu dari siksa neraka, itu akan lebih baik bagimu.” Dan beliau sering berlindung dari siksa neraka dan siksa kubur, dan memerintahkan kaum muslimin untuk berlindung dalam tasyahud mereka dari siksa kubur, siksa neraka, fitnah hidup dan mati, dan fitnah Dajjal, hingga dikatakan bahwa doa ini wajib dalam shalat dan tidak sah kecuali dengannya. Dan ini lebih besar dari yang dapat kami sebutkan semuanya.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk menjenguk orang sakit, lalu melihatnya seperti anak burung, maka bersabda: “Apa yang biasa engkau doakan? Dia menjawab: Aku biasa mengucapkan: Ya Allah, apa yang Engkau akan hukum aku dengannya di akhirat, maka hukumlah aku dengannya di dunia. Maka beliau bersabda: Mahasuci Allah! Sesungguhnya engkau tidak mampu menanggung itu. Tidakkah engkau meminta kepada Allah pengampunan dan kesejahteraan?”

Dan dalam Musnad dari beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang diminta kepada Allah sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada permintaan pengampunan dan kesejahteraan.” Dan beliau bersabda kepada sebagian sahabatnya: “Apa yang engkau ucapkan ketika shalat? Dia menjawab: Aku meminta Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari neraka, adapun aku tidak pandai senandung-senandungmu dan senandung-senandung Muadz. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kami bersenandung tentang keduanya.”

Maka di manakah ini dengan keadaan orang yang berkata: Aku tidak mencintai-Mu untuk pahala-Mu karena itu adalah inti kepentinganku. Dan sesungguhnya aku mencintai-Mu untuk hukuman-Mu karena tidak ada kepentinganku di dalamnya. Dan harapan adalah inti kepentingan. Dan kami telah keluar dari diri kami sendiri, lalu apa urusan kami dengan harapan?

Maka ini dan yang semisalnya, perkataan terbaik tentang mereka adalah bahwa itu adalah ucapan yang tergelincir yang mungkin pemiliknya dimaafkan jika dia dikuasai akalnya seperti orang mabuk dan semisalnya. Dan tidak diabaikan kebaikan-kebaikan, muamalah-muamalah, ahwal-ahwal, dan kezuhudan mereka.

Tetapi yang mengingkari bahwa ini termasuk dari ahwal yang benar dan tingkatanat yang tinggi yang dilakukan hamba dan dia bersungguh-sungguh menuju ke sana, maka inilah yang tidak dapat dicampuradukkan pakaiannya dan jiwa para ulama tidak sabar terhadapnya. Dan jauh dari para pemimpin kaum dan imam-imam mereka dari kenaifan-kenaifan ini. Bahkan mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari hal itu. Ya, mungkin salah seorang dari mereka terjadi padanya suatu keadaan yang membuat dirinya berangan-angan bahwa seandainya Allah menyiksanya, dia akan ridha dengan siksaan-Nya, seperti ridha pemilik pahala dengan pahalanya. Dan dia bertekad untuk itu dengan hatinya. Tetapi ini adalah tekad dan angan-angan, dan pada kenyataannya tidak ada bekas dari hal itu sama sekali. Dan seandainya dia diuji dengan ujian yang paling ringan, niscaya dia berteriak dan minta tolong serta meminta kesejahteraan. Sebagaimana terjadi pada si pengucap, yaitu Samnun:

“Dan tidak ada bagiku dari cintamu kecuali Maka bagaimanapun Engkau kehendaki, ujilah aku”

Maka Allah mengujinya dengan sulit buang air kecil. Lalu hilang klaim ini darinya dan lenyap keadaannya. Dan dia mulai berkeliling pada anak-anak sekolah dan berkata: Doakan untuk pamanmu si pendusta.

Maka tekad pada keridaan adalah satu warna. Dan kenyataannya adalah warna lain.

Adapun perkataannya: Dan sesungguhnya Al-Qur’an menyebutkannya untuk faedah, yaitu untuk mendinginkan panasnya ketakutan.

Maka dikatakan: Bahkan untuk faedah-faedah banyak lainnya yang nyata.

Di antaranya: Menampakkan penghambaan, kefakiran, dan kebutuhan kepada apa yang diharapkan dari Tuhannya dan yang ditunggu-tunggu dari kebaikan-Nya, dan bahwa dia tidak dapat tidak butuh kepada karunia dan kebaikan-Nya sekedip mata pun.

Dan di antaranya bahwa Dia Yang Mahasuci menyukai dari hamba-hamba-Nya untuk mengharapkan-Nya, berharap kepada-Nya, dan meminta dari karunia-Nya; karena Dia adalah Raja yang Benar, Yang Maha Pemurah, yang paling murah ketika dimintai, paling luas ketika memberi, dan yang paling dicintai oleh Yang Maha Pemurah adalah diharapkan, ditunggu-tunggu, dan dimintai. Dan dalam hadits: “Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, Dia murka kepadanya.” Dan orang yang meminta adalah orang yang berharap dan memohon. Maka barangsiapa tidak berharap kepada Allah, Dia murka kepadanya.

Maka ini adalah faedah lain dari faedah-faedah harapan, yaitu terlepas dengannya dari murka Allah.

Di antaranya adalah bahwa harapan merupakan penghalau yang menggiringnya dalam perjalanan menuju Allah. Dan menjadikan perjalanan itu menyenangkan baginya. Dan mendorongnya untuk melakukannya. Dan membangkitkannya untuk senantiasa melazimi perjalanan itu. Seandainya tidak ada harapan, maka tidak akan ada seorang pun yang melakukan perjalanan. Sesungguhnya rasa takut saja tidak akan menggerakkan hamba. Yang menggerakkannya adalah cinta. Sedangkan yang mengusiknya adalah rasa takut. Dan yang menggiringnya adalah harapan.

Di antaranya adalah bahwa harapan melemparkannya ke ambang pintu kecintaan, dan menjatuhkannya di lorong masuknya. Karena setiap kali harapannya semakin kuat dan ia memperoleh apa yang diharapkannya, maka bertambahlah kecintaannya kepada Allah Ta’ala, dan syukurnya kepada-Nya, dan ridha kepadanya dan dari-Nya.

Di antaranya adalah bahwa harapan membangkitkannya menuju tingkatan yang paling tinggi. Yaitu tingkatan syukur, yang merupakan inti dari penghambaan. Karena apabila ia memperoleh apa yang diharapkannya, maka hal itu lebih mendorong untuk bersyukur.

Di antaranya adalah bahwa harapan mengharuskan baginya tambahan ma’rifat tentang Allah dan nama-nama-Nya serta makna-maknanya, dan keterikatan dengan nama-nama itu. Karena orang yang berharap adalah orang yang terikat dengan nama-nama-Nya yang indah, beribadah dengan nama-nama itu, dan berdoa dengan nama-nama itu. Allah Ta’ala berfirman: Surat Al-A’raf ayat 180: “Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya itu.” Maka tidak sepatutnya ia meninggalkan doanya dengan nama-nama-Nya yang indah yang merupakan perkara paling agung yang dengannya orang yang berdoa itu berdoa. Maka celaan terhadap tingkatan harapan adalah menelantarkan penghambaan kepada nama-nama ini, dan menelantarkan doa dengan nama-nama itu.

Di antaranya: Bahwa kecintaan tidak terpisah dari harapan – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya – maka setiap satu dari keduanya menopang yang lain dan menguatkannya.

Di antaranya: Bahwa rasa takut mengharuskan adanya harapan. Dan harapan mengharuskan adanya rasa takut. Maka setiap orang yang berharap adalah orang yang takut. Dan setiap orang yang takut adalah orang yang berharap. Dan karena alasan inilah, baik sekali diletakkannya harapan pada tempat yang baik sekali diletakkan di situ rasa takut. Allah Ta’ala berfirman: Surat Nuh ayat 13: “Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?” Banyak dari para mufassir berkata: Maknanya adalah mengapa kamu tidak takut akan keagungan Allah? Mereka berkata: Harapan bermakna ketakutan.

Dan yang benar adalah bahwa harapan melekat padanya. Maka setiap orang yang berharap adalah orang yang takut akan hilangnya harapannya. Dan rasa takut tanpa harapan adalah putus asa dan kekecewaan. Allah Ta’ala berfirman: Surat Al-Jatsiyah ayat 14: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.” Mereka berkata dalam menafsirkannya: Tidak takut akan azab Allah yang menimpa mereka, seperti azab-Nya yang menimpa umat-umat sebelum mereka.

Di antaranya: Bahwa hamba apabila hatinya terikat dengan harapan kepada Tuhannya, lalu Dia memberinya apa yang diharapkannya, maka hal itu adalah yang paling lembut kejatuhannya, dan paling manis bagi hamba. Dan lebih sempurna daripada diperolehnya apa yang tidak diharapkannya. Dan ini adalah salah satu sebab dan hikmah dalam menjadikan orang-orang mukmin berada di antara harapan dan ketakutan di dunia ini. Maka sesuai kadar harapan dan ketakutan mereka akan menjadi kegembiraan mereka di hari kiamat dengan diperolehnya apa yang diharapkan dan terhindarnya apa yang ditakuti.

Di antaranya: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki dari hamba-Nya penyempurnaan tingkatan-tingkatan penghambaan dirinya berupa kehinaan dan kepatahan hati, dan tawakal dan meminta pertolongan, dan takut dan harap, dan sabar dan syukur, dan ridha dan taubat dan lain-lainnya. Dan untuk itulah Dia mentakdirkan dosa padanya dan mengujinya dengannya, agar sempurna tingkatan-tingkatan penghambaan dirinya dengan taubat yang merupakan salah satu penghambaan hamba-Nya yang paling dicintai oleh-Nya, demikian pula penyempurnaannya dengan harapan dan ketakutan.

Di antaranya: Bahwa dalam harapan – berupa penantian dan perhatian dan pengharapan atas karunia Allah – terdapat apa yang mewajibkan keterikatan hati dengan mengingat-Nya dan senantiasa memperhatikan-Nya dengan memerhatikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan perpindahan hati dalam taman-taman-Nya yang indah, dan mengambil bagiannya dari setiap nama dan sifat – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya – maka apabila ia musnah dari hal itu dan lalai darinya, maka luputlah bagian dan nasibnya dari makna-makna nama dan sifat-sifat ini.

Dan masih ada manfaat-manfaat lain yang banyak. Yang dapat dilihat oleh orang yang baik perenungan dan pemikirannya dalam menggalinya. Dan kepada Allah-lah taufik.

Dan Allah berterima kasih atas usaha Syaikhul Islam, dan meninggikan tingkatannya. Dan membalasnya dengan balasan yang terbaik. Dan mengumpulkan antara kami dan dirinya di tempat kemuliaan-Nya. Seandainya muridnya mendapati kelapangan dan kesempatan dalam meninggalkan bantahan kepadanya dan membantah ucapannya, niscaya ia tidak akan melakukannya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah telah memberikan manfaat kepadanya dengan ucapannya? Dan ia duduk di hadapannya dengan duduknya murid dari gurunya, dan ia adalah salah seorang yang di tangannya terjadi pembukaan untuknya dalam keadaan terjaga maupun dalam mimpi?

Dan ini adalah puncak usaha orang yang sedikit pengetahuannya di tempat ini. Maka barangsiapa yang memiliki kelebihan ilmu, hendaklah ia memberikannya dengan murah hati, atau hendaklah ia memberikan maaf, dan janganlah ia tergesa-gesa mengingkari. Maka betapa jauh perbedaan antara burung hud-hud dan Nabi Allah Sulaiman? Dan ia berkata kepadanya: Surat An-Naml ayat 22: “Aku mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.” Dan Syaikhul Islam tidaklah lebih berilmu daripada Nabi Allah. Dan orang yang membantahnya tidak lebih bodoh daripada burung hud-hud. Dan kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan dan Dia Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan-Tingkatan Harapan

Tingkatan Pertama: Harapan yang Membangkitkan Orang yang Beramal untuk Bersungguh-sungguh

Pasal

Penyusun kitab Manazil berkata:

Harapan itu ada tiga tingkatan: Tingkatan pertama: Harapan yang membangkitkan orang yang beramal untuk bersungguh-sungguh. Dan melahirkan kelezatan dalam pengabdian, dan membangunkan tabiat untuk dengan murah hati meninggalkan larangan-larangan. Yaitu menggiatkannya untuk mencurahkan usahanya demi apa yang diharapkannya dari pahala Tuhannya. Karena barangsiapa yang mengetahui kadar tujuannya, maka ringan baginya apa yang dikeluarkan untuk tujuan itu.

Adapun melahirkan kelezatan dalam pengabdian, maka sesungguhnya setiap kali hatinya memandang buahnya dan baiknya akibatnya, maka ia merasakan kelezatan dengannya. Dan ini seperti keadaan orang yang mengharapkan keuntungan-keuntungan besar dalam perjalanannya, dan menanggung kesulitan-kesulitan perjalanan untuk tujuan itu. Maka setiap kali ia membayangkannya untuk hatinya, maka ringan baginya kesulitan-kesulitan tersebut dan ia merasakan kelezatan dengannya. Dan demikian pula kekasih yang benar yang berusaha dalam hal-hal yang diridhai kekasihnya yang berat baginya, setiap kali ia merenungkan buah keridhaan kekasihnya kepadanya dan penerimaannya atas usahanya, dan kedekatannya dengannya, maka ia merasakan kelezatan dengan usaha-usaha tersebut, dan setiap kali kuatlah ilmu hamba tentang berujungnya sebab tersebut kepada akibat yang dituju, dan kuatlah ilmunya tentang kadar akibat dan dekatnya sebab darinya, maka bertambahlah kenikmatannya dalam melakukannya.

Adapun membangunkan tabiat untuk dengan murah hati meninggalkan larangan-larangan: Maka sesungguhnya tabiat memiliki hak dan kebiasaan yang dituntutnya dari hamba. Dan tidak akan murah hati kepadanya untuk meninggalkannya kecuali dengan ganti yang lebih dicintainya daripada hak dan kebiasaannya, dan lebih mulia di sisinya darinya dan lebih bermanfaat baginya. Maka apabila kuatlah keterikatan harapan dengan ganti yang lebih utama dan lebih mulia ini, maka murah hatilah tabiat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dan hak tersebut. Karena jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya kecuali untuk sesuatu yang dicintai yang lebih dicintainya darinya. Atau karena takut dari sesuatu yang ditakuti yang lebih besar kerusakannya baginya daripada diperolehnya kemaslahatan dengan yang dicintai tersebut. Dan pada hakikatnya pelariannya dari yang ditakuti tersebut adalah memilih lawannya yang dicintai baginya. Maka ia tidak meninggalkan sesuatu yang dicintai kecuali untuk apa yang lebih dicintainya darinya. Karena barangsiapa yang disuguhkan kepadanya makanan lezat yang membahayakannya dan menyebabkan penyakit baginya. Maka ia meninggalkannya hanya karena cinta kepada kesehatan yang lebih dicintainya daripada makanan tersebut.

Tingkatan Kedua: Harapan Para Ahli Riyadhah agar Mereka Mencapai Kedudukan di Mana Tekad Mereka Menjadi Bersih

Ia berkata: Tingkatan kedua harapan para ahli riyadhah agar mereka mencapai kedudukan di mana tekad mereka menjadi bersih, dengan membuang hal-hal yang menyenangkan, dan melazimi syarat-syarat ilmu, dan menyelidiki batasan-batasan penjagaan.

Para ahli riyadhah: Mereka adalah orang-orang yang berjihad melawan diri mereka dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka, dan menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik dan lebih sempurna darinya, maka harapan mereka adalah agar mereka mencapai tujuan mereka dengan jernihnya waktu, dan tekad dari keterikatan dengan hal-hal yang menyenangkan. Dan memurnikan perhatian dari memperhatikannya. Dan dengan melazimi syarat-syarat ilmu. Yaitu berhenti pada batasan-batasan hukum-hukum agama. Karena harapan mereka terikat dengan diperolehnya hal itu bagi mereka, dan menyelidiki batasan-batasan penjagaan.

Dan penjagaan adalah pemeliharaan dan penolakan dari mengonsumsi apa yang dikhawatirkan bahayanya di akhirat atau di dunia. Dan penjagaan memiliki batasan-batasan yang apabila hamba keluar darinya maka rusaklah tujuannya, dan berhenti pada batasan-batasannya dengan melazimi syarat-syarat ilmu.

Dan penyelidikan dalam batasan-batasan tersebut dengan dua perkara: mencurahkan usaha dalam mengetahuinya secara ilmu, dan mengambil diri untuk berhenti padanya secara permintaan dan tujuan.

Tingkatan Ketiga: Harapan Para Pemilik Hati

Ia berkata: Tingkatan ketiga: Harapan para pemilik hati. Dan itu adalah harapan untuk bertemu dengan Sang Pencipta yang membangkitkan kerinduan, yang membuat benci yang mengurangi kenyamanan hidup, yang membuat zuhud terhadap makhluk.

Harapan ini adalah jenis harapan yang paling utama dan paling tinggi, Allah Ta’ala berfirman: Surat Al-Kahfi ayat 110: “Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” Dan Allah Ta’ala berfirman: Surat Al-Ankabut ayat 5: “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang.”

Dan harapan ini adalah iman yang murni dan sarinya, dan kepadanyalah pandangan orang-orang yang merindukan tertuju. Dan untuk itulah Allah Ta’ala menghibur mereka dengan datangnya waktu perjumpaan-Nya. Dan menetapkan untuk mereka waktu yang menenangkan jiwa-jiwa mereka dan menenteramkannya.

Dan kerinduan adalah perjalanan hati dalam mencari kekasihnya.

Para kekasih berbeda pendapat: Apakah kerinduan tetap ada ketika bertemu dengan kekasih ataukah hilang? Dalam dua pendapat.

Sekelompok berkata: Hilang; karena kerinduan hanya ada dengan ketiadaan. Dan ia adalah perjalanan hati menuju kekasih. Maka apabila perjalanan berakhir, dan ia berkumpul dengan kekasihnya, maka ia meletakkan tongkat kerinduannya dari pundaknya. Dan kerinduannya berubah menjadi keintiman dengannya dan kelezatan dengan kedekatannya.

Dan sekelompok berkata: Bahkan bertambah dan tidak hilang dengan perjumpaan.

Mereka berkata: Karena cinta menjadi kuat dengan menyaksikan keindahan kekasih berlipat ganda dari apa yang ada ketika ketiadaannya. Dan yang menyembunyikan kekuasaannya adalah kemusnahannya dan ketakjubannya dengan melihat kekasihnya, sampai apabila kekasih menghilang darinya, maka muncullah kekuasaan kerinduannya kepadanya, dan untuk itulah dikatakan:

Dan paling besar kerinduan itu pada suatu hari … Apabila kemah-kemah mendekat dari kemah-kemah

Dan kami telah menyebutkan masalah ini secara lengkap dan bagian-bagiannya dalam kitab kami yang besar tentang kecintaan. Dan dalam kitab Safarul Hijrataini. Dan kami akan kembali kepadanya apabila kami sampai pada tingkatannya insya Allah Ta’ala.

Dan perkataannya “yang mengurangi kenyamanan hidup” maka tidak diragukan bahwa kehidupan orang yang merindukan itu berkurang kenyamanannya sampai ia bertemu dengan kekasihnya. Di situlah matanya menjadi sejuk. Dan hilang dari kehidupannya pengurangan kenyamanannya. Dan demikian pula ia menjadi zuhud terhadap makhluk dengan kezuhudan yang paling sempurna; karena pemiliknya adalah pencari keintiman dengan Allah dan kedekatan dengan-Nya. Maka ia adalah yang paling zuhud terhadap makhluk, kecuali yang membantunya dalam tujuan ini dari mereka dan mengantarkannya kepadanya. Maka ia adalah makhluk Allah yang paling dicintai baginya. Dan ia tidak berasa intim dari makhluk kecuali dengannya. Dan tidak tenang kecuali kepadanya. Maka wajib bagimu mencari teman seperti ini dengan sungguh-sungguhmu. Maka jika kamu tidak memperolehnya maka jadikanlah Allah sebagai sahabat. Dan tinggalkanlah manusia semuanya.

Matilah dengan penyakit cinta, dan jika tidak maka beranilah … Dan datanglah ke kampung sedangkan mata-mata memandang

Jangan takut akan kesunyian jalan apabila kamu datang … Dan jadilah dalam perlindungan cinta sebagai musafir

Dan sabarlah jiwa sejenak dari selain mereka Maka apabila ia tidak mau untuk sabar maka bersabarlah … Dan berpuasalah pada hari ini dan jadikanlah berbuka pada suatu hari

Di situ kamu bertemu kekasih dengan kegembiraan yang bersyukur … Dan sapihkanlah jiwa dari selain-Nya maka semua kehidupan setelah penyapihan menuju kepadamu

Dan perhatikanlah isi hati dan malulah … Dari Allah pada hari ketika rahasia-rahasia diuji

Dan jadikanlah perhatian satu maka Allah akan mencukupimu … Dari perhatian-perhatian yang beraneka ragam maka Tuhanmu Maha Kuasa

Dan tunggulah hari panggilan makhluk kepada Allah … Tuhan mereka dari perut-perut kubur

Dan dengarkanlah apa yang dengannya kamu dipanggil … Dengan sifat-sifat yang muncul di tengah kumpulan

Dan tanda-tanda yang tampak pada wajah-wajah makhluk … Dengan jelas terlihat pada setiap orang yang melihat

Wahai saudaraku yang berakal, sesungguhnya perjalanan adalah tekad … Kemudian kesabaran yang dikuatkan dengan pandangan yang tajam

Wahai betapa beruntungnya tiga perkara ini barangsiapa yang memperolehnya … Akan naik pada hari tambahan di atas mimbar-mimbar

Maka bersungguh-sungguhlah dalam apa yang dikatakan kepadamu … Kabar gembira dengan ini, pada hari diumumkannya kabar-kabar gembira

Amal yang ikhlas dengan timbangan wahyu … Bersama rahasia yang ada di hati yang hadir

Pasal: Tingkatan Ar-Raghbah (Keinginan Kuat)

Perbedaan antara Ar-Raghbah dan Ar-Raja’ (Harapan)

Pasal Tingkatan Ar-Raghbah

Dan di antara tingkatan-tingkatan: Surat Al-Fatihah ayat 5: “Hanya Kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah tingkatan ar-raghbah (keinginan kuat).

Allah Azza wa Jalla berfirman: Surat Al-Anbiya’ ayat 90: “Mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” Dan perbedaan antara raghbah dan raja’ adalah bahwa raja’ adalah harapan. Dan raghbah adalah permintaan. Maka ia adalah buah dari harapan. Karena apabila ia berharap sesuatu, maka ia memintanya. Dan raghbah dari raja’ seperti lari dari rasa takut. Maka barangsiapa yang berharap sesuatu, maka ia memintanya dan berkeinginan kuat kepadanya. Dan barangsiapa yang takut terhadap sesuatu, maka ia lari darinya.

Dan yang dimaksud adalah bahwa orang yang berharap adalah peminta, dan orang yang takut adalah pelari.

Penyusun kitab Manazil berkata:

Ar-raghbah adalah dari ar-raja’ pada hakikatnya; karena ar-raja’ adalah harapan yang memerlukan penyempurnaan dan ar-raghbah adalah perjalanan atas penyempurnaan.

Yaitu ar-raghbah terlahir dari ar-raja’. Tetapi ar-raja’ adalah harapan. Dan ar-raghbah adalah perjalanan dan permintaan.

Dan perkataannya: Ar-raja’ adalah harapan yang memerlukan penyempurnaan yaitu harapan terhadap sesuatu yang ghaib darinya yang diragukan diperolehnya, walaupun ia pasti pada dirinya, seperti harapan hamba masuk surga. Maka sesungguhnya surga adalah pasti tidak diragukan. Dan keraguannya hanya pada masuknya ke dalamnya. Dan apakah ia akan bertemu Tuhannya dengan amal yang menghalanginya darinya atau tidak? Berbeda dengan ar-raghbah maka sesungguhnya ia tidak ada kecuali setelah adanya kepastian apa yang dikehendaki dengan kuat. Maka iman dalam ar-raghbah lebih kuat daripada dalam ar-raja’. Maka untuk itulah ia berkata: Dan ar-raghbah adalah perjalanan atas penyempurnaan.

Ini adalah makna ucapannya. Dan di dalamnya terdapat perdebatan.

Karena ar-raghbah juga adalah permintaan terhadap sesuatu yang ghaib, yang ia ragu akan diperolehnya. Karena orang mukmin berkeinginan kuat terhadap surga dan ia tidak yakin akan masuk ke dalamnya. Maka perbedaan yang benar adalah bahwa ar-raja’ adalah harapan dan ar-raghbah adalah permintaan. Maka apabila kuat harapan, maka menjadi permintaan.

Tingkatan-Tingkatan Keinginan

Tingkatan Pertama: Keinginan Ahli Pengetahuan

Ia berkata: Keinginan itu terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama: keinginan ahli pengetahuan. Keinginan ini terlahir dari ilmu, kemudian mendorong pada kesungguhan yang terkait dengan penyaksian, serta menjaga para penempuh jalan dari kelemahan kelesuan, dan mencegah pemiliknya dari kembali kepada kehinaan keringanan-keringanan.

Yang dimaksud dengan pengetahuan di sini adalah iman yang lahir dari keterangan-keterangan (ajaran). Oleh karena itu, ia menjadikan kelahirannya dari ilmu. Namun, iman ini terhubung dengan kedudukan ihsan, mengawasi dan sampai kepadanya. Oleh karena itu ia berkata: yang terkait dengan yang disaksikan, yakni yang menyertai penyaksian. Penyaksian itu adalah tingkatan ihsan, yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Tidak ada penyaksian bagi hamba di dunia yang lebih tinggi dari ini.

Menurut banyak sufi, di atasnya ada penyaksian yang lebih tinggi, yaitu menyaksikan Yang Haq dengan ketiadaan dari segala sesuatu selain-Nya, dan itu adalah tingkatan fana. Engkau telah mengetahui apa yang ada padanya.

Seandainya ada tingkatan lain di atas tingkatan ihsan, tentu Nabi shallallahu alaihi wasallam akan menyebutkannya kepada Jibril, dan Jibril akan menanyakannya. Sesungguhnya beliau telah mengumpulkan semua tingkatan agama dalam Islam, iman, dan ihsan. Memang fana yang terpuji adalah merealisasikan tingkatan ihsan, yaitu fana dengan cinta, takut, dan harap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya dari selain-Nya. Tidak ada tingkatan yang diminta di atasnya kecuali yang merupakan gejala-gejala perjalanan saja.

Perkataannya: dan menjaga penempuh jalan dari kelemahan kelesuan, artinya menjaganya dari kelemahan kefutursn dan kemalasannya yang sebabnya adalah tidak adanya keinginan atau sedikitnya.

Perkataannya: dan mencegah pemiliknya dari kembali kepada kehinaan keringanan-keringanan. Ahli kesungguhan membangun perkaranya atas keseriusan dan kejujuran, maka ketenangan mereka kepada keringanan-keringanan adalah kemunduran dan kebatilan.

Ini adalah tempat yang memerlukan perincian, tidak bersifat mutlak. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla senang jika diambil keringanan-Nya sebagaimana Ia senang jika diambil kesungguhan-Nya. Dalam Musnad diriwayatkan secara marfu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah senang jika diambil keringanan-Nya sebagaimana Ia benci jika dilakukan kemaksian kepada-Nya.” Maka Ia menjadikan mengambil keringanan sebagai lawan melakukan kemaksian, dan menjadikan bagian yang ini adalah kecintaan, sedangkan bagian yang itu adalah kebencian. Tidaklah ditawarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dua perkara kecuali beliau memilih yang lebih mudah, selama itu bukan dosa. Dan keringanan lebih mudah daripada kesungguhan. Demikianlah keadaan beliau dalam berbuka puasa dan bepergian, mengumpulkan antara dua shalat, mencukupkan shalat empat rakaat dengan dua rakaat, dan selain itu. Maka kami katakan:

Keringanan ada dua macam: Pertama, keringanan yang tetap dan diketahui dari syariat secara nash, seperti makan bangkai, darah, dan daging babi ketika darurat – meskipun disebut kesungguhan dengan pertimbangan perintah dan kewajiban, namun ia adalah keringanan dengan pertimbangan izin dan kelapangan. Seperti berbuka puasa orang sakit dan musafir, mengqashar shalat dalam perjalanan, shalat orang sakit jika sulit baginya berdiri maka boleh duduk, berbuka puasa wanita hamil dan menyusui karena khawatir terhadap anaknya, menikahi budak karena takut berbuat zina, dan semacam itu. Maka tidak ada dalam mengambil keringanan-keringanan ini yang melemahkan keinginannya, tidak mengembalikan kepada kehinaan, dan tidak mengurangi tuntutan dan keinginannya sama sekali. Karena di antaranya ada yang wajib seperti makan bangkai ketika darurat, di antaranya ada yang lebih maslahat seperti berbuka puasa orang sakit yang berpuasa dan mengqashar serta berbuka puasa musafir, dan di antaranya yang maslahatnya untuk yang mengambil keringanan dan lainnya, maka padanya ada dua maslahat yang terbatas dan yang mencakup seperti berbuka puasa wanita hamil dan menyusui.

Maka melakukan keringanan-keringanan ini lebih utama dan lebih baik daripada meninggalkannya.

Jenis kedua: keringanan takwil dan perbedaan madzhab. Ini, jika diikuti, adalah haram yang mengurangi keinginan, melemahkan tuntutan, dan mengembalikan yang mengambil keringanan kepada kehinaan keringanan-keringanan.

Sesungguhnya barangsiapa yang mengambil keringanan dengan pendapat penduduk Mekah dalam ash-sharf, penduduk Irak dalam minuman-minuman, penduduk Madinah dalam makanan-makanan, penganut hiyal dalam muamalat, pendapat Ibnu Abbas tentang nikah mutah dan membolehkan daging keledai jinak, pendapat yang membolehkan menikahi para pelacur yang dikenal berbuat zina dan membolehkan menjadi suami seorang pelacur, pendapat yang membolehkan alat-alat hiburan dan musik dari seruling, tambur, kecapi, gendang, dan suling, pendapat yang membolehkan nyanyian, pendapat yang membolehkan meminjam budak cantik untuk disetubuhi, pendapat yang membolehkan orang berpuasa makan es batu dengan mengatakan: itu bukan makanan dan bukan minuman, pendapat yang membolehkan makan antara terbit fajar hingga terbit matahari bagi orang berpuasa, pendapat yang membenarkan shalat dengan bacaan bahasa Persia, rukuk sebentar seperti sekilas pandang, kemudian sujud tanpa iktidal, dan memisahkan antara dua sujud seperti tajamnya pedang, tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan keluar dari shalat dengan kentut, pendapat yang membolehkan menyetubuhi wanita di pantatnya, menikahi anak perempuannya yang tercipta dari spermanya yang keluar dari tulang sulbinya secara hakiki jika kehamilan itu dari zina, dan semacamnya dari keringanan-keringanan madzhab dan pendapat para ulama. Inilah yang mengurangi keinginannya dengan mengambil keringanan, melemahkan tuntutannya, dan melemparkannya kepada kehinaan keringanan-keringanan. Ini satu warna dan yang pertama warna lain.

TINGKATAN KEDUA: KEINGINAN PEMILIK HAL

Ia berkata: Tingkatan kedua: keinginan pemilik hal. Yaitu keinginan yang tidak menyisakan dari usaha yang terberi, tidak membiarkan semangat layu, dan tidak meninggalkan selain tujuan yang diharapkan.

Maksudnya bahwa keinginan yang dicapai oleh pemilik hal di atas keinginan pemilik pengetahuan, karena pemilik hal seperti yang terpaksa kepada keinginan dan kehendaknya. Maka ia seperti ngengat yang jika melihat cahaya langsung menjatuhkan dirinya ke dalamnya dan tidak peduli apa yang menimpanya. Maka keinginannya tidak menyisakan dari usahanya yang mampu ia lakukan kecuali ia curahkan, tidak membiarkan semangatnya dan tekadnya futur dan padam, dan tekadnya dalam pertambahan sejumlah napas, dan tidak meninggalkan di hatinya bagian untuk selain tujuannya, dan itu karena dominasi kekuatan hal.

Pemilik hal ini tidak dapat dilawan kecuali oleh hal yang seperti halnya atau lebih kuat darinya. Dan jika ia tidak menemukan hal yang melawannya maka ia memiliki pengaruh dan dampak sesuai dengan halnya.

TINGKATAN KETIGA: KEINGINAN AHLI PENYAKSIAN

Ia berkata: Tingkatan ketiga: keinginan ahli penyaksian. Yaitu kemuliaan yang disertai kehati-hatian, mendorongnya kepadanya semangat yang bersih, tidak menyisakan bersamanya sedikit pun dari perpecahan.

Syaikh mengisyaratkan dengan itu kepada keadaan fana yang mendorongnya semangat yang bersih dari kotoran berpaling kepada selain Yang Haq, sehingga tidak tersisa bersamanya sisa dari perpecahan. Bahkan seluruh penyaksiannya telah berkumpul dan terbatas pada yang disaksikannya. Yang dimaksud dengan penyaksian di sini adalah penyaksian hakikat.

Perkataannya: kemuliaan, yakni berharap ketiadaan dalam fana.

Dan mungkin yang dimaksud adalah kemuliaan dari berpalingnya kepada selain yang disaksikannya. Dan kehati-hatian yang menyertai kemuliaan ini mungkin yang dimaksud adalah kehati-hatian dari menampakkan kepada manusia tentang keadaannya dan memperlihatkannya kepada mereka, sebagai penjagaan terhadapnya dan kecemburuan padanya.

Dan mungkin yang dimaksud adalah kehati-hatian dari berpalingnya dalam penyaksiannya kepada selain hadirat yang disaksikannya. Maka ia takut pada perpindahan itu dan berhati-hati sepenuh kehati-hatian.

Kemudian ia menyebutkan yang mendorongnya kepada keinginan ini, yaitu kelembutan yang mengerti dan menginginkan yang telah bersuci sebelum sampai kepada tujuan ini. Yaitu semangat yang bersih. Seandainya tidak tercapai baginya kesempurnaan kesucian, tentu tersisa padanya sisa yang mencegahnya dari sampai kepada tingkatan ini. Dan Allah Subhanahu wa Taala yang lebih mengetahui.

Pasal: Kedudukan Penjagaan

HAKIKAT PENJAGAAN

Pasal kedudukan penjagaan

Dan di antara kedudukan-kedudukan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan penjagaan.

Yaitu menjaga ilmu dan memeliharanya dengan amal, menjaga amal dengan ihsan dan ikhlas, dan memeliharanya dari yang merusak, menjaga hal dengan kesesuaian, dan memeliharanya dengan memutus perpecahan. Maka penjagaan adalah pemeliharaan dan perlindungan.

Dan tingkatan ilmu dan amal ada tiga: Riwayah: yaitu sekedar pemindahan dan membawa yang diriwayatkan. Dirayah: yaitu memahaminya dan memahami maknanya. Riayah: yaitu beramal dengan konsekuensi dari apa yang diketahuinya dan tuntutannya.

Maka para perawi fokusnya adalah riwayah, para ulama fokusnya adalah dirayah, dan para arif fokusnya adalah riayah. Dan Allah telah mencela yang tidak menjaga apa yang dipilih dan diciptakannya dari rahbaniyah dengan sebenar-benar penjagaan. Maka Allah Taala berfirman: “Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan rahbaniyah yang mereka ada-adakan, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengadakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (surah Al-Hadid: 27)

“Rahbaniyah” dinashabkan oleh “mereka ada-adakan” pada isytighal, baik dengan perbuatan yang disebutkan itu sendiri – menurut pendapat Kufah – atau dengan yang diperkirakan terhapus yang ditafsirkan dengan yang disebutkan ini – menurut pendapat Bashrah – yakni: mereka mengada-adakan rahbaniyah. Dan tidak dinashabkan dengan jatuhnya perbuatan padanya.

Maka waqaf yang sempurna pada firman-Nya: “dan kasih sayang” (surah Al-Hadid: 27), kemudian dimulai: “Dan rahbaniyah yang mereka ada-adakan” (surah Al-Hadid: 27), yakni: Kami tidak mensyariatkannya untuk mereka, bahkan mereka mengada-adakannya dari diri mereka sendiri, dan Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.

Dan dalam nashab firman-Nya: “untuk mencari keridhaan Allah” (surah Al-Hadid: 27) ada tiga wajah. Pertama: bahwa itu adalah maful lahu (keterangan tujuan), yakni Kami tidak mewajibkannya kepada mereka kecuali untuk mencari keridhaan Allah. Dan ini salah, karena Dia Subhanahu tidak mewajibkannya kepada mereka, bagaimana tidak sedangkan Dia telah mengabarkan bahwa mereka yang mengada-adakannya. Maka ia adalah bid’ah bukan yang diwajibkan. Dan juga karena maful lahu harus menjadi sebab bagi perbuatan pelaku yang disebutkan bersamanya, maka bersatu sebab dan tujuannya, seperti: aku berdiri untuk menghormati. Maka yang berdiri adalah yang menghormati. Dan perbuatan pelaku yang diberi illat di sini adalah kewajiban, dan “mencari keridhaan Allah” (surah Al-Hadid: 27) adalah perbuatan mereka, bukan perbuatan Allah. Maka tidak layak menjadi sebab bagi perbuatan Allah karena pelakunya berbeda.

Dan dikatakan: badal dari maful “Kami wajibkannya”, yakni Kami tidak wajibkannya kepada mereka kecuali untuk mencari keridhaan Allah.

Dan ini juga salah, karena mencari keridhaan Allah bukan esensi rahbaniyah sehingga menjadi badal sesuatu dari sesuatu, dan bukan sebagiannya sehingga menjadi badal sebagian dari keseluruhan, dan tidak salah satunya mengandung yang lain sehingga menjadi badal isytimal, dan bukan badal kesalahan.

Maka yang benar bahwa itu dinashabkan dengan nashab istitsna munqati. Yakni mereka tidak melakukannya dan tidak mengada-adakannya kecuali untuk mencari keridhaan Allah. Dan yang menunjukkan ini adalah firman-Nya: “mereka ada-adakan”, kemudian menyebutkan yang mendorong mereka dan penggerak untuk mengada-adakan rahbaniyah ini, yaitu mencari keridhaan. Kemudian mencela mereka dengan meninggalkan penjagaannya, karena barangsiapa mewajibkan untuk Allah sesuatu yang Allah tidak wajibkan kepadanya dari jenis-jenis ketaatan, maka wajib baginya menjaganya dan menyempurnakannya. Hingga banyak fuqaha mewajibkan orang yang memulai ketaatan yang disunnahkan hukumnya menyempurnakannya. Dan mereka menjadikan kewajiban dengan memulai seperti kewajiban dengan nadzar, sebagaimana dikatakan Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, dan itu adalah ijmak – atau seperti ijmak – dalam salah satu dari dua nusuk.

Mereka berkata: Dan kewajiban dengan memulai lebih kuat daripada kewajiban dengan ucapan. Maka sebagaimana wajib baginya apa yang ia wajibkan dengan nadzar sebagai pemenuhan, maka wajib baginya menjaga apa yang ia wajibkan dengan perbuatan untuk menyempurnakannya.

Dan ini bukan tempat menerangkan secara lengkap masalah ini.

Dan maksudnya: bahwa Allah Subhanahu wa Taala mencela yang tidak menjaga ibadah yang diciptakannya untuk Allah Taala dengan sebenar-benar penjagaan, maka bagaimana dengan yang tidak menjaga ibadah yang Allah syariatkan untuk hamba-hamba-Nya, memberikan izin padanya, dan mendorong kepadanya?!

Pasal: Tingkatan-Tingkatan Penjagaan

TINGKATAN PERTAMA: PENJAGAAN AMAL

Pasal

Penulis kitab “Manazil” berkata:

Penjagaan adalah pemeliharaan dengan perhatian. Dan ia terbagi menjadi tiga tingkatan tingkatan penjagaan. Tingkatan pertama: penjagaan amal. Yang kedua: penjagaan hal. Dan yang ketiga: penjagaan waktu-waktu.

Adapun pemeliharaan amal, maka adalah dengan melimpahkannya melalui meremehkannya, melaksanakannya tanpa memandang kepadanya, dan menjalankannya berdasarkan ilmu, bukan untuk berhias dengannya.

Adapun kata-katanya: penjagaan dengan perhatian, artinya menjaga dengan memperhatikan dan melaksanakan hak sesuatu yang dia pelihara. Seperti pengembala kambing.

Dan kata-katanya: adapun pemeliharaan amal, maka adalah dengan melimpahkannya melalui meremehkannya. Pelimpahan adalah keselamatan dari dua sisi kelalaian, yaitu kekurangan dan berlebihan dari cara yang disyariatkan dalam batasan-batasan, sifat-sifat, syarat-syarat, dan waktu-waktunya.

Adapun meremehkannya adalah menganggapnya kecil di matanya, menganggapnya sedikit, dan bahwa yang pantas bagi keagungan Allah dan kemuliaannya serta hak-hak penghambaan kepadanya adalah perkara lain. Dan bahwa dia belum memenuhi haknya. Dan bahwa dia tidak ridha untuk Tuhannya dengan amalnya, dan tidak dengan sesuatu pun darinya.

Telah dikatakan: tanda keridhaan Allah terhadap manusia adalah kepalinganmu dari dirimu sendiri. Dan tanda penerimaan amal adalah meremehkannya, menganggapnya sedikit, dan kecil di hatimu. Hingga seorang yang mengenal Allah beristighfar kepada Allah setelah ketaatannya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila memberi salam dari shalat, beristighfar kepada Allah tiga kali.

Dan Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk beristighfar setelah haji. Dan memuji mereka atas istighfar setelah qiyamullail. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan setelah bersuci untuk bertaubat dan beristighfar.

Maka barangsiapa menyaksikan kewajiban Tuhannya dan kadar amalnya, dan aib dirinya, maka dia tidak mendapati jalan lain selain memohon ampun kepada Tuhannya darinya, meremehkannya, dan menganggapnya kecil.

Adapun melaksanakannya adalah menyempurnakannya haknya, dan menjadikannya tegak seperti persaksian yang tegak, dan shalat yang tegak, dan pohon yang tegak di atas batangnya yang tidak roboh.

Dan kata-katanya: tanpa memandang kepadanya, artinya tanpa menoleh kepadanya dan menghitungnya serta menyebutkannya karena takut ujub dan merasa berjasa dengannya. Maka dia jatuh dari pandangan Allah dan amalan-amalannya akan sia-sia.

Dan kata-katanya: dan menjalankannya berdasarkan ilmu, yaitu bahwa amal itu berdasarkan tuntutan ilmu yang diambil dari pelita kenabian, dengan ikhlas kepada Allah, menginginkan wajahnya, dan mencari keridhaan-Nya, bukan atas dasar berhias dengannya di hadapan manusia.

Tingkatan Kedua: Pemeliharaan Keadaan

Katanya: Adapun pemeliharaan keadaan, tingkatan kedua dari tingkatan-tingkatan pemeliharaan, maka adalah bahwa dia menganggap kesungguhan sebagai riya, keyakinan sebagai pura-pura, dan keadaan sebagai klaim.

Artinya dia menuduh dirinya dalam kesungguhannya bahwa dia riya di hadapan manusia. Maka dia tidak sombong dengannya, tidak tenang kepadanya, dan tidak menganggapnya.

Adapun menganggap keyakinan sebagai pura-pura, maka pura-pura adalah: kesombongan manusia dengan apa yang tidak dimilikinya. Darinya adalah perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Orang yang berpura-pura dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”

Dan menganggap keyakinan sebagai pura-pura mengandung dua kemungkinan: Pertama: bahwa apa yang diperolehnya dari keyakinan bukanlah dengan dirinya, bukan darinya, dan tidak berhak mendapatkannya dengan ganti. Dan sesungguhnya itu adalah karunia Allah dan pemberian-Nya, titipan-Nya pada dirinya, dan semata-mata karunia-Nya kepadanya. Maka itu adalah pakaian kehormatan yang dipakaikan oleh tuannya kepadanya. Dan hamba beserta pakaian kehormatannya adalah milik-Nya dan bagi-Nya. Maka tidak ada campur tangan hamba dalam keyakinan. Dan sesungguhnya dia berpura-pura dengan apa yang adalah milik Allah dan karunia-Nya serta karunia-Nya kepada hamba-Nya.

Dan kemungkinan kedua: bahwa dia menuduh keyakinannya, dan bahwa dia belum memperoleh keyakinan dengan cara yang seharusnya, bahkan apa yang diperolehnya darinya seperti pinjaman bukan kepemilikan yang tetap. Maka dia berpura-pura dengan anggapan dirinya bahwa keyakinan adalah miliknya dan untuknya. Padahal tidak demikian. Dan ini tidak khusus untuk keyakinan, bahkan untuk seluruh keadaan. Maka orang yang jujur menganggap kejujurannya sebagai pura-pura. Demikian juga orang yang ikhlas menganggap keikhlasannya. Demikian juga orang yang berilmu, karena menuduh kejujurannya, keikhlasannya, dan ilmunya. Dan bahwa kakinya belum tertanam kokoh dalam itu. Dan belum diperolehnya di dalamnya kepemilikan. Maka dia seperti orang yang berpura-pura dengannya.

Dan ketika keyakinan adalah ruh amal dan tiangnya, dan puncak punuknya, maka dia menyebutkannya secara khusus sebagai peringatan terhadap yang di bawahnya.

Dan kesimpulannya bahwa dia menuduh dirinya dalam perolehan keyakinan. Maka jika diperoleh, bukanlah perolehannya dengan dirinya, bukan darinya, dan tidak ada sesuatu untuknya di dalamnya. Maka dia mencela dirinya ketika tidak memperolehnya, dan tidak memujinya ketika memperolehnya.

Adapun menganggap keadaan sebagai klaim, artinya klaim yang dusta, untuk menuduh dirinya, membersihkannya dari kecerobohan klaim, dan membebaskan hati dari bagian setan. Karena sesungguhnya klaim adalah dari bagian setan. Demikian juga hati yang tenang kepada klaim adalah tempat setan. Semoga Allah melindungi kita dari klaim dan dari setan.

Pasal: Tingkatan Ketiga – Pemeliharaan Waktu

Katanya: Adapun pemeliharaan waktu, tingkatan ketiga dari tingkatan-tingkatan pemeliharaan, maka adalah bahwa dia berhenti dengan setiap langkah, kemudian dia gaib dari kehadirannya dengan kejernihan dari wujudnya, kemudian dia hilang dari penyaksian jernih kejernihannya.

Artinya dia berhenti dengan gerakan lahir dan batinnya dengan kadar membenarkannya niat, tujuan, keikhlasan, dan keteladanan. Maka dia tidak melangkah dengan tiba-tiba dan sembarangan, bahkan dia berhenti sebelum melangkah hingga membenarkan langkahnya, kemudian memindahkan kaki tekadnya. Maka jika telah benar baginya dan dia memindahkan kakinya, dia terpisah darinya. Dan sungguh benar kegaiban dari penyaksiannya dan melihatnya. Maka dia gaib dari penyaksian kemajuannya dengan dirinya. Karena sesungguhnya wujudnya adalah dirinya. Maka jika dia gaib dari penyaksian dirinya dan kemajuannya dengannya dalam setiap langkah, maka itu adalah hakikat kejernihan dari wujudnya yang adalah dirinya. Maka pada saat itu dia menyaksikan karunia Tuhannya.

Dan ketika jiwa adalah tempat kekotoran, maka perpisahannya darinya dinamakan kejernihan. Dan perkara-perkara ini membutuhkan kelembutan pemahaman dan kesiapan dari hamba. Dan itu adalah hakikat karunia kepadanya.

Adapun hilangnya dari penyaksian kejernihannya, artinya dia tidak menghadirkannya dalam hatinya dan menyaksikan kejernihan yang dituju itu dan berhenti padanya. Karena sesungguhnya itu dari sisa-sisa jiwa dan hukum-hukumnya, dan itu adalah kekotoran. Maka jika dia terbebas dari kekotoran, tidak sepantasnya baginya untuk menoleh dan kembali kepadanya. Maka dia jernih dari wujud dan gaib dari kejernihan dengan penyaksian tujuan yang lebih tinggi dan maksud yang lebih mulia.

Pasal: Tingkatan Muraqabah (Pengawasan)

Hakikat Muraqabah

Pasal: Tingkatan muraqabah

Dan di antara tingkatan-tingkatan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5), adalah tingkatan muraqabah.

Allah berfirman: “Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam diri kalian, maka takutlah kepada-Nya” (Surat Al-Baqarah: 235). Dan Allah berfirman: “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (Surat Al-Ahzab: 52). Dan Allah berfirman: “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (Surat Al-Hadid: 4). Dan Allah berfirman: “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat” (Surat Al-Alaq: 14). Dan Allah berfirman: “Maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami” (Surat At-Thur: 48). Dan Allah berfirman: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Surat Ghafir: 19). Dan selain itu dari ayat-ayat.

Dan dalam hadits Jibril alaihissalam: bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang ihsan? Maka beliau berkata kepadanya: “Bahwa engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Definisi muraqabah: kesinambungan ilmu hamba dan keyakinannya akan pandangan Al-Haqq Subhanahu wa Taala terhadap lahir dan batinnya. Maka kesinambungannya untuk ilmu dan keyakinan ini adalah muraqabah, dan itu adalah buah ilmunya bahwa Allah Subhanahu pengawas atasnya, memandang kepadanya, mendengar perkataannya, dan Dia mengetahui amalnya setiap waktu, setiap saat, setiap napas, dan setiap kedipan mata. Dan orang yang lalai dari ini jauh dari keadaan ahli permulaan, apalagi keadaan murid-murid, apalagi keadaan orang-orang yang mengenal Allah.

Al-Jurayri berkata: Barangsiapa tidak menegakkan antara dirinya dan Allah Taala takwa dan muraqabah, maka tidak akan sampai kepada kasyaf dan musyahadah.

Dan dikatakan: Barangsiapa mengawasi Allah dalam khatir-khatirnya, Allah akan menjaganya dalam gerakan-gerakan anggota badannya.

Dan dikatakan kepada sebagian mereka: Kapan pengembala mengusir kambingnya dengan tongkatnya dari tempat-tempat penggembalaan yang membinasakan? Maka dia berkata: Jika dia mengetahui bahwa ada pengawas atasnya.

Dan Al-Junayd berkata: Barangsiapa merealisasikan muraqabah, maka dia takut terhadap hilangnya sejenak dari Tuhannya, tidak yang lain.

Dan Dzun-Nun berkata: Tanda muraqabah adalah mengutamakan apa yang diturunkan Allah, mengagungkan apa yang diagungkan Allah, dan mengecilkan apa yang dikecilkan Allah.

Dan dikatakan: Harapan menggerakkan kepada ketaatan, ketakutan menjauhkan dari kemaksiatan, dan muraqabah mengantarkanmu kepada jalan hakikat-hakikat.

Dan dikatakan: Muraqabah adalah memperhatikan hati untuk memperhatikan Al-Haqq dengan setiap khatir dan langkah.

Dan Al-Jurayri berkata: Perkara kami ini dibangun atas dua pasal: bahwa engkau mewajibkan dirimu muraqabah kepada Allah, dan bahwa ilmu tegak atas lahirmu.

Dan Ibrahim Al-Khawash berkata: Muraqabah adalah keikhlasan rahasia dan terang-terangan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan dikatakan: Sebaik-baik apa yang diwajibkan manusia kepada dirinya dalam jalan ini: muhasabah dan muraqabah, dan mengatur amalnya dengan ilmu.

Dan Abu Hafsh berkata kepada Abu Utsman An-Naisaburi: Jika engkau duduk untuk manusia, maka jadilah penasihat untuk hati dan jiwamu. Dan jangan tertipu dengan berkumpulnya mereka kepadamu. Karena sesungguhnya mereka mengawasi lahirmu, dan Allah mengawasi batinmu.

Dan para ahli jalan bersepakat bahwa mengawasi Allah Taala dalam khatir-khatir adalah sebab untuk menjaganya dalam gerakan-gerakan yang lahir. Maka barangsiapa mengawasi Allah dalam rahasianya, Allah akan menjaganya dalam gerakan-gerakannya dalam rahasia dan terang-terangannya.

Dan muraqabah adalah beribadah dengan nama-Nya Ar-Raqib, Al-Hafiizh, Al-Aliim, As-Samii’, Al-Bashiir. Maka barangsiapa berakal akan nama-nama ini dan beribadah dengan tuntutannya, maka akan diperoleh baginya muraqabah. Wallahu alam.

Pasal: Tingkatan-Tingkatan Muraqabah

Tingkatan Pertama: Muraqabah terhadap Al-Haqq Taala dalam Perjalanan kepada-Nya secara Terus-Menerus

Penulis kitab Manazil berkata:

Muraqabah: kesinambungan memperhatikan yang dituju. Dan itu ada pada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: muraqabah terhadap Al-Haqq Taala dalam perjalanan kepada-Nya secara terus-menerus, antara pengagungan yang mengagumkan, kedekatan yang memikul, dan kegembiraan yang mendorong.

Maka kata-katanya: kesinambungan memperhatikan yang dituju, artinya kesinambungan kehadiran hati bersamanya.

Dan perkataan beliau: antara pengagungan yang melalaikan, yaitu penuhnya hati dengan keagungan Allah Azza wa Jalla.

Sehingga hal itu melalaikannya dari mengagungkan selain-Nya, dan dari berpaling kepada selain-Nya. Maka ia tidak melupakan pengagungan ini ketika hatinya hadir bersama Allah. Bahkan ia senantiasa membawanya. Karena kehadiran bersama Allah menimbulkan ketenangan dan kecintaan, jika tidak disertai dengan pengagungan, maka akan menimbulkan pelampauan batas-batas penghambaan dan kesembronoan. Maka setiap cinta yang tidak disertai dengan pengagungan kepada yang dicintai adalah sebab untuk menjauh dari-Nya dan jatuh dari pandangan-Nya.

Maka sesungguhnya perkataan beliau mencakup lima perkara: perjalanan menuju Allah, kelanggengan perjalanan ini, kehadiran hati bersama-Nya, pengagungan kepada-Nya, dan terlalaikan oleh keagungan-Nya dari selain-Nya.

Adapun perkataannya: dan kedekatan yang membawa, maka yang dimaksud adalah kedekatan yang membawa kepada lima perkara ini. Dan kedekatan ini membawanya kepada pengagungan yang melalaikannya dari dirinya sendiri dan dari selain-Nya. Karena semakin ia dekat dengan Yang Haq, semakin bertambah pengagungannya kepada-Nya, terlalaikan dari selain-Nya, dan menjauh dari makhluk.

Adapun kegembiraan yang mendorong, yaitu kebahagiaan, pengagungan, dan kelezatan yang ia rasakan dalam kedekatan tersebut. Karena sesungguhnya kegembiraan hati dengan Allah, kebahagiaannya dengan-Nya, dan kesejukan mata dengannya, sama sekali tidak menyerupai kenikmatan dunia. Dan tidak ada yang serupa untuk dapat dibandingkan dengannya. Ini adalah keadaan dari keadaan-keadaan penghuni surga. Hingga sebagian orang yang mengenal Allah berkata: Sungguh pernah berlalu atas diriku waktu-waktu yang aku katakan di dalamnya: Jika ahli surga berada dalam keadaan seperti ini, sesungguhnya mereka berada dalam kehidupan yang baik.

Dan tidak diragukan bahwa kegembiraan ini mendorongnya untuk terus berjalan menuju Allah Azza wa Jalla, mencurahkan segala kemampuan dalam mencari-Nya, dan mengharap keridaan-Nya. Dan barangsiapa yang tidak merasakan kegembiraan ini, atau sesuatu darinya, hendaklah ia menuduh imannya dan amal-amalnya. Karena iman memiliki manisnya, barangsiapa yang tidak merasakannya hendaklah ia kembali dan mengambil cahaya yang dengannya ia merasakan manisnya iman.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan merasakan rasa iman dan menemukan manisnya. Maka beliau menyebutkan rasa dan penemuan, dan mengaitkannya dengan iman. Beliau bersabda: “Telah merasakan rasa iman orang yang ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul.” Dan beliau bersabda: “Tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka ia merasakan manisnya iman: Orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Orang yang mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan orang yang membenci untuk kembali kepada kekafiran – setelah Allah menyelamatkannya darinya – sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.” Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata: Jika engkau tidak merasakan manisnya dalam hatimu dan kelapangan dari amal, maka tuduh amal itu, karena sesungguhnya Rabb Ta’ala adalah Maha Mensyukuri. Maksudnya bahwa Dia pasti memberi balasan kepada orang yang beramal atas amalnya di dunia berupa manisnya yang ia rasakan dalam hatinya, kekuatan kelapangan, dan kesejukan mata. Maka ketika ia tidak merasakan itu, amalnya cacat.

Tingkatan Kedua: Muraqabah terhadap Pandangan Yang Haq dengan Menolak Pertentangan

Beliau berkata: Tingkatan kedua dari tingkatan-tingkatan muraqabah: muraqabah terhadap pandangan Yang Haq dengan menolak pertentangan, dengan berpaling dari keberatan, dan menghancurkan kesembronoan dalam menampakkan diri.

Ini adalah muraqabah terhadap muraqabah Allah kepadamu. Maka ini adalah muraqabah terhadap sifat khusus tertentu. Dan ini mewajibkan penjagaan batin dan lahir. Maka penjagaan lahir: dengan menjaga gerakan-gerakan yang tampak. Dan penjagaan batin: dengan menjaga bisikan dan kehendak serta gerakan-gerakan batin, yang darinya menolak pertentangan terhadap perintah dan kabar-Nya. Maka batin terbebas dari setiap syahwat dan kehendak yang menentang perintah-Nya, dari setiap kehendak yang menentang kehendak-Nya, dari setiap syubhat yang menentang kabar-Nya, dan dari setiap kecintaan yang bersaing dengan kecintaan-Nya. Dan inilah hakikat hati yang selamat yang tidak akan selamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengannya. Dan inilah hakikat kejernihan orang-orang yang berbakti, yang muqarrabin, yang mengenal. Dan setiap kejernihan selain ini adalah kurang. Dan ini adalah kejernihan pemilik tekad yang kuat.

Kemudian Syaikh menjelaskan sebab pertentangan, dan dengan apa hamba menolaknya. Beliau berkata: dengan berpaling dari keberatan. Karena sesungguhnya pertentangan terlahir dari keberatan.

Dan keberatan ada tiga jenis yang menyebar di kalangan manusia. Dan terpelihara adalah orang yang Allah memeliharanya darinya.

Jenis pertama: Keberatan terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan syubhat-syubhat batil, yang oleh pemiliknya mereka namakan dalil-dalil akal yang pasti. Padahal hakikatnya adalah khayalan-khayalan kebodohan, dan kemustahilan-kemustahilan pikiran, yang mereka keberatan dengannya terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya Azza wa Jalla. Dan mereka menghakimi dengannya atas-Nya. Dan mereka menafikan karenanya apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkannya untuk-Nya. Dan mereka menetapkan apa yang Dia nafikan, dan mereka memusuhi karenanya kekasih-kekasih-Nya, dan bersahabat karenanya musuh-musuh-Nya. Dan mereka menyelewengkan karenanya kalimat dari tempat-tempatnya. Dan mereka melupakan karenanya bagian besar dari apa yang mereka diperingatkan dengannya. Dan mereka memecah-belah karenanya urusan mereka di antara mereka menjadi bagian-bagian, setiap golongan gembira dengan apa yang ada pada mereka.

Dan yang memelihara dari keberatan ini adalah penyerahan murni kepada wahyu. Maka jika hati menyerah kepadanya, ia melihat kebenaran apa yang dibawa olehnya, dan bahwa itu adalah kebenaran dengan akal dan fitrah yang jelas. Maka terkumpul baginya pendengaran, akal, dan fitrah. Dan ini adalah iman yang paling sempurna. Bukan seperti orang yang perang sedang terjadi antara pendengarannya, akalnya, dan fitrahnya.

Jenis kedua: Keberatan terhadap syariat dan perintah-Nya. Dan ahli keberatan ini ada tiga jenis:

Yang pertama: Orang-orang yang berkeberatan terhadapnya dengan pendapat-pendapat dan analogi-analogi mereka, yang mengandung menghalalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan, mengharamkan apa yang Dia halalkan, menggugurkan apa yang Dia wajibkan, mewajibkan apa yang Dia gugurkan, membatalkan apa yang Dia sahkan, mengesahkan apa yang Dia batalkan, menganggap apa yang Dia abaikan, mengabaikan apa yang Dia anggap, membatasi apa yang Dia mutlakkan, memutlakkan apa yang Dia batasi.

Dan inilah pendapat-pendapat dan analogi-analogi yang Salaf seluruhnya sepakat untuk mencela dan memperingatkan darinya. Dan mereka berteriak kepada pemiliknya dari berbagai penjuru bumi. Dan mereka memperingatkan dari mereka, dan membuat orang lari dari mereka.

Jenis kedua: Keberatan terhadap hakikat-hakikat iman dan syariat dengan citarasa, penemuan, khayalan-khayalan, dan kasyaf-kasyaf batil setan, yang mengandung mensyariatkan agama yang tidak Allah izinkan, dan membatalkan agama-Nya yang disyariatkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, dan mengganti hakikat-hakikat iman dengan tipu daya setan dan hawa nafsu jiwa yang bodoh.

Dan yang mengherankan bahwa pemiliknya mengingkari ahli hawa nafsu. Padahal semua yang mereka berada di dalamnya adalah hawa nafsu, tetapi hawa nafsu mereka mengandung penyelewengan terhadap kehendak Allah, berpaling dari agama-Nya, dan meyakini bahwa itu adalah ketaatan kepada Allah. Maka dimana ini dari hawa nafsu pemilik syahwat, yang mengakui celanya, yang memohon ampun darinya, yang mengakui kekurangan dan aib mereka, dan bahwa itu bertentangan dengan agama?

Dan orang-orang ini berada dalam hawa nafsu yang mereka jadikan agama, dan mereka mendahulukannya atas syariat Allah dan agama-Nya. Dan mereka membunuh hati-hati dengannya. Dan mereka memutuskannya dari jalan Allah. Maka terlahir dari pemikiran orang-orang itu, pendapat orang-orang lain dan analogi-analogi mereka yang batil, dan citarasa orang-orang ini kehancuran dunia, kerusakan alam, robohnya kaidah-kaidah agama, dan memuncaknya urusan dan hampir saja kalau bukan karena Allah menjamin bahwa Dia senantiasa mengangkat orang yang menjaganya, menjelaskan tanda-tandanya, dan melindunginya dari tipu daya orang yang menipu.

Jenis ketiga: Keberatan terhadap itu dengan politik-politik yang zalim, yang dimiliki pemilik kekuasaan yang mereka dahulukan atas hukum Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka menghukumi dengannya di antara hamba-hamba-Nya, dan mereka melumpuhkan dengannya syariat-Nya, keadilan-Nya, dan batasan-batasan-Nya.

Maka orang-orang pertama berkata: Jika akal dan nash bertentangan, mana yang didahulukan?: Kami mendahulukan akal.

Dan orang-orang lain berkata: Jika atsar dan qiyas bertentangan: kami mendahulukan qiyas.

Dan pemilik citarasa, kasyaf, dan penemuan berkata: Jika citarasa, penemuan, kasyaf, dan dhahir syariat bertentangan: kami mendahulukan citarasa, penemuan, dan kasyaf.

Dan pemilik politik berkata: Jika politik dan syariat bertentangan, kami mendahulukan politik.

Maka setiap kelompok menjadikan di hadapan agama Allah dan syariat-Nya thaghut yang mereka berhukum kepadanya.

Maka orang-orang ini berkata: Kalian memiliki nash dan kami memiliki akal. Dan yang lain berkata: Kalian adalah pemilik atsar dan kabar, sedangkan kami adalah pemilik qiyas, pendapat, dan pemikiran. Dan orang-orang itu berkata: Kalian adalah pemilik dhahir, sedangkan kami adalah ahli hakikat. Dan yang lain berkata: Kalian memiliki syariat dan kami memiliki politik. Maka demi Allah, sungguh suatu bencana, yang merata maka membutakan, dan musibah yang mengenai maka memekakkan telinga, dan fitnah yang memanggil hati-hati maka dijawab oleh setiap hati yang terfitnahkan, dan hawa nafsu yang mengamuk. Maka tuli karenanya telinga-telinga, dan buta karenanya mata-mata. Dilumpuhkan karenanya – demi Allah – tanda-tanda hukum. Sebagaimana dinafikan karenanya sifat-sifat Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Dan setiap kaum bersandar kepada kezaliman dan kegelapan-kegelapan pendapat mereka, dan mereka menghukumi atas Allah dan di antara hamba-hamba-Nya dengan perkataan-perkataan mereka yang rusak dan hawa nafsu mereka. Dan menjadi wahyu karenanya sasaran bagi setiap penyelewengan dan takwil, dan agama terhenti pada setiap kerusakan dan penggantian.

Jenis keempat: Keberatan terhadap perbuatan-perbuatan-Nya, qadha, dan qadar-Nya. Dan ini adalah keberatan orang-orang bodoh. Dan itu antara yang terang dan yang tersembunyi, dan itu adalah jenis-jenis yang tidak terhitung.

Dan itu menyebar dalam jiwa-jiwa seperti menyebarnya demam dalam tubuh orang yang demam. Dan kalau sekiranya hamba memperhatikan perkataannya, angan-angannya, kehendaknya, dan keadaan-keadaannya, niscaya ia melihat itu dalam hatinya dengan nyata, maka setiap jiwa berkeberatan terhadap qadar Allah, pembagian-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, kecuali jiwa yang telah tenang kepada-Nya, dan mengenal-Nya dengan pengenalan yang benar yang manusia mampu mencapainya. Maka bagiannya adalah penyerahan dan ketundukan. Dan ridha dengan sepenuh-penuh ridha.

Adapun menghancurkan kesembronoan dalam menampakkan diri, maka ia mengisyaratkan dengannya kepada makna lain, tidak sempurna muraqabah menurutnya kecuali dengan menghancurkannya, yaitu perasaan hamba terhadap dirinya, bisikannya, dan pemikirannya saat muraqabah, dan kehadiran bersama Allah. Karena sesungguhnya itu adalah penampakan diri darinya, untuk terhalangi Yang Haq darinya dari kesempurnaan penyaksian; karena tetapnya hamba dengan persepsi-persepsinya, indera-inderanya, perasaan-perasaannya, pemikiran-pemikirannya, dan bisikan-bisikannya, saat kehadiran dan penyaksian, adalah penampakan diri untuk terhalang. Maka seharusnya muraqabah pandangan Yang Haq kepadamu terbebas dari bahaya-bahaya ini. Dan itu terjadi dengan tenggelam dalam dzikir. Maka engkau terlalaikan dengannya dari dirimu dan dari apa yang darimu. Agar engkau dengan itu siap dan mempersiapkan diri untuk fana dari keberadaanmu, dan dari keberadaan segala sesuatu selain Yang Mahasuci Yang Diingat.

Dan kesiapan dan persiapan ini: tidak terjadi kecuali dengan menghancurkan kesembronoan itu. Dan dzikir menimbulkan keghaiban dari indera. Maka barangsiapa yang mengingat pandangan Yang Haq kepadanya dari perhatian-Nya kepadanya, kemudian ia merasakan sesuatu dari pembicaraan jiwanya, bisikannya, dan pemikirannya: maka sungguh ia telah menampakkan diri dan meminta dunia jiwanya, dan terhalangi Yang Diingat darinya; karena hadirat Yang Haq Ta’ala tidak ada di dalamnya selain-Nya. Dan tingkatan ini tidak mampu atasnya hamba kecuali dengan kemampuan yang kuat dari dzikir, dan mengumpulkan hati di dalamnya dengan keseluruhannya kepada Allah Azza wa Jalla.

Pasal: Tingkatan Ketiga Muraqabah Azali

Pasal

Beliau berkata: Tingkatan ketiga dari tingkatan-tingkatan muraqabah: muraqabah azali, dengan memandang mata pendahuluan, menyongsong ilmu tauhid. Dan muraqabah munculnya isyarat-isyarat azali pada waktu-waktu abadi, dan muraqabah keikhlasan dari bahaya muraqabah.

Perkataannya: muraqabah azali; yaitu penyaksian makna azali, dan ia adalah keqadiman yang tidak ada awal baginya dengan memandang mata pendahuluan; yaitu dengan menyaksikan pendahuluan Yang Haq Ta’ala atas segala sesuatu selain-Nya; karena Dia adalah Yang Pertama yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Maka ketika hamba memandang mata pendahuluan ini, ia menyaksikan makna azali dan mengenal hakikatnya, maka tampaklah kepadanya kemudian ilmu tauhid, maka ia menyongsongnya sebagaimana ia menyongsong tanda-tanda negeri, dan tanda-tanda pasukan. Dan diangkat untuknya maka ia bergegas kepadanya. Dan ia adalah penyaksian kesendirian Yang Haq dengan keazalian-Nya saja. Dan bahwa Dia ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya sama sekali. Dan segala sesuatu selain-Nya adalah ada setelah ketiadaannya dengan penciptaan-Nya. Maka jika yang ada-ada hilang dari penyaksiannya, sebagaimana yang ada-ada itu tiada dalam azali. Maka ia memandang mata pendahuluan, dan fana dengan penyaksian terhadap Dia yang tidak pernah tiada dari penyaksian terhadap yang tidak pernah ada. Maka sungguh ia telah menyongsong ilmu tauhid.

Adapun muraqabah munculnya isyarat-isyarat azali pada waktu-waktu abadi, maka telah disebutkan sebelumnya bahwa apa yang muncul dalam abadi adalah mata apa yang telah diketahui dalam azali, dan bahwa hanya waktu-waktunya yang baru, dan itu adalah waktu-waktu kemunculannya. Maka sungguh muncul isyarat-isyarat azali, dan itu adalah apa yang ditunjukkan oleh akal dengan keazalian dari yang ditakdirkan ilmiah pada waktu-waktu abadi. Ini adalah maknanya yang benar menurutku.

Dan kaum (para sufi) menghendaki dengannya makna lain yaitu bersambungnya abadi dengan azali dalam penyaksian. Dan itu dengan melipat hamparan yang ada-ada dari penyaksiannya pelipatan menyeluruh, dan menyaksikan keberlangsungan wujud Yang Haq Subhanahu saja, terlepas dari segala sesuatu selain-Nya, maka ia menyambungkan – dengan penyaksian ini – azali dengan abadi, dan keduanya menjadi satu hal. Dan ia adalah kelangsungan wujud-Nya Subhanahu, dengan memotong pandangan dari setiap yang baru.

Dan penyaksian yang pertama lebih sempurna dan lebih lengkap. Dan ia berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan pendahuluan ilmu-Nya terhadap segala sesuatu, dan terjadinya dalam abadi sesuai dengan ilmu azali-Nya, maka penyaksian ini memberikan iman dan ma’rifat, dan penetapan ilmu, qudrat, perbuatan, qadha, dan qadar.

Adapun syuhud yang kedua, maka ia tidak memberikan kepada pemiliknya makrifat, tidak pula iman, tidak pula penetapan terhadap nama maupun sifat, dan tidak pula penghambaan yang bermanfaat. Ia adalah perkara yang sama rata, yang disaksikan oleh setiap orang yang mengakui adanya Sang Pencipta, baik muslim maupun kafir. Maka jika ia tenggelam dalam menyaksikan keazalian-Nya, dan kesendirian-Nya dengan kekadiman, lalu ia lalai dari segala makhluk, maka bersambunglah dalam penyaksiannya antara yang azali dengan yang abadi. Maka perkara besar apakah dalam hal ini? Dan iman serta keyakinan apakah yang diperoleh dengannya? Dan kami tidak mengingkari pengalaman spiritualnya, dan tidak pula mencela keberadaannya; akan tetapi kami mencela kedudukannya dan pengutamaannya atas muraqabah sebelumnya, sehingga menjadi khusus untuk para istimewa dari kalangan istimewa, sedangkan yang sebelumnya adalah bagi orang-orang yang di bawah mereka. Maka ini adalah sangkaan belaka. Dan Allah-lah Yang Memberi taufik.

Maka jika bersambung dalam penyaksian orang yang menyaksikan yang azali yang tidak ada permulaan baginya, dengan masa-masa yang dapat dipahami adanya permulaan baginya – yaitu masa-masa peristiwa – kemudian bersambung hal itu dengan apa yang tidak ada akhir baginya, sehingga ketiga masa tersebut menjadi satu, tidak ada yang lampau di dalamnya, tidak ada yang sekarang, dan tidak ada yang akan datang, dan hal itu tidak terjadi kecuali jika ia menyaksikan fananya kejadian-kejadian dengan fana mutlak, dan ketiadaannya dengan ketiadaan menyeluruh. Dan hal itu adalah perkiraan wahm yang menyelisihi kenyataan. Ia adalah abstraksi khayali yang menjatuhkan pemiliknya ke dalam lautan yang kelam tanpa pantai, dan malam yang gelap tanpa fajar.

Maka di manakah ini dibandingkan dengan pemandangan keberagaman nama-nama dan sifat-sifat? Dan keterkaitan keduanya dengan berbagai jenis makhluk, dan hubungannya dengan seluruh kejadian? Dan memberikan kepada setiap nama dan sifat haknya dari penyaksian dan penghambaan? Dan melihat kepada melimpahnya pengaruhnya dalam penciptaan dan perintah, alam atas dan bawah, yang zahir dan yang batin, dunia dan akhirat? Dan berdirinya dengan pembedaan dan penggabungan dalam hal itu secara ilmu, makrifat, dan keadaan?! Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Perkataan penulis: Dan muraqabah keikhlasan adalah keluar dari kesulitan muraqabah.

Ia mengisyaratkan kepada fananya penyaksian orang yang melakukan muraqabah dari dirinya dan apa yang darinya. Dan bahwasanya ia fana dengan Dzat yang ia lakukan muraqabah kepada-Nya dari dirinya dan apa yang darinya. Maka jika ia masih kekal dengan penyaksian muraqabahnya, maka ia masih dalam kesulitannya, belum terlepas darinya; karena penyaksian muraqabah tidak terjadi kecuali dengan kekalanannya. Sedangkan yang dimaksud sesungguhnya adalah fana dan terlepas dari dirinya, dari sifat-sifatnya, dan apa yang darinya.

Dan engkau telah mengetahui bahwa di atas ini ada tingkatan yang lebih tinggi darinya, lebih mulia, dan lebih agung. Yaitu muraqabah terhadap tempat-tempat ridha Rabb dan kemurkaan-Nya dalam setiap gerakan. Dan fana dari apa yang dimurkai-Nya dengan apa yang dicintai-Nya, dan bercerai-berai untuk-Nya, dengan-Nya, dan di dalam-Nya, memandang kepada esensi kesatuan penghambaan, fana dari keinginannya kepada Rabbnya – betapapun tingginya – dengan keinginan Rabbnya darinya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

Pasal Menzilah Mengagungkan Kehormatan-kehormatan Allah

Apakah Kehormatan-kehormatan Allah Itu

Dan di antara menzilah-menzilah: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5), adalah menzilah mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya” (Surah Al-Hajj: 30). Sekelompok mufassirin berkata: Kehormatan-kehormatan Allah di sini adalah hal-hal yang memicu kemurkaan-Nya dan apa yang dilarang-Nya, dan mengagungkannya adalah meninggalkan perbuatan tersebut. Al-Laits berkata: Kehormatan-kehormatan Allah adalah apa yang tidak halal untuk dilanggar. Sekelompok orang berkata: Hurumat adalah perintah dan larangan. Az-Zajjaj berkata: Hurmah adalah apa yang wajib untuk dikerjakan, dan haram untuk disia-siakan. Sekelompok orang berkata: Hurumat di sini adalah manasik, dan tempat-tempat ibadah haji, baik waktu maupun tempat.

Dan yang benar: bahwa hurumat mencakup semua ini. Ia adalah jamak dari hurmah, yaitu apa yang wajib dihormati dan dijaga dari hak-hak, orang-orang, waktu-waktu, dan tempat-tempat. Maka mengagungkannya adalah menunaikan haknya dan menjaganya dari kesia-siaan.

Penulis Manazil berkata:

Hurmah adalah berhati-hati dari pelanggaran-pelanggaran dan keberanian berbuat dosa.

Tahharruj adalah keluar dari kesulitan pelanggaran. Dan bina tahfaul digunakan untuk masuk ke dalam sesuatu, seperti tamannaa jika ia masuk ke dalam harapan, dan tawallaja dalam suatu perkara berarti masuk ke dalamnya, dan semisalnya. Dan untuk keluar darinya, seperti takharraja, tahawwaba, dan ta’atsama, jika ia ingin keluar dari kesulitan. Dan al-haub adalah dosa.

Yang dimaksud adalah bahwa hurmah adalah keluar dari kesulitan pelanggaran dan keberanian melakukan pelanggaran tersebut. Dan ketika orang yang melanggar ada dua jenis, yaitu yang berani dan yang takut, maka ia berkata: dari pelanggaran-pelanggaran dan keberanian berbuat dosa.

Tingkatan-tingkatan Kehormatan-kehormatan Allah

Tingkatan Pertama: Mengagungkan Perintah dan Larangan

Ia berkata: Dan ia ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: mengagungkan perintah dan larangan, bukan karena takut dari hukuman, sehingga menjadi permusuhan terhadap diri, dan bukan karena mencari pahala, sehingga menjadi mengharapkan upah, dan bukan karena menyaksikan seseorang, sehingga menjadi berhias dengan riya. Maka sesungguhnya sifat-sifat ini semuanya adalah cabang dari penyembahan terhadap diri.

Masalah ini banyak terdapat dalam perkataan kaum sufi. Dan manusia ada yang mengagungkannya dan pengikutnya, meyakini bahwa ini adalah tingkatan tertinggi penghambaan: yaitu tidak menyembah Allah dan melaksanakan perintah dan larangan-Nya karena takut dari hukuman-Nya, dan tidak pula karena mengharap pahala-Nya. Karena ini adalah berhenti pada maksud dan bagian dirinya. Dan bahwa cinta menolak hal itu. Karena orang yang mencintai tidak memiliki bagian bersama kekasihnya. Maka berhentinya pada bagiannya adalah cacat dalam cintanya. Dan bahwa mengharap pahala adalah mengharap bahwa ia berhak dengan amalnya atas Allah Ta’ala mendapat upah. Maka dalam hal ini ada dua aib: mengharap upah, dan berbaik sangka dengan amalnya; karena mengharap hak mendapat upah, dan takut dari hukuman adalah permusuhan terhadap diri. Karena ia tidak henti-hentinya bermusuhan dengannya jika ia melanggar, dan berkata: “Tidakkah engkau takut neraka, dan siksanya, dan apa yang Allah sediakan bagi ahlinya?” Maka permusuhan itu terus-menerus antara dia dan dirinya.

Dan dari sisi lain juga: yaitu bahwa ia seperti orang yang bermusuhan demi dirinya, yang menolak musuhnya yang ingin membinasakannya, dan ini adalah esensi perhatian terhadap diri, dan berpaling kepada bagian-bagiannya, bermusuhan demi dirinya, dan meminta apa yang membuatnya senang.

Dan yang melepaskannya dari permusuhan ini dan harapan tersebut hanyalah memurnikan pelaksanaan perintah dan larangan dari setiap sebab. Bahkan ia melaksanakannya karena mengagungkan Yang Memerintah dan Yang Melarang, dan bahwa Dia layak untuk disembah, dan kehormatan-kehormatan-Nya diagungkan. Maka Dia berhak mendapat ibadah, pengagungan, dan pengagungan karena Dzat-Nya. Sebagaimana dalam atsar Israiliyat: “Seandainya Aku tidak menciptakan surga dan tidak pula neraka, bukankah Aku layak untuk disembah?”

Dan dari itu perkataan seseorang yang berkata:

Seandaikan kebangkitan tidak datang kepada kita para rasul-Nya Dan neraka Jahim tidak menyala

Bukankah wajib dan layak Atas pemilik takwa bersyukur kepada Yang Memberi nikmat?

Maka jiwa-jiwa yang tinggi dan suci menyembah-Nya karena Dia layak untuk disembah, diagungkan, dicintai, dan dipuliakan. Maka Dia karena Dzat-Nya berhak mendapat ibadah. Mereka berkata: Dan janganlah hamba seperti pekerja yang buruk. Jika diberi upahnya ia bekerja, dan jika tidak diberi ia tidak bekerja. Maka ini adalah hamba upah, bukan hamba cinta dan keinginan.

Mereka berkata: Dan para pekerja memandang kepada dua kedudukan: kedudukan akhirat, dan kedudukan dekat dengan Yang Ditaati. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Dawud: “Dan sesungguhnya baginya di sisi Kami benar-benar kedekatan dan tempat kembali yang baik” (Surah Shad: 25).

Maka zulfa adalah kedudukan kedekatan, dan husn al-ma’ab adalah baiknya pahala dan balasan. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik ada (pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya” (Surah Yunus: 26). Dan al-husna adalah balasan. Dan az-ziyadah adalah kedudukan kedekatan. Dan karena itu ditafsirkan dengan melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Dan kedua ini adalah yang dijanjikan Firaun kepada para tukang sihir jika mereka mengalahkan Musa. Maka mereka berkata kepadanya: “Apakah kami benar-benar mendapat upah jika kami adalah orang-orang yang menang? Dia berkata: Ya, dan sesungguhnya kamu akan termasuk orang-orang yang didekatkan” (Surah Al-A’raf: 113-114). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan dari Allah adalah lebih besar” (Surah At-Taubah: 72).

Mereka berkata: Dan para arif amal mereka adalah untuk kedudukan dan tingkatan. Dan para pekerja amal mereka adalah untuk pahala dan upah. Dan sangat jauh perbedaan antara keduanya.

Pasal

Dan kelompok kedua menjadikan perkataan ini dari ucapan-ucapan yang berlebihan dari kaum sufi dan kecerobohan mereka. Dan mereka berdalil dengan keadaan para nabi, rasul, dan shiddiqin, doa dan permintaan mereka, dan pujian terhadap mereka karena ketakutan mereka dari neraka dan harapan mereka kepada surga. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hamba pilihan-Nya yang disembah oleh orang-orang musyrik: Bahwasanya mereka mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya – sebagaimana telah lalu – dan Dia berfirman tentang para nabi dan rasul-Nya: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia menyeru Rabbnya” (Surah Al-Anbiya: 89) – hingga firman-Nya – “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (Surah Al-Anbiya: 90). Yaitu dengan penuh harap terhadap apa yang ada di sisi Kami, dan cemas dari siksa Kami. Dan kata ganti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya mereka” kembali kepada para nabi yang disebutkan dalam surah ini menurut mayoritas mufassirin.

Dan ragba dan rahba adalah harap akan rahmat dan takut dari neraka menurut mereka semua.

Dan Dia Subhanahu menyebutkan hamba-hamba-Nya yang merupakan pilihan makhluk-Nya, dan memuji mereka dengan sebaik-baik amal mereka. Dan menjadikan di antaranya: meminta perlindungan kepada-Nya dari neraka. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (Surah Al-Furqan: 65-66). Dan Dia mengabarkan tentang mereka bahwa mereka bertawassul kepada-Nya dengan iman mereka agar Dia menyelamatkan mereka dari neraka. Maka Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Surah Ali Imran: 16). Maka mereka menjadikan wasilah terbesar mereka kepada-Nya adalah wasilah iman, dan agar Dia menyelamatkan mereka dari neraka.

Dan Dia Ta’ala mengabarkan tentang para pemimpin arif ulul albab bahwa mereka meminta kepada-Nya surga-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka-Nya. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Surah Ali Imran: 190), ayat-ayat hingga akhirnya. Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang dijanjikan atas lisan para rasul-Nya adalah surga yang mereka minta.

Dan Dia berfirman tentang kekasih-Nya Ibrahim shallallahu alaihi wasallam: “Dan yang aku ingin agar Dia mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan. Ya Rabbku, berilah aku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh” (Surah Asy-Syu’ara: 82-83) hingga firman-Nya: “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) hari yang pada waktu itu harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Surah Asy-Syu’ara: 87-89). Maka ia meminta kepada Allah surga, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari neraka. Dan itu adalah kehinaan pada hari kebangkitan.

Dan Dia Subhanahu mengabarkan kepada kita tentang surga bahwa ia adalah janji yang dituntut atas-Nya; yaitu diminta kepada-Nya oleh hamba-hamba dan wali-wali-Nya.

Dan Dia memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya agar mereka memintakan untuknya pada waktu dikabulkannya doa – setelah adzan – kedudukan tertinggi di surga. Dan beliau mengabarkan bahwa barangsiapa memintakan hal itu untuknya, maka syafaatnya halal baginya.

Dan Sulaim al-Anshari berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Aku tidak pandai berdoa sepertimu dan Muadz.” Maka beliau bersabda: “Aku dan Muadz juga berdoa seputar itu.”

Dalam kitab Shahih – dalam hadits tentang keutamaan malaikat yang berkeliling dari kelompok orang-orang – disebutkan bahwa Allah Taala bertanya kepada mereka tentang hamba-hamba-Nya – padahal Dia Tabaraka wa Taala Maha Mengetahui, maka mereka berkata: “Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang bertahlil kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, bertahmid kepada-Mu, dan memuliakan-Mu. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: Apakah mereka melihat-Ku? Mereka menjawab: Tidak, ya Rabbi. Mereka tidak melihat-Mu. Allah Azza wa Jalla berfirman: Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku? Mereka menjawab: Sekiranya mereka melihat-Mu, tentu mereka akan lebih memuliakan-Mu. Para malaikat berkata: Ya Rabbi, mereka memohon surga-Mu. Allah berfirman: Apakah mereka melihatnya? Mereka menjawab: Tidak, demi kemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya. Allah berfirman: Bagaimana sekiranya mereka melihatnya? Mereka menjawab: Sekiranya mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih giat memohonnya. Para malaikat berkata: Dan mereka berlindung kepada-Mu dari neraka. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: Apakah mereka melihatnya? Mereka menjawab: Tidak, demi kemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya. Allah berfirman: Bagaimana sekiranya mereka melihatnya? Mereka menjawab: Sekiranya mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih cepat lari darinya. Maka Allah berfirman: Sesungguhnya Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari apa yang mereka mohonkan perlindungan.”

Al-Quran dan Sunnah penuh dengan pujian terhadap hamba-hamba dan wali-wali-Nya yang memohon surga dan mengharapkannya, serta berlindung dari neraka dan takut darinya.

Mereka berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda kepada para sahabatnya: “Berlindunglah kepada Allah dari neraka.” Dan beliau bersabda kepada orang yang meminta menemaninya di surga: “Tolonglah aku (membantumu) terhadap dirimu dengan memperbanyak sujud.”

Mereka berkata: Beramal untuk mencari surga dan selamat dari neraka adalah tujuan pembuat syariat (Rasul) bagi umatnya agar mereka selalu mengingat keduanya dan tidak melupakannya. Dan karena beriman kepada keduanya adalah syarat keselamatan, dan beramal untuk memperoleh surga dan selamat dari neraka adalah murni iman.

Mereka berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mendorong para sahabat dan umatnya, menggambarkan surga dan menjelaskannya kepada mereka agar mereka meminangnya. Beliau bersabda: “Ingatlah, barangsiapa yang bersungguh-sungguh untuk surga? Sesungguhnya surga – demi Rabb Kakbah – adalah cahaya yang berkilauan, bunga yang bergoyang, istri yang cantik, buah yang matang, istana yang kokoh, dan sungai yang mengalir – hadits…” Maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kami adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh untuknya.” Maka beliau bersabda: “Katakanlah: Insya Allah.”

Seandainya kami menyebutkan apa yang ada dalam Sunnah dari sabda beliau: Barangsiapa melakukan begini dan begitu, Allah akan memasukkannya ke surga, sebagai dorongan untuk beramal demi surga, dan agar surga menjadi pendorong amal, maka itu akan sangat panjang. Dan itu terdapat dalam semua amal.

Mereka berkata: Bagaimana mungkin beramal untuk mendapat pahala dan karena takut siksa dianggap cacat? Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendorong hal itu, dan bersabda: Barangsiapa melakukan begini maka dibukakan untuknya delapan pintu surga, dan barangsiapa “mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi, ditanamkan untuknya pohon kurma di surga,” dan “barangsiapa memberi pakaian kepada seorang muslim yang telanjang, Allah akan memberinya pakaian dari pakaian surga,” dan “penjenguk orang sakit berada di taman surga,” dan hadits penuh dengan hal itu? Apakah menurutmu beliau mendorong orang-orang beriman pada tujuan yang cacat dan kurang, lalu meninggalkan tujuan yang tinggi yang bersih dari noda cacat tanpa mendorong mereka kepadanya?

Mereka berkata: Juga Allah Subhanahu mencintai hamba-hamba-Nya yang memohon surga-Nya dan berlindung kepada-Nya dari neraka-Nya, karena sesungguhnya Dia mencintai dimintai. Dan barangsiapa tidak meminta kepada-Nya, Dia murka kepadanya. Dan permintaan yang paling agung adalah surga, dan perlindungan yang paling agung adalah dari neraka.

Maka beramal untuk mencari surga adalah dicintai Rabb dan diridhai-Nya. Memohonnya adalah ibadah kepada Rabb. Dan menunaikan ibadah kepada-Nya secara keseluruhan lebih utama daripada meninggalkan sebagiannya.

Mereka berkata: Jika hati kosong dari perhatian terhadap surga dan neraka, mengharap yang satu dan lari dari yang lain, maka tekadnya akan melemah, semangatnya akan kendur, dan pendorongnya akan rapuh. Semakin kuat seseorang mencari surga dan beramal untuknya, maka semakin kuat pendorongnya, semakin keras semangatnya, dan semakin sempurna usahanya. Dan ini adalah perkara yang diketahui melalui pengalaman.

Mereka berkata: Seandainya ini tidak dimaksudkan oleh pembuat syariat, niscaya beliau tidak akan menggambarkan surga kepada hamba-hamba, menghiasinya bagi mereka, dan menawarkannya kepada mereka. Beliau mengabarkan kepada mereka tentang perincian yang dapat dicapai akal mereka darinya, dan yang selainnya beliau kabarkan secara global. Semua ini untuk membuat mereka rindu kepadanya dan mendorong mereka untuk berusaha meraihnya.

Mereka berkata: Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Dan Allah menyeru ke negeri yang sejahtera (surga).” (Yunus: 25). Dan ini adalah dorongan untuk menjawab seruan ini, bersegera kepadanya, dan berlomba dalam menjawabnya.

Dan yang benar adalah bahwa surga bukanlah nama untuk sekedar pepohonan dan buah-buahan, makanan dan minuman, bidadari, sungai-sungai dan istana-istana. Kebanyakan orang keliru dalam memahami makna surga. Sesungguhnya surga adalah nama untuk negeri kenikmatan yang mutlak dan sempurna. Dan di antara kenikmatan surga yang paling agung adalah kenikmatan memandang wajah Allah Yang Mulia, mendengar firman-Nya, penyejuk mata dengan kedekatan kepada-Nya dan ridha-Nya. Maka tidak ada perbandingan antara kenikmatan apa yang ada di dalamnya dari makanan, minuman, pakaian, dan bentuk-bentuk, dengan kenikmatan ini selamanya. Maka sedikit sekali dari ridha-Nya lebih besar daripada surga dan apa yang ada di dalamnya dari itu semua. Sebagaimana firman-Nya: “Dan keridhaan dari Allah lebih besar.” (At-Taubah: 72). Dan Dia menjadikannya dalam bentuk nakirah (tidak tentu) dalam konteks penetapan; yakni: apa saja dari ridha-Nya terhadap hamba-Nya, maka itu lebih besar dari surga.

Sedikit darimu mencukupiku, namun… sedikitmu tidak dapat dikatakan sedikit

Dalam hadits shahih – hadits tentang melihat Allah – disebutkan: “Maka demi Allah, Allah tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah-Nya.” Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa Dia Subhanahu “apabila menampakkan Diri kepada mereka dan mereka melihat wajah-Nya secara langsung, mereka lupa akan kenikmatan yang mereka rasakan, terlena darinya, dan tidak menoleh kepadanya.” Tidak diragukan lagi bahwa perkara ini demikian. Ia lebih agung dari yang terlintas dalam benak atau beredar dalam khayalan. Terlebih ketika para pencinta di sana meraih kebersamaan dengan Yang Dicintai. Karena seseorang bersama dengan yang ia cintai. Dan tidak ada pengkhususan dalam hukum ini. Bahkan ia tetap berlaku ketika hadir maupun ghaib.

Kenikmatan apa, kenikmatan apa, penyejuk mata apa, dan keberuntungan apa yang dapat menandingi kenikmatan kebersamaan itu dan kenikmatannya, serta penyejuk mata dengannya?

Apakah ada kenikmatan di atas kenikmatan penyejuk mata dengan kebersamaan Yang Dicintai yang tidak ada sesuatu yang lebih agung dari-Nya, tidak lebih sempurna dan tidak lebih indah: penyejuk mata sama sekali?

Ini – demi Allah – adalah ilmu yang dicari oleh para pencinta dengan bersungguh-sungguh, dan panji yang dituju oleh para arif. Ia adalah ruh dari makna surga dan kehidupannya. Dengannya surga menjadi indah, dan di atasnya surga berdiri.

Maka bagaimana dapat dikatakan: Jangan beribadah kepada Allah untuk mencari surga-Nya dan takut dari neraka-Nya?

Demikian pula neraka – semoga Allah melindungi kita darinya -, sesungguhnya bagi penghuninya dari azab terhalang dari Allah, dihinakan-Nya, murka-Nya dan kemurkaan-Nya, serta jauh dari-Nya: lebih besar daripada menyalanya api di tubuh dan roh mereka. Bahkan menyalanya api ini di hati mereka adalah yang menyebabkan menyalanya api di badan mereka. Dan dari sanalah api menjalar kepada mereka.

Maka yang dicari para nabi, rasul, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh adalah surga. Dan yang mereka hindari adalah neraka.

Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan, kepada-Nya tempat bertawakal, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.

Maksud kaum (sufi) adalah bahwa hamba beribadah kepada Rabbnya dengan hak perbudakan. Dan hamba apabila meminta upah dari tuannya atas pelayanannya kepadanya, maka ia bodoh, jatuh dari pandangan tuannya, jika tidak pantas mendapat hukuman. Karena perbudakannya menuntut pelayanan kepadanya. Dan yang melayani dengan upah adalah yang tidak ada perbudakan bagi yang dilayani atasnya. Baik dia orang merdeka pada dirinya sendiri, atau budak orang lain. Adapun orang yang seluruh makhluk adalah budak-budak-Nya secara hakiki, dan milik-Nya secara hakikat, tidak ada di antara mereka orang merdeka atau budak orang lain, maka pelayanan mereka kepada-Nya adalah dengan hak perbudakan. Maka meminta upah adalah keluar dari murni perbudakan.

Dan ini tidak dapat dipungkiri secara mutlak, dan tidak dapat diterima secara mutlak. Ini adalah tempat perincian dan pembedaan.

Telah disebutkan di awal pembahasan tentang jalan-jalan makhluk dalam masalah ini. Dan telah kami jelaskan jalan ahli istiqamah.

Maka manusia dalam tingkatan ini ada empat bagian:

Pertama: Orang yang tidak menginginkan Rabbnya dan tidak menginginkan pahala-Nya. Mereka ini adalah musuh-musuh-Nya secara hakiki. Dan mereka adalah penghuni siksa yang kekal. Ketidakinginan mereka terhadap pahala-Nya baik karena tidak membenarkannya, atau karena lebih memilih yang segera meski di dalamnya ada murka-Nya.

Bagian kedua: Orang yang menginginkan-Nya dan menginginkan pahala-Nya. Mereka ini adalah orang-orang pilihan makhluk-Nya. Allah Taala berfirman: “Dan jika kamu sekalian (hai istri-istri Nabi) menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 29). Ini adalah firman-Nya kepada sebaik-baik wanita dunia, istri-istri Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam. Dan Allah Taala berfirman: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Al-Isra: 19). Maka Dia mengabarkan bahwa usaha yang disyukuri adalah usaha orang yang menghendaki akhirat. Dan yang lebih jelas lagi adalah firman-Nya kepada orang-orang pilihan wali-Nya – yaitu sahabat-sahabat Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam dan radhiyallahu anhum – pada hari Uhud: “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali Imran: 152). Maka Dia membagi mereka menjadi dua bagian ini yang tidak ada yang ketiga.

Dan telah keliru orang yang berkata: Lalu di mana orang yang menginginkan Allah? Karena menginginkan akhirat adalah ungkapan tentang menginginkan Allah Taala dan pahala-Nya. Maka menginginkan pahala tidak bertentangan dengan menginginkan Allah.

Bagian ketiga: Orang yang menginginkan dari Allah, tapi tidak menginginkan Allah. Ini sangat kurang sempurnanya. Ini adalah keadaan orang yang bodoh tentang Rabbnya, yang mendengar bahwa ada surga dan neraka. Maka tidak ada di hatinya selain keinginan terhadap kenikmatan surga yang makhluk, tidak terlintas dalam benaknya selain itu sama sekali. Bahkan ini adalah keadaan kebanyakan ahli kalam yang mengingkari melihat Allah Taala, dan menikmati pandangan kepada wajah-Nya di akhirat, mendengar firman-Nya dan mencintai-Nya. Dan yang mengingkari orang yang mengaku bahwa ia mencintai Allah. Mereka adalah budak upah semata. Maka mereka ini tidak menginginkan Allah Taala.

Di antara mereka ada yang terang-terangan mengatakan bahwa menginginkan Allah adalah mustahil.

Mereka berkata: Karena keinginan hanya terkait dengan yang baru (makhluk). Maka yang qadim (Allah) tidak dapat diinginkan. Maka mereka ini mengingkari keinginan kepada Allah dengan pengingkaran yang sangat. Dan keinginan yang paling tinggi menurut mereka adalah keinginan untuk makan, minum, nikah, dan pakaian di surga, serta hal-hal yang mengikutinya. Maka mereka ini berada di satu sisi, dan orang-orang yang berkata: Kami tidak beribadah kepada-Nya untuk mencari surga-Nya dan tidak lari dari neraka-Nya – berada di sisi lain. Dan keduanya adalah dua ujung yang berlawanan. Jarak antara keduanya lebih jauh dari jarak dua timur. Dan mereka ini adalah orang-orang yang paling tebal hijabnya, paling kasar tabiatnya, paling keras hatinya, dan paling jauh dari ruh cinta dan penuhanan, serta kenikmatan ruh dan hati. Mereka mengkafirkan para ahli cinta dan kerinduan kepada Allah, serta kenikmatan cinta-Nya, dan pembenaran terhadap kenikmatan melihat wajah-Nya, serta mendengar firman-Nya langsung tanpa perantara.

Dan orang-orang itu tidak menganggap mereka dari manusia kecuali dari bentuknya saja. Martabat mereka menurut mereka dekat dengan martabat benda mati dan binatang ternak. Dan mereka menurut mereka dalam hijab yang tebal dari mengenal diri mereka dan kesempurnaannya, mengenal Yang mereka sembah dan rahasia beribadah kepada-Nya.

Keadaan kedua kelompok ini mengherankan bagi yang mengetahuinya.

Dan bagian keempat – dan ini mustahil -: bahwa dia menginginkan Allah, tapi tidak menginginkan dari-Nya. Inilah yang mereka klaim sebagai tujuan mereka, dan bahwa barangsiapa tidak sampai kepadanya maka dalam perjalanannya ada cacat, dan bahwa orang yang arif berakhir pada tingkatan ini. Yaitu bahwa Allah adalah yang ia inginkan, dan ia tidak menginginkan sesuatu dari-Nya. Sebagaimana diceritakan dari Abu Yazid bahwa ia berkata: Dikatakan kepadaku: Apa yang kau inginkan? Maka aku berkata: Aku ingin untuk tidak menginginkan.

Dan ini dalam hakikatnya adalah mustahil yang tidak mungkin: secara akal, fitrah, indera, dan syariat. Karena keinginan termasuk konsekuensi dari yang hidup. Dan yang membuatnya terlepas dari keinginan hanyalah ketiadaan akal dan inderanya, seperti mabuk, pingsan, dan tidur. Maka kami tidak mengingkari kekosongan dari keinginan terhadap selain-Nya dari makhluk-makhluk yang keinginan terhadapnya bertentangan dengan keinginan kepada-Nya. Bukankah pemilik tingkatan ini menginginkan kedekatan-Nya dan ridha-Nya, terus-menerus memperhatikan-Nya, dan hadir bersama-Nya? Dan keinginan apa yang di atas ini?

Ya. Sungguh ia telah berzuhud terhadap sesuatu yang diinginkan demi sesuatu yang diinginkan yang lebih agung dan lebih tinggi. Maka ia tidak keluar dari sifat berkehendak. Namun ia berpindah dari satu kehendak ke kehendak lain, dan dari satu yang diinginkan ke yang diinginkan lainnya. Adapun kekosongan dirinya sama sekali dari sifat berkehendak, padahal akal dan inderanya masih ada, maka hal itu mustahil.

Jika kita diadili dalam hal itu kepada pengadilan rasa spiritual yang terputus dan terambil dari dirinya sendiri, karena ia terpisah dari dunia-dunianya, maka kami tidak mengingkari hal itu. Namun ini adalah kondisi yang datang sesekali, tidak kekal, bukan tujuan akhir yang dicari oleh para salik (penempuh jalan spiritual), tidak mampu dilakukan oleh manusia, tidak diperintahkan untuk melakukannya, dan bukan termasuk tingkatan (tingkatan spiritual) yang paling tinggi sehingga diperintahkan untuk memperoleh sebab-sebabnya. Inilah penjelasan yang memutuskan persoalan dalam masalah ini. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui.

Pasal

Perkataan beliau: dan tidak mengamati siapa pun, sehingga ia berhias dengan riya (pamer).

Dalam hal ini juga terdapat rincian. Yaitu bahwa pengamatan dalam beramal bukan karena Allah ada dua macam:

Pengamatan yang mendorong pada amal itu, atau menguatkan pendorongnya. Ini adalah riya murni atau tercampur. Sebagaimana pengamatan yang memutuskannya dari amal juga termasuk dari berbagai cacat dan hijab (penghalang).

Dan pengamatan yang tidak mendorong padanya dan tidak membantu pendorong. Bahkan tidak ada bedanya baginya antara adanya atau tidak adanya pengamatan itu. Maka ini tidak memasukkannya ke dalam berhias dengan riya. Terutama ketika ada kemaslahatan yang lebih kuat dalam pengamatan ini:

Baik menjaga dan merawat, seperti mengamati orang sakit, atau yang hampir binasa yang dikhawatirkan jatuh ke dalamnya.

Atau mengamati musuh yang dikhawatirkan serangannya, seperti shalat khauf (dalam keadaan takut) ketika berhadapan.

Atau pengamatan orang yang melihatmu, ia ingin belajar darimu, maka engkau berbuat baik kepadanya dengan mengajar, dan kepada dirimu sendiri dengan ikhlas. Atau engkau bermaksud untuk diteladani dan memberitahu orang yang tidak tahu.

Maka ini adalah riya yang terpuji. Dan Allah mengetahui niat dan maksud hati.

Maka riya yang tercela adalah ketika pendorongnya adalah tujuan untuk diagungkan dan dipuji, dan keinginan terhadap apa yang ada pada orang yang kau pamerkan kepadanya, atau takut kepadanya. Adapun yang kami sebutkan – yaitu tujuan merawatnya, atau mengajarinya, atau menampakkan sunnah, dan memperhatikan serangan musuh, dan semacam itu – maka dalam pemandangan-pemandangan ini tidak ada riya. Bahkan seorang hamba boleh bersedekah dengan riya misalnya, dan sedekahnya lebih tinggi dari sedekah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi.

Contohnya: seorang yang teraniaya meminta kepada sekelompok orang apa yang ia butuhkan. Lalu seorang dari mereka mengetahui bahwa jika ia memberinya secara sembunyi-sembunyi, di mana tidak ada yang melihatnya, maka tidak ada yang akan meneladaninya dan tidak akan terjadi baginya kecuali pemberian itu saja. Dan bahwa jika ia memberinya secara terang-terangan maka akan diteladani dan diikuti, dan orang-orang yang hadir akan malu karena ia menyendiri dalam memberi. Maka ia memberikan secara terang-terangan kepadanya. Dan yang mendorongnya untuk terang-terangan adalah keinginan agar pemberian untuknya bertambah luas dari orang-orang yang hadir. Maka ini adalah riya yang terpuji, karena yang mendorongnya bukan tujuan untuk diagungkan dan dipuji. Dan orang yang melakukannya layak mendapatkan pahala seperti pahala para pemberi itu.

Perkataan beliau: Sesungguhnya sifat-sifat ini semuanya termasuk dari cabang-cabang penyembahan terhadap hawa nafsu.

Maksudnya bahwa orang yang takut sibuk dengan menjaga dirinya dari azab. Maka padanya ada penyembahan terhadap dirinya sendiri, karena ia menghadap kepadanya. Dan orang yang mencari pahala menghadap untuk mencari kesenangan dirinya. Dan itu adalah cabang dari penghambaan padanya. Dan orang yang mengamati manusia dalam ibadahnya: padanya ada cabang dari penghambaan dirinya, karena ia mencari pengagungan mereka, pujian dan sanjungan mereka. Maka ini adalah cabang-cabang dari cabang penghambaan diri. Dan asal yang cabang-cabang ini adalah cabangnya adalah diri. Maka jika ia mati dengan perjuangan, menghadap kepada Allah, sibuk dengan-Nya, dan terus-menerus muraqabah (mengawasi) kepada-Nya, maka matilah cabang-cabang ini.

Maka sudah sepatutnya bangunan urusan kelompok ini (kaum sufi) didasarkan pada meninggalkan penyembahan terhadap hawa nafsu.

Dan sungguh engkau telah mengetahui bahwa rasa takut dan mencari pahala bukanlah termasuk penyembahan terhadap hawa nafsu sama sekali.

Ya, berhias dengan riya adalah penyembahan terhadap hawa nafsu itu sendiri. Dan pembicaraan ini dalam perkara yang lebih tinggi dari ini. Karena sesungguhnya kondisi orang yang riya lebih hina, dirinya lebih rendah, dan cita-citanya lebih rendah daripada masuk dalam urusan orang-orang yang jujur dan disebutkan bersama orang-orang saleh. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kedua – Menjalankan Khabar Sesuai Zhahirnya

Pasal

Pengarang kitab Manazil berkata:

Tingkatan kedua: menjalankan khabar (berita) sesuai zhahirnya. Yaitu membiarkan tanda-tanda tauhid kaum awam yang berupa berita tetap pada zhahirnya. Dan tidak memikul beban penelitian tentangnya dengan memaksakan diri. Dan tidak memaksakan diri untuk menta’wilkannya. Dan tidak melampaui zhahir-zhahirnya dengan tamtsil (penyerupaan). Dan tidak mengklaim atas keduanya pemahaman atau dugaan.

Syaikh rahimahullah dan quddisa ruhuhu (Allah merahmatinya dan menyucikan rohnya) menunjukkan dengan itu bahwa menjaga kehormatan nash-nash Asma dan Sifat dengan menjalankan berita-beritanya sesuai zhahirnya. Yaitu meyakini maknanya yang langsung terpahami oleh pikiran kaum awam. Dan ia tidak bermaksud dengan awam adalah orang-orang bodoh, tetapi awam umat, sebagaimana Malik rahimahullah berkata ketika ditanya tentang firman Allah Ta’ala: “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy” (Thaha: 5), bagaimana Dia bersemayam? Maka Malik menundukkan kepalanya hingga keringat membasahi dahinya, kemudian berkata: “Istiwa’ (bersemayam) itu ma’lum (diketahui), sedangkan kaifiyahnya (bagaimana caranya) tidak dapat dipahami, dan beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.” Maka ia membedakan antara makna yang diketahui dari lafazh ini dengan kaifiyah yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Dan jawaban Malik radhiyallahu ‘anhu ini adalah jawaban yang sempurna dan umum dalam semua masalah sifat-sifat Allah.

Maka barangsiapa bertanya tentang firman-Nya: “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat” (Thaha: 46), bagaimana Dia mendengar dan melihat? Dijawab dengan jawaban ini persis. Dikatakan kepadanya: Mendengar dan melihat itu ma’lum (diketahui), dan kaifiyahnya tidak dapat dipahami.

Demikian pula barangsiapa bertanya tentang ilmu, kehidupan, kekuasaan, kehendak, turun, murka, ridha, rahmat, tertawa, dan selain itu. Maka makna-maknanya semuanya dipahami. Adapun kaifiyahnya maka tidak dapat dipahami, karena memahami kaifiyah adalah cabang dari mengetahui kaifiyah dzat dan hakikat-Nya. Maka jika itu tidak dapat dipahami oleh manusia, bagaimana mereka dapat memahami kaifiyah sifat-sifat?

Dan penjagaan yang bermanfaat dalam bab ini adalah: bahwa Allah disifati dengan apa yang Dia sifati untuk diri-Nya sendiri, dan dengan apa yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sifati untuk-Nya, tanpa tahrif (penyimpangan makna) dan tanpa ta’thil (penafian), dan tanpa takyif (penetapan kaifiyah) dan tanpa tamtsil (penyerupaan). Bahkan ditetapkan untuk-Nya Asma dan Sifat, dan dinafikan dari-Nya penyerupaan dengan makhluk. Maka penetapanmu itu dibersihkan dari tasybih (penyerupaan), dan penafianmu dibersihkan dari ta’thil. Maka barangsiapa menafikan hakikat istiwa’, maka ia adalah mu’aththil (orang yang menafikan sifat Allah). Dan barangsiapa menyerupakannya dengan istiwa’ makhluk di atas makhluk, maka ia adalah mumatstsil (orang yang menyerupakan). Dan barangsiapa berkata: istiwa’ yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, maka ia adalah muwahhid (orang yang mentauhidkan) yang membersihkan Allah.

Dan demikianlah pembicaraan tentang mendengar, melihat, kehidupan, kehendak, kekuasaan, tangan, wajah, ridha, murka, turun, tertawa, dan seluruh apa yang Allah sifati untuk diri-Nya sendiri.

Dan orang-orang yang menyimpang dalam bab ini, Syaikh telah menunjuk kepada mereka dengan perkataannya: tidak memikul beban penelitian tentangnya dengan memaksakan diri; yaitu tidak memaksakan diri dengan menyimpang dari penelitian tentang kaifiyah-kaifiyahnya. Dan menyimpang (at-ta’assuf) adalah menempuh selain jalan. Dikatakan: si fulan menempuh penyimpangan-penyimpangan dalam perjalanannya, jika ia berjalan ke kanan dan ke kiri, menyimpang dari jalan.

Dan tidak memaksakan diri untuk menta’wilkannya. Yang dimaksud dengan ta’wil di sini adalah ta’wil istilahi. Yaitu mengalihkan lafazh dari zhahirnya dan dari makna yang rajih (kuat) kepada makna yang marjuh (lemah). Dan telah diriwayatkan oleh lebih dari seorang ulama ijma’ salaf untuk meninggalkannya. Dan di antara yang meriwayatkannya adalah Al-Baghawi, dan Abu al-Ma’ali al-Juwaini dalam risalahnya an-Nizhamiyyah, berbeda dengan apa yang ia tempuh dalam kitabnya asy-Syamil dan al-Irsyad. Dan di antara yang meriwayatkannya adalah Sa’d bin ‘Ali az-Zanjani.

Dan sebelum mereka ada banyak ulama yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.

Dan tidak melampaui zhahirnya dengan tamtsil. Yaitu tidak menyerupakan sifat-sifat itu dengan sifat-sifat makhluk.

Dan dalam perkataannya: tidak melampaui zhahirnya, ada isyarat yang halus. Yaitu bahwa zhahir-zhahirnya tidak menuntut tamtsil, sebagaimana yang disangka oleh kaum mu’aththilah an-nufah (para penafi yang menafikan sifat), dan bahwa tamtsil adalah melampaui zhahir-zhahirnya kepada apa yang tidak dituntutnya, sebagaimana ta’wil terhadapnya adalah pemaksaan dan membebaninya dengan apa yang tidak dituntutnya. Maka ia tidak menuntut zhahir-zhahirnya tamtsil, dan tidak menuntut ta’wil, bahkan menjalankannya sesuai zhahir-zhahirnya tanpa ta’wil dan tanpa tamtsil. Maka inilah jalan para salik (penempuh jalan) yang dengannya lurus jalannya.

Adapun perkataannya: dan tidak mengklaim atas keduanya pemahaman; yaitu tidak mengklaim atas keduanya istidrak (koreksi) atau pemahaman, atau makna selain pemahaman awam, sebagaimana yang diklaim oleh para ahli kalam (ilmu kalam) yang batil, yang tercela berdasarkan ijma’ salaf.

Dan perkataannya: atau dugaan; yaitu tidak beralih dari zhahir-zhahirnya kepada dugaan.

Dan dugaan ada dua macam: dugaan kaifiyah yang tidak ditunjukkan oleh zhahir-zhahirnya, atau dugaan makna selain apa yang dituntut oleh zhahir-zhahirnya. Dan keduanya adalah dugaan yang batil. Dan keduanya adalah dugaan tasybih dan tamtsil, atau tahrif dan ta’thil.

Dan perkataan ini dari Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah) menjelaskan tingkatannya dari sunnah, dan kadar ilmunya, dan bahwa ia bebas dari apa yang dituduhkan kepadanya oleh musuh-musuhnya dari kalangan Jahmiyyah yaitu tasybih dan tamtsil, sesuai kebiasaan mereka dalam menuduh ahlul hadits dan sunnah dengan itu, seperti tuduhan Rafidhah kepada mereka bahwa mereka Nawashib (pembenci Ahlul Bait), dan Mu’tazilah bahwa mereka Nawabith Hasyawiyyah. Dan itu adalah warisan dari musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menuduhnya dan menuduh para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka Shabi’ah yang telah membuat bid’ah agama yang baru. Dan warisan bagi ahlul hadits dan sunnah dari Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, semoga Allah meridhai mereka semua, dengan pemberian gelar yang tercela oleh ahlu bathil kepada mereka. Dan Allah menyucikan roh Imam asy-Syafi’i ketika ia berkata, ketika ia dinisbatkan kepada Rafidhah:

Jika cinta kepada keluarga Muhammad adalah Rafidhah (Syiah), maka hendaklah dua kelompok (manusia dan jin) menjadi saksi bahwa aku Rafidhi

Dan semoga Allah meridhai Syaikh kami Abu al-‘Abbas Ibnu Taimiyyah, ketika ia berkata:

Jika cinta kepada sahabat Muhammad adalah Nashb (Nawashib), maka hendaklah dua kelompok menjadi saksi bahwa aku Nashbi

Dan semoga Allah memaafkan yang ketiga, ketika ia berkata:

Jika menetapkan sifat-sifat-Nya adalah tajsim (penjisiman), dan membersihkannya dari setiap ta’wil yang dibuat-buat

Maka sesungguhnya aku – dengan puji bagi Allah Rabbku – adalah mujassim, datangkanlah saksi-saksi dan penuhilah setiap majelis

Pasal: Tingkatan Ketiga – Menjaga Inbisath, Surur, dan Syuhud

Pasal

Beliau berkata: Tingkatan ketiga: menjaga inbisath (perluasan) agar tidak tercampur dengan keberanian. Dan menjaga surur (kegembiraan) agar tidak masuk ke dalamnya rasa aman. Dan menjaga syuhud (penyaksian) agar tidak dilawan oleh sebab.

Karena tingkatan ini menurutnya khusus bagi ahli musyahadah (penyaksian spiritual) – dan yang dominan pada mereka adalah inbisath dan surur – maka sesungguhnya pemiliknya terkait dengan Nama-Nya al-Basith (Yang Melapangkan), maka ia memperingatkannya dari percampuran keberanian. Yaitu apa yang mengeluarkannya dari adab penghambaan, dan memasukkannya ke dalam syathahat (ucapan-ucapan ekstrim). Seperti syathahat orang yang berkata: Subhani (Maha Suci aku), dan semacam itu dari syathahat-syathahat yang dikenal yang mengeluarkan dari adab penghambaan yang akhir pemiliknya adalah dimaafkan karena hilangnya akalnya, dan dikuasai oleh mabuk keadaan atasnya. Maka tidak boleh tidak menyertai ta’zhim (pengagungan) dan ijlal (pengmuliaan) bersama perluasan musyahadah, jika tidak maka ia akan jatuh dalam keberanian pasti. Maka muraqabah (pengawasan) menjaganya dari itu.

Perkataannya: dan menjaga surur agar tidak masuk ke dalamnya rasa aman.

Maksudnya bahwa pemilik inbisath dan musyahadah masuk ke dalamnya surur yang tidak menyerupai kegembiraan sama sekali. Maka sebaiknya ia tidak merasa aman dalam keadaan ini dari tipu daya, bahkan ia menjaga kegembiraan dan kegembiraannya dari sambar-sambaran tipu daya dengan takut akan akibat, yang tersembunyi darinya ilmu gaibnya. Dan tidak tertipu.

Adapun menjaga syuhud agar tidak dilawan oleh sebab, maka yang dimaksud adalah bahwa pemilik syuhud mungkin lemah dalam penyaksian hakikat tauhid. Maka ia mengira bahwa ia telah mendapatkan apa yang ia dapatkan karena sebab ijtihad yang sempurna dan ibadah yang murni. Maka ia menisbatkan perolehan apa yang ia dapatkan dari syuhud kepada sebab darinya. Dan itu adalah kekurangan dalam tauhid dan ma’rifahnya, karena syuhud tidak mungkin kecuali pemberian, bukan hasil usaha. Dan seandainya ia hasil usaha, maka penyaksian sebabnya adalah kekurangan dalam tauhid, dan ketidakhadiran dari penyaksian hakikat.

Dan mungkin yang dimaksud dengan sebab yang melawan syuhud adalah datangnya bisikan kepada yang menyaksikan, yang mengotori kemurnian penyaksiannya. Maka ia menjaganya dari datangnya sebab yang melawannya, baik pelawan berupa kehendak, atau pelawan berupa syubhat. Dan mungkin perkataannya mencakup kedua perkara. Dan Allah Subhanahu Yang Maha Mengetahui.

Bab Kedudukan Keikhlasan

Hakikat Keikhlasan

Bab Kedudukan Keikhlasan

Di antara kedudukan-kedudukan dalam firman Allah: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5), adalah kedudukan keikhlasan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5). Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan (membawa) kebenaran, maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni” (QS. Az-Zumar: 2-3). Allah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Katakanlah: Allah-lah yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka sembahlah apa yang kamu kehendaki selain Dia” (QS. Az-Zumar: 14-15). Dan Allah berfirman kepadanya: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri” (QS. Al-An’am: 162-163). Allah berfirman: “Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al-Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. Mereka bertanya: Wahai Abu Ali, apa maksud paling ikhlas dan paling benar? Dia menjawab: Sesungguhnya amal apabila ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan apabila benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang dilakukan karena Allah, dan yang benar adalah yang sesuai dengan Sunnah. Kemudian dia membaca firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110). Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan” (QS. An-Nisa’: 125). Menyerahkan wajah adalah: mengikhlaskan niat dan amal untuk Allah. Dan berbuat baik di dalamnya adalah: mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan sunnahnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kamihadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al-Furqan: 23). Yaitu amal-amal yang tidak sesuai dengan Sunnah, atau yang dikerjakan bukan karena wajah Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu: Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggalkan, lalu mengerjakan suatu amal yang engkau tujukan untuk wajah Allah Ta’ala melainkan engkau akan bertambah dengannya kebaikan, tingkatan dan ketinggian. Dalam Shahih dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tiga hal yang tidak akan membuat hati seorang muslim menyimpan kedengkian: mengikhlaskan amal untuk Allah, memberikan nasihat kepada para penguasa, dan berpegang teguh pada jamaah kaum muslimin. Karena sesungguhnya doa mereka meliputi dari belakang mereka. Artinya: tidak akan ada kedengkian yang tersisa di dalamnya, dan tidak akan mengandung kedengkian bersama ketiga hal ini. Bahkan ketiga hal ini akan menghilangkan kedengkian darinya, membersihkannya darinya, dan mengeluarkannya darinya. Karena hati akan menyimpan kedengkian yang paling besar terhadap kesyirikan. Demikian juga hati akan menyimpan kedengkian terhadap penipuan, dan terhadap keluar dari jamaah kaum muslimin dengan bid’ah dan kesesatan. Maka ketiga hal ini akan memenuhinya dengan kedengkian dan kerusakan. Obat dari kedengkian ini, dan mengeluarkan akhlak buruknya adalah dengan memurnikan keikhlasan dan nasihat, serta mengikuti Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang orang yang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena fanatisme: yang mana di antara itu yang di jalan Allah? Maka beliau bersabda: Barangsiapa berperang agar kalimat Allah yang tertinggi, maka dia di jalan Allah.

Dan beliau mengabarkan tentang tiga orang pertama yang akan dijilat api neraka: pembaca Al-Qur’an, mujahid, dan orang yang bersedekah dengan hartanya, yang melakukan itu agar dikatakan: fulan adalah pembaca, fulan adalah pemberani, fulan adalah dermawan, dan amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Dalam hadits shahih qudsi, Allah Ta’ala berfirman: Aku adalah Yang Mahakaya dari segala sekutu terhadap kesyirikan. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang dia menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain-Ku, maka amal itu untuk yang dia persekutukan, dan Aku berlepas diri darinya.

Dalam atsar yang lain: Allah berfirman kepadanya pada hari kiamat: Pergilah dan ambillah pahalamu dari yang engkau kerjakan untuknya. Tidak ada pahala bagimu di sisi Kami. Dalam Shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian, dan tidak kepada rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian. Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian” (QS. Al-Hajj: 37).

Dalam atsar qudsi yang diriwayatkan: Keikhlasan adalah rahasia dari rahasia-Ku, Aku titipkan kepada hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.

Ungkapan mereka tentang keikhlasan dan kejujuran beragam, namun maksudnya satu.

Dikatakan: Keikhlasan adalah mengkhususkan yang Haq Subhanahu dengan tujuan dalam ketaatan.

Dikatakan: Membersihkan perbuatan dari memperhatikan makhluk.

Dikatakan: Menjaga diri dari memperhatikan makhluk bahkan dari dirimu sendiri. Dan kejujuran adalah membersihkan diri dari memandang diri. Maka orang yang ikhlas tidak ada riya padanya, dan orang yang jujur tidak ada ujub padanya. Dan tidak sempurna keikhlasan kecuali dengan kejujuran, dan tidak sempurna kejujuran kecuali dengan keikhlasan. Dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan kesabaran.

Dikatakan: Barangsiapa menyaksikan dalam keikhlasannya keikhlasan itu sendiri, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan. Maka kekurangan setiap orang yang ikhlas dalam keikhlasannya adalah seukuran melihat keikhlasannya. Apabila dia tidak lagi melihat keikhlasan pada dirinya, maka dia menjadi orang yang benar-benar ikhlas.

Dikatakan: Keikhlasan adalah sama antara amal-amal hamba yang zhahir dan batin. Riya adalah: zhahirnya lebih baik dari batinnya. Dan kejujuran dalam keikhlasan adalah: batinnya lebih makmur dari zhahirnya.

Dikatakan: Keikhlasan adalah melupakan melihat makhluk dengan terus-menerus memandang kepada Khaliq. Dan barangsiapa berhias untuk manusia dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka dia akan jatuh dari pandangan Allah.

Dari perkataan Fudhail: Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan keikhlasan adalah: Allah menyembuhkanmu dari keduanya.

Al-Junaid berkata: Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dan hamba. Tidak diketahui oleh malaikat sehingga dia menulisnya, tidak oleh setan sehingga dia merusaknya, dan tidak oleh hawa nafsu sehingga dia menyimpangkannya.

Ditanyakan kepada Sahl: Apa hal yang paling berat bagi jiwa? Dia menjawab: Keikhlasan; karena tidak ada bagian baginya di dalamnya.

Sebagian mereka berkata: Keikhlasan adalah engkau tidak meminta atas amalmu saksi selain Allah, dan tidak meminta pemberi balasan selain-Nya.

Makhul berkata: Tidaklah seorang hamba ikhlas selama empat puluh hari kecuali akan muncul mata air hikmah dari hatinya ke lisannya.

Yusuf bin Husain berkata: Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah: keikhlasan. Dan betapa aku berusaha keras menghilangkan riya dari hatiku. Namun seakan-akan ia tumbuh dengan warna yang lain.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Apabila hamba ikhlas, maka terputuslah darinya banyak was-was dan riya.

Bab Tingkatan-tingkatan Keikhlasan

Tingkatan Pertama: Mengeluarkan Melihat Amal dari Amal, dan Terbebas dari Meminta Ganjaran atas Amal

Bab

Pengarang kitab Madarijus Salikin berkata:

Keikhlasan adalah: membersihkan amal dari setiap kotoran.

Artinya: tidak bercampur dengan amalnya apa yang mengotorinya dari kotoran-kotoran keinginan jiwa, baik itu mencari keindahan di hati makhluk, atau mencari pujian mereka, dan lari dari celaan mereka, atau mencari pengagungan mereka, atau mencari harta mereka atau pelayanan mereka dan kecintaan mereka dan pemenuhan kebutuhannya oleh mereka, atau selain itu dari illat dan kotoran, yang ikatan dari berbagai hal itu adalah menginginkan selain Allah dengan amalnya, apapun itu.

Dia berkata: Dan keikhlasan itu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Mengeluarkan melihat amal dari amal, dan terbebas dari meminta ganjaran atas amal, dan turun dari ridha terhadap amal.

Yang terjadi pada orang yang beramal dalam amalnya ada tiga bencana: melihat dan memperhatikan amalnya, meminta ganjaran atasnya, dan ridha dengannya dan tenang kepadanya.

Maka pada tingkatan ini dia terbebas dari bencana ini. Yang membebaskannya dari melihat amalnya adalah menyaksikan karunia Allah kepadanya dan karunia-Nya dan taufiq-Nya kepadanya, dan bahwa amalnya dengan Allah bukan dengan dirinya sendiri, dan bahwa yang mewujudkan amalnya adalah kehendak Allah bukan kehendaknya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS. At-Takwir: 29).

Maka di sini bermanfaat baginya menyaksikan takdir, dan bahwa dia hanyalah alat semata, dan bahwa perbuatannya seperti gerakan pohon-pohon, dan hembusan angin, dan bahwa yang menggerakkannya adalah selain-nya, dan yang berbuat padanya adalah selain-nya, dan bahwa dia telah mati – dan orang yang mati tidak berbuat sesuatu – dan bahwa jika dia dibiarkan dengan dirinya sendiri tidak akan ada dari perbuatannya yang shalih sedikitpun. Karena jiwa itu bodoh dan zalim, tabiatnya malas dan memilih syahwat dan pengangguran. Dan jiwa itu adalah sumber setiap keburukan, dan tempat berlindung setiap kejelekan. Dan apa yang demikian tidak akan keluar darinya kebaikan, dan bukan dari sifatnya.

Maka kebaikan yang keluar darinya hanyalah dari Allah dan dengan-Nya, bukan dari hamba dan bukan dengannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nur: 21). Dan ahli surga berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini” (QS. Al-A’raf: 43). Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka” (QS. Al-Isra’: 74). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hati kamu” (QS. Al-Hujurat: 7) – ayat.

Maka setiap kebaikan pada hamba adalah semata-mata karunia Allah dan karunia-Nya, dan kebaikan-Nya dan nikmat-Nya. Dan Dia-lah yang terpuji atasnya. Maka pandangan hamba terhadap amal-amalnya pada hakikatnya, seperti pandangannya terhadap sifat-sifat fisiknya: dari pendengarannya dan penglihatannya, dan persepsinya dan kekuatannya, bahkan dari kesehatannya, dan keselamatan anggota-anggotanya, dan yang semisalnya. Maka semuanya adalah semata-mata pemberian Allah dan nikmat-Nya dan karunia-Nya.

Yang membebaskan hamba dari bencana ini adalah: mengenal Tuhannya, dan mengenal dirinya.

Dan yang membebaskannya dari meminta ganjaran atas amal adalah: ilmunya bahwa dia adalah hamba murni. Dan hamba tidak berhak atas pelayanannya kepada tuannya mendapat ganjaran atau upah; karena dia melayaninya dengan konsekuensi kehambaan­nya. Maka apa yang dia peroleh dari tuannya berupa pahala dan balasan adalah karunia darinya, dan kebaikan kepadanya, dan nikmat atasnya, bukan sebagai imbalan; karena upah hanya berhak didapat oleh orang yang merdeka, atau hamba orang lain. Adapun hambanya sendiri maka tidak.

Dan yang membebaskannya dari ridha terhadap amalnya dan tenang kepadanya ada dua hal:

Pertama: Memandang cacat-cacat amalnya dan bencana-bencananya, dan kekurangannya di dalamnya, dan apa yang ada di dalamnya dari bagian jiwa, dan bagian setan. Maka sedikit sekali amal yang tidak ada bagian setan di dalamnya, sekalipun sedikit. Dan jiwa memiliki bagian di dalamnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang berpaling-palingnya seseorang dalam shalatnya. Maka beliau bersabda: Itu adalah sambunan yang disambar oleh setan dari shalat hamba.

Maka jika ini adalah berpaling-palingnya pandangan atau lirikannya; bagaimana dengan berpaling-palingnya hatinya kepada selain Allah? Ini adalah bagian setan yang paling besar dari ibadah.

Ibnu Mas’ud berkata: Janganlah salah seorang di antara kalian menjadikan bagian bagi setan dari shalatnya, dengan menganggap bahwa hak atas dirinya adalah tidak pergi kecuali dari arah kanannya. Maka dia menjadikan jumlah yang sedikit dan kecil ini sebagai bagian dan nasib bagi setan dari shalat hamba. Bagaimana dengan yang di atasnya?

Adapun bagian nafsu dari amalan, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang benar-benar memiliki bashirah (pandangan hati).

Yang kedua: pengetahuannya tentang apa yang menjadi hak Tuhan Yang Maha Agung keagungan-Nya dari hak-hak penghambaan, beserta adab-adabnya yang lahir dan batin, syarat-syaratnya, dan bahwa seorang hamba terlalu lemah, terlalu tidak mampu, dan terlalu kecil untuk bisa menunaikan haknya dengan sempurna, dan untuk ridha dengan amalannya bagi Tuhannya. Maka orang yang mengenal Allah tidak ridha dengan sedikitpun amalannya untuk Tuhannya, dan tidak ridha dengan dirinya untuk Allah sekejap mata pun. Dan dia malu untuk menghadapi Allah dengan amalannya.

Buruk sangkanya terhadap dirinya dan amalannya, kebenciannya terhadap dirinya, dan tidak sukanya terhadap nafas-nafasnya serta kenaikannya kepada Allah menghalangi antara dirinya dengan ridha terhadap amalannya, dan ridha terhadap dirinya.

Ada salah seorang salaf yang shalat dalam sehari semalam empat ratus rakaat, kemudian dia memegang janggutnya dan menggoyangkannya, seraya berkata kepada dirinya: “Wahai tempat berkumpulnya setiap keburukan, apakah aku pernah ridha denganmu untuk Allah sekejap mata pun?”

Sebagian mereka berkata: Bencana bagi seorang hamba adalah ridhanya terhadap dirinya sendiri. Barangsiapa memandang dirinya dengan menganggap baik sesuatu darinya, maka sungguh dia telah membinasakannya. Dan barangsiapa tidak menuduh dirinya sepanjang waktu, maka dia tertipu.

Pasal Tingkatan Kedua: Malu terhadap Amalan dengan Mencurahkan Kesungguhan

Pasal

Penulis kitab Manazil berkata:

Tingkatan yang kedua: Malu terhadap amalan dengan mencurahkan kesungguhan, dan menyempurnakan upaya dengan berlindung dari penyaksian amalan, serta melihat amalan dalam cahaya taufik dari sumber kedermawanan.

Ini adalah tiga perkara: “malunya” terhadap amalannya, yaitu sangat malunya kepada Allah, karena dia tidak melihat amalan itu layak bagi-Nya, meskipun telah mencurahkan kesungguhannya di dalamnya. Allah Taala berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (Surah Al-Mu’minun: 60).

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun dia takut tidak akan diterima darinya.”

Sebagian mereka berkata: “Sungguh aku shalat dua rakaat, lalu aku berdiri darinya dengan kedudukan seperti pencuri atau pezina yang dilihat orang, karena malu kepada Allah Azza wa Jalla.” Maka seorang mukmin: mengumpulkan kebaikan dalam ketakutan dan buruk sangka terhadap dirinya. Sedang orang yang tertipu: baik sangka terhadap dirinya padahal dia berbuat buruk.

Yang kedua: menyempurnakan upaya dengan berlindung dari penyaksian amalan, artinya datang dengan upaya semampu tenaga dalam membenarkan amalan, dengan berlindung dari menyaksikannya darimu dan denganmu.

Yang ketiga: agar engkau berlindung dengan cahaya taufik yang Allah sinari dengannya bashirah seorang hamba. Maka dalam cahaya dari cahaya itu engkau melihat bahwa amalanmu dari sumber kedermawanan-Nya, bukan denganmu dan bukan darimu.

Tingkatan ini telah mencakup lima hal: amalan, kesungguhan di dalamnya, malu, dan malu kepada Allah Azza wa Jalla, menjaga dari menyaksikannya darimu, dan melihatnya dari sumber kedermawanan Allah Subhanahu dan dari-Nya.

Tingkatan Ketiga: Memurnikan Amalan dengan Terbebas dari Amalan

Dia berkata: Tingkatan yang ketiga: Memurnikan amalan dengan terbebas dari amalan, engkau biarkan ia berjalan dengan jalannya ilmu. Dan engkau berjalan dengan menyaksikan hukum (takdir), bebas dari perbudakan kepada bentuk-bentuk lahir.

Syaikh telah menjelaskan maksudnya tentang memurnikan amalan dari amalan dengan ucapannya: engkau biarkan ia berjalan dengan jalannya ilmu dan engkau berjalan dengan menyaksikan hukum.

Makna ucapannya adalah: bahwa engkau menjadikan amalanmu mengikuti ilmu, sesuai dengannya, bermakmum kepadanya. Berjalan dengan jalannya dan berhenti dengan pemberhentiannya, dan bergerak dengan gerakannya. Singgah di tempat singgahnya, meminum dari tempat minumnya, melihat kepada hukum agama dan perintah, terikat dengannya, dalam perbuatan dan meninggalkan, dalam mencari dan lari. Melihat kepada keterkaitan pahala dan siksa padanya sebagai sebab dan usaha. Dan bersamaan dengan itu engkau berjalan dengan hatimu, menyaksikan hukum takdir dan qadha, yang di dalamnya terlipat sebab-sebab dan akibat-akibat, gerakan-gerakan dan ketenangan-ketenangan. Dan tidak tersisa di sana kecuali semata kehendak, dan kesendirian Tuhan saja dengan perbuatan-perbuatan, dan sumbernya dari kehendak dan keinginan-Nya. Maka dia tegak dengan perintah dan larangan dalam perbuatan dan meninggalkan, berjalan dengan jalannya, dan dengan qadha dan qadar dalam iman, penyaksian, dan hakikat. Maka dia melihat kepada hakikat, dan tegak dengan syariat.

Kedua perkara ini adalah penghambaan kepada dua ayat ini: “Bagi siapa di antara kalian yang ingin lurus, dan kalian tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki, Tuhan semesta alam” (Surah At-Takwir: 28-29). Dan Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya, dan kalian tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Surah Al-Insan: 29-30).

Maka membiarkan amalan berjalan dengan jalannya ilmu adalah: pemandangan: “Bagi siapa di antara kalian yang ingin lurus” (Surah At-Takwir: 28), dan jalan pemiliknya dengan menyaksikan hukum adalah: pemandangan: “Dan kalian tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki, Tuhan semesta alam” (Surah At-Takwir: 29).

Adapun ucapannya: bebas dari perbudakan kepada bentuk-bentuk lahir, maka kebebasan yang mereka maksudkan adalah: tidak masuk di bawah penghambaan kepada makhluk dan nafsu, dan masuk di bawah perbudakan penghambaan kepada Allah saja.

Maksud mereka dengan bentuk-bentuk lahir adalah: selain Allah, maka semuanya adalah bentuk-bentuk lahir. Karena bentuk-bentuk lahir adalah bekas-bekas. Dan bentuk-bentuk lahir dari rumah-rumah dan kampung-kampung adalah: bekas-bekas yang tersisa setelah penghuninya. Dan makhluk-makhluk seluruhnya dalam tempat hakikat adalah bentuk-bentuk lahir dan bekas-bekas dari kekuasaan; artinya bebaskan dirimu dari penghambaan kepada segala sesuatu selain Allah, dan jadilah dengan hatimu bersama Yang Maha Kuasa yang Haq saja. Bukan dengan bekas-bekas kekuasaan-Nya yang merupakan bentuk-bentuk lahir. Maka jangan sibuk dengan selain-Nya agar engkau menyibukkannya dengan penghambaan kepada-Nya. Dan jangan meminta dengan penghambaanmu kepada-Nya suatu keadaan atau kedudukan, atau mukasyafah, atau sesuatu selain-Nya.

Maka ini adalah empat perkara: mencurahkan kesungguhan, menghukumkan ilmu, memandang kepada hakikat, dan terbebas dari menoleh kepada selain-Nya. Dan Allah yang Memberi Taufik dan Penolong.

 

 

Pasal Hakikat Keikhlasan adalah Mengesakan yang Dituju

Pasal

Keikhlasan adalah tidak terbaginya yang dituju. Dan kejujuran adalah tidak terbaginya pencarian.

Maka hakikat keikhlasan adalah: mengesakan yang dituju. Dan hakikat kejujuran adalah: mengesakan pencarian dan keinginan. Dan keduanya tidak berbuah kecuali dengan penyerahan murni untuk mengikuti.

Maka ketiga rukun ini adalah: rukun-rukun perjalanan, dan pokok-pokok jalan yang barangsiapa tidak membangun suluk dan perjalanannya di atasnya maka dia terputus. Meskipun dia mengira bahwa dia sedang berjalan, maka perjalanannya entah menuju arah kebalikan dari tujuannya, atau perjalanan orang yang lumpuh dan terikat, atau perjalanan pemilik kendaraan yang liar. Setiap kali berjalan satu langkah ke depan, kembali sepuluh langkah ke belakang.

Karena jika tidak ada keikhlasan dan mengikuti, perjalanannya terbalik ke belakang. Dan jika dia tidak mencurahkan kesungguhannya dan mengesakan pencariannya, dia berjalan dengan perjalanan orang yang terikat.

Dan jika terkumpul baginya ketiga hal tersebut, maka dialah yang tidak ada yang menandingi dalam arena perjalanannya. Dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Yang Memiliki Karunia yang Agung.

 

 

Pasal Tingkatan Tahdzib (Penyempurnaan) dan Penyucian

Pengertian Tahdzib

Dan dari tingkatan-tingkatan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan tahdzib dan penyucian.

Dan itu adalah peleburan penghambaan dalam tungku ujian, dengan tujuan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dari kotoran dan ketidakmurnian.

Penulis kitab Manazil berkata:

Tahdzib adalah ujian bagi para pemula. Dan itu adalah syariat dari syariat-syariat riyadhah (latihan spiritual).

Maksudnya adalah: bahwa itu berat bagi pemula. Maka baginya seperti ujian. Dan cara bagi orang yang berlatih yang telah melatih dirinya hingga terbiasa menerimanya, dan tunduk kepadanya.

Tingkatan-tingkatan Tahdzib

Tingkatan Pertama: Penyempurnaan Pelayanan

Dia berkata: Dan itu ada pada tiga tingkatan. Yang pertama: penyempurnaan pelayanan; agar tidak tercampur dengannya kebodohan, dan tidak bercampur dengannya kebiasaan, dan tidak berhenti padanya keinginan.

Artinya: membersihkan penghambaan, dan menyucikannya dari ketiga jenis ini. Yaitu: percampuran dengan kebodohan, campuran kebiasaan, dan berhentinya keinginan pencari padanya.

Jenis pertama: percampuran dengan kebodohan. Karena kebodohan apabila bercampur dengan penghambaan, maka hamba meletakkannya bukan pada tempatnya, dan meletakkannya bukan pada posisinya, dan melakukannya pada bukan yang berhak atasnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dia yakini sebagai perbaikan, padahal itu adalah pengrusakan terhadap pelayanan dan penghambaannya, yaitu dengan bergerak di tempat diam, atau diam di tempat bergerak, atau memisah di tempat mengumpulkan, atau mengumpulkan di tempat memisah, atau terbang di tempat merayap, atau merayap di tempat terbang, atau maju di tempat mundur, atau mundur di tempat maju, atau melangkah di tempat berhenti, atau berhenti di tempat melangkah. Dan semacam itu dari gerakan-gerakan, yang dalam hak pelayanan seperti gerakan-gerakan orang yang berat dan dibenci dalam hak-hak manusia.

Maka pelayanan selama tidak disertai dengan ilmu kedua tentang adab-adabnya dan hak-haknya, selain ilmu tentang dirinya sendiri, berada dalam kemungkinan menjauhkan pemiliknya, meskipun niatnya dengannya adalah mendekat. Dan tidak harus gugur pahala dan ajarnya, karena jika ia tidak menjauhkannya dari ajr dan pahala, ia menjauhkannya dari kedudukan dan kedekatan. Dan tidak terpisah masalah-masalah dari kalimat ini kecuali dengan pengenalan khusus kepada Allah dan perintah-Nya, dan kecintaan sempurna kepada-Nya, dan pengenalan kepada diri dan apa yang darinya.

Jenis kedua: campuran kebiasaan, yaitu bahwa bercampur dengan penghambaan hukum dari hukum-hukum kebiasaan nafsu yang menjadi pelaksana baginya, menolong padanya, sedang pemiliknya meyakininya sebagai ketaatan dan ibadah, seperti orang yang terbiasa berpuasa – misalnya – dan terlatih padanya. Maka nafsu terbiasa dengannya, dan menjadi kebiasaan baginya yang menuntutnya dengan sangat. Lalu dia mengira bahwa tuntutan ini adalah murni penghambaan. Padahal itu adalah tuntutan kebiasaan.

Tanda ini adalah bahwa jika ditawarkan kepadanya ketaatan selain itu, dan lebih mudah darinya, dan lebih sempurna kemaslahatan, dia tidak memilihnya sebagaimana memilih apa yang dia biasa dan kenal. Sebagaimana diceritakan tentang sebagian orang saleh dari kalangan sufi, dia berkata: Aku berhaji sekian dan sekian kali haji dengan tanpa bekal, lalu tampak bagiku bahwa semua itu tercampur dengan bagian diriku. Dan itu karena ibuku memintaku untuk menimba untuknya seteguk air. Maka itu berat bagi diriku. Lalu aku mengetahui bahwa ketaatanku kepada diriku dalam haji-haji adalah dengan bagian diriku dan kehendaknya. Karena seandainya diriku fana, tidak akan berat baginya apa yang merupakan hak dalam syariat.

Jenis ketiga: berhentinya keinginannya pada pelayanan. Dan itu adalah tanda lemah dan kurangnya. Karena hamba yang murni tidak berhenti keinginannya pada pelayanan saja. Bahkan keinginannya lebih tinggi dari itu; karena ia menuntut ridha yang dilayani. Maka dia senantiasa menganggap kecil pelayanannya kepada-Nya. Tidak berhenti padanya. Dan qana’ah (puas) terpuji dari pemiliknya kecuali di tempat ini. Karena itu adalah inti dari keterampasan. Maka orang yang mencintai tidak puas dengan sesuatu selain kekasihnya. Maka berhentinya keinginan hamba pada pelayanannya dan upahnya adalah: kejatuhan di dalamnya dan keterampasan.

[Tingkatan Kedua: Penyempurnaan Keadaan]

Beliau berkata: Tingkatan kedua adalah penyempurnaan keadaan. Yaitu bahwa keadaan tidak condong kepada ilmu, tidak tunduk kepada bentuk lahiriah, dan tidak menoleh kepada bagian (nafsu).

Adapun condongnya keadaan kepada ilmu ada dua macam: yang terpuji dan yang tercela.

Yang terpuji adalah: perhatiannya kepada ilmu, mendengarkannya terhadap apa yang diperintahkannya, dan menjadikannya sebagai hakim atas keadaan. Apabila keadaan tidak condong kepadanya dengan kecenderungan seperti ini, maka ia adalah keadaan yang tercela, kurang, dan menjauhkan dari Allah. Karena setiap keadaan yang tidak disertai ilmu dikhawatirkan menjadi tipu daya setan. Hal inilah yang telah merusak keadaan para pemilik keadaan, merusak benteng para penjaga benteng, menyerakkan mereka dari Allah dengan segala penyerakan, dan mengusir mereka dari-Nya dengan segala pengusiran, karena mereka tidak menjadikan ilmu sebagai hakim atas keadaan mereka, dan berpaling darinya sama sekali, hingga membawa mereka kepada terlepas dari hakikat keimanan dan syariat Islam.

Mereka sampai pada meninggalkan perbuatan-perbuatan dari pintu kebaikan dan pendekatan diri kepada Allah. Maka Junaid berkata: Ini adalah ucapan kaum yang berbicara tentang menggugurkan amal dari anggota badan. Dan ini menurutku adalah dosa besar. Dan orang yang berzina dan mencuri lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan ini. Karena orang-orang yang mengenal Allah mengambil amal dari Allah dan kembali kepada-Nya dalam amal tersebut. Seandainya aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal kebaikan, kecuali jika aku terhalang darinya.

Dan beliau berkata: Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan beliau berkata: Barangsiapa tidak menghafal Al-Quran dan tidak menulis hadits, maka tidak boleh diikuti dalam jalan kami ini, karena jalan dan ilmu kami terikat dengan Kitab dan Sunnah.

Dan beliau berkata: Ilmu kami ini dibangun dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan musibah yang menimpa orang-orang ini adalah: bahwa hukum-hukum ilmu berkaitan dengan ilmu dan menyeru kepadanya, sedangkan hukum-hukum keadaan berkaitan dengan kasyaf (tersingkapnya rahasia). Dan pemilik keadaan mendapatkan perkara-perkara yang tidak berada dalam lingkup ilmu. Maka jika ia menetapkan timbangan dan ukuran ilmu atasnya, terjadilah pertentangan antara ilmu dan keadaan menurutnya. Maka ia tidak dapat tidak harus menghukumi salah satunya dengan kebatilan. Barangsiapa mendapatkan keadaan-keadaan kasyaf, kemudian condong kepada hukum-hukum ilmu, maka ia telah mundur ke belakang dan terlambat dalam perjalanannya ke arah mundur.

Maka perhatikanlah datangnya pemahaman ini dan syubhat ini yang merupakan racun mematikan yang mengeluarkan pemiliknya dari makrifat dan agama seperti keluarnya rambut dari adonan.

Dan ketahuilah bahwa makrifat yang benar adalah ruh ilmu. Dan keadaan yang benar adalah ruh amal yang lurus. Maka setiap keadaan yang bukan hasil dari amal yang lurus yang sesuai dengan ilmu, maka ia seperti ruh yang buruk dan durhaka. Dan tidak diingkari bahwa ruh ini memiliki keadaan-keadaan, namun yang menjadi masalah adalah tingkatan dan kedudukan keadaan-keadaan tersebut. Maka apabila keadaan bertentangan dengan hukum dari hukum-hukum ilmu, maka keadaan itu rusak atau kurang, dan tidak akan pernah lurus.

Maka ilmu yang benar dan amal yang lurus adalah timbangan bagi makrifat yang benar dan keadaan yang benar, dan keduanya seperti dua badan bagi dua ruh mereka.

Maka sebaik-baik pemahaman atas perkataannya “bahwa keadaan condong kepada ilmu” adalah bahwa ilmu selalu menyeru kepada tafriqqah (terseraknya perhatian), sedangkan keadaan menyeru kepada jam’iyyah (terkumpulnya hati). Dan hati berada di antara dua penyeru ini. Maka ia memenuhi panggilan yang ini sekali dan yang itu sekali. Maka penyempurnaan keadaan dan pembersihannya adalah: bahwa ia memenuhi panggilan keadaan, bukan panggilan ilmu. Dan tidak berarti dari ini bahwa ia berpaling dari ilmu, tidak menjadikannya hakim dan tidak tunduk kepadanya, bahkan ia beribadah dengan ilmu, menjadikannya hakim, tunduk kepadanya, tidak memenuhi panggilannya untuk tafriqqah. Bahkan ia memenuhi panggilan keadaan dan jam’iyyah, mengambil dari ilmu apa yang membenarkan keadaan dan jam’iyyahnya, tidak tenggelam di dalamnya seperti tenggelamnya orang yang telah membuang perhatiannya dan puncak tujuannya, tidak ada yang dituju selainnya dan tidak ada yang dikehendaki selain dia. Maka ilmu menurutnya adalah alat dan wasilah (perantara), dan jalan yang mengantarkannya kepada tujuan dan keinginannya. Maka ia seperti petunjuk di hadapannya yang menyerunya kepada jalan dan menunjukkannya kepadanya. Maka ia memenuhi panggilannya untuk petunjuk dan mengenal jalan. Dan yang ada di hatinya dari memperhatikan tujuan dan keinginannya dari perjalanannya, dan pendorong perhatiannya untuk keluar dari negeri dan tempat tumbuhnya, dari antara sahabat dan teman-temannya, yang membawanya kepada pengasingan dan menyendiri di jalan pencarian, adalah yang membuatnya berjalan, menggerakkan dan mendorong. Maka ia tidak condong dari panggilannya kepada kesibukan dengan hal-hal detail keadaan petunjuk dan apa yang keluar dari petunjuknya tentang jalannya.

Maka inilah maksud Syaikhul Islam – insya Allah Ta’ala – bukan wajah yang pertama. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

Pasal

Adapun perkataannya: dan tidak tunduk kepada bentuk lahiriah, artinya tidak menguasai hatinya sesuatu dari makhluk, sehingga hatinya tunduk kepadanya. Karena pemilik keadaan hanya mencari Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Maka tidak seharusnya ia berhenti pada tempat-tempat perjanjian dan bentuk-bentuk lahiriah.

Adapun perkataannya: dan tidak menoleh kepada bagian (nafsu), artinya apabila ia mendapatkan keadaan yang sempurna, ia tidak sibuk dengan kegembiraan karena keadaan itu, bagiannya darinya, dan kenikmatannya. Karena itu adalah bagian dari bagian-bagian nafsu dan sisa dari sisa-sisanya.

[Pasal: Tingkatan Ketiga: Penyempurnaan Niat]

Pasal

Penulis kitab Manazil berkata:

Tingkatan ketiga adalah penyempurnaan niat. Yaitu membersihkannya dari kehinaan paksaan, menjaganya dari penyakit kelemahan, dan menolongnya atas pertentangan ilmu.

Ini juga tiga hal yang menyempurnakan niat dan membersihkannya.

Pertama: membersihkannya dari kehinaan paksaan. Artinya tidak menggiring dirinya kepada Allah dengan terpaksa seperti pekerja yang dipekerjakan secara paksa dan dibebani, bahkan pendorong hatinya dan penariknya tertarik kepada Allah dengan sukarela, cinta, dan pilihan, seperti mengalirnya air di tempat yang menurun. Dan ini adalah keadaan orang-orang yang mencintai dengan benar. Karena ibadah mereka dengan sukarela, cinta, dan ridha. Maka di dalamnya ada kesejukan mata mereka, kegembiraan hati mereka, dan kenikmatan ruh mereka. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dan dijadikan kesejukan mataku pada shalat. Dan beliau biasa bersabda: Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan shalat.

Maka kesejukan mata orang yang mencintai, kenikmatannya, dan kenikmatan ruhnya ada pada ketaatan kepada kekasihnya. Berbeda dengan orang yang taat dengan terpaksa, yang menanggung beban pengabdian dengan berat.

Dan dalam perkataannya: kehinaan paksaan, terdapat makna yang halus, yaitu bahwa orang yang taat dengan terpaksa melihat bahwa seandainya bukan karena kehinaan paksaan dan hukuman tuannya, ia tidak akan taat kepadanya. Maka ia menanggung ketaatannya seperti orang yang dipaksa yang telah dihinakan dan dipaksa oleh yang memaksanya. Berbeda dengan orang yang mencintai yang menganggap ketaatan kepada kekasihnya sebagai makanan dan kenikmatan, kelezatan dan kegembiraan. Maka orang ini tidak didorong oleh kehinaan paksaan.

Kedua: menjaganya dari penyakit kelemahan. Artinya melindunginya dari penyakit lemahnya niatnya dan padamnya api pencarian. Karena tekad adalah ruh niat, dan semangatnya seperti kesehatan baginya. Dan kelemahannya adalah penyakit dari penyakit-penyakitnya. Maka penyempurnaan niatnya dan pembersihannya adalah dengan menjaganya dari sebab-sebab penyakit ini yaitu kelemahannya. Dan ia hanya terjaga darinya dengan menjaga dari sebab-sebabnya, yaitu dengan menghindarkan diri dari segala sesuatu yang berlebihan, bersemangat meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya, tidak berbicara kecuali pada apa yang ia harapkan padanya bertambahnya iman dan keadaannya bersama Allah, dan tidak bergaul kecuali dengan orang yang membantunya pada itu. Maka jika ia diuji dengan orang yang tidak membantunya, hendaknya ia menghalau orang itu darinya semampunya dan menolaknya seperti menolak penyerang.

Ketiga: menolong niatnya atas pertentangan ilmu, dan maksudnya adalah: menolong pikiran tentang penghambaan yang murni, terkumpulnya hati padanya, dan menghadap kepada Allah dengan seluruh hati, atas penarik-penarik ilmu dan pemikiran tentang hal-hal yang rumit, percabangan masalah-masalahnya, dan kelebihannya. Atau bahwa ilmu menuntut dari hamba untuk beramal karena keinginan dan ketakutan, pahala, dan takut akan siksaan.

Maka penyempurnaan niat adalah: membersihkannya dari memperhatikan itu dan memurnikannya, bahwa niatnya dan penghambaan adalah cinta kepada Allah tanpa sebab, dan tidak mencintai Allah karena apa yang Dia berikan dan melindunginya darinya. Maka cintanya kepada Allah menjadi cinta wasilah, dan cintanya pada tujuan pertama adalah untuk apa yang ia dapatkan dari pahala yang diciptakan. Maka itulah yang dicintai olehnya pada hakikatnya, sehingga jika ia mendapatkan kekasihnya, ia terhibur dengannya dari cinta kepada yang memberikannya kepadanya. Karena barangsiapa mencintaimu karena suatu urusan, maka ia akan setia kepadamu saat terwujudnya urusan itu dan meninggalkanmu saat berakhirnya. Dan orang yang mencintai dengan benar takut bahwa cintanya karena tujuan dari tujuan-tujuan, sehingga cintanya berakhir saat berakhirnya tujuan tersebut. Dan sesungguhnya keinginannya adalah: bahwa cintanya kekal tidak berakhir selamanya, dan bahwa ia tidak menjadikan kekasihnya sebagai wasilah kepada selainnya, bahkan menjadikan selain kekasihnya sebagai wasilah kepadanya.

Dan kadar inilah yang diperbincangkan oleh kaum tersebut, mereka berpusing-pusing tentangnya, mereka berbicara padanya, dan mereka bersungguh-sungguh menujunya. Maka di antara mereka ada yang bagus dalam mengungkapkannya, dan di antara mereka ada yang buruk ungkapannya, namun niat dan kejujurannya memperbaiki kerusakan ungkapannya. Dan di antara manusia ada yang tidak memahami ini sebagaimana mestinya, maka ia tidak mendapatkan tempat berlindung selain pengingkaran. Dan Allah mengampuni setiap orang yang niatnya adalah kebenaran dan mengikuti keridhaannya. Karena Dia Maha Luas pengampunannya.

[Pasal: Tingkatan Istiqamah]

[Hakikat Istiqamah]

Pasal: Tingkatan Istiqamah

Dan di antara tingkatan-tingkatan: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan istiqamah.

Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30). Dan Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 13). Dan Allah berfirma kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Hud: 112).

Maka Allah menjelaskan bahwa istiqamah adalah lawan dari kelampauan batas (tughyan). Dan itulah melampaui batas dalam segala sesuatu.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya.” (Fushshilat: 6). Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan memberi mereka minum air yang segar (rezeki yang banyak). Agar Kami menguji mereka dengannya. (Al-Jinn: 16).

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang paling jujur umat ini dan paling besar istiqamahnya, ditanya tentang istiqamah. Maka beliau menjawab: Yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Beliau menghendaki istiqamah atas kemurnian tauhid.

Dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Istiqamah adalah: engkau istiqamah atas perintah dan larangan, dan tidak mengelak seperti elaknya rubah.

Dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: Mereka beristiqamah artinya: memurnikan amal untuk Allah.

Dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Mereka beristiqamah artinya: menunaikan kewajiban-kewajiban.

Dan Hasan berkata: Mereka beristiqamah atas perintah Allah, maka mereka beramal dengan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.

Dan Mujahid berkata: Mereka beristiqamah atas kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah hingga mereka bertemu dengan Allah.

Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – berkata: Mereka beristiqamah atas cinta dan penghambaan kepada-Nya, maka mereka tidak menoleh darinya ke kanan atau ke kiri.

Dan dalam Shahih Muslim dari Sufyan bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang tidak akan aku tanyakan kepada seorangpun selain engkau. Beliau bersabda: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.”

Dan di dalamnya dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Beristiqamahlah kalian dan kalian tidak akan mampu menghitungnya. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang menjaga wudhu kecuali orang mukmin.

Dan yang dituntut dari hamba adalah istiqamah, yaitu kesempurnaan (as-sadad). Maka jika ia tidak mampu atasnya maka mendekatinya (al-muqarabah). Maka jika ia turun darinya, maka itu adalah kelalaian dan menyia-nyiakan. Sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Luruskanlah dan dekatkanlah. Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorangpun di antara kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka berkata: Dan tidak engkau wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Dan tidak aku, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku dengan rahmat, karunia, dan keutamaan dari-Nya.

Maka beliau mengumpulkan dalam hadits ini semua tingkatan agama. Maka beliau memerintahkan dengan istiqamah, yaitu kesempurnaan dan ketepatan dalam niat, perkataan, dan perbuatan.

Dan beliau mengabarkan dalam hadits Tsauban bahwa mereka tidak mampu untuk itu. Maka beliau memindahkan mereka kepada al-muqarabah (mendekati). Dan itulah bahwa mereka mendekati istiqamah sesuai kemampuan mereka. Seperti orang yang memanah ke sasaran, jika ia tidak mengenainya maka ia mendekatinya. Dan dengan ini beliau mengabarkan kepada mereka bahwa istiqamah dan al-muqarabah tidak menyelamatkan pada hari Kiamat. Maka tidak ada seorangpun yang bersandar pada amalnya, tidak bangga dengannya, dan tidak melihat bahwa keselamatannya dengan amalnya, bahkan keselamatannya hanya dengan rahmat Allah, maaf, dan karunia-Nya.

Maka istiqamah adalah kalimat yang mencakup keseluruhan agama. Dan istiqamah adalah berdiri di hadapan Allah atas hakikat kejujuran dan menepati janji.

Dan istiqamah berkaitan dengan perkataan, perbuatan, keadaan, dan niat. Maka istiqamah pada semuanya adalah: terjadinya untuk Allah, dengan Allah, dan atas perintah Allah.

Sebagian orang arif berkata: Jadilah pemilik istiqamah, bukan pencari karamah. Karena nafsumu bergerak dalam mencari karamah, sedangkan Rabbmu menuntutmu dengan istiqamah.

Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah Ta’ala menguduskan ruhnya – berkata: Karamah yang paling agung adalah melekatnya istiqamah.

Pasal Tafsir Syaikhul Islam tentang Firman Allah “Maka Tetaplah Kamu di Jalan yang Lurus Menuju Kepada-Nya dan Mohonlah Ampun Kepada-Nya”

Pasal

Penulis kitab “Al-Manazil” – semoga Allah menguduskan ruhnya – berkata tentang firman-Nya: “Maka tetaplah kamu di jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya” (Fussilat: 6) bahwa ini adalah isyarat kepada hakikat pengesaan.

Maksudnya adalah: bahwa Allah telah membimbing mereka untuk menyaksikan pengesaan-Nya, yaitu agar mereka tidak melihat selain keesaan-Nya.

Pengesaan ada dua jenis: pengesaan dalam ilmu, makrifat, dan penyaksian. Dan pengesaan dalam pencarian dan kehendak. Kedua jenis ini merupakan dua bentuk tauhid.

Dalam ucapannya “hakikat pengesaan”, terdapat isyarat kepada keadaan kesatuan dan keesaan-Nya, yang menurutnya berada di atas ilmu dan makrifatnya; karena pemisahan terkadang dapat berdampingan dengan ilmu tentang kesatuan. Adapun keadaannya, maka tidak dapat berdampingan dengan pemisahan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui.

Pasal Perumpamaan Istiqamah bagi Keadaan seperti Kedudukan Ruh bagi Jasad

Pasal

Beliau berkata: Istiqamah adalah ruh yang dengannya keadaan-keadaan menjadi hidup, sebagaimana amal-amal bertambah bagi orang awam dengannya. Dan ia adalah penghalang antara lembah-lembah perpecahan dan bukit-bukit kesatuan.

Beliau menyerupakan istiqamah bagi keadaan seperti kedudukan ruh bagi jasad. Sebagaimana jasad jika kosong dari ruh maka ia mati, demikian pula keadaan jika kosong dari istiqamah maka ia rusak. Dan sebagaimana kehidupan keadaan-keadaan adalah dengannya, maka pertambahan amal-amal para zahid juga, serta pertumbuhan dan kesuciannya adalah dengannya. Maka tidak ada kesucian bagi amal dan tidak ada kebenaran bagi keadaan tanpanya.

Adapun mengenai ia sebagai penghalang antara lembah-lembah perpecahan dan bukit-bukit kesatuan, maka penghalang adalah pemisah antara dua hal yang berbeda. Dan lembah-lembah adalah tempat-tempat rendah dari bumi. Beliau meminjam istilah ini untuk perpecahan; karena ia menghalangi siapa yang berada di dalamnya dari melihat apa yang dilihat oleh orang yang berada di atas bukit-bukit, sebagaimana pemilik perpecahan terhalangi dari melihat apa yang dilihat dan disaksikan oleh pemilik kesatuan.

Juga, keadaannya lebih rendah dari keadaan itu. Maka ia seperti penghuni lembah-lembah. Dan keadaan pemilik kesatuan lebih tinggi. Maka ia seperti penghuni bukit-bukit. Beliau menyerupakan keadaan pemilik kesatuan dengan keadaan orang yang berada di atas bukit-bukit karena ketinggiannya. Dan karena bukit-bukit mengungkapkan kepada siapa yang berada di atasnya yang dekat dan yang jauh, dan pemilik kesatuan tersingkap baginya hakikat-hakikat yang terhalangi dari pemilik perpecahan.

Jika ini telah dipahami, maka makna ia sebagai penghalang adalah: bahwa salik (orang yang menempuh jalan) pada awal perjalanannya berada di lembah-lembah perpecahan, berjalan menuju bukit-bukit kesatuan. Maka ia beristiqamah dalam jalan perjalanannya dengan istiqamah yang sempurna, agar dengan istiqamahnya sampai kepada bukit-bukit kesatuan. Maka istiqamahnya adalah penghalang antara perpecahan yang ia berada di dalamnya dan antara kesatuan yang ia tuju dan maksudkan. Dan ini seperti perpecahan orang yang menetap di negeri dalam berbagai jenis tindakan. Jika ia berniat untuk bepergian, keluar dan meninggalkan negeri, dan terus melanjutkan perjalanan, maka jalan perjalanannya adalah penghalang antara negeri yang ia berada di dalamnya dan negeri yang ia tuju dan maksudkan.

Pasal Tingkatan-Tingkatan Istiqamah

Tingkatan Pertama: Istiqamah atas Kesungguhan dalam Moderasi

Pasal

Beliau berkata: Dan ia memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Istiqamah atas kesungguhan dalam moderasi. Tidak melampaui batas ilmu, tidak melewati batas keikhlasan, dan tidak menyalahi jalan Sunnah.

Tingkatan ini mencakup enam perkara: amal dan kesungguhan di dalamnya, yaitu mencurahkan upaya; moderasi, yaitu berjalan di antara dua ujung berlebihan, yaitu berlaku zalim terhadap jiwa, dan kelalaian dengan menyia-nyiakannya; berdiri pada apa yang ditetapkan oleh ilmu, bukan berdiri dengan panggilan keadaan; mengkhususkan Yang Disembah dengan kehendak, yaitu keikhlasan; dan terjadinya amal-amal sesuai perintah, yaitu mengikuti Sunnah.

Dengan enam perkara ini, istiqamah menjadi sempurna bagi ahli tingkatan ini. Dan dengan keluar dari salah satunya, mereka keluar dari istiqamah: baik keluar secara total maupun keluar secara sebagian.

Para salaf sering menyebut dua dasar ini – yaitu moderasi dalam amal dan berpegang teguh pada Sunnah – karena setan mencium hati hamba dan mengujinya. Jika ia melihat di dalamnya panggilan untuk bid’ah dan berpaling dari kesempurnaan tunduk kepada Sunnah, ia mengeluarkannya dari berpegang teguh padanya. Jika ia melihat di dalamnya keserakahan terhadap Sunnah dan keinginan kuat untuknya, ia tidak mendapatkannya dari pintu memotongnya darinya, maka ia memerintahkannya dengan kesungguhan dan berlaku zalim terhadap diri sendiri, serta melampaui batas moderasi di dalamnya, sambil berkata kepadanya: Sesungguhnya ini adalah kebaikan dan ketaatan, dan menambah serta bersungguh-sungguh di dalamnya lebih sempurna. Maka janganlah engkau lemah bersama orang-orang yang lemah, dan janganlah engkau tidur bersama orang-orang yang tidur. Ia terus mendorongnya dan memancingnya, hingga mengeluarkannya dari moderasi di dalamnya, sehingga ia keluar dari batasnya. Sebagaimana yang pertama keluar dari batas ini, maka yang terakhir ini juga keluar dari batas yang lain.

Ini adalah keadaan Khawarij yang membuat ahli istiqamah meremehkan shalat mereka dibanding shalat mereka, puasa mereka dibanding puasa mereka, dan bacaan mereka dibanding bacaan mereka. Kedua-duanya adalah keluar dari Sunnah menuju bid’ah. Namun yang ini menuju bid’ah kelalaian dan penyia-nyiaan, sedangkan yang lain menuju bid’ah melampaui batas dan berlebihan.

Sebagian salaf berkata: Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu perintah kecuali setan memiliki dua kecenderungan di dalamnya: ke kelalaian atau ke melampaui batas, yaitu berlebihan, dan ia tidak peduli dengan mana ia berhasil: penambahan atau pengurangan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma: “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap pelaku amal memiliki semangat, dan setiap semangat memiliki kelemahan. Barangsiapa kelemahannya kepada Sunnah maka ia beruntung, dan barangsiapa kelemahannya kepada bid’ah maka ia gagal dan merugi.” Beliau mengatakan itu kepadanya ketika memerintahkannya dengan moderasi dalam amal.

Maka seluruh kebaikan adalah dalam kesungguhan dengan moderasi, dan keikhlasan yang disertai dengan pengikutan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian sahabat: Moderasi di jalan dan Sunnah lebih baik daripada kesungguhan dalam menyalahi jalan dan Sunnah. Maka bersemangatlah agar amal-amal kalian sesuai dengan manhaj para nabi alaihimus salam dan Sunnah mereka.

Demikian pula riya dalam amal-amal mengeluarkannya dari istiqamah. Dan kelemahan serta kelalaian juga mengeluarkannya darinya.

Pasal Tingkatan Kedua: Istiqamah Keadaan-Keadaan

Pasal

Beliau berkata: Tingkatan kedua: Istiqamah keadaan-keadaan. Yaitu menyaksikan hakikat bukan melalui usaha, menolak klaim bukan karena ilmu, dan bertahan bersama cahaya kewaspadaan bukan karena menjaga diri.

Maksudnya bahwa istiqamah keadaan adalah dengan tiga hal ini.

Adapun menyaksikan hakikat, maka hakikat ada dua: hakikat kauniah (berkaitan dengan penciptaan), dan hakikat diniah (berkaitan dengan agama), yang keduanya dikumpulkan oleh hakikat ketiga, yaitu sumber dan asal keduanya, serta tujuan keduanya. Kebanyakan ahli suluk dari kalangan mutaakhirin hanya menginginkan dengan hakikat adalah hakikat kauniah. Dan menyaksikannya adalah menyaksikan kesendirian Rabb dalam perbuatan, dan bahwa selain-Nya adalah tempat berlakunya hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan-Nya. Maka ia seperti saluran yang merupakan tempat mengalirnya air saja.

Menurut mereka, menyaksikan hakikat ini dan fana di dalamnya adalah puncak para salik.

Di antara mereka ada yang menyaksikan hakikat azaliah dan keabadian, dan fananya kejadian-kejadian serta terlipat dalam hamparan azaliah dan abadiah, dan lenyapnya dalam hal itu. Maka ia menyaksikannya tidak ada, dan menyaksikan kesendirian Penciptanya dengan wujud yang haq dengan haq, dan bahwa wujud selain-Nya adalah bentuk-bentuk dan bayangan-bayangan.

Yang pertama menyaksikan kesendirian-Nya dalam perbuatan. Dan yang ini menyaksikan kesendirian-Nya dalam wujud.

Sedangkan pemilik hakikat diniah berada dalam fase lain. Karena ia berada dalam tempat perintah dan larangan, pahala dan siksa, perwalian dan permusuhan, perbedaan antara apa yang Allah cintai dan ridhai, dan antara apa yang Dia benci dan murkai. Maka ia berada dalam tingkatan pemisahan kedua yang seorang hamba tidak mendapatkan tingkatan Islam – apalagi tingkatan ihsan – kecuali dengannya.

Orang yang berpaling darinya sama sekali tidak memiliki bagian dalam Islam sama sekali, dan ia seperti yang Junaid wasiatkan kepada sahabat-sahabatnya, ia berkata: Hendaklah kalian dengan pemisahan kedua. Ia dinamakan kedua karena pemisahan pertama adalah pemisahan dengan tabiat dan nafsu. Sedangkan ini adalah pemisahan dengan perintah.

Dan kesatuan juga ada dua: kesatuan dalam pemisahan, yaitu kesatuan ahli istiqamah dan tauhid. Dan kesatuan tanpa pemisahan, yaitu kesatuan ahli zindik dan ilhad (penyelewengan).

Maka manusia ada tiga: pemilik pemisahan tanpa kesatuan, maka ia tercela, kurang, dan terhina.

Dan pemilik kesatuan tanpa pemisahan, ini adalah kesatuan ahli zindik dan ilhad. Maka pemiliknya adalah mulhid dan zindik. Dan pemilik pemisahan dan kesatuan, ia menyaksikan pemisahan dalam kesatuan, dan keberagaman dalam keesaan. Maka ia adalah orang yang istiqamah, muwahhid (pengesaan), yang memisahkan. Dan ini adalah pemilik hakikat ketiga, yang menggabungkan dua hakikat diniah dan kauniah. Maka menyaksikan hakikat yang menggabungkan ini adalah hakikat istiqamah itu sendiri.

Adapun menyaksikan hakikat kauniah, atau azaliah, dan fana di dalamnya, maka itu adalah perkara yang sama antara orang-orang beriman dan kafir. Karena orang kafir mengakui takdir dan qadha Allah, serta azaliah dan abadiah-Nya. Jika ia tenggelam dalam penyaksian ini dan fana dengannya dari selainnya, maka ia telah menyaksikan hakikat.

Adapun ucapannya “bukan melalui usaha”, artinya ia menyadari ketika menyaksikan hakikat bahwa penyaksiannya tidak terjadi melalui usaha; karena usaha adalah dari perbuatan nafsu. Maka hakikat tidak tampak dengan tersisanya nafsu; karena hakikat adalah keesaan yang satu yang bercahaya. Maka harus hilang kegelapan nafsu dan melihat usahanya, jika tidak maka ia tidak menyaksikan hakikat.

Adapun menolak klaim bukan karena ilmu, maka klaim adalah menisbatkan keadaan dan lainnya kepada dirimu dan aku-mu. Maka istiqamah tidak benar kecuali dengan meninggalkannya, baik itu benar maupun salah. Karena klaim yang benar memadamkan cahaya makrifat, apalagi yang bohong?

Adapun ucapannya “bukan karena ilmu”, artinya yang membawanya untuk meninggalkan klaim bukanlah semata-mata ilmunya tentang rusaknya klaim dan pertentangannya dengan istiqamah. Jika ia meninggalkannya, maka ia meninggalkannya karena ilmu telah melarangnya. Maka ia meninggalkannya secara lahir bukan hakikat, atau meninggalkannya secara lafaz, berdiri dengannya secara keadaan; karena ia melihat bahwa ia telah melaksanakan hak ilmu dalam meninggalkannya. Maka ia meninggalkannya dengan tawadhu, bahkan meninggalkannya secara keadaan dan hakikat. Sebagaimana orang yang mencintai sesuatu yang cintanya membahayakannya meninggalkan cintanya secara keadaan dan hakikat. Dan jika ia menyadari bahwa ia tidak memiliki urusan sedikitpun – sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman kepada makhluk-Nya yang terbaik secara mutlak: “Tidak ada sedikitpun urusan bagimu” (Ali Imran: 128) – maka ia meninggalkan klaim secara penyaksian, hakikat, dan keadaan.

Adapun bertahan bersama cahaya kewaspadaan, maka itu adalah kekal dalam kewaspadaan, dan agar tidak memadamkan cahayanya dengan kegelapan kelalaian. Bahkan ia terus menerus waspada. Dan ia melihat bahwa ia dalam hal itu seperti orang yang tertarik yang terambil dari dirinya, sebagai penjagaan dari Allah untuknya. Bukan bahwa itu terjadi karena penjagaannya dan kehati-hatiannya.

Maka ini adalah tiga perkara: kewaspadaan, dan kelanggengannya, dan menyaksikan bahwa itu adalah oleh Allah Subhanahu bukan olehmu. Maka bukan sebab bertahannya dalam cahaya kewaspadaan adalah karena penjagaannya, melainkan karena penjagaan Allah untuknya.

Seakan-akan Syaikh mengisyaratkan bahwa istiqamah dalam tingkatan ini tidak terjadi melalui usaha. Melainkan ia hanya pemberian dari Allah. Karena ia berkata dalam yang pertama “istiqamah atas kesungguhan” dan dalam yang kedua “istiqamah keadaan-keadaan, bukan melalui usaha dan bukan karena menjaga diri”.

Dan perdebatan dengannya dalam hal itu terarah. Dan bahwa itu adalah sesuatu yang dapat dicapai melalui usaha dengan mengambil sebab-sebab yang membawa pemiliknya kepada tingkatan ini.

Benar, yang dinafikan dalam tingkatan ini adalah: menyaksikan usaha, dan bahwa ini terjadi untuknya karena usahanya. Maka menafikan usaha adalah satu hal dan menafikan penyaksiannya adalah hal lain.

Dan semoga kita dapat memuaskan pembahasan dalam hal ini pada apa yang akan datang insya Allah Ta’ala.

Bab Tingkatan Ketiga: Istiqamah dengan Meninggalkan Pandangan terhadap Istiqamah

Bab

Berkata: Tingkatan ketiga adalah istiqamah dengan meninggalkan pandangan terhadap istiqamah, dan dengan ketiadaan (ghaibah) dari mencari istiqamah karena menyaksikan penegakan (iqamah) dan perbaikan oleh Allah Yang Maha Benar.

Istiqamah ini maknanya adalah: terlupa dari penyaksiannya karena Yang Disaksikan. Maka ia tidak hadir (ghaib) dengan Yang Disaksikan yang dituju—Maha Suci Dia—dari melihat istiqamahnya dalam pencarian. Sesungguhnya melihat istiqamah akan menghalanginya dari hakikat penyaksian.

Adapun ketiadaan (ghaibah) dari mencari istiqamah, yaitu ia tidak hadir dari mencarinya karena menyaksikan penegakan Allah terhadap hamba dan perbaikan-Nya terhadapnya. Sebab ketika ia menyaksikan bahwa Allah-lah yang menegakkannya dan memperbaikinya, dan bahwa istiqamah dan keteguhannya adalah dengan Allah, bukan dengan dirinya sendiri dan bukan dengan pencariannya, maka ia tidak hadir dengan penyaksian ini dari merasakan pencariannya untuk istiqamah.

Dan kadar ini termasuk konsekuensi dari menyaksikan makna nama-Nya Al-Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri), yaitu Zat yang berdiri dengan diri-Nya sendiri sehingga tidak memerlukan kepada siapa pun, dan segala sesuatu berdiri dengan-Nya. Maka segala yang selain-Nya memerlukan kepada-Nya secara hakiki. Dan kebutuhannya kepada-Nya tidak disebabkan oleh kebaruan (huduts), sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli kalam, dan tidak pula oleh kemungkinan (imkan), sebagaimana yang dikatakan oleh para filsuf Peripatetik. Bahkan kebutuhannya kepada-Nya bersifat hakiki, dan apa yang bersifat hakiki tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Ya, kebaruan dan kemungkinan adalah dua dalil atas kebutuhan. Maka penjelasan sebab dengan keduanya adalah dari segi ta’rif (pengenalan), bukan dari segi sebab-sebab yang berpengaruh. Wallahu a’lam.

Bab Tingkatan Tawakal

Tawakal dalam Kitabullah dan Sunnah

Dan di antara tingkatan-tingkatan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan tawakal.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu orang-orang yang beriman” (Al-Ma’idah: 23), dan Dia berfirman: “Dan kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal” (Ali ‘Imran: 122), dan Dia berfirman: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (At-Talaq: 3), dan Dia berfirman tentang wali-wali-Nya: “Ya Tuhan kami, kepada-Mu kami bertawakal dan kepada-Mu kami kembali, dan kepada-Mu tempat kembali” (Al-Mumtahanah: 4), dan Dia berfirman kepada Rasul-Nya: “Katakanlah: Dialah Ar-Rahman, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal” (Al-Mulk: 29), dan Dia berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata” (An-Naml: 79), dan Dia berfirman kepadanya: “Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung” (An-Nisa’: 81), dan Dia berfirman kepadanya: “Dan bertawakallah kepada Yang Hidup (Allah) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya” (Al-Furqan: 58), dan Dia berfirman kepadanya: “Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal” (Ali ‘Imran: 159), dan Dia berfirman tentang para nabi dan rasul-Nya: “Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan-jalan kepada kami” (Ibrahim: 12), dan Dia berfirman tentang para sahabat Nabi-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang kepada mereka dikatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung'” (Ali ‘Imran: 173), dan Dia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhan mereka bertawakal” (Al-Anfal: 2).

Dan Al-Quran dipenuhi dengan hal itu.

Dan dalam Shahihain—dalam hadits tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab—“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak bertathayur (percaya sial), tidak berbekam, dan kepada Tuhan mereka bertawakal”.

Dan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung”. Kalimat ini diucapkan oleh Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dilemparkan ke dalam api. Dan diucapkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keiman mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung” (Ali ‘Imran: 173).

Dan dalam Shahihain: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa: “Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan (pertolongan)-Mu aku berperang. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah selain Engkau—agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkau Yang Maha Hidup yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia akan mati”.

Dan dalam Tirmidzi dari Umar radiyallahu ‘anhu secara marfu’: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, mereka pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang”.

Dan dalam Sunan dari Anas radiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan—yaitu ketika keluar dari rumahnya—’Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah’, dikatakan kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, dilindungi, dan dicukupi’. Maka syetan berkata kepada syetan yang lain: ‘Bagaimana caramu (menggoda) orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?'”

Tawakal adalah setengah dari agama. Dan setengah yang lain adalah inabah (kembali kepada Allah), karena agama adalah istianah (meminta pertolongan) dan ibadah. Maka tawakal adalah istianah, dan inabah adalah ibadah.

Dan tingkatannya adalah tingkatan yang paling luas dan paling komprehensif. Dan tidak pernah sepi dari orang-orang yang singgah di dalamnya, karena luasnya objek tawakal, banyaknya kebutuhan makhluk, umumnya tawakal, dan terjadinya tawakal dari orang-orang mukmin dan kafir, orang-orang baik dan jahat, burung dan binatang buas dan hewan ternak. Maka penduduk langit dan bumi—yang mukallaf (dibebani syariat) dan yang lainnya—berada dalam tingkatan tawakal, meskipun objek tawakal mereka berbeda-beda. Maka wali-wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya bertawakal kepada-Nya dalam hal iman, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan dalam hal-hal yang dicintai-Nya serta melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Di bawah mereka adalah orang yang bertawakal kepada-Nya untuk istiqamahnya dalam dirinya sendiri, dan menjaga keadaannya dengan Allah, sambil tidak mempedulikan manusia.

Di bawah mereka adalah orang yang bertawakal kepada-Nya untuk mendapatkan sesuatu yang diketahui akan diperoleh dari-Nya, berupa rezeki atau kesehatan, atau pertolongan atas musuh, atau istri atau anak, dan semacam itu.

Di bawah mereka adalah orang yang bertawakal kepada-Nya untuk mendapatkan dosa dan perbuatan keji. Karena para pencari tujuan-tujuan ini kebanyakan tidak memperolehnya kecuali dengan meminta pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Bahkan tawakal mereka bisa lebih kuat daripada tawakal banyak pelaku ketaatan. Dan karena itu mereka melemparkan diri mereka ke dalam kebinasaan dan kehancuran, sambil bergantung kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka dan memenangkan mereka dalam tujuan-tujuan mereka.

Maka tawakal yang paling utama adalah tawakal dalam hal yang wajib—maksudnya kewajiban terhadap Allah, kewajiban terhadap makhluk, dan kewajiban terhadap diri sendiri—dan yang paling luas dan paling bermanfaat adalah tawakal dalam memberikan pengaruh di luar diri untuk kemaslahatan agama, atau untuk menolak kerusakan agama. Dan ini adalah tawakal para nabi dalam menegakkan agama Allah dan menolak kerusakan orang-orang yang membuat kerusakan di bumi. Dan ini adalah tawakal para pewaris mereka. Kemudian manusia setelah itu dalam tawakal sesuai dengan cita-cita dan tujuan mereka. Maka ada yang bertawakal kepada Allah untuk mendapatkan kerajaan, dan ada yang bertawakal untuk mendapatkan sepotong roti.

Dan barangsiapa yang benar tawakalnya kepada Allah dalam mendapatkan sesuatu, maka ia akan memperolehnya. Jika itu dicintai dan diridhai oleh Allah, maka ia akan mendapat akibat yang terpuji. Dan jika itu dimurkai dan dibenci, maka apa yang diperolehnya dengan tawakalnya akan menjadi mudarat baginya. Dan jika itu mubah, maka ia mendapat manfaat tawakal tanpa manfaat dari apa yang ia bertawakal untuknya, jika ia tidak meminta pertolongan dengannya untuk ketaatan-ketaatannya. Wallahu a’lam.

Bab Makna Tawakal

Bab

Maka mari kita sebutkan makna tawakal, tingkatan-tingkatannya, dan apa yang dikatakan tentangnya.

Imam Ahmad berkata: Tawakal adalah amal hati. Makna itu adalah bahwa ia merupakan amal hati, bukan ucapan lisan, dan bukan amal anggota badan, dan bukan dari kategori ilmu dan pemahaman. Di antara manusia ada yang menjadikannya dari kategori ma’rifah dan ilmu, lalu berkata: Ia adalah pengetahuan hati tentang kecukupan Tuhan terhadap hamba.

Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan ketenangan dan diamnya gerakan hati. Lalu berkata: Tawakal adalah terlentangnya hati di hadapan Tuhan, seperti terlentangnya mayit di hadapan orang yang memandikannya, membiarkan hatinya dibolak-balik sekehendak-Nya. Dan ia adalah meninggalkan pilihan, dan mengalir bersama jalannya takdir.

Sahl berkata: Tawakal adalah mengalir bersama Allah dengan apa yang Dia kehendaki.

Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan ridha. Lalu berkata: Ia adalah ridha dengan yang ditakdirkan.

Bisyr Al-Hafi berkata: Seseorang mengatakan: Aku bertawakal kepada Allah. Ia berdusta atas nama Allah. Seandainya ia bertawakal kepada Allah, ia akan ridha dengan apa yang Allah perbuat.

Yahya bin Mu’adz ditanya: Kapan seseorang menjadi mutawakkil? Maka ia menjawab: Apabila ia ridha dengan Allah sebagai Wakil.

Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan keyakinan kepada Allah, ketentraman kepada-Nya, dan ketenangan kepada-Nya.

Ibnu ‘Atha’ berkata: Tawakal adalah tidak tampak padamu kegelisahan terhadap sebab-sebab, dengan sangat kebutuhanmu kepadanya, dan tidak hilang darimu hakikat ketenangan kepada Allah dengan berdirinya kamu di atasnya.

Dzun Nun berkata: Ia adalah meninggalkan pengaturan diri, dan melepaskan diri dari daya dan kekuatan. Dan sesungguhnya hamba hanya kuat bertawakal apabila ia mengetahui bahwa Allah Maha Benar mengetahui dan melihat apa yang ia berada di dalamnya. Dan sebagian mereka berkata: Tawakal adalah bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan.

Dan dikatakan: Tawakal adalah datangnya kepadamu sumber-sumber kekurangan, lalu kamu tidak menengadah kecuali kepada Zat yang kepada-Nya kecukupan.

Dan dikatakan: Menghilangkan keraguan, dan mewakilkan kepada Pemilik segala kerajaan.

Dan Dzun Nun berkata: Melepaskan tuhan-tuhan dan memutus sebab-sebab.

Maksudnya memutusnya dari keterikatan hati kepadanya, bukan dari persinggungan anggota badan dengannya.

Di antara mereka ada yang menjadikannya tersusun dari dua perkara atau beberapa perkara.

Maka Abu Sa’id Al-Kharraz berkata: Tawakal adalah keguncangan tanpa ketenangan, dan ketenangan tanpa keguncangan.

Maksudnya: gerakan zatnya dalam sebab-sebab secara lahir dan batin, dan ketenangan kepada Musabbib (Pencipta sebab), dan bersandar kepada-Nya. Dan tidak guncang hatinya bersama-Nya, dan tidak diam gerakannya dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada ridha-Nya.

Dan Abu Turab An-Nakhsyabi berkata: Ia adalah melemparkan badan dalam penghambaan, dan ketergantungan hati dengan ketuhanan, dan ketentraman kepada kecukupan. Jika diberi ia bersyukur, dan jika dicegah ia bersabar.

Maka ia menjadikannya tersusun dari lima perkara: melaksanakan gerakan-gerakan penghambaan, ketergantungan hati dengan pengaturan Tuhan, ketenangan hati kepada ketentuan dan takdir-Nya, ketentramanannya dan kecukupan-Nya untuknya, dan syukurnya ketika diberi, dan sabarnya ketika dicegah.

Abu Ya’qub An-Nahrajuri berkata: Tawakal kepada Allah dengan kesempurnaan hakikat, sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam pada saat ia berkata kepada Jibril ‘alaihissalam: “Adapun kepadamu, maka tidak”; karena ia tidak hadir dari dirinya dengan Allah. Maka ia tidak melihat bersama Allah selain Allah.

Dan kaum sufi sepakat bahwa tawakal tidak bertentangan dengan melaksanakan sebab-sebab. Maka tidak sah tawakal kecuali dengan melaksanakannya, jika tidak maka itu adalah pengangguran dan tawakal yang rusak.

Sahl bin Abdullah berkata: Barangsiapa yang mencela gerakan maka ia telah mencela Sunnah. Dan barangsiapa yang mencela tawakal maka ia telah mencela iman.

Maka tawakal adalah keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan usaha adalah sunnahnya. Maka barangsiapa yang beramal atas keadaannya, janganlah ia meninggalkan sunnahnya. Dan ini adalah makna perkataan Abu Sa’id: Ia adalah keguncangan tanpa ketenangan, dan ketenangan tanpa keguncangan. Dan perkataan Sahl lebih jelas dan lebih tinggi.

Dan dikatakan: Tawakal adalah memutus ketergantungan hati dengan selain Allah.

Dan Sahl ditanya tentang tawakal? Maka ia berkata: Hati yang hidup bersama Allah tanpa ketergantungan.

Dan dikatakan: Tawakal adalah meninggalkan ketergantungan-ketergantungan, dan menyambung hakikat-hakikat.

Dan dikatakan: Tawakal adalah sama bagimu antara banyak dan sedikit.

Dan ini termasuk konsekuensi dan dampaknya, bukan bahwa itu hakikatnya.

Dan dikatakan: Ia adalah meninggalkan setiap sebab yang mengantarkanmu kepada musabbab (akibat), hingga Allah sendiri yang mengurusi hal itu.

Dan ini benar dari satu sisi, salah dari sisi lain. Meninggalkan sebab-sebab yang diperintahkan adalah cacat dalam tawakal. Dan Allah telah mengurus pengantaran hamba dengannya. Adapun meninggalkan sebab-sebab yang mubah, jika meninggalkannya untuk yang lebih besar manfaatnya maka terpuji, jika tidak maka tercela.

Dan dikatakan: Ia adalah melemparkan diri dalam penghambaan, dan mengeluarkannya dari ketuhanan.

Maksudnya mengalirkannya dengan perintah, dan berlepas diri dari daya dan kekuatannya, dan menyaksikan itu padanya, bahkan dengan Tuhan semata.

Di antara mereka ada yang berkata: Tawakal adalah taslim (penyerahan) kepada perintah Tuhan dan ketentuan-Nya.

Di antara mereka ada yang berkata: Ia adalah tafwidh (penyerahan penuh) kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Di antara mereka ada yang menjadikan tawakal sebagai permulaan, taslim sebagai pertengahan, dan tafwidh sebagai akhir.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Tawakal ada tiga tingkatan: tawakal, kemudian taslim, kemudian tafwidh. Maka mutawakkil (orang yang bertawakal) tenang kepada janji-Nya, dan pemilik taslim cukup dengan ilmu-Nya, dan pemilik tafwidh ridha dengan hukum-Nya. Maka tawakal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir. Maka tawakal adalah sifat orang-orang mukmin, taslim adalah sifat para wali, dan tafwidh adalah sifat para muwahhidin (orang-orang yang mengesakan Allah).

Tawakal adalah sifat orang awam, taslim adalah sifat orang khusus, dan tafwidh adalah sifat khusus yang khusus.

Tawakal adalah sifat para nabi, taslim adalah sifat Ibrahim Al-Khalil, dan tafwidh adalah sifat nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan atas mereka semua.

Ini semua adalah perkataan Ad-Daqqaq. Makna ini adalah tawakal bergantung kepada Wakil, dan seseorang mungkin bergantung kepada wakilnya dengan jenis usulan kepadanya, dan kehendak serta percampuran perselisihan. Maka apabila ia taslim kepadanya, hilang darinya itu, dan ia ridha dengan apa yang dilakukan wakilnya. Dan keadaan mufawwidh (orang yang menyerahkan sepenuhnya) di atas ini. Karena ia adalah pencari yang menginginkan dari orang yang ia serahkan kepadanya, meminta darinya agar ia mengurusi urusan-urusannya. Maka ia adalah ridha dan pilihan, serta taslim dan ketergantungan. Tawakal termasuk dalam taslim, dan ia bersama taslim keduanya termasuk dalam tafwidh. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Hakikat Tawakkal Terdiri dari Beberapa Perkara

Pasal: Yang Pertama adalah Mengenal Allah dan Sifat-sifat-Nya

Pasal

Hakikat dari perkara ini adalah: bahwa tawakkal merupakan keadaan yang tersusun dari gabungan beberapa perkara, dan hakikat tawakkal tidak akan sempurna kecuali dengan perkara-perkara tersebut. Setiap orang menunjuk kepada satu dari perkara-perkara ini, atau dua, atau lebih.

Yang pertama dari hal itu adalah: mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya berupa kekuasaan-Nya, kecukupan-Nya, sifat Qayyum-Nya (Maha Mengurus), dan bahwa semua urusan berakhir pada ilmu-Nya, serta berasal dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Dan pengenalan ini adalah tingkatan pertama yang dengannya seorang hamba meletakkan kakinya dalam tingkatan tawakkal.

Berkata syaikh kami semoga Allah meridhainya: Oleh karena itu, tidak sah dan tidak mungkin terwujud tawakkal dari seorang filosof. Dan tidak pula dari kaum Qadariyah yang menafikan, yang mengatakan bahwa di dalam kerajaan Allah terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Dan tidak lurus pula tawakkal dari kaum Jahmiyah yang menafikan sifat-sifat Allah Yang Mahamulia. Dan tawakkal tidak akan lurus kecuali dari ahlul itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah).

Maka tawakkal macam apa bagi orang yang meyakini bahwa Allah tidak meliputi seluruh partikel-partikel alam, baik yang bawah maupun yang atas? Dan bahwa Dia bukan pelaku dengan pilihan-Nya? Dan tidak ada bagi-Nya iradah dan mashiah? Dan tidak ada sifat yang berdiri pada-Nya? Maka setiap orang yang lebih berilmu dan lebih mengenal tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, maka tawakalnya lebih sahih dan lebih kuat. Dan Allah Mahasuci dan Mahatinggi adalah Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kedua adalah Penetapan dalam Hal Sebab-sebab dan Akibat-akibat

Pasal: Tingkatan kedua adalah penetapan dalam hal sebab-sebab dan akibat-akibat.

Sesungguhnya orang yang menafikan sebab-sebab, maka tawakalnya cacat. Dan ini kebalikan dari apa yang tampak dalam pandangan awal: bahwa menetapkan sebab-sebab merusak tawakkal, dan bahwa menafikannya adalah kesempurnaan tawakkal.

Ketahuilah bahwa orang-orang yang menafikan sebab-sebab, tidak akan lurus bagi mereka tawakkal sama sekali; karena tawakkal adalah termasuk sebab-sebab yang paling kuat dalam tercapainya perkara yang ditawakalkan. Ia seperti doa yang dijadikan Allah sebagai sebab dalam tercapainya perkara yang didoakan. Maka jika seorang hamba meyakini bahwa tawakalnya tidak dijadikan Allah sebagai sebab, dan tidak pula doa-nya dijadikan sebab untuk meraih sesuatu, maka sesungguhnya perkara yang ditawakalkan dan yang didoakan untuk tercapai, jika sudah ditakdirkan akan terjadi maka akan terjadi, baik dia bertawakkal atau tidak bertawakkal, berdoa atau tidak berdoa. Dan jika tidak ditakdirkan maka tidak akan terjadi, baik dia bertawakkal atau meninggalkan tawakkal.

Dan orang-orang ini menyatakan dengan tegas bahwa tawakkal dan doa adalah semata-mata ibadah. Tidak ada faedahnya kecuali itu. Dan seandainya hamba meninggalkan tawakkal dan doa, maka tidak akan luput darinya sedikitpun dari apa yang telah ditakdirkan untuknya. Dan di antara kelompok ekstrem mereka ada yang menjadikan doa untuk tidak ditimpa hukuman karena kesalahan dan lupa sebagai tidak berfaedah; karena hal itu sudah pasti terjadi.

Aku melihat sebagian orang yang berlebihan di antara mereka – dalam sebuah kitab miliknya – tidak membolehkan berdoa dengan ini. Dan hanya membolehkannya sebagai bacaan bukan doa. Ia berkata: karena berdoa dengannya mengandung keraguan dalam terjadinya; karena orang yang berdoa berada di antara khauf (takut) dan raja (harap). Dan ragu dalam terjadinya hal itu adalah ragu terhadap kabar Allah. Maka lihatlah kepada perkara-perkara besar yang diakibatkan oleh pengingkaran sebab-sebab, dan pengharaman berdoa dengan apa yang Allah puji hamba-hamba-Nya dan wali-wali-Nya karena berdoa dengannya dan memintanya. Dan kaum muslimin tidak henti-hentinya – sejak masa Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam hingga sekarang – berdoa dengannya dalam tempat-tempat berdoa. Dan ia termasuk doa-doa yang paling utama.

Jawaban dari keraguan batil ini adalah dengan mengatakan: masih ada bagian ketiga selain dari dua bagian yang kalian sebutkan yang tidak kalian sebutkan. Dan itulah yang terjadi. Yaitu bahwa Allah telah menetapkan tercapainya sesuatu ketika terjadi sebabnya berupa tawakkal dan doa. Maka Dia menjadikan doa dan tawakkal sebagai dua sebab untuk tercapainya yang diminta.

Dan Allah telah menetapkan tercapainya hal itu jika hamba melakukan sebabnya. Maka jika dia tidak mendatangkan sebab, maka akibat tidak akan terjadi. Dan ini seperti Allah telah menetapkan terjadinya anak jika seorang laki-laki menggauli perempuan yang diinginkannya. Maka jika dia tidak menggauli, maka anak tidak akan diciptakan.

Dan Allah telah menetapkan terjadinya kenyang jika dia makan, dan terlepas dahaga jika dia minum. Maka jika dia tidak melakukannya, maka tidak akan kenyang dan tidak akan terlepas dahaganya.

Dan Allah telah menetapkan terjadinya haji dan sampai ke Mekkah jika dia bepergian dan menempuh jalan. Maka jika dia duduk di rumahnya, maka tidak akan sampai ke Mekkah. Dan Allah telah menetapkan masuk surga jika dia masuk Islam dan melakukan amal-amal saleh. Maka jika dia meninggalkan Islam dan tidak beramal saleh, maka tidak akan masuk surga selamanya.

Dan Allah telah menetapkan matangnya makanan dengan menyalakan api di bawahnya.

Dan Allah telah menetapkan tumbuhnya biji-bijian yang ditanam dengan membajak tanah dan melemparkan benih ke dalamnya. Maka selama dia tidak mendatangkan hal itu, maka yang terjadi hanyalah kekecewaan.

Maka seimbang dengan apa yang dikatakan oleh para pengingkar sebab-sebab adalah: bahwa setiap orang dari mereka meninggalkan sebab yang menyampaikan. Dan berkata: jika telah ditetapkan untukku dan telah didahulukan dalam azal terjadinya anak, kenyang, terlepas dahaga, haji dan semisalnya, maka pasti akan sampai kepadaku, baik aku bergerak atau diam, aku menikah atau meninggalkannya, aku bepergian atau duduk. Dan jika belum ditetapkan untukku, maka tidak akan terjadi untukku juga, aku melakukan atau meninggalkannya.

Maka apakah ada orang yang menghitung ini dari golongan orang-orang berakal? Dan apakah binatang-binatang bukan lebih paham darinya? Maka sesungguhnya binatang berusaha dalam sebab dengan petunjuk umum.

Maka tawakkal adalah termasuk sebab-sebab yang paling besar yang dengannya tercapai yang diminta dan terhindarkan dengannya yang dibenci. Maka barangsiapa mengingkari sebab-sebab, maka tidak akan lurus darinya tawakkal. Akan tetapi, dari kesempurnaan tawakkal adalah tidak bersandar kepada sebab-sebab, dan memutus kaitan hati dengannya; maka keadaan hatinya adalah berdiri dengan Allah bukan dengannya. Dan keadaan badannya adalah berdiri dengannya.

Maka sebab-sebab adalah tempat hikmah Allah, perintah-Nya dan agama-Nya. Dan tawakkal berhubungan dengan rububiyah-Nya, qadha dan qadar-Nya. Maka tidak tegak penghambaan terhadap sebab-sebab kecuali di atas batang tawakkal. Dan tidak tegak batang tawakkal kecuali di atas kaki penghambaan. Dan Allah Mahasuci dan Mahatinggi adalah Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Ketiga adalah Kokohnya Hati dalam Tingkatan Tauhid Tawakkal

Pasal

Tingkatan ketiga: kokohnya hati dalam tingkatan tauhid tawakkal.

Sesungguhnya tidak akan lurus tawakkal hamba hingga benar baginya tauhidnya. Bahkan hakikat tawakkal adalah mentauhidkan hati. Maka selama di dalamnya terdapat kaitan-kaitan kesyirikan, maka tawakalnya cacat dan rusak. Dan sesuai kadar kejernihan tauhid, maka akan sahih tawakalnya. Maka sesungguhnya hamba apabila berpaling kepada selain Allah, maka perpalingan itu mengambil satu cabang dari cabang-cabang hatinya. Maka berkurang tawakalnya kepada Allah sesuai hilangnya cabang tersebut. Dan dari sinilah mengira orang yang mengira bahwa tawakkal tidak sah kecuali dengan meninggalkan sebab-sebab. Dan ini benar. Akan tetapi meninggalkannya dari hati bukan dari anggota badan. Maka tawakkal tidak sempurna kecuali dengan meninggalkan sebab-sebab dari hati, dan anggota badan terikat dengannya. Maka dia terputus darinya namun terhubung dengannya. Dan Allah Mahasuci dan Mahatinggi adalah Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Keempat adalah Sandaran Hati kepada Allah, Bertumpunya kepada-Nya, dan Ketenangan kepadanya

Pasal

Tingkatan keempat: sandaran hati kepada Allah, bertumpunya kepada-Nya, dan ketenangan kepadanya.

Sehingga tidak tersisa di dalamnya kegoncangan karena kekacauan sebab-sebab, dan tidak ada ketenangan kepadanya, bahkan dia melepaskan ketenangan kepadanya dari hatinya. Dan dia mengenakan ketenangan kepada Penyebab sebab-sebabnya.

Dan tanda hal ini adalah bahwa dia tidak peduli dengan datang dan perginya. Dan tidak goncang hatinya dan tidak berdebar-debar ketika perginya apa yang dia cintai darinya, dan datangnya apa yang dia benci; karena sandarannya kepada Allah, ketenangannya kepada-Nya, dan bertumpunya kepada-Nya, telah melindunginya dari takut dan harapnya. Maka keadaannya seperti keadaan orang yang keluar untuk menghadapinya musuh yang besar yang tidak mampu menghadapinya. Lalu dia melihat benteng yang terbuka, maka Allah-nya memasukkannya ke dalamnya. Dan menutup pintu benteng untuknya. Maka dia menyaksikan musuhnya di luar benteng. Maka kegoncangan hatinya dan ketakutannya dari musuhnya dalam keadaan ini tidak ada artinya.

Demikian juga seperti orang yang diberi raja satu dirham, lalu dicuri darinya. Maka berkata raja kepadanya: di sisiku ada kelipatannya. Maka jangan khawatir. Kapan saja engkau datang kepadaku, aku akan berikan kepadamu dari perbendaharaanku kelipatannya. Maka jika dia mengetahui benarnya perkataan raja, dan yakin kepadanya, dan tenang kepadanya, dan mengetahui bahwa perbendaharaannya penuh dengan hal itu – maka tidak menyedihkannya kehilangan itu.

Dan hal itu telah diumpamakan dengan keadaan bayi yang menyusu dalam sandarannya, ketenangannya, dan ketentremannya pada puting susu ibunya, tidak mengenal selainnya. Dan tidak ada dalam hatinya perhatian kepada selainnya, sebagaimana berkata sebagian orang arif: orang yang bertawakkal seperti bayi. Tidak mengenal sesuatu untuk berlindung kepadanya kecuali puting susu ibunya. Demikian pula orang yang bertawakkal tidak berlindung kecuali kepada Allah-nya Yang Mahasuci.

Pasal: Tingkatan Kelima adalah Husnudh-Dhan (Berbaik Sangka) kepada Allah Azza wa Jalla

Pasal

Tingkatan kelima: berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla.

Maka sesuai kadar baiknya sangkamu kepada Allah-mu dan harapanmu kepada-Nya, jadilah tawakalmu kepada-Nya. Dan oleh karena itu sebagian mereka menafsirkan tawakkal dengan berbaik sangka kepada Allah.

Dan yang tepat adalah: bahwa berbaik sangka kepada-Nya mendorongnya untuk bertawakkal kepada-Nya. Karena tidak tergambarkan tawakkal kepada orang yang jelek sangkamu kepadanya, dan tidak pula tawakkal kepada orang yang tidak kamu harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Keenam adalah Pasrahnya Hati kepada Allah

Pasal

Tingkatan keenam: pasrahnya hati kepada-Nya, dan tertariknya semua dorongannya kepada-Nya, dan terputusnya perselisihannya.

Dan dengan ini menafsirkannya orang yang berkata: bahwa hamba harus berada di hadapan Allah seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya, dia membolak-balikkannya bagaimana dia kehendaki, tidak ada baginya gerakan dan tidak ada tadbir.

Dan ini makna perkataan sebagian mereka: tawakkal adalah membuang tadbir. Maksudnya adalah pasrah terhadap tadbir Allah untukmu. Dan ini dalam selain bab perintah dan larangan. Bahkan dalam apa yang Dia perbuat terhadapmu. Bukan dalam apa yang Dia perintahkan kepadamu untuk melakukannya.

Maka kepasrahan seperti pasrahnya hamba yang hina dirinya kepada tuannya, dan kepatuhannya kepadanya, dan meninggalkan perselisihan dirinya dan keinginannya dengan tuannya. Dan Allah Mahasuci dan Mahatinggi adalah Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Ketujuh adalah Tafwidh (Penyerahan)

Pasal

Tingkatan ketujuh: tafwidh (penyerahan).

Dan ia adalah ruh tawakkal, intinya dan hakikatnya. Yaitu melemparkan segala urusannya kepada Allah, dan menurunkannya kepada-Nya dengan permintaan dan pilihan, bukan dengan terpaksa dan keterpaksaan. Bahkan seperti penyerahan anak yang lemah, dhaif, yang dikuasai urusannya: semua urusannya kepada ayahnya, yang mengetahui kasih sayangnya kepadanya dan rahmatnya, dan sempurnanya kecukupannya, dan baiknya walayahnya untuknya, dan tadbir-Nya untuknya. Maka dia melihat bahwa tadbir ayahnya untuknya lebih baik dari tadbir dirinya untuk dirinya sendiri, dan berdirinya dengan kemaslahatan-kemaslahatan dia dan walayah-Nya untuknya lebih baik dari berdirinya dia dengan kemaslahatan-kemaslahatan dirinya sendiri dan walayah-Nya untuknya. Maka dia tidak menemukan bagi dirinya yang lebih baik dan lebih lembut dari penyerahannya segala urusannya kepada ayahnya, dan keleluasaannya dari beban penderitaan memikul bebannya dan beratnya membawanya, disertai ketidakmampuannya terhadapnya, dan kebodohannya akan wajah-wajah kemaslahatan di dalamnya, dan pengetahuannya akan sempurnanya ilmu orang yang dia serahkan kepadanya, dan kekuasaannya serta kasih sayangnya.

Bab: Buah dari Tawakal

Bab

Apabila seorang hamba telah meletakkan kakinya pada tingkatan ini, maka ia berpindah darinya menuju tingkatan ridha.

Dan ridha adalah buah dari tawakal. Barangsiapa yang menafsirkan tawakal dengan ridha, maka sesungguhnya ia telah menafsirkannya dengan buah yang paling mulia dan manfaat yang paling agung. Karena apabila seseorang bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, maka ia akan ridha dengan apa yang dilakukan oleh Wakilnya (Allah).

Syaikh kami, semoga Allah meridhainya, biasa berkata: “Sesuatu yang telah ditakdirkan diapit oleh dua perkara: tawakal sebelumnya, dan ridha sesudahnya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah sebelum terjadinya suatu perbuatan, dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan baginya setelah terjadinya perbuatan itu, maka sungguh ia telah menunaikan penghambaan.” Atau kurang lebih seperti itu.

Aku berkata: Ini adalah makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa istikharah: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku meminta kekuatan-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung.” Ini adalah tawakal dan tafwidh (penyerahan). Kemudian beliau bersabda: “Karena sesungguhnya Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, Engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.” Ini adalah pernyataan berlepas diri kepada Allah dari ilmu, daya, dan kekuatan, serta bertawasul kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang merupakan cara bertawasul yang paling dicintai oleh orang-orang yang bertawasul. Kemudian beliau memohon kepada Tuhannya agar menakdirkan untuknya perkara tersebut jika di dalamnya terdapat kemaslahatan baginya, baik di dunia maupun di akhirat, dan agar mengalihkannya darinya jika di dalamnya terdapat mudarat baginya, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah hajatnya yang beliau minta. Maka tidak tersisa baginya kecuali ridha dengan apa yang ditakdirkan untuknya. Maka beliau bersabda: “Dan takdirkanlah bagiku kebaikan di mana pun ia berada, kemudian ridhakanlah aku dengannya.”

Sungguh doa ini mencakup pengetahuan-pengetahuan ketuhanan ini dan hakikat-hakikat keimanan, yang di antaranya adalah tawakal dan tafwidh sebelum terjadinya takdir, dan ridha sesudahnya. Dan ridha adalah buah dari tawakal. Sedangkan tafwidh adalah tanda keabsahannya. Jika seseorang tidak ridha dengan apa yang ditakdirkan untuknya, maka tafwidhnya cacat dan rusak.

Dengan menyempurnakan delapan tingkatan ini, seorang hamba menyempurnakan tingkatan tawakal, dan kakinya kokoh di dalamnya. Inilah makna perkataan Bisyr al-Hafi: “Salah seorang dari mereka berkata: ‘Aku bertawakal kepada Allah.’ Ia berdusta terhadap Allah. Seandainya ia benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya ia ridha dengan apa yang Allah lakukan terhadapnya.”

Dan perkataan Yahya bin Mu’adz ketika ditanya: “Kapan seseorang itu disebut bertawakal?” Ia menjawab: “Apabila ia ridha dengan Allah sebagai Wakil.”

Bab: Kesamaran antara yang Terpuji dan Sempurna dengan yang Tercela dan Kurang

Bab

Seringkali dalam bab ini terjadi kesamaran antara yang terpuji dan sempurna dengan yang tercela dan kurang. Maka tafwidh menjadi samar dengan penyia-nyiaan. Seorang hamba menyia-nyiakan haknya, dengan mengira bahwa itu adalah tafwidh dan tawakal. Padahal itu adalah penyia-nyiaan, bukan tafwidh. Penyia-nyiaan adalah dalam hak Allah, sedangkan tafwidh adalah dalam hakmu.

Dan di antaranya adalah kesamaran tawakal dengan bermalas-malasan dan melemparkan beban sepenuhnya. Pelakunya mengira bahwa ia bertawakal, padahal ia sedang beramal untuk tidak bekerja keras.

Tanda dari itu adalah bahwa orang yang bertawakal sungguh-sungguh dalam sebab-sebab yang diperintahkan dengan kesungguhan yang maksimal, dan ia beristirahat dari yang lainnya karena ia telah bersusah payah dengannya. Sedangkan orang yang beramal untuk bermalas-malasan hanya mengambil dari perkara itu sekadar untuk menghilangkan kemudaratan dan gugurnya tuntutan syariat darinya. Ini adalah satu hal, dan itu adalah hal yang lain.

Dan di antaranya adalah kesamaran melepaskan sebab-sebab dengan meniadakannya. Melepaskan sebab-sebab adalah tauhid, sedangkan meniadakannya adalah ilhad dan zindiq. Melepaskan sebab-sebab adalah tidak bergantungnya hati kepada sebab-sebab itu, tidak mempercayainya dan tidak bersandar kepadanya dengan tetap melaksanakannya. Sedangkan meniadakan sebab-sebab adalah menghilangkannya dari anggota tubuh.

Dan di antaranya adalah kesamaran kepercayaan kepada Allah dengan tertipu dan lemah. Perbedaan di antara keduanya adalah: orang yang percaya kepada Allah telah melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya, dan ia percaya kepada Allah dalam memperoleh buahnya, mengembangkannya dan mensucikannya, seperti orang yang menanam pohon dan menabur benih di bumi. Sedangkan orang yang tertipu dan lemah telah lalai dalam apa yang diperintahkan kepadanya, dan ia mengklaim bahwa ia percaya kepada Allah. Padahal kepercayaan itu baru benar setelah mengerahkan segala usaha.

Dan di antaranya adalah kesamaran antara ketenteraman kepada Allah dan ketenangan jiwa kepada-Nya, dengan ketenteraman kepada sesuatu yang diketahui dan ketenangan hati kepadanya. Tidak ada yang dapat membedakan antara keduanya kecuali orang yang memiliki bashirah (penglihatan batin). Sebagaimana dikisahkan tentang Abu Sulaiman ad-Darani bahwa ia melihat seorang laki-laki di Mekah yang tidak mengonsumsi sesuatu pun kecuali seteguk air zamzam. Berhari-hari berlalu seperti itu. Suatu hari Abu Sulaiman berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu jika zamzam kering, apa yang akan engkau minum?” Maka orang itu bangkit dan mencium kepalanya, dan berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, karena engkau telah memberiku petunjuk. Sesungguhnya aku telah menyembah zamzam sejak beberapa hari.” Kemudian ia meninggalkannya dan pergi.

Kebanyakan orang yang bertawakal, ketenangan dan ketenteraman mereka adalah kepada sesuatu yang mereka ketahui, padahal mereka mengira bahwa itu kepada Allah. Tanda dari itu adalah bahwa ketika terputus sesuatu yang mereka ketahui dari salah seorang dari mereka, maka datanglah kepadanya kesedihan, keluh kesah, dan ketakutannya. Maka diketahuilah bahwa ketenteraman dan ketenangannya tidak kepada Allah.

Dan di antaranya adalah kesamaran ridha terhadap Allah dengan segala apa yang Ia lakukan terhadap hamba-Nya—dari apa yang ia cintai dan ia benci—dengan tekad terhadap hal itu dan percakapan jiwa dengannya. Itu adalah satu hal, sedangkan hakikatnya adalah hal yang lain. Sebagaimana dikisahkan dari Abu Sulaiman bahwa ia berkata: “Aku berharap bahwa aku telah diberi bagian dari ridha. Seandainya Allah memasukkanku ke dalam neraka, niscaya aku ridha dengan itu.”

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah tekad darinya untuk ridha dan percakapan jiwa dengannya. Seandainya Allah memasukkannya ke dalam neraka, niscaya tidak akan ada apa-apa dari hal itu. Dan ada perbedaan antara tekad terhadap sesuatu dengan hakikatnya.”

Dan di antaranya adalah kesamaran pengetahuan tentang tawakal dengan keadaan bertawakal. Banyak orang yang mengetahui tawakal, hakikatnya, dan rincian-rinciannya, lalu ia mengira bahwa ia bertawakal, padahal ia bukan termasuk orang yang bertawakal. Keadaan bertawakal adalah perkara lain di balik pengetahuan tentangnya. Ini seperti mengetahui mahabbah (kecintaan) dan ilmu tentangnya, sebab-sebabnya dan pendorongnya, sedangkan keadaan orang yang mencintai dan yang jatuh cinta adalah di balik itu. Dan seperti mengetahui ilmu tentang rasa takut, sedangkan keadaan orang yang takut adalah di balik itu. Ini menyerupai pengetahuan orang sakit tentang hakikat kesehatan dan keadaannya berbeda dengan itu.

Maka dalam bab ini banyak terjadi kesamaran antara klaim dengan hakikat, antara hal-hal yang bersifat sementara dengan tujuan yang dicari, dan antara hal-hal yang memutuskan dengan sebab-sebab yang menghubungkan. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Bab: Keterikatan Tawakal dengan Asmaul Husna

Bab

Tawakal adalah termasuk tingkatan yang paling umum kaitannya dengan Asmaul Husna.

Karena ia memiliki keterkaitan khusus dengan hampir seluruh nama-nama perbuatan dan nama-nama sifat.

Ia memiliki keterkaitan dengan nama al-Ghaffar (Maha Pengampun), at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), al-‘Afuw (Maha Pemaaf), ar-Ra’uf (Maha Pengasih), dan ar-Rahim (Maha Penyayang). Dan ia memiliki keterkaitan dengan nama al-Fattah (Maha Pembuka), al-Wahhab (Maha Pemberi), ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), al-Mu’thi (Maha Pemberi Karunia), dan al-Muhsin (Maha Berbuat Baik). Dan ia memiliki keterkaitan dengan nama al-Mu’izz (Maha Memuliakan), al-Mudhill (Maha Menghinakan), al-Khafidh (Maha Merendahkan), ar-Rafi’ (Maha Meninggikan), al-Mani’ (Maha Mencegah), dari sisi tawakalnya kepada-Nya dalam menghinakan musuh-musuh agamanya, merendahkan mereka dan mencegah mereka dari sebab-sebab kemenangan. Dan ia memiliki keterkaitan dengan nama-nama Kekuasaan dan Kehendak. Dan ia memiliki keterkaitan umum dengan seluruh Asmaul Husna. Oleh karena itu, sebagian imam menafsirkannya bahwa tawakal adalah ma’rifah (pengenalan) kepada Allah.

Yang dimaksud adalah bahwa sesuai dengan pengenalan seorang hamba kepada Allah, maka akan sahih baginya tingkatan tawakal. Dan semakin ia lebih mengenal Allah, maka tawakalnya kepada-Nya akan lebih kuat.

Bab: Orang yang Bertawakal yang Merugi dalam Tawakalnya

Bab

Banyak dari orang-orang yang bertawakal mengalami kerugian dalam tawakalnya. Ia telah bertawakal dengan hakikat tawakal, namun ia merugi. Seperti orang yang mengarahkan tawakalnya kepada hajat yang bersifat parsial, ia menghabiskan kekuatan tawakalnya pada hal itu, padahal ia dapat memperolehnya dengan hal yang paling mudah, dan mengosongkan hatinya untuk bertawakal dalam peningkatan iman dan ilmu, menegakkan agama, dan memberi pengaruh kebaikan kepada dunia. Inilah tawakal orang yang lemah, lemah tekad, dan pendek cita-cita. Sebagaimana sebagian dari mereka mengarahkan perhatian, tawakal, dan doanya kepada penyakit yang dapat diobati dengan hal yang paling mudah, atau kelaparan yang dapat hilang dengan setengah roti atau setengah dirham, dan ia meninggalkan pengarahannya kepada penegakan agama, pemberantasan ahli bidah, peningkatan iman, dan kemaslahatan kaum muslimin. Wallahu a’lam (dan Allah Maha Mengetahui).

Bab: Tafsir Ibnul Qayyim tentang Makna Tawakal

Bab

Penulis kitab Madarijus Salikin berkata:

“Tawakal adalah menyerahkan perkara kepada Pemiliknya, dan bergantung kepada perwakilan-Nya. Ia adalah tingkatan yang paling sulit dari tingkatan-tingkatan orang awam bagi mereka, dan jalan yang paling lemah menurut orang-orang khusus. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguasai segala perkara kepada diri-Nya sendiri, dan membuat dunia putus asa dari memiliki sesuatu pun darinya.”

Perkataannya: “Menyerahkan perkara kepada Pemiliknya,” maksudnya adalah menyerahkannya kepada yang menguasainya.

“Dan bergantung kepada perwakilan-Nya,” maksudnya adalah bersandar pada keberdirian-Nya atas perkara itu, dan mencukupkan diri dengan perbuatan-Nya dari perbuatanmu, dan dengan kehendak-Nya dari kehendakmu.

Wakalah (perwakilan) dimaksudkan dengannya dua perkara. Pertama: taukil (penunjukan wakil), yaitu penggantian dan penyerahan. Kedua: tawakkul (bertawakal), yaitu pengenalan melalui jalan penggantian dari pihak yang mewakilkan. Dan ini dari dua sisi. Karena Allah Tabaraka wa Ta’ala mewakilkan hamba dan menegakkannya dalam menjaga apa yang Ia wakilkan kepadanya. Dan hamba mewakilkan kepada Rabb dan bergantung kepada-Nya. Adapun wakalah Rabb kepada hamba-Nya, maka dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Maka jika mereka (kaum musyrikin) mengingkari ayat-ayat itu, maka sesungguhnya Kami telah menyerahkan ayat-ayat itu kepada suatu kaum yang mereka tidak mengingkarinya.” (Surah al-An’am: 89) Qatadah berkata: “Kami serahkan kepada delapan belas nabi yang Kami sebutkan”—maksudnya sebelum ayat ini. Dan Abu Raja’ al-‘Utharidi berkata: “Maknanya adalah: jika penduduk bumi mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami telah menyerahkannya kepada penduduk langit, yaitu para malaikat.” Dan Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: “Mereka adalah kaum Anshar, penduduk Madinah.”

Yang benar adalah bahwa yang dimaksud adalah orang yang menegakkannya dengan iman, dakwah, jihad, dan pertolongan. Mereka inilah yang Allah wakilkan untuk menegakkannya.

Jika engkau bertanya: “Apakah sah dikatakan bahwa seseorang adalah wakil Allah?”

Aku menjawab: “Tidak. Karena wakil adalah orang yang bertindak atas nama yang mewakilkannya melalui jalan penggantian. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki pengganti, dan tidak ada seorang pun yang menggantikan-Nya. Bahkan Dialah yang menggantikan hamba-Nya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Ya Allah, Engkau adalah Sahabat dalam perjalanan, dan Khalifah (Pengganti) dalam keluarga.'” Meskipun demikian, tidak mustahil untuk menyebutkan hal itu dengan mempertimbangkan bahwa ia diperintahkan untuk menjaga apa yang diwakilkan kepadanya, merawatnya, dan menegakkannya.

Adapun taukil hamba kepada Rabbnya, maka itu adalah penyerahan kepadanya, dan pencopotan dirinya dari pengelolaan, serta menetapkannya kepada Pemilik dan Walinya. Oleh karena itu dikatakan dalam tawakal bahwa ia adalah pencopotan diri dari ketuhanan, dan penegakannya dalam penghambaan. Inilah makna Rabb menjadi wakil hamba-Nya, yaitu Dia yang mencukupinya dan yang mengatur urusan-urusannya dan kemaslahatan-kemaslahatan-nya, karena Dia adalah pengganti-Nya dalam pengelolaan. Maka wakalah Rabb kepada hamba-Nya adalah perintah, ibadah, dan ihsan kepada-Nya, serta karunia dari-Nya kepadanya, bukan karena kebutuhan dari-Nya dan ketergantungan kepada-Nya, seperti perwalian-Nya. Adapun taukil hamba kepada Rabbnya, maka itu adalah penyerahan kepada ketuhanan-Nya dan penegakan penghambaan-Nya.

Perkataannya: “Dan ia adalah tingkatan yang paling sulit dari tingkatan-tingkatan orang awam bagi mereka,” karena orang awam belum keluar dari diri mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka, dan mereka belum menyaksikan hakikat yang disaksikan oleh orang-orang khusus, yaitu menyaksikan taukil. Maka mereka masih dalam belenggu sebab-sebab. Sehingga sulit bagi mereka untuk keluar darinya, mengosongkan hati darinya, dan sibuk dengan memperhatikan Musabbib (Penyebab segala sebab) saja. Adapun perkataannya bahwa ia adalah jalan yang paling lemah menurut orang-orang khusus, maka itu tidak secara mutlak. Bahkan ia adalah salah satu jalan yang paling mulia menurut mereka dan yang paling utama, serta yang paling agung kedudukannya. Dan telah disebutkan di awal bab tentang perintah Allah kepada Rasul-Nya dengan hal itu, dan dorongan-Nya kepada beliau dan kepada orang-orang mukmin. Dan di antara nama-nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah al-Mutawakkil (orang yang bertawakal), dan tawakal beliau adalah tawakal yang paling agung. Dan Allah telah berfirman kepada beliau: “Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” (Surah an-Naml: 79) Dan dalam penyebutan perintah kepada beliau untuk bertawakal, disertai pemberitahuan-Nya bahwa beliau berada di atas kebenaran, terdapat petunjuk bahwa agama secara keseluruhan ada dalam dua perkara ini: bahwa seorang hamba berada di atas kebenaran dalam perkataannya, amalnya, keyakinannya, dan niatnya, dan bahwa ia bertawakal kepada Allah dengan percaya kepada-Nya. Maka seluruh agama ada dalam dua tingkatan ini. Dan para rasul dan nabi-nabi Allah berkata: “Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan kepada kami jalan-jalan kami.” (Surah Ibrahim: 12) Maka kerusakan seorang hamba hanya berasal dari tidak adanya petunjuk atau tidak adanya tawakal. Apabila ia mengumpulkan tawakal bersama petunjuk, maka sungguh ia telah mengumpulkan seluruh iman.

Ya, bertawakal kepada Allah dalam perkara rezeki yang telah diketahui dan dijamin, serta kesibukan dengannya hingga melalaikan tawakal dalam membela kebenaran dan agama, adalah termasuk kedudukan yang paling lemah di antara kedudukan para khawash (orang-orang khusus). Adapun bertawakal kepada-Nya dalam memperoleh apa yang Dia cintai dan ridhai pada diri sendiri dan pada makhluk, maka inilah tawakal para rasul dan nabi alaihimussalam. Lalu bagaimana mungkin hal ini termasuk kedudukan yang paling lemah di antara kedudukan para khawash?

Pernyataannya: “Karena Yang Haq telah menyerahkan segala urusan kepada diri-Nya sendiri, dan membuat seluruh alam putus asa dari memiliki sesuatu daripadanya.”

Jawabannya: Bahwa Dzat yang menguasai hal itu telah menyandarkan kepada para hamba-Nya berupa usaha, perbuatan, pemberian kemampuan, pilihan, perintah dan larangan. Dia menjadikan mereka hamba dengan hal itu, dan menguji dengan hal itu siapa yang menaati-Nya dari yang mendurhakai-Nya, dan siapa yang memilih-Nya dari yang memilih selain-Nya. Dia memerintahkan mereka agar bertawakal kepada-Nya dalam apa yang telah Dia sandarkan kepada mereka, Dia perintahkan kepada mereka, dan Dia jadikan ibadah bagi mereka. Dan Dia mengabarkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya, sebagaimana Dia mencintai orang-orang yang bersyukur, mencintai orang-orang yang berbuat baik, mencintai orang-orang yang sabar, dan mencintai orang-orang yang bertaubat.

Dan Dia mengabarkan bahwa kecukupan-Nya bagi mereka dikaitkan dengan tawakal mereka kepada-Nya, dan bahwa Dia mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya dan menjadi pelindungnya. Dia menjadikan bagi setiap amal kebajikan dan setiap kedudukan dari kedudukan-kedudukan-Nya balasan yang telah ditentukan.

Namun Dia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai balasan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya beserta kecukupan-Nya. Maka Dia berfirman: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (Surat Ath-Thalaq: 2), “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya” (Surat Ath-Thalaq: 5), “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” (Surat Ath-Thalaq: 4), “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi” (Surat An-Nisa’: 69) – sampai akhir ayat. Kemudian Dia berfirman tentang tawakal: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia cukup baginya” (Surat Ath-Thalaq: 3).

Maka perhatikanlah balasan ini yang diperoleh oleh orang yang bertawakal, dan Dia tidak menjadikannya untuk yang lain. Ini menunjukkan bahwa tawakal adalah jalan yang paling kuat di sisi-Nya dan paling dicintai oleh-Nya. Dan penyerahan segala urusan kepada diri-Nya tidaklah bertentangan dengan tawakal hamba kepada-Nya, bahkan ini adalah pembenaran bahwa segala urusan diserahkan kepada diri-Nya. Karena ketika hamba mengetahui hal itu dan benar-benar mengenalnya, maka keadaannya menjadi bertawakal – secara pasti – kepada Dzat yang seperti ini keadaan-Nya, karena pengetahuannya bahwa segala urusan diserahkan kepada-Nya, dan bahwa hamba tidak memiliki sesuatu apapun daripadanya. Maka dia tidak menemukan jalan lain kecuali bersandar kepada-Nya, menyerahkan diri kepada-Nya, dan percaya kepada-Nya dari dua sisi: dari sisi kefakirannya dan tidak memiliki sesuatu apapun, dan dari sisi bahwa segala urusan ada di tangan-Nya dan kembali kepada-Nya. Dan tawakal muncul dari kedua pengetahuan ini.

Jika dikatakan: Jika segala urusan adalah milik Allah, dan hamba tidak memiliki urusan apapun, maka bagaimana pemilik mewakilkan atas miliknya? Dan bagaimana dia menugaskan wakil untuk sesuatu yang adalah milik-Nya, bukan milik wakil ini? Maka para khawash ketika mereka memahami ini, turun dari kedudukan tawakal dan menyerahkannya kepada orang awam. Dan khitab tentang tawakal menjadi untuk mereka, bukan untuk para khawash.

Dikatakan: Ketika segala urusan adalah milik Allah Azza wa Jalla, dan hamba tidak memiliki sesuatu apapun di dalamnya, maka tawakalnya kepada Allah adalah penyerahan urusan kepada Pemiliknya, menyingkirkan dirinya dari menentang Pemiliknya, bersandar kepada-Nya dalam urusan itu, keluarnya dari bertindak dengan dirinya sendiri, kekuatan dan kemampuannya, dan keberadaan dirinya dengan-Nya, menuju bertindak dengan Tuhannya dan keberadaan dirinya dengan-Nya Subhanahu bukan dengan dirinya sendiri. Dan inilah maksud tawakal.

Adapun menyingkirkan diri hamba dari kedudukan tawakal, maka itu adalah menyingkirkannya dari hakikat penghambaan.

Adapun pengarahan khitab dengannya kepada orang awam, maka Subhanallah! Apakah Allah pernah memerintahkan tawakal dalam Kitab-Nya kecuali kepada orang-orang khusus dari makhluk-Nya, yang paling dekat kepada-Nya, dan paling mulia di sisi-Nya? Dan Dia mensyaratkan dalam iman mereka agar mereka bertawakal, dan sesuatu yang digantungkan pada syarat akan tidak ada ketika syarat itu tidak ada.

Dan ini menunjukkan hilangnya iman ketika tawakal hilang. Maka barangsiapa tidak memiliki tawakal, maka tidak ada iman baginya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu orang-orang yang beriman” (Surat Al-Ma’idah: 23). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal” (Surat Ali ‘Imran: 122). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah kuat imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (Surat Al-Anfal: 2). Dan ini menunjukkan pembatasan orang-orang beriman hanya pada mereka yang memiliki sifat ini.

Dan Allah Ta’ala mengabarkan tentang para rasul-Nya bahwa tawakal adalah tempat berlindung dan perlindungan mereka. Dan Dia memerintahkannya kepada Rasul-Nya di empat tempat dalam Kitab-Nya. Dan Dia berfirman: “Dan Musa berkata: ‘Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim.’ Maka mereka menjawab: ‘Kepada Allah kami bertawakal'” (Surat Yunus: 84). Lalu bagaimana bisa tawakal menjadi jalan yang paling lemah padahal seperti inilah kedudukannya? Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

 

 

Pasal: Tingkatan-Tingkatan Tawakal

Tingkatan Pertama: Tawakal dengan Berusaha

Pasal

Dia berkata: Dan tawakal ada tiga tingkatan, semuanya berjalan dengan cara orang awam. Tingkatan pertama: Tawakal dengan berusaha, dan menggunakan sebab dengan niat menyibukkan jiwa dengan sebab karena takut, memberikan manfaat kepada makhluk, dan meninggalkan klaim.

Dia berkata: Bahwa pemilik tingkatan ini bertawakal kepada Allah dan tidak meninggalkan sebab-sebab. Bahkan dia menggunakannya dengan niat menyibukkan jiwa dengan sebab, karena takut jika jiwa kosong maka akan tersibukkan dengan hawa nafsu dan keinginan. Karena jika dia tidak menyibukkan jiwanya dengan apa yang bermanfaat, maka jiwa akan menyibukkannya dengan apa yang merugikan. Terutama jika kekosongan itu disertai dengan masa muda yang bergejolak, kepemilikan kekayaan, kecenderungan jiwa kepada hawa nafsu, dan kelalaian yang berturut-turut. Sebagaimana dikatakan:

Sesungguhnya masa muda, kekosongan, dan kekayaan, adalah kerusakan bagi seseorang, kerusakan yang sangat

Dan juga dia melakukan sebab dengan niat memberi manfaat kepada dirinya dan kepada manusia dengan hal itu. Maka dia memperoleh manfaat untuk dirinya dan manfaat untuk orang lain.

Adapun hal ini mencakup meninggalkan klaim, karena ketika dia sibuk dengan sebab, dia terbebas dari isyarat makhluk kepadanya yang menyebabkan baik sangkanya terhadap dirinya, yang menyebabkan klaimnya. Maka sebab adalah penutup bagi keadaan dan kedudukannya, dan hijab yang menutupinya.

Dan dari sisi lain, yaitu bahwa dia menyaksikan dengannya kefakiran dan kehinaannya, serta penghinaan dirinya seperti penghinaan para budak dan pekerja. Maka dia terbebas dari kesombongan klaim jiwa. Karena ketika dia menghinakan dirinya dengan menggunakan sebab-sebab, dia selamat dari penyakit-penyakit ini. Maka dikatakan: Jika sebab-sebab itu diperintahkan, maka di dalamnya ada manfaat yang lebih agung dari tiga hal ini. Yaitu yang menjadi tujuan utama, dan ini ditujukan sebagai perantara. Yaitu menunaikan penghambaan dan perintah yang untuknya hamba diciptakan, dan untuk itu para rasul diutus, dan untuk itu kitab-kitab diturunkan. Dan dengannya langit dan bumi ditegakkan. Dan untuknya surga dan neraka diwujudkan.

Maka menunaikan sebab-sebab yang diperintahkan adalah murni penghambaan. Dan hak Allah atas hamba-Nya yang dengannya tuntutan diarahkan kepadanya, dan dengannya pahala dan siksa ditetapkan. Dan Allah Subhanahu lebih mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kedua: Tawakal dengan Meninggalkan Usaha

Pasal

Dia berkata: Tingkatan kedua: Tawakal dengan meninggalkan usaha, dan mengalihkan pandangan dari sebab; dengan bersungguh-sungguh untuk membenarkan tawakal, menundukkan kemuliaan jiwa, dan berkonsentrasi untuk menjaga kewajiban-kewajiban.

Perkataannya: dengan meninggalkan usaha, artinya dari makhluk bukan dari Yang Haq. Maka dia tidak meminta apapun dari siapapun. Dan ini termasuk perkataan yang paling baik dan paling bermanfaat bagi murid. Karena meminta dari makhluk pada asalnya adalah terlarang, dan batas tertingginya adalah dibolehkan karena darurat, seperti kebolehan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa. Dan Ahmad menyatakan bahwa tidak wajib. Dan demikian pula syaikh kami mengisyaratkan bahwa tidak wajib meminta dan bertanya.

Dan aku mendengarnya berkata tentang bertanya: Ia adalah kezhaliman terhadap hak rububiyyah (ketuhanan), kezhaliman terhadap hak makhluk, dan kezhaliman terhadap hak diri.

Adapun dalam hak rububiyyah, karena di dalamnya ada kehinaan kepada selain Allah, dan merendahkan air muka kepada selain Penciptanya, dan mengganti bertanya kepada-Nya dengan bertanya kepada makhluk, dan menghadapi kemurkaan-Nya ketika bertanya padahal dia memiliki apa yang mencukupinya untuk harinya.

Adapun dalam hak manusia, dengan merebut apa yang ada di tangan mereka dengan bertanya, dan mengeluarkannya dari mereka. Dan yang paling mereka benci adalah orang yang meminta apa yang ada di tangan mereka, dan yang paling mereka cintai adalah orang yang tidak meminta kepada mereka. Karena harta mereka adalah kecintaan mereka, dan barangsiapa meminta kecintaanmu maka sungguh dia telah menghadapi kebencian dan kemurkaan-mu.

Adapun kezhaliman peminta terhadap dirinya sendiri, karena dia telah menghinakannya dan menempatkannya di kedudukan kehinaan bertanya. Dan dia ridha dengannya dengan kehinaan meminta dari orang yang sepertinya, atau mungkin peminta lebih baik darinya dan lebih tinggi kedudukannya. Dan meninggalkan bertanya kepada Dzat yang: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat Asy-Syura: 11). Maka sungguh peminta telah menempatkan dirinya di kedudukan kehinaan, dan menghinakannya dengan hal itu. Dan ridha bahwa dia menjadi pengemis dari pengemis yang sepertinya. Karena orang yang kamu mintai adalah juga pengemis sepertimu. Dan Allah sendirilah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maka meminta makhluk kepada makhluk adalah memintanya orang fakir kepada orang fakir. Dan Rabb Ta’ala, setiap kali kamu meminta kepada-Nya, kamu menjadi mulia di sisi-Nya, dan Dia ridha kepadamu, dan mencintaimu. Dan makhluk, setiap kali kamu memintainya, kamu menjadi hina di hadapannya, dia membencimu, murka kepadamu, dan meninggalkanmu, sebagaimana dikatakan:

Allah murka jika kamu meninggalkan bertanya kepada-Nya, dan anak Adam ketika dimintai, dia murka

Dan jelek bagi hamba murid: menghadapi bertanya kepada para hamba, padahal dia mendapatkan di sisi maulanya semua yang dia inginkan. Dan dalam Shahih Muslim dari Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiyallahu anhu. Dia berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sembilan – atau delapan, atau tujuh – orang. Maka beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?’ Dan kami baru saja berbai’at. Maka kami berkata: ‘Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?’ Maka kami mengulurkan tangan kami dan berkata: ‘Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, lalu untuk apa kami berbai’at kepadamu?’ Maka beliau bersabda: ‘Agar kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan shalat lima waktu’ – dan beliau merahasiakan satu kalimat pelan – ‘dan tidak meminta kepada manusia sesuatu apapun.’ Dia berkata: ‘Dan sungguh aku telah melihat sebagian orang dari kelompok itu jatuh cambuknya, namun dia tidak meminta kepada siapapun untuk mengambilkannya.'”

Dan dalam Shahihain dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Meminta akan terus dilakukan oleh salah seorang di antara kalian hingga dia bertemu Allah dan tidak ada di wajahnya selembar daging pun.”

Dan di keduanya juga dari beliau “bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda – ketika beliau di atas mimbar, dan menyebut sedekah dan menjaga diri dari meminta – ‘Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Dan tangan di atas adalah yang memberi, dan tangan di bawah adalah yang meminta.'”

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak harta, maka sesungguhnya dia meminta bara api. Maka terserah dia mau mempersedikit atau memperbanyaknya.”

Dan dalam Sunan Tirmidzi dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang dengannya seseorang mencakar wajahnya sendiri, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau dalam urusan yang tidak bisa dihindari.” Tirmidzi berkata: Hadits shahih.

Dan dalam Sunan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu secara marfu’: “Barangsiapa ditimpa kefakiran lalu dia mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberinya rezeki, baik yang segera maupun yang tertunda.”

Dan dalam Sunan dan Musnad dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjamin bagiku untuk tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia, maka aku menjamin surga baginya.” Maka aku berkata: “Saya (yang menjamin).” Maka ia tidak meminta sesuatu kepada siapa pun.

Dan dalam Shahih Muslim dari Qabishah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya meminta-minta tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seorang laki-laki yang menanggung beban (hutang untuk perdamaian), maka boleh baginya meminta-minta hingga dia mendapatkannya kemudian berhenti. Dan seorang laki-laki yang ditimpa bencana yang memusnahkan hartanya, maka boleh baginya meminta-minta hingga dia memperoleh penghidupan yang layak – atau beliau bersabda: kecukupan dalam penghidupan. Dan seorang laki-laki yang ditimpa kefakiran hingga tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata: ‘Sungguh si fulan telah ditimpa kefakiran,’ maka boleh baginya meminta-minta hingga dia memperoleh penghidupan yang layak – atau beliau bersabda: kecukupan dalam penghidupan. Adapun selain ketiga hal itu wahai Qabishah, maka meminta-minta adalah harta haram yang dimakan pemiliknya sebagai sesuatu yang haram.” Maka tawakal dengan meninggalkan tuntutan dan permohonan ini adalah esensi penghambaan yang murni.

Perkataan penulis: “Dan memalingkan pandangan dari sebab-sebab, dengan bersungguh-sungguh dalam membenarkan tawakal.”

Maknanya: bahwa dia berpaling dari kesibukan dengan sebab-sebab, untuk membenarkan tawakal dengan menguji diri. Karena orang yang menggunakan sebab-sebab mungkin mengira bahwa dia telah mencapai tawakal, padahal belum tercapai karena kepercayaannya pada apa yang dia ketahui. Maka jika dia berpaling dari sebab-sebab, maka tawakalnya menjadi benar.

Dan ini yang dia tunjukkan adalah madzhab sekelompok ahli ibadah dan para salik (penempuh jalan spiritual). Dan banyak dari mereka masuk ke padang pasir tanpa bekal, dan mereka melihat membawa bekal sebagai cacat dalam tawakal. Dan mereka memiliki kisah-kisah yang terkenal dalam hal itu. Dan mereka ini dalam perlindungan kejujuran mereka, namun tingkatan mereka kurang dari para arif. Dan dengan ini, tidak mungkin bagi seorang manusia meninggalkan sebab-sebab secara keseluruhan sama sekali.

Ini Ibrahim al-Khawwash yang bertawakal dengan murni dan teliti dalam hal itu. Dan dia masuk ke padang pasir tanpa bekal. Dan tidak pernah lepas darinya jarum, benang, tempat air, dan gunting. Maka dikatakan kepadanya: Mengapa engkau membawa ini sedangkan engkau melarang dari segala sesuatu? Maka dia berkata: Yang seperti ini tidak mengurangi tawakal, karena Allah telah mewajibkan kewajiban-kewajiban kepada kita. Dan orang fakir tidak memiliki kecuali satu pakaian, maka mungkin pakaiannya robek. Jika tidak ada bersamanya jarum dan benang, maka auratnya akan terlihat, maka shalatnya menjadi rusak. Dan jika tidak ada bersamanya tempat air, maka thaharahnya menjadi rusak. Dan jika engkau melihat orang fakir tanpa tempat air, tanpa jarum, dan tanpa benang, maka tuduh dia dalam shalatnya.

Tidakkah engkau melihat bahwa agamanya tidak lurus kecuali dengan sebab-sebab? Bukankah gerakan kakinya dan pemindahannya di jalan dan petunjuk pada tanda-tandanya – jika tersembunyi darinya – termasuk sebab-sebab?

Maka melepaskan diri dari sebab-sebab secara keseluruhan adalah mustahil secara akal, syariat, dan indera.

Benar, kadang-kadang muncul bagi orang yang jujur suatu kekuatan kepercayaan kepada Allah dan keadaan bersama Allah yang membawanya untuk meninggalkan setiap sebab yang diwajibkan kepadanya, sebagaimana membawanya untuk menjatuhkan dirinya ke tempat-tempat kehancuran. Dan pada waktu itu dia bersama Allah bukan dengan dirinya sendiri. Maka datang kepadanya pertolongan dari Allah sesuai dengan keadaannya. Tetapi keadaan ini tidak berlangsung terus baginya, dan tidak dalam kehendak tabi’at. Karena itu adalah serangan yang menyerangnya tanpa permintaan, maka dia dibawa atasnya. Maka jika dia meminta yang seperti itu dan memaksanya, dia tidak dijawab untuk itu. Dan dalam keadaan itu jika dia meninggalkan sebab, dia dimaafkan karena kuatnya hal yang datang dan ketidakmampuannya untuk sibuk dengan sebab. Maka dia dalam hal yang datang itu ada pertolongan baginya, dan ada yang membawanya. Maka jika dia melakukan keadaan itu tanpa hal yang datang itu, dia jatuh dalam bahaya. Dan semua kisah-kisah shahih yang diceritakan tentang kaum itu adalah parsial yang terjadi bagi mereka kadang-kadang, bukan jalan yang diperintahkan untuk ditempuh, dan bukan yang dikuasai. Dan menjadi fitnah bagi dua golongan.

Satu golongan mengira itu adalah jalan dan tingkatan, maka mereka beramal atasnya. Maka di antara mereka ada yang terputus, dan di antara mereka ada yang kembali, dan tidak mampu terus menerus atasnya, bahkan berbalik ke belakang.

Dan satu golongan mencela pemiliknya, dan menjadikan mereka menyelisihi syariat dan akal, mengklaim untuk diri mereka sendiri keadaan yang lebih sempurna dari keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, karena tidak ada di antara mereka seorang pun yang melakukan itu. Dan tidak meninggalkan sesuatu pun dari sebab-sebab. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenakan dua baju besi pada Perang Uhud. Dan beliau tidak pernah hadir dalam barisan dalam keadaan telanjang, sebagaimana dilakukan oleh orang yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki ma’rifat. Dan beliau menyewa seorang penunjuk jalan yang musyrik yang menganut agama kaumnya, yang menunjukkan jalan hijrah kepada beliau. Dan sungguh Allah telah memberi petunjuk dengannya kepada seluruh alam, dan melindunginya dari semua manusia. Dan beliau menyimpan untuk keluarganya bekal satu tahun, dan beliau adalah pemimpin orang-orang yang bertawakal. Dan beliau ketika bepergian dalam jihad atau haji atau umrah membawa bekal dan tempat air, dan semua sahabatnya, dan mereka adalah pemilik tawakal yang sebenarnya.

Dan yang paling sempurna tawakalnya setelah mereka adalah orang yang mencium bau tawakal mereka dari jarak yang jauh, atau mengikuti jejak dari debu mereka. Maka keadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan keadaan para sahabatnya adalah batu ujian keadaan-keadaan dan timbangannya. Dengannya diketahui yang benar dari yang sakit. Karena semangat mereka dalam tawakal lebih tinggi dari semangat orang-orang setelah mereka. Karena tawakal mereka adalah dalam membuka mata batin hati-hati, dan agar Allah disembah di semua negeri, dan agar semua hamba mentauhidkan-Nya, dan agar matahari agama yang benar bersinar di hati-hati para hamba. Maka mereka memenuhi dengan tawakal itu hati-hati dengan petunjuk dan iman, dan mereka membuka negeri-negeri kekufuran dan menjadikannya negeri iman. Dan bertiuplah angin ruh hembusan tawakal pada hati-hati pengikut mereka dan memenuhinya dengan keyakinan dan iman. Maka semangat para sahabat radhiyallahu anhum lebih tinggi dan lebih agung dari pada salah seorang dari mereka menggunakan kekuatan tawakal dan sandaran kepada Allah dalam sesuatu yang diperoleh dengan tipu daya dan usaha yang paling kecil, lalu menjadikannya tujuan matanya, dan memikul atasnya kekuatan tawakalnya.

Perkataan penulis: Dan menundukkan kemuliaan jiwa. Maksudnya bahwa orang yang menggunakan sebab-sebab mungkin menggunakan sebab-sebab dengan kekuasaan-kekuasaan yang mulia dalam ibadah, atau perdagangan-perdagangan yang tinggi, dan sebab-sebab yang dengannya dia memiliki kedudukan dan kemuliaan di tengah manusia. Maka jika dia meninggalkannya, meninggalkannya adalah menundukkan kemuliaan jiwanya, dan mengutamakan tawadhu’.

Dan perkataannya: Dan meluangkan untuk menjaga kewajiban-kewajiban; artinya dia meluangkan dengan meninggalkannya untuk menjaga kewajiban-kewajibannya yang berbenturan dengan sebab-sebab itu. Wallahu a’lam.

Pasal Tingkatan Ketiga Tawakal dengan Ma’rifat Tawakal

Pasal

Penulis berkata: Tingkatan ketiga: Tawakal dengan ma’rifat tawakal, yang mendorong kepada pembebasan dari illat (cacat) tawakal. Dan itu adalah bahwa dia mengetahui bahwa kepemilikan Allah Taala atas segala sesuatu adalah kepemilikan kemuliaan, tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam hal itu. Maka dia menyerahkan persekutuannya kepada-Nya. Karena sesungguhnya dari keniscayaan penghambaan: bahwa hamba mengetahui bahwa Tuhan Yang Mahasuci adalah Pemilik segala sesuatu sendirian.

Maksudnya bahwa pemilik tingkatan ini ketika memutuskan sebab-sebab dan tuntutan, dan melampaui kedua tingkatan itu, maka tawakalnya di atas tawakal orang sebelumnya. Dan itu hanya terjadi setelah ma’rifahnya tentang hakikat tawakal, dan bahwa itu di bawah tingkatannya. Maka ma’rifahnya tentang tawakal dan hakikatnya mendorong – yaitu mendorong dan mengajak – kepada pembebasannya dari illat tawakal, artinya dia tidak mengetahui illat tawakal hingga dia mengetahui hakikatnya. Maka ketika itu dia mengetahui tawakal dengan ma’rifah yang mengajaknya untuk membebaskan diri dari illatnya.

Kemudian dia menjelaskan ma’rifah yang dengannya diketahui illat tawakal. Maka dia berkata: Bahwa dia mengetahui bahwa kepemilikan Allah atas segala sesuatu adalah kepemilikan kemuliaan; yaitu kepemilikan kemustahilan, kekuatan, dan kekuasaan, yang mencegah bahwa ada yang bersekutu dengan-Nya dalam kepemilikan-Nya atas sesuatu dari segala sesuatu. Maka Dia Yang Mahaperkasa dalam kepemilikan-Nya, yang tidak ada yang bersekutu dengan-Nya yang lain dalam satu zarah pun darinya, sebagaimana Dia Yang Maha Esa dengan kemuliaan-Nya yang tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam hal itu.

Maka orang yang bertawakal melihat bahwa baginya ada sesuatu yang telah dia wakilkan kepada Allah, dan bahwa Dia Mahasuci menjadi wakilnya atasnya. Dan ini menyelisihi hakikat perkara, karena tidak ada bagi seorang pun dari urusan bersama Allah sesuatu. Maka karena itu dia berkata: Tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam hal itu. Maka dia menyerahkan persekutuannya kepada-Nya. Maka lisan al-hal (bahasa keadaan) berkata kepada orang yang menjadikan Tuhan Taala sebagai wakilnya: Dalam apa engkau mewakilkan Tuhanmu? Apakah dalam apa yang menjadi milik-Nya sendiri? Atau milikmu sendiri? Atau di antara kalian berdua? Maka yang kedua dan ketiga adalah mustahil dengan kesendirian-Nya dalam kepemilikan sendiri. Dan pewakilan dalam yang pertama adalah mustahil. Maka bagaimana engkau mewakilkan-Nya dalam apa yang tidak ada bagimu darinya sesuatu sama sekali?

Maka dikatakan: Di sini ada dua perkara: tawakal dan taukil (pewakilan). Adapun tawakal: adalah murni sandaran, kepercayaan, dan ketenangan kepada yang memiliki semua urusan. Dan pengetahuan hamba tentang kesendirian Allah Taala sendiri dalam kepemilikan semua hal, dan bahwa tidak ada bagi-Nya sekutu dalam satu zarah pun dari zarah-zarah alam: adalah dari sebab-sebab tawakal yang paling kuat, dan penggeraknya yang paling besar.

Maka jika itu terwujud sebagai ilmu dan ma’rifah, dan menyentuh hatinya sebagai keadaan: dia tidak menemukan pilihan kecuali sandaran hatinya kepada Allah sendiri, dan kepercayaannya kepada-Nya, dan ketenangan kepadanya sendiri, dan ketenteraman dengannya sendiri, karena pengetahuannya bahwa kebutuhan-kebutuhannya, kefakirannya, keperluan-keperluannya, dan semua kepentingan-kepentingannya semuanya: di tangan-Nya sendiri, bukan di tangan yang lain. Maka di mana hatinya menemukan jalan keluar dari tawakal setelah ini?

Maka illat tawakal ketika itu: perhatian hatinya kepada yang tidak memiliki persekutuan dalam kepemilikan Allah, dan tidak memiliki seberat zarah pun di langit dan tidak pula di bumi. Inilah illat tawakalnya. Maka dia bekerja untuk membersihkan tawakalnya dari illat ini.

Benar, dan dari illat yang lain, yaitu melihat tawakalnya. Karena itu adalah perhatian kepada dunia-dunia dirinya.

Dan illat ketiga: yaitu menggunakan kekuatan tawakalnya kepada sesuatu selain Allah yang lebih dicintai oleh Allah darinya.

Maka ketiga illat ini: adalah illat-illat taukil.

Adapun tawakal: maka tidak dimaksud darinya kecuali hanya penyerahan. Dan itu adalah dari tingkatan-tingkatan yang paling khusus bagi para arif. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada-Mu, dan aku menyerahkan urusanku kepada-Mu.” Dan Allah Taala berfirman tentang mukmin dari keluarga Firaun: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Surat Ghafir: 44) Maka balasan penyerahan ini adalah firman-Nya: “Maka Allah melindunginya dari kejahatan tipu daya mereka.” (Surat Ghafir: 45). Maka jika tawakal cacat dengan apa yang disebutkannya, maka penyerahan juga demikian. Dan tidak ada maka tidak ada.

Dan seandainya kebenaran bukan milik Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa semua yang selain Allah dan Rasul-Nya, maka diambil dari perkataannya dan ditinggalkan, dan dia adalah sasaran keraguan dan kesalahan, niscaya kami tidak keberatan kepada orang yang kami tidak mencapai debunya, dan kami tidak berlari bersama mereka dalam lintasan mereka, dan kami melihat mereka di atas kami dalam tingkatan-tingkatan iman, dan manazil orang-orang yang berjalan, seperti bintang-bintang yang bersinar. Dan barangsiapa yang memiliki ilmu maka hendaklah dia membimbing kami kepadanya. Dan barangsiapa yang melihat dalam perkataan kami penyimpangan, atau kekurangan dan kesalahan, maka hendaklah dia membimbing kepada kami yang benar. Kami berterima kasih atas usahanya, dan kami menerimanya dengan penerimaan, ketundukan, kepasrahan, dan penyerahan. Wallahu a’lam. Dan Dia Yang Memberi taufik.

Pasal Kedudukan Tafwid

Hakikat Tafwid

Pasal Kedudukan Tafwid

Di antara kedudukan-kedudukan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan tafwid (penyerahan).

Penulis kitab “Manazil” berkata:

Tafwid lebih halus isyaratnya dan lebih luas maknanya daripada tawakal. Karena tawakal terjadi setelah terjadinya sebab, sedangkan tafwid terjadi sebelum dan sesudah terjadinya sebab. Tafwid adalah hakikat dari penyerahan diri (istislam), sedangkan tawakal adalah bagian darinya.

Maksudnya adalah bahwa orang yang menyerahkan (mufawwid) berlepas diri dari daya dan kekuatan, dan menyerahkan urusan kepada pemiliknya, tanpa menjadikannya sebagai pengganti dirinya dalam urusan-urusan maslahatnya. Berbeda dengan tawakal. Karena perwakilan (wakalah) mengharuskan wakil menggantikan posisi yang mewakilkan.

Maka tafwid adalah: berlepas diri dan keluar dari daya dan kekuatan, serta menyerahkan seluruh urusan kepada pemiliknya.

Dapat dikatakan: demikian pula halnya dengan tawakal. Dan kritik yang kalian kemukakan terhadap tawakal akan kembali kepada kalian dengan bentuk yang sama dalam tafwid. Karena bagaimana engkau menyerahkan sesuatu yang sama sekali tidak engkau miliki kepada pemiliknya? Apakah sah seorang rakyat biasa menyerahkan kerajaan kepada raja zamannya? Maka masalahnya dalam tafwid lebih besar daripada dalam tawakal. Bahkan jika seseorang berkata: Tawakal lebih tinggi dari tafwid, lebih agung dan lebih mulia, maka dia benar. Oleh karena itu, Al-Qur’an penuh dengan tawakal, baik berupa perintah maupun berita tentang hamba-hamba Allah yang khusus dan para wali-Nya, serta pilihan orang-orang beriman, bahwa keadaan mereka adalah tawakal. Dan Allah memerintahkan Rasul-Nya dengan tawakal di empat tempat dalam kitab-Nya, dan menamainya Al-Mutawakkil (orang yang bertawakal) sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata: Aku membaca dalam Taurat sifat Nabi shallallahu alaihi wasallam: Muhammad Rasulullah, nama saya adalah Al-Mutawakkil, tidak kasar, tidak keras, dan tidak berteriak-teriak di pasar.

Dan Allah mengabarkan tentang para rasul-Nya bahwa keadaan mereka adalah tawakal. Dan dengan itu mereka menang atas kaum mereka. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab bahwa mereka adalah ahli tingkatan tawakal.

Sedangkan tafwid tidak datang dalam Al-Qur’an kecuali dalam kisah yang diceritakan tentang mukmin dari keluarga Firaun dari perkataannya: “Dan aku serahkan urusanku kepada Allah” (QS. Ghafir: 44). Dan Allah telah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk menjadikan-Nya sebagai wakil. Maka Allah berfirman: “Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai wakil” (QS. Al-Muzzammil: 9).

Dan ini membatalkan perkataan orang-orang bodoh di antara mereka yang berkata: Bahwa mewakilkan kepada Tuhan di dalamnya terdapat keberanian yang tidak pada tempatnya terhadap Sang Pencipta; karena tawakal mengharuskan menjadikan wakil menggantikan posisi yang mewakilkan. Dan itu adalah keberanian yang tidak pada tempatnya.

Dia berkata: Seandainya Allah tidak membolehkan dan menganjurkan hal itu, maka tidak boleh bagi hamba untuk melakukannya.

Ini adalah kebodohan yang sangat besar. Karena menjadikan-Nya sebagai wakil adalah murni penghambaan dan keikhlasan tauhid, jika pemiliknya melakukannya dengan hakiki.

Betapa mulianya pemimpin kaum dan syekh para ulama Sahl bin Abdullah At-Tutsturi ketika dia berkata: Ilmu semuanya adalah pintu dari pengabdian. Dan pengabdian semuanya adalah pintu dari wara’. Dan wara’ semuanya adalah pintu dari zuhud. Dan zuhud semuanya adalah pintu dari tawakal.

Maka yang kami yakini: bahwa tawakal lebih luas dari tafwid, lebih tinggi dan lebih mulia.

Tafwid Lebih Umum dari Tawakal

Perkataannya: Karena tawakal terjadi setelah terjadinya sebab, sedangkan tafwid terjadi sebelum dan sesudah terjadinya sebab.

Maksudnya dengan sebab adalah: usaha. Maka orang yang menyerahkan telah menyerahkan urusannya kepada Allah sebelum usahanya dan sesudahnya. Dan orang yang bertawakal telah melakukan sebab dan bertawakal dalam hal itu kepada Allah. Maka tafwid menjadi lebih luas.

Dapat dikatakan: Dan tawakal bisa terjadi sebelum sebab, bersamanya, dan sesudahnya. Maka dia bertawakal kepada Allah agar Dia menegakkannya dalam sebab yang mengantarkannya kepada tujuannya. Jika dia melakukannya, dia bertawakal kepada Allah saat melaksanakannya. Jika dia menyelesaikannya, dia bertawakal kepada Allah dalam pencapaian buah-buahnya. Maka dia bertawakal kepada Allah sebelumnya, bersamanya, dan sesudahnya.

Berdasarkan ini: tawakal lebih luas dari tafwid menurut apa yang disebutkan.

Perkataannya: Dan tafwid adalah hakikat penyerahan diri; yaitu tafwid adalah hakikat dari ketundukan total kepada Yang Maha Benar. Dan dia tidak peduli apakah yang diputuskan untuknya adalah kebaikan atau sebaliknya. Sedangkan orang yang bertawakal bertawakal kepada Allah dalam maslahat-maslahatnya.

Hal inilah yang diperhatikan oleh kaum (sufi) dalam merendahkan tingkatan tawakal dan mengangkat tingkatan tafwid di atasnya.

Jawabannya dari dua segi.

Pertama: bahwa orang yang menyerahkan tidak menyerahkan urusannya kepada Allah kecuali karena keinginannya agar Dia memutuskan untuknya apa yang terbaik baginya dalam kehidupan dan akhiratnya. Dan jika yang diputuskan untuknya berbeda dengan apa yang dia sangka sebagai kebaikan, maka dia ridha dengannya; karena dia tahu bahwa itu adalah kebaikan untuknya, meskipun segi kemaslahatan di dalamnya tersembunyi baginya. Dan demikian pula keadaan orang yang bertawakal, bahkan dia lebih mulia dari orang yang menyerahkan; karena padanya ada amalan hati yang tidak ada pada orang yang menyerahkan. Karena orang yang bertawakal adalah orang yang menyerahkan ditambah lebih. Maka tingkatan tawakal tidak tegak kecuali dengan tafwid. Karena jika dia menyerahkan urusannya kepada-Nya, dia bergantung dengan seluruh hatinya kepada-Nya setelah penyerahannya.

Perumpamaan ini: bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada seseorang dan menjadikannya kepadanya, maka dia menemukan dari dirinya – setelah penyerahannya – ketergantungan khusus, ketenangan, dan ketentraman kepada orang yang diserahkan kepadanya lebih banyak daripada sebelum penyerahan. Dan inilah hakikat tawakal.

Segi kedua: bahwa maslahat terpenting orang yang bertawakal adalah: pencapaian keridhaan kekasihnya dan hal-hal yang dicintai-Nya. Maka dia bertawakal kepada-Nya dalam mencapainya untuknya. Maslahat mana yang lebih besar dari ini?

Adapun tafwid: maka itu adalah penyerahan kebutuhan-kebutuhan kehidupan hamba dan sebab-sebabnya kepada Allah. Karena dia tidak menyerahkan kepada-Nya hal-hal yang dicintai-Nya. Dan orang yang bertawakal bertawakal kepada-Nya dalam hal-hal yang dicintai-Nya.

Dan kekeliruan masuk dari sisi prasangka orang yang menyangka: bahwa tawakal terbatas pada rezeki yang diketahui, kekuatan badan, dan kesehatan tubuh. Dan tidak diragukan bahwa tawakal ini kurang jika dibandingkan dengan tawakal dalam menegakkan agama dan dakwah kepada Allah.

Tingkatan-Tingkatan Tafwid

Tingkatan Pertama: Mengetahui bahwa Hamba Tidak Memiliki Kemampuan Sebelum Amalnya

Dia berkata: Dan tafwid ada tiga tingkatan: Pertama: Mengetahui bahwa hamba tidak memiliki kemampuan sebelum amalnya. Maka dia tidak merasa aman dari tipu daya, tidak putus asa dari pertolongan, dan tidak menggantungkan diri pada niat.

Artinya dia menyadari bahwa kemampuannya di tangan Allah, bukan di tangannya, maka Allah yang memilikinya, bukan dia. Karena jika Allah tidak memberinya kemampuan maka dia lemah. Maka dia tidak bergerak kecuali dengan Allah, bukan dengan dirinya sendiri. Bagaimana dia merasa aman dari tipu daya, sedangkan dia adalah yang digerakkan bukan yang menggerakkan? Dia digerakkan oleh yang gerakannya di tangan-Nya, jika Dia kehendaki Dia menghambatnya dan mendudukkannya bersama orang-orang yang duduk.

Sebagaimana Allah berfirman tentang orang yang dicegah taufik ini: “Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan semangat mereka dan dikatakan (kepada mereka): ‘Tinggallah kalian bersama orang-orang yang tinggal'” (QS. At-Taubah: 46).

Maka inilah tipu daya Allah terhadap hamba: bahwa Dia memutus darinya sarana taufik-Nya dan membiarkan antara dia dengan dirinya sendiri, tidak membangkitkan dorongan-dorongannya, dan tidak menggerakkannya kepada keridhaan dan kecintaan-Nya. Dan ini bukan hak atas Allah, sehingga Dia menjadi zalim dengan mencegahnya, Maha Tinggi Allah dari itu setinggi-tingginya. Bahkan itu adalah murni karunia-Nya yang Dia dipuji atas pemberian-Nya kepada siapa yang Dia beri, dan atas pencegahan-Nya kepada siapa yang Dia cegah. Maka bagi-Nya segala puji atas ini dan itu.

Dan siapa yang memahami ini, dia memahami pintu yang agung dari rahasia takdir, dan tersingkaplah baginya banyak permasalahan. Maka Allah tidak menghendaki dari diri-Nya perbuatan yang Dia lakukan terhadap hamba-Nya sehingga terjadi darinya apa yang Dia cintai dan ridhai. Lalu Dia mencegah perbuatan-Nya sendiri terhadapnya, yaitu taufik-Nya; karena Dia membencinya, dan memaksanya melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya, bahkan Dia menyerahkannya kepada dirinya sendiri dan daya serta kekuatannya, dan meninggalkannya. Maka inilah tipu daya.

Perkataannya: Dan tidak putus asa dari pertolongan, artinya jika yang menggerakkannya adalah Tuhan Yang Maha Agung, dan Dia adalah Yang Maha Kuasa dari yang berkuasa. Dan Dia yang bersatu dalam menciptakan dan memberinya rezeki. Dan Dia Yang Maha Penyayang dari yang penyayang. Maka bagaimana dia putus asa dari pertolongan-Nya?

Perkataannya: Dan tidak menggantungkan diri pada niat, artinya tidak bergantung pada niat dan tekadnya, dan percaya padanya. Karena niat dan tekadnya di tangan Allah, bukan di tangannya. Dan itu kepada Allah bukan kepadanya. Maka hendaknya kepercayaannya kepada yang niat itu di tangan-Nya secara hakiki, bukan kepada yang niat itu berjalan padanya secara hukum.

Pasal Tingkatan Kedua: Menyaksikan Keadaan Darurat

Dia berkata: Tingkatan kedua: menyaksikan keadaan darurat. Maka dia tidak melihat amal yang menyelamatkan, tidak melihat dosa yang membinasakan, dan tidak melihat sebab yang membawa.

Artinya dia menyaksikan kefakiran, kekurangan, dan kebutuhannya yang total kepada Allah, sehingga dia melihat dalam setiap atom dari atom-atomnya yang batin dan zahir kebutuhan dan kekurangan yang sempurna kepada Allah. Maka keselamatannya hanyalah dengan Allah bukan dengan amalnya. Adapun perkataannya: dan tidak melihat dosa yang membinasakan, jika dia maksudkan dengannya: bahwa kebinaasaannya dengan Allah bukan karena dosa-dosanya: maka itu batil, maafkan Allah dari itu. Dan jika dia maksudkan dengannya: bahwa karunia Allah, keluasannya, ampunan-Nya, dan rahmat-Nya, serta penyaksian terhadap kebutuhan dan kekurangannya yang sangat kepada-Nya mengharuskan baginya untuk tidak melihat dosa yang membinasakan, karena kefakiran, kekurangan, dan kebutuhannya mencegahnya dari kebinasaan karena dosa-dosanya, bahkan mencegahnya dari melakukan dosa-dosa yang membinasakan; karena pemilik tingkatan ini tidak akan terus-menerus melakukan dosa-dosa yang membinasakannya. Dan ini adalah keadaannya – maka ini benar. Dan ini adalah salah satu pemandangan ahli makrifat.

Dan perkataannya: dan tidak melihat sebab yang membawa. Artinya: dia menyaksikan bahwa yang membawanya adalah Yang Maha Benar, bukan sebab-sebab yang dia lakukan. Karena dia dan sebab-sebab itu dibawa oleh Allah semata.

Pasal Tingkatan Ketiga: Menyaksikan Kesendirian Yang Maha Benar dalam Memiliki Gerak dan Diam

Dia berkata: Tingkatan ketiga: menyaksikan kesendirian Yang Maha Benar dalam memiliki gerak dan diam, menggenggam dan membentangkan, dan mengetahui-Nya dengan pengurusan pemisahan dan penyatuan.

Tingkatan ini berkaitan dengan penyaksian sifat Allah Tabaraka wa Ta’ala dan urusan-Nya. Sedangkan yang sebelumnya berkaitan dengan penyaksian keadaan dan sifat hamba. Artinya dia menyaksikan gerak-gerak alam dan diamnya bersumber dari Yang Maha Benar pada setiap yang bergerak dan diam, maka dia menyaksikan keterkaitan gerak dengan nama-Nya Al-Basith dan keterkaitan diam dengan nama-Nya Al-Qabidh, maka dia menyaksikan kesendirian-Nya dalam membentangkan dan menggenggam.

Adapun mengetahui-Nya dengan pengurusan pemisahan dan penyatuan, yaitu agar yang menyaksikan mengetahui tempat-tempat pemisahan dan penyatuan. Yang dimaksud dengan pemisahan adalah: pandangan pertimbangan, dan menisbatkan perbuatan-perbuatan kepada makhluk.

Yang dimaksud dengan penyatuan adalah: menyaksikan perbuatan-perbuatan dinisbatkan kepada Penciptanya Yang Maha Benar.

Dan kadang mereka menghendaki dengan pemisahan dan penyatuan makna di luar penyaksian ini. Yaitu keadaan pemisahan dan penyatuan.

Maka keadaan pemisahan adalah: tersebarnya hati di lembah-lembah keinginan dan cabang-cabangnya. Dan keadaan penyatuan adalah: terkumpulnya hati pada kehendak Yang Maha Benar semata. Yang pertama adalah: ilmu pemisahan dan penyatuan. Yang kedua adalah: keadaan keduanya. Wallahu a’lam.

Pasal: Kedudukan Kepercayaan Kepada Allah Ta’ala

HAKIKAT KEPERCAYAAN KEPADA ALLAH TA’ALA

Pasal Kedudukan Kepercayaan kepada Allah Ta’ala

Di antara berbagai kedudukan dalam ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5), adalah kedudukan kepercayaan kepada Allah Ta’ala.

Penulis kitab “Manazil” berkata:

Kepercayaan adalah bagian paling berharga dari tawakal, titik pusat dari penyerahan diri, dan inti sari dari ketundukan.

Ia memulai bab ini dengan merujuk firman Allah Ta’ala kepada ibu Nabi Musa: “Maka apabila engkau takut terhadapnya, lemparkanlah dia ke sungai (Nil) dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati” (Surah Al-Qashash: 7). Sesungguhnya perbuatannya ini adalah wujud kepercayaannya kepada Allah Ta’ala. Seandainya tidak sempurna kepercayaannya kepada Tuhannya, niscaya dia tidak akan melemparkan anaknya dan buah hatinya ke dalam arus air, yang dimainkan oleh ombak dan arusnya sampai berakhir atau berhenti di suatu tempat.

Maksudnya adalah: bahwa kepercayaan adalah inti sari dan hakekat tawakal, sebagaimana bagian hitam mata adalah bagian paling mulia dari mata.

Ia mengisyaratkan bahwa kepercayaan adalah titik pusat lingkaran penyerahan diri, yaitu bahwa dasar tawakal berada padanya, dan ia berada di tengahnya seperti posisi titik terhadap lingkaran. Karena titik adalah pusat yang menjadi dasar putaran keliling, dan perbandingan seluruh sisi keliling terhadapnya adalah sama, dan setiap bagian dari keliling berhadapan dengannya. Demikian pula kepercayaan adalah titik yang menjadi poros penyerahan diri.

Demikian juga ucapannya: inti sari hati ketundukan. Karena bagian paling mulia dari hati adalah inti sarinya, yaitu nyawa yang menjadi sumber kehidupan, dan ia berada di tengahnya. Seandainya penyerahan diri adalah sebuah hati, maka kepercayaan adalah inti sarinya. Seandainya ia adalah mata, maka ia adalah bagian hitamnya. Dan seandainya ia adalah lingkaran, maka ia adalah titik pusatnya.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa banyak orang yang menafsirkan tawakal dengan kepercayaan dan menjadikannya sebagai hakikatnya. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan penyerahan diri. Dan di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan ketundukan.

Maka dapat diketahui bahwa tingkatan tawakal mencakup semua itu.

Seakan-akan kepercayaan menurut Syaikh adalah ruh, sedangkan tawakal adalah seperti jasad yang membawanya, dan perbandingannya terhadap tawakal seperti perbandingan ihsan terhadap iman. Wallahu a’lam.

Pasal: Tingkatan Kepercayaan Kepada Allah Ta’ala

Tingkatan Pertama: Tingkatan Putus Asa

Pasal

Ia berkata: Ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: tingkatan putus asa. Yaitu putus asanya hamba dari melawan hukum-hukum Allah, agar ia berhenti dari merebut bagian-bagian yang telah ditetapkan, sehingga ia terbebas dari keberanian yang lancang.

Artinya bahwa orang yang percaya kepada Allah, karena keyakinannya bahwa jika Allah Ta’ala telah memutuskan suatu hukum dan menetapkan suatu perkara, maka tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang dapat membatalkan hukum-Nya. Barang siapa yang telah Allah tetapkan untuknya suatu hukum dan bagian dari rezeki, atau ketaatan, atau keadaan, atau ilmu atau lainnya, maka pasti akan diperolehnya. Dan barang siapa yang tidak ditetapkan untuknya, maka sama sekali tidak ada jalan baginya untuk mendapatkannya, sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk terbang ke langit dan memikul gunung-gunung. Maka dengan kadar ini ia berhenti dari merebut bagian-bagian yang telah ditetapkan. Apa yang menjadi bagiannya akan datang kepadanya walaupun ia lemah, dan apa yang bukan bagiannya tidak akan dapat diraihnya dengan kekuatannya.

Perbedaan antara ucapannya “melawan hukum-hukum” dan “merebut bagian-bagian yang telah ditetapkan” adalah bahwa melawan hukum-hukum adalah: terkaitnya kehendaknya pada sesuatu yang ada dalam hukum dan takdir Allah. Jika kehendaknya terkait pada hal itu, maka ia akan menarik-narik bagian-bagian bersama makhluk dan merebut bagian mereka.

Dan ucapannya: “terbebas dari keberanian yang lancang,” yaitu ia terbebas dengan kepercayaan kepada Allah dari keberanian dan kelancangannya dalam melakukan sesuatu yang tidak ditetapkan untuknya dan tidak menjadi bagiannya. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Pasal: Tingkatan Kedua: Tingkatan Rasa Aman

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua: tingkatan rasa aman. Yaitu rasa amannya hamba dari kehilangan yang telah ditakdirkan dan berkurangnya yang telah ditulis. Maka ia memperoleh kenyamanan ridha, atau setidaknya hakikat keyakinan, atau setidaknya keindahan kesabaran.

Ia berkata: Barang siapa yang telah memperoleh putus asa yang disebutkan, maka ia akan memperoleh rasa aman. Hal itu karena barang siapa yang benar-benar mengenal Allah dan yakin bahwa apa yang telah Allah tetapkan sama sekali tidak dapat ditolak, maka ia merasa aman dari kehilangan bagian yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan ia juga merasa aman dari berkurangnya apa yang telah Allah tuliskan untuknya dan catat dalam Kitab yang tercatat. Maka ia memperoleh kenyamanan ridha, yaitu ketenangan, kelezatan dan kebahagiaannya, karena orang yang ridha berada dalam ketenangan, kelezatan dan kegembiraan. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda: “Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan keputusan-Nya menjadikan kenyamanan dan kegembiraan dalam keyakinan dan ridha, dan menjadikan kesedihan dan kesusahan dalam keraguan dan ketidakridaan.”

Jika hamba tidak mampu mencapai kenyamanan ridha, ia akan memperoleh hakikat keyakinan, yaitu kuatnya iman dan menyatunya dengan hati, sehingga tidak tersisa antara keyakinan dan penglihatan langsung kecuali tersingkapnya hijab yang menghalangi pandangan mata.

Jika ia tidak mencapai tingkatan ini, ia akan memperoleh keindahan kesabaran dan akibat baiknya. Sebagaimana dalam atsar yang terkenal: Jika engkau mampu beramal untuk Allah dengan ridha disertai keyakinan maka lakukanlah. Jika tidak mampu, maka sesungguhnya dalam kesabaran terhadap apa yang dibenci jiwa terdapat kebaikan yang banyak.

Pasal: Tingkatan Ketiga: Menyaksikan Keazalian Allah

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga: menyaksikan keazalian Allah, agar ia terbebas dari cobaan-cobaan dalam mencapai tujuan, beban penjagaan diri, dan berhenti di jalan-jalan perantara.

Ucapannya: menyaksikan keazalian Allah, yaitu ketika hatinya menyaksikan kesendirian Rabb Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat azali-Nya, ia akan lupa dari pencarian, karena keyakinannya bahwa Allah Ta’ala telah selesai dari takdir-takdir, dan keazalian telah mendahuluinya, dan ketetapan hukumnya telah ada di sana. Maka ia terbebas dari cobaan-cobaan yang menghadangnya dalam mencapai tujuan. Dan ia juga terbebas dari berhenti dan berpaling, serta menahan tunggangannya di jalan-jalan sebab yang menjadi perantara untuk mencapai tujuan.

Dan ini tidak berlaku secara mutlak. Karena jalan-jalan perantara ada dua macam: perantara yang menghantarkan kepada ridha Allah. Maka berhenti di jalannya – dengan ma’rifat, amal, keadaan dan pilihan – adalah murni penghambaan. Tetapi tidak menjadikan semua berhentinya hanya di jalannya, sehingga ia lupa dengan tujuan akhir yang menjadi sasaran perantara tersebut.

Adapun terbebasnya dari beban penjagaan adalah terbebasnya dari menuntut apa yang telah Allah larang untuknya secara takdir. Maka ia tidak memaksakan diri untuk menuntutnya padahal itu telah dilarang untuknya.

Dan ada makna lain: yaitu ia terbebas dengan menyaksikan keazalian dari beban kehati-hatiannya dan kerasnya penjagaan dirinya dari hal-hal yang tidak disukai, karena pengetahuannya tentang keazalian yang telah mencatat apa yang dituliskan untuknya dari hal-hal itu. Maka tidak ada faedahnya memaksakan diri untuk menjaga. Ya, ia menjaga diri dari apa yang dilarang dan dari apa yang tidak bermanfaat baginya dalam perjalanannya dan tidak membantunya untuk sampai.

Pasal: Kedudukan Penyerahan Diri

JENIS-JENIS KEDUDUKAN PENYERAHAN DIRI

Pasal Kedudukan Penyerahan Diri

Di antara berbagai kedudukan dalam ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5), adalah kedudukan penyerahan diri.

Ada dua macam: penyerahan kepada hukum-Nya yang syar’i dan perintah-Nya, dan penyerahan kepada hukum-Nya yang takwini dan takdir-Nya.

Adapun yang pertama: adalah penyerahan diri orang mukmin yang mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (Surah An-Nisa: 65).

Maka ini ada tiga tingkatan: menjadikan sebagai hakim, lapang dada dengan tidak adanya keberatan, dan penyerahan diri.

Adapun penyerahan diri kepada hukum takwini: adalah tempat tergelincirnya kaki dan tersesatnya pemahaman, membingungkan manusia dan menimbulkan perselisihan. Yaitu masalah ridha terhadap takdir. Dan telah disebutkan pembahasan tentangnya dengan cukup. Dan telah kami jelaskan bahwa penyerahan diri terhadap takdir terpuji jika hamba tidak diperintahkan untuk melawannya dan menolaknya, dan ia tidak mampu melakukan hal itu, seperti musibah-musibah yang tidak ada kemampuan baginya untuk menolaknya.

Adapun hukum-hukum yang diperintahkan untuk menolaknya, maka tidak boleh baginya menyerah kepadanya, bahkan penghambaan adalah menolaknya dengan hukum-hukum lain yang lebih dicintai Allah daripada hukum tersebut.

Pasal: Penyerahan Diri Yang Lahir Dari Ridha Dan Pilihan

Pasal

Penulis kitab “Manazil” berkata:

Dalam penyerahan diri, kepercayaan dan tafwidh terdapat apa yang ada dalam tawakal berupa cacat. Dan ini termasuk tingkatan tertinggi dari jalan orang awam.

Maksudnya adalah bahwa cacat-cacat yang ada dalam tawakal dari makna-makna pengakuan, dan menisbatkan sesuatu kepada dirinya terlebih dahulu, ketika ia mengira bahwa ia mewakilkan Tuhannya dalam suatu urusan dan bertawakal kepada-Nya dalam urusan itu, dan menjadikan-Nya sebagai wakil yang menggantikannya dalam kemaslahatan-kemaslahatan yang biasa ia peroleh sendiri dengan sebab-sebab dan usaha, dan selain itu dari cacat-cacat yang telah disebutkan sebelumnya. Dan engkau telah mengetahui apa yang ada dalam hal itu.

Dan tidak ada dalam penyerahan diri kecuali satu cacat: yaitu jika penyerahan dirinya tidak lahir dari murni ridha dan pilihan, tetapi bercampur dengan ketidaksukaan dan ketidaknyamanan, maka ia menyerah dengan cara mengerlingkan mata. Maka ini adalah cacat penyerahan diri yang berpengaruh. Maka bersungguh-sungguhlah dalam membebaskan diri darinya.

Dan ia menjadi milik orang awam menurutnya, karena orang khusus sedang sibuk darinya dengan tenggelamnya mereka dalam fana dalam kesatuan pandangan. Dan menjadikan fana sebagai puncak tenggelam dalam kesatuan pandangan inilah yang menimbulkan apa yang ditimbulkannya, wallahul musta’an.

TINGKATAN-TINGKATAN PENYERAHAN DIRI

TINGKATAN PERTAMA: PENYERAHAN TERHADAP APA YANG BERTENTANGAN DENGAN AKAL DARI APA YANG TELAH MENDAHULUI SANGKAAN DARI PERKARA GHAIB

Ia berkata: Ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: penyerahan terhadap apa yang bertentangan dengan akal dari apa yang telah mendahului sangkaan dari perkara ghaib, dan tunduk terhadap apa yang melawan qiyas dari perjalanan kekuasaan dan pembagian, dan menerima apa yang mengejutkan murid dari menjalani keadaan-keadaan.

Ketahuilah bahwa penyerahan diri adalah pembebasan dari syubhat yang bertentangan dengan kabar, atau syahwat yang bertentangan dengan perintah, atau kehendak yang bertentangan dengan keikhlasan, atau keberatan yang bertentangan dengan takdir dan syariat. Dan pemilik pembebasan ini adalah pemilik hati yang selamat yang tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Karena penyerahan diri adalah lawan dari pertentangan.

Dan pertentangan itu: bisa dengan syubhat yang batil yang bertentangan dengan iman kepada kabar tentang apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan apa yang Dia kabarkan tentang hari akhir dan lain-lain. Maka penyerahan diri kepadanya adalah meninggalkan pertentangan dengannya dengan syubhat-syubhat ahli kalam yang batil.

Atau dengan syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka penyerahan diri kepada perintah adalah dengan membebaskan diri darinya.

Atau kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah dari hamba-Nya, maka ia dilawan dengan kehendak yang terkait dengan kehendak hamba dari Rabb. Maka penyerahan diri adalah membebaskan diri darinya.

Atau keberatan yang melawan hikmah-Nya dalam penciptaan dan perintah-Nya, dengan menyangka bahwa yang dikehendaki oleh hikmah bertentangan dengan apa yang disyariatkan dan bertentangan dengan apa yang ditetapkan dan ditakdirkan. Maka penyerahan diri adalah membebaskan diri dari semua pertentangan ini.

Dan dengan ini menjadi jelas bahwa ia termasuk tingkatan iman yang paling agung, dan jalan orang khusus yang paling tinggi, dan bahwa penyerahan diri adalah murni shiddiqiyyah yang berada setelah tingkatan kenabian, dan bahwa orang yang paling sempurna penyerahan dirinya adalah orang yang paling sempurna shiddiqiyyah-nya.

Maka marilah kita kembali kepada penjelasan ucapan Syaikh.

Adapun ucapannya: penyerahan terhadap apa yang bertentangan dengan akal dari apa yang telah mendahului sangkaan.

Maksudnya adalah: bahwa penyerahan diri menuntut apa yang dilarang oleh akal dan bertentangan dengannya. Karena ia menuntut pelepasan dari sebab-sebab, sedangkan akal memerintahkan dengannya. Maka pemilik penyerahan diri menyerahkan kepada Allah Azza wa Jalla apa yang ghaib dari hamba. Karena perbuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala tidak bergantung pada sebab-sebab ini yang akal melarang untuk melepaskan diri darinya. Jika ia menyerah kepada Allah, maka ia tidak berpaling kepada sebab dalam segala yang ghaib darinya.

Maka sangkaan mendahuluinya bahwa apa yang ghaib darinya dari hukum tidak akan terjadi kecuali dengan sebab-sebab. Dan penyerahan diri menuntut pelepasan darinya. Dan akal melarang dari itu. Dan sangkaan telah mendahului bahwa perkara ghaib bergantung padanya.

Maka di sini ada enam perkara: akal, dan yang bertentangan dengannya, dan sangkaan, dan yang mendorong kepadanya, dan ghaib, dan penyerahan kepada yang bertentangan ini.

Maka akal adalah yang mendorongnya kepada sebab-sebab, yang menyerunya kepadanya, yang jika seseorang keluar darinya maka keluarnya itu dianggap sebagai cacat dalam akalnya.

Dan yang bertentangan dengannya adalah pelepasan darinya dengan sempurna penyerahan diri kepada Dzat yang di tangan-Nya kendali semua urusan: sumber dan tujuannya.

Dan sangkaan adalah keyakinannya bahwa terjadinya kebahagiaan dan keselamatan, dan terjadinya yang ditakdirkan – apa pun itu – bergantung padanya, dan bahwa seandainya tidak ada sebab-sebab itu maka yang ditakdirkan tidak akan terjadi.

Dan inilah yang mendorong kepada sangkaan.

Dan ghaib adalah hukum yang ghaib darinya, yaitu perbuatan Allah.

Dan penyerahan diri adalah menyerahkan yang bertentangan ini kepada hukum itu sendiri.

Meskipun dalam menerapkan ungkapannya pada makna ini dan menuangkan makna ini ke dalam wadah lafaznya ada pertimbangan.

Dan di dalamnya terdapat pemahaman lain: yaitu bahwa yang dimaksud adalah berserah diri terhadap apa yang tampak bagi hamba dari makna-makna gaib yang bertentangan dengan akal logisnya pada pandangan pertama, karena hal itu mendahului sangkaannya bahwa perkaranya berbeda. Maka mendahului pada persangkaan dari gaib yang diberitakan tentangnya sesuatu yang bertentangan dengan akal logisnya, sehingga terjadilah pertentangan antara hukum akal dan hukum persangkaan. Sesungguhnya banyak dari perkara gaib yang bertentangan dengan akal secara sebagian, dan mendahului pada sangkaan sesuatu yang menentangnya. Maka penyerahan adalah: menyerahkan pertentangan ini kepada walinya dan kepada yang lebih mengetahui tentangnya, dan melepaskan diri dari apa yang mendahului pada sangkaan yang menentangnya.

Dan ini adalah makna yang paling tepat dari kedua makna tersebut dalam perkataannya, insya Allah.

Maka yang pertama: penyerahan terhadap pertentangan sebab-sebab untuk memurnikan Tauhid praktis yang berkaitan dengan tujuan dan kehendak. Dan ini adalah pemurnian terhadap pertentangan persangkaan yang menentang berita untuk memurnikan Tauhid ilmiah berdasarkan berita dan keyakinan. Dan inilah hakikat penyerahan.

Perkataannya: Dan tunduk terhadap apa yang mengalahkan nalar, dari perjalanan negara-negara dan pembagian.

Artinya tunduk terhadap apa yang mengalahkan akal dan nalarnya, dari apa yang berlaku sebagai ketetapan Allah pada negara-negara dahulu dan sekarang: dari dilipat-gandakannya suatu negara dan dibentangkannya negara lain, dan dimuliakan yang satu dan dihinakan yang lain, dan pembagian-pembagian yang telah Allah bagi-bagikan kepada makhluk-Nya, dengan sangat jauhnya perbedaan, dan jauhnya kadar-kadarnya, cara-caranya dan jenis-jenisnya, maka dia tunduk kepada hikmah Allah dalam semua itu, dan tidak menentang apa yang terjadi darinya dengan syubhat dan nalar.

Dan dimungkinkan bahwa yang dimaksud dengan “negara-negara dan pembagian” adalah keadaan-keadaan yang bergantian pada orang yang menempuh jalan dan berbeda perjalanannya. Dan pembagian yang diterimanya dari Allah: adalah bahwa nalar dari usaha dan kesungguhannya seharusnya memperoleh lebih dari itu. Maka dia tunduk terhadap apa yang mengalahkan nalarnya darinya, dan berserah diri kepada Yang Membagi, Yang Memberi dengan hikmah dan keadilan-Nya. Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Nya ada yang tidak baik baginya kecuali kefakiran. Seandainya Dia memberinya kekayaan niscaya hal itu akan merusaknya. Dan di antara mereka ada yang tidak baik baginya kecuali kekayaan. Seandainya Dia memfakirkannya niscaya hal itu akan merusaknya. Dan di antara mereka ada yang tidak baik baginya kecuali sakit. Seandainya Dia menyehatkannya niscaya hal itu akan merusaknya. Dan di antara mereka ada yang tidak baik baginya kecuali kesehatan. Seandainya Dia memberinya sakit niscaya hal itu akan merusaknya.

Perkataannya: Dan menjawab terhadap apa yang menakutkan orang yang menghendaki dari menempuh keadaan-keadaan.

Dia mengatakan: Sesungguhnya pemilik tingkatan ini dari kekuatan penyerahan menyerang perkara-perkara yang menakutkan, dan tidak menoleh kepadanya. Dan tidak takut bersamanya dari menempuh keadaan-keadaan dan menerjang kesulitan-kesulitan; karena kekuatan penyerahannya melindunginya dari bahayanya. Maka tidak selayaknya baginya untuk takut. Karena sesungguhnya dia berada dalam benteng penyerahan dan perlindungannya. Dan Allah Mahasuci dan Mahatinggi adalah yang memberi taufik dengan daya dan kekuatan-Nya.

Pasal: Tingkatan Kedua Menyerahkan Ilmu kepada Keadaan

Pasal

Dia berkata: Tingkatan kedua: menyerahkan ilmu kepada keadaan, dan tujuan kepada kasyaf (penyingkapan), dan bentuk kepada hakikat.

Adapun menyerahkan ilmu kepada keadaan maka yang dimaksud darinya bukanlah: menghukumkan keadaan atas ilmu, jauh Syaikh dari hal itu, dan sesungguhnya yang dimaksud adalah: berpindah dari berhenti pada bentuk-bentuk ilmu yang zhahir kepada makna-maknanya dan hakikat-hakikatnya yang batin, dan buah-buahnya yang dituju darinya, seperti berpindah dari murni taklid dan berita kepada penglihatan dan keyakinan. Hingga seolah-olah dia melihat dan menyaksikan apa yang diberitakan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran” (Saba’: 6). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?” (Ar-Ra’d: 19). Dan berpindah dari hijab kepada kasyaf, maka berpindah dari ilmu kepada yakin, dan dari yakin kepada ‘ainul yakin. Dan dari ilmu iman kepada merasakan rasa iman dan menemukan manisnya. Maka sesungguhnya ini adalah kadar yang lebih dari sekadar ilmunya. Dan dari ilmu tawakal kepada keadaannya, dan yang serupa dengan itu.

Maka dia menyerahkan ilmu yang benar kepada keadaan yang benar. Maka sesungguhnya kekuasaan keadaan lebih kuat dari kekuasaan ilmu. Maka jika keadaan itu menentang ilmu maka dia adalah raja yang zalim. Maka hendaklah keluar menentangnya dengan pedang ilmu, dan hendaklah menghukuminya dengan ilmu itu.

Adapun menyerahkan tujuan kepada kasyaf maka bukan maknanya: bahwa meninggalkan tujuan dari penyaksian kasyaf. Maka sesungguhnya kapan saja dia meninggalkan tujuan niscaya dia melepaskan ikatan penghambaan dari lehernya. Tetapi dia menjadikan tujuannya berjalan mencari kasyafnya yang dia tuju. Maka jika sampai kepadanya dia menyerahkannya kepadanya. Dan menjadi hukum bagi kasyaf; karena tujuan adalah alat dan wasilah kepadanya. Maka jika itu adalah kasyaf yang benar yang sesuai dengan kebenaran pada dirinya: dia menyingkap baginya tentang aib-aib tujuan, dan perusak-perusaknya, dan penyempurna-penyempurnanya dan cacatnya. Maka dia menghadap pada memperbaikinya dengan cahaya kasyaf. Bukan bahwa pemilik tujuan meninggalkan tujuan karena kasyaf, maka ini adalah perjalanan ahli ilhad (penyimpang), yang menyimpang dari jalan kebenaran dan petunjuk.

Adapun meninggalkan bentuk kepada hakikat maka sesungguhnya dia mengisyaratkan dengannya kepada fana (lenyap). Maka sesungguhnya di antara keseluruhan penyerahan pemilik fana adalah: menyerahkan zatnya agar lenyap dalam penyaksian hakikat. Maka sesungguhnya zat hamba adalah bentuk. Dan bentuk itu dilenyapkan oleh hakikat, sebagaimana cahaya melenyapkan kegelapan; karena menurut para ahli fana: bahwa Yang Haq Mahasuci tidak melihat-Nya selain-Nya. Dan tidak menyaksikan-Nya selain-Nya. Bukan dengan makna bersatu, tetapi dengan makna: bahwa hamba tidak menyaksikan-Nya hingga dia lenyap dari ke-aku-annya dan bentuknya, dan semua alamnya, maka lenyaplah yang tidak ada. Dan kekal Yang tidak pernah tiada. Ini seperti ijma’ dari kelompok ini, bahkan ini adalah ijma’ dari mereka.

Tingkatan Ketiga Menyerahkan Apa yang Selain Yang Haq kepada Yang Haq

Dia berkata: Tingkatan ketiga: menyerahkan apa yang selain Yang Haq kepada Yang Haq, dengan selamat dari melihat penyerahan, dengan menyaksikan penyerahan Yang Haq terhadapmu kepada-Nya.

Tingkatan ini adalah penyempurnaan tingkatan yang sebelumnya. Maka sesungguhnya penyerahan pada tingkatan sebelumnya adalah permulaan darinya. Dan ini adalah pertengahan antara tingkatan pertama dan ketiga. Maka yang pertama: permulaan, dan yang kedua: tengah, dan yang ketiga: akhir.

Perkataannya: menyerahkan apa yang selain Yang Haq kepada Yang Haq. Dia bermaksud dengan itu: lenyapnya bentuk-bentuk makhluk dalam penyaksian hakikat. Dan setiap apa yang selain Yang Haq adalah bentuk. Maka jika dia menyerahkan bentuknya yang khusus kepada Tuhannya: dia memperoleh hakikat fana. Dan penyerahan ini ada dua jenis.

Pertama: menyerahkan bentuknya yang khusus dengannya.

Dan kedua: menyerahkan bentuk-bentuk makhluk, dan melihat lenyap dan hancurnya dalam ‘ain hakikat. Dan ini adalah ilmu dan ma’rifat. Dan yang pertama adalah keadaan.

Perkataannya: dan selamat dari melihat penyerahan; artinya juga terlepas dari bentuk melihat penyerahan, maka sesungguhnya penglihatan juga adalah bentuk dari kumpulan bentuk-bentuk. Maka selama dia masih mempertahankannya: belum selamat penyerahan yang sempurna. Dan masih tersisa baginya sisa dari pertentangan bentuknya.

Kemudian dia menjelaskan bagaimana penyerahan ini, maka dia berkata: dengan menyaksikan penyerahan Yang Haq terhadapmu kepada-Nya; artinya tersingkap bagimu – ketika kamu menyerahkan apa yang selain Yang Haq kepada Yang Haq – bahwa Yang Haq Ta’ala adalah Yang menyerahkan kepada diri-Nya sendiri apa yang selain-Nya. Maka Yang Haq Ta’ala adalah Yang menyerahkanmu kepada-Nya. Maka Dia adalah Yang Menyerahkan dan Dia adalah Yang Diserahkan kepada-Nya. Dan kamu adalah alat penyerahan. Maka barangsiapa menyaksikan tempat penyaksian ini: dia menemukan zatnya diserahkan kepada Yang Haq. Dan tidak menyerahkannya kepada Yang Haq selain Yang Haq, maka sungguh hamba telah selamat dari mengklaim penyerahan. Dan Allah Maha Mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kesabaran

Kesabaran dalam Kitab dan Sunnah

Pasal tingkatan kesabaran

Dan dari tingkatan-tingkatan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan kesabaran.

Imam Ahmad rahimahullah Ta’ala berkata: Kesabaran dalam Al-Quran sekitar sembilan puluh tempat.

Dan itu wajib dengan ijma’ umat. Dan itu adalah setengah iman. Maka sesungguhnya iman adalah dua bagian: setengah kesabaran, dan setengah syukur.

Dan itu disebutkan dalam Al-Quran dalam enam belas jenis.

Pertama: perintah dengannya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat” (Al-Baqarah: 153) dan firman-Nya: “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat” (Al-Baqarah: 45). Dan firman-Nya: “Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran” (Ali ‘Imran: 200) dan firman-Nya: “Dan bersabarlah dan kesabaranmu itu tidak lain hanya dengan Allah” (An-Nahl: 127).

Kedua: larangan dari lawannya seperti firman-Nya: “Maka bersabarlah sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan untuk mereka” (Al-Ahqaf: 35), dan firman-Nya: “Maka janganlah kamu memalingkan punggungmu kepada mereka” (Al-Anfal: 15), maka sesungguhnya memalingkan punggung adalah: meninggalkan kesabaran dan ketabahan. Dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu” (Muhammad: 33) maka sesungguhnya membatalkannya adalah meninggalkan kesabaran untuk menyempurnakannya. Dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu lemah dan jangan pula bersedih hati” (Ali ‘Imran: 139) maka sesungguhnya kelemahan adalah dari tidak adanya kesabaran.

Ketiga: pujian terhadap ahlinya, seperti firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang sabar dan orang-orang yang benar” (Ali ‘Imran: 17) ayat, dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 177). Dan itu banyak dalam Al-Quran.

Keempat: Allah mewajibkan cinta-Nya untuk mereka. Seperti firman-Nya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (Ali ‘Imran: 146).

Kelima: Allah mewajibkan kebersamaan-Nya untuk mereka. Dan itu adalah kebersamaan khusus. Mengandung penjagaan mereka dan pertolongan mereka, dan dukungan mereka. Bukan kebersamaan umum. Dan itu adalah kebersamaan ilmu dan kekuasaan. Seperti firman-Nya: “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal: 46) dan firman-Nya: “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 249).

Keenam: pemberitahuan-Nya bahwa kesabaran adalah lebih baik untuk para pemiliknya. Seperti firman-Nya: “Dan sungguh jika kamu bersabar, itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (An-Nahl: 126) dan firman-Nya: “Dan bersabar itu lebih baik bagimu” (An-Nisa’: 25).

Ketujuh: Allah mewajibkan balasan untuk mereka dengan sebaik-baik amal mereka. Seperti firman-Nya: “Dan sungguh Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl: 96).

Kedelapan: Allah mewajibkan balasan untuk mereka tanpa hitung. Seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hitung” (Az-Zumar: 10).

Kesembilan: diberikannya kabar gembira secara mutlak untuk ahli kesabaran. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 155).

Kesepuluh: jaminan pertolongan dan bantuan untuk mereka. Seperti firman Allah Ta’ala: “Ya, jika kamu sabar dan bertakwa, dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Tuhanmu menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang ditandai” (Ali ‘Imran: 125), dan darinya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan ketahuilah bahwa pertolongan bersama kesabaran”.

Kesebelas: pemberitahuan dari-Nya Ta’ala bahwa ahli kesabaran adalah ahli tekad. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia” (Asy-Syura: 43).

Keduabelas: pemberitahuan bahwa tidaklah menemukan amal-amal saleh dan balasannya dan keistimewaan-keistimewaan yang besar kecuali ahli kesabaran, seperti firman Allah Ta’ala: “Celakalah kamu, pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan tidaklah menemukan itu kecuali orang-orang yang sabar” (Al-Qashash: 80), dan firman-Nya: “Dan tidaklah menemukan itu melainkan orang-orang yang sabar dan tidak menemukan itu melainkan orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Fushshilat: 35).

Ketigabelas: pemberitahuan bahwa sesungguhnya hanya mendapat manfaat dari ayat-ayat dan pelajaran ahli kesabaran. Seperti firman Allah Ta’ala kepada Musa: “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya dan ingatkanlah mereka dengan hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Ibrahim: 5), dan firman-Nya tentang penduduk Saba’: “Maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Saba’: 19). Dan firman-Nya: dalam surah Asy-Syura: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal yang berlayar di laut seperti gunung. Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Asy-Syura: 32).

Keempatbelas: pemberitahuan bahwa kemenangan yang dicari yang dicintai, dan keselamatan dari yang dibenci yang ditakuti, dan masuk surga, tidaklah mereka peroleh kecuali dengan kesabaran, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu. Kesejahteraan atas kamu karena kamu telah sabar, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d: 23).

Kelimabelas: bahwa itu mewarisi pemiliknya tingkatan kepemimpinan. Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah quddisa ruhuhu (semoga Allah menyucikan ruhnya) berkata: Dengan kesabaran dan keyakinan diraih kepemimpinan dalam agama. Kemudian dia membaca firman Allah Ta’ala: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami” (As-Sajdah: 24).

Keenambelas: disandingkannya dengan tingkatan-tingkatan Islam dan Iman, sebagaimana Allah Mahasuci menyandingkannya dengan keyakinan dan dengan iman, dan takwa dan tawakal. Dan dengan syukur dan amal saleh dan rahmat.

Dan oleh karena itu kesabaran dari iman adalah seperti kedudukan kepala dari jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran baginya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala baginya. Dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Sebaik-baik kehidupan yang kita peroleh adalah dengan kesabaran. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan dalam hadits shahih bahwa itu adalah cahaya. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa berusaha bersabar niscaya Allah akan menjadikannya sabar”.

Dalam hadits yang sahih: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sesungguhnya segala perkaranya adalah baik baginya, dan itu tidak ada bagi seorang pun kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

“Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seorang wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan lalu memintanya untuk berdoa untuknya: Jika engkau mau bersabar maka bagimu surga, dan jika engkau mau aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu. Wanita itu berkata: Sesungguhnya aku terbuka auratku (saat kambuh), maka berdoalah kepada Allah agar aku tidak terbuka auratku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuknya.”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kaum Anshar radhiyallahu ta’ala ‘anhum agar bersabar atas sikap mementingkan diri sendiri yang akan mereka temui sepeninggalnya, hingga mereka bertemu dengannya di telaga (al-Haudh).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersabar ketika bertemu musuh. Dan memerintahkan untuk bersabar ketika tertimpa musibah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa kesabaran itu hanya terjadi pada benturan pertama saja.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang yang tertimpa musibah dengan perkara yang paling bermanfaat baginya, yaitu bersabar dan mengharap pahala. Karena sesungguhnya hal itu meringankan musibahnya dan menyempurnakan pahalanya. Adapun bersedih, marah, dan mengeluh akan menambah musibah dan menghilangkan pahala.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa kesabaran itu seluruhnya kebaikan, maka beliau bersabda: “Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas baginya daripada kesabaran.”

Pasal Tentang Pengertian Kesabaran

Pasal

Kesabaran dalam bahasa: menahan dan mencegah. Dari kata ini: si fulan dibunuh dengan cara ditahan. Yaitu ketika ia ditahan dan dikurung. Dan dari kata ini firman Allah Ta’ala: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya” (Surah Al-Kahfi: 28); yaitu tahanlah dirimu bersama mereka.

Maka kesabaran adalah: menahan diri dari bersedih dan marah. Dan menahan lisan dari mengeluh. Dan menahan anggota badan dari berbuat kacau.

Dan kesabaran ada tiga jenis: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Dan sabar dari kemaksiatan kepada Allah. Dan sabar atas ujian dari Allah. Dua jenis yang pertama: kesabaran atas apa yang berkaitan dengan usaha. Dan yang ketiga: kesabaran atas apa yang tidak ada usaha hamba di dalamnya.

Dan saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah quddisa Allahu ruuhahu berkata: Kesabaran Yusuf dari memenuhi ajakan istri Al-Aziz untuk berbuat maksiat dengannya: lebih sempurna daripada kesabarannya atas perbuatan saudara-saudaranya yang melemparkannya ke dalam sumur, menjualnya dan memisahkan antara dia dengan ayahnya. Karena sesungguhnya perkara-perkara ini adalah hal-hal yang terjadi padanya tanpa pilihannya, tidak ada usahanya di dalamnya, tidak ada jalan bagi hamba di dalamnya selain bersabar. Adapun kesabarannya dari kemaksiatan: adalah kesabaran pilihan, kerelaan, dan melawan hawa nafsu. Terutama dengan sebab-sebab yang dengannya pendorong untuk memenuhi ajakan menjadi kuat. Karena sesungguhnya ia adalah pemuda, dan dorongan masa muda kepadanya sangat kuat. Dan ia bujangan yang tidak memiliki apa yang dapat menggantinya dan menolak syahwatnya. Dan orang asing, dan orang asing tidak malu di negeri keasingannya seperti malunya di antara teman-temannya, kenalan-kenalannya dan keluarganya. Dan budak, dan budak juga tidak memiliki penghalang seperti penghalang orang merdeka. Dan wanita itu cantik, dan memiliki kedudukan. Dan ia adalah majikannya. Dan pengawas telah pergi. Dan dialah yang mengajaknya kepada dirinya. Dan sangat bersemangat untuk itu dengan sangat bersemangat, dan dengan itu semua ia mengancamnya jika ia tidak melakukannya dengan penjara dan kehinaan. Dan dengan semua pendorong ini ia bersabar dengan pilihan, dan lebih memilih apa yang ada di sisi Allah. Dan mana yang lebih baik dari ini, kesabarannya di dalam sumur atas apa yang bukan dari usahanya?

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Kesabaran dalam melaksanakan ketaatan: lebih sempurna daripada kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan dan lebih utama; karena sesungguhnya kemaslahatan melakukan ketaatan lebih dicintai oleh pembuat syariat daripada kemaslahatan meninggalkan kemaksiatan. Dan kerusakan dari tidak adanya ketaatan: lebih dibenci olehnya dan lebih dimurkai daripada kerusakan adanya kemaksiatan.

Dan beliau rahimahullah memiliki karya tentang hal itu yang ia jelaskan di dalamnya dengan sekitar dua puluh cara. Ini bukan tempat untuk menyebutkannya.

Dan maksudnya: pembicaraan tentang kesabaran, hakikatnya, tingkatan-tingkatannya dan kedudukannya. Dan Allah yang memberi taufik.

Bab: Jenis-Jenis Kesabaran

Sabar dengan Allah, untuk Allah, dan Bersama Allah

Bab: Jenis-Jenis Kesabaran

Kesabaran itu ada tiga jenis: sabar dengan Allah, sabar untuk Allah, dan sabar bersama Allah.

Pertama: Sabar dengan memohon pertolongan kepada-Nya, sambil menyadari bahwa Dialah yang memberikan kesabaran, dan bahwa kesabaran seorang hamba adalah dengan Tuhannya, bukan dengan dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan bersabarlah, kesabaranmu itu tiada lain hanyalah dengan pertolongan Allah” (Surat An-Nahl: 127). Artinya, jika Dia tidak memberikanmu kesabaran, kamu tidak akan sabar.

Kedua: Sabar untuk Allah. Yaitu bahwa pendorong kesabaran itu adalah kecintaan kepada Allah, menginginkan wajah-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan untuk menunjukkan kekuatan jiwa, mencari pujian dari makhluk, atau tujuan-tujuan lainnya.

Ketiga: Sabar bersama Allah. Yaitu hamba senantiasa mengikuti kehendak Allah yang bersifat syariat terhadapnya dan hukum-hukum agama-Nya, sambil menahan dirinya bersamanya, berjalan mengikuti arahnya, tegak dengan keteguhannya, menghadap ke mana pun kendaraannya menuju, dan singgah di mana pun kemahnya didirikan.

Inilah makna sabar bersama Allah, yaitu ia telah menjadikan dirinya sepenuhnya untuk perintah-perintah dan kecintaan-kecintaan Allah. Ini adalah jenis kesabaran yang paling berat dan paling sulit. Inilah kesabaran para shiddiqin.

Al-Junaid berkata: “Perjalanan dari dunia ke akhirat itu mudah dan ringan bagi orang mukmin. Meninggalkan makhluk demi Allah itu berat. Perjalanan dari diri sendiri menuju Allah itu sangat sulit dan berat. Sedangkan sabar bersama Allah itu lebih berat lagi.”

Dia ditanya tentang kesabaran, maka ia menjawab: “Menelan kepahitan tanpa meringis.”

Dzun Nun Al-Mishri berkata: “Kesabaran adalah menjauhkan diri dari pelanggaran, tenang ketika menelan pahitnya musibah, dan menampakkan kekayaan padahal kemiskinan telah singgah di halaman kehidupan.”

Dikatakan: “Kesabaran adalah berdiri menghadapi musibah dengan akhlak yang baik.”

Dikatakan: “Kesabaran adalah lenyap dalam musibah tanpa menampakkan diri dan tanpa keluhan.”

Dikatakan: “Membiasakan jiwa untuk menghadapi kesulitan.”

Dikatakan: “Bertahan dalam musibah dengan sikap yang baik, seperti bertahan dalam keadaan sehat.”

Amr bin Utsman berkata: “Kesabaran adalah teguh bersama Allah dan menerima ujian-Nya dengan lapang dada dan tenang.”

Al-Khawwash berkata: “Kesabaran adalah teguh pada hukum-hukum Al-Quran dan Sunnah.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Kesabaran para pencinta itu lebih berat daripada kesabaran para zahid. Sungguh mengherankan! Bagaimana mereka bisa sabar?” Lalu ia membaca syair:

Kesabaran itu indah dalam segala situasi Kecuali tentangmu, karena pada hal itu kesabaran tidak indah

Dikatakan: “Kesabaran adalah memohon pertolongan kepada Allah.”

Dikatakan: “Kesabaran adalah meninggalkan keluhan.”

Dikatakan:

Kesabaran seperti namanya, pahit rasanya Namun akibatnya lebih manis dari madu

Dikatakan: “Kesabaran adalah ridha dengan hilangnya dirimu demi keridhaan orang yang kau cintai.” Sebagaimana dikatakan:

Aku akan sabar agar engkau ridha dan aku binasa dalam kegelisahan Cukup bagiku bahwa engkau ridha meskipun kesabaranku membinasakanku

Dikatakan: Tingkatan orang-orang yang sabar ada lima: sabar (shabir), sangat sabar (mushtabir), berusaha sabar (mutashabir), amat sabar (shabur), dan banyak sabar (shabbar). Shabir adalah yang paling umum. Mushtabir adalah yang mendapatkan kesabaran dan penuh dengannya. Mutashabir adalah yang memaksakan diri dan membawa dirinya kepada kesabaran. Shabur adalah yang kesabarannya sangat besar, lebih besar dari kesabaran orang lain. Shabbar adalah yang banyak kesabarannya. Yang ini dari segi kuantitas dan jumlah, sedangkan yang sebelumnya dari segi sifat dan kualitas.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Kesabaran adalah kendaraan yang tidak akan tersandung.”

Seorang laki-laki datang kepada Asy-Syibli dan berkata: “Kesabaran apa yang paling berat bagi orang-orang yang sabar?” Ia menjawab: “Sabar dalam Allah.” Penanya berkata: “Bukan.” Lalu ia berkata: “Sabar untuk Allah.” Penanya berkata: “Bukan.” Lalu ia berkata: “Sabar bersama Allah.” Penanya berkata: “Bukan.” Asy-Syibli bertanya: “Kalau begitu apa?” Penanya menjawab: “Sabar dari Allah.” Maka Asy-Syibli berteriak keras sampai hampir jiwanya hilang.

Al-Jurairi berkata: “Kesabaran adalah tidak membedakan antara keadaan nikmat dan keadaan cinta, dengan ketenangan hati pada keduanya. Sedangkan berusaha sabar adalah tenang dalam menghadapi musibah dengan merasakan beban ujian.”

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: “Orang-orang yang sabar beruntung dengan kemuliaan dua negeri, karena mereka mendapatkan kebersamaan dari Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Dikatakan tentang firman Allah Ta’ala: “Bersabarlah, berteguh hatilah, dan bersiap siagalah” (Surat Ali Imran: 200), bahwa ini adalah perpindahan dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Sabar (ishbiruu) lebih rendah dari berteguh hati (shaabiruu), dan berteguh hati lebih rendah dari bersiap siaga (raabituu). Raabituu adalah bentuk mufa’alah dari rabth yang artinya mengikat. Orang yang bersiap siaga disebut muraabith karena mereka mengikat kuda-kuda mereka sambil menunggu bahaya. Kemudian setiap orang yang menunggu disebut muraabith jika ia mengikat dirinya untuk ketaatan yang ia tunggu. Dari sinilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan dan mengangkat tingkatan? Menyempurnakan wudhu pada kondisi yang tidak menyenangkan, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath.” Dan beliau bersabda: “Berjaga sehari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

Dikatakan: Bersabarlah dengan diri kalian dalam ketaatan kepada Allah, berteguh hatilah dengan hati kalian dalam ujian demi Allah, dan bersiap siagalah dengan rahasia kalian dalam kerinduan kepada Allah.

Dikatakan: Bersabarlah dalam Allah, berteguh hatilah dengan Allah, dan bersiap siagalah bersama Allah.

Dikatakan: Bersabarlah dalam nikmat, berteguh hatilah dalam kesusahan dan kesulitan, bersiap siagalah di negeri musuh, dan bertakwalah kepada Tuhan bumi dan langit, semoga kalian beruntung di negeri yang kekal.

Maka sabar adalah dengan dirimu sendiri, teguh hati adalah antara kamu dan musuhmu, dan siap siaga adalah keteguhan dan persiapan. Sebagaimana ribath adalah menjaga benteng agar musuh tidak menyerang darinya, demikian pula ribath adalah menjaga benteng hati agar setan tidak menyerangnya, lalu menguasainya dan menghancurkannya atau mengacaukannya.

Dikatakan: “Teguklah kesabaran. Jika ia membunuhmu, ia membunuhmu sebagai syahid. Dan jika ia menghidupkanmu, ia menghidupkanmu dalam kemuliaan.”

Dikatakan: Sabar untuk Allah adalah kekayaan. Sabar dengan Allah Ta’ala adalah kelangsungan. Sabar dalam Allah adalah ujian. Sabar bersama Allah adalah kesetiaan. Sabar dari Allah adalah keterasingan. Sabar dalam mencari adalah tanda kemenangan. Dan sabar dalam ujian adalah tanda kelapangan.

Dikatakan: Keadaan hamba bersama Allah adalah ribathnya, dan segala yang selain Allah adalah musuh-musuhnya.

Dalam kitab Al-Adab karya Al-Bukhari disebutkan: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang iman, maka beliau menjawab: Kesabaran dan kemurahan hati.” Dikutip dari Musa bin Ismail yang berkata: Suwayd menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ubaid bin Umair menceritakan kepada kami dari ayahnya dari kakeknya, lalu ia menyebutkannya.

Ini termasuk perkataan yang paling ringkas namun paling besar buktinya, dan paling lengkap mencakup tingkatan-tingkatan iman dari awal sampai akhir.

Karena yang diinginkan dari jiwa adalah dua hal: memberikan apa yang diperintahkan kepadanya. Pendorongnya adalah kemurahan hati. Dan meninggalkan apa yang dilarang darinya dan menjauh darinya. Pendorongnya adalah kesabaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan dalam kitab-Nya tentang kesabaran yang indah, pemaafan yang indah, dan perpisahan yang indah. Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menguduskan ruhnya, berkata: “Kesabaran yang indah adalah yang tidak ada keluhan padanya atau bersamanya. Pemaafan yang indah adalah yang tidak ada celaan bersamanya. Perpisahan yang indah adalah yang tidak ada gangguan bersamanya.”

Dalam atsar Israiliyyat disebutkan: Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi-Nya: “Aku turunkan ujian-Ku kepada hamba-Ku, lalu dia berdoa kepada-Ku. Aku tunda mengabulkannya, lalu dia mengeluhkan Aku. Maka Aku berfirman: Wahai hamba-Ku, bagaimana Aku mengasihimu dari sesuatu yang dengannya Aku mengasihimu?”

Ibnu Uyainah berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar” (Surat As-Sajdah: 24), ia berkata: “Mereka mengambil pangkal perkara, maka Kami jadikan mereka pemimpin.”

Dikatakan: Kesabaran para ahli ibadah yang terbaik adalah yang terjaga, sedangkan kesabaran para pencinta yang terbaik adalah yang ditinggalkan. Sebagaimana dikatakan:

Terlihat di hari perpisahan bahwa tekadnya Untuk sabar adalah salah satu prasangka yang dusta

Mengeluh kepada Allah azza wa jalla tidak bertentangan dengan kesabaran. Karena Yaqub alaihissalam berjanji dengan kesabaran yang indah. Dan nabi jika berjanji tidak akan mengingkarinya. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan kedukaanku kepada Allah” (Surat Yusuf: 86). Demikian pula Ayyub, Allah mengabarkan tentangnya bahwa Dia mendapatinya sabar, padahal ia berkata: “Bahwa aku benar-benar telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” (Surat Al-Anbiya: 83).

Yang bertentangan dengan kesabaran adalah mengeluhkan Allah, bukan mengeluh kepada Allah. Sebagaimana sebagian mereka melihat seorang laki-laki mengeluh kepada orang lain tentang kefakiran dan kesulitannya, maka ia berkata: “Wahai ini, apakah kamu mengeluhkan Dia yang mengasihimu kepada orang yang tidak mengasihimu?” Kemudian ia membaca syair:

Dan jika musibah menimpamu, bersabarlah Sabar orang mulia, karena Dia lebih mengetahui tentangmu Dan jika kamu mengeluh kepada anak Adam, sesungguhnya Kamu mengeluhkan Yang Maha Penyayang kepada orang yang tidak menyayangi

Bab: Kesabaran adalah Tingkatan yang Paling Sulit bagi Orang Awam

Bab

Penulis kitab Al-Manazil berkata:

“Kesabaran adalah menahan diri dari yang tidak disukai, dan menahan lisan dari keluhan. Ini termasuk tingkatan yang paling sulit bagi orang awam, paling asing dalam jalan cinta, dan paling munkar dalam jalan tauhid.”

Kesabaran itu sulit bagi orang awam karena orang awam masih pemula dalam jalan ini. Ia tidak punya pengalaman dalam suluk dan tidak punya latihan sebagai orang yang telah melewati berbagai tingkatan. Maka jika ia ditimpa ujian, ia akan gelisah. Sulit baginya menanggung musibah dan sulit mendapatkan kesabaran, karena ia bukan dari kalangan yang terlatih sehingga terbiasa dengan kesabaran, dan bukan pula dari kalangan pencinta yang menikmati musibah dalam keridhaan kekasihnya.

Adapun alasannya menjadi kesendirian dalam jalan cinta, karena cinta menuntut agar pencinta menikmati ujian dari kekasihnya, sedangkan kesabaran menuntut kebencian terhadap hal itu, dan menahan diri darinya dengan keterpaksaan. Maka ini adalah kesendirian dalam jalan cinta.

Dalam kesendirian ada nuansa halus, karena menikmati ujian dalam cinta adalah bagian dari yang mewajibkan ketenangan hati dengan Sang Kekasih. Maka jika ia merasakan sakit sehingga memerlukan kesabaran, ia berpindah dari ketenangan ke kesendirian. Seandainya tidak ada kesendirian, ia tidak akan merasakan sakit yang memerlukan kesabaran.

Kesabaran menjadi yang paling munkar dalam jalan tauhid karena di dalamnya terdapat klaim yang kuat. Karena orang yang sabar dengan keadaannya mengklaim keteguhan yang kuat. Itu adalah klaim dari dirinya akan kekuatan yang besar. Dan ini bertentangan dengan pemurnian tauhid, karena tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan sama sekali. Bahkan seluruh kekuatan adalah milik Allah. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Inilah alasan mengapa kesabaran munkar dalam jalan tauhid. Bahkan termasuk yang paling munkar seperti yang ia katakan, karena tauhid mengembalikan segala sesuatu kepada Allah, sedangkan kesabaran mengembalikan segala sesuatu kepada diri. Dan penetapan diri dalam tauhid adalah munkar.

Inilah ringkasan perkataannya yang telah diteliti dan dipertegas. Dan ini termasuk perkataan yang munkar darinya.

Bahkan kesabaran termasuk tingkatan yang paling penting dalam jalan cinta dan paling dibutuhkan oleh para pencinta. Mereka lebih memerlukan tingkatannya daripada setiap tingkatan lainnya. Dan ia termasuk tingkatan yang paling dikenal dalam jalan tauhid dan paling jelas.

Kebutuhan pencinta kepadanya adalah kebutuhan darurat.

Jika dikatakan: “Bagaimana kebutuhan pencinta kepadanya menjadi darurat, padahal ia bertentangan dengan kesempurnaan cinta? Karena kesabaran hanya ada ketika ada pertentangan jiwa terhadap kehendak yang dicintai?”

Dikatakan: Inilah nuansa yang menjadikannya termasuk tingkatan yang paling penting dalam jalan cinta dan paling terkait dengannya. Dengannya diketahui cinta yang benar dari yang cacat, yang jujur dari yang dusta. Karena dengan kekuatan kesabaran terhadap hal-hal yang tidak disukai dalam kehendak yang dicintai, diketahui kebenaran cintanya.

Dari sinilah cinta kebanyakan manusia itu dusta. Karena mereka semua mengaku mencintai Allah Ta’ala. Ketika Dia menguji mereka dengan hal-hal yang tidak disukai, mereka melepaskan diri dari hakikat cinta. Dan tidak teguh bersama-Nya kecuali orang-orang yang sabar. Seandainya tidak ada menanggung kesulitan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai dengan kesabaran, tidak akan terbukti kebenaran cinta mereka. Dengan itu jelas bahwa yang paling besar cintanya adalah yang paling kuat kesabarannya.

Karena itulah Allah Ta’ala mensifatkan dengan kesabaran secara khusus kepada wali-wali dan kekasih-kekasih-Nya. Allah berfirman tentang kekasih-Nya Ayyub: “Sesungguhnya Kami mendapatinya seorang yang sabar” (Surat Shad: 44), kemudian Dia memujinya dengan firman: “Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)” (Surat Shad: 44).

Allah memerintahkan makhluk yang paling dicintai kepada-Nya untuk sabar terhadap hukum-Nya, dan mengabarkan bahwa kesabarannya adalah dengan-Nya. Dia memuji orang-orang yang sabar dengan pujian yang paling baik, dan menjanjikan kepada mereka pahala yang paling besar. Dia menjadikan pahala orang lain terhitung, sedangkan pahala mereka tanpa perhitungan. Dia menyandingkan kesabaran dengan tingkatan-tingkatan Islam, iman, dan ihsan seperti yang telah disebutkan. Menjadikannya berpasangan dengan yakin, tawakal, iman, amal, dan takwa.

Allah mengabarkan bahwa ayat-ayat-Nya hanya bermanfaat bagi orang yang memiliki kesabaran. Dia mengabarkan bahwa kesabaran itu lebih baik bagi pemiliknya. Dan bahwa para malaikat memberi salam kepada mereka di surga karena kesabaran mereka, sebagaimana telah disebutkan.

Tidak ada dalam kebencian jiwa terhadap rasa sakit yang ia sabari dan merasakannya, apa yang merusak cintanya atau tauhidnya. Karena merasakan sakit dan menolaknya adalah hal alami baginya, seperti kebutuhannya akan makanan dan minuman, dan sakit karena kehilangannya. Sifat-sifat jiwa tidak mungkin dihilangkan atau dinonaktifkan sama sekali. Jika tidak demikian, ia bukan lagi jiwa insani. Dan ujian pun akan hilang, serta menjadi alam yang lain.

Kesabaran dan cinta tidak saling bertentangan, bahkan keduanya saling mendukung dan beriringan. Orang yang mencintai itu sabar. Bahkan penyebab sesungguhnya dari kesabaran yang bertentangan dengan cinta dan mengganggu tauhid adalah ketika pendorong kesabaran itu bukan keinginan untuk meraih ridha sang Kekasih, melainkan keinginan untuk meraih yang lain, atau tercampurnya keinginan itu dengan keinginan lain, atau yang diinginkan adalah keinginannya sendiri, bukan keinginan sang Kekasih. Inilah yang membuat kesabaran menjadi asing dan menyakitkan.

Adapun orang yang melihat kesabarannya dengan Allah, kesabarannya untuk Allah, dan kesabaran bersama Allah, menyaksikan bahwa kesabarannya itu dengan Allah Ta’ala bukan dengan dirinya sendiri, maka cintanya tidak akan tertimpa kesendirian dan tauhidnya tidak akan tertimpa kesakitan.

Kemudian, seandainya hal ini tetap istiqamah baginya, maka itu hanya dalam satu jenis kesabaran saja, yaitu kesabaran terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan.

Adapun kesabaran dalam melakukan ketaatan—yaitu menahan diri untuk melakukannya—dan kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan—yaitu mencegah diri darinya dengan suka rela, pilihan, dan kenikmatan—maka kesendirian apa yang ada dalam hal ini? Dan kesakitan apa yang ada padanya?

Jika dikatakan: Jika dia melakukan itu dengan suka rela, cinta, ridha, dan pilihan, maka yang mendorongnya melakukan itu bukanlah kesabaran. Maka kesabarannya dalam kondisi ini menjadi sesuatu yang meniscayakan kesendirian dan kesakitan, karena bertentangan dengan keadaan orang yang mencintai.

Dijawab: Tidak ada pertentangan dalam hal itu sama sekali. Karena kesabarannya saat itu telah masuk ke dalam ridhanya dan terlipat di dalamnya, sehingga yang berkuasa adalah ridha, bukan karena kesabaran itu tidak ada, tetapi karena kuatnya datangnya ridha dan cinta serta mengutamakan keinginan sang Kekasih, maka yang disaksikan dan menjadi kedudukan adalah ridha sesuai kondisi yang ada. Dan kesabaran adalah bagian darinya dan terlipat di dalamnya. Kami tidak mengingkari hal ini. Jika inilah yang dimaksud, maka sungguh baik kesepakatan ini, dan bukan tujuan kami untuk berbantah-bantahan dan perdebatan yang tidak berguna.

Jika yang dimaksud adalah selain itu, maka telah diketahui apa yang ada padanya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

Bab: Tingkatan-Tingkatan Kesabaran

Tingkatan Pertama: Kesabaran dari Kemaksiatan

Bab

Dia (penulis) berkata: Dan kesabaran itu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Kesabaran dari kemaksiatan, dengan memperhatikan ancaman, untuk menjaga iman, dan takut dari yang haram. Dan yang lebih baik darinya: kesabaran dari kemaksiatan karena malu.

Dia menyebutkan dua sebab dan dua manfaat untuk kesabaran dari kemaksiatan.

Adapun dua sebabnya: yang pertama adalah ketakutan dari ancaman yang melekat padanya.

Yang kedua adalah malu kepada Rabb Tabaraka wa Ta’ala bahwa nikmat-nikmat-Nya digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya, dan bahwa dia bermaksiat dengan perbuatan-perbuatan besar.

Adapun dua manfaatnya: yang pertama adalah menjaga iman, dan yang kedua adalah berhati-hati dari yang haram.

Adapun memperhatikan ancaman dan takut darinya, maka yang mendorong hal itu adalah kuatnya iman terhadap berita dan membenarkan kandungannya.

Adapun malu, maka yang mendorong hal itu adalah kuatnya ma’rifat dan menyaksikan makna-makna nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Dan yang lebih baik dari itu adalah bahwa pendorongnya adalah dorongan cinta. Maka dia meninggalkan kemaksiatan karena cinta kepada Allah, seperti keadaan orang-orang Suhaib. Adapun dua manfaatnya: menjaga iman mendorong untuk meninggalkan kemaksiatan, karena kemaksiatan pasti akan mengurangi iman, atau menghilangkannya, atau menghilangkan kilaunya dan keindahannya, atau memadamkan cahayanya, atau melemahkan kekuatannya, atau mengurangi buahnya. Ini adalah hubungan yang pasti antara kemaksiatan dan iman yang diketahui melalui kenyataan, khabar, dan akal, sebagaimana sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan dia beriman. Tidak minum khamr seseorang yang meminumnya ketika dia meminumnya dalam keadaan dia beriman. Tidak mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri dalam keadaan dia beriman. Tidak merampas rampasan yang mulia—yang orang-orang mengangkat pandangan mereka kepadanya ketika dia merampasnya—dalam keadaan dia beriman. Maka jauhilah, jauhilah. Dan pintu taubat terbuka setelahnya.”

Adapun berhati-hati dari yang haram, yaitu bersabar dari banyak hal yang mubah, karena khawatir hal itu akan membawanya kepada yang haram.

Dan karena malu adalah sifat orang-orang mulia, ahli kemuliaan, dan jiwa-jiwa yang suci, maka pemiliknya lebih baik keadaannya daripada orang yang bertakwa karena takut.

Dan karena dalam malu kepada Allah ada yang menunjukkan muraqabah kepada-Nya dan hadirnya hati bersama-Nya.

Dan karena di dalamnya ada pengagungan dan pemuliaan kepada-Nya yang tidak ada dalam dorongan takut.

Maka orang yang pendorongnya adalah takut, hatinya hadir bersama hukuman. Dan orang yang pendorongnya adalah malu, hatinya hadir bersama Allah. Orang yang takut memelihara sisi dirinya dan melindunginya. Sedangkan orang yang malu memelihara sisi Rabbnya dan memperhatikan keagungan-Nya. Dan kedua tingkatan ini termasuk tingkatan ahli iman.

Hanya saja malu lebih dekat dengan tingkatan ihsan dan lebih melekat padanya, karena dia menempatkan dirinya pada kedudukan orang yang seakan-akan melihat Allah. Maka memancar mata air-mata air malu dari hatinya dan memancar sumber-sumbernya.

Tingkatan Kedua: Kesabaran dalam Ketaatan

Dia berkata: Tingkatan kedua: Kesabaran dalam ketaatan dengan menjaganya secara terus-menerus, dengan memeliharanya dengan ikhlas, dan dengan memperbaikinya dengan ilmu.

Ini menunjukkan bahwa menurutnya melakukan ketaatan lebih penting daripada meninggalkan kemaksiatan. Maka kesabaran dalam ketaatan lebih tinggi tingkatannya daripada kesabaran dalam meninggalkan kemaksiatan.

Dan inilah yang benar—sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya—karena meninggalkan kemaksiatan adalah untuk menyempurnakan ketaatan. Dan larangan dimaksudkan untuk perintah. Maka yang dilarang karena dapat melemahkan dan mengurangi yang diperintahkan, dilarang sebagai perlindungan dan penjagaan terhadap sisi perintah. Maka sisi perintah lebih kuat dan lebih penting. Dan dia seperti kesehatan dan kehidupan. Sedangkan larangan seperti pantangan yang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan dan sebab-sebab kehidupan.

Dan Syaikh menyebutkan bahwa kesabaran dalam tingkatan ini dengan tiga hal: kontinuitas ketaatan, ikhlas di dalamnya, dan terjadinya sesuai dengan tuntutan ilmu, yaitu memperbaikinya dengan ilmu.

Karena ketaatan akan cacat jika kehilangan salah satu dari tiga hal ini. Jika seorang hamba tidak menjaganya secara terus-menerus, dia akan meninggalkannya. Dan jika dia menjaganya secara terus-menerus, maka akan muncul dua bahaya.

Bahaya pertama: meninggalkan keikhlasan di dalamnya, yaitu bahwa pendorongnya bukan karena wajah Allah, keinginan kepada-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka menjaganya dari bahaya ini adalah dengan memelihara keikhlasan.

Bahaya kedua: tidak sesuai dengan ilmu, yaitu tidak mengikuti sunnah. Maka menjaganya dari bahaya ini adalah dengan memurnikan ittiba’ (mengikuti). Sebagaimana menjaganya dari bahaya yang pertama adalah dengan memurnikan niat dan kehendak. Oleh karena itu dia berkata: dengan menjaganya secara terus-menerus, memeliharanya dengan ikhlas, dan memperbaikinya dengan ilmu.

Bab: Tingkatan Ketiga, Kesabaran dalam Ujian

Bab

Dia berkata: Tingkatan ketiga: Kesabaran dalam ujian, dengan memperhatikan baiknya balasan, mengharapkan kelegaan, dan memandang ringan ujian setelah berbagai karunia, dan dengan mengingat nikmat-nikmat terdahulu. Ini adalah tiga hal yang mendorong orang yang mengalaminya untuk bersabar dalam ujian.

Yang pertama: memperhatikan baiknya balasan. Dan sesuai dengan perhatiannya, kepercayaannya, dan penyaksiannya terhadap balasan itu, maka beban ujian akan terasa ringan, karena menyaksikan gantinya. Ini seperti ringannya beban bagi setiap orang yang menanggung kesulitan besar dalam menanggungnya, karena apa yang dilihatnya dari kelezatan akibatnya dan keberhasilannya meraihnya. Jika bukan karena itu, niscaya terlantarlah kemaslahatan dunia dan akhirat. Dan tidak ada seorang pun yang berani menanggung kesulitan yang saat ini dihadapi kecuali untuk buah yang tertunda. Maka jiwa itu cenderung mencintai yang segera. Dan sesungguhnya kekhususan akal adalah melihat akibat-akibat dan memperhatikan tujuan-tujuan akhir.

Dan telah sepakat para cendekiawan dari setiap umat bahwa kenikmatan tidak dapat diraih dengan kenikmatan. Dan bahwa barangsiapa menemani kenyamanan, dia akan meninggalkan kenyamanan. Dan akan mendapat kesulitan pada waktu kenyamanan di negeri kenyamanan. Karena ukuran kelelahan itulah ukuran kenyamanan.

Sesuai kadar orang yang memiliki tekad datanglah tekad-tekad itu, dan datang sesuai kadar orang mulia kemuliaan-kemuliaan itu.

Dan membesar di mata orang kecil hal-hal kecilnya, dan mengecil di mata orang besar hal-hal besar.

Dan maksudnya adalah bahwa memperhatikan baiknya akibat membantu kesabaran dalam apa yang kamu tanggung dengan pilihanmu atau bukan pilihanmu.

Yang kedua: mengharapkan kelegaan.

Maksudnya adalah ketenangan, hembusan, dan kelezatannya. Karena mengharapkannya, memperhatikannya, dan menunggunya akan meringankan beban kesulitan, terutama ketika harapan itu kuat atau yakin akan datangnya kelapangan. Karena dia akan merasakan di tengah ujian semacam hembusan dan ketenangan dari kelapangan yang merupakan kehalusan yang tersembunyi, dan itu adalah kelapangan yang dipercepat. Dengannya—dan dengan yang lain—dapat dipahami makna nama-Nya Al-Lathif (Maha Halus).

Yang ketiga: memandang ringan musibah dengan dua hal.

Pertama: menghitung nikmat-nikmat Allah kepadanya dan karunia-karunia-Nya untuknya. Jika dia tidak mampu menghitungnya dan putus asa untuk membatasinya, maka akan ringan baginya apa yang dia alami dari ujian, dan dia akan melihatnya—dibandingkan dengan karunia-karunia dan nikmat-nikmat Allah—seperti setetes air dari lautan.

Kedua: mengingat nikmat-nikmat terdahulu yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Maka yang ini berkaitan dengan masa lalu. Sedangkan menghitung karunia-karunia berkaitan dengan masa depan. Dan salah satunya di dunia, yang lainnya pada hari pembalasan. Dan diriwayatkan dari seorang wanita ahli ibadah bahwa dia tersandung lalu jarinya putus. Maka dia tertawa. Lalu salah seorang yang bersamanya berkata kepadanya: Apakah kamu tertawa, padahal jarimu putus? Maka dia berkata: Aku berbicara kepadamu sesuai kadar akalmu. Manisnya pahalanya membuatku lupa akan pahitnya kejadiannya. Isyarat bahwa akalnya tidak mampu menanggung tingkatan yang lebih tinggi dari ini, yaitu memperhatikan Dzat yang menguji, menyaksikan baiknya pilihan-Nya untuknya dalam ujian itu, kelezatannya dengan bersyukur kepada-Nya dan ridha kepada-Nya, serta menghadapi apa yang datang dari-Nya dengan pujian dan syukur. Sebagaimana dikatakan:

Seandainya aku sedih karena engkau menyakitiku dengan kesedihan, sungguh aku senang karena aku terlintas dalam pikiranmu.

Bab: Kesabaran Orang Awam

Bab

Dia berkata: Dan yang paling lemah dari kesabaran adalah kesabaran untuk Allah, dan itu adalah kesabaran orang awam. Di atasnya adalah kesabaran dengan Allah, dan itu adalah kesabaran para murid. Di atasnya adalah kesabaran atas (kehendak) Allah, dan itu adalah kesabaran para salik (penempuh jalan spiritual).

Maksud perkataannya adalah bahwa kesabaran orang awam adalah untuk Allah, yaitu mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya. Dan kesabaran para murid adalah dengan Allah, yaitu dengan kekuatan Allah dan pertolongan-Nya. Maka mereka tidak melihat kesabaran untuk diri mereka sendiri, dan tidak ada kekuatan bagi mereka atasnya. Bahkan keadaan mereka adalah merealisasikan “Laa haula walaa quwwata illaa billaah” (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah) dengan ilmu, ma’rifat, dan keadaan.

Dan di atas keduanya adalah kesabaran atas (kehendak) Allah, yaitu atas ketetapan-ketetapan-Nya. Karena pemiliknya menyaksikan Yang Maha Bertindak atasnya. Maka dia bersabar atas ketetapan-ketetapan-Nya yang berjalan padanya, yang mendatangkan kepadanya apa yang didatangkannya dari yang dicintai dan yang dibenci. Maka inilah tingkatan kesabaran para salik.

Dan ketiga golongan ini menurutnya termasuk orang awam, karena mereka masih dalam tingkatan kesabaran. Dan dia telah menyebutkan bahwa kesabaran itu untuk orang awam dan bahwa itu termasuk kedudukan mereka yang paling lemah.

Inilah penjelasan perkataannya.

Dan yang benar adalah bahwa kesabaran untuk Allah itu di atas kesabaran dengan Allah, dan tingkatannya lebih tinggi dan lebih mulia. Karena kesabaran untuk Allah berkaitan dengan uluhiyah-Nya (ketuhanan-Nya). Dan kesabaran dengan-Nya berkaitan dengan rububiyah-Nya (ketuhanan dalam arti pemeliharaan). Dan apa yang berkaitan dengan uluhiyah-Nya lebih sempurna dan lebih tinggi daripada apa yang berkaitan dengan rububiyah-Nya.

Dan karena kesabaran untuk-Nya adalah ibadah, sedangkan kesabaran dengan-Nya adalah meminta pertolongan. Dan ibadah adalah tujuan, sedangkan meminta pertolongan adalah wasilah (perantara). Dan tujuan dikehendaki untuk dirinya sendiri, sedangkan wasilah dikehendaki untuk yang lain.

Karena kesabaran dengan-Nya adalah sesuatu yang bersifat umum antara orang mukmin dan kafir, orang baik dan orang jahat. Setiap orang yang menyaksikan kenyataan kauniyah (hukum alam), maka ia bersabar dengan-Nya.

Adapun kesabaran untuk-Nya: itulah kedudukan para rasul, nabi, orang-orang shiddiq, dan para pemilik tingkatan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (Al-Fatihah: 5).

Karena kesabaran untuk-Nya adalah kesabaran dalam hal yang merupakan hak-Nya, yang dicintai-Nya dan yang diridhai-Nya. Sedangkan kesabaran dengan-Nya: kadang dalam hal tersebut dan kadang dalam hal yang dimurkai-Nya, kadang dalam hal yang dibenci atau dalam hal yang mubah. Maka di manakah kedudukan yang satu ini dengan yang lainnya?

Adapun penamaan kesabaran atas hukum-hukum-Nya sebagai kesabaran kepada-Nya, maka tidak ada masalah dalam ungkapan setelah memahami maknanya. Inilah kesabaran atas takdir-Nya. Sang Syaikh (Abul Qasim Al-Qusyairi) telah meletakkannya di tingkat ketiga, dan Anda telah mengetahui dari penjelasan sebelumnya bahwa kesabaran atas ketaatan kepada-Nya dan kesabaran dari kemaksiatan kepada-Nya lebih sempurna daripada kesabaran atas takdir-Nya – sebagaimana kami sebutkan dalam kesabaran Yusuf alaihissalam. Karena kesabaran dalam dua hal tersebut adalah kesabaran pilihan, pengutamaan dan kecintaan. Sedangkan kesabaran atas hukum-hukum kauniyah-Nya adalah kesabaran karena terpaksa. Dan antara keduanya ada perbedaan yang sudah Anda ketahui.

Demikian pula kesabaran Nuh, Ibrahim, dan Musa alaihimush shalatu wassalam atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah karena pilihan dan perbuatan mereka sendiri, serta perlawanan mereka terhadap kaum mereka, lebih sempurna daripada kesabaran Ayyub atas apa yang menimpa dirinya di jalan Allah dari ujian dan cobaan yang bukan disebabkan oleh perbuatannya.

Demikian pula kesabaran Ismail yang hendak disembelih dan kesabaran ayahnya Ibrahim alaihimassalam dalam melaksanakan perintah Allah lebih sempurna daripada kesabaran Yaqub atas kehilangan Yusuf.

Maka Anda mengetahui dengan ini bahwa kesabaran untuk Allah lebih sempurna daripada kesabaran dengan Allah. Dan kesabaran atas ketaatan kepada-Nya serta kesabaran dari kemaksiatan kepada-Nya lebih sempurna daripada kesabaran atas ketetapan dan takdir-Nya. Dan kepada Allah kami memohon pertolongan, dan kepada-Nya kami berserah diri. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Jika Anda berkata: Kesabaran dengan Allah lebih kuat daripada kesabaran untuk Allah. Karena apa yang dengan Allah, maka ia dengan pertolongan dan kekuatan-Nya. Dan apa yang dengan-Nya, tidak ada yang bisa menandinginya dan tidak ada yang bisa menghadapinya. Dan itu adalah kesabaran para pemilik ahwal (keadaan spiritual) dan pengaruh. Sedangkan kesabaran untuk Allah adalah kesabaran ahli ibadah dan zuhud. Karena itulah mereka – dengan keikhlasan, kezuhudan dan kesabaran mereka untuk Allah – lebih lemah daripada orang-orang yang bersabar dengan-Nya. Maka karena itu beliau berkata: Dan yang paling lemah kesabaran adalah kesabaran untuk Allah.

Dikatakan: Tingkatan itu ada empat.

Pertama: tingkat kesempurnaan, yaitu tingkat ulul azmi (orang-orang yang memiliki keteguhan). Yaitu kesabaran untuk Allah dan dengan Allah. Maka dalam kesabarannya ia mengharapkan wajah Allah, bersabar dengan-Nya, melepaskan diri dari daya dan kekuatannya sendiri. Inilah tingkat yang paling kuat, paling tinggi, dan paling utama.

Kedua: tidak memiliki ini maupun itu. Maka ini adalah tingkat yang paling hina dan paling buruk. Dan ia sangat layak mendapat setiap kehinaan dan setiap perampasan.

Ketiga: tingkat orang yang memiliki kesabaran dengan Allah. Ia meminta pertolongan dan bertawakal kepada pertolongan dan kekuatan-Nya, melepaskan diri dari daya dan kekuatannya sendiri. Tetapi kesabarannya bukan untuk Allah, karena kesabarannya bukan dalam hal yang dikehendaki Allah secara syariat darinya. Maka orang ini mencapai tujuannya dan memperolehnya, namun tidak ada akibat baik baginya. Dan boleh jadi akibatnya adalah seburuk-buruk akibat.

Dalam tingkatan ini terdapat para pelindung orang-orang kafir dan pemilik keadaan-keadaan setan. Karena kesabaran mereka dengan Allah bukan untuk Allah dan tidak di jalan Allah. Mereka memiliki kashf (penyingkapan) dan pengaruh sesuai dengan kekuatan keadaan mereka. Mereka sejenis dengan para raja yang zalim. Karena ahwal (keadaan spiritual) seperti kerajaan yang diberikan kepada orang baik dan jahat, mukmin dan kafir.

Keempat: orang yang memiliki kesabaran untuk Allah, tetapi ia lemah dalam kesabaran dengan-Nya, tawakal kepada-Nya, kepercayaan kepada-Nya, dan ketergantungan kepada-Nya. Maka orang ini memiliki akibat yang terpuji, namun ia lemah, tidak berdaya, dan gagal dalam banyak tujuannya, karena lemahnya bagiannya dari Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (Al-Fatihah: 5). Maka bagiannya dari Allah lebih kuat daripada bagiannya dengan Allah. Inilah keadaan mukmin yang lemah.

Orang yang bersabar dengan Allah tetapi bukan untuk Allah: keadaan orang jahat yang kuat. Orang yang bersabar untuk Allah dan dengan Allah: keadaan mukmin yang kuat. Dan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.

Maka orang yang bersabar untuk Allah dan dengan Allah adalah perkasa dan terpuji. Dan orang yang bukan untuk Allah dan bukan dengan Allah adalah tercela dan terhina. Dan orang yang dengan Allah tetapi bukan untuk Allah adalah berkuasa tetapi tercela. Dan orang yang untuk Allah tetapi bukan dengan Allah adalah lemah tetapi terpuji.

Dengan rincian ini keraguan dalam bab ini akan hilang, dan akan jelas di dalamnya kesalahan dan kebenaran. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

Bab Tingkatan Ridha

Hakikat Ridha

Bab Tingkatan Ridha

Di antara tingkatan-tingkatan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan ridha.

Para ulama telah sepakat bahwa ridha itu disunahkan dengan penekanan kuat. Mereka berbeda pendapat tentang wajibnya atas dua pendapat. Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – menceritakan dua pendapat tersebut atas dua pendapat dari pengikut Ahmad. Dan beliau cenderung kepada pendapat bahwa ridha itu disunahkan.

Beliau berkata: Tidak datang perintah dengannya, sebagaimana datang perintah dengan kesabaran. Yang datang hanyalah pujian terhadap para pemiliknya dan sanjungan kepada mereka.

Beliau berkata: Adapun atsar yang diriwayatkan: Barangsiapa tidak bersabar atas ujian-Ku dan tidak ridha dengan keputusan-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain-Ku, maka ini adalah atsar israiliyat yang tidak shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Aku katakan: Apalagi menurut pandangan orang yang berpendapat bahwa ridha termasuk ahwal (keadaan spiritual) yang bukan dapat diusahakan, melainkan ia adalah pemberian murni. Lalu bagaimana bisa diperintahkan dengannya padahal tidak berada dalam kemampuan seseorang?

Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ahli suluk atas tiga pendekatan.

Orang-orang Khurasan berkata: Ridha termasuk tingkatanat (kedudukan-kedudukan). Dan ia adalah puncak tawakal. Maka berdasarkan ini, seorang hamba dapat mencapainya dengan usahanya.

Orang-orang Irak berkata: Ia termasuk ahwal (keadaan-keadaan). Dan bukan hasil usaha hamba, melainkan ia adalah sesuatu yang turun ke dalam hati seperti ahwal-ahwal lainnya.

Perbedaan antara tingkatanat dan ahwal: tingkatanat menurut mereka adalah hasil usaha, sedangkan ahwal adalah semata-mata pemberian.

Kelompok ketiga memberikan keputusan tengah antara dua kelompok, di antaranya Al-Qusyairi – penulis Ar-Risalah – dan lainnya. Mereka berkata: Dimungkinkan menggabungkan keduanya, dengan mengatakan: Awal ridha dapat diusahakan oleh hamba dan termasuk tingkatanat. Sedangkan puncaknya termasuk ahwal dan bukan hasil usaha. Maka awalnya adalah tingkatan dan puncaknya adalah hal.

Orang yang menjadikannya termasuk tingkatanat berdalil: bahwa Allah memuji para pemiliknya, menyanjung mereka dan menganjurkan kepada mereka kepadanya. Maka hal itu menunjukkan bahwa ia dalam kemampuan mereka.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Telah merasakan lezatnya iman orang yang ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul. Dan beliau bersabda: Barangsiapa mengucapkan ketika mendengar adzan: Aku ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul, maka diampuni dosa-dosanya.

Kedua hadits ini adalah pokok dari tingkatanat agama dan kepadanya berakhir. Keduanya mencakup ridha dengan ketuhanan dan keilahian-Nya Subhanahu, ridha dengan rasul-Nya dan ketundukan kepada beliau, serta ridha dengan agama-Nya dan berserah diri kepada-Nya. Barangsiapa terkumpul padanya keempat hal ini, maka ia adalah shiddiq sejati. Dan keempatnya mudah dengan pengakuan dan lisan, namun termasuk yang paling sulit dalam hakikat dan ujian. Terutama ketika datang sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsu dan keinginannya. Dari situ jelas bahwa ridha hanya ada pada lisannya saja, tidak pada keadaannya.

Ridha dengan keilahian-Nya mencakup ridha dengan mencintai-Nya semata, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, beribadat kepada-Nya, dan tertariknya seluruh daya kehendak dan cinta kepada-Nya. Seperti orang yang ridha dengan kekasihnya dengan sepenuh keridhaan. Dan itu mencakup beribadah kepada-Nya dan ikhlas kepada-Nya.

Ridha dengan ketuhanan-Nya mencakup ridha dengan pengaturan-Nya bagi hamba-Nya, dan mencakup menyendirikan-Nya dengan tawakal kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, mempercayai-Nya, bergantung kepada-Nya, dan bahwa ia ridha dengan semua yang dilakukan-Nya terhadapnya.

Yang pertama mencakup ridhanya dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Yang kedua mencakup ridhanya dengan apa yang ditakdirkan kepadanya.

Adapun ridha dengan nabi-Nya sebagai rasul: mencakup kesempurnaan ketundukan kepada beliau dan penyerahan mutlak kepada beliau, sehingga ia lebih utama baginya daripada dirinya sendiri. Maka tidak menerima petunjuk kecuali dari tempat-tempat kata-kata beliau. Dan tidak berhukum kecuali kepada beliau. Tidak ada yang menghukumi beliau selain beliau, dan tidak ridha dengan hukum selain beliau sama sekali. Tidak dalam sesuatu pun dari nama-nama Tuhan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak dalam sesuatu pun dari rasa hakikat iman dan tingkatan-tingkatannya. Tidak dalam sesuatu pun dari hukum lahir dan batinnya. Tidak ridha dalam hal itu dengan hukum selain beliau. Dan tidak ridha kecuali dengan hukumnya. Jika tidak mampu, maka berhukum kepada selain beliau adalah seperti makanan orang yang terpaksa ketika tidak menemukan apa yang membuatnya hidup kecuali bangkai dan darah. Dan sebaik-baik keadaannya adalah seperti debu yang hanya bertayamum dengannya ketika tidak mampu menggunakan air suci.

Adapun ridha dengan agamanya: jika ia berkata, atau memutuskan, atau memerintah, atau melarang, maka ridha dengan sepenuh keridhaan. Tidak tersisa dalam hatinya keberatan dari hukumnya. Dan berserah diri kepadanya dengan sepenuh penyerahan. Meskipun bertentangan dengan keinginan jiwanya atau hawanya, atau pendapat yang ditaklidnya, syaikhnya dan kelompoknya. Di sinilah semua manusia membuatmu merasa asing kecuali orang-orang yang gharib (asing) di dunia. Maka janganlah kamu merasa asing dari keterasingan dan kesendirian. Karena demi Allah itulah hakikat kemuliaan, persahabatan dengan Allah dan Rasul-Nya, ruh ketenangan dengan-Nya, dan ridha dengan-Nya sebagai Tuhan, dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai rasul, dan dengan Islam sebagai agama.

Bahkan orang yang jujur, setiap kali merasakan sentuhan keterasingan, merasakan manisnya, dan menghirup ruhnya, ia berkata: Ya Allah, tambahkanlah keterasingan bagiku, kesendirian dari dunia, dan ketenangan dengan-Mu. Dan setiap kali merasakan manisnya keterasingan ini dan kesendirian ini, ia melihat kesenangan dengan manusia adalah hakikat kesenangan, kehinaan adalah hakikat kemuliaan dengan mereka, kejahilan adalah hakikat berhenti pada pendapat mereka dan sampah pikiran mereka, dan keterputusan adalah hakikat terikat dengan ritual dan kebiasaan mereka. Maka tidak mengutamakan dengan bagiannya dari Allah seorang pun dari makhluk. Dan tidak menjual keberuntungannya dari Allah dengan menyetujui mereka dalam hal yang tidak menguntungkannya kecuali perampasan. Dan puncaknya adalah persahabatan di antara mereka dalam kehidupan dunia. Ketika sebab-sebab terputus, hakikat-hakikat menjadi nyata, apa yang ada di kubur dibangkitkan, apa yang ada di dada dikumpulkan, rahasia-rahasia diuji, dan tidak menemukan selain Tuhannya Yang Haq dari kekuatan atau penolong: barulah jelas baginya tempat-tempat untung dan rugi, dan apa yang akan meringankan atau memberatkan timbangan. Dan kepada Allah kami memohon pertolongan, dan kepada-Nya kami berserah diri.

Tahqiq dalam masalah ini: bahwa ridha bersifat usaha dari segi sebabnya, dan bersifat pemberian dari segi hakikatnya. Maka dapat dikatakan dengan usaha sebab-sebabnya. Jika ia kokoh dalam sebab-sebabnya dan menanam pohonnya, maka ia akan memetik dari pohon itu buah ridha. Karena ridha adalah akhir tawakal. Maka barangsiapa kokoh kakinya dalam tawakal, penyerahan, dan tafwidh (penyerahan penuh), maka ridha akan didapatkannya tanpa ragu. Tetapi karena kemuliaannya dan karena kebanyakan jiwa tidak meresponnya, dan karena sulitnya bagi mereka, maka Allah tidak mewajibkannya kepada makhluk-Nya sebagai rahmat kepada mereka dan keringanan dari mereka. Namun Dia menganjurkan kepada mereka kepadanya, memuji para pemiliknya, dan mengabarkan bahwa pahalanya adalah ridha-Nya terhadap mereka, yang lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada surga dan apa yang ada di dalamnya. Barangsiapa ridha terhadap Tuhannya, maka Allah ridha terhadapnya. Bahkan ridha hamba terhadap Allah adalah dari hasil ridha Allah terhadapnya. Maka ia dikelilingi oleh dua jenis ridha-Nya terhadap hamba-Nya: ridha sebelumnya yang mewajibkan baginya untuk ridha terhadapnya, dan ridha sesudahnya yang merupakan buah ridhanya terhadapnya. Karena itulah ridha adalah pintu Allah yang paling besar, surga dunia, tempat istirahat orang-orang yang mengenal-Nya, kehidupan orang-orang yang mencintai-Nya, kenikmatan orang-orang yang beribadah, dan penyejuk mata orang-orang yang merindukan-Nya.

Di antara sebab terbesar tercapainya ridha adalah menetapi apa yang Allah jadikan ridha-Nya di dalamnya. Karena hal itu akan mengantarkannya ke tingkatan ridha tanpa ragu.

Dikatakan kepada Yahya bin Muadz: Kapan hamba mencapai tingkatan ridha? Maka ia berkata: Jika ia menetapkan dirinya atas empat prinsip dalam muamalahnya dengan Tuhannya, lalu berkata: Jika Engkau memberiku, aku menerima. Jika Engkau mencegahku, aku ridha. Jika Engkau meninggalkanku, aku beribadah. Dan jika Engkau memanggilku, aku menjawab.

Dan Al-Junaid berkata: Ridha adalah kesempurnaan ilmu yang sampai ke hati. Jika hati bersentuhan dengan hakikat ilmu, maka ia mengantarkannya kepada ridha.

Ridha dan mahabbah tidak seperti raja’ dan khauf. Karena ridha dan mahabbah adalah dua keadaan dari keadaan ahli surga yang tidak meninggalkan orang yang memilikinya di dunia, di barzakh, maupun di akhirat. Berbeda dengan khauf dan raja’. Keduanya akan meninggalkan ahli surga dengan tercapainya apa yang mereka harapkan dan amannya mereka dari apa yang mereka takuti. Meskipun harapan mereka untuk apa yang akan mereka peroleh dari kemuliaan-Nya tetap ada, namun itu bukan harapan yang bercampur dengan keraguan. Melainkan harapan yang yakin dengan janji yang benar dari kekasih yang berkuasa. Maka ini adalah warna tersendiri, sedangkan harapan mereka di dunia adalah warna lain.

Dan Ibnu Atha’ berkata: Ridha adalah ketenangan hati terhadap pilihan Allah yang terdahulu bagi hamba, bahwa Dia memilihkan untuknya yang paling utama. Maka ia ridha dengannya.

Aku katakan: Ini adalah ridha dengan apa yang dari-Nya. Adapun ridha kepada-Nya: lebih tinggi dan lebih utama dari ini. Maka ada perbedaan antara orang yang ridha dengan kekasihnya, dan antara orang yang ridha dengan apa yang diperolehnya dari kekasihnya berupa kesenangan jiwanya. Wallahu a’lam.

Pasal Tentang Syarat Ridha

Pasal

Ridha Tidak Berarti Tidak Merasakan Sakit dan Kesulitan

Dari syarat ridha bukanlah tidak merasakan sakit dan kesulitan. Dari syarat ridha bukanlah tidak merasakan sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan, melainkan tidak menentang terhadap ketentuan dan tidak membencinya. Oleh karena itu, ridha terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan menjadi membingungkan bagi sebagian orang, dan mereka mencela hal tersebut. Mereka berkata: ini mustahil terjadi pada tabiat manusia, yang ada hanyalah kesabaran. Lalu bagaimana mungkin ridha dan kebencian berkumpul? Keduanya adalah dua hal yang bertentangan.

Yang benar adalah: tidak ada pertentangan antara keduanya, dan adanya rasa sakit serta kebencian jiwa terhadapnya tidak bertentangan dengan ridha. Seperti ridhanya orang sakit dengan meminum obat yang pahit, ridhanya orang yang berpuasa di hari yang sangat panas dengan rasa sakit lapar dan haus yang menimpanya, ridhanya mujahid dengan rasa sakit luka yang diperolehnya di jalan Allah, dan lain-lain.

Jalan ridha adalah jalan pintas yang sangat dekat yang mengantarkan kepada tujuan yang mulia. Namun di dalamnya terdapat kesulitan. Meski demikian, kesulitannya tidaklah lebih berat daripada kesulitan jalan mujahadah. Dan tidak ada di dalamnya hambatan dan padang pasir seperti yang ada di jalan tersebut. Adapun hambatannya hanyalah: semangat yang tinggi, jiwa yang suci, dan memantapkan jiwa terhadap segala sesuatu yang datang kepadanya dari Allah.

Yang memudahkan hal itu bagi seorang hamba adalah: pengetahuannya tentang kelemahannya, ketidakmampuannya, rahmat Allah kepadanya, kasih sayang-Nya kepadanya, dan kebaikan-Nya kepadanya. Apabila ia menyaksikan ini dan itu, lalu tidak meletakkan dirinya di hadapan-Nya, tidak ridha kepada-Nya dan dengan-Nya, dan tidak tertarik seluruh pendorong cinta dan ridhanya kepada-Nya, maka jiwanya adalah jiwa yang diusir dari Allah, jauh dari-Nya, tidak layak untuk dekat dengan-Nya dan mendapat perlindungan-Nya, atau jiwa yang diuji dan didera dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Jalan ridha dan cinta mengantarkan seorang hamba berjalan dalam keadaan berbaring di tempat tidurnya, lalu ia bangun di pagi hari telah mendahului rombongan dengan jarak yang jauh.

Buah dari ridha adalah: kegembiraan dan kebahagiaan dengan Rabb Tabaraka wa Ta’ala.

Saya melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – dalam mimpi, seolah-olah saya menyebutkan kepadanya sesuatu tentang amalan-amalan hati dan saya mulai mengagungkannya serta manfaatnya – saya tidak mengingatnya sekarang – lalu ia berkata: Adapun saya, maka jalanku adalah: kegembiraan dengan Allah, dan kebahagiaan dengan-Nya, atau ungkapan yang serupa dengan ini.

Demikianlah keadaannya semasa hidup. Hal itu tampak jelas pada lahiriahnya dan keadaannya menunjukkan hal tersebut. Namun Al-Wasithi telah berkata: Gunakanlah ridha dengan sekuat tenagamu. Dan jangan biarkan ridha menggunakanmu, sehingga engkau terhalangi oleh kenikmatan dan penglihatanmu terhadapnya dari hakikat apa yang engkau lihat.

Hal yang ditunjukkan oleh Al-Wasithi ini adalah hambatan besar menurut kaum sufi dan pemutus bagi mereka. Karena menetap dengan berbagai keadaan, merasa tenang dengannya, dan berhenti padanya karena mencari kenikmatan dan cinta adalah hijab antara mereka dengan Rabb mereka, dengan bagian-bagian mereka dari memperhatikan hak-hak kekasih dan sesembahan mereka. Ini adalah hambatan yang tidak dapat dilalui kecuali oleh para pemilik tekad yang kuat.

Al-Wasithi banyak memperingatkan dari hambatan ini dan sangat memberi perhatian terhadapnya.

Di antara ucapannya: Hati-hatilah kalian terhadap menganggap manis ketaatan. Karena sesungguhnya hal itu adalah racun yang mematikan.

Inilah makna ucapannya: Gunakanlah ridha dengan sekuat tenagamu dan jangan biarkan ridha menggunakanmu, artinya janganlah amalmu dilakukan untuk mendapatkan manisnya ridha, sehingga hal itulah yang mendorongmu melakukannya. Tetapi jadikanlah ridha sebagai alat bagimu dan sebab yang mengantarkan kepada tujuan dan yang engkau inginkan. Maka engkau yang menggunakannya, bukan ia yang menggunakanmu.

Hal ini tidak khusus untuk ridha saja, bahkan berlaku umum untuk semua keadaan dan kedudukan hati yang membuat hati merasa tenang kepadanya, sehingga seseorang juga tidak boleh beramal atas cinta karena cinta itu sendiri dan karena kenikmatan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang ada padanya. Tetapi ia menggunakan cinta dalam mencari keridhaan yang dicintai, tidak berhenti padanya. Maka ini termasuk cacat cinta. Dzun Nun berkata: Tiga dari tanda-tanda ridha: meninggalkan pilihan sebelum takdir, kehilangan kepahitan setelah takdir, dan bergolaknya cinta di tengah ujian.

Dikatakan kepada Husain bin Ali semoga Allah meridhai keduanya: Sesungguhnya Abu Dzar semoga Allah meridhainya berkata: Kefakiran lebih aku cintai daripada kekayaan, dan sakit lebih aku cintai daripada kesehatan. Maka ia berkata: Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Adapun saya, maka saya berkata: Barangsiapa bertawakkal pada baiknya pilihan Allah untuknya, niscaya ia tidak menginginkan selain apa yang telah Allah pilihkan untuknya.

Fudhail bin Iyadh berkata kepada Bisyr Al-Hafi: Ridha lebih utama daripada zuhud terhadap dunia. Karena orang yang ridha tidak menginginkan di atas kedudukannya.

Abu Utsman ditanya tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Aku memohon kepada-Mu ridha setelah takdir. Maka ia berkata: Karena ridha sebelum takdir adalah tekad untuk ridha, sedangkan ridha setelah takdir itulah ridha yang sebenarnya.

Dikatakan: Ridha adalah hilangnya panik dalam ketentuan apa pun.

Dikatakan: meninggalkan pilihan. Dikatakan: menyambut berbagai ketentuan dengan kegembiraan.

Dikatakan: tenangnya hati di bawah berbagai ketentuan yang berlaku.

Dikatakan: pandangan hati terhadap pilihan Allah yang dahulu untuk hamba. Dan ia adalah meninggalkan kemurkaan.

Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa semoga Allah meridhai keduanya: Amma ba’du, sesungguhnya kebaikan seluruhnya ada dalam ridha. Jika engkau mampu ridha maka ridhailah, jika tidak maka bersabarlah.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Manusia adalah tembikar. Dan tembikar tidak memiliki nilai yang bisa menentang ketentuan Allah Ta’ala.

Abu Utsman Al-Hairi berkata: Sejak empat puluh tahun yang lalu, Allah tidak menempatkan aku dalam suatu keadaan lalu aku membencinya, dan tidak memindahkan aku ke keadaan lain lalu aku memurkakannya.

Ridha ada tiga bagian: ridha orang awam dengan apa yang Allah bagi dan berikan, ridha orang khusus dengan apa yang Dia takdirkan dan tetapkan, dan ridha khusus dari orang khusus dengan-Nya sebagai pengganti dari semua selain-Nya.

Pasal Masuk dalam Ridha adalah Syarat Kembalinya Jiwa kepada Rabb-nya

Pasal

Penulis kitab Manazil berkata:

Allah Ta’ala berfirman: Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Surat Al-Fajr: 27-30). Dia tidak meninggalkan jalan dalam ayat ini bagi orang yang murka kepada-Nya. Dan Dia mensyaratkan bagi orang yang menuju kedatangan dalam ridha. Ridha adalah nama dari pemberhentian yang benar, di mana pun hamba berhenti. Ia tidak mencari maju dan tidak mundur, tidak meminta tambahan, dan tidak mengganti keadaan. Dan ia termasuk awal-awal jalan ahli kekhususan dan paling berat bagi orang awam.

Adapun ucapannya: Dia tidak meninggalkan jalan dalam ayat ini bagi orang yang murka kepada-Nya, karena Allah mengaitkan kembalinya jiwa kepada-Nya Subhanahu dengan suatu keadaan, yaitu sifat ridha. Maka tidak ada jalan untuk kembali kepada-Nya dengan hilangnya sifat tersebut darinya. Ini serupa dengan firman-Nya Ta’ala: Yaitu orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata: “Salam sejahtera atasmu, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (Surat An-Nahl: 32). Maka Dia hanya mewajibkan bagi mereka salam dari para malaikat dan kabar gembira ini dengan syarat, yaitu wafat mereka dalam keadaan baik. Maka ayat tersebut tidak meninggalkan jalan bagi selain orang yang baik untuk mendapat kabar gembira ini.

Kesimpulannya: bahwa masuk dalam ridha adalah syarat kembalinya jiwa kepada Rabb-nya. Maka ia tidak kembali kepada-Nya kecuali jika ia dalam keadaan ridha.

Saya berkata: Ini adalah penggalian makna isyarat ayat, bukan makna yang dimaksud darinya. Karena yang dimaksud darinya adalah: ridhanya dengan apa yang ia peroleh dari kemuliaan-Nya dan dengan apa yang ia raih darinya ketika kembali kepada-Nya. Maka terwujudlah ridhanya dan ridha terhadapnya. Dan ini dikatakan kepadanya ketika ia keluar dari dunia dan kedatangannya kepada Allah.

Abdullah bin Amru semoga Allah meridhai keduanya berkata: Apabila hamba mukmin diwafatkan, Allah mengutus dua malaikat kepadanya dan mengutus kepadanya hadiah dari surga. Lalu dikatakan: Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ketenangan dan aroma harum, dan Rabb yang ridha kepadamu.

Tentang waktu perkataan ini ada tiga pendapat dari para salaf:

Pertama: bahwa itu ketika kematian. Dan ini yang paling masyhur. Al-Hasan berkata: Apabila Allah hendak mencabutnya, maka ia menjadi tenang kepada Rabb-nya dan ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya.

Yang lain berkata: sesungguhnya itu dikatakan kepadanya ketika hari kebangkitan. Ini pendapat Ikrimah, Atha’, Ad-Dhahhak, dan sekelompok ulama.

Yang lain berkata: Kalimat pertama yaitu kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas dan diridhai (Surat Al-Fajr: 28) dikatakan kepadanya ketika kematian. Sedangkan kalimat kedua yaitu maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Surat Al-Fajr: 29-30) dikatakan kepadanya pada hari kiamat. Abu Shalih berkata: kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas dan diridhai (Surat Al-Fajr: 28) ini ketika keluarnya dari dunia. Apabila hari kiamat tiba, dikatakan kepadanya maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Surat Al-Fajr: 29-30).

Yang benar: bahwa perkataan ini dikatakan kepadanya ketika keluar dari dunia dan pada hari kiamat. Karena awal kebangkitannya adalah ketika berpisahnya dari dunia, dan ketika itu ia berada di Ar-Rafiqul A’la jika ia tenang kepada Allah dan berada di surga-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang sahih. Apabila hari kiamat tiba, dikatakan kepadanya demikian. Dan ketika itu maka sempurnalah kembalinya kepada Allah dan masuk surga.

Maka awalnya ketika kematian, dan kesempurnaan serta akhirnya pada hari kiamat. Jadi tidak ada perbedaan dalam hakikatnya.

Namun Syaikh mengambil dari isyarat ayat: bahwa kembalinya jiwa kepada Allah dari makhluk di dunia ini hanya terwujud dengan ridhanya. Tetapi seandainya ia beristidlal dengan ayat tersebut pada tingkatan ketenteraman, tentu lebih utama. Karena kembali ini yang terwujud padanya ridhanya dan ridha terhadapnya: hanya ia raih dengan ketenteraman. Dan inilah bagian usaha dari ayat ini dan tempat perhatian terhadap kedudukan ketenteraman dan apa yang diraih oleh pemiliknya. Mari kita kembali kepada penjelasan ucapannya.

Ucapannya: Ridha adalah pemberhentian yang benar. Yang ia maksudkan adalah berhenti bersama kehendak Rabb Tabaraka wa Ta’ala yang bersifat syariat secara hakiki, tanpa ragu-ragu dalam hal itu dan tanpa penentangan. Inilah yang dituju oleh kaum sufi yang terdahulu. Yaitu pemberhentian yang benar bersama yang dicintai Rabb Ta’ala, tanpa dicampuri keragu-raguan dan tidak disaingi oleh kehendak.

Ucapannya: di mana pun hamba berhenti. Boleh jadi hamba sebagai fa’il (pelaku). Artinya: di mana pun ia berhenti dengan izin Rabb-nya, ia tidak mencari maju dan tidak mundur. Boleh juga sebagai maf’ul (objek), dan ini lebih jelas. Artinya: di mana pun Allah memberhentikan hamba – karena kata waqafa digunakan secara lazim dan muta’addi – artinya di mana pun Rabb-nya memberhentikannya. Ia tidak mencari maju dan tidak mundur. Ini hanya berlaku untuk apa yang Allah berhentikan padanya dari kehendak takdiri-Nya yang tidak terkait dengan perintah dan larangan. Adapun jika Allah memberhentikannya dalam kehendak syariat, maka kesempurnaannya adalah dengan mencari kemajuan di dalamnya selamanya. Karena jika tekadnya tidak menuju kemajuan kepada Allah setiap saat, maka ia akan mundur tanpa ia sadari. Maka tidak ada pemberhentian dalam jalan sama sekali. Namun jika ia berhenti dalam suatu tingkatan – dari kaya dan miskin, istirahat dan lelah, sehat dan sakit, menetap dan meninggalkan kampung halaman – ia berhenti di mana Allah memberhentikannya. Ia tidak mencari keadaan lain selain keadaan yang Allah tempatkan ia padanya. Dan ini untuk membenarkan ridhanya dengan pilihan Allah untuknya dan fananya dengan-Nya dari pilihannya untuk dirinya sendiri.

Demikian pula ucapannya: tidak meminta tambahan dan tidak mengganti keadaan.

Makna yang disebutkan Syaikh ini adalah salah satu bentuk dari ridha, yaitu ridha dengan pembagian dan ketentuan-ketentuan takdiri yang tidak diperintahkan untuk menolaknya.

Dan ucapannya: “Dan ini termasuk permulaan jalan-jalan ahli khushush (orang-orang khusus)” maksudnya bahwa suluk (perjalanan spiritual) ahli khushush adalah dengan keluar dari hawa nafsu, dan keluar dari kehendak pribadi adalah permulaan keluar dari hawa nafsu. Maka ridha—dengan pertimbangan ini—termasuk permulaan jalan-jalan orang-orang khusus.

Dan ini menurut prinsipnya dalam hal fana’ (lenyapnya kesadaran diri) sebagai tujuan yang diinginkan di atas ridha.

Sedangkan yang benar adalah: bahwa ridha lebih mulia dan lebih tinggi daripadanya. Dan ia adalah tujuan akhir bukan permulaan.

Ya, di atasnya ada tingkatan syukur, maka ia adalah kedudukan antara tingkatan syukur dan tingkatan sabar.

Dan ucapannya: “Dan yang paling berat bagi orang awam” hal itu karena beratnya meninggalkan keinginan-keinginan bagi orang awam, sedangkan ridha yang pertama di dalamnya adalah meninggalkan keinginan-keinginan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

Pasal tentang Tingkatan-Tingkatan Ridha

Tingkatan Pertama: Ridha Orang Awam

Pasal tentang Tingkatan-Tingkatan Ridha

Ia berkata: Dan ridha itu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ridha orang awam. Yaitu ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), dan murka terhadap penghambaan kepada selain-Nya, dan ini adalah poros roda Islam. Dan ia menyucikan dari syirik besar.

Ridha kepada Allah sebagai Rabb: yaitu tidak mengambil rabb (tuhan) selain Allah Ta’ala yang ia tenang dengan pengaturan-Nya, dan menyerahkan hajat-hajatnya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Rabb (Tuhan) selain Allah, padahal Dia adalah Rabb segala sesuatu'” (Surah Al-An’am: 164). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: penguasa dan tuhan yang disembah. Maksudnya: bagaimana aku mencari rabb selain-Nya, sedangkan Dia adalah Rabb segala sesuatu? Dan Dia berfirman di awal surah: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mengambil pelindung selain Allah yang menciptakan langit dan bumi'” (Surah Al-An’am: 14) maksudnya sesembahan, penolong, pemberi pertolongan, dan tempat berlindung. Dan ini termasuk perwalian yang mencakup kecintaan dan ketaatan. Dan Dia berfirman di tengahnya: “Apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) yang dijelaskan” (Surah Al-An’am: 114) artinya: apakah aku akan mencari selain Allah yang memutuskan antara aku dan kalian, sehingga kita berhukum kepadanya dalam apa yang kita perselisihkan di dalamnya? Dan ini adalah kitab-Nya yang merupakan penguasa para hakim, maka bagaimana kita berhukum kepada selain kitab-Nya? Padahal Dia telah menurunkannya dengan terperinci, jelas, cukup, dan menyembuhkan.

Dan apabila engkau merenungkan ketiga ayat ini dengan sebenar-benar perenungan, engkau akan melihatnya adalah hakikat ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul, dan engkau akan melihat hadits menerjemahkannya dan diambil darinya. Maka banyak dari manusia yang ridha kepada Allah sebagai Rabb dan tidak mencari rabb selain-Nya, namun ia tidak ridha kepada-Nya semata sebagai wali dan penolong. Bahkan ia menjadikan selain-Nya sebagai wali-wali dengan mengira bahwa mereka mendekatkannya kepada Allah, dan bahwa menjadikan mereka sebagai wali seperti menjadikan orang-orang khusus raja sebagai wali. Dan ini adalah hakikat syirik. Bahkan tauhid adalah: tidak mengambil selain-Nya sebagai wali-wali. Dan Al-Quran penuh dengan deskripsi orang-orang musyrik bahwa mereka mengambil selain-Nya sebagai wali-wali.

Dan ini berbeda dengan menjadikan para nabi-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman sebagai wali untuk-Nya. Karena ini termasuk kesempurnaan iman dan kesempurnaan perwalian kepada-Nya. Maka menjadikan wali-wali-Nya sebagai wali adalah satu warna, dan mengambil wali selain-Nya adalah warna lain. Dan barangsiapa tidak memahami pembeda antara keduanya, maka hendaklah ia mencari tauhid dari dasarnya. Karena masalah ini adalah pokok tauhid dan dasarnya.

Dan banyak dari manusia yang mencari selain-Nya sebagai hakim, berhukum kepadanya, bersengketa kepadanya, dan ridha dengan hukumnya. Dan ketiga tingkatan ini adalah rukun-rukun tauhid: tidak mengambil selain-Nya sebagai rabb, tidak sebagai tuhan yang disembah, dan tidak selain-Nya sebagai hakim.

Dan tafsir ridha kepada Allah sebagai Rabb adalah: murka terhadap penghambaan kepada selain-Nya. Inilah ridha kepada Allah sebagai Rabb. Dan ini termasuk kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Maka barangsiapa diberi ridha kepada-Nya sebagai Rabb dengan haknya, pasti murka terhadap penghambaan kepada selain-Nya. Karena ridha dengan penunggalan ketuhanan-Nya mengharuskan penunggalan peribadatan kepada-Nya, sebagaimana ilmu tentang tauhid rububiyyah mengharuskan ilmu tentang tauhid uluhiyyah.

Dan ucapannya: “Dan ini adalah poros roda Islam” maksudnya bahwa perputaran roda Islam adalah pada ridha hamba dengan beribadah kepada Rabb-nya semata, dan murka terhadap ibadah kepada selain-Nya. Dan telah disebutkan bahwa ibadah adalah kecintaan bersama kehinaan. Maka setiap orang yang engkau tunduk kepadanya, mentaatinya, dan mencintainya selain Allah, maka engkau adalah penyembahnya.

Dan ucapannya: “Dan ia menyucikan dari syirik besar” maksudnya bahwa syirik itu dua jenis: besar dan kecil, maka ridha ini menyucikan pemiliknya dari yang besar. Adapun yang kecil, maka yang menyucikan darinya adalah turunnya ke tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5).

Pasal

Ia berkata: Dan ia (ridha itu) sah dengan tiga syarat: bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah yang paling dicintai oleh hamba dari segala sesuatu, yang paling berhak atas pengagungan dari segala sesuatu, dan yang paling berhak atas ketaatan dari segala sesuatu.

Maksudnya bahwa jenis ridha ini hanya sah dengan tiga hal juga. Pertama: bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah yang paling dicintai oleh hamba. Dan ini diketahui dengan tiga hal juga.

Pertama: bahwa kecintaan kepada-Nya mendahului ke hati dari setiap kecintaan. Maka kecintaan kepada-Nya mendahului semua yang dicintai.

Kedua: bahwa kecintaan kepada-Nya mengalahkan setiap kecintaan. Maka kecintaan kepada-Nya ke hati adalah mendahului dan mengalahkan, sedangkan kecintaan kepada selain-Nya tertinggal, dikalahkan, ditundukkan, dan terlipat dalam kecintaan kepada-Nya.

Ketiga: bahwa kecintaan kepada selain-Nya adalah mengikuti kecintaan kepada-Nya. Maka Dialah yang dicintai dengan sendirinya dan dengan maksud pertama. Dan selain-Nya dicintai karena mengikuti kecintaan kepada-Nya. Sebagaimana ditaati karena mengikuti ketaatan kepada-Nya. Maka Dia dalam hakikatnya adalah yang ditaati dan yang dicintai.

Dan ketiga hal ini juga ada dalam Dia sebagai yang paling berhak atas pengagungan dan ketaatan.

Maka kesimpulannya adalah: bahwa Allah semata adalah yang dicintai, yang diagungkan, dan yang ditaati. Maka barangsiapa tidak mencintai-Nya, tidak mentaati-Nya, dan tidak mengagungkan-Nya, maka ia adalah orang yang sombong kepada-Nya. Dan apabila ia mencintai bersama-Nya selain-Nya, mengagungkan bersama-Nya selain-Nya, dan mentaati bersama-Nya selain-Nya, maka ia adalah musyrik. Dan apabila ia mengkhususkan-Nya semata dengan kecintaan, pengagungan, dan ketaatan, maka ia adalah hamba yang bertauhid. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kedua: Ridha terhadap Allah

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua: ridha terhadap Allah. Dan dengan ini berbicara ayat-ayat Al-Quran. Dan ini adalah ridha terhadap-Nya dalam semua yang Dia tetapkan dan takdirkan. Dan ini termasuk permulaan jalan-jalan ahli khushush.

Syaikh menjadikan tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya.

Dan penjelasan ucapannya: bahwa seseorang tidak masuk ke dalam Islam kecuali dengan tingkatan pertama. Maka apabila telapak kakinya sudah mantap di atasnya, ia masuk ke dalam tingkatan Islam.

Adapun tingkatan ini: maka termasuk mu’amalat (interaksi) hati. Dan ia untuk ahli khushush. Dan ia adalah ridha terhadap-Nya dalam hukum-hukum-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya.

Dan hanya menjadi permulaan jalan ahli khushush karena ia adalah pendahuluan untuk keluar dari hawa nafsu, yang merupakan jalan ahli khushush, maka pendahuluannya adalah awal perjalanan mereka. Karena ia mencakup keluarnya hamba dari keinginan-keinginannya, dan berdirinya dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla, bukan dengan kehendak nafsunya.

Inilah penegasan ucapannya. Dan dalam menjadikannya tingkatan ini lebih tinggi dari sebelumnya ada perdebatan yang tidak tersembunyi, dan ia seperti menjadikannya sabar dengan Allah lebih tinggi dari sabar karena Allah.

Dan yang sepatutnya: bahwa tingkatan pertama lebih tinggi kedudukannya dan lebih mulia tingkatannya. Karena ia khusus sedangkan tingkatan ini umum. Karena ridha dengan takdir sah dari mukmin dan kafir. Dan puncaknya adalah berserah diri kepada takdir dan qadar Allah. Maka di manakah ini dari ridha kepada-Nya sebagai Rabb, Tuhan yang disembah, dan yang diibadahi?

Dan juga ridha kepada-Nya sebagai Rabb adalah fardhu (wajib). Bahkan ia termasuk yang paling ditekankan dari kewajiban-kewajiban menurut kesepakatan umat. Maka barangsiapa tidak ridha kepada-Nya sebagai Rabb, tidak sah baginya Islam, tidak amal, dan tidak keadaan.

Adapun ridha dengan takdir-Nya: maka kebanyakan manusia berpendapat bahwa ia mustahab (dianjurkan). Dan bukan wajib. Dan ada yang mengatakan: bahkan ia wajib, dan ini dua pendapat dalam madzhab Ahmad.

Maka perbedaan antara dua tingkatan adalah perbedaan antara fardhu dan nadb (anjuran). Dan dalam hadits Ilahi yang shahih: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai selain menunaikan apa yang Aku wajibkan atasnya” maka ini menunjukkan bahwa mendekatkan diri kepada-Nya Subhanahu dengan menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya lebih utama dan lebih tinggi dari mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan sunnah.

Dan juga: bahwa ridha kepada-Nya sebagai Rabb mencakup ridha terhadap-Nya, dan mengharuskannya. Karena ridha dengan ketuhanan-Nya adalah ridha hamba dengan apa yang Dia perintahkan dan larang kepadanya, dan yang Dia bagikan dan takdirkan atasnya, dan yang Dia berikan kepadanya, dan yang Dia cegah darinya. Maka apabila ia tidak ridha dengan semua itu, ia belum ridha kepada-Nya sebagai Rabb dari semua sisi. Walaupun ia ridha kepada-Nya sebagai Rabb dari sebagian sisi. Maka ridha kepada-Nya sebagai Rabb dari setiap sisi mengharuskan ridha terhadap-Nya, dan mencakupnya tanpa keraguan.

Dan juga: bahwa ridha kepada-Nya sebagai Rabb berhubungan dengan Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, dan ketuhanan-Nya yang umum dan khusus, maka ia adalah ridha kepada-Nya sebagai pencipta dan pengatur, yang memerintah dan melarang, penguasa, pemberi dan pencegah, hakim, wakil dan wali, penolong dan pemberi pertolongan, yang mencukupi dan penghitung dan pengawas, yang menguji dan yang menyembuhkan, yang menyempitkan dan melapangkan, hingga yang lain dari sifat-sifat ketuhanan-Nya.

Adapun ridha terhadap-Nya: maka ia adalah ridha hamba dengan apa yang Dia perbuat kepadanya, dan apa yang Dia berikan kepadanya, dan karena itu tidak datang kecuali dalam pahala dan balasan. Seperti firman-Nya Ta’ala: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha dan diridhai” (Surah Al-Fajr: 27-28) maka ini karena ridhanya terhadap-Nya dengan apa yang diperolehnya dari kemuliaan-Nya. Seperti firman-Nya Ta’ala: “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha terhadap-Nya. Yang demikian itu bagi orang yang takut kepada Rabbnya” (Surah Al-Bayyinah: 8).

Dan ridha kepada-Nya adalah asal dari ridha terhadap-Nya, dan ridha terhadap-Nya adalah buah dari ridha kepada-Nya.

Dan rahasia masalah ini: bahwa ridha kepada-Nya berhubungan dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan ridha terhadap-Nya berhubungan dengan pahala dan balasan-Nya. Dan juga: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan merasakan rasa iman dengan orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb. Dan tidak mengaitkannya dengan orang yang ridha terhadap-Nya, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merasakan rasa iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul.” Maka beliau menjadikan ridha kepada-Nya sebagai pasangan ridha kepada agama-Nya dan nabi-Nya. Dan ketiga ini adalah pokok-pokok Islam, yang tidak berdiri kecuali dengannya dan di atasnya.

Dan juga: bahwa ridha kepada-Nya sebagai Rabb mencakup mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya, kembali kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mencintai-Nya, sabar karena-Nya dan dengan-Nya, dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, ia mencakup melihat semua yang dari-Nya adalah nikmat dan kebaikan, walaupun buruk bagi hamba-Nya. Maka ridha kepada-Nya mencakup persaksian bahwa tidak ada tuhan yang disembah selain Allah, dan ridha kepada Muhammad sebagai Rasul mencakup persaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan ridha kepada Islam sebagai agama mencakup komitmen penghambaan kepada-Nya, dan ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Maka ketiga ini mengumpulkan agama seluruhnya.

Dan juga: bahwa ridha kepada-Nya sebagai Rabb mencakup menjadikan-Nya sebagai yang disembah selain yang lain. Dan menjadikan-Nya sebagai wali dan yang disembah, dan membatalkan ibadah kepada semua selain-Nya. Dan Allah Ta’ala telah berfirman kepada Rasul-Nya: “Apakah aku akan mencari hakim selain Allah” (Surah Al-An’am: 114) dan berfirman: “Apakah aku akan mengambil pelindung selain Allah” (Surah Al-An’am: 14) dan berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb segala sesuatu'” (Surah Al-An’am: 164). Maka inilah hakikat ridha kepada-Nya sebagai Rabb.

Dan juga: bahwa ia menjadikan hakikat ridha kepada-Nya sebagai Rabb adalah: murka terhadap penghambaan kepada selain-Nya. Maka apabila hamba murka terhadap penghambaan kepada selain Allah dari tuhan-tuhan batil, kecintaan, ketakutan, harapan, pengagungan, dan penghormatan—maka ia telah merealisasikan ridha kepada-Nya sebagai Rabb, yang adalah poros roda Islam.

Dan hanya menjadi poros roda agama karena semua keyakinan, amal, dan keadaan hanya dibangun di atas tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah, dan murka terhadap ibadah kepada selain-Nya. Maka barangsiapa tidak memiliki poros ini, tidak ada baginya roda yang berputar padanya. Dan barangsiapa memperoleh poros ini, maka roda tetap baginya dan berputar pada poros itu. Maka ia keluar pada saat itu dari lingkaran syirik ke lingkaran Islam. Maka roda Islam dan imannya berputar pada porosnya yang tetap dan melekat.

Dan juga: bahwa ia menjadikan tercapainya tingkatan ridha ini tergantung pada kenyataan bahwa yang diridhai sebagai Rabb—Subhanahu—adalah yang paling dicintai oleh hamba dari segala sesuatu, dan yang paling berhak atas pengagungan dari segala sesuatu, dan yang paling berhak atas ketaatan dari segala sesuatu, dan diketahui bahwa ini mengumpulkan kaidah-kaidah penghambaan, dan menata cabang-cabang dan ranting-rantingnya.

Dan karena kecintaan yang sempurna adalah kecenderungan hati dengan sepenuhnya kepada yang dicintai, maka kecenderungan itu membawa kepada ketaatan dan pengagungan terhadapnya. Dan semakin kuat kecenderungan itu, semakin sempurna ketaatannya dan semakin besar pengagungannya. Kecenderungan ini menyertai iman, bahkan ia adalah ruh iman dan intinya. Maka perkara apa yang lebih tinggi daripada perkara yang mengandung bahwa Allah Mahasuci adalah sesuatu yang paling dicintai oleh hamba, dan paling utama untuk diagungkan, dan paling berhak untuk ditaati?

Dan dengan ini, hamba mendapatkan manisnya iman. Sebagaimana dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa yang memilikinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman: orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, orang yang mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan orang yang membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.”

Maka beliau mengaitkan merasakan iman dengan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Dan beliau mengaitkan menemukan manisnya iman dengan apa yang bergantung kepadanya dan tidak sempurna kecuali dengannya, yaitu bahwa Allah Mahasuci adalah sesuatu yang paling dicintai oleh hamba, Dia dan Rasul-Nya.

Dan karena kecintaan yang sempurna ini dan keikhlasan yang merupakan buahnya lebih tinggi daripada sekadar ridha terhadap rububiyah (ketuhanan)-Nya Mahasuci, maka buahnya lebih tinggi, yaitu menemukan manisnya iman. Sedangkan buah dari ridha adalah merasakan rasa iman. Yang ini menemukan manisnya, dan yang itu merasakan rasanya. Dan Allah-lah yang dimintai pertolongan.

Dan sesungguhnya ini dan itu tertata berdasarkan ridha kepada-Nya semata sebagai Rabb, dan berlepas diri dari penghambaan kepada selain-Nya, dan kecenderungan hati dengan sepenuhnya kepada-Nya, dan tertariknya seluruh daya kekuatan orang yang mencintai kepada-Nya. Dan ridha-Nya terhadap Rabb-nya mengikuti ridha ini kepada-Nya. Maka barangsiapa ridha kepada Allah sebagai Rabb, Allah meridhainya sebagai hamba. Dan barangsiapa ridha kepada-Nya dalam pemberian-Nya, pencegahan-Nya, ujian-Nya, dan kesehatan-Nya, maka ia tidak mencapai tingkatan ridha Rabb terhadapnya jika ia tidak ridha kepada-Nya sebagai Rabb, kepada Nabi-Nya sebagai Rasul, dan kepada Islam sebagai agama. Karena sesungguhnya hamba mungkin ridha kepada Allah Rabb-nya dalam apa yang Dia berikan kepadanya dan dalam apa yang Dia cegah darinya, tetapi ia tidak ridha kepada-Nya semata sebagai yang disembah dan sebagai Ilah. Oleh karena itu, Nabi hanya menjamin ridha hamba pada hari kiamat bagi orang yang ridha kepada-Nya sebagai Rabb. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan setiap hari: Saya ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad sebagai Nabi, maka wajib bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.”

Pasal (Bab)

Jika telah diketahui hal ini, maka marilah kita kembali kepada penjelasan kalimatnya. Beliau berkata: Dan dengan ridha ini Alquran berbicara.

Beliau mengisyaratkan kepada firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Allah berfirman: Ini adalah hari ketika orang-orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (Surah Al-Maidah: 119). Dan Allah berfirman di akhir Surah Al-Mujadilah: “Dan Dia memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (Surah Al-Mujadilah: 22). Dan di akhir Surah Lam Yakun (Al-Bayyinah): “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Surah Al-Bayyinah: 8).

Maka ayat-ayat ini mencakup: balasan mereka atas kejujuran, iman, amal-amal shalih mereka, jihad melawan musuh-musuh-Nya, dan tidak menolong mereka (musuh-musuh Allah), dengan bahwa Allah ridha terhadap mereka. Maka Dia meridhai mereka. Lalu mereka ridha terhadap-Nya. Dan sesungguhnya mereka memperoleh ini setelah ridha kepada-Nya sebagai Rabb, kepada Muhammad sebagai Nabi, dan kepada Islam sebagai agama.

Perkataan beliau: Dan ia adalah ridha terhadap-Nya dalam segala yang Dia tetapkan.

Di sini ada tiga perkara: Ridha kepada Allah (ar-ridha billah), ridha terhadap Allah (ar-ridha ‘anillah), dan ridha terhadap takdir Allah (ar-ridha bi qadha’illah).

Adapun ridha kepada-Nya adalah wajib. Sedangkan ridha terhadap-Nya, meskipun termasuk perkara yang paling agung dan jenis penghambaan yang paling mulia, namun tidak dituntut dari semua orang, karena ketidakmampuan mereka dan beratnya bagi mereka. Sekelompok ulama mewajibkannya sebagaimana mereka mewajibkan ridha kepada-Nya, dan mereka berdalil dengan beberapa dalil.

Di antaranya: Bahwa jika seseorang tidak ridha terhadap Rabb-nya maka ia murka kepada-Nya, karena tidak ada pertengahan antara ridha dan murka. Dan murkanya hamba kepada Rabb-nya bertentangan dengan ridha-nya kepada-Nya sebagai Rabb.

Mereka berkata: Dan juga ketidakridhaannya terhadap-Nya mengharuskan buruk sangkanya kepada-Nya, dan perselisihannya dengan-Nya dalam pilihan-Nya untuk hamba-Nya, dan bahwa Rabb Tabaraka wa Ta’ala memilih sesuatu dan meridhainya tetapi hamba tidak memilihnya dan tidak meridhainya, dan ini bertentangan dengan penghambaan.

Mereka berkata: Dan dalam sebagian atsar ilahi (disebutkan): Barangsiapa yang tidak ridha dengan takdir-Ku dan tidak sabar terhadap ujian-Ku, maka hendaklah ia mengambil Rabb selain-Ku. Dan tidak ada dalil dalam semua itu.

Adapun perkataan mereka: Bahwa ia tidak lepas dari murka kepada Rabb-nya kecuali dengan ridha terhadap-Nya, karena tidak ada pertengahan antara ridha dan murka, adalah perkataan yang cacat. Karena murka terhadap yang ditakdirkan tidak mengharuskan murka kepada Dzat yang menakdirkannya, sebagaimana benci terhadap yang ditakdirkan, membencinya, dan menjauh darinya tidak mengharuskan kaitannya dengan Dzat yang menakdirkan dan menentukannya. Maka yang ditakdirkan mungkin dimurkai oleh hamba sementara ia ridha terhadap Dzat yang menakdirkan dan menentukannya. Bahkan mungkin berkumpul murkanya terhadap yang ditakdirkan dengan ridha terhadap takdir itu sendiri, sebagaimana akan dijelaskan insya Allah.

Adapun perkataan kalian bahwa itu mengharuskan buruk sangka hamba kepada Rabb-nya dan perselisihannya dengan-Nya dalam pilihan-Nya, maka tidak demikian. Bahkan ia tetap baik sangka kepada Rabb-nya dalam kedua keadaan. Karena sesungguhnya ia hanya murka terhadap yang ditakdirkan dan menentangnya dengan takdir yang lain, sebagaimana ia menentang takdir yang dibenci oleh Rabb-nya dengan takdir yang dicintai dan diridhai-Nya. Maka ia menentang takdir Allah dengan takdir Allah, dengan pertolongan Allah, untuk Allah, sebagaimana ia memohon perlindungan dengan ridha-Nya dari murka-Nya, dengan ampunan-Nya dari hukuman-Nya, dan memohon perlindungan kepada-Nya dari-Nya.

Adapun tentang memilih untuk dirinya berbeda dengan apa yang dipilih oleh Rabb, maka ini adalah tempat perincian yang tidak bisa diseret dengan ekor penafian dan penetapan. Pilihan Rabb Ta’ala untuk hamba-Nya ada dua jenis.

Pertama: Pilihan yang bersifat agama dan syariat. Maka wajib bagi hamba untuk tidak memilih dalam jenis ini selain apa yang telah dipilih oleh Tuannya untuknya. Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Surah Al-Ahzab: 36). Maka pilihan hamba yang berbeda dengan itu bertentangan dengan iman, penyerahannya, dan ridha-nya kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad sebagai Rasul.

Jenis kedua: Pilihan yang bersifat kauniyah (universal) dan qadari (takdir). Yang tidak dimurkai oleh Rabb, seperti musibah-musibah yang Allah ujikan kepada hamba-Nya. Maka ini tidak memudharatkannya lariannya darinya menuju takdir yang mengangkatnya darinya, menolaknya, dan menyingkapkannya. Dan tidak ada dalam hal itu perselisihan dengan rububiyah (ketuhanan), meskipun di dalamnya ada penentangan takdir dengan takdir.

Maka ini kadang wajib, kadang disukai, kadang mubah dengan kedua sisi yang sama, kadang makruh, dan kadang haram.

Adapun takdir yang tidak dicintai dan tidak diridhai-Nya, seperti takdir kejelekan dan dosa-dosa, maka hamba diperintahkan untuk murkanya dan dilarang dari ridha kepadanya.

Dan inilah perincian yang wajib dalam ridha terhadap takdir.

Dan manusia telah goncang dalam hal itu dengan kegoncangan yang sangat besar. Dan yang selamat darinya adalah para pemilik pembagian dan perincian. Karena sesungguhnya lafaz ridha terhadap takdir adalah lafaz yang terpuji dan diperintahkan. Dan ia termasuk tingkatan para shiddiqin. Maka menjadi baginya kehormatan yang mewajibkan sekelompok orang untuk menerimanya tanpa perincian. Dan mereka menyangka bahwa setiap yang diciptakan oleh Rabb Ta’ala maka itu ditakdirkan dan diridhai oleh-Nya, yang seharusnya diridhai. Kemudian mereka terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama berkata: Jika takdir dan ridha saling berkaitan, maka diketahui bahwa kita diperintahkan untuk membenci maksiat, kekafiran, dan kezaliman. Maka semuanya itu tidak ditakdirkan dan tidak ditentukan.

Dan kelompok lain berkata: Sungguh akal dan syariat telah menunjukkan bahwa itu terjadi dengan takdir dan ketentuan Allah. Maka kami ridha dengannya.

Dan kedua kelompok ini menyimpang, melenceng dari jalan yang lurus. Kelompok pertama mengeluarkannya dari takdir dan ketentuan Rabb. Dan kelompok ini ridha dengannya dan tidak murkanya. Kelompok ini menyelisihi Rabb Ta’ala dalam ridha dan murka-Nya, dan keluar dari syariat dan agama-Nya. Dan kelompok pertama mengingkari kaitannya takdir dan ketentuan-Nya dengannya.

Berbeda-bedalah jalan-jalan ahli penetapan takdir dan syariat dalam menjawab kedua kelompok.

Kelompok berkata: Tidak ada dalil dari Alquran, Sunnah, maupun ijmak tentang kebolehan ridha terhadap setiap takdir, apalagi kewajiban atau anjurannya. Di manakah Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya atau Rasul-Nya untuk ridha dengan segala yang Allah takdirkan dan tentukan?

Ini adalah jalan banyak dari para ulama kami dan lainnya. Dan dengan ini Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu Al-Baqillani menjawab.

Dia berkata: Jika ditanyakan: Apakah kalian ridha dengan takdir dan ketentuan Allah?

Dijawab: Kami ridha dengan takdir Allah yang merupakan ciptaan-Nya, yang kami diperintahkan untuk ridha dengannya. Dan kami tidak ridha dari itu apa yang Dia larang kami untuk ridha dengannya. Dan kami tidak mendahului di hadapan Allah Ta’ala, dan kami tidak menentang hukum-Nya.

Dan kelompok lain berkata: Ridha terhadap takdir diucapkan secara umum, tanpa merinci yang ditakdirkan dan ditentukan. Maka kami katakan: Kami ridha dengan takdir Allah secara umum dan tidak murkanya. Dan kami tidak mengucapkan ridha terhadap setiap perincian yang ditakdirkan. Sebagaimana kaum muslimin berkata: Segala sesuatu akan binasa dan rusak. Dan mereka tidak berkata: Hujjah-hujjah Allah binasa dan rusak. Dan mereka berkata: Allah Rabb segala sesuatu. Dan mereka tidak menambahkan rububiyah-Nya kepada benda-benda yang buruk dan kotor secara khusus.

Dan kelompok lain berkata: Kami ridha dengannya dari sisi penambahan kepada Rabb sebagai ciptaan dan kehendak, dan kami murkanya dari sisi penambahannya kepada hamba sebagai usahanya dan keberadaannya padanya.

Dan kelompok lain berkata: Bahkan kami ridha terhadap takdir dan murka terhadap yang ditakdirkan. Maka ridha dan murka tidak berkaitan dengan satu hal.

Dan jawaban-jawaban ini tidak berjalan sedikitpun berdasarkan prinsip-prinsip orang yang menjadikan kecintaan Rabb Ta’ala, ridha-Nya, dan kehendak-Nya satu, sebagaimana salah satu dari dua pendapat Al-Asy’ari dan kebanyakan pengikutnya.

Karena sesungguhnya mereka berkata: Bahwa segala yang Dia kehendaki dan takdirkan maka Dia mencintai dan meridhainya. Dan jika kewujudan dicintai dan diridhai oleh-Nya, maka kami mencintai apa yang Dia cintai dan meridhai apa yang Dia ridhai.

Dan perkataan kalian: Bahwa ridha terhadap takdir diucapkan secara umum dan tidak diucapkan secara rinci, maka itu tidak mencegah masuknya dalam keumuman yang diridhai. Maka kembali kerancuannya.

Dan perkataan kalian: Kami ridha dengannya dari sisi menjadi ciptaan Allah, dan kami murkanya dari sisi menjadi usaha hamba, maka usaha hamba jika merupakan perkara wujudi maka itu adalah ciptaan Allah sehingga kami ridha dengannya. Dan jika merupakan perkara ‘adami (ketiadaan) maka tidak ada hakikat baginya yang diridhai atau dimurkai.

Adapun perkataan kalian: Kami ridha terhadap takdir tanpa yang ditakdirkan, maka ini hanya benar berdasarkan pendapat orang yang menjadikan takdir berbeda dengan yang ditakdirkan, dan perbuatan berbeda dengan yang diperbuat. Adapun orang yang tidak membedakan antara keduanya, bagaimana ini benar berdasarkan prinsipnya?

Dan Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani telah mengajukan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri, lalu berkata:

Jika ditanyakan: Takdir menurut kalian adalah yang ditakdirkan, atau selainnya?

Dijawab: Itu ada dua macam. Takdir dengan makna penciptaan adalah yang ditakdirkan, karena penciptaan adalah yang diciptakan. Dan takdir yang berupa kewajiban, pemberitahuan, dan penulisan adalah bukan yang ditakdirkan, karena perintah bukan yang diperintahkan, dan berita bukan yang diberitakan.

Dan jawaban ini juga tidak melepaskannya. Karena pembahasan bukan tentang kewajiban, pemberitahuan, dan penulisan. Dan sesungguhnya pembahasan adalah tentang perbuatan yang ditakdirkan itu sendiri, yang diberitakan dan dituliskan: Apakah yang menakdirkan dan menulisnya Mahasuci ridha dengannya atau tidak? Dan apakah hamba diperintahkan untuk ridha dengannya sendiri atau tidak? Inilah inti permasalahan.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingkari orang yang menjadikan kehendak dan takdir-Nya mengharuskan kecintaan dan ridha-Nya. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikan itu satu hal? Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan berkata: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apapun. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah: Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami? Kamu tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am: 148). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan berkata: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apapun tanpa (izin)-Nya. Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka.” (Surah An-Nahl: 35). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: Sekiranya Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah mereka. Mereka tidak mempunyai ilmu sedikitpun tentang itu.” (Surah Az-Zukhruf: 20). Maka mereka berdalil dengan kehendak-Nya untuk kesyirikan mereka dan ridha-Nya terhadapnya dengan kehendak-Nya untuk itu. Dan mereka menentang dengan dalil ini perintah dan larangan-Nya. Dan di dalamnya ada bantahan yang sangat jelas terhadap pendapat orang yang menjadikan kehendak-Nya berbeda dengan kecintaan dan ridha-Nya. Maka kerancuan itu sesungguhnya muncul dari menjadikan mereka kehendak adalah kecintaan itu sendiri. Kemudian mereka menambahkannya dengan menjadikan mereka perbuatan adalah yang diperbuat itu sendiri, dan takdir adalah yang ditakdirkan itu sendiri. Maka muncul dari itu kewajiban bagi mereka bahwa Dia Ta’ala ridha dan mencintai itu. Dan komitmen ridha mereka dengannya.

Dan yang akan menyingkap kegelapan ini, mencerahkan dari kebutaan ini, dan menyelamatkan dari kesulitan ini adalah dengan membedakan antara apa yang telah Allah bedakan, yaitu kehendak dan kecintaan. Keduanya bukan satu hal yang sama dan tidak saling mengharuskan. Allah bisa menghendaki sesuatu yang tidak Ia cintai, dan bisa mencintai sesuatu yang tidak Ia kehendaki keberadaannya.

Yang pertama: seperti kehendak-Nya atas keberadaan Iblis dan bala tentaranya, dan kehendak-Nya yang umum atas seluruh isi alam semesta meskipun Ia membenci sebagiannya.

Yang kedua: seperti kecintaan-Nya pada iman orang-orang kafir, ketaatan orang-orang fasik, keadilan para penguasa yang zalim, dan taubat orang-orang yang berdosa. Seandainya Ia menghendaki semua itu, niscaya semuanya akan terwujud dan terjadi. Karena apa yang Ia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi.

Jika prinsip ini telah jelas, bahwa perbuatan berbeda dengan yang diperbuat, ketetapan berbeda dengan yang ditetapkan, dan bahwa Allah Subhanahu tidak memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk rela dengan semua yang Ia ciptakan dan kehendaki, maka lenyaplah keraguan-keraguan dan teruraikan permasalahan-permasalahan. Segala puji bagi Allah. Tidak ada lagi pertentangan antara syariat Rabb dan takdir-Nya, yang bisa menyebabkan dugaan bahwa salah satunya membatalkan yang lain. Bahkan takdir mendukung syariat, dan syariat membenarkan takdir. Masing-masing membenarkan yang lain.

Jika hal ini telah dipahami, maka rela dengan ketetapan agama dan syariat adalah wajib, dan ia adalah dasar Islam serta pilar keimanan. Hamba wajib rela dengannya tanpa keberatan, tanpa perselisihan, tanpa menentang, dan tanpa protes. Allah Taala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (Surat An-Nisa: 65).

Allah bersumpah bahwa mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan Rasul-Nya sebagai hakim, dan sampai hilang keberatan dari jiwa mereka terhadap keputusannya, dan sampai mereka berserah diri sepenuhnya pada hukumnya. Inilah hakikat rela dengan hukum-Nya.

Menjadikannya hakim: berada pada tingkat Islam. Tidak adanya keberatan: berada pada tingkat iman. Berserah diri: berada pada tingkat ihsan.

Ketika hati telah diresapi kegembiraan iman, mata batinnya terhias dengan hakikat keyakinan, hidup dengan ruh wahyu, tabiatnya telah terbentuk, jiwa yang mengajak pada keburukan berubah menjadi jiwa yang tenang, rela dan tenteram, dan menerima hukum-hukum Rabb Taala dengan dada yang lapang, lega dan berserah diri: maka ia telah rela sepenuhnya dengan ketetapan agama ini yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Adapun rela dengan ketetapan kauniyah dan takdir yang sesuai dengan kecintaan, kehendak, dan kerelaan hamba—seperti kesehatan, kekayaan, kesejahteraan, dan kenikmatan—adalah sesuatu yang mesti terjadi sesuai tuntutan tabiat. Karena hal itu sesuai dengan hamba dan dicintainya. Maka dalam rela dengannya tidak ada unsur penghambaan. Tetapi penghambaan terletak pada menyambutnya dengan syukur, mengakui karunia, menempatkan nikmat pada tempatnya yang Allah cintai untuk ditempatkan di sana, tidak bermaksiat kepada Yang memberi nikmat dengan nikmat tersebut, dan melihat kekurangan dalam semua itu.

Rela dengan ketetapan kauniyah dan takdir yang bertentangan dengan kehendak dan kecintaan hamba—yang tidak sesuai dengannya dan tidak masuk dalam pilihannya—seperti sakit, kemiskinan, gangguan dari makhluk, panas dan dingin, penderitaan dan semacamnya, adalah mustahab (dianjurkan). Ia termasuk tingkatan ahli iman. Mengenai wajibnya ada dua pendapat.

Adapun rela dengan takdir yang menimpanya karena pilihannya sendiri—dari hal-hal yang Allah benci dan murkai serta Ia larang—seperti berbagai jenis kezaliman, kefasikan, dan kemaksiatan: maka ini haram dan akan dihukum karenanya. Ini adalah menyelisihi Rabb Taala. Sesungguhnya Allah tidak rela dan tidak mencintainya. Bagaimana mungkin kecintaan dapat terwujud dengan rela pada apa yang dimurkai dan dibenci oleh Yang Tercinta? Maka peganglah rincian ini dalam masalah rela dengan takdir.

Jika engkau bertanya: Bagaimana Allah Subhanahu menghendaki sesuatu yang tidak Ia ridhai dan tidak Ia cintai? Bagaimana Ia menghendakinya dan mewujudkannya? Bagaimana kehendak Allah padanya dapat berkumpul dengan kebencian dan ketidaksukaan-Nya?

Dijawab: Pertanyaan inilah yang menyebabkan manusia terpecah menjadi kelompok-kelompok, dan jalan serta pendapat mereka berbeda-beda karenanya.

Ketahuilah bahwa yang dikehendaki ada dua jenis: yang dikehendaki untuk dirinya sendiri, dan yang dikehendaki untuk yang lain.

Yang dikehendaki untuk dirinya sendiri: adalah yang diminta dan dicintai karena zatnya dan karena kebaikan yang ada padanya. Ia dikehendaki dengan kehendak tujuan dan maksud.

Yang dikehendaki untuk yang lain: mungkin tidak dimaksudkan oleh yang menghendaki pada zatnya, dan tidak ada kemaslahatan baginya jika dilihat dari zatnya. Meskipun ia adalah wasilah yang dimaksudkan dan dikehendaki. Ia dibenci dari sisi diri dan zatnya, namun dikehendaki dari sisi bahwa ia mengantarkan dan menghantarkan kepada yang dikehendaki. Maka berkumpul padanya dua hal: kebencian dan kehendak, dan keduanya tidak bertentangan karena objeknya berbeda. Seperti obat yang sangat tidak enak, jika orang yang meminumnya tahu bahwa di dalamnya ada kesembuhannya, dan seperti memotong anggota tubuh yang membusuk jika ia tahu bahwa dalam pemotongannya ada keselamatan badannya, dan seperti menempuh perjalanan yang sangat berat jika ia tahu bahwa perjalanan itu akan mengantarkannya kepada tujuan dan kecintaannya. Bahkan orang yang berakal cukup dengan prasangka kuat dalam memilih hal yang dibenci ini dan menghendakinya, meskipun akibatnya tersembunyi darinya dan hasilnya dilipat darinya, bagaimana dengan Yang tidak tersembunyi dari-Nya segala akibat? Maka Dia Subhanahu wa Taala membenci sesuatu dan tidak menyukainya pada zatnya, dan itu tidak bertentangan dengan kehendak-Nya padanya untuk yang lain, dan menjadi sebab kepada apa yang lebih Ia cintai daripada kehilangannya.

Contohnya: Dia Subhanahu menciptakan Iblis, yang merupakan sumber kerusakan agama, amal, keyakinan, dan kehendak, dan ia adalah sebab kesengsaraan hamba-hamba, dan perbuatan mereka pada hal-hal yang memurkai Rabb Tabaraka wa Taala. Ia berusaha keras agar terjadi yang bertentangan dengan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan segala cara dan tipu daya. Maka ia dibenci oleh Rabb Subhanahu wa Taala dan dimurkai. Allah melaknatnya dan membencinya serta murka padanya. Namun demikian, ia adalah wasilah kepada banyak hal yang dicintai oleh Rabb Taala yang muncul dari penciptaannya, yang keberadaannya lebih Ia cintai daripada ketiadaannya.

Di antaranya: agar nyata bagi hamba-hamba kekuasaan Rabb Taala dalam menciptakan hal-hal yang berlawanan dan bertentangan. Maka Dia menciptakan zat ini—yang merupakan zat terjahat dan paling buruk, dan ia adalah sebab segala kejahatan—berhadapan dengan zat Jibril, yang merupakan zat paling mulia, paling suci dan paling bersih, dan ia adalah sumber segala kebaikan. Maha suci Allah Pencipta yang ini dan yang itu. Sebagaimana kekuasaan-Nya yang sempurna tampak bagi mereka dalam penciptaan malam dan siang, cahaya dan kegelapan, penyakit dan obat, kehidupan dan kematian, panas dan dingin, baik dan buruk, bumi dan langit, laki-laki dan perempuan, air dan api, kebaikan dan kejahatan. Itu adalah dalil yang paling menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya dan kerajaan-Nya. Karena Dia menciptakan hal-hal yang berlawanan ini, menempatkan sebagiannya berhadapan dengan sebagian yang lain, menguasakan sebagiannya atas sebagian yang lain, dan menjadikannya tempat tasharruf, pengaturan dan hikmah-Nya. Kosongnya alam dari sebagian hal itu sepenuhnya adalah penghapusan terhadap hikmah-Nya, kesempurnaan tasharruf-Nya dan pengaturan kerajaan-Nya.

Di antaranya: tampaknya pengaruh nama-nama-Nya yang bersifat memaksa, seperti Yang Maha Memaksa, Yang Maha Pembalas, Yang Maha Adil, Yang Memberi Mudarat, Yang Sangat Keras Siksaan-Nya, Yang Cepat Perhitungan-Nya, Yang Memiliki Penyiksaan yang Keras, Yang Merendahkan, Yang Menghinakan. Sesungguhnya nama-nama dan perbuatan-perbuatan ini adalah kesempurnaan. Maka harus ada objeknya. Seandainya makhluk seluruhnya berwatak malaikat, niscaya tidak akan tampak pengaruh nama-nama dan perbuatan-perbuatan ini.

Di antaranya: tampaknya pengaruh nama-nama-Nya yang mengandung kesabaran dan maaf-Nya, ampunan dan penutupan-Nya, pemaafan-Nya terhadap hak-Nya, dan pembebasan-Nya terhadap siapa yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Seandainya tidak diciptakan apa yang Ia benci dari sebab-sebab yang mengantarkan pada tampaknya pengaruh nama-nama ini, niscaya hikmah dan manfaat ini akan terhapus. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengisyaratkan hal ini dengan sabdanya: “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan kaum yang berbuat dosa lalu memohon ampun kepada Allah, maka Dia mengampuni mereka.”

Di antaranya: tampaknya pengaruh nama-nama hikmah dan kepakaran. Sesungguhnya Dia Subhanahu adalah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui yang meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menurunkannya pada kedudukan yang sesuai dengannya. Maka Dia tidak meletakkan sesuatu pada bukan tempatnya, dan tidak menurunkannya pada bukan kedudukannya yang dituntut oleh kesempurnaan ilmu, hikmah, dan kepakaran-Nya. Maka Dia tidak meletakkan keterampasan dan pencegahan pada tempat pemberian dan karunia, tidak pula karunia dan pemberian pada tempat keterampasan dan pencegahan, tidak pahala pada tempat hukuman, tidak pula hukuman pada tempat pahala, tidak kerendahan pada tempat kemuliaan, tidak pula kemuliaan pada tempat kerendahan, tidak kemuliaan pada tempat kehinaan, tidak pula kehinaan pada tempat kemuliaan, tidak memerintahkan apa yang seharusnya dilarang, dan tidak melarang apa yang seharusnya diperintahkan.

Maka Dia lebih tahu di mana Ia meletakkan risalah-Nya, dan lebih tahu siapa yang layak menerimanya dan bersyukur atas sampainya dan tiba padanya, dan lebih tahu siapa yang tidak layak untuk itu dan tidak pantas. Dia lebih bijaksana daripada mencegahnya dari yang berhak, dan meletakkannya pada selain ahlinya.

Seandainya sebab-sebab yang dibenci dan tidak disukai-Nya tidak ada, niscaya pengaruh-pengaruh ini akan terhapus dan tidak akan tampak bagi makhluk-Nya. Hikmah dan kemaslahatan yang muncul darinya akan hilang, dan kehilangan itu lebih buruk daripada terjadinya sebab-sebab tersebut.

Seandainya sebab-sebab itu dihapuskan—karena kejahatan yang ada padanya—niscaya akan terhapus kebaikan yang lebih besar daripada kejahatan yang ada pada sebab-sebab tersebut. Seperti matahari, hujan, dan angin yang padanya ada kemaslahatan yang berlipat ganda dari kejahatan dan mudarat yang terjadi karenanya. Seandainya dihapuskan—agar tidak terjadi kejahatan parsial itu—niscaya akan terhapus kebaikan yang lebih besar dari kejahatan itu dengan perbandingan yang tidak sebanding.

Pasal

Di antaranya: tercapainya penghambaan yang beragam yang seandainya Iblis tidak diciptakan tidak akan terwujud, dan yang terwujud hanya sebagiannya, bukan semuanya.

Sesungguhnya penghambaan dengan jihad adalah salah satu jenis penghambaan yang paling Dia Subhanahu cintai. Seandainya semua manusia beriman, niscaya penghambaan ini dan turunannya akan terhapus: seperti loyalitas karena-Nya Subhanahu, permusuhan karena-Nya, cinta karena-Nya dan benci karena-Nya, dan pengorbanan jiwa karena-Nya dalam memerangi musuh-Nya, penghambaan dengan amar makruf nahi munkar, penghambaan kesabaran dan menyelisihi hawa nafsu, mengutamakan kecintaan Rabb daripada kecintaan diri.

Di antaranya: penghambaan dengan taubat, kembali kepada-Nya dan memohon ampun-Nya. Sesungguhnya Dia Subhanahu mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai taubat mereka. Seandainya sebab-sebab yang ditaubati dihapuskan, niscaya penghambaan taubat dan istighfar darinya akan terhapus.

Di antaranya: penghambaan dengan menyelisihi musuh-Nya, melawannya karena Allah, dan membuat marah karena-Nya. Ini adalah salah satu jenis penghambaan yang paling Ia cintai. Sesungguhnya Dia Subhanahu mencintai dari wali-Nya untuk membuat marah musuh-Nya, melawannya, dan menyakitinya. Penghambaan ini tidak disadari kecuali oleh orang-orang yang cerdas.

Di antaranya: agar mereka beribadah kepada-Nya dengan memohon perlindungan dari musuh-Nya, meminta kepada-Nya agar melindunginya darinya, dan melindunginya dari tipu daya dan gangguannya.

Di antaranya: agar hamba-hamba-Nya sangat takut dan berhati-hati ketika melihat apa yang menimpa musuh-Nya karena menyelisihi-Nya, dan kejatuhannya dari tingkat malaikat ke tingkat setan. Maka mereka tidak akan terpedaya oleh tipu daya harapan setelah itu.

Di antaranya: mereka memperoleh pahala menyelisihinya dan memusuhinya, yang perolehannya bersyarat dengan permusuhan dan penyelisihan. Maka sebagian besar ibadah hati dan anggota badan tergantung pada penyelisihannya.

Di antaranya: bahwa menjadikannya musuh itu sendiri adalah salah satu jenis penghambaan yang paling besar dan mulia. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia sebagai musuh” (Surat Fathir: 6). Menjadikannya musuh adalah hal yang paling bermanfaat bagi hamba dan dicintai oleh Rabb.

Di antaranya: bahwa tabiat manusia mengandung kebaikan dan kejahatan, yang baik dan yang buruk. Itu tersimpan di dalamnya seperti tersimpannya api dalam batu api. Maka Setan diciptakan sebagai pengekstrak apa yang ada dalam tabiat ahli kejahatan dari potensi menjadi aktual. Dan para rasul diutus untuk mengekstrak apa yang ada dalam tabiat ahli kebaikan dari potensi menjadi aktual. Maka Hakim Yang Paling Bijaksana mengekstrak apa yang ada dalam potensi-potensi mereka dari kebaikan yang tersimpan di dalamnya, agar pengaruhnya muncul, dan apa yang ada dalam potensi-potensi orang-orang itu dari kejahatan, agar pengaruhnya muncul, dan hikmah-Nya tampak pada kedua kelompok. Hukum-Nya berlaku pada keduanya. Dan tampak apa yang telah diketahui-Nya yang sesuai dengan pengetahuan-Nya terdahulu.

Inilah pertanyaan yang malaikat-Nya tanyakan ketika mereka berkata “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Dia berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” (Surat Al-Baqarah: 30). Malaikat mengira bahwa keberadaan yang bertasbih dengan memuji-Nya dan menaati-Nya serta menyembah-Nya lebih utama daripada keberadaan yang bermaksiat kepada-Nya dan menyelisihi-Nya. Maka Dia Subhanahu menjawab mereka bahwa Dia mengetahui dari hikmah, kemaslahatan, dan tujuan-tujuan terpuji dalam penciptaan jenis ini yang malaikat tidak mengetahuinya.

Di antaranya: bahwa kemunculan banyak tanda-tanda kebesaran-Nya dan keajaiban ciptaan-Nya terjadi karena adanya kekufuran dan kesyirikan dari jiwa-jiwa kafir yang zalim, seperti peristiwa air bah, peristiwa angin topan, peristiwa kebinasaan kaum Tsamud dan kaum Luth, peristiwa berubahnya api terhadap Ibrahim menjadi dingin dan sejuk, serta tanda-tanda kebesaran yang Allah Ta’ala jalankan melalui tangan Musa, dan lain-lain dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang Allah Subhanahu menyebutkan setelah menyebut setiap tanda kebesaran tersebut dalam surah Asy-Syu’ara: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Asy-Syu’ara: 8). Maka seandainya tidak ada kekufuran orang-orang kafir dan keingkaran orang-orang yang mengingkari, niscaya tidak akan muncul tanda-tanda kebesaran yang gemilang ini, yang diceritakan oleh manusia dari generasi ke generasi hingga selamanya.

Di antaranya: bahwa penciptaan sebab-sebab yang saling berlawanan, yang sebagiannya mengalahkan sebagian yang lain, dan sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain, adalah termasuk kesempurnaan ketuhanan, kekuasaan yang menyeluruh, hikmah yang sempurna, dan kerajaan yang sempurna—meskipun ketuhanan itu sempurna pada dirinya sendiri, sekalipun sebab-sebab ini tidak diciptakan—namun penciptaan sebab-sebab itu adalah konsekuensi dari kesempurnaan dan kerajaan-Nya, kekuasaan dan hikmah-Nya. Maka kemunculan pengaruh dan hukum-hukumnya di alam nyata adalah perwujudan dari kesempurnaan itu, dan merupakan salah satu dari konsekuensinya. Maka pemakmuram tingkatan-tingkatan ghaib dan nyata dengan hukum-hukum sifat adalah dari akibat kesempurnaan ketuhanan mutlak dengan segala sisi, pembagian, dan tujuannya.

Kesimpulannya: penghambaan, tanda-tanda kebesaran, dan keajaiban-keajaiban yang muncul dari penciptaan apa yang tidak dicintai-Nya dan tidak diridhai-Nya serta dari takdir dan kehendak-Nya, lebih dicintai oleh-Nya, Subhanahu wa Ta’ala, daripada kehilangan dan terbengkalainya hal-hal itu dengan terbengkalainya sebab-sebabnya.

Jika engkau bertanya: Apakah mungkin wujudnya hikmah-hikmah itu tanpa sebab-sebab ini?

Aku menjawab: Ini adalah pertanyaan yang batil. Karena ini adalah mengandaikan adanya sesuatu yang mengharuskan tanpa hal yang harus ada. Seperti mengandaikan adanya anak tanpa ayah, adanya gerakan tanpa yang bergerak, adanya taubat tanpa orang yang bertaubat.

Jika engkau bertanya: Jika sebab-sebab ini dikehendaki karena hikmah yang ditimbulkannya, maka apakah sebab-sebab itu diridhai dan dicintai dari sisi ini, ataukah dimurkai dari segala sisi?

Aku menjawab: Pertanyaan ini diajukan dari dua sisi.

Pertama: dari sisi Tuhan Subhanahu wa Ta’ala. Apakah Dia mencintainya dari sisi bahwa ia mengarah pada apa yang Dia cintai, meskipun Dia membencinya karena zatnya?

Kedua: dari sisi hamba. Yaitu apakah boleh baginya untuk rida terhadapnya dari sisi itu juga? Ini adalah pertanyaan yang penting.

Ketahuilah bahwa segala keburukan kembali kepada ketiadaan—maksudku ketiadaan kebaikan dan sebab-sebabnya yang mengarah padanya—dan dari sisi ini ia adalah keburukan. Adapun dari sisi keberadaannya yang murni, maka tidak ada keburukan padanya.

Contohnya: jiwa-jiwa yang jahat, keberadaannya adalah kebaikan, dari sisi ia ada. Keburukan terjadi padanya karena terputusnya materi kebaikan darinya. Karena ia pada asalnya diciptakan bergerak, tidak diam. Jika dibantu dengan ilmu dan ilham kebaikan, ia bergerak. Dan jika dibiarkan, ia bergerak dengan fitrahnya ke arah sebaliknya, dan gerakannya dari sisi ia gerakan adalah kebaikan. Ia menjadi keburukan secara relatif, bukan dari sisi ia gerakan. Dan segala keburukan adalah kezaliman. Yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Seandainya diletakkan pada tempatnya, ia tidak akan menjadi keburukan.

Maka diketahui bahwa sisi keburukan padanya adalah nisbah relatif. Karena itu hukuman-hukuman yang diletakkan pada tempatnya adalah kebaikan pada dirinya sendiri. Meskipun ia keburukan bagi tempat yang ditimpa hukuman itu, karena menimbulkan rasa sakit padanya, sementara fitrah mampu menerima kebalikannya yaitu kenikmatan, dan bersedia menerimanya. Maka rasa sakit itu menjadi keburukan relatif terhadap fitrah. Dan ia kebaikan relatif terhadap Pelaku, karena Dia meletakkannya pada tempatnya. Karena Dia Subhanahu tidak menciptakan keburukan murni dari segala sisi dan pertimbangan, karena hikmah-Nya menolak itu, bahkan mungkin makhluk itu adalah keburukan dan kerusakan dari beberapa pertimbangan, namun dalam penciptaannya ada maslahat dan hikmah dari pertimbangan lain yang lebih kuat daripada pertimbangan kerusakannya. Bahkan kenyataan terbatas pada itu. Maka tidak mungkin dalam keagungan Tuhan Yang Mahasuci bahwa Dia menghendaki sesuatu yang menjadi kerusakan dari segala sisi dengan segala pertimbangan, tidak ada maslahat dalam penciptaannya dengan cara apapun. Ini adalah kemustahilan yang paling jelas. Karena Dia Subhanahu di tangan-Nya kebaikan, dan keburukan tidak pada-Nya. Bahkan segala apa yang pada-Nya adalah kebaikan. Keburukan terjadi karena tidak adanya hubungan dan nisbah ini kepada-Nya. Seandainya pada-Nya, ia tidak akan menjadi keburukan. Maka renungkanlah. Terputusnya hubungan padanya itulah yang menjadikannya keburukan.

Jika engkau bertanya: Mengapa hubungannya terputus pada-Nya dalam penciptaan dan kehendak?

Aku menjawab: Dari sisi ini ia bukan keburukan. Karena keberadaannya yang dinisbahkan padanya. Dan dari sisi ini ia bukan keburukan. Adapun keburukan yang ada padanya adalah dari tidak dipasoknya ia dengan kebaikan dan sebab-sebabnya, dan ketiadaan bukanlah sesuatu, hingga dinisbahkan kepada Dzat yang di tangan-Nya kebaikan. Jika engkau menginginkan penjelasan lebih lanjut tentang itu, ketahuilah bahwa sebab-sebab kebaikan ada tiga: penciptaan (ijad), persiapan (i’dad), dan pasokan (imdad). Inilah kebaikan-kebaikan dan sebab-sebabnya.

Maka penciptaan sebab adalah kebaikan, dan itu pada Allah. Persiapannya adalah kebaikan, dan itu juga pada-Nya. Dan pasokannya adalah kebaikan, dan itu juga pada-Nya.

Jika tidak terjadi padanya persiapan dan tidak pula pasokan, maka terjadi padanya keburukan karena ketiadaan ini yang bukan pada Sang Pencipta. Bahkan yang pada-Nya adalah kebalikannya.

Jika engkau bertanya: Mengapa tidak memasoknya ketika menciptakannya?

Aku menjawab: Hikmah tidak menghendaki penciptaan dan pasokannya. Karena Dia Subhanahu menciptakan dan memasok apa yang dikehendaki hikmah untuk diciptakan dan dipasok. Adapun apa yang dikehendaki hikmah untuk diciptakan dan ditinggalkan pasokannya, Dia menciptakannya dengan hikmah-Nya dan tidak memasoknya dengan hikmah-Nya. Maka penciptaannya adalah kebaikan. Dan keburukan terjadi dari tidak adanya pasokan padanya.

Jika engkau bertanya: Mengapa tidak memasok semua makhluk?

Aku menjawab: Ini adalah pertanyaan yang rusak, penanyanya mengira bahwa menyamakan semua makhluk lebih sempurna dalam hikmah. Dan ini adalah ketidaktahuan yang nyata, bahkan hikmah, seluruh hikmah, ada dalam perbedaan besar yang terjadi di antara makhluk-makhluk. Dan tidak ada perbedaan dalam penciptaan setiap jenisnya. Setiap jenis darinya tidak ada perbedaan dalam penciptaannya. Perbedaan terjadi karena hal-hal yang bersifat ketiadaan, yang tidak terkait dengan penciptaan. Jika tidak demikian, tidak ada perbedaan dalam penciptaan.

Jika itu sulit bagimu dan engkau tidak memahaminya dengan benar, maka kembalilah pada ucapan penyair:

Jika engkau tidak mampu melakukan sesuatu maka tinggalkan Dan beralih ke apa yang engkau mampu

Sebagaimana disebutkan bahwa Al-Asma’i bertemu dengan Al-Khalil bin Ahmad. Dan bersemangat memahami ilmu ‘arud darinya, namun itu sulit baginya. Maka Al-Khalil berkata kepadanya suatu hari: Uraikan untukku bait ini. Dan ia membacakan: Jika engkau tidak mampu melakukan sesuatu—bait itu. Maka ia memahami apa yang dimaksud. Lalu berhenti darinya dan tidak menyibukkan dirinya dengannya.

Rahasia persoalannya: bahwa ridha kepada Allah mengharuskan ridha terhadap sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, nama-nama-Nya, dan hukum-hukum-Nya. Dan tidak mengharuskan ridha terhadap semua ciptaan-Nya. Bahkan hakikat penghambaan adalah bahwa hamba menyesuaikan dengan-Nya dalam ridha dan murka-Nya. Maka ia ridha dari ciptaan-Nya apa yang diridhai-Nya. Dan murka terhadap apa yang dimurkai-Nya.

Jika dikatakan: Dia Subhanahu ridha terhadap hukuman bagi yang layak mendapat hukuman. Bagaimana mungkin hamba ridha terhadap hukumannya baginya?

Dijawab: Seandainya ia menyesuaikan dengan-Nya dalam ridha-Nya terhadap hukumannya, maka itu akan berubah menjadi kenikmatan dan kegembiraan. Namun itu tidak terjadi darinya. Karena ia tidak menyesuaikan dengan-Nya dalam kecintaan dan ketaatan-Nya, yang merupakan kegembiraan jiwa, kesejukan mata, dan kehidupan hati. Bagaimana ia bisa menyesuaikan dengan-Nya dalam kecintaan-Nya terhadap hukuman, yang paling dibenci olehnya, dan paling berat baginya? Bahkan ia membenci apa yang dicintai-Nya berupa ketaatan dan tauhid kepada-Nya. Maka ia tidak akan ridha terhadap apa yang dipilih-Nya berupa hukuman baginya. Seandainya ia menerima itu sebelumnya, hukuman akan terangkat darinya.

Jika engkau bertanya: Bagaimana ridha terhadap takdir yang dibenci hamba—berupa sakit, kemiskinan, dan rasa sakit—dapat berkumpul dengan kebencian terhadapnya?

Aku menjawab: Tidak ada pertentangan dalam itu. Karena ia ridha padanya dari sisi bahwa ia mengarah pada apa yang ia cintai. Dan ia membencinya dari sisi ia merasakan sakit karenanya, seperti obat pahit yang ia tahu bahwa di dalamnya ada kesembuhannya. Maka berkumpul padanya ridha terhadapnya dan kebencian padanya.

Jika engkau bertanya: Bagaimana Dia ridha untuk hamba-Nya sesuatu, namun tidak menolongnya untuk melakukannya?

Aku menjawab: Karena pertolongan-Nya padanya mungkin mengharuskan hilangnya sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada terjadinya ketaatan yang diridhai-Nya bagi hamba. Dan mungkin terjadinya ketaatan itu darinya mengandung kerusakan yang lebih dimurkai-Nya daripada kecintaan-Nya terhadap ketaatan itu, sehingga terjadinya ketaatan darinya mengharuskan kerusakan yang lebih besar, dan menghilangkan maslahat yang lebih besar. Dan Allah Ta’ala telah mengisyaratkan itu dalam firman-Nya: “Dan kalau mereka mau berangkat (berperang), tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan kemauan mereka dan dikatakan (kepada mereka): ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal.’ Kalau mereka berangkat bersama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain daripada kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas di celah-celahmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antaramu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (At-Taubah: 46-47). Maka Allah Subhanahu memberitahukan bahwa Dia tidak menyukai keberangkatan mereka bersama Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berperang. Padahal itu ketaatan dan ibadah, dan Dia telah memerintahkan mereka dengannya. Namun ketika Dia tidak menyukainya dari mereka, Dia melemahkan kemauan mereka darinya. Kemudian Allah Subhanahu menyebutkan beberapa kerusakan yang akan muncul dari keberangkatan mereka seandainya mereka berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Dia berfirman: “Kalau mereka berangkat bersama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain daripada kerusakan” (At-Taubah: 47) yaitu kerusakan dan kejahatan “dan tentu mereka akan bergegas-gegas di celah-celahmu” (At-Taubah: 47) yaitu berusaha di antara kalian dengan kerusakan dan kejahatan. “untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antaramu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka” (At-Taubah: 47). Yaitu menerima dari mereka dan memenuhi ajakan mereka. Maka akan terlahir dari usaha kelompok ini dengan kerusakan dan penerimaan kelompok itu dari mereka, suatu kejahatan yang lebih besar daripada maslahat keberangkatan mereka. Maka hikmah dan rahmat menghendaki bahwa Dia mencegah mereka dari berangkat, dan mendudukkan mereka darinya.

Jadikan contoh ini sebagai dasar untuk bab ini. Dan qiyaskan padanya.

Jika engkau bertanya: Aku dapat membayangkan ini dalam ridha Tuhan Ta’ala terhadap sebagian apa yang Dia ciptakan dari satu sisi dan kebencian-Nya dari sisi lain. Bagaimana aku bisa berkumpul kedua hal itu dalam diriku berkaitan dengan maksiat dan kefasikan?

Aku menjawab: Itu dapat dibayangkan, mungkin, bahkan terjadi. Karena hamba murka terhadap itu, membencinya, dan tidak menyukainya dari sisi ia perbuatannya yang karena sebabnya dan terjadi karena usaha dan kehendaknya, serta pilihannya. Dan ia ridha dengan ilmu Allah, catatan-Nya, kehendak-Nya, dan izin-Nya secara takwini padanya. Maka ia ridha dengan apa yang dari Allah, dan murka terhadap apa yang darinya. Ini adalah jalan segolongan ahli makrifat.

Dan golongan lain berpandangan membencinya secara mutlak, dan tidak ridha padanya dari setiap sisi.

Dan mereka ini pada hakikatnya tidak menyelisihi golongan pertama. Karena hamba jika membencinya secara mutlak, maka kebencian itu terjadi pada pertimbangan yang dibenci darinya. Dan mereka ini tidak membenci ilmu Tuhan, catatan-Nya, kehendak-Nya, dan penetapan hukum takwini-Nya. Dan golongan pertama tidak ridha padanya dari sisi yang dimurkai Tuhan dan dibenci-Nya karenanya.

Rahasia persoalannya: bahwa yang pada Tuhan darinya tidak dibenci. Dan yang pada hamba darinya adalah yang dibenci dan dimurkai.

Jika engkau bertanya: Tidak ada pada hamba sesuatu darinya?

Aku menjawab: Ini adalah pemaksaan (jabar) yang batil, yang pemiliknya tidak dapat keluar dari tingkatan sempit ini. Dan Qadari lebih dekat untuk keluar darinya daripada Jabari. Dan Ahlussunnah yang tengah antara Qadariyah dan Jabariyah adalah yang paling beruntung keluar darinya dari dua golongan.

Jika engkau bertanya: Bagaimana penyesalan dan taubat dapat terjadi, dengan menyaksikan hikmah dalam takdir, dan dengan menyaksikan sifat Qayyum dan kehendak yang menyeluruh?

Aku menjawab: Inilah yang membuat orang yang buta bashirahnya menyaksikan perkara berlawanan dengan kenyataannya. Maka ia melihat perbuatan-perbuatan itu sebagai ketaatan, karena menyesuaikan padanya dengan kehendak dan takdir. Dan ia berkata: Jika aku bermaksiat terhadap perintah-Nya, maka sesungguhnya aku telah mentaati iradah-Nya dalam itu. Dan dikatakan:

Aku menjadi terpengaruh oleh apa yang Engkau pilih Dariku, maka semua perbuatanku adalah ketaatan

Dan mereka ini adalah makhluk yang paling buta bashirahnya, dan paling bodoh tentang Allah dan hukum-hukum agama dan takwini-Nya. Karena ketaatan adalah menyesuaikan dengan perintah, bukan menyesuaikan dengan takdir dan kehendak. Seandainya menyesuaikan dengan takdir adalah ketaatan kepada Allah, maka Iblis adalah yang paling taat kepada Allah. Dan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan kaum Fir’aun semua adalah yang taat kepada-Nya. Maka Dia telah menyiksa mereka dengan siksa yang paling keras karena ketaatan-Nya, dan membalas mereka karenanya. Dan ini adalah puncak ketidaktahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Jika engkau bertanya: Dengan demikian, kumpulkan untukku antara penyesalan dan taubat dengan menyaksikan sifat Qayyum dan hikmah?

Saya katakan: Seorang hamba ketika menyaksikan ketidakberdayaan dirinya, berlakunya takdir padanya, kesempurnaan kefakirannya kepada Tuhannya, dan ketidakmampuannya untuk tidak bergantung pada penjagaan dan perlindungan-Nya walaupun sekedip mata – maka dia pada kondisi ini bersama Allah, bukan dengan dirinya sendiri. Sehingga jatuhnya dosa darinya sama sekali tidak mungkin terjadi dalam kondisi ini. Karena dia berada dalam benteng yang kokoh berdasarkan hadits: “maka dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia menyentuh, dan dengan-Ku dia berjalan.” Maka tidak mungkin terjadi dosa darinya dalam kondisi ini. Namun ketika dia terhalangi dari menyaksikan kondisi ini dan jatuh kepada wujud tabiatnya, serta tinggal dengan dirinya sendiri: maka hukum nafsu, tabiat, dan hawa nafsu menguasainya. Dan wujud tabiat ini telah dipasangi jala-jala dan jebakan-jebakan, serta para pemburu dilepaskan kepadanya. Maka tidak mungkin dia tidak terjebak dalam salah satu dari jala-jala tersebut, dan salah satu dari jebakan-jebakan tersebut. Dan wujud ini adalah hijab (penghalang) antara dirinya dengan Tuhannya, sehingga saat itulah terjadi penghalangan. Dan motif pendorong menjadi kuat, sementara penghalang menjadi lemah. Dan kegelapan semakin kuat, sementara kekuatan menjadi lemah, lalu bagaimana dia bisa terlepas dari jebakan-jebakan dan jala-jala tersebut? Namun ketika kabut wujud tabiat tersebut tersingkap, kegelapannya terungkap, kedurakaannya hilang, dan kamu bersama Tuhanmu menjauh dari diri dan tabiatmu.

Maka tampaklah bagimu rahasia yang telah lama tersembunyi darimu… dan terbitlah pagi yang sebelumnya kamu adalah kegelapaannya

Maka jika kamu absen darinya, dia menempatinya… dan tergelar di pundak tersingkapnya yang terjaga kemah-kemahnya

Maka kamu adalah hijab hati dari rahasia ghaibnya… dan seandainya bukan karena kamu, tidak akan dicap di atasnya segel penutupnya

Dan datanglah hadits yang tidak membosankan mendengarnya… yang manis bagi kita baik prosa maupun syairnya

Jika jiwa mengingatnya, hilanglah kesusahannya… dan hilang dari hati yang terbebani kedurakaannya

Maka di sanalah dia merasa penyesalan, taubat, dan kembali kepada Allah. Karena dia ketika bermaksiat berada dengan dirinya sendiri, terhalangi dalam kemaksiatannya dari Tuhannya dan dari ketaatan kepada-Nya. Namun ketika dia meninggalkan wujud tersebut dan berada dalam wujud yang lain: dia tinggal bersama Tuhannya, bukan dengan dirinya sendiri.

Dan ketika ini dipahami, maka taubat dan penyesalan berada dalam wujud ini di mana dia bersama Tuhannya. Dan itu tidak bertentangan dengan penyaksian hikmah dan sifat al-Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri), bahkan menyertainya dan mengambil kekuatan darinya. Dan dengan pertolongan Allah.

Perkataan pengarang: Dan taubat sah dengan tiga syarat: dengan kesamaan semua kondisi di sisi hamba, meninggalkan perselisihan dengan makhluk, dan terbebas dari permintaan dan desakan.

Artinya: Bahwa ridha kepada Allah hanya terwujud dengan tiga perkara ini. Karena ridha yang sejati menyamakan semua kondisi padanya – dari nikmat dan cobaan – dalam ridhanya terhadap baiknya pilihan Allah untuknya.

Bukan maksudnya kesamaan kondisi-kondisi itu pada dirinya dalam hal kesesuaian dan penolakannya. Karena ini bertentangan dengan tabiat manusia, bahkan bertentangan dengan tabiat makhluk hidup.

Juga bukan maksudnya kesamaan kondisi pada dirinya dalam ketaatan dan kemaksitan. Karena ini bertentangan dengan penghambaan dari segala sisi. Yang dimaksud adalah kesamaan nikmat dan cobaan padanya dalam ridha terhadap keduanya karena beberapa alasan.

Pertama: Karena dia mewakilkan urusannya (kepada Allah). Dan orang yang mewakilkan urusannya ridha dengan semua yang dipilihkan untuknya oleh Dia yang kepadanya dia mewakilkan urusan. Apalagi jika dia mengetahui kesempurnaan hikmah-Nya, rahmat-Nya, kelembutan-Nya, dan baiknya pilihan-Nya untuknya.

Kedua: Karena dia yakin bahwa tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah, dan tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya. Dan bahwa apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Maka dia tahu bahwa baik cobaan maupun nikmat adalah dengan takdir yang telah terdahulu dan qadar yang pasti.

Ketiga: Karena dia adalah hamba murni. Dan hamba yang murni tidak akan murka terhadap berlakunya ketentuan-ketentuan tuannya yang penyayang, berbakti, penasihat, pemberi kebaikan. Bahkan dia menerima semuanya dengan ridha kepada-Nya dan dari-Nya.

Keempat: Karena dia adalah pecinta. Dan pecinta yang sejati: adalah orang yang ridha dengan bagaimana kekasihnya memperlakukannya.

Kelima: Karena dia tidak tahu akibat-akibat dari berbagai perkara. Sedangkan tuannya lebih tahu tentang kemaslahatan dan apa yang bermanfaat untuknya.

Keenam: Karena dia tidak menginginkan kemaslahatan dirinya dari semua sisi, walaupun dia mengetahui sebab-sebabnya. Maka dia jahil dan zalim. Sedangkan Tuhannya yang Maha Tinggi menginginkan kemaslahatan untuknya dan mengirimkan kepadanya sebab-sebabnya. Dan di antara sebab terbesar kemaslahatan itu adalah: apa yang dibenci oleh hamba. Karena kemaslahatan dia dalam apa yang dia benci berlipat-lipat lebih banyak daripada kemaslahatan dia dalam apa yang dia cintai. Allah Taala berfirman: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Surat Al-Baqarah: 216). Dan Allah Taala berfirman: “Jika kamu tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Surat An-Nisa: 19).

Ketujuh: Karena dia muslim (orang yang berserah diri). Dan muslim adalah orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah. Dan tidak keberatan terhadap-Nya dalam berlakunya ketentuan-ketentuan-Nya padanya. Dan tidak murka terhadap itu.

Kedelapan: Karena dia mengenal Tuhannya. Baik sangkanya kepada-Nya. Tidak menuduh-Nya dalam apa yang Dia jalankan padanya dari qadha dan qadar-Nya. Maka baiknya sangka kepada-Nya mewajibkan baginya kesamaan kondisi-kondisi pada dirinya, dan ridhanya dengan apa yang dipilihkan untuknya oleh Tuannya yang Maha Suci.

Kesembilan: Karena dia tahu bahwa bagiannya dari yang ditakdirkan adalah apa yang dia sambut dengan ridha atau murka. Maka dia pasti akan mendapatkannya. Jika dia ridha maka dia mendapat ridha, dan jika dia murka maka dia mendapat murka.

Kesepuluh: Pengetahuannya bahwa jika dia ridha, maka yang ditakdirkan itu berubah dalam haknya menjadi nikmat dan pemberian, dan ringan baginya bebannya, serta dia dibantu atasnya. Dan jika dia murka terhadapnya, maka berlipat ganda atasnya beratnya dan bebannya, dan tidak bertambah kecuali kesulitan. Seandainya murka itu bermanfaat sesuatu untuknya, tentu di dalamnya ada kenyamanan yang lebih bermanfaat baginya daripada ridha terhadapnya.

Dan intisari masalah ini: imannya bahwa qadha (ketentuan) Tuhan yang Maha Tinggi adalah kebaikan untuknya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah Allah menakdirkan bagi seorang mukmin suatu takdir kecuali adalah kebaikan untuknya. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan untuknya. Dan jika dia mendapat kesusahan dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan untuknya. Dan itu hanya bagi seorang mukmin.”

Kesebelas: Agar dia tahu bahwa kesempurnaan penghambaan dia ada dalam berlakunya ketentuan yang dia benci padanya. Seandainya tidak berlaku padanya kecuali apa yang dia cintai, tentu dia adalah yang paling jauh dari penghambaan kepada Tuhannya. Maka tidak sempurna baginya penghambaan – berupa kesabaran, tawakal, ridha, doa dengan kerendahan, kefakiran, kehinaan, ketundukan, dan lainnya – kecuali dengan berlakunya takdir untuknya dengan apa yang dia benci. Dan masalahnya bukan pada ridha terhadap takdir yang sesuai dengan tabiat. Masalahnya adalah pada takdir yang menyakitkan yang bertentangan dengan tabiat.

Keduabelas: Agar dia tahu bahwa ridhanya terhadap Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Tinggi dalam semua kondisi menghasilkan ridha Tuhannya terhadapnya. Maka ketika dia ridha kepada-Nya dengan rizki yang sedikit: Tuhannya ridha kepadanya dengan amal yang sedikit. Dan ketika dia ridha kepada-Nya dalam semua kondisi dan semuanya sama padanya, maka dia akan mendapati-Nya adalah yang paling cepat kepada ridha-Nya ketika dia berusaha meraih ridha-Nya dan merayunya.

Ketigabelas: Agar dia tahu bahwa kenyamanan, kegembiraan, dan kenikmatan terbesarnya adalah: dalam ridha kepada Tuhannya yang Maha Tinggi dan Maha Suci dalam semua kondisi. Karena ridha adalah pintu Allah yang paling agung, tempat istirahat para arif, dan surga dunia. Maka patutlah bagi orang yang menasihati dirinya agar sangat menginginkannya. Dan agar tidak menukarnya dengan yang lain.

Keempatbelas: Bahwa murka adalah pintu kegelisahan, kesedihan, dukacita, kecerai-beraian hati, kerusakan keadaan, buruknya kondisi, dan bersangka kepada Allah tidak sesuai dengan apa yang patut bagi-Nya. Dan ridha membebaskannya dari semua itu dan membukakan baginya pintu surga dunia sebelum surga akhirat.

Kelimabelas: Bahwa ridha menghasilkan baginya ketenangan, dinginnya hati, ketenangan dan ketentramannya. Dan murka menghasilkan kegoncangan hatinya, keraguannya, kegelisahannya, dan ketidaktentramannya.

Keenambelas: Bahwa ridha menurunkan kepadanya ketenangan (sakinah) yang tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya. Dan ketika sakinah turun kepadanya: dia menjadi istiqamah. Dan perbaikan keadaannya, perbaikan urusannya, serta perbaikan kehidupannya. Dan murka menjauhkannya dari sakinah sesuai dengan sedikit atau banyaknya. Dan ketika sakinah pergi darinya, pergilah darinya kegembiraan, keamanan, kesenangan, kenyamanan, dan enaknya kehidupan. Maka di antara nikmat Allah yang terbesar kepada hamba-Nya adalah: turunnya sakinah kepadanya. Dan di antara sebab terbesarnya adalah: ridha kepada-Nya dalam semua kondisi.

Ketujuhbelas: Bahwa ridha membukakan baginya pintu keselamatan. Maka dia menjadikan hatinya selamat, bersih dari penipuan, kekotoran, dan kedengkian. Dan tidak akan selamat dari azab Allah kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Demikianlah, dan mustahil keselamatan hati dengan murka dan ketiadaan ridha. Dan semakin kuat ridha seorang hamba maka semakin selamat hatinya. Maka keburukan, kekotoran, dan penipuan adalah teman dari murka. Dan keselamatan hati, kebaikannya, dan nasihatnya adalah teman dari ridha. Demikian juga hasad (dengki): adalah dari buah murka. Dan keselamatan hati darinya adalah dari buah ridha.

Kedelapanbelas: Bahwa murka menghasilkan perubahan-perubahan pada hamba dan ketidakteguhannya bersama Allah. Karena dia tidak ridha kecuali dengan apa yang sesuai dengan tabiat dan nafsunya. Dan takdir selalu berjalan dengan apa yang sesuai dengannya dan apa yang tidak sesuai dengannya. Dan setiap kali berjalan padanya dari takdir itu apa yang tidak sesuai dengannya, dia murka. Maka tidak teguh kakinya dalam penghambaan. Namun jika dia ridha kepada Tuhannya dalam semua kondisi, maka kakinya teguh dalam tingkatan penghambaan, dan perubahan-perubahan tidak akan menjauhkan hamba dari sesuatu seperti ridha.

Kesembilanbelas: Bahwa murka membukakan baginya pintu keraguan terhadap Allah, qadha dan qadar-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Maka jarang orang yang murka selamat dari keraguan yang memasuki hatinya dan menyusup ke dalamnya, walaupun dia tidak menyadarinya. Seandainya dia menyelidiki dirinya dengan penyelidikan yang mendalam, pasti dia akan menemukan keyakinannya cacat dan ada cacatnya. Karena ridha dan keyakin adalah dua saudara yang bersama. Dan keraguan dan murka adalah dua pasangan. Dan ini adalah makna hadits yang ada dalam Tirmidzi atau lainnya: “Jika kamu mampu untuk beramal dengan ridha bersama keyakinan maka lakukanlah. Jika kamu tidak mampu maka sesungguhnya dalam sabar terhadap apa yang dibenci oleh jiwa ada kebaikan yang banyak.”

Keduapuluh: Bahwa ridha dengan yang ditakdirkan adalah bagian dari kebahagiaan anak Adam, dan murkanya adalah bagian dari kecelakaannya, sebagaimana dalam Musnad dan Tirmidzi dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah: istikharah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan di antara kebahagiaan anak Adam adalah: ridhanya dengan apa yang Allah takdirkan. Dan di antara kecelakaan anak Adam adalah: murkanya terhadap apa yang Allah takdirkan. Dan di antara kecelakaan anak Adam adalah: meninggalkan istikharah kepada Allah.” Maka ridha dengan takdir adalah bagian dari sebab-sebab kebahagiaan. Dan murka terhadap takdir adalah bagian dari sebab-sebab kecelakaan.

Keduapuluhsatu: Bahwa ridha menghasilkan baginya agar dia tidak bersedih atas apa yang luput darinya, dan tidak bergembira dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Dan itu adalah bagian dari iman yang paling utama.

Adapun tidak bersedihnya atas yang luput: maka itu jelas. Adapun tidak gembiranya dengan apa yang Allah berikan kepadanya: karena dia tahu bahwa musibah di dalamnya tertulis sebelum terjadinya. Maka bagaimana dia gembira dengan sesuatu yang dia tahu bahwa baginya di dalamnya ada musibah yang menunggu dan pasti terjadi?

Keduapuluhdua: Bahwa barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha terhadap takdir: Allah memenuhi dadanya dengan kekayaan, keamanan, dan qanaah. Dan membebaskan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya. Dan barangsiapa yang luput bagiannya dari ridha: hatinya terisi dengan kebalikan dari itu. Dan tersibuk dari apa yang di dalamnya ada kebahagiaan dan keberuntungannya.

Maka ridha membebaskan hati untuk Allah, dan murka membebaskan hati dari Allah.

Keduapuluhtiga: Bahwa ridha menghasilkan syukur, yang merupakan salah satu tingkatan tertinggi dalam iman, bahkan adalah hakikat iman. Dan murka menghasilkan lawannya. Yaitu kufur nikmat. Dan kadang-kadang menghasilkan baginya kufur kepada Pemberi nikmat. Maka ketika hamba ridha kepada Tuhannya dalam semua kondisi: itu mewajibkan baginya syukur kepada-Nya. Maka dia menjadi termasuk orang yang ridha dan bersyukur. Dan ketika luput darinya ridha: dia menjadi termasuk orang yang murka. Dan menempuh jalan orang-orang kafir.

Keduapuluhempat: Bahwa ridha menghilangkan darinya keburukan tamak dan rakusnya terhadap dunia, dan itu adalah kepala setiap kesalahan, dan pokok setiap bencana. Dan dasar setiap musibah. Maka ridhanya kepada Tuhannya dalam semua kondisi: menghilangkan darinya materi keburukan-keburukan ini.

Keduapuluhlima: Bahwa syaitan hanya dapat menangkapnya pada umumnya ketika murka dan syahwat. Maka di situlah dia diburu. Terutama ketika murkanya menguat. Karena dia mengatakan apa yang tidak diridhai Tuhan. Dan melakukan apa yang tidak diridhai-Nya. Dan berniat apa yang tidak diridhai-Nya. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika wafat putranya Ibrahim: “Hati bersedih. Dan mata menangis. Dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan.” Karena kematian anak-anak adalah termasuk kejadian yang menyebabkan hamba murka terhadap takdir.

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan: bahwa beliau tidak mengatakan dalam tingkatan seperti ini – yang membuat murka kebanyakan manusia sehingga mereka berbicara dengan apa yang tidak diridhai Allah dan melakukan apa yang tidak diridhai-Nya – kecuali apa yang diridhai Tuhannya tabaraka wa taala. Oleh karena itu ketika wafat putra Fudhail bin Iyadh, dia terlihat dalam jenazah sedang tertawa.

Lalu dikatakan kepadanya: Apakah engkau tertawa padahal anakmu telah meninggal? Maka ia menjawab: Sesungguhnya Allah telah menetapkan suatu ketetapan, maka aku ingin ridha dengan ketetapan-Nya.

Maka segolongan orang mengingkari perkataan Fudhail ini. Mereka berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menangis pada hari anaknya meninggal. Dan beliau mengabarkan bahwa “hati bersedih dan mata menangis”. Dan beliau berada dalam tingkatan tertinggi dari ridha. Lalu bagaimana hal ini dianggap sebagai keutamaan Fudhail?

Dan penjelasan yang tepat adalah: bahwa hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencakup kesempurnaan semua tingkatan, yaitu ridha kepada Allah dan menangis sebagai bentuk kasih sayang kepada anak kecil. Maka beliau memiliki tingkatan ridha dan tingkatan kasih sayang serta kelembutan hati. Sedangkan Fudhail, hatinya tidak mencakup tingkatan ridha dan tingkatan kasih sayang. Maka tidak terkumpul padanya kedua hal tersebut, dan manusia dalam hal itu terbagi menjadi empat tingkatan.

Pertama: orang yang terkumpul padanya ridha terhadap takdir dan kasih sayang kepada anak. Maka matanya meneteskan air mata sebagai bentuk kasih sayang, sementara hatinya ridha.

Kedua: orang yang tersembunyikan dari kasih sayang oleh ridha. Maka dia tidak mencakup keduanya, bahkan salah satunya menutupi yang lain.

Ketiga: orang yang tersembunyikan dari ridha oleh kasih sayang dan kelembutan, sehingga dia tidak menyaksikan ridha, bahkan dia fana dari ridha.

Keempat: orang yang tidak memiliki ridha dan tidak pula kasih sayang. Dan kesedihannya hanyalah karena kehilangan keuntungannya dari si mayit. Dan ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Maka tidak ada kebaikan dan tidak ada ridha kepada Yang Maha Pengasih. Dan hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Maka yang pertama berada di tingkatan tertinggi ridha. Dan yang kedua di bawahnya. Dan yang ketiga di bawah yang kedua. Dan yang keempat adalah orang yang marah (tidak ridha).

Yang kedua puluh enam: bahwa ridha adalah memilih apa yang dipilihkan Allah untuk hamba-Nya. Dan marah adalah membenci apa yang dipilihkan Allah untuknya, dan ini adalah bentuk permusuhan. Maka tidak akan terbebas darinya kecuali dengan ridha kepada Allah dalam semua keadaan.

Yang kedua puluh tujuh: bahwa ridha mengeluarkan hawa nafsu dari hati. Maka orang yang ridha, hawa nafsunya mengikuti kehendak Tuhannya terhadapnya. Maksudnya kehendak yang dicintai dan diridhai Tuhannya. Maka tidak akan berkumpul ridha dan mengikuti hawa nafsu dalam hati selamanya, dan jika ada padanya sebagian dari ini dan sebagian dari ini, maka ia mengikuti yang lebih dominan dari keduanya.

Yang kedua puluh delapan: bahwa ridha kepada Allah dalam semua keadaan akan berbuah bagi hamba ridha Allah kepadanya – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam ridha kepada-Nya – karena sesungguhnya balasan sesuai dengan jenis perbuatan. Dan dalam sebuah riwayat Israiliyyat: “bahwa Musa ‘alaihissalam bertanya kepada Tuhannya ‘azza wajalla: apa yang mendekatkan kepada ridha-Mu? Maka Allah berfirman: Sesungguhnya ridha-Ku ada pada ridha-mu terhadap ketetapan-Ku”.

Yang kedua puluh sembilan: bahwa ridha terhadap takdir adalah perkara yang paling berat bagi jiwa. Bahkan ia adalah penyembelihannya dalam hakikat. Karena ia menyelisihi hawa nafsu, tabiat, dan keinginannya. Dan jiwa tidak akan tenang sama sekali hingga ia ridha dengan takdir. Maka ketika itu ia berhak dikatakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku” (al-Fajr: 27-30).

Yang ketiga puluh: bahwa orang yang ridha menerima perintah-perintah Tuhannya – yang syar’i dan yang qadari – dengan kelapangan dada, kepasrahan, jiwa yang baik, dan ketundukan. Sedangkan orang yang marah menerimanya dengan sebaliknya, kecuali apa yang sesuai dengan tabiat dan keinginannya.

Dan telah kami jelaskan bahwa ridha terhadap hal itu tidak bermanfaat baginya dan tidak diberi pahala karenanya. Karena dia tidak ridha karena Allah menakdirkan, menetapkan, dan memerintahkannya. Dan dia hanya ridha karena sesuai dengan hawa nafsu dan tabiatnya. Maka ia hanya ridha untuk dirinya dan dari dirinya, bukan dengan Tuhannya dan bukan pula dari Tuhannya.

Yang ketiga puluh satu: bahwa semua pelanggaran, asalnya dari ketidakridaan. Dan semua ketaatan, asalnya dari ridha. Dan ini hanya bisa diketahui dengan sebenar-benarnya oleh orang yang mengenal sifat-sifat jiwanya dan apa yang lahir darinya berupa ketaatan dan kemaksiatan.

Yang ketiga puluh dua: bahwa ketidakridaan membuka pintu bid’ah, dan ridha menutup pintu tersebut. Jika engkau renungkan bid’ah-bid’ah Rafidhah, Nawashib, dan Khawarij, niscaya engkau akan melihatnya muncul dari ketidakridaan terhadap ketetapan takdir, atau ketetapan syariat, atau keduanya.

Yang ketiga puluh tiga: bahwa ridha adalah poros keteraturan agama, lahir dan batinnya. Karena perkara-perkara tidak lepas dari lima macam:

Maka terbagi dua bagian: yang syar’i dan yang takdiri. Dan itu adalah yang diperintahkan, yang dilarang, yang mubah, nikmat-nikmat yang menyenangkan, dan musibah-musibah yang menyakitkan.

Maka jika hamba menggunakan ridha dalam semua itu, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna dari Islam, dan beruntung dengan kedudukan yang tertinggi.

Yang ketiga puluh empat: bahwa ridha membebaskan hamba dari berdebat dengan Tuhan Ta’ala dalam ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan-Nya. Karena marah kepada-Nya adalah mendebat-Nya dalam apa yang tidak diridhai hamba. Dan asal perdebatan Iblis dengan Tuhannya adalah dari ketidakridaannya terhadap ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan-Nya yang syar’i dan takdiri. Seandainya ia ridha, niscaya ia tidak berubah dari hakikat malaikat menjadi hakikat setan Iblis.

Yang ketiga puluh lima: bahwa semua yang ada di alam semesta ini diwujudkan oleh kehendak Allah, hikmah-Nya, dan kepemilikan-Nya. Maka ia adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka barangsiapa tidak ridha dengan apa yang diridhai Tuhannya, berarti dia tidak ridha dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka dia tidak ridha dengan-Nya sebagai Tuhan.

Yang ketiga puluh enam: bahwa setiap takdir yang dibenci hamba dan tidak sesuai dengannya, tidak lepas: apakah itu hukuman atas dosa, maka ia adalah obat untuk penyakit, jika tidak diobati oleh Yang Maha Bijaksana dengan obat itu, niscaya penyakit akan membawanya kepada kebinasaan. Atau ia adalah sebab untuk mendapatkan nikmat yang tidak bisa diraih kecuali dengan sesuatu yang dibenci itu. Maka yang dibenci itu akan terputus dan lenyap, dan apa yang dihasilkan darinya berupa nikmat adalah kekal tidak terputus. Maka jika hamba menyaksikan kedua hal ini, terbuka baginya pintu ridha kepada Tuhannya dalam semua yang ditetapkan dan ditakdirkan untuknya.

Yang ketiga puluh tujuh: bahwa ketetapan Tuhan Ta’ala berlaku pada hamba-Nya, dan keputusan-Nya adalah adil terhadapnya. Sebagaimana dalam hadis: “berlaku ketetapan-Mu, adil keputusan-Mu”. Dan barangsiapa tidak ridha dengan keadilan, maka ia termasuk ahli kezaliman dan kecurangan.

Dan ucapan: adil keputusan-Mu, mencakup keputusan tentang dosa, keputusan tentang akibat dan hukumannya. Karena keduanya termasuk keputusan-Nya ‘azza wajalla. Dan Dia adalah Maha Adil di antara yang adil dalam keputusan-Nya tentang dosa dan dalam keputusan-Nya tentang hukumannya.

Adapun keadilan-Nya dalam hukuman: maka jelas. Adapun keadilan-Nya dalam keputusan-Nya tentang dosa: karena dosa adalah hukuman atas kelalainnya dari Tuhannya dan berpaling hatinya dari-Nya. Karena jika hatinya lalai dari Tuhannya dan pelindungnya, dan berkurang keikhlasannya, maka ia pantas dipukul dengan hukuman ini. Karena hati orang-orang yang lalai adalah tempat dosa-dosa, dan hukuman-hukuman datang kepadanya dari segala arah. Sebaliknya, dengan kesempurnaan keikhlasan, dzikir, menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengingat-Nya, mustahil dosa itu muncul. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24).

Jika engkau bertanya: keputusan-Nya terhadap hamba-Nya berupa berpaling darinya, melupakan-Nya, dan tidak ikhlas: adalah hukuman atas apa? Aku katakan: ini adalah tabiat jiwa dan keadaannya, maka Dia Subhanahu jika tidak menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia membiarkannya antara dirinya dengan jiwanya, tabiatnya, dan hawa nafsunya. Dan itu menimbulkan akibatnya berupa kelalaian, lupa, tidak ikhlas, dan mengikuti hawa nafsu. Dan sebab-sebab ini menimbulkan akibatnya berupa penderitaan dan hilangnya kebaikan dan kenikmatan, sebagaimana sebab-sebab lain menimbulkan akibat dan pengaruhnya.

Jika engkau bertanya: mengapa tidak diciptakan dengan sifat selain itu?

Aku katakan: ini pertanyaan yang rusak, dan maksudnya: mengapa tidak diciptakan sebagai malaikat, bukan manusia.

Jika engkau bertanya: mengapa tidak diberikan taufik yang dengannya ia terbebas dari kejahatan jiwanya dan kegelapan tabiatnya?

Aku katakan: maksud pertanyaan ini: mengapa tidak disamakan antara semua makhluk-Nya? Dan mengapa diciptakan yang berlawanan dan berbeda-beda? Dan ini termasuk pertanyaan yang paling rusak. Dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa hikmah-Nya, ketuhanan-Nya, dan kepemilikan-Nya menuntut penciptaan itu.

Yang ketiga puluh delapan: bahwa ketidakridaan, apakah karena hilangnya apa yang tidak didapat dari apa yang dicintai dan dikehendaki, atau karena mendapat apa yang dibenci dan dimurkai. Maka jika ia yakin bahwa apa yang tidak didapat tidak akan pernah didapat, dan apa yang didapat tidak akan pernah hilang, maka tidak ada faedah kemarahannya setelah itu kecuali hilangnya apa yang bermanfaat dan datangnya apa yang membahayakan.

Yang ketiga puluh sembilan: bahwa ridha termasuk amal hati, seperti jihad termasuk amal anggota badan. Karena masing-masing dari keduanya adalah puncak Islam. Berkata Abu Darda: puncak Islam: sabar terhadap ketetapan dan ridha dengan takdir.

Yang keempat puluh: bahwa kemaksiatan pertama yang dengannya Allah dimaksiatkan di dunia ini, sesungguhnya muncul dari ketidakridaan. Maka Iblis tidak ridha dengan ketetapan Allah yang ditetapkan secara takdir, yaitu keutamaan Adam dan kemuliaannya, dan tidak pula dengan ketetapan syariat-Nya, yaitu perintah-Nya untuk sujud kepada Adam. Dan Adam tidak ridha dengan apa yang diperbolehkan baginya dari surga, hingga ia menambahkannya dengan memakan dari pohon yang dilarang. Kemudian kemaksiatan-kemaksiatan keturunan muncul dari ketidaksabaran dan ketidakridaan.

Yang keempat puluh satu: bahwa orang yang ridha berdiri dengan pilihan Allah untuknya, berpaling dari pilihannya untuk dirinya. Dan ini dari kuatnya ma’rifah kepada Tuhannya Ta’ala dan ma’rifah kepada dirinya.

Dan telah berkumpul Wuhaib bin Ward, Sufyan ats-Tsauri, dan Yusuf bin Asbath. Maka berkata ats-Tsauri: sungguh dulu aku membenci kematian mendadak sebelum hari ini. Adapun hari ini, aku berharap aku telah mati.

Maka Yusuf bin Asbath berkata kepadanya: mengapa? Maka ia berkata: karena aku takut fitnah.

Maka Yusuf berkata: akan tetapi aku tidak membenci panjang umur.

Maka ats-Tsauri berkata: mengapa engkau membenci kematian?

Ia berkata: mudah-mudahan aku mendapati hari di mana aku bertaubat dan beramal saleh.

Maka dikatakan kepada Wuhaib: apa yang engkau katakan?

Maka ia berkata: aku tidak memilih sesuatu, yang paling aku cintai adalah yang paling dicintai oleh Allah.

Maka ats-Tsauri mencium keningnya dan berkata: kerohanian demi Tuhan Ka’bah.

Maka ini adalah keadaan hamba yang sama baginya keadaan hidup dan mati, berdiri dengan pilihan Allah untuknya dari keduanya. Dan Wuhaib rahimahullah memiliki tingkatan tinggi dalam ridha dan lainnya.

Yang keempat puluh dua: bahwa ia mengetahui bahwa pencegahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya yang mu’min yang mencintai adalah pemberian, dan ujian-Nya kepadanya adalah keselamatan. Berkata Sufyan ats-Tsauri: pencegahan-Nya adalah pemberian. Dan itu karena Dia tidak mencegah karena kikir atau karena tidak ada. Dan sesungguhnya Dia melihat kebaikan hamba-Nya yang mu’min maka mencegahnya karena pilihan dan baik pandangan.

Dan ini sebagaimana yang ia katakan. Karena Dia Subhanahu tidak menetapkan untuk hamba-Nya yang mu’min suatu ketetapan kecuali adalah kebaikan baginya, baik ketetapan itu menyusahkan atau menyenangkannya. Maka ketetapan-Nya untuk hamba-Nya yang mu’min berupa pencegahan adalah pemberian, meskipun dalam bentuk pencegahan, dan nikmat, meskipun dalam bentuk cobaan, dan ujian-Nya adalah keselamatan, meskipun dalam bentuk musibah. Akan tetapi karena kebodohan dan kezaliman hamba, ia tidak menganggap pemberian, nikmat, dan keselamatan kecuali apa yang dinikmatinya di dunia dan sesuai dengan tabiatnya. Dan seandainya ia diberi rizki ma’rifah yang sempurna, niscaya ia menganggap pencegahan sebagai nikmat dan ujian sebagai rahmat. Dan ia menikmati ujian lebih daripada kenikmatannya dengan keselamatan. Dan ia menikmati kemiskinan lebih daripada kenikmatannya dengan kekayaan. Dan ia lebih besar rasa syukurnya dalam keadaan sedikit daripada keadaan banyak.

Dan ini adalah keadaan salaf.

Maka orang yang berakal dan ridha adalah orang yang menganggap ujian sebagai keselamatan, pencegahan sebagai nikmat, dan kemiskinan sebagai kekayaan.

Dan Allah mewahyukan kepada sebagian nabi-Nya: jika engkau melihat kemiskinan datang, maka katakanlah: selamat datang lambang orang-orang saleh. Dan jika engkau melihat kekayaan datang, maka katakanlah: dosa yang disegerakan hukumannya. Maka orang yang ridha adalah orang yang menghitung nikmat Allah kepadanya dalam apa yang dibenci, lebih banyak dan lebih besar dari nikmat-Nya kepadanya dalam apa yang dicintai. Sebagaimana berkata sebagian orang ‘arif: wahai anak Adam, nikmat Allah kepadamu dalam apa yang engkau benci lebih besar dari nikmat-Nya kepadamu dalam apa yang engkau cintai. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu” (al-Baqarah: 216). Dan berkata sebagian orang ‘arif: ridhailah kepada Allah dalam semua yang dilakukan-Nya kepadamu. Karena Dia tidak mencegahmu kecuali untuk memberimu. Dan tidak mengujimu kecuali untuk menyelamatkanmu. Dan tidak menyakitimu kecuali untuk menyembuhkanmu. Dan tidak mematikanmu kecuali untuk menghidupkanmu. Maka jangan sekali-kali engkau meninggalkan ridha kepada-Nya sekejap mata, sehingga engkau jatuh dari mata-Nya.

Yang keempat puluh tiga: bahwa ia mengetahui bahwa Dia Subhanahu adalah Yang Awal sebelum segala sesuatu, dan Yang Akhir setelah segala sesuatu, dan Yang Menampakkan segala sesuatu, dan Pemilik segala sesuatu, dan Dia-lah yang menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih. Dan tidak ada bagi hamba untuk memilih atas-Nya, dan tidak ada bagi siapa pun bersama-Nya pilihan. Dan Dia tidak menyekutukan dalam keputusan-Nya siapa pun. Dan hamba tidak ada sesuatu yang disebutkan. Maka Dia Subhanahu yang memilih wujudnya dan memilih agar ia sebagaimana ditakdirkan dan ditetapkan untuknya: dari keselamatan dan ujian, kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, ketenaran dan ketersembunyian. Maka sebagaimana Dia Subhanahu menyendiri dengan penciptaan, Dia menyendiri dengan pilihan dan pengaturan – dan tidak ada bagi hamba sesuatu dari itu – karena semua perkara adalah milik Allah. Dan Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada bagimu sedikitpun dari urusan itu” (Ali ‘Imran: 128). Maka jika hamba yakin bahwa semua perkara adalah milik Allah, dan tidak ada baginya dari perkara itu sedikit pun atau banyak, maka tidak ada baginya sandaran – setelah itu – selain ridha dengan jatuhnya takdir-takdir dan apa yang dijalankan oleh Tuhannya berupa pilihan.

Keempat puluh empat: Sesungguhnya keridhaan Allah terhadap hamba lebih besar daripada surga dan apa yang ada di dalamnya. Karena keridhaan adalah sifat Allah sedangkan surga adalah ciptaan-Nya. Allah Taala berfirman: “Dan keridhaan dari Allah adalah lebih besar” (At-Taubah: 72), setelah firman-Nya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan dari Allah adalah lebih besar; yang demikian itu adalah kemenangan yang agung” (At-Taubah: 72). Dan keridhaan ini adalah balasan atas keridhaan mereka kepada-Nya di dunia. Dan ketika balasan ini merupakan balasan yang paling utama, maka sebabnya adalah amal yang paling utama.

Keempat puluh lima: Sesungguhnya hamba apabila ridha kepada-Nya dan tentang-Nya dalam semua keadaan, maka ia tidak akan memilih-milih dalam berbagai permintaan kepada-Nya. Dan keridhaan hamba dengan apa yang Dia bagi, takdirkan, dan perbuat kepadanya mencukupinya dari itu semua. Dan menjadikan dzikir kepada-Nya menempati posisi permintaan. Bahkan permintaan hamba kepada-Nya adalah pertolongan untuk berdzikir kepada-Nya dan mencapai keridhaan-Nya. Maka orang ini diberi lebih utama daripada apa yang diberikan kepada orang yang meminta. Sebagaimana dalam hadits: “Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya yang paling utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” Karena sesungguhnya orang-orang yang meminta telah meminta kepada-Nya, lalu Dia memberikan kepada mereka karunia yang mereka minta. Sedangkan orang-orang yang ridha telah ridha kepada-Nya, maka Dia memberikan kepada mereka keridhaan-Nya kepada mereka. Dan keridhaan tidak menghalangi untuk meminta sebab-sebab keridhaan, bahkan para pengikutnya sangat bersemangat dalam meminta hal itu kepada-Nya.

Keempat puluh enam: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada tingkatan-tingkatan yang paling tinggi. Maka jika hamba tidak mampu melakukannya, beliau menurunkannya kepada tingkatan yang tengah. Sebagaimana sabda beliau: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.” Maka ini adalah tingkatan muraqabah (pengawasan) yang mencakup tingkatan-tingkatan Islam, iman, dan ihsan. Kemudian beliau bersabda: “Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Maka beliau menurunkannya ketika tidak mampu pada tingkatan pertama kepada tingkatan kedua, yaitu pengetahuan bahwa Allah mengawasi dan melihatnya, dan menyaksikan hamba-Nya di tempat ramai maupun sepi. Demikian pula hadits yang lain: “Jika engkau mampu beramal untuk Allah dengan ridha disertai yakin, maka lakukanlah. Jika engkau tidak mampu, maka sesungguhnya dalam kesabaran terhadap apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak.” Maka beliau mengangkatnya kepada tingkatan yang paling tinggi. Kemudian mengembalikannya kepada tingkatan yang tengah jika tidak mampu mencapai yang tertinggi. Yang pertama adalah tingkatan ihsan. Dan yang beliau turunkan kepadanya adalah tingkatan iman. Dan tidak ada di bawah itu kecuali tingkatan kerugian.

Keempat puluh tujuh: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam memuji orang-orang yang ridha dengan pahitnya takdir dengan pujian berupa kebijaksanaan, ilmu, pemahaman, dan kedekatan dengan tingkatan kenabian. Sebagaimana dalam hadits tentang “rombongan yang datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu beliau bertanya: ‘Kalian ini siapa?’ Mereka menjawab: ‘Orang-orang mukmin.’ Beliau bertanya: ‘Apa tanda keimanan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sabar ketika ditimpa musibah, syukur ketika mendapat kemudahan, ridha dengan pahitnya takdir, jujur di medan-medan pertemuan, dan tidak senang atas musibah yang menimpa musuh.’ Maka beliau bersabda: ‘Orang-orang bijaksana dan berilmu. Mereka hampir karena pemahaman mereka menjadi para nabi.'”

Keempat puluh delapan: Sesungguhnya ridha memegang kendali semua tingkatan agama, dan merupakan ruh serta kehidupan tingkatan-tingkatan tersebut. Karena ridha adalah ruh tawakal dan hakikatnya, ruh yakin, ruh cinta, kesehatan orang yang mencintai, bukti ketulusan cinta, ruh syukur, dan buktinya.

Ar-Rabi’ bin Anas berkata: Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir kepada-Nya. Karena sesungguhnya engkau tidak mencintai sesuatu kecuali engkau banyak menyebutnya. Tanda agama adalah keikhlasan kepada Allah dalam sembunyi dan terang-terangan. Dan tanda syukur adalah ridha dengan takdir Allah dan berserah diri kepada keputusan-Nya.

Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Aku berdiskusi dengan Abu Sulaiman tentang berita yang diriwayatkan: Orang pertama yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang banyak memuji. Maka ia berkata: Celaka engkau, bukan berarti engkau memuji-Nya atas musibah sementara hatimu memberontak terhadapmu. Jika engkau demikian, maka kembalilah kepada orang-orang yang sabar. Sesungguhnya pujian adalah engkau memuji-Nya sementara hatimu berserah diri dan ridha.

Maka ridha menjadi seperti ruh bagi tingkatan-tingkatan ini, dan fondasi yang dengannya tingkatan-tingkatan tersebut dibangun. Dan tidak sah sesuatu pun darinya sama sekali tanpa ridha, dan Allah Maha Mengetahui.

Keempat puluh sembilan: Sesungguhnya ridha menggantikan banyak ibadah yang memberatkan badan. Maka keridhaan hamba lebih mudah baginya, lebih lezat baginya, dan lebih tinggi tingkatannya. Dan telah disebutkan dalam atsar Israiliyyat: Bahwa seorang ahli ibadah telah beribadah kepada Allah dalam waktu yang sangat lama, lalu ia bermimpi: Bahwa si fulanah penggembala kambing adalah temanmu di surga. Maka ia bertanya tentangnya hingga menemukannya. Lalu ia menjadi tamunya selama tiga hari untuk melihat amalnya. Ternyata ia bermalam dengan berdiri shalat sedangkan si fulanah tidur. Dan ia berpuasa di siang hari sedangkan si fulanah berbuka. Maka ia berkata kepadanya: Tidakkah engkau punya amal selain yang aku lihat? Ia menjawab: Demi Allah, tidak ada selain yang engkau lihat – atau ia berkata: kecuali yang engkau lihat – aku tidak tahu yang lain. Maka ahli ibadah itu terus berkata kepadanya: Cobalah ingat-ingat. Hingga ia berkata: Satu kebiasaan yang ada padaku. Yaitu: Jika aku dalam kesulitan, aku tidak berangan-angan ingin dalam kemudahan. Dan jika aku sakit, aku tidak berangan-angan ingin sehat. Dan jika aku di bawah terik matahari, aku tidak berangan-angan ingin berada di tempat teduh. Ahli ibadah itu meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata: Ini satu kebiasaan? Demi Allah ini adalah kebiasaan yang agung yang tidak mampu dilakukan para ahli ibadah. Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu: Barangsiapa ridha dengan apa yang diturunkan dari langit ke bumi, Allah ampuni dosanya.

Dan dalam atsar marfu’: “Sebaik-baik yang diberikan kepada hamba adalah ridha dengan apa yang Allah takdirkan baginya.”

Dan dalam atsar lain: “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia mengujinya. Maka jika ia sabar, Dia memilihnya. Dan jika ia ridha, Dia memurnikannya.”

Dan dalam atsar: Sesungguhnya Bani Israil meminta kepada Musa agar memohon kepada Tuhannya suatu perkara yang jika mereka melakukannya, Allah ridha kepada mereka. Maka Musa berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau mendengar apa yang mereka katakan. Maka Allah berfirman: Katakan kepada mereka agar ridha kepada-Ku hingga Aku ridha kepada mereka.

Dan dalam atsar lain dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka lihatlah kedudukan Allah di sisinya. Karena sesungguhnya Allah menempatkan hamba di sisi-Nya sesuai dengan tempat dimana hamba menempatkan-Nya dalam dirinya.”

Dan dalam atsar lain: “Barangsiapa ridha dari Allah dengan rezeki yang sedikit, Allah ridha darinya dengan amal yang sedikit.”

Dan sebagian orang arif berkata: Aku mengetahui orang-orang yang telah meninggal yang melihat tempat tinggal mereka di surga dalam kubur mereka, mereka dipagi dan dipetang hari dengan rezeki dari surga pagi dan sore. Namun mereka dalam kesedihan dan kesusahan di alam barzakh. Seandainya hal itu dibagi kepada penduduk suatu negeri niscaya mereka semua akan mati.

Dikatakan: Apa amal mereka? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang muslim yang beriman, hanya saja mereka tidak memiliki bagian dari tawakal dan tidak pula dari ridha. Dan dalam wasiat Luqman kepada anaknya: Aku wasiatkan kepadamu beberapa hal yang mendekatkanmu kepada Allah dan menjauhkanmu dari kemurkaan-Nya: Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan engkau ridha dengan takdir Allah dalam apa yang engkau sukai dan benci.

Dan sebagian orang arif berkata: Barangsiapa bertawakal kepada Allah dan ridha dengan takdir Allah, maka sungguh ia telah menegakkan iman, dan membebaskan tangan dan kakinya untuk mencari kebaikan, dan menegakkan akhlak yang baik yang memperbaiki urusannya.

Kelima puluh: Sesungguhnya ridha membuka pintu akhlak yang baik dengan Allah Taala dan dengan manusia. Karena akhlak yang baik berasal dari ridha dan akhlak yang buruk berasal dari kemarahan. Dan akhlak yang baik membawa pemiliknya kepada tingkatan orang yang berpuasa dan berdiri shalat. Dan akhlak yang buruk melahap kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

Kelima puluh satu: Sesungguhnya ridha menghasilkan kegembiraan hati dengan yang ditakdirkan dalam semua urusan, ketenangan jiwa dan ketentraman dalam setiap keadaan, ketenteraman hati pada setiap hal yang menakutkan dan mengkhawatirkan dari urusan dunia, kesejukan qanaah (merasa cukup), kebahagiaan hamba dengan bagiannya dari Tuhannya, kegembiraannya dengan pemeliharaan Tuhannya terhadapnya, ketundukan kepada Tuhannya dalam segala hal, keridhaan daripadanya dengan apa yang Dia jalankan kepadanya, penyerahan hukum-hukum dan keputusan-keputusan kepada-Nya, keyakinan akan baiknya pengaturan-Nya dan kesempurnaan hikmah-Nya, dan menghilangkan dari dirinya keluhan tentang Tuhannya kepada selain-Nya dan kegelisahannya dengan keputusan-keputusan-Nya. Oleh karena itu sebagian orang arif menamai ridha: akhlak yang baik dengan Allah. Karena ridha mengharuskan meninggalkan bantahan kepada-Nya dalam kerajaan-Nya, dan membuang kata-kata berlebihan yang mencela akhlaknya yang baik. Maka ia tidak berkata: Betapa manusia sangat membutuhkan hujan? Dan tidak berkata: Ini adalah hari yang sangat panas, atau sangat dingin. Dan tidak berkata: Kemiskinan adalah musibah, dan keluarga adalah beban dan kesusahan. Dan tidak menamai sesuatu yang Allah takdirkan dan tetapkan dengan nama yang tercela jika Allah tidak mencela hal tersebut. Karena sesungguhnya semua ini bertentangan dengan keridhaan hamba.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: Aku memasuki waktu pagi dan tidak ada kegembiraan bagiku kecuali pada tempat-tempat jatuhnya takdir.

Dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Kemiskinan dan kekayaan adalah dua kendaraan, aku tidak peduli keduanya yang mana yang aku kendarai. Jika kemiskinan, maka di dalamnya ada kesabaran. Dan jika kekayaan, maka di dalamnya ada kedermawanan.

Dan Ibnu Abi Al-Hawari berkata – atau dikatakan kepadanya – sesungguhnya si fulan berkata: Aku ingin malam lebih panjang daripada keadaannya. Maka ia berkata: Sungguh ia telah berbuat baik dan berbuat buruk. Berbuat baik dimana ia berangan-angan panjangnya untuk ibadah dan munajat. Dan berbuat buruk dimana ia berangan-angan apa yang tidak Allah kehendaki, dan mencintai apa yang tidak Allah cintai.

Dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata: Aku tidak peduli dalam keadaan bagaimana aku memasuki waktu pagi dan petang: dalam kesulitan atau kemudahan.

Dan suatu hari ia berkata kepada istrinya Atikah, saudari Sa’id bin Zaid – ketika ia marah kepadanya – Demi Allah aku akan menyusahkanmu. Maka ia menjawab: Apakah engkau sanggup memalingkan aku dari Islam, setelah Allah memberi petunjuk kepadaku? Ia menjawab: Tidak. Maka ia berkata: Lalu dengan apa engkau akan menyusahkan aku? Yang ia maksudkan adalah bahwa ia ridha dengan tempat jatuhnya takdir. Tidak ada yang menyusahkan darinya kecuali membelokan dirinya dari Islam. Dan tidak ada jalan baginya ke arah itu.

Dan Ats-Tsauri suatu hari berkata di hadapan Rabi’ah: Ya Allah ridhailah kami. Maka ia berkata: Tidakkah engkau malu meminta keridhaan-Nya kepadamu, sedangkan engkau tidak ridha kepada-Nya? Maka ia berkata: Aku mohon ampun kepada Allah. Kemudian Ja’far bin Sulaiman berkata kepadanya: Kapan hamba menjadi ridha kepada Allah? Maka ia menjawab: Apabila kegembiraannya dengan musibah sama seperti kegembiraannya dengan nikmat.

Dan dalam atsar Ilahi: Apa urusan wali-wali-Ku dengan kegelisahan tentang dunia? Sesungguhnya kegelisahan tentang dunia menghilangkan manisnya munajat kepada-Ku dari hati mereka.

Dan dikatakan: Orang yang paling gelisah tentang dunia adalah orang yang paling gelisah di akhirat. Dan orang yang paling sedikit gelisah tentang dunia adalah orang yang paling sedikit gelisah di akhirat.

Maka iman kepada takdir dan ridha dengannya menghilangkan dari hamba kegelisahan, kesedihan, dan duka.

Dan disebutkan di hadapan Rabi’ah seorang wali Allah yang makanannya dari tempat sampah. Maka seorang laki-laki di sisinya berkata: Tidaklah merugikan orang ini untuk meminta kepada Allah agar menjadikan rezekinya tidak seperti ini? Maka ia berkata: Diamlah wahai orang yang sia-sia. Tidakkah engkau tahu bahwa para wali Allah lebih ridha kepada-Nya daripada meminta kepada-Nya agar memindahkan mereka ke kehidupan yang lain hingga Dia sendiri yang memilih untuk mereka?

Dan dalam atsar Israiliyyat bahwa Musa alaihissalam meminta kepada Tuhannya tentang apa yang di dalamnya keridhaan-Nya? Maka Allah mewahyukan kepadanya: Sesungguhnya keridhaan-Ku dalam kebencianmu, sedangkan engkau tidak sabar terhadap apa yang engkau benci. Maka ia berkata: Ya Tuhan, tunjukkan aku kepadanya. Maka Allah berfirman: Sesungguhnya keridhaan-Ku dalam keridhaan engkau dengan keputusan-Ku.

Dan dalam atsar lain: Bahwa Musa alaihissalam berkata: Ya Tuhanku, siapakah makhluk-Mu yang paling Engkau cintai? Allah berfirman: Orang yang apabila Aku ambil darinya kekasihnya, ia tetap menyelamatkan-Ku. Musa berkata: Siapakah makhluk-Mu yang Engkau murkai? Allah berfirman: Orang yang meminta istikharah kepada-Ku dalam suatu urusan, lalu ketika Aku putuskan untuknya, ia murka dengan keputusan-Ku.

Dan dalam atsar lain: Aku adalah Allah. Tidak ada tuhan selain Aku. Aku takdirkan takdir-takdir, Aku atur pengaturan-pengaturan, dan Aku sempurnakan perbuatan. Maka barangsiapa ridha, baginya keridhaan dari-Ku hingga ia bertemu dengan-Ku. Dan barangsiapa murka, baginya kemurkaan hingga ia bertemu dengan-Ku.

Kelima puluh dua: Sesungguhnya sebaik-baik keadaan adalah keinginan kepada Allah dan segala konsekuensinya. Dan itu tidak sempurna kecuali dengan yakin dan ridha kepada Allah. Oleh karena itu Sahl berkata: Bagian makhluk dari yakin sesuai dengan bagian mereka dari ridha. Dan bagian mereka dari ridha sesuai dengan keinginan mereka kepada Allah.

Kelima puluh tiga: Sesungguhnya ridha membebaskan hamba dari mencela apa yang tidak dicela Allah dan dari mencaci apa yang tidak dicaci Allah. Karena sesungguhnya hamba apabila tidak ridha dengan sesuatu, ia akan mencela dengan berbagai celaan dan mencaci dengan berbagai cacian. Dan itu darinya adalah kurangnya rasa malu kepada Allah, mencaci apa yang tidak bersalah, dan mencela ciptaan-Nya. Dan itu menjatuhkan hamba dari pandangan Tuhannya. Seandainya seseorang memasak makanan untukmu lalu menghidangkannya kepadamu kemudian engkau mencela dan mencacinya, niscaya engkau terancam kebenciannya dan penghinaannya, dan meminta darinya agar ia menghentikannya untukmu. Dan sebagian orang arif berkata: Sesungguhnya mencaci dan mencela yang dibuat – jika pembuatnya tidak mencacinya – adalah ghibah kepadanya dan celaan terhadapnya.

Kelima puluh empat: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam memohon kepada Allah ridha dengan keputusan. Sebagaimana dalam Al-Musnad dan As-Sunan: “Ya Allah, dengan ilmu-Mu tentang yang gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku jika kehidupan adalah lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian adalah lebih baik bagiku. Dan aku mohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan gaib dan nyata. Dan aku mohon kepada-Mu kalimat kebenaran dalam keadaan marah dan ridha. Dan aku mohon kepada-Mu sikap moderat dalam kemiskinan dan kekayaan. Dan aku mohon kepada-Mu nikmat yang tidak akan habis. Dan aku mohon kepada-Mu kesejukan mata yang tidak terputus. Dan aku mohon kepada-Mu ridha setelah keputusan. Dan aku mohon kepada-Mu kesejukan hidup setelah mati. Dan aku mohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia. Dan aku mohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, dalam keadaan bukan bahaya yang membahayakan dan bukan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.”

Maka aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – berkata: Beliau memohon ridha setelah keputusan. Karena saat itulah terlihat hakikat ridha. Adapun ridha sebelumnya, maka itu hanyalah tekad bahwa ia akan ridha jika ditimpa. Dan ridha yang sebenarnya terwujud setelahnya.

Al-Baihaqi berkata: Dan kami meriwayatkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesehatan, kesucian diri, amanah, akhlak yang baik, dan ridha terhadap takdir.”

Kelima puluh lima: Bahwa ridha terhadap takdir membebaskan hamba dari menyenangkan manusia dengan murka Allah, mencela mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya, dan memuji mereka atas apa yang sesungguhnya adalah karunia Allah semata. Maka dia akan zalim kepada mereka dalam hal pertama – yaitu menyenangkan dan mencela mereka – dan musyrik dengan mereka dalam hal kedua – yaitu memuji mereka. Jika dia ridha dengan qadha, dia akan terbebas dari mencela dan memuji mereka. Maka ridha membebaskannya dari semua itu.

Telah diriwayatkan oleh Amr bin Qais al-Mala’i dari Athiyyah al-Aufi dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk kelemahan keyakinan adalah menyenangkan manusia dengan murka Allah, memuji mereka atas rezeki Allah, dan mencela mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat ditarik oleh keserakahan orang yang serakah, dan tidak dapat ditolak oleh kebencian orang yang benci. Dan sesungguhnya Allah – dengan hikmah-Nya – menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam ridha dan keyakinan, serta menjadikan kesedihan dan kedukaan dalam keraguan dan ketidakridaan.” Dan telah diriwayatkan oleh ath-Tsauri dari Manshur dari Khaitsamah dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kelima puluh enam: Bahwa ridha mengosongkan hati hamba dan mengurangi kekhawatirannya serta kesedihannya. Sehingga ia dapat fokus untuk beribadah kepada Rabbnya dengan hati yang ringan dari beban-beban dunia, kekhawatiran dan kesedihannya. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dari Bisyr bin Basyar al-Mujasyi’i – dan dia termasuk ulama – ia berkata: Aku berkata kepada seorang ahli ibadah: Berilah aku wasiat. Dia berkata: Pasrahkan dirimu dengan takdir ke mana pun dia membawamu. Karena itu lebih dekat untuk mengosongkan hatimu dan mengurangi kekhawatiranmu. Dan jauhilah ketidakridaan terhadap itu, maka kemurkaan akan menimpamu sedang kamu dalam kelalaian tidak menyadarinya. Lalu dia melemparkanmu bersama orang-orang yang dimurkai Allah.

Sebagian salaf berkata: Tinggalkanlah perencanaan dan pilihan, niscaya kalian akan berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Karena perencanaan dan pilihan mengotori kehidupan manusia.

Abu al-Abbas bin Atha’ berkata: Kegembiraan ada dalam perencanaan Allah bagi kita, dan kesengsaraan seluruhnya ada dalam perencanaan kita.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Siapa yang tidak baik dengan takdir Allah, tidak akan baik dengan takdir dirinya sendiri.

Abu al-Abbas ath-Thusi berkata: Siapa yang meninggalkan perencanaan, hidup dalam ketenangan.

Sebagian mereka berkata: Kamu tidak akan menemukan keselamatan hingga kamu dalam hal perencanaan seperti penghuni kubur.

Dan dia berkata: Ridha adalah meninggalkan penentangan terhadap Rabb dalam apa yang Dia jalankan kepada hamba.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: Sungguh doa-doa ini telah meninggalkanku, dan aku tidak memiliki keinginan dalam segala urusan kecuali pada tempat-tempat jatuhnya takdir Allah. Dan dia sering berdoa: Ya Allah, ridhaikan aku dengan qadha-Mu, dan berkatilah bagiku takdir-Mu, hingga aku tidak suka menyegerakan sesuatu yang Engkau tunda dan menunda sesuatu yang Engkau segerakan.

Dan dia berkata: Aku tidak memiliki keinginan dalam sesuatu kecuali apa yang diqadhakan Allah ‘azza wa jalla.

Syu’bah berkata: Yunus bin ‘Ubaid berkata: Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu. Dan al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Orang yang ridha tidak mengharapkan melebihi kedudukannya.

Dzun Nun berkata: Tiga dari tanda-tanda penyerahan: menghadapi qadha dengan ridha, sabar ketika ditimpa musibah, dan syukur ketika lapang. Dan tiga dari tanda-tanda tafwidh: menghilangkan kehendakmu untuk kehendak-Nya, melihat apa yang terjadi dari perencanaan-Nya bagimu, dan meninggalkan penentangan terhadap hukum. Dan tiga dari tanda-tanda tauhid: melihat segala sesuatu dari Allah, menerima segala sesuatu dari-Nya, dan menisbatkan segala sesuatu kepada-Nya.

Sebagian orang yang ma’rifat berkata: Pokok ibadah ada tiga: tidak menolak sesuatu dari hukum-hukum-Nya, tidak meminta kepada selain-Nya suatu kebutuhan, dan tidak menyimpan dari-Nya sesuatu.

Ibnu Syam’un ditanya tentang ridha, maka dia berkata: Bahwa kamu ridha dengan-Nya sebagai pengatur dan pemilih, ridha terhadap-Nya sebagai pembagi dan pemberi serta yang menahan, dan meridhai-Nya sebagai ilah, ma’bud, dan rabb.

Sebagian orang yang ma’rifat berkata: Ridha adalah meninggalkan pilihan, kegembiraan hati dengan pahitnya qadha, dan menghilangkan perencanaan dari diri, hingga Allah menghukum untuknya atau atasnya.

Dan dikatakan: Orang yang ridha adalah yang tidak menyesal atas kehilangan dunia dan tidak bersedih karenanya.

Dan alangkah baiknya perkataan sang penyair:

Hamba itu gelisah, dan Rabb memiliki takdir Dan zaman memiliki pergantian, dan rezeki terbagi Dan kebaikan seluruhnya dalam apa yang dipilih Pencipta kita Dan dalam memilih selain-Nya ada celaan dan malapetaka

Kelima puluh tujuh: Bahwa jika dia tidak ridha dengan takdir, dia akan jatuh dalam mencela takdir, baik dengan tubuhnya maupun dengan hatinya dan keadaannya. Dan mencela takdir adalah mencela yang menakdirkannya. Demikian pula dia akan jatuh dalam mencela makhluk. Dan Allah serta manusia akan mencelanya, maka dia tidak akan berhenti mencela dan dicela. Dan ini bertentangan dengan penghambaan.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Maka beliau tidak pernah berkata kepadaku untuk sesuatu yang kulakukan: Mengapa kamu melakukannya? Dan tidak untuk sesuatu yang tidak kulakukan: Mengapa tidak kamu lakukan? Dan tidak berkata untuk sesuatu yang terjadi: Seandainya itu tidak terjadi. Dan tidak untuk sesuatu yang tidak terjadi: Seandainya itu terjadi. Dan sebagian keluarganya jika mencelaku, beliau berkata: Biarkan dia. Jika sesuatu telah diqadhakan, pasti terjadi.

Dan sabdanya: Jika sesuatu telah diqadhakan, pasti terjadi, mencakup dua hal.

Pertama: Apa yang tidak ada dari keinginan hamba. Kedua: Apa yang ada dari yang dia benci. Dan itu mencakup kehilangan yang dicintai dan terjadinya yang dibenci. Jika diqadhakan yang pertama pasti terjadi, dan jika diqadhakan selain yang kedua pasti terjadi. Maka jika dua keadaan itu sama berkaitan dengan qadha, maka penghambaan hamba adalah kedua keadaan itu sama baginya berkaitan dengan ridhanya. Dan ini adalah konsekuensi penghambaan dan tuntutannya. Menjelaskan hal ini adalah:

Kelima puluh delapan: Bahwa jika dua perkara itu sama berkaitan dengan ridha Rabb ta’ala – ini Dia ridhai untuk hamba-Nya lalu menakdirkannya, dan yang ini tidak Dia ridhai untuknya maka tidak menakdirkannya – maka kesempurnaan kesesuaian adalah keduanya sama berkaitan dengan hamba. Maka dia ridha dengan apa yang diridhai Rabbnya untuknya dalam dua keadaan.

Kelima puluh sembilan: Bahwa Allah ta’ala melarang mendahului di hadapan-Nya dan di hadapan Rasul-Nya dalam hukum agama-Nya yang syar’i. Dan itu adalah penghambaan terhadap perintah ini. Maka penghambaan terhadap perintah-Nya yang kauni qadari adalah tidak mendahului di hadapan-Nya kecuali di mana ada kemaslahatan yang lebih kuat dalam itu. Maka pendahuluan itu juga dengan perintah-Nya yang kauni dan syar’i. Jika Dia mewajibkan sabar atau menganjurkannya, atau mewajibkan ridha hingga meninggalkan itu, maka dia telah mendahului di hadapan syariat dan takdir-Nya.

Enam puluh: Bahwa mahabbah, ikhlas, dan inabah tidak dapat berdiri kecuali di atas landasan ridha.

Maka orang yang mencintai ridha terhadap kekasihnya dalam setiap keadaan. Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu menderita sakit perut, lalu dia berbaring telentang dalam waktu yang lama, tidak bisa berdiri dan tidak bisa duduk. Dan telah dilubangi untuknya di tempat tidurnya suatu tempat untuk kebutuhannya. Lalu Mutharrif bin Abdullah asy-Syakhir masuk menemuinya, maka dia menangis ketika melihat keadaannya. Maka Imran berkata kepadanya: Mengapa kamu menangis? Dia berkata: Karena aku melihatmu dalam keadaan yang mengerikan ini. Maka dia berkata: Jangan menangis. Karena yang paling aku cintai adalah yang paling dicintai-Nya. Dan dia berkata: Aku beritahu kamu sesuatu, semoga Allah memberimu manfaat dengannya, dan rahasiakan dariku hingga aku mati. Sesungguhnya malaikat mengunjungiku maka aku merasa tenteram dengan mereka, dan mereka memberi salam kepadaku maka aku mendengar salam mereka.

Dan ketika Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu datang ke Mekkah – dan penglihatannya telah hilang – orang-orang berbondong-bondong kepadanya agar dia mendoakan mereka. Maka dia mendoakan mereka. Abdullah bin as-Sa’ib berkata: Maka aku mendatanginya dan aku masih anak-anak. Aku memperkenalkan diri kepadanya, lalu dia mengenalku. Aku berkata: Wahai paman, engkau mendoakan orang-orang lalu mereka sembuh. Seandainya engkau mendoakan dirimu sendiri niscaya Allah mengembalikan penglihatanmu. Maka dia tersenyum, kemudian berkata: Wahai anakku, qadha Allah lebih aku cintai daripada penglihatanku.

Sebagian orang yang ma’rifat berkata: Suatu dosa yang kulakukan, aku menangis karenanya selama tiga puluh tahun. Dikatakan: Apa itu? Dia berkata: Aku berkata tentang sesuatu qadha Allah: Seandainya Dia tidak menqadhakannya, atau seandainya itu tidak terjadi.

Sebagian salaf berkata: Seandainya dagingku digunting dengan gunting, itu lebih aku cintai daripada aku berkata tentang sesuatu yang diqadhakan Allah: Seandainya Dia tidak menqadhakannya.

Dan dikatakan kepada Abdul Wahid bin Zaid: Di sini ada seorang laki-laki yang telah beribadah lima puluh tahun. Maka dia mendatanginya dan berkata kepadanya: Kekasihku, beritahu aku tentangmu, apakah kamu qana’ah dengan-Nya? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kamu bersama-Nya? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kamu ridha terhadap-Nya? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Lalu apakah tambahanmu hanya dari puasa dan shalat? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Seandainya aku tidak malu darimu, sungguh aku akan memberitahumu bahwa ibadahmu selama lima puluh tahun cacat.

Maksudnya bahwa Dia tidak mendekatkannya lalu menjadikannya dalam tingkatan orang-orang yang didekatkan, sehingga memberinya pengalaman orang-orang yang ma’rifat, di mana tambahannya di sisi-Nya adalah amal-amal hati yang dengannya setiap yang dicintai dan diinginkan diperlakukan, karena qana’ah adalah keadaan orang yang diberi taufik, dan uns dengan-Nya adalah tingkatan orang yang mencintai, dan ridha adalah sifat orang yang bertawakal. Artinya kamu di sisi-Nya dalam golongan ashabul yamin. Maka tambahanmu di sisi-Nya adalah tambahan umum dari amal-amal anggota badan.

Dan perkataannya: Sesungguhnya ibadahnya cacat, mengandung dua kemungkinan:

Pertama: Bahwa ia kurang dari ibadah orang-orang yang didekatkan yang mewajibkan bagi mereka keadaan-keadaan ini.

Kedua: Bahwa jika ia benar dan selamat, tidak ada cacat dan tidak ada penipuan di dalamnya, niscaya menghasilkan untuknya uns, ridha, mahabbah, dan keadaan-keadaan yang tinggi. Karena Rabb ta’ala Maha Mensyukuri. Jika sampai kepada-Nya amal hamba-Nya, Dia memperindah dengannya lahir dan batinnya, dan memberinya balasan atasnya dari hakikat ma’rifah dan iman sesuai amalnya. Maka ketika dia tidak menemukan pengaruh dalam hatinya dari uns, ridha, dan mahabbah, dia menyimpulkan bahwa ia cacat, tidak selamat dari kerusakan.

Enam puluh satu: Bahwa amal-amal anggota badan dilipat gandakan hingga batas tertentu yang diketahui dan dihitung. Adapun amal-amal hati, maka pelipat gandaannya tidak berakhir. Dan itu karena amal-amal anggota badan memiliki batas yang berakhir di situ dan berhenti padanya. Maka balasannya sesuai dengan batasnya. Adapun amal-amal hati, maka ia terus-menerus dan tersambung, meskipun penyaksian hamba terhadapnya tersembunyi.

Contohnya: Bahwa mahabbah dan ridha adalah keadaan orang yang mencintai dan ridha, tidak meninggalkannya sama sekali meskipun hukumnya tersembunyi. Maka pemiliknya dalam tambahan yang terus-menerus. Maka tambahan orang yang mencintai dan ridha terus-menerus dengan kekalnya keadaan ini padanya. Maka dia dalam tambahan, meskipun anggota badannya lemah. Bahkan kadang tambahannya dalam keadaan diam dan lemahnya lebih banyak dari tambahan banyak ahli nawafil dengan tidak ada perbandingan di antara keduanya. Dan itu mencapai oleh pemiliknya hingga tambahannya dalam keadaan tidurnya lebih banyak dari tambahan banyak ahli qiyam, dan makannya lebih banyak dari tambahan banyak ahli puasa dan lapar.

Jika kamu mengingkari ini, maka renungkan tambahan orang yang tidur dengan Allah dan qiyam orang yang lalai dari Allah. Maka Allah subhanahu hanya melihat kepada hati, tekad, dan azam, tidak kepada bentuk amal. Dan nilai hamba adalah tekad dan kehendaknya. Maka siapa yang tidak ridha dengan selain Allah – meskipun diberi dunia semuanya – memiliki kedudukan. Dan siapa yang ridha dengan bagian terkecil dari bagian dunia memiliki kedudukan. Meskipun amal keduanya dalam bentuk sama. Dan kadang amal orang yang menoleh kepada bagian duniawi lebih banyak dan lebih berat. Dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.

Dan para ahli urusan ini telah berbeda pendapat dalam suatu masalah, yaitu: Apakah ridha memiliki batas yang berakhir padanya?

Maka Abu Sulaiman ad-Darani berkata: Tiga tingkatan yang tidak ada batasnya: zuhud, wara’, dan ridha.

Dan Sulaiman anaknya menyelisihinya – dan dia adalah seorang yang ma’rifat, hingga sebagian orang mendahulukannya dari ayahnya – maka dia berkata: Bahkan siapa yang wara’ dalam segala sesuatu, maka dia telah mencapai batas wara’. Dan siapa yang zuhud terhadap selain Allah, maka dia telah mencapai batas zuhud. Dan siapa yang ridha terhadap Allah dalam segala sesuatu, maka dia telah mencapai batas ridha.

Dan mereka telah berbeda pendapat dalam masalah yang berkaitan dengan itu, yaitu: Tiga golongan ahli tingkatan:

Salah satunya: Mencintai kematian karena rindu kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya.

Yang kedua: Mencintai kekal untuk pengabdian dan mendekatkan diri.

Dan yang ketiga berkata: Aku tidak memilih, bahkan aku ridha dengan apa yang dipilih Maulaku untukku. Jika Dia menghendaki menghidupkanku, dan jika Dia menghendaki mematikanku.

Maka mereka berperkara kepada sebagian orang yang ma’rifat. Maka dia berkata: Pemilik ridha adalah yang paling utama dari mereka, karena dia paling sedikit kelebihannya dan paling dekat kepada keselamatan.

Dan tidak diragukan bahwa tingkatan ridha di atas tingkatan syauq dan zuhud terhadap dunia.

Tinggal pertimbangan dalam dua tingkatan yang lain: Mana yang lebih tinggi?

Suatu kelompok mengunggulkan tingkatan orang yang mencintai kematian, karena dia dalam tingkatan syauq kepada perjumpaan dengan Allah dan mahabbah perjumpaan dengan-Nya. Dan siapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah mencintai perjumpaan dengannya.

Sekelompok orang menguatkan tingkatan orang yang ingin tetap hidup untuk melaksanakan perintah-perintah Rabb Yang Mahatinggi.

Mereka berdalil bahwa yang pertama adalah pencinta bagian yang diberikan Allah kepadanya. Sedangkan yang ini adalah pencinta kehendak Allah darinya. Ia tidak merasa puas darinya, dan belum memenuhi keinginannya darinya.

Mereka berkata: Inilah keadaan Musa alaihissalam ketika ia menampar wajah Malaikat Maut dan mengeluarkan matanya, bukan karena cinta kepada dunia, tetapi agar ia dapat melaksanakan perintah-perintah Rabb-nya dan keridhaan-Nya terhadap manusia. Seolah-olah ia berkata: Engkau adalah hamba-Nya, dan aku adalah hamba-Nya. Engkau dalam ketaatan kepada-Nya, dan aku dalam ketaatan kepada-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Maka dalam hal ini kami katakan dalam wajah yang ke enam puluh dua: bahwa keadaan orang yang ridha dan berserah diri mencakup kedua keadaan tersebut sekaligus, dengan tambahan penyerahan diri dan meninggalkan pilihan. Karena ia telah tenggelam dalam kehendak Rabb-nya darinya—berupa menghidupkannya dan mematikannya—dari kehendaknya sendiri terhadap kedua perkara ini. Setiap pencinta pasti rindu untuk bertemu kekasihnya dan mengutamakan keridhaan-Nya. Maka ia telah mengambil kendali dari kedua tingkatan tersebut dan bersifat dengan kedua keadaan tersebut. Ia berkata: Yang paling aku cintai adalah yang ia cintai, aku tidak berharap selain keridhaan-Nya. Aku tidak memilih selain apa yang Ia cintai dan ridhai. Penjelasan ini cukup dalam masalah ini. Dan hanya dengan Allah lah keberhasilan.

Mari kita kembali kepada penjelasan perkataan beliau. Beliau berkata:

Yang kedua: gugurnya perselisihan dengan makhluk.

Maksudnya adalah bahwa ridha hanya sah dengan gugurnya perselisihan dengan makhluk. Karena perselisihan bertentangan dengan keadaan ridha dan bertentangan dengan penisbatan segala sesuatu kepada Dzat yang di tangan-Nya kendali qadha dan qadar. Dalam perselisihan terdapat berbagai bahaya.

Pertama: Pertengkaran yang bertentangan dengan ridha.

Kedua: Kekurangan tauhid dengan menisbatkan apa yang diperselisihkan kepada hamba selain Sang Pencipta segala sesuatu.

Ketiga: Melupakan sebab dan penyebab yang menarik kepada perselisihan. Seandainya hamba kembali kepada sebab dan penyebabnya, niscaya kesibukannya menolaknya lebih bermanfaat baginya dan lebih berguna daripada berselisih dengan orang yang menjadi perantaranya. Karena ia—meskipun zalim—adalah orang yang disalahgunakannya oleh dirinya sendiri dengan kezalimannya. Allah berfirman: “Atau mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.'” (Surah Ali Imran: 165). Allah mengabarkan tentang gangguan musuh mereka terhadap mereka dan kemenangan musuh atas mereka bahwa itu hanya karena kezaliman mereka. Allah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Surah asy-Syura: 30).

Apabila pandangan hamba terkumpul pada masyhadal qadar, tauhid, hikmah, dan keadilan, maka tertutuplah baginya pintu perselisihan dengan makhluk, kecuali dalam perkara yang menjadi hak Allah dan Rasul-Nya. Maka orang yang ridha tidak berselisih dan tidak menegur kecuali dalam hal yang berkaitan dengan hak Allah. Inilah keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak pernah berselisih dengan siapa pun dan tidak menegur siapa pun kecuali dalam hal yang berkaitan dengan hak Allah. Sebagaimana beliau tidak marah untuk dirinya sendiri. Apabila larangan-larangan Allah dilanggar, tidak ada yang dapat menahan kemarahannya hingga ia membalas untuk Allah. Maka berselisih karena kepentingan diri akan memadamkan cahaya ridha, menghilangkan keindahannya, mengganti kemanisannya dengan kepahitan, dan mengotori kejernihannya.

Beliau berkata: Syarat ketiga: terbebas dari meminta kepada makhluk dan mendesak. Karena meminta mengandung unsur perselisihan, pertengkaran, peperangan, dan berpaling dari Pemilik mudarat dan manfaat kepada orang yang tidak memiliki mudarat dan manfaat bagi dirinya sendiri kecuali dengan Rabb-nya. Di dalamnya terdapat kelalaian dari Sang Pemberi dan Sang Pencegah.

Mendesak bertentangan dengan keadaan dan sifat ridha. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang tidak meminta kepada manusia dengan mendesak. Allah berfirman: “Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.” (Surah al-Baqarah: 273).

Sekelompok orang berkata: Mereka meminta kepada manusia apa yang dibutuhkan untuk diminta. Tetapi mereka tidak mendesak. Maka Allah meniadakan dari mereka permintaan yang mendesak, bukan permintaan secara mutlak.

Ibnu Abbas berkata: Apabila ia memiliki makan siang, ia tidak meminta makan malam. Apabila ia memiliki makan malam, ia tidak meminta makan siang.

Sekelompok orang lain—di antaranya az-Zajjaj, al-Farra’ dan lainnya—berkata: Bahkan ayat ini menuntut meninggalkan permintaan secara mutlak. Karena mereka digambarkan dengan menjaga diri dan dikenali dengan sifat-sifatnya, tanpa mengungkapkan permintaan dengan jelas. Karena seandainya mereka mengungkapkan permintaan dengan jelas, orang yang tidak tahu tidak akan menyangka mereka kaya.

Kemudian mereka berselisih pendapat tentang makna firman Allah: “mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak” (Surah al-Baqarah: 273).

Az-Zajjaj berkata: Maknanya adalah tidak ada permintaan dari mereka sehingga terjadi desakan. Sebagaimana Allah berfirman: “Maka syafa’at para pemberi syafa’at tidaklah berguna bagi mereka” (Surah al-Muddatstsir: 48), artinya tidak ada syafa’at yang bermanfaat. Sebagaimana dalam firman-Nya: “tidak diterima daripadanya tebusan” (Surah al-Baqarah: 123), artinya tidak ada tebusan yang diterima, dan contoh-contoh sejenisnya. Imru’ul Qais berkata:

Di padang tandus yang tidak ada petunjuk arahnya

Artinya tidak ada petunjuk untuk ditunjuki.

Ibnul Anbari berkata: Tafsir ayat ini adalah: Mereka tidak meminta sama sekali, sehingga permintaan mengeluarkan mereka pada beberapa waktu kepada desakan. Maka ini berjalan seperti ucapanmu: Si Fulan tidak diharapkan kebaikannya. Artinya ia tidak memiliki kebaikan untuk diharapkan. Abu Ali berkata: Tidak ditetapkan dalam ayat ini permintaan dari mereka. Karena maknanya: Tidak ada permintaan dari mereka, sehingga ada desakan dari mereka. Katanya: Contohnya adalah ucapan penyair:

Kelinci tidak ketakutan dengan keadaan yang menakutkannya… dan tidak terlihat biawak padanya bersembunyi

Artinya tidak ada kelinci padanya untuk takut karena menakutkannya, dan tidak ada biawak untuk bersembunyi.

Al-Farra’ berkata: Allah meniadakan desakan dari mereka, dan Dia menghendaki peniadaan seluruh permintaan.

Pasal: Hukum Meminta

Meminta pada asalnya adalah haram. Hanya diperbolehkan karena kebutuhan dan darurat. Karena meminta adalah kezaliman terhadap hak Rububiyyah, kezaliman terhadap orang yang dimintai, dan kezaliman terhadap peminta itu sendiri.

Adapun yang pertama: Karena ia meletakkan permintaan, kefakiran, kehinaan, dan permohonannya kepada selain Allah. Itu adalah jenis penghambaan. Maka ia meletakkan permintaan bukan pada tempatnya dan menurunkannya kepada yang bukan ahlinya. Ia menzalimi tauhidnya, keikhlasannya, kefakirannya kepada Allah, tawakkalnya kepada-Nya, ridha-nya dengan bagiannya, dan kecukupannya dengan meminta kepada manusia dari meminta kepada Rabb manusia. Semua itu mengurangi hak tauhid, memadamkan cahayanya, dan melemahkan kekuatannya.

Adapun kezalimannya terhadap yang dimintai: Karena ia memintanya sesuatu yang tidak ada padanya. Dengan permintaannya ia mewajibkan hak kepadanya yang tidak ia miliki sebelumnya. Dan menghadapkannya pada kesulitan memberi atau celaan menolak. Jika ia memberi, ia memberi dengan tidak suka. Jika ia menolak, ia menolak dengan malu dan menutup mata. Ini jika ia memintanya sesuatu yang bukan kewajibannya. Adapun jika ia memintanya hak yang memang ada padanya, maka ia tidak masuk dalam itu dan tidak menzaliminya dengan permintaannya.

Adapun kezalimannya terhadap dirinya sendiri: Karena ia menumpahkan air mukanya, merendahkan diri kepada selain Penciptanya, menurunkan dirinya ke kedudukan yang lebih rendah, ridha dengan keadaan yang paling hina, ridha dengan menjatuhkan kehormatan dirinya, kemuliaan menjaga dirinya, dan kenyamanan qana’ahnya. Ia menjual kesabarannya, ridha-nya, tawakkalnya, qana’ahnya dengan apa yang dibagikan kepadanya, dan kecukupannya dari manusia dengan meminta kepada mereka. Ini adalah kezaliman nyata terhadap dirinya sendiri, karena ia menempatkannya bukan pada tempatnya, merendahkan kehormatannya, menurunkan kedudukannya, menghilangkan kemuliaannya, mengecilkan dan merendahkannya. Ia ridha bahwa dirinya berada di bawah diri orang yang dimintai dan tangannya di bawah tangannya. Seandainya bukan karena darurat, hal ini tidak diperbolehkan dalam syariat.

Telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seseorang terus-menerus meminta kepada manusia hingga ia datang pada hari kiamat tanpa ada sepotong daging di wajahnya.”

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminta harta kepada manusia untuk memperbanyak, maka sesungguhnya ia meminta bara api. Maka hendaklah ia mempersedikit atau memperbanyak.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu mencari kayu bakar di punggungnya kemudian bersedekah dengan itu kepada manusia, lebih baik baginya daripada mendatangi seseorang lalu meminta kepadanya, baik ia memberi maupun menolak.”

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah juga, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian pergi pagi-pagi mencari kayu bakar di punggungnya lalu bersedekah dengannya dan mencukupi diri dengannya dari manusia, lebih baik baginya daripada meminta kepada seseorang, baik ia memberi maupun menolak. Yang demikian itu karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu.” Imam Ahmad menambahkan: “Dan sesungguhnya seseorang mengambil tanah lalu memasukkannya ke mulutnya lebih baik baginya daripada memasukkan ke mulutnya apa yang diharamkan Allah atasnya.”

Dalam Shahih Bukhari dari az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu mendatangkan seikat kayu bakar di punggungnya lalu menjualnya, sehingga Allah menjaga wajahnya dengannya, lebih baik baginya daripada meminta kepada manusia, baik mereka memberi maupun menolak.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu: “Bahwa beberapa orang Anshar meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi, maka beliau memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi, maka beliau memberi mereka, hingga habis apa yang ada pada beliau. Beliau berkata kepada mereka ketika beliau telah menghabiskan semua yang ada di tangannya: ‘Apa yang ada padaku dari kebaikan, aku tidak akan menyimpannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan diri, Allah akan menjaganya. Barangsiapa mencukupi diri, Allah akan mencukupinya. Barangsiapa bersabar, Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.'”

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma: “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda—dan beliau di atas mimbar saat menyebut sedekah, menjaga kehormatan diri, dan meminta—: ‘Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi nafkah, dan tangan di bawah adalah yang meminta.'” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda: ‘Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kemurahan jiwa, maka diberkahi untuknya. Barangsiapa mengambilnya dengan keserakahan jiwa, maka tidak diberkahi untuknya. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.’ Hakim berkata: Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengambil dari siapa pun sesuatu pun setelahmu hingga aku meninggalkan dunia.’ Abu Bakar radhiyallahu anhu mengajak Hakim untuk menerima pemberian, tetapi ia menolak menerimanya darinya. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengajaknya untuk memberinya, tetapi ia menolak menerima sesuatu pun darinya. Umar berkata: ‘Aku persaksikan kepada kalian wahai kaum Muslimin terhadap Hakim, bahwa aku tawarkan kepadanya haknya dari harta rampasan ini, tetapi ia menolak mengambilnya.’ Maka Hakim radhiyallahu anhu tidak mengambil dari siapa pun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga ia wafat.” Disepakati keshahihannya.

Diriwayatkan dari asy-Sya’bi, ia berkata: Sekretaris al-Mughirah bin Syu’bah menceritakan kepadaku, ia berkata: “Mu’awiyah menulis surat kepada al-Mughirah bin Syu’bah: ‘Tulislah kepadaku sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.’ Maka ia menulis kepadanya: ‘Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian tiga perkara: qila wa qala (katanya-katanya), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya.'” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Mu’awiyah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mendesak dalam meminta. Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang meminta kepadaku sesuatu, lalu permintaannya mengeluarkan dariku sesuatu sedangkan aku tidak suka kepadanya, maka diberkahi untuknya apa yang aku berikan.”

Dalam lafazh lain: “Sesungguhnya aku hanya penjaga. Barangsiapa aku beri dengan kerelaan jiwa, maka diberkahi untuknya. Barangsiapa aku beri karena permintaan dan keserakahan, maka ia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu anhu, ia berkata: Kekasih yang amanah menceritakan kepadaku—adapun ia adalah kekasih bagiku, dan adapun padaku ia adalah amanah—Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu anhu berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berjumlah sembilan—atau delapan, atau tujuh—maka beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?’—dan kami baru saja berbai’at kepada beliau—maka kami berkata: ‘Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?’ Maka kami berkata: ‘Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?’ Ia berkata: Maka kami mengulurkan tangan kami dan berkata: ‘Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah. Atas apa kami berbai’at kepadamu?’ Beliau bersabda: ‘Agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, shalat lima waktu, taat kepada Allah—dan beliau menyebutkan kalimat pelan—dan jangan meminta sesuatu pun kepada manusia.’ Sungguh aku melihat sebagian dari kelompok tersebut jatuh cambuknya, tetapi ia tidak meminta kepada siapa pun untuk mengambilkannya.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya meminta adalah luka yang menyakiti wajah seseorang, kecuali seseorang meminta kepada penguasa atau dalam perkara yang tidak bisa tidak.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan shahih.

Dalam Musnad Imam Ahmad dari Zaid bin Uqbah al-Fazari, ia berkata: Aku masuk menemui al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, lalu aku berkata: Semoga Allah memperbaiki keadaan Amir, maukah aku menceritakan kepadamu hadits yang aku dengar dari Samurah bin Jundub dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Aku mendengarnya bersabda: “Permintaan-permintaan adalah luka yang menyakiti wajah seseorang. Barangsiapa mau menjaga wajahnya, dan barangsiapa mau meninggalkannya, kecuali seseorang meminta kepada pemilik kekuasaan atau meminta dalam perkara yang tidak bisa tidak.”

Dari Tsauban radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menjamin satu perkara untukku, dan aku menjamin surga untuknya?” Aku berkata: Aku. Beliau bersabda: “Jangan meminta sesuatu pun kepada manusia.” Maka Tsauban apabila jatuh cambuknya saat ia sedang berkendaraan, ia tidak berkata kepada siapa pun: ‘Ambilkan untukku,’ hingga ia turun sendiri lalu mengambilnya.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahli Sunan.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ditimpa kemiskinan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan terpenuhi. Dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberikan kekayaan kepadanya, baik berupa kematian yang cepat atau kekayaan yang cepat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: Hadits hasan sahih.

Dari Sahl bin Hanzhālah, ia berkata: “Uyainah bin Hishn dan Aqra’ bin Habis datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Keduanya meminta sesuatu. Maka Nabi memerintahkan untuk memberi mereka apa yang mereka minta. Beliau memerintahkan Mu’awiyah untuk menuliskan apa yang mereka minta. Adapun Aqra’, ia mengambil suratnya lalu melilitkannya di sorbannya dan pergi. Sedangkan Uyainah, ia mengambil suratnya kemudian datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan suratnya itu. Ia berkata: Wahai Muhammad, aku tampaknya membawa surat kepada kaumku yang aku tidak tahu apa isinya, seperti shahifah (surat) Mutallammis. Maka Mu’awiyah mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ucapan Uyainah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa meminta sedangkan ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak api – dalam riwayat lain: bara api JahannamPara sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, berapa yang mencukupi? – dalam riwayat lain: Berapa kekayaan yang tidak layak bersamanya meminta-minta?Beliau menjawab: Sekadar yang dapat memberinya makan siang dan makan malam.” Dalam riwayat lain: “Yaitu memiliki makanan untuk kenyang sehari semalam.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad.

Dari Ibnu Farasi bahwa Farasi berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Bolehkah aku meminta-minta, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Jangan. Dan jika kamu terpaksa harus meminta, maka mintalah kepada orang-orang saleh.” Diriwayatkan oleh Nasa’i.

Dari Qabishah bin Mukhariq al-Hilali, ia berkata: “Aku menanggung hutang perdamaian. Maka aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk meminta bantuan. Beliau bersabda: Tunggulah sampai datang zakat kepada kami, maka aku akan memerintahkan untuk memberimu. Kemudian beliau bersabda: Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidak halal kecuali bagi tiga golongan: seseorang yang menanggung hutang perdamaian, maka halal baginya meminta sampai ia mendapatkannya kemudian ia berhenti. Seseorang yang ditimpa musibah yang memusnahkan hartanya, maka halal baginya meminta sampai ia mendapatkan sandaran hidup – atau beliau bersabda: kecukupan hidupDan seseorang yang ditimpa kemiskinan, sehingga tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata: Sungguh si fulan telah ditimpa kemiskinan. Maka halal baginya meminta sampai ia mendapatkan sandaran hidup – atau beliau bersabda: kecukupan hidupAdapun selain ketiga golongan tersebut, wahai Qabishah, maka meminta-minta adalah harta haram yang dimakan pemiliknya dengan cara haram.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dari A’idz bin Amr radhiyallahu anhu: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu meminta. Beliau memberinya. Ketika orang itu meletakkan kakinya di ambang pintu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seandainya mereka tahu apa yang ada dalam meminta-minta, niscaya tidak ada seorangpun yang berjalan kepada orang lain untuk meminta sesuatu.” Diriwayatkan oleh Nasa’i.

Dari Malik bin Nadhlah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tangan ada tiga. Tangan Allah adalah yang tertinggi, tangan pemberi adalah yang berikutnya, dan tangan peminta adalah yang terendah. Maka berikanlah yang lebih, dan jangan engkau melemahkan dirimu.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.

Dari Tsauban radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa meminta sesuatu sedangkan ia tidak membutuhkannya, maka itu akan menjadi noda hitam di wajahnya pada hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku bersumpah atasnya: Harta tidak berkurang karena sedekah, maka bersedekahlah. Tidaklah seorang hamba memaafkan kezaliman dengan mengharap wajah Allah melainkan Allah akan meninggikannya karenanya. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membuka baginya pintu kemiskinan.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ibuku mengutusku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta. Maka aku mendatangi beliau lalu duduk. Beliau menghadapiku dan bersabda: Barangsiapa merasa cukup maka Allah akan mencukupkannya, barangsiapa menjaga kehormatan diri maka Allah akan memuliakannya, barangsiapa merasa berkecukupan maka Allah akan mencukupkannya, dan barangsiapa meminta sedangkan ia memiliki nilai satu uqiyah maka ia telah memaksa. Maka aku berkata (dalam hati): Untaku lebih baik dari satu uqiyah. Dan aku tidak jadi meminta kepadanya.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.

Dari Khalid bin Adi al-Juhani radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa datang kepadanya kebaikan dari saudaranya tanpa meminta dan tanpa mengharap, maka hendaklah ia menerimanya dan jangan menolaknya. Karena sesungguhnya itu adalah rezeki yang Allah berikan kepadanya.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Inilah salah satu dari dua makna dalam perkataan: Sesungguhnya di antara syarat ridha adalah meninggalkan desakan dalam meminta, dan inilah makna yang paling sesuai dan paling utama. Karena ia dikaitkan dengan meninggalkan pertengkaran dengan makhluk. Maka ia tidak bertengkar dengan mereka dalam haknya, dan tidak menuntut hak-haknya dari mereka.

Makna yang kedua: Bahwa ia tidak mendesak dalam doa dan tidak berlebihan di dalamnya. Karena itu dapat mengurangi ridha-nya. Ini benar dalam satu sisi dan tidak dalam sisi lain; ia benar jika orang yang berdoa mendesak dalam doanya dengan tujuan-tujuan dan bagian-bagiannya yang segera. Adapun jika ia mendesak kepada Allah dalam meminta apa yang di dalamnya terdapat ridha-Nya dan kedekatan kepada-Nya, maka itu sama sekali tidak mengurangi tingkatan ridha. Dalam atsar disebutkan: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mendesak dalam doa.” Dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu berkata pada hari Badar kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah terlalu mendesak kepada Tuhanmu. Cukuplah bagimu sebagian seruanmu kepada Tuhanmu. Maka desakan ini adalah hakikat penghambaan.

Dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meminta kepada Allah maka Dia murka kepadanya.”

Jika meminta kepada-Nya itu merupakan keridhaan-Nya, maka desakan di dalamnya tidak bertentangan dengan ridha-Nya. Hakikat ridha adalah menyesuaikan dengan ridha-Nya Maha Suci. Bahkan yang bertentangan dengan ridha adalah mendesak kepada-Nya dengan memaksakan kehendak, memilih apa yang ia tidak tahu apakah itu memuaskan-Nya atau tidak. Seperti orang yang mendesak kepada Tuhannya dalam kepemimpinan seseorang, atau memberinya kekayaan, atau mengabulkan hajatnya. Maka ini bertentangan dengan ridha, karena ia tidak yakin bahwa keridhaan Tuhan ada dalam hal itu.

Jika dikatakan: Terkadang hamba memiliki hajat yang dibolehkan baginya untuk meminta, lalu ia mendesak Tuhannya dalam memintanya sehingga dibukakan baginya dari kelezatan bermunajat dan meminta, serta kehinaan di hadapan-Nya dan merendah, bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat serta tauhid-Nya, mengosongkan hati untuk-Nya, dan tidak tergantung dalam hajatnya kepada selain-Nya – sesuatu yang tidak ia dapatkan tanpa desakan. Apakah desakan ini dibenci baginya, meskipun yang diminta adalah bagian dari bagian-bagiannya?

Dijawab: Di sini ada tiga perkara.

Pertama: Bahwa ia fana dengan yang dimintanya dan hajatnya dari maksud dan ridha-Nya, dan ia menjadikan Tuhan sebagai perantara kepada yang dimintanya, sehingga yang dimintanya lebih penting baginya dari-Nya. Maka ini bertentangan dengan kesempurnaan ridha kepada-Nya dan dari-Nya.

Kedua: Bahwa dibukakan pada hatinya – saat meminta – dari ma’rifat kepada Allah, cinta kepada-Nya, kehinaan untuk-Nya, tunduk dan merendah: apa yang membuatnya lupa akan hajatnya. Dan apa yang dibukakan baginya dari itu lebih ia cintai daripada hajatnya. Sehingga ia mencintai agar keadaan itu terus berlangsung, dan itu lebih ia utamakan daripada hajatnya. Kegembiraannya dengannya lebih besar daripada kegembiraannya dengan hajatnya seandainya hajatnya segera dipenuhi dan ia kehilangan itu. Maka ini tidak bertentangan dengan ridha-nya.

Salah seorang ‘arif berkata: Sungguh aku lebih suka memiliki hajat kepada Allah lalu aku meminta kepada-Nya, kemudian dibukakan kepadaku dari bermunajat kepada-Nya, ma’rifat kepada-Nya, merendah untuk-Nya, dan merendah di hadapan-Nya: sesuatu yang bersamanya aku mencintai agar pemenuhan hajatnya ditunda dariku, dan keadaan itu terus berlangsung.

Dalam atsar disebutkan: “Sesungguhnya hamba berdoa kepada Tuhannya Azza wa Jalla, maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat-Nya: Penuhi hajat hamba-Ku dan tunda ia, karena Aku mencintai mendengar doanya. Dan ada hamba lain yang berdoa kepada-Nya, maka Allah berfirman kepada malaikat-Nya: Penuhi hajatnya dan percepat ia, karena Aku membenci suaranya.”

Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai untuk diminta, dan sebaik-baik ibadah adalah menantikan kelapangan.” Diriwayatkan juga dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa senang agar Allah mengabulkan doanya saat kesusahan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang.”

Diriwayatkan juga dari hadits Anas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian meminta hajatnya kepada Tuhannya, bahkan sampai meminta garam, bahkan sampai meminta tali sandalnya jika putus.”

Di dalamnya juga dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang diminta kepada Allah yang lebih dicintai-Nya daripada meminta keselamatan. Dan sesungguhnya doa bermanfaat untuk yang telah turun dan yang belum turun. Maka wajib atas kalian wahai hamba-hamba Allah untuk berdoa.”

Jika ini adalah kecintaan Tuhan kepada doa, maka desakan di dalamnya tidak bertentangan dengan ridha.

Ketiga: Bahwa ia terputus harapannya dari makhluk dan ia bergantung kepada Tuhannya dalam meminta hajatnya, dan ia telah mengkhususkan-Nya dengan permintaan. Dan ia tidak menoleh kepada selain itu. Maka ini mungkin timbul baginya kemaslahatan dari permintaan itu sendiri, dan mengkhususkan Tuhan dengan tujuan.

Perbedaan antara ini dan yang sebelumnya: Bahwa yang itu telah dibukakan baginya apa yang lebih ia cintai daripada hajatnya. Maka ia tidak peduli dengan kehilangan hajatnya setelah ia mendapatkan apa yang dibukakan baginya. Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan diminta.

Pasal: Tingkatan Ketiga, Ridha dengan Ridha Allah

Ia berkata: Tingkatan ketiga: Ridha dengan ridha Allah. Maka hamba tidak melihat bagi dirinya kemurkaan dan tidak pula ridha. Maka itu mendorongnya untuk meninggalkan memaksakan kehendak, menghilangkan memilih, dan menghapus pembedaan, sekalipun ia dimasukkan ke neraka.

Sesungguhnya tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan-tingkatan sebelumnya menurutnya, karena ini adalah tingkatan pemilik jam’ (pengumpulan), yang fana dengan Tuhannya dari dirinya dan dari apa yang darinya. Ia telah diselubungi oleh menyaksikan ridha Allah dengan segala sesuatu dalam kejadiannya sesuai dengan kehendak-Nya, dari menyaksikan ridha-nya sendiri. Maka ia menyaksikan ridha untuk Allah dan dari-Nya sebagai hakikat. Dan ia melihat dirinya fana, lenyap, hilang. Maka ia merasa asing dari dirinya, dari sifat-sifatnya, dari ridha-nya, dan dari kemurkaan-nya. Maka ia bekerja untuk hilang dari wujud-nya dan dari apa yang darinya, melempar diri ke ketiadaan murni. Wujudnya dan dirinya serta sifat-sifatnya telah lenyap dalam wujud Maulannya, Malik yang Haq, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Sebagaimana lenyapnya cahaya lampu yang lemah dalam matahari. Maka ia hilang dengan ridha Tuhannya dari ridha-nya sendiri dan dengan Tuhannya dalam qadha’ dan qadar-Nya. Dan ia hilang dengan sifat-sifat Tuhannya dari sifat-sifatnya, dengan perbuatan-perbuatan-Nya dari perbuatan-perbuatannya. Maka lenyaplah wujudnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya di sisi wujud Tuhannya dan sifat-sifat-Nya, sehingga ia menjadi seperti ketiadaan murni. Dalam tingkatan ini ia tidak melihat bagi dirinya ridha dan tidak pula kemurkaan. Maka fana ini mengharuskan baginya: meninggalkan memaksakan kehendak kepada Allah dengan suatu perkara dari perkara-perkara, dan meninggalkan memilih kepada-Nya. Maka lenyaplah materi pemaksaan kehendak dan fana. Dan terputuslah materi memilih dan lenyap. Dan pada saat itu jatuh pembedaan hamba dan lenyap. Inilah takdir perkataannya.

Setelah itu, di sini ada dua perkara.

Pertama: Bahwa ini adalah keadaan yang muncul, bukan tingkatan yang dicari dan disungguh-sungguhkan kepadanya. Karena keadaan ini bila muncul baginya, maka akan menyembunyikan pembedaannya. Dan tidak mungkin itu berlangsung terus baginya, bahkan akan pendek waktunya dan panjang. Kemudian ia kembali kepada pembedaan dan akalnya. Pemilik keadaan ini adalah yang dikuasai: baik mabuk dengan keadaannya, atau fana dari wujudnya. Dan kesempurnaan adalah di balik itu. Yaitu bahwa ia fana dari iradatnya dengan iradat Tuhannya darinya. Maka ia menjadi baqa dengan wujud lain selain wujud alamiahnya. Dan ia adalah wujud yang suci, ada dengan Allah, untuk Allah, dan bersama Allah. Pemilik ini dalam tingkatan: “Maka dengan Aku ia mendengar, dengan Aku ia melihat, dengan Aku ia memukul.” Ia telah fana dari wujudnya yang alamiah dan nafsani, dan baqa dengan wujud yang tinggi dan suci ini. Maka kembali kepadanya pembedaannya, furqan-nya, ridha-nya kepada Tuhannya, dan tingkatan-tingkatan imannya. Dan ini lebih sempurna dan lebih tinggi dari fana-nya darinya seperti orang mabuk.

Jika engkau berkata: Apakah mungkin sampai kepada tingkatan ini tanpa jalan fana, dan menyeberanginya kepada tingkatan itu tanpa jembatannya?

Aku katakan: Ada perbedaan dalam hal itu. Segolongan mengira bahwa ia tidak sampai kepada baqa dan kepada wujud yang suci ini kecuali setelah menyeberangi jembatan fana. Maka mereka menjadikannya sebagai keharusan dari keharusan-keharusan perjalanan kepada Allah.

Dan segolongan berkata: Bahkan mungkin sampai kepada baqa dengan selain jalan fana, dan fana menurut mereka adalah perkara yang muncul dari perkara-perkara jalan, bukan keharusan. Sebabnya adalah: kuatnya yang datang dan lemahnya tempat serta menariknya dengan mengambil sebab-sebabnya.

Yang benar: Bahwa ia tidak sampai kepada tingkatan ini kecuali setelah menyeberangi jembatan fana dari maksudnya dengan maksud Tuannya. Maka selama belum terjadi baginya fana ini, maka tidak ada jalan baginya kepada baqa itu.

Adapun fana-nya dari wujudnya, maka itu bukan syarat untuk baqa itu, dan bukan pula dari keharusan-keharusannya.

Pemilik tingkatan ini: ia dalam ridha-nya kepada Tuhannya dengan Tuhannya bukan dengan dirinya. Sebagaimana ia dalam tawakkal-nya, tafwidh-nya, taslim-nya, ikhlas-nya, cinta-nya, dan selain itu dari keadaan-keadaannya dengan Tuhannya, bukan dengan dirinya.

Maka ia melihat semua itu dari mata anugerah dan karunia, dipakai di dalamnya, telah ditegakkan di dalamnya, bukan bahwa ia telah melakukannya. Maka ia berdiri di antara menyaksikan “bagi siapa yang menghendaki di antara kamu untuk lurus” (Surat at-Takwir: 28) dan menyaksikan “Dan kamu tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki, Tuhan semesta alam” (Surat at-Takwir: 29). Dan hanya kepada Allah-lah pertolongan diminta.

Bab Kedudukan Syukur

Hakikat Syukur

Bab Kedudukan Syukur

Di antara berbagai kedudukan dalam ayat “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan syukur.

Ini termasuk kedudukan yang paling tinggi. Ia berada di atas kedudukan ridha, bahkan lebih. Ridha tercakup dalam syukur, karena mustahil syukur ada tanpa ridha.

Syukur adalah separuh dari iman – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya – dan iman terdiri dari dua bagian: separuh syukur dan separuh sabar.

Allah memerintahkan kita untuk bersyukur dan melarang kebalikannya. Dia memuji orang-orang yang bersyukur dan menjadikan sifat ini sebagai ciri khas hamba-hamba pilihan-Nya. Allah menjadikan syukur sebagai tujuan penciptaan dan perintah-Nya. Dia menjanjikan balasan terbaik bagi orang yang bersyukur dan menjadikan syukur sebagai sebab untuk mendapat tambahan karunia-Nya, serta sebagai pelindung dan penjaga nikmat-Nya. Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang bersyukurlah yang benar-benar mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Dia menurunkan nama bagi mereka dari salah satu nama-Nya sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Bersyukur (Asy-Syakur), dan Dia menghubungkan hamba yang bersyukur dengan yang disyukuri, bahkan menjadikan orang yang bersyukur menjadi orang yang disyukuri pula. Syukur adalah tujuan Tuhan dari hamba-Nya, namun orang yang bersyukur hanyalah sedikit dari hamba-hamba-Nya.

Allah Taala berfirman: “Dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya saja menyembah” (Surah An-Nahl: 114). Dan firman-Nya: “Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Surah Al-Baqarah: 152). Allah berfirman tentang kekasih-Nya Ibrahim shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang patuh kepada Allah, lagi hanif, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), lagi bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya” (Surah An-Nahl: 120-121). Dan tentang Nuh alaihissalam, Allah berfirman: “Sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur” (Surah Al-Isra: 3). Allah Taala berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur” (Surah An-Nahl: 78). Firman-Nya: “Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan” (Surah Al-Ankabut: 17). Firman-Nya: “Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Surah Ali Imran: 144). Firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih'” (Surah Ibrahim: 7). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur” (Surah Ibrahim: 5).

Allah menamai diri-Nya dengan nama Syakir (Bersyukur) dan Syakur (Maha Bersyukur), dan Dia juga menamai orang-orang yang bersyukur dengan kedua nama ini. Maka Dia memberikan kepada mereka dari sifat-Nya dan menamakan mereka dengan nama-Nya. Cukuplah ini sebagai bukti kecintaan kepada orang-orang yang bersyukur dan karunia bagi mereka.

Adapun menjadikan orang yang bersyukur sebagai orang yang disyukuri, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diterima dengan baik)” (Surah Al-Insan: 22). Dan ridha Tuhan kepada hamba-Nya melalui syukur, seperti firman-Nya: “Dan jika kamu bersyukur, Dia akan meridhai (perbuatan)mu” (Surah Az-Zumar: 7). Sedikitnya orang yang bersyukur di dunia menunjukkan bahwa mereka adalah hamba-hamba pilihan-Nya, seperti firman-Nya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (Surah Saba: 13).

Dalam Shahihain diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: bahwa beliau shalat hingga kedua kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau: “Engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “Tidakkah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Dan beliau bersabda kepada Muadz: “Demi Allah wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintaimu. Maka jangan lupa untuk mengucapkan di akhir setiap shalat: Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Dalam Musnad dan Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: biasa berdoa dengan doa-doa ini: “Ya Allah, tolonglah aku dan jangan tolong (musuhku) untuk melawanku. Menangkanlah aku dan jangan menangkan (musuhku) untuk melawanku. Berdayakanlah aku dan jangan berdayakan (musuhku) untuk melawanku. Berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk bagiku. Menangkanlah aku atas orang yang menzhalimiku. Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, banyak takut kepada-Mu, banyak taat kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak berserah diri dan kembali kepada-Mu. Ya Tuhanku, terimalah taubatku, cucilah dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujahku, tunjukilah hatiku, luruskanlah lisanku, dan hilangkanlah kedengkian dari dadaku.”

Bab Asal Kata Syukur dalam Bahasa

Asal kata syukur dalam bahasa Arab adalah: tampaknya dampak makanan pada tubuh hewan secara nyata. Dikatakan: syakarat ad-dabbah tasykuru syukran dengan wazan saminat tasmanu samnan (kuda menjadi gemuk), yaitu ketika tampak padanya bekas makanannya. Dabbatun syakur (hewan yang bersyukur): jika tampak padanya kegemukan melebihi apa yang dimakan dan diberi pakan.

Dalam Shahih Muslim disebutkan: hingga hewan-hewan pun menjadi gemuk dari daging-daging mereka, artinya menjadi gemuk karena banyaknya yang dimakan darinya.

Demikian pula hakikat syukur dalam penghambaan. Yaitu tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya berupa pujian dan pengakuan, pada hatinya berupa kesaksian dan kecintaan, dan pada anggota tubuhnya berupa ketundukan dan ketaatan.

Syukur dibangun atas lima landasan: kerendahan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, kecintaannya kepada-Nya, pengakuannya terhadap nikmat-Nya, pujiannya kepada-Nya atas nikmat itu, dan tidak menggunakannya dalam hal yang Dia benci.

Lima hal ini adalah dasar syukur dan bangunannya berdiri di atasnya. Jika salah satunya hilang, maka rusak salah satu landasan syukur.

Setiap orang yang berbicara tentang syukur dan membatasinya, maka ucapannya kembali kepada lima hal ini dan berputar di sekitarnya.

Dikatakan: batasan syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Pemberi nikmat dengan penuh kerendahan.

Dikatakan: pujian kepada Yang Berbuat Baik dengan menyebut kebaikan-Nya.

Dikatakan: syukur adalah tertunduknya hati pada kecintaan terhadap nikmat, anggota badan pada ketaatan kepada-Nya, dan mengalirnya lisan dengan dzikir dan pujian kepada-Nya.

Dikatakan: syukur adalah menyaksikan anugerah dan menjaga kehormatan.

Betapa indahnya ucapan Hamdun Al-Qashshar: Syukur atas nikmat adalah engkau melihat dirimu di dalamnya sebagai tamu.

Abu Utsman berkata: Syukur adalah menyadari ketidakmampuan untuk bersyukur.

Dikatakan: Syukur adalah menisbatkan nikmat-nikmat kepada Pemberinya dengan sifat kerendahan kepada-Nya.

Al-Junaid berkata: Syukur adalah engkau tidak melihat dirimu layak atas nikmat itu.

Ini makna dari ucapan Hamdun bahwa ia melihat dirinya sebagai tamu di dalamnya.

Ruwaim berkata: Syukur adalah menghabiskan seluruh kemampuan.

Asy-Syibli berkata: Syukur adalah melihat Pemberi Nikmat, bukan melihat nikmat.

Saya katakan: ucapannya mengandung dua kemungkinan.

Pertama: bahwa ia fana (lenyap) dengan melihat Pemberi Nikmat dari melihat nikmat-nikmat-Nya.

Kedua: bahwa ia tidak terhalang dengan melihat nikmat-nikmat-Nya dan menyaksikannya dari melihat Pemberi Nikmat tersebut. Ini yang lebih sempurna. Sedangkan yang pertama lebih kuat menurut mereka.

Kesempurnaan adalah: engkau menyaksikan nikmat dan Pemberi Nikmat. Karena syukur sesuai dengan penyaksian nikmat. Semakin sempurna penyaksiannya, semakin sempurna syukurnya. Allah mencintai dari hamba-Nya: bahwa ia menyaksikan nikmat-nikmat-Nya, mengakuinya, memuji-Nya karenanya, dan mencintai-Nya karenanya, bukan fana darinya dan tidak hadir menyaksikannya.

Dikatakan: Syukur adalah belenggu bagi nikmat yang ada, dan jerat bagi nikmat yang hilang.

Syukur orang awam: atas makanan, minuman, pakaian, dan makanan badan.

Syukur orang khusus: atas tauhid, iman, dan makanan hati.

Daud alaihissalam berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu? Syukurku kepada-Mu adalah nikmat dari-Mu yang memerlukan syukur lagi. Maka Allah berfirman: Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku wahai Daud.

Dalam atsar Israiliyat lain disebutkan: bahwa Musa shallallahu alaihi wasallam berkata: Wahai Tuhanku, Engkau menciptakan Adam dengan tangan-Mu, meniupkan ruh-Mu kepadanya, menyuruh para malaikat-Mu sujud kepadanya, mengajarkan kepadanya nama segala sesuatu, dan berbuat ini dan itu, bagaimana ia bersyukur kepada-Mu? Allah Azza wa Jalla berfirman: Ia mengetahui bahwa itu dari-Ku, maka pengetahuannya akan hal itu adalah syukur kepada-Ku.

Dikatakan: Syukur adalah kenikmatan dalam memuji-Nya atas apa yang tidak engkau layak dapatkan dari pemberian-Nya.

Al-Junaid berkata – ketika Sari bertanya kepadanya tentang syukur, saat ia masih kecil – Syukur adalah: tidak menggunakan sesuatu dari nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya. Sari bertanya: Dari mana engkau dapat ini? Ia menjawab: Dari duduk bersamamu.

Dikatakan: Barangsiapa tangannya pendek untuk membalas, hendaklah ia panjangkan lisannya dengan syukur.

Syukur selalu disertai tambahan. Sesuai firman-Nya: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (Surah Ibrahim: 7). Jika engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka kembalilah untuk bersyukur.

Dalam atsar Ilahi disebutkan: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Orang yang berdzikir kepada-Ku adalah orang yang bersama-Ku, orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang yang mendapat tambahan dari-Ku, orang yang taat kepada-Ku adalah orang yang mendapat kemuliaan dari-Ku, dan orang yang bermaksiat kepada-Ku, Aku tidak memutuskan rahmat-Ku dari mereka. Jika mereka bertaubat maka Aku adalah Kekasih mereka, dan jika mereka tidak bertaubat maka Aku adalah Tabib (penyembuh) mereka. Aku uji mereka dengan musibah-musibah untuk mensucikan mereka dari aib-aib.”

Dikatakan: Barangsiapa menyembunyikan nikmat maka ia telah mengingkarinya. Dan barangsiapa menampakkan dan menyebarkannya maka ia telah mensyukurinya.

Ini diambil dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah jika memberi nikmat kepada seorang hamba, Dia senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.”

Dalam hal ini dikatakan dalam syair:

Dan di antara kerugian adalah bahwa syukurku diam Atas apa yang engkau lakukan sedangkan kebaikanmu berbicara

Aku melihat kebaikan darimu lalu menyembunyikannya Sesungguhnya aku jika begitu adalah pencuri kebaikan orang mulia

Bab Perbedaan antara Hamdalah (Memuji) dan Syukur

Para ulama membahas perbedaan antara hamdalah (memuji) dan syukur, mana yang lebih tinggi dan lebih utama? Dalam hadits disebutkan: “Hamdalah adalah kepala syukur, barangsiapa tidak memuji Allah maka ia tidak bersyukur kepada-Nya.”

Perbedaan antara keduanya: Syukur lebih umum dari segi jenis-jenisnya dan sebab-sebabnya, namun lebih khusus dari segi objeknya. Sedangkan hamdalah lebih umum dari segi objeknya, namun lebih khusus dari segi sebab-sebabnya.

Makna ini adalah: Syukur bisa dilakukan dengan hati berupa kerendahan dan ketundukan, dengan lisan berupa pujian dan pengakuan, dan dengan anggota badan berupa ketaatan dan kepatuhan. Objeknya adalah nikmat-nikmat, bukan sifat-sifat dzat. Tidak dikatakan: Kami bersyukur kepada Allah atas kehidupan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan ilmu-Nya. Padahal Dia terpuji karenanya, sebagaimana Dia terpuji atas ihsan dan keadilan-Nya. Sedangkan syukur adalah atas ihsan dan nikmat-nikmat.

Maka segala yang menjadi objek syukur juga menjadi objek hamdalah, namun tidak sebaliknya. Dan segala yang dengannya terjadi hamdalah juga dengannya terjadi syukur, namun tidak sebaliknya. Karena syukur bisa dilakukan dengan anggota badan, sedangkan hamdalah dilakukan dengan hati dan lisan.

Bab Definisi Syukur Menurut Ibnu Qayyim

Penulis kitab Al-Manazil berkata:

Syukur: adalah nama untuk mengenal nikmat, karena itu adalah jalan menuju mengenal Pemberi Nikmat. Oleh karena itu Allah menamai Islam dan iman dalam Al-Quran sebagai syukur.

Maka mengenal nikmat adalah salah satu rukun syukur, bukan seluruh syukur, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya: bahwa syukur adalah mengakuinya, memuji-Nya dengannya, tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya, dan beramal dengan apa yang meridhai-Nya di dalamnya. Namun karena mengenalnya adalah rukun syukur yang paling besar, yang mustahil syukur ada tanpanya, maka salah satunya dijadikan nama bagi yang lain.

Ucapannya: karena itu adalah jalan menuju mengenal Pemberi Nikmat.

Maksudnya: jika ia mengenal nikmat, ia sampai dengan mengenalnya kepada pengenalan terhadap Pemberi Nikmat.

Ini dari segi mengenal bahwa itu adalah nikmat, bukan dari segi mana pun ia mengenalnya. Dan jika ia mengenal Pemberi Nikmat, ia mencintai-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mencari-Nya. Sesungguhnya barangsiapa mengenal Allah pasti mencintai-Nya. Dan barangsiapa mengenal dunia pasti membencinya. Berdasarkan ini, ucapannya: Syukur adalah nama untuk mengenal nikmat, mengandung konsekuensi mengenal Pemberi Nikmat. Mengenal-Nya mengandung konsekuensi mencintai-Nya. Dan mencintai-Nya mengandung konsekuensi bersyukur kepada-Nya.

Maka ia telah menyebutkan sebagian bagian syukur dengan lafazh, dan memberi isyarat kepada bagian lainnya dengan konsekuensi. Ini termasuk ringkasan terbaiknya, kesempurnaan pengetahuan dan pemahamannya, semoga Allah mensucikan ruhnya.

Ia berkata: Makna-makna syukur ada tiga hal: mengenal nikmat, kemudian menerima nikmat, kemudian memuji dengannya. Dan ini juga termasuk jalan orang awam.

Adapun mengenalnya: adalah menghadirkannya dalam pikiran, menyaksikannya, dan membedakannya.

Maka mengenalnya adalah memperolehnya secara mental, sebagaimana ia memperolehnya secara eksternal. Karena banyak orang yang diberi kebaikan namun ia tidak tahu. Maka tidak sah darinya syukur ini.

Ucapannya: kemudian menerima nikmat.

Menerimanya adalah menyambutnya dari Pemberi Nikmat dengan menampakkan kefakiran dan kebutuhan kepadanya, dan bahwa sampainya nikmat itu kepadanya tanpa ia berhak dan tanpa membayar harga. Bahkan ia melihat dirinya di dalamnya seperti tamu. Ini adalah bukti ia menerima nikmat dengan sebenarnya.

Ucapannya: kemudian memuji dengannya.

Pujian kepada Pemberi Nikmat yang berkaitan dengan nikmat ada dua jenis: umum dan khusus. Yang umum: menggambarkan-Nya dengan kemurahan, kedermawanan, kebaikan, ihsan, keluasan pemberian, dan semacamnya.

Yang khusus: menceritakan nikmat-Nya dan memberitahukan sampainya nikmat itu kepadanya dari-Nya, sebagaimana firman Allah: “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menceritakannya” (Surah Adh-Dhuha: 11).

Dalam perintah berbicara ini terdapat dua pendapat.

Pendapat pertama: Yang dimaksud adalah menyebutkan nikmat dan mengabarkannya, dengan mengatakan: Allah telah memberi nikmat kepadaku dengan begini dan begitu. Muqatil berkata: Artinya bersyukurlah atas nikmat-nikmat yang disebutkan kepadamu dalam surat ini: dari pengangkatan anak yatim, petunjuk setelah kesesatan, dan kecukupan setelah kemiskinan.

Berbicara tentang nikmat Allah adalah bentuk syukur. Sebagaimana dalam hadis Jabir secara marfu’: “Barangsiapa diperlakukan dengan baik hendaklah ia membalasnya. Jika tidak menemukan apa yang dapat digunakan untuk membalasnya, maka hendaklah ia memuji. Sesungguhnya jika ia memujinya, maka ia telah bersyukur. Dan jika ia menyembunyikannya, maka ia telah mengingkarinya. Dan barangsiapa menampakkan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, maka ia seperti orang yang mengenakan dua pakaian palsu.”

Maka disebutkan tiga golongan makhluk: yang bersyukur atas nikmat dengan memujinya, yang mengingkarinya dan menyembunyikannya, dan yang menampakkan bahwa ia termasuk ahlinya padahal ia bukan ahlinya. Maka ia menghiasi diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya.

Dalam atsar lain secara marfu’: “Barangsiapa tidak bersyukur atas yang sedikit, maka ia tidak bersyukur atas yang banyak. Dan barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Berbicara tentang nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kekufuran. Jamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab.”

Pendapat kedua: Bahwa berbicara tentang nikmat yang diperintahkan dalam ayat ini adalah: dakwah kepada Allah, menyampaikan risalah-Nya, dan mengajarkan kepada umat. Mujahid berkata: Itu adalah kenabian. Az-Zajjaj berkata: Artinya sampaikanlah apa yang engkau diutus dengannya, dan bicarakanlah tentang kenabian yang Allah berikan kepadamu. Al-Kalbi berkata: Itu adalah Al-Qur’an. Ia diperintahkan untuk membacakannya.

Yang benar: bahwa hal itu mencakup kedua jenis tersebut. Karena masing-masing merupakan nikmat yang diperintahkan untuk disyukuri dan dibicarakan. Menampakkannya termasuk bentuk syukur atasnya.

Perkataan Syekh: Dan itu juga termasuk jalan orang awam.

Alangkah baiknya jika Syekh menjaga bukunya dari alasan ini, karena ia menjadikan separuh Islam dan iman sebagai jalan yang paling lemah.

Bahkan syukur adalah jalan para rasul Allah dan para nabi-Nya – semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada mereka semua – makhluk-Nya yang paling khusus dan paling dekat kepada-Nya.

Sungguh mengherankan! Tingkatan apa yang lebih tinggi dari syukur yang di dalamnya tercakup semua tingkatan keimanan, bahkan cinta, ridha, tawakal, dan lainnya? Karena syukur tidak sah kecuali setelah semuanya tercapai. Demi Allah, tidak ada jalan yang lebih tinggi dan lebih mulia bagi orang-orang khusus dari wali-wali Allah dan ahli kedekatan kepada-Nya selain syukur. Karena syukur menurut mereka mengandung unsur klaim, yaitu bahwa ia bersyukur kepada Yang Haq atas nikmat-Nya. Maka pada orang yang bersyukur masih ada sisa dari bekas-bekasnya yang belum hilang darinya dan belum selesai. Seandainya ia fana darinya – dengan menyadari bahwa Yang Haq, Mahasuci Dia, adalah Yang bersyukur kepada diri-Nya dengan diri-Nya, dan bahwa orang yang tidak ada bagaimana bersyukur kepada Yang tidak berhenti ada – niscaya diketahui bahwa syukur termasuk tingkatan orang awam. Seandainya seorang sultan memberi pakaian kepada salah seorang hambanya dengan pakaiannya sendiri, lalu ia mulai bersyukur kepada sultan atas hal itu, maka ia akan dianggap salah dan kurang sopan. Karena dengan itu ia mengklaim membalas sultan dengan syukurnya. Sesungguhnya syukur adalah pembalasan, sedangkan hamba terlalu kecil untuk membalas. Menyaksikan hakikat menuntut kesatuan nisbah mengambil dan memberi, dan kembalinya kepada sifat Yang Memberi dan kekuatan-Nya. Maka orang khusus menggugurkan syukur dengan kesaksian, dan menurut mereka ada yang lebih tinggi darinya.

Ini adalah puncak pemaparan perkataan mereka, dan saya kenakan ungkapan yang paling baik agar tidak menimbulkan penolakan terhadap mereka karena ungkapan yang buruk yang dapat menyebabkan penolakan.

Kami memiliki perlindungan yang bermanfaat: bahwa setiap orang – selain yang ma’shum shallallahu alaihi wasallam – maka perkataannya ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan. Setiap jalan yang tidak sesuai dengan jalannya maka ditinggalkan dan tidak ditempuh.

Adapun syukur yang mengandung unsur klaim, jika yang dimaksud dengan klaim ini adalah penisbahan perbuatan hamba kepada dirinya sendiri, dan bahwa itu terjadi karena dirinya sambil lalai bahwa itu terjadi dengan daya dan kekuatan Allah serta karunia-Nya kepada hamba-Nya, maka demi umur Allah, inilah illat yang berpengaruh dan klaim yang batil dan dusta.

Namun jika yang dimaksud adalah bahwa menyaksikan syukurnya adalah menyaksikan nikmat Allah kepadanya dengannya, dan taufik-Nya kepadanya di dalamnya, dan izin-Nya kepadanya dengannya, dan kehendak-Nya atasnya serta karunia-Nya, maka ia menyaksikan penghambaan dirinya dan penunaiannya, serta bahwa itu terjadi karena Allah. Maka apa klaimnya dalam hal ini? Dan apa illatnya?

Ya, puncaknya adalah bahwa ia tidak sejalan dengan fana dan tidak mengarungi arusnya. Lalu bagaimana?

Kalian menjadikan fana sebagai tujuan akhir, maka hal itu menimbulkan apa yang ditimbulkannya. Dan kalian mendahulukan apa yang Allah dan Rasul-Nya dahulukan. Hal itu mengandung mendahulukan apa yang diakhirkan, dan mengakhirkan apa yang didahulukan, menghilangkan apa yang dianggap, dan menganggap apa yang dihilangkan.

Seandainya bukan karena karunia Allah kepada orang-orang jujur di antara kalian dengan mengharuskan mengikuti risalah dan terikat dengan syariat, niscaya urusannya akan lain dari ini. Sebagaimana terjadi pada lebih dari satu orang yang menempuh jalan berbahaya ini. Maka tidak ada tuhan selain Allah. Betapa banyak di dalamnya orang yang terbunuh dan dirampok, terluka dan tertawan dan tersingkir?

Adapun perkataan kalian bahwa orang yang bersyukur masih memiliki sisa dari bekas-bekasnya.

Maka dikatakan: Jika sisa ini adalah penghambaan murni dan kendaraannya serta pembawanya, maka apa kekurangannya dalam hal ini? Karena penghambaan tidak dapat berdiri dengan sendirinya, melainkan berdiri dengan bekas ini. Maka tidak ada kekurangan dalam membawa penghambaan padanya dan berjalan dengannya kepada Allah Azza wa Jalla. Ya, kekurangan yang sebenarnya adalah membawa nafsu dan syahwat serta kepentingan yang bertentangan dengan kehendak Rabb Ta’ala yang syar’i pada bekas ini dan berjalan dengannya menuju nafsu. Mungkin orang yang mengamalkan fana dalam keadaan seperti ini padahal ia tersamarkan. Maka orang arif sangat teliti dalam menelusuri kantong-kantong nafsu yang tersembunyi.

Adapun perkataan kalian: Orang yang tidak ada bagaimana bersyukur kepada Yang tidak berhenti ada? Ini lebih pantas dengan syathahat daripada ma’rifat. Karena Yang tidak berhenti ada ketika memerintahkan yang tidak ada untuk bersyukur, dan meridhainya darinya serta mencintainya dan memujinya karenanya, memintanya dan menuntutnya darinya, mewajibkan untuknya tambahan karenanya, menisbahkannya kepadanya, menurunkan nama darinya untuknya, menjatuhkan hukum padanya karenanya, dan mengabarkan bahwa itu adalah puncak ridha-Nya darinya. Dan memerintahkannya – dengan itu – untuk menyaksikan bahwa syukurnya terjadi dengan-Nya, dengan izin-Nya, kehendak-Nya dan taufik-Nya, maka inilah syukur yang tidak ada kepada Yang tidak berhenti ada, dan itu adalah penghambaan murni.

Adapun perumpamaan kalian tentang pakaian sultan kepada hambanya dan ia mulai bersyukur kepadanya sebagai pembalasan, maka ini termasuk perumpamaan yang paling batil secara akal, naql, dan fitrah. Dan inilah hijab yang menyebabkan orang yang berkata bahwa bersyukur kepada pemberi nikmat tidak wajib secara akal mengatakan demikian, bahkan ia mengklaim bahwa bersyukur kepadanya jelek secara akal. Seandainya bukan karena syariat, tidak akan baik melakukannya. Dan ia memberikan perumpamaan yang sama dengan yang kalian berikan. Ini termasuk qiyas yang rusak yang mengandung mengqiyaskan Khaliq kepada makhluk. Dengannya matahari, bulan, dan berhala disembah, ketika orang-orang musyrik berkata: Pintu Yang Agung tidak dapat didatangi tanpa perantara dan penghubung. Dan dua masalah ini menyebar pada orang-orang yang rusak dari ahli ibadah dan ahli nazhar dan penelitian. Yang ma’shum adalah yang Allah pelihara.

Maka dikatakan: Perbedaannya dari banyak segi yang sangat banyak hingga tak terhitung.

Di antaranya: Bahwa raja membutuhkan dan fakir kepada orang yang diberi nikmat, tidak tegak kerajaannya kecuali dengannya. Maka ia membutuhkan kompensasi dengan pakaian itu – misalnya – berupa pelayanan kepadanya, penjagaan untuknya, pembelaan untuknya, dan usaha dalam meraih kemaslahatan-kemaslahatan. Maka pakaiannya untuknya termasuk kompensasi dan bantuan. Jika ia mulai bersyukur kepadanya, maka seolah-olah ia menjadikan itu sebagai harga nikmatnya, padahal bukan harga untuknya.

Adapun nikmat Rabb Ta’ala kepada hamba-Nya, maka itu adalah ihsan kepadanya dan karunia atasnya serta pemberian murni, bukan karena kebutuhan kepada-Nya, tidak untuk kompensasi, tidak untuk minta tolong darinya, tidak untuk memperbanyak dari kekurangan, tidak untuk bermulia dari kehinaan, tidak untuk berkuasa dari kelemahan. Mahasuci Dia dengan segala puji-Nya.

Dan perintah-Nya kepadanya untuk bersyukur juga merupakan nikmat lain kepadanya dan ihsan darinya kepadanya, karena manfaat syukur kembali kepada hamba di dunia dan akhirat, bukan kepada Allah. Hamba itulah yang mendapat manfaat dari syukurnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri” (Surat An-Naml: 40). Maka syukur hamba adalah ihsan darinya kepada dirinya sendiri di dunia dan akhirat. Maka tidak tercela apa yang ia lakukan dari itu, meskipun tidak baik untuk membalas pemberi nikmat dengannya dan tidak mampu bersyukur kepada-Nya. Karena ia hanya berbuat baik kepada dirinya sendiri dengan syukur, bukan membalas nikmat-nikmat Rabb. Maka Rabb Ta’ala tidak ada seorang pun yang mampu membalas nikmat-nikmat-Nya selamanya, tidak yang paling sedikit, tidak nikmat yang paling kecil dari nikmat-nikmat-Nya. Karena Dia Ta’ala adalah Yang Memberi nikmat, Yang Menganugerahi, Pencipta syukur dan orang yang bersyukur serta apa yang disyukuri karenanya. Maka tidak ada seorang pun yang mampu menghitung pujian atas-Nya. Karena Dialah Yang berbuat baik kepada hamba-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya, dan berbuat baik kepadanya dengan mengilhaminya untuk bersyukur atasnya. Maka syukurnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepadanya, yang membutuhkan syukur lain, dan seterusnya.

Dan bagian dari kesempurnaan nikmat-Nya, Mahasuci Dia, dan kebaikan, kemurahan serta kedermawanan-Nya yang agung adalah kecintaan-Nya kepadanya atas syukur ini, dan ridha-Nya darinya dengannya, dan pujian-Nya atasnya dengannya, sedangkan manfaat dan faedahnya khusus bagi hamba. Tidak kembali manfaatnya kepada Allah. Dan ini adalah puncak kemurahan yang tidak ada kemurahan di atasnya. Memberi nikmat kepadamu kemudian mengilhami syukur atas nikmat itu, dan ridha darimu. Kemudian mengembalikan kepadamu manfaat syukurmu dan menjadikannya sebab kesinambungan nikmat-nikmat-Nya dan sambungannya kepadamu, serta penambahan atasnya.

Satu segi ini saja cukup bagi orang yang berakal untuk membuat ia sadar pada yang setelahnya.

Adapan kenyataan bahwa menyaksikan menggugurkan syukur, maka demi umur Allah, itu adalah menggugurkan hak Yang disyukuri dengan kepentingan penyaksi. Ya, dengan kepentingan besar yang berkaitan dengan Yang Haq Azza wa Jalla, bukan kepentingan duniawi yang berkaitan dengan kejadian-kejadian, tetapi pemiliknya telah berjalan dari haram ke haram.

Hal ini terlintas dalam benakku sejak lama, tetapi saya tidak berani menyatakannya secara terang-terangan, karena pemiliknya memandang orang yang menyebutkannya dengan pandangan perpisahan pertama. Maka mereka tidak mendengarkannya sama sekali, apalagi mereka telah merasakan kemanisan dan kenikmatannya, dan melihat kebingungan ahli perpisahan pertama dan ketercemuran mereka dengan nafsu-nafsu dan alam-alam mereka. Ditambah lagi mereka menjadikannya sebagai tujuan akhir, maka terkumpullah dari hal-hal ini apa yang terkumpul. Jika hakikat-hakikat telah tersingkap, biarlah yang berkata mengatakan apa yang ia mau.

Bab: Tingkatan-tingkatan Syukur

Tingkatan Pertama: Syukur atas yang Dicintai

Bab: Tingkatan-tingkatan Syukur

Syekh berkata: Dan itu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Syukur atas yang dicintai. Ini adalah syukur yang sama-sama dilakukan oleh kaum muslimin, Yahudi, Nashrani, dan Majusi. Dan bagian dari luasnya rahmat Sang Pencipta, Mahasuci Dia, adalah bahwa Dia menganggapnya sebagai syukur, berjanji penambahan atasnya, dan mewajibkan pahala di dalamnya.

Jika engkau mengetahui hakikat syukur dan bahwa bagian dari hakikatnya adalah menggunakan nikmat-nikmat Pemberi nikmat untuk ketaatan dan ridha-Nya, maka engkau mengetahui kekhususan ahli Islam dengan tingkatan ini, dan bahwa hakikat syukur atas yang dicintai tidak dimiliki oleh selain mereka.

Ya, selain mereka memiliki sebagian rukun dan bagiannya, seperti mengakui nikmat dan memuji Pemberi nikmat dengannya. Karena semua makhluk dalam nikmat-nikmat Allah, dan setiap orang yang mengakui Allah sebagai Rabb dan keesaan-Nya dalam penciptaan dan ihsan, maka ia menisbahkan nikmat-Nya kepada-Nya. Tetapi yang penting adalah kesempurnaan hakikat syukur, yaitu menggunakannya untuk ridha-Nya. Aisyah radhiyallahu anha pernah menulis kepada Muawiyah radhiyallahu anhu: Sesungguhnya paling sedikit yang wajib bagi Pemberi nikmat atas orang yang diberi nikmat adalah bahwa ia tidak menjadikan apa yang dinikmatkan kepadanya sebagai jalan menuju maksiat kepada-Nya.

Maksud Syekh sudah diketahui, yaitu bahwa syukur ini bersifat umum, yaitu mengakui nikmat-nikmat-Nya, Mahasuci Dia, memuji-Nya dengannya, dan berbuat baik kepada makhluk-Nya darinya. Dan ini tanpa ragu mewajibkan penjagaan atasnya bagi mereka dan penambahan darinya. Maka bagian syukur ini bersifat umum, dan mungkin buahnya di dunia berupa pahala yang segera, dan di akhirat berupa keringanan azab. Karena neraka memiliki tingkatan-tingkatan hukuman yang berbeda-beda.

Bab: Tingkatan Kedua: Syukur dalam Hal yang Dibenci

Bab

Syekh berkata: Tingkatan kedua: Syukur dalam hal yang dibenci. Dan ini dari orang yang sama keadaannya baik yang dicintai maupun yang dibenci: sebagai penampakan ridha. Dan dari orang yang membedakan antara keadaan-keadaan: untuk menahan amarah, menyembunyikan keluhan, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Dan orang yang bersyukur ini adalah orang pertama yang akan dipanggil ke surga.

Maksudnya bahwa syukur atas hal yang dibenci lebih berat dan lebih sulit daripada syukur atas yang dicintai. Oleh karena itu ia berada di atasnya dalam tingkatan. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh salah satu dari dua orang:

Pertama: Orang yang tidak membedakan antara keadaan-keadaan, bahkan yang dibenci dan yang dicintai sama baginya. Maka syukurnya adalah penampakan darinya akan ridha dengan apa yang menimpanya. Dan ini adalah tingkatan ridha.

Orang kedua: Orang yang membedakan antara keadaan-keadaan. Maka ia tidak mencintai yang dibenci dan tidak ridha dengan menimpanya. Jika hal yang dibenci menimpanya, ia bersyukur kepada Allah Ta’ala atasnya, maka syukurnya adalah menahan amarah yang menimpanya, menyembunyikan keluhan, memelihara adab darinya, dan menempuh jalan ilmu. Karena ilmu dan adab memerintahkan untuk bersyukur kepada Allah atas kesenangan dan kesusahan. Maka ia menempuh dengan syukur ini jalan ilmu, karena ia bersyukur kepada Allah dengan syukur orang yang ridha dengan qadha-Nya, seperti keadaan yang sebelumnya. Sedangkan yang sebelumnya lebih tinggi darinya.

Dan sungguh orang yang bersyukur ini adalah orang pertama yang dipanggil ke surga, karena dia menghadapi berbagai kesulitan—yang kebanyakan orang menghadapinya dengan keluh kesah dan ketidakrelaan, orang-orang menengah menghadapinya dengan kesabaran, dan orang-orang khusus menghadapinya dengan keridhaan—maka dia menghadapi kesulitan itu dengan sesuatu yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu syukur. Maka dia adalah orang yang paling cepat masuk surga dan orang pertama yang dipanggil di antara mereka ke surga.

Dan dia membagi ahli tingkatan ini kepada dua kelompok: orang-orang yang mendahului (al-sabiqun) dan orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun), sesuai dengan pembagian mereka kepada orang yang sama keadaannya terhadap berbagai kondisi, baik yang tidak disukai maupun yang disukai, sehingga tidak ada yang lebih berpengaruh dari yang lain. Bahkan dia telah fana dengan mendahulukan apa yang diridhai Tuhannya untuknya atas apa yang dia ridhai untuk dirinya sendiri. Dan kepada orang yang lebih menyukai yang disukai, tetapi jika yang tidak disukai menimpanya, dia menghadapinya dengan syukur.

[Pasal: Tingkatan Ketiga adalah Hamba Tidak Menyaksikan Kecuali Pemberi Nikmat]

Pasal

Dia berkata: Tingkatan ketiga adalah hamba tidak menyaksikan kecuali Sang Pemberi Nikmat. Jika dia menyaksikan Pemberi Nikmat dengan penghambaan, dia akan menganggap besar nikmat dari-Nya. Jika dia menyaksikan-Nya dengan cinta, dia akan merasakan manis penderitaan dari-Nya. Dan jika dia menyaksikan-Nya dengan penunggalan (tafrīd), dia tidak menyaksikan dari-Nya nikmat maupun penderitaan.

Pemilik tingkatan ini tenggelam dengan menyaksikan Pemberi Nikmat sehingga melupakan nikmat. Sehingga penyaksiannya terhadap Pemberi Nikmat tidak cukup luas untuk Pemberi Nikmat dan selain-Nya.

Dan dia membagi pemilik tingkatan ini kepada tiga kelompok: pemilik penyaksian penghambaan, pemilik penyaksian cinta, dan pemilik penyaksian penunggalan. Dan dia menjadikan untuk setiap mereka suatu hukum yang lebih layak bagi mereka.

Adapun penyaksian penghambaan, yaitu penyaksian hamba kepada Sang Tuan dengan hakikat penghambaan dan kepemilikan-Nya terhadap dirinya. Sesungguhnya para hamba jika hadir di hadapan tuan mereka, maka mereka melupakan apa yang mereka miliki berupa kedudukan dan kedekatan yang mereka khususkan dari orang lain karena tenggelam dalam adab penghambaan dan haknya, serta perhatian mereka kepada tuan mereka, khawatir jika dia memberi isyarat kepada mereka dengan suatu perintah lalu mendapati mereka lalai dari memperhatikannya. Dan ini adalah perkara yang diketahui oleh orang yang menyaksikan keadaan para raja dan orang-orang khusus mereka.

Maka inilah penyaksian hamba terhadap Pemberi Nikmat dengan sifat penghambaan dirinya kepada-Nya, dan tenggelamnya dari ihsan dengan apa yang telah diperoleh darinya berupa kedekatan yang membedakannya dari yang lain.

Maka pemilik penyaksian ini, jika tuannya memberinya nikmat dalam keadaan ini—sementara dia berdiri di tingkatan penghambaan—akan mewajibkan dirinya untuk merendahkan dirinya di hadirat tuannya serendah-rendahnya, dengan hatinya dipenuhi cintanya. Maka nikmat apa pun yang diperolehnya dari-Nya dalam keadaan ini, dia melihatnya besar. Dan kenyataan menyaksikan hal ini dalam keadaan orang yang mencintai dengan cinta sempurna, yang tenggelam dalam menyaksikan kekasihnya, ketika dia memberikan sesuatu yang sedikit kepadanya. Maka sesungguhnya dia melihat hal itu dalam tingkatan itu sangat besar. Dan orang lain tidak melihatnya demikian.

Kelompok kedua: dia menyaksikan Yang Haq dengan penyaksian cinta yang menguasai dan menaklukannya, tenggelam dalam penyaksiannya seperti itu. Maka sesungguhnya dia akan merasakan manis kesulitan dari-Nya dalam keadaan ini. Karena orang yang mencintai akan merasakan manis perbuatan yang dicintai kepadanya.

Dan paling sedikit dalam penyaksian ini adalah kesulitan itu menjadi ringan baginya dalam menanggung kesulitan-kesulitan, jika jiwanya tidak mampu merasakan manisnya. Dan dalam hal ini terdapat kisah-kisah yang terkenal di kalangan manusia yang cukup untuk tidak disebutkan, seperti keadaan orang yang dicambuk dengan cemeti dan tidak bergerak, hingga dicambuk cambukan terakhir. Maka dia berteriak keras sekali. Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Maka dia berkata: “Mata yang memandangku saat dicambuk telah mencegahku dari merasakan sakit. Ketika aku kehilangannya, aku merasakan sakit cambukan.”

Dan keadaan ini adalah keadaan yang datang tidak tetap. Karena tabiat menolak merasakan manis sesuatu yang berlawanan seperti merasakan manis sesuatu yang sesuai.

Benar, kadang kekuasaan cinta menjadi kuat hingga orang yang mencintai merasakan manis apa yang orang lain rasakan pahit, dan meringankan apa yang orang lain rasakan berat, dan merasa tenteram dengan apa yang orang yang tidak mencintai merasa gelisah darinya, dan merasa gelisah dengan apa yang dia merasa tenteram dengannya, dan merasakan lunak apa yang dia rasakan kasar. Dan kuat dan lemahnya hal ini sesuai dengan dominasi kekuasaan cinta dan penguasaannya atas hati orang yang mencintai.

Kelompok ketiga: bahwa dia menyaksikan-Nya dengan penunggalan. Maka sesungguhnya dia tidak menyaksikan bersama-Nya nikmat maupun kesulitan.

Dia berkata: Sesungguhnya penyaksian penunggalan memfanakan bentuk. Dan ini adalah keadaan fana yang tenggelam di dalamnya, yang tidak menyaksikan nikmat maupun cobaan. Karena dia ghaib dengan yang disaksikannya dari penyaksiannya kepadanya. Dan dia fana dengannya darinya. Maka bagaimana dia menyaksikan bersama-Nya nikmat atau cobaan? Sebagaimana sebagian dari mereka berkata dalam hal ini: “Barangsiapa pemberiannya tidak melampaui kedua tangannya, maka tidak ada pemberi dan tidak ada yang diberi.”

Dan itu adalah tingkatan al-jam’ (penghimpunan) menurut mereka, dan sebagian dari mereka mengharamkan ungkapan tentangnya.

Dan hakikatnya adalah pemusnahan yang mengangkat perasaan pemiliknya terhadap bentuknya, apalagi bentuk selain dirinya, karena tenggelamnya dalam yang disaksikannya dan ghaibnya dengannya dari selain-Nya. Dan inilah yang dituju oleh kaum (sufi).

Dan engkau telah mengetahui bahwa di atasnya ada tingkatan yang lebih tinggi darinya, lebih mulia dan lebih agung. Yaitu dia dimusnahkan dengan kehendak-Nya dari selain-Nya. Sehingga dalam keadaan penyaksian dan tenggelamnya, dia melaksanakan perintah-perintah dan kehendak-Nya, memperhatikan apa yang kekasihnya perhatikan dari kehendak dan perintah.

Maka perhatikanlah sekarang dua hamba di hadapan seorang raja dari raja-raja dunia, dan keduanya berada di satu tempat di hadapannya. Salah satu dari mereka sibuk dengan menyaksikannya, maka sesungguhnya tenggelamnya dalam memperhatikan raja tidak cukup luas untuk memperhatikan sesuatu dari urusan raja sama sekali. Dan yang lain sibuk memperhatikan gerakan raja dan kata-katanya, apa perintahnya, pandangannya dan pikirannya, agar dia menyusun atas setiap itu apa yang dikehendaki oleh raja.

Dan perhatikanlah kisah sebagian raja yang memiliki seorang hamba sahaya yang dikhususkan dengan perhatiannya kepadanya dan kemuliaannya, dan keberuntungan di sisinya dari antara seluruh hamba sahayanya—dan hamba sahaya itu bukan yang paling berharga di antara mereka, dan bukan yang paling bagus rupanya—maka mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka raja ingin menjelaskan kepada mereka keutamaan hamba sahaya itu dalam pelayanan atas yang lain. Maka suatu hari raja sedang mengendarai kendaraan dalam sebagian urusannya, dan bersama dia rombongan, dan jauh darinya ada gunung yang di atasnya ada salju. Maka raja memandang ke salju itu dan menunduk. Maka hamba sahaya itu memacu kudanya. Dan rombongan tidak tahu mengapa dia memacu kuda. Maka tidak lama dia datang dan membawa sedikit salju. Maka raja berkata: “Apa yang membuatmu tahu bahwa aku menginginkan salju?” Maka hamba sahaya itu berkata: “Karena engkau memandangnya. Dan pandangan para raja kepada sesuatu tidak terjadi tanpa maksud.” Maka raja berkata: “Sesungguhnya aku mengkhususkannya dengan kemuliaanku dan perhatianku karena setiap salah satu dari kalian memiliki kesibukan, dan kesibukannya adalah memperhatikan pandanganku dan mengawasi keadaanku.” Maksudnya dalam mencapai kehendakku.

Dan aku mendengar sebagian syaikh berkata: Seandainya seorang raja berkata kepada dua hamba sahayanya yang di hadapannya, tenggelam dalam menyaksikannya dan menghadapnya: “Pergilah kalian berdua ke negeri musuhku, sampaikanlah kepada mereka surat-surat ini, kabarkan kepadaku tentang keadaan mereka, dan lakukan begini dan begitu.” Maka salah satu dari mereka pergi dari saat itu juga untuk tujuannya dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan, sedangkan yang lain berkata: “Aku tidak akan meninggalkan penyaksianku kepadamu, dan tenggelam padamu, dan terus memandangmu. Dan aku tidak akan sibuk dengan selainmu.” Maka orang ini pantas mendapat kemurkaan raja kepadanya, dan kebenciannya kepadanya, dan jatuh dari pandangannya. Karena dia berdiri dengan hanya keuntungannya sendiri dari raja, tidak dengan kehendak raja darinya, berbeda dengan temannya yang pertama.

Dan aku mendengarnya juga berkata: Seandainya dua orang mengaku mencintai orang yang dicintai, lalu mereka hadir di hadapannya. Maka salah satu dari mereka menghadap untuk menyaksikannya dan memandangnya saja. Dan yang lain menghadap untuk mengetahui kehendak-kehendaknya, keridhaan-keridhaan-Nya dan perintah-perintah-Nya agar melaksanakannya. Maka dia berkata kepada keduanya: “Apa yang kalian inginkan?” Maka salah satu dari mereka berkata: “Aku ingin terus menyaksikanmu dan tenggelam dalam keindahanmu.” Dan yang lain berkata: “Aku ingin melaksanakan perintah-perintahmu dan mencapai keridhaan-Mu. Maka kehendakku darimu adalah apa yang Engkau kehendaki dariku, bukan apa yang aku kehendaki darimu.” Dan yang lain berkata: “Kehendakku darimu adalah kenikmatan menyaksikanmu.” Apakah keduanya sama di sisinya?

Maka siapa sekarang pemilik cinta yang cacat, rusak, kurang dan bersifat nafsani, dan pemilik cinta yang benar, jujur, sempurna? Apakah yang ini atau yang itu?

Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah mensucikan ruhnya—menceritakan dari sebagian orang yang mengenal Allah bahwa dia berkata: “Manusia menyembah Allah, dan para sufi menyembah diri mereka sendiri.”

Dia menginginkan makna yang telah disebutkan sebelumnya, dan bahwa mereka berdiri dengan kehendak mereka dari Allah, bukan dengan kehendak Allah dari mereka. Dan ini adalah hakikat penyembahan diri. Maka hendaknya orang yang berakal merenungkan tempat ini dengan sebaik-baik renungan. Karena ini adalah batu ujian dan timbangan. Dan hanya Allah tempat memohon pertolongan.

[Pasal: Tingkatan al-Haya’ (Kedudukan Malu)]

[Malu dalam Kitab dan Sunnah]

Pasal: Tingkatan al-Haya’

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Q.S. al-Fatihah: 5) adalah tingkatan malu (al-haya’).

Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat” (Q.S. al-‘Alaq: 14). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu” (Q.S. an-Nisa’: 1). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Q.S. Ghafir: 19).

Dan dalam Shahih dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang laki-laki—dan dia sedang menasihati saudaranya tentang malu—maka beliau bersabda: “Biarkanlah dia. Karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.”

Dan dalam keduanya (Shahihain) dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.”

Dan dalam keduanya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian—atau enam puluh sekian—cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah cabang dari iman.”

Dan dalam keduanya dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di kamarnya. Maka jika beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami mengetahuinya di wajah beliau.”

Dan dalam Shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya di antara apa yang manusia dapat dari perkataan kenabian yang pertama: ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.'” Dan dalam hal ini ada dua pendapat.

Pertama: bahwa itu adalah perintah ancaman. Dan maknanya adalah khabar (berita), yaitu barangsiapa tidak malu maka dia berbuat sesukanya.

Kedua: bahwa itu adalah perintah kebolehan. Yaitu perhatikanlah perbuatan yang engkau ingin melakukannya, maka jika itu termasuk sesuatu yang tidak perlu malu darinya maka lakukanlah. Dan yang pertama lebih benar. Dan itulah pendapat kebanyakan ulama.

Dan dalam Tirmidzi secara marfu’: “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka berkata: “Kami malu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bukan itu, tetapi barangsiapa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu maka hendaknya dia menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, dan menjaga perut dan apa yang dimuatnya, dan mengingat kematian dan kelapukan. Dan barangsiapa menginginkan akhirat maka dia meninggalkan perhiasan dunia. Maka barangsiapa melakukan itu maka sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

[Pasal: Definisi Malu]

Pasal

Dan malu (al-haya’) berasal dari kehidupan (al-hayah). Dan darinya adalah al-haya untuk hujan, tetapi dia maqshur (pendek akhirannya). Dan sesuai dengan kehidupan hati ada padanya kekuatan akhlak malu. Dan sedikitnya malu dari kematian hati dan ruh. Maka semakin hati lebih hidup, maka malu lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullah berkata: “Malu adalah melihat nikmat-nikmat dan melihat kekurangan, maka terlahir di antara keduanya suatu keadaan yang dinamakan malu. Dan hakikatnya adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan kejelekan dan mencegah dari kelalaian dalam hak pemilik hak.”

Dan dari perkataan sebagian ahli hikmah: “Hidupkan malu dengan duduk bersama orang yang harus diperlakukan malu kepadanya. Dan memakmurkan hati dengan rasa takut dan malu. Maka jika keduanya hilang dari hati, tidak tersisa di dalamnya kebaikan.”

Dan berkata Dzun Nun: “Malu adalah adanya rasa takut di hati bersama kegelisahan terhadap apa yang telah terjadi darimu kepada Tuhanmu. Dan cinta membuat berbicara, dan malu membuat diam, dan takut membuat gelisah.”

Dan berkata as-Sariy: “Sesungguhnya malu dan ketenangan mendatangi hati. Maka jika mereka menemukan di dalamnya zuhud dan wara’ maka jika tidak mereka pergi.”

Dan dalam atsar ilahi: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama malu kepada-Ku, Aku akan membuat manusia lupa aib-aibmu, dan membuat bumi lupa dosa-dosamu, dan menghapus dari Ummul Kitab kesalahan-kesalahanmu. Dan jika tidak, Aku akan menghisab engkau dengan teliti pada hari kiamat.'”

Dan dalam atsar yang lain: “Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada Isa ‘alaihis salam: ‘Nasihatilah dirimu. Maka jika engkau menerima nasihat, dan jika tidak maka malulah kepada-Ku bahwa engkau menasihati manusia.'”

Dan berkata al-Fudhail bin ‘Iyadh: “Lima dari tanda-tanda kecelakaan: kekerasan dalam hati, keringnya mata, sedikitnya malu, keinginan terhadap dunia, dan panjangnya angan-angan.”

Dan dalam atsar ilahi: “Hamba-Ku tidak berbuat adil kepada-Ku. Dia berdoa kepada-Ku maka Aku malu untuk menolaknya. Dan dia bermaksiat kepada-Ku dan dia tidak malu kepada-Ku.”

Dan berkata Yahya bin Mu’adz: “Barangsiapa malu kepada Allah dalam keadaan taat, Allah akan malu kepadanya dalam keadaan berdosa.”

Dan perkataan ini membutuhkan penjelasan.

Dan maknanya: bahwa barangsiapa menguasai dirinya akhlak malu kepada Allah hingga dalam keadaan ketaatannya, maka hatinya menunduk di hadapan-Nya dengan tundukan orang yang malu dan malu. Maka sesungguhnya dia jika melakukan dosa, Allah ‘Azza wa Jalla malu dari pandangan-Nya kepadanya dalam keadaan itu karena kemuliaannya kepada-Nya. Maka Dia malu untuk melihat dari wali-Nya dan orang yang mulia kepada-Nya apa yang memalukan di sisi-Nya. Dan dalam yang nyata ada bukti dengan itu. Karena sesungguhnya seseorang jika melihat orang yang paling khusus kepadanya, dan paling dicintai kepadanya, dan paling dekat darinya—dari teman, atau anak, atau orang yang dicintainya—dan dia mengkhianatinya, maka sesungguhnya akan menimpanya dari melihatnya itu rasa malu yang luar biasa. Hingga seakan-akan dialah yang bersalah. Dan ini adalah puncak kemuliaan.

Telah dikatakan bahwa sebab rasa malu ini adalah seseorang membayangkan dirinya ketika sedang taat, seolah-olah ia sedang bermaksiat kepada Allah. Maka ia merasa malu kepada-Nya dalam keadaan itu. Karena itulah disyariatkan istighfar setelah melakukan amal-amal saleh dan ibadah-ibadah yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah.

Dikatakan pula bahwa seseorang membayangkan dirinya sebagai pengkhianat, maka ia merasa malu. Sebagaimana jika ia menyaksikan seorang laki-laki dipukul dan orang itu adalah temannya, atau orang yang terhenti di atas mimbar tidak bisa berbicara, maka ia pun merasa malu juga karena membayangkan dirinya dalam keadaan seperti itu.

Hal ini memang bisa terjadi. Tetapi rasa malu orang yang melihat kekasihnya sedang berkhianat bukanlah seperti ini. Karena seandainya ia melihat orang lain yang tidak ia pedulikan, ia tidak akan merasa malu seperti ini atau yang mendekatinya. Yang terjadi justru ia akan membencinya dan meremehkannya. Sebabnya—dan Allah Maha Mengetahui—adalah karena hati dan jiwanya sangat terikat kepada kekasih itu. Maka persangkaannya menempatkan perbuatan itu seolah-olah perbuatannya sendiri. Terlebih jika ia membayangkan terjadinya penyingkapan antara keduanya. Karena ketika hal itu terjadi, akhlak malu akan muncul darinya sebagai bentuk kemuliaan. Maka ketika membayangkannya, rasa malu itu pun terpancar. Ini dalam hal orang yang hadir.

Adapun rasa malu Tuhan kepada hamba-Nya, maka itu jenis yang lain. Tidak dapat dipahami oleh akal pikiran, dan tidak dapat dijelaskan hakikatnya oleh akal. Karena itu adalah rasa malu yang bersumber dari kemuliaan, kebajikan, kemurahan, dan keagungan. Sesungguhnya Allah Pemalu lagi Maha Mulia, Dia merasa malu kepada hamba-Nya jika ia mengangkat tangannya kepada-Nya untuk mengembalikannya dengan tangan hampa. Dan Dia merasa malu untuk menyiksa orang yang beruban dalam Islam.

Yahya bin Muadz biasa berkata: Maha Suci Dia yang hamba-Nya berbuat dosa tetapi Dialah yang merasa malu. Dan dalam sebuah atsar disebutkan: Barangsiapa yang merasa malu kepada Allah, maka Allah akan merasa malu kepadanya.

[Pembagian Rasa Malu]

Rasa malu dibagi menjadi sepuluh macam: rasa malu karena kejahatan, rasa malu karena kekurangan, rasa malu karena pengagungan, rasa malu karena kemuliaan, rasa malu karena kehormatan, rasa malu karena merendahkan dan menganggap remeh diri sendiri, rasa malu karena kecintaan, rasa malu karena penghambaan, rasa malu karena kebanggaan dan kemuliaan, dan rasa malu seseorang kepada dirinya sendiri.

Adapun rasa malu karena kejahatan, contohnya adalah rasa malu Adam ketika ia lari di dalam surga. Allah berfirman: Apakah kamu lari dari-Ku wahai Adam? Dia menjawab: Bukan ya Tuhanku, tetapi karena malu kepada-Mu.

Rasa malu karena kekurangan seperti rasa malu para malaikat yang bertasbih siang dan malam tanpa henti. Maka ketika tiba hari Kiamat mereka berkata: Maha Suci Engkau! Kami tidak menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya penyembahan.

Rasa malu karena pengagungan adalah rasa malu yang muncul dari pengetahuan. Kadar rasa malu seorang hamba kepada Tuhannya sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang-Nya.

Rasa malu karena kemuliaan seperti rasa malu Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada kaum yang mengundangnya ke walimah Zainab dan mereka duduk berlama-lama di sisinya. Maka beliau berdiri dan merasa malu untuk berkata kepada mereka: Pulanglah.

Rasa malu karena kehormatan seperti rasa malu Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhainya untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang madzi karena keberadaan putrinya yang menjadi istri beliau.

Rasa malu karena meremehkan dan merendahkan diri seperti rasa malu seorang hamba kepada Tuhannya ketika meminta kebutuhan-kebutuhannya dengan merasa remeh dan kecil dirinya. Dalam atsar Israiliyyat disebutkan: Sesungguhnya Musa berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku memiliki keperluan dunia, namun aku malu untuk meminta kepada-Mu ya Tuhanku. Allah berfirman: Mintalah kepada-Ku sampai garam untuk adonan rotimu dan makanan kambingmu.

Jenis rasa malu ini bisa memiliki dua sebab. Pertama: pemohon meremehkan dirinya sendiri dan menganggap besar dosa-dosa dan kesalahannya. Kedua: mengagungkan Yang diminta.

Adapun rasa malu karena kecintaan, yaitu rasa malu orang yang mencintai kepada yang dicintainya. Bahkan jika yang dicintai itu terlintas di hatinya dalam ketidakhadirannya, rasa malu akan muncul dari hatinya dan ia merasakannya di wajahnya, dan ia tidak tahu apa sebabnya. Demikian pula yang menimpa orang yang mencintai ketika bertemu dengan kekasihnya dan tiba-tiba berjumpa dengannya, ia akan merasakan keterkejutan yang hebat. Dari situlah mereka berkata: keindahan yang menakjubkan. Sebab rasa malu dan keterkejutan ini adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Tidak diragukan bahwa kekuasaan cinta atas hati lebih besar daripada kekuasaan orang yang menguasai badan. Mana yang lebih besar, orang yang menguasai hati dan ruhmu atau orang yang menguasai badanmu? Karena itulah para raja dan penguasa takjub dengan kekuasaan mereka atas manusia, sementara kekasih menguasai mereka dan mereka tunduk kepadanya. Maka ketika yang dicintai tiba-tiba muncul di hadapan pencintanya dan ia melihatnya secara mendadak, hati merasakan adanya kekuasaannya yang menyerbu. Maka timbullah rasa terkejut dan takut.

Kami pernah bertanya suatu hari kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—tentang masalah ini. Lalu kami menyebutkan jawaban ini. Maka beliau tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.

Adapun rasa malu yang menimpanya meskipun ia berkuasa atasnya—seperti budaknya dan istrinya—maka sebabnya—dan Allah Maha Mengetahui—adalah bahwa ketika kekuasaan ini hilang rasa takutnya dari hati, tersisalah rasa segan dan hormatnya. Maka terlahirlah darinya rasa malu. Adapun terjadinya hal itu dalam ketidakhadiran yang dicintai, maka jelas karena kekuasaannya atas hati. Maka persangkaannya menipu dan memaksanya, hingga seolah-olah ia bersamanya.

Adapun rasa malu karena penghambaan, yaitu rasa malu yang bercampur antara kecintaan dan ketakutan, serta menyaksikan ketidaklayakan penghambaan dirinya kepada yang disembah, dan bahwa kedudukan-Nya lebih tinggi dan lebih agung dari itu. Maka penghambaan dirinya kepada-Nya pasti menimbulkan rasa malu kepada-Nya.

Adapun rasa malu karena kebanggaan dan kemuliaan, yaitu rasa malu jiwa yang besar dan agung jika melakukan sesuatu yang di bawah kedudukannya berupa pemberian, penganugerahan, dan kebaikan. Maka ia merasa malu dalam pemberiannya karena kebanggaan jiwa dan kemuliaan. Ini memiliki dua sebab. Pertama adalah ini. Kedua: rasa malunya kepada penerima, hingga seolah-olah dialah yang menerima dan meminta. Bahkan sebagian orang yang dermawan tidak sanggup berhadapan dengan orang yang diberinya karena malu kepadanya. Ini termasuk dalam rasa malu karena celaan, karena ia malu dari rasa malu orang yang menerima.

Adapun rasa malu seseorang kepada dirinya sendiri, yaitu rasa malu jiwa-jiwa yang mulia, terhormat, dan tinggi karena ridha terhadap dirinya dengan kekurangan dan puas dengan yang rendah. Maka ia mendapati dirinya merasa malu dari dirinya sendiri, hingga seolah-olah ia memiliki dua jiwa, ia malu dengan salah satunya kepada yang lain. Inilah rasa malu yang paling sempurna, karena jika seorang hamba merasa malu kepada dirinya sendiri, maka ia lebih pantas lagi merasa malu kepada orang lain.

[Pasal: Rasa Malu adalah Awal Tingkatan Orang-orang Khusus]

Pasal

Penulis kitab Manazil berkata:

Rasa malu termasuk awal tingkatan orang-orang khusus. Ia lahir dari pengagungan yang disertai dengan kecintaan.

Rasa malu dijadikan sebagai awal tingkatan orang-orang khusus karena di dalamnya terdapat perhatian terhadap kehadiran Dzat yang dirasakan malu kepada-Nya. Dan awal perjalanan orang-orang khusus adalah mereka melihat Allah hadir bersama mereka, dan di atas itulah dibangun perjalanan mereka.

Perkataannya: bahwa ia lahir dari pengagungan yang disertai kecintaan.

Maksudnya: bahwa rasa malu adalah keadaan yang terjadi dari percampuran antara pengagungan dengan kecintaan. Jika keduanya berpadu, maka lahirlah rasa malu di antara keduanya.

Al-Junaid berkata: Bahwa kelahirannya adalah dari penyaksian nikmat dan melihat kekurangan.

Di antara mereka ada yang berkata: Kelahirannya adalah dari perasaan hati terhadap sesuatu yang dirasakan malu darinya. Maka dari perasaan dan keengganan ini lahirlah keadaan yang disebut rasa malu.

Tidak ada pertentangan antara perkataan-perkataan ini. Karena rasa malu memiliki beberapa sebab yang telah disebutkan sebelumnya. Maka setiap orang menunjuk kepada sebagian darinya. Wallahu a’lam.

[Pasal: Tingkatan-tingkatan Rasa Malu]

[Tingkatan Pertama: Rasa Malu yang Lahir dari Pengetahuan Hamba tentang Pandangan Allah Kepadanya]

Pasal

Penulis berkata: Rasa malu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: rasa malu yang lahir dari pengetahuan hamba tentang pandangan Allah kepadanya. Maka hal itu menariknya untuk menanggung beban perjuangan ini, membawanya untuk memandang buruk kejahatan, dan membuatnya diam dari keluhan.

Maksudnya: bahwa hamba jika mengetahui bahwa Tuhan memandang kepadanya, pengetahuan ini melahirkan rasa malu kepada-Nya yang menariknya untuk menanggung beban-beban ketaatan. Seperti seorang hamba yang bekerja di hadapan tuannya, maka ia akan bersemangat di dalamnya dan menanggung beban-bebannya, terlebih dengan kebaikan tuannya kepadanya dan kecintaannya kepada tuannya. Berbeda jika ia tidak ada di hadapan tuannya. Dan pandangan Tuhan tidak pernah absen dari hamba-Nya, tetapi yang absen adalah pandangan dan perhatian hati terhadap pandangan-Nya kepada para hamba. Karena jika pandangan hati absen dan perhatiannya sedikit terhadap pandangan Allah kepadanya, maka dari situlah lahir kurangnya rasa malu dan keberanian berbuat maksiat. Demikian pula hal itu membawanya untuk memandang buruk kejahatannya. Dan perasaan buruk ini yang muncul dari rasa malu adalah kadar yang lebih tinggi daripada perasaan buruk karena memperhatikan ancaman, bahkan di atasnya.

Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah perasaan buruk yang muncul dari kecintaan. Maka perasaan buruk orang yang mencintai lebih sempurna daripada perasaan buruk orang yang takut. Karena itulah rasa malu ini mencegah hamba untuk mengeluh kepada selain Allah. Maka ia telah mengeluhkan Allah kepada makhluk-Nya. Dan tidak mencegah keluhan kepada-Nya. Karena keluhan kepada-Nya adalah kefakiran, kehinaan, kebutuhan, dan penghambaan. Maka rasa malu kepada-Nya dalam hal seperti itu tidak bertentangan dengannya.

[Pasal: Tingkatan Kedua: Rasa Malu yang Lahir dari Merenungi Ilmu tentang Kedekatan]

Pasal

Penulis berkata: Tingkatan kedua: rasa malu yang lahir dari merenungi ilmu tentang kedekatan. Maka hal itu mengajaknya untuk menempuh jalan kecintaan, mengikatnya dengan ruh ketenangan, dan membuatnya benci bergaul dengan makhluk.

Merenungi ilmu tentang kedekatan adalah keyakinan hati akan kebersamaan khusus dengan Allah. Karena kebersamaan ada dua macam: umum, yaitu kebersamaan dalam ilmu dan peliputan. Seperti firman-Nya: Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada (Surah Al-Hadid: 4). Dan firman-Nya: Tidak ada pembicaraan rahasia tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya, dan tidak ada lima orang melainkan Dialah yang keenamnya, dan tidak ada yang kurang dari itu dan tidak ada yang lebih melainkan Dia bersama mereka di mana saja mereka berada (Surah Al-Mujadilah: 7).

Dan khusus, yaitu kebersamaan dalam kedekatan, seperti firman-Nya: Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (Surah An-Nahl: 128). Dan firman-Nya: Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (Surah Al-Baqarah: 153). Dan firman-Nya: Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik (Surah Al-Ankabut: 69).

Ini adalah kebersamaan kedekatan yang mengandung perwalian, pertolongan, dan penjagaan. Kedua makna ini adalah kebersamaan-Nya dengan hamba. Tetapi yang ini kebersamaan dalam pengawasan dan peliputan. Dan yang ini kebersamaan dalam perwalian, pertolongan, dan bantuan. Kata “ma’a” (bersama) dalam bahasa Arab menunjukkan kebersamaan yang sesuai, tidak menunjukkan percampuran, tidak pengadukan, tidak berdampingan, dan tidak bersebelahan. Barangsiapa yang menyangka salah satu dari ini, maka ia salah faham.

Adapun kedekatan, maka dalam Al-Quran tidak disebutkan kecuali yang khusus. Dan ia ada dua macam: kedekatan-Nya kepada orang yang berdoa dengan mengabulkan, dan kedekatan-Nya kepada orang yang beribadah dengan memberi pahala. Yang pertama seperti firman-Nya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku (Surah Al-Baqarah: 186). Karena itulah ayat ini turun sebagai jawaban kepada para sahabat semoga Allah meridhai mereka yang telah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Apakah Tuhan kami dekat sehingga kami bermunajat? Ataukah jauh sehingga kami memanggil? Maka Allah menurunkan ayat ini.

Yang kedua adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Kedudukan terdekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika ia sujud. Dan kedudukan terdekat Tuhan kepada hamba-Nya adalah di tengah malam. Ini adalah kedekatan-Nya kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.

Dalam hadits shahih dari Abu Musa semoga Allah meridhainya, ia berkata: Kami bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan. Maka suara-suara kami meninggi dengan takbir. Lalu beliau bersabda: Wahai manusia, pelankan terhadap diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru yang tuli dan tidak pula yang ghaib. Sesungguhnya yang kalian seru itu Maha Mendengar lagi Dekat. Dia lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada leher untanya.

Ini adalah kedekatan khusus kepada orang yang berdoa dengan doa ibadah, pujian, dan pujian. Dan kedekatan ini tidak bertentangan dengan kesempurnaan pemisahan Tuhan dari makhluk-Nya dan istiwanya di atas Arsy-Nya. Bahkan menyertainya dan menyertakan. Karena ia bukan seperti kedekatan benda-benda satu sama lain. Maha Tinggi Allah dari itu, setinggi-tingginya. Tetapi ia adalah jenis yang lain. Dan hamba dalam kesaksian mendapati ruhnya sangat dekat dengan kekasih padahal di antara keduanya ada jarak yang memutuskan leher unta. Dan ia mendapatinya lebih dekat kepadanya daripada teman duduknya. Sebagaimana dikatakan:

Sungguh banyak orang yang mendekat dan mengaku bahwa ia mencintaimu, padahal yang jauh lebih dicintai dan lebih dekat.

Dan Ahlus Sunnah adalah wali-wali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pewaris-pewarisnya, dan kekasih-kekasihnya yang beliau lebih utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri dan lebih dicintai oleh mereka daripada diri mereka, mereka mendapati jiwa-jiwa mereka lebih dekat kepada beliau meskipun mereka di negeri-negeri yang jauh darinya daripada tetangga-tetangga kamarnya di Madinah. Dan orang-orang yang mencintai dan merindukan Ka’bah dan Baitulharam mendapati hati dan ruh mereka lebih dekat kepadanya daripada tetangga-tetangganya dan orang-orang di sekitarnya. Ini meskipun kedekatan fisik tidak mungkin terjadi. Bagaimana lagi dengan Dzat yang mendekat kepada makhluk-Nya bagaimana Dia kehendaki, sementara Dia beristiwaa di atas Arsy-Nya. Dan orang-orang yang memiliki rasa tidak memperhatikan dalam hal itu syubhat orang yang menafikan yang jauh dari Allah, kosong dari kecintaan dan pengetahuan tentang-Nya.

Maksudnya: bahwa kedekatan ini mengajak pemiliknya untuk menempuh jalan kecintaan. Dan setiap bertambah cinta, bertambah pula dekat. Maka kecintaan berada di antara dua kedekatan: kedekatan sebelumnya dan kedekatan sesudahnya, dan di antara dua ma’rifat: ma’rifat sebelumnya yang mendorong kepadanya, mengajak kepadanya, dan menunjukkan kepadanya, dan ma’rifat sesudahnya yang merupakan buah dan pengaruhnya.

Adapun Kaitannya dengan Ruh Ketenangan: Yaitu melekatnya hati dengan ruh ketenangan bersama Allah, suatu keterikatan yang wajib tidak meninggalkannya. Bahkan ia menjadikan antara hati dan ketenangan itu suatu ikatan yang wajib. Tidak diragukan lagi bahwa ini membuatnya tidak suka bergaul dengan makhluk. Bahkan ia mendapati kesendirian dalam pergaulannya dengan mereka sesuai kadar ketenangan yang ia rasakan bersama Tuhannya, kesejukan matanya dengan kecintaan dan kedekatannya dengan-Nya. Karena sesungguhnya tidak ada bersama Allah selain-Nya. Jika ia bergaul dengan mereka, maka ia bergaul dengan mereka hanya dengan bentuk lahirnya, bukan dengan rahasia, ruh, dan hatinya. Maka hati dan ruhnya berada di suatu tempat, sedangkan jasad dan bentuk lahirnya berada di tempat lain.

Pasal: Tingkatan Ketiga – Malu yang Lahir dari Penyaksian Hadirat

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah malu yang lahir dari penyaksian hadirat. Yaitu hadirat yang tidak bercampur dengan rasa takut. Tidak disertai dengan perpecahan. Dan tidak berhenti pada suatu batas akhir.

Penyaksian hadirat adalah tertariknya ruh dan hati dari segala makhluk, dan terfokusnya pada Tuhan semesta alam. Maka ia berada dalam hadirat kedekatan-Nya sambil menyaksikannya. Apabila hati telah sampai kepadanya, ia diliputi oleh rasa takut dan hilanglah darinya perpecahan. Karena tidak ada bersama Allah selain-Nya. Maka tidak terlintas dalam benaknya pada keadaan itu selain Allah semata. Inilah tingkatan kesatuan.

Adapun perkataannya: Dan tidak berhenti pada suatu batas akhir.

Maksudnya adalah bahwa setiap orang yang sampai pada tujuannya dan memperolehnya, maka ia telah sampai pada batas akhir, kecuali pemilik penyaksian ini. Karena sesungguhnya ia tidak berhenti dengan hadirat Ketuhanan pada suatu batas akhir. Hal itu mustahil. Bahkan ketika ia menyaksikan dataran-dataran tinggi itu, berdiri di tempat-tempat itu, dan melihat hadirat yang merupakan puncak dari segala puncak, ia menghadapi sesuatu yang tidak memiliki batas akhir dan kesudahan. Sedangkan segala batas akhir dan kesudahan semuanya berakhir kepada-Nya. “Dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (Surah An-Najm: 42) Maka berakhirlah kepada-Nya segala batas akhir dan kesudahan. Sedangkan Dia Maha Suci tidak memiliki batas akhir dan kesudahan. Tidak dalam wujud-Nya, dan tidak pula dalam tambahan kedermawanan-Nya. Karena Dia adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dan Yang Akhir yang tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya. Dan tidak ada batas akhir bagi pujian dan pemberian-Nya. Bahkan semakin bertambah seorang hamba bersyukur kepada-Nya, Dia semakin menambah karunia kepadanya. Dan semakin bertambah ia taat kepada-Nya, Dia semakin menambah pahala kepadanya karena kemuliaan-Nya. Dan semakin dekat ia kepada-Nya, maka terlihatlah baginya dari keagungan dan kebesaran-Nya apa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Dan begitulah selamanya, tidak berhenti pada batas akhir dan kesudahan. Oleh karena itu disebutkan bahwa penghuni surga berada dalam tambahan yang terus-menerus tanpa henti, karena kenikmatan mereka bersambung dari Zat yang tidak ada batas akhir bagi karunia-Nya dan pemberian-Nya, dan tidak ada batas bagi tambahan-Nya dan sifat-sifat-Nya. Maka Mahasuci Allah Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. “Sesungguhnya ini adalah rezeki Kami yang tidak akan habis.” (Surah Shad: 54). “Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kalian, manusia dan jin kalian, berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, kemudian Aku memberikan kepada setiap orang apa yang ia minta, tidaklah itu mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti berkurangnya jarum ketika dimasukkan ke laut.”

Pasal: Tingkatan Kejujuran

Hakikat Kejujuran

Pasal: Tingkatan Kejujuran

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan kejujuran. Ini adalah tingkatan paling agung bagi kaum (para penempuh jalan spiritual), yang darinya muncul semua tingkatan para salik, dan jalan yang paling lurus, yang barangsiapa tidak berjalan di atasnya maka ia termasuk orang-orang yang terputus dan binasa. Dengannya dibedakan antara ahli kemunafikan dengan ahli keimanan, dan penghuni surga dengan ahli neraka. Ia adalah pedang Allah di bumi-Nya yang tidak diletakkan pada sesuatu kecuali memotongnya. Dan tidak menghadapi kebatilan kecuali membunuh dan merobohkannya. Barangsiapa menyerang dengan pedang ini, serangannya tidak tertolak. Dan barangsiapa berbicara dengannya, kalimatnya mengungguli para penentang. Maka ia adalah ruh segala amal, batu ujian segala keadaan, pembawa untuk menerjang segala bahaya, dan pintu yang darinya masuk orang-orang yang sampai ke hadirat Zat Yang Memiliki Keagungan. Ia adalah dasar bangunan agama, tiang kemah keyakinan. Dan tingkatannya mengikuti tingkatan kenabian yang merupakan tingkatan tertinggi bagi sekalian alam. Dan dari tempat tinggal mereka di surga mengalirlah mata air dan sungai-sungai menuju tempat tinggal para shiddiqin. Sebagaimana dari hati-hati mereka menuju hati-hati mereka di dunia ini mengalir bantuan yang bersambung dan terpelihara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan ahli iman untuk bersama orang-orang yang jujur. Dan Dia mengkhususkan orang-orang yang diberi nikmat dengan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur.” (Surah At-Taubah: 119) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.” (Surah An-Nisa: 69) Maka mereka adalah golongan yang tinggi. “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Surah An-Nisa: 69) Allah senantiasa memberikan nikmat-nikmat-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya, dan tambahan-Nya kepada mereka sebagai ihsan dan taufik dari-Nya. Bagi mereka adalah kedudukan kebersamaan dengan Allah. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang jujur, dan bagi mereka adalah kedudukan kedekatan dari-Nya. Karena tingkatan mereka dari-Nya adalah tingkatan kedua setelah para nabi.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa barangsiapa jujur kepada-Nya maka itu lebih baik baginya. Allah berfirman: “Maka apabila telah bulat tekad (mereka untuk berperang), sekiranya mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian lebih baik bagi mereka.” (Surah Muhammad: 21). Dan Allah Ta’ala mengabarkan tentang ahli kebaikan. Dan Dia memuji mereka dengan sebaik-baik amal mereka: beriman, berislam, bersedekah, dan bersabar, bahwa mereka adalah ahli kejujuran. Allah berfirman: “Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (musafir), dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, dan melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surah Al-Baqarah: 177) Ini jelas bahwa kejujuran adalah dengan amal-amal lahir dan batin. Dan bahwa kejujuran adalah tingkatan Islam dan iman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi manusia menjadi orang jujur dan orang munafik. Allah berfirman: “Agar Allah memberi balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka.” (Surah Al-Ahzab: 24).

Iman dasarnya adalah kejujuran. Dan kemunafikan dasarnya adalah kedustaan. Maka tidak berkumpul kedustaan dan iman kecuali salah satunya memerangi yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa pada hari kiamat tidak ada yang bermanfaat bagi hamba dan menyelamatkannya dari azab-Nya kecuali kejujurannya. Allah Ta’ala berfirman: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar, kebenarannya. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap Allah. Itulah kemenangan yang agung.” (Surah Al-Maidah: 119) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surah Az-Zumar: 33) Maka orang yang membawa kebenaran adalah orang yang keadaannya adalah kejujuran dalam perkataan, amal, dan keadaannya. Maka kejujuran itu dalam tiga hal ini.

Kejujuran dalam perkataan adalah luruhnya lisan atas perkataan-perkataan, sebagaimana lurusnya bulir pada tangkainya. Kejujuran dalam amal adalah lurusnya perbuatan-perbuatan atas perintah dan ketaatan. Seperti lurusnya kepala pada jasad. Kejujuran dalam keadaan adalah lurusnya amal hati dan anggota badan atas keikhlasan, dan mencurahkan usaha, serta mengerahkan kemampuan. Dengan demikian maka seorang hamba termasuk orang-orang yang membawa kebenaran. Dan sesuai kesempurnaan hal-hal ini padanya dan tegaknya hal-hal itu padanya, maka ia menjadi shiddiq. Oleh karena itu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu memiliki puncak kejujuran, dinamakan Ash-Shiddiq secara mutlak. Dan shiddiq lebih tinggi dari shadduq, dan shadduq lebih tinggi dari shadiq.

Maka tingkatan kejujuran yang tertinggi adalah tingkatan shiddiqiyyah. Yaitu kesempurnaan ketundukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersama kesempurnaan keikhlasan kepada Yang mengutus. Dan Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta kepada-Nya agar menjadikan masuknya dan keluarnya atas kejujuran. Allah berfirman: “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar dan berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (Surah Al-Isra: 80) Dan Allah mengabarkan tentang kekasih-Nya Ibrahim ‘alaihissalam bahwa ia meminta kepada-Nya agar menganugerahkan kepadanya lisan yang jujur di kalangan orang-orang kemudian. Allah berfirman: “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Surah Asy-Syu’ara: 84) Dan Allah memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya bahwa bagi mereka di sisi-Nya tempat berpijak yang jujur, dan tempat duduk yang jujur. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman, bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” (Surah Yunus: 2) Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.” (Surah Al-Qamar: 54-55).

Maka ini ada lima hal: masuk yang benar, keluar yang benar, lisan yang benar, tempat berpijak yang benar, dan tempat duduk yang benar.

Hakikat kejujuran dalam hal-hal ini adalah kebenaran yang tetap, yang terhubung dengan Allah, yang menghantarkan kepada Allah. Dan itulah apa yang dengannya dan untuk-Nya, berupa perkataan-perkataan dan amal-amal. Dan balasan dari itu di dunia dan akhirat.

Maka masuk yang benar dan keluar yang benar adalah bahwa keluarnya dan masuknya adalah kebenaran yang tetap dengan Allah, dan dalam ridha-Nya. Dengan memperoleh tujuan dan tercapainya yang dituju, lawan dari keluar kedustaan dan masuk kedustaan yang tidak memiliki tujuan yang menghantarkan kepadanya. Dan tidak memiliki tungkai yang tetap untuk berdiri di atasnya. Seperti keluar musuh-musuh Nabi pada hari Badar. Dan keluar yang benar seperti keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dan para sahabatnya dalam peperangan itu.

Demikian pula masuknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah adalah masuk yang benar dengan Allah, untuk Allah, dan mengharap ridha Allah. Maka terhubunglah dengannya dukungan, kemenangan, dan pertolongan, serta tercapai apa yang beliau tuju di dunia dan akhirat, berbeda dengan masuk kedustaan yang diinginkan musuh-musuhnya untuk masuk dengannya ke Madinah pada hari Ahzab. Karena itu bukan dengan Allah, dan bukan untuk Allah. Bahkan itu adalah permusuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak terhubung dengannya kecuali kehinaan dan kehancuran.

Demikian pula masuknya orang yang masuk dari orang-orang Yahudi yang memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke benteng Bani Quraizhah. Karena ketika itu adalah masuk kedustaan, menimpanya bersama mereka apa yang menimpa mereka.

Maka setiap masuk dan keluar yang dengan Allah dan untuk Allah, maka pemiliknya dijamin oleh Allah. Maka itulah masuk yang benar dan keluar yang benar.

Sebagian salaf apabila keluar dari rumahnya mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar aku keluar dengan keluar yang aku tidak dijamin oleh-Mu padanya.

Maksudnya adalah agar keluarnya bukan keluar yang benar. Oleh karena itu ditafsirkan masuk yang benar dan keluarnya dengan keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah dan masuknya ke Madinah. Tidak diragukan bahwa ini sebagai contoh. Karena masuk dan keluar ini termasuk masuk dan keluar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling agung. Jika tidak, semua masuknya adalah masuk yang benar dan semua keluarnya adalah keluar yang benar. Karena semuanya untuk Allah, dengan Allah, dengan perintah-Nya, dan mengharap ridha-Nya.

Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya dan masuk ke pasarnya – atau masuk ke tempat lain – kecuali dengan kejujuran atau dengan kedustaan. Maka keluar setiap orang dan masuknya tidak keluar dari kejujuran dan kedustaan. Dan kepada Allah-lah kami memohon pertolongan.

Adapun lisan yang benar, yaitu pujian yang baik kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari seluruh umat dengan kejujuran. Bukan pujian dengan kedustaan. Sebagaimana yang difirmankan tentang Ibrahim dan keturunannya dari para nabi dan rasul ‘alaihim shalawatullahi wa salamuhu: “Dan Kami berikan kepada mereka sebutan yang baik yang tinggi.” (Surah Maryam: 50) Dan yang dimaksud dengan lisan di sini adalah pujian yang baik. Karena kejujuran dengan lisan, dan ia adalah tempatnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan lisan-lisan hamba dengan pujian kepada orang yang jujur, sebagai balasan yang setimpal. Dan diungkapkan dengannya.

Karena lisan diinginkan dengannya tiga makna: ini, dan bahasa. Seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.” (Surah Ibrahim: 4) Dan firman-Nya: “Dan perbedaan bahasa-bahasa dan warna kulit kalian.” (Surah Ar-Rum: 22) Dan firman-Nya: “Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa asing, sedangkan ini (Al-Quran) adalah bahasa Arab yang jelas.” (Surah An-Nahl: 103) Dan diinginkan dengannya anggota itu sendiri. Seperti firman-Nya Ta’ala: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (Surah Al-Qiyamah: 16).

Adapun tempat berpijak yang benar, ditafsirkan dengan surga. Dan ditafsirkan dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ditafsirkan dengan amal-amal saleh.

Hakikat tempat berpijak adalah apa yang mereka dahulukan. Dan apa yang mereka datangi pada hari kiamat. Dan mereka telah mendahulukan amal-amal dan iman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka datang ke surga yang merupakan balasan dari itu.

Maka barangsiapa menafsirkannya dengan surga, ia maksudkan apa yang mereka datangi. Dan barangsiapa menafsirkannya dengan amal-amal dan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka karena mereka telah mendahulukannya. Dan mereka mendahulukan iman kepadanya di hadapan mereka. Maka ketiganya adalah tempat berpijak yang benar. Adapun tempat duduk yang benar, yaitu surga di sisi Tuhan Tabaraka wa Ta’ala.

Dan menggambarkan semua itu dengan kejujuran mengharuskan ketetapannya dan kemantapannya, serta bahwa ia adalah kebenaran, keabadian, manfaatnya, dan kesempurnaan hasilnya. Karena ia berhubungan dengan Yang Maha Benar—Maha Suci Dia—terjadi karena-Nya dan untuk-Nya. Maka ia adalah jujur, bukan bohong; benar, bukan batil; abadi, bukan hilang; bermanfaat, bukan membahayakan. Dan kebatilan serta segala hal yang berkaitan dengannya tidak memiliki jalan dan pintu masuk kepadanya.

Di antara tanda-tanda kejujuran adalah: ketenangan hati terhadapnya. Dan di antara tanda-tanda kebohongan adalah: timbulnya keraguan, sebagaimana dalam hadits Tirmidzi—yang diriwayatkan secara marfu’—dari hadits Hasan bin Ali semoga Allah meridhai keduanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kejujuran adalah ketenangan, dan kebohongan adalah keraguan.” Dan dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Mas’ud semoga Allah meridhainya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan sesungguhnya kebohongan menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” Maka beliau menjadikan kejujuran sebagai kunci dan awal dari sifat shiddiqiyah (kejujuran yang sempurna), dan ia adalah puncaknya. Maka orang yang pendusta sama sekali tidak akan mencapai tingkatannya, tidak dalam perkataannya, tidak dalam perbuatannya, dan tidak dalam keadaannya. Terutama orang yang berdusta atas Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, meniadakan apa yang Dia tetapkan, atau menetapkan apa yang Dia nafikan dari diri-Nya. Maka tidak ada satu pun shiddiq (orang yang sangat jujur) di antara orang-orang ini selamanya.

Demikian pula berdusta atas-Nya dalam agama dan syariat-Nya, dengan menghalalkan apa yang Dia haramkan, mengharamkan apa yang tidak Dia haramkan, menggugurkan apa yang Dia wajibkan, mewajibkan apa yang tidak Dia wajibkan, membenci apa yang Dia cintai, dan menyunnahkan apa yang tidak Dia cintai. Semua itu bertentangan dengan sifat shiddiqiyah.

Demikian pula berdusta bersama-Nya dalam perbuatan, dengan berhias dengan hiasan orang-orang yang jujur, ikhlas, zuhud, dan bertawakal, padahal ia dalam hakikatnya bukan dari mereka.

Oleh karena itu, shiddiqiyah adalah kesempurnaan keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti kabar dan perintah, lahir dan batin. Bahkan kejujuran kedua penjual mendatangkan berkah dalam jual beli mereka, sedangkan kebohongan mereka menghapus berkah jual beli mereka, sebagaimana dalam Shahihain dari Hakim bin Hizam semoga Allah meridhainya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua orang yang berjual beli boleh memilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan, maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika keduanya berdusta dan menyembunyikan, maka terhapuslah berkah jual beli mereka.”

Bab tentang Ucapan-ucapan Mengenai Hakikat Kejujuran

Abdul Wahid bin Zaid berkata: Kejujuran adalah menepati janji kepada Allah dengan amal.

Dan dikatakan: Kesesuaian antara yang tersembunyi dengan perkataan.

Dan dikatakan: Kesamaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, yaitu bahwa orang pendusta penampakan luarnya lebih baik dari batinnya, seperti munafik yang lahirnya lebih baik dari batinnya.

Dan dikatakan: Kejujuran adalah berkata benar di tempat-tempat kebinasaan.

Dan dikatakan: Perkataan yang benar di hadapan orang yang engkau takuti dan harapkan.

Dan Al-Junaid berkata: Orang yang jujur berubah-ubah dalam sehari empat puluh kali, sedangkan orang yang riya tetap pada satu keadaan selama empat puluh tahun.

Perkataan ini memerlukan penjelasan. Dan mungkin terlintas dalam pikiran sebaliknya, bahwa orang yang pendusta itu berubah-ubah, karena kebohongan itu bermacam-macam warna, maka ia berubah warna sesuai dengan perubahan warnanya. Sedangkan orang yang jujur tetap pada satu keadaan, karena kejujuran itu satu pada hakikatnya, dan pemiliknya tidak berubah warna dan tidak berubah.

Namun maksud Syaikh Abu al-Qasim adalah benar, bukan ini. Sesungguhnya pertentangan-pertentangan dan datangnya hal-hal yang datang kepada orang yang jujur tidak datang kepada orang yang pendusta dan riya. Bahkan ia kosong darinya. Karena tidak datang kepadanya dari sisi Yang Maha Benar hal-hal yang datang kepada orang-orang yang jujur terhadap orang-orang yang pendusta dan riya. Dan setan tidak menentang mereka sebagaimana ia menentang orang-orang yang jujur, karena ia tidak berkepentingan dengan reruntuhan yang tidak ada apa-apa di dalamnya. Dan datangnya hal-hal ini menyebabkan orang yang jujur berubah-ubah sesuai dengan perbedaan dan keberagamannya. Maka engkau tidak melihatnya kecuali lari dari satu tempat ke tempat lain, dari satu amal ke amal lain, dari satu keadaan ke keadaan lain, dan dari satu sebab ke sebab lain. Karena ia takut dalam setiap keadaan yang ia tenang kepadanya, dan tempat serta sebab, bahwa ia akan terputus dari tujuannya. Maka ia tidak berdiam di suatu keadaan atau sesuatu selain tujuannya. Maka ia seperti pengembara di berbagai penjuru dalam mencari kekayaan yang dengannya ia mengungguli orang-orang kaya. Dan keadaan-keadaan serta sebab-sebab berubah-ubah dengannya, menegakkannya dan mendudukkannya, menggerakkannya dan mendiamkannya, hingga ia menemukan di dalamnya apa yang membantunya terhadap tujuannya. Dan ini langka di dalamnya. Maka hatinya dalam perubahan dan pergerakan yang kuat sesuai dengan luasnya tujuannya, dan keagungannya dan cita-citanya lebih tinggi dari berhenti di bawah tujuannya pada kebiasaan atau keadaan, atau berdiam pada sesuatu selain-Nya. Maka ia seperti pencinta yang jujur yang cita-citanya adalah mencari kekasihnya. Dan demikian pula keadaan orang yang jujur dalam mencari ilmu, dan keadaan orang yang jujur dalam mencari dunia. Maka setiap orang yang jujur dalam mencari sesuatu tidak akan memiliki tempat tinggal yang tetap, dan tidak bertahan pada satu keadaan.

Dan juga, sesungguhnya orang yang jujur tujuannya adalah keridaan Tuhannya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan mengikuti hal-hal yang Dia cintai. Maka ia berubah-ubah di dalamnya, berjalan bersama dengannya ke mana pun kendaraannya menuju, dan berangkat bersamanya ke mana pun tempat-tempatnya berangkat. Tiba-tiba engkau melihatnya dalam shalat, lalu engkau melihatnya dalam zikir, kemudian dalam perang, kemudian dalam haji, kemudian dalam berbuat baik kepada makhluk dengan mengajar dan lainnya dari berbagai jenis manfaat, kemudian dalam memerintahkan yang ma’ruf atau melarang yang munkar, atau dalam melakukan sebab dalam memakmurkan agama dan dunia, kemudian dalam menjenguk orang sakit, atau mengantar jenazah, atau menolong orang yang teraniaya—jika mampu—dan lain-lain dari berbagai jenis ketaatan dan manfaat.

Maka ia dalam perpecahan yang terus-menerus untuk Allah, dan kesatuan kepada Allah. Tidak dikuasai oleh kebiasaan atau adat atau keadaan, tidak terikat oleh ikatan atau isyarat, tidak terikat oleh tempat tertentu ia shalat di dalamnya dan tidak shalat di tempat lain, pakaian tertentu ia tidak memakai selainnya, dan ibadah tertentu ia tidak memperhatikan selainnya padahal yang lain lebih utama darinya, atau ia lebih tinggi dari yang lain dalam tingkatan, dan jauh perbedaan antara keduanya seperti jauhnya langit dan bumi.

Sesungguhnya ujian, bencana, riya, pamer, beribadah kepada diri sendiri, mengutamakan keinginannya, dan menunjuk kepadanya, semuanya ada dalam keadaan-keadaan, kebiasaan-kebiasaan, dan ikatan-ikatan ini yang memenjarakan pemiliknya dari berjalan menuju hati mereka, apalagi berjalan dari hati mereka menuju Allah Ta’ala. Maka jika salah seorang dari mereka keluar dari kebiasaannya, keadaannya, pakaiannya, ikatannya, dan isyaratnya—meskipun kepada yang lebih utama darinya—ia menganggap itu buruk, melihatnya sebagai kekurangan dan jatuh dari pandangan manusia, dan penurunan tingkatannya di sisi mereka. Padahal ia telah jatuh dan terjatuh dari pandangan Allah.

Dan salah seorang dari mereka mungkin merasakan itu dari dirinya dan keadaannya, namun kebiasaan-kebiasaannya, keadaan-keadaannya, pakaiannya, dan ikatan-ikatannya tidak membiarkannya untuk berusaha memperbaiki dan memperbaiki itu. Dan ini adalah urusan orang pendusta yang riya yang menampakkan kepada manusia berbeda dari apa yang Allah ketahui dari batinnya, yang bekerja untuk memakmurkan dirinya dan tingkatannya. Dan ini adalah kemunafikan itu sendiri. Seandainya ia bekerja untuk kehendak Allah darinya dan untuk kejujuran dengan Allah, niscaya ikatan-ikatan itu akan membebaninya, kebiasaan-kebiasaan itu akan menahannya, dan ia akan melihat berhenti padanya dan bersamanya sebagai terputusnya dari Allah, bukan kepada-Nya. Dan ia tidak akan peduli pakaian apa yang dipakainya, atau amal apa yang dikerjakannya, jika itu sesuai dengan kehendak Allah dari hamba. Maka perkataan Abu al-Qasim Al-Junaid adalah benar, perkataan orang yang mantap dalam kejujuran, mengetahui rinciannya, bencana-bencananya, dan tempat-tempat kemiripannya dengan kebohongan.

Dan juga beban kejujuran seperti beban gunung-gunung yang kokoh, tidak mampu memikulnya kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat. Maka mereka berubah-ubah di bawahnya seperti berubahnya orang yang memikul beban beratnya. Sedangkan riya dan kebohongan ringan seperti bulu, pemiliknya sama sekali tidak merasakan beratnya. Maka ia membawanya di tempat mana pun terjadi, tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa beban. Maka ia tidak berubah-ubah di bawah bebannya dan tidak merasakan beratnya.

Dan sebagian mereka berkata: Tidak mencium bau kejujuran seorang hamba yang menyenangkan dirinya atau orang lain.

Dan sebagian mereka berkata: Orang yang jujur adalah orang yang mampu mati dan tidak malu dari rahasianya jika tersingkap. Allah Ta’ala berfirman: “Maka berharaplah kalian kepada kematian jika kalian orang-orang yang jujur.” (Surah Al-Baqarah: 94)

Aku katakan: Ayat ini ada perkataan orang-orang yang terkenal di dalamnya.

Mereka berkata: Sesungguhnya ayat ini adalah mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau melemahkan orang-orang Yahudi dengannya, menyeru mereka untuk berharap kepada kematian, dan memberitahukan bahwa mereka tidak akan berharap kepadanya selamanya. Dan ini adalah tanda dari tanda-tanda kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena tidak mungkin mengetahui batin mereka kecuali dengan berita gaib. Dan Allah tidak menjadikan lidah mereka berbicara dengan berharap kepadanya selamanya.

Dan sekelompok orang berkata: Ketika orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka memiliki negeri akhirat di sisi Allah, khusus dari selain manusia, dan bahwa mereka adalah anak-anak-Nya dan kekasih-kekasih-Nya dan ahli kemuliaan-Nya, Allah mendustakan mereka dalam klaim mereka dan berfirman: Jika kalian orang-orang yang jujur, maka berharaplah kalian kepada kematian untuk kalian sampai ke surga negeri kenikmatan, karena sesungguhnya kekasih berharap bertemu dengan kekasihnya. Kemudian Dia—Maha Suci—memberitahukan bahwa mereka tidak akan berharap kepadanya selamanya karena apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka dari dosa-dosa dan perbuatan yang menghalangi antara mereka dan apa yang mereka katakan. Maka Dia berfirman: “Dan mereka sekali-kali tidak akan mengharapkannya selamanya karena apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan mereka.” (Surah Al-Baqarah: 95)

Dan sekelompok orang berkata—di antara mereka Muhammad bin Ishaq dan lainnya—ini dari jenis ayat mubahalah, dan bahwa mereka ketika membandel dan menolak petunjuk dengan jelas, dan menyembunyikan kebenaran, maka beliau menyeru mereka kepada perkara yang memutuskan antara mereka dan beliau, yaitu agar mereka berdoa dengan kematian atas orang yang pendusta dan memfitnah. Dan berharap adalah permintaan dan doa, maka berharaplah kalian kepada kematian dan berdoalah dengannya atas orang yang batil, pendusta, dan memfitnah.

Dan berdasarkan ini, maka bukan maksudnya: berharaplah kalian kepadanya untuk diri kalian khususnya sebagaimana yang dikatakan oleh pemilik dua pendapat yang pertama. Bahkan maknanya adalah: berdoalah dengan kematian dan berharaplah kepadanya untuk orang yang batil. Dan ini lebih kuat dalam menegakkan hujjah dan bukti kejujuran, dan lebih selamat dari menentang Rasulullah dengan perkataan mereka: Maka berharaplah kalian kepadanya kalian juga, jika kalian benar bahwa kalian adalah ahli surga, untuk kalian mendahului pahala Allah dan kemuliaan-Nya. Dan mereka adalah yang paling bersemangat untuk menentang beliau, maka seandainya mereka memahami darinya apa yang disebutkan oleh mereka itu, niscaya mereka akan menentangnya dengan yang serupa.

Dan juga, sesungguhnya kita menyaksikan banyak dari mereka berharap kepada kematian karena bahayanya dan ujiannya, dan kerasnya keadaannya, dan berdoa dengannya. Dan ini berbeda dengan berharap kepadanya dan berdoa dengannya atas kelompok yang pendusta, karena ini tidak akan pernah terjadi, dan tidak terjadi dari seorang pun dari mereka dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali. Dan itu karena pengetahuan mereka tentang kebenaran kenabian beliau dan kejujuran beliau, sedangkan kekafiran mereka kepada beliau karena dengki dan kezaliman. Maka mereka tidak akan berharap kepadanya selamanya, karena pengetahuan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang pendusta. Dan pendapat ini adalah yang kami pilih. Dan Allah lebih mengetahui apa yang Dia kehendaki dari kitab-Nya.

Dan Ibrahim al-Khawwash berkata: Orang yang jujur engkau tidak melihatnya kecuali dalam kewajiban yang ia tunaikan, atau keutamaan yang ia kerjakan.

Dan Al-Junaid berkata: Hakikat kejujuran adalah bahwa engkau jujur di tempat yang tidak menyelamatkanmu darinya kecuali kebohongan.

Dan dikatakan: Tiga hal tidak meleset dari orang yang jujur: kemanisan, keindahan, dan kewibawaan.

Dan dalam atsar ilahi: Barangsiapa jujur kepada-Ku dalam rahasianya, Aku jujurkan dia dalam terang-terangannya di hadapan makhluk-Ku.

Dan Sahl bin Abdullah berkata: Awal pengkhianatan orang-orang yang sangat jujur adalah pembicaraan mereka dengan diri mereka sendiri.

Dan Yusuf bin Asbath berkata: Jika aku bermalam semalam beramal untuk Allah dengan kejujuran lebih aku cintai daripada aku memukul dengan pedangku di jalan Allah.

Dan Al-Harits al-Muhasibi berkata: Orang yang jujur adalah orang yang tidak peduli seandainya keluar semua kedudukan yang ada baginya dalam hati makhluk karena kebaikan hatinya, dan tidak suka orang-orang mengetahui zarrah pun dari amalnya yang baik, dan tidak benci bahwa orang-orang mengetahui yang buruk dari amalnya. Karena sesungguhnya kebenciannya terhadap itu adalah dalil bahwa ia suka penambahan di sisi mereka. Dan ini bukan dari tanda-tanda orang-orang yang sangat jujur.

Dan dalam hal ini ada pertimbangan. Karena kebenciannya terhadap mengetahui orang-orang akan keburukan-keburukan amalnya adalah dari jenis kebenciannya terhadap pukulan, penyakit, dan semua kesakitan. Dan ini adalah perkara naluriah alamiah. Dan ini tidak mengeluarkan pemiliknya dari kejujuran, terutama jika ia adalah teladan yang diikuti. Karena sesungguhnya kebenciannya terhadap itu adalah dari tanda-tanda kejujurannya. Karena di dalamnya ada dua kerusakan: kerusakan meninggalkan meneladani dia dan mengikutinya atas kebaikan dan melaksanakannya, dan kerusakan meneladani orang-orang bodoh dengannya di dalamnya. Maka kebenciannya terhadap mengetahui mereka akan keburukan-keburukan amalnya tidak bertentangan dengan kejujurannya, bahkan mungkin menjadi dari tanda-tanda kejujurannya.

Ya, yang bertentangan dengan kejujuran adalah bahwa tidak ada baginya kehendak selain memakmurkan keadaannya di sisi mereka, dan tinggal di hati mereka untuk pengagungan kepadanya. Maka seandainya kehendaknya adalah melaksanakan perintah Allah, menyebarkan agama-Nya, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang munkar, dan menyeru kepada Allah, maka inilah orang yang jujur sungguh-sungguh. Dan Allah mengetahui rahasia hati dan tujuan-tujuannya.

Dan aku mengira bahwa inilah maksud Al-Muhasibi dengan perkataannya: Dan tidak benci mengetahui orang-orang akan yang buruk dari amalnya. Karena sesungguhnya mereka menginginkan itu dengan berlebihan, dan masuk dalam apa yang tidak berguna. Maka semoga Allah meridhai Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia berkata: Sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, jika mereka menolak dariku kambing kecil—atau tali pengikat unta—yang dahulu mereka menunaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya. Maka ini dan yang semisalnya mereka menghitung dan melihatnya dari amal yang buruk di sisi orang awam dan orang-orang bodoh.

Dan sebagian mereka berkata: Barangsiapa tidak menunaikan kewajiban yang terus-menerus, tidak diterima darinya kewajiban yang ditentukan waktunya.

Dikatakan: Apa kewajiban yang terus-menerus? Ia berkata: Kejujuran.

Dan dikatakan: Barangsiapa mencari Allah dengan kejujuran, Dia berikan kepadanya cermin yang ia melihat di dalamnya kebenaran dan kebatilan.

Dan dikatakan: Hendaklah engkau dengan kejujuran di mana engkau takut bahwa ia membahayakanmu, karena sesungguhnya ia bermanfaat bagimu. Dan tinggalkanlah kebohongan di mana engkau melihat bahwa ia bermanfaat bagimu, karena sesungguhnya ia membahayakanmu. Dan dikatakan: Tidak bangkrut pedagang yang jujur.

Bab Mendefinisikan Kejujuran

Bab

Pemilik kitab Manazil as-Sa’irin berkata:

Kejujuran adalah nama untuk hakikat sesuatu dengan sendirinya, keberadaan dan wujudnya.

Kejujuran adalah keberadaan sesuatu dan kesempurnaannya, kesempurnaan kekuatannya, dan berkumpulnya bagian-bagiannya, sebagaimana dikatakan: tekad yang jujur, jika ia kuat dan sempurna. Demikian pula: kecintaan yang jujur, dan kehendak yang jujur. Demikian pula perkataan mereka: kemanisan yang jujur, jika ia kuat, sempurna, dan hakikatnya tetap, tidak kurang darinya sedikitpun.

Dan dari ini juga: kejujuran berita, karena ia adalah wujud yang diberitakan dengan kesempurnaan hakikatnya dalam pikiran pendengar.

Maka kesempurnaan dan wujud ada dua macam: di luar dan di pikiran. Jika engkau memberitahukan kepada lawan bicara dengan berita yang jujur, maka terjadi baginya hakikat yang diberitakan dengan kesempurnaan dan kesempurnaannya dalam pikirannya.

Dan dari ini: penggambaran mereka tombak bahwa ia jujur buku-bukunya jika buku-bukunya keras, kuat, dan penuh.

Tingkatan-Tingkatan Kejujuran

Tingkatan Pertama: Kejujuran Niat

Beliau berkata: Kejujuran itu ada pada tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah kejujuran niat, dan dengannya sahih seseorang memasuki urusan ini (jalan menuju Allah). Dengannya dapat diperbaiki setiap kelalaian, dapat dipulihkan setiap yang terlewat, dan dapat dimakmurkan setiap kehancuran. Tanda orang yang jujur ini adalah: ia tidak dapat menanggung adanya dorongan yang mengajaknya untuk membatalkan janji, tidak dapat bersabar atas persahabatan dengan orang yang berlawanan, dan tidak pernah berhenti dari kesungguhan dalam keadaan apapun.

Yang dimaksud dengan kejujuran niat adalah: kesempurnaan tekad dan kekuatan kemauan, yaitu bahwa dalam hati terdapat dorongan yang jujur menuju suluk (perjalanan spiritual), dan kecenderungan kuat yang memaksa batin untuk benar dalam menghadap kepada Allah. Maka ia adalah pencarian yang tidak bercampur dengan riya (ingin dipuji) dan tidak kenal lelah. Di dalamnya tidak ada pembagian sama sekali. Dan tidak sah seseorang memasuki urusan perjalanan menuju Allah dan persiapan menemui-Nya kecuali dengan kejujuran niat ini.

Dengannya dapat diperbaiki setiap kelalaian, karena ia membawa kepada setiap sebab yang dapat mencapai perjumpaan dengan Allah, dan memotong setiap sebab yang menghalangi antara dirinya dengan Allah. Maka ia tidak membiarkan peluang yang terlewatkan. Dan peluang-peluang masa lalu yang terlewatkan akan dipulihkannya sesuai kemampuan. Ia memperbaiki hatinya yang telah dirusak oleh tangan kelalaian dan nafsu syahwat. Ia memakmurkan apa yang telah dirusak oleh tangan kebatilan. Ia menyalakan di dalamnya apa yang telah dipadamkan oleh angin hawa nafsu. Ia merapikan apa yang telah dikacaukan oleh tangan kelalaian dan pengabaian. Ia merebut kembali apa yang telah dirampas oleh tangan-tangan pencuri dan perampok. Ia menanami lahan-lahan hatinya yang ia dapati tandus. Ia mencabut duri-duri dan semak yang ia jumpai di berbagai penjurunya. Ia mengeluarkan dari hatinya apa yang telah dipenuhi oleh cairan-cairan akhlak yang buruk dan rusak yang menjerumuskannya kepada kebinasaan dan kehancuran. Ia mengobati luka-luka yang menimpanya dari anak panah riya. Ia mencuci kotoran dan dosa yang menumpuk di hatinya selama masa yang panjang, hingga seandainya ia melihatnya, pasti ia akan bersedih dengan kehitaman dan kotorannya yang telah menjadi pelapis hatinya. Maka ia membersihkannya dengan air dingin dari mata air kejujuran yang murni dari segala kekeruhan, sebelum pensuciannya dilakukan dengan api neraka Jahim dan air mendidih. Sesungguhnya tidak akan bertetangga dengan Allah hati yang kotor dengan kotoran syahwat dan riya selama-lamanya. Dan pensucian adalah keniscayaan. Maka orang yang cerdas akan memilih yang lebih mudah dan lebih bermanfaat dari dua pensucian tersebut. Dan kepada Allah kita meminta pertolongan.

Perkataan beliau: Tanda orang yang jujur ini adalah: ia tidak dapat menanggung adanya dorongan yang mengajaknya untuk membatalkan janji.

Maksudnya adalah bahwa orang yang benar-benar jujur adalah orang yang semua kekuatan rohnya telah tertarik menuju kehendak Allah dan mencari-Nya, berjalan menuju-Nya, dan bersiap menemui-Nya. Dan barang siapa yang kondisinya seperti ini, ia tidak akan mentolerir sebab apapun yang mengajaknya untuk membatalkan janjinya dengan Allah dengan cara apapun.

Perkataan beliau: Dan tidak dapat bersabar atas persahabatan dengan orang yang berlawanan.

Yang dimaksud dengan orang yang berlawanan menurut kaum sufi adalah ahli kelalaian dan para pemotong jalan hati menuju Allah. Dan hal yang paling berbahaya bagi orang yang jujur adalah persahabatan dengan mereka. Bahkan jiwanya tidak akan sabar atas hal itu sama sekali, kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan persahabatannya dengan mereka dalam keadaan itu hanya dengan jasad dan raganya, bukan dengan hati dan rohnya. Karena ketika kelalaian telah menjadi kuat pada mereka sebagaimana kejujuran telah menjadi kuat pada orang yang jujur, maka rohnya merasakan keterasingan yang ada antara dirinya dengan mereka karena pertentangan. Maka penolakan menjadi kuat dan keinginan untuk lari menjadi kuat pula. Dan sesuai dengan keterasingan ini dan perasaan orang yang jujur terhadapnya, maka akan menjadi penolakan dan pelariannya dari orang-orang yang berlawanan. Karena orang yang berlawanan ini jika berbicara, hati orang yang jujur merasakan bahwa ia berbicara dengan lisan kelalaian, riya, kesombongan, dan mencari kedudukan, sekalipun ia sedang berdzikir, membaca Al-Quran, shalat, haji, atau lainnya. Maka hatinya menolaknya. Dan jika ia diam, hatinya merasakan bahwa ia diam tanpa kehadiran hati dan keterikatan kepada Allah, dan tanpa perhatian hati kepada-Nya, dan tanpa keterpakuan batin kepada-Nya. Maka ia menolaknya juga. Karena hati orang yang jujur memiliki kepekaan yang kuat, sehingga ia menemukan perbedaan dan keterasingan dari orang yang berlawanan. Dan hati mencium hati sebagaimana mencium bau yang busuk. Maka ia mengernyitkan wajahnya karenanya dan dikuasai oleh raut cemberut. Maka ia tidak merasa tenteram dengannya kecuali dengan keterpaksaan, dan tidak menemaninya kecuali karena darurat. Ia mengambil dari persahabatannya sekedar kebutuhan saja, seperti persahabatan dengan orang yang ia beli darinya, atau ia membutuhkannya untuk kepentingannya, seperti istri, pembantu, dan semacamnya.

Perkataan beliau: Dan tidak pernah berhenti dari kesungguhan dalam keadaan apapun.

Maksudnya adalah bahwa karena ia jujur dalam pencariannya dan memiliki kekuatan yang utuh, maka tekadnya tidak akan membuatnya berhenti dari kesungguhan dalam semua keadaannya. Maka engkau tidak akan melihatnya kecuali dalam kesungguhan, dan semua urusannya adalah kesungguhan.

Pasal: Tingkatan Kedua adalah Tidak Mengharapkan Kehidupan Kecuali untuk Kebenaran

Beliau berkata: Tingkatan kedua adalah: tidak mengharapkan kehidupan kecuali untuk kebenaran, tidak melihat dari dirinya kecuali bekas kekurangan, dan tidak menoleh kepada kemudahan-kemudahan rukhshah (keringanan syariat).

Artinya ia tidak senang hidup kecuali untuk kenyang dari ridha kekasihnya, melaksanakan penghambaan kepada-Nya, dan memperbanyak sebab-sebab yang mendekatkannya kepada-Nya dan mendekatkannya dengan-Nya, bukan karena sebab dari sebab-sebab dunia dan bukan karena syahwat dari syahwat-syahwatnya. Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata: Seandainya bukan karena tiga perkara, aku tidak akan mencintai untuk tetap hidup: seandainya bukan karena menunggangi kuda-kuda yang bagus di jalan Allah, berjuang melawan malam (dengan ibadah), dan bersama kaum yang memilih kata-kata yang baik sebagaimana memilih kurma yang baik.

Yang dimaksud oleh Umar radhiyallahu anhu adalah: jihad, shalat, dan ilmu yang bermanfaat. Dan inilah tingkatan-tingkatan keutamaan, dan ahlinya adalah orang-orang yang memiliki kedekatan dan tingkatan yang tinggi.

Dan Muadz radhiyallahu anhu berkata ketika akan meninggal: Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak mencintai untuk tetap hidup karena mengalirnya sungai-sungai, tidak untuk menanam pohon-pohon, dan tidak untuk menikahi istri-istri, tetapi untuk kehausan di siang hari yang terik, berjuang melawan malam (dengan ibadah), dan berdesak-desakan dengan para ulama di majelis-majelis dzikir.

Perkataan beliau: Dan tidak melihat dari dirinya kecuali bekas kekurangan.

Maksudnya ia tidak melihat dirinya kecuali sebagai orang yang lalai. Yang mewajibkan pandangan ini adalah: mengagungkan yang dicarinya, menganggap remeh dirinya sendiri, mengetahui aib-aibnya, dan sedikitnya bekalnya di matanya. Barang siapa yang mengenal Allah dan mengenal dirinya sendiri, ia tidak akan melihat dirinya kecuali dengan pandangan kekurangan.

Adapun perkataan beliau: Dan tidak menoleh kepada kemudahan-kemudahan rukhshah.

Karena ia – dengan kesempurnaan kejujurannya, kekuatan kehendak dan pencariannya untuk maju – membebankan dirinya kepada azimah (ketentuan berat). Dan tidak menoleh kepada kemudahan yang ada dalam rukhshah.

Dan ini harus ada perinciannya. Karena sesungguhnya orang yang jujur beramal untuk ridha Allah dan yang dicintai-Nya. Maka jika rukhshah lebih dicintai oleh-Nya daripada azimah, maka perhatian kepada kemudahannya justru adalah intisari kejujurannya. Maka jika ia berbuka dalam safar, mengqashar dan menjama shalat ketika membutuhkannya, meringankan shalat ketika sibuk, dan semacam itu dari rukhshah yang Allah cintai untuk diambil, maka perhatian kepada kemudahannya ini tidak bertentangan dengan kejujuran.

Bahkan di sini ada satu titik penting, yaitu ada perbedaan antara perhatiannya kepada rukhshah karena kemudahan dan kenyamanan, dengan karena mengikuti dan menyesuaikan. Dan meskipun demikian, perhatian kepadanya karena kemudahan dan kenyamanan tidak bertentangan dengan kejujuran. Karena ini adalah tujuan dari rukhshah tersebut. Dan di dalamnya terdapat penyaksian nikmat Allah kepada hamba, dan beribadah dengan nama-Nya Yang Maha Pemurah, Yang Maha Lembut, Yang Maha Berbuat Baik, Yang Maha Lemah Lembut, karena sesungguhnya Dia Maha Lemah Lembut dan mencintai kelembutan. Dalam hadits shahih: Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberi pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang lebih mudah, selama itu bukan dosa. Karena di dalamnya terdapat semangat beribadah dengan nama Yang Maha Lemah Lembut, Yang Maha Lembut, dan mengistirahatkan hati dengannya untuk ibadah yang lain. Karena hati senantiasa berpindah-pindah dalam tingkatan-tingkatan (tingkatan-tingkatan) penghambaan. Maka jika ia mengambil kemudahan rukhshah yang dicintai Kekasihnya, ia bersiap dengannya untuk ibadah yang lain. Dan bisa jadi azimahnya malah membuatnya terputus dari ibadah yang lebih dicintai Allah darinya, seperti orang yang berpuasa dalam safar yang terputus dari melayani teman-temannya, sedangkan orang yang berbuka dapat mendirikan kemah, memberi minum kepada rombongan, dan mengumpulkan barang-barang. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang mereka: Orang-orang yang berbuka hari ini telah pergi dengan pahala.

Adapun rukhshah-rukhshah takwil yang bersandar kepada perbedaan mazhab dan pendapat yang ada yang benar dan ada yang salah, maka mengambilnya menurut mereka adalah intisari kebatilan yang bertentangan dengan kejujuran.

Pasal: Tingkatan Ketiga adalah Kejujuran dalam Mengetahui Kejujuran

Beliau berkata: Tingkatan ketiga adalah kejujuran dalam mengetahui kejujuran. Karena sesungguhnya kejujuran tidak akan lurus – menurut ilmu ahli kekhususan – kecuali pada satu hal saja, yaitu: bersesuaiannya ridha Allah dengan amalan hamba, atau keadaannya, atau waktunya, dengan keyakinan hamba dan niatnya, sehingga hamba menjadi ridha dan diridhai. Maka amalan-amalannya pun diridhai, keadaan-keadaannya jujur, dan niat-niatnya lurus. Akan tetapi jika hamba itu dipakaikan pakaian yang dipinjam, maka amalan yang terbaik darinya adalah dosa, keadaan yang paling jujur darinya adalah kebohongan, dan niat yang paling bersih darinya adalah kemalasan.

Maksudnya adalah bahwa kejujuran yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh bagi orang yang jujur dalam mengetahui kejujuran. Maka seakan-akan beliau berkata: Tidak akan diperoleh keadaan kejujuran kecuali setelah mengetahui ilmu kejujuran.

Kemudian beliau mendefinisikan hakikat kejujuran. Beliau berkata: Tidak akan lurus kejujuran – menurut ilmu ahli kekhususan – kecuali pada satu hal saja, yaitu: bersesuaiannya ridha Allah dengan amalan hamba, atau keadaannya, atau waktunya, dengan keyakinannya dan niatnya. Dan ini adalah konsekuensi kejujuran, faedahnya, dan buahnya.

Maka sang syaikh menyebutkan tujuan yang menunjukkan kepada hakikat yang diketahui ketiadaan hakikat itu dengan ketiadaannya, dan keberadaannya dengan keberadaannya.

Karena sesungguhnya jika hamba jujur kepada Allah, Allah ridha dengan amalannya, keadaannya, keyakinannya, dan niatnya. Bukan berarti ridha Allah itu adalah intisari kejujuran, tetapi kejujuran diketahui dengan sesuainya ridha-Nya. Akan tetapi dari mana hamba mengetahui ridha-Nya?

Dari sinilah orang yang jujur sangat membutuhkan – dengan kebutuhan yang sangat – untuk mengikuti perintah, berserah diri kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam lahir dan batinnya, meneladani beliau, beribadah dengan menaati beliau dalam setiap gerak dan diam, dengan ikhlas karena Allah, karena sesungguhnya Allah tidak ridha dari hamba-Nya kecuali dengan itu. Adapun selain itu maka itu adalah makanan nafsu, kesenangan nafsu semata, dan mengikuti hawa nafsunya, sekalipun di dalamnya ada perjuangan, latihan rohani, dan khalwat (pengasingan diri) sebanyak apapun. Karena Allah menolak untuk menerima amalan dari hamba-Nya atau ridha dengannya, hingga amalan itu mengikuti Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan ikhlas karena wajah-Nya.

Dan dari sinilah orang yang jujur berpisah dengan kebanyakan para salik (penempuh jalan spiritual). Bahkan ia merasa asing di jalannya, karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Karena kebanyakan mereka berjalan di atas jalan-jalan selera mereka, memurnikan nafas-nafas mereka untuk jiwa-jiwa mereka, dan mengikuti aturan-aturan guru-guru mereka. Sedangkan orang yang jujur berada di lembah yang berbeda, dan mereka di lembah yang berbeda.

Perkataan beliau: Sehingga hamba menjadi ridha dan diridhai.

Karena ia telah ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Rasul. Maka Allah ridha dengan dirinya sebagai hamba. Dan amalan-amalannya pun diridhai oleh Allah, keadaan-keadaannya jujur bersama Allah, dan niat-niatnya lurus di atas mengikuti perintah-perintah Allah.

Perkataan beliau: Akan tetapi jika hamba itu dipakaikan pakaian yang dipinjam, maka amalan yang terbaik darinya adalah dosa, keadaan yang paling jujur darinya adalah kebohongan, dan niat yang paling bersih darinya adalah kemalasan.

Ini dimaksudkan untuk dua hal.

Pertama: bahwa ia dipakaikan perhiasan orang-orang yang jujur dan mengenakan pakaian mereka tanpa memiliki hati dan roh mereka. Maka pakaian kejujuran adalah pinjaman baginya, bukan miliknya. Maka ia seperti orang yang menyombongkan diri dengan apa yang tidak ia miliki. Karena ia seperti orang yang mengenakan dua pakaian kebohongan. Maka orang ini amalan yang terbaiknya adalah dosa yang ia akan dihukum karenanya. Sebagaimana dihukum orang yang terbunuh dalam jihad, pembaca Al-Quran yang beribadah, dan orang yang bersedekah, dan mereka akan menjadi orang pertama yang menyalakan api neraka pada hari kiamat, karena mereka mengenakan pakaian orang-orang yang jujur di atas hati orang-orang yang riya.

Ini adalah makna yang benar. Aku tidak mengira Syekh bermaksud demikian.

Aku justru mengira beliau bermaksud makna lain. Yaitu bahwa apabila seorang hamba telah meyakini: bahwa keberadaannya adalah pakaian pinjaman, bukan darinya, dan bukan miliknya. Sesungguhnya penciptaannya, sifat-sifatnya, kehendaknya, kemampuannya, dan amal perbuatannya: adalah pinjaman dari Yang Maha Melakukan sendirian. Dan hamba tidak memiliki dari dirinya sendiri kecuali ketiadaan. Maka keberadaan dan kehidupannya: adalah pakaian yang dipinjamkan kepadanya. Apabila ia melihat dengan mata hakikat kepada pakaiannya itu: ia akan melihat bahwa amal perbuatannya yang paling baik sekalipun adalah dosa dalam kedudukan ini. Keadaannya yang paling jujur adalah kepalsuan, dan tujuannya yang paling jernih adalah kemalasan. Maka ia tidak melihat bagi dirinya darinya amal, keadaan, maupun tujuan. Karena sesungguhnya ia tidak memiliki dari dirinya sendiri kecuali kejahilan dan kezaliman. Maka segala yang berasal dari diri: adalah dosa, kepalsuan, dan kemalasan. Adapun yang diridhai adalah dengan Allah, dari Allah, dan untuk Allah. Bukan dengan diri, tidak darinya, dan bukan untuknya. Karena sesungguhnya hamba apabila melihat bahwa ia telah melakukan ketaatan: maka pandangannya terhadap hal itu adalah dosa. Karena ia telah menisbatkan perbuatan kepada dirinya. Padahal Allah dalam hakikatnya adalah Yang Maha Tunggal dalam berbuat.

Berdasarkan hal ini, hamba tidak akan pernah lepas dari dosa selamanya. Karena apabila ia memurnikan perbuatannya dari riya dan dari segala sesuatu yang merusaknya: maka akan bergabung dengannya dosa yang lain. Yang tidak mungkin ia bisa lepas darinya. Yaitu keyakinannya bahwa dialah yang berbuat.

Yang benar adalah: bahwa ini bukanlah dosa, dan ini bukan merupakan kemampuan hamba dan bukan pula yang diperintahkan kepadanya. Kesempurnaan baginya adalah: agar ia menyaksikan perkara sebagaimana adanya, dan bahwa ia benar-benar berbuat, sebagaimana Allah menisbatkan perbuatan kepadanya dalam seluruh Kitab-Nya. Dan Allah adalah Yang menjadikannya sebagai pelaku. Maka apabila ia menyaksikan dirinya sebagai pelaku yang sesungguhnya, dan menyaksikan perbuatannya dengan Allah, dan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri: maka tidak ada dosa dalam penyaksian ini, dan tidak ada kepalsuan, segala puji bagi Allah. Ia melihat dengan kedua matanya secara bersamaan terhadap sebab dan yang menyebabkan, syariat dan takdir, makhluk dan perintah. Dan bahwa apabila ia menyaksikan dirinya bermaksiat, menyelisihi, dan berdosa: maka ia akan bermaksiat dengan penyaksian ini. Karena pelaku di dalamnya adalah selain dirinya. Dan ini bertentangan dengan penghambaan dengan pertentangan yang sangat keras. Dan ini termasuk dari perjalanan kaum menuju penyaksian hakikat kauniyyah (takdir), dan keyakinan mereka: bahwa itu adalah puncak para salik.

Jika dikatakan: Syekh di sini tidak berbicara dengan lisan orang-orang yang berbakti (abrar). Bahkan ia berbicara dengan lisan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Dan tidak diragukan lagi bahwa kebaikan-kebaikan orang yang berbakti adalah kejelekan-kejelekan orang yang didekatkan. Kami tidak bermaksud bahwa penyaksian perbuatannya adalah dosa dalam syariat, bahkan ia adalah kebaikan sebagaimana yang kalian sebutkan. Akan tetapi ia adalah kebaikan bagi orang yang berbakti, dosa bagi orang yang didekatkan. Karena bagian orang yang berbakti dari kejelekan adalah: apa yang dibawa oleh ilmu. Sedangkan bagian orang yang didekatkan adalah: apa yang dibawa oleh makrifat yang lebih khusus dari ilmu.

Dikatakan: Ini juga batil secara pasti. Karena makrifat yang benar adalah: yang sesuai dengan kebenaran pada dirinya, baik secara syariat maupun takdir. Adapun yang menyelisihi hal itu maka adalah makrifat yang rusak.

Kebenaran dalam urusan itu sendiri adalah: menisbatkan perbuatan-perbuatan kepada para pelaku secara berdiri, langsung melakukannya, dan keluar dari mereka. Dan itulah tempat perintah dan larangan, pahala dan hukuman.

Menggugat hal itu mengharuskan batalnya syariat dan pembalasan. Karena syariat hanya memerintahkan perbuatan-perbuatan kita dan melarangnya. Dan pembalasan hanya disusun berdasarkannya. Maka menyaksikan perbuatan-perbuatan kita demikian adalah dari kesempurnaan iman kepada syariat dan pembalasan. Menisbatkannya kepada Rabb Yang Maha Tinggi, secara ketentuan dan takdir, dan penciptaan sebab-sebab yang darinya adalah kehendak kita dan kemampuan kita. Maka Dia tidak memaksa kita atasnya dan tidak memaksa kita. Bahkan Dia menciptakannya dengan apa yang Dia berikan kepada kita berupa kemampuan dan kehendak, yang keduanya termasuk dari sebab-sebab perbuatan.

Penyaksian ini merealisasikan penghambaan “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5). Dan penyaksian yang pertama: merealisasikan penghambaan “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (Al-Fatihah: 5). Dan keduanya merealisasikan dua penyaksian “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya – Dan kalian tidak menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (Al-Insan: 29-30) dan firman-Nya: “Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus – Dan kalian tidak mampu menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam” (At-Takwir: 28-29).

Apa yang dibawa oleh ilmu tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh makrifat. Bahkan makrifat adalah ruh ilmu, intinya, dan kesempurnaannya. Hakikatnya adalah: ilmu yang menghasilkan bagi pemiliknya tujuannya. Lisan orang-orang yang berbakti tidak menyelisihi lisan orang-orang yang didekatkan. Hanya saja menyelisihi lisan orang-orang yang durhaka.

Benar, lisan orang-orang yang didekatkan lebih tinggi darinya dan lebih luhur, sesuai dengan amal-amal dan keadaan-keadaan mereka. Maka perbandingannya kepadanya adalah: seperti perbandingan kedudukan tawakal kepada ridha, dan ridha kepada pujian dan syukur.

Jika dikatakan: Ucapan kalian ini dengan lisan ilmu. Seandainya kalian berbicara dengan lisan hal (keadaan), niscaya kalian akan mengetahui kebenaran apa yang kami sebutkan. Karena pemilik hal adalah pemilik penyaksian. Sedangkan pemilik ilmu adalah pemilik ghaibah (ketidakhadiran). Orang yang menyaksikan melihat apa yang tidak dilihat orang yang ghaib. Kami akan memberi isyarat kepada kalian dengan isyarat yang bersifat hal dan ilmu. Turun dari hal menuju ilmu.

Maka kami katakan: Hal itu terpengaruh oleh cahaya dari cahaya-cahaya Keesaan dan Ketunggalan. Yang menutupi hamba dari dirinya sendiri, dan menampakkan penampakan apa yang disaksikannya. Dan tidak diragukan bahwa dalam hal ini terkadang diyakini bahwa yang menyaksikan adalah yang disaksikan. Hingga Abu Yazid berkata dalam hal yang seperti ini: Mahasuci aku, mahasuci aku, dan tidak ada dalam jubah kecuali Allah. Dan tidak diragukan bahwa keyakinan ini adalah kepalsuan. Dan bahwa sebabnya adalah cahaya dari cahaya-cahaya Keesaan, dan pemiliknya dimaafkan. Selama ia tertutup dari dirinya sendiri dengan waridnya. Apabila ia dikembalikan kepada resmnya (wujudnya), akalnya, dan perasaannya: maka hilang hal itu dan lenyap, dan pemiliknya mengetahui bahwa itu adalah kepalsuan. Ketika ia mengira bahwa yang menyaksikan adalah yang disaksikan.

Jika kalian mengingkari itu maka tidak ada pembicaraan dengan kalian. Dan jika kalian mengakuinya maka tercapai maksudnya. Ini adalah makna bahwa keadaan orang jujur yang paling jujur adalah: kepalsuan. Dan apabila dipahami ini dalam hal: maka dipahami pula sepertinya dalam kenyataan bahwa amal-amalnya yang paling baik adalah dosa. Karena sesungguhnya ia – karena kejujurannya dalam mencari, dan upaya kerasnya dalam beramal, dan pengerahan kemampuannya di dalamnya – ia ghaib dengannya dari penyaksian hakikat kauniyyah, dan bahwa yang menggerakkannya adalah selain dirinya, dan bahwa ia adalah alat dan tempat mengalirnya kehendak, dan bahwa dirinya lebih lemah dan lebih tidak berdaya dari bahwa untuk dirinya, atau dengannya, atau darinya ada perbuatan, atau kehendak, atau gerakan. Apabila ia kembali kepada hakikat lalu menyaksikan karunia Allah atasnya, dan bahwa Dialah yang menggerakkannya, dan bahwa kehendak-Nya adalah yang mewajibkan usahanya, ia melihat amal-amalnya yang paling baik adalah: dosa dengan pertimbangan ini.

Adapun pandangannya bahwa tujuan-tujuannya yang paling jernih adalah kemalasan, maka itu karena orang yang bertujuan kepada hakikat ketika menyaksikan tujuannya: ia berhenti dari tujuannya. Karena yang dituju dan yang dikehendaki: lebih dekat kepada lisan daripada ucapannya, dan kepada hati daripada tujuannya. Maka tujuan kepadanya adalah: itulah kemalasan dari tujuan itu sendiri. Karena tujuan hanya untuk sesuatu yang jauh dari yang bertujuan. Adapun yang lebih dekat kepada yang bertujuan dari dirinya sendiri: maka ketika yang bertujuan menyaksikan hakikat: ia mengetahui bahwa tujuannya adalah kemalasan itu sendiri dari tujuannya. Dan ungkapan menambah makna ini kekasaran. Dan rujukan di dalamnya adalah pada hal dan dzauq.

Maka jawabannya adalah dikatakan: Orang yang merujukmu kepada hal maka ia tidak berlaku adil kepadamu. Karena ia merujukmu kepada perkara yang bersama antara kebenaran dan kebatilan. Karena setiap orang yang meyakini sesuatu dan mencarinya dengan pencarian yang jujur, dan mengerahkan kemampuannya dalam mencapainya: maka pasti baginya di dalamnya ada hal yang tidak ada bagi selainnya. Sesuai dengan kejujurannya dalam mencarinya, dan pengumpulan perhatiannya dan tujuannya padanya. Dan ini terjadi bagi orang-orang yang berbakti dan yang durhaka, bahkan bagi wali-wali Allah dan musuh-musuh-Nya. Maka orang itu memiliki penyaksian terhadap apa yang disaksikannya, dan hal dalam mencarinya, yang tidak mewajibkan hal itu benar atau batil. Karena setiap orang yang meyakini suatu keyakinan, dan berlatih dan memoles hatinya dengan berbagai macam latihan. Dan meyakini dengan pasti apa yang diyakininya: maka akan tergambar baginya bentuk keyakinannya di alam jiwanya. Lalu ia mengira hal itu sebagai kasyaf yang benar. Meskipun ia jujur dalam pencariannya dan kecintaannya terhadap apa yang diyakininya: maka ada baginya di dalamnya hal dan pengaruh sesuai dengannya. Maka rujukan kepada hal adalah rujukan orang yang bangkrut dari ilmu kepada orang yang tidak mampu dengannya.

Dan dari sinilah masuk yang masuk kepada kebanyakan para salik. Dan terbalik perjalanan mereka, ketika mereka merujukkan ilmu kepada hal. Dan menghakiminya atasnya.

Perjalanan wali-wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang berbakti dan yang didekatkan bertentangan dengan ini. Yaitu merujukkan hal kepada ilmu, dan menghakiminya atasnya dan mendahulukannya, dan menimbangnya dengannya dan menerima hukumnya. Jika hal itu sesuai dengan ilmu, jika tidak maka adalah hal yang rusak, menyimpang dari keadaan-keadaan orang-orang yang jujur sesuai dengan kejauhan darinya dari ilmu. Maka ilmu adalah hakim dan hal adalah yang dihukumi. Dan ilmu adalah penggembala dan hal adalah dari gembalaannya. Maka siapa yang tidak menjadikan ini sebagai dasar pembinaan perjalanannya maka perjalanannya rusak. Dan puncaknya adalah: terlepas dari ilmu dan agama. Sebagaimana terjadi hal itu kepada siapa yang terjadi padanya. Dan kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.

Kami tidak mengingkari apa yang kalian sebutkan – yaitu ghaibnya orang yang menyaksikan dengan yang disaksikannya dari penyaksiannya, dan dengan yang disebutnya dari menyebutnya, dan dengan yang dikenalnya dari mengenalnya, dan dengan kekasihnya dari kecintaannya – akan tetapi kami mengingkari bahwa ini adalah hal yang paling sempurna dari pemilik kebaqa’an (keberadaan) dan pembedaan, dan penyaksian hakikat-hakikat sebagaimana adanya. Maka ia tidak perlu menyaksikan keadaannya sebagai kepalsuan. Karena tidak terjadi padanya apa yang terjadi pada pemilik kemabukan dan kehancuran berupa kepalsuan. Maka ia lebih sempurna darinya secara hakikat dan syariat.

Adapun yang ghaib dari hakikat kauniyyah dengan penyaksian perbuatannya: maka sesungguhnya ia ketika menyertainya dengan menyertakan akad tauhid, dan bahwa sumber segala sesuatu adalah kehendak Allah semata, dan bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi, dan bahwa tidak bergerak yang bergerak di zahirnya atau batinnya kecuali dengan-Nya Mahasuci Dia: maka tidak membahayakannya keghaiban dari penyaksian ini, dengan tenggelamnya dalam tujuan dan pencarian dan perbuatan. Karena hukumnya berjalan atasnya dalam keadaan ini. Dan bukanlah sempitnya hatinya dari menghadirkan hal itu ketika berkumpulnya kehendaknya dan perbuatannya dan pencariannya – dosa. Tidak bagi orang khusus dan tidak bagi orang umum. Dan tidak dengan pertimbangan kedudukannya juga. Karena dosa adalah kesengajaan menyelisihi perintah. Dan ini tidak demikian. Dan ia tidak dituntut dengan keghaiban dari penyaksian hakikat, dan fananya di dalamnya dari penyaksian perbuatan dan berdirinya dengannya, dengan keyakinan bahwa itu dengan kehendak Allah dan daya serta kekuatan-Nya.

Adapun apa yang kalian sebutkan bahwa penyaksian kedekatan menjadikan tujuan sebagai kemalasan: maka ucapan yang memiliki hal tersembunyi. Dan telah menjelaskannya sebagian orang yang tertipu dan terkelabui dengan perkataannya:

Mengapa matamu tidak bisa tenang? Dan mengapa bayanganmu tidak berhenti berpindah? Kelak kamu akan tahu bahwa perjalananmu tidaklah Kecuali kepada dirimu sendiri ketika kamu sampai ke tempat tujuan

Dan seolah-olah pemiliknya mengisyaratkan bahwa wujud hatinya dan lisannya. Dan wujudnya lebih dekat kepadanya dari kehendaknya dan kelembutannya. Ini adalah hal tersembunyi dari ucapan ini. Dan Mahasuci Allah dari ilhad (penyimpangan) orang ini dan orang-orang semisalnya serta kebohongan mereka setinggi-tingginya. Bahkan Dia Mahasuci di atas langit-langit-Nya di atas Arasy-Nya terpisah dari makhluk-Nya.

Adapun apa yang kalian sebutkan tentang kedekatan: jika kalian maksudkan umum kedekatan-Nya kepada setiap lisan dari ucapannya dan kepada setiap hati dari tujuannya: maka ini – seandainya benar – adalah kedekatan kemampuan dan ilmu dan cakupan, bukan kedekatan dengan Dzat dan wujud. Karena sesungguhnya Dia Mahasuci tidak bercampur dengan makhluk-Nya, tidak bergaul dengan mereka, dan tidak bersatu dengan mereka. Dengan bahwa makna ini tidak datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan tidak dari seorang pun dari salaf yang berbakti menamainya sebagai kedekatan, dan tidak datang kedekatan dalam Alquran dan Sunnah selamanya kecuali khusus sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Dan jika kalian maksudkan kedekatan khusus kepada lisan dan hati: maka ini adalah kedekatan kecintaan, dan kedekatan ridha dan ketenangan, seperti kedekatan hamba dari Tuhannya dan ia sedang sujud. Dan ia jenis lain dari kedekatan. Tidak ada perumpamaan baginya dan tidak ada persamaan. Karena ruh dan hati dekat kepada Allah dan Dia di atas Arasy-Nya, dan ruh dan hati di dalam badan. Dan telah disebutkan sebelumnya isyarat tentang hal itu. Dan kedekatan ini tidak bertentangan dengan tujuan dan pencarian, bahkan ia disyaratkan dengan tujuan. Maka mustahil adanya tanpanya. Dan semakin sempurna pencarian dan tujuan: maka kedekatan ini semakin kuat.

Jika dikatakan: Maka bagaimana kalian memperlakukan firman-Nya Taala: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf: 16)?

Dikatakan: Ayat ini di dalamnya ada dua pendapat bagi manusia.

Salah satunya: bahwa itu adalah kedekatan-Nya dengan ilmu-Nya. Dan oleh karena itu Dia menggandengkannya dengan ilmu-Nya tentang bisikan jiwa manusia. Dan hablul warid adalah urat leher, yaitu urat antara tenggorokan dan kedua pembuluh yang apabila dipotong maka mati pemiliknya. Dan bagian-bagian hati dan urat ini menghalangi sebagiannya sebagian yang lain. Dan ilmu Allah tentang rahasia-rahasia hamba dan apa yang ada dalam hatinya tidak menghalanginya sesuatu pun.

Pendapat kedua: bahwa itu adalah kedekatan-Nya dari hamba dengan malaikat-malaikat-Nya yang sampai kepada hatinya. Maka ia lebih dekat kepadanya dari urat itu. Syekh kami memilihnya.

Aku mendengarnya berkata: Ini seperti firman-Nya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik” (Yusuf: 3) dan firman-Nya: “Maka apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu” (Al-Qiyamah: 18). Karena Jibril alaihissalam adalah yang menceritakannya kepadanya dengan perintah Allah. Maka dinisbatkan pengajarannya kepada-Nya. Karena itu dengan perintah-Nya, dan demikian juga Jibril adalah yang membacakannya kepadanya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dalam tafsir ayat ini: Apabila utusan Kami membacakannya maka dengarkanlah bacaannya hingga ia selesai.

Aku berkata: Awal ayat menolak hal itu. Karena Dia berfirman “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya” (Qaaf: 16). Ia berkata: Demikian juga penciptaan-Nya untuk manusia hanya dengan sebab-sebab dan penciptaan malaikat-malaikat.

Aku berkata: Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Hudzaifah bin Usaid radhiyallahu anhu dalam penciptaan nuthfah (zigot): Maka malaikat yang menciptakannya berkata: Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan? Lurus atau tidak lurus? Maka Tuhanmu memutuskan apa yang Dia kehendaki dan malaikat mencatatnya. Maka Dia Mahasuci adalah Pencipta sendirian. Dan tidak bertentangan dengan hal itu penugasan malaikat-malaikat dengan izin-Nya, kehendak-Nya, dan kemampuan-Nya dalam penciptaan. Karena perbuatan-perbuatan mereka dan penciptaan mereka adalah ciptaan bagi-Nya Mahasuci. Maka tidak ada di sana pencipta dalam hakikatnya selain-Nya.

Yang dimaksud adalah: bahwa ini adalah tempat di mana pemahaman-pemahaman sesat. Dan tergelincir di dalamnya kaki-kaki, dan rancu di dalamnya ma’iyyah (kebersamaan) ilmu dan kemampuan dan cakupan dengan kedekatan. Dan rancu di dalamnya bekas-bekas kedekatan kecintaan dan ridha dan kesesuaian, dan dominasi dzikir-Nya, dan muraqabah (pengawasan) kepada-Nya dengan kedekatan Dzat-Nya. Dan rancu di dalamnya apa yang ada dalam dzikir dengan apa yang ada di luar. Dan rancu lenyapnya penyaksian resem (wujud) dan punahnya dari hati dengan ketiadaannya dan fana’nya. Dan rancu di dalamnya bekas-bekas sifat-sifat dengan hakikatnya, dan cahaya-cahaya makrifat dengan cahaya-cahaya Dzat.

Pemilik-pemiliknya – karena menghakimkan hal dan dzauq – tidak menengok kepada lisan ilmu, dan tidak mendengarkan kepadanya. Dan dalam ini sudah cukup. Dan kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.

Bab Kedudukan Mengutamakan Orang Lain (Al-Itsar)

Hakikat Al-Itsar

Bab Kedudukan Mengutamakan Orang Lain

Di antara kedudukan-kedudukan dari “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan mengutamakan orang lain (al-itsar). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hashr: 9).

Al-itsar adalah kebalikan dari kekikiran. Sesungguhnya orang yang mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri meninggalkan sesuatu yang dia butuhkan. Sedangkan orang yang kikir sangat tamak terhadap apa yang tidak ada di tangannya. Apabila sesuatu telah berada di tangannya, dia kikir terhadapnya dan bakhil untuk mengeluarkannya. Maka kebakhilan adalah buah dari kekikiran. Kekikiran memerintahkan kebakhilan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Takutlah kalian dari kekikiran. Sesungguhnya kekikiran telah membinasakan umat sebelum kalian. Kekikiran memerintahkan mereka untuk bakhil maka mereka pun bakhil, dan memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan maka mereka pun memutuskannya.”

Maka orang bakhil adalah orang yang memenuhi panggilan kekikiran. Sedangkan orang yang mengutamakan orang lain adalah orang yang memenuhi panggilan kedermawanan.

Demikian pula, dermawan terhadap apa yang ada di tangan orang lain adalah kedermawanan sejati. Dan ini lebih utama daripada kedermawanan dalam memberi.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Kedermawanan jiwa terhadap apa yang ada di tangan orang lain lebih utama daripada kedermawanan jiwa dalam memberi. Dan kedudukan ini adalah kedudukan kedermawanan, kemurahan hati, dan kebaikan.

Dinamakan kedudukan al-itsar karena ini adalah tingkatan tertingginya, sebab tingkatannya ada tiga:

Pertama: Memberi tanpa mengurangi hartanya dan tidak menyulitkannya. Ini adalah kedudukan kemurahan hati.

Kedua: Memberikan yang lebih banyak, dan menyisakan sesuatu untuknya, atau menyisakan seperti apa yang dia berikan. Ini adalah kedermawanan.

Ketiga: Mengutamakan orang lain dengan sesuatu padahal dia sendiri memerlukannya, dan ini adalah tingkatan al-itsar. Kebalikannya adalah al-atsarah, yaitu mementingkan diri sendiri atas saudaranya dengan apa yang dia butuhkan. Dan ini adalah tingkatan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar radhiallahu ‘anhum: “Sesungguhnya kalian akan menemui sikap mementingkan diri sendiri sepeninggalku. Maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga.” Dan kaum Anshar adalah mereka yang digambarkan oleh Allah dengan al-itsar dalam firman-Nya: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan” (Surah Al-Hashr: 9). Maka Allah menggambarkan mereka dengan tingkatan tertinggi kedermawanan, dan hal itu telah dikenal di kalangan mereka.

Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhuma termasuk orang dermawan yang terkenal. Bahkan suatu ketika dia jatuh sakit, dan dia merasa heran karena saudara-saudaranya terlambat menjenguknya. Maka dia bertanya tentang mereka? Mereka menjawab: Sesungguhnya mereka malu karena utang yang mereka miliki kepadamu. Maka dia berkata: Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara dari berkunjung. Kemudian dia memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkan: Siapa yang memiliki utang kepada Qais maka dia dibebaskan darinya. Maka tidak sampai petang hari, pintu rumahnya rusak karena banyaknya orang yang menjenguknya.

Suatu hari orang-orang bertanya kepadanya: Apakah kamu pernah melihat orang yang lebih dermawan darimu? Dia menjawab: Ya. Kami singgah di padang pasir di rumah seorang wanita. Lalu suaminya datang. Istrinya berkata: Sesungguhnya ada tamu yang singgah padamu. Maka dia datang membawa seekor unta lalu menyembelihnya, dan berkata: Silakan! Ketika hari berikutnya dia datang dengan unta lain lalu menyembelihnya. Kami berkata: Kami belum memakan dari unta yang disembelih tadi malam kecuali sedikit. Maka dia berkata: Sesungguhnya aku tidak memberi makan tamuku dengan makanan yang bermalam. Maka kami tinggal di sisinya dua atau tiga hari, dan langit sedang hujan. Dan dia melakukan hal itu. Ketika kami hendak pergi, kami meninggalkan seratus dinar di rumahnya, dan kami berkata kepada istrinya: Mohon maafkan kami kepadanya. Dan kami pergi. Ketika siang tiba, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berteriak di belakang kami: Berhenti! Wahai rombongan yang hina. Kalian membayarku atas jamu-ku? Kemudian dia mengejar kami, dan berkata: Kalian harus mengambilnya atau aku akan menusuk kalian dengan tombakku. Maka kami mengambilnya dan dia pun pulang.

Maka perhatikanlah rahasia takdir, di mana Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui—Mahasuci Dia—telah mentakdirkan orang-orang mementingkan diri sendiri atas kaum Anshar dalam urusan dunia—padahal mereka adalah ahli al-itsar—agar Dia membalas mereka atas pengutamaan mereka terhadap saudara-saudara mereka di dunia atas diri mereka sendiri dengan kedudukan yang tinggi di surga Adn melebihi orang lain. Maka akan tampak pada saat itu keutamaan al-itsar mereka dan tingkatannya, dan mereka yang mementingkan diri sendiri atas mereka di dunia akan merasa sangat iri. Dan itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang besar.

Apabila kamu melihat orang-orang mementingkan diri sendiri atas kamu—padahal kamu termasuk ahli al-itsar—maka ketahuilah bahwa itu adalah untuk kebaikan yang dikehendaki bagimu. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

Bab Tingkatan-Tingkatan Kedermawanan

Kedermawanan memiliki sepuluh tingkatan:

Pertama: Kedermawanan dengan jiwa. Ini adalah tingkatan tertingginya, sebagaimana yang dikatakan penyair:

Dia berderma dengan jiwa, ketika orang bakhil kikir dengannya… Dan kedermawanan dengan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan

Kedua: Kedermawanan dengan kepemimpinan. Ini adalah tingkatan kedua dari kedermawanan. Orang yang dermawan membawa kedermawanannya untuk merendahkan kepemimpinannya, dan berderma dengannya. Dan mengutamakan dalam memenuhi kebutuhan orang yang meminta.

Ketiga: Kedermawanan dengan kenyamanan dan kesenangannya, dan istirahat dirinya. Maka dia berderma dengannya dengan lelah dan capek demi kepentingan orang lain. Termasuk dalam hal ini adalah kedermawanan seseorang dengan tidurnya dan kesenangannya untuk menemani orang lain. Sebagaimana dikatakan:

Sangat cinta dengan kedermawanan, seandainya orang yang meminta berkata kepadanya: Berikanlah aku semua tidur matamu, niscaya dia tidak tidur

Keempat: Kedermawanan dengan ilmu dan menyebarkannya. Ini termasuk tingkatan tertinggi kedermawanan. Dan kedermawanan dengannya lebih utama daripada kedermawanan dengan harta. Karena ilmu lebih mulia daripada harta.

Dan manusia dalam kedermawanan dengannya berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Hikmah dan takdir Allah yang berlaku telah menetapkan: bahwa tidak akan bermanfaat dengannya orang bakhil selamanya.

Termasuk kedermawanan dengannya adalah: bahwa kamu menyebarkannya kepada orang yang bertanya kepadamu tentangnya, bahkan kamu menawarkannya kepadanya.

Dan termasuk kedermawanan dengan ilmu adalah: bahwa ketika penanya bertanya kepadamu tentang suatu masalah, kamu berikan jawaban yang lengkap dan memuaskan, tidak hanya sekadar menjawab untuk menghilangkan kebutuhan, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang menulis dalam jawaban fatwa: Ya, atau: Tidak. Dan hanya terbatas pada itu.

Sungguh aku telah menyaksikan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—dalam hal itu sesuatu yang menakjubkan:

Apabila dia ditanya tentang masalah hukum, dia menyebutkan dalam jawabannya mazhab-mazhab imam yang empat, jika memungkinkan, dan dalil-dalil perbedaan pendapat, dan penguatan pendapat yang lebih kuat. Dan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut yang mungkin lebih bermanfaat bagi penanya daripada masalahnya. Sehingga kegembiraan penanya dengan hal-hal yang berkaitan itu dan konsekuensinya lebih besar daripada kegembiraannya dengan masalahnya. Dan fatwa-fatwanya rahimahullah ada di tengah-tengah manusia. Maka siapa yang ingin mengetahuinya dapat melihat hal itu.

Maka termasuk kedermawanan seseorang dengan ilmu adalah: bahwa dia tidak terbatas pada masalah penanya. Tetapi dia menyebutkan kepadanya hal-hal yang serupa, yang berkaitan dengannya, dan dalilnya, sehingga memuaskan dan mencukupinya.

Para sahabat radhiallahu ‘anhum pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang berwudhu dengan air laut? Maka beliau bersabda: “Air laut itu suci airnya, halal bangkainya.” Maka beliau menjawab pertanyaan mereka. Dan beliau berderma kepada mereka dengan apa yang mungkin pada sebagian waktu mereka lebih membutuhkannya daripada apa yang mereka tanyakan.

Dan ketika mereka bertanya kepada beliau tentang hukum, beliau mengingatkan mereka tentang illah dan hikmahnya. Sebagaimana mereka bertanya kepada beliau tentang menjual buah basah dengan buah kering? Maka beliau bersabda: “Apakah buah basah berkurang jika kering? Mereka menjawab: Ya. Beliau bersabda: Kalau begitu tidak boleh.” Dan tidaklah tersembunyi bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa buah basah berkurang dengan keringnya, tetapi beliau mengingatkan mereka tentang illah hukum. Dan ini sangat banyak dalam jawaban-jawaban beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti sabda beliau: “Sesungguhnya jika kamu menjual buah kepada saudaramu, lalu terkena bencana, maka tidak halal bagimu mengambil sesuatu dari harta saudaramu. Dengan apa salah seorang di antara kalian mengambil harta saudaranya tanpa hak?” Dan dalam riwayat lain: “Bagaimana pendapatmu jika Allah mencegah buahnya: dengan apa salah seorang di antara kalian mengambil harta saudaranya tanpa hak?” Maka beliau menyebutkan dengan jelas illah yang mengharamkan membebankan harga kepadanya. Yaitu Allah mencegah buahnya yang tidak ada peran pembeli di dalamnya.

Para musuhnya—maksudnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—mencela beliau karena hal itu. Dan mereka berkata: Penanya bertanya kepadanya tentang jalan ke Mesir—misalnya—maka dia menyebutkan kepadanya juga jalan ke Mekah, Madinah, Khurasan, Irak, dan India. Dan apa kebutuhan penanya dengan itu?

Demi Allah, itu bukanlah aib, sesungguhnya yang aib adalah: kebodohan dan kesombongan. Dan ini adalah tempat peribahasa yang terkenal: Mereka menjulukinya asam padahal dia cuka… Seperti orang yang tidak sampai ke anggur

Kelima: Kedermawanan dengan manfaat jabatan. Seperti memberi syafaat dan berjalan bersama seseorang kepada penguasa dan semacamnya. Dan itu adalah zakat jabatan yang diminta dari hamba. Sebagaimana pengajaran dan menyebarkan ilmu adalah zakatnya.

Keenam: Kedermawanan dengan manfaat badan dalam berbagai jenisnya. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap pagi pada setiap ruas tulang salah seorang di antara kalian ada sedekah. Setiap hari terbit matahari, berlaku adil antara dua orang: sedekah. Dan menolong seseorang dengan tunggangannya, lalu dia menaikkannya ke atasnya, atau mengangkat barangnya ke atasnya: sedekah. Dan ucapan yang baik: sedekah, dan setiap langkah yang dijalani seseorang menuju shalat: sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan: sedekah.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketujuh: Kedermawanan dengan kehormatan, seperti kedermawanan Abu Dhamdham dari para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dia apabila pagi hari berkata: Ya Allah sesungguhnya tidak ada harta yang aku sedekahkan kepada manusia. Dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan kehormatanku, maka siapa yang mencaciku, atau menuduhku: maka dia dalam keadaan halal. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa di antara kalian yang mampu untuk menjadi seperti Abu Dhamdham?”

Dan dalam kedermawanan ini terdapat kesucian hati, ketenangan jiwa, dan terbebas dari permusuhan dengan makhluk yang besar manfaatnya.

Kedelapan: Kedermawanan dengan kesabaran, toleransi, dan maaf. Dan ini adalah tingkatan yang mulia dari tingkatan-tingkatannya. Dan ini lebih bermanfaat bagi pemiliknya daripada kedermawanan dengan harta, lebih mulia baginya dan lebih menolong, lebih menguasai dirinya, dan lebih mulia baginya. Dan tidak mampu melakukannya kecuali jiwa-jiwa yang besar.

Maka siapa yang sulit baginya berderma dengan hartanya, maka hendaklah dia melakukan kedermawanan ini. Karena dia akan menuai buah akibat-akibatnya yang terpuji di dunia sebelum akhirat. Dan ini adalah kedermawanan kemuliaan jiwa. Allah Ta’ala berfirman: “Dan luka-luka (pun) ada qishasnya. Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang melukai), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (Surah Al-Ma’idah: 45). Dan dalam kedermawanan ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (Surah Asy-Syura: 40). Maka Dia menyebutkan tiga tingkatan dalam ayat ini: tingkatan keadilan, dan Dia mengizinkannya. Dan tingkatan keutamaan, dan Dia menganjurkannya. Dan tingkatan kezaliman, dan Dia mengharamkannya.

Kesembilan: Kedermawanan dengan akhlak, senyum, dan kelapangan hati. Dan ini di atas kedermawanan dengan kesabaran, toleransi dan maaf. Dan ini adalah yang membawa pemiliknya mencapai tingkatan orang yang berpuasa dan shalat malam. Dan ini adalah yang paling berat diletakkan di timbangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, sekalipun kamu bertemu saudaramu dengan wajahmu yang berseri kepadanya.” Dan dalam kedermawanan ini terdapat manfaat, kesenangan, dan berbagai jenis kemaslahatan yang besar. Dan hamba tidak mungkin dapat memuaskan mereka kecuali dengan akhlak dan toleransinya.

Kesepuluh: Kedermawanan dengan meninggalkan apa yang ada di tangan orang lain bagi mereka. Maka dia tidak memperhatikannya. Dan tidak mengharapkannya dengan hatinya, dan tidak mengharapkannya dengan keadaannya, dan tidak dengan lisannya. Dan inilah yang dikatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak: bahwa ini lebih utama daripada kedermawanan jiwa dengan memberi.

Maka lisan takdir berkata kepada orang fakir yang dermawan: Walaupun Aku tidak memberimu apa yang kamu dermakan kepada manusia, maka dermakanlah kepada mereka dengan kezuhudan mu terhadap harta mereka. Dan apa yang ada di tangan mereka, kamu akan mulia atas mereka, dan bersaing dengan mereka dalam kedermawanan, dan menyendiri dari mereka dengan ketenangan.

Dan setiap tingkatan dari tingkatan kedermawanan memiliki tambahan dan pengaruh khusus pada hati dan keadaan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin tambahan bagi orang yang dermawan, dan kerusakan bagi orang yang menahan. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan.

BAB MAKNA ITSAAR DAN ATSARAH

Bab

Penulis kitab “Manazil” rahimahullah berkata:

Itsaar adalah pengkhususan dan pemilihan. Sedangkan atsarah adalah berbuat baik secara sukarela, dan sah juga secara terpaksa.

Syaikh membedakan antara itsaar dan atsarah, menjadikan itsaar sebagai pilihan, sedangkan atsarah terbagi menjadi yang bersifat pilihan dan yang bersifat terpaksa. Dengan perbedaan keduanya dapat dipahami makna perkataannya. Itsaar adalah pemberian, mengkhususkan orang yang engkau utamakan atas dirimu sendiri, dan ini hanya terjadi dengan pilihan. Adapun atsarah adalah sikap pemilik sesuatu yang mengutamakan dirinya sendiri atasmu dan mengambilnya untuk dirinya tanpa engkau. Ini tidak terpuji bagi orang yang dikenai atsarah, kecuali jika secara sukarela. Seperti seseorang yang mampu menandingi dan menariknya, namun tidak melakukannya, dan membiarkannya dengan atsarah-nya secara sukarela. Ini baik. Namun jika tidak mampu melakukan itu, maka atsarah tersebut bersifat terpaksa.

Yang dimaksud dengan “sah” adalah keberadaan, yaitu ada secara terpaksa. Namun baru baik jika secara sukarela dari orang yang dikenai atsarah.

Hakikat itsaar adalah pemberian dan penganugerahan pemiliknya. Sedangkan atsarah adalah orang itu memilih untuk dirinya sendiri apa yang seharusnya diutamakan. Maka ia membiarkannya dengan apa yang dipilihnya: baik secara sukarela maupun terpaksa. Seolah-olah engkau mengutamakannya dengan keistimewaannya ketika engkau membiarkan antara dia dan itu, dan tidak menandinginya.

Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu berkata: Kami membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat, dalam kesulitan dan kemudahan kami, dalam kegembiraan dan keterpaksaan kami, dalam atsarah atas kami, dan untuk tidak merebut urusan dari ahlinya. Mendengar dan taat dalam kesulitan dan kemudahan, kegembiraan dan keterpaksaan: bersama beliau dan bersama para imam setelahnya. Sedangkan atsarah: tidak merebut urusan dengan para imam setelahnya khususnya, karena beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mengistimewakan diri atas mereka.

BAB TINGKATAN ITSAAR

Tingkatan Pertama: Mengutamakan Makhluk Atas Dirimu

Bab

Beliau berkata: Dan itsaar terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Mengutamakan makhluk atas dirimu dalam hal yang tidak merusak agamamu, tidak memutus jalanmu, dan tidak merusak waktumu.

Artinya: Engkau mendahulukan mereka atas dirimu dalam urusan-urusan mereka. Seperti engkau memberi mereka makan sementara engkau lapar, memberi mereka pakaian sementara engkau telanjang, memberi mereka minum sementara engkau haus, dengan syarat hal itu tidak menyebabkan kerusakan yang tidak dibolehkan dalam agama. Seperti mengutamakan mereka dengan hartamu hingga engkau duduk tanpa kemampuan, terpaksa, mengharap-harap manusia atau menjadi pengemis. Demikian pula mengutamakan mereka dengan segala yang diharamkan oleh agama kepada orang yang mengutamakan. Itu adalah kebodohan dan kelemahan. Orang yang mengutamakan dengannya tercela di sisi Allah dan di sisi manusia.

Adapun perkataannya: dan tidak memutus jalanmu, artinya tidak memutus jalan pencarian dan perjalanan kepada Allah Ta’ala, seperti mengutamakan temanmu atas dzikirmu, konsentrasimu dan kehadiran hatimu kepada Allah. Maka engkau telah mengutamakannya atas Allah, dan mengutamakan dengan bagianmu dari Allah apa yang tidak layak diutamakan. Maka perumpamaanmu seperti musafir yang berjalan di jalan, bertemu seseorang yang menghentikannya, mengajaknya berbicara dan melalaikannya hingga tertinggal dari rombongan. Ini keadaan kebanyakan makhluk terhadap orang yang benar-benar berjalan kepada Allah Ta’ala. Mengutamakan mereka atasnya adalah kerugian nyata. Betapa banyaknya orang yang mengutamakan selain Allah atas Allah Ta’ala. Dan betapa sedikitnya orang yang mengutamakan Allah atas selain-Nya.

Demikian pula itsaar dengan sesuatu yang merusak waktu orang yang mengutamakan juga buruk. Seperti mengutamakan dengan waktunya dan mencerai-beraikan hatinya dalam mencari gantinya, atau mengutamakan dengan perkara yang telah mengumpulkan hati dan perhatiannya kepada Allah. Maka hatinya menjadi tercerai-berai setelah terkumpul, dan pikirannya menjadi tersebar. Ini juga itsaar yang tidak terpuji.

Demikian pula itsaar dengan kesibukan hati dan pikiran dalam urusan-urusan dan kepentingan-kepentingan mereka yang tidak wajib atasmu, atas pemikiran yang bermanfaat dan kesibukan hati dengan Allah, dan yang sejenisnya tidak tersembunyi. Bahkan itu keadaan makhluk dan yang dominan pada mereka.

Setiap sebab yang kembali kepadamu dengan perbaikan hatimu, waktumu, dan keadaanmu dengan Allah: jangan engkau utamakan dengannya siapa pun. Jika engkau mengutamakan dengannya, maka sesungguhnya engkau hanya mengutamakan setan atas Allah, sementara engkau tidak mengetahui.

Perhatikanlah keadaan kebanyakan makhluk dalam mengutamakan atas Allah orang yang membahayakan mereka dengan pengutamaan tersebut dan tidak bermanfaat bagi mereka. Kebodohan dan kekurangan apa yang lebih dari ini?

Dari sinilah para fuqaha membicarakan tentang itsaar dalam ketaatan. Mereka berkata: Sesungguhnya itu makruh atau haram. Seperti orang yang mengutamakan shaf pertama kepada orang lain dan ia mundur, atau mengutamakan kedekatannya dengan imam pada hari Jumat, atau mengutamakan orang lain dengan adzan dan iqamah, atau mengutamakan orang lain dengan ilmu yang ia haramkan pada dirinya sendiri, dan mengangkatnya di atasnya, maka ia menang dengannya tanpa dia.

Mereka membicarakan tentang itsaar Aisyah radhiyallahu anha kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dengan penguburannya di samping Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di kamarnya.

Mereka menjawabnya bahwa amal mayit terputus dengan kematiannya dan kedekatannya. Maka tidak terbayangkan dalam haknya itsaar dengan ketaatan setelah kematian. Karena tidak ada ketaatan dalam hak mayit. Sesungguhnya ini adalah itsaar dengan tempat tinggal yang mulia dan utama bagi orang yang lebih berhak dengannya darinya. Maka itsaar dengannya adalah ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla bagi orang yang mengutamakan. Wallahu a’lam.

Bab

Beliau berkata: Dan itsaar tidak dapat dilakukan kecuali dengan tiga hal: dengan mengagungkan hak-hak, membenci kekikiran, dan keinginan pada akhlak yang mulia.

Beliau menyebutkan apa yang membantu dalam itsaar dan mendorong kepadanya. Yaitu tiga hal. Mengagungkan hak-hak. Karena orang yang mengagungkan hak-hak akan memenuhi kewajibannya, menjaganya dengan sebaik-baiknya, dan mengagungkan pengabaiannya. Ia tahu bahwa jika tidak mencapai tingkatan itsaar, ia tidak akan menunaikannya sebagaimana mestinya. Maka ia menjadikan itsaarnya sebagai kehati-hatian untuk menunaikannya.

Kedua: membenci kekikiran. Karena jika ia membencinya dan tidak menyukainya, ia berkomitmen pada itsaar. Ia melihat bahwa tidak ada kelepasan baginya dari kebencian yang dibenci ini kecuali dengan itsaar.

Ketiga: keinginan pada akhlak yang mulia. Sesuai dengan keinginannya padanya, maka itsaarnya. Karena itsaar adalah tingkatan paling utama dari akhlak yang mulia.

Bab Tingkatan Kedua: Itsaar Ridha Allah Atas Ridha Selain-Nya

Bab

Beliau berkata: Tingkatan kedua: Itsaar ridha Allah atas ridha selain-Nya, meskipun berat dalam ujian, berat dalam beban, dan lemah dalam kemampuan dan badan.

Itsaar ridha Allah Azza wa Jalla atas selain-Nya adalah menginginkan dan melakukan apa yang terdapat keridhaannya, meskipun membuat makhluk marah. Ini adalah tingkatan para nabi. Yang tertinggi adalah para rasul alaihimush shalawatu wassalam. Yang tertinggi adalah ulul azmi di antara mereka. Yang tertinggi adalah nabi kita shallallahu alaihi wasallam atas beliau dan atas mereka. Karena beliau menghadapi seluruh dunia. Beliau berdedikasi untuk dakwah kepada Allah. Menanggung permusuhan orang yang jauh dan yang dekat karena Allah Ta’ala. Mengutamakan ridha Allah atas ridha makhluk dari segala sisi. Tidak mengambil celaan pencela dalam mengutamakan ridha-Nya. Bahkan perhatian, ketetapan, dan usahanya semua terbatas pada mengutamakan keridaan Allah, menyampaikan risalah-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Hingga agama Allah menang atas semua agama. Hujjahnya tegak atas seluruh alam. Nikmat-Nya sempurna atas orang-orang beriman. Maka beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, dan beribadah kepada Allah hingga datang kepadanya keyakinan dari Tuhannya. Tidak ada seorang pun yang mencapai tingkatan itsaar ini sebagaimana yang beliau capai. Shalawat Allah dan salam atasnya.

Adapun perkataannya: meskipun berat dalam ujian dan berat dalam beban.

Sesungguhnya ujian menjadi berat padanya pertama kali, agar orang yang bukan ahlinya mundur. Jika ia menanggungnya dan maju, ujian-ujian itu berubah menjadi anugerah. Beban-beban itu menjadi pertolongan. Ini diketahui dengan pengalaman khusus dan umum. Tidak ada seorang hamba yang mengutamakan keridaan Allah Azza wa Jalla atas keridaan makhluk, menanggung beban dan bebannya, dan bersabar atas ujiannya, melainkan Allah menumbuhkan dari ujian dan beban itu nikmat, kegembiraan, dan pertolongan sesuai dengan apa yang ia tanggung dari keridaan-Nya. Maka ketakutannya berubah menjadi keamanan, tempat kecelakaannya menjadi keselamatan, kelelahannya menjadi kenyamanan, bebannya menjadi pertolongan, ujiannya menjadi nikmat, cobaan menjadi anugerah, dan kemurkaan menjadi keridaan. Betapa celakaanya orang-orang yang tertinggal, dan betapa hinanya orang-orang yang takut. Ini, padahal telah berjalan sunnatullah – yang tidak ada perubahan padanya – bahwa barangsiapa mengutamakan keridaan makhluk atas keridaan-Nya, maka Dia murka kepadanya karena orang yang ia utamakan keridaannya, dan menelantarkannya dari pihaknya. Dan menjadikan ujiannya di tangannya. Maka orang yang memuji berubah menjadi mencela, dan orang yang mengutamakan keridaan-Nya berubah menjadi murka. Maka tidak pada tujuannya dari mereka ia capai, dan tidak pula sampai pada pahala keridaan Tuhannya ia raih. Ini adalah makhluk yang paling lemah dan paling bodoh.

Ini dengan ridha makhluk: tidak mampu dicapai, tidak diperintahkan, dan tidak diriwayatkan. Itu mustahil. Bahkan tidak dapat tidak mereka murka kepadamu. Maka agar mereka murka kepadamu dan engkau beruntung dengan ridha Allah atasmu lebih engkau cintai dan lebih bermanfaat bagimu daripada mereka ridha atasmu sedangkan Allah tidak ridha atasmu. Jika kemurkaan mereka tidak dapat tidak ada – dalam dua keadaan – maka utamakanlah kemurkaan mereka yang dengan itu engkau peroleh ridha Allah. Jika mereka ridha atasmu setelah ini, jika tidak maka hal yang paling ringan adalah ridha orang yang keridaannya tidak bermanfaat bagimu, dan kemarahan tidak membahayakanmu dalam agamamu, tidak dalam imanmu, dan tidak dalam akhiratmu. Jika membahayakanmu dalam urusan kecil di dunia, maka bahaya kemurkaan Allah lebih besar dan lebih besar. Kekhususan akal adalah menanggung yang lebih ringan dari dua kerusakan untuk menolak yang lebih besar. Dan mengorbankan yang lebih rendah dari dua kemaslahatan untuk mencapai yang lebih tinggi. Maka timbanglah dengan akalmu. Kemudian lihatlah mana dari dua perkara yang lebih baik maka utamakanlah, dan mana yang lebih buruk maka jauhilah. Ini adalah bukti yang pasti dan dharuri dalam mengutamakan ridha Allah atas ridha makhluk.

Ini dengan sesungguhnya jika ia mengutamakan ridha Allah, Allah mencukupkannya dari beban kemurkaan makhluk. Dan jika ia mengutamakan ridha mereka, mereka tidak mencukupkannya dari beban kemurkaan Allah kepadanya.

Sebagian salaf berkata: Menjaga satu wajah lebih mudah bagimu daripada menjaga wajah-wajah yang banyak. Sesungguhnya jika engkau menjaga satu wajah itu, ia mencukupkan semua wajah bagimu.

Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu anhu berkata: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak dapat dicapai. Maka wajib atasmu dengan apa yang di dalamnya terdapat perbaikan dirimu maka tetaplah padanya.

Diketahui: bahwa tidak ada perbaikan bagi jiwa kecuali dengan mengutamakan ridha Tuhan dan Maulanya atas selain-Nya. Sungguh Abu Firas telah berbuat baik dalam makna ini – kecuali bahwa ia berbuat buruk seburuk-buruknya dalam perkataannya, karena ia mengatakannya kepada makhluk yang tidak memiliki untuknya dan untuk dirinya sendiri manfaat dan tidak pula mudarat:

Semoga engkau manis, sementara kehidupan pahit Dan semoga engkau ridha, sementara manusia murka Semoga yang antara aku dan engkau makmur Dan antara aku dan seluruh alam rusak Jika cinta darimu benar maka semua mudah Dan semua yang di atas tanah adalah tanah

Kemudian Syaikh rahimahullah menyebutkan apa yang dapat dilakukan dengan itsaar yang agung kedudukannya ini. Beliau berkata:

Dan ini dapat dilakukan dengan tiga hal: dengan baiknya jiwa, baiknya Islam, dan kuatnya kesabaran.

Dari yang diketahui: bahwa orang yang mengutamakan ridha Allah menghadapi permusuhan makhluk dan gangguan mereka, dan usaha mereka dalam menghancurkannya pasti. Ini adalah sunnatullah dalam ciptaan-Nya. Kalau tidak, apa dosa para nabi dan rasul, dan orang-orang yang menyuruh dengan keadilan dari manusia, dan orang-orang yang menegakkan agama Allah, pembela kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya di sisi mereka?

Barangsiapa mengutamakan ridha Allah maka pasti memusuhinya orang-orang rendah dunia dan sampah mereka, orang-orang lapar mereka dan orang-orang bodoh mereka, ahli bid’ah dan kefasikan dari mereka, ahli kepemimpinan batil, dan setiap orang yang petunjuknya menyelisihi petunjuknya. Tidak maju menghadapi permusuhan orang-orang ini kecuali pencari kembali kepada Allah, beramal untuk mendengar khitab “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai” (Al-Fajr: 27-28), dan orang yang Islamnya kokoh sempurna tidak digoyahkan oleh manusia dan tidak diguncangkan oleh gunung, dan orang yang ikatan ketetapan sabarnya kuat tidak dilepaskan oleh ujian, kesulitan, dan ketakutan.

Aku berkata: Pokok dari itu dua perkara: zuhud dalam kehidupan dan pujian. Tidak lemah orang yang lemah, dan tidak mundur orang yang mundur kecuali karena cintanya pada kehidupan dan kelangsungan hidup, dan pujian manusia kepadanya, dan ketakutannya dari celaan mereka. Jika ia zuhud dalam dua hal ini, semua hambatan mundur darinya. Saat itu ia menyelam ke dalam pasukan.

Pokok dua hal ini dengan dua hal: benarnya keyakinan dan kuatnya kecintaan.

Pokok dua hal ini juga dengan dua hal: jujurnya berlindung dan permintaan, dan menghadapi sebab-sebab yang menyampaikan kepadanya.

Sampai di sini berakhir pengetahuan makhluk dan kemampuan mereka. Dan taufik setelahnya di tangan Dzat yang kendali semua urusan di tangan-Nya “Dan kamu tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim, Dia menyediakan bagi mereka azab yang pedih” (Al-Insan: 30-31).

BAGIAN: TINGKATAN KETIGA MENDAHULUKAN – MENDAHULUKAN ALLAH

Bagian

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah mendahulukan (apa yang dikehendaki) Allah. Sesungguhnya mendalami masalah mendahulukan adalah klaim terhadap kepemilikan. Kemudian meninggalkan penyaksian bahwa kamu melihat dirimu mendahulukan Allah. Kemudian kehilanganmu dari meninggalkan itu.

Yang dimaksud dengan “mendahulukan (apa yang dikehendaki) Allah” adalah: bahwa kamu menisbatkan mendahulukanmu kepada Allah, bukan kepada dirimu sendiri. Dan bahwa Dialah yang sendirian dalam hal mendahulukan, bukan kamu. Seolah-olah kamu menyerahkan tindakan mendahulukan itu kepada-Nya. Maka ketika kamu mendahulukan orang lain dengan sesuatu, sesungguhnya yang mendahulukannya adalah Yang Haq, bukan kamu. Maka Dialah yang benar-benar mendahulukan. Karena Dialah yang benar-benar memberi.

Kemudian Syekh menjelaskan alasan yang membenarkan penisbatan tindakan mendahulukan kepada Allah dan meninggalkan penisbatannya kepada diri sendiri. Ia berkata: “Sesungguhnya mendalami masalah mendahulukan adalah klaim terhadap kepemilikan.”

Maka jika seorang hamba mengklaim bahwa dialah yang mendahulukan, berarti ia telah mengklaim kepemilikan atas apa yang ia dahulukan untuk orang lain. Padahal kepemilikan sesungguhnya hanyalah milik Allah yang memiliki segala sesuatu. Maka jika seorang hamba keluar dari klaim kepemilikan, berarti ia telah mendahulukan (apa yang dikehendaki) Allah – yaitu pemberian-Nya – atas mendahulukan dirinya sendiri. Dan ia menyaksikan bahwa hanya Allah sajalah yang mendahulukan dengan kepemilikan-Nya. Adapun orang yang tidak memiliki sesuatu, mendahulukan apa yang ia miliki?

Dan perkataannya: “Kemudian meninggalkan penyaksian bahwa kamu melihat dirimu mendahulukan Allah.”

Artinya bahwa ketika kamu mendahulukan (apa yang dikehendaki) Allah dengan menyerahkan makna mendahulukan kepada-Nya, masih tersisa pada dirimu sisa lain yang harus kamu tinggalkan. Yaitu kamu berpaling dari penyaksianmu bahwa kamu melihat dirimu telah mendahulukan Yang Haq dengan mendahulukanmu, dan bahwa kamu telah menisbatkan tindakan mendahulukan kepada-Nya, bukan kepada dirimu. Karena dalam penyaksianmu akan hal itu dan melihatnya terdapat klaim lain yang lebih besar dari klaim kepemilikan. Yaitu bahwa kamu mengklaim memiliki sesuatu yang dengannya kamu mendahulukan Allah dan kamu mendahulukan-Nya atas dirimu dalam hal itu, setelah hal itu menjadi milikmu. Dan klaim ini lebih sulit dari yang pertama. Karena ia mencakup apa yang dicakup oleh klaim pertama tentang kepemilikan, dan ditambah lagi dengan melihat tindakan mendahulukan dengannya. Maka yang pertama mengklaim kepemilikan dan mendahulukan dengannya. Sedangkan yang ini mengklaim kepemilikan dan mengklaim mendahulukan dengannya. Oleh karena itu, ia harus meninggalkan penyaksian melihat tindakan mendahulukan ini. Maka ia tidak meyakini bahwa ia telah mendahulukan Allah dengan tindakan mendahulukan ini. Bahkan Allah-lah yang mengambil secara khusus darimu. Karena hak istimewa itu wajib bagi-Nya dengan kewajiban-Nya sendiri, bukan dengan kewajiban hamba bagi-Nya.

Perkataannya: “Kemudian kehilanganmu dari meninggalkan itu.”

Maksudnya: bahwa ketika kamu menurunkan penyaksian ini dan penglihatan ini, masih tersisa padamu sisa yang lain. Yaitu penglihatanmu terhadap peninggalan ini yang mencakup klaim kepemilikanmu atas peninggalan itu. Dan itu adalah klaim yang dusta. Karena seorang hamba tidak memiliki sesuatu apapun dari urusan. Dan tidak ada di tangannya perbuatan atau peninggalan. Sesungguhnya semua urusan adalah milik Allah.

Telah jelas dalam penyingkapan, penyaksian, ilmu, dan makrifat bahwa seorang hamba sama sekali tidak memiliki sesuatu apapun. Dan seorang hamba tidak benar-benar memiliki. Sesungguhnya yang benar-benar memiliki adalah tuannya. Maka hak istimewa, mendahulukan, dan mengambil secara khusus semuanya adalah milik Allah, dari-Nya, dan kepada-Nya. Baik hamba memilih hal itu dan mengetahuinya, atau tidak mengetahuinya, atau tidak memilihnya. Maka hak istimewa itu terjadi. Suka atau tidak suka hamba. Karena itu adalah pengambilan secara khusus oleh Pemilik Yang Haq atas kepemilikan-Nya Yang Maha Tinggi. Dan kamu telah memahami dari ini perkataannya: “Sesungguhnya hak istimewa itu baik jika dilakukan dengan suka rela, dan sah meskipun dilakukan dengan terpaksa.” Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

BAGIAN: TINGKATAN AKHLAK

AKHLAK DALAM AL-QURAN DAN SUNNAH

Bagian: Tingkatan Akhlak

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan akhlak.

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam: 4).

Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: Berada di atas agama yang agung, tidak ada agama yang lebih Aku cintai dan lebih Aku ridhai selain darinya. Dan itu adalah agama Islam.

Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata: Itu adalah adab-adab Al-Quran.

Qatadah berkata: Itu adalah apa yang ia perintahkan dari perintah Allah dan apa yang ia larang dari larangan Allah. Maknanya: Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang Allah pilihkan untukmu dalam Al-Quran.

Dalam dua kitab Shahih disebutkan bahwa Hisyam bin Hakim bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: “Akhlaknya adalah Al-Quran.” Ia berkata: Sungguh aku berniat untuk bangun dan tidak menanyakan sesuatu apapun.

Allah telah mengumpulkan baginya akhlak-akhlak mulia dalam firman-Nya Ta’ala: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199). Ja’far bin Muhammad berkata: Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan akhlak-akhlak mulia. Dan tidak ada dalam Al-Quran ayat yang lebih komprehensif mengumpulkan akhlak-akhlak mulia dari ayat ini. Disebutkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Jibril: “Apa ini?” Ia berkata: “Aku tidak tahu sampai aku bertanya.” Lalu ia bertanya. Kemudian ia kembali kepadanya dan berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu agar kamu menyambung hubungan dengan orang yang memutuskanmu, memberi kepada orang yang menghalangimu, dan memaafkan orang yang menzhalimimu.”

Tidak diragukan bahwa orang yang ditaati memiliki tiga keadaan dengan manusia:

Pertama: memerintah dan melarang mereka dengan apa yang mengandung kemaslahatan mereka.

Kedua: mengambil dari mereka apa yang mereka berikan berupa ketaatan yang menjadi kewajiban mereka.

Ketiga: bahwa manusia bersamanya terbagi dua: yang sepaham dengannya yang memusuhi, dan yang memusuhinya yang menentang. Dan ia memiliki kewajiban pada setiap bagian dari ini.

Maka kewajibannya dalam memerintah dan melarang mereka adalah memerintahkan dengan makruf. Dan itu adalah makruf yang dengannya terjadi kebaikan mereka dan kebaikan urusan mereka. Dan melarang mereka dari lawannya.

Kewajibannya dalam apa yang mereka berikan kepadanya berupa ketaatan adalah mengambil dari mereka apa yang mudah bagi mereka dan jiwa mereka rela dengan lapang dada dan pilihan. Dan tidak membebankan mereka dengan kesusahan dan kesulitan yang merusak mereka.

Kewajibannya ketika orang-orang bodoh berbuat jahat kepadanya adalah berpaling dari mereka dan tidak membalas mereka dengan yang serupa dan tidak membalas dendam untuk dirinya. Maka Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199). Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata: Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengambil yang mudah dari akhlak manusia. Mujahid berkata: Artinya ambillah yang mudah dari akhlak manusia dan amal-amal mereka tanpa meremehkan, seperti menerima udzur, memaafkan, bersikap toleran, dan meninggalkan sikap menyelidiki secara detail dan mengadili hakikat batin mereka. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ambillah apa yang berlebih bagimu dari harta mereka. Dan itu adalah yang berlebih dari keluarga, dan itu makna firman-Nya Ta’ala: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka infakkan. Katakanlah: ‘Yang berlebih'” (Al-Baqarah: 219).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf” (Al-A’raf: 199). Dan itu adalah setiap makruf. Dan yang paling makruf adalah tauhid. Kemudian hak-hak penghambaan dan hak-hak para hamba.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199). Artinya jika orang bodoh berbuat bodoh kepadamu maka jangan membalasnya dengan kebodohan. Seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan: ‘Salam'” (Al-Furqan: 63). Dan atas dasar ini maka ayat tidak mansukh. Bahkan ia berpaling darinya dengan tetap menegakkan hak Allah atasnya. Dan tidak membalas dendam untuk dirinya.

Demikianlah akhlaknya shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Dan ia berkata: “Aku tidak pernah menyentuh sutra tebal atau halus yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku tidak pernah mencium bau yang lebih harum dari bau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh aku telah melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Maka ia tidak pernah berkata kepadaku: ‘Cis’. Dan tidak berkata tentang sesuatu yang aku lakukan: ‘Mengapa kamu melakukannya?’ Dan tidak terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: ‘Mengapa tidak melakukan begini?'” Muttafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan “bahwa kebaikan adalah akhlak yang baik.”

Dalam Shahih Muslim dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Maka ia bersabda: ‘Kebaikan adalah akhlak yang baik. Dan dosa adalah apa yang mengganjal di dadamu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya.'” Maka ia memperhadapkan kebaikan dengan dosa. Dan mengabarkan bahwa kebaikan adalah akhlak yang baik. Dan dosa adalah keraguan-keraguan dada. Dan ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik adalah agama seluruhnya. Dan itu adalah hakikat-hakikat iman dan syariat-syariat Islam. Oleh karena itu ia memperhadapkannya dengan dosa.

Dalam hadits yang lain: “Kebaikan adalah apa yang ditenangkan oleh jiwa, dan dosa adalah apa yang mengganjal di dada.” Dan telah ditafsirkan akhlak yang baik bahwa itu adalah kebaikan. Maka ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik adalah ketenangan jiwa dan hati. Dan dosa adalah keraguan-keraguan dada dan apa yang mengganjal di dalamnya dan diragukannya. Dan ini berbeda dengan akhlak yang baik dan yang buruk menurut kebiasaan banyak orang. Sebagaimana akan datang dalam dua kitab Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Orang-orang terbaik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

Dalam Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala membenci orang yang keji lagi kasar.” At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih.

Di dalamnya juga – dan ia menshahihkannya – dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga? Maka ia bersabda: ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Dan ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka? Maka ia bersabda: ‘Mulut dan kemaluan.'” Di dalamnya juga dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam – dan ia menshahihkannya – “Sesungguhnya di antara orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang-orang terbaik kalian adalah yang terbaik kepada istri-istri mereka.”

Dalam Shahih dari Aisyah dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya orang mukmin dengan akhlaknya yang baik mencapai tingkatan orang yang berpuasa dan mengerjakan shalat malam.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda. Dan rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang baik akhlaknya.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan sanadnya shahih.

Maka ia menjadikan rumah yang tinggi sebagai balasan untuk tingkatan yang paling tinggi dari tiga tingkatan. Yaitu akhlak yang baik. Dan yang tengah untuk yang tengahnya yaitu meninggalkan dusta. Dan yang paling rendah untuk yang paling rendahnya yaitu meninggalkan perdebatan meskipun bersamanya ada hak. Dan tidak diragukan bahwa akhlak yang baik mencakup semua ini.

Dalam Tirmidzi dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya di antara orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Maka apa al-mutafaihiqun?” Ia bersabda: “Orang-orang yang sombong.” Ats-tsartsar adalah orang yang banyak bicara tanpa faidah agama. Al-mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan penuh mulutnya untuk bermewah-mewah, meninggikan diri, melampaui batas, dan menampakkan kelebihannya atas orang lain. Asalnya dari al-fahq yaitu penuh.

Bab: Agama Seluruhnya adalah Akhlak

Bab

Agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa yang melebihi Anda dalam akhlak, maka ia melebihi Anda dalam agama. Demikian pula tasawuf.

Al-Kinani berkata: Tasawuf adalah akhlak, barang siapa yang melebihi Anda dalam akhlak, maka ia melebihi Anda dalam tasawuf.

Telah dikatakan: Sesungguhnya akhlak yang baik adalah memberi kebaikan, menahan diri dari menyakiti, dan bersabar atas gangguan.

Dikatakan pula: Akhlak yang baik adalah memberikan yang indah dan menahan diri dari yang buruk.

Dikatakan pula: Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan keutamaan.

Akhlak yang baik berdiri di atas empat rukun yang tidak mungkin dapat berdiri dengan kokoh kecuali di atasnya: kesabaran, kehormatan diri, keberanian, dan keadilan.

Kesabaran: membuatnya mampu bersabar, menahan amarah, menahan diri dari menyakiti, bersikap lembut dan perlahan, dan tidak terburu-buru serta gegabah.

Kehormatan diri: membuatnya menjauhi sifat-sifat tercela dan perbuatan buruk dalam perkataan dan perbuatan, membuatnya memiliki rasa malu. Rasa malu adalah kepala dari setiap kebaikan. Dan mencegahnya dari perbuatan keji, kikir, dusta, gibah, dan namimah.

Keberanian: membuatnya memiliki jiwa yang mulia, mengutamakan akhlak dan perangai yang tinggi, serta kedermawanan, yang merupakan keberanian jiwa dan kekuatannya dalam mengeluarkan sesuatu yang dicintai dan berpisah dengannya. Membuatnya menahan amarah dan bersikap lembut. Karena dengan kekuatan dan keberanian jiwanya, ia menahan kendali jiwanya dan mengekangnya dengan tali kekangnya dari kegelisahan dan tindakan kekerasan. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, sesungguhnya orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” Itulah hakikat keberanian, yaitu sifat yang dengannya hamba mampu mengalahkan lawannya.

Keadilan: membuatnya memiliki akhlak yang seimbang dan moderat di antara dua ujung berlebihan dan kekurangan. Membuatnya memiliki akhlak dermawan dan murah hati yang berada di tengah antara hina dan kikir. Dan memiliki akhlak keberanian yang berada di tengah antara pengecut dan nekat. Dan memiliki akhlak lembut yang berada di tengah antara marah dan hina serta rendahnya jiwa.

Sumber semua akhlak yang mulia adalah dari keempat hal ini. Dan sumber semua akhlak yang rendah serta pondasinya berdiri di atas empat rukun: kebodohan, kezaliman, syahwat, dan amarah.

Kebodohan: membuatnya melihat yang baik dalam bentuk yang buruk, dan yang buruk dalam bentuk yang baik. Kesempurnaan sebagai kekurangan dan kekurangan sebagai kesempurnaan.

Kezaliman: membuatnya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Maka ia marah pada tempat rida. Dan rida pada tempat marah. Dan tergesa-gesa pada tempat tenang. Dan kikir pada tempat memberi. Dan memberi pada tempat kikir. Dan mundur pada tempat maju. Dan maju pada tempat mundur. Dan lembut pada tempat tegas. Dan keras pada tempat lembut. Dan tawadhu pada tempat mulia. Dan sombong pada tempat tawadhu.

Syahwat: membuatnya tamak, pelit, kikir, tidak memiliki kehormatan diri, rakus, serakah, hina, dan segala kehinaan.

Amarah: membuatnya sombong, dendam, hasad, melampaui batas, dan bodoh.

Dan terlahir dari setiap dua akhlak dari akhlak-akhlak ini: akhlak-akhlak tercela.

Inti dari empat hal ini adalah dua pokok: berlebihannya jiwa dalam kelemahan dan berlebihannya dalam kekuatan. Dari berlebihannya dalam kelemahan lahirlah: kehinaan, kekikiran, kerendahan, kelakuan buruk, kehinaan, ketamakan, kekikiran, dan hal-hal serta akhlak yang remeh.

Dan dari berlebihannya dalam kekuatan lahirlah: kezaliman, amarah, ketajaman, kekasaran, dan kecerobohan.

Dan lahir dari perkawinan salah satu dari dua akhlak dengan yang lainnya: anak-anak pelacuran yang banyak. Karena jiwa terkadang mengumpulkan kekuatan dan kelemahan. Maka pemiliknya menjadi manusia yang paling memaksa ketika berkuasa, dan paling hina ketika dikalahkan, zalim, kasar, dan sewenang-wenang. Jika ia dikalahkan maka ia menjadi lebih hina dari seorang perempuan: pengecut terhadap yang kuat, berani terhadap yang lemah.

Akhlak-akhlak tercela: sebagiannya melahirkan sebagian yang lain, sebagaimana akhlak-akhlak terpuji: sebagiannya melahirkan sebagian yang lain.

Dan setiap akhlak terpuji dikelilingi oleh dua akhlak tercela. Dan ia berada di tengah-tengah keduanya. Dan dua ujungnya adalah dua akhlak tercela, seperti kedermawanan yang dikelilingi oleh akhlak kikir dan boros. Dan tawadhu yang dikelilingi oleh akhlak hina dan kehinaan serta sombong dan tinggi diri.

Karena jiwa bila menyimpang dari pertengahan, maka ia akan menyimpang ke salah satu dari dua akhlak tercela, dan pasti demikian. Jika ia menyimpang dari akhlak tawadhu, maka ia akan menyimpang: entah ke sombong dan tinggi diri, atau ke hina dan kehinaan serta kerendahan. Dan jika ia menyimpang dari akhlak malu, maka ia akan menyimpang: entah ke lancang dan berani, atau ke lemah dan rendah serta hina, sehingga musuhnya berani meremehkannya. Dan ia kehilangan banyak kemaslahatan. Dan ia mengira bahwa yang mendorongnya pada hal itu adalah rasa malu. Padahal itu adalah kehinaan, kelemahan, dan matinya jiwa. Demikian pula jika ia menyimpang dari akhlak sabar yang terpuji, maka ia akan menyimpang: entah ke gelisah, khawatir, serakah, dan tidak rela, atau ke kekerasan hati, keras hati, dan kebekuan tabiat. Sebagaimana salah seorang dari mereka berkata:

Mereka menangisi kita, namun kita tidak menangisi seorang pun, karena kita memiliki hati yang lebih keras dari unta.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak kelembutan, maka ia akan menyimpang: entah ke ceroboh, manja, keras, dan ringan, atau ke hina, kehinaan, kerendahan. Maka berbeda antara orang yang kelembutannya adalah kelembutan kehinaan, kerendahan, kehinaan dan kelemahan, dengan orang yang kelembutannya adalah kelembutan kekuasaan, kemuliaan, dan kehormatan. Sebagaimana dikatakan:

Setiap kelembutan yang datang tanpa kekuasaan adalah alasan yang berlindung kepadanya orang-orang yang hina.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak tenang dan lembut, maka ia akan menyimpang: entah ke tergesa-gesa, ceroboh, dan kasar, atau ke berlebihan dan mengabaikan. Dan kelembutan serta ketenangan berada di antara keduanya.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang beriman, maka ia akan menyimpang: entah ke kesombongan, atau ke kehinaan. Dan kemuliaan yang terpuji berada di antara keduanya.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak keberanian, maka ia akan menyimpang: entah ke nekad dan maju yang tidak terpuji, atau ke pengecut dan mundur yang tercela.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak bersaing dalam tingkatan yang tinggi dan kebanggaan, maka ia akan menyimpang: entah ke hasad, atau ke kehinaan, kelemahan, kehinaan, dan rela dengan yang rendah.

Dan jika ia menyimpang dari qanaah (merasa cukup), maka ia akan menyimpang: entah ke tamak dan rakus, atau ke kehinaan, kerendahan, dan pengabaian.

Dan jika ia menyimpang dari akhlak kasih sayang, maka ia akan menyimpang: entah ke keras hati, atau ke lemah hati dan pengecut jiwa, seperti orang yang tidak mampu menyembelih seekor domba, tidak menegakkan hukuman, dan tidak mendidik anak. Dan ia mengira bahwa kasih sayang yang mendorongnya pada hal itu. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang paling pengasih dari seluruh makhluk telah menyembelih dengan tangannya sendiri dalam satu tempat enam puluh tiga ekor unta. Dan memotong tangan pria dan wanita. Dan memenggal leher. Dan menegakkan hukum-hukum dan merajam dengan batu hingga orang yang dirajam itu mati. Dan beliau adalah makhluk Allah yang paling pengasih secara mutlak dan paling penyayang.

Demikian pula wajah yang cerah dan sikap ramah yang terpuji. Sesungguhnya ia berada di tengah antara cemberut, menyombongkan pipi, dan melipat keramahan dari orang-orang, dengan bersikap terlalu terbuka dengan semua orang, sehingga menghilangkan kewibawaan, menghilangkan kehormatan, dan membuat orang berani meremehkan. Sebagaimana penyimpangan yang pertama menimbulkan keterasingan, kebencian, dan penolakan di hati makhluk. Dan pemilik akhlak pertengahan: berwibawa dan dicintai, mulia kedudukannya, menyenangkan perjumpaannya. Dan dalam sifat Nabi kami shallallahu alaihi wasallam: Barang siapa yang melihatnya secara tiba-tiba, maka ia akan segan kepadanya. Dan barang siapa yang bergaul dengannya, maka ia akan mencintainya. Wallahu a’lam.

Bab: Mengubah Akhlak yang Telah Ditetapkan pada Jiwa

Bab

Sangat bermanfaat, memiliki manfaat yang besar bagi orang yang menempuh jalan. Mengantarkannya dengan cepat dan menjalaninya dengan akhlaknya yang tidak mungkin ia hilangkan. Karena yang paling sulit bagi tabiat manusia adalah: mengubah akhlak yang telah ditetapkan pada jiwa. Dan para pelaku riyadhah (latihan spiritual) yang sulit dan mujahaddah (perjuangan) yang berat hanya bekerja untuk hal itu, namun kebanyakan mereka tidak berhasil mengubahnya. Akan tetapi jiwa menjadi sibuk dengan riyadhah-riyadhah tersebut sehingga tidak tampak kekuasaannya. Maka jika kekuasaan akhlak-akhlak tersebut datang dan muncul: ia menghancurkan pasukan-pasukan riyadhah dan mencerai-beraikannya. Dan menguasai kerajaan tabiat.

Dan bab ini adalah bab yang dengannya orang yang menempuh jalan dapat sampai dengan akhlak-akhlak tersebut. Dan ia tidak perlu mengobati dan menghilangkannya. Dan perjalanannya akan lebih kuat, lebih mulia, dan lebih cepat dari perjalanan orang yang bekerja untuk menghilangkannya.

Dan kami dahulukan sebelum ini sebuah perumpamaan yang kami berikan, yang sesuai dengan apa yang kami inginkan. Yaitu: sebuah sungai yang mengalir dalam alirannya dan turunannya, dan bermuara untuk menenggelamkan tanah, pemukiman, dan rumah-rumah. Dan pemiliknya mengetahui bahwa sungai itu tidak akan berhenti sampai merusak rumah-rumah mereka. Dan merusak tanah dan harta mereka. Maka mereka terbagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama menggunakan kekuatan dan kekuatan amal mereka untuk membendungnya, menahannya, dan menghentikannya. Kelompok ini tidak akan berbuat banyak. Karena sungai itu akan segera berkumpul kemudian menyerang bendungan, maka kerusakan dan kehancurannya akan lebih besar.

Kelompok kedua melihat keadaan ini dan mengetahui bahwa hal itu tidak akan berguna bagi mereka. Maka mereka berkata: tidak ada keselamatan dari bahayanya kecuali dengan memotongnya dari mata air aslinya. Maka mereka berusaha memotongnya dari asalnya. Namun hal itu sangat sulit bagi mereka, dan tabiat sungai menolak hal itu dengan keras, maka mereka selalu berusaha memotong mata air, dan setiap kali mereka menutupnya dari satu tempat, ia memancar dari tempat lain. Maka orang-orang ini menjadi sibuk dengan urusan sungai ini dari pertanian, pembangunan, dan penanaman pohon.

Maka datanglah kelompok ketiga yang berbeda pendapat dengan kedua kelompok. Dan mereka mengetahui bahwa banyak kemaslahatan mereka yang hilang. Maka mereka mulai mengalihkan sungai itu dari alirannya yang bermuara ke pemukiman, lalu mereka mengalihkannya ke tempat yang mereka manfaatkan dengan sampainya sungai ke sana. Dan mereka tidak dirugikan olehnya. Maka mereka mengalihkannya ke tanah yang dapat ditanami. Dan mereka menyiraminya dengannya. Maka tumbuh berbagai jenis rumput, makanan ternak, dan buah-buahan yang berbeda jenisnya. Maka kelompok ini adalah kelompok yang paling benar dalam urusan sungai ini.

Jika perumpamaan ini telah jelas, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan dalam hikmah-Nya: bahwa manusia – bahkan seluruh hewan – diciptakan di atas tabiat yang dibawa oleh dua kekuatan: kekuatan marah dan kekuatan syahwat. Dan ia adalah kekuatan kehendak.

Dan kedua kekuatan ini adalah pembawa akhlak dan sifat jiwa. Dan keduanya tertanam dalam fitrah setiap hewan. Dengan kekuatan syahwat dan kehendak: ia menarik manfaat ke dirinya. Dan dengan kekuatan marah: ia menolak bahaya darinya. Jika ia menggunakan syahwat dalam mencari apa yang ia butuhkan: maka lahirlah darinya ketamakan. Dan jika ia menggunakan amarah dalam menolak bahaya dari dirinya: maka lahirlah darinya kekuatan dan kecemburuan. Jika ia tidak mampu terhadap orang yang membahayakan itu: maka menimbulkan kekuatan dendam. Dan jika ia tidak mampu mendapatkan apa yang ia butuhkan, dan ia melihat orang lain memilikinya: maka menimbulkan hasad. Jika ia berhasil mendapatkannya: maka syahwat dan kehendaknya yang kuat menimbulkan akhlak kikir dan pelit. Dan jika ketamakan dan syahwatnya sangat kuat terhadap sesuatu, dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan kekuatan amarah, lalu ia menggunakannya untuk itu: maka hal itu menimbulkan permusuhan, melampaui batas, dan kezaliman. Dan darinya lahir: kesombongan, kebanggaan, dan kesewenangan. Karena itu adalah akhlak yang lahir dari perkawinan antara dua kekuatan syahwat dan amarah, dan perkawinan salah satunya dengan yang lain.

Jika hal ini telah jelas: maka sungai adalah perumpamaan dari kedua kekuatan ini. Dan ia mengalir di saluran tabiat dan alirannya ke rumah-rumah hati, pemukimannya, dan hasil panennya, merusaknya dan memusnahkannya pasti. Maka jiwa-jiwa yang bodoh dan zalim membiarkannya dan alirannya. Maka rusaklah rumah-rumah keimanan. Dan tercabut bekasnya. Dan runtuh pemukimannya. Dan tumbuh di tempatnya setiap pohon yang buruk, dari hanzhal, dhari’, duri, dan zaqqum. Dan itulah yang dimakan oleh penghuni neraka pada hari kiamat, hari kebangkitan.

Adapun jiwa-jiwa yang suci dan mulia: mereka melihat apa yang akan terjadi pada urusan sungai ini. Maka mereka terbagi menjadi tiga kelompok.

Para pelaku riyadhah dan mujahadah, khalwat (menyendiri) dan latihan: berusaha memotongnya dari mata airnya. Namun hikmah Allah Ta’ala menolak hal itu dari mereka, dan apa yang telah ditetapkan pada fitrah manusia. Dan tabiat tidak mau tunduk kepadanya. Maka pertempuran menjadi keras. Dan perang berlangsung lama. Dan panas membara. Dan orang-orang ini menggunakan kekuatan mereka untuk memerangi jiwa dalam menghilangkan sifat-sifat tersebut.

Kelompok lain berpaling darinya. Dan mereka menyibukkan jiwa mereka dengan amal. Dan mereka tidak mengikuti seruan sifat-sifat tersebut sambil membiarkannya mengalir di alirannya, namun mereka tidak membiarkan sungainya merusak pemukiman mereka. Bahkan mereka menyibukkan diri dengan membentengi pemukiman, dan memperkuat bangunannya dan pondasinya, dan mereka melihat bahwa sungai itu pasti akan sampai kepadanya. Jika ia sampai, ia akan sampai ke bangunan yang kokoh sehingga tidak merusak. Bahkan ia akan mengalir ke kanan dan kiri. Maka orang-orang ini menggunakan kekuatan tekad dan kehendak mereka dalam membangun dan memperkuat bangunan. Sementara yang lain menggunakannya dalam memotong bahan yang merusak dari asalnya, karena takut akan runtuhnya bangunan.

Suatu hari saya bertanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang masalah ini, yaitu tentang memotong keburukan-keburukan jiwa, dan tentang kesibukan membersihkan dan menyucikan jalan (menuju Allah).

Maka beliau berkata kepadaku dengan intisari perkataannya: Jiwa itu seperti batuus – yaitu sumur kotoran – setiap kali kamu menggalinya, maka kotoran itu akan muncul dan keluar. Namun jika kamu mampu menutupnya, melintasinya, dan melewatinya, maka lakukanlah itu, dan jangan sibuk menggalinya. Karena kamu tidak akan pernah sampai ke dasarnya. Dan setiap kali kamu menggali sesuatu, maka yang lain akan muncul.

Maka saya berkata: Saya pernah bertanya tentang masalah ini kepada sebagian syaikh. Lalu beliau berkata kepadaku: Perumpamaan keburukan-keburukan jiwa itu seperti ular dan kalajengking yang ada di jalan musafir. Jika ia sibuk memeriksa jalan untuk mencarinya dan sibuk membunuhnya, maka ia akan terputus (perjalanannya). Dan ia tidak akan pernah bisa melakukan perjalanan sama sekali. Namun hendaknya perhatianmu adalah terus berjalan, berpaling darinya, dan tidak memperhatikannya. Jika ada yang menghalangimu dalam perjalanan, maka bunuhlah. Kemudian lanjutkanlah perjalananmu.

Maka Syaikhul Islam sangat menyukai hal itu dan memuji orang yang mengatakannya.

Jika ini telah jelas, maka kelompok ketiga ini berpandangan bahwa sifat-sifat ini tidak diciptakan sia-sia dan tidak main-main. Dan bahwa sifat-sifat itu seperti air yang menyirami mawar, duri, buah-buahan, dan kayu bakar, dan bahwa sifat-sifat itu adalah peti dan cangkang bagi mutiara-mutiara yang tersimpan di dalamnya. Dan bahwa apa yang ditakuti oleh orang-orang itu justru merupakan sebab keberhasilan dan kemenangan. Maka mereka berpandangan bahwa kesombongan adalah sungai yang menyirami ketinggian dan kebanggaan, kesewenang-wenangan, kezaliman dan permusuhan. Dan juga menyirami ketinggian cita-cita, harga diri, kecemburuan (membela agama), perlawanan terhadap musuh-musuh Allah, mengalahkan mereka dan mengungguli mereka. Dan ini adalah mutiara dalam cangkangnya. Maka mereka mengalirkan alirannya ke tanaman ini dan mengeluarkan mutiara ini dari cangkangnya. Dan mereka membiarkannya tetap dalam keadaan semula di dalam jiwa mereka, tetapi menggunakannya di tempat yang paling bermanfaat. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melihat Abu Dujanah berjalan angkuh di antara barisan pasukan. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah cara berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat seperti ini.”

Maka perhatikanlah bagaimana beliau membiarkan aliran sifat dan akhlak ini mengalir di tempat yang paling baik.

Dan dalam hadits yang lain – dan saya kira dalam Musnad – “Sesungguhnya di antara kesombongan ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci-Nya. Adapun kesombongan yang dicintai Allah adalah: kesombongan seseorang dalam perang dan ketika bersedekah.”

Maka perhatikanlah bagaimana sifat yang tercela berubah menjadi ibadah. Dan bagaimana yang memutuskan berubah menjadi yang menyambungkan.

Adapun orang yang menempuh jalan olah spiritual, beramal dengan jalan olah spiritual, perjuangan keras, dan khalwat (menyendiri), maka jauh, jauh sekali, hal itu justru akan menjerumuskannya ke dalam keburukan-keburukan, kesamaran-kesamaran, dan kesesatan-kesesatan. Karena sesungguhnya penyucian jiwa diserahkan kepada para rasul. Dan sesungguhnya Allah mengutus mereka untuk penyucian ini dan mempercayakan hal itu kepada mereka. Dan Allah menjadikan hal itu di tangan mereka berupa dakwah, pengajaran, penjelasan, dan bimbingan, bukan penciptaan atau ilham. Maka mereka adalah orang-orang yang diutus untuk mengobati jiwa-jiwa umat. Allah Taala berfirman: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Surah Al-Jumuah: 2) Dan Allah Taala berfirman: Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. Karena itu ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Surah Al-Baqarah: 151-152)

Dan penyucian jiwa: lebih sulit daripada pengobatan badan dan lebih berat. Maka barang siapa menyucikan jiwanya dengan olah spiritual, perjuangan keras, dan khalwat yang tidak dibawa oleh para rasul, maka ia seperti orang sakit yang mengobati dirinya sendiri dengan pendapatnya. Dan di manakah pendapatnya dibandingkan dengan pengetahuan dokter? Maka para rasul adalah dokter-dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaikinya kecuali melalui jalan mereka, di tangan mereka, dan dengan ketundukan serta penyerahan penuh kepada mereka. Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Jika kamu bertanya: Apakah akhlak mungkin terjadi secara usaha (kasbi), ataukah ia adalah sesuatu di luar usaha?

Saya menjawab: Mungkin terjadi secara usaha dengan membiasakan diri dan memaksakan diri, sehingga menjadi tabiat dan karakter baginya. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda kepada Asyaj Abdu Qais radhiallahu anhu: “Sesungguhnya padamu ada dua akhlak yang dicintai Allah: kelembutan dan kesabaran.” Maka ia berkata: Apakah dua akhlak yang aku biasakan ataukah Allah menciptakanku dengan keduanya? Maka beliau bersabda: “Bahkan Allah menciptakanmu dengan keduanya.” Maka ia berkata: Segala puji bagi Allah yang menciptakanku dengan dua akhlak yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Maka ini menunjukkan bahwa di antara akhlak ada yang merupakan tabiat dan fitrah, dan ada yang diperoleh. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa dalam doa iftitah: “Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang menunjuki kepada yang paling baik kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang memalingkan dariku yang buruk kecuali Engkau.” Maka beliau menyebutkan usaha dan takdir. Dan Allah lebih mengetahui.

Pasal: Makna Akhlak

Pengarang kitab Manazil berkata:

Akhlak: adalah apa yang kembali kepadanya orang yang memaksakan diri dari sifat-sifatnya.

Artinya akhlak setiap orang yang memaksakan diri adalah apa yang meliputi sifat-sifatnya. Maka pemaksaan dirinya akan mengembalikannya kepada akhlaknya. Sebagaimana dikatakan: Sesungguhnya pembiasaan akhlak akan mendatangkan akhlak itu.

Dan yang lain berkata:

Diinginkan dari hati melupakanmu Namun tabiat menolak yang memindahkan

Maka orang yang memaksakan diri dengan apa yang bukan dari sifat dan tabiatnya akan kembali kepada tabiat, sifat, dan fitrahnya. Maka itu yang ia kembali kepadanya adalah akhlak.

Pengarang berkata: Dan semua ahli ilmu ini sepakat bahwa tasawuf adalah akhlak. Dan semua pembicaraan tentangnya berputar pada satu poros, yaitu memberikan kebaikan dan menahan gangguan.

Saya katakan: Di antara manusia ada yang menjadikannya tiga: menahan gangguan, menanggung gangguan, dan memberikan kenyamanan.

Di antara mereka ada yang menjadikannya dua – sebagaimana dikatakan Syaikh – memberikan kebaikan dan menahan gangguan.

Dan di antara mereka ada yang mengembalikannya kepada satu, yaitu memberikan kebaikan. Dan semuanya benar.

Pengarang berkata: Dan sesungguhnya kemungkinan hal itu dapat dicapai dalam tiga hal: dalam ilmu, kedermawanan, dan kesabaran. Ilmu menunjukinya kepada tempat-tempat memberikan kebaikan, perbedaan antara kebaikan dan kemungkaran, dan pengaturannya dalam menempatkannya pada tempatnya. Maka ia tidak menempatkan kemarahan di tempat kelembutan, tidak juga sebaliknya, tidak juga menahan di tempat memberi, tidak juga sebaliknya. Bahkan ia mengetahui tempat-tempat kebaikan dan keburukan serta tingkatannya, dan tempat setiap akhlak: di mana ia menempatkannya, dan di mana ia baik menggunakannya.

Dan kedermawanan mendorongnya untuk bermurah hati dengan hak-hak dirinya, dan menuntut secara lengkap darinya untuk hak-hak orang lain. Maka kedermawanan adalah pemimpin pasukan kebaikan.

Dan kesabaran menjaga kelangsungan hal itu baginya. Dan membawanya kepada ketahanan, menahan amarah, menahan gangguan, tidak membalas, dan kepada semua kebaikan sebagaimana telah disebutkan. Dan ia adalah pertolongan terbesar untuk meraih setiap yang dicita-citakan dari kebaikan dunia dan akhirat. Allah Taala berfirman: Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Surah Al-Baqarah: 45)

Maka tiga hal ini: dengannya dapat dicapai tasawuf. Dan tasawuf adalah sudut dari sudut-sudut suluk yang hakiki, penyucian jiwa dan penyelarasannya, agar siap untuk perjalanannya menuju persahabatan Ruh Tertinggi, dan kebersamaan dengan yang dicintainya. Karena seseorang bersama orang yang dicintainya. Sebagaimana dikatakan Samnun: Para pencinta telah pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya seseorang bersama orang yang dicintainya. Dan Allah lebih mengetahui.

Pasal: Tingkatan-Tingkatan Akhlak

Tingkat Pertama: Mengenal Kedudukan Makhluk

Pengarang berkata: Dan ia terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Bahwa kamu mengenal kedudukan makhluk. Dan bahwa mereka terikat dengan takdir mereka. Dan terperangkap dalam kemampuan mereka. Dan terhenti pada hukum. Maka kamu memperoleh dengan pengenalan ini tiga hal: Keamanan makhluk darimu, hingga anjing. Dan kecintaan makhluk kepadamu, dan keselamatan makhluk denganmu.

Dengan tingkatan ini: terjadi perbaikan akhlak dengan makhluk dalam bergaul dengan mereka dan cara menyertai mereka.

Dengan tingkatan kedua: perbaikan akhlak dengan Allah dalam bermuamalah dengan-Nya.

Dengan tingkatan ketiga: tingkat fana sesuai dengan kaidah dan prinsipnya.

Pengarang berkata: Jika kamu mengenal kedudukan makhluk, kadar-kadar mereka, dan berjalannya hukum-hukum takdir atas mereka, dan bahwa mereka terikat dengan takdir, tidak ada jalan keluar bagi mereka darinya sama sekali, dan terperangkap dalam kekuasaan dan kemampuan mereka, tidak mungkin mereka melampaui hal itu kepada yang lain, dan bahwa mereka terhenti pada hukum takdir kauniy yang tidak mereka lampaui, maka kamu memperoleh dengan pengenalan ini tiga hal:

Keamanan makhluk darimu. Yaitu: bahwa jika ia memandang mereka dengan mata hakikat, maka ia tidak menuntut mereka dengan apa yang tidak mereka mampu. Dan melaksanakan terhadap mereka perintah Allah Taala kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mengambil yang mudah dari mereka. Maka mereka aman dari membebani mereka dan mewajibkan kepada mereka apa yang tidak ada dalam kekuatan dan kemampuan mereka.

Dan juga mereka aman dari celaan. Karena ia dalam keadaan ini memberi maaf kepada mereka terhadap apa yang berlaku atas mereka dari hukum-hukum dalam hal yang tidak diperintahkan syariat untuk ditegakkan terhadap mereka. Karena jika mereka terperangkap dalam kemampuan mereka, maka sepatutnya menuntut mereka dengan apa yang dituntut dari orang yang terperangkap, dan memberi maaf kepada mereka dengan apa yang dimaafkan untuk orang yang terperangkap. Dan jika muncul dari mereka terhadapmu kekurangan atau kesalahan atau kelalaian, maka jangan membalas mereka dengannya dan jangan bertengkar dengan mereka. Bahkan maafkanlah mereka dan berikan maaf. Dengan memandang berjalannya hukum-hukum atas mereka, dan bahwa mereka adalah alat. Dan di sinilah bermanfaat bagimu fana dengan penyaksian hakikat dari penyaksian kejahatan mereka terhadapmu, sebagaimana dikatakan oleh sebagian arif kepada seorang yang menzaliminya dan berbuat jahat kepadanya: Jika kamu adalah orang yang zalim, maka Yang menguasakan kamu atasku bukanlah orang yang zalim.

Tempat-Tempat Penyaksian Hamba Terhadap Apa yang Menimpanya dari Gangguan Makhluk

Tempat Penyaksian Pertama: Tempat Penyaksian Takdir

Dan di sini hamba memiliki sebelas tempat penyaksian terhadap apa yang menimpanya dari gangguan makhluk dan kejahatan mereka terhadapnya.

Pertama: Tempat penyaksian yang disebutkan Syaikh rahimahullah, yaitu tempat penyaksian takdir, dan bahwa apa yang terjadi padanya adalah dengan kehendak Allah, ketetapan-Nya dan takdir-Nya. Maka ia memandangnya seperti terganggu dengan panas dan dingin, penyakit dan sakit, hembusan angin, dan terputusnya hujan. Karena semuanya terjadi dengan kehendak Allah. Maka apa yang Allah kehendaki terjadilah dan wajib terjadi. Dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi dan mustahil terjadi. Dan jika ia menyaksikan ini, maka ia akan tenang. Dan ia mengetahui bahwa ia pasti terjadi. Maka tidak ada alasan untuk panik darinya. Dan ia seperti panik dari panas dan dingin, penyakit dan kematian.

Pasal: Tempat Penyaksian Kedua, Tempat Penyaksian Kesabaran

Tempat penyaksian kedua: tempat penyaksian kesabaran, maka ia menyaksikannya dan menyaksikan kewajiban kesabaran, dan kebaikan akibatnya, dan balasan ahlinya, dan apa yang berturut-turut darinya berupa keberuntungan dan kegembiraan. Dan menyelamatkannya dari penyesalan pembalasan dan balas dendam. Maka tidak ada seorang pun yang membalas dendam untuk dirinya kecuali hal itu mengakibatkan penyesalan. Dan ia mengetahui bahwa jika ia tidak sabar dengan pilihan atas ini – dan ia terpuji – maka ia akan sabar dengan keterpaksaan atas yang lebih besar darinya, dan ia tercela.

Pasal: Tempat Penyaksian Ketiga, Tempat Penyaksian Maaf, Memaafkan, dan Kelembutan

Tempat penyaksian ketiga: tempat penyaksian maaf, memaafkan, dan kelembutan. Karena ia kapan saja menyaksikan hal itu, keutamaannya, manisnya, dan kemuliaannya, maka ia tidak akan berpaling darinya kecuali karena kebutaan dalam pandangan batinnya. Karena “Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba dengan maaf kecuali kemuliaan,” sebagaimana sahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan diketahui dengan pengalaman dan kenyataan. Dan tidak ada seorang pun yang membalas dendam untuk dirinya kecuali ia menjadi hina.

Ini, dan dalam memaafkan, memberi maaf dan kelembutan terdapat kemanisan, ketenteraman, ketenangan, kemuliaan jiwa, kemuliaannya, dan ketinggiannya dari memuaskan diri dengan balas dendam, yang tidak ada sedikit pun darinya dalam pembalasan dan balas dendam.

Pasal: Tempat Penyaksian Keempat, Tempat Penyaksian Ridha

Tempat penyaksian keempat: tempat penyaksian ridha. Dan ini di atas tempat penyaksian maaf dan memaafkan. Dan ini hanya bisa untuk jiwa-jiwa yang tenang, terlebih jika apa yang ditimpakan kepadanya disebabkan karena tegak untuk Allah. Maka jika apa yang ditimpakan kepadanya adalah karena Allah, dalam keridhaan-Nya dan kecintaan-Nya, maka ia ridha dengan apa yang menimpanya karena Allah. Dan ini adalah keadaan setiap pencinta yang jujur, ia ridha dengan apa yang menimpanya karena ridha kekasihnya. Dan kapan saja ia murka karenanya dan mengeluh karenanya, maka itu adalah bukti atas kebohongannya dalam cintanya. Dan kenyataan menyaksikan hal itu. Dan pencinta yang jujur sebagaimana dikatakan:

Demi engkau aku jadikan pipiku tanah Bagi yang mencemooh dan yang dengki agar engkau ridha

Dan barangsiapa tidak ridha dengan apa yang menimpanya di jalan kekasihnya, maka hendaklah ia turun dari tingkat cinta. Dan hendaklah ia mundur, karena ia bukan dari urusan ini.

Bagian: Pemandangan Kelima – Pemandangan Ihsan

Bagian

Pemandangan Kelima: Pemandangan Ihsan, dan ini lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Yaitu membalas keburukan orang yang berbuat buruk kepadanya dengan kebaikan. Maka ia berbuat baik kepadanya setiap kali orang itu berbuat buruk kepadanya. Yang memudahkan hal ini baginya adalah pengetahuannya bahwa ia telah mendapat keuntungan darinya. Dan bahwa orang itu telah menghadiahkan kebaikan-kebaikannya kepadanya, menghapusnya dari catatan amalnya sendiri, dan menetapkannya dalam catatan orang yang berbuat buruk kepadanya. Maka sepatutnya engkau berterima kasih kepadanya dan berbuat baik kepadanya dengan kebaikan yang tidak sebanding dengan kebaikan yang telah ia lakukan kepadamu.

Di sini bermanfaat menghadirkan masalah mengenai apakah pemberian mengharuskan balasan. Orang miskin ini telah menghadiahkan kebaikan-kebaikannya kepadamu. Jika engkau termasuk orang yang mulia, maka berilah balasan atasnya agar pemberian itu tetap sah, dan engkau aman dari pemberi yang menarik kembali pemberiannya.

Dalam hal ini ada kisah-kisah yang terkenal dari orang-orang yang memiliki kemuliaan akhlak dan orang-orang yang memiliki keteguhan hati.

Yang juga memudahkannya bagimu: pengetahuanmu bahwa balasan itu sejenis dengan perbuatan. Jika ini adalah perbuatanmu terhadap keburukan makhluk kepadamu – engkau memaafkannya dan berbuat baik kepadanya – padahal engkau dalam keadaan membutuhkan, lemah, miskin, dan semacam itu, maka demikianlah Yang Maha Berbuat Baik, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kaya akan berbuat kepadamu dalam keburukanmu. Dia membalasnya dengan apa yang telah engkau balas keburukan hamba-Nya kepadamu. Ini pasti terjadi. Dan buktinya dalam Sunnah dari banyak segi bagi siapa yang merenungkannya.

Bagian: Pemandangan Keenam – Pemandangan Keselamatan dan Kesejukan Hati

Bagian

Pemandangan Keenam: Pemandangan Keselamatan dan Kesejukan Hati, dan ini adalah pemandangan yang sangat mulia bagi siapa yang mengenalinya dan merasakan manisnya. Yaitu hatinya dan batinnya tidak disibukkan dengan gangguan yang menimpanya dan mencari cara untuk membalas dendamnya serta memuaskan dirinya. Bahkan ia mengosongkan hatinya dari hal itu. Dan ia melihat bahwa keselamatannya, kesejukannya, dan kekosongan hatinya dari hal itu lebih bermanfaat baginya, lebih nikmat, lebih baik, dan lebih membantu urusan-urusannya. Karena jika hati disibukkan dengan sesuatu, maka ia kehilangan apa yang lebih penting baginya dan lebih baik darinya. Maka ia dengan itu menjadi merugi. Dan orang yang bijaksana tidak rela dengan hal itu. Ia melihat bahwa itu termasuk tindakan orang yang bodoh. Maka mana yang lebih baik: keselamatan hati ataukah hati yang penuh dengan kedengkian dan bisikan-bisikan, serta menggunakan pikiran untuk mencapai pembalasan?

Bagian: Pemandangan Ketujuh – Pemandangan Keamanan

Bagian

Pemandangan Ketujuh: Pemandangan Keamanan, karena jika ia meninggalkan pembalasan dan balas dendam, ia aman dari apa yang lebih buruk dari itu. Dan jika ia membalas dendam, ketakutan pasti menimpanya. Karena itu menumbuhkan permusuhan. Dan orang yang berakal tidak merasa aman dari musuhnya, walaupun ia hina. Betapa banyak orang yang hina membinasakan musuhnya yang besar? Maka jika ia memaafkan, tidak membalas dendam, dan tidak membalas, ia aman dari tumbuhnya permusuhan atau bertambahnya permusuhan. Dan pasti maaf, kelemahlembutan, dan pengampunannya akan mematahkan ketajaman musuhnya dan menahan kepanikannya, berbeda dengan pembalasan dendam. Dan kenyataan juga menjadi saksi atas hal itu.

Bagian: Pemandangan Kedelapan – Pemandangan Jihad

Bagian

Pemandangan Kedelapan: Pemandangan Jihad, yaitu ia menyaksikan bahwa gangguan orang-orang kepadanya tumbuh dari jihadnya di jalan Allah, menyuruh mereka berbuat baik, melarang mereka dari kemungkaran, menegakkan agama Allah, dan meninggikan kalimat-Nya.

Pemilik tingkatan ini: Allah telah membeli darinya dirinya, hartanya, dan kehormatannya dengan harga yang paling mahal. Jika ia ingin menerima harganya maka hendaklah ia menyerahkan barang jualannya agar ia berhak mendapat harganya. Maka tidak ada hak baginya atas orang yang mengganggunya, dan tidak ada sesuatu baginyalah pada orang itu, jika ia telah rela dengan akad jual beli ini. Karena pahalanya telah wajib baginya dari Allah.

Dan ini tetap dengan nash dan ijmak para sahabat semoga Allah meridhai mereka. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melarang kaum Muhajirin untuk tinggal di Makkah – semoga Allah memuliakannya – dan tidak mengembalikan kepada seorang pun dari mereka rumahnya atau hartanya yang diambil oleh orang-orang kafir. Dan tidak mewajibkan mereka membayar diyat orang yang mereka bunuh di jalan Allah.

Dan ketika Ash-Shiddiq semoga Allah meridhainya memutuskan untuk mewajibkan orang-orang murtad membayar ganti atas apa yang mereka rusakkan dari jiwa-jiwa dan harta kaum muslimin, Umar bin Al-Khaththab berkata kepadanya – dengan disaksikan para sahabat semoga Allah meridhai mereka – itu adalah darah dan harta yang hilang karena Allah, dan pahalanya dari Allah, dan tidak ada diyat bagi syahid. Maka para sahabat sepakat dengan perkataan Umar, dan Ash-Shiddiq menyetujuinya.

Maka barangsiapa yang berdiri karena Allah hingga ia diganggu karena Allah, Allah mengharamkan atasnya balas dendam. Sebagaimana Luqman berkata kepada anaknya “dan suruhlah berbuat yang baik dan cegahlah dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (Luqman: 17).

Bagian: Pemandangan Kesembilan – Pemandangan Nikmat

Bagian

Pemandangan Kesembilan: Pemandangan Nikmat, dan itu dari beberapa segi.

Pertama: bahwa ia menyaksikan nikmat Allah kepadanya dalam menjadikannya orang yang terzalimi yang mengharapkan pertolongan, dan tidak menjadikannya orang zalim yang mengharapkan kemurkaan dan penangkapan. Jika orang yang berakal disuruh memilih antara dua keadaan – dan pasti salah satunya harus terjadi – maka ia akan memilih menjadi orang yang terzalimi.

Kedua: bahwa ia menyaksikan nikmat Allah dalam penghapusan dosa-dosanya dengan hal itu. Karena tidaklah menimpa orang mukmin kesedihan atau kedukaan atau gangguan kecuali Allah menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya. Maka itu pada hakikatnya adalah obat yang dengannya dikeluarkan darinya penyakit kesalahan dan dosa. Dan barangsiapa rela bertemu Allah dengan semua penyakit dan sakitnya, dan tidak diobati di dunia dengan obat yang mewajibkan kesembuhan baginya, maka ia adalah orang yang merugi dan bodoh. Maka gangguan makhluk kepadamu seperti obat pahit dari dokter yang menyayangimu. Jangan melihat kepada kepahitan obat dan rasa tidak sukanya dan siapa yang memberikannya, tapi lihatlah kasih sayang dokter yang meraciknya untukmu dan mengirimkannya kepadamu melalui tangan orang yang memberimu manfaat dengan kerusakannya.

Ketiga: bahwa ia menyaksikan bahwa musibah itu lebih ringan dan lebih mudah daripada yang lainnya. Karena tidak ada musibah kecuali ada yang di atasnya lebih kuat dan lebih pahit. Jika tidak ada musibah di atas musibah badan dan harta, maka hendaklah ia melihat kepada keselamatan agamanya, keislamannya, dan tauhidnya, dan bahwa setiap musibah di bawah musibah agama adalah ringan. Dan ia pada hakikatnya adalah nikmat, dan musibah yang sebenarnya adalah musibah agama.

Keempat: penyempurnaan pahala dan ganjarannya di hari kefakiran dan kebutuhan. Dan dalam sebagian atsar: bahwa ada orang-orang yang berharap pada hari kiamat seandainya kulit mereka dipotong-potong dengan gunting karena apa yang mereka lihat dari pahala orang-orang yang tertimpa musibah.

Dan sesungguhnya hamba sangat bergembira pada hari kiamat dengan apa yang ada padanya dari hak-hak terhadap orang lain dalam harta, jiwa, dan kehormatan. Maka orang yang berakal menganggap ini sebagai simpanan untuk hari kefakiran dan kebutuhan, dan tidak membatalkannya dengan pembalasan dendam yang tidak mendatangkan manfaat apa pun baginya.

Bagian: Pemandangan Kesepuluh – Pemandangan Teladan

Bagian

Pemandangan Kesepuluh: Pemandangan Teladan, dan ini adalah pemandangan yang mulia dan sangat halus. Karena orang yang berakal dan cerdas rela menjadikan dirinya berteladan dengan rasul-rasul Allah, nabi-nabi-Nya, wali-wali-Nya, dan orang-orang pilihan-Nya dari makhluk-Nya. Karena mereka adalah makhluk yang paling keras ujiannya dengan manusia, dan gangguan manusia kepada mereka lebih cepat daripada air mengalir ke tempat rendah. Cukup merenungkan kisah-kisah para nabi alaihimus salam dengan umat mereka dan keadaan nabi kita shallallahu alaihi wasallam serta gangguan musuh-musuhnya kepadanya dengan apa yang tidak pernah mengganggunya sebelumnya. Dan Waraqah bin Naufal telah berkata kepadanya: “Engkau pasti akan didustakan, diusir, dan diganggu.” Dan berkata kepadanya: “Tidak ada seorang pun yang datang dengan seperti apa yang engkau bawa kecuali ia dimusuhi.” Dan ini terus berlangsung pada pewaris-pewarisnya sebagaimana pada yang diwariskan shallallahu alaihi wasallam.

Tidakkah hamba rela menjadikan dirinya berteladan dengan makhluk terbaik Allah dan hamba-hamba pilihan-Nya yang paling utama?

Dan barangsiapa ingin mengetahui hal itu hendaklah ia melihat cobaan-cobaan para ulama dan gangguan orang-orang bodoh kepada mereka. Dan Ibnu Abdil Barr telah menyusun tentang itu sebuah kitab yang ia beri nama Mihan Al-Ulama (Cobaan Para Ulama).

Bagian: Pemandangan Kesebelas – Pemandangan Tauhid

Bagian

Pemandangan Kesebelas: Pemandangan Tauhid, dan ini adalah pemandangan yang paling agung dan paling tinggi. Jika hatinya dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, keikhlasan kepada-Nya, beramal untuk-Nya, mengutamakan keridhaan-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, kesejukan matanya dengan-Nya, ketenangan dengan-Nya, dan menetap kepada-Nya, kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, dan menjadikan-Nya wali tanpa selain-Nya, sehingga ia menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, ridha dengan-Nya dan dengan takdir-takdir-Nya, dan fana dengan kecintaan-Nya, ketakutan-Nya, harapan-Nya, dzikir-Nya, dan tawakal kepada-Nya dari segala selain-Nya, maka tidak tersisa di hatinya tempat untuk menyaksikan gangguan manusia kepadanya sama sekali. Apalagi hati, pikiran, dan batinnya disibukkan dengan mencari pembalasan dan pembalasan. Ini tidak mungkin terjadi kecuali dari hati yang tidak memiliki apa yang mencukupinya dari hal itu dan menggantikannya. Maka ia adalah hati yang lapar tidak kenyang. Jika ia melihat makanan apa pun maka keinginan-keinginannya tertarik kepadanya dan dorongan-dorongannya bangkit kepadanya. Adapun orang yang hatinya dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak menoleh kepada yang di bawahnya. Dan itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.

Bagian

Adapun perkataannya: bahwa ia memperoleh dengan mengetahui kadar manusia dan berjalannya hukum-hukum atas mereka: kecintaan mereka kepadanya dan keselamatan mereka dengannya.

Karena jika ia memperlakukan mereka dengan perlakuan ini: menerima udzur mereka, memaafkan mereka, dan meninggalkan pembalasan terhadap mereka, maka kebencian dan kecintaan mereka kepadanya akan sama. Dan itu menjadi sebab keselamatan ukhrawi mereka juga, karena itu membimbing mereka untuk menerima darinya dan menerima apa yang ia perintahkan dan larang kepada mereka dengan penerimaan yang terbaik. Ini adalah tabiat manusia.

Bagian: Tingkatan Kedua – Memperbaiki Akhlakmu dengan Allah

Bagian

Ia berkata: Tingkatan kedua: memperbaiki akhlakmu dengan Allah. Dan memperbaikinya darimu adalah: bahwa engkau mengetahui bahwa setiap apa yang datang darimu mewajibkan udzur, dan bahwa setiap apa yang datang dari Allah mewajibkan syukur, dan bahwa engkau tidak melihat adanya cara untuk menepati janji.

Tingkatan ini dibangun atas dua kaidah.

Pertama: bahwa engkau mengetahui bahwa engkau kurang. Dan setiap yang datang dari yang kurang adalah kurang. Maka ia mewajibkan permintaan maafnya darinya pasti. Maka atas hamba hendaklah ia meminta maaf kepada Tuhannya dari setiap apa yang ia lakukan dari kebaikan dan keburukan. Adapun keburukan, maka jelas. Adapun kebaikan, maka ia meminta maaf dari kekurangannya dan tidak melihatnya layak untuk Tuhannya.

Maka ia – dengan kebaikannya – meminta maaf dalam kebaikannya. Dan oleh karena itu Allah memuji wali-wali-Nya dengan rasa takut kepada-Nya padahal mereka berbuat baik dengan firman-Nya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan sedang hati mereka takut” (Al-Mu’minun: 60). Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Yaitu orang yang berpuasa, bersedekah, dan takut tidak diterima darinya”. Jika ia takut maka ia lebih utama meminta maaf.

Dan yang mendorongnya kepada permintaan maaf ini dua perkara:

Pertama: menyaksikan kekurangan dan cacatnya.

Kedua: kejujuran kecintaannya. Karena pencinta yang jujur mendekatkan diri kepada kekasihnya dengan segenap kemampuannya, dan ia meminta maaf kepadanya, malu kepadanya, bahwa ia menghadapinya dengan apa yang ia hadapkan. Dan ia melihat bahwa kedudukannya di atasnya dan lebih agung darinya. Dan ini disaksikan dalam kecintaan kepada makhluk.

Kaidah Kedua: menganggap besar setiap apa yang keluar dari-Nya subhanahu kepada engkau, dan mengakui bahwa itu mewajibkan syukur atasmu, dan bahwa engkau tidak mampu mensyukuri-Nya. Dan ini tidak jelas kecuali dalam kecintaan yang jujur. Karena pencinta menganggap banyak dari kekasihnya setiap apa yang diterimanya. Jika ia mengingatnya dengan sesuatu dan memberikannya kepadanya, maka kegembiraan dengan ingatan kekasih kepadanya dan kelayakannya untuk pemberiannya lebih besar pada pandangannya daripada kegembiraan dengan pemberian itu. Bahkan ia gaib dengan kegembiraan dengan ingatan kekasih kepadanya dari kegembiraan dengan pemberian. Walaupun pencinta gembira dengan ingatan kekasihnya kepadanya walaupun menimpanya dengan keburukan. Sebagaimana penyair berkata: Walaupun aku sedih bahwa engkau menimpaku dengan kesedihan, sungguh aku gembira bahwa aku terlintas di pikiranmu.

Maka bagaimana jika kekasihnya menimpanya dengan kegembiraan – walaupun kecil – maka ia tidak melihatnya kecuali besar dan berharga. Maka bagaimana ini dengan Tuhan subhanahu yang tidak pernah sama sekali datang kecuali dengan kebaikan? Dan mustahil sebaliknya pada hak-Nya, sebagaimana mustahil bagi-Nya selain kesempurnaan-Nya. Dan sungguh orang yang paling mengenal makhluk akan Tuhannya telah menjelaskan ini dengan perkataannya: “Dan keburukan tidak kepada-Mu”, artinya: tidak dinisbahkan kepada-Mu, tidak dihubungkan kepada-Mu, dan tidak keluar dari-Mu. Karena nama-nama-Nya semua adalah Al-Husna (nama-nama yang baik), sifat-sifat-Nya semua adalah kesempurnaan, dan perbuatan-perbuatan-Nya semua adalah karunia, keadilan, hikmah, rahmat, dan kemaslahatan. Maka dengan cara apa keburukan dinisbahkan kepada-Nya subhanahu wataala? Setiap apa yang datang dari-Nya maka bagi-Nya segala puji dan syukur, dan bagi-Nya nikmat dan karunia.

Perkataannya: Dan bahwa engkau tidak melihat adanya cara untuk menepati janji.

Artinya: bahwa perlakuanmu kepada Allah subhanahu dengan tuntutan meminta maaf dari setiap apa yang darimu dan syukur atas apa yang dari-Nya adalah akad dengan Allah taala yang wajib bagimu selamanya, engkau tidak melihat adanya cara untuk menepati janji selain itu. Maka itu bukan perkara yang sementara dan keadaan yang berlalu, tetapi akad yang wajib atasmu untuk menepatinya hingga hari kiamat.

Jika aku sedih karena engkau melukaiku dengan kesedihan … sungguh aku gembira karena aku terlintas di benakmu.

Maka bagaimana jika seorang kekasih mendapatkan kesenangan dari kekasihnya—meskipun kecil—maka dia tidak melihatnya kecuali sebagai sesuatu yang besar dan penting. Lalu bagaimana halnya dengan Tuhan Yang Mahatinggi yang tidak pernah mendatangkan kecuali kebaikan? Mustahil ada yang bertentangan dengan hal itu pada-Nya, sebagaimana mustahil pada-Nya ada yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Dan orang yang paling mengenal Tuhannya telah menjelaskan hal ini dengan sabdanya: “Dan kejahatan tidak (dinisbatkan) kepada-Mu,” artinya tidak dinisbatkan kepada-Mu, tidak disandarkan kepada-Mu, dan tidak bersumber dari-Mu. Karena sesungguhnya nama-nama-Nya semuanya indah, sifat-sifat-Nya semuanya sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya semuanya adalah karunia dan keadilan, hikmah dan rahmat serta kemaslahatan. Maka dari sisi mana kejahatan dinisbatkan kepada-Nya Mahasuci dan Mahatinggi? Setiap yang datang dari-Nya, Dia berhak mendapat pujian dan syukur atas hal itu, dan pada-Nya terdapat nikmat dan karunia di dalamnya.

Perkataan penulis: Dan hendaknya dia tidak melihat ada jalan lain selain menepati janji.

Maksudnya: bahwa muamalatmu dengan Allah Mahabenar berdasarkan meminta maaf atas setiap yang darimu, dan bersyukur atas apa yang dari-Nya—adalah perjanjian dengan Allah Taala yang mengikatmu selamanya, dan kamu tidak melihat jalan lain selain menepatinya. Hal itu bukanlah perkara yang datang dan pergi, dan bukan keadaan yang berubah-ubah. Melainkan perjanjian yang mengikat yang wajib kamu tepati hingga hari kiamat.

Pasal: Tingkatan Ketiga, Berakhlak dengan Mensucikan Akhlak

Pasal

Penulis berkata: Tingkatan ketiga: berakhlak dengan mensucikan akhlak, kemudian naik dari perpecahan berakhlak, kemudian berakhlak dengan melampaui akhlak-akhlak.

Tingkatan ini terdiri dari tiga hal:

Pertama: mensucikan akhlak dengan menyempurnakan apa yang disebutkan dalam dua tingkatan sebelumnya, sehingga membersihkannya dari setiap kotoran, noda, dan gangguan. Jika kamu melakukan itu, kamu naik dari perpecahannya menuju kesatuanmu kepada Allah. Karena berakhlak dan bertasawuf adalah penyelarasan dan persiapan menuju kesatuan. Dia menyebutnya perpecahan karena hal itu adalah kesibukan dengan yang lain. Sedangkan suluk (perjalanan spiritual) menuntut perhatian sepenuhnya dan kesibukan dengan Tuhan saja tanpa yang lain.

Kemudian dia naik ke tingkat yang lebih tinggi dari itu, yaitu melampaui semua akhlak dengan cara lenyap dari makhluk dan berakhlak. Kelenyapan ini memiliki dua tingkatan menurut mereka:

Pertama: kesibukan dengan Allah Azza wa Jalla dari segala sesuatu selain-Nya.

Kedua: fana dalam ketunggalan yang mereka sebut sebagai hadirat jam’ (hadirnya kesatuan), dan ini adalah puncak tertinggi menurut mereka. Ini adalah pemberian bukan usaha, tetapi jika hamba berusaha mencari dan bersungguh-sungguh dalam pencariannya, diharapkan dia akan mendapatkan yang dicarinya. Wallahu a’lam.

Pasal: Inti Akhlak Baik dengan Allah

Pasal

Inti akhlak baik dengan Allah dan dengan makhluk berputar pada dua kalimat yang disebutkan oleh Abdul Qadir Al-Kilani, dia berkata: Jadilah bersama Allah tanpa akhlak (diri), dan bersama makhluk tanpa nafsu.

Renungkanlah, betapa agungnya kedua kalimat ini meskipun singkat, dan betapa mencakupnya kedua kalimat ini terhadap kaidah-kaidah suluk dan setiap akhlak yang indah? Kerusakan akhlak hanya muncul dari masuknya makhluk di antara kamu dan Allah Taala, dan masuknya nafsu di antara kamu dan makhluk-Nya. Maka jika kamu menjauhkan makhluk—ketika bersamaan dengan Allah Taala—dan menjauhkan nafsu—ketika bersamaan dengan makhluk—maka kamu telah berhasil mendapatkan semua yang ditunjukkan oleh kaum (sufi), yang mereka upayakan dan mereka kelilingi. Wallahul musta’an.

Pasal: Tingkatan Tawadhu (Rendah Hati)

Tawadhu dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Pasal Tingkatan Tawadhu

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan tawadhu.

Allah Taala berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (Al-Furqan: 63), yaitu dengan tenang dan berwibawa, rendah hati, tidak sombong, tidak gembira yang berlebihan, dan tidak angkuh. Al-Hasan berkata: mereka adalah orang-orang berilmu dan penyantun. Muhammad bin Al-Hanafiyyah berkata: orang-orang yang berwibawa dan menjaga kehormatan, tidak berbuat bodoh, dan jika diperlakukan dengan kebodohan, mereka bersabar.

Al-haun dengan fathah dalam bahasa Arab adalah kelembutan dan kelemahan. Sedangkan al-haun dengan dhammah adalah kehinaan. Maka yang dengan fathah adalah sifat ahli iman, dan yang dengan dhammah adalah sifat ahli kekafiran, dan balasan mereka dari Allah adalah neraka.

Allah Taala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (Al-Maidah: 54).

Karena kerendahan dari mereka adalah kerendahan rahmat, kasih sayang, belas kasihan, dan kekhusyukan, maka kata tersebut menggunakan huruf ‘ala untuk menyertakan makna-makna perbuatan ini. Karena yang dimaksud bukanlah kehinaan yang pemiliknya adalah dzalil (hina). Melainkan kerendahan kelembutan dan ketundukan yang pemiliknya adalah dzalul (jinak). Maka orang mukmin itu dzalul. Sebagaimana dalam hadits: “Orang mukmin seperti unta yang jinak, sedangkan orang munafik dan fasik itu dzalil (hina).” Dan empat hal yang sangat dicintai kehinaan: pendusta, tukang mengadu, kikir, dan orang yang sombong.

Firman-Nya: “yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (Al-Maidah: 54), adalah dari kemuliaan kekuatan, kegagahan, dan kemenangan. Atha radhiyallahu anhu berkata: terhadap orang mukmin seperti ayah terhadap anaknya, dan terhadap orang kafir seperti singa terhadap mangsanya. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath: 29). Dan ini kebalikan dari keadaan orang yang dikatakan tentang mereka:

Angkuh kepada kami, dan pengecut terhadap musuhmu … sungguh seburuk-buruk dua sifat: kesombongan dan kepengecutan.

Dalam Shahih Muslim dari hadits Iyadh bin Himar radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku: Hendaklah kalian rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang berbangga atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim atas orang lain.”

Dalam Shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”

Dalam Shahihain secara marfu’: “Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Setiap orang yang kasar, rakus, dan sombong.”

Dalam hadits perdebatan surga dan neraka: “Bahwa neraka berkata: Kenapa aku tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang sombong dan angkuh? Dan surga berkata: Kenapa aku tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang lemah dan yang dipandang remeh dari manusia?” Hadits ini dalam Shahih.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id dan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Kemuliaan adalah kain-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang berebut dengan-Ku, akan Ku-siksa dia.”

Dalam Jami’ At-Tirmidzi secara marfu’ dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu anhu: “Tidaklah seorang terus menerus membanggakan dirinya sehingga dia dicatat dalam daftar orang-orang yang sombong, lalu menimpanya apa yang menimpa mereka.”

“Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa melewati anak-anak kecil lalu memberi salam kepada mereka.”

“Dan dulu budak perempuan memegang tangan beliau shallallahu alaihi wasallam, lalu membawanya ke mana saja yang dia mau.”

“Dan beliau shallallahu alaihi wasallam jika makan menjilati tiga jarinya.”

“Dan beliau shallallahu alaihi wasallam di rumahnya melayani keluarganya, dan tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri.” Dan beliau shallallahu alaihi wasallam “menjahit sandalnya, menambal bajunya, memerah susu kambing untuk keluarganya, memberi makan unta, makan bersama pembantu, duduk bersama orang-orang miskin, berjalan bersama janda dan anak yatim untuk keperluan mereka, memulai memberi salam kepada yang ditemuinya, dan memenuhi undangan yang mengundangnya, walaupun kepada hal yang paling sederhana.”

“Dan beliau shallallahu alaihi wasallam mudah dalam pembiayaan, lembut akhlaknya, mulia wataknya, indah pergaulannya, cerah wajahnya dan banyak senyum, rendah hati tanpa kehinaan, dermawan tanpa berlebihan, lembut hatinya, penyayang kepada setiap muslim, merendahkan sayap untuk orang-orang mukmin, lembut sisinya kepada mereka.”

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang orang yang diharamkan api neraka—atau api neraka diharamkan atasnya—diharamkan atas setiap orang yang dekat, mudah, lembut, dan gampang.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata: hadits hasan.

Dan beliau bersabda: “Jika aku diundang kepada lengan—atau kaki—kambing, pasti aku penuhi, dan jika dihadiahkan kepadaku lengan—atau kaki—kambing, pasti aku terima.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam “menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah, mengendarai keledai, dan memenuhi undangan budak.”

“Dan beliau pada hari (perang) Quraizhah mengendarai keledai yang dikekang dengan tali dari sabut kurma, di atasnya ada pelana dari sabut kurma.”

Pasal: Perkataan Ulama tentang Tawadhu

Pasal

Fudhail bin Iyadh ditanya tentang tawadhu? Maka dia berkata: Tunduk kepada kebenaran, patuh kepadanya, dan menerimanya dari siapa pun yang mengatakannya.

Dan dikatakan: Tawadhu adalah tidak melihat dirimu memiliki nilai. Barangsiapa melihat dirinya memiliki nilai, maka tidak ada bagian baginya dalam tawadhu.

Ini adalah mazhab Fudhail dan yang lainnya.

Al-Junaid bin Muhammad berkata: Tawadhu adalah merendahkan sayap dan melunakkan sisi.

Abu Yazid Al-Bustami berkata: Tawadhu adalah tidak melihat dirinya memiliki tingkatan dan hal (keadaan spiritual), dan tidak melihat dalam makhluk ada yang lebih buruk darinya.

Ibnu Atha’ berkata: Tawadhu adalah menerima kebenaran dari siapa pun. Dan kemuliaan ada dalam tawadhu. Barangsiapa mencarinya dalam kesombongan, maka seperti mencari air dari api.

Ibrahim bin Syaiban berkata: Kemuliaan ada dalam tawadhu, kemuliaan ada dalam takwa, dan kebebasan ada dalam qana’ah (merasa cukup).

Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, bahwa dia berkata: Yang paling mulia dari makhluk adalah lima jiwa: alim yang zuhud, fakih yang sufi, orang kaya yang rendah hati, orang fakir yang bersyukur, dan orang terhormat yang sunnah.

Urwah bin Zubair radhiyallahu anhuma berkata: Aku melihat Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu membawa sebuah qirbah (tempat air dari kulit) di pundaknya, maka aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidak sepantasnya engkau melakukan ini.” Maka dia berkata: “Ketika datang kepadaku para utusan yang mendengar dan taat, masuk ke dalam jiwaku sifat sombong. Maka aku ingin mematahkannya.”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu suatu kali menjabat sebagai pemimpin. Ia biasa membawa seikat kayu bakar di punggungnya sambil berkata: “Beri jalan untuk sang pemimpin.”

Zaid bin Tsabit suatu kali naik kendaraan. Lalu Ibnu Abbas mendekat untuk memegang sandarannya. Maka dia berkata: “Jangan wahai putra paman Rasulullah!” Maka Ibnu Abbas berkata: “Demikianlah kami diperintahkan untuk berbuat kepada para pembesar kami.” Maka Zaid berkata: “Tunjukkan tanganmu kepadaku.” Lalu Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya kepada Zaid, maka Zaid menciumnya. Lalu Ibnu Abbas berkata: “Demikianlah kami diperintahkan untuk berbuat kepada keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu membagikan pakaian-pakaian bagus kepada para sahabat radhiyallahu anhum. Lalu dia mengirimkan kepada Muadz sebuah pakaian seharga delapan dirham. Muadz menjualnya dan dengan uangnya dia membeli enam budak lalu memerdekakannya. Hal itu sampai kepada Umar. Setelah itu Umar mengirim kepadanya pakaian yang lebih rendah kualitasnya. Maka Muadz menegurnya. Umar berkata: “Karena engkau menjual yang pertama.” Muadz berkata: “Apa urusanmu? Berikan kepadaku bagianku. Sungguh aku telah bersumpah akan memukul kepalamu dengannya.” Umar radhiyallahu anhu berkata: “Kepalaku ada di hadapanmu. Terkadang orang muda harus lembut kepada orang tua.”

Hasan melewati anak-anak yang memiliki potongan-potongan roti. Mereka menjamunya. Maka dia turun dan makan bersama mereka, kemudian membawa mereka ke rumahnya. Lalu dia memberi mereka makan dan pakaian, seraya berkata: “Kemuliaan adalah milik mereka. Karena mereka tidak memiliki apa-apa selain apa yang mereka berikan kepadaku untuk makan, sedangkan kami memiliki lebih banyak dari itu.”

Disebutkan bahwa Abu Dzar radhiyallahu anhu mencela Bilal radhiyallahu anhu karena kulitnya yang hitam, kemudian dia menyesal. Lalu dia menjatuhkan dirinya dan bersumpah: “Aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai Bilal menginjak pipiku dengan kakinya.” Maka dia tidak mengangkat kepalanya sampai Bilal melakukannya.

Raja bin Haiwah berkata: “Aku menilai pakaian Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu ketika dia berkhutbah seharga dua belas dirham. Yaitu terdiri dari jubah, sorban, kemeja, celana panjang, selendang, sepatu kulit, dan topi.”

Muhammad bin Wasi’ melihat anaknya berjalan dengan cara yang tidak pantas. Maka dia berkata: “Tahukah kamu berapa harga ibumu kutebus? Tiga ratus dirham, dan ayahmu – semoga Allah tidak memperbanyak orang sepertinya di kalangan kaum muslimin – adalah aku. Dan kamu berjalan dengan cara seperti ini?”

Hamdun al-Qassar berkata: “Tawadhu adalah engkau tidak melihat seorang pun memiliki kebutuhan kepadamu, baik dalam urusan agama maupun dunia.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Aku tidak pernah merasa gembira dalam keislamanku kecuali tiga kali: Aku berada di sebuah kapal, dan di dalamnya ada seorang laki-laki yang suka tertawa. Ia berkata: ‘Kami berada di negeri Turki lalu seorang kafir memegang rambutku seperti ini’ – dan dia memegang rambutku dan mengguncangku – karena tidak ada seorang pun di kapal itu yang lebih hina dariku. Yang kedua: Aku sedang sakit di masjid. Lalu muadzin masuk dan berkata: ‘Keluar!’ Aku tidak mampu, maka dia memegang kakiku dan menyeretku ke luar. Yang ketiga: Aku berada di Syam mengenakan pakaian bulu. Aku melihatnya dan tidak bisa membedakan antara bulunya dengan kutu karena banyaknya. Hal itu membuatku gembira.”

Dalam riwayat lain: “Suatu hari aku sedang duduk. Lalu datang seseorang dan buang air kecil padaku.”

Seseorang berkata: “Aku melihat seorang laki-laki sedang thawaf dan di hadapannya ada pengawal-pengawal yang menghalangi orang-orang dari thawaf karena dia. Kemudian aku melihatnya beberapa waktu kemudian di jembatan Baghdad meminta-minta. Aku terkejub dengannya. Maka dia berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya aku bersikap sombong di tempat di mana orang-orang merendahkan diri, maka Allah menguji aku dengan kehinaan di tempat di mana orang-orang meninggikan diri.'”

Sampai kepada Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu bahwa anaknya membeli sebuah cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya: “Telah sampai kepadaku bahwa engkau membeli permata seharga seribu dirham. Jika suratku ini sampai kepadamu, maka juallah cincin itu dan kenyangkan dengannya seribu perut. Dan buatlah cincin seharga dua dirham. Jadikanlah permatanya dari besi Cina. Dan tulislah padanya: Rahmat Allah bagi orang yang mengenal kadar dirinya.” Wallahu a’lam.

[Pasal Tentang Celaan Kesombongan dan Keserakahan]

Pasal

Dosa pertama yang dengannya kedua bapak manusia dan jin mendurhakai Allah adalah: kesombongan dan keserakahan. Kesombongan adalah dosa Iblis yang terkutuk. Maka urusannya berakhir pada apa yang berakhir padanya. Dan dosa Adam alaihissalam adalah karena keserakahan dan syahwat. Maka akibatnya adalah tobat dan petunjuk. Dosa Iblis membawanya kepada berdalih dengan takdir dan bersikukuh. Sedangkan dosa Adam mewajibkannya untuk menyandarkan dosa itu kepada dirinya sendiri, mengakuinya, dan memohon ampunan.

Maka orang-orang yang sombong dan bersikukuh serta berdalih dengan takdir: bersama syaikh mereka dan pemimpin mereka menuju neraka yaitu Iblis. Sedangkan orang-orang yang memiliki syahwat: yang memohon ampun, yang bertobat, yang mengakui dosa-dosa mereka, yang tidak berdalih dengan takdir: bersama bapak mereka Adam di dalam surga.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kesombongan lebih buruk daripada kesyirikan karena orang yang sombong bersikap sombong dari beribadah kepada Allah ta’ala, sedangkan orang musyrik beribadah kepada Allah dan kepada selain-Nya.”

Aku berkata: Oleh karena itu Allah menjadikan neraka sebagai tempat tinggal orang-orang yang sombong. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat az-Zumar dan dalam Surat Ghafir “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (Surat Ghafir: 76) dan dalam Surat an-Nahl “Maka masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka sungguh, itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri” (Surat an-Nahl: 29) dan dalam Surat Tanzil “Bukankah di dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Surat az-Zumar: 60).

Dan Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang sombong dan angkuh adalah mereka yang Allah mengunci mati hati mereka. Maka Allah berfirman “Demikianlah Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (Surat Ghafir: 35).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat atom kesombongan” (diriwayatkan oleh Muslim).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya” (Surat an-Nisa: 48) sebagai isyarat bahwa Dia tidak mengampuni kesombongan yang lebih besar daripada kesyirikan. Dan sebagaimana orang yang merendahkan diri kepada Allah maka Allah akan mengangkatnya, demikian pula orang yang sombong dari tunduk kepada kebenaran maka Allah akan menghinakannya dan merendahkannya, dan mengecilkannya serta meremehkannya. Dan barangsiapa yang sombong dari tunduk kepada kebenaran – meskipun datang kepadanya melalui orang kecil, atau orang yang dibencinya atau yang memusuhinya – maka sesungguhnya kesombongannya adalah kepada Allah karena Allah adalah al-Haqq (Yang Maha Benar). Dan firman-Nya adalah benar. Dan agama-Nya adalah benar. Dan kebenaran adalah sifat-Nya. Dan dari-Nya dan untuk-Nya. Maka jika seorang hamba menolaknya dan sombong dari menerimanya: maka sesungguhnya dia menolak Allah dan sombong kepada-Nya. Wallahu a’lam.

[Pasal Definisi Tawadhu]

Pasal

Penulis Manazil berkata:

Tawadhu adalah: hamba merendahkan diri terhadap kekuatan kebenaran.

Maksudnya: hamba menerima kekuasaan kebenaran dengan tunduk kepadanya, merendahkan diri, taat, dan masuk di bawah perhambaan kepadanya. Sehingga kebenaran bertindak padanya sebagaimana pemilik bertindak terhadap miliknya. Dengan ini hamba memperoleh akhlak tawadhu. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam menafsirkan kesombongan dengan lawannya. Maka beliau bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Maka menolak kebenaran adalah: menolaknya dan mengingkarinya, dan menolak di hadapannya. Seperti menolak penyerang. Dan meremehkan manusia adalah: meremehkan dan merendahkan mereka. Dan apabila dia meremehkan dan merendahkan mereka: dia akan menolak hak-hak mereka, mengingkarinya, dan meremehkannya.

Dan ketika pemilik kebenaran memiliki perkataan dan kekuatan: maka jiwa-jiwa yang sombong tidak mau mengakui kekuatan atas kekuatan yang ada padanya, terutama jiwa-jiwa yang batil. Maka dia menyerang kekuatan kebenaran dengan kesombongan dan kebatilannya. Maka hakikat tawadhu adalah: hamba tunduk kepada kekuatan kebenaran dan taat kepadanya. Maka dia tidak menghadapinya dengan menyerang balik kepadanya.

[Tingkatan-Tingkatan Tawadhu]

[Tingkatan Pertama: Tawadhu Kepada Agama]

Penulis berkata: Dan tawadhu itu memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Tawadhu kepada agama. Yaitu tidak menentang yang dinukilkan (nash) dengan yang dikira-kirakan (rasio). Dan tidak mencurigai dalil agama. Dan tidak melihat jalan untuk menyelisihi.

Tawadhu kepada agama adalah tunduk kepada apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam, berserah diri kepadanya, dan patuh. Dan itu dengan tiga hal.

Pertama: Tidak menentang sesuatu yang dibawanya dengan salah satu dari empat penentangan yang menyebar di dunia, yang disebut dengan: rasio, qiyas (analogi), dzauq (pengalaman spiritual), dan siyasah (politik).

Yang pertama: bagi orang-orang yang menyimpang dan sombong dari kalangan ahli kalam, yang menentang nash-nash wahyu dengan rasio mereka yang rusak. Dan mereka berkata: “Jika bertentangan rasio dan nash: kami mendahulukan rasio dan menyingkirkan nash. Baik dengan menyingkirkannya dengan tafwidh (penyerahan makna) maupun dengan takwil.”

Yang kedua: bagi orang-orang sombong dari kalangan orang-orang yang dinisbatkan kepada fikih. Mereka berkata: “Jika bertentangan qiyas dan pendapat dengan nash-nash: kami mendahulukan qiyas atas nash. Dan tidak peduli padanya.”

Yang ketiga: bagi orang-orang sombong yang menyimpang dari kalangan orang-orang yang dinisbatkan kepada tasawuf dan zuhud. Jika menurut mereka bertentangan dzauq dengan perintah, mereka mendahulukan dzauq dan hal. Dan tidak peduli dengan perintah.

Yang keempat: bagi orang-orang sombong yang menyimpang dari kalangan penguasa dan pemimpin yang zalim. Jika menurut mereka bertentangan syariat dengan politik, mereka mendahulukan politik dan tidak peduli dengan hukum syariat.

Maka keempat golongan ini adalah ahli kesombongan. Dan tawadhu adalah: melepaskan diri dari semua itu.

Yang kedua: Tidak mencurigai dalil dari dalil-dalil agama, sehingga mengira bahwa dalilnya rusak, atau kurang petunjuknya, atau terbatas, atau bahwa dalil lain lebih utama darinya. Dan apabila muncul padanya sesuatu dari itu maka hendaklah dia mencurigai pemahamannya, dan hendaklah dia tahu bahwa kerusakan datang darinya, dan musibah ada padanya, sebagaimana dikatakan: “Betapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar, padahal cacatnya dari pemahaman yang buruk. Tetapi akal mengambil darinya sesuai dengan kemampuan dan pemahaman.”

Dan demikianlah yang terjadi dalam kenyataan sesungguhnya: bahwa tidaklah seseorang mencurigai dalil agama kecuali dialah orang yang rusak akalnya. Yang cacat dalam akal dan pemahamannya. Maka cacat datang dari akal yang sakit, bukan dari dalil itu sendiri.

Dan jika engkau melihat dari dalil-dalil agama apa yang menyulitkanmu, dan pemahamanmu tidak bisa mencapainya maka ketahuilah bahwa itu karena keagungan dan kemuliaan dalil tersebut sehingga sulit bagimu, dan bahwa di bawahnya ada harta karun dari harta karun ilmu. Dan engkau belum diberi kunci untuknya. Ini dalam hal dirimu sendiri.

Adapun mengenai orang lain: maka curigailah pendapat-pendapat manusia terhadap nash-nash wahyu, dan hendaklah menolaknya menjadi hal yang paling mudah bagimu demi nash-nash, karena jika engkau tidak melakukan itu maka engkau tidak berada di atas sesuatu (kebenaran). Meskipun… meskipun… Dan ini tidak ada perselisihan padanya di antara para ulama.

Imam asy-Syafi’i quddisa ruhuh berkata: “Kaum muslimin bersepakat bahwa barangsiapa yang jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: tidak halal baginya meninggalkannya karena perkataan seseorang.”

Yang ketiga: Tidak menemukan jalan untuk menyelisihi nash sama sekali. Tidak dengan batinnya, tidak dengan lisannya, tidak dengan perbuatannya, dan tidak dengan keadaannya. Bahkan jika dia merasakan sesuatu dari penyelisihan: maka dia seperti orang yang akan melakukan zina, minum khamr, dan membunuh jiwa. Bahkan penyelisihan ini lebih besar di sisi Allah daripada itu. Dan ini adalah yang menyeru kepada kemunafikan. Dan inilah yang ditakuti oleh para tokoh dan imam terhadap diri mereka sendiri.

Dan ketahuilah bahwa orang yang menyelisihi nash – karena perkataan orang yang diikutinya, syaikhnya dan orang yang ditaklidnya, atau karena pendapat dan rasionya, dzauq-nya, dan siyasah-nya, jika dia di sisi Allah dimaafkan, tidak demi Allah dia tidak dimaafkan – maka orang yang menyelisihi perkataannya untuk nash-nash wahyu lebih berhak mendapat maaf di sisi Allah, Rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan orang-orang mukmin dari hamba-hamba-Nya.

Sungguh aneh, jika ruang pembatalan orang-orang yang menyelisihi nash-nash melebar untuk maaf bagi orang yang menyelisihinya karena taklid, atau takwil, atau karena yang lain. Lalu bagaimana menyempit dari maaf bagi orang yang menyelisihi perkataan mereka dan perkataan syaikh-syaikh mereka karena mengikuti nash-nash? Dan bagaimana mereka memasang perangkap untuknya, dan mencari kejelekan baginya, dan melemparinya dengan hal-hal besar, dan menjadikannya lebih buruk keadaannya dari pelaku kejahatan? Maka mereka melemparnya dengan penyakit mereka sendiri dan mengelak darinya dengan menyelinap. Dan mereka melemparnya dengan musibah mereka sendiri. Dan menjadikan pengagungan orang-orang yang diikuti sebagai tempat berlindung dan perlindungan bagi mereka. Wallahu a’lam.

Pasal

Penulis berkata: Dan hal itu tidak sah kecuali dengan mengetahui: bahwa keselamatan ada pada bashirah (pandangan batin). Dan istiqamah (konsistensi) setelah tsiqah (keyakinan). Dan bahwa bayyinah (bukti) berada setelah hujjah (dalil).

Dia berkata: Sesungguhnya apa yang kami sebutkan tentang tawadhu kepada agama dengan tiga hal ini:

Pertama: Mengetahui bahwa keselamatan dari kesengsaraan dan kesesatan: sesungguhnya ada pada bashirah. Maka barangsiapa yang tidak memiliki bashirah: maka dia termasuk ahli kesesatan di dunia dan kesengsaraan di akhirat.

Dan bashirah adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam mata hati, yang dengannya hamba membedakan antara yang haq dan yang batil, dan kedudukannya terhadap hati: seperti kedudukan cahaya mata terhadap mata.

Dan bashirah ini ada yang bersifat karunia dan ada yang dapat diusahakan. Maka barangsiapa yang menggunakan pandangannya pada tanda-tanda kebenaran dan dalil-dalilnya, dan bersikap ikhlas kepada Allah dari hawa nafsunya: maka akan bercahaya bashirahnya. Dan diberi furqan (pembeda) yang dengannya dia membedakan antara yang haq dan yang batil.

Yang kedua: Hendaklah dia tahu bahwa istiqamah sesungguhnya terjadi setelah tsiqah, maksudnya tidak mungkin terwujudnya istiqamah dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan, kecuali setelah keyakinan terhadap kebenaran ilmu yang ada padanya. Dan bahwa ilmu itu diambil dari cahaya kenabian. Dan barangsiapa yang tidak demikian maka tidak ada keyakinan baginya dan tidak ada istiqamah.

Yang ketiga: Hendaklah dia tahu bahwa bayyinah berada setelah hujjah. Dan bayyinah yang dimaksudkan adalah: jelasnya kebenaran dan terlihatnya. Dan ini sesungguhnya terjadi setelah hujjah jika telah tegak, kebenaran akan jelas dan terlihat dan terang.

Dan di dalamnya ada makna lain. Yaitu: bahwa seorang hamba jika menerima hujjah Allah dengan keimanan, penyerahan diri, dan ketundukan yang murni: maka penerimaan ini adalah sebab jelasnya, terlihatnya, dan tersingkapnya di hatinya. Maka dia tidak akan sabar atas bayyinah Tuhannya kecuali setelah menerima hujjah-Nya.

Dan di dalamnya ada makna lain juga: bahwa tidak akan jelas baginya cacat amalnya dari yang benar kecuali setelah ilmu yang merupakan hujjah Allah atas hamba. Maka jika dia mengetahui hujjah maka akan jelas baginya dengan hujjah itu apa yang meragukan dari ilmu-ilmunya, dan apa yang cacat dari amal-amalnya.

Dan di dalamnya ada makna lain juga: yaitu bahwa “wara” (setelah) bermakna “di depan”. Dan maknanya: bahwa hujjah sesungguhnya diperoleh oleh hamba setelah jelasnya. Maka jika tidak jelas baginya maka tidak ada hujjah baginya. Maksudnya jangan puas dari hujjah hanya dengan keberadaannya tanpa kejelasan. Karena kejelasan ada di depan hujjah. Wallahu a’lam.

Bab: Tingkat Kedua: Ridha dengan Apa yang Allah Ridhai

Bab

Berkata: Tingkat kedua adalah engkau ridha dengan apa yang Allah ridhai untuk diri-Nya sebagai hamba dari kaum muslimin menjadi saudara. Dan engkau tidak menolak kebenaran dari musuhmu. Dan engkau menerima alasan dari orang yang meminta maaf.

Artinya: Jika Allah telah meridhai saudaramu yang muslim sebagai hamba bagi diri-Nya, tidakkah engkau ridha dengannya sebagai saudara? Ketidakridhaan engkau dengannya sebagai saudara – padahal Tuanmu yang engkau adalah hamba-Nya telah meridhainya sebagai hamba bagi diri-Nya – adalah hakikat kesombongan. Dan dosa apa yang lebih buruk daripada kesombongan seorang hamba atas hamba yang seperti dirinya, yang tidak ridha dengan persaudaraannya, sementara tuannya ridha dengan penghambaan dirinya?

Dari hal ini dapat disimpulkan: bahwa orang yang sombong tidak ridha dengan penghambaan pada tuannya. Karena penghambaan dirinya menuntut keridhaannya dengan persaudaraan hamba-Nya. Dan ini adalah keadaan para hamba raja-raja. Mereka melihat satu sama lain sebagai rekan sesama hamba. Dan barangsiapa yang meninggikan diri di antara mereka dari itu, maka ia bukanlah dari hamba-hamba tuan mereka.

Ucapannya: Dan engkau tidak menolak kebenaran dari musuhmu.

Artinya tingkat tawadhu tidak sempurna bagimu sampai engkau menerima kebenaran dari yang engkau cintai dan dari yang engkau benci, sehingga engkau menerimanya dari musuhmu sebagaimana engkau menerimanya dari kekasihmu. Dan jika engkau tidak menolak kebenarannya, bagaimana engkau menghalangi hak yang ia miliki padamu? Bahkan hakikat tawadhu adalah apabila ia datang kepadamu, maka engkau menerimanya darinya. Dan jika ia memiliki hak atasmu, maka engkau menunaikannya kepadanya. Permusuhan dengannya tidak menghalangimu dari menerima kebenarannya, dan tidak pula dari memberikan haknya.

Adapun penerimaanmu dari orang yang meminta maaf atas alasannya.

Maknanya: bahwa orang yang berbuat buruk kepadamu, kemudian datang meminta maaf atas perbuatan buruknya, maka tawadhu mewajibkan atasmu menerima maafnya, baik itu benar atau batil. Dan serahkan isi hatinya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan terhadap orang-orang munafik yang tidak ikut berperang bersamanya. Ketika beliau kembali, mereka datang meminta maaf kepadanya, maka beliau menerima maaf mereka dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah Ta’ala.

Dan tanda kemuliaan dan tawadhu adalah: apabila engkau melihat kecacatan dalam alasannya, engkau tidak menunjukkan itu kepadanya dan tidak berdebat dengannya. Dan katakan: mungkin keadaannya seperti yang engkau katakan. Dan seandainya sesuatu ditakdirkan, pasti terjadi, dan takdir tidak dapat ditolak. Dan semisalnya.

Bab: Tingkat Ketiga: Tawadhu kepada Allah

Bab

Berkata: Tingkat ketiga adalah engkau tawadhu kepada Allah. Maka engkau turun dari pendapatmu dan kebiasaanmu dalam pelayanan, dan pandangan akan hakmu dalam persahabatan, dan dari bentukmu dalam penyaksian.

Artinya tawadhu adalah engkau melayani Allah Subhanahu dan menyembah-Nya dengan apa yang Ia perintahkan kepadamu, sesuai tuntutan perintah-Nya. Bukan berdasarkan apa yang engkau lihat dari pendapatmu. Dan jangan sampai pendorongmu adalah kebiasaan. Sebagaimana pendorong orang yang tidak memiliki pandangan, hanya saja ia terbiasa dengan sesuatu lalu ia menjalankannya. Seandainya ia terbiasa dengan lawannya, tentu ia pun melakukannya.

Kesimpulannya: pendorongnya dalam beribadah bukanlah semata pendapat, keselarasan hawa nafsu, kecintaan, dan kebiasaan. Tetapi pendorong semata adalah perintah. Adapun pendapat, kecintaan, hawa nafsu, dan kebiasaan itu: pelaksana yang mengikuti. Bukan yang ditaati dan mendorong. Dan ini adalah inti yang tidak disadari kecuali oleh orang-orang yang memiliki pandangan.

Adapun turunnya dari pandangan akan haknya dalam persahabatan.

Maknanya: ia tidak melihat bagi dirinya hak atas Allah karena amalnya. Karena persahabatannya dengan Allah adalah dengan penghambaan dan kefakiran yang murni, kehinaan dan kerendahan. Apabila ia melihat bagi dirinya hak atas-Nya, maka persahabatan itu rusak dan menjadi cacat, serta dikhawatirkan dari itu kemurkaan. Dan ini tidak bertentangan dengan apa yang Allah wajibkan atas diri-Nya berupa pahala bagi para penyembah-Nya dan memuliakan mereka. Karena itu adalah hak yang Ia wajibkan atas diri-Nya sendiri dengan murni kemuliaan-Nya, kebajikan-Nya, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya. Bukan karena kelayakan para hamba, dan bahwa mereka mewajibkan itu atas-Nya dengan amal-amal mereka.

Maka wajib bagimu membedakan dalam perkara ini yang merupakan persimpangan jalan. Dan manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok yang berpandangan bahwa hamba terlalu kecil dan lemah untuk mewajibkan hak atas Tuhannya. Maka mereka berkata: tidak wajib atas Allah sesuatu pun sama sekali. Dan mereka mengingkari kewajiban apa yang Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri.

Dan kelompok yang berpandangan bahwa Dia Subhanahu mewajibkan atas diri-Nya beberapa perkara untuk hamba-Nya. Maka mereka menyangka bahwa hamba mewajibkannya atas-Nya dengan amal-amalnya, dan bahwa amal-amalnya menjadi sebab kewajiban ini. Dan kedua kelompok ini keliru.

Dan kelompok ketiga: ahli petunjuk dan kebenaran, mereka berkata: hamba tidak berhak atas Allah dengan usahanya untuk selamat dan beruntung. Dan tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya selamanya, dan tidak pula terselamatkan dari neraka. Dan Allah Ta’ala – dengan karunia dan kemurahan-Nya, serta kedermawanan dan kebaikan-Nya yang murni – menegaskan kebaikan dan kedermawanan serta kebajikan-Nya dengan mewajibkan bagi hamba-Nya atas-Nya Subhanahu hak berdasarkan janji. Karena janji orang mulia adalah kewajiban, sekalipun dengan kata ‘semoga’ dan ‘mudah-mudahan’.

Karena itu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘semoga’ dari Allah adalah wajib.

Dan janji orang hina adalah ingkar. Sekalipun disertai perjanjian dan sumpah.

Maksudnya: bahwa hamba tidak melihat bagi dirinya hak atas Allah tidak bertentangan dengan apa yang Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri dan jadikan sebagai hak bagi hamba-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba? Ia menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Hak-Nya atas mereka adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak para hamba atas Allah jika mereka melakukan itu? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Hak mereka atas-Nya adalah agar Dia tidak menyiksa mereka dengan api neraka.”

Maka Tuhan Subhanahu tidak ada seorang pun yang memiliki hak wajib atas-Nya. Dan tidak ada usaha yang sia-sia di sisi-Nya. Sebagaimana dikatakan:

Para hamba tidak memiliki hak wajib atas-Nya Sama sekali tidak, dan tidak ada usaha yang sia-sia di sisi-Nya Jika mereka disiksa, maka dengan keadilan-Nya, atau diberi nikmat Maka dengan karunia-Nya, dan Dialah Yang Maha Mulia lagi Maha Luas

Adapun ucapannya: Dan turunlah dari bentukmu dalam penyaksian.

Artinya dari bagian tawadhu kepada Allah adalah: fanamu dari dirimu. Karena bentuknya adalah dirinya sendiri. Dan turun darinya adalah: fananya darinya ketika menyaksikan Hadhrah. Dan penurunan ini dapat dikatakan kasbi (usaha) dari satu sisi, meskipun menurut kaum tidak kasbi. Karena itu terjadi ketika tajalli. Dan tajalli adalah cahaya. Dan cahaya mengalahkan kegelapan dan membatalkannya. Dan bentuk menurut kaum adalah kegelapan. Maka ia lari dari cahaya secara hakiki. Maka turunnya dari bentuk ketika tajalli menjadi dzati (hakiki).

Dan sisi bahwa ia kasbi adalah: bahwa ia hasil dari tingkatan-tingkatan kasbi. Dan hasil dari kasbi adalah kasbi. Dan buahnya, meskipun terjadi secara dharuri (pasti) dan dzati, tidak mustahil disebut kasbi dengan pertimbangan sebab. Wallahu a’lam.

Bab: Tingkatan al-Futuwwah (Kedermawanan)

Hakikat al-Futuwwah

Bab tingkatan al-Futuwwah

Dan dari tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan al-Futuwwah.

Tingkatan ini hakikatnya adalah tingkatan berbuat baik kepada manusia, menahan gangguan dari mereka, dan menanggung gangguan mereka. Maka ia pada hakikatnya adalah mengamalkan akhlak yang baik dengan mereka. Ia pada hakikatnya adalah hasil dari akhlak yang baik dan pengamalannya. Dan perbedaan antara futuwwah dengan muru’ah (kesatriaan) adalah: bahwa muru’ah lebih umum darinya. Maka futuwwah adalah salah satu jenis dari muru’ah. Karena muru’ah adalah mengamalkan apa yang indah dan menghiasi, baik yang khusus bagi hamba maupun yang menyentuh orang lain. Dan meninggalkan apa yang menodai dan mencela, baik yang khusus baginya maupun yang berkaitan dengan orang lain.

Dan futuwwah sesungguhnya adalah mengamalkan akhlak mulia dengan makhluk.

Maka ia tiga tingkatan: tingkatan takhalluq (berperilaku) dan akhlak yang baik, tingkatan futuwwah, dan tingkatan muru’ah. Dan tingkatan akhlak telah dijelaskan sebelumnya.

Dan ini adalah tingkatan yang mulia, tidak diungkapkan oleh syariat dengan nama futuwwah, tetapi diungkapkan dengan nama makarim al-akhlaq (kemuliaan akhlak), sebagaimana dalam hadits Yusuf bin Muhammad bin al-Munkadir dari ayahnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah mengutusku untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak dan kebaikan perbuatan.”

Dan asal kata futuwwah dari kata fata yaitu pemuda berusia muda. Allah Ta’ala berfirman tentang Ashabul Kahfi: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13). Dan Dia berfirman tentang kaum Ibrahim: “Mereka berkata: Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka, yang bernama Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’: 60). Dan Allah Ta’ala berfirman tentang Yusuf: “Dan masuk bersama dia ke dalam penjara dua pemuda – Dan dia berkata kepada pemuda-pemudanya: Masukkan barang dagangan mereka ke dalam karung mereka” (QS. Yusuf: 36-62).

Maka nama fata tidak menunjukkan pujian atau celaan, seperti nama pemuda dan pemudi. Karena itu nama futuwwah tidak datang dalam Al-Quran, tidak pula dalam Sunnah, dan tidak pula dalam bahasa Salaf. Tetapi digunakan oleh generasi setelah mereka untuk kemuliaan akhlak.

Dan dasarnya menurut mereka adalah: bahwa hamba selalu dalam urusan orang lain.

Dan yang paling awal kuketahui berbicara tentang futuwwah adalah Ja’far bin Muhammad, kemudian Fudhail bin ‘Iyadh, dan Imam Ahmad, Sahl bin Abdullah, al-Junaid, kemudian golongan lainnya.

Disebutkan bahwa Ja’far bin Muhammad ditanya tentang futuwwah? Maka ia berkata kepada penanya: apa pendapatmu? Ia berkata: Jika aku diberi, aku bersyukur. Dan jika aku dicegah, aku bersabar. Maka ia berkata: Anjing-anjing di tempat kami pun demikian. Penanya berkata: Wahai cucu Rasulullah, lalu apa futuwwah menurutmu? Ia berkata: Jika kami diberi, kami mengutamakan orang lain. Dan jika kami dicegah, kami bersyukur.

Dan Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Futuwwah adalah: memaafkan kesalahan saudara-saudara.

Dan Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat anaknya Abdullah darinya, ketika ditanya tentang futuwwah? Ia berkata: Meninggalkan apa yang engkau sukai demi apa yang engkau takuti.

Dan aku tidak mengetahui dari salah seorang dari empat imam selainnya.

Dan al-Junaid ditanya tentang futuwwah? Ia berkata: Tidak melawan orang fakir, dan tidak menentang orang kaya.

Dan al-Harits al-Muhasibi berkata: Futuwwah adalah: engkau berbuat adil dan tidak meminta keadilan.

Dan Umar bin Utsman al-Makki berkata: Futuwwah adalah akhlak yang baik.

Dan Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata: Futuwwah adalah: engkau menjadi penentang Tuhanmu atas dirimu sendiri.

Dan dikatakan: Futuwwah adalah: engkau tidak melihat keutamaan bagi dirimu atas orang lain.

Dan ad-Daqqaq berkata: Akhlak ini tidak sempurna kesempurnaannya kecuali bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena setiap orang berkata pada hari kiamat: diriku diriku, dan beliau berkata: umatku umatku. Dan dikatakan: Futuwwah adalah: menghancurkan berhala yang ada antara engkau dan Allah Ta’ala, yaitu dirimu. Karena Allah menceritakan tentang kekasih-Nya Ibrahim ‘alaihissalam bahwa ia menjadikan berhala-berhala hancur berkeping-keping. Maka ia menghancurkan berhala-berhala untuknya. Maka fata adalah yang menghancurkan satu berhala di jalan Allah.

Dan dikatakan: Futuwwah adalah: engkau tidak menjadi penentang siapa pun. Maksudnya dalam hak dirimu. Adapun dalam hak Allah, maka futuwwah adalah: engkau menjadi penentang setiap orang sekalipun dia kekasih yang setia.

Dan at-Tirmidzi berkata: Futuwwah adalah: sama bagimu antara yang menetap dan yang datang.

Dan sebagian mereka berkata: Futuwwah adalah: engkau tidak membedakan antara makan di tempat engkau seorang wali atau kafir.

Dan al-Junaid juga berkata: Futuwwah adalah menahan gangguan dan memberikan kebaikan.

Dan Sahl berkata: Ia adalah mengikuti Sunnah. Dan dikatakan: Ia adalah menepati janji dan memelihara.

Dan dikatakan: Keutamaan yang engkau lakukan, dan engkau tidak melihat dirimu di dalamnya. Dan dikatakan: Engkau tidak bersembunyi dari orang yang datang kepadamu.

Dan dikatakan: Engkau tidak lari jika orang yang meminta datang. Maksudnya pencari kebaikan. Dan dikatakan: Menampakkan nikmat dan menyembunyikan cobaan. Dan dikatakan: Engkau tidak menimbun dan tidak meminta maaf.

Dikatakan: Seorang lelaki menikahi seorang perempuan. Ketika perempuan itu masuk ke tempat suami, lelaki itu melihat perempuan tersebut menderita cacar. Maka lelaki itu berkata, “Mataku sakit.” Kemudian ia berkata, “Aku buta.” Setelah dua puluh tahun perempuan itu meninggal, dan ia tidak tahu bahwa suaminya dapat melihat. Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Maka ia berkata, “Aku tidak suka menyedihkan hatinya dengan melihat apa yang ada padanya.” Maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah melampaui para pemuda berbudi luhur.”

Dikatakan: Bukan termasuk futuwwah (kesatriaan) jika engkau mengambil keuntungan dari temanmu.

Seorang lelaki menjamu sekelompok pemuda berbudi luhur. Ketika mereka selesai makan, keluarlah seorang budak perempuan untuk menuangkan air ke tangan mereka. Salah seorang dari mereka menahan diri dan berkata, “Bukan termasuk futuwwah bahwa perempuan menuangkan air ke tangan laki-laki.” Maka yang lain dari mereka berkata, “Aku selama bertahun-tahun masuk ke rumah ini, dan aku tidak tahu apakah yang menuangkan air ke tangan kami adalah perempuan atau laki-laki.”

Sekelompok pemuda berbudi luhur datang untuk mengunjungi seorang pemuda. Lelaki itu berkata, “Wahai budak, sajikan hidangan.” Namun ia tidak menyajikannya. Ia mengatakan hal itu untuk kedua dan ketiga kalinya tetapi ia tidak menyajikannya. Mereka saling memandang satu sama lain dan berkata, “Bukan termasuk futuwwah bahwa seseorang menggunakan pelayan yang membangkang padanya dalam menyajikan hidangan seperti ini.” Lelaki itu berkata, “Mengapa engkau terlambat dengan hidangan?” Budak itu berkata, “Ada semut di atasnya. Maka bukan termasuk adab menyajikan hidangan kepada para pemuda berbudi luhur bersama semut. Dan bukan termasuk futuwwah membuang semut dan mengusir mereka dari makanan. Maka aku menunggu hingga semut-semut itu berjalan pergi.” Mereka berkata, “Wahai budak, orang sepertimu yang layak melayani para pemuda berbudi luhur.”

Di antara futuwwah yang tidak tertandingi adalah: yang dikisahkan bahwa seorang lelaki dari kaum haji tidur di Madinah. Ia kehilangan kantong uangnya yang berisi seribu dinar. Ia bangun dengan cemas. Ia menemui Ja’far bin Muhammad dan bergantung padanya. Ia berkata, “Engkau mengambil kantong uangku.” Ja’far berkata, “Apa yang ada di dalamnya?” Ia berkata, “Seribu dinar.” Maka Ja’far memasukkannya ke rumahnya dan menimbang untuknya seribu dinar. Kemudian lelaki itu menemukan kantong uangnya, lalu ia datang kepada Ja’far meminta maaf dengan membawa uang itu. Namun Ja’far menolak menerimanya darinya. Ia berkata, “Sesuatu yang telah kukeluarkan dari tanganku tidak akan kuambil kembali selamanya.” Lelaki itu berkata kepada orang-orang, “Siapa ini?” Mereka berkata, “Ini adalah Ja’far bin Muhammad semoga Allah meridhainya.”

Bab Definisi Futuwwah

Bab

Penulis kitab Manazil berkata:

Inti futuwwah adalah: bahwa engkau tidak menyaksikan keutamaan bagimu, dan tidak melihat hak bagimu.

Maksudnya: Jantung futuwwah dan mata hatinya adalah: bahwa engkau fana dengan menyaksikan kekuranganmu dan cacatmu dari keutamaanmu, dan engkau ghaib dengan menyaksikan hak-hak makhluk atasmu dari menyaksikan hak-hakmu atas mereka.

Manusia dalam hal ini memiliki tingkatan. Yang paling mulia adalah: orang-orang yang memiliki tingkatan ini. Yang paling hina adalah: kebalikan mereka, yaitu orang-orang yang fana dalam menyaksikan keutamaan-keutamaan mereka dari cacat-cacat mereka, dan menyaksikan hak-hak mereka atas manusia dari menyaksikan hak-hak manusia atas mereka.

Yang pertengahan adalah: orang yang menyaksikan ini dan itu. Ia menyaksikan apa yang ada pada cacat dan kesempurnaan, dan ia menyaksikan hak-hak manusia atasnya dan hak-haknya atas mereka.

Tingkatan-Tingkatan Futuwwah

Tingkatan Pertama: Meninggalkan Perselisihan

Penulis berkata: Futuwwah terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Meninggalkan perselisihan, mengabaikan kesalahan, dan melupakan gangguan.

Tingkatan ini termasuk dalam bab meninggalkan dan membersihkan diri. Yaitu ia tidak berselisih dengan siapa pun. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai lawan bagi siapa pun selain dirinya. Maka dirinya adalah lawannya.

Tingkatan ini juga terdiri dari tiga tingkatan: Tidak berselisih dengan lisannya, tidak berniat berselisih dengan hatinya, dan tidak memikirkannya dalam benaknya. Ini dalam hal dirinya.

Adapun dalam hal Tuhannya: maka futuwwah adalah bahwa ia berselisih dengan Allah dan dalam Allah, dan ia berhukum kepada Allah, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam doa iftitah, “Dengan-Mu aku berselisih dan kepada-Mu aku berhukum.” Ini adalah tingkatan futuwwah para ulama yang menyeru kepada Allah Ta’ala.

Adapun mengabaikan kesalahan, itu adalah bahwa jika ia melihat seseorang berbuat kesalahan yang syariat mewajibkan ia mengambil tindakan terhadapnya, ia menampakkan bahwa ia tidak melihatnya, agar orang itu tidak merasa canggung, dan ia melepaskannya dari beban memberi alasan.

Futuwwah mengabaikan lebih tinggi daripada futuwwah menyembunyikan sambil tetap melihat.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Seorang perempuan datang dan menanyakan sesuatu kepada Hatim tentang suatu masalah. Kebetulan keluar suara darinya pada saat itu. Perempuan itu malu. Maka Hatim berkata, “Keraskan suaramu.” Ia membuatnya berpikir bahwa ia tuli. Perempuan itu senang dengan itu dan berkata, “Ia tidak mendengar suara itu.” Maka ia dijuluki Hatim Ash-Shamm (Si Tuli). Pengabaian ini adalah setengah dari futuwwah.

Adapun melupakan gangguan, itu adalah dengan melupakan gangguan dari orang yang menyakitimu dengan suatu bahaya, agar hatimu bersih terhadapnya dan engkau tidak merasa canggung darinya.

Aku berkata: Dan ada kelupaan lain juga, yaitu termasuk dari futuwwah, yaitu melupakan kebaikanmu kepada orang yang telah engkau berbuat baik kepadanya, hingga seakan-akan itu tidak keluar darimu. Kelupaan ini lebih sempurna dari yang pertama. Tentang ini dikatakan:

Ia melupakan kebaikan-kebaikannya namun Allah menampakkannya Sesungguhnya kebaikan jika engkau sembunyikan akan tampak

Bab: Tingkatan Kedua: Mendekatkan Orang yang Menjauhkanmu

Bab

Penulis berkata: Tingkatan kedua adalah engkau mendekatkan orang yang menjauhkanmu, memuliakan orang yang menyakitimu, dan meminta maaf kepada orang yang menzalimimu, dengan kedermawanan bukan penahan amarah, dengan kasih sayang bukan kesabaran.

Tingkatan ini lebih tinggi dari yang sebelumnya dan lebih sulit. Karena yang pertama: mengandung meninggalkan pembalasan dan pengabaian. Sedangkan ini mengandung berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, dan memperlakukannya dengan kebalikan dari apa yang ia perlakukan kepadamu. Maka kebaikan dan keburukan antara kamu dan dia adalah dua pilihan. Pilihanmu adalah: kebaikan. Dan pilihannya adalah: keburukan. Tentang yang seperti ini dikatakan:

Jika kami sakit, kami mendatangi kalian menjenguk kalian Dan kalian berbuat salah, maka kami mendatangi kalian dan meminta maaf

Barangsiapa ingin memahami tingkatan ini sebagaimana mestinya, hendaklah ia melihat kepada sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap manusia, ia akan mendapatinya persis seperti ini. Dan kesempurnaan tingkatan ini tidak ada pada seorang pun selain beliau. Kemudian bagi para pewaris darinya sesuai dengan bagian mereka dari warisan. Dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengumpulkan sifat-sifat ini daripada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan rohnya. Sebagian sahabatnya yang besar berkata, “Aku berharap aku bagi sahabat-sahabatku seperti dia bagi musuh-musuhnya dan lawan-lawannya. Dan aku tidak pernah melihatnya mendoakan buruk kepada seorang pun dari mereka, dan ia biasa mendoakan mereka.”

Aku datang suatu hari memberinya kabar gembira tentang kematian musuh terbesarnya, yang paling keras permusuhannya dan gangguannya terhadapnya. Ia memarahiku dan menampakkan ketidaksukaannya kepadaku dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kemudian ia bangkit dari tempatnya menuju rumah keluarga orang itu dan menghibur mereka. Ia berkata, “Sesungguhnya aku pengganti bagi kalian, dan tidak akan ada urusan yang kalian butuhkan bantuan di dalamnya melainkan aku akan membantu kalian di dalamnya.” Dan ucapan-ucapan serupa ini. Mereka senang dengan itu dan mendoakannya. Mereka mengagungkan sikap ini darinya. Maka semoga Allah merahmatinya dan meridhainya. Dan ini dapat dipahami.

Adapun meminta maaf kepada orang yang menzalimimu, maka itu tidak dapat dipahami pada pandangan pertama, karena tidak keluar darimu suatu kezaliman yang mengharuskan permintaan maaf, dan batasanmu adalah: bahwa engkau tidak menghukumnya. Lalu apakah engkau meminta maaf kepadanya karena meninggalkan penghukuman?

Makna ini adalah: bahwa engkau menempatkan dirimu pada posisi orang yang berbuat zalim bukan yang dizalimi. Dan orang yang berbuat zalim layak meminta maaf.

Yang membuatmu melihat pandangan ini adalah: bahwa engkau tahu bahwa ia hanya disalurkan kepadamu karena dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Surat Asy-Syura, ayat 30).

Maka jika engkau tahu bahwa engkau yang memulai kezaliman dan dibalas oleh Allah dari dirimu melalui tangannya, maka engkau dalam hakikatnya lebih layak untuk meminta maaf.

Dan yang meringankan semua ini bagimu adalah: menyaksikan sepuluh pandangan yang telah disebutkan sebelumnya. Maka hendaklah engkau padanya. Karena sesungguhnya di dalamnya terdapat perbendaharaan makrifat dan kebaikan.

Dan ucapannya: dengan kedermawanan bukan penahan amarah, dan dengan kasih sayang bukan kesabaran.

Maksudnya: jadikanlah perlakuan ini darimu keluar dari kedermawanan, kelapangan jiwa, dan kelapangan dada, bukan dari penahan amarah, kesempitan, dan kesabaran. Karena itu adalah bukti bahwa ini bukan dalam akhlakmu. Ini hanyalah kepura-puraan yang hampir hilang dan menampakkan hukum akhlak yang sebenarnya lalu engkau akan dipermalukan. Dan yang dimaksud hanyalah memperbaiki batin, rahasia, dan hati.

Dan apa yang dikatakan oleh Syaikh ini tidak mungkin kecuali setelah melewati jembatan kesabaran dan penahan amarah. Maka jika ia mampu melakukannya, hal itu akan mengantarkannya ke tingkatan ini dengan pertolongan Allah. Wallahu a’lam.

Bab: Tingkatan Ketiga: Tidak Bergantung dalam Perjalanan pada Dalil

Bab

Penulis berkata: Tingkatan ketiga adalah engkau tidak bergantung dalam perjalanan pada dalil, tidak mencampuri penerimaanmu dengan kompensasi, dan tidak berhenti dalam penyaksianmu pada bentuk. Ini adalah tiga perkara yang tercakup dalam tingkatan ini.

Adapun tidak bergantungnya dalam perjalanan pada dalil: ia telah menjelaskan maksudnya dalam akhir bab, ketika ia berkata: Dan dalam ilmu khusus: barangsiapa mencari cahaya hakikat dengan langkah istidlal (penalaran), tidak halal baginya mengklaim futuwwah selamanya.

Dan ini adalah tempat yang agung yang membutuhkan penjelasan dan penakwilan.

Yang dimaksud adalah: bahwa orang yang berjalan menuju Allah berjalan dengan kaki yakin, dan jalan bashirah (penglihatan batin) dan musyahadah (penyaksian). Maka berhentinya pada dalil adalah bukti bahwa ia tidak mencium aroma yakin. Dan yang dimaksud dengan ini adalah: bahwa makrifat menurut mereka bersifat daruri (pasti) bukan istidlali (berdasarkan penalaran). Dan inilah yang benar. Oleh karena itu para rasul tidak pernah menyeru umat-umat untuk mengakui Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala, mereka hanya menyeru mereka untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Mereka berbicara kepada mereka dengan pembicaraan kepada orang yang tidak memiliki keraguan sama sekali dalam mengakui Allah Ta’ala, dan ia tidak membutuhkan istidlal kepada-Nya. Oleh karena itu, “Rasul-rasul mereka berkata, ‘Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi?'” (Surat Ibrahim, ayat 10). Dan bagaimana mungkin istidlal kepada yang ditunjukkan yang lebih jelas dari dalilnya? Hingga sebagian mereka berkata: Bagaimana aku mencari dalil atas Dzat yang menjadi dalil atas segala sesuatu? Maka terikatnya orang yang berjalan dengan dalil dan berhentinya padanya adalah bukti ketiadaan yakinnya. Bahkan ia hanya terikat dengan dalil yang mengantarkannya kepada tujuan setelah mengenalnya. Karena ia membutuhkan – setelah mengenalnya – kepada dalil yang mengantarkannya kepada-Nya dan menunjukkan jalan untuk sampai kepada-Nya. Dan dalil ini adalah: Rasul shallallahu alaihi wasallam. Maka ia berhenti padanya dan terikat dengannya. Ia tidak melangkah satu langkah pun kecuali di belakangnya.

Juga para kaum menunjuk kepada kasyf (penyingkapan) dan musyahadah hakikat. Dan ini tidak mungkin diminta dengan dalil sama sekali. Dan tidak dikatakan: Apa dalil tentang terjadinya ini? Ini hanya terjadi dengan suluk (perjalanan spiritual) dalam tingkatanat-tingkatanat perjalanan, dan melewatinya tingkatan demi tingkatan, hingga sampai kepada tujuan. Maka sampainya kepadanya dengan perjalanan, bukan dengan istidlal, berbeda dengan sampainya orang yang beristidlal. Karena ia hanya sampai kepada ilmu, sedangkan tujuan kaum berada di luarnya. Dan ilmu adalah tingkatan dari tingkatanat-tingkatanat mereka – sebagaimana akan disebutkan jika Allah menghendaki. Oleh karena itu mereka menyebut orang-orang yang beristidlal: orang-orang qal (perkataan), dan orang-orang kasyf: orang-orang hal (keadaan). Dan kaum bekerja berdasarkan kasyf yang menghasilkan cahaya penglihatan mata hati, bukan berdasarkan ilmu yang diperoleh dengan istidlal dan burhan (bukti).

Dan ini adalah tempat kesalahan dan kekeliruan. Karena dalil dalam tingkatan ini adalah syarat, demikian juga ilmu. Ia adalah pintu yang harus dimasuki menuju tujuan, dan tidak dapat sampai kepada tujuan kecuali dari pintunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.” (Surat Al-Baqarah, ayat 189).

Kemudian sesungguhnya ia takut kepada orang yang tidak berpegang pada dalil, sesuatu yang merupakan perkara paling besar dan paling berbahaya. Yaitu terputus dari pencarian sama sekali, dan sampai kepada khayalan dan kemustahilan belaka. Maka barangsiapa yang keluar dari dalil, ia tersesat dari jalan yang lurus.

Jika dikatakan: Berpegang pada dalil dalam perjalanannya akan memecah tekad dan hatinya. Karena dalil itu memecah, sedangkan yang ditunjuki menyatukan. Maka orang yang berjalan menuju kesatuan dengan yang ditunjuki. Untuk apa ia sibuk dengan kepecahan dalil?

Dijawab: Inilah bencana yang karena alasan ini sebagian orang yang menempuh jalan berpaling dari ilmu dan melarangnya. Dan dijadikan sebagai penyakit dalam perjalanan, hal ini terjadi sejak zaman para syekh terdahulu yang mengenal Allah, maka mereka mengingkarinya dengan sangat keras. Dan mereka berlepas diri darinya dan dari orang yang mengatakannya. Dan mereka berwasiat dengan ilmu. Dan mereka mengabarkan bahwa jalan mereka terikat dengan ilmu. Tidak akan beruntung di dalamnya orang yang tidak terikat dengan ilmu. Dan Al-Junaid adalah termasuk orang yang paling keras dalam berwasiat dengan ilmu, dan mendorong para sahabatnya kepadanya.

Dan kepecahan dalam dalil lebih baik daripada kesatuan dengan ilusi dan khayalan. Karena tidak diketahui bahwa kesatuan itu benar kecuali dengan dalil dan ilmu. Maka dalil dan ilmu adalah kebutuhan mendesak bagi orang yang jujur. Tidak bisa tidak membutuhkannya.

Benar, keyakinannya dan cahaya bashirahnya dan penyingkapannya: mencukupinya dari banyak dalil yang dipaksakan oleh orang-orang yang memaksakan diri, dan orang-orang yang banyak bicara. Karena ia sibuk darinya dengan apa yang lebih penting darinya. Yaitu tujuan yang dicari.

Contohnya: Bahwa ahli kalam menghabiskan waktunya dalam membahas kebaruan alam, dan menetapkan wujud Sang Pencipta. Dan itu adalah perkara yang sudah selesai bagi orang yang menempuh jalan dengan jujur, yang memiliki keyakinan. Maka apa yang dicari oleh ahli kalam ini dengan istidlal – yang merupakan sasaran syubhat, pertanyaan-pertanyaan, dan keberatan-keberatan yang tidak ada akhirnya – adalah penyingkapan dan keyakinan bagi orang yang menempuh jalan, maka keterikannya dalam perjalanannya dengan keadaan ahli kalam ini adalah keterputusan, dan keluar dari futuwah (kesatriaan).

Dan ini adalah kebenaran yang tidak diperdebatkan oleh orang yang mengenal Allah, maka kamu melihat ahli kalam meneliti tentang waktu dan tempat, dan zat-zat dan keadaan-keadaan, dan alam semesta, dan cita-citanya terbatas padanya tidak melampaui itu agar sampai darinya kepada Sang Pencipta dan penghambaan kepada-Nya. Sedangkan orang yang menempuh jalan telah melampaui itu menuju terkumpulnya hati pada Sang Pencipta dan penghambaan kepada-Nya sesuai dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tidak menoleh kepada selain-Nya. Dan tidak sibuk hatinya dengan selain-Nya.

Maka ahli kalam terpecah dan sibuk dalam mengetahui hakikat waktu dan tempat. Dan orang yang mengenal Allah telah kikir dengan waktu agar tidak terbuang sia-sia dalam selain perjalanan menuju Tuhan waktu dan tempat. Dan pada intinya: Pemilik tingkatan ini tidak berpegang dalam perjalanannya pada dalil. Dan tidak mungkin ia berjalan kecuali mengikuti dalil, dan keduanya berkumpul dalam haknya. Maka ia tidak membutuhkan dalil tentang wujud yang dicari. Dan tidak bisa tidak membutuhkan dalil yang mengantarkannya kepada yang dicari walau sebentar. Maka perjalanan orang yang jujur adalah atas bashirah dan keyakinan dan penyingkapan, bukan atas pemikiran dan istidlal.

Adapun perkataannya: Dan jangan campurkan penerimaanmu dengan imbalan.

Artinya penerimaanmu terhadap panggilan kebenaran hendaknya murni, penerimaan karena cinta dan keinginan, dan pencarian Sang Mahacinta karena Zat-Nya, tidak tercampur dengan pencarian selain-Nya dari kesenangan-kesenangan dan imbalan-imbalan, karena sesungguhnya jika Dia didapatkan olehmu maka kamu mendapatkan setiap imbalan dan setiap kesenangan dengan-Nya dan setiap bagian. Sebagaimana dalam atsar Ilahi: “Wahai anak Adam, carilah Aku maka kamu akan menemukan-Ku, maka jika kamu menemukan-Ku, kamu menemukan segala sesuatu. Dan jika kamu kehilangan-Ku maka kamu kehilangan segala sesuatu. Dan Aku lebih dicintai bagimu daripada segala sesuatu”.

Maka barangsiapa yang berpaling dari pencarian apa yang selain Allah, dan tidak mencampurkan pencariannya kepada-Nya dengan imbalan, bahkan itu adalah cinta kepada-Nya, dan keinginan murni untuk wajah-Nya, maka dialah dalam hakikatnya yang mendapatkan imbalan-imbalan dan bagian-bagian dan kesenangan-kesenangan semuanya. Karena ia ketika tidak menjadikan itu sebagai tujuan pencariannya, maka semuanya berkumpul padanya dalam pencapaiannya. Dan ia terpuji, disyukuri, didekatkan. Seandainya itu yang dicari maka akan berkurang baginya sesuai dengan kesibukannya mencari dan menginginkannya dari pencarian Tuhan Yang Maha Tinggi karena Zat-Nya dan keinginan kepada-Nya.

Maka orang ini hatinya penuh dengannya dan yang didapat darinya: sangat sedikit. Dan orang yang mengenal Allah tidak terikat hatinya dengannya. Dan telah didapatkan baginya semuanya. Maka zuhud di dalamnya tidak menghilangkannya bagimu, bahkan itulah pencapaiannya. Dan zuhud dalam Allah itulah yang menghilangkan-Nya dan menghilangkan bagimu kesenangan-kesenangan. Dan jika kamu memiliki empat budak. Salah satunya: menginginkanmu dan tidak menginginkan darimu, bahkan keinginannya terbatas padamu dan pada keridhaanmu. Dan yang kedua: menginginkan darimu dan tidak menginginkanmu, bahkan keinginannya terbatas pada kesenangannya darimu. Dan yang ketiga: menginginkanmu dan menginginkan darimu. Dan yang keempat: tidak menginginkanmu dan tidak menginginkan darimu. Bahkan ia terikat hati dengan sebagian budakmu. Maka dialah yang ia inginkan. Dan darinya ia inginkan. Maka sesungguhnya budak yang paling diutamakan di sisimu, dan paling dicintai bagimu, dan paling dekat darimu kedudukannya, dan yang dikhususkan dari kemuliaan dan pemberianmu dengan apa yang tidak dinilai oleh tiga budak lainnya – adalah yang pertama. Demikianlah kita di sisi Allah sama.

Adapun perkataannya: Dan jangan berhenti dalam penyaksianmu pada bentuk.

Artinya: Hendaknya tidak ada darimu pandangan kepada yang selain-Nya ketika penyaksian, sebagaimana telah terdahulu berulang kali.

Dan ini menurut kaum bukan diperoleh dengan usaha. Karena penyaksian jika benar menghapus bentuk-bentuk dengan sendirinya dalam pandangan orang yang menyaksikan. Maka tidak perlu disyaratkan kepadanya tidak berhenti padanya. Dan penyaksian yang benar menghapusnya pada dasarnya. Tetapi awalnya mungkin tidak tidak membutuhkan usaha. Dan akhirnya tidak berhenti pada usaha.

Ia berkata: Dan ketahuilah bahwa barangsiapa yang membutuhkan musuhnya pada syafaat, dan tidak malu dari permintaan maaf kepadanya: tidak mencium aroma futuwah (kesatriaan).

Artinya bahwa musuh ketika mengetahui bahwa kamu menderita dari gangguan yang menimpamu darinya, ia membutuhkan untuk meminta maaf kepadamu, dan meminta syafaat kepadamu seorang pemberi syafaat yang menghilangkan apa yang ada di hatimu darinya. Maka futuwah seluruh futuwah: Hendaknya kamu tidak membuatnya membutuhkan syafaat, dengan tidak menampakkan kepadanya darimu celaan dan tidak berubah dari apa yang ada baginya darimu sebelum permusuhannya. Dan tidak melipat darinya kegembiraan dan kebaikanmu. Dan jika kamu tidak malu dari berdirinya di hadapanmu dalam posisi orang yang meminta maaf maka tidak ada bagimu bagian dalam futuwah.

Dan jangan menganggap besar akhlak ini. Karena bagi para satria ada yang lebih besar darinya. Dan jangan menganggapnya sulit. Karena itu ada pada banyak orang jahat dan para pemakan minuman keras yang tidak memiliki bagian dalam keadaan makrifat maupun dalam bahasanya, maka kamu wahai orang yang mengenal Allah lebih pantas dengannya.

Ia berkata: Dan dalam ilmu kekhususan: Barangsiapa yang mencari cahaya hakikat dengan langkah istidlal: tidak halal baginya mengaku futuwah selamanya.

Seakan-akan ia berkata: Jika kamu tidak membutuhkan musuhmu pada permintaan maaf dan syafaat. Dan tidak membebaninya pencarian istidlal atas kebenaran permintaan maafnya, maka bagaimana kamu membutuhkan walimu dan kekasihmu untuk mendirikan bagimu dalil tentang tauhid dan makrifat, dan tidak menunjuk kepada-Nya sampai ia mendirikan bagimu dalil atas wujud-Nya dan keesaan-Nya, dan kekuasaan dan kehendak-Nya? Maka dimana ini dari tingkatan futuwah?

Dan apakah ini kecuali bertentangan dengan futuwah dari setiap sisi?

Seandainya seseorang mengundangmu ke rumahnya. Lalu kamu berkata kepada utusan: Aku tidak akan datang bersamamu sampai kamu mendirikan bagiku dalil atas wujud orang yang mengirimmu, dan bahwa ia ditaati, dan bahwa ia pantas pintu rumahnya dikunjungi. Sungguh kamu dalam mengaku futuwah adalah orang hina. Maka bagaimana dengan orang yang wujud-Nya, dan keesaan-Nya, dan kekuasaan-Nya, dan ketuhanan-Nya, dan ketuhananan-Nya – lebih jelas dari setiap dalil yang kamu cari? Maka tidak ada dalil yang digunakan istidlal dengannya, kecuali keesaan Allah dan kesempurnaan-Nya lebih jelas darinya. Maka pengakuan fitrah terhadap Tuhan Yang Maha Suci pencipta alam: tidak dihentikan padanya yang menghentikan.

Dan tidak membutuhkan di dalamnya kepada pemikiran dan istidlal Adakah keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi (Surah Ibrahim: 10). Maka orang yang paling jauh dari tingkatan futuwah: Adalah pencari dalil atas itu.

Pasal Tingkatan Al-Muru’ah (Kedudukan Kepantasan)

Hakikat Al-Muru’ah

Dan dari tingkatan-tingkatan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan (Surah Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan al-muru’ah (kepantasan).

Al-muru’ah adalah fa’ulah dari lafadz al-mar’ (manusia), seperti al-futuwah dari al-fata (pemuda), dan al-insaniyyah dari al-insan (manusia). Oleh karena itu hakikatnya adalah: Tersifatinya jiwa dengan sifat-sifat manusia yang dengannya ia berbeda dari hewan yang bodoh, dan setan yang terkutuk. Karena sesungguhnya dalam jiwa ada tiga pendorong yang saling menarik: Pendorong yang mendorongnya kepada bertingkah laku dengan akhlak setan: Dari kesombongan, dan kedengkian, dan keangkuhan, dan kezaliman, dan kejahatan, dan gangguan, dan kerusakan, dan penipuan.

Dan pendorong yang mendorongnya kepada akhlak hewan. Dan itu adalah pendorong syahwat.

Dan pendorong yang mendorongnya kepada akhlak malaikat: Dari ihsan, dan nasihat, dan kebaikan, dan ilmu, dan ketaatan.

Maka hakikat al-muru’ah: Membenci kedua pendorong itu, dan menjawab pendorong ketiga. Dan sedikitnya al-muru’ah dan tidak adanya adalah melepas diri dengan kedua pendorong itu, dan menghadap kepada panggilan keduanya di mana saja berada.

Maka al-insaniyyah, dan al-muru’ah, dan al-futuwah: Semuanya dalam durhaka kepada kedua pendorong, dan menjawab pendorong ketiga. Sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf: Allah menciptakan malaikat sebagai akal tanpa syahwat. Dan menciptakan hewan sebagai syahwat tanpa akal. Dan menciptakan anak Adam, dan menanamkan padanya akal dan syahwat. Maka barangsiapa yang mengalahkan akalnya syahwatnya: Maka ia bergabung dengan malaikat. Dan barangsiapa yang mengalahkan syahwatnya akalnya: Maka ia bergabung dengan hewan.

Oleh karena itu dikatakan dalam batasan al-muru’ah: Bahwa itu adalah kemenangan akal atas syahwat.

Dan berkata para fuqaha dalam batasannya: Itu adalah menggunakan apa yang menghimpun hamba dan menghiasinya, dan meninggalkan apa yang mengotorinya dan membuatnya jelek.

Dan dikatakan: Al-muru’ah adalah menggunakan setiap akhlak baik. Dan menjauhi setiap akhlak buruk.

Dan hakikat al-muru’ah adalah menjauhi hal-hal hina dan tercela, dari perkataan-perkataan, dan akhlak-akhlak, dan perbuatan-perbuatan.

Maka muru’ah lisan: Manisnya dan baiknya dan lembutnya, dan memetik buah-buahan darinya dengan mudah dan gampang.

Dan muru’ah akhlak: Luasnya dan terhamparnya untuk yang dicintai dan yang dibenci. Dan muru’ah harta: Benarnya membelanjakannya pada tempat-tempat yang terpuji secara akal dan urf dan syariat.

Dan muru’ah kedudukan: Memberikannya kepada orang yang membutuhkannya.

Dan muru’ah ihsan: Mencepatkannya dan memudahkannya, dan menyempurnakannya, dan tidak melihatnya saat terjadinya, dan melupakannya setelah terjadinya. Maka inilah muru’ah memberi.

Adapun muru’ah meninggalkan: Maka meninggalkan pertengkaran, dan celaan, dan penagihan dan perdebatan, dan menutup mata dari aib apa yang kamu ambil dari hakmu. Dan meninggalkan sikap menyelidiki dalam memintanya. Dan pura-pura tidak tahu dari kesalahan manusia, dan membuat mereka merasa bahwa kamu tidak mengetahui kesalahan seorang pun dari mereka, dan menghormati orang tua, dan menjaga kehormatan orang yang setara, dan memelihara adab orang yang lebih muda, dan itu ada pada tiga tingkatan.

Tingkatan pertama: Muru’ah seseorang dengan dirinya sendiri, dan itu adalah memaksanya dengan paksa pada apa yang menghimpun dan menghiasi. Dan meninggalkan apa yang mengotori dan membuat jelek, agar menjadi sifat tetap baginya di terang-terangan. Maka barangsiapa yang menginginkan sesuatu dalam rahasianya dan kesendirannya: Akan menguasainya di terang-terangan dan terbukanya. Maka ia tidak membuka auratnya dalam kesendirian, dan tidak bersendawa dengan suara menganggu jika ia menemukan jalan selainnya. Dan tidak mengeluarkan kentut dengan suara sedang ia mampu pada selainnya, dan tidak rakus dan tergesa-gesa saat makan sendirian.

Dan pada intinya: Maka tidak melakukan sendirian apa yang ia malu melakukannya di khalayak, kecuali apa yang tidak dilarang oleh syariat dan akal. Dan tidak terjadi kecuali dalam kesendirian, seperti bersetubuh dan buang air dan sejenisnya.

Tingkatan kedua: Al-muru’ah dengan makhluk, dengan menggunakan bersama mereka syarat-syarat adab dan malu, dan akhlak mulia, dan tidak menampakkan kepada mereka apa yang ia benci dari orang lain untuk dirinya. Dan hendaknya ia menjadikan manusia sebagai cermin untuk dirinya. Maka setiap apa yang ia benci dan lari darinya, dari perkataan atau perbuatan atau akhlak, maka hendaknya ia menjauhinya. Dan apa yang ia cintai dari itu dan ia anggap baik maka hendaknya ia melakukannya.

Dan pemilik bashirah ini mengambil manfaat dari setiap orang yang ia bergaul dan bersahabat dengannya dari orang sempurna dan orang kurang, dan orang buruk akhlaknya dan orang baik akhlaknya. Dan orang yang tidak memiliki muru’ah dan orang yang banyak muru’ahnya.

Banyak orang mempelajari muru’ah (kemuliaan akhlak) dan akhlak mulia dari orang-orang yang justru memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian ulama besar bahwa ia memiliki seorang budak yang buruk akhlaknya, kasar dan keras, yang tidak cocok dengannya. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab: Aku mempelajari akhlak mulia darinya.

Hal ini terjadi dengan mengenali akhlak mulia melalui kebalikan dari akhlaknya. Dan juga terjadi dengan melatih jiwa untuk menemaninya, bergaul dengannya, dan bersabar menghadapinya.

Tingkatan ketiga: Muru’ah dengan Allah Yang Maha Suci, yaitu dengan merasa malu dari pandangan-Nya kepadamu, dan pengawasan-Nya terhadapmu di setiap saat dan nafas, serta memperbaiki cacat-cacat dirimu semampu mungkin. Sesungguhnya Dia telah membeli dirimu. Dan engkau sedang berusaha menyerahkan barang yang dijual dan menuntut harganya. Tidaklah termasuk muru’ah menyerahkan barang yang cacat dan menuntut harga penuh. Atau melihat keutamaan diri dalam perbaikan ini, dan bahwa engkaulah yang mengurusnya, bukan Dia. Maka rasa malu kepada-Nya akan menjauhkanmu dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Kesibukan memperbaiki cacat dirimu akan mengalihkanmu dari memperhatikan cacat orang lain, dan menyaksikan hakikat akan mengalihkanmu dari melihat perbuatanmu dan kebaikanmu sendiri.

Semua yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang akhlak dan futuwwah (kesatria), semuanya berlaku juga dalam masalah ini. Karena itulah kami cukupkan pembahasan ini sampai di sini. Dan pengarang kitab “Manazil” rahimahullah merasa cukup dengan apa yang telah disebutkan dalam pembahasan futuwwah. Wallahu a’lam.

Bab: Tingkatan Inbisat (Kelapangan)

Hakikat Inbisat

Bab: Tingkatan Inbisat

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan inbisat (kelapangan jiwa) dan melepaskan diri dari qabdh (penyempitan).

Ini adalah tingkatan yang mulia dan halus. Ia merupakan tanda keadaan spiritual dan pendorong untuk dicintai makhluk.

Pengarang kitab “Manazil” telah keliru ketika mengawali pembahasannya dengan firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang kekasih-Nya Musa alaihissalam: “Itu tidak lain adalah ujian-Mu, Engkau menyesatkan dengan ujian itu siapa yang Engkau kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki” (Surat Al-A’raf: 155). Seolah-olah ia memahami dari khitab ini bahwa ada kelapangan antara Musa dan Allah Ta’ala yang membawanya berkata: “Itu tidak lain adalah ujian-Mu” (Surat Al-A’raf: 155).

Aku mendengar salah seorang sufi berkata kepada yang lain—saat mereka sedang thawaf—ketika ia mengucapkan: “Itu tidak lain adalah ujian-Mu” (Surat Al-A’raf: 155), ia memperbaiki kelapangan ini dengan tadzallul (kerendahan diri) dengan ucapannya: “Engkau Pelindung kami, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami, dan Engkau Sebaik-baik Pemberi ampun” (Surat Al-A’raf: 155), atau perkataan semacam ini.

Semua ini adalah kekeliruan dan pemahaman yang bertentangan dengan maksud yang sebenarnya. Fitnah di sini artinya adalah ujian dan cobaan, seperti firman-Nya: “Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain agar mereka berkata: ‘Inikah orang-orang yang diberi karunia Allah di antara kita?'” (Surat Al-An’am: 53), dan firman-Nya: “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (Surat Al-Anbiya’: 35). Maknanya: Sesungguhnya ujian ini adalah pengujian dari-Mu kepada hamba-Mu, dan ujian. Engkau menyesatkan dengan ujian itu siapa yang Engkau kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Jadi apa hubungannya ini dengan kelapangan? Bukankah ini justru tauhid, menyaksikan hikmah, dan memohon perlindungan serta ampunan? Orang yang mengenal Allah tidak memiliki bagian dalam tingkatan ini dengan Allah. Tingkatan ini hanya berkaitan dengan makhluk.

Pengarang kitab “Manazil” menjadikannya tiga tingkatan: yang pertama dengan manusia, yang kedua dan ketiga dengan Allah. Kami akan menjelaskan apa yang ada dalam perkataannya dengan pertolongan, kekuatan, dan taufiq Allah.

Ia berkata: Inbisat adalah melepaskan tabiat alami dan menghindari keterasingan akibat keengganan.

Sajiyyah adalah tabiat, jamaknya sajaya. Dikatakan: sajiyyah, khaliqah, thabi’ah, dan gharizah. Melepaskannya artinya membiarkannya mengalir sesuai jalannya.

Menghindari keterasingan akibat keengganan. Tahashi adalah menghindari keterasingan yang terjadi antara engkau dan orang yang engkau cintai dan engkau layani. Karena kedudukannya menuntut untuk segan kepadanya, malu darinya, dan mengagungkannya dari kelapaganmu kepadanya. Itu adalah semacam keterasingan. Maka inbisat adalah menghilangkan keterasingan itu tanpa membuatmu jatuh dari pandangannya, bahkan justru menambah cintanya kepadamu, terutama jika terjadi pada tempatnya.

Ia berkata: Yaitu berjalan dengan jibillah (fitrah), yakni berjalan dengan apa yang Allah ciptakan pada hamba berupa akhlak tanpa dibuat-buat.

Tingkatan-Tingkatan Inbisat

Tingkatan Pertama: Kelapangan dengan Makhluk

Ia berkata: Ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kelapangan dengan makhluk. Yaitu engkau tidak mengasingkan diri dari mereka karena bakhil pada dirimu atau kikir dengan bagianmu. Engkau melepaskan diri kepada mereka dengan keutamaanmu, melapangkan mereka dengan akhlakmu, dan membiarkan mereka menginjakmu, sementara ilmu tetap tegak dan menyaksikan makna selalu berlangsung.

Maksudnya: Jangan pelit terhadap mereka dengan dirimu sehingga kebakhilan itu membawamu mengasingkan diri dari mereka. Dan jangan kikir dengan bagianmu dalam kesendirian dan kenyamanan pengasingan diri sehingga hilang karena bergaul dengan mereka. Sebaliknya, kemurahan hati, kedermawanan, dan pemberian membawamu untuk meninggalkan hal itu demi kenyamanan saudara-saudaramu denganmu dan manfaat mereka dari pergaulanmu. Maka engkau bermurah hati kepada mereka dengan bagianmu dalam pengasingan dan kesendirianmu, dan mengutamakan mereka di atas dirimu.

Ini termasuk futuwwah, muru’ah, dan berakhlak dengan lawan dari lawannya.

Ucapannya: Engkau melepaskan diri kepada mereka dengan keutamaanmu.

Artinya: Jika engkau melepaskan diri kepada mereka dan tidak menarik kendalimu dari mereka, mereka akan mendapatkan keutamaanmu. Maka pelepasan kendali menjadi sebab mereka mendapat keutamaanmu, dan menarik kendali menjadi sebab kehilangan. Melapangkan mereka dengan akhlakmu dengan menanggung apa yang muncul dari mereka berupa buruknya pergaulan. Maka ambillah dari mereka apa yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengambil dari akhlak manusia, yaitu pemaafan.

Membiarkan mereka menginjakmu, yakni menginjak-injakmu karena kelemahlembutan dan kerendahan hatimu, serta rendahnya sayapmu, sehingga engkau tidak menyisakan kedudukan untuk dirimu di antara mereka yang menuntut mereka menghormatimu karenanya. Ini makna ucapannya.

Ucapannya: Sementara ilmu tetap tegak dan menyaksikan makna selalu berlangsung.

Adapun tegaknya ilmu, yaitu pelepasan diri ini sesuai dengan syariat, tidak keluar dari batasan-batasan dan adab-adabnya, sehingga engkau tidak membawa mereka melanggar batasan-batasan Allah dan menyia-nyiakan hak-Nya dan hak-hak hamba-hamba-Nya.

Adapun terus-menerusnya menyaksikan makna, yaitu menjaga keadaan dan hatimu dengan Allah, dan terus-menerusnya perhatianmu kepada-Nya dengan seluruh hatimu. Maka engkau bersama mereka melepaskan diri hanya dengan jasad, penampilan, dan wujud lahirmu saja, sementara engkau berpisah dari mereka dengan hati dan rahasiamu, menyaksikan makna yang dengannya hidupmu. Jika engkau berpisah darinya, engkau seperti ikan yang berpisah dari air. Sesungguhnya makna ini adalah kehidupan hati dan ruh. Jika hamba kehilangan hal ini, ia akan dilanda kesedihan, diliputi kegundahan, kesusahan, dan kerisauan, berubah-ubah dalam perbuatan dan perkataannya, hatinya tersesat di lembah-lembah dan jalan-jalan, dan kehilangan kenikmatan dunia dan akhirat. Inilah yang dimaksud oleh Yahya Ash-Sharshari dalam syairnya:

Jika hati hamba menjadi tempat rahasia Terpancar di sisi-sisinya cahaya sinar Dan jika makna hilang darinya, kesedihan meliputi Maka ia berubah-ubah dalam perbuatannya

Ketika menyaksikan makna ini tetap tegak di hatimu, tidak membahayakanmu bergaul dengan orang yang pergaulan dan kelapangan dengannya tidak mengambilnya darimu.

Bab: Tingkatan Kedua—Kelapangan dengan Allah

Bab

Ia berkata: Tingkatan kedua: kelapangan dengan Allah. Yaitu tidak menahanmu rasa takut, tidak menghalangimu rasa harap, dan tidak menghalangi antara engkau dan-Nya Adam maupun Hawa.

Maksudnya: Rasa takut tidak menghalangimu dari kelapangan kepada-Nya. Karena tingkatan takut tidak sejalan dengan tingkatan kelapangan. Takut adalah bagian dari ketentuan nama Al-Qabidh (Yang Menyempitkan), dan kelapangan adalah bagian dari ketentuan nama Al-Basith (Yang Melapangkan).

Basth menurut mereka adalah dari menyaksikan sifat-sifat keindahan, ihsan, kasih sayang, dan rahmat.

Sedangkan qabdh adalah dari menyaksikan sifat-sifat keagungan, kebesaran, keperkasaan, keadilan, dan pembalasan.

Sebagian dari mereka menjadikan takut sebagai tingkatan orang awam, dan kelapangan sebagai tingkatan orang khusus, karena kelapangan hanya terjadi bagi orang-orang arif pemilik tajalli. Dan tidak ada rasa takut dalam hak orang-orang ini.

Adapun ucapannya: Dan tidak menghalangimu rasa harap, karena orang yang mengharap untuk memenuhi kebutuhannya perlu merayu dan merendahkan diri. Maka harapan dan tamaknya terhadap apa yang akan diperolehnya dari yang diagungkan menghalanginya dari kelapangannya, seperti pengemis kepada orang kaya. Permintaannya dan tamaknya menghalanginya dari kelapangan kepadanya. Jika ia tidak memikirkan itu, ia akan lapang.

Ucapannya: Dan tidak menghalangi antara engkau dan-Nya Adam maupun Hawa—ini adalah kiasan.

Maknanya: Engkau melihat-Nya lebih dekat kepadamu daripada ayah dan ibumu, lebih penyayang kepadamu daripada mereka berdua, dan lebih peduli kepadamu. Maka tidak ada perantara antara engkau dan-Nya berupa ayah yang engkau keluar dari tulang sulbinya, atau ibu yang engkau berada dalam rahimnya.

Di dalamnya ada makna lain, yaitu isyarat bahwa engkau menyaksikan penciptaan-Nya terhadapmu tanpa perantara, sebagaimana Dia menciptakan Adam dan Hawa. Maka engkau menyaksikan penciptaan-Nya terhadapmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya kepadamu, menyuruh malaikat-Nya sujud kepadamu, dan mengusir iblis karena tidak mau sujud kepadamu, sementara engkau masih dalam tulang sulbi ayahmu Adam.

Ini mengharuskanmu menyaksikan pelipatan dari kelapangan. Yaitu luasnya semangat karena terlipat kelapangan hamba dalam lapangan Allah Jalla Jalaluhu.

Makna ini adalah bahwa hamba tidak melihat bagi dirinya kelapangan maupun penyempitan, tetapi kelapangannya terlipat dan lenyap dalam sifat basth yang dimiliki Allah Jalla Jalaluhu. Ini adalah menyaksikan makna nama Al-Basith Azza wa Jalla.

Ini adalah perkiraan ucapannya, meskipun di dalamnya ada yang dapat diterima dan ditolak. Tidak ada makna untuk mengaitkan sifat ini dengan Rabb Ta’ala sama sekali. Adapun mengaitkannya dengan makhluk, itu benar.

Benar, di sini ada tingkatan yang samar dan perbedaan. Yaitu bahwa pecinta yang benar pasti kadang-kadang menyertainya kegembiraan dengan kekasihnya, dan kegembiraan itu sangat kuat. Ia melihat tempat kelembutan-Nya kepadanya, kebaikan-Nya kepadanya, ihsan-Nya kepadanya, sebaik-baik pembelaan-Nya untuknya, dan kelemah-lembutan-Nya dalam menyampaikan manfaat dan kesenangan kepadanya dengan segala cara, serta menolak bahaya dan kesusahan darinya dengan segala cara. Setiap kali ia menyelidiki hal itu, ia menemukan hal-hal yang mengagumkan yang tidak terbatas. Bahkan yang tersembunyi darinya lebih besar lagi. Maka dari menyaksikan keadaan ini masuk ke dalam dirinya semacam kemanjaan dan kelapangan, serta menyaksikan dirinya dalam kedudukan yang diinginkan dan dicintai. Dan tidak selamat dari bahaya-bahaya itu kecuali orang-orang arif yang khusus.

Pemilik tingkatan ini pada akhirnya adalah orang yang dimaafkan, dan apa yang muncul darinya dari ketentuan-ketentuannya dengan syatahat (ungkapan-ungkapan kontroversial) lebih sesuai daripadanya dengan ketentuan penghambaan.

Tidak ada seorang pun dari manusia dalam kedudukan kedekatan, kemuliaan, keutamaan, dan kedudukan seperti yang dimiliki Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Dan beliau adalah makhluk yang paling takut, mengagungkan, dan mengagungi Allah. Seluruh keadaannya dengan Allah menjadi saksi kesempurnaan penghambaan. Dan di mana tingkat kelapangan makhluk dari tanah dengan kelapangan kepada Rabb-nya Segala Rabb?

Benar, tidak dapat diingkari kegembiraan hati dengan Rabb Ta’ala, kesenangannya dengan-Nya, kegembiraannya, kesejukan matanya, dan kenikmatan dengan cinta-Nya, serta kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, kecuali orang yang tebal hijabnya dan keras wataknya. Maka tidak dengan pencairan ini, dan tidak pula dengan pembekuan dan kekerasan itu.

Dengan ini dan semisalnya, orang-orang belakangan dari kaum sufi membuka jalan kepada mereka dan membuka pintu untuk dikritik. Hamba yang takut, cemas, khawatir, hina di hadapan Allah Azza wa Jalla, yang menundukkan kepala di hadapan-Nya, yang tidak menerima dari Rabb-nya sesuatu pun dari amalnya, adalah orang yang paling membutuhkan maaf dan rahmat-Nya. Ia tidak melihat dirinya dalam nikmat-Nya kecuali sebagai tumpangan. Ia tidak pernah melihat dirinya berbuat baik. Dan jika keluar darinya kebaikan, ia tahu bahwa itu bukan dari dirinya, bukan olehnya, dan bukan di dalamnya. Itu hanyalah murni karunia Allah kepadanya dan sedekah-Nya kepadanya. Jadi apa urusan orang ini dengan kelapangan?

Benar, kelapangannya adalah kelapangan kegembiraan, kesenangan, ridha, dan kegirangan. Jika yang dimaksud dengan kelapangan adalah ini, maka kami tidak mengingkarinya. Tetapi itu berbeda dengan pelepasan diri yang disebutkan, dan penggunaan ayat sebagai dalil menunjukkan maksudnya. Wallahu a’lam.

[Bab Kedudukan Keteguhan Hati]

[Jenis-Jenis Keteguhan Hati]

Di antara kedudukan-kedudukan dalam “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan keteguhan hati (al-‘azm).

Telah kami sebutkan di awal kitab bahwa keteguhan hati ada dua jenis.

Pertama: keteguhan hati orang yang berkeinginan (murid) untuk memasuki jalan ini. Ini adalah permulaan.

Kedua: keteguhan hati orang yang menempuh jalan (salik). Ini adalah tingkatan yang disebutkan oleh pengarang kitab “Al-Manazil” di tengah kitabnya dalam bagian pokok-pokok. Ia berkata:

Keteguhan hati adalah merealisasikan tujuan dengan sukarela atau terpaksa.

Adapun perkataannya “merealisasikan tujuan”, maksudnya adalah tujuannya benar-benar terealisasi, tidak bercampur dengan keragu-raguan sedikitpun.

Adapun pembagiannya terhadap realisasi ini menjadi sukarela dan terpaksa, maka itu benar. Orang yang memilih merealisasikan tujuannya dengan sukarela. Sedangkan orang yang dipaksa merealisasikan tujuannya dengan terpaksa. Karena ketika seseorang dipaksa untuk melakukan sesuatu, lalu ia bertekad melakukannya, maka ia telah merealisasikan tujuannya dengan terpaksa, bukan secara sukarela.

Para ahli fikih dan ahli ushul berselisih pendapat tentang orang yang dipaksa: apakah ia dinamakan memilih atau tidak?

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Yang benar adalah bahwa ia dipikul untuk memilih. Ia memiliki pilihan dalam perbuatan tersebut, dan dengan itu perbuatan tersebut sah terjadi. Karena jika bukan karena kehendak dan pilihannya, perbuatan itu tidak akan terjadi. Namun ia dipikul dalam arti bahwa kehendak dan pilihan ini bukan berasal darinya sendiri. Jadi ia memilih dari sisi bahwa hakikat kehendak dan pilihan berasal darinya. Dan ia tidak memilih dari sisi bahwa orang lain memaksanya untuk memilih, dan ia tidak memilih dari dirinya sendiri. Ini adalah inti perkataannya.

[Tingkatan-Tingkatan Keteguhan Hati]

[Tingkatan Pertama: Penolakan Keadaan terhadap Ilmu]

Ia berkata: Keteguhan hati memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: penolakan keadaan terhadap ilmu, karena melihat kilatan cahaya penyingkapan, melanggengkan cahaya keakraban, dan merespons untuk mematikan hawa nafsu.

Yang dimaksud dengan “penolakan keadaan terhadap ilmu” adalah kesulitan keadaan terhadap ilmu, dan bahwa pemilik keadaan itu menolak turun dari keadaannya ke tingkatan ilmu, dan hal itu sangat sulit baginya. Ini adalah penurunan dalam tingkatannya.

Ia tidak bermaksud bahwa keadaan menolak taat kepada ilmu dan menerapkannya. Karena ini adalah kerusakan dan terlepas dari jalan sama sekali. Setiap keadaan yang tidak taat kepada ilmu dan tidak menerapkannya adalah keadaan yang rusak dan menjauhkan dari Allah. Namun barangsiapa mencapai keadaan ilmu, maka keadaannya menghalanginya untuk turun ke tingkatan ilmu dan turun kepadanya tanpa keadaan.

Jika yang dimaksudkan adalah makna ini, maka itu benar. Namun jika yang dimaksud adalah: penolakan keadaan untuk taat kepada ilmu, karena ilmu mengajak pada hukum-hukum ketidakhadiran dan hijab, sedangkan keadaan mengajak pada keakraban penyingkapan dan hadir, maka pemilik keadaan tidak memperhatikan ilmu – maka ini adalah batil. Karena ilmu adalah syarat dalam keadaan yang mustahil mengetahui kebenaran keadaan tanpanya.

Ya, tidak diingkari bahwa keadaan dapat terjadi tanpa ilmu. Namun pemiliknya tidak memiliki pengetahuan yang pasti dan tidak yakin dengannya.

Melihat kilatan cahaya penyingkapan adalah memandangnya dari jauh. Karena pemilik keadaan beramal berdasarkan melihat kilatan cahaya penyingkapan. Karena melihat kilatan cahaya penyingkapan menghasilkan cahaya yang dengannya hati merasa akrab. Maka keteguhan hati pemiliknya adalah untuk melanggengkan dan menjaganya.

Adapun merespons untuk mematikan hawa nafsu, maksudnya adalah bahwa ketika orang yang menempuh jalan mendekati penyingkapan, ia merasakan keadaan yang mirip dengan kematian, sampai-sampai di antara mereka ada yang jatuh ke tanah dan mengira itu adalah kematian. Keadaan ini adalah permulaan fanaa (kemusnahan diri). Maka nafsunya ingin kembali ke hijab, karena takut akan ketiadaan, sebagaimana jiwa manusia secara tabiat dibuat membenci kematian. Maka ketika keteguhan hati terjadi, hawa nafsu ini dimatikan dan tidak diperhatikan, karena keinginan terhadap apa yang dituju yaitu fanaa dalam keesaan. Karena hakikat tidak dimulai kecuali setelah musnahnya sifat kemanusiaan.

Apa yang dikatakannya ini benar. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak merasakannya. Namun pembicaraan adalah tentang tingkatannya, apakah itu tujuan akhir atau pertengahan atau keharusan atau keadaan sementara? Guru kami rahimahullah berpendapat bahwa itu adalah keadaan sementara dari keadaan-keadaan jalan yang tidak terjadi pada semua orang. Di antara orang yang menempuh jalan ada yang sama sekali tidak mengalaminya.

Di antara orang ada yang menganggapnya keharusan dalam jalan yang tidak bisa dihindari.

Di antara orang ada yang menganggapnya tujuan akhir yang tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Dan di antara mereka ada yang menganggapnya pertengahan, dan di atasnya ada yang lebih agung dan lebih tinggi. Yaitu keadaan baqa (kekal). Wallahu a’lam.

[Bab Tingkatan Kedua: Tenggelam dalam Kilasan Penyaksian]

Bab

Ia berkata: Tingkatan kedua adalah tenggelam dalam kilasan penyaksian, bercahayanya sinar jalan, dan berkumpulnya kekuatan istiqamah.

Ini adalah tiga hal.

Pertama: hilangnya perasaan terhadap selain-Nya karena tenggelam dalam menyaksikan-Nya.

Kedua: bercahayanya sinar jalan. Maksudnya adalah jalan yang benar menjadi jelas dan terang baginya. Dan tersambungnya dengan tujuannya. Ini seperti orang yang berjalan menuju suatu kota. Ketika ia mendekatinya dan melihatnya, maka saat itu ia melihat jalan yang jelas menuju kota tersebut, sinar jalan tersebut bercahaya baginya dan tersambung dengan kota, padahal sebelum melihat kota ia hanya berdasarkan ilmu atau dugaan yang dengannya mungkin ia tersesat dari pintu kota. Adapun sekarang, ia telah aman dari tersesat dari pintu. Demikian pula orang yang menempuh jalan ini: penghalang-penghalang telah terputus darinya, jalan telah jelas baginya, dan ia yakin akan sampai. Keadaannya menjadi seperti keadaan orang yang menyaksikan pintu kota sejak pandangannya jatuh padanya. Dan seperti keadaan orang yang menyaksikan cahaya merah menjelang terbit matahari, ketika ia yakin bahwa matahari akan terbit setelahnya.

Perkataannya: dan berkumpulnya kekuatan istiqamah. Maksudnya: berkumpul baginya kekuatan lahir dan batin untuk menuju sampai pada tujuan dan bertekad padanya, karena ia menyaksikan apa yang ia tuju. Demikianlah kebiasaan musafir: ketika ia melihat kampung yang ingin ia masuki, ia mempercepat jalannya dan bersungguh-sungguh. Demikian pula orang yang berlomba, ketika ia melihat garis akhir, ia mengerahkan seluruh kekuatan lari dan dorongannya. Demikian pula orang yang benar di akhir amalnya lebih kuat tekad dan tujuannya daripada awalnya, karena dekatnya dengan tujuan yang ia tuju. Wallahu a’lam.

[Tingkatan Ketiga: Mengetahui Keteguhan Hati untuk Melepaskan Diri dari Keteguhan Hati]

Ia berkata: Tingkatan ketiga: mengetahui keteguhan hati untuk melepaskan diri dari keteguhan hati. Kemudian melepaskan diri dari beban meninggalkan keteguhan hati. Karena keteguhan hati tidak mewariskan kepada pemiliknya warisan yang lebih mulia daripada mereka berdiri di atas illat (cacat) keteguhan hati.

Mengetahui illat keteguhan hati adalah menisbatkannya kepada diri sendiri. Ketika ia tahu bahwa keteguhan hati semata-mata adalah karunia Allah, pilihan-Nya dan taufik-Nya, dan bahwa itu bukan dari hamba, maka menisbatkannya setelah itu kepada diri sendiri adalah illat yang merusak keteguhan hati. Ketika kilatan penyingkapan muncul baginya dan ia menyaksikan tauhid karunia, maka saat itu ia tahu illat keteguhan hatinya, yaitu menisbatkannya kepada diri sendiri dan melihatnya. Ketika ia tahu illat ini, ia bertekad untuk melepaskan diri darinya dengan bertekad untuk melepaskan diri dari keteguhan hati.

Ini mungkin terlintas di benak adanya kontradiksi dan pertentangan. Bagaimana ia melepaskan diri dari keteguhan hati dengan keteguhan hati?

Maksudnya: bahwa ia bertekad untuk melepaskan diri dari keteguhan hati yang dinisbatkan kepadanya dengan keteguhan hati yang merupakan murni karunia dan pemberian Allah. Maka tidak ada kontradiksi saat itu. Ia melepaskan diri dari keteguhan hati dengan keteguhan hati, sebagaimana takdir dilawan dengan takdir.

Adapun melepaskan diri dari beban meninggalkan keteguhan hati, maksudnya adalah ketika ia melepaskan diri dari keteguhan hati ini dan meninggalkannya, masih tersisa sesuatu padanya, yaitu melihat bahwa ia telah meninggalkan. Maka ia harus melepaskan diri dari melihat peninggalan ini. Jadi ia sekarang mencari pelepasan dari melihat peninggalan keteguhan hati, sebagaimana ia dahulu mencari peninggalan keteguhan hati.

Perkataannya: karena keteguhan hati tidak mewariskan kepada pemiliknya warisan yang lebih mulia daripada mereka berdiri di atas illat keteguhan hati.

Pokok illat keteguhan hati ada tiga hal.

Pertama: kelemahannya dan kekurangannya.

Kedua: tidak bersihnya dari tujuan-tujuan dan campuran keinginan.

Ketiga: melihat keteguhan hati dan menyaksikannya, dan menisbatkannya kepada diri mereka sendiri.

Jika ia mengetahui ketiga hal ini, ia mengetahui illat keteguhan hati.

Wallahul musta’an. Wa huwa subhanahu wa ta’ala a’lam.

[Bab Kedudukan Keinginan (Al-Iradah)]

[Hakikat Keinginan]

Di antara kedudukan-kedudukan dalam “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan keinginan (al-iradah).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari, mereka menginginkan wajah-Nya” (Surah Al-An’am: 52). Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada seseorang pun yang mempunyai nikmat pada sisi-Nya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberi) karena mencari wajah Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan mendapat kepuasan” (Surah Al-Lail: 19-21). Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar” (Surah Al-Ahzab: 29).

Telah menjadi masalah bagi para ahli kalam tentang keterikatan keinginan kepada Allah, dan bagaimana wajah-Nya Ta’ala menjadi yang diinginkan.

Mereka berkata: Keinginan tidak terkait kecuali dengan yang baru (hadits). Adapun dengan yang qadim (azali), maka tidak. Karena yang qadim tidak dapat diinginkan.

Mereka menta’wilkan keinginan yang terkait dengan-Nya dengan keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian menurut mereka tidak dapat dibayangkan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka mereka menta’wilkan itu dengan keinginan untuk taat kepada-Nya yang mengharuskan balasan-Nya.

Inilah hasil dari apa yang ada pada mereka. Hijab mereka dalam bab ini sangat tebal dan padat, termasuk hijab yang paling tebal dan paling padat. Oleh karena itu engkau dapati mereka adalah ahli kekerasan hati, dan tidak engkau dapati pada mereka ruh menempuh jalan, dan tidak pula keceriaan kecintaan.

Pencarian dan keinginan menurut ahli suluk adalah melepaskan diri dari keinginan. Maka keinginan tidak sah menurut mereka kecuali bagi orang yang tidak memiliki keinginan. Janganlah engkau mengira bahwa ini kontradiksi. Bahkan ini adalah hakikat kebenaran. Dan kesepakatan ucapan para ahli suluk atasnya.

Ungkapan kaum tentangnya beragam. Kebanyakan mereka mengungkapkannya bahwa keinginan adalah meninggalkan kebiasaan.

Makna ini adalah: bahwa kebiasaan manusia umumnya adalah singgah di tempat-tempat kelalaian, memenuhi seruan syahwat, dan condong kepada tanah tabiat. Sedangkan orang yang memiliki keinginan telah melepaskan diri dari itu. Maka keluarnya dari itu menjadi tanda dan dalil atas sahnya keinginan. Maka pelepasan diri dan peninggalannya dinamakan keinginan.

Dikatakan: bangkitnya hati dalam mencari kebenaran. Dan dikatakan: luka yang meringankan setiap ketakutan.

Ad-Daqqaq berkata: Keinginan adalah luka di dalam hati, luka di dalam hati, cinta di dalam batin, gejolak di dalam batin, api yang berkobar di dalam hati.

Dikatakan: di antara sifat orang yang berkeinginan adalah: mencintai diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah, ikhlas dalam menasihati umat, merasa akrab dengan khalwat (menyendiri), sabar atas cobaan hukum-hukum, mengutamakan perintah-Nya, malu dari pandangan-Nya, mengerahkan usaha dalam apa yang dicintai-Nya, menghadapkan diri kepada setiap sebab yang menghubungkan kepada-Nya, qana’ah dengan kerendahan, dan tidak tenangnya hati sampai ia sampai kepada Walinya dan Yang Ia sembah.

Hatim Al-Asham berkata: Jika engkau melihat orang yang berkeinginan menginginkan selain yang diinginkan-Nya, ketahuilah bahwa ia telah menampakkan kenistaan dirinya.

Dikatakan: di antara hukum orang yang berkeinginan adalah tidurnya karena kalah, makannya karena membutuhkan, dan bicaranya karena darurat.

Sebagian mereka berkata: Puncak keinginan adalah engkau mengisyaratkan kepada Allah, lalu engkau menemukan-Nya bersama isyarat. Lalu dikatakan kepadanya: Dan di mana isyarat dapat meliputi-Nya? Ia berkata: Bahwa engkau menemukan Allah tanpa isyarat. Dan ini adalah ucapan yang kokoh.

Karena tingkatan ada tiga:

Yang paling tinggi: bahwa ia menemukan Allah di setiap waktu, tidak tergantung penemuannya kepada-Nya pada isyarat darinya atau dari orang lain.

Kedua: bahwa ia memiliki kemampuan, keadaan dan keinginan yang sempurna, sehingga kapan saja ada yang mengisyaratkan kepadanya kepada Allah, ia menemukan-Nya saat ada yang mengisyaratkan.

Ketiga: bahwa ia tidak demikian, dan ia memaksakan menemukan-Nya saat ada isyarat kepada-Nya.

Maka tingkatan pertama adalah untuk orang-orang yang didekatkan dan orang-orang yang terdahulu. Dan yang tengah untuk orang-orang yang berbakti dan orang-orang yang pertengahan. Dan yang ketiga untuk orang-orang yang lalai.

Abu Utsman Al-Hiri berkata: Barangsiapa tidak sah keinginannya dari awal, maka berlalunya hari-hari atasnya tidak menambahkan baginya kecuali kemunduran.

Ia berkata: Orang yang berkeinginan jika mendengar sesuatu dari ilmu kaum lalu beramal dengannya, itu menjadi hikmah di dalam hatinya sampai akhir umurnya dan ia mengambil manfaat darinya. Dan jika ia berbicara, orang yang mendengarnya mengambil manfaat. Dan barangsiapa mendengar sesuatu dari ilmu mereka namun tidak beramal dengannya, itu menjadi hikayat yang ia hafal beberapa hari lalu ia melupakannya.

Al-Wasithi berkata: Awal tingkatan orang yang berkeinginan adalah menginginkan kebenaran dengan menjatuhkan keinginannya.

Yahya bin Mu’adz berkata: Perkara yang paling berat bagi orang yang berkeinginan adalah bergaul dengan orang-orang yang berlawanan.

Ditanyakan kepada Al-Junaid: Apakah orang yang berkeinginan memiliki bagian dalam pembalasan hikayat? Ia menjawab: Hikayat adalah tentara dari tentara Allah yang dengan itu Allah menetapkan hati orang-orang yang berkeinginan. Kemudian ia membaca firman-Nya Ta’ala: “Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu agar Kami teguhkan hatimu dengannya” (Surah Hud: 120).

Telah disebutkan tentang Al-Junaid dua kalimat ringkas mengenai kehendak (iradah), yang masing-masing memerlukan penjelasan.

Kalimat pertama: Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Muhammad bin Makhlad berkata: Aku mendengar Ja’far berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: Murid yang jujur tidak memerlukan para ulama.

Dia juga berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, maka Dia menjatuhkannya kepada kaum Sufi dan mencegahnya dari bergaul dengan para qari (pembaca).

Aku (Ibnu Qayyim) berkata: Apabila murid itu jujur, dan ikatan kejujurannya dengan Allah benar-benar kokoh, maka Allah akan membukakan pada hatinya berkat kejujuran dan kebaikan muamalahnya dengan Allah, sesuatu yang membuatnya tidak memerlukan ilmu-ilmu yang merupakan hasil pemikiran dan pendapat manusia. Dan tidak memerlukan ilmu-ilmu yang merupakan sisa yang bukan termasuk bekal kubur. Dan tidak memerlukan banyak isyarat-isyarat kaum Sufi dan ilmu-ilmu mereka yang telah mereka habiskan umur mereka untuk itu, seperti mengenal jiwa serta kerusakan-kerusakan dan aib-aibnya, mengenal hal-hal yang merusak amal, dan hukum-hukum suluk. Karena sesungguhnya kondisi kejujurannya dan kesungguhan pencariannya akan memperlihatkan semua itu kepadanya secara praktis.

Perumpamaannya seperti ini: Seorang laki-laki yang duduk di negeri bersungguh-sungguh siang dan malam mempelajari ilmu tentang tempat-tempat persinggahan jalan dan tanjakan-tanjakannya, lembah-lembahnya, tempat-tempat kesesatan di dalamnya, sumber-sumber air dan padang pasirnya. Sementara orang lain: kerinduan dan kejujuran kehendak telah mendorongnya untuk menempuh jalan tersebut dan berjalan di dalamnya. Maka kejujurannya membuatnya tidak memerlukan ilmu orang yang duduk itu, dan memperlihatkan kepadanya semua itu secara langsung dalam perjalanannya.

Adapun bahwa kejujuran kehendaknya membuatnya tidak memerlukan ilmu halal dan haram, hukum-hukum perintah dan larangan, mengenal ibadah-ibadah beserta syarat-syaratnya, kewajiban-kewajibannya, dan pembatalnya, serta ilmu tentang hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan batin, maka Allah telah melindungi orang yang lebih rendah dari Al-Junaid dari hal itu, apalagi pemimpin dan imam kelompok itu. Hanya pelaku kejahatan jalanan, zindik-zindik kaum Sufi dan orang-orang mulhid di antara mereka yang berkata demikian, yaitu mereka yang tidak menganggap mengikuti Rasul sebagai syarat dalam jalan ini.

Juga, sesungguhnya murid yang jujur: Allah membukakan hatinya dan meneranginya dengan cahaya dari sisi-Nya, yang ditambahkan kepada cahaya ilmu yang ada padanya, dengan cahaya itu ia mengenal banyak urusan agamanya. Maka ia tidak memerlukan banyak ilmu manusia dengan cahaya itu, karena ilmu adalah cahaya. Dan hati orang yang jujur penuh dengan cahaya kejujuran, serta memiliki cahaya iman. Dan cahaya membimbing kepada cahaya. Al-Junaid mengabarkan hal ini dari kondisinya. Ini adalah perkara parsial, bukan bersifat umum, melainkan kejujurannya membuatnya tidak memerlukan banyak ilmu. Adapun tidak memerlukan seluruh ilmu, maka perkataan Abu Al-Qasim yang shahih darinya tentang kebutuhan orang jujur kepada ilmu, dan bahwa tidak akan beruntung orang yang tidak memiliki ilmu, dan bahwa jalan kaum itu terikat dengan ilmu, dan tidak halal bagi seseorang untuk berbicara tentang jalan kecuali dengan ilmu, semua itu terkenal dan diketahui, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya sebagian darinya. Seperti perkataannya: Barangsiapa yang tidak menghafal Al-Quran dan menulis hadits, tidak boleh diteladani dalam perkara ini, karena ilmu kami terikat dengan Kitab dan Sunnah.

Juga, sesungguhnya ilmu para ulama yang ia tunjuk adalah apa yang mereka pahami dan istimbathkan dari Al-Quran dan Sunnah. Sedangkan murid yang jujur adalah yang membaca Al-Quran dan menghafal Sunnah, dan Allah akan menganugerahinya berkat kejujurannya dan cahaya hatinya, pemahaman dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya yang membuatnya tidak perlu taklid kepada pemahaman orang lain.

Adapun perkataannya – yaitu Al-Junaid – Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, maka Dia menjatuhkannya kepada kaum Sufi dan mencegahnya dari bergaul dengan para qari.

Maka para qari dalam istilah mereka adalah ahli zuhud dan ibadah, baik mereka membaca Al-Quran atau tidak. Maka qari menurut mereka adalah orang yang banyak beribadah dan berzuhud, yang telah membatasi perhatiannya pada lahiriah ibadah, tanpa ruh ma’rifat, tanpa hakikat iman, ruh kecintaan, dan amal-amal hati. Seluruh perhatian mereka hanya kepada ibadah, dan tidak ada pengetahuan pada mereka tentang apa yang ada pada ahli tasawuf, pemilik hati, dan ahli ma’rifat. Karena itu ada yang berkata: Jalan kami dijalani dengan kelembutan, bukan dengan paksaan.

Maka perjalanan mereka dengan hati dan ruh, sedangkan perjalanan mereka itu hanya dengan jasad dan tubuh semata. Di antara ruh dan hati kelompok ini dengan ruh dan hati kelompok itu terdapat semacam ketidakcocokan dan pertentangan, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu bergaul dengan kelompok lain kecuali dengan semacam pembiaran dan memaksa tabiat untuk menerima apa yang ditolaknya. Ini sejenis dengan pertentangan antara mereka dengan para fuqaha zhahiriyah. Mereka menyebut para fuqaha itu: ahli rasm (formalitas). Dan mereka menyebut yang lain: para qari. Kedua kelompok menurut mereka adalah ahli lahir, bukan pemilik hakikat. Kelompok ini dengan rasm ilmu, dan kelompok itu dengan rasm ibadah.

Kemudian mereka – dalam pandangan mereka sendiri – terbagi menjadi dua kelompok: Sufi dan Fuqara (fakir). Dan mereka berselisih dalam mengunggulkan Sufi atas Fuqara, atau sebaliknya, atau keduanya sama, menjadi tiga pendapat.

Suatu kelompok mengunggulkan Sufi, di antaranya banyak ahli Irak. Pendapat ini juga dianut oleh penulis kitab Al-Awarif, dan mereka menjadikan akhir tingkatan fakir sebagai awal tingkatan Sufi.

Kelompok lain mengunggulkan fakir, dan menjadikan kefakiran sebagai inti tasawuf dan buahnya, mereka adalah banyak ahli Khurasan.

Kelompok ketiga berkata: Kefakiran dan tasawuf adalah satu hal. Mereka adalah ahli Syam.

Tidak akan lurus keputusan antara kelompok-kelompok ini hingga jelas hakikat kefakiran dan tasawuf. Dan ketika itu akan diketahui: apakah keduanya satu hakikat atau dua hakikat? Dan diketahui mana yang lebih utama dari keduanya.

Engkau akan melihat penjelasan itu insya Allah pada pembahasan kedua stasiun kefakiran dan tasawuf apabila kami sampai kepadanya, jika Allah menolong dan memberi dengan karunia dan taufik-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah, dan kepada-Nya kami memohon pertolongan, dan kepada-Nya kami bertawakkal. Apa yang Dia kehendaki, terjadilah, dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak terjadi.

Maksudnya: bahwa tingkatan-tingkatan menurut mereka ada tiga: tingkatan taqwa yaitu tingkatan ibadah dan zuhud, tingkatan tasawuf yaitu tingkatan memiliki setiap akhlak baik dan keluar dari setiap akhlak tercela, dan tingkatan kefakiran yaitu tingkatan tajrid (pelepasan diri), dan memutus setiap ikatan yang menghalangi antara hati dengan Allah Taala.

Inilah tingkatan-tingkatan para pencari akhirat. Selain mereka adalah termasuk orang-orang yang duduk tertinggal.

Maka Abu Al-Qasim Al-Junaid menunjukkan bahwa murid yang sungguh-sungguh kepada Allah, apabila Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia menjatuhkannya kepada kelompok Sufi yang akan membentuk akhlaknya, menunjukkannya kepada penyucian jiwa, menghilangkan akhlak-akhlak jiwanya yang tercela, dan menggantinya dengan akhlak yang terpuji. Mereka mengenalkannya kepada tempat-tempat persinggahan jalan dan padang-padangnya, penghalang-penghalangnya dan kerusakan-kerusakan di dalamnya.

Adapun para qari, maka mereka akan melelahkannya dengan ibadah berupa puasa dan shalat secara berlebihan, dan tidak merasakan apapun dari manisnya amal-amal hati dan pembentukan jiwa, karena itu bukan jalan mereka. Karena itulah antara mereka dengan pemilik tasawuf ada semacam pertentangan, sebagaimana telah disebutkan.

Orang yang cerdas dan jujur: mengambil bagian dalam setiap keuntungan, dan bergaul dengan setiap kelompok dengan yang terbaik yang ada pada mereka. Tidak berpihak kepada satu kelompok dan menjauhi kelompok lain sepenuhnya, karena tidak ada pada mereka sesuatu dari kebenaran. Inilah jalan orang-orang yang jujur. Klaim jahiliah tersembunyi dalam jiwa-jiwa.

Aku tidak bermaksud dengan itu perkara kecil mereka, tetapi aku maksudkan dengan itu yang lebih kecil. Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar dalam salah satu perangnya seseorang berkata: “Wahai Muhajirin,” dan yang lain berkata: “Wahai Anshar!” Maka beliau bersabda: “Mengapa kalian berseru dengan seruan jahiliah, padahal aku ada di tengah-tengah kalian?”

Ini, padahal keduanya adalah dua nama yang mulia. Allah menamai mereka dengan keduanya dalam Kitab-Nya, namun beliau melarang mereka dari hal itu dan membimbing mereka agar berseru dengan “kaum muslimin, mukminin, dan hamba-hamba Allah,” yaitu seruan yang menyatukan, berbeda dengan yang memecah belah seperti “kelompok ini dan kelompok itu.” Hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar: “Sesungguhnya engkau adalah seorang yang padamu ada sifat jahiliah.” Maka ia berkata: “Padahal usiaku sudah tua, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Ya.” Maka siapa yang merasa aman dari para qari setelahmu wahai Syahr?

Seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman dan rasa kejujuran serta keyakinan hingga jahiliah keluar semuanya dari hatinya. Demi Allah, jika manusia di zaman ini benar-benar merealisasikan itu dari hati seseorang, niscaya mereka akan memanah dia dari satu busur dan berkata: Ini adalah ahli bidah dan penyeru kepada bidah. Kepada Allah-lah kami mengadu. Dia-lah yang diminta untuk memberi kesabaran dan keteguhan. Pasti akan bertemu dengan-Nya. Dan sungguh merugilah orang yang mengada-ada. (Thaaha: 61). Dan orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syuara: 227).

Pasal: Definisi Kehendak (Iradah)

Pasal

Penulis kitab Manazil As-Sairin rahimahullah berkata:

Bab Kehendak: Allah Taala berfirman: Katakanlah: “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya.” (Al-Isra: 84).

Dalam pengantarnya pada bab ini dengan ayat ini terdapat dalil tentang keagungan kedudukannya dan kemuliaan posisinya dari ilmu ini. Karena makna ayat adalah: setiap orang berbuat sesuai dengan apa yang sesuai dengannya, cocok dengannya, dan pantas baginya. Maka orang fasik berbuat sesuai yang pantas baginya. Demikian pula orang kafir, munafik, orang yang menginginkan dunia dan bangsainya berbuat sesuai yang cocok dengannya, dan tidak pantas baginya selain itu. Pencinta bentuk-bentuk (lahiriah) berbuat sesuai yang cocok dan pantas baginya.

Maka setiap orang condong kepada apa yang ia cintai, dan setiap orang tertarik kepada apa yang cocok dengannya. Maka murid yang jujur yang mencintai Allah berbuat apa yang pantas dan cocok baginya. Ia berbuat sesuai dengan pembawaan kehendaknya, dan apa yang paling pantas dan cocok baginya.

Ia (penulis Manazil) berkata: Kehendak adalah dari kaidah-kaidah ilmu ini dan kumpulan bangunan-bangunannya. Ia adalah penerimaan terhadap panggilan hakikat, dengan sukarela atau terpaksa.

Maksudnya: bahwa ilmu ini dibangun atas kehendak. Ia adalah dasarnya dan pusat bangunannya. Ia mencakup rincian hukum-hukum kehendak. Ia adalah gerakan hati. Karena itulah dinamakan ilmu batin, sebagaimana ilmu fikih mencakup rincian hukum-hukum anggota badan. Karena itulah mereka menyebutnya ilmu lahir.

Ini dua gerakan ikhtiariah. Bagi hamba ada gerakan tabi’i idhtirari (alamiah yang terpaksa). Ilmu yang mencakup rincian-rinciannya dan hukum-hukumnya adalah ilmu kedokteran. Maka ketiga ilmu ini adalah yang menjamin pengetahuan tentang gerakan-gerakan jiwa dan hati, gerakan-gerakan lisan dan anggota badan, dan gerakan-gerakan tabi’at.

Dokter memandang gerakan-gerakan tersebut dari sisi pengaruhnya terhadap tubuh baik kesehatan maupun penyakit, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Ahli fikih memandang gerakan-gerakan tersebut dari sisi keselarasannya dengan perintah syariat, larangan, izin, dan kemakruhannya, serta hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Sufi memandang gerakan-gerakan tersebut dari sisi menjadi penghubung baginya kepada yang ia inginkan atau penghalang darinya, dan merusak hatinya atau memperbaikinya.

Adapun perkataannya: dan ia adalah penerimaan terhadap panggilan hakikat.

Maka penerimaan adalah kepatuhan dan ketundukan. Hakikat menurut mereka adalah penyaksian rububiyah. Sedangkan syariat adalah komitmen kepada ubudiyah. Maka syariat adalah engkau menyembah-Nya, dan hakikat adalah engkau menyaksikan-Nya. Syariat adalah engkau berdiri dengan perintah-Nya, dan hakikat adalah engkau menyaksikan sifat-Nya. Panggilan hakikat adalah kebenaran ma’rifat. Karena barangsiapa mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya tanpa ragu.

Pasti diperlukan dalam penerimaan ini tiga hal: jiwa yang siap dan mampu menerima, yang hanya membutuhkan panggilan; panggilan yang didengarkan; dan pembebasan jalan dari penghalang.

Tidak terputus orang yang terputus kecuali dari salah satu dari ketiga sisi ini.

Perkataannya: dengan sukarela atau terpaksa, menunjuk kepada orang yang tertarik (majdzub), yang diambil dari dirinya, dan salik (penempuh jalan) dengan kehendak, pilihan, dan mujahadah.

[Tingkatan-Tingkatan Iradat]

[Tingkatan Pertama: Meninggalkan Kebiasaan dengan Kesahihan Ilmu]

Penulis berkata: Iradat memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dengan kesahihan ilmu, bergantung pada napas-napas (perjalanan spiritual) para salik (penempuh jalan spiritual), disertai kejujuran niat, melepaskan diri dari setiap hal yang menyibukkan dari kalangan saudara-saudara, dan hal yang mencerai-beraikan dari tanah air.

Ini sesuai dengan definisi iradat bahwa iradat adalah: menyelisihi kebiasaan. Yaitu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nafsu dan syahwatnya, kecerobohannya dan kemalasannya. Hal ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan perkara-perkara yang telah disebutkan. Yaitu: bersahabat dengan ilmu dan memeluknya. Karena ilmu adalah cahaya yang mengenalkan hamba pada tempat-tempat yang seharusnya dipilih untuk dicari dan yang seharusnya dipilih untuk ditinggalkan. Barangsiapa tidak disertai ilmu, maka tidak sah baginya iradat menurut kesepakatan kata para orang yang benar. Tidak ada pertimbangan bagi para perampok jalan (orang yang menyesatkan).

Sebagian mereka berkata: Kapan saja engkau melihat sufi fakir mencela ilmu, maka tuduh dia pada Islamnya.

Di antaranya: bergantung pada napas-napas para salik. Tidak diragukan bahwa setiap orang yang bergantung pada napas-napas suatu kaum, maka dia akan masuk ke dalam jalan mereka dan masuk dalam jamaah mereka.

Penulis berkata “napas-napas para salik” dan tidak berkata “napas-napas para ahli ibadah”. Karena ahli ibadah urusan mereka adalah melaksanakan amal-amal, sedangkan urusan para salik adalah memelihara keadaan-keadaan spiritual.

Dan ucapannya: “disertai kejujuran niat”.

Terwujud dengan dua perkara. Pertama: menunggalkannya. Kedua: menunggalkan yang dituju. Maka tidak terjadi dalam niatmu pembagian, dan tidak pula dalam yang kamu tuju.

Dan ucapannya: “melepaskan diri dari setiap hal yang menyibukkan dari kalangan saudara-saudara, dan hal yang mencerai-beraikan dari tanah air”.

Menunjukkan pada meninggalkan penghalang-penghalang dan pemutus-pemutus yang menghalangi dari suluk (perjalanan spiritual): berupa persahabatan dengan orang lain dan keterikatan dengan tanah air yang di dalamnya dia terbiasa dengan kemalasan dan kehinaan. Tidak ada yang lebih membahayakan bagi murid yang benar selain keluarga dan tanah airnya yang memutus dia dari perjalanannya menuju (Allah).

[Pasal: Tingkatan Kedua: Terputus dengan Sahabat Keadaan]

Pasal

Penulis berkata: Tingkatan kedua: terputus dengan sahabat keadaan (hal), menikmati ketenangan jiwa, dan berjalan di antara qabdh (penyempitan) dan basth (kelapangan).

Artinya: terputus menuju sahabat keadaan. Yaitu waridat (pancaran spiritual) yang menghampiri hati dari pengaruh muamalahnya (ibadahnya), yang menghilangkan sifat malas dan lesu, membawanya untuk menemani golongan yang paling tinggi yang Allah telah memberi nikmat kepada mereka. Maka dia berpindah dari tingkatan ilmu ke tingkatan kasyf (penyingkapan), dan dari tingkatan formalitas amal-amal ke tingkatan hakikat-hakikatnya, pengalaman rasanya, perasaan spiritualnya, dan keadaan-keadaannya. Maka dia naik tingkat dari Islam ke iman, dan dari iman ke ihsan.

Adapun menikmati ketenangan jiwa yang disebutkan: sungguh salik di awal perkara menemukan kelelahan taklif (beban syariat) dan kesulitan amal, karena tidak adanya ketenangan hati dengan yang disembahnya. Apabila telah terwujud bagi hati ruh ketenangan jiwa, maka hilang darinya taklif dan kesulitan-kesulitan itu. Maka amal-amal itu menjadi penyejuk matanya, kekuatan dan kelezatan.

Maka shalat menjadi penyejuk matanya, setelah sebelumnya menjadi beban atasnya. Dan dia merasa tenang dengannya, setelah sebelumnya mencari ketenangan darinya. Maka baginya warisan dari sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Tenangkan kami dengan shalat wahai Bilal”, dan “Dijadikan penyejuk mataku pada shalat”, sesuai dengan kadar iradatnya, cintanya, ketenteramannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kegelisahannya dari selain-Nya.

Adapun berjalan di antara qabdh dan basth.

“Qabdh dan basth” adalah dua keadaan yang terjadi pada setiap salik. Keduanya terlahir dari rasa takut di satu waktu, dan harapan di waktu lain. Maka rasa takut mengqabdhnya (menyempitkannya), dan harapan membasthnya (melapangkannya).

Dan keduanya terlahir dari kesetiaan di satu waktu, dan kekasaran di waktu lain. Maka kesetiaannya melahirkan basth baginya, dan harapannya melahirkan qabdh baginya.

Dan keduanya terlahir dari tafarruq (tercerai-berai) di satu waktu, dan jam’iyyah (terkumpul) di waktu lain. Maka tafarruqnya melahirkan qabdh baginya, dan jam’iyyahnya melahirkan basth baginya.

Dan keduanya terlahir dari hukum-hukum waridat di suatu waktu. Maka waridat yang melahirkan qabdh, dan waridat yang melahirkan basth.

Dan mungkin menghampiri hati salik qabdh yang dia tidak tahu apa sebabnya, dan basth yang dia tidak tahu apa sebabnya. Dan hukum pemilik qabdh ini: dua perkara.

Pertama: taubat dan istighfar. Karena qabdh itu adalah hasil dari suatu kejahatan atau kekasaran, dan dia tidak menyadarinya.

Kedua: berserah diri hingga berlalu darinya waktu itu, dan tidak berusaha keras menolaknya. Dan tidak menghadapi waktunya dengan perlawanan dan paksaan. Dan tidak meminta terbitnya fajar di tengah malam, dan hendaklah dia tidur hingga berlalu kebanyakan malam dan tiba waktu terbit fajar dan tersingkapnya kegelapan malam. Bahkan bersabar hingga Raja menghampirinya. Maka Allah yang mengqabdh dan membasth.

Demikian juga jika menghampirinya waridat basth, maka hendaklah sangat berhati-hati dari gerakan dan goyangan. Dan hendaklah menjaganya dengan diam dan menahan diri. Maka orang berakal berdiri di atas permadani dan berhati-hati dari sikap longgar. Dan ini adalah urusan orang-orang dunia yang berakal dan pemimpin-pemimpin mereka: jika menghampiri mereka apa yang menyenangkan mereka, melapangkan mereka, dan membangkitkan kegembiraan mereka, mereka menghadapinya dengan diam, teguh, dan stabil, hingga seakan-akan tidak menghampiri mereka. Dan Ka’ab bin Zuhair berkata dalam pujian kepada Muhajirin:

Mereka bukan orang yang bangga jika tombak-tombak mereka mengenai suatu kaum, dan bukan orang yang ketakutan jika mereka ditimpa

[Tingkatan Ketiga: Kelupaan dengan Sahabat Istiqamah]

Penulis berkata: Tingkatan ketiga: kelupaan dengan sahabat istiqamah (tegak lurus), dan melazimi pemeliharaan dalam mendidik adab.

Kelupaan di sini: ketiadaan dalam penyaksian dengan keadaan yang menguasai, yang membuat pemiliknya lupa dari perhatiannya kepada selain-Nya. Dan ini hanya bermanfaat jika disertai dengan istiqamah. Yaitu menjaga batas-batas ilmu, berdiri dengannya, dan tidak menyia-nyiakannya. Jika tidak demikian, maka sebaik-baik keadaan orang yang lupa ini: bahwa dia seperti orang gila yang diangkat darinya pena (tidak dibebani hukum syariat). Maka tidak diikuti, dan tidak dihukum atas meninggalkan istiqamah.

Adapun jika sebab kelupaan yang mengeluarkannya dari istiqamah adalah permintaannya, kesengajaannya, dan keinginannya, maka dia adalah pelaku maksiat yang berlebihan, menyia-nyiakan perintah Allah, memiliki hukum seperti orang-orang berlebihan lainnya.

Dan adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata: Kapan saja sebab itu haram, maka orang mabuk tidak dimaafkan.

Dan ucapannya: “melazimi pemeliharaan dalam mendidik adab”.

Yang dimaksud dengannya: melazimi pemeliharaan hak-hak Allah dengan beradab dengan adab-adab-Nya. Maka tidak mengeluarkannya kelupaan dari istiqamahnya, dan tidak dari pemeliharaan hak-hak tuannya, dan tidak dari berdiri dengan adab di hadapan-Nya. Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.

[Pasal: Tingkatan (Tingkatan) Adab]

[Definisi Adab]

Pasal Tingkatan Adab

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (surat Al-Fatihah ayat 5) adalah tingkatan adab.

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (surat At-Tahrim ayat 6). Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: Didiklah mereka dan ajarilah mereka.

Dan lafazh ini menunjukkan pada berkumpul. Maka adab adalah: terkumpulnya sifat-sifat kebaikan pada hamba. Dan darinya kata “maudhibah” (jamuan), yaitu makanan yang orang-orang berkumpul atasnya.

Dan ilmu adab adalah: ilmu perbaikan lisan dan perkataan, ketepatan dalam menempatkannya, memperindah lafazh-lafazhnya, dan menjaganya dari kesalahan dan cacat. Dan ini adalah cabang dari adab umum. Wallahu a’lam.

[Pasal: Jenis-Jenis Adab]

Pasal

Dan adab ada tiga jenis: adab dengan Allah Subhanahu, adab dengan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan syariatnya, dan adab dengan makhluk-Nya.

Maka adab dengan Allah ada tiga jenis:

Pertama: menjaga muamalahnya (ibadahnya) agar tidak bercampur dengan kekurangan.

Kedua: menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada selain-Nya.

Ketiga: menjaga iradat (keinginan)nya agar tidak terkait dengan apa yang membuatmu dimurkai atas-Nya.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Hamba sampai dengan ketaatan kepada Allah menuju surga, dan sampai dengan adabnya dalam ketaatannya menuju Allah.

Dan dia berkata: Saya melihat orang yang ingin mengulurkan tangannya dalam shalat ke hidungnya, lalu aku menahan tangannya.

Dan Ibnu Atha’ berkata: Adab adalah berdiri dengan perkara-perkara yang baik. Lalu dikatakan kepadanya: Apa maknanya? Maka dia berkata: Bahwa engkau bermuamalah dengan-Nya Subhanahu dengan adab secara tersembunyi dan terang-terangan. Kemudian dia membaca syair:

Jika dia berbicara, datang dengan segala keindahan, dan jika diam, datang dengan segala kebaikan

Dan Abu Ali berkata: Barangsiapa bersahabat dengan raja-raja tanpa adab, maka kebodohan akan menyerahkannya kepada pembunuhan.

Dan Yahya bin Mu’adz berkata: Jika orang arif meninggalkan adabnya dengan yang mengenalnya, maka sungguh dia telah binasa bersama orang-orang yang binasa.

Dan Abu Ali berkata: Meninggalkan adab mengharuskan pengusiran. Maka barangsiapa berbuat buruk adabnya di atas permadani dikembalikan ke pintu. Dan barangsiapa berbuat buruk adabnya di pintu dikembalikan ke pengaturan hewan ternak.

Dan Yahya bin Mu’adz berkata: Barangsiapa beradab dengan adab Allah, menjadi dari ahli cinta Allah.

Dan Ibnu Mubarak berkata: Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.

Dan ditanyakan kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah tentang adab yang paling bermanfaat? Maka dia berkata: Tafaqquh (pemahaman mendalam) dalam agama, zuhud di dunia, dan pengetahuan tentang apa yang Allah wajibkan atasmu.

Dan Sahl berkata: Kaum (para sufi) meminta pertolongan kepada Allah atas kehendak Allah, dan bersabar karena Allah atas adab-adab Allah.

Ibn Mubarak berkata: Kami mencari adab ketika para pendidik telah tiada dari kami.

Dan ia berkata: Adab bagi orang yang mengenal Allah seperti taubat bagi orang yang memulai (perjalanan spiritual).

Dan Abu Hafsh berkata—ketika Junaid berkata kepadanya: Sungguh engkau telah mendidik para sahabatmu dengan adab raja-raja—maka ia berkata: Kebaikan adab pada yang lahir adalah tanda kebaikan adab pada yang batin. Maka adab terhadap Allah adalah kebaikan pergaulan dengan-Nya, dan dengan melakukan gerakan-gerakan lahir dan batin sesuai dengan tuntutan pengagungan, pemuliaan, dan rasa malu. Seperti keadaan majelis raja-raja dan orang-orang yang bergaul dengan mereka.

Dan Abu Nashr as-Sarraj berkata: Manusia dalam hal adab terbagi menjadi tiga golongan.

Adapun ahli dunia: maka adab mereka yang terbesar adalah: dalam fasahah dan balaghah (kefasihan dan keindahan berbahasa). Menghafal ilmu-ilmu, cerita raja-raja, dan syair-syair Arab.

Adapun ahli agama: maka adab mereka yang terbesar adalah: dalam kesucian hati, menjaga rahasia, menepati janji, menjaga waktu, sedikit perhatian kepada bisikan-bisikan, dan kebaikan adab dalam tempat-tempat pencarian, waktu-waktu kehadiran, dan tingkatan-tingkatan kedekatan.

Dan Sahl berkata: Barangsiapa menundukkan nafsunya dengan adab maka ia beribadah kepada Allah dengan ikhlas.

Dan Abdullah bin Mubarak berkata: Manusia telah banyak berbicara tentang adab, dan kami mengatakan: Sesungguhnya adab adalah mengenali nafsu dan kebodohan-kebodohannya, serta menghindari kebodohan-kebodohan tersebut.

Dan Syibli berkata: Bersikap longgar dalam ucapan terhadap Allah adalah meninggalkan adab.

Dan sebagian mereka berkata: Allah Yang Maha Suci berfirman: Barangsiapa Aku wajibkan untuk berdiri bersama nama-nama dan sifat-sifat-Ku maka Aku wajibkan kepadanya adab, dan barangsiapa Aku singkapkan kepadanya hakikat dzat-Ku maka Aku wajibkan kepadanya kehancuran. Maka pilihlah adab atau kehancuran.

Dan yang menjadi saksi untuk ini adalah: bahwa Allah Yang Maha Suci ketika menyingkapkan dzat-Nya kepada gunung, maka gunung itu tenggelam dan hancur berkeping-keping dan tidak dapat bertahan terhadap keagungan Dzat. Dan Abu Utsman berkata: Apabila cinta telah benar maka diwajibkan atas orang yang mencintai untuk selalu menjaga adab.

Dan Nuri rahimahullah berkata: Barangsiapa tidak beradab terhadap waktu maka waktunya adalah murka.

Dan Dzun Nun berkata: Apabila murid keluar dari penggunaan adab, maka sesungguhnya ia akan kembali dari mana ia datang.

Dan perhatikanlah keadaan para Rasul shallawatullah wa salamuhu ‘alaihim (semoga rahmat dan salam Allah tercurah kepada mereka) bersama Allah, dan ucapan serta permintaan mereka. Bagaimana engkau mendapatinya semuanya penuh dengan adab dan tegak dengannya?

Isa alaihissalam (Nabi Isa semoga keselamatan tercurah kepadanya) berkata: “Jika aku mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya” (Al-Maidah: 116), dan ia tidak berkata: aku tidak mengatakannya. Dan ada perbedaan antara kedua jawaban tersebut dalam hakikat adab. Kemudian ia menyerahkan perkara kepada pengetahuan Allah Yang Maha Suci tentang keadaan dan rahasianya. Maka ia berkata: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku” (Al-Maidah: 116). Kemudian ia membebaskan dirinya dari pengetahuannya tentang ghaib Tuhannya dan apa yang dikhususkan untuk Allah Yang Maha Suci, maka ia berkata: “Dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu” (Al-Maidah: 116). Kemudian ia memuji Tuhannya dan menyifat-Nya dengan kesendirian-Nya dalam mengetahui semua perkara ghaib. Maka ia berkata: “Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib” (Al-Maidah: 116). Kemudian ia menafikan bahwa ia telah mengatakan kepada mereka selain apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya—yaitu tauhid murni—maka ia berkata: “Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu): Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian” (Al-Maidah: 117). Kemudian ia mengabarkan tentang kesaksiannya terhadap mereka selama ia tinggal bersama mereka. Dan bahwa setelah wafatnya ia tidak mempunyai pengetahuan tentang mereka, dan bahwa Allah Azza wa Jalla (Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi) sendirilah yang menyendiri setelah wafatnya dengan pengawasan terhadap mereka. Maka ia berkata: “Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka ketika Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka” (Al-Maidah: 117). Kemudian ia menyifati Allah bahwa kesaksian-Nya Yang Maha Suci melebihi setiap kesaksian dan lebih umum. Maka ia berkata: “Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu” (Al-Maidah: 117). Kemudian ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu” (Al-Maidah: 118). Dan ini termasuk adab yang paling sempurna terhadap Allah dalam tingkatan seperti ini. Artinya: urusan tuan adalah merahmati hamba-hambanya dan berbuat baik kepada mereka. Dan mereka ini adalah hamba-hamba-Mu, bukan hamba orang lain. Maka jika Engkau menyiksa mereka—padahal mereka adalah hamba-hamba-Mu—maka seandainya mereka bukan hamba-hamba yang buruk dari hamba-hamba yang paling hina, dan paling durhaka kepada tuannya, dan paling bermaksiat kepada-Nya—niscaya Engkau tidak akan menyiksa mereka. Karena kedekatan penghambaan menuntut kebaikan tuan kepada hambanya dan rahmat-Nya. Maka mengapa Allah yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Maha Pemurah di antara para pemurah, dan Maha Pemberi kebaikan yang paling agung kebaikannya akan menyiksa hamba-hamba-Nya? Seandainya bukan karena kedurhakaan mereka yang berlebihan, penolakan mereka terhadap ketaatan kepada-Nya, dan kesempurnaan kelayakan mereka untuk disiksa.

Dan telah terdahulu ucapannya: “Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib” (Al-Maidah: 116). Artinya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan Engkau Maha Mengetahui rahasia dan terang-terangan mereka. Maka jika Engkau menyiksa mereka, Engkau menyiksa mereka berdasarkan pengetahuan dari-Mu tentang apa yang Engkau siksa mereka karenanya. Maka mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Engkau lebih mengetahui apa yang telah mereka lakukan dan kerjakan. Maka tidak ada dalam ini permohonan belas kasihan untuk mereka, sebagaimana disangka oleh orang-orang bodoh. Dan tidak pula penyerahan kepada kehendak murni dan kekuasaan yang terpisah dari hikmah, sebagaimana disangka oleh Qadariyyah. Dan ini hanyalah pengakuan, pengakuan dosa, dan pujian kepada Allah Yang Maha Suci atas hikmah dan keadilan-Nya, kesempurnaan pengetahuan-Nya tentang keadaan mereka, dan kelayakan mereka untuk disiksa.

Kemudian ia berkata: “Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Maidah: 118). Dan ia tidak berkata: Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan ini termasuk adab yang paling sempurna terhadap Allah Ta’ala. Karena ia mengatakannya pada waktu murka Tuhan terhadap mereka, dan perintah terhadap mereka ke neraka. Maka ini bukan tingkatan permohonan belas kasihan dan bukan pula syafaat. Bahkan tingkatan berlepas diri dari mereka. Seandainya ia berkata: Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, maka itu akan memberi isyarat bahwa ia meminta belas kasihan Tuhannya kepada musuh-musuhnya yang telah sangat dimurkai oleh-Nya. Maka tingkatan ini adalah tingkatan persetujuan dengan Tuhan dalam murka-Nya kepada orang-orang yang dimurkai Tuhan. Maka ia beralih dari menyebutkan kedua sifat yang dengannya diminta belas kasihan-Nya, rahmat-Nya, dan ampunan-Nya kepada menyebutkan kemuliaan dan hikmah yang mengandung kesempurnaan kekuasaan dan kesempurnaan ilmu.

Dan maknanya: Jika Engkau mengampuni mereka maka pengampunan-Mu akan terjadi dari kesempurnaan kekuasaan dan ilmu. Bukan dari ketidakmampuan untuk membalas mereka, dan bukan pula dari ketidaktahuan terhadap-Mu tentang kadar kejahatan mereka. Dan ini karena hamba terkadang mengampuni orang lain karena ketidakmampuannya untuk membalas darinya, dan karena ketidaktahuannya tentang kadar keburukan orang itu kepadanya. Dan kesempurnaan adalah: pengampunan orang yang berkuasa lagi mengetahui. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan penyebutan kedua sifat ini dalam tingkatan ini adalah esensi adab dalam berbicara.

Dan dalam sebagian atsar: Para pemikul Arasy ada empat: dua berkata: Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan dengan memuji-Mu. Bagi-Mu segala puji atas kesantuan-Mu setelah pengetahuan-Mu. Dan dua berkata: Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan dengan memuji-Mu. Bagi-Mu segala puji atas maaf-Mu setelah kekuasaan-Mu. Dan oleh karena itu setiap satu dari kedua sifat ini dipasangkan dengan yang lain. Seperti firman-Nya: “Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun” (An-Nisa: 12), dan firman-Nya: “Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa” (An-Nisa: 149).

Demikian pula perkataan Ibrahim al-Khalil shallallahu alaihi wa sallam (Nabi Ibrahim semoga rahmat dan salam Allah tercurah kepadanya): “Yang telah menciptakan aku maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku. Dan yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan aku” (Asy-Syu’ara: 78). Dan ia tidak berkata: Dan apabila Dia menjadikan aku sakit, untuk menjaga adab terhadap Allah.

Demikian pula perkataan Khidir alaihissalam tentang kapal: “Maka aku bermaksud merusaknya” (Al-Kahf: 79). Dan ia tidak berkata: Maka Tuhanmu bermaksud agar aku merusaknya. Dan ia berkata tentang kedua anak yatim: “Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaannya” (Al-Kahf: 82).

Demikian pula perkataan mukmin jin: “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah kejahatan yang dikehendaki bagi orang-orang yang di bumi” (Al-Jin: 10), dan mereka tidak berkata: dikehendaki untuk mereka. Kemudian mereka berkata: “Ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka” (Al-Jin: 10).

Dan yang lebih halus dari ini adalah perkataan Musa alaihissalam: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa saja yang Engkau turunkan kepadaku” (Al-Qashash: 24), dan ia tidak berkata: beri aku makan. Dan perkataan Adam alaihissalam: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’raf: 23), dan ia tidak berkata: Ya Tuhan, Engkau telah menakdirkan atasku dan telah menetapkan atasku.

Dan perkataan Ayyub alaihissalam: “Penyakit telah menimpaku, dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang” (Al-Anbiya: 83). Dan ia tidak berkata: maka sembuhkan aku dan sehatkan aku.

Dan perkataan Yusuf kepada ayahnya dan saudara-saudaranya: “Inilah takwil mimpiku dahulu, sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dan sungguh Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara” (Yusuf: 100). Dan ia tidak berkata: mengeluarkan aku dari sumur, untuk menjaga adab terhadap saudara-saudaranya. Dan membuka diri kepada mereka agar tidak mempermalukan mereka dengan apa yang terjadi di sumur. Dan ia berkata: “Dan membawa kalian dari dusun” (Yusuf: 100), dan ia tidak berkata: mengangkat dari kalian kesulitan kelaparan dan kebutuhan, sebagai adab terhadap mereka. Dan ia menyandarkan apa yang terjadi kepada sebab, dan tidak menyandarkannya kepada pelaku langsung yang lebih dekat kepadanya darinya. Maka ia berkata: “Setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku” (Yusuf: 100). Maka ia memberikan kedermawanan, kemuliaan, dan adab haknya. Dan oleh karena itu kesempurnaan akhlak ini tidak ada kecuali pada para Rasul dan Nabi shallawatullah wa salamuhu ‘alaihim (semoga rahmat dan salam Allah tercurah kepada mereka).

Dan termasuk dari ini adalah perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam (Nabi Muhammad semoga rahmat dan salam Allah tercurah kepadanya) kepada laki-laki agar menutup auratnya, walaupun ia sedang sendirian dan tidak ada yang melihatnya, sebagai adab terhadap Allah, sesuai dengan kedekatan kepada-Nya, pengagungan dan pemuliaan-Nya, kesungguhan malu kepada-Nya, dan mengenal keagungan-Nya.

Dan sebagian mereka berkata: Peganglah adab lahir dan batin. Maka tidaklah seseorang bersikap buruk dalam adab lahir kecuali ia akan dihukum secara lahir. Dan tidaklah seseorang bersikap buruk dalam adab batin kecuali ia akan dihukum secara batin.

Dan Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata: Barangsiapa meremehkan adab maka ia dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Dan barangsiapa meremehkan sunnah, ia dihukum dengan terhalang dari kewajiban-kewajiban. Dan barangsiapa meremehkan kewajiban-kewajiban maka ia dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (pengenalan kepada Allah).

Dan dikatakan: Adab dalam amal adalah tanda diterimanya amal. Dan hakikat adab adalah menggunakan akhlak yang baik. Dan oleh karena itu adab adalah: mengeluarkan apa yang ada dalam tabiat dari kesempurnaan dari potensi kepada aktual.

Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci telah menyiapkan manusia untuk menerima kesempurnaan dengan apa yang diberikan-Nya berupa kelayakan dan kesiapan yang dijadikan-Nya di dalam dirinya tersembunyi seperti api dalam batu api. Maka Dia memberinya ilham dan kemampuan, mengenalkannya dan memberinya petunjuk. Dan mengutus kepada mereka rasul-rasul-Nya. Dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab-Nya untuk mengeluarkan potensi itu yang dengannya Dia layakkan untuk kesempurnaannya kepada aktual. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Asy-Syams: 7-10). Maka Dia mengungkapkan penciptaan jiwa dengan penyempurnaan untuk menunjukkan keseimbangan dan kesempurnaan. Kemudian Dia mengabarkan tentang penerimaannya terhadap kefasikan dan ketakwaan. Dan bahwa itu diperolehnya dari-Nya sebagai ujian dan cobaan. Kemudian Dia mengkhususkan keberuntungan bagi orang yang menyucikannya lalu menumbuhkannya dan meninggikannya. Dan mengangkatnya dengan adab-adab-Nya yang dengannya Dia mendidik para rasul-Nya, para nabi-Nya, dan para wali-Nya. Dan itulah takwa. Kemudian Dia memutuskan kesengsaraan bagi orang yang mengotorinya lalu menyembunyikannya dan merendahkannya, dan mengecilkannya serta menindas-Nya dengan kefasikan. Dan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi lebih mengetahui.

Pasal: Gambaran Adab Nabi shallallahu alaihi wa sallam

Pasal

Dan telah berjalan kebiasaan kaum sufi bahwa mereka menyebutkan dalam tingkatan ini firman Allah Ta’ala tentang Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam ketika Dia memperlihatkan kepadanya apa yang diperlihatkan: “Penglihatannya tidak berpaling dan tidak pula melampaui batas” (An-Najm: 17). Dan Abul Qasim al-Qusyairi membuka bab adab dengan ayat ini. Demikian pula yang lainnya.

Dan seakan-akan mereka melihat kepada perkataan sebagian ahli tafsir: bahwa ini adalah gambaran adabnya shallallahu alaihi wa sallam dalam tingkatan itu. Ketika ia tidak menoleh ke samping. Dan tidak melampaui apa yang dilihatnya. Dan ini adalah kesempurnaan adab. Dan melanggarnya adalah: apabila orang yang melihat menoleh ke kanan dan ke kirinya, atau menatap ke depan yang dilihat. Maka menoleh adalah berpaling. Dan menatap ke depan yang dilihat adalah melampaui batas dan melewati. Maka kesempurnaan perhatian orang yang melihat kepada yang dilihat adalah: bahwa ia tidak memalingkan pandangannya darinya ke kanan maupun ke kiri, dan tidak melampaui batasnya.

Ini makna apa yang saya dapatkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah quddisa ruhuh (semoga Allah mensucikan ruhnya).

Dan dalam ayat ini terdapat rahasia-rahasia yang mengagumkan. Dan ia termasuk dari adab-adab tersembunyi yang layak bagi manusia yang paling sempurna shallallahu alaihi wa sallam: Pandangan dan hatinya bertepatan di sana. Dan keduanya sepakat dan saling membenarkan dalam apa yang disaksikan pandangannya. Maka hatinya sesuai dengannya. Dan apa yang disaksikan hatinya juga adalah haq yang disaksikan dengan pandangan. Maka bertepatan padanya tempat penyaksian pandangan dan hati.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya?” (Surah An-Najm: 11-12) Artinya hati tidak mendustakan apa yang dilihat oleh matanya.

Oleh karena itu Abu Ja’far membacanya: “Ma kadzdzaba al-fu’aadu maa ra’aa” dengan tasydid pada huruf dzal, artinya hati tidak mendustakan mata. Bahkan membenarkannya dan sesuai dengannya karena kebenaran hati dan mata, atau karena lurusnya penglihatan batin dan penglihatan lahir, serta karena yang terlihat dan disaksikan oleh penglihatan lahir dan batin adalah benar. Sedangkan jumhur membaca “Maa kadzaba al-fu’aadu” (Surah An-Najm: 11) dengan takhfif. Dan ini adalah kata kerja transitif, sedangkan “maa ra’aa” adalah objeknya, artinya hatinya tidak mendustakan apa yang dilihat matanya. Bahkan sesuai dan sejalan dengannya. Karena keselarasan hatinya dengan jasadnya, lahirnya dengan batinnya, dan penglihatannya dengan penglihatan batinnya, maka hati tidak mendustakan mata. Mata tidak melampaui batasnya sehingga melampaui batas, dan tidak menyimpang dari yang dilihat sehingga berpaling, bahkan mata lurus terhadap yang dilihat, tidak melampauinya dan tidak menyimpang darinya, sebagaimana hati lurus dalam menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Karena ia menghadap kepada Allah dengan sepenuhnya. Hati memiliki penyimpangan dan pelampauan batas, dan keduanya tidak ada pada hati dan matanya. Hatinya tidak berpaling dengan menoleh dari Allah kepada selain-Nya, dan tidak melampaui batas dengan melampaui kedudukannya yang telah ditetapkan untuknya.

Ini adalah puncak kesempurnaan dan adab kepada Allah yang tidak ada seorang pun selainnya yang dapat menandinginya.

Karena kebiasaan jiwa, ketika ditempatkan pada kedudukan yang tinggi dan mulia, adalah menginginkan apa yang lebih tinggi dan di atasnya. Tidakkah engkau lihat bahwa Musa Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditempatkan pada kedudukan berbicara langsung dan bermunajat, jiwanya meminta untuk melihat? Sedangkan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditempatkan pada kedudukan itu, ia memenuhi haknya, maka mata dan hatinya tidak menoleh kepada selain apa yang ia telah ditempatkan di dalamnya sama sekali?

Karena hal inilah tidak ada penghalang yang menghalanginya dan tidak ada keinginan yang menghentikannya, hingga ia melampaui tujuh langit, hingga Musa menegur Tuhannya tentang hal itu dan berkata: Bani Israil berkata: Aku adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah. Dan ini (Muhammad) telah melampauiku dan meninggalkanku dalam ketinggian. Seandainya dia sendiri saja? Tetapi bersamanya seluruh umatnya. Dalam riwayat Bukhari: Ketika ia melampauiku, ia menangis. Ditanyakan: Apa yang membuatmu menangis? Ia berkata: Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus setelahku yang akan memasukkan lebih banyak umatnya ke surga daripada umatku yang masuk. Kemudian ia melampauinya dalam ketinggian, tidak ada keinginan yang menghalanginya dan tidak ada semangat yang menghentikannya dari kesempurnaan penghambaan. Oleh karena itu kendaraannya dalam perjalanan malam itu melangkah mendahului pandangannya. Ia meletakkan kakinya pada ujung pandangannya, sesuai dengan keadaan penunggangnya dan jarak tempuhnya yang melampaui seluruh alam dalam perjalanannya. Maka langkah Buraq tidak berbeda dari tempat pandangannya, sebagaimana langkahnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tertinggal dari tempat ma’rifatnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus dalam kesempurnaan adabnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penyempurnaan tingkatan penghambaan kepada-Nya, hingga menembus hijab langit-langit dan melampaui tujuh lapisan langit, melampaui Sidratil Muntaha, dan sampai pada tempat kedekatan yang dengannya ia mendahului orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Maka tingkatan-tingkatan kedekatan mengalir kepadanya di sana dengan deras, dan awan-awan hijab tersingkap darinya lahir dan batin, hijab demi hijab. Ia ditempatkan pada kedudukan yang membuatnya diiri oleh para nabi dan rasul. Jika pada hari kiamat nanti ia akan ditempatkan untuk kedua kalinya pada kedudukan kedekatan yang membuatnya diiri oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian. Ia tetap tegak di sana pada jalan yang lurus dari kesempurnaan adabnya kepada Allah, matanya tidak berpaling dan tidak melampaui batas. Maka Ia menempatkannya di dunia ini pada jalan yang paling lurus dari kebenaran dan petunjuk. Dan Ia bersumpah dengan kalam-Nya atas hal itu dalam Adz-Dzikr Al-Hakim, Allah Ta’ala berfirman: “Ya Sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu benar-benar termasuk para rasul. Di atas jalan yang lurus.” (Surah Yasin: 1-4). Jika pada hari kiamat nanti Ia akan menempatkannya di atas shirath memohonkan keselamatan untuk para pengikutnya dan ahlus sunnahnya, hingga mereka melintasinya menuju surga yang penuh kenikmatan. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah memiliki karunia yang besar.

Pasal: Adab Adalah Seluruh Agama

Pasal

Adab adalah seluruh agama. Karena menutup aurat adalah bagian dari adab, wudhu dan mandi junub adalah bagian dari adab, bersuci dari najis adalah bagian dari adab, sehingga ia berdiri di hadapan Allah dalam keadaan suci. Oleh karena itu mereka menyukai agar seseorang berhias dalam shalatnya untuk berdiri di hadapan Tuhannya.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Allah memerintahkan dengan kadar yang lebih dari sekedar menutup aurat dalam shalat, yaitu mengambil perhiasan. Allah Ta’ala berfirman: “Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Surah Al-A’raf: 31). Ia menggantungkan perintah pada mengambil perhiasan, bukan pada menutup aurat, sebagai isyarat bahwa seorang hamba seharusnya memakai pakaiannya yang paling indah dan paling bagus dalam shalat.

Salah seorang salaf memiliki setelan pakaian dengan nilai yang sangat mahal. Ia memakainya saat shalat dan berkata: Tuhanku lebih berhak untuk aku berhias bagi-Nya dalam shalatku.

Diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya, terutama ketika ia berdiri di hadapan-Nya. Maka sebaik-baik cara berdiri di hadapan-Nya adalah dengan pakaian dan nikmat yang telah dikenakan-Nya kepadanya, lahir dan batin.

Termasuk adab: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang shalat mengangkat pandangannya ke langit.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah quddisa ruhuhu berkata: Ini termasuk kesempurnaan adab shalat, yaitu seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya dengan menunduk, merendahkan pandangannya ke tanah, dan tidak mengangkat pandangannya ke atas.

Beliau berkata: Jahmiyyah, karena tidak memahami adab ini dan tidak mengenalnya, menyangka bahwa ini adalah dalil bahwa Allah bukan di atas langit-langit-Nya di atas Arsy-Nya, sebagaimana Ia memberitahukan tentang diri-Nya sendiri dan disepakati oleh para rasul-Nya dan seluruh Ahlus Sunnah.

Beliau berkata: Ini adalah dari kebodohan mereka. Bahkan ini adalah dalil bagi siapa yang berakal dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kebalikan dari perkataan mereka. Karena termasuk adab kepada para raja adalah bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka menunduk ke tanah dan tidak mengangkat pandangannya kepada mereka. Bagaimana dengan Raja segala raja Subhanahu?

Aku mendengarnya berkata, tentang larangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an saat ruku’ dan sujud: Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalam yang paling mulia dan ia adalah kalam Allah. Sedangkan keadaan ruku’ dan sujud adalah keadaan kehinaan dan kerendahan dari seorang hamba. Maka termasuk adab kepada kalam Allah adalah tidak membacanya dalam dua keadaan ini, dan keadaan berdiri dan tegak lebih layak untuknya.

Termasuk adab kepada Allah adalah tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya saat buang air, sebagaimana shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Ayyub, Salman, Abu Hurairah dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. Yang benar adalah bahwa adab ini berlaku untuk tempat terbuka dan bangunan, sebagaimana telah kami sebutkan di tempat lain.

Termasuk adab kepada Allah saat berdiri di hadapan-Nya dalam shalat adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat berdiri membaca. Dalam Al-Muwaththa’ karya Malik dari Sahl bin Sa’d bahwa itu adalah sunnah, dan manusia diperintahkan dengannya. Tidak diragukan lagi bahwa itu termasuk adab berdiri di hadapan raja-raja dan orang-orang besar. Maka Yang Maha Besar dari segala yang besar lebih berhak dengan hal itu.

Di antaranya adalah diam dalam shalat. Itulah kedaiman yang tentangnya Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mereka tetap menjaga shalatnya.” (Surah Al-Ma’arij: 23). Abdullah bin Al-Mubarak berkata dari Ibnu Lahi’ah: Yazid bin Abi Habib menceritakan kepadaku bahwa Abul Khair memberitahunya, ia berkata: Kami bertanya kepada Uqbah bin Amir tentang firman Allah Ta’ala: “(Yaitu) orang-orang yang mereka tetap menjaga shalatnya” (Surah Al-Ma’arij: 23), apakah mereka adalah orang-orang yang shalat terus-menerus? Ia berkata: Tidak, tetapi ia adalah ketika shalat tidak menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakangnya.

Aku katakan: Keduanya adalah dua perkara. Menjaga kepadanya dan menjaga atasnya. Ini adalah kedaiman (ketenangan dalam shalat), sedangkan menjaga terus-menerus dalam firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang mereka memelihara shalatnya.” (Surah Al-Ma’arij: 34). Kedaiman ditafsirkan dengan diamnya anggota tubuh dan thuma’ninah.

Adabnya saat mendengarkan bacaan adalah memasang telinga dan ia menjadi saksi.

Adabnya dalam ruku’ adalah berdiri lurus dan mengagungkan Allah Ta’ala, hingga tidak ada di dalam hatinya sesuatu yang lebih agung dari-Nya, dan ia merendahkan diri dan memandang dirinya kecil, hingga ia menjadi lebih kecil dari debu.

Yang dimaksud adalah bahwa adab kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah melaksanakan agama-Nya dan beradab dengan adab-adab-Nya lahir dan batin.

Tidak akan lurus bagi seseorang sama sekali beradab kepada Allah kecuali dengan tiga perkara: mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengenal agama dan syariat-Nya, apa yang Ia cintai dan apa yang Ia benci, dan jiwa yang siap, menerima, lembut, dan siap untuk menerima kebenaran dalam ilmu, amal, dan keadaan. Dan kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Pasal: Adab Kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pasal

Adapun adab kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Al-Qur’an penuh dengannya.

Pokok adab kepadanya adalah kesempurnaan berserah diri kepadanya dan tunduk pada perintahnya, menerima beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa membawanya pada pertentangan khayalan batil yang ia namakan hal yang masuk akal, atau membawanya pada syubhat atau keraguan, atau mendahulukan padanya pendapat-pendapat orang dan sampah-sampah pikiran mereka. Maka ia mengkhususkannya dengan berhukum, berserah diri, tunduk, dan patuh, sebagaimana ia mengesakan Yang Mengutus Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah, ketundukan, kehinaan, kembali kepada-Nya, dan tawakal. Maka keduanya adalah dua pengesaan. Tidak ada keselamatan bagi seorang hamba dari azab Allah kecuali dengan keduanya: pengesaan Yang Mengutus dan pengesaan mengikuti Rasul. Maka tidak berhukum kepada selainnya, tidak ridha dengan hukum selainnya, dan tidak menghentikan pelaksanaan perintahnya dan pembenaran beritanya bergantung pada menampilkannya kepada perkataan syaikhnya, imamnya, orang-orang madzhab dan kelompoknya, serta orang-orang yang ia agungkan. Jika mereka mengizinkannya, ia melaksanakan dan menerima beritanya, jika tidak maka jika ia menginginkan keselamatan ia berpaling dari perintah dan beritanya dan menyerahkannya kepada mereka, jika tidak ia mengubahnya dari tempatnya dan menyebut pengubahan itu dengan ta’wil dan pembawaan. Ia berkata: Kami menta’wilkannya dan membawakannya.

Sungguh bertemu dengan Tuhannya dengan setiap dosa secara mutlak – kecuali syirik kepada Allah – lebih baik baginya daripada bertemu dengan-Nya dalam keadaan seperti ini.

Sungguh aku pernah berbicara suatu hari dengan salah seorang tokoh besar dari mereka. Aku berkata kepadanya: Aku bertanya kepadamu demi Allah, seandainya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di tengah-tengah kita dan telah menghadapi kita dengan kalamnya dan khithabnya, apakah fardhu atas kita untuk mengikutinya tanpa menampilkannya kepada pendapat orang lain, kalam dan madzhab mereka, ataukah kita tidak mengikutinya hingga kita menampilkan apa yang kita dengar darinya kepada pendapat dan akal manusia?

Ia berkata: Bahkan yang fardhu adalah segera melaksanakan tanpa menoleh kepada selainnya.

Aku berkata: Lalu apa yang menghapus kewajiban ini dari kita? Dan dengan apa ia dihapus?

Ia meletakkan jarinya di mulutnya dan tetap terdiam bingung, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Inilah adab orang-orang khusus kepadanya, bukan menyelisihi perintahnya dan berbuat syirik kepadanya, mengangkat suara-suara, menggerak-gerakkan anggota tubuh dengan shalawat dan salam kepadanya, dan mengasingkan kalamnya dari keyakinan, serta bahwa darinya dapat diperoleh ma’rifat kepada Allah atau diambil darinya hukum-hukum-Nya. Bahkan yang diandalkan dalam bab ma’rifat kepada Allah adalah akal-akal yang tersesat, bingung, dan kontradiktif. Dan dalam hukum-hukum: taklid kepada orang-orang dan pendapat-pendapat mereka. Sedangkan Al-Qur’an dan Sunnah hanya kita baca untuk tabarruk saja, bukan bahwa kita mengambil darinya ushul agama atau furu’nya. Barangsiapa menginginkan hal itu dan meniatkannya, kita memusuhinya dan berusaha memutus akarnya dan menghilangkan jejaknya. Bahkan hati mereka dalam kelalaian terhadap ini, dan mereka mempunyai amal-amal selain itu yang mereka terus mengerjakannya. Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang bermewah-mewahan di antara mereka, tiba-tiba mereka berteriak meminta tolong. Janganlah kamu berteriak (minta tolong) pada hari ini. Sesungguhnya kamu tidak akan mendapat pertolongan dari Kami. Sungguh ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur’an dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu malam. Maka apakah mereka tidak menghayati perkataan (Allah), ataukah telah datang kepada mereka sesuatu yang belum pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, lalu mereka mengingkarinya? Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) gila.” Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran. Dan jika kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti rusak binasalah langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Terbaik. Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka ke jalan yang lurus. Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menyimpang dari jalan itu.” (Surah Al-Mu’minun: 63-74).

Dan orang yang menasihati dirinya sendiri, yang beramal untuk keselamatannya: hendaknya ia merenungkan ayat-ayat ini dengan sebenar-benar perenungan, dan memerhatikannya dengan sebenar-benar perhatian, serta menerapkannya pada kenyataan: maka ia akan melihat keajaiban. Dan janganlah ia menyangka bahwa ayat-ayat itu hanya khusus untuk kaum yang pernah ada lalu lenyap. Sesungguhnya pembicaraan ini untukmu. Dan dengarlah wahai tetangga. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Di antara adab terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah: tidak mendahului di hadapannya dengan perintah atau larangan, tidak memberi izin atau bertindak, sehingga beliau yang memerintah, melarang, dan memberi izin, sebagaimana firman Allah taala: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya” (Al-Hujurat: 1). Dan ini tetap berlaku hingga hari kiamat dan tidak dinasakh. Maka mendahului di hadapan sunnahnya setelah wafatnya, seperti mendahului di hadapannya semasa hidupnya, dan tidak ada perbedaan antara keduanya menurut orang yang berakal sehat.

Mujahid rahimahullah berkata: Janganlah kalian berlaku sewenang-wenang terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Abu Ubaidah berkata: Orang Arab mengatakan: Jangan mendahului di hadapan pemimpin dan di hadapan ayah. Artinya jangan terburu-buru dengan perintah dan larangan tanpa seizinnya.

Yang lain berkata: Jangan kalian memerintah hingga beliau memerintah, dan jangan melarang hingga beliau melarang.

Di antara adab terhadap beliau adalah: tidak meninggikan suara di atas suaranya. Karena hal itu menyebabkan batalnya amal, maka bagaimana dengan meninggikan pendapat dan hasil pemikiran di atas sunnahnya dan apa yang dibawanya? Apakah kamu mengira hal itu menyebabkan diterimanya amal, sedangkan meninggikan suara di atas suaranya menyebabkan batalnya amal?

Di antara adab terhadap beliau adalah: tidak menjadikan panggilannya seperti panggilan kepada yang lain. Allah taala berfirman: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain” (An-Nur: 63). Dan dalam ayat ini ada dua pendapat para mufassir.

Pertama: bahwa kalian tidak boleh memanggilnya dengan namanya, sebagaimana sebagian kalian memanggil sebagian yang lain, tetapi katakanlah: Wahai Rasulullah, wahai Nabiyullah. Menurut pendapat ini: masdar disandarkan kepada maf’ul, yakni panggilan kalian kepada Rasul.

Kedua: bahwa maknanya: janganlah kalian jadikan panggilannya kepada kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain, yang jika ia mau menjawab dan jika ia mau meninggalkan, tetapi jika ia memanggil kalian maka tidak ada pilihan bagi kalian kecuali memenuhinya, dan tidak boleh bagi kalian mengabaikannya sama sekali. Menurut pendapat ini: masdar disandarkan kepada fa’il, yakni panggilannya kepada kalian.

Di antara adab terhadap beliau adalah: bahwa apabila mereka bersamanya dalam suatu urusan yang bersifat kolektif – baik khutbah, jihad, atau ribath – tidak seorang pun dari mereka pergi untuk keperluannya hingga meminta izin kepadanya, sebagaimana firman Allah taala: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersama Rasul dalam suatu urusan bersama, mereka tidak pergi hingga meminta izin kepadanya” (An-Nur: 62). Jika kepergian yang terbatas untuk keperluan yang sementara saja tidak dibolehkan kecuali dengan izinnya, maka bagaimana dengan perjalanan yang mutlak dalam rincian-rincian agama: ushul dan furu’nya, yang halus dan yang jelas? Apakah dibolehkan pergi ke sana tanpa meminta izinnya? “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl: 43).

Di antara adab terhadap beliau adalah: tidak menganggap perkataannya bermasalah, tetapi yang dianggap bermasalah adalah pendapat-pendapat karena perkataannya. Dan tidak menentang nashnya dengan qiyas, bahkan qiyas harus dibuang dan ditinggalkan demi nash-nashnya. Dan tidak mengalihkan makna ucapannya dari hakikatnya karena khayalan yang pemiliknya menyebutnya sebagai sesuatu yang ma’qul (masuk akal), padahal ia majhul (tidak diketahui) dan terasing dari kebenaran. Dan tidak menggantungkan penerimaan terhadap apa yang dibawanya shallallahu alaihi wasallam pada persetujuan seseorang. Karena semua ini termasuk kurangnya adab terhadapnya shallallahu alaihi wasallam, dan ini adalah keberanian yang nyata.

[Pasal Adab terhadap Makhluk]

Pasal

Adapun adab terhadap makhluk: adalah memperlakukan mereka – sesuai perbedaan tingkatan mereka – dengan apa yang pantas bagi mereka. Setiap tingkatan memiliki adab, dan tingkatan-tingkatan memiliki adab khusus. Terhadap kedua orang tua: ada adab khusus, dan untuk ayah di antara keduanya: ada adab yang lebih khusus lagi. Terhadap ulama: ada adab tersendiri, dan terhadap penguasa: ada adab yang pantas baginya. Terhadap teman sebaya: ada adab yang pantas bagi mereka. Terhadap orang asing: adabnya berbeda dengan adab terhadap sahabat dan orang-orang dekatnya. Terhadap tamu: adabnya berbeda dengan adab terhadap keluarganya.

Setiap keadaan memiliki adab: untuk makan ada adabnya, untuk minum ada adabnya, untuk berkendaraan, masuk, keluar, bepergian, menetap, dan tidur ada adabnya. Untuk buang air kecil ada adabnya, untuk berbicara ada adabnya, dan untuk diam serta mendengarkan ada adabnya.

Adab seseorang: adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Dan kurangnya adab: adalah tanda kecelakaan dan kebinaasannya.

Tidak ada yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat seperti adab, dan tidak ada yang mendatangkan keterampasan keduanya seperti kurangnya adab.

Perhatikanlah adab terhadap kedua orang tua: bagaimana ia menyelamatkan pemiliknya dari terkungkung di gua ketika batu menutupi mereka? Dan melalaikan adab terhadap ibu – karena takwil dan kesibukan dengan shalat – bagaimana pemiliknya diuji dengan hancurnya biara dan pemukulan orang-orang kepadanya, serta dituduh melakukan perbuatan keji?

Perhatikanlah keadaan setiap orang yang celaka, tertipu, dan berpaling: bagaimana kamu dapati kurangnya adab adalah yang menyeretnya kepada keterampasan?

Perhatikanlah kurangnya adab Auf terhadap Khalid: bagaimana hal itu menghalanginya dari mendapat harta rampasan setelah ia menguasainya dengan tangannya sendiri?

Perhatikanlah adab Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam shalat: bahwa ia tidak mau mendahului di hadapannya. Ia berkata: Tidak pantas bagi anak Abu Quhafah untuk mendahului di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bagaimana hal itu mewariskan kepadanya kedudukan dan kepemimpinan atas umat setelahnya? Maka mundur ke belakang beliau – padahal beliau telah memberi isyarat kepadanya agar tetap di tempatnya – adalah loncatan dan langkah ke depan? Setiap langkah ke belakang adalah perjalanan-perjalanan ke depan yang membuat leher-leher unta terputus karenanya. Wallahu a’lam.

[Pasal Hakikat Adab]

Pasal

Penulis kitab “Al-Manazil” berkata:

Adab: adalah menjaga batasan, antara ghuluw (berlebihan) dan jafa (kekurangan), dengan mengetahui bahaya perbuatan melampaui batas.

Ini termasuk batasan yang paling baik. Karena menyimpang ke salah satu dari dua ujung ghuluw dan jafa: adalah kurangnya adab. Dan adab: adalah berdiri di tengah antara kedua ujung tersebut, sehingga tidak mengurangi batasan-batasan syariat dari kesempurnaannya, dan tidak melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan untuknya. Keduanya adalah bentuk melampaui batas. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan melampaui batas: adalah buruknya adab.

Sebagian salaf berkata: Agama Allah berada di antara orang yang berlebihan di dalamnya dan orang yang mengabaikannya.

Menyia-nyiakan adab dengan jafa: seperti orang yang tidak menyempurnakan anggota wudhu, dan tidak menyempurnakan adab shalat yang telah disunnahkan dan dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang jumlahnya mendekati seratus adab: antara yang wajib dan yang sunnah.

Menyia-nyiakannya dengan ghuluw: seperti waswas dalam mengucapkan niat, meninggikan suara dengannya, mengeraskan dzikir dan doa yang disyariatkan dengan sirr, memanjangkan apa yang sunnah untuk diringankan dan dihilangkan, seperti tasyahud awal dan salam yang menghilangkannya adalah sunnah. Dan memanjangkan melebihi apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bukan seperti yang disangka dan diinginkan oleh para pencuri shalat dan orang-orang yang mematuk-matuknya. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak akan memerintahkan sesuatu lalu menyelisihinya, dan Allah telah menjaganya dari hal itu. Beliau memerintahkan mereka untuk meringankan dan mengimami mereka dengan membaca surah Ash-Shaffat. Beliau memerintahkan mereka untuk meringankan dan ketika shalat Zhuhur didirikan, seseorang pergi ke Baqi’, menyelesaikan keperluannya, mendatangi keluarganya, berwudhu, dan masih mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rakaat pertama. Inilah keringanan yang beliau perintahkan, bukan mematuk-matuk dan mencuri shalat. Karena itu adalah pemendekan, bahkan pembatasan pada apa yang disebut dengan nama itu dan ia disebut sebagai orang yang shalat, dan itu seperti orang yang terpaksa dalam kelaparan yang menutup kerongkongannya dengan makanan: seandainya ia kenyang dengan pendapat yang lain. Ini seperti orang lapar yang disajikan makanan yang sangat lezat, lalu ia makan darinya satu atau dua suap, maka apa yang bisa mengenyangkannya? Tetapi seandainya ia merasakan laparnya, ia tidak akan berdiri dari makanan hingga kenyang sementara ia mampu melakukan itu. Namun hati telah kenyang dengan sesuatu yang lain.

Contoh sikap tengah ini dalam hak para nabi alaihimussalam: adalah tidak berlebihan terhadap mereka, sebagaimana orang Nasrani berlebihan terhadap Al-Masih, dan tidak mengabaikan mereka, sebagaimana orang Yahudi mengabaikan. Orang Nasrani menyembah mereka, dan orang Yahudi membunuh dan mendustakan mereka. Adapun umat yang pertengahan: beriman kepada mereka, mengagungkan dan menolong mereka, serta mengikuti apa yang mereka bawa. Contoh itu dalam hak makhluk: adalah tidak berlebihan dalam menunaikan hak-hak mereka, dan tidak tenggelam di dalamnya, sehingga menyibukkannya dari hak-hak Allah, atau dari menyempurnakannya, atau dari kemaslahatan agama dan hatinya, dan tidak mengabaikannya hingga menelantarkannya sama sekali. Karena kedua ujung tersebut termasuk melampaui batas yang membahayakan. Dan atas batasan ini, hakikat adab: adalah keadilan. Wallahu a’lam.

[Pasal Tingkatan-tingkatan Adab]

[Tingkatan Pertama: Mencegah Rasa Takut]

Pasal

Ia berkata: Dan ia terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama: mencegah rasa takut agar tidak melampaui batas menjadi putus asa, menahan harapan agar tidak keluar menjadi rasa aman, dan mengatur kegembiraan agar tidak menyerupai keberanian yang sembrono.

Maksudnya: bahwa ia tidak membiarkan rasa takut mengantarkannya hingga batas yang menjatuhkannya ke dalam putus asa dan berputus asa dari rahmat Allah. Karena rasa takut seperti ini tercela.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Batas rasa takut adalah apa yang menghalangimu dari maksiat kepada Allah. Maka apa yang melebihi itu: adalah tidak dibutuhkan.

Dan rasa takut yang menjatuhkan ke dalam putus asa ini: adalah buruknya adab terhadap rahmat Allah taala, yang telah mendahului murka-Nya, dan ketidaktahuan terhadapnya.

Adapun menahan harapan agar tidak keluar menjadi rasa aman:

Yaitu tidak membiarkan harapan mencapai batas di mana ia merasa aman dari hukuman. Karena tidak ada yang merasa aman dari tipu daya Allah kecuali kaum yang merugi. Dan ini adalah tenggelam di ujung yang lain.

Bahkan batas harapan: adalah apa yang menjadikan ibadah menyenangkan bagimu, dan membawamu untuk berjalan. Ia seperti angin yang menggerakkan kapal. Jika terputus maka kapal berhenti. Jika berlebihan maka menjatuhkannya ke dalam kehancuran. Dan jika sesuai ukuran: mengantarkannya ke tujuan.

Adapan mengatur kegembiraan agar tidak keluar menyerupai keberanian yang sembrono:

Hal ini tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang-orang kuat yang memiliki tekad tinggi, yang tidak terbawa oleh kegembiraan hingga mengalahkan syukur mereka, dan tidak dilemahkan oleh kesusahan hingga mengalahkan kesabaran mereka, sebagaimana dikatakan:

Kegembiraan tidak mengalahkan syukur mereka Begitu pula kesusahan tidak mengalahkan kesabaran orang yang sabar

Nafsu adalah teman dan sahabat setan, dan menyerupainya dalam sifat-sifatnya. Adapun karunia Rabb tabaraka wa taala turun pada hati dan ruh. Maka nafsu mencuri dengar. Jika karunia-karunia itu turun pada hati: ia melompat untuk mengambil bagiannya darinya, dan menjadikannya sebagai bekal dan simpanannya. Orang yang terbawa dengannya dan bodoh tentangnya, maka ia membiarkannya mengambil semua itu. Ketika ia berada dalam karunia hati dan ruh serta sebagai bekal dan kekuatan baginya, tiba-tiba semua itu menjadi milik nafsu dan alatnya serta peralatannya. Maka nafsu menjadi sombong dan melampaui batas dengannya, karena ia melihat kekayaannya dengannya. Manusia melampaui batas ketika ia melihat dirinya kaya dengan harta. Maka bagaimana dengan apa yang lebih besar kedudukannya dan lebih mulia dari harta, yang tidak ada perbandingan antara keduanya: berupa ilmu, atau keadaan, atau ma’rifat, atau kasyaf? Jika semua itu menjadi miliknya: maka hamba pasti menyimpang dengannya ke ujung yang tercela berupa keberanian, atau syathah, atau kesombongan, dan semacamnya.

Demi Allah, betapa banyak di sini orang yang terbunuh, dirampas, dan terluka yang berkata: Dari mana aku datang? Dari mana aku diserang? Dari mana aku terkena? Dan paling ringan hukuman yang diberikan kepadanya dengan hal itu: adalah tertutupnya pintu tambahan baginya. Oleh karena itu para arif dan pemilik bashirah: jika mereka memperoleh sesuatu dari itu, mereka condong ke ujung kehinaan dan kerendahan hati, memperhatikan aib-aib nafsu, mendatangkan penjaga rasa takut, dan menjaga perbatasan antara hati dan nafsu, serta memandang kepada makhluk yang paling dekat dengan Allah, paling mulia di sisi-Nya, paling dekat wasilah kepada-Nya, dan paling besar kedudukannya di sisi-Nya, yaitu Nabi yang memasuki Mekah pada hari penaklukan, dan dagunya menyentuh pelana kudanya: sebagai sikap rendah hati dan patah hati, serta tawadhu kepada Rabbnya taala dalam keadaan seperti itu, yang kebiasaan jiwa-jiwa manusia di dalamnya: bahwa kegembiraan dan kegembiraannya menguasainya karena kemenangan, kemenangan, dan dukungan, dan mengangkatnya hingga ke langit.

Maka orang sejati: adalah yang menjaga kemenangan dan bagiannya dari Allah, dan menyembunyikannya dari pencurian nafsunya, dan kikir terhadapnya. Adapun orang lemah: adalah yang memberikannya kepada nafsunya. Wahai betapa buruknya kedermawanan itu, dan betapa bodohnya pemilik kemurahan hati itu. Wallahul musta’an.

[Pasal Tingkatan Kedua: Keluar dari Rasa Takut ke Lapangan Qabdh]

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua: keluar dari rasa takut ke lapangan qabdh, naik dari harapan ke lapangan basth, kemudian naik dari kegembiraan ke lapangan musyahadah.

Ia menyebutkan dalam tingkatan pertama: bagaimana menjaga batasan antara tingkatan-tingkatan, agar tidak melampaui batas menjadi ghuluw atau jafa. Dan itu adalah buruknya adab.

Maka ia menyebutkan bersama rasa takut: agar tidak mengeluarkannya menjadi putus asa, dan bersama harapan: agar tidak mengeluarkannya menjadi rasa aman, dan bersama kegembiraan: agar tidak mengeluarkannya menjadi keberanian yang sembrono.

Kemudian ia menyebutkan dalam tingkatan ini: adab naik dari ketiga hal ini ke apa yang menjaganya padanya, dan tidak menyia-nyiakannya sama sekali. Sebagaimana dalam tingkatan pertama: tidak berlebihan dengannya, tetapi keluarnya dari rasa takut adalah menuju qabdh, artinya tidak meninggalkan rasa takut sama sekali, karena qabdh-nya tidak membuatnya putus asa dan tidak membuatnya patah semangat, dan tidak membawanya pada penyelisihan atau pengangguran. Demikian pula harapannya tidak membuatnya duduk dari lapangan basth, bahkan ia berada di antara qabdh dan basth. Dan ini adalah keadaan kesempurnaan, yaitu berjalan antara qabdh dan basth.

Dan kegembiraannya: tidak membuatnya duduk dari naik ke lapangan musyahadah-nya, bahkan ia naik dengan kegembiraannya ke musyahadah, dan kembali dari harapannya ke basth, dan dari rasa takutnya ke qabdh.

Maksudnya: bahwa ia berpindah dari jasad keadaan-keadaan ini ke ruh-ruhnya. Karena rasa takut adalah jasad, dan qabdh adalah ruhnya. Harapan adalah jasad, dan basth adalah ruhnya. Kegembiraan adalah jasad, dan musyahadah adalah ruhnya. Maka bagiannya dari ketiga ini: adalah ruh-ruhnya dan hakikat-hakikatnya, bukan bentuk dan gambar-gambarnya.

Bab Tingkatan Ketiga: Mengetahui Adab

Bab

Beliau berkata: Tingkatan ketiga adalah mengetahui adab, kemudian fana dari beradab dengan pendidikan dari Allah, kemudian bebas dari menyaksikan beban-beban adab.

Perkataan beliau: “mengetahui adab.”

Maksudnya adalah harus mengetahui hakikat adab pada setiap tingkatan. Hal itu baru terjadi pada tingkatan ketiga, karena dari tingkatan ini seseorang dapat memandang adab pada dua tingkatan sebelumnya. Jika ia telah mengetahuinya dan hal itu menjadi kondisi batinnya, maka sepatutnya ia fana darinya, yaitu dengan didominasi oleh kesaksian terhadap Dzat yang menempatkannya dalam adab tersebut. Maka ia menisbatkan adab itu kepada Allah Taala, bukan kepada dirinya sendiri, dan ia fana dari melihat dirinya serta berdirinya dalam adab dengan menyaksikan karunia dari Dzat yang menempatkannya dalam adab itu beserta anugerah-Nya. Inilah yang dimaksud dengan fana dari beradab dengan pendidikan dari Allah.

Perkataan beliau: “kemudian bebas dari menyaksikan beban-beban adab.”

Maksudnya adalah ia fana dari menyaksikan adab secara keseluruhan karena tenggelam dalam menyaksikan hakikat dalam hadirat kesatuan (al-jam’) yang melenyapkannya dari adab. Maka fananya dari adab dalam hadirat tersebut adalah adab yang sejati.

Maka ketika itu ia merasa lega dari beban memikul tanggung jawab adab dan bebannya, karena tenggelamnya dalam menyaksikan hakikat tidak menyisakan sedikitpun beban adab padanya. Dan Allah Mahasuci lagi Mahatinggi, Maha Mengetahui.

Bab Tingkatan Keyakinan (Yaqin)

Hakikat Keyakinan dan Perkataan Para Ulama Tentangnya

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan keyakinan (yaqin).

Keyakinan bagi iman adalah seperti ruh bagi jasad. Dengannya para arif saling berbeda tingkatannya. Dalam keyakinan inilah orang-orang yang berkompetisi saling berlomba. Untuk mencapainya para pengamal berusaha keras. Amal perbuatan kaum sufi sesungguhnya berdasarkan keyakinan ini. Semua isyarat mereka menuju kepadanya. Apabila kesabaran menikah dengan keyakinan, maka akan lahir antara keduanya pencapaian kepemimpinan dalam agama. Allah Taala berfirman, dan dengan firman-Nya orang-orang yang mendapat petunjuk memperoleh petunjuk: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Surat As-Sajdah: 24).

Allah Mahasuci mengkhususkan orang-orang yang memiliki keyakinan untuk mendapat manfaat dari ayat-ayat dan bukti-bukti. Maka Dia berfirman, dan Dialah yang paling benar perkataannya: “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (Surat Adz-Dzariyat: 20).

Dan Allah mengkhususkan orang-orang yang memiliki keyakinan dengan petunjuk dan keberuntungan dari antara seluruh makhluk, maka Dia berfirman: “Dan mereka yang beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat Al-Baqarah: 4-5).

Dan Allah mengabarkan tentang penghuni neraka bahwa mereka bukan termasuk orang-orang yang memiliki keyakinan, maka Dia berfirman: “Dan apabila dikatakan (kepada mereka): ‘Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan hari kiamat tidak ada keraguan padanya,’ kamu menjawab: ‘Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami tidak meyakini (adanya hari kiamat).'” (Surat Al-Jatsiyah: 32).

Maka keyakinan adalah ruh dari amal-amal hati yang merupakan ruh dari amal-amal anggota badan. Keyakinan adalah hakikat shiddiqiyah (kejujuran yang sempurna). Keyakinan adalah poros dari urusan ini yang padanya semuanya berpusat.

Khalid bin Yazid meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri dan Sufyan bin Uyainah, dari At-Taimi, dari Khaitsamah, dari Abdullah bin Masud, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah engkau menyenangkan seseorang dengan memurkai Allah. Janganlah engkau memuji seseorang atas karunia Allah. Dan janganlah engkau mencela seseorang atas apa yang tidak Allah berikan kepadamu. Sesungguhnya rezeki dari Allah tidak akan didatangkan kepadamu oleh keserakahan orang yang serakah, dan tidak akan ditolak darimu oleh kebencian orang yang benci. Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan kebenaran-Nya menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam ridha dan keyakinan, dan menjadikan kesedihan dan duka dalam keraguan dan kemarahan.”

Keyakinan adalah pasangan dari tawakal. Oleh karena itu tawakal ditafsirkan dengan kekuatan keyakinan.

Yang benar adalah bahwa tawakal adalah buah dan hasil dari keyakinan. Oleh karena itu baik sekali penyandaran petunjuk bersamanya.

Allah Taala berfirman: “Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” (Surat An-Naml: 79). Maka kebenaran adalah keyakinan. Para rasul Allah berkata: “Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami.” (Surat Ibrahim: 12).

Apabila keyakinan sampai ke hati, maka hati itu akan penuh dengan cahaya dan sinar. Tersingkirlah darinya segala keraguan, kegelisahan, kemarahan, kesedihan, dan duka. Maka hati itu penuh dengan kecintaan kepada Allah, ketakutan kepada-Nya, ridha kepada-Nya, syukur kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Keyakinan adalah sumber semua tingkatan dan penopangnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang keyakinan: apakah ia dapat diperoleh dengan usaha ataukah merupakan anugerah?

Ada yang berkata: keyakinan adalah ilmu yang dititipkan dalam hati. Ini mengisyaratkan bahwa keyakinan bukan diperoleh dengan usaha.

Sahl berkata: keyakinan termasuk tambahan iman, dan tidak diragukan bahwa iman dapat diperoleh dengan usaha.

Yang benar: keyakinan dapat diperoleh dengan usaha jika ditinjau dari segi sebab-sebabnya, dan merupakan anugerah jika ditinjau dari hakikatnya sendiri.

Sahl berkata: permulaan keyakinan adalah mukasyafah (tersingkapnya hakikat). Sebagaimana perkataan sebagian salaf: seandainya tabir dibuka niscaya keyakinanku tidak akan bertambah. Kemudian mu’ayyanah (penyaksian) dan musyahadah (kesaksian).

Ibnu Khafif berkata: keyakinan adalah terealisasinya rahasia-rahasia dengan hukum-hukum yang gaib.

Abu Bakar bin Thahir berkata: ilmu dapat dimasuki keraguan, sedangkan keyakinan tidak ada keraguan padanya.

Menurut kaum sufi: keyakinan tidak dapat tinggal di dalam hati yang ada ketenangan kepada selain Allah.

Dzun Nun berkata: keyakinan menyeru untuk memendekkan angan-angan, dan memendekkan angan-angan menyeru kepada zuhud. Zuhud melahirkan hikmah, dan hikmah melahirkan pandangan terhadap akibat-akibat.

Beliau berkata: tiga hal dari tanda-tanda keyakinan: sedikitnya bergaul dengan manusia dalam pergaulan, meninggalkan memuji mereka dalam pemberian, dan menjaga diri dari mencela mereka ketika menahan.

Tiga hal lagi dari tanda-tandanya: melihat Allah dalam segala sesuatu, kembali kepada-Nya dalam setiap urusan, dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Al-Junaid berkata: keyakinan adalah stabilnya ilmu yang tidak berpindah, tidak berubah, dan tidak berganti dalam hati.

Ibnu Atha berkata: sesuai kadar kedekatan mereka dengan takwa, mereka meraih keyakinan.

Asal takwa adalah menjauhi larangan. Yaitu menjauhi hawa nafsu. Maka sesuai kadar perpisahan mereka dengan hawa nafsu, mereka sampai kepada keyakinan.

Ada yang berkata: keyakinan adalah mukasyafah. Mukasyafah ada tiga macam: mukasyafah dalam berita-berita, mukasyafah dengan menampakkan kekuasaan, dan mukasyafah hati dengan hakikat-hakikat iman.

Maksud kaum sufi dengan mukasyafah adalah: tampaknya sesuatu bagi hati sehingga nisbatnya kepada hati seperti nisbat sesuatu yang terlihat kepada mata. Maka tidak tersisa padamu keraguan dan ketidakyakinan sama sekali. Ini adalah puncak iman dan tingkatan ihsan.

Terkadang mereka maksudkan dengan mukasyafah hal lain, yaitu apa yang dilihat salah seorang dari mereka dalam barzakh antara tidur dan jaga pada awal terlepasnya ruh dari badan.

Barangsiapa dari mereka yang mengisyaratkan kepada selain dua hal ini, maka ia telah keliru dan tertipu.

As-Sari berkata: keyakinan adalah ketenangan hatimu ketika berbagai kemungkinan berputar di dadamu, karena keyakinanmu bahwa gerakanmu padanya tidak memberimu manfaat dan tidak menolak sesuatu yang telah ditakdirkan untukmu.

Abu Bakar Al-Warraq berkata: keyakinan adalah milik hati. Dengannya kesempurnaan iman. Dengan keyakinan Allah dikenal. Dengan akal, (seseorang) berakal dari Allah.

Al-Junaid berkata: sungguh beberapa orang telah berjalan dengan keyakinan di atas air, dan ada yang mati kehausan padahal ia lebih utama keyakinannya dari mereka.

Para ulama berbeda pendapat dalam memfadilkan keyakinan atas hudhur (kehadiran hati) dan hudhur atas keyakinan.

Ada yang berkata: hudhur lebih utama, karena ia adalah ketetapan, sedangkan keyakinan adalah bisikan-bisikan. Sebagian lainnya mengunggulkan keyakinan dan berkata: keyakinan adalah puncak iman. Yang pertama berpendapat bahwa keyakinan adalah permulaan hudhur, seolah-olah ia menjadikan keyakinan sebagai permulaan dan hudhur sebagai kelanjutan.

Perbedaan pendapat ini tidak jelas. Karena keyakinan tidak terpisah dari hudhur, dan hudhur tidak terpisah dari keyakinan. Bahkan dalam keyakinan terdapat tambahan iman, pengetahuan tentang perincian-perinciannya dan cabang-cabangnya, serta menempatkannya pada tempatnya – yang tidak terdapat dalam hudhur. Maka keyakinan lebih sempurna dari segi ini. Sedangkan dalam hudhur terdapat kesatuan, tidak adanya perpecahan, dan masuknya ke dalam fana – yang mungkin terpisah dari keyakinan. Maka keyakinan lebih khusus dengan makrifat, dan hudhur lebih khusus dengan iradah (kemauan). Wallahu a’lam.

An-Nahrjuri berkata: apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat-hakikat keyakinan, maka bala menjadi nikmat baginya dan kemudahan menjadi musibah baginya.

Abu Bakar Al-Warraq berkata: keyakinan ada tiga macam: keyakinan berita, keyakinan dalil, dan keyakinan penyaksian.

Maksudnya dengan keyakinan berita: ketenangan hati terhadap berita pemberi berita dan mempercayainya. Dengan keyakinan dalil: yang lebih tinggi darinya, yaitu selain mempercayai kejujurannya, ia juga menegakkan dalil-dalil yang menunjukkan apa yang dikhabarkannya.

Ini seperti kebanyakan berita-berita iman, tauhid, dan Al-Quran. Sesungguhnya Allah Mahasuci – selain Dia adalah yang paling jujur – menegakkan bagi hamba-hamba-Nya dalil-dalil, perumpamaan, dan bukti-bukti atas kebenaran berita-berita-Nya. Maka mereka memperoleh keyakinan dari dua segi: dari segi berita dan dari segi dalil.

Kemudian mereka naik dari itu kepada tingkatan ketiga, yaitu keyakinan mukasyafah, sehingga sesuatu yang dikhabarkan itu menjadi bagi hati mereka seperti sesuatu yang terlihat oleh mata mereka. Maka nisbat iman kepada yang gaib ketika itu bagi hati seperti nisbat sesuatu yang terlihat kepada mata. Ini adalah jenis mukasyafah yang paling tinggi. Inilah yang diisyaratkan oleh Amir bin Abdil Qais dalam perkataannya: seandainya tabir dibuka niscaya keyakinanku tidak akan bertambah. Ini bukan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bukan pula perkataan Ali, sebagaimana yang disangka orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang riwayat-riwayat.

Sebagian mereka berkata: aku melihat surga dan neraka secara hakiki. Dikatakan kepadanya: bagaimana? Ia berkata: aku melihat keduanya dengan mata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan melihatku kepada keduanya dengan matanya lebih berbekas bagiku daripada melihatku kepada keduanya dengan mataku. Karena mataku mungkin salah dan menyimpang, berbeda dengan matanya shallallahu alaihi wasallam.

Keyakinan memikul seseorang pada hal-hal yang menakutkan dan menempuh bahaya. Keyakinan selalu menyuruh untuk maju ke depan. Jika tidak disertai ilmu, maka akan membawa kepada kehancuran.

Sedangkan ilmu menyuruh untuk mundur dan berhati-hati. Jika tidak disertai keyakinan, maka akan menahan pemiliknya dari keuntungan dan ghanimah. Wallahu a’lam.

Bab Definisi Ibnu Qayyim tentang Keyakinan

Bab

Penulis kitab “Manazil As-Sairin” rahimahullah berkata:

Keyakinan adalah kendaraan orang yang menempuh jalan ini. Keyakinan adalah puncak tingkatan orang awam. Dan dikatakan: keyakinan adalah langkah pertama orang khusus.

Karena keyakinan adalah yang memikul orang yang berjalan menuju Allah – sebagaimana perkataan Abu Said Al-Kharraz: ilmu adalah apa yang membuatmu beramal, dan keyakinan adalah apa yang memikulmu – maka ia menyebutnya sebagai kendaraan yang dikendarai oleh orang yang berjalan menuju Allah. Karena seandainya tidak ada keyakinan, tidak akan ada kafilah yang berjalan menuju Allah, dan tidak akan tegak kaki seseorang dalam suluk kecuali dengannya.

Ia menjadikan keyakinan sebagai tingkatan terakhir orang awam karena mereka berakhir padanya. Kemudian ia menukilkan perkataan yang mengatakan: keyakinan adalah langkah pertama bagi orang khusus.

Maksudnya: keyakinan bukan tingkatan bagi mereka, melainkan hanya awal bagi suluk mereka. Dari keyakinanlah mereka memulai suluk dan perjalanan mereka. Ini karena orang khusus menurutnya adalah orang yang berjalan menuju hakikat kesatuan dan fana dalam menyaksikan hakikat. Tidak ada cita-cita yang menghentikan mereka selainnya. Mereka tidak singgah di bawahnya pada sesuatu yang bersifat sementara. Maka semua yang di bawahnya adalah tempat penyaksian orang awam, tingkatan-tingkatan dan kedudukan-kedudukan mereka, bahkan termasuk kecintaan.

Cukuplah bagimu dengan menjadikan keyakinan sebagai puncak bagi orang awam dan awal bagi mereka. Beliau berkata:

Tingkatan-tingkatan Keyakinan

Tingkatan Pertama: Ilmu Yaqin (Ilmu yang Meyakinkan)

Keyakinan ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ilmu yaqin. Yaitu menerima apa yang tampak dari Allah, menerima apa yang gaib bagi Allah, dan berdiri di atas apa yang ditegakkan oleh Allah.

Syaikh menyebutkan dalam tingkatan ini tiga hal yang merupakan objek keyakinan dan rukun-rukunnya.

Pertama: menerima apa yang tampak dari Allah Taala. Yang tampak dari-Nya Mahasuci adalah: perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya yang tampak bagi kita dari-Nya melalui lisan para rasul-Nya. Maka kita menerimanya dengan penerimaan dan ketundukan, kepasrahan dan penyerahan kepada ketuhanan, serta masuk di bawah penghambaan.

Kedua: menerima apa yang gaib bagi Allah, yaitu beriman kepada yang gaib yang dikhabarkan oleh Allah Mahasuci melalui lisan para rasul-Nya tentang urusan-urusan akhirat dan perinciannya, surga dan neraka, dan sebelum itu: shirath, mizan, hisab, dan sebelum itu: terbelahnya langit dan retaknya, berhamburannya bintang-bintang, lenyapnya gunung-gunung, terlipat-lipatnya alam, dan sebelum itu: urusan-urusan alam barzakh, nikmat dan azabnya.

Maka menerima semua ini – dengan iman, pembenaran, dan keyakinan – adalah keyakinan. Sehingga tidak masuk ke hati tentangnya syubhat, keraguan, kelupaan, dan kelengahan darinya. Karena jika tidak menghancurkan keyakinannya, ia akan merusaknya dan melemahkannya.

Ketiga: berdiri di atas apa yang ditegakkan pada Allah Mahasuci dari nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Ini adalah ilmu tauhid yang asasnya adalah: menetapkan nama-nama dan sifat-sifat. Lawannya adalah: ta’thil (peniadaan), penafian, dan serangan. Maka tauhid ini dilawankan dengan ta’thil.

Adapun tauhid qashdi iradi (tauhid perbuatan dan kemauan) yang merupakan ikhlas dalam beramal untuk Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, maka lawannya adalah syirik. Ta’thil lebih buruk daripada syirik, karena orang yang meniadakan adalah orang yang mengingkari Dzat atau kesempurnaan-Nya. Itu adalah pengingkaran terhadap hakikat ketuhanan. Karena sesungguhnya Dzat yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak ridha, tidak murka, dan tidak melakukan sesuatu apapun, serta tidak berada di dalam alam dan tidak di luarnya, tidak bersambung dengan alam dan tidak terpisah, tidak berdampingan dengannya dan tidak berbeda, tidak berdekatan dan tidak berjarak jauh, tidak di atas Arasy dan tidak di bawah Arasy, tidak di belakangnya dan tidak di depannya, tidak di sebelah kanannya dan tidak di sebelah kirinya – sama saja dzat itu dengan ketiadaan.

Sedangkan musyrik (orang yang menyekutukan Allah) mengakui Allah dan sifat-sifat-Nya, tetapi ia menyembah selain-Nya bersama-Nya. Maka ia lebih baik daripada orang yang meniadakan Dzat dan sifat-sifat.

Maka keyakinan adalah berdiri di atas apa yang ditegakkan pada Allah dari nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tauhid-Nya. Ketiga hal ini adalah ilmu-ilmu paling mulia bagi makhluk: ilmu tentang perintah dan larangan, ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat serta tauhid, dan ilmu tentang kebangkitan dan hari akhir. Wallahu a’lam.

Bab Tingkatan Kedua: Ainul Yaqin (Mata Keyakinan)

Bab

Beliau berkata: Tingkatan kedua adalah Ainul Yaqin (mata keyakinan). Yaitu yang menjadikan tidak perlu lagi beristidlal (mencari dalil) untuk beristidlal, dan tidak perlu lagi khabar (berita) karena telah menyaksikan langsung, dan penyaksian telah menembus hijab ilmu.

Perbedaan antara ilmul yaqin dan ainul yaqin adalah seperti perbedaan antara berita yang benar dengan penyaksian langsung. Sedangkan haqqul yaqin lebih tinggi dari ini.

Ketiga tingkatan ini telah dicontohkan dengan seseorang yang memberitahumu bahwa dia memiliki madu, dan kamu tidak meragukan kejujurannya. Kemudian dia memperlihatkannya kepadamu, maka bertambahlah keyakinanmu. Kemudian kamu merasakannya.

Yang pertama adalah ilmul yaqin. Yang kedua adalah ainul yaqin. Yang ketiga adalah haqqul yaqin.

Maka pengetahuan kita saat ini tentang surga dan neraka adalah ilmul yaqin. Ketika surga didekatkan di padang Mahsyar bagi orang-orang yang bertakwa dan disaksikan oleh seluruh makhluk, dan neraka Jahim diperlihatkan kepada orang-orang yang sesat dan dilihat oleh seluruh makhluk, maka itulah ainul yaqin. Ketika penghuni surga dimasukkan ke dalam surga dan penghuni neraka ke dalam neraka, maka itulah haqqul yaqin.

Perkataan beliau: “Yaitu yang menjadikan tidak perlu lagi beristidlal untuk beristidlal.”

Yang dimaksud dengan istidlal adalah idrak (pemahaman) dan syuhud (penyaksian). Artinya, pemiliknya telah merasa cukup dengannya dari mencari dalil. Karena seseorang mencari dalil hanya untuk memperoleh ilmu tentang yang ditunjukkan oleh dalil. Ketika yang ditunjukkan itu sudah disaksikan langsung olehnya dan telah dipahami melalui kasyafnya, maka untuk apa lagi memerlukan istidlal?

Inilah makna dari tidak memerlukan lagi khabar (berita) karena telah menyaksikan langsung.

Adapun perkataan beliau: “Dan penyaksian telah menembus hijab ilmu,” yang dimaksud adalah bahwa makrifat-makrifat yang diperoleh pemilik tingkatan ini berasal dari penyaksian yang menembus hijab ilmu. Karena ilmu adalah hijab dari penyaksian. Pada tingkatan ini hijab terangkat dan sampai kepada yang diketahui, sehingga berhadapan langsung dengan bashirah dan hatinya secara langsung.

Bab Tingkatan Ketiga: Haqqul Yaqin (Hakikat Keyakinan)

Bab

Beliau berkata: Tingkatan ketiga adalah haqqul yaqin. Yaitu terbitnya fajar kasyaf, kemudian terbebas dari beban yaqin, kemudian fana dalam haqqul yaqin.

Ketahuilah bahwa tingkatan ini tidak dapat dicapai di dunia ini kecuali oleh para rasul shallallahu alaihi wa sallam semuanya. Karena Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam melihat dengan mata kepalanya surga dan neraka, dan Musa alaihissalam mendengar kalam Allah langsung dari-Nya kepadanya tanpa perantara, dan Allah berbicara kepadanya secara langsung. Dan Allah menampakkan diri kepada gunung sementara Musa melihat, maka Allah menjadikannya hancur luluh.

Namun, kita dapat memperoleh haqqul yaqin dari suatu tingkatan, yaitu merasakan apa yang diberitakan oleh Rasul shallallahu alaihi wa sallam tentang hakikat-hakikat iman yang berkaitan dengan hati dan amal-amalnya. Karena ketika hati menyentuhnya dan merasakannya, maka menjadi haqqul yaqin baginya.

Adapun dalam perkara-perkara akhirat dan hari kebangkitan, melihat Allah secara nyata dengan mata kepala, dan mendengar kalam-Nya secara hakiki tanpa perantara—maka bagian seorang mukmin darinya di dunia ini adalah iman dan ilmul yaqin. Sedangkan haqqul yaqin tertunda hingga waktu perjumpaan.

Namun karena salik (penempuh jalan) pada pandangannya berakhir pada fana, dan benar-benar menyaksikan hakikat, dan sampai pada ainal jam’ (mata kesatuan), maka dia berkata: Haqqul yaqin adalah terbitnya fajar kasyaf.

Artinya: kepastian dan ketetapannya, dan dominasi cahayanya atas kegelapan malam hijab. Maka berpindahlah dari tahapan ilmu menuju tenggelam dalam penyaksian dengan fana dari rasm (bentuk lahiriah) secara menyeluruh.

Dan perkataan beliau: “Kemudian terbebas dari beban yaqin.”

Artinya: bahwa yaqin memiliki hak-hak yang wajib dipenuhi oleh pemiliknya, dilaksanakan, dan menanggung beban serta kesulitannya. Ketika fana dalam tauhid, dia memperoleh perkara-perkara lain yang sangat tinggi dan luhur. Dalam kondisi ini dia menjadi terbawa, setelah sebelumnya membawa; dan menjadi terbang, setelah sebelumnya berjalan. Maka hilang darinya beban memikul hak-hak tersebut. Bahkan menjadi baginya seperti nafas, dan seperti air bagi ikan. Dan ini adalah perkara yang harus dikembalikan kepada rasa dan perasaan. Maka janganlah tergesa-gesa mengingkarinya.

Dan perhatikanlah keadaan sahabat yang mengambil kurma-kurmanya dan duduk memakannya dalam keadaan membutuhkan, lapar, dan sangat memerlukan kurma itu. Ketika dia menyaksikan pasar kesyahidan dimulai, dia melemparkan makanannya dari tangannya dan berkata: “Sungguh, ini adalah hidup yang panjang jika aku bertahan hingga memakan kurma-kurma ini.” Dia melemparkannya dari tangannya dan berperang hingga gugur. Demikian pula keadaan-keadaan para sahabat radhiyallahu anhum sesuai dengan apa yang beliau isyaratkan.

Namun, tersisa nukta (poin) yang sangat penting, dan inilah tempat sujud, yaitu bahwa fana mereka bukanlah dalam tauhid rububiyah dan penyaksian hakikat yang diisyaratkan oleh para ahli fana, melainkan dalam tauhid uluhiyah. Mereka fana dengan cinta kepada-Nya dari cinta kepada selain-Nya, dan dengan kehendak-Nya dari mereka atas kehendak dan kepentingan mereka. Mereka tidak beramal untuk mencapai fana atau tenggelam dalam penyaksian yang menjadikan mereka fana dari kehendak Kekasih mereka terhadap mereka, melainkan mereka telah fana dengan kehendak-Nya dari kehendak mereka. Maka mereka adalah ahli baqa dalam fana, farq dalam jam’, katsrah dalam wahdah, dan hakikat kauniyah dalam hakikat diniyah.

Merekalah kaum itu, tidak ada kaum selain mereka Dan kalau bukan karena mereka, kita tidak akan mendapat petunjuk jalan

Maka perbandingan keadaan-keadaan orang-orang setelah mereka yang benar dan sempurna dengan keadaan-keadaan mereka adalah seperti perbandingan apa yang menetes dari wadah dan qirbah (tempat air) dengan apa yang ada di dalamnya.

Adapun jalan yang menyimpang dan rusak, maka itu adalah jalan selain jalan mereka. Dan karunia di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.

Bab Tingkatan Uns dengan Allah

Pengertian Uns

Bab Tingkatan Uns dengan Allah

Dan termasuk tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan uns dengan Allah.

Penulis kitab Manazil rahimahullah berkata:

Dan uns adalah ruh kedekatan, dan karena itulah tingkatan ini dibuka dengan firman Allah Taala: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (Surat Al-Baqarah: 186).

Maka hadirnya hati dengan kebaikan, ihsan, dan kelembutan ini menimbulkan kedekatannya kepada Rabb Subhanahu wa Taala. Dan kedekatannya kepada-Nya menimbulkan baginya uns. Dan uns adalah buah dari ketaatan dan mahabbah. Maka setiap orang yang taat merasa aman, dan setiap orang yang bermaksiat merasa terasing. Sebagaimana dikatakan:

Jika dosa-dosa membuatmu merasa asing Maka tinggalkanlah jika kamu mau dan nikmatilah kedamaian

Dan kedekatan menimbulkan uns, haibah (rasa takut mengagungkan), dan mahabbah.

Penulis kitab Manazil rahimahullah berkata:

Tingkatan-Tingkatan Uns

Tingkatan Pertama: Uns dengan Syawahid

Uns terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama: uns dengan syawahid, yaitu menikmati dzikir, mendapat makanan rohani dari sima’, dan memahami isyarat-isyarat.

Mereka menggunakan lafaz ini dalam perkataan mereka—maksudku lafaz syawahid—dan yang mereka maksud dengannya ada dua perkara.

Pertama: hakikat, yaitu apa yang tegak di hati seorang hamba, hingga seolah-olah dia menyaksikannya dan melihatnya karena dominasinya atas dirinya. Maka setiap yang menguasai hati pemiliknya dalam ingatan: maka itulah syahidnya. Sebagian dari mereka syahidnya adalah amal. Sebagian syahidnya adalah dzikir. Sebagian syahidnya adalah mahabbah. Sebagian syahidnya adalah khauf.

Maka murid merasa aman dengan syahidnya, dan merasa asing ketika kehilangannya.

Kedua: syahid hal, yaitu pengaruh yang tegak padanya dan tampak darinya berupa amalnya, suluknya, dan halnya. Karena syahidnya pasti akan tampak padanya.

Dan maksud penulis Manazil adalah syahid yang pertama, yang menjadi sumber ketenangan bagi murid, dan itu adalah yang mendorongnya untuk menikmati dzikir, mencari keberuntungannya dengan memperoleh yang diingat. Maka dia merasa tenang dengan dzikir mencari ketenangan dengan yang diingat, dan mendapat makanan rohani dari sima’ sebagaimana tubuh mendapat makanan dari makan dan minum.

Jika dia adalah pencinta yang jujur, pencari Allah, beramal untuk meraih keridaan-Nya, maka makanan rohaninya adalah dari sima’ Qurani, yang dahulu menjadi makanan rohani para pemimpin orang-orang yang mengenal Allah dari umat ini, yang paling bersih hatinya, dan paling sehat keadaannya. Mereka adalah para sahabat radhiyallahu anhum.

Dan jika dia adalah orang yang menyimpang dengan keadaan yang rusak, tertipu, terpedaya: maka makanan rohaninya adalah dari sima’ syaitani, yang merupakan Quran syaitan, yang mengandung kesukaan nafsu, kelezatan, dan kesenangannya. Dan para pengikutnya adalah makhluk yang paling jauh dari Allah, dan paling tebal hijabnya dari-Nya, meskipun banyak isyarat-isyarat mereka kepada-Nya.

Dan sima’ Qurani ini adalah sima’ ahli makrifat kepada Allah dan istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Dan diperoleh bagi pikiran-pikiran yang jernih dari makna-makna, isyarat-isyarat, makrifat-makrifat, dan ilmu-ilmu yang menjadi makanan bagi hati-hati yang bersinar dengan cahaya uns. Maka dia menemukan dengannya dan untuknya kelezatan ruhaniah yang nikmatnya sampai kepada hati dan ruh. Dan terkadang melimpah hingga sampai kepada tubuh, maka dia menemukan kelezatan yang tidak pernah dia rasakan seperti itu dari kelezatan-kelezatan indrawi. Dan makanan rohani dari sima’ memiliki rahasia yang lembut yang akan kami sebutkan karena lembutnya kedudukannya.

Yaitu yang menyebabkan banyak dari para salik lebih memilih mendengar syair-syair, karena apa yang dia lihat di dalamnya berupa makanan rohani hati, kekuatan, dan nikmatnya. Seandainya kamu membawa kepadanya seribu ayat dan seribu hadits, dia tidak akan memberikan separuh dari pendengarannya. Dan itu baginya lebih besar daripada zahir-zahir yang digunakan para filsuf dan ahli kalam untuk menentang.

Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi hati dua jenis makanan: jenis pertama dari makanan dan minuman indrawi. Dan bagi hati darinya adalah sarinya dan yang paling murni, dan bagi setiap organ darinya sesuai dengan kesiapan dan penerimaannya.

Dan kedua: makanan rohani maknawi, di luar makanan dan minuman: berupa kegembiraan, suka cita, kebahagiaan, dan kelezatan, serta ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat. Dan dengan makanan rohani ini menjadi samawi ulwi. Dan dengan makanan yang bersama-sama menjadi ardhi sufli. Dan tegaknya dengan kedua makanan ini. Dan baginya ada keterkaitan dengan setiap satu dari lima panca indera, dan makanan yang sampai kepadanya darinya.

Baginya ada keterkaitan dengan indera peraba, dan sampai kepadanya makanan darinya. Demikian juga indera penciuman. Demikian juga indera pengecap. Demikian juga keterkaitannya dengan dua indera pendengaran dan penglihatan: lebih kuat dari keterkaitannya dengan yang lain. Dan sampainya makanan kepadanya dari keduanya lebih sempurna dan lebih kuat daripada indera-indera lainnya. Dan reaksinya terhadap keduanya lebih kuat dari reaksinya terhadap yang lain. Dan karena itulah kamu dapati dalam Quran pengaitan keduanya dengannya lebih banyak dari pengaitan yang lain dengannya. Bahkan hampir tidak pernah dikaitkan kecuali dengan keduanya atau dengan salah satunya.

Allah Taala berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur” (Surat An-Nahl: 78). Dan Allah Taala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah menjadikan mereka berkuasa terhadap apa yang Kami tidak menjadikan kamu berkuasa terhadapnya, dan Kami anugerahkan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah; dan (azab) yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya menimpa mereka” (Surat Al-Ahqaf: 26). Dan Allah Taala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (Surat Al-A’raf: 179). Dan Allah Taala berfirman dalam sifat orang-orang kafir: “(Mereka adalah) orang tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti” (Surat Al-Baqarah: 171). Dan Allah Taala berfirman: “Maka tidakkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (Surat Al-Hajj: 46). Dan ini sangat banyak sekali dalam Quran.

Karena pengaruh hati terhadap apa yang dilihat dan didengarnya lebih besar daripada pengaruhnya terhadap apa yang disentuh, dicicipi, dan dicium. Dan karena ketiga hal ini adalah jalan-jalan ilmu, yaitu: pendengaran, penglihatan, dan akal.

Keterikatan hati dengan pendengaran dan hubungannya dengannya lebih kuat daripada keterikatan dan hubungannya dengan penglihatan. Oleh karena itu, hati lebih terpengaruh oleh hal-hal yang menyenangkan yang didengarnya daripada hal-hal yang indah yang dilihatnya. Demikian pula dalam hal-hal yang dibenci, baik yang didengar maupun yang dilihat. Oleh karena itu, pendapat yang benar dari dua pendapat adalah bahwa indra pendengaran lebih utama daripada indra penglihatan karena kuatnya keterikatan pendengaran dengan hati, besarnya kebutuhan hati kepadanya, kesempurnaan hati bergantung padanya, sampainya ilmu-ilmu kepada hati melaluinya, dan tergantungnya petunjuk pada keselamatan pendengaran.

Kelompok lain mengunggulkan indra penglihatan karena kesempurnaan yang dipersepsinya, tidak mungkinnya kebohongan padanya, hilangnya keraguan dan keraguan dengannya, dan karena penglihatan adalah ‘ainul yaqin (keyakinan dengan mata kepala). Sedangkan batas tertinggi persepsi indra pendengaran adalah ‘ilmul yaqin (keyakinan dengan ilmu). Dan ‘ainul yaqin lebih utama dan lebih sempurna daripada ‘ilmul yaqin. Dan karena objek penglihatan adalah melihat wajah Tuhan Yang Mulia dan Agung di negeri kenikmatan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih agung daripada keterikatan ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu telah memutuskan antara kedua kelompok dengan keputusan yang baik. Beliau berkata: Yang dipersepsi oleh indra pendengaran lebih umum dan menyeluruh. Dan yang dipersepsi oleh indra penglihatan lebih lengkap dan sempurna. Maka pendengaran memiliki keumuman, keseluruhan, dan mencakup yang ada dan yang tidak ada, yang hadir dan yang tidak hadir, yang inderawi dan yang maknawi. Sedangkan penglihatan memiliki kesempurnaan dan kelengkapan.

Jika hal ini dipahami, maka kelima indra ini memiliki jasad dan ruh, dan ruh-ruhnya adalah bagian dan nasib hati darinya. Di antara manusia ada yang hatinya tidak mendapat bagian darinya kecuali seperti bagian hewan ternak. Maka dia seperti hewan ternak, dan antara dia dengan hewan ternak hanya tingkat pertama kemanusiaan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu menyerupakan mereka dengan hewan ternak, bahkan menjadikan mereka lebih sesat. Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan: 44) Oleh karena itu, Allah meniadakan pendengaran, penglihatan, dan akal dari orang-orang kafir. Baik karena tidak adanya manfaat mereka darinya sehingga menjadi seperti tidak ada, atau karena peniadaan tersebut ditujukan kepada pendengaran hati mereka, penglihatannya, dan persepsinya. Oleh karena itu, hal itu tampak bagi mereka ketika hakikat-hakikat perkara tersingkap, seperti ucapan penghuni neraka Saqar: “Sekiranya kami mendengar atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10) Dan termasuk dalam hal ini menurut salah satu dari dua takwil adalah firman Allah Ta’ala: “Dan kamu melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat.” (Al-A’raf: 198) Karena mereka memandang sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan indra lahir, tetapi tidak melihat hakikat kenabiannya dan maknanya dengan indra batin yang merupakan penglihatan hati.

Pendapat kedua: bahwa kata ganti kembali kepada berhala. Kemudian di dalamnya ada dua pendapat.

Pertama: bahwa itu adalah tasybih (perumpamaan), artinya seolah-olah mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak memiliki penglihatan untuk melihatmu.

Kedua: yang dimaksud adalah muqabalah (berlawanan). Orang Arab berkata: rumahku memandang rumahmu, artinya berhadapan dengannya.

Demikian pula pendengaran tetap ada pada mereka, dan dengannya hujjah ditegakkan atas mereka. Dan pendengaran dinafikan dari mereka, yaitu pendengaran hati. Karena mereka mendengar Al-Qur’an dari sisi pendengaran inderawi yang bersifat umum, seperti kambing yang tidak mendengar kecuali suara penggembala yang memanggil dan memanggilnya. Dan mereka tidak mendengarkannya dengan ruh yang hakiki, yang merupakan ruh indra pendengaran, yang merupakan bagian hati. Seandainya mereka mendengarnya dari sisi ini, niscaya mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik, yang munculnya dari pendengaran yang bersambung pengaruhnya dengan hati. Dan akan hilang dari mereka ketulian dan kebisuan. Dan mereka akan menyelamatkan diri mereka dari neraka Saqar dengan meninggalkan orang-orang yang tidak memiliki pendengaran dan akal.

Maka terjadinya pendengaran yang hakiki adalah permulaan bagi munculnya tanda-tanda kehidupan yang baik, yang merupakan jenis kehidupan yang paling sempurna di dunia ini. Karena dengannya terjadi nutrisi hati dan menjadi seimbang. Maka sempurnalah kekuatannya dan kehidupannya, kegembiraannya dan kenikmatannya, dan keceriaannya. Dan jika kehilangan nutrisinya yang baik, maka dia membutuhkan untuk menggantinya dengan nutrisi yang buruk dan kotor. Dan jika nutrisinya rusak, maka dia menjadi buruk dan berkurang kehidupannya, kekuatannya, kegembiraannya dan kenikmatannya sesuai dengan kerusakan nutrisinya, seperti badan jika nutrisinya rusak maka berkurang.

Karena keterikatan pendengaran lahir yang inderawi dengan hati lebih kuat, dan jarak antara keduanya lebih dekat daripada jarak antara penglihatan dengan hati, maka pendengaran lahir menyampaikan pengaruh apa yang berkaitan dengannya kepada hati lebih cepat daripada pengaruh penglihatan lahir menyampaikannya. Oleh karena itu, terkadang seseorang pingsan ketika mendengar perkataan yang membuatnya gembira atau sedih, atau suara yang merdu, baik, menggetarkan hati, dan sesuai. Dan hampir tidak terjadi baginya hal itu dari melihat hal-hal yang indah dengan penglihatan lahir.

Terkadang hal yang didengar ini sangat berpengaruh pada hati, tetapi pemiliknya tidak merasakannya karena kesibukan dengan hal lain, dan karena perbedaan antara lahir dan batinnya pada waktu itu. Jika terjadi pada dirinya semacam ketarahjuhan dan latihan, maka tampaklah kekuatan pengaruh dan ketertarikan itu.

Semakin terarah ruh dan hati, dan terputus dari keterikatan badan, maka semakin sempurna bagian mereka dari pendengaran itu, dan semakin kuat terpengaruhnya.

Jika yang didengar adalah makna yang mulia dengan suara yang merdu, maka hati mendapatkan bagian dan nasibnya dari pemahaman makna, dan bergembira dengannya dengan kegembiraan yang sempurna sesuai dengan pemahamannya. Dan ruh mendapatkan bagian dan nasibnya dari kelezatan suara, nadanya, dan keindahannya. Maka dia bergembira dengannya. Maka kelezatan berlipat ganda, kegembiraan menjadi sempurna, dan terjadilah kenyamanan, hingga terkadang meluap kepada badan dan anggota tubuh, dan kepada teman duduk.

Dan ini tidak terjadi dengan sempurna di dunia ini. Dan tidak terjadi kecuali ketika mendengar kalam Allah. Jika ruh terarah dan siap, dan hati menyaksikan langsung ruh makna, dan menghadap dengan sepenuhnya kepada yang didengar, maka dia memberi pendengaran sementara dia menyaksikan, dan dibantu oleh indahnya suara pembaca, maka hampir-hampir hati meninggalkan dunia ini dan memasuki dunia lain, dan menemukan kelezatan dan keadaan yang tidak pernah dialaminya pada sesuatu selainnya sama sekali. Dan itu adalah setitik dari keadaan penghuni surga di surga.

Alangkah baiknya nutrisi itu, betapa bermanfaatnya.

Dan haram bagi hati yang telah dibesarkan dengan nutrisi pendengaran setan untuk menemukan sesuatu dari itu dalam mendengar Al-Qur’an. Bahkan jika terjadi baginya semacam kelezatan, maka itu dari sisi suara yang bersifat umum, bukan dari sisi makna yang khusus.

Dan tidak ada dalam kenikmatan penghuni surga yang lebih tinggi daripada melihat wajah Allah yang mereka cintai Subhanahu wa Ta’ala secara langsung, dan mendengar kalam-Nya dari-Nya.

Abdullah ibn Imam Ahmad menyebutkan dalam kitab As-Sunnah sebuah riwayat – saya tidak ingat sekarang apakah mauquf atau marfu’ – Jika manusia mendengar Al-Qur’an pada hari kiamat dari Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla, maka seolah-olah mereka tidak pernah mendengarnya sebelum itu.

Dan jika hati penuh dengan sesuatu, dan meningkat perbedaan yang sangat antara lahir dan batin, maka telinga menyampaikan kepada hati dari yang didengar apa yang sesuai dengannya, meskipun yang didengar itu tidak menunjukkan itu dan tidak dimaksudkan oleh pembicara. Dan tidak khusus itu pada perkataan yang menunjukkan makna, bahkan bisa terjadi pada suara-suara yang murni.

Al-Qusyairi berkata: Aku mendengar Abu Abdullah As-Sulami berkata: Aku masuk menemui Abu Utsman Al-Maghribi dan ada seorang laki-laki menimba air dari sumur dengan katrol. Maka dia berkata: Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu tahu apa yang dikatakan katrol ini? Maka aku berkata: Tidak. Maka dia berkata: Dia berkata: Allah, Allah.

Dan yang seperti itu banyak. Seperti Abu Sulaiman Ad-Dimasyqi mendengar dari penyeru: Wahai sa’tar barri: is’a tara barri (Wahai thyme liar: cepatlah engkau lihat di daratanku).

Dan pendengaran ruhani ini adalah pengikut dari hakikat hati dan materinya darinya, maka persatuan dengannya membuat pendengar mengira bahwa dia pasti memahami makna itu dari suara luar. Dan sebab itu adalah persatuan pendengaran dengan hati.

Dan pendengaran yang paling sempurna adalah pendengaran orang yang mendengar dengan Allah apa yang didengar dari Allah yaitu kalam-Nya. Dan dia adalah pendengaran orang-orang yang mencintai dan dicintai. Sebagaimana dalam hadits yang ada dalam Shahih Bukhari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam apa yang diriwayatkan dari Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala bahwa Dia berfirman: “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia dengar dengannya, penglihatannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dia memukul dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Maka dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memukul, dan dengan-Ku dia berjalan.”

Dan hati terpengaruh oleh pendengaran sesuai dengan cinta yang ada di dalamnya. Jika dia penuh dengan cinta kepada Allah dan mendengar kalam kekasihnya – yaitu dengan kebersamaan dan kehadirannya di dalam hatinya – maka baginya dari pendengarannya ini ada keadaan, dan bagi yang lain ada keadaan lain. Wallahu a’lam.

Pasal

Dan yang kedua terbagi menjadi tiga bagian.

Pertama: orang yang hatinya bersifat dengan sifat-sifat nafsunya, sehingga hatinya menjadi nafsu murni. Maka mengalahkan dirinya bencana syahwat dan ajakan hawa nafsu. Maka bagian orang ini dari pendengaran seperti bagian hewan, tidak mendengar kecuali panggilan dan seruan. Dan perbedaan antara hewan dengan dia tidak berarti.

Bagian kedua: orang yang nafsunya bersifat dengan sifat-sifat hatinya, maka nafsunya menjadi hati murni. Maka mengalahkan dirinya pengetahuan, cinta, akal, dan inti. Dan dia mencintai sifat-sifat kesempurnaan. Maka nafsunya tersinari dengan cahaya hati, dan tenang kepada Tuhannya. Dan matanya sejuk dengan penghambaan kepada-Nya. Dan menjadi kenikmatannya dalam cinta dan kedekatan kepada-Nya. Maka bagian orang ini dari pendengaran seperti – atau mendekati – bagian malaikat. Dan pendengarannya adalah nutrisi hatinya dan ruhnya, penyejuk matanya dan kenikmatannya dari dunia, taman-tamannya yang dia berkeliling di dalamnya, dan kehidupannya yang dengannya dia berdiri. Dan kepada makna inilah para ahli mendengarkan puisi dan syair. Tetapi mereka salah jalan dan mengambil dari jalan ke kiri dan ke belakang.

Bagian ketiga: orang yang memiliki kedudukan antara dua kedudukan. Dan hatinya tetap pada fitrahnya yang pertama. Tetapi dia tidak bertindak di dalam nafsunya dengan tindakan yang mengubahnya kepadanya dan menghilangkan dengannya tanda-tandanya dan membersihkan darinya kegelapannya. Dan tidak pula nafsu kuat atas hati dengan mengubahnya kepadanya dan bertindak di dalamnya dengan tindakan yang menghilangkan darinya cahayanya, kesehatannya, dan fitrahnya.

Maka antara hati dan nafsu ada pertempuran dan peperangan, dan perang antara keduanya berganti-ganti dan bolak-balik, nafsu menguasainya terkadang, dan dia menguasainya terkadang.

Maka bagian orang ini dari pendengaran: bagian antara dua bagian, dan nasibnya darinya antara dua nasib. Jika menimpanya waktu kemenangan hati, maka bagiannya darinya kuat. Dan jika menimpanya waktu kemenangan nafsu, maka lemah.

Dan dari sinilah terjadi perbedaan dalam memahami dari Allah, pemahaman dari-Nya, kegembiraan dan kenikmatan dengan mendengar kalam-Nya.

Dan pemilik keadaan ini – dalam keadaan mendengarnya – hati sibuk dengan perang antara dia dengan nafsu, maka hilang darinya ruh yang didengar, kenikmatannya, dan kelezatannya sesuai dengan kesibukannya dari itu dengan peperangan. Dan tidak ada jalan baginya untuk mendapatkan itu dengan sempurna, hingga perang meletakkan beban-bebannya. Dan terkadang menimpanya dalam keadaan mendengar datangnya kebenaran, atau mendapatkan makna yang baru yang tidak mampu pikirannya untuk menangkapnya setiap waktu. Maka dia ghaib dengannya dan tenggelam di dalamnya dari apa yang datang setelahnya. Maka dia tidak mampu menangkap makna-makna itu. Dan membuatnya bingung berkumpulnya. Maka hatinya tetap terpana. Seperti diceritakan bahwa sebagian orang Arab mengutus pemburunya untuk berburu. Maka keluarlah buruan kepadanya dari depannya, belakangnya, kanannya, dan kirinya. Maka dia berdiri terpana melihat kanan dan kiri, dan tidak berburu sesuatu pun. Maka dia berkata: Banyaklah kijang-kijang atas Kharasy … Maka tidak tahu Kharasy apa yang akan diburu

Maka kewajibannya dalam keadaan seperti ini: bahwa dia fana dari datangnya, dan menggantungkan hatinya dengan Pembicara, dan seolah-olah dia mendengar kalam-Nya dari-Nya. Dan menjadikan hatinya sungai bagi mengalirnya makna-maknanya. Dan mengosongkannya dari selain memahami yang dimaksud. Dan condong kepadanya dengan condong yang dia menerima di dalamnya makna-maknanya, seperti menerimanya orang yang mencintai para kekasih yang datang kepadanya. Tidak menyibukkan dia seorang kekasih dari mereka dari kekasih. Bahkan dia memberi setiap yang datang haknya. Dan seperti menerima tamu dan pengunjung. Dan ini hanya terjadi dengan luasnya hati, kuatnya kesiapan, dan sempurnanya kehadiran.

Jika dia mendengar khitab targhib (motivasi) dan tasywiq (keinginan), kelembutan dan kebaikan, dia tidak fana dengannya dari apa yang datang setelahnya dari khitab takhwif (menakuti) dan tarhib (ancaman) dan keadilan. Bahkan dia mendengar khitab kedua sambil menyertakan hukum khitab pertama. Dan mencampur ini dengan ini. Dan berjalan dengan keduanya dan bersama keduanya bersama-sama, hatinya tekun kepada Pembicara dan sifat-sifat-Nya Subhanahu.

Dan ini adalah berjalan di dalam Allah. Dan ini adalah jenis lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada hanya berjalan kepada-Nya. Dan tidak terputus dengannya jalannya kepada-Nya. Bahkan dia memasukkan jalannya. Karena jalan hati adalah di dalam makna-makna nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, tauhid-Nya, dan mengenal-Nya.

Dan jika tetap bagi hati di dalam itu suatu kemampuan, dan semakin kuat keterikatan dengannya, maka tidak menghalangi dia makna-makna yang didengar dan sifat-sifat Pembicara sebagiannya dari sebagian, tetapi di permulaan sulit baginya itu. Dan di pertengahan mudah baginya, dan tidak ada akhir di sini sama sekali. Wallahul musta’an.

Maka ini adalah kata-kata yang menunjukkan kepada makna-makna pendengaran ahli pengetahuan dan iman, dan keadaan-keadaan yang lurus.

Adapun pendengaran setan, maka sebaliknya dari itu, dan dia mengandung lebih dari seratus kerusakan. Dan seandainya tidak takut panjang, niscaya kami uraikan secara rinci.

Dan kami akan mengkhususkan untuk itu sebuah karya tersendiri, insya Allah.

Maka inilah yang berkaitan dengan ucapannya: Sesungguhnya di antara ketenangan dengan saksi-saksi adalah nutrisi dengan pendengaran.

Dan ucapannya: Dan berdiri pada isyarat-isyarat.

Isyarat-isyarat adalah makna-makna yang menunjukkan kepada hakikat dari jauh, dan dari balik hijab. Dan dia terkadang dari yang didengar, terkadang dari yang dilihat, dan terkadang dari yang dipahami. Dan bisa dari semua indra.

Maka isyarat-isyarat: dari jenis dalil-dalil dan tanda-tanda. Dan sebabnya: kejernihan yang terjadi dengan berkumpul. Maka haluslah dengannya indra dan pikiran. Maka terbangun untuk memahami perkara-perkara halus yang tidak tersingkap indra orang lain dan pemahamannya untuk memahaminya.

Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – berkata: Yang sahih dari istilah tersebut adalah: apa yang ditunjukkan oleh lafal dengan isyaratnya dari bab qiyas aula (analogi yang lebih utama).

Aku berkata: Contohnya adalah firman Allah Ta’ala: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Al-Waqi’ah: 79).

Dia berkata: Dan yang sahih dalam ayat tersebut adalah bahwa yang dimaksud dengannya adalah lembaran-lembaran yang berada di tangan para malaikat, karena beberapa alasan.

Di antaranya: bahwa Allah menyifatkannya sebagai sesuatu yang terpelihara (maknun), dan yang terpelihara adalah yang tersembunyi dari pandangan mata. Dan ini hanya berlaku untuk lembaran-lembaran yang berada di tangan para malaikat.

Di antaranya: bahwa Allah berfirman “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Al-Waqi’ah: 79), dan mereka adalah para malaikat. Seandainya Dia bermaksud orang-orang yang berwudhu, niscaya Dia akan berfirman: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang bersuci (mutathahirun)”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci” (Al-Baqarah: 222). Maka para malaikat adalah yang disucikan (muthahhharun), sedangkan orang-orang beriman adalah yang bersuci (mutathahirun).

Di antaranya: bahwa ini adalah berita (khabar). Seandainya ini larangan, niscaya akan dikatakan: “Janganlah menyentuhnya” dengan bentuk jazm, dan asal dalam khabar adalah bahwa ia merupakan khabar secara bentuk maupun makna.

Di antaranya: bahwa ini adalah bantahan terhadap orang yang berkata: Sesungguhnya setan yang membawa Al-Qur’an ini. Maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an berada dalam kitab yang terpelihara yang tidak dapat dijangkau oleh setan-setan, dan mereka tidak memiliki jalan untuk mencapainya, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Asy-Syu’ara: “Dan Al-Qur’an itu tidak dibawa turun oleh setan-setan, dan tidak layak bagi mereka dan mereka tidak mampu” (Asy-Syu’ara: 210-211). Dan sesungguhnya yang menjangkaunya adalah ruh-ruh yang disucikan, yaitu para malaikat.

Di antaranya: bahwa ini serupa dengan ayat yang ada dalam Surat Abasa: “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia memperhatikannya, dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi berbakti” (Abasa: 12-16).

Imam Malik berkata dalam kitab Muwatha-nya: Sebaik-baik yang aku dengar dalam tafsir firman-Nya “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Al-Waqi’ah: 79) adalah bahwa ia seperti ayat ini yang ada dalam Surat Abasa.

Di antaranya: bahwa ayat tersebut adalah ayat Makkiyah dari surah Makkiyah yang mengandung penetapan tauhid, kenabian, dan hari pembalasan, penetapan adanya Sang Pencipta, dan bantahan terhadap orang-orang kafir. Dan makna ini lebih sesuai dengan maksud daripada cabang amaliah, yaitu hukum menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats.

Di antaranya: bahwa seandainya yang dimaksud dengannya adalah kitab yang berada di tangan manusia, maka tidak akan ada banyak faedah dalam bersumpah tentang hal itu dengan sumpah yang agung ini. Karena sudah diketahui bahwa setiap perkataan dapat ditulis dalam kitab, baik yang benar maupun yang batil. Berbeda jika sumpah itu ditujukan untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an berada dalam kitab yang terpelihara, tersembunyi dari pandangan mata di sisi Allah, tidak ada setan yang dapat mencapainya dan tidak dapat mengganggu darinya, dan tidak ada yang menyentuhnya kecuali ruh-ruh yang suci dan bersih. Maka makna ini lebih sesuai, lebih agung, lebih layak untuk ayat tersebut, dan lebih utama tanpa keraguan.

Maka aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menguduskan ruhnya – berkata: Namun ayat tersebut menunjukkan dengan isyaratnya bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang suci. Karena jika lembaran-lembaran itu tidak dapat disentuh kecuali oleh orang-orang yang disucikan karena kemuliaannya di sisi Allah, maka lembaran-lembaran ini (mushaf) lebih utama untuk tidak disentuh kecuali oleh orang yang suci.

Dan aku mendengarnya berkata tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar”. Jika malaikat yang merupakan makhluk terhalang oleh anjing dan gambar untuk memasuki rumah, maka bagaimana ma’rifat kepada Allah ‘azza wa jalla, kecintaan kepada-Nya, manisnya berdzikir kepada-Nya, dan ketenangan dengan kedekatan kepada-Nya dapat menembus hati yang penuh dengan anjing-anjing syahwat dan gambaran-gambarannya? Maka ini termasuk isyarat lafal yang sahih.

Dan di antaranya: bahwa kesucian pakaian dan badan yang suci merupakan syarat sahnya shalat dan dapat diterima. Jika diabaikan maka shalatnya rusak. Maka bagaimana jika hatinya najis dan pemiliknya tidak mensucikannya? Bagaimana shalatnya dapat diterima, meskipun menggugurkan qadha? Padahal kesucian lahir hanyalah penyempurnaan kesucian batin.

Dan dari ini: bahwa menghadap kiblat dalam shalat adalah syarat sahnya. Dan ia adalah rumah Tuhan. Maka menghadapkan badan dan jasad orang yang shalat kepadanya adalah syarat. Bagaimana sahnya shalat orang yang tidak menghadapkan hatinya kepada Tuhan kiblat dan jasad? Bahkan ia menghadapkan badannya ke Baitullah tetapi menghadapkan hatinya kepada selain Tuhan Baitullah.

Dan semacam itu dari isyarat-isyarat yang sahih yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan kejernihan batin, ketepatan pandangan batin, dan kebaikan perenungan. Wallahu a’lam.

Pasal: Tingkatan Kedua, Ketenangan dengan Cahaya Tersingkapnya Hakikat

Pasal

Dia (penulis) berkata: Tingkatan kedua: ketenangan dengan cahaya tersingkapnya hakikat (kasyf). Ia adalah ketenangan yang melampaui ketenangan pertama. Ia tercampur dengan kekuatan kebingungan cinta (hayman), dan dipukul oleh ombak fanaa’. Inilah yang mengalahkan sebagian kaum atas akal mereka, merampas sebagian kaum kemampuan untuk bersabar, dan melepaskan dari mereka belenggu ilmu. Dalam hal ini diriwayatkan hadits yang berisi doa ini: “Aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tanpa kesulitan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan”.

Huruf ba’ (bi) dalam ucapannya “dengan cahaya kasyf” boleh jadi ba’ sebab-akibat atau ba’ perlekatan.

Jika ia ba’ sebab-akibat, maknanya adalah: ketenangan yang terjadi karena cahaya kasyf.

Dan jika ia ba’ perlekatan, maknanya adalah: ketenangan yang melekat dengan cahaya kasyf.

Jika engkau bertanya: Apa perbedaan antara ketenangan (uns) dan cahaya kasyf, sehingga salah satunya menjadi sebab bagi yang lain, atau melekat dengannya?

Aku menjawab: Perbedaan antara keduanya adalah bahwa cahaya kasyf termasuk kategori ma’rifat dan tersingkapnya hakikat bagi hati. Adapun ketenangan adalah dari kategori kedekatan dan mendekat, ketenangan kepada yang membuat tenteram, dan ketentraman kepada-Nya. Maka lawannya adalah kesepian. Dan lawan cahaya kasyf adalah kegelapan hijab.

Ucapannya: melampaui ketenangan pertama.

Artinya lebih tinggi darinya dan lebih agung darinya.

Ucapannya: tercampur dengan kekuatan kebingungan cinta (hayman).

Itu karena ketenangan yang disebutkan ini dimulai dengan tersingkapnya nama-nama sifat yang darinya terjadi ketenangan dan ia berkaitan dengannya, seperti nama Al-Jamil (Yang Maha Indah), Al-Barr (Yang Maha Berbuat Baik), Al-Lathif (Yang Maha Lembut), Al-Wadud (Yang Maha Mengasihi), Al-Halim (Yang Maha Penyantun), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), dan semacamnya. Kemudian keterikatan dengannya menguat hingga akal tenggelam, maka bercampur dengannya sejenis dari nama-nama tersebut, lalu ia menguasai akal dengan kekuatannya.

Dan hayman adalah gerakan ke segala arah karena kebingungan dan ketakjuban. Dan itu hanya terjadi dengan sejenis hilangnya kemampuan membedakan dan kekuatan kehendak yang menguasai, yang pemiliknya tidak mampu mengendalikannya.

Dan ucapannya: dipukul oleh ombak fanaa’.

Artinya bahwa pemilik ketenangan ini melihat awal-awal fanaa’ mengelilinginya, maka ia membolak-balikkannya sebagaimana ombak membolak-balikkan orang yang tenggelam. Dan ini sebelum kuasa fanaa’ menguasai wujudnya.

Dan ucapannya: yang mengalahkan sebagian kaum atas akal mereka.

Artinya merampas akal mereka. Karena mereka menyaksikan sesuatu di atas jangkauan akal, di atas segala yang dapat dipahami dengan indera lahir dan batin, dan mereka tidak terbiasa dengannya. Maka kuatnya penyaksian dan hal yang datang, serta lemahnya tempat dan penopang menyebabkan ia mengalahkan akal. Dan yang sempurna dari kaum itu adalah yang tetap teguh menghadapi itu dan tidak bergerak, bahkan tetap seperti gunung.

Al-Junaid membaca ayat dalam keadaan seperti ini – dan dikatakan kepadanya: Apakah tidak mengubahmu apa yang engkau dengar? Maka ia membaca: “Dan engkau melihat gunung-gunung, engkau menyangkanya tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan” (An-Naml: 88).

Dan sebagian dari mereka membaca dalam keadaan seperti itu: “Dan engkau mengira mereka bangun, padahal mereka tidur, dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri” (Al-Kahfi: 18).

Dan suatu kaum yang lebih kuat kedudukannya dari mereka tidak dikalahkan akal mereka, tetapi dirampas kemampuan sabar mereka, sehingga muncul dari mereka yang bertentangan dengan kesabaran.

Adapun ucapannya: dan melepaskan dari mereka belenggu ilmu.

Maka ini adalah ucapan yang harus ditakwil dan dicari pembenaran maknanya.

Dan sebaik-baik yang dapat dimaknakan adalah: bahwa ilmu membelenggu pemiliknya, sedangkan ma’rifat membebaskannya dan melapangkan batinnya serta memperlihatkan kepadanya hakikat-hakikat segala sesuatu. Maka terlepas darinya belenggu-belenggu yang ada karena tersembunyinya cahaya ma’rifat dan tersingkapnya atas dirinya.

Karena orang yang arif yang memiliki cahaya kasyf lebih lapang batin dan hatinya, dan lebih besar kebebasannya tanpa keraguan daripada orang yang berilmu. Dan perbandingannya dengannya seperti perbandingan orang yang berilmu dengan orang yang jahil. Sebagaimana orang yang berilmu lebih lapang batinnya daripada orang jahil dan memiliki kebebasan sesuai ilmunya, maka orang yang arif – dengan apa yang ada padanya berupa ruh ilmu, cahaya kasyf, dan nurnya – dia lebih banyak kebebasannya dan lebih lapang batinnya daripada orang yang berilmu. Maka orang yang berilmu terikat dengan lahiriah ilmu dan hukum-hukumnya, sedangkan orang yang arif tidak melihatnya sebagai belenggu.

Dan dari sinilah terzindiq orang yang terzindiq. Mereka menyangka bahwa jika hakikat-hakikat dan batin-batin sesuatu tersingkap baginya, maka ia melepaskan belenggu lahiriah dan bentuk-bentuknya, karena kesibukan dengan tujuan dari wasilah, dan dengan hakikat dari bentuk. Maka mereka inilah orang-orang yang terputus dari Allah, perampok jalan Allah. Dan mereka adalah penghalang jalan dan kerusakannya. Kebetulan para arif berbicara tentang hakikat-hakikat dan memerintahkan untuk berpindah dari bentuk-bentuk dan lahiriah kepadanya, dan agar tidak berhenti padanya. Maka zindiq-zindiq ini menyangka bahwa mereka membolehkan melepaskannya dan terlepas darinya.

Dan tidak diragukan bahwa siapa yang membolehkan itu, maka ia seperti mereka. Dan Allah menumpuk yang buruk sebagian di atas sebagian, lalu menjadikannya dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.

Maka penulis kitab Manazil As-Sa’irin mengisyaratkan kepada makna yang benar dan sahih, sebagaimana para syaikh kaum mengisyaratkan kepadanya.

Adapun pengambilannya sebagai dalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa kesulitan yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan”, maka tidak sesuai dengan apa yang disebutkannya dalam tingkatan ini.

Mana persamaan antara permintaan kerinduan kepada-Nya yang mendorong kepada kesempurnaan kesiapan, keringanan beban perjalanan, penghilang setiap kemalasan, pendorong kepada setiap kejujuran, keikhlasan, pertaubatan, dan kebenaran muamalah – dengan perkara yang tercampur dengan kekuatan kebingungan cinta, yang dipukul ombak fanaa’, sehingga mengalahkan sebagian kaum atas akal mereka, dan merampas kesabaran sebagian kaum sehingga menjadikan mereka dalam alam fanaa’?

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan pernah meminta keadaan fanaa’ sama sekali. Dan sesungguhnya beliau meminta kerinduan yang mewajibkan baqa’, yang menyertainya, yang mewajibkan baginya nikmatnya hidup, ketenangan mata, kelezatan hati, dan kegembiraan ruh.

Dan penulis kitab Manazil As-Sa’irin sepertinya memahami darinya kerinduannya kepada musyahadah tanpa penguasaan atas akal dan tanpa hilangnya kesabaran. Karena itulah ia berkata: tanpa kesulitan yang membahayakan, yaitu penguasaan atas akal, dan tanpa fitnah yang menyesatkan, yaitu meninggalkan hukum-hukum ilmu.

Dan ini paling tinggi hanyalah: dapat diambil dari isyarat hadits menurut kebiasaan kaum. Adapun bahwa itu adalah makna yang dikehendaki sendiri, maka tidak.

Dan sesungguhnya yang diminta adalah agar Dia menganugerahkan kepadanya kerinduan untuk bertemu dengan-Nya yang disertai dengan keselamatan dan hidayah. Maka tidak menyertainya fitnah dan tidak pula ujian. Dan ini termasuk pemberian dan anugerah yang paling agung. Karena banyak dari orang yang memperoleh ini tidak mendapatkannya kecuali setelah ujian dan pengujian: apakah ia layak atau tidak? Dan barangsiapa yang tidak diuji dan tidak ditest, maka kebanyakan mereka tidak dipersiapkan untuk ini.

Maka doa ini mengandung: terjadinya hal itu dan persiapan untuknya, dengan kesempurnaan keselamatan tanpa ujian, dan hidayah tanpa fitnah. Wabillahit taufiq. Wallahu a’lam.

 

 

Pasal: Tingkatan Ketiga, Kesenangan dalam Hilangnya Kesadaran Diri Ketika Menyaksikan Hadirat Allah

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah kesenangan dalam hilangnya kesadaran diri ketika menyaksikan hadirat Allah. Tidak dapat diungkapkan kegaiban-Nya, tidak dapat ditunjuk batasannya, dan tidak dapat ditetapkan hakikatnya.

Aضمحلال (idhmihlal) artinya lenyap atau tiada. Sedangkan menyaksikan hadirat Allah adalah menyaksikan hakikat kebenaran dan fananya seseorang dalam penyaksian tersebut.

Perkataannya: “Tidak dapat diungkapkan kegaiban-Nya” hingga akhir.

Intinya: bahwa ini adalah perkara yang berada di luar jangkauan ungkapan. Ungkapan tidak dapat mencapainya. Dan tidak dapat dicakup, baik bentuknya, batasannya, hakikatnya, maupun kenyataan sejatinya. Karena hakikatnya menelan habis segala ungkapan, isyarat, dan petunjuk. Dalam menggambarkannya, salah seorang mereka berkata dalam syair:

Maka mereka melemparkan tali jangkar mereka
Lalu laut menutupi mereka, kemudian tertutup rapat

Di sini, kaum sufi hanya mengembalikan kepada pengalaman rasa (dzauq). Dan isyarat mereka mengarah kepada fana yang memusnahkan orang yang memberi isyarat beserta isyaratnya, dan orang yang mengungkapkan beserta ungkapannya, bersama munculnya kekuasaan hakikat yang berada di atas isyarat, ungkapan, dan petunjuk. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui.

Pasal: Kedudukan Dzikir

Hakikat Dzikir

Pasal: Kedudukan Dzikir

Di antara kedudukan-kedudukan dalam ayat “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan dzikir. Ini adalah kedudukan besar kaum sufi yang darinya mereka berbekal, di dalamnya mereka berdagang, dan kepadanya mereka senantiasa kembali.

Dzikir adalah surat pengangkatan kewalian. Barangsiapa diberi dzikir, ia tersambung, dan barangsiapa dihalangi darinya, ia tersingkir. Dzikir adalah makanan hati kaum sufi yang apabila meninggalkannya, jasad mereka menjadi kubur bagi hati mereka. Dzikir adalah kemakmuran negeri hati mereka yang jika terbengkalai darinya, menjadi tandus. Dzikir adalah senjata mereka untuk melawan perampok di jalan, air mereka untuk memadamkan kobaran api perjalanan, dan obat penyakit mereka yang apabila meninggalkan mereka, hati-hati pun berbalik sakit. Dzikir adalah sebab yang menyambung dan ikatan yang ada antara mereka dengan Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu
Maka kami meninggalkan dzikir di waktu-waktu tertentu, lalu kami pun kambuh kembali

Dengan dzikir mereka menolak segala bencana, menyingkap kesulitan-kesulitan, dan musibah-musibah menjadi ringan bagi mereka. Apabila bala menaungi mereka, maka kepada dzikir tempat berlindung mereka. Dan apabila bencana turun kepada mereka, maka kepada dzikir tempat mereka berlari. Dzikir adalah taman surga mereka yang di dalamnya mereka berpindah-pindah, dan modal pokok kebahagiaan mereka yang dengannya mereka berdagang. Dzikir membuat hati yang sedih menjadi tertawa gembira, dan menyambungkan orang yang berdzikir kepada Dzat yang didzikir, bahkan membuat orang yang berdzikir menjadi terdzikir (diingat oleh Allah).

Pada setiap anggota tubuh terdapat penghambaan yang terbatas waktunya, sedangkan dzikir adalah penghambaan hati dan lisan yang tidak terbatas waktunya. Bahkan mereka diperintahkan untuk berdzikir kepada Dzat yang mereka sembah dan mereka cintai dalam setiap keadaan: berdiri, duduk, dan berbaring. Sebagaimana surga adalah tanah kosong dan dzikir adalah tanamannya, demikian pula hati-hati adalah tandus dan rusak, sedangkan dzikir adalah kemakmuran dan pondasinya.

Dzikir adalah penjernih hati dan pemijarnya, serta obatnya ketika ditimpa penyakit. Semakin orang yang berdzikir tenggelam dalam dzikirnya, semakin bertambah kecintaan Dzat yang didzikir kepada perjumpaannya dan kerinduan-Nya. Dan apabila dalam dzikirnya hatinya selaras dengan lisannya, ia melupakan segala sesuatu selain dzikir itu, dan Allah menjaga untuknya segala sesuatu, dan dzikir menjadi pengganti baginya dari segala sesuatu.

Dengan dzikir hilang ketulian dari pendengaran, kebisuan dari lisan-lisan, dan tersingkaplah kegelapan dari penglihatan. Allah menghiasi dengan dzikir lisan-lisan orang yang berdzikir sebagaimana Dia menghiasi dengan cahaya mata-mata orang yang melihat. Maka lisan yang lalai bagaikan mata yang buta, telinga yang tuli, dan tangan yang lumpuh.

Dzikir adalah pintu Allah yang paling besar yang terbuka antara-Nya dan hamba-Nya selama hamba itu tidak menutupnya dengan kelalainnya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Carilah kelezatan dalam tiga perkara: dalam shalat, dalam dzikir, dan dalam membaca Al-Quran. Jika kalian mendapatkannya, baiklah, jika tidak, ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.”

Dengan dzikir, seorang hamba menjatuhkan setan sebagaimana setan menjatuhkan orang-orang yang lalai dan lupa.

Sebagian salaf berkata: “Apabila dzikir menguasai hati, lalu setan mendekatinya, maka ia menjatuhkan setan itu sebagaimana setan menjatuhkan manusia ketika mendekatinya. Maka setan-setan berkumpul padanya dan bertanya: ‘Apa yang terjadi dengan setan ini?’ Lalu dijawab: ‘Ia telah disentuh oleh manusia.'”

Dzikir adalah ruh amal-amal saleh. Apabila amal kosong dari dzikir, maka seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.

Pasal: Segi-Segi Dzikir dalam Al-Quran

Pasal

Dzikir dalam Al-Quran terdapat dalam sepuluh segi:

Pertama: Perintah berdzikir secara mutlak dan terikat.

Kedua: Larangan dari lawannya yaitu kelalaian dan kelupaan.

Ketiga: Menggantungkan kesuksesan pada kesinambungan dan banyaknya dzikir.

Keempat: Pujian kepada orang-orang yang berdzikir dan pemberitahuan tentang apa yang Allah siapkan bagi mereka berupa surga dan ampunan.

Kelima: Pemberitahuan tentang kerugian orang yang lalai dari dzikir karena kesibukan dengan yang lain.

Keenam: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dzikir-Nya kepada mereka sebagai balasan atas dzikir mereka kepada-Nya.

Ketujuh: Pemberitahuan bahwa dzikir adalah yang paling besar dari segala sesuatu.

Kedelapan: Bahwa Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amal-amal saleh sebagaimana dzikir adalah pembukaannya.

Kesembilan: Pemberitahuan tentang orang-orang yang berdzikir bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya dan bahwa mereka adalah ulul albab (orang yang berakal), bukan yang lain.

Kesepuluh: Bahwa Allah menjadikan dzikir sebagai teman bagi semua amal saleh dan ruhnya. Maka apabila amal kehilangan dzikir, ia seperti jasad tanpa ruh.

Pasal: Rincian Segi-Segi Dzikir dalam Al-Quran

Pasal dalam Merinci Hal Tersebut

1 – Adapun yang pertama, seperti firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Ahzab: 41-43). Dan firman-Nya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut.” (Surat Al-A’raf: 205).

Dalam ayat ini ada dua pendapat: Pertama, dalam kerahasiaan dan hatimu. Kedua, dengan lisanmu sehingga kamu mendengar dirimu sendiri.

2 – Adapun larangan dari lawannya, seperti firman-Nya: “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Surat Al-A’raf: 205). Dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Surat Al-Hasyr: 19).

3 – Adapun menggantungkan kesuksesan pada memperbanyak dzikir, seperti firman-Nya: “Dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah: 10).

4 – Adapun pujian kepada orang-orang yang berdzikir dan balasan baik mereka, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim” (Surat Al-Ahzab: 35) hingga firman-Nya: “Dan laki-laki yang banyak menyebut (nama) Allah dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab: 35).

5 – Adapun kerugian orang yang lalai darinya, seperti firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Surat Al-Munafiqun: 9).

6 – Adapan menjadikan dzikir Allah kepada mereka sebagai balasan dzikir mereka kepada-Nya, seperti firman-Nya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (Surat Al-Baqarah: 152).

7 – Adapun pemberitahuan bahwa dzikir adalah yang paling besar dari segala sesuatu, seperti firman-Nya: “Bacalah Kitab (Al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (dzikir) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain).” (Surat Al-Ankabut: 45). Dalam ayat ini terdapat empat pendapat:

Pertama: Bahwa dzikir kepada Allah lebih besar dari segala sesuatu, maka ia adalah ketaatan yang paling utama. Karena maksud dari semua ketaatan adalah menegakkan dzikir-Nya. Dzikir adalah rahasia dan ruh dari semua ketaatan.

Kedua: Bahwa maknanya: sesungguhnya apabila kalian mengingat-Nya, Dia akan mengingat kalian, maka dzikir-Nya kepada kalian lebih besar daripada dzikir kalian kepada-Nya. Berdasarkan pendapat ini, masdar (kata kerja) disandarkan kepada fa’il (pelaku). Sedangkan berdasarkan pendapat pertama, disandarkan kepada yang didzikir.

Ketiga: Bahwa maknanya: dan dzikir kepada Allah lebih besar daripada bahwa bersamanya masih tersisa perbuatan keji dan mungkar. Bahkan apabila dzikir sempurna, ia menghapus semua dosa dan maksiat. Inilah yang disebutkan oleh para mufassir.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Makna ayat ini adalah bahwa dalam shalat terdapat dua faedah besar. Pertama: larangannya dari perbuatan keji dan mungkar. Kedua: kandungannya akan dzikir kepada Allah dan mencakupnya. Maka apa yang terkandung dalam shalat berupa dzikir kepada Allah lebih besar daripada larangannya dari perbuatan keji dan mungkar.”

8 – Adapun menutup amal-amal saleh dengan dzikir, sebagaimana Allah menutup amal puasa dengannya dengan firman-Nya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Surat Al-Baqarah: 185).

Dan Allah menutup haji dengannya dalam firman-Nya: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (Surat Al-Baqarah: 200).

Dan Allah menutup shalat dengannya seperti firman-Nya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika berdiri, dalam keadaan duduk dan dalam keadaan berbaring.” (Surat An-Nisa: 103). Dan Allah menutup shalat Jumat dengannya seperti firman-Nya: “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah: 10). Oleh karena itu, dzikir adalah penutup kehidupan dunia, dan apabila ia menjadi ucapan terakhir seorang hamba, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.

9 – Adapun kekhususan orang-orang yang berdzikir dalam mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah dan mereka adalah ulul albab (orang-orang berakal), seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring.” (Surat Ali Imran: 190-191).

10 – Adapun penyertaan dzikir pada semua amal dan bergandengannya dengannya serta bahwa dzikir adalah ruh amal, maka sesungguhnya Allah Subhanahu menggandengkannya dengan shalat seperti firman-Nya: “Dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Surat Thaha: 14). Dan Allah menggandengkannya dengan puasa dan haji serta manasik-manasiknya. Bahkan dzikir adalah ruh haji, intinya, dan tujuannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya thawaf di Baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah disyariatkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah.”

Dan Allah menggandengkan dzikir dengan jihad dan memerintahkan untuk berdzikir ketika bertemu dengan musuh dan berhadapan dengan lawan. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (Surat Al-Anfal: 45). Dan dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hamba-Ku – setiap hamba-Ku – yang mengingat Aku sementara ia sedang menghadapi lawannya.”

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah quddisa ruhuh (disucikan ruhnya) menggunakannya sebagai dalil. Dan aku mendengarnya berkata: “Orang-orang yang mencintai berbangga dengan menyebut orang yang mereka cintai dalam keadaan seperti ini, sebagaimana Antarah berkata dalam syairnya:

Sungguh aku telah mengingatmu sementara tombak-tombak bagaikan
Tali-tali timba sumur di dada kuda hitam yang pekat

Dan yang lain berkata:

Aku mengingatmu sementara pedang bergerak di antara kami
Dan sungguh telah mereguk dari kami pedang-pedang tajam yang terlatih

Yang lain berkata:

Sungguh aku telah mengingatmu sementara tombak-tombak saling bersilangan
Menusuk dan pedang India menetes dari darahku

Ini banyak dalam syair-syair mereka dan ini menunjukkan kuatnya kecintaan. Karena ingatan orang yang mencintai kepada kekasihnya dalam keadaan di mana seseorang tidak memikirkan apa pun selain dirinya sendiri, ini menunjukkan bahwa kekasih itu di sisinya seperti dirinya sendiri atau lebih berharga darinya. Dan ini adalah bukti kejujuran kecintaan. Wallahu a’lam.”

Pasal Keutamaan Ahli Dzikir

Pasal

Para pedzikir adalah ahli yang mendahului, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari hadits Al-Ala’ dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berjalan di jalan menuju Makkah lalu melewati sebuah gunung yang disebut Jumdan. Beliau bersabda: “Berjalanlah, ini Jumdan. Para mufridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya: “Siapakah para mufridun itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah, laki-laki maupun perempuan.” Kata mufridun berarti orang-orang yang mengesakan Allah atau orang-orang yang menyendiri sendirian. Dalam Musnad terdapat hadits marfu’ dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu: “Maukah kalian aku beritahu tentang amalan kalian yang paling baik, yang paling suci di sisi Penguasa kalian, yang paling tinggi tingkatannya, yang lebih baik bagi kalian daripada memberikan emas dan perak, dan daripada kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Syu’bah meriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Al-Agharr berkata: Aku menjadi saksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhuma bahwa keduanya menjadi saksi atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, turun kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim.

Cukuplah sebagai kemuliaan dzikir bahwa Allah membanggakan para ahli dzikir di hadapan para malaikat-Nya, sebagaimana terdapat dalam Shahih Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui sekelompok sahabatnya lalu bertanya: “Apa yang membuat kalian duduk?” Mereka menjawab: “Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada kami untuk memeluk Islam dan atas nikmat yang telah Dia berikan kepada kami.” Beliau bertanya: “Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk kecuali itu?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk kecuali itu.” Beliau bersabda: “Adapun aku, aku tidak meminta kalian bersumpah karena mencurigai kalian, tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabarkan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat.”

Seorang badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Bahwa engkau meninggalkan dunia sedangkan lidahmu basah dengan dzikir kepada Allah.” Seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak bagiku, maka perintahkan kepadaku sesuatu yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda: “Hendaklah lidahmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.”

Dalam Musnad dan yang lainnya dari hadits Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami lalu bersabda: “Wahai manusia, bergembiralah di taman-taman surga.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab: “Majelis-majelis dzikir.”

Beliau bersabda: “Pergilah di pagi dan sore hari serta berdzikirlah. Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah ia melihat bagaimana kedudukan Allah di sisinya, karena sesungguhnya Allah menempatkan seorang hamba di sisi-Nya sesuai dengan di mana ia menempatkan Allah dalam dirinya.” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dari ayahnya Ibrahim ‘alaihissalam pada malam Isra’ bahwa Ibrahim berkata kepadanya: “Sampaikanlah salamku kepada umatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia adalah dataran yang luas, sedangkan tanamannya adalah: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ahmad, dan yang lainnya.

Dalam Shahihain dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” Lafazh Muslim: “Perumpamaan rumah yang di dalamnya didzikiri Allah dan rumah yang tidak didzikiri Allah di dalamnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” Maka beliau menjadikan rumah orang yang berdzikir seperti rumah orang yang hidup, dan rumah orang yang lalai seperti rumah orang yang mati, yaitu kubur.

Dalam lafazh yang pertama, beliau menjadikan orang yang berdzikir seperti orang yang hidup dan orang yang lalai seperti orang yang mati. Kedua lafazh tersebut mengandung makna bahwa hati yang berdzikir seperti orang yang hidup di rumah orang-orang yang hidup, sedangkan orang yang lalai seperti orang yang mati di rumah orang-orang yang mati. Tidak diragukan lagi bahwa tubuh-tubuh orang yang lalai adalah kubur bagi hati-hati mereka, dan hati-hati mereka di dalamnya seperti orang-orang mati di dalam kubur, sebagaimana dikatakan:

Melupakan dzikir kepada Allah adalah kematian hati-hati mereka Dan jasad-jasad mereka sebelum kubur adalah kubur-kubur Jiwa-jiwa mereka dalam kesepian dari tubuh-tubuh mereka Dan tidak ada bagi mereka hingga hari kebangkitan, kebangkitan

Dan sebagaimana dikatakan:

Melupakan dzikir kepada Allah adalah kematian hati-hati mereka Dan tubuh-tubuh mereka adalah kubur-kubur yang usang Jiwa-jiwa mereka dalam kesepian dari kekasih mereka Namun mereka di sisi yang buruk merasa tenteram

Dalam atsar ilahi: Allah Ta’ala berfirman: “Apabila yang mendominasi hambaku adalah dzikir kepada-Ku, maka ia mencintai-Ku dan Aku mencintainya.”

Dalam atsar yang lain: “Maka bergembiralah dengan-Ku dan bernikmatanlah dengan dzikir kepada-Ku.”

Dalam atsar yang lain: “Wahai anak Adam, engkau tidak berlaku adil kepada-Ku! Aku mengingat engkau tetapi engkau melupakan-Ku, Aku menyeru engkau tetapi engkau lari kepada selain-Ku, Aku menghilangkan musibah-musibah darimu tetapi engkau berkutat dengan dosa-dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok apabila engkau datang kepada-Ku?”

Dalam atsar yang lain: “Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah, niscaya Aku mengingatmu ketika Aku marah. Dan ridhailah pertolongan-Ku untukmu karena sesungguhnya pertolongan-Ku untukmu lebih baik daripada pertolonganmu untuk dirimu sendiri.”

Dalam hadits shahih terdapat atsar yang diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala: “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku dalam suatu kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka.”

Kami telah menyebutkan tentang dzikir sekitar seratus faidah dalam kitab kami “Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib”. Kami menyebutkan di sana rahasia-rahasia dzikir, kebesaran manfaatnya, dan manisnya buahnya. Kami sebutkan di dalamnya bahwa dzikir ada tiga jenis: dzikir terhadap nama-nama dan sifat-sifat serta maknanya, memuji Allah dengan keduanya, dan mengesakan Allah dengan keduanya.

Dzikir terhadap perintah dan larangan, halal dan haram.

Dzikir terhadap karunia, nikmat, kebaikan, dan pertolongan-Nya.

Dan dzikir juga terbagi menjadi tiga jenis: dzikir yang selaras antara hati dan lisan, dan ini adalah yang paling tinggi; dzikir dengan hati saja dan ini ada di tingkat kedua; dan dzikir dengan lisan semata, dan ini ada di tingkat ketiga.

Pasal Hakikat Dzikir

Pasal

Penulis kitab Al-Manazil berkata: Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa” (Surah Al-Kahfi: 24), maksudnya: apabila engkau lupa kepada selain-Nya dan lupa dirimu dalam dzikirmu, kemudian lupa dzikirmu dalam dzikir-Nya, kemudian lupa dalam dzikir Allah kepadamu segala dzikir.

Seandainya ia—semoga Allah menyucikan ruhnya—tidak mengatakan hal itu.

Demi Allah, bukanlah itu yang dimaksud oleh Allah, dan bukan pula itulah maksud ayat tersebut dan bukan pula tafsirannya menurut seorang pun dari kalangan salaf maupun khalaf.

Tafsir ayat ini menurut para mufassir secara keseluruhan adalah: bahwa engkau tidak boleh berkata tentang sesuatu: “Aku akan melakukan begini dan begitu,” hingga engkau berkata: “Insya Allah (jika Allah menghendaki).” Apabila engkau lupa mengucapkannya, maka ucapkanlah ketika engkau mengingatnya. Inilah pengecualian yang tertunda (istitsna’ mutarakhi) yang diperbolehkan oleh Ibnu Abbas dan ia menta’wilkan ayat tersebut atasnya. Dan inilah yang benar.

Maka orang-orang yang tidak memahami perkataannya keliru terhadapnya dan menukil dari dia bahwa apabila seseorang berkata kepada istrinya: “Engkau tertalak tiga kali,” atau berkata: “Keempat istriku tertalak,” kemudian setelah setahun ia berkata: “Kecuali satu,” atau: “Kecuali Zainab”—bahwa pengecualian ini bermanfaat baginya.

Sungguh Allah telah menjaga dari hal ini orang yang jauh di bawah murid-murid Ibnu Abbas, apalagi lautan ilmu pengetahuan, ulama cendekia umat ini yang telah Allah berikan pemahaman dalam agama dan mengajarkan kepadanya takwil. Betapa banyaknya orang yang menukil mazhab-mazhab yang batil dari para ulama karena pemahaman yang terbatas.

Seandainya kami bermaksud menyebutkan hal itu, niscaya akan sangat panjang. Jika Allah memberikan pertolongan, kami akan mengkhususkan untuk itu sebuah kitab tersendiri.

Yang telah disepakati oleh para mufassir adalah bahwa penduduk Makkah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ruh, tentang penghuni gua, dan tentang Dzulqarnain. Maka beliau bersabda: “Aku akan mengabarkan kepada kalian besok.” Dan beliau tidak mengatakan: “Insya Allah.” Maka wahyu tertunda beberapa hari, kemudian turunlah ayat ini. Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan yang lainnya berkata: maknanya adalah: apabila engkau lupa pengecualian (istitsna’) kemudian engkau mengingatnya, maka berkecualilah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Pengecualian boleh hingga setahun.

Ikrimah rahimahullah berkata: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau marah.” Adh-Dhahhak dan As-Suddi berkata: Ini berkaitan dengan shalat, yaitu apabila engkau lupa shalat maka shalatlah ketika engkau mengingatnya.

Adapun perkataan penulis kitab Al-Manazil, maka dapat dimaknai sebagai isyarat bukan sebagai tafsir. Ia menyebutkan empat tingkatan:

Pertama: Bahwa ia lupa kepada selain Allah dan tidak lupa kepada dirinya karena ia lupa kepada selain-Nya, dan ia tidak mungkin lupa kecuali dengan dirinya yang tetap ada, ia mengetahui bahwa ia lupa dengannya terhadap apa yang selain yang diingat.

Kedua: Melupakan dirinya dalam dzikirnya, dan inilah yang ia ungkapkan dengan perkataannya: “Dan engkau lupa dirimu dalam dzikirmu.” Pada tingkatan ini dzikirnya tetap bersamanya dan tidak melupakannya.

Maka ia berkata pada tingkatan ketiga: “Kemudian engkau lupa dzikirmu dalam dzikir-Nya.” Inilah tingkatan fana (lenyap).

Kemudian ia berkata pada tingkatan keempat: “Kemudian engkau lupa dalam dzikir Allah kepadamu segala dzikir.” Inilah fana dengan dzikir Allah terhadap hamba-Nya dari dzikir hamba kepada Tuhannya.

Adapun tingkatan pertama, maka ia adalah tingkatan awal dzikir, yaitu bahwa engkau lupa kepada selain yang diingat dan tidak lupa dirimu dalam dzikir. Pada tingkatan ini ia belum berdzikir kepada-Nya dengan dzikir yang sempurna karena untuk kesempurnaannya ada dua tingkatan di atasnya:

Salah satunya adalah melupakan dirinya, dan inilah tingkatan kedua, maka ia ghaib (tenggelam) dengan dzikirnya dari dirinya sendiri sehingga ia tidak merasakan keberadaannya karena merasakan keberadaan yang diingat.

Yang kedua adalah melupakan dzikirnya dalam dzikirnya, sebagaimana Dzun Nun ditanya tentang dzikir lalu ia berkata: “Ghaybutnya (ketiadaan) pedzikir dari dzikir,” kemudian ia membaca syair:

Bukan karena aku melupakanmu aku memperbanyak mengingat engkau Tetapi dengan itulah lisanku mengucap

Inilah tingkatan ketiga.

Pada tingkatan pertama, ia fana dari selain yang diingat tetapi tidak fana dari dirinya. Pada tingkatan kedua, ia fana dari dirinya tetapi tidak dari dzikirnya. Pada tingkatan ketiga, ia fana dari dirinya dan dari dzikirnya.

Dan tersisa setelah ini tingkatan keempat, yaitu bahwa ia fana dengan dzikir Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dari segala dzikir. Karena sesungguhnya ia tidak mengingat Allah kecuali setelah Allah mengingatnya. Maka dzikir Allah kepada hamba mendahului dzikir hamba kepada Tuhan. Pada tingkatan keempat ini ia menyaksikan sifat-sifat Yang Diingat Subhanahu wa Ta’ala dan dzikir-Nya kepada hamba-Nya, maka ia fana dengan itu dari menyaksikan apa yang dari hamba. Inilah yang mereka namakan menemukan Yang Diingat dalam dzikir dan pedzikir. Karena pedzikir, dzikirnya, dan Yang Diingat adalah tiga hal: maka pedzikir dan dzikirnya telah lenyap dan fana, dan tidak tersisa kecuali Yang Diingat saja dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya selain-Nya. Maka Dialah yang mengingat diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri tanpa hulul (menempati) dan tanpa ittihad (bersatu). Bahkan dzikir dari-Nya dimulai dan kepada-Nya kembali.

Dzikir hamba kepada Tuhannya dikelilingi oleh dua dzikir dari Tuhannya kepadanya: dzikir sebelumnya yang dengannya hamba menjadi pedzikir kepada-Nya, dan dzikir sesudahnya yang dengannya hamba menjadi yang diingat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian” (Surah Al-Baqarah: 152), dan berfirman dalam apa yang diriwayatkan dari-Nya oleh Nabi-Nya: “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku dalam suatu kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka.”

Dzikir yang Allah ingat dengannya setelah dzikirnya kepada-Nya adalah jenis yang berbeda dari dzikir yang Allah ingat dengannya sebelum dzikirnya kepada-Nya. Barangsiapa yang pemahamannya terlalu kasar untuk ini, hendaklah ia melewatinya kepada yang lain, karena telah dikatakan:

Apabila engkau tidak mampu melakukan sesuatu maka tinggalkanlah Dan lampauilah kepada apa yang engkau mampu

Aku pernah bertanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah suatu hari, aku berkata kepadanya: Jika Tuhan Subhanahu wa Ta’ala ridha dengan ketaatan hamba dan gembira dengan taubatnya serta murka karena kemaksiatannya, apakah boleh yang baru (hamba) mempengaruhi Yang Qadim dengan kecintaan, kebencian, kegembiraan, dan selain itu? Maka ia berkata kepadaku: Tuhan Subhanahu wa Ta’ala adalah yang menciptakan sebab-sebab ridha, murka, dan kegembiraan. Sesungguhnya semuanya itu dengan kehendak-Nya dan ciptaan-Nya. Maka tidaklah pengaruh itu dari selain-Nya, bahkan dari diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri. Yang mustahil adalah bahwa selain-Nya mempengaruhi-Nya, ini adalah mustahil. Adapun bahwa Dia menciptakan sebab-sebab dan menghendakinya serta menetapkannya yang mengharuskan ridha-Nya, kecintaan-Nya, kegembiraan-Nya, dan murka-Nya, maka ini tidaklah mustahil. Karena sesungguhnya itu dari-Nya dimulai dan kepada-Nya kembali. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam (dan Allah Maha Mengetahui).

Pasal Perbedaan antara Kelalaian dan Kelupaan

Pasal

Ia berkata: Dzikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dan kelupaan.

Perbedaan antara kelalaian dan kelupaan adalah bahwa kelalaian adalah meninggalkan dengan pilihan orang yang lalai, sedangkan kelupaan adalah meninggalkan tanpa pilihannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai” (Surah Al-A’raf: 205), dan tidak berfirman: “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lupa,” karena kelupaan tidak termasuk dalam pembebanan (taklif) sehingga tidak dilarang.

Tingkatan-Tingkatan Zikir

Tingkatan Pertama: Zikir Lahir

Dia berkata: Zikir itu terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah zikir lahir yang berupa: pujian, doa, atau penjagaan.

Yang dimaksud dengan zikir lahir adalah zikir yang berjalan di lisan dan sesuai dengan hati, bukan sekadar zikir lisan semata. Karena kaum sufi tidak menganggapnya sebagai zikir yang sesungguhnya.

Adapun zikir pujian, seperti: Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah), dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).

Adapun zikir doa, seperti: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (Surat Al-A’raf: 23). Dan seperti: Ya Hayyu ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, dan yang semacam itu.

Adapun zikir penjagaan, seperti ucapan orang yang berzikir: Allah bersamaku, Allah mengawasiku, Allah menyaksikanku, dan yang semacam itu yang digunakan untuk memperkuat kehadiran bersama Allah. Di dalamnya terdapat penjagaan terhadap kemashlahatan hati, pemeliharaan adab kepada Allah, berhati-hati dari kelalaian, dan perlindungan dari syaitan dan hawa nafsu.

Zikir-zikir yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencakup ketiga jenis ini. Karena zikir-zikir tersebut mengandung pujian kepada Allah, permohonan doa baik secara tersirat maupun tersurat. Sebagaimana dalam hadits: “Sebaik-baik doa adalah al-hamdulillah (segala puji bagi Allah)”. Dikatakan kepada Sufyan bin Uyainah: Bagaimana bisa disebut doa? Dia menjawab: Tidakkah engkau mendengar ucapan Umayyah bin Abi Ash-Shalt kepada Abdullah bin Jud’an yang mengharapkan pemberiannya:

Haruskah aku menyebutkan kebutuhanku, ataukah sudah cukup bagiku
Kehormatan dirimu, sesungguhnya sifatmu adalah malu
Apabila seseorang memujimu pada suatu hari
Cukuplah baginya pujian itu dari permohonan terang-terangan

Ini adalah makhluk yang merasa cukup dari makhluk lain dengan memujinya tanpa meminta langsung, lalu bagaimana dengan Tuhan semesta alam?

Zikir-zikir yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengandung kesempurnaan penjagaan, kemashlahatan hati, kehati-hatian dari kelalaian, dan perlindungan dari bisikan dan syaitan. Wallahu a’lam.

Pasal: Tingkatan Kedua, Zikir Tersembunyi

Dia berkata: Tingkatan kedua adalah zikir tersembunyi, yaitu pembebasan dari belenggu-belenggu, keberlangsungan bersama penyaksian, dan terus-menerus bermunajat.

Yang dimaksud dengan zikir tersembunyi di sini adalah zikir dengan hati semata terhadap segala yang datang kepadanya dari berbagai bisikan hati. Ini adalah buah dari zikir yang pertama.

Yang dimaksud dengan pembebasan dari belenggu-belenggu adalah: terbebas dari kelalaian, lupa, dan hijab-hijab yang menghalangi antara hati dengan Tuhan Yang Maha Suci. Keberlangsungan bersama penyaksian adalah: terus-menerus hadir bersama yang dizikir dan penyaksian hati kepadanya sehingga seolah-olah ia melihat-Nya.

Terus-menerus bermunajat adalah: terus-menerus bermunajat hati kepada Tuhannya, terkadang dengan merayu, terkadang dengan memohon, terkadang dengan memuji, terkadang dengan mengagungkan, dan berbagai jenis munajat lainnya secara tersembunyi dengan hati. Ini adalah keadaan setiap orang yang mencintai dan kekasihnya, sebagaimana dikatakan:

Apabila kami berkhalwat tanpa ada pengawas di suatu majelis
Maka kami diam, sementara cinta yang berbicara

Pasal: Tingkatan Ketiga, Zikir Hakiki

Dia berkata: Tingkatan ketiga adalah zikir hakiki, yaitu menyaksikan zikir Allah kepadamu, terbebas dari menyaksikan zikirmu, dan mengetahui kebohongan orang yang berzikir dalam keberlangsungannya bersama zikir.

Zikir pada tingkatan ini dinamakan hakiki karena dinisbahkan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi. Adapun penisbahan zikir kepada hamba, maka itu bukanlah hakiki. Zikir Allah kepada hamba-Nya adalah zikir yang hakiki, yaitu menyaksikan zikir Allah kepada hamba-Nya dan bahwa Dia telah menzikirnya di antara orang-orang yang dipilih-Nya dan disiapkan-Nya untuk dekat dengan-Nya dan untuk mengingat-Nya. Maka Dia menjadikannya sebagai orang yang berzikir kepada-Nya. Pada hakikatnya, Dialah yang berzikir kepada diri-Nya sendiri dengan menjadikan hamba-Nya berzikir kepada-Nya dan menyiapkannya untuk zikir kepada-Nya. Makna inilah yang ditunjukkan dalam bab tauhid dengan ucapannya:

Pengesaan-Nya kepadanya adalah pengesaan-Nya
Dan sifat orang yang mensifati-Nya tidaklah seorang pun

Artinya: Dialah yang mengesakan diri-Nya sendiri pada hakikatnya. Maka pengesaan hamba dinisbahkan kepada-Nya secara hakiki, sedangkan penisbatannya kepada hamba tidaklah hakiki. Karena itu bukan dari dirinya dan bukan pula darinya, melainkan dijadikan di dalam dirinya. Jika ia disebut sebagai orang yang mengesakan atau berzikir, maka itu karena ia menjadi sarana dan tempat bagi apa yang dijalankan di dalam dirinya, sebagaimana ia disebut putih, hitam, tinggi, dan pendek karena ia menjadi tempat bagi sifat-sifat ini tanpa ia membuatnya dan tidak pula kehendaknya, daya, atau kekuatannya yang mengharuskannya. Ini bersama dengan kedekatan yang menguasai, fana dari segala bentuk, ghaib (hilang kesadaran) dengan yang disaksikan dari penyaksian, dan kuatnya wahid yang datang. Maka tergabunglah dari itu semua sebuah pengalaman khusus: bahwa tiada yang mengesakan Allah kecuali Allah, tiada yang menyebut Allah kecuali Allah, dan tiada yang mencintai Allah kecuali Allah.

Inilah hakikat apa yang ada pada kaum sufi. Para arif di antara mereka yang memiliki bashirah (penglihatan hati) memberikan hak kepada penghambaan dan hak kepada ilmu, dan mereka mengetahui bahwa hamba adalah hamba secara hakiki dari segala sisi, dan Tuhan adalah Tuhan secara hakiki dari segala sisi. Mereka menunaikan hak penghambaan dengan Allah bukan dengan diri mereka sendiri, untuk Allah bukan untuk kepentingan mereka, dan fana dengan menyaksikan makna-makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya dari selain-Nya, dan dengan apa yang untuk-Nya berupa cinta dan ridha dari apa yang dengan-Nya berupa takdir dan kehendak. Karena semua alam ini dengan-Nya, sedangkan yang untuk-Nya adalah yang dicintai dan diridhai-Nya. Maka itu untuk-Nya dan dengan-Nya. Adapun orang-orang yang menyimpang, mereka fana dengan apa yang dengan-Nya dari apa yang untuk-Nya. Maka mereka memusuhi musuh-musuh-Nya dan meninggalkan agama-Nya serta menyamakan antara yang dicintai-Nya dengan yang dibenci-Nya, dan tempat-tempat ridha-Nya dengan tempat-tempat murka-Nya. Wa billahil musta’an (dan kepada Allah kita memohon pertolongan).

Ucapannya: Terbebas dari menyaksikan zikirmu, artinya: dengan fananya penyaksian zikir-Nya kepadamu dari penyaksian zikirmu kepada-Nya. Penyaksian ini membuat hamba istirahat dari melihat diri sendiri dan memperhatikan amal, mematikannya dan menghidupkannya: mematikannya dari dirinya sendiri dan menghidupkannya dengan Tuhannya, memfanakannya dan memisahkannya dari dirinya sendiri serta menghubungkannya dengan Tuhannya. Inilah hakikat kemenangan terhadap diri sendiri.

Salah seorang arif berkata: Berakhirlah perjalanan para pencari pada kemenangan terhadap diri mereka sendiri.

Ucapannya: Dan mengetahui kebohongan orang yang berzikir dalam keberlangsungannya bersama zikir.

Artinya: bahwa orang yang tetap bersama zikir menyaksikan dirinya sebagai orang yang berzikir, dan itu adalah kebohongan darinya, karena tidak ada perbuatan baginya. Tidak akan hilang darinya kebohongan ini kecuali jika ia fana dari zikirnya. Karena penyaksian zikirnya dan keberlangsungannya bersamanya adalah kebohongan yang mengandung penisbatan zikir kepadanya, padahal pada hakikatnya itu bukan miliknya.

Maka dikatakan: Subhanallah! Kebohongan apa dalam hal ini? Bukankah ini penyaksian hakikat-hakikat sebagaimana adanya? Karena jika ia menyaksikan dirinya sebagai orang yang berzikir dengan Allah yang menjadikannya berzikir dan menyiapkannya untuk itu, serta dengan didahului zikir Allah kepada hamba sebelum zikir hamba kepada-Nya, maka terkumpullah dalam penyaksiannya dua perkara. Lalu kebohongan apa di sini? Bukankah ini hakikat yang sebenarnya dan penyaksian hakikat-hakikat sebagaimana adanya?

Ya, kebohongan itu adalah: jika ia menyaksikan hal itu dengan dirinya, dengan daya dan kekuatannya, bukan dengan Allah semata.

Namun Syaikh tidak peduli dengan celaan pencela dalam hal fana, dan tidak mendengarkan pencegah di dalamnya. Yang tidak diragukan lagi adalah: bahwa baqa (kekal/tetap) dalam zikir lebih sempurna daripada fana di dalamnya dan hilang kesadaran dengannya, karena dalam baqa terdapat perincian, pengetahuan, penyaksian hakikat-hakikat sebagaimana adanya, pembedaan antara Tuhan dan hamba, apa yang ada pada hamba dan apa yang ada pada Tuhan Yang Maha Tinggi, serta penyaksian penghambaan dan yang disembah. Sedangkan dalam fana tidak ada satupun dari itu semua. Fana seperti namanya adalah fana (sirna), dan baqa adalah kekal seperti namanya. Fana dicari untuk selainnya sedangkan baqa dicari untuk dirinya sendiri. Fana adalah sifat hamba sedangkan baqa adalah sifat Tuhan. Fana adalah ketiadaan sedangkan baqa adalah keberadaan. Fana adalah peniadaan sedangkan baqa adalah penetapan. Perjalanan di jalan fana penuh bahaya, dan betapa banyak padang pasir dan kebinasaan di dalamnya. Sedangkan perjalanan di jalan baqa lebih aman, karena ia adalah jalan yang di atasnya terdapat tanda-tanda, pembimbing, dan penjaga. Namun para penganut fana mengklaim bahwa jalan itu panjang dan mereka tidak meragukan keselamatannya serta sampainya kepada tujuan, tetapi mereka mengklaim bahwa jalan fana lebih dekat, penempuhnya seperti terbang, sedangkan penempuh jalan baqa seperti berjalan. Para orang sempurna di antara orang-orang yang menempuh jalan melihat fana sebagai salah satu tingkatan (pemberhentian) dari tingkatan-tingkatan jalan, dan turun di sana tidak berlaku umum bagi setiap orang yang berjalan, bahkan di antara mereka ada yang tidak melihatnya dan tidak melewatinya. Jalan yang paling agung dan jalan yang paling lurus adalah jalan baqa. Mereka berdalil kepada penganut fana dengan berpindahnya mereka kepada baqa dari fana, jika tidak maka menurutnya ia dalam bahaya. Wallahul musta’an (dan kepada Allah kita memohon pertolongan), dan Dia Yang Maha Suci lebih mengetahui.

Pasal: Tingkatan Kefakiran

Hakikat Kefakiran

Pasal Tingkatan Kefakiran

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan kefakiran (kefukaraan).

Tingkatan ini adalah tingkatan yang paling mulia di antara tingkatan-tingkatan jalan menurut kaum sufi, paling tinggi dan paling luhur. Bahkan ia adalah ruh setiap tingkatan, rahasianya, intinya, dan tujuannya.

Ini hanya dapat diketahui dengan mengetahui hakikat kefakiran. Yang dimaksud oleh kelompok ini dengannya lebih khusus dari makna asalnya. Karena lafaz fakir disebutkan dalam Al-Quran pada tiga tempat.

Pertama: firman-Nya: “(Berikan) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri (dari meminta-minta)” (Surat Al-Baqarah: 273) sampai akhir ayat, artinya sedekah-sedekah untuk orang-orang ini. Orang-orang fakir dari kaum Muhajirin sekitar empat ratus orang. Mereka tidak memiliki tempat tinggal di Madinah dan tidak memiliki kaum kerabat. Mereka telah menahan diri mereka untuk jihad di jalan Allah. Maka mereka siap untuk setiap pasukan yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah ahli shuffah (penghuni emperan masjid). Ini adalah salah satu pendapat tentang terikatnya mereka di jalan Allah.

Ada yang berpendapat: adalah penahan diri mereka dalam ketaatan kepada Allah. Ada yang berpendapat: penahan mereka oleh kefakiran dan ketiadaan dari jihad di jalan Allah.

Ada yang berpendapat: ketika mereka memusuhi musuh-musuh Allah dan berjihad melawan mereka karena Allah, mereka terikat dari berusaha di muka bumi untuk mencari penghidupan. Maka mereka tidak dapat berusaha di bumi.

Yang benar adalah: bahwa mereka karena kefakiran, ketidakmampuan, dan kelemahan mereka tidak dapat berusaha di bumi, namun karena kesempurnaan sifat menjaga diri dan kehormatan mereka, orang yang tidak mengetahui keadaan mereka menyangka mereka orang kaya.

Tempat kedua: firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir” (Surat At-Taubah: 60) sampai akhir ayat.

Tempat ketiga: firman-Nya: “Wahai manusia, kalian lah yang fakir kepada Allah” (Surat Fathir: 15).

Golongan pertama adalah orang-orang fakir yang istimewa. Yang kedua adalah orang-orang fakir dari kaum muslimin, baik yang khusus maupun yang umum. Yang ketiga adalah kefakiran umum bagi seluruh penghuni bumi: orang kaya dan fakir mereka, mukmin dan kafir mereka.

Orang-orang fakir yang disifati dalam ayat pertama, lawan mereka adalah orang-orang yang berkemampuan, orang yang tidak terikat di jalan Allah, dan orang yang tidak menyembunyikan kefakirannya karena menjaga diri. Maka lawan mereka lebih banyak daripada lawan golongan kedua.

Golongan kedua, lawan mereka adalah orang-orang kaya yang berkemampuan. Termasuk di dalamnya orang yang menjaga diri dan selainnya, orang yang terikat di jalan Allah dan selainnya.

Golongan ketiga tidak ada lawan baginya. Bahkan Allah semata yang Maha Kaya, dan semua selain-Nya fakir kepada-Nya.

Maksud kaum sufi dengan kefakiran adalah sesuatu yang lebih khusus dari semua ini. Yaitu merealisasikan penghambaan dan kefakiran kepada Allah dalam setiap keadaan.

Makna ini lebih agung daripada dinamakan kefakiran. Bahkan ia adalah hakikat penghambaan dan intinya, serta mengosongkan diri dari menyaingi ketuhanan.

Yahya bin Mu’adz ditanya tentangnya. Maka ia menjawab: Hakikatnya adalah tidak merasa cukup kecuali dengan Allah, dan bentuknya adalah tidak adanya sebab-sebab semuanya.

Ia mengatakan: tidak adanya keyakinan padanya dan berhenti bersamanya. Sebagaimana yang dikatakan salah seorang masyaikh: Sesuatu yang tidak diletakkan Allah kecuali pada orang yang dicintai-Nya, dan mengirimkannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.

BAB: PERNYATAAN RUWAIM TENTANG FAQIR

Ruwaim ditanya tentang faqir, maka ia menjawab: “Melepaskan diri dalam hukum-hukum Allah.”

Ini terpuji hanya dalam melepaskan diri pada hukum-hukum agama dan takdir yang tidak diperintahkan untuk menolak atau berhati-hati darinya.

Abu Hafsh ditanya: “Dengan apa orang faqir menghadap Tuhannya?” Ia menjawab: “Orang faqir tidak memiliki sesuatu pun untuk menghadap Tuhannya kecuali kefakirannya.”

Hakikat faqir dan kesempurnaannya sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka ketika ditanya: “Kapan orang faqir berhak atas nama faqir?” Ia menjawab: “Ketika tidak tersisa sedikitpun darinya pada dirinya.” Ditanyakan kepadanya: “Bagaimana itu?” Ia menjawab: “Jika ia memiliki (sesuatu), maka itu bukan miliknya. Dan jika ia tidak memilikinya, maka itu adalah miliknya.”

Ini termasuk ungkapan terbaik tentang makna faqir yang ditunjuk oleh kaum sufi. Yaitu bahwa semuanya menjadi milik Allah Azza wa Jalla. Tidak tersisa sedikitpun dari dirinya, kesenangannya, dan hawa nafsunya. Ketika masih tersisa sesuatu dari hukum-hukum nafsunya, maka kefakirannya cacat.

Kemudian ia menjelaskan itu dengan perkataannya: “Jika ia memiliki (sesuatu), maka itu bukan miliknya,” maksudnya: jika ia untuk dirinya, maka itu bukan untuk Allah. Dan jika ia bukan untuk dirinya, maka ia untuk Allah.

Hakikat faqir adalah engkau tidak menjadi milik dirimu sendiri. Dan dirimu tidak memiliki sesuatu dari dirimu, sehingga engkau sepenuhnya untuk Allah. Jika engkau untuk dirimu sendiri, maka di situ ada kepemilikan dan kekayaan yang bertentangan dengan kefakiran.

Kefakiran yang mereka tunjuk ini tidak bertentangan dengan kecukupan materi dan kepemilikan harta. Rasul-rasul Allah dan para nabi-Nya berada di puncak kefakiran bersama kecukupan materi dan kepemilikan mereka, seperti Ibrahim Khalilullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan bapak para tamu. Ia memiliki harta dan ternak. Demikian pula Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalam. Demikian pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Adh-Dhuha: 8) Mereka adalah orang-orang kaya dalam kefakiran mereka, faqir dalam kekayaan mereka.

Faqir yang hakiki adalah: langgengnya kebutuhan kepada Allah dalam setiap keadaan, dan hamba menyaksikan dalam setiap partikel dari partikel-partikel zahir dan batinnya kebutuhan sempurna kepada Allah Ta’ala dari setiap sisi.

Faqir adalah sifat dzati hamba. Ia baru menjadi keadaan aktual baginya ketika ia menyaksikan dan merasakannya, padahal ia adalah hakikat. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan ruhnya:

“Kefakiran bagiku adalah sifat dzat yang melekat selamanya Sebagaimana kekayaan selamanya adalah sifat dzat bagi-Nya”

Ia memiliki akibat, tanda-tanda, konsekuensi, dan sebab-sebab yang kebanyakan isyarat kaum sufi mengarah kepadanya. Seperti perkataan salah seorang dari mereka: “Orang faqir cita-citanya tidak mendahului langkahnya.”

Maksudnya: ia adalah anak keadaan dan waktunya. Cita-citanya terbatas pada waktunya dan tidak melampaui itu.

Dikatakan: Rukun-rukun faqir ada empat: ilmu yang mengaturnya, wara’ yang menahannya, yakin yang membawanya, dan dzikir yang menemaninya.

Asy-Syibli berkata: “Hakikat faqir adalah tidak mencukupkan diri dengan sesuatu pun selain Allah.”

Sahl bin Abdullah ditanya: “Kapan orang faqir merasa tenang?” Ia menjawab: “Ketika ia tidak melihat untuk dirinya selain waktu yang ia berada di dalamnya.”

Abu Hafsh berkata: “Wasilah terbaik yang digunakan hamba kepada Allah adalah: langgengnya kebutuhan kepada-Nya dalam semua keadaan, berpegang teguh pada sunnah dalam semua perbuatan, dan mencari rizki dari jalan yang halal.”

Dikatakan: “Termasuk hukum faqir adalah tidak memiliki keinginan. Jika terpaksa ada, maka keinginannya tidak melampaui kebutuhannya.”

Dikatakan: “Orang faqir adalah orang yang tidak memiliki dan tidak dimiliki.” Lebih sempurna dari ini: “Orang yang memiliki tetapi tidak dimiliki oleh pemilik.”

Dikatakan: “Barangsiapa menginginkan faqir karena kemuliaan faqir, ia akan mati dalam keadaan faqir. Dan barangsiapa menginginkannya agar tidak tersibukkan dari Allah dengan sesuatu, ia akan mati dalam keadaan kaya.”

Faqir memiliki awal dan akhir, zahir dan batin. Awalnya adalah kehinaan, akhirnya adalah kemuliaan. Zahirnya adalah ketiadaan, batinnya adalah kekayaan. Sebagaimana seseorang berkata kepada yang lain: “Faqir dan hina?” Ia menjawab: “Tidak, tetapi faqir dan mulia.” Ia berkata: “Faqir dan kaya?” Ia menjawab: “Tidak, tetapi faqir dan singgasana.” Keduanya benar.

Kaum sufi sepakat bahwa langgengnya kebutuhan kepada Allah meski dengan kesalahan lebih baik daripada langgengnya kesucian dengan melihat diri sendiri dan ujub, padahal tidak ada kesucian bersama keduanya.

Ketika engkau memahami makna faqir, engkau mengetahui bahwa ia adalah inti kekayaan dengan Allah. Maka tidak ada makna bagi pertanyaan orang yang bertanya: “Manakah dari dua keadaan yang lebih sempurna: kebutuhan kepada Allah atau kecukupan dengan-Nya?”

Ini adalah pertanyaan yang tidak benar. Karena kecukupan dengan-Nya adalah inti dari kebutuhan kepada-Nya.

Muhammad bin Abdullah al-Farghani ditanya tentang itu, ia menjawab: “Jika kebutuhan kepada Allah Ta’ala benar, maka kecukupan dengan Allah benar. Dan jika kecukupan dengan Allah benar, maka kekayaan dengan-Nya sempurna. Maka tidak dikatakan: manakah yang lebih utama, kebutuhan atau kecukupan? Karena keduanya adalah dua keadaan yang tidak sempurna salah satunya kecuali dengan yang lain.”

Adapun pembahasan mereka tentang masalah orang faqir yang sabar dan orang kaya yang bersyukur, dan mengutamakan salah satunya atas yang lain.

Menurut ahli tahqiq dan ma’rifat: keutamaan tidak kembali kepada dzat faqir dan kaya. Tetapi kembali kepada amal, keadaan, dan hakikat. Maka masalah ini juga rusak pada dirinya. Karena keutamaan di sisi Allah Ta’ala adalah dengan takwa dan hakikat-hakikat iman, bukan dengan faqir atau kaya. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13) Dan Dia tidak berfirman “yang paling faqir” atau “yang paling kaya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata: “Faqir dan kaya adalah ujian dari Allah untuk hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: ‘Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku.’ (Al-Fajr: 15-16) Sekali-kali tidak demikian, artinya: tidak setiap orang yang Aku beri keluasan dan Aku beri kepadanya, Aku memuliakan dia. Dan tidak setiap orang yang Aku sempitkan dan Aku batasi kepadanya, Aku menghina dia. Pemuliaan adalah Allah memuliakan hamba dengan ketaatan kepada-Nya, iman kepada-Nya, cinta dan ma’rifat kepada-Nya. Dan penghinaan adalah Dia mencabut itu darinya.”

Ia berkata, maksudnya Ibnu Taimiyah: “Keutamaan tidak terjadi dengan kaya dan faqir, tetapi dengan takwa. Jika mereka sama dalam takwa, mereka sama dalam tingkatan.” Aku mendengarnya mengatakan itu.

Mereka membahas masalah ini di hadapan Yahya bin Mu’adz, maka ia berkata: “Tidak akan ditimbang besok faqir dan kaya, yang ditimbang hanyalah sabar dan syukur.”

Yang lain berkata: “Masalah ini mustahil dari sisi lain, yaitu bahwa setiap orang kaya dan faqir pasti memiliki sabar dan syukur. Karena iman adalah dua bagian: setengah sabar dan setengah syukur. Bahkan bagian dan porsi orang kaya dari sabar bisa lebih banyak. Karena ia sabar dengan kemampuan, maka sabarnya lebih sempurna dari sabar orang yang sabar karena ketidakmampuan. Dan syukur orang faqir lebih sempurna, karena syukur adalah menghabiskan kemampuan dalam ketaatan kepada Allah, dan orang faqir lebih memiliki waktu luang untuk bersyukur daripada orang kaya. Maka keduanya tidak tegak tiang imannya kecuali di atas dua kaki sabar dan syukur.”

Ya, yang orang-orang ceritakan dari masalah ini adalah: satu cabang dari syukur dan satu cabang dari sabar. Dan mereka mengutamakan di antara keduanya. Mereka menggambarkan orang kaya yang berinfak, bersedekah, mengeluarkan hartanya di jalan-jalan ketaatan, bersyukur kepada Allah atasnya. Dan orang faqir yang meluangkan waktu untuk ketaatan kepada Allah dan wirid-wirid ibadah, sabar atas kefakirannya. Apakah ia lebih sempurna dari orang kaya itu, ataukah orang kaya lebih sempurna darinya?

Yang benar dalam hal seperti ini adalah: yang paling sempurna dari keduanya adalah yang paling taat. Jika ketaatan mereka sama, tingkatan mereka sama. Wallahu a’lam.

Bab: Definisi Faqir

Pasal

Penulis Manazil rahimahullah berkata:

“Faqir adalah nama untuk berlepas diri dari kepemilikan.”

Syaikh berpaling dari lafadz ketiadaan kepemilikan kepada perkataannya: berlepas diri dari kepemilikan, karena ketiadaan kepemilikan adalah tetap pada hakikatnya bagi setiap orang selain Allah Ta’ala. Allah Subhanahu adalah Pemilik yang hakiki. Maka ketiadaan kepemilikan adalah perkara yang tetap bagi setiap selain-Nya karena dzatnya. Dan pembahasan tentang faqir yang dengannya pemiliknya dipuji adalah faqir pilihan. Ia lebih khusus dari faqir mutlak. Yaitu berlepas dirinya hamba dari klaim kepemilikan sehingga ia tidak bersengketa dengan Pemilik yang Haq.

Ketika jiwa manusia bukan miliknya, tetapi milik Allah, maka selama ia tidak keluar darinya dan menyerahkannya kepada Pemiliknya yang Haq, tidak tegak baginya kaki dalam faqir. Karena itu, langkah pertama faqir adalah keluar dari jiwa dan menyerahkannya kepada Pemilik dan Maulanya. Maka ia tidak berbantahan untuknya, tidak bertawakal untuknya, tidak membela dirinya, dan tidak membela dirinya, tetapi ia menyerahkan itu kepada Pemilik dan Tuannya.

Bandar bin al-Husain berkata: “Jangan berbantahan untuk dirimu, karena ia bukan milikmu. Biarkan ia untuk Pemiliknya, Dia berbuat dengannya apa yang Dia kehendaki.”

Kaum ini telah sepakat bahwa tidak ada jalan menuju Allah kecuali melalui jalan faqir. Dan tidak ada pintu masuk kepada-Nya kecuali dari pintunya. Wallahu a’lam.

 

 

Bab: Tingkatan-Tingkatan Faqir

TINGKAT PERTAMA: FAQIR PARA ZAHID

Pasal

Ia berkata: “Ia memiliki tiga tingkatan. Tingkat pertama: faqir para zahid. Yaitu menahan tangan dari dunia, baik dalam menyimpan atau mencari. Membisukan lisan darinya, baik dengan memuji atau mencela. Dan selamat darinya, baik dalam mencari atau meninggalkan. Ini adalah faqir yang mereka bicarakan tentang kemulinannya.”

Dunia menurut kaum sufi adalah: apa saja selain Allah Ta’ala, dari harta, kedudukan, bentuk-bentuk, dan pangkat-pangkat.

Para teolog berbeda pendapat tentangnya dalam dua pendapat. Al-Asy’ari menceritakannya dalam Maqalatnya.

Pertama: ia adalah nama untuk masa keberlangsungan alam ini.

Kedua: ia adalah nama untuk apa yang ada antara langit dan bumi. Maka apa yang di atas langit bukan dari dunia. Dan apa yang di bawah bumi bukan darinya.

Berdasarkan yang pertama: dunia adalah waktu. Berdasarkan yang kedua: dunia adalah tempat.

Ketika dunia memiliki keterkaitan dengan anggota badan, hati, dan lisan, maka hakikat faqir adalah: menonaktifkan ketiga hal ini dari keterkaitannya dengan dunia dan mencabutnya darinya. Karena itu ia berkata: “menahan tangan dari dunia, baik dalam menyimpan atau mencari.”

Maksudnya: ia menahan tangannya dari menyimpan dunia jika ia mendapatkannya. Ketika ia menahan tangannya dari menyimpan, ia dermawan dengannya. Dan jika dunia tidak ia dapatkan, ia menahan tangannya dari mencarinya. Maka ia tidak mencari yang tidak ada dan tidak kikir dengan yang ada.

Adapun menonaktifkannya dari lisan, yaitu ia tidak memuji dan tidak mencela dunia. Karena kesibukannya memuji atau mencela dunia adalah bukti cinta dan keinginannya kepadanya. Karena orang yang mencintai sesuatu banyak menyebutnya. Ia sibuk mencelanya ketika ia kehilangannya. Seperti orang yang mencari anggur tetapi tidak mendapatkannya, lalu ia berkata: “Ia asam.” Tidak ada yang mencela dunia kecuali orang yang menginginkan, mencintai, dan berpisah dengannya. Orang yang mendapatkan memuji, dan orang yang berpisah mencela.

Adapan menonaktifkan hati darinya, yaitu dengan selamat dari bencana mencari dan meninggalkannya. Karena meninggalkan dunia memiliki bencana dan mencarinya memiliki bencana. Dan faqir adalah keselamatan hati dari bencana mencari dan meninggalkan, sehingga tidak menghalanginya dari Tuhannya dengan cara apa pun, baik yang zahir maupun batin, tidak dalam mencari dan mengambilnya, tidak dalam meninggalkan dan berpaling darinya.

Jika engkau berkata: “Aku mengerti bencana dalam mengambil dan mencarinya. Apa sisi bencana dalam meninggalkan dan berpaling darinya?”

Aku katakan: Dari beberapa sisi: Pertama, ketika ia meninggalkannya, sementara ia manusia bukan malaikat, hatinya terikat dengan apa yang menopang dan menghidupi serta membuatnya hidup. Dan apa yang ia butuhkan. Maka ia tetap dalam jihad keras dengan dirinya untuk meninggalkan yang diketahui dan kesenangan dirinya dari dunia. Ini adalah kurang faham dalam jalan. Bahkan orang yang faham dan arif: ia mengembalikan (nafsunya) darinya dengan sesuap. Sebagaimana ia mengembalikan anjing ketika menggonggong kepadanya dengan sepotong. Dan ia tidak memotong waktunya dengan berjihad dan menolaknya, tetapi ia memberi bagiannya dan menuntutnya dengan apa yang menjadi hak darinya.

Ini adalah jalan para rasul shallallahu ‘alaihim wa sallam. Dan ini adalah jalan orang-orang arif dari ahli suluk. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya untuk dirimu atasmu ada hak. Untuk Tuhanmu atasmu ada hak. Untuk istrimu atasmu ada hak. Untuk tamumu atasmu ada hak. Maka berilah setiap yang berhak haknya.”

Orang arif yang berwawasan menjadikan sebagai ganti jihad nya untuk dirinya dalam meninggalkan syahwat yang mubah: jihad nya untuk musuh-musuh Allah dari setan-setan manusia dan jin, dan pemotong jalan hati. Seperti ahli bidah dari kalangan ahli ilmu dan ahli keinginan. Dan ia menghabiskan kekuatannya dalam perang dan jihad mereka. Dan ia menguatkan diri atas perang mereka dengan memberi diri haknya dari yang mubah. Dan ia tidak tersibukkan dengannya.

Termasuk bencana meninggalkan dunia adalah melihat-lihat kepada apa yang ada di tangan manusia ketika ia tersentuh kebutuhan kepada apa yang ia tinggalkan. Maka mempertahankannya lebih bermanfaat baginya daripada meninggalkan ini.

Termasuk bencana meninggalkan dan tidak mengambilnya adalah: apa yang memasukinya dari kesombongan, ujub, dan kebanggaan. Ini melawan kezuhudan dan meninggalkannya. Sebagaimana kehinaan pengambil, kerendahan dan kerendah hatiannya melawan pengambil yang meninggalkan. Dalam mengambil ada bencana. Dalam meninggalkan ada bencana.

Faqir yang benar adalah: selamat dari bencana mengambil dan meninggalkan. Dan ini tidak terjadi kecuali dengan faham dalam faqir.

Perkataannya rahimahullah: “Ini adalah faqir yang mereka bicarakan tentang kemuliaannya.”

Maksudnya: dibicarakan olehnya para ahli suluk/adab. Dan mereka mengutamakan dan memujanya.

Pasal: Tingkatan Kedua – Kembali kepada Pendahuluan dengan Memperhatikan Karunia

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua adalah kembali kepada pendahuluan (karunia Allah) dengan memperhatikan karunia-Nya. Hal ini melahirkan pembebasan dari memandang amal-amal perbuatan, memutuskan penyaksian terhadap keadaan-keadaan spiritual, dan membersihkan dari kotoran-kotoran memperhatikan tingkatan-tingkatan spiritual.

Yang dimaksud dengan kembali kepada pendahuluan adalah: menoleh kepada apa yang telah didahulukan oleh takdir Allah dengan memperhatikan karunia-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dan bahwasanya hamba beserta segala kebaikan yang ada padanya semata-mata adalah kemurahan dan kebaikan Allah. Dan tidak ada pada hamba dari zatnya sendiri selain ketiadaan. Adapun zat, sifat-sifat, iman, dan amal perbuatannya semuanya adalah dari karunia Allah kepadanya. Apabila ia menyaksikan hal ini dan hatinya menghadirkannya serta meyakininya, maka hal itu akan membebaskannya dari memandang amal-amalnya. Karena ia tidak melihat amal-amal itu kecuali dari Allah dan dengan Allah. Dan bukan darinya dan bukan dengannya.

Kaum sufi telah bersepakat bahwa memandang amal-amal perbuatan adalah hijab (penghalang) antara hamba dengan Allah. Yang membebaskannya dari hal itu adalah: menyaksikan takdir pendahuluan (Allah) dan memperhatikan karunia-Nya.

Perkataan pengarang: “dan memutuskan penyaksian terhadap keadaan-keadaan spiritual”

Karena apabila ia memperhatikan takdir karunia Allah yang mendahului, ia akan mengetahui bahwa segala yang diperolehnya berupa keadaan spiritual atau lainnya semata-mata adalah kemurahan-Nya. Maka ia tidak menyaksikan bagi dirinya keadaan spiritual bersama Allah dan tidak pula tingkatan, sebagaimana ia tidak menyaksikan bagi dirinya amal perbuatan. Sungguh ia telah menjadikan bekal untuk bertemu Tuhannya adalah kefakirannya dari amal-amal dan keadaan-keadaan spiritualnya. Maka ia tidak menghadap kepada-Nya kecuali dengan kefakiran yang murni. Kefakiran adalah sebaik-baik hubungan antara dirinya dengan Tuhannya, dan nasab (hubungan keturunan) yang dengannya ia menisbatkan dirinya kepada-Nya, dan pintu yang melaluinya ia masuk kepada-Nya.

Demikian pula perkataannya: “membersihkan dari kotoran-kotoran memperhatikan tingkatan-tingkatan spiritual”

Ini sejenis dengan pembebasan dari memandang amal-amal perbuatan dan terputusnya dari penyaksian keadaan-keadaan spiritual. Memperhatikan tingkatan-tingkatan spiritual adalah kotoran menurut kaum ini. Maka memperhatikan karunia Allah membersihkan dari kotoran ini.

Adapun perbedaan antara hal (keadaan spiritual) dan tingkatan (station spiritual) adalah: hal adalah makna yang datang ke hati tanpa diusahakan, tanpa diupayakan, dan tanpa disengaja. Sedangkan tingkatan dicapai dengan sejenis usaha dan pencarian.

Maka hal-hal spiritual menurut mereka adalah pemberian, sedangkan tingkatan-tingkatan adalah hasil usaha. Tingkatan diperoleh dengan mencurahkan kesungguhan. Adapun hal: maka dari mata air kemurahan.

Ketika al-Wasithi memasuki Naisabur, ia bertanya kepada murid-murid Abu Utsman: “Dengan apa syaikh kalian memerintahkan kalian?” Mereka menjawab: “Ia memerintahkan kami untuk berpegang pada ketaatan-ketaatan dan melihat kekurangan di dalamnya.” Maka ia berkata: “Ia memerintahkan kalian dengan Majusiyah (agama Majusi) yang murni. Mengapa ia tidak memerintahkan kalian untuk ghaib (lupa) darinya dengan menyaksikan yang menciptakannya dan yang menjalankannya?”

Saya (penulis) berkata: Abu Utsman rahimahullah tidak memerintahkan mereka kecuali dengan hanifiyah (agama tauhid yang lurus) yang murni. Yaitu menunaikan perintah dan memperhatikan kekurangan di dalamnya. Dan tidak ada dalam hal ini dari bau Majusiyah sedikitpun. Karena apabila ia mencurahkan ketaatan untuk Allah dan dengan Allah, hal itu menjaganya dari kesatuan (paham wihdatul wujud) dan kesyirikan. Dan apabila ia menyaksikan kekurangannya di dalamnya, hal itu menjaganya dari ujub (kagum pada diri sendiri). Maka ia akan berdiri dengan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat al-Fatihah: 5).

Adapun apa yang ditunjukkan oleh al-Wasithi adalah masyhadal-fana (penyaksian fananya diri). Dan tidak diragukan bahwa masyhadal-baqa (penyaksian kekal) lebih sempurna. Karena orang yang ghaib (lupa) dari ketaatan-ketaatannya tidak menyaksikan kekurangannya di dalamnya. Dan di antara kesempurnaan penghambaan adalah menyaksikan kekurangan. Maka masyhadnya Abu Utsman lebih sempurna daripada masyhadnya al-Wasithi.

Abu Utsman ini adalah Said bin Ismail an-Naisaburi, termasuk ulama besar kaum sufi dan ahli makrifat mereka. Dan dikatakan: di dunia ada tiga orang, tidak ada yang keempat untuk mereka: Abu Utsman an-Naisaburi di Naisabur, al-Junaid di Baghdad, dan Abu Abdullah bin al-Jalla di Syam. Dia memiliki perkataan yang tinggi dan mulia dalam tasawuf dan makrifat. Dan ia sangat mewasiatkan untuk mengikuti sunnah, menghukuminya, dan berpegang teguh padanya. Ketika ia menghadapi kematian, anaknya merobek baju di atas dirinya sendiri. Maka Abu Utsman membuka matanya sementara ia dalam sakaratul maut, lalu berkata: “Wahai anakku, menyelisihi sunnah di lahir adalah tanda riya di batin.”

Pasal: Tingkatan Ketiga – Keadaan Terpaksa

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah keadaan terpaksa (al-idhtirar), jatuh ke dalam tangan terputusnya penyaksian (wujud selain Allah), atau tertahan dalam padang belantara belenggu tajrid (penggalan dari segala sesuatu). Dan ini adalah kefakiran para sufi.

Al-idhtirar (keadaan terpaksa) adalah: menyaksikan kesempurnaan kebutuhan dan kefakiran secara ilmu dan keadaan.

Yang dimaksud dengan jatuh ke dalam tangan terputusnya penyaksian adalah: hadhrah al-jam’ (kehadiran dalam kesatuan) yang tidak ada padanya selain-selain Allah. Maka ia terputus dari selain Allah, tunggal dalam dirinya. Dan jatuh ke dalam tangannya adalah: berserah diri dan tunduk kepadanya, serta masuk dalam perhambaannya.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa hadhrah al-jam’ menurut mereka adalah: menyaksikan hakikat kauniyah (realitas alam semesta), dan melihatnya dengan cahaya kasyaf, di mana ia menyaksikannya sebagai sumber semua makhluk. Dan makhluk-makhluk adalah ketiadaan dibandingkan dengannya.

Adapun tertahan dalam padang belantara belenggu tajrid, maka itu adalah mentajrid (menggalkan) al-fardaniyah (keesaan) dari menyaksikan selain-Nya, yaitu fana dari menyaksikan sesuatu selain Allah.

Itu disebut tertahan karena ia mencegah dirinya dari menyaksikan selain-selain Allah. Dan ia menjadikan untuk tajrid sebuah belenggu, yaitu terikat dengan menyaksikan Hakikat.

Dan ia menjadikan belenggu itu sebagai padang belantara karena dua alasan:

Pertama: bahwa selain-selain Allah binasa dan tiada di dalamnya. Dan tidak ada bersamanya selain Dia.

Kedua: karena luasnya dan kelapangannya. Maka pemilik masyhadnya berada dalam padang belantara yang luas, meskipun ia tertahan dalam belenggu penyaksiannya.

Perkataannya: “Dan ini adalah kefakiran para sufi”

Dapat dipahami darinya bahwa tasawuf lebih tinggi menurutnya daripada kefakiran. Karena tingkatan ketiga ini – yang merupakan tingkatan kefakiran paling tinggi menurutnya – adalah sebagian dari tingkatan-tingkatan para sufi.

Sekelompok orang berbeda pendapat dengannya dalam hal itu dan mengatakan: Tasawuf berada jauh di bawah tingkatan ini. Dan tasawuf adalah wasilah (perantara) menuju kefakiran ini. Karena tasawuf adalah akhlak, sedangkan kefakiran ini adalah hakikat, dan tujuan akhir yang tidak ada tujuan melampaui darinya.

Telah disebutkan sebelumnya perselisihan antara kaum sufi dalam masalah ini. Dan kami menyebutkan di dalamnya tiga pendapat, dua pendapat ini.

Dan yang ketiga: bahwa tidak ada yang diutamakan salah satunya atas yang lain. Karena setiap satu dari keduanya tidak sempurna hakikatnya kecuali dengan yang lain. Dan ini adalah pendapat orang-orang Syam. Wallahu a’lam (Dan Allah Maha Mengetahui).

Pasal: Tingkatan Kekayaan

Hakikat Kekayaan

Pasal Tingkatan al-Ghina (Tingkatan Kekayaan)

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat al-Fatihah: 5) adalah tingkatan kekayaan yang tinggi.

Dan ia ada dua macam: kaya dengan Allah, dan kaya dari selain Allah, dan keduanya adalah hakikat kefakiran. Akan tetapi para penempuh jalan (suluk) mengkhususkan untuk kekayaan sebuah tingkatan.

Penulis kitab Manazil as-Sairin rahimahullah berkata: Bab Kekayaan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (Surat adh-Dhuha: 8).

Dan dalam ayat ini ada tiga pendapat:

Pertama: bahwasanya Allah memberikan kekayaan kepadanya berupa harta setelah kefakirannya. Dan ini pendapat kebanyakan ahli tafsir. Karena ayat itu dipasangkan dengan firman-Nya: ‘a’ilan (yang kekurangan). Dan al-‘a’il adalah orang yang membutuhkan, bukan yang memiliki tanggungan. Maka Allah memberikan kekayaan kepadanya berupa harta.

Kedua: bahwasanya Allah merelakan hatinya dengan apa yang diberikan kepada-Nya, dan mencukupkannya dengannya dari selain-Nya. Maka itu adalah kekayaan hati dan jiwa, bukan kekayaan harta. Dan itu adalah hakikat kekayaan.

Ketiga – dan inilah yang benar – bahwa ayat itu mencakup kedua macam kekayaan. Maka Allah memberikan kekayaan kepada hatinya dengan-Nya, dan memberikan kekayaan kepadanya berupa harta.

Kemudian ia berkata: Kekayaan adalah nama untuk kepemilikan yang sempurna.

Maksudnya adalah bahwa barangsiapa yang memiliki dari satu sisi tanpa sisi yang lain maka ia bukan orang kaya. Dan berdasarkan hal ini, maka tidak pantas menerima nama al-Ghani (Yang Maha Kaya) secara hakikat kecuali Allah. Dan semua selain-Nya adalah fakir kepada-Nya secara zatnya.

Tingkatan-tingkatan Kekayaan

Tingkatan Pertama: Kekayaan Hati

Ia berkata: Dan ia (kekayaan) terbagi atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kekayaan hati. Yaitu selamatnya hati dari sebab, berdamainya dengan hukum, dan bebasnya dari perselisihan.

Hakikat kekayaan hati adalah: tergantungnya hati kepada Allah semata. Dan hakikat kefakiran yang tercela adalah: tergantungnya kepada selain-Nya. Apabila ia bergantung kepada Allah, maka ia memperoleh ketiga hal yang disebutkannya ini.

Selamatnya dari sebab, maksudnya dari tergantung kepadanya, bukan dari melaksanakannya. Kekayaan menurut orang-orang yang lalai adalah dengan sebab. Oleh karena itu hati mereka tergantung kepadanya. Dan menurut orang-orang yang mengenal Allah adalah dengan Musabbib (Pembuat Sebab). Demikian pula keahlian dan kekuatan. Maka ketiga hal ini adalah jalan-jalan kekayaan menurut manusia. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya: “Sesungguhnya sedekah tidak halal untuk orang kaya, dan tidak untuk orang yang memiliki kekuatan yang sehat”. Dan dalam riwayat lain: “dan tidak untuk orang yang kuat dan dapat bekerja”. Ia adalah kaya dengan sesuatu. Maka pemiliknya kaya dengannya apabila jiwanya tenang kepadanya. Dan apabila ketenangan jiwanya kepada Tuhannya, maka ia kaya dengan-Nya. Dan segala sesuatu yang kepadanya jiwa tenang, maka ia fakir kepadanya.

Adapun berdamai dengan hukum, maka ada dua macam:

Pertama: berdamai dengan hukum syariat yang merupakan perintah. Yaitu memeluknya dan menyesuaikannya, lawan dari memeranginya.

Kedua: berdamai dengan hukum kauniyah qodariyah (ketentuan takdir alam semesta) yang berjalan atasnya tanpa pilihannya, dan ia tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya, dan ia tidak diperintahkan untuk menolaknya.

Dan dalam berdamai dengan hukum ada nuktan (poin) yang tidak boleh tidak disebutkan. Yaitu mentajrid (memurnikan) penisbatan dan penyandarannya kepada Zat yang darinya hukum itu keluar, sehingga ia tidak menisbatkannya kepada selain-Nya.

Dan ini mengandung tauhid rububiyah dalam berdamai dengan hukum kauniyah, dan tauhid uluhiyah dalam berdamai dengan hukum syariat. Dan keduanya adalah hakikat “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surat al-Fatihah: 5).

Adapun bebas dari perselisihan

Maka yang terpuji darinya adalah: bebas dari perselisihan dengan dirinya untuk dirinya. Adapun apabila ia berselisih dengan Allah dan untuk Allah, maka ini termasuk kesempurnaan penghambaan. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa dalam pembukaan shalatnya: “Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku bertaubat, dengan-Mu aku berselisih, dan kepada-Mu aku berhukum”.

Tingkatan Kedua: Kekayaan Jiwa

Ia berkata: Tingkatan kedua adalah kekayaan jiwa. Yaitu istiqamah (konsistensi) jiwa terhadap yang diinginkan, selamatnya dari hawa nafsu, dan bebasnya dari riya.

Syaikh menjadikan kekayaan jiwa di atas kekayaan hati.

Dan diketahui bahwa perkara-perkara hati lebih sempurna dan lebih kuat daripada perkara-perkara jiwa. Akan tetapi dalam urutan ini ada nuktan (poin) yang halus. Yaitu bahwa jiwa adalah dari tentara hati dan rakyatnya. Dan ia adalah tentara yang paling keras menentangnya dan memusuhinya. Dan dari sisinya kerajaan menjadi kacau baginya. Dan musuh masuk kepadanya. Apabila diperoleh baginya kesempurnaan dengan kekayaan, maka tidak sempurna baginya kecuali dengan kekayaan jiwa juga. Karena jiwa ketika masih fakir, hukum kefakirannya akan kembali kepadanya (hati). Dan kekayaan hati menjadi kacau. Maka kekayaan jiwa adalah penyempurna bagi kekayaan hati dan penyempurnanya. Dan kekayaan hati adalah asal bagi kekayaan jiwa. Maka dari hati sampai kekayaan kepada jiwa. Dan dari jiwa sampai kefakiran, kemudharatan, dan kesusahan kepada hati.

Apabila ini dipahami, maka Syaikh menjadikan kekayaan jiwa dengan tiga hal:

Istiqamahnya terhadap yang diinginkan, yaitu Allah Yang Maha Benar. Dan istiqamahnya kepada-Nya adalah: melanggengkan mencari-Nya dan memutuskan tingkatan-tingkatan dengan berjalan menuju-Nya.

Kedua: selamatnya dari hawa nafsu, yaitu keterikatan-keterikatan jiwa yang zhahir dan batin kepada selain Allah.

Ketiga: bebasnya dari riya, yaitu menghendaki selain Allah dengan sesuatu dari amal-amal dan perkataan-perkataannya. Maka riya jiwa adalah dalil atas keras kefakirannya. Dan keterikannya kepada hawa nafsu juga dari kefakirannya. Dan tidak istiqamahnya terhadap tujuannya yang haq juga dari kefakirannya. Dan itu menunjukkan bahwa jiwa tidak menemukan (wajada) Allah. Karena seandainya ia menemukan-Nya, niscaya ia istiqamah dalam berjalan menuju-Nya, memutuskan keterikatan-keterikatan dan hawa nafsunya dari selain-Nya, dan tidak menghendaki dengan amalnya selain-Nya.

Maka tidak istiqamah ketiga hal ini kecuali bagi orang yang telah menguasai jiwanya, menemukan tujuannya. Dan selama ia belum menemukan Tuhannya Yang Maha Tinggi, maka tidak ada istiqamah baginya, tidak ada keselamatan bagi jiwa dari hawa nafsu, dan tidak ada kebebasan baginya dari riya.

Bab Tingkatan Ketiga: Kaya dengan Kebenaran

Bab

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah kaya dengan kebenaran. Dan ia memiliki tiga martabat. Martabat pertama: menyaksikan ingatan-Nya kepadamu. Dan yang kedua: terus menerus melihat sifat awaliyah-Nya. Dan yang ketiga: memperoleh kemenangan dengan keberadaan-Nya.

Adapun menyaksikan ingatan-Nya kepadamu, maka telah dibahas sebelumnya.

Adapun melihat sifat awaliyah-Nya, maka itu adalah pendahuluan-Nya terhadap segala sesuatu. Maka Dia adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

Sebagian dari mereka berkata: Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku telah melihat Allah sebelumnya.

Jika engkau bertanya: Dan kekayaan apakah yang diperoleh hati dari melihat sifat awaliyah Tuhan, dan pendahuluan-Nya terhadap segala sesuatu? Dan sudah diketahui bahwa hal ini dimiliki oleh setiap orang, baik yang kaya maupun yang fakir, maka apa sisi kekayaan yang diperoleh dengannya?

Aku menjawab: Jika hati menyaksikan pendahuluan-Nya terhadap sebab-sebab, dan bahwa sebab-sebab itu berada dalam wilayah ketiadaan, dan Dialah yang mengenakan kepada mereka pakaian keberadaan, maka mereka adalah tiada dengan zatnya. Mereka fakir kepada-Nya dengan zatnya. Dan Dialah Yang Ada dengan zat-Nya. Dan Yang Kaya dengan zat-Nya bukan dengan yang lain. Maka tidaklah kekayaan pada hakikatnya kecuali dengan-Nya, sebagaimana tidak ada pada hakikatnya kecuali untuk-Nya. Maka kekayaan dengan selain-Nya adalah hakikat kefakiran. Karena itu adalah kekayaan dengan sesuatu yang tiada lagi fakir. Dan bagaimana orang fakir bisa berkecukupan dengan orang fakir yang seperti dirinya?

Adapun memperoleh kemenangan dengan keberadaan-Nya, maka isyarat kaum semuanya kepada makna ini. Dan ini adalah akhir perjalanan mereka. Dan dalam atsar ilahi: Wahai anak Adam, carilah Aku niscaya engkau akan menemukan-Ku, maka jika engkau menemukan-Ku, engkau telah menemukan segala sesuatu. Dan jika engkau terlewat dari-Ku, maka engkau terlewat dari segala sesuatu. Dan Aku lebih engkau cintai daripada segala sesuatu.

Dan barangsiapa yang tidak mengetahui makna keberadaannya untuk Allah azza wa jalla dan kemenangan dengan-Nya, maka hendaklah ia menaburkan debu di atas kepalanya. Dan hendaklah ia menangisi dirinya sendiri. Dan Allah lebih mengetahui.

Bab Tingkatan Murad (Yang Dikehendaki)

Hakikat Murad

Dan termasuk dari tingkatan-tingkatan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan murad (yang dikehendaki).

Kaum sufi mengkhususkannya dengan penyebutan. Dan pada hakikatnya: setiap murid (yang menghendaki) adalah murad (yang dikehendaki). Bahkan ia tidak menjadi murid kecuali setelah ia menjadi murad. Namun kaum sufi mengkhususkan murid untuk pemula, dan murad untuk yang sudah sampai pada tujuan.

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Murid menanggung beban, sedangkan murad diangkut, dan Musa shallallahu alaihi wasallam dahulunya adalah murid, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku untukku (Thaha: 25), dan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah murad, ketika dikatakan kepadanya Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu (Asy-Syarh: 1).

Dan Al-Junaid ditanya tentang murid dan murad? Maka ia menjawab: Murid yang mengurus dirinya adalah ilmu. Dan murad: yang mengurus pemeliharaannya adalah Al-Haqq (Allah). Karena murid itu berjalan, sedangkan murad itu terbang. Maka kapankah orang yang berjalan dapat menyusul orang yang terbang?

Bab Definisi Murad

Bab

Penulis kitab Manazil berkata:

Bab murad. Allah taala berfirman: Dan engkau tidak pernah mengharapkan bahwa Kitab itu akan diturunkan kepadamu, tetapi (diturunkan) karena rahmat dari Tuhanmu (Al-Qashash: 86). Kebanyakan para pembicara dalam ilmu ini menjadikan murid dan murad sebagai dua hal. Dan mereka menjadikan tingkatan murad di atas tingkatan murid, dan sesungguhnya mereka mengisyaratkan dengan nama murad kepada dhanain (orang-orang pilihan) yang disebutkan dalam hadits.

Aku berkata: Sisi pengambilan dalil dengan ayat tersebut: bahwa Allah subhanahu menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, dan mengkhususkannya dengan kemuliaan-Nya. Dan membuatnya layak untuk risalah dan kenabian-Nya, tanpa hal itu dari beliau atas harapan, atau beliau meraihnya dengan usaha, atau ia bertawassul kepada-Nya dengan amal, bahkan itu adalah perkara yang dikehendaki untuk beliau. Maka beliau adalah murad (yang dikehendaki) pada hakikatnya.

Dan perkataannya: Sesungguhnya kebanyakan mereka menjadikan murid dan murad sebagai dua hal, maka itu adalah isyarat kepada bahwa di antara mereka ada yang merasa cukup dari penyebutan tingkatan murad dengan menzilah (tingkatan) iradah (kehendak), karena pemiliknya adalah murid sekaligus murad.

Adapun isyarat mereka kepada dhanain, maka yang dimaksud dengannya adalah hadits yang diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya bagi Allah ada dhanain (orang-orang pilihan) dari makhluk-Nya. Allah menghidupkan mereka dalam kesejahteraan, dan mewafatkan mereka dalam kesejahteraan.

Dan dhanain artinya orang-orang khusus. Dikatakan: Ia adalah dhintii di antara manusia – dengan kasrah huruf dhad – yakni orang yang aku khususkan dan aku pelit untuk memberikan keistimewaannya, artinya aku kikir dengannya agar aku tidak menyia-nyiakannya.

Dan telah dibuat perumpamaan untuk murid dan murad dengan sekelompok orang yang diutus kepada mereka oleh sulthannya untuk memanggil mereka ke kediamannya dari negeri yang jauh, dan ia mengirimkan kepada mereka para penunjuk jalan dan harta, dan kendaraan serta berbagai jenis perbekalan. Dan ia memerintahkan mereka agar mereka menempuh jalan dan gurun-gurun kepada-Nya. Dan agar mereka bersungguh-sungguh dalam perjalanan hingga mereka dapat menyusul-Nya. Dan ia mengutus pasukan kudanya dan budak-budaknya kepada sekelompok dari mereka. Lalu ia berkata: Angkatlah mereka di atas kuda-kuda ini yang mendahului kendaraan-kendaraan. Dan layanilah mereka dalam perjalanan mereka. Dan janganlah kalian membiarkan mereka menanggung beban pengikat dan perekat, bahkan jika mereka turun maka istirahatkan mereka. Kemudian angkatlah mereka hingga kalian menghadirkan mereka kepadaku.

Maka orang-orang ini tidak menemukan dari perjuangan perjalanan, dan mengalami kesusahannya, dan kesulitan perjalanan sebagaimana yang ditemukan oleh yang lain.

Dan di antara manusia ada yang berkata: Murid berpindah dari menzilah (tingkatan) iradah (kehendak) hingga ia menjadi murad, maka ia dahulunya mencintai, lalu ia menjadi yang dicintai. Maka setiap murid yang jujur akhir urusannya adalah menjadi murad. Dan kebanyakan mereka berpendapat demikian.

Dan penulis Manazil sepertinya menurutnya murad adalah yang tertarik (majdzub), dan murid adalah saalik (penempuh jalan) yang berada di atas jalan yang lurus.

Tingkatan-tingkatan Murad

Bab Tingkatan Pertama: Hamba Dipelihara

Bab

Ia berkata: Dan bagi murad ada tiga tingkatan: Pertama: bahwa hamba dipelihara. Dan ia sedang menengadah kepada kekasaran, secara terpaksa dengan membuat syahwat-syahwat tidak menyenangkan, dan menunda-nunda kelezatan, dan menutup jalan-jalan kecelakaan atasnya secara paksa.

Maksudnya: bahwa hamba jika dirinya menengadah kepada kekasaran antara dirinya dengan Tuannya – dengan mengikuti syahwat-syahwatnya – maka Tuannya memeliharanya secara terpaksa, dengan membuat syahwat-syahwat tidak menyenangkan baginya. Maka tidak jernih baginya sama sekali. Bahkan ia tidak mendapatkan apa yang ia dapatkan darinya melainkan bercampur dengan berbagai macam hal yang tidak menyenangkan, yang mungkin melebihi kelezatannya dan menghabiskannya, sehingga kelezatan di samping hal yang tidak menyenangkan seperti curian dan sesuap tidur yang singkat. Dan demikian juga Ia menunda kelezatan-kelezatan atasnya dengan menghalangi antara dirinya dan kelezatan-kelezatan itu, sehingga ia tidak bersandar kepadanya, dan tidak tenang kepadanya dan tinggal bersamanya. Maka Ia menghalangi antara dirinya dan sebab-sebabnya. Maka jika dipersiapkan untuknya, Ia memberikan penangkal yang menghalangi antara dirinya dan pemenuhan kelezatan itu. Maka ia berkata: Dari mana aku ditimpa? Padahal itu adalah mata perhatian dan perlindungan dan pemeliharaan.

Dan demikian juga Ia menutup darinya jalan-jalan maksiat. Karena jalan-jalan itu adalah jalan-jalan kecelakaan. Dan jika ia membenci, itu adalah perhatian kepadanya, dan pemeliharaan untuknya.

Bab Tingkatan Kedua: Menghilangkan dari Hamba Hal-hal yang Mengurangi

Bab

Ia berkata: Tingkatan kedua: bahwa Ia menghilangkan dari hamba hal-hal yang mengurangi, dan menyehatkannya dari tanda celaan. Dan memilikannya akibat-akibat kekeliruan. Sebagaimana Ia lakukan kepada Sulaiman alaihissalam ketika ia membunuh kuda-kuda, maka Ia mengangkutnya di atas angin yang berhembus lembut. Maka Ia mencukupinya dari kuda. Dan Ia lakukan kepada Musa alaihissalam ketika ia melemparkan loh-loh dan memegang kepala saudaranya. Dan Ia tidak menegurnya sebagaimana Ia menegur Adam alaihissalam, dan Nuh, dan Daud, dan Yunus alaihimussalam.

Dan perbedaan antara tingkatan ini dan yang sebelumnya: bahwa dalam tingkatan sebelumnya adalah pencegahan dari melakukan sebab-sebab kekasaran secara terpaksa. Dan dalam tingkatan ini: jika muncul kepadanya sebab-sebab kekurangan, yang ia berhak mendapat celaan karenanya, maka Ia tidak menegurnya karenanya dan tidak mencela. Dan ini adalah jenis kemanjaan. Dan pemiliknya termasuk orang-orang pilihan Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Karena kekasih diberikan toleransi dengan apa yang tidak diberikan toleransi kepada selainnya. Karena cinta adalah pemberi syafaat terbesar baginya. Dan jika ia melakukan kekeliruan, Ia memilikannya akibatnya, dengan menjadikannya sebab untuk ketinggiannya, dan kenaikan tingkatannya. Maka Ia menjadikan kekeliruan itu sebab untuk taubat nasuha. Dan kehinaan khusus, dan kepatahan hati di hadapan-Nya, dan amal-amal shalih yang menambah kedekatannya kepada-Nya berkali-kali lipat dari apa yang ia miliki sebelum kekeliruan. Maka kekeliruan itu menjadi lebih bermanfaat baginya daripada kebaikan-kebaikan yang banyak. Dan ini termasuk tanda perhatian Allah kepada hamba, dan bahwa ia termasuk kekasih-kekasih-Nya dan golongan-Nya.

Dan sungguh syaikh telah mengambil dalil dengan kisah Sulaiman alaihissalam ketika kuda-kuda melalaikannya dari shalat Ashar. Maka ia diambil oleh kemarahan karena Allah dan ghairah. Maka hal itu membawanya untuk mengusap betis-betis dan leher-leher kuda dengan pedang. Dan memusnahkan harta yang melalaikannya dari Allah karena Allah. Maka Allah menggantinya darinya: dengan mengangkatnya di atas punggung angin. Maka Allah memilikinya akibat dari kekeliruan ini. Dan menjadikannya sebab untuk meraih kedudukan yang tinggi itu.

Dan ia mengambil dalil dengan kisah Musa shallallahu alaihi wasallam, ketika ia melemparkan loh-loh – dan di dalamnya ada kalam Allah – dari kepalanya, dan memecahkannya, dan menarik jenggot saudaranya. Dan ia adalah nabi seperti dirinya, dan Allah tidak menegurnya atas hal itu, sebagaimana Ia menegur Adam alaihissalam dalam memakan sesuap dari pohon, dan atas Nuh dalam anaknya ketika ia meminta Tuhannya untuk menyelamatkannya. Dan atas Daud dalam urusan istri Uriya. Dan atas Yunus dalam urusan permusuhan. Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Dan demikian juga Musa menampar mata malaikat maut lalu mengeluarkannya. Dan Tuhannya tidak menegurnya. Dan pada malam Isra ia menegur Tuhannya terkait Nabi shallallahu alaihi wasallam, ketika Ia mengangkat beliau di atasnya, dan ia mengeraskan suaranya dengan hal itu. Dan Allah tidak menegurnya atas hal itu. Ia berkata: Karena Musa alaihissalam berdiri di tingkatan-tingkatan agung yang mewajibkan kemanjaan ini baginya. Karena ia menentang Firaun, musuh Allah yang paling besar. Dan ia menghadapinya dan kaumnya. Dan mengurus Bani Israil dengan sangat keras. Dan berjihad fi sabilillah terhadap musuh-musuh Allah dengan jihad yang paling keras. Dan ia sangat keras kemarahannya untuk Tuhannya, maka Ia memaafkan untuknya apa yang tidak Ia maafkan untuk selainnya.

Dan Dzun Nun ketika tidak berada di tingkatan ini: Ia penjara dia dalam perut ikan hiu karena kemarahannya, dan sungguh Allah telah menjadikan untuk setiap sesuatu ukuran.

Bab Tingkatan Ketiga: Al-Haqq Memilih Hambanya

Bab

Ia berkata: Tingkatan ketiga: Al-Haqq (Allah) memilih hamba-Nya. Dan mengkhususkannya dengan kekhususan-Nya. Sebagaimana Ia memulai dengan Musa, dan sungguh ia keluar untuk mengambil api, maka Ia membuatnya untuk diri-Nya. Dan menyisakan darinya jejak yang dipinjamkan.

Aku berkata: Al-ijtiba’ adalah pemilihan, dan pengutamaan. Dan pengkhususan. Dan itu adalah iftial dari jabaytu asy-syai’: jika engkau mengerahkannya dan mengumpulkannya kepadamu. Seperti pengumpulan harta dan selainnya.

Dan ash-shina’ juga adalah pemilihan, dan pilihan, maksudnya bahwa Ia memilih Musa dan mengkhususkannya untuk diri-Nya. Dan menjadikannya khalis untuk-Nya tanpa sebab yang datang dari Musa, dan tanpa wasilah. Karena ia keluar untuk mengambil api. Maka ia kembali dan ia adalah kaliimul Wahidul Qahhar (yang berbicara dengan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa). Dan makhluk yang paling dimuliakan kepada-Nya, secara langsung dari-Nya subhanahu, tanpa pendahuluan kesesuaian, dan tanpa pendahuluan wasilah. Dan dalam seperti ini dikatakan:

Wahai hamba, jadilah untuk apa yang tidak engkau harapkan Dari kebaikan lebih penuh harapan untuk apa yang engkau harapkan Sesungguhnya Musa datang untuk mengambil api Dari cahaya yang ia lihat sedang malam gelap Maka ia kembali pulang, dan sungguh Allah telah berbicara dengannya Dan bermunajat dengannya dan ia adalah sebaik-baik yang bermunajat

Dan perkataannya: Dan menyisakan darinya jejak yang dipinjamkan.

Mungkin ia bermaksud dengan jejak: sisa yang mendahului di hadapannya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan mengangkat di atasnya dengan beberapa tingkatan karena tersisanya darinya. Dan mungkin – dan ini yang lebih jelas – bahwa Ia mengambilnya dari dirinya, dan membuatnya untuk diri-Nya. Dan memilihnya dari antara orang-orang sekalian alam. Dan mengkhususkannya dengan kalam-Nya, dan tidak menyisakan untuknya dari dirinya kecuali jejak yang kosong untuk bersahabat dengan makhluk, dan berlaku atasnya dalam hal itu hukum-hukum kemanusiaan. Sebagai penyempurnaan hikmah-Nya, dan penampakan kekuasaan-Nya. Maka ia adalah pinjaman bersamanya. Maka jika ia menyelesaikan apa yang ada padanya: Ia mengambil kembali jejak itu. Dan menjadikannya dari hak milik-Nya. Maka lengkaplah pada saat itu martabat ijtiba’. Lahir dan batin, hakikat dan jejak, dan kembali pinjaman kepada pemiliknya Al-Haqq (Allah), yang kembali kepada-Nya segala urusan. Maka sebagaimana itu dimulai dari-Nya, ia kembali kepada-Nya.

Dan Musa alaihissalam: berada dalam penampakan keagungan, dan karena itu syariatnya adalah syariat keagungan dan kekuasaan. Mereka diperintahkan untuk membunuh diri mereka, dan diharamkan atas mereka lemak-lemak, dan yang berkuku dan selainnya dari yang baik-baik, dan diharamkan atas mereka ghanimah (harta rampasan perang). Dan disegerakan untuk mereka dari hukuman apa yang disegerakan, dan mereka memikul dari beban berat dan rantai besi, apa yang tidak dipikul oleh selain mereka.

Dan Musa shallallahu alaihi wasallam termasuk makhluk Allah yang paling memiliki keagungan dan kewibawaan. Dan paling keras dalam keberanian dan kemarahan karena Allah, dan keras dalam memerangi musuh-musuh Allah, dan tidak mampu orang untuk menatap kepadanya.

Dan Isa shallallahu ‘alaihi wassalam: berada dalam penampilan keindahan. Dan syariatnya adalah syariat keutamaan dan kebaikan. Dan beliau tidak berperang, dan tidak memerangi. Dan tidak ada dalam syariatnya peperangan sama sekali. Dan orang-orang Nasrani, agama mereka mengharamkan peperangan atas mereka. Dan mereka dengan itu bermaksiat kepada syariatnya. Maka sesungguhnya Injil memerintahkan mereka di dalamnya: bahwa barangsiapa menampar pipimu yang kanan, maka palingkanlah baginya pipimu yang kiri. Dan barangsiapa merebut bajumu, maka berikanlah kepadanya jubahmu. Dan barangsiapa memaksamu berjalan satu mil, maka berjalanlah bersamanya dua mil. Dan yang semacam ini. Dan tidak ada dalam syariat mereka kesulitan, tidak ada beban berat, dan tidak ada belenggu, dan sesungguhnya orang-orang Nasrani membuat-buat kehidupan kerahiban itu dari diri mereka sendiri. Dan tidak diwajibkan atas mereka.

Adapun Nabi kita shallallahu ‘alaihi wassalam: maka beliau berada dalam penampilan kesempurnaan, yang mengumpulkan kekuatan dan keadilan itu, dan ketegasan dalam agama Allah. Dan kelembutan serta kasih sayang dan rahmat ini. Dan syariatnya adalah yang paling sempurna dari semua syariat. Maka beliau adalah Nabi kesempurnaan, dan syariatnya adalah syariat kesempurnaan. Dan umatnya adalah umat yang paling sempurna. Dan keadaan-keadaan mereka serta kedudukan-kedudukan mereka adalah keadaan dan kedudukan yang paling sempurna. Dan oleh karena itu syariatnya datang dengan keadilan sebagai kewajiban dan kefarduan. Dan dengan keutamaan sebagai anjuran dan kesunnahan. Dan dengan ketegasan di tempat yang memerlukan ketegasan. Dan dengan kelembutan di tempat yang memerlukan kelembutan. Dan meletakkan pedang pada tempatnya. Dan meletakkan kedermawanan pada tempatnya. Maka disebutkan kezaliman dan diharamkannya. Dan keadilan dan diwajibkannya. Dan keutamaan dan dianjurkannya dalam beberapa ayat. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa” (Asy-Syura: 40) maka ini adalah keadilan “Tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah” (Asy-Syura: 40) maka ini adalah keutamaan “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (Asy-Syura: 40) maka ini adalah pengharaman kezaliman. Dan firman-Nya: “Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu” (An-Nahl: 126) maka ini adalah pewajiban keadilan dan pengharaman kezaliman “Tetapi jika kamu bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (An-Nahl: 126) anjuran kepada keutamaan. Dan firman-Nya: “Dan jika kamu bertobat maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi” (Al-Baqarah: 279) pengharaman kezaliman. “Dan jika dia (yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia memperoleh kelapangan” (Al-Baqarah: 280) keadilan. “Dan jika kamu bersedekah, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al-Baqarah: 280) keutamaan.

Dan demikian pula pengharaman apa yang diharamkan atas umatnya adalah penjagaan dan perlindungan. Diharamkan atas mereka setiap yang buruk dan berbahaya, dan dihalalkan bagi mereka setiap yang baik dan bermanfaat. Maka pengharaman-Nya atas mereka adalah rahmat, dan atas orang-orang sebelum mereka tidak lepas dari hukuman. Dan Dia membimbing mereka kepada apa yang disesatkan darinya umat-umat sebelum mereka. Dan menganugerahkan kepada mereka dari ilmu-Nya dan kesabaran-Nya. Dan menjadikan mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Dan menyempurnakan bagi mereka dari kebaikan-kebaikan apa yang Dia sebarkan pada umat-umat sebelum mereka. Sebagaimana Dia menyempurnakan pada Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wassalam dari kebaikan-kebaikan dengan apa yang Dia sebarkan pada para nabi sebelum beliau. Dan menyempurnakan dalam kitab-Nya dari kebaikan-kebaikan dengan apa yang Dia sebarkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Dan demikian pula dalam syariatnya.

Maka mereka inilah orang-orang pilihan dan mereka adalah orang-orang yang terpilih yang baik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala “Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (Al-Hajj: 78). Dan menjadikan mereka saksi atas manusia. Maka Dia menempatkan mereka dalam hal itu pada kedudukan para nabi yang menjadi saksi atas umat-umat mereka.

Dan perincian keutamaan umat ini dan kekhususan-kekhususannya memerlukan sebuah kitab. Bahkan kitab-kitab. Dan itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.

Pasal Kedudukan Ihsan

Hakikat Ihsan

Pasal (Kedudukan Ihsan)

Dan di antara kedudukan-kedudukan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan ihsan.

Dan ia adalah inti iman, dan ruhnya serta kesempurnaannya, dan kedudukan ini mengumpulkan semua kedudukan. Maka semua kedudukan terlipat di dalamnya. Dan setiap yang dikatakan dari awal kitab sampai ke sini maka itu adalah dari ihsan.

Penulis kitab Manazil rahimahullah berkata dan beliau telah berdalil atas kedudukan ini dengan firman Allah Ta’ala: “Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Ar-Rahman: 60).

Maka ihsan: mengumpulkan semua pintu-pintu hakikat. Dan ia adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.

Adapun ayat: maka Ibnu Abbas dan para mufassir berkata: Tidakkah balasan bagi orang yang mengucapkan: tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan beramal dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam kecuali surga?

Dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau membaca “Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Ar-Rahman: 60) kemudian beliau bersabda: Apakah kalian tahu apa yang dikatakan Rabb kalian? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, beliau bersabda: Dia berfirman: Tidakkah balasan bagi orang yang telah Aku beri nikmat dengan tauhid kecuali surga?

Adapun hadits: maka ia adalah isyarat kepada kesempurnaan kehadiran bersama Allah Azza wa Jalla. Dan muraqabah-Nya yang mengumpulkan rasa takut kepada-Nya, dan kecintaan kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya, dan keikhlasan kepada-Nya, dan semua tingkatan-tingkatan iman.

Tingkatan-Tingkatan Ihsan

Tingkatan Pertama: Ihsan dalam Niat dengan Membersihkannya dengan Ilmu

Beliau berkata: Dan ia memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Ihsan dalam niat dengan membersihkannya dengan ilmu, dan menguatkannya dengan keteguhan, dan memurnikannya dengan keadaan.

Maksudnya: ihsan dalam niat adalah dengan tiga hal.

Pertama: membersihkannya dengan ilmu, dengan menjadikannya mengikuti ilmu sesuai dengan tuntutannya yang dibersihkan dengannya. Dibersihkan dari kotoran-kotoran hawa nafsu, maka tidak meniatkan kecuali apa yang diperbolehkan dalam ilmu. Dan ilmu adalah mengikuti perintah dan syariat.

Kedua: menguatkannya dengan keteguhan. Dan penguatan: adalah ketepatan dan kekuatan. Artinya menyertainya dengan tekad yang melaksanakannya, dan tidak menyertainya kelemahan dan kemalasan yang melemahkannya dan meringankannya.

Ketiga: memurnikannya dengan keadaan.

Artinya keadaan pemiliknya bersih dari kotoran-kotoran dan noda-noda, yang menunjukkan keruhnya niatnya. Maka sesungguhnya keadaan adalah penampak niat dan buahnya. Dan ia juga adalah materi dan pendorongnya. Maka setiap dari keduanya terpengaruh dari yang lain. Maka kemurniannya dan pembersihannya adalah dari kesempurnaan kemurnian yang lain dan pembersihannya.

Pasal Tingkatan Kedua: Ihsan dalam Keadaan-Keadaan

Pasal

Beliau berkata: Tingkatan kedua: Ihsan dalam keadaan-keadaan. Dan ia adalah bahwa engkau menjaganya dengan kecemburuan. Dan menyembunyikannya dengan kehalusan, dan membenarkannya dengan tahqiq.

Yang dimaksud dengan menjaganya: memeliharanya dan menjaganya, dengan cemburu terhadapnya agar tidak berubah. Karena sesungguhnya ia berlalu seperti berlalunya awan. Maka jika tidak menjaga hak-haknya ia akan berubah. Dan menjaganya: dengan kontinuitas kesetiaan, dan menjauhi keterasingan.

Dan juga menjaganya dengan memuliakan tamu yang datang. Karena sesungguhnya ia adalah tamu. Dan tamu jika tidak dimuliakan kedatangannya ia akan pergi.

Dan juga menjaganya dengan mengontrolnya dengan kepemilikan. Dan menguatkan tangannya atasnya, dan tidak membiarkannya kepada perampok jalan atau perampok.

Dan juga menjaganya: dengan tunduk kepada hukumnya, dan patuh kepada kekuasaannya jika sesuai dengan perintah.

Dan juga menjaganya: dengan menyembunyikannya dengan kehalusan, dan ia adalah menyembunyikannya dari manusia sebisa mungkin. Agar mereka tidak mengetahuinya. Dan tidak menampakkannya kecuali untuk hujjah. Atau kebutuhan, atau kemaslahatan yang lebih utama. Maka sesungguhnya dalam menampakkannya tanpa itu ada bahaya-bahaya yang banyak. Dengan memaparkannya kepada perampok dan pencuri dan penyerang.

Dan menampakkan keadaan kepada manusia menurut orang-orang yang benar: kebodohan dan kelemahan. Dan ia adalah dari bagian-bagian nafsu dan setan. Dan ahli kebenaran dan keteguhan lebih menyembunyikannya, dan lebih merahasiakannya dari pemilik-pemilik harta dari harta-harta mereka, sampai-sampai di antara mereka ada yang menampakkan kebalikannya dengan penafian dan penolakan. Dan mereka adalah pemilik Malamiyyah, dan mereka memiliki jalan yang dikenal. Dan syekh kelompok ini adalah Abdullah bin Manazil.

Dan para ahli jalan sepakat bahwa barangsiapa memberitahu manusia tentang keadaannya dengan Allah: maka sungguh ia telah mengotori jalannya. Kecuali untuk hujjah atau kebutuhan atau darurat.

Dan ucapannya: dan membenarkannya dengan tahqiq

Artinya bersungguh-sungguh dalam mentahqiqkan keadaan-keadaannya, dan membenarkannya serta memurnikannya. Karena sesungguhnya keadaan mungkin bercampur dengan hak dan batil. Dan tidak ada yang membedakannya kecuali pemilik-pemilik bashirah dan ilmu.

Dan ahli jalan ini berkata: Sesungguhnya datangnya sesuatu yang dimulai dari sisi kanannya dan bisikan-bisikan dan khitab: biasanya adalah benar. Dan yang dimulai dari sisi kiri: biasanya adalah batil dan dusta. Maka sesungguhnya ahli kanan: mereka adalah ahli kebenaran. Dan dengan tangan kanan mereka mengambil catatan-catatan mereka. Dan cahaya mereka yang tampak di atas shirat dengan tangan kanan mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menyukai memulai dari kanan dalam memakai sandalnya dan bersisirnya, dan bersucinya dan segala urusannya. Dan Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas sisi kanan shaf-shaf. Dan beliau mengabarkan bahwa setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya. Dan bagiannya dari anak Adam adalah sisi kiri. Dan oleh karena itu tangan kiri adalah untuk istinja, dan menghilangkan najis dan kotoran. Dan dimulai dengan kaki kiri ketika masuk toilet.

Dan di antara pembeda juga: bahwa setiap datangnya sesuatu yang membuat manusia setelah berpisah darinya giat dan senang dan riang: maka itu adalah datangnya sesuatu dari malaikat, dan setiap datangnya sesuatu yang membuat manusia setelah berpisah darinya buruk jiwanya malas, berat anggota badan dan ruhnya, cenderung kepada kelemahan – maka itu adalah datangnya sesuatu dari setan.

Dan di antara pembeda juga: bahwa setiap datangnya sesuatu yang menyebabkan pemiliknya maju kepada Allah Ta’ala dan negeri akhirat, dan hadir di dalamnya, sampai seolah-olah ia menyaksikan surga telah didekatkan, dan neraka telah dinyalakan – maka itu adalah ilahi malaki, dan lawannya adalah syaitani nafsani.

Dan di antara pembeda juga: bahwa setiap datangnya sesuatu yang sebabnya adalah nasihat dalam melaksanakan perintah, dan keikhlasan dan kejujuran di dalamnya – maka itu adalah ilahi malaki. Dan jika tidak maka itu adalah syaitani.

Dan di antara pembeda juga: bahwa setiap datangnya sesuatu yang dengannya hati menjadi bercahaya, dan dengannya dada menjadi lapang, dan dengannya hati menjadi kuat – ilahi malaki. Dan jika tidak maka itu adalah syaitani.

Dan di antara pembeda juga: bahwa setiap datangnya sesuatu yang mengumpulkanmu kepada Allah maka itu dari-Nya. Dan setiap datangnya sesuatu yang memisahkanmu dari-Nya, dan mengambilmu dari-Nya: maka dari setan.

Dan di antara pembeda juga: bahwa datangnya sesuatu yang ilahi tidak dibelanjakan kecuali dalam ketaatan dan ibadah, dan tidak ada sebabnya kecuali ketaatan dan ibadah, maka yang mengeluarkannya adalah perintah. Dan tempat membelanjakannya adalah perintah, dan yang syaitani adalah kebalikannya.

Dan di antara pembeda juga: bahwa datangnya sesuatu yang rahmani tidak bertentangan, dan tidak berbeda-beda dan tidak berselisih. Bahkan membenarkan sebagiannya sebagian yang lain, dan yang syaitani adalah kebalikannya, mendustakan sebagiannya sebagian yang lain. Dan Allah Subhanahu Yang Maha Mengetahui.

Pasal Tingkatan Ketiga: Ihsan dalam Waktu

Pasal

Beliau berkata: Tingkatan ketiga: Ihsan dalam waktu. Dan ia adalah bahwa engkau tidak meninggalkan musyahadah selamanya. Dan tidak mencampurkan dengan himahmu seorang pun. Dan menjadikan hijrahmu kepada Yang Haq selama-lamanya.

Artinya tidak meninggalkan keadaan syuhud. Dan ini hanya mampu dilakukan oleh ahli keteguhan yang telah menguasai jiwa-jiwa mereka dan memotong jarak-jarak yang antara jiwa dan antara hati. Dan jarak-jarak yang antara hati dan antara Allah, dengan mujahadan para perampok yang ada di jarak-jarak tersebut.

Ucapannya: dan tidak mencampurkan dengan himahmu seorang pun.

Maksudnya: bahwa engkau menggantungkan himahmu kepada Yang Haq saja. Dan tidak menggantungkan himahmu kepada seorang pun selain-Nya. Maka sesungguhnya itu adalah syirik dalam jalan orang-orang yang benar.

Ucapannya: dan menjadikan hijrahmu kepada Yang Haq selama-lamanya.

Maksudnya: bahwa setiap yang menghadap kepada Allah dengan kejujuran dan keikhlasan, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berhijrah kepada-Nya. Maka tidak sepatutnya tertinggal dari hijrah ini, bahkan sepatutnya menyertainya selama-lamanya. Sampai bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.

Maka tidak lain hanya sejenak. Kemudian berlalu dan terpuji akibat perjalanan orang yang berjalan

Dan bagi Allah atas setiap hati ada dua hijrah. Dan keduanya adalah fardhu yang wajib baginya pada setiap napas:

Hijrah kepada Allah Subhanahu dengan tauhid dan keikhlasan, dan inabah dan kecintaan, dan ketakutan dan harapan dan penghambaan.

dan hijrah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: dengan berhukum kepadanya, berserah diri, bertawakkal, tunduk pada hukumnya, dan menerima hukum-hukum lahir dan batin dari sumber cahayanya. Sehingga penghambaan dirinya kepada Nabi lebih besar daripada penghambaan para pengembara kepada penunjuk jalan yang mahir di dalam gelapnya malam dan simpang siurnya jalan.

Barangsiapa yang hatinya tidak memiliki kedua hijrah ini, hendaknya dia menaburkan abu di atas kepalanya. Dan hendaknya dia meninjau kembali imannya dari akar-akarnya. Maka hendaknya dia kembali ke belakang untuk mendapatkan cahaya, sebelum terhalang antara dirinya dengan cahaya itu, dan dikatakan kepadanya ucapan itu di atas titian dari balik tembok. Dan kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

 

 

Pasal Tingkatan Ilmu

Hakikat Ilmu dan Pendapat-Pendapat tentangnya

Pasal tingkatan ilmu

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Surat Al-Fatihah ayat 5) adalah tingkatan ilmu.

Tingkatan ini jika tidak menyertai salik (penempuh jalan) sejak langkah pertama yang diletakkannya di jalan hingga langkah terakhir yang sampai kepadanya, maka perjalanannya bukan di atas jalan yang benar. Dan dia terputus jalannya menuju pertemuan dengan Allah, tertutup baginya jalan-jalan petunjuk dan keberuntungan, tertutup baginya pintu-pintunya. Dan ini adalah ijmak dari para syekh yang arif. Tidak ada yang melarang ilmu kecuali para perampok jalan di antara mereka, dan wakil-wakil iblis serta polisinya.

Sayyid (pemimpin) kelompok ini dan syekh mereka Al-Junaid bin Muhammad rahimahullah berkata: Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali bagi orang yang mengikuti jejak-jejak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan dia berkata: Barangsiapa tidak menghafal Al-Quran dan tidak menulis hadits, maka tidak boleh dijadikan panutan dalam perkara ini, karena ilmu kami terikat dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Dan dia berkata: Mazhab kami ini terikat dengan pokok-pokok Al-Quran dan As-Sunnah.

Dan Abu Hafsh rahimahullah berkata: Barangsiapa tidak menimbang perbuatan-perbuatannya dan keadaan-keadaannya setiap saat dengan Al-Quran dan As-Sunnah, dan tidak menuduh bisikan-bisikan hatinya, maka dia tidak terhitung dalam daftar para lelaki sejati.

Dan Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata: Terkadang terlintas dalam hatiku suatu pemikiran dari pemikiran-pemikiran kaum selama beberapa hari, maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil: Al-Quran dan As-Sunnah.

Dan Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata: Setiap perbuatan yang dilakukan hamba tanpa iqtida (mengikuti), baik ketaatan maupun maksiat, maka itu adalah kehidupan nafsu. Dan setiap perbuatan yang dilakukan hamba dengan iqtida, maka itu adalah azab bagi nafsu.

Dan As-Sari berkata: Tasawuf adalah nama bagi tiga makna: cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, tidak berbicara dengan batin dalam ilmu yang dibatalkan oleh zhahir Al-Quran, dan tidak membawanya karamah untuk merobek tabir-tabir larangan-larangan Allah.

Dan Abu Yazid berkata: Aku bekerja dalam mujahadah selama tiga puluh tahun, maka aku tidak menemukan sesuatu yang lebih berat bagiku daripada ilmu dan mengikutinya. Seandainya bukan karena perbedaan para ulama, niscaya aku akan binasa. Perbedaan para ulama adalah rahmat, kecuali dalam penguatan tauhid.

Dan suatu ketika dia berkata kepada pembantunya: Bangunlah bersama kita kepada lelaki yang telah mempopulerkan dirinya dengan kesalehan ini agar kita menjenguknya. Ketika keduanya masuk ke masjid menemui orang itu, dia (orang itu) berdehem, kemudian meludah ke arah kiblat. Maka Abu Yazid kembali dan tidak memberi salam kepadanya. Dan berkata: Orang ini tidak terpercaya dalam satu adab dari adab-adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bagaimana bisa dipercaya dalam apa yang dia klaim?

Dan dia berkata: Sungguh aku pernah berniat untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia mencukupiku dari beban wanita. Kemudian aku berkata: Bagaimana boleh bagiku memohon kepada Allah hal ini, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memohonnya? Maka aku tidak memohonnya. Kemudian sesungguhnya Allah mencukupiku dari beban wanita, hingga aku tidak peduli apakah yang menghadapiku adalah seorang wanita atau tembok.

Dan dia berkata: Seandainya kalian melihat seorang lelaki diberi karamah hingga dia terangkat di udara, maka janganlah kalian tertipu dengannya, hingga kalian melihat bagaimana keadaannya dalam hal perintah dan larangan, menjaga batasan-batasan, dan menunaikan syariat.

Dan Ahmad bin Abi Al-Hawari rahimahullah berkata: Barangsiapa melakukan amal tanpa mengikuti sunnah, maka sia-sialah amalnya.

Dan Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata: Persahabatan dengan Allah: dengan baiknya adab, kesinambungan rasa takut dan muraqabah. Persahabatan dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: dengan mengikuti sunnahnya dan berpegang teguh pada zhahir ilmu. Dengan para wali Allah: dengan penghormatan dan pelayanan. Dengan keluarga: dengan baiknya akhlak. Dengan saudara-saudara: dengan kesinambungan kegembiraan, selama itu bukan dosa. Dengan orang-orang bodoh: dengan mendoakan mereka dan merahmati mereka.

Orang lain menambahkan: Dengan dua malaikat penjaga: dengan memuliakannya dan menghormatinya, dan menyampaikan kepada keduanya apa yang mereka puji engkau karenanya. Dengan nafsu: dengan menyelisihinya. Dengan syetan: dengan permusuhan.

Dan Abu Utsman juga berkata: Barangsiapa menerapkan sunnah atas dirinya dalam perkataan dan perbuatan, maka dia berbicara dengan hikmah. Dan barangsiapa menerapkan hawa nafsu atas dirinya dalam perkataan dan perbuatan, maka dia berbicara dengan bidah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menaatinya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (Surat An-Nur ayat 54).

Dan Abu Al-Husain An-Nuri berkata: Barangsiapa yang kalian lihat mengklaim bersama Allah azza wajalla suatu keadaan yang mengeluarkannya dari batasan ilmu syar’i, maka janganlah kalian mendekatinya.

Dan Muhammad bin Al-Fadhl Al-Balkhi dari para syekh besar kaum berkata: Hilangnya Islam dari empat hal: mereka tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, mereka mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui, mereka tidak mempelajari apa yang mereka amalkan, dan mereka mencegah manusia dari belajar dan mengajar.

Dan Amr bin Utsman Al-Makki berkata: Ilmu adalah pemimpin. Ketakutan adalah penggembala. Dan nafsu adalah hewan liar di antara keduanya yang keras, sukar dikendalikan, penipu, dan penghindar. Maka berhati-hatilah darinya dan kendalikanlah dia dengan pengurusan ilmu. Dan doronglah dia dengan ancaman ketakutan, niscaya sempurna bagimu apa yang engkau kehendaki.

Dan Abu Said Al-Kharraz berkata: Setiap batin yang menyelisihi zhahir, maka itu batil.

Dan Ibnu Atha’ berkata: Barangsiapa mewajibkan dirinya dengan adab-adab sunnah, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya ma’rifah. Tidak ada tingkatan yang lebih mulia daripada tingkatan mengikuti sang kekasih dalam perintah-perintahnya, perbuatan-perbuatannya, dan akhlak-akhlaknya.

Dan dia berkata: Setiap apa yang engkau tanyakan, carilah dia dalam padang ilmu. Jika engkau tidak menemukannya, maka carilah di medan hikmah. Jika engkau tidak menemukannya, maka timbanglah dia dengan tauhid. Jika engkau tidak menemukannya di ketiga tempat ini, maka pukullah dengannya wajah syetan.

Dan Binan Al-Hammal dilemparkan di hadapan singa. Maka singa itu menciumnya dan tidak membahayakannya. Ketika dia dikeluarkan, ditanyakan kepadanya: Apa yang ada dalam hatimu ketika singa menciummu? Dia berkata: Aku sedang memikirkan perbedaan para ulama tentang bekas air liur binatang buas.

Dan Abu Hamzah Al-Baghdadi berkata – dari para syekh besar, dan Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepadanya tentang masalah-masalah: Apa pendapatmu wahai sufi -: Barangsiapa mengetahui jalan kebenaran, mudahlah baginya menempuhnya. Dan tidak ada penunjuk jalan kepada Allah kecuali mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan-keadaannya, perkataan-perkataannya, dan perbuatan-perbuatannya.

Dan Syekh Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Wasithi berjalan pada hari Jumat menuju masjid jami’. Maka terputuslah tali sandalnya. Seorang lelaki apoteker memperbaikinya untuknya. Maka dia berkata: Tahukah engkau mengapa tali sandalku terputus? Aku berkata: Tidak. Maka dia berkata: Karena aku tidak mandi untuk Jumat. Maka dia berkata: Adakah di sini pemandian yang engkau masuki? Maka dia berkata: Ya. Maka dia masuk dan mandi.

Dan Abu Ishaq Ar-Raqqi berkata, dari para sejawat Al-Junaid: Tanda kecintaan kepada Allah: mengutamakan ketaatan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Abu Ya’qub An-Nahrajuri berkata: Sebaik-baik keadaan adalah: apa yang disertai ilmu.

Dan Abu Al-Qasim An-Nashrabadzi syekh Khurasan di zamannya berkata: Pokok tasawuf adalah: berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, meninggalkan hawa nafsu dan bidah-bidah, mengagungkan karamah para syekh, melihat uzur makhluk, memelihara kesinambungan wirid-wirid, dan meninggalkan mengambil rukhshah dan takwil-takwil.

Dan Abu Bakar Ath-Thamastani – dari syekh-syekh besar kelompok ini – berkata: Jalan itu jelas dan Al-Quran dan As-Sunnah tegak di tengah-tengah kita. Dan keutamaan para sahabat telah diketahui, karena keutamaan mereka dalam hijrah dan persahabatan mereka. Barangsiapa bersahabat dengan Al-Quran dan As-Sunnah, mengasingkan diri dari nafsunya dan dari makhluk, dan berhijrah dengan hatinya kepada Allah, maka dialah yang jujur dan benar.

Dan Abu Amr bin Nujaid berkata: Setiap keadaan yang bukan hasil dari ilmu, maka bahayanya terhadap pemiliknya lebih banyak daripada manfaatnya.

Dan dia berkata: Tasawuf adalah: sabar di bawah perintah-perintah dan larangan-larangan.

Dan sebagian syekh besar terdahulu berkata: Wahai para sufi, janganlah kalian memisahkan hitam dalam putih, niscaya kalian binasa.

Kemuliaan Ilmu dan Keutamaannya

Adapun kalimat-kalimat yang diriwayatkan dari sebagian mereka tentang menzuhudkan ilmu dan merasa cukup darinya. Seperti ucapan orang yang berkata: Kami mengambil ilmu kami dari Yang Hidup yang tidak mati, sedangkan kalian mengambilnya dari yang hidup yang akan mati.

Dan ucapan yang lain – ketika dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau melakukan rihlah hingga engkau mendengar dari Abdurrazzaq – maka dia berkata: Untuk apa mendengar dari Abdurrazzaq, orang yang mendengar dari Sang Pencipta?

Dan ucapan yang lain: Ilmu adalah hijab antara hati dengan Allah azza wajalla.

Dan ucapan yang lain: Bagi kami ada ilmu huruf, dan bagi kalian ada ilmu kertas.

Dan semacam ini dari kalimat-kalimat yang sebaik-baik keadaan pengucapnya adalah dia bodoh yang dimaafkan karena kebodohannya, atau orang yang sedang syath (ucapan ekstasi) yang mengakui syathnya. Jika tidak demikian, maka seandainya bukan karena Abdurrazzaq dan orang-orang sepertinya, seandainya bukan karena akhbarana (telah mengabarkan kepada kami) dan haddatsana (telah menceritakan kepada kami), tidak akan sampai kepada orang ini dan orang-orang sepertinya sedikitpun dari Islam. Barangsiapa menunjukmu kepada selain akhbarana dan haddatsana, maka sungguh dia telah menunjukmu kepada: entah khayalan sufi, atau qiyas filosofi, atau pendapat nafsu. Tidak ada setelah Al-Quran, akhbarana, dan haddatsana kecuali syubhat para mutakallimin (teolog), pendapat-pendapat orang yang menyimpang, khayalan-khayalan para sufi, dan qiyas para filosof. Barangsiapa meninggalkan dalil, sesat dari jalan yang lurus. Dan tidak ada dalil kepada Allah dan surga selain Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap jalan yang tidak disertai dalil Al-Quran dan As-Sunnah, maka itu dari jalan-jalan jahanam dan syetan yang terkutuk.

Dan ilmu adalah apa yang ditegakkan oleh dalil. Dan yang bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Ilmu lebih baik daripada keadaan: ilmu adalah hakim, dan keadaan adalah yang dihukumi. Ilmu adalah pembimbing, dan keadaan adalah pengikut. Ilmu adalah yang memerintah dan melarang, dan keadaan adalah pelaksana dan penerima. Keadaan adalah pedang, jika tidak disertai ilmu, maka dia adalah tongkat di tangan pemain. Keadaan adalah kendaraan yang tidak dapat disaingi. Jika tidak disertai ilmu, dia akan menjatuhkan pemiliknya ke dalam kebinasaan dan kerusakan. Keadaan seperti harta yang diberikan kepada orang baik dan orang jahat. Jika tidak disertai cahaya ilmu, maka dia menjadi bencana bagi pemiliknya.

Keadaan tanpa ilmu seperti penguasa yang tidak ada yang mencegahnya dari kekuasaannya.

Keadaan tanpa ilmu seperti api yang tidak ada yang mengendalikannya.

Manfaat keadaan tidak melampaui pemiliknya. Dan manfaat ilmu seperti hujan yang turun di atas dataran tinggi, bukit-bukit, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.

Lingkaran ilmu meliputi dunia dan akhirat. Dan lingkaran keadaan sempit tidak mencakup selain pemiliknya. Bahkan terkadang sempit baginya sendiri.

Ilmu adalah pembimbing dan keadaan yang benar adalah yang dibimbing dengannya. Dan dia adalah warisan para nabi dan peninggalan mereka. Ahlinya adalah kerabat mereka dan pewaris mereka. Dia adalah kehidupan hati-hati, cahaya mata hati, penyembuh dada-dada, taman akal-akal, kenikmatan roh-roh, dan penghibur orang-orang yang sepi. Dan penunjuk orang-orang yang bingung. Dia adalah timbangan yang dengannya ditimbang perkataan-perkataan, amal-amal, dan keadaan-keadaan.

Dia adalah hakim yang memisahkan antara keraguan dan keyakinan, kesesatan dan petunjuk, hidayah dan kesesatan.

Dengannya Allah dikenali dan disembah, diingat dan diesa-kan, dipuji dan diagungkan. Dengannya para salik mendapat petunjuk kepada-Nya. Dari jalannya sampai kepada-Nya para washilin (orang yang sampai). Dari pintunya masuk kepada-Nya para qashidin (orang yang menuju).

Dengan ilmu dikenali syariat-syariat dan hukum-hukum, dibedakan yang halal dari yang haram. Dengan ilmu disambung silaturahmi, dan dengan ilmu dikenali keridhaan sang Kekasih, serta dengan mengetahui dan mengikutinya seseorang dapat sampai kepada-Nya dari jarak dekat.

Ilmu adalah imam, sedangkan amal adalah makmum. Ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal adalah pengikut. Ilmu adalah teman di waktu terasing, pembicara di waktu sunyi, dan penghibur di waktu kesepian. Ilmu adalah pengungkap dari keraguan, kekayaan yang tidak membuat miskin siapa yang menemukan khazanahnya, dan benteng yang tidak membuat tersia-sia siapa yang berlindung pada penjagaannya.

Mengingat-ingat ilmu adalah tasbih. Meneliti ilmu adalah jihad. Menuntut ilmu adalah ibadah yang mendekatkan diri. Menyebarkan ilmu adalah sedekah. Dan mengkajinya setara dengan puasa dan shalat malam. Kebutuhan kepada ilmu lebih besar daripada kebutuhan kepada minum dan makan.

Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu berkata: Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum. Karena seseorang membutuhkan makan dan minum dalam sehari sekali atau dua kali. Sedangkan kebutuhannya kepada ilmu sebanyak jumlah nafasnya.

Kami meriwayatkan dari Imam Syafi’i radhiyallahu ta’ala ‘anhu bahwa ia berkata: Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunah.

Hal itu juga ditegaskan oleh Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Wahb berkata: Aku berada di hadapan Malik radhiyallahu ‘anhu. Lalu aku meletakkan papan tulisku dan berdiri untuk shalat. Maka ia berkata: Apa yang engkau datangi (shalat sunah) tidaklah lebih utama daripada apa yang engkau tinggalkan (menuntut ilmu).

Hal ini disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dan yang lainnya. Allah ‘azza wa jalla meminta kesaksian para ahli ilmu atas perkara yang paling agung yang disaksikan, yaitu tauhid, dan menyandingkan kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para malaikat-Nya. Dan dalam hal itu terkandung pengakuan keadilan mereka. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meminta kesaksian dari orang yang cacat (kredibilitasnya).

Dari sinilah—wallahu a’lam—diambil hadits yang masyhur: “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka menolak darinya penyelewengan orang-orang yang berlebihan dan takwil orang-orang yang membatalkan.”

Ilmu adalah hujah Allah di bumi-Nya, cahaya-Nya di antara hamba-hamba-Nya, pemimpin dan penunjuk mereka menuju surga-Nya, serta yang mendekatkan mereka kepada kemuliaan-Nya.

Cukuplah sebagai kemuliaan ilmu: bahwa keutamaan para ahli ilmu atas para ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka untuk para ahli ilmu dan menaungi mereka dengannya. Bahwa orang berilmu dimintakan ampun oleh siapa yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di laut, bahkan semut di liangnya. Dan bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada para pengajar kebaikan kepada manusia.

Sungguh telah melakukan perjalanan Kalimurrahman (orang yang berbicara dengan Allah Yang Maha Pengasih) Musa bin Imran ‘alaihish shalatu was salam dalam menuntut ilmu, dia dan pemudanya, hingga mereka merasakan kelelahan dalam perjalanan mereka menuntut ilmu, hingga ia memperoleh tiga masalah. Padahal ia termasuk makhluk yang paling mulia di sisi Allah dan paling mengetahui tentang-Nya.

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan ilmu, Allah berfirmat: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114)

Allah mengharamkan hasil buruan binatang buas yang bodoh, dan hanya menghalalkan bagi umat hasil buruan binatang buas yang terlatih (berilmu).

Maka demikian pula panca indera manusia yang bodoh, hasil buruannya berupa amal-amal tidak akan bermanfaat sedikitpun baginya. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Pasal: Definisi Ilmu

Pasal

Penulis kitab Manazil rahimahullah berkata:

Ilmu adalah apa yang ditegakkan dengan dalil dan menghilangkan kebodohan.

Maksudnya: bahwa ilmu memiliki tanda sebelumnya dan tanda sesudahnya. Tandanya sebelumnya: apa yang ditegakkan dengannya dalil. Tandanya sesudahnya: menghilangkan kebodohan.

Tingkatan-Tingkatan Ilmu

Tingkatan Pertama: Ilmu yang Jelas

Ia berkata: Ilmu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ilmu yang jelas (jaliy), dengannya terjadi penyaksian langsung, kesyhuran yang shahih, atau kebenaran pengalaman yang sudah lama.

Yang dimaksud dengan jaliy (jelas): yang tampak, yang tidak ada ketersembunyian padanya. Dan ia menjadikannya tiga macam.

Pertama: apa yang terjadi dari penyaksian langsung. Yaitu penglihatan (bashar).

Kedua: apa yang bersandar kepada pendengaran. Yaitu ilmu kesyhuran (istifadhah).

Ketiga: apa yang bersandar kepada akal. Yaitu ilmu pengalaman (tajribah).

Maka ketiga jalan ini—yaitu pendengaran, penglihatan, dan akal—adalah jalan-jalan ilmu dan pintu-pintunya. Jalan-jalan ilmu tidak terbatas pada apa yang disebutkan. Karena seluruh indera menghasilkan ilmu. Demikian pula apa yang dipersepsi oleh batin, yaitu hal-hal yang dirasakan (wujdaniyyat).

Demikian pula apa yang dipersepsi dengan berita dari pemberi kabar yang jujur, meskipun hanya satu orang.

Demikian pula apa yang diperoleh dengan pemikiran dan istinbath (penggalian hukum), meskipun tidak dari pengalaman.

Maka ilmu tidak hanya tergantung pada tiga hal yang disebutkan itu saja.

Perbedaan antara ilmu dan ma’rifah (pengenalan) ada tiga aspek.

Pertama: bahwa ma’rifah adalah inti ilmu, dan perbandingan ilmu kepadanya seperti perbandingan iman kepada ihsan. Ma’rifah adalah ilmu khusus, objeknya lebih tersembunyi dan lebih halus daripada objek ilmu.

Kedua: bahwa ma’rifah adalah ilmu yang diperhatikan oleh pemiliknya sesuai konsekuensi dan tuntutannya. Maka ia adalah ilmu yang terhubung dengan pemeliharaan.

Ketiga: bahwa ma’rifah adalah saksi bagi dirinya sendiri, dan ia seperti perkara-perkara yang dirasakan (wujdaniyyah), yang tidak mungkin pemiliknya meragukan atau berpindah darinya.

Pengungkapan ma’rifah lebih sempurna daripada pengungkapan ilmu. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Pasal: Tingkatan Kedua: Ilmu yang Tersembunyi

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua: ilmu yang tersembunyi (khafiy). Tumbuh di dalam rahasia-rahasia yang suci, dari badan-badan yang bersih, dengan air riyadhah (latihan spiritual) yang murni, dan tampak dalam nafas-nafas yang jujur, bagi ahli kemauan keras yang tinggi, di waktu-waktu yang kosong dan pendengaran yang tuli (dari hal buruk). Yaitu ilmu yang menampakkan yang ghaib, mengghaibkan yang hadir, dan mengisyaratkan kepada kesatuan (jam’).

Maksudnya: bahwa ilmu ini tersembunyi bagi ahli tingkatan pertama, dan ia dinamakan ma’rifah dalam istilah kaum ini.

Ucapannya: “Tumbuh di dalam rahasia-rahasia yang suci.”

Lafazh sirr (rahasia) dalam bahasa mereka digunakan dan dimaksudkan dengannya beberapa hal.

Pertama: kehalusan yang dititipkan di dalam jasad ini, yang dengannya terjadi persepsi, kecintaan, keinginan, dan ilmu. Itu adalah ruh (jiwa).

Kedua: makna yang ada pada ruh. Perbandingannya kepada ruh seperti perbandingan ruh kepada badan. Kebanyakan mereka menginginkan dengannya: makna yang ini. Menurut mereka: bahwa hati adalah yang paling mulia di dalam badan, dan ruh lebih mulia dari hati, dan sirr (rahasia) lebih halus dari ruh.

Menurut mereka: untuk sirr ada sirr yang lain, yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Dan pemiliknya tidak mengetahuinya, meskipun ia mengetahui rahasianya. Maka mereka mengatakan: sirr adalah apa yang engkau tidak memiliki pengawasan atasnya, dan sirrun sirr (rahasia dari rahasia) adalah apa yang tidak ada pengetahuan atasnya kecuali bagi Allah Subhanahu.

Makna ketiga: dimaksudkan dengannya apa yang terjaga dan tersembunyi antara hamba dan Tuhannya, dari keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan. Sebagaimana sebagian mereka berkata: Rahasia-rahasia kami seperti perawan yang belum disentuh oleh dugaan dan persangkaan.

Dan sebagian mereka berkata: Seandainya orang yang melihatku tahu rahasiaku, niscaya ia akan membuangku.

Maksud ucapannya: “Tumbuh di dalam rahasia-rahasia yang suci.”

Artinya: yang suci dari keruhnya dunia dan kesibukan dengannya, serta keterikatan-keterikatan yang menghalangi ruh-ruh dari negeri kegembiraan. Karena ini adalah kekeruhan dan uapan di wajah cermin hati dan ruh. Maka tidak tergambar di dalamnya gambaran hakikat-hakikat sebagaimana mestinya. Jiwa selalu menghembuskan nafas dengan keinginan terhadap dunia dan ketakutan kehilangannya. Apabila cermin dipoles dengan menghilangkan kekeruhan-kekeruhan ini, maka ia menjadi jernih, dan tampaklah di dalamnya hakikat-hakikat dan ma’rifah.

Adapun “badan-badan yang bersih” (al-abdan az-zakiyyah).

Yaitu yang bersih dengan ketaatan kepada Allah, dan tumbuh dengan memakan yang halal. Maka apabila badan-badan bersih dari yang haram dan kotoran-kotoran kemanusiaan yang dilarang oleh akal, agama, dan kehormatan, dan jiwa-jiwa suci dari keterikatan dunia, maka bersihlah tanah hati. Lalu ia menerima benih ilmu-ilmu dan ma’rifah. Jika setelah itu disiram dengan air riyadhah (latihan spiritual) yang syar’i, nabawi, muhammadiyyah—yaitu yang tidak keluar dari ilmu, tidak menjauh dari kewajiban, dan tidak mengabaikan sunah—maka tumbuh darinya setiap pasang yang mulia, berupa ilmu, hikmah, faedah, dan pengenalan (ta’arruf). Lalu dipetik darinya oleh pemiliknya dan orang yang duduk bersamanya berbagai macam keistimewaan, faedah-faedah, dan buah-buah yang berbeda warna dan rasanya. Sebagaimana sebagian salaf berkata: Apabila hati berjanji untuk meninggalkan kemaksiatan, maka ia berkelana di alam malakut, lalu kembali kepada pemiliknya dengan berbagai macam hadiah dan faedah.

Ucapannya: “Dan tampak dalam nafas-nafas yang jujur.” Maksudnya dengan nafas-nafas ada dua hal.

Pertama: nafas-nafas dzikir dan ma’rifah.

Kedua: nafas-nafas kecintaan dan keinginan, serta apa yang terkait dengan yang dikenal dan yang disebut, serta dengan yang dicintai dan yang dikehendaki dari orang yang berdzikir dan yang mencintai. Kejujurannya adalah keikhlasannya dari campuran hal-hal selain Allah dan hawa nafsu.

Ucapannya: “Bagi ahli kemauan keras yang tinggi.” Yaitu yang tidak berhenti di bawah Allah ‘azza wa jalla, dan tidak singgah dalam perjalanannya pada sesuatu selain-Nya. Kemauan keras yang paling tinggi adalah yang berkaitan dengan Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan yang paling luas adalah yang berkaitan dengan kebaikan hamba-hamba. Yaitu kemauan keras para rasul shallallahu ‘alaihim wa sallam dan para pewaris mereka.

Ucapannya: “Di waktu-waktu yang kosong.”

Maksudnya dengannya: saat-saat kejernihan bersama Allah Ta’ala, dan waktu-waktu hembusan-hembusan ilahiyyah, yang siapa yang menghadapinya hampir tidak akan kehilangannya. Dan siapa yang berpaling darinya, maka ia lebih berpaling lagi darinya.

Ucapannya: “Dan pendengaran yang tuli (dari hal buruk)” (al-asma’ ash-shakhiyah).

Yaitu yang sehat dari keterkaitan dengan kebatilan dan sia-sia, dan mendengarkan dengan seksama panggilan kebenaran dan penyeru iman. Karena kebatilan dan sia-sia adalah khamar (yang memabukkan) pendengaran dan akal. Maka kesadarannya adalah dengan menghindarinya dan mendengarkan panggilan kebenaran.

Ucapannya: “Yaitu ilmu yang menampakkan yang ghaib.” Artinya mengungkap apa yang ghaib dari orang yang arif.

Ucapannya: “Mengghaibkan yang hadir.” Artinya mengghaibkannya dari penyaksian apa selain objek penyaksiannya yang haq (benar).

“Dan mengisyaratkan kepada kesatuan (jam’).” Yaitu tingkatan kesendirian (fardaniyyah) dan lenyapnya bentuk-bentuk lahir, bahkan bentuk lahir saksi itu sendiri. Wallahu Subhanahu a’lam.

 

 

Pasal: Tingkatan Ketiga: Ilmu Laduni

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga: ilmu laduni. Sanadnya adalah keberadaannya, persepsinya adalah penyaksiannya, dan sifatnya adalah hukumnya. Tidak ada hijab antara ilmu ini dan yang ghaib.

Kaum sufi mengisyaratkan dengan ilmu laduni kepada apa yang diperoleh hamba tanpa perantara, melainkan dengan ilham dari Allah dan pemberitahuan dari-Nya kepada hamba-Nya, sebagaimana yang diperoleh Khidhir ‘alaihis salam tanpa perantara Musa. Allah Ta’ala berfirman: “Kami memberinya rahmat dari sisi Kami dan Kami mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahf: 65)

Allah membedakan antara rahmat dan ilmu, dan menjadikan keduanya dari sisi-Nya dan dari-Nya, karena ia tidak memperoleh keduanya melalui tangan manusia. Dan “min ladunna” (dari sisi Kami) lebih khusus dan lebih dekat daripada “min ‘indina” (dari sisi Kami). Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang baik dan keluarkanlah aku secara keluar yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (Al-Isra: 80) Maka kekuasaan yang menolong yang dari sisi-Nya Subhanahu lebih khusus dan lebih dekat daripada yang dari-Nya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (Al-Isra: 80) Yaitu yang dengannya Ia menguatkannya. Adapun yang dari-Nya: pertolongan-Nya dengan orang-orang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin.” (Al-Anfal: 62)

Ilmu laduni adalah buah dari penghambaan dan mengikuti (Nabi), kejujuran dengan Allah, keikhlasan kepada-Nya, dan kesungguhan dalam menerima ilmu dari pelita Rasul-Nya serta kesempurnaan tunduk kepada beliau. Maka Allah akan membukakan baginya pemahaman tentang Kitab dan Sunnah dengan perkara yang dikhususkan untuknya, sebagaimana Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah ditanya: “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhususkan kalian dengan sesuatu tanpa orang lain?” Beliau menjawab: “Tidak, demi Zat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba dalam Kitab-Nya.”

Inilah ilmu laduni yang sejati. Adapun ilmu orang yang berpaling dari Kitab dan Sunnah serta tidak terikat dengan keduanya, maka ilmu itu berasal dari diri (nafsu), hawa nafsu, dan setan. Ilmu itu memang laduni, tetapi dari siapa? Ilmu laduni diketahui berasal dari Rahman dengan sesuainya terhadap apa yang dibawa Rasul shallallahu alaihi wasallam dari Tuhannya Azza wa Jalla. Ilmu laduni ada dua jenis: laduni rahmani dan laduni syaitani batini. Alat ujinya adalah wahyu. Tidak ada wahyu setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Adapun kisah Musa dengan Khidir alaihimassalam, berpegangan pada kisah tersebut untuk membenarkan bolehnya tidak memerlukan wahyu dengan ilmu laduni adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam dan mewajibkan ditumpahkannya darah.

Perbedaannya adalah: Musa tidak diutus kepada Khidir, dan Khidir tidak diperintahkan untuk mengikuti Musa. Seandainya Khidir diperintahkan mengikutinya, maka wajib baginya untuk hijrah kepada Musa dan bersamanya. Karena itu Khidir berkata kepadanya: “Engkau Musa nabi Bani Israil?” Musa menjawab: “Ya.”

Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus kepada seluruh jin dan manusia. Risalahnya bersifat umum untuk jin dan manusia di setiap zaman. Seandainya Musa dan Isa alaihimassalam masih hidup, keduanya akan menjadi pengikut beliau. Ketika Isa bin Maryam alaihimassalam turun, ia akan memutuskan perkara berdasarkan syariat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Barangsiapa mengaku bahwa ia bersama Muhammad shallallahu alaihi wasallam seperti Khidir bersama Musa, atau membenarkan hal itu bagi seseorang dari umat ini, hendaklah ia memperbarui keislamannya dan mengucapkan syahadat yang haq. Karena dengan hal itu ia telah keluar dari agama Islam sepenuhnya, apalagi menjadi wali Allah yang khusus. Ia justru termasuk wali-wali setan, khalifah-khalifah dan wakil-wakilnya. Tempat ini adalah pemisah antara kaum zindiq dengan ahli istiqamah di antara mereka, maka perhatikanlah.

Penjelasan tentang Sanad dan Wujud

Perkataannya: “Sanadnya adalah wujudnya.”

Artinya: jalan ilmu ini adalah menemukan dan merasakannya, sebagaimana jalan ilmu lainnya adalah sanad.

“Penangkapannya adalah melihatnya.” Artinya ilmu ini tidak diambil dengan pemikiran dan istinbat, tetapi diambil dengan melihat langsung dan penyaksian.

“Sifatnya adalah hukumnya.” Artinya: sifat-sifatnya tidak dapat dicapai kecuali dengannya, karena sifat-sifat itu terbatas padanya. Artinya saksinya darinya dan dalil wujudnya. Keadaannya adalah sebabnya, maka bukti “inna” (bahwa) di dalamnya adalah bukti “limma” (mengapa). Ia adalah dalil dan yang didalilkan. Karena itu tidak ada hijab antara dia dengan hal-hal gaib, berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Karena antara ilmu lainnya dengan dia ada hijab.

Yang ditunjuk oleh kaum (sufi) adalah cahaya dari sisi Yang Disaksikan yang menghapus kekuatan indra dan hukum-hukumnya, dan menggantikan posisinya bagi pemiliknya. Maka Dia-lah Yang Disaksikan dengan cahaya-Nya, dan selain-Nya fana dengan kemunculan-Nya. Ini menurut mereka adalah makna atsar ilahi: “Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia dengar dengannya, dan penglihatannya yang ia lihat dengannya, maka dengan Aku ia mendengar dan dengan Aku ia melihat.”

Ilmu laduni rahmani adalah buah dari kesesuaian dan kecintaan ini yang dihasilkan oleh mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunah setelah yang wajib.

Sedangkan laduni syaitani adalah buah dari berpaling dari wahyu dan menghakimi hawa nafsu dan setan. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Bab: Tingkatan Hikmah

Hakikat Hikmah

Bab Tingkatan Hikmah

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah al-Fatihah: 5) adalah tingkatan hikmah.

Allah Taala berfirman: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak” (Surah al-Baqarah: 269). Allah Taala berfirman: “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar” (Surah an-Nisa: 113). Dan Allah berfirman tentang al-Masih alaihissalam: “Dan Dia mengajarkan kepadanya Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil” (Surah Ali Imran: 48).

Hikmah dalam Kitab Allah ada dua jenis: hikmah yang berdiri sendiri dan hikmah yang digandengkan dengan Kitab. Yang berdiri sendiri ditafsirkan dengan kenabian, dan ditafsirkan dengan ilmu al-Quran. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Hikmah adalah ilmu al-Quran: nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, yang didahulukan dan yang diakhirkan, halal dan haramnya, dan perumpamaan-perumpamaannya.”

Ad-Dhahhak berkata: “Hikmah adalah al-Quran dan pemahaman di dalamnya.” Mujahid berkata: “Hikmah adalah al-Quran, ilmu, dan fikih.” Dalam riwayat lain darinya: “Hikmah adalah ketepatan dalam perkataan dan perbuatan.”

An-Nakhai berkata: “Hikmah adalah makna-makna sesuatu dan pemahamannya.”

Al-Hasan berkata: “Wara dalam agama Allah.” Seakan-akan ia menafsirkannya dengan buah dan konsekuensinya.

Adapun hikmah yang digandengkan dengan Kitab adalah Sunnah. Demikian kata asy-Syafii dan imam-imam lainnya.

Ada yang berpendapat: hikmah adalah memutuskan perkara dengan wahyu. Menafsirkannya dengan Sunnah lebih umum dan lebih masyhur.

Sebaik-baik pendapat tentang hikmah adalah perkataan Mujahid dan Malik: bahwa hikmah adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, serta ketepatan dalam perkataan dan perbuatan.

Ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan memahami al-Quran, fikih dalam syariat-syariat Islam, dan hakikat-hakikat iman.

Hikmah ada dua macam: hikmah ilmiah dan hikmah amaliah. Hikmah ilmiah adalah mengetahui batin segala sesuatu, dan mengetahui hubungan sebab-sebab dengan akibat-akibatnya dalam penciptaan dan perintah, takdir dan syariat.

Hikmah amaliah sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab Manazil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Tingkatan Hikmah

Tingkatan Pertama: Memberikan Setiap Sesuatu Haknya

Penulis berkata: Hikmah ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: memberikan setiap sesuatu haknya, tidak melampaui batasnya, tidak mendahulukannya dari waktunya, dan tidak mengakhirkannya darinya.

Karena segala sesuatu memiliki tingkatan dan hak-hak yang dituntut oleh syariat dan takdir. Segala sesuatu memiliki batas dan akhir yang dicapai dan tidak boleh dilampaui. Segala sesuatu memiliki waktu-waktu yang tidak boleh didahulukan atau diakhirkan—maka hikmah adalah memelihara ketiga hal ini: memberikan setiap tingkatan haknya yang telah ditetapkan Allah dengan syariat dan takdir-Nya, tidak melampaui batasnya sehingga menjadi orang yang melampaui batas dan menyelisihi hikmah, tidak terburu-buru mendahulukannya dari waktunya sehingga menyelisihi hikmah, dan tidak mengakhirkannya sehingga luput.

Ini adalah hukum umum untuk semua sebab dengan akibat-akibatnya secara syariat dan takdir. Menyia-nyiakannya adalah peniadaan hikmah seperti menyia-nyiakan benih dan menyirami tanah.

Melampaui batas haknya seperti menyiram tanah melebihi kebutuhannya sehingga benih dan tanaman tenggelam dan rusak.

Mendahulukannya dari waktunya seperti memanennya sebelum matang dan sempurna.

Demikian pula meninggalkan makanan, minuman, dan pakaian adalah pelanggaran terhadap hikmah. Melampaui batas yang dibutuhkan adalah keluar darinya. Mendahulukan hal itu sebelum waktunya adalah pelanggaran terhadapnya. Mengakhirkannya dari waktunya adalah pelanggaran terhadapnya.

Maka hikmah adalah: melakukan apa yang semestinya dilakukan, dengan cara yang semestinya, pada waktu yang semestinya.

Allah Taala mewariskan hikmah kepada Adam dan anak-anaknya. Orang yang sempurna adalah yang memiliki warisan sempurna dari bapaknya. Separuh orang—seperti perempuan—memiliki separuh warisan. Perbedaan dalam hal itu tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah Taala.

Makhluk yang paling sempurna dalam hal ini adalah para rasul shallallahu alaihim. Yang paling sempurna di antara mereka adalah Ulul Azmi. Yang paling sempurna di antara mereka adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Karena itu Allah Subhanahu wa Taala memberi nikmat kepadanya dan kepada umatnya dengan apa yang Dia berikan kepada mereka berupa hikmah, sebagaimana Allah Taala berfirman: “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui” (Surah an-Nisa: 113). Allah Taala berfirman: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, dan mengajarkan kepada kalian Kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kalian ketahui” (Surah al-Baqarah: 151).

Seluruh keteraturan wujud terkait dengan sifat ini. Setiap kekacauan dalam wujud dan pada hamba, sebabnya adalah pelanggaran terhadapnya. Manusia yang paling sempurna adalah yang paling banyak bagiannya dari hikmah. Yang paling kurang dan paling jauh dari kesempurnaan adalah yang paling sedikit warisannya darinya.

Hikmah memiliki tiga rukun: ilmu, kelembutan, dan kesabaran.

Kerusakannya dan lawannya adalah: kebodohan, kecerobohan, dan tergesa-gesa. Tidak ada hikmah bagi orang bodoh, ceroboh, dan terburu-buru. Wallahu alam.

Bab: Tingkatan Kedua: Menyaksikan Pandangan Allah dalam Janji-Nya

Penulis berkata: Tingkatan kedua: menyaksikan pandangan Allah dalam janji-Nya, mengetahui keadilan-Nya dalam hukum-Nya, dan melihat kebaikan-Nya dalam penolakan-Nya.

Artinya: mengetahui hikmah dalam janji dan ancaman, menyaksikan hukum-Nya dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seberat zarah pun. Jika ada kebajikan, Dia akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (Surah an-Nisa: 40). Maka kamu menyaksikan keadilan-Nya dalam ancaman-Nya, dan kebaikan-Nya dalam janji-Nya, dan semua itu tegak dengan hikmah-Nya.

Demikian pula kamu mengetahui keadilan-Nya dalam hukum-hukum-Nya yang syar’i dan takdiri yang berlaku pada makhluk. Karena di dalamnya tidak ada kezaliman, kecurangan, atau tirani. Walaupun Dia menjalankannya melalui tangan orang-orang zalim, Dia adalah Maha Adil di antara yang adil. Yang menjalankannya di tangannya dialah yang zalim.

Demikian pula kamu mengetahui kebaikan-Nya dalam penolakan-Nya.

Karena Dia Subhanahu adalah Maha Pemberi yang tidak mengurangi perbendaharaan-Nya dengan pemberian, dan tidak berkurang apa yang ada di tangan kanan-Nya dengan keluasan pemberian-Nya. Tidaklah Dia mencegah dari yang Dia cegah keutamaan-Nya kecuali karena hikmah yang sempurna dalam hal itu. Karena Dia adalah Maha Pemberi lagi Maha Bijaksana. Hikmah-Nya tidak bertentangan dengan kemurahan-Nya. Dia Subhanahu tidak menempatkan kebaikan dan keutamaan-Nya kecuali pada tempatnya dan waktunya, sesuai kadar yang dituntut hikmah-Nya. Seandainya Allah melapangkan rezeki untuk hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi. Seandainya Allah mengetahui pada orang-orang kafir ada kebaikan, penerimaan terhadap nikmat iman, syukur kepada-Nya atasnya, cinta kepada-Nya, dan pengakuan dengannya, niscaya Dia memberi petunjuk kepada mereka kepada iman. Karena itu ketika mereka (orang-orang kafir) berkata kepada orang-orang mukmin: “Orang-orang ini yang Allah anugerahkan nikmat kepada mereka dari antara kita?” (Surah al-Anam: 53) Allah menjawab mereka dengan firman-Nya: “Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (Surah al-Anam: 53).

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan rohnya—berkata: Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kadar nikmat iman dan mensyukuri Allah atasnya.

Maka Dia Subhanahu tidak memberi kecuali dengan hikmah-Nya, tidak mencegah kecuali dengan hikmah-Nya, tidak menyesatkan kecuali dengan hikmah-Nya.

Jika orang yang tajam pandangannya merenungkan keadaan alam dan kekurangan yang ada di dalamnya, ia akan melihatnya sebagai inti hikmah. Dunia, akhirat, surga, dan neraka tidak dimakmurkan kecuali dengan hikmah-Nya.

Tentang hikmah, manusia memiliki tiga pendapat. Pertama: hikmah adalah kesesuaian ilmu-Nya dengan yang diketahui-Nya, dan kehendak serta keinginan-Nya dengan yang dikehendaki-Nya. Ini adalah tafsir kaum Jabariyah. Ini sebenarnya adalah peniadaan hikmah-Nya, karena kesesuaian yang diketahui dan yang dikehendaki lebih umum daripada menjadi hikmah atau sebaliknya. Karena orang bodoh dari hamba-hamba juga menyesuaikan ilmu dan kehendaknya dengan yang diketahui dan dikehendakinya, walaupun ia bodoh.

Kedua—madzhab Qadariyah yang meniadakan—: bahwa hikmah adalah kemaslahatan hamba dan manfaat yang kembali kepada mereka. Ini adalah pengingkaran terhadap sifat-Nya Taala dengan hikmah, dan mereka mengembalikannya kepada makhluk dari makhluk-Nya.

Ketiga—pendapat Ahlul Itsbat dan Ahlis Sunnah—: bahwa hikmah adalah tujuan-tujuan terpuji yang dikehendaki-Nya Subhanahu dengan penciptaan dan perintah-Nya, yang Dia perintahkan karenanya, dan Dia takdirkan dan ciptakan karenanya. Hikmah adalah sifat-Nya yang berdiri pada-Nya seperti sifat-sifat-Nya yang lain: pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, ilmu-Nya, kehidupan-Nya, dan kalam-Nya.

Bantahan terhadap kedua golongan Jabariyah dan Qadariyah ada tempatnya tersendiri selain ini. Wallahu alam.

Bab: Tingkatan Ketiga: Mencapai Bashirah dalam Istidlalmu

Penulis berkata: Tingkatan ketiga: mencapai bashirah (pandangan batin) dalam istidlalmu, mencapai hakikat dalam bimbinganmu, dan mencapai tujuan tertinggi dalam isyaratmu.

Ia bermaksud bahwa kamu mencapai dengan istidlalmu tingkatan ilmu yang paling tinggi, yaitu bashirah yang menjadikan kedudukan ilmu-ilmu di dalam hati seperti kedudukan yang terlihat bagi penglihatan. Inilah kekhususan yang dikhususkan bagi para sahabat dari seluruh umat. Ini adalah tingkatan para ulama yang paling tinggi. Allah Taala berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan bashirah'” (Surah Yusuf: 108), artinya aku dan pengikut-pengikutku dengan bashirah.

Ada yang mengatakan “dan orang-orang yang mengikutiku” (Surah Yusuf: 108) diatafkan kepada yang marfu dengan “aku mengajak”, artinya aku mengajak kepada Allah dengan bashirah, dan orang yang mengikutiku demikian juga mengajak kepada Allah dengan bashirah.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, ayat ini menunjukkan bahwa pengikut-pengikutnya adalah ahli bashirah yang mengajak kepada Allah dengan bashirah. Barangsiapa tidak termasuk mereka, maka ia bukan dari pengikut-pengikutnya secara hakiki dan sesuai, walaupun ia dari pengikut-pengikutnya dalam penisbatan dan klaim.

Perkataannya: “Dan dalam bimbinganmu mencapai hakikat.”

Bisa jadi ia bermaksud: apabila kamu membimbing orang lain, kamu mencapai dalam membimbingnya kepada hakikat, atau kamu mencapai dalam bimbingan orang lain kepadamu kepada hakikat, dan tidak berhenti di bawahnya.

Berdasarkan pendapat yang pertama: mashdar (kata dasar) disandarkan kepada pelaku (fa’il), dan berdasarkan pendapat yang kedua: disandarkan kepada objek (maf’ul).

Maknanya: bahwa engkau termasuk dari orang-orang yang memiliki keberadaan (wujud) yang apabila mereka memberi isyarat, maka mereka tidak memberi isyarat kecuali kepada tujuan yang diharapkan yang tidak ada lemparan melampaui batasnya.

Kaum sufi menyebut pemberitahuan mereka tentang pengetahuan-pengetahuan dan tentang yang dituju sebagai isyarat-isyarat, karena yang dikenal itu lebih agung daripada diungkapkan dengan ungkapan yang tepat, dan kedudukannya di atas itu. Maka orang yang sempurna adalah yang isyaratnya menuju kepada tujuan. Dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang fana dari keberadaan dirinya, hawa nafsunya, dan kepentingannya, serta kekal dengan Tuhannya dan kehendak agamanya yang bersifat perintah. Setiap orang, maka isyaratnya sesuai dengan pengetahuan dan cita-citanya. Dan pengetahuan-pengetahuan kaum sufi serta cita-cita mereka diambil dari isyarat-isyarat mereka. Dan Allah lah yang dimohon pertolongan-Nya.

Bab Tingkatan Firasat

Hakikat Firasat

Bab Tingkatan Firasat

Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan firasat.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda” (Surah Al-Hijr: 75). Mujahid rahimahullah berkata: yaitu orang-orang yang bertafakur (berfirasat). Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: yaitu orang-orang yang memperhatikan. Qatadah berkata: yaitu orang-orang yang mengambil pelajaran. Muqatil berkata: yaitu orang-orang yang berpikir.

Tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat ini, karena orang yang memperhatikan ketika ia melihat bekas-bekas negeri orang-orang yang mendustakan dan tempat-tempat tinggal mereka, serta apa yang menjadi akhir urusan mereka: hal itu menumbuhkan padanya firasat, ibrah, dan pemikiran. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka” (Surah Muhammad: 30). Yang pertama: firasat penglihatan dan mata. Yang kedua: firasat pendengaran dan telinga.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Allah menggantungkan pengenalan mereka dengan penglihatan pada kehendak (masyiah), dan tidak menggantungkan pengenalan mereka dari kiasan ucapan mereka pada suatu syarat. Bahkan Dia mengabarkan hal itu dengan berita yang diperkuat dengan sumpah. Maka Dia berfirman: “Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”. Yaitu sindiran dalam ucapan, isi pembicaraan, dan maksud tujuannya.

Lahna (kiasan) ada dua macam: yang benar dan yang salah. Lahna yang benar ada dua jenis. Pertama: kecerdasan. Termasuk dalam hal ini hadits “Dan bisa jadi sebagian kalian lebih pandai dalam berargumen daripada sebagian yang lain”.

Kedua: sindiran dan isyarat. Ini dekat dengan kinayah. Termasuk dalam hal ini ucapan penyair:

“Dan pembicaraan yang aku sukai, yang termasuk Yang diinginkan pendengar, ditimbang dengan timbangan Ucapan yang benar, dan terkadang sindiran Dan sebaik-baik pembicaraan adalah yang mengandung sindiran”

Ketiga: kerusakan ucapan dalam i’rab (tata bahasa). Hakikatnya: mengubah kalimat dari wajahnya: baik kepada kesalahan, atau kepada makna tersembunyi yang tidak ditetapkan untuk lafazh tersebut.

Maksudnya: bahwa Dia Subhanahu bersumpah atas pengenalan mereka dari kiasan ucapan mereka. Karena mengetahui pembicara dan apa yang ada dalam hatinya dari ucapannya: lebih dekat daripada mengenalnya dari tanda-tandanya dan apa yang ada di wajahnya. Karena dalil ucapan terhadap maksud dan hati orang yang mengucapkannya lebih jelas daripada tanda-tanda yang terlihat. Dan firasat berkaitan dengan kedua jenis tersebut, yaitu dengan penglihatan dan pendengaran. Dalam kitab At-Tirmidzi dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Takutlah kalian dari firasat mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda’ (Surah Al-Hijr: 75).”

Bab Jenis-jenis Firasat

Pertama: Firasat Keimanan

Bab

Firasat ada tiga jenis: Keimanan. Ini adalah yang dibicarakan dalam tingkatan ini.

Sebabnya: cahaya yang Allah lontarkan ke dalam hati hamba-Nya, yang dengannya ia membedakan antara yang hak dan yang batil, yang asli dan yang palsu, yang jujur dan yang pendusta.

Hakikatnya: bahwa ia adalah bisikan yang menyerang hati yang meniadakan lawannya. Ia menerkam hati seperti terkaman singa terhadap buruan. Akan tetapi fariisah (buruan) adalah fa’iilah dengan makna maf’uulah (yang diburui). Dan bentuk kata firaasah seperti bentuk kata wilayah, imarah, dan siyasah. Dan firasat ini sesuai dengan kekuatan iman. Maka barangsiapa yang lebih kuat imannya, maka ia lebih tajam firasat nya.

Abu Sa’id Al-Kharraz berkata: Barangsiapa yang melihat dengan cahaya firasat, maka ia melihat dengan cahaya Allah, dan sumber-sumber ilmunya bersama Allah tanpa kelalaian dan tanpa lengah. Bahkan hukum Allah yang berlaku atas lisan hamba-Nya.

Al-Wasithi berkata: Firasat adalah kilatan-kilatan cahaya yang memancar dalam hati, dan mantapnya pengetahuan tentang keseluruhan rahasia dalam hal-hal gaib dari gaib ke gaib, hingga ia menyaksikan perkara-perkara dari sisi Allah memperlihatkan kepadanya, lalu ia berbicara tentang hati nurani makhluk.

Ad-Darani berkata: Firasat adalah penyingkapan jiwa dan penyaksian gaib, dan ia termasuk tingkatan-tingkatan iman.

Seseorang ditanya tentang firasat, maka ia berkata: Ruh-ruh yang berbolak-balik dalam kerajaan (malakut), lalu menyaksikan makna-makna gaib, kemudian berbicara tentang rahasia-rahasia makhluk, dengan ucapan penyaksian bukan ucapan sangkaan dan perkiraan.

Amru bin Nujaid berkata: Syah Al-Kirmani tajam firasat nya dan tidak pernah salah. Dan ia berkata: Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan batinnya dengan muraqabah dan zahirnya dengan mengikuti sunnah, serta terbiasa makan yang halal: maka firasat nya tidak akan salah.

Abu Ja’far Al-Haddad berkata: Firasat adalah bisikan pertama tanpa ada yang melawannya, jika dihadapi oleh lawan yang lain dari jenisnya, maka itu adalah bisikan dan pembicaraan jiwa.

Abu Hafsh An-Naisaburi berkata: Tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim firasat. Tetapi hendaknya takut akan firasat dari orang lain. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Takutlah kalian dari firasat mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah”. Dan beliau tidak bersabda: “Berfirasat lah kalian”. Dan bagaimana mungkin sah klaim firasat bagi orang yang berada dalam posisi takut akan firasat?

Ahmad bin Ashim Al-Anthaki berkata: Jika kalian bergaul dengan ahli kejujuran, maka bergaullah dengan mereka dengan kejujuran. Karena mereka adalah mata-mata hati, mereka masuk ke dalam hati kalian dan keluar dari tempat yang tidak kalian sangka-sangka.

Suatu hari Al-Junaid sedang berbicara kepada orang-orang, lalu seorang pemuda Nasrani yang menyamar berdiri di hadapannya. Ia berkata: Wahai syaikh, apa makna sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam “Takutlah kalian dari firasat mukmin karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah”? Maka Al-Junaid menunduk, kemudian mengangkat kepalanya kepadanya dan berkata: Masuklah Islam, karena telah tiba waktu keislamanmu. Maka pemuda itu masuk Islam. Dan dikatakan dalam sebagian kitab kuno: Sesungguhnya orang yang jujur (shiddiq) tidak salah firasat nya.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Orang yang paling tajam firasat nya adalah tiga orang: Al-Aziz terhadap Yusuf, ketika ia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tempat tinggalnya, mudah-mudahan dia memberi manfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak” (Surah Yusuf: 21). Dan putri Syu’aib ketika ia berkata kepada ayahnya tentang Musa: Jadikanlah dia sebagai pekerja. Dan Abu Bakar terhadap Umar radhiyallahu anhuma, ketika ia menjadikannya khalifah. Dalam riwayat lain: Dan istri Fir’aun ketika ia berkata: “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak” (Surah Al-Qashash: 9).

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu adalah yang paling agung firasat nya di kalangan umat ini. Setelahnya Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Dan peristiwa-peristiwa firasat nya terkenal. Sesungguhnya ia tidak pernah berkata tentang sesuatu “Aku sangka ia begini” kecuali ia terjadi seperti yang ia katakan. Dan cukuplah sebagai firasat nya: kesepakatannya dengan Tuhannya dalam tempat-tempat yang dikenal.

Sawad bin Qarib lewat di hadapannya, dan Umar tidak mengenalnya. Maka ia berkata: Sungguh sangkaanku salah, atau orang ini adalah dukun, atau ia mengenal perdukunan di masa jahiliyah. Ketika ia duduk di hadapannya, Umar berkata kepadanya demikian. Maka ia berkata: Subhanallah, wahai Amirul Mukminin, tidaklah engkau menyambut seorang pun dari majelismu seperti engkau menyambutku. Maka Umar radhiyallahu anhu berkata kepadanya: Apa yang kami lakukan di masa jahiliyah lebih buruk dari itu. Tetapi beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepadamu. Maka ia berkata: Engkau benar wahai Amirul Mukminin, aku adalah dukun di masa jahiliyah. Kemudian ia menyebutkan kisahnya.

Demikian pula Utsman bin Affan radhiyallahu anhu memiliki firasat yang jujur. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: Aku masuk menemui Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, dan aku telah melihat seorang wanita di jalan yang aku perhatikan kecantikannya. Maka Utsman radhiyallahu anhu berkata: Salah seorang dari kalian masuk menemuiku dan bekas zina tampak di matanya. Maka aku berkata: Apakah ada wahyu setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Maka ia berkata: Tetapi ini adalah pengamatan, bukti, dan firasat yang jujur.

Firasat para sahabat radhiyallahu anhum adalah firasat yang paling jujur.

Asal jenis firasat ini: dari kehidupan dan cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, maka hati menjadi hidup dengan itu dan bercahaya, sehingga firasat nya hampir tidak salah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengannya dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Surah Al-An’am: 122). Ia mati karena kekufuran dan kejahilan, lalu Allah menghidupkannya dengan iman dan ilmu, dan menjadikan untuknya dengan Al-Qur’an dan iman cahaya yang dengannya ia menerangi dirinya di tengah manusia menuju tujuan jalan yang benar, dan berjalan dengannya dalam kegelapan-kegelapan. Wallahu a’lam.

Bab Kedua: Firasat Riyadhah dan Kelaparan

Bab

Firasat yang kedua: firasat riyadhah dan kelaparan, begadang dan pengasingan diri. Karena sesungguhnya jiwa apabila terlepas dari penghalang-penghalang, maka ia memiliki firasat dan kasyaf (penyingkapan) sesuai dengan keterlepasannya. Dan ini adalah firasat yang sama antara mukmin dan kafir. Dan tidak menunjukkan atas iman dan tidak atas kewalian. Dan banyak orang jahil tertipu dengannya. Dan bagi para pendeta ada peristiwa-peristiwa yang diketahui tentangnya. Dan ia adalah firasat yang tidak menyingkap tentang kebenaran yang bermanfaat dan tidak tentang jalan yang lurus. Bahkan penyingkapannya bersifat parsial seperti jenis firasat para penguasa, ahli tafsir mimpi, para dokter, dan semacamnya.

Para dokter memiliki firasat yang dikenal dari kepandaian mereka dalam bidang mereka. Dan barangsiapa yang ingin mengetahuinya, hendaknya ia mempelajari sejarah mereka dan berita-berita mereka. Dan mendekati separuh ilmu kedokteran adalah firasat yang jujur, yang berkaitan dengannya pengalaman. Wallahu Subhanahu a’lam.

Bab Ketiga: Firasat Khalqiyah (Berdasarkan Fisik)

Bab

Firasat yang ketiga: firasat khalqiyah. Yaitu yang dikarang tentangnya oleh para dokter dan lainnya. Mereka mengambil kesimpulan dengan fisik (khalq) terhadap akhlak karena ada keterkaitan antara keduanya yang dikehendaki oleh hikmah Allah. Seperti mengambil kesimpulan dengan kecilnya kepala yang keluar dari kebiasaan terhadap kecilnya akal. Dan dengan besarnya, dan luasnya dada, dan jauhnya jarak antara kedua sisinya: terhadap lapangnya akhlak pemiliknya, daya tahannya, dan kelapangan dadanya. Dan dengan sempitnya terhadap sempitnya, dan dengan padamnya mata dan tumpulnya pandangannya terhadap kebodohan pemiliknya dan lemahnya panas hatinya. Dan dengan sangat putihnya disertai sedikit merah – yaitu syakal – terhadap keberaniannya, keberaniannya maju, dan kecerdasannya. Dan dengan membulatkannya disertai merahnya dan banyaknya berputar-putarnya terhadap pengkhianatannya, tipu muslihatnya, dan penipuannya.

Kebanyakan kaitan firasat adalah dengan mata. Karena ia adalah cermin hati dan tanda apa yang ada di dalamnya. Kemudian dengan lisan. Karena ia adalah utusannya dan penerjemahnya. Dan dengan mengambil kesimpulan dari birunya disertai pirangnya pemiliknya terhadap keburukannya. Dan dengan kesan mengerikan yang terlihat padanya terhadap buruknya batinnya dan rusaknya niatnya.

Dan seperti mengambil kesimpulan dengan sangat lurusnya rambut terhadap kebodohan. Dan dengan sangat keritingnya terhadap kejahatan. Dan dengan keseimbangannya terhadap keseimbangan pemiliknya.

Asal firasat ini: bahwa keseimbangan fisik dan bentuk: adalah dari keseimbangan temperamen dan ruh. Dan dari keseimbangannya terjadi keseimbangan akhlak dan perbuatan. Dan sesuai dengan penyimpangan fisik dan bentuk dari keseimbangan: terjadilah penyimpangan dalam akhlak dan perbuatan.

Ini jika jiwa dibiarkan dengan tabiatnya.

Namun orang yang memiliki penampilan dan bentuk tubuh yang seimbang akan memperoleh akhlak orang yang dia bergaul dan bergabung dengannya melalui pergaulan dan kehidupan bersama. Bahkan sekalipun dengan hewan ternak. Maka dia menjadi orang yang paling buruk akhlaknya dan perbuatannya di antara manusia, dan hal itu menjadi tabiat baginya, serta menjadi sulit—atau sangat sulit—baginya untuk berpindah darinya.

Demikian pula orang yang memiliki tabiat dan penampilan yang menyimpang dari keseimbangan, dia akan memperoleh akhlak dan perbuatan yang mulia dengan kebersamaan dan pergaulan bersama orang-orang yang sempurna. Hal itu menjadi seperti tabiat baginya. Karena kebiasaan-kebiasaan dan praktik-praktik yang terus-menerus akan menghasilkan kemampuan dan akhlak.

Maka hendaklah seseorang merenungkan masalah ini dan tidak tergesa-gesa memberikan keputusan berdasarkan firasat tanpa mempertimbangkannya. Karena orang yang memutuskan pada saat itu akan banyak melakukan kesalahan. Karena tanda-tanda ini adalah sebab-sebab yang tidak pasti. Dan hukum-hukumnya boleh jadi tidak terpenuhi karena hilangnya syarat, atau karena adanya penghalang.

Firasat orang yang berfirasat berkaitan dengan tiga hal: matanya, telinganya, dan hatinya. Matanya untuk melihat tanda-tanda dan ciri-ciri. Telinganya: untuk mendengar perkataan baik yang eksplisit maupun tersirat, yang diucapkan maupun yang dipahami, isinya, isyaratnya, nadanya, dan maksudnya, serta hal-hal semacam itu. Dan hatinya untuk melampaui: dan menarik kesimpulan dari yang terlihat dan terdengar kepada yang tersembunyi dan tersembunyinya. Maka dia melampaui kepada apa yang di balik lahirnya, seperti orang yang ahli dalam menilai mata uang melampaui dari lahirnya ukiran dan cap kepada batinnya koin dan melihatnya: apakah itu asli, ataukah palsu? Demikian pula lampauan orang yang berfirasat dari lahirnya penampilan dan sikap, kepada batinnya jiwa dan hati, maka rasio penilaiannya terhadap jiwa-jiwa dari penampilan-penampilan seperti rasio penilaian pedagang uang yang melihat esensi dari lahirnya cap dan koin.

Demikian pula penilaian ahli hadits. Karena ada sanad yang lahirnya jelas seperti matahari pada matan yang diada-adakan. Maka kritikus mereka mengeluarkannya, sebagaimana pedagang uang mengeluarkan yang palsu dari balik lahirnya perak.

Demikian pula firasat untuk membedakan antara orang yang jujur dan pendusta dalam perkataan, perbuatan, dan keadaannya.

Firasat memiliki dua sebab. Pertama: baiknya pemikiran orang yang berfirasat, ketajaman hatinya, dan bagusnya kepandaiannya.

Kedua: tampaknya tanda-tanda dan dalil-dalil pada orang yang difirasi. Jika kedua sebab itu berkumpul, maka firasat hamba itu hampir tidak meleset. Dan jika keduanya tidak ada, maka hampir tidak ada firasat yang benar baginya. Dan jika salah satunya kuat dan yang lain lemah, maka firasat nya berada di antara keduanya.

Iyas bin Mu’awiyah adalah termasuk orang yang paling hebat firasat nya di antara manusia. Dan dia memiliki kisah-kisah yang terkenal. Demikian pula Syafi’i rahimahullah. Dan dikatakan: bahwa dia memiliki karya tulis tentangnya.

Sungguh aku telah menyaksikan dari firasat Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah hal-hal yang mengagumkan. Dan apa yang tidak aku saksikan darinya lebih besar dan lebih besar lagi. Dan kisah-kisah firasat nya memerlukan buku yang tebal.

Dia memberitahu sahabat-sahabatnya tentang masuknya Tatar ke Syam pada tahun 699 Hijriyah, dan bahwa pasukan kaum muslimin akan hancur, dan bahwa Damaskus tidak akan mengalami pembunuhan massal maupun penculikan massal, dan bahwa sasaran pasukan dan keganasannya pada harta benda. Ini sebelum Tatar bermaksud bergerak.

Kemudian dia memberitahu orang-orang dan para pemimpin pada tahun 702 Hijriyah ketika Tatar bergerak dan menuju Syam: bahwa giliran dan kekalahan ada pada mereka. Dan bahwa kemenangan dan pertolongan untuk kaum muslimin. Dan dia bersumpah atas hal itu lebih dari tujuh puluh sumpah. Lalu dikatakan kepadanya: katakan insya Allah. Maka dia berkata: Insya Allah sebagai penetapan bukan sebagai pengandaian. Dan aku mendengarnya mengatakan itu. Dia berkata: ketika mereka banyak mendesakku, aku katakan: jangan banyak-banyak. Allah Ta’ala telah menulis dalam Lauh Mahfudz bahwa mereka akan kalah dalam pertempuran ini. Dan bahwa kemenangan untuk pasukan Islam. Dia berkata: dan aku menawarkan kepada sebagian pemimpin dan tentara manisnya kemenangan sebelum mereka keluar untuk bertemu musuh.

Dan firasat parsialnya dalam dua peristiwa ini seperti hujan.

Dan ketika dia dipanggil ke negeri Mesir, dan mereka ingin membunuhnya—setelah panci-panci dimasak untuknya, dan urusan dibalik untuknya—sahabat-sahabatnya berkumpul untuk melepasnya. Dan mereka berkata: surat-surat telah banyak datang bahwa orang-orang itu akan membunuhmu. Maka dia berkata: demi Allah mereka tidak akan sampai kepada hal itu selamanya. Mereka berkata: apakah engkau akan dipenjara? Dia berkata: ya, dan penjaraku akan lama. Kemudian aku akan keluar dan berbicara tentang Sunnah di hadapan banyak orang. Aku mendengarnya mengatakan itu.

Dan ketika musuhnya yang dijuluki Al-Jasyankir menjadi raja, mereka memberitahunya tentang hal itu. Dan mereka berkata: sekarang dia telah mencapai tujuannya darimu. Maka dia bersujud syukur kepada Allah dan lama. Lalu dikatakan kepadanya: apa sebab sujud ini? Maka dia berkata: ini adalah awal kehinaan nya dan perginya kemuliaan nya mulai sekarang, dan dekatnya hilangnya kekuasaannya. Lalu dikatakan: kapan ini? Maka dia berkata: tidak akan mengikat kuda-kuda tentara pada jerami gandum hingga kekuasaannya dikalahkan. Maka terjadi peristiwa seperti apa yang dia kabarkan. Aku mendengar itu darinya.

Dan dia berkata suatu kali: sahabat-sahabatku dan yang lain masuk menemuiku. Maka aku melihat di wajah-wajah mereka dan mata-mata mereka hal-hal yang tidak aku sebutkan kepada mereka.

Maka aku—atau yang lain—berkata kepadanya: seandainya engkau memberitahu mereka? Maka dia berkata: apakah kalian ingin aku menjadi mata-mata seperti mata-mata para penguasa? Dan aku berkata kepadanya suatu hari: seandainya engkau memperlakukan kami dengan itu, akan lebih mendorong kepada kelurusan dan perbaikan. Maka dia berkata: kalian tidak akan sabar bersamaku atas itu selama seminggu, atau dia berkata: sebulan.

Dan dia memberitahuku lebih dari sekali tentang hal-hal batin yang khusus berkaitan denganku dari apa yang aku niatkan, dan tidak diucapkan oleh lisanku.

Dan dia memberitahuku tentang beberapa peristiwa besar yang akan terjadi di masa depan. Dan dia tidak menentukan waktunya. Dan aku telah melihat sebagiannya dan aku menunggu sisanya.

Dan apa yang disaksikan oleh sahabat-sahabatnya yang besar dari hal itu berlipat-lipat ganda dari apa yang aku saksikan. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bab Definisi Firasat

Bab

Penulis Manazil rahimahullah berkata:

Firasat: menangkap hukum yang gaib

Menangkap: bentuk kata kerja istifa’al dari aku melihat sesuatu, yaitu ketika kamu melihatnya. Jika kamu mendapatkan dengan penangkapan ini hukum yang gaib: maka itu adalah firasat. Dan jika dengan mata: maka itu adalah penglihatan. Dan jika dengan selain dari alat-alat persepsi: maka sesuai dengan nya.

Ucapannya: tanpa berdalil dengan yang tampak

Berdalil dengan yang tampak terhadap yang gaib ini: adalah perkara yang sama antara orang yang baik dan yang jahat. Dan antara orang yang beriman dan yang kafir, seperti berdalil dengan kilat dan guntur terhadap hujan, dan seperti berdalil para nahkoda laut dengan kekeruhan yang tampak bagi mereka di sisi cakrawala terhadap angin kencang. Dan semacam itu. Dan seperti berdalil dokter dengan wajah dan air kencing terhadap kondisi orang sakit.

Dan itu sangat halus hingga mencapai tingkat yang tidak mampu dicapai oleh kebanyakan akal. Dan seperti berdalil dengan perjalanan dan langkah seseorang terhadap akibat urusannya di dunia berupa kebaikan atau keburukan. Maka cocok, atau hampir cocok.

Maka ini keluar dari firasat yang dibicarakan oleh golongan ini. Dan ini adalah jenis firasat, tetapi bukan firasat mereka. Demikian pula apa yang diketahui dengan pengalaman dari masalah-masalah kedokteran dan kerajinan dan pertanian dan lainnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bab Tingkatan-tingkatan Firasat

Tingkatan Pertama Firasat yang Datang Tiba-tiba dan Jarang

Bab

Dia berkata: Dan firasat itu ada tiga tingkatan. Pertama: firasat yang datang tiba-tiba dan jarang. Muncul pada lisan orang yang tidak mengenal Allah sepanjang hidupnya sekali. Untuk kebutuhan murid yang jujur yang mendengarkannya. Tidak tergantung pada sumbernya. Dan tidak dipedulikan pemiliknya. Dan ini adalah sesuatu yang tidak lepas dari perdukunan dan apa yang menyerupainya, karena tidak menunjukkan mata, dan tidak keluar dari ilmu. Dan tidak didahului oleh wujud.

Dia maksudkan dengan jenis ini: firasat yang terjadi pada lisan orang-orang yang lalai, yang tidak memiliki kewaspadaan pemilik hati. Maka karena itu dia berkata: datang tiba-tiba dan jarang muncul pada lisan orang yang tidak mengenal Allah. Yang tidak tenteram hati pemiliknya dengan dzikir kepada Allah. Maka muncul pada lisannya penyingkapan dalam hidupnya sekali. Dan itu jarang. Dan tembakan dari bukan pemanah.

Dan ucapannya: untuk kebutuhan murid yang jujur.

Menunjukkan hikmah diberjalankannya pada lisannya. Dan itu adalah kebutuhan murid yang jujur kepadanya. Karena jika dia mendengarnya pada lisan orang lain, akan lebih membangunkannya. Dan akan lebih besar kedudukannya di sisinya.

Dan ucapannya: tidak diketahui sumbernya.

Maksudnya tidak diketahui oleh orang yang sampai kepadanya. Dan terhubung dengannya. Apa sebab keluarnya ucapan itu? Dan dia hanya mendengarnya terputus dari apa sebelumnya dan apa yang menimbulkannya.

Dan tidak dipedulikan pemiliknya karena dia tidak ada di sana.

Aku katakan: Dan ini dari jenis fal (pertanda baik). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai fal dan menyukainya. Dan thayyarah (pertanda buruk/pesimisme) dari ini. Tetapi orang yang beriman tidak berthayyarah. Karena thayyarah adalah kesyirikan. Dan tidak menghalanginya apa yang dia dengar dari tujuan dan kebutuhannya. Bahkan dia bertawakal kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Dan menolak kejahatan thayyarah darinya dengan tawakal. Dan dalam Shahihain dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia bersabda: “Thayyarah adalah syirik, dan tidak ada di antara kita melainkan. Tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.”

Dan tambahan ini—yaitu ucapannya: dan tidak ada di antara kita melainkan—maksudnya yang mengalaminya, tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal—adalah sisipan dalam hadits dari perkataan Ibnu Mas’ud. Dan hal itu datang dengan penjelasan.

Dan orang yang memiliki kewaspadaan melihat dan mendengar dari itu hal-hal yang mengagumkan. Dan itu dari lemparan malaikat terkadang pada lisan yang berbicara. Dan terkadang dari lemparan setan.

Lemparan malaikat: kabar gembira dan peringatan dan peringatan. Dan lemparan setan: kesedihan dan ketakutan dan kesyirikan. Dan penghalang dari tujuan-tujuan.

Dan pemilik semangat dan tekad: tidak terikat dengan itu. Dan tidak memalingkan perhatiannya kepadanya. Dan jika dia mendengar apa yang menyenangkannya, dia bergembira. Dan menguatkan harapannya dan bagus sangkanya. Dan memuji Allah. Dan memohon kepada-Nya penyempurnaannya. Dan memohon pertolongan kepada-Nya untuk mendapatkannya. Dan jika dia mendengar apa yang menyedihkannya: memohon perlindungan kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Dan bertawakal kepada-Nya. Dan berlindung kepada-Nya, dan berlindung kepada tauhid. Dan berkata: Ya Allah tidak ada pertanda kecuali pertanda-Mu. Dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu. Dan tidak ada ilah selain Engkau. Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. Dan tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Engkau. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.

Dan barang siapa menjadikan ini sebagai pusat hatinya, dan menggantungkan perhatiannya dengannya: maka bahayanya baginya lebih banyak dari manfaatnya.

Ucapannya: dan ini adalah sesuatu yang tidak lepas dari perdukunan

Maksudnya: bahwa ini dari jenis perdukunan. Dan keadaan tukang-tukang sihir diketahui dahulu dan sekarang dalam kabar mereka tentang jenis hal-hal yang gaib dengan perantaraan saudara-saudara mereka dari setan-setan yang melontarkan pendengaran kepada mereka, dan mereka tidak pernah berhenti ada dalam kewujudan. Dan mereka banyak di zaman-zaman dan tempat-tempat yang tersembunyi di dalamnya cahaya kenabian. Dan karena itu mereka paling banyak di zaman jahiliyah, dan setiap zaman jahiliyah dan negeri jahiliyah dan kelompok jahiliyah, maka mereka memiliki nasib darinya sesuai dengan pertemuan setan-setan dengan mereka dan ketaatan mereka kepada mereka, dan penyembahan mereka kepada mereka.

Dan ucapannya: dan apa yang menyerupainya maksudnya dan apa yang menyerupainya dari jenis garis di pasir, dan melempar kerikil dan kerang, dan mengusir burung, yang mereka namakan sanikh dan barikh, dan undian syirik bukan syariat, dan meminta bagi dengan anak panah, dan selain itu dari apa yang digantungkan oleh jiwa-jiwa jahiliyah musyrik yang akibat urusannya rugi dan binasa.

Dan ucapannya: karena tidak menunjukkan mata.

Maksudnya tentang mata kebenaran yang tidak keluar darinya kecuali kebenaran. Maksudnya tidak berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla.

Dan ucapannya: dan tidak keluar dari ilmu.

Maksudnya bahwa itu adalah sangkaan dan perkiraan, bukan dari ilmu dan keyakinan. Dan pemiliknya selalu dalam keraguan. Tidak berada di atas pengetahuan yang jelas tentang urusannya.

Dan ucapannya: dan tidak didorong oleh wujud.

Maksudnya tidak didorong oleh wujud kebenaran untuk pemiliknya, bahkan dia kosong atau tidak menemukan, bahkan kehilangan dari bukan ahli wujud. Dan Allah Maha Mengetahui.

Tingkatan Kedua Firasat yang Dipetik dari Tanaman Iman

Dia berkata: Tingkatan kedua: firasat yang dipetik dari tanaman iman. Dan muncul dari kebenaran keadaan. Dan bercahaya dari cahaya penyingkapan.

Jenis firasat ini: khusus bagi ahli iman. Dan karena itu dia berkata: dipetik dari tanaman iman dan dia menyerupakan iman dengan tanaman, karena dia bertambah dan tumbuh, dan berkembang dengan penyiraman. Dan memberikan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya. Dan akarnya tetap di bumi. Dan cabang-cabangnya di langit, maka barang siapa menanam iman di tanah hatinya yang baik dan berkembang, dan menyirami tanaman itu dengan air keikhlasan dan kejujuran dan keteladanan: maka dari sebagian buahnya adalah firasat ini.

Ucapannya: dan muncul dari kebenaran keadaan

Maksudnya: bahwa kebenaran firasat dari kebenaran keadaan. Maka semakin benar dan benar keadaannya maka firasat pun demikian.

Ucapannya: dan bercahaya dari cahaya penyingkapan

Maksudnya bahwa cahaya penyingkapan dari sejumlah hal yang melahirkan firasat, bahkan dasarnya adalah cahaya penyingkapan.

Kekuatan Firasah

Dan kekuatan firasah: sesuai dengan kuat dan lemahnya cahaya ini, dan kuat lemahnya cahaya itu sesuai dengan kuat lemahnya bahan dasarnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

Pasal Tingkatan Ketiga Firasah Siriyyah

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga: firasah siriyyah, yang tidak diperoleh melalui pemikiran berdasarkan ucapan orang pilihan baik secara jelas maupun isyarat.

Lafaz siriyyah mengandung dua kemungkinan makna:

Pertama: kemuliaan. Artinya firasah yang mulia. Karena rajul sirri adalah orang yang mulia. Bentuk jamaknya adalah saraah. Dari kata inilah – menurut salah satu takwil – firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di bawahmu sungai” (Maryam: 24) artinya pemimpin yang ditaati. Yaitu Al-Masih. Menurut makna ini maka siriyyah berwazan syarifah.

Kedua: berasal dari kata sirr (rahasia), artinya firasah yang berkaitan dengan hal-hal rahasia bukan hal-hal yang tampak, maka siriyyah berwazan syaribah dan makitsah.

Ucapannya: “tidak diperoleh melalui pemikiran” artinya tidak melalui perenungan, melainkan langsung menyerbu ke dalam hati tanpa diketahui sebabnya.

Ucapannya: “berdasarkan ucapan orang pilihan” artinya yang terpilih dan terpilah dari yang lainnya.

“Baik secara jelas maupun isyarat”

Maksudnya bahwa orang pilihan yang terpilah ini mengabarkan tentang firasah tinggi ini mengenai perkara-perkara gaib, kadang dengan terus terang dan kadang dengan sindiran, baik untuk menutupi keadaannya, atau untuk menjaga apa yang dia kabarkan dari penggunaan yang sembarangan dan sampai kepada orang yang tidak layak, atau karena sebab-sebab lainnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.

Pasal Tingkatan Ta’zhim (Pengagungan)

Hakikat Ta’zhim

Pasal Tingkatan Ta’zhim

Dan di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan ta’zhim (pengagungan).

Tingkatan ini mengikuti ma’rifat. Maka sesuai kadar ma’rifat akan ada pengagungan terhadap Rabb Ta’ala dalam hati. Dan orang yang paling mengenal-Nya adalah yang paling keras mengagungkan dan memuliakan-Nya. Dan Allah Ta’ala telah mencela orang yang tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya, tidak mengenal-Nya dengan ma’rifat yang sebenarnya, dan tidak mensifati-Nya dengan sifat yang sebenarnya. Dan ucapan mereka berkisar pada hal ini. Allah Ta’ala berfirman: “Mengapa kamu tidak mengharapkan keagungan Allah?” (Nuh: 13) Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: “Tidak mengharapkan keagungan Allah.” Said bin Jubair berkata: “Mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya?” Al-Kalbi berkata: “Tidak takut akan keagungan Allah.”

Al-Baghawi berkata: Raja’ (pengharapan) bermakna ketakutan. Dan waqar adalah keagungan, nama dari tauqir yaitu pengagungan. Al-Hasan berkata: “Tidak mengenal hak Allah dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.”

Ibnu Kaisan berkata: “Tidak mengharapkan dalam beribadah kepada Allah bahwa Dia akan memberi kalian pahala atas penghormatan kalian kepada-Nya dengan kebaikan.”

Ruh ibadah adalah: pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang dari yang lain maka rusaklah ibadah. Jika kedua hal ini disertai dengan pujian kepada yang dicintai dan diagungkan, maka itulah hakikat hamdalah (pujian). Dan Allah Subhanahu Maha Mengetahui.

Pasal Tingkatan-Tingkatan Ta’zhim

Tingkatan Pertama Ta’zhim Terhadap Perintah dan Larangan

Pasal

Penulis Manazil rahimahullah berkata:

Ta’zhim adalah: ma’rifat terhadap keagungan disertai kerendahan diri kepadanya. Dan ia memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ta’zhim terhadap perintah dan larangan, yaitu tidak menentangnya dengan keringanan yang kasar, tidak menentangnya dengan kesulitan yang berlebihan, dan tidak menyandarkannya pada illat yang melemahkan ketundukan.

Di sini ada tiga hal yang bertentangan dengan ta’zhim terhadap perintah dan larangan:

Pertama: keringanan yang membuat pemiliknya kasar dari kesempurnaan pelaksanaan.

Kedua: ghuluw (berlebih-lebihan) yang membuat pemiliknya melampaui batas-batas perintah dan larangan.

Yang pertama adalah tafrith (kelalaian). Yang kedua adalah ifrath (berlebih-lebihan).

Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu melainkan setan memiliki dua dorongan padanya: dorongan untuk meremehkan dan menyia-nyiakan, atau dorongan untuk berlebih-lebihan dan ghuluw. Agama Allah adalah pertengahan antara yang meremehkannya dan yang berlebih-lebihan padanya, seperti lembah di antara dua gunung, dan petunjuk di antara dua kesesatan, dan pertengahan di antara dua ujung yang tercela. Sebagaimana orang yang meremehkan perintah adalah menyia-nyiakannya, demikian pula orang yang berlebih-lebihan padanya adalah menyia-nyiakannya. Yang satu karena kurang dari batas, yang lain karena melampaui batas.

Dan Allah telah melarang dari ghuluw dengan firman-Nya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian tanpa hak” (Al-Ma’idah: 77).

Ghuluw ada dua jenis: jenis yang mengeluarkannya dari ketaatan, seperti orang yang menambahkan satu rakaat dalam salat, atau puasa sepanjang masa termasuk hari-hari yang dilarang berpuasa, atau melempar jumrah dengan batu-batu besar yang dilempar dengan manjaniq, atau sa’i antara Safa dan Marwah sepuluh kali, atau semacam itu dengan sengaja.

Dan ghuluw yang dikhawatirkan darinya terputus dan kelelahan, seperti salat malam sepanjang malam, dan puasa terus-menerus sepanjang masa tanpa berpuasa pada hari-hari yang dilarang, dan berlaku zalim terhadap diri dalam ibadah-ibadah dan amalan-amalan, yang tentangnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan. Maka luruskanlah, dekatkanlah, mudahkanlah, dan mintalah pertolongan dengan waktu pagi, sore, dan sebagian dari malam” maksudnya mintalah pertolongan untuk taat kepada Allah dengan amalan di ketiga waktu ini. Karena musafir meminta pertolongan untuk menempuh jarak perjalanan dengan berjalan di waktu-waktu tersebut.

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang kalian salat saat semangat, jika lelah hendaklah berbaring” keduanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Dan dalam Shahih Muslim dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan – beliau mengatakannya tiga kali – yaitu orang-orang yang mendalami dan mempersulit”.

Dan dalam Shahih Al-Bukhari dari beliau shallallahu alaihi wasallam: “Hendaklah kalian melakukan amalan yang kalian mampu, maka demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan”. Dan dalam Sunan dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya agama ini kuat, maka masuklah ke dalamnya dengan lemah lembut, dan janganlah kalian membuat diri kalian membenci ibadah kepada Allah” atau sebagaimana beliau katakan.

Dan ucapannya: “dan tidak menyandarkannya pada illat yang melemahkan ketundukan.”

Maksudnya: jangan mentakwil perintah dan larangan dengan illat yang menghapuskannya, sebagaimana sebagian orang mentakwil pengharaman khamr bahwa ia diillati dengan menimbulkan permusuhan dan kebencian serta terjerumus dalam kerusakan. Jika aman dari bahaya ini maka boleh meminumnya. Seperti yang dikatakan:

Edarkanlah, karena pengharaman padanya bukan pada zatnya Tetapi karena sebab-sebab yang terkandung dalam kemabukan Jika tidak ada kemabukan yang menyesatkan dari petunjuk Maka sama saja air di gelas atau khamr

Dan ini telah membawa sebagian orang kepada melepaskan diri dari agama sama sekali. Dan sebagian ulama telah menjadikan pengharaman selain minuman khamr dari anggur diillati dengan memabukkan. Maka ia boleh minum darinya apa yang ia kehendaki selama tidak sampai mabuk.

Dan di antara illat yang melemahkan ketundukan adalah: mengillati hukum dengan illat yang lemah, yang bukanlah penggerak hukum itu dalam kenyataannya. Maka lemah ketundukan hamba ketika illat ini berdiri dalam pandangannya sebagai illat hukum. Karena itulah jalan kaum (sufi) adalah tidak membahas illat-illat taklif karena khawatir akan bahaya ini.

Dan dalam sebagian atsar kuno: “Wahai Bani Israil, janganlah kalian mengatakan: mengapa Rabb kita memerintahkan? Tetapi katakanlah: dengan apa Rabb kita memerintahkan?”

Dan juga jika ia tidak melaksanakan perintah hingga illatnya jelas baginya, maka ia bukanlah orang yang tunduk kepada perintah. Dan minimal tingkatannya adalah: melemahnya ketundukannya kepadanya.

Dan juga jika ia melihat hukum ibadah dan taklif misalnya, dan menjadikan illatnya adalah terkumpulnya hati dan menghadap kepada Allah dengannya, lalu ia berkata: “Aku akan sibuk dengan tujuan daripada wasilah.” Maka ia sibuk dengan terkumpulnya hati dan khalwatnya daripada wirid-wirid ungkapan maka ia menelantarkannya, dan meninggalkan ketundukan karena menyandarkan perintah pada illat yang menghilangkan ketundukannya. Dan semua ini termasuk meninggalkan ta’zhim terhadap perintah dan larangan. Dan telah masuk dari kerusakan ini kepada banyak kelompok yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Maka tidak ada yang mengetahui betapa illat-illat yang rusak telah melemahkan ketundukan kecuali Allah. Berapa banyak perintah Allah yang ditelantarkan, larangan yang dihalalkan, dan yang mubah yang diharamkan?! Dan inilah yang telah disepakati oleh Salaf untuk mencela.

Pasal Tingkatan Kedua Ta’zhim Terhadap Hukum

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua: ta’zhim terhadap hukum: jangan mencari penyimpangan padanya, atau menentangnya dengan ilmu, atau rela dengan ganti.

Tingkatan pertama mencakup ta’zhim terhadap hukum agama syariat. Dan tingkatan ini mencakup ta’zhim terhadap hukum kauniyah qadariyah. Yaitu yang penulis khususkan dengan nama hukum. Dan sebagaimana wajib bagi hamba untuk memelihara hukum Allah yang agama dengan ta’zhim, demikian pula ia memelihara hukum-Nya yang kauniyah dengannya. Maka ia menyebutkan dari ta’zhim kepadanya tiga hal.

Pertama: jangan mencari penyimpangan padanya, artinya mencari penyimpangan padanya atau melihat penyimpangan padanya. Bahkan melihatnya semua lurus, karena ia keluar dari sumber hikmah. Maka tidak ada penyimpangan padanya. Dan ini adalah perkara yang sangat membingungkan manusia.

Maka penafik qadar berkata: “Tidak ada pada ciptaan Ar-Rahman ketidakseimbangan dan penyimpangan. Dan kekufuran serta kemaksiatan mengandung ketidakseimbangan dan penyimpangan terbesar. Maka keduanya bukan ciptaan-Nya, bukan kehendak-Nya dan bukan qadar-Nya.”

Dan suatu kelompok yang berlawanan dengan mereka berkata: “Bahkan keduanya dari ciptaan Ar-Rahman dan qadar-Nya. Maka tidak ada penyimpangan padanya. Dan semua yang ada di alam ini lurus.”

Dan kedua kelompok sesat, menyimpang dari petunjuk. Dan kelompok kedua ini lebih keras penyimpangannya, karena mereka menjadikan kekufuran dan kemaksiatan sebagai jalan lurus yang tidak ada penyimpangan padanya. Dan tidak dibedakannya oleh kedua kelompok antara qadha’ dan maqdhi, dan hukum dan mahkum bih: itulah yang menjerumuskan mereka ke dalam apa yang menjerumuskan mereka.

Dan pendapat Salaf umat dan jumhur mereka adalah: Bahwa qadha’ berbeda dengan maqdhi. Maka qadha’ adalah perbuatan-Nya dan kehendak-Nya dan apa yang berdiri pada-Nya. Dan maqdhi adalah maf’ul-Nya yang terpisah dari-Nya yang tidak melekat pada-Nya. Dan itulah yang mengandung kebaikan dan keburukan, penyimpangan dan kelurusan.

Maka ketetapan-Nya semuanya adalah kebenaran. Dan yang ditetapkan: sebagiannya kebenaran, dan sebagiannya kebatilan. Ketetapan-Nya semuanya adalah keadilan. Dan yang ditetapkan: sebagiannya keadilan, dan sebagiannya kezaliman. Ketetapan-Nya semuanya diridhai. Dan yang ditetapkan: sebagiannya diridhai, dan sebagiannya dimurkai. Ketetapan-Nya semuanya diselamatkan. Dan yang ditetapkan: sebagiannya diselamatkan, dan sebagiannya diperangi.

Ini adalah pokok yang agung yang wajib diperhatikan. Dan ini adalah tempat tergelincirnya kaki sebagaimana engkau lihat. Orang yang menyimpang darinya: pastilah ia jahil terhadap hikmah, atau terhadap kekuasaan, atau terhadap perintah dan syariat. Dan berdasarkan ini diartikan perkataan penulis kitab “Al-Manazil” rahimahullah bahwa tidak boleh mencari kecacatan dalam ketetapan.

Adapun perkataannya: atau menolak dengan ilmu

Maka ini lebih sulit dari yang pertama. Karena ilmu didahulukan atas takdir dan menghukuminya. Dan tidak boleh menolak ilmu dengan ketetapan.

Maka sebaik-baik pemahaman terhadap perkataannya adalah dikatakan: ketetapan Allah dan takdir-Nya serta hukum-Nya yang bersifat kauniyah (penciptaan) tidak bertentangan dengan agama-Nya, syariat-Nya, dan hukum-Nya yang bersifat diniyah (keagamaan), sehingga terjadi pertentangan di antara keduanya. Karena ini adalah kehendak-Nya yang kauniyah, dan ini adalah iradat-Nya yang diniyah. Meskipun kedua yang dikehendaki itu mungkin saling bertentangan dan berlawanan, namun dari pengagungan terhadap masing-masing: adalah tidak menolak yang satu dengan yang lain dan tidak mempertentangkannya. Karena keduanya adalah sifat bagi Rabb Taala. Dan sifat-sifat-Nya tidak saling menolak sebagiannya dengan sebagian yang lain, meskipun dimohon perlindungan dengan sebagiannya dari sebagian yang lain. Maka semuanya dari-Nya Subhanahu. Dan Dialah yang memberikan perlindungan dari diri-Nya dengan diri-Nya, sebagaimana dikatakan oleh makhluk yang paling mengetahui tentang-Nya: “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu. Dan aku berlindung dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.” Maka ridha-Nya – meskipun memberi perlindungan dari murka-Nya – namun ia tidak membatalkannya dan tidak menolaknya. Dan hanya menolak kaitannya dengan orang yang memohon perlindungan. Sedangkan kaitannya dengan musuh-musuh-Nya tetap ada tidak hilang. Demikian pula perintah-Nya dan takdir-Nya sama. Maka perintah-Nya tidak membatalkan takdir-Nya, dan takdir-Nya tidak membatalkan perintah-Nya. Tetapi menolak apa yang telah ditetapkan-Nya dan ditakdirkan-Nya dengan apa yang diperintahkan-Nya dan dicintai-Nya. Dan itu juga termasuk ketetapan-Nya. Maka tidaklah ketetapan-Nya ditolak kecuali dengan ketetapan-Nya dan perintah-Nya. Maka ilmu tidak menolak ketetapan, melainkan yang ditetapkan. Dan ilmu serta ketetapan menolak yang ditetapkan yang telah ditakdirkan untuk ditolak dan diperintahkan.

Maka renungkanlah ini. Karena ini adalah penghambaan yang murni dan pengenalan, serta iman kepada takdir, dan penyerahan kepadanya, dan berdiri dengan perintah, serta pelaksanaannya dengan takdir. Maka tidaklah orang yang taat melaksanakan perintah Allah kecuali dengan takdir Allah. Dan tidaklah menolak takdiran Allah dengan takdir Allah dan perintah-Nya.

Adapun perkataannya: dan tidak ridha dengan ganti

Artinya bahwa pemilik pemandangan terhadap ketetapan telah sampai kepada tingkatan di mana ia tidak meminta ganti dengannya. Dan bukan termasuk orang yang menyembah Allah dengan ganti. Karena ia menyaksikan berjalannya ketetapan Allah atasnya, dan ketiadaan tindakannya terhadap dirinya, dan bahwa yang bertindak padanya secara hakiki adalah Pemilik-Nya yang haq. Maka Dialah yang menegakkannya dan mendudukkannya, dan membalikkannya ke kanan dan ke kiri. Dan hanya meminta ganti orang yang ghaib dari ketetapan dan lalai darinya. Dan itu bertentangan dengan pengagungannya. Maka termasuk pengagungannya: adalah bahwa hamba tidak ridha dengan ganti yang ia minta dengan amalnya. Karena penyaksian terhadap ketetapan dan pengagungannya mencegahnya untuk melihat bagi dirinya apa yang diganti dengannya. Inilah yang mungkin dipahami dari perkataannya tanpa keluar dari hakikat perkara. Dan Allah Subhanahu lebih mengetahui.

Pasal Tingkatan Ketiga Mengagungkan yang Haq Subhanahu

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga: mengagungkan yang Haq Subhanahu. Yaitu tidak menjadikan di bawah-Nya sebab, dan tidak melihat atas-Nya hak, atau menentang bagi-Nya pilihan.

Tingkatan ini mencakup mengagungkan Yang Menghukum Subhanahu, pemilik penciptaan dan perintah. Dan tingkatan sebelumnya mencakup mengagungkan ketetapan-Nya bukan yang ditetapkan-Nya. Dan yang pertama: mencakup mengagungkan perintah-Nya.

Dan ia menyebutkan dari pengagungan-Nya tiga perkara:

Pertama: tidak menjadikan di bawah-Nya sebab

Artinya tidak menjadikan sebab untuk sampai kepada-Nya selain-Nya. Bahkan Dialah yang menyampaikan hamba-Nya kepada-Nya. Maka tidak ada yang menyampaikan kepada Allah kecuali Allah. Dan tidak ada yang mendekatkan kepada-Nya selain-Nya. Dan tidak ada yang mendekatkan kepada-Nya selain-Nya. Dan tidak dapat sampai kepada ridha-Nya kecuali dengan-Nya. Maka tidak ada yang menunjukkan kepada Allah kecuali Allah. Dan tidak ada yang memberi petunjuk kepada-Nya selain-Nya. Dan tidak ada yang mendekatkan kepada-Nya selain-Nya. Karena Dia Subhanahu adalah yang menjadikan sebab itu sebagai sebab. Maka sebab dan kesebaban-nya serta penyampaiannya: semuanya adalah ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya.

Kedua: tidak melihat atas-Nya hak

Artinya tidak melihat bagi seseorang dari makhluk – tidak bagimu dan tidak bagi selainmu – hak atas Allah. Bahkan hak adalah bagi Allah atas makhluk-Nya. Dan dalam riwayat Israiliyat: bahwa Daud alaihissalam berkata: Ya Rabb, demi hak bapak-bapakku atas-Mu. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Wahai Daud, apa hak bapak-bapakmu atas-Ku? Bukankah Aku yang memberi petunjuk kepada mereka dan memberi karunia kepada mereka dan memilih mereka? Dan bagi-Ku-lah hak atas mereka.

Adapun hak-hak hamba atas Allah Taala: berupa pemberian pahala kepada orang yang taat kepada-Nya, dan penerimaan taubat orang yang bertaubat, dan pengabulan doa orang yang berdoa: maka itu adalah hak-hak yang Allah Subhanahu wajibkan atas diri-Nya sendiri, berdasarkan hukum janji-Nya dan ihsan-Nya, bukan bahwa itu adalah hak-hak yang mereka wajibkan atas-Nya. Maka hak yang sebenarnya adalah hak Allah atas hamba-Nya. Dan hak hamba atas-Nya adalah apa yang dituntut oleh kedermawanan-Nya dan kebaikan-Nya, serta ihsan-Nya kepadanya dengan kedermawanan-Nya dan kemurahan-Nya yang murni. Ini adalah perkataan ahli taufiq dan bashirah. Dan ini adalah pertengahan antara dua perkataan yang menyimpang yang telah disebutkan berulang kali. Dan Allah Subhanahu lebih mengetahui.

Adapun perkataannya: atau tidak menentang bagi-Nya pilihan

Artinya apabila engkau melihat Allah Azza wa Jalla telah memilih untukmu atau untuk selainmu sesuatu – baik dengan perintah-Nya dan agama-Nya, maupun dengan ketetapan-Nya dan takdir-Nya – maka janganlah menentang pilihan-Nya, bahkan ridhailah dengan pilihan apa yang dipilih-Nya untukmu. Karena itu termasuk pengagungan terhadap-Nya Subhanahu.

Dan tidak membantah terhadap-Nya takdir-Nya berupa kemaksiatan. Karena Dia Subhanahu – meskipun menakdirkannya – namun Dia tidak memilihkannya untuknya. Maka menentangnya adalah selain pilihan-Nya dari hamba. Dan itu termasuk kesempurnaan pengagungan hamba terhadap-Nya Subhanahu. Dan Allah lebih mengetahui.

Tingkatan Ilham, Paham, Wahyu, Muhaddats, dan Mimpi yang Benar

Pasal

Dan termasuk tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan ilham, dan paham, dan wahyu, dan muhaddats, dan mimpi yang benar.

Dan ini telah disebutkan di awal kitab ketika pembahasan tentang tingkatan-tingkatan hidayah. Dan kami telah menyebutkan perkataan penulis “Al-Manazil” di sana.

Pasal Tingkatan Sakinah

Sakinah dalam Kitab dan Sunnah

Pasal Tingkatan Sakinah

Dan termasuk tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Surat Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan sakinah.

Tingkatan ini termasuk tingkatan-tingkatan karunia, bukan termasuk tingkatan-tingkatan usaha. Dan Allah Subhanahu telah menyebutkan sakinah dalam kitab-Nya di enam tempat.

Pertama: firman-Nya Taala: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan (sakinah) dari Tuhanmu” (Surat Al-Baqarah: 248).

Kedua: firman-Nya Taala: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan (sakinah)-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin” (Surat At-Taubah: 26).

Ketiga: firman-Nya Taala: “Ketika dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan (sakinah)-Nya kepada-Nya dan membantunya dengan tentara yang tidak kamu lihat” (Surat At-Taubah: 40).

Keempat: firman-Nya Taala: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Surat Al-Fath: 4).

Kelima: firman-Nya Taala: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan (sakinah) atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” (Surat Al-Fath: 18).

Keenam: firman-Nya Taala: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan (sakinah)-Nya kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin” (Surat Al-Fath: 26), ayat.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah apabila menimpanya perkara-perkara yang berat: membaca ayat-ayat sakinah.

Dan aku mendengarnya berkata dalam peristiwa besar yang menimpanya dalam sakitnya, yang akal tidak mampu memikulnya – berupa peperangan dengan roh-roh syaithaniyah yang menampakkan diri padanya ketika itu dalam keadaan lemahnya kekuatan – ia berkata: Ketika perkara itu berat atasku, aku berkata kepada kerabatku dan orang-orang di sekitarku: Bacalah ayat-ayat sakinah. Ia berkata: Kemudian lepas dariku keadaan itu, dan aku duduk dan tidak ada sedikitpun keluhan padaku.

Dan aku juga telah mencoba membaca ayat-ayat ini ketika hati gelisah dengan apa yang menimpanya, maka aku melihat pengaruh yang besar pada ayat-ayat itu dalam ketenangan dan ketenteramannya.

Dan asal sakinah adalah ketenteraman dan ketenangan, serta ketenangan yang diturunkan Allah dalam hati hamba-Nya ketika gelisahnya akibat beratnya ketakutan-ketakutan. Maka ia tidak terguncang setelah itu dengan apa yang menimpanya. Dan menyebabkan bertambahnya iman, dan kuatnya keyakinan serta keteguhan.

Dan karena itulah Dia Subhanahu mengabarkan tentang penurunannya kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dan kepada orang-orang mukmin di tempat-tempat kegelisahan dan keguncangan. Seperti hari hijrah, ketika ia dan sahabatnya di dalam gua dan musuh berada di atas kepala mereka. Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya niscaya akan melihat keduanya. Dan seperti hari Hunain, ketika mereka berbalik lari karena beratnya serangan orang-orang kafir, tidak ada seorangpun dari mereka yang menoleh kepada yang lain. Dan seperti hari Hudaibiyah ketika hati mereka gelisah karena keputusan orang-orang kafir atas mereka, dan masuknya mereka di bawah syarat-syarat mereka yang tidak dapat dipikul oleh jiwa-jiwa. Dan cukuplah bagimu kelemahan Umar radhiyallahu anhu dalam memikulnya – dan dia adalah Umar – sehingga Allah menetapkannya dengan Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Setiap sakinah dalam Al-Quran adalah ketenteraman, kecuali yang ada di Surat Al-Baqarah.

Dan dalam Shahihain dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam memindahkan dari tanah parit, hingga tanah menutupi kulit perutnya. Dan beliau bersenandung dengan kalimat” Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu:

Ya Allah seandainya bukan karena Engkau, kami tidak mendapat petunjuk … Dan tidak bersedekah dan tidak shalat

Maka turunkanlah ketenangan (sakinah) atas kami … Dan tetapkanlah kaki kami jika kami bertemu (musuh)

Sesungguhnya mereka telah berbuat zalim atas kami … Dan jika mereka menginginkan fitnah, kami menolak

Dan dalam sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kitab-kitab terdahulu: Sesungguhnya aku mengutus nabi yang ummi, bukan yang kasar dan tidak keras, dan tidak yang berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak yang berhias dengan keji, dan tidak yang banyak bicara keburukan. Aku tegakkan dia untuk setiap kebaikan. Dan aku anugerahkan kepadanya setiap akhlak yang mulia. Kemudian aku jadikan sakinah sebagai pakaiannya, dan kebaikan sebagai syiarnya, dan taqwa sebagai batinnya. Dan hikmah sebagai akalnya, dan kejujuran serta kesetiaan sebagai tabiatnya, dan pemaaf serta kebaikan sebagai akhlaknya, dan keadilan sebagai perjalanannya. Dan kebenaran sebagai syariatnya, dan petunjuk sebagai imamnya, dan Islam sebagai agamanya, dan Ahmad sebagai namanya.

Pasal Definisi Sakinah

Pasal

Penulis “Al-Manazil” berkata:

Sakinah: adalah nama untuk tiga perkara. Pertamanya: sakinah Bani Israil yang diberikan kepada mereka dalam tabut. Ahli tafsir berkata: Ia adalah angin yang berhembus. Dan mereka menyebutkan sifatnya.

Aku berkata: Mereka berbeda pendapat: apakah ia adalah zat yang berdiri dengan sendirinya, ataukah makna? Atas dua pendapat.

Salah satunya: bahwa ia adalah zat. Kemudian berbeda pendapat pemilik pendapat ini tentang sifatnya. Maka diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa ia adalah angin yang berhembus, memiliki dua kepala dan wajah seperti wajah manusia. Dan diriwayatkan dari Mujahid: bahwa ia adalah bentuk kucing yang memiliki dua sayap, dan dua mata yang memiliki sinar. Dan dua sayap dari zamrud dan zabarjad. Maka apabila mereka mendengar suaranya, mereka yakin akan kemenangan.

Dan dari Ibnu Abbas: ia adalah baskom dari emas surga. Dahulu dicuci di dalamnya hati para nabi.

Dan dari Wahb bin Munabbih: ia adalah ruh dari ruh Allah yang berbicara. Apabila mereka berselisih dalam sesuatu, ia mengabarkan kepada mereka penjelasan tentang apa yang mereka inginkan.

Dan pendapat kedua: bahwa ia adalah makna. Dan menjadi makna firman-Nya: “ketenangan (sakinah) dari Tuhanmu” (Surat Al-Baqarah: 248) artinya datangnya kepadamu adalah ketenangan bagi kalian dan ketenteraman.

Dan menurut pendapat pertama, maknanya adalah: Sesungguhnya ketenangan itu ada di dalam peti itu sendiri. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang menyambung: “Dan sisa peninggalan dari keluarga Musa dan keluarga Harun” (Surat Al-Baqarah ayat 248). Athaa bin Abi Rabaah berkata: Di dalamnya terdapat ketenangan, yaitu apa yang kalian ketahui dari berbagai ayat. Maka kalian merasa tenang karenanya. Qatadah dan Al-Kalbi berkata: Itu adalah dari kata “ketenangan”, yaitu ketentraman dari Rabb kalian. Di mana pun peti itu berada, mereka merasa tentram karenanya dan merasa tenang.

Bab: Jenis-jenis Ketenangan

Ketenangan Pertama: Ketenangan Para Nabi

Bab

Penulis berkata: Di dalamnya ada tiga hal: Bagi para Nabi merupakan mukjizat. Bagi raja-raja mereka merupakan karamah. Dan itu adalah tanda kemenangan yang mencabut hati musuh-musuh dengan suaranya karena rasa takut ketika dua barisan bertemu untuk berperang.

Karamah para wali adalah dari mukjizat para Nabi. Karena mereka mendapatkannya melalui tangan para Nabi dan karena mengikuti mereka. Maka karamah itu bagi para wali adalah karamah, dan bagi para Nabi adalah dalil. Maka karamah para wali tidak bertentangan dengan mukjizat para Nabi, sehingga perlu dicari pembeda di antara keduanya. Karena karamah itu adalah dari dalil-dalil mereka dan saksi kebenaran mereka.

Memang benar, pembeda antara apa yang dimiliki para Nabi dan apa yang dimiliki para wali itu banyak sekali. Ini bukan tempatnya untuk menyebutkannya. Dan kitab yang lain lebih cocok untuk membahasnya.

Bab: Ketenangan Kedua yang Berbicara pada Lidah Para Muhadditsin

Bab

Penulis berkata: Ketenangan kedua adalah yang berbicara pada lidah para muhadditsin. Ini bukan sesuatu yang bisa dimiliki. Ini hanyalah sesuatu dari kehalusan ciptaan Allah. Melemparkan hikmah pada lidah muhadditsin sebagaimana malaikat melemparkan wahyu pada hati para Nabi. Dan berbicara dengan inti-inti hakikat disertai dengan penyegaran rahasia-rahasia dan penyingkapan kesamaran.

Ketenangan ketika turun pada hati akan membuat hati menjadi tenteram. Anggota tubuh merasa tenang karenanya, dan khusyuk, serta memperoleh wibawa. Lidah digerakkan untuk mengucapkan kebenaran dan hikmah. Ketenangan menghalangi lidah dari mengucapkan kata-kata kotor dan keji, sia-sia dan omong kosong, serta segala kebatilan. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Kami pernah berbincang bahwa ketenangan itu berbicara pada lidah dan hati Umar.

Seringkali pemilik ketenangan mengucapkan kata-kata yang tidak didasari pemikirannya, tidak dengan pertimbangan dan tidak dengan pemberian. Dia sendiri merasa heran dengan dirinya, sebagaimana pendengarnya juga merasa heran. Dan terkadang dia tidak mengetahui setelah selesai apa yang telah keluar darinya. Paling sering hal ini terjadi ketika ada kebutuhan dan kejujuran keinginan dari penanya dan orang yang duduk bersama. Kejujuran keinginannya adalah kepada Allah, dan cepat dengan hatinya menghadap ke hadirat-Nya, bersama dengan pengosongan dirinya dari hawa nafsu, dan memurnikan nasihat kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, serta menghilangkan kepentingan pribadinya.

Siapa yang telah merasakan hal ini akan mengetahui manfaatnya dan kebesarannya. Dan buruk sangka dia terhadap apa yang dipersangkakan baik oleh orang-orang yang lalai dari banyak pembicaraan manusia.

Perkataan penulis: Dan bukan sesuatu yang dimiliki

Artinya, ini adalah anugerah dari Allah Taallah, bukan karena sebab dan bukan karena usaha. Dan bukan seperti ketenangan yang ada di dalam peti yang dipindahkan bersama mereka sesuka mereka.

Perkataannya: Melemparkan hikmah pada lidah muhadditsin, artinya mengalirkan kebenaran pada lidahnya.

Perkataannya: Sebagaimana malaikat melemparkan wahyu pada hati para Nabi alaiihimussalam.

Artinya: Bahwa ketenangan itu melalui perantaraan para malaikat, sehingga melemparkan hikmah, ketentraman, dan kebenaran ke dalam hati pemiliknya dari mereka. Sebagaimana para Nabi menerima wahyu dari Allah melalui perantaraan para malaikat. Tetapi apa yang dimiliki para Nabi adalah khusus bagi mereka. Tidak ada yang lain menyamai mereka di dalamnya. Dan itu adalah jenis yang lain.

Perkataannya: Berbicara kepada para muhadditsin dengan inti-inti hakikat, disertai penyegaran rahasia-rahasia dan penyingkapan kesamaran.

Telah disebutkan di awal kitab tentang tingkatan muhadditsin, dan bahwa pembicaraan ini adalah dari sepuluh tingkatan petunjuk. Dan bahwa muhadditsin adalah orang yang dibisikkan dalam rahasianya tentang sesuatu, lalu terjadi sebagaimana yang dibisikkan kepadanya. Hakikat-hakikat adalah hakikat iman dan suluk. Inti-intinya adalah yang paling penting dan tempat-tempat isyarat darinya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu memberikan kehidupan kepada rahasia-rahasia, sehingga hidup dan menikmatinya. Dan menyingkapkan kesamaran-kesamaran yang tidak bisa disingkapkan oleh para teolog dan ahli ushul. Maka jiwa dan hati merasa tenang karenanya. Karena itulah dinamakan ketenangan. Siapa yang tidak mendapatkan hal itu dari Allah, kesamaran-kesarangannya tidak akan tersingkap. Karena kesamaran itu tidak disingkapkan kecuali dengan ketenangan iman dan keyakinan.

Bab: Ketenangan Ketiga yaitu yang Turun pada Hati Nabi shallallahu alaihi wasallam

Bab

Penulis berkata: Ketenangan ketiga adalah yang turun pada hati Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hati orang-orang mukmin. Ini adalah sesuatu yang mengumpulkan kekuatan dan ruh, yang membuat orang yang takut merasa tenang, orang yang sedih dan gelisah terhibur. Dan orang yang bermaksiat, yang berani, dan yang keras kepala merasa tenang karenanya.

Ini adalah dari mutiara kata-katanya dan permata-permatanya yang patut diacungi jempol. Hati terikat padanya dan meraihnya dengan pengalaman yang sempurna, bukan hanya sekedar teori.

Dia menyebutkan bahwa sesuatu yang Allah turunkan ke dalam hati Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan hati hamba-hamba-Nya yang beriman ini mencakup tiga makna: Cahaya, kekuatan, dan ruh.

Dia menyebutkan tiga buahnya: Ketenangan orang yang takut karenanya, terhiburnya orang yang sedih dan gelisah dengannya, dan tunduknya pemilik kemaksiatan, keberanian melanggar, dan keras kepala karenanya.

Dengan ruh yang ada di dalamnya, hati menjadi hidup. Dengan cahaya yang ada di dalamnya, hati menjadi bercahaya, terang dan bersinar. Dengan kekuatan, hati menjadi teguh, bertekad kuat, dan bersemangat.

Cahaya menyingkapkan baginya dalil-dalil iman dan hakikat-hakikat keyakinan. Membedakan baginya antara haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, kekeliruan dan ketepatan, keraguan dan keyakinan.

Kehidupan menghasilkan kesempurnaan kewaspadaannya, kepintarannya, kehadirannya, dan terjaganya dari tidur kelalaian. Serta kesiapannya untuk menghadap-Nya.

Kekuatan menghasilkan baginya kejujuran, kebenaran makrifat, mengalahkan penyeru kepada kekeliruan dan kesulitan, mengontrol jiwa dari kegelisahan dan kepanikannya, serta terjerumus dalam kekurangan dan aib. Karena itulah dia bertambah iman dengan ketenangan di samping imannya.

Iman menghasilkan baginya cahaya, kehidupan, dan kekuatan. Dan ketiga hal ini juga menghasilkan iman. Dan mengharuskan pertambahannya. Maka iman dikelilingi oleh ketiga hal itu sebelum dan sesudahnya.

Dengan cahaya, dalil-dalil iman tersingkap. Dengan kehidupan, dia bangun dari tidur kelalaian dan menjadi waspada. Dengan kekuatan, dia mengalahkan hawa nafsu, jiwa, dan setan. Sebagaimana dikatakan:

Dan itulah anugerah-anugerah dari Yang Maha Pengasih yang tidak diperoleh dengan usaha atau usaha keras Tetapi tidak ada yang menghalangi dari bersungguh-sungguh dengan keikhlasan dan keseriusan bukan main-main Dan karunia Allah itu terbentang tetapi dengan hikmat-Nya dan dari sinilah nash memberitahukan Tidak termasuk hikmah Yang Maha Pengasih meletakkan bintang-bintang di antara batu dan tanah Maka bersyukurlah kepada Yang telah memberimu darinya karena seandainya tempat itu kosong, Rabb akan menambah

Bab: Ketenangan yang Ditenangkan olehnya Orang yang Bermaksiat

Bab

Jika ketiga hal ini terjadi dengan ketenangan – yaitu cahaya, kehidupan, dan ruh – orang yang bermaksiat merasa tenang karenanya. Dia adalah orang yang ketenangan hatinya kepada kemaksiatan dan pelanggaran karena tidak adanya ketenangan iman di dalam hatinya. Ketenangan hatinya kepada ketenangan itu menjadi pengganti ketenangan hatinya kepada syahwat dan pelanggaran. Karena dia telah menemukan di dalamnya tujuannya, yaitu kelezatan yang dicarinya dari kemaksiatan. Dan tidak ada baginya apa yang menggantikannya. Ketika ketenangan turun kepadanya, dia mendapatkan ganti dari kelezatan, ruh, dan kenikmatan ketenangan itu sebagai pengganti kelezatan kemaksiatan. Maka jiwanya merasa tenang dengannya. Hatinya rindu kepadanya. Dan dia menemukan di dalamnya ruh, kenyamanan, dan kelezatan yang tidak ada perbandingannya dengan kelezatan jasmani nafsu. Maka kelezatannya menjadi ruhani qalbi setelah sebelumnya jasmani. Maka terlepas darinya, terkurung darinya, dan diselamatkan darinya. Ketika kilatnya berkilau, dia berkata:

Kilat itu berkilau dari arah Najd maka aku berkata kepadanya: Wahai kilat, sungguh aku sibuk darimu

Dan ketika khayalannya mendatanginya di dalam kegelapan malam syahwat, lidah hatinya berseru dan menyerupai perkataannya:

Engkau mendatangiku wahai pemburu hati, padahal ini bukan waktu kunjungan, maka kembalilah dengan selamat

Jika dia mengucapkan selamat tinggal dan bertekad untuk berangkat serta berjanji akan menemui, seperti perkataan yang lain:

Dia berkata – dan dia telah bertekad untuk berangkat – apa yang kau inginkan? Maka aku berkata: Agar engkau tidak kembali

Jika ketenangan ini menyentuh hatinya, rasa takutnya menjadi tenang. Inilah perkataannya: Orang yang takut merasa tenang karenanya. Dan kesedihannya hilang, karena tidak ada kesedihan bersamanya. Itu adalah penghibur orang yang sedih dan penghilang kekhawatiran dan kesusahan. Demikian pula menghilangkan bekas kegelisahannya dan membangkitkan semangat tekadnya.

Dan menghalangi antara dia dengan keberanian melanggar perintah, antara keengganan jiwa dan ketundukan kepadanya. Wallahu a’lam.

Bab: Tingkatan Ketenangan Wibawa

Tingkatan Pertama: Ketenangan Khusyuk ketika Berdiri untuk Melayani

Bab

Penulis berkata: Adapun ketenangan wibawa yang diturunkan sebagai sifat bagi pemiliknya, maka itu adalah cahaya dari ketenangan ketiga yang telah kami sebutkan. Dan itu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Ketenangan khusyuk ketika berdiri untuk melayani, dengan memelihara, mengagungkan, dan hadir.

Ketenangan wibawa adalah jenis dari ketenangan, tetapi karena mengharuskan wibawa, Syaikh menamakannya ketenangan wibawa.

Perkataannya: Diturunkan sebagai sifat, artinya Allah Taallah menurunkannya ke dalam hati pemiliknya dan menyifatkan mereka dengannya.

Perkataannya: Maka itu adalah cahaya dari ketenangan ketiga yang telah kami sebutkan

Artinya, hasil dan buahnya. Dan darinya muncul. Sebagaimana cahaya muncul dari matahari.

Karena cahaya, kehidupan, dan kekuatan yang telah kami sebutkan menghasilkan wibawa, maka ketenangan wibawa dijadikan seperti cahaya bagi ketenangan itu. Karena itu adalah tanda terjadinya dan dalil atasnya. Seperti petunjuk cahaya atas sumbernya.

Perkataannya: Tingkatan pertama: Ketenangan khusyuk ketika berdiri untuk melayani

Dia bermaksud dengannya wibawa dan khusyuk yang terjadi bagi pemilik tingkatan ihsan.

Karena iman mengharuskan khusyuk dan mengajak kepadanya, Allah Taallah berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (Surat Al-Hadid ayat 16). Dia memanggil mereka dari tingkatan iman kepada tingkatan ihsan. Artinya: Belumkah tiba waktunya bagi mereka untuk sampai kepada ihsan dengan iman? Dan terwujudnya itu dengan khusyuknya mereka terhadap dzikir-Nya yang telah diturunkan kepada mereka?

Perkataannya: Memelihara, mengagungkan, dan hadir. Ini adalah tiga perkara.

Mewujudkan khusyuk dalam pelayanan. Yaitu memelihara hak-haknya yang zahir dan batin. Maka tidak akan hilang karena khusyuk dan wibawa.

Kedua: Mengagungkan pelayanan dan memuliakannya. Dan itu mengikuti pengagungan Dzat yang disembah, pemuliaan-Nya, dan wibawa-Nya. Maka seukuran pengagungannya di dalam hati hamba, pemuliaan-Nya, dan wibawa-Nya, demikianlah pengagungannya terhadap pelayanan-Nya, pemuliaan, dan pemeliharaannya.

Ketiga: Hadir. Yaitu menghadirkan hati di dalamnya dengan menyaksikan Dzat yang disembah seakan-akan dia melihat-Nya.

Maka ketiga hal ini menghasilkan baginya ketenangan wibawa. Wallahu Subhanahu a’lam.

Pasal Tingkatan Kedua Ketenangan Ketika Bermuamalah dengan Menghisab Jiwa

Pasal

Ia berkata: Tingkatan kedua adalah ketenangan ketika bermuamalah dengan menghisab jiwa, berlemah lembut dengan makhluk, dan muraqabah kepada Allah.

Tingkatan ini adalah yang menjadi perhatian para ahli tasawuf, dan ilmu yang mereka tekuni untuk muamalah yang ada antara mereka dengan Allah, dan antara mereka dengan makhluk-Nya. Tingkatan ini terwujud dengan tiga perkara:

Pertama: Menghisab jiwa, sehingga ia mengetahui apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya. Dan tidak membiarkan jiwa itu larut dalam hak-hak orang lain secara berlebihan, sehingga menyia-nyiakannya dan mengabaikannya.

Juga, kesucian dan kesuciannya bergantung pada penghisaban terhadapnya. Maka jiwa tidak akan suci, tidak akan bersih, dan tidak akan baik sama sekali kecuali dengan menghisabnya. Al-Hasan semoga Allah meridainya berkata: Sesungguhnya orang mukmin – demi Allah – tidak akan engkau lihat kecuali sedang menghisab dirinya sendiri: Apa tujuanku dengan ucapan ini? Apa tujuanku dengan makanan ini? Apa tujuanku dengan masuk ke tempat ini dan keluar dari tempat itu? Apa tujuanku dengan ini? Apa urusanku dengan ini? Demi Allah aku tidak akan mengulangi ini lagi. Dan semacam perkataan ini.

Maka dengan menghisabnya, ia dapat mengetahui aib-aib dan kekurangan-kekurangannya. Sehingga ia bisa berusaha memperbaikinya.

Kedua: Berlemah lembut dengan makhluk. Yaitu memperlakukan mereka dengan kelembutan yang ia sendiri ingin diperlakukan dengannya. Dan tidak memperlakukan mereka dengan kasar, keras, dan kaku. Karena hal itu akan membuat mereka menjauh darinya. Dan akan membuat mereka membencinya. Dan akan merusak hatinya, keadaannya dengan Allah, dan waktunya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati daripada memperlakukan manusia dengan kelembutan. Karena memperlakukan manusia dengan itu: jika orang asing, maka engkau akan mendapatkan persahabatan dan kecintaannya; jika teman dan kekasih, maka engkau akan menjaga persahabatan dan persaudaraannya; dan jika musuh dan pembenci, maka engkau akan memadamkan bara apinya dengan kelembutan, dan terhindar dari kejahatannya. Dan engkau akan lebih mudah menanggung kepedihan kelembutan kepadanya daripada menanggung bahaya yang menimpamu akibat kekerasan dan kekasaran kepadanya.

Ketiga: Muraqabah kepada Allah. Inilah yang mewajibkan setiap kebaikan dan perbaikan, baik yang cepat maupun yang tertunda. Dan tidak akan sempurna dua tingkatan pertama kecuali dengan ini. Inilah yang menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Sedangkan yang sebelumnya adalah wasilah kepadanya dan pertolongan untuknya. Maka muraqabah kepada Allah Maha Suci dan Maha Tinggi mengharuskan perbaikan jiwa dan kelembutan kepada makhluk.

Pasal Tingkatan Ketiga Ketenangan yang Menetapkan Ridha terhadap Pembagian

Pasal

Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah ketenangan yang menetapkan ridha terhadap pembagian, mencegah dari ucapan-ucapan yang berlebihan, dan menghentikan pemiliknya pada batas kedudukannya. Dan ketenangan tidak turun kecuali di hati seorang nabi atau wali.

Tingkatan ketiga ini sepertinya menurut Syaikh untuk ahli kesadaran setelah mabuk. Dan bagi mereka yang telah melihat kilatan hakikat.

Maka perkataannya: “Menetapkan ridha terhadap pembagian”

Artinya mewajibkan pemiliknya untuk ridha dengan yang telah dibagikan. Dan jiwanya tidak menginginkan selain itu.

“Dan mencegah dari ucapan-ucapan yang berlebihan”

Maksudnya seperti yang dinukil dari Abu Yazid dan sejenisnya, berbeda dengan Al-Junaid, Sahl, dan orang-orang semacam mereka. Karena ketika mereka memiliki ketenangan ini, tidak keluar dari mereka ucapan-ucapan berlebihan. Dan tidak diragukan bahwa ucapan berlebihan disebabkan oleh tidak adanya ketenangan. Karena jika ketenangan menetap di hati, maka akan mencegahnya dari ucapan berlebihan dan sebab-sebabnya.

Perkataannya: “Dan menghentikan pemiliknya pada batas kedudukannya”

Artinya mewajibkan pemiliknya untuk berhenti pada batasnya dari kedudukan penghambaan. Maka ia tidak melampaui kedudukan dan batas penghambaan.

Perkataannya: “Dan ketenangan tidak turun kecuali pada hati seorang nabi atau wali”

Dan itu karena ketenangan termasuk karunia dan pemberian terbesar dari Allah, dan termasuk hadiah-Nya yang paling agung. Karena itu, Allah tidak menjadikannya dalam Al-Quran kecuali untuk Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan untuk orang-orang mukmin sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Maka barangsiapa yang diberi ketenangan, sungguh telah dikenakan kepadanya pakaian kewalian, dan diberi surat pengangkatannya.

Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Dan kepada-Nya kita bertawakal. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Pasal Tingkatan Tuma’ninah (Ketentraman)

Hakikat Tuma’ninah

Pasal Tingkatan Tuma’ninah

Termasuk tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Surah Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan tuma’ninah.

Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Surah Ar-Ra’d: 28). Dan Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Surah Al-Fajr: 27-30).

Tuma’ninah adalah ketenangan hati terhadap sesuatu dan tidak adanya kegoncangan dan kegelisahannya. Termasuk dari itu adalah atsar yang terkenal “Kejujuran adalah ketentraman, dan kedustaan adalah keraguan” artinya kejujuran membuat hati pendengar tenteram kepadanya dan ia merasakan ketenangan kepadanya. Dan kedustaan menimbulkan kegoncangan dan keraguan. Termasuk dari itu adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Kebaikan adalah apa yang membuat hati tenteram” artinya hati tenang kepadanya dan hilang darinya kegoncangan dan kegelisahannya.

Dan dalam “mengingat Allah” di sini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: bahwa yang dimaksud adalah dzikir hamba kepada Tuhannya. Karena hatinya tenteram dan tenang kepadanya. Maka jika hati bergoncang dan gelisah, maka tidak ada yang bisa menenangkannya selain dzikir kepada Allah.

Kemudian para pendukung pendapat ini berbeda pendapat di dalamnya.

Sebagian dari mereka berkata: Ini dalam hal sumpah. Jika orang mukmin bersumpah tentang sesuatu, maka hati orang-orang mukmin tenang dan tenteram kepadanya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas semoga Allah meridai keduanya.

Dan sebagian dari mereka berkata: Bahkan yang dimaksud adalah dzikir hamba kepada Tuhannya antara dirinya dan Tuhannya, hatinya tenang dan tenteram kepadanya.

Pendapat kedua: bahwa dzikir Allah di sini adalah Al-Quran. Yaitu dzikir-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Dengannya hati orang-orang mukmin menjadi tenteram. Karena hati tidak tenteram kecuali dengan iman dan keyakinan. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan iman dan keyakinan kecuali dari Al-Quran. Karena ketenangan dan ketentraman hati berasal dari keyakinannya, dan kegoncangan dan kegelisahannya berasal dari keraguannya. Dan Al-Quran adalah yang menghasilkan keyakinan, yang menolak keraguan, prasangka, dan wahm. Maka hati orang-orang mukmin tidak tenteram kecuali dengannya. Dan pendapat ini adalah yang dipilih.

Demikian juga dua pendapat dalam firman Allah: “Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Quran), Kami biarkan setan (menyesatkannya) maka ia menjadi teman yang selalu menyertainya” (Surah Az-Zukhruf: 36).

Dan yang benar: bahwa dzikir-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya – yaitu Kitab-Nya – barangsiapa yang berpaling darinya, maka disiapkan untuknya setan yang menyesatkannya dan menghalanginya dari jalan yang benar, dan ia mengira bahwa ia berada dalam petunjuk.

Demikian juga dua pendapat dalam firman Allah: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (Surah Thaha: 124).

Dan yang benar: bahwa yang dimaksud adalah dzikir-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya – yaitu Kitab-Nya – karena itu orang yang berpaling darinya berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan demikian (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” (Surah Thaha: 125-126).

Adapun takwil orang yang mentakwilkannya tentang sumpah, maka sangat jauh dari maksud yang dimaksudkan. Karena dzikir Allah dengan sumpah terjadi pada lisan orang yang jujur dan pembohong, orang yang baik dan yang jahat. Dan orang-orang mukmin hatinya tenteram kepada orang yang jujur meskipun ia tidak bersumpah. Dan hati mereka tidak tenteram kepada orang yang mereka ragukan meskipun ia bersumpah.

Dan Allah menjadikan tuma’ninah di hati dan jiwa orang-orang mukmin, dan menjadikan kebahagiaan, pujian, dan kabar gembira masuk surga untuk ahli tuma’ninah. Maka berbahagialah mereka dan sebaik-baik tempat kembali.

Dan dalam firman Allah: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu” (Surah Al-Fajr: 27-28) ada dalil bahwa jiwa tidak kembali kepada-Nya kecuali jika ia tenang. Maka di situlah ia kembali kepada-Nya, masuk ke dalam hamba-hamba-Nya, dan masuk ke dalam surga-Nya. Dan termasuk doa sebagian salaf: Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku jiwa yang tenang kepada-Mu.

Pasal Definisi Ibnu Qayyim tentang Tuma’ninah

Pasal

Penulis kitab “Manazil” berkata:

Tuma’ninah adalah ketenangan yang diperkuat oleh rasa aman yang benar, menyerupai melihat langsung. Dan antara tuma’ninah dengan sakinah ada dua perbedaan:

Pertama: bahwa sakinah adalah kekuatan yang menimbulkan padamnya rasa takut kadang-kadang. Sedangkan tuma’ninah adalah ketenangan rasa aman dalam ketentraman dengan keintiman.

Kedua: bahwa sakinah terkadang menjadi sifat dan terkadang muncul dari waktu ke waktu. Sedangkan tuma’ninah tidak meninggalkan pemiliknya.

Tuma’ninah adalah akibat dari sakinah dan salah satu dampaknya. Dan sepertinya ia adalah puncak dari sakinah.

Maka perkataannya: “Ketenangan yang diperkuat oleh rasa aman” artinya ketenangan hati dengan kekuatan rasa aman yang benar yang bukan rasa aman tipu daya. Karena hati bisa saja tenang dengan rasa aman tipu daya, tetapi ia tidak tenteram dengannya karena ketenangan itu meninggalkannya. Sedangkan tuma’ninah tidak meninggalkannya, karena ia diambil dari mukim (menetap). Dikatakan: athmaa’na di tempat dan kediaman, jika ia menetap di sana.

Dan sebab benarnya rasa aman yang memperkuat ketenangan ini adalah menyerupai melihat langsung, sehingga tidak tersisa bersamanya sesuatu pun dari kemungkinan prasangka dan wahm. Bahkan pemiliknya seakan-akan menyaksikan apa yang membuatnya tenteram. Maka ia aman dari kegoncangan hatinya, kegelisahannya, dan keraguannya.

Adapun dua perbedaan yang disebutkannya antara tuma’ninah dan sakinah, maka intisari perbedaan pertama adalah: bahwa sakinah mengalahkan rasa takut yang ada di hati, sehingga memadamkannya pada beberapa waktu. Maka hati tenang dari kegoncangan rasa takut dengan sedikit ketenangan. Dan itu pada beberapa waktu saja, tidak terus-menerus dan tidak berkelanjutan. Dan ini terjadi pada ahli tuma’ninah secara terus-menerus, dan disertai dengan rasa aman dan ketentraman dengan adanya keintiman. Karena ketentraman dalam sakinah mungkin hanya dari rasa takut saja. Sedangkan ketentraman dalam tingkatan tuma’ninah disertai dengan tambahan keintiman. Dan itu di atas sekadar rasa aman dan merupakan tingkat tambahan darinya.

Dan intisari perbedaan kedua adalah: bahwa tuma’ninah adalah malakah (sifat yang menetap) dan tingkatan yang tidak meninggalkan. Sedangkan sakinah terbagi menjadi sakinah yang merupakan tingkatan dan sifat yang tidak hilang, dan sakinah yang terjadi pada waktu tertentu tanpa waktu lainnya. Ini intisari perkataannya.

Dan yang tampak bagiku dalam perbedaan antara keduanya ada dua hal, selain yang disebutkan:

Pertama: bahwa kemenangannya dan pencapaiannya terhadap yang diinginkannya yang dengannya ia mendapatkan sakinah adalah seperti orang yang berhadapan dengan musuh yang ingin menghancurkannya, lalu musuhnya melarikan diri darinya, maka kegelisahannya hilang. Sedangkan tuma’ninah adalah seperti benteng yang ia lihat terbuka lalu ia memasukinya dan aman di dalamnya, dan ia menjadi kuat dengan pemiliknya dan perlengkapannya. Maka hati memiliki tiga keadaan:

Pertama: takut, goncang, dan gelisah dari sesuatu yang datang yang membuatnya goncang dan gelisah.

Kedua: hilangnya sesuatu yang datang yang membuatnya goncang dan gelisah darinya dan ketiadaannya.

Ketiga: kemenangannya dan pencapaiannya terhadap yang diinginkannya yang sesuatu yang datang itu menghalangi antara dirinya dan yang diinginkannya.

Dan masing-masing mengharuskan yang lain dan menyertainya. Maka tuma’ninah mengharuskan sakinah dan tidak meninggalkannya. Dan demikian juga sebaliknya. Tetapi keharusan tuma’ninah terhadap sakinah lebih kuat daripada keharusan sakinah terhadap tuma’ninah.

Kedua: bahwa tuma’ninah lebih umum, karena ia mencakup ilmu, berita tentangnya, keyakinan, dan kemenangan terhadap yang diketahui. Karena itu hati-hati menjadi tenteram dengan Al-Quran ketika mereka mendapatkan iman kepadanya, mengenalnya, dan petunjuk dengannya dalam kegelapan pendapat dan mazhab. Dan mereka mencukupkan diri dengannya darinya, dan menjadikannya sebagai hakim atas mereka dan memberhentikan diri mereka. Dan menjadikan untuknya semua kewenangan sebagaimana Allah menjadikannya. Maka dengan Al-Quran mereka berdebat, dan kepadanya mereka berhukum, dan dengannya mereka menyerang, dan dengannya mereka menolak syubhat.

Adapun sakinah, maka ia adalah keteguhan hati ketika rasa takut menyerangnya, dan ketenangan dan hilangnya kegelisahan dan kegoncangannya, sebagaimana yang terjadi pada hizbullah ketika berhadapan dengan musuh dan serangannya. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bab: Tingkatan-tingkatan Ketenangan Jiwa

Tingkatan Pertama: Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah

Ia berkata: Dan itu terdiri atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ketenangan hati dengan mengingat Allah. Yaitu ketenangan orang yang takut menuju harapan, orang yang gelisah menuju ketetapan, dan orang yang diuji menuju pahala.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa ketenangan dengan mengingat Allah adalah melalui firman-Nya dan kitab-Nya, dan tidak diragukan lagi bahwa yang disebutkan pada tingkatan ini adalah bagian dari ketenangan dengan mengingat-Nya, yang lebih penting dari itu. Maka disebutkan ketenangan orang yang takut menuju harapan, karena sesungguhnya orang yang takut ketika rasa takutnya berkepanjangan dan semakin kuat, dan Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk memberikan ketenangan dan meringankannya, Allah menurunkan ketenangan kepadanya, maka hatinya merasa tenteram dengan harapan dan tenang karenanya, sehingga kobaran rasa takutnya menjadi reda.

Adapun ketenangan orang yang gelisah menuju ketetapan:

Yang dimaksud dengannya adalah: bahwa orang yang dirundung kegelisahan karena beratnya beban taklif (beban kewajiban syariat), beban perintah dan beratnya—terutama bagi orang yang ditempatkan pada posisi untuk menyampaikan ajaran Allah, dan berjihad melawan musuh-musuh Allah, dan para penjahat di jalan menuju-Nya—maka sesungguhnya apa yang ia pikul dan tanggung melebihi apa yang dipikul dan ditanggung oleh manusia pada umumnya. Maka tidak terelakkan ia akan merasa gelisah, dan kesabarannya melemah. Apabila Allah berkehendak untuk memberikan ketenangan dan meringankannya, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya, sehingga ia tenang dengan ketetapan-Nya yang syar’i dan ketetapan-Nya yang takdiri. Dan tidak ada ketenangan baginya tanpa menyaksikan kedua ketetapan tersebut. Dan sesuai dengan penyaksiannya terhadap keduanya, demikian pula ketenangan yang ia peroleh.

Karena apabila ia tenang dengan ketetapan-Nya yang syar’i, ia mengetahui bahwa itu adalah agama-Nya yang benar, dan itu adalah jalan-Nya yang lurus, dan Dia-lah yang akan menolongnya dan menolong pengikut-Nya serta mencukupi mereka dan menjadi pelindung mereka.

Dan apabila ia tenang dengan ketetapan-Nya yang takdiri: ia mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan baginya, dan sesungguhnya apa yang Dia kehendaki akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Maka tidak ada alasan untuk panik dan gelisah kecuali karena lemahnya keyakinan dan keimanan. Karena bahaya dan ketakutan: jika tidak ditakdirkan maka tidak mungkin terjadi, dan jika sudah ditakdirkan maka tidak mungkin dapat ditolak setelah takdir itu ditetapkan dengan pasti. Maka tidak ada kepanikan saat itu, baik terhadap apa yang ditakdirkan maupun apa yang tidak ditakdirkan.

Benar, jika ia memiliki cara untuk menghadapi musibah ini, maka tidak sepantasnya ia gelisah karenanya, dan jika tidak ada cara untuk menghadapinya, maka tidak sepantasnya ia gelisah karenanya. Inilah ketenangan orang yang gelisah menuju ketetapan. Dan dalam hal seperti ini seorang penyair berkata:

Apa yang telah ditakdirkan wahai jiwaku, maka bersabarlah menghadapinya
Dan bagimu keamanan dari apa yang belum ditakdirkan
Dan yakinlah bahwa yang ditakdirkan pasti terjadi
Berjalan padamu, baik kau berjaga-jaga atau tidak

Adapun ketenangan orang yang diuji menuju pahala:

Maka tidak diragukan bahwa orang yang diuji, apabila penghayatannya terhadap pahala semakin kuat, hatinya menjadi tenang dan tenteram dengan melihat ganjaran. Dan sesungguhnya ujian menjadi berat baginya ketika ia lalai dari memperhatikan pahala. Dan terkadang perhatian terhadap ganjaran menjadi begitu kuat sehingga ia merasakan kenikmatan dalam ujian dan melihatnya sebagai nikmat, dan janganlah engkau memandang ini aneh. Karena banyak orang berakal ketika ia yakin akan manfaat obat yang pahit, maka ia hampir menikmatinya. Dan perhatiannya terhadap manfaatnya membuatnya lupa dari rasa sakitnya atau meringankannya. Dan amalan yang diandalkan sesungguhnya adalah berdasarkan bashirah (pandangan hati). Dan Allah Maha Mengetahui.

Bab: Tingkatan Kedua: Ketenangan Ruh dalam Menuju Penyingkapan

Bab. Ia berkata: Tingkatan kedua: ketenangan ruh dalam menuju penyingkapan, dalam kerinduan menuju janji, dan dalam perpecahan menuju kesatuan.

Ketenangan ruh adalah bahwa ia tenang dalam keadaan menuju tujuannya, dan tidak menoleh ke belakang.

Yang dimaksud dengan penyingkapan adalah: penyingkapan hakikat, bukan penyingkapan parsial yang rendah. Dan itu ada tiga tingkatan.

Penyingkapan tentang jalan yang mengantarkan kepada yang dituju, yaitu penyingkapan tentang hakikat-hakikat keimanan dan syariat-syariat Islam.

Dan penyingkapan tentang yang dituju dan dimaksud dalam perjalanan: yaitu pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, dua jenis tauhid dan rinciannya, serta memelihara hal itu dengan sebenar-benar pemeliharaan.

Dan tidak ada di balik itu kecuali klaim-klaim kosong, perkataan ekstrem, dan kekeliruan.

Dan ucapannya: Dan dalam kerinduan menuju janji.

Maksudnya bahwa ruh tampak dalam kerinduannya kepada apa yang telah dijanjikan kepadanya dan dirindukan untuknya, maka ketenagannya dengan janji tersebut meredakan kobaran kerinduannya. Dan ini adalah keadaan setiap orang yang merindukan kekasih yang dijanjikan akan ditemuinya, sesungguhnya ruhnya memperoleh ketenangan dengan tenang kepada janji perjumpaan dan mengetahui terwujudnya apa yang dijanjikan.

Ucapannya: Dan dalam perpecahan menuju kesatuan.

Artinya bahwa ruh menjadi tenang dalam keadaan terpecahnya kepada kesatuan yang biasa dialaminya, dengan ruhnya yang datang kepadanya sehingga ia tenang kepadanya dan tenteram dengannya, sebagaimana orang yang sangat lapar menjadi tenang kepada makanan yang ada padanya dan hatinya tenang karenanya. Dan ini hanya terjadi bagi orang yang telah mendekati kesatuan dari balik tirai yang tipis dan melihat kilatan cahayanya, sehingga ia tenang dengan terwujudnya. Adapun orang yang antara dirinya dan kesatuan tersebut ada hijab-hijab yang tebal, maka ia tidak akan tenang dengannya.

Bab: Tingkatan Ketiga: Ketenangan Penyaksian Hadirat menuju Kelembutan

Bab.

Ia berkata: Tingkatan ketiga: ketenangan penyaksian hadirat menuju kelembutan. Dan ketenangan kesatuan menuju kebaqa-an. Dan ketenangan tingkatan menuju cahaya azali.

Tingkatan ketiga ini berkaitan dengan fana dan baqa, maka orang yang sampai kepada penyaksian hadirat tenang kepada kelembutan Allah. Dan hadirat kesatuan yang mereka maksud adalah penyaksian Dzat.

Karena penyaksian menurut mereka memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan kaitannya. Penyaksian perbuatan-perbuatan adalah tingkatan pertama penyaksian. Kemudian di atasnya: penyaksian nama-nama dan sifat-sifat. Kemudian di atasnya: penyaksian Dzat yang mencakup perbuatan-perbuatan, nama-nama dan sifat-sifat. Dan tajalli menurut kaum sufi sesuai dengan ketiga penyaksian ini.

Pemilik tajalli perbuatan: pandangan mereka adalah tauhid rububiyah. Pemilik tajalli nama-nama dan sifat-sifat: pandangan mereka adalah tauhid uluhiyah. Dan pemilik tajalli Dzat: Dia mencukupi mereka dari diri mereka sendiri.

Dan terkadang menimpa sebagian dari mereka—karena kuatnya datangnya hal tersebut dan lemahnya tempat—ketidakmampuan untuk berdiri dan bergerak. Maka mungkin ia mengabaikan sebagian kewajiban, dan ini memiliki hukum seperti orang-orang yang tidak mampu dan menunda-nunda. Dan yang sempurna di antara mereka mungkin beristirahat pada saat itu dari amalan-amalan yang berat, dan hanya melakukan kewajiban-kewajiban beserta sunnah-sunnahnya dan hak-haknya. Dan penyaksian serta tajalli tersebut tidak membuat mereka duduk meninggalkannya. Dan mereka tidak mengutamakan atas hal itu sesuatu pun dari amalan-amalan sunnah dan gerakan-gerakan yang tidak ditawarkan kepada mereka sama sekali. Dan hal itu dalam jalan mereka adalah kembali dan terputus.

Dan yang lebih sempurna dari mereka adalah: orang yang disertai hal itu dalam keadaan gerakan-gerakannya dan amalan-amalan sunnahnya. Sehingga ia tidak mengabaikan sedikit pun dari wirid-wiridnya. Dan Allah Subhanahu telah membedakan antara kekuatan-kekuatan hati lebih keras daripada perbedaan kekuatan-kekuatan badan. Dan dalam segala sesuatu ada tanda-Nya. Dan pemilik tingkatan ini adalah tanda dari tanda-tanda Allah bagi pemilik akal dan bashirah.

Dan yang dimaksud: bahwa seandainya tidak karena ketenagannya kepada kelembutan Allah, penyaksian hadirat akan membinasakannya dan memusnahkannya sama sekali. Maka Musa jatuh pingsan ketika Tuhannya bertajalli kepada gunung, dan gunung itu hancur luluh dan tenggelam ke dalam bumi karena tajalli-Nya Subhanahu.

Ini, dan jangan ada yang mengira bahwa yang terjadi di dunia bagi manusia seperti itu, atau mendekatinya sama sekali. Sesungguhnya hanya ma’rifat, dan dominasi tingkatan ihsan atas hati saja.

Dan hindarilah omong kosong kaum sufi, khayalan-khayalan mereka dan kecerobohan mereka, dan jika mereka menyebutmu terhalang, maka katakanlah: Ya Allah, tambahkanlah bagiku dari hijab ini yang tidak ada di baliknya kecuali khayalan-khayalan, omong kosong dan perkataan ekstrem. Karena Kaliimurrahman (Musa) sendiri dengan ini tidak ditajalli oleh Dzat untuknya, dan Tuhannya memperlihatkan kepadanya bahwa ia tidak akan tahan dengan tajalli Dzat-Nya, ketika memperlihatkan kepadanya keadaan gunung, dan Kalim jatuh pingsan, ketika ia melihat apa yang ia lihat dari keadaan gunung saat Tuhannya bertajalli kepadanya. Dan itu bukan tajalli yang mutlak.

Adh-Dhahhak berkata: Allah menampakkan dari cahaya hijab seperti lubang hidung sapi. Dan Abdullah bin Salam semoga Allah meridhainya dan Ka’ab Al-Ahbar berkata: Tidaklah bertajalli dari keagungan Allah kepada gunung kecuali sebesar lubang jarum hingga menjadi hancur luluh.

Dan As-Suddi berkata: Tidaklah bertajalli kecuali sebesar jari kelingking. Dan dalam Mustadrak Al-Hakim dari hadits Tsabit Al-Bunani dari Anas semoga Allah meridhainya: “Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca ayat ini, dan berkata: Begini—dan meletakkan ibu jari pada ruas atas jari kelingking—maka tenggelamlah gunung.” Dan sanadnya sesuai syarat Muslim. Dan ketika ia menceritakannya dari Tsabit, sebagian sahabatnya memandangnya besar dan berkata: Kamu menceritakan ini? Maka ia memukul tangannya ke dadanya dan berkata: Tsabit menceritakannya dari Anas dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan kamu mengingkarinya, dan aku tidak menceritakannya?

Maka jika orang-orang yang tertipu menyaksikan untukmu bahwa kamu terhalang dari omong kosong dan khayalan-khayalan mereka, maka kesaksian itu adalah kesaksian bagimu dengan istiqamah. Maka janganlah kamu merasa terpencil karenanya. Dan dengan Allah-lah taufik. Dan Dia-lah yang dimohon pertolongan.

Bab: Ketenangan Kesatuan menuju Kebaqa-an

Bab.

Adapun ketenangan kesatuan menuju kebaqa-an, maka itu adalah pandangan yang mulia dan utama, dan itu adalah pandangan orang-orang yang sempurna. Karena sesungguhnya hadirat kesatuan menghilangkan jejak-jejak, dan menghapus perubahan-perubahan, dan menghalangi antara yang menyaksikan dengan penglihatan hati terhadap makhluk. Sehingga ia melihat Al-Haq Subhanahu sendirian, berdiri dengan Dzat-Nya, dan ia melihat segala sesuatu berdiri dengan-Nya, Esa dalam keberagaman nama-nama-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan sifat-sifat-Nya. Dan ia tidak melihat bersama-Nya selain-Nya dan tidak menyaksikannya, kebalikan dari keadaan orang yang menyaksikan selain-Nya.

Dan urusan bukanlah dalam penyaksian ini, karena pemiliknya dalam tingkatan fana. Jika ia tidak berpindah darinya kepada tingkatan baqa, maka ia terputus sama sekali. Maka dalam tingkatan ini: jika ia tidak tenang dengan terwujudnya baqa, maka ia akan mengabaikan perintah dan melepaskan tali penghambaan dari lehernya. Apabila ia tenang dengan baqa dengan ketenangan orang yang mengetahui bahwa ia harus memilikinya, dan jika tidak menyertainya maka ia akan rusak dan binasa—maka ini adalah ketenangan kesatuan menuju baqa. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bab: Ketenangan Tingkatan menuju Cahaya Azali

Bab.

Adapun ketenangan tingkatan menuju cahaya azali:

Yang ia maksudkan dengannya adalah: ketenangan tingkatannya kepada ketetapan yang telah ditetapkan sejak azal. Maka ia tidak berubah dan tidak berganti, dan karena itu ia berkata: ketenangan tingkatan, dan tidak berkata: ketenangan hal. Karena hal akan hilang dan berubah, dan seandainya ia tidak berubah maka tidak akan dinamakan hal, berbeda dengan tingkatan.

Maka apabila ia tenang kepada ketetapan dan kebaikan yang telah ditetapkan baginya dari Allah sejak azal, maka ini adalah ketenangan tingkatan menuju azal. Dan ini adalah penyaksian para pemilik baqa setelah fana. Dan Allah Maha Mengetahui.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Muhammad bin Abi Bakr Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc. & Muhammad al-Mu'tashim Billah al-Baghdadi

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 2 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB