MADARIJUS SALIKIN JILID 03/03
مَدَارِجُ السَّالِكِينَ بَيْنَ مَنَازِلِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Bab: Kedudukan Semangat (Himah)
Hakikat Semangat
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Di antara kedudukan-kedudukan dari “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan semangat (himah).
Penulis kitab Manāzil as-Sā’irīn telah memulai bab ini dengan firman Allah Ta’ala: “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya” (QS. An-Najm: 17).
Telah disebutkan sebelumnya bahwa beliau memulai bab Adab dengan ayat ini, dan kami telah menjelaskan alasannya.
Adapun alasan memulai bab tentang “Semangat” dengan ayat ini adalah untuk mengisyaratkan bahwa semangat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terkait dengan selain apa yang beliau saksikan dan apa yang beliau tetapkan di dalamnya. Seandainya semangat beliau melampaui hal itu, niscaya pandangan beliau akan mengikutinya.
Kata “himah” (semangat) adalah bentuk turunan dari kata “hamm” (keinginan kuat). Ia adalah awal dari kehendak (iradah). Namun para ulama mengkhususkannya untuk puncak kehendak. Jadi “hamm” adalah awalnya, sedangkan “himah” adalah puncaknya.
Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dalam sebagian atsar Ilahi, Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku tidak melihat kepada perkataan orang yang bijaksana, tetapi Aku melihat kepada semangatnya.’”
Beliau berkata: “Orang awam mengatakan: ‘Nilai setiap orang adalah sesuai dengan apa yang ia kuasai.’ Sedangkan orang khusus mengatakan: ‘Nilai setiap orang adalah sesuai dengan apa yang ia cari.’ Maksudnya: nilai seseorang adalah sesuai dengan semangat dan tujuannya.”
Penulis kitab Manāzil berkata: “Semangat adalah sesuatu yang menguasai dorongan menuju tujuan secara murni. Pemiliknya tidak dapat menahan diri dan tidak berpaling darinya.”
Maksud dari “menguasai dorongan menuju tujuan” adalah ia menguasainya seperti penguasaan pemilik atas miliknya. Kata “secara murni” artinya khalis dan murni.
Yang dimaksud adalah: apabila semangat seorang hamba terkait dengan Allah Ta’ala dengan pencarian yang jujur, ikhlas, dan murni, maka itulah semangat yang tinggi. Pemiliknya tidak dapat menunda, tidak dapat bersabar karena kuatnya penguasaan semangat itu atasnya dan kekuatan tuntutannya untuk mencari tujuan yang dimaksud. Ia tidak berpaling darinya kepada selain hukum-hukumnya. Pemilik semangat seperti ini cepat sampai dan mendapatkan tujuannya, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya dan ikatan-ikatan yang memutusnya. Wallahu a’lam.
BAB: TINGKATAN-TINGKATAN SEMANGAT
Tingkat Pertama: Semangat yang Menjaga Hati dari Kesendirian Keinginan terhadap yang Fana
Penulis berkata: “Semangat itu ada tiga tingkatan. Tingkat pertama: semangat yang menjaga hati dari kesendirian keinginan terhadap yang fana, memikul hati untuk berkeinginan pada yang kekal, dan membersihkannya dari kotoran kemalasan.”
Yang fana adalah dunia dan segala isinya. Artinya membuat hati zuhud (tidak tertarik) kepadanya dan kepada penghuninya. Ia menyebut keinginan kepadanya sebagai “kesendirian” karena dunia dan penghuninya membuat hati-hati orang yang menginginkannya dan hati-hati orang yang zuhud terhadapnya merasa kesepian.
Adapun orang-orang yang menginginkannya: ruh dan hati mereka dalam kesendirian dari jasad mereka, karena kehilangan apa yang mereka diciptakan untuknya. Mereka dalam kesendirian karena kehilangan hal itu.
Adapun orang-orang yang zuhud terhadapnya: mereka melihatnya membuat mereka kesepian, karena dunia menghalangi antara mereka dengan tujuan dan kecintaan mereka. Tidak ada yang lebih menyendirikan hati selain sesuatu yang menghalangi antara hati itu dengan tujuan dan kecintaannya. Oleh karena itu, orang yang merebut harta manusia dan menuntutnya dari mereka adalah sesuatu yang paling menyendirikan dan paling dibenci oleh mereka.
Juga: orang-orang yang zuhud terhadap dunia melihatnya dengan mata hati (bashirah), sedangkan orang-orang yang berhasrat melihatnya dengan mata kepala (abshar). Maka orang zuhud merasa kesepian dengan apa yang membuat orang berhasrat merasa senang. Sebagaimana dikatakan:
“Dan apabila hati tersadar dan nafsu sembuh Hati-hati melihat sedang mata-mata kepala tidak melihat”
Demikian juga semangat ini memikul hati untuk berkeinginan pada yang kekal karena Dzat-Nya. Ia adalah Allah Yang Maha Benar, Yang Maha Suci. Dan yang kekal dengan kekekalan-Nya adalah negeri akhirat. Semangat ini membersihkan hati dari kotoran kemalasan, yaitu memurnikannya dari kotoran-kotoran kelemahan dan kemalasan yang merupakan sebab pemborosan dan kelalaian. Wallahu a’lam.
BAB: TINGKAT KEDUA – SEMANGAT YANG MEWARISKAN KEHORMATAN DARI KEPEDULIAN TERHADAP CACAT
Penulis berkata: “Tingkat kedua: semangat yang mewariskan kehormatan dari kepedulian terhadap cacat-cacat, turun pada amal, dan kepercayaan pada harapan.”
Yang dimaksud dengan cacat di sini adalah cacat-cacat amal seperti melihat amal itu sendiri, atau melihat buahnya dan menginginkannya, dan semacamnya. Sebab hal-hal itu menurut para ahli makrifat adalah cacat.
Pemilik semangat ini merasa bangga dengan semangat dan hatinya untuk peduli terhadap cacat-cacat tersebut. Karena semangatnya lebih tinggi dari itu. Kepeduliannya terhadap cacat-cacat itu dan pemikirannya tentangnya adalah penurunan tingkatan dari semangat.
Ketiadaan kepedulian ini: bisa jadi karena cacat-cacat itu tidak terjadi padanya karena tingginya semangatnya menghalangi antara dia dan cacat-cacat itu, sehingga ia tidak peduli dengan apa yang tidak terjadi padanya. Atau bisa jadi karena semangatnya yang tinggi melampaui tujuannya, dan ketinggiannya menghilangkan cacat-cacat tersebut dan mencabutnya sampai ke akar. Sebab ketika ia menggantungkan semangatnya pada sesuatu yang lebih tinggi dari cacat-cacat itu, maka semangat yang tinggi itu mencakup cacat-cacat tersebut. Lalu hukum cacat-cacat itu masuk dalam hukum semangat yang tinggi. Ini adalah tempat yang aneh dan sangat mulia. Aku tidak tahu apakah Syaikh yang dimaksud ini atau bukan.
Adapun kebanggaannya dari turun pada amal: ini adalah perkataan yang memerlukan pembatasan dan penjelasan. Yaitu bahwa orang yang tinggi semangatnya, tujuannya berada di atas tujuan para pekerja dan penyembah, dan lebih tinggi darinya. Maka ia merasa bangga untuk turun dari langit tujuannya yang tinggi ke sekadar amal dan ibadah saja, tanpa perjalanan hati kepada Allah untuk mendapatkan-Nya dan memenangi-Nya. Karena ia adalah pencari Tuhannya dengan pencarian yang sempurna dengan segala makna dan pertimbangan dalam amalnya, ibadahnya, munajatnya, tidur dan bangunnya, gerak dan diamnya, pengasingan dan pergaulannya, dan semua keadaannya. Hatinya telah diwarnai dengan tawajjuh (menghadap) kepada Allah Ta’ala dengan pewarnaan yang sempurna.
Keadaan ini hanya terjadi bagi ahli cinta yang sejati. Mereka tidak puas dengan sekadar ritual-ritual amal, dan tidak puas dengan hanya mencari pada saat amal saja.
Adapun kebanggaannya dari kepercayaan pada harapan: karena kepercayaan itu menyebabkan kelemahan dan kemalasan. Sedangkan pemilik semangat ini bukan termasuk orang seperti itu. Bagaimana mungkin? Padahal ia adalah burung yang terbang, bukan orang yang berjalan kaki. Wallahu a’lam.
BAB: TINGKAT KETIGA – SEMANGAT yang Meninggi dari Keadaan-keadaan dan Muamalah
Penulis berkata: “Tingkat ketiga: semangat yang meninggi dari keadaan-keadaan dan muamalah-muamalah, meremehkan ganjaran-ganjaran dan tingkatan-tingkatan, dan menuju dari sifat-sifat menuju Dzat.”
Artinya semangat ini lebih tinggi dari pemiliknya terkait dengan keadaan-keadaan yang merupakan bekas-bekas amal dan datangnya berbagai hal spiritual, atau terkait dengan muamalah-muamalah. Bukan berarti mengabaikannya, tetapi melaksanakannya tanpa berpaling kepadanya dan terkait dengannya.
Alasan mengapa semangat ini meninggi dari hal tersebut adalah sebagaimana yang ia sebutkan dalam perkataannya: “meremehkan ganjaran-ganjaran dan tingkatan-tingkatan, dan menuju dari sifat-sifat menuju Dzat.” Artinya pemiliknya tidak berhenti pada ganjaran atau tingkatan. Karena itu adalah penurunan dari semangatnya. Tujuannya lebih tinggi dari itu. Karena pemilik semangat ini telah membatasi semangatnya pada tujuan yang paling tinggi, yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi darinya. Sedangkan ganjaran-ganjaran dan tingkatan-tingkatan berada di bawahnya. Ia tahu bahwa jika ia mendapatkannya, maka di sanalah semua ganjaran dan tingkatan yang tinggi.
Adapun arahnya menuju Dzat, yang dimaksud adalah bahwa pemiliknya tidak berhenti pada penyaksian perbuatan-perbuatan, nama-nama, dan sifat-sifat saja. Tetapi menuju Dzat yang mengumpulkan hal-hal yang tersebar dari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.
BAB: KEDUDUKAN CINTA
Hakikat Cinta
Bab tentang kedudukan cinta
Di antara kedudukan-kedudukan dari “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5) adalah kedudukan cinta.
Ia adalah kedudukan yang di dalamnya orang-orang yang berkompetisi saling berlomba. Kepadanya orang-orang yang beramal tertuju. Untuk mencapai ilmunya orang-orang yang terdahulu bersungguh-sungguh. Di atasnya orang-orang yang mencintai melebur diri. Dengan ruh anginnya yang sejuk orang-orang yang beribadah mendapat kesegaran. Cinta adalah makanan hati, gizi ruh, dan penyejuk mata. Ia adalah kehidupan yang barangsiapa terhalang darinya maka ia termasuk golongan orang-orang mati. Cahaya yang barangsiapa kehilangannya maka ia berada di lautan-lautan kegelapan. Obat yang barangsiapa tidak mendapatkannya maka semua penyakit bersemayam di hatinya. Kelezatan yang barangsiapa tidak berhasil mendapatkannya maka semua kehidupannya adalah kesedihan dan penderitaan.
Cinta adalah ruh dari iman, amal-amal, tingkatan-tingkatan, dan keadaan-keadaan yang apabila kosong darinya maka semua itu seperti jasad yang tidak memiliki ruh di dalamnya. Cinta memikul beban-beban orang-orang yang berjalan menuju negeri yang tidak mungkin mereka sampai kepadanya kecuali dengan susah payah yang sangat berat. Cinta mengantarkan mereka kepada kedudukan-kedudukan yang tidak mungkin mereka datangi selamanya tanpanya. Cinta menempatkan mereka di tempat-tempat kejujuran yang tidak mungkin mereka masuki tanpanya. Cinta adalah kendaraan kaum yang perjalanan mereka di atas punggungnya senantiasa menuju Kekasih. Cinta adalah jalan mereka yang paling lurus yang mengantarkan mereka kepada kedudukan-kedudukan pertama mereka dari dekat.
Demi Allah! Sungguh ahli cinta telah pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat, karena bagi mereka dari kebersamaan dengan kekasih mereka bagian yang paling banyak. Dan Allah telah memutuskan ketika menetapkan takdir-takdir makhluk dengan kehendak dan hikmah-Nya yang sempurna: bahwa seseorang bersama dengan yang ia cintai. Alangkah nikmatnya bagi orang-orang yang mencintai yang melimpah.
Demi Allah! Sungguh kaum ini telah mendahului orang-orang yang berjalan keras, padahal mereka sedang tidur di atas hamparan. Mereka telah mendahului rombongan dengan jarak yang jauh, padahal dalam perjalanan mereka sedang berhenti.
“Siapa bagiku yang seperti jalanmu yang dimanja Engkau berjalan perlahan namun datang lebih dulu”
Mereka menjawab panggilan penyeru kerinduan ketika ia memanggil mereka: “Ayo menuju keberuntungan!” Mereka mengorbankan diri mereka dalam mencari sampai kepada kekasih mereka, dan pengorbanan mereka itu dengan rela dan suka hati. Mereka menyambung perjalanan kepada-Nya dengan berangkat di malam hari, pagi, dan sore hari. Demi Allah! Sungguh mereka memuji perjalanan mereka ketika sampai. Mereka bersyukur kepada Maulanya atas apa yang diberikan kepada mereka. Dan sesungguhnya kaum itu hanya memuji perjalanan malam ketika pagi tiba.
“Marilah jika engkau memiliki semangat, sungguh Penggiring kerinduan telah menggiringmu, maka tempuhlah jarak-jarak”
“Dan katakan kepada penyeru cinta dan ridha mereka Ketika ia memanggil: ‘Labbaik’ seribu kali dengan sempurna”
“Dan jangan melihat reruntuhan selain mereka, karena jika Engkau melihat reruntuhan, ia akan menjadi penghalang”
“Dan jangan menunggu dengan perjalanan rombongan yang duduk Dan tinggalkan ia, karena kerinduan cukup menjadi pembawa bagimu”
“Dan ambillah dari mereka bekal kepada mereka dan berjalanlah di Jalan petunjuk dan kefakiran, engkau akan tiba sebagai yang sampai”
“Dan hidupkan dengan kenangan mereka perjalananmu ketika Kendaraanmu lelah, karena kenangan membuatmu kembali beramal”
“Dan jika engkau takut kelelahan, katakan kepadanya: Di depanmu air perjumpaan, maka carilah tempat-tempat air”
“Dan ambillah cahaya dari cahaya mereka kemudian berjalanlah dengannya Karena cahaya mereka yang membimbingmu, bukan obor-obor”
“Dan marilah ke lembah Arak, katakan di sana Mudah-mudahan engkau melihat mereka di dalamnya jika engkau tidur siang”
“Dan jika tidak, maka di Nu’man dekat tempat perkenalan dengan Kekasih-kekasih, maka carilah mereka jika engkau bertanya”
“Dan jika tidak, maka di Muzdalifah di malamnya, karena jika Engkau terlewat, kapan lagi? Celakalah orang yang lalai”
“Dan marilah ke taman-taman Adn dengan kedekatan mereka Tempat tinggal pertamamu, di sana engkau pernah bertempat”
“Tetapi para pembenci membuatmu tertawan karena ini Engkau berhenti di reruntuhan menangisi tempat-tempat tinggal”
“Maka tinggalkan reruntuhan yang terhapus, karena di sana tidak ada Tempat istirahat, maka lampauilah karena itu bukan tempat tinggal”
“Reruntuhan yang terhapus, manusia binasa karenanya, berapa banyak di sana Yang terbunuh? Dan berapa banyak di dalamnya untuk makhluk ini yang membunuh?”
“Dan berjalanlah ke kanan darinya di jalan yang Di atasnya berjalan utusan cinta menuju keluarga”
“Dan katakan: ‘Bantulah aku, wahai jiwa, dengan kesabaran sebentar Karena saat pertemuan, kesusahan ini akan hilang'”
“Ia hanya sebentar kemudian berlalu Dan menjadilah pemilik kesedihan orang yang gembira dan riang”
Uang muka pertama dari harga cinta adalah mengorbankan nyawa. Maka tidak ada urusan bagi orang yang bangkrut, pengecut, dan kikir dengan harganya.
“Dengan darah pecinta washal mereka dibeli Maka siapakah yang membeli dengan harga tersebut?”
Demi Allah! Cinta tidak murahan sehingga orang-orang yang bangkrut menawar-nawarnya, dan tidak lesu sehingga orang-orang yang kesulitan menjualnya dengan kredit. Sungguh cinta telah ditampilkan untuk dijual di pasar siapa yang menawar lebih tinggi. Maka tidak ada yang rela baginya dengan harga selain pengorbanan jiwa. Lalu orang-orang yang menganggur mundur. Dan orang-orang yang mencintai berdiri melihat: siapa di antara mereka yang layak menjadi harga? Lalu barang dagangan itu beredar di antara mereka. Dan jatuh ke tangan “yang lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, yang keras terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Ma’idah: 54).
Ketika banyak orang yang mengaku cinta, mereka dituntut untuk mengajukan bukti atas kebenaran pengakuan tersebut. Kalau orang-orang diberi apa yang mereka klaim, niscaya orang yang santai mengklaim kepedihan orang yang bersedih. Maka para pengklaim bervariasi dalam kesaksian mereka. Dikatakan: pengakuan ini tidak diterima kecuali dengan bukti “Katakanlah: ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian'” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Lalu mundur semua manusia. Dan tetaplah para pengikut Kekasih dalam perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, dan akhlak-akhlaknya. Lalu mereka dituntut keadilan kesaksian dengan tazkiyah (pengesahan) “mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela” (QS. Al-Ma’idah: 54).
Lalu mundur kebanyakan orang yang mencintai dan berdiri orang-orang yang berjihad. Dikatakan kepada mereka: “Sesungguhnya jiwa-jiwa orang-orang yang mencintai dan harta mereka bukan milik mereka. Maka marilah kepada jual beli ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan (memberikan) surga bagi mereka'” (QS. At-Taubah: 111).
Ketika mereka mengetahui keagungan Pembeli, keutamaan harga, dan kemuliaan perantara yang menjalankan akad jual beli itu, mereka mengetahui nilai barang dagangan itu dan bahwa ia memiliki kedudukan. Maka mereka melihat bahwa kerugian terbesar adalah menjualnya kepada selain Dia dengan harga yang murah. Lalu mereka mengadakan bai’ah Ridwan dengan saling ridha, tanpa ada khiyar (hak membatalkan). Mereka berkata: “Demi Allah! Kami tidak akan membatalkan dan tidak akan meminta pembatalan kepada-Mu.”
Ketika akad telah sempurna dan mereka menyerahkan barang yang dijual, dikatakan kepada mereka: Sejak jiwa dan harta kalian menjadi milik kami, kami mengembalikannya kepada kalian lebih sempurna dari sebelumnya, bahkan dengan lipatannya. “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki – dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.” (Surah Ali Imran: 169-170).
Jika pohon cinta ditanam dalam hati, dan disiram dengan air keikhlasan serta mengikuti kekasih, maka ia akan menghasilkan berbagai jenis buah. Dan memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya. Akarnya tertanam kokoh di dasar hati. Dan cabangnya tersambung hingga ke Sidratul Muntaha.
Usaha orang yang mencintai senantiasa naik kepada kekasihnya, tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya. “Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh menaikkannya.” (Surah Fathir: 10).
Pasal
Cinta tidak dapat didefinisikan dengan definisi yang lebih jelas dari cinta itu sendiri. Definisi-definisi justru tidak menambah kecuali kesamaran dan kekakuan. Maka definisi cinta adalah keberadaannya. Dan cinta tidak dapat digambarkan dengan gambaran yang lebih jelas dari cinta itu sendiri.
Namun orang-orang berbicara tentang sebab-sebabnya dan hal-hal yang menimbulkannya, tanda-tanda dan bukti-buktinya, buah-buahnya dan hukum-hukumnya. Maka definisi dan batasan mereka berkisar pada enam hal ini. Dan ungkapan mereka beragam. Serta isyarat-isyarat menjadi banyak, sesuai dengan pemahaman seseorang, kedudukannya, keadaannya, dan penguasaannya terhadap ungkapan.
Materi ini dalam bahasa beredar pada lima hal:
Pertama: Kejernihan dan keputihan. Dari situ mereka berkata untuk kejernihan keputihan gigi dan kesegarannya: hubbub al-asnan (butiran gigi).
Kedua: Ketinggian dan kemunculan. Dari situ hubb al-ma’ (butiran air) dan hubabuh. Yaitu apa yang muncul di permukaannya ketika hujan lebat. Dan hubb al-ka’s (butiran gelas) berasal darinya.
Ketiga: Kelekatan dan ketetapan. Dari situ: habba al-ba’ir (unta lekat) dan ahbab, yaitu ketika unta berbaring dan tidak bangkit. Penyair berkata:
Ia memukul (unta) di padang dengan pukulan… Pukulan onta buruk ketika ia berbaring lekat
Keempat: Inti. Dari situ: habbat al-qalb (biji hati), yaitu inti dan dalamnya. Dan darinya al-habbah untuk satuan biji-bijian. Karena ia adalah asal sesuatu, materinya dan pilarnya.
Kelima: Penjagaan dan pegangan. Dari situ hibb al-ma’ (wadah air), yaitu wadah yang menjaga dan menampungnya. Di dalamnya juga ada makna ketetapan.
Tidak diragukan bahwa kelima hal ini adalah konsekuensi cinta. Karena cinta adalah kejernihan kasih sayang, dan bergejolaknya keinginan hati kepada yang dicintai. Dan ketinggian serta kemunculannya darinya karena keterkaitan dengan yang dicintai yang diinginkan. Dan ketetapan keinginan hati kepada yang dicintai. Dan melekatnya dengan kelekatan yang tidak memisahkannya, dan karena pemberian orang yang mencintai kepada kekasihnya inti hatinya dan yang paling mulia yang ada padanya. Yaitu hatinya, dan karena berkumpulnya tekad, keinginan dan perhatiannya pada kekasihnya.
Maka terkumpullah di dalamnya lima makna. Dan mereka meletakkan untuk maknanya dua huruf yang sangat sesuai dengan yang dimaksud yaitu “ha” yang dari ujung tenggorokan, dan “ba” yang bibir yang merupakan akhirnya. Maka untuk “ha” adalah permulaan, dan untuk “ba” adalah akhir. Dan inilah urusan cinta dan kaitannya dengan yang dicintai. Karena permulaannya dari-Nya dan akhirnya kepada-Nya. Dan mereka berkata dalam kata kerjanya: habbahu dan ahabbahu. Penyair berkata:
Aku mencintai Abu Tsarwan karena cinta kurmanya… Dan tidak tahu bahwa kelemahlembutan kepada tetangga lebih lemah lembut
Demi Allah seandainya bukan karena kurmanya aku tidak akan mencintainya… Dan ia tidak akan lebih dekat dari Abdullah dan Musyriq
Kemudian mereka membatasi pada isim fa’il dari ahbab maka mereka berkata: muhibb, dan tidak berkata: hab. Dan mereka membatasi pada isim maf’ul dari habb, maka mereka berkata: mahbub, dan tidak berkata: mahabb kecuali sedikit. Seperti kata penyair:
Sungguh aku telah turun, jangan kau sangka selainnya… Dariku dengan kedudukan kekasih yang dimuliakan
Dan mereka memberikan hubb (cinta) harakat dhammah yang merupakan harakat terkuat dan terkuatnya, sesuai dengan kuatnya gerakan maknanya dan kekuatannya. Dan mereka memberikan hibb (yang dicintai): harakat kasrah karena ringannya dari dhammah, dan ringannya yang dicintai, dan ringannya menyebutnya di hati dan lisan mereka: dari memberikannya hukum yang serupa dengannya, seperti nahb bermakna manhub, dan dzabh bermakna madzbuh, dan haml untuk yang diangkat. Berbeda dengan haml – yang merupakan mashdar – karena ringannya. Kemudian mereka menambahkan padanya haml yang tidak berat bagi pembawanya membawanya, seperti haml pohon dan anak.
Maka perhatikanlah kelembutan, kesesuaian dan keserasian yang mengagumkan ini antara lafaz dan makna, dalam bahasa Arab yang memberimu gambaran tentang kedudukan bahasa ini, dan bahwa ia memiliki kedudukan yang tidak dimiliki bahasa-bahasa lainnya.
Pasal: Batasan dan Definisi yang Dikatakan tentang Cinta
Pasal
Dalam menyebutkan batasan dan definisi yang dikatakan tentang cinta, sesuai dengan pengaruh dan bukti-buktinya. Dan pembahasan tentang apa yang diperlukan darinya.
Pertama, dikatakan: Cinta adalah kecenderungan yang tetap, dengan hati yang bingung.
Dan definisi ini tidak ada pembedaan di dalamnya antara cinta yang khusus dan yang umum, dan yang sehat dan yang berpenyakit.
Kedua: Mengutamakan yang dicintai, atas seluruh yang menemani.
Dan ini adalah hukum dari hukum-hukum cinta dan pengaruh dari pengaruhnya.
Ketiga: Menyesuaikan dengan kekasih, dalam yang terlihat dan yang tersembunyi.
Dan ini juga adalah kewajiban dan konsekuensinya. Dan ini lebih sempurna dari dua definisi sebelumnya. Karena ia mencakup cinta yang jujur dan sehat khususnya, berbeda dengan sekedar kecenderungan dan mengutamakan dengan keinginan. Karena jika tidak disertai dengan penyesuaian maka cintanya berpenyakit.
Keempat: Penghapusan cinta terhadap sifat-sifatnya. Dan penetapan yang dicintai untuk dzatnya.
Dan ini juga dari hukum-hukum fana dalam cinta: bahwa sifat-sifat orang yang mencintai terhapus, dan fana dalam sifat-sifat kekasihnya dan dzatnya. Dan ini memerlukan penjelasan yang lebih lengkap dari ini, tidak memahaminya kecuali orang yang difanakan oleh datangnya cinta darinya, dan diambil darinya.
Kelima: Keselarasan hati dengan keinginan-keinginan yang dicintai.
Dan ini juga dari kewajiban dan hukum-hukumnya. Dan keselarasan adalah kesesuaian dengan keinginan yang dicintai dan perintah-perintahnya serta keridhaannya.
Keenam: Takut meninggalkan kehormatan, bersama menegakkan pelayanan.
Dan ini juga dari tanda-tanda, bukti-bukti dan pengaruhnya: bahwa ia menegakkan pelayanan sebagaimana mestinya, bersama ketakutannya dari meninggalkan kehormatan dan pengagungan.
Ketujuh: Menganggap sedikit yang banyak dari dirimu, dan menganggap banyak yang sedikit dari kekasihmu.
Dan ini adalah perkataan Abu Yazid, dan ini juga dari hukum-hukumnya, kewajibannya dan bukti-buktinya. Dan orang yang mencintai yang jujur jika memberikan kepada kekasihnya seluruh yang ia mampu ia akan menganggapnya sedikit dan malu darinya, dan jika mendapat dari kekasihnya perkara yang paling ringan ia akan menganggapnya banyak dan mengagungkannya.
Kedelapan: Menganggap banyak yang sedikit dari kesalahanmu, dan menganggap sedikit yang banyak dari ketaatanmu. Dan ini dekat dengan yang sebelumnya, tetapi khusus dengan apa yang dari orang yang mencintai.
Kesembilan: Memeluk ketaatan, dan menjauhi penyelisihan.
Dan ini adalah Sahl bin Abdullah. Dan ini juga hukum cinta dan kewajibannya.
Kesepuluh: Masuknya sifat-sifat yang dicintai sebagai pengganti dari sifat-sifat orang yang mencintai. Dan ini adalah Junaidi.
Dan di dalamnya ada kesamaran. Dan yang dimaksudnya: bahwa dominasi dzikir yang dicintai dan sifat-sifatnya serta nama-namanya atas hati orang yang mencintai hingga tidak ada yang dominan padanya kecuali itu, dan tidak ada kesadaran dan perasaannya pada umumnya kecuali dengannya. Maka kesadaran dan perasaannya menjadi pengganti dari kesadaran dan perasaannya dengan sifat-sifat dirinya, dan mungkin mengandung makna yang lebih mulia dari ini: berubahnya sifat-sifat orang yang mencintai yang tercela – yang tidak sesuai dengan sifat-sifat yang dicintai – dengan sifat-sifat yang indah yang dicintai yang sesuai dengan sifat-sifatnya. Dan Allah lebih mengetahui.
Kesebelas: Bahwa engkau memberikan seluruhmu kepada siapa yang engkau cintai. Maka tidak tersisa bagimu dari dirimu sesuatu.
Dan ini adalah Abu Abdullah Al-Qurasyiy. Dan ini juga dari kewajiban cinta dan hukum-hukumnya. Dan yang dimaksud: bahwa engkau memberikan keinginanmu, tekadmu, perbuatanmu, dirimu, hartamu dan waktumu kepada siapa yang engkau cintai dan menjadikannya wakaf dalam keridhaannya dan kecintaannya. Maka engkau tidak mengambil untuk dirimu darinya kecuali apa yang ia berikan kepadamu. Maka engkau mengambilnya darinya untuk-Nya.
Kedua belas: Bahwa engkau menghapus dari hati apa selain yang dicintai. Dan ini adalah Syibliy, dan kesempurnaan cinta menuntut itu. Karena selama masih ada sisa dalam hati untuk selainnya dan tempat tinggal untuk selainnya maka cinta itu berpenyakit.
Ketiga belas: Menegakkan celaan secara terus-menerus. Dan ini adalah Ibnu Atha’. Dan di dalamnya ada kesamaran.
Dan yang dimaksudnya: bahwa engkau senantiasa mencela dirimu dalam keridhaan yang dicintai. Dan bahwa engkau tidak ridha untuknya dalam hal itu sebuah amal atau keadaan.
Keempat belas: Bahwa engkau cemburu terhadap yang dicintai: bahwa yang sepertimu mencintai-Nya. Dan ini adalah Syibliy juga.
Dan di dalamnya ada pembahasan yang akan kami sebutkan insya Allah dalam pembahasan tentang kecemburuan, dan yang dimaksudnya: meremehkan dirimu dan menganggapnya kecil: bahwa yang sepertimu menjadi dari orang-orang yang mencintai-Nya.
Kelima belas: Keinginan yang ditanam cabang-cabangnya dalam hati. Maka ia berbuah kesesuaian dan ketaatan.
Keenam belas: Bahwa orang yang mencintai melupakan bagiannya dalam kekasihnya, dan melupakan kebutuhannya kepada-Nya. Dan ini adalah Abu Ya’qub As-Susiy. Dan yang dimaksudnya: bahwa dominasi kekuasaannya atas hatinya melalaikannya dari bagian-bagiannya dan dari kebutuhannya. Dan semuanya termasuk dalam hukum cinta.
Ketujuh belas: Menjauhi pelupaan dalam setiap keadaan. Dan ini adalah An-Nashrabadziy. Dan ini juga dari konsekuensinya dan buahnya, sebagaimana dikatakan:
Bayangan-bayangannya melintas di sudut-sudut khayalan… Maka menangislah atas jejak pelupaan yang usang.
Kedelapan belas: Mengesakan yang dicintai dengan murninya keinginan dan kejujuran pencarian.
Kesembilan belas: Jatuhnya setiap cinta dari hati kecuali cinta kekasih. Dan ini adalah Muhammad bin Fadhl. Dan yang dimaksudnya: mengesakan yang dicintai dengan cinta.
Kedua puluh: Menutup pandangan hati dari selain yang dicintai karena cemburu. Dan dari yang dicintai karena kewibawaan. Dan ini memerlukan penjelasan.
Adapun yang pertama: maka jelas. Dan adapun yang kedua: maka menutup pandangan hati dari yang dicintai – bersama kesempurnaan cintanya – seperti yang mustahil. Tetapi ketika dominasi kewibawaan terjadi seperti ini. Dan itu dari tanda-tanda cinta yang disertai kewibawaan dan pengagungan. Dan telah dikatakan: bahwa ini adalah tafsir sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam “Cintamu terhadap sesuatu membutakan dan memekakkan” yaitu membutakan dari selainnya karena cemburu, dan darinya karena kewibawaan. Dan ini bukan maksud hadits, tetapi yang dimaksud dengannya: bahwa cintamu terhadap sesuatu membutakan dan memekakkan dari memperhatikan keburukannya dan keburukannya. Maka engkau tidak melihatnya dan tidak mendengarnya, meskipun ada padanya. Dan bukan maksudnya: menyebutkan cinta yang dituntut yang berkaitan dengan Tuhan. Dan tidak dikatakan dalam cinta kepada Allah tabaraka wata’ala: cintamu terhadap sesuatu. Dan tidak digambarkan pemiliknya dengan buta dan tuli.
Dan kami tidak mengingkari dua tingkatan yang disebutkan. Karena orang yang mencintai mungkin buta dan tuli darinya karena kewibawaan dan pengagungan, tetapi tidak digambarkan cinta hamba kepada Tuhannya ta’ala dengan itu. Dan bukan ahlinya dari ahli kebutaan dan ketulian. Bahkan mereka adalah ahli pendengaran dan penglihatan sesungguhnya dan selain mereka adalah orang-orang bisu yang buta yang tuli yang tidak berakal.
Kedua puluh satu: Kecenderunganmu terhadap sesuatu dengan totalitasmu. Kemudian mengutamakannya atas dirimu, rohmu dan hartamu. Kemudian menyesuaikan dengannya secara rahasia dan terang-terangan. Kemudian pengetahuanmu tentang kekuranganmu dalam mencintainya.
Junaidi berkata: Aku mendengar Harits Al-Muhasibiy berkata demikian.
Kedua puluh dua: Cinta adalah api dalam hati, yang membakar apa selain kehendak yang dicintai.
Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Aku menegur sebagian kaum Ibahiyyah, maka ia berkata kepadaku demikian. Kemudian ia berkata: Dan alam semesta semuanya adalah kehendak-Nya, maka apa yang aku benci dari-Nya?
Syaikh berkata: Maka aku berkata kepadanya: Jika yang dicintai telah membenci perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, kaum-kaum dan memusuhi mereka lalu mengusir dan melaknat mereka maka engkau mencintai mereka: apakah engkau menjadi sekutu yang dicintai ataukah memusuhi-Nya? Ia berkata: Maka seakan-akan ia diberi batu. Dan ia terpermalukan di hadapan sahabat-sahabatnya. Dan ia adalah orang yang didahulukan di antara mereka yang ditunjuk kepadanya.
Dan definisi ini benar: dan yang mengatakannya hanya bermaksud: bahwa ia membakar dari hati apa selain kehendak yang dicintai yang agama dan perintah, yang dicintai dan diridhai-Nya, bukan kehendak yang ditakdirkan dan dikehendaki-Nya. Tetapi karena sedikitnya bagian orang-orang kemudian dari mereka dan selain mereka dari ilmu: mereka terjatuh dalam apa yang mereka terjatuh di dalamnya dari kebebasan, hulul dan ittihad, dan yang terjaga adalah yang dijaga Allah.
Kedua puluh tiga: Cinta adalah memberikan usaha, dan meninggalkan keberatan terhadap yang dicintai.
Dan ini juga termasuk dari hak-haknya, buah-buahnya, dan konsekuensi-konsekuensinya.
Yang Kedua Puluh Empat: Mabuk yang pemiliknya tidak akan sadar kecuali dengan melihat kekasihnya. Kemudian kemabukan yang terjadi ketika melihat tidak dapat digambarkan, dan seseorang membacakan syair:
Maka mabuk kaum itu karena beredarnya gelas di antara mereka… Namun mabukku muncul dari melihat sang pemberi minuman.
Dan seharusnya menjaga cinta dan kekasih dari ungkapan-ungkapan ini, yang tujuan akhir pemiliknya adalah agar dimaafkan karena kejujurannya dan karena dikuasai oleh keadaan yang menimpanya, dan yang menundukkannya. Maka cinta kepada Allah lebih tinggi dan lebih agung dari pada diperbandingkan dengan perumpamaan-perumpamaan ini, dan dijadikan sebagai sasaran mulut-mulut yang kotor dan ungkapan-ungkapan yang bid’ah, tetapi orang yang jujur berada dalam perlindungan kejujurannya.
Yang Kedua Puluh Lima: Bahwa tidak mengutamakan orang lain atas Yang Dicintai, dan tidak menyerahkan urusan-urusanmu kepada selain-Nya.
Yang Kedua Puluh Enam: Masuk ke dalam perhambaan dan penghambaan kepada Yang Dicintai, dan kebebasan dari perbudakan kepada selain-Nya.
Yang Kedua Puluh Tujuh: Cinta adalah perjalanan hati dalam mencari Yang Dicintai, dan lisannya senantiasa menyebut-Nya secara terus-menerus.
Aku katakan: Adapun perjalanan hati dalam mencari Yang Dicintai, maka itu adalah kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, dan adapun lisan yang senantiasa menyebut-Nya, maka tidak diragukan lagi bahwa siapa yang mencintai sesuatu pasti memperbanyak menyebutnya.
Yang Kedua Puluh Delapan: Bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak berkurang dengan kekeringan dan tidak bertambah dengan kebaikan. Ini dari Yahya bin Mu’adz, bahkan keinginan dan pencarian serta kerinduan kepada Yang Dicintai karena dzat-Nya, maka kekeringan-Nya tidak mengurangi hal itu dan kebaikan-Nya tidak menambahnya.
Dan dalam hal itu ada pembahasan. Karena cinta yang bersifat dzati bertambah dengan kebaikan, dan pertambahannya dengan kebaikan tidak menguranginya. Dan itu bukan karena sebab, tetapi maksud Yahya adalah: bahwa hati telah penuh dengan cinta dzati. Maka ketika kebaikan dari kekasihnya datang, tidak menemukan tempat di hati yang kosong dari cintanya untuk ditempati oleh cinta terhadap kebaikan. Bahkan cinta itu telah dimilikinya karena dzat tanpa sebab. Dan meskipun demikian, ini tidak menghilangkan keraguan. Karena cinta tidak memiliki batas akhir, dan setiap kali ma’rifat dan kebaikan semakin kuat maka cinta semakin kuat. Dan tidak ada batas akhir untuk keindahan Yang Dicintai dan kebaikan-Nya. Maka tidak ada batas akhir untuk cinta kepada-Nya, bahkan seandainya cinta seluruh makhluk berkumpul dan berada di hati salah seorang dari mereka, maka hal itu masih di bawah apa yang berhak diterima oleh Rabb, Maha Tinggi keagungan-Nya. Dan karena itu cinta hamba kepada Rabbnya tidak disebut dengan cinta berlebihan (asyiq) – sebagaimana akan datang penjelasannya – karena itu adalah cinta yang berlebihan, dan hamba tidak akan sampai dalam cinta kepada Allah hingga batas cinta yang berlebihan, sama sekali. Dan Allah yang lebih mengetahui.
Yang Kedua Puluh Sembilan: Cinta adalah bahwa seluruh dirimu sibuk dengan Yang Dicintai, dan untuk-Nya kau curahkan segalanya.
Yang Ketiga Puluh: Dan ini adalah yang paling komprehensif dari apa yang dikatakan tentangnya, berkata Abu Bakar Al-Kattani: Ada permasalahan tentang cinta yang dibahas di Mekah – semoga Allah memuliakan kota itu – pada hari-hari musim haji, maka para syaikh berbicara tentangnya. Dan Al-Junaid adalah yang paling muda usianya di antara mereka. Maka mereka berkata: Sampaikan apa yang ada padamu wahai orang Iraq. Maka dia menundukkan kepalanya, dan matanya berlinang air mata. Kemudian dia berkata: Seorang hamba yang lenyap dari dirinya sendiri, tersambung dengan dzikir kepada Rabbnya, berdiri menunaikan hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan hatinya, cahaya kewibaan-Nya membakar hatinya, dan minumannya jernih dari gelas cinta-Nya, dan tersingkap baginya Dzat Yang Maha Perkasa dari tirai-tirai ghaib-Nya. Maka jika dia berbicara maka dengan Allah, dan jika dia berucap maka dari Allah, dan jika dia bergerak maka dengan perintah Allah, dan jika dia diam maka bersama Allah. Maka dia dengan Allah, untuk Allah, dan bersama Allah.
Maka para syaikh menangis dan berkata: Tidak ada tambahan atas ini. Jazakallah wahai mahkota para arif (orang yang mengenal Allah).
Pasal tentang Sebab-Sebab Cinta
Tentang sebab-sebab yang membawa kepada cinta dan yang mewajibkannya, dan itu ada sepuluh.
Pertama: Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahami makna-maknanya dan apa yang dimaksudkan dengannya, seperti merenungkan kitab yang dihafal oleh hamba dan menjelaskannya, agar memahami maksud penulisnya darinya.
Kedua: Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan-amalan wajib. Karena itu mengantarkannya kepada tingkatan kekasih setelah cinta.
Ketiga: Dzikir yang terus-menerus kepada-Nya dalam setiap keadaan: dengan lisan, hati, amal, dan keadaan. Maka bagiannya dari cinta sesuai dengan bagiannya dari dzikir ini.
Keempat: Mengutamakan apa yang Dia cintai atas apa yang kamu cintai ketika hawa nafsu menguasai, dan naik menuju apa yang Dia cintai, meskipun jalannya sulit.
Kelima: Merenungkan hati terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan menyaksikannya serta mengenalnya, dan bolak-baliknya dalam taman ma’rifat ini dan asal-usulnya. Maka siapa yang mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti akan mencintai-Nya. Dan karena itu golongan Mu’attilah, Fir’auniyah, dan Jahmiyah adalah perampok jalan bagi hati-hati antara mereka dan mencapai Yang Dicintai.
Keenam: Menyaksikan kebaikan-Nya, ihsan-Nya, karunia-karunia-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya yang tersembunyi dan yang tampak. Karena itu semua mengajak untuk mencintai-Nya.
Ketujuh: Dan ini yang paling menakjubkan, kehancuran hati secara total di hadapan Allah. Dan tidak ada dalam pengungkapan makna ini selain nama-nama dan ungkapan-ungkapan.
Kedelapan: Berkhalwat dengan-Nya di waktu turunnya Allah (nuzulul ilahi), untuk bermunajat dan membaca kalam-Nya, dan berdiri dengan hati dan beradab dengan adab penghambaan di hadapan-Nya. Kemudian mengakhiri hal itu dengan istighfar dan taubat.
Kesembilan: Duduk bersama orang-orang yang mencintai dengan jujur, dan memetik buah-buah terbaik dari ucapan mereka seperti memilih buah-buah yang terbaik. Dan jangan berbicara kecuali jika manfaat bicara lebih besar, dan kamu tahu bahwa di dalamnya ada tambahan untuk keadaanmu dan manfaat untuk orang lain.
Kesepuluh: Menjauhkan setiap sebab yang menghalangi antara hati dengan Allah Azza wa Jalla.
Dari sepuluh sebab ini, para pencinta sampai kepada tingkatan (kedudukan) cinta, dan masuk kepada Yang Dicintai. Dan inti dari semua itu adalah dua perkara: kesiapan ruh untuk urusan ini, dan terbukanya mata bashirah. Dan dengan Allah taufik.
Pasal tentang Cinta Hamba kepada Rabbnya dan Cinta Rabb kepada Hamba-Nya
Pasal
Dan pembahasan dalam tingkatan ini terkait dengan dua sisi: sisi cinta hamba kepada Rabbnya, dan sisi cinta Rabb kepada hamba-Nya. Dan manusia dalam menetapkan hal itu dan meniadakannya ada empat kelompok: Maka ahli “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (surat Al-Maidah:54) menetapkan kedua sisi, dan bahwa cinta hamba kepada Rabbnya di atas setiap cinta yang dapat diperkirakan, dan tidak ada perbandingan dari semua yang dicintai kepada-Nya. Dan itulah hakikat “Laa ilaaha illallah” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), dan demikian pula menurut mereka cinta Rabb kepada wali-wali-Nya, nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya adalah sifat yang melebihi rahmat-Nya, ihsan-Nya dan pemberian-Nya. Karena itu semua adalah pengaruh cinta dan konsekuensinya. Maka sesungguhnya karena Dia mencintai mereka, maka bagian mereka dari rahmat-Nya, ihsan-Nya dan kebaikan-Nya adalah bagian yang paling sempurna.
Dan golongan Jahmiyyah Mu’attilah kebalikan dari mereka, karena menurut mereka Dia tidak mencintai dan tidak dicintai. Dan mereka tidak bisa mendustakan nash-nash. Maka mereka takwilkan nash-nash cinta hamba-hamba kepada-Nya dengan cinta terhadap ketaatan dan ibadah kepada-Nya, dan menambah amal-amal agar mereka mendapatkan pahala dengannya. Dan jika mereka menggunakan lafadz cinta kepada mereka dengannya, maka itu karena pahala dan upah yang mereka dapatkan dengannya, dan pahala yang terpisah menurut mereka adalah yang dicintai karena dzatnya. Dan Rabb dicintai karena selain-Nya, cinta sebagai perantara.
Dan mereka takwilkan nash-nash cinta-Nya kepada mereka dengan ihsan-Nya kepada mereka, dan memberi mereka pahala. Dan terkadang mereka takwilkan dengan pujian-Nya kepada mereka dan memuji mereka. Dan semacam itu. Dan terkadang mereka takwilkan dengan iradah (kehendak)-Nya untuk itu. Maka terkadang mereka takwilkan dengan perbuatan yang terpisah. Dan terkadang mereka takwilkan dengan iradah itu sendiri.
Dan mereka berkata: Iradah jika terkait dengan mengkhususkan hamba dengan keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan yang tinggi dinamakan cinta, dan jika terkait dengan siksa dan pembalasan dinamakan kemurkaan, dan jika terkait dengan ihsan dan nikmat yang umum yang khusus dinamakan kebaikan, dan jika terkait dengan menyampaikannya secara tersembunyi, dari sisi yang tidak disadari dan tidak diperhitungkan dinamakan kelembutan, dan itu satu. Dan ia memiliki nama-nama dan hukum-hukum dengan mempertimbangkan apa yang berkaitan dengannya.
Dan siapa yang menjadikan cinta-Nya kepada hamba adalah pujian-Nya kepadanya dan memujinya, maka dia mengembalikannya kepada sifat kalam. Maka itu menurutnya dari sifat-sifat dzat, bukan dari sifat-sifat perbuatan. Dan perbuatan menurutnya adalah perbuatan itu sendiri. Maka tidak menetap pada dzat Rabb cinta kepada hamba-Nya, tidak kepada nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya sama sekali.
Dan siapa yang mengembalikannya kepada sifat iradah menjadikannya dari sifat-sifat dzat dengan mempertimbangkan asal iradah, dan dari sifat-sifat perbuatan dengan mempertimbangkan keterkaitan dengannya.
Dan ketika orang-orang ini melihat bahwa cinta adalah iradah, siapa yang berpendapat demikian berkata dan bahwa iradah tidak terkait kecuali dengan sesuatu yang baru dan yang maqdar (yang dapat diwujudkan), dan yang qadim (azali) mustahil untuk diinginkan, maka mereka mengingkari cinta hamba-hamba, malaikat, nabi-nabi dan rasul-rasul kepada-Nya. Dan mereka berkata: Tidak ada makna untuk itu kecuali keinginan untuk mendekat kepada-Nya, dan mengagungkan-Nya, dan keinginan untuk beribadah kepada-Nya. Maka mereka mengingkari hakikat uluhiyah, dan hakikat ubudiyah. Dan mereka meyakini bahwa ini dari konsekuensi tauhid dan tanzih. Maka menurut mereka tidak sempurna tauhid dan tanzih kecuali dengan mengingkari hakikat uluhiyah, dan mengingkari hakikat ubudiyah.
Dan semua jalan dalil – secara akal, naql, fitrah, qiyas, i’tibar, rasa dan pengalaman – menunjukkan penetapan cinta hamba kepada Rabbnya, dan Rabb kepada hamba-Nya.
Dan kami telah menyebutkan untuk itu mendekati seratus jalan dalam kitab kami yang besar tentang cinta. Dan kami sebutkan di dalamnya faedah-faedah cinta, dan apa yang dihasilkannya bagi pemiliknya berupa kesempurnaan-kesempurnaan, dan sebab-sebabnya serta konsekuensinya, dan bantahan terhadap orang yang mengingkarinya, dan penjelasan rusaknya pendapatnya, dan bahwa orang-orang yang mengingkari hal itu telah mengingkari hakikat penciptaan dan perintah, dan tujuan yang mereka ada untuk mencapainya. Karena penciptaan dan perintah, dan pahala, dan siksa semuanya muncul dari cinta dan demi cinta. Dan itulah kebenaran yang dengannya diciptakan langit dan bumi. Dan itulah kebenaran yang tercakup dalam perintah dan larangan. Dan itulah rahasia uluhiyah. Dan mentauhidkannya adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.
Dan bukan sebagaimana yang dikira oleh para pengingkar bahwa ilah adalah rabb pencipta. Karena orang-orang musyrik mengakui bahwa tidak ada rabb kecuali Allah, dan tidak ada pencipta selain-Nya, dan bahwa Dia sendirilah yang menyendiri dengan penciptaan dan rububiyah. Dan mereka tidak mengakui tauhid uluhiyah. Dan itulah cinta dan pengagungan, bahkan mereka menjadikan tuhan bersama Allah selain-Nya. Dan inilah kesyirikan yang tidak diampuni Allah, dan pelakunya termasuk orang yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah.
Allah berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” (surat Al-Baqarah:165). Maka Dia mengabarkan bahwa siapa yang mencintai selain Allah sesuatu, sebagaimana dia mencintai Allah, maka dia termasuk orang yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah, maka ini sekutu dalam cinta, bukan dalam penciptaan dan rububiyah. Karena tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menetapkan sekutu ini dalam rububiyah, berbeda dengan sekutu dalam cinta. Karena kebanyakan penduduk bumi telah menjadikan sekutu-sekutu selain Allah dalam cinta dan pengagungan. Kemudian firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (surat Al-Baqarah:165). Dan dalam tafsir ayat ada dua pendapat:
Pertama: Dan orang-orang yang beriman lebih sangat cintanya kepada Allah daripada pemilik-pemilik sekutu kepada sekutu-sekutu mereka dan tuhan-tuhan mereka yang mereka cintai dan mereka agungkan selain Allah.
Kedua: Dan orang-orang yang beriman lebih sangat cintanya kepada Allah daripada cinta orang-orang musyrik dengan sekutu-sekutu kepada Allah. Karena cinta orang-orang mukmin murni, dan cinta pemilik-pemilik sekutu telah hilang sebagian darinya karena sekutu-sekutu mereka. Dan cinta yang murni lebih kuat dari yang bercampur. Dan dua pendapat ini berdasarkan dua pendapat dalam firman-Nya: “mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” (surat Al-Baqarah:165), karena di dalamnya ada dua pendapat.
Pertama: Mereka mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Maka telah ditetapkan bagi mereka cinta kepada Allah, tetapi itu cinta yang mereka syirikkan di dalamnya bersama Allah dengan sekutu-sekutu.
Kedua: Bahwa maknanya mereka mencintai sekutu-sekutu mereka sebagaimana orang-orang mukmin mencintai Allah. Kemudian dijelaskan bahwa cinta orang-orang mukmin kepada Allah lebih kuat dari cinta pemilik-pemilik sekutu kepada sekutu-sekutu mereka.
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menguatkan pendapat pertama, dan berkata: Sesungguhnya mereka dicela karena mereka mensyirikkan antara Allah dengan sekutu-sekutu mereka dalam cinta, dan mereka tidak mengikhlaskannya untuk Allah seperti cinta orang-orang mukmin kepada-Nya.
Dan penyamaan ini yang disebutkan dalam firman-Nya sebagai kisah dari mereka, dan mereka di dalam neraka berkata kepada tuhan-tuhan mereka dan sekutu-sekutu mereka, dan itu dihadirkan bersama mereka dalam azab: “Demi Allah, sesungguhnya kami benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kamu dengan Rabb semesta alam” (surat Asy-Syu’ara’:97-98), dan diketahui bahwa mereka tidak menyamakan mereka dengan Rabb semesta alam dalam penciptaan dan rububiyah. Sesungguhnya mereka menyamakan mereka dengan-Nya dalam cinta dan pengagungan.
Dan ini juga adalah adl (persamaan) yang disebutkan dalam firman-Nya: “Kemudian orang-orang yang kafir mempersekutukan dengan Rabb mereka” (surat Al-An’am:1), yakni mempersekutukan dengan-Nya selain-Nya dalam ibadah yang merupakan cinta dan pengagungan. Dan ini pendapat yang paling benar.
Dan dikatakan: huruf ba’ bermakna “dari” (an), dan maknanya: Kemudian orang-orang yang kafir dari Rabb mereka berpaling dari ibadah kepada-Nya kepada ibadah selain-Nya. Dan ini tidak kuat, karena orang Arab tidak berkata adalta bikadza, yakni adaltu anhu. Sesungguhnya ini datang dalam fi’il pertanyaan seperti: sa’altu bikadza, yakni anhu, seakan mereka memasukkan makna: ahtamamtu bihi wa ihtamamtu dan semacam itu.
Dan Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu” (surat Ali Imran:31), dan ini dinamakan ayat cinta. Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani: Ketika hati-hati mengaku mencintai Allah, maka Allah menurunkan ujian untuknya “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu” (surat Ali Imran:31).
Berkata sebagian salaf: Mengaku suatu kaum cinta kepada Allah, maka Allah menurunkan ayat ujian “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu” (surat Ali Imran:31).
Dan Dia berfirman “niscaya Allah mencintai kamu” (surat Ali Imran:31), isyarat kepada dalil cinta dan buahnya, dan faedahnya. Maka dalilnya dan tanda-tandanya adalah mengikuti Rasul. Dan faedahnya dan buahnya adalah cinta Yang Mengutus kepadamu. Maka selama tidak terjadi ittiba’ (mengikuti), maka cintamu kepada-Nya belum terjadi, dan cinta-Nya kepadamu tidak ada.
Dan Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela” (surat Al-Maidah:54). Maka Dia telah menyebutkan untuk mereka empat tanda, pertama: bahwa mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin. Dikatakan: maknanya adalah lembut, penyayang dan menyayangi mereka, perhatian kepada mereka. Maka karena adzzillah (lemah lembut) mengandung makna ini, maka dita’dikan (dikaitkan) dengan huruf “ala” (terhadap). Berkata Atha’: Terhadap orang-orang mukmin seperti anak kepada bapaknya, dan budak kepada tuannya. Dan terhadap orang-orang kafir seperti singa terhadap buruannya “Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (surat Al-Fath:29).
Tanda Ketiga: Jihad di jalan Allah dengan jiwa, tangan, lisan, dan harta, dan itu adalah realisasi klaim cinta.
Tanda Keempat: Mereka tidak diambil oleh celaan orang yang mencela dalam (urusan) Allah. Ini adalah tanda sahnya cinta, maka setiap pencinta yang diambil oleh celaan tentang kekasihnya, maka ia bukan pencinta yang sesungguhnya. Sebagaimana dikatakan:
Tidak ada orang yang masih memiliki sisa (perhatian) untuk selain engkau… yang dengan itu celaan menemukan jalan kepadanya.
Dan Allah berfirman: “Mereka itu orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka, mereka mencari jalan (untuk) mendekatkan diri kepada-Nya, siapa di antara mereka yang lebih dekat” (Al-Isra: 57) – hingga firman-Nya – “yang harus diwaspadai” (Al-Isra: 57). Maka Dia menyebutkan tiga tingkatan: Cinta, yaitu mencari kedekatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal-amal saleh; dan harap serta takut, yang menunjukkan bahwa mencari wasilah adalah perkara yang lebih dari sekadar mengharap rahmat dan takut akan azab.
Dan dari yang diketahui secara pasti: bahwa engkau tidak akan bersaing kecuali dalam kedekatan dengan orang yang engkau cintai kedekatannya, dan cinta kedekatannya adalah akibat dari cinta kepada dzat-Nya. Bahkan cinta kepada dzat-Nya yang mewajibkan cinta untuk dekat dengannya. Dan menurut Jahmiyah dan Mu’attilah: tidak ada dari semua itu sedikitpun. Karena menurutnya, dzat-Nya tidak mendekat kepada sesuatu, dan tidak ada sesuatu yang mendekat kepada dzat-Nya, dan Dia tidak dicintai karena dzat-Nya, dan Dia tidak mencintai.
Maka mereka mengingkari kehidupan hati, kenikmatan ruh, kebahagiaan jiwa, kesejukan mata, dan kenikmatan tertinggi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, hati mereka dipukul dengan kekerasan, dan dihalangi antara mereka dan Allah dengan hijab dari pengenalan dan cinta kepada-Nya. Mereka tidak mengenal-Nya dan tidak mencintai-Nya. Dan mereka tidak mengingat-Nya kecuali ketika meniadakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka dzikir mereka adalah dosa dan beban terbesar mereka.
Bahkan mereka menghukum orang yang mengingat-Nya dengan nama-nama, sifat-sifat, dan sifat keagungan-Nya. Dan mereka melemparkan kepada mereka penyakit-penyakit yang mereka lebih berhak atasnya dan lebih layak dengannya. Dan cukuplah bagi pemilik bashirah dan kehidupan hati: apa yang dia lihat pada ucapan mereka berupa kekerasan dan kebencian, dan menghindarkan (orang) dari cinta Allah Azza wa Jalla, mengenal-Nya, dan mengesakan-Nya. Dan kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Dan Allah berfirma: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyembah Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya” (Al-An’am: 52). Dan kekasih-kekasih dan wali-wali-Nya berkata: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (Al-Insan: 9).
Dan Allah berfirma: “Dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat pada sisinya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi” (Al-Lail: 19). Maka Dia menjadikan puncak amal-amal orang-orang yang berbakti, muqarrabin, dan pecinta: menginginkan wajah-Nya.
Dan Allah berfirma: “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar” (Al-Ahzab: 29). Maka Dia menjadikan menginginkan-Nya berbeda dengan menginginkan akhirat.
Dan keinginan akan wajah-Nya ini mewajibkan kelezatan melihat-Nya di akhirat, sebagaimana dalam Mustadrak Al-Hakim dan Shahih Ibnu Hibban dalam hadits marfu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berdoa: Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang gaib, dan kekuasaan-Mu atas makhluk: hidupkan aku jika kehidupan adalah kebaikan bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian adalah kebaikan bagiku. Dan aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi dan nyata. Dan aku memohon kepada-Mu kalimat kebenaran dalam keadaan marah dan ridha. Dan aku memohon kepada-Mu kesederhanaan dalam kefakiran dan kekayaan. Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak habis. Dan aku memohon kepada-Mu kesejukan mata yang tidak terputus. Dan aku memohon kepada-Mu keridaan setelah takdir. Dan kesejukan hidup setelah kematian. Dan aku memohon kepada-Mu kelezatan melihat wajah-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tanpa bahaya yang membahayakan, dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.
Maka hadits yang mulia ini telah mencakup tentang terbuktinya kelezatan melihat wajah Allah, dan terbuktinya kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Dan menurut Jahmiyah, Dia Subhanahu tidak memiliki wajah, dan tidak ada yang melihat kepada-Nya, apalagi sampai mendapatkan kelezatan dengan itu. Sebagaimana sebagian dari mereka mendengar seorang yang berdoa dengan doa ini, lalu dia berkata: Celakalah engkau! Seandainya Dia memiliki wajah, apakah engkau akan merasakan kelezatan dengan melihat kepada-Nya?
Dan dalam Shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tiga perkara, barangsiapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman dengannya: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Dan bahwa seseorang mencintai orang lain tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan bahwa ia benci untuk kembali kepada kekufuran – setelah Allah menyelamatkannya darinya – sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.
Dan dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memukul dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia memohon kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.
Dan dalam dua kitab Shahih juga dari dia dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril, lalu berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Kemudian ia menyeru di langit, lalu berkata: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian ditetapkan baginya penerimaan di bumi. Dan dia menyebutkan dalam kebencian kebalikan dari itu.
Dan dalam dua kitab Shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits tentang pemimpin pasukan yang membaca “Qul Huwa Allahu Ahad” untuk sahabat-sahabatnya dalam setiap shalat, dan dia berkata: Karena ia adalah sifat Ar-Rahman, dan aku suka membacanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.
Dan dalam Jami’ At-Tirmidzi dari hadits Abu Idris Al-Khaulani dari Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: Adalah termasuk doa Daud ‘alaihissalam: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin.
Dan di dalamnya juga dari hadits Abdullah bin Yazid Al-Khatmi: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya bersabda: Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku cinta-Mu, dan cinta orang yang cintanya bermanfaat bagiku di sisi-Mu. Ya Allah, apa yang Engkau anugerahkan kepadaku dari yang aku cintai, maka jadikanlah ia kekuatan bagiku dalam apa yang Engkau cintai. Dan apa yang Engkau jauhkan dariku dari yang aku cintai, maka jadikanlah ia kekosongan (untuk terisi) dalam apa yang Engkau cintai.
Dan Al-Quran dan Sunnah penuh dengan penyebutan orang-orang yang Allah Subhanahu cintai dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan penyebutan apa yang Dia cintai dari amal-amal, ucapan-ucapan, dan akhlak mereka. Seperti firman-Nya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar – Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Ali Imran: 146-134). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri – Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh – Maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran: 222-76).
Dan firman-Nya dalam kebalikan itu: “Dan Allah tidak menyukai kerusakan – Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri – Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim – Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri” (An-Nisa: 205-36). Dan betapa banyak dalam Sunnah: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah ini dan ini”, dan “Sesungguhnya Allah mencintai ini dan ini”, seperti sabda beliau: Amalan yang paling dicintai Allah adalah: shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah. Dan Amalan yang paling dicintai Allah adalah: iman kepada Allah, kemudian jihad di jalan Allah, kemudian haji mabrur. Dan Amalan yang paling dicintai Allah adalah: apa yang dilakukan terus-menerus oleh pelakunya. Dan sabda beliau: Sesungguhnya Allah mencintai agar diambil kemudahan-Nya (rukhshah-Nya).
Dan berlipat ganda dari itu. Dan kegembiraan-Nya yang besar atas taubat hamba-Nya yang merupakan kegembiraan paling besar yang diketahui para hamba. Dan itu adalah dari cinta-Nya kepada taubat dan kepada orang yang bertaubat.
Maka jika permasalahan cinta ini batal, niscaya batallah semua tingkatan iman dan ihsan. Dan tertutuplah tempat-tempat perjalanan menuju Allah.
Karena ia adalah ruh dari setiap tingkatan, tempat, dan amalan. Jika kosong darinya, maka ia mati, tidak ada ruh padanya. Dan kedudukannya terhadap amal-amal seperti kedudukan keikhlasan terhadapnya. Bahkan ia adalah hakikat keikhlasan, bahkan ia adalah islam itu sendiri. Karena islam adalah berserah diri dengan kerendahan, cinta, dan ketaatan kepada Allah. Maka barangsiapa tidak memiliki cinta, maka ia tidak memiliki islam sama sekali. Bahkan ia adalah hakikat persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Karena ilah adalah Dzat yang para hamba mempertuhankan-Nya dengan kerendahan, ketakutan, harapan, pengagungan, dan ketaatan kepada-Nya, dengan makna ma’luh (yang dipertuhan). Dan Dialah yang hati-hati mempertuhan-Nya, yaitu mencintai dan merendah kepada-Nya. Dan asal at-ta’alluh adalah at-ta’abbud (beribadah). Dan at-ta’abbud adalah tingkatan terakhir dari cinta. Dikatakan: ‘Abbadahu al-hubb wa tayyamahu (cinta menghambakan dan memperbudaknya): jika cinta menguasai dan merendahkannya kepada yang dicintainya.
Maka “cinta” adalah hakikat pengabdian. Dan apakah mungkin inabah (kembali kepada Allah) tanpa cinta, ridha, pujian, syukur, takut, dan harap?! Dan apakah sabar pada hakikatnya kecuali sabar para pecinta?! Maka sesungguhnya ia hanya bertawakal kepada yang dicintai dalam meraih hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya.
Demikian pula zuhud pada hakikatnya: adalah zuhud para pecinta. Karena mereka berzuhud terhadap cinta kepada selain kekasih mereka demi cinta kepada-Nya.
Demikian pula malu pada hakikatnya: hanyalah malu para pecinta. Karena ia terlahir dari antara cinta dan pengagungan. Adapun apa yang tidak lahir dari cinta, maka itu adalah ketakutan semata.
Demikian pula tingkatan kefakiran, karena ia pada hakikatnya adalah kefakiran ruh-ruh kepada kekasihnya. Dan ia adalah jenis kefakiran yang paling tinggi. Karena tidak ada kefakiran yang lebih sempurna daripada kefakiran hati kepada yang ia cintai. Terlebih lagi jika ia menunggalkan-Nya dalam cinta, dan tidak mendapatkan pengganti darinya selain Dia. Ini adalah hakikat kefakiran menurut orang-orang yang mengenal Allah.
Demikian pula kekayaan adalah kekayaan hati dengan tercapainya kekasihnya. Demikian pula kerinduan kepada Allah Ta’ala dan bertemu dengan-Nya. Karena ia adalah inti cinta dan rahasianya. Sebagaimana akan datang penjelasannya.
Maka orang yang mengingkari cinta dalam masalah ini dan meniadakannya dari hati-hati: adalah peniadaan semua itu. Dan hijabnya adalah hijab yang paling tebal. Dan hatinya adalah hati yang paling keras, dan paling jauh dari Allah. Dan ia adalah pengingkar kekasihan Ibrahim ‘alaihissalam. Karena kekasihan (khullah) adalah kesempurnaan cinta. Dan ia menta’wilkan Al-Khalil dengan Al-Muhtaj (yang membutuhkan). Maka Khalilullah menurutnya adalah: orang yang membutuhkan. Maka betapa banyak – menurut ucapannya – Khalil (kekasih) Allah dari orang yang berbakti dan durhaka, bahkan mukmin dan kafir. Karena banyak dari orang-orang durhaka dan kafir yang meletakkan semua kebutuhannya kepada Allah, yang kecil maupun besar. Dan melihat dirinya paling membutuhkan kepada Tuhannya dalam setiap keadaan.
Maka tidak dengan kekasihan mereka yang mengingkari itu mengakui, tidak dengan pengabdian, tidak dengan tauhid uluhiyyah, tidak dengan hakikat-hakikat islam, iman, dan ihsan. Dan oleh karena itu, Khalid bin Abdullah Al-Qasri mengorbankan pemimpin dan syaikh mereka, Ja’d bin Dirham, dan berkata pada hari Idul Adha, setelah khutbahnya: Wahai manusia, berkorbanlah. Semoga Allah menerima kurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan berkorban dengan Ja’d bin Dirham. Karena ia mengklaim bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, dan tidak berbicara kepada Musa dengan pembicaraan. Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh Ja’d, ketinggian yang besar. Kemudian ia turun dan menyembelihnya. Maka kaum muslimin mensyukuri usahanya, dan merahmatinya Allah, dan menerima darinya.
Pasal tentang Tingkatan-tingkatan Cinta
Pertama: Al-‘Alaqah (keterikatan), dan dinamai ‘alaqah karena hati terikat dengan yang dicintai. Penyair berkata:
Apakah ini keterikatan ataukah Ummu al-Walid setelah… ranting kepalamu seperti bunga ats-tsugham yang kering.
Kedua: Al-Iradah (keinginan), yaitu kecenderungan hati kepada kekasihnya dan menginginkannya.
Ketiga: Ash-Shababah (kerinduan yang mendalam), yaitu mengalirnya hati kepadanya, sehingga pemiliknya tidak dapat menguasainya. Seperti mengalirnya air di tempat yang menurun. Maka nama sifat darinya adalah shabb, dan fi’ilnya adalah shaba ilaihi yashbu shaban, dan shababatan. Mereka mengganti antara mudha’af dan mu’tal, dan menjadikan fi’il dari mu’tal dan sifat dari mudha’af. Dan dikatakan: shaba wa shabwah, wa shababah. Maka ash-shaba adalah: asal kecenderungan. Dan ash-shabwah: lebih tinggi darinya. Dan ash-shababah: kecenderungan yang menetap dan mengalirnya hati secara total.
Keempat: Al-Gharam, yaitu cinta yang melekat pada hati, yang tidak meninggalkannya. Bahkan melekat padanya seperti melekatnya penagih utang kepada orang yang berutang. Dan darinya dinamakan azab neraka gharaman karena melekatnya pada penghuninya dan tidak meninggalkan mereka. Allah berfirman: “Sesungguhnya azabnya adalah kekal” (Al-Furqan: 65).
Kelima: Al-Widad, yaitu jernihnya cinta, tingkatan-tingkatannya ada sepuluh, dan yang murni serta intinya. Dan Al-Wadud adalah dari nama-nama Tuhan, dan di dalamnya ada dua pendapat:
Pertama: bahwa Dia adalah yang dicintai. Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahihnya: Al-Wadud adalah Al-Habib (yang dicintai).
Kedua: bahwa Dia adalah yang mencintai hamba-hamba-Nya, yaitu yang mencintai mereka. Dan Dia menyandingkannya dengan nama-Nya Al-Ghafur sebagai pemberitahuan bahwa Dia mengampuni dosa, dan mencintai orang yang bertaubat darinya, dan menyukainya. Maka bagian orang yang bertaubat adalah: meraih ampunan dari-Nya.
Dan berdasarkan pendapat pertama, “Al-Wadud” dalam makna menjadi rahasia penggabungan, yaitu penggabungan “Al-Wadud dengan Al-Ghafur” adalah meminta cinta para hamba kepada-Nya, dan cinta mereka kepada-Nya dengan nama Al-Ghafur.
Keenam: Asy-Syaghaf. Dikatakan: syaghafa bi kadza (ia tergila-gila dengan sesuatu), maka ia adalah masyghuf bihi (yang tergila-gila dengannya). Dan sungguh kekasih telah menyaghafnya (membuatnya tergila-gila). Yaitu cintanya telah sampai kepada syaghaf hatinya. Sebagaimana kaum wanita berkata tentang istri Al-Aziz: “Sungguh cintanya telah merasuk ke dalam hatinya” (Yusuf: 30). Dan di dalamnya ada tiga pendapat.
Pertama: bahwa ia adalah cinta yang menguasai hati, sehingga menghalanginya dari yang lain. Al-Kalbi berkata: Cintanya menghalangi hatinya hingga ia tidak berakal selain dirinya.
Kedua: cinta yang sampai ke dalam hati. Pemilik pendapat ini berkata: Maknanya adalah ia mencintainya hingga cintanya masuk ke syaghaf hatinya, yaitu bagian dalamnya.
Ketiga: bahwa ia adalah cinta yang sampai ke selaput hati. Dan asy-syaghaf adalah selaput hati, jika cinta sampai kepadanya, maka ia menyentuh hati. As-Suddi berkata: Asy-syaghaf adalah kulit tipis di atas hati. Ia berkata: cinta masuk hingga mengenai hati.
Dan sebagian salaf membaca “sya’afaha” dengan ‘ain yang tidak bertitik. Dan maknanya: cinta telah membawanya ke setiap arah. Dan mencapai tingkatan tertingginya. Dan darinya: syu’af al-jibal (puncak-puncak gunung), untuk puncak-puncaknya.
Ketujuh: Al-‘Isyq, yaitu cinta yang berlebihan yang dikhawatirkan pemiliknya karenanya. Dan atas dasar ini Ibrahim dan Muhammad bin Abdul Wahhab menta’wilkan: “Dan janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya” (Al-Baqarah: 286). Muhammad berkata: Itu adalah ‘isyq (cinta yang berlebihan).
Dan diriwayatkan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang seorang pemuda yang ia kenal telah menjadi sangat kurus seperti lidi. Maka ia bertanya: “Apa yang menimpanya?” Mereka menjawab: “Asyik (cinta yang berlebihan).” Maka Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menjadikan sebagian besar doanya ketika di Arafah adalah: memohon perlindungan dari asyik.
Mengenai asal-usul katanya ada dua pendapat. Pertama: bahwa ia berasal dari kata ‘asyqah (dengan harakat) yaitu tumbuhan kuning yang melilit pada pohon, maka pecinta diumpamakan dengannya.
Kedua: bahwa ia berasal dari makna berlebih-lebihan. Berdasarkan dua pendapat ini, maka kata tersebut tidak boleh disifatkan kepada Rabb Tabaraka wa Ta’ala, dan tidak pula bagi hamba dalam kecintaannya kepada Rabbnya. Dan jika hal itu diucapkan oleh orang yang mabuk karena cinta yang telah memusnahkan kemampuan membedakannya, maka ia berada dalam perlindungan kejujuran dan cintanya.
Yang kedelapan: Tat-tim, yaitu penghambaan dan penghinaan diri. Dikatakan: “Cinta telah menghina dan memperbudaknya.” Dan Taim Allah artinya: hamba Allah. Dan antara tat-tim dengan yatim (yang artinya kesendirian) terdapat hubungan dalam akar kata pertengahan dan kesesuaian makna. Karena sesungguhnya orang yang ter-tat-tim adalah orang yang sendirian dengan cinta dan kesedihannya, seperti kesendirian anak yatim dari ayahnya, dan keduanya hancur dan hina. Yang ini hancur karena yatim, dan yang itu hancur karena tat-tim.
Yang kesembilan: Ta’abbud (penghambaan), dan ini lebih tinggi dari tat-tim. Karena sesungguhnya hamba adalah orang yang telah dikuasai oleh yang dicintai sehingga tidak tersisa baginya sesuatu pun dari dirinya sama sekali. Bahkan seluruhnya menjadi hamba bagi yang dicintainya, lahir dan batin. Dan inilah hakikat penghambaan. Dan barangsiapa menyempurnakannya maka ia telah menyempurnakan tingkatannya.
Dan ketika pemimpin anak Adam menyempurnakan tingkatan ini, Allah mensifatinya dengan hal tersebut dalam kedudukan-kedudukannya yang paling mulia: kedudukan Isra, seperti firman-Nya “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya” (Surat Al-Isra: 1), kedudukan dakwah, seperti firman-Nya “Dan bahwa ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyeru kepada-Nya” (Surat Al-Jinn: 19), dan kedudukan tantangan, seperti firman-Nya “Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami” (Surat Al-Baqarah: 23). Dan dengan itu ia berhak didahulukan atas semua makhluk di dunia dan akhirat.
Demikian pula Isa alaihissholatu wassalam akan berkata kepada mereka ketika mereka meminta syafaat darinya – setelah para nabi alaihimussholatu wassalam – “Pergilah kepada Muhammad, hamba yang Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”
Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah quddisa Allahu ruhahu berkata: “Maka ia memperoleh tingkatan itu dengan penyempurnaan penghambaan dirinya kepada Allah Ta’ala, dan kesempurnaan ampunan Allah kepadanya.”
Dan hakikat penghambaan adalah: cinta yang sempurna, dengan kehinaan yang sempurna dan ketundukan kepada yang dicintai. Orang Arab berkata: jalan yang mu’abbad artinya jalan yang telah diinjak dan diratakan oleh telapak kaki.
Yang kesepuluh: tingkatan Al-Khullah (kekasihan) yang hanya dimiliki oleh dua kekasih Allah – Ibrahim dan Muhammad shallallahu alaihima wasallam – sebagaimana shahih dari beliau bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih), sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.”
Dan beliau bersabda: “Seandainya aku mengambil kekasih dari penduduk bumi, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih. Tetapi sahabat kalian adalah khalil Ar-Rahman (kekasih Allah Yang Maha Pengasih).” Kedua hadits ini terdapat dalam shahih.
Dan keduanya membatalkan pendapat orang yang berkata: Khullah untuk Ibrahim dan mahabbah (kecintaan) untuk Muhammad, maka Ibrahim adalah khalil-Nya dan Muhammad adalah habib-Nya.
Al-Khullah adalah cinta yang meresap ke dalam ruh dan hati pecinta, sehingga tidak tersisa di dalamnya tempat bagi selain yang dicintai, sebagaimana dikatakan:
Engkau telah meresap ke dalam jalan ruhku Dan karena itulah ia dinamakan khalil
Dan inilah rahasia yang karenanya – wallahu a’lam – Khalil (Ibrahim) diperintahkan untuk menyembelih anaknya, buah hatinya dan bagian dari jiwanya. Karena ketika ia meminta anak lalu diberinya, maka tergantunglah sebagian hatinya kepada anak itu. Sedangkan khullah adalah kedudukan yang tidak menerima kebersamaan dan pembagian. Maka Al-Khalil (Allah) cemburu terhadap khalil-Nya (Ibrahim) bahwa ada tempat di hatinya untuk selain-Nya. Maka Dia memerintahkannya untuk menyembelih anak itu, agar pesaing keluar dari hatinya.
Ketika ia telah menetapkan dirinya untuk itu dan berazam dengan sangat kuat, tercapailah maksud perintah tersebut. Maka tidak ada lagi kemaslahatan dalam menghilangkan nyawa anak itu. Lalu Allah menghalanginya dan menebus anak itu dengan sembelihan yang besar. Dan dikatakan kepadanya: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu” (Surat Ash-Shaffat: 104), artinya engkau telah melakukan perbuatan orang yang membenarkan. “Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Surat Ash-Shaffat: 80). Kami memberi balasan kepada orang yang segera melaksanakan ketaatan kepada Kami, maka Kami menyenangkan hatinya sebagaimana Kami telah menyenangkan hatimu dengan melaksanakan perintah-perintah Kami, dan dengan keberadaan anak serta keselamatannya. “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata” (Surat Ash-Shaffat: 106). Yaitu ujian dari Yang Dicintai kepada pecinta-Nya, dan pengujian terhadapnya agar ia mengutamakan keridhaan-Nya. Maka Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya, maka ini adalah ujian berupa cobaan dan anugerah sekaligus.
Dan dakwah ini hanya ditujukan kepada orang-orang pilihan dari makhluk-Nya, dan pemilik akal serta pandangan yang tajam di antara mereka. Maka tidak setiap orang memenuhi panggilannya, dan tidak setiap mata senang dengannya. Dan pengikutnya adalah mereka yang berada di tengah genggaman kanan pada hari dua genggaman. Sedangkan sisa golongan kanan berada di pinggir-pinggirnya.
Tidak setiap mata senang dengan Kekasih Dan tidak setiap yang dipanggil memenuhi panggilan Barangsiapa tidak memenuhi panggilan petunjuk-Mu maka biarkanlah Dia akan memenuhi setiap yang menyeru kepada kesesatan Dan katakan kepada mata yang sakit: janganlah engkau melihat Cahaya matahari, maka tutuplah dengan kegelapan malam Dan berilah maaf kepada jiwa-jiwa yang tidak diberinya cinta kepada mereka Dan biarkanlah dengan apa yang mereka pilih dan jangan bersikap kasar Dan katakan kepada yang telah hilang, cukuplah sebagai hukuman Ketidakhadiranmu dari urusan ini seandainya engkau memahami Demi Allah, seandainya bagianmu berlimpah Engkau akan mengasihani musuh yang hasad dan membencimu Tidakkah engkau melihat bekas perpisahan telah tampak Pada keadaannya maka kasihanilah jika engkau merasa kasihan Kelelawar-kelelawar yang dibutakan oleh siang dengan cahayanya Dan cocok baginya potongan-potongan malam yang tampak Maka berkeliaran dan bergerak di dalamnya hingga ketika siang Terbit, mereka bersembunyi dan berlindung Maka alangkah malangnya wanita cantik yang dihadiahkan kepada seorang Yang buta dan mandul serta kosong dari kerinduan Jika kegelapan malam tersingkap dengan cahayanya Kembali ke matanya menjadi gelap sebagaimana adanya Maka kikirkanlah dengannya jika engkau mengetahui nilainya Hingga engkau melihat yang sepadan datang kepadamu Maka mas kawinnya bukan sesuatu selain ruh, wahai Pengecut, mundurlah, engkau bukan sepadan Maka jadilah selamanya di tempat kendaraan-kendaraan Cinta di belakang keteguhan berjalan Dan berjalanlah di malam hari dan jangan takut akan kegelapan karena sesungguhnya Wajah cinta akan mencukupimu di malam hari sebagai penunjuk jalan Dan giringlah dengannya dengan mengingat-Nya kendaraanmu karena sesungguhnya Harum mengingat-Nya akan mencukupi kendaraan sebagai penggembala Dan janjikanlah dengannya kesegaran perjumpaan maka ia akan memberimu perjalanannya Maka seperti apa yang engkau mau dan pertahankan tulang-tulang yang usang Dan majulah maka entah kematian atau cita-cita Yang mengistirahatkanmu dari kehidupan yang dengannya engkau tidak ridha Maka tidak ada selain perjumpaan atau kecintaan kepada mereka Dan cukuplah bagimu keberuntungan itu jika engkau memahami Apakah belum bosan dari kehidupannya jiwa yang gelisah Yang bermalam dengan api perpisahan menemui penyiksa Apakah kematiannya dalam cinta mereka adalah kehidupan? Dan kehinaannya Adalah kemuliaan dan taufik yang selalu mahal Apakah tidak malu orang yang mengaku cinta dengan kikir Dengan apa yang dengannya kekasih memanggilnya dengan penundaan Apakah itu bukan klaim pembohong yang tidak memiliki bagian Dari cinta kecuali ucapannya dan angan-angan Apakah jiwa-jiwa para pecinta bukan milik selain mereka Dengan ijma’ ahli cinta yang selalu tersebar Apakah para pecinta tidak mendengar ucapan kekasih Kepada pecinta yang datang kepadanya mengeluhkan cinta Dan ketika ia mengeluhkan cinta, dia berkata: Engkau telah mendustakan Mengapa aku melihat anggota tubuhmu masih sehat Maka tidak ada cinta hingga hati menempel pada dada Dan engkau membisu hingga tidak menjawab yang memanggil Dan engkau kurus hingga tidak tersisa bagimu oleh hawa Kecuali mata yang dengannya engkau menangis dan bermunajat
Pasal: Cinta adalah Keterkaitan Hati antara Keinginan Kuat dan Ketentraman
Pasal
Penulis kitab Al-Manazil rahimahullah berkata:
Cinta adalah: keterkaitan hati antara keinginan kuat dan ketentraman. Artinya: keterkaitan hati kepada yang dicintai dengan keterkaitan yang disertai keinginan kuat pecinta dan ketentrangannya dengan yang dicintai, dalam dua keadaan pemberian dan pencegahan-Nya, dan pengkhususan dengan keterkaitan itu, sehingga tidak ada bagi selain-Nya bagian di dalamnya.
Dan dia menunjukkan bahwa cinta berada antara keinginan kuat dan ketentraman karena cinta adalah puncak kekuatan pencarian, dan karena pecinta sangat berkeinginan dan mencari, maka keinginan kuat adalah dari unsur-unsur cintanya dan kumpulan sifat-sifatnya. Dan karena pencarian dengan keinginan kuat bisa saja tanpa ketentraman, sedangkan pecinta pasti merasa tentram dengan keindahan yang dicintainya dan harapannya untuk mencapainya, maka dari keduanya lahirlah ketentraman. Maka wajib bagi pecinta memiliki sifat tentram. Maka jadilah cinta berdiri antara keinginan kuat dan ketentraman.
Dan yang dimaksud dengan pemberian dan pencegahan adalah salah satu dari dua hal: pemberian ruh dan jiwa kepada yang dicintainya dan mencegahnya dari selainnya. Maka pemberian dan pencegahan adalah sifat pecinta. Atau pemberian dan pencegahan kekasih. Maka keinginan kuat pecinta terkait dengannya dalam dua keadaan pemberian dan pencegahannya.
Dan yang dimaksud dengan pengkhususan adalah dua makna: pengkhususan yang dicintai dan penunggalannya dengan keterkaitan itu, atau fananya dalam cintanya, sehingga ia lupa dirinya dan sifat-sifatnya dalam mengingat keindahan yang dicintainya, hingga tidak tersisa kecuali yang dicintai sendiri.
Dan maksudnya adalah: pengkhususan pecinta terhadap yang dicintainya dengan tauhid dan cinta. Wallahu a’lam.
Pasal: Cinta adalah Awal Lembah Fana
Pasal
Dia berkata: Dan cinta adalah: awal lembah fana, dan jalan menurun yang darinya turun ke tempat-tempat penghapusan. Dan ia adalah tempat terakhir bertemunya barisan depan orang awam dan barisan belakang orang khusus.
Cinta adalah awal lembah fana karena ia menafanakan pikiran pecinta dari keterkaitan dengan selain yang dicintai. Dan yang pertama fana dari pecinta adalah: pikiran-pikirannya yang terkait dengan selain yang dicintainya. Karena ketika hatinya tertarik sepenuhnya kepada yang dicintainya, maka pikiran-pikirannya tertarik mengikuti.
Dan yang dimaksud dengan tempat-tempat penghapusan adalah tingkatan-tingkatannya.
Dan yang pertama adalah: penghapusan perbuatan dalam perbuatan Allah Ta’ala. Maka ia tidak melihat bagi dirinya dan bagi selainnya ada perbuatan.
Yang kedua: penghapusan sifat-sifat yang ada pada hamba. Maka ia melihatnya sebagai pinjaman yang dipinjamkan, dan pemberian yang dihadiahkan, untuk menunjukkan dengannya kepada Pencipta dan Pembentuknya, dan kepada keesaan-Nya dan sifat-sifat-Nya. Maka ia mengetahui dengan perantaraan kehidupannya: makna kehidupan Rabbnya, dan dengan perantaraan ilmu, kuasa, kehendak, pendengaran, penglihatan, kalam, murka dan ridha-Nya: makna ilmu Rabbnya, kuasa-Nya, kehendak-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kalam-Nya, murka-Nya dan ridha-Nya. Dan seandainya tidak ada sifat-sifat ini padanya, ia tidak akan mengetahuinya dari Rabbnya.
Dan ini adalah salah satu takwil dalam atsar Israiliyat: “Kenalilah dirimu niscaya engkau akan mengenal Rabbmu.”
Dan sifat-sifat ini dalam hakikatnya adalah: bekas dari sifat-sifat Ilahi padanya. Karena ia adalah bekas dari perbuatan-perbuatan Allah, dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah akibat dari sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Maka kembali segala perkara kepada perbuatan-perbuatan-Nya, dan kembali perbuatan-perbuatan-Nya kepada sifat-sifat-Nya.
Maka dalam kedudukan ini hamba menghapus penyaksian terhadap sifat-sifatnya dan keberadaannya yang tidak hakiki, dan menetapkan penyaksian terhadap sifat-sifat Yang Diibadahi dan keberadaan-Nya yang hakiki. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-Nya sifat-sifat ini agar ia mengenal-Nya dengannya dan menjadikannya sebagai petunjuk kepada-Nya. Jika ia tidak melakukannya, maka ia telah menutup jalan ma’rifat dan istidlal dengannya. Sifat-sifat itu pun menjadi seperti tiada. Oleh karena itu, orang yang lalai dari Allah digambarkan sebagai orang yang tuli, bisu, buta, mati, dan tidak berakal.
Ketiga: menghapus dzat. Yaitu menyaksikan keesaan Yang Haq Ta’ala dalam wujud secara azali dan abadi. Dan bahwa Dia adalah Yang Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Yang Akhir yang tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya. Keberadaan segala sesuatu selain-Nya berdiri dengan-Nya dan merupakan dampak dari ciptaan-Nya. Maka wujud-Nya adalah wujud yang wajib lagi hak, yang tetap pada diri-Nya secara azali dan abadi. Dan Dia-lah yang menyendiri dengan hal itu.
Penghapusan ini benar dengan dua pertimbangan.
Pertama: dengan pertimbangan wujud dzati. Tidak diragukan lagi penetapan penghapusannya dengan pertimbangan ini. Karena tidak ada bersama Allah sesuatu yang ada dengan sendirinya selain Dia. Dan segala sesuatu selain-Nya adalah ada dengan pengadaan-Nya Subhanahu.
Pertimbangan kedua: penghapusan dalam penyaksian. Maka ia tidak menyaksikan pelaku selain Yang Haq Subhanahu. Tidak pula sifat-sifat selain sifat-sifat-Nya, dan tidak ada yang ada selain-Nya, karena keterlenyapannya dengan kesempurnaan penyaksiannya dari menyaksikan selain-Nya.
Adapun penghapusan semua itu dari wujud secara keseluruhan, maka itu adalah penghapusannya kaum zindiq dan kelompok Itthadiyah. Dan penulis kitab al-Manazil serta setiap wali Allah berlepas diri dari mereka dalam hal dan keyakinan.
Yang dimaksud: bahwa dari jalur cinta, pencinta turun menuju kedudukan-kedudukan penghapusan.
Ketika kedudukan-kedudukan penghapusan dan fana menjadi tujuan akhir menurut penulis kitab al-Manazil, maka ia menjadikan cinta sebagai jalur yang darinya seseorang turun menuju kedudukan-kedudukan tersebut.
Adapun bagi yang menjadikan cinta sebagai tujuan akhir, maka kedudukan-kedudukan penghapusan menurutnya adalah lembah-lembah yang darinya ia naik menuju ruh cinta. Dan tidak ada setelah cinta yang benar kecuali kedudukan-kedudukan kekal. Adapun fana dan penghapusan adalah jalur-jalur dan lembah-lembah dalam perjalanannya menurut kelompok ini. Wallahu a’lam.
Perkataannya: Dan ia adalah kedudukan terakhir dimana barisan depan kelompok awam bertemu dengan barisan belakang kelompok khusus.
Ini berdasarkan pokok yang telah disebutkannya, yaitu: bahwa dari cinta seseorang turun menuju lembah-lembah fana. Maka cinta adalah lembah pertama dari lembah-lembah fana. Barisan depan kelompok awam berada di akhir tingkatan cinta, dan barisan belakang kelompok khusus berada di awal kedudukan fana. Kedudukan fana terhubung dengan akhir kedudukan cinta. Maka pada saat itu bertemu barisan depan kelompok awam dengan barisan belakang kelompok khusus, inilah penjelasan perkataannya.
Menurut kelompok yang lain, perkaranya adalah kebalikannya. Yaitu bahwa barisan depan para ahli fana bertemu dengan barisan belakang atau pintu cinta. Karena mereka berada di depan mereka dalam perjalanan. Dan mereka senantiasa berada di depan rombongan. Dan ini berdasarkan bahwa ahli kekal dalam cinta lebih tinggi kedudukannya daripada ahli fana. Dan inilah yang benar. Wallahu a’lam.
Pasal: Tingkatan-tingkatan di Bawah Cinta
Pasal
Ia berkata: Dan yang di bawahnya adalah tujuan-tujuan untuk ganti rugi.
Maksudnya, yang di bawah cinta dari tingkatan-tingkatan adalah tujuan-tujuan dari makhluk untuk mendapatkan ganti rugi yang mereka peroleh. Adapun para pencinta, maka mereka adalah hamba. Dan hamba beserta dirinya, amalnya, dan manfaatnya adalah milik tuannya, maka bagaimana ia meminta ganti rugi darinya atas miliknya? Orang yang diberi upah ketika mengambil upahnya akan pergi. Sedangkan hamba di pintu tidak pergi. Maka tidak ada penghambaan kecuali penghambaan ahli cinta yang murni. Mereka itulah orang-orang yang beruntung dengan kemuliaan dunia dan akhirat. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh keamanan dan mereka mendapat petunjuk.
Pasal: Cinta adalah Ciri Kelompok dan Judul Jalan
Pasal
Ia berkata: Dan cinta adalah ciri kelompok, judul jalan, dan pengikat hubungan.
Maksudnya: ciri kelompok musafir ini menuju Tuhan mereka, yang menunggangi sayap perjalanan kepada-Nya, kemudian tidak meninggalkannya hingga waktu perjumpaan. Mereka adalah orang-orang yang duduk di atas hakikat. Dan selain mereka duduk di atas bentuk-bentuk lahiriah.
Dan judul jalan mereka, yaitu dalilnya. Karena judul menunjukkan pada buku, dan cinta menunjukkan pada kebenaran penuntut, dan bahwa ia termasuk ahli jalan.
Dan pengikat hubungan, yaitu hubungan antara Tuhan dan hamba. Karena tidak ada hubungan antara Allah dan hamba kecuali semata-mata penghambaan dari hamba dan ketuhanan dari Tuhan. Dan tidak ada pada hamba sesuatu pun dari ketuhanan, dan tidak ada pada Tuhan sesuatu pun dari penghambaan. Maka hamba adalah hamba dari segala sisi. Dan Tuhan Ta’ala adalah Tuhan yang hak dari segala sisi. Dan pengikat hubungan penghambaan adalah cinta. Maka penghambaan terikat dengannya, sehingga apabila terlepas cinta, terlepaslah penghambaan. Wallahu a’lam.
Pasal: Tingkatan-tingkatan Cinta
Tingkatan Pertama: Cinta yang Memutus Bisikan
Pasal
Ia berkata: Dan ia memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: cinta yang memutus bisikan-bisikan, membuat nikmat pelayanan, dan menghibur dari musibah-musibah.
Perkataannya “memutus bisikan-bisikan”, karena bisikan-bisikan dan cinta saling bertentangan. Karena cinta menghendaki dominasi dzikir kepada yang dicintai atas hati. Sedangkan bisikan-bisikan menghendaki keterlenyapannya darinya, hingga jiwanya membisikkan kepadanya dengan selainnya. Maka antara cinta dan bisikan-bisikan terdapat pertentangan yang keras, sebagaimana antara dzikir dan kelalaian.
Maka keteguhan cinta menafikan keragu-raguan hati antara yang dicintai dan selainnya. Dan itu adalah sebab bisikan-bisikan. Jauh sekali pencinta yang benar menemukan kekosongan untuk bisikan selain yang dicintai, karena hatinya tenggelam dalam kehadirannya di hadapan kekasihnya. Bukankah bisikan-bisikan hanya untuk ahli kelalaian dan berpaling dari Allah Ta’ala? Dan dari mana berkumpul cinta dan bisikan?
Tidak akan ada orang yang selain Engkau di dalamnya masih ada sisa, yang di dalamnya ia membagi pikirannya dan membisikkan.
Perkataannya “dan membuat nikmat pelayanan”, yaitu pencinta merasakan nikmat dalam melayani kekasihnya. Maka ia terangkat dari melihat kelelahan yang dilihat orang yang kosong dalam pelayanan. Dan ini diketahui dengan penyaksian.
Perkataannya “dan menghibur dari musibah-musibah”, karena pencinta menemukan dalam kelezatan cinta yang membuatnya melupakan musibah-musibah dan tidak merasakan sentuhan musibah sebagaimana yang dirasakan selainnya, hingga seakan-akan ia telah mengenakan tabiat kedua yang bukan tabiat makhluk. Bahkan kekuatan kekuasaan cinta menguat, hingga pencinta merasa nikmat dengan banyak musibah yang menimpanya dari kekasihnya lebih besar daripada kelezatan orang kosong dengan kesenangan dan syahwatnya. Dan perasa serta wujud menyaksikan hal itu. Wallahu a’lam.
Pasal
Ia berkata: Dan ia adalah cinta yang tumbuh dari melihat anugerah. Dan tetap dengan mengikuti sunnah. Dan berkembang atas penerimaan dengan kefakiran.
Perkataannya “tumbuh dari melihat anugerah”, yaitu tumbuh dari perhatian hamba pada anugerah Allah kepadanya, dan nikmat-nikmat-Nya yang tersembunyi dan nyata. Maka sesuai dengan perhatiannya pada hal itu adalah kekuatan cinta. Karena hati-hati tercipta untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, dan membenci orang yang berbuat buruk kepadanya. Dan tidak ada bagi hamba suatu kebaikan kecuali dari Allah. Dan tidak ada kejelekan kecuali dari setan.
Di antara yang terbesar dari melihat anugerah Allah pada hamba-Nya adalah: mengahlukannya untuk cinta-Nya dan ma’rifat-Nya, menginginkan wajah-Nya, dan mengikuti kekasih-Nya. Asal dari ini adalah cahaya yang Allah lemparkan dalam hati hamba. Jika cahaya itu beredar dalam hati hamba dan dzatnya, dzatnya bersinar. Maka ia melihat di dalamnya dirinya sendiri, dan apa yang ia dilayakkan untuknya dari kesempurnaan-kesempurnaan dan kebaikan-kebaikan. Maka tinggi padanya cita-citanya. Dan kuat tekadnya. Dan tersingkap darinya kegelapan-kegelapan jiwa dan tabiatnya. Karena cahaya dan kegelapan tidak berkumpul kecuali salah satunya mengusir lainnya. Maka naiklah pada saat itu antara kewibawaan dan ketenangan menuju Kekasih Yang Pertama.
Pindahkan hatimu ke mana engkau mau dari cinta, cinta hanya untuk kekasih yang pertama
Berapa banyak tempat di bumi yang difamiliarisasi pemuda, dan kerinduannya selamanya untuk tempat pertama
Dan cahaya ini bagaikan matahari dalam hati orang-orang muqarrabin yang terdahulu, dan bagaikan bulan dalam hati orang-orang yang berbakti ashabul yamin, dan bagaikan bintang dalam hati kaum mukminin pada umumnya. Dan perbedaan mereka di dalamnya seperti perbedaan antara bintang Zuhrah dan bintang Suha.
Perkataannya “dan tetap dengan mengikuti sunnah”, yaitu ketetatannya adalah dengan mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam perbuatan-perbuatannya, perkataan-perkataannya dan akhlak-akhlaknya. Maka sesuai dengan pengikutan ini adalah tempat tumbuhnya cinta ini, ketetapannya, dan kekuatannya. Dan sesuai dengan kekurangannya adalah kekurangannya, sebagaimana telah disebutkan: bahwa pengikutan ini menghendaki cinta dan dicintai sekaligus. Dan tidak sempurna perkara kecuali dengan keduanya. Maka bukan perkaranya adalah bahwa engkau mencintai Allah, tetapi perkaranya adalah bahwa Allah mencintaimu. Dan Allah tidak mencintaimu kecuali jika engkau mengikuti kekasih-Nya lahir dan batin, membenarkan beritanya, menaatinya dalam perintahnya, memenuhi panggilan-Nya, mendahulukannya secara sukarela. Dan fana dari hukum selain-Nya dengan hukum-Nya, dan dari cinta selain-Nya dari makhluk dengan cinta-Nya, dan dari ketaatan selain-Nya dengan ketaatan-Nya. Dan jika bukan demikian, maka janganlah engkau bersusah payah. Dan kembalilah dari mana engkau kehendaki lalu carilah cahaya. Engkau tidak berada di atas sesuatu.
Dan renungkanlah firman-Nya: “Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu” (Surat Ali Imran: 31), yaitu perkaranya adalah bahwa Allah mencintai kalian. Bukan bahwa kalian mencintai-Nya. Dan kalian tidak memperoleh ini kecuali dengan mengikuti Al-Habib shallallahu alaihi wasallam.
Perkataannya “dan berkembang atas penerimaan dengan kefakiran”, penerimaan dengan kefakiran adalah: bahwa ia memenuhi panggilan yang memanggil dengan melimpahnya amal. Dan ia kosong darinya. Seakan-akan ia tidak mengerjakannya, bahkan memenuhi panggilan-Nya dengan semata-mata kepailitan dan kefakiran yang total. Karena jalan kefakiran dan kemiskinan: menolak bahwa pemiliknya memiliki amal, atau keadaan, atau tingkatan. Dan ia hanya masuk kepada Tuhannya dengan kepailitan murni, dan kefakiran yang terbuka. Dan tidak diragukan bahwa cinta berkembang atas penyaksian ini, dan penerimaan ini. Betapa mulianya tingkatan. Dan betapa tingginya penyaksian. Dan betapa bermanfaatnya untuk hamba! Dan betapa mendatangkannya cinta! Wallahu musta’an.
BAGIAN: TINGKATAN KEDUA – KECINTAAN YANG MENDORONG UNTUK MENGUTAMAKAN AL-HAQQ ATAS YANG LAINNYA
Bagian
Penulis berkata: Tingkatan kedua adalah kecintaan yang mendorong untuk mengutamakan al-Haqq (Allah) atas yang lainnya, membuat lisan terus-menerus berdzikir kepada-Nya, dan mengikat hati untuk menyaksikan-Nya. Ini adalah kecintaan yang muncul dari perenungan terhadap sifat-sifat Allah, perhatian terhadap ayat-ayat-Nya, dan latihan spiritual dalam tingkatan-tingkatan.
Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, baik dari segi sebab maupun tujuannya. Sebab tingkatan pertama adalah perenungan terhadap ihsan dan karunia Allah. Sedangkan sebab tingkatan ini adalah perenungan terhadap sifat-sifat Allah, penyaksian makna-makna ayat-ayat-Nya yang dapat didengar, perhatian terhadap ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan, dan pencapaian kemampuan dalam tingkatan-tingkatan perjalanan spiritual, yaitu latihan dalam tingkatan-tingkatan. Oleh karena itu, tujuannya lebih tinggi dari tujuan tingkatan sebelumnya.
Perkataan penulis “mendorong untuk mengutamakan al-Haqq atas yang lainnya” maksudnya karena kesempurnaan dan kekuatannya, maka kecintaan ini menuntut dari orang yang mencintai untuk meninggalkan selain Allah demi Allah, sehingga ia mengutamakan-Nya atas yang lain dan tidak mengutamakan yang lain atas-Nya, serta menjadikan lisannya terus-menerus berdzikir kepada-Nya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai sesuatu akan banyak menyebutnya.
“Dan mengikat hati untuk menyaksikan-Nya” karena kuatnya penguasaan Allah atas hati dan keterikatan hati kepada-Nya, hingga seolah-olah hati tidak menyaksikan selain-Nya.
Perkataan penulis “ini adalah kecintaan yang muncul dari perenungan terhadap sifat-sifat” maksudnya: pertama, menetapkan sifat-sifat tersebut; kedua, mengenalnya; ketiga, menolak tahrif (penyimpangan makna) dan ta’thil (peniadaan sifat) dari nash-nashnya; keempat, menolak tamtsil (penyerupaan) dan takyif (penetapan kaifiat/bentuk) dari makna-maknanya. Maka seseorang tidak akan mampu merenungkan sifat-sifat yang mendorong kecintaan yang benar kecuali dengan empat perkara ini. Dan semakin banyak hatinya merenungkannya dan mengetahui makna-maknanya, maka semakin bertambah kecintaannya kepada Dzat yang memiliki sifat-sifat tersebut. Oleh karena itu, kaum Jahmiyyah adalah perampok jalan kecintaan – di antara orang-orang yang mencintai Allah dan mereka terdapat pedang merah.
Perkataan penulis “dan perhatian terhadap ayat-ayat” maksudnya adalah perhatian dengan pikiran dan ibarat terhadap ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan dan ayat-ayat-Nya yang dapat didengar. Dan setiap dari keduanya adalah pendorong yang kuat untuk mencintai-Nya, Maha Suci Dia. Karena keduanya merupakan dalil-dalil atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya, nama-nama keagungan-Nya, tauhid rububiyyah dan uluhiyyah-Nya, atas hikmah, kebajikan, ihsan, kelembutan, kedermawanan, kemurahan-Nya, keluasan rahmat-Nya, dan sempurnanya nikmat-Nya. Maka terus-menerus memperhatikannya sudah pasti mendorong untuk mencintai-Nya.
Demikian juga dengan latihan dalam tingkatan-tingkatan. Karena barangsiapa yang memiliki latihan dan kemampuan dalam tingkatan-tingkatan Islam, iman, dan ihsan, maka kecintaannya akan lebih kuat. Karena kecintaan Allah kepadanya lebih sempurna. Dan apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menumbuhkan kecintaan kepada-Nya dalam hati hamba tersebut.
BAGIAN: TINGKATAN KETIGA – KECINTAAN YANG MENGHANYUTKAN
Bagian
Penulis berkata: Tingkatan ketiga adalah kecintaan yang menghanyutkan, memutuskan ungkapan, menolak isyarat, dan tidak berakhir dengan sifat-sifat.
Maksudnya adalah bahwa kecintaan ini menghanyutkan hati para pecinta karena keindahan kekasih mereka yang tampak bagi mereka. Syaikh mengisyaratkan dengan ini tentang fana dalam kecintaan dan penyaksian, dan bahwa ungkapan terputus tanpa mencapai hakikat kecintaan tersebut, tidak dapat mencapainya, dan isyarat pun tidak dapat menjangkaunya. Karena ia berada di atas ungkapan dan isyarat.
Hakikatnya menurut mereka adalah: fananya sesuatu yang baru dalam Yang Qadim, dan lenyapnya segala bentuk dalam cahaya hakikat yang tampak bagi hati para pecinta, sehingga menguasai hati mereka baik ungkapan, isyarat, maupun sifat. Maka pecinta tidak mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya karena datangnya (kecintaan itu) telah menghanyutkan pemahamannya, sedangkan ungkapan mengikuti pemahaman. Maka pecinta tidak mampu memberi isyarat kepadanya dengan isyarat yang sempurna.
Dan ungkapan menurut mereka berada di bawah isyarat dan lebih jauh darinya. Oleh karena itu, ia menjadikan bagian ungkapan adalah terputus, dan bagian isyarat adalah tertolak. Karena tingkatan kecintaan menerima ungkapan, sedangkan tingkatan ketiga ini tidak menerima isyarat apa pun dan tidak menerima ungkapan.
Dan menurut mereka, ungkapan dan isyarat hanya terhalangi dalam tingkatan tauhid, di mana tidak tersisa lagi bentuk kecintaan, tidak nama, tidak isyarat, dan itulah puncak menurut mereka sebagaimana akan datang penjelasannya.
Yang benar adalah bahwa tauhid kecintaan lebih sempurna dari tauhid yang mereka isyaratkan ini, lebih tinggi tingkatannya, dan lebih agung penyaksiannya. Dan itulah tingkatan para rasul dan nabi – semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka – dan para muqarrabin pilihan.
Adapun tauhid fana, maka jauh di bawahnya. Dan itu bukan termasuk tingkatan-tingkatan para rasul dan nabi semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka. Karena tauhid mereka adalah tauhid baqa (kekal) dan kecintaan, bukan tauhid fana dan ghaibah (ketidaksadaran), kemabukan, dan kehancuran.
Ketika pecinta menurut ahli fana belum sampai sepenuhnya ke tingkatan tauhid fana, bahkan bentuk-bentuk kecintaan masih bersamanya, mereka menjadikan kecintaan sebagai jurang yang darinya turun ke lembah-lembah fana, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Yang benar yang tidak diragukan lagi menurut ahli tahqiq dan pemilik bashirah (pandangan batin) adalah bahwa ungkapan kecintaan lebih sempurna, tingkatannya lebih lengkap, keadaannya lebih mulia, dan pemiliknya termasuk ahli kesadaran setelah kemabukan, kemantapan setelah perubahan keadaan, dan baqa setelah fana. Dan ungkapannya mewakili setiap ungkapan, penjelasannya memenuhi setiap pengalaman spiritual, dan tingkatannya paling tinggi dari setiap tingkatan. Maka ia adalah pemimpin atas semua orang di bawahnya dari pemilik tingkatan-tingkatan, karena tingkatannya adalah amir (pemimpin) atas semua tingkatan.
Pemimpin yang terpercaya, kedermawanan ada padanya
Dermawan yang pelit untuk tidak bersikap dermawan
Adapun kenyataan bahwa sifat-sifat kecintaan tidak berakhir, maka itu karena kecintaan memiliki keterkaitan dan hubungan dengan setiap tingkatan. Ia adalah ruh setiap tingkatan dan yang membawanya. Dan langkah-langkah para salik (penempuh jalan spiritual) hanya bergerak dengannya. Maka kecintaan memiliki keterkaitan dengan setiap langkah, keadaan, dan tingkatan. Sehingga sifat-sifatnya sama sekali tidak berakhir. Wallahu a’lam (Allah Maha Mengetahui).
BAGIAN: POKOK URUSAN PARA SALIK YANG MENEMPUH PERJALANAN KEPADA ALLAH ADALAH PADA KECINTAAN KETIGA INI
Bagian
Perkataan penulis: Dan kecintaan ini adalah poros urusan ini. Adapun yang di bawahnya adalah kecintaan-kecintaan yang telah diserukan oleh lisan-lisan, diklaim oleh makhluk, dan diwajibkan oleh akal.
Yang dimaksud adalah bahwa pokok urusan para salik yang menempuh perjalanan kepada Allah adalah pada kecintaan ketiga ini. Dan hal ini demikian karena kecintaan ini bersih dari kotoran, illat (motif tersembunyi), dan kepentingan-kepentingan. Pemiliknya adalah yang dikehendaki, yang ditarik, dan yang dicari. Adapun kecintaan-kecintaan yang di bawahnya, maka pemiliknya masih bersama keinginannya dari kekasihnya. Adapun kecintaan terhadap ihsan dan perbuatan-perbuatan Allah, maka itu jelas.
Adapun kecintaan terhadap sifat-sifat, maka pemiliknya bersama dengan kenikmatan ruhnya dan kenikmatan hatinya dalam merenungkan sifat-sifat. Karena kenikmatan ruh dan akal sudah pasti dalam merenungkan sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan.
Sedangkan pemilik kecintaan ketiga ini telah naik dari kedua tingkatan tersebut, telah diambil darinya dan dicela karenanya. Dan ini berdasarkan pada asalnya tentang fana sebagai tujuan akhir, dan engkau telah mengetahuinya. Dan perkataannya “dan telah diserukan oleh lisan-lisan” maksudnya lisan-lisan telah menggambarkannya, maka banyak menggambarkan sifat-sifatnya, dan mampu mengungkapkannya.
Dan “diklaim oleh makhluk”, berbeda dengan tingkatan ketiga. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mencapainya kecuali dengan pertolongan Allah. Maka ia bukan bersifat usaha manusia dan tidak dapat diraih dengan sebab. Sehingga tidak mungkin ada pengakuan palsu di dalamnya. Karena urusannya lebih agung dari itu.
Perkataannya “dan diwajibkan oleh akal” maksudnya bahwa akal memutuskan wajibnya kecintaan tersebut. Dan memang benar demikian. Karena akal-akal memutuskan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga, harta, anak, dan segala sesuatu selain-Nya.
Dan setiap orang yang akalnya tidak memutuskan ini, maka jangan pedulikan akalnya. Karena akal, fitrah, syariat, ibarat, dan penalaran, semuanya menyeru kepada kecintaan kepada-Nya, Maha Suci Dia. Bahkan kepada pengesaan-Nya dalam kecintaan. Dan para rasul hanya datang untuk memantapkan apa yang ada dalam fitrah dan akal.
Sebagaimana dikatakan:
Seandainya para rasul tidak datang dari-Nya
Dan tidak mengabarkan tentang keindahan Kekasih
Bukankah wajib yang pasti
Hak kecintaan kepada-Nya dalam pertemuan dan ketiadaan
Barangsiapa akalnya tidak memerintahkan
Dengan ini, maka ia tidak memiliki bagian dalam akal yang sehat
Dan sesungguhnya akal-akal menyeru kepada
Kecintaan kepada Penciptanya dari dekat
Bukankah ia diciptakan atas itu
Dan difitrahkan, bukan dengan usaha yang asing
Bukankah keindahan adalah kekasih hati-hati
Bagi pemilik keindahan dan pemilik hati
Bukankah Yang Maha Indah mencintai keindahan
Maha Tinggi Tuhan alam semesta dari pasangan
Setelah itu ada ihsan-Nya
Yang menyeru kepada-Nya bagi hati yang bertobat
Bukankah jika keduanya sempurna mewajibkan
Kesempurnaan kecintaan bagi yang merespons
Maka siapakah yang menyerupai sifat-sifat-Nya
Maha Tinggi Tuhan alam semesta dari yang serupa
Dan siapakah yang membalas ihsan-Nya
Maka menjadikan-Nya sebagai Tuhan hati hamba yang kembali
Dan ini adalah dalil bahwa Dia
Kepada semua makhluk adalah Kekasih yang paling utama
Wahai orang yang mengingkari itu, demi Allah engkau
Adalah orang yang terlempar dan orang yang terusir
Wahai orang yang mencintai selain-Nya seperti
Kecintaan kepada-Nya, engkau adalah hamba salib
Wahai orang yang mengesakan kekasihnya
Dan merelakannya dalam penyaksian atau ketiadaan
Meskipun makhluk murka pada wajahnya
Ia berkata inilah kecintaan meskipun dengan kesusahan
Engkau beruntung dan mereka rugi, maka jangan bersedih
Dengan tipu daya musuh dan penolakan pengawas
BAGIAN: TINGKATAN AL-GHIRAH (CEMBURU)
HAKIKAT AL-GHIRAH
Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah tingkatan al-ghirah (cemburu).
Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.'” (Surat Al-A’raf: 33)
Dan dalam hadits shahih dari Abu al-Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud semoga Allah meridainya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah, dan karena cemburu-Nya, Dia mengharamkan segala perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih suka dipuji daripada Allah, dan karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih suka menerima uzur daripada Allah, karena itu Dia mengutus para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”
Dan dalam hadits shahih juga, dari hadits Abu Salamah dari Abu Hurairah semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, dan orang mukmin pun cemburu. Dan cemburu Allah adalah apabila hamba melakukan apa yang Dia haramkan atasnya.”
Dan dalam hadits shahih juga, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian heran dengan cemburunya Sa’d? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.”
Dan yang termasuk dalam al-ghirah adalah firman Allah: “Dan apabila kamu membaca Al-Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (Surat Al-Isra’: 45)
As-Sari berkata kepada para sahabatnya: Apakah kalian tahu apa hijab (dinding) ini? Hijab cemburu. Dan tidak ada yang lebih cemburu dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai ahli untuk memahami kalam-Nya, dan tidak menjadikan mereka ahli untuk mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya, dan mencintai-Nya. Maka Dia menjadikan antara mereka dan Rasul-Nya, kalam-Nya, dan tauhid-Nya hijab yang tertutup dari mata, karena cemburu agar tidak disentuh oleh orang yang bukan ahlinya.
Ghirah (Kecemburuan) adalah Kedudukan yang Mulia, Sangat Agung, dan Besar Kedudukannya
Ghirah adalah kedudukan yang mulia, sangat agung, dan besar kedudukannya. Namun sebagian kaum sufi belakangan telah membalik makna aslinya dan membawanya pada pemahaman yang batil. Mereka menyebutnya ghirah tetapi meletakkannya bukan pada tempatnya, dengan penyelewengan yang sangat besar, sebagaimana akan Anda lihat.
Dua Jenis Ghirah
Ghirah ada dua jenis: ghirah dari sesuatu, dan ghirah atas sesuatu.
Ghirah dari sesuatu adalah kebencian terhadap persaingan dan kebersamaan denganmu dalam hal yang kamu cintai.
Ghirah atas sesuatu adalah kesungguhan usahamu atas yang dicintai agar tidak dimenangkan oleh selainmu tanpa dirimu, atau tidak ada yang menyertaimu dalam memenangkannya.
Ghirah juga ada dua jenis: ghirah hamba dari dirinya atas dirinya, seperti ghirah-nya dari dirinya atas hatinya, dari tercerai-berainya atas keterpaduannya, dari berpalingnya atas kehadirannya, dari sifat-sifat tercela atas sifat-sifat terpujinya.
Ghirah ini adalah kekhususan jiwa yang mulia, suci, dan luhur. Jiwa yang hina dan rendah tidak memiliki bagian darinya. Sesuai dengan kemuliaan jiwa dan tingginya cita-citanya, demikianlah ghirah ini.
Ghirah Allah dan Ghirah Hamba
Kemudian ghirah juga ada dua jenis: ghirah Allah Taala atas hamba-Nya, dan ghirah hamba untuk Tuhannya, bukan atas-Nya.
Adapun ghirah Tuhan atas hamba-Nya adalah: Dia tidak menjadikannya sebagai hamba bagi makhluk, melainkan mengambilnya sebagai hamba bagi-Nya sendiri. Dia tidak menjadikan di dalamnya sekutu-sekutu yang bertengkar, melainkan menyendirikannya bagi diri-Nya dan bakhil dengannya terhadap selain-Nya. Ini adalah ghirah yang paling tinggi.
Ghirah hamba untuk Tuhannya juga ada dua jenis: ghirah dari dirinya sendiri, dan ghirah dari selainnya. Yang dari dirinya sendiri adalah: ia tidak menjadikan sesuatu pun dari amal, perkataan, keadaan, waktu, dan napas-napasnya untuk selain Tuhannya. Yang dari selainnya adalah: ia marah karena larangan-larangan-Nya ketika dilanggar oleh para pelanggar, dan karena hak-hak-Nya ketika disepelekan oleh orang-orang yang menyepelekan.
Ghirah Atas Allah: Kebodohan Terbesar
Adapun ghirah atas Allah, itu adalah kebodohan terbesar dan kebatilan yang paling batil. Pelakunya termasuk orang yang paling bodoh. Bahkan bisa jadi membawa pelakunya kepada permusuhan dengan Allah tanpa dia sadari, dan kepada terlepasnya ia dari pokok agama dan Islam.
Bahkan bisa jadi pelakunya lebih jahat bagi para salik (penempuh jalan Allah) daripada para perampok jalan. Bahkan ia adalah perampok jalan para salik yang sesungguhnya. Ia mengeluarkan perampokan jalan dalam bentuk ghirah. Di manakah ini dengan ghirah untuk Allah yang mewajibkan pengagungan hak-hak-Nya dan pemurnian amal dan keadaan untuk Allah?
Orang yang arif ber-ghirah untuk Allah, sedangkan orang bodoh ber-ghirah atas Allah. Maka tidak dikatakan: “Aku ber-ghirah atas Allah,” tetapi “Aku ber-ghirah untuk Allah.”
Ghirah dari Diri Sendiri Lebih Penting
Ghirah hamba dari dirinya sendiri lebih penting daripada ghirah-nya dari orang lain. Karena jika engkau ber-ghirah dari dirimu sendiri, akan sah ghirah-mu untuk Allah dari orang lain. Dan jika engkau ber-ghirah untuk-Nya dari orang lain, tetapi tidak ber-ghirah dari dirimu sendiri, maka ghirah itu cacat dan sakit tanpa ragu. Maka renungkanlah ini dan telitilah.
Hendaknya salik yang cerdas merenungkan kata-kata ini dalam tingkatan ini, yang di dalamnya tergelincir kaki banyak salik. Allah adalah Pemberi Petunjuk, Pemberi Taufik, dan Peneguh.
Contoh-contoh Kesalahan Ghirah
Sebagaimana diriwayatkan dari salah seorang sufi terkenal bahwa ia berkata: “Aku tidak tenang sampai aku tidak melihat siapa pun yang menyebut nama Allah.” Maksudnya ghirah atas-Nya dari orang-orang lalai dan zikir mereka.
Yang mengherankan adalah bahwa ini dianggap sebagai keutamaan dan kebaikannya.
Batas maksimal orang ini adalah bahwa ia dimaafkan karena hilang akalnya. Dan ini termasuk ucapan yang paling buruk. Zikir kepada Allah atas kelalaian dan dalam setiap keadaan lebih baik daripada melupakannya sama sekali. Lidah-lidah ketika meninggalkan zikir kepada Allah – yang merupakan kecintaannya – akan sibuk dengan menyebut apa yang Dia benci dan murka karenanya. Maka ketenangan apakah bagi orang arif dalam hal ini? Bukankah itu lebih berat dan lebih dibenci olehnya?
Dan perkataan yang lain: “Aku tidak suka melihat Allah dan tidak memandang kepada-Nya.” Lalu ditanyakan kepadanya: “Bagaimana?” Ia menjawab: “Ghirah atas-Nya dari pandangan orang sepertiku.”
Lihatlah ghirah buruk ini yang menunjukkan kebodohan pelakunya, padahal ia dalam perlindungan kehinaan, ketawaduan, kerendahan, dan penghinaan dirinya sendiri.
Kisah al-Syibli
Termasuk hal ini apa yang diriwayatkan dari al-Syibli: bahwa ketika anaknya meninggal, ia masuk ke pemandian dan menghitamkan janggutnya hingga semua rambutnya hilang. Setiap orang yang datang menta’ziyahnya berkata: “Apa ini wahai Abu Bakar?” Ia menjawab: “Aku menyetujui keluargaku dalam memotong rambut-rambut mereka.” Lalu salah seorang sahabatnya berkata kepadanya: “Beritahu aku mengapa engkau melakukan ini?” Ia menjawab: “Aku tahu bahwa mereka menta’ziyahku atas kelalaian dan mengatakan: ‘Allah memberimu pahala.’ Maka aku tebus zikir mereka kepada Allah atas kelalaian dengan janggutku.”
Lihatlah ghirah haram yang buruk ini, yang mengandung berbagai jenis kemungkaran: mencukur rambut ketika musibah, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang mencukur, meratap dengan suara keras, dan merobek.” Maksudnya mencukur rambutnya, mengeraskan suara dengan meratap dan meraung, dan merobek pakaiannya.
Di antaranya: mencukur janggut, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan untuk memelihara dan memanjangkannya.
Di antaranya: mencegah saudara-saudaranya dari menta’ziyahnya dan mendapatkan pahalanya.
Di antaranya: kebenciannya terhadap mengalirnya zikir kepada Allah pada lidah mereka dengan kelalaian. Padahal itu lebih baik tanpa ragu daripada meninggalkan zikir kepada-Nya.
Batas maksimal pelaku ini adalah bahwa dosa-dosa ini diampuni baginya dan dimaafkan. Adapun menganggap itu sebagai keutamaan dan ghirah yang terpuji, Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan besar.
Kisah-kisah Lainnya
Termasuk hal ini: apa yang disebutkan dari Abu al-Husain an-Nuri bahwa ia mendengar seorang laki-laki mengumandangkan adzan. Lalu ia berkata: “Tikamlah dia dan cap dia dengan kematian.”
Dan ia mendengar anjing menggonggong, lalu ia berkata: “Aku penuhi panggilan-Mu dan aku siap.” Mereka berkata kepadanya: “Ini adalah meninggalkan agama.”
Mereka benar demi Allah! Ia berkata kepada muazin dalam syahadatnya: “Tikamlah dia dan cap dia dengan kematian,” dan ia menjawab gonggongan anjing?
Lalu ia berkata: “Adapun itu (muazin), ia menyebut nama Allah dari puncak kelalaian. Adapun anjing, Allah Taala berfirman: ‘Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.’ (Surat al-Isra: 44)”
Demi Allah! Apa yang akan dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada orang yang berkata demikian jika beliau melihatnya, atau Umar bin al-Khaththab, atau orang yang menganggap itu sebagai keutamaan dan kebaikan?!
Al-Syibli mendengar seorang laki-laki berkata: “Jalla Allah (Maha Agung Allah).” Lalu ia berkata: “Aku ingin engkau mengagungkan-Nya dari ini.”
Dan suatu kali ia mengumandangkan adzan. Ketika sampai pada dua kalimat syahadat, ia berkata: “Seandainya bukan karena Engkau memerintahkanku, aku tidak akan menyebut selain-Mu bersama-Mu.”
Dan salah seorang yang bodoh dari kaum itu berkata: “Laa ilaaha illallah dari asal hati, dan Muhammad Rasulullah dari anting.”
Sedangkan kami berkata: Muhammad Rasulullah, dari kesempurnaan ucapan laa ilaaha illallah. Kedua kalimat itu keluar dari asal hati, dari satu tempat. Tidak sempurna salah satunya kecuali dengan yang lain.
Bab Ghirah
Penulis kitab Manazil berkata: Bab Ghirah. Allah Taala berfirman – menceritakan tentang Nabi-Nya Sulaiman alaihissalam: ‘Kembalikanlah (kuda-kuda itu) kepadaku; lalu ia mengusap betis dan leher (kuda-kuda itu).’ (Surat Shad: 33)
Wajah pengambilan dalil dengan ayat ini adalah: bahwa Sulaiman alaihissalam mencintai kuda. Kesibukannya mengagumi dan melihatnya – ketika dihadirkan kepadanya – menghalanginya dari shalat siang, hingga matahari terbenam tertutupi hijab. Lalu ghirah untuk Allah menimpanya dari kuda-kuda itu, karena kekagumannya dan pandangannya kepadanya telah menyibukkannya dari beribadah kepada Tuhannya dan hak-Nya. Maka ia berkata: “Kembalikanlah kuda-kuda itu kepadaku,” lalu ia memukul leher-lehernya dan betis-betisnya dengan pedang karena ghirah untuk Allah.
Definisi Ghirah
Penulis berkata: Ghirah adalah: hilangnya kesabaran karena kebakhilan, dan sempitnya kesabaran karena kecintaan yang besar.
Maksudnya: ketidakmampuan orang yang ber-ghirah untuk menerima apa yang menyibukkannya dari kekasihnya dan menghalanginya darinya karena kebakhilan dengannya – yaitu bakhil dengannya – untuk menukarnya dengan selainnya. Kebakhilan ini adalah kemurahan yang murni menurut para pencinta yang benar.
Adapun sempitnya kesabaran karena kecintaan yang besar, maksudnya adalah sempitnya kemampuannya untuk bersabar dari kekasihnya. Ini adalah kesabaran yang tidak tercela dari jenis-jenis kesabaran selainnya, atau yang merupakan wasilahnya. Yang membawanya pada kesempitan ini adalah: berlebihan dengan kekasihnya. Itulah kecintaan yang besar (nafa>sah). Karena persaingan dan keinginannya, ia tidak memaafkan dirinya untuk bersabar darinya.
Perbedaan Munafasah, Ghibthah, dan Hasad
Munafasah (persaingan) adalah kesempurnaan keinginan terhadap sesuatu, dan mencegah orang lain darinya jika tidak terpuji dalam kebersamaan dengannya, atau berlomba kepadanya jika terpuji dalam kebersamaan dengannya. Allah Taala berfirman: ‘Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang bersaing.’ (Surat al-Muthaffifin: 26)
Antara munafasah dan ghibthah (iri yang baik) ada persamaan dan perbedaan, dan antara keduanya dengan hasad (dengki) juga ada persamaan dan perbedaan.
Munafasah mengandung perlombaan, usaha sungguh-sungguh, dan kehati-hatian. Adapun hasad menunjukkan kehinaan dan ketidakmampuan orang yang hasad, jika tidak, berainglah dengan orang yang kamu hasadi. Itu lebih bermanfaat bagimu daripada hasad kepadanya, sebagaimana dikatakan:
Jika kebiasaan seseorang mengagumkanmu Maka jadilah sepertinya, jadilah darimu apa yang mengagumkanmu Karena tidak ada pada kedermawanan dan kemuliaan Jika engkau datang kepadanya, penghalang yang menghalangimu
Ghibthah mengandung rasa kagum, kebahagiaan untuk orang yang di-ghibtahi, dan persetujuan atas keadaannya.
Tingkatan-tingkatan Ghirah
Tingkatan Pertama: Ghirah Abid (Ahli Ibadah)
Penulis berkata: Dan ia (ghirah) terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: ghirah abid (ahli ibadah) atas yang tersia-sia, ia mengembalikan kesia-siaannya, menyusul ketinggalannya, dan mengganti kekuatannya.
Abid adalah orang yang beramal – dengan tuntunan ilmu yang bermanfaat – untuk amal saleh. Maka ghirah-nya adalah atas apa yang tersia-sia darinya dari amal saleh. Maka ia mengembalikan kesia-siaannya dengan yang sejenisnya. Ia mengganti apa yang terlewat dari wirid-wirid, nawafil, dan jenis-jenis ketaatan dengan melakukan yang sejenisnya, dari jenisnya atau selain jenisnya. Ia mengqadha apa yang bermanfaat untuk diqadha, mengganti apa yang menerima pengganti, dan mengganti apa yang mungkin diganti.
Ucapannya “menyusul ketinggalannya”: perbedaan antara mengembalikan yang tersia-sia dan menyusul yang terlewat adalah bahwa yang pertama dapat dikembalikan dengan zatnya, seperti jika ia terlewat haji pada suatu tahun yang ia mampu melakukannya, lalu ia sia-siakan pada tahun itu, ia susul pada tahun berikutnya. Demikian juga jika ia menunda zakat dari waktu wajibnya, ia susul setelah penundaannya, dan yang semisalnya.
Adapun yang terlewat, itu hanya disusul dengan yang sejenisnya, seperti mengqadha kewajiban yang terikat waktu jika waktunya terlewat.
Atau yang dimaksudnya dengan mengembalikan yang tersia-sia dan menyusul yang terlewat adalah dua jenis kelalaian dalam perintah dan larangan. Maka ia mengembalikan yang tersia-sia dari ini dengan mengqadha-nya dan melakukan yang sejenisnya. Dan ia menyusul yang terlewat dari ini – yaitu yang telah lalu – dengan taubat dan penyesalan.
Adapun mengganti kekuatannya, maksudnya adalah ia mengganti kekuatannya dengan mencurahkannya dalam ketaatan sebelum berubah menjadi kelemahan. Maka ia ber-ghirah atasnya agar tidak hilang dalam selain ketaatan kepada Allah. Dan ia mengganti kekuatan-kekuatan amal yang ditimpa kelesuan dengannya dengan memberikannya kekuatan dan semangat, karena ghirah-nya untuknya dan atasnya.
Inilah ghirah para abid atas amal-amal. Wallahu a’lam.
Tingkatan Kedua: Ghirah Murid (Pencari Allah)
Penulis berkata: Tingkatan kedua: ghirah murid. Yaitu ghirah atas waktu yang telah lewat. Ini adalah ghirah yang membunuh. Karena waktu cepat berlalu, enggan untuk diganti, keras sisinya, sulit kembalinya.
“Muridun” adalah pemilik-pemilik ahwal (keadaan spiritual), sedangkan “abid” adalah pemilik-pemilik wirid dan ibadah-ibadah. Setiap murid adalah abid, dan setiap abid adalah murid. Namun kaum sufi mengkhususkan ahli mahabbah (kecintaan) dan pengecap hakikat-hakikat iman dengan nama “murid,” dan mengkhususkan pemilik amal semata dengan nama “abid.” Setiap murid yang bukan abid adalah zindiq, dan setiap abid yang bukan murid adalah orang yang riya.
“Waktu” menurut abid adalah waktu ibadah dan wirid-wirid. Menurut murid adalah waktu menghadap kepada Allah, berkumpul kepada-Nya, dan berkutat kepada-Nya dengan seluruh hati.
“Waktu” adalah hal yang paling berharga baginya, ia ber-ghirah atasnya agar tidak berlalu tanpa itu. Jika waktunya terlewat, ia sama sekali tidak dapat menyusulnya. Karena waktu yang kedua telah berhak atas kewajibannya yang khusus. Jika waktunya terlewat, tidak ada jalan baginya untuk menyusulnya.
Sebagaimana dalam Musnad secara marfu’: “Barangsiapa berbuka puasa pada suatu hari di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur, tidak akan terganti baginya dengan puasa selama-lamanya, meskipun ia berpuasa.”
Ucapannya “ini adalah ghirah yang membunuh”: maksudnya bahayanya sangat keras dan nyata menyerupai pembunuhan, karena penyesalan atas ketinggalan adalah mematikan, terutama jika yang menyesal mengetahui bahwa tidak ada jalan baginya untuk menyusul.
Dan juga, ghirah atas ketinggalan adalah ketinggalan yang lain, sebagaimana dikatakan: kesibukan dengan penyesalan atas waktu yang terlewat adalah menyia-nyiakan waktu yang sekarang. Karena itu dikatakan: waktu adalah pedang. Jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu.
Kemudian syekh menjelaskan sebab ghirah ini mematikan. Ia berkata:
“Karena waktu cepat berlalu,” yaitu cepat habis, sebagaimana orang Arab berkata: al-waha al-waha, al-‘ajala al-‘ajala (cepat cepat). Al-wahy adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Dan dikatakan: si fulan datang wahy-an, yaitu kedatangan yang cepat.
Maka waktu habis dengan sendirinya, berlalu dengan sendirinya. Barangsiapa lalai dari dirinya, waktunya akan habis, ketinggalannya besar, dan penyesalannya keras. Bagaimana keadaannya jika ia mengetahui ketika ketinggalan terealisasi ukuran apa yang ia sia-siakan, dan ia meminta kembali lalu terhalangi antara dirinya dengan pengembalian, dan meminta meraih yang terlewat.
Dan bagaimana mungkin hari kemarin kembali di hari yang baru? “Dan bagaimana mereka dapat mencapai (apa yang mereka inginkan) dari tempat yang jauh” (Saba’: 52) dan dihalangi dari apa yang ia cintai dan ridhai, dan ia mengetahui bahwa apa yang telah ia peroleh bukanlah sesuatu yang sepatutnya diperoleh oleh orang yang berakal, dan ia terhalang dari apa yang ia inginkan.
Betapa menyesal tiada jalan untuk mengembalikannya … seandainya bisa dikembalikan niscaya ringan penyesalan itu
Itulah syahwat-syahwat yang telah berubah … menjadi penyesalan ketika kesabaran menjadi sulit
Seandainya syahwat itu dikembalikan dengan kesabaran dan kekuatan … niscaya berubah menjadi kelezatan dan orang yang berakal dapat melihatnya
Dan dikatakan: Sesungguhnya keadaan yang terputus paling sulit adalah terputusnya nafas. Karena sesungguhnya pemiliknya ketika satu nafas naik, mereka menaikkannya menuju kekasih mereka, naik kepadaNya, sambil meliputi kecintaan dan kerinduan kepadaNya. Maka ketika mereka ingin mengeluarkannya, mereka tidak mengeluarkannya hingga mengikutinya dengan nafas lain yang serupa. Maka setiap nafas mereka adalah dengan Allah, dan kepada Allah, diliputi dengan kecintaan dan kerinduan kepadaNya serta ketenangan bersamaNya. Tidak luput dari mereka satu nafas pun bersama Allah kecuali jika tidur mengalahkan mereka. Dan banyak dari mereka melihat dalam tidurnya bahwa ia seperti itu karena pelekatan ruh dan hatinya. Maka terjaga baginya waktu tidur dan bangunnya. Dan janganlah engkau mengingkari keadaan ini. Karena sesungguhnya kecintaan jika menguasai hati dan menguasainya, niscaya mewajibkan baginya hal tersebut tanpa dapat dielakkan.
Dan maksudnya: bahwa ilham-ilham itu cepat hilang. Berlalu lebih cepat dari awan, dan waktu berlalu dengan apa yang ada di dalamnya. Maka tidak kembali kepadamu darinya kecuali bekasnya dan hukumnya. Maka pilihlah untuk dirimu apa yang kembali kepadamu dari waktumu. Karena sesungguhnya ia akan kembali kepadamu tanpa dapat dielakkan. Untuk itu dikatakan kepada orang-orang yang berbahagia “Makan dan minumlah dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Al-Haqqah: 24) dan dikatakan kepada orang-orang yang celaka “Yang demikian itu adalah karena kamu bergembira di bumi tanpa hak dan karena kamu bersuka ria” (Ghafir: 75).
Pasal: Tingkatan Ketiga Kecemburuan Orang yang Mengenal
Pasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: kecemburuan orang yang mengenal atas mata yang ditutupi oleh tutupan, dan rahasia yang diliputi oleh kekeruhan, dan jiwa yang tergantung pada harapan, atau berpaling kepada pemberian.
Artinya ia cemburu atas mata batin yang ditutupi oleh penutup atau hijab. Karena sesungguhnya tutupan itu seperti penutup dan hijab. Dan ia adalah tutupan yang sangat tipis. Dan di atasnya adalah awan yaitu untuk kaum muslimin pada umumnya. Dan di atasnya adalah kekeruhan dan karat yaitu untuk orang-orang kafir.
Dan ucapannya “dan rahasia yang diliputi oleh kekeruhan” artinya hijab yang lebih tebal dari awan yang pertama.
Dan rahasia di sini: baik kelembutan yang menerima dari ruh, maupun keadaan yang antara hamba dan Allah Azza wa Jalla. Maka jika diliputi oleh kekeruhan jiwa dan tabiat, pemiliknya meminta tolong, sebagaimana orang yang tersiksa dalam siksaannya meminta tolong, karena cemburu atas rahasianya dari kekeruhan tersebut.
Dan ucapannya: dan jiwa yang tergantung pada harapan, dan berpaling kepada pemberian.
Maksudnya: bahwa pemilik jiwa cemburu atas jiwanya jika tergantung pada harapan berupa pahala yang terpisah, dan tidak tergantung pada kehendak Allah dan kecintaanNya. Karena sesungguhnya di antara dua jiwa itu seperti yang terkait pada keduanya.
Dan demikian pula ucapannya “atau berpaling kepada pemberian” maksudnya: bahwa ia berpaling kepada pemberian dari selain Allah lalu ridha dengannya. Dan tidak sepatutnya tergantung kecuali kepada Allah, dan tidak berpaling kecuali kepada Yang Memberi yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dan Dia adalah Allah semata. Wallahu a’lam.
Hakikat Kerinduan
Pasal Tingkatan Kerinduan
Dan dari tingkatan-tingkatan “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” adalah tingkatan kerinduan.
Allah Ta’ala berfirman “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang” (Al-Ankabut: 5).
Dikatakan: ini adalah penghiburan bagi orang-orang yang merindukan, dan penenangan bagi mereka. Artinya Aku tahu bahwa barangsiapa mengharap perjumpaanKu maka ia merindukan kepadaKu. Maka sesungguhnya Aku telah menjadwalkan baginya waktu yang akan datang dengan segera. Karena sesungguhnya ia pasti datang tanpa dapat dielakkan. Dan setiap yang akan datang itu dekat.
Dan di dalamnya terdapat kehalusan lain. Yaitu menghibur orang-orang yang merindukan dengan harapan perjumpaan.
Seandainya tidak karena penghiburan dengan harapan niscaya terputus … jiwa kekasih karena kegundahan dan kerinduan
Dan sungguh hampir saja hatinya meleleh darinya … karena apa yang ia rasakan berupa penyesalan dan kepanasan
Hingga ketika kesegaran harapan menimpanya … padamlah api ketika dihibur dengan perjumpaan
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam doanya: “Aku memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu, dan kerinduan untuk bertemu denganMu”.
Sebagian mereka berkata: adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu merindukan untuk bertemu dengan Allah. Tidak pernah kerinduannya untuk bertemu denganNya reda. Tetapi kerinduan itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan untuknya. Dan satu bagian dibagi untuk umat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan agar bagian tersebut ditambahkan kepada apa yang ia miliki dari kerinduan yang khusus baginya. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.
Pasal: Kerinduan adalah Bekas dari Bekas-Bekas Kecintaan
Pasal
Dan kerinduan adalah bekas dari bekas-bekas kecintaan, dan hukum dari hukum-hukumnya. Karena ia adalah perjalanan hati kepada kekasih dalam setiap keadaan.
Dan dikatakan: ia adalah gejolak hati untuk bertemu dengan kekasih.
Dan dikatakan: ia adalah terbakarnya isi perut. Dan darinya ia bergejolak dan terlahir, dan membakar hati serta memotong hati.
Dan kecintaan lebih tinggi darinya. Karena kerinduan darinya terlahir, dan sesuai kadarnya ia kuat dan lemah.
Yahya bin Mu’adz berkata: Tanda kerinduan adalah menyapih anggota tubuh dari syahwat-syahwat.
Dan Abu Utsman berkata: Tandanya adalah mencintai kematian dengan ketenangan dan kesejahteraan, seperti keadaan Yusuf ketika dilemparkan ke dalam sumur tidak berkata “wafatkanlah aku”, dan ketika dimasukkan penjara tidak berkata “wafatkanlah aku”, dan ketika sempurna baginya urusan dan keamanan serta nikmat, berkata: “wafatkanlah aku dalam keadaan muslim”.
Ibnu Khafif berkata: Kerinduan adalah kegembiraahan hati dengan wujud, dan kecintaan perjumpaan dengan kedekatan.
Dan dikatakan: ia adalah api yang muncul di antara lipatan isi perut, yang timbul dari perpisahan. Maka jika terjadi perjumpaan ia padam.
Aku katakan: ini adalah masalah perselisihan di antara para pencinta. Yaitu: bahwa kerinduan apakah hilang dengan perjumpaan atau tidak?
Dan mereka tidak berbeda pendapat bahwa kecintaan tidak hilang dengan perjumpaan.
Sebagian mereka berkata: hilang dengan perjumpaan. Karena kerinduan adalah perjalanan hati kepada kekasihnya. Maka jika ia sampai kepadanya, dan terhubung dengannya, menjadi tempat kerinduan adalah ketenangan matanya bersamanya. Dan ketenangan ini bersatu dengan kecintaan dan tidak bertentangan dengannya.
Mereka berkata: Dan jika yang dominan pada hati adalah penyaksian kekasih, tidak menghampirinya kerinduan.
Dan dikatakan kepada sebagian mereka: Apakah engkau merindukan kepadaNya? Maka ia berkata: Tidak. Sesungguhnya kerinduan itu kepada yang ghaib, dan Dia hadir.
Dan sebagian kelompok berkata: bahkan bertambah kerinduan dengan kedekatan dan pertemuan, dan tidak hilang. Karena ia sebelum pertemuan berdasarkan berita dan ilmu, dan setelahnya: telah menjadi berdasarkan penglihatan dan penyaksian. Dan untuk itu dikatakan:
Dan paling membakar kerinduan adalah suatu hari … ketika kemah-kemah mendekat dengan kemah-kemah
Al-Junaid berkata: Aku mendengar As-Sari berkata: Kerinduan adalah tingkatan paling agung bagi orang yang mengenal jika ia benar-benar di dalamnya. Dan jika ia benar-benar dalam kerinduan ia lalai dari segala sesuatu yang menyibukkannya dari siapa yang ia rindukan, dan berdasarkan ini: maka ahli surga selamanya dalam kerinduan kepada Allah, dengan kedekatan mereka kepadaNya, dan penglihatan mereka kepadaNya.
Mereka berkata: Dan dari dalil bahwa kerinduan terjadi ketika perjumpaan lebih besar: bahwa kita melihat kekasih menangis ketika bertemu dengan kekasihnya. Dan tangisan itu hanyalah dari hebatnya kerinduannya kepadanya, dan perasaannya bersamanya, dan untuk itu ia menemukan ketika bertemu dengannya jenis kerinduan yang tidak ia temukan dalam keadaan ketiadaannya darinya.
Pasal: Kerinduan yang Dimaksud Dengannya adalah Gerakan Hati dan Gejolaknya untuk Bertemu dengan Kekasih
Pasal
Perselisihan dalam masalah ini: bahwa kerinduan yang dimaksud dengannya: gerakan hati dan gejolaknya untuk bertemu dengan kekasih. Maka ini hilang dengan perjumpaan. Tetapi diikuti oleh kerinduan lain yang lebih besar darinya, yang ditimbulkan oleh manisnya pertemuan dan penyaksian keindahan kekasih. Maka ini bertambah dengan perjumpaan dan kedekatan dan tidak hilang. Dan ungkapan tentang ini: wujudnya. Dan isyarat kepadanya: terjadinya.
Dan sebagian mereka menamai jenis pertama: kerinduan (syauq). Dan yang kedua: merindukan (isytiyaq). Al-Qusyairi berkata: Aku mendengar guru Abu Ali Ad-Daqqaq membedakan antara syauq dan isytiyaq. Dan berkata: Syauq reda dengan perjumpaan. Dan isytiyaq tidak hilang dengan perjumpaan. Ia berkata: Dan dalam maknanya mereka membacakan syair:
Pandangan tidak berpaling darinya ketika melihatnya … hingga pandangan itu kembali kepadanya dengan merindukan
Dan An-Nasrabadzi berkata: Untuk semua makhluk ada tingkatan syauq. Dan tidak ada bagi mereka tingkatan isytiyaq. Dan barangsiapa masuk dalam keadaan isytiyaq ia terombang-ambing di dalamnya hingga tidak terlihat baginya di dalamnya bekas dan tidak pula ketetapan.
Ad-Daqqaq berkata – dalam ucapan Musa “Dan aku bersegera kepadaMu ya Rabbku agar Engkau ridha” (Thaha: 84) ia berkata: maknanya adalah kerinduan kepadaMu. Maka ia tutupi dengan lafadz keridhaan.
Dan dikatakan: Sesungguhnya ahli kerinduan untuk bertemu dengan Allah merasakan manisnya kedekatan ketika datangnya – karena apa yang telah tersingkap bagi mereka dari ruh pertemuan – lebih manis dari madu. Maka mereka dalam kesakitannya berada dalam kelezatan dan kemanisan yang sangat besar. Dan dikatakan: Barangsiapa merindukan kepada Allah niscaya segala sesuatu merindukan kepadanya. Sebagaimana sebagian mereka berkata: Aku masuk dalam kerinduan dan segala sesuatu merindukan kepadaku. Dan aku terlambat dari semuanya. Dan dalam seperti ini dikatakan:
Jika kuda-kuda merindukan tempat air mereka berpaling … dari air maka tempat-tempat air itu merindukan kepada mereka
Dan ada seorang nenek yang suaminya pergi. Maka suaminya datang dari bepergian. Maka bergembira dengannya keluarganya dan kaum kerabatnya, dan ia duduk sambil menangis. Maka dikatakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Maka ia berkata: Mengingatkanku kedatangan pemuda ini pada hari kedatangan kepada Allah Azza wa Jalla.
Wahai yang mengeluhkan kerinduannya dari panjangnya perpisahan … bersabarlah semoga engkau bertemu dengan yang engkau cintai besok
Dan dikatakan: Daud ‘alaihissalam keluar suatu hari ke padang pasir sendirian. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: Mengapa Aku melihatmu sendirian? Maka ia berkata: Tuhanku, kerinduanku untuk bertemu denganMu menguasai hatiku. Maka menghalangi antaraku dan bersahabat dengan makhluk. Maka Dia berkata: Kembalilah kepada mereka. Karena sesungguhnya engkau jika engkau mendatangkanKu dengan seorang hamba yang melarikan diri Aku tetapkan engkau dalam Lauh Mahfuzh sebagai ahli.
Pasal: Kerinduan adalah Berhembusnya Hati kepada yang Ghaib
Pasal
Penulis Manazil rahimahullah berkata:
Kerinduan: adalah berhembusnya hati kepada yang ghaib. Dan dalam mazhab kelompok ini: ada cacat dalam kerinduan. Karena sesungguhnya kerinduan itu hanyalah kepada yang ghaib. Dan mazhab kelompok ini: hanyalah berdiri di atas penyaksian. Dan untuk cacat ini Al-Quran tidak berbicara dengan namanya.
Aku katakan: Ia membuka pintu dengan firman Allah Ta’ala “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang” (Al-Ankabut: 5) maka seakan-akan ia menjadikan harapan sebagai kerinduan dengan lisan pertimbangan bukan dengan lisan tafsir. Atau bahwa petunjuk harapan kepada kerinduan dengan kelaziman, bukan dengan penahanan dan tidak pula dengan kesesuaian.
Ucapannya “berhembusnya hati kepada yang ghaib” maksudnya: perjalanannya kepadanya, dan keinginannya kepadanya.
Adapun cacat yang ia sebutkan dalam kerinduan: maka telah berlalu bahwa dari manusia ada yang menjadikan kerinduan dalam keadaan perjumpaan lebih sempurna darinya dalam keadaan ketidakhadiran. Maka berdasarkan ucapan mereka: tidak ada cacat di dalamnya.
Adapun yang menjadikannya perjalanan hati kepada kekasih dalam keadaan ketidakhadirannya darinya, maka berdasarkan ucapannya: datanglah ucapan penyusun. Dan wajahnya dipahami.
Dan ucapannya “karena sesungguhnya mazhab kelompok ini” – yaitu fana’ – ia maksudkan: bahwa fana’ hanyalah berdiri di atas penyaksian. Karena sesungguhnya permulaannya – sebagaimana ia tegaskan – adalah kecintaan yang merupakan puncak tingkatan-tingkatan orang yang menginginkan. Dan fana’ hanyalah terjadi bersama penyaksian. Dan bersama penyaksian tidak ada kerja untuk kerinduan.
Maka dikatakan: ini batil dari beberapa wajah.
Pertama: bahwa penyaksian tidak menghilangkan kerinduan bahkan menambahnya, sebagaimana telah berlalu.
Kedua: bahwa tidak ada penyaksian yang lebih sempurna dari penyaksian ahli surga. Dan mereka sampai hari tambahan – yaitu hari Jumat – adalah yang paling rindu, sebagaimana dalam hadits. Dan demikian pula mereka adalah yang paling rindu kepada melihat Rabb mereka dan mendengar firmanNya Ta’ala dan mereka di surga. Karena sesungguhnya ini hanyalah terjadi bagi mereka dalam keadaan tanpa keadaan. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan dan lainnya “Sesungguhnya ahli surga yang paling tinggi kedudukannya: adalah yang melihat wajah Rabbnya setiap hari dua kali”.
Dan diketahui dengan pasti: bahwa kerinduan ini untuk melihat sebelum terjadinya adalah kerinduan yang paling besar yang dapat ditakdirkan, dan terjadinya penyaksian bagi ahli surga lebih sempurna darinya untuk ahli dunia.
Ketiga: bahwa tidak ada jalan di dunia kepada penyaksian yang menghilangkan kerinduan sama sekali. Dan barangsiapa mengklaim ini maka sungguh ia telah berdusta dan berbuat dusta. Karena sesungguhnya ini tidak terjadi bagi Musa bin Imran, kekasih Ar-Rahman Azza wa Jalla, apalagi yang di bawahnya.
Maka apa penyaksian ini yang mazhab kelompok ini dibangun di atasnya, sehingga tidak ada bersamanya kerinduan? Apakah ia kesempurnaan penyaksian dengan mata kepala secara terang-terangan? Maha Suci Engkau ini adalah kedustaan yang besar.
Ataukah jenis dari penyaksian hati kepada yang ia kenal, dengan bersamaan dengan hijab-hijab yang banyak yang tidak menghitungnya kecuali Allah? Maka apakah penyaksian ini menghalangi kerinduan kepada kesempurnaannya dan kesempurnaannya? Dan apakah perkara itu kecuali sebaliknya dalam akal dan fitrah dan hakikat. Karena barangsiapa menyaksikan kekasihnya dari sebagian wajah, adalah kerinduannya kepada kesempurnaan penyaksiannya lebih hebat dan lebih besar. Dan menjadi penyaksian sebagian itu sebab bagi kerinduannya kepada kesempurnaannya dan kesempurnaannya. Maka di mana cacat dalam kerinduan? Dan di mana penyaksian yang menghalangi dari kerinduan?
Dan ini dengan segala puji bagi Allah jelas. Dan barangsiapa membantahnya maka ia keras kepala. Wallahu a’lam.
Bab Tingkatan-Tingkatan Kerinduan
Tingkatan Pertama: Kerinduan Orang yang Beribadah kepada Surga
Bab
Beliau berkata: Kerinduan itu ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kerinduan orang yang beribadah kepada surga, agar orang yang takut menjadi aman dan orang yang bersedih menjadi gembira, dan orang yang berharap memperoleh keinginannya.
Maksudnya: kerinduan orang yang beribadah kepada surga mengandung tiga hikmah ini.
Pertama: tercapainya rasa aman yang mendorong pada harapan. Karena rasa takut yang sama sekali tidak disertai rasa aman dari segala sisi, pemiliknya tidak akan bangkit untuk beramal sama sekali jika tidak disertai harapan. Jika terlepas darinya, maka terputuslah dan menjadi putus asa.
Kedua: gembiranya orang yang bersedih. Karena kesedihan yang murni juga, jika tidak disertai kegembiraan, akan membunuh pemiliknya. Seandainya tidak ada roh kegembiraan, niscaya kekuatan orang yang bersedih akan terhenti dan kesedihannya akan membuatnya terduduk, tetapi ketika kesedihan membuatnya terduduk, roh kegembiraan membuatnya bangkit.
Ketiga: roh kemenangan. Karena orang yang berharap, jika tidak disertai roh kemenangan, maka matihlah harapannya. Dan Allah lebih mengetahui.
Bab Tingkatan Kedua: Kerinduan kepada Allah Azza wa Jalla
Bab
Beliau berkata: Tingkatan kedua: kerinduan kepada Allah Azza wa Jalla yang ditanam oleh kecintaan yang tumbuh di pinggiran karunia-karunia, maka hatinya terkait dengan sifat-sifat-Nya yang suci, lalu merindukan untuk menyaksikan kehalusan kemurahan-Nya, tanda-tanda kebaikan-Nya, dan tanda-tanda keutamaan-Nya. Dan ini adalah kerinduan yang diliputi kebaikan-kebaikan, ditarik-tarik oleh kegembiraan-kegembiraan, dan dilawan oleh kesabaran.
Kerinduan kepada Allah tidak bertentangan dengan kerinduan kepada surga. Karena yang paling nikmat di surga adalah: kedekatan dengan-Nya, melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan ridha-Nya. Ya. Kerinduan kepada sekadar makan, minum, dan bidadari di surga sangat kurang, dibandingkan dengan kerinduan orang-orang yang mencintai kepada Allah. Bahkan sama sekali tidak ada perbandingannya. Dan kerinduan ini ada dua tingkatan.
Salah satunya: kerinduan yang ditanam oleh kecintaan yang sebabnya adalah ihsan dan karunia. Yaitu yang beliau katakan padanya: tumbuh di pinggiran karunia. Sebabnya adalah memperhatikan karunia Allah, ihsan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya.
Telah dijelaskan sebelumnya dalam tingkatan kecintaan dan telah jelas bahwa kecintaan kepada nama-nama dan sifat-sifat lebih sempurna dan lebih kuat daripada kecintaan kepada ihsan dan nikmat-nikmat.
Dalam ucapannya “tumbuh di pinggiran karunia” yaitu sisi-sisinya: ada isyarat kepada tidak kokohnya dan tidak kuatnya, dan bahwa ia dari tumbuhan pinggiran yang merupakan sisi-sisi karunia, bukan dari tumbuhan nama-nama dan sifat-sifat.
Ucapannya “maka hatinya terkait dengan sifat-sifat-Nya yang suci” maksudnya sifat-sifat yang khusus berkaitan dengan karunia dan ihsan. Seperti Yang Berbuat Baik, Yang Memberi Karunia, Yang Berbuat Ihsan, Yang Maha Dermawan, Yang Memberi, Yang Maha Pengampun, dan semisalnya.
Ucapannya “yang suci” maksudnya yang disucikan yang dijauhkan dari takwil orang-orang yang mengubah-ubah, penyerupaan orang-orang yang menyerupakan, dan peniadaan orang-orang yang meniadakan. Kami katakan bahwa maksudnya adalah sifat-sifat khusus ini karena dua alasan.
Pertama: bahwa keterikatan hati dengan sifat-sifat umum hanya ada pada tingkatan ketiga.
Kedua: bahwa beliau menjadikan buah dari keterikatan ini adalah kerinduan hamba untuk menyaksikan kehalusan kemurahan Rabb, karunia-Nya, ihsan-Nya, dan tanda-tanda kebaikan-Nya. Yaitu tanda-tanda kebaikan-Nya kepada hamba dan ihsan-Nya kepadanya, demikian juga (tanda-tanda keutamaan-Nya) yaitu apa yang Dia berikan kepadanya secara berlebih dan Dia lebihkan dengannya atas yang lain.
Ucapannya “dan ini adalah kerinduan yang diliputi kebaikan-kebaikan” maksudnya: ia adalah kerinduan yang disebabkan oleh sesuatu. Bukan murni untuk zat yang dicintai, melainkan untuk apa yang diperoleh darinya berupa kebaikan-kebaikan “maka telah meliputi” yaitu melingkupi kebaikan-kebaikan.
Ucapannya “dan ditarik-tarik oleh kegembiraan-kegembiraan” yaitu ditarik olehnya. Karena tarikan adalah penarikan. Jika kerinduan ini bercampur dengan kegembiraan, maka ia bercampur dengan sejenis bagian.
Ucapannya “dan dilawan oleh kesabaran” yaitu bahwa pemiliknya mampu bersabar, maka kesabarannya melawan kerinduannya dan tidak mengalahkannya, berbeda dengan kerinduan pada tingkatan ketiga.
Bab Tingkatan Ketiga: Kerinduan yang Murni
Bab
Beliau berkata: Tingkatan ketiga: api yang dinyalakan oleh kemurnian kecintaan, lalu mengganggu kehidupan, merampas penghiburan, dan tidak dapat ditentramkan oleh penghibur selain perjumpaan.
Maksudnya: bahwa kerinduan pada tingkatan ini mirip api yang dinyalakan oleh kemurnian kecintaan, yaitu yang murni. Dan ia menyerupainya dengan api karena menyalanya di dalam dada.
Dalam ucapannya “kemurnian kecintaan” ada isyarat bahwa ia adalah kecintaan yang tidak karena karunia dan nikmat, tetapi kecintaan yang terkait dengan zat dan sifat-sifat.
Ucapannya “lalu mengganggu kehidupan” yaitu mencegah pemiliknya dari ketenangan terhadap kehidupan yang nikmat. Dan “gangguan” hampir sama dengan keruh.
Ucapannya “dan merampas penghiburan” yaitu menjarah penghiburan dan mengambilnya dengan paksa.
Dan “penghiburan” adalah pembebasan dari kesusahan kecintaan dan membuang bebannya dari punggung, dan berpaling dari yang dicintai dengan melupakan.
Ucapannya “dan tidak dapat ditentramkan oleh penghibur selain perjumpaan” yaitu tidak cukup dan tidak mengembalikannya ketenangan selain perjumpaan dengan yang dicintai. Dan ini tidak dapat dilawan oleh kesabaran, karena tidak ada yang mencukupinya selain perjumpaan dengan yang ia cintai.
Bab Kegelisahan
Hakikat Kegelisahan
Bab Kegelisahan
Kerinduan ini terkadang menguat dan terlepas dari kesabaran, maka dinamakan kegelisahan, dan dengan itulah penulis Manazil menamakannya, dan berdalil dengannya dengan firman Allah – yang menceritakan tentang kekasih-Nya Musa shallallahu alaihi wasallam {Dan aku segera datang kepada-Mu ya Rabbku, agar Engkau ridha} (Thaha: 84), seolah-olah ia memahami bahwa yang membawanya kepada kesegeraan adalah kegelisahan, yaitu kerinduan yang murni untuk bertemu dengan-Nya dan janji-Nya.
Dan zahir ayat: bahwa yang membawa Musa kepada kesegeraan adalah permintaan ridha Rabbnya, dan bahwa ridha-Nya ada dalam bersegera kepada perintah-perintah-Nya dan segera kepadanya. Oleh karena itu para salaf berdalil dengan ayat ini bahwa shalat di awal waktu lebih utama. Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan itu. Beliau berkata: Sesungguhnya ridha Rabb ada dalam kesegeraan kepada perintah-perintah-Nya. Kemudian penulis Manazil membatasinya dengan bahwa ia adalah kerinduan yang murni dengan menghilangkan kesabaran, yaitu pemurniannya dari setiap campuran sehingga bersamanya gugur kesabaran, karena jika disertai dengan kesabaran maka ia adalah kerinduan.
Tingkatan-Tingkatan Kegelisahan
Tingkatan Pertama: Kegelisahan yang Menyempitkan Karakter, Membenci Makhluk, dan Menikmati Kematian
Kemudian beliau berkata: Dan ia ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kegelisahan yang menyempitkan karakter, membenci makhluk, dan menikmati kematian.
Maksudnya: menyempitkan karakter pemiliknya dari menanggung orang-orang lain. Maka tidak tersisa padanya keluasan untuk membawa mereka, apalagi untuk membatasi mereka baginya dan menghalang-halanginya dengan napas-napas mereka.
Dan “membenci makhluk” maksudnya: tidak ada yang lebih dibenci oleh pemiliknya daripada berkumpulnya dengan makhluk. Karena dalam itu ada pertentangan antara keadaannya dengan pergaulan mereka.
Dan salah seorang kerabat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Beliau di awal keadaannya kadang keluar ke padang pasir untuk menyendiri dari manusia, karena kuatnya apa yang datang kepadanya. Maka aku mengikutinya suatu hari, ketika beliau berada di padang pasir beliau menghela nafas panjang. Kemudian beliau bergumam dengan syair penyair – dan ia adalah Majnun Laila dari qasidahnya yang panjang -:
Dan aku keluar dari antara rumah-rumah semoga saja Aku dapat berbicara tentangmu kepada jiwaku dengan rahasia sendirian
Dan pemilik keadaan ini: jika Allah tidak mengembalikannya kepada makhluk dengan keteguhan dan kekuatan, jika tidak maka sesungguhnya ia tidak sabar atas pergaulan mereka.
Ucapannya “dan menikmati kematian” karena pemiliknya mengharapkan padanya perjumpaan dengan yang dicintainya. Jika ia mengingat kematian ia menikmatinya, sebagaimana musafir menikmati mengingat kedatangannya kepada keluarga dan orang-orang yang dicintainya.
Bab Tingkatan Kedua: Kegelisahan yang Melawan Akal, Mengosongkan Pendengaran, dan Menandingi Kemampuan
Bab
Beliau berkata: Tingkatan kedua: kegelisahan yang melawan akal, mengosongkan pendengaran, dan menandingi kemampuan.
Yaitu hampir mengalahkan akal dan menguasainya. Maka ia dan akal kadang begini kadang begitu. Tetapi karena belum sampai pada tingkat penyaksian maka tidak melenyapkannya. Karena akal tidak dilenyapkan kecuali oleh penyaksian. Oleh karena itu beliau berkata: melawan, dan tidak berkata: mengalahkan.
Adapun “mengosongkan pendengaran” maka ia mencakup mengosongkannya dari sesuatu dan mengosongkannya untuk sesuatu. Maka ia mengosongkannya dari mendengarkan penyebutan yang lain, dan mengosongkannya untuk mendengarkan sifat-sifat yang dicintai, penyebutannya, dan perbincangan tentangnya. Dan terkadang menguat sehingga menjauhkan antara hati pemiliknya dengan persepsi indera, karena kalahnya indera oleh kekuasaan kegelisahan.
Ucapannya “dan menandingi kemampuan” maksudnya: bersabar dengannya dan melawannya. Maka kemampuan kesabaran tidak mampu menolak dan mengembalikannya. Dan Allah lebih mengetahui.
Pasal: Tingkatan Ketiga – Kegelisahan yang Tidak Pernah Mengasihani, Tidak Menerima Batas Waktu, dan Tidak Menyisakan Siapa pun
Pasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah kegelisahan yang tidak pernah mengasihani, tidak menerima batas waktu, dan tidak menyisakan siapa pun.
Maksudnya adalah bahwa kegelisahan ini memiliki kekuatan yang menundukkan dan mengalahkan. Karena ia mungkin berasal dari penyaksian (syuhud). Jika ia telah menempel pada hati, maka ia tidak akan meninggalkannya sampai melemparkannya ke dalam fananya penyaksian.
“Tidak menerima batas waktu” artinya tidak menerima batasan dan ukuran untuk berhenti padanya dan berakhir dengannya, sebagaimana berakhirnya sesuatu yang memiliki batas waktu. Karena ia adalah penguasa yang tidak dikuasai, pemilik hati yang tidak dimiliki oleh hati itu.
“Tidak menyisakan siapa pun” artinya melemparkan pemiliknya ke dalam penyaksian yang di dalamnya semua bentuk (rusum) menjadi lenyap dan sirna. Maka ia tidak menyisakan bentuk siapa pun bersamanya sampai melenyapkannya. Dan Allah lebih mengetahui.
Hakikat Kehausan
Pasal Kehausan
Kemudian kegelisahan ini menguat dan bertambah sehingga melahirkan dalam hati sebuah kondisi yang menyerupai dahaga hebat seorang yang kehausan kepada air. Kondisi inilah yang disebut oleh penulis kitab Manazil sebagai kehausan (al-‘atasy). Ia mengambil dalil dengan firman Allah Taala tentang Khalilullah (Ibrahim): “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, dia berkata: Inilah Tuhanku” (Surah Al-An’am: 76). Seolah-olah ia mengambil dari isyarat ayat ini bahwa karena dahsyatnya kehausannya untuk bertemu dengan kekasihnya, ketika ia melihat bintang, ia berkata: Inilah Tuhanku. Karena orang yang kehausan, ketika melihat fatamorgana, ia teringat akan air, maka kehausannya bertambah hebat.
Ini bukanlah makna ayat sama sekali. Para sufi memang gemar dengan isyarat-isyarat. Adapun ayat ini, telah dikatakan bahwa ia mengandung pengertian pertanyaan istifham, yaitu: Apakah ini Tuhanku?, namun pendapat ini lemah. Dikatakan pula bahwa ayat ini untuk menegakkan hujjah terhadap kaumnya. Maka ia menampilkan diri sebagai orang yang setuju, agar lebih mudah diterima. Kemudian ia memanfaatkan bentuk persetujuan itu untuk memberitahukan kepada mereka bahwa tidak mungkin yang disembah itu kurang dan terbenam. Karena Tuhan yang hak tidak mungkin ghaib dari para penyembah-Nya dan makhluk-Nya serta terbenam dari mereka. Karena hal itu bertentangan dengan rububiyah-Nya atas mereka. Atau bahwa ia berpindah dari tingkatan-tingkatan istidlal (mencari dalil) terhadap Yang Disembah hingga dalil mengantarkannya kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Maka ia mengarahkan wajahnya kepada-Nya sebagai seorang yang hanif (lurus), bertauhid, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Dan Allah Subhanahu lebih mengetahui.
Pasal: Tingkatan-Tingkatan Kehausan
Tingkatan Pertama: Kehausan Murid kepada Bukti yang Diriwayatkannya
Pasal
Ia berkata: Kehausan adalah kiasan tentang kekalahan dan ketertarikan kepada sesuatu yang diharapkan.
Ketertarikan (walu’) kepada sesuatu adalah keterikatan dengannya dengan sifat cinta, disertai harapan untuk sampai kepadanya.
Dikatakan dalam definisi walu’: ia adalah seringnya hati kembali kepada sesuatu yang dicintai. Sebagaimana dikatakan: Fulan sangat tertarik kepada ini, dan ia telah tertarik kepadanya.
Dikatakan pula: ia adalah melekatnya hati pada sesuatu. Seolah-olah ia seperti: ia digerakkan olehnya, maka ia tergerak.
Ia berkata: Kehausan terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama: kehausan murid kepada bukti yang diriwayatkannya, atau isyarat yang menyembuhkannya, atau perhatian yang melindunginya.
Karena murid termasuk orang-orang yang mencari bukti-bukti untuk mengambil pelajaran, pembangkit tekad, dan keterikatan para hamba dengan amal-amal.
Ucapannya “bukti yang diriwayatkannya” mengandung kemungkinan bahwa ia berasal dari kata riwayat, yaitu diriwayatkannya dari orang yang menegakkan bukti itu untuknya. Maka ini merupakan isyarat kepada bukti-bukti ilmu. Ia sangat dahaga kepada bukti-bukti yang diriwayatkannya dari para shadikin (orang-orang yang jujur) dari ahli suluk, agar ia bertambah teguh dan kuat bashirahnya. Karena murid, jika ia mendapat keadaan baru atau mendapat waridat (sesuatu yang datang ke hati), ia merasa sunyi dengan kesendirian dirinya dalam hal itu. Jika ada bukti keadaan yang serupa dari murid lain yang jujur yang telah mendahuluinya, ia merasa sangat tenteram dengannya. Ia mengambil dalil dari bukti murid itu tentang benarnya buktinya sendiri. Karena itu, kehausannya sangat hebat kepada bukti yang diriwayatkannya dari para shadikin.
Dan bisa jadi ia berasal dari kata “puas” (al-rayy) – maka ia berharakat dhammah pada huruf ya’ – artinya: jika ia telah mendapat kepuasan dengan bukti itu, dan turun ke hatinya seperti air dingin bagi orang yang kehausan, maka tertetaplah padanya kebenarannya dan bahwa ia adalah bukti yang hak.
Yang menguatkan makna ini adalah disebutkannya kepuasan bersama kehausan. Yang menguatkan makna pertama adalah disebutkannya lafadz kepuasan dalam ucapannya “atau perhatian yang memuaskannya”. Dan keduanya dekat.
Ucapannya “atau isyarat yang menyembuhkannya” artinya menyembuhkan hatinya dari penyakit yang muncul. Jika isyarat datang kepadanya – baik dari shadikin seperti dirinya, atau dari seorang alim, atau dari syaikh pembimbing, atau dari ayat yang dipahaminya, atau pelajaran yang ia dapatkan – maka hatinya sembuh dengannya. Ini diketahui oleh orang yang memiliki pengalaman spiritual.
Ucapannya “atau kepada perhatian yang memuaskannya” artinya perhatian dari sisi kekasihnya kepadanya, yang menyejukkan api kehausannya dan mendinginkannya. Tidak ada yang lebih memuaskan hati pencinta selain perhatian kekasihnya kepadanya. Dan tidak ada yang lebih menyalakan api dan membakar hatinya selain berpaling kekasihnya darinya. Karena itu, azab ahli Neraka karena tertutup dari Rabb mereka lebih berat bagi mereka daripada azab jasmaniah yang mereka alami. Sebagaimana nikmat ahli Surga dengan melihat-Nya Taala, mendengar firman-Nya, ridha-Nya, dan perhatian-Nya lebih besar daripada nikmat jasmaniah mereka.
Pasal: Tingkatan Kedua – Kehausan Salik kepada Ajal yang Dilipat
Pasal
Ia berkata: Tingkatan kedua: kehausan salik kepada ajal yang dilipat, dan hari yang memperlihatkan apa yang mencukupinya, dan tempat yang ia beristirahat di dalamnya.
Baik yang dimaksud dengan ajal yang dilipat adalah: berakhirnya masa pemenjaraan hati dan ruh dalam badan, sehingga ia sampai kepada Rabb-nya dan bertemu dengan-Nya, dan inilah yang zhahir dari ucapannya.
Atau yang dimaksud adalah: kehausannya kepada tujuan suluk yaitu sampainya kepada kekasihnya, penyejuk matanya, dan terkumpulnya perhatian kepadanya. Maka ia melipat tahapan-tahapan perjalanannya dengan cepat untuk sampai kepada tujuan ini. Kemudian setelah itu akan kembali kepadanya perjalanan lain setelah perjalanan ini, tanpa berpisah darinya. Karena ia sampai kepada-Nya dengan perjalanan itu. Jika ia berpisah darinya, ia akan terputus sepenuhnya. Tetapi tetap ada perjalanan untuknya, dan ia terlentang di punggungnya, ia mendahului para pelari dengannya. Yang menguatkan makna kedua ini adalah: murid yang jujur tidak suka keluar dari dunia sampai ia menunaikan kewajibannya, karena ia tahu bahwa tidak ada jalan untuk menunaikannya kecuali di dunia ini. Jika ia tahu bahwa ia telah menunaikan kewajibannya, barulah ia suka keluar darinya. Tetapi ia tidak akan menunaikan kewajibannya sampai ia memenuhi apa yang menjadi kewajibannya.
Manusia terbagi tiga: orang yang telah menunaikan dan menyelesaikan kewajibannya, orang yang menunggu penunaian sambil berusaha dan bersemangat untuk itu, dan orang yang lalai dalam memenuhi hak-hak yang menjadi kewajibannya. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Ucapannya “dan hari yang memperlihatkan apa yang mencukupinya” artinya hari di mana ia melihat apa yang mencukupi hatinya dan menutup kebutuhannya berupa penyejuk matanya dengan yang dituju dan diinginkannya.
Ucapannya “dan tempat yang ia beristirahat di dalamnya” artinya tempat dari tempat-tempat perjalanan, dan tingkatan dari tingkatan-tingkatan para shadikin, yang hatinya beristirahat di dalamnya dan menetap di dalamnya, dan ia terlepas dari berubah-ubahnya keadaan-keadaan atasnya. Karena tingkatan-tingkatan adalah tempat-tempat dan keadaan-keadaan adalah tahapan. Pemilik keadaan sangat dahaga kepada tingkatan yang ia tetap di dalamnya dan menempatinya.
Pasal: Tingkatan Ketiga – Kehausan Pencinta kepada Penyingkapan yang Tidak Tertutup oleh Awan Ilat
Pasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: kehausan pencinta kepada penyingkapan, yang di bawahnya tidak ada awan ilat, tidak ditutup oleh hijab perpecahan, dan tidak berhenti di bawahnya untuk menunggu.
Kehausan pencinta berada di atas kehausan murid dan salik. Meskipun setiap pencinta adalah salik, dan setiap murid adalah salik, dan setiap salik dan murid adalah pencinta. Tetapi pencinta dikhususkan dengan nama ini karena kemapanannya dalam cinta dan terpatrinya hatinya di dalamnya.
Sedangkan murid dan salik menyingsingkan lengan menuju ilmu yang diangkat untuknya dan ia sampai kepadanya. Karena itu, ia menjadikan tingkatan pertama untuk ahli permulaan, yang kedua untuk yang pertengahan, dan yang ketiga untuk ahli kesudahan.
Ucapannya: kehausan pencinta kepada penyingkapan, yang di bawahnya tidak ada awan.
Yang dimaksud dengan penyingkapan (jalwah) adalah: tersingkapnya sifat-sifat dan keindahan-keindahan Yang Dicintai bagi hati.
Ucapannya “yang di bawahnya tidak ada awan” artinya tidak ada sesuatu pun dari awan-awan nafs yang menutupinya. Yaitu awan-awan ilat yang merupakan sisa-sisa dalam diri hamba, yang menghalangi antara dirinya dengan tersingkapnya sifat-sifat kekasihnya, dan menghalanginya dari-Nya. Selama masih ada sisa nafs dalam diri hamba, maka ia adalah awan dan kabut yang menutupi sesuai kadarnya. Ada yang tebal dan ada yang tipis, dan ada yang di antara keduanya.
Ucapannya: “dan tidak ditutup oleh hijab”. Hijab dalam bahasa kaum sufi adalah nafs beserta sifat-sifat dan hukum-hukumnya. Mereka sepakat bahwa nafs adalah salah satu hijab terbesar. Bahkan ia adalah hijab yang paling besar. Karena hijab Rabb Subhanahu dari dzat-Nya adalah “cahaya. Seandainya Dia menyingkap hijab itu, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar apa yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya”. Dan hijab-Nya dari hamba-Nya adalah nafs dan kegelapannya. Jika hijab ini tersingkap darinya, ia akan sampai kepada Rabb-nya.
Wushul (sampai) menurut kaum sufi adalah ungkapan tentang terangkatnya hijab ini dan lenyapnya. Hijab yang sangat menyulitkan pencinta dan sangat dahaga untuk lenyapnya adalah hijab kegelapan dan nafs. Yaitu hijab yang berada antara dirinya dengan Allah.
Adapun hijab yang berada antara Allah dengan makhluk-Nya – yaitu hijab cahaya – maka tidak ada jalan untuk menyingkapnya di dunia ini sama sekali. Tidak ada manusia yang mengharapkan hal itu. Dan Allah tidak berbicara dengan manusia kecuali dari balik hijab. Hijab ini menyingkap bagi hamba, mengantarkannya kepada tingkatan ihsan yang diungkapkan oleh kaum sufi dengan tingkatan musyahadah (penyaksian). Yang pertama menutupi hamba, memutuskannya, menghalangi antara dirinya dengan ihsan dan hakikat iman.
Semua tafarruq (perpecahan) menurut mereka adalah hijab, kecuali tafarruq dalam Allah, dengan Allah, dan untuk Allah. Karena ia tidak menghijab hamba dari-Nya. Bahkan ia mengantarkannya kepada-Nya. Karena itu ia berkata: dan tidak ditutup oleh hijab tafarruq. Karena tafarruq hanya menjadi hijab jika ia dengan nafs dan untuknya.
Ucapannya: dan tidak berhenti di bawahnya untuk menunggu, artinya: orang yang menyaksikan apa yang ia saksikan tidak berhenti untuk menunggu perkara lain setelahnya. Sebagaimana pencinta yang terhijab berhenti menunggu lenyapnya hijabnya. Yang dimaksud adalah: ia telah mendapatkan penyaksian yang sempurna, sehingga tidak ada lagi setelahnya yang ia tunggu.
Dan ini menurutku adalah kekeliruan yang jelas. Karena sesungguhnya tidak ada batas bagi keindahan kekasih dan kesempurnaan sifat-sifatnya, sehingga orang yang menyaksikannya sampai pada keadaan di mana ia tidak mengharapkan sesuatu yang lain lagi.
Inilah hal itu. Dan kami akan menjelaskan – insya Allah Taala – bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar dapat mencapai tingkatan musyahadah (penyaksian langsung terhadap Allah) selamanya, dan bahwa ini adalah salah satu kekeliruan kaum sufi dan omong kosong mereka. Sesungguhnya puncak tertinggi yang dapat dicapai seorang hamba adalah asy-syawahid (bukti-bukti dan tanda-tanda). Dan tidak ada jalan sama sekali bagi siapa pun di dunia ini untuk musyahadah (menyaksikan langsung) yang Maha Benar, Allah Subhanahu. Sesungguhnya yang dapat dicapainya hanyalah syawahid al-Haqq (bukti-bukti dan tanda-tanda Allah). Barangsiapa yang mengklaim selain ini, maka itu karena dominasi khayalan atasnya, dan prasangka baiknya terhadap omong kosong dan khayalan-khayalan kaum sufi.
Dan demi Allah, alangkah bagusnya perkataan Asy-Syibli ketika ditanya tentang musyahadah. Ia berkata: “Dari mana kita bisa musyahadah al-Haqq (menyaksikan langsung Allah)? Yang ada pada kita adalah syahid al-Haqq (saksi atau bukti Allah).” Ini perkataan dari orang yang terkenal dengan syathahat-nya (ucapan ekstrem kaum sufi), namun ini termasuk perkataan terindah dan terjelas darinya.
Yang dimaksud dengan syahid al-Haqq adalah: apa yang menguasai hati-hati yang jujur, yang mengenal, dan yang bersih, berupa dzikir kepada-Nya, kecintaan kepada-Nya, pengagungan, pemuliaan, dan penghormatan kepada-Nya, sehingga hal itu hadir di dalam hati tersebut, disaksikan olehnya, dan tidak pernah absen darinya. Barangsiapa yang menunjuk kepada selain itu maka ia tertipu dan terkelabui. Paling tinggi keadaannya adalah: ia berada dalam perlindungan kejujurannya, dan lemahnya kemampuan membedakan serta ilmunya.
Tidak diragukan lagi bahwa hati-hati menyaksikan cahaya-cahaya sesuai dengan kesiapannya. Terkadang kuat dan terkadang lemah. Namun cahaya-cahaya tersebut adalah cahaya amal perbuatan, iman, pengetahuan, kejernihan batin dan rahasia-rahasia. Bukan cahaya-cahaya Dzat Yang Maha Suci. Karena gunung saja tidak mampu bertahan terhadap sedikit dari cahaya itu hingga hancur berantakan, dan Nabi Musa Alaihissalam yang Kalimullah jatuh pingsan, padahal Allah tidak menampakkan diri kepadanya. Lalu bagaimana dengan selain beliau?
Maka jagalah dirimu, kemudian jagalah dirimu dari omong kosong, khayalan, dan kekeliruan kaum sufi. Karena hal-hal tersebut di sisi orang-orang yang benar-benar mengenal Allah lebih besar dari hijab (penghalang) nafsu dan hukum-hukumnya. Karena orang yang terhalang oleh nafsunya mengakui bahwa ia berada dalam hijab tersebut.
Adapun orang yang memiliki khayalan dan kekeliruan ini, ia melihat bahwa hakikat telah menampakkan cahaya-cahayanya kepadanya. Padahal hal itu tidak terjadi kepada Nabi Musa bin Imran, Kalimur Rahman (pembicara Ar-Rahman). Maka hijab orang-orang ini tanpa ragu lebih tebal dari hijab orang-orang yang lain. Dan tidak akan mengakui hal ini kepada kami kecuali orang yang benar-benar mengenal Allah yang telah bersinar di batinnya cahaya Sunnah Muhammadiyah. Sehingga ia melihat keadaan orang-orang. Dan alangkah langka dan alangkah anehnya hal itu di dunia ini di antara makhluk. Dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.
Maka orang-orang yang jujur hanya berada dalam cahaya-cahaya pengetahuan mereka, ibadah mereka, dan keadaan-keadaan mereka. Adapun cahaya-cahaya Dzat Rabb Tabaraka wa Taala berada di balik semua itu. Dan tempat ini termasuk jalan yang terjal, dan demi Allah betapa banyak kaki yang tergelincir di sana! Betapa banyak pemahaman yang sesat di sana! Betapa banyak khayalan yang bingung di sana! Dan yang selamat darinya adalah orang yang memiliki bashirah (pandangan batin) yang jujur, pengetahuan yang sempurna, ilmunya bersambung dengan pelita kenabian. Dan dengan pertolongan Allah-lah taufik itu.
Pasal: Tingkatan Al-Wajd (Perasaan/Getaran Spiritual)
Hakikat Al-Wajd
Di antara tingkatan-tingkatan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah tingkatan al-wajd.
Telah ditetapkan dalam Shahihain dari hadits Anas Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan dengan ketiganya manisnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, bahwa ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan bahwa ia membenci untuk kembali kepada kekufuran – setelah Allah menyelamatkannya darinya – sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api.”
Dan sesungguhnya penulis Madarij As-Salikin telah berdalil dengan firman Allah Taala tentang Ashabul Kahfi: “Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata: ‘Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia, sungguh kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas.'” (Surat Al-Kahfi: 14). Dan ini termasuk dalil dan syahid yang paling baik. Karena sesungguhnya orang-orang ini berada di antara kaum mereka yang kafir dalam pengabdian kepada raja mereka yang kafir. Maka tidak lain adalah ketika mereka menemukan hakikat iman dan taufik, merasakan manisnya, dan menyentuh hati-hati mereka, lalu mereka bangkit dari tengah-tengah kaum mereka dan berkata: “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi” (Surat Al-Kahfi: 14) hingga akhir ayat.
Dan ar-rabthu ala qulubihim (penguatan hati-hati mereka) mencakup pengikatan dengan kesabaran dan keteguhan, penguatan dan dukungan dengan cahaya iman, hingga mereka sabar untuk meninggalkan negeri kaum mereka, meninggalkan kehidupan yang nyaman yang mereka jalani, dan lari dengan agama mereka ke dalam gua.
Dan ar-rabthu alal qalb (pengikatan pada hati) adalah kebalikan dari khidlan (pengabaian). Khidlan adalah melepaskan ikatan taufik, sehingga ia lalai dari dzikir kepada Rabbnya, mengikuti hawa nafsunya, dan urusannya menjadi berlebihan.
Adapun ar-rabthu alal qalb adalah mengikatnya dengan ikatan taufik, sehingga ia terhubung dengan dzikir kepada Rabbnya, mengikuti keridhaan-Nya, dan urusannya terkumpul. Karena itulah penulis berdalil dengan ayat ini dalam tingkatan al-wajd.
Dan Asy-Syaikh (penulis Madarij) menjadikan tingkatan al-wajd berbeda dari tingkatan al-wujud sebagaimana akan datang penjelasannya insya Allah Taala. Karena al-wujud menurut kaum sufi adalah mendapatkan hakikat sesuatu. Adapun al-wajd adalah apa yang menemui hati dan datang kepadanya berupa berbagai datangnya kecintaan, kerinduan, pengagungan, pemuliaan, dan yang mengikutinya. Dan al-mawajid menurut mereka di atas al-wajd. Karena al-wajd adalah penemuan, sedangkan al-mawajid adalah buah-buah dari al-aurad (wirid-wirid). Dan setiap kali banyak al-aurad maka semakin kuat al-mawajid.
Dan “al-wujud” menurut mereka di atas itu. Yaitu mendapatkan hakikat yang dicari, dan tidak terjadi kecuali setelah padamnya sifat kemanusiaan dan lepasnya hukum-hukum nafsu secara total.
Al-Junaid berkata: “Ilmu tentang tauhid berbeda dengan wujudnya, dan wujudnya berbeda dengan ilmunya.”
Ia tidak bermaksud dengan perbedaan itu: pertentangan dan kontradiksi. Karena keduanya saling sesuai seperti kesesuaian ilmu dengan yang diketahui.
Yang dimaksud dengan perbedaan adalah: bahwa keadaan orang yang bertauhid, merasakan tauhid, dan tercelupnya hatinya dengan keadaan tersebut, adalah perkara di balik ilmunya tentang hal itu dan pengetahuannya tentangnya. Dan perbedaan antara keduanya seperti perbedaan antara ilmu tentang kerinduan, tawakal, takut dan semisalnya, dengan hakikat-hakikatnya dan al-mawajidnya (perasaan-perasaan spiritualnya).
Maka tingkatan-tingkatannya ada empat. Yang paling lemah adalah at-tawajud, yaitu sejenis upaya memaksakan diri dan usaha untuk mendatangkan.
Mereka berselisih tentangnya: apakah dibenarkan bagi pelakunya atau tidak? Menjadi dua pendapat.
Sebagian kelompok berkata: Tidak dibenarkan bagi pelakunya dan diingkari atasnya, karena di dalamnya terdapat pemaksaan dan kepura-puraan yang bertentangan dengan jalan orang-orang yang jujur. Dan bangunan perkara ini adalah atas kejujuran murni.
Sebagian kelompok berkata: Dibenarkan bagi pelakunya jika maksudnya adalah mendatangkan hakikat, bukan menyerupai ahlinya. Mereka berdalil dengan perkataan Umar Radhiyallahu Anhu ketika ia melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar menangis dalam urusan tawanan Badar, dan tebusan yang mereka terima dari mereka: “Kabarkanlah kepadaku apa yang membuat kalian berdua menangis? Jika aku menemukan tangisan maka aku menangis, dan jika tidak maka aku berpura-pura menangis.” Dan mereka meriwayatkan sebuah atsar: “Menangislah, jika kalian tidak menangis maka berpura-puralah menangis.”
Mereka berkata: Dan pemaksaan serta upaya pada permulaan perjalanan dan suluk tidak dapat dihindari. Karena pelakunya tidak dituntut dengan apa yang dituntut kepada pemilik keadaan. Dan barangsiapa yang melakukannya dengan niat memperoleh hakikat untuk mengharapkan al-wajd, tidak tercela. Dan at-tawajud terjadi dengan gerakan-gerakan lahiriah yang dipaksakan oleh hamba. Adapun “al-mawajid” bagi yang menafsirkannya dari hukum-hukum batiniah.
Tingkatan kedua: Al-Mawajid, yaitu hasil dan buah dari al-aurad.
Tingkatan ketiga: Al-Wajd, yaitu buah dari amal-amal hati, seperti mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikannya buah dari dicintainya Allah dan Rasul-Nya oleh hamba lebih dari selain keduanya, dan buah dari mencintai karena-Nya, serta kebencian untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api. Maka al-wajd ini adalah buah dari amal-amal hati ini, yaitu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Tingkatan keempat: Al-Wujud, yaitu puncak tertinggi dari tingkatan al-ihsan. Dari tingkatan al-ihsan ia naik kepadanya. Karena apabila telah menguasai hatinya penyaksian terhadap yang disembahnya, hingga seakan-akan ia melihat-Nya – dan mantap dalam hal itu – maka terjadi padanya kemampuan yang memadamkan hukum-hukum nafsunya, dan berganti dengannya hukum-hukum lain, dan tabiat kedua, hingga seakan-akan ia diciptakan dengan penciptaan lain selain penciptaan pertamanya, dan dilahirkan dengan kelahiran baru.
Di antara yang disebutkan dari Al-Masih Alaihissalam bahwa ia berkata: “Wahai Bani Israil, kalian tidak akan memasuki Kerajaan Langit hingga kalian dilahirkan dua kali.”
Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan hal itu dan menafsirkannya bahwa kelahiran ada dua macam. Pertama: kelahiran yang dikenal ini, dan kedua: kelahiran hati dan ruh serta keluarnya keduanya dari plasenta nafsu dan kegelapan tabiat.
Ia berkata: Dan ketika kelahiran ini terjadi karena Rasul maka ia seperti ayah bagi orang-orang mukmin. Dan Ubay bin Kaab Radhiyallahu Anhu membaca: “Nabi lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri dan dia adalah ayah bagi mereka.”
Ia berkata: Makna ayat ini dan bacaan tersebut dalam firman-Nya Taala: “Dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (Surat Al-Ahzab: 6), karena tetapnya keibuan istri-istrinya bagi mereka adalah cabang dari tetapnya kebapakan beliau.
Ia berkata: Maka syaikh, guru, dan pengajar adalah ayah ruh. Dan orang tua adalah ayah jasad.
Dan dikatakan dalam cinta: wajd, dalam kemarahan: maujidah, dan dalam mendapatkan: wajdan dan wujud.
Pasal: Tingkatan-tingkatan Al-Wajd
Tingkatan Pertama: Wajd yang Datang Sementara yang Membuat Saksi Pendengaran Tersadar
Pasal
Penulis Madarij As-Salikin berkata: “Al-Wajd adalah bara api yang menyala dari penyaksian yang datang sementara berupa kegelisahan hati.”
Ketika al-wujud lebih tinggi dari al-wajd, maka ia menjadikan sebab al-wajd adalah penyaksian yang datang sementara. Dan ia menjadikan al-wujud sebagai perolehan terhadap sesuatu itu sendiri, sebagaimana akan datang penjelasannya. Dan sesungguhnya ia mengharuskan lahab (bara api) karena pelakunya ketika menyaksikan kekasihnya, hal itu menyebabkan bara api hati kepadanya, dan ketika ia tidak mendapatkannya, hal itu menyebabkan kegelisahan. Karena itulah ia menjadikannya bara api yang membuat gelisah.
Ia berkata: Dan ia (al-wajd) ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: Wajd yang datang sementara yang membuat saksi pendengaran tersadar, atau saksi penglihatan, atau saksi pemikiran. Meninggalkan pada pelakunya bekas atau tidak meninggalkan.
Perkataannya “wajd yang datang sementara” maksudnya yang baru terjadi, bukan yang menetap. “Membuat saksi pendengaran tersadar” maksudnya pendengaran terjaga dari tidurnya karena datangnya sesuatu kepadanya. Dan ini jika yang membangunkannya adalah khithab (perkataan) dari luar atau dari dirinya sendiri. Adapun “terbangunnya saksi penglihatan” maka karena apa yang ia lihat dan saksikan dari ayat-ayat Allah. Maka ia berpindah darinya kepada apa yang dijadikan ayat baginya dan bukti atasnya. Adapan “terbangunnya saksi pemikiran” maka pada apa yang dibukakan kepadanya dari makna-makna yang ia temukan melalui pemikiran dan perenungannya.
Dan ketiga syawahid (saksi-saksi) ini adalah yang Allah Subhanahu serukan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperjelasnya dan bersaksi dengannya dan menerima kebenaran yang disaksiканnya serta menyusun hukum kesaksian ini atasnya, berupa tauhid, pengakuan, dan iman. Allah Taala berfirman: “Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.” (Surat Al-Hajj: 46). Dan firman-Nya: “Maka tidakkah mereka menghayati perkataan?” (Surat Al-Mu’minun: 68). Dan firman-Nya: “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Surat Muhammad: 24). Dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.'” (Surat Yunus: 101). Dan firman-Nya: “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan hak dan waktu yang ditentukan.” (Surat Ar-Rum: 8). Dan firman-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (Surat An-Nahl: 44). Dan Al-Quran penuh dengan hal ini.
Maka apabila saksi pendengaran, penglihatan, dan pemikiran tersadar, dan hati menemukan manisnya pengetahuan dan iman, maka ia keluar dari golongan orang-orang yang tidur dan lalai.
Perkataannya “meninggalkan pada pelakunya bekas atau tidak meninggalkan” maksudnya: bahwa al-wajd yang datang sementara itu terkadang meninggalkan pada yang mengalaminya bekas dari hukum-hukumnya setelah perginya, dan terkadang tidak meninggalkan. Dan yang zhahir: bahwa ia pasti meninggalkan bekas, namun terkadang samar dan tenggelam dengan apa yang datang setelahnya dan menggantikannya dari lawan-lawannya.
BAGIAN: TINGKATAN KEDUA – KEADAAN BATIN YANG MEMBUAT ROH TERJAGA KARENA KEMILAU CAHAYA AZALI
Bagian
Ia berkata: Tingkatan kedua adalah keadaan batin yang membuat roh terjaga karena kemilau cahaya azali, atau mendengar panggilan yang awal, atau tarikan hakiki. Jika keadaan ini mempertahankan pakaian pemiliknya, maka jika tidak, ia akan mempertahankan cahayanya baginya.
Keadaan batin ini lebih tinggi daripada keadaan batin pertama karena tempat kesadaran di dalamnya adalah roh, sedangkan tempatnya pada yang pertama adalah pendengaran, penglihatan, dan pemikiran. Roh adalah yang memikul pendengaran, penglihatan, dan pemikiran. Sifat-sifat ini adalah bagian dari sifat-sifatnya. Juga, keadaan batin roh mungkin memiliki sebab lain, yaitu tingginya kaitan keadaan itu. Kaitan keadaan batin pendengaran, penglihatan, dan pemikiran adalah ayat-ayat dan bukti-bukti nyata. Sedangkan kaitan keadaan batin roh adalah keterikatan roh pada Yang Dicintai karena Dzat-Nya sendiri. Oleh karena itu, ia menjadikan sebabnya sebagai “kemilau cahaya azali”, maksudnya adalah penyaksian roh terhadap kemilau cahaya hakikat yang azali. Penyaksian ini tidak ada bagian di dalamnya bagi pendengaran, penglihatan, maupun pemikiran. Bahkan, pendengaran dan penglihatan menjadi bercahaya karenanya. Karena ketika roh menjadi bercahaya dengan kesadaran dan keterjagaan ini, maka pendengaran dan penglihatan pun menjadi bercahaya dengan cahayanya. Terlebih lagi, pemiliknya dalam keadaan ini hanya mendengar dengan Allah dan melihat dengan-Nya. Jika pendengarannya, penglihatannya, dan kekuatannya adalah dengan Allah, maka bagaimana dengan gerakan roh dan hatinya serta hukum-hukumnya?
Ucapannya “atau mendengar panggilan yang awal”: jika yang dimaksud adalah pengenalan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya melalui perantaraan khitab di lisan para rasul-Nya – dan inilah khitab azali – maka itu benar. Jika yang dimaksud adalah khitab malaikat kepadanya, maka itu bukan khitab azali. Jika yang dimaksud adalah apa yang ia dengar dalam dirinya berupa khitab, maka itu adalah khitab wahm (khayalan). Meskipun ia menyangkanya azali, maka berhati-hatilah dari wahm dan kekeliruan. Kami tidak mengingkari wujud (keadaan), dan tidak menolak syuhud (penyaksian). Kami hanya berbicara dengan kaum (sufi) tentang tingkatannya dan asalnya, dari mana ia dimulai dan ke mana ia kembali. Kami tidak mengingkari pemberi nasihat Allah di hati hamba-Nya yang beriman yang memerintahkan dan melarangnya. Namun, itu ada di hati setiap mukmin yang dijadikan Allah sebagai pemberi nasihat baginya yang memerintahkan dan melarangnya, memanggilnya dan memperingatkannya, memberinya kabar gembira dan menakut-nakutinya. Dialah penyeru yang menyeru di atas shirath. Adapun penyeru di ujung shirath adalah Kitabullah.
Sebagaimana dalam Musnad dan Tirmidzi dari hadits Nawwas bin Sam’an radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah telah membuat perumpamaan: jalan yang lurus, dan di kedua sisi jalan itu ada dua dinding. Di dalam dua dinding itu ada pintu-pintu yang terbuka, dan di atas pintu-pintu itu ada tirai-tirai yang tergantung. Ada penyeru yang menyeru di ujung jalan, dan penyeru yang menyeru di atas jalan. Jalan yang lurus adalah Islam, pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah. Tidaklah seseorang jatuh ke dalam suatu batas larangan Allah hingga tersingkapnya tirai itu. Penyeru di ujung jalan adalah Kitabullah, dan penyeru di atas jalan adalah pemberi nasihat Allah di hati setiap mukmin.”
Maka tidak ada khitab sama sekali kecuali dari salah satu dari kedua pihak ini: khitab Al-Quran atau khitab pemberi nasihat ini.
Namun karena roh terkadang terlepas dan keterikatan roh dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi kuat, bahkan terkadang lenyap dari selain-Nya, dan terkadang disertai dengan semacam kehilangan kesadaran dari inderanya, maka panggilan pemberi nasihat ini menguat dan menguasai hati dan rohnya, sehingga memenuhinya. Lalu roh menyampaikannya ke telinga, kemudian keluar dari telinga kepadanya, karena roh adalah sumbernya dan kepadanya ia kembali. Maka ia menyangkanya sebagai khitab dari luar. Ditambah lagi dengan semacam kelemahan ilmu dan pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan, maka terjadilah kesalahan dan wahm.
Ucapannya “atau tarikan hakiki” maksudnya adalah bahwa di antara sebab-sebab keadaan batin ini adalah tarikan hakiki dari tarikan-tarikan Rabb Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, yang membuat rohnya terbangun dari tidurnya, hidup setelah matinya, dan bercahaya setelah kegelapan-kegelapannya. Maka keadaan batin ini adalah jubah kehormatan dari tarikan ini.
Ucapannya: “Jika ia mempertahankan pakaian pemiliknya, maka jika tidak, ia akan mempertahankan cahayanya baginya.”
Yang dimaksud dengan pakaiannya adalah tingkatannya (kedudukannya). Maksudnya, jika keadaan itu mempertahankan realisasi tingkatannya padanya, maka jika tidak, ia mempertahankan bekas pengaruhnya. Tingkatannya mewariskan kepadanya kemuliaan, kehormatan, khilafah kenabian, dan piagam shiddiqiyyah. Sedangkan bekas pengaruhnya mewariskan kepadanya kemanisan, ketenangan, ketentraman dalam dirinya, dan ketentraman hati-hati dengannya, serta kecenderungan hati-hati kepadanya.
BAGIAN: TINGKATAN KETIGA – KEADAAN BATIN YANG MERENGGUT HAMBA DARI TANGAN DUA ALAM
Bagian
Ia berkata: Tingkatan ketiga adalah keadaan batin yang merenggut hamba dari tangan dua alam, membersihkan maknanya dari kotoran hak-hak pribadi, dan merampasnya dari perbudakan air dan tanah. Jika merampasnya, maka ia melupakan namanya. Jika tidak merampasnya, maka ia meminjamkan gambarannya kepadanya.
Ucapannya “merenggut hamba dari tangan dua alam” artinya membuatnya cukup dari menyaksikan selain Allah dari dua alam: dunia dan akhirat. Maka hati terenggut dari menyaksikan ini dan itu dengan menyaksikan Yang Menciptakan.
Ucapannya “dan membersihkan maknanya dari kotoran hak-hak pribadi” artinya memurnikan penghambaan yang merupakan hakikat dan rahasianya dari kotoran hak-hak pribadi nafsunya dan keinginan-keinginannya yang bertentangan dengan kehendak Rabbnya darinya. Sesungguhnya realisasi penghambaan – yang merupakan makna hamba – tidak terjadi kecuali dengan hilangnya nafsu yang membawa hak-hak pribadi. Ketika hak-hak pribadinya hilang, penghambaan menjadi murni. Setiap kali mati darinya satu hak pribadi, maka hidup darinya penghambaan dan makna. Setiap kali hidup di dalamnya satu hak pribadi, maka mati penghambaan, hingga perkara kembali kepada dua nafsu, dua roh, dan dua hati: hati yang hidup dan roh yang hidup dengan matinya nafsunya dan hak-hak pribadinya; dan hati yang mati serta roh yang mati dengan hidupnya nafsunya dan hak-hak pribadinya. Di antara keduanya ada tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam kesehatan dan penyakit, serta antara keduanya, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah Azza wa Jalla.
Ucapannya “dan merampasnya dari perbudakan air dan tanah” artinya membebaskannya dari perbudakan tabiat dan jasad yang tersusun dari air dan tanah, menuju perbudakan kepada Rabb semesta alam. Pelayan jasad yang menyengsarakan dirinya dengan melayaninya adalah hamba air dan tanah, sebagaimana dikatakan:
Wahai pelayan jasad, betapa engkau menyengsarakan dirimu dengan melayaninya … Sungguh engkau adalah dengan roh, bukan dengan jasad sebagai manusia
Manusia dalam tingkatan ini ada tiga: hamba murni, orang merdeka murni, dan mukatab (budak yang sedang menebus kebebasannya) yang telah membayar sebagian tebusannya dan berusaha membayar sisanya.
Hamba murni adalah hamba air dan tanah yang telah diperbudak oleh nafsunya dan syahwatnya, menguasainya dan mengalahkannya. Maka ia tunduk kepadanya seperti tunduknya budak kepada tuannya yang berkuasa atasnya.
Orang merdeka murni adalah orang yang mengalahkan syahwat dan nafsunya serta menguasainya. Maka nafsu itu tunduk bersamanya, merendah baginya, dan masuk ke bawah perbudakan dan kekuasaannya.
Mukatab adalah orang yang telah diikat sebab kemerdekaannya dan berusaha mencapai kesempurnaannya. Ia adalah budak dari satu sisi dan merdeka dari sisi lain. Dengan sisa yang masih harus dibayar, ia tetap menjadi budak selama masih ada sisa yang belum dibayar. Maka ia tetap budak selama masih ada hak pribadi dari hak-hak pribadi nafsunya.
Orang merdeka adalah orang yang telah terbebas dari perbudakan air dan tanah, dan berhasil mendapatkan penghambaan kepada Rabb semesta alam. Maka terkumpul padanya penghambaan dan kemerdekaan. Penghambaannya adalah dari kesempurnaan kemerdekaannya, dan kemerdekaannya adalah dari kesempurnaan penghambaannya.
Ucapannya: “Jika merampasnya, maka ia melupakan namanya. Jika tidak merampasnya, maka ia meminjamkan gambarannya kepadanya.” Artinya, keadaan batin ini jika merampas pemiliknya secara total sehingga memfanakannya darinya dan mengambilnya darinya, maka ia melupakan namanya. Karena nama mengikuti hakikat. Jika hakikat dirampas, namanya terlupakan. Jika tidak merampasnya secara total, tetapi meninggalkan darinya gambaran, maka ia dipinjamkan kepadanya dengan kemungkinan akan diambil kembali. Sungguh, pinjaman biasanya akan diminta kembali. Dengan yang pertama, ia mengisyaratkan kepada keadaan fana yang sempurna. Dengan yang kedua, kepada keadaan ghaibah (ketidaksadaran) yang pelakunya akan kembali. Wallahu a’lam.
BAGIAN: KEBINGUNGAN (DAHSYAH)
HAKIKAT KEBINGUNGAN
Bagian Kebingungan
Terkadang terjadi pada seorang penempuh jalan suatu kebingungan dalam keadaan penempuhan jalannya, mirip dengan keterkejutan yang terjadi pada hamba ketika tiba-tiba melihat kekasihnya. Ini bukan termasuk dari tingkatan (tempat-tempat pemberhentian) suluk, berbeda dengan Abu Ismail Al-Anshari yang menjadikannya sebagai salah satu tingkatan, bahkan dari puncak-puncaknya. Karena keadaan ini tidak disebutkan dalam Al-Quran, Sunnah, maupun perkataan para penempuh jalan. Tidak ada seorang pun dari kalangan salaf yang menghitungnya sebagai tingkatan dan tingkatanat. Oleh karena itu, ia tidak menemukan apa yang bisa dijadikan dalil atasnya kecuali keadaan para wanita dengan Yusuf alaihissalam, ketika mereka melihatnya, mereka mengagungkannya dan memotong tangan mereka.
Maka ia membuka bab ini dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka ketika mereka melihatnya, mereka mengagungkannya” (Yusuf: 31), artinya mereka memuliakan dan mengagungkannya.
Jika yang dimaksud adalah pengagungan dan pemuliaan mereka terhadapnya, maka itu adalah tingkatan pengagungan. Jika yang dimaksud adalah apa yang terjadi pada mereka akibat melihatnya, berupa kehilangan kesadaran mereka dari diri mereka sendiri dan dari tangan mereka serta apa yang ada di tangannya hingga mereka memotongnya, maka itu adalah tingkatan fana.
Jika yang dimaksud adalah kebingungan dan keterkejutan yang terjadi pada mereka ketika tiba-tiba melihatnya – dan inilah yang ia maksudkan – maka itu adalah perkara yang datang sebagai hal yang muncul dari hal-hal yang muncul di jalan ketika tiba-tiba bertemu dengan sesuatu yang mengalahkan kesabaran dan akal manusia. Tidak diragukan bahwa itu adalah hal yang muncul dari hal-hal yang muncul di jalan, bukan tingkatan bagi para penempuh jalan, dan bukan tingkatan yang dituju oleh mereka. Hal-hal yang muncul di jalan adalah satu hal, sedangkan tingkatan dan tingkatanatnya adalah hal lain.
Oleh karena itu ia berkata dalam mendefinisikan dahsyah (kebingungan): Keterkejutan yang menimpa hamba ketika tiba-tiba bertemu dengan sesuatu yang mengalahkan akalnya, atau kesabarannya, atau ilmunya. Ia mengisyaratkan kepada syuhud (penyaksian) yang mengalahkan akalnya, cinta yang mengalahkan kesabarannya, dan keadaan yang mengalahkan ilmunya.
TINGKATAN-TINGKATAN KEBINGUNGAN
TINGKATAN PERTAMA: KEBINGUNGAN MURID KETIKA KEADAAN MENYERANG ILMUNYA
Ia berkata: Kebingungan ada pada tiga tingkatan. Yang pertama: kebingungan murid ketika keadaan menyerang ilmunya, keadaan batin menyerang kemampuannya, dan kasyf (penyingkapan) menyerang kehendaknya.
Maksudnya adalah bahwa ilmunya menghendaki sesuatu, tetapi keadaannya menyerang dengan sebaliknya. Batas maksimalnya adalah ia dimaafkan jika tidak berlebihan. Karena keadaan tidak menyerang ilmu kecuali salah satu dari keduanya rusak: yang menyerang atau yang diserang. Jika ilmu menghendaki diam, lalu keadaan menyerang dengan gerakannya, maka itu adalah gerakan yang rusak. Batas maksimal pemiliknya adalah ia dimaafkan, bukan dipuji. Jika ilmu menghendaki gerakan, lalu keadaan menyerang dengan diamnya, maka itu adalah diam yang rusak.
Contoh yang pertama: ilmu menghendaki diam dan khusyuk ketika datangnya sesuatu dari mendengar bacaan Al-Quran, lalu keadaan menyerangnya hingga ia berteriak dan merobek pakaiannya, atau melemparkan dirinya karena datangnya makna-makna yang membuatnya bingung dari yang didengarnya ke hatinya. Maka keadaannya menyerang ilmunya, hingga seandainya ia sedang dalam shalat fardhu, ia akan membatalkannya dan memutuskannya.
Contoh yang kedua: ilmu menghendaki gerakan yang tersebar dalam ridha Sang Kekasih, lalu keadaan menyerangnya dengan diamnya dan keterpaduan, hingga mengalahkannya. Inilah salah satu dari tempat terputusnya kaum (sufi) dan bencana mereka. Tidak ada yang selamat darinya kecuali ahli bashirah (pandangan batin) dari mereka yang mengamalkan penjelasan penghambaan. Banyaknya bentuk hal ini meniadakan kebutuhan untuk banyak contoh.
Sesungguhnya kebanyakan mereka mendahulukan keadaan keterpaduan daripada berinteraksi dengan orang-orang lain dan musuh-musuh dalam jihad, amar makruf nahi munkar. Keadaan keterpaduan menyerang pada dirinya terhadap gerakan yang diperintahkan ilmu, sebagaimana gerakan yang pertama menyerang diam yang diperintahkan ilmu.
Ucapannya “dan keadaan batin menyerang kemampuan” maksudnya adalah bahwa keadaan batin pencinta terkadang mengalahkan kesabarannya dan menyerang kemampuannya. Maka ia berseru kepada Kekasihnya dan meminta pertolongan kepada-Nya hingga datang pertolongan dari sisi-Nya. Bahkan seruannya kepada-Nya dan permintaan pertolongannya kepada-Nya adalah pertolongan-Nya sendiri kepadanya, di mana Dia menjaga keadaan batinnya dan tidak mengembalikannya kepada kesabaran yang membuatnya lupa dan kering, karena itu akan menjadi sejenis pengusiran.
Ucapannya “dan kasyf menyerang kehendaknya” maksudnya adalah bahwa kehendak menuntut kesungguhan pencarian dan kelanggengannya, sedangkan kasyf adalah syuhud (penyaksian). Ia berada dalam posisi yang melemahkan kehendak dan membatalkan hukumnya, karena kehendak menuntut pencarian, sedangkan syuhud menuntut kelemahan. Karena pencarian adalah untuk yang ghaib (tidak hadir) dari yang dicari, maka kehendaknya terkait dengan mendapatkannya. Adapun pemilik kasyf dalam kehadiran bersama yang dicarinya, maka kasyf-nya menyerang kehendaknya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka: “Jika berkilat kilatan dari kilatan-kilatan hakikat, maka tidak tersisa bersamanya keadaan maupun kehendak.”
Ini juga adalah hal yang muncul yang hilangnya dituju. Keberlangsungan dengannya adalah terputusnya secara total. Karena penempuh jalan dalam kehendak selama rohnya masih dalam jasadnya. Jika kehendak meninggalkannya, ia terputus dan lelah.
BAGIAN: TINGKATAN KEDUA – KEBINGUNGAN SALIK KETIKA KETERPADUAN MENYERANG GAMBARANNYA
Bagian
Ia berkata: Tingkatan kedua: kebingungan salik ketika keterpaduan menyerang gambarannya, keutamaan menyerang waktunya, dan musyahadah (penyaksian) menyerang rohnya.
Jam’ (keterpaduan) menurut kaum (sufi) adalah apa yang menghilangkan tafriqah (penyebaran), memutus isyarat, dan berbeda dengan makhluk-makhluk. “Rasm” (gambaran) hamba menurut mereka adalah bentuknya yang zahir dan batin. Maka syuhud jam’ menghendaki bahwa ia menguasai fananya gambaran-gambaran itu padanya. Maka bagi jam’ ada serangan terhadap rasm salik, yang menutupinya menurut mereka dengan keterkejutan, yaitu kebingungan yang diisyaratkan.
Adapun serangan keutamaan terhadap waktunya, maka sabq (keutamaan) adalah azali. Ia mendahului waktu salik. Serangan azali terhadap waktunya karena waktunya adalah hadits (baru) dan fana. Maka ia melihat fananya dalam kekal azali dan kesebelumannya, hingga syuhud keutamaan mengalahkannya dan menguasainya atas syuhud waktunya, sehingga tidak ada tempat baginya.
Adapun serangan musyahadah terhadap rohnya, karena musyahadah adalah keterikatan persepsi roh dengan syuhud Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia adalah syuhud Allah dengan Allah – sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Maka dengan Aku ia mendengar, dan dengan Aku ia melihat” – maka syuhud ini menghendaki serangan terhadap roh. Karena hukum menjadi milik-Nya, bukan milik roh, hukum yang menyaksikan terlipat dalam penyaksiannya. Engkau telah mengetahui apa yang ada dalam hal itu pada apa yang telah disebutkan sebelumnya.
TINGKATAN KETIGA: KEBINGUNGAN PENCINTA KETIKA PERSATUAN MENYERANG KELEMBUTAN PEMBERIAN
Ia berkata: Tingkatan ketiga: kebingungan pencinta ketika persatuan menyerang kelembutan pemberian, serangan cahaya kedekatan terhadap cahaya kasih sayang, dan serangan kerinduan menyaksikan terhadap kerinduan mendengar.
Ittishal (persatuan) menurutnya ada pada tiga tingkatan: persatuan berpegang teguh, persatuan penyaksian, dan persatuan wujud, sebagaimana akan datang pembahasan tentangnya insya Allah. Penjelasan tentang apa yang benar dan salah di dalamnya terlalu agung untuk disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan “pemberian” di sini adalah: limpahan-limpahan yang mengalir dengan lemah lembut dan tersembunyi ke dalam hati hamba dari sisi Allah Taala. Ia adalah kelembutan yang digunakan Yang Dicintai untuk memperlakukan pencinta-Nya, dan melahirkan kedekatan yang murni yang disebut dengan ittishal (penyatuan). Maka kedekatan itu menyerbu kelembutan pemberian tersebut. Hingga hamba menjadi ghaib (lenyap) darinya dan dari penyaksiannya. Dan melupakannya dari pemberian itu, karena ketakjuban yang ditimbulkan oleh kedekatan tersebut.
Dan terkadang penyebabnya adalah: berturut-turutnya berbagai jenis pemberian kepadanya, hingga banyaknya dan keberagamannya membuatnya terkejut. Maka banyaknya pemberian itu menimbulkan ketakjuban yang menghalanginya dari memperhatikannya, ditambah dengan serangan kedekatan itu. Ia adalah limpahan-limpahan dan cahaya-cahaya yang saling tersambung satu sama lain, yang menghapus kegelapan jiwanya dan jejaknya.
Adapun serangan cahaya kedekatan terhadap cahaya kasih sayang, maka ia hampir sama dengan ini. Atau ia sama persis dengannya, hanya saja makna itu diulang dengan lafal lain. Karena kelembutan pemberian semuanya adalah cahaya kasih sayang, dan ittishal (penyatuan) adalah kedekatan itu sendiri. Mahasuci Allah dari selain itu berupa penyatuan yang dibayangkan oleh para mulhid (sesat) dan zindiq (kafir) dalam jalan ini.
Adapun serangan kerinduan penyaksian terhadap kerinduan berita.
Maksudnya dengan itu adalah: bahwa murid pada awal perjalanannya berjalan dengan kerinduan berita dalam tingkatan iman. Maka ketika ia naik darinya ke tingkatan ihsan dan mantap di dalamnya, kerinduannya tetap ada dengan kerinduan penyaksian. Maka kerinduan ini menyerbu kerinduan yang pertama. Jika ini yang dimaksudkannya, jika tidak maka penyaksian di dunia sama sekali tidak ada jalan bagi manusia untuk mencapainya.
Dan barangsiapa mengklaim selain itu, maka keadaan terbaiknya adalah: bahwa ia tertipu dan tidak ada tingkatan di atas ihsan bagi para shiddiqin kecuali kelangsungan mereka di dalamnya. Jika itu dinamai penyaksian, maka penamaan syariat yang murni yang tidak ada keraguan di dalamnya lebih utama dan lebih pantas.
Dan kebanyakan bencana manusia adalah dari lafal-lafal. Terutama dalam tempat-tempat seperti ini yang sulit untuk membayangkan kebenaran sebagaimana adanya dan untuk mengungkapkan dengan tepat, maka lahirlah dari lemahnya pembayangan dan kurangnya pengungkapan: sejenis kekacauan. Dan bertambah pada lisan-lisan dan hati-hati orang yang mendengarnya, sesuai dengan kekurangan mereka dan jauhnya mereka dari ilmu. Maka persoalan menjadi memburuk dan perkara menjadi besar. Dan tercampurlah jalan para wali Allah yang benar dengan jalan-jalan para zindiq yang sesat. Dan sulit untuk membedakan antara keduanya. Maka masuklah ke dalam agama dari kerusakan karena itu apa yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Dan orang yang paling besar kekafirannya kepada Allah Azza wa Jalla dan ilhadnya dalam agama-Nya ditunjuk sebagai: salah satu dari syaikh tahqiq, makrifat, dan suluk.
Dan seandainya bukan karena jaminan Allah untuk menjaga agama-Nya, dan tanggung jawab-Nya untuk mengangkat bagi agama itu orang yang memperbarui tanda-tandanya, dan menghidupkan darinya apa yang dimatikan oleh para pembuat kebatilan, dan membangkitkan apa yang dihancurkan oleh orang-orang jahil: niscaya runtuh tiang-tiangnya dan roboh bangunannya. Tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam.
Fasal tentang Tingkatan Hayman (Ketakjuban)
Hakikat Hayman
Dan terkadang terjadi pada salik ketika masuknya beberapa makna dan limpahan yang menakjubkan ke dalam hatinya: kekaguman yang berlebihan, penganggapan baik dan kelezatan yang menghilangkan ketentraman dirinya, maka itu melahirkan hayman (ketakjuban yang melumpuhkan) baginya.
Dan itu bukan termasuk tingkatan-tingkatan perjalanan, dan bukan termasuk tingkatan-tingkatan jalan yang dituju untuk singgah di dalamnya oleh para musafir. Berbeda dengan penulis Manazil. Di mana ia menghitung itu sebagai salah satu tingkatan tertinggi dan puncaknya, dan mengungkapkannya dengan tingkatan hayman. Dan karena itulah ia tidak disebutkan dalam Quran, tidak dalam Sunnah, dan tidak dalam bahasa para salaf mereka.
Dan penulis Manazil telah memaksakan diri untuk mengambil dalil dengannya dengan firman Allah Taala: “Dan Musa jatuh pingsan” (Surah Al-Araf: 143). Dan betapa jauhnya ayat itu dari dalilnya. Seolah-olah ia mengira bahwa Musa hilang ketentramannya karena apa yang masuk kepadanya dalam keadaan khitab dan kalam ilahi sehingga melahirkan hayman baginya hingga ia pingsan karenanya. Dan tidaklah seperti yang ia sangka. Sesungguhnya Musa pingsan ketika Allah Rabb Taala bertajalli kepada gunung dan gunung itu hancur lebur dan runtuh karena tajalli Allah Rabb Taala.
Maka pengambilan dalil dengan ayat itu dalam tingkatan fana yang di dalamnya lenyap jejak-jejak adalah lebih tepat dan lebih jelas. Karena runtuhnya gunung adalah lenyapnya jejaknya ketika cahaya tajalli masuk kepadanya. Dan pingsan dalam keadaan ini adalah fana karena yang masuk ini yang menyebabkan fananya kemanusiaan Musa alaihi ash-shalatu was-salam (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya).
Dan ia telah membatasinya dengan bahwa ia adalah hilangnya ketentraman karena kagum atau bingung.
Maksudnya: bahwa orang yang haim (terkagum-kagum) tidak mampu mengendalikan dirinya karena yang masuk kepadanya dengan kagum dan bingung.
Ia berkata: Dan ia lebih tetap kelangsungannya dan lebih menguasai sifat daripada dahsy (terkejut).
Maksudnya: bahwa orang yang haim mungkin kehayman-nya berlangsung lama. Berbeda dengan orang yang madhusy (terkejut). Dan pemilik hayman menguasai kendali perkataan. Maka ia mengarahkannya ke mana ia kehendaki. Dan ia mampu mengungkapkannya. Adapun dahsy: karena sempitnya maknanya dan pendeknya waktunya, ia tidak menguasai sifat. Maka orang yang haim lebih menguasai sifat keadaan dan limpahannya daripada orang yang madhusy.
Tingkatan-tingkatan Hayman
Tingkatan Pertama: Hayman dalam Melihat Awal-awal Kilat Kelembutan ketika Menuju Jalan
Ia berkata: Dan ia ada tiga tingkatan. Yang pertama: hayman dalam melihat awal-awal kilat kelembutan ketika menuju jalan, dengan memperhatikan hamba rendahnya kadarnya, rendahnya kedudukannya, dan kecilnya nilainya.
Ia bermaksud: bahwa orang yang menuju suluk jika melihat tempat-tempat kelembutan Rabbnya kepadanya – di mana Dia membuatnya layak untuk apa yang tidak dibuat layak untuknya ahli bala, dan mereka adalah ahli kelalaian dan berpaling dari-Nya – maka pandangan itu melahirkan baginya kekaguman yang menjatuhkannya dalam sejenis hayman.
Salah seorang arif berkata dalam atsar yang diriwayatkan “Jika kalian melihat ahli bala maka mintalah kepada Allah keselamatan” tahukah kalian siapa ahli bala? Mereka adalah ahli kelalaian dari Allah.
Dan keadaan ini bertambah kuat jika ditambahkan kepadanya penyaksian hamba akan rendahnya kadar dirinya. Maka ia menganggap kecil dirinya untuk menjadi layak untuk apa yang ia dibuat layak untuknya. Demikian juga penyaksian rendahnya kedudukannya yaitu turunnya pangkatnya, dan demikian juga penyaksian kecilnya nilainya yaitu rendahnya dan sedikitnya.
Dan hasil dari semua itu adalah: meremehkan dirinya, dan menganggap besar kelembutan Rabbnya kepadanya dan pembuatannya layak untuknya. Maka lahir dari antara kedua ini: hayman yang disebutkan. Dan tidak diragukan bahwa lahir dari antara dua penyaksian ini: hal-hal lain yang lebih mulia, lebih besar, dan lebih terhormat daripada hayman – berupa mahabbah (cinta), hamd (pujian), syukur, azam (tekad), ikhlas, nasehat dalam penghambaan, surur (senang) dan farah (gembira) dengan Rabbnya, dan inas (keakraban) dengan-Nya – yang dicari karena zatnya sendiri. Berbeda dengan gejala hayman. Karena ia tidak dicari karena zatnya. Dan ia bukan termasuk tingkatan-tingkatan penghambaan.
Fasal: Tingkatan Kedua: Hayman dalam Gelombang Tahqiq ketika Muncul Dalil-dalilnya
Fasal
Ia berkata: Tingkatan kedua: hayman dalam bertemunya gelombang-gelombang tahqiq, ketika muncul dalil-dalilnya, berturut-turutnya keajaibannya, dan kilatan-kilatan cahayanya.
Ia bermaksud: bahwa salik dan murid jika terlihat baginya cahaya-cahaya tahqiq ilmu dan makrifat, ia terbimbing dengannya kepada tujuan dengan bashirah (pandangan hati) yang baru dan kebangkitan yang siap. Maka hatinya menjadi bercahaya dengannya dan rahasianya bersinar karenanya. Maka bertemulah kepadanya gelombang-gelombang tahqiq ketika muncul dalil-dalil. Maka hatinya haim (terkagum-kagum) di dalamnya. Dan ini adalah perkara yang diketahui dengan pengalaman oleh setiap pencari perkara besar yang terbuka baginya jalan-jalan dan pintu-pintu untuk mencapainya.
Dan ia bermaksud dengan berturut-turutnya keajaibannya: berturut-turutnya keajaiban-keajaiban tahqiq, dan bahwa sebagiannya tidak menghalangi dari sebagian, dan tidak berhenti di jalan sebagian. Demikian juga kilatan-kilatan cahayanya. Dan yang paling besar menemukan wujud ini adalah: ketika ia tenggelam dalam tadabbur Quran. Dan itu terjadi sesuai dengan kesiapan dan kelayakannya untuk memahami. Dan nisbah selain itu kepadanya seperti ludah di lautan.
Fasal: Tingkatan Ketiga: Hayman ketika Jatuh dalam Ain Qidam dan Menyaksikan Kekuasaan Azali
Fasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: hayman ketika jatuh dalam ain qidam (mata kekadiman), dan menyaksikan kekuasaan azali, dan tenggelam dalam lautan kasyf.
Ia bermaksud: hayman fana. Dan jatuh dalam ain qidam hanya terjadi dengan lenyapnya jejak dan fananya dalam penyaksian qidam (kekadiman). Karena lenyap yang tidak pernah ada yang disaksikan. Dan tetap Yang tidak pernah tiada. Demikian juga penyaksian kekuasaan azali tidak tinggal bersamanya penyaksian jejak-jejak makhluk dan peninggalan-peninggalan yang baru.
Adapun lautan kasyf yang ia tunjukkan, maka ia adalah tersingkapnya hakikat bagi mata hati. Dan jangan kamu meyakini bahwa bagi salik di balik tingkatan ihsan ada sesuatu yang lebih tinggi darinya. Bahkan ihsan itu bertingkat-tingkat. Adapun kasyf hakiki terhadap hakikat, maka tidak ada jalan kepadanya di dunia sama sekali.
Dan mereka terlihat bagi salah seorang dari mereka cahaya-cahaya yang merupakan buah-buah iman dan muamalah-muamalah hati, dan jejak-jejak keadaan yang jujur, lalu mereka mengiranya cahaya hakikat. Dan tidak ada yang menyalahkan mereka dalam itu. Sesungguhnya itu adalah cahaya-cahaya di dalam batin mereka tidak lebih. Dan pintu ishmah (penjagaan dari dosa) selain para rasul tertutup kecuali dari siapa yang disepakati oleh umat. Wallahu alam (dan Allah lebih mengetahui).
Fasal: Al-Barq (Kilatan)
Hakikat Barq
Fasal: Barq
Dan di antara cahaya-cahaya “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah cahaya barq (kilatan)
Yang terlihat bagi hamba ketika ia masuk ke dalam jalan orang-orang yang jujur
Dan ia adalah kilatan yang terlihat bagi hatinya. Menyerupai kilatan petir.
Penulis Manazil berkata: Barq adalah: buah pertama yang terlihat bagi hamba. Maka ia memanggilnya untuk masuk ke dalam jalan ini. Dan ia mengambil dalil dengannya dengan firman Allah Taala: “Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa – ketika ia melihat api lalu ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah, sesungguhnya aku melihat api” (Surah Thaha: 9-10).
Dan wajah pengambilan dalilnya adalah: bahwa api yang dilihat Musa adalah permulaan dalam jalan kenabian-nya.
Dan “barq” adalah permulaan dalam jalan wilayah yang merupakan warisan kenabian.
Dan perkataannya “buah pertama”: bakirah adalah yang pertama dari sesuatu, dan darinya bakirah buah-buahan. Dan ia adalah yang mendahului jenisnya dalam matang.
Dan perkataannya “terlihat bagi hamba” yaitu terlihat baginya dan muncul baginya “maka ia memanggilnya untuk masuk ke dalam jalan ini”. Dan ia tidak bermaksud jalan ahli bidayat (pemula). Karena itu adalah yaqazhah (kebangkitan) yang ia sebutkan di awal kitabnya. Sesungguhnya ia bermaksud: jalan para pemilik tawasuth (pertengahan) dan nihayat (akhir).
Dan atas dasar ini, maka barq yang ia tunjukkan adalah barq ahwal (keadaan-keadaan), bukan barq amal (perbuatan-perbuatan), atau barq yang tidak ada sebab darinya dari salik. Sesungguhnya ia semata-mata pemberian.
Dan dalil bahwa ia bermaksud apa yang terjadi pada para pemilik tawasuth dan nihayat adalah: bahwa ia mulai – setelah definisinya – membedakan antara itu dan wujud.
Maka ia berkata: Dan perbedaan antara itu dan wujud adalah: bahwa wujud terjadi setelah masuk ke dalamnya. Dan barq sebelumnya. Maka wujud adalah bekal. Dan barq adalah izin.
Ia bermaksud: bahwa barq adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati hamba dan ia munculkan baginya. Maka Dia memanggilnya dengannya untuk masuk ke dalam jalan. Dan wujud adalah kerasnya thalab (pencarian) dan kuatnya yang melahirkan berkobarnya api dari penyaksian, sebagaimana telah lewat.
Dan “wujud adalah bekal” maksudnya: bahwa ia menemani salik sebagaimana bekkalnya menemaninya. Bahkan ia termasuk berharga dari bekalnya. Dan “barq adalah izin” maksudnya izin dalam suluk, dan izin sesungguhnya memberikan jalan bagi salik dalam perjalanan tidak lebih.
Tingkatan-tingkatan Barq
Tingkatan Pertama: Barq yang Terlihat dari Sisi Janji dalam Ain Rajak
Ia berkata: Dan ia ada tiga tingkatan. Yang pertama: barq yang terlihat dari sisi janji dalam ain raja (mata harapan). Maka ia menganggap banyak di dalamnya hamba yang sedikit dari pemberian, dan menganggap sedikit di dalamnya yang banyak dari kelelahan, dan menganggap manis di dalamnya pahitnya takdir.
Ia bermaksud dengan janji: apa yang Allah janjikan kepada wali-wali-Nya dari berbagai jenis kemuliaan di negeri ini dan ketika pertemuan.
Dan perkataannya “terlihat dalam ain raja” yaitu terlihat dalam hakikat raja dari ufuknya dan sisinya, maka itu melahirkan baginya menganggap banyak yang sedikit – dan tidak ada yang sedikit dari Allah – dari pemberian-Nya. Dan yang membawanya kepada penganggapan banyak ini adalah empat perkara.
Pertama: pandangannya kepada keagungan pemberinya dan kebesaran-Nya.
Kedua: meremehkan dirinya. Karena menganggap rendah dirinya melahirkan menganggap banyak apa yang ia dapatkan dari tuannya.
Ketiga: cintanya kepada-Nya. Karena mahabbah jika mantap dari hamba ia menganggap banyak sedikitnya apa yang ia dapatkan dari kekasihnya.
Keempat: bahwa ini – sebelum pemberian – tidak ada keakrabannya dengannya dan tidak ada hubungan dengan pemberian. Maka ketika itu tiba-tiba datang kepadanya, ia menganggapnya banyak.
Adapun menganggap sedikit yang banyak dari kelelahan – yaitu capek dan lelah – maka karena ketika terlihat baginya barq janji-janji dari ufuk raja, itu membawanya kepada kesungguhan dan thalab. Dan mengangkat darinya beratnya perjalanan. Maka ia tidak menemukan dari itu sentuhan kelelahan dan capek apa yang ditemukan oleh yang tidak mencium itu.
Demikian juga menganggap manisnya – dalam barq ini – pahitnya takdir, yaitu ujian yang Allah Azza wa Jalla menguji dengannya hamba-hamba-Nya, untuk menguji mereka siapa yang paling sabar dan paling jujur, dan paling besar iman, mahabbah, tawakkal, dan inabah (kembali kepada Allah)? Maka jika terlihat bagi salik barq ini, ia menganggap manis di dalamnya pahitnya takdir.
Fasal: Tingkatan Kedua: Barq yang Terlihat dari Sisi Ancaman dalam Ain Hadhir
Fasal
Ia berkata: Tingkatan kedua: barq yang terlihat dari sisi ancaman dalam ain hadhar (mata kehati-hatian). Maka ia menganggap pendek di dalamnya hamba yang panjang dari angan-angan, dan zuhud terhadap makhluk atas kedekatan. Dan berminat dalam membersihkan rahasia.
Barq ini ufuknya dan ainnya berbeda dengan ufuk barq yang pertama. Karena ini terlihat dari ufuk hadhar, dan yang itu dari ufuk raja. Maka jika ia mencium barq ini, ia menganggap pendek di dalamnya yang panjang dari angan-angan. Dan ia membayangkan di setiap waktu bahwa kematian menyerangnya dan tiba-tiba datang kepadanya.
Maka bertambahlah kehati-hatiannya dari serangannya, karena takut bahwa azab Allah menimpa dirinya, dan dihalangi antara dia dan permintaan maaf dan persiapan untuk pertemuan. Maka ia bertemu Rabbnya sebelum kesucian yang sempurna. Maka tidak diizinkan baginya untuk masuk kepada-Nya tanpa bersuci. Sebagaimana ia tidak diizinkan baginya di negeri taklif untuk masuk kepada-Nya untuk shalat tanpa bersuci.
Hal ini mengingatkan para hamba untuk bersuci guna menghadap dan bertemu dengan-Nya, serta memasuki waktu pertemuan bagi orang yang berakal dari Allah dan memahami rahasia-rahasia ibadah. Jika seorang hamba tidak dapat masuk menghadap-Nya kecuali dengan menghadap rumah suci-Nya (Ka’bah) dengan wajahnya, menutupi auratnya, menyucikan badannya, pakaiannya, dan tempat ia berdiri di hadapan-Nya, kemudian memurnikan niat untuk-Nya, maka demikian pula memasuki pertemuan dengan-Nya, tidak akan terwujud kecuali dengan menghadapkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhannya, menutupi aurat-aurat batinnya dengan pakaian takwa, menyucikan hati, roh, dan anggota tubuhnya dari kotoran lahir dan batin, bersuci untuk Allah dengan kesucian yang sempurna, dan bersiap untuk masuk dengan persiapan yang paling sempurna. Waktu-waktu salat adalah gambaran waktu menghadap Allah.
Jika seorang hamba bersiap sebelum waktu datang, maka waktu akan datang padanya dalam keadaan siap, sehingga ia dapat masuk menghadap Allah. Namun jika ia lalai dalam bersiap, dikhawatirkan waktu akan berlalu sebelum ia siap. Karena datangnya waktu pertemuan itu sempit dan tidak dapat diperluas. Hamba tidak dapat bersuci dan bersiap ketika waktu itu tiba dengan tiba-tiba. Bahkan akan dikatakan kepadanya: Jauh sekali, telah lewat apa yang telah lewat, dan telah jauh jarak antara dirimu dengan kesucian. Barangsiapa yang melihat kilatan ancaman dengan memperpendek angan-angan, maka ia akan selalu dalam keadaan suci.
Adapun “menjauhkannya dari makhluk dalam kedekatan”, meskipun mereka adalah kerabatnya, sanak saudaranya, tetangganya yang berdekatan, teman bergaul dan berinteraksinya, hal itu karena kesempurnaan kewaspadaannya, kesiapannya, kesibukannya dengan apa yang ada di hadapannya, dan memperhatikan ancaman dari ufuk kilatan tersebut yang bukan kilatan palsu, bahkan ia adalah kilatan yang paling benar.
Bisa jadi yang dimaksud dengan perkataannya “dalam kedekatan” adalah dalam waktu yang sangat dekat. Maka ia tidak menunggu kezuhdannya terhadap mereka dengan angan-angan yang ia harapkan atau waktu yang akan ia hadapi.
Perkataannya “dan berhasrat untuk menyucikan hati” maksudnya menyucikan hatinya dari selain Allah. Dan ini telah dijelaskan sebelumnya.
[Pasal Tingkatan Ketiga: Kilatan yang Memancar dari Sisi Kelembutan dalam Inti Kebutuhan]
Pasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: kilatan yang memancar dari sisi kelembutan dalam inti kebutuhan. Maka timbullah awan kegembiraan, dan turunlah hujan kesenangan, dan mengalirlah sungai kebanggaan.
Kilatan ini memancar dari ufuk kelembutan Tuhan Yang Mahatinggi kepada hamba-Nya dengan berbagai jenis kelembutan. Terbitnya kilatan ini adalah dalam inti kebanggaan, yang merupakan pintu perjalanan menuju Allah Taala, dan jalan terbesar yang tidak dapat dimasuki kecuali darinya. Setiap jalan selainnya tertutup. Namun dengan ini semua, hamba tidak akan sampai kecuali dengan mengikuti Rasul. Maka tidak ada jalan menuju Allah sama sekali selamanya – meskipun orang-orang berusaha keras dan berangan-angan – kecuali kebutuhan (kepada Allah) dan mengikuti Rasul saja. Jangan sampai orang yang berjalan melelahkan dirinya di jalan selain ini. Karena ia tidak mendapatkan apa-apa. Ia seperti berburu binatang buas dan hewan liar.
Perkataannya “maka timbullah awan kegembiraan” maksudnya timbul bagi hamba kegembiraan khusus dan kebahagiaan dengan Tuhannya yang tidak pernah ia alami sebelumnya, tidak ada yang serupa dengannya di dunia, sapuan dari kenikmatan surga, dan hembusan angin dari arah kiri mereka. Jika awan itu timbul untuknya, maka ia akan disiram dengan hujan kesenangan, sehingga batin dan hatinya bergembira dengan apa yang datang kepadanya dari sisi Tuannya dan Pelindungnya. Jika kesenangan itu meningkat, mengalirlah sungai kebanggaan, yang membedakannya dari sejenisnya dengan apa yang Allah khususkan untuknya.
Atau bisa jadi yang dimaksudkan: kebanggaannya atas setan. Dan ini adalah kesombongan yang terpuji, dengan kegembiraan dan kebanggaan atasnya. Karena Allah tidak membenci hal itu. Oleh karena itu, Dia menyukai orang yang sombong di antara barisan ketika perang, karena di dalamnya ada perlawanan terhadap musuh-musuh-Nya, dan Dia menyukai kesombongan ketika bersedekah – sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam hadits – karena rahasia yang menakjubkan, yang diketahui oleh para pemberi sedekah dan orang yang dermawan dari diri mereka sendiri ketika mereka bergembira untuk memberi, berbahagia dengannya, dan bangga atas jiwa yang kikir yang memerintahkan untuk kikir, dan atas setan yang menghiasinya untuk mereka:
Dan mereka memberikan harta di awal kekayaan Dan memulai kesabaran di akhir kesabaran Pemberani untuk kemuliaan, pelindung untuk kehormatan Penghilang kesedihan, pembalas dendam Dan mereka dilanda getaran ketika bersedekah Seperti orang yang mabuk dilanda oleh pengaruh khamar
Maka kebanggaan ini adalah dari kesempurnaan penghambaan.
Atau yang dimaksudkan: bahwa ia layak untuk berbangga dengan apa yang membedakannya. Namun ia tidak berbangga dengannya untuk menjaga penghambaan dan kebutuhannya. Kedua makna ini benar. Dan Allah lebih mengetahui.
Rahasianya: bahwa ketika hamba memperhatikan kelembutan yang ia alami, dan menyaksikannya dari inti karunia dan murni kemurahan, ia menyaksikan bersamaan dengan itu kebutuhannya kepada-Nya di setiap saat, dan ketidakmampuannya untuk tidak membutuhkan-Nya sedetik pun. Maka hal itu menjadi salah satu pintu syukur yang paling besar, dan sebab-sebab tambahan nikmat, dan berturut-turutnya nikmat kepadanya.
Setiap kali nikmat datang berturut-turut kepadanya, timbullah di hatinya awan-awan kegembiraan. Dan jika awan-awan ini tersebar di langit hatinya dan ufuknya penuh dengannya, ia akan disiram dengan hujan deras kesenangan karena kegembiraan yang ia rasakan. Jika tidak hujan deras, maka embun. Dan saat itu mengalirlah di lisan dan lahirnya sungai kebanggaan tanpa kesombongan atau keangkuhan, tetapi bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Yunus: 58). Maka kebanggaan pada lahirnya, dan kebutuhan serta kerendahan dalam batinnya, dan keduanya tidak saling bertentangan. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku adalah pemimpin anak-anak Adam dan tidak ada kebanggaan”. Bagaimana beliau mengabarkan tentang karunia Allah dan nikmat-Nya kepadanya, dan mengabarkan bahwa hal itu tidak keluar darinya sebagai kebanggaan atas orang yang di bawahnya, tetapi untuk menampakkan nikmat Allah kepadanya, dan memberitahu umat tentang kedudukan imam dan yang mereka ikuti di sisi Allah, dan tingginya kedudukannya di sisi-Nya, agar umat mengetahui nikmat Allah kepadanya dan kepada mereka.
Ini mirip dengan perkataan Nabi Yusuf kepada Al-Aziz “Jadikanlah aku pengawas gudang-gudang negeri, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan” (Yusuf: 55). Pengabarannya tentang dirinya dengan hal itu, karena mengandung kemaslahatan yang kembali kepada Al-Aziz, umat, dan dirinya sendiri, maka hal itu baik. Karena ia tidak bermaksud untuk berbangga atas mereka. Maka sumber kata dan yang mendorong padanya dapat membuatnya baik atau buruk, padahal bentuknya satu.
[Pasal Kedudukan Merasakan (Dzauq)]
[Hakikat Dzauq]
Pasal. Di antaranya adalah kedudukan merasakan (dzauq). “Dzauq” adalah persinggungan indera lahir dan batin dengan yang sesuai dan yang bertentangan. Dan itu tidak khusus untuk indera mulut dalam bahasa Al-Quran, bahkan juga tidak dalam bahasa Arab. Allah Taala berfirman “Dan rasakanlah azab yang membakar” (Al-Anfal: 50). Dan firman-Nya “Maka rasakanlah azab karena kamu telah kufur” (Ali Imran: 106). Dan firman-Nya “Inilah (azab), maka rasakanlah oleh kamu sekalian, (yaitu) air yang sangat panas dan nanah” (Shad: 57). Dan firman-Nya “Maka Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat” (An-Nahl: 112).
Perhatikanlah bagaimana Dia menggabungkan antara merasakan dan pakaian, untuk menunjukkan persinggungan dengan yang dirasakan dan meliputi serta menyeluruhnya. Maka pengabaran tentang merasakan itu menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang terjadi secara langsung dan tidak ditunggu. Karena ketakutan kadang diperkirakan dan tidak dirasakan langsung. Dan pengabaran tentang pakaiannya menunjukkan bahwa itu meliputi dan menyeluruh seperti pakaian pada badan.
Dan dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Merasakan rasa iman: orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai rasul”. Maka beliau mengabarkan bahwa iman memiliki rasa, dan hati merasakannya sebagaimana mulut merasakan rasa makanan dan minuman.
Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengungkapkan tentang meraih hakikat iman dan ihsan, serta tercapainya di hati dan persinggungannya dengannya dengan dzauq (merasakan) terkadang, dengan makanan dan minuman terkadang, dan dengan menemukan kelezatan terkadang. Sebagaimana sabda beliau: “Merasakan rasa iman”. Dan sabda beliau: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia menemukan dengan ketiganya kelezatan iman: orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang membenci kembali kepada kekufuran – setelah Allah menyelamatkannya darinya – sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam api”.
Dan ketika Nabi melarang mereka dari washal (puasa tanpa berbuka), mereka berkata: “Engkau melakukan washal”. Beliau bersabda: “Aku tidak seperti kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum”. Dalam lafal lain: “Sesungguhnya aku bermalam di sisi Tuhanku, Dia memberi aku makan dan minum”. Dalam lafal lain: “Sesungguhnya aku memiliki yang memberi makan dan memberi minum kepadaku”.
Telah tebal hijab orang yang menyangka bahwa ini adalah makanan dan minuman inderawi untuk mulut. Seandainya seperti yang disangka orang ini, maka beliau tidak sedang berpuasa, apalagi melakukan washal. Dan tidak akan benar jawaban beliau dengan sabda-Nya “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian”. Maka beliau menjawab dengan perbedaan antara beliau dan mereka. Seandainya beliau makan dan minum dengan mulutnya yang mulia secara inderawi, maka jawabannya adalah mengatakan: “Dan aku juga tidak melakukan washal”. Ketika beliau membenarkan perkataan mereka “Engkau melakukan washal”, maka diketahui bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam menahan diri dari makanan dan minuman, dan cukup dengan makanan dan minuman rohani yang tinggi itu, yang menggantikan makanan dan minuman inderawi yang umum.
Dan dzauq ini adalah yang dijadikan dalil oleh Heraklius tentang kebenaran kenabian, ketika ia berkata kepada Abu Sufyan: “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena tidak suka dengan agamanya?” Abu Sufyan menjawab: “Tidak”. Heraklius berkata: “Demikian pula iman, jika kelezatannya telah bercampur dengan kegembiraan hati”.
Maka ia mengambil dalil dari apa yang didapat oleh para pengikutnya berupa merasakan iman – yang kelezatannya telah bercampur dengan hati sehingga hati itu tidak akan pernah membencinya – bahwa itu adalah dakwah kenabian dan kerasulan, bukan tuntutan kerajaan dan kepemimpinan.
Yang dimaksudkan: bahwa merasakan kelezatan iman dan ihsan adalah sesuatu yang dirasakan hati. Hubungannya dengan hati seperti hubungan merasakan kelezatan makanan dengan mulut, dan merasakan kelezatan hubungan intim dengan jiwa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Hingga engkau merasakan madunya dan ia merasakan madumu”. Maka iman memiliki rasa dan kelezatan yang berkaitan dengan merasakan dan menemukan. Dan keragu-raguan dan kebimbangan tidak akan hilang dari hati kecuali jika hamba sampai pada keadaan ini. Maka iman benar-benar menyentuh hatinya dengan sungguh-sungguh. Ia merasakan rasanya dan menemukan kelezatannya. Dan Allah Yang Memberi Taufik.
Berkata penulis Manazil: Pintu dzauq. Allah Taala berfirman “Ini adalah peringatan” (Al-Anbiya: 24).
Dalam mengaitkan ayat ini dengan dzauq ada kesulitan. Yang tampak – dan Allah lebih mengetahui – bahwa Syaikh bermaksud: bahwa dzauq adalah pendahuluan dari minum, sebagaimana mengingat adalah pendahuluan dari ma’rifat, dan darinya masuk ke tingkatan iman dan ihsan. Karena jika ia mengingat, maka ia melihat hakikat, sebagaimana firman-Nya “Mereka mengingat lalu mereka melihat” (Al-A’raf: 201). Maka mengingat menghasilkan melihat, sehingga ia memiliki iman setelah melihat berupa merasakan dan menyaksikan.
Oleh karena itu, Dia berfirman setelahnya “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar tempat kembali yang baik, (yaitu) surga Adn” (Shad: 49-50). Maka mengingat dengan peringatan ini yang dikisahkan Allah membuat pemiliknya menyaksikan iman kepada hari akhir, dan apa yang Allah sediakan untuk wali-wali-Nya ketika bertemu dengan-Nya. Maka iman mereka tentang itu menjadi merasakan, bukan hanya berita semata. Karena itu muncul dari mengingat mereka dengan mengingat-Nya, merenungkan hakikat-hakikat dan rahasia-rahasianya, dan apa yang ada di dalamnya berupa petunjuk dan penjelasan. Maka mengingat adalah sebab dzauq. Dan Allah lebih mengetahui.
[Pasal Dzauq Lebih Kekal daripada Wajd dan Lebih Terang daripada Kilat]
Pasal
Ia berkata: Dan dzauq: lebih kekal daripada wajd, dan lebih terang daripada kilat.
Yang dimaksud: bahwa kedudukan dzauq lebih kokoh dan lebih kuat daripada kedudukan wajd. Itu karena pengaruh dzauq tetap di hati, dan tetapnya lama. Sebagaimana tetapnya pengaruh merasakan makanan dan minuman pada daya perasa. Dan tetap pada badan dan roh. Karena dzauq adalah persinggungan – sebagaimana telah disebutkan – dan wajd menurut Syaikh adalah nyala api yang berkobar dari penyaksian keadaan yang meresahkan. Maka menurutnya termasuk keadaan-keadaan, seperti kehilangan akal dan keresahan. Karena ia muncul dari mukasyafah yang tidak kekal. Oleh karena itu, ia menjadikannya lebih kekal daripada wajd.
Adapun perkataannya “dan lebih terang daripada kilat”, maka kilat lebih cepat berlalu, dan singkapannya di bawah singkapan dzauq. Dan ini benar.
Namun menjadikan dzauq lebih kekal dan lebih tinggi daripada wajd, di dalamnya ada pembahasan. Bisa dikatakan: bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikan wajd di atas dzauq dan lebih tinggi kedudukannya darinya. Karena beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia menemukan dengan ketiganya kelezatan iman” – hadits. Dan beliau bersabda tentang dzauq: Merasakan rasa iman. Maka menemukan kelezatan sesuatu yang dirasakan lebih khusus daripada hanya merasakannya. Karena kelezatan lebih khusus daripada rasa, maka ia dikaitkan dengan wajd yang lebih khusus daripada sekedar dzauq. Maka ia mengaitkan yang lebih khusus dengan yang lebih khusus, dan yang lebih umum dengan yang lebih umum.
Bukan yang dimaksud dengan menemukan kelezatan iman adalah wajd yang berupa nyala api hati. Karena itu adalah mashdar dari wajada bisy-syai’ wajdan, sedangkan ini dari wujud yang berarti tetap. Maka mashdar fi’il ini adalah wujud dan wijdan. Maka wajada asy-syai’ yajiduhu wijdanan: jika sesuatu itu didapat dan tetap. Sebagaimana orang yang kehilangan menemukan sesuatu yang jauh darinya.
Darinya firman Allah “Dan ia mendapati Allah di sisinya” (An-Nur: 39). Dan firman-Nya “Kemudian ia memohon ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An-Nisa: 110). Dan firman-Nya “Bukankah Dia mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang sesat, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikanmu kecukupan” (Adh-Dhuha: 6-8). Dan firman-Nya “Sesungguhnya Kami mendapatinya seorang yang sabar” (Shad: 44). Maka semua ini dari wujud dan tetap. Demikian pula sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ia menemukan dengan ketiganya kelezatan iman”.
Makna Menemukan Sesuatu
Menemukan sesuatu (wujud) artinya keberadaan dan ketetapannya. Tidak diragukan lagi bahwa merasakan rasa iman adalah menemukan iman itu sendiri. Karena mustahil memperoleh rasa ini tanpa adanya wujud (keberadaan). Namun menurut istilah banyak kaum sufi, orang yang merasakan (dzaiq) lebih khusus daripada orang yang menemukan (wajid). Seolah-olah ia berbagi dengan orang yang menemukan dalam hal memperoleh, namun ia memiliki keistimewaan dengan adanya rasa. Sebab terkadang seseorang menemukan sesuatu namun tidak merasakannya dengan rasa yang sempurna.
Pendapat ini tidak seperti yang mereka katakan. Bahkan wujud (keberadaan) hakikat-hakikat ini bagi hati adalah: merasakan hakikat itu dan bahkan lebih, serta ketetapan dan kestabilan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.
BAB TINGKATAN-TINGKATAN RASA
TINGKATAN PERTAMA: RASA PEMBENARAN ATAS JANJI
Bab
Penulis berkata: Ia (rasa) memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama: rasa pembenaran atas janji. Maka prasangka tidak dapat menahannya, harapan tidak dapat memutusnya, dan angan-angan tidak dapat menghalanginya.
Maksudnya adalah: bahwa seorang hamba yang membenarkan (Allah) ketika merasakan janji dari Allah atas imannya, pembenaran dan ketaatannya, maka ia akan tetap berpegang pada hukum janji tersebut dan istiqamah.
“Prasangka tidak menahannya” artinya prasangka tidak menahannya. Kamu mengatakan: Aku menahan fulan dari sesuatu, artinya aku mencegahnya darinya dan menghalanginya. Dari kata ini berasal ‘iqal (tali) unta, karena ia menahan unta agar tidak lari. Dari kata ini juga: akal. Karena ia menahan pemiliknya dari melakukan perbuatan yang tidak baik dan tidak pantas. Dari kata ini juga: memahami perkataan dan memahami maknanya, yaitu ketika kamu menahan perkataan di dadamu dan menetapkannya di hatimu, setelah sebelumnya tidak ada padamu. Dari kata ini juga: ‘aqal (diyat). Karena ia mencegah penerimanya dari melakukan agresi terhadap pelaku dan keluarganya.
Yang dimaksud adalah: bahwa merasakan rasa iman pada janji Allah mencegah orang yang merasakan agar tidak ditahan oleh prasangka dari kesungguhan dalam mencari dan berjalan menuju Tuhannya. Prasangka adalah berhenti dari keyakinan terhadap kebenaran janji dan ancaman, sehingga sisi pembenaran tidak lebih kuat di sisinya.
Seakan-akan Syaikh berkata: Orang yang merasakan dengan pembenaran rasa janji, tidak dilawan oleh prasangka yang menahannya dari kejujuran dalam mencari, dan menahan tekadnya dari kesungguhan di dalamnya. Dalam hadits sayyidul istighfar ada sabda Nabi: “Dan aku tetap pada perjanjianmu dan janjimu sesuai kemampuanku”, artinya aku tetap membenarkan janjimu dan menunaikan perjanjianmu sesuai kemampuanku.
Yang mendorong pada ketetapan dan keteguhan ini adalah: merasakan rasa iman dan pengaruhnya langsung pada hati. Andai iman itu hanya majaz (metafora) bukan hakikat, hati tidak akan teguh pada hukum janji dan memenuhi perjanjian. Tidak ada yang bermanfaat dalam posisi ini kecuali merasakan rasa iman. Baju pinjaman tidak akan memperindah pemakainya. Apalagi jika orang-orang tahu bahwa itu bukan miliknya dan hanya pinjaman untuknya, sebagaimana dikatakan:
Baju pamer transparan menampakkan apa di baliknya Maka bila kau mengenakan, sungguh kau telanjang
Dahulu salah seorang sahabat banyak melantunkan talbiyah dalam ihramnya, kemudian berkata: Labbaik (aku penuhi panggilanmu), seandainya ini pamer niscaya akan lenyap. Allah Ta’ala menafikan iman dari orang yang mengklaimnya namun tidak memiliki rasa di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah Islam,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14)
Mereka ini adalah orang-orang muslim namun bukan mukmin. Karena mereka bukan termasuk orang yang iman menyentuh hatinya sehingga merasakan manisnya dan rasanya. Ini adalah kondisi kebanyakan orang yang menisbatkan diri kepada Islam. Mereka ini bukan kafir. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bagi mereka Islam dengan firman-Nya: “tetapi katakanlah: Kami telah Islam” (QS. Al-Hujurat: 14). Tidak dimaksudkan: katakanlah dengan lisan kalian tanpa kesesuaian hati. Karena Allah membedakan antara perkataan mereka “kami beriman” dengan perkataan mereka “kami islam”. Namun karena mereka tidak merasakan rasa iman, Allah berfirman: kamu belum beriman. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji kepada mereka meski demikian, atas ketaatan mereka bahwa Dia tidak akan mengurangi pahala amal mereka sedikitpun.
Kemudian Allah menyebutkan ahli iman yang merasakan rasanya, yaitu mereka yang beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya kemudian tidak ragu dalam iman mereka. Keraguan menghilang dari mereka karena iman telah menyentuh hati mereka dan keceriaan iman bercampur dengannya. Maka tidak ada lagi tempat bagi keraguan di dalamnya.
Yang membenarkan rasa itu adalah: pemberian mereka pada sesuatu yang paling mereka cintai untuk keridhaan Tuhan mereka. Yaitu harta dan jiwa mereka. Mustahil pemberian ini terjadi tanpa merasakan rasa iman dan menemukan manisnya. Karena itu hanya terjadi dengan kejujuran rasa dan wujud. Sebagaimana perkataan Hasan: Iman bukan dengan angan-angan dan bukan dengan hiasan, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibenarkan dengan amal.
Rasa dan wujud adalah perkara batiniah, sedangkan amal adalah dalil atasnya dan pembenaran untuknya. Sebagaimana keraguan, keragu-raguan dan kemunafikan adalah perkara batiniah, sedangkan amal adalah dalil atasnya dan pembenaran untuknya. Amal-amal adalah buah dari ilmu dan keyakinan. Keyakinan menghasilkan jihad dan tingkatan-tingkatan ihsan. Sesuai dengan kekuatannya akan menjadi buah dan hasilnya. Keraguan dan keragu-raguan menghasilkan amal yang sesuai dengannya. Dan dengan pertolongan Allah.
Perkataan penulis “Dan harapan tidak memutusnya” artinya di antara tanda-tanda rasa adalah: pemiliknya tidak terputus dari pencariannya oleh perkara dunia dan tamak pada tujuan-tujuan duniawi. Karena harapan dan tamak memutus jalan hati dalam perjalanannya menuju tujuannya.
Syaikh tidak mengatakan: ia tidak memiliki harapan, tetapi mengatakan: harapan tidak memutusnya. Karena harapan jika ada padanya namun tidak memutusnya, tidak akan membahayakannya meski sedikit menghambat perjalanannya. Musibah sesungguhnya adalah harapan yang memutus hati dari perjalanannya menuju Allah.
Menurut kaum sufi: bahwa segala sesuatu selain Allah, maka berkeinginan padanya adalah harapan yang memutus, apapun itu. Barangsiapa harapannya demikian dan itulah ujung pencariannya, maka ia bukan termasuk ahli rasa iman. Karena barangsiapa merasakan manisnya makrifat kepada Allah, kedekatan kepada-Nya dan ketenangan bersama-Nya, tidak akan memiliki harapan pada selain-Nya. Jika harapannya terkait pada selain-Nya, itu untuk menolongnya atas keridhaan dan kecintaan-Nya. Maka ia mengharapkan karena Allah, bukan mengharapkan bersama-Nya.
Jika kamu bertanya: Apa yang memutus harapan ini dari seorang hamba?
Saya menjawab: Kuatnya keinginan pada tujuan tertinggi yang tidak ada sesuatu yang lebih tinggi darinya. Pengetahuannya tentang hinanya apa yang diharapkan selain-Nya dan cepatnya kepergiannya yang akan segera terputus. Sesungguhnya ia hakikatnya seperti bayangan khayalan atau awan musim panas. Ia adalah bayangan yang berlalu dan bintang yang telah terbenam untuk tenggelam, maka ia akan segera terbenam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Aku hanyalah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya”. Dan beliau bersabda: “Dunia di sisi akhirat hanyalah seperti salah seorang dari kalian memasukkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang kembali?” Maka beliau menyerupakan dunia di sisi akhirat dengan apa yang melekat pada jari berupa basah ketika dicelupkan ke laut.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Seandainya dunia dari awal sampai akhir diberikan kepada seseorang, kemudian datang kematian kepadanya, niscaya ia seperti orang yang melihat dalam mimpinya sesuatu yang menyenangkannya kemudian terbangun dan tidak ada sesuatu di tangannya.
Mutharrif bin Abdullah – atau selainnya – berkata: Kenikmatan dunia seluruhnya di sisi kenikmatan akhirat lebih kecil dari debu di sisi gunung-gunung dunia.
Barangsiapa menajamkan mata hati pada dunia dan akhirat, akan mengetahui bahwa perkara itu demikian.
Bagaimana pantas bagi orang yang sehat akal dan makrifatnya agar harapan dari bagian kecil yang hina ini memutusnya dari kenikmatan yang tidak akan sirna dan tidak akan lenyap? Apalagi memutusnya dari mencari Zat yang nisbah kenikmatan kekal ini terhadap kenikmatan makrifat-Nya, kecintaan-Nya, ketenangan bersama-Nya dan kegembiraan dengan kedekatan-Nya, seperti nisbah kenikmatan dunia terhadap kenikmatan surga? Allah Ta’ala berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72). Maka sedikit dari keridhaan-Nya – dan tidak dikatakan sedikit – lebih besar dari surga dan apa yang ada di dalamnya.
Dalam hadits rukyat: “Demi Allah, Allah tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah-Nya”. Dan dalam hadits lain: “Sesungguhnya mereka ketika melihat-Nya Subhanahu tidak menoleh pada sesuatu pun dari kenikmatan yang mereka dapatkan, hingga Dia tersembunyi dari mereka”.
Barangsiapa terputus dari ini oleh harapan, sungguh ia telah beruntung dengan kehinaan dan ridha untuk dirinya dengan puncak kerugian. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan. Kepada-Nya kita bertawakal. Dan apa yang Allah kehendaki terjadilah.
Perkataan penulis “Dan angan-angan tidak menghalanginya”. Angan-angan (umniyyah) adalah apa yang diinginkan hamba dari berbagai kesenangan. Jamaknya amani. Perbedaan antara angan-angan dan harapan adalah bahwa harapan terkait dengan apa yang diharapkan wujudnya. Sedangkan angan-angan terkadang terkait dengan apa yang tidak diharapkan perolehannya, seperti orang lemah yang berangan-angan mendapat kedudukan tinggi.
Angan-angan batil adalah modal utama orang-orang yang bangkrut. Dengan angan-angan itu mereka memotong waktu-waktu mereka dan menikmatinya, seperti kenikmatan orang yang hilang akalnya dengan memabukkan atau dengan khayalan-khayalan batil.
Dalam hadits marfu’: “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan pada Allah”.
Tidak ridha dengan angan-angan menggantikan hakikat kecuali pemilik jiwa-jiwa rendah yang jatuh. Sebagaimana dikatakan:
Tinggalkan angan-angan jiwa jangan menganggap membuatnya kenyang Sesungguhnya angan-angan adalah modal utama orang yang bangkrut
Angan-angan seseorang menunjukkan ketinggian cita-citanya atau kerendahannya. Dalam atsar ilahi: “Sesungguhnya Aku tidak melihat pada ucapan orang yang bijaksana, tetapi Aku melihat pada cita-citanya”. Masyarakat awam berkata: Nilai setiap orang adalah apa yang ia kuasai. Orang-orang arif berkata: Nilai setiap orang adalah apa yang ia cari.
BAB TINGKATAN KEDUA: RASA KEINGINAN ATAS KETENANGAN
Bab
Penulis berkata: Tingkatan kedua: rasa keinginan atas ketenangan. Maka tidak ada yang menyibukkannya, tidak ada yang merusak keadaannya, dan perpecahan tidak membuatnya keruh.
Keinginan (iradah) adalah sifat orang yang menginginkan (murid). Perbedaan antara tingkatan ini dengan sebelumnya adalah: bahwa tingkatan pertama adalah sifat keadaan hamba yang pernah merasakan dengan pembenannya rasa janji Tuhan ‘azza wa jalla, maka ia bersungguh-sungguh dalam ibadah dan amal-amal kebaikan karena kepercayaannya pada janji atasnya. Sedangkan pemilik tingkatan ini: keinginannya merasakan rasa ketenangan. Maka ini adalah keadaan orang yang menginginkan (murid).
Karena itu penulis mengaitkan keadaan pemilik tingkatan pertama dengan janji yang indah. Dan mengaitkan keadaan pemilik tingkatan ini dengan ketenangan bersama Allah. Ketenangan bersama-Nya Subhanahu lebih tinggi dari ketenangan dengan apa yang diharapkan hamba yang beribadah berupa kenikmatan surga. Maka ketika murid merasakan rasa ketenangan, ia bersungguh-sungguh dalam keinginannya dan bersemangat dalam menjaga ketenangan dan memperoleh sebab-sebab yang menguatkannya.
Maka tidak ada yang menyibukkannya, artinya tidak ada sesuatu yang terkait padanya yang menyibukkannya dari suluknya dan perjalanannya kepada Allah, karena kuatnya pencarian yang mendorongnya adalah ketenangan yang telah merasakan rasanya dan menikmati manisnya.
Ketenangan dengan Allah adalah keadaan wijdaniyyah (keberadaan yang dirasakan). Ia termasuk tingkatan-tingkatan ihsan, menguat dengan tiga hal: terus-menerus berdzikir, jujur dalam kecintaan, dan berbuat baik dalam amal.
Kekuatan dan kelemahan ketenangan sesuai dengan kekuatan kedekatan. Semakin dekat hati dari Tuhannya, semakin kuat ketenangan dengannya. Semakin jauh darinya, semakin keras kegelisahan antara dia dan Tuhannya.
Perkataan penulis “Dan tidak ada yang merusak keadaannya”. Yang merusak adalah yang mencela kekasih, menyalahkannya atas semangat dalam keridhaan kekasihnya dan ketaatannya, mengajaknya untuk berpaling kepadanya dan berhenti bersamanya tanpa tujuannya yang tinggi. Ia seperti orang yang datang secara mendadak mencegah orang yang lewat di jalannya dari melewati dan memalingkannya dari arah tujuannya ke arah lain.
Ini menurut kaum sufi adalah berkeinginan pada selain Allah. Karena segala sesuatu selain Allah adalah penghalang. Berkeinginan pada selain Allah menghentikan penempuh jalan, membalikkan pencari, dan menghalangi orang yang sampai. Maka hati-hatilah dengan berkeinginan pada selain Allah meski tinggi. Karena kamu terhalangi dari Allah sesuai kadar keinginanmu pada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman mengabarkan dari hamba-hamba-Nya yang muqarrabin: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS. Al-An’am: 52). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun yang memberikan kepadanya suatu nikmat yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) untuk mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 19-20).
Perkataan penulis “Dan perpecahan tidak membuatnya keruh”. Kekeruhan lawan dari kejernihan. Perpecahan lawan dari kesatuan. Kesatuan adalah mengumpulkan hati dan cita-cita pada Allah dengan hadir bersama-Nya dalam keadaan tenang, kosong dari perpecahan pikiran. Perpecahan termasuk perkara yang paling membuat keruh hati. Ia menghilangkan kejernihan yang dihasilkan untuknya oleh Islam, iman dan ihsan. Karena hati menjadi jernih dengan itu. Kemudian datang perpecahan yang membuat keruh kejernihan itu dan mengacak-acak hati. Maka orang yang jujur merasakan sakit kekacauan itu dan gangguannya. Ia berusaha keras mengumpulkannya. Kekacauan hati tidak terkumpul dengan sesuatu selain menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Di sanalah kekacauannya terkumpul, kekeruhan hilang, perjalanannya benar, ia merasakan ruh kehidupan dan merasakan rasa kehidupan malakuti.
Bagian Tingkatan Ketiga: Merasakan Putus menjadi Rasa Tersambung
Bagian
Beliau berkata: Tingkatan ketiga adalah merasakan putus menjadi rasa tersambung, dan merasakan kesungguhan menjadi rasa terkumpul, serta merasakan berbincang menjadi rasa penyaksian.
Perbedaan antara tingkatan ini dengan yang sebelumnya adalah bahwa tingkatan sebelumnya masih mengandung keberadaan bersama keadaan-keadaan spiritual. Sedangkan tingkatan ini adalah keluar dan fana dari keadaan-keadaan tersebut. Sesungguhnya orang yang mantap dalam keadaan fananya dari sebab-sebab—baik berupa amal maupun keadaan spiritual—adalah orang yang benar-benar merasakan rasa tersambung. Karena kadar keterhubungannya dengan Allah sesuai dengan kadar kelepasannya dari perhatian kepada sebab-sebab. Dan kadar terputusnya sesuai dengan kadar perhatiannya kepada sebab-sebab tersebut. Semakin mantap ia dalam mengumpulkan perhatiannya kepada Yang Haq, maka ia akan merasakan kelezatan terkumpul kepada-Nya, dan merasakan kedekatan serta ketenangan bersama-Nya.
Putus menurut para ahli tasawuf adalah ketenangan hati dengan selain Allah, dan berpaling kepada selain-Nya. Sedangkan tersambung adalah memurnikan keterikatan kepada-Nya semata, dan terputus dari selain-Nya secara total.
Setelah memahami ini, mari kita kembali kepada penafsiran perkataan beliau.
Ucapannya “merasakan putus menjadi rasa tersambung” adalah kiasan, karena yang merasakan sebenarnya adalah pemilik keputusan itu, bukan keputusan itu sendiri. Sebab dialah yang merasakan putus dan tersambung. Kesimpulannya, yang dimaksud adalah orang yang terputus adalah orang yang terhalangi, dan orang yang tersambung adalah orang yang menyaksikan dengan hatinya dan tersingkap dengan rahasianya.
Yang lebih baik daripada ungkapan “tersambung” adalah ungkapan “dekat”. Karena itulah ungkapan yang tepat yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya dalam tingkatan ini.
Adapun ungkapan “wasal” (bersambung) dan “ittishal” (tersambung), maka itu adalah ungkapan yang tidak tepat. Orang kafir yang murtad dan orang yang beriman muwahhid sama-sama berpegang pada ungkapan tersebut. Orang muwahhid bermaksud dengan “ittishal” adalah kedekatan, dan dengan “infishal” dan “inqitha'” adalah kejauhan. Sedangkan orang murtad bermaksud dengannya hulul (bersatunya Allah dengan makhluk) atau ittihad (menyatunya Allah dengan makhluk).
Bahkan sebagian orang-orang ini berkata: Orang yang terputus sebenarnya tidak terputus. Bahkan ia tetap tersambung sejak dulu, tetapi ia tidak menyaksikan. Ketika ia menyaksikan, ia menemukan dirinya tidak pernah terputus, bahkan tetap tersambung sejak dulu.
Ia berkata: Perkataan kita “tetap tersambung sejak dulu” tidak tepat. Karena penyambungan hanya sah antara dua pihak. Maka orang yang terhalangi tidak terputus, dan orang yang tersingkap tidak tersambung. Ini hanyalah ungkapan untuk mendekatkan pemahaman. Dan ia membacakan syair tentang hal itu:
Mengapa untamu tidak mau menetap Dan mengapa bayanganmu terus bergerak Kelak kau akan tahu bahwa perjalananmu Hanyalah kepada dirimu sendiri ketika sampai di tempat tujuan
Berhadapan dengan golongan ini ada golongan lain yang hijabnya tebal dan jiwanya kasar terhadap urusan ini. Mereka mengira bahwa kedekatan, kejauhan, dan ketenangan tidak memiliki hakikat yang berkaitan dengan Sang Pencipta. Menurutnya, kedekatan itu adalah dekat kepada surga-Nya dengan ketaatan, dan ketenangan hati dengan pahala yang dijanjikan atas ketaatan itu. Sedangkan kejauhan adalah lawan dari itu. Karena hamba tidak bisa dekat kepada Tuhannya dan tidak bisa jauh dari-Nya, serta tidak bisa tenang bersama-Nya. Mereka terang-terangan menyatakan bahwa hamba tidak menginginkan Allah dan tidak mencintai-Nya, karena kehendak dan cinta tidak bisa berkaitan dengan-Nya. Maka golongan ini berjalan ke arah barat, sementara golongan pertama berjalan ke arah timur. Sebagaimana dikatakan:
Ia berjalan ke timur dan aku berjalan ke barat Betapa jauhnya antara timur dan barat
Pelita orang muwahhid yang berjalan di jalan Rasul dan jalannya bersinar “dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.” (Surah An-Nur: 35)
Ucapannya “dan merasakan kesungguhan menjadi rasa terkumpul” menjadikan kesungguhan sebagai yang merasakan, padahal yang merasakan sebenarnya adalah pemiliknya, dengan cara perluasan makna.
“Kesungguhan” (al-himmah) telah dijelaskan oleh Syaikh sebelumnya bahwa ia adalah “apa yang memiliki kekuatan untuk bangkit menuju tujuan secara murni”, yaitu suatu keadaan dan sifat yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang mendorong pemiliknya kepada tujuan, dan membangkitkannya dengan bangkitan yang tidak bercampur dengan yang lain.
Maka kesungguhan menurut mereka adalah mencari Yang Haq tanpa berpaling kepada selain-Nya. Dan “terkumpul” adalah menyaksikan keesaan yang membuat lenyap gambaran-gambaran yang disaksikan. Ini adalah terkumpul dalam rububiyyah (ketuhanan).
Yang lebih tinggi darinya adalah terkumpul dalam uluhiyyah (keselamatan untuk disembah), yaitu mengumpulkan hati, perhatian, dan rahasianya kepada Yang Dia cintai, ridha-Nya, dan kehendak-Nya darinya. Ini adalah i’tikaf (berdiam) hati secara total kepada Allah, tidak berpaling ke kanan atau ke kiri. Jika kesungguhan merasakan rasa terkumpul ini, maka kerinduan pemiliknya akan terus-menerus, dan api cinta serta pencarian akan menyala di hatinya. Ia merasakan kesabaran dari kekasihnya sebagai salah satu dosa besar. Sebagaimana dikatakan:
Kesabaran terpuji dalam semua situasi Kecuali terhadapmu, maka ia tidak terpuji
Telah disebutkan sebelumnya atsar ilahi: “Sesungguhnya Aku tidak melihat kepada perkataan orang yang bijaksana, tetapi Aku melihat kepada kesungguhannya.”
Maka sungguh beruntung jiwa yang kesungguhannya memotong semua alam semesta, dan berjalan tanpa meletakkan tongkat perjalanan kecuali di hadapan Ar-Rahman, Maha Suci Dia, lalu bersujud di hadapan-Nya dengan sujud syukur karena sampai kepada-Nya. Ia terus bersujud hingga dikatakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Surah Al-Fajr: 27)
Maha Suci Allah yang membedakan makhluk dalam kesungguhan mereka, sehingga engkau melihat antara dua kesungguhan lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Bahkan lebih jauh daripada jarak antara serendah-rendahnya dan setinggi-tingginya. Dan itu adalah anugerah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “Demikian itu adalah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Surah Al-Hadid: 21)
Ucapannya “dan merasakan berbincang menjadi rasa penyaksian”, maksud mereka dengan berbincang adalah munajat (bermunajat) hati kepada Tuhannya, meskipun lisannya diam. Yaitu kelezatan menguasainya dzikir kepada Allah, cinta-Nya atas hati hamba, dan hadirat di hadapan-Nya, serta ketenangan bersama-Nya, dan kedekatannya dengan-Nya, hingga ia seolah-olah berbicara kepada-Nya dan berbincang dengan-Nya, terkadang meminta maaf kepada-Nya, terkadang merayu-Nya, terkadang memuji-Nya, hingga hati tetap menuturkan: Engkau adalah Allah yang tiada tuhan selain Engkau, tanpa dipaksakan. Bahkan ini menjadi keadaan dan tingkatan baginya. Dan tidak ada pengingkaran terhadap sampainya para ahli tasawuf kepada ini. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.” Jika ia sampai pada tingkatan ihsan sehingga seolah-olah ia melihat Allah, maka begitulah ia berbicara dan bermunajat kepada-Nya.
Tetapi yang lebih baik adalah beralih dari lafaz “musamarah” (berbincang) kepada “munajah” (bermunajat), karena itulah lafaz yang dipilih oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hal ini. Beliau mengungkapkan dengannya keadaan hamba dengan sabdanya: “Apabila salah seorang dari kalian berdiri dalam shalat, maka sesungguhnya ia bermunajat kepada Tuhannya.” Dan dalam hadits lain: “Setiap kalian bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan suara atas sebagian yang lain.” Maka jangan beralih dari lafaz-lafaz beliau shallallahu alaihi wasallam, karena ia terjaga dari kesalahan, dan keluar dari orang yang terjaga. Kesimpangsiuran dan ketidakjelasan ada dalam istilah dan penggunaan para ahli tasawuf. Dan hanya kepada Allah kita memohon taufik.
Bagian Tingkatan (Kedudukan) Pandangan
Hakikat Pandangan
Bagian Tingkatan Pandangan
Di antaranya adalah: Tingkatan al-Lahzh (Pandangan)
Syaikhul Islam berkata:
(Bab Pandangan) Allah berfirman: “Tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat Aku.” (Surah Al-A’raf: 143)
Aku (Ibnul Qayyim) berkata: Yang dimaksud—wallahu a’lam—dengan mengambil dalil dari ayat ini adalah bahwa Allah hendak memperlihatkan kepada Musa alaihissalam dari kesempurnaan keagungan dan kemuliaan-Nya, agar ia mengetahui bahwa kekuatan manusia di dunia ini tidak dapat bertahan untuk melihat dan menyaksikan-Nya dengan mata, karena hancurnya gunung ketika Tuhannya bertajalli kepadanya dengan tajalli yang paling sedikit.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya dari hadits Hammad bin Salamah: telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Maka ketika Tuhannya menampakkan (tajalli) kepada gunung itu, dibuatnya gunung itu hancur luluh.” (Surah Al-A’raf: 143) Hammad berkata: begini—dan ia meletakkan ibu jarinya di atas ruas jari kelingking tangan kanan—maka Humaid berkata kepada Tsabit: Apakah engkau menceritakan hadits seperti ini? Lalu Tsabit memukul dada Humaid dengan tangannya dan berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakannya, dan aku tidak akan menceritakannya? Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Shahih-nya dan berkata: Ini sesuai syarat Muslim. Memang sebagaimana yang ia katakan.
Yang dimaksud adalah bahwa Syaikh mengambil dalil dengan ayat ini dalam bab pandangan, karena Allah memerintahkan Musa untuk melihat kepada gunung ketika Tuhannya bertajalli kepadanya. Maka ia melihat dampak tajalli pada gunung yang hancur luluh. Lalu Musa jatuh pingsan.
Syaikh berkata: “Pandangan adalah lirikan yang dicuri.” Yang benar membaca kalimat ini dengan sifat bertaraf ringan. Maka ia mensifati lirikan bahwa ia dicuri, sebagaimana dikatakan: aku mencuri pandangan kepadanya. Yaitu melihat secara sembunyi-sembunyi sehingga orang yang dipandang tidak merasakan.
Pencurian ini memiliki beberapa sebab. Di antaranya adalah mengagungkan yang dipandang dan memuliakannya. Maka orang yang melihat mencuri pandangan kepadanya, dan tidak menatapnya dengan tajam karena memuliakannya. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menatap beliau dengan tajam karena memuliakannya. Amru bin Al-Ash berkata: Aku tidak pernah memenuhi mataku dengannya karena memuliakannya. Seandainya aku ditanya untuk menggambarkannya, aku tidak mampu, karena aku tidak pernah memenuhi mataku dengannya.
Di antaranya adalah ketakutan yang memandang dari kekuasaannya. Di antaranya adalah cinta kepadanya. Di antaranya adalah malu darinya. Di antaranya adalah lemahnya kekuatan penglihatan untuk menatap dengan tajam kepadanya. Sebab yang terakhir ini adalah sebab yang dominan dalam bab ini.
Boleh juga dibaca dengan kasrah pada ra dan tasydid pada qaf, artinya pandangan yang mencuri pemiliknya, yaitu menawan hatinya dan menjadikannya budak—yaitu hamba sahaya yang dimiliki oleh yang dipandang—karena apa yang ia saksikan dari keindahan dan kesempurnaannya, maka hatinya tertawan. Tidak ada antara dirinya dan perbudakannya kepada yang dipandang kecuali hanya jatuhnya pandangannya kepadanya.
Maka demikianlah pemilik keadaan ini ketika ia melihat dengan hatinya keagungan rububiyyah, dan kesempurnaan Tuhan, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan tempat-tempat jatuhnya kelembutan, karunia, kebaikan dan ihsan-Nya: hatinya tertawan kepada-Nya dan ia memiliki penghambaan khusus.
Tingkatan Pandangan
Tingkatan Pertama: Memperhatikan Karunia yang Telah Terdahulu
Beliau berkata: Dan ia dalam bab ini memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah memperhatikan karunia yang telah terdahulu. Ia memotong jalan permintaan, kecuali apa yang menjadi hak rububiyyah berupa menampakkan kehinaan kepadanya. Ia menumbuhkan kegembiraan, kecuali apa yang bercampur dengannya berupa kehati-hatian dari tipu daya. Ia mendorong kepada syukur, kecuali apa yang telah ditegakkan oleh Yang Haq dari hak sifat.
Kebiasaan Syaikh dalam setiap bab adalah mengatakan: “Dan ia memiliki tiga tingkatan.” Dan ia berkata di sini: “Dan ia dalam bab ini memiliki tiga tingkatan”, maka ia menentukan “bab ini” di sini tanpa bab-bab lainnya. Karena al-lahzh (pandangan) memiliki makna ganda antara pandangan mata dan pandangan hati. Syaikh di sini hanya bermaksud yang kedua, bukan yang pertama. Karena pembicaraannya khusus tentangnya.
Ketika ia memulai dengan ayat dan perintah melihat padanya—yang ditujukan kepada perintah melihat dengan mata—ia melanjutkan pembicaraannya dan berkata: Pandangan yang aku maksudkan dalam bab ini adalah pandangan mata. Wallahu a’lam.
Ucapannya “memperhatikan karunia yang telah terdahulu”, karunia adalah pemberian ilahi. Dan “yang terdahulu” adalah apa yang telah ditakdirkan untuknya sebelum ia keluar ke dunia. Sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang telah terdahulu dari Kami (mendapat) kebaikan bagi mereka, mereka dijauhkan dari (neraka) itu.” (Surah Al-Anbiya: 101) Dan firman-Nya: “Dan sungguh, telah terdahulu ketetapan Kami untuk hamba-hamba Kami yang diutus, bahwa sesungguhnya mereka pasti ditolong, dan sesungguhnya tentara Kami pasti menang.” (Surah Ash-Shaffat: 171-173)
Kalimat ini dapat ditafsirkan dengan dua makna.
Pertama, bahwa hamba jika melihat apa yang telah ditakdirkan Allah untuknya telah terdahulu dalam takdir-Nya—maka ia pasti sampai kepadanya tanpa perlu diragukan, dan ia pasti mendapatkannya—maka hatinya menjadi tenang, hatinya tenteram, jiwanya tawakkal, dan ia mengetahui “bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak mungkin menimpanya.” Dan bahwa apa yang dibukakan Allah untuknya dan untuk manusia dari rahmat, maka tidak ada yang dapat menahannya. “Dan apa yang Dia tahan maka tidak ada yang dapat mengirimkannya setelah itu.” (Surah Fathir: 2) Jika ia meyakini hal itu dan merasakan rasa iman kepadanya, maka hal itu memotong baginya jalan permintaan kepada Tuhannya. Karena apa yang telah ditakdirkan untuknya pasti terjadi dan pasti sampai tanpa diragukan.
Kemudian Syaikh mengkoreksi: bahwa hamba harus meminta kepada Tuhannya dan meminta kepada-Nya. Maka ia berkata: “kecuali apa yang menjadi hak rububiyyah berupa menampakkan kehinaan kepadanya”, yaitu jangan meyakini bahwa permintaan dan permohonannya akan mendatangkan apa yang bermanfaat untuknya dan menolak apa yang ia khawatirkan. Karena takdir yang telah terdahulu telah menetapkan sampainya yang ditakdirkan kepadanya, baik ia meminta atau tidak meminta. Tetapi permintaannya adalah dengan cara merendahkan diri, dan menampakkan kefakiran penghambaan dan kehinaannya di hadapan kemuliaan rububiyyah.
Sesungguhnya Rabb Yang Mahasuci mencintai hambanya yang meminta kepada-Nya dan mengharap kepada-Nya. Karena sampainya kebaikan dan ihsan-Nya kepada hamba itu bergantung pada permintaan hamba tersebut. Bahkan Dia-lah yang menganugerahkannya sejak awal tanpa ada sebab dari hamba, dan tanpa perantaraan permintaan dan permohonan hamba.
Bahkan Dia telah menetapkan karunia itu bagi hamba tanpa ada sebab dari hamba, kemudian Dia memerintahkan hamba untuk meminta dan memohon kepada-Nya, sebagai penampakan kedudukan penghambaan, kefakiran, dan kebutuhan, serta pengakuan atas kemuliaan ketuhanan dan kesempurnaan kekayaan Rabb, serta kekhususan-Nya dalam memberi karunia dan kebaikan, dan bahwa hamba tidak bisa lepas dari karunia-Nya sekejap mata pun. Maka datanglah dengan permohonan dan permintaan sebagaimana datangnya orang yang mengetahui bahwa dia tidak berhak dengan permohonan dan permintaannya itu mendapatkan sesuatu apa pun.
Akan tetapi Rabbnya Mahaagung mencintai untuk dimintai, diharapkan, dan dimohoni. Sebagaimana firman Allah: “Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untuk kalian” (Ghafir: 60).
Dan firman Allah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (al-Baqarah: 186).
Dan firman-Nya: “Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya” (an-Nisa: 32). Dan firman-Nya: “Katakanlah: Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, jika tidak karena doa kalian” (al-Furqan: 77). Dan firman-Nya: “Berdoalah kepada Rabb kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut” (al-A’raf: 55). Dan firman-Nya: “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap” (al-A’raf: 56).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian meminta kepada Rabbnya segala sesuatu, hingga tali sandalnya jika terputus. Karena jika Allah tidak memudahkannya, maka tidak akan mudah.” Dan beliau bersabda: “Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
Dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah mencintai untuk dimintai dari karunia-Nya. Dan tidak ada sesuatu yang diminta kepada Allah yang lebih dicintai oleh-Nya daripada afiat.”
Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya bagi Rabb kalian pada hari-hari masa kalian ada tiupan-tiupan (karunia). Maka hadapkanlah diri kalian kepada tiupan-tiupan-Nya. Dan mintalah kepada Allah agar menutup aib-aib kalian, dan menenangkan ketakutan kalian.”
Dan beliau bersabda: “Tidaklah seorang yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Atau Allah menyegerakan hajatnya, atau memberikan kepadanya dari kebaikan yang semisal dengannya, atau menjauhkan darinya dari keburukan yang semisal dengannya. Para sahabat bertanya: Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa), wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Maka Allah lebih banyak.” Dan beliau bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”
Dan Allah berfirman dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari. Dan Aku mengampuni semua dosa dan Aku tidak peduli. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun sujud: maka bersungguh-sungguhlah di dalamnya untuk berdoa, karena sangat layak untuk dikabulkan bagi kalian.”
Dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku tidak memikul beban pengabulan. Akan tetapi aku memikul beban doa. Apabila aku diberi ilham untuk berdoa, aku tahu bahwa pengabulan bersamanya.
Dan dalam hal ini seseorang berkata:
Seandainya Engkau tidak menghendaki pemberian apa yang aku harapkan dan aku minta Dari kemurahan tangan-Mu, Engkau tidak membiasakan aku untuk meminta
Dan Allah Mahasuci dan Mahaagung mencintai kerendahan hamba-hamba-Nya di hadapan-Nya, permintaan mereka kepada-Nya, permohonan hajat mereka kepada-Nya, pengaduan mereka kepada-Nya, perlindungan mereka dengan-Nya dari-Nya, dan lari mereka dari-Nya kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan:
Mereka berkata: Apakah engkau mengadu kepada-Nya Apa yang tidak tersembunyi bagi-Nya
Maka aku katakan: Rabb-ku ridha Dengan kehinaan hamba di sisi-Nya
Dan Imam Ahmad rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dari Ishaq dari Mutharrif bin Abdullah, dia berkata: Aku merenungkan: Apa inti kebaikan? Ternyata kebaikan itu banyak: puasa dan shalat. Dan ternyata ia berada di tangan Allah. Dan ternyata engkau tidak mampu (mendapatkan) apa yang di tangan Allah kecuali engkau meminta kepada-Nya, lalu Dia memberimu. Maka ternyata inti kebaikan adalah: doa.
Dan dalam masalah ini dua kelompok manusia telah keliru:
Kelompok pertama mengira bahwa takdir yang telah ditetapkan menjadikan doa tidak berfaedah.
Mereka berkata: Sesungguhnya yang diminta jika telah ditakdirkan, maka pasti akan sampai, apakah hamba berdoa atau tidak. Dan jika belum ditakdirkan, maka tidak ada jalan untuk memperolehnya, apakah dia berdoa atau tidak.
Dan ketika mereka melihat Al-Quran, Sunnah, dan atsar semuanya mendukung doa dan keutamaannya, serta anjuran kepadanya dan permintaannya, mereka berkata: Ini adalah ibadah murni. Tidak ada pengaruhnya terhadap yang diminta sama sekali. Dan hanyalah Allah menjadikannya sebagai ibadah bagi kita. Dan Dia berhak menjadikan hamba-hamba-Nya beribadah dengan apa yang Dia kehendaki, bagaimana pun Dia kehendaki.
Dan kelompok kedua: mengira bahwa dengan doa dan permintaan itu sendiri akan diraih yang diminta, dan bahwa doa itu mewajibkan terjadinya, hingga seakan-akan doa itu sebab yang mandiri. Dan terkadang ditambah dengan penyaksian mereka bahwa: sebab ini dari mereka dan oleh mereka, dan bahwa merekalah yang melakukannya, dan jiwa mereka yang melakukan dan mengadakannya.
Dan jika mereka mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta perbuatan hamba dan gerakan-gerakan mereka serta diam mereka dan kehendak-kehendak mereka, maka terkadang luput dari mereka penyaksian bahwa hal itu dengan Allah dan dari Allah, bukan dengan mereka dan bukan dari mereka. Dan bahwa Dia-lah yang menggerakkan mereka untuk berdoa. Dan melemparkannya ke dalam hati hamba. Dan mengalirkannya di lisan hamba.
Maka kedua kelompok ini telah keliru dengan kekeliruan yang paling buruk. Dan mereka terhalang dari Allah.
Adapun kelompok pertama: terhalang dari melihat hikmah-Nya dalam sebab-sebab dan penetapannya untuk menegakkan penghambaan, dan keterikatan syariat dan takdir dengannya. Maka hijab mereka tebal dari mengenal hikmah Allah Mahasuci dan Mahaagung dalam syariat-Nya, perintah-Nya, dan takdir-Nya.
Dan kelompok kedua: terhalang dari melihat karunia-karunia-Nya dan keutamaan-Nya, dan kekhususan-Nya dengan ketuhanan dan pengaturan. Dan bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Dan bahwa tidak ada daya dan kekuatan bagi hamba—bahkan bagi seluruh alam—kecuali dengan-Nya Mahasuci. Dan bahwa tidak bergerak satu zarrah pun kecuali dengan izin-Nya dan kehendak-Nya.
Dan perkataan kelompok pertama: Sesungguhnya yang diminta jika telah ditakdirkan pasti akan terjadi, dan jika belum ditakdirkan maka tidak ada harapan terjadinya. Jawabannya adalah: Masih ada bagian ketiga yang tidak kalian sebutkan. Yaitu bahwa ia ditakdirkan dengan sebabnya. Maka jika sebabnya ada, maka ada apa yang diletakkan padanya. Dan jika sebabnya tidak ada, maka tidak ada.
Dan di antara sebab-sebab yang diminta adalah: doa dan permintaan yang jika keduanya ada, maka ada apa yang diletakkan pada keduanya. Sebagaimana bahwa di antara sebab-sebab anak adalah: jimak. Dan di antara sebab-sebab tanaman adalah: menanam benih. Dan semacam itu. Dan bagian ketiga inilah yang benar.
Dan dikatakan kepada kelompok kedua: Tidak ada yang mewajibkan kecuali kehendak Allah. Dan tidak ada sebab yang mandiri selain kehendak-Nya. Maka Dia-lah yang menjadikan sebab itu sebagai sebab. Dan Dia-lah yang meletakkan pada sebab terjadinya musabbab. Dan seandainya Dia menghendaki, niscaya mengadakannya tanpa sebab itu. Dan jika Dia menghendaki, Dia mencegah kesebaban sebab, dan memutus darinya pengharusan pengaruhnya. Dan jika Dia menghendaki, Dia menetapkan baginya penghalang yang menghalanginya dari pengharusan pengaruhnya, dengan tetapnya kekuatan di dalamnya. Dan jika Dia menghendaki, Dia meletakkan padanya kebalikan dari yang diharuskan dan diwajibkannya.
Maka sebab-sebab itu tunduk pada kehendak-Nya Mahasuci dan kekuasaan-Nya, dan di bawah pengaturan-Nya dan pengelolaan-Nya. Dia membolak-baliknya bagaimana Dia kehendaki. Inilah salah satu dari dua makna dalam perkataan beliau.
Dan makna kedua: bahwa orang yang memandang dengan mata hatinya apa yang telah didahulukan untuknya dari Rabbnya berupa karunia yang banyak, ihsan, dan kebaikan tanpa imbalan, dan tanpa sebab dari hamba sama sekali. Sesungguhnya telah didahulukan untuknya keutamaan itu sementara dia dalam ketiadaan. Dia belum ada sesuatu apa pun sama sekali—maka pandangan itu menyibukkannya dengan mencari Allah, mencintai-Nya, dan menginginkan-Nya, dari meminta kepada-Nya. Dan memutuskan baginya jalan permintaan, karena kesibukan dengan mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya, dan menyaksikan karunia-Nya, dari meminta kepada-Nya. Bukan karena meminta kepada-Nya dan memohon kepada-Nya itu kekurangan. Akan tetapi karena dia dalam keadaan ini tidak mampu untuk dua perkara. Bahkan tenggelamnya dalam menyaksikan karunia dan keutamaan yang telah mendahului memutuskan baginya jalan meminta dan memohon. Dan ini tidak menjadi tingkatan yang melekat padanya yang tidak dia pisahkan darinya. Akan tetapi ini adalah hukumnya dalam keadaan ini. Dan Allah Mahamengetahui.
Fasal
Perkataan beliau: Dan menumbuhkan kegembiraan, kecuali apa yang bercampur dengannya dari kehati-hatian terhadap tipu daya.
Maksudnya: bahwa pandangan ini dari hamba menumbuhkan baginya kegembiraan, ketika dia mengetahui bahwa karunia Rabbnya telah mendahului untuknya dengan hal itu sebelum Dia menciptakannya, dengan pengetahuan-Nya tentangnya dan keadaan-keadaannya serta kekurangannya, secara terperinci. Dan pengetahuan-Nya tentangnya tidak menghalangi-Nya untuk menetapkan untuknya karunia dan ihsan itu. Maka Dia Mahatahu tentangnya ketika menumbuhkannya dari bumi, dan ketika dia adalah janin dalam perut ibunya. Dan dengan semua itu, Dia telah menetapkan untuknya dari karunia dan kemurahan apa yang Dia tetapkan tanpa sebab darinya. Bahkan dengan pengetahuan-Nya bahwa dia akan datang dengan sebab-sebab yang mengharuskan putusnya itu dan pencegahannya darinya.
Maka apabila hamba menyaksikan hal itu: bertambahlah kegembiraan dia dengan Rabbnya, dan dengan tempat-tempat jatuh karunia dan ihsan-Nya. Dan ini adalah kegembiraan yang terpuji, tidak tercela. Allah berfirman: “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan yang demikian itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus: 58). Maka karunia-Nya adalah: Islam dan iman, dan rahmat-Nya: ilmu dan Al-Quran. Dan Dia mencintai dari hamba-Nya: agar bergembira dengan hal itu dan senang dengannya. Bahkan Dia mencintai dari hamba-Nya: agar bergembira dengan kebaikan jika dia mengerjakannya dan agar senang dengannya. Dan itu pada hakikatnya adalah kegembiraan dengan karunia Allah, karena Allah telah memberinya taufik untuk melakukannya, dan membantu dia atasnya serta memudahkannya untuknya. Maka pada hakikatnya: hamba hanya bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.
Dan di antara tingkatan iman yang paling agung adalah: kegembiraan dengan Allah, dan kesenangan dengan-Nya. Maka dia bergembira dengan Allah karena dia adalah hamba-Nya dan kekasih-Nya. Dan dia bergembira dengan-Nya Mahasuci sebagai Rabb dan Tuhan, dan pemberi nikmat dan pembina, lebih kuat daripada kegembiraan hamba dengan tuannya yang makhluk yang penuh kasih sayang kepadanya, yang mampu atas apa yang diinginkan hamba dan dimintanya darinya. Yang beragam dalam berbuat baik kepadanya, dan membela dirinya.
Dan akan datang sebentar lagi—insya Allah—penyempurnaan makna ini dalam bab kegembiraan.
Perkataan beliau: “kecuali apa yang bercampur dengannya dari kehati-hatian terhadap tipu daya”, artinya berbaur dengannya. Karena kegembiraan dan kesenangan melapangkan jiwa dan menumbuhkannya. Dan melupakan jiwa dari aib-aibnya, bencana-bencananya, dan kekurangan-kekurangannya. Karena seandainya dia menyaksikan hal itu dan melihatnya, niscaya hal itu menyibukkannya dari kegembiraan.
Dan juga sesungguhnya kegembiraan dengan nikmat terkadang melupakan dia dari Pemberi nikmat. Maka dia sibuk dengan pakaian kebesaran yang dianugerahkan kepadanya, dari-Nya. Maka meluaplah kepadanya kegembiraan, hingga dia hilang dengan nikmat-Nya dari-Nya. Dan di sinilah tipu daya kepada dia lebih dekat daripada tangan ke mulut.
Dan demi Allah, betapa banyaknya di sini orang yang diambil kembali darinya apa yang telah dikaruniakan kepadanya karena kemuliaan dan hikmah! Dan terkadang hal itu adalah rahmat baginya. Karena seandainya dia terus berada pada kewalian itu, niscaya dikhawatirkan atasnya dari kezaliman. Sebagaimana firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup” (al-‘Alaq: 6-7). Maka jika ini adalah kecukupan dengan harta yang fana, maka bagaimana dengan kecukupan dengan apa yang lebih tinggi dari itu dan lebih banyak? Maka pemilik ini jika tidak menyertai dia kehati-hatian terhadap tipu daya: dikhawatirkan atasnya bahwa akan dirampas darinya dan turun darinya.
Dan “tipu daya” yang dikhawatirkan atasnya adalah: bahwa Allah Mahasuci menghilangkan darinya penyaksian keutamaan-Nya dalam hal itu dan karunia-Nya dan keutamaan-Nya, dan bahwa itu murni karunia-Nya kepada dia, dan bahwa itu dengan-Nya saja, dan dari-Nya saja. Maka hilang darinya penyaksian hakikat firman Allah: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah” (an-Nahl: 53). Dan firman-Nya: “Katakanlah: Sesungguhnya segala urusan itu semuanya milik Allah” (Ali Imran: 154). Dan firman-Nya: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yunus: 107). Dan firman-Nya: “Dan kamu tidak pernah mengharap agar diturunkan kepadamu Kitab, tetapi (kitab itu diturunkan) sebagai rahmat dari Rabb-mu” (al-Qashash: 86). Dan firman-Nya: “Dan seandainya bukan karena karunia Allah kepadamu dan rahmat-Nya, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki” (an-Nur: 21). Dan yang semacam itu.
Maka menghilangkan dia dari penyaksian hal itu. Dan mengalihkan dia pada pengetahuannya dalam usaha dan permohonannya. Maka mengalihkan dia pada dirinya yang memiliki kefakiran secara hakiki, dan menghalangi dia dari pengalihan kepada Yang Kaya yang Sempurna yang memiliki kekayaan penuh semuanya secara hakiki. Inilah di antara sebab-sebab tipu daya yang paling besar. Dan kepada Allah tempat meminta pertolongan.
Dan seandainya hamba mencapai dari ketaatan apa yang dia capai, maka tidak sepantasnya baginya memisahkan diri dari kehati-hatian ini. Dan sungguh khair makhluk-Nya telah takut akan hal itu, dan pilihan hamba-hamba-Nya. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam berkata ketika kaumnya berkata kepadanya: “Sungguh kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami. Syu’aib berkata: Apakah (kamu akan mengusir kami), walaupun kami tidak menghendakinya? Sesungguhnya kami mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, jika kami kembali kepada agama kalian setelah Allah menyelamatkan kami dari agama itu” (al-A’raf: 88)—hingga firman-Nya—“Kepada Allah kami bertawakal” (al-A’raf: 89). Maka dia mengembalikan perkara kepada kehendak Allah dan ilmu-Nya, sebagai adab kepada Allah, dan pengenalan terhadap hak ketuhanan, dan berdiri pada batas penghambaan. Dan demikian juga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya—dan mereka telah mengancamnya dengan sesembahan-sesembahan mereka—maka dia berkata: “Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di waktu Rabb-ku menghendaki sesuatu (untuk menimpakan malapetaka kepadaku). Ilmu Rabb-ku meliputi segala sesuatu” (al-An’am: 80). Maka dia mengembalikan perkara kepada kehendak Allah dan ilmu-Nya. Dan Allah telah berfirman: “Maka apakah mereka merasa aman dari tipu daya Allah? Tiada yang merasa aman dari tipu daya Allah kecuali orang-orang yang merugi” (al-A’raf: 99).
Dan para salaf telah berselisih: Apakah dimakruhkan bagi hamba untuk mengatakan dalam doanya: Ya Allah jangan Engkau amankan aku dari tipu daya-Mu?
Maka sebagian salaf berdoa dengan hal itu. Dan maksudnya: jangan Engkau hinakan aku, hingga aku merasa aman dari tipu daya-Mu dan tidak takut kepada-Nya. Dan Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syakhkhir memakruhkannya.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dari Ishaq dari Mutharrif: bahwa dia memakruhkan untuk mengatakan: Ya Allah jangan Engkau lupakan aku dari mengingat-Mu, dan jangan Engkau amankan aku dari tipu daya-Mu. Akan tetapi aku katakan: Ya Allah jangan Engkau lupakan aku dari mengingat-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari merasa aman dari tipu daya-Mu, hingga Engkaulah yang mengamankan aku.
Kesimpulannya: barangsiapa diserahkan kepada dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia telah ditipu.
Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id – maula Bani Hasyim – telah menceritakan kepada kami Ash-Shalt bin Tharif Al-Ma’wali, telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari Mutharrif ia berkata: Aku mendapati manusia ini tergeletak di antara Allah Azza wa Jalla dan setan. Jika Allah Ta’ala mengetahui ada kebaikan di dalam hatinya, maka Dia menariknya kepada-Nya. Dan jika Dia tidak mengetahui ada kebaikan di dalamnya, maka Dia menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa diserahkan kepada dirinya sendiri, maka sungguh ia telah binasa.
Dan Ja’far bin Sulaiman berkata: telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Mutharrif ia berkata: Seandainya hatiku dikeluarkan lalu diletakkan di tangan kiri ini, dan kebaikan didatangkan lalu diletakkan di tangan kanan ini, kemudian aku dekatkan yang satu ke yang lain, aku tidak akan mampu memasukkan sesuatu pun ke dalam hatiku hingga Allah Azza wa Jalla yang meletakkannya.
Di antara yang menunjukkan bahwa kegembiraan termasuk sebab-sebab tipu daya, apabila tidak disertai rasa takut, adalah firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Surah Al-An’am: 44)
Dan kaum Qarun berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Surah Al-Qashash: 76). Maka kegembiraan, apabila karena Allah dan atas nikmat yang dianugerahkan Allah, serta disertai rasa takut dan waspada, tidak akan membahayakan pemiliknya. Dan apabila terlepas dari hal itu, niscaya akan membahayakannya tanpa keraguan.
Perkataan (Abu Thalib Al-Makki): “Dan mendorong pada rasa syukur, kecuali apa yang ditegakkan oleh Yang Haq Azza wa Jalla dalam hak sifat-Nya.”
Perkataan ini mengandung dua makna kemungkinan.
Pertama: bahwa ia bermaksud bahwa perenungan ini mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah dalam keadaan senang dan susah di setiap waktu, kecuali apa yang tidak mampu ia syukuri. Karena sesungguhnya Yang Hak Subhanahu adalah Yang menegakkannya untuk diri-Nya sendiri dengan hak kesempurnaan-Nya yang suci, dan kesempurnaan sifat-sifat serta nama-nama-Nya. Maka perenungan itu membentangkan bagi hamba syukur yang ia tidak mampu melakukannya dan tidak sanggup menegakkannya.
Karena sesungguhnya syukur hamba kepada Tuhannya adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan-Nya kepadanya. Maka ia memerlukan syukur lain atasnya. Dan syukur itu juga merupakan nikmat. Maka ia memerlukan syukur ketiga. Dan begitu seterusnya. Maka tidak ada jalan untuk menegakkan syukur kepada Tuhan dengan sebenarnya.
Dan tidak ada yang bersyukur kepada-Nya dengan sebenarnya selain-Nya. Karena Dialah yang menganugerahkan nikmat dan syukur atasnya. Maka Dialah Yang Maha Bersyukur untuk diri-Nya sendiri, meskipun Dia menamakan hamba-Nya sebagai bersyukur. Maka pujian syukur pada hakikatnya kembali kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya. Maka Dialah Yang Maha Bersyukur untuk diri-Nya sendiri dengan apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya. Maka tidak ada yang bersyukur kepada-Nya pada hakikatnya selain-Nya, dengan tetapnya hamba sebagai hamba dan Tuhan sebagai Tuhan. Inilah salah satu dari dua makna dalam perkataannya.
Makna kedua: bahwa perenungan ini membentangkan baginya syukur yang merupakan sifat dan perbuatannya, bukan syukur yang merupakan sifat Tuhan Jalla Jalaluhu dan perbuatan-Nya. Karena Dia menamakan diri-Nya dengan Asy-Syakur (Maha Bersyukur), sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Dan adalah Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Surah An-Nisa’: 147). Dan penghuni surga berkata: “Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Surah Fathir: 34). Maka syukur ini yang merupakan sifat-Nya Subhanahu tidak ditegakkan kecuali oleh-Nya. Dan perenungan yang disebutkan tidak mendorong hamba kecuali dengan satu cara saja, yaitu: apabila ia merenungkan keutamaan-Nya yang mendahului, ia mengetahui bahwa Dia melakukan itu karena kecintaan-Nya pada syukur. Karena Allah Ta’ala mencintai untuk disyukuri, sebagaimana perkataan Musa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Tuhan, mengapa Engkau tidak menyamakan antara para hamba-Mu?” Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mencintai untuk disyukuri.”
Dan apabila Dia mencintai syukur, maka Dia lebih pantas untuk memiliki sifat itu, sebagaimana Dia Subhanahu adalah Witir (Gasal) dan mencintai yang gasal, Jamil (Indah) dan mencintai keindahan, Muhsin (Berbuat baik) dan mencintai orang-orang yang berbuat baik, Shabur (Sabar) dan mencintai orang-orang yang sabar, ‘Afuw (Pemaaf) dan mencintai pemaafan, Qawiy (Kuat), dan mukmin yang kuat lebih dicintai-Nya daripada mukmin yang lemah. Demikian pula Dia adalah Syakur (Bersyukur) dan mencintai orang-orang yang bersyukur. Maka perenungan hamba terhadap keutamaan yang mendahului menyaksikan sifat syukur-Nya, dan mendorongnya untuk menegakkan perbuatan syukur. Wallahu A’lam.
Pasal: Tingkatan Kedua, Perenungan Cahaya Kasyaf
Abu Thalib berkata: Tingkatan kedua: perenungan cahaya kasyaf (penyingkapan). Ini melingkupkan jubah tawalli (perlindungan), memberi merasakan tajalli (penyingkapan), dan melindungi dari cacat tasalli (penghiburan).
Tingkatan ini lebih sempurna dari yang sebelumnya. Karena tingkatan sebelumnya adalah perenungan terhadap apa yang telah terjadi dengan cahaya ilmu. Sedangkan ini adalah perenungan terhadap kasyaf dengan keadaan yang telah menguasai hatinya, hingga menyibukkannya dari makhluk. Maka diselubungkanlah kepadanya jubah perlindungan Allah semata dan berpaling dari selain-Nya.
Cahaya kasyaf menurut mereka adalah: awal dari musyahadah (penyaksian). Ia adalah cahaya tajalli makna-makna Asma’ul Husna kepada hati. Maka tersinarlah dengannya kegelapan hati, dan terangkatlah dengannya hijab kasyaf.
Jangan berpaling kepada selain ini, agar tidak tergelincir kaki setelah mapan. Karena engkau akan mendapati dalam perkataan sebagian mereka: tajalli dzat mengharuskan ini dan itu, tajalli sifat mengharuskan ini dan itu, tajalli perbuatan mengharuskan ini dan itu. Sedangkan kaum (sufi) perhatian mereka pada lafaz. Maka orang yang bersangka menyangka bahwa mereka bermaksud tajalli hakikat dzat, sifat, dan perbuatan kepada mata kepala, sehingga terjerumuslah sebagian dari mereka ke dalam ucapan-ucapan yang berlebihan dan melampaui batas. Sedangkan orang-orang yang jujur dan arif berlepas diri dari itu.
Mereka hanya menunjuk kepada kesempurnaan ma’rifat (pengenalan), terangkatnya hijab kelalaian dan keraguan serta berpaling, dan menguasainya kekuasaan ma’rifat atas hati dengan hilangnya penyaksian terhadap selain-Nya secara keseluruhan. Maka hati tidak menyaksikan selain yang dikenalnya.
Mereka memandang ini seperti terbitnya matahari. Karena apabila ia terbit, padamlah cahaya bintang-bintang. Bintang-bintang tidak hilang, hanya saja tertutup oleh cahaya matahari. Maka tidak tampak wujudnya, padahal pada kenyataannya ia ada di tempatnya. Demikian pula cahaya ma’rifat apabila menguasai hati, kuatlah kekuasaannya, dan hilanglah penghalang-penghalang dan hijab dari hati.
Tidak mengingkari ini kecuali orang yang bukan ahlinya.
Jangan meyakini bahwa Dzat Yang Maha Suci dan sifat-sifat-Nya tampak dan tersingkap bagi hamba – sebagaimana Dia Subhanahu tersingkap kepada gunung Thur, dan sebagaimana Dia akan tersingkap pada hari kiamat kepada manusia – kecuali orang yang salah dan kehilangan ilmu. Seringkali terjadi kesalahan dalam melampaui dari cahaya ibadah, riyadhah (latihan spiritual), dan dzikir kepada cahaya Dzat dan sifat-sifat.
Karena ibadah yang benar, riyadhah yang syar’i, dan dzikir yang selaras antara hati dan lisan menimbulkan cahaya sesuai kadar kuat dan lemahnya. Dan barangkali cahaya itu menguat hingga dapat disaksikan dengan mata kepala. Lalu orang yang lemah ilmu dan pembedaannya antara kekhususan rububiyyah dan muqtadha (konsekuensi) ubudiyyah menyangkanya sebagai cahaya Dzat. Jauh sekali! Kemudian jauh sekali! Cahaya Dzat tidak ada yang dapat menahannya, dan seandainya Dia Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab darinya, niscaya hancurlah seluruh alam, sebagaimana gunung hancur dan runtuh ketika tampak baginya kadar yang sedikit dari tajalli.
Dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya Allah Subhanahu tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Diangkat kepada-Nya amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya pancaran cahaya wajah-Nya akan membakar apa yang dicapai pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”
Islam memiliki cahaya. Iman memiliki cahaya yang lebih kuat darinya. Ihsan memiliki cahaya yang lebih kuat dari keduanya. Apabila berkumpul Islam, Iman, dan Ihsan, dan hilanglah hijab-hijab yang menyibukkan dari Allah Ta’ala, maka penuhlah hati dan anggota badan dengan cahaya itu. Bukan dengan cahaya yang merupakan sifat Tuhan Ta’ala. Karena sifat-sifat-Nya tidak bersemayam di dalam sesuatu dari makhluk-Nya.
Sebagaimana makhluk-Nya tidak bersemayam di dalam-Nya. Maka Sang Pencipta Subhanahu terpisah dari makhluk dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya. Maka tidak ada persatuan, tidak ada hulul (inkarnasi), dan tidak ada percampuran. Maha Tinggi Allah dari semua itu setinggi-tingginya.
Perkataan: “Dan melindungi dari cacat tasalli (penghiburan).” Al-‘Awar adalah cacat. At-Tasalli adalah hiburan dari yang dicintai yang tidak ada kehidupan bagi hati dan tidak ada nikmat kecuali dengan kecintaan dan kedekatan dengannya, serta ketenangan dengan dzikir-Nya. Karena hiburan hati dan kelalainnya dari dzikir-Nya termasuk cacat yang paling besar. Maka perenungan ini apabila jujur akan melindungi pemiliknya dari cacat hiburannya dari yang dicari dan diinginkannya. Karena ia dalam tingkatan ini tenggelam dalam penyaksian Nama-Nama dan Sifat-Sifat.
Dan telah menguasai hatinya cahaya iman kepadanya, pengenalan kepadanya, dan terus-menerus mengingatnya. Dengan ini, pintu hiburan tertutup baginya, dan jalannya terputus. Orang yang mencintai dapat terhibur sebelum ia menyaksikan keindahan kekasihnya, dan tenggelam dalam penyaksian kesempurnaannya, serta gaib dengannya dari selain-Nya. Apabila ia sampai pada keadaan ini, ia seperti yang dikatakan (dalam syair):
Bayangannya melintas di sudut-sudut khayalan Maka menangislah atas jejak hiburan yang telah pudar
Pasal: Tingkatan Ketiga, Perenungan ‘Ainul Jam’ (Hakikat Keterpaduan)
Abu Thalib berkata: Tingkatan ketiga: perenungan ‘ainul jam’ (hakikat keterpaduan). Ini membangunkan untuk meremehkan mujâhadât (perjuangan spiritual), membebaskan dari kecerobohan mu’âradhât (pertentangan), dan memberikan muthalâ’ah al-bidâyât (perenungan permulaan).
Tingkatan ini menurutnya lebih tinggi dari yang sebelumnya. Karena yang sebelumnya – perenungan terhadap kasyaf cahaya – menunjuk pada jenis usaha dan pilihan. Sedangkan ini adalah perenungan yang menarik hati dari tercerai-berai di lembah-lembah keinginan dan percabangan keadaan dan kedudukan, kepada apa yang menguasainya dari ‘ainul jam’, yang memandang kepada Yang Esa, Yang Tunggal, Yang Awal yang tidak ada sesuatu sebelum-Nya, Yang Akhir yang tidak ada sesuatu sesudah-Nya, Yang Zhahir yang tidak ada sesuatu di atas-Nya, Yang Bathin yang tidak ada sesuatu di bawah-Nya. Mendahului segala sesuatu dengan keawalan-Nya, dan kekal setelah segala sesuatu dengan keakhiran-Nya, tinggi di atas segala sesuatu dengan kezhahiran-Nya, dan meliputi segala sesuatu dengan kebathianan-Nya.
Maka pandangan dengan mata ini membangunkan hatinya untuk meremehkan mujâhadât.
Maknanya: bahwa salik (pejalan spiritual) pada awal urusannya memiliki semangat, dan dalam pencariannya memiliki ketajaman, yang membawanya pada berbagai jenis mujâhadât, dan melemparkannya kepadanya karena kuatnya pencarian. Maka kelemahannya tertidur, dan kesungguhannya terjaga.
Apabila ia sampai pada tingkatan ini, ia meremehkan mujâhadât yang berat di sisi apa yang telah diperolehnya dari maqâm jam’ (kedudukan keterpaduan) kepada Allah. Dan ia beristirahat dari susah payahnya. Karena satu saat dari saat-saat jam’ kepada Allah lebih bermanfaat dan berguna baginya daripada melakukan banyak mujâhadât badaniyyah yang tidak diwajibkan Allah kepadanya. Apabila ia mengumpulkan perhatian dan hatinya semuanya kepada Allah, dan hilang setiap yang memecah dan menyebar, maka inilah saat-saat umurnya yang sebenarnya. Maka tergantilah dengannya apa yang ia alami dari susah payah mujâhadât dan lelahnya.
Dan ini adalah tempat kesalahan dua golongan manusia.
Pertama: berlebihan di dalamnya, hingga mendahulukannya atas kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah. Dan mereka memandang turunnya dari itu kepada melaksanakan perintah-perintah sebagai kemunduran dari yang paling tinggi ke yang paling rendah. Hingga dikatakan kepada sebagian orang yang mengaku merasakan itu: Berdirilah untuk shalat! Maka ia berkata (dalam syair):
Dituntut dengan wiridan orang yang lalai Maka bagaimana dengan hati yang setiap waktunya adalah wirid
Dan yang lain berkata: Jangan lepaskan wâridmu (yang datang) karena wirdmu (rutinanmu).
Mereka ini antara kafir dan kurang.
Barangsiapa tidak memandang melaksanakan kewajiban – apabila ia memperoleh jam’iyyah (keterpaduan) – maka ia kafir, terlepas dari agama. Dan barangsiapa menggugurkan untuknya kemaslahatan yang lebih utama – seperti sunnah-sunnah rawâtib, ilmu yang bermanfaat, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, dan manfaat besar yang menyebar – maka ia kurang.
Dan golongan kedua: tidak peduli dengan jam’iyyah, dan tidak beramal untuk itu. Dan barangkali ia tidak tahu apa penamaan dan hakikatnya.
Jalan orang-orang yang kuat, ahli istiqamah adalah: melaksanakan jam’iyyah dalam tafarruq (perpisahan) sebisa mungkin. Maka salah seorang dari mereka melaksanakan ibadah-ibadah, memberi manfaat kepada makhluk, dan berbuat ihsan kepada mereka, dengan jam’iyyah-nya kepada Allah. Jika ia lemah untuk mengumpulkan dua perkara, dan sempit untuk itu, maka ia melaksanakan kewajiban. Dan turun dari jam’iyyah. Dan tidak berpaling kepadanya, apabila ia tidak mampu mencapainya kecuali dengan menggugurkan kewajiban. Karena Tuhannya Subhanahu menginginkan darinya menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Sedangkan dirinya menginginkan jam’iyyah, karena di dalamnya terdapat kenyamanan dan kelezatan, dan terlepas dari rasa sakit tafarruq dan kekusutannya. Maka kewajiban adalah hak Tuhannya. Dan jam’iyyah adalah bagiannya.
Maka ubudiyyah (penghambaan) yang benar mengharuskan baginya untuk mendahulukan salah satu dari dua perkara atas yang lain. Apabila ia datang kepada nawâfil (sunnah-sunnah), dan dua perkara bertentangan di sisinya, maka di antara mereka ada yang mengunggulkan jam’iyyah.
Di antara mereka ada yang mengunggulkan nawâfil. Di antara mereka ada yang memilih ini pada suatu waktu dan itu pada waktu lain.
Dan yang benar – Insya Allah – bahwa nawâfil itu jika kemaslahatan nya lebih unggul dari jam’iyyah, dan jam’iyyah tidak menggantinya, maka ia sibuk dengannya, meskipun jam’iyyah terlewatkan. Seperti dakwah kepada Allah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, qiyamullail (shalat malam), dzikir awal malam dan akhirnya, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, sunnah jihad, berbuat ihsan kepada orang yang terlantar, menolong orang yang meminta tolong, dan semacam itu. Maka semua ini kemaslahatan nya lebih unggul dari kemaslahatan jam’iyyah.
Jika kemaslahatan nya di bawah jam’iyyah – seperti shalat dhuha, ziarah kepada saudara-saudara, mandi untuk menghadiri jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, ziarah Baitul Maqdis, menjamu saudara-saudara dan semacam itu – maka ini ada perinciannya.
Jika jam’iyyah-nya menguat dan tampak pengaruhnya padanya, maka ia lebih utama baginya dan lebih bermanfaat dari itu. Jika jam’iyyah lemah, dan keikhlasannya menguat dalam amal-amal ini, maka ini lebih bermanfaat baginya dan lebih utama dari jam’iyyah.
Yang diandalkan dalam semua itu adalah: lebih mengutamakan yang paling dicintai dari dua perkara kepada Tuhan Ta’ala.
Dan itu diketahui dengan manfaat amal dan buahnya, dari bertambahnya iman kepada-Nya, tersusunnya tujuan-tujuan yang terpuji darinya, banyaknya ketekunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepadanya, kuatnya perhatiannya kepadanya, banyaknya wasiat dengannya, dan pemberitahuannya bahwa Allah mencintai pelakunya dan berbangga dengannya kepada para malaikat, dan semacam itu.
Inti masalah dan ujungnya adalah: bahwa orang yang jujur dalam pencariannya lebih mengutamakan keridhaan Tuhannya atas bagiannya. Jika ridha Allah dalam melaksanakan amal itu, dan bagiannya dalam jam’iyyah, maka ia meninggalkan jam’iyyah untuk berlalu, dan melaksanakan apa yang di dalamnya terdapat ridha Allah.
Dan apabila Allah mengetahui dari hatinya bahwa keragu-raguan dan berhentinya untuk mengetahui mana dari dua perkara yang lebih dicintai Allah dan lebih meridhai-Nya, Dia menumbuhkan untuknya dari keraguan dan berhenti itu keadaan yang mulia dan utama, hingga seandainya ia mendahulakan yang kurang utama karena sangkaannya bahwa itu yang lebih dicintai Allah, niat dan keinginan itu mengembalikan kepadanya apa yang telah hilang dan terlewatkan dari keutamaan amal yang lain. Wabillahi Taufiq.
Dalam perkataannya terdapat makna lain: yaitu bahwa orang yang melakukan mujahadah (perjuangan spiritual) adalah musafir yang berjalan dengan tekad dan kemauan kerasnya menuju Allah. Apabila ia menyaksikan hakikat kesatuan (ain al-jam’), yaitu keesaan—yang menyaksikan hakikatnya adalah tersingkapnya realitasnya bagi hati—maka ia bagaikan seorang musafir yang bersungguh-sungguh dalam perjalanannya dan telah sampai ke tempat tujuan. Matanya pun sejuk karena telah sampai, dan jiwanya tenang, sebagaimana dikatakan:
Maka ia meletakkan tongkatnya dan tempat tinggalnya pun menetap … Sebagaimana sejuknya mata musafir ketika pulang
Namun tempat ini adalah tempat pertemuan antara orang yang benar (shiddiq) yang bertauhid dan orang zindiq yang kafir.
Orang zindiq berkata: Kesibukan dengan perjalanan setelah sampai adalah cacat, tidak ada manfaatnya. Dan sampai menurut mereka adalah menyaksikan hakikat kesatuan. Maka apabila ia tenggelam dalam penyaksian ini dan fana (sirna) dengannya dari segala sesuatu selain-Nya, ia menyangka bahwa itulah tujuan akhir yang dicari dengan amalan-amalan wirid dan ibadah. Dan tujuan akhir itu telah diperolehnya. Maka ia melihat bahwa berdiam dalam keadaan itu lebih utama baginya dan lebih bermanfaat daripada kesibukan dengan wasilah (perantara). Maka ibadah-ibadah jasmani menurutnya adalah wasilah menuju suatu tujuan, dan tujuan itu telah tercapai. Maka tidak ada gunanya sibuk dengan wasilah setelahnya, sebagaimana banyak orang berkata: Sesungguhnya ilmu adalah wasilah menuju amal. Maka apabila engkau sibuk dengan tujuan, engkau tidak memerlukan wasilah lagi.
Sungguh keras pengingkaran para salaf—dari kalangan ahli istiqamah dari para syaikh—terhadap golongan ini. Mereka memperingatkan dari mereka dan menganggap bahwa pelaku dosa besar dan para pengikut syahwat lebih baik daripada mereka dan lebih diharapkan akibatnya.
Adapun orang yang benar (shiddiq) yang bertauhid, apabila ia sampai ke sana, amal-amal hati dan ruhaninya menjadi lebih besar daripada amal-amal jasmaninya, dan ia tidak meninggalkan sedikit pun dari amal-amalnya. Namun ia beristirahat dari lelahnya mujahadah dengan menyaksikan hakikat kesatuan.
Dan ia menjadi bagaikan seorang musafir yang mencari raja yang agung, pengasih, dan dermawan, lalu ia bersungguh-sungguh dalam perjalanan menujunya, karena khawatir terputus sebelum sampai kepadanya. Ketika ia sampai kepadanya dan pandangannya jatuh kepadanya, tersisa baginya perjalanan lain dalam keridaan dan kecintaan-Nya. Yang pertama adalah perjalanan kepada-Nya, dan yang ini adalah perjalanan dalam kecintaan dan keridaan-Nya. Inilah yang paling tepat dikatakan tentang perkataan syaikh dan orang-orang sepertinya dalam hal itu.
Setelah itu, seorang hamba—meskipun ia menyaksikan hakikat kesatuan dan tidak ghaib darinya—ia tetap berjalan menuju Allah dan perjalanannya kepada-Nya tidak terputus selama ia masih hidup. Dan seorang hamba tidak akan sampai selama ia masih hidup kepada Allah dengan sampai yang membuatnya tidak memerlukan perjalanan kepada-Nya sama sekali, dan ini adalah mustahil.
Bahkan perjalanannya kepada Allah semakin keras setiap kali ia semakin banyak menyaksikan tauhid-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah makhluk yang paling besar kesungguhannya, paling tegak dalam melaksanakan amal, dan paling memeliharanya hingga Allah mewafatkannya. Dan beliau adalah orang yang paling besar kesungguhannya dan paling tegak dalam melaksanakan tugas-tugas penghambaan. Seandainya seorang hamba datang dengan amal-amal jin dan manusia semuanya, hakikat perjalanan kepada Allah tidak akan meninggalkannya, dan ia setelah itu masih dalam jalan pencarian dan keinginan.
Pembagian orang-orang yang berjalan kepada Allah menjadi: pencari (thalib), yang berjalan (sa’ir), dan yang sampai (washil), atau menjadi: yang menginginkan (murid) dan yang diinginkan (murad), adalah pembagian yang di dalamnya ada kelonggaran, bukan pembagian hakiki. Karena pencarian, perjalanan, dan keinginan jika meninggalkan hamba, ia akan terputus dari Allah sama sekali.
Namun pembagian ini dengan mempertimbangkan perpindahan hamba dalam kondisi-kondisi perjalanannya. Jika tidak, maka keinginan hamba yang diinginkan, pencariannya, dan perjalanannya lebih keras daripada keinginan, pencarian, dan perjalanan orang lain.
Juga, sesungguhnya ia diinginkan lebih dahulu, ketika ia ditegakkan dalam tingkatan pencarian dan ditarik untuk berjalan. Maka setiap yang menginginkan (murid) adalah yang diinginkan (murad). Dan setiap yang sampai, yang berjalan, dan pencari tidak berpisah dari pencariannya dan perjalanannya, meskipun jalan-jalan perjalanan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi hamba. Di antara orang-orang yang berjalan ada yang perjalanannya dengan badan dan anggota tubuhnya lebih dominan daripada perjalanannya dengan hati dan ruhnya.
Di antara mereka ada yang perjalanannya dengan hatinya lebih dominan, maksudku kekuatan perjalanan dan kekerasannya.
Di antara mereka—dan mereka adalah orang-orang sempurna yang kuat—ada yang memberikan setiap tingkatan haknya. Maka ia berjalan kepada Allah dengan badan dan anggota tubuhnya, dan hati serta ruhnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan tentang pilihan wali-wali-Nya bahwa mereka senantiasa dalam tingkatan keinginan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya” (Surah Al-An’am: 52). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat pada sisinya yang harus dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia pasti mendapat kepuasan” (Surah Al-Lail: 19-20). Maka hamba, sifat paling khususnya dan tingkatannya yang paling tinggi adalah menjadi orang yang menginginkan yang benar keinginannya, hamba dalam keinginannya, sehingga yang diinginkannya mengikuti yang diinginkan Tuhannya secara agama darinya. Ia tidak memiliki keinginan pada selain-Nya.
Perkataan syaikh dapat ditafsirkan dengan makna lain, yaitu: bahwa makna perkataannya “Sesungguhnya menyaksikan hakikat kesatuan membangunkan dari meremehkan mujahadah” adalah bahwa hal itu membangunkannya dari tidur meremehkan mujahadah, dan lam adalah untuk ta’lil (sebab). Yaitu membangunkannya dari tidurnya keteledoran karena meremehkan mujahadah. Dan ini adalah makna yang benar dalam dirinya, karena hamba semakin dekat kepada Allah, maka jihadnya di jalan Allah semakin besar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (Surah Al-Hajj: 78).
Perhatikanlah kondisi-kondisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Sesungguhnya mereka setiap kali naik dari kedekatan dalam suatu tingkatan, jihad dan kesungguhan mereka semakin besar. Bukan seperti yang disangka oleh sebagian orang mulhid (kafir) yang dinisbahkan kepada jalan tasawuf, ketika ia berkata: Kedekatan hakiki adalah perpindahan hamba dari keadaan-keadaan lahir kepada amal-amal batin, dan melepaskan tubuh dan anggota badan dari lelahnya amal.
Orang-orang ini adalah yang paling besar kekufuran dan kekafiran mereka, ketika mereka menghilangkan penghambaan dan menyangka bahwa mereka tidak memerlukan lagi dengan apa yang diperoleh mereka dari khayalan-khayalan batil, yang merupakan angan-angan jiwa dan tipuan setan. Dan seakan-akan yang berkata di antara mereka hanya bermaksud pada dirinya dan pengikut mazhabnya dengan perkataannya:
Mereka rela dengan angan-angan dan diuji dengan keberuntungan mereka … Dan mereka mengarungi lautan cinta dengan omong kosong maka tidak basah
Mereka dalam perjalanan tidak berpindah dari tempat mereka … Dan tidak berangkat dalam perjalanan darinya padahal mereka telah lelah
Sungguh ahli istiqamah dan para imam jalan tasawuf telah menegaskan: kekufuran orang-orang ini. Maka mereka mengeluarkan mereka dari Islam. Dan mereka berkata: Seandainya hamba sampai dari kedekatan kepada tingkatan paling tinggi yang bisa dicapai oleh hamba, tidak akan gugur darinya dari taklif sebesar zarrah pun, selama ia masih mampu melakukannya.
Orang-orang ini menyangka bahwa mereka tidak memerlukan dengan hakikat ini dari zhahir syariat.
Golongan ini bersepakat bahwa ini adalah kekufuran dan ilhad (kekafiran). Dan mereka menegaskan bahwa setiap hakikat yang tidak diikuti oleh syariat maka ia adalah kekufuran.
Sari As-Saqathi berkata: Barangsiapa mengaku batin hakikat yang membatalkan zhahir hukum, maka ia keliru. Dan Sayyid Thaifah, Junaid bin Muhammad berkata: Ilmu kami ini terikat dengan hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ibrahim bin Muhammad An-Nasrabadzi berkata: Pokok mazhab ini adalah: melazimi Kitab dan Sunnah, meninggalkan hawa nafsu dan bidah, berpegang teguh dengan para imam, mengikuti salaf, meninggalkan apa yang dibuat-buat oleh orang-orang belakangan, dan tetap pada apa yang ditempuh oleh orang-orang terdahulu.
Ismail bin Nujaid ditanya: Apa yang tidak boleh tidak bagi hamba? Ia menjawab: Melazimi penghambaan berdasarkan Sunnah, dan senantiasa muraqabah (merasa diawasi Allah). Dan ia ditanya: Apa tasawuf itu? Ia menjawab: Sabar di bawah perintah dan larangan.
Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Barangsiapa beramal tanpa mengikuti sunnah, maka amalnya batil. Asy-Syibli pada suatu hari—dan ia mengulurkan tangannya ke pakaiannya—berkata: Seandainya ia bukan pinjaman, niscaya aku sobek. Dikatakan kepadanya: Engkau melihat dalam keadaan kalah itu pakaianmu, dan bahwa ia pinjaman? Ia berkata: Ya, para pemilik hakikat terpelihara bagi mereka pada semua waktu syariat.
Abu Yazid Al-Bustami berkata: Seandainya kalian melihat seorang laki-laki diberi karamah hingga ia terangkat di udara, maka janganlah kalian tertipu dengannya, hingga kalian melihat: bagaimana kalian mendapatinya pada perintah dan larangan, menjaga batasan-batasan dan syariat.
Abdullah Al-Khayyath berkata: Manusia sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah bersama apa yang jatuh di hati mereka. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam datang, lalu mengembalikan mereka dari hati kepada agama dan syariat.
Ketika kematian mendatangi Abu Utsman Al-Hairi, anaknya Abu Bakar merobek bajunya. Maka Abu Utsman membuka matanya dan berkata: Wahai anakku, menyelisihi sunnah dalam zhahir adalah dari riya batin di dalam hati.
Di antara perkataan Ibn Utsman ini: Jalan yang paling selamat dari tertipu adalah jalan salaf, dan melazimi syariat.
Abdullah bin Mubarak berkata: Tidak tampak pada seseorang sesuatu dari cahaya iman kecuali dengan mengikuti sunnah dan menjauhi bidah. Dan setiap tempat yang engkau lihat di dalamnya kesungguhan lahir tanpa cahaya, maka ketahuilah bahwa di sana ada bidah tersembunyi. Sahl bin Abdullah berkata: Lazimi hitam di atas putih—haddasana dan akhbarana—jika engkau ingin beruntung.
Sungguh para pemimpin golongan ini paling keras kesungguhan mereka di akhir umur mereka.
Al-Qusyairi berkata: Aku mendengar Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: Terlihat di tangan Junaid tasbih. Dikatakan kepadanya: Engkau dengan kemuliaan engkau memegang tasbih di tanganmu? Ia berkata: Jalan yang dengannya aku sampai kepada Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala, aku tidak akan meninggalkannya selamanya.
Ismail bin Nujaid berkata: Junaid setiap hari datang ke pasar, lalu membuka pintu tokonya, masuk ke dalamnya dan menutup tirai, dan shalat empat ratus rakaat kemudian pulang ke rumahnya. Ibn Atha masuk kepadanya—dan ia sedang dalam sakaratul maut—lalu memberi salam kepadanya. Ia tidak membalas salamnya. Kemudian ia membalas salamnya setelah beberapa saat. Lalu ia berkata: Maafkan aku, karena aku sedang dalam wiridku. Kemudian ia menghadapkan wajahnya ke kiblat dan bertakbir, lalu meninggal.
Abu Said bin Al-A’rabi berkata: Aku mendengar Abu Bakar Al-Athar berkata: Aku menghadiri Abu Al-Qasim Al-Junaid—aku dan sekelompok dari sahabat kami—dan ia sedang duduk shalat, dan ia melipat kakinya ketika hendak sujud. Ia terus seperti itu hingga ruh keluar dari kedua kakinya. Maka gerakannya berat baginya, dan keduanya telah bengkak.
Salah seorang sahabatnya berkata kepadanya: Apa ini wahai Abu Al-Qasim? Ia berkata: Ini nikmat Allah. Allahu Akbar. Ketika ia selesai dari shalatnya, Abu Muhammad Al-Jurairi berkata kepadanya: Wahai Abu Al-Qasim, seandainya engkau berbaring. Ia berkata: Wahai Abu Muhammad, ini adalah waktu yang di dalamnya diambil? Allahu Akbar. Ia terus dalam keadaan itu hingga meninggal.
Seorang pemuda masuk kepadanya—dan ia dalam sakitnya yang di dalamnya ia meninggal. Dan wajahnya telah bengkak. Dan di hadapannya ada bantal yang ia shalat menghadapnya—lalu ia berkata: Dan pada saat ini engkau tidak meninggalkan shalat? Ketika ia salam, ia memanggilnya dan berkata: Sesuatu yang dengannya aku sampai kepada Allah, maka aku tidak meninggalkannya. Dan ia meninggal setelah beberapa saat. Rahmat Allah atasnya.
Abu Muhammad Al-Jurairi berkata: Aku berdiri di kepala Junaid pada waktu wafatnya. Dan itu adalah hari Jumat, dan hari Nauruz (tahun baru Persia). Dan ia membaca Alquran. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Al-Qasim, lembutlah pada dirimu. Ia berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah engkau melihat seseorang yang lebih memerlukan kepadanya dariku, pada waktu seperti ini, dan inilah lembaran amalku dilipat?
Abu Bakar Al-Athawi berkata: Aku berada di sisi Junaid ketika ia meninggal. Ia mengkhatamkan Alquran, kemudian memulai khataman lain. Ia membaca dari surah Al-Baqarah tujuh puluh ayat, kemudian meninggal.
Muhammad bin Ibrahim berkata: Aku melihat Junaid dalam mimpi. Aku berkata: Apa yang Allah lakukan denganmu? Ia berkata: Hilang isyarat-isyarat itu, dan ghaib ungkapan-ungkapan itu, dan fana ilmu-ilmu itu, dan habis gambar-gambar itu. Dan tidak bermanfaat bagi kami kecuali rakaat-rakaat yang kami kerjakan di waktu sahur.
Mereka membicarakan di hadapannya para ahli makrifat, dan apa yang mereka remehkan dari wirid dan ibadah setelah mereka sampai kepadanya. Maka Junaid berkata: Ibadah di atas orang-orang arif lebih indah daripada mahkota di atas kepala raja-raja. Dan ia berkata: Semua jalan tertutup atas makhluk, kecuali orang yang mengikuti jejak Rasul shallallahu alaihi wasallam, mengikuti sunnahnya, dan melazimi jalannya. Karena sesungguhnya jalan-jalan kebaikan semuanya terbuka baginya. Dan ia berkata: Barangsiapa menyangka bahwa ia akan sampai dengan mengerahkan usaha, maka ia terhalang. Dan barangsiapa menyangka bahwa ia akan sampai tanpa mengerahkan usaha, maka ia berangan-angan.
Abu Nuaim berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ja’far bin Hani berkata: Aku bertanya kepada Junaid, apa tanda iman? Ia berkata: Tandanya adalah ketaatan kepada yang engkau beriman kepada-Nya, dan beramal dengan apa yang ia cintai dan ridai, dan meninggalkan kesibukan dari-Nya dengan apa yang akan sirna dan hilang.
Maka rahmat Allah atas Abu Al-Qasim Al-Junaid dan Allah meridainya. Betapa ia mengikuti sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan betapa ia mengikuti jalan para sahabatnya.
Ini adalah pintu yang sangat panjang untuk dilacak. Menunjukkanmu bahwa ahli istiqamah pada akhir mereka lebih keras kesungguhan mereka daripada mereka pada awal mereka. Bahkan kesungguhan mereka di awal adalah dalam amal tertentu. Maka kesungguhan mereka di akhir menjadi: ketaatan mutlak. Dan keinginan mereka berjalan bersamanya. Maka kesungguhan dalam makna tertentu menjadi lemah, karena ia terbagi antara itu dan yang lain.
Dan janganlah engkau letakkan (percayakan) kepada perkataan orang mulhid yang memutus jalan dalam rupa orang arif, yang berkata: Sesungguhnya tingkatan kedekatan memindahkan hamba dari amal-amal lahir kepada amal-amal batin, dan membuat meremehkan ketaatan-ketaatan lahir, dan melepaskannya dari lelahnya melaksanakannya.
Pasal
Perkataan Syekh: “Dan membebaskan dari kecerobohan perlawanan.”
Maksudnya: bahwa pencermatan ini membebaskan hamba dari kecerobohan melawan hukum Allah yang bersifat agama (syariat) dan kauniyah (takdir), yang Dia tidak memerintahkan untuk dilawan. Maka ia tunduk kepada kedua hukum tersebut. Karena pencermatan terhadap esensi penggabungan (jam’) menyaksikan bahwa kedua hukum tersebut berasal dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka ia tidak melawan hukum-Nya dengan pendapat, akal, dzauq (rasa spiritual), maupun bisikan hati.
Dan juga membebaskan hatinya dari perlawanan hal-hal selain Allah terhadap perintah. Karena perintah dilawan dengan syahwat. Dan berita (khabar) dilawan dengan keraguan dan syubhat. Maka pencermatan terhadap esensi penggabungan membebaskan hatinya dari kedua perlawanan ini. Dan inilah hati yang selamat (qalbun salim) yang tidak akan beruntung kecuali orang yang menemui Allah dengan membawanya. Ini adalah tafsir ahli kebenaran dan istiqamah.
Adapun ahli ilhad (penyimpangan), mereka berkata: Yang dimaksud dengan perlawanan di sini adalah pengingkaran terhadap makhluk dalam apa yang tampak dari mereka berupa hukum-hukum kemanusiaan. Karena orang yang menyaksikan esensi penggabungan mengetahui bahwa kehendak Allah terhadap makhluk adalah apa yang mereka lakukan. Maka jika ia mengetahui hal itu dengan hakikat penyaksian, maka perlawanan dan pengingkaran terhadap mereka adalah termasuk kecerobohan jiwa-jiwa yang terhalang.
Dan guru mereka dalam hal ini berkata: Orang yang arif tidak mengingkari kemungkaran, karena ia melihat rahasia Allah dalam takdir.
Dan ini adalah esensi ittihad (paham kesatuan wujud), ilhad, dan terlepas dari agama secara keseluruhan. Dan Allah telah melindungi Syekh al-Islam (pengarang kitab) dari hal itu. Dan jika orang yang menyimpang membawa kalam Allah dan Rasul-Nya kepada makna yang tidak dapat ditanggungnya, maka bagaimana sangkaanmu terhadap perkataan makhluk seperti dirinya?
Maka dikatakan: Sesungguhnya Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya dengan pengingkaran terhadap makhluk dalam apa yang mereka lakukan dari hukum-hukum kemanusiaan dan lainnya. Maka dengan ini rasul-rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, dan tempat tinggal terbagi menjadi rumah kebahagiaan bagi orang-orang yang mengingkari (kemungkaran) dan rumah kesengsaraan bagi orang-orang yang diingkari. Maka pencacatan terhadap hal itu adalah pencacatan terhadap rasul-rasul dan kitab-kitab. Dan terlepas dari hal itu adalah terlepas dari ikatan agama.
Dan barangsiapa yang merenungkan keadaan para rasul dengan umat mereka, ia akan mendapati mereka tegak mengingkari (kemungkaran) dengan sekeras-kerasnya. Hingga mereka menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mereka mewasiatkan kepada orang-orang yang beriman kepada mereka untuk mengingkari orang-orang yang menyelisihi mereka. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa orang yang terlepas dari tiga tingkatan pengingkaran (kemungkaran) tidak memiliki iman sebesar biji sawi sekalipun.
Dan beliau sangat menekankan amar ma’ruf nahi munkar dengan penekanan yang sangat kuat, hingga beliau bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila meninggalkannya, hampir saja Allah akan menimpakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.”
Dan beliau mengabarkan bahwa meninggalkannya menimbulkan pertentangan antara hati dan wajah, dan mendatangkan laknat Allah. Sebagaimana Allah melaknat Bani Israil karena meninggalkannya.
Maka bagaimana mungkin pengingkaran (kemungkaran) adalah bagian dari kecerobohan jiwa, padahal ia adalah tujuan syariat?
Dan bukankah jihad adalah atas berbagai jenis pengingkaran? Ia adalah jihad dengan tangan, dan jihad ahli ilmu adalah pengingkaran dengan lisan.
Adapun perkataan mereka: Bahwa orang yang menyaksikan (hakikat) mengetahui bahwa kehendak Allah terhadap makhluk adalah apa yang mereka lakukan.
Maka dikatakan kepadanya: Tuhan Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua kehendak: kauniyah (takdir) dan diniyah (syariat). Maka anggaplah bahwa kehendak-Nya yang kauniyah terhadap mereka adalah apa yang mereka lakukan. Namun kehendak-Nya yang diniyah, berupa perintah dan syariat, adalah pengingkaran terhadap pemilik kehendak kauniyah. Maka jika engkau melumpuhkan kehendak-Nya yang diniyah, engkau tidak berdiri pada kehendak-Nya yang diniyah yang Dia cintai dan ridhai. Dan tidak bermanfaat bagimu berdiri pada kehendak-Nya yang kauniyah yang Dia takdirkan dan tetapkan. Karena jika hal itu bermanfaat bagimu, maka tidak ada makna bagi syariat-syariat sama sekali, tidak pula bagi hudud (hukuman) dan pencegahan, tidak pula bagi hukuman-hukuman duniawi, tidak pula bagi tindakan terhadap orang-orang zalim dan fajir, serta menahan kezaliman dan kefasikan mereka. Karena orang arif menurutmu menyaksikan bahwa kehendak Allah terhadap mereka adalah demikian. Dan dalam hal ini terdapat kerusakan dunia sebelum (kerusakan) agama-agama.
Maka madzhab buruk ini tidak layak untuk dunia maupun agama, tetapi ia adalah kecerobohan jiwa yang telah condong kepada ilhad, dan kafir terhadap agama Tuhan para hamba. Dan menjadikan pelumpuhan syariat sebagai agama dan tingkatan, dan bisikan setan sebagai percakapan dan ilham. Dan menjadikan takdir-takdir Tuhan Subhanahu wa Ta’ala sebagai pembatal apa yang Dia utus melalui rasul-rasul-Nya, dan pelumpuh apa yang Dia turunkan melalui kitab-kitab-Nya. Dan mereka menjadikan ilhad ini sebagai puncak ma’rifat ketuhanan dan tingkatan tertinggi yang mulia. Dan mereka menyeru kepada hal itu jiwa-jiwa yang batil dan jahil terhadap Allah dan agama-Nya. Maka mereka memenuhi seruan mereka dengan tergesa-gesa, dan penyeru dari mereka menggerakkan kaumnya, lalu mereka menaatinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.
Adapun perkataan mereka: Bahwa pengingkaran adalah bagian dari perlawanan jiwa-jiwa yang terhalang.
Maka demi umur Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dalam hijab yang kokoh dari kekufuran dan ilhad ini. Tetapi mereka mengintai ahlnya sementara mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka, berputar-putar dalam kekufuran mereka, memerangi pengikut para rasul, menyeru kepada selain jalan mereka, mengambil petunjuk selain petunjuk mereka, dan menyimpang dari jalan mereka yang lurus, serta menentang apa yang mereka bawa. “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,’ mereka menjawab: ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok.’ Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Surat al-Baqarah: 9-16)
Pasal
Perkataan Syekh: “Dan memberikan pencermatan terhadap permulaan-permulaan.”
Perkataannya mengandung dua kemungkinan:
Pertama: Bahwa pencermatan terhadap esensi penggabungan memberikan kepada pemiliknya pencermatan terhadap pendahuluan-pendahuluan (sabiqat) yang Allah awali kepadanya dengannya. Maka pencermatan terhadap esensi penggabungan memberikan kepadanya pandangan kepada keawalan (uluwiyah) Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dalam segala sesuatu.
Dan mungkin yang dimaksudnya dengan permulaan-permulaan adalah: permulaan suluknya (perjalanan spiritual) dan kesungguhan pencariannya. Karena sesungguhnya dalam keadaan suluknya ia tidak menoleh kepada apa yang di belakangnya, karena kesibukan yang keras dengan apa yang di hadapannya, dan dominasi hukum-hukum kemauan yang keras atasnya. Maka ia tidak sempat untuk mencermati permulaan-permulaannya. Namun ketika ia mencermati esensi penggabungan, suluk yang pertama terputus. Dan tersisa baginya suluk yang kedua. Maka pada saat itulah ia sempat untuk mencermati permulaan-permulaannya. Dan ia mendapati kerinduan darinya kepadanya, sebagaimana yang dikatakan al-Junaid: Alangkah rindunya aku kepada waktu-waktu permulaan.
Maksudnya: kelezatan waktu-waktu permulaan, pengumpulan kemauan pada pencarian, dan perjalanan kepada Allah. Karena ia dahulu terkumpul kemauannya pada perjalanan dan pencarian. Namun ketika ia mencermati esensi penggabungan, rusmlah (bentuk-bentuk lahiriah)-nya. Dan ia tidak dapat fana’ dari kemanusiaannya dan hukum-hukum tabi’atnya. Maka tabi’atnya menuntut apa yang ada padanya. Maka ia dituntut membebani diri (taklif). Maka ia merindukan waktu-waktu permulaan, karena apa yang ada padanya berupa kelezatan berpaling dari makhluk dan berkumpulnya kemauan.
Dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu wa ardhaahu melewati seorang laki-laki yang sedang menangis karena takut kepada Allah. Maka ia berkata: Begitulah kami dahulu hingga keras hati kami.
Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan: “Sesungguhnya setiap orang yang beramal memiliki semangat, dan setiap semangat memiliki kelemahan.”
Maka orang yang mencari dengan sungguh-sungguh pasti akan mengalami kelemahan. Maka ia merindukan dalam kelemahan itu kepada keadaannya saat pencarian dan kesungguhan.
Dan ketika wahyu terputus dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau pergi ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya. Maka Jibril alaihissalam menampakkan diri kepadanya dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau adalah Rasulullah.” Maka dengan itu jiwa beliau menjadi tenang dan hatinya tenteram. Maka terselipinya kelemahan-kelemahan bagi para salik (orang yang menempuh jalan spiritual) adalah perkara yang mesti terjadi. Maka barangsiapa kelemahannya menuju kepada pendekatan dan ketepatan, dan tidak mengeluarkannya dari kewajiban, serta tidak memasukkannya ke dalam yang haram, maka diharapkan baginya untuk kembali lebih baik dari semula.
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu wa ardhaahu berkata: Sesungguhnya hati-hati ini memiliki datang dan pergi. Maka jika datang, ambillah mereka dengan nawafil (ibadah sunnah). Dan jika pergi, maka wajibkanlah kepada mereka kewajiban-kewajiban (fardhu).
Dan dalam kelemahan-kelemahan, gumpalan-gumpalan awan, dan hijab-hijab yang datang kepada para salik ini terdapat hikmah-hikmah yang tidak diketahui perinciannya kecuali oleh Allah. Dan dengannya dapat dibedakan orang yang jujur dari yang dusta.
Orang yang dusta akan kembali ke belakang, dan kembali kepada bentuk-bentuk lahiriah tabi’at dan hawa nafsunya.
Dan orang yang jujur menunggu kelapangan, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dan ia melemparkan dirinya di pintu (Allah) terkapar, hina, miskin, dan tunduk, seperti bejana kosong yang tidak ada apa pun di dalamnya sama sekali, menunggu agar Pemilik bejana dan Pembuatnya meletakkan padanya apa yang cocok untuknya, bukan dengan sebab dari hamba—walaupun kefakiran ini adalah salah satu sebab terbesar—tetapi itu bukan darimu. Bahkan Dialah yang menganugerahkan hal itu kepadamu, menanggalkanmu darimu, dan mengosongkanmu dari dirimu. Dan Dialah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya.
Maka jika engkau melihat Dia telah menempatkanmu pada tingkatan ini, ketahuilah bahwa Dia hendak merahmatkanmu dan mengisi bejanamu. Jika engkau meletakkan hati di tempat selain ini, maka ketahuilah bahwa itu adalah hati yang tersia-sia. Maka mintalah kepada Tuhannya—dan ia berada di antara jari-jemari-Nya—agar mengembalikannya kepadamu dan mengumpulkan keadaanmu dengannya. Dan sungguh benar perkataan seseorang:
Jika engkau meletakkan hati di tempat yang bukan tempatnya Di luar bejana, maka ia adalah hati yang tersia-sia
[Hakikat Waktu]
Pasal: Dan di antaranya adalah waktu. Penulis kitab Manazil berkata:
Bab Waktu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, hai Musa.” (Surat Thaha: 40)
Waktu adalah nama untuk wadah kejadian. Dan ia adalah nama dalam bab ini untuk tiga makna, pada tiga tingkatan. Makna pertama: waktu kehadiran yang benar, untuk menenangkan cahaya keutamaan yang menariknya kejernihan harapan, atau untuk penjagaan yang menariknya kejujuran rasa takut, atau untuk berkobarnya kerinduan yang menariknya menyalanya kecintaan.
Wajah pengambilan dalilnya dengan ayat: Bahwa Allah Subhanahu menakdirkan kedatangan Musa pada waktu yang paling membutuhkannya. Karena orang Arab mengatakan: Si fulan datang tepat waktu (ala qadar), jika ia datang pada waktu yang membutuhkannya. Jarir berkata:
Ia meraih khilafah ketika ia tepat waktu Sebagaimana Tuhannya mendatangkan Musa tepat waktu
Dan Mujahid berkata: Sesuai janji. Dan ini perlu dipertanyakan. Karena tidak ada janji sebelumnya antara Allah Subhanahu dengan Musa untuk datang, sehingga dapat dikatakan bahwa ia datang pada janji itu.
Tetapi wajah hal ini adalah: Bahwa maknanya adalah: engkau datang pada janji yang Kami janjikan untuk melaksanakannya, dan takdir yang Kami takdirkan untuk terjadi pada waktunya. Dan ini seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.'” (Surat al-Isra’: 107-108) Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan mengutus seorang nabi pada akhir zaman yang memenuhi bumi dengan cahaya dan petunjuk. Maka ketika mereka mendengar Al-Quran, mereka mengetahui bahwa Allah telah memenuhi janji yang Dia janjikan.
Dan pengambilan dalilnya dengan ayat ini menunjukkan kedudukannya dalam ilmu. Karena jika sesuatu terjadi pada waktunya yang paling tepat untuk terjadinya pada waktu itu, maka ia lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih berguna. Seperti jika hujan turun pada waktu yang paling membutuhkannya. Dan seperti jika kelapangan terjadi pada waktu yang tepat.
Dan barangsiapa merenungkan takdir-takdir Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dan berjalannya pada makhluk, ia akan mengetahui bahwa ia terjadi pada waktu yang paling tepat.
Maka Allah Subhanahu mengutus Musa pada waktu manusia paling membutuhkan pengutusan beliau. Dan mengutus Isa demikian pula. Dan mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam wa alaihim ajma’in (shallallahu alaihi wasallam dan atas mereka semua) pada waktu penduduk bumi paling membutuhkan pengutusan beliau. Maka demikianlah waktu hamba dengan Allah, ia memakmurkannya dengan hal-hal yang paling bermanfaat baginya pada waktu ia paling membutuhkan pemakmurannya.
Perkataannya “Waktu: wadah kejadian.” Waktu adalah ungkapan tentang kedekatan suatu peristiwa dengan peristiwa lain menurut para mutakallimin (ahli kalam), maka ia adalah hubungan antara dua peristiwa. Maka perkataannya “wadah kejadian” yaitu wadah penciptaan (takwin). Maka ia adalah wadah waktu yang terjadi padanya penciptaan. Sebagaimana wadah tempat adalah wadah ruang yang terdapat padanya benda.
Tetapi waktu dalam istilah kaum (sufi) lebih khusus dari itu.
Abu Ali ad-Daqqaq berkata: Waktu adalah apa yang engkau berada padanya. Jika engkau berada di dunia maka waktumu adalah dunia. Dan jika engkau berada di akhirat maka waktumu adalah akhirat. Dan jika engkau berada dalam kegembiraan maka waktumu adalah kegembiraan. Dan jika engkau berada dalam kesedihan maka waktumu adalah kesedihan.
Maksudnya: bahwa waktu adalah apa yang dominan atas manusia dari keadaannya.
Dan mungkin yang dimaksud: bahwa waktu adalah apa yang berada di antara dua waktu, masa lalu dan masa depan. Dan ini adalah istilah kebanyakan kelompok ini. Oleh karena itu mereka mengatakan: Sufi dan faqir adalah anak waktunya.
Maksud mereka: bahwa kemauannya tidak melampaui kewajiban memakmurkannya dengan apa yang paling utama baginya dan paling bermanfaat baginya. Maka ia tegak dengan apa yang ia dituntut dengannya pada saat dan waktu yang sedang dihadapi. Maka ia tidak peduli dengan masa lalu dan masa depan waktunya, bahkan ia peduli dengan waktunya yang ia berada padanya. Karena kesibukan dengan waktu masa lalu dan masa depan menyia-nyiakan waktu sekarang. Dan setiap waktu yang datang ia sibuk darinya dengan dua ujung (masa lalu dan masa depan). Maka seluruh waktunya menjadi terlewat.
Asy-Syafi’i radhiyallahu anhu berkata: Aku bergaul dengan kaum sufi. Maka aku tidak mengambil manfaat dari mereka kecuali dua kalimat, aku mendengar mereka mengatakan: Waktu adalah pedang. Jika engkau memotongnya, jika tidak ia akan memotongmu. Dan jiwamu jika engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, jika tidak ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.
Aku (Ibnul Qayyim) berkata: Ya, betapa bermanfaat dan ringkasnya kedua kalimat itu, dan betapa menunjukkan tingginya kemauan pengucapnya dan kewaspadaannya. Dan cukuplah dalam hal ini pujian asy-Syafi’i terhadap kelompok yang ini adalah kadar kalimat-kalimat mereka.
Dan mereka terkadang menghendaki dengan waktu: sesuatu yang lebih khusus dari semua ini. Yaitu apa yang menimpa mereka dalam ketentuan Allah yang Mahakuasa terhadap mereka, tanpa apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri. Dan mereka berkata: si fulan berada dalam hukum waktu. Artinya, pasrah terhadap apa yang datang dari sisi Allah tanpa pilihan.
Dan ini baik dalam suatu keadaan, haram dalam keadaan lain, dan mengurangi pelakunya dalam keadaan tertentu. Maka baik dalam setiap tempat yang tidak ada bagi Allah perintah maupun larangan kepada hamba di dalamnya. Bahkan dalam tempat berjalannya hukum takdir yang tidak berkaitan dengan perintah dan larangan, seperti kefakiran, penyakit, keterasingan, kelaparan, rasa sakit, panas, dingin, dan semacam itu.
Dan haram dalam keadaan yang berlaku baginya perintah dan larangan serta pelaksanaan hak-hak syariat. Karena menyia-nyiakan hal itu, bersikap pasrah, dan mengikuti takdir: adalah pelepasan diri dari agama secara keseluruhan. Dan mengurangi pelakunya dalam keadaan yang menuntut pelaksanaan ibadah sunnah dan berbagai jenis kebaikan serta ketaatan.
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba: Dia menolongnya dengan waktu. Dan menjadikan waktunya membantunya. Dan jika Dia menghendaki keburukan baginya: menjadikan waktunya melawannya, dan waktunya berlawanan dengannya. Setiap kali ia ingin bersiap untuk perjalanan: waktunya tidak membantunya. Yang pertama: setiap kali dirinya berniat untuk duduk, waktu membuatnya berdiri dan membantunya.
Dan sebagian dari mereka membagi kaum sufi menjadi empat golongan: ashabush shabiqah (para pemilik keutamaan), ashhabul ‘aqib (para pemilik kesudahan), ashhabul waqt (para pemilik waktu), dan ashhabul haq (para pemilik kebenaran). Dia berkata:
Adapun ashabush shabiqah: hati mereka selamanya pada apa yang telah ditetapkan Allah bagi mereka. Karena pengetahuan mereka bahwa keputusan azali tidak berubah dengan usaha hamba.
Dan mereka berkata: siapa yang dibatasi oleh ketetapan awal tidak akan didekatkan oleh perantara. Maka pemikiran mereka selamanya dalam hal ini. Dan dengan itu: mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah, menjauhi larangan-larangan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai cara mendekat, tanpa yakin dengan hal-hal itu, dan tanpa menoleh kepadanya. Dan salah seorang dari mereka berkata:
Dari mana aku memuaskan-Mu kecuali Engkau memberiku taufik Sungguh jauh, sungguh jauh, taufik bukan dariku Jika tidak ada keutamaanku dalam takdir Maka tidak bermanfaat apa yang telah kukerjakan dari amal
Adapun ashhabul ‘aqib: mereka adalah orang-orang yang berpikir tentang bagaimana akhir urusan mereka. Karena segala perkara bergantung pada akhirnya. Dan amal-amal bergantung pada penutupnya, dan kesudahan itu tertutup. Sebagaimana dikatakan:
Jangan tertipu oleh jernihnya waktu Karena di bawahnya tersembunyi bencana-bencana
Betapa banyak musim semi yang menghijaukan pohon-pohonnya, mekar bunga-bunganya, dan bercahaya buah-buahnya, tidak lama kemudian ditimpa bencana dari langit. Maka menjadi sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla “Hingga apabila bumi telah memakai (berbagai) perhiasannya dan menjadi indah, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya” (QS. Yunus: 24) – hingga firman-Nya – “mereka berpikir” (QS. Yunus: 24).
Betapa banyak murid yang tersandung oleh kuda tekadnya Lalu jatuh tersungkur pada kedua tangan dan mulutnya
Dan dikatakan kepada sebagian mereka – dan telah terlihat darinya yang berbeda dari apa yang biasa diketahui padanya -: Apa yang menimpamu? Maka dia berkata: Hijab yang jatuh. Dan dia melantunkan:
Engkau berprasangka baik pada hari-hari ketika ia baik Dan tidak takut buruknya apa yang dibawa takdir Dan malam-malam menyalamimu maka engkau terperdaya Padahal di saat jernihnya malam terjadi kekeruhan
Bukan keajaiban dari orang yang binasa bagaimana ia binasa? Sesungguhnya keajaiban adalah dari orang yang selamat bagaimana ia selamat?
Engkau heran dari sakitku Kesehatanku itulah yang mengherankan
Orang-orang yang mundur ke belakang adalah berlipat ganda dari mereka yang melewati pendakian yang sulit:
Ambil dari seribu satu orang Dan buang semuanya setelahnya
Adapun ashhabul waqt: mereka tidak sibuk dengan ketetapan awal, dan tidak pula dengan kesudahan. Bahkan mereka sibuk dengan menjaga waktu, dan apa yang wajib bagi mereka dari hukum-hukumnya. Dan mereka berkata: Orang yang mengenal Allah adalah anak waktu. Tidak ada masa lalu baginya dan tidak ada masa depan.
Dan sebagian dari mereka melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam mimpinya. Maka dia berkata kepadanya: Berilah aku wasiat. Maka dia berkata kepadanya: Jadilah anak waktumu.
Adapun ashhabul haq: mereka bersama Pemilik waktu dan zaman, Penguasa dan Pengatur keduanya. Tertarik dengan penyaksian-Nya dari menyaksikan waktu-waktu. Tidak ada waktu untuk mereka menjaga waktu atau zaman. Sebagaimana dikatakan:
Aku tidak tahu apakah malamku panjang atau tidak Bagaimana mengetahui hal itu orang yang terpesona Seandainya aku luang untuk memanjangkan malamku Dan mengamati bintang-bintang, niscaya aku akan kosong Sesungguhnya bagi orang-orang yang jatuh cinta dari pendeknya malam Dan dari panjangnya, dari cinta ada kesibukan
Al-Junayd berkata: Aku masuk menemui As-Sari suatu hari. Maka aku berkata kepadanya: Bagaimana pagi Anda? Maka dia mulai berkata:
Tidak ada kelegaan bagiku di siang hari dan tidak di malam hari Maka aku tidak peduli apakah malam panjang atau pendek
Kemudian dia berkata: Tidak ada di sisi Tuhanmu malam dan tidak pula siang.
Dia mengisyaratkan bahwa dia tidak memperhatikan waktu-waktu. Bahkan dia bersama Dzat Yang menentukan malam dan siang.
Makna Pertama: Waktu Keadaan yang Jujur
Pasal
Penulis kitab Manazil berkata:
Waktu: adalah nama dalam bab ini untuk tiga makna. Makna pertama: saat keadaan yang jujur. Yaitu waktu keadaan yang jujur, yaitu zaman dari keadaan yang muncul di hatinya, dan dia jujur di dalamnya, tidak dibuat-buat, dan tidak berusaha keras dalam mendapatkannya.
“Berkaitan dengannya adalah melihat cahaya karunia” yaitu melihat hal itu, dan melihat adalah penyaksian. Allah Ta’ala berfirman “Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia pergi bersama keluarganya, dia melihat api dari arah gunung Thur. Dia berkata kepada keluarganya: Tunggulah kalian, sesungguhnya aku melihat api” (QS. Al-Qashash: 29). Dan bukan hanya sekedar melihat. Bahkan melihat apa yang membuat hati tenang dan merasa aman dengannya. Dan tidak dikatakan bagi orang yang melihat musuhnya atau sesuatu yang menakutkan bahwa ia melihatnya.
Dan maksudnya: bahwa waktu ini adalah waktu keadaan, pemiliknya jujur di dalamnya karena melihatnya cahaya karunia dan anugerah Allah kepadanya. Dan karunia adalah pemberian yang tidak layak diterima oleh yang diberi, atau diberi melebihi haknya. Jika dia melihat karunia ini, dan merenungkannya dengan hatinya: hal itu menimbulkan dalam dirinya keadaan lain, yang mendorong kepada kecintaan kepada Pemberi karunia dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, karena jiwa-jiwa diciptakan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.
Dan aku masuk suatu hari menemui sebagian dari sahabat-sahabat kami, dan telah terjadi padanya keadaan yang membuatnya menangis. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal itu? Maka dia berkata: Aku teringat apa yang dikaruniakan Allah kepadaku berupa Sunnah dan pengetahuannya, dan terlepas dari syubhat kaum dan kaidah-kaidah batil mereka, dan keselarasan akal yang jernih, dan fitrah yang sehat, dengan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka aku senang dengan hal itu hingga membuatku menangis.
Maka keadaan ini ditimbulkan oleh melihat karunia Allah dan anugerah-Nya.
Ucapannya “menarik padanya kejernihan harapan” yaitu keadaan itu menarik – atau penyaksian, atau karunia – harapan yang jernih tidak keruh. Dan harapan yang jernih adalah yang tidak dicampur keruhnya prasangka imbal balik darimu, dan bahwa amalmu adalah yang mendorongmu kepada harapan. Maka kejernihan harapan mengeluarkannya dari hal itu. Bahkan menjadi harapan murni kepada Dzat Yang mengawali nikmat-nikmat kepadamu tanpa kelayakanmu. Dan segala karunia adalah milik-Nya dan dari-Nya, dan di tangan-Nya – sebab-sebabnya dan tujuannya, perantaranya, syarat-syaratnya, dan penghilangan penghalangnya – semuanya di tangan Allah. Hamba tidak mampu mendapatkan sesuatu darinya tanpa taufik-Nya, izin-Nya dan kehendak-Nya.
Dan ringkasannya: bahwa waktu dalam tingkatan pertama ini: adalah ungkapan dari keadaan yang jujur, sebabnya adalah melihat karunia Allah kepada hamba-Nya. Karena harapannya jernih dari kekeruhan.
Ucapannya “atau untuk perlindungan yang ditarik oleh kejujuran rasa takut” huruf lam dalam ucapannya “atau untuk perlindungan” diatafkan kepada huruf lam dalam ucapannya “atau untuk melihat cahaya karunia” yaitu keadaan untuk perlindungan yang ditariknya kejujuran rasa takut. Maka huruf lam bukan untuk ta’lil. Bahkan seperti dalam ucapanmu: merasakan sesuatu, atau melihat sesuatu. Maka yang berkaitan dengan keadaan adalah perlindungan dan itu adalah pencegahan dan pemeliharaan lahir dan batin. Yang ditariknya kejujuran rasa takut dari Tuhan Yang Mahasuci.
Dan perbedaan antara keadaan dalam tingkatan ini dan yang sebelumnya: bahwa keadaan dalam yang pertama: ditarik oleh kejujuran harapan. Dan dalam yang kedua: ditariknya kejujuran rasa takut. Dan dalam yang ketiga – yang akan disebutkan – ditariknya kejujuran cinta. Maka itu adalah makna ucapannya: atau untuk membara kerinduan yang ditarik oleh berkobarnya kecintaan.
Dan pelayanannya adalah tauriyah dalam berapi dan berkobar. Dan kecintaan ketika menguat menyala apinya di hati. Maka terjadi darinya kobaran kerinduan untuk bertemu Yang Dicintai.
Dan ketiga hal ini, yang termuat dalam tingkatan ini – yaitu: cinta, rasa takut, dan harapan – adalah yang mendorong untuk memakmurkan waktu dengan apa yang lebih utama bagi pemiliknya dan lebih bermanfaat baginya, dan itu adalah dasar suluk, dan perjalanan menuju Allah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya “Mereka itu adalah orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka, mencari jalan kepada-Nya siapa di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah yang harus ditakuti” (QS. Al-Isra: 57). Dan ketiga hal ini adalah poros penggilingan penghambaan. Dan di atasnya berputar penggilingan amal-amal. Wallahu a’lam.
Pasal: Makna Kedua, Nama untuk Jalan Salik
Pasal
Dia berkata: Dan makna kedua: nama untuk jalan salik. Dia berjalan antara tamkin dan talwin, tetapi dia menuju tamkin dalam keadaan apa. Dia menempuh hal, dan menoleh kepada ilmu. Maka ilmu menyibukkannya di suatu waktu, dan hal membawanya di waktu lain. Maka ujiannya di antara keduanya: memberinya penyaksian di suatu saat. Dan memberinya pelajaran di saat lain, dan menunjukkan padanya kecemburuan yang memisahkan di saat lain.
Makna ini: adalah makna kedua dari tiga makna dari makna-makna waktu menurut-nya.
Ucapannya “nama untuk jalan salik” adalah dalam bentuk idhafah. Yaitu untuk jalan seorang hamba yang salik.
Ucapannya “dia berjalan antara tamkin dan talwin” yaitu hamba itu berjalan antara tamkin dan talwin. Dan tamkin adalah tunduk kepada hukum-hukum penghambaan dengan penyaksian dan hal, dan talwin dalam tempat khusus ini: adalah tunduk kepada hukum-hukum penghambaan dengan ilmu. Maka hal mengumpulkannya dengan kekuatannya dan kekuasaannya. Maka memberinya tamkin. Dan ilmu mewarnainya sesuai dengan yang berkaitan dengannya dan hukum-hukumnya.
Ucapannya: tetapi dia menuju tamkin dalam keadaan apa? Dia menempuh hal. Dan menoleh kepada ilmu.
Maksudnya: bahwa hamba ini adalah salik menuju tamkin selama dia menempuh hal dan menoleh kepada ilmu. Adapun jika dia menempuh ilmu, dan menoleh kepada hal: maka dia bukan salik menuju tamkin.
Maka para salik ada dua macam: salik yang menempuh hal, menoleh kepada ilmu. Dan mereka lebih dekat kepada tamkin, dan salik yang menempuh ilmu, menoleh kepada hal. Dan mereka lebih dekat kepada talwin. Ini adalah hasil ucapannya.
Dan ketiga hal ini: adalah yang membedakan antara ahli ilmu dan ahli hal, hingga seolah-olah keduanya adalah dua golongan yang berbeda dan dua kelompok, dan setiap golongan dari keduanya tidak merasa nyaman dengan yang lain, dan tidak bergaul dengannya kecuali dengan keterpaksaan dan semacam keengganan.
Dan ini adalah dari kekurangan kedua kelompok, ketika yang satu lemah dalam berjalan dalam ilmu. Dan yang lain lemah dalam hal dalam ilmu. Maka tidak mampu setiap dari mereka untuk mengumpulkan antara hal dan ilmu. Maka kelompok ini mengambil ilmu, keluasan dan cahayanya. Dan mengunggulkannya. Dan kelompok ini mengambil hal dan kekuasaannya serta tamkinnya dan mengunggulkannya. Dan menjadi yang jujur yang lemah dari kedua kelompok: berjalan dengan salah satunya menoleh kepada yang lain.
Maka ini adalah yang taat kepada hal. Dan ini adalah yang taat kepada ilmu. Tetapi yang taat kepada hal ketika bermaksiat dengan ilmu: akan terputus dan terhalang, meskipun dia memiliki hal sebagaimana adanya. Dan yang taat kepada ilmu ketika berpaling dengannya dari hal adalah orang yang menyia-nyiakan dan berkurang, sibuk dengan perantara dari tujuan.
Dan pemilik tamkin: ilmunya bertindak dalam halnya. Dan menghukuminya maka dia tunduk pada hukumnya, dan halnya bertindak dalam ilmunya. Maka tidak membiarkannya berhenti dengannya. Bahkan memanggilnya kepada tujuan ilmu. Maka dia memenuhi panggilannya dan menjawab seruannya. Maka ini adalah keadaan orang-orang sempurna dari umat ini. Dan siapa yang meneliti keadaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan mendapatinya demikian.
Maka ketika orang-orang belakangan memisahkan antara hal dan ilmu: masuk kepada mereka kekurangan dan cacat. Dan kepada Allah tempat meminta pertolongan “Dia memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki anak-anak perempuan dan memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki anak-anak laki-laki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan Dia menjadikan siapa yang Dia kehendaki mandul. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa” (QS. Asy-Syura: 49-50). Maka demikian pula Dia memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki ilmu. Dan kepada siapa yang Dia kehendaki hal. Dan mengumpulkan keduanya bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan mengosongkan dari keduanya siapa yang Dia kehendaki.
Ucapannya “maka ilmu menyibukkannya di suatu waktu” yaitu menyibukkannya dari suluk menuju tamkin hal. Karena ilmu beraneka ragam kaitannya maka dia memisahkan. Dan hal mengumpulkan. Karena dia memanggilnya kepada fana. Dan di sana kekuasaan hal.
Ucapannya “dan hal membawanya di suatu waktu” yaitu kadang-kadang hal menguasainya. Maka menjadi terbawa oleh kekuatan hal dan kekuasaannya pada suluk. Maka menguat dengan hukum hal, maksudnya: dan ketika ilmu menguasainya menyibukkannya dari suluk. Dan ini adalah yang diketahui dari jalan orang-orang belakangan: bahwa ilmu menurut mereka menyibukkan dari suluk. Dan karena itulah mereka menganggap salik dari yang menempuh hal menoleh dari ilmu.
Adapun menurut apa yang kami tetapkan – bahwa ilmu membantu dalam suluk, dan membawa padanya, dan pemiliknya menjadi salik dengannya dan di dalamnya – maka ilmu tidak menyibukkannya dari suluknya. Meskipun melemahkan perjalanannya pada jalan fana. Maka tidak ragu bahwa ilmu tidak berbarengan dengan fana. Maka fana bukan tujuan para salik menuju Allah. Bahkan bukan pula lazim dari yang mewajibkan jalan, meskipun adalah yang terjadi dari kejadian-kejadiannya. Terjadi kepada yang tidak sempurna, sebagaimana telah lalu penetapan hal itu.
Maka jelas bahwa fana yang sempurna, yang adalah tujuan yang dimaksudkan: adalah fana dari kecintaan kepada selain Allah dan kehendak-Nya. Maka fana dengan kecintaan kepada Allah dari kecintaan kepada selain-Nya. Dan dengan kehendak-Nya, harapan kepada-Nya, rasa takut kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya: dari kehendak kepada selain-Nya, rasa takut kepadanya, harapan kepadanya dan bertawakal kepadanya.
Dan fana ini tidak bertentangan dengan ilmu sama sekali. Dan tidak menghalangi antara hamba dan dirinya. Bahkan bisa jadi dalam kebanyakan keadaan adalah dari yang paling besar penolongnya. Dan ini adalah perkara yang lalai dari kebanyakan orang-orang belakangan, sehingga mereka tidak mengenalnya dan tidak menempuhnya. Tetapi Allah tidak mengosongkan bumi dari yang berdiri dengannya, yang menyeru kepadanya.
Ucapannya “maka ujiannya di antara keduanya” yaitu siksaan dan rasa sakitnya: antara penyeru hal dan penyeru ilmu. Karena imannya membawanya untuk memenuhi seruan penyeru ilmu, dan waridnya membawanya untuk memenuhi seruan penyeru hal. Maka menjadi seperti yang berutang di antara dua penagih. Setiap dari keduanya menagihnya haknya. Dan tidak ada di tangannya kecuali yang memenuhi salah satunya.
Anda telah mengetahui bahwa ini termasuk kesempitan. Namun jika ada kelapangan, maka hendaknya masing-masing diberikan haknya.
Perkataan “menjadikannya merasakan kesaksian pada satu masa” maksudnya bala yang terjadi antara dua pendakwa itu menjadikannya merasakan kesaksian pada satu masa, yaitu masa ketika yang menguasainya adalah ilmu.
Perkataan “dan mengenakan kepadanya ibrah pada masa yang lain” yang jelas adalah ibrah dengan ba dan ain, yaitu pengambilan pelajaran dari perbuatan-perbuatan-Nya, dan pengambilan dalil kepada-Nya melalui perbuatan-perbuatan itu. Sesungguhnya Allah Mahasuci telah menunjukkan diri-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Maka ilmu mengenakan kepada pemiliknya pengambilan pelajaran dan pengambilan dalil kepada Rabb melalui perbuatan-perbuatan-Nya.
Juga dapat bermakna ghairah, dengan ghain bertitik dan ya bertitik dua dari bawah. Maknanya bahwa ilmu mengenakan kepadanya ghairah dari terhalangnya dia dari tingkatan pemilik keadaan. Maka dia cemburu karena terhijab dari keadaan dengan ilmu, dari penyaksian mata dengan pengambilan dalil, dan dari syuhud – yang merupakan tingkatan ihsan – dengan iman yang merupakan iman kepada yang ghaib.
Perkataan “dan memperlihatkan kepadanya ghairah yang memisahkan pada satu masa” ini dengan ghain bertitik tidak lain, maksudnya ilmu memperlihatkan kepadanya ghairah yang memisahkan di lembah-lembahnya. Maka dia membedakan antara hukum-hukum keadaan dan hukum-hukum ilmu. Ini adalah keadaan sadar dan pembedaan.
Seakan-akan Syekh mengisyaratkan bahwa pemilik tingkatan ini, pemisahannya cemburu dari kesatuan dirinya kepada Allah. Maka jiwanya lari dari kesatuan kepada Allah menuju pemisahan ilmu. Karena tidak ada yang lebih berat bagi jiwa-jiwa daripada kesatuan mereka kepada Allah. Maka jiwa melarikan diri dari Allah kepada keadaan kadang-kadang, kepada amal kadang-kadang, dan kepada ilmu kadang-kadang, ini adalah jiwa-jiwa para salik yang jujur.
Adapun orang yang bukan termasuk ahli urusan ini, maka jiwa-jiwa mereka melarikan diri dari Allah kepada syahwat dan kenyamanan. Maka yang paling berat bagi jiwa-jiwa adalah kesatuan mereka kepada Allah. Jiwa terus meminta kepada pemiliknya agar tidak menghubungkannya kepada-Nya, dan agar menyibukkannya dengan apa yang selain-Nya. Karena penahanan jiwa kepada Allah itu berat. Dan yang lebih berat lagi adalah menahannya pada perintah-perintah-Nya, dan menahannya dari larangan-larangan-Nya. Maka jiwa selalu merelakan Anda dengan ilmu dari amal, dengan amal dari keadaan, dan dengan keadaan dari Allah Mahasuci lagi Mahatinggi. Ini adalah perkara yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengikat kain perjalanannya kepada Allah, dan mengetahui bahwa setiap selain-Nya adalah penghalang dari-Nya.
Pembicaraannya dalam tingkatan ini mencakup tiga tingkatan – sebagaimana diisyaratkan olehnya: tingkatan keadaan, tingkatan ilmu, dan tingkatan pemisahan antara keadaan dan ilmu. Ketiga tingkatan ini khusus dengan makna kedua dari makna-makna waktu. Wallahu a’lam.
Bab Makna Ketiga: Waktu yang Haq
Syekh berkata: dan makna ketiga, mereka berkata: waktu yang haq. Mereka menginginkan dengannya: tenggelamnya jejak waktu dalam wujud yang Haq. Makna ini mengungguli nama ini menurutku. Namun ia adalah nama dalam makna ketiga ini, untuk waktu di mana jejak-jejak lenyap di dalamnya secara kasyaf, bukan wujud semata. Ia berada di atas kilat dan wajd. Ia mendekati tingkatan jam’, seandainya langgeng dan kekal. Ia tidak mencapai lembah wujud, namun ia mencukupi beban muamalah, membersihkan esensi musamarah, dan mencium aroma-aroma wujud.
Makna ketiga ini dari makna-makna waktu lebih khusus dari yang sebelumnya, dan lebih sulit dipahami serta dicapai. Karena yang pertama adalah waktu suluk yang berubah-ubah. Sedangkan ini adalah waktu kasyaf yang mapan. Oleh karena itu mereka memberinya nama yang Haq karena dominannya hukumnya atas hati pemiliknya. Maka dia tidak merasakan jejak waktu, bahkan lenyaplah ingatan akan waktunya dari hatinya, karena dikuasainya oleh cahaya kasyaf.
Perkataan: mereka berkata: waktu adalah yang Haq.
Maksudnya bahwa sebagian mereka melontarkan nama yang Haq kepada waktu, kemudian dia menjelaskan maksud mereka dengan itu, yaitu bahwa mereka maksudkan dengannya tenggelamnya jejak waktu dalam wujud yang Haq. Makna ini adalah bahwa salik dengan makna ketiga ini untuk yang Haq, jika tenggelam yang sangat kuat dalam suatu waktu, maka lenyaplah waktunya sama sekali.
Penjelasan ini untuk pemahaman: bahwa jika dia menyaksikan tenggelamnya waktu hadir ini dalam hakikat zaman, maka zaman telah menenggelamkan jejak waktu menjadi bagian yang sangat kecil dari bagian-bagiannya, dan tenggelam di dalamnya, seperti tenggelamnya tetesan dalam lautan. Kemudian zaman – yang terbatas dua ujungnya – tenggelamlah jejaknya dalam wujud dahr. Yaitu apa yang antara azali dan abadi. Kemudian dahr tenggelam jejaknya dalam keabadian Rabb jalla jalaluhu. Keabadian itu adalah sifat Rabb. Maka di sana lenyaplah dahr, zaman, dan waktu. Dan tidak tersisa baginya nisbah kepada keabadian Rabb jalla jalaluhu sama sekali. Maka lenyaplah zaman, dahr, dan waktu dalam keabadian Ilahi, sebagaimana lenyapnya cahaya-cahaya makhluk dalam cahaya-Nya, dan sebagaimana lenyapnya ilmu makhluk dalam ilmu-Nya, kekuatan mereka dalam kekuatan-Nya, keindahan mereka dalam keindahan-Nya, dan perkataan mereka dalam perkataan-Nya, sehingga tidak tersisa bagi makhluk nisbah apa pun kepada sifat-sifat Rabb jalla jalaluhu.
Kaum sufi, jika ahli istiqamah dari mereka melontarkan “tidak ada dalam wujud kecuali Allah” atau “tidak ada yang benar-benar ada kecuali Allah” atau “di sana: fanalah yang tidak pernah ada, dan kekal yang tidak pernah berhenti ada” dan semisalnya dari ungkapan-ungkapan, maka inilah maksud mereka. Terlebih jika tenggelam ini terjadi dalam syuhud sebagaimana dalam wujud, dan menguasai kekuasaannya atas kekuasaan ilmu, dan ilmu tertenggelamkan oleh datangnya, dan dalam kekuatan pembedaan ada kelemahan, dan ilmu tersembunyi dengan syuhud dan hukum keadaan.
Maka di sana Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh (Surat Ibrahim, ayat 27), dan terpeleset kaki-kaki banyak ke tempat paling rendah. Tidak ragu bahwa wujud yang Haq Mahasuci dan keabadian-Nya menenggelamkan wujud setiap selain-Nya dan waktunya dan zamannya, sehingga seakan-akan tidak ada wujud untuknya.
Dari sinilah tersesat orang-orang yang mengatakan wahdatul wujud. Mereka menyangka bahwa tidak ada wujud sama sekali bagi selain-Nya. Mereka tertipu oleh kalimat-kalimat yang samar yang terlontar dari lisan ahli istiqamah dari kaum sufi. Lalu mereka menjadikannya sandaran untuk kekufuran dan kesesatan mereka. Mereka menyangka bahwa para salik akan kembali kepada mereka, dan menjadi jalan manusia satu. Dan Allah menolak kecuali menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang kafir membenci (Surat at-Taubah, ayat 32).
Perkataan: dan makna ini mengungguli nama ini menurutku.
Maksudnya bahwa “yang Haq” mengungguli nama yaitu “waktu”, maksudnya suci dari dinamai dengan waktu. Maka tidak layak dilontarkan kepadanya, karena waktu-waktu itu baru.
Perkataan: namun ia adalah nama dalam makna ketiga ini, untuk waktu di mana jejak-jejak lenyap di dalamnya secara kasyaf bukan wujud semata.
Lenyapnya jejak-jejak adalah sirna dan fananya. Jejak-jejak menurut mereka adalah selain Allah.
Syekh telah menegaskan bahwa jejak-jejak itu lenyap dalam wujud kasyafi hamba, sehingga tidak tersisa di dalamnya kelapangan untuk merasakan jejak-jejak itu, karena ditenggelamkannya oleh kasyaf. Ini adalah akidah ahli istiqamah dari kaum sufi.
Adapun kaum mulhid, ahli wahdatul wujud, maka menurut mereka jejak-jejak itu tidak pernah berhenti lenyap dalam ‘ain wujud yang Haq, bahkan wujudnya adalah wujud-Nya sendiri. Hanya saja indera membedakan antara dua wujud. Ketika dia ghaib dari inderanya dengan kasyafnya, tampaklah bahwa wujudnya adalah ‘ain wujud yang Haq.
Namun Syekh seakan-akan mengungkapkan dengan kasyaf dan wujud tentang dua tingkatan yang disebutkannya dalam bukunya. Kasyaf berada di bawah wujud menurutnya. Karena kasyaf terjadi bersama tetap adanya sebagian jejak pemiliknya. Maka tidak ada tenggelam dalam fana bersamanya. Dan wujud tidak terjadi bersamanya jejak yang tersisa. Oleh karena itu dia berkata: bukan wujud semata, karena wujud yang murni menurutnya memfanakan jejak-jejak. Dalam setiap keadaan, dia memfanakan jejak-jejak dari wujud orang yang menemukan, tidak memfanakannya di luar. Rahasia masalahnya adalah bahwa orang yang sampai ke tingkatan ini menjadi memiliki wujud lain, selain wujud tabi’inya yang sama antara semua yang ada. Dan menjadi baginya nasya’ah lain untuk hati dan ruhnya, nisbah nasya’ah hewani kepadanya seperti nisbah nasya’ah dalam perut ibu kepada nasya’ah yang disaksikan ini di alam, dan seperti nisbah nasya’ah ini kepada nasya’ah akhirat.
Maka bagi hamba ada empat nasya’ah: nasya’ah di rahim, di mana tidak ada penglihatan yang mencapainya dan tidak ada tangan yang menggapainya. Nasya’ah di dunia. Nasya’ah di barzakh. Dan nasya’ah di hari kebangkitan kedua. Setiap nasya’ah lebih agung dari yang sebelumnya. Nasya’ah ini untuk ruh dan hati pada asalnya, dan untuk badan secara ikutan.
Maka bagi ruh di alam ini ada dua nasya’ah. Pertama: nasya’ah tabi’i yang sama. Kedua: nasya’ah hati yang ruhani, dengannya hatinya dilahirkan, dan terpisah dari plasenta tabi’atnya, sebagaimana badannya dilahirkan dan terpisah dari plasenta perut.
Barangsiapa tidak membenarkan ini, maka hendaknya dia berpaling dari ini, dan menyibukkan diri dengan yang lain.
Dalam kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad: bahwa Al-Masih alaihissalam berkata kepada kaum Hawariyyin: sesungguhnya kalian tidak akan masuk kerajaan langit sampai kalian dilahirkan dua kali.
Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: yaitu kelahiran ruh-ruh dan hati-hati dari badan-badan, dan keluarnya dari alam tabi’at, sebagaimana badan-badan dilahirkan dari badan dan keluar darinya. Kelahiran yang lain adalah kelahiran yang dikenal. Wallahu a’lam.
Perkataan: dan ia berada di atas kilat dan wajd.
Maksudnya bahwa kasyaf ini yang lenyap di dalamnya jejak-jejak berada di atas dua tingkatantk kilat dan wajd, karena ia lebih mantap dan lebih langgeng, dan wujud di atasnya, karena ia memberi isyarat kelanggengam.
Perkataan: dan ia mendekati tingkatan jam’ seandainya langgeng.
Maksudnya seandainya langgeng waktu ini, niscaya mendekati tingkatan jam’, yaitu hilangnya perasaan hati terhadap selain yang Haq Mahasuci lagi Mahatinggi, karena sibuk dengan-Nya dari selain-Nya. Maka ia adalah jam’ dalam syuhud.
Menurut kaum mulhid: ia adalah jam’ dalam wujud.
Maksudnya: bahwa seandainya waktu dengan makna ketiga ini langgeng, niscaya mendekati hadhrah jam’. Namun ia tidak langgeng.
Perkataan: dan ia tidak mencapai lembah wujud, maksudnya bahwa waktu yang disebutkan tidak membawa salik di dalamnya sampai lembah wujud hingga melewatinya. Lembah wujud adalah hadhrah jam’.
Perkataan: namun ia mencukupi beban muamalah.
Maksudnya bahwa waktu yang disebutkan – yaitu kasyaf yang mendekati hadhrah jam’ – meringankan dari pelaku amal beban-beban muamalah, dengan tetap tegaknya dia dengan muamalah dengan setegak-tegaknya, sehingga muamalah itu menjadi yang membawanya. Karena dia dahulu beramal atas khabar. Lalu dia menjadi beramal atas penglihatan mata. Ini maksud Syekh.
Menurut mulhid: bahwa dia fana dari muamalat-muamalat jasmani, dan mengembalikan pemiliknya kepada muamalat-muamalat hati. Telah terdahulu pembicaraan yang sangat memuaskan dalam makna ini.
Perkataan “dan membersihkan esensi musamarah”. Musamarah menurut kaum sufi adalah khitab hati dan ruh antara hamba dan Rabbnya. Telah terdahulu bahwa penamaan dengan munajat lebih baik. Maka kasyaf ini membersihkan dari musamarah dari ingatan selain yang Haq Mahasuci dan munajat kepada-Nya.
Perkataan: dan mencium aroma-aroma wujud, maksudnya pemilik tingkatan waktu khusus ini mencium aroma-aroma wujud, yaitu hadhrah jam’. Karena mereka menamainya dengan jam’ dan wujud. Mereka maksudkan dengan itu: munculnya wujud yang Haq Mahasuci, dan fananya wujud selain-Nya.
Anda telah mengetahui bahwa fananya wujud selain-Nya dengan salah satu dari dua i’tibar: sama ada fananya dari syuhud hamba maka dia tidak menyaksikannya, atau sirna dan lenyapnya dengan nisbah kepada wujud Rabb. Jangan berpaling kepada selain dua makna ini, karena ia adalah ilhad dan kufur. Wallahul musta’an.
Bab Tingkatan Ash-Shafa (Kejernihan)
Batas Ash-Shafa
Bab Tingkatan Ash-Shafa
Dan di antaranya adalah tingkatan ash-shafa.
Shahibul Manazil berkata:
Bab Ash-Shafa. Allah Azza wa Jalla berfirman dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik (Surat Shad, ayat 47). Ash-shafa adalah nama untuk terbebas dari kekeruhan. Ia dalam bab ini adalah gugurnya perubahan-perubahan.
Adapun pengambilan dalil dengan ayat, maka wajahnya bahwa al-mushthafa iftial dari ash-shafwah. Yaitu saripati sesuatu, dan penyaringannya dari apa yang mencampurinya. Darinya: ishthafa sesuatu untuk dirinya, yaitu membersihkannya dari campuran persyarikatan yang lain untuknya di dalamnya. Darinya ash-shafiyy yaitu anak panah yang dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk dirinya dari ghanimah. Darinya: sesuatu yang shafi. Yaitu yang murni dari kekeruhan yang lain.
Perkataan: ash-shafa adalah nama untuk terbebas dari kekeruhan.
Terbebas adalah kelepasan. Kekeruhan adalah bercampurnya yang baik dengan yang buruk.
Perkataan: dan ia dalam bab ini adalah gugurnya perubahan-perubahan.
Perubahan-perubahan adalah bolak-balik dan berombang-ambing, sebagaimana dikatakan:
Setiap hari kau berubah-ubah Meninggalkan ini olehmu lebih baik
Tingkat-tingkat Ash-Shafa
Tingkat Pertama: Kejernihan Ilmu yang Mendidik untuk Menempuh Jalan
Syekh berkata: dan ia pada tiga tingkat. Tingkat pertama: kejernihan ilmu yang mendidik untuk menempuh jalan, memandang dengan jelas puncak kesungguhan, dan membenarkan semangat orang yang menuju.
Syekh menyebutkan baginya dalam tingkat ini tiga faedah.
Faedah pertama: ilmu yang mendidik untuk menempuh jalan. Ilmu yang jernih ini – yang diisyaratkan olehnya – adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Al-Junaid selalu berkata: ilmu kami ini terikat dengan Kitabullah dan Sunnah. Maka barangsiapa tidak menghafal Al-Quran, menulis hadits, dan tidak mempelajari fikih, maka tidak boleh diteladani.
Yang lain dari para arif berkata: setiap hakikat yang tidak diikuti oleh syariat maka ia adalah kufur.
Junaid berkata: Ilmu kami ini terkait erat dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: Sungguh telah muncul di hatiku sebuah pemikiran dari pemikiran-pemikiran kaum sufi. Aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu dari Al-Kitab dan As-Sunnah. An-Nasrabadzi berkata: Asal dari madzhab ini adalah: memegang teguh Al-Kitab dan As-Sunnah, meninggalkan hawa nafsu dan bid’ah, mengikuti para salaf, meninggalkan apa yang diada-adakan oleh generasi kemudian, dan menegakkan apa yang telah ditempuh oleh generasi terdahulu.
Sebagian dari hal itu telah disebutkan sebelumnya.
Maka ilmu yang murni ini, yang diambil dari cahaya wahyu dan kenabian, akan mendidik pemiliknya untuk menempuh jalan penghambaan. Hakikatnya adalah: beradab dengan adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin, menjadikannya sebagai hakim secara lahir dan batin, berhenti bersamanya di mana ia memberhentikanmu, dan berjalan bersamanya ke mana ia membawamu berjalan. Sehingga engkau menjadikannya seperti kedudukan syaikhmu yang kepadanya telah engkau serahkan seluruh urusanmu, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, dan engkau mengikutinya dalam semua keadaanmu, berhenti pada apa yang ia perintahkan kepadamu, dan engkau tidak menyelisihinya sama sekali. Maka jadikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syaikhmu, imam, teladan, dan hakimmu. Gantungkanlah hatimu pada hatinya yang mulia, dan rohanimu pada rohaninya, sebagaimana seorang murid menggantungkan rohaninya pada rohaniah syaikhnya. Maka engkau menjawab ketika ia memanggilmu, berhenti bersamanya ketika ia memberhentikanmu, berjalan ketika ia membawamu berjalan, berhenti ketika ia berkata, turun ketika ia turun, marah karena kemarahannya, ridha karena keridhoannya. Dan jika ia mengabarkan kepadamu tentang sesuatu, engkau tempatkan pada kedudukan seperti apa yang engkau lihat dengan matamu sendiri. Dan jika ia mengabarkan kepadamu dari Allah dengan suatu kabar, engkau tempatkan pada kedudukan seperti apa yang engkau dengar dari Allah dengan telingamu.
Kesimpulannya: jadikanlah Rasul sebagai syaikh, guru, pengajar, pendidik, dan pembimbingmu. Hilangkanlah perantara-perantara antara engkau dan beliau kecuali dalam penyampaian. Sebagaimana engkau menghilangkan perantara-perantara antara engkau dan yang Mengutus dalam hal penghambaan. Dan tidak ada perantara yang ditetapkan kecuali dalam sampainya perintah, larangan, dan risalah-Nya kepadamu.
Dan dua pengkhususan ini adalah hakikat persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dan Allah semata adalah yang disembah dan diibadahi, yang tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Dan rasul-Nya adalah yang ditaati, diikuti, dan diteladani, yang tidak ada yang berhak ditaati selain beliau. Dan selain beliau, mereka ditaati hanya jika rasul memerintahkan untuk mentaati mereka. Maka mereka ditaati sebagai cabang dari pokok.
Kesimpulannya: jalan tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak-jejak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meneladani beliau dalam lahir dan batinnya.
Maka janganlah pejalan jalan bersusah payah pada selain jalan ini. Karena tidak ada bagian dari perjalanannya kecuali kelelahan, dan amal-amalnya seperti fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang dahaga sehingga apabila ia mendatanginya, ia tidak mendapatinya sesuatu apa pun dan ia mendapati Allah di sisinya lalu Allah memberikan perhitungan kepadanya dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya (An-Nur: 39). Dan janganlah pejalan jalan bersusah payah pada jalan ini. Karena ia akan sampai walaupun merangkak. Maka para pengikut Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: jika amal-amal mereka tidak mampu membawa mereka, maka tekad-tekad, keinginan-keinginan, dan pengikutan mereka kepada Nabi mereka akan membawa mereka. Sebagaimana dikatakan:
Siapa yang seperti jalanmu yang dimanjakan … berjalan perlahan namun datang lebih dulu
Dan orang-orang yang menyimpang dari jalannya, jika amal-amal dan kesungguhan mereka membawa mereka: maka penyimpangan mereka dari jalannya akan menghambat mereka.
Mereka dalam perjalanan tidak beranjak dari tempat mereka … dan mereka tidak bergerak dalam perjalanan darinya padahal mereka telah lelah
Ucapannya “dan melihat tujuan kesungguhan”. Al-Jidd (kesungguhan) adalah: bersungguh-sungguh dan bertekad kuat. Dan al-ghayah (tujuan) adalah: akhir/tujuan.
Maksudnya: bahwa kejernihan ilmu membimbing pemiliknya kepada tujuan yang dikehendaki dengan kesungguhan dan tekad. Karena banyak dari para pejalan jalan – bahkan kebanyakan mereka – berjalan dengan kesungguhan dan ketekunan mereka, tanpa menyadari apa yang dituju.
Dan aku akan memberikanmu perumpamaan yang sangat baik dalam hal ini, yaitu: bahwa sekelompok orang datang dari negeri yang jauh dengan tanda-tanda kenikmatan dan kegembiraan, pakaian yang bagus, dan penampilan yang menakjubkan. Maka orang-orang kagum kepada mereka. Lalu mereka bertanya tentang keadaan mereka? Mereka berkata: Negeri kami adalah negeri yang paling baik, yang mengumpulkan segala jenis kenikmatan, paling murah, paling banyak airnya, paling sehat udaranya, paling banyak buah-buahannya, paling seimbang iklimnya, dan penduduknya demikian pula, manusia yang paling baik wajah dan kulitnya. Selain itu, rajanya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dalam hal keindahan dan kesempurnaan, kebaikan, ilmu dan kelembutan, kedermawanan, kasih sayang kepada rakyat, dan kedekatan dengan mereka. Dan ia memiliki kewibawaan dan kekuasaan atas seluruh raja-raja di perbatasan. Maka tidak ada seorang pun dari mereka yang berambisi untuk melawannya dan memeranginya. Maka penduduk negerinya dalam keamanan dari musuh mereka. Rasa takut tidak menimpa mereka. Selain itu, ia memiliki waktu-waktu di mana ia keluar menemui rakyatnya, memudahkan mereka untuk masuk menemuinya, dan menghapus penghalang antara dia dan mereka. Maka ketika pandangan mereka jatuh kepadanya, segala kenikmatan yang mereka miliki menjadi sirna dan lenyap, sehingga mereka tidak menoleh kepada sesuatu pun darinya. Maka jika ia menghadap kepada salah seorang dari mereka, seluruh penduduk kerajaan menghadap kepadanya dengan penghormatan dan pengagungan. Dan kami adalah utusan-utusannya kepada penduduk negeri-negeri, kami menyeru mereka kepada istananya. Dan ini adalah surat-suratnya kepada manusia. Dan bersama kami terdapat saksi-saksi yang menghilangkan prasangka buruk terhadap kami dan menolak tuduhan bahwa kami berdusta atas namanya.
Ketika manusia mendengar hal itu, dan menyaksikan keadaan para utusan, mereka terbagi menjadi beberapa golongan.
Golongan pertama berkata: Kami tidak akan meninggalkan tanah air kami, tidak akan keluar dari rumah-rumah kami, tidak akan menanggung kesulitan perjalanan yang jauh, dan meninggalkan kehidupan yang telah kami biasakan dan tempat tinggal kami, berpisah dengan bapak-bapak kami, anak-anak kami, dan saudara-saudara kami, untuk sesuatu yang dijanjikan kepada kami di negeri lain, padahal kami tidak mampu memperoleh apa yang kami miliki ini kecuali setelah kesusahan dan kesulitan. Maka bagaimana kami berpindah darinya?
Golongan ini melihat perpisahan mereka dari tanah air dan negeri mereka seperti perpisahan jiwa mereka dari badan mereka. Karena jiwa – karena sangat terbiasa dengan badan – yang paling dibencinya adalah berpisah darinya, walaupun berpisah menuju kenikmatan yang kekal.
Maka golongan ini didominasi oleh panggilan indera dan tabiat atas panggilan akal dan petunjuk.
Golongan kedua: ketika mereka melihat keadaan para utusan, dan apa yang mereka miliki berupa kegembiraan dan keadaan yang baik, dan mereka mengetahui kejujuran mereka, mereka bersiap untuk berjalan menuju negeri raja. Maka mereka mulai berjalan. Lalu keluarga mereka, teman-teman mereka, dan kaum kerabat mereka dari orang-orang yang tinggal menghadang mereka. Dan kebiasaan mereka terhadap tempat tinggal, rumah-rumah, dan kebun-kebun mereka menghadang mereka. Maka mereka mulai maju selangkah dan mundur selangkah. Jika mereka teringat akan baiknya negeri raja dan apa yang ada di dalamnya berupa ketenangan hidup, mereka maju ke arahnya. Dan jika yang menghadang mereka adalah apa yang telah mereka biasakan dari naungan negeri mereka dan kehidupannya, dan persahabatan dengan keluarga dan teman-teman mereka, mereka mundur dari perjalanan dan menoleh kepada mereka. Maka mereka senantiasa berada di antara dua penyeru dan dua penarik, hingga salah satunya menang dan menguat atas yang lain. Maka mereka berpihak kepadanya.
Golongan ketiga: menunggangi punggung tekad mereka, dan melihat bahwa negeri raja lebih layak bagi mereka. Maka mereka memantapkan jiwa mereka untuk menujunya. Dan celaan orang yang mencela tidak menghentikan mereka. Namun dalam perjalanan mereka terdapat kelambatan sesuai dengan lemahnya apa yang tersingkap bagi mereka tentang keadaan negeri itu dan keadaan raja.
Golongan keempat: bersungguh-sungguh dalam perjalanan dan meneruskannya. Maka mereka berjalan dengan perjalanan yang cepat. Mereka adalah sebagaimana dikatakan:
Dan rombongan yang berjalan dan malam menurunkan tirai-tirainya … atas setiap yang berdebu tempat terbitnya yang gelap
Mereka mengemudikan tekad-tekad yang hilang bumi di antaranya … maka perjalanan mereka berada di punggung-punggung tekad
Bintang-bintang malam menunjukkan kepada mereka apa yang mereka cari … di pundak asy-Syi’ra dan kepala an-Na’a’im
Maka mereka ini, keinginan-keinginan mereka tertuju kepada perjalanan, dan kekuatan mereka terfokus padanya tanpa menoleh kepada tujuan yang paling agung dan maksud yang paling tinggi.
Golongan kelima: mereka mulai bersungguh-sungguh dalam perjalanan, dan keinginan mereka tergantung pada tujuan. Maka mereka dalam perjalanan mereka memandang kepada tujuan perjalanan. Maka seakan-akan mereka menyaksikannya dari jauh, dan ia memanggil mereka kepada dirinya dan kepada negerinya. Maka mereka beramal berdasarkan saksi ini yang tegak di hati-hati mereka.
Dan amal setiap orang dari mereka sesuai dengan kadar saksinya. Maka barang siapa yang menyaksikan tujuan amal dalam ilmunya, maka nasihatnya di dalamnya, keikhlasannya, perbaikannya, dan pencurahan usahanya di dalamnya lebih sempurna daripada orang yang tidak menyaksikannya dan tidak memperhatikannya. Dan ia tidak menemukan dari sentuhan lelah dan kesusahan apa yang ditemukan orang yang tidak hadir. Dan kenyataan menyaksikan hal itu. Maka barang siapa yang mengerjakan suatu amal untuk seorang raja di hadapannya, dan ia menyaksikannya, keadaannya tidak seperti keadaan orang yang bekerja dalam ketidakhadirannya dan jauh darinya, dan ia tidak yakin akan sampai kepadanya.
Dan ucapannya “dan membenarkan keinginan orang yang menuju”. Artinya kejernihan ilmu ini membenarkan baginya keinginannya. Dan apabila keinginan benar, ia akan tinggi dan terangkat. Karena jatuh dan rendahnya keinginan adalah dari cacatnya dan sakitnya, jika tidak maka ia seperti api yang menuntut untuk naik dan terangkat selama tidak dihalangi.
Dan keinginan yang paling tinggi adalah: keinginan yang berhubungan dengan Yang Maha Benar dalam mencari dan menuju. Dan menghubungkan makhluk kepada-Nya dengan seruan dan nasihat. Dan ini adalah keinginan para rasul dan para pengikut mereka. Dan benarnya keinginan adalah dengan membedakannya dari terpecahnya pencarian, terpecahnya yang dicari, dan terpecahnya jalannya. Bahkan menyatukan yang dicarinya dengan keikhlasan, pencariannya dengan kejujuran, dan jalannya dengan berjalan mengikuti petunjuk yang telah Allah tetapkan sebagai petunjuk. Bukan yang ia tetapkan sendiri sebagai petunjuk bagi dirinya.
Demi Allah, keinginan-keinginan itu! Betapa menakjubkan urusannya, dan betapa besar perbedaannya. Maka ada keinginan yang terkait dengan Yang di atas Arasy, dan ada keinginan yang berkeliling di sekitar kotoran dan tempat buang air. Orang awam berkata: Nilai setiap orang adalah apa yang ia kuasai. Dan orang khusus berkata: Nilai seseorang adalah apa yang ia cari. Dan khususnya orang khusus berkata: Keinginan seseorang menuju apa yang ia tuju.
Dan jika engkau ingin mengetahui tingkatan-tingkatan keinginan, maka lihatlah kepada keinginan Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Mintalah kepadaku. Maka ia berkata: Aku meminta kepadamu untuk menemanimu di surga. Sedangkan yang lain meminta kepada beliau apa yang mengisi perutnya, atau menutupi kulitnya.
Fasal: Tingkat Kedua adalah Kejernihan Keadaan yang Dengannya Disaksikan Saksi-Saksi Tahqiq
Fasal
Penulis berkata: Tingkat kedua: kejernihan keadaan, yang dengannya disaksikan saksi-saksi tahqiq, dirasakan dengannya manisnya munajat, dan dilupakan dengannya alam semesta.
Tingkat ini lebih tinggi daripada sebelumnya karena ia adalah keinginan keadaan. Dan keadaan adalah buah dari ilmu, dan tidak jernih suatu keadaan kecuali dengan jernihnya ilmu yang menghasilkannya. Dan sesuai dengan campuran ilmu akan terjadi campuran keadaan. Dan apabila keadaan jernih, hamba menyaksikan – dengan kejernihannya – bekas-bekas hakikat-hakikat. Dan itulah saksi-saksi pada dirinya dan pada selainnya, dan atasnya dan atas selainnya. Dan ia menemukan manisnya munajat. Dan jika ia mantap dalam tingkat ini, ia melupakan alam semesta dan apa yang ada di dalamnya dari makhluk-makhluk.
Dan tingkat ini khusus dengan kejernihan keadaan sebagaimana tingkat pertama khusus dengan kejernihan ilmu.
Dan keadaan adalah terwujudnya dan terwarnainya hati dengan hukum datangnya berbagai hal. Dan keadaan menyeru pemiliknya kepada tingkatan yang darinya datang hal yang datang itu, sebagaimana bau harum taman memanggilmu untuk masuk ke dalamnya dan menetap di dalamnya. Maka jika yang datang itu dari hadrat yang benar – yaitu hadrat hakikat Ilahiah, bukan hakikat khayali pikiran – pejalan jalan menyaksikan dengan kejernihannya saksi-saksi tahqiq, dan itulah tanda-tandanya. Dan tahqiq adalah hukum hakikat, dan terpengaruhnya hati dan roh dengannya. Dan hakikat adalah apa yang terkait dengan Yang Maha Benar yang nyata. Maka Allah adalah Yang Maha Benar. Dan hakikat adalah apa yang dinisbatkan kepada-Nya dan terkait dengan-Nya. Dan tahqiq adalah terpengaruhnya hati dengan bekas-bekas hakikat. Dan setiap kebenaran memiliki hakikat, dan setiap hakikat memiliki tahqiq yang tegak dengan menyaksikan hakikat.
Ucapannya “dan dirasakan dengannya manisnya munajat”. Al-Munajat (munajat) adalah: mufa’alah dari an-najwa. Yaitu pembicaraan dalam rahasia hamba dan batinnya. Dan Syaikh menyebutkan dalam tingkat ini tiga perkara.
Pertama: menyaksikan saksi-saksi tahqiq. Kedua: merasakan manisnya munajat. Karena apabila keadaannya jernih dari campuran-campuran, maka manisnya murni baginya dari pahitnya kekeruhan. Maka ia merasakan manis itu dalam keadaan munajatnya. Seandainya keadaan tercampur dan keruh, ia tidak akan menemukan manisnya munajat. Dan keadaan yang berdasarkan pada hal yang datang yang dengannya dirasakan manisnya munajat adalah dari hadrat nama-nama dan sifat-sifat, sesuai dengan apa yang hati temukan dari kejelasannya dan tersingkapnya maknanya.
Maka barang siapa yang jelas baginya nama al-Wadud (Yang Maha Mencintai) – misalnya – dan tersingkap baginya makna-makna nama ini, kelembutan dan kaitannya dengan lahir dan batin hamba, maka keadaan yang ia peroleh dari hadrat nama ini sesuai dengannya.
Maka keadaannya adalah kesibukan dengan cinta dan kerinduan, serta kelezatan bermunajat, tidak ada yang lebih manis dan lebih nikmat darinya, sesuai dengan tenggelamnya ia dalam menyaksikan makna nama ini dan bagian yang diperolehnya dari pengaruh nama tersebut.
Sesungguhnya al-Wadud – meskipun bermakna yang dicintai (al-mawdud), sebagaimana dikatakan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahihnya: al-Wadud artinya yang dicintai (al-habib) – dan tenggelamnya hamba dalam merenungkan sifat-sifat kesempurnaan yang mengajak hamba untuk mencintai Dzat yang memiliki sifat-sifat tersebut: menghasilkan baginya kejernihan pengetahuannya tentang sifat-sifat itu, dan kejernihan keadaan hatinya dalam beribadah sesuai dengan tuntutan sifat-sifat tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh tentang tiga perkara ini dan lainnya.
Demikian juga jika nama itu adalah isim fa’il yang bermakna yang mencintai (al-wadd): merenungkan hal itu menghasilkan baginya keadaan hati yang sesuai dengannya.
Karena jika ia menyaksikan dengan hatinya Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Mulia lagi Maha Dermawan, Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa, setiap orang membutuhkan-Nya secara hakiki, sedangkan Dia Maha Kaya secara hakiki dari segala sesuatu selain-Nya, dan Dia – dengan demikian – mencintai hamba-hamba-Nya dan mengasihi mereka, serta menunjukkan kasih-Nya kepada mereka dengan kebaikan-Nya kepada mereka dan karunia-Nya atas mereka: maka baginya dari penyaksian ini ada keadaan hati yang jernih dan murni dari kotoran-kotoran.
Demikian juga dengan seluruh nama dan sifat. Maka kejernihan keadaan hati sesuai dengan kejernihan pengetahuan tentangnya dan kemurniannya dari darah ta’thil (penafian sifat-sifat Allah) dan kotoran tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Maka keluarlah pengetahuan dari antara keduanya sebagai fitrah yang murni dan mudah diterima oleh orang-orang yang mengenal. Sebagaimana keluarnya susu dari antara kotoran dan darah sebagai susu yang murni dan mudah diminum oleh yang meminum.
Dan perkara ketiga: perkataannya “dan dengannya ia melupakan alam semesta”, artinya ia melupakan alam semesta karena yang menguasai hatinya dari kesibukannya dengan keadaan hati yang disebutkan ini. Dan yang dimaksud dengan alam semesta adalah makhluk-makhluk. Artinya ia sibuk dengan al-Haqq (Allah) dari makhluk.
[Pasal: Tingkatan Ketiga adalah Kejernihan Ittishal (Hubungan)]
Pasal
Beliau berkata: Tingkatan ketiga: kejernihan ittishal (hubungan). Ia memasukkan bagian hamba ke dalam hak ketuhanan, menenggelamkan ujung-ujung berita dalam permulaan penyaksian, dan melipat kehinaan taklif (beban kewajiban) dalam mata keazalian.
Dalam ungkapan ini terdapat kegelisahan dan buruknya ungkapan. Yang memperbaikinya adalah kebaikan keadaan pemiliknya dan kejujurannya, serta pengagungannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi Allah menolak bahwa kesempurnaan itu kecuali bagi-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa antara para pemilik ahwal (keadaan hati spiritual) dan para shahibut tamakkun (orang yang telah mencapai kemapanan spiritual) terdapat perbedaan yang sangat besar. Dan lihatlah kepada dominasi keadaan hati terhadap Nabi Musa alaihissalam ketika ia menyaksikan bekas-bekas tajalli Ilahi pada gunung, bagaimana ia jatuh pingsan? Sedangkan pemilik kemapanan spiritual – shallallahu alaihi wasallam – ketika diisra’kan dan melihat apa yang ia lihat: ia tidak pingsan dan tidak jatuh, bahkan hati dan penglihatannya tetap teguh.
Dan yang dimaksud kaum (sufi) dengan ittishal (hubungan) dan wushul (sampai): hubungan hamba dengan Tuhannya, dan sampainya ia kepada-Nya. Bukan dalam arti bersambungnya dzat hamba dengan dzat Tuhan, sebagaimana dua dzat bersambung satu dengan yang lain. Dan bukan dalam arti bergabungnya salah satu dari dua dzat kepada yang lain dan melekatnya padanya. Sesungguhnya maksud mereka dengan ittishal dan wushul adalah: menghilangkan diri dan makhluk dari jalan perjalanan menuju Allah. Dan jangan membayangkan selain itu, karena itu adalah mustahil.
Karena sesungguhnya orang yang menempuh jalan (salik) senantiasa berjalan menuju Allah Ta’ala sampai ia mati. Maka tidak terputus perjalanannya kecuali dengan kematian. Maka tidak ada dalam kehidupan ini sampai (wushul) yang dengannya hati batin selesai dan berakhir. Dan tidak ada ittishal (hubungan) indrawi antara dzat hamba dan dzat Tuhan. Yang pertama adalah ta’thil (penafian) dan ilhad (ateisme). Dan yang kedua adalah hulul (inkarnasi) dan ittihad (penyatuan). Sesungguhnya hakikat perkara adalah: menyingkirkan diri dan makhluk dari jalan. Karena berhenti bersama keduanya adalah terputus. Dan menyingkirkan keduanya adalah ittishal (hubungan).
Adapun orang-orang mulhid (sesat) yang mengatakan dengan wahdatul wujud (kesatuan wujud), maka mereka berkata: Hamba adalah dari perbuatan-perbuatan Allah, dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah dari sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya adalah dari dzat-Nya. Maka susunan ini menghasilkan bagi mereka: bahwa hamba adalah dari dzat Tuhan. Maha Tinggi Allah dan Maha Suci dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sangat besar.
Dan tempat kesalahan adalah: bahwa hamba adalah dari maf’ulat (objek yang diciptakan) Tuhan Ta’ala, bukan dari perbuatan-perbuatan-Nya yang melekat pada dzat-Nya. Dan maf’ulat-Nya adalah bekas dari perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah dari sifat-sifat-Nya yang melekat pada dzat-Nya, maka dzat-Nya Mahasuci mengharuskan adanya sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan maf’ulat-Nya terpisah dari-Nya, itu semua diciptakan dan baru. Dan Tuhan Ta’ala adalah Pencipta dengan dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Maka berhati-hatilah kemudian berhati-hatilah dari ungkapan-ungkapan yang mujmal (global) dan musytabihah (samar) yang menjadi istilah kaum (sufi). Karena itu adalah asal bencana. Dan ia adalah sumber orang shiddiq dan zindiq. Maka jika mendengar orang yang lemah pengetahuannya dan ilmunya tentang Allah Ta’ala lafazh “ittishal dan infishal (terpisah), musamarah (berbincang malam), mukalamah (berbicara), dan bahwa tidak ada wujud sesungguhnya kecuali wujud Allah, dan bahwa wujud segala sesuatu adalah khayalan dan ilusi, dan ia seperti wujud bayangan yang berdiri dengan selainnya”, maka dengarlah darinya apa yang memenuhi telinga dari hulul dan ittihad serta syathahat (ucapan-ucaran ekstatis).
Dan para ‘arif (orang yang mengenal Allah) dari kaum (sufi) mengucapkan ungkapan-ungkapan ini dan sejenisnya, dan mereka menginginkan dengannya makna-makna yang benar dalam dirinya. Maka orang-orang yang keliru salah dalam memahami apa yang mereka maksudkan. Dan mereka menisbatkan kaum sufi kepada ilhad dan kekufuran mereka. Dan mengambil kata-kata mereka yang samar sebagai perisai dan pelindung baginya, sampai berkata salah seorang dari mereka:
Darimu mulai cinta dengan kemuliaan bercampur Dengan kami dan penyatuan, Engkaulah yang menyatukan diri-Nya Engkau tampak bagi yang Engkau sisakan setelah fananya Dan ia tanpa keberadaan karena Engkaulah keberadaannya
Maka orang yang mudah tertipu mendengar “percampuran dan penyatuan” lalu mengira bahwa Dia Mahasuci adalah hakikat keberadaan hamba. Maka ia tidak ragu bahwa ini adalah puncak tahqiq (realisasi spiritual) dan akhir jalan. Kemudian mari kita kembali kepada penjelasan perkataannya.
Perkataannya: Ia memasukkan bagian hamba ke dalam hak ketuhanan.
Makna yang benar yang dapat dipahami dari perkataan ini adalah: bahwa barangsiapa yang mantap dalam hatinya penyaksian nama-nama dan sifat-sifat, dan jernih baginya ilmu dan keadaan hatinya: maka masuk amalnya semua dan kelipatan-lipatannya dalam hak Tuhannya Ta’ala, dan ia melihatnya di sisi hak-Nya lebih kecil dari biji sawi dibandingkan dengan gunung-gunung dunia. Maka jatuh dari hatinya tuntutan bagiannya dari balasan atasnya, karena ia meremehkannya, sedikitnya di sisinya, dan kecilnya di matanya.
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Shalih dari Abu Imran al-Jauni dari Abu al-Jald bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Daud: Wahai Daud, peringatkanlah hamba-hamba-Ku yang benar, maka janganlah mereka kagum dengan diri mereka sendiri, dan janganlah mereka mengandalkan amal-amal mereka. Karena tidak ada seorangpun dari hamba-hamba-Ku yang Aku tegakkan untuk hisab (perhitungan), dan Aku tegakkan atasnya keadilan-Ku kecuali Aku akan mengadzabnya, tanpa Aku menzaliminya. Dan berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang banyak salah: bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi-Ku untuk Aku ampuni dan Aku maafkan.
Dan berkata Imam Ahmad: Dan telah menceritakan kepada kami Sayyar telah menceritakan kepada kami Ja’far telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani, ia berkata: Seorang laki-laki beribadah selama tujuh puluh tahun. Dan ia biasa berkata dalam doanya: Wahai Tuhanku, balaskanlah aku dengan amalku. Maka ia mati lalu dimasukkan ke surga. Maka ia berada di dalamnya selama tujuh puluh tahun. Maka ketika waktunya habis, dikatakan kepadanya: Keluarlah, karena sesungguhnya engkau telah menerima penuh amalmu. Maka dibalik perkaranya: apa yang paling ia yakini di dunia? Maka ia tidak mendapati sesuatu yang paling ia yakini selain berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya. Maka ia mulai berkata dalam doanya: Wahai Tuhanku, aku mendengar-Mu – sedang aku di dunia – dan Engkau mengampuni kesalahan-kesalahan, maka ampunilah hari ini kesalahanku. Maka ia dibiarkan di surga.
Dan berkata Ahmad bin Hanbal: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Shalih dari Abu Imran al-Jauni dari Abu al-Jald, ia berkata: Berkata Nabi Musa: Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, sedangkan nikmat terkecil yang Engkau letakkan padaku dari nikmat-Mu tidak dapat dibalas oleh seluruh amalku? Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: Wahai Musa, sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku. Maka inilah makna yang benar dari termasukknya bagian hamba ke dalam hak ketuhanan.
Dan baginya pemahaman lain yang juga benar, yaitu bahwa dzat hamba, sifat-sifatnya, perbuatan-perbuatannya, daya-dayanya dan gerakan-gerakannya: semuanya adalah maf’ul (objek ciptaan) bagi Tuhan, milik-Nya, hamba tidak memiliki darinya sesuatupun. Bahkan ia adalah milik murni Allah. Maka Dialah Pemilik untuknya, Yang Memberi nikmat kepada hamba-Nya dengan memberikannya kepadanya. Maka harta adalah harta-Nya, hamba adalah hamba-Nya, dan pelayanan adalah wajib atasnya dengan hak ketuhanan. Dan itu dari karunia Allah kepadanya. Maka karunia semuanya adalah milik Allah, dari Allah, dan dengan Allah.
Perkataannya: “Dan menenggelamkan ujung-ujung berita dalam permulaan penyaksian”. Khabar (berita) adalah yang berkaitan dengan ghaib (yang tidak tampak). Dan ‘iyan (penyaksian) adalah yang berkaitan dengan syahadah (yang tampak). Dan ia adalah penglihatan mata bashirah (mata hati) terhadap kebenaran berita dan ketetapan yang diberitakan.
Dan yang dimaksudnya dengan “permulaan penyaksian” adalah awal kasyf (penyingkapan) hakiki yang darinya ia masuk ke tingkatan fana (lenyap dari kesadaran diri). Dan maksudnya adalah: bahwa orang yang menyaksikan melihat dengan hatinya apa yang diberitakan oleh yang jujur (Nabi) dengan mata hatinya secara nyata. Allah Ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah kebenaran (Saba’: 6). Dan Allah Ta’ala berfirman: Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta (Ar-Ra’d: 19). Maka Allah telah berfirman: Apakah orang yang melihat dengan mata hatinya bahwa apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya adalah kebenaran sama dengan orang yang buta yang tidak melihat itu? Dan bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam tingkatan ihsan: Bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan tidak diragukan lagi bahwa pembenaran terhadap berita dan keyakinan kepadanya menguatkan hati, sampai ghaib menjadi seperti yang disaksikan dengan mata. Maka pemilik tingkatan ini: seakan-akan ia melihat Tuhannya Mahasuci di atas langit-langit-Nya di atas ‘Arsy-Nya, melihat ke bawah kepada hamba-hamba-Nya, melihat kepada mereka, mendengar ucapan mereka, dan melihat lahir dan batin mereka.
Dan seakan-akan ia mendengar-Nya sedang Dia berbicara dengan wahyu, dan berbicara dengannya kepada hamba-Nya Jibril, dan memerintahkannya dan melarangnya dengan apa yang Dia kehendaki, dan mengatur urusan kerajaan-Nya. Dan malaikat-malaikat-Nya naik kepada-Nya dengan perintah, turun dari sisi-Nya dengannya.
Dan seakan-akan ia menyaksikan-Nya, sedang Dia ridha dan marah, mencintai dan membenci, memberi dan mencegah, tertawa dan gembira, memuji wali-wali-Nya di antara malaikat-malaikat-Nya, dan mencela musuh-musuh-Nya.
Dan seakan-akan ia menyaksikan-Nya dan menyaksikan kedua tangan-Nya yang mulia, sedang salah satu dari keduanya menggenggam tujuh langit, dan yang lain tujuh bumi. Dan Dia telah melipat tujuh langit dengan tangan kanan-Nya, sebagaimana digulung lembaran atas baris-baris kitab.
Dan seakan-akan ia menyaksikan-Nya, sedang Dia datang untuk memutuskan perkara antara hamba-hamba-Nya. Maka bumi bersinar dengan cahaya-Nya. Dan Dia menyeru – sedang Dia beristiwa di atas ‘Arsy-Nya – dengan suara yang didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat: “Demi keagungan-Ku dan keagungan-Ku: tidak akan melewati-Ku hari ini kezaliman orang yang zalim“.
Dan seakan-akan ia mendengar seruan-Nya kepada Adam: Wahai Adam, berdirilah dan utuslah utusan neraka dengan izin-Nya sekarang. Dan demikian juga seruan-Nya kepada ahli mahsyar: Apa yang kalian jawab kepada para rasul (Al-Qashash: 65). Dan apa yang kalian sembah?
Dan kesimpulannya: maka ia menyaksikan dengan hatinya Tuhan yang dikenalkan oleh para rasul, sebagaimana dikenalkan oleh kitab-kitab, dan agama yang didakwahkan oleh para rasul, dan hakikat-hakikat yang diberitakan oleh para rasul. Maka tegaklah kesaksian itu dengan hatinya sebagaimana tegak kesaksian apa yang diberitakan oleh ahli mutawatir – meskipun ia tidak melihatnya – dari negeri-negeri dan peristiwa-peristiwa. Maka inilah imannya berjalan seperti penyaksian, dan iman selainnya adalah taqlid (ikut-ikutan) orang buta.
Perkataannya: “Dan melipat kehinaan taklif”. Seandainya Syekh mengungkapkan lafazh ini dengan yang lain. Maka demi Allah sesungguhnya ia lebih jelek dari duri di mata, dan tulang tersangkut di tenggorokan. Dan jauh dari taklif bahwa ia disifati dengan kehinaan, atau melekat padanya kehinaan. Sesungguhnya ia adalah penyejuk mata, kegembiraan hati, dan kehidupan ruh. Keluarnya taklif daripadanya adalah dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Maka ia adalah yang paling mulia yang sampai kepada hamba dari Tuhannya, dan pahala atasnya adalah yang paling mulia yang Allah berikan kepada hamba. Ya, seandainya ia berkata: ia melipat beratnya taklif dan meringankan beban-bebannya dan semacam itu, maka barangkali itu lebih baik. Dan seandainya bukan karena tingkatannya dalam iman, pengenalan dan penegakan perintah-perintah, kami akan berprasangka buruk kepadanya.
Dan yang mungkin dapat dipahami dari perkataannya ada dua wajah:
Pertama: bahwa kejernihan – yang disebutkan dalam tingkatan ini – ketika terlipat dalam hukumnya perantara-perantara dan sebab-sebab, dan termasuk di dalamnya bagian hamba ke dalam hak ketuhanan: maka terlipat padanya pandangan bahwa ibadah adalah taklif. Karena melihatnya sebagai taklif adalah kehinaan dari yang melihat, karena ia melihatnya dengan mata diri dan penegakannya dengannya, dan ia tidak melihatnya dengan mata hakikat. Karena ia tidak sampai kepada tingkatan: Maka dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul, dengan-Ku ia berjalan. Dan seandainya ia sampai kepada itu, ia akan melihatnya dengan mata hakikat, dan tidak ada kehinaan padanya sama sekali di sana. Karena pandangannya telah melampaui dari penegakannya dengannya kepada penegakannya dengan Yang Berdiri Sendiri yang dengannya setiap sesuatu berdiri. Maka baginya ada dua wajah.
Salah satunya: ia dengannya hina. Dan ia adalah wajah penegakannya dengan hamba dan keluarnya darinya.
Dan yang kedua: ia dengannya mulia. Dan ia adalah wajah bahwa ia adalah dengan Tuhan Ta’ala dan keawalan-Nya, perintah dan takwin (penciptaan) dan pertolongan. Maka kejernihan melipatnya dari wajah itu khusus.
Dan makna kedua yang mungkin dari perkataannya adalah: bahwa maksudnya adalah bahwa kejernihan menyaksikannya mata keazalian, dan pendahuluan Tuhan Ta’ala, dan keawalan-Nya bagi setiap sesuatu. Maka terlipat dalam pemandangan ini amal-amalnya yang ia kerjakan, dan ia melihatnya sangat hina dibandingkan dengan mata keazalian. Maka seakan-akan ia berkata: Terlipat amal-amalnya, dan menjadi – dibandingkan dengan mata ini – sangat hina tidak tersebut. Bahkan menjadi di mata keazalian debu yang beterbangan, tidak ada hasilnya.
Karena waktu yang merupakan tempat taklif sangat sirna dibandingkan dengan keazalian. Dan ia adalah waktu yang hina dan remeh, sampai seakan-akan tidak ada hasilnya. Dan tidak ada perbandingannya dengan keazalian dan keabadian dalam ukuran amal-amal yang terjadi padanya. Dan ia sedikit dibandingkan dengan keseluruhan waktu itu yang merupakan sangat sedikit dibandingkan dengan keseluruhan zaman yang merupakan sangat sedikit dibandingkan dengan mata keazalian.
Maka inilah yang paling dekat untuk dipahami dari perkataannya dengan kegelisahannya. Dan telah menimpanya padanya buruknya ungkapan. Dan seakan-akan ia melepaskan kehinaan padanya karena sedikitnya dan ringannya dibandingkan dengan keagungan Yang mewajibkan dengannya Mahasuci dan apa yang pantas bagi-Nya. Dan Allah Mahasuci lebih mengetahui.
Bab Kedudukan Kegembiraan
Bab Penyebutan Kegembiraan dalam Al-Quran
Fasal
Di antara tingkatan-tingkatan itu adalah kegembiraan (surur).
Penulis kitab Manazil berkata:
Bab kegembiraan. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)
Membuka bab ini dengan ayat ini sangatlah tepat. Karena Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan itu merupakan konsekuensi dari kegembiraan dan kebahagiaan dengan pemilik karunia dan rahmat tersebut. Karena orang yang bergembira dengan apa yang sampai kepadanya dari seorang dermawan yang mulia, yang berbuat baik dan berbakti, maka kegembiraannya dengan orang yang menyampaikan itu kepadanya lebih utama dan lebih layak.
Kami akan menyebutkan makna yang terkandung dalam ayat ini, kemudian kami akan menjelaskan perkataan penulis.
Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid, al-Hasan, dan lain-lain berkata: karunia Allah adalah Islam, dan rahmat-Nya adalah Al-Quran. Maka mereka menjadikan rahmat-Nya lebih khusus daripada karunia-Nya, karena karunia-Nya yang khusus itu umum bagi ahli Islam, sedangkan rahmat-Nya dengan pengajaran kitab-Nya untuk sebagian mereka tanpa sebagian yang lain. Maka Dia menjadikan mereka muslim dengan karunia-Nya, dan menurunkan kitab-Nya kepada mereka dengan rahmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan engkau tidak pernah mengharapkan bahwa kitab itu diturunkan kepadamu, tetapi (ia diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (al-Qashash: 86). Dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu berkata: karunia Allah adalah Al-Quran, dan rahmat-Nya adalah bahwa Dia menjadikan kami termasuk ahlinya.
Saya katakan: yang dimaksud dengan itu adalah bahwa di sini ada dua perkara.
Pertama: karunia pada dirinya sendiri. Kedua: kesiapan tempat untuk menerimanya, seperti hujan yang turun di tanah yang bisa menumbuhkan tumbuhan. Maka tujuan sempurna terwujud dengan karunia dan penerimaan tempat terhadapnya. Wallahu a’lam.
Dan kegembiraan (farah) adalah kenikmatan yang terjadi dalam hati karena meraih yang dicintai dan memperoleh yang diinginkan. Maka lahirlah dari meraihnya suatu keadaan yang dinamakan kegembiraan dan kebahagiaan. Sebagaimana kesedihan dan kedukaan timbul dari kehilangan yang dicintai. Jika ia kehilangan itu, maka lahirlah dari kehilangannya suatu keadaan yang dinamakan kesedihan dan kedukaan. Allah Subhanahu menyebutkan perintah untuk bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya setelah firman-Nya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57). Tidak ada sesuatu yang lebih layak untuk hamba bergembira dengannya daripada karunia Allah dan rahmat-Nya, yang mencakup pelajaran dan penyembuhan dada dari penyakit-penyakitnya dengan petunjuk dan rahmat. Maka Allah Subhanahu mengabarkan bahwa apa yang telah Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya berupa pelajaran—yaitu perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib, serta penyembuhan dada yang mencakup penyembuhannya dari penyakit kebodohan, kegelapan, kesesatan, dan kebodohan—dan itu lebih menyakitkan baginya daripada penyakit badan, tetapi karena ia terbiasa dengan penyakit-penyakit ini maka ia tidak merasakan sakitnya. Sesungguhnya rasa sakitnya hanya menguat ketika berpisah dari dunia. Maka di sana menghadirinya setiap yang menyakitkan dan menyedihkan. Dan apa yang diberikan Tuhannya kepadanya berupa petunjuk yang mencakup ketenteraman dada dengan keyakinan, ketenangan hati dengannya, ketenangan jiwa kepadanya, dan kehidupan ruh dengannya. Dan rahmat yang mendatangkan baginya semua kebaikan dan kenikmatan, serta menolak darinya semua kejahatan dan yang menyakitkan.
Maka itu lebih baik daripada semua yang dikumpulkan manusia dari kemegahan dunia dan perhiasannya. Artinya inilah yang seharusnya untuk digembirakannya. Dan barangsiapa bergembira dengannya maka sungguh ia telah bergembira dengan sebaik-baik yang digembirakannya. Bukan apa yang dikumpulkan ahli dunia darinya. Karena ia bukanlah tempat untuk kegembiraan. Sebab ia sasaran berbagai bencana, cepat lenyap, buruk akibatnya, dan ia adalah bayangan khayalan yang mengunjungi orang yang rindu dalam mimpi. Kemudian mimpi itu berlalu, bayangan itu pergi, dan kunjungannya meninggalkan perpisahan.
Dan kegembiraan telah disebutkan dalam Al-Quran dalam dua macam: mutlak dan muqayyad (terikat).
Yang mutlak: disebutkan dalam celaan. Seperti firman Allah Ta’ala: “Jangan bergembira. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” (al-Qashash: 76). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat gembira dan sangat membanggakan diri.” (Hud: 10).
Dan yang muqayyad (terikat): juga dua macam. Terikat dengan dunia yang melupakan pemiliknya akan karunia dan nikmat Allah. Maka itu tercela. Seperti firman-Nya: “Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am: 44).
Kedua: terikat dengan karunia Allah dan rahmat-Nya. Dan ini juga dua macam. Karunia dan rahmat dengan sebabnya, dan karunia dengan yang disebabkannya. Yang pertama: seperti firman-Nya: “Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58). Yang kedua: seperti firman-Nya: “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.” (Ali Imran: 170). Maka kegembiraan dengan Allah, dengan Rasul-Nya, dengan iman, dengan sunnah, dengan ilmu, dan dengan Al-Quran adalah termasuk tingkatan tertinggi para arif. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (at-Taubah: 124).
Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu.” (ar-Ra’d: 36).
Maka kegembiraan dengan ilmu, iman, dan sunnah adalah bukti akan pengagungannya di sisi pemiliknya, dan kecintaannya kepadanya, serta lebih mengutamakannya daripada yang lain. Karena kegembiraan hamba dengan sesuatu ketika ia memperolehnya: sesuai kadar kecintaannya kepadanya dan keinginannya padanya. Maka barangsiapa yang tidak memiliki keinginan pada sesuatu, maka ia tidak akan gembira dengan memperolehnya dan tidak akan sedih dengan luputnya.
Maka kegembiraan mengikuti kecintaan dan keinginan.
Dan perbedaan antara kegembiraan dengan kebahagiaan (istibsyar): bahwa kegembiraan dengan yang dicintai setelah memperolehnya, sedangkan kebahagiaan dengannya sebelum memperolehnya ketika ia yakin akan memperolehnya. Dan karena itulah Allah Ta’ala berfirman: “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan mereka berharap gembira (akan kedatangan) orang-orang yang belum menyusul mereka yang masih tinggal di belakang mereka.” (Ali Imran: 170).
Dan kegembiraan adalah sifat kesempurnaan, dan karena itulah Rabb Ta’ala disifati dengan jenis-jenisnya yang paling tinggi dan paling sempurna, seperti kegembiraan-Nya dengan taubat orang yang bertaubat yang lebih besar daripada kegembiraan orang yang menemukan kendaraannya yang di atasnya ada makanan dan minumannya di tanah yang membinasakan setelah kehilangannya dan berputus asa mendapatkannya.
Dan yang dimaksud: bahwa kegembiraan adalah jenis kenikmatan hati yang paling tinggi, kenikmatannya, dan kegembiraannya. Dan kegembiraan serta kebahagiaan adalah kenikmatannya, sedangkan kepedihan dan kesedihan adalah siksaannya. Dan kegembiraan dengan sesuatu di atas ridha dengannya. Karena ridha adalah ketenangan, ketentraman, dan kelapangan. Sedangkan kegembiraan adalah kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan. Maka setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tetapi tidak setiap orang yang ridha adalah gembira. Dan karena itulah kegembiraan adalah lawan kesedihan, dan ridha adalah lawan kemurkaan. Dan kesedihan menyakiti pemiliknya, sedangkan kemurkaan tidak menyakitinya kecuali jika disertai ketidakmampuan untuk membalas. Wallahu a’lam.
Fasal Batasan Kegembiraan
Fasal
Penulis kitab Manazil berkata:
Kegembiraan: adalah nama untuk kebahagiaan yang menyeluruh. Dan ia lebih jernih daripada kegembiraan (farah). Karena kegembiraan-kegembiraan kadang bercampur dengan kesedihan. Dan karena itulah Al-Quran turun dengan namanya dalam kegembiraan dunia di beberapa tempat. Dan kegembiraan (surur) disebutkan dalam dua tempat dalam Al-Quran dalam keadaan akhirat.
Surur dan masarrah adalah mashdar dari sarra, surur, dan masarrah. Dan seakan-akan makna sarra adalah: mempengaruhi garis-garis wajah. Karena darinya berkilauan garis-garis wajah. Sebagaimana dikatakan oleh penyair Arab:
Dan apabila engkau melihat garis-garis wajahnya Berkilau seperti kilatan awan yang menyinari
Dan ini seperti dikatakan: ra’asahu (dia mengenai kepalanya); jika dia mengenai kepalanya, dan bathanahu dan dzhaharahu; jika dia mengenai perutnya dan punggungnya, dan ammahu; jika dia mengenai ubun-ubunnya.
Adapun istibsyar (kebahagiaan): adalah isti’fal dari kabar gembira. Dan kabar gembira adalah berita pertama yang benar lagi menggembirakan.
Dan “kabar gembira” dimaksudkan dengannya dua perkara. Pertama: kabar gembira dari pemberi kabar. Kedua: kegembiraan yang diberi kabar. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi mereka kabar gembira di kehidupan dunia dan di akhirat.” (Yunus: 64). Maka kabar gembira ditafsirkan dengan ini dan itu. Dalam hadits Ubadah bin Shamit dan Abu ad-Darda radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Itu adalah mimpi saleh yang dilihat oleh seorang muslim, atau dilihat untuknya.”
Dan Ibnu Abbas berkata: kabar gembira kehidupan dunia adalah: pada saat kematian datang kepada mereka malaikat rahmat dengan kabar gembira dari Allah, dan di akhirat: pada saat keluarnya jiwa mukmin ketika keluar, mereka naik dengannya kepada Allah, diiringi seperti pengantin wanita diiringi, diberi kabar gembira dengan ridha Allah.
Dan al-Hasan berkata: itu adalah surga. Dan ini dipilih oleh az-Zajjaj dan al-Farra. Dan kabar gembira dunia ditafsirkan dengan pujian yang baik, yang berjalan untuknya di lisan manusia. Dan semua itu benar.
Maka pujian: termasuk kabar gembira, dan mimpi saleh termasuk kabar gembira, dan kabar gembira malaikat baginya saat kematian termasuk kabar gembira. Dan surga termasuk kabar gembira yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (al-Baqarah: 25). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fushshilat: 30).
Dikatakan: dan dinamakan demikian karena ia mempengaruhi kulit wajah. Dan karena itulah ia menjadi dua macam: kabar gembira yang menggembirakan mempengaruhi padanya kecerahan dan kebahagiaan, dan kabar gembira yang menyedihkan mempengaruhi padanya kerutan dan cemberut. Tetapi jika disebutkan secara mutlak maka untuk kegembiraan. Dan jika dibatasi maka sesuai dengan apa yang membatasinya.
Perkataannya “dan ia lebih jernih daripada kegembiraan (farah)” dan ia berdalil dengan itu bahwa kegembiraan-kegembiraan kadang bercampur dengan kesedihan, artinya kadang tercampur dengan lawannya. Berbeda dengan kegembiraan (surur).
Maka dikatakan: dan kebahagiaan-kebahagiaan kadang bercampur dengan penderitaan dan kesedihan, maka tidak ada perbedaan.
Perkataannya: dan karena itulah Al-Quran turun dengan namanya dalam kegembiraan dunia di beberapa tempat.
Yang dimaksud: bahwa Allah Ta’ala menisbahkan kegembiraan kepada keadaan dunia dalam firman-Nya: “Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba.” (al-An’am: 44). Dan dalam firman-Nya: “Jangan bergembira. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” (al-Qashash: 76). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat gembira dan sangat membanggakan diri.” (Hud: 10). Karena dunia tidak pernah murni kegembiraannya dari kesedihan dan kedukitaannya sama sekali. Bahkan tidak ada kegembiraan kecuali bersamanya ada kedukaan yang mendahului, atau menyertai, atau mengikuti. Dan kegembiraan tidak berdiri sendiri, bahkan pasti ada kedukaan yang menyertainya. Tetapi kadang kegembiraan menguat atas kesedihan sehingga hilang hukumnya dan sakitnya meskipun tetap ada. Dan sebaliknya.
Maka dikatakan: dan sungguh Al-Quran juga turun dengan kegembiraan (farah) dalam urusan akhirat di beberapa tempat, seperti firman Allah Ta’ala: “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.” (Ali Imran: 170). Dan firman-Nya: “Hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (Yunus: 58). Maka tidak ada perbedaan antara keduanya dari segi ini yang disebutkannya.
Perkataannya: dan nama kegembiraan (surur) disebutkan dalam Al-Quran di dua tempat dalam keadaan akhirat.
Yang dimaksud dengan keduanya: firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” (al-Insyiqaq: 7-9). Dan tempat kedua: firman-Nya: “Dan Allah memberikan kepada mereka kecerahan (wajah) dan kegembiraan.” (al-Insan: 11).
Maka dikatakan: dan kegembiraan (surur) disebutkan dalam keadaan dunia di satu tempat secara celaan, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan menyeru kebinasaan, dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di tengah keluarganya.” (al-Insyiqaq: 10-13).
Maka engkau telah melihat penyebutan masing-masing dari kegembiraan (farah) dan kegembiraan (surur) dalam Al-Quran berkaitan dengan keadaan dunia dan keadaan akhirat. Maka tidak tampak apa yang disebutkannya dari keutamaan.
Bahkan dapat dikatakan: keutamaan untuk kegembiraan (farah): karena Rabb Tabaraka wa Ta’ala disifati dengannya, dan nama itu digunakan untuk-Nya tanpa kegembiraan (surur), maka itu menunjukkan bahwa maknanya lebih sempurna dari makna kegembiraan (surur). Dan Allah memerintahkan dengannya dalam firman-Nya: “Hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (Yunus: 58). Dan memuji orang-orang yang bahagia dengannya dalam firman-Nya: “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.” (Ali Imran: 170).
Adapun firman-Nya: “Dan Allah memberikan kepada mereka kecerahan (wajah) dan kegembiraan.” (al-Insan: 11). Dan firman-Nya: “Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” (al-Insyiqaq: 9). Maka beralih kepada lafazh kegembiraan (surur) karena keselarasan akhir ayat. Dan seandainya ia memberi judul bab dengan bab kegembiraan (farah), tentu lebih sesuai dengan ayat yang dijadikan dalil. Dan masalah itu dekat. Maka yang dimaksud adalah perkara di balik itu.
Tingkatan-Tingkatan Kegembiraan
Tingkatan Pertama: Kegembiraan Merasakan
Ia berkata: Dan ia dalam bab ini: pada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kegembiraan merasakan. Hilang dengan tiga kesedihan: kesedihan yang diwariskan karena takut terputus. Dan kesedihan yang menyerangnya karena kegelapan kebodohan. Dan kesedihan yang dibangkitkan oleh kesepian perpisahan.
Kegembiraan adalah lawan kesedihan. Dan kesedihan tidak menyertainya: maka ia menghilangkannya. Dan ketika sebabnya adalah merasakan sesuatu yang menggembirakan, maka semakin sempurna merasakan itu: semakin sempurna kegembiraan dengannya.
Dan kegembiraan ini menghilangkan tiga kesedihan.
Kesedihan pertama: kesedihan yang diwariskan karena takut terputus. Dan ini adalah kesedihan orang-orang yang tertinggal dari rombongan para pencinta, dan rombongan kecintaan. Maka ahli keterputusan adalah orang-orang yang tertinggal dari persahabatan rombongan ini dan rombongan ini. Dan mereka adalah orang-orang yang “Allah membenci keberangkatan mereka, lalu Allah melemahkan semangat mereka dan dikatakan (kepada mereka): ‘Tinggallah bersama orang-orang yang tinggal.'” (at-Taubah: 46). Maka Dia melemahkan tekad dan semangat mereka untuk berjalan kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Dan Dia memerintahkan hati mereka dengan perintah takdiri: agar duduk bersama orang-orang yang duduk yang tertinggal dari berjalan kepada kecintaan-Nya. Maka seandainya hati mereka menyaksikan—ketika diperintahkan untuk duduk dari menemani rombongan, dan telah digenangi kerisauan, dan awan bala diikatkan padanya, maka ia menghadirkan setiap kesedihan dan kedukaan, dan ombak kegelisahan dan penyesalan saling melemparnya, dan telah hilang darinya kegembiraan-kegembiraan, dan kesedihan-kesedihan menggantikannya—tentu ia akan mengetahui bahwa orang-orang saleh di dunia ini dalam kenikmatan, dan bahwa orang-orang yang tertinggal dari persahabatan mereka dalam neraka.
Dan kesedihan ini dihilangkan dengan merasakan rasa iman. Maka ash-shiddiq merasakan rasa janji yang dijanjikan kepadanya melalui lisan Rasul. Maka tidak mengikatnya persangkaan, tidak memutuskannya harapan, dan tidak menghalanginya angan-angan—sebagaimana telah dijelaskan—maka hatinya menyentuh hakikat firman Allah Ta’ala: “Maka apakah orang yang telah Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik lalu dia akan mendapatkannya, sama dengan orang yang telah Kami beri kenikmatan kehidupan dunia, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang dihadapkan (ke neraka)?” (al-Qashash: 61). Dan firman-Nya: “Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (Fathir: 5). Dan firman-Nya: “Dan persiapkanlah untuk diri kalian dan bertakwalah kepada Allah—dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya—dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 223). Dan ayat-ayat semacam ini.
Perkataannya: dan kesedihan yang menyerangnya karena kegelapan kebodohan.
Dan ini adalah kesedihan kedua yang dihilangkan oleh kegembiraan merasakan, yaitu kesedihan kegelapan kebodohan.
Dan kebodohan dua macam: kebodohan ilmu dan pengetahuan—dan inilah yang dimaksud syaikh di sini—dan kebodohan amal dan kesesatan. Dan keduanya memiliki kegelapan dan kesepian dalam hati, dan sebagaimana ilmu mendatangkan cahaya dan ketenangan, maka lawannya mendatangkan kegelapan dan menimbulkan kesepian. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menamakan ilmu yang diutus kepada Rasul-Nya dengan cahaya, petunjuk, dan kehidupan. Dan menamakan lawannya: kegelapan, kematian, dan kesesatan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya—dan orang-orang yang kafir, pelindung mereka adalah thaghut; mereka mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.” (al-Baqarah: 257). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengannya dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (al-An’am: 122)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Surah Al-Ma’idah: 15-16)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (Surah An-Nisa’: 174)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surah Al-A’raf: 157)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Surah Asy-Syura: 52)
Maka Allah menjadikannya ruh karena dengannya terjadi kehidupan hati dan jiwa-jiwa, dan cahaya karena dengannya terjadi petunjuk dan bimbingan yang benar.
Dan perumpamaan cahaya ini dalam hati orang mukmin: “Seperti relung yang di dalamnya ada pelita – pelita itu dalam kaca – kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya – yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api – cahaya di atas cahaya – Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (Surah An-Nur: 35)
Dan perumpamaan keadaan orang yang kehilangan cahaya ini: “Dalam kegelapan di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; kegelapan yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah maka sekali-kali dia tidak akan mendapat cahaya.” (Surah An-Nur: 40)
Kesedihan ketiga: kesedihan yang membangkitkan kegelisahan perpisahan. Yaitu terpisahnya perhatian dan hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perpisahan ini menimbulkan kesedihan yang menyakitkan karena hilangnya keadaan hati yang terkumpul pada Allah serta kelezatan dan kenikmatan yang ditimbulkannya. Seandainya seluruh kelezatan penduduk dunia terkumpul pada seseorang, maka kelezatan itu tidak ada bandingannya dengan kelezatan hatinya yang terkumpul pada Allah, kegembiraannya dengan-Nya, keakraban dengan kedekatan-Nya, dan kerinduannya untuk bertemu dengan-Nya. Ini adalah perkara yang tidak akan dipercaya kecuali oleh orang yang merasakannya. Maka hanya akan membenarkanmu orang yang memancar dalam dirinya apa yang memancar dalam dirimu. Sungguh indah kata penyair:
Wahai dua temanku, tidakkah kau lihat api mereka… Dia berkata: Engkau memperlihatkan kepadaku apa yang tidak kulihat Kerinduan telah memberimu minum dan tidak memberiku minum… Maka engkau melihat apa yang tidak pernah kulihat
Seandainya dalam perpisahan yang disebutkan itu tidak ada kecuali rasa sakit kegelisahan, penderitaan ketercerai-beraian, dan debu keresahan, maka itu sudah cukup sebagai hukuman. Bagaimana lagi, sedangkan hukuman paling ringannya adalah: diuji dengan menemani orang-orang yang terputus dan bergaul dengan mereka serta melayani mereka. Maka waktu-waktunya – yang merupakan bahan hidupnya – dan tidak ada nilai baginya, tersita habis untuk mengurus keperluan mereka dan mencapai tujuan-tujuan mereka. Ini adalah hukuman bagi hati yang telah merasakan manisnya menghadap kepada Allah, terkumpul pada-Nya dan akrab dengan-Nya, kemudian dia lebih mengutamakan selain-Nya daripada itu, dan rela dengan jalan sesamanya dan apa yang mereka jalani. Barangsiapa yang memiliki sedikit kehidupan dalam hatinya dan cahaya, maka hatinya akan meminta pertolongan dari kegelisahan perpisahan ini, sebagaimana wanita hamil meminta pertolongan ketika melahirkan.
Maka dalam hati ada keresahan yang tidak dapat dikumpulkan kecuali dengan menghadap kepada Allah. Dan di dalamnya ada kegelisahan yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan keakraban dengan-Nya dalam kesendirian.
Dan di dalamnya ada kesedihan yang tidak dapat dihilangkannya kecuali kegembiraan dengan mengenal-Nya dan benar dalam bermuamalah dengan-Nya.
Dan di dalamnya ada kegelisahan yang tidak dapat menenangkannya kecuali berkumpul pada-Nya dan lari dari-Nya kepada-Nya.
Dan di dalamnya ada api-api penyesalan yang tidak dapat memadamkannya kecuali ridha dengan perintah, larangan, dan takdir-Nya, serta memeluk kesabaran atas semua itu hingga waktu berjumpa dengan-Nya.
Dan di dalamnya ada permintaan yang kuat yang tidak akan berhenti kecuali Dia sendiri yang menjadi yang dituju.
Dan di dalamnya ada kefakiran yang tidak dapat ditutupnya kecuali dengan mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, terus-menerus mengingat-Nya, dan ikhlas yang benar kepada-Nya. Seandainya diberi dunia dan seisinya, maka itu tidak akan pernah menutup kefakiran darinya.
Maka perpisahan menimbulkan kegelisahan hijab (penghalang). Dan rasa sakitnya lebih keras daripada rasa sakit azab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk neraka yang menyala-nyala.” (Surah Al-Muthaffifin: 15-16)
Maka terkumpul pada mereka azab hijab dan azab neraka.
Dan “rasa” yang menghilangkan kegelisahan perpisahan ini adalah rasa yang disebutkan oleh syaikh dalam perkataannya: rasa kehendak adalah rasa keakraban. Maka tidak ada yang menyibukkannya. Tidak ada yang merusaknya. Dan tidak dikotorinya oleh perpisahan.
Fasal: Tingkatan Kedua – Kegembiraan Penyaksian
Fasal
Syaikh berkata: Tingkatan kedua: kegembiraan penyaksian. Tersingkapnya hijab ilmu, terlepasnya belenggu taklif (beban kewajiban), dan hilangnya kehinaan ikhtiyar (pilihan).
Maksudnya: bahwa ilmu adalah hijab atas makrifat (pengenalan mendalam). Maka penyaksian tersingkapnya hijab itu sehingga hati sampai kepada makrifat: menimbulkan kegembiraan.
Dan “ilmu” menurut kelompok ini adalah istidlal (pengambilan dalil). Sedangkan makrifat bersifat dharuriyyah (pasti). Maka ilmu: miliknya adalah berita. Dan makrifat: miliknya adalah penyaksian langsung. Maka ilmu menurut mereka adalah hijab atas makrifat, meskipun tidak bisa sampai kepadanya kecuali dengan ilmu. Dan ilmu baginya seperti wadah pelindung bagi apa yang ada di bawahnya, maka ia adalah hijab atasnya. Dan tidak bisa sampai kepadanya kecuali darinya.
Perumpamaan ini: bahwa jika engkau melihat di tengah-tengah salju sebuah lubang yang kosong, maka engkau menyimpulkan dengannya bahwa di bawahnya ada hewan yang bernapas. Maka ini adalah ilmu. Jika engkau menggalinya dan menyaksikan hewan itu, maka ini adalah makrifat.
Perkataannya “dan terlepasnya belenggu taklif” adalah ungkapan yang goyah, tidak tepat. Dan “belenggu taklif” tidak terlepas hingga kematian. Dan setiap kali hamba maju satu tingkatan, dia menyaksikan dari belenggu taklif-nya apa yang tidak dia saksikan sebelumnya. Maka belenggu taklif adalah perkara yang melekat pada mukallaf (orang yang dibebani syariat) selama dia berada di dunia ini.
Dan yang tepat untuk perkataannya: bahwa kegembiraan dengan rasa – yang dia isyaratkan – memerdekakan hamba dari belenggu taklif, sehingga dia tidak menganggapnya sebagai taklif. Bahkan ketaatan-ketaatan menjadi makanan bagi hatinya, kegembiraan baginya, penyejuk mata baginya, dan kenikmatan bagi jiwanya. Dia merasakan kelezatan dengannya dan menikmati melakukannya lebih besar daripada kenikmatan makan, minum, dan kelezatan-kelezatan jasmaniah. Karena kelezatan-kelezatan ruhaniah dan hati lebih kuat dan lebih sempurna daripada kelezatan-kelezatan jasmaniah. Maka dia tidak menemukan dalam wirid-wirid ibadah ada kepayahan. Dan tidak menjadi taklif baginya. Karena apa yang dilakukan oleh kekasih yang benar dan dia datangkan dalam melayani kekasihnya adalah hal yang paling menggembirakan dan paling nikmat baginya. Dan dia tidak melihat itu sebagai taklif, karena dalam taklif ada kewajiban bagi mukallaf dengan apa yang di dalamnya ada kepayahan dan kesulitan baginya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya: wasiat, janji, nasihat, dan rahmat, dan tidak melepaskan nama taklif kecuali dalam sisi penafian seperti firman-Nya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Surah Al-Baqarah: 286)
Dan jatuhnya kata kesanggupan setelah pengecualian dari taklif tidak mengharuskan jatuhnya nama atasnya secara mutlak. Maka ini adalah yang paling dekat untuk ditakwilkan perkataannya.
Meskipun demikian, bagi orang yang sesat di sini ada ruang. Yaitu bahwa keadaan ini hanya untuk orang-orang yang ibadah mereka berpindah dari lahir mereka ke batin mereka. Maka berpindahlah hukum wirid-wirid mereka kepada waridah-waridah (hal-hal yang datang ke hati). Maka mereka tidak memerlukan lagi wirid dengan waridah, tidak memerlukan hakikat dengan rasm (bentuk lahir), dan tidak memerlukan makna dengan bentuk. Maka mereka terbebas dari belenggu taklif yang khusus dengan ilmu, dan berdiri dengan hakikat yang dituntut oleh hukum. Dan demikianlah lafadz-lafadz yang global menjadi sasaran orang yang benar dan orang yang batil.
Perkataannya: “dan hilangnya kehinaan ikhtiyar” – maksudnya: bahwa hamba ketika masih terikat dengan pilihan-pilihannya, terkurung dalam penjara keinginan-keinginannya, maka dia dalam kehinaan dan kerendahan. Jika dia sampai ke tingkatan ini, maka hilang darinya kehinaan ikhtiyar. Dan dia menjadi termasuk golongan orang-orang yang merdeka.
Betapa baiknya penghambaan yang menimbulkan kemerdekaan, dan kemerdekaan yang menyempurnakan penghambaan.
Maka dia menjadi berdiri dengan apa yang Allah pilihkan untuknya, bukan dengan apa yang dia pilih untuk dirinya sendiri. Bahkan dia menjadi bersama Allah pada kedudukan orang yang tidak memiliki pilihan sama sekali. Maka barangsiapa yang terhalang dengan ilmu dari makrifat, maka pilihan-pilihannya menariknya dan dia menariknya, maka dia bersamanya dalam kehinaan dan kerendahan. Dan ketika dia sampai kepada makrifat dan tersingkap baginya hijabnya, dia menyaksikan bencana sebagai kenikmatan, pencegahan sebagai pemberian, kehinaan sebagai kemuliaan, dan kefakiran sebagai kekayaan. Maka batinnya tunduk kepada hukum-hukum makrifat, dan lahirnya kepada hukum-hukum ilmu.
Meskipun demikian, bagi orang yang sesat di sini ada ruang yang dia dan kelompoknya telah berkelana di dalamnya. Dia berkata: ini mengharuskan ketundukan kepada hukum-hukum makrifat, dan terbebas serta beristirahat dari hukum-hukum ilmu. Dan telah dikatakan: bahwa orang alim memberimu minum cuka dan sawi. Dan orang arif mencekaumu dengan minyak kasturi dan kapur barus.
Dikatakan: dan makna ini: bahwa engkau bersama orang alim dalam kelelahan. Dan bersama orang arif dalam istirahat. Karena orang arif memberi uzur (alasan) kepada alam dan makhluk. Dan orang alim mencela. Dan telah dikatakan: barangsiapa yang melihat kepada manusia dengan mata ilmu, maka dia membenci mereka. Dan barangsiapa yang melihat kepada mereka dengan mata hakikat, maka dia memberi mereka uzur.
Maka lihatlah apa yang terkandung dalam perkataan ini yang sentuhannya lembut namun racunnya mematikan, yaitu: terlepas dari agama, mengklaim istirahat dari hukum penghambaan, dan mencari-cari uzur untuk Yahudi, Nasrani, penyembah berhala, orang-orang zalim, dan orang-orang fasik, dan bahwa hukum-hukum perintah dan larangan yang datang melalui lisan para rasul bagi hati-hati seperti obat tetes cuka dan sawi, dan bahwa penyaksian hakikat kauniyah yang meliputi makhluk-makhluk, berdiri dengannya, dan tunduk kepada hukumnya seperti mencium minyak kasturi dan kapur barus.
Maka bergembiralah orang-orang kafir, orang-orang fasik, dan orang-orang yang bermaksiat dengan mencium minyak kasturi dan kapur barus ini, jika mereka menyaksikan hakikat ini dan tunduk kepada hukumnya.
Dan betapa menyedihkannya orang-orang yang shalih yang menghukum dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena banyaknya mereka diobati dengan cuka dan sawi.
Maka perkataannya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ini boleh dan ini tidak boleh. Dan ini halal dan ini haram. Dan ini meridhai Allah dan ini memurkai-Nya” adalah cuka dan sawi menurut orang-orang yang sesat ini. Kalau tidak, maka hakikat menunjukkan kepadamu perkara yang bertentangan dengan itu. Dan karena itu jika engkau melihat – menurut mereka – kepada makhluk dengan mata hakikat, maka engkau memberi uzur kepada semuanya. Maka engkau memberi uzur kepada orang yang Allah dan Rasul-Nya mengancamnya dengan ancaman yang sangat keras dan mengancamnya dengan ancaman yang sangat besar. Sungguh mengherankan! Jika mereka diberi uzur dalam hakikat, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiksa orang yang diberi uzur dan memberinya azab yang sangat keras? Mengapa Yang Maha Kaya lagi Maha Penyayang tidak lebih pantas memberi uzur daripada orang-orang ini?
Benar. Orang alim yang penuh nasihat mencela dengan perintah Allah. Dan orang arif yang benar merahmati dengan takdir Allah. Dan tidak bertentangan pada sisinya celaan dan rahmat. Dan termasuk rahmatnya adalah menghukum orang yang Allah perintahkan untuk menghukumnya. Maka itu adalah rahmat untuknya dan untuk umat. Dan meninggalkan hukumannya adalah tambahan pada gangguannya dan gangguan orang lain. Dan engkau bersama orang alim dalam kelelahan yang berakibat pada semua istirahat, dan bersama orang arif dari orang-orang sesat yang menyimpang ini: dalam istirahat khayalan yang berakibat pada semua kelelahan, kekecewaan, dan rasa sakit, sebagaimana Imam Ahmad menyebutkan dalam Kitab Az-Zuhd: bahwa Al-Masih ‘alaihissalam berkata: “Sesuai kadar kalian bersusah payah di sini, kalian akan beristirahat di sana. Dan sesuai kadar kalian beristirahat di sini, kalian akan bersusah payah di sana.”
Maka ilmu memperingatkanmu dan mencegahmu berhenti hingga engkau mencapai tempat aman. Dan orang arif dari orang-orang yang sesat mengkhayalkanmu istirahat dari susah payahnya perjalanan dan biaya safar, hingga engkau diambil di jalan.
Fasal: Tingkatan Ketiga – Kegembiraan Mendengar Ijabah (Respons)
Fasal
Syaikh berkata: Tingkatan ketiga: kegembiraan mendengar ijabah. Yaitu kegembiraan yang menghapus bekas-bekas kegelisahan, mengetuk pintu musyahadah (penyaksian), dan membuat ruh tertawa.
Syaikh mengkhususkan pendengaran dengan menjadi pendengaran ijabah. Karena itulah pendengaran yang bermanfaat, bukan sekadar pendengaran persepsi. Karena itu bersama antara orang yang merespons dan orang yang berpaling. Dan dengannya tegaklah hujjah dan terputuslah uzur. Dan karena itu Allah berfirman tentang musuh-musuh-Nya: “Kami mendengar, dan kami durhaka.” (Surah Al-Baqarah: 93)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang Yahudi yang bertanya kepadanya tentang perkara-perkara gaib: “Apakah bermanfaat bagimu jika aku menceritakannya kepadamu?” Dia berkata: “Aku mendengar dengan telingaku.”
Adapun pendengaran ijabah: adalah seperti dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Dan di antara kalian ada orang-orang yang mendengarkan kepada mereka.” (Surah At-Taubah: 47) yaitu merespons kepada mereka. Dan dalam firman-Nya: “Mereka sangat suka mendengarkan kebohongan.” (Surah Al-Ma’idah: 41) yaitu merespons kepadanya. Dan itulah yang dimaksud. Dan inilah yang dimaksud dengan perkataan orang yang shalat: “Sami’allahu liman hamidah” yaitu Allah merespons pujian orang yang memuji-Nya. Dan itulah pendengaran yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nafikan dari orang yang Dia tidak menginginkan kebaikan baginya dalam firman-Nya: “Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Dia membuat mereka dapat mendengar.” (Surah Al-Anfal: 23) yaitu menjadikan mereka mendengar dengan pendengaran ijabah dan ketundukan. Dan dikatakan: maknanya membuat mereka paham. Dan atas dasar ini, maknanya membuat hati mereka mendengar. Karena pendengaran hati mencakup pemahaman.
Dan yang tepat: bahwa kedua perkara ini dimaksudkan. Maka seandainya Dia mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Dia membuat mereka memahami dan menjadikan mereka merespons apa yang mereka dengar dan pahami.
Dan yang dimaksud: bahwa pendengaran ijabah adalah pendengaran ketundukan hati, ruh, dan anggota badan terhadap apa yang kedua telinga dengar.
Perkataannya: “dan menghapus bekas-bekas kegelisahan” – maksudnya: menghilangkan sisa-sisa kegelisahan yang penyebabnya adalah meninggalkan ketundukan yang sempurna. Karena sesuai kadar hilangnya itu, kegelisahan akan terjadi. Dan hilangnya hanya dengan ketundukan yang sempurna.
Dan juga: karena masih ada bekas-bekas pada ahli tingkatan kedua. Dan mereka adalah ahli tersingkapnya hijab ilmu. Karena mereka jika tersingkap dari mereka hijab ilmu dan sampai kepada makrifat, maka masih ada sisa-sisa dari bekas-bekas hijab pada mereka. Jika mereka mencapai tingkatan ini, maka hilang dari mereka sisa-sisa tersebut.
Dan bisa diarahkan perkataannya pada makna lain, yaitu: bahwa jika dia berdoa kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala, lalu Tuhannya mendengar doanya dengan pendengaran ijabah dan memberinya apa yang dia minta, sesuai keinginan dan permintaannya, atau memberinya yang lebih baik darinya, maka dia mendapat kegembiraan yang menghapus dari hatinya bekas-bekas kegelisahan kejauhan yang dia rasakan. Karena pemberian dan ijabah memiliki kegembiraan, keakraban, dan manisnya. Dan penolakan memiliki kegelisahan dan kepahitan. Jika berulang darinya doa dan berulang dari Tuhannya pendengaran dan ijabah untuk doanya, maka terhapuslah dari dia bekas-bekas kegelisahan dan digantikan dengannya keakraban dan manisnya.
Perkataannya: “dan mengetuk pintu musyahadah”.
Maksudnya – wallahu a’lam – penyaksian kehadiran kumpulan yang para salik bersungguh-sungguh kepadanya menurut pandangannya. Kalau tidak, maka penyaksian keutamaan dan nikmat sudah terjadi pada dua tingkatan pertama. Dan yang menyaksikan itu berpindah kepada yang lebih tinggi darinya, yaitu penyaksian kehadiran yang disebutkan.
Perkataannya: “dan membuat ruh tertawa” – maksudnya: bahwa pendengaran ijabah membuat ruh tertawa karena kegembiraannya dengan apa yang dia peroleh dari pendengaran itu. Dan mengkhususkan ruh dengan tertawa adalah untuk mengeluarkan dengannya kegembiraan yang membuat jiwa, akal, dan hati tertawa. Karena itu terjadi sebelum terangkatnya hijab yang dia isyaratkan, karena tempatnya adalah jiwa. Jika terangkat dan penyaksian menghapus jejak jiwa sama sekali, maka persepsi pada saat itu adalah dengan ruh. Maka dia membuatnya tertawa dengan kegembiraan.
Hal ini dibangun atas kaidah-kaidah kaum sufi dalam perbedaan antara hukum nafs (jiwa), qalb (hati), dan ruh (roh).
“Fath” (pembukaan) menurut mereka ada dua macam: fath qalbi (pembukaan hati) dan fath ruhi (pembukaan rohani). Fath qalbi mengumpulkannya kepada Allah dan merapikan kekelihannya, sedangkan fath ruhi membuatnya kaya dari-Nya, menelanjanginya dari-Nya, dan hanya dengan pertolongan Allah-lah taufik diperoleh.
HAKIKAT RAHASIA
Pasal
Di antaranya adalah tingkatan rahasia.
Penulis kitab Al-Manazil berkata:
Bab rahasia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam diri mereka” (Surat Hud: 31). Pemilik rahasia adalah mereka yang tersembunyi yang disebutkan dalam hadits.
Adapun pengambilan dalil penulis dengan ayat tersebut, maka maknanya: bahwa para pengikut Rasul yang membenarkan mereka dan mengutamakan Allah serta akhirat di atas kaum dan sahabat mereka, Allah telah menitipkan ke dalam hati mereka rahasia dari rahasia-rahasia makrifat-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan keimanan kepada-Nya, yang tersembunyi dari musuh-musuh para Rasul. Mereka hanya melihat kepada penampilan lahiriah mereka dan buta dari batin mereka, lalu meremehkan dan menghina mereka, kemudian berkata kepada Rasul: usir orang-orang ini dari sisimu agar kami datang kepadamu dan mendengar darimu. Mereka berkata: “Apakah mereka ini yang diberi karunia Allah di antara kita?” (Surat Al-An’am: 53). Maka Nuh alaihis salam berkata kepada kaumnya: “Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai gudang-gudang (harta) Allah dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa aku seorang malaikat, dan tidak (pula) aku mengatakan terhadap orang-orang yang dipandang hina oleh matamu bahwa Allah sekali-kali tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku jika demikian benar-benar termasuk orang-orang yang zalim” (Surat Hud: 31).
Az-Zajjaj berkata: maknanya adalah jika kalian mengira bahwa mereka mengikutiku hanya pada pendapat dan penampilan lahir, maka bukan kewajibanku untuk mengetahui apa yang ada dalam diri mereka. Jika aku melihat orang yang mengesakan Allah, aku beramal berdasarkan yang lahir darinya dan menyerahkan ilmu tentang apa yang ada dalam jiwa mereka kepada Allah. Ini adalah makna yang baik.
Yang tampak dari ayat tersebut adalah: bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam diri mereka, karena Dia telah memilih mereka untuk menerima agama-Nya, tauhid-Nya, dan membenarkan rasul-rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, menempatkan pemberian pada tempat-tempatnya. Ayat ini seperti firman-Nya: “Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain agar mereka berkata: ‘Apakah mereka ini di antara kita yang diberi karunia Allah kepada mereka?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (Surat Al-An’am: 53). Mereka mengingkari bahwa Allah Subhanahu memilih mereka untuk mendapat hidayah dan kebenaran, dan merampasnya dari para pemimpin kafir dan orang-orang yang memiliki kehormatan serta kekayaan di antara mereka, seolah-olah mereka mengambil dalil dari pemberian dunia atas pemberian akhirat. Maka Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia lebih mengetahui siapa yang layak untuk itu karena ada rahasia pada-Nya: berupa pengetahuan tentang kadar nikmat, melihatnya semata dari anugerah Pemberi nikmat, kecintaan kepada-Nya dan bersyukur atas nikmat itu. Tidak setiap orang memiliki rahasia ini, maka tidak setiap orang layak untuk pemberian ini.
Perkataan penulis: Pemilik rahasia adalah mereka yang tersembunyi yang disebutkan dalam hadits.
Mungkin yang dimaksud adalah hadits Sa’d bin Abi Waqqash ketika anaknya berkata kepadanya: kamu di sini sementara orang-orang berebut kekuasaan? Maka ia berkata: sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya (hatinya), dan tersembunyi”.
Atau mungkin yang dimaksud adalah sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Banyak orang yang berambut kusut berdebu, ditolak di pintu-pintu, tidak dihiraukan, tetapi jika ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah mengabulkannya”. Dan sabdanya dalam hadits lain ketika “seorang laki-laki lewat, lalu beliau bertanya: Apa pendapat kalian tentang orang ini? Mereka menjawab: Orang ini layak jika ia memberi syafaat akan dikabulkan, jika melamar akan diterima, dan jika ia berkata akan didengar perkataannya. Kemudian lewat orang lain, lalu beliau bertanya: Apa pendapat kalian tentang orang ini? Mereka menjawab: Orang ini layak jika ia memberi syafaat tidak dikabulkan, jika melamar tidak diterima, dan jika ia berkata tidak akan didengar perkataannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang ini lebih baik daripada sepenuh bumi dari orang seperti yang pertama”.
Pasal Pemilik Rahasia Ada Tiga Golongan
Golongan Pertama: Kelompok Yang Tinggi Cita-Citanya Dan Murni Tujuannya
Pasal
Penulis berkata: Mereka terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama: kelompok yang tinggi cita-citanya, murni tujuan mereka, dan benar perjalanan mereka. Tidak ada yang dapat berdiri pada jejak mereka, tidak dinisbahkan kepada nama tertentu, dan tidak ditunjuk dengan jari-jari. Mereka adalah simpanan Allah di mana pun mereka berada.
Penulis menyebutkan tiga sifat positif dan tiga sifat negatif bagi mereka.
Pertama: tingginya cita-cita mereka. Cita-cita yang tinggi adalah tidak berhenti kecuali pada Allah, tidak mengganti-Nya dengan sesuatu selain-Nya, tidak ridha dengan selain-Nya sebagai pengganti-Nya, dan tidak menjual bagiannya dari Allah, kedekatan dengan-Nya, ketenangan bersama-Nya, kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan karena-Nya dengan sesuatu dari keinginan-keinginan hina yang fana. Cita-cita yang tinggi di atas cita-cita lainnya seperti burung yang tinggi terbangnya di atas burung-burung lain; ia tidak ridha dengan tempat jatuh mereka dan tidak terkena bahaya-bahaya yang menimpa mereka, karena cita-cita semakin tinggi semakin jauh dari jangkauan bahaya.
Semakin rendah cita-cita, bahaya-bahaya menyerangnya dari segala penjuru, karena bahaya-bahaya adalah penghalang dan penarik, dan ia tidak naik ke tempat yang tinggi untuk menarik dari sana, tetapi hanya menarik dari tempat yang rendah. Tingginya cita-cita seseorang adalah tanda keberhasilannya, dan rendahnya cita-citanya adalah tanda kehilangannya.
Tanda kedua: kemurnian tujuan, yaitu kebersihannya dari kotoran-kotoran yang menghalanginya dari tujuannya. Kemurnian tujuan adalah memurnikannya untuk mencari yang dituju karena dirinya bukan karena yang lain. Ini adalah dua bahaya dalam tujuan: pertama, tidak murni untuk yang ditujunya; kedua, mencarinya karena yang lain bukan karena dirinya.
Kemurnian tujuan dimaksudkan dengan tekad yang kuat untuk menceburkan diri ke dalam lautan fana menurut Syaikh dan orang yang sependapat dengannya bahwa fana adalah tujuan akhir.
Dan dimaksudkan dengannya: kemurnian tujuan dari setiap kehendak yang berbenturan dengan kehendak Tuhan, bahkan tujuan menjadi murni untuk kehendak-Nya yang bersifat agama dan perintah. Ini adalah jalan orang yang menjadikan tujuan akhir adalah fana dari kehendak selain Allah, dan tandanya adalah masuknya bagian hamba dalam hak Tuhan atasnya, sehingga bagiannya menjadi sama dengan hak Tuhannya atasnya. Tidak tersembunyi bagi orang yang berwawasan dan jujur tingginya tingkatan ini dan keutamaannya atas tingkatan fana, dan hanya dengan pertolongan Allah taufik diperoleh.
Tanda ketiga: benarnya perjalanan, yaitu selamatnya dari bahaya, penghalang, dan pemutus. Perjalanan hanya benar dengan tiga hal:
Pertama: bahwa ia berada di jalan yang paling agung, jalan nabawi Muhammadi, bukan di jalan-jalan yang dibuat-buat dan tata cara istilah-istilah, meskipun mereka menghiasi ucapan untuk jalan itu, merinci isyarat untuknya, dan memperindah ungkapan untuknya. Itu adalah sisa-sisa jiwa yang ada pada mereka tanpa mereka sadari.
Kedua: tidak menjawab dalam perjalanan panggilan kebatilan, berhenti, dan kemalasan.
Ketiga: dalam perjalanannya ia memperhatikan tujuan. Penjelasan tentang ini telah disebutkan sebelumnya.
Dengan tiga hal ini perjalanan menjadi benar. Ungkapan yang mencakup ketiganya adalah: menjadi satu untuk Yang Satu, dalam satu jalan, maka tidak terpecah pencarian dan yang dicarinya, dan tidak berubah-ubah yang dicarinya.
Adapun tiga sifat negatif yang disebutkan penulis, yang pertama adalah perkataannya: “Tidak ada yang dapat berdiri pada jejak mereka.”
Yang dimaksud: bahwa jejak mereka terhapus sehingga tidak tersisa darinya sesuatu yang dapat dikenali oleh yang mengenalnya.
Perkataan ini perlu penjelasan, karena jejak lahir yang tampak tidak terhapus selama masih di dunia ini. Mereka tidak berpendapat bahwa jejak ini terhapus, dan mereka berbeda pendapat tentang apa yang diungkapkan dengan jejak.
Sekelompok berkata: jejak adalah selain Haqq Subhanahu, dan penghapusannya adalah hilangnya berdiri bersamanya, memandang kepadanya, ridha dengannya, dan bergantung kepadanya.
Sebagian dari mereka menghendaki dengan jejak: penampilan lahir dan tanda-tanda.
Ini lebih dekat dengan penggunaan bahasa, karena jejak rumah adalah sisa yang menunjukkan kepadanya. Karena itu mereka menyebut fuqaha dan ahli hadits dan yang lainnya sebagai ulama jejak (rasm), karena menurut mereka ulama tersebut belum sampai kepada hakikat, tersibukkan dari mengetahuinya dengan penampilan lahir dan dalil-dalil.
Kelompok yang disebutkan penulis ini tidak memiliki jejak yang mereka berhenti padanya, tetapi mereka sibuk dengan hakikat dan makna, bukan dengan jejak dan penampilan lahir.
Orang zindik memiliki celah di sini, karena menurutnya ibadah, perintah, dan wirid semuanya adalah jejak, dan bahwa hamba-hamba berhenti pada jejak, sedangkan mereka berhenti pada hakikat.
Demi umur Allah, sesungguhnya itu adalah jejak-jejak ilahi yang datang melalui tangan rasul-rasul-Nya, dan Dia menggambarkan untuk mereka agar tidak melampaui dan tidak kurang darinya. Maka para rasul duduk di atas jejak-jejak ini mengajak manusia kepadanya dan mencegah mereka dari melampauinya, agar mereka sampai kepada hakikat dan tujuannya. Orang-orang zindik meniadakan jejak-jejak itu dan berkata bahwa yang dimaksud hanyalah hakikat, maka hilanglah jejak dan hakikat dari mereka. Mereka sampai, tetapi kepada hakikat ilhad dan kekufuran. “Dan telah menipu mereka dalam urusan agama mereka apa yang mereka ada-adakan” (Surat Ali ‘Imran: 24). “Dan setan telah memperindah bagi mereka apa yang mereka kerjakan” (Surat Al-An’am: 43).
Penafsiran terbaik dari perkataan Syaikh “tidak berdiri dengan jejak” adalah: bahwa mereka tidak terputus dengan sesuatu selain Allah dari-Nya. Maka setiap yang memutuskan dari Allah mereka tidak berdiri bersamanya, dan apa yang menghubungkan mereka kepada Allah mereka tidak meninggalkannya, dan berdiri mereka bersamanya.
Mungkin yang dimaksud dengan perkataannya “tidak ada yang dapat berdiri pada jejak mereka” adalah bahwa mereka karena tingginya cita-cita mereka mendahului manusia dalam perjalanan, maka mereka tidak berdiri bersama mereka, maka mereka adalah orang-orang yang menyendiri dan mendahului. Karena kecepatan mereka maka tidak ada yang dapat berdiri pada jejak mereka di jalan, dan yang tertinggal dari mereka tidak tahu kemana mereka pergi. Orang yang bersemangat setelah mereka mungkin melihat jejak api mereka dari jarak yang sangat jauh, seperti melihat bintang, dan bertanya kepada yang melihat mereka: di mana ia melihat mereka? Maka keadaannya seperti yang dikatakan:
Aku bertanya tentang kalian kepada setiap yang datang dan pergi Dan menunjuk kepada tempat tinggal kalian dan memberi salam
Tanda kedua: perkataannya “tidak dinisbahkan kepada nama tertentu”, yaitu mereka tidak terkenal dengan nama yang mereka dikenal dengannya di kalangan manusia dari nama-nama yang menjadi tanda bagi ahli thariqah.
Juga, sesungguhnya mereka tidak terikat dengan satu amalan yang nama amalannya melekat pada mereka sehingga mereka dikenal dengannya tanpa amalan lainnya. Karena ini adalah cacat dalam penghambaan, yaitu penghambaan yang terbatas. Adapun penghambaan yang mutlak, maka pemiliknya tidak dikenal dengan nama tertentu dari makna-makna nama-namanya, karena ia adalah penjawab yang mengajak kepada penghambaan dengan berbagai macam jenisnya. Ia memiliki bersama setiap ahli penghambaan bagian yang ia ikut serta bersama mereka. Maka ia tidak terikat dengan jejak, isyarat, nama, pakaian, atau jalan yang dibuat secara istilah. Bahkan jika ditanya tentang syaikhnya, ia berkata: Rasul. Tentang jalannya, ia berkata: mengikuti. Tentang jubahnya, ia berkata: pakaian takwa. Tentang mazhabnya, ia berkata: menjalankan sunnah. Tentang tujuan dan cita-citanya, ia berkata: “Mereka menginginkan wajah-Nya” (Surat Al-An’am: 52). Tentang ribath dan khanqahnya, ia berkata: “Di dalam rumah-rumah yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan untuk disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dari melaksanakan salat, dan dari membayar zakat” (Surat An-Nur: 36-37). Tentang nasabnya, ia berkata:
Ayahku adalah Islam, tidak ada ayah bagiku selain dia Ketika mereka berbangga dengan Qais atau Tamim
Tentang makanan dan minumannya, ia berkata: “Apa urusanmu dengannya? Bersamanya sandalnya dan tempatnya minum, ia datang ke air dan merumput pohon hingga ia bertemu Tuhannya”.
Alangkah sedihnya, umur telah berlalu dan waktu-waktunya habis Antara kehinaan kelemahan dan kemalasan Sedangkan kaum telah mengambil jalan keselamatan Mereka berjalan menuju tujuan tertinggi dengan tenang
Tanda ketiga: perkataannya “tidak ditunjuk dengan jari-jari”, maksudnya karena tersembunyinya mereka dari manusia maka mereka tidak dikenal di antara mereka sehingga ditunjuk dengan jari-jari. Dalam hadits yang masyhur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap pekerja memiliki semangat dan setiap semangat ada kelemahannya. Jika pemiliknya lurus dan moderat maka harapkan kebaikan untuknya. Dan jika ia ditunjuk dengan jari-jari maka jangan anggap ia sesuatu”. Maka perawi hadits ditanya tentang makna “ditunjuk dengan jari-jari”, ia berkata: dia adalah pembuat bid’ah dalam agamanya, orang yang fasik dalam dunianya.
Ini adalah tempat yang memerlukan perincian, karena manusia hanya menunjuk dengan jari-jari kepada orang yang membawa sesuatu kepada mereka. Sebagian mengenalnya dan sebagian tidak mengenalnya. Jika ia lewat, orang yang mengenalnya menunjuk kepada yang tidak mengenalnya: ini si Fulan. Ini bisa menjadi celaan baginya dan bisa menjadi pujian. Barangsiapa yang dikenal dengan kesungguhan, ibadah, zuhud, dan menghindar dari makhluk, kemudian ia turun dari itu dan kembali kepada keadaan ahli dunia dan syahwat, maka jika ia lewat di hadapan manusia mereka menunjuk kepadanya dan berkata: ini dulunya berada di jalan demikian dan demikian, kemudian ia tergoda dan berbalik. Ini adalah orang yang dikatakan dalam hadits tentangnya: “maka jangan anggap ia sesuatu”, karena ia berbalik ke belakang dan kembali setelah semangat kepada kelemahan terburuk.
Dan mungkin seseorang tenggelam dalam dunia dan kelezatannya, kemudian Allah membangunkannya untuk akhiratnya, lalu ia meninggalkan apa yang ia ada di dalamnya dan menghadap kepada urusannya. Jika ia lewat, manusia menunjuk kepadanya dengan jari-jari dan berkata: ini dulunya tergoda, kemudian Allah menolongnya. Orang ini semangatnya dulunya dalam kemaksiyatan, kemudian menjadi dalam ketaatan. Yang pertama: semangatnya dalam ketaatan, kemudian lemah dan kembali kepada bid’ah dan kefasikan.
Secara ringkas: penunjukan dengan jari-jari kepada seseorang adalah tanda kebaikan dan kejahatan, sumber kebinasaan dan keselamatannya, dan Allah Subhanahu adalah Pemberi taufik.
Ucapan beliau “Mereka adalah simpanan Allah di mana pun mereka berada” – simpanan seorang raja adalah sesuatu yang disimpannya dan ditabung untuk urusan-urusan pentingnya, dan tidak diberikan kepada sembarang orang. Demikian pula simpanan seseorang adalah apa yang ditabungnya untuk keperluan dan urusan-urusan pentingnya. Mereka ini karena tersembunyi dari pandangan manusia dengan sebab-sebab mereka, tidak ditunjuk-tunjuk, tidak dibedakan dengan tanda tertentu dari manusia lain, tidak dinisbahkan kepada nama jalan, mazhab, guru, atau pakaian tertentu, maka mereka berada pada kedudukan simpanan yang tersembunyi. Mereka inilah makhluk yang paling jauh dari berbagai kerusakan. Sesungguhnya segala kerusakan ada di bawah bentuk-bentuk formal dan keterikatan padanya, kelaziman jalan-jalan istilah, dan pola-pola yang beredar dan baru muncul. Inilah yang memutuskan kebanyakan makhluk dari Allah, sementara mereka tidak menyadarinya. Yang mengherankan adalah bahwa penganut hal-hal tersebut adalah mereka yang dikenal sebagai pencari, mereka yang berkehendak, dan yang berjalan menuju Allah. Namun mereka, kecuali yang satu dua, terputus dari Allah dengan bentuk-bentuk formal dan ikatan-ikatan tersebut.
Salah seorang imam pernah ditanya tentang sunnah, maka ia menjawab: Sesuatu yang tidak memiliki nama selain sunnah.
Maksudnya: bahwa ahli sunnah tidak memiliki nama yang mereka nisbahkan kepadanya selain sunnah itu sendiri.
Di antara manusia ada yang terikat dengan pakaian tertentu yang tidak mau memakai selainnya, atau duduk di tempat tertentu dan tidak mau duduk di tempat lain, atau cara berjalan tertentu dan tidak mau berjalan dengan cara lain, atau pakaian dan penampilan tertentu yang tidak keluar darinya, atau ibadah tertentu yang tidak mau beribadah dengan selainnya meskipun yang lain lebih tinggi, atau guru tertentu yang tidak mau menoleh kepada yang lain meskipun ia lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya darinya. Mereka semua terhalang dari mendapatkan tujuan yang paling tinggi dan terhalangi darinya. Mereka telah diikat oleh kebiasaan, bentuk-bentuk formal, pola-pola, dan istilah-istilah sehingga tidak dapat mengikuti dengan murni. Maka mereka menjadi jauh dari kedua hal tersebut (Allah dan Rasul-Nya), dan kedudukan mereka darinya adalah kedudukan yang paling jauh. Engkau melihat salah seorang dari mereka beribadah dengan riyadhah (latihan spiritual), khalwat (uzlah), dan mengosongkan hati, dan ia menganggap ilmu sebagai penghalang baginya dari jalan tersebut. Jika disebutkan kepadanya tentang loyalitas karena Allah dan permusuhan karena-Nya, amar makruf nahi munkar, ia menganggap hal itu sebagai hal yang berlebihan dan buruk. Jika mereka melihat di antara mereka ada yang melakukan hal itu, mereka mengeluarkannya dari kelompok mereka dan menganggapnya sebagai orang yang iri kepada mereka. Mereka inilah manusia yang paling jauh dari Allah, meskipun mereka paling banyak ditunjuk-tunjuk, wallahu a’lam.
Bab Tentang Golongan Kedua: Kelompok yang Menunjuk kepada Suatu Tingkatan Padahal Mereka Berada di Tingkatan Lain, Mereka Berkinayah dengan Suatu Perkara Padahal Mereka untuk Perkara Lain
Bab
Beliau berkata: Golongan kedua adalah kelompok yang menunjuk kepada suatu tingkatan padahal mereka berada di tingkatan lain, mereka berkinayah dengan suatu perkara padahal mereka untuk perkara lain, mereka menyeru kepada suatu keadaan padahal mereka berada pada keadaan lain. Mereka berada di antara kecemburuan atas mereka yang menyembunyikan mereka, adab pada diri mereka yang menjaga mereka, dan kehalusan yang mendidik mereka.
Penganut golongan ini menyembunyikan diri karena pilihan dan keinginan untuk itu, demi menjaga keadaan-keadaan mereka, dan sebagai kesempurnaan dalam kemapanan mereka. Maka tingkatan-tingkatan mereka tinggi, tidak terjangkau oleh pandangan mata dan tidak tercampur oleh prasangka. Mereka menunjuk kepada apa yang dipahami lawan bicara dari tingkatan-tingkatan murid yang sedang menempuh jalan (salikin), dan permulaan-permulaan perjalanan spiritual. Mereka menyembunyikan apa yang telah dimapankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada diri mereka dari keadaan-keadaan mahabbah (kecintaan) dan hal-hal yang dirasakan darinya, serta jejak-jejak ma’rifah (pengenalan kepada Allah) dan tauhidnya. Inilah kinayah (tauriyah) yang beliau sebutkan.
Seolah-olah mereka menampakkan kepada lawan bicara bahwa mereka termasuk ahli permulaan, padahal mereka berada pada tingkatan-tingkatan tertinggi. Mereka berbicara dengan mereka tentang permulaan, kehendak, dan perjalanan spiritual, sementara tingkatan mereka di atas itu semua. Mereka benar dalam kedua keadaan tersebut, namun mereka menyembunyikan keadaan dan tingkatan mereka yang paling mulia dari manusia.
Pada intinya, mereka bersama manusia dengan lahiriah mereka. Mereka berbicara kepada mereka sesuai kadar akal mereka, dan tidak berbicara kepada mereka dengan apa yang tidak dapat dicapai oleh akal mereka sehingga mereka mengingkarinya. Lawan bicara mengira mereka seperti dirinya. Manusia berada di sisi mereka, tetapi mereka tidak berada di sisi siapa pun.
Ucapan beliau “mereka menunjuk kepada suatu tingkatan, padahal mereka berada di tingkatan lain” maksudnya: mereka menunjuk kepada tingkatan taubat dan muhasabah (introspeksi diri), padahal mereka berada dalam tingkatan mahabbah, wajd (ekstasi spiritual), dzauq (pengecapan spiritual), dan semisalnya.
Mungkin juga yang dimaksud: bahwa mereka menunjuk bahwa mereka termasuk orang awam, padahal mereka adalah khashashul khashah (elite dari elite), dan bahwa mereka termasuk orang bodoh, padahal mereka adalah orang-orang yang mengenal Allah, dan bahwa mereka berbuat buruk, padahal mereka berbuat baik.
Berdasarkan hal ini, mereka termasuk golongan Malamiyyah, yang menampakkan apa yang tidak mereka dipuji karenanya, dan menyembunyikan apa yang Allah memuji mereka karenanya, kebalikan dari orang-orang munafik yang riya. Mereka adalah kelompok yang dikenal dengan jalan yang dikenal, disebut jalan ahli malamah (celaan), dan mereka adalah kelompok Malamiyyah. Mereka mengklaim bahwa mereka menanggung celaan manusia atas apa yang mereka tampakkan dari perbuatan-perbuatan, agar murni bagi mereka apa yang mereka sembunyikan dari keadaan-keadaan. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Surah Al-Ma’idah: 54) Maka mereka berusaha menjatuhkan kedudukan dan kehormatan mereka di hati manusia, karena mereka melihat orang-orang tertipu yang ditipu oleh mereka dari kalangan yang menisbahkan diri kepada suluk (perjalanan spiritual) bekerja untuk mensucikan jiwa mereka dan meninggikan kehormatan mereka di hati manusia. Maka golongan ini melakukan kebalikannya, mereka menampakkan kebatilan dan menyembunyikan amal. Mereka menyembunyikan keadaan-keadaan mereka sekuat tenaga. Mereka melantunkan dalam keadaan ini:
Seandainya engkau manis sementara hidup pahit
Dan seandainya engkau ridha sementara manusia murka
Dan seandainya yang antara aku dan engkau makmur
Sementara antara aku dan alam semesta hancur
Jika cinta darimu benar wahai puncak harapan
Maka semua yang di atas tanah adalah debu
Imam Ahmad berkata: Abdullah bin Ar-Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Hilal bin Yasaf berkata: Isa alaihissalam biasa berkata: “Jika salah seorang dari kalian berpuasa, hendaklah ia minyaki jenggotnya dan mengusap bibirnya, sehingga ia keluar kepada manusia, lalu mereka berkata: ‘Ia tidak sedang berpuasa.'”
Karena itu sebagian dari mereka berkata: Tasawuf adalah meninggalkan klaim-klaim, menyembunyikan makna-makna. Harits bin Asad ditanya tentang tanda-tanda orang yang benar, maka ia menjawat: Bahwa ia tidak peduli jika semua kedudukan yang ada padanya di hati makhluk hilang demi kebaikan hatinya, dan ia tidak suka manusia mengetahui sedikitpun dari amalnya.
Hal ini terpuji dalam suatu keadaan dan tercela dalam keadaan lain, baik dari seseorang dan buruk dari yang lain. Ia terpuji jika menampakkan apa yang boleh ditampakkan, tidak ada kekurangan padanya dalam hal itu, dan tidak ada celaan dari Allah dan Rasul-Nya, untuk menyembunyikan keadaan dan amalnya dengannya. Seperti jika ia menampakkan kekayaan dan menyembunyikan kemiskinan dan kefakiran, menampakkan kesehatan dan menyembunyikan penyakit, menampakkan nikmat dan menyembunyikan musibah.
Semua ini termasuk dari khazanah penutupan (as-satr), dan ia memiliki pengaruh yang mengagumkan di hati yang diketahui oleh yang merasakannya. Seorang laki-laki mengadukan keluhan kepada Al-Ahnaf bin Qais, maka ia berkata: Wahai anak saudaraku, cahaya penglihatanku telah hilang sejak dua puluh tahun lalu dan aku tidak memberitahukannya kepada seorang pun.
Adapun keadaan yang tercela di dalamnya adalah menampakkan apa yang tidak boleh ditampakkan, agar manusia berprasangka buruk padanya, sehingga mereka tidak mengagungkannya. Seperti yang diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa ia masuk ke pemandian, kemudian keluar dan mencuri pakaian seseorang, dan berjalan pelan-pelan hingga mereka mengejarnya, lalu mereka mengambilnya darinya dan mencacinya. Hal ini haram dan tidak boleh dilakukan. Juga buruk dari seorang yang diikuti dan dijadikan teladan melakukan hal itu, bahkan juga yang lebih rendah darinya, karena ia menipu manusia dan membuat mereka terjatuh untuk meniru keburukan yang ia tampakkan. Maka Malamiyyah ada dua macam: yang terpuji dan berbakti, dan yang tercela dan bodoh, meskipun mereka dalam perlindungan kejujuran mereka.
Yang pertama adalah mereka yang tidak peduli dengan celaan yang mencela dalam urusan Allah, menegakkan perintah-Nya, dan berdakwah kepada-Nya. Mereka adalah yang Allah sebutkan tentang mereka: “Berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Surah Al-Ma’idah: 54) Maka manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang tidak terhalang dalam urusan Allah oleh celaan yang mencela. Dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu tidak terhalang dalam urusan Allah oleh celaan yang mencela.
Adapun jenis kedua yang tercela adalah yang menampakkan apa yang ia dicela karenanya menurut syariat, berupa yang haram atau makruh, untuk menyembunyikan keadaannya dengan itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Tidak pantas bagi mukmin menghinakan dirinya sendiri.”
Mari kita kembali kepada penjelasan perkataan Syaikh.
Ucapan beliau: mereka menunjuk kepada suatu tingkatan, padahal mereka berada di tingkatan lain.
Contohnya: bahwa mereka berbicara tentang taubat dan muhasabah, padahal mereka berada dalam tingkatan mahabbah dan fana’.
Ucapan beliau “mereka berkinayah dengan suatu perkara, padahal mereka untuk perkara lain” – tauriyah adalah menyebutkan lafaz yang dipahami oleh lawan bicara dengan suatu makna, padahal ia menghendaki makna lain. Contohnya: salah seorang dari mereka berkata: Aku kaya. Maka lawan bicaranya mengira bahwa ia kaya dengan sesuatu, padahal maksudnya: kaya dengan Allah dari sesuatu itu. Sebagaimana dikatakan:
Aku kaya tanpa harta dari semua manusia
Dan sesungguhnya kekayaan yang tinggi adalah dari sesuatu bukan dengannya
Dan ia berkata: Tingkatan taubat belum benar bagiku. Ia menghendaki: taubat belum benar bagiku dari melihat taubat, dan semisalnya.
Ucapan beliau “mereka menyeru kepada suatu keadaan, padahal mereka berada pada keadaan lain” – yaitu: mereka mengagungkan suatu urusan dari urusan-urusan kaum, dan menyeru manusia kepadanya, padahal mereka berada pada yang lebih tinggi darinya. Ini dekat dengan yang sebelumnya.
Ucapan beliau “maka mereka berada di antara kecemburuan atas mereka yang menyembunyikan mereka” – yaitu: Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu atas mereka, maka Ia menyembunyikan mereka dari makhluk. Dan mereka cemburu atas keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan mereka, maka mereka menyembunyikan keadaan-keadaan mereka dari pandangan makhluk. Sebagaimana dikatakan:
Ia terbiasa dengan kerendahan untuk menjaga dan menyembunyikan
Seolah-olah pengenalan dirinya adalah dengan menyembunyikan diri
Dan seolah-olah ia membuat hati mencintai dirinya
Maka kecemburuannya menjaganya agar tidak terlihat
Ucapan beliau: dan adab pada diri mereka yang menjaga mereka – dengan ini sempurnalah urusan mereka.
Yaitu adab menopang mereka untuk menjaga mereka dari prasangka buruk terhadap mereka, dan menjaga mereka dari rendahnya akhlak dan amal. Maka adab mereka adalah penjaga atas keadaan-keadaan mereka. Cita-cita mereka yang tinggi mengangkat mereka, dan adab mereka membuat mereka turun ke tanah. Sebagaimana dikatakan:
Berwajah cerah, mudah akhlaknya namun menjaga diri
Zaman memunculkannya sementara ia bersembunyi
Jika tekad-tekadnya mengangkatnya
Ke Tsuraya (bintang tinggi), adab membuatnya tetap tenang
Maka adab murid dan salik adalah penjaga baginya, dan mahkota di kepalanya.
Ucapan beliau “dan kehalusan yang mendidik mereka” – tahdzib adalah ta’dib dan penyucian. “Kehalusan” (zharf) pada kelompok ini lebih manis dari segala yang manis, dan lebih indah dari segala yang indah. Tidak ada sesuatu yang digabungkan dengan sesuatu yang lebih baik dari kehalusan yang digabungkan dengan kejujuran dan keikhlasan, rahasia dengan Allah, dan kesatuan hati kepada-Nya. Sesungguhnya kebanyakan orang yang peduli dengan urusan ini menjadi sempit jiwanya dan akhlaknya dari selain apa yang ia fokuskan, maka berat bebannya atas keluarga dan temannya, dan ia merasa berat untuk bergaul dengannya, menyapa, dan bersikap lembut kepadanya. Demi Allah, sesungguhnya ia ma’dzur (dimaafkan) meskipun tidak patut disyukuri dalam hal itu. Karena semua makhluk berubah-ubah, kecuali yang membantumu dalam urusanmu dan mendukungmu dalam tujuanmu.
Jika hamba sudah mapan dalam keadaannya dan menjadi baginya perhatian kepada Allah dan kesatuan hati kepada-Nya sebagai sifat yang melekat dan tingkatan yang kokoh, ia merasa nyaman dengan makhluk dan mereka pun nyaman dengannya. Ia bergaul dengan mereka dan membawa mereka sesuai dengan kemampuan mereka dan lambatnya perjalanan mereka. Maka hati-hati berkumpul dalam kecintaan kepadanya karena kelembutan dan kehalusannya. Sesungguhnya manusia lari dari orang yang kasar meskipun ia mencapai kedudukan tinggi dalam agama. Sungguh ajaib apa yang ditarik oleh kelembutan dan kehalusan dari hati-hati, dan apa yang ditolak dari pemiliknya dari keburukan, dan memudahkan baginya apa yang sulit bagi yang lain. Bukan orang-orang kasar yang menjadi wali-wali pilihan. Tidaklah seseorang menjadi berat atas hati orang-orang yang jujur dan ikhlas kecuali karena suatu kerusakan di sana. Kalau tidak, jalan ini memakaikan hamba kemanisan, kelembutan, dan kehalusan. Maka engkau melihat orang yang jujur di dalamnya termasuk manusia yang paling manis, paling lembut, dan paling halus. Telah hilang darinya keberatan jiwa dan kekeruhan tabiat, dan ia menjadi rohani dan langit setelah sebelumnya hewani dan duniawi. Maka engkau melihatnya sebagai manusia yang paling mulia pergaulannya, paling lembut perangainya, paling halus hati dan rohnya. Inilah kekhususan mahabbah, karena ia membuat halus, lembut, dan bersih.
Di antara kehalusan ahli golongan ini adalah bahwa salah seorang dari mereka tidak menampakkan kepada temannya suatu keadaan atau tingkatan, dan tidak menghadapinya ketika bertemu dengannya dengan keadaan tersebut, tetapi dengan kelembutan, merendahkan diri, dan wajah yang cerah. Ia membentangkan baginya permadani keakraban dan mendudukkannya di atasnya. Maka itu lebih dicintai olehnya daripada permadani yang empuk. Muhammad bin Ali Al-Qashshab, guru Al-Junaid, ditanya tentang tasawuf, maka ia menjawab: Akhlak mulia yang muncul di zaman mulia bersama kaum yang mulia.
Pada intinya, jalan ini tidak bertentangan dengan kelembutan, kehalusan, dan kesopanan, bahkan ia adalah sesuatu yang paling sopan. Namun di sini ada kehalusan yang memotong, yaitu berlarut-larut dengan urusan-urusan ini. Sesungguhnya ia adalah sesuatu yang paling memotong bagi murid dan salik. Barang siapa berlarut-larut dengannya, ia memotongnya. Barang siapa memusuhinya sepenuhnya, jalan suluknya menjadi sulit. Barang siapa meminta bantuan dengannya, ia memberinya kenyamanan dalam jalannya, atau memberikan kenyamanan kepada yang lain dengannya. Wallahu at-taufiq.
Bab
Ahli golongan ini, hal yang paling berat bagi mereka adalah mencari tahu tentang apa yang terjadi pada manusia, berusaha mengetahui keadaan-keadaan mereka. Hal yang paling berat bagi hati mereka adalah mendengarnya. Mereka sibuk darinya dengan urusan mereka sendiri. Jika mereka sibuk dengan apa yang tidak penting bagi mereka darinya, maka lepas dari mereka apa yang lebih penting bagi mereka. Jika yang lain menganggap kesibukan dengan hal itu dan mendengarnya termasuk kehalusan, adab, dan penyembunyian keadaan, maka ini adalah tipu daya jiwa dan kelirunya. Karena ia menurunkan cita-cita yang tinggi dari puncaknya ke dasarnya. Mungkin sulit baginya untuk mendapatkan cita-cita lain yang dengannya ia naik kepada tempat yang ia dulu berada di sana. Maka ahli cita-cita dan kecerdasan yang tajam tidak membuka dari telinga dan hati mereka jalan kepada itu, kecuali apa yang dituntut oleh perintah dan kemaslahatan lebih kuat. Selain itu adalah kebatilan dan penurunan tingkatan.
Bab Tentang Golongan Ketiga: Kelompok yang Disembunyikan oleh Allah dari Mereka Sendiri, Maka Dia Menampakkan kepada Mereka Suatu Kilatan yang Melalaikan Mereka dari Menyadari Apa yang Mereka Ada di Dalamnya
Bab
Beliau berkata: Golongan ketiga adalah kelompok yang disembunyikan oleh Allah dari mereka sendiri. Maka Dia menampakkan kepada mereka suatu kilatan yang melalaikan mereka dari menyadari apa yang mereka ada di dalamnya, dan memabukkan mereka dari menyaksikan apa yang mereka ada untuknya. Dia kikir dengan keadaan mereka dari pengetahuan mereka tentang apa yang mereka miliki. Maka mereka tersembunyi dari diri mereka sendiri bersama kesaksian-kesaksian yang bersaksi bagi mereka dengan kebenaran tingkatan mereka, karena kesungguhan yang benar yang digerakkan oleh ghaib, dan kecintaan yang benar yang tersembunyi darinya pengetahuannya, dan wajd (ekstasi) yang aneh yang tidak tersingkap baginya penyebabnya. Ini termasuk tingkatan yang paling halus dari ahli wilayah (kekasih Allah).
Ahli Tingkatan Ini
Ahli tingkatan ini lebih berhak dengan nama rahasia dibanding mereka yang sebelumnya. Karena jika keadaan hati dan anugerah Tuhan yang Dia letakkan di dalamnya tersembunyi dari pemiliknya, sehingga ia sendiri tidak merasakan anugerah tersebut, sibuk darinya dengan Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi – Maha Suci Dia -, maka hatinya tidak cukup luas untuk kesibukan dengannya dan dengan selainnya. Bahkan ia sibuk dengan yang mengalirkannya, yang menjadikannya dan yang menganugerahkannya sehingga lupa pada anugerah itu sendiri. Inilah wajah rahasia yang paling kuat, bahkan itu lebih tersembunyi dari rahasia. Dan di antara penutupan dan penyembunyian yang paling agung adalah bahwa Allah – Maha Suci dan Maha Tinggi – menutupi keadaan hamba-Nya dan menyembunyikannya darinya, sebagai rahmat dan kelembutan kepada-Nya, agar ia tidak tinggal bersamanya dan terputus dengan hal itu dari Tuhannya. Karena hal itu adalah pemberian dari pemberian-pemberian Allah Taala. Maka ketika pemiliknya menutupi dan menyembunyikan pakaian itu dari hamba-Nya, maka Dia menghendaki agar ia tidak berhenti pada sesuatu selain-Nya. Dan boleh jadi penutupan itu termasuk hal yang menyibukkan hamba dari penyaksian terhadap keagungan Tuhan – Taala – dan kesempurnaan-Nya serta keindahan-Nya, maksudku penyaksian hati terhadap makna-makna sifat-sifat itu dan tenggelamnya dalam hal tersebut.
Dan tanda penyaksian yang benar ini adalah: bahwa batinnya terpelihara dengan ihsan, dan zahirnya tertutup dengan Islam. Maka zahirnya menjadi judul bagi batinnya yang membenarkan apa yang ia sifati, dan batinnya membenarkan zahirnya. Inilah yang paling sempurna menurut para ahli fana.
Dan yang lebih sempurna dari itu adalah: bahwa ia menyaksikan apa yang Allah anugerahkan kepadanya dan memperhatikannya dan melihatnya dari murni karunia dan mata air kedermawanan. Maka ia tidak fana dengan Yang Memberi dari melihat pemberian-Nya, dan tidak sibuk dengan pemberian dari Pemberi-Nya. Dan Allah – Maha Suci – telah memerintahkan untuk bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan itu tidak terjadi kecuali dengan melihat karunia dan rahmat serta memperhatikan keduanya. Dan Dia memerintahkan untuk mengingat nikmat-nikmat dan karunia-karunia-Nya. Maka Allah Taala berfirman: “Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu” (Surat Fathir: 3). Dan Allah Taala berfirman: “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung” (Surat Al-A’raf: 69). Dan Allah Taala berfirman: “Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Al-Kitab dan hikmah yang Dia berikan pelajaran kepadamu dengannya” (Surat Al-Baqarah: 231).
Maka Allah – Maha Suci – tidak memerintahkan untuk fana dari penyaksian nikmat-Nya, apalagi tingkatan fana lebih tinggi dari tingkatan penyaksian terhadap nikmat-Nya dari karunia dan pemberian-Nya.
Dan sungguh kami telah menguraikan pembicaraan tentang ini secara panjang lebar dalam pembahasan sebelumnya, dan kami tidak terambil di dalamnya oleh celaan orang yang mencela, dan ahli fana tidak terambil dalam mengunggulkan fana atasnya oleh celaan orang yang mencela.
Maka perkataannya: “Allah merahasiakan mereka dari mereka sendiri” maksudnya: menyibukkan mereka dengan-Nya dari mengingat diri mereka. Maka Dia melupakan mereka dengan mengingat-Nya dari mengingat diri mereka sendiri. Dan ini kebalikan dari keadaan orang-orang yang melupakan Allah maka Dia melupakan mereka dari diri mereka sendiri. Karena mereka ketika melupakan-Nya, Dia melupakan mereka dari kemaslahatan-kemaslahatan diri mereka yang tidak ada kebaikan bagi mereka kecuali dengannya. Maka mereka tidak menuntutnya, dan Dia melupakan mereka dari aib-aib mereka maka mereka tidak memperbaikinya. Dan orang-orang ini, Dia melupakan mereka dari bagian-bagian mereka dengan hak-hak-Nya, dan mengingat selain-Nya dengan mengingat-Nya. Dan yang dimaksud: bahwa Dia – Maha Suci – mengambil mereka kepada-Nya dan menyibukkan mereka dengan-Nya dari mereka sendiri.
Perkataan Syekh: Dan Dia menampakkan kepada mereka sesuatu yang menampak yang membuat mereka lalai dari menyadari apa yang mereka alami.
Alaha artinya: menampakkan. Dan maknanya: Dia menampakkan kepada mereka dari pengenalan terhadap keindahan-Nya dan keagungan-Nya sesuatu yang menampak, yang tidak cukup luas hati mereka setelahnya untuk menyadari sesuatu pun dari keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan mereka. Dan ini adalah kehalusan dari keadaan ahli surga, ketika Dia – Maha Suci – menampakkan diri kepada mereka dan memperlihatkan kepada mereka diri-Nya. Maka mereka tidak merasakan dalam keadaan itu apa pun dari kenikmatan, dan tidak berpaling kepada selain-Nya sama sekali. Sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih dalam sabda-Nya: “Maka mereka tidak berpaling kepada sesuatu pun dari kenikmatan selama mereka melihat kepada-Nya.”
Dan maknanya: bahwa yang menampak ini yang Dia – Maha Suci – tampakkan kepada mereka membuat mereka lalai dari merasakan selain-Nya.
Perkataan Syekh: “Membuatnya terpesona dari penyaksian apa yang menjadi tujuan mereka”
Kemungkinan bahwa maksudnya: bahwa yang menampak ini membuatnya terpesona dari penyaksian apa yang mereka diciptakan untuknya. Maka tidak tersisa pada mereka keluasan untuk menggabungkan dua perkara. Dan ini meskipun karena kuatnya yang datang, namun ia dalil atas lemahnya tempat, karena hati tidak cukup luas bersamanya untuk mengingat apa yang ia diciptakan untuknya. Dan kesempurnaan adalah: bahwa terkumpul baginya dua perkara.
Dan kemungkinan bahwa ia bermaksud dengannya: bahwa yang menampak ini menggaibkan mereka dari penyaksian keadaan-keadaan mereka yang mereka alami pada waktu itu. Maka mereka gaib dengan yang mereka saksikan dari penyaksian mereka, dan dengan yang mereka kenal dari pengenalan mereka, dan dengan yang mereka ibadati dari ibadah mereka. Karena orang yang terpesona tidak merasakan apa yang ia alami dan tidak merasakan keadaan dirinya. Dan dalam kitab Ash-Shihah: al-hayam seperti kegilaan karena cinta.
Perkataan Syekh: “Dan kikir dengan keadaan mereka dari pengetahuan mereka”
Maksudnya: bakhil dengannya. Dan maknanya: tidak ada pengetahuan mereka untuk menyadari keadaan mereka dan apa yang mereka alami.
Perkataan Syekh: “Maka mereka tersembunyi dari mereka sendiri”
Maksudnya: mereka tersembunyi bahkan dari diri mereka sendiri. Maka jiwa mereka tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka. Dan jangan terburu-buru mengingkari ini, maka engkau akan menjadi orang yang tidak sampai kepada buah anggur, lalu berkata: ia asam.
Perkataan Syekh: Dengan kesaksian-kesaksian yang bersaksi bagi mereka dengan kebenaran tingkatan mereka.
Ia bermaksud: bahwa mereka tidak mengabaikan hukum-hukum penghambaan dalam keadaan ini. Maka hal itu menjadi saksi atas mereka dengan rusaknya keadaan-keadaan mereka. Bahkan bagi mereka bersama itu kesaksian-kesaksian yang benar, yang bersaksi bagi mereka dengan kebenaran tingkatan-tingkatan mereka. Dan kesaksian-kesaksian itu adalah: berdiri dengan perintah dan adab-adab syariat secara zahir dan batin.
Perkataan Syekh: Dari niat terdahulu, yang menggerakkannya sesuatu yang gaib
Boleh jadi kalimat ini dan sesudahnya berkaitan dengan yang dihilangkan, yang ditunjukkan oleh kalam. Maksudnya: terjadi bagi mereka itu dari niat yang benar, maksudnya: niat yang tetap dan mantap, tidak diliputi perubahan warna “menggerakkannya sesuatu yang gaib” maksudnya: perkara yang gaib dari penyadaran mereka telah menggerakkan bagi mereka niat benar itu.
Perkataan Syekh: Dan cinta yang benar yang tersembunyi baginya awal pengetahuannya.
Maksudnya: mereka tidak mengenal awal mula apa yang mereka alami, dan tidak sampai pengetahuan mereka kepadanya. Karena mereka ketika menampak kepada mereka yang menampak itu, maka ia memenuhi hati-hati mereka dan menyibukkan akal-akal mereka dari selainnya. Maka mereka terambil dari diri mereka sendiri dan terkuasai oleh yang datang kepada mereka.
Perkataan Syekh: Dan penemuan yang aneh yang tidak tersingkap bagi pemiliknya yang menyalakannya.
Maksudnya: tidak tersingkap bagi pemilik penemuan ini sebab yang menggerakkannya kepadanya, dan menyalakannya dalam hatinya. Maka ia tidak mengenal sebab yang mewujudkan api penemuan-Nya.
Perkataan Syekh: “Dan ini termasuk tingkatan-tingkatan yang paling halus dari ahli wilayah”
Ia menjadikannya halus karena perasaan terkuasai dan terkalahkan pada pemiliknya, dan ilmu serta makrifat tidak menghukuminya, apalagi perasaan dan kebiasaan.
Dan hasil dari tingkatan ini adalah: tenggelam dalam fana. Dan itu adalah tujuan akhir menurut Syekh.
Dan yang benar: bahwa ahli tingkatan kedua lebih tinggi dari mereka ini, dan lebih tinggi tingkatannya. Dan mereka adalah orang-orang yang sempurna. Dan mereka lebih kuat dari mereka. Sebagaimana tingkatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra lebih tinggi dari tingkatan Musa alaihis salam pada hari tajalli. Dan tidak terjadi bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari fana apa yang terjadi bagi Musa shallallahu alaihi wasallam. Dan cinta istri Al-Aziz kepada Yusuf alaihis salam lebih besar dari cinta para wanita, dan tidak terjadi padanya dari memotong tangan dan semisalnya apa yang terjadi pada mereka. Dan cinta Abu Bakar radhiyallahu anhu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih besar dari cinta Umar radhiyallahu anhu dan lainnya, dan tidak terjadi padanya ketika wafat Nabi dari keguncangan dan pingsan serta terduduk apa yang terjadi pada selainnya.
Maka ahli baqa dan kemantapan: lebih kuat keadaannya, dan lebih tinggi tingkatannya dari ahli fana. Dan dengan Allah lah pertolongan.
Fasal Tingkatan An-Nafs (Fasal Tingkatan Nafas)
Fasal Hakikat An-Nafs (Fasal Hakikat Nafas)
Fasal: Dan di antaranya adalah an-nafs (nafas)
Berkata penulis Kitab Manazil:
(Bab An-Nafs/Nafas) Allah Taala berfirman: “Maka tatkala ia sadar, ia berkata: Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu” (Surat Al-A’raf: 143).
Wajah isyaratnya dengan ayat: bahwa nafas terjadi setelah meninggalkan keadaan, dan terpisahnya dari pemiliknya. Maka ia menyerupakan keadaan dengan sesuatu yang mengambil pemiliknya lalu menutupinya dan menenggelamkannya, sehingga jika itu berhenti darinya ia bernapas dengan napas yang ia beristirahat dengannya dan merasa lega.
Berkata: Dan dinamakan an-nafs (nafas) dengan an-nafs karena kelegaan yang diperoleh orang yang bernapas dengannya.
At-tanfis adalah at-tarwih (kelegaan). Dikatakan: naffasa Allahu anka al-karb, maksudnya: Dia melapangkanmu darinya. Dan dalam hadis sahih: “Barangsiapa melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.”
Dan ketiga huruf ini yaitu nun, fa dan yang menjadi huruf ketiganya menunjukkan di mana pun ditemukan pada keluar dan terpisah. Maka dari itu an-nafl, karena ia tambahan atas yang asli, keluar darinya. Dan dari itu: an-nafr, dan an-nafy, dan an-nafs, dan nafaqat ad-dabbah, dan nafasat al-mar’ah dan nufisa: jika ia haid atau melahirkan. Maka an-nafs adalah: keluar dan terpisah yang dengannya orang yang bernapas beristirahat.
Berkata: Dan ia atas tiga tingkatan, dan ia menyerupai tingkatan-tingkatan waktu.
Wajah kemiripan antara keduanya: bahwa waktu-waktu dihitung dengan napas-napas seperti tingkatan-tingkatannya.
Dan juga waktu, sebagaimana ia katakan: “waktu penemuan yang benar” maka ia mengikat waktu dengan penemuan, dan penemuan dengan kebenaran. Dan ia berkata dalam bab ini: ia adalah napas dalam waktu yang tersembunyi. Maka ia mengikat nafas dengan waktu dan dengan penemuan, dan ia mengikat dengannya waktu. Maka ia dipertimbangkan dengan keduanya.
Dan juga waktu dan nafas keduanya memiliki sebab-sebab yang terjadi pada hati karena terhalangnya dari yang ia tuju, atau meninggalkan keadaan yang ia alami lalu tersembunyi darinya. Maka antara keduanya terdapat kemiripan dari sisi-sisi ini dan lainnya.
Fasal Al-Anfas Tsalatsah (Fasal Nafas-Nafas Tiga)
Al-Awwal: Nafasun fi Hinin Istitar (Yang Pertama: Nafas dalam Waktu Tersembunyi)
Fasal
Berkata: Dan nafas-nafas itu tiga: nafas dalam waktu tersembunyi yang penuh dengan kekangan, berkaitan dengan ilmu. Jika ia bernapas ia bernapas dengan penyesalan, dan jika ia berbicara ia berbicara dengan kesedihan. Dan menurutku: ia dilahirkan dari kesendirian karena tersembunyi, dan itulah kegelapan yang mereka katakan: bahwasanya ia adalah tingkatan.
Maka perkataannya: nafas dalam waktu tersembunyi, maksudnya: ia memiliki keadaan yang benar, dan singkapan yang sahih, lalu tersembunyi darinya dengan hukum tabiat dan kemanusiaan yang tidak terelakkan. Maka dadanya menjadi sempit karenanya, dan penuh dengan kekangan karena terhalangnya apa yang ia alami dan tersembunyinya karena sebab-sebab fa’iliyah dan ghaiyah, yang akan datang kepadamu insya Allah. Maka jika ia bernapas dalam keadaan ini maka napasnya adalah napas orang yang sedih dan susah.
Perkataannya: “penuh dengan kekangan” al-kazhm adalah: penahanan. Dan darinya: kazhama ghaizhuhu, jika ia menelan dan menahannya dan tidak mengeluarkannya.
Perkataannya: “berkaitan dengan ilmu” ia bermaksud: bahwa nafas itu berkaitan dengan hukum zahir bukan dengan hukum keadaan. Dan itulah bala yang telah disebutkan oleh Syekh sebelumnya, yaitu bala hamba antara merespons kepada panggilan ilmu dan panggilan keadaan.
Dan sesungguhnya hal itu adalah nafas yang dikekang: karena kosongnya dalam keadaan ini dari hukum-hukum mahabbah yang meringankan kesusahan, dan memudahkan yang sulit, dan memikul beban, dan membantu pada musibah-musibah kebenaran. Dan terkaitnya dengan ilmu yang merupakan panggilan terpecah. Maka sesungguhnya kesusahan mahabbah bercampur dengan kemanisan. Maka jika kosong dari hukum-hukumnya kepada hukum-hukum ilmu maka ia kehilangan kemanisan itu, dan rindu kepada kesusahan itu. Sebagaimana dikatakan:
Dan para pecinta mengeluhkan kerinduan, seandainya aku Menanggung apa yang mereka temui dari antara mereka sendirian
Maka akan ada bagi hatiku kelezatan cinta semuanya Maka tidak menemukannya sebelumku seorang pecinta dan tidak sesudahku
Perkataannya: Jika ia bernapas ia bernapas dengan penyesalan. Al-asaf adalah: kesedihan. Seperti firman-Nya Taala tentang Yaqub: “Aduhai kesedihanku atas Yusuf” (Surat Yusuf: 84). Dan al-asaf adalah: kemarahan. Seperti firman-Nya Taala: “Maka tatkala mereka membuat Kami marah, Kami menghukum mereka” (Surat Az-Zukhruf: 55). Dan ia dalam tempat ini adalah: kesedihan atas apa yang tersembunyi darinya dari tujuannya, atau dari kebenaran keadaannya.
Perkataannya: “Dan jika ia berbicara ia berbicara dengan kesedihan” maksudnya: bahwa orang yang bernapas ini jika ia berbicara dengan apa yang menunjukkan pada kesedihan atas apa yang tersembunyi darinya. Maka sumber napasnya dan ucapannya adalah kesedihannya atas apa yang terhalang darinya.
Perkataannya: Dan menurutku: ia dilahirkan dari kesendirian karena tersembunyi dan terhalang.
Dan seakan-akan tersembunyi adalah sebab maka dilahirkan sebab.
Ia bermaksud: bahwa penyesalan ini meskipun ditambahkan kepada tersembunyi dan terhalang maka kelahirannya: sesungguhnya dari kesendirian yang sebabnya tersembunyi dari kesendirian itu yang dilahirkan dari tersembunyi. Dan ini benar. Karena ia ketika tujuannya disaksikan olehnya, dan keadaan mahabbahnya dan hukum-hukumnya berdiri padanya, maka bagiannya dari keintiman sesuai dengan itu. Maka ia ketika tersembunyi darinya tujuannya dan hukum-hukum mahabbahnya merasa sendiri karenanya. Maka terlahir kesedihan dari kesendirian itu.
Dan setelah itu, kesedihan dilahirkan dari meninggalkan yang dicintai, tidak ada baginya sebab selainnya. Dan jika dilahirkan dari terjadinya yang dibenci, maka yang dibenci itu: sesungguhnya demikian karena apa yang luput dengannya dari yang dicintai. Maka tidak ada kesedihan dan tidak ada beban dan tidak ada kegelapan, dan tidak ada gangguan dan tidak ada kesusahan kecuali dalam meninggalkan yang dicintai. Dan karena ini kesedihan kefakiran dan penyakit dan kesakitan dan kebodohan dan kehinaan dan sempitnya dan buruknya keadaan dan semisalnya: atas perpisahan dari yang dicintai dari harta dan kekayaan dan kesehatan, dan ilmu dan kelapangan dan baiknya keadaan. Dan karena ini Allah – Maha Suci dan Maha Tinggi – menjadikan meninggalkan syahwat-syahwat dari hukuman yang paling besar. Maka Allah Taala berfirman: “Dan dihalangi antara mereka dan antara apa yang mereka inginkan – sebagaimana diperbuat dengan pengikut-pengikut mereka dari sebelumnya. Sesungguhnya mereka dalam keraguan yang meragukan” (Surat Saba: 54). Maka kegembiraan dan kesukaan dengan memperoleh yang dicintai, dan beban dan kegelapan dan kesedihan dan penyesalan dengan terluputnya yang dicintai. Maka kehidupan yang paling enak adalah kehidupan pecinta yang sampai kepada kekasihnya, dan kehidupan yang paling pahit adalah kehidupan orang yang dihalangi antara dia dan kekasihnya.
Dan tersembunyi yang disebutkan tidak terjadi kecuali setelah singkapan dan melihat. Dan Tuhan – Taala – menutupi dari mereka apa yang Dia tutupi sebagai rahmat kepada mereka, dan kelembutan kepada yang lemah dari mereka. Karena seandainya tetap baginya keadaan singkapan niscaya akan memusnahkannya. Bahkan rahmat kepadanya dari Tuhannya bahwa Dia mengembalikannya kepada hukum-hukum kemanusiaan, dan yang diharuskan tabiat.
Dan juga agar permintaannya semakin bertambah dan kerinduan hatinya semakin kuat, karena seandainya keadaan itu terus-menerus berlangsung baginya niscaya ia akan terbiasa dengannya, dan tidak akan terasa baginya seperti air bagi orang yang sangat kehausan, atau seperti keamanan bagi orang yang ketakutan, atau seperti perjumpaan bagi orang yang terpisah. Maka Rabb Yang Mahasuci menyembunyikannya dari hamba-Nya agar kesukacitaan, kelezatan, dan kegembiraannya menjadi sempurna ketika mendapatkannya kembali.
Dan juga agar Allah Mahasuci mengenalkannya tentang nilai nikmat yang telah Allah berikan dan anugerahkan kepadanya, karena ketika ia merasakan pahitnya kehilangan, ia mengenal manisnya keberadaan, sebab segala sesuatu dapat dibedakan dengan lawannya.
Dan juga agar Allah mengenalkan kepadanya kefakiran, kebutuhan, dan kedaruratannya kepada Rabb-nya, dan bahwa ia tidak dapat hidup tanpa karunia dan kebaikan Allah sekejap mata pun, dan bahwa jika bantuan Allah terputus darinya maka ia akan rusak seluruhnya.
Dan juga agar Allah mengenalkan kepadanya bahwa karunia dan pemberian itu bukan karena sebab dari hamba, dan bahwa ia tidak mampu memperolehnya dengan usaha dan pilihannya sendiri, dan bahwa itu semata-mata pemberian dan sedekah yang Allah berikan kepadanya yang tidak dapat dicapai oleh amalnya dan tidak dapat diraih oleh usahanya.
Dan juga agar Allah mengenalkan kepadanya kemuliaan Allah dalam menahan pemberian-Nya, kebaikan-Nya dalam memberi, dan kemurahan serta kedermawanan-Nya dalam kembali memberikan kepadanya apa yang telah disembunyikan darinya. Maka akan terbuka pada hatinya dari pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah karena penyembunyian ini dan penyingkapan setelahnya, perkara-perkara yang aneh dan menakjubkan yang dikenali oleh orang yang merasakannya dan diingkari oleh orang yang bukan ahlinya.
Dan juga karena watak dan nafsu itu belum mati dan belum hilang sama sekali, dan seandainya tidak demikian niscaya tidak akan tegak pasar ujian dan taklif di dunia ini. Akan tetapi keduanya ditundukkan oleh kekuasaan ilmu, ma’rifat, iman, dan kecintaan. Dan yang ditaklukkan dan dikalahkan pasti akan bergerak kadang-kadang meskipun sedikit, tetapi itu adalah gerakan tawanan yang terpaksa setelah sebelumnya gerakannya adalah gerakan pemimpin yang berkuasa.
Maka di antara kesempurnaan ihsan Rabb kepada hamba-Nya dan mengenalkan kepadanya nilai nikmat-Nya adalah bahwa Allah memperlihatkan kepadanya secara nyata apa yang dahulu menguasai dan menaklukkannya, dan kini menuntut apa yang dahulu dituntutnya pada awalnya. Maka ketika itu hamba meminta tolong kepada Rabb-nya, pelindungnya, dan pemilik seluruh urusannya: Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Pengatur hati, arahkanlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu.
Dan juga bahwa Allah menghilangkan dari hatinya bencana bersandar kepada dirinya sendiri, atau amalnya, atau keadaannya, sebagaimana dikatakan: Jika engkau bersandar kepada ilmu, Kami lupakan kepadamu. Jika engkau bersandar kepada keadaan, Kami cabut darimu. Jika engkau bersandar kepada ma’rifat, Kami tutup darimu. Dan jika engkau bersandar kepada hatimu, Kami rusak hatimu. Maka hamba tidak boleh bersandar kepada sesuatu pun selain Allah sama sekali. Dan kapan pun ia mendapati hatinya bersandar kepada selain-Nya, hendaklah ia ketahui bahwa ia telah dialihkan kepada orang yang bangkrut, bahkan yang tidak memiliki apa-apa, dan bahwa pintu telah dibukakan untuknya sebagai tipu daya. Maka hendaklah ia berhati-hati untuk memasukinya, dan kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan.
Ucapannya: Dan itu adalah kegelapan yang mereka katakan bahwa itu adalah tingkatan.
Maksudnya: bahwa kegelisahan karena tersembunyi adalah kegelapan. Dan ada kelompok yang mengatakan bahwa itu adalah tingkatan.
Alasannya: bahwa Rabb Yang Mahasuci menempatkan hamba-Nya dengan hikmah-Nya di dalamnya, karena hikmah-hikmah dan faedah-faedah yang telah kami sebutkan, dan lainnya yang belum kami sebutkan.
Dengan pertimbangan ini maka itu menjadi tingkatan, tetapi pemilik tingkatan ini: nafas-nafasnya adalah nafas kesedihan dan penyesalan, kebinasaan dan kehancuran, karena apa yang tertutup darinya dari tingkatan yang dahulu ia berada di dalamnya.
Dan Syaikh sepertinya tidak menganggapnya sebagai tingkatan, karena tingkatan-tingkatan adalah tempat-tempat persinggahan dalam jalan menuju yang dituju. Maka setiap perkara yang ditempatkan padanya salik dari keadaannya yang membawanya kepada tujuannya, maka itulah tingkatan. Adapun kegelisahan karena tersembunyi: maka itu sebenarnya adalah kemunduran bukan kemajuan, maka bagaimana bisa disebut tingkatan? Bahkan itu adalah lawan dari tingkatan.
Di antara yang menunjukkan bahwa kegelisahan karena tersembunyi bukan tingkatan adalah: bahwa setiap tingkatan adalah keterikatan dengan Allah Yang Mahabenar dengan cara yang tetap, dan hakikatnya adalah bahwa hamba berada dengan Yang Menetapkan bukan dengan tingkatan itu sendiri.
Adapun keadaan tersembunyi: maka itu adalah keadaan terputusnya keterikatan yang disebutkan tadi.
Dan yang benar dalam hal itu: bahwa ia memiliki dua sisi. Ia dari satu sisi adalah kegelapan dan kegelisahan. Dan dari sisi yang lain adalah tingkatan. Maka ia dengan mempertimbangkan keadaan dan mempertimbangkan dirinya sendiri bukanlah tingkatan, tetapi dengan mempertimbangkan akibat dan apa yang ditimbulkannya dan apa yang ada padanya dari hikmah-hikmah dan faedah-faedah yang disebutkan tadi, maka ia adalah tingkatan. Dan kepada Allah-lah taufik.
Fasal Kedua: Nafas pada Saat Tajalli
Fasal
Beliau berkata: Dan nafas yang kedua adalah nafas pada saat tajalli, dan ia adalah nafas yang keluar dari tingkatan kegembiraan menuju kenikmatan penyaksian, penuh dengan cahaya wujud, menuju tempat terputusnya isyarat.
Nafas ini lebih tinggi dari yang pertama, karena yang pertama berada pada saat tersembunyi dan kegelapan, sedangkan ini adalah nafas dalam keadaan tajalli dan cahayanya. Dan saat tajalli adalah waktu terjadinya penyingkapan. Tajalli berasal dari kata jilwah (penampakan). Dikatakan: dan hakikatnya adalah pancaran cahaya Allah pada hati-hati murid.
Jika yang mereka maksud adalah pancaran cahaya Dzat, maka itu adalah kesalahan besar dari mereka, dan karena itu ada yang berhati-hati dari mereka tentang itu dengan mengatakan “pancaran cahaya sifat-sifat”.
Jika mereka juga bermaksud pancaran sifat itu sendiri, maka itu juga salah, karena tajalli Dzat dan sifat tidak terjadi di dunia ini, dan kekuatan manusiawi tidak akan mampu menahannya.
Dan yang benar adalah bahwa itu adalah pancaran cahaya ma’rifat dan iman, dan tenggelamnya hati dalam menyaksikan Dzat yang Mahasuci dan sifat-sifat-Nya secara ilmiah. Namun itu lebih tinggi dari ilmu yang murni karena beberapa sebab.
Di antaranya: kekuatannya, karena ma’rifat dan ilmu itu berbeda-beda tingkatannya.
Di antaranya: kejernihan dan kebersihan tempat dari keruhnya yang menghalangi penampakan ilmu dan ma’rifat di dalamnya.
Di antaranya: kebebasan dari penghalang dan kesibukan.
Di antaranya: kesempurnaan perhatian dan pandangan menuju Yang Dikenal yang disaksikan.
Di antaranya: kesempurnaan keakraban dengan-Nya dan kedekatan kepada-Nya, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan bagi hati penyaksian dan penyingkapan melebihi sekadar ilmu.
Ucapannya: Dan ia adalah nafas yang keluar dari tingkatan kegembiraan, artinya: berasal dari tingkatan kegembiraan. Dan “syukhuush” artinya keluar, dikatakan: fulan pergi ke negeri ini dan itu, jika ia keluar menujunya.
Maksudnya: bahwa nafas ini berasal dari kegembiraan dan kebahagiaan, berbeda dengan yang pertama yang berasal dari kegelapan dan kegelisahan yang menimbulkan kesedihan. Maka nafas ini berasal dari mendengar jawaban yang menghapus bekas-bekas kegelisahan.
Ucapannya: “Menuju kenikmatan penyaksian” ia dengan fathah huruf ra’, dan itu adalah kenikmatan dan ketenangan yang diperoleh dengan penyaksian, lawan dari rasa sakit dan kegelisahan yang terjadi pada saat tersembunyi. Maka nafas ini sumbernya adalah kegembiraan, dan akhirnya adalah kenikmatan penyaksian, berasal dari kesenangan, mencari penyaksian.
Dan yang paling benar untuk memahami perkataan Syaikh dan orang-orang sepertinya dari kalangan ahli istiqamah tentang mu’ayanah (penyaksian) adalah bahwa itu adalah bertambahnya ilmu hingga menjadi yakin, dan tidak ada seorang pun yang sampai kepada ‘ainul yaqin di dunia ini.
Dan jika ada yang menyelisihi dalam hal itu, maka kesalahan adalah bagian dari watak manusia, dan ilmu membedakan antara kesalahan dan kebenaran.
Dan perkataan Syaikh di sini mengisyaratkan bahwa tajalli adalah di bawah mu’ayanah, karena tajalli kadang terjadi dari balik tabir yang tipis dan penghalang yang halus, sedangkan penyingkapan dan penyaksian langsung adalah penampakan tanpa tabir. Maka ketika ia bergembira dengan keadaan tajalli, nafas-nafasnya terkait dengan tingkatan mu’ayanah yang berada di atas tingkatan tajalli, dan karena itu ia menjadikannya keluar menujunya.
Ucapannya: “Penuh dengan cahaya wujud” maksudnya bahwa nafas ini penuh dengan cahaya wujud. Dan “wujud” menurutnya adalah hadhrah al-jam’ (hadirat penyatuan). Maka seakan-akan ia berkata: nafas ini tercelup dan terhiasi dengan cahaya wujud, karena pemiliknya ketika bernafas dengannya berada dalam tingkatan penyatuan dan wujud.
Ucapannya: “Menuju tempat terputusnya isyarat” karena hatinya penuh dengan cahaya wujud dan menuju mu’ayanah dengan sepenuh totalitasnya dalam mencarinya, maka ia menuju hadirat penyatuan yang merupakan tempat terputusnya isyarat menurut mereka, apalagi ibarat. Maka tidak ada isyarat di sana dan tidak ada ibarat dan tidak ada jejak, bahkan isyarat-isyarat sirna dan ibarat-ibarat tidak mampu, dan jejak-jejak lenyap.
Fasal Ketiga: Nafas yang Disucikan dengan Air Kesucian
Fasal
Ucapannya: Dan nafas yang ketiga adalah nafas yang disucikan dengan air kesucian, berdiri dengan isyarat-isyarat azali, dan ia adalah nafas yang dinamakan dengan kejujuran cahaya.
Al-Quds (kesucian): kebersihan, dan taqdis: penyucian dan pensucian. Dan yang dimaksud dengan quds di sini adalah: penyaksian yang melenyapkan yang baru yang tidak ada, dan tinggal Yang Qadim (Terdahulu) yang tidak pernah tiada. Maka seakan-akan sifat-sifat kebaruan menurut mereka adalah sesuatu yang disucikan darinya dengan tajalli yang disebutkan. Maka tajalli menyucikan hamba darinya, karena selama ia dalam hijab maka ia tetap dengan aku-nya dan sifat-sifatnya. Maka ketika cahaya tajalli menyinarinya, ia menyucikannya dari sifat-sifatnya dan dari menyaksikannya dan menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dan yang ia saksikan, yaitu Yang Haqq (Yang Benar).
Dan ringkasan ucapannya: bahwa nafas ini berasal dari penyaksian azali yang menghapus peristiwa-peristiwa dan melenyapkannya. Maka nafas ini disucikan dengan kesucian yang suci dari setiap selain Allah, dan dari memperhatikan setiap tingkatan, bahkan ia tenggelam dalam cahaya Allah, dan bekas-bekas kebenaran berbicara atasnya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar,” dan Ibnu Mas’ud berkata: Kami tidak ragu bahwa ketenangan berbicara pada lisan Umar. Dan ini adalah perkataan yang berbeda dari perkataan nafsu yang alamiah, dan karena itu nafas ini dinamakan dengan kejujuran cahaya karena kejujuran keterikatan kuatnya dengan cahaya dan kebersamaannya dengannya.
Ucapannya: “Berdiri dengan isyarat-isyarat azali” artinya: nafas ini disucikan dan dibersihkan dari isyarat-isyarat kebaruan, ia telah berpindah darinya dan meninggalkannya menuju isyarat-isyarat azali. Dan yang dimaksud dengan isyarat-isyarat azali adalah bahwa ia telah fana dalam penyaksiannya yang ia tuju dari yang tidak ada dan tinggal yang tidak pernah tiada. Maka nafas-nafasnya menjadi termasuk isyarat-isyarat azali.
Dan Syaikh tidak bermaksud: bahwa nafas-nafasnya berubah menjadi azali, maka orang yang berada di bawah Syaikh tidak akan membayangkan ini. Akan tetapi nafas-nafas makhluk terkait dengan yang tidak ada, dan nafas ini terkait dengan Yang tidak pernah tiada.
Dan setelah itu, bagi mulhid (orang sesat) ada tempat di sini, tetapi ia sesungguhnya adalah khayalan batil dan ilusi.
Dan dalam ucapannya: “Dinamakan dengan kejujuran cahaya” ada kehalusan, yaitu bahwa salik melihat cahaya dalam perjalanannya berkali-kali, kemudian cahaya itu tersembunyi darinya seperti kilat yang berkilau kemudian tersembunyi. Maka ketika cahaya itu menguat dan penampakannya terus-menerus, maka ia menjadi cahaya yang jujur.
Ucapannya: Maka nafas yang pertama adalah pelita bagi mata. Dan yang kedua adalah mi’raj (tangga) bagi yang menuju. Dan yang ketiga adalah mahkota bagi yang tahqiq.
Artinya: nafas yang pertama adalah pelita dalam kegelapan perjalanan, karena kaitannya dengan ilmu sebagaimana telah disebutkan. Dan ilmu adalah pelita yang dijadikan petunjuk di jalan-jalan tujuan, dan menerangi jalannya, dan menjelaskan tingkatannya. Maka ia adalah pelita bagi mata.
Dan nafas yang kedua bagi yang menuju adalah mi’raj, karena ia lebih tinggi dari yang pertama, karena ia dari cahaya ma’rifat yang mengangkat hijab.
Dan nafas yang ketiga bagi yang tahqiq adalah mahkota, karena ia adalah nafas yang disucikan dari kotoran alam semesta, dan terhubung dengan Yang Ada sebelum segala sesuatu, dan Yang Menjadikan segala sesuatu, dan Yang Ada setelah segala sesuatu. Maka ini adalah mahkota bagi hatinya seperti mahkota di atas kepala raja.
Dan nafas yang pertama mengamankan salik dari tersandung. Dan yang kedua mengantarkannya kepada yang ditujunya. Dan yang ketiga menunjukkan kepadanya tingginya kedudukannya. Dan Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi adalah Yang Maha Mengetahui.
HAKIKAT KETERASINGAN
Pasal Keterasingan
Syaikhul Islam berkata: Bab Keterasingan. Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa tidak ada dari generasi-generasi sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada berbuat kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (Surat Hud: 116)
Pengambilan dalil beliau dengan ayat ini dalam bab ini menunjukkan kedalaman ilmu dan pengetahuannya serta pemahamannya terhadap Al-Quran, karena sesungguhnya orang-orang yang terasing di dunia ini adalah orang-orang yang memiliki sifat yang disebutkan dalam ayat tersebut, dan mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya: “Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang terasing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka yang memperbaiki ketika manusia telah rusak.”
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Zuhair bin Amr bin Abi Amr maula Muthalib bin Hanthab, dari Muthalib bin Hanthab, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang terasing. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang terasing itu? Beliau menjawab: Mereka yang bertambah ketika manusia berkurang.”
Jika hadits ini dengan lafazh seperti ini adalah shahih dan tidak terjadi kekeliruan pada perawinya dengan lafazh: Mereka yang berkurang ketika manusia bertambah, maka maknanya adalah: Mereka yang bertambah dalam kebaikan, iman dan takwa ketika manusia berkurang dari hal itu, wallahu a’lam.
Dalam hadits Al-A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang terasing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah mereka.”
Dalam hadits Abdullah bin Amr, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda pada suatu hari ketika kami berada di sisinya: “Beruntunglah orang-orang yang terasing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang-orang shalih yang sedikit di tengah orang banyak, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.”
Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Jamil, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abdullah, dari Sulaiman bin Hurmuz, dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang terasing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang terasing itu? Beliau menjawab: Orang-orang yang lari membawa agama mereka, mereka akan berkumpul bersama Isa bin Maryam alaihissalam pada hari kiamat.”
Dalam hadits yang lain: “Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang terasing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”
Nafi’ berkata, dari Malik: Umar bin Al-Khattab masuk ke masjid, lalu ia mendapati Mu’adz bin Jabal sedang duduk di rumah Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan menangis. Maka Umar berkata kepadanya: Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Abdurrahman? Apakah saudaramu meninggal? Dia menjawab: Tidak, tetapi karena hadits yang diceritakan kekasihku shallallahu alaihi wasallam kepadaku ketika aku berada di masjid ini. Ia bertanya: Apa itu? Dia menjawab: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tersembunyi, santun, bertakwa, suci, yang jika mereka tidak hadir tidak dirindukan, dan jika mereka hadir tidak dikenal. Hati mereka adalah pelita hidayah, mereka keluar dari setiap fitnah yang gelap gulita.”
Maka mereka inilah orang-orang yang terasing yang terpuji dan patut dimuliakan. Karena sedikitnya mereka di tengah manusia, maka mereka dinamakan orang-orang yang terasing. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia tidak memiliki sifat-sifat ini. Maka ahli Islam di tengah manusia adalah orang-orang yang terasing, dan orang-orang beriman di tengah ahli Islam adalah orang-orang yang terasing, dan ahli ilmu di tengah orang-orang beriman adalah orang-orang yang terasing.
Sedangkan ahlus sunnah yang membedakan sunnah dari hawa nafsu dan bid’ah, maka mereka adalah orang-orang yang terasing. Dan para pendakwah kepada sunnah yang sabar atas gangguan orang-orang yang menyelisihi adalah yang paling terasing di antara mereka. Tetapi mereka inilah ahli Allah yang sebenarnya, maka tidak ada keterasingan bagi mereka. Keterasingan mereka hanyalah di tengah orang banyak yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Surat Al-An’am: 116). Maka mereka itulah orang-orang yang terasing dari Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, dan keterasingan mereka adalah keterasingan yang sunyi sepi, meskipun mereka adalah orang-orang yang dikenal dan ditunjuk. Sebagaimana dikatakan:
Maka bukanlah orang asing itu yang daerahnya jauh Tetapi orang asing adalah yang engkau jauh darinya
Ketika Musa alaihissalam keluar melarikan diri dari kaum Fir’aun, ia sampai di Madyan dalam keadaan yang disebutkan Allah, yaitu sendirian, terasing, takut dan lapar. Maka ia berdoa: Ya Rabb, aku sendirian, sakit dan terasing. Maka dikatakan kepadanya: Wahai Musa, yang sendirian adalah yang tidak memiliki Aku sebagai teman, yang sakit adalah yang tidak memiliki Aku sebagai tabib, dan yang terasing adalah yang tidak memiliki hubungan antara Aku dengan dirinya.
JENIS-JENIS KETERASINGAN
Pertama: Keterasingan Ahli Allah dan Ahlus Sunnah Rasul-Nya di Tengah Makhluk Ini
Keterasingan itu ada tiga jenis: Keterasingan ahli Allah dan ahlus sunnah Rasul-Nya di tengah makhluk ini. Inilah keterasingan yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memuji ahlinya, dan beliau mengabarkan tentang agama yang dibawanya bahwa ia dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, dan bahwa ahlinya akan menjadi orang-orang yang terasing.
Keterasingan ini mungkin terjadi di suatu tempat tanpa tempat lain, di suatu waktu tanpa waktu lain, dan di tengah suatu kaum tanpa kaum lain. Tetapi ahli keterasingan ini adalah ahli Allah yang sebenarnya, karena mereka tidak berlindung kepada selain Allah, tidak berhubungan kepada selain Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan tidak berdakwah kepada selain apa yang dibawanya. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan manusia ketika mereka sangat membutuhkan mereka. Ketika manusia pada hari kiamat pergi bersama tuhan-tuhan mereka, mereka tetap di tempat mereka. Maka dikatakan kepada mereka: Tidakkah kalian pergi ke mana manusia pergi? Mereka menjawab: Kami telah meninggalkan manusia padahal kami lebih membutuhkan mereka daripada hari ini, dan sesungguhnya kami menunggu Rabb kami yang dulu kami sembah.
Maka keterasingan ini tidak ada kesepian bagi pemiliknya, bahkan ia paling merasa tenteram ketika manusia merasa sepi, dan paling merasa sepi ketika mereka merasa tenteram. Maka penolong mereka adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, meskipun kebanyakan manusia memusuhi dan menjauhi mereka.
Dalam hadits Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Dari Allah Ta’ala: “Sesungguhnya wali-Ku yang paling Aku muliakan di sisi-Ku adalah seorang mukmin yang ringan beban, yang memiliki bagian dari shalatnya, yang berbuat baik dalam beribadah kepada Rabbnya, dan rezekinya cukup, dan dengan itu ia tersembunyi di tengah manusia, tidak ditunjuk dengan jari-jari, dan ia sabar atas hal itu hingga ia bertemu Allah, kemudian ajalnya tiba, dan warisannya sedikit, serta yang menangisinya sedikit.”
Di antara orang-orang yang terasing ini adalah yang disebutkan Anas dalam haditsnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betapa banyak orang yang berambut kusut, berdebu, berpakaian compang-camping yang tidak dipedulikan, jika ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan memenuhinya.”
Dalam hadits Abu Idris Al-Khaulani, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Maukah kalian Aku beritahu tentang raja-raja penghuni surga? Mereka menjawab: Tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Setiap orang yang lemah, berdebu, berpakaian compang-camping yang tidak dipedulikan, jika ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan memenuhinya.” Al-Hasan berkata: Orang mukmin di dunia seperti orang asing, ia tidak bersedih karena kehinaannya, dan tidak bersaing dalam kemuliaannya. Manusia memiliki keadaan tersendiri dan ia memiliki keadaan tersendiri. Manusia merasa nyaman darinya sedangkan ia merasa lelah dari dirinya sendiri.
Di antara sifat-sifat orang-orang yang terasing ini yang diberi kebahagiaan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah: Berpegang teguh pada sunnah ketika manusia berpaling darinya, meninggalkan apa yang mereka ada-adakan meskipun itu yang dikenal di sisi mereka, memurnikan tauhid meskipun kebanyakan manusia mengingkarinya, dan meninggalkan hubungan kepada siapa pun selain Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada seorang syaikh, tidak kepada suatu thariqah, tidak kepada suatu madzhab, dan tidak kepada suatu kelompok. Bahkan orang-orang yang terasing ini berhubungan kepada Allah dengan penghambaan kepada-Nya semata, dan kepada Rasul-Nya dengan mengikuti apa yang dibawanya semata. Mereka inilah yang benar-benar menggenggam bara api, dan kebanyakan manusia bahkan semuanya mencela mereka.
Karena keterasingan mereka di tengah makhluk ini, maka mereka dianggap sebagai ahli keanehan dan bid’ah, dan yang menyalahi sawad al-a’dzam (mayoritas).
Makna sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah mereka” adalah bahwa Allah Subhanahu mengutus Rasul-Nya sedangkan penduduk bumi menganut agama-agama yang berbeda-beda, ada yang menyembah berhala, api, patung dan salib, ada Yahudi, Shabiun dan filsuf. Islam pada awal kemunculannya adalah asing. Orang yang masuk Islam di antara mereka dan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya adalah orang asing di lingkungannya, kabilahnya, keluarganya dan kaumnya.
Maka orang-orang yang memenuhi seruan Islam adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah mereka, bahkan individu-individu di antara mereka yang terasingkan dari kabilah dan kaum mereka, lalu mereka masuk Islam. Maka mereka adalah orang-orang yang terasing yang sebenarnya, hingga Islam menang dan dakwahnya tersebar, dan manusia masuk ke dalamnya berbondong-bondong. Maka hilanglah keterasingan itu dari mereka. Kemudian Islam mulai terasingkan dan berpindah, hingga kembali asing sebagaimana awal mulanya. Bahkan Islam yang benar yang dianut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya hari ini lebih asing daripada awal kemunculannya, meskipun tanda-tanda dan bentuk-bentuk lahiriahnya masyhur dan dikenal. Islam yang hakiki sangat asing, dan ahlinya adalah orang-orang yang sangat terasing di tengah manusia.
Bagaimana tidak, hanya ada satu golongan yang sangat sedikit yang terasing di tengah tujuh puluh dua golongan yang memiliki pengikut, kepemimpinan, jabatan dan kekuasaan, dan tidak akan tegak pasaran mereka kecuali dengan menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam? Karena sesungguhnya apa yang dibawanya bertentangan dengan hawa nafsu dan kenikmatan mereka, dan apa yang mereka anut berupa syubhat dan bid’ah yang merupakan puncak keutamaan dan amal mereka, serta syahwat yang menjadi tujuan maksud dan keinginan mereka.
Maka bagaimana tidak menjadi terasing seorang mukmin yang berjalan menuju Allah di atas jalan mengikuti Rasul di tengah orang-orang ini yang telah mengikuti hawa nafsu mereka, mentaati keserakahan mereka, dan setiap orang dari mereka kagum dengan pendapatnya sendiri? Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Suruhlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang munkar, hingga apabila kalian melihat keserakahan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan, dan kekaguman setiap orang yang berpendapat dengan pendapatnya sendiri, dan kalian melihat suatu perkara yang tidak ada kekuatan bagimu untuk menghadapinya, maka jagalah dirimu sendiri, dan tinggalkanlah orang awam di antara mereka. Sesungguhnya di hadapan kalian ada hari-hari penuh kesabaran, orang yang sabar di dalamnya seperti menggenggam bara api.”
Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang jujur pada masa ini jika ia berpegang teguh pada agamanya diberikan pahala lima puluh orang dari kalangan sahabat. Dalam Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian sendiri, tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat jika kalian mendapat petunjuk” (Surat Al-Ma’idah: 105). Beliau bersabda: “Bahkan suruhlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang munkar, hingga apabila kalian melihat keserakahan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan, dan kekaguman setiap orang yang berpendapat dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang awam. Sesungguhnya di hadapan kalian ada hari-hari penuh kesabaran, kesabaran di dalamnya seperti menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal di dalamnya ada pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka? Beliau menjawab: Pahala lima puluh orang dari kalian.” Pahala yang agung ini hanyalah karena keterasingannya di tengah manusia, dan berpegang teguh pada sunnah di tengah kegelapan hawa nafsu dan pendapat mereka.
Jika seorang mukmin yang telah dikaruniai Allah bashirah (penglihatan batin) dalam agamanya, pemahaman dalam sunnah Rasul-Nya, dan pemahaman dalam Kitab-Nya, dan Allah memperlihatkan kepadanya apa yang ada pada manusia berupa hawa nafsu, bid’ah dan kesesatan serta penyimpangan mereka dari shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang dianut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, jika ia ingin menempuh jalan lurus ini maka hendaklah ia mempersiapkan dirinya untuk menerima kritikan dari orang-orang jahil dan ahli bid’ah kepadanya, celaan mereka terhadapnya, meremehkannya, menjauhkan manusia darinya dan memperingatkan manusia darinya, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu mereka dari kalangan orang-orang kafir terhadap yang diikutinya dan imamnya shallallahu alaihi wasallam. Adapun jika ia menyeru mereka kepada hal itu dan mengkritik apa yang mereka anut, maka di sanalah akan bangkit kemarahan mereka dan mereka akan menginginkan keburukan baginya, memasang jebakan untuknya, dan menyerangnya dengan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dari pemimpin mereka.
Maka ia terasing dalam agamanya karena rusaknya agama mereka, terasing dalam berpegang teguh pada sunnah karena mereka berpegang teguh pada bid’ah, terasing dalam keyakinannya karena rusaknya keyakinan mereka, terasing dalam shalatnya karena buruknya shalat mereka, terasing dalam jalannya karena sesat dan rusaknya jalan mereka, terasing dalam hubungannya karena berbedanya hubungan mereka, terasing dalam pergaulannya dengan mereka karena ia bergaul dengan mereka dengan cara yang tidak disukai jiwa mereka.
Kesimpulannya: Ia terasing dalam urusan dunia dan akhiratnya, tidak menemukan dari orang awam seorang penolong atau pembantu. Maka ia adalah orang berilmu di tengah orang-orang jahil, ahlus sunnah di tengah ahli bid’ah, pendakwah kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah para pendakwah kepada hawa nafsu dan bid’ah, orang yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar di tengah kaum yang di sisi mereka yang ma’ruf adalah munkar dan yang munkar adalah ma’ruf.
Bab Kedua: Keterasingan Ahli Kebatilan
Bab
Jenis kedua dari keterasingan adalah keterasingan yang tercela, yaitu keterasingan ahli kebatilan dan ahli kefasikan di tengah-tengah ahli kebenaran. Ini adalah keterasingan di tengah golongan Allah yang beruntung, meskipun jumlah ahli kebatilan itu banyak. Mereka tetap asing meski banyak pengikut dan pendukung mereka, mereka adalah orang-orang yang sunyi meski banyak yang menemani mereka. Mereka dikenal oleh penduduk bumi, namun tersembunyi dari penduduk langit.
Bab Ketiga: Keterasingan Bersama yang Tidak Terpuji dan Tidak Tercela
Bab
Jenis ketiga: keterasingan bersama yang tidak terpuji dan tidak tercela.
Yaitu keterasingan dari kampung halaman. Sesungguhnya seluruh manusia di dunia ini adalah orang-orang asing, karena dunia ini bukanlah tempat tinggal mereka yang kekal, dan bukan pula negeri tempat mereka diciptakan untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara.” Demikianlah hakikatnya; karena beliau memerintahkan agar hal itu direnungkan dengan hati dan diketahui dengan sebenar-benarnya. Aku memiliki beberapa bait syair tentang makna ini:
Mari menuju taman-taman surga ‘Adn, karena ia adalah tempat tinggal pertamamu dan di sanalah tempat berkemah
Namun kami adalah tawanan musuh, maka dapatkah engkau melihat kami kembali ke kampung halaman kami dengan selamat
Keterasingan macam apa yang melebihi keterasingan kami yang karenanya musuh-musuh menguasai kami
Mereka menganggap bahwa orang asing bila jauh dan terpisah dari kampung halamannya tidak akan merasakan kenikmatan
Karena itulah hamba tidak merasakan kenikmatan sesaat pun dalam hidupnya kecuali setelah ia merasakan penderitaan
Bagaimana mungkin hamba tidak menjadi asing di dunia ini, sementara ia berada di atas sayap perjalanan, tidak turun dari kendaraannya kecuali di tengah-tengah penghuni kubur? Ia adalah musafir dalam wujud orang yang menetap. Telah dikatakan:
Hari-hari ini tidak lain adalah tempat-tempat perhentian, yang oleh penyeru menuju kematian terus didorong dengan cepat
Dan yang paling mengherankan bila engkau merenungkan bahwa ia adalah tempat-tempat perhentian yang dilipat sementara musafir duduk
Bab: Tingkatan-tingkatan Keterasingan
Tingkat Pertama: Keterasingan dari Kampung Halaman
Bab
Penulis kitab Manazil berkata:
Keterasingan: adalah perkara yang dengannya ditunjukkan kepada kesendirian dari orang-orang yang setara.
Maksudnya: setiap orang yang menyendiri dengan sifat mulia dibandingkan anak-anak sejenis sejenisnya, maka ia adalah orang asing di tengah-tengah mereka; karena tidak ada yang menyamai atau sedikit yang menyamai.
Ia berkata: Keterasingan ada tiga tingkatan. Tingkat pertama: keterasingan dari kampung halaman. Orang asing ini kematiannya adalah syahid, dan diukur untuknya di dalam kuburnya dari tempat pemakamannya hingga kampung halamannya, dan ia dikumpulkan pada hari kiamat bersama Isa putra Maryam ‘alaihissalam.
Ketika keterasingan adalah kesendirian, dan kesendirian itu bisa dengan jasad atau dengan tujuan, keadaan, atau dengan keduanya, maka orang asing itu adalah orang asing jasad, atau orang asing hati, kehendak dan keadaan, atau orang asing dengan kedua pertimbangan tersebut.
Ucapannya: “Orang asing ini kematiannya adalah syahid” mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkan dari Hisyam bin Hassan, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kematian orang asing adalah syahid.” Namun hadits ini tidak sahih, telah diriwayatkan dari beberapa jalur namun tidak ada yang sahih, Imam Ahmad berkata: ini hadits munkar.
Adapun ucapannya: “Dan diukur untuknya di dalam kuburnya dari tempat pemakamannya hingga kampung halamannya” mengisyaratkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahb: telah menceritakan kepadaku Hayy bin Abdullah, dari Abu Abdurrahman Al-Bajali, dari Abdullah bin Amru, ia berkata: “Meninggal seorang laki-laki di Madinah dari orang yang lahir di Madinah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalatkannya, dan beliau bersabda: Alangkah baiknya andai ia meninggal bukan di tempat kelahirannya. Seorang laki-laki bertanya: Mengapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Sesungguhnya seorang laki-laki apabila meninggal, diukur untuknya dari tempat kelahirannya hingga ujung jejaknya di surga.” Diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah, dari Hayy dengan sanad ini, dan ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di kuburan seorang laki-laki di Madinah, lalu beliau bersabda: Alangkah baiknya andai ia meninggal dalam perantauan. Ditanyakan: Apa keutamaan orang asing yang meninggal bukan di negerinya? Beliau bersabda: Tidaklah seorang musafir meninggal bukan di negerinya, kecuali diukur untuknya dari tanahnya hingga tempat kelahirannya di surga.”
Ucapannya: Dan ia dikumpulkan pada hari kiamat bersama Isa putra Maryam, mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Jamil, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abdullah bin Aus, dari Sulaiman bin Hurmuz, dari Abdullah bin Amru, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesuatu yang paling dicintai Allah adalah orang-orang asing. Ditanyakan: Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Orang-orang yang hijrah dengan agama mereka, mereka berkumpul bersama Isa putra Maryam pada hari kiamat.”
Bab: Tingkat Kedua: Keterasingan Keadaan
Bab
Ia berkata: Tingkat kedua: keterasingan keadaan. Ini termasuk orang-orang asing yang bagi mereka kebahagiaan. Ia adalah orang yang saleh di zaman yang rusak di tengah kaum yang rusak, atau orang yang berilmu di tengah kaum yang jahil, atau orang yang shiddiq di tengah kaum munafik.
Yang dimaksud dengan keadaan di sini: sifat yang melekat padanya berupa agama dan berpegang teguh dengan sunnah, bukan keadaan istilah menurut kaum sufi. Yang dimaksud adalah: orang yang mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan menyeru kepadanya.
Syaikh menjadikan orang-orang asing pada tingkat ini tiga jenis: pemilik kebaikan dan agama di tengah kaum yang rusak, pemilik ilmu dan pengetahuan di tengah kaum yang bodoh, dan pemilik kejujuran dan keikhlasan di tengah ahli dusta dan kemunafikan. Sesungguhnya sifat-sifat mereka dan keadaan-keadaan mereka bertentangan dengan sifat-sifat orang yang berada di sekitar mereka. Maka orang-orang seperti ini di tengah-tengah mereka seperti burung asing di tengah burung-burung, dan anjing asing di tengah anjing-anjing.
Ash-Shiddiq adalah orang yang jujur dalam perkataan dan perbuatannya, dan membenarkan kebenaran dengan perkataan dan amalnya. Semua kekuatannya telah tertarik untuk tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, kebalikan dari orang munafik yang lahirnya berbeda dengan batinnya dan ucapannya berbeda dengan amalnya.
Bab: Tingkat Ketiga: Keterasingan Semangat
Bab
Ia berkata: Tingkat ketiga: keterasingan semangat. Yaitu keterasingan dalam mencari kebenaran, dan ini adalah keterasingan orang yang ma’rifat; karena orang yang ma’rifat dalam penyaksiannya adalah asing, dan yang menyertainya dalam penyaksiannya adalah asing, dan apa yang ia temukan tidak dapat dimuat oleh ilmu atau diperlihatkan oleh perasaan, atau ditegakkan olehnya rasm, atau ditanggung olehnya isyarat, atau dicakup olehnya nama adalah asing. Maka keterasingan orang yang ma’rifat adalah keterasingan dari keterasingan; karena ia adalah orang asing di dunia dan akhirat.
Tingkat ini lebih tinggi dari yang sebelumnya; karena keterasingan pertama adalah keterasingan dengan badan. Yang kedua: keterasingan dengan perbuatan dan keadaan. Dan yang ketiga ini: keterasingan dengan semangat. Karena semangat orang yang ma’rifat melayang-layang mengelilingi yang diketahuinya, maka ia adalah asing di kalangan anak-anak akhirat, apalagi di kalangan anak-anak dunia, sebagaimana pencari akhirat adalah asing di kalangan anak-anak dunia.
Ucapannya: “Karena orang yang ma’rifat dalam penyaksiannya adalah asing” penyaksian orang yang ma’rifat: adalah yang bersaksi di sisinya dan untuknya tentang kebenaran apa yang ia temukan dan bahwa ia sebagaimana yang ditemukan, dan tentang tetapnya apa yang diketahui dan bahwa ia sebagaimana yang diketahui.
Penyaksian ini: adalah perkara yang ia temukan dari hatinya, yaitu kedekatan dirinya dengan Allah, ketenangan bersamanya, kekuatan kerinduannya untuk bertemu dengan-Nya dan kegembiraannya dengan-Nya. Inilah penyaksiannya di dalam rahasia dan hatinya.
Dan ia memiliki penyaksian dalam keadaan dan amalnya, yang membenarkan penyaksian yang ada di hatinya ini.
Dan ia memiliki penyaksian di dalam hati orang-orang yang jujur, yang membenarkan kedua penyaksian ini. Karena hati orang-orang yang jujur tidak akan bersaksi dengan dusta sama sekali. Apabila keadaanmu dan urusanmu tersembunyi darimu, maka tanyakanlah tentangmu kepada hati orang-orang yang jujur; karena hati-hati itu akan memberitahumu tentang keadaanmu.
Ucapannya: “Dan yang menyertainya dalam penyaksiannya adalah asing” yang menyertainya dalam penyaksiannya; adalah apa yang menyertainya di dalamnya berupa ilmu, amal dan keadaan, dan ia adalah asing dibandingkan dengan selainnya dari orang yang tidak merasakan rasa urusan ini, bahkan ia berada di suatu lembah sementara orang-orang berada di lembah lain. Dan ucapannya: Dan apa yang ia temukan tidak dapat dimuat oleh ilmu hingga akhir.
Yang dimaksud dengan apa yang ia temukan: apa yang ia temukan dalam penyaksiannya secara dzat dan hakiki di dalam tingkatan-tingkatan yang disebutkan; karena penyaksian mencakup semuanya dalam keadaan menyaksikan.
Adapun apa yang dapat dimuat oleh ilmu: adalah hukum-hukum ilmu yang bila ia terlepas darinya maka terlepas dari iman.
Dan apa yang ia temukan dalam penyaksian ini dalam keadaan ini, adalah ketepatan dalam mendapatkan wajah yang benar yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya dengan syariat dan perintah-Nya. Dan ketepatan ini sangat asing di kalangan ahli ilmu, bahkan ditinggalkan oleh banyak dari mereka. Yang halal hanyalah apa yang dihalalkan oleh orang yang mereka taklidi, dan yang haram adalah apa yang diharamkannya, dan agama adalah apa yang ia fatwakan, didahulukan atas nash-nash, dan ditinggalkan karenanya perkataan Rasul, para sahabat dan seluruh ahli ilmu.
Ucapannya: “Atau diperlihatkan olehnya perasaan” Perasaan: memperlihatkan perkara-perkara yang diingkari oleh orang yang tidak memiliki perasaan itu, dan diketahui oleh orang yang memilikinya. Perasaan ini jika disaksikan oleh ilmu dengan penerimaan dan dipuji, maka ia adalah perasaan yang benar, jika tidak maka ia adalah perasaan yang rusak dan di dalamnya ada penyimpangan.
Dan yang dimaksud: bahwa apa yang diperlihatkan oleh perasaan orang yang ma’rifat dengan Allah, nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya adalah asing bagi selainnya, sesuai dengan semangat, pengetahuan dan pencarian mereka.
Ucapannya: “Atau ditegakkan olehnya rasm” Rasm: adalah bentuk fisik dan sifat-sifatnya serta perbuatan-perbuatannya menurut mereka. Dan yang ditegakkan oleh rasm ini adalah yang menegakkannya dari terkaitnya nama Al-Qayyum padanya. Karena Al-Qayyum adalah yang Berdiri dengan diri-Nya sendiri yang berdirinya setiap sesuatu adalah dengan-Nya; yakni: Dia-lah yang menegakkan selain-Nya. Maka tidak ada berdiri bagi selain-Nya tanpa penegakan-Nya kepadanya, dan berdiri-Nya adalah dengan diri-Nya sendiri bukan dengan yang lain.
Dan dimungkinkan bahwa maksudnya adalah makna lain, yaitu apa yang kuat rasm-nya untuk berdiri dengannya. Karena di balik itu ada yang tidak kuat rasm hamba untuk memperlihatkannya dan tidak berdiri dengannya. Dan ini adalah makna yang paling jelas dari dua makna dalam perkataannya, dan konteksnya menunjukkan kepadanya, karena itu ia berkata setelah itu: atau ditanggung olehnya isyarat; yakni: tidak mampu untuk memahaminya dan memperlihatkannya dengan isyarat, maka bangkitlah isyarat untuk menyingkapnya.
Kemudian ia berkata: atau dicakup olehnya rasm, artinya: atau dicapai olehnya ungkapan.
Maka Syaikh menyebutkan lima tingkatan; Pertama: tingkat pemuatan ilmu kepadanya. Kedua: tingkat pemunculan perasaan kepadanya. Ketiga: tingkat berdirinya rasm dengannya. Keempat: tingkat kesanggupan isyarat kepadanya. Kelima: tingkat pencakupan ungkapan kepadanya.
Dan maksudnya: bahwa apa yang ditemukan oleh orang yang ma’rifat adalah lebih tersembunyi dan lebih halus dari apa yang ditemukan oleh selainnya, maka ia adalah asing dibandingkan dengan apa yang ditemukan oleh selainnya. Dan ia mengabarkan: bahwa apa yang ia temukan dalam tingkatan-tingkatan ini adalah asing, lalu bagaimana dengan apa yang ia temukan yang tidak dapat dimuat oleh ilmu, tidak diperlihatkan oleh perasaan, tidak ditegakkan olehnya rasm, tidak ditanggung olehnya isyarat, dan tidak dicakup olehnya ungkapan? Maka ini adalah lebih asing lagi.
Ucapannya: “Maka keterasingan orang yang ma’rifat: keterasingan dari keterasingan” dan “keterasingan” adalah bahwa manusia berada di tengah anak-anak sejenis sejenisnya sebagai orang asing, meskipun ia memiliki nasab di tengah mereka.
Adapun keterasingan ma’rifat: maka tidak tersisa bersamanya keterkaitan antara dirinya dengan anak-anak sejenis sejenisnya kecuali dengan cara yang jauh; karena ia berada dalam urusan dan manusia berada dalam urusan lain, maka keterasingannya adalah keterasingan dari keterasingan.
Dan juga orang-orang saleh adalah asing di kalangan manusia, dan orang-orang zahid adalah asing di kalangan orang-orang saleh, dan orang-orang yang ma’rifat adalah asing di kalangan orang-orang zahid.
Ucapannya: karena ia adalah orang asing di dunia dan orang asing di akhirat.
Artinya: anak-anak dunia tidak mengenalnya; karena ia bukan dari mereka, dan ahli akhirat dari ahli ibadah dan zahid tidak mengenalnya; karena urusannya di balik urusan mereka. Semangat mereka terkait dengan ibadah, sedangkan semangatnya terkait dengan Yang Diibadahi dengan tetap melakukan ibadah. Maka ia melihat manusia tetapi manusia tidak melihatnya, sebagaimana dikatakan:
Aku bersembunyi dari zamanku dengan bayangan sayapnya, maka mataku melihat zamanku sementara ia tidak melihatku
Seandainya engkau bertanya kepada hari-hari apa namaku niscaya tidak tahu, dan di mana tempatku mereka tidak mengetahui tempatku
Bab Tenggelam
Hakikat Tenggelam
Bab Tenggelam
Syaikhul Islam berkata:
(Bab Tenggelam) Allah Taala berfirman: “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia membaringkannya atas pelipisnya” (Ash-Shaffat: 103). Ini adalah nama yang diisyaratkan dalam bab ini kepada orang yang telah berada di tengah-tengah tingkatan dan telah melampaui batas perpecahan.
Maksud pendalilan dengan isyarat ayat ini: bahwa Ibrahim shallallahu alaihi wasallam ketika telah mencapai apa yang dicapainya bersama anaknya dalam bersegera melaksanakan perintah dan bertekad untuk melaksanakan penyembelihan yang diperintahkan, maka sang ayah segera membaringkan anaknya di atas pelipisnya dan mengambil pisau serta mengarahkan ke lehernya. Dalam keadaan itu dia berpaling dari dirinya dan anaknya, dan fana dengan perintah Allah dari keduanya. Maka dia berada di tengah-tengah lautan berkumpulnya hati, jiwa, dan perhatian kepada Allah, serta melampaui batas perpecahan yang menghalangi dari melaksanakan perintah ini.
Firman-Nya: “Maka ketika keduanya telah berserah diri” (Ash-Shaffat: 103) yaitu keduanya pasrah dan tunduk kepada perintah Allah, maka tidak ada lagi pertentangan dari sang ayah maupun dari anak, melainkan kepasrahan murni dan penyerahan sempurna.
Firman-Nya: “dan dia membaringkannya atas pelipisnya” (Al-Fatihah: 103-31870) artinya: dia merebahkannya atas pelipisnya, yaitu sisi dahi yang menempel ke tanah ketika tidur, dan itulah posisi apa yang hendak disembelih.
Ungkapannya: “berada di tengah-tengah tingkatan” tidak dimaksudkan tingkatan tertentu, oleh karena itu dia menyamarkannya dan tidak membatasinya. “Tingkatan” menurut mereka adalah tempat pemberhentian dari tempat-tempat pemberhentian para salik, dan ia berbeda-beda sesuai tingkatannya, dan memiliki awal, tengah, dan akhir. Maka “tenggelam” yang diisyaratkan adalah: berada di tengah-tengah tingkatan.
Jika dikatakan: Tenggelam lebih khusus pada akhir tingkatan daripada di tengahnya, karena ia adalah penenggelaman di dalamnya sehingga hati dan perhatiannya tenggelam, lalu bagaimana Syaikh menjadikannya berada di tengahnya?
Saya katakan: karena perhatian penempuh jalan dalam keadaan ini terkumpul pada yang dituju, yaitu dia berpaling dari selain itu, telah meninggalkan tingkatan perpecahan dan melampaui batasnya menuju tingkatan berkumpul, maka dia memulai dalam tingkatan tersebut. Dan setiap awal tingkatan menyerupai akhir tingkatan sebelumnya. Maka ketika dia berada di tengahnya, hati, perhatian, dan keinginannya tenggelam, sebagaimana orang yang berada di tengah lautan tenggelam di dalamnya sebelum sampai ke akhirnya.
Tingkatan-tingkatan Tenggelam
Tingkatan Pertama: Tenggelamnya Ilmu dalam Mata Hal
Ungkapannya: Dan itu terdiri atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama: tenggelamnya ilmu dalam mata hal, dan ini adalah orang yang telah memperoleh istiqamah, telah benar-benar dalam isyarat, maka berhak atas kebenaran nisbah.
Tingkatan ini yang dimulai dengannya adalah tingkatan pertamanya, karena seseorang mungkin mengetahui sesuatu namun tidak memiliki sifat berakhlak dengannya dan mengamalkannya. Maka ilmu adalah sesuatu dan hal adalah sesuatu yang lain. Ilmu tentang cinta, kesehatan, syukur, dan kesejahteraan berbeda dengan pencapaiannya dan bersifat dengannya. Maka jika hal dari pengetahuan-pengetahuan itu mendominasi dirinya, ilmunya seakan-akan terlupakan, padahal tidak terlupakan, melainkan hukum berada pada hal.
Sesungguhnya hamba mengetahui rasa takut dari segi ilmu, namun jika dia bersifat dengan rasa takut dan rasa takut menyentuh hatinya, maka hal rasa takut dan kegelisahan mendominasinya, dan ilmunya tenggelam dalam halnya, sehingga dia tidak ingat ilmunya karena halnya mendominasi dirinya. Dan barangsiapa keadaannya demikian, maka dia telah memperoleh istiqamah, karena ilmu-ilmu jika menghasilkan hal-hal, maka darinya ada istiqamah dalam amal-amal dan terjadi dengan benar, dan pemiliknya benar-benar dalam isyarat kepada apa yang ditemukannya dari hal-hal, dan isyaratnya bukan dari perkiraan, prasangka, dan perhitungan.
Dan berhak atas nama nisbah dalam kebenaran penghambaan kepada Ar-Rahman Azza wa Jalla, karena firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka” (Al-Hijr: 42), dan firman-Nya: “Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati” (Al-Furqan: 63) dan ayat-ayat lainnya, dan firman-Nya: “Mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum” (Al-Insan: 6), dan firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada rasa takut terhadap kalian pada hari ini dan kalian tidak bersedih hati” (Az-Zukhruf: 68).
Dan yang dimaksud: bahwa ini berpindah dari hukum ilmu saja kepada hukum amal dengan hal yang menyertai ilmu. Maka dia beramal dengan temuan-temuan hal yang disertai dengan ilmu-ilmu kenabian. Sesungguhnya menyendirinya ilmu dari hal adalah pengangguran dan pengabaian, dan menyendirinya hal dari ilmu adalah kekufuran dan kesesatan. Dan yang paling sempurna adalah: tidak hilang dari penyaksian ilmu dengan hal, dan jika hal menenggelamkannya dari penyaksian ilmu dengan berdirinya pada hukum-hukumnya, maka tidak membahayakannya.
Ungkapannya: “Dan ini adalah orang yang telah memperoleh istiqamah” artinya: dia berada di atas jalan lurus yang menuju kepada Allah, yang mengantarkan kepada-Nya. Dan “memperoleh” adalah pencapaian seseorang pada yang dicarinya.
Ungkapannya: “dan telah benar-benar dalam isyarat” artinya: isyaratnya adalah isyarat kebenaran, bukan seperti isyarat pemilik kilat yang menyala kemudian pergi.
Ungkapannya: “maka berhak atas kebenaran nisbah” karena ketika dia istiqamah, dan halnya benar dengan amalnya, dan ilmunya menghasilkan halnya, maka benar nisbah penghambaan baginya. Karena tidak ada nisbah antara hamba dan Rabb kecuali nisbah penghambaan.
Tingkatan Kedua: Tenggelamnya Isyarat dalam Kasyaf
Bab
Dia berkata: Tingkatan kedua: tenggelamnya isyarat dalam kasyaf, dan ini adalah orang yang berbicara dari yang ditemukannya, dan berjalan bersama yang disaksikannya, dan tidak merasakan kecerobohan bentuknya.
Sesungguhnya tingkatan ini lebih tinggi dari sebelumnya karena pemilik tingkatan pertama tujuannya adalah memberi isyarat kepada apa yang diyakininya meskipun meninggalkannya, dan pemilik tingkatan ini telah fana dari isyarat karena dominasi terus-menerusnya cahaya kasyaf padanya. Maka tenggelamnya isyarat dalam kasyaf adalah terangkatnya hukumnya padanya. Karena isyarat menurut mereka adalah panggilan di atas kepala hamba, dan pengungkapan makna illat. Dan illat-illat telah terangkat dari pemilik tingkatan ini, maka isyaratnya tenggelam dalam kasyafnya, sehingga tidak ada lagi isyarat baginya dalam kasyaf. Dan sesungguhnya isyarat terangkat karena kasyaf menenggelamkannya, kecuali bahwa pemilik tingkatan ini masih ada sisa dari kecerobohan bentuknya. Maka karena itu dia berkata: dan tidak merasakan kecerobohan bentuknya. Dan kecerobohan bentuk adalah perhatiannya kepada ke-aku-annya.
Dan ungkapannya: Dan ini adalah orang yang berbicara dari yang ditemukannya.
Artinya: tidak meminjam apa yang disebutkannya dari rasa dan temuan dari orang lain, dan lisannya berbicara darinya tentang keadaan orang lain dan temuannya. Maka dia berbicara dari hal yang dia bersifat dengannya, bukan menggambarkannya.
Ungkapannya: “dan berjalan bersama yang disaksikannya” dengan huruf sin yang tidak bertitik, artinya: berjalan kepada Allah Azza wa Jalla dari penyaksian dan kasyaf, bukan dengan hijab dan kelalaian. Maka dia berjalan kepada Allah dengan Allah bersama Allah.
Ungkapannya: “dan tidak merasakan kecerobohan bentuknya” Bentuk menurut mereka adalah dzat hamba yang fana ketika penyaksian, dan bukan yang dimaksud dengan fananya adalah ketiadaannya dari wujud yang konkret, melainkan ketiadaannya dari wujud mental ilmiah. Ini yang mereka maksud dengan perkataan mereka: fana yang tidak ada, dan kekal yang tidak pernah tidak ada.
Dan mungkin mereka maksudkan dengan itu makna lain, yaitu: lenyapnya wujud yang baru yang terjadi di antara dua ketiadaan, dan sirna dalam wujud yang tidak pernah tidak ada dan tidak akan pernah tidak ada.
Dan bagi orang yang sesat di sini ada wilayah yang dia berkeliling di dalamnya dan berkata: sesungguhnya wujud yang baru tidak memiliki hakikat, dan sesungguhnya wujud qadim yang kekal sajalah yang tetap, tidak ada wujud selain-Nya, tidak dalam pikiran dan tidak di luar. Sesungguhnya itu adalah wujud yang melimpah secara terus-menerus pada mahiyat-mahiyat yang tiada, maka mereka berpakaian dengan mata wujud-Nya sesuai dengan kesiapan-kesiapan mereka. Dan yang dimaksud adalah: penjelasan perkataan Syaikh.
Dan yang dimaksud dengan kecerobohan bentuk di sini adalah: sisa yang tersisa dari pemilik penyaksian, tidak dia sadari karena lemah dan sedikitnya, dan kesibukannya dengan cahaya kasyaf dari kegelapannya. Maka dia tidak merasakannya.
Tingkatan Ketiga: Tenggelamnya Kesaksian-kesaksian dalam Berkumpul
Bab
Dia berkata: Tingkatan ketiga: tenggelamnya kesaksian-kesaksian dalam berkumpul, dan ini adalah orang yang dilingkupi cahaya-cahaya keawalan, maka membuka matanya dalam memandang keazalian, lalu terlepas dari perhatian-perhatian yang rendah.
Sesungguhnya penenggelaman ini menurutnya lebih sempurna dari sebelumnya, karena yang pertama adalah penenggelaman orang yang mengkasyaf dalam kasyaf, dan itu mengandung perpecahan. Dan ini adalah penenggelaman dari penyaksian kasyafnya dalam berkumpul. Maka orang ini mantap dalam hal berkumpulnya perhatiannya dengan Yang Haq hingga hilang dari persepsi penyaksiannya dan ingatan bentuk-bentuknya, karena cahaya-cahaya yang terus menerus datang kepadanya yang dikhususkan Yang Haq baginya dalam azal. Dan itu adalah cahaya-cahaya kasyaf nama-Nya Yang Maha Awal. Maka membuka mata batin pelihatannya dalam memandang pengkhususan-pengkhususan azali, lalu terlepas dengan itu dari perhatian-perhatian rendah yang terbagi antara mengubah yang telah dibagi, atau melewatkan yang dijamin, atau mempercepat yang ditunda, atau menunda yang didahulukan, dan semacam itu.
Dan mungkin yang dimaksud dengan perhatian-perhatian rendah adalah terkaitnya dengan selain Yang Haq Subhanahu dan apa yang ada untuk-Nya. Dan atas dasar ini maka tenggelamnya kesaksian-kesaksiannya dalam berkumpulnya hukum dan meliputinya.
Dan mungkin dimaksudkan dengan itu makna lain, yaitu: tenggelamnya kesaksian-kesaksian nama-nama dan sifat-sifat dalam Dzat yang mengumpulkannya. Karena Dzat mengumpulkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka jika hamba tenggelam dalam hadirat berkumpul, maka kesaksian-kesaksian hilang dalam hadirat itu.
Dan yang paling sempurna dari itu adalah: menyaksikan keberagaman dalam kesatuan, dan kesatuan dalam keberagaman, dengan makna: menyaksikan keberagaman nama-nama dan sifat-sifat dalam Dzat Yang Maha Esa, dan kesatuan Dzat dengan keberagaman nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Dan ungkapannya: “maka membuka matanya dalam memandang keazalian” melihat dengan Allah bukan dengan dirinya, dan mengambil dari karunia dan taufik-Nya bukan dari pengetahuan dan kebenarannya. Maka menyaksikan pendahuluan Allah Subhanahu wa Taala terhadap segala sesuatu dan keawalan-Nya sebelum segala sesuatu, lalu terlepas dari perhatian-perhatian makhluk yang terkait dengan yang lebih rendah, dan menjadi baginya perhatian yang tinggi yang terkait dengan Rabbnya Yang Maha Tinggi yang berkeliaran di taman ketenangan dengan-Nya dan pengenalan kepada-Nya, kemudian kembali ke tingkatan-tingkatannya di bawah Arasy-Nya dalam keadaan sujud kepada-Nya, khusyuk kepada keagungan-Nya, merendahkan diri kepada kemuliaan-Nya, tidak mencari selain-Nya dan tidak menginginkan selain-Nya.
Bab Ghaibah (Ketiadaan Kesadaran)
Hakikat Ghaibah
Bab Ghaibah
Penulis Manazil berkata:
(Bab Ghaibah) Allah Taala berfirman: “Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata: Alangkah sedihnya aku terhadap Yusuf” (Yusuf: 84). Maksud pendalilan dengan isyarat ayat ini bahwa Yaqub shallallahu alaihi wasallam ketika hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Yusuf alaihish shalatu wassalam dan ingatannya, maka dia berpaling dari mengingat saudaranya, padahal baru saja terjadi musibah perpisahan dengannya. Maka dia tidak menyebutnya dan tidak bersedih atasnya karena ghaibah darinya dengan cinta Yusuf dan berkuasanya atas hatinya. Dan jika dia berdalil dengan firman Allah Taala: “Maka ketika mereka melihatnya, mereka mengagungkannya dan mereka memotong tangan-tangan mereka” (Yusuf: 31), maka itu juga dalil, karena penyaksian mereka dalam keadaan itu menghilangkan dari para wanita itu pisau-pisau dan apa yang mereka potong dengannya, hingga mereka memotong tangan-tangan mereka dan tidak mereka sadari, dan itu dari kuatnya ghaibah.
Tingkatan-tingkatan Ghaibah
Tingkatan Pertama: Ghaibahnya Murid dalam Pembebasan Tujuan dari Tangan-tangan Keterikatan
Syaikh berkata: Ghaibah yang diisyaratkan dalam bab ini terdiri atas tiga tingkatan. Yang pertama: ghaibahnya murid dalam pembebasan tujuan dari tangan-tangan keterikatan, dan penguasaan penghalang-penghalang untuk mencari hakikat-hakikat.
Yang dimaksud adalah ghaibahnya murid dari negerinya, tanah airnya, dan kebiasaan-kebiasaannya, dalam tempat pemurnian tujuan dan pembentukannya agar dengan itu memutus keterikatan-keterikatan. Dan itu adalah apa yang terkait dengan hatinya, jasadnya, dan inderanya dari hal-hal yang biasa, dan mendahului penghalang-penghalang hingga tidak mengejarnya dan tidak menguasainya.
Ungkapannya: “untuk mencari hakikat-hakikat” terkait dengan ungkapannya “ghaibahnya murid”, artinya: ghaibah ini untuk mencari hakikat-hakikat. Karena penghalang-penghalang dan keterikatan-keterikatan menghalangi antara dia dan pencarian serta pencapaiannya karena pertentangannya dengan itu.
Dan hakikat-hakikat adalah jamak dari hakikat, dan yang dimaksud dengannya adalah Yang Haq Taala dan apa yang dinisbahkan kepada-Nya. Maka Dia adalah Yang Haq, dan firman-Nya adalah haq, dan janji-Nya adalah haq, dan pertemuan dengan-Nya adalah haq, dan Rasul-Nya adalah haq, dan penghambaan kepada-Nya saja adalah haq, dan penghambaan kepada selain-Nya adalah batil. Maka segala sesuatu kecuali Allah adalah batil.
Dan yang dimaksud: bahwa murid jika tidak membebaskan tujuannya dalam yang dicarinya dari apa yang menghalanginya dari kesibukan-kesibukan atau apa yang menguasainya dari penghalang-penghalang, maka dia tidak mencapai tujuannya dan tidak sampai kepadanya. Dan jika sampai kepadanya maka setelah usaha keras dan kesulitan, karena kesibukan-kesibukan itu. Dan kaum sufi tidak sampai kepada tujuan mereka kecuali dengan memutus keterikatan-keterikatan dan meninggalkan kesibukan-kesibukan.
Tingkatan Kedua: Ghaibahnya Salik dari Bentuk-bentuk Ilmu, Illat-illat Usaha, dan Keringanan-keringanan Kelemahan
Bab
Dia berkata: Tingkatan kedua: ghaibahnya salik dari bentuk-bentuk ilmu, dan illat-illat usaha, dan keringanan-keringanan kelemahan. Yang dimaksud: bahwa dia berpindah dari hukum-hukum ilmu kepada hal. Dan ini adalah perkataan yang mengandung kesamaran. Orang yang sesat memahami darinya: bahwa dia meninggalkan hukum-hukum ilmu dan berdiri dengan hukum-hukum hal, dan ini adalah kesesatan dan penyimpangan.
Dan orang yang bertauhid memahami darinya: bahwa dia berpindah dari hukum-hukum ilmu saja kepada hukum-hukum hal yang menyertai ilmu. Karena ilmu yang kosong dari hal adalah kelemahan dalam jalan, dan hal yang terpisah dari ilmu adalah kesesatan dari jalan. Dan barangsiapa beribadah kepada Allah dengan hal yang terpisah dari ilmu, maka dia tidak bertambah dari Allah kecuali jauh.
Ungkapannya: “dan illat-illat usaha” maksudnya: bahwa salik hilang dari illat-illat usaha dan amalnya.
Dan illat-illat ini menurut mereka adalah: keyakinannya bahwa dia sampai dengan itu kepada Allah, dan ketenangan dirinya kepadanya, dan kebahagiaannya dengannya, dan pandangannya kepadanya. Maka dia hilang dari illat-illat ini.
Dan yang dimaksud dengan ghaibahnya darinya adalah: meniadakannya hingga tidak hadir baginya, bukan bahwa dia hilang darinya sementara itu ada dan tetap. Ya, jika dia meyakini bahwa Allah akan sampai kepadanya dengan itu, dan berbahagian dengannya dari segi karunia dan anugerah dan pendahuluan keawalan, bukan dari segi usaha dan perbuatan, maka itu tidak membahayakannya. Bahkan ini lebih sempurna, dan pada hakikatnya ini adalah ketenangan kepada Allah Taala dan kebahagiaan dengan-Nya, dan keyakinan bahwa Dialah yang mengantarkan hamba-Nya kepada-Nya dengan apa yang dari-Nya saja, bukan dengan daya dan kekuatan hamba. Maka ini satu warna dan itu warna lain.
Dan kesimpulannya: bahwa jika dia berpindah dari hukum-hukum ilmu yang terpisah kepada hukum-hukum hal yang menyertai ilmu, maka illat-illat usaha hilang darinya.
Demikian pula hilang darinya keringanan-keringanan kelemahan, maka dia tidak melihat kepada kesungguhan usaha dan tidak berdiri dengan keringanan-keringanan kelemahan. Maka keduanya adalah kerusakan bagi salik. Karena dia entah memurnikan tekad dan perhatiannya, maka melihat kepada apa yang darinya, dan bahwa perhatian dan tekadnya membawanya dan berdiri dengannya, atau dia mengambil keringanan dengan keringanan-keringanan yang melemahkan tekad dan perhatiannya. Maka kesempurnaan kesungguhannya, kejujurannya, dan kebenaran pencariannya membebaskannya dari keringanan-keringanan kelemahan. Dan kesempurnaan tauhidnya, dan pengetahuannya tentang Rabbnya dan dirinya membebaskannya dari illat-illat usaha.
Bab Tingkatan Ketiga: Ketiadaan Orang yang Mengenal Allah dari Pandangan terhadap Keadaan, Bukti-bukti, dan Tingkatan dalam Esensi Penyatuan
Bab
Dia berkata: Tingkatan ketiga adalah ketiadaan orang yang mengenal Allah dari pandangan terhadap keadaan, bukti-bukti, dan tingkatan dalam esensi penyatuan.
Tingkatan ini menurutnya adalah yang paling tinggi sesuai dengan metodenya yang menganggap fanaa (hilangnya kesadaran diri) adalah tujuan akhir pencari kebenaran. Tingkatan ini adalah ketiadaannya dari karunia-karunia dan tingkatan-tingkatan dengan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih mulia menurutnya, yaitu hadirat penyatuan.
Makna ketiadaannya dari pandangan keadaan-keadaan adalah bahwa ia tidak melihat keadaan-keadaan dan keadaan-keadaan pun tidak melihatnya. Oleh karena itu, ia meminjam istilah “mata” untuk keadaan-keadaan tersebut, karena keadaan-keadaan menuntut adanya perasaan (wajd), yang dirasakan (maujud), dan penemuan (wijdan). Hal ini bertentangan dengan fanaa dalam hadirat penyatuan, karena penyatuan menghapuskan jejak bentuk-bentuk lahiriah. Telah Anda ketahui berkali-kali bahwa ini bukanlah kesempurnaan, bukan sesuatu yang dicari untuk dirinya sendiri, dan ada yang lebih sempurna darinya.
Adapun “ketiadaannya dari bukti-bukti”, ia mungkin bermaksud dengan itu bukti-bukti pengetahuan dan dalil-dalilnya, sehingga ia hilang dengan yang dikenalnya dari bukti-bukti yang menunjuk kepadanya di luar dan dalam dirinya.
Ia mungkin juga bermaksud dengan bukti-bukti adalah nama-nama dan sifat-sifat, dan ketiadaan darinya dengan menyaksikan Dzat. Namun ini bukanlah kesempurnaan, dan bukan lebih tinggi dari menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat. Bahkan penyaksian ini adalah penyaksiannya orang-orang muatthilah (yang meniadakan sifat-sifat Allah) yang mengingkari hakikat nama-nama dan sifat-sifat, karena mereka berakhir dalam fanaa mereka pada penyaksian Dzat yang telanjang.
Dari sinilah masuk orang-orang mulhid yang mengatakan wahdatul wujud (kesatuan wujud), dan mereka menjadikan penyaksian terhadap wujud yang terlepas dari batasan-batasan dan dari seluruh nama dan sifat sebagai penyaksian hakikat. Maha Suci Allah dari kekufuran dan kesesatan mereka dengan ketinggian yang agung. Syaikh Islam (Ibnu Taimiyah) berlepas diri dari mereka dan dari penyaksian mereka.
Yang dimaksud oleh ahli istiqamah (orang-orang yang lurus) dengan itu adalah menyaksikan Dzat yang mencakup seluruh makna Asmaul Husna dan Sifatul Ulya, sehingga penyaksiannya terhadap Dzat yang suci ini menghilangkan penyaksiannya terhadap sifat dan nama.
Bukti-bukti adalah perbuatan-perbuatan yang menunjukkan sifat-sifat yang mengharuskan adanya Dzat. Bukti-bukti pengetahuan adalah dalil-dalil yang darinya diperoleh pengetahuan. Apabila yang menyaksikan meliputi bukti-bukti itu dari keberadaannya, dan ia menyaksikan bahwa ia tidak mengenal Allah kecuali dengan-Nya, dan tidak ada yang menunjukkan kepada-Nya kecuali Dia, maka hilang darinya bukti-buktinya dalam yang disaksikannya, sebagaimana pengetahuannya hilang dalam yang dikenalnya.
Bagaimanapun, Allah tidak dikenal kecuali dengan Allah, dan tidak ada yang menunjukkan kepada Allah kecuali Allah, dan tidak ada yang menghantarkan kepada Allah kecuali Allah. Maka Dialah yang menunjukkan diri-Nya dengan dalil-dalil yang telah Dia tegakkan, dan Dialah yang mengingat diri-Nya di lisan hamba-Nya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah berfirman di lisan Nabi-Nya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Dialah yang mencintai diri-Nya dengan diri-Nya, dan dengan apa yang telah Dia ciptakan dari hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya, dan Dia yang mensyukuri diri-Nya dengan diri-Nya, dan dengan apa yang telah Dia jalankan pada lisan, hati, dan anggota badan hamba-hamba-Nya dari dzikir dan syukur kepada-Nya. Dari-Nya sebab dan Dialah tujuan: Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Hadid: 3).
Bagi orang mulhid di sini ada medan untuk masuk, di mana ia mengira bahwa yang mengingat, yang diingat, dan ingatan, serta yang mengenal, yang dikenal, dan pengetahuan, serta yang mencintai, yang dicintai, dan cinta adalah dari satu esensi. Bahkan itu adalah esensi yang satu, dan bahwa yang mengenal Allah dan mencintai-Nya adalah Allah sendiri, meskipun manifestasinya bermacam-macam. Yang tampak padanya adalah satu, tampak dengan wujud ainnya (konkret) padanya, maka wujud mereka adalah esensi wujud-Nya, dan wujud-Nya memancar kepadanya. Ini lebih kafir dari setiap kekafiran, dan lebih besar dari setiap kesesatan.
Orang-orang yang bertauhid mengatakan: Yang memancar kepadanya adalah pengadaan-Nya (ijad), bukan wujud-Nya. Yang tampak padanya adalah perbuatan-Nya, bahkan jejak perbuatan-Nya, bukan Dzat-Nya dan bukan pula sifat-sifat-Nya. Mereka berdiri dengan-Nya dalam kefakiran dan kebutuhan kepada-Nya, bukan dengan wujud dan dzat. Dan Dia menegakkan mereka dengan kehendak dan rububiyah-Nya, bukan dengan penampakan-Nya di dalamnya.
Sungguh orang-orang mulhid ittihad (kesatuan) melihat sesuatu yang membingungkan mereka dalam kesatuan Maha Pencipta dengan kesatuan wujud, dan tauhid Dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan dengan tauhid wujud, dan pancaran kemurahan-Nya dengan pancaran wujud-Nya. Maka mereka menyatukan wujud dan mengklaim bahwa itulah Yang Disembah. Mereka menjadi penyembah wujud mutlak yang tidak memiliki wujud kecuali dalam pikiran, dan penyembah makhluk-makhluk yang ada secara konkret. Karena wujud mereka menurutnya adalah yang dinamai Allah. Maha Suci Allah dari kesesatan ini yang hampir langit terbelah karenanya dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh (Maryam: 90). Maha Suci Dia yang di atas langit-Nya, di atas Arasy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya dengan Dzat, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Di mana hakikat makhluk dari air yang hina dengan Dzat Rabb semesta alam? Di mana yang tersusun dari tanah dengan Rabb para penguasa? Di mana yang fakir dengan dzatnya kepada Yang Maha Kaya dengan dzat-Nya? Di mana wujud yang sirna dan lenyap wujudnya dengan hakikat wujud Yang Maha Hidup yang tidak mati? Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk. Milik-Nya nama-nama yang indah. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana (Al-Hasyr: 22-24).
Bab Kemantapan
Hakikat Kemantapan
Penulis kitab Manazil berkata:
(Bab Kemantapan). Allah Taala berfirman: Dan janganlah mereka yang tidak yakin itu menggelisahkanmu (Ar-Rum: 60).
Dalil dari ayat ini sangat jelas, yaitu bahwa orang yang mantap tidak peduli dengan banyaknya penghalang, tidak peduli dengan bergaul dengan ahli kelalaian, tidak peduli dengan pergaulan ahli kebatilan. Bahkan dia telah mantap dengan kesabaran dan keyakinannya sehingga tidak tergoyahkan oleh mereka, dan tidak digelisahkan oleh mereka. Oleh karena itu, Allah Taala berfirman: Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar (Ar-Rum: 60). Barangsiapa memenuhi hak kesabaran dan yakin bahwa janji Allah adalah benar, maka tidak akan digoyahkan oleh orang-orang yang batil, dan tidak akan digelisahkan oleh orang-orang yang tidak yakin. Kapan pun melemah kesabaran dan keyakinannya atau keduanya, maka ia akan digoyahkan oleh mereka dan digelisahkan oleh mereka. Mereka akan menariknya kepada mereka sesuai dengan kelemahan kekuatan kesabaran dan keyakinannya. Semakin lemah itu darinya, semakin kuat tarikan mereka kepadanya. Dan semakin kuat kesabaran dan keyakinannya, semakin kuat penarikannya dari mereka dan penarikannya kepada mereka.
Bab
Syaikh berkata: Kemantapan adalah di atas ketenangan, dan itu adalah isyarat kepada puncak kestabilan.
Kemantapan adalah kemampuan untuk bertindak dalam perbuatan dan meninggalkannya, dan disebut juga makkānah (kedudukan). Allah Taala berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (demikian)” (Al-An’am: 135). Paling sering istilah ini dalam istilah kaum (sufi) digunakan untuk orang yang berpindah ke tingkatan baqa (kekal) setelah fanaa, dan itulah wushul (sampai) menurut mereka. Hakikatnya adalah hamba mendapatkan dirinya, yaitu hilangnya darinya hukum-hukum kemanusiaan dengan terbitnya matahari hakikat dan dominasi kekuasaannya. Apabila keadaan ini terus-menerus baginya atau mendominasi dirinya, maka ia adalah pemilik tamkin (kemantapan yang lebih kuat).
Penulis kitab Manazil berkata: Kemantapan adalah di atas ketenangan, dan itu adalah isyarat kepada puncak kestabilan. Ia berada di atas ketenangan karena ketenangan masih dengan adanya semacam perlawanan, lalu hati tenang kepada apa yang menenangkannya, dan mungkin mantap di dalamnya atau mungkin tidak mantap. Oleh karena itu, kemantapan adalah puncak kestabilan. Ia adalah tafa’ul dari makan (tempat), seakan-akan tingkatannya telah menjadi tempat bagi hatinya yang telah dijadikannya tempat tinggal dan tempat menetap.
Tingkatan-tingkatan Kemantapan
Tingkatan Pertama: Kemantapan Murid
Dia berkata: Dan itu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama: kemantapan murid, yaitu terkumpul baginya kebenaran tujuan yang menjalankannya, kilatan penyaksian yang membawanya, dan luasnya jalan yang melegakannya.
Murid dalam istilah mereka adalah orang yang telah mulai berjalan menuju Allah, dan ia di atas abid (ahli ibadah) dan di bawah wasil (yang sampai). Ini adalah istilah sesuai dengan keadaan para salik (penempuh jalan). Kalau tidak, maka abid adalah murid, salik adalah murid, dan wasil adalah murid. Iradah (keinginan) tidak meninggalkan hamba selama ia masih di bawah hukum penghambaan.
Syaikh telah menyebutkan untuk kemantapan pada tingkatan ini tiga perkara: kebenaran tujuan, kebenaran ilmu, dan luasnya jalan. Dengan kebenaran tujuan akan benar perjalannya, dengan kebenaran ilmu akan tersingkap baginya jalan, dan dengan luasnya jalan akan mudah baginya perjalanan. Setiap pencari sesuatu dari perkara-perkara, maka tidak bisa tidak baginya menentukan yang dicarinya, yaitu yang dituju, dan mengetahui jalan yang menghantarkan kepadanya, dan memulai perjalanan. Apabila ia kehilangan salah satu dari tiga ini, tidak akan benar pencarian dan perjalanannya. Maka perkaranya berputar antara yang dicari yang harus dipilih di atas yang lainnya, dan pencarian yang berdiri dengan tujuan dari yang menujunya, dan jalan yang menghantarkan kepadanya.
Apabila hamba benar-benar mencari Rabbnya saja, maka akan jelas yang dicarinya. Apabila ia berusaha sungguh-sungguh dalam pencarian-Nya, maka akan benar pencariannya. Apabila ia benar-benar mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka akan benar jalannya. Kebenaran tujuan dan jalan bergantung pada kebenaran yang dicari dan kejelasannya.
Hukum tujuan diambil dari hukum yang dituju. Apabila yang dituju adalah layak untuk dipilih, maka tujuan yang terkait dengannya juga demikian. Maka tujuan dan jalan mengikuti yang dituju.
Kesempurnaan penghambaan adalah menyesuaikan Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam yang dituju, tujuannya, dan jalannya. Yang ditujunya adalah Allah saja, tujuannya adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya pada dirinya dan pada makhluk-Nya, dan jalannya adalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Maka para sahabat radiyallahu anhum menemaninya atas dasar itu hingga mereka bergabung dengannya. Kemudian datang Tabiin yang mengikuti mereka dengan baik, lalu mereka berjalan mengikuti jejak mereka.
Kemudian jalan-jalan bercerai berai pada manusia. Sebaik-baik manusia adalah yang menyesuaikannya dalam yang dituju dan jalan. Paling jauh mereka dari Allah dan Rasul-Nya adalah yang menyelisihinya dalam yang dituju dan jalan, yaitu ahli syirik dalam yang disembah dan bidah dalam ibadah. Di antara mereka ada yang menyesuaikannya dalam yang dituju tetapi menyelisihinya dalam jalan. Di antara mereka ada yang menyesuaikannya dalam jalan tetapi menyelisihinya dalam yang dituju.
Barangsiapa yang tujuannya adalah Allah dan negeri akhirat, maka ia telah menyesuaikannya dalam yang dituju. Jika ia beribadah kepada Allah dengan apa yang diperintahkan di lisan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, maka ia telah menyesuaikannya dalam jalan. Jika ia beribadah kepada-Nya dengan selain itu, maka ia telah menyelisihinya dalam jalan.
Barangsiapa yang tujuannya dari ahli ilmu, ibadah, dan zuhud di dunia adalah kepemimpinan, maka ia telah menyelisihinya dalam yang dituju, meskipun ia terikat dengan perintah.
Jika ia tidak terikat dengannya, maka ia telah menyelisihinya dalam yang dituju dan jalan.
Apabila ini dipahami, maka ucapan Syaikh “kemantapan murid adalah terkumpul baginya kebenaran tujuan yang menjalankannya” adalah isyarat kepada kebenaran tujuan.
Ucapannya: “dan kilatan penyaksian yang membawanya” adalah isyarat kepada pengenalan yang dituju dan kekuatan keyakinan, sehingga terjadi bagi hatinya penyingkapan yang membawanya pada perjalannya. Karena salik apabila tersingkap baginya tentang yang ditujunya hingga seakan-akan ia melihatnya, maka ia akan bersungguh-sungguh dalam mengejarnya, dan hilang darinya keringanan kemalasan.
Ucapannya: “dan luasnya jalan yang melegakannya” adalah isyarat kepada kebenaran jalannya, dan itu dengan dua perkara: dengan luasnya sehingga tidak sempit baginya dan ia tidak mampu menempuhnya, dan dengan lurus sehingga ia tidak menyimpang darinya ke yang lainnya. Karena jalan kebenaran itu luas dan lurus, sedangkan jalan-jalan kebatilan itu sempit dan bengkok. Ini menunjukkan kedalaman ilmu Syaikh, berdirinya dengan sunnah, dan fiqihnya dalam urusan ini.
Bab Tingkatan Kedua: Kemantapan Salik
Bab
Dia berkata: Tingkatan kedua: kemantapan salik, yaitu terkumpul baginya kebenaran pemutusan, kilat penyingkapan, dan cahaya keadaan.
Tingkatan ini lebih sempurna dari yang sebelumnya, karena yang itu adalah kemantapan dalam membenarkan tujuan amal-amal, sedangkan ini adalah kemantapan dalam keadaan kemantapan. Kemantapan dalam keadaan lebih sempurna dari kemantapan dalam tujuan.
Yang dimaksud dengan kebenaran pemutusan adalah terputusnya hatinya dari yang selain Allah, dan terkaitnya dengan kesibukan-kesibukan yang mendatangkan kekeruhan. Di samping itu, telah terjadi bagi hatinya “kilat penyingkapan” yang menjadikan iman baginya seperti penyaksian langsung. Di samping itu, keadaannya dengan Allah jernih dari pertentangan dengan selain-Nya. Tidak menentang penyingkapannya dengan syubhat, tidak pula semangatnya dengan keinginan. Bahkan ia mantap dalam pemutusan, penyaksiannya, dan keadaannya.
Fasal: Tingkatan Ketiga – Kematangan Orang yang Mengenal Allah
Fasal
Penulis berkata: Tingkatan ketiga adalah kematangan orang yang mengenal Allah (al-‘arif), yaitu dia berada dalam hadirat Allah melampaui hijab-hijab pencarian, mengenakan cahaya wujud.
Orang yang mengenal Allah (al-‘arif) berada di atas tingkatan orang yang sedang menempuh jalan (as-salik), namun ia tidak meninggalkan perjalanan spiritual itu. Akan tetapi bersamaan dengan perjalanan spiritualnya, ia telah meraih makrifat, sehingga mengambil nama yang lebih khusus dari nama orang yang sedang menempuh jalan. Demikianlah halnya dalam seluruh tingkatan dan kondisi spiritual, bahwa hal-hal itu tidak meninggalkan orang yang naik tingkat di dalamnya. Namun ketika ia naik ke suatu tingkatan, ia mengambil namanya dan lebih berhak dengannya dengan tetap bertahannya yang pertama baginya.
Yang dimaksud dengan hadirat adalah hadirat al-jam’ (hadirat kesatuan). Menurut saya, hadirat ini adalah hadirat kesinambungan muraqabah (pengawasan diri) dan kematangan dari tingkatan ihsan. Inilah hadirat para nabi dan orang-orang yang mengenal Allah.
Adapun hadirat al-jam’ yang mereka tunjukkan, setiap kelompok menunjuk kepada sesuatu. Ahli fana’ menginginkan hadirat kesatuan fana’ dalam tauhid rububiyyah. Ahli ilhad (kaum yang menyimpang) menginginkan hadirat kesatuan wujud dalam satu wujud. Sekelompok orang yang menempuh jalan spiritual menginginkan hadirat kesatuan nama-nama dan sifat-sifat dalam satu dzat. Namun jika ditafsirkan dengan hadirat kesinambungan muraqabah dan kematangan dalam tingkatan ihsan, hal itu akan lebih baik dan lebih benar. Pemilik hadirat ini, karena muraqabahnya yang terus-menerus, telah tersingkap darinya awan-awan kelalaian, dan tidak menyibukkannya dari hadirat itu berbagai kesibukan yang melalaikan.
Perkataan penulis “melampaui hijab-hijab pencarian” artinya bahwa orang yang mengenal Allah telah naik dari tingkatan mencari makrifat menuju tingkatan memperolehnya. Pencari sesuatu berada di bawah orang yang mencapainya. Maka pencari masih dalam hijab pencariannya, sedangkan orang yang mengenal Allah telah naik melampaui hijab pencarian dengan apa yang ia saksikan dari hakikat. Maka pencari adalah satu hal, dan yang telah menemukan adalah hal lain.
Ini adalah perkataan yang membutuhkan penjelasan dan keterangan. Sesungguhnya pencarian tidak akan meninggalkan hamba selama hukum-hukum penghambaan masih berjalan padanya. Namun ia berpindah-pindah dalam berbagai tingkatan pencarian, berpindah dari satu penghambaan ke penghambaan lainnya. Adapun Yang Disembah adalah Satu, Yang Mahamulia dan Mahatinggi, tidak berpindah dari-Nya. Maka bagaimana mungkin makrifat dapat terlepas dari pencarian?
Ini adalah tempat tergelincirnya kaki-kaki dan tersesat di dalamnya pemahaman-pemahaman. Orang-orang yang tertipu dan terperdaya mengira bahwa mereka telah berkecukupan dengan makrifat dari pencarian, dan bahwa pencarian adalah wasilah (perantara) sedangkan makrifat adalah tujuan, dan tidak ada makna menyibukkan diri dengan wasilah setelah sampai kepada tujuan.
Maka orang-orang ini telah keluar dari agama secara keseluruhan, setelah mereka bersungguh-sungguh dalam menempuh perjalanan di dalamnya. Mereka dikembalikan ke belakang dan mundur ke tumit-tumit mereka, serta tidak memahami maksud ahli istiqamah dalam menyebutkan hijab-hijab pencarian.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu darimu adalah hijab atas yang kamu cari. Jika engkau berhenti bersamanya, maka engkau berada di bawah hijab. Jika engkau memotongnya menuju penjerniaan yang dicari, maka engkau berada di atas hijab. Pencarianmu, kehendakmu, tawakalmu, kondisimu, dan amalmu semuanya adalah hijab jika engkau berhenti bersamanya atau bersandar kepadanya. Namun jika engkau melampauinya menuju Dzat yang dengannya engkau ada, untuk-Nya engkau ada, dalam tangan-Nya engkau ada, di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, dan tidak ada bagimu satu zarrah pun kecuali dengan-Nya dan dari-Nya, dan engkau tidak berhenti dengan pencarianmu dalam kehendakmu, maka engkau telah berada di atas hijab pencarian.
Maka pada hakikatnya, engkau adalah hijab hatimu dari Tuhanmu. Jika disingkapkan hijab dari hati, maka ia akan sampai kepada Tuhan dan mencapai hadirat yang suci.
Perkataan kami “jika disingkapkan hijab” adalah pemberitaan tentang tempat penghambaan. Selain itu, penyingkapannya bukan di tanganmu dan bukan engkau yang menyingkapnya. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.
Di antara kemudaratan yang paling besar adalah terhalangnya hati dari Tuhan, dan ini lebih besar siksanya daripada neraka Jahim. Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke neraka yang menyala-nyala.” (Surat Al-Muthaffifin ayat 15-16).
Perkataan penulis “mengenakan cahaya wujud”, makna yang benar dari ungkapan ini adalah bahwa cahaya wujud adalah cahaya perolehannya dengan menghadapkan hatinya kepada Allah Azza wa Jalla, mengumpulkan perhatiannya kepada-Nya, dan fana’-nya dengan kehendak Allah dari kehendak nafsunya. Maka ia menjadi orang yang menemukan apa yang kebanyakan makhluk kehilangannya. Hatinya telah mengenakan cahaya wujud itu hingga meluap pada lisannya, anggota tubuhnya, gerak dan diamnya. Jika ia berbicara, cahaya melingkupinya, dan jika ia diam, cahaya melingkupinya.
Yang lebih khusus dari ini adalah bahwa telah meluap pada hatinya cahaya keyakinan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah. Maka hatinya memiliki dari makrifat terhadapnya, iman kepadanya, dan merasakan manisnya hal itu, suatu cahaya khusus selain sekadar cahaya ibadah, kehendak, dan perjalanan spiritual. Dan waspadalah agar engkau tidak berpaling kepada selain ini. Maka akan tergelincir kaki sesudah tegak dan kamu akan merasakan keburukan disebabkan kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah.
Maksud asy-Syaikh dengan wujud bukan apa yang dimaksudkan oleh para mutakallimin dan filosof, dan bukan pula apa yang dimaksudkan oleh kaum ittihad yang menyimpang. Sesungguhnya maksudnya adalah penemuan setelah kehilangan, sebagaimana dikatakan si fulan adalah orang yang menemukan dan si fulan adalah orang yang kehilangan. Wallahu a’lam.
Fasal: Mukasyafah (Penyingkapan)
Penulis kitab Manazil berkata:
(Bab Mukasyafah). Allah Ta’ala berfirma: “Maka Dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan.” (Surat An-Najm ayat 10).
Sisi berdalilnya dengan isyarat ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkapkan kepada hamba-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang tidak disingkapkan-Nya kepada selain beliau, dan memperlihatkan kepada beliau apa yang tidak diperlihatkan kepada selain beliau. Maka terjadi pada hati beliau yang mulia dari tersingkapnya hakikat-hakikat yang tidak terlintas di benak selain beliau, yang Allah khususkan kepada beliau. Al-iha’ (pewahyuan) adalah pemberitahuan yang cepat dan tersembunyi. Dari sini kata al-waha al-waha yang artinya cepat-cepat.
Firman-Nya “apa yang Dia wahyukan” disamarkan karena keagungannya, sebab pengaburan kadang terjadi untuk pengagungan. Serupa dengan itu firman-Nya: “Maka mereka ditimpa oleh (bencana) dari laut apa yang menimpa mereka.” (Surat Thaha ayat 78), yaitu perkara yang besar melampaui sifat.
Asy-Syaikh berkata: Mukasyafah adalah saling menghadiahkan rahasia antara dua orang yang saling mengetahui batin. Yang dimaksud adalah bahwa mukasyafah adalah pemberitahuan salah satu dari dua orang yang saling mencintai dan saling bersih kepada kawannya tentang batin urusannya dan rahasianya.
Perkataan “saling menghadiahkan rahasia” artinya bergilirnya rahasia dengan cara saling melembutkan dan mengasihi.
Perkataan “antara dua orang yang saling mengetahui batin” yang dimaksud dengan dua orang yang saling mengetahui batin adalah batin orang yang menyingkapkan dan yang disingkapi. Maka rahasia setiap dari keduanya dibawa kepada yang lain, sebagaimana hadiahnya dibawa kepadanya. Maka mengalir rahasia setiap dari keduanya kepada yang lain. Jika hamba mencapai dalam tingkatan makrifat suatu tingkat seakan ia melihat apa yang menjadi sifat Tuhan Subhanahu dari sifat-sifat kesempurnaan dan naungan keagungan, dan rohnya merasakan kedekatan khusus yang bukan seperti kedekatan yang dirasakan dari yang dirasakan, hingga ia menyaksikan tersingkapnya hijab antara rohnya dan hatinya dengan Tuhannya – karena hijabnya adalah dirinya sendiri, dan Allah Subhanahu telah mengangkat dari dirinya hijab itu dengan kekuatan dan kemampuan-Nya – maka sampailah hati dan roh ketika itu kepada Tuhan. Maka ia menyembah-Nya seakan ia melihat-Nya. Jika ia benar-benar mencapai hal itu, dan terangkat darinya hijab nafsu, dan tersingkap darinya kabut dan asapnya, serta terkoyak darinya awan dan mendungnya, maka di sana dikatakan kepadanya:
Dengan itu rahasia yang lama tersembunyi darimu Dan terbit fajar yang engkau adalah gelapnya
Maka engkau adalah hijab hati dari rahasia ghaibnya Dan seandainya tidak engkau, tidak akan tertutup stempelnya
Jika engkau ghaib darinya, maka ia menempatinya dan berkemahlah Di atas pundak kasyf yang terpelihara kemah-kemahnya
Dan datang perkataan yang tidak bosan didengar Yang lezat bagi kami natsarnya (prosa) dan nadhomnya (syair)
Jika jiwa mengingatnya, hilang kesusahannya Dan hilang dari hati yang sedih kegelapannya
Oleh karena itu asy-Syaikh berkata: Dan mukasyafah dalam bab ini adalah mencapai apa yang di balik hijab secara wujudan (penemuan).
Perkataan “secara wujudan” adalah untuk berjaga-jaga dari mencapainya secara mendengar dan mengetahui. Seringkali tersamar bagi hamba antara keduanya. Maka di manakah wujud hakikat dari ilmu tentangnya dan makrifat tentangnya? Sebagaimana telah disebutkan hal itu berulang kali. Maka kaitan ilmu dengan hati adalah satu hal, dan sifatnya dengan yang diketahui adalah hal lain.
Di antara manusia ada yang berkaitan dengannya mendengar hal itu tanpa memahaminya. Di antara mereka ada yang berkaitan dengannya pemahamannya tanpa hakikatnya. Kaitan yang sempurna adalah berkaitan dengannya wujudnya. Oleh karena itu ia berkata: mencapai apa yang di balik hijab secara wujudan.
Asy-Syaikh berkata: Mukasyafah terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah mukasyafah yang menunjukkan pada tahqiq yang benar, dan tidak terjadi secara terus-menerus. Jika terjadi pada suatu waktu tanpa waktu lain, dan tidak dihadang oleh perpecahan, hanya saja kelalaian kadang mencampuri tingkatannya, walaupun ia telah mencapai tingkat yang tidak dapat dialihkan oleh sesuatu yang memotong, tidak dapat dibelokkan oleh sebab, dan tidak dapat diputus oleh kesenangan. Inilah tingkatan orang yang menuju (al-qashid). Jika terjadi secara terus-menerus, maka itulah tingkatan kedua.
Mukasyafah yang benar adalah ilmu-ilmu yang diadakan oleh Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dalam hati hamba, dan Dia memberitahukan kepadanya dengannya tentang perkara-perkara yang tersembunyi dari selainnya. Kadang Dia berikan kepadanya secara berturut-turut, dan kadang Dia tahan darinya dengan kelalaian tentangnya, dan Dia sembunyikan darinya dengan kelalaian (al-ghain) yang menutupi hatinya – dan ini adalah hijab yang paling tipis – atau dengan mendung (al-ghaim) – dan ini lebih tebal darinya – atau dengan noda (ar-ran) – dan ini yang paling keras.
Yang pertama terjadi pada para nabi ‘alaihimussalam, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hatiku tertutup, dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.”
Yang kedua terjadi pada orang-orang beriman. Yang ketiga bagi orang yang dikuasai kesengsaraan. Allah Ta’ala berfirmar: “Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (Surat Al-Muthaffifin ayat 14). Ibnu Abbas dan lainnya berkata: yaitu dosa demi dosa yang menutupi hati hingga menjadi seperti noda padanya.
Hijab-hijab ada sepuluh. Pertama: hijab ta’thil (peniadaan), dan penafian hakikat-hakikat nama dan sifat, dan ini yang paling tebal. Maka tidak mungkin bagi pemilik hijab ini untuk mengenal Allah dan tidak akan sampai kepada-Nya sama sekali kecuali sebagaimana mungkinnya batu untuk naik ke atas.
Kedua: hijab syirik (kemusyrikan), yaitu hatinya menyembah selain Allah.
Ketiga: hijab bid’ah qauliyah (bid’ah perkataan), seperti hijab ahli hawa dan perkataan-perkataan rusak dengan berbagai macamnya.
Keempat: hijab bid’ah ‘amaliyah (bid’ah perbuatan), seperti hijab ahli suluk yang berbid’ah dalam jalan dan perjalanan spiritual mereka.
Kelima: hijab ahli dosa-dosa besar batin, seperti hijab ahli kesombongan, ujub, riya’, hasad, membanggakan diri, dan angkuh serta semacamnya.
Keenam: hijab ahli dosa-dosa besar zahir, dan hijab mereka lebih tipis dari hijab saudara mereka dari ahli dosa-dosa besar batin, walaupun banyaknya ibadah mereka, kezuhudan mereka, dan kesungguhan mereka. Maka dosa-dosa besar mereka ini lebih dekat kepada taubat daripada dosa-dosa besar itu, karena dosa-dosa itu telah menjadi tingkatan bagi mereka yang mereka tidak malu-malu dari menampakkannya dan mengeluarkannya dalam bentuk ibadah dan makrifat. Maka ahli dosa-dosa besar zahir lebih dekat kepada keselamatan dari mereka, dan hati mereka lebih baik dari hati mereka.
Ketujuh: hijab ahli dosa-dosa kecil.
Kedelapan: hijab ahli kelebihan-kelebihan dan berlebih-lebihan dalam perkara-perkara mubah.
Kesembilan: hijab ahli kelalaian dari menghadirkan untuk apa mereka diciptakan dan apa yang dikehendaki dari mereka, dan apa yang menjadi hak Allah atas mereka dari kesinambungan dzikir-Nya, syukur-Nya, dan penghambaan kepada-Nya.
Kesepuluh: hijab orang-orang yang bersungguh-sungguh, menempuh jalan spiritual, yang bersemangat dalam perjalanan dari yang dituju.
Maka inilah sepuluh hijab antara hati dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghalangi antara hati dengan urusan ini. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: unsur nafsu, unsur syaitan, unsur dunia, dan unsur hawa nafsu. Maka tidak mungkin menyingkap hijab-hijab ini dengan tetap adanya asal-usul dan unsur-unsurnya di dalam hati sama sekali.
Keempat unsur ini merusak perkataan, perbuatan, tujuan, dan jalan sesuai dengan dominasinya dan sedikitnya. Maka ia memotong jalan perkataan, perbuatan, dan tujuan agar sampai kepada hati. Apa yang sampai darinya kepada hati, dipotong jalan baginya agar sampai kepada Tuhan. Maka antara perkataan dan perbuatan dengan hati ada jarak yang ditempuh hamba ke hatinya untuk melihat keajaiban-keajaiban yang ada di sana. Pada jarak ini ada para perampok jalan yang telah disebutkan. Jika ia memerangi mereka dan berhasil mengirimkan amal sampai ke hatinya, amal itu akan beredar di dalamnya dan berusaha menembus dari sana menuju Allah, karena amal itu tidak akan menetap selain dengan sampai kepada-Nya. Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (Surat An-Najm ayat 42). Jika sampai kepada Allah Subhanahu, Dia akan memberi pahala kepadanya dengan tambahan dalam keimanannya, keyakinannya, makrifatnya, dan akalnya, serta menghiasi dengannya zahir dan batinnya. Maka Dia memberinya petunjuk dengannya untuk akhlak dan amal yang terbaik, dan menghindarkan darinya akhlak dan amal yang buruk. Allah Subhanahu mendirikan dari amal itu bagi hati suatu pasukan untuk memerangi dengannya para perampok jalan menuju-Nya. Maka ia memerangi dunia dengan zuhud di dalamnya dan mengeluarkannya dari hatinya. Tidak membahayakannya jika dunia itu ada di tangannya dan rumahnya, dan tidak menghalangi hal itu dari kuatnya keyakinannya terhadap akhirat. Ia memerangi syaitan dengan meninggalkan pengikutan terhadap seruan hawa nafsu, karena syaitan bersama hawa nafsu tidak pernah berpisah darinya. Ia memerangi hawa nafsu dengan menghakimkan perintah mutlak dan berdiri bersamanya, sehingga tidak tersisa baginya hawa nafsu dalam apa yang ia lakukan dan tinggalkan. Ia memerangi nafsu dengan kekuatan ikhlas.
Semua ini berlaku jika amal tersebut menemukan jalan keluar dari hati menuju Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Namun jika amal itu berputar-putar di dalam hati dan tidak menemukan jalan keluar, lalu nafsu menguasainya dan menjadikannya sebagai tentara baginya, maka nafsu akan bertempur dengannya dan meninggikan diri serta melampaui batas. Maka engkau akan melihat orang itu seolah-olah paling zuhud, paling rajin beribadah, dan paling bersungguh-sungguh dalam beramal, padahal ia adalah yang paling jauh dari Allah. Orang-orang yang melakukan dosa besar justru hatinya lebih dekat kepada Allah daripada orang tersebut, dan lebih dekat kepada keikhlasan dan keselamatan.
Maka perhatikanlah orang yang rajin sujud, ahli ibadah, zuhud, yang di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Bagaimana kesombongan amalnya telah menyebabkannya mengingkari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan menyebabkan para pengikutnya meremehkan kaum muslimin, sehingga mereka menghunus pedang kepada mereka dan menganggap halal darah mereka.
Dan perhatikanlah orang yang suka minum arak yang kerap kali dibawa menghadap Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau menghukumnya karena minum khamar. Namun bagaimana kekuatan iman dan keyakinannya, kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kerendahan hati dan ketundukannya kepada Allah, telah membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang melaknatnya.
Maka jelaslah dengan ini bahwa: kesombongan akibat maksiat lebih selamat akibatnya daripada kesombongan akibat ketaatan.
Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd bahwa Allah Subhanahu wataala mewahyukan kepada Musa alaihis salam: “Wahai Musa, berilah peringatan kepada orang-orang shiddiqin, karena sesungguhnya Aku tidak akan meletakkan keadilan-Ku kepada seorang pun melainkan Aku akan menyiksanya tanpa Aku menzaliminya, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berdosa, karena sesungguhnya tidak ada dosa yang terlalu besar bagi-Ku untuk Aku ampuni.” Maka marilah kita kembali kepada penjelasan ucapannya.
Ucapannya: “Mukasyafah (penyingkapan) yang menunjukkan kepada tahqiq (pencapaian hakikat) yang benar.” Setiap orang mengklaim bahwa tahqiq yang benar ada padanya.
“Dan semuanya mengklaim bersatu dengan Laila Padahal Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka Ketika air mata bercampur di pipi-pipi Akan terlihat siapa yang benar-benar menangis dan siapa yang berpura-pura menangis”
Maka tahqiq yang benar tidak lain adalah: yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Dalam hal ilmu, ia adalah penyingkapan yang sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh para rasul. Dan dalam hal kehendak, ia adalah penyingkapan yang sesuai dengan kehendak Tuhan secara agama dari hamba-Nya. Perkataan kami “secara agama” adalah untuk membedakan dari kehendak-Nya yang bersifat kauniyah (takdir alam), karena semua yang ada di alam ini merupakan akibat dari kehendak ini.
Maka penyingkapan yang benar adalah: bahwa seseorang mengetahui kebenaran yang dengannya Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya sebagai penyaksian bagi hatinya, dan memurnikan kehendak hati untuknya, sehingga ia berputar bersamanya dalam keberadaan dan ketiadaannya. Inilah tahqiq yang benar, dan apa yang menyelisihinya adalah tipuan yang buruk.
Ucapannya: “Dan ia tidak bisa berlangsung terus-menerus.” Demikianlah yang saya lihat dalam beberapa naskah. Namun dalam naskah lain: “Dan ia adalah yang berlangsung terus-menerus.” Sepertinya yang kedua ini lebih benar, karena konteks kalimat menunjukkan hal itu, dan bahwa ia tidak berlangsung terus-menerus pada tingkatan pertama. Maka jika ia berlangsung terus-menerus, ia menjadi tingkatan kedua. Dengan demikian terjadilah perbedaan antara dua tingkatan tersebut. Jika tidak, seandainya ia berlangsung terus-menerus pada keduanya, maka kedua tingkatan itu akan menjadi satu.
Ucapannya: “Maka jika ia terjadi pada satu waktu dan tidak pada waktu lainnya, dan tidak dihadang oleh perpecahan.”
Maksudnya: maka itulah tingkatan pertama, dengan syarat bahwa hukumnya tidak diputus oleh perpecahan. Oleh karena itu ia berkata: “tidak menghadangnya”, dan tidak berkata: “tidak muncul padanya”. Karena perpecahan pasti akan muncul, tetapi ia tidak menghadang dan menandinginya sehingga menghilangkannya. Karena sesuatu yang muncul, jika ia muncul pada hati, maka hati membencinya, menghapusnya, dan menghilangkannya dengan cepat.
Adapun yang menghadang: maka ia menghilangkan yang sudah ada dan menggantikannya, sehingga hukum menjadi miliknya. Maka oleh karena itu ia berkata: “Namun kegelapan (ghain) terkadang mencampuri tingkatannya, meskipun ia telah mencapai suatu tingkatan”, hingga akhir kalimatnya.
Maksudnya: bahwa keharusan-keharusan kemanusiaan pasti ada padanya, seandainya tidak ada kecuali yang paling ringan, yaitu hijab tipis yang muncul pada hatinya, yaitu kegelapan (ghain). Namun itu tidak membahayakannya, karena ia telah mencapai tingkatan di mana pemotong tidak dapat membuatnya berpaling. Artinya: penghalang-penghalang tidak menyebabkan hatinya berpaling dari tingkatannya kepada penghalang-penghalang tersebut. Bahkan jika ia memandangnya dengan hatinya, ia akan lari darinya, sebagaimana kijang lari dari anjing pemburu ketika merasakannya. Dan tidak ada sebab yang membelokkannya. Artinya: tidak ada sebab dari berbagai sebab yang membengkokkan niatnya menuju kebenaran, dan tidak ada yang mengembalikannya darinya.
Ucapannya: “Dan tidak ada kesenangan yang memutusnya.” Artinya: tidak ada kesenangan dari kesenangan-kesenangan nafsu yang memutusnya dari pencapaian tujuannya. Dan “Al-Qashid” (yang menuju) dalam tingkatan ini adalah orang yang telah meraih tujuan yang tidak menemukan sebab melainkan ia memutusnya, tidak ada penghalang melainkan ia mencegahnya, dan tidak ada beban melainkan ia memudahkannya. Maka inilah tingkatan orang yang menuju (qashid). Maka jika itu berlangsung terus-menerus dan salik (penempuh jalan) mantap di dalamnya, maka itulah tingkatan kedua.
Syaikh berkata: Adapun tingkatan ketiga: adalah mukasyafah mata, bukan mukasyafah ilmu. Dan ia adalah mukasyafah yang tidak meninggalkan tanda yang menunjukkan kepada kelezatan, atau memaksa untuk berhenti, atau turun kepada rasm (gambaran). Dan puncak dari mukasyafah ini adalah musyahadah (penyaksian).
Sesungguhnya tingkatan ini disebut mukasyafah mata karena kuatnya cahaya penyingkapan terhadap hati, sehingga mukasyafah ini turun dari hati, dan menempati posisi darinya seperti posisi ilmu dharuri yang tidak mungkin diingkari atau didustakan. Bahkan ia menjadi bagi hati seperti yang terlihat bagi penglihatan, yang terdengar bagi telinga, dan hal-hal yang dirasakan bagi jiwa. Sebagaimana musyahadah dengan penglihatan tidak sah kecuali dengan sehatnya daya yang mempersepsikan, tidak adanya penghalang berupa benda atau kegelapan, dan tidak adanya jarak yang berlebihan, maka demikian pula mukasyafah dengan bashirah (mata hati) mengharuskan sehatnya hati, tidak adanya penghalang dan kesibukan, dan dekatnya hati dari Dia yang menyingkap rahasia-rahasia-Nya kepadanya.
Bukan maksud Syaikh dalam bab ini: penyingkapan parsial yang sama antara kaum muslimin dan kafir, orang-orang baik dan orang-orang jahat, seperti penyingkapan tentang apa yang ada di rumah seseorang, atau apa yang ada di tangannya, atau di balik pakaiannya, atau apa yang dikandung oleh istrinya setelah terjadi konsepsi apakah laki-laki atau perempuan, dan apa yang ghaib dari penglihatan dari keadaan jarak yang jauh dan semacamnya. Karena itu terkadang berasal dari setan, dan terkadang dari nafsu. Oleh karena itu itu terjadi pada orang-orang kafir, seperti orang Nasrani, penyembah api dan salib. Ibnu Shayyad telah menyingkap kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam apa yang beliau sembunyikan untuknya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Sesungguhnya engkau hanyalah salah satu dari saudara-saudara tukang tenung.” Maka beliau mengabarkan bahwa penyingkapan itu sejenis dengan penyingkapan para tukang tenung, dan itulah kadarnya. Demikian pula Musailamah Al-Kadzdzab meskipun dengan kekafirannya yang sangat, ia dapat menyingkap kepada para pengikutnya apa yang dilakukan salah seorang dari mereka di rumahnya dan apa yang dikatakannya kepada keluarganya, setannya mengabarinya, untuk menyesatkan manusia. Demikian pula Al-Aswad Al-Ansi, dan Al-Harits Al-Mutanabbi Ad-Dimasyqi yang muncul pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, dan orang-orang seperti mereka yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Kami dan orang lain telah melihat sekelompok dari mereka, dan manusia telah menyaksikan penyingkapan dari para rahib penyembah salib yang sudah terkenal.
Penyingkapan yang bersifat rahmani dari jenis ini adalah seperti penyingkapan Abu Bakar ketika ia berkata kepada Aisyah radhiyallahu anhuma: bahwa istrinya hamil dengan seorang perempuan. Dan penyingkapan Umar radhiyallahu anhu ketika ia berkata: “Wahai Sariyah, gunung!”, dan berlipat ganda dari ini dari penyingkapan para wali Allah Ar-Rahman.
Maksudnya: bahwa yang dimaksud kaum sufi dengan penyingkapan dalam bab ini adalah perkara yang lebih dari itu, dan yang paling utama dan mulia darinya adalah bahwa dissingkap bagi salik tentang jalan suluknya agar ia istiqamah di atasnya, tentang aib-aib nafsunya agar ia memperbaikinya, dan tentang dosa-dosanya agar ia bertobat darinya.
Maka Allah tidak memuliakan orang-orang yang benar dengan kemuliaan yang lebih besar dari penyingkapan ini, dan menjadikan mereka tunduk kepadanya dan beramal dengan tuntutannya. Maka jika penyingkapan ini bergabung dengan penyingkapan hijab-hijab yang telah disebutkan sebelumnya dari hati mereka, maka hati-hati akan berjalan menuju Tuhan mereka seperti berjalannya hujan lebat ketika diikuti oleh angin.
Maka marilah kita kembali kepada penjelasan ucapannya.
Maka ucapannya: “Tingkatan ketiga: mukasyafah mata, bukan mukasyafah ilmu.” Artinya: yang menjadi objek mukasyafah ini adalah hakikat yang sebenarnya, berbeda dengan mukasyafah ilmu, karena objeknya adalah gambaran mental yang sesuai dengan hakikat luar. Maka penyingkapan ilmu adalah: bahwa ia sesuai dengan yang diketahuinya. Dan penyingkapan mata adalah: bahwa yang diketahui menjadi disaksikan oleh hati, sebagaimana mata menyaksikan yang terlihat.
Barangsiapa dari kalangan kaum sufi yang mengira bahwa penyingkapan mata adalah penampakan Dzat Yang Maha Suci secara nyata baginya secara hakiki, maka ia telah keliru dengan kekeliruan yang paling buruk. Dan keadaannya yang paling baik adalah: bahwa ia jujur namun keliru. Karena ini tidak pernah terjadi di dunia bagi manusia sama sekali. Dan hal ini telah dicegah dari Kaliimurrahman (Musa) alaihis salam.
Para salaf dan khalaf telah berselisih: apakah ini terjadi bagi sayyid anak Adam (Muhammad) shallallahu alaihi wasallam? Maka kebanyakan mereka berpendapat bahwa ia tidak melihat Allah Subhanahu. Dan Utsman bin Said Ad-Darimi menyebutkannya sebagai ijma’ dari para sahabat. Maka barangsiapa mengklaim penyingkapan mata secara visual tentang hakikat Ilahiyyah, maka ia telah salah dan keliru. Dan jika ia berkata: sesungguhnya itu adalah penyingkapan mata hati, sehingga Tuhan Subhanahu menjadi seakan-akan terlihat bagi hamba, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.” Maka ini benar, dan itu adalah kekuatan keyakinan, dan bertambahnya ilmu saja.
Benar, terkadang muncul baginya cahaya yang besar, lalu ia menyangka bahwa itu adalah cahaya hakikat Ilahiyyah, dan bahwa ia telah tajalli (menampakkan diri) kepadanya. Itu juga keliru, karena cahaya Tuhan taala tidak dapat ditahan oleh sesuatu apa pun. Dan ketika muncul darinya sedikit saja kepada gunung, gunung itu pun tenggelam dan hancur. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata tentang firman Allah taala: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan-penglihatan.” (Al-An’am: 103). Ia berkata: Itu adalah cahaya-Nya yang merupakan cahaya-Nya, jika Ia tajalli dengannya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya.
Dan cahaya yang muncul kepada orang yang benar ini adalah cahaya iman yang Allah kabarkan dalam firman-Nya: “Perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita.” (An-Nur: 35). Ubay bin Ka’ab berkata: Perumpamaan cahaya-Nya di dalam hati orang mukmin. Maka ini adalah cahaya yang dinisbatkan kepada Tuhan, dan dikatakan: ia adalah cahaya Allah, sebagaimana Allah Subhanahu menisbatkannya kepada diri-Nya. Yang dimaksud adalah: cahaya iman yang Allah jadikan baginya secara penciptaan dan pewujudan, sebagaimana firman Allah taala: “Dan barangsiapa yang Allah tidak menjadikan baginya cahaya, maka tidak ada cahaya baginya.” (An-Nur: 40). Maka cahaya ini jika mantap dari hati, dan bersinar di dalamnya, maka ia akan melimpah kepada anggota badan. Maka akan terlihat pengaruhnya pada wajah dan mata, dan tampak pada perkataan dan perbuatan. Dan terkadang ia menguat sehingga pemiliknya menyaksikannya secara langsung. Dan itu karena menguasainya hukum-hukum hati terhadapnya, dan hilangnya hukum-hukum nafsu.
Dan mata sangat terkait erat dengan hati, menampakkan apa yang ada di dalamnya. Maka menguatlah materi cahaya dalam hati, dan pemiliknya ghaib (hilang kesadaran) dengan apa yang ada di hatinya dari hukum-hukum inderanya, bahkan dari hukum-hukum ilmu. Maka ia berpindah dari hukum-hukum ilmu kepada hukum-hukam mata (penyaksian).
Dan rahasia masalah ini adalah: bahwa hukum-hukum tabiat dan nafsu adalah sesuatu, hukum-hukum hati adalah sesuatu, hukum-hukum ruh adalah sesuatu, cahaya-cahaya ibadah adalah sesuatu, cahaya-cahaya penguasaan makna-makna sifat-sifat dan nama-nama terhadap hati adalah sesuatu, dan cahaya-cahaya Dzat Yang Maha Suci adalah sesuatu yang lain dari semua itu.
Maka dalam bab ini, dua orang keliru: pertama: yang tebal hijabnya, kasar tabiatnya. Dan yang kedua: yang sedikit ilmunya, tercampur baginya antara apa yang ada di pikiran dengan apa yang ada di luar, dan cahaya mu’amalah (amal ibadah) dengan cahaya Tuhan Penguasa bumi dan langit. “Dan barangsiapa yang Allah tidak menjadikan baginya cahaya, maka tidak ada cahaya baginya.” (An-Nur: 40).
Ucapannya: “Dan bukan mukasyafah hal.” Mukasyafah hal adalah: mawajid (hal-hal yang dirasakan) yang salik rasakan dengan waridan-nya (yang datang padanya), sehingga hukum menjadi milik hatinya dan keadaannya.
Ucapannya: “Dan ia adalah mukasyafah yang tidak meninggalkan tanda yang menunjukkan kepada kelezatan.” Ia ingin mengatakan: bahwa mukasyafah ini menghapus gambaran-gambaran orang yang menerima penyingkapan, sehingga tidak tersisa darinya apa yang merasakan kelezatan. Karena keadaan-keadaan dan mawajid memiliki kelezatan yang besar, berkali lipat dari kelezatan inderawi. Karena kelezatannya bersifat ruhani dan qalbi (hati). Dan mukasyafah mata membuat orang yang menerima penyingkapan ghaib (tidak sadar) dari merasakan kelezatan tersebut. Dan tanda adalah tanda. Maka maknanya: bahwa mukasyafah ini tidak meninggalkan baginya tanda yang menunjukkan kelezatan.
Ucapannya: “Atau memaksa untuk berhenti.” Maksudnya: tidak meninggalkan baginya sisa yang memaksanya untuk berhenti sejenak. Karena sisa yang tersisa pada salik dari dirinya adalah yang memaksanya untuk berhenti dalam perjalanannya.
Ucapannya: “Dan tidak turun kepada rasm (gambaran).” Artinya: mukasyafah ini tidak turun kepada orang yang masih tersisa padanya rasm sebagai hijab antara dia dan mukasyafah ini. Karena ia seperti cahaya matahari, maka ia tidak turun di rumah yang di atasnya ada atap penghalang. Karena rasm menurut kaum sufi adalah hijab antara mereka dan yang mereka tuju. Dan rasm adalah nafsu dan hukum-hukumnya serta sifat-sifatnya. Dan mukasyafah ini jika menguat dan mantap menjadi musyahadah. Oleh karena itu ia berkata: Dan puncak dari mukasyafah ini adalah tingkatan musyahadah.
Bab Musyahadah (Penyaksian)
Siapa yang Mendapat Manfaat dari Kalam Allah
Bab Musyahadah
Penulis kitab Al-Manazil berkata:
(Bab Musyahadah/Penyaksian) Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.” (Surah Qaf: 37)
Saya katakan: Allah Subhanahu menjadikan kalam-Nya sebagai peringatan, yang tidak akan memberikan manfaat kecuali bagi orang yang mengumpulkan tiga perkara berikut:
Pertama: Bahwa ia memiliki hati yang hidup dan sadar. Jika ia kehilangan hati ini, maka ia tidak akan mendapat manfaat dari peringatan tersebut.
Kedua: Bahwa ia mengarahkan seluruh pendengarannya kepada yang berbicara kepadanya. Jika ia tidak melakukan hal ini, maka ia tidak akan mendapat manfaat dari ucapannya.
Ketiga: Bahwa ia menghadirkan hati dan pikirannya ketika sedang diajak bicara, dan itulah yang dimaksud dengan “menyaksikan”, yaitu hadir, bukan absen. Jika hatinya absen dan berkelana ke tempat lain, maka ia tidak akan mendapat manfaat dari khitab (pembicaraan) tersebut.
Ini sebagaimana orang yang dapat melihat tidak akan menangkap hakikat sesuatu yang terlihat kecuali jika ia memiliki kemampuan penglihatan, mengarahkan pandangannya ke arah objek yang terlihat, dan hatinya tidak disibukkan oleh hal lain. Jika ia kehilangan kemampuan penglihatan, atau tidak mengarahkan pandangan ke arah objek yang terlihat, atau mengarahkan pandangannya namun hatinya berada di tempat lain, maka ia tidak akan menangkapnya. Sering kali seseorang atau sesuatu melewatimu, namun hatimu disibukkan oleh hal lain sehingga kamu tidak menyadari kehadirannya. Maka perkara ini memerlukan kesehatan hati dan kehadirannya, serta kesempurnaan dalam mendengarkan.
Hakikat Musyahadah
Sang Syekh berkata: “Musyahadah adalah: hilangnya hijab secara putus”, yaitu secara total sehingga tidak tersisa sedikitpun darinya. Musyahadah adalah yang menghilangkan hijab, dan ia terjadi ketika hijab telah hilang. Ia bukan hilangnya hijab itu sendiri, namun penulis mengungkapkan sesuatu dengan konsekuensinya, karena hilangnya hijab selalu bersamaan dengan terjadinya musyahadah.
Ucapannya: “Dan ia berada di atas mukasyafah (penyingkapan)” ini menunjukkan bahwa maksud sang Syekh dan orang-orang yang sependapat dengannya dari kalangan ahli istiqamah (kelurusan) dengan mukasyafah dan musyahadah adalah kuatnya keyakinan, bertambahnya ilmu, dan terangkatnya hijab-hijab yang menghalangi dari hal tersebut, bukan penyaksian hakikat itu sendiri. Karena jika mukasyafah adalah penyaksian hakikat, maka tidak akan ada tingkatan di atasnya. Musyahadah berada di atas mukasyafah menurut sang Syekh karena sebagaimana yang ia sebutkan dengan ucapannya: bahwa mukasyafah adalah wilayah sifat, dan di dalamnya masih ada sisa-sisa dari jejak (rasm), sedangkan musyahadah adalah wilayah dzat (esensi).
Yang dimaksud adalah: mukasyafah berkaitan dengan sifat-sifat Ilahi, maka wilayahnya adalah wilayah sifat-sifat dan nama-nama, yaitu kekuasaan dan apa yang berkaitan dengannya adalah sifat-sifat dan nama-nama. Adapun kekuasaan musyahadah dan apa yang berkaitan dengannya adalah dzat itu sendiri yang mencakup sifat-sifat dan nama-nama. Oleh karena itu, musyahadah berada di atasnya dan lebih sempurna darinya.
Perbedaan antara wilayah sifat dengan wilayah dzat adalah bahwa sifat adalah sesuatu yang menjelaskan, dan barangsiapa menyaksikan sifat, maka ia pasti menyaksikan hal-hal yang berkaitan dengannya. Karena memandang hal-hal yang berkaitan dengannya akan memberikannya pengagungan terhadap yang memiliki sifat tersebut. Barangsiapa menyaksikan ilmu qadim azali yang berkaitan dengan seluruh maklumat yang tidak terbatas, baik yang wajib, mungkin, maupun mustahil, dan barangsiapa menyaksikan iradat (kehendak) yang mewujudkan seluruh kehendak dalam berbagai jenisnya, baik perbuatan, dzat, gerakan, maupun sifat yang tidak terbatas, dan menyaksikan qudrat (kekuasaan) yang demikian pula, dan menyaksikan sifat kalam, yang seandainya lautan menjadi tintanya dan ditambah tujuh lautan lagi setelahnya, dan seluruh pepohonan di dunia menjadi pena untuk menulis kalam Rabb Jalla Jalaluhu, niscaya laut-laut itu akan habis dan pena-pena itu akan lenyap, sedangkan kalam Allah Azza wa Jalla tidak akan habis dan tidak akan lenyap.
Maka barangsiapa menyaksikan sifat-sifat demikian, dan hatinya berkeliling dalam keagungannya, maka ia sibuk dengan sifat-sifat dan hatinya terpecah dalam hal-hal yang berkaitan dengannya. Berbeda dengan orang yang membatasi pandangannya pada dzat itu sendiri, menyaksikan keqadimannya dan kebaqaannya, dan hatinya tenggelam dalam keagungan dzat tersebut dengan mengabaikan sifat-sifatnya. Maka ia adalah penyaksi dzat, sedangkan yang pertama adalah penyaksi sifat-sifat. Yang pertama berada dalam farq (pemisahan), sedangkan ini berada dalam jam’ (penggabungan). Barangsiapa hatinya tenggelam dalam penyaksian ini, maka ia berhak mendapatkan nama penyaksi, dan sifat musyahadah menurut kaum sufi adalah ketika ia tidak menyadari jejak dirinya dan semua yang ada padanya berupa ilmu, amal, atau keadaan. Inilah penjelasan ucapannya.
Namun demikian, wilayah sifat-sifat dan nama-nama yang ia jadikan di bawah wilayah dzat tidaklah seperti yang ia sangka, bahkan tidak ada perbandingan antara keduanya sama sekali. Karena Allah Subhanahu wa Taala mengajak hamba-hamba-Nya dalam kitab-kitab-Nya yang Ilahi kepada yang pertama, bukan yang kedua. Demikianlah yang diucapkan oleh kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Al-Quran ini dari awal hingga akhir hanya mengajak manusia untuk memperhatikan sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan-Nya, dan nama-nama-Nya, bukan dzat yang terpisah. Karena dzat yang terpisah tidak akan tampak padanya suatu sifat, tidak akan disaksikan padanya suatu nama, tidak menunjukkan kesempurnaan atau keagungan, dan tidak menghasilkan iman, apalagi menjadi tingkatan tertinggi dari orang-orang yang mengenal Allah.
Maha Suci Allah! Di manakah letak penyaksian sifat-sifat kesempurnaan dengan keberagaman dan banyaknya, serta apa yang ditunjukkannya dari keagungan yang memiliki sifat-sifat itu, keagungan dan kesempurnaan-Nya, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang seperti-Nya dalam kesempurnaan-Nya karena banyaknya sifat-sifat, nama-nama, dan nama-nama-Nya, mustahilnya kebalikan dari sifat-sifat itu pada-Nya, dan tetapnya sifat-sifat itu bagi-Nya dengan cara yang paling sempurna yang sama sekali tidak ada kekurangan di dalamnya, dibandingkan dengan penyaksian dzat yang penyaksinya tidak menyadari setiap sifat, nama, dan nama?!
Antara kedua penyaksian ini terdapat perbedaan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Dan ini adalah penyaksian orang-orang yang bertauhid dan fana dari kalangan Jahmiyyah dan Muathilah yang mengatakannya secara terang-terangan. Mereka berkata: Kesempurnaan penyaksian ini adalah membatasi pandangan hati pada dzat semata, dan mensucikannya dari sifat-sifat, bagian-bagian, tujuan-tujuan, batasan-batasan, dan arah-arah.
Maksud mereka dengan sifat-sifat adalah: sifat-sifat yang berdiri pada yang hidup, seperti pendengaran, penglihatan, kekuasaan, kehendak, dan kalam. Maka tidak ada bagi-Nya pendengaran, tidak ada penglihatan, tidak ada kehendak, tidak ada kehidupan, tidak ada ilmu, dan tidak ada kekuasaan.
Maksud mereka dengan bagian-bagian adalah: tidak ada wajah bagi-Nya dan tidak ada dua tangan, Dia tidak menciptakan Adam dengan tangan-Nya, tidak melipat langit-langit dengan tangan-Nya, tidak menggenggam bumi dengan tangan yang lain, tidak memegang langit-langit pada satu jari, tidak memegang bumi pada satu jari, tidak memegang pohon-pohon pada satu jari, dan semacam itu dari apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya sendiri dan apa yang dikhabarkan oleh Rasul-Nya yang benar Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang-Nya.
Maksud mereka dengan tujuan-tujuan adalah: Dia tidak berbuat untuk hikmah, tidak untuk tujuan akhir, tidak ada sebab untuk perbuatan-Nya, dan tidak ada tujuan yang dimaksud.
Maksud mereka dengan batasan dan arah adalah: masalah pemisahan dan ketinggian, bahwa Dia tidak terpisah dari makhluk-Nya, tidak bersemayam di atas Arsy-Nya, tidak terangkat kepada-Nya tangan-tangan, tidak naik kepada-Nya amal-amal, tidak turun dari sisi-Nya sesuatu, dan tidak naik kepada-Nya sesuatu. Tidak ada di atas Arsy tuhan yang disembah, tidak ada Rabb yang dishalati dan disujudi kepada-Nya, bahkan tidak ada di sana kecuali ketiadaan murni yang bukan sesuatu!
Maka kesempurnaan penyaksian menurut mereka adalah: bahwa hamba menyaksikan dzat yang terlepas dari setiap nama, sifat, dan nama.
Syaikhul Islam adalah musuh kelompok ini, dan ia berlepas diri dari mereka sebagaimana para rasul berlepas diri dari mereka. Namun tersisa padanya sisa seperti ini, yaitu menjadikan penyaksian dzat di atas penyaksian sifat-sifat. Padahal tidak ada jalan bagi kemampuan manusia untuk menyaksikan dzat Ilahi sama sekali, dan penyaksian tidak akan terjadi pada hakikat tersebut, dan hal itu tidak dijadikan baginya. Yang dijadikan baginya adalah penyaksian sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan. Adapun hakikat dzat, maka tidak diketahui oleh manusia. Ketika orang-orang musyrik bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang hakikat Rabbnya Subhanahu: terbuat dari apa Dia, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (Surah Al-Ikhlas: 1-4). Oleh karena itu, ketika Firaun bertanya kepada Musa tentang hakikat Rabbnya dengan ucapannya: “Dan siapakah Rabb semesta alam itu?” (Surah Asy-Syuara: 23), Musa menjawabnya dengan ucapannya: “Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.” (Surah Maryam: 65). Karena tidak ada jalan bagi manusia untuk mencapai hakikat dzat-Nya. Maka Dia menunjukkan diri-Nya kepada mereka dengan sifat-sifat tsabutiyyah-Nya (sifat yang menetapkan), yaitu bahwa Dia Shamad, dan sifat-sifat salbiyyah-Nya yang mengandung penetapan, yaitu bahwa Dia tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Dia tidak menjadikan bagi mereka jalan untuk mengetahui dzat dan hakikat.
Lalu apakah penyaksian dzat ini yang kalian jadikan bagi penyaksi, dan kalian jadikan di atas mukasyafah, dan kalian jadikan wilayah mukasyafah adalah sifat sedangkan wilayah musyahadah adalah dzat?
Maka ketahuilah bahwa maksud sang Syekh dan orang-orang sepertinya dari kalangan ahli ma’rifat yang lurus adalah: agar pandangan hati tidak terbatas pada satu sifat dari sifat-sifat sehingga tenggelam hanya padanya, tetapi perhatian dan penyaksiannya terjadi pada dzat yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan nama-nama keagungan. Maka pada saat itu penyaksiannya terjadi pada dzat dan sifat-sifat sekaligus.
Tidak diragukan lagi bahwa ini berada di atas penyaksian satu sifat atau beberapa sifat.
Namun dikatakan: Penyaksian tidak terjadi pada sifat yang terpisah, dan tidak sah pemisahannya di luar maupun dalam pikiran. Bahkan setiap kali menyaksikan sifat, pasti menyaksikan keberdirian sifat itu pada yang memilikinya. Lalu apakah penyaksian dzat ini yang berada di atas penyaksian sifat?
Dan perkara ini kembali kepada satu hal, yaitu bahwa barangsiapa lebih mengetahui sifat-sifat Allah dan lebih menetapkannya, dan penolakan terhadap penetapan telah hilang darinya, maka ia lebih sempurna penyaksiannya. Oleh karena itu, yang paling sempurna penyaksiannya dari kalangan makhluk adalah orang yang berkata: “Aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Karena kesempurnaan ma’rifahnya terhadap nama-nama dan sifat-sifat, ia beristidlal dengan apa yang ia ketahui darinya bahwa perkara itu melebihi apa yang ia hitung dan ketahui.
Maka penyaksian sifat-sifat adalah: penyaksian para rasul, nabi-nabi, dan ahli warisnya. Setiap orang yang lebih mengetahuinya, maka ia lebih mengetahui Allah, dan penyaksiannya sesuai dengan apa yang ia ketahui darinya. Sebenarnya hamba tidak memiliki penyaksian dan penyingkapan, baik terhadap dzat maupun sifat-sifat, maksud saya penyaksian mata dan penyingkapan mata. Yang ada hanyalah bertambahnya iman dan keyakinan.
Harus diperhatikan di sini suatu perkara, yaitu: bahwa musyahadah adalah hasil dari keyakinan-keyakinan. Barangsiapa keyakinannya tetap dalam suatu perkara, maka ketika jiwanya bersih dan terlatih, meninggalkan syahwat dan sifat-sifat tercela, dan menjadi rohani, maka akan tampak baginya gambaran keyakinannya sebagaimana ia yakini. Terkadang penampakan itu sangat kuat hingga menjadi seperti mata kepala, padahal bukan. Maka terjadilah kesalahan dari dua sisi.
Pertama: Mengira bahwa itu tetap di luar, padahal ia hanya dalam pikiran. Namun karena jernihnya latihan dan terangkatnya kegelapan-kegelapan tabiat, dan ia tidak menyadari penyaksiannya karena tenggelam dalam yang disaksikan, dan dominasi hukum-hukum hati, bahkan hukum-hukum ruh, ia mengira bahwa yang tampak baginya di luar. Ia tidak mempedulikan celaan pencela dalam hal itu, sekalipun datang kepadanya setiap tanda di langit dan bumi. Hal itu menurutnya seperti orang yang melihat hilal dengan mata kepalanya secara jelas. Seandainya ahli langit dan bumi berkata kepadanya: “Kamu tidak melihatnya,” ia tidak akan menghiraukan mereka. Demi Allah, kami tidak mendustakannya dalam apa yang ia kabarkan tentang penglihatannya, namun kami yakin bahwa ia hanya melihat gambaran keyakinannya dalam dzat dan jiwanya, bukan hakikat di luar. Inilah salah satu dari dua kesalahan.
Sebabnya adalah: kuatnya kaitan indera penglihatan dengan hati. Mata adalah cermin hati yang sangat kuat hubungannya dengannya. Ditambah lagi dengan kuatnya keyakinan, lemahnya pembedaan, dominasi hukum hawa nafsu dan keadaan atas ilmu, dan mendengarnya dari kaum sufi bahwa ilmu adalah hijab.
Kesalahan kedua: Mengira bahwa perkara itu sebagaimana ia yakini, dan bahwa apa yang ada di luar sesuai dengan keyakinannya.
Maka lahirlah dari dua kesalahan ini penyingkapan dan penyaksian seperti ini.
Sungguh telah mengabarkan orang jujur dari kalangan Mulhidin (atheis) yang mengatakan bahwa wujud adalah satu: bahwa telah tersingkap bagi mereka bahwa perkara itu sebagaimana yang mereka katakan, dan mereka menyaksikannya di luar demikian secara nyata. Penyingkapan dan penyaksian ini adalah: buah dari keyakinan mereka dan hasilnya. Inilah isyarat tentang pembeda dalam masalah ini, wallahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui).
[TINGKATAN-TINGKATAN MUSYAHADAH]
[Fasal: Tingkatan Pertama – Musyahadah Ma’rifah]
Fasal
Beliau berkata: Dan musyahadah itu terdiri atas tiga tingkatan. Tingkatan pertama: musyahadah ma’rifah, yang berjalan melampaui batas-batas ilmu, dalam kilatan-kilatan cahaya wujud, yang berhenti di halaman jama’.
Ini didasarkan pada prinsip-prinsip kaum sufi, bahwa ma’rifah (pengenalan hakiki) berada di atas ilmu. Karena ilmu menurut mereka adalah pemahaman terhadap sesuatu yang diketahui, sekalipun hanya dengan sebagian sifat dan konsekuensinya. Sedangkan ma’rifah menurut mereka adalah pengetahuan yang mencakup hakikat sesuatu sebagaimana adanya, sebagaimana definisi yang diberikan oleh Syaikh. Tidak diragukan lagi bahwa dengan pertimbangan ini, ma’rifah berada di atas ilmu. Namun dengan definisi ini, tidak terbayangkan bahwa seorang pun dari makhluk-Nya dapat mengenal Allah sama sekali. Pembahasan mengenai definisi ini akan datang pada tempatnya insya Allah Ta’ala. Dan ma’rifah menurut kaum sufi tidak mensyaratkan apa yang mereka sebutkan itu, dan kami akan menyebutkan perkataan mereka insya Allah.
Sebagian dari mereka menyebutkan: bahwa amal orang-orang abrar (yang berbuat kebajikan) berdasarkan ilmu, sedangkan amal orang-orang muqarrabin (yang didekatkan) berdasarkan ma’rifah.
Perkataan ini benar dari satu sisi, dan salah dari sisi lain. Karena orang-orang abrar dan muqarrabin sama-sama beramal dengan ilmu, berdiri teguh pada hukum-hukumnya, meskipun ma’rifah orang-orang muqarrabin lebih sempurna daripada ma’rifah orang-orang abrar. Keduanya adalah ahli ilmu dan ma’rifah. Maka tidak boleh menafikan ma’rifah dari orang-orang abrar, dan tidak boleh pula menganggap orang-orang muqarrabin tidak memerlukan ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah: kesaksian bahwa tiada ilah selain Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritahukanlah kepada mereka: bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima salat dalam sehari semalam.” Beliau menjadikan mereka sebagai orang yang mengenal Allah sebelum mereka menunaikan kewajiban salat dan zakat, bahkan menjadikan mereka di awal-awal waktu masuknya mereka ke dalam Islam sebagai orang yang mengenal Allah. Tidak diragukan lagi bahwa ma’rifah ini tidak seperti ma’rifah kaum Muhajirin dan Anshar. Maka manusia berbeda-beda dalam tingkatan ma’rifah dengan perbedaan yang jauh.
Perkataan beliau: “dalam kilatan-kilatan cahaya wujud” maksudnya: bahwa bukti-bukti ma’rifah adalah kilatan-kilatan yang menyinar dari cahaya wujud. Wujud menurut Syaikh terbagi menjadi tiga tingkatan: wujud ilmu, wujud ‘ain (hakikat), dan wujud tingkatan, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya insya Allah Ta’ala.
Kilatan-kilatan yang beliau isyaratkan ini: menyinar dalam ketiga tingkatan tersebut. Mereka menyebutkan dari al-Junaid, bahwa beliau berkata: Ilmu tauhid berbeda dengan wujudnya, dan wujudnya berbeda dengan ilmunya.
Makna dari itu: bahwa seorang hamba mungkin memiliki ilmu yang benar tentang keesaan Allah dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya dengan ilmu yang yakin, tidak ragu dan tidak bimbang padanya. Tetapi ketika sebab-sebab yang berbeda menimpanya, dan ombak-ombaknya melemparkannya ke sana kemari, hatinya tidak teguh pada awal-awal benturan tersebut, dan tidak segera melihat semua sebab itu dari Yang Pertama yang telah ditunjukkan oleh bukti-bukti qath’i (pasti) dan musyahadah imaniyah tentang keesaan dan keutamaan-Nya. Maka orang ini adalah seorang yang berilmu tentang tauhid, tetapi tidak menemukan tingkatannya, dan tidak memiliki keadaan yang dikaruniakan kepadanya oleh tauhid. Jika hatinya menemukan dirinya di waktu keadaan berbeda-beda dan sebab-sebab berlainan, percaya kepada Tuhannya, menghadap kepada-Nya, tenggelam dalam menyaksikan keesaan-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya – karena sesungguhnya Dialah yang menyendiri dalam mengatur hamba-hamba-Nya – maka dia telah menemukan tingkatan tauhid sebagai keadaannya.
Ahli tingkatan ini berbeda-beda dalam penyaksiannya dengan perbedaan yang besar: ada yang menyadari apa yang dialaminya, menikmati dan merasakan kenikmatan pada waktu tertentu tanpa waktu lain; ada yang kondisi ini dominan padanya; dan ada yang tenggelam, tidak sadar akan bagiannya dan kenikmatannya karena wujud yang dialaminya. Cahaya wujud telah menutupi penyaksiannya terhadap keadaannya, dan belum sampai ke tingkatan jama’, bahkan telah berhenti di halamannya. Wujud menurutnya adalah hadirat (kehadiran) jama’, dan disebut hadirat wujud. Perkataan beliau: “yang berhenti di halaman jama'” maksudnya: penyaksiannya terhadap keadaannya telah mendekati tempat jama’, dan berhenti di sana, dan bersiap untuk memasukinya. Ini adalah kiasan, seolah-olah dia menyerupakan orang yang menyaksikan dengan musafir, dan menyerupakan penyaksiannya dengan unta yang digunakan untuk bepergian, karena unta itu yang membawanya. Dia menyerupakan hadirat jama’ dengan tempat dan rumah, dan musafir telah memberhentikan untanya di halamannya. Ini adalah isyarat darinya kepada kedekatan musafir dengan tempat itu, dan bahwa cahaya wujud tidak menyinar kecuali darinya.
[Fasal: Tingkatan Kedua – Musyahadah Mu’ayanah]
Fasal
Beliau berkata: Tingkatan kedua: musyahadah mu’ayanah (penyaksian penyaksian langsung), yang memutuskan tali-tali bukti, mengenakan sifat-sifat kesucian, dan membisukan lidah-lidah isyarat.
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang sebelumnya, karena tingkatan yang sebelumnya adalah musyahadah kilat yang muncul dari ilmu nazhari (teoritis) tentang tauhid, dan mantap dalam wujud tauhid, hingga pemiliknya melihat semua sebab dari Yang Satu yang mendahului semuanya, yang tidak ada permulaan bagi wujud-Nya sebagai keadaan dan pengalaman ruhani. Dia berhenti di halaman jama’ untuk menjadikannya tempat bagi tauhidnya. Namun dia belum sempurna tenggelamnya dari menyaksikan bentuk-bentuknya sama sekali, sehingga masih ada bukti-bukti bentuk bersamanya. Sedangkan pemilik tingkatan ini: telah terputus darinya tali-tali bukti, dan mantap dalam tingkatan musyahadah, dan suci dari sifat-sifat nafs serta mengenakan sifat-sifat kesucian. Dia suci dari menoleh kepada selain yang disaksikannya, maka dijagalah karenanya lisannya dari memberi isyarat kepada apa yang dialaminya. Musyahadah ini menurutnya berada di atas musyahadah ma’rifah; karena yang itu dari kilatan-kilatan cahaya wujud, sedangkan ini adalah musyahadah wujud itu sendiri, bukan kilatan cahayanya. Maka ini lebih tinggi; karena ini adalah musyahadah ‘iyan (penyaksian langsung). ‘Iyan dan mu’ayanah: adalah ketika mata jatuh pada hakikat.
Engkau telah mengetahui bahwa ini adalah mustahil di dunia. Barangsiapa membolehkannya maka dia telah salah dengan kesalahan paling buruk, dan melampau tingkatan para Rasul. Adapun puncak yang dapat dicapai oleh seorang arif adalah: tambahan iman dan yakin, sehingga dia menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya; karena kuatnya yakin dan imannya kepada wujud-Nya, Asma-Nya dan Sifat-Sifat-Nya. Adapun cahaya-cahaya, kilatan, dan sinar hanyalah cahaya iman dan ketaatan dari dzikir, bacaan Al-Quran dan semisalnya, atau cahaya-cahaya dari ketenggelamannya dalam merenungkan Asma dan Sifat serta menetapkannya dan beriman kepadanya, sehingga dia menjadi seperti orang yang menyaksikannya. Maka cahaya ma’rifah bersinar di hatinya, lalu dia mengiranya sebagai cahaya Dzat dan Sifat.
Telah dijelaskan sebelumnya sebab yang menjatuhkan mereka ke dalam itu, dan bahwa mereka tidak mungkin kembali dalam hal itu kepada orang-orang yang terhalang (mahjub) yang tebal dalam bab ini hijab mereka, kasar ruh mereka dari memahaminya, dan pendek ilmu serta ma’rifah mereka darinya. Mereka hampir tidak menemukan orang yang benar-benar merasakan pengalaman ruhani yang sahih yang dapat menjelaskan kepada mereka hukum-hukum pengalaman dan penyaksian mereka, menempatkannya pada tempatnya, dan menjelaskan sebab-sebab dan illatnya. Keberadaan orang seperti ini adalah sesuatu yang paling langka. Kaum sufi memiliki keinginan yang kuat dan semangat yang tinggi, dan tujuan serta semangat mereka menurut mereka berada di atas tujuan dan semangat manusia lainnya. Maka ruh mereka menyaksikan tingkatan orang yang mengingkari mereka dan kerendahannya, serta ketenggelamannya dalam kesenangannya dan hukum-hukum nafs serta tabiatnya. Jiwa mereka tidak rela menerima perkataannya dan kembali kepadanya. Seandainya mereka menemukan seorang arif yang memiliki Al-Quran dan iman, yang Al-Quran dan iman menyeru atas ma’rifahnya, dan ma’rifahnya menunjukkan pada konsekuensi iman dan Al-Quran, yang menguasakan wahyu atas pengalaman ruhani, mengambil hukum-hukum pengalaman ruhani dari wahyu, bukan orang yang kasar dan keras, bukan pendusta dan tidak terhalang dengan wasilah (perantara) dari tujuan, isyaratnya di bawah tingkatannya, dan tingkatannya di atas isyaratnya, jika memberi isyarat maka dengan Allah sambil meminta kesaksian dari bukti-bukti Allah, dan jika diam maka diam dengan Allah, dengan rahasia dan hatinya tekun kepada Allah – seandainya mereka menemukan seperti ini maka orang-orang yang jujur akan lebih cepat kepadanya daripada api pada kayu kering dan bahan bakar. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Perkataan beliau: “dan memutuskan tali-tali bukti” dia menyerupakan bukti-bukti dengan tali yang menarik hamba kepada yang dicarinya. Ini hanya terjadi dengan ketiadaan dari yang dicari. Jika urusan sampai pada penyaksian langsung: maka terputuslah tali-tali bukti dengan hukum mu’ayanah.
Perkataan beliau: “mengenakan sifat-sifat kesucian” – al-Quds: adalah keterjagaan dan kesucian, dan “sifat-sifat kesucian” adalah sifat-sifatnya. Maka Allah Subhanahu memberikan kepadanya dari sifat-sifat itu apa yang layak baginya. Dia menggunakan kata “mengenakan” sebagai kiasan untuk itu; karena sifat-sifat itu adalah pakaian khusus, dan pakaian khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala dikenakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.
Ini adalah tempat yang dikunjungi oleh orang-orang muwahhid (ahli tauhid) dan mulhid (sesat). Orang muwahhid meyakini: bahwa yang Allah pakaikan kepadanya adalah sifat-sifat yang dengannya Allah menghiasi lahir dan batinnya, dan itu adalah sifat-sifat makhluk yang dipakaikan kepada hamba yang makhluk. Maka Dia memakaikan hambanya pakaian dari pakaian-pakaian karunia dan pemberian-Nya.
Sedangkan orang mulhid berkata: Dia memakaikannya sifat-sifat-Nya sendiri, dan memberikan kepadanya pakaian khusus dari sifat-sifat Dzat-Nya, hingga dia menjadi menyerupai-Nya, bahkan dia adalah Dia. Mereka berkata: al-Wushul (penyatuan) adalah menyerupai Ilah sesuai dengan kemampuan. Sebagian dari mereka melembutkan makna ini, dan berkata: bahkan dia berakhlak dengan akhlak Tuhan. Mereka meriwayatkan dalam hal itu sebuah atsar yang batil: “Berakhlak dengan akhlak Allah”.
Tidak ada di sini kecuali beribadah dengan sifat-sifat yang indah, dan akhlak yang mulia yang Allah cintai, dan diciptakan-Nya untuk siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Maka hamba adalah makhluk, pakaian khususnya adalah makhluk, dan sifat-sifatnya adalah makhluk. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala terpisah dengan Dzat dan Sifat-Nya dari makhluk-Nya, tidak bercampur dengan mereka dan mereka tidak bercampur dengan-Nya, tidak hulul (bersemayam) di dalam mereka dan mereka tidak hulul di dalam-Nya. Maha Tinggi Allah dari itu dengan ketinggian yang besar.
[Fasal: Tingkatan Ketiga – Musyahadah Jam’]
Fasal
Beliau berkata: Tingkatan ketiga: musyahadah jama’ (penyaksian penghimpunan). Dia ditarik ke ‘ain (hakikat) jama’, menguasai kesahihan wurud (datang), menunggangi lautan wujud.
Pemilik tingkatan ini: lebih mantap menurut Syaikh dalam tingkatan musyahadah, dan lebih kukuh dalam tingkatan jama’, yang merupakan hadirat wujud, dan lebih mampu memikul apa yang datang kepadanya dalam tingkatannya dari berbagai jenis kasyf dan ma’rifah. Oleh karena itu musyahadahnya menguasai kesahihan wurud; artinya: menyaksikan untuk dirinya sendiri kesahihan datangnya ke hadirat jama’, dan semua hal menyaksikan kebenarannya, dan yang disaksikan juga menyaksikan hal itu baginya. Maka tidak tersisa padanya kemungkinan keraguan dan kebimbangan.
Ini juga adalah tempat masuk bagi orang mulhid dan muwahhid.
Orang mulhid berkata: musyahadah jama’ adalah musyahadah wujud yang satu, yang menghimpun semua makna, bentuk, kekuatan, perbuatan, dan nama. Dan “hadirat jama'” menurutnya: adalah hadirat wujud ini, dan musyahadah dari tarikan ini menarik ke hakikatnya.
Beliau berkata: Dan sifat tarikan ini: bahwa Allah Ta’ala membuka ikatan makhluk-Nya dengan tangan hakikat-Nya, maka cahaya yang terpancar pada bentuk makhluk-Nya kembali ke asalnya, dan hamba kembali ke ketiadaannya. Maka tinggallah wujud bagi Allah, dan fana bagi makhluk. Dan Allah Ta’ala menegakkan sifat dari sifat-sifat-Nya, yang menggantikannya dalam penyaksian Dzat-Nya. Maka Allah adalah Yang menyaksikan Dzat-Nya dengan Dzat-Nya, dalam tingkatan dari tingkatan-tingkatan penampakan-Nya, yaitu tingkatan hamba-Nya. Jika Allah Ta’ala menetapkan hamba-Nya setelah meniadakannya dan menghapusnya, dan membuatnya kekal setelah fana-nya, maka dia kembali seperti kembalinya orang mabuk ke kesadarannya, dia menemukan dalam dirinya rahasia-rahasia Tuhannya, tingkatan sifat-sifat-Nya, hakikat-hakikat Dzat-Nya, tanda-tanda wujud-Nya, dan jatuhnya sinar-sinar cahaya-Nya. Dan dia menemukan makhluk-Nya adalah nama-nama yang dinamai dari Dzat-Nya, dan kembalinya kepada-Nya. Maka hamba melihat tetapnya nama itu dalam hadirat seluruh nama-nama yang menunjukkan dengan petunjuknya kepada wujud yang suci asal, yang mengisyaratkan cabang. Maka terus menerusnya pandangan kepada asalnya membawa kepada: bahwa cabang tidak meninggalkannya dia kecuali dengan bentuknya.
Dan bentuk dengan berbagai macamnya adalah makna ketiadaan untuk menentukan kemungkinannya dalam kewajibannya.
Lihatlah apa yang ada dalam perkataan ini berupa ilhad (keluar dari agama) dan kekufuran yang terang-terangan, dan menjadikan hakikat makhluk sebagai hakikat Sang Pencipta itu sendiri, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menampilkan sifat-sifat-Nya sendiri sebagai pengganti-Nya dalam penyingkapan zat-Nya, dan bahwa Dia menyaksikan zat-Nya dengan zat-Nya sendiri dalam tingkatan-tingkatan penciptaan, dan bahwa manusia jika sadar dari kemabukan (spiritual)-nya akan menemukan dalam dirinya hakikat-hakikat zat Allah, dan menemukan penciptaannya sebagai nama-nama yang menamai zatnya, maka dia melihat penetapan nama itu dalam hadirat seluruh nama-nama yang menunjuk dengan petunjuknya kepada wujud yang suci pada asalnya, yaitu dari pembagian dan kemajemukan “yang mengira cabang” yaitu yang membayangkan cabang-cabangnya dan kemajemukan penampakan-penampakannya, dan perbedaan bentuk-bentuknya bahwa ia bermacam-macam, padahal ia hanya satu wujud, dan bentuk-bentuk dengan berbagai macamnya adalah hal-hal yang tiada, karena ia mungkin dan kemungkinannya lenyap dalam kewajibannya, maka tidak tersisa kecuali kewajiban Wajibul Wujud, dan Dia adalah satu, meskipun berbeda bentuk-bentuk yang Dia tampak di dalamnya, dan nama-nama yang menunjuk kepada-Nya.
Maka pengikut paham ittihad (kesatuan) menyaksikan satu wujud, yang mencakup semua bentuk, jenis, dan genus, yang melimpah kepada semuanya, lalu tampak di dalamnya sesuai dengan wadah-wadah dan kesiapan-kesiapan mereka.
Dan penyaksian itu menariknya kepada terlepasnya tekadnya dari terikat dengan sesembahan tertentu, atau ibadah tertentu, bahkan ia tetap sesembahannya adalah wujud mutlak yang berjalan dalam segala yang berwujud dengan makna apa pun ia tampak, dan dalam hakikat apa pun ia terwujud, maka tidak ada perbedaan menurutnya antara sujud kepada berhala, matahari, bulan, bintang-bintang dan lainnya, sebagaimana yang dikatakan penyair mereka:
Dan jika ia tersungkur kepada batu-batu di padang pasir sebagai orang yang bertekun, maka janganlah kau mengingkari dengan fanatisme
Dan jika Majusi menyembah api dan tidak pernah padam, sebagaimana yang datang dalam berita-berita sejak seribu haji
Maka mereka tidak menyembah selain aku dan tujuan mereka tidak lain adalah aku, meskipun mereka tidak menampakkan ikatan niat
Dan tidak ada yang mengikat zunnar kecuali tangan-Ku, dan jika mereka melepaskannya dengan pengakuan kepada-Ku maka itulah baiat mereka
Dan sebagaimana yang dikatakan arif mereka: Ketahuilah bahwa bagi Yang Haq dalam setiap sesembahan ada wajah yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya, maka orang yang mengetahui mengetahui siapa yang disembah, dan dalam bentuk apa dia tampak. Allah berfirman: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia (surah Al-Isra: 23). Dia berkata: Dan Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali pasti terjadi, dan tidak ada yang disembah selain Allah dalam setiap sesembahan. Inilah pandangan orang yang murtad. Sedangkan orang yang bertauhid menyaksikan dengan iman dan keyakinannya zat yang mencakup Asma’ul Husna (nama-nama terbaik), dan Sifatul Ula (sifat-sifat tertinggi), bagi-Nya setiap sifat kesempurnaan, dan setiap nama yang baik, dan itu menariknya kepada pengumpulan perhatiannya kepada Allah, dan kepada pelaksanaan kewajiban-kewajiban-Nya.
Dan jalan secara keseluruhannya tidak keluar dari kedua sebab ini, meskipun mereka memperpanjang ungkapan, dan memperhalus isyarat-isyarat, maka semua perkara itu berkisar pada pengumpulan perhatian kepada Allah, dan mencurahkan usaha dengan puncak keikhlasan dalam mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan sunnah, setelah menyempurnakan kewajiban-kewajiban, maka jangan memanjangkan dan jangan berat bagimu.
Dan Syaikhul Islam maksudnya dengan pengumpulan yang menarik kepada hakikat pengumpulan adalah perkara lain antara ini dan antara pengumpulan ahli kesatuan dan hakikat pengumpulan mereka, bukan ini dan bukan itu, maka ia berkisar pada fana (lenyap dalam Allah) tidak mengambil celaan orang yang mencela di dalamnya, dan itulah pengumpulan yang ia bicarakan, dan hakikat pengumpulan menurutnya adalah kesendirian Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keazalian dan keabadian, dan dengan penciptaan dan perbuatan, maka Dia ada dan tidak ada sesuatu, dan Dia kembali setelah segala sesuatu, dan Dia yang mewujudkan segala sesuatu, maka tidak ada wujud sesungguhnya bagi selain-Nya, dan tidak ada perbuatan bagi selain-Nya, bahkan wujud selain-Nya seperti khayalan dan bayangan, dan perbuatan selain-Nya sesungguhnya seperti gerakan pohon-pohon dan tumbuhan, dan ini adalah hakikat fana dalam penyaksian rububiyah, keazalian dan keabadian, dan melipat hamparan penyaksian alam semesta, maka jika hukum ini tampak maka wujud hamba lenyap dalam wujud Yang Haq, dan pengaturannya dalam pengaturan Yang Haq, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi Yang Disaksikan dengan wujud hamba, hancur lenyap seperti khayalan dan bayangan.
Dan tidak siap untuk ini menurut mereka kecuali orang yang terkumpul kehendaknya kepada Yang Dikehendaki semata, sebagai hal bukan pemaksaan, dan sebagai tabiat bukan berpura-pura, maka mungkin perhatian bangkit kepada sesuatu dan terikat dengannya, dan pemiliknya berpaling dari selain tujuannya, terpaut dengannya, tetapi kehendak kepada yang lain tersembunyi di dalamnya, hukumnya telah tersembunyi dan tertutup, dan belum hilang, karena hati jika disibukkan dengan sesuatu kesibukan yang sempurna maka tersembunyilah darinya kehendaknya kepada selainnya, dan perhatiannya kepada apa yang selainnya dengan tetap tersembunyi dalam dirinya, zatnya hadir padanya, maka jika menemukan celah dan sedikit kelengahan dari kesibukannya, tampaklah hukum kehendak-kehendak itu yang dahulu kekuasaan penyaksiannya menghalangi antara dia dan kehendak-kehendak itu, maka pengumpulan dan hakikat pengumpulan ada tiga tingkatan.
Yang tertinggi: pengumpulan mereka kepada Allah: kehendak, kecintaan, dan kembali kepada-Nya, dan pengumpulan hati, roh, jiwa, dan anggota badan untuk mencurahkan usaha dalam mendekatkan diri kepada-Nya dengan apa yang Dia cintai dan ridhai, tanpa formalitas manusia dan kebiasaan-kebiasaan mereka, maka ini adalah pengumpulan orang-orang pilihan yang muqarrabin dan para pemimpin mereka.
Yang kedua: tenggelam dalam fana dalam penyaksian rububiyah, dan kesendirian Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keazalian dan keabadian, dan bahwa wujud yang hakiki hanya bagi-Nya sendiri, dan pengumpulan ini di bawah pengumpulan yang pertama dengan tingkatan-tingkatan yang banyak.
Yang ketiga: pengumpulan kaum mulhidin penganut ittihad, dan hakikat pengumpulan mereka; yaitu pengumpulan penyaksian dalam kesatuan wujud, maka hendaklah kamu membedakan tingkatan-tingkatan; agar selamat dari bahaya, dan akan disebutkan tingkatan-tingkatan pengumpulan dan perbedaan antara yang benar dan yang salah di antaranya, di akhir bab tauhid dari kitab ini insya Allah Ta’ala, dan Allah Yang Diminta Pertolongan.
Perkataannya: “menguasai kebenaran datangnya” yaitu: menjamin kebenaran datangnya, menyaksikan hal itu dan disaksikan baginya dengannya, karena ia di atas penyaksian makrifat, dan di atas penyaksian penyaksian langsung.
Perkataannya: “mengarungi lautan wujud” yaitu: penyaksian itu mengarungi lautan wujud, maka ia berada di tengah lautannya bukan dalam cahaya-cahayanya, dan bukan dalam kilatannya.
Dan telah disebutkan sebelumnya pembicaraan tentang maksudnya dengan wujud dan bahwa ia adalah wujud ilmu, dan wujud hakikat, dan wujud tingkatan, dan akan disebutkan penyempurnaan pembicaraan tentangnya dalam babnya insya Allah Ta’ala.
Fasal Penyaksian Langsung
Hakikat Penyaksian Langsung
Fasal penyaksian langsung
Syaikhul Islam berkata: (Bab penyaksian langsung). Allah Ta’ala berfirma: Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang (surah Al-Furqan: 45).
Aku berkata: penyaksian langsung adalah bentuk mufa’alah dari kata ‘iyan (penyaksian), dan asalnya dari melihat dengan mata, dikatakan: ‘ainahu (ia menyaksikan secara langsung) jika matanya jatuh padanya, sebagaimana dikatakan: syafahahu (ia berbicara langsung) jika ia berbicara dengannya secara langsung, dan waajahahu (ia menghadapkan wajah) jika ia menghadapi dengan wajahnya, dan ini mustahil di dunia ini bahwa dicapai oleh manusia.
Adapun firman-Nya: Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang (surah Al-Furqan: 45), maka penglihatan jatuh pada perbuatan memanjangkan bayang-bayang itu sendiri, bukan pada Dzat yang memanjangkannya Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis (surah Nuh: 15), dan firman-Nya Ta’ala: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap pasukan bergajah (surah Al-Fil: 1), maka di sini Dia menjatuhkan penglihatan pada perbuatan itu sendiri, dan dalam firman-Nya: Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang (surah Al-Furqan: 45) Dia menjatuhkannya dalam lafaz kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan yang dimaksud: perbuatan-Nya dari memanjangkan bayang-bayang, ini adalah kalam Arab yang jelas maknanya, tidak mengandung kemungkinan lain dan tidak samar, sebagaimana dikatakan tentang Al-Uzza:
Kekufuranmu hari ini bukan kesucian bagimu, sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinakanmu
Dan ini banyak dalam perkataan mereka, mereka berkata: aku melihat Allah telah melakukan ini dan itu, dan yang dimaksud: aku melihat perbuatan-Nya, maka penyaksian langsung dan penglihatan: jatuh pada obyek yang dikenai perbuatan bukan pada dzat pelaku dan sifatnya dan bukan pun perbuatan-Nya yang berdiri pada-Nya.
Fasal Jenis-jenis Penyaksian Langsung
Fasal
Penulis kitab Manazil berkata: Penyaksian langsung ada tiga. Pertama: penyaksian langsung mata kepala. Kedua: penyaksian langsung mata hati, dan ia adalah pengetahuan tentang hakikat sesuatu menurut sifatnya, pengetahuan yang memutus keraguan, dan tidak dicampuri kebingungan. Ketiga: penyaksian langsung mata roh, dan ia adalah yang menyaksikan Sang Haq secara langsung murni, dan roh-roh hanya disucikan dan dimuliakan dengan keabadian agar menyaksikan cahaya hadirat, dan menyaksikan keindahan kemuliaan, dan menarik hati-hati kepada fana hadirat.
Syaikh menjadikan penyaksian langsung bagi mata, hati dan roh, dan menjadikan bagi setiap penyaksian langsung di antaranya hukum tersendiri.
Maka penyaksian langsung mata: adalah melihat sesuatu secara langsung, baik dengan tercetak gambar yang terlihat dalam kekuatan penglihatan, menurut penganut pencetakan, atau dengan tersambungnya sinar yang menyebar dari mata yang tersambung dengan yang terlihat, menurut penganut sinar, atau dengan hubungan dan keterkatan khusus antara mata dan yang terlihat, menurut banyak ahli kalam, dan ketiga pendapat ini tidak lepas dari kesalahan dan kebenaran, dan yang benar adalah sesuatu selain ketiganya, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dalam mata kekuatan yang melihat, sebagaimana Dia menjadikan dalam telinga kekuatan yang mendengar, dan dalam hidung kekuatan yang mencium, dan dalam lidah kekuatan yang berbicara dan kekuatan yang mengecap, maka ini adalah kekuatan-kekuatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan dalam anggota-anggota ini, dan menjadikan antara keduanya ikatan, dan menjadikan baginya sebab-sebab dari luar, dan penghalang-penghalang yang menghalangi hukumnya, dan semua yang mereka sebutkan dari pencetakan, perlawanan, sinar, hubungan, dan keterikatan: maka ia adalah sebab dan syarat, dan yang menentukan adalah kekuatan yang berdiri pada tempat, dan bukan tujuan menyebutkan masalah ini, maka yang dimaksud adalah perkara lain.
Adapun penyaksian langsung hati: maka ia adalah tersingkapnya gambaran yang diketahui baginya, sehingga nisbatnya kepada hati seperti nisbat yang terlihat kepada mata, dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati dapat melihat dan buta, sebagaimana mata dapat melihat dan sebagaimana ia buta. Allah Ta’ala berfirma: Maka sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada (surah Al-Hajj: 46), maka hati dapat melihat dan mendengar, dan buta dan tuli, dan kebutaan dan ketuliannnya lebih parah dari buta penglihatan dan tulinya.
Adapun apa yang ditetapkan oleh kaum mutakhir dari bagian ketiga ini yaitu penglihatan roh, dan pendengarannya, dan kehendaknya, dan hukum-hukumnya, yang lebih khusus dari hukum-hukum hati, maka mereka ini keyakinannya bahwa roh adalah selain jiwa dan hati.
Dan tidak diragukan bahwa di sini ada hal-hal yang diketahui, yaitu: badan, dan rohnya yang berdiri padanya, dan hati yang disaksikan di dalamnya, dan dalam seluruh hewan dan naluri, dan ia adalah kekuatan yang berakal yang tempatnya adalah hati, dan nisbatnya kepada hati seperti nisbat kekuatan yang melihat kepada mata, dan kekuatan yang mendengar kepada telinga, dan karena itu kekuatan itu dinamai hati, sebagaimana kekuatan yang melihat dinamai penglihatan. Allah Ta’ala berfirma: Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati (surah Qaf: 37), dan tidak dimaksudkan bentuk hati, karena ia milik setiap orang, dan yang dimaksud adalah kekuatan dan naluri yang dititipkan di dalamnya.
Dan roh: adalah yang membawa badan, dan semua kekuatan ini, maka tidak ada tiang bagi badan dan tidak pula bagi kekuatan-kekuatannya kecuali dengannya, dan baginya dengan i’tibar penambahan kepada setiap tempat ada hukum dan nama yang mengkhususkannya di sana, maka jika ditambahkan kepada tempat penglihatan dinamai penglihatan, dan baginya ada hukum yang mengkhususkannya di sana, dan jika ditambahkan kepada tempat pendengaran dinamai pendengaran, dan baginya ada hukum yang mengkhususkannya di sana, dan jika ditambahkan kepada tempat akal yaitu hati dinamai hati, dan baginya ada hukum yang mengkhususkannya di sana, ia dalam semua itu adalah roh.
Maka kekuatan yang melihat, yang berakal, yang mendengar, dan yang berbicara adalah roh yang melihat, mendengar, berakal, dan berbicara, maka ia dalam hakikat ini adalah yang berakal, yang memahami yang menyadari, yang mencintai yang mengetahui, yang menggerakkan badan yang menjadi tempat khitab dan perintah dan larangan, ia adalah satu hal yang memiliki sifat-sifat yang bermacam-macam sesuai dengan hal yang dikaitkan dengannya, maka ia dinamai jiwa yang tenang dan jiwa yang mencela, dan jiwa yang mendorong kepada kejahatan, dan bukan tiga jiwa dalam dzat dan hakikat, tetapi ia adalah satu jiwa yang memiliki sifat-sifat yang bermacam-macam.
Dan mereka menunjuk dengan jiwa kepada akhlak dan sifat-sifat yang tercela, maka mereka berkata: si fulan memiliki jiwa (dalam arti negatif), dan si fulan tidak memiliki jiwa, dan diketahui bahwa jika jiwanya berpisah darinya maka ia akan mati, tetapi mereka menginginkan terlepasnya dari sifat-sifat jiwa yang tercela.
Dan para muhaqqiqin di antara mereka berkata: sesungguhnya jiwa jika menjadi halus dan berpisah dari sifat-sifat buruk maka ia menjadi roh, dan diketahui bahwa ia tidak tiada, dan diciptakan untuknya sebagai gantinya roh yang tidak ada sebelumnya, tetapi dari padanya hilang sifat-sifat yang tercela, dan menjadi sebagai gantinya sifat-sifat yang terpuji, maka dinamai roh.
Ini adalah istilah belaka, padahal Allah Subhanahu Wataala menamakannya jiwa dalam Alquran dalam semua keadaannya: yang selalu menyuruh kepada kejahatan, yang mencela, dan yang tenang. Allah Taala berfirman: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya” (Surah Az-Zumar: 42), dan yang termasuk dalam hal ini adalah semua jiwa para hamba hingga para Nabi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menamakannya ruh secara mutlak, baik mukmin maupun kafir, baik yang berbuat baik maupun yang durhaka, seperti sabdanya: “Sesungguhnya apabila ruh dicabut, penglihatan akan mengikutinya”, dan sabdanya: “Sesungguhnya Allah mencabut ruh-ruh kita di mana Dia kehendaki, dan mengembalikannya di mana Dia kehendaki”, dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam dalam hadits tentang pencabutan ruh dan sifatnya bahwa jika ia seorang mukmin maka begini dan begitu, dan jika ia seorang kafir maka begini dan begitu. Beliau menamai yang dicabut itu ruh sebagaimana Allah menamakannya dalam kitab-Nya jiwa, dan yang dicabut dan yang diwafatkan ini adalah satu hal yang sama, bukan tiga dan bukan dua. Dan apabila ia dicabut, semua daya akan mengikutinya: akal dan yang lainnya, karena ia adalah pembawa semuanya dan tempatnya.
Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka penyaksian ada dua macam: penyaksian penglihatan dan penyaksian pandangan batin. Adapun penyaksian penglihatan adalah tertangkapnya penglihatan pada wujud yang terlihat itu sendiri, atau representasinya yang eksternal, seperti melihat bayangan wajah di cermin dan air. Sedangkan penyaksian pandangan batin adalah tertangkapnya daya yang berakal pada representasi ilmiah yang sesuai dengan yang eksternal, sehingga persepsinya terhadapnya seperti persepsi mata terhadap bentuk yang eksternal. Terkadang kekuasaan persepsi batiniah ini menguat, sehingga hukumnya yang berlaku, dan daya yang berakal menguat dalam menghadirkan objek persepsinya, sehingga ia tenggelam di dalamnya. Maka hukum hati mengalahkan hukum indera dan pengamatan, lalu menguasai pendengaran dan penglihatan, sehingga ia melihatnya dan mendengar perkataannya di luar, padahal ia ada di dalam jiwa dan pikiran. Namun karena kuatnya penyaksian, kuatnya penghadiran, dan kokohnya hukum hati serta penguasaannya terhadap daya-daya, maka ia menjadi seolah-olah terlihat dengan mata, terdengar dengan telinga, sehingga orang yang mempersepsikan tidak ragu dan tidak bimbang terhadap hal itu sama sekali, dan tidak menerima celaan.
Hakikat perkaranya adalah bahwa semua itu adalah kesaksian-kesaksian dan representasi-representasi ilmiah yang mengikuti keyakinan. Maka apa yang dipersepsikan dengan mata hati dan ruh itu hanyalah kesaksian yang menunjukkan kepada hakikat, dan bukan hakikat itu sendiri. Karena kesaksian cahaya keagungan Dzat di dalam hati hamba bukanlah cahaya Dzat itu sendiri yang langit dan bumi tidak mampu menanggung-Nya, sebab jika cahaya itu tampak kepada keduanya niscaya keduanya akan hancur luluh, dan akan menimpa keduanya apa yang menimpa gunung. Demikian pula kesaksian cahaya kebesaran di dalam hati, hanyalah cahaya pengagungan dan pengagungan, bukan cahaya Dzat Yang Diagungkan yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Tidak ada pada kaum (sufi) kecuali kesaksian-kesaksian dan representasi-representasi ilmiah serta kehalusan-kehalusan yang merupakan buah dari kedekatan hati kepada Rabb, keakrabannya dengan-Nya, ketenggelamannya dalam cinta dan dzikir kepada-Nya, serta penguasaan kekuasaan makrifat-Nya atasnya. Adapun Rabb Tabaraka Wataala berada di balik semua itu, Maha Suci dan Maha Tinggi dari dijangkau oleh manusia pada Dzat-Nya, atau cahaya-cahaya Dzat-Nya, atau sifat-sifat-Nya, atau cahaya-cahaya sifat-sifat-Nya. Hanyalah kesaksian-kesaksian yang timbul di hati hamba, sebagaimana timbul di hatinya kesaksian dari akhirat, surga, neraka, dan apa yang Allah sediakan bagi penghuni keduanya.
Inilah yang dirasakan oleh Abdullah bin Haram Al-Anshari pada hari Uhud, ketika ia berkata: Wah! Bau surga! Demi Allah, aku benar-benar merasakan baunya di bawah Uhud. Dan termasuk hal ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Jika kalian melewati taman-taman surga maka nikmati buahnya. Para sahabat bertanya: Apa itu taman-taman surga? Beliau bersabda: Majelis-majelis dzikir”. Dan termasuk hal ini sabdanya: “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga”. Maka ia adalah taman bagi ahli ilmu dan iman, karena apa yang timbul di hati-hati mereka dari kesaksian-kesaksian surga, hingga seolah-olah surga itu nyata bagi mereka. Dan jika orang munafik duduk di sana, tempat itu tidak menjadi taman dari taman-taman surga baginya. Dan termasuk hal ini sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Surga berada di bawah naungan pedang-pedang”.
Maka amal perbuatan hanya berdasarkan kesaksian-kesaksian, dan sesuai dengan kesaksian hamba itulah amalnya.
Dan kami akan memberikan isyarat dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya terhadap kesaksian-kesaksian ini, suatu isyarat yang dengannya dapat diketahui hakikat perkara.
Maka kesaksian pertama bagi orang yang berjalan menuju Allah dan negeri akhirat adalah timbulnya kesaksian tentang dunia dan kehinaannya, sedikitnya kesetiaannya, banyaknya kejahatannya, hinanya sekutu-sekutunya, cepatnya berlalunya. Ia melihat penghuninya dan para pecintanya terkapar di sekelilingnya, dunia telah memperdaya mereka dan menyiksa mereka dengan berbagai jenis siksaan, dan memberi mereka minuman yang pahit. Ia menertawakan mereka sedikit dan membuat mereka menangis panjang, memberi mereka minum gelas-gelas racunnya setelah gelas-gelas khamarnya. Mereka mabuk karena cintanya, dan mati karena perpisahannya.
Jika kesaksian ini timbul pada hamba tentang dunia, maka hatinya akan berpindah darinya dan melakukan perjalanan untuk mencari negeri akhirat. Dan ketika itu akan timbul di hatinya kesaksian tentang akhirat dan kelanggengannya, dan bahwa akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. Penghuninya tidak berpindah darinya dan tidak pergi darinya, bahkan ia adalah negeri yang kekal, tempat bersandar, dan tujuan akhir perjalanan. Dan bahwa dunia dibandingkan dengan akhirat adalah sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Dunia di sisi akhirat hanyalah seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa kembali?” Dan salah seorang dari kalangan Tabiin berkata: Dunia di sisi akhirat tidak lebih dari satu debu di antara gunung-gunung dunia.
Kemudian akan timbul di hatinya kesaksian tentang neraka, penyalaannya dan nyala apinya, jauhnya dasarnya, dahsyatnya panasnya, dan hebatnya siksaan penghuninya. Ia melihat mereka telah digiring ke neraka dengan wajah-wajah hitam, mata-mata biru, rantai dan belenggu di leher-leher mereka. Ketika mereka sampai ke neraka, neraka dibukakan pintu-pintunya di hadapan mereka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, dan hati-hati mereka hancur berkeping-keping karena penyesalan dan kesedihan. “Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak memperoleh tempat berpaling darinya” (Surah Al-Kahfi: 53). Kesaksian iman memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka didorong ke dalamnya, dan datanglah seruan dari Rabb semesta alam: “Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya” (Surah Ash-Shaffat: 24). Kemudian dikatakan kepada mereka: “Inilah neraka yang dahulu kamu mendustakannya. Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah ke dalamnya, maka baik kamu bersabar atau tidak bersabar, sama saja bagimu. Kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan” (Surah Ath-Thur: 14-16). Kesaksian iman melihat mereka terseret di dalam air yang mendidih dengan wajah mereka, dan di dalam neraka seperti kayu bakar dibakar. “Bagi mereka tikar tidur dari neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)” (Surah Al-A’raf: 41). Maka seburuk-buruk selimut dan seburuk-buruk hamparan. Jika mereka meminta pertolongan karena dahaga yang sangat, “mereka diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka” (Surah Al-Kahfi: 29). Jika mereka meminumnya, air itu memotong usus-usus mereka di dalam perut mereka, dan melelehkan apa yang ada di perut mereka. Minuman mereka adalah air yang mendidih, dan makanan mereka adalah zaqqum. “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan azab neraka dari mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka, ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun” (Surah Fathir: 36-37).
Jika kesaksian ini timbul di hati hamba, ia akan melepaskan diri dari dosa-dosa, maksiat, dan mengikuti syahwat. Ia akan mengenakan pakaian rasa takut dan kewaspadaan, hatinya menjadi subur dari hujan kelopak matanya, dan mudah baginya setiap musibah yang menimpanya selain pada agama dan hatinya.
Sesuai dengan kuatnya kesaksian ini, ia akan menjauh dari maksiat dan pelanggaran. Kesaksian ini akan melelehkan dari hatinya kelebihan-kelebihan dan bahan-bahan yang membinasakan, mematangkannya kemudian mengeluarkannya. Maka hati akan merasakan kenikmatan kesehatan dan kebahagiaannya.
Kemudian akan timbul padanya setelah itu kesaksian tentang surga dan apa yang Allah sediakan bagi penghuninya di dalamnya, yaitu sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia, selain dari apa yang telah digambarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya tentang kenikmatan yang terperinci, yang menjamin jenis kenikmatan tertinggi, berupa makanan, minuman, pakaian, wajah-wajah cantik, kegembiraan dan kesenangan. Maka akan timbul di hatinya kesaksian tentang negeri yang Allah jadikan segala kenikmatan yang kekal dan abadi di dalamnya. Tanahnya adalah misk, kerikilnya adalah mutiara, bangunannya adalah bata emas dan perak serta buluh mutiara. Minumannya lebih manis dari madu, lebih harum dari misk, lebih dingin dari kapur barus, dan lebih lezat dari jahe. Para wanitanya, jika wajah salah seorang di antara mereka muncul di dunia ini, ia akan mengalahkan cahaya matahari. Pakaian mereka adalah sutra dari sutera halus dan tebal. Pelayan mereka adalah anak-anak muda seperti mutiara yang bertaburan. Buah-buahan mereka kekal, tidak terputus dan tidak terlarang. Dipan-dipan yang tinggi. Makanan mereka adalah daging buruan dari apa yang mereka inginkan. Minuman mereka adalah khamar yang tidak ada di dalamnya hal yang menyakitkan dan tidak membuat mereka mabuk. Hijaunya adalah buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Pandangan mereka adalah bidadari yang cantik seperti mutiara yang tersimpan. Mereka bersandar di atas dipan. Di taman-taman itu mereka bergembira. Di dalamnya ada apa yang diinginkan jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.
Jika bergabung dengan kesaksian ini kesaksian tentang hari tambahan, dan melihat wajah Rabb Jalla Jalaluhu, dan mendengar kalam-Nya dari-Nya tanpa perantara, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sementara penghuni surga berada dalam kenikmatan mereka, tiba-tiba cahaya menyinari mereka, maka mereka mengangkat kepala-kepala mereka, ternyata Rabb Taala menyinari mereka dari atas mereka, dan berfirman: Wahai penghuni surga, salam sejahtera untuk kalian. Kemudian beliau membaca firman Allah Taala:” “Salam, ucapan dari Rabb Yang Maha Penyayang” (Surah Yasin: 58). “Kemudian Dia menghilang dari mereka, dan rahmat serta berkah-Nya tetap pada mereka di tempat tinggal mereka”.
Jika kesaksian ini bergabung dengan kesaksian-kesaksian sebelumnya, maka di sanalah hati berjalan menuju Rabbnya lebih cepat dari perjalanan angin di tempat tiupnya. Ia tidak berpaling dalam perjalanannya ke kanan dan ke kiri.
Ini dan di atas itu ada kesaksian lain yang di dalamnya semua kesaksian ini sirna, dan hamba ghaib darinya semua, yaitu kesaksian keagungan Rabb Taala, keindahan-Nya, kesempurnaan-Nya, kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya, sifat Qayyum-Nya, ketinggian-Nya di atas Arasy-Nya, perkataan-Nya dengan kitab-kitab-Nya dan kalimat-kalimat penciptaan-Nya, serta pembicaraan-Nya dengan para malaikat dan para Nabi-Nya.
Jika ia menyaksikan dengan hatinya Dzat Yang Qayyum, Yang Maha Menguasai di atas hamba-hamba-Nya, bersemayam di atas Arasy-Nya, menyendiri dalam mengatur kerajaan-Nya, memerintah dan melarang, mengutus rasul-rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, ridha dan murka, memberi pahala dan menghukum, memberi dan mencegah, memuliakan dan menghinakan, mencintai dan membenci, merahmati jika diminta rahmat, mengampuni jika diminta ampun, memberi jika diminta, menjawab jika dipanggil, memaafkan jika diminta maaf, lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, lebih mulia dari segala sesuatu, lebih berkuasa dari segala sesuatu, lebih mengetahui dari segala sesuatu, lebih bijaksana dari segala sesuatu. Andai kekuatan semua makhluk terkumpul pada salah seorang di antara mereka, kemudian mereka semua memiliki kekuatan itu, lalu kekuatan-kekuatan itu dinisbahkan kepada kekuatan Rabb Taala, niscaya seperti kekuatan nyamuk dibandingkan dengan kekuatan singa. Andai keindahan semua makhluk terkumpul pada salah seorang di antara mereka, kemudian mereka semua memiliki keindahan itu, lalu dinisbahkan kepada keindahan Rabb Taala, niscaya lebih rendah dari pelita kecil yang lemah dibandingkan dengan matahari. Andai ilmu orang-orang terdahulu dan kemudian ada pada seorang laki-laki di antara mereka, kemudian semua makhluk memiliki sifat itu, lalu dinisbahkan kepada ilmu Rabb Taala, niscaya hal itu dibandingkan ilmu Rabb seperti patukan burung pipit di lautan. Demikian pula seluruh sifat-sifat-Nya, seperti pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan seluruh kesempurnaan-Nya. Sesungguhnya Dia mendengar kebisingan suara-suara dengan berbagai bahasa, dengan keragaman hajat. Tidak menyibukkan-Nya satu pendengaran dari pendengaran yang lain, tidak membuat-Nya keliru berbagai pertanyaan, dan tidak bosan dengan desakan orang-orang yang mendesak. Sama saja bagi-Nya orang yang merahasiakan perkataan dan yang mengeraskannya. Rahasia bagi-Nya adalah terang-terangan, dan yang gaib bagi-Nya adalah nyata. Dia melihat gerakan semut hitam di atas batu keras pada malam yang gelap, dan melihat urat nadinya serta mengalirnya makanan di anggota-anggotanya. Dia meletakkan langit-langit di atas satu jari dari jari-jari tangan-Nya, bumi di atas satu jari, gunung-gunung di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, dan air di atas satu jari. Dia menggenggam langit-langit-Nya dengan salah satu tangan-Nya, dan bumi-bumi dengan tangan yang lain. Langit tujuh di telapak tangan-Nya seperti biji sawi di telapak tangan hamba. Andai semua makhluk dari awal hingga akhir berdiri dalam satu barisan, niscaya mereka tidak akan meliputi Allah Azza Wajalla. Andai hijab dibuka dari wajah-Nya, niscaya cahaya-Nya akan membakar apa yang sampai kepadanya penglihatan-Nya dari makhluk-Nya.
Jika kesaksian ini timbul di hati hamba, sirna di dalamnya kesaksian-kesaksian terdahulu tanpa hilang, bahkan kemenangan dan penguasaan akan menjadi milik kesaksian ini, dan semua kesaksian masuk ke dalamnya. Barangsiapa yang memiliki kesaksian ini, maka baginya ada perjalanan dan jalan khusus, yang tidak dimiliki orang lain yang lalai dari hal ini, atau memiliki pengetahuan yang global.
Pemilik kesaksian ini berjalan menuju Allah dalam terjaga dan tidurnya, gerak dan diamnya, berbuka dan puasanya. Ia memiliki urusan tersendiri dan manusia memiliki urusan tersendiri. Ia berada di lembah dan manusia berada di lembah lain.
Wahai kedua temanku, demi Allah aku bukan dari kalian berdua Jika tanda dari keluarga Laila terlihat olehku
Maksudnya adalah bahwa kesaksian nyata, penyingkapan, dan penyaksian di dunia ini hanya terjadi pada kesaksian-kesaksian dan representasi-representasi ilmiah. Inilah al-matsal al-a’la (perumpamaan tertinggi) yang disebutkan Allah Subhanahu dalam tiga tempat dari kitab-Nya di Surah An-Nahl, Surah Ar-Rum, dan Surah Asy-Syura. Yaitu apa yang timbul di hati para penyembah-Nya, para pencinta-Nya, dan orang-orang yang kembali kepada-Nya dari kesaksian ini. Inilah yang mendorong mereka kepada ibadah, cinta, rasa takut, dan kembali kepada-Nya. Perbedaan mereka di dalamnya tidak terbatas kedua ujungnya. Setiap orang di antara mereka memiliki tingkatan yang diketahui yang tidak ia lampaui. Orang yang paling besar bagiannya dalam hal itu mengakui bahwa ia tidak dapat menghitung pujian kepada-Nya Subhanahu, dan bahwa Dia di atas apa yang dipuji oleh para pemuja, dan di atas apa yang dipuji oleh para pemuja, sebagaimana dikatakan:
Dan tidak sampai para penghadiah pujian kepadamu Meskipun mereka panjang lebar, sesungguhnya apa yang ada padamu lebih agung Bagimu segala puji, tidak ada awal baginya Dan tidak ada akhir, dan Allah lebih mengetahui tentang puji
Kesucian hati, kebersihan dari sifat-sifat tercela, keinginan-keinginan rendah, kekosongan dan pengosongannya dari keterikatan kepada selain Allah Subhanahu, adalah singgasana kesaksian ini, tempat duduknya, dan tempat yang kukuh di dalamnya. Maka haram bagi hati yang tercemar dengan keburukan-keburukan, akhlak-akhlak buruk, dan sifat-sifat tercela, yang terikat dengan keinginan-keinginan rendah, bahwa kesaksian ini timbul padanya, dan bahwa ia termasuk ahlinya.
Sucikan hatimu dari selain Kami dan datanglah kepada Kami Maka sisi Kami adalah halal bagi setiap orang yang suci
Dan kesabaran adalah kunci harta pertemuan Kami Barangsiapa yang membuka kunci ini akan beruntung dengan hartanya
Jika matahari tauhid terbit, menyinari sisi-sisinya ruh-ruh, dan cahayanya menyinari pandangan-pandangan batin, sirna dengannya kegelapan-kegelapan jiwa dan tabiat. Ruh-ruh bergerak dengannya dalam mencari Dzat yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka hati melakukan perjalanan di padang belantara perkara, dan singgah di tempat-tempat penghambaan, satu tempat demi satu tempat. Ia berpindah dari satu ibadah ke ibadah lain, tetap pada satu Dzat yang disembah. Kesaksian-kesaksian sifat terus timbul di hatinya, membangunkannya jika ia tidur, mengingatkannya jika ia lupa, mendorongnya jika ia berjalan, dan membangunkannya jika ia duduk. Jika timbul di hatinya kesaksian tentang sifat Rububiyah dan Qayyumiyah, ia melihat bahwa semua perkara adalah milik Allah, tidak ada seorang pun bersamanya yang memiliki perkara sedikit pun. “Apa yang Allah bukakan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa yang Dia tahan maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? Dan jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan siapa yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arasy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?'” (Surah Al-Mu’minun: 2-89).
Jika berdiri di dalam hatinya sebuah saksi dari ketuhanan, maka ia akan melihat dalam saksi tersebut perintah dan larangan, kenabian, kitab-kitab dan syariat, kecintaan dan kerelaan, kebencian dan kemurkaan, pahala dan hukuman. Ia menyaksikan perintah turun dari Zat yang beristiwa di atas Arsy-Nya, dan amal-amal para hamba naik kepada-Nya serta dihadapkan kepada-Nya. Dia membalas kebaikan dari amal-amal tersebut di dunia ini dan di akhirat dengan keceriaan dan kegembiraan, dan Dia menuju kepada amal yang tidak sesuai dengan perintah dan syariat-Nya lalu menjadikannya debu yang beterbangan.
Jika berdiri di dalam hatinya sebuah saksi dari rahmat, maka ia akan melihat seluruh wujud berdiri dengan sifat ini. Dzat yang memiliki sifat ini telah meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu. Rahmat-Nya sampai ke mana ilmu-Nya sampai. Dia beristiwa di atas Arsy-Nya dengan rahmat-Nya agar meliputi segala sesuatu, sebagaimana Arsy-Nya meliputi segala sesuatu.
Jika berdiri di dalam hatinya saksi kemuliaan, keagungan, kebesaran, dan keperkasaan, maka ia memiliki keadaan yang lain.
Demikianlah halnya dengan semua saksi-saksi sifat. Apa yang kami sebutkan ini hanyalah peringatan paling sederhana tentangnya. Penyingkapan, penglihatan, dan penyaksian sama sekali tidak melampaui saksi-saksi tersebut. Mari kita kembali kepada penjelasan perkataannya.
Perkataannya tentang tingkatan kedua bahwa ia adalah penyaksian mata hati, yaitu mengetahui sesuatu sesuai sifatnya. Yang dimaksud adalah mengetahuinya sesuai sifatnya yang ada padanya di luar dari segala sisi. Ini adalah hal yang mustahil untuk mengetahui apa yang ada di akhirat dari makhluk-makhluk, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas: Tidak ada di dunia dari apa yang ada di akhirat kecuali nama-namanya saja. Bagaimana dengan pengetahuan tentang Rabb bumi dan langit? Puncak ma’rifat adalah terkait dengan-Nya sesuai sifat-Nya secara global atau rinci dari beberapa sisi.
Perkataannya: “Ilmu yang memutuskan keraguan dan tidak bercampur dengan kebingungan.” Ini benar. Ma’rifat ketika bercampur dengan keraguan atau kebingungan tidak akan menjadi ma’rifat yang benar, sebagaimana penglihatan mata jika bercampur dengan itu tidak akan menjadi penglihatan yang sempurna. Ma’rifat adalah yang memutuskan keraguan, kebingungan, dan was-was.
Perkataannya: Dan penyaksian ketiga adalah mata ruh, yaitu yang menyaksikan kebenaran dengan penyaksian murni.
Jika yang dimaksud dengan kebenaran adalah lawan dari kebatilan, yaitu menyaksikan apa yang hak sehingga tersingkap baginya sebagaimana tersingkapnya sesuatu yang terlihat oleh mata, maka ini benar. Jika yang dimaksud dengan kebenaran adalah Rabb Tabaraka wa Ta’ala, maka jika perkataannya tidak diartikan sebagai kekuatan keyakinan, kemantapan iman, dan turunnya ruh pada tingkatan ihsan, maka itu batil. Sesungguhnya Rabb Tabaraka wa Ta’ala tidak dapat disaksikan di dunia ini dengan mata maupun ruh, melainkan gambaran ilmiah adalah bagian dari ruh dan hati sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Perkataannya: Sesungguhnya ruh-ruh dimurnikan dan dimuliakan dengan keabadian untuk menyaksikan cahaya hadirat, menyaksikan keindahan kemuliaan, dan menarik hati-hati menuju fana hadirat.
Maksudnya, ruh-ruh diciptakan untuk keabadian, bukan untuk kefanaan. Inilah yang benar. Yang menyelisihi hal ini hanyalah sekelompok kecil orang dari ahli ilhad (penyimpangan) yang mengatakan bahwa ruh-ruh akan fana dengan fananya jasad, karena ruh merupakan daya dari daya-daya jasad dan sifat dari sifat-sifatnya.
Mereka ini terbagi menjadi dua kelompok: Pertama, yang mengingkari kebangkitan jasad. Kedua, yang mengakui kebangkitan jasad dan mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla akan mengembalikan daya-daya jasad dan sifat-sifatnya, termasuk ruh. Maka ruh akan fana dengan fananya jasad. Tidak ada pada kedua kelompok ini ruh yang berdiri sendiri yang mendiami jasad dan berpisah darinya, terhubung dengannya dan terpisah darinya.
Adapun kebenaran yang telah disepakati oleh para rasul dan pengikut mereka adalah bahwa ruh-ruh ini tetap ada setelah berpisah dari jasadnya, tidak fana dan tidak lenyap. Ruh-ruh itu mendapat nikmat atau diazab di alam barzakh. Ketika hari kebangkitan tiba, ruh-ruh dikembalikan kepada jasadnya, lalu menikmati nikmat bersamanya atau diazab, dan tidak akan lenyap atau fana.
Perkataannya: Dan ruh-ruh jika dimurnikan dan dimuliakan dengan keabadian untuk menyaksikan cahaya hadirat. Yang dimaksud adalah ruh-ruh yang suci dan bersih. Dalam satu naskah disebutkan: untuk berdialog dengan cahaya hadirat. Yang pertama lebih jelas dan lebih sesuai dengan bab yang ia beri judul Bab Penyaksian. Yang dimaksud dengan hadirat adalah hadirat ketuhanan, dan dengan “cahaya” adalah cahaya yang memancar. Allah Ta’ala berfirman: “Hampir saja kilauan kilat (awan) itu menghilangkan penglihatan.” (Surat An-Nur: 43) Penyaksian terhadap itu hanya terjadi di akhirat, sedangkan yang disaksikan di sini adalah cahaya ma’rifat dan gambaran ilmiah.
Perkataannya: “Dan menyaksikan keindahan kemuliaan.” Al-baha’ (keindahan) dalam bahasa berarti kebaikan/kesempurnaan, demikian menurut Al-Jauhari. Dikatakan: bahiya ar-rajulu dengan kasrah atau bahwa. Maka dia adalah bahiyy.
Al-izzah (kemuliaan) dimaksudkan dengannya tiga makna: kemuliaan kekuatan, kemuliaan yang tidak terkalahkan, dan kemuliaan penguasaan. Rabb Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan sempurna dengan ketiga pertimbangan tersebut. Dikatakan dari yang pertama: ‘azza ya’izzu dengan fathah ain pada masa depan, dari yang kedua: ‘azza ya’izzu dengan kasrah, dan dari yang ketiga: ‘azza ya’izzu dengan dhammah. Mereka memberikan harakat yang paling kuat untuk makna yang paling kuat, yang paling ringan untuk yang paling ringan, dan yang tengah untuk yang tengah. Kemuliaan ini mengharuskan keesaan, karena kesekutuan mengurangi kemuliaan, dan mengharuskan sifat-sifat kesempurnaan karena kesekutuan bertentangan dengan kesempurnaan kemuliaan, dan mengharuskan peniadaan lawan-lawannya, serta mengharuskan peniadaan keserupaan makhluk lain dengan-Nya dalam sesuatu pun darinya.
Ruh menyaksikan dengan kekuatan ma’rifat dan imannya keindahan kemuliaan, keagungan, dan kebesarannya. Penyaksian ini adalah hasil dari akidah yang benar yang sesuai dengan kebenaran pada hakikatnya, yang diambil dari lentera wahyu. Tidak akan mendapatkannya orang yang berhenti pada analogi para filosof, perdebatan para teolog, dan khayalan para sufi.
Perkataannya: Dan menarik hati-hati menuju fana hadirat, yaitu dengan kasrah fa’. Artinya: sisi hadirat. Maksudnya, ruh-ruh karena kekuatan pencarian dan dahsyatnya kerinduan, mendorong hati-hati dan menariknya ke sana. Pencarian ruh dan perjalanannya lebih kuat dari pencarian hati dan perjalanannya, sebagaimana penyaksiannya lebih sempurna dari penyaksian hati.
Secara keseluruhan, hukum-hukum ruh menurut mereka di atas hukum-hukum hati dan lebih khusus darinya.
Maksudnya adalah bahwa ruh ketika menyaksikan kebenaran, ia menarik semua daya dan hati menuju hadirat-Nya. Maka hati tunduk bersamanya dengan ketundukan tanpa penolakan, berbeda dengan tarikan hati, karena anggota tubuh kadang menolaknya dengan sebagian penolakan dan enggan sedikit. Adapun tarikan ruh, tidak ada penolakan bersamanya dan tidak ada keengganan. Dengan Allah lah taufik.
Fasal Kehidupan
Hakikat Kehidupan
Fasal Kehidupan
Penulis Manazil berkata:
(Bab Kehidupan) Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan.” (Surat Al-An’am: 122)
Pengambilannya sebagai dalil dengan ayat ini pada bab ini sangat jelas. Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang yang hatinya mati karena tidak memiliki ruh ilmu, petunjuk, dan iman. Lalu Rabb Ta’ala menghidupkannya dengan ruh lain selain ruh yang menghidupkan jasadnya, yaitu ruh ma’rifat-Nya, tauhid, kecintaan, dan ibadah kepada-Nya semata tanpa sekutu. Karena tidak ada kehidupan bagi ruh kecuali dengan itu, jika tidak maka ia termasuk di antara orang-orang mati. Oleh karena itu Allah Ta’ala menyifati orang yang tidak memiliki itu dengan kematian. Allah berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan.” (Surat Al-An’am: 122) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati mendengar, dan tidak (pula) menjadikan orang-orang tuli mendengar seruan.” (Surat An-Naml: 80) Dan Dia menyebut wahyu-Nya sebagai ruh, karena dengannya terjadi kehidupan hati dan ruh. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Surat Asy-Syura: 52) Dia mengabarkan bahwa Al-Qur’an adalah ruh yang dengannya terjadi kehidupan, dan ia adalah cahaya yang dengannya terjadi penerangan. Allah Ta’ala berfirman: “Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (yaitu): ‘Berilah peringatan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.'” (Surat An-Nahl: 2) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang Maha Tinggi tingkatannya, yang mempunyai Arsy, Dia mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memberi peringatan tentang hari Pertemuan.” (Surat Ghafir: 15) Wahyu adalah kehidupan ruh, sebagaimana ruh adalah kehidupan jasad. Oleh karena itu, barangsiapa kehilangan ruh ini, ia telah kehilangan kehidupan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, kehidupannya adalah kehidupan binatang dan ia memiliki kehidupan yang sempit. Adapun di akhirat, baginya neraka Jahanam, tidak mati di dalamnya dan tidak hidup.
Allah telah menjadikan kehidupan yang baik bagi ahli ma’rifat, kecintaan, dan ibadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl: 97) Kehidupan yang baik telah ditafsirkan dengan qana’ah (merasa cukup), ridha, rezeki yang baik, dan sebagainya. Yang benar adalah kehidupan hati dan kenikmatan, kegembiraannya dan kegirangan hatinya dengan iman, ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya. Tidak ada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan pemiliknya, dan tidak ada kenikmatan di atas nikmatnya kecuali nikmat surga. Sebagaimana sebagian ahli ma’rifat berkata: Sungguh berlalu padaku waktu-waktu yang aku katakan padanya, jika ahli surga dalam keadaan seperti ini sungguh mereka dalam kehidupan yang baik. Yang lain berkata: Sungguh berlalu pada hati waktu-waktu di mana ia menari-nari gembira.
Jika kehidupan hati adalah kehidupan yang baik, maka kehidupan anggota tubuh mengikutinya, karena hati adalah rajanya. Oleh karena itu, Allah menjadikan kehidupan yang sempit bagi orang yang berpaling dari mengingat-Nya, dan itu adalah kebalikan dari kehidupan yang baik.
Kehidupan yang baik ini terjadi di tiga tempat, yaitu: rumah dunia, rumah barzakh, dan rumah ketetapan (akhirat). Kehidupan yang sempit juga terjadi di tiga tempat. Orang-orang baik dalam kenikmatan di sini dan di sana, dan orang-orang jahat dalam neraka di sini dan di sana. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (disediakan) kebaikan. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik.” (Surat An-Nahl: 30) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Surat Hud: 3) Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa dzikir kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya menjamin kehidupan paling baik di dunia dan akhirat. Berpaling dari-Nya, kelalaian, dan bermaksiat kepada-Nya menjamin kehidupan yang rusak dan kehidupan yang sempit di dunia dan akhirat.
Kehidupan yang Dimaksud di Sini adalah Tiga Hal
Fasal: Kehidupan Pertama adalah Kehidupan Ilmu dari Kematian Kebodohan, dan Ia Memiliki Sepuluh Tingkatan
Fasal
Penulis Manazil berkata: Kehidupan dalam bab ini, diisyaratkan dengan tiga hal. Kehidupan pertama: kehidupan ilmu dari kematian kebodohan, dan ia memiliki tiga nafas: nafas takut, nafas harap, dan nafas cinta.
Perkataannya “Kehidupan dalam bab ini”, yang dimaksud adalah kehidupan khusus yang dibicarakan oleh kaum (sufi) bukan kehidupan umum yang sama antara seluruh hewan, bahkan antara hewan dan tumbuhan. Kehidupan memiliki tingkatan-tingkatan dan kami akan mengisyaratkannya.
Tingkatan pertama: kehidupan bumi dengan tumbuhan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan.” (Surat An-Nahl: 65) Dan Allah berfirman tentang air: “Dan dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Surat Qaf: 11) Dan Allah berfirman: “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati.” (Surat Al-Furqan: 48) Dan Dia menjadikan kehidupan ini sebagai dalil atas kehidupan pada hari kebangkitan. Ini adalah kehidupan hakiki pada tingkatan ini, digunakan dalam setiap bahasa, berjalan pada lisan orang khusus dan awam. Penyair berkata memuji Abdul Muthalib:
Dengan Syaibah Al-Hamd Allah menghidupkan negeri kami, ketika kami kehilangan hujan dan terhalang oleh hujan.
Dan ini terlalu banyak untuk disebutkan buktinya.
Tingkatan kedua: kehidupan pertumbuhan dan makan. Kehidupan ini bersama antara tumbuhan dan hewan yang hidup dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (Surat Al-Anbiya: 30)
Para ahli fikih telah berbeda pendapat tentang rambut: apakah rambut itu ada kehidupannya? Menurut dua pendapat, dan yang benar adalah: bahwa rambut memiliki kehidupan berupa pertumbuhan dan nutrisi, bukan kehidupan berupa perasaan dan gerakan. Oleh karena itu rambut tidak menjadi najis karena mati, karena seandainya berpisahnya pertumbuhan dan nutrisi menyebabkan kenajisan, niscaya tanaman dan pohon menjadi najis karena berpisahnya kehidupan ini darinya. Oleh karena itu jumhur ulama berpendapat bahwa rambut tidak menjadi najis karena mati.
Tingkatan Ketiga: kehidupan hewan yang mendapat nutrisi dengan kadar yang lebih dari pertumbuhan dan nutrisinya, yaitu perasaan dan gerakannya. Oleh karena itu hewan merasa sakit ketika mendapat perlakuan yang menyakitkan, ketika terjadi luka, dan semacam itu. Kehidupan ini berada di atas kehidupan tumbuhan. Kehidupan ini menjadi kuat dan lemah pada satu hewan sesuai dengan kondisinya. Maka kehidupannya setelah dilahirkan lebih sempurna daripada ketika masih menjadi janin dalam perut ibunya, dan kehidupannya ketika sehat dan selamat lebih sempurna daripada ketika sakit dan lemah.
Maka kehidupan itu sendiri sangat berbeda-beda di tempat-tempatnya. Kehidupan ular lebih sempurna daripada kehidupan nyamuk. Barangsiapa yang mengatakan selain ini maka sungguh dia telah menentang perasaan dan akal.
Tingkatan Keempat: kehidupan hewan yang tidak mendapat nutrisi dengan makanan dan minuman, seperti kehidupan malaikat, dan kehidupan roh-roh setelah berpisah dari jasad-jasadnya. Sesungguhnya kehidupan mereka lebih sempurna daripada kehidupan hewan yang mendapat nutrisi. Oleh karena itu mereka tidak mengalami kelelahan, kelemahan, tidur, atau kepayahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka bertasbih pada malam dan siang hari tanpa henti.” (Surat Al-Anbiya: 20). Demikian pula roh-roh ketika terlepas dari jasad-jasad ini dan menjadi murni, mereka memiliki kehidupan lain yang lebih sempurna dari kehidupan ini jika mereka bahagia. Dan jika mereka sengsara, mereka bekerja dan berusaha dalam siksa.
Tingkatan Kelima: kehidupan yang ditunjuk oleh penyusun, yaitu kehidupan ilmu dari kematian kebodohan. Sesungguhnya kebodohan adalah kematian bagi pemiliknya, sebagaimana dikatakan:
Dalam kebodohan sebelum kematian adalah kematian bagi pemiliknya … Dan jasad-jasad mereka sebelum kubur adalah kubur Dan roh-roh mereka dalam kesendirian dari jasad-jasad mereka … Maka tidak ada bagi mereka hingga hari kebangkitan suatu kebangkitan
Sesungguhnya orang bodoh mati hati dan rohnya, walaupun jasadnya hidup. Maka jasadnya adalah kubur yang bersamanya dia berjalan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Atau apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya untuk berjalan di antara manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan-kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (Surat Al-An’am: 122). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ini tidak lain hanyalah peringatan dan Al-Quran yang nyata. Untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup dan supaya terbukti kebenaran perkataan terhadap orang-orang kafir.” (Surat Yasin: 69-70). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati mendengar, dan tidak (pula) orang-orang tuli mendengar panggilan.” (Surat An-Naml: 80). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan kamu tidak dapat menjadikan orang yang di dalam kubur mendengar.” (Surat Fathir: 22). Dan Dia menyerupakan mereka dalam kematian hati mereka dengan penghuni kubur, karena sesungguhnya roh-roh mereka telah mati, dan jasad-jasad mereka menjadi kubur bagi roh-roh itu. Maka sebagaimana tidak dapat mendengar penghuni kubur, demikian pula orang-orang ini tidak dapat mendengar. Dan ketika kehidupan adalah perasaan dan gerakan serta hal-hal yang menyertainya, maka hati-hati ini ketika tidak merasakan ilmu dan iman, dan tidak bergerak karenanya, maka hati-hati itu benar-benar mati. Dan ini bukan perumpamaan kematiannya dengan kematian badan, bahkan itu adalah kematian hati dan roh.
Imam Ahmad telah menyebutkan dalam kitab Az-Zuhd dari perkataan Luqman, bahwa dia berkata kepada anaknya: Wahai anakku, bergaullah dengan para ulama, dan berdekatlah dengan mereka dengan lututmu, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan yang lebat. Dan Muadz bin Jabal berkata: Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah takut, mencarinya adalah ibadah, membahasnya adalah tasbih, meneliti tentangnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, dan memberikannya kepada ahlinya adalah pendekatan diri, karena ilmu adalah tanda-tanda halal dan haram, dan mercusuar jalan-jalan penghuni surga, dan dia adalah sahabat dalam kesendirian, teman dalam keguriban, yang berbicara dalam kesendirian, penunjuk dalam kesusahan dan kesulitan, senjata terhadap musuh-musuh, dan perhiasan di sisi teman-teman. Allah mengangkat dengan ilmu suatu kaum, lalu menjadikan mereka pemimpin dalam kebaikan, dan para imam yang diikuti jejaknya, diteladani perbuatannya, dan dipegangi pendapatnya. Malaikat menginginkan persahabatan mereka, dan dengan sayapnya mengusap mereka. Semua yang basah dan kering memintakan ampun untuk mereka, dan ikan-ikan laut dan binatang-binatangnya, dan hewan-hewan buas darat dan hewan ternaknya, karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebodohan, dan pelita-pelita penglihatan dari kegelapan. Seorang hamba mencapai dengan ilmu tempat-tempat orang-orang baik, dan tingkatan-tingkatan yang tinggi di dunia dan akhirat. Memikirkannya setara dengan puasa, dan membahasnya setara dengan qiyam. Dengan ilmu disambung silaturahmi, dan dengan ilmu diketahui halal dari haram. Dan ilmu adalah imam amal, dan amal adalah pengikutnya. Orang-orang yang bahagia diilhami ilmu, dan orang-orang yang sengsara diharamkan darinya. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Abdul Barr dan lain-lain. Dan hadits ini diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan riwayat mauquf lebih shahih. Yang dimaksud adalah perkataannya: karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebodohan. Maka hati itu mati, dan kehidupannya dengan ilmu dan iman.
Fasal
Tingkatan Keenam: kehidupan keinginan dan semangat. Dan lemahnya keinginan dan pencarian adalah dari lemahnya kehidupan hati. Semakin sempurna kehidupan hati, maka semakin tinggi semangatnya dan keinginan serta cintanya semakin kuat. Sesungguhnya keinginan dan cinta mengikuti perasaan terhadap yang diinginkan yang dicintai, dan keselamatan hati dari penyakit yang menghalangi antara hati dengan pencarian dan keinginannya. Maka lemahnya pencarian dan lemasnya semangat adalah dari kurangnya perasaan dan kebaikan, atau dari adanya penyakit yang melemahkan kehidupan. Maka kuatnya perasaan dan kuatnya keinginan adalah dalil atas kuatnya kehidupan, dan lemahnya adalah dalil atas lemahnya kehidupan. Dan sebagaimana tingginya semangat, kejujuran keinginan dan pencarian adalah dari kesempurnaan kehidupan, maka itu adalah sebab untuk mendapatkan kehidupan yang paling sempurna dan paling baik. Sesungguhnya kehidupan yang baik hanya diperoleh dengan semangat yang tinggi, cinta yang jujur, dan keinginan yang ikhlas. Maka sesuai dengan kadar itu akan ada kehidupan yang baik. Dan orang yang paling hina kehidupannya adalah yang paling hina semangatnya, dan paling lemah cinta dan pencariannya. Dan kehidupan binatang lebih baik dari kehidupannya. Sebagaimana dikatakan:
Siangmu wahai yang tertipu adalah lalai dan lengah … Dan malammu adalah tidur dan kehancuran bersamamu Dan engkau bersusah payah dalam apa yang akan engkau ingkari akibatnya … Demikian di dunia hidup binatang-binatang Engkau senang dengan yang fana dan bergembira dengan angan-angan … Sebagaimana tertipu dengan kenikmatan dalam tidur seorang yang bermimpi
Yang dimaksud adalah: bahwa kehidupan hati dengan ilmu, keinginan, dan semangat. Dan manusia ketika menyaksikan itu dari seseorang, mereka mengatakan: dia hidup hatinya. Dan kehidupan hati adalah dengan terus-menerus berdzikir, dan meninggalkan dosa-dosa, sebagaimana dikatakan Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah:
Aku melihat dosa-dosa mematikan hati-hati … Dan boleh jadi mewariskan kehinaan menetapinya Dan meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan hati-hati … Dan lebih baik bagi dirimu membangkang dosa-dosa Dan tidaklah merusak agama kecuali para raja … Dan ahli-ahli buruk dan pendeta-pendetanya Dan mereka menjual jiwa-jiwa dan tidak untung … Dan tidak mahal dalam jual-beli harga-harganya Maka sungguh kaum telah merumput dalam bangkai … Nampak bagi orang yang berakal kerugiannya
Aku mendengar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Barangsiapa yang rutin membaca “Wahai Yang Hidup, Wahai Yang Berdiri Sendiri. Tidak ada tuhan selain Engkau” setiap hari antara sunnah fajar dan shalat fajar empat puluh kali, Allah menghidupkan dengan bacaan itu hatinya.
Dan sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kehidupan badan dengan makanan dan minuman, maka kehidupan hati adalah dengan terus-menerus berdzikir, kembali kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa. Dan kelalaian yang hinggap pada hati, keterikatan dengan sifat-sifat buruk dan syahwat-syahwat yang terputus tidak lama lagi, melemahkan kehidupan ini. Dan kelemahan terus datang kepadanya hingga hati itu mati. Dan tanda kematiannya adalah: dia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud berkata: Tahukah kalian siapa yang mati hatinya yang dikatakan tentangnya:
Bukanlah orang yang mati lalu beristirahat itu mayat … Sesungguhnya mayat adalah mayat orang-orang hidup
Mereka berkata: Siapa dia? Dia berkata: Orang yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.
Dan laki-laki sejati adalah yang takut kematian hatinya, bukan kematian badannya. Padahal kebanyakan makhluk ini takut kematian badan mereka, dan tidak peduli dengan kematian hati mereka. Dan mereka tidak mengenal kehidupan kecuali kehidupan alami. Dan itu dari kematian hati dan roh. Sesungguhnya kehidupan alami ini mirip dengan bayangan yang lenyap, tumbuhan yang cepat kering, dan mimpi yang dikira nyata, maka ketika terbangun dia tahu bahwa itu adalah khayalan. Sebagaimana Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Seandainya kehidupan dunia dari awal hingga akhirnya diberikan kepada satu orang, kemudian datang kepadanya kematian, niscaya dia seperti orang yang melihat dalam mimpinya apa yang menyenangkannya kemudian terbangun, maka tidak ada di tangannya sesuatu. Dan telah dikatakan: Sesungguhnya kematian ada dua macam: kematian keinginan, dan kematian alami. Maka barangsiapa yang mematikan dirinya dengan kematian keinginan, maka kematian alaminya adalah kehidupan baginya. Dan makna ini adalah bahwa kematian keinginan adalah: mengalahkan syahwat-syahwat yang membinasakan, memadamkan api-apinya yang membakar, dan menenangkan gejolak-gejolaknya yang membinasakan. Maka pada saat itu hati dan roh menjadi luang untuk berpikir tentang apa yang di dalamnya terdapat kesempurnaan hamba, pengetahuannya, dan kesibukan dengannya. Dan dia melihat pada saat itu bahwa mendahulukan bayangan yang lenyap tidak lama lagi atas kehidupan yang lezat dan abadi adalah kerugian yang paling rugi. Adapun jika syahwat-syahwat datang, kenikmatan-kenikmatan dipilih, kebiasaan-kebiasaan menguasai, dan tabiat menghakimi, maka hati pada saat itu adalah tawanan yang hina, atau dikalahkan dan dikeluarkan dari tanah air dan tempat kediamannya yang tidak ada tempat tinggal baginya kecuali di sana, atau terbunuh dan mati, dan tidak ada kesakitan bagi luka itu. Dan sebaik-baik kondisinya adalah berada dalam peperangan, terkadang dia menang dan terkadang dia kalah. Maka ketika hamba mati dengan kematian alaminya, maka setelahnya kehidupan rohnya adalah dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat itu, amal-amal shalih, dan kondisi-kondisi utama yang dia peroleh dengan mematikan dirinya. Maka kehidupannya di sana sesuai dengan kematian keinginannya di dunia ini.
Dan ini adalah tempat yang tidak dipahami kecuali oleh orang-orang yang berakal dan cerdik di antara manusia, dan tidak mengamalkan apa yang dituntutnya kecuali orang-orang yang memiliki semangat tinggi, dan jiwa-jiwa yang suci dan mulia.
Fasal
Tingkatan Ketujuh dari Tingkatan-tingkatan Kehidupan:
Kehidupan akhlak dan sifat-sifat terpuji, yang merupakan kehidupan yang kokoh bagi orang yang memilikinya. Maka dia tidak dibuat-buat untuk naik dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan, dan tidak berat baginya, karena akhlak dan sifatnya menuntut itu, sehingga jika dia berpisah dari itu, dia berpisah dari apa yang merupakan tabiat dan watak aslinya. Maka kehidupan orang yang telah terbiasa dengan malu, kesucian, kedermawanan, kemurahan hati, kejantanan, kejujuran, menepati janji dan semacamnya lebih sempurna dari kehidupan orang yang memaksa dirinya dan melawan tabiatnya hingga menjadi seperti itu. Karena orang yang kedua ini seperti orang yang menghadapi sebab-sebab penyakit dan dia mengobatinya dan mengalahkannya dengan lawan-lawannya. Sedangkan yang pertama seperti orang yang telah disembuhkan dari itu.
Dan semakin sempurna akhlak-akhlak ini pada pemiliknya, maka semakin kuat dan sempurna kehidupannya. Oleh karena itu akhlak malu diambil dari kehidupan baik nama maupun hakikatnya. Maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna rasamalunya. Dan kurangnya malu seseorang adalah dari kurangnya kehidupannya. Sesungguhnya roh ketika mati tidak merasakan apa yang menyakitinya dari kejelekan-kejelekan, maka dia tidak malu karenanya. Maka ketika kehidupannya sehat, dia merasakan itu, lalu malu karenanya. Demikian pula seluruh akhlak yang utama dan sifat-sifat yang terpuji mengikuti kuatnya kehidupan. Dan lawannya adalah dari kurangnya kehidupan. Oleh karena itu kehidupan orang yang pemberani lebih sempurna dari kehidupan orang yang pengecut. Dan kehidupan orang yang dermawan lebih sempurna dari kehidupan orang yang kikir. Dan kehidupan orang yang cerdas dan pintar lebih sempurna dari kehidupan orang yang bodoh dan dungu. Oleh karena itu ketika para nabi shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihim adalah manusia yang paling sempurna kehidupannya hingga sesungguhnya kuatnya kehidupan mereka menghalangi bumi untuk merusak jasad-jasad mereka, maka mereka adalah manusia yang paling sempurna dalam akhlak-akhlak ini. Kemudian yang paling mirip dari pengikut-pengikut mereka.
Maka lihatlah sekarang kepada kehidupan “orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang berjalan ke sana ke mari untuk menghambur fitnah.” (Surat Al-Qalam: 10), “yang sangat menghalangi kebaikan, yang melampaui batas lagi berdosa besar.” (Surat Al-Qalam: 12), “yang kasar, selain itu anak haram.” (Surat Al-Qalam: 13). Dan kehidupan orang yang dermawan, pemberani, berbakti, adil, suci, berbuat baik, maka engkau akan mendapati yang pertama mati dibandingkan dengan yang kedua. Dan bagus sekali perkataan orang yang berkata:
Dan tidaklah bagi seseorang kebaikan dalam kehidupan … Jika dia dihitung dari barang-barang yang jatuh
Fasal
Tingkatan Kedelapan dari Tingkatan-tingkatan Kehidupan: kehidupan kegembiraan dan kesenangan, dan ketenangan mata karena Allah. Dan kehidupan ini hanya ada setelah memperoleh yang dicari, yang dengannya tenang mata pencarinya. Maka tidak ada kehidupan yang bermanfaat baginya tanpanya. Dan seputar kehidupan ini semua manusia berputar. Dan semuanya telah salah jalannya, dan menempuh jalan-jalan yang tidak sampai kepadanya, bahkan memutuskannya darinya, kecuali yang paling sedikit.
Maka putaran pencarian semua seputar kehidupan ini, dan kebanyakan mereka diharamkan darinya.
Dan sebab terharamnya mereka dari kehidupan ini adalah: lemahnya akal dan pembedaan dan pandangan, dan lemahnya semangat dan keinginan. Maka sesungguhnya bahan kehidupan itu adalah pandangan dan pemandu, dan semangat yang kritis. Dan pandangan seperti penglihatan, bisa buta, rusak, sakit, dan rabun, atau sempurna cahaya dan sinarnya. Dan penyakit-penyakit ini bisa ada padanya secara bawaan dalam asalnya, dan bisa terjadi padanya karena hal-hal yang didapat dari perbuatan.
Yang dimaksud adalah: bahwa tingkatan ini dari tingkatan-tingkatan kehidupan adalah tingkatan yang paling tinggi. Tetapi bagaimana sampai kepadanya orang yang akalnya tertawan di negeri syahwat, dan cita-citanya bergantung pada memetik kenikmatan-kenikmatan, dan perjalanannya berjalan di atas kebiasaan-kebiasaan yang paling buruk, dan agamanya hancur karena maksiat-maksiat dan pelanggaran-pelanggaran, dan semangatnya berhenti pada hal-hal yang rendah, dan keyakinannya tidak diambil dari cahaya kenabian?!
Maka ia tenggelam dalam syahwat, terperosok dalam syubhat (perkara yang meragukan), berpaling dari orang yang menasihati, menentang pembimbing, tertidur dari kebahagiaan, dan hatinya berkelana di setiap lembah. Seandainya ia melepaskan diri dari nafsunya, tidak mau menyerupai orang-orang sejenis dengannya, keluar dari sempitnya kejahilan menuju luasnya ilmu, dari penjara hawa nafsu menuju lapangan petunjuk, dari kenajisan nafsu menuju kesucian ketakwaan, niscaya ia akan melihat bahwa kebiasaan yang tumbuh bersama pertumbuhannya, bertambah dengan pertambahannya, kuat dengan kekuatannya, dan membuatnya mulia di hadapan dirinya dan orang-orang sejenis dengannya dengan pencapaiannya itu, ternyata adalah debu yang menutupi mata batin hatinya, duri di kerongkongan imannya, dan penyakit yang berkepanjangan menuju kehancurannya.
Jika engkau bertanya: Engkau telah mengisyaratkan tentang kehidupan yang tidak biasa di antara mayat-mayat yang hidup, maka dapatkah engkau menjelaskan jalannya, agar aku sampai pada sebagian dari rasa kehidupan itu? Karena telah jelas bagiku bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang adalah kehidupan hewani, bahkan boleh jadi binatang ternak lebih baik dari kita karena mereka terbebas dari kemungkaran, hal-hal yang merusak, dan selamat akibatnya?
Aku menjawab: Demi Allah, sesungguhnya kerinduanmu pada kehidupan ini, dan pencarian ilmu serta pengetahuan tentangnya adalah bukti akan kehidupanmu, dan bahwa engkau bukan termasuk dari golongan orang-orang yang mati.
Awal jalannya adalah: engkau mengenal Allah, dan menemukan jalan yang menghantarkanmu kepada-Nya, yang membakar kegelapan tabiat dengan sinar-sinar mata batin, sehingga berdiri di hatinya saksi dari saksi-saksi akhirat, lalu tertarik kepadanya dengan sepenuhnya, zuhud terhadap ikatan-ikatan yang fana, tekun dalam memperbaiki taubat, melaksanakan perintah-perintah yang zhahir dan batin, serta meninggalkan larangan-larangan yang zhahir dan batin. Kemudian ia menjaga hatinya, tidak mengizinkan hatinya dengan pikiran yang dibenci Allah, dan tidak dengan pikiran yang berlebihan yang tidak bermanfaat baginya. Dengan demikian hatinya menjadi jernih dari bisikan nafsu dan was-wasnya, sehingga ia terlepas dari belenggu nafsunya dan menjadi bebas. Pada saat itulah hatinya bisa bersepi dengan mengingat Tuhannya, mencintai-Nya dan kembali kepada-Nya, dan keluar dari antara rumah-rumah tabiat dan nafsunya menuju lapangan bersepi dengan Tuhannya dan mengingat-Nya, sebagaimana dikatakan:
Aku keluar dari antara rumah-rumah agar aku dapat berbicara dengan jiwaku tentang-Mu dalam kesendirian secara rahasia
Pada saat itulah hatinya, khayalannya dan bisikan jiwanya berkumpul pada kehendak Tuhannya, mencari-Nya dan merindukan-Nya.
Jika ia benar-benar dalam hal itu, ia dikaruniai cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan ruhaninya menguasai hatinya, sehingga ia menjadikannya sebagai imamnya, gurunya, ustadznya, syaikhnya dan teladannya, sebagaimana Allah menjadikannya Nabi-Nya, Rasul-Nya dan pembimbing kepada-Nya. Maka ia menelaah sirahnya dan permulaan urusannya, bagaimana wahyu turun kepadanya, mengenal sifat-sifatnya, akhlaknya, adabnya dalam gerak dan diamnya, saat terjaga dan tidurnya, ibadahnya dan pergaulannya dengan keluarga dan para sahabatnya, hingga seolah-olah ia bersama beliau sebagai salah seorang dari sahabatnya.
Jika hatinya sudah tertanam kuat dalam hal itu, maka dibukakan baginya pemahaman wahyu yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, sehingga jika ia membaca suatu surah, hatinya menyaksikan apa yang diturunkan padanya, apa yang dimaksudkan dengannya, dan bagian yang khusus untuknya darinya berupa sifat-sifat, akhlak dan perbuatan-perbuatan yang tercela, maka ia bersungguh-sungguh untuk terbebas darinya sebagaimana ia bersungguh-sungguh untuk sembuh dari penyakit yang berbahaya, dan ia menyaksikan bagiannya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang terpuji, maka ia bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan dan melengkapinya.
Jika ia sudah mampu dalam hal itu, maka terbuka di hatinya mata lain, yang dengannya ia menyaksikan sifat-sifat Tuhan Yang Mahamulia, hingga bagi hatinya sifat-sifat itu seperti yang terlihat bagi matanya. Maka ia menyaksikan ketinggian Tuhan Yang Mahasuci di atas makhluk-Nya, istiwa-Nya di atas Arsy-Nya, turunnya urusan dari sisi-Nya untuk mengatur kerajaan-Nya, firman-Nya dengan wahyu, firman-Nya kepada hamba-Nya Jibril dengannya, pengutusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dengan apa yang Dia kehendaki, dan naiknya urusan-urusan kepada-Nya, dan dihadapkannya urusan-urusan itu kepada-Nya.
Maka hatinya menyaksikan Tuhan yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya, yang memerintah dan melarang, mengutus rasul-rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, yang disembah dan ditaati, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada bagi seorang pun bersama-Nya sedikitpun dari urusan, bahkan urusan itu semua milik-Nya. Maka ia menyaksikan Tuhannya Yang Mahasuci berdiri dengan kerajaan dan pengaturan, tidak ada gerak dan tidak ada diam, tidak ada manfaat dan tidak ada bahaya, tidak ada pemberian dan tidak ada pencegahan, tidak ada menggenggam dan tidak ada membentangkan kecuali dengan kekuasaan-Nya dan pengaturan-Nya. Maka ia menyaksikan tegaknya seluruh alam semesta dengan-Nya, dan Dia Yang Mahasuci berdiri dengan Zat-Nya sendiri. Maka Dia Yang berdiri dengan Zat-Nya sendiri, dan Yang menegakkan selain-Nya.
Jika hatinya sudah tertanam kuat dalam hal itu, ia menyaksikan sifat yang membenarkan semua sifat kesempurnaan, yaitu kehidupan yang kesempurnaannya mengharuskan kesempurnaan pendengaran, penglihatan, kekuasaan, kehendak, kalam dan seluruh sifat kesempurnaan, dan sifat al-Qayyum yang benar yang membenarkan semua perbuatan. Maka al-Hayy al-Qayyum adalah: Dia yang memiliki setiap sifat kesempurnaan, dan Dia Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.
Jika hatinya sudah tertanam kuat dalam hal itu, dibukakan baginya pemandangan kedekatan dan kebersamaan, sehingga ia menyaksikan-Nya Yang Mahasuci bersamanya, tidak ghaib dari-Nya, dekat tidak jauh, meski Dia di atas langit-Nya di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, berdiri dengan penciptaan dan pengaturan, penciptaan dan perintah. Maka terjadi padanya bersama dengan pengagungan dan pengagungan, ketenangan dengan sifat ini, sehingga ia merasa tenteram dengan-Nya setelah sebelumnya merasa kesepian, kuat dengan-Nya setelah sebelumnya lemah, gembira dengan-Nya setelah sebelumnya sedih, dan mendapatkan setelah sebelumnya kehilangan. Pada saat itulah ia merasakan rasa sabda-Nya: “Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya, maka jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan, dan jika ia meminta kepada-Ku niscaya Aku memberinya, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya.”
Maka kehidupan yang paling nikmat secara mutlak adalah kehidupan hamba ini, karena ia adalah pencinta yang dicintai, mendekat kepada Tuhannya, dan Tuhannya dekat darinya. Kekasihnya telah menguasai hatinya, ia sibuk dengan mengingat-Nya, dan perhatiannya terpusat pada keridhaan-Nya, hingga berada pada kedudukan seperti pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Dan ini adalah alat-alat penangkapan dan amalnya serta upayanya. Jika ia mendengar, ia mendengar dengan kekasihnya, jika ia melihat, ia melihat dengan-Nya, jika ia memukul, ia memukul dengan-Nya, dan jika ia berjalan, ia berjalan dengan-Nya.
Jika sulit bagimu memahami makna ini, yaitu bagaimana pencinta yang sempurna cintanya mendengar, melihat, memukul dan berjalan dengan kekasihnya, sementara Zat-Nya ghaib darinya, maka berpalinglah darinya, dan biarkanlah urusan ini bagi ahlinya.
Biarkanlah cinta bagi orang-orang yang mengetahuinya, yang telah merasakan cinta hingga yang paling sulitnya menjadi mudah
Sesungguhnya orang yang berjalan menuju Tuhannya, perhatiannya selalu terpusat pada dua perkara: mengosongkan hati dalam kejujuran cinta, dan mencurahkan usaha dalam melaksanakan perintah. Ia terus seperti itu hingga tampak pada batinnya saksi-saksi pengenalan-Nya, dan bekas-bekas sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Namun kadang hal itu tersembunyi darinya, dan kadang tampak. Tampak dari mata kemurahan, dan tersembunyi dengan hukum futur (kelesuan). Dan futur adalah perkara yang harus dialami oleh hamba. Setiap orang yang beramal memiliki semangat, dan setiap semangat memiliki futur. Yang paling tinggi adalah futur wahyu, yaitu bagi para Nabi, futur keadaan khusus bagi orang-orang arif, futur semangat bagi para murid, dan futur amal bagi para ahli ibadah. Dalam futur-futur ini terdapat berbagai jenis hikmah dan rahmat, perkenalan-perkenalan Ilahi, mengenalkan kadar nikmat, memperbarui kerinduan kepadanya, memurnikan kerinduan yang kuat kepadanya, dan lain sebagainya.
Saksi-saksi itu tidak henti berulang dan bertambah, hingga menetap, dan hatinya tercelup dengannya, dan futur tidak memutuskannya, bahkan menjadi nikmat untuknya, istirahat untuknya, penyegaran dan penghiburan baginya.
Maka perhatian pencinta jika ruhnya terikat dengan kekasihnya, terpusat pada menambah cintanya, dan sebab-sebab penguatannya, maka ia beramal untuk ini. Kemudian ia naik darinya untuk mencari cinta kekasihnya kepadanya, maka ia beramal untuk mendapatkan hal itu, dan ia tidak meninggalkan pencarian yang pertama, dan tidak berpisah darinya sama sekali, bahkan tercakup dalam pencarian kedua ini. Maka perhatiannya terikat pada kedua perkara sekaligus, karena ia hanya mendapatkan kedudukan “Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat” dengan perkara kedua ini, yaitu ia menjadi kekasih bagi kekasihnya, sebagaimana Dia berfirman dalam hadits “Maka jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya dan penglihatannya” dan seterusnya. Maka ia mendekat kepada Tuhannya untuk menjaga cintanya kepada-Nya, dan mengundang cinta Tuhannya kepadanya.
Pada saat itulah ia mengikat kuat ikat pinggang kesungguhannya dalam mencari cinta kekasihnya kepadanya dengan berbagai jenis mendekat kepada-Nya. Maka hatinya untuk cinta, inabah (kembali), tawakal, takut dan harap. Lisannya untuk dzikir dan membaca kalam kekasihnya. Anggota tubuhnya untuk ketaatan. Maka ia tidak lesu dari mendekat kepada kekasihnya.
Ini adalah perjalanan yang mengantarkan pada tujuan ini yang tidak dapat dicapai kecuali dengannya, dan tidak dapat ditempuh kecuali dari pintu dan jalan ini. Pada saat itulah terkumpul baginya dalam perjalanannya semua hal yang tercerai-berai dari suluk seperti kehadiran, kehebatan, muraqabah, menolak khawatir dan mengosongkan batin.
Sesungguhnya pencinta mulai pada awalnya dengan pendekatkan-pendekatkan melalui amal-amal zhahir, dan itu adalah zhahir pendekatkan. Kemudian ia naik dari itu menuju keadaan mendekat, yaitu tertarik kepada kekasihnya dengan sepenuhnya dengan ruh, hati, akal dan badannya. Kemudian ia naik dari itu menuju keadaan ihsan, maka ia beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya. Maka ia mendekat kepada-Nya pada saat itu dari batinnya dengan amal-amal hati seperti cinta, inabah, pengagungan, pengagungan dan takut. Maka memancar pada saat itu dari batinnya kemurahan dengan memberikan ruh dan kemurahan dalam cinta kekasihnya tanpa dipaksakan. Maka ia bermurah hati dengan ruhnya, jiwanya, nafasnya, kehendaknya dan amalnya untuk kekasihnya sebagai keadaan bukan dipaksakan. Jika pencinta menemukan hal itu, maka ia telah beruntung dengan keadaan mendekat dan rahasianya dan batinnya. Jika ia tidak menemukannya, maka ia mendekat dengan lisannya, badannya dan zhahirnya saja. Maka hendaklah ia terus pada hal itu, dan hendaklah ia memaksakan diri mendekat dengan dzikir-dzikir dan amal-amal terus-menerus, mudah-mudahan ia mendapat keberuntungan dengan keadaan kedekatan.
Di balik kedekatan batin ini ada perkara lain juga, yaitu sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan lebih baik dari ungkapan makhluk yang paling dekat kepada Allah shallallahu alaihi wasallam tentang makna ini, di mana beliau bersabda menceritakan dari Tuhannya Yang Mahasuci dan Mahatinggi: “Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, dan barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, dan barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” Maka pencinta ini menemukan dalam batinnya rasa makna hadits ini sebagai rasa yang hakiki.
Maka disebutkan dari tingkatan-tingkatan kedekatan tiga, dan memberi isyarat dengannya pada apa yang di bawahnya dan apa yang di atasnya. Maka disebutkan pendekatan hamba kepada-Nya dengan sejengkal, dan pendekatan-Nya Yang Mahasuci kepada hamba sehasta. Jika hamba merasakan hakikat pendekatan ini, ia berpindah darinya menuju pendekatan sehasta, maka ia menemukan rasa pendekatan Tuhan kepadanya sedepa.
Jika ia merasakan manisnya kedekatan kedua ini, ia mempercepat berjalan pada saat itu kepada Tuhannya, maka ia merasakan manisnya kedatangan-Nya kepadanya dengan berlari. Di sinilah akhir hadits, memberi isyarat bahwa jika hamba-Nya berlari kepada-Nya, maka kedekatan kekasihnya kepadanya di atas larian hamba kepada-Nya. Maka entah beliau diam tentang hal itu karena besarnya saksi balasan, atau karena itu masuk dalam balasan yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak terlintas di hati manusia, atau mengembalikan hal itu pada tingkatan-tingkatan yang telah disebutkan sebelumnya. Seolah-olah dikatakan kepadanya dan qiyaskan pada ini. Maka sesuai dengan apa yang engkau berikan darimu untuk mendekat kepada Tuhanmu, Dia mendekat kepadamu dengan lebih banyak darinya. Atas dasar ini, maka yang harus dari pendekatan yang disebutkan dalam tingkatan-tingkatannya adalah: barangsiapa mendekat kepada kekasihnya dengan ruhnya dan seluruh kekuatannya, kehendaknya, ucapannya dan amalnya, maka Tuhan mendekat kepadanya Yang Mahasuci dengan Zat-Nya dalam mengimbangi pendekatan hamba-Nya kepada-Nya.
Kedekatan dalam semua tingkatan ini bukanlah kedekatan jarak fisik dan bukan pula persentuhan, melainkan kedekatan yang hakiki. Tuhan Yang Maha Tinggi berada di atas langit-langit-Nya, di atas Arsy-Nya, sementara hamba berada di bumi.
Inilah rahasia perjalanan spiritual dan hakikat penghambaan. Inilah makna “sampai” yang selalu didengungkan oleh para sufi.
Inti dari perkara ini adalah: pertama, niat untuk mendekat; kedua, proses mendekat itu sendiri; ketiga, keadaan dekat—yaitu tergeraknya seluruh jiwa menuju Sang Kekasih.
Hakikat tergeraknya jiwa ini adalah: engkau fana dalam kehendak-Nya dari hawa nafsumu, fana dalam pemberian-Nya dari kepentingan pribadimu. Bahkan, kehendak dan pemberian-Nya itulah yang menjadi seluruh kepentingan dan keinginanmu. Engkau telah mengetahui bahwa siapa yang mendekatkan diri kepada kekasihnya dengan sesuatu, ia akan dibalas dengan kedekatan yang berlipat ganda. Engkau juga telah mengetahui bahwa jenis pendekatan diri yang paling tinggi adalah pendekatan seorang hamba dengan seluruh dirinya—lahir dan batin, keberadaannya—kepada kekasihnya. Siapa yang melakukan hal itu, ia telah mendekat dengan keseluruhannya, dan tidak tersisa dari dirinya bagian untuk selain kekasihnya, sebagaimana dikatakan:
Tidaklah ada orang yang dalam dirinya masih tersisa bagian untuk selain-Mu Yang dengannya celaan dapat menemukan jalan kepadanya
Jika orang yang mendekatkan diri dengan amal-amal diberi balasan berlipat-lipat dari apa yang ia persembahkan, maka bagaimana dengan orang yang diberi keadaan mendekat, cita rasanya, dan pengalaman batinnya? Bagaimana pula dengan orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan ruhnya, seluruh kehendaknya, cita-citanya, perkataan dan perbuatannya?
Berdasarkan ini, sebagaimana ia telah memberikan dirinya kepada Kekasihnya, maka ia layak untuk dianugerahi bahwa Tuhannya Yang Maha Suci menjadi bagian dan nasibnya, sebagai ganti dari segala sesuatu—balasan yang setimpal. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amal. Bukti-bukti tentang hal ini sangat banyak.
Di antaranya: firman Allah Taala dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2-3: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” Perhatikanlah perbedaan antara dua balasan tersebut. Allah menjadikan balasan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya bahwa Dia Yang Maha Suci menjadi Pencukupnya dan Pelindungnya.
Di antaranya juga: bahwa orang yang mati syahid, ketika ia mengorbankan hidupnya untuk Allah, Allah Yang Maha Suci menggantinya dengan kehidupan yang lebih sempurna di sisi-Nya, di tempat kedekatan dan kemuliaan-Nya.
Di antaranya juga: bahwa siapa yang memberikan sesuatu untuk Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Di antaranya: firman Allah Taala dalam Surah Al-Baqarah ayat 152: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.”
Di antaranya juga: sabda Nabi dalam hadits qudsi: “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Barangsiapa mengingat-Ku di tengah khalayak, Aku akan mengingatnya di tengah khalayak yang lebih baik dari mereka.”
Di antaranya juga: sabda Nabi: “Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta.” —hadits.
Maka hamba senantiasa memperoleh keuntungan dari Tuhannya lebih utama dari apa yang ia persembahkan kepada-Nya. Orang yang mendekatkan diri dengan hati, ruh, dan amalnya ini, Tuhannya akan membukakan baginya kehidupan yang tidak menyerupai kehidupan manusia pada umumnya. Bahkan, kehidupan orang yang tidak seperti itu dibandingkan dengan kehidupannya, bagaikan kehidupan janin dalam perut ibunya dibandingkan dengan kehidupan penghuni dunia dan kenikmatan mereka di dalamnya—bahkan lebih agung dari itu.
Inilah contoh bagaimana kemuliaan kehidupan ini berbeda dari kehidupan lainnya dan keutamaannya. Jika ilmu tentang hal ini saja sudah memberikan kehidupan yang baik bagi pemiliknya, bagaimana jika hati telah tercelup dengannya dan menjadi keadaan yang melekat pada dirinya? Maka hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Kehidupan ini adalah kehidupan dunia dan kenikmatannya yang hakiki. Siapa yang kehilangannya, maka kehilangan kehidupan alaminya lebih layak baginya.
Inilah kehidupan seorang pemuda, jika ia kehilangan ini Maka kehilangan hidupnya lebih pantas baginya
Tiada kehidupan kecuali kehidupan para pencinta yang mata mereka sejuk dengan Kekasih mereka, jiwa mereka tenteram kepada-Nya, hati mereka tenang dengan-Nya, mereka merasa nyaman dengan kedekatan-Nya, dan mereka menikmati cinta-Nya. Dalam hati ada kekosongan yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan cinta kepada Allah, menghadap kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Tidak ada yang dapat menyatukan keterasingannya selain itu sama sekali. Siapa yang tidak memperoleh hal ini, maka seluruh hidupnya adalah kegelisahan, kesedihan, kepedihan, dan penyesalan. Jika ia orang yang bercita-cita tinggi, jiwanya akan terkoyak-koyak dengan penyesalan atas dunia, karena cita-citanya tidak rela dengan yang rendah. Jika ia orang yang hina dan rendah, maka kehidupannya seperti kehidupan hewan yang paling hina. Mata tidak akan sejuk kecuali dengan cinta kepada Kekasih yang Pertama.
Bawalah hatimu ke mana pun kau kehendaki dari cinta Tidaklah cinta kecuali untuk Kekasih yang pertama Betapa banyak tempat di bumi yang disukai oleh seorang pemuda Namun kerinduannya selamanya kepada tempat yang pertama
Pasal
Tingkatan Kesembilan dari Tingkatan Kehidupan: Kehidupan ruh-ruh setelah berpisah dari jasad dan bebas dari penjara ini beserta kesempitannya. Sesungguhnya di baliknya ada kelapangan, ketenangan, kesegaran, dan kenyamanan. Perbandingan dunia ini dengan alam itu bagaikan perbandingan perut ibu dengan dunia ini, atau bahkan lebih dekat dari itu. Sebagian orang arif berkata: “Hendaklah kebergerasanmu untuk keluar dari dunia seperti kebergerasanmu keluar dari penjara yang sempit menuju orang-orang yang kaucintai dan berkumpul dengan mereka di taman-taman yang indah.” Allah Taala berfirman tentang kehidupan ini dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 88-89: “Adapun jika ia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka baginya ketenangan, kesegaran, dan surga kenikmatan.”
Cukuplah sebagai bukti baiknya kehidupan ini: menemani Teman Yang Maha Tinggi dan berpisah dari teman yang menyakiti dan menyusahkan—yang melihatnya saja sudah membuat hidup terasa tidak nyaman, apalagi bergaul dan berteman dengannya—menuju Teman Yang Maha Tinggi, yaitu mereka yang Allah berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Alangkah baiknya mereka sebagai teman, di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sungguh aku berkata ketika orang-orang memuji kehidupan secara berlebihan Dalam kematian ada seribu keutamaan yang tidak diketahui Di antaranya keamanan bertemu dengan-Nya melalui pertemuan itu Dan berpisah dari setiap teman yang tidak berbuat adil
Seandainya tidak ada kebaikan dalam kematian kecuali bahwa ia adalah pintu masuk menuju kehidupan ini dan jembatan yang dilalui untuk sampai kepadanya, cukuplah ia sebagai hadiah bagi orang beriman.
Semoga Allah membalas kematian dengan kebaikan untuk kita Karena ia lebih berbakti kepada kita dari setiap kebaikan dan lebih lembut Ia mempercepat pembebasan jiwa-jiwa dari penderitaan Dan mendekatkan kepada negeri yang lebih mulia
Maka bersungguh-sungguh dalam umur yang singkat ini, waktu yang sedikit ini, berusaha dan bersusah payah, menanggung beban, kelelahan, dan kesulitan—semua itu adalah untuk kehidupan ini. Ilmu dan amal adalah sarana menuju kepadanya. Kehidupan itu adalah kesadaran, sedangkan kehidupan sebelumnya adalah tidur. Kehidupan itu adalah sumber, sedangkan sebelumnya adalah jejak. Ia adalah kehidupan yang menghimpun antara hilangnya hal yang dibenci dan tercapainya hal yang dicintai, di tingkatan keintiman dan hadirat kesucian—di mana tidak ada yang diinginkan yang sulit dicapai dan tidak ada yang dicintai yang hilang. Di sana ada ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan, dan kegembiraan. Di sana hamba tidak mampu mengungkapkan hakikat esensinya, karena ia berada di negeri yang tidak pernah kita kenal dan tidak ada keakraban antara kita dengan penghuninya. Jiwa, karena sudah lama terbiasa dengan penjara yang sempit dan menyusahkan ini, enggan untuk berpindah darinya ke negeri itu dan merasa cemas ketika merasakan perpisahan darinya.
Pengetahuan tentang kehidupan ini sampai kepada kita melalui kabar ilahi yang disampaikan oleh makhluk yang paling sempurna, paling berilmu, dan paling tulus, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berdirilah bukti-buktinya dalam hati orang-orang beriman hingga menjadi bagi mereka seperti melihat langsung. Jiwa-jiwa mereka pun lari dari bayangan yang akan sirna ini, khayalan yang akan lenyap, kehidupan yang fana yang tercampur dengan gangguan dan berbagai kesengsaraan—karena tidak suka dengan kehidupan ini, kerinduan kepada alam malakut itu, gelora dengan kegembiraan ini, gairah sampai batas ini, dan kerinduan kepada hembusan angin yang datang dari tempat kenikmatan yang abadi.
Demi Allah, sesungguhnya siapa yang bepergian ke negeri keadilan, kemakmuran, keamanan, dan kegembiraan, ia akan bersabar di perjalanannya menghadapi setiap kesulitan, kekurangan, dan kekeringan. Ia meninggalkan orang-orang yang tertinggal padahal ia sangat membutuhkan mereka. Ia menjawab panggilan ketika dipanggil “Mari menuju keberuntungan!” Ia memberikan jiwanya untuk sampai dengan pemberian penuh kerelaan dan kemurahan. Ia melanjutkan perjalanan di pagi dan sore. Maka ia akan memuji perjalanannya ketika sampai. Sesungguhnya musafir baru memuji perjalanan malam ketika fajar tiba.
Di waktu pagi, kaum itu memuji perjalanan malam Dan di waktu kematian, kaum itu memuji pertemuan
Demi Allah, ini tidaklah sulit dan tidak berat dengan umur yang singkat ini, yang dibandingkan dengan negeri akhirat bagaikan sesaat dari siang hari. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahqaf ayat 35: “Pada hari mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka, seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat pada siang hari.” Dan dalam Surah Yunus ayat 45: “Dan pada hari Dia mengumpulkan mereka, seolah-olah mereka tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali sesaat pada siang hari, mereka saling mengenal di antara mereka.” Dan dalam Surah An-Nazi’at ayat 46: “Pada hari mereka melihatnya, seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali pada waktu sore atau pagi.” Dan dalam Surah Ar-Rum ayat 55: “Dan pada hari kiamat terjadi, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat saja.” Dan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 112-114: “Dia berfirman, ‘Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada para penghitung.’ Dia berfirman, ‘Kalian tidak tinggal (di bumi) kecuali sebentar saja, sekiranya kalian mengetahui.'” Seandainya salah seorang dari kita diseret di atas wajahnya untuk melindungi diri dari duri dan bebatuan menuju kehidupan ini, tidaklah itu terlalu banyak dan bukan kerugian dibandingkan dengan apa yang akan dijauhinya.
Alangkah menyesalnya bagi mata hati yang menyaksikan kedua kehidupan ini sebagaimana adanya, dan bagi cita-cita yang lebih memilih yang rendah daripada yang tinggi! Itu semua tidak lain karena taufik dari Yang di tangan-Nya kendali segala urusan. Dari-Nya segala sesuatu bermula dan kepada-Nya berakhir. Dia mendudukkan jiwa-jiwa orang yang dikuasai kesengsaraan sehingga mereka tidak bepergian ke negeri itu. Dia menarik hati-hati orang yang telah didahulukan kebaikan bagi mereka, menegakkan mereka di jalan, dan memudahkan bagi mereka menanggung bahaya. Maka orang-orang itu menyia-nyiakan perjalanan umur mereka bersama orang-orang yang tertinggal, sementara orang-orang ini menghabiskan perjalanan umur mereka bersama orang-orang yang berjalan. Debu berterbangan dan asap mengepul hingga menutupi pandangan dari orang-orang yang berjalan dan yang tertinggal. Namun sebentar lagi akan terang, maka orang-orang yang beramal akan menang dan orang-orang yang berbuat batil akan merugi.
Di antara bukti baiknya kehidupan ini dan kenikmatannya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah ada jiwa yang mati yang memiliki kebaikan di sisi Allah yang senang untuk kembali ke dunia meskipun ia mendapat dunia beserta seluruh isinya, kecuali orang yang mati syahid. Ia berharap untuk kembali ke dunia karena apa yang ia lihat dari kemuliaan Allah baginya”—maksudnya agar ia terbunuh di jalan-Nya sekali lagi.
Sebagian orang arif mendengar seseorang melantunkan:
Sesungguhnya kehidupan hanyalah dalam kenikmatan hewani Itulah yang dikatakan oleh para filosof Hukum cangkir kematian adalah menyamakan Dalam meneguknya antara orang bodoh dan orang cerdas Dan orang dungu menjadi di bawah tanah Sebagaimana orang cerdik juga menjadi di bawahnya Maka tanyalah bumi tentang keduanya jika pertanyaan yang jelas Dapat menghilangkan keraguan dan syubhat
Maka ia berkata: “Semoga Allah membinasakan orang itu! Alangkah kerasnya penentangannya terhadap agama dan akal! Ini adalah nafas musuh fitrah, syariat, akal, iman, dan hikmah. Wahai orang malang! Apakah karena kematian menyamakan antara orang saleh dan orang jahat, orang berilmu dan orang bodoh, dan mereka semua menjadi di bawah lapisan tanah, apakah itu mengharuskan mereka sama dalam akibatnya? Bukankah kaum yang bepergian dari satu negeri ke negeri lain sama dalam perjalanan? Namun ketika mereka sampai ke tujuan, masing-masing turun di tempat yang telah disiapkan untuknya dan disambut dengan berbeda dari temannya di perjalanan? Bukankah setiap kaum memiliki tempat tinggal, lalu masing-masing didudukkan di tempat yang layak baginya? Yang satu diperlakukan dengan sesuatu, yang lain diperlakukan dengan kebalikannya? Bukankah ada yang datang kepada raja dengan membawa apa yang dicintainya lalu dimuliakan karenanya, dan ada yang datang dengan membawa apa yang membuatnya murka lalu dihukum karenanya? Bukankah rombongan kota itu datang lalu sebagian dari mereka turun di istana-istana, taman-taman, dan tempat-tempat yang mulia, sementara sebagian lainnya turun di pinggir jalan bersama anjing-anjing? Bukankah dua orang keluar dari perut ibu yang sama, lalu yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi tawanan dan sengsara?
Adapun perkataanmu ‘tanyalah bumi tentang keduanya,’ ketahuilah bahwa kami telah menanyainya. Ia memberitahu kami bahwa ia telah merangkul jasad-jasad, tubuh-tubuh, dan anggota badan mereka—bukan kekufuran dan keimanan mereka, bukan nasab dan kemuliaan mereka, bukan kesabaran dan kebodohan mereka, bukan ketaatan dan kemaksiatan mereka, bukan keyakinan dan keraguan mereka, bukan tauhid dan kesyirikan mereka, bukan kezaliman dan keadilan mereka, bukan ilmu dan kebodohan mereka. Ia hanya memberitahu kami tentang jasad-jasad yang telah hancur, tubuh-tubuh yang telah lebur, dan anggota-anggota yang telah tercerai-berai. Ia berkata: ‘Inilah kabar tentang apa yang ada padaku.’
Adapun kabar tentang ruh-ruh itu dan ke mana mereka pergi, tanyalah tentang mereka kepada kitab-kitab Tuhan semesta alam, para rasul-Nya yang jujur, dan para pewaris mereka. Tanyalah Al-Qur’an, karena padanya ada kabar yang meyakinkan. Tanyalah orang yang membawanya, karena dialah yang paling mengetahui tentang itu. Tanyalah ilmu dan iman, karena keduanya adalah saksi yang diterima. Tanyalah akal dan fitrah, karena padanya ada hakikat kabar itu.” Allah berfirman dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 21: “Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” Maha Tinggi Allah, Hakim yang paling adil, dari sangkaan dan dugaan ini yang tidak pantas kecuali bagi orang yang paling bodoh dari orang-orang bodoh.
Kemudian ia berkata: “Orang yang memperhatikan perkara ini ada dua macam: orang yang melihat kepada benda-benda dan orang yang melihat dalam benda-benda. Yang pertama bingung di dalamnya, karena bentuk-bentuk, wujud-wujud, dan garis-garisnya menghabiskan pikiran dan indranya, mencerai-beraikan fikiran dan hatinya. Pandangannya kepada benda-benda dengan mata indranya tidak memberikan kepadanya buah pelajaran dan inti pengalaman. Karena ketika ia kehilangan pelajaran pada awalnya, ia kehilangan pilihan pada akhirnya.
Adapun orang yang melihat dalam benda-benda, pandangannya mendorongnya untuk melewati bentuk-bentuknya menuju hakikat-hakikatnya dan maksud yang dikehendaki darinya, serta apa yang dituntut oleh keberadaannya dari hikmah yang sempurna dan ilmu yang lengkap. Pandangan ini memberikan kepadanya pembedaan tingkatan-tingkatannya, pengetahuan tentang yang bermanfaat dan yang berbahaya, yang benar dan yang rusak, yang kekal dan yang fana, kulitnya dan isinya. Ia membedakan antara sarana dan tujuan, antara sarana menuju sesuatu dan sarana menuju lawannya. Maka ia mengetahui bahwa dunia adalah kulit dan akhirat adalah isi, bahwa dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah waktu menuai, bahwa dunia adalah tempat lewat dan lintasan sementara akhirat adalah tempat menetap.
Ketika ia mengetahui bahwa dunia adalah jalan dan lintasan, ia layak untuk menyiapkan bekal untuk tempat menetapnya. Ia mengetahui bahwa ia tidak diciptakan di dunia ini untuk menetap dan kekal, tetapi untuk melintas ke tempat lain yang merupakan tempat tinggal dan kediaman. Manusia telah diajak kepada hal itu melalui setiap syariat, melalui lisan setiap nabi, melalui setiap isyarat dan petunjuk. Telah ditegakkan baginya tanda atas hal itu, telah dibuat untuknya setiap perumpamaan, dan telah diingatkan padanya melalui penciptaan pertamanya, asal-usulnya, dan seluruh keadaannya, keadaan makanan dan minumannya, bumi dan langitnya—sehingga syubhat telah dihilangkan darinya, jalan telah dijelaskan baginya, hujjah telah ditegakkan atasnya, dan ia telah diberi peringatan yang sangat cukup serta diberi kesempatan yang sempurna. Maka jelaslah bagi orang yang berakal sehat dan berfitrah lurus bahwa perpindahan dari tempat ini adalah keniscayaan, dan berpindah darinya adalah kebenaran yang tidak diragukan. Ia memiliki tempat lain yang untuknya ia diciptakan, untuk itulah ia diadakan, dan untuk itulah ia dipersiapkan. Maka tujuannya adalah ke sana dan kedatangannya tanpa ragu adalah kepadanya. Rumahnya di dunia ini adalah tempat singgah, bukan tempat menetap.
Singkatnya, siapa yang memperhatikan segala yang ada dan tidak puas dengan sekadar melihat kepadanya saja, ia akan mendapatinya menunjukkan bahwa di balik kehidupan ini ada kehidupan lain yang lebih sempurna darinya. Kehidupan ini dibandingkan dengannya bagaikan tidur dibandingkan dengan bangun, bagaikan bayangan dibandingkan dengan orangnya. Ia mendengar semuanya menyerukan apa yang diserukan oleh Tuhan, Pencipta, dan Pembentuknya dalam Surah Fathir ayat 5: “Wahai manusia! Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kalian terhadap Allah.” Semuanya menyeru dengan lisan keadaan apa yang diserukan Tuhannya dengan perkataan yang tegas dalam Surah Al-Kahfi ayat 45: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka kehidupan dunia seperti air yang Kami turunkan dari langit, maka bercampurlah dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi, lalu menjadi kering dan hancur yang diterbangkan angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Yunus ayat 24: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan bercampur dengannya tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak, hingga apabila bumi telah sempurna keindahannya dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya perintah Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanaman yang sudah disabit, seolah-olah belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.”
Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Kemudian Dia mengajak mereka untuk berlomba menuju negeri akhirat yang kekal yang tidak akan sirna. Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 21: “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
Seorang ulama arif pernah mendengar seseorang melantunkan syair tentang salah seorang zindiq (atheis) menjelang kematiannya, yaitu Muhammad bin Zakaria sang tabib. Syairnya berbunyi:
Demi hidupku, aku tidak tahu — padahal kebinasaan telah mengizinkan Kepergianku yang segera — ke mana aku akan pergi Dan di mana tempat ruh setelah keluar Dari jasad yang hancur dan tubuh yang lapuk
Maka ulama arif itu berkata: “Apa urusan kita dengan kebodohannya, jika ia tidak tahu ke mana kepergiannya? Tetapi kita tahu ke mana kepergian kita dan kepergiannya. Adapun kepergiannya adalah ke negeri orang-orang celaka, tempat tinggal para pengingkar kekuasaan Allah dan hikmah-Nya, serta para pendusta terhadap apa yang disepakati oleh seluruh para rasul dari Tuhan mereka: “Mereka itulah orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang dilekatkan belenggu di leher mereka, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan mereka berkata, ‘Apabila kami telah lenyap dalam tanah, apakah kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?’ Bahkan mereka kafir terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka. Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi tugas mencabut nyawamu akan mewafatkanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.’ Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, sesungguhnya kami sekarang adalah orang-orang yang yakin.'” (Surat As-Sajdah: 5-12)
Adapun kepergian kita — wahai kaum Muslimin yang membenarkan pertemuan dengan Tuhan mereka, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya — adalah menuju kenikmatan abadi, keabadian yang berkesinambungan, kedudukan yang mulia, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, di sisi Tuhan semesta alam, Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Yang Maha Kuasa di antara yang berkuasa, Yang Maha Bijaksana di antara para hakim, yang memiliki penciptaan dan perintah, di tangan-Nya manfaat dan mudarat. Dia Yang Maha Awal dengan kebenaran, Yang Ada dengan keniscayaan, Yang Dikenal dengan fitrah, Yang diakui oleh akal sehat, ditunjukkan oleh segala yang ada, dan disaksikan keesaan serta ketuhanan-Nya oleh seluruh makhluk, diakui oleh fitrah-fitrah. Keberadaan dan pemeliharaan-Nya disaksikan oleh setiap gerak dan diam, oleh segala yang telah ada, yang sedang ada, dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, menurunkan air dari langit, lalu menumbuhkan dengannya kebun-kebun yang indah dari berbagai jenis tumbuhan, dan menyebarkan dengannya semua jenis hewan di bumi. “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya, dan yang menjadikan pemisah antara dua laut?” (Surat An-Naml: 61) Dialah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, menolong orang yang memohon pertolongan apabila ia memanggil-Nya, menghilangkan kesusahan, melapangkan kesempitan, dan memaafkan kesalahan. Dialah yang memberi petunjuk kepada makhluk-Nya dalam kegelapan daratan dan lautan, mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya, lalu menghidupkan bumi dengan curahan hujan. Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya, memberi rezeki kepada siapa yang ada di langit dan di bumi dari makhluk dan hamba-hamba-Nya. Dialah yang menguasai pendengaran, penglihatan, dan hati, mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan mengatur segala urusan. “Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya.'” (Surat Al-Mu’minun: 88) “Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Surat Al-Furqan: 2) Dialah yang dimintai pertolongan dalam setiap musibah dan bencana, dan dari-Nya diharapkan setiap kebaikan dan kemuliaan. Dialah yang kepada-Nya wajah-wajah tunduk, suara-suara khusyuk, bumi dan langit serta seluruh makhluk bertasbih memuji-Nya. Dialah yang tanpa cinta-Nya ruh tidak tenteram, tanpa mengingat-Nya hati tidak tenang, tanpa mengenal-Nya akal tidak bersih, tanpa taufik-Nya keberhasilan tidak tercapai, tanpa semilir kelembutan dan kedekatan-Nya hati tidak hidup, tanpa izin-Nya tidak ada urusan yang terjadi, tanpa hidayah-Nya orang sesat tidak mendapat petunjuk, tanpa bimbingan-Nya yang bengkok tidak menjadi lurus, tanpa pengajaran-Nya tidak ada yang memahami, tanpa rahmat-Nya tidak ada yang terbebas dari hal yang dibenci, tanpa penjagaan-Nya tidak ada yang terpelihara, tanpa nama-Nya tidak ada urusan yang dimulai, tanpa pujian kepada-Nya tidak ada yang sempurna, tanpa kemudahan dari-Nya tidak ada harapan yang tercapai, tanpa ketaatan kepada-Nya tidak ada kebahagiaan yang diraih, tidak ada kehidupan tanpa mengingat-Nya, mencintai-Nya, dan mengenal-Nya, dan surga tidak terasa nikmat tanpa mendengar firman-Nya dan melihat-Nya. Dialah yang rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan yang melimpahkan karunia dan kebaikan-Nya kepada setiap makhluk.
Dialah Tuhan yang benar, Rabb yang benar, Raja yang benar, Yang Maha Esa dengan kesempurnaan mutlak dari segala sisi, Yang Maha Suci dari segala kekurangan dan cacat dari segala sisi. Para pemuji tidak akan mampu menjangkau pujian yang layak bagi-Nya meskipun mereka menghabiskan seluruh waktu dengan segala jenis pujian, bahkan pujian-Nya lebih agung dari semua itu. Dia sebagaimana yang Dia puji untuk diri-Nya sendiri — inilah Sang Tetangga (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Adapun tempat tinggal (surga): tidak ada jiwa yang mengetahui keindahan dan kecemerlangannya, keluasan dan kenikmatannya, kebahagiaan serta kesejukan dan kenyamanannya. Di dalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbersit dalam hati manusia. Di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan menyenangkan mata. Surga itu menghimpun segala jenis kegembiraan dan kebahagiaan, bebas dari segala yang mengotori dan merusak — bunga yang bermekaran, istana yang megah, istri yang cantik jelita, dan buah-buahan yang matang.
Maka kepergian kita, wahai orang-orang yang jujur dan membenarkan, adalah menuju tempat tinggal ini dengan izin Tuhan kita, taufik-Nya, dan kebaikan-Nya.
Sedangkan kepergian orang-orang pendusta yang mendustakan adalah menuju tempat tinggal yang disediakan bagi orang yang kafir kepada Allah dan pertemuan dengan-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Allah tidak akan mengumpulkan dalam satu tempat tinggal antara orang-orang yang mengesakan-Nya, yang mencari ridha-Nya, yang berusaha dalam ketaatan kepada-Nya, yang tekun dalam ibadah kepada-Nya, yang berjihad di jalan-Nya, dengan orang-orang mulhid (atheis) yang berusaha dalam kemurahan-Nya, yang tekun dalam kemaksiatan kepada-Nya, yang mencurahkan seluruh usaha mereka untuk hawa nafsu dan syahwat mereka — kecuali secara sementara dan sekadar melewati, sebagaimana Allah mengumpulkan keduanya di dunia ini, dan akan mengumpulkan mereka di padang Mahsyar pada hari Kiamat. Maha Suci Allah dari prasangka buruk yang tidak layak dengan kesempurnaan dan hikmah-Nya.
Pasal
Pada tingkatan ini diketahui kehidupan para syuhada, bahwa mereka berada di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki, dan kehidupan mereka lebih sempurna dari kehidupan mereka di dunia ini — lebih utuh dan lebih baik — meskipun jasad mereka telah hancur, daging mereka tercerai-berai, anggota tubuh mereka terpisah-pisah, dan tulang mereka sudah lapuk. Karena yang diperhitungkan bukanlah reruntuhan, melainkan penghuninya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” (Surat Ali Imran: 169) Dan Dia berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati, bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Surat Al-Baqarah: 154) Jika para syuhada memperoleh kehidupan ini hanya dengan mengikuti para rasul dan melalui tangan mereka, maka bagaimana kiranya kehidupan para rasul di alam barzakh? Sungguh indah ucapan seorang penyair:
Kehidupan adalah tidur, dan kematian adalah terjaga Sedangkan manusia di antara keduanya bagaikan bayangan yang berjalan
Maka bagi para rasul, syuhada, dan shiddiqin dari kehidupan ini — yang merupakan terjaga dari tidur dunia — adalah yang paling sempurna dan paling utuh. Sesuai kadar kehidupan seorang hamba di dunia ini, begitulah kerinduannya terhadap kehidupan ini, usahanya, dan semangatnya untuk meraihnya. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
Pasal: Tingkatan Kesepuluh dari Tingkatan-Tingkatan Kehidupan
Yaitu kehidupan abadi yang kekal setelah dunia ini digulung dan dunia beserta penghuninya sirna, di negeri kehidupan yang sesungguhnya. Itulah kehidupan yang kepadanya orang-orang yang bersungguh-sungguh menyingsingkan lengan baju mereka, orang-orang berlomba-lomba bersegera kepadanya, dan orang-orang bersaing untuk mendapatkannya. Itulah yang menjadi tujuan pembicaraan kita, dan yang diserukan oleh seluruh kitab samawi dan semua rasul Allah — semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka — tentangnya. Itulah yang akan dikatakan oleh orang yang melewatkan kesempatan mempersiapkan diri untuknya: “Apabila bumi diratakan dengan sehancur-hancurnya. Dan Tuhanmu datang; dan malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu manusia baru ingat, tetapi apa gunanya mengingat baginya? Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’ Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksaan-Nya (Allah). Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya (Allah).” (Surat Al-Fajr: 21-26) Dan itulah yang Allah Azza wa Jalla firmankan tentangnya: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Surat Al-Ankabut: 64)
Kehidupan sebelumnya ibarat tidur dibandingkan dengan kehidupan ini. Semua yang telah disebutkan tentang perjalanan dan tahapan-tahapannya, keadaan para penempuh jalan, serta ibadah lahir dan batin mereka, semuanya adalah sarana menuju kehidupan ini. Kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah seperti salah seorang dari kalian memasukkan jarinya ke lautan, maka lihatlah apa yang dibawanya kembali?”
Dan sebagaimana dikatakan: Akhirat menghembuskan napasnya, maka dunia ini hanyalah satu hembusan dari hembusan-hembusannya. Orang-orang yang bahagia terkena hembusan kenikmatannya, maka mereka beramal di atas hembusan itu. Sedangkan orang-orang yang celaka terkena hembusan siksanya, maka mereka beramal di atas hembusan itu.
Jika kehidupan orang-orang beriman dan beramal saleh di dunia ini adalah kehidupan yang baik, maka bagaimana dengan kehidupan mereka di alam barzakh setelah mereka terbebas dari penjara dunia dan kesempitannya? Dan bagaimana pula dengan kehidupan mereka di negeri kenikmatan abadi yang tidak pernah sirna, sementara mereka melihat wajah Tuhan mereka Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi pada pagi dan sore, dan mendengar firman-Nya?
Jika engkau bertanya: Apa penyebab jiwa tertinggal dari mencari kehidupan ini yang tidak ada tandingannya? Apa yang membuatnya tidak tertarik padanya? Dan apa penyebab kecenderungannya kepada kehidupan fana yang akan lenyap, yang hanyalah bagaikan khayalan dan mimpi? Apakah karena kerusakan dalam persepsi dan perasaannya? Ataukah pendustaan terhadap kehidupan itu? Ataukah karena cacat pada akal dan kebutaan di sana? Ataukah karena lebih mengutamakan yang hadir yang terlihat dengan mata daripada yang gaib yang diketahui dengan iman?
Dijawab: Semua itu karena kumpulan berbagai hal yang tergabung dari semuanya.
Dan penyebab terkuat dalam hal itu adalah: lemahnya iman. Karena iman adalah ruh amal perbuatan, iman yang mendorong kepada amal, yang memerintahkan yang terbaik darinya, dan yang melarang dari yang terburuk. Sesuai dengan kuatnya iman, maka begitulah perintah dan larangannya kepada pemiliknya, dan kepatuhan serta penghentian pemiliknya. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Alangkah buruknya apa yang diperintahkan oleh imanmu kepadamu jika kamu benar-benar beriman.'” (Surat Al-Baqarah: 93) Secara keseluruhan, jika iman menguat, maka kerinduan kepada kehidupan ini menguat, dan semakin giat pemiliknya mencarinya.
Penyebab kedua: Kelalaian yang menyelimuti hati. Karena kelalaian adalah tidurnya hati. Oleh karena itu, engkau mendapati banyak orang yang terjaga secara fisik namun tidur dalam kenyataan. Engkau mengira mereka terjaga padahal mereka tidur — kebalikan dari keadaan orang yang hatinya terjaga meskipun ia tidur. Karena hati yang kuatlah kehidupannya, ia tidak tidur ketika tubuh tidur. Kesempurnaan kehidupan ini ada pada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bagi siapa yang Allah hidupkan hatinya dengan mencintai-Nya dan mengikuti risalah-Nya dengan penuh kesadaran, sesuai kadar bagiannya dari keduanya.
Kelalaian dan kesadaran ada pada indera, akal, dan hati. Maka hati yang terjaga dan yang lalai seperti tubuh yang terjaga dan yang tidur. Dan sebagaimana kesadaran indera terbagi menjadi dua jenis, demikian pula kesadaran hati terbagi menjadi dua jenis.
Jenis pertama dari kesadaran indera: Pemiliknya menguasai urusan-urusan inderawi, mendalaminya dengan usaha dan kecerdasannya, tipu dayanya, dan keahliannya.
Jenis kedua: Ia menghadap kepada jiwa, hati, dan esensi dirinya, memperhatikan penyempurnaan dirinya, memahami urusan-urusan yang tinggi dan yang rendah, lalu mengutamakan yang lebih tinggi daripada yang lebih rendah, mendahulukan kebaikan yang lebih besar dengan melepaskan yang lebih rendah, dan menanggung keburukan yang lebih ringan karena khawatir terjadi keburukan yang lebih berat. Ia menghiasi diri dengan akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji, sehingga lahirnya indah dan batinnya lebih indah dari lahirnya, rahasianya lebih baik dari apa yang tampak. Ia bersaing dengan orang-orang yang mengejar hal-hal tinggi sebagaimana orang-orang mengejar dinar dan dirham. Dengan kesadaran inilah ia mempersiapkan diri untuk dua jenis kesadaran lainnya.
Salah satunya: Kesadaran yang mendorongnya untuk mengambil kehidupan abadi yang kekal — yang tidak ada tandingannya — dari kehidupan fana yang akan sirna — yang tidak ada nilainya.
Jika engkau bertanya: Berikan aku contoh bagaimana kehidupan abadi diperoleh dari kehidupan fana? Bagaimana hal ini terjadi? Aku tidak memahaminya.
Aku jawab: Ini juga termasuk tidurnya hati, bahkan kematiannya. Bukankah kehidupan abadi hanya diperoleh dari kehidupan fana ini? Engkau dapat menyalakan pelitamu dari pelita lain yang hampir padam, lalu pelita kedua menyala dan terang benderang, cahayanya berlanjut, sementara pelita pertama padam. Orang yang mengambil kehidupan abadinya dari kehidupan fananya hanyalah berpindah dari negeri yang akan terputus ke negeri yang kekal. Kematian berada di antara dua negeri itu, ia adalah jembatan yang tidak dapat dilalui menuju negeri itu kecuali melaluinya, dan pintu yang tidak dapat dimasuki kecuali darinya. Keduanya adalah dua kehidupan di dua negeri, di antaranya ada kematian. Sebagaimana cahaya negeri itu diperoleh dari cahaya negeri ini, demikian pula kehidupannya diperoleh dari kehidupannya. Sesuai kadar cahaya iman di negeri ini, begitulah cahaya hamba di negeri itu. Dan sesuai kadar kehidupannya di negeri ini, begitulah kehidupannya di sana.
Ya, cahaya dan kehidupan ini — yang darinya cahaya dan kehidupan itu diperoleh — tidak terputus, bahkan ia menerangi hamba di alam barzakh, di padang Mahsyar, dan di atas Shirath. Ia tidak meninggalkannya hingga ke negeri kehidupan. Cahaya matahari padam, tetapi cahaya ini tidak padam. Kehidupan inderawi berakhir, tetapi kehidupan ini tidak berakhir. Inilah salah satu dari dua jenis kesadaran hati.
Jenis Kedua: Kewaspadaan yang Membangkitkan Kehidupan
Jenis kedua adalah kewaspadaan yang membangkitkan kehidupan, yang tidak dapat dijangkau oleh ungkapan, tidak dapat dicapai oleh khayalan, dan kata-kata sama sekali tidak mampu menggambarkan maknanya. Yang bisa diisyaratkan tentangnya adalah kehidupan seorang pecinta bersama kekasihnya, yang tanpanya hati, ruh, dan kehidupannya tidak akan tegak. Ia tidak bisa lepas darinya sekejap mata pun. Matanya tidak akan sejuk, hatinya tidak akan tenteram, dan ruhnya tidak akan tenang kecuali bersamanya. Ia lebih membutuhkannya daripada pendengaran, penglihatan, dan kekuatannya sendiri, bahkan lebih dari kehidupannya sendiri. Sebab kehidupannya tanpa sang kekasih adalah siksaan, kepedihan, kegelisahan, dan kesedihan. Kehidupannya bergantung pada kedekatan, cinta, dan kebersamaan dengannya. Siksaan terhalang darinya lebih besar dari siksaan lainnya, sebagaimana kenikmatan hati dan ruh dengan terangkatnya hijab itu lebih besar dari kenikmatan makan, minum, dan bersenang-senang dengan bidadari. Demikianlah, siksaan hijab lebih besar dari siksaan neraka.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan dua kenikmatan bagi para wali-Nya dalam firman-Nya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Yunus: 26). Pahala terbaik adalah surga, dan tambahannya adalah melihat wajah-Nya yang mulia di surga ‘Adn. Allah juga menggabungkan dua siksaan bagi musuh-musuh-Nya dalam firman-Nya: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (Al-Muthaffifin: 15-16).
Kelalaian adalah Tidurnya Hati
Yang dimaksud adalah: kelalaian merupakan tidurnya hati dari mencari kehidupan ini, dan kelalaian adalah hijab atasnya. Jika hijab ini tidak disingkap dengan dzikir, maka ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab kemalasan dan permainan serta kesibukan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jika tidak segera disingkap, ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab kemaksiatan dan dosa-dosa kecil yang menjauhkan dari Allah. Jika tidak segera disingkap, ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab dosa-dosa besar yang mendatangkan murka, kemarahan, dan laknat Tuhan Yang Maha Tinggi. Jika tidak segera disingkap, ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab bid’ah amaliah yang menyiksa pelakunya namun tidak memberikan manfaat apa pun. Jika tidak segera disingkap, ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab bid’ah perkataan dan keyakinan yang mengandung kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta pendustaan terhadap kebenaran yang dibawa Rasul. Jika tidak segera disingkap, ia akan semakin tebal hingga menjadi hijab keraguan dan pendustaan yang merusak lima dasar keimanan, yaitu: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Karena tebal, rapat, gelap, dan hitamnya hijab itu, ia tidak dapat melihat hakikat-hakikat keimanan. Setan pun menguasainya dengan janji-janji dan angan-angan palsu. Nafsu yang senantiasa menyuruh kepada keburukan terus menginginkan dan menghasut. Kekuasaan tabiat telah mengalahkan kekuasaan iman, menawannya dan memenjarakannya jika tidak membinasakan-nya. Tabiat mengambil alih pengaturan kerajaan dan mengerahkan pasukan syahwat, memberikan kekuasaan kepada kebiasaan-kebiasaan yang telah berjalan. Ia menutup pintu kewaspadaan dan menempatkan penjaga kelalaian di sana seraya berkata: “Jangan sampai kita diserang dari arahmu!” Ia menjadikan hawa nafsu sebagai pengawal dan berkata: “Jangan biarkan siapa pun masuk kepadaku kecuali bersamamu. Urusan kerajaan ini telah berada di tanganmu dan penjaga itu. Wahai penjaga kelalaian! Wahai pengawal hawa nafsu! Hendaklah masing-masing kalian menjaga posnya. Jika kalian meninggalkannya, urusan kerajaan kita akan rusak, kekuasaan akan berpindah ke tangan yang lain, dan kekuasaan iman akan memberikan kehinaan dan kerendahan kepada kita, dan kita tidak akan pernah bergembira dengan negeri ini selamanya.”
Tiada Tuhan selain Allah! Jika pasukan-pasukan ini berkumpul mengeroyok hati, sementara iman lemah, pertolongan sedikit, berpaling dari mengingat Yang Maha Pengasih, masuk dalam barisan anak-anak zaman, dan panjang angan-angan yang merusak manusia karena lebih mengutamakan yang segera dan hadir daripada yang dijanjikan setelah gulungan alam semesta ini, maka hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakal.
Ini adalah pasal ringkas yang bermanfaat tentang kehidupan dan jenis-jenisnya, serta dorongan menuju kehidupan yang paling mulia dan paling baik. Barangsiapa menemukan hatinya hidup, ia akan mendapat manfaat darinya. Jika tidak, maka ia seperti pengantin yang diarak kepada orang buta yang lumpuh.
Kembali kepada Penjelasan Perkataan Penulis Al-Manazil
Beliau berkata: “Kehidupan ini memiliki tiga nafas: nafas ketakutan, nafas pengharapan, dan nafas kecintaan.”
Karena setiap makhluk hidup memiliki pernapasan—sebab nafas adalah keharusan dan tanda kehidupan—maka nafas kehidupan yang diisyaratkan ada tiga:
Pertama, nafas ketakutan. Sumbernya adalah merenungi ancaman dan apa yang Allah sediakan bagi orang yang mengutamakan dunia atas akhirat, makhluk atas Pencipta, hawa nafsu atas petunjuk, dan kesesatan atas kebenaran.
Kedua, nafas pengharapan. Sumbernya adalah merenungi janji, berbaik sangka kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, dan apa yang Allah sediakan bagi orang yang mengutamakan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, mengutamakan petunjuk atas hawa nafsu, wahyu atas pendapat, sunnah atas bid’ah, dan jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya atas kebiasaan manusia.
Ketiga, nafas kecintaan. Sumbernya adalah merenungi nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta menyaksikan nikmat-nikmat dan karunia-Nya.
Jika ia mengingat dosa-dosanya, ia bernafas dengan ketakutan. Jika ia mengingat rahmat Tuhannya, keluasan ampunan dan maaf-Nya, ia bernafas dengan pengharapan. Jika ia mengingat keindahan, keagungan, kesempurnaan, kebaikan, dan nikmat-Nya, ia bernafas dengan kecintaan.
Hendaklah seorang hamba menimbang imannya dengan ketiga nafas ini agar ia mengetahui seberapa besar iman yang dimilikinya. Sebab hati diciptakan dalam fitrah mencintai keindahan dan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Indah, bahkan bagi-Nya keindahan yang sempurna dan paripurna dari segala sisi: keindahan Dzat, keindahan sifat, keindahan perbuatan, dan keindahan nama-nama. Seandainya seluruh keindahan makhluk dikumpulkan pada satu orang, lalu semuanya sama indahnya dengan orang itu, kemudian keindahan ini dibandingkan dengan keindahan Tuhan Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi, niscaya perbandingannya lebih kecil dari perbandingan lampu yang lemah dengan matahari.
Nafas yang timbul dari perenungan dan pengamatan ini adalah nafas hamba yang paling mulia secara mutlak. Di manakah nafas orang yang rindu, pecinta yang jujur, dibandingkan dengan nafas orang yang takut dan berharap? Namun nafas ini tidak akan diperoleh kecuali dengan menghasilkan kedua nafas sebelumnya. Sebab yang pertama adalah buah dari meninggalkan kemaksiatan, dan yang kedua adalah buah dari melakukan ketaatan. Dari kedua nafas inilah seseorang sampai kepada nafas yang ketiga.
Pasal: Kehidupan Kedua – Kehidupan Penyatuan dari Kematian Keterceraian
Beliau berkata: “Kehidupan kedua adalah kehidupan penyatuan dari kematian keterceraian. Ia memiliki tiga nafas: nafas keterpaksaan, nafas kefakiran, dan nafas kebanggaan.”
Yang dimaksud beliau dengan penyatuan pada tingkatan ini—insya Allah—adalah penyatuan hati kepada Allah dan penyatuan pikiran serta tekad dalam menghadap kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, bukan penyatuan yang merupakan hadirat wujud. Sebab beliau telah menyebutkan kehidupan penyatuan itu pada tingkatan ketiga dan menamakannya “kehidupan wujud.”
Penyatuan hati kepada Allah dan penyatuan pikiran untuk berjalan menuju-Nya adalah kehidupan sejati, karena hati tidak akan bahagia, tidak akan beruntung, tidak akan nikmat, tidak akan menang, tidak akan merasakan kelezatan, dan tidak akan tenteram kecuali jika Allah semata menjadi tujuan pencariannya dan akhir maksudnya, dan wajah-Nya yang Maha Tinggi menjadi seluruh cita-citanya. Keterceraian yang mengandung berpaling dari menghadap kepada-Nya dan penyatuan hati kepada-Nya adalah penyakit bagi hati, jika tidak membunuhnya.
Beliau berkata: “Kehidupan ini memiliki tiga nafas.”
Pertama, nafas keterpaksaan. Yaitu karena terputusnya harapannya dari selain Allah. Maka ia terpaksa dengan hati, ruh, jiwa, dan badannya kepada Tuhannya dengan keterpaksaan yang sempurna, sehingga ia merasakan pada setiap helai rambutnya kefakiran yang sempurna kepada Tuhan dan sesembahannya. Nafas ini adalah nafas orang yang terpaksa membutuhkan sesuatu yang tidak bisa lepas darinya sekejap mata pun. Kebutuhannya kepada-Nya dari sisi bahwa Dia adalah Tuhannya, Penciptanya, Pencipta asalnya, Penolongnya, Penjaganya, Penopangnya, Pemberi rezekinya, Pemberi petunjuknya, Pemberi kesehatannya, dan Yang mengurus seluruh kemaslahatannya. Dan dari sisi bahwa Dia adalah sesembahannya, Tuhannya, dan kekasihnya yang kehidupannya tidak akan sempurna dan tidak akan bermanfaat kecuali jika Dia semata menjadi yang paling dicintainya dan yang paling dirindukan. Keterpaksaan ini adalah keterpaksaan “hanya kepada-Mu kami menyembah,” sedangkan keterpaksaan pertama adalah keterpaksaan “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Demi Allah, sesungguhnya nafas kefakiran adalah nafas ini juga, atau sejenis dengannya. Namun sang Syaikh menjadikan keduanya sebagai dua nafas yang berbeda. Beliau menjadikan nafas keterpaksaan sebagai permulaan, nafas kefakiran sebagai pertengahan, dan nafas kebanggaan sebagai akhir. Seolah-olah nafas keterpaksaan memutuskan makhluk dari hatinya, dan nafas kefakiran menggantungkan hatinya kepada Tuhannya.
Hakikatnya adalah satu nafas yang panjang: awalnya adalah terputus dari selain Allah, dan akhirnya adalah tersambung dengan Allah.
Adapun nafas kebanggaan adalah hasil dari kedua nafas tersebut. Sebab jika keduanya benar bagi seorang hamba, ia akan memperoleh kedekatan dengan Tuhannya, keakraban dengan-Nya, dan kegembiraan dengan-Nya. Ia bergembira dengan karunia-karunia yang Tuhannya berikan kepada hati dan ruhnya, yang sebagiannya tidak sebanding dengan seluruh kerajaan dunia seisinya. Maka ia bernafas dengan nafas lain, yang dengannya ia merasakan kelapangan, kesegaran, ketenangan, dan keluasan dada yang dari beberapa sisi menyerupai nafas orang yang lehernya diikat tali untuk dicekik sampai mati, lalu tali itu dilepaskan sedangkan nafasnya tertahan, maka ia bernafas dengan nafas orang yang dikembalikan hidupnya dan terlepas dari sebab-sebab kematian.
Jika engkau bertanya: “Apa urusan seorang hamba dengan kebanggaan? Di mana letak penghambaan dari nafas kebanggaan?”
Aku jawab: Yang dimaksud bukan hamba itu membanggakan diri dan menyombongkan diri di hadapan sesamanya. Melainkan itu adalah kegembiraan dan kesenangan yang tidak bisa ditolaknya dari dirinya atas apa yang Tuhannya bukakan dan karuniakan serta khususkan baginya. Yang paling layak menyenangkan hamba adalah karunia Tuhannya kepadanya, karena Allah Ta’ala suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya dan suka hamba bergembira dengan nikmat itu, karena itu termasuk syukur. Orang yang tidak bergembira dengan nikmat dari Yang Memberi Nikmat tidak dianggap bersyukur. Ini adalah kebanggaan dengan sesuatu yang murni anugerah dan nikmat Allah kepada hamba-Nya, bukan kebanggaan dengan sesuatu dari hamba itu sendiri. Yang terakhir itulah yang bertentangan dengan penghambaan, bukan yang pertama.
Di sini ada rahasia yang halus, yaitu bahwa nafas ini berbangga atas nafas-nafas lain yang tidak sepertinya, sebagaimana kehidupan berbangga atas kematian, ilmu berbangga atas kebodohan, pendengaran berbangga atas ketulian, dan penglihatan berbangga atas kebutaan. Jadi kebanggaan itu adalah nafas atas nafas, bukan orang yang bernafas atas manusia. Wallahu a’lam.
Pasal: Kehidupan Ketiga – Kehidupan Wujud
Beliau berkata: “Kehidupan ketiga adalah kehidupan wujud. Ia adalah kehidupan dengan al-Haqq (Yang Maha Benar). Ia memiliki tiga nafas: nafas kehebatan—ia mematikan ketidakseimbangan; nafas wujud—ia menghalangi keterpisahan; dan nafas kesendirian—ia mewariskan keterhubungan. Tidak ada lagi pandangan bagi para pengamat di balik itu, dan tidak ada lagi kemampuan bagi isyarat.”
Tingkatan kehidupan ini adalah kehidupan orang yang menemukan Tuhannya. Ia lebih sempurna dari dua jenis sebelumnya. Penemuan hamba akan Tuhannya adalah yang diisyaratkan dalam hadits Ilahi: “Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memegang, dan dengan-Ku ia berjalan.” Dan diisyaratkan dalam sabda: “Wahai anak Adam, carilah Aku, engkau akan menemukan-Ku. Jika engkau menemukan-Ku, engkau menemukan segala sesuatu. Dan jika engkau kehilangan-Ku, engkau kehilangan segala sesuatu.”
Pembahasan lebih lanjut tentang ini akan datang pada bab tentang wujud, insya Allah Ta’ala.
Kehidupan wujud adalah kehidupan yang paling sempurna karena kemuliaan dan kesempurnaannya dengan Yang memberinya wujud, yaitu al-Haqq Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa dikaruniai penemuan-Nya, ia telah memperoleh jenis kehidupan yang paling tinggi.
Jika engkau berkata: “Sulit bagiku memahami makna kehidupan dengan menemukan-Nya.”
Aku katakan: Itu karena hijab yang terbentang antara dirimu dan kehidupan ini. Pahamilah kehidupan dengan menemukan kefanaan, dan dengan menemukan Pemilik yang Maha Kuasa ketika Dia bersamamu dan menolongmu—bukan sekadar keberadaan-Nya tanpa ada hubungan sama sekali antara kamu dan Dia. Hakikat kehidupan adalah kehidupan dengan Tuhan Yang Maha Tinggi, bukan kehidupan dengan diri sendiri, kefanaan, dan sebab-sebab penghidupan.
Kehidupan wujud juga bisa diartikan dengan menyaksikan sifat al-Qayyumiyyah (Yang Maha Mengurus), di mana ia tidak melihat sesuatu pun dari segala sesuatu kecuali ia melihat bahwa sesuatu itu ada karena Allah dan Allah-lah yang menegakkannya. Keadaan penyaksian ini adalah bahwa ia tidak memalingkan hatinya kepada sesuatu selain Allah, tidak takut dan tidak berharap kepadanya, tetapi ia memfokuskan rasa takut, harapan, tawakal, dan kembalinya hanya kepada Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus, Yang mengurus wujud, menegakkannya, menjadi tumpuannya, dan memeliharanya sendirian. Jika penyaksian dan keadaan ini tercapai baginya, maka ia telah memperoleh kehidupan wujud.
Kadang ia bernafas dengan kehebatan, yaitu kedahsyatan cahaya sifat-sifat. Itu terjadi ketika pertama kali cahaya wujud bersinar, maka hati jatuh dalam kehebatan yang menyerap kesadarannya dari berpaling kepada sesuatu dari alam-alam jiwa. Itulah ketidakseimbangan yang dimatikan oleh nafas kedua, yaitu perkataannya: “nafas yang mematikan ketidakseimbangan.” Maka matilah darinya penyakit-penyakit amalannya, bekas-bekas kepentingan pribadinya, dan penyaksian terhadap keakuannya.
Perkataannya: “nafas wujud”—yang dimaksud adalah wujud hamba dengan Tuhannya. Ia bernafas dengan wujud ini sebagaimana ia mendengar dengan-Nya, melihat dengan-Nya, memegang dengan-Nya, dan berjalan dengan-Nya.
Jangan dengarkan selain ini, agar kakimu tidak tergelincir setelah kokoh.
Perkataannya: “ia menghalangi keterpisahan”—keterpisahan menurut kaum ini adalah terputusnya hati dari Tuhan dan ia tinggal dengan dirinya dan tabiatnya. Adapun keterhubungan adalah kelangsungannya dengan Tuhannya dan kefanaannya dari hukum-hukum dirinya, tabiatnya, dan hawa nafsunya. Keterhubungan juga bisa diartikan dengan fana dalam menyaksikan al-Qayyumiyyah, dan keterpisahan adalah kelengahan dari penyaksian ini.
Adapun orang mulhid (atheis), ia menafsirkan keterhubungan dan keterpisahan dengan keterhubungan dzat dan keterpisahan dzat. Ini juga mustahil, karena menurutnya ia selalu terhubung dengan-Nya, bahkan selalu merupakan Dia sendiri. Yang pertama berkaitan dengan kehendak dan tekad, dan itulah yang paling tinggi. Yang kedua berkaitan dengan penyaksian dan kesadaran, dan itu di bawahnya—meskipun menurut Syaikh ini lebih tinggi karena hanya ada di lembah kefanaan. Yang ketiga adalah milik para mulhid yang menganut paham kesatuan wujud.
Perkataannya: “nafas kesendirian, ia mewariskan keterhubungan”—nafas kesendirian adalah yang disertai penyaksian keesaan, yaitu kesendirian Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyah, pengaturan, dan qayyumiyyah. Ia tidak menetapkan bagian apa pun bagi selain-Nya dalam rububiyyah, tidak menjadikan porsi apa pun bagi selain-Nya dalam uluhiyyah maupun qayyumiyyah. Ia mengesakan-Nya dalam penyaksiannya sebagaimana ia mengesakan-Nya dalam ilmunya, kemudian mengesakan-Nya dalam keadaan yang dihasilkan penyaksian itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi Esa dalam ilmu dan makrifat hamba, Esa dalam penyaksiannya, dan Esa dalam keadaannya saat menyaksikan.
Nafas ini mewariskannya keterhubungan dengan Tuhannya, sehingga tidak tersisa baginya keinginan selain-Nya, dan tidak ada kehendak selain kehendak-Nya yang bersifat syar’i yang dicintai dan diridhai-Nya. Cinta-Nya memenuhi hatinya, dan ridha-Nya memenuhi usahanya. Tidak ada lagi di balik itu tingkatan yang bisa dipandang oleh para pengamat, baik dengan hati maupun dengan ruh.
Kesempurnaan hubungan ini dan kesibukan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghabiskan seluruh tingkatan dan mencakup seluruh isyarat. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
Pasal tentang Qabdh (Ketergenggaman)
Penulis kitab Manazil berkata:
Bab Qabdh (Ketergenggaman)
Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami genggam ia kepada Kami dengan genggaman yang mudah.” (Al-Furqan: 46)
Aku berkata: Beliau telah jauh dalam mengaitkan isyarat ayat ini dengan makna qabdh yang dimaksudkannya. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. Yang sama hanyalah lafaznya saja. Sebab qabdh dalam ayat ini adalah qabdh (penggenggaman) bayangan, yaitu menyusutnya bayangan setelah memanjang.
Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayangan? Dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atasnya. Kemudian Kami genggam ia kepada Kami dengan genggaman yang mudah.” (Al-Furqan: 45-46)
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia yang membentangkan dan memanjangkan bayangan, dan Dia menjadikannya bergerak mengikuti pergerakan matahari. Sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya diam tidak bergerak—baik karena diamnya benda yang menampakkannya dan menjadi petunjuknya, maupun karena sebab lain. Kemudian Dia mengabarkan bahwa Dia menggenggamnya setelah membentangkannya dengan genggaman yang mudah, yaitu sedikit demi sedikit, tidak digenggam sekaligus.
Ini termasuk tanda-tanda terbesar yang menunjukkan keagungan kekuasaan-Nya dan kesempurnaan hikmah-Nya. Maka Tuhan Subhanahu mengajak hamba-hamba-Nya untuk melihat ciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan hikmah-Nya pada satu makhluk ini. Sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan bayangan itu melekat pada asalnya—baik gunung, bangunan, pohon, maupun lainnya—sehingga tidak ada seorang pun yang bisa memanfaatkannya.
Jika pemanfaatannya bergantung pada pemanjangan dan pembentangannya serta perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain, maka dalam pemanjangan dan pembentangannya, kemudian penggenggamannya sedikit demi sedikit, terdapat kemaslahatan dan manfaat yang tidak tersembunyi dan tidak terhitung. Sekiranya bayangan itu selalu diam atau digenggam sekaligus, niscaya berbagai fasilitas dan kemaslahatan dunia akan terhenti karenanya dan karena matahari.
Pemanjangan bayangan dan penggenggamannya sedikit demi sedikit adalah konsekuensi dari pergerakan matahari sebagaimana yang telah ditakdirkan untuk kemaslahatan dunia. Dalam petunjuk matahari terhadap bayangan terdapat pengetahuan tentang waktu-waktu shalat, waktu yang telah berlalu dari siang hari, dan waktu yang tersisa. Dalam pergerakan dan perpindahannya terdapat pendinginan bagi apa yang terkena panas matahari, dan memberikan manfaat bagi hewan, pohon, dan tumbuhan. Maka bayangan termasuk tanda-tanda Allah yang menunjukkan kepada-Nya.
Dalam ayat ini terdapat penafsiran lain, yaitu: Allah Subhanahu memanjangkan bayangan ketika Dia membangun langit seperti kubah yang didirikan dan menghamparkan bumi di bawahnya, maka kubah itu menjatuhkan bayangannya ke atasnya. Sekiranya Allah Subhanahu menghendaki, niscaya Dia menjadikannya diam dan menetap dalam keadaan itu. Kemudian Dia menciptakan matahari dan menjadikannya sebagai petunjuk atas bayangan tersebut, sehingga bayangan itu mengikuti pergerakannya—bertambah dan berkurang, memanjang dan menyusut—mengikutinya sebagaimana sesuatu yang ditunjukkan mengikuti petunjuknya.
Terdapat penafsiran lain pula, yaitu: yang dimaksud adalah penggenggaman bayangan ketika hari kiamat dengan menggenggam sebab-sebabnya, yaitu benda-benda yang menghasilkan bayangan. Maka disebutkan peniadaannya dengan meniadakan sebab-sebabnya, sebagaimana disebutkan penciptaannya dengan menciptakan sebab-sebabnya.
Firman-Nya: “Kami genggam ia kepada Kami” (Al-Furqan: 46) seakan-akan mengisyaratkan hal tersebut. Dan firman-Nya: “dengan genggaman yang mudah” (Al-Furqan: 46) menyerupai firman-Nya: “Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.” (Qaf: 44) Dan firman-Nya “Kami genggam” dengan bentuk kata kerja lampau tidak bertentangan dengan hal tersebut, seperti firman-Nya: “Telah datang perintah Allah.” (An-Nahl: 1) Namun penafsiran yang benar dalam ayat ini adalah yang pertama.
Kedua penafsiran ini: jika yang menyebutkannya bermaksud bahwa ayat menunjukkannya secara isyarat dan petunjuk tidak langsung, maka itu bisa diterima. Namun jika bermaksud bahwa itulah makna yang dimaksud dari lafaznya, maka itu jauh dari kebenaran. Karena Allah Subhanahu menjadikan hal tersebut sebagai tanda dan petunjuk kepada-Nya bagi orang yang merenungkannya, sebagaimana tanda-tanda-Nya yang lain yang Dia ajak hamba-hamba-Nya untuk merenungkannya. Maka harus berupa sesuatu yang dapat disaksikan yang dengannya tegak petunjuk dan tercapai pemahaman.
Lebih jauh lagi adalah pengaitan penulis Manazil dalam bab Qabdh dengan genggaman bayangan sebagaimana yang dia isyaratkan dalam mukadimah kitabnya, di mana dia berkata: “Yang memanjangkan bayangan penciptaan atas makhluk dengan pemanjangan yang panjang, kemudian menjadikan matahari kemantapan bagi orang-orang pilihan-Nya sebagai petunjuk atasnya, kemudian menggenggam bayangan keterpisahan dari mereka kepada-Nya dengan genggaman yang mudah.”
Beliau meminjam kata bayangan untuk penciptaan sebagai pemberitahuan bahwa makhluk-makhluk itu ibarat bayangan yang tidak mandiri dengan dirinya sendiri, karena bayangan tidak bergerak kecuali dengan pergerakan pemiliknya. Ucapannya “pemanjangan yang panjang” adalah isyarat bahwa Allah Subhanahu senantiasa menciptakan sesuatu demi sesuatu, penciptaan yang tidak terbatas, karena luasnya kekuasaan-Nya dan keharusan keabadian-Nya.
Kemudian hakikat bayangan adalah ketiadaan matahari di suatu tempat karena ada penghalang yang menghalanginya. Hakikat tersebut hanya ditentukan oleh matahari. Demikian pula makhluk, hakikatnya hanya ditentukan oleh Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala. “Matahari kemantapan” adalah tauhid yang menyatukan hati orang-orang pilihan-Nya dari tercerai-berai di lembah-lembah bayangan penciptaan. “Kemudian menggenggam bayangan keterpisahan dari mereka kepada-Nya dengan genggaman yang mudah,” yaitu mengambil bayangan keterpisahan dari mereka dengan pengambilan yang mudah.
Maka Syaikh mengaitkan pengutipannya dengan ayat dalam bab yang disebutkan berdasarkan apa yang telah dia kemukakan dalam mukadimah. Sisi isyarat ayat ini diketahui dari firman-Nya: “Kemudian Kami genggam ia kepada Kami” (Al-Furqan: 46). Dan qabdh dalam bab ini tidak dimaksudkan sebagai qabdh penisbatan.
Oleh karena itu Syaikh berkata:
“Qabdh dalam bab ini adalah nama yang diisyaratkan untuk tingkatan orang-orang yang disimpan dengan baik, yang Allah simpan sebagai pilihan untuk diri-Nya.”
Qabdh ada dua macam: qabdh dalam hal-hal (ahwal) dan qabdh dalam hakikat-hakikat. Qabdh dalam hal-hal adalah sesuatu yang menimpa hati yang mencegahnya dari kelapangan dan kegembiraan. Ini juga ada dua macam:
Pertama: Yang diketahui sebabnya, seperti mengingat dosa, atau kelalaian, atau kejauhan, atau kekerasan hati, atau terjadinya hal-hal semacam itu.
Kedua: Yang tidak diketahui sebabnya, bahkan menyerang hati dengan serangan yang tidak mampu dilepaskan darinya. Inilah qabdh yang diisyaratkan dalam ungkapan para sufi, dan lawannya adalah basth (kelapangan). Qabdh dan basth menurut mereka adalah dua keadaan hati yang hampir tidak pernah lepas darinya.
Abu al-Qasim al-Junaid berkata tentang makna qabdh dan basth: maknanya adalah khauf (takut) dan raja’ (harapan). Raja’ melapangkan kepada ketaatan, dan khauf menggenggam dari kemaksiatan.
Mereka semua berbicara tentang qabdh dan basth dengan pendekatan ini hingga mereka membaginya menjadi beberapa bagian: qabdh pendidikan, qabdh pembersihan, qabdh pengumpulan, dan qabdh pemisahan. Oleh karena itu, orang yang mengalaminya ketika sudah menguasainya akan menahan diri dari makan, minum, berbicara, melakukan wirid, dan bersikap terbuka kepada keluarga dan selainnya.
Qabdh pendidikan: Terjadi sebagai hukuman atas kelalaian, atau bisikan buruk, atau pikiran jelek.
Qabdh pembersihan: Terjadi sebagai persiapan untuk kelapangan besar yang akan datang setelahnya. Maka qabdh sebelumnya adalah seperti peringatan dan pendahuluan baginya, sebagaimana “tekanan dan cekikan” adalah pendahuluan sebelum wahyu dan persiapan untuk kedatangannya. Demikian pula kesulitan adalah pendahuluan sebelum kemudahan, cobaan adalah pendahuluan sebelum kesehatan, dan ketakutan yang sangat adalah pendahuluan sebelum keamanan. Sunnatullah telah berlaku bahwa hal-hal yang bermanfaat dan dicintai ini hanya bisa dimasuki melalui pintu-pintu lawannya.
Adapun qabdh pengumpulan: Adalah apa yang terjadi pada hati ketika ia berkumpul kepada Allah berupa ketergenggamannya dari alam dan isinya. Maka tidak tersisa padanya kelebihan atau keluasan untuk selain Yang kepadanya hatinya berkumpul. Dalam keadaan ini, siapa yang menginginkan dari pemiliknya apa yang biasa dia kenali berupa keakraban dan perbincangan, maka dia telah menzaliminya.
Adapun qabdh pemisahan: Adalah qabdh yang terjadi dari terpisahnya hatinya dari Allah dan tercerai-berainya dari-Nya di lembah-lembah dan jurang-jurang. Maka hukuman paling ringannya adalah apa yang dia rasakan berupa qabdh yang bersamanya dia berharap kematian.
Adapun qabdh yang diisyaratkan oleh penulis Manazil adalah sesuatu di luar semua ini, karena beliau menjadikannya dari kategori hakikat-hakikat, sedangkan qabdh yang telah disebutkan sebelumnya adalah dari kategori permulaan-permulaan.
Oleh karena itu beliau berkata: “Qabdh dalam bab ini adalah nama yang diisyaratkan untuk tingkatan orang-orang yang disimpan dengan baik.”
Dari sinilah tepat pengutipannya dengan isyarat ayat, karena Allah Ta’ala mengabarkan tentang genggaman bayangan kepada-Nya, dan qabdh dalam bab ini mengandung makna genggaman hati dari selain-Nya kepada-Nya, dan pengumpulannya setelah tercerai-berai kepada-Nya.
Adh-Dhana’in adalah jamak dari dhanînah, yaitu sesuatu yang khusus yang pemiliknya sangat menjaganya, yaitu sangat pelit untuk memberikannya dan memilihnya untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu beliau berkata: “Yang Allah simpan sebagai pilihan untuk diri-Nya.”
Al-Iddikhar adalah bentuk ifti’al dari adz-dzukhr, yaitu apa yang disiapkan seseorang untuk kebutuhan dan kemaslahatannya. Al-Ishthina’ bermakna al-ishthifa’ (pemilihan). Allah Ta’ala berfirman kepada Musa: “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (Thaha: 41)
Al-Ishthina’ pada asalnya bermakna mengambil kebaikan, yaitu kebaikan yang engkau berikan kepada orang lain. Seorang penyair berkata:
Jika engkau berbuat baik, maka tujukanlah dengannya Wajah Yang memberikan kebaikan atau tinggalkanlah
Ibnu Abbas berkata: Aku memilihmu untuk wahyu-Ku dan risalah-Ku.
Al-Kalbi berkata: Aku memilihmu dengan risalah untuk diri-Ku, agar engkau mencintai-Ku dan menegakkan urusan-Ku.
Ada yang mengatakan: Aku memilihmu dengan berbuat baik kepadamu untuk menegakkan hujjah-Ku, maka berbicaralah kepada hamba-hamba-Ku atas nama-Ku.
Abu Ishaq berkata: Aku memilihmu dengan berbuat baik kepadamu untuk menegakkan hujjah-Ku, dan Aku jadikan engkau perantara antara-Ku dan makhluk-Ku sehingga engkau dalam hal penyampaian dan tabligh dari-Ku berada di kedudukan yang Aku sendiri akan berada jika Aku berbicara langsung kepada mereka.
Ada yang mengatakan: Keadaannya diumpamakan dengan keadaan seseorang yang dilihat oleh seorang raja karena berbagai sifat dan kekhususan yang ada padanya sebagai orang yang layak untuk kemuliaannya dan pendekatannya, maka tidak ada seorang pun yang lebih dekat kedudukannya kepadanya dan lebih halus posisinya. Maka dia dipilihnya dengan kemuliaan dan pengutamaan, dan dia dijadikan khusus untuk dirinya, sehingga dia mendengar dengannya, melihat dengannya, dan mengetahui rahasianya.
Yang dimaksud adalah: Bahwa Tuhan Subhanahu menghalangi antara orang-orang yang disimpan dengan baik ini dengan keterikatan pada makhluk, dan memalingkan hati mereka, cita-cita mereka, dan tekad mereka kepada-Nya.
Beliau berkata: “Mereka terbagi menjadi tiga kelompok:
Kelompok pertama: Yang Allah genggam kepada-Nya dengan genggaman perlindungan, maka Dia sangat menjaga mereka dari pandangan orang-orang di dunia.”
Kata “perlindungan” (at-tawaqqi) dengan huruf qaf dari al-wiqayah (perlindungan), bukan dari al-wafat (kematian). Maksudnya adalah Allah menutup mereka dari pandangan manusia sebagai perlindungan dan penjagaan bagi mereka dari pergaulan dengan mereka. Maka Allah menyembunyikan mereka dari pandangan manusia sehingga tidak menampakkan mereka kepada mereka.
Mereka adalah orang-orang yang menyendiri dan mengasingkan diri dari manusia pada masa kerusakan zaman. Mungkin merekalah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Hampir tiba masanya harta terbaik seseorang adalah kambing yang dia ikuti ke puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan.” Dan sabdanya: “Dan seorang laki-laki yang menyendiri di suatu lembah, dia beribadah kepada Tuhannya dan meninggalkan manusia dari kejahatannya.”
Keadaan ini terpuji di sebagian tempat dan waktu, tidak di sebagian yang lain. Jika tidak, maka seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih utama dari mereka ini. Maka uzlah (pengasingan): ada waktu yang wajib, ada waktu yang sunnah, ada waktu yang mubah, ada waktu yang makruh, dan ada waktu yang haram.
Bisa juga bermakna genggaman kematian (at-tawaffi) dengan huruf fa’, yaitu Allah mengambil jasad dan hati mereka dari tengah-tengah manusia sementara mereka di dunia. Namun karena mereka tidak bergaul dengan manusia, mereka seperti orang yang telah wafat dan meninggalkan dunia.
Beliau berkata: “Kelompok kedua: Yang Allah genggam dengan menutup mereka dalam pakaian penyamaran, dan menurunkan kepada mereka selubung kebiasaan, maka Dia menyembunyikan mereka dari pandangan dunia.”
Kelompok ini adalah mereka yang bersama manusia dan bergaul dengan mereka, dan manusia melihat penampilan lahir mereka. Namun Allah menutup hakikat dan keadaan mereka dari pandangan makhluk. Maka keadaan mereka tersamar bagi manusia yang tidak mengenalnya.
Ketika manusia melihat dari mereka apa yang mereka lihat dari orang-orang dunia berupa makan, minum, berpakaian, menikah, wajah yang ceria, dan pergaulan yang baik, mereka berkata: “Mereka ini termasuk orang-orang dunia.” Dan ketika mereka melihat kesungguhan itu, cita-cita tinggi, kesabaran, kejujuran, manisnya makrifat, iman, dan dzikir, serta menyaksikan dari mereka hal-hal yang bukan urusan orang-orang dunia, mereka berkata: “Mereka ini termasuk orang-orang akhirat.” Maka keadaan mereka tersamar bagi mereka.
Mereka tertutup dari manusia dengan sebab-sebab mereka, pekerjaan mereka, dan pakaian mereka. Mereka tidak menjadikan untuk pencarian dan keinginan mereka isyarat yang mengisyaratkan kepada mereka: “Kenalilah aku!” Mereka ini bersama manusia, sementara orang-orang yang terhalang tidak mengenal mereka dan tidak mengenal mereka sebagai pemimpin. Mereka adalah di antara pemimpin para wali Allah. Allah menjaga mereka dari pengenalan manusia sebagai kemuliaan bagi mereka, agar mereka tidak terfitnah dengan mereka, dan sebagai penghinaan bagi orang-orang bodoh terhadap mereka, sehingga mereka tidak mendapat manfaat dari mereka.
Antara kelompok ini dan kelompok pertama terdapat keutamaan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Mereka bersama manusia dengan jasad mereka, namun bersama Kumpulan Tertinggi (ar-Rafiq al-A’la) dengan hati mereka. Ketika mereka meninggalkan dunia ini, ruh mereka berpindah ke hadirat itu. Karena ruh setiap hamba berpindah setelah berpisah dengan jasad ke hadirat orang-orang yang biasa dia akrabi dan cintai, karena seseorang bersama orang yang dicintainya.
Penjelasan tentang “Menurunkan kepada mereka pakaian kebiasaan lahiriah”
Ucapannya: “Dan menurunkan kepada mereka pakaian kebiasaan lahiriah” maksudnya adalah: Allah menjalankan kepada mereka hukum-hukum makhluk—mereka makan sebagaimana manusia makan, minum sebagaimana manusia minum, tinggal di mana manusia tinggal, berjalan bersama mereka di pasar-pasar, dan menjalani sebab-sebab kehidupan bersama mereka. Padahal sesungguhnya mereka berada di lembah yang berbeda dari manusia pada umumnya. Keikutsertaan mereka bersama manusia dalam hal-hal tersebut itulah yang menutupi mereka dari pengenalan orang lain, dan dari pemahaman terhadap hakikat mereka. Maka mereka berada di balik tabir kesamaan.
Di balik tabir-tabir itu tersembunyi Dalam keindahan, segala kemuliaan di bawah panji-Nya Seandainya matamu melihat sebagian keindahan-Nya Niscaya kau korbankan jiwamu demi ridha-Nya Tidaklah dunia ini nikmat tanpa pembicaraan tentang-Nya Tidak pula akhirat tanpa perjumpaan dengan-Nya Wahai orang yang merugi, yang menganggap enteng dirinya Ketika menjualnya dengan kerugian kepada musuh-musuhnya Seandainya kau tahu kadar apa yang telah kau jual Niscaya kau batalkan jual beli itu sebelum terlaksana Atau jika kau pantas untuk petunjuk dan hidayah Kau akan melihat, tapi kau bukan termasuk yang layak menerimanya
Kelompok Ketiga: Mereka yang Ditarik kepada Allah
Ucapannya: “Dan kelompok lain, Allah menarik mereka dari diri mereka kepada-Nya, lalu Dia membersihkan mereka dengan pembersihan rahasia, dan Dia menyayangi mereka sehingga tidak melepaskan mereka kepada makhluk.”
Kelompok ini lebih tinggi dari dua kelompok sebelumnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupi mereka dari diri mereka sendiri, disebabkan kesempurnaan apa yang Dia perlihatkan kepada mereka dan kesibukan mereka dengan-Nya dari diri mereka. Mereka berada dalam keadaan dan kedudukan tertinggi, namun tidak ada perhatian mereka kepada keadaan dan kedudukan itu. Hati mereka bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan bersama selain-Nya. Mereka tidak bersama selain Allah, dan selain Allah pun tidak berarti bagi mereka. Bahkan kebersamaan mereka dengan selain Allah hanyalah dalam bentuk bertetangga dan ujian, bukan dalam bentuk berdiam dan keakraban. Hati mereka dipenuhi rahasia-rahasia, dan ruh mereka rindu kepada-Nya bagaikan burung-burung rindu kepada sarangnya. Kekasih dan Penolong mereka telah menutupi mereka dari diri mereka sendiri, dan mengambil mereka kepada-Nya dari diri mereka.
Ucapannya: “Lalu Dia membersihkan mereka dengan pembersihan rahasia” maksudnya adalah: Allah menjadikan pengalaman spiritual mereka berada di dalam rahasia dan hati mereka karena kelembutan pemahaman mereka, sehingga tidak tampak pada lahiriah mereka karena kuatnya kesiapan mereka.
Ucapannya: “Dan Dia menyayangi mereka sehingga tidak melepaskan mereka kepada makhluk” maksudnya adalah: Allah mengambil mereka dari kebiasaan lahiriah mereka, sehingga meniadakan mereka dari diri mereka sendiri dan mengekalkan mereka dengan-Nya.
Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa “penghimpitan” (al-qabdh) yang dimaksud dalam bab ini bukanlah penghimpitan yang biasa dibicarakan oleh kaum sufi pada tahap awal dan perjalanan spiritual. Wallahu a’lam.
Pasal tentang Kelapangan (al-Basth)
Penulis Manazil as-Sa’irin berkata:
Bab Kelapangan
Allah Ta’ala berfirman: “Dia memperkembangbiakkan kamu padanya” (Asy-Syura: 11).
Saya katakan: Hubungan ayat ini dengan pembahasan adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kalian dengan apa yang Dia ciptakan untuk kalian berupa binatang ternak yang disebutkan. Al-Kalbi berkata: Allah memperbanyak kalian melalui perkawinan ini, dan kalau bukan karena perkawinan ini, keturunan tidak akan banyak. Maknanya adalah: Allah menciptakan kalian melalui cara yang disebutkan, yaitu dengan menjadikan pasangan-pasangan untuk kalian. Sebab penciptaan kita dan penciptaan hewan adalah melalui pasangan-pasangan. Kata ganti dalam “padanya” kembali kepada “penjadikan,” dan makna adz-dzar’u adalah penciptaan, dan di sini maksudnya adalah penciptaan yang banyak—yaitu penciptaan sekaligus perbanyakan. Maka dikatakan “fi” (pada/dalam) dengan makna “bi” (dengan), yaitu: Allah memperbanyak kalian dengan itu. Ini adalah pendapat ulama Kufah. Yang benar adalah bahwa “fi” tetap pada makna aslinya, dan kata kerja tersebut mengandung makna “menumbuhkan kalian,” dan kata ini membutuhkan “fi,” sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami akan menumbuhkan kamu dalam bentuk yang tidak kamu ketahui” (Al-Waqi’ah: 61). Demikianlah tafsir ayat ini.
Karena kehidupan itu ada dua macam: kehidupan badan dan kehidupan ruh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menghidupkan hati dan ruh para wali-Nya dengan kemuliaan, kelembutan, dan kelapangan-Nya, maka hal itu merupakan pengembangan, perbanyakan, dan pertumbuhan bagi hati dan ruh tersebut. Wallahu a’lam.
Definisi Kelapangan
Penulis Manazil berkata: “Kelapangan adalah melepaskan bukti-bukti keadaan hamba dalam jenjang-jenjang ilmu, dan menurunkan kepada batinnya jubah kekhususan. Mereka adalah ahli penyamaran. Mereka dilapangkan di medan kelapangan setelah tiga makna, setiap makna untuk satu kelompok.”
Maksudnya adalah: Kelapangan adalah melepaskan lahiriah hamba dan amal-amalnya sesuai dengan tuntutan ilmu, sementara batinnya diliputi muraqabah (pengawasan diri), mahabbah (cinta), dan uns (keakraban) dengan Allah. Maka keindahannya ada pada lahir dan batinnya—lahiriahnya terbalut keindahan sesuai dengan ilmu, dan batinnya terbalut keindahan dengan cinta, harapan, takut, muraqabah, dan keakraban. Amal-amal lahiriah baginya adalah pakaian luar, dan keadaan batin baginya adalah pakaian dalam. Keadaan batinnya tidak mengurangi hukum lahiriahnya, dan ilmunya tidak memutus datangnya keadaan batinnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggabungkan antara kedua keindahan—yaitu keindahan lahir dan keindahan batin—di beberapa tempat dalam kitab-Nya:
Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang lebih baik” (Al-A’raf: 26).
Di antaranya juga firman Allah Ta’ala tentang wanita-wanita surga: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik” (Ar-Rahman: 70). Mereka cantik wajahnya dan baik akhlaknya.
Di antaranya juga firman Allah Ta’ala: “Dan Dia memberikan kepada mereka kecerahan wajah dan kegembiraan” (Al-Insan: 11). Kecerahan adalah keindahan wajah, dan kegembiraan adalah keindahan hati.
Di antaranya juga firman Allah Ta’ala: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat” (Al-Qiyamah: 22-23). Berseri-seri menghiasi lahiriah mereka, dan melihat Allah memperindah batin mereka.
Di antaranya juga firman Allah Ta’ala: “Dan mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari perak dan diberi minum oleh Tuhan mereka minuman yang bersih” (Al-Insan: 21). Gelang-gelang memperindah lahiriah mereka, dan minuman yang bersih menyucikan batin mereka.
Di antaranya juga firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan hiasan bintang-bintang, dan untuk menjaganya dari setiap setan yang durhaka” (Ash-Shaffat: 6-7). Allah memperindah lahiriahnya dengan bintang-bintang, dan batinnya dengan penjagaan dari setan-setan.
Kembali kepada Penjelasan Ucapannya
Ucapannya: “Dan mereka adalah ahli penyamaran” maksudnya adalah: mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam bab penghimpitan, yaitu kelompok kedua yang ditutupi dengan pakaian penyamaran dari pandangan manusia, sehingga hakikat mereka tidak terlihat.
Ucapannya: “Mereka dilapangkan di medan kelapangan” maksudnya adalah: Allah Subhanahu wa Ta’ala melapangkan mereka melalui lisan Rasul-Nya, bukan seperti yang disangka oleh orang-orang yang menyimpang bahwa kelapangan itu adalah mendengarkan nyanyian yang enak, memandang pemandangan yang indah, melihat wajah-wajah yang cantik, dan mendengarkan alat-alat musik yang menghibur.
Ya, itu adalah medan yang dilapangkan oleh setan untuk memutus jiwa-jiwa dari medan yang ditegakkan oleh Yang Maha Pengasih. Medan Yang Maha Pengasih yang dilapangkan-Nya adalah medan yang Dia tegakkan untuk para nabi dan wali-Nya, yaitu apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat dan keluarganya, bersama orang asing maupun orang dekat—yaitu kelapangan dada, wajah yang selalu berseri, akhlak yang baik, mengucapkan salam kepada siapa saja yang dijumpai, berhenti bersama siapa yang memintanya berhenti, bercanda dengan kebenaran bersama yang kecil maupun yang besar sesekali, memenuhi undangan, dan bersikap lemah lembut sehingga setiap sahabatnya mengira bahwa dialah orang yang paling dicintai Rasulullah. Medan ini tidak ada yang kau temukan di dalamnya kecuali yang wajib, atau yang sunnah, atau yang mubah yang membantu keduanya.
Kelompok Pertama: Dilapangkan sebagai Rahmat bagi Makhluk
Ucapannya: “Kelompok pertama dilapangkan sebagai rahmat bagi makhluk, mereka bergaul dan berbaur dengan mereka, sehingga makhluk bisa menerangi diri dengan cahaya mereka, sementara hakikat-hakikat mereka tetap terkumpul dan rahasia-rahasia mereka tetap terjaga.”
Allah menjadikan kelapangan mereka bersama makhluk sebagai rahmat bagi makhluk, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka berkat rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” (Ali Imran: 159). Tuhan Subhanahu wa Ta’ala melapangkan mereka bersama makhluk-Nya agar orang yang berjalan di jalan Allah mengikuti mereka, orang yang bingung mendapat petunjuk dari mereka, orang yang sakit sembuh berkat mereka, dan orang-orang menerangi diri dengan cahaya petunjuk, nasihat, dan pengetahuan mereka di dalam kegelapan pekatnya tabiat dan hawa nafsu. Para penempuh jalan mengikuti mereka ketika mereka diam, dan mengambil manfaat dari kata-kata mereka ketika mereka berbicara. Karena gerakan dan diamnya mereka adalah karena Allah, untuk Allah, dan atas perintah Allah, maka hal itu menarik hati orang-orang yang jujur kepada mereka. Cahaya yang bersinar dari mereka kepada manusia adalah cahaya ilmu dan pengetahuan.
Para ulama ada tiga macam: ulama yang menerangi diri dengan cahayanya dan manusia pun menerangi diri dengannya—inilah pewaris para rasul dan warisan para nabi; ulama yang menerangi diri dengan cahayanya tapi tidak ada orang lain yang menerangi diri dengannya—jika dia tidak lalai, manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri, maka jarak antara dia dan yang pertama sangat jauh; dan ulama yang tidak menerangi diri dengan cahayanya dan tidak ada orang lain yang menerangi diri dengannya—ilmunya menjadi bencana baginya, dan kelapangannya kepada manusia menjadi fitnah bagi mereka, sedangkan kelapangan yang pertama adalah rahmat bagi mereka.
Ucapannya: “Sementara hakikat-hakikat mereka tetap terkumpul dan rahasia-rahasia mereka tetap terjaga” maksudnya adalah: mereka melapangkan diri sementara hakikat-hakikat yang ada di dalam rahasia mereka tetap terkumpul di dalam batin mereka. Kelapangan tidak mencerai-beraikan hati mereka, tidak memecah-belah kemauan mereka, dan tidak melepaskan ikatan tekad mereka.
Ucapannya: “Dan rahasia-rahasia mereka tetap terjaga” yaitu tertutup, tidak mereka singkapkan kepada orang yang mereka bergaul dengannya. Meskipun kelapangan mengharuskan keakraban dan saling mengetahui rahasia antara dua orang yang saling melapangkan diri, maka hati-hatilah—sekali lagi hati-hatilah—jangan sampai kau perlihatkan kepada orang yang kau bergaul dengannya rahasiamu dengan Allah. Tapi tariklah dia dan bangkitkan kerinduannya, dan jagalah amanah Allah yang ada padamu, jangan sampai kau memaparkannya untuk diambil kembali.
Kelompok Kedua: Dilapangkan karena Kekuatan Penyaksian
Ucapannya: “Dan kelompok kedua dilapangkan karena kekuatan penyaksian mereka dan keteguhan pandangan mereka, karena mereka adalah kelompok yang bukti-bukti tidak mencampuri objek penyaksian mereka, dan angin-angin kebiasaan lahiriah tidak menggoyangkan penemuan mereka. Mereka adalah orang-orang yang dilapangkan dalam genggaman penghimpitan.”
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang sebelumnya karena yang sebelumnya untuk para pemilik amal, sedangkan ini untuk para pemilik keadaan spiritual. Yang pertama dilapangkan sebagai rahmat bagi makhluk, sedangkan ini dilapangkan sebagai kekhususan dari Allah.
Ucapannya: “Karena kekuatan penyaksian mereka” maknanya bisa jadi: karena kuatnya daya tangkap penyaksian mereka, atau karena kuatnya penampakan penyaksian mereka pada batin mereka, atau karena kuatnya dan jelasnya penyaksian itu sendiri.
Maknanya adalah: kelapangan tidak berkuasa untuk menghalangi mereka dari penyaksian terhadap yang mereka cari, karena kekuatan penyaksian itu mencegah kelapangan dari menghilangkan atau melemahkannya.
Ucapannya: “Dan keteguhan pandangan mereka” maksudnya adalah: tetap dan sehatnya pandangan hati mereka. Mereka bukan orang-orang yang pandangan hatinya terhalang oleh debu keraguan atau awan kebimbangan. Esensi kemanusiaan yang lembut yang menangkap hakikat apa yang diberitakan kepadanya tentang hal gaib itu sehat, dan ia sangat terfokus kepada apa yang disaksikannya, sehingga kelapangan tidak mampu menghalanginya dari apa yang disaksikannya.
Ucapannya: “Karena mereka adalah kelompok yang bukti-bukti tidak mencampuri objek penyaksian mereka” maksudnya adalah: bukti-bukti tidak bercampur dengan objek penyaksian mereka sehingga penangkapan mereka menjadi penangkapan dengan penalaran. Bahkan objek penyaksian mereka hadir bagi mereka, mereka tidak menangkapnya melalui selainnya. Maka penyaksian mereka terhadapnya tidak tercampuri bukti-bukti dari selainnya. Bukti-bukti itu seperti tanda-tanda dan indikasi.
Ucapan ini membutuhkan penjelasan dan perincian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegakkan bukti-bukti yang menunjukkan kepada-Nya, memenuhi kitab-Nya dengannya, dan membimbing hamba-hamba-Nya untuk melihat dan berdalil dengannya. Namun seorang yang mengenal Allah, jika telah mendapatkan petunjuk darinya dan telah sampai kepada keyakinan melaluinya, maka hukum bukti-bukti itu terlipat dari kesadarannya, dan hatinya berpindah darinya menuju yang dicari yang ditunjukkan olehnya. Dia melihat semua bukti itu sebagai jejak dari jejak-jejak nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Objek yang disaksikan dan yang ditunjuk itu disaksikan oleh hati dan mata batin bagaikan penyaksian mata terhadap sang pembuat ketika menyaksikan hasil karyanya—seakan-akan dia melihat sang pembangun sedang membangun bangunan yang kokoh dan sempurna yang dia saksikan—karena bukti-bukti dan dalil-dalil akan batal dan hilang hukumnya.
Maka renungkanlah masalah ini, karena dua kelompok telah keliru di dalamnya: kelompok yang berburuk sangka kepada mereka yang melipat hukum bukti-bukti dan dalil-dalil, lalu menuduh mereka dengan berbagai tuduhan; dan kelompok yang menganggap bahwa bukti-bukti itu adalah objek yang disaksikan itu sendiri, dan dalil itu adalah yang ditunjuk itu sendiri—pada awalnya ia adalah bukti dan dalil, pada akhirnya ia menjadi yang disaksikan dan yang ditunjuk.
Ucapannya: “Dan angin-angin kebiasaan lahiriah tidak menggoyangkan penemuan mereka” adalah: dia menyerupakan kebiasaan-kebiasaan lahiriah dengan angin karena makna-makna bentuk-bentuk makhluk itu berlalu pada orang-orang yang penyaksiannya lemah, lalu menggerakkan batin mereka dengan semacam keraguan dan kebimbangan. Adapun mereka yang dilapangkan oleh Allah Ta’ala, mereka selamat dari hal itu.
Ucapannya: “Maka mereka adalah orang-orang yang dilapangkan dalam genggaman penghimpitan” maksudnya adalah: mereka dalam keadaan lapang tidak terhalang dari makna-makna penghimpitan. Bahkan penghimpitan Allah terhadap mereka dari selain-Nya ada dalam kelapangan mereka, dan kelapangan mereka dengan-Nya ada dalam penghimpitan mereka. Maka kelapangan dan penghimpitan tidak bertentangan dalam hak mereka. Dia menjadikan bagi penghimpitan itu “genggaman” sebagai pengukuhan terhadap kiasan.
Kelompok Ketiga: Dilapangkan sebagai Rambu-rambu Jalan
Ucapannya: “Dan kelompok ketiga dilapangkan sebagai rambu-rambu di jalan, pemimpin-pemimpin petunjuk, dan pelita-pelita bagi para penempuh jalan.”
Kelompok ini lebih tinggi dari dua kelompok sebelumnya karena mereka berbagi dengan keduanya dalam tingkatan mereka, dan memiliki kekhususan di atas keduanya dengan tingkatan ini. Mereka bersifat dengan apa yang disifati kelompok pertama berupa amal-amal, dan bersifat dengan apa yang disifati kelompok kedua berupa keadaan-keadaan spiritual, serta melebihi keduanya dengan memberi manfaat kepada para penempuh jalan, memberi petunjuk kepada orang-orang yang bingung, dan membimbing para pencari. Orang yang bingung mendapat petunjuk melalui mereka, orang yang berhenti bisa berjalan karena mereka, orang yang menyimpang menjadi lurus karena mereka, orang yang berpaling menjadi menghadap karena mereka, orang yang kurang menjadi sempurna karena mereka, orang yang mundur kembali maju karena mereka, orang yang lemah menjadi kuat karena mereka, dan orang yang di tengah jalan menjadi sadar akan tujuan. Mereka inilah pewaris para rasul yang sesungguhnya, mereka adalah pemilik mata batin dan keyakinan. Mereka menggabungkan antara bashirah (pandangan batin) dan bashar (pandangan lahir). Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami” (As-Sajdah: 24). Mereka meraih kepemimpinan agama dengan kesabaran dan keyakinan.
Batas Kemabukan
Penulis Manazil al-Sa’irin berkata: “Bab Kemabukan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengisahkan tentang Musa, yang Allah ajak bicara langsung: “Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (al-A’raf: 143)
Cara beliau berargumen dengan isyarat ayat ini adalah bahwa ketika kelezatan mendengar firman Tuhannya telah mantap dalam hati, ruh, pendengaran, dan penglihatan Musa, maka dari mendengar kalam itu, manisnya sapaan itu, dan nikmatnya pembicaraan langsung itu, ia memperoleh sesuatu yang terlalu agung, mulia, dan besar untuk disebut kemabukan atau diserupakan dengan kemabukan—sehingga terlontarlah dari lisannya permintaan untuk melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan tersebut.
Beliau berkata: “Kemabukan dalam bab ini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan hilangnya kendali diri dalam kegembiraan. Ini termasuk tingkatan khusus para pecinta, karena mata kefanaan tidak menerimanya, dan tingkatan ilmu tidak mencapainya.”
Perkataannya “digunakan untuk menunjukkan hilangnya kendali diri” maksudnya adalah ketidakmampuan bersabar. Orang berkata: “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan ini dan itu,” artinya: aku tidak mampu bersabar darinya. Seolah-olah beliau berkata: ini adalah istilah untuk kegembiraan yang begitu kuat sehingga kesabaran tidak mampu menahannya.
Makna ini sama sekali tidak pernah diungkapkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, maupun oleh para arif dari kalangan salaf dengan istilah “kemabukan.” Ini hanyalah istilah para ulama belakangan, dan itu adalah istilah yang buruk. Sebab kata “kemabukan” dan “memabukkan” termasuk ungkapan yang tercela secara syariat dan akal. Umumnya kata ini digunakan untuk kemabukan tercela yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk.” (an-Nisa: 43). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menggunakan kata ini untuk menggambarkan kengerian dahsyat yang menimpa manusia saat hari kiamat, firman-Nya: “Dan kamu akan melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (al-Hajj: 2). Orang juga berkata: “Si fulan dimabukkan oleh cinta dunia.” Demikian pula kata ini digunakan untuk kemabukan hawa nafsu yang tercela.
Lalu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau Rasul-Nya, atau para sahabat, atau para imam tarekat terdahulu menyebut keadaan mulia ini—yang merupakan salah satu keadaan paling mulia dari para pecinta dan hamba-hamba-Nya—dengan nama “kemabukan” yang biasa digunakan untuk mabuk khamr dan mabuk perbuatan keji? Sebagaimana firman-Nya tentang kaum Luth: “Demi umurmu (Muhammad), sungguh mereka berada dalam kemabukan mereka, mereka bergelimang dalam kebingungan.” (al-Hijr: 72). Maka Allah menyifati pelaku perbuatan keji dan peminum minuman keras dengan kemabukan. Tidaklah pantas menggunakan istilah ini untuk keadaan dan tingkatan yang paling mulia, apalagi dalam bagian hakikat. Tidak boleh menyebut Kalimullah (Musa yang diajak bicara oleh Allah Yang Maha Pengasih) dengan nama kemabukan dalam keadaan tersebut. Istilah-istilah memang tidak perlu diperdebatkan, selama tidak mengandung kerusakan.
Selain itu, sudah diketahui bahwa keadaan ini terjadi di surga saat melihat Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dan mendengar firman-Nya dengan cara yang paling sempurna, namun tidak disebut kemabukan. Kami tidak mengingkari makna yang ditunjukkan oleh istilah ini, yang kami ingkari adalah penamaannya dengan nama ini. Terlebih lagi jika ditambah dengan istilah “minuman,” atau menamai ma’rifat dengan “khamr,” dan limpahan spiritual dengan “piala,” serta Allah Jalla Jalaluhu dengan “penuang minuman”—maka kiasan-kiasan dan penamaan-penamaan inilah yang membuka pintu ini.
Adapun perkataannya “ini termasuk tingkatan khusus para pecinta,” maka harus dijelaskan hakikat kemabukan, sebabnya, dan bagaimana ia timbul; apakah ia dalam kendali atau tidak; serta pembagiannya berdasarkan zatnya, sebab-sebabnya, dan tempatnya, agar manfaatnya lebih sempurna.
Maka kami katakan—dan dengan pertolongan Allah semua terwujud: Kemabukan adalah kenikmatan dan kegembiraan yang menyebabkan hilangnya akal yang dengannya terjadi kemampuan membedakan, sehingga pelakunya tidak mengetahui apa yang ia ucapkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan.” (an-Nisa: 43). Maka Allah menjadikan batas yang menghilangkan hukum mabuk adalah ketika seseorang mengetahui apa yang ia ucapkan. Jika ia mengetahui apa yang diucapkannya, ia telah keluar dari batas mabuk.
Imam Ahmad berkata: “Orang mabuk adalah yang tidak bisa membedakan bajunya dari baju orang lain, dan sandalnya dari sandal orang lain.” Diriwayatkan dari asy-Syafi’i bahwa beliau berkata: “Jika ucapannya yang teratur menjadi kacau, dan rahasia tersembunyinya terungkap.”
Maka kemabukan menghimpun dua makna: adanya kenikmatan dan hilangnya kemampuan membedakan. Orang yang menghendaki mabuk bisa menghendaki keduanya, atau salah satunya saja. Sebab jiwa memiliki hawa dan syahwat yang ia nikmati saat memperolehnya, sementara pengetahuan tentang kerusakan dalam kenikmatan itu, baik segera maupun tertunda, mencegahnya dari mengambilnya, dan akal memerintahkannya untuk tidak melakukannya. Jika ilmu yang menyingkap dan membedakan serta akal yang memerintah dan melarang itu hilang, maka jiwa akan bebas dalam hawa nafsunya dan menemukan lapangan yang luas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kemabukan karena dua hal yang disebutkan dalam Kitab-Nya, yaitu: menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kaum muslimin, serta menghalangi dari mengingat Allah dan dari shalat. Itu mengandung terjadinya kerusakan yang timbul dari jiwa akibat hilangnya akal, dan hilangnya kemaslahatan yang tidak sempurna kecuali dengan akal. Menimbulkan permusuhan adalah dari yang pertama, dan menghalangi dari mengingat Allah adalah dari yang kedua.
Kemabukan juga bisa disebabkan selain meminum yang memabukkan: bisa karena rasa sakit yang sangat hebat sehingga akal hilang dan orang menjadi seperti mabuk. Bisa juga disebabkan oleh sesuatu yang sangat menakutkan yang datang tiba-tiba hingga menghilangkan akal orang yang menghadapinya. Dari sinilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan kamu akan melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (al-Hajj: 2). Mereka mabuk karena kaget dan takut, bukan mabuk karena minuman. Kemabukan mereka adalah mabuk ketakutan dan kekagetan, bukan mabuk kenikmatan dan kegembiraan.
Kemabukan juga bisa disebabkan oleh kuatnya kegembiraan saat memperoleh yang dicintai, hingga ucapannya kacau dan perbuatannya berubah, sehingga akalnya hilang dan ia berbuat lebih buruk dari pemabuk khamr. Bahkan bisa jadi mabuk kegembiraan ini membunuhnya karena sebab alamiah, yaitu darah jantung mengembang secara tiba-tiba dengan cara yang tidak biasa, dan darah adalah pembawa panas alami, sehingga jantung mendingin akibat mengembangnya darah darinya, lalu terjadilah kematian.
Dari sinilah ucapan orang yang mabuk kegembiraan karena menemukan untanya di padang pasir setelah ia merasa akan mati: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.” Ia salah karena sangat gembiranya. Mabuk kegembiraan melebihi mabuk minuman.
Maka bayangkanlah keadaan seorang fakir miskin yang sangat mencintai dunia, lalu ia menemukan harta karun yang besar dan menguasainya dengan aman dan tenang—bagaimana kemabukan kegembiraannya? Atau seseorang yang pelayannya pergi dengan hartanya yang besar selama bertahun-tahun hingga ia menderita kemiskinan, lalu pelayannya datang tanpa diduga dengan seluruh hartanya yang sudah berlipat ganda?
Kemabukan juga bisa disebabkan oleh kemarahan yang sangat hebat yang menghalangi orang yang marah dari kemampuan membedakan. Bahkan mabuk kemarahan bisa lebih kuat dari mabuk kegembiraan. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan seorang hakim memutuskan perkara antara dua orang saat ia sedang marah.”
Tidak diragukan lagi bagi siapa pun yang mencium aroma fiqih bahwa jika kemarahan sampai pada keadaan ini lalu ia menjatuhkan talak, talaknya tidak jatuh. Imam Ahmad telah menegaskan bahwa “ighlaq” (penutupan) yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidak ada talak dan tidak ada pembebasan budak dalam keadaan ighlaq” adalah kemarahan. Abu Dawud berkata: “Aku menduga itu adalah kemarahan.” Asy-Syafi’i menyebut nazar dalam keadaan keras kepala dan marah sebagai “nazar al-ghalaq” (nazar dalam keadaan tertutup). Itu karena orang yang marah telah tertutup baginya pintu niat dan kemampuan membedakan akibat kerasnya kemarahannya. Jika paksaan adalah penutupan, maka kemarahan yang sangat lebih layak disebut penutupan. Demikian pula kemabukan adalah penutupan, dan kegilaan adalah penutupan. Maka “ghalaq” dan “ighlaq” adalah istilah yang mencakup siapa saja yang tertutup baginya pintu niat dan kemampuan membedakan karena sebab apa pun. Kami telah membahas panjang lebar tentang ini dalam kitab kami yang berjudul Ighatsat al-Lahfan fi Thalaq al-Ghadhban.
Di antara sebab-sebab kemabukan adalah: cinta pada rupa dan lainnya, baik yang mubah maupun yang haram. Sebab cinta jika menguat dan mengakar akan memabukkan pelakunya. Ini terkenal dalam syair-syair dan ucapan-ucapan mereka, sebagaimana kata seorang penyair:
Dua kemabukan: mabuk cinta dan mabuk minuman Kapan sadarnya orang yang punya dua kemabukan
Penyair lain berkata dalam beberapa bait:
Ia menuangkan dari matanya khamr dan dari tangannya khamr Maka tak ada jalan bagimu dari dua kemabukan Aku punya dua kemabukan sedang para teman minum hanya satu Sesuatu yang aku dikhususkan dengannya sendirian di antara mereka
Dalam al-Musnad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Cintamu pada sesuatu membutakan dan menulikan.” Artinya: membutakan dari melihat keburukan yang dicintai, dan menulikan dari mendengar celaan dan kecaman tentangnya. Jika cinta itu menguat dan mengakar, ia membutakan dan menulikan hati sepenuhnya—ini lebih kuat dari kemabukan. Jika mabuk cinta ditambah dengan kegembiraan perjumpaan, kemabukan itu menguat dan berlipat ganda, sehingga pelakunya keluar dari hukum akal tanpa ia sadari. Kebanyakan perilaku kasar dan kekacauan orang yang jatuh cinta adalah dari kemabukan ini. Namun karena manusia sudah terbiasa dengan hal itu dan sama-sama mengalaminya, mereka tidak mengingkarinya. Yang mengingkarinya hanyalah orang yang berada di luarnya. Jika mereka sadar di antara orang-orang mati, mereka akan tahu bahwa saat itu mereka sedang bergelimang dalam kemabukan mereka.
Pasal
Di antara sebab terkuat kemabukan yang menyebabkannya adalah mendengar suara-suara yang menggetarkan, apalagi jika berasal dari rupa yang indah, dan mengenai tempat yang menerimanya. Maka jangan tanyakan tentang kemabukan pendengarnya.
Kemabukan ini terjadi dari dua arah:
Pertama: suara itu sendiri menimbulkan kenikmatan kuat yang menenggelamkan akal.
Kedua: suara itu menggerakkan jiwa menuju yang dicintainya dan arahnya, siapa pun itu. Maka terjadilah dari gerakan, kerinduan, dan pencarian itu, bersama dengan mengkhayalkan yang dicintai, menghadirkannya dalam jiwa, mendekatkan citranya ke hati, dan menguasainya atas pikiran—kenikmatan besar yang mengalahkan akal. Maka berkumpullah kenikmatan irama dan kenikmatan kerinduan, sehingga ruh mabuk dengan kemabukan yang menakjubkan, lebih kuat dan lebih nikmat dari mabuk minuman, dan timbul darinya kegembiraan yang lebih nikmat dari kegembiraan minuman.
Dari sinilah Syaikh berargumen tentang kemabukan dengan ucapan Musa ‘alaihis salam ketika ia mendengar firman Tuhan Jalla Jalaluhu: “Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (al-A’raf: 143)
Imam Ahmad dan lainnya menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat akan berfirman kepada Dawud: “Agungkanlah Aku dengan suara yang dulu kau agungkan Aku dengannya di dunia.” Dawud menjawab: “Wahai Tuhanku, bagaimana? Suara itu telah dihilangkan oleh dosa.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku akan mengembalikannya kepadamu.” Maka ia berdiri di sisi tiang Arsy lalu mengagungkan-Nya. Ketika penduduk surga mendengar suaranya, kenikmatan penduduk surga tercurahkan seluruhnya.
Lebih agung dari itu adalah ketika mereka mendengar firman Tuhan Jalla Jalaluhu dan sapaan-Nya kepada mereka secara langsung tanpa perantara. Abdullah bin Ahmad telah menyebutkan dalam kitab as-Sunnah sebuah atsar tentang hal itu: seolah-olah manusia pada hari kiamat tidak pernah mendengar Al-Qur’an sebelumnya ketika mereka mendengarnya dari ar-Rahman Jalla Jalaluhu.
Jika ditambah dengan itu: mereka melihat wajah-Nya yang mulia—yang kenikmatan melihat-Nya mencukupkan mereka dari surga dan kenikmatannya—maka itu adalah harapan yang tidak terjangkau ungkapan, bahkan tidak sedikit pun dari yang banyak. Ini adalah suara yang tidak masuk ke setiap telinga, hujan yang tidak menghidupkan setiap tanah, mata air yang tidak diminum setiap pendatang, nyanyian yang tidak menggetarkan setiap pendengar, dan hidangan yang tidak diduduki oleh penumpang gelap.
Mari kita kembali ke pembahasan kita, maka kami katakan:
Kemabukan disebabkan oleh kenikmatan yang mengalahkan akal, dan sebab kenikmatan adalah memperoleh yang dicintai. Jika cinta kuat dan perolehan yang dicintai kuat, maka kenikmatan memperolehnya mengikuti kekuatan dua hal ini. Jika akal kuat dan kokoh, ia tidak berubah karenanya. Jika lemah, terjadilah kemabukan yang mengeluarkannya dari hukumnya. Ini bisa dinisbatkan pada kekuatan yang datang, bisa dinisbatkan pada kelemahan tempat, dan bisa jadi keduanya berkumpul.
Penulis Manazil berkata: “Mata kefanaan tidak menerimanya, dan tingkatan ilmu tidak mencapainya.”
Karena kefanaan memfanakan dari hamba segala sesuatu selain yang disaksikannya, dan memfanakan makna-makna segala sesuatu, sedangkan kemabukan seperti yang beliau definisikan adalah hilangnya kendali diri dalam kegembiraan, maka pada orang mabuk masih ada sisa kegembiraan yang ia rasakan, yang dengannya ia merasakan kegembiraannya hingga tidak mampu mengendalikan diri dalam kegembiraan. Kefanaan menolak hal itu. Maka hakikat-hakikat kefanaan tidak menerima kemabukan.
Kesimpulannya: kefanaan adalah penenggelaman murni, sedangkan kemabukan disertai kenikmatan dan kegembiraan yang pelakunya tidak mampu mengendalikan dan tidak mampu fana darinya.
Yang dimaksud: kemabukan bukanlah tingkatan tertinggi para arif yang telah sampai, karena tingkatan tertinggi mereka adalah fana di sisi-Nya. Maka tingkatan mereka tidak menerima kemabukan.
Perkataannya “dan tingkatan ilmu tidak mencapainya” adalah benar. Sebab ilmu tentang cinta, kerinduan, dan asyik adalah satu hal, sedangkan keadaan cinta adalah hal lain. Kemabukan tidak timbul dari ilmu tentang cinta, melainkan timbul dari keadaan cinta.
Seolah-olah beliau berkata: kemabukan adalah sifat dan keadaan kurang bagi orang yang tingkatannya di atas tingkatan ilmu dan di bawah tingkatan penyaksian dan kefanaan. Kemabukan khusus untuk cinta, karena cinta adalah tingkatan terakhir tempat bertemunya barisan depan orang awam—yaitu ahli fase ilmu—dan barisan belakang orang khusus—yaitu ahli fase penyaksian dan kefanaan. Maka pembatas antara dua tingkatan itu adalah tingkatan cinta, sehingga kemabukan menjadi khusus untuknya.
Pasal
Beliau berkata: Kemabukan memiliki tiga tanda: kesempitan dari kesibukan dengan berita, sedangkan pengagungan tetap tegak; menceburkan diri ke dalam gelombang kerinduan, sedangkan kemantapan tetap langgeng; dan tenggelam di lautan kegembiraan, sedangkan kesabaran melayang-layang.
Maksudnya adalah bahwa orang yang mencinta disibukkan oleh dahsyatnya perasaan cintanya kepada yang dicinta, kehadiran hatinya bersama-Nya, dan melelehnya seluruh anggota tubuhnya karena dahsyatnya cinta dari mendengar berita tentang-Nya. Namun perkataan ini tidak bisa dipahami secara mutlak, karena sesungguhnya orang yang mencinta dengan sungguh-sungguh, hal yang paling dicintainya adalah berita tentang yang dicintanya dan menyebut-nyebut-Nya. Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu: “Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah kenyang dari firman Allah.” Sebagian orang arif berkata: “Bagaimana mungkin mereka kenyang dari firman Kekasih mereka, sedangkan itu adalah puncak tujuan mereka?”
Yang dimaksud oleh Syekh dan orang-orang sepertinya dengan ini adalah bahwa orang yang mencinta dengan sungguh-sungguh, hatinya dipenuhi oleh cinta, sehingga cinta itulah yang mendominasinya. Dominasi dan kemantapan cinta itu membuatnya tidak pernah lengah dari yang dicintanya, dan hatinya sama sekali tidak tersibukkan oleh selain-Nya. Maka ia mendengar dari orang-orang yang kosong hatinya tentang apa yang datang mengenai hak orang-orang yang mencinta, dan mendengar dari mereka tentang sifat-sifat kekasihnya serta berita tentang-Nya. Ia hampir tidak sanggup untuk mendengar hal itu selamanya, karena kesempitan hatinya dalam mendengarnya dari hati yang lalai. Berbeda halnya jika ia mendengar berita ini dari orang yang menjadi sekutunya dalam kesedihannya, temannya di jalannya, dan sahabatnya dalam perjalanannya, maka ia tidak akan merasa sempit karenanya, bahkan akan sangat lapang menerimanya. Ini satu sisi pemahaman.
Sisi kedua adalah bahwa orang yang mabuk karena cinta, hatinya telah dipenuhi oleh penyaksian terhadap yang dicinta, sehingga seluruh kekuatan hati, perhatian, dan kehendaknya terkumpul padanya. Sedangkan makna-makna berita itu banyak dan berpindah dari satu makna ke makna lainnya, maka hatinya dalam keadaan ini menjadi sempit untuk menerimanya, hingga ketika ia sadar, hatinya pun lapang untuk menerimanya.
Perkataannya “sedangkan pengagungan tetap tegak” artinya kesempitan hatinya dari kesibukan dengan berita bukanlah karena mengabaikannya atau tidak menyukainya. Bagaimana mungkin? Padahal itu adalah berita tentang yang dicintanya dan datang dari-Nya. Akan tetapi karena kesempitannya dalam keadaan itu dari kesibukan dengannya, sedangkan pengagungannya tetap tegak di dalam hatinya. Ia tersibukkan oleh perasaan dan keadaannya dari apa yang memisahkannya dari-Nya. Hal ini baik jika yang disibuki lebih dicintai oleh kekasihnya daripada yang ditinggalkan. Adapun jika yang ditinggalkan lebih dicintai oleh kekasih daripada yang disibuki, maka syariat cinta mewajibkannya untuk mengutamakan yang paling besar dicintai oleh kekasihnya. Jika tidak, maka ia bersama dirinya, perasaannya, dan kenikmatannya sendiri.
Perkataannya “menceburkan diri ke dalam gelombang kerinduan sedangkan kemantapan tetap langgeng” — menceburkan diri ke dalam gelombang kerinduan adalah menaiki lautan dan berada di tengahnya, bukan sekadar masuk di pinggir dan ujungnya. Kemantapan yang dimaksud adalah berpegang teguh pada hukum-hukum ilmu yaitu mengamalkannya, berpegang teguh pada hukum-hukum wara’ (kehati-hatian), dan menjalankan wirid-wirid syariat. Maka berpegang teguh pada hal itu dan melanggengkannya adalah tanda sahnya kerinduan.
Perkataannya “tenggelam di lautan kegembiraan sedangkan kesabaran melayang-layang” artinya orang yang mencinta itu tenggelam di lautan kegembiraan dan kegembiraan tidak meninggalkannya, seakan-akan ia berada di lautan yang telah menenggelamkannya. Sebagaimana orang yang tenggelam tidak terpisah dari air, demikian pula orang yang mencinta tidak terpisah dari kegembiraan. Barangsiapa yang merasakan kedudukan cinta, ia akan mengetahui kebenaran apa yang dikatakan Syekh, karena kenikmatan cinta di dunia adalah bagian yang lembut dan halus dari kenikmatan surga di akhirat. Bahkan ia adalah surga dunia. Dunia tidak terasa nikmat kecuali dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan surga pun tidak terasa nikmat kecuali dengan melihat dan menyaksikan-Nya. Maka kenikmatan orang yang mencinta itu abadi, meskipun terkadang bercampur dengan kepedihan. Seandainya orang-orang yang tersibukkan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kenikmatan yang ada pada ahli cinta-Nya, ahli dzikir-Nya, dan ahli makrifat-Nya, niscaya hati mereka akan hancur berkeping-keping karena penyesalan, dan mereka akan mengetahui bahwa apa yang mereka peroleh tidak ada bandingannya dengan apa yang mereka sia-siakan dan mereka tidak dapatkan.
Sebagaimana dikatakan:
Tidak ada kebaikan di dunia dan dalam kenikmatannya Jika engkau sendirian tersisih tanpa menjadi pecinta
Yang lain berkata:
Manusia hanyalah para pecinta yang memiliki kerinduan Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mencinta dan mengasihi
Yang lain berkata:
Adakah kehidupan selain engkau pergi dan pulang Sedang engkau mabuk dengan gelas cinta di antara manusia
Yang lain berkata:
Jiwaku tidak binasa kecuali karena cinta Dan adakah kehidupan yang nikmat bagi seseorang yang bukan pecinta
Yang lain berkata:
Aku tidak senang jika diriku kosong dari kerinduan Meskipun aku memiliki seluruh apa yang ada antara timur dan barat
Yang lain berkata:
Tidak ada kebaikan di dunia tanpa kerinduan yang membara Dan tidak ada kenikmatan yang di dalamnya tidak ada kekasih
Yang lain berkata:
Dunia tidak terasa nikmat tanpa cinta Dan kenikmatan apa bagi seseorang yang bukan pecinta
Yang lain berkata:
Tenanglah pada ketenangan yang engkau nikmati cintanya Waktu telah berlalu dan engkau menyendiri dengannya
Yang lain berkata:
Jika engkau tidak merasakan kerinduan di negeri ini Maka kematianmu di dalamnya dan kehidupan adalah sama saja
Yang lain berkata:
Tidak merasakan nikmatnya kehidupan orang yang tidak memiliki Kekasih yang kepadanya ia merasa tenteram dan tenang
Yang lain berkata:
Tidak ada kebaikan di dunia jika engkau tidak mengunjungi Kekasih dan tidak ada kekasih yang datang kepadamu
Yang lain berkata:
Ia berkunjung maka hilanglah dariku segala keresahan Karena penawar kesedihanku ada di tangannya Dan ia pergi membawa kegembiraan ketika ia pergi Karena hawalanku dalam hal itu tertuju padanya
Abu al-Munjab berkata: Aku melihat seorang pemuda kurus bertubuh lemah di tawaf, berlindung dan memohon perlindungan, sambil melantunkan:
Aku berharap seluruh cinta dikumpulkan Lalu dilemparkan ke dalam hatiku dan dada tertutup rapat Dan tidak akan habis apa yang ada di hatiku dari kerinduan Dan dari kegembiraanku dengan cinta hingga umur berakhir
Berita-berita tentang para pecinta dan syair-syair mereka dalam hal ini lebih banyak dari yang bisa dihitung. Padahal setiap dari mereka tersiksa oleh kecintaannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun ia berhasil mencapai pertemuannya. Maka bagaimana kiranya dengan orang yang membatasi cintanya hanya kepada Kekasih yang Pertama? Setiap kali jiwanya mengajaknya untuk mencintai selain-Nya, ia menggambarkan perkataan penyair:
Pindahkan hatimu ke mana pun engkau mau dalam kerinduan Cinta hanyalah untuk kekasih yang pertama
Perkataannya “sedangkan kesabaran melayang-layang” artinya ia tenggelam dalam kegembiraannya dengan cinta sedangkan kesabarannya hilang. “Al-Hayaman” adalah ketercerai-beraian dan kebingungan.
Perkataannya: “Dan apa pun selain ini adalah kebingungan yang diberi nama kemabukan secara bodoh, atau kekalutan yang dinamai dengan namanya secara zalim.” Ia berkata: Apa pun selain yang kami sebutkan dari tiga tanda tersebut, meskipun termasuk dari cinta, namun tidak pantas dinamai kemabukan. Seperti kehidupan, ia diberi nama kemabukan menurut orang-orang bodoh. Dan seperti kekalutan, orang yang tidak mengetahui kemabukan menamakannya kemabukan, dan itu adalah kezaliman, keluar dari hakikat, dan menyimpang dari kebenaran.
Perkataannya: “Dan apa pun selain itu semuanya bertentangan dengan mata hati, seperti kemabukan keserakahan, kemabukan kebodohan, dan kemabukan syahwat.” Artinya jenis-jenis kemabukan ini adalah jenis yang tercela yang bertentangan dengan mata hati. Kemabukan keserakahan timbul dari kuatnya keinginan terhadap dunia dan tidak zuhud padanya. Orang yang serakah pada dunia adalah mabuk dalam rupa orang yang sadar. Demikian juga kemabukan kebodohan, karena kebodohan ada dua: kebodohan dalam ilmu dan kebodohan dalam amal. Jika kedua kebodohan itu menguasai, maka jangan tanya tentang kemabukan pemiliknya. Demikian juga kemabukan syahwat, karena syahwat memiliki kemabukan yang lebih dahsyat dari kemabukan khamar. Demikian juga kemabukan kemarahan, kemabukan kegembiraan, demikian juga kemabukan kekuasaan dan kepemimpinan, karena kepemimpinan memiliki kemabukan dan kegaduhan yang tidak tersembunyi. Demikian juga masa muda memiliki kemabukan yang kuat, dan itu adalah cabang dari kegilaan. Demikian juga ketakutan memiliki kemabukan yang menghalangi orang yang takut dari hukum akal.
Lima kemabukan jika seseorang tertimpa olehnya Ia menjadi bahan tertawaan zaman Kemabukan keserakahan, masa muda, dan cinta Dan kemabukan minuman keras serta kekuasaan
Dan yang terakhir dari itu adalah sakaratul maut yang membawa kebenaran. “Di sanalah setiap jiwa merasakan balasan apa yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikembalikan kepada Allah, pelindung mereka yang sebenarnya, dan hilanglah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (Surah Yunus: 30)
Penulis Manazil as-Sa’irin berkata: (Bab Kesadaran). Allah Ta’ala berfirman: “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surah Saba’: 23)
Sisi pengambilan dalil dari isyarat ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila berfirman dengan wahyu, para malaikat pingsan dan mereka mengalami semacam pingsan karena firman Tuhan Yang Maha Agung. Ketika ketakutan dihilangkan dari hati mereka, dilepaskan dari mereka, dan mereka sadar dari pingsan itu, sebagian mereka bertanya kepada sebagian lainnya: “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?” Maka penduduk setiap langit bertanya kepada yang di atasnya, hingga urusan itu sampai kepada penduduk langit ketujuh, lalu mereka bertanya kepada Jibril: “Wahai Jibril, apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita?” Maka ia menjawab: “Dia berfirman yang benar.” Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Beliau berkata: Kesadaran itu di atas kemabukan, dan ia sesuai dengan kedudukan kelapangan. Kesadaran adalah kedudukan yang naik dari penantian, tidak membutuhkan pencarian, dan bersih dari kesempitan. Karena kemabukan itu ada dalam kebenaran, sedangkan kesadaran itu dengan kebenaran. Segala sesuatu yang berada dalam hakikat kebenaran tidak lepas dari kebingungan, bukan kebingungan keraguan, tetapi kebingungan menyaksikan cahaya keagungan. Sedangkan apa yang dengan kebenaran tidak lepas dari kebenaran, tidak terselubungi oleh kekurangan, dan tidak dihinggapi penyakit.
Kesadaran termasuk dari tingkatan kehidupan, lembah-lembah pengumpulan, dan tanda-tanda keberadaan.
Perkataannya “kesadaran di atas kemabukan” maksudnya adalah bahwa kemabukan terjadi dalam perpisahan, sedangkan kesadaran terjadi dalam penyatuan. Juga kemabukan adalah fana (sirna), sedangkan kesadaran adalah baqa (kekal). Juga kemabukan adalah ketidakhadiran, sedangkan kesadaran adalah kehadiran. Juga kemabukan adalah ketergugupan, sedangkan kesadaran adalah kemantapan. Juga kemabukan seperti tidur, sedangkan kesadaran seperti terjaga.
Sebagian orang mengutamakan kedudukan kemabukan di atas kedudukan kesadaran dan berkata: Seandainya tidak ada sisa yang tertinggal padanya, niscaya ia tidak akan sadar. Ia melantunkan sebagai perumpamaan:
Selama masih ada sisa kesadaran padamu Si pencela akan menemukan jalan untuk mencelamu
Ini adalah kekeliruan murni, karena apa yang telah kami sebutkan. Benar, kemabukan itu di atas kesadaran yang kosong, dan orang yang mabuk karena cinta lebih baik dari orang yang sadar darinya, sedangkan orang yang sadar dengannya lebih baik dari orang yang mabuk di dalamnya.
Perkataannya “dan ia sesuai dengan kedudukan kelapangan” — sisi kesesuaian antara keduanya adalah bahwa kelapangan tidak terjadi kecuali bersama kesadaran, sedangkan kemabukan tidak dapat menampung kelapangan.
Perkataannya “dan kesadaran adalah kedudukan yang naik dari penantian” maksudnya adalah penantian kehadiran, karena orang yang sadar mantap dalam kehadiran. Oleh karena itu kedudukannya menyerupai kedudukan kelapangan. Kesadaran lebih tinggi dari disertai penantian, karena pemiliknya telah tersambung, sehingga ia tidak menanti penyambungan. Oleh karena itu ia berkata: tidak membutuhkan pencarian, karena pencari hanyalah mencari sampai kepada yang dicarinya, sedangkan orang ini telah tersambung, maka kesadarannya mencukupkannya dari pencariannya.
Perkataan ini tidak bisa dipahami secara mutlak, karena pencarian tidak meninggalkan hamba selama kehidupan menyertainya. Benar, kesadarannya mencukupkan dari pencarian bagian dari bagian-bagiannya, adapun pencarian hal-hal yang dicintai oleh yang dicintanya dan keridhaan-Nya, maka ia dalam keadaan paling sempurna dalam mencarinya.
Jika dikatakan: Maksud Syekh adalah bahwa ia tidak membutuhkan pengarahan dan perjalanan, karena ia telah sampai, sedangkan orang yang berjalan masih terus di jalan.
Aku katakan: Hamba terus berada di jalan hingga ia berjumpa dengan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Surah al-Hijr: 99) Yaitu kematian menurut kesepakatan seluruh ahli ilmu. Al-Hasan berkata: Allah tidak menjadikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman batas waktu selain kematian.
Pembagian ahli akhirat menjadi pencari, pejalan, dan yang sampai adalah benar dari satu sisi dan salah dari sisi lain. Seakan-akan mereka menjadikan perjalanan menuju Allah Ta’ala seperti perjalanan menuju rumah-Nya. Maka manusia ada tiga: pencari perjalanan, musafir di jalan, dan yang sampai ke rumah.
Ini adalah tempat di mana banyak kaki tergelincir dan banyak pemahaman tersesat, dan harus dijelaskan hakikatnya.
Kami berkata, dengan pertolongan Allah, dari-Nya kami memohon bantuan, dan Dialah tempat meminta pertolongan:
Perumpamaan ini tidak tepat, karena sampai ke rumah adalah tujuan akhir perjalanan. Jika seseorang sudah sampai, maka perjalanannya telah berakhir dan safarnya telah usai. Namun tidak demikian halnya dengan sampai kepada Allah. Ketika seorang hamba sampai kepada Allah, perjalanannya justru semakin menariknya dan safarnya semakin kuat. Maka tanda sampai kepada Allah adalah: kesungguhan dalam perjalanan dan kerja keras dalam safar. Titik inilah persimpangan jalan antara kaum yang mengesakan Allah dan kaum yang menyimpang.
Orang yang menyimpang berkata: “Perjalanan hanyalah sarana, dan menyibukkan diri dengan sarana setelah sampai ke tujuan adalah kesia-siaan. Ketika hamba sudah sampai, gugurlah darinya hukum-hukum perjalanan.” Ia menjadi seperti yang dikatakan dalam syair:
Ia meletakkan tongkatnya dan hatinya tenteram di tempat tinggal, sebagaimana musafir yang bergembira dengan kepulangan.
Salah seorang dari mereka dipanggil untuk shalat ketika iqamat telah dikumandangkan, lalu ia berkata:
Yang dituntut mengerjakan wirid adalah orang yang lalai, bagaimana dengan hati yang setiap waktunya adalah wirid?
Dikatakan kepada orang menyimpang lainnya: “Mengapa engkau tidak shalat?” Ia menjawab: “Kalian dengan wirid-wirid kalian, dan kami dengan limpahan-limpahan ilahi kami.”
Mereka inilah yang dikecam keras oleh para imam tarekat dan dikeluarkan dari lingkaran Islam. Sebagian imam berkata: “Ya, mereka memang sampai, tapi kepada setan, bukan kepada Yang Maha Pengasih.” Yang lain berkata: “Mereka sampai, tapi ke neraka Saqar.”
Setiap orang yang sampai kepada Allah, ia tetap mencari-Nya dan berjalan di jalan keridaan-Nya. Ya, awal urusan adalah pencarian, pertengahannya adalah perjalanan, dan akhirnya adalah sampai. Penjelasan tentang hakikat “sampai” yang diisyaratkan oleh kaum sufi akan datang pada bab setelah ini, insya Allah Ta’ala.
Maksudnya adalah: ucapan beliau “mencukupkan dari pencarian” adalah perkataan yang membutuhkan takwil dan dimaknai dengan makna yang benar. Bisa dimaknai bahwa ia mencukupkan dari memaksakan pencarian—maka beliau tidak menghendaki makna ini. Bisa juga dimaknai bahwa ia mencukupkan dari melihat pencarian itu sendiri—ini lebih dekat, namun beliau tidak menghendakinya. Atau bisa dimaknai bahwa ia telah sampai pada penyaksian keutamaan azali, di mana alam semesta dan sebab-sebab terlipat, dan pencarian sama sekali tidak berpengaruh lagi, karena ia berasal dari sumber kemurahan semata, dan tercapainya yang dicari tidak bergantung padanya. Segala sesuatu ada karena-Nya semata. Dialah yang mengadakan, menyiapkan, dan memberi pertolongan. Di tangan-Nya segala sebab, kesebaban, kekuatan, penghalang, dan penentangnya. Segala urusan milik-Nya dan dengan-Nya, dan kepada-Nya segala urusan kembali. Ini adalah makna yang benar pada dirinya sendiri, namun pemilik tingkatan ini tetap tidak bisa lepas dari pencarian.
Ucapan beliau “bersih dari kesempitan” artinya: kosong darinya, tidak ada kesempitan baginya, karena ia menjalankan tugas-tugas penghambaan dalam keadaan mabuk maupun sadar.
Ucapan beliau “karena mabuk itu hanya dalam kebenaran, dan sadar itu hanya dengan kebenaran.”
Maksudnya: mabuk itu hanya dalam cinta dan rindu kepada-Nya, sehingga hatinya tenggelam dalam cinta. Sedangkan sadar itu dengan kebenaran, yaitu dengan keberadaan-Nya. Ini adalah perkataan yang membutuhkan penjelasan dan uraian yang memadai. Kami berkata, dan kepada Allah kami memohon pertolongan:
Seorang pencinta memiliki dua keadaan: keadaan tenggelam dalam cinta kepada kekasihnya, seperti tenggelamnya orang mabuk dalam kemabukan. Itu terjadi ketika ia tenggelam dalam penyaksian keindahan dan kesempurnaan-Nya, sehingga tidak ada ruang bagi selain-Nya dan tidak ada kelebihan bagi yang lain. Jika orang yang tidak mengenal keadaannya melihatnya, ia menyangka itu mabuk. Ini adalah ketenggelaman dalam kekasih serta sifat-sifat dan atribut-Nya.
Keadaan kedua: keadaan sadar, di mana ia tersadar pada penghambaan dan menjalankan keridaan-Nya, seperti bersegera kepada hal-hal yang dicintai-Nya. Dalam keadaan ini ia dengan-Nya, yaitu bergerak dalam perintah-perintah dan hal-hal yang dicintai-Nya dengan-Nya. Ia tidak lalai dari-Nya karena perintah-perintah-Nya, dan tidak lalai dari perintah-perintah-Nya karena-Nya. Kewajiban, perintah, dan hak-hak-Nya tidak menyibukkannya dari kewajiban mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, dan ridha dengan-Nya. Kewajiban cintanya juga tidak menyibukkannya dari perintah-perintah-Nya.
Ia meneladani imam para penganut agama hanif, Ibrahim al-Khalil—shalawat Allah dan salam-Nya atasnya. Beliau berada di tingkatan cinta tertinggi, yaitu kekhilahan (kekasih Allah), namun itu tidak menyibukkannya dari menjalankan sifat-sifat fitrah seperti khitan, memotong kumis, dan memotong kuku, apalagi yang lebih dari itu. Beliau memenuhi hak kedua tingkatan itu. Karena itulah Allah memujinya dengan firman-Nya: “Dan Ibrahim yang memenuhi (janjinya).” (QS. An-Najm: 37)
Ucapan beliau: “Dan selama ia berada dalam sumber kebenaran, ia tidak lepas dari keheranan.”
Maksudnya: mengutamakan tingkatan sadar di atas tingkatan mabuk dan mengangkatnya di atasnya. Karena mabuk, ketika berada dalam sumber kebenaran, pasti mengandung sejenis keheranan. Kemudian beliau menambahkan: “bukan keheranan keraguan”—karena itu bertentangan dengan dasar ikatan iman—”tetapi keheranan menyaksikan cahaya-cahaya keagungan.” Yaitu ketakjuban yang menimpa penyaksi terhadap sesuatu yang sangat agung yang belum pernah ia alami sebelumnya. Berbeda dengan tingkatan sadar, karena kekuatan, keteguhan, dan kemantapannya, hal itu tidak menimpanya.
Kesimpulan perkataannya: siapa yang memandang pada sumber hakikat, pasti mengalami keheranan, yaitu keheranan menyaksikan cahaya-cahaya keagungan, bukan keheranan orang yang tersesat dari jalan tujuannya. Keraguan adalah ketika jalan menjadi samar bagi penempuh, sehingga ia tidak tahu apakah ia di atas kebenaran atau kebatilan. Telah lewat penjelasan bahwa menyaksikan cahaya Dzat Yang Mahasuci di dunia ini adalah mustahil, maka tidak perlu diulang.
Ucapan beliau: “Dan apa yang dengan kebenaran tidak lepas dari kebenaran, tidak tertimpa kekurangan, dan tidak silih berganti penyakit padanya.” Ini adalah penegasan beliau tentang keutamaan tingkatan sadar di atas tingkatan mabuk. Karena ketika ia dengan Allah, ia terjaga dan terlindungi dari nafsu dan setan yang merupakan sumber setiap kebatilan. Penjagaan ini adalah makna sabda Nabi: “Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan.” Maka di mana kebatilan di sini? Kemudian lanjutannya: “Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memegang, dan dengan-Ku ia berjalan.” Ini adalah penegasan penjagaan pendengaran, penglihatan, pegangan, dan jalannya.
Ucapan beliau “dan tidak silih berganti penyakit padanya”—at-ta’awur adalah pergantian, yaitu tidak bergantian penyakit-penyakit padanya. Penyakit adalah memperhatikan selain Allah, ketaatan hati kepada selain-Nya, dan memenuhi seruannya.
Ucapan beliau: “Sadar adalah termasuk tempat-tempat kehidupan, lembah-lembah pengumpulan, dan kilatan-kilatan wujud.” Ini juga penegasan keutamaan tingkatannya di atas tingkatan mabuk. Telah lewat penyebutan kehidupan, tingkatan-tingkatan, dan bagian-bagiannya.
Kesesuaian antara sadar dan kehidupan: kehidupan adalah yang membenarkan semua tingkatan dan keadaan. Ia mengalirkan pada semuanya sebagaimana lembah-lembah mengalirkan airnya ke lautan.
Ucapan beliau “dan lembah-lembah pengumpulan”—pengumpulan dimaksudkan: pengumpulan wujud, pengumpulan penyaksian, dan pengumpulan kehendak. Yang pertama adalah pengumpulan kaum menyimpang penganut wahdatul wujud. Yang kedua adalah pengumpulan ahli fana. Yang ketiga adalah pengumpulan para rasul dan pewaris mereka, sebagaimana akan datang perinciannya pada bab pengumpulan, insya Allah Ta’ala. Maka sadar termasuk lembah pengumpulan yang tinggi, bukan yang rendah atau yang pertengahan.
Ucapan beliau “dan kilatan-kilatan wujud”—al-lawa’ih adalah jamak dari la’ihah, yaitu apa yang tampak bagimu seperti kilat dan lainnya. Akan datang pembahasan tentang wujud yang sadar termasuk kilatannya pada babnya, insya Allah Ta’ala.
Pasal tentang Penyambungan (al-Ittishal)
Pengarang Manazil as-Sa’irin berkata dalam “Bab Penyambungan”: Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat.” (QS. An-Najm: 8-9). Mematahkan akal-akal, lalu memutus pembahasan dengan firman-Nya “atau lebih dekat.”
Seakan-akan syekh memahami dari ayat ini bahwa yang mendekat lalu bertambah dekat sehingga berjarak dua ujung busur atau lebih dekat dari Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Meskipun sejumlah mufasir mengatakan demikian, yang benar adalah bahwa itu adalah Jibril ‘alaihish shalatu was salam. Dialah yang disifati dengan apa yang disebutkan dari awal surat hingga firman-Nya: “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidrah al-Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14). Demikianlah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menafsirkannya dalam hadits shahih.
Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang ayat ini, maka beliau bersabda: ‘Itu Jibril. Aku tidak melihatnya dalam rupa aslinya yang diciptakan untuknya kecuali dua kali.'”
Lafaz Al-Quran tidak menunjukkan selain itu dari beberapa sisi:
Pertama: Allah berfirman: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 5). Ini adalah Jibril yang disifati Allah dengan kekuatan dalam surat at-Takwir: “Sesungguhnya (Al-Quran) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). Yang memiliki kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi (Allah) Yang memiliki ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 19-20).
Kedua: Allah berfirman: “Yang mempunyai akal yang cerdas.” (QS. An-Najm: 6), yaitu berperawakan bagus. Dialah yang mulia yang disebutkan dalam surat at-Takwir.
Ketiga: Allah berfirman: “Dan menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.” (QS. An-Najm: 6-7), yaitu arah langit yang tinggi. Ini adalah Jibril yang berdiri tegak di ufuk yang tinggi. Adapun bersemayamnya Rabb—Jalla Jalaluhu—adalah di atas ‘Arsy-Nya.
Keempat: Allah berfirman: “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat.” (QS. An-Najm: 8-9). Ini adalah mendekat dan turunnya Jibril ke bumi, tempat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada. Adapun mendekat dan turun dalam hadits Mi’raj, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada di atas langit-langit. Di sanalah al-Jabbar—Jalla Jalaluhu—mendekat kepadanya dan turun. Maka mendekat dan turun dalam hadits berbeda dengan mendekat dan turun dalam ayat, meskipun sama dalam lafaz.
Kelima: Allah berfirman: “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidrah al-Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14). Yang terlihat di Sidrah adalah Jibril secara pasti. Demikianlah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menafsirkannya. Beliau bersabda kepada Aisyah: “Itu adalah Jibril.”
Keenam: Penafsir dhamir dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya dia telah melihatnya” (QS. An-Najm: 13), dan dalam firman-Nya: “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat” (QS. An-Najm: 8), dan dalam firman-Nya: “lalu menampakkan diri dengan rupa yang asli,” dan dalam firman-Nya: “Sedang dia berada di ufuk yang tinggi” (QS. An-Najm: 7)—adalah satu. Tidak boleh membedakan antara penafsir dan yang ditafsirkan tanpa dalil.
Ketujuh: Allah menyebutkan dalam surat ini dua rasul yang mulia: malaikat dan manusia. Allah mensucikan yang manusia dari kesesatan dan penyimpangan, dan mensucikan yang malaikat dari menjadi setan yang buruk dan lemah. Bahkan ia kuat, mulia, dan bagus rupanya. Ini sama dengan sifat yang disebutkan dalam surat at-Takwir.
Kedelapan: Di sana Allah mengabarkan bahwa ia melihatnya di ufuk yang jelas, dan di sini mengabarkan bahwa ia melihatnya di ufuk yang tinggi. Keduanya sama, disifati dengan dua sifat: ia jelas dan ia tinggi. Karena sesuatu semakin tinggi, semakin jelas dan tampak.
Kesembilan: Allah berfirman: “Yang mempunyai akal yang cerdas.” (QS. An-Najm: 6). Al-mirrah adalah rupa yang bagus dan kokoh. Allah mengabarkan tentang bagusnya rupa yang mengajar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian meneruskan berita tentangnya secara berurutan.
Kesepuluh: Seandainya itu berita tentang Rabb Ta’ala, niscaya Al-Quran menunjukkan bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat Rabbnya dua kali: sekali di ufuk dan sekali di Sidrah. Padahal diketahui bahwa jika demikian adanya, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak akan bersabda kepada Abu Dzar ketika ia bertanya: “Apakah engkau melihat Rabbmu?” Beliau menjawab: “Cahaya, bagaimana mungkin aku melihat-Nya?”
Bagaimana mungkin Al-Quran mengabarkan bahwa beliau melihat-Nya dua kali, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: “Bagaimana mungkin aku melihat-Nya?” Ungkapan ini lebih kuat dari ucapan “aku tidak melihat-Nya.” Karena dengan penafian saja, itu hanya mengabarkan tidak adanya penglihatan. Sedangkan ungkapan ini mengandung penafian dan sedikit pengingkaran terhadap penanya—seperti jika seseorang berkata kepada orang lain: “Apakah terjadi begini dan begitu?” Lalu ia menjawab: “Bagaimana mungkin itu terjadi?”
Kesebelas: Bahwa sebelumnya tidak ada penyebutan tentang Tuhan Yang Maha Agung yang menjadi rujukan kata ganti dalam firman-Nya: “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat” (Surah An-Najm: 8). Kata ganti yang dirujuk tidak layak untuk-Nya, melainkan untuk hamba-Nya.
Kedua belas: Bagaimana mungkin kata ganti merujuk kepada sesuatu yang tidak disebutkan, sementara meninggalkan rujukan kepada yang telah disebutkan padahal itu lebih layak?
Ketiga belas: Sebelumnya telah disebutkan “sahabat kalian” dan kata ganti yang sesuai dengannya dikembalikan kepadanya. Kemudian setelahnya disebutkan “yang memiliki kekuatan luar biasa dan keteguhan” dan kata ganti yang sesuai dengannya dikembalikan kepadanya. Seluruh kabar ini adalah tentang dua yang dijelaskan ini, yaitu utusan malaikat dan utusan manusia.
Keempat belas: Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa yang mendekat dan bertambah dekat itu berada di ufuk tertinggi, yaitu ufuk langit. Bahkan dia berada di bawahnya, telah mendekat kepada utusan Tuhan semesta alam shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun mendekatnya Tuhan Yang Maha Tinggi dan bertambah dekat-Nya sebagaimana dalam hadits Syarik adalah dari atas Arsy, bukan ke bumi.
Kelima belas: Mereka tidak mendebat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang melihat Tuhannya, dan beliau tidak mengabarkan mereka tentang hal itu sehingga perdebatan mereka terjadi karenanya. Mereka hanya mendebat beliau tentang apa yang beliau kabarkan berupa tanda-tanda yang Allah perlihatkan kepadanya. Seandainya beliau mengabarkan kepada mereka tentang melihat Tuhan Yang Maha Tinggi, tentu perdebatan mereka tentang hal itu akan lebih besar daripada perdebatan mereka tentang melihat makhluk-makhluk.
Keenam belas: Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kebenaran apa yang dilihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa perdebatan mereka tentang hal itu adalah batil dengan firman-Nya: “Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar.” Seandainya yang dilihat adalah Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, dan perdebatan mereka adalah tentang hal itu, tentu penetapan penglihatan itu lebih utama, dan konteksnya lebih membutuhkannya. Wallahu a’lam.
Penjelasan tentang “Atau Lebih Dekat”
Ucapannya: “Membuat akal putus asa dengan firman-Nya: atau lebih dekat” maksudnya adalah bahwa akal tidak mampu menetapkan pengetahuan tentang kedekatan yang lebih dekat dari ukuran dua ujung busur. Ini berdasarkan pemahamannya terhadap ayat tersebut. Padahal sebenarnya akal tidak putus asa dari mendekatnya utusan malaikat-Nya kepada utusan manusia-Nya, hingga kedekatannya menjadi seukuran dua ujung busur atau lebih dekat dari dua busur. Karena itu adalah kedekatan hamba dengan hamba, makhluk dengan makhluk.
Mungkin ada yang bertanya: Apa fungsi kata “atau”? Jawabannya: Kata itu untuk menegaskan apa yang disebutkan sebelumnya, bahwa kedekatan itu jika tidak kurang dari ukuran dua busur maka tidak lebih dari keduanya. Ini seperti firman-Nya: “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih” (Surah Ash-Shaffat: 147). Maknanya adalah mereka jika tidak lebih dari seratus ribu maka tidak kurang darinya. Jadi ini adalah penegasan untuk bilangan seratus ribu yang pasti. Renungkanlah.
Tiga Tingkatan Keterhubungan
Dia berkata: Keterhubungan ada tiga tingkatan. Tingkatan pertama: keterhubungan berpegang teguh, kemudian keterhubungan penyaksian, kemudian keterhubungan keberadaan. Keterhubungan berpegang teguh adalah: memperbaiki niat, kemudian memurnikan kehendak, kemudian mewujudkan kondisi spiritual.
Adapun dua bagian pertama yaitu keterhubungan berpegang teguh dan keterhubungan penyaksian, maka tidak ada keraguan padanya. Keduanya adalah tingkatan iman dan ihsan. Keterhubungan berpegang teguh adalah tingkatan iman, dan keterhubungan penyaksian adalah tingkatan ihsan.
Menurutku: Tidak ada tujuan di luar itu. Semua yang disebutkan setelahnya tentang keterhubungan yang benar adalah bagian dari tingkatan ihsan. Adapun keterhubungan keberadaan tidak memiliki hakikat. Namun harus disebutkan maksud syeikh dan ahli istiqamah dengan keterhubungan ini, dan maksud ahli ilhad yang berpaham wahdatul wujud darinya, ketika kita sampai pada pembahasannya insya Allah.
Keterhubungan Berpegang Teguh
Adapun keterhubungan berpegang teguh, Allah Ta’ala berfirman: “Dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (Surah Al-Hajj: 78). Dan firman-Nya: “Dan barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh, dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (Surah Ali Imran: 101). Dan firman-Nya: “Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan agama mereka untuk Allah” (Surah An-Nisa: 146). Dan firman-Nya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah” (Surah Ali Imran: 103).
Berpegang teguh kepada-Nya ada dua jenis: Berpegang teguh dengan bertawakal, meminta pertolongan, menyerahkan urusan, berlindung, memohon perlindungan, menyerahkan diri kepada-Nya, dan pasrah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Yang kedua: Berpegang teguh dengan wahyu-Nya, yaitu menjadikannya sebagai hakim di atas pendapat-pendapat manusia, analogi-analogi mereka, akal-akal mereka, cita rasa mereka, kasyaf mereka, dan perasaan spiritual mereka. Barangsiapa tidak demikian maka dia terlepas dari pegangan ini. Maka agama seluruhnya adalah berpegang teguh kepada-Nya dan kepada tali-Nya, dalam ilmu dan amal, keikhlasan dan meminta pertolongan, mengikuti, dan terus-menerus atas hal itu hingga hari kiamat.
Keterhubungan Penyaksian
Ucapannya: “Kemudian keterhubungan penyaksian.” Telah disebutkan pembahasan tentang musyahadah sebelumnya. Kami telah jelaskan bahwa musyahadah adalah mewujudkan tingkatan ihsan. Keterhubungan pertama adalah keterhubungan ilmu dan amal, sedangkan yang kedua adalah keterhubungan kondisi spiritual dan makrifat.
Keterhubungan Keberadaan
Ucapannya: “Kemudian keterhubungan keberadaan.” Al-wujud adalah memperoleh hakikat sesuatu. Ma’adzallah (kami berlindung kepada Allah) bahwa syeikh bermaksud: keberadaan hamba terhubung dengan keberadaan Tuhan sehingga semuanya menjadi satu keberadaan, sebagaimana disangka oleh orang yang sesat. Karena kekufuran Nasrani hanyalah bagian kecil dari kekufuran ini. Ini juga adalah ucapan yang tidak bermakna, karena hamba—bahkan tidak ada hamba dalam hakikat menurut mereka—selalu demikian, meskipun dia makhluk paling rusak dan paling jahat. Keberadaannya sendiri terhubung dengan keberadaan Tuhannya, bahkan ia adalah keberadaan-Nya itu sendiri. Bahkan menurut mereka tidak ada Tuhan dan tidak ada hamba.
Yang dimaksud syeikh dengan keterhubungan keberadaan adalah: hamba menemukan Tuhannya setelah sebelumnya kehilangan-Nya. Dia ibarat orang yang mencari harta karun tanpa bisa mencapainya, lalu setelah itu dia mendapatkannya dan menemukannya serta menjadi sangat kaya karenanya. Inilah keterhubungan keberadaan, sebagaimana dalam atsar: “Carilah Aku, niscaya kamu akan menemukan-Ku. Jika kamu menemukan-Ku, kamu menemukan segala sesuatu. Dan jika kamu kehilangan-Ku, kamu kehilangan segala sesuatu.”
Penemuan hamba terhadap Tuhannya ini beragam sesuai kondisi dan tingkatan hamba. Orang yang bertobat dengan tulus, jika dia bertobat kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Orang yang bertawakal, jika dia jujur dalam bertawakal kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya sebagai Pencukup yang memadai. Orang yang berdoa, jika dia jujur dalam memohon kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya Dekat lagi Mengabulkan. Orang yang mencintai, jika dia jujur dalam cintanya, dia akan menemukan-Nya Maha Mencintai dan Kekasih. Orang yang dalam kesusahan, jika dia jujur dalam meminta pertolongan kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya sebagai Penghilang kesedihan dan Penyelamat darinya. Orang yang terpaksa, jika dia jujur dalam keterpaksaannya kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya Maha Penyayang lagi Penolong. Orang yang takut, jika dia jujur dalam berlindung kepada-Nya, dia akan menemukan-Nya pemberi keamanan dari ketakutan. Orang yang berharap, jika dia jujur dalam pengharapannya, dia akan menemukan-Nya sesuai prasangkanya kepada-Nya.
Maka orang yang mencintai-Nya, mencari-Nya, dan menginginkan-Nya, yang tidak menginginkan pengganti selain-Nya dan tidak rela dengan selain-Nya sebagai ganti, jika dia jujur dalam cinta dan kehendaknya, dia juga akan menemukan-Nya dengan penemuan yang lebih khusus dari penemuan-penemuan itu. Karena jika orang yang menginginkan sesuatu dari-Nya saja menemukan-Nya, bagaimana dengan orang yang menginginkan-Nya dan mencintai-Nya? Maka orang yang menemukan ini berhasil mendapatkan dirinya dan Tuhannya.
Adapun keberhasilannya mendapatkan dirinya: jiwanya menjadi patuh kepadanya, taat kepadanya, mengikuti keridhaan-Nya tanpa menolak dan tidak memerintah kepada kejahatan. Bahkan jiwanya menjadi pelayan dan hamba milik-Nya setelah sebelumnya menjadi yang dilayani dan memiliki.
Adapun keberhasilannya mendapatkan Tuhannya: kedekatan-Nya dengannya, keakrabannya dengan-Nya, rahasianya dipenuhi oleh-Nya, kegembiraannya dan kebahagiaannya dengan-Nya adalah kegembiraan dan kebahagiaan terbesar. Inilah hakikat keterhubungan keberadaan. Wallahul musta’an (hanya kepada Allah kami meminta pertolongan).
Penjelasan Rinci Keterhubungan Berpegang Teguh
Ucapannya: “Keterhubungan berpegang teguh adalah: memperbaiki niat, kemudian memurnikan kehendak, kemudian mewujudkan kondisi spiritual.” Aku berkata: Memperbaiki niat terwujud dengan dua hal: mengesakan yang dituju dan memusatkan perhatian padanya. Hakikatnya adalah mengesakan niat dan yang diniatkan. Jika niatnya atau yang diniatkannya terbagi, maka niat itu tidak benar. Syeikh telah mengungkapkannya sebelumnya bahwa itu adalah “niat yang mendorong untuk melatih diri, membebaskan dari keraguan, dan mengajak untuk menjauhi kompensasi.” Maka keterhubungan dalam tingkatan ini adalah dengan niat ini.
Ucapannya: “Kemudian memurnikan kehendak” adalah membersihkannya dari kotoran dan ketergantungan kepada selain-Nya atau kepada kompensasi. Bahkan hendaknya kehendak itu murni dari semua itu, sehingga tergantung kepada Allah dan kepada apa yang dikehendaki-Nya secara agama dan syariat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Ucapannya: “Kemudian mewujudkan kondisi spiritual” artinya dia memiliki kondisi spiritual yang terwujud dan tetap. Dia tidak cukup dengan ilmu semata sampai disertai amal, dan tidak cukup dengan amal semata sampai disertai kondisi spiritual. Sehingga kehendak, cinta, kembali kepada Allah, tawakal, dan hakikat-hakikat iman menjadi kondisi hatinya. Hatinya telah tercelup dengannya, sehingga seandainya anggota tubuhnya tidak beraktivitas, hatinya tetap dalam beramal dan berjalan kepada Allah. Bahkan kadang amal hatinya lebih kuat dari amal anggota tubuhnya.
Tingkatan Kedua: Keterhubungan Penyaksian
Ucapannya: “Tingkatan kedua: keterhubungan penyaksian, yaitu bebas dari penyakit, tidak butuh kepada dalil, dan hilangnya ketercerai-beraian rahasia.”
Al-i’tilal adalah penghalang dan penyakit. Bebas darinya adalah kesehatan. Oleh karena itu tingkatan ini lebih tinggi dari sebelumnya. Yang pertama adalah keterhubungan dengan kebenaran niat dan amal, sedangkan ini adalah keterhubungan dengan melihat siapa yang untuknya beramal, dengan mewujudkan penyaksian-Nya dengan mata hati. Maka hamba bebas dengan itu dari penyakit-penyakit amal, menganggapnya banyak, memandangnya baik, dan bersandar kepadanya.
Ucapannya: “Dan tidak butuh kepada dalil” artinya dia tidak butuh dengan menyaksikan yang ditunjuk untuk mencari dalil. Karena pencari dalil hanya mencarinya untuk sampai pada pengetahuan tentang yang ditunjuk. Jika dia menyaksikan yang ditunjuk, apa urusannya dengan mencari dalil?
Tidak benar dalam pikiran sesuatu pun Jika siang hari membutuhkan bukti
Bagaimana dia membutuhkan pembuktian atas-Nya, padahal siang hari adalah sebagian tanda-tanda yang menunjukkan kepada-Nya? “Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan” (Surah Fushshilat: 37). Oleh karena itu para rasul menyapa kaum mereka dengan sapaan orang yang tidak ragu terhadap Tuhannya dan tidak meragukan keberadaan-Nya: “Para rasul mereka berkata: ‘Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi?'” (Surah Ibrahim: 10).
Ucapannya: “Dan hilangnya ketercerai-beraian rahasia” maksudnya adalah bahwa bebas dari penyakit dan fana dengan keterhubungan penyaksian dari dalil menghilangkan darinya ketercerai-beraian rahasia, yaitu terpecahnya perhatian dan tercerai-berainya hati di alam semesta. Karena keterhubungan penyaksiannya mengumpulkannya pada yang disaksikan, sebagaimana dzikir yang terus-menerus yang hati dan lisan sepakat padanya serta penyaksian yang diingat mengumpulkannya pada-Nya dan menghilangkan ketercerai-beraiannya. Ketercerai-beraian menyertai ketidakhadiran, dan hilangnya menyertai kehadiran. Wallahul musta’an.
Tingkatan Ketiga: Keterhubungan Keberadaan
Ucapannya: “Tingkatan ketiga: keterhubungan keberadaan. Keterhubungan ini tidak bisa dipahami sifatnya dan tidak bisa diukur kadarnya, kecuali nama pinjaman dan isyarat yang ditunjukkan kepadanya.”
Dia berkata: Ketika yang dikenal dalam jenis keterhubungan ini adalah sesuatu yang paling langka dan paling asing dari jiwa-jiwa dalam ilmu dan kondisi spiritual, ungkapan tidak mampu mengungkapnya. Karena lafaz itu terbatas dan ungkapan itu menipu—bisa menyimpang kepada tambahan yang merusak atau kekurangan yang mengganggu, atau mengalihkan makna kepada selainnya sehingga disangka bahwa itulah yang bisa diungkapkan. Di antaranya adalah bahwa dia dikuasai oleh cahaya kedekatan, kuatnya cinta, kuatnya keakraban, sempurnanya muraqabah, dan kuasanya dzikir hati. Maka hamba hilang dari menyadari kondisinya karena dikuasai oleh hal-hal ini, sehingga dia berada dalam keberadaan lain selain keberadaan alaminya.
Aku tidak menyangka kamu percaya ini, bahwa dia menjadi memiliki keberadaan lain. Kamu mungkin berkata: ini khayalan dan ilusi. Maka jangan terburu-buru mengingkari apa yang ilmumu tidak meliputinya, apalagi merasakan kondisinya. Berikan busur kepada pembuatnya, dan biarkan kendaraan dengan penuntunnya. Jika kamu adil, kamu akan tahu bahwa keberadaan yang didapat oleh orang yang tersiksa dan terhimpit dalam kondisi terburuk, penjara tersempit, dan kehidupan paling menyusahkan—jika dia meninggalkan kondisi ini dan berpindah ke kerajaan yang nyaman dan luas, di mana perintahnya dijalankan dan urusannya ditaati, pasukan-pasukan tunduk kepadanya dan umat berkumpul padanya—maka keberadaannya saat itu berbeda dari keberadaan yang dia alami sebelumnya. Ini adalah perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman, padahal perkaranya lebih besar dari itu dan lebih besar lagi. Oleh karena itu dia berkata: “tidak bisa dipahami sifatnya” yang sesuai dan meliputinya. Karena perkara-perkara yang sangat besar, sifatnya tidak mengungkap hakikatnya sebagaimana adanya. Tidak ada di dunia dari apa yang ada di akhirat kecuali nama-namanya saja. Yang disebutkan hanyalah sebagian konsekuensi dan keterkaitannya, sehingga yang disebutkan menunjukkan yang lainnya.
Ucapannya: “Dan tidak bisa diukur kadarnya” maksudnya: kadar kemuliaan dan kedudukan, sebagaimana kamu berkata: si fulan besar kadarnya (kedudukannya).
Penjelasan tentang “Hanyalah Nama Pinjaman dan Isyarat yang Ditunjukkan Kepadanya”
Ketika nama tidak mampu mencapai hakikat dan tidak sesuai dengannya, seolah-olah nama itu untuk selain hakikat tersebut, dan penggunaannya untuk hakikat itu hanyalah pinjaman belaka. Demikian pula isyarat yang ditunjukkan adalah isyarat yang mengarahkan kepada hakikat.
Selanjutnya, sang Syekh berkutat di seputar lautan fana, seolah-olah ia berkata: Pemilik keterhubungan ini telah fana dalam wujud, sehingga ia menjadi titik yang ketentuan dirinya telah terurai, keberadaannya telah lenyap, dan kepulangannya lebih kuat dari permulaannya. Maka fana-lah yang tidak pernah ada, dan kekal-lah yang tidak pernah tiada. Di sanalah isyarat-isyarat gugur, ungkapan-ungkapan sirna, dan jejak-jejak lenyap. “Dan semua wajah tertunduk di hadapan Tuhan Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya” (Thaha: 111).
Hakikat Keterputusan
Pengarang Kitab Al-Manazil berkata: “Bab Keterputusan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya” (Ali Imran: 28). Tidak ada dalam tingkatan-tingkatan sesuatu yang memiliki perbedaan tingkatan seperti yang ada dalam keterputusan.
Sisi penunjukan ayat ini adalah: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Mendekatkan dan Yang Menjauhkan. Maka hendaklah orang yang dekat waspada dari penjauhan, dan yang terhubung waspada dari keterputusan. Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung kemuliaan-Nya sangat pencemburu; Dia tidak rida kepada siapa yang telah mengenal-Nya, merasakan manisnya makrifat kepada-Nya, hatinya terhubung dengan cinta dan keakraban kepada-Nya, dan ruhnya bergantung pada kehendak akan Wajah-Nya yang Maha Tinggi, jika orang itu masih menoleh kepada selain-Nya sama sekali.
Di antara kecemburuan-Nya Subhanahu wa Ta’ala adalah: Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang lahir maupun yang batin. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat cemburu terhadap hamba-Nya: jika hamba itu menoleh kepada selain-Nya. Maka jika Dia telah mengecapkan kepadanya manisnya cinta kepada-Nya, kelezatan rindu kepada-Nya, dan keakraban makrifat kepada-Nya, lalu hamba itu mengakrabi selain-Nya, maka Allah akan menjauhkannya dari kedekatan-Nya, memutusnya dari keterhubungan-Nya, membuat hatinya resah, mencerai-beraikan kalbunya, mengusik ketenangan hidupnya, dan mengenakan kepadanya jubah kehinaan, kerendahan, dan kenistaan. Maka keadaannya menyeru—jika lisannya tidak mengatakannya secara terang-terangan—bahwa: Inilah balasan bagi siapa yang mengganti Pelindungnya, Tuhannya, dan Penciptanya—yang tiada kehidupan baginya kecuali dengan-Nya—dengan selain-Nya, dan mengutamakan selain-Nya di atas-Nya, lalu menjadikan selain-Nya sebagai kekasih, rida dengan selain-Nya sebagai teman akrab, dan menjadikan selain-Nya sebagai pelindung. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Al-Kahfi: 50).
Maka jika hati ini dicambuk dengan cambuk penjauhan dan penghalangan, ditimpakan kepadanya siapa yang menyiksanya dengan siksaan yang buruk, dipenuhi dengan keresahan, kesedihan, dan duka cita, menjadi tempat bagi bangkai-bangkai, kotoran-kotoran, dan bau busuk, diganti keakrabannya dengan keterasingan, kemuliaannya dengan kehinaan, kecukupannya dengan keserakahan, kedekatannya dengan penjauhan dan pengusiran, kebersamaannya dengan ketercerai-beraian dan perpecahan—maka ini adalah sebagian balasannya. Pada saat itulah berbagai musibah dan penderitaan menimpanya, dan rombongan demi rombongan kesedihan dan keresahan menyergapnya setelah sebelumnya rombongan kegembiraan yang datang.
Seorang qari membaca di hadapan Al-Sari: “Dan apabila engkau membaca Al-Qur’an, Kami adakan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu dinding yang tertutup” (Al-Isra: 45). Maka Al-Sari berkata: “Tahukah kalian apa hijab ini? Ini adalah hijab kecemburuan. Dan tidak ada yang lebih cemburu dari Allah.” Maka barangsiapa yang mengenal-Nya dan merasakan manisnya kedekatan dan cinta kepada-Nya, lalu berpaling dari-Nya untuk mengakrabi selain-Nya: Dia akan melemahkan anggota tubuhnya dari ketaatan kepada-Nya, mengekang hatinya dari kehendak dan cinta kepada-Nya, mengakhirkannya dari posisi kedekatan kepada-Nya, dan menyerahkannya kepada apa yang ia pilih untuk dirinya sendiri.
Sebagian ulama berkata: “Waspadalah terhadap-Nya, karena Dia Maha Pencemburu; Dia tidak suka melihat dalam hati hamba-Nya ada selain-Nya.”
Di antara kecemburuan-Nya adalah: bahwa pilihan-Nya Adam, ketika hatinya mengakrabi surga dan tamak untuk kekal di dalamnya, Allah mengeluarkannya dari surga itu. Di antara kecemburuan-Nya Subhanahu wa Ta’ala adalah: bahwa kekasih-Nya Ibrahim, ketika Ismail mengambil bagian dari hatinya, Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya, agar keluar dari hatinya saingan itu.
Syirik di sisi-Nya adalah dosa yang tidak diampuni karena hati orang musyrik bergantung kepada-Nya dan kepada selain-Nya. Lantas bagaimana dengan orang yang seluruh hatinya bergantung kepada selain-Nya dan berpaling dari-Nya sepenuhnya?
Jika engkau ingin mengetahui bencana keterputusan yang menimpamu dan kehinaan penghalangan, lihatlah: siapakah yang telah memperbudak hatimu, mempekerjakan anggota tubuhmu, menyibukkan batinmu? Di manakah hatimu bermalam ketika engkau berbaring? Dan ke manakah ia terbang ketika engkau bangun dari tidurmu? Itulah sesembahanmu dan tuhanmu. Maka ketika engkau mendengar seruan pada hari kiamat: “Hendaklah setiap orang pergi bersama apa yang ia sembah,” engkau akan pergi bersamanya, siapa pun dia.
Tiada Tuhan selain Allah! Betapa besar kerugian orang yang menjual kehidupan yang paling nikmat di dunia ini—yang bersambung dengan kehidupan yang baik di sana dan kenikmatan yang abadi—dengan kehidupan yang keruh dan ternoda yang bersambung dengan siksa yang pedih. Padahal waktunya hanyalah sesaat dari siang, atau sore atau paginya, atau sehari atau sebagian hari, yang di dalamnya ada keuntungan abadi atau kerugian abadi.
Ini hanyalah sesaat kemudian berlalu Dan semua ini akan pergi dan sirna
Pasal tentang Macam-Macam Keterputusan
Sang Syekh berkata: “Tidak ada dalam tingkatan-tingkatan sesuatu yang memiliki perbedaan tingkatan seperti yang ada dalam keterputusan.”
Maksudnya: bahwa di antara tingkatan-tingkatan tingkatan ada keserasian dan perbedaan yang sedikit. Sedangkan tingkatan keterputusan sedikit keserasiannya dalam tingkatannya dan banyak perbedaannya, sebagaimana akan kami jelaskan.
Sang Syekh berkata: “Macamnya ada tiga. Pertama: keterputusan yang menjadi syarat keterhubungan, yaitu keterputusan dari dua alam dengan memutuskan pandanganmu kepada keduanya, memutuskan ketergantunganmu kepada keduanya, dan memutuskan kepedulianmu terhadap keduanya.”
Maksudnya: bahwa keterputusan hamba dari jejak-jejaknya melalui fana adalah syarat terhubungnya wujudnya dengan baqa. Maka tidak ada kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya kecuali dengan berlepas diri dari apa yang menentang dan menyelisihi hal itu. Imam kaum hanif telah berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (aku menyembah) Tuhan yang menciptakanku” (Az-Zukhruf: 26-27). Dan para pemuda (Ashabul Kahfi) berkata: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah” (Al-Kahfi: 16)—maka kalian tidak meninggalkan-Nya.
Ungkapan yang disebutkan sang Syekh ini, pada pandangan pertama, tidak lepas dari penolakan sampai dijelaskan maknanya dan apa yang dimaksudkannya. Sebab “dua alam” adalah ungkapan untuk semua yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat, juga diungkapkan dengan alam gaib dan alam nyata. Di dalamnya ada para rasul, para nabi, para malaikat, dan para wali. Bagaimana mungkin terputus dari mereka, tidak memandang kepada mereka, tidak menghentikan hati kepada mereka, dan tidak peduli kepada mereka?
Ketahuilah bahwa dalam bahasa kaum sufi terdapat penggunaan kiasan, penggunaan lafaz umum dengan maksud khusus, dan penggunaan lafaz dengan maksud isyaratnya bukan makna hakikinya—yang tidak ada dalam bahasa kelompok mana pun selain mereka. Oleh karena itu mereka berkata: “Kami adalah ahli isyarat, bukan ahli ungkapan. Isyarat untuk kami dan ungkapan untuk selain kami.” Terkadang mereka menggunakan ungkapan yang sama dengan yang digunakan orang zindik, namun mereka memaksudkan makna yang tidak rusak. Hal ini menjadi sebab fitnah bagi dua kelompok: kelompok yang berpegang pada zahir ungkapan mereka lalu membid’ahkan dan menyesatkan mereka; dan kelompok yang melihat maksud dan tujuan mereka, lalu membenarkan ungkapan-ungkapan itu dan mengesahkan isyarat-isyarat itu. Pencari kebenaran menerima kebenaran dari siapa pun, dan menolak apa yang menyalahi kebenaran dari siapa pun.
Yang dimaksud sang Syekh dan ahli istiqamah adalah: bahwa karena jiwa cenderung kepada kelezatan-kelezatan indrawi dan maknawi yang terlihat dan tersaksikan, maka memandang kepadanya dan berhenti bersamanya adalah penyakit dalam perjalanan dan tujuan sekaligus, dan menjadi penghalang bagi jiwa dari memandang kepada tujuan semata, berhenti bersama-Nya saja tanpa selain-Nya, dan menoleh kepada-Nya tanpa selain-Nya. Maka ketika ketergantungan hati kepada tujuan tertinggi menguat—sehingga mengingat-Nya menyibukkannya dari mengingat selain-Nya, cinta kepada-Nya dari cinta selain-Nya, takut kepada-Nya dari takut selain-Nya, harap kepada-Nya dari harap selain-Nya, dan keakrabannya khusus dengan-Nya—ia terputus dari mengingat selain-Nya dalam keadaan sibuk dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, karena di dalamnya tidak ada ruang untuk selain-Nya. Maka dalam keadaan ini terputuslah pandangannya kepada dua alam, terputuslah ketergantungannya kepada keduanya, dan terputuslah kepeduliannya terhadap keduanya, baik dalam mudarat maupun manfaat, pemberian maupun pencegahan. Keadaan ini tidak berlangsung terus-menerus. Maka ketika ia kembali kepada alam karena tabiatnya dan karena ia adalah bagian dari alam, ia mengingat para rasul, para nabi, para malaikat, dan para wali dengan penghormatan, penghargaan, dan pujian yang baik; dan mengingat musuh-musuh mereka dengan laknat dan celaan yang buruk—inilah tugasnya dalam keadaan ini, dan itu tugasnya dalam tingkatan itu.
Kesimpulannya: itu adalah keterputusan penyaksian dalam keadaan-keadaan tertentu, bukan keterputusan wujud, dan bukan pula keterputusan penyaksian yang terus-menerus selamanya. Jangan menoleh kepada selain ini, karena itu hanyalah khayalan, kegilaan, dan delusi yang tidak perlu kami panjangkan kitab dengan menyebutkannya.
Sang Syekh berkata: “Kedua: keterputusan dari melihat keterputusan yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa tidak tampak bagimu dalam penyaksian kebenaran sesuatu yang dapat menghubungkan dengan memutuskannya kepada sesuatu.”
Tingkatan ini lebih tinggi daripadanya menurut sang Syekh, karena yang pertama adalah sarana menuju tingkatan ini, sedangkan ini adalah tujuan dan tersusun di atasnya. Sebab orang yang terputus dari dua alam karena sibuk dengan Allah Azza wa Jalla, jiwanya bisa menetap pada tingkatannya dari keterputusan, mengakrabinya dengan batin dan hatinya, dan lupa bahwa itu adalah murni karunia Allah dan semata pemberian-Nya. Maka ia perlu terputus dari melihat keterputusannya dan menyandarkan itu kepada pemiliknya dan Pelindungnya yang menganugerahkannya.
Perincian ini mengandung perbedaan tingkatan yang telah diisyaratkan sang Syekh di awal bab. Ia menyebutkan di tingkatan pertama bahwa keterputusan adalah syarat keterhubungan, dan berkata di sini: “tidak tampak bagimu dalam penyaksian kebenaran sebab yang menghubungkan dengan memutuskannya kepada sesuatu.” Ini bertentangan dengan apa yang disebutkannya, dan makna kedua perkataannya tidak bisa berkumpul, bahkan di antara keduanya ada perbedaan kontradiksi. Di manakah syarat terjadinya sesuatu dari penyaksian tidak adanya sesuatu itu sebagai sebab dan syarat?
Jawabannya adalah: bahwa sesuatu menjadi syarat dan sebab terjadinya sesuatu tidak bertentangan dengan tidak melihatnya sebagai syarat terjadinya sesuatu itu. Maka terjadinya sesuatu bersyarat dengan keberadaan sesuatu itu dalam kenyataan, dan bersyarat dengan ketiadaan penglihatan hamba terhadapnya. Jadi penglihatan menjadi penghalang. Penjelasan hal ini adalah dengan menjelaskan perkataannya. Perkataannya “keterputusan dari melihat keterputusan” maksudnya: bahwa hamba dalam keadaan menyaksikan melihat bahwa ia telah terputus dari dua alam, lalu terhubung dengan keagungan Yang Maha Mulia. Maka ia menyaksikan keterhubungan setelah keterputusan. Penglihatan ini dalam kenyataannya tidaklah benar, karena ia sama sekali tidak terputus dari dua alam, namun ia hanya menyangka demikian. Maka ketika jelas bahwa ia tidak terputus dari dua alam, ia pun telah terputus dari keterputusan yang disebutkan, karena ia menyadari bahwa keterputusan itu tidak benar.
Kemudian ia menjelaskan bagaimana keterputusan dari keterputusannya menjadi benar dengan perkataannya: “bahwa tidak tampak”; yakni tidak muncul bagimu sesuatu dalam penyaksian kebenaran yang menjadi sebab yang mewajibkan keterhubungan. Seolah ia berkata: bahwa engkau menyaksikan kebenaran, lalu penyaksianmu menunjukkan kepadamu bahwa engkau tidak terputus dengan dirimu sendiri dari sesuatu dan tidak terhubung dengan dirimu sendiri kepada sesuatu, melainkan seluruh perkara berada di tangan selain-Mu. Dialah yang memutuskanmu dan Dialah yang menghubungkanmu.
Adapun orang zindik, ia menafsirkan perkataannya dengan selain ini dan berkata: Jika engkau menyaksikan hakikat, ia menunjukkan kepadamu bahwa engkau tidak terputus dari sesuatu dan tidak terhubung kepada sesuatu, karena dualitas itu bertentangan dengan kesatuan mutlak.
Lihatlah betapa banyak kemungkinan dalam lafaz-lafaz yang samar dan bersifat istilah, dan bagaimana setiap orang menariknya kepada alirannya dan mazhabnya! Oleh karena itu orang zindik berkata: Sesungguhnya di sana tidak ada keterhubungan dan tidak ada keterputusan; itu hanyalah dalam pandangan dan sangkaan hamba saja. Maka jika ia menjadi ahli tahkik, ia mengetahui setelah itu bahwa tidak ada keterputusan dan tidak ada keterhubungan. Ia melantunkan dalam makna ini bait yang masyhur dari kelompok penganut paham penyatuan:
Tidak ada sesuatu darimu bagiku yang cocok dengan sesuatu Dan tidak ada sesuatu darimu bagiku yang berbeda dengan sesuatu
Sang Syekh berkata: “Ketiga: keterputusan dari keterhubungan, yaitu keterputusan dari penyaksian bahwa keterhubungan menyaingi keasalan yang mendahului. Karena keterputusan dan keterhubungan, meskipun besar perbedaannya dalam nama dan batasan, dalam hal sebab keduanya sama.”
Perbedaan antara tingkatan ini dan sebelumnya adalah: bahwa sebelumnya adalah keterputusan dari ketenangan kepada keterputusannya dan penglihatannya terhadapnya. Sedangkan dalam tingkatan ini ia terputus dari melihat keterhubungannya, maka ia terbebas dari melihat dirinya terhubung, karena penglihatan ini adalah penyakit dalam keterhubungan. Bahkan kesempurnaan keterhubungan adalah ketidaksadarannya terhadap melihat dirinya terhubung, karena kesempurnaan keterserapannya dalam apa yang ada padanya dari hakikat keterhubungan. Maka dari dua tingkatan ini tercapai keterputusannya dari keterputusan dan keterhubungan sekaligus.
Di sinilah orang atheis berkeliaran dan menyerang, membuka mulutnya untuk berbicara kekufuran, seraya berkata: “Ini menunjukkan bahwa keterpisahan dan keterhubungan tidak memiliki hakikat dalam kenyataan sebenarnya, melainkan hanya dalam pandangan si pengamat. Keduanya tidak memiliki hakikat dalam kenyataan, tetapi hanya dalam khayalan orang yang mengalami kasyaf. Lalu di manakah keterhubungan dan keterpisahan pada zat yang satu itu? Sesungguhnya khayalan dan imajinasi telah menguasai kebanyakan makhluk.”
Allah telah melindungi sang Syaikh dari prasangka kekufuran semacam ini. Sesungguhnya maksud beliau adalah apa yang telah kami jelaskan.
Beliau telah mengungkapkan maksudnya dengan ucapan: “Yaitu keterpisahan dari penyaksian bahwa persaingan keterhubungan adalah hakikat kedahuluan.” Artinya: ia terpisah dari penyaksian persaingannya terhadap keterhubungannya dengan apa yang telah ditetapkan di azal dari Yang Awal dan Yang Akhir, Maha Suci Dia. Sebab jika ia memperhatikan kedahuluan dan apa yang telah ditetapkan di dalamnya—ketika ia belum ada dan tidak ada sesuatu pun dari segala sesuatu—maka penyaksian keterhubungannya tidak akan bersaing dengan penyaksian apa yang telah mendahuluinya di azal. Bahkan perbuatannya, penyaksiannya, dan keberadaannya lebur ke dalam keberadaan azali itu, seolah-olah ia tidak pernah ada. Maka jika perbuatannya, sifat-sifatnya, dan keberadaannya dinisbatkan kepada keberadaan azali itu, ia pun lebur dan lenyap, menjadi seperti bayangan dan khayalan bagi seseorang.
Ucapan beliau: “Sesungguhnya keterhubungan dan keterpisahan, meskipun sangat berbeda dalam nama dan batasan, namun keduanya sama dalam sebab.”
Maknanya: bahwa makna nama keterhubungan bertentangan dengan nama keterpisahan, sebagaimana namanya bertentangan dengan namanya. Keduanya setara dalam sebab, yaitu melihat keterhubungan adalah sebab, dan melihat keterpisahan juga sebab. Maka keduanya setara dari sisi ini, meskipun bertentangan secara lafal dan makna. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam (Allah Maha Suci dan Maha Tinggi, Maha Mengetahui).
Hakikat Makrifat
Penulis Kitab al-Manazil berkata: “Bab Makrifat.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran yang telah mereka ketahui” (al-Ma’idah: 83). Makrifat adalah pengetahuan menyeluruh tentang hakikat sesuatu sebagaimana adanya.
Aku berkata: Di dalam Al-Qur’an terdapat lafal makrifat dan lafal ilmu. Adapun lafal makrifat seperti firman-Nya: “karena kebenaran yang telah mereka ketahui” (al-Ma’idah: 83), dan firman-Nya: “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (al-Baqarah: 146).
Adapun lafal ilmu, penggunaannya lebih luas, seperti firman-Nya: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah” (Muhammad: 19), dan firman-Nya: “Allah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Ali Imran: 18), dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui bahwa itu diturunkan dari Tuhanmu dengan kebenaran” (al-An’am: 114), dan firman-Nya: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (Thaha: 114), dan firman-Nya: “Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu kebenaran sama dengan orang yang buta?” (ar-Ra’d: 19), dan firman-Nya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar: 9), dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata: Sungguh, kalian telah berdiam dalam ketetapan Allah sampai hari kebangkitan” (ar-Rum: 56), dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata: Celakalah kalian! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh” (al-Qashash: 80), dan firman-Nya: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (al-‘Ankabut: 43), dan firman-Nya: “Orang yang memiliki ilmu dari Kitab berkata” (an-Naml: 40), dan firman-Nya: “Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya” (al-Hadid: 17), dan firman-Nya: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau” (al-Hadid: 20), dan firman-Nya: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya” (al-Baqarah: 223), dan firman-Nya: “Maka ketahuilah bahwa ia diturunkan dengan ilmu Allah” (Hud: 14). Dan ini banyak sekali.
Allah Maha Suci telah memilih untuk diri-Nya nama ilmu dan segala bentuk turunannya. Dia menyifati diri-Nya bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Berilmu, Maha Mengetahui segala yang gaib, Dia mengajarkan, dan Dia mengetahui. Dia mengabarkan bahwa Dia memiliki ilmu, tanpa menggunakan lafal makrifat di dalam Al-Qur’an. Dan sudah maklum bahwa nama yang dipilih Allah untuk diri-Nya adalah yang paling sempurna dari jenisnya yang memiliki kesamaan makna dengannya.
Lafal makrifat dalam Al-Qur’an hanya datang khusus untuk orang-orang beriman dari Ahli Kitab, seperti firman-Nya: “Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri” (al-Ma’idah: 82) hingga firman-Nya: “karena kebenaran yang telah mereka ketahui” (al-Ma’idah: 83), dan firman-Nya: “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (al-Baqarah: 146).
Kelompok ini sangat mengutamakan makrifat di atas ilmu. Banyak dari mereka yang tidak menghargai ilmu sama sekali, dan menganggapnya sebagai penghalang dan hijab dari makrifat. Sedangkan orang-orang yang istiqamah dari mereka adalah yang paling keras memberikan wasiat kepada para murid tentang ilmu. Menurut mereka, tidak akan pernah ada wali Allah yang sempurna kewaliannnya selain dari kalangan ahli ilmu. Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menjadikan wali seorang yang bodoh. Kebodohan adalah pangkal setiap bid’ah, kesesatan, dan kekurangan. Sedangkan ilmu adalah pangkal setiap kebaikan, petunjuk, dan kesempurnaan.
Pasal Perbedaan antara Ilmu dan Makrifat
Perbedaan antara ilmu dan makrifat dari segi lafal dan makna. Adapun dari segi lafal: kata kerja makrifat hanya membutuhkan satu objek. Kamu berkata: “Aku mengenal rumah itu,” dan “Aku mengenal Zaid.” Allah Ta’ala berfirman: “Maka dia mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnya” (Yusuf: 58), dan firman-Nya: “Mereka mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (al-Baqarah: 146).
Sedangkan kata kerja ilmu membutuhkan dua objek, seperti firman Allah Ta’ala: “Jika kalian mengetahui mereka sebagai wanita-wanita yang beriman” (al-Mumtahanah: 10). Jika ia hanya membutuhkan satu objek, maka maknanya sama dengan makrifat, seperti firman-Nya: “Dan orang-orang lain selain mereka yang tidak kalian ketahui, tetapi Allah mengetahui mereka” (al-Anfal: 60).
Adapun perbedaan dari segi makna, ada beberapa sisi:
Pertama: Makrifat berkaitan dengan zat sesuatu, sedangkan ilmu berkaitan dengan keadaan-keadaannya. Kamu berkata: “Aku mengenal ayahmu,” dan “Aku mengetahuinya sebagai orang yang saleh dan berilmu.” Oleh karena itu, perintah dalam Al-Qur’an datang dengan lafal ilmu, bukan makrifat, seperti firman Allah Ta’ala: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah” (Muhammad: 19), dan firman-Nya: “Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya” (al-Ma’idah: 98), dan firman-Nya: “Maka ketahuilah bahwa ia diturunkan dengan ilmu Allah” (Hud: 14).
Makrifat adalah hadirnya gambaran sesuatu dan representasi ilmiahnya dalam jiwa. Sedangkan ilmu adalah hadirnya keadaan-keadaan, sifat-sifat, dan hubungannya dengan sesuatu itu. Maka makrifat menyerupai tashawwur (konsepsi), sedangkan ilmu menyerupai tashdiq (pembenaran).
Kedua: Makrifat pada umumnya berkaitan dengan sesuatu yang pernah absen dari hati setelah sebelumnya dipersepsi. Jika ia mempersepsinya kembali, dikatakan: ia mengenalnya. Atau berkaitan dengan sesuatu yang telah disifatkan kepadanya dengan sifat-sifat yang melekat dalam jiwanya. Jika ia melihatnya dan mengetahui bahwa itulah yang disifati dengan sifat-sifat tersebut, dikatakan: ia mengenalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada hari Kami kumpulkan mereka seakan-akan mereka tidak berdiam kecuali sesaat dari siang hari, mereka saling mengenal di antara mereka” (Yunus: 45), dan firman-Nya: “Saudara-saudara Yusuf datang, lalu mereka masuk kepadanya. Maka dia mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnya” (Yusuf: 58), dan firman-Nya: “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (al-Baqarah: 146). Karena sifat-sifatnya sudah diketahui oleh mereka, maka ketika mereka melihatnya, mereka mengenalnya dengan sifat-sifat tersebut.
Dalam hadis sahih disebutkan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada orang terakhir yang masuk surga: Apakah engkau mengenal masa ketika engkau berada di dalamnya? Ia menjawab: Ya. Allah berfirman: Berangan-anganlah. Maka ia pun berangan-angan kepada Tuhannya.”
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka dahulu meminta kemenangan atas orang-orang kafir. Maka ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka kenal, mereka mengingkarinya” (al-Baqarah: 89).
Makrifat menyerupai pengingatan terhadap sesuatu, yaitu hadirnya apa yang sebelumnya absen dari ingatan. Oleh karena itu, lawan makrifat adalah pengingkaran, sedangkan lawan ilmu adalah kebodohan. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka mengenal nikmat Allah kemudian mengingkarinya” (an-Nahl: 83). Dikatakan: “Ia mengenal kebenaran lalu mengakuinya,” dan “Ia mengenal kebenaran lalu mengingkarinya.”
Ketiga: Makrifat memberikan faedah membedakan yang dikenal dari selainnya, sedangkan ilmu memberikan faedah membedakan apa yang disifatkan kepadanya dari selainnya. Perbedaan ini berbeda dari yang pertama, karena yang pertama kembali kepada persepsi zat dan persepsi sifat-sifatnya, sedangkan ini kembali kepada pemurnian zat dari selainnya dan pemurnian sifat-sifatnya dari sifat-sifat selainnya.
Keempat: Jika kamu berkata: “Aku mengetahui Zaid,” maka lawan bicaramu tidak mendapat faedah apa-apa, karena ia masih menunggu: dalam keadaan apa kamu mengetahuinya? Jika kamu berkata: “Sebagai orang yang dermawan” atau “Sebagai orang yang pemberani,” barulah ia mendapat faedah. Namun jika kamu berkata: “Aku mengenal Zaid,” lawan bicaramu langsung mendapat faedah bahwa kamu telah menetapkan dan membedakannya dari selainnya, dan ia tidak lagi menunggu sesuatu yang lain. Perbedaan ini pada hakikatnya adalah penjelasan dari perbedaan sebelumnya.
Kelima, yaitu perbedaan yang dikemukakan al-‘Askari dalam kitab al-Furuq-nya dan kitab-kitab perbedaan lainnya: Makrifat adalah ilmu tentang hakikat sesuatu secara terperinci yang membedakannya dari selainnya. Berbeda dengan ilmu, karena ilmu bisa berkaitan dengan sesuatu secara global. Perbedaan ini mirip dengan perbedaan yang dikemukakan penulis al-Manazil, karena ia berkata: “Makrifat adalah pengetahuan menyeluruh tentang hakikat sesuatu sebagaimana adanya.”
Berdasarkan batasan ini, tidak mungkin mengenal Allah sama sekali, dan bab ini tertutup sepenuhnya bagi-Nya. Sebab Allah Maha Suci tidak dapat diliputi dengan ilmu, tidak dengan makrifat, dan tidak dengan penglihatan. Dia lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia dari semua itu. Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak meliputi-Nya dengan ilmu” (Thaha: 110).
Bahkan hakikat batasan ini: menafikan keterkaitan makrifat dengan makhluk terbesar sekalipun, termasuk yang paling nyata seperti matahari dan bulan. Bahkan tidak sah seseorang mengenal diri dan zatnya sendiri sama sekali.
Perbedaan antara ilmu dan makrifat menurut ahli bidang ini: Makrifat menurut mereka adalah ilmu yang membuat pemiliknya bertindak sesuai dengan konsekuensi dan tuntutannya. Mereka tidak menggunakan istilah makrifat untuk makna ilmu semata. Mereka tidak menyifati dengan makrifat kecuali orang yang mengetahui Allah, mengetahui jalan yang menyampaikan kepada Allah, mengetahui penyakit-penyakit dan penghalang-penghalangnya, serta memiliki keadaan bersama Allah yang menyaksikan makrifatnya.
Maka orang yang arif menurut mereka adalah orang yang mengenal Allah Maha Suci dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya, kemudian bersikap jujur kepada Allah dalam muamalahnya, kemudian mengikhlaskan kepada-Nya dalam maksud dan niatnya, kemudian menanggalkan akhlak-akhlak buruk dan penyakit-penyakitnya, kemudian menyucikan diri dari kotoran-kotoran, noda-noda, dan pelanggaran-pelanggarannya, kemudian bersabar atas hukum-hukum Allah dalam nikmat dan cobaan-Nya, kemudian berdakwah kepada-Nya dengan bashirah dalam agama dan ayat-ayat-Nya, kemudian memurnikan dakwah kepada-Nya semata dengan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya, tanpa mencampurinya dengan pendapat-pendapat manusia, selera-selera mereka, pengalaman spiritual mereka, kaidah-kaidah mereka, dan akal-akal mereka, dan tidak menimbang dengan semua itu apa yang dibawa oleh Rasul—semoga shalawat Allah yang paling utama tercurah kepadanya.
Inilah orang yang berhak menyandang nama arif secara hakiki. Jika nama ini diberikan kepada selainnya, maka itu hanya klaim dan pinjaman belaka.
Pembahasan Tentang Ma’rifat (Mengenal Allah) Beserta Tanda-tanda dan Bukti-buktinya
Para ulama telah membahas tentang ma’rifat (mengenal Allah) beserta tanda-tanda dan bukti-buktinya. Sebagian dari mereka berkata: “Di antara tanda-tanda mengenal Allah adalah timbulnya rasa takut kepada-Nya. Barangsiapa bertambah pengenalannya kepada Allah, maka bertambah pula rasa takutnya.”
Ia juga berkata: “Ma’rifat melahirkan ketenangan. Barangsiapa bertambah pengenalannya, maka bertambah pula ketenangannya.”
Sebagian sahabat kami pernah bertanya kepadaku: “Apa tanda ma’rifat yang mereka maksudkan?” Aku menjawab: “Keakraban hati dengan Allah.” Ia berkata kepadaku: “Tandanya adalah seseorang merasakan kedekatan hatinya dengan Allah, sehingga ia mendapati Allah begitu dekat dengannya.”
Asy-Syibli berkata: “Orang yang mengenal Allah tidak memiliki ketergantungan (kepada selain-Nya), orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba tidak mengaku-ngaku, orang yang takut tidak merasa tenang, dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari Allah.”
Perkataan ini sangat bagus, karena ma’rifat yang benar memutuskan semua ketergantungan dari hati dan menggantungkannya kepada Dzat yang dikenalnya, sehingga tidak tersisa lagi ketergantungan kepada selain-Nya. Kalaupun ada ketergantungan yang melintas, ia hanya sekadar lewat, bukan menetap.
Ahmad bin ‘Ashim berkata: “Barangsiapa lebih mengenal Allah, maka ia lebih takut kepada-Nya.” Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Fathir: 28), dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.”
Seorang lainnya berkata: “Barangsiapa mengenal Allah Ta’ala, dunia terasa sempit baginya meskipun luas.”
Yang lain berkata: “Barangsiapa mengenal Allah Ta’ala, setiap kesempitan menjadi lapang baginya.”
Tidak ada pertentangan antara kedua pernyataan ini. Seseorang merasa sempit di setiap tempat yang tidak mendukung urusannya dan tujuannya, namun ia merasa lapang terhadap apa yang menyempitkan orang lain, karena hatinya tidak berada di dalamnya dan tidak terpenjara di dalamnya.
Yang pertama terjadi di awal ma’rifat, sedangkan yang kedua di akhir ma’rifat yang dicapai seorang hamba.
Seorang lainnya berkata: “Barangsiapa mengenal Allah Ta’ala, hidupnya menjadi jernih, kehidupannya menjadi baik, segala sesuatu segan kepadanya, rasa takut kepada makhluk hilang darinya, dan ia merasa akrab dengan Allah.”
Yang lain berkata: “Barangsiapa mengenal Allah, matanya sejuk dengan Allah, matanya sejuk dengan kematian, dan setiap mata sejuk dengannya. Barangsiapa tidak mengenal Allah, hatinya terpotong-potong dalam penyesalan terhadap dunia. Barangsiapa mengenal Allah, tidak tersisa keinginan kepada selain-Nya. Barangsiapa mengaku mengenal Allah padahal ia berkeinginan kepada selain-Nya, maka keinginannya itu mendustakan pengakuan ma’rifatnya. Barangsiapa mengenal Allah, ia mencintai-Nya sesuai kadar pengenalannya, takut dan berharap kepada-Nya, bertawakal dan kembali kepada-Nya, lisannya selalu berdzikir kepada-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, malu kepada-Nya, mengagungkan dan membesarkan-Nya sesuai kadar pengenalannya.”
Tanda orang yang mengenal Allah adalah hatinya bagaikan cermin. Ketika ia melihat ke dalamnya hal-hal gaib yang ia diseru untuk beriman kepadanya, maka sesuai kadar kejernihan cermin itu, terlihat di dalamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, akhirat, surga, neraka, malaikat, dan para rasul—shalawat dan salam Allah atas mereka semua. Sebagaimana dikatakan dalam syair:
Jika telaga tenang dalam kejernihan Dan terjaga dari hembusan angin Tampaklah di dalamnya langit tanpa keraguan Demikian pula matahari dan bintang-bintang Begitulah hati para ahli tajalli Terlihat dalam kejernihannya Allah Yang Maha Agung
Inilah melihat perumpamaan yang tertinggi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Di antara tanda-tanda ma’rifat adalah: tampak bagimu yang hadir (Allah), sementara semua bukti lain sirna, ikatan-ikatan terurai, penghalang-penghalang terputus. Engkau duduk di hadapan Rabb Ta’ala, berdiri dan berbaring dalam kesiapan untuk bertemu-Nya. Seperti orang yang telah mengikat bekal-bekalnya dan bertekad untuk bepergian—ia duduk, berdiri, dan berbaring dalam kesiapan. Sebagaimana musafir yang singgah di suatu tempat—ia berdiri, duduk, dan berbaring dalam kesiapan.
Dikatakan kepada Al-Junaid: “Ada orang-orang yang mengaku memiliki ma’rifat, mereka mengatakan bahwa mereka sampai pada tahap meninggalkan gerakan-gerakan (ibadah) dari pintu kebaikan dan ketakwaan?” Al-Junaid berkata: “Ini adalah perkataan orang-orang yang berbicara tentang menggugurkan amal, dan ini menurutku sangat besar (dosanya). Orang yang mencuri dan berzina lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan ini. Sesungguhnya orang-orang yang mengenal Allah mengambil amal-amal dari Allah dan kepada Allah mereka mengembalikannya. Seandainya aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi amal-amal kebaikan sedikitpun, kecuali jika ada penghalang antara aku dan amal tersebut.”
Di antara tanda-tanda orang yang mengenal Allah adalah: ia tidak menuntut, tidak berselisih, tidak mencela, tidak melihat dirinya lebih utama dari siapa pun, dan tidak melihat dirinya memiliki hak atas siapa pun.
Di antara tandanya juga: ia tidak menyesal atas yang terlewat dan tidak bergembira dengan yang datang, karena ia memandang segala sesuatu dengan mata kefanaan dan kezuhuran. Sesungguhnya pada hakikatnya semua itu bagaikan bayangan dan khayalan.
Al-Junaid berkata: “Orang yang mengenal Allah tidak menjadi ‘arif sejati hingga ia seperti bumi yang diinjak oleh orang baik dan orang jahat, seperti awan yang menaungi segala sesuatu, dan seperti hujan yang menyirami apa yang ia sukai dan apa yang tidak ia sukai.”
Yahya bin Mu’adz berkata: “Orang yang mengenal Allah keluar dari dunia dan belum memenuhi keinginannya dalam dua hal: menangisi dirinya sendiri dan memuji Rabbnya.”
Perkataan ini termasuk yang paling indah, karena menunjukkan pengenalannya terhadap dirinya sendiri beserta aib-aib dan penyakitnya, serta pengenalannya terhadap Rabbnya beserta kesempurnaan dan keagungan-Nya. Maka ia sangat mencela dirinya sendiri, sementara lisannya senantiasa memuji Rabbnya.
Abu Yazid berkata: “Mereka mencapai ma’rifat dengan menyia-nyiakan apa yang menjadi milik mereka dan berdiri teguh dengan apa yang menjadi milik-Nya.”
Maksudnya adalah menyia-nyiakan bagian-bagian (kepentingan) mereka dan berdiri teguh dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hak-hak-Nya mencukupkan mereka dari bagian-bagian mereka.
Seorang lainnya berkata: “Orang yang mengenal Allah tidak menjadi ‘arif sejati hingga seandainya ia diberi kerajaan Sulaiman, hal itu tidak akan menyibukkannya dari Allah sekejap mata pun.”
Pernyataan ini membutuhkan penjelasan, karena yang kurang dari itu pun sudah menyibukkan hati. Namun maksudnya adalah kesibukannya dengan selain Allah adalah untuk Allah, sehingga itu termasuk kesibukan dengan-Nya. Karena jika ia sibuk dengan selain-Nya untuk kepentingan-Nya, maka ia tidak sibuk dari-Nya.
Ibnu ‘Atha berkata: “Ma’rifat berdiri di atas tiga pilar: rasa takut, rasa malu, dan keakraban.”
Ditanyakan kepada Dzun Nun: “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?” Ia menjawab: “Aku mengenal Rabbku dengan Rabbku. Seandainya bukan karena Rabbku, aku tidak akan mengenal Rabbku.”
Ditanyakan kepada Abdullah bin Al-Mubarak: “Dengan apa kita mengenal Rabb kita?” Ia menjawab: “Dengan bahwa Dia di atas langit-langit-Nya, di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”
Abdullah menyebutkan pokok ma’rifat yang tidak sah bagi siapa pun untuk mengenal Allah atau mengakui-Nya kecuali dengannya, yaitu keterpisahan (dari makhluk) dan ketinggian di atas Arsy.
Di antara tanda-tanda orang yang mengenal Allah adalah: ia mengasingkan makhluk antara dirinya dan Allah, seolah-olah mereka adalah orang-orang mati yang tidak mampu memberi bahaya atau manfaat, tidak mampu memberi kematian, kehidupan, atau kebangkitan. Ia juga mengasingkan dirinya sendiri antara dirinya dan makhluk, sehingga ia berada di tengah-tengah mereka tanpa nafsu. Inilah makna perkataan sebagian mereka: “Orang yang mengenal Allah memotong perjalanan dengan dua langkah: satu langkah dari nafsunya, dan satu langkah dari makhluk.”
Dikatakan: “Orang yang mengenal Allah adalah anak waktunya.”
Perkataan ini termasuk yang paling indah dan ringkas. Ia sibuk dengan tugas waktunya dari apa yang telah berlalu dan menjadi tiada, serta dari apa yang belum masuk ke dalam wujud. Perhatiannya adalah memakmurkan waktunya yang merupakan modal kehidupan abadinya.
Di antara tandanya: ia merasa akrab dengan Rabbnya dan merasa asing dari siapa saja yang memutuskannya dari-Nya. Oleh karena itu dikatakan: “Orang yang mengenal Allah adalah orang yang merasa akrab dengan Allah sehingga merasa asing dari makhluk, merasa butuh kepada Allah sehingga merasa cukup dari mereka, merendah kepada Allah sehingga dimuliakan di antara mereka, tawadhu kepada Allah sehingga diangkat di antara mereka, dan merasa cukup dengan Allah sehingga mereka membutuhkannya.”
Dikatakan: “Orang yang mengenal Allah berada di atas apa yang ia katakan, sedangkan orang yang berilmu berada di bawah apa yang ia katakan.”
Maksudnya adalah ilmu orang yang berilmu lebih luas dari kondisi dan sifatnya, sedangkan kondisi dan sifat orang yang mengenal Allah di atas ucapan dan kabarnya.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala membukakan bagi orang yang mengenal-Nya di tempat tidurnya apa yang tidak dibukakan baginya ketika ia berdiri shalat.”
Yang lain berkata: “Orang yang mengenal Allah, ma’rifatnya berbicara melalui hati dan kondisinya meskipun ia diam.”
Dzun Nun berkata: “Segala sesuatu memiliki hukuman, dan hukuman bagi orang yang mengenal Allah adalah terputusnya dari dzikrullah.”
Sebagian mereka berkata: “Riya orang-orang yang mengenal Allah lebih utama dari keikhlasan orang-orang yang baru memulai perjalanan.”
Perkataan ini secara lahirnya sangat mungkar dan membutuhkan penjelasan. Orang yang mengenal Allah tidak melakukan riya kepada makhluk untuk mencari kedudukan di hati mereka. Riyanya adalah nasihat, bimbingan, dan pengajaran agar ia dijadikan teladan. Ia berdakwah kepada Allah dengan amalnya sebagaimana ia berdakwah dengan ucapannya. Ia mengambil manfaat dari ilmunya dan memberikan manfaat kepada orang lain dengannya. Sedangkan keikhlasan orang yang baru memulai terbatas pada dirinya sendiri. Maka orang yang mengenal Allah menggabungkan antara keikhlasan dan dakwah kepada Allah. Keikhlasannya ada di hatinya, sementara ia menampakkan amal dan kondisinya agar dijadikan teladan. Orang yang mengenal Allah memberi manfaat dengan diamnya, sedangkan orang yang berilmu memberi manfaat dengan ucapannya.
Meskipun mereka diam, kebenaran-kebenaran tetap memujimu
Dzun Nun berkata: “Orang-orang yang zuhud adalah raja-raja akhirat, dan mereka adalah orang-orang fakir di kalangan orang yang mengenal Allah.”
Al-Junaid ditanya tentang orang yang mengenal Allah, ia menjawab: “Warna air adalah warna wadahnya.”
Perkataan ini merupakan isyarat kepada hakikat penghambaan, yaitu seseorang berubah sesuai dengan berbagai jenis penghambaan. Terkadang engkau melihatnya shalat, lalu tiba-tiba melihatnya berdzikir, atau membaca Al-Quran, atau mengajar, atau belajar, atau berjihad, atau berhaji, atau membantu tamu, atau menolong orang yang kesusahan. Ia mengambil bagian dari setiap keuntungan. Ia bersama orang-orang yang berusaha sebagai orang yang berusaha, bersama orang-orang yang belajar sebagai orang yang belajar, bersama orang-orang yang berperang sebagai pejuang, bersama orang-orang yang shalat sebagai orang yang shalat, bersama orang-orang yang bersedekah sebagai orang yang bersedekah. Ia berpindah-pindah dalam tingkatan-tingkatan penghambaan dari satu penghambaan ke penghambaan lainnya, sementara ia tetap pada satu Ma’bud (yang disembah), tidak berpindah kepada selain-Nya.
Yahya bin Mu’adz berkata: “Orang yang mengenal Allah adalah yang ada namun terpisah.”
Perkataan ini dapat ditafsirkan dengan beberapa makna:
Pertama, ia ada bersama makhluk secara lahiriahnya, namun terpisah dari mereka dengan rahasia dan hatinya.
Kedua, ia ada bersama Rabbnya namun terpisah dari nafsunya.
Ketiga, ia ada bersama ahli akhirat namun terpisah dari ahli dunia.
Keempat, ia ada bersama Allah dengan kesesuaiannya namun terpisah dari manusia dalam penyelisihannya.
Kelima, ia masuk dalam berbagai urusan namun keluar darinya. Ada orang yang masuk ke dalamnya namun tidak mampu keluar, ada yang di luar namun tidak mampu masuk. Orang yang mengenal Allah masuk ke dalamnya dan keluar darinya. Mungkin inilah penafsiran yang paling baik.
Dzun Nun berkata: “Tanda orang yang mengenal Allah ada tiga: cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, ia tidak meyakini ilmu batin yang menggugurkan hukum lahir, dan banyaknya nikmat Allah tidak mendorongnya untuk menyingkap tabir larangan-larangan Allah.”
Ini termasuk perkataan paling bagus yang diucapkan tentang ma’rifat, dan membutuhkan penjelasan. Banyak orang berpendapat bahwa wara’ terhadap berbagai hal adalah kurangnya ma’rifat, karena ma’rifat itu luas cakupannya dan lapang wilayahnya. Orang yang mengenal Allah itu luas dan lapang, dan kelapangan itu memadamkan cahaya wara’. Padahal orang yang mengenal Allah, ma’rifatnya tidak mengurangi wara’nya dan wara’nya tidak bertentangan dengan ma’rifatnya.
Sebagaimana perkataan sebagian mereka: “Orang yang mengenal Allah tidak mengingkari kemungkaran karena penglihatannya terhadap rahasia Allah dalam takdir.” Menurutnya, menyaksikan takdir dan hakikat kauniyah adalah puncak ma’rifat. Jika ia menyaksikan hakikat, ia memaafkan makhluk karena mereka adalah tawanan dalam genggaman takdir. Maka siapa yang memaafkan pelaku dosa-dosa besar dan kejahatan, bahkan pelaku kekufuran, ia adalah makhluk Allah yang paling jauh dari wara’. Bahkan kegelapan ma’rifatnya telah memadamkan cahaya imannya.
Perkataannya tentang “ilmu batin yang menggugurkan hukum lahir” mengisyaratkan kepada kondisi orang-orang yang menyimpang yang dinisbatkan kepada suluk (perjalanan spiritual). Mereka mengalami perasaan-perasaan, kondisi-kondisi emosional, dan hal-hal yang datang yang bertentangan dengan hukum syariat. Hal-hal itu menjadi pengetahuan bagi mereka yang tidak mungkin mereka ingkari, lalu mereka meyakininya dan meninggalkan hukum lahir karenanya. Ini sangat banyak terjadi, dan inilah yang dikritik oleh para imam tarekat terhadap mereka. Para imam ini menyerukan penentangan dari segala penjuru, membid’ahkan dan menyesatkan mereka karenanya.
Perkataannya “dan banyaknya nikmat Allah tidak mendorongnya untuk menyingkap tabir larangan-larangan Allah” menjelaskan bahwa banyaknya nikmat menjadikan hamba melampaui batas dan mendorongnya untuk menggunakan nikmat itu pada tempatnya dan bukan pada tempatnya. Nikmat mengajak hamba untuk mengambil apa yang halal dan apa yang tidak halal. Kebanyakan orang yang diberi nikmat tidak membatasi penggunaan nikmat pada kadar yang halal, bahkan melampauinya kepada yang lain. Nafsunya membisikkan bahwa ma’rifatnya kepada Allah akan mengembalikan apa yang dirampas oleh tangan-tangan syahwat dan pelanggaran. Ia berkata: “Orang yang mengenal Allah tidak dirugikan oleh dosa-dosanya sebagaimana merugikan orang yang bodoh.” Bahkan mungkin nafsunya membisikkan bahwa dosa-dosanya lebih baik dari ketaatan orang-orang bodoh. Ini adalah tipu daya yang sangat besar, padahal kenyataannya sebaliknya. Orang yang mengenal Allah dituntut dengan apa yang tidak dituntut dari orang yang bodoh. Jika orang bodoh dihukum berlipat, maka orang yang mengenal Allah dihukum dua kali lipat. Syariat Allah dan takdir-Nya menunjukkan hal ini. Oleh karena itu, hukuman had bagi orang merdeka adalah dua kali lipat hukuman budak. Allah Ta’ala berfirman tentang istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu melakukan perbuatan keji yang nyata, maka dilipatgandakan baginya azab dua kali lipat.” (Al-Ahzab: 30). Jika nikmat disempurnakan kepada seorang hamba, lalu ia membalasnya dengan keburukan dan kemaksiatan, maka hukumannya lebih besar. Tingkatannya lebih tinggi dan hukumannya lebih keras.
Dzun Nun juga berkata: “Bukanlah orang yang mengenal Allah orang yang mendeskripsikan ma’rifat kepada ahli akhirat, apalagi kepada ahli dunia.”
Maksudnya: bukan termasuk ma’rifat mendeskripsikan ma’rifat kepada yang bukan ahlinya, baik mereka ahli ibadah maupun ahli dunia.
Abu Sa’id berkata: “Ma’rifat datang dari mata wujud dan pencurahan usaha.”
Perkataan ini bagus, mengisyaratkan bahwa ma’rifat adalah buah dari mencurahkan usaha dalam amal-amal dan mewujudkan perasaan dalam kondisi-kondisi. Ma’rifat adalah buah dari amal anggota badan dan kondisi hati, tidak diperoleh dengan sekadar ilmu dan penelitian. Barangsiapa tidak memiliki amal dan kondisi, maka tidak ada ma’rifat baginya.
Dzun Nun ditanya tentang orang yang makrifat. Ia menjawab: “Dia pernah ada di sini, lalu pergi.”
Kemudian Junaid ditanya tentang maksud perkataannya ini. Ia menjawab: “Ia tidak terpaku pada satu keadaan saja, dan tidak terhalang oleh satu tingkatan untuk berpindah ke tingkatan-tingkatan lainnya. Ia bersama setiap penghuni tingkatan dengan keadaan seperti mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, dan berbicara tentang tanda-tanda tingkatan itu agar mereka mendapat manfaat.”
Muhammad bin al-Fadhl berkata: “Makrifat adalah hidupnya hati bersama Allah.”
Abu Sa’id ditanya: “Apakah orang yang makrifat sampai pada keadaan di mana tangisan terasa berat baginya?” Ia menjawab: “Ya. Tangisan itu terjadi pada saat mereka sedang dalam perjalanan menuju Allah. Apabila mereka telah singgah di hakikat kedekatan dan merasakan lezatnya sampai dari kebaikan-Nya, maka tangisan itu hilang dari mereka.”
Sebagian ulama salaf berkata: “Tidurnya orang yang makrifat adalah terjaga, napasnya adalah tasbih, dan tidurnya orang yang makrifat lebih utama dari shalatnya orang yang lalai.”
Adapun tidurnya orang yang makrifat disebut terjaga karena hatinya hidup; matanya tertidur sedangkan ruhnya bersujud di bawah Arsy di hadapan Tuhan dan Penciptanya. Jasadnya di atas tempat tidur sementara hatinya mengelilingi Arsy. Tidurnya lebih utama dari shalatnya orang lalai karena badan orang lalai berdiri dalam shalat, namun hatinya berkelana di comberan dunia dan angan-angan. Oleh karena itu, terjaganya orang lalai disebut tidur karena hatinya mati.
Dikatakan pula: “Duduk bersama orang yang makrifat mengajakmu dari enam hal menuju enam hal lainnya: dari keraguan menuju keyakinan, dari riya menuju keikhlasan, dari kelalaian menuju dzikir, dari cinta dunia menuju cinta akhirat, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dan dari niat buruk menuju nasihat yang tulus.”
Pasal: Tingkatan-Tingkatan Makrifat
Tingkatan Pertama: Mengenal Sifat-Sifat dan Na’at-Na’at
Pasal
Penulis kitab al-Manazil berkata: Makrifat terbagi atas tiga tingkatan, dan manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok.
Tingkatan pertama: Mengenal sifat-sifat dan na’at-na’at. Nama-namanya telah datang melalui risalah kenabian, dan bukti-buktinya tampak dalam ciptaan: dengan melihat cahaya yang berdiri di dalam hati, dengan hidupnya akal yang baik untuk menumbuhkan pikiran, dan dengan hidupnya hati melalui pandangan yang baik antara pengagungan dan pengambilan pelajaran. Ini adalah makrifat orang-orang awam yang tanpanya syarat-syarat keyakinan tidak akan terpenuhi. Ia berdiri di atas tiga pilar: menetapkan sifat-sifat dengan namanya tanpa menyerupakan, menafikan penyerupaan darinya tanpa meniadakan, berputus asa dari mengetahui hakikatnya, dan tidak mencari-cari takwilnya.
Aku berkata: Perbedaan antara sifat dan na’at dari tiga sisi:
Pertama: Na’at berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang terus terjadi, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang” (al-A’raf: 54) hingga akhir ayat. Dan firman-Nya: “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu agar kamu mendapat petunjuk” (az-Zukhruf: 10). “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar yang diperlukan, lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan dari kubur” (az-Zukhruf: 11). “Dan Yang menciptakan semua pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi” (az-Zukhruf: 12), dan ayat-ayat serupa.
Adapun “sifat” adalah perkara-perkara yang tetap dan melekat pada Dzat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang tampak. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (al-Hasyr: 22). “Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Mengamankan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan” (al-Hasyr: 23) hingga firman-Nya: “Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (al-Hasyr: 24), dan ayat-ayat serupa.
Perbedaan kedua: Sifat-sifat dzatiyah tidak disebut dengan istilah na’at, seperti wajah, dua tangan, telapak kaki, dan jari-jari. Ini disebut sifat-sifat. Para ulama salaf telah menyebutnya dengan nama ini, demikian pula para teolog dari kalangan Ahlul Itsbat yang menamakannya sifat-sifat. Sebagian dari mereka mengingkari penamaan ini, seperti Abu al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil dan lainnya. Ia berkata: “Tidak seharusnya dikatakan ‘nash-nash sifat’, melainkan ‘ayat-ayat idhafat’, karena yang hidup tidak disifati dengan tangannya atau wajahnya, sebab itu adalah yang disifati itu sendiri. Bagaimana bisa disebut sifat?”
Juga: Sifat adalah makna yang umum bagi yang disifati, maka wajah dan tangan tidak bisa disebut sifat.
Yang benar: Ini adalah perselisihan lafzhiyah dalam penamaan. Yang dimaksud adalah: dibolehkannya menisbatkan idhafat-idhafat ini kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, menyandarkannya kepada-Nya, dan mengabarkan tentang-Nya dengan hal tersebut, yang disucikan dari tamtsil dan ta’thil, baik dinamakan sifat maupun tidak.
Perbedaan ketiga: Na’at adalah apa yang tampak dari sifat-sifat dan dikenal, yang diketahui oleh kalangan khusus maupun awam. Sedangkan sifat lebih umum. Jadi perbedaan antara na’at dan sifat adalah perbedaan antara yang khusus dan yang umum. Dari sinilah perkataan mereka dalam mendeskripsikan sesuatu: “Na’atnya begini dan begitu,” untuk apa yang tampak dari sifat-sifatnya.
Ada juga yang mengatakan: Keduanya adalah dua bahasa yang sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Oleh karena itu para ahli nahwu Bashrah mengatakan: bab sifat, dan para ahli nahwu Kufah mengatakan: bab na’at, padahal maksudnya sama. Persoalan ini ringan, dan kita sedang membahas hal lain, maka mari kita kembali ke maksud utama.
Yaitu: Seorang hamba tidak akan memiliki pijakan yang kokoh dalam makrifat—bahkan dalam keimanan sekalipun—hingga ia beriman kepada sifat-sifat Tuhan Jalla Jalaluhu, dan mengenalnya dengan pengenalan yang mengeluarkannya dari kebodohan terhadap Tuhannya. Beriman kepada sifat-sifat dan mengenalnya adalah fondasi Islam, dasar keimanan, dan buah dari pohon ihsan. Barangsiapa mengingkari sifat-sifat, maka ia telah meruntuhkan fondasi Islam dan keimanan serta buah dari pohon ihsan, apalagi untuk menjadi ahli makrifat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan orang yang mengingkari sifat-sifat-Nya sebagai orang yang berburuk sangka kepada-Nya, dan mengancamnya dengan ancaman yang tidak Dia ancamkan kepada pelaku syirik, kekufuran, dan dosa-dosa besar lainnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak pernah menutupi dirimu agar pendengaranmu, penglihatanmu, dan kulitmu tidak menjadi saksi atasmu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan” (Fushshilat: 22). “Dan itulah prasangkamu yang kamu sangkakan terhadap Tuhanmu yang telah membinasakanmu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Fushshilat: 23). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa pengingkaran mereka terhadap sifat ini dari sifat-sifat-Nya adalah bagian dari buruk sangka mereka kepada-Nya, dan itulah yang membinasakan mereka.
Allah juga telah berfirman tentang orang-orang yang berburuk sangka kepada-Nya: “Atas merekalah lingkaran keburukan, dan Allah murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan bagi mereka neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (al-Fath: 6). Ancaman seperti ini tidak datang kecuali kepada orang yang berburuk sangka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Mengingkari sifat-sifat-Nya dan menolak hakikat nama-nama-Nya adalah bagian terbesar dari berburuk sangka kepada-Nya.
Karena hal yang paling dicintai-Nya adalah pujian kepada-Nya, sanjungan atas-Nya, dan memuji-Nya dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka mengingkari dan menolaknya adalah ilhad dan kekufuran terbesar kepada-Nya. Itu lebih buruk dari syirik. Orang yang ta’thil (meniadakan sifat) lebih buruk dari orang musyrik, karena tidak sama antara mengingkari sifat-sifat Raja dan hakikat kerajaan-Nya serta mencela sifat-sifat-Nya sendiri, dengan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam kerajaan. Orang-orang yang ta’thil adalah musuh-musuh para Rasul secara hakiki. Bahkan setiap kesyirikan di dunia ini berasal dari ta’thil, karena seandainya bukan karena peniadaan kesempurnaan-Nya—atau sebagiannya—dan buruk sangka kepada-Nya, tentu tidak akan ada yang menyekutukan-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam para penganut tauhid, Ibrahim ‘alaihis salam, kepada kaumnya: “Apakah patung-patung yang kamu buat menjadi tuhan-tuhan selain Allah yang kamu inginkan? Maka apakah prasangkamu terhadap Tuhan semesta alam?” (ash-Shaffat: 86-87). Maksudnya: Apa prasangkamu terhadap-Nya tentang balasan-Nya, sedangkan kamu telah menyembah selain-Nya bersama-Nya? Apa yang kamu sangkakan tentang-Nya hingga kamu menjadikan sekutu-sekutu bersama-Nya? Apakah kamu menyangka bahwa Dia membutuhkan sekutu dan penolong? Ataukah kamu menyangka bahwa ada sesuatu dari keadaan hamba-hamba-Nya yang tersembunyi dari-Nya, sehingga Dia membutuhkan sekutu-sekutu yang memberitahukan-Nya seperti para raja? Ataukah kamu menyangka bahwa Dia tidak mampu sendirian mengurus dan memenuhi kebutuhan mereka? Ataukah Dia kejam sehingga membutuhkan pemberi syafaat yang melembutkan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya? Ataukah Dia hina sehingga membutuhkan penolong untuk memperbanyak dari kekurangan dan memperkuat dari kehinaan? Ataukah Dia membutuhkan anak sehingga mengambil pasangan yang darinya dan dari-Nya lahir anak? Maha Tinggi Allah dari semua itu dengan ketinggian yang besar.
Maksudnya: Ta’thil adalah awal dan dasar dari syirik. Tidak ada orang yang ta’thil kecuali kesyirikannya sesuai dengan kadar ta’thilnya, baik sedikit maupun banyak.
Pasal
Para Rasul dari yang pertama hingga yang terakhir—shalawat dan salam Allah atas mereka semua—diutus untuk mengajak kepada Allah, menjelaskan jalan yang menyampaikan kepada-Nya, dan menjelaskan keadaan orang-orang yang diajak setelah sampai kepada-Nya. Tiga landasan ini adalah keniscayaan dalam setiap agama melalui lisan setiap Rasul.
Mereka memperkenalkan Tuhan yang diajak untuk menuju-Nya dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya secara terperinci, hingga seolah-olah para hamba menyaksikan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan memandang-Nya di atas langit-langit-Nya, di atas Arsy-Nya, berbicara kepada malaikat-malaikat-Nya, mengatur urusan kerajaan-Nya, mendengar suara-suara makhluk-Nya, melihat perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka, menyaksikan batin mereka sebagaimana menyaksikan lahir mereka. Dia memerintah dan melarang, ridha dan murka, mencintai dan membenci, tertawa dari keputusasaan mereka padahal pertolongan-Nya sudah dekat, mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan, menolong orang yang teraniaya, membantu orang yang membutuhkan, menyembuhkan yang patah hati, mencukupkan yang fakir, mematikan dan menghidupkan, menahan dan memberi. Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Pemilik kerajaan, memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki, memuliakan siapa yang Dia kehendaki, menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setiap hari Dia dalam suatu urusan: mengampuni dosa, melapangkan kesusahan, membebaskan tawanan, menolong yang teraniaya, menghancurkan yang zalim, merahmati yang miskin, menolong yang dalam kesulitan, menggiring takdir-takdir ke waktu-waktunya, menjalankannya sesuai aturannya, mendahulukan apa yang Dia kehendaki untuk didahulukan, dan mengakhirkan apa yang Dia kehendaki untuk diakhirkan. Kendali semua urusan ada di tangan-Nya, dan poros pengaturan semua kerajaan bergantung pada-Nya. Inilah maksud dakwah dan inti risalah.
Landasan kedua: Memperkenalkan mereka jalan yang menyampaikan kepada-Nya, yaitu shirathul mustaqim yang Dia tegakkan untuk para Rasul-Nya dan pengikut mereka. Yaitu mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan beriman kepada janji dan ancaman-Nya.
Landasan ketiga: Memperkenalkan keadaan setelah sampai, yaitu apa yang tercakup dalam Hari Akhir berupa surga dan neraka, dan apa yang mendahuluinya berupa hisab, telaga, timbangan, dan shirath.
Maka orang-orang yang ta’thil dan Jahmiyah duduk di kepala landasan pertama, menghalangi hati-hati untuk mengenal Tuhan mereka. Mereka menamai penetapan sifat-sifat-Nya, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan bersemayam-Nya di atas Arsy-Nya sebagai tasybih, tajsim, dan hasyaw. Mereka menakut-nakuti akal-akal yang kekanak-kanakan darinya. Mereka menamai turunnya Dia ke langit dunia, berbicara-Nya dengan kehendak-Nya, ridha-Nya setelah murka, murka-Nya setelah ridha, pendengaran-Nya yang hadir bagi suara-suara hamba, penglihatan-Nya yang menyertai perbuatan-perbuatan mereka, dan semacamnya sebagai “hawadits” (peristiwa baru). Mereka menamai wajah-Nya Yang Maha Tinggi, dua tangan-Nya yang terbentang, jari-jari-Nya yang di atasnya Dia meletakkan makhluk pada Hari Kiamat sebagai “jawarih” (anggota badan) dan “a’dha” (organ)—sebagai tipu daya besar terhadap manusia. Seperti orang yang ingin menakut-nakuti dari madu, lalu ia menipu dalam ungkapan dan berkata: “Cairan kuning yang menyerupai kotoran yang mencair,” atau menakut-nakuti dari sesuatu yang baik lalu menamakannya dengan nama-nama yang paling buruk, seperti yang dilakukan oleh penipu dan penipu. Tidak ada pada penentang para Rasul kecuali tipu daya dalam perkataan dan perbuatan.
Ketika tipu daya orang-orang yang ta’thil telah sempurna dan masuk ke dalam hati-hati yang gelap yang bodoh akan hakikat-hakikat keimanan dan apa yang dibawa oleh Rasul, maka berakibat pada berpaling dari Allah, dari dzikir-Nya, cinta-Nya, dan pujian kepada-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan na’at-na’at keagungan-Nya. Maka kekuatan cinta, kerinduan, dan ketenangan mereka berpaling kepada selain-Nya.
Kemudian datang para pengikut pendapat-pendapat yang rusak, politik-politik yang batil, selera-selera yang menyimpang, dan kebiasaan-kebiasaan yang terus berlanjut. Mereka duduk di kepala jalan yang lurus ini, menghalangi hati-hati untuk sampai kepada Nabi mereka dan apa yang ada padanya bersama para sahabatnya. Mereka mencela orang yang menyelisihi mereka dalam duduk mereka itu, yang tidak menyukai apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri, dan melemparkan kepadanya tuduhan yang justru mereka lebih layak menyandangnya. Sebagaimana dikatakan: “Dia menuduhku dengan penyakitnya lalu menyelinap pergi.”
Kemudian datang para pengikut syahwat yang tergoda dengannya, yang menganggap memperolehnya—bagaimanapun caranya—adalah kemenangan dalam kehidupan ini dan tujuan. Mereka duduk di kepala jalan menuju hari akhir dan persiapan untuk surga dan bertemu Allah. Mereka berkata: “Hari ini khamr, besok urusan. Hari ini milikmu, dan kamu tidak tahu: apakah besok milikmu atau terhadapmu?” Mereka berkata: “Kami tidak menjual satu biji yang tunai dengan sekantong permata yang dijanjikan.”
Dan mereka berkata:
Ambillah yang kau lihat dan tinggalkan sesuatu yang kau dengar Pada terbitnya matahari cukup bagimu dari planet Saturnus
Mereka berkata kepada manusia: “Biarkan dunia untuk kami, dan kami telah membiarkan akhirat untuk kalian. Jika kalian meminta apa yang ada di tangan kami, kami akan menunjukkan kalian ke akhirat.”
Ada orang-orang yang mengkritik kehidupan penuh kenikmatan… Sementara kami berharap pada akhirat Jika akhirat itu tidak seperti yang mereka klaim… Maka itu adalah kerugian yang nyata
Maka beriman kepada sifat-sifat Allah, mengenalnya, menetapkan hakikatnya, bergantungnya hati kepadanya, dan menyaksikannya adalah permulaan jalan, pertengahannya, dan tujuan akhirnya. Itulah ruh para penempuh jalan spiritual dan pendorong mereka untuk sampai kepada tujuan. Ia menggerakkan tekad mereka ketika mereka melemah, dan membangkitkan semangat mereka ketika mereka lalai. Sebab perjalanan mereka hanyalah berdasarkan bukti-bukti. Barangsiapa tidak memiliki bukti, maka ia tidak memiliki perjalanan, tidak ada pencarian, dan tidak ada penempuhan jalan. Bukti terbesar adalah sifat-sifat Dzat yang mereka cintai dan puncak yang mereka tuju. Itulah ilmu yang diangkat tinggi bagi mereka dalam perjalanan, sehingga mereka bersegera menujunya.
Sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Barangsiapa melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia melihatnya pergi dan pulang. Beliau tidak meletakkan satu batu bata pun di atas batu bata lainnya, tetapi telah diangkat baginya sebuah tanda, maka beliau bersegera menujunya.”
Seorang hamba akan terus dalam kemalasan, kelemahan, dan kelesuan, hingga Allah Azza wa Jalla—dengan karunia dan anugerah-Nya—mengangkat baginya sebuah tanda yang ia saksikan dengan hatinya, maka ia bersegera menujunya dan beramal karenanya.
Jika bukti-bukti sifat itu ditiadakan, tanda-tandanya diturunkan dari hati-hati, jejaknya dihapus, dipukul dengan cambuk penjauhan, dan tabir pengusiran diturunkan di hadapannya, maka hati-hati itu tertinggal bersama orang-orang yang tertinggal. Takdir pun membisikkan kepadanya: “Duduklah bersama orang-orang yang duduk.” Padahal sifat-sifat Dzat yang diseru kepadanya, gambaran kesempurnaan-Nya, dan hakikat nama-nama-Nya adalah yang menarik hati untuk mencintai-Nya dan berusaha sampai kepada-Nya. Sebab hati hanya mencintai siapa yang dikenalnya, takut dan berharap kepadanya, rindu kepadanya, menikmati kedekatan dengannya, dan tenteram dengan mengingat-Nya sesuai dengan kadar pengenalannya terhadap sifat-sifat-Nya.
Jika tabir pengenalan sifat-sifat dan pengakuan terhadapnya dihalangi dari hati, maka terhalanglah darinya—setelah itu—segala sesuatu yang merupakan syarat dari pengenalan dan konsekuensinya. Sebab keberadaan sesuatu yang melazimkan tanpa yang dilazimkan, dan yang bersyarat tanpa syaratnya, adalah mustahil.
Maka hakikat cinta, kembali kepada Allah, tawakal, dan tingkatan ihsan adalah mustahil bagi orang yang menafikan sifat-sifat Allah, sebagaimana mustahilnya hasil panen bagi orang yang tidak menanam benih, bahkan lebih mustahil dari itu.
Bagaimana hati bisa menuju kepada Dzat yang tidak di dalam alam dan tidak di luarnya, tidak bersambung dengannya dan tidak terpisah darinya, tidak terpisah darinya dan tidak menyatu dengannya? Bahkan bagian Arsy dari-Nya sama dengan bagian sumur-sumur, lembah-lembah, dan tempat-tempat yang tidak pantas disebut? Bagaimana hati bisa menuhankan Dzat yang tidak mendengar perkataannya, tidak melihat tempatnya, tidak mencintai dan tidak dicintai, tidak ada perbuatan yang berdiri pada-Nya sama sekali, tidak berbicara dan tidak diajak bicara, tidak dekat dengan sesuatu dan tidak ada sesuatu yang dekat dengan-Nya, tidak ada belas kasih, rahmat, atau kasih sayang pada-Nya, dan tidak ada hikmah atau tujuan yang karenanya Ia berbuat dan memerintah?
Bagaimana bisa dibayangkan bersamaan dengan itu mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, dan melihat wajah-Nya yang mulia di surga-surga kenikmatan, sementara Dia bersemayam di atas Arsy-Nya di atas seluruh makhluk-Nya? Atau bagaimana hati bisa menuhankan Dzat yang tidak mencintai dan tidak dicintai, tidak ridha dan tidak murka, tidak gembira dan tidak tertawa?
Maha Suci Allah yang telah menghalangi antara orang-orang yang menafikan sifat-sifat dengan mencintai-Nya, mengenal-Nya, bergembira dan bahagia dengan-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, menunggu kelezatan memandang wajah-Nya yang mulia, dan menikmati firman-Nya di tempat kemuliaan-Nya dan negeri pahala-Nya! Seandainya Dia melihat mereka layak untuk itu, tentu Dia akan menganugerahkan dan memuliakan mereka dengannya. Sebab itu adalah kemuliaan terbesar yang dengannya Allah memuliakan hamba-Nya. Dan Allah lebih tahu di mana Dia meletakkan kemuliaan-Nya dan menempatkan nikmat-Nya.
“Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata: ‘Inikah orang-orang yang Allah anugerahi dari antara kita?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur? Dan apabila datang kepada mereka suatu ayat, mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman hingga diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya. Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami angkat sebagian mereka di atas sebagian yang lain beberapa tingkatan, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32-53)
Pengingkaran mereka terhadap sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hakikat nama-nama-Nya pada hakikatnya bukanlah penyucian, melainkan tabir yang diturunkan atas mereka, lalu mereka mengiranya sebagai penyucian. Sebagaimana tabir syirik, bid’ah-bid’ah yang menyesatkan, dan syahwat-syahwat yang membinasakan diturunkan atas hati para pemiliknya, dan amal buruk mereka dihiasi bagi mereka, sehingga mereka melihatnya baik.
Kembali kepada Penjelasan Perkataannya
Perkataannya: “Dan nama-nama sifat itu telah datang dengan risalah…” hingga akhirnya.
Ia menyebutkan bahwa penetapan sifat-sifat ditunjukkan oleh wahyu yang datang dari sisi Allah melalui lisan Rasul-Nya, indera yang dengannya orang yang melihat menyaksikan jejak-jejak ciptaan lalu menjadikannya dalil atas sifat-sifat Penciptanya, akal yang kehidupannya menjadi baik dengan tanaman pemikiran, dan hati yang hidup dengan kebaikan pandangan antara pengagungan dan pengambilan pelajaran.
Adapun risalah, maka ia datang dengan menetapkan sifat-sifat secara terperinci dengan cara yang menghilangkan keragu-raguan, menyingkap tabir, menghasilkan keyakinan, dan menghilangkan keraguan dan kebimbangan. Dada menjadi lapang karenanya, hati menjadi tenteram dengannya, dan iman tertancap pada tempatnya. Risalah telah merinci sifat-sifat, gambaran, dan perbuatan lebih besar dari perincian perintah dan larangan, dan menetapkan penetapannya dengan penetapan yang paling sempurna dalam lafaz yang paling baligh, paling jauh dari keumuman dan kemungkinan makna lain, dan paling terhindar dari menerima takwil.
Demikian pula takwil ayat-ayat sifat dan hadits-haditsnya dengan apa yang mengeluarkannya dari hakikatnya adalah sejenis dengan takwil ayat-ayat tentang hari kebangkitan dan berita-beritanya, bahkan lebih jauh dari itu karena banyak alasan yang telah saya sebutkan dalam kitab “Ash-Shawa’iq al-Mursalah ala al-Jahmiyyah wa al-Mu’aththilah.” Bahkan takwil ayat-ayat sifat—dengan apa yang mengeluarkannya dari hakikatnya—sama dengan takwil ayat-ayat perintah dan larangan. Pintunya satu, sumbernya satu, dan tujuannya satu, yaitu menetapkan hakikat-hakikatnya dan beriman kepadanya.
Demikian pula sekelompok orang telah lancang mentakwil ayat-ayat hari kebangkitan, dan berkata: “Kami melakukan terhadapnya seperti yang dilakukan para mutakallimin terhadap ayat-ayat sifat. Bahkan kami lebih punya alasan, karena kandungan kitab-kitab Ilahi tentang sifat-sifat, ketinggian, dan berdirinya perbuatan-perbuatan jauh lebih banyak dari nash-nash tentang kebangkitan jasad. Jika kalian membolehkan mentakwilnya, bagaimana diharamkan bagi kami untuk mentakwil ayat-ayat hari kebangkitan?”
Demikian pula sekelompok lain telah lancang mentakwil ayat-ayat perintah dan larangan, dan berkata: “Kami melakukan terhadapnya seperti yang dilakukan mereka terhadap ayat-ayat sifat, padahal ayat-ayat sifat itu banyak dan beragam, sedangkan ayat-ayat hukum tidak lebih dari lima ratus ayat.”
Mereka berkata: “Apa yang diduga sebagai hal yang bertentangan dari dalil-dalil akal terhadap nash-nash sifat, maka kami punya dalil akal yang bertentangan dengan nash-nash hari kebangkitan, dari jenis yang sama atau lebih kuat.”
Para pentakwil ayat-ayat hukum yang bertentangan dengan hakikat dan zhahirnya berkata: “Yang membolehkan kami melakukan takwil ini adalah kaidah-kaidah yang kalian tetapkan untuk kami dan kalian jadikan sebagai dasar yang kami kembali kepadanya. Ketika kami menerapkannya secara konsisten, konsekuensinya adalah bahwa Allah tidak pernah berbicara sama sekali, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memiliki sifat yang berdiri pada-Nya, dan tidak melakukan sesuatu. Konsekuensi dari dasar ini adalah wajibnya mentakwil ayat-ayat perintah dan larangan, janji dan ancaman, pahala dan siksa.”
Saya telah menyebutkan dalam kitab Ash-Shawa’iq bahwa takwil ayat-ayat sifat dan hadits-haditsnya—dengan apa yang mengeluarkannya dari hakikatnya—adalah pangkal rusaknya dunia dan agama. Hilangnya kerajaan-kerajaan dan dikuasainya Islam oleh musuh-musuhnya hanyalah disebabkan oleh takwil. Ini diketahui oleh orang yang memiliki wawasan dan pengalaman tentang apa yang terjadi di dunia. Oleh karena itu, para filosof yang berakal mengharamkan takwil meskipun mereka meyakini kebenarannya, karena ia adalah penyebab rusaknya alam dan terbengkalainya syariat.
Barangsiapa merenungkan bagaimana datangnya ayat-ayat sifat dalam Al-Quran dan Sunnah, pasti ia mengetahui secara yakin batalnya takwil yang mengeluarkannya dari hakikatnya. Sebab ayat-ayat itu datang dengan cara yang tidak memungkinkan takwil sama sekali.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala: “Tiada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya malaikat kepada mereka, atau datangnya Tuhanmu, atau datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu.” (Al-An’am: 158). Apakah pembagian dan pengklasifikasian ini memungkinkan mentakwil kedatangan Tuhan Jalla Jalaluhu dengan kedatangan malaikat-Nya atau tanda-tanda-Nya? Apakah masih tersisa keragu-raguan sama sekali dengan konteks ini bahwa itu adalah kedatangan-Nya sendiri?
Demikian pula firman-Nya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya” (An-Nisa: 163)—hingga firman-Nya—“Dan Allah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.” (An-Nisa: 164). Maka Dia membedakan antara wahyu yang umum dan pembicaraan yang khusus, menjadikan keduanya dua jenis, kemudian menekankan kata pembicaraan dengan mashdar yang menghilangkan dugaan apa yang dikatakan para penyeleweng.
Demikian pula firman-Nya: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan.” (Asy-Syura: 51). Maka Dia mengklasifikasikan pembicaraan-Nya menjadi pembicaraan dengan perantara dan pembicaraan tanpa perantara.
Demikian pula firman-Nya kepada Musa alaihissalam: “Sesungguhnya Aku telah memilihmu di atas manusia dengan risalah-risalah-Ku dan dengan firman-Ku.” (Al-A’raf: 144). Maka Dia membedakan antara risalah dan kalam, padahal risalah itu hanyalah dengan kalam-Nya.
Demikian pula sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian secara langsung, sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama dalam keadaan cerah, tidak ada awan yang menghalanginya, dan sebagaimana kalian melihat matahari di siang hari dalam keadaan cerah, tidak ada awan yang menghalanginya.”
Diketahui bahwa penjelasan, penyingkapan, dan kehati-hatian ini menafikan maksud takwil secara pasti. Tidak ada keraguan dalam hal ini bagi siapa yang memiliki akal dan agama.
Perkataannya: “Dan bukti-buktinya tampak dalam ciptaan”
Ini adalah jalan kedua dari jalan-jalan penetapan sifat, yaitu petunjuk ciptaan atasnya. Sebab makhluk menunjukkan keberadaan Penciptanya, kehidupan-Nya, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan kehendak-Nya. Perbuatan yang berdasarkan pilihan mengharuskan hal itu secara pasti. Ketelitian dan kesempurnaan yang ada di dalamnya serta terjadinya dalam bentuk yang paling sempurna menunjukkan hikmah Pelakunya dan perhatian-Nya. Kebaikan dan manfaat yang ada di dalamnya serta sampainya manfaat-manfaat besar kepada makhluk menunjukkan rahmat Penciptanya, kebaikan-Nya, dan kedermawanan-Nya. Jejak-jejak kesempurnaan yang ada di dalamnya menunjukkan bahwa Penciptanya lebih sempurna darinya. Pemberi kesempurnaan lebih berhak dengan kesempurnaan. Pencipta pendengaran, penglihatan, dan ucapan lebih berhak untuk menjadi Maha Mendengar, Maha Melihat, dan berbicara. Pencipta kehidupan, ilmu-ilmu, takdir, dan kehendak-kehendak lebih berhak untuk demikian pada Dzat-Nya sendiri.
Berbagai jenis pengkhususan yang ada pada makhluk adalah dalil yang paling kuat atas kehendak Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, kemauan-Nya, dan hikmah-Nya yang menghendaki pengkhususan itu.
Terkabulnya doa setelah permintaan si pemohon sesuai dengan yang diminta adalah dalil atas ilmu Tuhan Ta’ala terhadap hal-hal yang parsial, pendengaran-Nya terhadap permintaan hamba-hamba-Nya, kekuasaan-Nya untuk memenuhi kebutuhan mereka, serta belas kasih dan rahmat-Nya kepada mereka.
Kebaikan kepada orang-orang yang taat, mendekat kepada mereka, memuliakan mereka, dan mengangkat tingkatan mereka menunjukkan cinta dan ridha-Nya. Hukuman-Nya terhadap para pendosa, orang-orang zalim, dan musuh-musuh rasul-Nya dengan berbagai hukuman yang tampak menunjukkan sifat murka dan marah. Penjauhan, pengusiran, dan penjauhan menunjukkan kebencian dan benci.
Petunjuk-petunjuk ini adalah dari satu jenis ketika direnungkan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengambil dalil dengannya atas sifat-sifat-Nya. Dia menetapkan ilmu tentang rububiyyah-Nya, keesaan-Nya, dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dengan jejak-jejak sifat-Nya yang tampak. Al-Quran penuh dengan hal itu.
Maka tampak bukti nama “Al-Khaliq” (Maha Pencipta) dari makhluk itu sendiri, bukti nama “Ar-Razzaq” (Maha Pemberi Rezeki) dari keberadaan rezeki dan yang direzeki, bukti nama “Ar-Rahim” (Maha Penyayang) dari menyaksikan rahmat yang tersebar di alam, nama “Al-Mu’thi” (Maha Pemberi) dari keberadaan pemberian yang terus mengalir tidak terputus sedetik pun, nama “Al-Halim” (Maha Penyantun) dari kesantunan-Nya terhadap para pelaku dosa dan kemaksiatan serta tidak menghukum mereka segera, nama “Al-Ghafur” (Maha Pengampun) dan “At-Tawwab” (Maha Penerima Taubat) dari pengampunan dosa dan penerimaan taubat, bukti nama “Al-Hakim” (Maha Bijaksana) dari ilmu tentang hikmah-hikmah dan kemaslahatan-kemaslahatan yang ada dalam ciptaan dan perintah-Nya serta segi-segi manfaatnya. Demikianlah setiap nama dari nama-nama-Nya yang indah memiliki bukti dalam ciptaan dan perintah-Nya; diketahui oleh yang mengenalnya dan tidak diketahui oleh yang tidak mengenalnya. Maka ciptaan dan perintah adalah bukti-bukti terbesar atas nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Setiap orang yang sehat akal dan fitrahnya mengetahui kadar sang pembuat, ketrampilannya, keunggulannya atas yang lain, dan keunikannya dengan kesempurnaan yang tidak dimiliki yang lain dari menyaksikan hasil karyanya. Bagaimana mungkin tidak diketahui sifat-sifat Dzat yang alam atas dan bawah ini serta makhluk-makhluk ini adalah sebagian dari ciptaan-Nya?
Jika engkau mempertimbangkan makhluk-makhluk dan hal-hal yang diperintahkan, engkau akan mendapatinya seluruhnya menunjukkan sifat-sifat, gambaran, dan hakikat nama-nama yang indah. Engkau akan mengetahui bahwa orang-orang yang menafikan sifat adalah orang-orang yang paling buta dengan kesombongan. Cukuplah tampaknya bukti ciptaan padamu secara khusus, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 21).
Maka seluruh yang ada adalah bukti-bukti sifat-sifat Tuhan Jalla Jalaluhu, gambaran-Nya, dan nama-nama-Nya. Semuanya mengisyaratkan kepada nama-nama yang indah dan hakikatnya, menyerukan kepadanya, menunjukkan kepadanya, dan mengabarkannya dengan lisan ucapan dan keadaan.
Sebagaimana dikatakan:
Renungkanlah baris-baris alam semesta, karena ia Dari Raja Yang Maha Tinggi adalah surat-surat untukmu
Telah tertulis di dalamnya, jika engkau merenungkan tulisannya Bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil
Ia mengisyaratkan penetapan sifat-sifat bagi Tuhannya Yang diam memberi petunjuk dan yang berbicara pun demikian
Maka engkau tidak melihat sesuatu yang lebih menunjukkan kepada sesuatu daripada petunjuk makhluk-makhluk atas sifat-sifat Penciptanya, gambaran kesempurnaan-Nya, dan hakikat nama-nama-Nya. Dalil-dalilnya telah beragam sesuai dengan keragamannya; ia menunjukkan secara akal dan indera, fitrah dan penalaran, serta pengambilan pelajaran.
Perkataannya: “Dengan pencerahan cahaya yang berdiri di dalam rahasia”
Maksudnya adalah cahaya Ilahi yang Allah jadikan untuk hamba-Nya, yang Dia lemparkan kepadanya dan Dia titipkan dalam rahasia hatinya; itulah yang mencerahkannya dengan bukti-bukti sifat-sifat-Nya. Semakin kuat cahaya ini di hati seorang hamba, semakin sempurna dan lengkap penglihatannya terhadap sifat-sifat. Semakin sedikit bagiannya dari cahaya ini dan semakin padam lampunya di hatinya, semakin padam cahaya pembenaran terhadap sifat-sifat dan penetapannya di hatinya. Sebab ia hanya menyaksikannya dengan cahaya itu. Jika ia kehilangannya, ia tidak menyaksikannya, dan datanglah keragu-raguan yang batil bersama kegelapan itu, sehingga ia tidak mendapat bagian darinya kecuali pengingkaran.
Perkataannya: “Dan baiknya kehidupan akal untuk tanaman pemikiran”
Artinya ia menangkap sifat-sifat dengan cahaya itu yang berdiri di dalam rahasia hatinya dan baiknya kehidupan akalnya yang diindahkan oleh tanaman pemikiran yang benar, yang berkaitan dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala serukan kepada hamba-hamba-Nya untuk memikirkannya.
Dengan firman-Nya: “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (Ali Imran: 191)
Dan firman-Nya: “Apakah mereka tidak memikirkan dalam diri mereka bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan kebenaran.” (Ar-Rum: 8)
Dan firman-Nya: “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian memikirkan.” (Al-Baqarah: 219) “Tentang dunia dan akhirat.” (Al-Baqarah: 220)
Maka mereka memikirkan ayat-ayat yang Dia jelaskan kepada mereka, lalu mereka mengambil dalil dengannya atas keesaan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, kebenaran rasul-rasul-Nya, dan ilmu tentang bertemu dengan-Nya. Mereka memikirkan dunia dan kepergiannya, kehancurannya dan bencananya, serta akhirat dan keabadiannya, kekalnya dan kemuliaannya.
Dan firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian dari diri kalian sendiri pasangan-pasangan agar kalian tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)
Pemikiran yang benar, yang didukung dengan kehidupan hati dan cahaya bashirah, menunjukkan penetapan sifat-sifat kesempurnaan dan gambaran keagungan. Adapun pemikiran yang disertai dengan matinya hati dan butanya bashirah, maka ia hanya memberikan kepada pemiliknya penafian dan peniadaan sifat-sifat.
Perkataannya: “Dan hidupnya hati dengan baiknya pandangan antara pengagungan dan baiknya pengambilan pelajaran”
Maksudnya adalah ditambahkan kepada cahaya bashirah dan baiknya kehidupan akal: hidupnya hati dengan baiknya pandangan yang berputar antara mengagungkan Sang Pencipta Jalla Jalaluhu dan baiknya mengambil pelajaran dari ciptaan-ciptaan-Nya yang menunjukkan kepada-Nya. Dua hal ini harus ada. Sebab jika ia lalai dengan pengagungan dari baiknya pengambilan pelajaran, ia tidak akan mendapatkan pengambilan dalil atas sifat-sifat. Dan jika ia mendapatkan pengambilan pelajaran tanpa mengagungkan Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala, ia tidak akan mendapat manfaat darinya berupa penetapan sifat-sifat. Jika berkumpul baginya pengagungan terhadap Sang Pencipta dan baiknya pandangan dalam ciptaan-Nya, keduanya pasti membuahkan penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
“I’tibar” adalah seseorang melewatkan pandangannya dari bekas (atsar) menuju yang membuat bekas (mu’atstsir), dari hasil karya menuju pembuatnya, dari dalil menuju yang ditunjukkan. Maka ia berpindah kepadanya dengan cepat melalui kelembutan pemahaman. Pikirannya berpindah dari sesuatu yang melazimkan menuju kelaziman. Allah Ta’ala berfirman: “Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Surah Al-Hasyr: 2). “I’tibar” adalah bentuk kata ifti’al dari kata ‘ubur (menyeberang), yaitu penyeberangan hati dari sesuatu yang melazimkan menuju kelaziman, dan dari yang serupa menuju yang serupa dengannya.
I’tibar ini bisa lemah dan bisa kuat, hingga pemiliknya berdalil dengan sifat-sifat Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya atas apa yang Dia lakukan, karena baiknya i’tibar-nya dan benarnya pandangannya. Inilah i’tibar orang-orang khusus dan cara pengambilan dalil mereka. Mereka berdalil dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, bahwa Dia melakukan ini dan tidak melakukan itu. Dia melakukan apa yang menjadi konsekuensi hikmah-Nya, ilmu-Nya, kekayaan-Nya, dan pujian-Nya, dan tidak melakukan apa yang bertentangan dengan itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan kedua jalan ini dalam kitab-Nya. Dia berfirman tentang jalan pertama: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Surah Fushshilat: 53). Kemudian Dia berfirman tentang jalan kedua: “Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Surah Fushshilat: 53). Maka makhluk-makhluk-Nya menunjukkan pada Dzat-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menunjukkan pada apa yang Dia lakukan dan perintahkan, serta apa yang tidak Dia lakukan dan tidak Dia perintahkan.
Contohnya: nama-Nya “Al-Hamid” (Yang Maha Terpuji) Subhanahu menunjukkan bahwa Dia tidak memerintahkan kekejian dan kemungkaran. Nama-Nya “Al-Hakim” (Yang Maha Bijaksana) menunjukkan bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Nama-Nya “Al-Ghani” (Yang Maha Kaya) menunjukkan bahwa Dia tidak mengambil istri dan tidak pula anak. Nama-Nya “Al-Malik” (Yang Maha Raja) menunjukkan konsekuensi hakikat kerajaan-Nya: berupa kekuasaan-Nya, pengaturan-Nya, pemberian dan pencegahan-Nya, pahala dan hukuman-Nya, pengiriman para rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya, pemberitahuan kepada hamba-hamba-Nya tentang keputusan-keputusan-Nya, perjanjian-perjanjian-Nya kepada mereka, dan bersemayam-Nya di atas singgasana kerajaan-Nya yaitu ‘Arsy-Nya yang agung.
Maka ketika seorang hamba memiliki pengagungan terhadap Yang Maha Hak jalla jalaluhu, baiknya pandangan terhadap bukti-bukti, serta pemahaman dan pengambilan pelajaran darinya, maka sifat-sifat dan sebutan-sebutan itu menjadi terpandang oleh hatinya sebagai kiblat baginya.
Perkataannya: “Inilah ma’rifah orang awam yang syarat-syarat keyakinan tidak terikat kecuali dengannya.”
Yang dimaksud dengan orang awam bukanlah orang-orang bodoh yang merupakan rakyat jelata, melainkan maksudnya adalah: inilah ma’rifah yang mayoritas orang berhenti padanya dan tidak melampauinya. Adapun ma’rifah ahli dzauq (perasaan spiritual) dan kecintaan khusus, maka lebih khusus dari ini sebagaimana akan dijelaskan.
Perkataannya: “Ia berdiri di atas tiga rukun: menetapkan sifat tanpa penyerupaan” – sampai akhirnya. Ini ada tiga hal:
Pertama: Menetapkan sifat tersebut, maka tidak memperlakukannya dengan penafian dan pengingkaran.
Kedua: Tidak melampaui nama khususnya yang Allah namakan dengannya, bahkan menghormati nama sebagaimana menghormati sifat. Maka tidak meniadakan sifat, tidak mengubah namanya, dan tidak meminjamkan nama lain. Sebagaimana Jahmiyyah dan Mu’aththilah menamai pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehidupan-Nya, dan kalam-Nya sebagai “sifat-sifat aksidental” (‘aradh). Mereka menamai wajah-Nya, tangan-Nya, dan kaki-Nya Subhanahu sebagai “anggota tubuh dan bagian-bagian”. Mereka menamai hikmah-Nya dan tujuan perbuatan-Nya yang dikehendaki sebagai “sebab-sebab dan tujuan-tujuan”. Mereka menamai perbuatan-perbuatan-Nya yang ada pada-Nya sebagai “kejadian-kejadian baru”. Mereka menamai ketinggian-Nya atas makhluk-Nya dan bersemayam-Nya di atas ‘Arsy-Nya sebagai “bertempat”. Mereka saling berwasiat dengan tipu daya besar ini untuk menafikan apa yang ditunjukkan oleh wahyu, akal, fitrah, dan jejak-jejak penciptaan dari sifat-sifat-Nya. Maka mereka menyerang – dengan nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka ciptakan ini – untuk menafikan sifat-sifat-Nya dan hakikat nama-nama-Nya.
Ketiga: Tidak menyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat makhluk. Karena Allah Subhanahu tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, baik dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Maka orang-orang yang mengenal-Nya, yang membenarkan rasul-rasul-Nya, yang mengakui kesempurnaan-Nya: mereka menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi-Nya, dan menafikan dari-Nya penyerupaan dengan makhluk. Mereka menggabungkan antara penetapan dan penafian penyerupaan, antara penyucian dan tidak meniadakan. Maka madzhab mereka adalah kebaikan di antara dua keburukan, dan petunjuk di antara dua kesesatan. Jalan mereka adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat, sedangkan jalan selain mereka adalah jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Kami tidak menghilangkan satu sifat pun dari sifat-sifat Allah karena celaan orang-orang yang mencela.” Beliau juga berkata: “Tasybih (penyerupaan) adalah engkau mengatakan: tangan seperti tanganku. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.”
Perkataannya: “Dan berputus asa dari mengetahui hakikatnya, serta mencari takwilnya.”
Maksudnya: akal telah berputus asa dari mengetahui hakikat dan kaifiyat (cara) sifat tersebut. Karena tidak ada yang mengetahui bagaimana Allah kecuali Allah sendiri. Inilah makna perkataan Salaf “bila kaif” (tanpa bertanya bagaimana), yaitu tanpa cara yang dapat dipahami oleh manusia. Karena siapa yang tidak diketahui hakikat dan esensi Dzat-Nya, bagaimana bisa diketahui kaifiyat sifat-sifat-Nya? Hal ini tidak mencederai keimanan terhadapnya dan pengetahuan tentang maknanya. Kaifiyat adalah di luar itu semua.
Sebagaimana kita mengetahui makna-makna apa yang Allah kabarkan tentang hakikat-hakikat yang ada di hari akhir, namun kita tidak mengetahui hakikat kaifiyatnya, padahal jarak antara makhluk dengan makhluk itu dekat. Maka ketidakmampuan kita mengetahui kaifiyat Sang Pencipta dan sifat-sifat-Nya jauh lebih besar lagi.
Bagaimana mungkin akal yang makhluk, terbatas, dan terhingga bisa berambisi mengetahui kaifiyat Dzat yang memiliki seluruh kesempurnaan, seluruh keindahan, seluruh ilmu, seluruh kekuasaan, seluruh keagungan, dan seluruh kebesaran? Dzat yang seandainya hijab disingkap dari wajah-Nya, niscaya cahaya keagungan-Nya akan membakar langit dan bumi beserta apa yang ada di dalamnya, di antara keduanya, dan di luar keduanya? Dzat yang menggenggam langit-langit dengan tangan-Nya, maka langit-langit itu tenggelam sebagaimana biji sawi tenggelam di telapak tangan salah seorang dari kita? Dzat yang nisbah seluruh ilmu makhluk terhadap ilmu-Nya lebih kecil dari nisbah patukan burung dari lautan? Ilmu yang seandainya lautan – ditambah tujuh lautan sesudahnya – menjadi tinta, dan pepohonan bumi – sejak diciptakan hingga hari kiamat – menjadi pena, niscaya tinta akan habis dan pena akan habis, namun kalimat-kalimat-Nya tidak akan habis? Dzat yang seandainya seluruh makhluk dari awal dunia hingga akhirnya – manusia dan jin, yang berbicara dan yang tidak – berbaris dalam satu barisan, mereka tidak akan mampu meliputi-Nya Subhanahu? Dzat yang meletakkan langit-langit di atas satu jari dari jari-jari-Nya, bumi di atas satu jari, gunung-gunung di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, kemudian menggoyang-goyangkannya, lalu berfirman: “Akulah Raja.”
Maka semoga Allah membinasakan Jahmiyyah dan Mu’aththilah! Di mana tasybih di sini? Di mana tamtsil? Sungguh semua yang ada selain-Nya menjadi tidak berarti di sini, apalagi ada sesuatu yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan itu atau menyamainya. Maha Suci Dzat yang menghijabi akal-akal mereka dari mengenal-Nya, dan menyerahkannya kepada apa yang mereka kuasai berupa berhentinya mereka pada lafazh-lafazh yang tidak memiliki kehormatan dan makna-makna yang tidak memiliki hakikat.
Ketika kelompok ini memahami dari sifat-sifat ilahiyyah seperti pemahaman mereka tentang sifat-sifat makhluk, mereka lari kepada pengingkaran hakikat-hakikatnya dan mencari penyelewengannya, lalu mereka namakan itu “takwil”. Maka mereka menyerupakan terlebih dahulu, lalu meniadakan kemudian, dan berprasangka buruk kepada Tuhan mereka, kitab-Nya, nabi-Nya, dan pengikut-pengikutnya.
Adapun prasangka buruk kepada Tuhan: mereka meniadakan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan menisbatkan kepada-Nya bahwa Dia menurunkan kitab yang mengandung apa yang zhahirnya kekufuran dan kebatilan, dan bahwa zhahir dan hakikatnya tidak dimaksudkan.
Adapun prasangka buruk kepada Rasul: karena beliau berbicara dengan hal itu, menetapkan dan menguatkannya, namun tidak menjelaskan kepada umat bahwa kebenaran ada pada kebalikan dan takwilnya.
Adapun prasangka buruk kepada pengikut-pengikutnya: dengan menisbatkan mereka kepada tasybih, tamtsil, kebodohan, dan kebodohan besar (hasyawiyyah). Padahal mereka di sisi pengikut Rasul terlalu bodoh untuk dikafirkan, kecuali yang menentang Rasul dan bermaksud menafikan apa yang beliau bawa. Kelompok ini menurut mereka berada dalam perlindungan kebodohan mereka, hati-hati mereka terhijab dari mengenal Allah dan menetapkan hakikat nama-nama-Nya serta sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Pasal: Tingkatan Kedua – Ma’rifah Dzat
Beliau berkata: “Tingkatan kedua: ma’rifah Dzat, dengan menggugurkan pembedaan antara sifat-sifat dan Dzat. Ia ditetapkan dengan ilmu jam’, menjadi jernih di medan fana’, menjadi sempurna dengan ilmu baqa’, dan mendekati ‘ain al-jam’.”
Kami akan menjelaskan perkataannya dan maksudnya terlebih dahulu, kemudian menjelaskan apa yang benar dan salah darinya.
Tingkatan ini menurutnya lebih tinggi dari sebelumnya, karena yang sebelumnya adalah pandangan terhadap sifat-sifat, sedangkan ini berkaitan dengan Dzat yang menghimpun sifat-sifat. Meskipun Dzat tidak kosong dari sifat-sifat, karena sifat-sifat itu berdiri padanya. Kami tidak mengatakan bahwa sifat-sifat-Nya adalah Dzat-Nya sendiri dan tidak pula yang lain, karena dalam lafazh “yang lain” (ghair) terdapat kesamaran dan kerancuan.
“Dua hal yang berbeda” terkadang dimaksudkan sebagai dua hal yang bisa terpisah secara dzat, waktu, atau tempat. Berdasarkan ini, sifat-sifat tidak berbeda dari Dzat.
Terkadang “dua hal yang berbeda” dimaksudkan sebagai dua hal yang bisa diketahui salah satunya tanpa yang lain, sehingga keduanya terpisah dalam keberadaan pikiran, bukan dalam keberadaan eksternal. Maka sifat-sifat adalah berbeda dari Dzat berdasarkan pengertian ini, karena kesadaran terhadap Dzat bisa terjadi saat lalai dari sifat-sifatnya. Dzat tercerai dari sifat-sifatnya dalam kesadaran hamba, bukan dalam kenyataannya.
Perkataannya: “dengan menggugurkan pembedaan antara sifat-sifat dan Dzat” – pembedaan antara sifat dan Dzat dalam keberadaan adalah mustahil. Namun ia mungkin dalam penyaksian, yaitu seseorang menyaksikan sifat dan lalai dari penyaksian yang disifati, atau menyaksikan yang disifati dan lalai dari penyaksian sifat. Maka pengasingan Dzat atau sifat-sifat hanya mungkin dalam pikiran. Ma’rifah dalam tingkatan ini berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat sekaligus. Maka ilmu dan penyaksian tidak membedakan keduanya. Tidak diragukan bahwa hal itu lebih sempurna dari penyaksian sifat semata atau Dzat semata.
Syaikh tidak bermaksud bahwa engkau menggugurkan pembedaan antara Dzat dan sifat-sifat dalam kenyataan eksternal dan ilmu, sehingga sifat-sifat adalah Dzat itu sendiri. Ini bukan perkataan Syaikh. Meskipun banyak dari ahli kalam mengatakan bahwa sifat-sifat adalah Dzat, namun maksud mereka bukan bahwa Dzat itu sendiri adalah sifat, karena ini tidak akan dikatakan oleh orang berakal. Maksud mereka adalah bahwa sifat-sifat-Nya bukanlah sesuatu yang lain dari-Nya.
Jika yang mereka maksudkan adalah bahwa pengertian sifat sama dengan pengertian Dzat, maka ini adalah penolakan terhadap kenyataan. Jika yang mereka maksudkan adalah bahwa tidak ada sesuatu-sesuatu lain selain Dzat yang bergabung dan berdiri padanya, maka ini benar.
Yang benar adalah: sifat-sifat Tuhan jalla jalaluhu termasuk dalam cakupan nama-Nya. Nama-Nya “Allah”, “ar-Rabb”, dan “al-Ilah” bukanlah nama-nama untuk dzat yang murni tanpa sifat sama sekali. Karena dzat murni semacam ini keberadaannya mustahil. Ia hanya diasumsikan oleh pikiran sebagaimana mengasumsikan hal-hal yang mustahil, kemudian dihukumi.
Nama “Allah” Subhanahu, “ar-Rabb”, dan “al-Ilah” adalah nama bagi Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan sebutan keagungan, seperti ilmu, kekuasaan, kehidupan, kehendak, kalam, pendengaran, penglihatan, keabadian, kekadiman, dan seluruh kesempurnaan yang layak bagi Allah karena Dzat-Nya. Maka sifat-sifat-Nya termasuk dalam cakupan nama-Nya. Mengasingkan sifat-sifat dari Dzat dan Dzat dari sifat-sifat adalah asumsi dan khayalan pikiran yang tidak memiliki hakikat. Ia adalah perkara hipotetis yang tidak ada manfaatnya dan tidak menghasilkan ma’rifah, keimanan, dan bukan pula ilmu dalam dirinya sendiri.
Dengan ini Salaf menjawab Jahmiyyah ketika mereka berdalil atas terciptanya Al-Qur’an dengan firman Allah Ta’ala: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (Surah Ar-Ra’d: 16). Mereka berkata: “Al-Qur’an adalah sesuatu.”
Maka Salaf menjawab bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, kalam-Nya termasuk sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya termasuk dalam cakupan nama-Nya – seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kehidupan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, wajah-Nya, dan tangan-Nya. “Allah” bukanlah nama bagi dzat yang tidak memiliki sifat, tidak memiliki perbuatan, tidak memiliki wajah, dan tidak memiliki dua tangan. Dzat semacam itu adalah tuhan yang tidak ada, diasumsikan dalam pikiran, tidak memiliki keberadaan dalam kenyataan.
Seperti tuhannya Jahmiyyah yang mereka asumsikan tidak di luar alam dan tidak di dalamnya, tidak bersambung dengannya dan tidak terpisah darinya, tidak menyatu dengannya dan tidak terpisah darinya.
Seperti tuhannya para filosof yang mereka asumsikan sebagai wujud mutlak yang tidak dikhususkan dengan sifat dan sebutan, tidak memiliki kehendak, kekuasaan, keinginan, dan kalam.
Seperti tuhannya kaum wihdatul wujud yang mereka asumsikan sebagai wujud yang mengalir dalam segala yang ada, tampak padanya, yang merupakan esensi keberadaannya sendiri.
Seperti tuhannya kaum Nasrani yang mereka asumsikan telah mengambil istri dan anak, mengenakan kemanusiaan anaknya, dan menjadikannya sebagai hijab.
Semua tuhan-tuhan ini adalah buatan tangan pemikiran mereka. Sedangkan Tuhan alam semesta yang haq adalah yang para rasul serukan kepada-Nya dan mereka perkenalkan dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dia di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, disifati dengan setiap kesempurnaan, disucikan dari setiap kekurangan, tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada sekutu, tidak ada penolong, tidak ada yang memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. “Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah Al-Hadid: 3). Dia Maha Kaya dengan Dzat-Nya dari segala selain-Nya, dan segala selain-Nya fakir kepada-Nya dengan dzatnya sendiri.
Perkataannya: “Ia ditetapkan dengan ilmu jam’, dan menjadi jernih di medan fana'” – maksudnya adalah bahwa ma’rifah khusus ini ditetapkan dengan ilmu jam’. Beliau tidak mengatakan dengan hal jam’, ‘ain jam’, atau tingkatan jam’, karena ilmunya terlebih dahulu adalah sebab tetapnya ma’rifah. Ma’rifah ini tidak bisa diraih kecuali dengan ilmu, maka ilmu adalah syaratnya. Pembahasan tentang jam’ akan datang insya Allah Ta’ala dalam waktu dekat.
Maka apabila seorang hamba mengetahui kesendirian Rabb Subhanahu dalam hal keazalian dan keabadian serta perbuatan, dan ketidakmampuan selain-Nya atas kekuasaan untuk mengadakan zarrah (atom) atau bagian dari zarrah, dan bahwa ia tidak memiliki wujud dari dirinya sendiri, maka wujudnya bukan miliknya, bukan dengannya, dan bukan dari dirinya, dan ketika pengetahuan ini terus-menerus bersumber dari hati, maka ingatan terhadap selain-Nya Subhanahu akan hilang dari benak dan zikir, sebagaimana telah hilang kekayaan-Nya, ketuhanan-Nya, kepemilikan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Maka Rabb Subhanahu sendirilah yang menjadi Yang Disembah, Yang Disaksikan, dan Yang Dizikir, sebagaimana Dia sendirilah yang menjadi Pencipta, Pemilik, Yang Maha Kaya, Yang wujud dengan Diri-Nya sendiri secara azali dan abadi. Adapun selain-Nya, maka wujudnya—beserta segala yang mengikuti wujudnya—adalah pinjaman yang bukan miliknya. Dan semakin seorang hamba fana dari mengingat dan menyaksikan selain-Nya, maka semakin jernihlah makrifat ini dalam hatinya. Oleh karena itu, ia berkata: “Dan ia menjadi jernih di arena fana”. Syaikh meminjam istilah arena (lapangan) untuk fana dan menisbatkannya kepadanya karena luasnya medan tersebut, sebab pemiliknya telah terputus perhatiannya dari kesempitan makhluk-makhluk lain, dan ruh serta hatinya tertarik kepada Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Maka ia berkeliling di arena yang lebih luas dari langit dan bumi, setelah sebelumnya terkurung dalam penjara-penjara makhluk. Apabila berlanjut baginya tekun hatinya kepada Yang Haq Subhanahu, dan pandangan hatinya kepada-Nya seakan-akan ia melihat-Nya, dan melihat kesendirian-Nya dalam penciptaan dan perintah, manfaat dan bahaya, pemberian dan pencegahan—maka sempurnalah dan tamatlah pada tingkatan ini makrifatnya, dan ia menyempurnakan dengan baqa’ (kekal) ini yang telah dihantarkan kepadanya oleh fana, dan ia mendekati hakikat kesatuan setelah pengetahuannya. Maka arif hilang dari makrifatnya dengan yang dikenalnya, dari zikirnya dengan yang dizikirnya, dan dari kecintaan dan kehendaknya dengan yang dikehendaki dan yang dicintainya. Oleh karena itu, ia berkata: “Dan ia menyempurnakan dengan ilmu baqa’, dan mendekati hakikat kesatuan”.
Bagi makrifat ini ada tiga rukun, yang ditunjukkan oleh Syaikh dengan ucapannya: Mengalirkan sifat-sifat pada bukti-bukti, mengalirkan perantara-perantara pada tingkatan-tingkatan, dan mengalirkan ungkapan-ungkapan pada petunjuk-petunjuk.
Bukti-bukti sifat adalah yang menyaksikan dan menunjukkan kepadanya dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta kesaksian akal dan pikiran serta jejak-jejak ciptaan. Apabila seorang hamba kokoh dalam tauhid, ia mengetahui bahwa Yang Haq Subhanahu adalah yang mengajarkan kepadanya sifat-sifat Diri-Nya dengan Diri-Nya sendiri, hamba tidak mengenalnya dari dirinya sendiri, dan tidak dengan selain pengenalan Yang Haq kepadanya, dengan apa yang dijalankan-Nya Subhanahu pada hatinya berupa pengenalan terhadap bukti-bukti itu, dan berpindah darinya kepada yang disaksikan yang ditunjukkan kepadanya. Maka Dia Subhanahu yang bersaksi untuk Diri-Nya dalam hakikat, karena bukti-bukti itu sumbernya dari-Nya. Maka Dia bersaksi untuk Diri-Nya dengan Diri-Nya sendiri, dengan apa yang Dia katakan dan perbuat dan jadikan sebagai saksi bagi makrifat-Nya. Maka Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan hamba hanyalah alat semata, objek yang dipengaruhi dan tempat mengalirnya bukti-bukti, jejak-jejaknya dan hukum-hukumnya padanya. Dia tidak memiliki sedikitpun dari urusan itu. Maka ini adalah makna mengalirkan sifat-sifat pada bukti-bukti. Apabila ia mengalirkannya padanya, tampak baginya bahwa hukum adalah bagi sifat-sifat, bukan bagi bukti-bukti, bahkan bukti-bukti adalah jejak-jejak sifat. Ini adalah satu sisi.
Dan sisi kedua, juga yaitu: bahwa bukti-bukti adalah kilatan-kilatan dan tajalli-tajalli yang muncul bagi penyaksi. Apabila ia mengalirkan sifat-sifat pada bukti-bukti tersebut, maka tersembunyilah hukum kilatan-kilatan dan tajalli-tajalli itu dalam sifat-sifat, dan hukum menjadi bagi sifat-sifat. Maka pada saat itu hamba naik tingkat kepada penyaksian Dzat secara ilmiah dan makrifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Ucapannya “Dan mengalirkan perantara-perantara pada tingkatan-tingkatan”. “Perantara-perantara” adalah sebab-sebab yang menjadi perantara antara Rabb dan hamba yang dengannya tampak makrifat dan segala yang mengikutinya. “Tingkatan-tingkatan” adalah tingkatan-tingkatan dan tingkatanat-tingkatanat yang hamba naik tingkat di dalamnya menuju yang dimaksud. Dan tingkatan-tingkatan bisa jadi adalah jalan-jalan yang ditempuhnya kepada-Nya dan ia berjalan di dalamnya. Maka mengalirkan perantara-perantara yang dari Rabb pada tingkatan-tingkatan yang merupakan tingkatan-tingkatan perjalanan dan jalan-jalannya mewajibkan hukum bagi perantara-perantara itu, bukan bagi tingkatan-tingkatan. Maka ia hilang dari penyaksian tingkatan-tingkatan dengan perantara-perantara. Dan sungguh ia telah hilang dari penyaksian perantara-perantara dengan sifat-sifat. Maka ia naik tingkat pada saat itu kepada penyaksian Dzat.
Dan hakikat urusan: bahwa ia mengetahui bahwa Rabb Subhanahu tidak memberitahukan kepadanya tentang makrifat-Nya kecuali dengan bukti-bukti dari-Nya Subhanahu, dan dengan perantara-perantara yang bukan dari hamba. Maka Dia berkuasa untuk menarik kembali bukti-bukti dan perantara-perantara itu, dan untuk mengalirkannya pada selain hamba. Karena segala urusan adalah bagi-Nya, dan perantara-perantara itu tidak mewajibkan dengan sendirinya sesuatu. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya: “Dan sungguh jika Kami menghendaki, niscaya Kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapat seorang pun yang dapat menolongmu untuk mendapatkannya kembali dari Kami, tetapi (Kami tidak berbuat demikian) karena rahmat dari Tuhanmu” (Al-Isra: 86-87). Dan Dia berfirman kepada umat melalui lisannya: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kamu serta menutup hati kamu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu'” (Al-An’am: 46). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sekiranya Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu'” (Yunus: 16). Dan hamba mengetahui bahwa apa yang diberitakan oleh Rabb Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya dari bukti-bukti makrifat-Nya, dan iman kepada-Nya, adalah petunjuk-petunjuk yang dengannya Dia membimbing hamba-hamba-Nya kepada-Nya, dan mereka mengenal dengan petunjuk-petunjuk itu kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran-Nya. Apabila mereka meyakini kebenaran-Nya dan tidak ragu padanya, dan mereka memperhatikan jejak-jejak nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada diri mereka dan pada selain mereka, maka bergabunglah saksi akal dan fitrah dengan saksi wahyu dan syariat. Maka mereka berpindah pada saat itu dari berita kepada penglihatan langsung. Maka ungkapan-ungkapan adalah petunjuk pada hakikat-hakikat yang dicari, dan petunjuk-petunjuk adalah tanda-tanda yang dengannya diketahui yang dicari. Apabila arif mengantarkan setiap makna yang telah disebutkan sebelumnya pada tujuannya, dan mengalihkan perhatiannya kepada yang mengalirkannya, yang menempatkannya, dan sumbernya, maka berkumpullah perhatiannya kepada-Nya, dan ia kokoh dalam makrifat Dzat yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-keagungan kemuliaan.
Dan maksudnya: bahwa ia menjelaskan dalam tiga rukun ini keadaan pemilik makrifat Dzat, dan bagaimana hal-hal tersusun dalam pandangannya, dan ia naik tingkat di dalamnya menuju yang dimaksud?
Contohnya: bahwa bukti-bukti menghantarkannya kepada sifat-sifat dengan mengalirkannya padanya. Maka ia berpindah dari menyaksikannya kepada menyaksikan sifat-sifat. Dan perantara-perantara yang dahulu ia lihat sebagai tanda pada tingkatan-tingkatan, ia berpindah darinya kepada tingkatan-tingkatan dan tidak meninggalkannya, tetapi ia terkait dengan apa yang menjadi tanda baginya. Dan ungkapan-ungkapan yang dahulu baginya adalah lafal-lafal yang terpisah dari yang diungkapkan, menjadi tanda-tanda yang mengantarkannya kepada hakikat yang diungkapkan. Maka dengan tiga rukun ini ia menjadi dari ahli makrifat Dzat menurutnya.
Ucapannya “Dan ini adalah makrifat orang khusus yang dirasakan dari ufuk hakikat”. Artinya dipahami dan dirasakan dari sisi hakikat. “Al-Inas” adalah pemahaman dan perasaan. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian jika kamu telah merasa yakin bahwa mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya” (An-Nisa: 6). Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku melihat api” (Thaha: 10). Dan yang dimaksud: bahwa arif apabila menggantungkan perhatiannya pada ufuk hakikat, dan berpaling dari sebab-sebab dan perantara-perantara—bukan berpaling karena pengingkaran dan penolakan, tetapi berpaling karena kesibukan—dan memandang kepada hakikat yang dimaksud, maka itu mengantarkannya kepada makrifat Dzat yang mengumpulkan sifat-sifat kesempurnaan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.
[Pasal Tingkatan Ketiga Makrifat yang Tenggelam dalam Pengenalan Murni]
Pasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: Makrifat yang tenggelam dalam pengenalan murni, tidak dihantarkan kepadanya dengan dalil, tidak ditunjukkan kepadanya oleh saksi, dan tidak berhak mendapatkannya dengan perantara. Dan ia memiliki tiga rukun: menyaksikan kedekatan, naik dari ilmu, dan memandang kesatuan. Dan ini adalah makrifat khususnya orang khusus.
Sesungguhnya makrifat ini menurutnya lebih tinggi dari yang sebelumnya, karena yang sebelumnya terkait dengan perantara-perantara dan bukti-bukti, terhubung kepada yang dicari. Dan yang ini terkait hanya dengan hakikat yang dimaksud, melipat perantara-perantara dan bukti-bukti. Maka perantara-perantara naik darinya kepada-Nya, dan ia dominan atas keadaan arif dan penyaksiannya. Dan telah tenggelam pemahamannya pada apa yang ia berada di dalamnya, sehingga ia hilang dari makrifatnya dengan yang dikenalnya, dari zikirnya dengan yang dizikirnya, dan dari wujudnya dengan yang mengadakannya.
Maka ucapannya: “Tenggelam dalam pengenalan murni”.
“Makrifat” adalah sifat hamba dan perbuatannya, dan “pengenalan” adalah perbuatan Rabb dan taufik-Nya. Maka tenggelamlah sifat hamba dalam perbuatan Rabb dan pengenalan-Nya terhadap Diri-Nya kepada hamba-Nya.
Dan ucapannya “Tidak dihantarkan kepadanya dengan dalil”. Ia bermaksud bahwa makrifat ini pada tingkatan ketiga tidak dihantarkan kepadanya dengan sebab, karena sebab-sebab telah terlipat di dalamnya, dan perantara-perantara telah terputus sebelumnya. Maka tidak menunjukkan kepadanya saksi selain dirinya, bahkan ia adalah saksi dirinya sendiri. Maka saksinya adalah wujudnya, dan dalilnya adalah dirinya sendiri. Dan jangan terburu-buru mengingkari ini, karena perkara-perkara yang bersifat wujdani (pengalaman batin) demikian adanya. Dalilnya adalah dirinya sendiri, dan saksinya adalah hakikatnya. Maka makrifat ini menjadi bagi arif seperti perkara-perkara wujdani, seperti kenikmatan dan kegembiraan, cinta dan takut, dan lainnya dari perkara-perkara yang tidak diminta dari orang yang memilikinya saksi atasnya dari selain dirinya sendiri.
Demi umur Allah, sesungguhnya ini adalah tingkatan makrifat yang tinggi, dan kedudukan yang mulia, terputuslah sebelumnya leher-leher kendaraan para musafir. Oleh karena itu, tidak dihantarkan kepadanya dengan dalil, tidak ditunjukkan kepadanya oleh saksi, dan tidak berhak mendapatkannya dengan perantara. Dan amal-amal, keadaan-keadaan, dan tingkatanat-tingkatanat semuanya adalah perantara-perantara. Dan ia tidak berhak mendapat tingkatan makrifat ini. Dan itu hanyalah karunia dari Yang memiliki segala karunia, dan Dia adalah Pemilik karunia yang agung. Dan kenyataan bahwa perantara-perantara yang disebutkan tidak berhak mendapatkannya tidak menghalangi dari melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Dan dengan demikian, perantara-perantara tidak berhak mendapatkannya.
Ucapannya: “Dan ia memiliki tiga rukun: menyaksikan kedekatan, naik dari ilmu, dan memandang kesatuan. Sesungguhnya tiga hal ini menjadi rukun baginya, karena pemilik makrifat ini telah sampai dari kedekatan kepada tingkatan yang layak baginya sesuai dengan makrifatnya. Maka semakin sempurna makrifatnya, semakin sempurna kedekatannya. Karena penyaksian perantara-perantara dan perantara adalah hijab dari hakikat kedekatan, dan menghapuskannya serta mengingkarinya adalah hijab dari asal iman.
Adapun naiknya dari ilmu: maka yang dimaksud bukanlah naiknya dari hukum-hukumnya, karena itu adalah kejatuhan dan penurunan ke dasar yang paling rendah, bukan kenaikan kepada tujuan yang paling tinggi. Tetapi yang dimaksud: bahwa ia naik dengan hukum-hukum ilmu dari berhenti padanya, dan menjadikannya perantara antara dirinya dan yang dicari. Karena perantara-perantara telah terlipat karpetnya dalam penyaksian dan makrifat ini—maksudnya: karpet berhenti padanya dan memandangnya. Maka ia menyaksikan yang disaksikan dan yang dikenalnya dengan Dia Subhanahu, bukan dengan ilmu dan berita, tetapi dengan penyaksian dan penglihatan langsung. Meskipun ia tidak sampai kepada itu kecuali dengan ilmu dan berita, tetapi ia telah naik dari ilmu dan berita kepada yang diketahui yang diberitakan.
Adapun memandang kesatuan, maka ia adalah tujuan menurut kelompok ini. Dan kami tidak mengingkari itu, tetapi kesatuan yang mana? Apakah itu kesatuan wujud, sebagaimana dikatakan oleh pengikut paham ittihad (penyatuan)? Ataukah kesatuan penyaksian, sebagaimana dikatakan oleh pemilik fana dalam tauhid rububiyyah? Ataukah ia adalah kesatuan kehendak seluruhnya dalam kehendak Rabb Ta’ala yang bersifat agama dan perintah? Maka persoalannya adalah dalam kesatuan ini yang memandangnya termasuk jenis makrifat yang paling tinggi.
Ya, ada kesatuan lain di sini, memandangnya adalah seluruh makrifat, yaitu: kesatuan perbuatan-perbuatan dalam sifat-sifat, kesatuan sifat-sifat dalam Dzat, dan kesatuan nama-nama dalam Dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan. Maka memandang kesatuan ini: adalah puncak makrifat, dan jenis-jenisnya yang paling tinggi. Dan ia—demi umur Allah—adalah makrifat khususnya orang khusus. Dan Allah tempat memohon pertolongan, dan dengan-Nya taufik, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
[Hakikat Fana]
Pasal Fana
Penulis Manazil berkata: (Bab Fana). Allah Ta’ala berfirman: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa” (Ar-Rahman: 26). “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman: 27).
Fana yang disebutkan dalam ayat bukanlah fana yang dimaksud oleh kelompok tasawuf. Sesungguhnya fana dalam ayat adalah kebinasaan dan ketiadaan. Allah Subhanahu Wataala mengabarkan bahwa setiap yang ada di bumi akan musnah dan mati, dan yang kekal adalah wajah-Nya Subhanahu Wataala. Ini seperti firman-Nya “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (Surah Az-Zumar: 30) dan seperti firman-Nya “Setiap jiwa akan merasakan kematian” (Surah Ali Imran: 185).
Al-Kalbi dan Muqatil berkata: Ketika ayat ini turun, para malaikat berkata: “Binasalah penduduk bumi.” Ketika Allah Taala berfirman “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Surah Al-Qashash: 88), para malaikat meyakini akan kebinasaan mereka. Asy-Sya’bi berkata: “Jika kamu membaca “Semua yang ada di atasnya (bumi) akan binasa” (Surah Ar-Rahman: 26), maka jangan berhenti sampai kamu membaca “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan” (Surah Ar-Rahman: 27).” Ini menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang Al-Quran dan kesempurnaan ilmunya, karena maksudnya adalah mengabarkan tentang fananya segala yang ada di bumi dengan tetap kekalnya wajah-Nya Subhanahu Wataala. Ayat ini diturunkan untuk memuji-Nya dengan kekalnya-Nya semata. Fananya makhluk saja tidak mengandung pujian bagi-Nya, tetapi pujian itu terletak pada kekalnya-Nya setelah fananya makhluk-Nya. Ayat ini seperti firman-Nya “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Surah Al-Qashash: 88).
Adapun fana yang diistilahkan oleh kelompok tasawuf adalah perkara yang berbeda dari ini. Namun, isyarat ayat tersebut menunjukkan bahwa fana yang dimaksud adalah lenyapnya hati dan keluarnya dari dunia ini serta terkaitnya dengan Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar yang memiliki kekekalan sehingga tidak terkena fana. Barangsiapa yang fana dalam kecintaan kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, dan menginginkan wajah-Nya, maka fana ini akan mengantarkannya ke tempat kebaqa’an (kekekalan). Ayat ini mengisyaratkan bahwa hamba sepatutnya tidak terikat pada sesuatu yang fana dan meninggalkan Dzat yang memiliki kekekalan, yaitu Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Seolah-olah ayat ini berkata: “Jika kamu terikat pada sesuatu yang fana, maka keterikatan itu akan terputus ketika ia fana pada saat kamu sangat membutuhkannya. Jika kamu terikat pada Dzat yang kekal tidak fana, maka keterikanmu tidak akan terputus dan akan kekal dengan kekekalan-Nya.”
Fana yang diistilahkan adalah puncak keterikatan dan ujungnya. Ia adalah terputusnya hubungan dari selain Rabb Taala dari segala sisi. Oleh karena itu, dikatakan:
“Fana dalam bab ini adalah lenyapnya segala sesuatu selain Al-Haq secara ilmu, kemudian secara ingkar, kemudian secara haqiqi.”
Aku berkata: “Fana” adalah lawan dari “baqa'” (kekal). Yang kekal ada dua macam: pertama, kekal dengan sendirinya tanpa memerlukan sesuatu yang mengekalkannya, bahkan kekekalannya adalah dari keniscayaan diri-Nya, yaitu Allah Taala semata. Selain-Nya, kekekalannya adalah dengan kekekalan Rabb, dan tidak ada baginya kekekalan dari dirinya sendiri, sebagaimana tidak ada baginya wujud dari dirinya sendiri. Pengadaannya dan pengekekalannya adalah dari Rabb-nya dan Penciptanya. Jika tidak, maka tidak ada baginya dari dirinya sendiri kecuali ketiadaan sebelum pengadaannya dan fana setelah pengadaannya.
Bukan berarti bahwa diri dan dzatnya menuntut ketiadaan dan fananya. Fana adalah bahwa jika kamu melihat dzatnya—dengan mengabaikan pengadaan oleh Pengada-nya—maka ia adalah ma’dum (tiada). Jika kamu melihatnya setelah wujudnya—dengan mengabaikan pengekekalan oleh Pengada-nya—maka mustahil ia kekal. Ia hanya kekal dengan pengekekalan-Nya, sebagaimana ia hanya ada dengan pengadaan-Nya. Inilah makna perkataan kita bahwa dirinya adalah ma’dum dan fana. Pahamilah ini.
Para ulama berbeda pendapat: Apakah peng-fana-an sesuatu yang wujud dan peng-ma’dum-annya adalah dengan menciptakan ‘aradh (sifat aksidental) padanya yang dinamakan fana dan i’dam (pengadaman)? Ataukah dengan menahan penciptaan kekekalan baginya, karena ia setiap saat memerlukan agar diciptakan baginya kekekalan yang mengekalkannya? Ini adalah masalah al-I’dam yang masyhur.
Kebenaran dalam masalah ini adalah: Bahwa dzatnya tidak menuntut wujud, dan ia adalah ma’dum dengan sendirinya. Jika Rabb Taala menentukan bagi wujudnya ajal (batas waktu) tertentu, maka wujudnya berakhir ketika ajalnya tiba, lalu kembali ke asalnya yaitu ketiadaan. Memang, Dia mungkin menentukan baginya waktu tertentu kemudian Allah Subhanahu Wataala menghapus waktu itu dan berkehendak meng-ma’dum-kannya sebelum waktunya, sebagaimana Dia Subhanahu Wataala menghapus apa yang dikehendaki-Nya. Atau Dia berkehendak meneruskan wujudnya setelah waktu yang ditentukan hingga batas waktu yang lain. Allah Taala berfirman yang menceritakan tentang Nabi Nuh alaihissalam: “Dia (Nuh) berkata: ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas bagi kalian. Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang ditentukan'” (Surah Nuh: 2-4). Jika Allah Subhanahu Wataala berkehendak mengekalkan sesuatu, Dia mengekalkannya sampai waktu yang dikehendaki-Nya. Jika Dia berkehendak meng-fana-kannya, Dia meng-ma’dum-kannya dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia mengadakannya dengan kehendak-Nya.
Jika dikatakan: Objek kehendak harus berupa perkara yang wujudi, bagaimana mungkin ketiadaan menjadi objek kehendak?
Dijawab: Objek kehendak ada dua perkara: pengadaan dan peng-ma’dum-an, keduanya adalah hal yang mungkin. Perkataan bahwa objek kehendak harus berupa perkara wujudi adalah klaim yang batil. Memang, ketiadaan murni tidak menjadi objek kehendak. Adapun peng-ma’dum-an (pengadaman): ia lebih khusus daripada ketiadaan.
Seandainya kita tidak sedang membahas masalah yang lebih khusus dari ini, niscaya kami akan memperluas pembahasan tentang masalah ini dan menyebutkan berbagai asumsi dan kesalahan orang-orang di dalamnya.
Perkataan “fana adalah nama bagi lenyapnya segala sesuatu selain Al-Haq secara ilmu” maksudnya: lenyap dari hati dan penyaksian secara ilmu, meskipun dzatnya belum fana pada saat itu dan belum lenyap. Bentuk-bentuk yang ada lenyap dari penyaksian hamba, sehingga seolah-olah masuk ke dalam ketiadaan sebagaimana sebelum diadakan. Yang tersisa adalah Al-Haq Taala Dzul Jalali wal Ikram sendirian di hati yang menyaksikan, sebagaimana Dia sendirian sebelum mengadakan alam semesta.
Perkataan “secara ilmu, kemudian secara ingkar, kemudian secara haqiqi”—ketiga hal ini adalah tingkatan-tingkatan lenyapnya jika datang kepada hamba secara berurutan. Jika datang sekaligus, maka ia tidak menyaksikan sesuatu dari itu. Meskipun ia mungkin mengetahui hal itu jika kembali ke ilmu dan penyaksiannya. Jika Rabb Subhanahu Wataala menaikkan hamba-Nya secara bertahap, Dia menerangi batinnya dan akalnya dengan ilmu, sehingga ia melihat bahwa tidak ada Pencipta selain-Nya, tidak ada Rabb selain-Nya, tidak ada yang memiliki kemudharatan, manfaat, pemberian, dan pencegahan selain-Nya, dan bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi—dengan puncak kerendahan dan kecintaan—selain-Nya. Setiap yang diibadahi selain wajah-Nya yang mulia adalah batil. Inilah tauhid ilmu.
Kemudian jika Al-Haq Subhanahu Wataala menaikkannya satu tingkatan lagi di atas ini, Dia memperlihatkan kepadanya kembalinya segala perbuatan kepada perbuatan-perbuatan-Nya Subhanahu Wataala, dan kembalinya perbuatan-perbuatan-Nya kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan berdianya sifat-sifat-Nya pada dzat-Nya. Maka lenyaplah dari hatinya penyaksian terhadap selain-Nya, dan ia mengingkari bahwa bagi selain-Nya dari dirinya sendiri ada sesuatu sama sekali. Ia tidak mengingkari selain-Nya sebagaimana para mulhid (atheis) mengingkarinya, karena pengingkaran seperti ini adalah ilhad (kesesatan) itu sendiri.
Kemudian jika Dia menaikkannya satu tingkatan lagi, Dia memperlihatkan kepadanya berdirinya seluruh alam—substansi dan sifat-sifatnya, dzat dan sifat-sifatnya—dengan-Nya semata, yaitu dengan penegakan-Nya terhadap mereka dan pemeliharaan-Nya terhadap mereka. Sesungguhnya Dia Subhanahu Wataala menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, menahan lautan agar tidak surut atau meluap ke seluruh dunia, menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, menahan burung di udara dalam keadaan mengembangkan dan mengatupkan sayapnya, menahan hati-hati yang yakin agar tidak menyimpang dari iman, menahan kehidupan makhluk hidup agar tidak meninggalkannya hingga ajal yang ditentukan, dan menahan wujud makhluk-makhluk agar tetap ada. Seandainya tidak demikian, niscaya mereka lenyap dan hilang.
Semua berdiri dengan perbuatan-perbuatan-Nya dan sifat-sifat-Nya yang merupakan keniscayaan dzat-Nya. Maka tidak ada wujud hakiki kecuali bagi-Nya, maksudku adalah wujud yang tidak memerlukan sesuatu pun selain-Nya. Setiap selain-Nya adalah faqir (butuh) kepada-Nya secara dzati, tidak memiliki ketetapan dengan dirinya sendiri walau sekejap mata.
Karena fana memiliki permulaan, pertengahan, dan akhir, maka ia mengisyaratkan kepada tiga tingkatannya. Tingkat pertama: fana ahli ilmu yang benar-benar menguasainya. Kedua: fana ahli suluk dan iradah (kehendak). Ketiga: fana ahli ma’rifat yang tenggelam dalam penyaksian Al-Haq Subhanahu Wataala.
Pada awal perkara, kekuatan ilmunya dan kesadarannya terhadap makhluk lenyap di samping ilmunya dan ma’rifatnya kepada Allah dan hak-hak-Nya. Kemudian hal itu menguat sehingga ia menganggap mereka seperti mayat dan seperti tiada. Kemudian hal itu menguat hingga ia ghaib (tidak sadar) dari mereka, sehingga ia diajak bicara tapi tidak mendengar, orang lewat di hadapannya tapi tidak melihat. Ini lebih kuat daripada keadaan mabuk, tetapi keadaan ini tidak bertahan lama baginya, dan tidak mungkin ia hidup dalam keadaan ini.
Tingkatan-tingkatan Fana
Fasal: Tingkat Pertama, Fana Ma’rifat dalam yang Dikenal
Fasal
Ia berkata: Fana ada tiga tingkat. Tingkat pertama: fana ma’rifat dalam yang dikenal (al-ma’ruf), yaitu fana secara ilmu. Fana penglihatan (al-‘iyan) dalam yang dilihat (al-mu’aiyan), yaitu fana secara ingkar. Dan fana thalab (pencarian) dalam wujud, yaitu fana secara haqiqi.
Ini adalah perincian dari apa yang diringkas di awal, dan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ilmu, ingkar, dan haqiqi. Fana ma’rifat dalam yang dikenal adalah ghayabnya (hilangnya kesadaran) orang yang mengenal tentang yang dikenalnya dari kesadarannya terhadap ma’rifatnya dan makna-maknanya. Ia fana dengan-Nya Subhanahu Wataala dari sifatnya dan apa yang ada padanya. Ma’rifat adalah perbuatannya dan sifatnya. Jika ia tenggelam dalam penyaksian yang dikenal, maka ia fana dari sifat dirinya dan perbuatannya. Karena ma’rifat berada di atas ilmu dan lebih khusus darinya, maka fana ma’rifat dalam yang dikenal mencakup fana ilmu dalam ma’rifat. Maka ia fana pertama-tama dalam ma’rifat, kemudian ma’rifat fana dalam yang dikenal.
Adapun fana ‘iyan (penglihatan) dalam yang dilihat: ‘iyan berada di atas ma’rifat. Ma’rifat adalah tingkat di atas ilmu dan di bawah ‘iyan. Jika ia berpindah dari ma’rifat ke ‘iyan, maka ‘iyannya fana dalam yang dilihatnya, sebagaimana ma’rifatnya fana dalam yang dikenalnya.
Adapun fana thalab dalam wujud: ia tidak lagi memiliki pencarian karena ia telah memperoleh yang dicari yang disaksikan, dan ia menjadi wajid (yang menemukan) setelah sebelumnya menjadi thalib (pencari). Pencapaiannya pertama-tama adalah ilmu, kemudian menguat menjadi ma’rifat, kemudian menguat menjadi ‘iyan, kemudian mantap menjadi ma’rifat, kemudian mantap menjadi wujud.
Mungkin kamu mengingkari—atau menganggap jauh—istilah-istilah dan makna-maknanya ini. Dengarkanlah sebuah perumpamaan yang akan memudahkan dan mendekatkannya bagimu: Perumpamaan seorang raja yang memiliki kekuasaan besar, kekuatan yang dahsyat, wibawa yang sempurna, dan kekuatan yang perkasa. Ia memanggil salah seorang rakyatnya yang telah melakukan kejahatan besar dan pembangkangan kepadanya. Orang itu hadir di hadapannya, dan sangkaan kuatnya adalah bahwa ia akan dibunuh. Keadaan-keadaannya saat hadir berbeda-beda sesuai dengan apa yang ia saksikan.
Kadang ia mengingat kejahatannya, kekuasaan raja, dan kekuatannya terhadapnya, lalu ia berpikir tentang apa yang akan ia hadapi. Kadang keadaan yang ia alami menguasainya sehingga ia tidak mengingat apa yang telah ia lakukan dan apa yang menyebabkan ia dihadirkan, karena rasa takut menguasai hatinya dan ia putus asa dari keselamatan. Namun akal dan pikirannya masih bersamanya. Kadang hati dan pikirannya ghaib (hilang) sama sekali sehingga ia tidak sadar di mana ia berada, siapa yang di sampingnya, dan apa yang akan dilakukan terhadapnya. Bahkan mungkin dalam keadaan ini lisannya mengucapkan sesuatu yang tidak ia kehendaki. Ini adalah fana karena takut.
Contoh kedua dalam fana karena cinta: Seorang pencinta yang cintanya telah menenggelamkan dirinya terhadap seseorang yang sangat cantik dan bercahaya. Harapan terbesarnya adalah bertemu dengannya, berbincang dengannya, dan melihatnya. Sementara ia dalam keadaannya, cinta telah memenuhi hatinya, dan pikirannya tenggelam dalam kekasihnya. Tiba-tiba kekasihnya masuk kepadanya secara mendadak dengan penampilan terbaik, menemuinya dari dekat, dan tidak ada seorang pun selainnya di antara mereka. Bukankah ini sepatutnya membuatnya fana dari penyaksiannya dengan yang disaksikannya, bahkan dari cintanya dengan kekasihnya? Kekasih menguasai pendengarannya, penglihatannya, keinginannya, dan perasaannya, dan ia ghaib dengan-nya dari dzat dan sifat-sifatnya.
Lihatlah para wanita (dalam kisah Nabi Yusuf), bagaimana mereka memotong tangan mereka ketika Yusuf muncul di hadapan mereka dan mereka menyaksikan kecantikan itu. Mereka tidak memiliki kecintaan dan cinta kepadanya sebagaimana istri Al-Aziz sebelumnya. Penyaksian kecantikannya membuat mereka fana dari keadaan mereka hingga mereka memotong tangan mereka. Adapun istri Al-Aziz, meskipun ia adalah pemilik kecintaan, namun ia telah terbiasa melihatnya dan menyaksikannya. Ketika Yusuf keluar, keadaannya tidak berubah sebagaimana keadaan para wanita lainnya berubah. Maka tingkatan-nya adalah baqa’ sedangkan tingkatan mereka adalah fana. Fana terjadi pada mereka dari dua sisi.
Pertama: Hilangnya kesadaran mereka terhadap pemotongan apa yang ada di tangan mereka hingga pemotongan itu melewati batas ke tangan-tangan mereka.
Kedua: Fananya mereka dari merasakan rasa sakit pemotongan. Demikianlah fana karena sesuatu yang ditakuti, dan kegembiraan karena yang dicintai membuat pemiliknya fana dari kesadarannya dan dari merasakan keadaan-keadaan nafsani.
Ini terjadi dalam penyaksian terhadap makhluk yang baru yang memiliki yang serupa dan sebanding dengannya, dan ada yang mendekati dan menyerupainya dalam kecantikan. Ia hanya mengungguli sesama jenisnya dalam kebaikan dan kecantikan dengan beberapa sifat, dan dibedakan oleh beberapa makna yang diciptakan dan dibuat. Lalu bagaimana sangkaanmu terhadap Dzat yang memiliki seluruh kecantikan, seluruh kesempurnaan, seluruh kebaikan dan keindahan? Perbandingan setiap kecantikan yang ada dalam wujud terhadap kecantikan dan keagungan-Nya lebih kecil daripada perbandingan pelita yang lemah terhadap matahari. Ketika Dia Subhanahu Wataala mengetahui bahwa kekuatan manusia tidak mampu—di dunia ini—untuk melihat-Nya, Dia berhijab (tersembunyi) dari hamba-hamba-Nya hingga hari kiamat. Kemudian Dia akan menciptakan mereka dengan penciptaan yang memungkinkan mereka untuk menyaksikan kecantikan-Nya dan melihat wajah-Nya. Kamu melihat sebagian ayat-ayat-Nya, makhluk-makhluk-Nya, dan ciptaan-ciptaan-Nya, bagaimana yang menyaksikannya fana terhadap selainnya. Namun semua ini adalah dalam penyaksian-penyaksian yang nyata dan datangnya hal-hal yang dirasakan secara wujdani (pengalaman spiritual).
Adapun ma’arif ilahiyah (pengetahuan-pengetahuan ketuhanan): sesungguhnya keadaan “baqa'” di dalamnya lebih sempurna daripada keadaan “fana”. Inilah keadaan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, dan keadaan orang-orang sempurna dari para pengikutnya. Oleh karena itu, ia melihat apa yang ia lihat pada malam Isra’ dan Mi’raj dalam keadaan hatinya tetap teguh, jiwanya tenang, kesadarannya hadir, dan penilaiannya sempurna. Seandainya yang lain melihat sebagian dari itu, ia tidak akan mampu menahan dirinya.
Jika kamu berkata: Mungkin aku memahami makna fana ma’rifat dalam yang dikenal dan fana ‘iyan dalam yang dilihat. Lalu apa makna fana thalab dalam wujud, sehingga ia adalah fana secara haqiqi?
Aku katakan: Jika kamu memahami dua hal sebelumnya, maka kamu akan memahami maknanya. Wajid (yang menemukan) ketika memperoleh yang ditemukannya, maka thalabnya (pencariannya) terhadapnya fana dan lenyap. Ini dapat disaksikan dalam kenyataan. Kamu melihat orang yang mencari perkara penting. Jika tangannya memperolehnya dan ia mencapainya, bagaimana pencariannya menjadi dingin dan fana dalam penemuannya? Namun ini mustahil bagi ‘arif (orang yang mengenal), karena pencariannya tidak meninggalkannya. Bahkan jika ia menemukan, pencariannya justru semakin kuat. Ia tidak berhenti mencari. Semakin ia menemukan, semakin kuat ia mencari. Memang, yang fana adalah pencarian untuk kepentingan dirinya dalam pencarian untuk kekasihnya dan pencarian untuk keridhaan-Nya. Tidak ada tujuan setelah ini. Namun yang diisyaratkan oleh kaum sufi adalah: Bahwa hamba sampai pada tingkatan mahabbah (kecintaan), ma’rifat, dan tenggelamnya dalam musyahadah (penyaksian) ke suatu keadaan di mana menguasai dirinya berbagai jenis kedekatan dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat, sehingga akalnya hilang dari kesadarannya terhadap pencariannya, keinginannya, dan kecintaannya.
Penjelasan mengenai hal itu adalah: bahwa seorang hamba apabila menghadap kepada Tuhannya, memperhatikan keadaan-keadaannya, dan mampu menyaksikan berdirinya Tuhannya atasnya, maka ia pada awalnya akan berjuang keras, bersabar, dan siaga. Apabila ia bersabar, gigih, dan siaga—bersabar dalam dirinya, gigih melawan musuhnya, dan siaga di benteng hatinya agar tidak masuk kedalamnya bisikan yang tidak disukai oleh walinya yang Haq—maka pada saat itu muncul dalam hatinya cahaya dari menghadapnya kepada Tuhannya. Apabila cahaya itu menguat, maka ia akan melupakan wujud dzihninya (dalam pikiran), dan cahaya itu membawanya menembus lipatan-lipatan yang gaib. Pada saat itulah menjadi jernihkan baginya menghadapnya kepada Tuhannya. Apabila hal itu telah jernih baginya, maka ia lenyap dari wujud ‘aininya (lahiriah) dan dzihninya, dan lenyap dengan cahaya menghadapnya kepada Tuhannya dengan sampainya dzikir yang murni dan jernih ke hatinya, di mana hatinya telah kosong dari segala penghalang berupa wujud ‘aini dan dzihni, dan ia menjadi satu untuk Yang Satu. Maka cahaya muraqabah menguasai seluruh bagian batinnya, dan hatinya penuh dengan cahaya tawajjuh (menghadap kepada Allah), sehingga cahaya itu membanjiri hatinya dan menutupinya dari selain-Nya. Kemudian cahaya itu menyebar dari batinnya lalu meliputi seluruh bagian lahiriahnya, sehingga lahir dan batin menjadi serupa padanya. Pada saat itulah hamba itu fana dari selain-Nya dan baqa dengan penglihatan ruhani dzati yang mewajibkan mahabbah khusus yang mengobarkan ruh.
Di antara mereka ada yang lemah karena sedikitnya wahid yang datang, sehingga ia tidak mampu untuk luas bagi selain apa yang dirasakan oleh rahasia dan hatinya dari pengaruh-pengaruh cinta khusus. Dan di antara mereka ada yang kuat dan luas pandangannya, sehingga ia mendapati pengaruh-pengaruh keagungan dan keindahan yang suci dalam hati dan ruhnya, dan mendapati penghambaan, mahabbah, doa, kebutuhan kepada Allah, tawakal, takut, dan harap, serta seluruh amalan-amalan hati berdiri di hatinya. Penglihatan ruh tidak menyibukkannya, dan penglihatan ruh tidak melalaikannya darinya. Ia mendapati perhatiannya terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan hadir di akar hatinya di mana amanah diturunkan, sehingga penglihatan ruh yang meliputi itu tidak menyibukkannya, dan tidak pula penglihatan hati, dari memperhatikan ridha-ridha Tuhan Taala, kecintaan-Nya, dan hak-Nya atas hambanya. Ia mendapati meninggalkan tadbir (pengaturan) dan pilihan serta sahnya tafwidh (penyerahan) ada pada tempat nafsunya, maka ia memperlakukan Allah Subhanahu dengannya, sehingga penyaksian yang pertama tidak menyibukkannya darinya. Ia berdiri dengan perhatian akalnya terhadap rahasia-rahasia hikmah Allah dalam penciptaan-Nya dan perintah-Nya, dan semua itu tidak menghalanginya dari memperhatikan penghambaan. Maka ia tetap dengan ruh yang terbanjiri oleh perhatian kepada ketunggalan dengan keagungan, kesempurnaan, dan keindahan-Nya, telah diliputi oleh cintanya dan kerinduan kepada-Nya, hatinya makmur dengan ibadah-ibadah hati, hatinya makmur dengan memperhatikan hikmah dan makna-makna khitab, hatinya suci dari akhlak-akhlak rendah, bersama Allah Taala dan bersama makhluk, telah menjadi hamba murni bagi Tuhannya dengan ruh, hati, akal, nafsu, badan, dan anggota tubuhnya. Masing-masing telah berdiri dengan apa yang wajib atasnya dari penghambaan, sehingga penghambaan sebagiannya tidak menghalanginya dari penghambaan sebagian yang lain. Ia telah fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya. Sebagaimana yang dikatakan Abu Bakar Al-Kattani: “Terjadi sebuah masalah di Mekah pada hari-hari musim haji tentang mahabbah, maka para syekh berbicara di dalamnya, dan Al-Junaid adalah yang paling muda usianya di antara mereka. Mereka berkata kepadanya: ‘Ungkapkanlah apa yang ada padamu wahai orang Iraq.’ Maka ia menunduk sebentar, dan matanya berlinang air mata, kemudian berkata: ‘Seorang hamba yang hilang dari dirinya, terhubung dengan dzikir Tuhannya, berdiri dengan menunaikan hak-hak-Nya, melihat kepada-Nya dengan hatinya, cahaya-cahaya keagungan-Nya membakar hatinya, jernihlah minumannya dari piala cinta-Nya, terkuaklah baginya Yang Maha Memaksa dari tirai-tirai gaib-Nya. Maka jika ia berbicara maka dengan Allah, jika ia berucap maka dari Allah, jika ia beramal maka dengan perintah Allah, dan jika ia diam maka bersama Allah. Maka ia adalah untuk Allah, dengan Allah, dan bersama Allah.'”
Maka para syekh menangis dan berkata: “Tidak ada yang lebih dari ini, semoga Allah menguatkanmu wahai mahkota para arif.”
[Fasal: Tingkatan Kedua Adalah Fananya Penyaksian Terhadap Thalab Karena Gugurnya]
Fasal
Syekh berkata: Tingkatan kedua: fananya penyaksian terhadap thalab (pencarian) karena gugurnya, fananya penyaksian terhadap ilmu karena gugurnya, dan fananya penyaksian terhadap penglihatan karena gugurnya.
Sesungguhnya tingkatan fana ini lebih tinggi menurutnya dari yang sebelumnya, karena ia lebih sempurna dalam fana dari sisi fananya pemiliknya dari fana mereka sendiri. Telah gugur dari hati-hati mereka penyebutan keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan mereka karena kesibukan mereka dengan Tuhan mereka.
Dan perkataannya “karena gugurnya” artinya karena gugurnya penyaksian, bukan gugurnya yang disaksikan. Maka thalab, ilmu, dan penglihatan masih ada, tetapi penyaksiannya telah gugur, karena pemiliknya telah terserap dalam yang dituntut dan yang disaksikan.
[Fasal: Tingkatan Ketiga Adalah Fana dari Penyaksian Terhadap Fana]
Fasal
Ia berkata: Tingkatan ketiga: fana dari penyaksian terhadap fana, dan ia adalah fana yang sesungguhnya, memandang kilat mata, mengendarai lautan al-jam’, menempuh jalan al-baqa.
Perbedaan antara fana pada tingkatan ini dengan yang sebelumnya adalah bahwa pada tingkatan sebelumnya ia telah fana dari penyaksian terhadap thalab, ilmu, dan penglihatannya, dengan tetap merasakan fananya dari itu. Sedangkan pada tingkatan ini ia telah fana dari semua itu, dan fana dari penyaksian terhadap fananya. Sebagaimana dikatakan: yang terakhir mati adalah malaikat kematian.
Dan sesungguhnya fana ini menurutnya adalah fana yang sesungguhnya, karena telah fana di dalamnya segala sesuatu selain al-Haq Subhanahu, karena pemiliknya menyaksikan bahwa fana telah fana, sehingga tidak tersisa kecuali Yang Maha Esa lagi Maha Memaksa.
Dan perkataannya “memandang kilat mata” artinya yang memandang dari jauh, dan kilat mata adalah cahaya hakikat. Telah disebutkan sebelumnya peringatan tentang mustahilnya terkait dengan cahaya lahiriah, tetapi ia adalah cahaya-cahaya kedekatan, muraqabah, dan kehadiran bersama Allah. Dan perkataannya “mengendarai lautan al-jam'” (kesatuan), al-jam’ yang mereka isyaratkan adalah: ungkapan tentang tertujunya bashirah (pandangan batin) kepada sumber semua yang terpisah-pisah, sebagaimana akan dijelaskan pada babnya—insya Allah Taala. Dan mengarungi gelombang jam’ ini adalah fananya di dalamnya.
Perkataannya “menempuh jalan al-baqa” (keabadian) artinya: bahwa barangsiapa fana maka ia telah layak untuk baqa dengan al-Haq, dan baqa ini adalah setelah fana. Karena jika ia benar-benar fana, maka diangkat baginya bendera hakikat, dan ia bersiap-siap kepadanya sebagai penempuh jalan baqa, yaitu melaksanakan wirid-wirid dan menjaga wahid-wahid. Pada saat itulah diharapkan baginya mencapai tujuan.
Fasal
Tidak disebutkan dalam Al-Quran, tidak dalam Sunnah, tidak dalam perkataan para sahabat dan tabi’in, pujian terhadap lafadz fana maupun celaan terhadapnya, dan mereka tidak menggunakan lafadznya dalam makna yang diisyaratkan ini sama sekali. Tidak pula disebutkan oleh para syekh tharikat terdahulu, dan mereka tidak menjadikannya sebagai tujuan atau tingkatan. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak atas setiap kesempurnaan dan paling dahulu mencapai setiap tujuan yang terpuji. Dan kami tidak mengingkari lafadz ini secara mutlak, dan tidak pula menerimanya secara mutlak.
Harus ada perincian di dalamnya, dan penjelasan tentang yang sahih dan yang cacat, wasitahnya dan tujuannya. Maka kami katakan—dan dengan pertolongan Allah, dan Dialah Yang Maha Membukakan lagi Maha Mengetahui:
Hakikat “fana” yang diisyaratkan adalah hilangnya sesuatu dalam wujud ilmi dzihni. Dan di sinilah perpecahan antara ahli istiqamah dan ahli penyimpangan serta ilhad. Para pengusung ittihad—yang berpendapat tentang wahdatul wujud—mengklaim bahwa fana adalah puncak fana dari wujud selain Allah, sehingga tidak ada wujud bagi selain-Nya sama sekali, tidak dalam penyaksian dan tidak dalam kenyataan. Bahkan ia benar-benar menyaksikan kesatuan wujud, sehingga ia mengetahui pada saat itu bahwa wujud seluruh makhluk adalah ‘ain (zat) wujud al-Haq. Maka tidak ada dua wujud, tetapi yang ada hanya satu. Dan hakikat fana menurut mereka adalah fana dari apa yang tidak memiliki hakikat, bahkan ia adalah wahm (ilusi) dan khayalan. Maka ia fana dari apa yang fana dalam dirinya sendiri, tidak ada wujud baginya. Maka ia menyaksikan fananya wujud semua selain-Nya dalam wujud-Nya. Dan ini adalah kebohongan murni. Bahkan dalam hakikatnya, menurut mereka tidak ada “selain” dan tidak ada “yang lain”. Sesungguhnya yang “selain” dan “yang lain” hanya dalam wahm dan khayalan. Maka tentang fana inilah mereka menyandarkannya dan kepadanya mereka berputar-putar.
Adapun ahli tauhid dan istiqamah, mereka mengisyaratkan dengan fana kepada dua perkara, yang satu lebih tinggi dari yang lain. Perkara pertama: fana dalam penyaksian rububiyyah dan qayyumiyyah, sehingga ia menyaksikan kesendirian Tuhan Taala dalam qayyumiyyah dan tadbir, penciptaan dan rezeki, pemberian dan penahanan, bahaya dan manfaat. Dan bahwa semua makhluk adalah pasif bukan aktif. Dan apa yang darinya berupa perbuatan maka ia pasif dalam perbuatannya, tempat murni bagi berlakunya hukum-hukum rububiyyah atasnya, tidak menguasai apapun darinya untuk dirinya sendiri maupun untuk selainnya. Tidak menguasai bahaya dan tidak pula manfaat. Apabila hamba benar-benar dengan penglihatan ini, maka padamlah darinya bisikan-bisikan dan keinginan-keinginan, dengan melihat kepada al-Qayyum yang di tangan-Nya tadbir urusan-urusan, dan tertujunya darinya kepada kehendak dan hikmah-Nya. Maka ia adalah yang melihat dari-Nya dengan-Nya kepada-Nya, fana dengan penyaksiannya dari penyaksian selain-Nya. Dan dengan ini ia berusaha dalam mencari mencapai kepada-Nya, berdiri dengan kewajiban-kewajiban dan amalan-amalan sunnat.
Perkara kedua: fana dalam penglihatan uluhiyyah, dan hakikatnya adalah “fana” dari keinginan terhadap selain Allah dan cintanya, taubat kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, takut dan harap kepada-Nya. Maka ia fana dengan cinta-Nya dari cinta kepada selain-Nya, dengan takut dan harapnya dari takut dan harap kepada selain-Nya. Dan hakikat fana ini adalah mengkhususkan Tuhan Subhanahu dengan mahabbah, takut, harap, pengagungan, dan pengagungan. Dan kami mengisyaratkan kepada permulaan, pertengahan, dan akhirnya. Maka kami katakan:
Ketahuilah bahwa hati apabila kosong dari kepedulian terhadap dunia dan keterikatan dengan apa yang ada di dalamnya berupa harta, kepemimpinan, atau bentuk, dan terkait dengan akhirat dan kepedulian padanya berupa penghimpunan perbekalan dan persiapan untuk kedatangan kepada Allah Azza wa Jalla, maka itulah awal pembukaannya dan tanda-tanda fajarnya. Pada saat itu hatinya bergerak untuk mengetahui apa yang diridhai oleh Tuhannya darinya, maka ia melakukannya dan mendekatkan diri dengan-Nya dengannya, dan apa yang dimurkai-Nya darinya, maka ia menjauhinya. Dan ini adalah tanda kesungguhan keinginannya. Karena setiap orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah, dan bahwa Dia akan menanyakan tentang dua kalimat—yang akan ditanyakan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian—apa yang kamu sembah? Dan apa yang kamu jawab kepada rasul-rasul? Pasti ia akan sadar untuk mencari pengetahuan tentang Tuhannya dan jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Apabila ia mantap dalam hal itu, dibukakan baginya pintu ketenangan dengan khalwat dan kesendirian serta tempat-tempat sunyi di mana suara-suara dan gerakan-gerakan tenang di dalamnya. Maka tidak ada yang lebih dirindukannya selain itu, karena itu mengumpulkan atasnya kekuatan-kekuatan hatinya dan keinginannya, dan menutup atasnya pintu-pintu yang memisahkan kepeduliannya dan mencerai-beraikan hatinya. Maka ia tenang dengannya dan merasa asing dari makhluk.
Kemudian dibukakan baginya pintu manisnya ibadah sehingga ia hampir tidak pernah merasa kenyang darinya, dan ia merasakan di dalamnya kelezatan dan ketenangan berlipat ganda dari apa yang ia rasakan dalam kelezatan permainan, main-main, dan meraih syahwat, sehingga jika ia masuk dalam shalat, ia berharap agar tidak keluar darinya. Kemudian dibukakan baginya pintu manisnya mendengarkan kalam Allah sehingga ia tidak pernah merasa kenyang darinya. Dan jika ia mendengarkannya, hatinya tenang dengannya sebagaimana anak kecil tenang jika diberi apa yang sangat dicintainya. Kemudian dibukakan baginya pintu penyaksian keagungan Allah yang berbicara dengannya, kemuliaan-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, hikmah-Nya, dan makna-makna khitab-Nya, sehingga hatinya terserap dalam itu hingga ia lenyap di dalamnya, dan ia merasa dengan hatinya telah masuk ke dalam dunia lain selain apa yang manusia berada di dalamnya.
Kemudian dibukakan baginya pintu malu kepada Allah, dan itu adalah awal bukti-bukti makrifat. Dan ia adalah cahaya yang jatuh dalam hati, yang menunjukkan kepadanya cahaya itu bahwa ia berdiri di hadapan Tuhannya Azza wa Jalla. Maka ia malu dari-Nya dalam kesendirian dan berkumpulnya, dan ia diberi pada saat itu kelanggengan muraqabah kepada ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi), dan kelanggengan pandangan kepada hadrah al-‘Aliy al-A’la, hingga seakan-akan ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya di atas langit-langit-Nya, bersemayam di atas arsy-Nya, melihat kepada makhluk-Nya, mendengar suara-suara mereka, menyaksikan batin-batin mereka. Apabila saksi ini menguasainya, maka ia menutupi atasnya banyak kepedulian terhadap dunia dan apa yang ada di dalamnya. Maka ia dalam wujud dan manusia dalam wujud yang lain. Ia dalam wujud di hadapan Tuhannya dan walinya, melihat kepada-Nya dengan hatinya, sedangkan manusia dalam hijab alam syahadah di dunia. Maka ia melihat mereka dan mereka tidak melihatnya, dan mereka tidak melihat darinya kecuali apa yang sesuai dengan alam mereka dan wujud mereka.
Kemudian dibukakan baginya pintu perasaan dengan penglihatan qayyumiyyah, sehingga ia melihat seluruh perubahan-perubahan kauniyyah dan tashrif wujud di tangan-Nya Subhanahu saja. Maka ia menyaksikan-Nya sebagai pemilik bahaya dan manfaat, penciptaan dan rezeki, menghidupkan dan mematikan. Maka ia menjadikan-Nya saja sebagai wakil, dan ridha dengan-Nya sebagai Tuhan, pengatur, dan yang mencukupi. Dan pada saat itu jika pandangannya jatuh pada sesuatu dari makhluk, maka itu menunjukkan kepadanya kepada Pencipta dan Pembentuknya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya. Maka makhluk-Nya tidak menghalanginya dari-Nya Subhanahu, bahkan setiap makhluk menyeru kepadanya dengan lisan halnya: Dengarlah kesaksianku untuk Dia yang membaguskan segala sesuatu yang Dia ciptakan, maka aku adalah ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.
Apabila hal itu berlanjut baginya, dibukakan atasnya pintu qabdh dan basth. Maka di-qabdh atasnya hingga ia merasakan sakit qabdh karena kuatnya wahid yang datang. Kemudian wadahnya di-qabdh dengan cahaya-cahaya wujud, sehingga ia fana dari wujudnya, dan lenyap sebagaimana cahaya matahari melenyapkan cahaya bintang-bintang. Dan kawn (alam semesta) dilipat dari hatinya sehingga tidak tersisa di dalamnya kecuali Allah Yang Maha Esa lagi Maha Memaksa. Dan melimpah cahaya-cahaya makrifat, muamalah, shidiq, ikhlas, dan mahabbah dari hatinya, sebagaimana melimpahnya cahaya matahari dari zatnya. Maka ia tenggelam pada saat itu dalam cahaya-cahaya sebagaimana penumpang laut tenggelam dalam laut. Dan itu hanya terjadi dalam riyadhah dan mujuhadah, hilangnya hukum-hukum tabi’at, dan lamanya berdiri di pintu.
Dan ini adalah dari ‘ilmul yaqin, bukan dari ‘ainul yaqin, dan tidak pula dari haqqul yaqin, karena tidak ada jalan kepadanya di dunia ini. Karena ‘ainul yaqin adalah penyaksian, dan haqqul yaqin adalah mubasyarah (kontak langsung). Ya, boleh jadi haqqul yaqin di dunia ini terkait dengan wujud dzihni, dan apa yang berdiri pada hati-hati saja, tidak lebih. Sebagaimana telah dijelaskan berkali-kali. Dan kami tidak peduli celaan pencela dalam hal itu. Dan mereka tidak peduli bahwa itu ada dalam kenyataan. Dan mereka menurut kami adalah orang-orang yang jujur tetapi tertipu. Dan kami menurut mereka adalah orang-orang yang terhalang dari itu dan tidak mencapainya.
Jika dia tetap pada kondisinya, berdiri di pintu Tuhannya, tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri, tidak menjawab selain yang memanggilnya kepada-Nya, dan dia tahu bahwa urusan itu masih ada di baliknya, dan bahwa dia belum sampai, dan kapan pun dia mengira bahwa dia telah sampai maka terputuslah baginya tambahan—diharapkan akan dibukakan baginya pembukaan yang lain, yang berada di atas apa yang telah dia alami, tenggelam hatinya dalam cahaya-cahaya penyaksian Keagungan setelah munculnya cahaya-cahaya Wujud yang Haq, dan terhapusnya wujudnya sendiri. Dan janganlah dia mengira bahwa wujud sifat-sifatnya dan dzatnya akan lenyap, namun yang lenyap adalah wujud nafsunya yang bersifat alamiah, dan tetap baginya wujud hati yang bersifat ruhani malakuti. Maka hatinya tetap berenang dalam lautan dari cahaya-cahaya pengaruh Keagungan, lalu memancar cahaya-cahaya dari batinnya, sebagaimana air memancar dari mata air, hingga dia mendapati Kerajaan Tertinggi seakan-akan berada di dalam batin dan hatinya, dan dia mendapati hatinya lebih tinggi dari semua itu, naik menuju Dzat yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya. Kemudian Allah Subhanahu menaikkannya, lalu Dia menyaksikan kepadanya cahaya-cahaya Kemuliaan setelah dia menyaksikan cahaya-cahaya Keagungan, maka dia tenggelam dalam cahaya dari cahaya-cahaya sinar Keindahan. Dan dalam tempat penyaksian ini dia merasakan kecintaan khusus yang membakar jiwa-jiwa dan hati-hati, maka hati tetap tertawan di tangan Kekasih dan Walinya, diuji dengan cinta-Nya. Dan jika engkau ingin memahami hal itu secara lebih dekat, maka lihatlah dirimu dan lihatlah orang lain—dan sungguh engkau telah diuji dengan wujud yang indah rupanya secara lahir dan batin—maka menguasai hatimu dan pikiranmu, malam dan siangmu, maka terjadi bagimu api kecintaan yang membakar dalam ususmu yang sulit untuk bersabar dengannya, dan itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Betapa beruntungnya hati yang diuji, yang tenggelam dalam apa yang tampak baginya dari sinar-sinar cahaya Keindahan Yang Maha Esa, sementara manusia terpesona dan diuji dengan harta, rupa, dan kedudukan yang fana, tersiksa dengannya sebelum mendapatkannya, saat mendapatkannya, dan setelah mendapatkannya. Yang paling tinggi kedudukannya di antara mereka adalah orang yang terpesona dengan bidadari, atau beramal untuk kenikmatan di surga dengan makan, minum, pakaian, dan pernikahan. Sedangkan pencinta ini telah naik dalam tingkatan kecintaan di atas ahli tingkatanat. Mereka memandangnya di surga sebagaimana mereka memandang bintang bersinar yang terbenam di ufuk karena tingginya tingkatannya dan dekat kedudukannya dengan Kekasihnya, dan kebersamaannya dengan-Nya, karena seseorang bersama dengan orang yang dicintainya dan setiap amal ada balasannya, dan balasan kecintaan adalah kecintaan, pertemuan, pemilihan, dan kedekatan. Inilah yang layak, dan cukuplah hal itu sebagai kemuliaan dan kebanggaan di dunia yang cepat berlalu, lalu bagaimana menurutmu dengan kedudukan-kedudukan mereka yang tinggi di sisi Raja Yang Mahakuasa? Bagaimana jika engkau melihat mereka di hari kiamat, dan telah dipanggil mereka oleh penyeru “Hendaklah setiap kaum pergi bersama apa yang mereka sembah”, maka mereka tetap di tempat mereka menunggu Tuhan dan Kekasih mereka yang merupakan sesuatu yang paling dicintai oleh mereka, hingga Dia datang kepada mereka, lalu mereka melihat kepada-Nya dan Dia menampakkan diri kepada mereka sambil tersenyum.
Yang dimaksud adalah bahwa hamba ini tidak henti-hentinya Allah menaikkannya dari tingkat ke tingkat, dan dari kedudukan ke kedudukan, hingga Dia menyampaikannya kepada-Nya, dan memantapkannya di hadapan-Nya, atau dia mati di jalan, maka pahalanya jatuh kepada Allah. Maka orang yang beruntung seberuntung-beruntungnya, dan orang yang diberi taufik sebenar-benarnya adalah orang yang tidak berpaling dari Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala ke kanan maupun ke kiri, tidak menjadikan selain-Nya sebagai tuhan dan wakil, tidak sebagai kekasih dan pengatur, tidak sebagai hakim dan penolong, dan tidak sebagai pemberi rezeki.
Dan seluruh tingkatan pertemuan yang telah disebutkan sebelumnya hanyalah saksi-saksi dan contoh-contoh. Jika hakikat-hakikat di alam gaib menampakkan diri kepadanya—sesuai dengan kesiapan, kelembutan, dan kehalusannya dari sisi yang tidak dilihatnya—maka muncul dari penampakan itu sebuah saksi di hatinya, dan saksi itu menunjukkan kepada hakikat-hakikat tersebut bukan hakikatnya sendiri. Maka cahaya Keagungan di hati bukanlah cahaya Dzat Yang Memiliki Keagungan di luar, karena itu tidak dapat ditahan oleh langit dan bumi, dan jika itu muncul pada wujud niscaya akan hancur, tetapi itu adalah saksi yang menunjukkan kepada itu, sebagaimana sifat-sifat yang paling tinggi adalah saksi yang menunjukkan kepada Dzat, dan Kebenaran di balik semua itu, disucikan dari hulul dan ittihad, dan bercampur dengan makhluk-Nya. Yang ada hanyalah kehalusan-kehalusan dan saksi-saksi yang terdapat di hati orang yang mengenal, yang menunjukkan kedekatan kelembutan dari-Nya di alam gaib di mana dia melihatnya. Dan jika dia fana maka sesungguhnya dia fana dengan kondisi dirinya bukan dengan Allah dan bukan di dalam-Nya. Dan jika dia baqa maka sesungguhnya dia baqa dengan kondisinya dan sifatnya, bukan dengan kebaqa’an Tuhannya dan sifat-sifat-Nya, dan tidak baqa dengan Allah kecuali Allah. Meskipun demikian, pertemuan adalah hak, orang yang sampai merasakan pengaruh-pengaruh tajalli sifat-sifat di hatinya, dan pengaruh-pengaruh tajalli yang Haq di hatinya, dan hati ditempatkan di atas seluruh alam semesta di hadapan Tuhan Ta’ala, dan Dia di atas ‘Arsy-Nya, dan dari sana dia dibukakan dengan pengaruh-pengaruh Keagungan dan Kemuliaan, maka dia mendapati ‘Arsy dan Kursi berada di bawah pandangan hatinya secara hukum. Dan bukanlah yang dia dapati di bawah hatinya itu hakikat ‘Arsy dan Kursi, tetapi saksi dan perumpamaan ilmiah yang menunjukkan kedekatan hatinya dari Tuhannya, dan kedekatan Tuhannya dari hatinya, dan di antara dua pengalaman itu ada perbedaan. Jika Tuhan Ta’ala mendekat ke hati hamba-Nya maka seluruh alam semesta tetap berada di bawah pandangan hatinya, dan saat itu terbit di ufuknya matahari tauhid, maka lenyap dengannya kabut wujudnya dan hilang serta sirna, sedangkan dzat dan hakikatnya tetap ada terpisah dari Tuhannya, dan Tuhannya terpisah darinya. Maka saat itu hamba gaib dari dirinya dan fana, dan pada hakikatnya dia baqa, tidak fana, tetapi tidak ada di dalam rahasianya selain Allah, dia telah fana di dalam-Nya dari segala sesuatu selain-Nya.
Ya, mungkin terjadi baginya dalam kondisi ini bahwa dia tidak mendapati sesuatu selain Allah, maka itu karena tenggelamnya hatinya dalam yang disaksikan dan wujudnya, dan seandainya itu pada kenyataannya, niscaya hamba dalam kondisi ini adalah Pencipta, Pembuat, Pemberi bentuk yang azali dan abadi.
Maka hendaklah engkau berpegang pada pembeda ini, dan hati-hatilah terhadap dua kelompok yang merupakan musuh paling besar bagi urusan ini: kelompok Jahmiyyah Mu’aththilah yang menurutnya tidak ada di atas ‘Arsy kecuali ketiadaan murni, maka mencium bau tingkatan ini dari tempat yang paling jauh adalah haram baginya. Dan kelompok ahli ittihad yang mengatakan wahdat al-wujud dan bahwa hamba berakhir dalam perjalanan ini hingga dia menyaksikan wujudnya adalah hakikat wujud yang Haq, Maha Agung keagungan-Nya. Dan hidupmu dengan kebodohanmu lebih baik daripada pengetahuan kedua kelompok ini, dan terputusmu bersama syahwat-syahwat adalah lebih baik bagimu bersama mereka, dan Allah tempat meminta pertolongan dan kepada-Nya tempat berserah diri.
Fasal Baqa
Batas Baqa
Sang Syaikh berkata: (Bab Baqa) Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Allah lebih baik dan lebih kekal” (Surah Thaha: 73).
Baqa yang ditunjukkan oleh kaum (sufi) adalah sifat hamba dan tingkatannya, sedangkan Baqa dalam ayat adalah kebaqa’an Tuhan, dan kekalnya wujud-Nya. Dan sesungguhnya disebutkan oleh para penyihir yang beriman pada tempat ini karena musuh Allah Fir’aun mengancam mereka atas keimanan dengan memusnahkan kehidupan mereka dan meniadakan dzat mereka, maka mereka berkata kepadanya: Walaupun engkau melakukan itu, maka Dzat yang kami imani dan kami berpindah dari penghambaan kepadamu kepada penghambaan kepada-Nya, dan dari mencari keridhaanmu dan kedudukan di sisimu kepada mencari keridlaan-Nya dan kedudukan di sisi-Nya—lebih baik darimu dan lebih kekal, dan adzab dan nikmatmu akan terputus dan habis, sedangkan adzab-Nya dan nikmat serta kemuliaan-Nya tidak akan terputus dan tidak akan hilang, lalu bagaimana kami mengutamakan yang terputus, fana, dan lebih rendah, atas yang kekal, terus-menerus, dan lebih tinggi?
Tetapi sisi isyarat dengan ayat itu adalah bahwa wasilah-wasilah dan ketergantungan serta kecintaan dan kehendak mengikuti tujuan-tujuannya dan yang dicintainya dan yang dikehendakinya. Barangsiapa tujuan kecintaan dan kehendaknya terputus maka terputuslah ketergantungannya ketika itu terputus, dan hilang amalnya dan usahanya dan lenyap. Dan barangsiapa yang tujuan dan cita-citanya kekal abadi tidak ada lenyap baginya dan tidak fana, dan tidak lenyap dan tidak sirna, maka kekal ketergantungannya dan nikmatnya dengan-Nya dengan kekalannya. Maka wasilah-wasilah mengikuti tujuan-tujuan, dan ketergantungan mengikuti apa yang bergantung padanya, dan kecintaan mengikuti yang dicintai. Maka bukanlah yang dicintai yang sirna dan lenyap dan fana seperti yang dicintai yang segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya maka pencinta kekal dengan kekalnya kekasihnya, mulia dengan kemuliaannya, dan besar nilainya sesuai dengan kekasihnya, dan kaya dengan kekayaannya, dan kuat dengan kekuatannya, dan mulia dengan kemuliaannya, dan besar urusannya di dalam jiwa-jiwa dengan pengabdian dan kehendak serta kecintaannya. Demi Allah, seandainya tidak ada penghalang kelalaian dan kebiasaan serta hawa nafsu dan pelanggaran, niscaya hati merasakan penderitaan yang paling besar dengan ketergantungannya pada selain Kekasih yang Pertama, dan merasakan kelezatan dan kegembiraan yang paling besar dengan ketergantungannya kepada-Nya. Maka Allah tempat meminta pertolongan.
Fasal
Sang Syaikh berkata: “Baqa: adalah nama bagi apa yang tersisa setelah fananya saksi-saksi dan gugurnya”.
Dia dalam ungkapan ini terlalu longgar, dan para ahli urusan ini kepedulian mereka adalah makna-makna, maka mereka longgar dalam ungkapan-ungkapan yang tidak dilonggarkan oleh selain mereka.
Maka baqa adalah kelanggengan dan kelanjutan wujud, dan itu ada dua macam: terbatas dan mutlak. Yang terbatas adalah baqa sampai batas waktu, dan yang mutlak adalah yang kekal berlanjut tanpa akhir.
Dan “baqa” lebih jelas dari batasan yang disebutkan ini, tetapi ketika yang dimaksudnya “baqa” yang merupakan sifat hamba dan tingkatannya, dia berkata: “adalah nama bagi apa yang tersisa setelah fananya saksi-saksi”, dan ini umum dalam seluruh jenis apa yang hamba tetap bersifat dengannya setelah fananya dalil-dalil dan pengaruh-pengaruh yang menunjukkan kepada hakikat.
Dan “saksi-saksi” menurutnya adalah seluruh bentuk-bentuk, dan terkadang dimaksudkan dengannya tanda-tanda penyaksian, dan itulah yang dimaksudnya dalam apa yang telah disebutkan sebelumnya. Jika saksi-saksi di sini dijadikan tanda-tanda penyaksian, maka maknanya adalah bahwa tanda-tanda menyampaikan kepada penyaksian, dan penyaksian tetap tegak setelah fananya tanda-tandanya.
Dan hakikat perkara adalah bahwa yang Haq Subhanahu memfanakan mereka dari selain-Nya dan membaqakan mereka dengan-Nya, dan selain-Nya adalah tanda-tanda dan bentuk-bentuk.
Tingkatan-tingkatan Baqa
Dia berkata: Dan itu ada tiga tingkatan: baqa yang diketahui setelah gugurnya pengetahuan secara nyata bukan pengetahuan, dan baqa yang disaksikan setelah gugurnya penyaksian secara wujud bukan sifat, dan baqa apa yang tidak pernah lenyap sebagai hak dengan menggugurkan apa yang tidak pernah ada secara penghapusan.
Aku katakan: Adapun baqa yang diketahui setelah gugurnya pengetahuan, maka mungkin tampak pada awalnya kemustahilannya, karena menjadikannya diketahui—dengan gugurnya pengetahuan tentangnya—menggabungkan antara dua yang bertentangan, dan seakan-akan dia diketahui dan tidak diketahui. Karena yang diketahui tidak menjadi diketahui kecuali dengan pengetahuan, lalu bagaimana dia menjadi diketahui dengan gugurnya?
Dan jawaban ini adalah bahwa di sini ada dua perkara:
Pertama: wujud gambaran yang diketahui di hati orang yang mengetahui, dan persepsinya terhadapnya dan kesadarannya terhadapnya.
Kedua: pengetahuannya tentang pengetahuannya dan kesadarannya, dan ini adalah perkara di balik hadirnya gambaran itu, dan ini dalam seluruh persepsi. Maka terkadang orang yang melihat melihat sesuatu dan mendengarnya dan menciumnya, dan gaib dari pengetahuannya dan kesadarannya dengan sifat dirinya yang merupakan persepsinya, maka dia gaib dengan yang dipersepsi dari persepsinya, dan dengan yang diketahui dari pengetahuannya, dan dengan yang dilihat dari penglihatan. Jika engkau berkata: jelaskan kepadaku ini agar pemahamannya terungkap.
Maka ketahuilah bahwa di sini ada kekuatan yang memahaminya jika berkaitan dengannya menjadi diketahui yang dipersepsi, maka terlahir dari antara dua perkara ini kondisi ketiga yang dinamakan “kesadaran” dan “pengetahuan” dan “persepsi”.
Contoh itu: apa yang dipersepsi dengan indera perasa dan penciuman, karena sesungguhnya harus ada yang dipersepsi yang dirasakan yang dicium, dan harus ada kekuatan di alat dan tempat yang khusus yang menghadapi yang dipersepsi dan berkaitan dengannya, maka terlahir dari antara dua perkara itu kualitas penciuman dan perasa. Demikian juga pada yang diraba, yang didengar, dan yang dilihat. Maka kesempurnaan persepsi adalah mengetahui secara menyeluruh tiga perkara ini, maka dia sadar dengan yang dipersepsi, dan dengan kekuatan yang mempersepsi, dan dengan kondisi persepsi. Jika hati tenggelam dalam penyaksiannya terhadap yang diketahui maka dia gaib dengannya dari penyaksian kekuatan yang dengannya dia mengetahui, dan dari kondisi pengetahuan. Dan contoh ini dengan seorang laki-laki yang memahami dengan sentuhannya apa yang dia nikmati dengannya kelezatan yang paling besar yang dia dapatkan, maka kelezatan itu menenggelamkannya dari selain itu, lalu menghilangkan kesadarannya terhadapnya bukan wujudnya. Dan karena itu sang Syaikh berkata “baqa yang diketahui setelah gugurnya pengetahuan secara nyata bukan pengetahuan” maka secara nyata adalah kondisi dari baqa bukan dari gugur, yaitu baqa-nya secara wujud bukan sifat. Karena dia dalam tingkatan pengetahuan kekal secara sifat dan gambaran, dan dalam tingkatan ini kekal secara wujud dan nyata bukan pengetahuan yang kosong.
Dan ini adalah sisi kedua dalam kalimatnya bahwa dia kekal wujudnya dan hakikatnya bukan hanya pengetahuan tentangnya, maka pengetahuan tentangnya tidak hilang, tetapi hamba berpindah dari wujud pengetahuan kepada wujud yang diketahui.
Demikian juga perkataannya—pada tingkatan kedua—”dan baqa yang disaksikan setelah gugurnya penyaksian secara wujud bukan sifat”, penyaksian di atas pengetahuan karena dia adalah pengetahuan yang nyata, maka berpindah dari hanya penyaksian kepada wujud, maka yang disaksikan tetap ada baginya setelah dia menjadi yang disaksikan, dan tingkatan wujud di atas tingkatan penyaksian karena wujud adalah perolehan dzati, dan penyaksian adalah perolehan ilmiah, walaupun di atas pengetahuan.
Perkataannya pada tingkatan ketiga: “dan baqa yang tidak pernah lenyap sebagai hak dengan menggugurkan apa yang tidak pernah ada secara penghapusan”, yaitu menguasai hati kekuasaan hakikat, dan cahaya penyatuan, hingga terhapus dari hatinya pengaruh makhluk-makhluk sebagaimana terhapus cahaya bintang-bintang dengan terbitnya matahari, dan tetap di dalamnya pengagungan terhadap yang tidak pernah lenyap dan dzikir kepada-Nya dan cinta kepada-Nya, dan kesibukan dengan-Nya bukan dengan selain-Nya.
Maka tingkatan pertama: baqa dalam tingkatan pengetahuan, dan yang kedua: baqa dalam tingkatan penyaksian, dan yang ketiga: baqa dalam tingkatan wujud. Maka ini satu sisi.
Dan dimungkinkan menjelaskan kalimatnya dengan sisi lain, yaitu: bahwa yang diketahui menggugurkan penyaksian pengetahuan, maka pengetahuan gugur dan yang diketahui tetap, maka hamba jika kekal setelah fana gugur pengetahuannya di tempat penyaksian nyatanya sehingga tetap tingkatan pengetahuan secara nyata, maka gugur pengetahuan dengan kenyataan, sehingga menjadi nyata bukan pengetahuan. Jika engkau melihat kepada pengetahuan dengan pertimbangan kenyataan—dan dia adalah hadrat penyatuan—gugur pengetahuan, jika engkau melihat kepadanya dengan pertimbangan pemisahan tidak gugur, maka gugurnya dalam hadrat penyatuan, dan tetapnya dalam tingkatan pemisahan.
Ucapannya: “Dan berlangsungnya yang disaksikan setelah gugurnya penyaksian secara wujud”, maksudnya: berlangsungnya Hak (Allah) yang merupakan yang disaksikan setelah gugurnya penyaksian yang merupakan makhluk: adalah yang disaksikan itu sifat penyaksi, dan penyaksi beserta sifat-sifatnya adalah makhluk, sedangkan yang disaksikan-Nya Maha Suci adalah tidak makhluk, sebagaimana ilmunya dan zikirnya dan ma’rifahnya adalah makhluk, sedangkan Yang Diketahui yang Disebut yang Dikenal Maha Suci adalah tidak makhluk. Dan apabila yang disifati telah fana, dan sifat-sifatnya mengikutinya dalam kefanaan, maka fanalah penyaksiannya dan tetaplah yang disaksikannya.
Ucapannya “secara wujud bukan sebagai sifat” artinya gugur wujud penyaksiannya bukan sifatnya dan pemberitaan tentangnya.
Ucapannya “dan berlangsungnya yang selalu Hak dengan menggugurkan yang tidak pernah ada sebagai penghapusan” menjelaskan maksud dari dua tingkatan sebelumnya, dan maknanya: berlangsungnya Hak, dan fananya makhluk, dan Hak Maha Suci selalu berlangsung, maka tidak terjadi pembaruan bagi-Nya keberlangsungan, dan kefanaan yang berkaitan dengan makhluk adalah kefanaan mereka dalam penyaksian sang penyaksi, dan penghapusan jejak mereka dari hatinya secara total, bukan kefanaan mereka di luar (realitas eksternal).
Dan kesimpulannya: bahwa fana dari hatimu kehendak terhadap selain Allah: dan penyaksiannya dan perhatian kepadanya, dan tetaplah di dalamnya kehendak terhadap Hak semata, dan penyaksian-Nya dan perhatian secara total kepada-Nya, dan menghadap dengan totalitasmu kepada-Nya, maka seputar inilah para arif berputar, dan kepadanya para salik bersungguh-sungguh, meskipun mereka meluaskan ungkapan-ungkapan untuknya, dan mengalihkan perkataan kepadanya, dan Allah lebih mengetahui.
Fasal Tahqiq
Ia berkata: (Bab Tahqiq) Allah Taala berfirman Apakah kamu belum percaya? Dia (Ibrahim) menjawab: Aku telah percaya, tetapi agar hatiku tenang (Surah Al-Baqarah: 260) Tahqiq: penyeleksian apa yang menyertaimu dari Hak, kemudian dengan Hak, kemudian dalam Hak, dan ini adalah nama-nama dari tiga tingkatannya.
Wajah kaitannya dengan isyarat ayat: bahwa Ibrahim shallallahu alaihi wasallam meminta perpindahan dari iman dengan ilmu tentang menghidupkan orang mati oleh Allah kepada melihat tahqiqnya secara nyata, maka ia meminta – setelah diperolehnya ilmu dzihni (mental) – tahqiq wujud eksternal, karena itu lebih besar dalam ketenangan hati, dan ketika antara ilmu dan penglihatan terdapat tingkatan lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda Kami lebih berhak atas keraguan daripada Ibrahim ketika ia berkata Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati (Surah Al-Baqarah: 260) dan Ibrahim tidak ragu shallallahu alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak ragu, tetapi ia meletakkan nama “keraguan” pada tingkatan ilmu berdasarkan perbedaan yang ada antara ia dan tingkatan penglihatan di luar, dan berdasarkan tingkatan ini disebut ilmu yakini – sebelum menyaksikan objeknya – sebagai dhann (praduga), Allah Taala berfirman Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Surah Al-Baqarah: 46) dan Allah Taala berfirman Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah (Surah Al-Baqarah: 249) dan dhann ini adalah ilmu yang pasti, sebagaimana Allah Taala berfirman Dan ketahuilah bahwa kamu akan menemui-Nya (Surah Al-Baqarah: 223) tetapi antara berita dan penglihatan ada perbedaan, dan dalam Musnad secara marfu Bukan berita seperti penglihatan dan karena itu ketika Allah mengabarkan kepada Musa bahwa kaumnya telah difitnah, dan bahwa Samiri telah menyesatkan mereka, tidak terjadi padanya dari kemarahan dan keadaan dan pelemparan lembaran-lembaran seperti yang terjadi padanya ketika menyaksikan hal itu.
Apabila telah dipahami ini, maka ucapannya “Tahqiq: penyeleksian apa yang menyertaimu dari Hak” di sini ada empat lafazh dengan penjelasannya akan dipahami maksudnya – insya Allah.
Pertama: lafazh “Tahqiq” dan ia adalah taf’il dari haqqaqa asy-syai’a tahqiqan, maka ia adalah mashdar dari fi’ilnya haqqaqa asy-syai’a, artinya menetapkannya dan memurnikannya dari yang lain.
Kedua: lafazh “Talkhish” (penyeleksian) dan maknanya: memurnikan sesuatu dari yang lain, maka khallasha dan lakhkhasha berserikat dalam lafazh dan makna, meskipun “talkhish” lebih dominan pada apa yang ada dalam pikiran dan takhlish lebih dominan pada apa yang ada di luar, maka talkhish: menyeleksi sesuatu dalam pikiran, sehingga tidak masuk di dalamnya yang lain, dan takhlish: memisahkannya di luar dari yang lain.
Ketiga: “Mashub” (yang menyertai) dan ia adalah apa yang menyertai manusia dalam tujuan dan ma’rifahnya dari yang diketahui dan yang dimaksud.
Keempat: “Hak” dan Dia adalah Allah Maha Suci, dan apa yang mendekatkan kepada-Nya, mendekatkan hamba dari keridhaan-Nya.
Apabila telah dipahami ini, maka yang menyertai hamba dari Hak adalah ma’rifahnya dan kecintaannya, dan kehendak wajah-Nya yang mulia, dan apa yang ia gunakan sebagai penolong untuk sampai kepada-Nya, dan apa yang ia butuhkan dalam suluknya. Maka “Tahqiq” adalah memurnikannya dari perusak-perusak yang memutus darinya, yang menghalangi antara hati dan yang menghantarkan kepadanya, dan melindunginya dari percampuran-percampuran, dan memurnikannya dari pengganggu-pengganggu, karena itu adalah pemutus baginya dari yang menyertainya Hak, dan ia dua jenis tidak ada yang ketiga: kejadian-kejadian yang dicintai, dan kejadian-kejadian yang dibenci.
Maka pemilik tingkatan tahqiq tidak berhenti dengan kejadian-kejadian yang dicintai, karena itu memutusnya dari yang menyertainya dan kekasihnya, dan tidak dengan kejadian-kejadian yang dibenci, karena itu juga pemutus, dan ia mengabaikannya sedapat mungkin, karena itu berlalu dengan banyak-banyak dan pengabaian secara cepat, tidak meluaskan lingkarannya, karena setiap kali ia meluaskannya maka ia meluas, dan menemukan medan yang luas, lalu menyerang di dalamnya dan berkeliaran, dan seandainya ia menyempitkannya – dengan berpaling darinya dan pengabaian – niscaya ia lenyap dan hilang, maka pemilik tingkatan tahqiq melupakannya dan menghapus bekasnya, dan mengetahui bahwa itu datang dengan hukum takdir di negeri cobaan dan bencana.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata kepadaku suatu kali: Kejadian-kejadian dan cobaan adalah seperti panas dan dingin, maka apabila hamba mengetahui bahwa ia pasti daripadanya, ia tidak marah karena datangnya, dan tidak sedih karenanya dan tidak berduka.
Maka apabila hamba bersabar terhadap kejadian-kejadian ini dan tidak terputus dengannya; ia berharap untuknya sampai ke tingkatan tahqiq, maka ia tetap dengan yang menyertainya Hak saja, lalu jiwanya terdidik, dan tenang bersama Allah, dan terpisah dari kebiasaan-kebiasaan buruk, hingga kecintaan Allah membanjiri hatinya dan ruhnya, dan kembali anggota badannya mengikuti perintah-perintah, maka hatinya merasakan ketika itu bahwa kebersamaan Allah bersamanya dan penjagaan-Nya atasnya, maka ia tetap dalam gerakan-gerakannya dan diamnya dengan Allah bukan dengan dirinya, dan datang ke hatinya ta’rifat-ta’rifat ilahiyyah, dan itu hanya terjadi dalam manzil baqa setelah fana, dan memperoleh kecintaan khusus, dan ia menyaksikan uluhiyyah dan qayyumiyyah dan fardaniyyah, karena pada tiga penyaksian ini berputar ma’rifah dan wushul.
Dan maksudnya: bahwa pemilik tingkatan “Tahqiq” mengenal Hak, dan membedakan antara ia dan batil, maka ia memegang Hak, dan membatalkan yang batil, maka ini adalah tingkatan, kemudian jelas baginya bahwa itu bukan dengan dirinya, bahkan dengan Allah saja; maka ia berlepas ketika itu dari daya dan kekuatannya, dan mengetahui bahwa itu dengan Hak, kemudian ia kokoh dalam tingkatan itu, dan hatinya mantap di dalamnya, maka menjadi tahqiqnya dengan Allah dan dalam Allah.
Pada yang pertama: murni baginya yang dimaksudnya dari yang lain, dan ia berlepas untuknya dari selain-Nya.
Pada yang kedua: murni baginya penyandaran kepada yang lain, dan bahwa ada selain-Nya Maha Suci.
Pada yang ketiga: murni baginya penyaksiannya dan keterbatasannya, sehingga menjadi dalam yang dimaksudnya.
Maka yang pertama: perjalanan kepada Allah, dan yang kedua: perjalanan dengan Allah, dan yang ketiga: perjalanan dalam Allah.
Dan jika membingungkanmu makna perjalanan dalam-Nya dan perbedaan antara ia dan perjalanan kepada-Nya maka bedakan antara keadaan abid zahid yang berjalan kepada Allah, yang belum dibukakan baginya dalam asma dan sifat dan ma’rifah khusus, dan antara keadaan arif yang telah dibukakan baginya dalam ma’rifah asma dan sifat dan pemahaman di dalamnya apa yang tertutup dari yang lain.
Ucapannya: “Adapun tingkatan pertama – dan ia adalah menyeleksi yang menyertaimu dari Hak -: yaitu tidak tercampuri ilmumu dengan ilmu-Nya” artinya: bahwa engkau menyandarkan ilmu kepada dirimu sebelum sampaimu ke tingkatan tahqiq, maka dalam keadaan tahqiq kembali pensandarannya kepada Pengajarnya dan Pemberinya Hak, dan mungkin ini makna ucapan para rasul semoga shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka semua, ketika Rabb Tabaraka wa Taala mengumpulkan mereka dan berfirman Apa jawaban yang kamu terima? Mereka menjawab: Tidak ada ilmu bagi kami (Surah Al-Maidah: 109) dikatakan: mereka mengatakannya sebagai adab dengan-Nya Maha Suci, ketika mereka mengembalikan ilmu kepada-Nya, dan dikatakan: maknanya tidak ada ilmu bagi kami tentang hakikat batin, dan hanyasanya menjawab kami yang menjawab kami secara lahir, sedangkan batin adalah gaib, dan Engkau Maha Mengetahui yang gaib.
Dan tahqiq – insya Allah – bahwa ilmu-ilmu mereka lenyap dalam ilmu-Nya Maha Suci dan hilang, maka menjadi dibanding dengan-Nya seperti tidak ada ilmu, maka mereka mengembalikan ilmu semuanya kepada Wali-nya dan ahli-Nya, dan yang lebih berhak dengannya, maka ilmu-ilmu mereka dan ilmu seluruh makhluk di sisi ilmu-Nya Taala seperti patukan burung pipit di lautan dari lautan-lautan dunia, dan “Mukhalajah” adalah perebutan.
Ucapannya: “Adapun tingkatan kedua: yaitu tidak merebut penyaksianmu dengan penyaksian-Nya, ini dekat dari makna pertama, dan maknanya: bahwa penyaksian yang engkau sandarkan kepada dirimu sebelum fana menjadi setelahnya engkau sandarkan kepada-Nya Maha Suci, bukan kepadamu.
Ucapannya “Tingkatan ketiga: bahwa tidak menyaingi wahammu dengan keutamaan-Nya” Rasm menurut mereka: adalah syakhsh (pribadi) dan ia adalah hadits makhluk, dan Rabb Taala Dia adalah Qadim Pencipta, maka apabila hamba mencapai hakikat tahqiq; ia menyaksikan Hak saja terpisah dari makhluk-Nya, maka tidak menyaingi rasam-nya keutamaan Hak dan awaliyah-Nya, dan munasama seperti musyamah, dikatakan: nasamahu, artinya mencium, maka Syaikh meminjam lafazh untuk kedekatan dan hubungan paling rendah, artinya tidak mendekati rasam-mu keutamaan-Nya, meskipun dengan munasama paling rendah, bahkan engkau menyaksikan Hak saja terpisah dari segala sesuatu selain-Nya.
Dan mereka mengisyaratkan dengan itu kepada perkara, yaitu: bahwa Allah Maha Suci ada dan tidak ada sesuatu bersama-Nya, dan Dia sekarang atas apa yang Dia ada, maka adapun lafazh pertama yaitu Allah ada dan tidak ada sesuatu bersama-Nya maka ini telah diriwayatkan dalam Shahih dalam sebagian lafazh hadits Imran bin Hushain radhiyallahu anhu, meskipun lafazh yang tetap Allah ada dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya dan ia yang sesuai dengan ucapannya dalam hadits lain yang shahih Engkau yang Awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu dan tidak berkata: maka tidak ada bersama-Mu sesuatu.
Adapun ucapannya “dan Dia sekarang atas apa yang Dia ada” maka tambahan dalam hadits bukan darinya, bahkan ditambahkan oleh sebagian orang yang berlebihan, dan ia batil secara pasti, karena Allah bersama makhluk-Nya dengan ilmu dan pengaturan dan kekuasaan, dan bersama wali-wali-Nya dengan penjagaan dan pemeliharaan dan pertolongan, dan mereka bersama-Nya dengan kesesuaian dan kecintaan, dan menjadi lafazh ini perisai dan tameng bagi orang-orang murtad dari kaum ittihad (kesatuan wujud), maka mereka berkata: bahwa tidak ada wujud selain wujud-Nya azali dan abadi dan sekarang, maka tidak ada dalam wujud kecuali Allah saja, dan segala yang engkau lihat dan sentuh dan rasakan dan cium dan hadapi adalah hakikat Allah, Maha Tinggi Allah dari kebohongan mereka ketinggian yang besar.
Adapun ahli tauhid: mereka kadang mengucapkan lafazh ini, dan mereka maksudkan dengannya lafazh yang benar, yaitu bahwa Allah Maha Suci selalu terpisah dengan diri-Nya dari makhluk-Nya, tidak bercampur dengan mereka, dan tidak hulul di dalam mereka, dan tidak berbaur dengan mereka, bahkan Dia terpisah dari mereka dengan dzat dan sifat-Nya.
Adapun Syaikh dan ashhabul fana: mereka kadang maksudkan makna lain yang lebih khusus dari itu, yaitu yang diisyaratkan dengan ucapannya “tidak menyaingi rasam-mu keutamaan-Nya” artinya engkau tidak melihat bahwa engkau bersama-Nya bahkan engkau melihat-Nya saja, dan karena itu ia berkata: maka gugur kesaksian-kesaksian, dan batil ungkapan-ungkapan, dan fana isyarat-isyarat, artinya: bahwa engkau apabila tidak menyaksikan bersama-Nya selain-Nya, dan menggugurkan yang lain dari penyaksian, bukan dari wujud, berbeda dengan apa yang dikatakan mulhid ittihadi: bahwa engkau menggugurkan yang lain penyaksian dan wujud – gugur kesaksian-kesaksian dan ungkapan-ungkapan dan isyarat-isyarat; karena itu adalah sifat-sifat hamba hadits makhluk, dan fana mengharuskan menggugurkannya.
Dan maknanya: bahwa yang sampai ke tingkatan ini tidak melihat bersama Hak selain-Nya, maka ia menghapus selain dalam penyaksiannya, dan menurut mulhid ia menghapusnya dari wujud, dan Allah lebih mengetahui dan Dia yang Memberi taufik.
Bab Penyesatan
Ketidaksesuaian Nama Bab
Bab Penyesatan
Beliau berkata: (Bab Penyesatan) Allah Ta’ala berfirman “dan pasti Kami membuat mereka bingung sebagaimana mereka telah membuat diri mereka bingung” (Al-An’am: 9). Andai saja beliau tidak menggunakan ayat ini sebagai dalil dalam bab ini, karena sesungguhnya penggunaan ayat ini sebagai dalil untuk maksudnya adalah dalil yang paling jauh darinya, dan paling batil persaksiannya. Dan andai saja beliau tidak menamakan bab ini dengan “Penyesatan” dan memilih nama yang lebih tepat untuknya.
Adapun ayat tersebut, sesungguhnya maknanya berbeda dengan apa yang dimaksudkan dalam bab ini dari setiap segi. Karena sesungguhnya orang-orang musyrik berkata secara keras kepala dalam kekufuran mereka “mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat” (Al-An’am: 8), maksudnya: malaikat yang dapat kami saksikan dan lihat, yang bersaksi untuknya dan membenarkannya. Padahal malaikat telah turun kepadanya dengan wahyu dari Allah. Maka Allah Ta’ala menjawab hal ini, dan menjelaskan hikmah dalam tidak diturunkannya malaikat dengan cara yang mereka usulkan, bahwa seandainya diturunkan malaikat – sebagaimana yang mereka usulkan dan mereka tidak beriman dan membenarkannya – niscaya mereka akan segera mendapat siksa, sebagaimana telah berlaku dan terus berlaku sunnatullah Ta’ala terhadap orang-orang kafir dalam ayat-ayat yang mereka usulkan, ketika ayat-ayat itu datang kepada mereka dan mereka tidak beriman kepadanya. Maka Allah berfirman “dan seandainya Kami turunkan malaikat, pastilah diselesaikan urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh lagi” (Al-An’am: 8). Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan bahwa seandainya Dia menurunkan malaikat – sebagaimana yang mereka usulkan – maka tidak akan tercapai maksud mereka. Karena jika Dia menurunkannya dalam wujud aslinya, mereka tidak akan mampu menerima darinya, karena manusia tidak mampu berbicara dengan malaikat dan menghadapinya secara langsung. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan makhluk paling kuat – ketika malaikat turun kepadanya mengalami kesedihan karenanya, dan mengalami kesulitan berat, keringat bercucuran darinya di hari yang dingin. Dan jika Dia menjadikannya dalam wujud manusia, maka akan timbul kebingungan bagi mereka: apakah dia manusia ataukah malaikat? Maka Allah Ta’ala berfirman “dan seandainya Kami jadikan dia malaikat, pasti Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki dan pasti Kami membuat mereka bingung” (Al-An’am: 9) dalam keadaan ini “sebagaimana mereka telah membuat diri mereka bingung” (Al-An’am: 9) terhadap diri mereka sendiri pada saat itu. Karena mereka akan berkata – ketika mereka melihat malaikat dalam wujud manusia – ini adalah manusia, dan bukan malaikat. Inilah makna ayat tersebut, maka di manakah engkau menemukan kaitannya dengan apa yang dimaksudkan dalam bab ini?
Bab Hakikat Penyesatan
Bab
Beliau berkata: “Penyesatan adalah: pengelabuan dengan dalil yang dipinjamkan dari yang wujud dan tetap. Karena “pengelabuan” adalah menampakkan lawan dari yang dimaksud, dengan menyebutkan sesuatu yang mengesankan bahwa itulah yang dimaksud, padahal bukan itu yang dimaksud, melainkan dia mengelabui dengan yang disebutkan dari yang dimaksud, maka dia menafsirkan “penyesatan” dengannya. Dan dalam hadits “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak berperang mengelabui dengan yang lainnya”. Contohnya: bahwa dia hendak menyerang Khaibar lalu dia berkata kepada orang-orang: bagaimana jalan ke Najd, dan apa saja air yang ada di sana? Dan semacam itu.
Maka di sini ada dua hal: perkara menutup yang dikaburkan yang membingungkan, dan perkara menutup apa yang dikaburkan darinya. Maka penyusun mengisyaratkan kepada dua perkara dengan ucapannya “pengelabuan dengan dalil yang dipinjamkan dari yang wujud dan tetap”. Adapun “pengelabuan” maka telah engkau ketahui, dan adapun “dalil” maka dia adalah yang engkau kaburkan dengannya dari maksudmu dan engkau berdalil dengannya. Dan adapun “yang dipinjamkan” maka dia adalah dalil yang dipinjamkan untuk selainnya untuk bersaksi baginya. Maka dia adalah dalil yang dipinjamkan untuk yang disaksi yang tetap. Maka pengelabuan adalah: bahwa engkau menyebutkan apa yang mengandung dua makna, dan maksudmu adalah lawan dari yang tampak di antara keduanya. Dan penyesatan: menyerupai pengaburan dan pencampuradukan, dan darinya firman-Nya “dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan” (Al-Baqarah: 42). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.
Bab Penyesatan adalah Nama untuk Tiga Makna
Pertama: Penyesatan dari Yang Haq Subhanahu dengan Alam Semesta terhadap Ahli Tafarruq (Pemisahan)
Bab
Syaikh berkata: “Dan dia adalah nama untuk tiga makna. Pertamanya: penyesatan dari Yang Haq Subhanahu dengan alam semesta terhadap ahli tafarruq, yaitu menggantungkan-Nya segala kejadian dengan sebab-sebab dan tempat-tempat dan waktu-waktu, dan menggantungkan-Nya pengetahuan-pengetahuan dengan perantara-perantara, dan perkara-perkara dengan hujah-hujah, dan hukum-hukum dengan illat-illat, dan pembalasan dengan kejahatan-kejahatan, dan pahala dengan ketaatan-ketaatan. Dan Dia menyembunyikan ridha dan murka yang keduanya mewajibkan pemisahan dan penyambungan, dan menampakkan kesengsaraan dan kebahagiaan.”
Syaikhul Islam adalah kekasih kami, tetapi kebenaran lebih kami cintai darinya. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah biasa berkata: amalnya lebih baik dari ilmunya. Dan benar apa yang dia katakan rahimahullah. Maka sirahnya dalam memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, dan berjihad melawan ahli bid’ah tidak ada yang menandinginya. Dan dia memiliki kedudukan-kedudukan yang terkenal dalam menolong Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah menolak untuk mengenakan pakaian kema’shuman kecuali untuk Ash-Shadiq Al-Mashdūq yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dia telah salah dalam bab ini dari segi lafal dan makna.
Adapun lafal: yaitu penamaannya terhadap perbuatan Allah yang merupakan haq dan benar dan hikmah dan rahmat, dan hukum-Nya yang merupakan keadilan dan ihsan, dan perintah-Nya yang merupakan agama dan syariat-Nya sebagai “penyesatan”, maka ma’adzallah (kami berlindung kepada Allah), kemudian ma’adzallah dari penamaan ini, dan ma’adzallah dari ridha terhadapnya, dan mengakuinya, dan membelanya, dan membela serta membelanya. Dan kami bersaksi dengan Allah bahwa ini adalah penyesatan terhadap Syaikhul Islam. Maka penyesatan terjadi terhadapnya, dan kami tidak mengatakan: terjadi darinya, tetapi dia adalah orang yang jujur yang telah disesatkan. Dan mungkin ada orang yang fanatik kepadanya berkata: kalian tidak memahami perkataan beliau. Maka kami akan menjelaskan maksudnya dengan sebenarnya – insya Allah -, kemudian kami akan mengikuti itu dengan apa yang ada padanya dan apa yang menentangnya.
Maka ucapannya “pertamanya: penyesatan dari Yang Haq dengan alam semesta terhadap ahli tafarruq”, dan Yang Haq di sini yang dimaksud dengannya adalah Rabb Ta’ala, dan “alam semesta” adalah nama bagi segala sesuatu selain-Nya, dan “ahli tafarruq” adalah lawan dari ahli “jam'” (penyatuan). Dan akan datang makna jam’ menurut beliau setelah ini – insya Allah -. Maka ahli tafarruq adalah orang-orang yang belum sampai kepada tingkatan jam’. Maka ahli tafarruq menurutnya telah disesatkan oleh Yang Haq dengan yang batil. Karena mereka telah disesatkan oleh Yang Haq dengan alam semesta dan dia adalah kebatilan. Dan setiap sesuatu selain Allah adalah batil. Dan ahli tafarruq menurutnya adalah orang-orang yang didominasi oleh pandangan kepada sebab-sebab hingga mereka lalai dari Yang Maha Menyebabkan, dan mereka berhenti pada sebab-sebab itu tanpa sampai kepada-Nya. Dan “penyesatan” adalah perbuatan dari perbuatan-perbuatan Rabb Ta’ala. Dan Dia Subhanahu menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki. Dan oleh karena itu beliau berdalil dengan makna ini dengan ayat tersebut, yaitu firman Allah Ta’ala “dan pasti Kami membuat mereka bingung sebagaimana mereka telah membuat diri mereka bingung” (Al-An’am: 9) untuk memberitahumu bahwa perbuatan ini tidak terlarang untuk dinisbatkan kepada Allah sebagaimana tidak terlarang menisbatkan penyesatan kepada-Nya.
Dan wajah penyesatan ini adalah: bahwa Dia – Subhanahu – menambahkan perbuatan-perbuatan yang bersumber dari murni qudrah dan kehendak-Nya kepada sebab-sebab dan waktu-waktu dan tempat-tempat. Maka Yang Haq Subhanahu menyesatkan ahli tafarruq di mana Dia menggantungkan kejadian-kejadian – yaitu perbuatan-perbuatan – dengan sebab-sebab. Maka ahli tafarruq menisbatkannya kepada sebab-sebabnya, dan mereka buta dari menyaksikan Yang Haq Subhanahu. Maka dalam hakikatnya tidak ada perbuatan kecuali untuk Allah. Dan ahli tafarruq mengabaikan hal itu, dan mereka berkata: si fulan berbuat, dan air berbuat, dan udara berbuat, dan api berbuat. Demikian pula penggantungan-Nya Subhanahu pengetahuan-pengetahuan dengan perantara-perantara, yaitu dalil-dalil sam’iyyah (nash) dan aqliyyah (akal) dan fithiyyah (fitrah). Dan penggantungan-Nya hal-hal yang didengar dan dilihat dan diraba dengan alat-alatnya dan indera-inderanya, dari pendengaran dan penglihatan dan penciuman dan perasa dan peraba. Dan Dia Subhanahu adalah Pencipta persepsi-persepsi itu yang bersamaan dengan indera-indera ini, dan pada keberadaannya, bukan dengannya, dan bukan dengan kekuatan-kekuatan yang ditempatkan di dalamnya. Dan Dia Subhanahu berkuasa atas penciptaan pengetahuan-pengetahuan ini tanpa perantara-perantara ini. Maka Dia menghalangi ahli tafarruq dengan perantara-perantara ini dari Ilah Yang Maha Kuasa Subhanahu yang hakikatnya tidak ada perbuatan dalam hakikat kecuali untuk-Nya. Maka seakan-akan Dia menyesatkan ahli tafarruq – yaitu menyesatkan mereka – dengan penyaksian mereka terhadap sebab-sebab, dan ketidakhadiran mereka dengannya dari-Nya.
Demikian pula perkara-perkara – yaitu kejadian-kejadian antara para hamba – menggantungkannya dengan hujah-hujah yang mewajibkannya. Maka setiap ketetapan dan hukum pasti ada hujah yang bersandar padanya. Maka pemilik tafarruq terhalangi dengan hujah itu dari sumber pertama yang darinya permulaan segala sesuatu, dan berhenti pada hujah, dan tidak melihat kepada Yang menghukum dengannya, dan menjadikannya sebagai penampakan untuk keberlakuan hukum dan ketetapan-Nya.
Demikian pula penggantungan-Nya hukum-hukum dengan illat-illat – yaitu makna-makna dan kesesuaian-kesesuaian, dan hikmah-hikmah dan kemaslahatan-kemaslahatan – yang karena illat-illat itulah hukum-hukum tetap. Dan Dia Subhanahu adalah Peletakkan makna-makna itu, dan Yang menambahkan hukum-hukum kepadanya. Dan sesungguhnya makna-makna itu dalam hakikatnya ditambahkan kepada-Nya Subhanahu.
Demikian pula penyusunan-Nya pembalasan terhadap kejahatan-kejahatan, dan pengaitan-Nya pahala dengan ketaatan-ketaatan, semua itu ditambahkan kepada-Nya Subhanahu semata, tidak kepada kejahatan-kejahatan, dan tidak kepada ketaatan-ketaatan. Maka penambahan itu kepadanya adalah penyesatan terhadap ahli tafarruq. Dan tempat penyesatan dalam semua itu adalah bahwa ahli tafarruq menyangka bahwa seandainya tidak ada perantara-perantara itu niscaya tidak ada pengetahuan, dan tidak terjadi perkara, dan tidak ada hukum, tidak ada pahala, dan tidak ada siksa dan tidak ada pembalasan. Dan ini adalah penyesatan terhadap mereka. Karena perkara-perkara ini sesungguhnya diwajibkan oleh murni kehendak Allah yang apa yang Dia kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Maka terlipatlah hukum perantara-perantara dan sebab-sebab dan illat-illat itu dalam hamparan kehendak azali, dan lenyaplah dalam mata hukum azali, dan menjadilah dari jenis kejadian-kejadian yang merupakan yang dipengaruhi bukan yang mempengaruhi, dan yang taat bukan yang ditaati, dan yang diperintah bukan yang memerintah, dan makhluk dari makhluk-Nya, bukan perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Maka dia dengan-Nya bukan dengan mereka. Dan oleh karena itu orang-orang arif kepada-Nya berlindung dari-Nya kepada-Nya, dan lari dari-Nya kepada-Nya, dan mengadu dari-Nya kepada-Nya, dan melarikan diri dari-Nya kepada-Nya, dan bertawakal dengan-Nya kepada-Nya, dan takut kepada-Nya dengan apa yang dari-Nya bukan dari selain-Nya. Maka mereka menyaksikan keawal-an-Nya dalam segala sesuatu, dan kesendirian-Nya dalam pekerjaan dan bahwa tidak ada sesuatu yang mewajibkan dari segala sesuatu kecuali kehendak-Nya semata. Maka kehendak-Nya adalah sebab dalam hakikatnya dan apa yang disaksikan atau diketahui dari sebab-sebab maka adalah tempat dan jalur untuk keberlakuan kehendak, bukan bahwa dia berpengaruh dan berbuat. Maka perantara-perantara pasti berakhir kepada yang pertama, karena mustahil adanya tasalsul (rangkaian tanpa akhir). Dan oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “maka siapa yang menulari yang pertama?”. Dan Allah Subhanahu telah menentukan takdir-takdir, dan menulis jejak-jejak dan perbuatan-perbuatan, dan kesengsaraan dan kebahagiaan, dan pahala dan siksa, di mana tidak ada perantara di sana dan tidak ada sebab dan tidak ada illat. Maka ahli tafarruq berhenti pada perantara-perantara, dan ahli jam’ pandangan mereka menembus dari perantara-perantara dan sebab-sebab kepada Yang menegakkannya dan mengaitkan dengannya hukum-hukumnya.
Ucapannya: “dan Dia menyembunyikan ridha dan murka yang keduanya merupakan tempat penyambungan dan pemisahan”, maksudnya: bahwa Dia Subhanahu menyembunyikan dari hamba-hamba-Nya apa yang telah ditetapkan bagi mereka di sisi-Nya dari murka-Nya terhadap siapa yang Dia murkai, dan ridha-Nya terhadap siapa yang Dia ridhai, yang mewajibkan penyambungan terhadap siapa yang Dia sambung, dan pemutusan terhadap siapa yang Dia putus.
Dan maksudnya: bahwa ini bersama sebab yang benar pada hakikat masalahnya, yaitu ridha dan murka-Nya. Dan sesungguhnya Dia Subhanahu menyesatkan ahli tafarruq dalam perkara dengan apa yang dia sebutkan dari kejahatan-kejahatan dan ketaatan-ketaatan, dan illat-illat dan hujah-hujah. Dan tidak ada sebab dalam hakikatnya kecuali ridha dan murka-Nya. Dan itu tidak ada illat baginya. Maka ridha adalah yang mewajibkan pahala bukan ketaatan. Dan murka adalah yang mewajibkan siksa bukan kemaksiatan. Dan kehendak adalah yang mewajibkan hukum bukan perantara-perantara. Maka Rabb Subhanahu menyembunyikan itu dari makhluk-Nya, dan menampakkan kepada mereka sebab-sebab yang lain yang mereka kaitkan dengannya hukum-hukum. Dan itu adalah penyesatan dari Yang Haq terhadap mereka. Maka ahli tafarruq berhenti pada penyesatan ini, dan ahli jam’ naik darinya dan melampauinya kepada sumber segala sesuatu kesemuanya, dan Yang mewujudkannya dengan kehendak-Nya saja.
Maka syaikh berlebihan dalam hal itu hingga menjadikan ridha dan murka menampakkan kebahagiaan dan kesengsaraan, dan tidak menjadikan ridha dan murka berpengaruh padanya. Dan itu karena kebahagiaan dan kesengsaraan telah mendahului menurut beliau dengan dahulu yang murni yang bersandar kepada murni kehendak tidak ada illat baginya. Dan ridha dan murka menampakkan apa yang telah didahului dengannya takdir dari kebahagiaan dan kesengsaraan. Maka ini adalah sebaik-baik apa yang dikatakan dalam penjelasan perkataan beliau dan penegasannya, dan membawakannya kepada sebaik-baik wajah dan yang paling indah.
Dan adapun apa yang ada padanya dari tauhid dan berakhirnya segala urusan kepada kehendak Rabb Jalla Jalaluhu, dan bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi, maka itu adalah ikatan rangkaian iman. Dan bersamaan dengan itu tidaklah cukup sendirian. Karena puncaknya adalah tahqiq tauhid rububiyyah yang tidak diingkari oleh penyembah-penyembah berhala. Dan sesungguhnya perkaranya adalah pada perkara yang lain di belakang ini; ini adalah babnya, dan jalan masuk kepadanya, dan dalil padanya, dan darinya disampaikan kepadanya, yaitu tauhid yang telah diajak kepadanya oleh para rasul, dan turun dengannya kitab-kitab, dan atasnya pahala dan siksa, dan syariat-syariat semuanya adalah perincian-perincianya dan hak-haknya, yaitu tauhid uluhiyyah (ketuhanan) dan ibadah. Dan dia adalah yang tidak ada kebahagiaan untuk jiwa-jiwa kecuali dengan menegakkannya – ilmu dan amal, dan keadaan – yaitu bahwa Allah sendiri lebih dicintai oleh hamba dari segala sesuatu selain-Nya, dan lebih ditakuti di sisinya dari segala sesuatu selain-Nya, dan lebih diharapkan baginya dari segala sesuatu selain-Nya. Maka dia beribadah kepada-Nya dengan makna-makna cinta dan takut dan harap dengan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan dia adalah apa yang Dia syariatkan atas lisan Rasul-Nya, bukan dengan apa yang hamba inginkan dan hawa nafsunya. Dan kesimpulan itu dalam dua kalimat “hanya Engkau yang aku inginkan dengan apa yang Engkau inginkan”. Maka yang pertama: tauhid dan ikhlas, dan yang kedua: ittiba’ (mengikuti) sunnah dan pentahkiman perintah.
Yang dimaksud adalah bahwa apa yang beliau tunjukkan dalam bab ini tujuan akhirnya adalah memantapkan tauhid af’al (tauhid perbuatan), yaitu tauhid rububiyah.
Adapun menganggap bahwa Allah menjadikan sebab-sebab yang telah Dia tetapkan dalam penciptaan-Nya, perintah-Nya, hukum-hukum-Nya, pahala-Nya, dan siksa-Nya sebagai talbis (kesamaran/penyamaran), maka itu adalah talbis dari jiwa atas dirinya sendiri. Hal itu—menurut para ahli makrifat tentang Allah, rasul-rasul-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya—bukanlah talbis sama sekali. Hal itu justru merupakan perwujudan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, hikmah-Nya, nikmat-Nya, kekuasaan-Nya dan kemuliaan-Nya. Sebab penampakan sifat-sifat dan nama-nama ini mengharuskan adanya tempat-tempat manifestasi dan keterikatan yang terkait dengannya, dan di dalamnya tampak pengaruh-pengaruhnya. Ini adalah perkara yang niscaya bagi sifat-sifat dan nama-nama tersebut, karena ilmu pasti memerlukan sesuatu yang diketahui, dan sifat al-Khaliqiyyah (Pencipta) dan ar-Raziqiyyah (Pemberi rezeki) mengharuskan adanya makhluk dan yang diberi rezeki. Demikian pula sifat rahmat, ihsan, kelemahlembutan, pengampunan, pemaafan, dan pemberian maaf—semuanya mengharuskan hal tersebut. Maka bagaimana mungkin mengaitkan hukum-hukum, pahala, dan siksa dengan hal-hal itu disebut talbis? Padahal itu adalah tempat-tempat yang terkait dengannya dan tampak di dalamnya pengaruh-pengaruhnya. Maka sebab-sebab dan perantara-perantara adalah perwujudan penciptaan dan perintah, kecuali hikmah yang sempurna lagi cemerlang, tanda-tanda yang nyata, dan bukti-bukti yang berbicara tentang rububiyah Penciptanya, kesempurnaan-Nya, dan keberadaan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
Sesungguhnya alam semesta—sebagaimana ia merupakan tempat penciptaan dan perintah, serta perwujudan nama-nama dan sifat-sifat—maka ia dengan seluruh isinya adalah bukti-bukti, dalil-dalil, dan tanda-tanda. Allah Subhanahu mengajak hamba-hamba-Nya untuk merenungkannya, menggunakannya sebagai dalil atas wujud Sang Pencipta, dan mengambil pelajaran dari hikmah, kemaslahatan, dan manfaat yang terkandung di dalamnya tentang ilmu-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya dan ihsan-Nya. Dan dari siksa-siksa yang terkandung di dalamnya dapat diketahui keadilan-Nya, bahwa Dia murka dan marah, membenci dan sangat murka. Dan dari pahala-pahala dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya dapat diketahui bahwa Dia mencintai, ridha dan gembira. Maka alam semesta—dengan seluruh isinya—adalah tanda-tanda, bukti-bukti, dan dalil-dalil. Allah tidak menciptakan sesuatu pun darinya sebagai talbis, tidak menjadikannya perantara secara sia-sia, dan tidak menciptakannya dengan percuma.
Maka sebab-sebab, perantara-perantara, dan sebab-sebab (ilal) adalah tempat peringatan bagi orang-orang yang berpikir, pelajaran bagi orang-orang yang merenungkan, dan pengetahuan bagi orang-orang yang mencari dalil. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan” (Surat Al-Hijr: 75). Betapa banyak dalam Al-Quran dorongan untuk merenungkan dan mengambil pelajaran darinya, berpikir tentangnya, celaan terhadap orang yang berpaling darinya, dan kabar bahwa merenungkannya dan mencari dalil darinya akan menghasilkan ilmu dan makrifat tentang kebenaran rasul-rasul-Nya. Maka itu adalah tanda-tanda kauniyah (alam semesta) yang disaksikan yang membenarkan tanda-tanda Quraniyah (Al-Quran).
Maka pengaruh-pengaruhnya tidak dikaitkan dengannya secara sia-sia, dan konsekuensi serta hukum-hukumnya tidak diatur secara batil, dan perantaraannya tidak dijadikan talbis sama sekali. Bahkan itu adalah konsekuensi kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan dengannya dikenal rububiyah dan uluhiyah-Nya, kerajaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya.
Dengan ini semua, Dia Subhanahu tidak menciptakannya karena membutuhkannya, dan kesempurnaan-Nya yang suci tidak bergantung padanya. Dia tidak bertambah banyak dengannya dari sedikit, dan tidak menjadi mulia dengannya dari hina. Bahkan kesempurnaan-Nya mengharuskan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki, memerintah, bertindak dan mengatur sebagaimana Dia kehendaki, agar Dia dipuji, dikenal, diingat dan disembah, dan agar makhluk mengenal sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya. Untuk itulah Dia menciptakan makhluk yang durhaka kepada-Nya dan menentang perintah-Nya, agar malaikat-malaikat-Nya, nabi-nabi-Nya, rasul-rasul-Nya, dan wali-wali-Nya mengenal kesempurnaan pengampunan-Nya, pemaafan-Nya, kelemahlembutan-Nya dan penangguhan-Nya. Kemudian Dia memalingkan hati sebagian dari mereka yang Dia kehendaki kepada-Nya, maka tampaklah kemuliaan-Nya dalam menerima taubat mereka, kebaikan-Nya dan kelembutan-Nya dalam kembali memberi perhatian kepada mereka setelah mereka berpaling dari-Nya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa kemudian mereka memohon ampun lalu Allah mengampuni mereka.” Maka bagi siapakah pengampunan-Nya jika Dia tidak menciptakan sebab-sebab yang Dia maafkan dan ampuni? Dan hamba yang baginya Dia mengampuni? Maka menciptakan hamba yang diampuni, menakdirkan dosa yang diampuni, dan taubat yang dengannya diampuni adalah hakikat dari tuntutan kemuliaan dan hikmah, dan konsekuensi Asmaul Husna dan Sifat-sifat Yang Maha Tinggi—bukanlah talbis sama sekali. Maka mengaitkan peristiwa-peristiwa dengan sebab-sebab adalah seperti mengaitkan pahala dan siksa dengan sebab-sebab. Karena itulah penulis kitab Manazil menyamakan antara dua perkara ini, dan itu adalah hikmah murni, konsekuensi kesempurnaan Ilahi, tuntutan pujian yang sempurna, perwujudan sifat kemuliaan, kekuasaan dan kerajaan. Dan seluruh syariat—dari awal hingga akhirnya—dibangun atas pengaitan hukum-hukum dengan sebab-sebab (ilal), perkara-perkara dengan hujjah-hujjah, pahala dengan ketaatan, dan siksa-siksa dengan kejahatan. Apakah akan dikatakan bahwa seluruh syariat adalah talbis, dengan makna apa pun talbis itu ditafsirkan?
Demi Allah, sungguh dia seharusnya tidak perlu membahas bab ini dan penamaan ini, dan sungguh dia telah merusak kitab dengan hal itu.
Dengan ini semua, tidak ada yang mengabaikan kedudukan orang itu dalam ilmu, sunnah, jalan suluk, bahaya dan penyakitnya. Namun tujuannya untuk memurnikan tauhid af’al dan rububiyah telah membawanya kepada hal itu. Dan ditambah dengan keyakinannya bahwa fana (lenyap) dalam tauhid ini adalah puncak suluk dan tujuan akhir para arif. Dan didukung oleh keyakinan banyak orang yang menisbatkan diri kepada Ahlussunnah yang membantah Qadariyah tentang sebab-sebab, bahwa sebab-sebab sama sekali tidak memiliki pengaruh, tidak memiliki kekuatan di dalamnya, dan Allah tidak melakukan sesuatu dengan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu untuk sesuatu. Maka mereka mengingkari bahwa dalam perbuatan-Nya ada ba’ sababiyah (untuk menunjukkan sebab) atau lam ta’lil (untuk menunjukkan tujuan). Apa yang datang dari itu, mereka memaknai ba’ di dalamnya dengan ba’ mushahabah (yang menunjukkan kebersamaan), dan lam di dalamnya dengan lam ‘aqibah (yang menunjukkan akibat). Dan mereka berkata: Allah melakukan pembakaran, penenggelaman, dan pembunuhan ketika terjadi pertemuan dengan api, air, dan besi, bukan dengan ketiganya, dan bukan dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Tidak ada perbedaan—dalam kenyataan—antara api dengan udara, tanah, dan kayu. Dan ditambah dengan anggapan bahwa hamba sama sekali bukan pelaku, dia hanyalah objek yang dikenai perbuatan semata, dan tempat berjalannya takdir-takdir hukum atasnya, bahwa yang melakukan perbuatan padanya adalah selain dirinya, dan yang menggerakkannya adalah selain dirinya. Dan jika dikatakan bahwa dia adalah pelaku atau bergerak, maka itu adalah talbis.
Prinsip-prinsip inilah yang menyebabkan talbis ini atas orang-orang yang menafikan hikmah dan sebab-sebab. Dan mereka dilawan oleh pihak lain yang mencabik-cabik daging mereka setiap pencabikan, dan merobek kulit mereka. Mereka berkata: Kalian telah meniadakan syariat, pahala dan siksa, dan membatalkan hakikat perintah dan larangan. Sebab dasar dari itu adalah bahwa para hamba adalah pelaku-pelaku sesungguhnya, bahwa perbuatan-perbuatan mereka dinisbatkan kepada mereka secara hakiki, bahwa takdir mereka, kehendak mereka, dan dorongan-dorongan mereka berpengaruh dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan perbuatan-perbuatan mereka terjadi sesuai dengan dorongan-dorongan dan kehendak mereka. Atas dasar itu tegaklah syariat-syariat, kenabian-kenabian, pahala, siksa, hudud (hukuman had), dan pencegah-pencegah—fitrah Allah yang Dia ciptakan manusia atasnya dan juga hewan. Kalian menyamakan antara apa yang Allah bedakan. Sesungguhnya Allah Subhanahu tidak pernah menyamakan antara gerakan orang yang memilih dengan gerakan orang yang bergerak secara paksa tanpa kehendak darinya, tidak menyamakan antara gerakan pepohonan dengan gerakan anak Adam, dan Allah Subhanahu tidak menjadikan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, ketaatan dan kemaksiatan mereka sebagai perbuatan-Nya. Bahkan Dia menisbatkannya kepada mereka secara hakiki, dan memberitahukan bahwa Dialah yang menjadikan mereka sebagai pelaku. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami” (Surat As-Sajdah: 24). Dan firman-Nya: “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka” (Surat Al-Qashash: 41). Dan pemuka-pemuka para arif berkata: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu” (Surat Al-Baqarah: 128). Dan Ibrahim Khalilullah berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat” (Surat Ibrahim: 40). Maka Dialah yang menjadikan hamba demikian, dan hamba itulah yang shalat, puasa, dan berserah diri, dan dia adalah pelaku sesungguhnya. Allah menjadikannya sebagai pelaku, dan dia adalah yang berjalan dengan kemudahan dari Allah untuknya. Sebagaimana firman-Nya: “Dialah yang menjadikan kalian dapat berjalan di daratan dan di lautan” (Surat Yunus: 22). Maka ini adalah perbuatan-Nya, dan berjalan adalah perbuatan mereka. Menegakkan adalah perbuatan-Nya, dan berdiri adalah perbuatan mereka. Membuat berbicara adalah perbuatan-Nya, dan berbicara adalah perbuatan mereka. Bagaimana mungkin menisbatkan perbuatan-perbuatan kepada tempat-tempatnya yang perbuatan itu melekat padanya, dan sebab-sebabnya yang menampakkannya, disebut talbis?
Dan diketahui bahwa melipat karpet sebab-sebab dan sebab-sebab (ilal) adalah meniadakan perintah, larangan, syariat-syariat, dan hikmah-hikmah. Adapun berhenti pada sebab-sebab dan meyakini pengaruhnya, maka kami tidak mengetahui dari pengikut para rasul ada yang mengatakan bahwa sebab-sebab itu mandiri dengan sendirinya, sehingga perlu menafikan mazhab ini. Namun yang dikatakan oleh sekelompok manusia—yaitu Qadariyah—adalah bahwa perbuatan-perbuatan hewan khususnya tidak diciptakan oleh Allah dan tidak terjadi dengan kehendak-Nya. Merekalah yang disepakati oleh para Sahabat, Tabi’in, dan imam-imam Islam untuk dicela, dibid’ahkan, dan disesatkan. Para imam Ahlussunnah menjelaskan bahwa mereka menyerupai Majusi, dan bahwa mereka menyelisihi akal, fitrah, dan nash-nash wahyu. Maka talbis sebenarnya terjadi pada mereka dan pada orang-orang yang mengingkari sebab-sebab dalam kekuatan-kekuatan, tabi’at-tabi’at, dan hikmah-hikmah. Hak telah tercampur dengan batil pada kedua golongan.
Dan kebenaran—yang Allah utus dengan para rasul-Nya, menurunkan dengannya kitab-kitab-Nya, menciptakan hamba-hamba-Nya atasnya, dan menanamkannya dalam akal-akal mereka—adalah di antara mazhab kedua golongan ini. Maka petunjuk adalah di antara dua kesesatan, dan istiqamah adalah di antara dua penyimpangan.
Yang dimaksud adalah bahwa Al-Quran—bahkan seluruh kitab-kitab Allah—telah mencakup pengaitan peristiwa-peristiwa dengan sebab-sebab, tempat-tempat, dan waktu-waktu, pengaitan pengetahuan-pengetahuan dengan perantara-perantara, perkara-perkara dengan hujjah-hujjah, hukum-hukum dengan sebab-sebab (ilal), pembalasan dengan kejahatan-kejahatan, dan pahala-pahala dengan ketaatan-ketaatan. Jika ini adalah talbis, maka kembali wahyu, syariat, dan kitab-kitab Ilahi menjadi talbis.
Benar, talbis terjadi pada orang yang menyangka bahwa pengaitan itu secara mandiri, dengan memotong pandangan dari Musabbib al-Asbab (Penyebab segala sebab), dan yang menetapkan hikmah-hikmah dan sebab-sebab (ilal). Jika maksudnya adalah bahwa perkara telah disamarkan atas mereka sehingga mereka tidak mendapat petunjuk kepada yang benar, maka semoga Allah menjauhkan orang yang membela mereka dan mempertahankan mereka, karena mereka lebih sesat dari binatang ternak. Dan jika yang dimaksud adalah orang yang menetapkan sebab-sebab, hikmah-hikmah, dan sebab-sebab (ilal), dan mengaitkan dengannya apa yang Allah kaitkan dengannya dari hikmah dan syariat, menempatkannya pada tempat yang Allah tempatkan, dan meletakkannya di mana Allah meletakkannya—maka telah disamarkan atasnya. Maka kami beragama kepada Allah dengan itu, meskipun disebut talbis. Sebagaimana kami beragama dengan menetapkan takdir, meskipun disebut jabar (paksaan). Dan kami beragama dengan menetapkan sifat-sifat dan hakikat-hakikat nama-nama, meskipun disebut tajsim (penjisiman). Dan kami beragama dengan menetapkan ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-langit-Nya, meskipun disebut tahayuz (menempati ruang) atau jihah (arah). Dan kami beragama dengan menetapkan wajah-Nya yang Maha Tinggi dan kedua tangan-Nya yang terbuka lebar, meskipun disebut tarkib (tersusun). Dan kami beragama dengan mencintai sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, meskipun disebut nashb (kebencian kepada Ahlul Bait). Dan kami beragama bahwa Dia berbicara, Maha berbicara secara hakiki dengan kalam yang didengar oleh orang yang Dia ajak bicara, dan bahwa Dia dilihat dengan mata kepala secara nyata dan hakiki pada hari pertemuan dengan-Nya, meskipun itu disebut tasybih (penyerupaan).
Wahai sungguh menakjubkan! Bukankah seluruh peristiwa terkait dengan sebab-sebab? Bukankah Rabb Ta’ala—setiap waktu—mengalirkan takdir-takdir kepada waktu-waktu yang telah Dia tentukan untuknya, dan menampakkannya dengan sebab-sebabnya yang telah Dia jadikan untuknya, dan mengkhususkannya dengan tempat-tempatnya pada benda-benda, tempat-tempat, dan masa-masa yang telah Dia tentukan untuknya? Bukankah Allah telah menakdirkan takdir-takdir, menyebabkan sebab-sebab yang dengannya takdir itu tampak, mewaktukan waktu-waktu yang kepadanya takdir itu berakhir, menetapkan sebab-sebab (ilal) yang karenanya sesuatu itu ada, dan menjadikan bagi sebab-sebab itu sebab-sebab lain yang menentangnya dan menolaknya? Maka yang ini menuntut pengaruh-pengaruhnya, dan yang itu mencegahnya dari tuntutannya, dan menghendaki kebalikan dari apa yang dikehendaki yang itu.
Bukankah Dia telah mengatur penciptaan dan perintah atas dasar itu, dan menjadikannya tempat ujian, cobaan, dan penghambaan? Bukankah pemakmurkan dua negeri—yaitu surga dan neraka—dengan sebab-sebab, sebab-sebab (ilal), dan hikmah-hikmah? Dan kita tidak perlu mengatakan: Dialah yang menciptakan sebab-sebab dan menetapkan sebab-sebab (ilal), karena menyebutkan ini adalah dari bab menjelaskan hal-hal yang jelas yang tidak diabaikan kecuali oleh makhluk Allah yang paling bodoh dan paling sedikit bagiannya dari iman dan makrifat.
Bukankah Al-Quran—dari awal hingga akhirnya—telah mengaitkan kabar-kabarnya dan kisah-kisahnya tentang para nabi dan umat-umat mereka, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, pencegah-pencegahnya, pahala-Nya dan siksa-Nya dengan sebab-sebab, hikmah-hikmah, dan sebab-sebab (ilal)? Dan di dalamnya dikaitkan pengetahuan-pengetahuan dengan perantara-perantara, perkara-perkara dengan hujjah-hujjah, dan siksa-siksa serta pahala-pahala dengan kejahatan-kejahatan dan ketaatan-ketaatan?
Bukankah itu adalah tuntutan risalah, konsekuensi kerajaan yang hak, dan hikmah yang sempurna?
Benar, kembalinya semua itu kepada kehendak Ilahi yang disertai dengan hikmah, rahmat, keadilan, kemaslahatan, ihsan, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan menempatkannya pada tempat-tempatnya. Dan Dia Subhanahu yang menjadikan bagi semua itu tempat-tempat dan kedudukan-kedudukan tersebut, sifat-sifat dan ukuran-ukuran tersebut. Maka tidak ada talbis di sana dengan cara apa pun. Sesungguhnya talbis adalah mengeluarkan sebab-sebab dari tempat-tempatnya dan objeknya dan menghilangkannya, atau menempatkannya bukan pada kedudukannya, dan terhalangi dengannya dari Musabbib-nya dan yang meletakkannya. Dan kepada Allah-lah taufik.
Fasal Kedua: Talbis Ahli Ghirah (Orang-orang yang Menjaga) atas Waktu-waktu dengan Menyembunyikannya
Fasal
Dia berkata: “Dan talbis yang kedua adalah talbis ahli ghirah (orang-orang yang menjaga) atas waktu-waktu dengan menyembunyikannya, dan atas karamah-karamah dengan merahasiakannya.”
Menyebut “talbis” pada tingkatan ini lebih tepat daripada menyebutnya pada tingkatan pertama. Karena talbis pada tingkatan ini kembali kepada perbuatan hamba, sedangkan pada yang pertama kepada perbuatan Rabb. Karena itulah ketika penamaan tingkatan pertama sebagai talbis sangat buruk sekali, dia mengawalinya dengan menyebutkan firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami akan mengaburkan kepada mereka (bagi yang mengaburkan kebenaran) sebagaimana mereka telah mengaburkan (kebenaran)” (Surat Al-An’am: 9). Artinya, jangan merasa asing dengan menyebutkan itu kepada Allah, karena sesungguhnya Dia telah menyebutkannya atas diri-Nya sendiri. Dan sungguh kamu telah mengetahui apa yang ada di dalamnya.
Yang dimaksud adalah: bahwa seorang hamba menguatkan keikhlasannya kepada Allah, kejujurannya dan muamalahnya, sehingga ia tidak suka jika ada seorang pun dari makhluk yang mengetahui keadaannya dengan Allah dan kedudukannya bersama-Nya. Maka ia menyembunyikan keadaan-keadaannya karena cemburu terhadapnya agar tidak tercampuri oleh kotoran hal-hal selain Allah, dan ia menyembunyikan napas-napasnya karena takut terhadapnya dari gangguan. Sebagian dari mereka jika ditimpa tangisan dan tidak mampu menahannya, ia berkata: “Tiada tuhan selain Allah, betapa parahnya pilek ini!” Maka orang yang jujur jika ditimpa kerinduan dan keadaan, dan bergejolak dari hatinya kobaran kerinduan, ia berdiam diri selama ia mampu. Jika ia tidak mampu menahan, ia menampakkan rasa sakit dan kesakitan untuk menutupi keadaannya dengan Allah, sebagaimana Ibrahim al-Khalil shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan kepada kaumnya bahwa ia sakit, ketika ia hendak meninggalkan mereka dan kembali dengan datangnya ilham dan keadaan itu kepada tuhan-tuhan palsu, lalu menjadikannya hancur berkeping-keping.
Maka orang-orang yang jujur berusaha menyembunyikan makna-makna spiritual dan menjauhi pengakuan-pengakuan, sehingga penampilan lahir mereka seperti penampilan lahir manusia biasa, sedangkan hati mereka bersama al-Haqq ta’ala, tidak berpaling darinya ke kanan maupun ke kiri. Mereka berada di suatu lembah, sedangkan manusia berada di lembah lain.
Maka perkataan: “penyembunyian yang dilakukan orang-orang yang cemburu terhadap waktu-waktu dengan menyembunyikannya”, maksudnya: bahwa mereka cemburu terhadap waktu-waktu yang telah dimakmurkan bagi mereka dengan Allah dan telah jernih bagi mereka, sehingga mereka menampakkannya kepada manusia. Jika orang lain mengetahuinya tanpa maksud mereka untuk menyingkap dan menampakkannya, hal itu tidak merusak jalan mereka, maka mereka tidak panik untuk menyangkal dan mengingkari serta mengeluhkan keadaan, bahkan mereka cukup dengan tidak menampakkan dan tidak menyangkal.
Perkataan: “dan terhadap karamah-karamah dengan menyembunyikannya”, maksudnya: bahwa mereka cemburu terhadap karamah-karamah mereka agar tidak diketahui oleh manusia, maka mereka menyembunyikannya selamanya karena cemburu terhadapnya, kecuali jika dalam menampakkannya ada kemaslahatan yang lebih besar, berupa hujah atau kebutuhan, maka mereka tidak menampakkannya kecuali untuk hujah terhadap orang yang batil, atau kebutuhan yang menuntut untuk menampakkannya.
Perkataan: “Dan penyembunyian dengan usaha-usaha dan sebab-sebab maknanya, dan menggantungkan yang lahir dengan dalil-dalil dan usaha-usaha adalah penyembunyian terhadap mata-mata yang lemah dan akal-akal yang sakit”, maksudnya: bahwa penyembunyian yang disebutkan hanyalah terhadap mata-mata yang lemah, yaitu orang-orang yang perasaannya lemah, dan “akal-akal yang sakit” adalah yang menyimpang yang tidak dapat memahami kebenaran karena ada penyakit padanya. Perkataan “dengan membenarkan tahqiq secara keyakinan, perilaku dan penyaksian” maksudnya: bahwa kelompok ini menyembunyikan dari orang-orang yang bermata lemah keadaan-keadaan mereka dan karamah-karamah mereka dengan menutupinya dari mereka, padahal mereka tegak dengan tahqiq secara keyakinan, perilaku dan penyaksian. Mereka berkeyakinan terhadap kebenaran, menempuh jalan yang menghantarkan kepada tujuan, adalah orang-orang yang memiliki muraqabah dan musyahadah.
Perkataan: “Dan kelompok ini adalah rahmat dari Allah terhadap orang-orang yang tercerai-berai dan orang-orang sebab dalam pergaulan mereka”.
Mereka adalah rahmat dari Allah bagi mereka dari dua segi. Pertama: bahwa mereka berdzikir kepada Allah di antara orang-orang yang lalai, dan di tengah-tengah mereka Allah merahmati mereka karena mereka, karena mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Kedua: bahwa mereka tidak membiarkan mereka dalam kelalaian mereka, bahkan mereka bangkit di tengah-tengah mereka dengan nasihat kepada mereka, menyuruh mereka dengan kebaikan dan melarang dari kemungkaran, dan dakwah kepada mereka kepada Allah, maka mereka dirahmati karena mereka, dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat karena mereka. Mereka bertindak dengan makhluk berdasarkan hukum ilmu dan syariat, sedangkan keadaan-keadaan dan tingkatan-tingkatan mereka adalah antara mereka dengan Allah secara khusus.
[Yang Ketiga: Penyembunyian Ahli Tamkin terhadap Alam]
Perkataan: “Penyembunyian yang ketiga: penyembunyian ahli tamkin terhadap alam, sebagai belas kasih kepada mereka dengan melakukan sebab-sebab, dan melapangkan terhadap alam, bukan terhadap ahli iman, dan ini adalah tingkatan para nabi, kemudian untuk para imam rabbani yang keluar dari lembah al-jam’, yang memberi isyarat dari mata”.
Ini juga dari kelompok pertama, yang lafaznya dan pengucapannya sangat diingkari, dan wajib bagi ahli iman menghapus lafaz yang jelek ini, dan pengucapannya terhadap para nabi. Bagaimana mungkin telinga mukmin bisa mendengar bahwa para nabi menyembunyikan (menipu) manusia dengan pertimbangan apa pun? Maha Suci Engkau, ini adalah kedustaan yang besar! Bahkan para rasul shallawatullah wasalamuhu ‘alaihim telah menyingkap dari manusia penyembunyian yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri, dan yang dilakukan terhadap mereka oleh thaghut-thaghut mereka, maka mereka datang dengan penjelasan dan bukti serta setan-setan mereka.
Dahulu manusia dalam kebingungan yang besar … Maka mereka datang dengan penjelasan lalu menampakkannya Dahulu manusia dalam kebodohan yang besar … Maka mereka datang dengan keyakinan lalu menghilangkannya Dahulu manusia dalam kekufuran yang besar … Maka mereka datang dengan petunjuk lalu membatalkannya
Dan penulis adalah orang yang paling kokoh kedudukannya dalam tingkatan iman kepada para rasul dan mengagungkan mereka, serta mengagungkan apa yang mereka bawa, tetapi ia ditipu dalam hal itu sebagaimana orang lain ditipu, dan Allah mengampuni kami dan dia, dan mengumpulkan antara kami dan dia di rumah kemuliaan-Nya. Ia telah menyatakan dengan tegas bahwa ahli tamkin adalah para nabi dan para imam setelah mereka, dan menjadikan tingkatan penyembunyian ini untuk mereka, kemudian mereka menafsirkannya bahwa itu adalah penyembunyian rahmat, dan pelapangan terhadap alam, dan tujuannya: bahwa mereka menyuruh mereka menggunakan sebab-sebab sebagai rahmat bagi mereka, dan pelapangan bagi mereka, padahal mereka mengetahui bahwa sebab-sebab itu tidak memiliki pengaruh dalam penciptaan atau rezeki, atau manfaat atau bahaya, atau pemberian atau pencegahan, bahkan Allah sendirilah yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, Yang Memberi Bahaya dan Manfaat, Yang Memberi dan Yang Mencegah. Tetapi ketika mereka mengetahui ketidakmampuan manusia untuk memahami itu dan meyakininya, mereka menyembunyikan dari mereka, dan menutupi mereka dengan sebab-sebab, sebagai rahmat bagi mereka dan pelapangan bagi mereka.
Maka tingkatan ini mengandung kembali kepada sebab-sebab sebagai rahmat dan pelapangan, dengan terputus dari berpaling kepadanya, dan berdiri bersamanya sebagai sikap memisahkan dan tauhid.
Perkataan “bukan untuk diri mereka” maksudnya: bahwa perintah mereka dengan sebab-sebab adalah sebagai ihsan kepada mereka, dan pelapangan bagi mereka, bukan untuk kepentingan yang memerintah, dan menarik manfaat kepada dirinya, bahkan untuk tujuan ihsan kepada makhluk, dan tercapainya manfaat bagi mereka, dan ini masuk akal, meskipun di dalamnya ada yang perlu diperhatikan oleh yang merenungkannya. Karena barangsiapa yang memerintahkan orang lain dengan kemaslahatan dan bermaksud memberi manfaat kepadanya: maka ia memulai dengan dirinya sendiri, dan memberi manfaat kepada dirinya terlebih dahulu, dan kemaslahatan dirinya pasti sudah tercapai sebelum kemaslahatan orang yang diperintah, dan ihsan kepada dirinya adalah tujuan dengan ihsannya kepada orang lain. Karena ia adalah hamba yang fakir dan membutuhkan, sedangkan Allah sendirilah Yang Maha Kaya dengan dzat-Nya, yang berbuat ihsan kepada makhluk-Nya bukan untuk imbalan dari mereka. Adapun makhluk: maka ia menginginkan imbalan tetapi imbalan-imbalan berbeda-beda, dan dari siapa ia meminta imbalan berbeda.
Yang dimaksud: bahwa perkataan “bukan untuk diri mereka” tidak secara mutlak, dan dalam atsar ilahi: “Wahai anak Adam, setiap orang menginginkanmu untuk dirinya, dan Aku menginginkanmu untukmu”.
Perkataan: “kemudian untuk para imam rabbani yang keluar dari lembah al-jam'”, maksudnya: yang telah fana dalam al-jam’, kemudian berada dalam baqa setelah fana, maka itulah keluarnya mereka dari lembah al-jam’.
Perkataan: “yang memberi isyarat dari mata”, maksudnya: yang jika memberi isyarat, mereka memberi isyarat dari mata bukan dari ilmu. Karena isyarat berbeda-beda berdasarkan perbedaan sumbernya, ada isyarat dari ilmu, isyarat dari kasyaf, isyarat dari syuhud, dan isyarat dari ‘ain.
[Fasal: Bangunan Bab Ini Atas Penghapusan Sebab-Sebab dan Tidak Berpaling Kepadanya serta Berdiri Bersamanya]
Fasal
Kamu telah mengetahui bahwa bab ini bangunannya atas penghapusan sebab-sebab, dan tidak berpaling kepadanya serta berdiri bersamanya, dan karena itulah penulis menamai penetapannya sebagai “penyembunyian”. Kami katakan: sesungguhnya agama adalah penetapan sebab-sebab, dan berdiri bersamanya, dan melihat kepadanya, dan berpaling kepadanya, dan sesungguhnya tidak ada agama kecuali dengan itu, sebagaimana tidak ada hakikat kecuali dengannya. Hakikat dan syariat: bangunannya atas penetapannya, bukan atas penghapusannya, dan kami tidak mengingkari berdiri bersamanya, karena berdiri bersamanya adalah fardhu atas setiap muslim, tidak sempurna keislaman dan imannya kecuali dengan itu, dan Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berdiri bersamanya, dengan makna bahwa kita menetapkan hukum jika ada, dan meniadakannya jika tidak ada, dan mengistidlal dengannya terhadap hukum-Nya yang kauni. Maka berdiri kita bersamanya dengan pertimbangan ini adalah tuntutan hakikat dan syariat. Apakah mungkin seorang hewan hidup di dunia ini kecuali dengan berdirinya bersama sebab-sebab? Maka ia mencari tempat jatuh hujannya dan tempat jatuh tetesnya, dan merumput di tempat suburnya bukan di tempat keringnya, dan berdamai dengannya dan tidak melawannya. Bagaimana lagi sedangkan pernapasannya di udara dengannya, dan gerakannya dengannya, dan pendengarannya dan penglihatannya dengannya, dan makanannya dengannya, dan obatnya dengannya, dan petunjuknya dengannya, dan kebahagiaan dan kemenangan dengannya? Dan kesesatan dan kesengsaraannya dengan berpaling darinya dan mengabaikannya. Maka orang yang paling bahagia di dua negeri adalah yang paling tegak dengan sebab-sebab yang menghantarkan kepada kemaslahatan keduanya, dan yang paling sengsara di dua negeri adalah yang paling keras dalam menonaktifkan sebab-sebab keduanya. Maka sebab-sebab adalah tempat perintah dan larangan, pahala dan siksa, kesuksesan dan kerugian.
Dan dengan sebab-sebab Allah dikenali, dan dengan sebab-sebab Allah disembah, dan dengan sebab-sebab Allah ditaati, dan dengan sebab-sebab orang-orang yang mendekat mendekat kepada-Nya, dan dengan sebab-sebab para wali-Nya mendapatkan ridha-Nya dan dekat dengan-Nya di surga-Nya, dan dengan sebab-sebab hizb-Nya dan agama-Nya ditolong, dan mereka menegakkan dakwah-Nya, dan dengan sebab-sebab Dia mengutus rasul-rasul-Nya dan mensyariatkan syariat-syariat-Nya, dan dengan sebab-sebab manusia terbagi menjadi bahagia dan sengsara, dan mendapat petunjuk dan sesat. Maka berdiri bersamanya dan berpaling kepadanya dan melihat kepadanya adalah yang wajib secara syar’i, sebagaimana yang terjadi secara qadari. Dan jangan kamu seperti orang yang tebal hijabnya, dan kental tabiatnya, sehingga berkata: kita tidak berdiri bersamanya berdirinya orang yang berkeyakinan bahwa ia mandiri dalam penciptaan dan pengaruh, dan bahwa ia adalah tuhan-tuhan selain Allah. Maka jika kamu menemukan seseorang yang mengklaim itu, dan mengira bahwa ia adalah tuhan-tuhan, dan tuhan-tuhan bersama Allah yang mandiri dalam penciptaan, atau bahwa ia adalah penolong Allah yang Dia butuhkan dalam perbuatan-Nya kepada mereka, atau bahwa ia adalah sekutu bagi-Nya: maka urusanmu dengannya, robeklah kulitnya, dan dekatkanlah diri kepada Allah dengan memusuhinya semampumu. Jika tidak, lalu apa peniadaan ini terhadap apa yang telah Allah tetapkan? Dan pengabaian terhadap apa yang telah Dia pertimbangkan? Dan penghapusan terhadap apa yang telah Dia realisasikan? Dan penurunan dan peletakan terhadap apa yang telah Dia tetapkan? Dan penghapusan terhadap apa yang telah Dia tulis? Dan pemecatan terhadap apa yang telah Dia beri wewenang? Jika kamu mengklaim bahwa kamu memecatnya dari tingkatan ketuhanan, maka Maha Suci Allah, siapakah yang memberinya wewenang tingkatan ini sehingga kamu menjadikan usahamu dalam memecatnya darinya?
Demi Allah, betapa bodohnya banyak dari ahli kalam dan tasawuf, karena tidak ada di sisi mereka tahqiq tauhid kecuali dengan mengabaikannya dan menghapusnya, dan mengabaikannya secara keseluruhan, dan bahwa Allah tidak menjadikan dalam makhluk-makhluk kekuatan atau tabiat, atau gharizah-gharizah yang memiliki pengaruh yang mewajibkan sesuatu, dan tidak ada dalam api panas atau pembakaran, dan tidak ada dalam obat kekuatan yang menghilangkan penyakit, dan tidak ada dalam roti kekuatan yang mengenyangkan, dan tidak ada dalam air kekuatan yang memuaskan dahaga, dan tidak ada dalam mata kekuatan yang melihat, dan tidak ada dalam hidung kekuatan yang mencium, dan tidak ada dalam racun kekuatan yang membunuh, dan tidak ada dalam besi kekuatan yang memotong? Dan bahwa Allah tidak melakukan sesuatu dengan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu untuk sesuatu.
Maka inilah puncak tauhid mereka yang mereka berkeliling di sekelilingnya, dan mereka sangat berlebihan dalam memantapkannya.
Demi usiaku dengan Allah, sungguh mereka telah membuat orang-orang berakal tertawa kepada mereka, dan membuat musuh-musuh bergembira dengan mereka, dan membuka jalan bagi musuh-musuh rasul untuk buruk sangka kepada mereka, dan mereka telah berbuat kejahatan kepada Islam dan Quran dengan kejahatan yang sangat besar, dan mereka berkata: kami adalah penolong-penolong Allah dan rasul-Nya, yang ditugaskan untuk menghancurkan musuh-musuh Islam dan musuh-musuh rasul-rasul. Demi usiaku dengan Allah, sungguh mereka telah menghancurkan agama dan menguasakan orang-orang batil atasnya. Telah dikatakan: hindarilah menemani orang bodoh, karena ia ingin memberimu manfaat tetapi justru membahayakanmu.
Maka berdirilah dengan sebab-sebab di mana kamu diperintahkan untuk berdiri bersamanya, dan tinggalkanlah ia di mana kamu diperintahkan untuk meninggalkannya, sebagaimana al-Khalil meninggalkannya ketika ia dalam perjalanan itu dari manjaniq, ketika Jibril menawarkan kepadanya sebab-sebab yang paling kuat, maka ia berkata: Apakah kamu memerlukan sesuatu? Ia berkata: Adapun kepadamu maka tidak.
Dan berubahlah bersamanya di mana ia berubah, melihat kepada siapa yang mengendalikannya dengan tangan-Nya, dan berpalinglah kepadanya berpalingnya hamba yang diperintah untuk melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan menatapnya, dan jaga ia dengan menjaganya yang sebenarnya, dan jangan hilang darinya dan jangan fana darinya, bahkan lihatlah kepadanya sedangkan ia dalam tingkatannya yang Allah turunkan kepadanya, dan ketahuilah bahwa ketiadaanmu dengan musababnya (yang menciptakan sebab) darinya adalah kekurangan dalam kehambaanmu, bahkan kesempurnaan adalah: bahwa kamu menyaksikan Yang Disembah, dan menyaksikan tegakmu dengan menghamba kepada-Nya, dan menyaksikan bahwa tegakmu dengan-Nya bukan denganmu, dan dari-Nya bukan darimu, dan dengan daya dan kekuatan-Nya bukan dengan daya dan kekuatanmu. Dan kapan saja kamu keluar dari itu, kamu akan jatuh dalam dua penyimpangan, pasti salah satunya menimpamu: entah kamu hilang dengannya dari Yang Dituju untuk dzat-Nya, karena lemahnya pandanganmu dan kelalainmu, dan pendeknya ilmu dan makrifatmu, atau kamu hilang dengan Yang Dituju darinya, sehingga kamu tidak berpaling kepadanya.
Dan kesempurnaan adalah: bahwa Allah menyelamatkanmu dari dua penyimpangan, sehingga kamu tetap menjadi hamba yang memperhatikan kehambaan, melihat kepada Yang Disembah, dan Allah tempat meminta pertolongan, dan kepada-Nya kami bertawakkal, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
[Fasal: Wujud]
[Hakikat Wujud]
Fasal Wujud
Syaikhul Islam berkata: “(Bab Wujud) Allah subhanahu telah mengucapkan dalam Quran nama wujud terhadap diri-Nya secara sharih (jelas) di beberapa tempat, Allah berfirman: mereka akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang – niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (Surah an-Nisa’: 110 – 64)”
Dan dia mendapati Allah di sisinya (Surah An-Nur: 39)
Wujud (al-wujud) adalah: menemukan hakikat sesuatu, dan ia merupakan nama bagi tiga makna. Pertama: wujud ilmu laduni yang memutus ilmu-ilmu kesaksian dalam kebenaran penyingkapan Allah kepadamu. Kedua: wujud Allah sebagai wujud hakikat yang terputus dari jangkauan isyarat. Ketiga: wujud tingkatan lenyapnya jejak wujud di dalamnya karena tenggelam dalam Keazalian.
Bab ini adalah ilmu yang dikejar oleh kaum sufi, dan tujuan yang mereka maksudkan. Tidak diragukan bahwa mereka bermaksud pada makna yang benar, dan mereka mengungkapkannya dengan istilah wujud, dan mereka berdalil dengannya dengan ayat-ayat ini dan yang serupa. Namun maksud mereka bukanlah apa yang terkandung dalam kata “menemukan” (wujdan) dalam ayat-ayat ini, karena itu adalah menemukan yang dicari yang berkaitan dengan nama atau sifat.
Allah berfirman: Dan sekiranya mereka ketika menganiaya diri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Surah An-Nisa: 64). Ini adalah wujud yang terbatas dengan keberhasilan mereka mendapatkan ampunan Allah dan rahmat-Nya untuk mereka.
Demikian pula firman-Nya: Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Surah An-Nisa: 110). Maknanya: bahwa dia menemukan apa yang dia sangkakan dari ampunan Allah untuknya telah terjadi.
Demikian pula Dan dia mendapati Allah di sisinya, lalu Allah memberikan perhitungan amal-amalnya dengan sempurna (Surah An-Nur: 39). Ini adalah penemuan orang kafir terhadap Tuhannya ketika Dia menghisabnya atas perbuatan-perbuatannya. Dan ini bukan wujud yang kaum sufi maksudkan.
Tetapi yang mereka maksud adalah seperti atsar yang terkenal: “Wahai anak Adam, carilah Aku maka engkau akan menemukan-Ku. Jika engkau menemukan-Ku, engkau telah menemukan segala sesuatu. Jika engkau luput dari-Ku, maka engkau luput dari segala sesuatu. Dan Aku lebih engkau cintai daripada segala sesuatu.”
Dan darinya juga hadits: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Dan darinya atsar Israiliyyat: bahwa Musa berkata: “Wahai Tuhanku, di mana aku dapat menemukan-Mu?” Allah berkata: “Di sisi orang-orang yang hati mereka hancur karena Aku.”
Dan darinya hadits sahih: “Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat: ‘Wahai hamba-Ku, Aku meminta makan kepada engkau namun engkau tidak memberi-Ku makan.’ Dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Allah berkata: ‘Hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu namun engkau tidak memberinya makan. Seandainya engkau memberinya makan, niscaya engkau akan menemukan itu di sisi-Ku. Wahai hamba-Ku, Aku meminta minum kepadamu namun engkau tidak memberi-Ku minum.’ Dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Allah berkata: ‘Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu namun engkau tidak memberinya minum. Seandainya engkau memberinya minum, niscaya engkau akan menemukan itu di sisi-Ku. Wahai hamba-Ku, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku.’ Dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Allah berkata: ‘Hamba-Ku si fulan sakit namun engkau tidak menjenguknya. Seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan menemukan-Ku di sisinya.'”
Maka perhatikanlah firman-Nya tentang memberi makan dan memberi minum: “niscaya engkau akan menemukan itu di sisi-Ku,” dan firman-Nya tentang menjenguk: “niscaya engkau akan menemukan-Ku di sisinya,” dan Dia tidak mengatakan: “niscaya engkau akan menemukan itu di sisi-Ku.” Ini mengisyaratkan kedekatan-Nya dengan orang sakit, dan bahwa Dia berada di sisinya, karena kehinaannya dan kepatuhannya, dan kehancuran hatinya, dan kebutuhannya kepada Tuhannya. Maka itu menyebabkan wujud Allah di sisinya, padahal Dia di atas langit-langit-Nya, beristiwa di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, namun Dia berada di sisi hamba-Nya. Maka wujud hamba di sisi Tuhannya adalah keberhasilannya mencapai-Nya.
Dan manusia terbagi tiga: orang yang sedang berjalan (salik), orang yang telah sampai (washil), dan orang yang menemukan (wajid).
Jika engkau berkata: Berikan aku perumpamaan agar aku memahami makna sampai (wushul) dan menemukan (wujud) dalam bab ini.
Aku katakan: Jika engkau mendengar bahwa di suatu tempat ada harta karun yang besar, siapa yang menemukannya atau menemukan sebagiannya akan menjadi kaya sepanjang masa, dan kemiskinan serta kekurangan akan pergi darinya. Maka jiwamu tergerak untuk pergi ke sana, lalu engkau mulai bersiap untuk perjalanan. Ketika perjalanan berlangsung dengan sungguh-sungguh, engkau sampai ke harta karun itu dan mencapainya, namun belum berhasil memindahkannya ke rumahmu dan belum dimiliki di sisimu. Maka dia adalah orang yang sampai namun belum menemukan. Yang masih di perjalanan adalah orang yang sedang berjalan. Yang diam tidak mencari adalah orang yang terputus. Dan yang mengambil harta karun—sehingga dimiliki di sisinya dan berada di rumahnya—adalah orang yang menemukan. Makna inilah yang kaum sufi senantiasa mengelilinginya, dan kepadanya tertuju isyarat-isyarat mereka.
Menurut mereka: tawaajud (mencari wujud) adalah permulaan, wajid (yang menemukan) adalah pertengahan, dan wujud (menemukan) adalah akhir.
Makna itu: bahwa pada awalnya ia berusaha keras mencari wujud, kemudian ia menjadi kuat sehingga menjadi orang yang menemukan, lalu ia tenggelam dalam temuannya hingga mencapai Yang Ditemukan.
Perkataan Abu al-Hasan an-Nuri menimbulkan pertanyaan: “Aku sejak dua puluh tahun berada antara menemukan (wajd) dan kehilangan (faqd). Jika aku menemukan Tuhanku, aku kehilangan hatiku, dan jika aku menemukan hatiku, aku kehilangan Tuhanku.” Makna ini: bahwa wujud yang benar menghilangkan orang yang menemukan dari dirinya, dan menanggalkannya dari dirinya, sehingga ia fana dengan Yang Ditemukan dari wujudnya, dan dengan Yang Disaksikan dari penyaksiannya. Jika ia menemukan Hakikat, ia ghaib dari hatinya dan dari sifat-sifatnya. Dan jika Hakikat ghaib darinya, ia tetap bersama sifat-sifatnya.
Dalam makna ini dikatakan puisi:
Wujudku adalah aku ghaib dari wujud Dengan apa yang tampak padaku dari penyaksian Dan tidak ada dalam menemukan yang ditemukan, tetapi Aku berbangga dengan menemukan Yang Ditemukan dari wujud
Tawaajud, wajd, dan wujud telah diumpamakan dengan menyaksikan laut, mengarunginya, dan tenggelam di dalamnya. Dikatakan: Tawaajud mengharuskan tercakupnya hamba, wajd mengharuskan tenggelamnya hamba, dan wujud mengharuskan lenyapnya hamba. Ini adalah ungkapan dan kiasan untuk tiga tingkatan: permulaan, pertengahan, dan akhir.
Perjalanan dan sampai—menurut mereka—adalah: bermaksud (qushud), kemudian datang (wurud), kemudian menyaksikan (syuhud), kemudian menemukan (wujud), kemudian padam (khumud). Maka ia bermaksud terlebih dahulu, kemudian datang, kemudian menyaksikan, kemudian menemukan, kemudian nafsunya padam dan hilang sama sekali.
Wajd adalah apa yang datang kepada orang yang melihat dari Allah yang memberinya kegembiraan atau kesedihan. Ia adalah kegembiraan yang ditemukan oleh orang yang dikuasai oleh sifat-sifat mulia yang dengannya ia melihat kepada Allah. Tawaajud adalah berusaha mendatangkan wajd dengan mengingat dan berpikir, untuk meluaskan celah wajd dengan keluar ke ruang wujdan. Maka tidak ada wajd menurut mereka bersama wujdan, sebagaimana tidak ada kabar bersama penyaksian langsung. Wajd adalah tempat hilangnya, dan wujud tetap seperti tetapnya gunung.
Dikatakan dalam puisi:
Dulu wajdku membuatku gembira, lalu ia mendudukanku Tentang melihat wajd dari yang menemukan dengan wajd Dan wajd membuatku gembira yang dalam wajd adalah kesenangannya Dan wajd ketika hadir Hakikat adalah yang dimaksudkan
Tawaajud adalah mengundang wajd dengan pilihan dan usaha keras, dan pemiliknya tidak memiliki kesempurnaan wajd. Jika ia memiliki itu, maka ia akan menjadi wajd. Pintu tafa’ul dibangun atas itu, karena dasarnya adalah menampakkan sifat, padahal tidak demikian, sebagaimana dikatakan: Ketika engkau berpura-pura juling padahal tidak ada juling padaku.
Manusia berbeda pendapat tentang tawaajud: Apakah selamat untuk pemiliknya? Dalam dua pendapat. Sekelompok berkata: Tidak selamat untuk pemiliknya, karena di dalamnya ada pemaksaan dan menampakkan apa yang tidak ada padanya. Sekelompok berkata: Selamat untuk orang yang jujur yang mengawasi untuk menemukan makna-makna yang benar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menangislah, jika kalian tidak menangis, maka pura-puralah menangis.”
Yang benar: bahwa pemilik tawaajud jika ia memaksanya untuk kepentingan dan syahwat nafsu: tidak selamat untuknya. Jika ia memaksanya untuk mendatangkan hal atau tingkatan dengan Allah: selamat untuknya. Ini diketahui dari keadaan orang yang bertawaajud, dan bukti-bukti kejujuran dan keikhlasannya.
Fasal: Filosof, Ahli Kalam, dan Penganut Paham Hulul Berbicara tentang Wujud dengan Pendapat yang Paling Jauh dari Kebenaran
Filosof, ahli kalam, dan penganut paham hulul telah berbicara tentang “wujud” dengan pendapat yang paling jauh dari kebenaran: Apakah wujud sesuatu adalah hakikat mahiyahnya, atau selain mahiyahnya? Atau apakah wujud Yang Qadim adalah mahiyah-Nya sendiri? Atau apakah wujud yang baru (hadits) adalah tambahan pada mahiyahnya?
Semua pendapat ini salah, dan pemiliknya seperti orang yang meraba-raba dalam kegelapan.
Yang benar: bahwa wujud dan mahiyah jika diambil dalam pikiran (dzihni), maka wujud pikiran adalah hakikat mahiyah pikiran. Demikian pula jika diambil secara eksternal: keduanya bersatu juga. Maka tidak ada di luar wujud yang bertambah pada mahiyah eksternal, sehingga seperti pakaian yang menutupi badan. Ini khayalan semata. Demikian pula keberadaan mahiyah dalam pikiran adalah hakikat wujudnya. Maka tidak ada dalam pikiran mahiyah dan wujud yang berbeda, tetapi jika salah satunya diambil secara pikiran dan yang lain secara eksternal, maka salah satunya selain yang lain. Ini bukan tujuan pembahasan masalah ini, karena ia jauh dari apa yang kita bahas, dan ia dari tugas ahli dialektika, kalam, dan filsafat, bukan dari tugas ahli hati dan muamalah.
Mereka (ahli hati) cita-cita mereka adalah menemukan yang mereka cari dan mencapainya. Sedangkan mereka (ahli kalam dan filsafat) ragu tentang wujudnya: Apakah ia hakikat mahiyahnya, atau tambahan pada mahiyahnya? Apakah ia wujud mutlak yang tidak disifati dengan sifat atau nama? Ataukah wujud khusus yang disifati dengan sifat-sifat dan nama-nama? Maka kelompok ini di satu lembah dan kelompok itu di lembah lain.
Yang paling besar kekufuran dan kesesatannya dari makhluk adalah: orang yang mengklaim bahwa Tuhannya adalah wujud makhluk-makhluk ini sendiri, dan bahwa hakikat wujud-Nya memancar kepada mereka sehingga mereka mengenakan hakikat wujud-Nya, lalu ia mengambil hijab dari hakikat mereka, dan mereka mengenakan jubah dari wujud-Nya. Mereka membingungkan orang-orang yang lemah akal dan mata hatinya dengan tidak membedakan antara wujud Allah dan pengadaan-Nya (ijad), dan bahwa pengadaan-Nya lah yang memancar kepada mereka, dan dialah yang mereka kenakan. Adapun wujud-Nya: maka khusus bagi-Nya, tidak ada yang bersekutu dengan-Nya di dalamnya, sebagaimana Dia khusus dengan mahiyah dan sifat-sifat-Nya. Maka Dia terpisah dari makhluk-Nya, dan makhluk terpisah dari-Nya. Wujud selain-Nya adalah makhluk yang ada setelah tidak ada, terjadi dengan pengadaan-Nya untuknya. Maka Dia lah yang memberikan kepada setiap sesuatu penciptaan-Nya. Dan wujud-Nya yang khusus bagi-Nya, dan Dia terpisah dengan Dzat, sifat-sifat, dan wujud-Nya dari makhluk-Nya.
Fasal: Batasan Wujud
Perkataannya: “Wujud: nama untuk menemukan hakikat sesuatu.” Ini adalah wujud yang merupakan mashdar dari wajada asy-syai’a yajiduh wujudan (menemukan sesuatu). Dan wajada dhaallatahu wujdanan (menemukan yang hilang). Dalam ash-Shihah: awjadahu Allahu mathluubahu artinya memberikan keberhasilan kepadanya. Dan awjadahu artinya membuatnya kaya, yaitu menjadikannya memiliki kekayaan.
Allah berfirman: Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu (Surah ath-Thalaq: 6).
Dikatakan: wajada fulan wajdan, wuudan, widan—dengan dhammah waw, fathah, dan kasrah—jika ia menjadi memiliki kekayaan dan harta. Wajada asy-syai’a maka ia maujud, dan Allahu awjadahu (Allah mengadakannya). Dikatakan: wajadallahu asy-syai’a kadza wa kadza, selain makna awjadahu (mengadakannya), sebagaimana firman-Nya: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Dan sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik (Surah al-A’raf: 102). Maka Allah mengadakannya sesuai dengan ilmu-Nya, agar ia berada dalam suatu sifat, kemudian Dia menemukan dia setelah mengadakannya dalam sifat yang Dia tahu bahwa ia akan berada di dalamnya.
Adapun al-Waajid dalam nama-nama Allah: maka ia bermakna yang memiliki kekayaan dan kemurahan, dan ia lawan dari yang kehilangan. Ia seperti al-Muusi’ yang memiliki keluasan. Allah berfirman: Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(nya) (Surah adz-Dzariyat: 47), artinya: yang memiliki keluasan, kekuasaan, dan kerajaan. Sebagaimana firman-Nya: Dan berilah mereka mut’ah (pemberian) menurut kemampuan orang yang mampu dan menurut kemampuan orang yang miskin (Surah al-Baqarah: 236).
Masuk dalam nama-nama Allah al-Waajid, bukan al-Muujid. Karena al-Muujid adalah sifat perbuatan, dan ia adalah pemberi wujud, seperti al-Muhyi pemberi kehidupan. Perbuatan ini tidak datang pelepasannya dalam perbuatan-perbuatan Allah dalam Kitab dan Sunnah. Maka tidak diketahui pelepasan: awjadallahu kadza wa kadza (Allah mengadakan ini dan itu). Yang datang hanyalah: menciptakan-Nya (khalaqa), menjadikan-Nya (bara’a), membentuk-Nya (shawwara), dan memberikan penciptaan-Nya, dan semisalnya. Ketika perbuatan-Nya tidak digunakan, maka tidak datang isim fa’il darinya dalam Asma-Nya al-Husna. Karena perbuatan lebih luas dari nama. Oleh karena itu Allah melepaskan pada diri-Nya perbuatan-perbuatan namun tidak menamai diri-Nya dengan isim fa’ilnya, seperti: menghendaki (araada), berkehendak (syaa’a), mengadakan (ahdatsa), dan Dia tidak menamai diri-Nya dengan al-Muriid, asy-Syaa’i, al-Muhdits. Sebagaimana Dia tidak menamai diri-Nya dengan ash-Shaani’, al-Faa’il, al-Mutqin, dan lain-lain nama yang Dia lepaskan pada diri-Nya. Maka pintu perbuatan lebih luas dari pintu nama-nama.
Telah salah—dengan kesalahan yang paling buruk—orang yang menurunkan untuk-Nya dari setiap perbuatan sebuah nama, dan mencapai dengan nama-nama-Nya lebih dari seribu, maka ia menamai-Nya: al-Maakir, al-Mukhaadi’, al-Faatin, al-Kaa’id, dan semisalnya. Demikian pula pintu pengabaran tentang-Nya dengan nama lebih luas dari penamaan-Nya dengannya. Maka sesungguhnya dikhabarkan tentang-Nya bahwa Dia adalah: syai’ (sesuatu), maujud (ada), madzkuur (disebut), ma’lum (diketahui), muraad (dikehendaki), namun tidak dinamai dengan itu.
Adapun al-Wajid, maka penamaan Allah dengan nama ini tidak datang kecuali dalam hadits penghitungan Asmaul Husna, dan yang sahih adalah bahwa hadits tersebut bukanlah dari perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi maknanya benar, karena sesungguhnya Allah memiliki kekayaan dan kecukupan yang sempurna, maka Dia lebih utama untuk dinamai dengan nama tersebut daripada al-Maujud (Yang Berwujud) atau al-Mujid (Yang Mengadakan). Adapun al-Maujud, maka ia terbagi kepada yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang buruk, dan apa saja yang penamaannya terbagi-bagi maka namanya tidak masuk dalam Asmaul Husna, seperti asy-Syai’ (sesuatu) dan al-Ma’lum (yang diketahui). Oleh karena itu Allah tidak menamakan diri-Nya dengan al-Murid (Yang Berkehendak) dan al-Mutakallim (Yang Berbicara), meskipun bagi-Nya ada iradat dan kalam, karena penamaan al-Murid dan al-Mutakallim itu terbagi-bagi. Adapun al-Mujid, maka Allah telah menamakan diri-Nya dengan jenis yang paling sempurna darinya, yaitu al-Khaliq (Pencipta), al-Bari’ (Yang Menciptakan dari ketiadaan), dan al-Mushawwir (Yang Memberi Bentuk). Maka al-Mujid itu seperti al-Muhdits (Yang Menghadirkan), al-Fa’il (Yang Melakukan), dan ash-Shani’ (Yang Membuat).
Ini adalah bagian dari pemahaman yang mendalam tentang Asmaul Husna, maka renungkanlah, dan dengan pertolongan Allah lah keberhasilan itu.
Fasal
Memperoleh hakikat sesuatu, jika dalam bidang ilmu dan pengetahuan maka ia adalah pengenalan yang berjalan di atas batas-batas ilmu. Jika bagi orang yang menyaksikan maka ia adalah penyaksian, dan itu di atas tingkat pengenalan. Jika bagi pencari maka ia adalah kumpulan dirinya secara utuh pada yang dicarinya. Jika bagi pemilik kesatuan maka ia adalah kesatuan wujud yang membuatnya cukup dari apa pun selain Allah Ta’ala.
Perkataannya “Ia adalah nama untuk tiga makna, yang pertama adalah wujud ilmu laduni yang memutus ilmu-ilmu yang bersifat kesaksian”. Ilmu laduni menurut mereka adalah ma’rifah (pengenalan), dan dinamai laduni karena ia merupakan pemberitahuan dari pemberitahuan-pemberitahuan Allah yang datang pada hati hamba, yang memutus bisikan-bisikan, menghilangkan keraguan-keraguan, dan menempati kedudukan penyaksian langsung, sehingga menjadi bagi pemiliknya seperti hal-hal yang dirasakan secara langsung yang tidak mungkin ditolak dari jiwa. Oleh karena itu ia mengatakan: memutus ilmu-ilmu kesaksian. Maka ilmu-ilmu kesaksian menurutnya adalah ilmu-ilmu yang berdasarkan dalil, dan ilmu-ilmu itu terputus dengan menemukan ilmu ini, artinya pemiliknya naik darinya menuju yang lebih sempurna darinya, bukan bahwa hukumnya menjadi batal dan jejaknya hilang, tetapi pemilik wujud ini telah naik dari ilmu yang diperoleh dengan kesaksian menuju ilmu yang dipahami dengan rasa dan indera batin.
Perkataannya “Dalam kebenaran penyingkapan Allah kepadamu” berkaitan dengan perkataannya “memutus ilmu-ilmu kesaksian”, artinya memutusnya dalam hal bahwa Allah telah menyingkap bagimu penyingkapan yang benar yang memutus kebutuhanmu kepada kesaksian-kesaksian dan dalil-dalil.
Perkataannya “Yang kedua: wujud Allah sebagai wujud mata”, artinya wujud penyaksian bukan wujud berita, dan maksudnya adalah penyaksian hati terhadap-Nya dengan hakikat keyakinan.
Perkataannya “Terputus dari jangkauan isyarat”. Karena tingkat pertama adalah wujud ilmu, dan yang ini adalah wujud penyaksian langsung, maka penyaksian langsung di dalamnya menempati kedudukan isyarat sehingga mencukupkan darinya. Karena ilmu terkadang bersifat daruri (tanpa perantara) dan terkadang bersifat nazhari (memerlukan penelitian), dan yang daruri itu lebih jauh dari menoleh dan terserang berbagai bencana serta tidak adanya kelalaian. Maka pemiliknya menyaksikan yang diketahuinya dengan cahaya bashirah (pandangan batin), sebagaimana ia menyaksikan yang terlihat dengan cahaya penglihatan. Karena tingkat ma’rifah di atas tingkat ilmu menurut mereka, dan tingkat syuhud (penyaksian) di atas tingkat ma’rifah, dan tingkat wujud di atas tingkat syuhud, maka ungkapan ada dalam tingkat ilmu dan ma’rifah, dan isyarat ada dalam tingkat syuhud. Maka jika sampai kepada tingkat wujud, isyarat-isyarat terputus dan ungkapan-ungkapan sirna, karena pemilik wujud berada dalam hadirat wujud, maka apa urusannya dengan isyarat? Karena isyarat dalam bidang ini hanya ditujukan kepada yang ghaib dengan satu sisi.
Perkataannya “Yang ketiga: wujud tingkatan lenyapnya jejak wujud di dalamnya dengan tenggelam dalam Keawalian”.
Ini adalah perkataan yang di dalamnya terdapat kegelisahan dan kerumitan, dan ia lebih mirip dengan teka-teki daripada penjelasan.
Hakikat tingkat ini adalah bahwa ia menyibukkan pemiliknya dengan yang ditemukannya dari menyadari dirinya sebagai yang menemukan, sehingga tidak tersisa di dalamnya sisa untuk menyadari bahwa ia adalah orang yang menyadari yang ditemukannya, karena penguasaannya atas hatinya. Maka ia telah mengalahkannya dan menghilangkannya dari kesadarannya akan dirinya sebagai yang menemukan yang ditemukannya. Maka ia hadir bersama Allah, ghaib dari segala sesuatu selain-Nya.
Maka tingkat pertama adalah wujud ilmu, yang kedua adalah wujud penyaksian langsung, dan yang ketiga adalah wujud tingkatan yang lenyap di dalamnya segala sesuatu selain yang ditemukan. Inilah makna “lenyapnya jejak wujud di dalamnya”. Oleh karena itu ia mengatakan: dengan tenggelam dalam Keawalian. Karena apabila ia tenggelam dalam penyaksian Keawalian, maka lenyaplah dalam penyaksian ini setiap yang baru, dan Allah Maha Mengetahui.
Fasal Tajrid
Hakikat Tajrid
Fasal Tajrid
Ia berkata: “Bab Tajrid. Allah Ta’ala berfirman ‘Maka tanggalkanlah kedua terompahmu’ (Thaha: 12). Tajrid adalah melepaskan diri dari penyaksian terhadap kesaksian-kesaksian, dan ia terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama: tajrid mata kasyaf (penyingkapan) dari perolehan keyakinan. Tingkat kedua: tajrid mata kesatuan dari pemahaman ilmu. Tingkat ketiga: tajrid pembebasan dari penyaksian tajrid.”
Sisi isyarat dengan ayat ini – dan itu bukan tafsirnya dan bukan yang dimaksudkan dengannya – adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa agar menanggalkan kedua terompahnya ketika memasuki lembah yang suci itu, baik agar telapak kakinya memperoleh berkah lembah itu, atau karena keduanya adalah sesuatu yang tidak layak untuk bersentuhan dengan tempat itu, dikatakan bahwa keduanya terbuat dari kulit keledai yang tidak disembelih secara syar’i. Bagaimanapun juga, itu adalah perintah untuk melepaskan kedua terompah di tempat itu dan dalam keadaan itu.
Tempat isyaratnya adalah bahwa Allah memerintahkan Musa untuk melepaskan kedua terompahnya ketika memasuki lembah, maka diketahui bahwa melepaskan adalah syarat dalam memasuki sesuatu yang tidak layak dimasuki kecuali dengan melepaskan.
Berdasarkan ini, maka dikatakan kepada orang yang ingin sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan masuk kepada-Nya: tanggalkanlah dari hatimu segala sesuatu selain-Nya, dan masuklah kepada-Nya. Langkah pertama yang ia masuki dalam Islam adalah bahwa ia menanggalkan sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang disembah selain Allah, dan melepaskan diri darinya. Seolah-olah dikatakan kepadanya: buanglah darimu apa yang tidak layak untuk diinjak di atas permadani ini, atau karena lembah itu adalah salah satu lembah yang paling mulia dan paling suci – dan oleh karena itu Allah Subhanahu memilihnya di antara lembah-lembah lain untuk berbicara dengan Nabi-Nya dan kekasih-Nya – maka Dia memerintahkannya agar mengagungkan lembah itu dengan menginjak di dalamnya dengan bertelanjang kaki, sebagaimana permadani raja diinjak. Hal itu menjadi sunnah pada Bani Israil di tempat-tempat shalat dan gereja-gereja mereka. Syariat kita datang dengan kebalikan dari itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan terompah, dan memerintahkan para sahabatnya untuk shalat dengan terompah mereka, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak shalat dengan terompah mereka, maka selisihilah mereka”. Maka sunnah dalam agama kita adalah shalat dengan terompah, ini disebutkan oleh Imam Ahmad, dan ditanya kepadanya: Apakah seseorang shalat dengan terompahnya? Maka ia berkata: Ya demi Allah.
Fasal Tingkat-Tingkat Tajrid
Tingkat Pertama: Tajrid Mata Kasyaf dari Perolehan Keyakinan
Fasal
Perkataannya: Tajrid adalah melepaskan diri dari penyaksian terhadap kesaksian-kesaksian. Kesaksian-kesaksian menurutnya adalah segala sesuatu selain Allah Subhanahu, dan melepaskan diri dari penyaksian adalah keghaiban penyaksi dengan yang disaksikannya dari penyaksiannya, dan itu terjadi dalam tingkatan penyaksian langsung, karena ia tidak lepas dari penyaksian kesaksian-kesaksian kecuali jika ia menyaksikan langsung yang disaksikan.
Perkataannya “Tingkat pertama: tajrid mata kasyaf dari perolehan keyakinan”, artinya tajrid hakikat kasyaf dari perolehan keyakinan, yaitu ia menyingkirkan apa yang telah diperolehnya dari keyakinan ilmiah dengan kasyaf yang hakiki. Maka tajrid kasyaf adalah bahwa ia memurnikannya dan melepaskannya dari menoleh kepada keyakinan, maka ia menyingkirkan apa yang telah diperolehnya dari keyakinan ilmiah dengan kasyaf yang hakiki.
Fasal Tingkat Kedua: Tajrid Mata Kesatuan dari Pemahaman Ilmu
Fasal
Ia berkata: Tingkat kedua: tajrid mata kesatuan dari pemahaman ilmu.
“Mata kesatuan” adalah hakikat kesatuan, dan tajridnya adalah bahwa ia tidak menyaksikan bagi ilmu jejak-jejak di dalamnya, karena ilmu adalah dari jejak-jejak jejak, dan hakikat kesatuan menghapus jejak-jejak. Maka pemilik tingkat ini senantiasa dalam keadaan melepaskan diri dan melepaskan. Ad-dark adalah al-idrak (pemahaman) di tempat ini, dan mungkin dimaksudkan bahwa tingkat ilmu lebih rendah dari tingkat mata kesatuan, maka ia melepaskan kesatuan dari tingkat yang lebih rendah darinya. Mereka telah mengakui bahwa ini adalah keadaan orang-orang yang tergila-gila dalam tenggelam dalam kesatuan.
Demi kehidupan Allah, sesungguhnya itu bukanlah kesempurnaan, dan ia adalah asal dari asal-asal kehancuran, karena apabila ia melepaskan diri dari ilmu dan apa yang diwajibkannya, maka ia telah keluar dari cahaya yang menyingkap hakikat-hakikat baginya dan membedakan baginya antara yang hak dan yang batil, yang benar dan yang rusak. Maka kasyaf dan penyaksian hakikat jika terlepas dari ilmu, bisa jadi pemiliknya terlepas dari asal iman dan ia tidak menyadarinya.
Lebih baik dari ini adalah dikatakan: ia adalah tajrid kesatuan dari berhenti pada semata-mata ilmu, maka ia tidak ridha dengan ilmu dari tingkatan kesatuan keadaannya, hatinya, dan perhatiannya kepada Allah, bahkan ia naik dari tingkat ilmu menuju tingkat kesatuan dengan menyertai ilmu, tidak meninggalkan hukum-hukumnya, dan tidak menjadikannya tujuan yang berhenti di situ.
Fasal Tingkat Ketiga: Tajrid Pembebasan dari Penyaksian Tajrid
Fasal
Perkataannya “Tingkat ketiga: tajrid pembebasan dari penyaksian tajrid”.
Maksudnya adalah bahwa ia tidak menyaksikan tajridnya bagi siapa yang melepaskannya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya. Pemilik tingkat ini senantiasa telah fana dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala, maka bagaimana ia dapat menyaksikan sifat dan perbuatannya dengan itu? Bahkan tajridnya telah memfanakannya dari penyaksian tajridnya.
BAB TENTANG TAFRĪD (PENYATUAN)
Definisi Tafrīd
Penulis kitab Manāzil berkata: “Bab Tafrīd. Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq (benar) lagi Nyata.’ (QS. An-Nūr: 25). Tafrīd adalah nama untuk pemurnian isyarat kepada Yang Haq (Allah), kemudian dengan Yang Haq, kemudian dari Yang Haq.”
Syaikh menjadikan tafrīd sebagai inti dari tajrīd dan meletakkannya setelahnya. Perbedaan antara keduanya adalah: tajrīd adalah pemutusan hubungan dari segala sesuatu selain Allah, sedangkan tafrīd adalah mengkhususkan Yang Haq dengan keutamaan. Maka tafrīd berkaitan dengan Yang Disembah, sedangkan tajrīd berkaitan dengan penghambaan. Ia menjadikannya tiga tingkatan: pemurnian isyarat kepada Yang Haq, kemudian dengan-Nya, kemudian dari-Nya. Maka di sini ada dua perkara. Pertama: pemurnian isyarat. Kedua: objek isyarat.
Adapun pemurniannya, yaitu menjauhkannya dari segala sesuatu yang bercampur dan bergabung dengannya. Adapun objeknya, ada tiga perkara: isyarat kepada Yang Haq, dengan-Nya, dan dari-Nya. Isyarat kepada-Nya adalah tujuan. Isyarat dengan-Nya adalah wujud (keberadaan). Isyarat dari-Nya adalah pemberitaan dan penyampaian. Barangsiapa yang murni isyaratnya kepada Yang Haq maka ia termasuk orang-orang yang ikhlas (mukhliṣīn). Barangsiapa isyaratnya dengan-Nya maka ia termasuk orang-orang yang jujur (ṣādiqīn). Barangsiapa isyaratnya dari-Nya maka ia termasuk para penyampai (mubalighīn). Barangsiapa yang terkumpul padanya ketiga hal tersebut maka ia termasuk para imam yang mengenal Allah (‘ārifīn). Kesempurnaan adalah bahwa engkau berisyarat kepada-Nya, dengan-Nya, dari-Nya. Maka pemurnian isyarat kepada-Nya adalah hakikat dari ittibā’ (mengikuti). Dan itulah murni ash-shiddīqiyyah (kejujuran sempurna). Apabila terkumpul ketiga hal ini pada seorang hamba, maka telah dikenakan kepadanya jubah ash-shiddīqiyyah. Tidak setiap orang yang berisyarat kepada Allah berisyarat dengan-Nya, dan tidak setiap orang yang berisyarat dengan-Nya berisyarat dari-Nya. Para Rasul—semoga rahmat dan keselamatan Allah tercurah kepada mereka semua—adalah mereka yang menyempurnakan ketiga tingkatan tersebut. Maka murni isyarat mereka kepada Allah, dengan-Nya, dan dari-Nya dari segala kotoran. Kemudian yang terbaik demi yang terbaik mengikuti jalan mereka. Betapa banyak isyarat kepada Allah dan dengan-Nya menyerupai isyarat kepada diri dan isyarat dengan diri. Maka ia berisyarat kepada dirinya dengan dirinya, mengira bahwa isyaratnya dengan Allah dan kepada Allah. Tidak ada yang membedakan antara ini dan itu kecuali para khawāṣṣ al-‘ārifīn (orang-orang pilihan yang mengenal Allah), para ahli fiqih dalam mengenal jalan dan tujuan. Di sinilah terputus siapa yang terputus dan tersambung siapa yang tersambung. Tidak ada tuhan selain Allah! Betapa banyak keragaman dalam isyarat, yang berlebihan, teliti, dan tahqīq (realisasi), namun isyaratnya tidak melampaui dirinya sendiri, dan ia tidak mengetahuinya. Ia berisyarat dengan dirinya sementara ia mengira bahwa ia berisyarat dengan Tuhannya. Sungguh selip lisannya dan aroma ucapannya berteriak padanya: Aku, denganku, dan dariku.
Apabila isyarat—dengan Allah dan dari Allah—murni dari segala kotoran, maka ia tersambung dengan Allah, murni untuk-Nya, diterima di sisi-Nya, Ia ridha dengannya. Berdasarkan inilah keinginan keras para pendahulu yang pertama (as-sābiqūn al-awwalūn), bukan pada banyaknya amal, dan bukan pada ketelitian isyarat. Sebagaimana salah seorang sahabat berkata: Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima satu amal dariku, tidak ada yang ghaib yang lebih aku cintai daripada kematian. Dan ini bukan berarti bahwa amal-amalnya untuk selain Allah, atau tidak sesuai dengan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena urusan kaum itu lebih mulia dari itu. Akan tetapi untuk memurnikan amal-amal dari kotoran jiwa dan percampuran keuntungan-keuntungan pribadi. Mereka takut—karena kesempurnaan pengetahuan mereka tentang Allah dan hak-hak-Nya atas mereka—bahwa amal-amal mereka tidak murni dari kotoran keuntungan-keuntungan mereka dan percampuran jiwa mereka, sehingga benar-benar murni untuk Allah dan dengan Allah, serta diambil dari Allah. Barangsiapa sampai kepadanya satu amal dengan cara ini, maka ia sampai kepada Allah. Dan Allah Ta’ala Maha Mensyukuri. Apabila Ia ridha dari seorang hamba dengan satu dari amal-amalnya, Ia selamatkan dia, membahagiakan dia dengannya, membuahkan baginya, memberkahi dia padanya, menghubungkan dia dengan amal itu kepada-Nya, memasukkan dia dengan amal itu kepada-Nya, dan tidak memutuskan dia dengan amal itu dari-Nya. Betapa banyak orang yang terputus dengan isyarat dari yang diisyaratkan, dengan ibadah dari Yang Disembah, dan dengan ma’rifah (pengenalan) dari Yang Dikenal. Maka isyarat-isyarat dan pengenalan-pengenalan menjadi kiblat hatinya dan tujuan akhirnya. Ia bergizi dengannya, dan ia mendapati ketenangan, rasa, dan wujud (pengalaman spiritual) yang menenangkan hatinya kepadanya dan menenangkan dengannya. Ia mengira bahwa itu adalah tujuan yang dicari. Maka hatinya menjadi terpenjara dari Tuhannya sementara ia tidak menyadarinya. Jiwanya menjadi merumput di taman-taman ilmu dan pengenalan, mendapatkannya, sementara ia mengira bahwa ia telah sampai dan tersambung, dan pada tempat wujud ia memperolehnya. Ia halus isyaratnya, lembut ungkapannya, mahir dalam masalah-masalah sulūk (perjalanan spiritual). Namun antara dia dan Allah ada hijab yang belum tersingkap darinya. Hijab ini hanya terangkat dengan keadaan tajrīd dan tafrīd, bukan dengan sekadar mengetahui hal itu. Dengan tafrīd Yang Disembah Yang Dituju Yang Dimaksud dari selain-Nya, dan dengan tajrīd niat, pencarian, keinginan, kecintaan, ketakutan, harapan, taubat, tawakal kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari keuntungan-keuntungan pribadi dan keinginan jiwa. Maka tersingkaplah dari hati hijabnya, hilang darinya kegelapannya, terbit padanya fajar tauhid, terbit padanya matahari keyakinan, dan terang baginya jalan yang lurus, dan jalan putih yang malamnya seperti siangnya.
BAB TENTANG TAFRĪD ISYARAT KEPADA YANG HAQ
Bab
Ia berkata: “Adapun tafrīd isyarat kepada Yang Haq, terdiri dari tiga tingkatan: tafrīd niat dengan kehausan, kemudian tafrīd kecintaan dengan kehancuran, kemudian tafrīd penyaksian dengan penyambungan.”
Ia menyebutkan dalam tingkatan ini tiga perkara: tafrīd niat, kecintaan, dan penyaksian. Niat adalah permulaan, penyaksian adalah akhir, dan kecintaan adalah penengah. Maka ia menyatukan niatnya, cintanya, dan penyaksiannya. Hal itu mencakup menyatukan yang dituju, yang dicintai, dan yang disaksikan. Maka ia menjadi satu untuk Yang Satu. Tidak terbagi tujuannya, tidak terbagi cintanya, dan tidak terbagi penyaksiannya. Tidak terbagi yang dituju, yang dicintai, dan yang disaksikan. Tafrīd tujuan, kecintaan, dan penyaksian adalah kejujuran (ṣidq). Tafrīd yang dituju, yang dicintai, dan yang disaksikan adalah keikhlasan (ikhlāṣ).
Kejujuran dan keikhlasan adalah bahwa engkau berikan seluruh dirimu untuk kekasihmu saja, kemudian engkau meremehkan apa yang telah engkau berikan di sisi apa yang ia layak dapatkan, kemudian engkau tidak melihat pemberianmu itu.
Ia membatasi tafrīd niat dengan kehausan, tafrīd kecintaan dengan kehancuran, dan tafrīd penyaksian dengan penyambungan. Kehausan—sebagaimana ia katakan—adalah dominasi ketertarikan kuat pada yang diharapkan. Kehancuran adalah kecintaan yang membinasakan. Penyambungan adalah gugurnya segala sesuatu selain Allah dari tingkatan pertimbangan. Ini adalah hukum tafrīd pada tingkatan pertama.
TAFRĪD ISYARAT DENGAN YANG HAQ
Bab
Ia berkata: “Adapun tafrīd isyarat dengan Yang Haq, terdiri dari tiga tingkatan: tafrīd isyarat dengan kebanggaan secara terang-terangan, tafrīd isyarat dengan sulūk (perjalanan) dengan pengamatan, dan tafrīd isyarat dengan kepejaman karena ghīrah (cemburu).”
Ia juga menyebutkan dalam tingkatan ini tiga perkara: kebanggaan (iftikār), sulūk (perjalanan), dan kepejaman (qabḍ). Kebanggaan ada dua jenis: tercela dan terpuji. Yang tercela adalah menampakkan kedudukannya atas sesamanya dengan kesombongan atas mereka, dan ini bukan yang dimaksud. Yang terpuji adalah menampakkan keadaan-keadaan mulia dan tingkatan-tingkatan yang terhormat dengan terus terang dan terang-terangan, bukan dengan cara sombong, tetapi dengan cara mengagungkan nikmat, bergembira dengannya, menyebutkannya, menyebarkannya, membicarakannya, dan membangkitkan keinginan padanya, serta tujuan-tujuan lain dalam menampakkannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam dan bukan kesombongan, dan aku adalah orang pertama yang bumi terbelah untuknya pada hari kiamat dan bukan kesombongan, dan aku adalah pemberi syafaat pertama dan yang pertama diberi syafaat dan bukan kesombongan.” Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku adalah orang pertama yang melempar anak panah di jalan Allah. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Sungguh telah berlalu bagiku sekian dan sekian, dan aku adalah orang ketiga dalam Islam. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya ini adalah wasiat Nabi yang ummi kepadaku: bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang beriman, dan tidak ada yang membenciku kecuali orang munafik. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku sesuai dengan Tuhanku dalam tiga hal. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata sambil menunjuk ke dadanya: Sesungguhnya di sini ada ilmu yang banyak, seandainya aku mendapatkan orang-orang yang memikulnya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mengambil dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tujuh puluh surat, dan sesungguhnya Zaid masih bermain bersama anak-anak. Ia juga berkata: Tidak ada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali aku tahu di mana ia turun dan apa yang dimaksud dengannya. Seandainya aku tahu bahwa ada seseorang yang lebih tahu tentang Kitab Allah dariku yang dapat dijangkau oleh unta, niscaya aku akan mengembara kepadanya. Salah seorang sahabat berkata: Sungguh tombak-tombak yang menancap padaku lebih aku cintai daripada aku berbicara dalam hati dalam shalat dengan selain apa yang aku ada di dalamnya. Dan ini terlalu banyak untuk disebutkan.
Orang yang jujur berubah-ubah keadaannya. Terkadang ia mengungkapkan apa yang Tuhannya berikan kepadanya dan anugerahkan kepadanya, tidak mampu menyembunyikannya. Terkadang ia menyembunyikan dan merahasiakannya, tidak mampu menampakkannya. Terkadang ia terpejam, terkadang ia terbuka dan bersemangat. Terkadang ia mendapati lidah yang berbicara tidak bisa diam, terkadang ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Terkadang engkau dapati ia tertawa gembira, terkadang menangis sedih. Terkadang ia mendapati keterpaduan yang tidak ada jalan bagi perpecahan atasnya, terkadang perpecahan yang tidak ada keterpaduan bersamanya. Terkadang ia berkata: Alangkah gembiranya aku! Dan lain kali berkata: Alangkah sedihnya aku! Berbeda dengan orang yang berada pada satu warna saja, tidak pernah berada pada yang lain. Ini adalah satu warna, sedangkan orang yang jujur adalah warna lain.
Ucapannya: “Dan tafrīd isyarat dengan sulūk dengan pengamatan,” artinya menyucikan isyarat kepada Yang Dituju dengan sulūk dengan mengamati hakikat-hakikat-Nya.
Ucapannya: “Dan tafrīd isyarat dengan kepejaman karena ghīrah,” artinya memurnikan isyarat kepada Yang Dituju dengan kepejaman karena ghīrah (cemburu) kepada-Nya.
Maksudnya: bahwa terkadang ia menyatukan isyaratnya dengan apa yang Yang Haq berikan kepadanya, tidak menyembunyikan dan tidak menyembunyikannya. Terkadang ia menyatukan isyaratnya dengan hakikat-hakikat sulūk dengan mengamatinya dan memberitahukan kepada selainnya. Terkadang ia berisyarat dengan kepejaman karena ghīrah dan menutup diri. Maka ia berisyarat dengan kebanggaan terkadang, dengan pengamatan terkadang, dan dengan kepejaman terkadang.
Kebanggaannya adalah dengan Yang Memberi nikmat dan nikmat-nikmat-Nya, bukan dengan dirinya dan sifatnya. Pengamatannya kepada selainnya adalah pengajaran, bimbingan, dan pencerahan. Kepejaman-nya adalah ghīrah dan penutupan. Hakikat perkara adalah apa yang kami sebutkan: bahwa orang yang jujur sesuai dengan dorongan kejujurannya dan keadaannya dengan Allah, hukum waktunya, dan apa yang ditegakkan padanya.
BAB TENTANG TAFRĪD ISYARAT DARI YANG HAQ
Bab
Ucapannya: “Adapun tafrīd isyarat dari Yang Haq, adalah keterbukaan dengan keterbukaan yang tampak yang mencakup kepejaman yang murni, untuk petunjuk kepada Yang Haq dan dakwah kepada-Nya.” Ia bermaksud bahwa pemilik isyarat ini terbuka dengan keterbukaan yang tampak, sementara batinnya terkumpul pada Allah. Itulah kepejaman murni yang ia isyaratkan. Maka ia dalam batinnya terpejam karena apa yang ia alami dari keterpaduannya pada Allah, dan dalam zahirnya terbuka bersama makhluk dengan keterbukaan yang tampak karena kekuatannya, bermaksud untuk membimbing mereka kepada Yang Haq Subhanahu dan menyeru mereka kepada-Nya.
Intinya: bahwa ia terbuka dengan zahirnya untuk dakwah makhluk kepada Allah, dan terpejam dengan batinnya dari selain Allah. Maka zahirnya terbuka bersama makhluk, dan batinnya terpejam dari mereka, karena kuatnya keterkaitan dengan Allah dan kesibukannya dengan-Nya dari mereka. Maka ia ada dan terpisah, di dalam dan di luar, tersambung dan terputus. Allah Ta’ala berfirman: “Dan serulah (manusia) kepada Tuhanmu dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah). Dan janganlah kamu menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 87-88). Maka Ia memerintahkannya untuk menyucikan dakwah kepada-Nya dan menyucikan penghambaan kepada-Nya saja. Dan keduanya adalah dua pokok agama, dan kepadanya agama berpusat. Dan dengan Allah-lah taufik.
BAB TENTANG JAM’ (PENGGABUNGAN)
Definisi Jam’
Bab Jam’
Ia berkata: “Bab Jam’. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan tidaklah kamu (Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.’ (QS. Al-Anfāl: 17).”
Aku katakan: Sekelompok orang meyakini bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah menghilangkan perbuatan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari beliau dan menambahkannya kepada Tuhan Ta’ala. Mereka menjadikan itu dasar dalam jabr (determinisme) dan pembatalan penisbahan perbuatan kepada hamba, serta realisasi penisbatannya kepada Tuhan semata. Ini adalah kesalahan mereka dalam memahami Al-Qur’an. Seandainya itu benar, maka wajib menerapkannya pada seluruh amal, sehingga dikatakan: Kamu tidak shalat ketika kamu shalat, kamu tidak puasa ketika kamu puasa, kamu tidak berkurban ketika kamu berkurban, dan kamu tidak melakukan setiap perbuatan ketika kamu melakukannya, tetapi Allah yang melakukan itu. Jika mereka menerapkan itu, maka akan mengikat mereka pada seluruh perbuatan hamba—ketaatan dan maksiat mereka—karena tidak ada perbedaan. Jika mereka mengkhususkannya untuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan seluruh perbuatannya, atau lemparan beliau saja, mereka telah kontradiksi. Maka orang-orang ini tidak diberi taufik untuk memahami apa yang dimaksud dengan ayat tersebut.
Setelah itu, ayat ini turun berkenaan dengan lemparan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap orang-orang musyrik pada hari Badar dengan segenggam kerikil, sehingga tidak ada satu wajah pun dari mereka kecuali terkena lemparan itu. Diketahui bahwa lemparan seperti itu dari seorang manusia tidak mungkin mencapai sasaran sedemikian luas. Maka dari beliau shallallahu alaihi wasallam adalah permulaan lemparan, yaitu melempar, sedangkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah akhir dari lemparan itu, yaitu sampainya kerikil kepada sasaran. Maka Allah menisbahkan kepada beliau lemparan melempar yang merupakan permulaannya, dan menafikan darinya lemparan sampainya kerikil yang merupakan akhirnya. Serupa dengan ini adalah firman-Nya dalam ayat yang sama: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka” (Surah Al-Anfal: 17), kemudian berfirman: “Dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (Surah Al-Anfal: 17). Maka Dia memberitahukan: bahwa Dia sendirilah yang menyendiri dalam membunuh mereka, dan hal itu bukan dengan kalian sendiri, sebagaimana Dia menyendiri dalam menyampaikan kerikil ke mata-mata mereka, dan hal itu bukan dari Rasul-Nya. Namun maksud isyarat ayat tersebut adalah: bahwa Dia Subhanahu menegakkan sebab-sebab yang tampak, seperti mendorong orang-orang musyrik, dan Dia sendiri yang menangani dorongan mereka, dan kebinasaan mereka dengan sebab-sebab batiniah selain sebab-sebab yang tampak bagi manusia. Maka kekalahan, pembunuhan, dan kemenangan yang terjadi dinisbahkan kepada-Nya dan dengan-Nya, dan Dia adalah sebaik-baik penolong.
Penulis berkata: “Al-Jam’ (pengumpulan): adalah menghilangkan tafarruq (perpecahan), memutus isyarat, menjauhkan diri dari air dan tanah, setelah sahnya tamkin (keteguhan), terbebas dari talwin (perubahan warna), terlepas dari penyaksian dualitas, terhindar dari perasaan menggunakan illat (sebab-sebab), dan terhindar dari penyaksian terhadap penyaksiannya. Dan hal itu terdiri dari tiga tingkatan: jam’ ilm (pengumpulan ilmu), kemudian jam’ wujud (pengumpulan wujud), kemudian jam’ ‘ain (pengumpulan esensi).
Perkataan penulis: “Al-Jam’: adalah menghilangkan tafarruq” adalah definisi yang tidak menjelaskan perbedaan antara jam’ dan tafarruq yang terpuji dan yang tercela. Karena “al-jam'” terbagi menjadi yang benar dan yang batil, dan “tafarruq” terbagi menjadi yang terpuji dan yang tercela. Masing-masing tidak terpuji secara mutlak, dan tidak tercela secara mutlak. Yang dimaksud dengan jam’ adalah: jam’ al-wujud (pengumpulan wujud), yaitu jam’-nya orang-orang mulhid (ateis) yang mengatakan dengan wahdatul wujud (kesatuan wujud). Mereka maksudkan dengan tafarruq: pemisahan antara yang qadim (kekal) dan yang hadits (baru), antara Khaliq (Pencipta) dan makhluq (yang diciptakan). Para pengikutnya berkata: al-jam’ adalah yang menghilangkan tafarruq ini, dan mereka berkata tentang diri mereka: bahwa mereka adalah ashab jam’ al-wujud (pemilik pengumpulan wujud). Oleh karena itu, para ahli tahqiq dari kalangan mulhid menyatakan dengan jelas apa yang kami sebutkan, mereka berkata: tafarruq adalah menganggap adanya pemisahan antara wujud dengan wujud. Ketika pemisahan hilang dalam pandangan muhaqqiq, maka ia memperoleh hakikat jam’.
Dan yang dimaksud dengan jam’ adalah: mengumpulkan iradah (kehendak) dan thalab (permintaan) kepada yang diinginkan dan yang diminta saja, dan dengan tafarruq adalah: terpecahnya semangat dan kehendak. Inilah jam’ yang benar, dan tafarruq yang tercela. Maka definisi jam’ yang benar adalah: apa yang menghilangkan tafarruq ini. Adapun jam’ yang menghilangkan tafarruq antara Rabb dan hamba, Khaliq dan makhluq, qadim dan hadits, maka itu adalah kebatilan yang paling batil, dan tafarruq tersebut adalah yang benar. Ahli tafarruq ini adalah ahli Islam, iman, dan ihsan, sebagaimana ahli jam’ tersebut adalah ahli ilhad, kekufuran, dan paganisme.
Yang dimaksud dengan jam’ adalah: jam’ asy-syuhud (pengumpulan penyaksian), dan dengan tafarruq adalah: apa yang bertentangan dengan itu. Ketika pemisahan hilang dalam pandangan penyaksi, sementara ia menetapkan adanya pemisahan; maka itu adalah jam’ dalam penyaksiannya saja, dengan keyakinannya akan adanya pemisahan.
Apabila hal ini dipahami, maka jam’ yang benar adalah: apa yang menghilangkan tafarruq thabî’iyyah nafsiyyah (perpecahan alami jiwa), yaitu tafarruq yang tercela. Adapun tafarruq amriyyah syar’iyyah (perpecahan perintah syariat) – antara yang diperintahkan dan yang dilarang, antara yang dicintai dan yang dibenci – maka tidak terpuji jam’ yang menghilangkannya, bahkan tercela sepenuhnya. Dengan ungkapan-ungkapan global seperti inilah masuk kepada para ashab suluk (orang-orang yang menempuh jalan spiritual) dan iradah (kehendak) apa yang masuk.
Perkataan penulis “dan memutus isyarat” adalah sejenis dengan perkataannya “menghilangkan tafarruq”. Para ahli ilhad berkata: ketika isyarat adalah hubungan antara dua hal – yang berisyarat dan yang diisyaratkan – maka ia mengandung dualitas. Ketika datang kesatuan jam’iyyah (pengumpulan) dan hilang dualitas; maka terputuslah isyarat.
Para ahli tauhid berkata: sesungguhnya isyarat terputus ketika sempurnanya jam’iyyah kepada Allah, sehingga tidak tersisa pada pemilik jam’iyyah ini tempat untuk berisyarat; karena jam’iyyahnya kepada yang dituju dan yang diinginkan menghilangkannya dari berisyarat kepada-Nya. Juga karena jam’iyyahnya memfanakan dirinya dari dirinya sendiri dan isyaratnya. Maka dalam tingkatan fana’ terputuslah isyarat; karena ia termasuk hukum-hukum bashariyyah (kemanusiaan).
Perkataan penulis: “dan menjauhkan diri dari air dan tanah”, ini mengandung dua kemungkinan makna. Pertama: yang dimaksud dengan air dan tanah adalah bani Adam, dan dirinya termasuk dari mereka, yaitu menjauhkan diri dari memandang kepada manusia, berpaling kepada mereka, dan terikatnya hati kepada mereka sama sekali. Ia mengkhususkan menyebut mereka karena kebanyakan ikatan, yang paling sulit dan paling kuat memutuskan pemiliknya adalah ikatan dengan mereka. Apabila hatinya menjauh dari mereka sama sekali, maka dari selain mereka yang lebih jauh darinya lebih utama dan lebih patut.
Dalam penyebutan air dan tanah terdapat penguatan untuk penjauhan diri dari mereka ini, dan peringatan tentang keharusan dan wajibnya. Karena makhluk yang diciptakan dari air dan tanah adalah manusia yang lemah, tidak memiliki untuk dirinya – dan tidak untuk yang terikat dengannya – mendatangkan manfaat, dan tidak menolak mudarat. Karena air dan tanah adalah yang dipengaruhi bukan yang mempengaruhi, lemah dan hina bukan kuat dan kokoh, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka tanyakanlah kepada mereka: ‘Apakah mereka yang lebih kukuh penciptaannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?’ Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat” (Surah Ash-Shaffat: 11). Dan Dia memberitahukan: bahwa Dia menciptakan kita “dari air yang hina” (Surah As-Sajdah: 8). Maka pantas bagi anak air dan tanah bahwa hati menjauh darinya, bukan kepadanya, dan menyandarkan diri kepada Penciptanya saja tidak kepadanya, dan menjadikan seluruh keinginannya kepada-Nya dan apa yang ada pada-Nya.
Makna kedua – yang mungkin dimaksud dari perkataannya -: menjauhkan diri dari hukum-hukum tabi’at dunia bawah yang tumbuh dari air dan tanah, dan dari yang berkaitan dengannya, menuju hukum-hukum ruh-ruh dunia atas.
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah-Nya dan ciptaan-Nya yang menakjubkan – telah menjadikan manusia tersusun dari dua substansi: substansi tabi’i yang padat, yaitu jasad, dan substansi ruhani yang lembut, yaitu ruh, dan dari sifat setiap sejenis bahwa ia cenderung kepada sejenisnya, dan dari tabiat setiap semisalnya bahwa ia tertarik kepada semisalnya – maka manusia tertarik kepada alam tabi’i, dengan kepadatan yang ada padanya, dan kepada alam ruhani dengan kelembutan yang ada padanya. Maka terjadilah pada manusia dua kekuatan yang berlawanan: salah satunya menariknya ke bawah, dan yang kedua menariknya ke atas. Maka barangsiapa menjauhkan diri dari tabiat air dan tanah, ke tempat ruh-ruh dunia atas, yang bukan dari alam dunia bawah ini; maka ia termasuk ahli jam’ yang terpuji ini, yang mengumpulkan dirinya dari yang tersebar dari jiwa dan tabiat.
Perkataan penulis: “setelah sahnya tamkin, terbebas dari talwin, dan terlepas dari penyaksian dualitas”, maknanya: bahwa hamba tidak dapat menjauhkan diri dari air dan tanah kecuali setelah sahnya keteguhannya dalam ma’rifah, dan terbebas dari talwin. Maka Syekh mensyaratkan terjadinya tamkin padanya, hilangnya talwin darinya, dan terlepasnya dari penyaksian dualitas.
Talwin adalah: perubahan warnanya untuk memenuhi dorongan tabiat dan jiwa. Penyaksian dualitas adalah: ungkapan global yang mengandung kemungkinan. Orang mulhid membawanya kepada makna bahwa ia menyaksikan hamba dan Rabb, qadim dan hadits, Khaliq dan makhluq. Tauhid yang murni adalah: terlepas dari itu dengan menyaksikan kesatuan wujud. Ketika ia menyaksikan keberagaman wujud maka ia menjadi dualis menurut para mulhid.
Adapun para muwahhid (ahli tauhid): dualitas yang wajib terlepas darinya adalah: mengambil dua tuhan, maka ia menyaksikan bersama Allah tuhan yang lain. Adapun ia menyaksikan bersama Allah wujud selain-Nya, yang Dia adalah yang mewujudkannya, menciptakannya, dan menjadikannya: maka itu bukan dualitas, bahkan itu adalah tauhid yang murni. Dan tauhidnya tidak sempurna kecuali dengan penyaksian ini agar sah baginya menafikan uluhiyyah (ketuhanan) darinya. Jika tidak, bagaimana ia menafikan uluhiyyah dari apa yang tidak ia saksikan dan menyaksikan penafiannya darinya?
Yang dimaksud: bahwa pemilik jam’ ketika menyaksikan Rabb dan hamba, Khaliq dan makhluk, yang memerintah dan yang melaksanakan perintah, penggerak dan yang bergerak, wali dan musuh: maka itu adalah konsekuensi ikatan tauhid.
Sahnya tamkin adalah menjaga asal yang merupakan keberlangsungan penyaksian rusum (bentuk-bentuk) pada tempatnya.
Seakan ia mengingatkan dengan itu kepada kehati-hatian dari orang-orang yang disambar oleh kilatan penyaksian jam’, sementara tamkin mereka lemah, sehingga mereka mengingkari bentuk-bentuk makhluk, hingga salah seorang mereka berkata: “Aku adalah cahaya dari cahaya Tuhanku”, ketika menguasai salah seorang mereka penyaksian jam’, dan tidak kuatnya dalam baqa’. Ini kadang terjadi kepada orang yang jujur terkadang, lalu ia mengetahui bahwa ia keliru, maka ia kembali kepada asal, dan menguasakan ilmu atas keadaan. Ketika ia sadar, ia tahu bahwa ia keliru dan salah. Dalam keadaan seperti inilah Abu Yazid berkata: “Mahasuci aku”, dan “Tidak ada dalam jubah kecuali Allah”, dan semisalnya. Maka sekelompok orang mengambil ucapan-ucapan syathahah ini lalu menjadikannya tujuan yang mereka kejar dan mereka kerjakan. Syekh mensyaratkan: bahwa penyaksian jam’ tidak tetap kecuali bagi yang teguh dalam penyaksian tahap baqa’.
Perkataan penulis: “dan terhindar dari perasaan menggunakan illat (sebab-sebab)”.
I’tilal menurut mereka adalah: tafarruq dalam sebab-sebab, dan berhenti dengan keterikatan yang terjadi antara musabbabat (akibat) dengan asbabnya (sebab-sebabnya). Itu adalah ikatan yang tidak bisa dilepaskan kecuali dengan penyaksian jam’. Tidak tersembunyi apa yang ada dalam ungkapan ini berupa keambiguan dan kerumitan. Demikian juga perkataannya “dan terhindar dari penyaksian terhadap penyaksiannya”. Yang dimaksud adalah: terhindar darinya penyaksian hal-hal yang ia sebutkan – semuanya, dan fana dari penyaksian ini. Karena jika ia tidak fana darinya semua, dan dari penyaksian fananya, maka ia masih bersamanya; karena ia merasakannya, dan tidak terjadi perasaan kecuali terhadap apa yang ada pada pemilik perasaan. Ketika ia ghaib dari penyaksiannya, kemudian dari penyaksian penyaksian: maka tetaplah kakinya di hadhrah (hadirat) jam’.
Telah berulang kali disebutkan bahwa ini bukan kesempurnaan, bukan tujuan pada dirinya sendiri, tidak memberikan kesempurnaan, tidak ada ma’rifah di dalamnya, tidak ada ubudiyyah, dan para rasul sama sekali tidak menyeru kepadanya, Al-Qur’an tidak mengisyaratkan kepadanya, dan para ahli thariqah terdahulu tidak menyifatkannya. Puncaknya adalah pemiliknya menyerupai yang ghaib dari akalnya, perasaannya, dan pemahamannya. Puncaknya adalah: menjadi kejadian dari kejadian-kejadian thariqah yang tidak lazim, apalagi menjadi tujuan.
Ketika yang menjadikannya sebagai tujuan yang dituju, yang para salik (penempuh jalan spiritual) bersungguh-sungguh menuju kepadanya; maka masuklah karena itu kerusakan kepada yang bersungguh-sungguh menujunya sebagaimana diketahui oleh para rasikhun dalam ilmu dari para imam bidang ini. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan. Ubudiyyah yang dituntut dari hamba jauh dari itu. Dan kepada Allah pertolongan.
Tingkatan-tingkatan Jam’
Perkataan penulis: “Dan ia terdiri dari tiga tingkatan: jam’ ilm, kemudian jam’ wujud, kemudian jam’ ‘ain. Adapun jam’ al-ilm adalah: hilangnya ilmu-ilmu syawahid dalam ilmu ladunni secara murni. Adapun jam’ al-wujud adalah: hilangnya ujung ittishal dalam ‘ain al-wujud secara hakiki. Adapun jam’ al-‘ain adalah: hilangnya setiap yang dibawa oleh isyarat dalam dzat al-Haq secara nyata.
Ulum asy-syawahid (ilmu-ilmu bukti) adalah apa yang diperoleh dari istidlal (penalaran) dengan atsar (bekas) kepada mu’atstir (yang membekas), dengan mashnu’ (yang dibuat) kepada shani’ (yang membuat). Maka makhluk-makhluk adalah bukti-bukti, dalil-dalil, dan bekas-bekas. Ulum asy-syawahid adalah: yang bersandar kepada bukti-bukti yang diperoleh darinya. Ilmu ladunni adalah ilmu yang dicurahkan Allah ke dalam hati sebagai ilham tanpa sebab dari hamba, dan tanpa istidlal. Oleh karena itu dinamai ladunni. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Surah Al-Kahf: 65). Allah Ta’ala adalah yang mengajarkan hamba-hamba apa yang tidak mereka ketahui, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Surah Al-Alaq: 5). Namun ilmu ini lebih khusus dari yang lain, oleh karena itu Dia menisbahkannya kepada-Nya Subhanahu, seperti rumah-Nya, unta-Nya, negeri-Nya, hamba-Nya, dan semisalnya. Maka luruh ilmu-ilmu yang bersandar kepada dalil-dalil dan bukti-bukti dalam ilmu ladunni yang diperoleh tanpa sebab dan tanpa istidlal. Inilah kandungan perkataannya.
Dan kami berkata: sesungguhnya ilmu yang diperoleh dengan bukti-bukti dan dalil-dalil adalah ilmu yang hakiki. Adapun apa yang diklaim diperoleh tanpa bukti dan tanpa dalil: maka tidak dapat dipercaya, dan bukan ilmu. Benar bahwa ilmu yang diperoleh dengan bukti-bukti kadang menguat dan bertambah, sehingga yang diketahui menjadi seperti yang disaksikan, dan yang ghaib seperti yang dilihat, dan ilmu yakin seperti ‘ain yakin. Maka urusan itu menjadi syu’ur (kesadaran) pertama, kemudian tajwiz (memungkinkan), kemudian zhann (prasangka), kemudian ilmu, kemudian ma’rifah, kemudian ilmu yakin, kemudian haq yakin, kemudian ‘ain yakin. Kemudian luruh setiap tingkatan ke dalam yang di atasnya, sehingga hukum menjadi miliknya tanpa yang di bawahnya. Maka ini benar. Adapun klaim terjadinya jenis ilmu tanpa sebab dari istidlal: maka tidak benar. Karena Allah Subhanahu mengaitkan ta’rifat (pengenalan-pengenalan) dengan sebab-sebabnya, sebagaimana Dia mengaitkan kaunat (kejadian-kejadian) dengan sebab-sebabnya. Tidak diperoleh oleh manusia ilmu kecuali dengan dalil yang menunjukkan kepadanya. Dan Allah Subhanahu telah mendukung rasul-rasul-Nya dengan berbagai jenis dalil dan burhan yang menunjukkan mereka bahwa apa yang datang kepada mereka adalah dari Allah, dan menunjukkan umat-umat mereka kepada itu. Dan bersama mereka adalah dalil dan burhan yang paling agung bahwa apa yang datang kepada mereka adalah dari Allah. Burhan mereka adalah dalil dan bukti untuk mereka dan untuk umat-umat. Allah Ta’ala bersaksi dengan pembenaran mereka dengan apa yang Dia tegakkan atasnya dari bukti-bukti. Maka setiap ilmu yang tidak bersandar kepada dalil adalah klaim yang tidak ada dalilnya, dan hukum yang tidak ada bukti bagi yang mengatakannya. Dan apa yang demikian tidak menjadi ilmu, apalagi menjadi ladunni.
Maka ilmu laduni adalah: apa yang didirikan oleh dalil yang sahih bahwa ia datang dari sisi Allah atas lisan para rasul-Nya, dan selain itu adalah laduni dari sisi jiwa manusia sendiri, darinya bermula dan kepadanya kembali. Telah terbuka bendungan ilmu laduni dan murah harganya, hingga setiap kelompok mengklaim bahwa ilmu mereka adalah laduni. Menjadilah orang yang berbicara tentang hakikat-hakikat iman, suluk, dan bab nama-nama serta sifat-sifat dengan apa yang terlintas baginya dan diilhamkan setan kepadanya dalam hatinya, mengaku bahwa ilmunya adalah laduni. Maka para mulhid dari kaum Ittihad (kesatuan wujud) dan para zindiq yang mengaku berafiliasi dengan suluk mengatakan bahwa ilmu mereka adalah laduni. Telah mengarang tentang ilmu laduni para mutakallimin yang gegabah, para mutashawwuf yang zindiq, dan para filosof yang bodoh, dan masing-masing mengklaim bahwa ilmunya adalah laduni. Mereka benar sekaligus dusta, karena sesungguhnya “laduni” dinisbatkan kepada “ladun” yang berarti “di sisi”. Seakan-akan mereka berkata: ilmu yang di sisi. Tetapi persoalannya adalah: ilmu ini dari sisi siapa dan dari ladun siapa? Allah Taala telah mencela dengan celaan yang sangat keras orang yang menisbatkan kepada-Nya apa yang bukan dari sisi-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Dan mereka berkata: ‘Ini dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah, dan mereka berkata dusta atas (nama) Allah sedang mereka mengetahui” (Surah Ali Imran: 78). Dan Allah Taala berfirman: “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: ‘Ini dari sisi Allah'” (Surah al-Baqarah: 79). Dan Allah Taala berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau berkata: ‘Telah diwahyukan kepadaku’, padahal tidak diwahyukan sesuatupun kepadanya” (Surah al-An’am: 93). Maka setiap orang yang berkata: “Ilmu ini dari sisi Allah” – sedang ia dusta dalam penisbatan ini – maka baginya bagian yang banyak dari celaan ini. Dan ini dalam al-Quran sangat banyak, Allah Subhanahu mencela orang yang menisbatkan kepada-Nya apa yang tidak ia ketahui, dan orang yang berkata atas-Nya apa yang tidak ia ketahui. Oleh karena itu Allah Subhanahu menyusun hal-hal yang diharamkan menjadi empat tingkatan, dan menjadikan yang paling keras adalah: berkata atas-Nya tanpa ilmu. Maka Dia menjadikannya tingkatan terakhir dari hal-hal yang diharamkan yang tidak boleh dihalalkan dalam kondisi apapun, bahkan ia haram dalam setiap agama dan atas lisan setiap rasul. Maka orang yang berkata: “Ini adalah ilmu laduni” untuk sesuatu yang ia tidak tahu bahwa ia dari sisi Allah, dan tidak ada dalil dari Allah bahwa ia dari sisi-Nya, adalah pendusta yang mengada-adakan terhadap Allah, dan ia termasuk orang yang paling zalim dan paling dusta.
Perkataan penulis: “Adapun jam’ul wujud (penyatuan wujud): adalah lenyapnya akhir ittisal (hubungan) dalam hakikat wujud secara total.”
“Lenyapnya akhir ittisal” adalah fana (lenyap)nya hamba dalam syuhud (penyaksian), dan “akhir ittisal” adalah apa yang ia sebutkan pada tingkatan ketiga dari bab ittisal yaitu: “bahwa tidak dapat dipahami darinya sifat atau ukuran kecuali nama yang dipinjam, dan kilas yang diisyaratkan kepadanya.” Maka hakikat jam’ pada tingkatan ini adalah: lenyapnya hal tersebut dalam hakikat wujud, yaitu dalam hakikatnya. Dan yang dimaksud dengan wujud adalah apa yang ia isyaratkan pada tingkatan kedua dari bab wujud, yaitu perkataannya: “Wujud al-Haq adalah wujud hakikat, terputus dari jangkauan isyarat.” Maka akhir ittisal lenyap dalam wujud ini secara total, yaitu mencair, lenyap dan fana.
Perkataan penulis: “Adapun jam’ul ‘ain (penyatuan hakikat): adalah lenyapnya semua yang dibawa oleh isyarat dalam zat al-Haq secara hakiki.”
“Yang dibawa oleh isyarat” artinya dipikulnya dan ditegakkan olehnya. Isyarat terkadang dengan tangan dan kepala maka disebut gerakan, terkadang dengan mata maka disebut isyarat mata, terkadang dengan lafaz maka dinamakan sindiran, dan terkadang dengan akal dan pikiran. Maka lenyaplah semua jenis ini dan batallah ketika menyaksikan hakikat dalam hadlrah al-jam’ (hadirat penyatuan), dan penampakan keagungan zat yang suci. Zat adalah yang memikul sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan.
Maka engkau telah mengetahui dari ini bahwa: pada tingkatan pertama ia ghaib (hilang) dari semua ilmu yang berkaitan dengan dalil-dalil dan saksi-saksi dengan ilmu laduni. Pada tingkatan kedua: ia ghaib dari hubungannya dan penyaksian hubungannya dengan wujud, karena wujud berada di atas ittisal – sebagaimana telah disebutkan. Dan ini seperti ghaibnya orang yang telah mendapatkan yang dicarinya dari penyaksian sampainya kepada yang dicari dan hubungannya dengannya, maka hakikat wujudnya memfanakannya dari menyaksikan dirinya dan sifat-sifatnya. Pada tingkatan ketiga: lenyaplah semua yang dipikul oleh isyarat – kepada zat, atau kepada sifat, atau hal, atau tingkatan – dalam zat al-Haq Subhanahu. Maka tidak tersisa di sana apa yang dapat diisyaratkan selain Dia.
Jam’ adalah Puncak Tingkatan Para Salik
Perkataan penulis: “Dan jam’ adalah puncak tingkatan para salik, dan ia adalah ujung lautan tauhid.”
Alasan hal itu adalah: bahwa salik selama dalam suluknya maka ia dalam tafarruqatul istidlal (penceraian dalam beristidlal) dan pencarian saksi-saksi. Ketika ia sampai kepada tingkatan ma’rifah dan menjadi hemmatnya satu hemmat saja – untuk Allah, dalam Allah, dan dengan Allah – ia turun dalam tingkatan al-jam’ (tempat penyatuan) dan bersiap-siap untuk mengarungi lautan tauhid yang di dalamnya lenyap semua selain al-Wahid al-Qahhar (Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa). Maka jam’ menurutnya adalah akhir perjalanan para salik kepada Allah.
Ini adalah tempat yang tidak diserahkan kepadanya secara mutlak. Sesungguhnya puncak tingkatan para salik adalah taubat yang merupakan permulaan tingkatan mereka.
Mungkin pendengaranmu sangat menolak ini dengan penolakan yang keras, dan engkau berkata: ini adalah perkataan orang yang tidak mengenal sesuatu pun dari jalan kaum, dan tidak turun di tingkatan-tingkatan jalan. Demi umur Allah, sesungguhnya banyak dari manusia akan menyetujuimu dalam hal ini dan berkata: di mana kami berada? Dan ke mana kami sampai? Kami telah melewati tingkatan taubat dan antara kami dengannya ada seratus tingkatan. Apakah kami kembali dari seratus tingkatan kepadanya dan menjadikannya puncak tingkatan para salik?
Maka dengarkanlah sekarang dan pahamilah, jangan tergesa-gesa mengingkari dan jangan buru-buru menolak. Bukalah pikiranmu untuk mengenal dirimu, hak-hak Tuhanmu, apa yang seharusnya bagimu dari-Nya, dan apa hak-Nya atasmu. Kemudian nisbatkanlah amal-amalmu, hal-halmu, dan tingkatan-tingkatan yang telah kau singgahi serta tingkatan-tingkatan yang telah kau tegakkan – untuk Allah dan dengan Allah – kepada keagungan kemuliaan-Nya, apa yang seharusnya bagi-Nya dan apa yang layak untuk-Nya. Jika engkau melihatnya memadai untuk hal itu dan setara dengan-Nya, maka tidak ada kebutuhan saat itu kepada taubat, dan kembali kepadanya adalah kembali dari tingkatan-tingkatan yang tinggi, dan turun dari ketinggian ke kerendahan, dan kembali dari puncak ke permulaan. Dan itu tidaklah jauh dari banyak orang yang mengaku berafiliasi dengan urusan ini, yang tertipu dengan hal-hal mereka, ma’rifah mereka, dan isyarat-isyarat mereka. Namun jika engkau melihat bahwa berlipat-lipat ganda dari apa yang telah kau tegakkan – dari kejujuran, keikhlasan, inabah (kembali kepada Allah), tawakkal, zuhud, dan ibadah – tidak memadai untuk hak-Nya yang paling ringan atasmu, dan tidak setara dengan satu nikmat pun dari nikmat-nikmat-Nya padamu, dan bahwa apa yang seharusnya bagi-Nya – karena keagungan dan kebesaran-Nya – lebih agung, lebih mulia, dan lebih besar dari apa yang dapat ditegakkan oleh makhluk…
Maka ketahuilah sekarang bahwa taubat adalah akhir setiap ‘arif (orang yang mengenal Allah), dan puncak setiap salik. Sebagaimana ia adalah permulaan maka ia adalah akhir, dan kebutuhan kepadanya di akhir lebih keras daripada kebutuhan kepadanya di awal, bahkan ia di akhir berada di tempat yang dharurat (sangat mendesak).
Maka dengarkanlah sekarang apa yang Allah sampaikan kepada rasul-Nya di akhir urusan ketika di akhir, dan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hidupnya sangat banyak beristighfar dan sangat sering melakukannya. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikutinya di saat kesulitan, setelah hampir hati segolongan dari mereka berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengasih kepada mereka” (Surah at-Taubah: 117). Dan ini Allah Subhanahu turunkan setelah perang Tabuk, dan ia adalah perang terakhir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Maka Allah Subhanahu menjadikan taubat kepada mereka sebagai syukur atas amal-amal yang telah lalu dan jihad itu. Allah Taala berfirman dalam ayat terakhir yang diturunkan kepada rasul-Nya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat” (Surah an-Nashr: 1-3). Dalam hadits shahih bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak shalat suatu shalat pun – setelah ayat ini diturunkan kepadanya – melainkan mengucapkan di dalamnya: “Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika, Allahumma ghfir li” (Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku). Dan itu di akhir urusannya shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu para ulama sahabat memahami darinya – seperti Umar bin al-Khaththab dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum – bahwa ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diberitahukan Allah kepadanya. Maka Allah Subhanahu memerintahkannya beristighfar di akhir keadaannya dan akhir urusannya, atas apa yang ada pada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berupa tingkatan dan hal. Akhir yang didengar dari perkataannya ketika menghadap Tuhannya adalah: “Allahumma ghfir li, wa alhiqni birrafiqil a’la” (Ya Allah ampunilah aku dan pertemukanlah aku dengan sahabat yang tertinggi). Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menutup setiap amal shalih dengan istighfar, seperti puasa, shalat, haji, dan jihad. Sesungguhnya beliau apabila selesai darinya dan hampir sampai ke Madinah, mengucapkan: “Ayibun, ta’ibun, lirabbina hamidun” (Kembali, bertaubat, memuji kepada Tuhan kami). Dan disyariatkan untuk menutup majelis dengan istighfar, meskipun majelis kebaikan dan ketaatan. Dan disyariatkan hamba menutup amal harinya dengan istighfar, maka mengucapkan ketika tidur: “Astaghfirullah alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih” (Aku memohon ampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus, dan aku bertaubat kepada-Nya). Dan tidur dengan sayyidul istighfar (penghulu istighfar).
Orang yang mengenal Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya mengetahui bahwa hamba paling membutuhkan kepada taubat di akhirnya, dan ia lebih membutuhkan taubat daripada fana, ittisal, jam’u syawahid (penyatuan saksi-saksi), jam’ul wujud, dan jam’ul ‘ain. Bagaimana mungkin itu menjadi tingkatan tertinggi para salik dan puncak maksud orang-orang yang didekatkan, padahal tidak datang penyebutan untuknya dalam al-Quran dan tidak dalam Sunnah, dan tidak dikenal kecuali oleh orang yang jarang dari manusia, dan tidak dapat dibayangkan oleh kebanyakan mereka kecuali dengan kesulitan dan kesusahan? Seandainya kebanyakan makhluk mendengarnya niscaya mereka tidak memahaminya dan tidak mengenal yang dimaksud darinya kecuali dengan terjemahan. Maka di mana dalam Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam atau perkataan para sahabat – yang perbandingan ma’rifah orang-orang setelah mereka dengan ma’rifah mereka seperti perbandingan keutamaan mereka, agama mereka, dan jihad mereka dengan mereka – apa yang menunjukkan kepada hal itu atau mengisyaratkan kepadanya? Maka jadilah orang-orang yang terlambat – pemilik istilah-istilah yang baru ini dengan lafaz-lafaz yang global dan makna-makna yang syubhat – lebih mengetahui tentang tingkatan-tingkatan para salik dan tingkatan-tingkatan orang-orang yang berjalan serta puncaknya daripada orang yang paling mengetahui makhluk tentang Allah setelah para rasul-Nya? Ini termasuk kebatilan yang paling besar.
Mereka dalam bab iradat (keinginan), thalab (pencarian), dan suluk adalah seperti pemilik ilmu kalam dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan yang menempuh jalan mereka dalam bab ilmu dan khabar tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Maka kedua kelompok ini – bahkan banyak dari yang mengarang dalam fikih – termasuk orang-orang yang paling memaksakan diri (dibuat-buat). Allah Taala telah berfirman kepada rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu untuk ini dan aku bukan termasuk orang-orang yang memaksakan diri'” (Surah Shad: 86). Dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengikuti teladan, maka ikutilah teladan orang yang telah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak aman atasnya fitnah. Mereka adalah para sahabat Muhammad: paling berbakti hati umat ini, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit takalufnya. Kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya, maka kenalilah hak mereka dan berpeganglah dengan petunjuk mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”
Maka engkau tidak akan menemukan memaksakan diri yang keras ini dan kerumitan dalam lafaz dan makna pada para sahabat sama sekali.
Sesungguhnya hanya dijumpai pada orang yang menyimpang dari jalan mereka. Apabila orang yang ‘arif merenungkannya, ia akan mendapatinya seperti daging unta yang buruk di atas gunung yang sulit, tidak mudah untuk didaki dan tidak gemuk untuk dipindahkan. Maka panjang bagimu jalan, dan diperluas untukmu ungkapan, dan datang dengan setiap lafaz yang asing dan makna yang lebih asing dari lafaz. Ketika engkau sampai, engkau tidak mendapatkan hasil yang berguna bersamamu, tetapi engkau mendengar suara gemuruh namun tidak melihat hasil. Maka para mutakallimin dalam gemuruh jawahir (substansi), ‘aradl (aksiden), akwan (keadaan-keadaan), alwan (warna-warna), jawhar al-fard (substansi tunggal), ahwal (keadaan-keadaan), harakat (gerakan), sukun (diam), wujud, mahiyyah (hakikat), inhiyaz (bergeser), jihat (arah), nisbah (hubungan), idhafat (penisbatan), ghayrain (dua yang berbeda), khilafain (dua yang berlawanan), dhiddain (dua yang bertentangan), naqidhain (dua yang kontradiktif), tamasul (kesamaan), ikhtilaf (perbedaan), ‘aradl apakah tetap dua masa? Dan apa itu zaman dan tempat? Dan salah seorang dari mereka meninggal dan belum mengenal zaman dan tempat, dan mengakui bahwa ia tidak mengenal wujud: apakah ia mahiyyah sesuatu atau tambahan darinya? Dan mengakui bahwa ia ragu tentang wujud ar-Rabb: apakah ia wujud murni atau wujud yang bersama mahiyyah? Dan berkata: yang benar menurutku adalah waqaf (berhenti) dalam masalah ini.
Dan berkata yang paling utama dari mereka – menurut dirinya – ketika kematian: “Aku keluar dari dunia dan tidak mengenal kecuali satu masalah, yaitu bahwa al-mumkin (yang mungkin) membutuhkan al-wajib (yang wajib), kemudian berkata: kebutuhan itu adalah perkara ‘adami (ketiadaan), maka aku mati dan tidak mengenal sesuatu pun.” Dan ini lebih banyak untuk disebutkan, sebagaimana perkataan sebagian salaf: “Orang yang paling banyak ragu ketika kematian adalah pemilik ilmu kalam.”
Dan yang lain lebih memaksakan diri daripada mereka dan paling jauh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu: pemilik hayula (materi), shurah (bentuk), astuqushat (elemen), arkan (rukun-rukun), ‘ilal al-arba’ah (sebab-sebab empat), jawahir ‘aqliyyah (substansi-substansi akal), mufariqat (yang terpisah), mujarradat (yang abstrak), maqulatil ‘asyr (sepuluh kategori), kulliyyatil khams (lima universal), mukhtalathat (yang bercampur), muwajjahat, qadhaya musawwarat (proposisi yang digambarkan), qadhaya muhmalat (proposisi yang diabaikan). Maka mereka adalah kelompok yang paling memaksakan diri dan paling sedikit memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
Demikian pula orang-orang yang memaksakan diri dari pemilik iradah dan suluk, pemilik hal dan tingkatan, waqt dan makan, badi, bazhah, warid, khatir, waqi’, qadih, lami’, ghaibah, hudhur, mahq, haq, sukr, lawai’h, thawali’, ‘atasy, dahas, talbis, tamkin, talwin, ism, rasm, jam’, jam’ul jam’, jam’u syawahid, jam’ul wujud, atsar, kaun, baun, ittisal, infisal, musamarah, musyahadah, mu’ayanah, tajalli, takhalli, ana bila ana (aku tanpa aku), anta bila anta (engkau tanpa engkau), nahnu bila nahnu (kami tanpa kami), huwa bila huwa (dia tanpa dia). Dan semua itu adalah isyarat yang paling dekat kepada memaksakan diri kelompok-kelompok ini dan kedalaman mereka. Demikian pula banyak dari yang berafiliasi dengan fikih memiliki sikap memaksakan diri seperti ini dan lebih besar darinya.
Maka semua orang ini terhalang oleh apa yang mereka miliki, terhenti pada apa yang ada pada mereka. Mereka mengarungi—menurut anggapan mereka—lautan ilmu, padahal kaki mereka belum basah. Mereka meletihkan pikiran, akal, dan khayalan mereka, namun hati dan pemahaman mereka tidak tercerahkan oleh ilmu yang diwariskan dari para rasul. Mereka merasa gembira dengan ilmu yang mereka miliki dan puas dengan aturan-aturan yang telah mengikat mereka. Maka mereka berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum berada di lembah yang lain. Allah mengetahui bahwa kami tidak melampaui batas dalam berbicara tentang mereka, bahkan kami mengurangi apa yang seharusnya kami katakan. Kami hanya menyebutkan setetes dari samudra, dan sedikit dari yang banyak.
Semua orang ini termasuk dalam kategori ra’yu (pendapat), yang telah disepakati oleh para salaf untuk mencela ra’yu dan para pengikutnya.
Mereka inilah para ahli ra’yu yang sebenarnya, yang tentang mereka Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati-hatilah kalian terhadap para ahli ra’yu, karena mereka adalah musuh-musuh sunnah. Hadits-hadits terlalu sulit bagi mereka untuk dihafal, maka mereka berkata dengan ra’yu, lalu mereka sesat dan menyesatkan.” Ia juga berkata: “Para ahli ra’yu adalah musuh-musuh sunnah. Hadits-hadits terlalu sulit bagi mereka untuk dipahami, dan lepas dari mereka untuk diriwayatkan, maka mereka menyibukkan diri dari sunnah dengan ra’yu.”
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bumi manakah yang akan memikulku? Dan langit manakah yang akan menaungi? Jika aku berbicara tentang Kitab Allah dengan pendapatku, atau dengan apa yang tidak aku ketahui.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya ra’yu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar, karena Allah ‘azza wajalla memperlihatkannya kepadanya. Adapun dari kita, ia hanyalah dugaan dan spekulasi.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa mengada-adakan pendapat yang tidak ada dalam Kitab Allah, dan tidak dilalui oleh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia tidak tahu apa keadaannya ketika bertemu Allah ‘azza wajalla.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, curigailah pendapat kalian dalam urusan agama. Aku melihat diriku sendiri, dahulu aku menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pendapatku, aku berijtihad, demi Allah aku tidak mengurangi usahaku pada hari (peristiwa) Abu Jandal ketika surat perjanjian sedang ditulis. Mereka berkata: ‘Tulislah “Bismika Allahumma” (dengan nama-Mu ya Allah)’, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya dan aku menolak. Beliau berkata: ‘Wahai Umar, apakah kamu melihat aku telah menyetujuinya dan kamu menolak?'”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang kami riwayatkan dari jalur Musaddad, dari Yahya bin Sa’id, dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin ‘Atiq, dari Thalq bin Habib, dari al-Ahnaf bin Qais, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ketahuilah, binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, ketahuilah, binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, ketahuilah, binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” Jika lafazh-lafazh dan makna-makna yang kami dapati dalam banyak perkataan orang-orang ini bukan termasuk berlebih-lebihan (tanathhu’), maka tidak ada hakikat berlebih-lebihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.
Pasal: Akhir Perjalanan Para Salik adalah Menyempurnakan Martabat Penghambaan Murni
Pasal
Jika hatimu tidak rela dengan kenyataan bahwa taubat adalah puncak tingkatan para salik, dan kamu tidak mau mendengarkan sedikitpun dari apa yang telah kami sebutkan, dan kamu tetap menolak kecuali bahwa lenyapnya akhir penyatuan dalam wujud yang hakiki secara murni, dan lenyapnya ilmu-ilmu kesaksian dalam ilmu laduni secara murni, serta jam’ul wujud (penyatuan wujud) dan jam’ul ‘ain (penyatuan hakikat) adalah akhir tingkatan para salik kepada Allah, sehingga semua salik masuk ke dalamnya, maka ketahuilah bahwa jam’ (penyatuan) yang disebutkan ini secara semata-mata tidak menghasilkan penghambaan dan keimanan, apalagi menjadi puncak bagi setiap nabi, wali, dan orang yang mengenal Allah. Karena jam’ ini bisa didapatkan oleh orang yang jujur maupun orang yang munafik, dan para mulhid serta kaum ittihad (yang mengklaim bersatu dengan Allah) memiliki bagian besar darinya. Di sekelilingnya mereka berkeliling, dan itu adalah puncak ketahqiq menurut mereka. Lalu di manakah tahqiq penghambaan, melaksanakan beban-bebannya, memenuhi kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnahnya serta menunaikannya, berjihad melawan musuh-musuh Allah, berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar, menanggung gangguan di jalan Allah dalam jam’ ini?! Dan di manakah pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah secara terperinci di dalamnya? Di manakah pengenalan tentang apa yang dicintai dan dibenci oleh Rabb Ta’ala secara terperinci? Di manakah pengetahuan tentang yang terbaik dari dua kebaikan dan yang terburuk dari dua keburukan di dalamnya? Dan di manakah ilmu tentang tingkatan-tingkatan dan tingkatan-tingkatan penghambaan di dalamnya?!
Yang benar adalah bahwa akhir perjalanan para salik adalah menyempurnakan martabat penghambaan secara murni, dan ini tidak ada jalan bagi anak-anak tabi’at (untuk mencapainya). Hal ini hanya dikhususkan untuk dua orang khalil—’alaihimash shalatu wassalam—dari antara seluruh makhluk. Adapun Ibrahim al-Khalil—shallawatullahi wasalamuhu ‘alaihi—maka Allah ‘azza wajalla bersaksi bahwa ia telah menyempurnakan (janji). Adapun sayyidul walad Adam—shallawatullahi wasalamuhu ‘alaihi—maka ia telah menyempurnakan martabat penghambaan, sehingga berhak didahulukan atas seluruh makhluk. Maka ia adalah pemilik al-wasilah dan syafaat yang ditunda oleh semua rasul, dan ia berkata: “Akulah orangnya.” Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan penghambaan dalam tingkatan-tingkatannya yang paling tinggi dan keadaan-keadaannya yang paling mulia, seperti firman-Nya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari” (Al-Isra’: 1), firman-Nya: “Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyeru kepada-Nya” (Al-Jinn: 19), firman-Nya: “Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami” (Al-Baqarah: 23), dan firman-Nya: “Mahasuci (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya” (Al-Furqan: 1). Oleh karena itu, Al-Masih berkata ketika diminta untuk memberi syafaat: “Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Maka ia berhak mendapat kedudukan yang tinggi itu dengan menyempurnakan penghambaannya kepada Allah, dan dengan sempurnanya ampunan Allah kepadanya.
Maka kembalilah urusan ini kepada bahwa puncak dan akhir tingkatan-tingkatan adalah taubat dan penghambaan yang murni, bukan jam’ul ‘ain, bukan jam’ul wujud, dan bukan lenyapnya penyatuan.
Jika kamu berkata: Jam’ ini hanya diperoleh oleh orang yang telah melaksanakan hakikat taubat dan penghambaan.
Dikatakan: Tidak demikian. Bahkan jam’ yang diperoleh oleh orang yang melaksanakan hal itu adalah jam’nya para rasul dan para pengganti mereka, yaitu terkumpulnya kehendak pada Allah Subhanahu—dengan kecintaan, inabah (kembali kepada Allah), tawakal, khauf (takut), raja’ (harap), dan muraqabah (merasa diawasi)—serta terkumpulnya kehendak untuk melaksanakan perintah-perintah Allah kepada makhluk dengan dakwah dan jihad. Maka ada dua jam’: jam’ (terkumpulnya) hati pada Yang disembah semata, dan jam’ (terkumpulnya) perhatian untuk-Nya pada penghambaan yang murni kepada-Nya.
Jika kamu berkata: Lalu di manakah bukti kedua jam’ ini?
Aku katakan: Dalam seluruh Al-Quran. Ambillah dari pembukaan Kitab dalam firman-Nya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5). Perhatikanlah apa yang terkandung dalam firman-Nya “Iyyaka” (hanya kepada-Mu): pengkhususan Zat-Nya yang suci dengan ibadah dan permohonan pertolongan, dan apa yang terkandung dalam firman-Nya: “na’budu” (kami menyembah) yang untuk keadaan sekarang dan akan datang, dan untuk ibadah lahir dan batin, yaitu mencakup semua jenis ibadah, sekarang dan akan datang, perkataan dan perbuatan, lahir dan batin, serta memohon pertolongan kepada-Nya bukan kepada selain-Nya. Oleh karena itu, seluruh jalan terkandung dalam dua kalimat ini, dan itu adalah makna perkataan mereka: jalan itu adalah: Hanya Engkau yang aku inginkan dengan apa yang Engkau inginkan. Maka terkumpullah yang diinginkan pada satu, dan kehendak pada apa yang Ia inginkan, yang Ia cintai dan Ia ridhai. Kepada inilah para rasul berdakwah dari yang pertama hingga yang terakhir, dan kepadanya para pelaku beramal menghadap, dan para mutawajjih (yang menghadap) mengarahkan wajah mereka. Semua ahwal dan tingkatan—dari awal hingga akhir—tercakup dalam hal itu, dan merupakan buah dan konsekuensi darinya.
Maka penghambaan mengumpulkan kesempurnaan cinta dalam kesempurnaan kerendahan, dan kesempurnaan ketundukan kepada keridhaan dan perintah-perintah Yang Tercinta. Inilah puncak yang tidak ada puncak di atasnya. Dan jika tidak ada jalan untuk melaksanakan hakikatnya—sebagaimana seharusnya—maka taubat adalah sandaran dan penopang. Sungguh kamu telah mengetahui—dengan ini dan lainnya—bahwa kebutuhan kepadanya di akhir lebih besar daripada kebutuhan kepadanya di awal. Seandainya tidak ada hembusan rohnya, niscaya putus asalah harapan antara anak air dan tanah dengan sampai kepada Rabb semesta alam. Ini jika ia melaksanakan apa yang seharusnya ia lakukan untuk tuannya dari hak-hak-Nya, lalu bagaimana kalau kelalaian, kekurangan, pembiaran, pengabaian, dan lebih mendahulukan kepentingan dirinya dalam banyak waktu daripada hak-hak rabbnya hampir tidak terlepas darinya, terutama bagi salik di jalan fana’ dan jam’? Karena rabbnya menuntutnya dengan penghambaan, sedangkan dirinya menuntutnya dengan jam’ dan fana’. Seandainya ia mempertajam pandangan terhadap dirinya dan menghisabnya dengan perhitungan yang benar, niscaya jelaslah baginya bahwa ia menginginkan kepentingan dirinya dan mencari kesenangannya. Ya, setiap orang mencari hal itu, tetapi persoalannya adalah perbedaan antara orang yang kepentingannya menjadi keridhaan Allah dan kecintaan-Nya sendiri, dicintai atau dibenci oleh dirinya, dan antara orang yang kepentingannya adalah apa yang ia inginkan dari rabbnya. Yang pertama: kepentingannya adalah yang diinginkan rabbnya secara agama dan syariat darinya, sedangkan yang ini kepentingannya adalah yang ia inginkan dari rabbnya. Dan dengan pertolongan Allah lah taufik.
Jika dikatakan: Masalah ini diserahkan kepada ahli zauq (pengalaman spiritual), dan kalian berbicara dengan bahasa ilmu bukan dengan bahasa zauq. Orang yang merasakan (za’iq) adalah orang yang menemukan (wajid), dan orang yang menemukan tidak mungkin mengingkari apa yang ditemukannya, maka tidak kembali kepada orang yang memiliki ilmu, bahkan ia mengajaknya untuk merasakan apa yang ia rasakan, dan berkata:
Aku berkata kepada si pencela yang menasihati celaan-celanya Rasakanlah cinta, dan jika kamu mampu celakanlah
Dikatakan: Tidak adil orang yang mengalihkan kepada zauq, karena itu adalah mengalihkan kepada yang dihukumi bukan kepada hakim, dan kepada yang disaksikan bukan kepada saksi, dan kepada yang ditimbang bukan kepada timbangan.
Ya Subhanallah! Apakah hanya merasakan sesuatu menunjukkan hukumnya, dan bahwa itu benar atau batil? Apakah Allah dan Rasul-Nya menjadikan zauq dan mawajid (pengalaman-pengalaman spiritual) sebagai hujjah dan dalil, untuk membedakan antara apa yang Ia cintai dan ridhai, dan antara apa yang Ia benci dan murkai? Seandainya demikian, niscaya setiap orang yang batil berdalih atas kebatilannya dengan zauq dan wajd, sebagaimana kamu dapati pada banyak ahli kebatilan dan ilhad. Maka kaum ittihad ini—dan mereka adalah makhluk yang paling kafir—berdalih dengan zauq dan wajd atas kekafiran dan ilhad mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata:
Wahai dua temanku, kamu melarangku dan memerintahku Padahal wajd lebih jujur melarang dan memerintah
Jika aku menaatimu dan mendurhakai wajd, aku pergi dengan buta Dari keyakinan menuju wahm-wahm berita-berita
Dan hakikat apa yang kamu ajak aku kepadanya jika Aku tahqiqkan, berubah menjadi yang dilarang wahai tetangga
Dan orang yang berkata ini berkata: Tetap pada kami—dengan kasyf dan zauq—apa yang bertentangan dengan akal yang jelas. Dan setiap orang yang berkeyakinan terhadap sesuatu, yakin dengannya, menganggapnya baik, akan merasakan rasanya. Maka mulhid merasakan rasa ittihad dan terlepas dari agama, Rafidhi merasakan rasa rafadh dan memusuhi orang-orang pilihan terbaik makhluk, Qadari merasakan rasa mengingkari qadar dan heran kepada orang yang menetapkannya, Jabari sebaliknya, dan musyrik merasakan rasa syirik, hingga ia bergembira jika disebut tuhannya dan sesembahannya selain Allah, dan hatinya merasa jijik jika Allah semata disebut.
Dan hujjah ini telah ditempuh oleh para pengikut sima’ (musik spiritual) yang diada-adakan dari setan, yang hanyalah syahwat nafsu dan hawa nafsu. Mereka berdalih atas kebolehan sima’ ini dengan apa yang ada di dalamnya dari zauq, wajd, dan kenikmatan. Kamu dapati orang Nasrani memiliki zauq, wajd, dan kerinduan dalam trinitas-nya, sehingga jika ditawarkan kepadanya azab yang paling keras ia akan memilihnya, daripada meninggalkan trinitas-nya, karena zauq yang ia miliki di dalamnya.
Dan pada saat itu, dikatakan: Anggaplah bahwa perkaranya seperti yang kamu katakan, dan bahwa orang yang berbicara yang mengingkari tidak berbicara dengan bahasa zauq, apakah zauq si pezauq terhadap hal itu menjadi hujjah yang benar dan bermanfaat baginya di antara dirinya dan Allah? Seandainya kita anggap bahwa orang yang mengingkari ini berkata: Ya, aku terhalang dari sampai kepada apa yang aku ingkari, tidak merasakannya, dan kamu merasakan dan sampai kepadanya, maka apa tanda dari apa yang kamu rasakan dan kamu capai? Apa dalilnya? Aku tidak mengingkari zauqmu kepadanya dan wajdmu dengannya, tetapi persoalannya adalah pada yang dirasakan bukan pada rasanya. Dan jika pencinta yang bergairah merasakan rasa kecintaan dan kegairahannya terhadap kekasihnya, maka puncak hal itu hanyalah menunjukkan adanya kecintaan dan kegairahannya, bukan menunjukkan bahwa hal itu bermanfaat atau membahayakannya, atau mewajibkan kesempurnaannya atau kekurangannya. Dan dengan pertolongan Allah lah taufik.
Fasal Tauhid
Tauhid adalah Dakwah Pertama Para Rasul
Penulis kitab Manazil berkata: “Bab Tauhid”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu” (Surah Ali Imran: 18). Tauhid adalah: mensucikan Allah Azza wa Jalla dari kebaruan. Adapun para ulama berbicara dengan apa yang mereka ucapkan, dan para muhaqqiq (ahli peneliti) mengisyaratkan dengan apa yang mereka isyaratkan dalam jalan ini, tujuannya adalah untuk membenarkan tauhid. Adapun selain tauhid, baik berupa keadaan maupun tingkatan (kedudukan spiritual), semuanya disertai dengan cacat.
Penulis kitab berkata: Tauhid adalah dakwah pertama para rasul, dan tingkatan (kedudukan) pertama dalam perjalanan spiritual, serta tingkatan pertama yang ditempati oleh salik (penempuh jalan) menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 59). Dan Hud berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 65). Dan Saleh berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 73). Dan Syu’aib berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 85). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah tagut” (Surah An-Nahl: 36).
Maka tauhid adalah kunci dakwah para rasul. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusannya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah: beribadah kepada Allah semata. Jika mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima kali salat dalam sehari semalam”, dan hadits disebutkan. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas mukallaf adalah: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, bukan an-nazhar (penelitian rasional), bukan niat untuk melakukan penelitian, dan bukan keraguan – sebagaimana pendapat-pendapat dari ahli ilmu kalam yang tercela.
Maka tauhid adalah hal pertama yang dengannya seseorang masuk Islam, dan hal terakhir yang dengannya ia keluar dari dunia, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa ucapan terakhirnya adalah: tidak ada tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga”. Jadi tauhid adalah kewajiban pertama dan kewajiban terakhir. Tauhid adalah permulaan urusan dan akhirnya.
Ucapan penulis: “Tauhid adalah mensucikan Allah dari kebaruan”, batasan ini tidak menunjukkan tauhid yang dengannya Allah mengutus rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, yang dengannya hamba selamat dari neraka, masuk surga, dan keluar dari kesyirikan. Karena batasan ini berlaku umum bagi semua golongan, dan setiap orang yang mengakui adanya Sang Pencipta – Subhanahu – juga mengakuinya. Para penyembah berhala, Majusi, Nasrani, Yahudi, dan kaum musyrik dengan berbagai aliran mereka, semuanya mensucikan Allah dari kebaruan dan menetapkan keazalian-Nya. Bahkan golongan yang paling syirik, kafir, dan sesat secara mutlak, yaitu kaum Ittihad (Ittihādiyyah), mereka berkata: Dia adalah wujud mutlak, Dia azali tidak ada awalnya, Dia disucikan dari kebaruan, dan segala yang baru senantiasa mengenakan wujud-Nya, memakainya dan melepaskannya.
Para filsuf yang paling jauh dari syariat dan apa yang dibawa para nabi, mereka menetapkan wajibul wujud yang azali yang disucikan dari kebaruan.
Kaum musyrik penyembah berhala yang menyembah tuhan-tuhan lain selain Dia, mereka menetapkan yang azali yang disucikan dari kebaruan.
Maka mensucikan dari kebaruan adalah hak, tetapi tidak memberikan keislaman dan keimanan, tidak termasuk dalam syariat para nabi, dan sama sekali tidak mengeluarkan seseorang dari aliran dan agama-agama orang kafir. Hal ini tentu tidak tersembunyi bagi Syaikhul Islam, dan kedudukannya dalam ilmu dan ma’rifah sudah jelas.
Meskipun demikian, sayyid thaifah (pemimpin kaum sufi) Al-Junaid pernah ditanya tentang tauhid, lalu ia menjawab: Tauhid adalah mengasingkan yang azali dari yang baru. Al-Junaid mengisyaratkan bahwa klaim tauhid tidak sah, begitu pula tingkatan dan keadaan tauhid, dan seorang hamba tidak menjadi muwahhid kecuali jika ia mengasingkan yang azali – Subhanahu – dari yang baru. Karena banyak dari mereka yang mengklaim tauhid tidak mengasingkan-Nya – Subhanahu – dari makhluk-makhluk yang baru. Barangsiapa menafikan bahwa Dia berbeda dengan makhluk-Nya, di atas langit-Nya di atas Arsy-Nya, dan menjadikan-Nya ada di setiap tempat dengan Dzat-Nya, maka ia tidak mengasingkan-Nya dari yang baru, bahkan menjadikan-Nya bersemayam dalam makhluk-makhluk yang baru dan berbeda dari mereka, berada di dalamnya dengan Dzat-Nya. Para sufi dan ahli ibadah mereka adalah kaum Hulul (Hulūliyyah), yang berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla bersemayam dengan Dzat-Nya dalam makhluk-makhluk. Mereka terbagi dua kelompok: kelompok yang menggeneralisasi keberadaan-Nya pada semua makhluk, dan kelompok yang mengkhususkannya pada sebagian makhluk tanpa sebagian yang lain.
Al-Asy’ari berkata dalam kitab Maqalat: Ini adalah hikayah pendapat sekelompok orang zahid. Di kalangan umat ada orang-orang yang mengaku zahid, mereka menyatakan bahwa Allah Ta’ala boleh bersemayam dalam tubuh-tubuh. Dan jika mereka melihat sesuatu yang mereka anggap indah, mereka berkata: Kami tidak tahu! Mungkin itu adalah Tuhan kami.
Penulis berkata: Kelompok ini terbagi dua. Pertama: mereka yang menyatakan bahwa Dia – Subhanahu – bersemayam dalam wujud yang indah dan bagus. Kedua: mereka yang menyatakan bahwa Dia – Subhanahu – bersemayam dalam orang-orang yang sempurna, yaitu mereka yang jiwa mereka terlepas dari syahwat, berhias dengan keutamaan, dan tersucikan dari keburukan. Nasrani menyatakan bahwa Dia bersemayam dalam tubuh Al-Masih dan menjelma padanya. Kaum Ittihad menyatakan bahwa Dia adalah wujud mutlak yang dikenakan oleh mahiyyat (hakikat-hakikat), maka Dia adalah hakikat wujud mereka.
Maka semua golongan ini tidak mengasingkan yang azali dari yang baru.
Fasal: Pengasingan yang Diisyaratkan oleh Al-Junaid
Pengasingan yang diisyaratkan oleh Al-Junaid ini ada dua jenis. Pertama: pengasingan dalam keyakinan dan berita, dan itu juga ada dua jenis. Pertama: menetapkan perbedaan Rabb Ta’ala dengan makhluk-makhluk, dan ketinggian-Nya di atas Arsy-Nya dari atas tujuh langit, sebagaimana dinyatakan oleh kitab-kitab ilahi dari awal hingga akhir, dan diberitakan oleh semua rasul dari yang pertama hingga terakhir. Kedua: mengasingkan-Nya – Subhanahu – dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan menetapkannya untuk-Nya secara terperinci, sebagaimana Dia menetapkannya untuk Diri-Nya dan para rasul-Nya menetapkannya untuk-Nya, tersucikan dari peniadaan, penyelewengan, penyerupaan, penyifatan cara, dan penyerupaan. Bahkan menetapkan untuk-Nya – Subhanahu – hakikat-hakikat nama-nama dan sifat-sifat, dan menafikan dari-Nya penyerupaan dengan makhluk-makhluk. Penetapan tanpa penyerupaan, dan pensucian tanpa penyelewengan dan peniadaan. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surah Asy-Syura: 11).
Dalam jenis ini termasuk mengasingkan-Nya – Subhanahu – dengan keumuman qadha dan qadar-Nya untuk semua makhluk – zat-zat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan mereka – dan bahwa semuanya terjadi dengan kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan hikmah-Nya. Maka pemilik pengasingan ini berbeda dengan semua kelompok ahli kebatilan: dari kaum Ittihad, Hulul, Jahmiyyah Fir’auniyyah – yang berkata: tidak ada Rabb di atas langit yang disembah, dan tidak ada tuhan di atas Arsy yang disalati dan disujudi – dan Qadariyyah – yang berkata: sesungguhnya Allah tidak berkuasa atas perbuatan-perbuatan hamba, baik dari malaikat, manusia, dan jin, maupun perbuatan-perbuatan semua hewan – bahkan terjadi di kerajaan-Nya apa yang tidak Dia kehendaki, dan Dia menghendaki apa yang tidak terjadi, maka Dia menghendaki sesuatu yang tidak terjadi, dan terjadi sesuatu tanpa kehendak dan iradah-Nya. Wallahu Subhanahu a’lam.
Fasal
Jenis kedua dari pengasingan adalah: mengasingkan yang azali dari yang baru dalam ibadah – berupa ta’alluh (penguluhan), cinta, takut, harap, pengagungan, inabah (kembali kepada Allah), tawakal, meminta pertolongan, dan mencari wasilah kepada-Nya. Maka pengasingan ini dan pengasingan yang pertama: dengan keduanya para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, syariat-syariat disyariatkan, dan untuk itu diciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, dan tegaklah pasar pahala dan siksa. Maka memisahkan yang azali – Subhanahu – dari yang baru dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam kehendak-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, bersumpah dengan-Nya, bernadzar kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, bersujud kepada-Nya, mengagungkan dan menganjungkan-Nya, serta konsekuensi-konsekuensi dari itu. Oleh karena itu, ungkapan Al-Junaid tentang tauhid adalah ungkapan yang tepat dan benar.
Maka Syaikhul Islam, jika ia bermaksud apa yang dimaksud Abu Al-Qasim (Al-Junaid), maka tidak ada masalah. Namun jika ia bermaksud mensucikan Allah Subhanahu dari berdirinya perbuatan-perbuatan ikhtiyariah (pilihan) pada-Nya – yang oleh para penafi perbuatan-Nya disebut: hulul hawadits (bersemayamnya hal-hal baru) – dan mereka menjadikan pensucian Rabb Ta’ala dari itu sebagai bagian dari kesempurnaan tauhid, bahkan itu adalah asas tauhid menurut mereka, seakan-akan ia berkata: Tauhid adalah mensucikan Rabb Ta’ala dari hulul hawadits.
Hakikat dari itu adalah: bahwa tauhid menurut mereka adalah meniadakan perbuatan-perbuatan-Nya dan menafikannya sama sekali, dan bahwa Dia sama sekali tidak melakukan sesuatu apa pun. Karena menetapkan pelaku tanpa ada perbuatan yang berdiri pada-Nya sama sekali adalah mustahil menurut akal, fitrah, dan bahasa-bahasa umat. Dan tidak dapat ditetapkan bahwa Dia – Subhanahu – adalah Rabb bagi alam dengan menafikan itu sama sekali. Karena berdirinya perbuatan-perbuatan pada-Nya adalah makna dan hakikat dari rububiyyah. Maka penafi masalah ini adalah penafi asas rububiyyah, mengingkarinya sama sekali.
Jika ia bermaksud mensucikan Rabb Ta’ala dari sifat-sifat makhluk dan kekhususan-kekhususan yang diciptakan, maka itu adalah hak, tetapi itu adalah pengurangan dalam menyatakan tauhid. Karena menetapkan sifat-sifat kesempurnaan adalah asas tauhid, dan dari kesempurnaan penetapan ini adalah: mensucikan-Nya – Subhanahu – dari sifat-sifat makhluk dan kekhususan-kekhususan yang diciptakan. Penganut paham Ittihad telah mengkritik batasan ini dan berkata: Menyaksikan tauhid mengangkat kebaruan dari akar dan pokoknya, maka tidak ada dua wujud – yang azali dan yang baru. Tauhid adalah: tidak melihat bersama wujud mutlak selain-Nya. Wallahu Subhanahu a’lam.
Fasal: Terbaginya Golongan-Golongan dalam Tauhid dan Penamaan Setiap Golongan terhadap Kebatilan Mereka sebagai Tauhid
Berbagai golongan telah membagi tauhid dan setiap golongan menamai kebatilan mereka sebagai tauhid.
Pengikut Aristoteles, Ibnu Sina, dan An-Nashir Ath-Thusi, menurut mereka tauhid adalah: menetapkan wujud yang terlepas dari mahiyyah dan sifat, bahkan wujud mutlak yang tidak terkait dengan mahiyyat apa pun, tidak berdiri pada-Nya sifat apa pun, tidak dikhususkan dengan sifat apa pun, bahkan semua sifat-Nya adalah salbiyyat (peniadaan) dan idhafat (penisbatan). Maka tauhid mereka adalah puncak ilhad, pengingkaran, dan kekufuran. Cabang-cabang dari tauhid ini adalah: mengingkari Dzat Rabb, berkata dengan keazalian alam falak, bahwa Allah tidak membangkitkan orang-orang yang di dalam kubur, bahwa kenabian bisa diperoleh, dan bahwa ia adalah profesi dari profesi-profesi seperti pemerintahan dan politik, bahwa Allah tidak mengetahui jumlah falak dan bintang-bintang, dan tidak mengetahui sesuatu apa pun dari wujud-wujud yang ada sama sekali, dan bahwa Dia tidak berkuasa membalikkan sesuatu dari hakikat-hakikat alam, tidak bisa membelah falak dan tidak melubanginya, dan bahwa tidak ada halal dan haram, tidak ada perintah dan larangan, tidak ada surga dan neraka. Inilah tauhid mereka.
Adapun kaum Ittihad, maka tauhid menurut mereka adalah: bahwa Al-Haq yang disucikan adalah hakikat makhluk yang diserupakan, dan bahwa Dia – Subhanahu – adalah hakikat wujud setiap yang ada, hakikat dan mahiyyah-nya, dan bahwa Dia adalah ayat setiap sesuatu, dan pada-Nya terdapat ayat yang menunjukkan bahwa Dia adalah hakikatnya. Ini menurut para muhaqqiq mereka adalah kesalahan ungkapan, bahkan Dia adalah ayat itu sendiri, dalil itu sendiri, yang mendalilkan itu sendiri, dan yang didalilkan itu sendiri. Maka kebanyakan itu dengan adanya pertimbangan-pertimbangan khayali, bukan dengan hakikat dan wujud. Maka Dia menurut mereka adalah hakikat yang menikahi, hakikat yang dinikahi, hakikat yang menyembelih, hakikat yang disembelih, hakikat yang memakan, dan hakikat yang dimakan. Ini menurut mereka adalah rahasia yang dirujuk oleh bisikan zaman-zaman dahulu, dan ingin disampaikan oleh petunjuk kenabian, sebagaimana dikatakan oleh muhaqqiq dan arif mereka Ibnu Sab’in.
Dari cabang tauhid ini adalah: bahwa Firaun dan kaumnya adalah orang-orang beriman sempurna keimanannya, mengenal Allah dengan hakiki. Dari cabangnya adalah: bahwa penyembah berhala berada dalam kebenaran dan kebenaran, dan mereka sesungguhnya menyembah hakikat Allah Subhanahu bukan selain-Nya. Dari cabangnya adalah: bahwa yang benar adalah tidak ada perbedaan dalam pengharaman dan penghalalalan antara ibu, saudara perempuan, dan wanita asing, tidak ada perbedaan antara air dan khamr, zina dan nikah, semuanya dalam satu hakikat, bahkan ia adalah hakikat yang satu. Hanya saja orang-orang yang terhalang dari rahasia ini berkata: Ini haram dan ini halal. Ya, itu haram bagi kalian karena kalian terhalang dari hakikat tauhid ini. Dari cabangnya adalah: bahwa para nabi telah menyempitkan jalan bagi manusia, dan memperjauhkan tujuan bagi mereka, dan perkara itu di luar apa yang mereka bawa dan mereka serukan.
Adapun Jahmiyyah, maka tauhid menurut mereka adalah: mengingkari ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dengan Dzat-Nya, istawa-Nya di atas Arsy-Nya, mengingkari pendengaran dan penglihatan-Nya, kekuatan dan kehidupan-Nya, kalam dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, cinta-Nya, dan cinta hamba kepada-Nya. Maka tauhid menurut mereka adalah: berlebihan dalam mengingkari tauhid yang dengannya Allah mengutus rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.
Adapun Qadariyyah, maka tauhid menurut mereka adalah: mengingkari qadar Allah, keumuman iradah-Nya untuk semua yang ada, dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Generasi belakangan mereka menambahkan kepada itu tauhid Jahmiyyah. Maka hakikat tauhid menurut mereka adalah: mengingkari qadar, dan mengingkari hakikat-hakikat asma al-husna dan sifat-sifat tinggi. Kadang mereka menamai pengingkaran qadar dan kekufuran terhadap qadha dan qadar Rabb sebagai: keadilan. Dan mereka berkata: Kami adalah ahli keadilan dan tauhid.
Adapun kaum Jabariyah, maka tauhid menurut mereka adalah: kesendirian Rabb ta’ala dalam menciptakan dan berbuat, dan bahwa para hamba tidaklah benar-benar melakukan perbuatan, tidak menimbulkan perbuatan-perbuatan mereka, dan tidak berkuasa atas perbuatan-perbuatan itu. Dan bahwa Rabb ta’ala tidak berbuat untuk suatu hikmah, dan tidak ada tujuan yang dituju dengan perbuatan, dan tidak ada kekuatan-kekuatan, sifat-sifat alami, naluri-naluri, dan sebab-sebab dalam makhluk-makhluk. Melainkan hanya kehendak murni yang mentarjihkan suatu yang sama dengan yang sama tanpa ada yang mentarjihkan, tanpa hikmah, dan tanpa sebab sama sekali.
Adapun penulis kitab Al-Manazil – dan orang-orang yang mengikuti jalannya – maka tauhid menurut mereka ada dua macam. Pertama, yang tidak ada dan tidak mungkin, yaitu tauhidnya seorang hamba terhadap Rabbnya. Menurut mereka:
Yang mengesakan Yang Maha Esa bukanlah seorang yang esa… Karena setiap orang yang mengesakan-Nya adalah pengingkar
Kedua: tauhid yang benar, yaitu tauhid Rabb terhadap diri-Nya sendiri, dan setiap orang yang mensifati-Nya selain Dia maka dia adalah seorang yang menyimpang. Inilah tauhid golongan-golongan itu, dan siapakah manusia selain mereka? Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.
[Pasal: Jenis-Jenis Tauhid yang Diajukan oleh Para Rasul]
Pasal
Adapun tauhid yang diajukan oleh para rasul Allah dan diturunkan dalam kitab-kitab-Nya, maka ia melebihi semua itu, dan ia terdiri dari dua jenis: tauhid dalam pengetahuan dan penetapan, dan tauhid dalam tujuan dan maksud.
Yang pertama adalah: hakikat dzat Rabb ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian-Nya di atas langit-langit-Nya di atas ‘Arasy-Nya, perkataan-Nya dengan kitab-kitab-Nya, dan pembicaraan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan penetapan keumuman takdir-Nya, qadar-Nya, dan hukum-Nya. Dan Al-Qur’an telah menjelaskan jenis ini dengan sangat jelas.
Seperti dalam awal Surat Al-Hadid, Surat Thaha, akhir Surat Al-Hasyr, awal Surat Tanzil As-Sajdah, awal Surat Ali ‘Imran, Surat Al-Ikhlas secara keseluruhan, dan selain itu.
Jenis kedua: seperti apa yang terkandung dalam Surat “Katakanlah: ‘Wahai orang-orang kafir'” (Al-Kafirun: 1), dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu'” (Ali ‘Imran: 64) – ayat, dan awal Surat Tanzil Al-Kitab dan akhirnya, awal Surat Yunus, pertengahannya dan akhirnya, awal Surat Al-A’raf dan akhirnya, keseluruhan Surat Al-An’am dan kebanyakan surat-surat Al-Qur’an. Bahkan setiap surat dalam Al-Qur’an mengandung dua jenis tauhid.
Bahkan kami mengatakan secara universal: Sesungguhnya setiap ayat dalam Al-Qur’an mengandung tauhid, menjadi saksi atasnya, dan menyeru kepadanya. Karena Al-Qur’an: apakah itu berupa berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka itulah tauhid ilmiah khabariyah. Atau seruan untuk beribadah kepada-Nya saja tanpa sekutu, dan melepaskan segala yang disembah selain-Nya, maka itulah tauhid iradiyah thalabiyah. Atau berupa perintah dan larangan, dan kewajiban untuk menaati-Nya dalam larangan dan perintah-Nya, maka itu adalah hak-hak tauhid dan penyempurnanya. Atau berita tentang kemuliaan Allah bagi ahli tauhid-Nya dan ketaatan kepada-Nya, dan apa yang Dia lakukan kepada mereka di dunia, dan apa yang akan Dia muliakan kepada mereka di akhirat, maka itu adalah balasan tauhid. Atau berita tentang ahli syirik, dan apa yang Dia lakukan kepada mereka di dunia berupa siksaan, dan apa yang akan menimpa mereka di akhirat berupa azab, maka itu adalah berita tentang orang yang keluar dari hukum tauhid.
[Tingkatan-tingkatan Tauhid]
Maka Al-Qur’an seluruhnya tentang tauhid, hak-haknya, dan balasannya, dan tentang urusan syirik, ahlinya, dan balasan mereka. “Segala puji bagi Allah” (Al-Fatihah: 2) adalah tauhid. “Rabb semesta alam” (Al-Fatihah: 2) adalah tauhid. “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Al-Fatihah: 3) adalah tauhid. “Yang menguasai hari pembalasan” (Al-Fatihah: 4) adalah tauhid. “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (Al-Fatihah: 5) adalah tauhid. “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) adalah tauhid. “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah: 6) adalah tauhid yang mengandung permohonan petunjuk kepada jalan ahli tauhid, yaitu orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka. “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al-Fatihah: 7), yaitu orang-orang yang meninggalkan tauhid. Oleh karena itu, Allah bersaksi untuk diri-Nya sendiri dengan tauhid ini, dan para malaikat-Nya, para nabi-Nya, dan para rasul-Nya bersaksi kepada-Nya dengan itu. Allah berfirman: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada tuhan selain Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Ali ‘Imran: 18-19).
Ayat yang mulia ini mengandung penetapan hakikat tauhid, dan bantahan terhadap semua golongan ini, dan kesaksian akan batalnya pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab mereka. Dan ini hanya akan menjadi jelas setelah memahami ayat dengan penjelasan tentang apa yang dikandungnya dari pengetahuan-pengetahuan ketuhanan dan hakikat-hakikat keimanan.
Ayat ini mengandung: kesaksian yang paling agung, paling besar, paling adil, dan paling benar, dari saksi yang paling agung, tentang yang disaksikan yang paling agung. Dan ungkapan-ungkapan para salaf tentang “bersaksi” berkisar pada hukum dan keputusan, pemberitahuan dan penjelasan, dan pengabaran. Mujahid berkata: menghukum dan memutuskan. Az-Zajjaj berkata: menjelaskan. Dan sekelompok orang berkata: memberitahu dan mengabarkan. Dan semua pendapat ini benar, tidak ada pertentangan di antara keduanya, karena kesaksian mengandung ucapan saksi dan kabarnya, dan perkataannya, serta mengandung pemberitahuannya, pengabarannya, dan penjelasannya. Maka ia memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertamanya: ilmu, pengetahuan, dan keyakinan akan kebenaran yang disaksikan dan penetapannya. Kedua: berbicaranya dengan itu dan mengucapkannya, meskipun orang lain tidak mengetahuinya, bahkan berbicara dengan dirinya sendiri dan mengingatnya, mengucapkannya atau menuliskannya. Ketiga: memberitahu orang lain dengan apa yang ia saksikan, mengabarkannya, dan menjelaskannya kepadanya. Keempat: mewajibkannya dengan kandungannya dan memerintahkannya dengan itu. Maka kesaksian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diri-Nya sendiri dengan keesaan dan tegaknya keadilan mengandung empat tingkatan ini: ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang itu, perkataan-Nya tentangnya, pemberitahuan-Nya dan pengabaran-Nya kepada makhluk-Nya tentangnya, dan perintah-Nya serta kewajiban-Nya kepada mereka dengannya.
Adapun tingkatan ilmu: maka kesaksian dengan kebenaran tentu mengandungnya, jika tidak demikian maka saksi itu bersaksi dengan sesuatu yang tidak ia ketahui. Allah ta’ala berfirman: “Kecuali orang yang memberikan kesaksian dengan kebenaran, sedang mereka mengetahui” (Az-Zukhruf: 86). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersaksilah pada yang seperti itu”, sambil menunjuk kepada matahari.
Adapun tingkatan berbicara dan mengabarkan: maka siapa yang berbicara tentang sesuatu dan mengabarkannya maka ia telah bersaksi dengannya, meskipun ia tidak mengucapkan kata kesaksian. Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Datangkanlah saksi-saksimu yang menyaksikan bahwa Allah mengharamkan ini’. Jika mereka bersaksi, maka janganlah kamu ikut bersaksi bersama mereka” (Al-An’am: 150). Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka menjadikan para malaikat yang merupakan hamba-hamba Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban” (Az-Zukhruf: 19).
Maka Allah menjadikan itu dari mereka sebagai kesaksian, meskipun mereka tidak mengucapkan lafal kesaksian, dan tidak menyampaikannya kepada orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesaksian palsu sama dengan menyekutukan Allah”. Dan kesaksian palsu adalah ucapan dusta, sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “Dan jauhilah perkataan dusta. Dengan mengikhlaskan diri kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya” (Al-Hajj: 30-31). Dan ketika ayat ini turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kesaksian palsu sama dengan menyekutukan Allah”. Maka Allah menyebut ucapan dusta sebagai kesaksian, dan Allah ta’ala menyebut pengakuan hamba terhadap dirinya sendiri sebagai kesaksian. Allah ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri” (An-Nisa’: 135). Maka kesaksian seseorang terhadap dirinya sendiri adalah pengakuannya terhadap dirinya sendiri. Dan dalam hadits shahih dalam kisah Ma’iz Al-Aslami: “Maka ketika ia bersaksi terhadap dirinya sendiri empat kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merajamnya”. Dan Allah ta’ala berfirman: “Mereka berkata: ‘Kami mengakui atas diri kami sendiri’. Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka mengakui atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir” (Al-An’am: 130).
Dan ini – dan yang berlipat ganda darinya – menunjukkan bahwa saksi di hadapan hakim dan selainnya: tidak disyaratkan dalam penerimaan kesaksiannya bahwa ia harus mengucapkan lafal kesaksian, sebagaimana mazhab Malik dan Ahli Madinah, dan zahir ucapan Ahmad. Dan tidak diketahui dari seorang pun dari para sahabat dan tabi’in mensyaratkan itu. Dan Ibnu ‘Abbas telah berkata: telah bersaksi kepadaku beberapa orang yang rida – dan yang paling rida di sisiku adalah Umar – “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Subuh hingga terbit matahari, dan setelah Ashar hingga terbenam matahari”. Dan diketahui bahwa mereka tidak mengucapkan lafal kesaksian. Dan sepuluh orang yang disaksi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk surga, ia tidak mengucapkan dalam kesaksiannya kepada mereka dengan lafal kesaksian, bahkan beliau bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga…” hadits. Dan kaum muslimin sepakat bahwa orang kafir jika mengucapkan: “Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah” maka ia telah masuk Islam, dan bersaksi dengan kesaksian kebenaran, dan keislamannya tidak tergantung pada lafal kesaksian, dan bahwa ia telah masuk dalam sabda-Nya: “Hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah”, dan dalam lafal lain: “Hingga mereka mengucapkan tiada tuhan selain Allah”. Maka ini menunjukkan bahwa hanya ucapan mereka “tiada tuhan selain Allah” adalah kesaksian dari mereka. Dan ini lebih banyak dari yang disebutkan bukti-buktinya dari Al-Qur’an dan Sunnah. Maka tidak ada bagi orang yang mensyaratkan lafal kesaksian, dalil yang dapat diandalkan. Wallahu a’lam.
Pasal
Adapun tingkatan pemberitahuan dan pengabaran, maka ada dua macam: pemberitahuan dengan perkataan, dan pemberitahuan dengan perbuatan. Dan ini adalah urusan setiap orang yang memberitahu orang lain tentang suatu perkara: terkadang ia memberitahunya dengan perkataannya, dan terkadang dengan perbuatannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menjadikan sebuah rumah sebagai masjid, membuka pintunya bagi setiap orang yang masuk kepadanya, dan mengumandangkan adzan untuk shalat di dalamnya, maka ia memberitahukan bahwa rumah itu wakaf, meskipun ia tidak mengucapkannya. Demikian pula orang yang ditemukan mendekatkan diri kepada orang lain dengan berbagai kebaikan, maka ia memberitahukan kepadanya dan kepada orang lain bahwa ia mencintainya, meskipun ia tidak mengucapkan perkataannya. Demikian pula sebaliknya. Demikian pula kesaksian Rabb jalla jalaluhu, penjelasan-Nya, dan pemberitahuan-Nya, terkadang dengan perkataan-Nya, dan terkadang dengan perbuatan-Nya. Maka perkataan adalah apa yang diutus kepada para rasul-Nya, dan diturunkan dalam kitab-kitab-Nya. Dan yang telah diketahui secara pasti: bahwa semua rasul mengabarkan dari Allah: bahwa Dia bersaksi untuk diri-Nya bahwa tiada tuhan selain Dia, dan mengabarkan dengan itu, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar bersaksi dengannya. Dan kesaksian-Nya Subhanahu bahwa tiada tuhan selain Dia diketahui dari pihak setiap orang yang menyampaikan kalam-Nya.
Adapun penjelasan-Nya dan pemberitahuan-Nya dengan perbuatan-Nya: maka itu adalah apa yang dikandung kabar-Nya ta’ala tentang dalil-dalil yang menunjukkan keesaan-Nya yang diketahui petunjuknya dengan akal dan fitrah. Dan ini juga digunakan padanya lafal kesaksian, sebagaimana digunakan padanya lafal petunjuk, bimbingan, dan penjelasan. Karena dalil menjelaskan yang ditunjuki dan menampakkannya, sebagaimana saksi dan pengabar menjelaskannya. Bahkan terkadang penjelasan dengan perbuatan lebih jelas dan lebih tegas. Dan terkadang saksi keadaan disebut perkataan, ucapan, dan kalam, karena kedudukannya menggantikannya dan melaksanakan tugasnya, sebagaimana dikatakan:
Dua matanya berkata kepadanya: kami mendengar dan taat… Dan meneteskan mutiara yang belum dilubangi
Dan yang lain berkata:
Untaku mengeluh kepadaku tentang panjangnya perjalanan… Bersabarlah dengan sabar yang baik, karena kita berdua sama-sama diuji
Dan yang lain berkata:
Kolam telah penuh dan berkata: cukup… Pelan-pelan, sungguh telah penuh perutku
Dan ini juga disebut kesaksian, sebagaimana dalam firman-Nya ta’ala: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir” (At-Taubah: 17). Maka ini adalah kesaksian dari mereka terhadap diri mereka sendiri dengan apa yang mereka perbuat dari perbuatan-perbuatan kekafiran dan ucapan-ucapannya. Maka itu adalah kesaksian dengan kekafiran mereka, dan mereka bersaksi terhadap diri mereka sendiri dengan apa yang disaksikan dengannya.
Dan yang dimaksud: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersaksi dengan apa yang Dia jadikan ayat-ayat-Nya yang diciptakan menunjukkan kepada-Nya. Karena petunjuk ayat-ayat itu hanya dengan penciptaan-Nya dan penjadiannya. Dan Dia bersaksi dengan ayat-ayat-Nya yang qauliyah kalam yang sesuai dengan apa yang disaksikan oleh ayat-ayat-Nya yang khalqiyah. Maka bertepatan kesaksian perkataan dan kesaksian perbuatan, sebagaimana firman-Nya ta’ala: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar” (Fushshilat: 53), yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar. Maka Dia mengabarkan bahwa Dia menunjukkan dengan ayat-ayat-Nya yang afaqiyah dan nafsiyah kepada kebenaran ayat-ayat-Nya yang qauliyah kalamiyah. Dan kesaksian fi’liyah ini telah disebutkan oleh lebih dari seorang dari para imam bahasa Arab dan tafsir. Ibnu Kaisan berkata: Allah bersaksi dengan pengaturan-Nya yang menakjubkan dan urusan-urusan-Nya yang muhkam pada makhluk-Nya: bahwa tiada tuhan selain Dia.
Pasal
Adapun tingkatan keempat – yaitu perintah dengannya dan kewajiban dengannya, meskipun hanya kesaksian tidak menuntutnya, tetapi kesaksian dalam tempat ini menunjukkan kepadanya dan mengandungnya – maka sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala bersaksi dengannya sebagai kesaksian dari orang yang menghukum dengannya, memutuskan, memerintahkan, dan mewajibkan hamba-hamba-Nya dengannya, sebagaimana firman-Nya ta’ala: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya” (Al-Isra’: 23). Dan firman-Nya ta’ala: “Dan Allah berfirman: ‘Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa'” (An-Nahl: 51). Dan firman-Nya ta’ala: “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya” (Al-Bayyinah: 5). Dan firman-Nya ta’ala: “Janganlah kamu menjadikan tuhan yang lain di samping Allah” (Al-Isra’: 22). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah” (Al-Qashash: 88). Dan Al-Qur’an seluruhnya menjadi saksi dengan itu.
Aspek Keharusan Kesaksian Allah terhadap Hal Tersebut
Aspek keharusan kesaksian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hal tersebut adalah: ketika Dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, maka Dia telah memberitakan, menjelaskan, memberitahukan, memutuskan dan menetapkan bahwa selain Dia bukanlah tuhan, dan bahwa ketuhanan selain Dia adalah kebatilan yang paling batil, serta menetapkannya adalah kezaliman yang paling zalim. Maka tidak ada yang berhak disembah selain Dia, sebagaimana ketuhanan tidak layak bagi selain-Nya. Hal itu mengharuskan perintah untuk menjadikan-Nya satu-satunya tuhan yang disembah, dan larangan menjadikan selain-Nya sebagai tuhan bersamaan dengan-Nya. Ini dipahami oleh orang yang diajak bicara dari penafian dan penetapan ini, sebagaimana ketika engkau melihat seseorang meminta fatwa, bersaksi, atau berobat kepada orang yang bukan ahlinya, dan meninggalkan orang yang ahli dalam hal itu, maka engkau berkata: “Orang ini bukan mufti, bukan saksi, dan bukan dokter. Mufti adalah si fulan, saksi adalah si fulan, dan dokter adalah si fulan.” Sesungguhnya ini adalah perintah dan larangan darimu.
Juga, dalil-dalil telah menunjukkan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala sendirilah yang berhak mendapat ibadah. Ketika Dia memberitahukan bahwa Dialah satu-satunya yang berhak mendapat ibadah, pemberitahuan ini mencakup: perintah kepada para hamba dan kewajiban mereka untuk menunaikan apa yang menjadi hak Rabb Ta’ala atas mereka, dan bahwa melaksanakan itu adalah murni hak-Nya atas mereka. Maka ketika Dia Subhanahu wa Ta’ala bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, kesaksian-Nya itu mencakup perintah dan kewajiban untuk mentauhidkan-Nya.
Juga, lafadz hukum dan keputusan digunakan dalam kalimat-kalimat khabariyah (berita). Dikatakan untuk kalimat khabariyah sebagai qadliyyah (proposisi) dan hukum, dan telah dihukumi di dalamnya dengan begini dan begitu. Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya mereka dengan kedustaan mereka benar-benar mengatakan, ‘Allah beranak,’ dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Apakah Allah memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu menetapkan (keputusan yang salah itu)?” (Surah Ash-Shaffat: 151-154). Maka Dia menjadikan pemberitahuan semata dari mereka ini sebagai hukum. Dan Dia berfirman di tempat lain: “Apakah Kami akan menjadikan orang-orang Muslim seperti orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu menetapkan (keputusan yang salah itu)?” (Surah Al-Qalam: 35-36). Namun ini adalah hukum yang tidak ada kewajiban bersamanya. Adapun hukum dan keputusan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, itu mencakup kewajiban. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui.
Pasal: Tafsir Firman Allah Ta’ala “Qaaiman bil Qisthi” (Yang Menegakkan Keadilan)
Firman Allah Ta’ala: Qaaiman bil Qisthi
Firman Allah Ta’ala: “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18). Al-Qisthu adalah keadilan. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersaksi bahwa Dia menegakkan keadilan dalam tauhid-Nya, dan keesaan dalam keadilan-Nya. Tauhid dan keadilan adalah kumpulan sifat-sifat kesempurnaan, karena tauhid mencakup kekhususan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan, keagungan, kemuliaan, dan pengagungan yang tidak layak bagi seorang pun selain-Nya. Dan keadilan mencakup bahwa semua perbuatan-Nya terjadi dengan tepat, benar, dan sesuai dengan hikmah.
Inilah tauhid para rasul dan keadilan mereka: penetapan sifat-sifat, dan perintah untuk beribadah kepada Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya, dan penetapan takdir dan hukum, serta tujuan-tujuan yang dicari dan terpuji dari perbuatan dan perintah-Nya. Bukan tauhid Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Qadariyyah yang merupakan pengingkaran terhadap sifat-sifat dan hakikat Asma Al-Husna. Dan keadilan mereka adalah pendustaan terhadap takdir, atau penafian hikmah, tujuan-tujuan, dan akibat-akibat terpuji yang Allah lakukan karenanya dan yang Dia perintahkan. Tegaknya Dia Subhanahu wa Ta’ala dengan keadilan dalam kesaksian-Nya mencakup beberapa hal.
Pertama: Bahwa Dia menegakkan keadilan dalam kesaksian ini yang merupakan kesaksian paling adil secara mutlak. Pengingkaran dan penolakan terhadapnya adalah kezaliman terbesar secara mutlak. Tidak ada yang lebih adil dari tauhid dan tidak ada yang lebih zalim dari syirik. Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala menegakkan keadilan dalam kesaksian ini, dalam perkataan dan perbuatan, di mana Dia bersaksi dengannya, memberitakan dan mengabarkan kepada para hamba-Nya, menjelaskan kepada mereka tentang realisasi dan kebenarannya, mewajibkan mereka dengan konsekuensinya, memutuskan dengannya, dan menjadikan pahala dan hukuman atasnya, menjadikan perintah dan larangan sebagai bagian dari hak-haknya dan kewajiban-kewajiban dari padanya. Maka seluruh agama adalah dari hak-haknya, seluruh pahala adalah atasnya, dan seluruh hukuman adalah atas meninggalkannya.
Inilah keadilan yang ditegakkan oleh Rabb Ta’ala dalam kesaksian ini. Maka semua perintah-Nya adalah penyempurnaan baginya dan perintah untuk menunaikan hak-haknya. Semua larangan-Nya adalah penjagaan baginya dari hal-hal yang mengurangi dan menentangnya. Semua pahala-Nya adalah atasnya, dan semua hukuman-Nya adalah atas meninggalkannya dan meninggalkan hak-haknya. Penciptaan-Nya terhadap langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya adalah dengannya dan karenanya. Itulah kebenaran yang dengannya keduanya diciptakan. Lawannya adalah kebatilan dan kesia-siaan yang Dia mensucikan diri-Nya dari padanya, dan Dia mengabarkan bahwa Dia tidak menciptakan langit dan bumi dengannya.
Allah Ta’ala berfirman – sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengingkari kesaksian ini: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itulah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena neraka.” (Surah Shad: 27). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ha Mim. Diturunkannya Al-Kitab itu dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan orang-orang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.” (Surah Al-Ahqaf: 1-3). Dan Dia berfirman: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tingkatan-tingkatan (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.” (Surah Yunus: 5). Dan Dia berfirman: “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang diri mereka sendiri? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya.” (Surah Ar-Rum: 8). Dan Dia berfirman: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya untuk bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak.” (Surah Ad-Dukhan: 38-39).
Ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Kebenaran yang dengannya dan karenanya langit dan bumi diciptakan adalah tauhid dan hak-haknya berupa perintah dan larangan, pahala dan hukuman. Maka syariat dan takdir, penciptaan dan perintah, pahala dan hukuman, semuanya tegak dengan keadilan. Dan tauhid keluar dari keduanya. Inilah jalan yang lurus (shirath al-mustaqim) yang di atasnya Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman – sebagai hikayat dari Nabi-Nya Hud: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Rabbku dan Rabb kamu sekalian. Tidak ada suatu makhluk melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Surah Hud: 56). Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala berada di atas jalan yang lurus dalam perkataan dan perbuatan-Nya. Dia berkata yang benar dan melakukan yang adil. “Dan telah sempurna kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah Al-An’am: 115). “Dan Allah mengatakan yang benar dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (Surah Al-Ahzab: 4).
Maka jalan yang lurus (shirath al-mustaqim) yang di atasnya Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala adalah konsekuensi tauhid dan keadilan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua hamba sahaya itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Kemudian Allah berfirman: “Dan Allah membuat suatu perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban bagi tuannya, ke mana saja dia disuruh oleh tuannya itu, dia tidak dapat mengerjakan sesuatu kebaikan. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat adil, dan dia berada di atas jalan yang lurus?” (Surah An-Nahl: 76). Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan untuk diri-Nya dan berhala. Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala adalah yang memerintahkan dengan keadilan, dan Dia berada di atas jalan yang lurus. Sedangkan berhala seperti hamba yang menjadi beban bagi tuannya, ke mana saja dia disuruh tidak dapat mengerjakan kebaikan.
Yang dimaksud adalah bahwa firman Allah Ta’ala: “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18) seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus” (Surah Hud: 56). Dan firman-Nya “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18) adalah nashab (manshub) sebagai hal (keadaan). Di dalamnya ada dua wajah.
Pertama: bahwa itu adalah hal dari fa’il (pelaku/subjek) dalam “syahida Allahu” (Allah bersaksi) dan ‘amil (yang beramal) di dalamnya adalah fi’il (kata kerja). Makna berdasarkan ini adalah: Allah bersaksi dalam keadaan menegakkan keadilan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia.
Kedua: bahwa itu adalah hal dari kata “huwa” (Dia) dan ‘amil di dalamnya adalah makna penafian. Artinya: tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dalam keadaan Dia menegakkan keadilan.
Di antara kedua takdir ini ada perbedaan yang jelas. Takdir pertama mencakup bahwa maknanya: “Allah bersaksi” sambil berbicara dengan keadilan, mengabarkan dengannya, memerintahkan dengannya, melakukannya, dan membalas dengannya – bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Karena keadilan itu ada dalam perkataan dan perbuatan. Al-Muqsith (yang menegakkan keadilan) adalah yang adil dalam perkataan dan perbuatannya. Maka Allah bersaksi dengan menegakkan keadilan – dalam perkataan dan perbuatan – bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dalam hal itu terdapat realisasi bahwa kesaksian ini adalah kesaksian keadilan dan qisth (keadilan), dan ia adalah kesaksian yang paling adil, sebagaimana yang disaksiakan dengannya adalah hal yang paling adil, paling benar, dan paling hak.
Ibnu As-Sa’ib dan lainnya menyebutkan tentang sebab turunnya ayat ini apa yang menyaksikan hal itu, yaitu: “Dua orang pendeta dari pendeta-pendeta Syam datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka melihat Madinah, salah seorang dari mereka berkata kepada kawannya: ‘Betapa miripnya kota ini dengan kota Nabi yang akan keluar pada akhir zaman.’ Ketika mereka masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau Muhammad?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ ‘Dan Ahmad?’ ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘Kami bertanya kepadamu tentang suatu kesaksian. Jika engkau mengabarkan kami tentangnya, kami akan beriman kepadamu.’ Beliau bersabda: ‘Tanyakanlah kepadaku.’ Mereka berkata: ‘Kabarkanlah kepada kami tentang kesaksian yang paling agung dalam Kitabullah.’ Maka turunlah: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia” (Surah Ali Imran: 18) – hingga akhir ayat.”
Ketika menegakkan keadilan itu ada dalam perkataan dan perbuatan, maka maknanya adalah: bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala bersaksi dan Dia menegakkan keadilan, mengetahui dengannya, bukan dengan kezaliman. Karena kesaksian ini mencakup perkataan dan perbuatan, karena ia mencakup bahwa Dialah yang berhak mendapat ibadah sendiri tanpa selain-Nya, dan bahwa orang-orang yang beribadah kepada-Nya saja adalah orang-orang yang beruntung dan bahagia, dan bahwa orang-orang yang mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya adalah orang-orang yang sesat dan celaka. Ketika Dia bersaksi dengan menegakkan keadilan – yang mencakup balasan orang-orang yang ikhlas dengan surga dan balasan orang-orang musyrik dengan neraka – maka ini adalah bagian dari penyempurnaan konsekuensi kesaksian dan realisasinya. Maka firman-Nya “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18) adalah isyarat kepada balasan bagi yang bersaksi dengannya dan yang mengingkarinya. Wallahu a’lam (dan Allah Maha Mengetahui).
Pasal
Adapun takdir kedua – yaitu jika firman-Nya “qaaiman” (yang menegakkan) menjadi hal dari apa yang setelah illa (kecuali) – maka maknanya adalah: bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia yang menegakkan keadilan. Maka Dialah satu-satunya yang berhak mendapat ketuhanan (uluhiyyah), dengan Dia menegakkan keadilan. Syaikh kami (Ibnu Taimiyyah) berkata: “Takdir ini lebih kuat, karena ia mencakup bahwa para malaikat dan ulil ilmi (orang-orang yang berilmu) bersaksi bagi-Nya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan bahwa Dia menegakkan keadilan.”
Saya (penulis) berkata: Maksud beliau adalah bahwa jika firman-Nya “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18) menjadi hal dari yang disaksiakan dengannya, maka ia seperti sifat baginya. Karena hal adalah sifat dalam makna bagi pemiliknya. Ketika kesaksian jatuh pada pemilik hal beserta keadaannya, maka keduanya menjadi yang disaksiakan dengannya. Maka para malaikat dan ulil ilmi telah bersaksi bahwa Dia menegakkan keadilan, sebagaimana mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Takdir pertama tidak mencakup itu. Karena jika takdirnya: Allah bersaksi – dengan menegakkan keadilan – bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan para malaikat serta ulil ilmi bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, maka menegakkan keadilan menjadi hal dari nama Allah sendiri.
Juga, keadaan-Nya menegakkan keadilan dalam apa yang Dia saksikan lebih besar daripada menjadi hal dari sekadar kesaksian.
Jika dikatakan: Jika itu menjadi hal dari “huwa” (Dia), mengapa tidak digandengkan dengannya? Dan mengapa dipisahkan antara pemilik hal dan halnya dengan yang di’athafkan (digandengkan), sehingga datang di tengah-tengah antara pemilik hal dan halnya?
Saya (penulis) berkata: Faedahnya jelas. Karena jika Dia berfirman: Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia yang menegakkan keadilan, para malaikat dan ulil ilmi – maka akan mengesankan ‘athaf (penggandaan) para malaikat dan ulil ilmi kepada dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya “Qaaiman bil Qisthi” (Surah Ali Imran: 18), dan tidak baik ‘athaf karena pemisahan. Dan bukan makna itu sama sekali. Sesungguhnya makna adalah sebaliknya, yaitu bahwa menegakkan keadilan-Nya khusus bagi-Nya, sebagaimana Dia khusus dengan uluhiyyah (ketuhanan). Maka Dialah satu-satunya Ilah (tuhan) yang disembah yang berhak mendapat ibadah, dan Dialah satu-satunya yang membalas, memberi pahala, dan menghukum dengan keadilan.
Firman-Nya: “Laa ilaaha illa huwa” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia)
Muhammad bin Ja’far menyebutkan bahwa dia berkata: Yang pertama adalah sifat dan tauhid, dan yang kedua adalah rasm (penulisan/pengajaran) dan ta’lim (pengajaran), artinya: katakanlah: tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Makna ini adalah: bahwa yang pertama mencakup bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersaksi dengannya dan mengabarkan dengannya. Dan pembaca Al-Qur’an hanya mengabarkan tentang kesaksian-Nya, dan tidak ada dalam itu kesaksian dari pembaca itu sendiri. Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala mengulangi penyebutan itu secara terbuka agar pembaca mengatakannya, sehingga dia juga menjadi saksi.
Juga, yang pertama adalah berita tentang kesaksian dengan tauhid, dan yang kedua adalah berita tentang hakikat tauhid itu sendiri. Dan diakhiri dengan firman-Nya: “Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Ali Imran: 18). Maka ayat ini mencakup tauhid-Nya dan keadilan-Nya, kemuliaan-Nya dan hikmah-Nya.
Tauhid mencakup penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya, dan tidak adanya yang serupa dengan-Nya dalam hal itu, dan beribadah kepada-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya.
Keadilan mencakup meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menurunkannya pada kedudukannya, dan bahwa Dia tidak mengkhususkan sesuatu darinya kecuali dengan pengkhusus yang menuntut itu, dan bahwa Dia tidak menghukum orang yang tidak layak mendapat hukuman, dan tidak mencegah orang yang layak mendapat pemberian, meskipun Dialah yang menjadikannya layak.
Kemuliaan (‘izzah) mencakup kesempurnaan kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, dan penguasaan-Nya.
Hikmah mencakup kesempurnaan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya, dan bahwa Dia memerintahkan dan melarang, menciptakan dan menakdirkan, karena apa yang ada pada-Nya dalam hal itu berupa hikmah-hikmah dan tujuan-tujuan terpuji yang Dia layak mendapat pujian yang sempurna atasnya.
Maka nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa) mencakup kepemilikan (al-mulk), dan nama-Nya Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) mencakup pujian (al-hamd). Awal ayat mencakup tauhid. Dan itu adalah hakikat: laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kepemilikan dan bagi-Nya pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa). Dan itu adalah yang paling utama diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi sebelum beliau.
Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) adalah yang jika memerintahkan dengan suatu perintah, maka itu baik pada dirinya. Jika melarang dari sesuatu, maka itu buruk pada dirinya. Jika mengabarkan dengan suatu berita, maka itu benar. Jika melakukan suatu perbuatan, maka itu tepat. Jika menginginkan sesuatu, maka itu lebih layak dikehendaki daripada yang lainnya. Dan sifat ini secara sempurna hanya ada pada Allah semata.
Maka ayat dan kesaksian ini mencakup: dalil atas keesaan-Nya yang menafikan syirik, keadilan-Nya yang menafikan kezaliman, kemuliaan-Nya yang menafikan kelemahan, dan hikmah-Nya yang menafikan kebodohan dan cacat. Di dalamnya ada kesaksian bagi-Nya dengan tauhid, keadilan, kekuasaan, ilmu, dan hikmah. Oleh karena itu, ia adalah kesaksian yang paling agung.
Tidak ada yang dapat menjalankan kesaksian ini dengan benar dari semua golongan kecuali Ahlus Sunnah. Adapun kelompok-kelompok ahli bid’ah lainnya tidak dapat menjalankannya. Para filosof adalah manusia yang paling keras pengingkaran dan penolakan mereka terhadap kandungan kesaksian ini, dari awal hingga akhir. Kelompok-kelompok penganut paham kesatuan wujud (Ittihad): mereka adalah makhluk Allah yang paling jauh darinya dari segala sisi. Golongan Jahmiyah mengingkari hakikatnya dari beberapa sisi:
Pertama: Bahwa yang disembah (Ilah) adalah yang dihambakan oleh hati-hati dengan penuh kecintaan kepada-Nya, kerinduan kepada-Nya, dan bertaubat kepada-Nya. Sedangkan menurut mereka: bahwa Allah tidak mencintai dan tidak dicintai.
Kedua: Bahwa kesaksian adalah kalam-Nya dan kabar-Nya tentang apa yang Dia saksikan, sedangkan menurut mereka Dia tidak berkata dan tidak berbicara, serta tidak menyaksikan dan tidak memberi kabar.
Ketiga: Bahwa kesaksian itu mengandung makna keterpisahan-Nya dari makhluk-Nya dengan Dzat dan sifat-Nya, sedangkan menurut golongan Fir’auniyah mereka: bahwa Dia tidak terpisah dari makhluk dan tidak pula berada di sisi mereka, dan tidak ada Tuhan di atas Arasy yang disembah, serta tidak ada Rabb yang disembah dan disujudi kepada-Nya.
Menurut golongan Hululiyah mereka: bahwa Dia berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya, bahkan di tempat-tempat yang memalukan untuk disebutkan. Ini adalah golongan Jahmiyah yang menetapkan, sedangkan yang pertama adalah golongan yang meniadakan.
Keempat: Bahwa tegaknya keadilan dalam perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan-Nya, sedangkan menurut mereka: bahwa Dia tidak melakukan dan tidak pernah melakukan suatu perbuatan atau perkataan sama sekali, dan bahwa firman-Nya adalah makhluk dari sebagian makhluk, dan perbuatan-Nya adalah sesuatu yang terpisah. Adapun bahwa Dia memiliki perbuatan yang dengannya Dia benar-benar sebagai pelaku hakiki: maka tidak.
Kelima: Bahwa keadilan menurut mereka tidak memiliki hakikat, bahkan setiap yang mungkin adalah keadilan, dan tidak ada dalam kekuasaan-Nya sesuatu yang merupakan kezaliman dan keadilan. Bahkan kezaliman menurut mereka adalah yang mustahil secara dzat, dan keadilan adalah yang mungkin. Maka mereka menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut pendapat mereka dari yang mustahil secara dzat yang tidak masuk di bawah kekuasaan.
Keenam: Bahwa kemuliaan adalah kekuatan dan kemampuan, sedangkan menurut mereka tidak tegak pada-Nya suatu sifat, dan tidak ada bagi-Nya sifat dan kemampuan yang disebut kemampuan dan kekuatan.
Ketujuh: Bahwa hikmah adalah tujuan yang karena-Nya Dia berbuat, dan tujuan itu yang dikehendaki dengan perbuatan, dan keberadaannya lebih utama daripada ketiadaannya. Hal ini menurut mereka mustahil bagi-Nya Subhanahu, maka Dia tidak berbuat untuk hikmah atau tujuan, bahkan tidak ada tujuan bagi perbuatan-Nya dan perintah-Nya, dan tidak ada selain kehendak murni yang terlepas dari hikmah dan sebab.
Kedelapan: Bahwa yang disembah adalah yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi, dan Dialah yang berbuat dengan kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya. Dialah yang bersifat dengan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan, yang dinamai dengan nama-nama yang tegak padanya hakikat dan makna-maknanya. Ini tidak ditetapkan secara hakiki kecuali oleh pengikut para Rasul, dan mereka adalah ahli keadilan dan tauhid.
Pasal Tentang Tuduhan Jahmiyah dan Mu’tazilah
Pasal
Jahmiyah dan Mu’tazilah: mengklaim bahwa Dzat-Nya tidak mencintai, wajah-Nya tidak dapat dilihat, tidak ada kelezatan dalam memandang-Nya, dan hati-hati tidak merindukan-Nya. Mereka pada hakikatnya mengingkari ketuhanan.
Qadariyah: mengingkari bahwa perbuatan-perbuatan para malaikat, jin, manusia, dan seluruh hewan masuk di bawah kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan ciptaan-Nya. Mereka pada hakikatnya mengingkari kesempurnaan kemuliaan dan kerajaan-Nya.
Jabariyah: mengingkari hikmah-Nya, dan bahwa Dia memiliki tujuan dalam perbuatan-perbuatan dan perintah-perintah-Nya yang karena-Nya Dia berbuat dan memerintah. Mereka pada hakikatnya mengingkari hikmah dan pujian-Nya.
Pengikut Ibnu Sina, Nashir ath-Thusi dan anak cucunya: mengingkari bahwa Dia memiliki hakikat selain wujud mutlak, dan bahwa Dia memiliki sifat tetap yang melebihi hakikat wujud. Mereka pada hakikatnya mengingkari Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, mereka tidak malu dari hal itu.
Ittihad (paham kesatuan wujud): lebih berbahaya dan parah, karena mereka meruntuhkan semua pondasi dari dasarnya, dan berkata: Tidak ada wujud Khaliq dan wujud makhluk, bahkan makhluk yang diserupakan adalah hakikat yang disucikan itu sendiri, semuanya dari satu hakikat, bahkan dia adalah hakikat yang satu.
Kesaksian agung ini: semua golongan ini tidak menjalankannya, dan kesaksian ini mengandung pembatalan dan penolakan terhadap apa yang mereka yakini, sebagaimana ia mengandung pembatalan dan penolakan terhadap apa yang diyakini oleh orang-orang musyrik. Kesaksian ini membatalkan perkataan golongan syirik dan ta’thil (peniadaan sifat). Tidak ada yang dapat menjalankan kesaksian ini kecuali ahli itsbat (penetapan) yang menetapkan bagi Allah apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri dari nama-nama dan sifat-sifat, dan menafikan dari-Nya penyerupaan dengan makhluk, serta menyembah-Nya saja tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.
Pasal Kesaksian Allah Subhanahu Mengandung Penjelasan-Nya kepada Hamba-hamba-Nya, Menunjukkan Mereka, dan Mengenalkan kepada Mereka Apa yang Dia Saksikan
Pasal
Jika kesaksian-Nya Subhanahu mengandung penjelasan-Nya kepada hamba-hamba, menunjukkan mereka dan mengenalkan kepada mereka apa yang Dia saksikan, karena jika Dia memberikan kesaksian namun mereka tidak dapat mengetahuinya, mereka tidak akan mendapat manfaat dan tidak tegak hujjah atas mereka dengannya. Sebagaimana saksi dari kalangan hamba jika dia memiliki kesaksian namun tidak menjelaskannya, bahkan menyembunyikannya, maka tidak ada yang mendapat manfaat darinya dan tidak tegak hujjah dengannya. Jika kesaksian hanya bermanfaat dengan penjelasannya, maka Dia Subhanahu telah menjelaskannya dengan sebaik-baik penjelasan melalui tiga cara: pendengaran, penglihatan, dan akal. Adapun pendengaran: melalui mendengar ayat-ayat-Nya yang dibacakan berupa perkataan yang mengandung penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya di atas Arasy-Nya di atas tujuh langit-Nya, dan Dia berbicara dengan kitab-kitab-Nya, dan Dia berbicara kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dengan perkataan dan berbicara secara hakiki, bukan majaz.
Dalam hal ini terdapat pembatalan terhadap perkataan orang yang mengatakan: bahwa Dia tidak menginginkan dari hamba-hamba-Nya apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat pendengaran-Nya berupa penetapan makna-makna dan hakikat-hakikatnya yang untuknya lafadz-lafadz itu diletakkan, karena ini bertentangan dengan penjelasan dan pemberitahuan, dan mengembalikan tujuan kesaksian kepada pembatalan dan penyembunyian. Allah telah mencela orang yang menyembunyikan kesaksian yang ada padanya dari Allah, dan memberitahukan bahwa dia termasuk orang-orang yang paling zalim. Jika ada pada seorang hamba kesaksian dari Allah yang membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya dari tanda-tanda kenabian, tauhid para rasul, dan bahwa Ibrahim dan ahli rumahnya semuanya di atas Islam, lalu dia menyembunyikan kesaksian ini, maka dia termasuk orang-orang yang paling zalim, sebagaimana yang dilakukan oleh musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Yahudi yang mengenal beliau sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Lalu bagaimana mungkin disangka bahwa Allah Subhanahu menyembunyikan kesaksian kebenaran yang disaksikan oleh Jahmiyah, Mu’tazilah dan Mu’aththilah untuk-Nya, dan Dia tidak bersaksi dengannya untuk diri-Nya, kemudian Dia bersaksi untuk diri-Nya dengan apa yang bertentangan dengannya dan menolaknya, dan tidak mungkin bersama dengannya dengan cara apa pun? Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar! Sesungguhnya Allah Subhanahu bersaksi untuk diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arasy, dan bahwa Dia Maha Berkuasa di atas hamba-hamba-Nya, dan bahwa malaikat-malaikat-Nya takut kepada-Nya dari atas mereka, dan bahwa para malaikat naik kepada-Nya dengan perkara dan turun dari sisi-Nya dengannya, dan bahwa amal saleh naik kepada-Nya, dan bahwa Dia datang dan tiba, berbicara, ridha dan murka, mencintai dan membenci, merasa terganggu, gembira dan tertawa, dan bahwa Dia mendengar dan melihat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat-Nya dengan mata mereka pada hari bertemu dengan-Nya, dan selain itu dari apa yang Dia saksikan untuk diri-Nya, dan para Rasul-Nya bersaksi untuk-Nya dengannya. Namun Jahmiyah bersaksi untuk-Nya dengan kebalikan dari itu, dan berkata: Kesaksian kami lebih benar dan lebih adil dari kesaksian nash-nash, karena nash-nash mengandung penyembunyian kebenaran dan menampakkan kebalikannya.
Maka kesaksian Rabb Ta’ala: mendustakan golongan ini dengan pendustaan yang paling keras, dan mengandung bahwa apa yang Dia saksikan dengannya telah Dia jelaskan, terangkan, dan tampakkan, hingga Dia menjadikannya pada tingkat kemunculan dan penjelasan yang paling tinggi. Dan bahwa seandainya kebenaran ada pada apa yang dikatakan oleh Mu’aththilah dan Jahmiyah, maka hamba-hamba tidak akan mendapat manfaat dari apa yang Dia saksikan dengannya Subhanahu, karena kebenaran pada hakikat perkara menurut mereka tidak Dia saksikan dengannya untuk diri-Nya, dan apa yang Dia saksikan dengannya untuk diri-Nya dan Dia tampakkan serta jelaskan: bukanlah kebenaran, dan tidak boleh diperoleh darinya kebenaran dan keyakinan.
Adapun ayat-ayat-Nya yang jelas berupa ciptaan, dan memandang kepadanya serta beristidlal dengannya: maka ia menunjukkan kepada apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat perkataan pendengaran-Nya. Dan ayat-ayat Rabb adalah dalil-dalil dan hujjah-hujjah-Nya yang dengannya hamba-hamba mengenal-Nya, dan dengannya mereka mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, tauhid-Nya, perintah dan larangan-Nya. Maka para Rasul memberi kabar tentang-Nya dengan kalam-Nya yang Dia ucapkan, dan itulah ayat-ayat perkataan-Nya, dan mereka beristidlal dengan itu melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang menyaksikan kebenaran itu, dan itulah ayat-ayat-Nya yang jelas. Dan akal menggabungkan antara ini dan itu, maka dia yakin dengan kebenaran apa yang dibawa oleh para Rasul. Maka bersesuaianlah kesaksian pendengaran, penglihatan, akal, dan fitrah. Dan Dia Subhanahu karena kesempurnaan keadilan-Nya, rahmat-Nya, kebaikan-Nya, dan hikmah-Nya, serta kecintaan-Nya kepada uzur dan menegakkan hujjah, tidak mengutus seorang nabi pun dari para nabi kecuali bersamanya ayat yang menunjukkan kebenarannya dalam apa yang dia kabarkan. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil” (Surat Al-Hadid: 25). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya, maka tanyakanlah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui, dengan bukti-bukti yang nyata dan kitab-kitab” (Surat An-Nahl: 43). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, telah datang kepadamu rasul-rasul sebelumku dengan bukti-bukti yang nyata dan dengan apa yang kamu katakan, lalu mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar? Maka jika mereka mendustakanmu, sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu yang datang dengan bukti-bukti yang nyata, kitab-kitab, dan Kitab yang memberi cahaya” (Surat Ali Imran: 183-184). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika mereka mendustakanmu, maka sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu” (Surat Fathir: 4). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika mereka mendustakanmu, maka sungguh telah didustakan rasul-rasul yang sebelum mereka yang datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata, kitab-kitab, dan Kitab yang memberi cahaya” (Surat Fathir: 25).
Bahkan di antara ayat-ayat para Rasul yang paling tersembunyi adalah ayat-ayat Hud ‘alaihissalam, hingga kaumnya berkata kepadanya: “Wahai Hud, kamu tidak membawa bukti yang nyata kepada kami” (Surat Hud: 53). Namun dengan ini, buktinya termasuk bukti-bukti yang paling jelas, dan dia telah mengisyaratkan kepadanya dengan perkataannya: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan selain-Nya. Maka laksanakanlah tipu daya terhadapku semuanya, kemudian janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian. Tidak ada makhluk melata melainkan Dia yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus” (Surat Hud: 54-56). Maka ini termasuk ayat yang paling agung: bahwa seorang laki-laki sendirian berbicara kepada umat yang besar dengan perkataan ini, tanpa takut, tanpa gentar, dan tanpa lemah, bahkan yakin dengan apa yang dia katakan dan meyakininya, telah mempersaksikan Allah terlebih dahulu atas keterlepasannya dari agama mereka dan apa yang mereka lakukan dengan persaksian orang yang yakin kepada-Nya, yang bergantung kepada-Nya, yang memberi tahu kepada kaumnya: bahwa Dialah penolong dan penolongnya, dan bahwa Dia tidak akan menguasakan mereka atasnya.
Kemudian dia mempersaksikan mereka dengan persaksian orang yang menentang mereka secara terang-terangan: bahwa dia berlepas diri dari agama mereka dan tuhan-tuhan mereka yang mereka berwala dan bermusuhan karenanya, dan mereka mengorbankan darah dan harta mereka untuk menolongnya.
Kemudian dia menegaskan kepada mereka dengan meremehkan mereka, menganggap mereka hina dan rendah, dan bahwa seandainya mereka semua berkumpul untuk mencelakainya dan melampiaskan kemarahan mereka terhadapnya, kemudian mereka berusaha menyakitinya dan tidak memberikannya waktu, dan dalam kandungannya: bahwa mereka lebih lemah, lebih tidak berdaya, dan lebih sedikit dari itu, dan bahwa jika kalian menginginkannya, kalian akan kembali dengan kemarahan kalian dalam keadaan terhina dan terkalahkan.
Kemudian dia menegaskan dakwahnya dengan penegasan yang paling baik, dan menjelaskan bahwa Rabbnya Ta’ala dan Rabb mereka yang ubun-ubun mereka di tangan-Nya adalah pelindung dan wakilnya, yang berdiri dengan menolong dan mendukungnya, dan bahwa Dia di atas jalan yang lurus, maka Dia tidak akan mengecewakan orang yang bertawakkal kepada-Nya dan beriman kepada-Nya, dan tidak membuat musuh-musuhnya bergembira atasnya, dan tidak bersama mereka melawannya, karena jalan-Nya yang lurus yang Dia berada padanya dalam perkataan dan perbuatan-Nya mencegah dan menolak hal itu.
Dan di bawah perkataan ini bahwa termasuk jalan-Nya yang lurus adalah bahwa Dia membalas orang yang keluar darinya dan beramal dengan kebalikannya, dan menimpakan azab-Nya kepadanya, karena jalan yang lurus adalah keadilan yang Rabb Ta’ala berada padanya, dan darinya adalah pembalasan-Nya terhadap ahli syirik dan kejahatan, dan pertolongan-Nya kepada wali-wali-Nya dan rasul-rasul-Nya atas musuh-musuh mereka, dan bahwa Dia akan menghilangkan mereka dan mengganti mereka dengan kaum yang lain, dan hal itu tidak membahayakan-Nya sedikitpun, dan bahwa Dia Subhanahu berdiri atas segala sesuatu dengan pemeliharaan, penjagaan, pengaturan, dan penghitungan.
Maka ayat, hujjah, dan dalil apa yang lebih baik dari ayat-ayat, hujjah-hujjah, dan dalil-dalil para nabi? Dan itu adalah kesaksian dari Allah Subhanahu untuk mereka, yang Dia jelaskan kepada hamba-hamba-Nya dengan sebaik-baik penjelasan, dan Dia tampakkan kepada mereka dengan setampak-tampaknya dengan firman dan perbuatan-Nya. Dan dalam Shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorang nabi pun dari para nabi melainkan telah diberi ayat-ayat yang karena yang semisalnya manusia beriman, dan sesungguhnya yang aku diberi adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku berharap aku yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat”.
Dan di antara nama-nama-Nya Ta’ala adalah Al-Mu’min, dan dalam salah satu dari dua tafsir adalah yang membenarkan yang membenarkan orang-orang yang benar dengan apa yang Dia tegakkan untuk mereka dari bukti-bukti kebenaran mereka. Maka Dialah yang membenarkan rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya dalam apa yang mereka sampaikan dari-Nya, dan bersaksi untuk mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dengan dalil-dalil yang Dia tunjukkan atas kebenaran mereka melalui ketetapan dan ciptaan. Karena Dia Subhanahu telah memberi kabar dan kabar-Nya adalah benar dan perkataan-Nya adalah hak bahwa Dia pasti akan memperlihatkan kepada hamba-hamba dari ayat-ayat ufuk dan jiwa apa yang menjelaskan kepada mereka bahwa wahyu yang disampaikan oleh rasul-rasul-Nya adalah hak. Allah Ta’ala berfirman: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar” (Surat Fushshilat: 53), yaitu Al-Qur’an, karena itulah yang disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya: “Katakanlah: Bagaimana pendapatmu jika (Al-Qur’an) itu dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya” (Surat Fushshilat: 52). Kemudian Dia berfirman: “Dan apakah tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Rabbmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Surat Fushshilat: 53). Maka Dia Subhanahu bersaksi untuk Rasul-Nya dengan firman-Nya: bahwa apa yang dia bawa adalah hak, dan Dia menjanjikannya bahwa Dia akan memperlihatkan kepada hamba-hamba dari ayat-ayat perbuatan ciptaan-Nya apa yang bersaksi dengan hal itu juga. Kemudian Dia menyebutkan apa yang lebih agung dan lebih mulia dari itu, yaitu kesaksian-Nya Subhanahu atas segala sesuatu, karena di antara nama-nama-Nya adalah Asy-Syahid yang tidak tersembunyi dari-Nya sesuatu apa pun, dan tidak luput dari-Nya seberat dzarrah pun di bumi maupun di langit, bahkan Dia mengetahui segala sesuatu, menyaksikannya, mengetahui rincian-rincinya. Dan ini adalah beristidlal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Yang pertama adalah beristidlal dengan firman dan kalimat-kalimat-Nya. Beristidlal dengan ayat-ayat ufuk dan jiwa adalah beristidlal dengan perbuatan-perbuatan-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.
Jika engkau berkata: Aku telah memahami cara beristidlal (berargumentasi) dengan kalimat-kalimat-Nya dan beristidlal dengan makhluk-makhluk-Nya, maka jelaskanlah kepadaku bagaimana cara beristidlal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena hal itu merupakan perkara yang tidak kita kenal dalam percakapan dan kitab-kitab kita.
Aku berkata: Benar! Demi Allah, perkara itu sebagaimana yang engkau sebutkan, dan kedudukannya lebih agung dan lebih tinggi, karena sesungguhnya Rabb Ta’ala adalah yang ditunjuki (madlul ‘alaihi), sedangkan ayat-ayat-Nya adalah dalil dan bukti.
Maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu pada hakikatnya adalah Dzat yang menunjukkan Diri-Nya sendiri kepada hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat-Nya, maka Dialah yang sesungguhnya menjadi dalil bagi hamba-hamba-Nya dengan apa yang telah Dia tetapkan untuk mereka berupa dalil-dalil dan ayat-ayat. Dan Dia telah menempatkan dalam fitrah-fitrah yang tidak ternoda oleh ta’thil (peniadaan sifat) dan pengingkaran: bahwa sesungguhnya Dia Subhanahu adalah Yang Sempurna dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki setiap kesempurnaan, yang Mahsuci dari setiap aib dan kekurangan. Maka semua kesempurnaan, semua keindahan, keagungan, kemuliaan, semua kemuliaan, kebesaran, dan kebanggaan: semuanya adalah dari keharusan Dzat-Nya, mustahil Dia berada dalam keadaan selain itu. Maka semua kehidupan adalah milik-Nya, semua ilmu adalah milik-Nya, semua kekuasaan adalah milik-Nya, pendengaran, penglihatan, kehendak, kemauan, rahmat, kecukupan, kemurahan, kebaikan, dan kebajikan: semuanya khusus bagi-Nya dan melekat pada-Nya. Dan apa yang tersembunyi dari makhluk tentang kesempurnaan-Nya lebih besar dan lebih besar lagi daripada apa yang mereka ketahui darinya, bahkan tidak ada perbandingan antara apa yang mereka ketahui dengan apa yang tidak mereka ketahui.
Dan di antara kesempurnaan-Nya yang suci adalah: pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu, dan kesaksian-Nya atasnya, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya satu sisi pun dari sisi-sisi rinciannya, tidak pula satu dzarrah pun, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Dan Dzat yang demikian keadaan-Nya: bagaimana pantas bagi hamba-hamba untuk mempersekutukan-Nya, dan beribadah kepada selain-Nya bersama-Nya? Dan bagaimana pantas mereka menjadikan tuhan lain bersama-Nya? Dan bagaimana pantas dengan kesempurnaan-Nya bahwa Dia membiarkan orang yang berdusta atas nama-Nya dengan kebohongan yang paling besar, dan memberitakan tentang-Nya dengan kebalikan dari keadaan yang sebenarnya, kemudian Dia menolong orang itu, mendukungnya, meninggikan kalimatnya, mengangkat kedudukannya, mengabulkan doanya, membinasakan musuhnya, dan menampakkan melalui tangannya berbagai ayat, bukti, dan dalil yang kekuatan manusia tidak mampu menandingi yang sepertinya, sedangkan dia—dengan itu semua—adalah pendusta atas nama-Nya, pembuat kedustaan, yang berusaha membuat kerusakan di muka bumi?
Dan diketahui bahwa kesaksian-Nya Subhanahu terhadap segala sesuatu, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, hikmah-Nya, kemuliaan-Nya, dan kesempurnaan-Nya yang suci menolak hal itu sepenuhnya. Dan barangsiapa menyangka demikian tentang-Nya, dan memperbolehkan hal itu terjadi pada-Nya; maka dia termasuk makhluk yang paling jauh dari mengenal-Nya, meskipun dia mengetahui sebagian dari sifat-sifat-Nya, seperti sifat kekuasaan dan sifat kehendak.
Dan Al-Quran penuh dengan metode ini, dan ini adalah metode para khawas (orang-orang pilihan), bahkan khawashul khawash (pilihan dari pilihan) adalah mereka yang beristidlal dengan Allah terhadap perbuatan-perbuatan-Nya, dan apa yang pantas bagi-Nya untuk dilakukan dan apa yang tidak Dia lakukan.
Dan jika engkau merenungkan Al-Quran, engkau akan melihatnya menyerukan hal itu, menampakkannya dan mengulanginya bagi siapa yang memiliki pemahaman dan hati yang memahami tentang Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari (melaksanakan hukuman itu)” (Surah Al-Haqqah: 44-47). Tidakkah engkau melihatnya bagaimana Dia Subhanahu mengabarkan: bahwa kesempurnaan-Nya, hikmah-Nya, dan kekuasaan-Nya menolak untuk membiarkan orang yang mengada-adakan sebagian perkataan atas nama-Nya? Bahkan pasti Dia menjadikannya pelajaran bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana telah berlaku sunnah-Nya terhadap orang-orang yang mengada-adakan atas nama-Nya. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) mengada-adakan kebohongan terhadap Allah’? Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci hatimu” (Surah Asy-Syura: 24). Di sini berakhir jawaban syarat, kemudian Dia memberitakan sebuah kabar yang pasti tanpa digantungkan: bahwa “Allah menghapuskan yang batil dan menetapkan yang benar” (Surah Asy-Syura: 24). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya ketika mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia'” (Surah Al-An’am: 91). Maka Dia mengabarkan bahwa siapa yang menafikan dari-Nya pengutusan rasul dan kalam, maka dia tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya, tidak mengenal-Nya sebagaimana seharusnya, dan tidak memuliakan-Nya sebagaimana yang Dia pantas dapatkan. Maka bagaimana dengan orang yang menyangka bahwa Dia menolong orang yang berdusta dan mengada-ada atas nama-Nya serta mendukungnya? Dan menampakkan melalui tangannya berbagai ayat dan dalil? Dan hal seperti ini dalam Al-Quran sangat banyak, beristidlal dengan kesempurnaan-Nya yang suci, sifat-sifat-Nya, dan keagungan-Nya terhadap kebenaran para rasul-Nya, dan terhadap janji dan ancaman-Nya. Dia mengajak hamba-hamba-Nya kepada hal itu, sebagaimana Dia beristidlal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya terhadap keesaan-Nya, dan terhadap kebatilan syirik, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Yang Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Surah Al-Hasyr: 22-23), dan berkali-kali lipat dari itu dalam Al-Quran.
Dan Dia Subhanahu beristidlal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya terhadap kebatilan apa yang dinisbahkan kepada-Nya berupa hukum-hukum dan syariat-syariat yang batil, dan bahwa kesempurnaan-Nya yang suci menghalangi untuk mensyariatkannya, seperti firman-Nya: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukannya, dan Allah menyuruh kami melakukannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (melakukan) perbuatan keji. Apakah kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?'” (Surah Al-A’raf: 28). Dan firman-Nya setelah apa yang Dia larang dan haramkan berupa syirik, kezaliman, perbuatan keji, dan berkata tentang-Nya tanpa ilmu “Semua yang demikian itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu” (Surah Al-Isra’: 38). Maka Dia memberitahumu bahwa apa yang buruk pada dirinya maka Dia membencinya, dan kesempurnaan-Nya menolak untuk menjadikannya sebagai syariat bagi-Nya dan agama. Maka Dia Subhanahu menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya terhadap apa yang Dia lakukan dan Dia perintahkan, apa yang Dia cintai dan Dia benci, apa yang Dia beri pahala dan Dia beri hukuman. Namun metode ini tidak dapat dicapai kecuali oleh para khawashul khawash saja. Oleh karena itu, metode mayoritas adalah dalil-dalil dengan ayat-ayat yang disaksikan, karena hal itu lebih luas dan lebih mudah dijangkau. Dan Allah Subhanahu memberi keutamaan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain, dan Dia meninggikan tingkatan siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Maka Al-Quran yang agung telah terkumpul di dalamnya apa yang tidak terkumpul pada selainnya, karena ia adalah dakwah dan hujjah, ia adalah dalil dan yang ditunjuki (madlul), ia adalah saksi dan yang disaksikan untuknya, ia adalah hukum dan dalil, ia adalah dakwaan dan bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata dari Tuhannya, dan diikuti oleh saksi dari-Nya” (Surah Hud: 17), yaitu dari Tuhannya, dan itu adalah Al-Quran. Dan Allah Ta’ala berfirman kepada orang yang meminta tanda yang menunjukkan kebenaran rasul-Nya: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antara kamu; Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang beriman kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi'” (Surah Al-Ankabut: 51-52). Maka Dia Subhanahu mengabarkan bahwa Kitab yang Dia turunkan kepada rasul-Nya mencukupi dari setiap ayat, di dalamnya terdapat hujjah dan dalil bahwa ia dari Allah, dan bahwa Allah Subhanahu mengutus dengan kitab itu rasul-Nya, dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang apa yang mewajibkan bagi siapa yang mengikutinya kebahagiaan, dan menyelamatkannya dari azab. Kemudian Dia berfirman: “Katakanlah, ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antara kamu; Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi'” (Surah Al-Ankabut: 52). Maka jika Allah Subhanahu mengetahui semua hal; maka kesaksian-Nya adalah kesaksian yang paling benar dan paling adil, karena ia adalah kesaksian dengan ilmu yang sempurna, meliputi yang disaksikan, maka Dzat yang menyaksikan dengannya adalah saksi yang paling adil dan paling benar. Dan Dia Subhanahu menyebut ilmu-Nya ketika kesaksian-Nya, kekuasaan-Nya dan kerajaan-Nya ketika pembalasan-Nya, hikmah-Nya ketika penciptaan dan perintah-Nya, rahmat-Nya ketika menyebut pengutusan rasul-Nya, kesabaran-Nya ketika menyebut dosa-dosa hamba-hamba-Nya dan kemaksiatan mereka, pendengaran-Nya ketika menyebut doa mereka dan permintaan mereka, kemuliaan-Nya dan ilmu-Nya ketika keputusan dan takdir-Nya.
Maka perhatikanlah munculnya nama-nama-Nya yang indah dalam Kitab-Nya, dan kaitannya dengan penciptaan, perintah, pahala, dan hukuman.
Fasal: Beristisyhad (Mencari Kesaksian) atas Kerasulan dengan Kesaksian Allah bagi Rasul-Nya
Fasal
Dan di antara contoh ini adalah firman-Nya Ta’ala: “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kamu bukan utusan Allah.’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antara kamu dan (juga) orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab'” (Surah Ar-Ra’d: 43). Maka Dia meminta kesaksian atas kerasulannya dengan kesaksian Allah baginya, dan pasti kesaksian ini diketahui, dan tegaklah dengan kesaksian itu hujjah atas orang-orang yang mendustakannya. Demikian pula firman-Nya “Katakanlah, ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah, ‘Allah, Dia menjadi saksi antaraku dan antara kamu'” (Surah Al-An’am: 19). Demikian pula firman-Nya: “Tetapi Allah menjadi saksi terhadap apa yang diturunkan-Nya kepadamu; Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat pun menjadi saksi; dan cukuplah Allah sebagai saksi” (Surah An-Nisa’: 166). Demikian pula firman-Nya: “Yaasiin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah. Sungguh, kamu (Muhammad) benar-benar salah satu di antara para rasul” (Surah Yasin: 1-3). Dan firman-Nya: “Itu adalah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, dan sungguh, kamu benar-benar salah satu di antara para rasul” (Surah Al-Baqarah: 252). Dan firman-Nya: “Dan Allah mengetahui bahwa sungguh, kamu benar-benar rasul-Nya” (Surah Al-Munafiqun: 1). Dan firman-Nya: “Muhammad itu adalah utusan Allah” (Surah Al-Fath: 29). Maka semua ini adalah kesaksian dari-Nya bagi rasul-Nya, yang telah Dia tampakkan dan jelaskan, dan Dia jelaskan kebenarannya dengan penjelasan yang sempurna, sehingga Dia memutus uzur (alasan) antara-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dan menegakkan hujjah atas mereka. Maka kenyataan bahwa Dia Subhanahu menjadi saksi bagi rasul-Nya: diketahui dengan seluruh jenis dalil: yang rasional, naql (teks), fithri (fitrah), dharuri (pasti), dan nazhri (teoritikal).
Dan barangsiapa memperhatikan hal itu dan merenungkannya; dia akan mengetahui bahwa Allah Subhanahu telah bersaksi bagi rasul-Nya dengan kesaksian yang paling benar, paling adil, dan paling jelas. Dan Dia membenarkannya dengan seluruh jenis pembenaran: dengan firman-Nya yang telah ditegakkan bukti-bukti atas kebenarannya di dalamnya, dengan perbuatan-Nya dan penetapan-Nya, dan dengan apa yang telah Dia ciptakan pada hamba-hamba-Nya: berupa pengakuan akan kesempurnaan-Nya, dan mensucikan-Nya dari keburukan-keburukan, dan dari apa yang tidak pantas bagi-Nya. Dan setiap waktu Dia menciptakan dari ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran rasul-Nya apa yang Dia tegakkan dengannya hujjah, dan Dia hilangkan dengannya uzur (alasan), dan Dia berikan keputusan baginya dan pengikut-pengikutnya dengan apa yang Dia janjikan kepada mereka berupa kemuliaan, keselamatan, kemenangan, dan dukungan. Dan Dia berikan keputusan atas musuh-musuh-Nya dan orang-orang yang mendustakannya dengan apa yang Dia ancamkan kepada mereka: berupa kehinaan, siksaan, dan hukuman-hukuman yang disegerakan, yang menunjukkan terwujudnya hukuman-hukuman yang ditangguhkan. “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (Surah Al-Fath: 28). Maka Dia memenangkannya dengan dua kemenangan: kemenangan dengan hujjah, penjelasan, dan dalil, dan kemenangan dengan pertolongan, kemenangan, kekuatan, dan dukungan, hingga Dia memenangkannya atas orang-orang yang menyelisihinya, dan dia menjadi ditolong.
Dan firman-Nya “Tetapi Allah menjadi saksi terhadap apa yang diturunkan-Nya kepadamu; Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat pun menjadi saksi” (Surah An-Nisa’: 166). Maka apa yang ada di dalamnya berupa kabar tentang ilmu Allah yang tidak diketahui oleh selain-Nya: termasuk kesaksian yang paling besar bahwa Dialah yang menurunkannya, sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain “Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) mengada-adakannya?’ Katakanlah, ‘(Kalau benar), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat seperti itu, dan panggillah siapa yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’ Maka jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya (Al-Quran) itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?'” (Surah Hud: 13-14). Dan yang dimaksud bukanlah sekadar memberitakan bahwa Dia menurunkannya—dan hal itu diketahui bagi-Nya, sebagaimana Dia mengetahui semua hal lainnya, karena segala sesuatu diketahui bagi-Nya dari yang benar dan yang batil—melainkan maknanya adalah: Dia menurunkannya mengandung ilmu-Nya. Maka turunnya mengandung ilmu-Nya adalah ayat bahwa ia dari sisi-Nya, dan bahwa ia benar dan jujur. Dan serupa dengan ini firman-Nya: “Katakanlah, ‘Al-Quran itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi'” (Surah Al-Furqan: 6), Dia Subhanahu menyebutkan hal itu sebagai pendusta dan penolakan terhadap orang yang berkata: Dia (Muhammad) mengada-adakannya.
Fasal: Di Antara Kesaksian-Nya Subhanahu adalah Apa yang Dia Letakkan dalam Hati Hamba-Hamba Berupa Pembenaran yang Pasti terhadap Kalam dan Wahyu-Nya
Fasal
Dan di antara kesaksian-Nya juga adalah: apa yang Dia letakkan dalam hati hamba-hamba-Nya: berupa pembenaran yang pasti, keyakinan yang tetap, dan ketentraman dengan kalam dan wahyu-Nya. Karena adat kebiasaan tidak mungkin terjadinya hal itu dengan apa yang merupakan kebohongan yang paling besar, dan kedustaan atas Rabb semesta alam, dan memberitakan tentang-Nya dengan kebalikan dari keadaan-Nya yang sebenarnya tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Bahkan hal itu akan menimbulkan keraguan dan ketidakpastian yang sangat besar, dan ditolak oleh fitrah dan akal yang sehat, sebagaimana fitrah yang diciptakan padanya hewan menolak makanan-makanan yang buruk dan berbahaya yang tidak memberi gizi, seperti air kencing dan kotoran. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu menciptakan hati-hati dengan fitrah untuk menerima kebenaran dan tunduk kepadanya, tentram dengannya, tenang kepadanya, dan mencintainya. Dan Dia ciptakan fitrah hati dengan kebencian terhadap kebohongan dan kebatilan, lari darinya, ragu dengannya, dan tidak tentram kepadanya. Dan jika fitrah tetap dalam keadaannya, maka ia tidak akan mendahulukan selain kebenaran, tidak akan tentram kecuali kepadanya, tidak akan tenang kecuali dengannya, dan tidak akan mencintai selainnya. Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk merenungkan Al-Quran, karena setiap orang yang merenungkannya, maka perenungannya akan menimbulkan baginya ilmu yang pasti dan keyakinan yang kuat: bahwa ia adalah benar dan jujur, bahkan paling benar dari segala kebenaran, dan paling jujur dari segala kejujuran. Dan bahwa Dzat yang membawanya adalah makhluk Allah yang paling jujur, paling baik, paling sempurna dalam ilmu dan amal, dan ma’rifat. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Quran? Sekiranya (Al-Quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya” (Surah An-Nisa’: 82). Dan firman-Nya Ta’ala: “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?” (Surah Muhammad: 24). Maka jika gembok-gembok diangkat dari hati, niscaya hati itu akan menyentuh hakikat-hakikat Al-Quran, dan akan menyala di dalamnya pelita-pelita iman, dan akan mengetahui dengan ilmu yang pasti yang ada padanya seperti perkara-perkara wujdaniyyah (yang dirasakan) lainnya—seperti kegembiraan, rasa sakit, cinta, dan takut—bahwa ia dari Allah, Allah berfirman dengannya dengan benar, dan Jibril menyampaikannya dari-Nya kepada rasul-Nya Muhammad. Maka saksi dalam hati ini termasuk saksi yang paling besar, dan dengannya Heraklius berargumen kepada Abu Sufyan ketika dia berkata kepadanya: “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena tidak senang dengan agamanya setelah masuk ke dalamnya?” Maka Abu Sufyan berkata: Tidak. Maka Heraklius berkata kepadanya: “Demikianlah iman, apabila manisnya bercampur dengan kegembiraan hati, maka tidak ada seorang pun yang membencinya.” Dan Allah Ta’ala telah mengisyaratkan makna ini dalam firman-Nya: “Bahkan (Al-Quran) itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Surah Al-Ankabut: 49). Dan firman-Nya: “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (Al-Quran) itulah yang benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka menjadi tunduk kepadanya” (Surah Al-Hajj: 54). Dan firman-Nya “Dan orang-orang yang diberi ilmu dapat melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar” (Surah Saba’: 6). Dan firman-Nya: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?” (Surah Ar-Ra’d: 19). Dan firman-Nya: “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat (luar biasa) dari Tuhannya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)'” (Surah Ar-Ra’d: 27), artinya: bahwa ayat yang mereka minta itu tidak mengharuskan petunjuk, bahkan Allah-lah yang memberi petunjuk dan menyesatkan. Kemudian Dia mengingatkan mereka pada ayat yang paling besar dan paling agung, yaitu: ketentraman hati orang-orang mukmin dengan dzikir-Nya yang Dia turunkan. Maka Dia berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Surah Ar-Ra’d: 28). Maka ketentraman hati yang sehat dan fitrah yang selamat dengannya, dan ketenangan mereka kepadanya termasuk ayat yang paling besar; karena mustahil dalam kebiasaan hati menjadi tenteram dan tenang kepada kebohongan, kedustaan, dan kebatilan.
Jika dikatakan: Mengapa Allah Subhanahu tidak menyebutkan kesaksian para rasul-Nya bersama para malaikat, sehingga Dia berfirman: Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia, dan para malaikat, dan para rasul, padahal mereka lebih besar kesaksiannya daripada ulil ‘ilmi (orang-orang yang berilmu)?
Dikatakan bahwa di dalamnya terdapat beberapa faedah.
- Faedah pertama: bahwa “orang-orang berilmu” lebih umum cakupannya daripada para rasul dan para nabi, sehingga para rasul, para nabi, dan para pengikut mereka semuanya termasuk di dalamnya.
- Faedah kedua: bahwa dengan disebutkannya “orang-orang berilmu” dalam persaksian ini, dan dikaitkannya persaksian itu dengan mereka, menunjukkan bahwa persaksian tersebut merupakan konsekuensi dan tuntutan dari ilmu. Siapa pun yang termasuk orang-orang berilmu pasti memberikan persaksian ini. Sebagaimana dikatakan: apabila hilal (bulan sabit) muncul dengan jelas, maka setiap orang yang ahli melihat akan melihatnya; dan apabila sebuah bau yang kuat menyebar, maka setiap orang yang ahli mencium akan mencium bau itu. Allah berfirman: “Dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.” (Surat An-Naazi‘aat ayat 36). Maksudnya: setiap orang yang memiliki kemampuan melihat pada saat itu akan melihatnya secara nyata.
Dalam hal ini terdapat penjelasan bahwa siapa pun yang tidak dipersaksikan oleh Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi dengan persaksian ini, maka ia termasuk orang yang paling bodoh, sekalipun ia mengetahui berbagai urusan dunia yang tidak diketahui oleh orang lain. Maka ia tetap termasuk golongan orang bodoh, bukan golongan orang berilmu. Telah kami jelaskan bahwa tidak ada yang menegakkan persaksian ini dan menyampaikannya dengan benar kecuali para pengikut para rasul, yaitu para pembela kebenaran. Mereka itulah orang-orang berilmu. Adapun selain mereka adalah orang-orang bodoh, sekalipun mereka memperluas pembicaraan dan memperbanyak perdebatan.
- Di antara faedahnya: bahwa persaksian dari Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi kepada para pemilik persaksian ini (yang bersaksi dengan benar) bahwa mereka adalah orang-orang berilmu. Maka persaksian Allah kepada mereka lebih adil dan lebih benar dibandingkan persaksian kaum Jahmiyah, kelompok yang meniadakan sifat-sifat Allah, serta golongan Fir‘aun yang menuduh mereka sebagai orang bodoh, sebagai kaum tekstualis, sebagai kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk, sebagai kaum yang menjisimkan Allah, sebagai kaum ekstrem dan kaum pembenci.
Cukuplah bagi mereka bahwa Dzat Yang Paling Benar ucapannya telah mempersaksikan bahwa mereka termasuk orang-orang berilmu, karena mereka mempersaksikan bagi-Nya hakikat dari apa yang Allah persaksikan untuk diri-Nya, tanpa penyelewengan dan tanpa penafian. Mereka menetapkan bagi-Nya hakikat persaksian tersebut beserta maknanya. Sedangkan para penentang mereka meniadakan hakikatnya dan hanya menetapkan lafaz dan makna majaznya saja.
Fasal: Dalam Kesaksian Ilahi Terdapat Pujian kepada Ahli Ilmu yang Menjadi Saksi dan Pernyataan Keadilan Mereka
Fasal
Dalam kesaksian ilahi ini terdapat pujian kepada ahli ilmu yang menjadi saksi atas kesaksian tersebut dan pernyataan keadilan mereka. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandingkan kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para malaikat-Nya, dan Dia—Maha Tinggi dan Maha Agung—meminta kesaksian mereka atas perkara yang paling agung yang disaksikan. Dia menjadikan mereka sebagai hujjah (bukti) terhadap orang yang mengingkari kesaksian ini, sebagaimana orang berdalih dengan bukti-bukti terhadap orang yang mengingkari kebenaran. Maka hujjah telah ditegakkan oleh para Rasul terhadap makhluk, dan para ahli ilmu ini adalah wakil-wakil para Rasul dan khalifah-khalifah mereka dalam menegakkan hujjah-hujjah Allah atas para hamba.
Fasal: Tafsir Kesaksian Ulil Ilmi (Para Ahli Ilmu)
Fasal
Kesaksian ulil ilmi (para ahli ilmu) telah ditafsirkan dengan makna pengakuan, dan ditafsirkan pula dengan makna penjelasan dan pengungkapan. Yang benar adalah bahwa kesaksian tersebut mencakup kedua makna itu. Kesaksian mereka adalah pengakuan, pengungkapan, dan pemberitahuan. Mereka adalah saksi-saksi Allah atas manusia pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (Surat Al-Baqarah: 143). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, agar Rasul menjadi saksi atas kamu dan agar kamu semua menjadi saksi atas manusia” (Surat Al-Hajj: 78).
Allah mengabarkan bahwa Dia menjadikan mereka orang-orang yang adil dan pilihan, dan memuliakan sebutan mereka sebelum mereka ada, karena telah terdahulu dalam ilmu-Nya bahwa Dia akan menjadikan mereka saksi-saksi yang bersaksi atas umat-umat pada hari kiamat. Maka barangsiapa tidak melaksanakan kesaksian ini—dengan ilmu dan amal, dengan mengenal dan mengakui, dengan menyeru dan mengajar, serta membimbing—maka ia bukan termasuk saksi-saksi Allah. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Surat Ali Imran: 19). Para mufassir berbeda pendapat: apakah ini kalimat yang berdiri sendiri, ataukah termasuk dalam kandungan kesaksian tersebut, sehingga ia merupakan bagian dari yang disaksikan?
Perbedaan pendapat ini didasarkan pada dua qiraat (bacaan) dengan kasrah (huruf i) pada “inna” dan fathah (huruf a) padanya. Mayoritas ulama membacanya dengan kasrah sebagai kalimat yang berdiri sendiri, dan hanya Al-Kisa’i yang membacanya dengan fathah. Yang benar adalah bacaan dengan kasrah, karena kalimat sebelumnya telah sempurna, maka kalimat kedua ini menegaskan dan menguatkan kandungan kalimat sebelumnya. Ini lebih sempurna dalam penetapan dan lebih dalam dalam pujian dan sanjungan. Karena itu, kasrah pada “Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” (Surat At-Tur: 28) lebih baik daripada fathah, dan kasrah dalam ucapan orang yang bertalbiah “Labbaika, sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah milik-Mu” lebih baik daripada fathah.
Telah disebutkan tiga cara untuk mengarahkan qiraat Al-Kisa’i:
Pertama: Bahwa kesaksian mencakup kedua kalimat tersebut, jadi kesaksian itu mencakup “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Surat Ali Imran: 19) dan itulah yang disaksikan. Fathah pada “annahu” dalam firman-Nya “bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Surat Ali Imran: 18) berdasarkan penghilangan huruf jar, yaitu “bi annahu laa ilaaha illa huwa”. Ini adalah pengarahan dari Al-Farra, dan ini sangat lemah, karena maknanya berbeda dengan itu, dan bahwa yang disaksikan adalah perkataan “annahu laa ilaaha illa huwa” itu sendiri. Maka yang disaksikan adalah “anna” beserta isinya, dan perhatian diarahkan kepada ini, dan dengannya kesaksian terwujud. Namun pendapat ini—meskipun lemah—memiliki satu sisi, yaitu: bahwa maknanya menjadi: Allah bersaksi dengan tauhid-Nya, bahwa agama di sisi Allah adalah Islam. Dan Islam adalah mentauhidkan-Nya. Maka kesaksian mencakup tauhid-Nya dan penetapan agama-Nya: bahwa agama itu adalah Islam, bukan yang lain.
Kedua: Bahwa kesaksian mencakup kedua kalimat sekaligus, keduanya sama-sama disaksikan dengan asumsi bahwa wawu (huruf w) dihilangkan namun dimaksudkan. Takdirnya: “wa anna ad-diina ‘indallahi al-islam” (dan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam). Maka kalimat ini tidak memerlukan huruf ataf karena sudah menyebutkan yang di’atafkan kepadanya, sebagaimana tidak memerlukannya dalam firman-Nya: “tiga orang, yang keempatnya adalah anjing mereka, dan mereka mengatakan (jumlahnya) lima orang, yang keenamnya adalah anjing mereka” (Surat Al-Kahf: 22). Maka baik menyebutkan wawu maupun menghilangkannya, sebagaimana dihilangkan di sini, dan disebutkan dalam firman-Nya: “dan mereka mengatakan (jumlahnya) tujuh orang dan yang kedelapannya adalah anjing mereka” (Surat Al-Kahf: 22).
Ketiga—dan ini adalah mazhab ulama Bashrah—: bahwa “anna” yang kedua dijadikan sebagai badal (pengganti) dari yang pertama. Takdirnya: Allah bersaksi bahwa agama di sisi Allah adalah Islam. Dan firman-Nya “bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Surat Ali Imran: 18) adalah pengantar dan persiapan untuk yang kedua. Ini termasuk badal yang kedua sama dengan yang pertama, karena agama yang merupakan Islam itu sendiri di sisi Allah adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan menunaikan haknya. Kamu boleh menjadikannya pada cara ini sebagai badal isytimal (badal yang mengandung), karena Islam mengandung tauhid.
Jika dikatakan: Seharusnya pada qiraat ini dikatakan “inna ad-diina ‘indahu al-islam” (sesungguhnya agama di sisi-Nya adalah Islam), karena maknanya: Allah bersaksi bahwa agama di sisi-Nya adalah Islam, lalu mengapa beralih kepada lafaz zhahir (kata ganti terang)?
Dijawab: Ini menguatkan qiraat jumhur, dan bahwa ia lebih fasih dan lebih baik. Namun boleh meletakkan yang zhahir di tempat yang dhamir (kata ganti tersembunyi). Ini telah banyak terjadi dalam Al-Qur’an dan perkataan orang Arab. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya” (Surat Al-Baqarah: 196). Dan berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Surat Al-Anfal: 69). Dan Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitab serta melaksanakan salat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Surat Al-A’raf: 170).
Ibnu Abbas berkata: Orang-orang musyrik membanggakan leluhur mereka, lalu setiap kelompok berkata: Tidak ada agama kecuali agama nenek moyang kami, dan apa yang mereka anut. Maka Allah Ta’ala mendustakan mereka dan berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Surat Ali Imran: 19), yaitu yang dibawa oleh Muhammad, dan itu adalah agama para Nabi dari awal hingga akhir mereka. Tidak ada agama Allah selain itu. “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi” (Surat Ali Imran: 85).
Firman-Nya “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Surat Ali Imran: 19) menunjukkan bahwa Islam adalah agama semua Nabi dan Rasul-Nya serta pengikut mereka dari awal hingga akhir, dan bahwa Allah tidak pernah memiliki agama lain selain itu dan tidak akan memiliki agama selain itu. Nabi Nuh, rasul yang pertama, berkata: “Maka jika kamu berpaling (dari seruan agamaku), aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang Muslim” (Surat Yunus: 72). Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berkata: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara keturunan kami suatu umat yang berserah diri kepada-Mu” (Surat Al-Baqarah: 128). Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Nabi Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” (Surat Al-Baqarah: 132). Nabi Ya’qub berkata kepada anak-anaknya saat wafat: “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah tuhanmu” (Surat Al-Baqarah: 133)—hingga firman-Nya—“dan kami adalah orang-orang Muslim” (Surat Al-Baqarah: 133). Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar Muslim” (Surat Yunus: 84). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketika Isa merasakan keingkaran dari mereka, dia berkata: “Siapakah pembantu-pembantuku (untuk menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin menjawab: “Kami adalah pembantu-pembantu (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (Surat Ali Imran: 52). Ratu Saba berkata: “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah menzalimi diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam” (Surat An-Naml: 44).
Maka Islam adalah agama penduduk langit dan agama ahli tauhid dari penduduk bumi. Allah tidak menerima agama dari seorang pun selain Islam. Agama-agama penduduk bumi ada enam: satu untuk Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), dan lima untuk setan. Agama Ar-Rahman adalah Islam. Yang untuk setan adalah: Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabiun, dan agama orang-orang musyrik.
Inilah sebagian dari apa yang terkandung dalam ayat agung ini dari rahasia-rahasia tauhid dan pengetahuan. Janganlah kamu anggap pembicaraan tentangnya terlalu panjang, karena ia lebih penting daripada membicarakan perkataan penulis Manazil As-Sa’irin. Mari kita kembali kepada penjelasan perkataannya dan keterangan apa yang ada padanya.
Penulis berkata: “Sesungguhnya para ulama berbicara dengan apa yang mereka bicarakan, dan para muhaqqiqun (yang sampai kepada hakikat) mengisyaratkan kepada apa yang mereka isyaratkan dari jalan ini, untuk maksud membenarkan tauhid. Adapun selain tauhid—dari hal atau tingkatan—semuanya disertai ‘illat (sebab-sebab yang menghalangi).”
Ia bermaksud: bahwa tauhid adalah tujuan yang dituju dari semua tingkatan, amal, dan hal. Tujuan semuanya adalah tauhid. Sesungguhnya semua perkataan para ulama dan muhaqqiqun dari ahli suluk (penempuh jalan spiritual) adalah untuk maksud membenarkannya. Ini jelas dari awal tingkatan-tingkatan hingga akhirnya, karena semuanya menunjukkan kepada pembenaran dan pemurniannya.
Perkataannya “Adapun selain tauhid—dari hal atau tingkatan—semuanya disertai ‘illat” bermaksud: bahwa pemurnian tauhid tidak ada ‘illat bersamanya. Seandainya ada ‘illat yang menyertainya, ia tidak akan murni. Maka kemurniannya menafikan ‘illat darinya sama sekali, berbeda dengan tingkatan-tingkatan dan hal-hal selainnya, karena ‘illat menyertai keduanya.
Menurut mereka: ‘illat-‘illat tingkatan tidak hilang dengan pemurnian tauhid. Contohnya: ‘illat tingkatan tawakal adalah bahwa seseorang menyaksikan yang bertawakal, yang ditawakali, yang ditawakali padanya, dan menyaksikan tawakalnya itu sendiri. Semua ini adalah ‘illat dalam tingkatan tawakal. Karena tingkatannya tidak benar kecuali dengan tidak menyaksikan bersama Al-Wakil (Dzat yang Maha Mengurus)—yaitu Allah yang ia bertawakal kepada-Nya—selain Dia, dan tidak melihat tawakalnya kepada-Nya sebagai sebab untuk mendapatkan yang dituju, atau sebagai wasilah kepadanya.
Di dalamnya ada ‘illat lain yang lebih halus dari ini menurut para arbab al-fana (orang-orang yang mencapai fanaa), yaitu: bahwa orang yang bertawakal telah menyerahkan urusannya kepada Maulanya, berlindung kepada jaminan-Nya dan pengaturan-Nya baginya, dan penjagaan kepentingannya. Mereka berkata: Ini dalam jalan para khawash (orang-orang khusus) adalah kebutaan dari tauhid dan kembali kepada sebab-sebab, karena orang yang mengesakan Allah telah meninggalkan sebab-sebab dan berhenti hanya dengan Musabbib (Pembuat Sebab). Orang yang bertawakal—meskipun meninggalkan sebab-sebab—sesungguhnya ia berhenti dengan tawakalnya. Maka tawakalnya menjadi pengganti sebab-sebab yang ia tinggalkan. Ia terikat dengan apa yang ia tinggalkan.
Pemurnian tawakal menurut mereka dan hakikatnya adalah: membersihkan hati dari ‘illat tawakal, yaitu dengan mengetahui bahwa Allah telah selesai dari sebab-sebab dan mentakdirkannya, dan Dia menjalankan takdir-takdir kepada waktu-waktunya. Maka orang yang bertawakal secara hakiki—menurut mereka—adalah orang yang mengistirahatkan dirinya dari jerih payah memperhatikan dan mengamati sebab, dengan tenang kepada apa yang telah ditetapkan baginya dari bagian (rezeki), dengan kedua keadaan sama baginya. Yaitu ia mengetahui bahwa yang mencari tidak memberi manfaat, dan tawakal tidak mengumpulkan. Kapan saja ia mengamati dengan tawakalnya suatu maksud, maka tawakalnya cacat dan niatnya ada ‘illatnya. Maka jika ia bersih dari perhambaan sebab-sebab ini dan mengamati kejadian-kejadian, dan tidak memperhatikan dalam tawakalnya selain hak murni Rabb—Maha Suci Dia—maka Allah Ta’ala akan mencukupinya dari setiap kesulitan. Sebagaimana Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa: “Jadilah bagi-Ku sebagaimana Aku kehendaki, niscaya Aku akan menjadi bagimu sebagaimana kamu kehendaki.”
Perkataan ini dan sejenisnya sebagiannya benar, sebagiannya salah, dan sebagiannya bisa dibenarkan bisa salah.
Perkataannya “Sesungguhnya tawakal dalam jalan para khawash adalah kebutaan dari tauhid dan kembali kepada sebab-sebab” adalah kesalahan murni. Bahkan tawakal adalah hakikat tauhid, dan tauhid tidak sempurna kecuali dengannya. Telah terdahulu dalam bab tawakal penjelasan tentang hal itu, dan bahwa ia termasuk tingkatan-tingkatan para Rasul, dan mereka adalah khawash al-khawash (yang paling khusus). Hanya orang-orang yang sok pintar dan berlebih-lebihan yang menjadikannya sebagai tingkatan orang awam. Tidak ada yang lebih khusus daripada orang yang diutus dan dipilih Allah, dan tidak ada yang lebih tinggi dari tingkatan-tingkatan mereka.
Perkataannya “Sesungguhnya tawakal adalah kembali kepada sebab-sebab” dijawab: Bahkan ia adalah menunaikan hak perintah. Sesungguhnya Allah—Maha Suci Dia—hikmah-Nya mengharuskan mengaitkan akibat-akibat dengan sebab-sebabnya, dan menjadikan tawakal dan doa termasuk sebab-sebab yang paling dekat yang mendatangkan maksud. Maka tawakal adalah mentaati perintah Allah, menyesuaikan dengan hikmah-Nya, dan penghambaan hati kepada-Nya. Bagaimana mungkin ia disertai ‘illat? Bagaimana mungkin ia termasuk tingkatan-tingkatan orang awam?
Perkataannya “Karena orang yang mengesakan Allah telah meninggalkan semua sebab-sebab” dijawab kepadanya: Meninggalkan ini tidak keluar dari kekufuran kadang-kadang, kefasikan kadang-kadang, dan kelalaian kadang-kadang. Karena Allah memerintahkan untuk menunaikan sebab-sebab. Maka barangsiapa meninggalkan apa yang Allah perintahkan untuk ia tunaikan, sungguh ia telah menentang Allah dalam perintah-Nya. Bagaimana boleh bagi seorang Muslim untuk meninggalkan semua sebab-sebab?
Jika kamu berkata: Yang dimaksud bukanlah menolak untuk melaksanakannya, tetapi yang dimaksud adalah: menolak untuk berdiri bersamanya (bergantung padanya).
Aku katakan: Ini juga tidak benar, karena berdiri bersama sebab-sebab itu ada dua macam:
Berdiri yang diperintahkan dan diharapkan, yaitu ia berdiri bersamanya di tempat Allah dan Rasul-Nya memberhentikannya, maka ia tidak melampaui batas-batasnya dan tidak pula mengabaikannya, sehingga ia berdiri bersamanya dengan memperhatikan batas-batasnya, waktu-waktunya, dan syarat-syaratnya. Berdiri semacam ini tidak akan sempurna penghambaan kecuali dengannya.
Dan berdiri bersamanya dengan keyakinan bahwa ia adalah pelaku yang berpengaruh dengan sendirinya, dan bahwa ia bermanfaat dan membahayakan dengan zatnya sendiri, maka ini tidak akan diyakini oleh seorang yang bertauhid, dan tidak perlu berhati-hati darinya bagi orang yang berbicara tentang ma’rifat dan suluk. Benar, jangan terputus dengannya dari melihat Penyebab (Allah), dan jangan meyakininya sebagai tujuan yang dikehendaki darinya, bahkan ia adalah wasilah (perantara) yang menghantarkan kepada tujuan, dan tidak akan sampai kepada tujuan yang dikehendaki tanpanya. Ini adalah benar, namun tidak sejalan dengan menolaknya dan berpaling darinya, bahkan ia melaksanakannya dengan meyakini bahwa ia adalah wasilah yang menghantarkan kepada tujuan. Ia seperti jalan yang nyata yang dilalui oleh musafir menuju tujuannya. Jika dikatakan kepadanya: Tolak jalan itu dan jangan menengok kepadanya; maka terputuslah ia dari perjalanan sama sekali. Dan jika ia menjadikannya sebagai tujuan, dan tidak bermaksud dengan berjalan di dalamnya untuk sampai kepada tujuan tertentu; maka ia berpaling dari tujuan dan sibuk dengan jalan. Dan jika dikatakan kepadanya: Perhatikanlah jalanmu dan tempat-tempat perjalananmu, dan perhatikanlah, dan berjalanlah di dalamnya sambil memandang kepada yang dituju, berusaha untuk sampai kepadanya, maka inilah yang benar.
Dan perkataannya: “Orang yang bertawakal – walaupun ia menolak sebab-sebab – berdiri dengan tawakalnya.”
Maka dikatakan: Jika ia berdiri dengan tawakalnya sebagai pemenuhan perintah Allah, dan pelaksanaan hak penghambaan-Nya, dengan meyakini bahwa Allah-lah yang menganugerahkan tawakal kepadanya, dan menegakkannya di dalamnya, dan menjadikannya sebab yang menghantarkannya kepada yang diinginkannya, maka sebaik-baik berdiri ia berdiri, dan seindah-indah berdiri itu! Dan jika ia berdiri bersamanya dengan keyakinan bahwa dengan tawakalnya dan amalnya sendiri ia akan sampai, dengan memutuskan pandangan dari karunia Tuhannya dan pertolongan-Nya, dan anugerah-Nya kepadanya dengan tawakal; maka ia berdiri yang terputus dari Allah.
Dan perkataannya: “Sesungguhnya tawakal adalah pengganti dari sebab-sebab yang ia tolak, maka orang yang bertawakal berpindah dari sebab kepada sebab.” Dikatakan kepadanya: Jika sebab-sebab yang ia tolak tidak diperintahkan, maka tawakal yang murni lebih baik darinya. Dan jika sebab-sebab itu diperintahkan, maka penolakannya terhadapnya menuju tawakal adalah kemaksiatan dan keluar dari perintah.
Benar, untuk tawakal ada tiga ‘illat (cacat). Pertama: meninggalkan apa yang diperintahkan dari sebab-sebab dengan merasa cukup dengan tawakal darinya, maka ini adalah tawakal kelemahan dan kelalaian dan penyia-nyiaan, bukan tawakal penghambaan dan tauhid, seperti orang yang meninggalkan amalan-amalan yang menjadi sebab keselamatan, dan bertawakal dalam memperolehnya, dan meninggalkan melakukan sebab-sebab rezeki – dari bekerja, bercocok tanam, berdagang dan semacamnya – dan bertawakal dalam memperolehnya, dan meninggalkan menuntut ilmu, dan bertawakal dalam memperolehnya, maka tawakalnya ini adalah kelemahan dan kelalaian, sebagaimana perkataan sebagian Salaf: Jangan menjadi orang yang menjadikan tawakalnya sebagai kelemahan, dan kelemahannya sebagai tawakal.
‘Illat kedua: bertawakal dalam hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan dan syahwatnya, bukan hak-hak Tuhannya, seperti orang yang bertawakal dalam memperoleh harta atau istri atau kepemimpinan. Adapun tawakal dalam menolong agama Allah, mengangkat kalimat-Nya, menampakkan sunnah Rasul-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, maka tidak ada ‘illat di dalamnya, bahkan ia menghilangkan ‘illat.
‘Illat ketiga: ia melihat tawakalnya dari dirinya, dan dengan itu ia tidak melihat karunia dan tidak menyaksikan keutamaan, dan penegakan Allah baginya dalam tingkatan tawakal. Bukan sekadar melihat tawakal itu ‘illat, sebagaimana disangka banyak orang, bahkan melihat tawakal, dan bahwa ia dari ‘ain (sumber) kemurahan, dan karunia yang murni, dan taufiq semata adalah penghambaan, dan ia lebih sempurna daripada ia tidak melihatnya dan tidak melihatnya. Maka yang paling sempurna adalah tidak terhalang oleh karunia Tuhannya darinya, dan tidak terhalang olehnya dari menyaksikan karunia-Nya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Maka ketiga ‘illat ini adalah yang muncul dalam tingkatan tawakal dan tingkatan-tingkatan lainnya, dan inilah yang dikerjakan oleh para ‘arif billah dan perintah-Nya untuk memutusnya. Dan demikianlah pembicaraan tentang seluruh ‘illat tingkatanat. Kami hanya menyebutkan ini sebagai contoh dari apa yang disebutkan dari ‘illat-‘illatnya. Sungguh penulis Manazil telah mengkhususkan untuk itu sebuah karya yang bagus, dan menjadikan kebanyakannya ber-‘illat. Yang benar adalah bahwa ‘illat-‘illatnya adalah tiga yang disebutkan ini: meninggalkan dengannya apa yang lebih tinggi darinya, menggantungkannya dengan kesenangannya, terputus dengannya dari yang dituju, dan tidak melihatnya dari sumber karunia dan kemurahan yang murni. Dan dengan Allah-lah taufiq.
Perkataannya: Tauhid ada tiga wajah. Wajah pertama: tauhid orang awam, yang sahih dengan syahid-syahid. Wajah kedua: tauhid orang khusus, yaitu yang tetap dengan hakikat-hakikat. Wajah ketiga: tauhid yang tegak dengan keabadian, dan ia adalah tauhid khusus dari orang khusus.
Maka dikatakan: Tidak diragukan bahwa ahli tauhid berbeda-beda dalam tauhid mereka – ilmu, ma’rifat, dan keadaan – perbedaan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Maka orang yang paling sempurna tauhidnya adalah: para Nabi semoga shalawat dan salam Allah atas mereka, dan para Rasul di antara mereka lebih sempurna dalam hal itu, dan Ulul ‘Azmi dari para Rasul paling sempurna tauhidnya, dan mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, dan Muhammad semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua.
Dan yang paling sempurna tauhidnya: dua Khalilullah (kekasih Allah) Muhammad dan Ibrahim semoga shalawat dan salam Allah atas keduanya, karena keduanya berdiri dari tauhid dengan apa yang tidak berdiri dengannya selain keduanya – ilmu, ma’rifat, keadaan, dakwah kepada makhluk, dan jihad – maka tidak ada tauhid yang lebih sempurna dari yang ditegakkan oleh para Rasul, mereka dakwahkan kepadanya, dan mereka berjihad melawan umat-umat karenanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti mereka di dalamnya, sebagaimana firman-Nya Subhanahu – setelah menyebutkan Ibrahim dan perdebatannya dengan bapaknya dan kaumnya tentang batalnya syirik dan sahihnya tauhid, dan menyebutkan para Nabi dari keturunannya – kemudian berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami telah menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Surat Al-An’am: 89) Maka tidak ada yang lebih sempurna dari tauhid orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengikuti mereka.
Dan ketika mereka berdiri dengan hakikatnya – ilmu, amal, dakwah, dan jihad – Allah menjadikan mereka sebagai imam bagi makhluk, membimbing dengan perintah-Nya, menyeru kepada-Nya, dan menjadikan makhluk mengikuti mereka, bermakmum dengan perintah mereka, dan berhenti pada apa yang mereka hentikan pada-Nya. Dan Dia mengkhususkan kebahagiaan, kesuksesan, dan petunjuk bagi para pengikut mereka, dan kesengsaraan dan kesesatan bagi yang menentang mereka. Dan Dia berfirman kepada imam dan syaikh mereka Ibrahim, kekasih-Nya: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi manusia.” Ibrahim berkata, “Dan (juga) dari keturunanku?” Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Baqarah: 124) Artinya tidak akan mendapat janji-Ku dengan keimaman orang musyrik. Oleh karena itu Dia mewasiatkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah Ibrahim. Dan adalah ia mengajarkan para sahabatnya, ketika mereka memasuki waktu pagi untuk mengatakan: “Kami memasuki pagi hari di atas fithrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan millah bapak kami Ibrahim, yang hanif lagi muslim, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maka millah Ibrahim adalah tauhid, dan agama Muhammad adalah apa yang ia bawa dari sisi Allah berupa perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Dan kalimat ikhlas adalah syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan fithrah Islam adalah apa yang Allah fithrahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa kecintaan kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan berserah diri kepada-Nya dengan penghambaan, kerendahan, ketundukan, dan kembali kepada-Nya.
Maka inilah tauhid khusus dari orang khusus yang barang siapa berpaling darinya maka ia termasuk orang yang paling bodoh di antara orang-orang bodoh. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.'” (Surat Al-Baqarah: 130)
Maka Subhanahu wa Ta’ala membagi makhluk menjadi dua bagian: orang bodoh yang tidak ada yang lebih bodoh darinya, dan orang yang bijaksana. Orang bodoh adalah yang berpaling dari millahnya menuju syirik, dan orang bijaksana adalah yang berlepas diri dari syirik dengan perkataan, perbuatan, dan keadaan, maka perkataannya adalah tauhid, pekerjaannya adalah tauhid, keadaannya adalah tauhid, dan dakwahnya kepada tauhid. Dengan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan semua Rasul – dari awal mereka hingga akhir mereka – Allah Ta’ala berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Surat Al-Mu’minun: 51-52) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku.'” (Surat Al-Anbiya’: 25) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: ‘Adakah Kami menjadikan tuhan-tuhan selain Tuhan Yang Maha Pemurah untuk disembah?'” (Surat Az-Zukhruf: 45) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, mereka (yang) dapat menghidupkan (orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan mereka akan ditanyai. Bahkan mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: ‘Bawalah bukti-buktimu. Inilah yang bersama denganku dan yang sebelumku.'” (Surat Al-Anbiya’: 21-24) Artinya: Inilah Kitab yang diturunkan kepadaku, dan ini adalah kitab-kitab para Nabi semuanya: Apakah kalian menemukan dalam sesuatu darinya pengambilan tuhan-tuhan bersama Allah? Atau semuanya berbicara dengan tauhid yang memerintahkan dengannya? Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.'” (Surat An-Nahl: 36) Dan thaghut adalah nama bagi setiap apa yang mereka sembah selain Allah, maka setiap orang musyrik, tuhannya adalah thaghutnya.
Dan telah berbicara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang apa yang disebutkan oleh penulis Manazil dalam tauhid, maka ia berkata – setelah ia menukilkan perkataannya hingga akhirnya -: Adapun tauhid pertama yang ia sebutkan, maka ia adalah tauhid yang dibawa oleh para Rasul dari awal mereka hingga akhir mereka, dan turun dengannya semua Kitab, dan dengannya Allah memerintahkan orang-orang terdahulu dan kemudian, dan ia menyebutkan ayat-ayat yang datang dengan hal itu.
Kemudian beliau berkata: Allah telah mengabarkan tentang setiap rasul dari para rasul bahwa ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya” (Surat Al-Mu’minun: 32), dan inilah dakwah pertama para rasul dan yang terakhir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah”, dan beliau bersabda: “Barang siapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga”. Al-Qur’an penuh dengan tauhid ini, dakwah kepadanya, dan menggantungkan keselamatan serta kebahagiaan di akhirat dengannya. Hakikatnya adalah: memurnikan seluruh agama, dan fana dalam tauhid ini berpasangan dengan baqa (kekal), yaitu engkau menetapkan ketuhanan Allah Ta’ala di dalam hatimu, dan menafikan ketuhanan selain-Nya, maka engkau menggabungkan antara penafian dan penetapan. Penafian adalah fana, dan penetapan adalah baqa. Hakikatnya adalah: engkau fana dengan beribadah kepada Allah dari beribadah kepada selain-Nya, dengan mencintai-Nya dari mencintai selain-Nya, dengan takut kepada-Nya dari takut kepada selain-Nya, dengan taat kepada-Nya dari taat kepada selain-Nya, demikian juga dengan berwala (loyal) kepada-Nya, memohon kepada-Nya, merasa cukup dengan-Nya, bertawakal kepada-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, mewakilkan urusan kepada-Nya, berhukum kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menginginkan apa yang ada di sisi-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mengambil pelindung selain Allah Yang Mencipta langit dan bumi'” (Surat Al-An’am: 14), dan Allah Ta’ala berfirman: “Apakah aku akan mencari hakim selain Allah” (Surat Al-An’am: 114), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb segala sesuatu'” (Surat Al-An’am: 164), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah kalian menyuruhku beribadah kepada selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh? Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Bahkan Allah-lah yang wajib kamu sembah, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur'” (Surat Az-Zumar: 64-65), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku telah membimbingku kepada jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang hanif, dan Ibrahim bukan termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam'” (Surat Al-An’am: 161-162), tidak ada sekutu bagi-Nya (ayat selanjutnya), dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab” (Surat Asy-Syu’ara’: 213), dan Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu jadikan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak dilemparkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan tercela lagi terusir” (Surat Al-Isra’: 39), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu seru (sembah) tuhan yang lain di samping Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya” (Surat Al-Qashash: 88), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya-lah bertawakal orang-orang yang bertawakal'” (Surat Az-Zumar: 38), dan Allah berfirman: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya” (Surat Yunus: 107), dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran; maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (Surat Az-Zumar: 2), dan Allah berfirman tentang Ashabul Kahfi: “Lalu mereka berkata: ‘Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran'” (Surat Al-Kahfi: 14), dan Allah berfirman tentang shahabat Yasin: “Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Patutkah aku mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku” (Surat Yasin: 22), dan Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Dia? Maka Allah Dialah Pelindung (yang sebenarnya)” (Surat Asy-Syura: 9), dan Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah? Katakanlah: ‘Dan apakah (kamu masih akan mengambilnya menjadi pemberi syafaat) sekalipun mereka tidak menguasai sesuatupun dan tidak (pula) berakal?’ Katakanlah: ‘Hanya bagi Allah-lah (hak memberi) syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan'” (Surat Az-Zumar: 43), dan Allah Ta’ala berfirman: “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Surat Al-Hajj: 73), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (Surat An-Nisa’: 36).
Dan ini banyak sekali dalam Al-Qur’an, bahkan sangat banyak untuk disebutkan, dan ia adalah awal agama dan akhirnya, batin dan zahirnya, puncak tertingginya, dan porosnya. Allah Ta’ala memerintahkan kita agar meneladani imam tauhid ini dalam penafian dan penetapannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'” (Surat Al-Mumtahanah: 4), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, kecuali (Allah) Yang telah menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku'” (Surat Az-Zukhruf: 26), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apa yang kamu sembah ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala, dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar kamu ketika kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) dia memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ Mereka menjawab: ‘Bahkan kami mendapati bapak-bapak kami berbuat demikian.’ Ibrahim berkata: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang selalu kamu sembah, kamu dan bapak-bapak kamu yang dahulu, karena sesungguhnya sembahan-sembahan itu adalah musuh bagiku, kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakanku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabb yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat'” (Surat Asy-Syu’ara’: 69-82). Dan apabila engkau merenungkan Al-Qur’an – dari awal hingga akhirnya – engkau akan melihatnya berputar pada tauhid ini, penetapannya dan hak-haknya.
Syaikh kami berkata: Al-Khalilan (dua kekasih Allah, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima wasallam) adalah yang paling sempurna dari kalangan khususnya orang-orang khusus dalam hal tauhid, dan tidak boleh ada dalam umat ini orang yang lebih sempurna tauhidnya dari seorang nabi dari para nabi, apalagi dari para rasul, apalagi dari ulul azmi (rasul-rasul yang memiliki keteguhan luar biasa), apalagi dari kedua kekasih Allah. Kesempurnaan tauhid ini adalah tidak tersisa dalam hati sesuatu pun untuk selain Allah sama sekali, bahkan hamba tetap loyal kepada Rabbnya dalam segala hal, mencintai siapa yang Dia cintai dan apa yang Dia cintai, membenci siapa yang Dia benci dan apa yang Dia benci, loyal kepada siapa yang Dia loyali, memusuhi siapa yang Dia musuhi, memerintahkan apa yang Dia perintahkan, dan melarang apa yang Dia larang.
Fasal: Tauhid Orang Awam yang Sahih dengan Dalil-dalil
Fasal
Ucapannya: “Dan ini adalah tauhid orang awam, yang sahih dengan dalil-dalil.”
Telah jelas bahwa ini adalah tauhid khususnya orang-orang khusus, yang tidak ada sesuatu pun di atasnya, dan tidak ada yang lebih khusus darinya, dan bahwa kedua kekasih Allah adalah orang yang paling sempurna dalam hal tauhid ini, maka beruntunglah orang awam dengan bagian mereka darinya.
Ucapannya “sahih dengan dalil-dalil” artinya dengan dalil-dalil, ayat-ayat dan bukti-bukti, dan ini menunjukkan kesempurnaan dan kemuliaan tauhid tersebut bahwa dalil-dalil telah tegak atasnya, bukti-bukti menyerukan padanya, dan ayat-ayat serta bukti-bukti menjelaskannya, sedangkan selainnya hanyalah klaim-klaim kosong, tidak ada dalil yang berdiri atasnya, dan tidak sahih dengan bukti. Maka setiap tauhid yang tidak sahih dengan bukti maka ia bukan tauhid, sehingga tidak boleh ada tauhid yang lebih sempurna dari tauhid yang sahih dengan bukti-bukti dan ayat-ayat, dan tauhid Al-Qur’an dari awal hingga akhir adalah demikian.
Ucapannya: “Inilah tauhid yang zahir dan jelas, yang menafikan syirik yang paling besar.”
Maka ya, demi Allah, dan karena kejelasan dan kejernihan itulah Allah mengutus para rasul-Nya dengannya, menurunkan kitab-kitab-Nya dengannya, dan Allah memerintahkan dengannya orang-orang terdahulu dan terkemudian dari hamba-hamba-Nya. Adapun isyarat, petunjuk simbolik, dan kerumitan, yang hampir tidak dapat dipahami oleh seseorang dari manusia kecuali dengan susah payah dan kesulitan, maka itu bukan termasuk apa yang dibawa oleh para rasul, dan tidak mereka serukan. Maka kejelasan tauhid ini, kejernihan, kejelasan, dan kesaksian fitrah serta akal terhadapnya termasuk dalil terbesar bahwa ia adalah tingkatan tauhid yang paling tinggi, dan puncaknya, dan karena itulah ia kuat untuk menafikan syirik yang paling besar. Karena sesungguhnya sesuatu semakin besar maka tidak dapat menolaknya kecuali yang besar. Seandainya ada sesuatu yang lebih besar dari tauhid ini niscaya Allah akan menolak syirik yang paling besar dengannya. Dan karena kebesaran dan kemuliaan tauhid ini, maka kiblat ditegakkan atasnya, agama dibangun atasnya, dzimmah (jaminan keamanan) diwajibkan dengannya, darul kufur dipisahkan dari darul Islam dengannya, manusia terbagi dengannya menjadi bahagia dan celaka, terbimbing dan sesat, dan kitab-kitab serta para rasul menyerukan padanya.
Ucapannya “meskipun mereka tidak mampu menguasai cara beristidlal dengan baik” artinya: tauhid tersebut tersembunyi dalam hati ahlinya, meskipun kebanyakan mereka tidak pandai beristidlal padanya dengan penetapan dan penjelasan, jawaban atas pertentangan, dan penolakan terhadap syubhat-syubhat orang yang membangkang. Dan tidak diragukan bahwa kebanyakan manusia tidak pandai dalam hal itu, dan ini adalah tingkat tambahan di atas keberadaan tauhid dalam hati mereka. Maka tidak setiap orang yang menemukan sesuatu, mengetahuinya dan meyakininya dapat pandai beristidlal padanya, menetapkannya, dan menolak syubhat-syubhat yang merusak padanya. Maka ini satu hal dan keberadaannya adalah hal lain, tetapi meskipun demikian harus ada jenis istidlal yang berdiri pada dirinya, meskipun tidak sesuai dengan syarat-syarat dalil yang disusun oleh ahli kalam dan lainnya serta susunannya. Maka ini bukan syarat dalam tauhid – tidak dalam pengetahuannya dan ilmu tentangnya, dan tidak dalam melaksanakannya secara amal dan kondisi – maka istidlal setiap orang sesuai dengannya, dan tidak dapat menghitung jenis-jenis istidlal, cara-caranya dan tingkatannya kecuali Allah. Maka bagi setiap kaum ada pembimbing, dan bagi setiap ilmu yang sahih dan keyakinan ada dalil yang mewajibkannya, dan bukti yang sahih dengannya, dan mungkin pemiliknya tidak dapat mengungkapkan tentangnya karena ketidakmampuan dan kesulitan berbicara, dan jika ia mengungkapkan tentangnya maka mungkin ia tidak dapat mengungkapkan tentangnya dengan istilah ahli ilmu dan ungkapan mereka, dan seringkali dalil yang dengannya ia mengetahui kebenaran lebih sahih dari banyak dalil-dalil para mutakallimin dan premis-premis mereka, dan lebih jauh dari syubhat, dan lebih dekat pencapaiannya terhadap yang dimaksud, dan lebih mengantarkan kepada yang didalilkan padanya.
Bahkan barang siapa yang meneliti keadaan manusia akan melihat bahwa banyak dari ahli Islam – atau kebanyakan mereka – lebih besar tauhidnya, lebih banyak pengetahuannya, dan lebih mantap imannya dari kebanyakan para mutakallimin, dan ahli nazar serta perdebatan, dan ia menemukan pada mereka dari jenis-jenis dalil dan ayat yang sahih dengannya iman mereka apa yang lebih jelas, lebih terang dan lebih sahih dari apa yang ada pada para mutakallimin. Dan ayat-ayat yang Allah serukan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperhatikannya, dan beristidlal dengannya pada tauhid-Nya, penetapan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan kejujuran para rasul-Nya adalah ayat-ayat yang disaksikan dengan indera, diketahui dengan akal, tertanam dalam fitrah, tidak membutuhkan orang yang memperhatikannya kepada aturan-aturan ahli kalam dan perdebatan, istilah mereka, dan metode mereka sama sekali. Dan setiap orang yang memiliki indera yang sehat, dan akal yang dapat membedakan dengannya akan mengetahuinya dan mengakuinya, dan berpindah dari ilmu tentangnya kepada ilmu tentang yang didalilkan. Dan dalam Al-Qur’an lebih dari puluhan ribu ayat-ayat yang jelas ini. Dan barang siapa yang tidak hafal Al-Qur’an maka sesungguhnya apabila ia mendengarnya dan memahaminya dan memahaminya maka pikirannya akan berpindah darinya kepada yang didalilkan dengan perpindahan yang paling cepat dan paling dekat.
Dan singkatnya: tidak setiap orang yang mengetahui sesuatu dapat beristidlal padanya, dan tidak setiap orang yang dapat beristidlal padanya dapat menyusun dalil dan menetapkannya dengan baik, menjawab atas pertentangan, dan bukti-bukti yang disebutkan: adalah dalil-dalil, seperti beristidlal dengan yang dibuat pada yang membuat, dan makhluk pada Khaliq. Dan ini adalah metode Al-Qur’an yang tidak ada tauhid yang lebih sempurna dari tauhidnya.
Ucapannya: “setelah mereka selamat dari syubhat, kebingungan, dan keraguan”, syubhat: adalah keraguan-keraguan yang menyebabkan tercampurnya kebenaran dengan kebatilan, maka timbul darinya kebingungan dan keraguan, dan ini benar, karena sesungguhnya tauhid ini tidak bermanfaat jika hati pemiliknya tidak selamat dari itu, dan inilah hati yang selamat yang tidak akan beruntung kecuali orang yang datang kepada Allah dengannya, maka ia selamat dari syubhat-syubhat yang menentang kabar-Nya, dan keinginan-keinginan yang menentang perintah-Nya, bahkan ia tunduk kepada kabar dengan pembenaran dan keyakinan, dan kepada permintaan dengan ketundukan dan pelaksanaan.
Ucapannya: “dengan kejujuran kesaksian yang disahkan oleh penerimaan hati”, artinya mereka selamat dari syubhat dan kebingungan dan keraguan: dengan kejujuran kesaksian yang hati dan lisan bersatu padanya, maka sahihlah kesaksian mereka dengan penerimaan hati mereka padanya, dan keyakinan mereka akan kebenaran, dan penetapan padanya, berbeda dengan kesaksian orang munafik yang tidak diterima oleh hatinya, dan tidak bersatu padanya lisannya.
Ucapannya: “Dan ia adalah tauhid orang awam yang sahih dengan dalil-dalil”, engkau telah mengetahui bahwa ini adalah tauhid yang diajak oleh para rasul, turunnya kitab-kitab dengannya, dan disepakati oleh syariat-syariat padanya. Kemudian beliau menjelaskan maksudnya dengan dalil-dalil bahwa ia adalah risalah dan ciptaan-ciptaan, maka beliau berkata: “dan dalil-dalil: adalah bukti-bukti atas tauhid, dan risalah telah menunjukkan padanya, dan mengenalkan dengannya, dan maksudnya: bahwa dalil-dalil ada dua macam: ayat-ayat yang dibaca, yaitu risalah, dan ayat-ayat yang dilihat, yaitu ciptaan-ciptaan.”
Ucapannya: “dan ia wajib dengan as-sam’u (pendengaran/dalil naqli), dan didapati dengan pemberian penjelasan oleh al-Haq, dan tumbuh dengan penyaksian dalil-dalil.”
Ini tiga masalah, pertama: dengan apa ia wajib, kedua: dengan apa ia didapati, ketiga: dengan apa ia tumbuh.
Adapun masalah pertama: maka manusia berbeda pendapat tentangnya, maka sekelompok berkata: ia wajib dengan akal, dan dihukum atas meninggalkannya, dan as-sam’u (dalil naqli) menetapkan apa yang wajib dengan akal dan menegaskannya, maka mereka menjadikan kewajibannya dan hukuman atas meninggalkannya tetap dengan akal, dan as-sam’u menjelaskan dan menetapkan kewajiban dan hukuman, dan ini pendapat Mu’tazilah dan orang yang menyetujui mereka dari pengikut para imam dalam masalah tahsin dan taqbih aqliyain (kebaikan dan keburukan menurut akal).
Sebagian kelompok berkata: Kewajiban tauhid tidak dapat ditetapkan dengan akal, baik pendapat pertama maupun kedua. Sama sekali tidak ada kewajiban berdasarkan akal dalam hal ini, melainkan kewajiban hanya berasal dari syariat. Oleh karena itu, seseorang tidak berhak mendapat hukuman atas meninggalkannya. Ini adalah pendapat kaum Asy’ariyah dan orang-orang yang sependapat dengan mereka dalam menafikan konsep baik dan buruk secara rasional. Kedua pendapat ini dianut oleh pengikut Ahmad, Asy-Syafi’i, dan Abu Hanifah.
Yang benar adalah: Kewajiban tauhid ditetapkan dengan akal dan syariat, dan Al-Quran menunjukkan hal ini. Al-Quran menyebutkan dalil-dalil dan bukti-bukti rasional tentang tauhid, menjelaskan kebaikannya dan keburukan syirik secara rasional dan fitri, memerintahkan tauhid dan melarang syirik. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan perumpamaan-perumpamaan yang merupakan dalil-dalil rasional, dan berbicara kepada para hamba dengan cara yang sudah tertanam dalam akal dan fitrah mereka: kebaikan tauhid dan kewajibannya, serta keburukan syirik dan ketercelaannya. Al-Quran penuh dengan bukti-bukti rasional yang menunjukkan hal itu, seperti firman Allah:
“Allah membuat perumpamaan seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki saja; adakah kedua hamba sahaya itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Surat Az-Zumar: 29)
Dan firman-Nya:
“Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki dari Kami dengan rezeki yang baik lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, apakah mereka itu sama? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan Allah membuat perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungjawabnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungjawabnya itu, dia tidak dapat mendatangkan sesuatu kebaikan. Adakah orang itu sama dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan dia berada di atas jalan yang lurus?” (Surat An-Nahl: 75-76)
Dan firman-Nya:
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Surat Al-Hajj: 73)
Dan masih banyak lagi bukti-bukti rasional tentang tauhid yang ditunjukkan dan dijelaskan oleh Al-Quran.
Namun ada hal lain di sini, yaitu bahwa hukuman atas meninggalkan kewajiban ini ditunda sampai datangnya syariat, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Surat Al-Isra’: 15)
Dan firman-Nya:
“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya (neraka) sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya).'” (Surat Al-Mulk: 8)
Dan firman-Nya:
“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, dan Kami tidak akan membinasakan negeri-negeri kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (Surat Al-Qashash: 59)
Dan firman-Nya:
“Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, sedang penduduknya dalam keadaan tidak mengetahui.” (Surat Al-An’am: 131)
Ini menunjukkan bahwa mereka telah berbuat zalim sebelum diutusnya para rasul, dan bahwa Allah tidak akan membinasakan mereka karena kezaliman ini sebelum menegakkan hujjah atas mereka. Ayat ini merupakan bantahan terhadap kedua kelompok sekaligus: yang mengatakan bahwa kezaliman dan keburukan hanya ditetapkan dengan syariat, dan yang mengatakan bahwa mereka akan disiksa karena kezaliman mereka tanpa syariat. Al-Quran membatalkan pendapat kelompok ini dan kelompok itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan kalau kiranya mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka akan beriman), lalu mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang yang beriman.'” (Surat Al-Qashash: 47)
Allah mengabarkan bahwa apa yang telah mereka perbuat sebelum diutusnya para rasul adalah sebab mereka ditimpa musibah, tetapi Dia Subhanahu Wa Ta’ala tidak melakukan itu sebelum mengutus rasul yang dengannya Dia menegakkan hujjah atas mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia terhadap Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (Surat An-Nisa’: 165)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, agar kamu (tidak) mengatakan: ‘Sesungguhnya kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca,’ atau agar kamu (tidak) mengatakan: ‘Kalau kiranya diturunkan Kitab kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.’ Maka sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu dan petunjuk serta rahmat.'” (Surat Al-An’am: 155-157)
Dan firman-Nya:
“Supaya jangan ada jiwa yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).'” (Surat Az-Zumar: 56)
Sampai dengan firman-Nya:
“(Dikatakan kepadanya): ‘Sebenarnya telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu termasuk orang-orang yang kafir.'” (Surat Az-Zumar: 59)
Dan ini banyak terdapat dalam Al-Quran, Allah mengabarkan bahwa hujjah hanya ditegakkan atas mereka dengan kitab-Nya dan rasul-Nya, sebagaimana Dia mengingatkan mereka dengan apa yang ada dalam akal dan fitrah mereka: tentang kebaikan tauhid dan syukur, serta keburukan syirik dan kekufuran.
Kami telah membahas masalah ini secara lengkap dalam kitab Miftah Dar As-Sa’adah dan menyebutkan di sana sekitar enam puluh dalil yang membatalkan pendapat orang yang menafikan keburukan secara rasional, dan yang menganggap bahwa tidak ada dalam perbuatan apa yang mengharuskan kebaikannya atau keburukannya, dan bahwa Allah boleh memerintahkan hal yang persis sama dengan yang Dia larang, dan melarang hal yang persis sama dengan yang Dia perintahkan, dan bahwa itu boleh bagi-Nya, dan bahwa perbedaan antara yang diperintahkan dan yang dilarang hanya karena adanya perintah dan larangan semata, bukan karena kebaikan ini dan keburukan itu, dan bahwa jika Dia melarang tauhid, iman, dan syukur, maka itu akan menjadi buruk, dan jika Dia memerintahkan syirik, kekufuran, kezaliman, dan perbuatan keji, maka itu akan menjadi baik. Kami telah menjelaskan bahwa pendapat ini bertentangan dengan akal, fitrah, Al-Quran, dan Sunnah.
Yang dimaksud adalah: pembahasan tentang perkataan Syaikh “dan wajib dengan syariat,” dan bahwa yang benar adalah kewajibannya dengan syariat dan akal, meskipun sisi kewajibannya berbeda. Akal mewajibkannya: dalam arti menuntut pelaksanaannya, mencela atas meninggalkannya, dan mengingkari lawannya. Sedangkan syariat mewajibkannya dengan makna ini, dan menambahkan: penetapan hukuman atas meninggalkannya, dan pengabaran tentang murka Tuhan Ta’ala terhadap orang yang meninggalkannya, dan kebencian-Nya kepadanya. Dan ini dapat diketahui dengan akal, karena jika telah jelas keburukan suatu hal dan kekejaannya dengan akal, dan diketahui kesempurnaan Tuhan Jalla Jalaluhu dengan akal juga, maka penetapan kedua hal ini menuntut pengetahuan akal tentang murka Tuhan Ta’ala terhadap pelakunya. Adapun rincian hukuman, dan apa yang ditimbulkan oleh murka Tuhan darinya, maka hanya dapat diketahui dengan syariat.
Ketahuilah bahwa jika kebaikan tauhid dan keburukan syirik tidak diketahui dengan akal dan tertanam dalam fitrah, maka tidak ada kepercayaan terhadap keputusan-keputusan akal apa pun. Karena proposisi ini termasuk proposisi yang paling jelas kebenarannya, dan paling terang yang ditanamkan Allah dalam akal dan fitrah. Oleh karena itu, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman setelah menegaskan hal itu: “Maka apakah kamu tidak berakal,” “Apakah kamu tidak ingat,” dan menafikan akal dari kaum musyrikin, dan mengabarkan tentang mereka bahwa mereka mengakui di neraka: bahwa mereka tidak pernah mendengar dan tidak berakal, dan bahwa mereka keluar dari tuntutan pendengaran dan akal. Dia mengabarkan tentang mereka bahwa mereka:
“Tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (Surat Al-Baqarah: 171)
Dan Dia mengabarkan tentang mereka bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna bagi mereka sedikitpun. Ini hanya terjadi pada orang yang keluar dari tuntutan akal yang benar dan fitrah yang sehat. Seandainya tidak ada dalam akal yang benar apa yang menunjukkan hal itu, tidak akan ada faedah dalam firman Allah Ta’ala “Perhatikanlah” dan “Ambillah pelajaran” dan “Berjalanlah di muka bumi lalu perhatikanlah.” Karena mereka akan berkata: Akal kami tidak menunjukkan hal itu, melainkan hanya pengabaran-Mu semata. Lalu untuk apa penelitian, pemikiran, pengambilan pelajaran, dan perjalanan di muka bumi ini? Untuk apa perumpamaan-perumpamaan yang dibuat, analogi-analogi rasional, dan bukti-bukti yang nyata ini? Bukankah dalam itu terdapat dalil yang paling jelas tentang kebaikan tauhid dan syukur?
Dan keburukan syirik dan kekufuran tertanam dalam akal dan fitrah, diketahui oleh siapa yang memiliki hati yang hidup, akal yang sehat, dan fitrah yang benar. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah membuat perumpamaan bagi manusia dalam Al-Quran ini dari segala macam (perumpamaan) agar mereka dapat pelajaran.” (Surat Az-Zumar: 27)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Surat Al-Ankabut: 43)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Surat Qaf: 37)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Surat Al-Hajj: 46)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu berfikir.” (Surat Al-Baqarah: 219)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.'” (Surat Yunus: 101)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Surat Ibrahim: 25)
Di antara sebagian dalil rasional: apa yang ditinggalkan Allah Ta’ala dari bekas-bekas hukuman terhadap kaum musyrikin dan bekas-bekas negeri mereka, dan apa yang menimpa mereka, serta apa yang Dia tinggalkan dari pertolongan terhadap ahli tauhid dan pemuliaan mereka, dan Dia menjadikan kesudahan yang baik bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kaum ‘Ad dan Tsamud dan sesungguhnya telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.” (Surat Al-Ankabut: 38)
Dan Dia berfirman tentang kaum Tsamud:
“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Surat An-Naml: 52)
Dan Dia berfirman tentang kaum Luth:
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk negeri ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami telah tinggalkan dari negeri itu tanda yang nyata bagi kaum yang mau berfikir.” (Surat Al-Ankabut: 34)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya negeri itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya penduduk Aikah benar-benar orang-orang yang zalim. Maka Kami menimpakan azab kepada mereka dan sesungguhnya kedua (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang nyata.” (Surat Al-Hijr: 75)
Dan firman Allah Ta’ala tentang kaum Luth:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar melewati mereka di waktu pagi dan di waktu malam; maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Surat Ash-Shaffat: 137)
Dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dalam surat Asy-Syu’ara’ berbagai jenis hukuman yang dijatuhkan kepada kaum musyrikin, dan menyebutkan penyelamatan-Nya terhadap ahli tauhid, kemudian berfirman:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Surat Asy-Syu’ara’: 8)
Dia menyebutkan syirik orang-orang ini yang karena itu mereka layak mendapat kebinasaan, dan tauhid orang-orang ini yang karena itu mereka layak mendapat keselamatan, kemudian mengabarkan bahwa dalam itu terdapat tanda dan bukti bagi orang-orang mukmin. Kemudian Dia menyebutkan sumber semua itu, dan bahwa itu berasal dari nama-nama dan sifat-Nya. Kebinasaan ini berasal dari keagungan-Nya, dan keselamatan itu dari rahmat-Nya. Kemudian di akhir surat, Dia menegaskan kenabian rasul-Nya dengan dalil-dalil rasional dengan sebaik-baik penegasan, dan menjawab syubhat orang-orang yang mendustakannya dengan sebaik-baik jawaban. Demikian pula penegasan-Nya tentang hari kebangkitan dengan dalil-dalil rasional dan inderawi, memberikan perumpamaan-perumpamaan dan analogi-analogi. Maka petunjuk Al-Quran bersifat sam’i (pendengaran) dan ‘aqli (rasional).
Fasal
Masalah Kedua:
Perkataan Syaikh: “Dan terwujud dengan penjelasan dari Yang Haq.” Kewajiban sesuatu secara syar’i tidak mengharuskan wujudnya secara nyata. Oleh karena itu, dia menyebutkan bagaimana tauhid terwujud setelah menyebutkan bagaimana ia wajib, yaitu dengan penjelasan dari Allah Ta’ala. Yang dimaksudnya adalah: penjelasan yang sempurna yang tidak berbeda darinya hidayah. Sebab, terkadang seorang hamba diberi penjelasan tentang kebenaran tetapi tidak terwujud darinya hidayah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan adapun kaum Tsamud maka telah Kami beri petunjuk kepada mereka tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.” (Surat Fushshilat: 17)
Dia Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi mereka penjelasan, tetapi mereka memilih kesesatan daripada petunjuk. Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), dan mereka adalah orang-orang yang dapat melihat.” (Surat Al-Ankabut: 38)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Dia memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (Surat At-Taubah: 115)
Dan firman Allah Ta’ala tentang kaum Fir’aun:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (Surat An-Naml: 14)
Penjelasan ini tidak mewajibkan wujudnya hidayah, karena Dia Subhanahu Wa Ta’ala tidak menghendaki wujudnya, melainkan hanya menghendaki wujudnya penjelasan semata. Maka apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi.
Adapun penjelasan yang sempurna, maka ia mengharuskan wujudnya hidayah, yaitu yang kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dalam setiap shalat, dan tentang itu ahli surga berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Surat Al-A’raf: 43)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Surat Yunus: 25)
Dia mengumukan dengan seruan-Nya berupa penjelasan dan petunjuk, dan mengkhususkan dengan hidayah-Nya berupa taufik dan ilham. Seandainya Syaikh berkata: “Dan terwujud dengan taufik Allah setelah penjelasan-Nya,” akan lebih baik, dan mungkin itulah yang dimaksudnya. Wallahu a’lam.
Fasal
Masalah Ketiga:
Perkataan Syaikh: “Dan berkembang dengan menyaksikan bukti-bukti.” Ini juga memerlukan hal lain, yaitu menjawab seruan kebenaran. Tidak cukup hanya dengan menyaksikan bukti-bukti dalam perkembangannya.
“Dan berapa banyak tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling darinya.” (Surat Yusuf: 105)
Seorang hamba melewatinya tetapi tidak berkembang karenanya dan tidak bertambah, bahkan iman dan tauhidnya berkurang. Jika dia menjawab seruan dan merenungkan bukti-bukti, maka tauhidnya berkembang dan imannya menguat. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka ketakwaannya.” (Surat Muhammad: 17)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan Allah akan menambah hidayah kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (Surat Maryam: 76)
Dan firman Allah Ta’ala:
“Adapun orang-orang yang beriman, maka ayat itu menambah imannya.” (Surat At-Taubah: 124)
Perkataan Syaikh telah mencakup apa yang ditunjukkan oleh nash-nash dan disepakati oleh para sahabat dan tabi’in: bahwa iman dan tauhid berkembang dan bertambah. Ini termasuk prinsip terbesar ahli sunnah yang dengannya mereka berbeda dari Jahmiyah dan Murji’ah.
Fasal
Tauhid Khawash
Fasal
Syaikh berkata: Adapun tauhid yang kedua, yang ditetapkan dengan hakikat-hakikat, yaitu tauhid khawash (orang-orang khusus), yaitu menggugurkan sebab-sebab lahiriah, dan naik dari pertentangan-pertentangan akal, dan dari berpegang pada bukti-bukti. Yaitu tidak menyaksikan dalam tauhid suatu dalil, tidak dalam tawakal suatu sebab, dan tidak dalam keselamatan suatu wasilah. Maka dia menyaksikan didahulukannya Yang Haq dengan hukum-Nya dan ilmu-Nya, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan mengaitkannya dengan waktu-waktunya, menyembunyikannya dalam bentuk-bentuknya, dan menyadari makrifat tentang sebab-sebab, dan menempuh jalan menggugurkan kejadian. Inilah tauhid khawash, yang pantas dengan ilmu fana’, dan jernih dalam ilmu jam’ (kesatuan), dan menarik kepada tauhid arbab al-jam’ (para ahli kesatuan).
Perkataan Syaikh “ditetapkan dengan hakikat-hakikat,” dan dia berkata tentang tauhid pertama “shahih dengan bukti-bukti.” Sesungguhnya penetapan lebih kuat daripada kebenaran, dan hakikat-hakikat lebih kuat daripada bukti-bukti. Yang dimaksud dengan hakikat-hakikat adalah: mukasyafah (penyingkapan), musyahadah (penyaksian), mu’ayanah (melihat langsung), ittishal (berhubungan) dan infishal (berpisah), kehidupan, qabdh (menggenggam) dan basth (membentangkan), dan apa yang disebutkannya dari bagian hakikat-hakikat dalam kitabnya.
Dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, tauhid umum menjadi sah, dan dengan hakikat-hakikat, tauhid khusus menjadi kokoh.
Ucapannya: “Yaitu meniadakan sebab-sebab yang zhahir,” mungkin yang dimaksud dengannya adalah: sebab-sebab yang dapat disaksikan yang tampak bagi kita, dan meniadakannya adalah: tidak melihat pengaruhnya sama sekali, dan tidak melihat perubahannya, meskipun ia melakukannya berdasarkan keterkaitan kebiasaan. Maka melakukannya tidak bertentangan dengan meniadakannya.
Dan mungkin yang dimaksud dengan sebab-sebab zhahir adalah: gerakan-gerakan dan perbuatan-perbuatan, dan meniadakannya adalah: memisahkannya dari keharusan menghasilkan kebahagiaan dan keselamatan, bukan mengabaikannya dan meninggalkannya, karena hal itu adalah kekufuran, dan terlepas dari Islam sama sekali. Tetapi ia melakukannya sambil telah memisahkannya dari kekuasaan kesuksesan dan keselamatan, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Beramallah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun dari kalian yang akan diselamatkan oleh amalannya.”
Dan ia berhati-hati dengan sebab-sebab zhahir dari sebab-sebab batin, seperti iman, pembenaran, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena keselamatan dan kebahagiaan bergantung padanya, bahkan tauhid itu sendiri termasuk sebab-sebab, bahkan ia adalah sebab-sebab batin yang paling agung. Maka tidak boleh meniadakannya.
Dan dalam kedua tafsiran tersebut, ia tidak murni, karena jika yang dimaksud dengan peniadaan adalah pengabaian dan penelantaran, maka itu termasuk kebatilan yang paling batil. Dan jika yang dimaksud adalah pemisahan dari kekuasaan keharusan, dan penyanadan hukum kepada kehendak Rabb semata, maka tidak ada perbedaan antara sebab-sebab zhahir dan batin. Dan jika yang dimaksud adalah sebab-sebab yang tidak diperintahkan kepada hamba, maka meniadakannya sama sekali bukan bagian dari tauhid kepada Allah, dan melakukannya pun tidak membatalkannya dan tidak menguranginya.
Dan secara keseluruhan: meniadakan sebab-sebab bukanlah tauhid, bahkan melakukannya dan mempertimbangkannya serta menempatkannya pada kedudukan yang telah Allah tetapkan adalah inti tauhid dan penghambaan. Dan pendapat meniadakan sebab-sebab adalah tauhidnya Qadariyah Jabariyah, pengikut Jahm bin Shafwan dalam masalah jabr (keterpaksaan), karena ia berlebih-lebihan dalam hal itu. Menurut mereka, Allah tidak menciptakan sesuatu pun dengan sebab, dan tidak menjadikan dalam sebab-sebab kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang berpengaruh. Maka tidak ada dalam api kekuatan membakar, tidak dalam racun kekuatan membunuh, tidak dalam air dan roti kekuatan melepas dahaga dan memberi nutrisi, tidak dalam mata kekuatan melihat, tidak dalam telinga dan hidung kekuatan mendengar dan mencium bau. Tetapi Allah Subhanahu menciptakan akibat-akibat ini ketika bertemunya benda-benda ini, bukan dengannya. Maka kenyang bukan karena makan, dahaga hilang bukan karena minum, ilmu bukan karena penalaran, patah bukan karena memecahkan, nyawa melayang bukan karena menyembelih, ketaatan dan tauhid bukan sebab masuk surga dan selamat dari neraka, kesyirikan, kekufuran, dan kemaksiatan bukan sebab masuk neraka. Tetapi mereka masuk surga karena kehendak-Nya semata tanpa sebab dan tanpa hikmah sama sekali, dan mereka masuk neraka karena kehendak-Nya semata tanpa sebab dan tanpa hikmah.
Karena itu, penulis Manazil berkata: Yaitu tidak menyaksikan dalam tauhid adanya dalil, tidak dalam tawakal adanya sebab, tidak dalam keselamatan adanya wasilah. Bahkan menurut mereka, terjadinya yang ada dan perintah-perintah serta larangan-larangan dari kehendak tunggal semata yang mengunggulkan yang serupa atas yang serupa tanpa pengunggulan. Darinya terlahir setiap yang baru, dan terlahir bersama yang baru itu yang baru lainnya yang menyertainya secara kebiasaan, bukan bahwa salah satunya sebab yang lain, atau terkait dengannya. Maka salah satunya hanya tanda dan isyarat pada keberadaan yang lain. Jika yang satu dari yang menyertai itu ada, yang lain ada bersamanya, melalui jalan keterkaitan kebiasaan saja, bukan melalui jalan sebab-musabab dan keharusan. Ini menurut mereka adalah puncak tauhid dan tujuan akhir ma’rifat. Konsistensi mazhab ini merusak dunia dan agama, bahkan seluruh agama-agama para rasul. Karena itu, ketika sekelompok orang mengkonsistenkannya, mereka meniadakan sebab-sebab duniawi dan meninggalkannya, dan menjadikan keberadaannya seperti ketiadaannya. Namun hal itu tidak mungkin bagi mereka, karena mereka harus makan dan minum, dan melakukan sebab-sebab yang menolak dari mereka panas, dingin, dan rasa sakit.
Jika dikatakan kepada mereka: Mengapa kalian tidak meniadakan itu? Mereka berkata: Karena keterkaitan kebiasaan.
Jika dikatakan kepada mereka: Mengapa kalian tidak melakukan apa yang kalian tiadakan dari sebab-sebab karena keterkaitan kebiasaan juga? Maka mazhab ini, Allah Subhanahu telah menciptakan makhluk hidup – yang berbicara dan yang bisu – bertentangan dengannya.
Dan sekelompok orang mengkonsistenkannya, lalu meninggalkan untuknya sebab-sebab ukhrawi, dan berkata: Telah mendahului ilmu dan hukum dengan kebahagiaan dan kecelakaan yang tidak berubah sama sekali. Maka sama saja bagi kita berbuat atau meninggalkan. Jika telah mendahului ilmu dan hukum dengan kecelakaan, maka kami celaka, beramal atau tidak beramal. Dan jika mendahului dengan kebahagiaan, maka kami bahagia, beramal atau tidak beramal.
Di antara mereka ada yang meninggalkan doa sama sekali, berdasarkan prinsip ini, dan berkata: Yang didoakan, jika telah mendahului ilmu dan hukum dengan terwujudnya, maka terwujud, kami berdoa atau tidak berdoa. Dan jika mendahului dengan tidak terwujudnya, maka tidak terwujud meskipun kami berdoa.
Syaikh kami berkata: “Dan prinsip yang rusak ini bertentangan dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma’ Salaf serta para imam agama.” Bahkan bertentangan dengan akal yang terang, indera, dan pengamatan. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang meniadakan sebab-sebab dengan memandang takdir, maka beliau menolak itu, dan mewajibkan melakukan sebab-sebab, sebagaimana dalam Shahih dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya dari surga dan tempatnya dari neraka. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, apakah kita tidak meninggalkan amal dan bertawakal pada Kitab? Maka beliau bersabda: Tidak, beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan.” Dan dalam Shahih dari beliau juga bahwa dikatakan kepadanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang apa yang manusia berusaha di dalamnya hari ini dan beramal: apakah itu perkara yang telah ditetapkan atas mereka dan berlalu, ataukah dalam apa yang akan mereka hadapi dari apa yang datang kepada mereka hujjah di dalamnya? Maka beliau bersabda: Bahkan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan berlalu pada mereka. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, apakah kita tidak meninggalkan amal dan bertawakal pada kitab kami? Beliau bersabda: Tidak, beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan.” Dan dalam As-Sunan dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa dikatakan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang obat-obatan yang kami obati dengannya, ruqyah yang kami minta ruqyah dengannya, dan tindakan pencegahan yang kami lakukan dengannya, apakah menolak sesuatu dari takdir Allah? Maka beliau bersabda: Itu dari takdir Allah.” Dan demikian pula ucapan Umar kepada Abu Ubaidah radhiallahu anhuma, dan Abu Ubaidah telah berkata kepada Umar: Apakah engkau lari dari takdir Allah? – maksudnya dari thaun (wabah) – beliau berkata: Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah.
Dan Allah Taala telah berfirman tentang awan “lalu Kami turunkan dengan (awan) itu air, maka Kami keluarkan dengan (air) itu berbagai macam buah-buahan” (Surat Al-A’raf ayat 57). Dan Allah Taala berfirman “lalu Dia menghidupkan dengan (air) itu bumi setelah matinya” (Surat Al-Baqarah ayat 164). Dan Allah Taala berfirman “Dengan (kitab) itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan” (Surat Al-Ma’idah ayat 16). Dan Allah Taala berfirman “karena apa yang kalian amalkan – karena apa yang kalian usahakan – itulah karena apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan kalian dan bahwa Allah sama sekali tidak menganiaya hamba-hamba” (Surat Ali Imran ayat 105-182). Dan Al-Quran penuh dengan pengaturan hukum-hukum kauniyah, syar’iyah, pahala, dan siksa pada sebab-sebab dengan berbagai cara. Kadang datang dengan ba’ sababiyah, kadang dengan lam, kadang dengan anna, kadang dengan kai, dan kadang menyebut sifat yang mengharuskan, kadang menyebut ta’lil yang jelas, seperti firman-Nya: Itu karena mereka berbuat demikian, dan berkata demikian. Dan kadang menyebut balasan, seperti firman-Nya “dan itulah balasan orang-orang yang zalim” (Surat Al-Ma’idah ayat 29). Dan firman-Nya “dan itulah balasan orang-orang yang berbuat baik” (Surat Al-Ma’idah ayat 85). Dan firman-Nya “dan tidak Kami beri balasan melainkan kepada orang-orang yang sangat kafir” (Surat Saba’ ayat 17). Dan kadang menyebut yang mengharuskan hukum dan penghalangnya, seperti firman-Nya “dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (mukjizat-mukjizat) kecuali karena orang-orang terdahulu telah mendustakan (mukjizat-mukjizat) itu” (Surat Al-Isra’ ayat 59). Dan menurut pengingkar sebab-sebab dan hikmah: tidak ada yang menghalangi-Nya kecuali kehendak-Nya semata, tidak lebih. Dan Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Rabb mereka akan memberi petunjuk kepada mereka dengan sebab keimanan mereka” (Surat Yunus ayat 9). Dan Allah berfirman “Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Rabb mereka” (Surat Ibrahim ayat 1). Dan Allah berfirman “Makan dan minumlah dengan enak karena apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Surat Al-Haqqah ayat 24). Dan Allah berfirman “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (Surat Ath-Thalaq ayat 2-3). Dan Allah berfirman “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya” (Surat Ath-Thalaq ayat 5). Dan Allah berfirman “Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan” (Surat Al-Anfal ayat 29). Dan Allah berfirman “Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kerugian kepadamu sedikit pun” (Surat Ali Imran ayat 120). Dan Allah Taala berfirman “Maka karena kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan) makanan yang baik-baik yang (dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil” (Surat An-Nisa’ ayat 160-161). Dan secara keseluruhan: Al-Quran – dari awal hingga akhirnya – membatalkan mazhab ini dan menolaknya, sebagaimana akal, fithrah, dan indera membatalkannya.
Dan sebagian ahli ilmu berkata: Berpaling kepada sebab-sebab adalah syirik dalam tauhid, dan menghapus sebab-sebab – bahwa ia adalah sebab-sebab – adalah perubahan pada wajah akal, dan berpaling dari sebab-sebab sama sekali adalah kritik terhadap syariat, dan tawakal adalah makna yang terbentuk dari makna tauhid, akal, dan syariat.
Dan perkataan ini memerlukan penjelasan dan pembatasan. Maka berpaling kepada sebab-sebab ada dua macam, salah satunya: syirik, dan yang lain: penghambaan dan tauhid. Adapun syirik adalah: mengandalkannya dan tenang kepadanya, dan meyakini bahwa ia dengan dirinya sendiri dapat mewujudkan tujuan. Maka ia berpaling dari Penyebab sebab-sebab, dan menjadikan pandangan dan perhatiannya terbatas padanya. Adapun jika ia berpaling kepadanya dengan berpaling ketaatan dan melakukannya serta menunaikan hak penghambaan di dalamnya, dan menempatkannya pada kedudukannya, maka berpaling ini adalah penghambaan dan tauhid, karena tidak menyibukkannya dari berpaling kepada Yang Menyebabkan. Adapun menghapusnya bahwa ia adalah sebab-sebab: adalah kritik terhadap akal, indera, dan fithrah. Maka jika ia berpaling darinya sama sekali: hal itu adalah kritik terhadap syariat, dan pembatalan terhadapnya. Dan hakikat tawakal adalah: melakukan sebab-sebab, dan mengandalkan hati pada Yang Menyebabkan, dan meyakini bahwa ia di tangan-Nya. Jika Dia kehendaki, Dia mencegah keharusannya, dan jika Dia kehendaki, Dia menjadikannya mengharuskan kebalikan hukumnya, dan jika Dia kehendaki, Dia menegakkan untuknya penghalang-penghalang dan penolak-penolak yang melawan keharusannya dan menolaknya.
Maka Muwahhid yang bertawakal: tidak berpaling kepada sebab-sebab, dalam arti bahwa ia tidak tenang kepadanya, dan tidak mengharapkannya dan tidak takut kepadanya. Maka ia tidak bersandar kepadanya, dan tidak berpaling kepadanya – dalam arti bahwa ia tidak meniadakannya dan tidak mengabaikannya dan tidak menghapuskannya – tetapi ia melakukannya, berpaling kepadanya, memandang kepada Penyebabnya Subhanahu dan yang menjalankannya. Maka tidak sah tawakal – secara syariat dan akal – kecuali kepada-Nya Subhanahu semata, karena tidak ada dalam wujud sebab yang sempurna yang mewajibkan kecuali kehendak-Nya semata. Maka Dialah yang menyebabkan sebab-sebab, dan menjadikan di dalamnya kekuatan-kekuatan dan keharusan untuk akibat-akibatnya, dan tidak menjadikan darinya sebab yang mengharuskan sendiri akibatnya, tetapi harus bersamanya sebab yang menyertainya, dan Dia menjadikan untuknya sebab-sebab yang melawannya dan menghalanginya. Berbeda dengan kehendak-Nya Subhanahu, karena ia tidak memerlukan perkara lain, dan tidak ada dalam sebab-sebab yang baru apa yang membatalkannya dan melawannya. Meskipun Allah Subhanahu kadang membatalkan hukum kehendak-Nya dengan kehendak-Nya, maka Dia menghendaki perkara kemudian menghendaki apa yang melawannya dan menghalangi terjadinya, dan semuanya dengan kehendak-Nya dan pilihan-Nya. Maka tidak sah tawakal kecuali kepada-Nya, tidak berlindung kecuali kepada-Nya, tidak takut kecuali dari-Nya, tidak berharap kecuali kepada-Nya, tidak tamak kecuali pada rahmat-Nya. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, makhluk yang paling mengenal-Nya, berkata: “Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan kesejahteraan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu.” Dan beliau berkata: “Tidak ada tempat lari dan tidak ada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada-Mu.”
Maka jika engkau menggabungkan antara tauhid ini dengan penetapan sebab-sebab: hatimu akan istiqamah pada perjalanan menuju Allah, dan jelas bagimu jalan yang paling agung yang telah dilalui oleh semua rasul Allah dan para nabi-Nya dan para pengikut mereka, yaitu jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka. Dan dengan Allah lah taufik.
Dan apa yang telah mendahului dengan ilmu Allah dan hukum-Nya adalah haq, dan ia tidak bertentangan dengan penetapan sebab-sebab, dan tidak mengharuskan meniadakannya. Karena Dia Subhanahu telah mengetahui dan memutuskan: bahwa ini dan ini terjadi karena sebab ini dan ini. Maka telah mendahului ilmu dan hukum dengan terjadinya dari sebabnya. Maka meniadakan sebab-sebab bertentangan dengan keharusan ilmu-Nya dan hukum-Nya. Maka barangsiapa yang memandang pada kejadian tanpa sebab-sebab: pandangannya dan penyaksiannya tidak sesuai dengan kebenaran, bahkan penyaksiannya adalah ghaibah (ketidakhadiran), dan pandangannya adalah kebutaan. Maka jika ilmu Allah telah mendahului dengan terjadinya sesuatu dengan sebab-sebabnya, maka bagaimana hamba menyaksikan perkara-perkara bertentangan dengan apa yang ada dalam ilmu-Nya, hukum-Nya, penciptaan-Nya, dan perintah-Nya?
Dan penyakit yang tertanam dalam sebab-sebab ada dua jenis. Salah satunya: mengandalkannya, bertawakal kepadanya, percaya kepadanya, mengharapkannya dan takut kepadanya. Maka ini adalah syirik yang ada yang tipis dan ada yang tebal, dan di antara keduanya.
Kedua: meninggalkan apa yang diperintahkan Allah berupa sebab-sebab, dan ini juga bisa menjadi kekufuran dan kezaliman, dan di antara keduanya, bahkan atas seorang hamba wajib melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya berupa perintah, dan bertawakal kepada Allah dengan tawakal orang yang meyakini bahwa semua urusan adalah dengan kehendak Allah, telah didahului oleh ilmu dan hukum-Nya, dan bahwa sebab tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat, tidak memberi dan tidak mencegah, tidak memutuskan dan tidak menghukumi, dan tidak terjadi pada seorang hamba apa yang tidak didahului oleh kehendak ilahi, dan tidak terelakkan darinya apa yang telah didahului oleh hukum dan ilmu, maka ia mendatangkan sebab-sebab dengan cara mendatangkannya orang yang tidak melihat keselamatan dan keberuntungan dan sampai tujuan kecuali dengan sebab-sebab itu, dan bertawakal kepada Allah dengan tawakal orang yang melihat bahwa sebab-sebab itu tidak menyelamatkannya, dan tidak menghasilkan keberuntungan baginya, dan tidak mengantarkannya kepada tujuan, maka ia memusatkan tekadnya untuk melaksanakannya dengan penuh semangat dan kesungguhan, dan mengosongkan hatinya dari bergantung kepadanya, dan bersandar kepadanya, dalam rangka memurnikan tawakal, dan bergantung kepada Allah semata, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengumpulkan kedua prinsip ini dalam hadits shahih, di mana beliau bersabda “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah” maka beliau memerintahkannya untuk bersemangat terhadap sebab-sebab, dan meminta pertolongan kepada Dzat Yang Menyebabkan, dan melarangnya dari kelemahan, dan kelemahan itu ada dua jenis: kurang dalam sebab-sebab dan tidak bersemangat terhadapnya, dan kurang dalam meminta pertolongan kepada Allah dan meninggalkan kemurniannya, maka agama seluruhnya – lahir dan batinnya, syariat-syariatnya dan hakikat-hakikatnya – berada di bawah kata-kata kenabian ini, dan Allah Maha Mengetahui.
Fasal: Meninggalkan Perdebatan Akal Adalah Hak yang Tidak Sempurna Tauhid dan Iman Kecuali Dengannya
Fasal
Ucapannya: dan meninggalkan perdebatan akal, ini adalah benar, dan tidak sempurna tauhid dan iman kecuali dengannya, maka tidaklah merusak agama-agama para rasul kecuali para penguasa perdebatan akal, yang berdebat dengan akal mereka dalam membenarkan apa yang dibawa olehnya, dan menetapkan apa yang mereka tetapkan, dan menafikan apa yang mereka nafikan, maka akal mereka membantah itu, dan mereka meninggalkan karena perdebatan-perdebatan itu apa yang dibawa oleh para rasul, kemudian mereka menentangnya dengan pemikiran-pemikiran rasional itu, dan mendahulukannya atas apa yang mereka bawa, dan mereka berkata: jika akal kita bertentangan dengan apa yang dibawa oleh para rasul: kita mendahulukan apa yang dihukumi oleh akal kita atas apa yang mereka bawa, dan telah binasa karena orang-orang ini kelompok-kelompok yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah, dan mereka terlepas karena mereka dari agama-agama semua rasul.
Ucapannya “dan dari bergantung pada dalil-dalil” adalah perkataan yang mengandung keumuman, maka dalil-dalil: adalah bukti-bukti dan ayat-ayat, maka meninggalkan bergantung padanya adalah terlepas dari ilmu dan iman sama sekali, dan bergantung padanya saja, tanpa Dzat yang menjadikannya dalil-dalil dan bukti-bukti adalah terputus dari Allah, dan syirik dalam tauhid, dan bergantung padanya dengan cara beristidlal, dan memperhatikan ayat-ayat Tuhan, agar sampai dengannya kepada Allah adalah tauhid dan iman.
Dan sebaik-baik makna yang dapat digunakan untuk perkataannya adalah: bahwa ia meninggalkan berhenti padanya, karena sesungguhnya dalil-dalil itu adalah perantara menuju tujuan, maka jangan terputus dengan perantara dari tujuan, dan ini benar, namun ucapannya “dan itu adalah bahwa ia tidak menyaksikan dalam tauhid dalil” menodai makna ini dan membingungkannya, dan tidak benar, bahkan yang wajib: adalah bahwa ia menyaksikan perkara sebagaimana Allah menyaksikannya kepadanya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu menegakkan dalil-dalil atas tauhid, dan menegakkan bukti-bukti dan menampakkan ayat-ayat, dan memerintahkan kita untuk menyaksikan dalil-dalil dan ayat-ayat, dan memperhatikannya dan beristidlal dengannya, dan tidak berkumpul penetapan ini dan penafian itu sama sekali, dan makhluk-makhluk seluruhnya adalah ayat-ayat untuk tauhid, dan begitu juga ayat-ayat yang dibacakan adalah dalil-dalil atas tauhid, maka bagaimana tidak menyaksikannya sebagai dalil atasnya? Ini adalah dari yang paling batil, bahkan tauhid – semua tauhid – adalah bahwa ia menyaksikan setiap sesuatu sebagai dalil atasnya, membimbing kepadanya, dan diketahui bahwa para rasul adalah dalil-dalil untuk tauhid, maka bagaimana tidak menyaksikan mereka demikian? Dan bagaimana berkumpul iman kepada mereka dan tidak menyaksikan mereka sebagai dalil-dalil untuk tauhid?
Maka lihatlah apa yang diakibatkan oleh pengingkaran sebab-sebab, dan menempuh jalan fana dalam tauhid af’al, maka inilah yang dikehendaki dan kelanjutannya, jika tidak maka para pengikutnya kontradiksi, dan Allah Taala telah berfirman kepada rasul-Nya “Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus” (Asy-Syura: 52) dan Allah Taala berfirman “Dan bagi setiap kaum ada pembimbing” (Ar-Ra’d: 7) dan pembimbing: adalah dalil yang membimbing mereka di jalan menuju Allah, dan negeri akhirat, dan ini tidak bertentangan dengan firman-Nya “Sesungguhnya engkau tidak dapat membimbing orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56) dan firman-Nya “Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (Fathir: 8) karena sesungguhnya Allah Subhanahu berbicara tentang ini dan itu, maka para rasul-Nya adalah pembimbing dengan hidayah petunjuk dan penjelasan, dan Dia adalah Pemberi Petunjuk dengan hidayah taufik dan ilham, maka para rasul adalah dalil-dalil secara hak, dan Allah Subhanahu adalah Pemberi Taufik Yang Menganugerahkan Ilham, Pencipta hidayah di dalam hati-hati.
Ucapannya “dan tidak dalam tawakal sebab” ia menginginkan: bahwa engkau memurnikan tawakal dari sebab-sebab, maka jika ia bermaksud memurnikannya dari melaksanakannya: maka batil, sebagaimana telah dijelaskan, dan jika ia bermaksud memurnikannya dari bersandar kepadanya, dan berhenti padanya, dan percaya kepadanya: maka itu benar, dan jika ia bermaksud memurnikannya dari menyaksikannya: maka menyaksikannya sebagaimana adanya adalah lebih sempurna, dan tidak mengurangi tauhid dengan cara apapun.
Dan begitu juga ucapannya “dan tidak dalam keselamatan perantara” sesungguhnya hanya benar dengan satu cara, dan itu adalah bahwa ia menyaksikan terjadinya keselamatan hanya dengan perantara-perantara berupa amal-amal dan sebab-sebab, adapun menghilangkan keberadaannya sebagai perantara: maka batil, bertentangan dengan syariat dan akal, dan adapun tidak menyaksikannya sebagai perantara, dengan keyakinan keberadaannya sebagai perantara: maka bukanlah kesempurnaan, dan menyaksikannya sebagai perantara – sebagaimana Allah Subhanahu menjadikannya – adalah pandangan yang lebih sempurna, dan cara yang lebih benar, dan dengan Allah taufik.
Dan kami telah menjelaskan – dalam pembahasan sebelumnya – bahwa kesempurnaan: adalah bahwa engkau menyaksikan penghambaan dan pelaksanaanmu terhadapnya, dan engkau menyaksikan bahwa itu adalah dari hakikat karunia dan keutamaan, dan engkau menyaksikan Yang disembah, maka jangan tersembunyi dengan menyaksikan-Nya dari menyaksikan perintah-Nya, dan jangan tersembunyi dengan menyaksikan perintah-Nya dari menyaksikan-Nya, dan jangan tersembunyi dengan menyaksikan-Nya dan menyaksikan perintah-Nya dari menyaksikan keutamaan-Nya dan karunia-Nya dan taufik-Nya, dan menyaksikan kefakiranmu dan kebutuhanmu, dan bahwa engkau dengan-Nya bukan dengan dirimu, dan “Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar suatu hari kepada sekelompok sahabatnya, dan mereka sedang berzikir, maka beliau berkata: Apa yang mendudukkan kalian? Mereka berkata: Kami duduk menyebut-nyebut apa yang Allah karuniakan kepada kami, dan membimbing kami dengan-Mu kepada Islam, maka beliau berkata: Demi Allah, tidak mendudukkan kalian kecuali itu? Mereka berkata: Demi Allah tidak mendudukkan kami kecuali itu, maka beliau berkata: Adapun aku sesungguhnya aku tidak mengambil sumpah dari kalian karena mencurigai kalian, tetapi Allah bermegah dengan kalian kepada para malaikat” dan tidak berkata kepada mereka: jangan menyaksikan dalam tauhid dalil, dan tidak dalam keselamatan perantara, bahkan adalah dari sebab-sebab bermegahnya Allah dengan mereka kepada para malaikat: penyaksian mereka terhadap sebab tauhid, dan perantara keselamatan, dan bahwa itu adalah dari karunia Allah kepada mereka, sebagaimana Allah Taala berfirman “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah” (Ali Imran: 164) maka bagaimana menjadi kesempurnaan mereka dalam bahwa mereka tidak menyaksikan dalil yang mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah dan membimbing mereka? Dan menjatuhkannya dari penyaksian dan sebab?
Ucapannya: “maka ia menjadi penyaksi pendahuluan Sang Haq dengan ilmu dan hukum-Nya, dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan menggantungkannya pada waktu-waktunya, dan menyembunyikannya dalam bentuk-bentuknya.
Penyaksian di sini tidak terkait hanya dengan azalinya Tuhan Taala, dan pendahuluan-Nya atas segala sesuatu saja, bahkan terkait dengan pendahuluan ilmu dan takdir, maka ia melihat segala sesuatu dengan mata pendahuluannya, dan telah ditetapkan di sana dalam ilmu Tuhan dan takdir-Nya, maka ia melihat kepadanya di sana ketika manusia melihat kepadanya di sini, maka pandangannya melampaui pandangan mereka, maka penyaksian pendahuluan menguasai pemerhatian yang datang kemudian, maka ia menyaksikan ketunggalan Tuhan semata, di mana tidak ada yang ada selain-Nya, dan Dia telah mengetahui segala yang akan terjadi dan mentakdirkan takdir-takdirnya, dan mewaktukan waktu-waktunya, dan menetapkannya atas sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya, dan telah mendahului ilmu yang diketahui, dan takdir yang ditakdirkan dan kehendak yang dikehendaki, maka ia melihat segala sesuatu semuanya tetap dalam ilmu Allah Subhanahu dan hikmah-Nya sebelum wujudnya alam-alam, maka perantara mana yang ia saksikan di sana? Dan sebab apa? Dan dalil apa ini yang syekh bicarakan tentangnya? Dan engkau telah mengetahui bahwa ilmu dan hukum telah mendahului dengan wujudnya yang disebabkan dari sebab-sebabnya dan keterikatan dengan perantara-perantaranya dan dalil-dalilnya, sebagaimana telah mendahului ilmu dan hukum dengan wujudnya anak dari kedua orang tuanya, dan hujan dari awan, dan tumbuhan dari air, dan kematian dari pembunuhan, dan sebab-sebab kematian, maka inilah penyaksian yang benar, bukan menjatuhkan sebab-sebab dan perantara-perantara dan dalil-dalil.
Ucapannya: “dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan menggantungkannya pada waktu-waktunya, dan menyembunyikannya dalam bentuk-bentuknya”, ini adalah tiga hal – tempat, dan waktu, dan materi – yang harus ada pada setiap makhluk darinya, karena sesungguhnya makhluk harus memiliki waktu untuk ada di dalamnya, dan tempat untuk menetap di dalamnya, dan materi untuk ada dengannya, maka ia mengisyaratkan kepada yang tiga, maka tempat-tempat: adalah tempat-tempat, dan waktu-waktu: adalah waktu-waktu, dan bentuk-bentuk: adalah materi-materi yang memikulnya, dan bentuk-bentuk: adalah rupa penciptaan.
Dan seolah-olah Syaikhul Islam bermaksud dengannya di sini sebab-sebab, dan bahwa Allah Subhanahu menutupi hakikat-hakikat segala sesuatu dari pandangan makhluk dengan apa yang mereka saksikan dari keterikatan yang disebabkan dengan sebab-sebabnya, maka mereka menisbatkannya kepadanya, maka pemilik tingkatan ini menyaksikan bagaimana Tuhan Subhanahu menampakkan segala sesuatu dalam materi-materinya dan rupa-rupanya dan menampakkannya dengan sebab-sebabnya, dan menyembunyikan ilmu dan hikmah-Nya dalam apa yang Dia tampakkan dari itu, maka penampakan: untuk sebab-sebab yang disaksikan, dan hakikat yang tersembunyi untuk ilmu dan hukum yang mendahului.
Ucapannya “dan membuktikan pengetahuan tentang illat-illat” ia menginginkan: bahwa tauhid ini membuktikan bagi pemiliknya pengetahuan tentang illat-illat ahwal dan tingkatan-tingkatan dan amal-amal, dan itu adalah ungkapan tentang penghalang-penghalang salik: dari pandangannya kepada selain, dan perhatiannya kepadanya, maka tingkatan dari tauhid ini – menurutnya – membuktikan illat-illat ini.
Dan mungkin dimaksudkan dengan illat-illat adalah sebab-sebab yang dikaitkan dengannya hukum-hukum, maka pemilik tingkatan ini mengetahui hakikatnya dan tingkatannya sebagaimana adanya; karena ia telah meninggalkan darinya kepada Yang Menyebabkannya dan Yang Meletakkannya.
Ucapannya: “dan menempuh jalan menjatuhkan kejadian”.
Ia menginginkan: bahwa ia dalam penyaksian ini, dan pemerhatian yang disebutkan ini: menempuh jalan orang-orang yang menyaksikan hakikat azali, maka menafikan dari mereka penyaksian kejadian, dan itu dengan fana dalam hadlrah jam’, karena sesungguhnya itulah yang fana di dalamnya yang tidak ada, dan kekal di dalamnya yang tidak pernah tidak ada.
Maka jika ia bermaksud dengan menjatuhkan kejadian: bahwa ia meyakini penafian terjadinya sesuatu, maka ini adalah membantah indera dan penyaksian, dan jika ia bermaksud menjatuhkan kejadian dari hatinya, maka ia tidak menyaksikan yang terjadi dan yang mengadakan – dan ini maksudnya – maka ini bertentangan dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, dan bertentangan dengan kebenaran, karena sesungguhnya hamba diperintahkan untuk menyaksikan: bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menyaksikan bahwa surga adalah hak, dan neraka adalah hak, dan kiamat adalah hak, dan para nabi adalah hak, dan menyaksikan terjadinya yang terjadi dengan pengadaan Tuhan Taala untuk itu dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, dan dengan apa yang Dia ciptakan dari sebab-sebab, dan karena apa yang Dia ciptakan dari hikmah-hikmah, dan tidak memerintahkan hamba – bahkan tidak menginginkan darinya – untuk tidak menyaksikan yang terjadi dan tidak terjadinya sesuatu, dan ini tidak ada kesempurnaan di dalamnya, dan tidak ada pengetahuan, apalagi menjadi puncak arif, dan menjadi tauhid khawat, dan Al-Quran – dari awal sampai akhirnya – tegas bertentangan dengannya, karena sesungguhnya ia memerintahkan dengan menyaksikan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian, dan memperhatikannya, dan mengambil pelajaran darinya, dan beristidlal dengannya atas keesaan Allah Subhanahu, dan atas nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang yang paling mengenal-Nya, dan nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah yang paling besar penyaksiannya terhadapnya, dan memperhatikannya, dan mengambil pelajaran dengannya, maka bagaimana menjadi inti tauhid dan hatinya dan rahasianya: menjatuhkannya dari penyaksian.
Jika engkau berkata: sesungguhnya ia menginginkan menjatuhkannya dari perhatian hati kepadanya, dan berhenti padanya.
Aku katakan: ini telah dijelaskan di awal tingkatan dalam ucapannya: “dan itu adalah menjatuhkan sebab-sebab yang tampak”, dan engkau telah mengetahui apa di dalamnya.
Dan secara keseluruhan: maka penjatuhan adalah untuk hakikat wujud, atau untuk hakikat penyaksian, atau untuk hakikat tujuan, maka yang pertama: mustahil, dan yang kedua: kekurangan, dan yang ketiga: benar, tetapi itu bukan maksud syekh, maka perhatikanlah.
Dan perkataan penyusun: “Lenyaplah yang tidak ada, dan tetaplah yang tidak pernah tiada“, jika yang dimaksudkan adalah lenyapnya wujud lahiriah, maka ini adalah sikap keras kepala (mengingkari kenyataan). Jika yang dimaksudkan adalah lenyap dari kesaksian (syuhud), maka ini adalah kekurangan dalam iman dan tauhid – sebagaimana telah dijelaskan. Dan jika yang dimaksudkan adalah lenyap dalam tujuan, kehendak, dan kecintaan, maka inilah yang benar, yaitu lenyap dari kehendak, tujuan, dan kecintaan kepada selain Allah.
Perkataan penyusun: Ini adalah tauhid orang-orang khusus (khawash), yang menjadi benar dengan ilmu fana (lenyap), dan menjadi jernih dalam ilmu jam’ (kesatuan), dan menarik menuju tauhid para pemilik jam’. Maksudnya: tauhid orang-orang menengah yang telah naik dari tingkat orang awam, namun belum mencapai kedudukan khawashul khawash (yang paling khusus).
Perkataan penyusun “menjadi benar dengan ilmu fana” dan tidak mengatakan: dengan hakikat fana, karena tingkatan ilmu dalam suluk (penempuhan jalan spiritual) ini sebelum tingkatan hal (keadaan) dan makrifat. Ini adalah tingkatan orang menengah yang belum mencapai tujuan akhir, sedangkan keadaan fana adalah untuk pemilik tingkatan ketiga.
Demikian pula perkataan penyusun “dan menjadi jernih dalam ilmu jam’“, maka sesungguhnya ilmu jam’ adalah sebelum keadaan jam’, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasannya.
Perkataan penyusun “dan menarik menuju tauhid para pemilik jam’“, maksudnya: bahwa tingkatan (kedudukan spiritual) ini menarik penghuninya menuju tauhid kelompok kedua yang berada di atas mereka, yaitu para pemilik jam’. Telah disebutkan sebelumnya tentang jam’ namun belum memberikan penjelasan yang memadai.
Sekarang kami akan menyebutkan hakikatnya, pembagian-pembagiannya, yang benar dan yang cacat darinya, dan Allah-lah yang dimohon pertolongan-Nya.
Jam’ dalam bahasa adalah menggabungkan, dan ijtima’ (berkumpul) adalah bergabung, dan tafriq (memisahkan): lawannya. Adapun dalam istilah kaum sufi: jam’ adalah tertuju pandangan batin kepada Zat yang darinya semua yang terpisah-pisah itu muncul. Jam’ ada tiga macam: jam’ al-wujud (kesatuan wujud), yaitu jam’-nya kaum zindiq dari kalangan ahlul ittihad (penganut paham persatuan), jam’ asy-syuhud (kesatuan kesaksian), dan jam’ al-qushud (kesatuan tujuan). Jika pembagian-pembagian ini diperinci dengan benar, maka akan jelas jam’ yang benar dari yang rusak.
Demikian pula farq (pemisahan) terbagi menjadi yang benar dan yang rusak, maksud saya: menjadi yang dituju dalam suluk dan yang memutus dari suluk. Farq ada tiga macam: farq thabii hayawani (pemisahan alamiah hewani), farq islami (pemisahan islami), dan farq imani (pemisahan berdasarkan iman). Ini adalah enam pembagian untuk jam’ dan farq.
Maka kami akan menyebutkan jenis-jenis farq terlebih dahulu, karena dengannya akan diketahui jenis-jenis jam’.
Adapun farq thabii dan hayawani: yaitu pemisahan berdasarkan tabiat dan kecenderungan semata, sehingga ia memisahkan antara apa yang dilakukannya dan apa yang tidak dilakukannya berdasarkan tabiat dan hawa nafsunya. Ini adalah farq-nya hewan dan orang-orang yang menyerupai mereka dari Bani Adam. Tolok ukurnya adalah kecenderungan tabiatnya dan penolakan tabiatnya. Kaum musyrik, kafir, dan ahli kezaliman serta permusuhan berpijak pada farq ini.
Adapun farq islami: yaitu pemisahan antara apa yang disyariatkan Allah, diperintahkan-Nya, dicintai-Nya, dan diridhai-Nya, dengan apa yang dilarang-Nya, dibenci-Nya, dan dimurkai pelakunya. Farq ini, barangsiapa yang tidak termasuk penghuninya, maka ia sama sekali tidak mencium bau Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan tentang ahli farq thabii: bahwa mereka mengingkari farq ini, sehingga mereka menyaksikan jam’ (kesamaan) antara yang diperintahkan dan yang dilarang, sebagaimana mereka berkata: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba” (QS. Al-Baqarah: 275), tidak ada perbedaan di antara keduanya. Dan mereka berkata: bangkai sama dengan yang disembelih, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Dan mereka berkata: halal dan haram adalah satu hal yang sama. Inilah jam’ mereka dan itulah farq mereka. Ini adalah farq yang berkaitan dengan perbuatan.
Bagian: Farq Imani yang Berkaitan dengan Masalah Qada dan Qadar
Adapun farq imani yang berkaitan dengan masalah qada (ketetapan) dan qadar (takdir): yaitu pembedaan berdasarkan iman antara perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perbuatan-perbuatan hamba. Maka ia beriman bahwa Allah semata-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan tidak ada dalam alam semesta kecuali apa yang terjadi dengan kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan penciptaan-Nya. Bersamaan dengan itu, ia beriman bahwa hamba adalah pelaku perbuatan-perbuatannya secara hakiki, dan perbuatan-perbuatan itu keluar dari kemampuan dan kehendaknya, berpijak pada dirinya, dan ia benar-benar pelakunya secara hakiki. Maka ia menyaksikan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penciptaan dan penetapan takdir, dan terjadinya perbuatan-perbuatan hamba dari mereka dengan kemampuan dan kehendak mereka, dan Allah-lah yang menciptakan semua itu.
Di sini para pemilik farq ini terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok yang terlupakan dengan perbuatan-perbuatan dan gerakan-gerakan mereka dari perbuatan Allah Ta’ala dan ketetapan-Nya, meski mereka beriman kepada-Nya. Kelompok yang terlupakan dengan perbuatan Allah dan keesaan-Nya dalam hukum dan kehendak dari perbuatan-perbuatan dan gerakan-gerakan mereka. Dan kelompok yang memberikan hak setiap tingkatan, sehingga mereka beriman kepada perbuatan Allah, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan keesaan-Nya dalam hukum dan ketetapan, serta menyaksikan terjadinya perbuatan-perbuatan dari pelaku-pelakunya dan kepatutan mereka mendapat pujian, celaan, pahala, dan siksa atas perbuatan-perbuatan tersebut.
Kelompok pertama: farq thabii lebih mendominasi mereka, dan mereka tidak naik untuk menyaksikan hukum.
Kelompok kedua: keadaan jam’ lebih mendominasi mereka, yaitu kesaksian terhadap takdir Allah Ta’ala, kehendak-Nya, dan pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya. Maka hati mereka berkumpul dalam menyaksikan perbuatan-perbuatan-Nya, setelah sebelumnya terpisah-pisah dalam melihat perbuatan makhluk. Mereka terlupakan dengan perbuatan-Nya dari perbuatan-perbuatan makhluk. Bahkan terkadang kesaksian terhadap hal itu mendominasi mereka sehingga mereka menggugurkan sama sekali pujian dan celaan dari mereka. Keduanya menyimpang dalam kesaksiannya.
Kelompok ketiga: menyaksikan hukum dan pengaturan umum untuk setiap yang ada, dan menyaksikan perbuatan-perbuatan hamba serta terjadinya perbuatan itu dengan kehendak dan dorongan mereka. Maka ia menjadi pemilik jam’ dan farq sekaligus. Ia menggabungkan segala sesuatu dalam hukum kauniy qadari (hukum alam semesta dan takdir), dan membedakan di antara semuanya dengan hukum kauniy juga, sebagaimana Allah membedakan di antaranya dengan hukum dini syar’i (hukum agama dan syariat). Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan di antaranya dalam penciptaan, perintah, takdir, syariat, alam semesta, dan agama.
Maka kesaksian yang benar dan sesuai adalah menyaksikannya seperti itu, sehingga ia menjadi pemilik jam’ dalam farq, dan farq dalam jam’. Ia menggabungkan semuanya dalam penciptaan dan pembentukan, serta cakupan kehendak atasnya, dan membedakan di antaranya dengan perintah dan larangan, serta cinta dan benci. Maka ia menyaksikannya terbagi menjadi yang diperintahkan dan yang dilarang, yang dicintai dan yang dibenci, sebagaimana Penciptanya membedakan di antaranya. Ia juga menyaksikan farq di antaranya secara qadari, karena sebagaimana Allah membedakan di antaranya dalam perintah-Nya, Dia juga membedakan di antaranya dalam takdir-Nya. Maka Dia mentakdirkan yang dicintai tetap dicintai, dan yang dimurkai tetap dimurkai, dan kebaikan tetap pada keadaannya, dan kejahatan tetap pada keadaannya. Maka semuanya berbeda dalam takdir-Nya sebagaimana berbeda dalam syariat-Nya. Kehendak dan takdir-Nya menggabungkan semuanya, dan kehendak serta takdir-Nya membedakan di antaranya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki masing-masing darinya untuk berada pada keadaan yang sekarang, dalam zat, takdir, dan sifat, serta untuk menjadi yang dicintai atau yang dimurkai. Dia memperlihatkannya kepada para pemilik pandangan batin dari makhluk-Nya, sebagaimana keadaan sebenarnya.
Mereka inilah manusia yang paling benar kesaksiannya, berbeda dengan orang yang menyaksikan makhluk itu qadim (tidak diciptakan), dan wujud makhluk adalah sama dengan wujud Khaliq (Pencipta), dan yang diperintahkan serta yang dilarang adalah sama, dan semua yang ditakdirkan adalah dicintai dan diridhai-Nya, atau bahwa sebagian peristiwa berada di luar kehendak-Nya, penciptaan-Nya, dan pembentukan-Nya, atau bahwa perbuatan-perbuatan hamba-Nya berada di luar kehendak, kemauan, dan kemampuan mereka, dan mereka bukan pelaku perbuatan-perbuatan tersebut. Sesungguhnya kesaksian ini semuanya adalah kebutaan, dan para penghuninya telah menggabungkan antara apa yang Allah bedakan, dan membedakan antara apa yang Allah gabungkan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kesaksian yang benar, yang dengannya pemiliknya dapat membedakan antara wujud Khaliq dan wujud makhluk, antara yang diperintahkan dan yang dilarang, antara perbuatan Allah dan perbuatan hamba, serta antara apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci.
Pemilik kesaksian ini: tidak terlupakan dengan perbuatan-perbuatan hamba dari perbuatan Allah, ketetapan dan takdir-Nya, tidak terlupakan dengan ketetapan dan takdir-Nya dari perintah dan larangan-Nya serta kecintaan-Nya pada sebagian dan kebencian-Nya pada sebagian yang lain, tidak terlupakan dengan wujud Khaliq dari wujud makhluk, tidak terlupakan dengan melihat makhluk dari memperhatikan Khaliq. Bahkan ia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Ia menyaksikan takdir umum yang terdahulu yang tidak ada makhluk yang keluar darinya, sebagaimana tidak ada yang keluar dari keberadaannya sebagai hamba yang fakir pada zatnya. Ia mencela dan memuji hamba dengan apa yang takdir gerakkan mereka dengannya berupa kemaksiatan dan ketaatan, berbeda dengan pemilik jam’ tanpa farq, karena ia terkadang memberi udzur kepada para pelaku syirik dan kemaksiatan, karena dominasi kesaksian jam’ pada hatinya. Ia berkata: Orang yang mengenal Allah tidak mengingkari kemungkaran, karena pengetahuannya tentang rahasia Allah dalam takdir. Maka kesaksiannya terhadap makhluk adalah kesesuaian mereka dengan apa yang Allah kehendaki dari mereka.
Maka orang yang menyaksikan dengan pandangan batin yang benar, yang kokoh, ia menyaksikan sifat Qayyum (Yang Mengurus segala sesuatu) dan takdir terdahulu yang menyeluruh dan meliputi, dan menyaksikan usaha hamba serta apa yang takdir jalankan atas mereka berupa ketaatan dan kemaksiatan. Ia menyaksikan hikmah Allah Ta’ala, perintah dan larangan-Nya, serta kecintaan dan kebencian-Nya.
Bagian: Jam’ yang Benar adalah Jam’ Tauhid Rububiyah dan Jam’ Tauhid Uluhiyah
Jika engkau telah memahami pendahuluan-pendahuluan ini: maka jam’ yang benar – yang dipegang oleh ahlul istiqamah (orang-orang yang istiqamah) – adalah jam’ tauhid rububiyah (ketuhanan dalam pengaturan) dan jam’ tauhid uluhiyah (ketuhanan dalam peribadatan). Maka pemiliknya menyaksikan sifat Qayyum Allah Ta’ala di atas Arasy-Nya, mengatur urusan hamba-hamba-Nya sendiri. Tidak ada pencipta, pemberi rezeki, pemberi, pencegah, pematikan, penghidup, atau pengatur urusan kerajaan – lahir maupun batin – selain Dia. Maka apa yang Dia kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Tidak bergerak sebuah zarrah kecuali dengan izin-Nya, tidak terjadi sebuah peristiwa kecuali dengan kehendak-Nya, tidak jatuh sehelai daun kecuali dengan ilmu-Nya, tidak tersembunyi dari-Nya seberat zarrah di langit maupun di bumi, tidak yang lebih kecil dari itu maupun yang lebih besar, kecuali ilmu-Nya menghitungnya, kekuasaan-Nya meliputinya, kehendak-Nya melaksanakannya, dan hikmah-Nya menuntutnya. Inilah jam’ tauhid rububiyah.
Adapun jam’ tauhid uluhiyah: yaitu ia mengumpulkan hatinya, perhatiannya, tekadnya kepada Allah, kehendaknya, dan gerakan-gerakannya untuk menunaikan hak-Nya Ta’ala, dan melaksanakan penghambaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka urusan-urusan kehendaknya berkumpul pada kehendak-Nya yang bersifat dini syar’i (agama dan syariat).
Kedua jam’ ini: adalah hakikat “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5). Karena hamba menyaksikan dari firman “Iyyaka” (kepada Engkau) Zat yang mengumpulkan semua sifat kesempurnaan, yang memiliki semua Asma ul-Husna (nama-nama yang indah). Kemudian ia menyaksikan dari firman “na’budu” (kami menyembah) semua jenis ibadah, lahir dan batin, tujuan, ucapan, perbuatan, keadaan, dan penerimaan. Kemudian ia menyaksikan dari firman “wa iyyaka nasta’iin” (dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) semua jenis istianah (meminta pertolongan), tawakal (bertawakkal), dan tafwidh (penyerahan). Maka ia menyaksikan darinya jam’ rububiyah, dan menyaksikan dari “iyyaka na’budu” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah) jam’ uluhiyah, dan menyaksikan dari “iyyaka” (kepada Engkau) Zat yang mengumpulkan semua Asma ul-Husna dan Sifat-sifat yang tinggi.
Kemudian ia menyaksikan dari “ihdinaa” (tunjukilah kami) sepuluh tingkatan, jika terkumpul, maka akan diperoleh hidayah.
Tingkatan pertama: hidayah ilmu dan penjelasan, sehingga Dia menjadikannya mengetahui kebenaran dan memahaminya.
Kedua: Dia memberikan kemampuan kepadanya atasnya, karena jika tidak, ia tidak mampu dengan dirinya sendiri.
Ketiga: Dia menjadikannya menghendakinya.
Keempat: Dia menjadikannya melakukannya.
Kelima: Dia menetapkannya pada hal itu, dan melangsungkannya dengannya.
Keenam: Dia menjauhkan darinya penghalang-penghalang dan gangguan-gangguan yang berlawanan dengannya.
Ketujuh: Dia memberinya hidayah di jalan itu sendiri, hidayah khusus yang lebih khusus dari yang pertama. Karena yang pertama adalah hidayah menuju jalan secara global, sedangkan ini adalah hidayah di dalamnya dan dalam tempat-tempatnya secara terperinci.
Kedelapan: Dia memperlihatkan kepadanya tujuan dalam perjalanan, dan mengingatkannya kepadanya, sehingga ia memandangnya dalam perjalanannya, menoleh kepadanya, tidak terhalangi oleh wasilah (perantara) darinya.
Kesembilan: Dia memperlihatkan kepadanya kefakirannya dan kebutuhannya yang mendesak kepada hidayah ini di atas setiap kebutuhan.
Kesepuluh: Dia memperlihatkan kepadanya dua jalan yang menyimpang dari jalannya, yaitu jalan ahli kemurkaan, yang berpaling dari mengikuti kebenaran dengan sengaja dan keras kepala, dan jalan ahli kesesatan, yang berpaling darinya karena kebodohan dan kesesatan. Kemudian ia menyaksikan terkumpulnya shirath mustaqim (jalan yang lurus) dalam satu jalan, yang di atasnya semua nabi dan rasul Allah, serta pengikut mereka dari kalangan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (para syahid), dan shalihin (orang-orang saleh).
Inilah jam’ yang dipegang oleh rasul-rasul Allah dan pengikut-pengikut mereka. Barangsiapa yang memperoleh jam’ ini, maka ia telah menemukan shirath mustaqim (jalan yang lurus), dan Allah Maha Mengetahui.
Bagian: Tauhid yang Allah Khususkan untuk Diri-Nya dan Layak bagi Keagungan-Nya
Syekh berkata: Adapun tauhid yang ketiga: adalah tauhid yang Allah khususkan untuk diri-Nya, dan Dia berhak atasnya karena keagungan-Nya, dan Dia menampakkan darinya sekilas cahaya kepada rahasia sekelompok dari kalangan pilihan-Nya, dan Dia membisukan mereka dari menyifatinya, dan Dia menjadikan mereka tidak mampu menyebarkannya.
Maka dikatakan: apakah yang dimaksud dengan tauhid ini adalah: tauhid hamba kepada Tuhannya, yaitu tauhid yang ada pada diri hamba, bukan tauhid Tuhan terhadap diri-Nya sendiri, yaitu yang ada pada-Nya berupa sifat-sifat-Nya dan kesempurnaan-Nya. Jika yang dimaksud adalah tauhid Tuhan terhadap diri-Nya sendiri dengan diri-Nya, yaitu ilmu-Nya, kalam-Nya, dan berita-Nya yang diberitakan-Nya tentang diri-Nya dan sifat-sifat-Nya, seperti firman-Nya “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia” (Surah Ali Imran: 18), dan firman-Nya “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (Surah Thaha: 14), dan firman-Nya “Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia” (Surah Al-Hasyr: 22), dan yang semacam itu, maka itu adalah sifat Tuhan yang ada pada-Nya, sebagaimana ada pada-Nya seluruh sifat-sifat-Nya: kehidupan-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya. Dan itu tidak terpisah dari Dzat Tuhan, dan tidak berpindah kepada selain-Nya, bahkan sifat makhluk pun tidak terpisah darinya dan tidak berpindah kepada selain-Nya, maka bagaimana dengan sifat-sifat Sang Pencipta yang Mahamulia dan Mahatinggi?
Akan tetapi Dia Mahasuci dan Mahatinggi menunjukkan hal itu dengan ayat-ayat-Nya yang berupa perkataan dan perbuatan, maka Dia mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri, dengan apa yang ditunjukkan-Nya kepada mereka dari perkataan dan perbuatan-Nya. Maka ketika hamba-Nya bersaksi bagi-Nya dengan apa yang Dia saksikan untuk diri-Nya sendiri, dikatakan: kesaksian ini adalah kesaksian Tuhan, dalam arti: bahwa kesaksian itu sesuai dan sejalan dengan-Nya, bukan dalam arti bahwa keduanya sama persis, dan bahwa kedua kesaksian itu satu secara hakiki. Maka yang ada di hati hamba hanyalah sifat-Nya, kalam-Nya, berita-Nya dan kehendak-Nya, dan itu berbeda dengan yang ada pada Dzat Tuhan berupa sifat-Nya, kalam-Nya, dan berita-Nya, meskipun sesuai dan sejalan dengan-Nya. Berdasarkan hal ini maka ucapannya “Tuhan mengkhususkannya untuk diri-Nya sendiri” artinya: tidak ada yang lain yang mengesakan-Nya dengan-Nya, “dan berhak memilikinya sesuai kadar-Nya” artinya: berhak memilikinya sesuai kadar hakikat-Nya yang tidak dapat dicapai oleh selain-Nya.
Ucapannya: “dan menampakkan darinya sesuatu yang menampak kepada rahasia-rahasia sebagian dari golongan pilihan-Nya”, artinya: menampakkan darinya sesuatu yang sedikit, yang dirahasiakan kepada golongan yang sedikit dari makhluk, yaitu para ahli pilihan-Nya.
Ucapannya: “membisukan mereka dari sifat-Nya”, dapat dimaksudkan bahwa: Dia tidak menerima sifat dari makhluk sebagaimana lidah orang bisu tidak menerima ucapan. Berdasarkan ini maka mensifati-Nya tidak mungkin. Dan dapat dimaksudkan bahwa: Dia menghalangi antara mereka dan mensifati-Nya, karena ketidakmampuan pendengar untuk memahaminya, maka mensifati-Nya mungkin, akan tetapi Tuhan membisukan mereka darinya, karena cemburu atasnya dan menjaganya.
Ucapannya: “dan melemahkan mereka dari menyebarkannya”, artinya: tidak memberikan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkannya.
Maka dikatakan: sebaik-baik golongan pilihan Tuhan taala adalah para Nabi, dan yang terbaik dari mereka adalah para Rasul, dan yang terbaik dari mereka adalah Ulul Azmi, dan yang terbaik dari mereka adalah dua Khalilullah alaihimash shalatu wassalam, dan atas seluruh Nabi dan Rasul. Dan yang ditampakkan Allah kepada rahasia-rahasia mereka dari hal itu adalah tauhid yang paling sempurna yang dikenal oleh para hamba, dan tidak ada yang lebih sempurna darinya. Dan tidak ada setelahnya kecuali ucapan yang keluar dari batas dan klaim-klaim serta bisikan-bisikan setan. Dan mereka shalawaatullahi wa salaamuhu alaihim telah berbicara tentang tauhid, mensifatinya, menjelaskannya, menerangkannya dan menetapkannya, sehingga ia berada dalam wilayah tampak, nyata dan jelas. Maka hati-hati memahaminya, jiwa-jiwa memperolehnya, lidah-lidah mengucapkannya, bukti-bukti menerangkannya, dalil-dalil tegak atasnya, dan petunjuk-petunjuk menyerunya. Dan tidak mungkin seseorang dapat menukil dari Nabi manapun dari para Nabi, atau pewaris Nabi yang menyeru kepada apa yang diserukannya, bahwa ia mengetahui tauhid yang tidak mungkin ia ucapkan, dan bahwa Allah Subhanahu membisukan ia dari mengucapkannya dan melemahkan ia dari menyebarkannya. Bahkan setiap yang diketahui hati maka lidah mampu mengungkapkannya, meskipun ungkapan berbeda-beda dalam kejelasan dan kesamaran, dan antara keduanya. Dan mungkin tidak memahaminya kecuali sebagian orang, karena manusia tidak sama dalam pemahaman mereka terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul.
Dan bagaimana bisa dikatakan: bahwa makhluk yang paling mengenal, paling fasih dan paling menasihati tidak mampu menjelaskan apa yang diketahukan Allah kepadanya tentang tauhid-Nya, dan bahwa ia tidak mampu menyebarkannya? Maka apa tauhid ini yang para Nabi dan Rasul tidak mampu menyebarkannya, dan dilarang mengucapkannya, sedangkan selain mereka mengetahuinya? Semua ini jika yang dimaksud adalah tauhid yang ada pada Dzat Tuhan taala untuk diri-Nya sendiri.
Adapun jika yang dimaksud adalah tauhid yang merupakan sifat hamba dan perbuatannya maka tidak sesuai dengan ucapannya “Tuhan mengkhususkannya untuk diri-Nya sendiri, dan berhak memilikinya sesuai kadar-Nya”, dan tidak sesuai dengan tiga sajak yang dijawab oleh Syaikh tentangnya, dan bahwa tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri: adalah tauhid bukan yang lainnya.
Dan juga sifat hamba dan perbuatannya tidak membuat ia tidak mampu menyebarkannya, dan tidak membisukan dari mengucapkannya. Dan setiap yang ada pada hamba maka ia mampu mengungkapkannya, menyingkapnya dan menjelaskannya.
Jika dikatakan: yang dimaksud dengan itu adalah: bahwa Tuhan taala adalah yang mengesakan diri-Nya sendiri dalam hati golongan pilihan-Nya, bukan bahwa mereka yang mengesakan-Nya. Oleh karena itu Syaikh berkata: dan yang ditunjukkan oleh lisan-lisan para penunjuk: bahwa itu adalah menghapus yang baru (hadits) dan menetapkan yang qadim. Dan atas hal itu ia melantunkan tiga sajak ini yaitu:
Tidak mengesakan Yang Esa dari seorang yang esa … karena setiap orang yang mengesakan-Nya adalah pengingkar Tauhid orang yang berbicara tentang sifat-Nya … pinjaman yang dibatalkan oleh Yang Esa Tauhid-Nya terhadapnya adalah tauhid-Nya … dan sifat orang yang mensifati-Nya adalah penyelewengan
Ucapannya: “tidak mengesakan Yang Esa dari seorang yang esa”, artinya: tidak ada yang mengesakan Allah Azza wa Jalla kecuali Dia sendiri, dan setiap orang yang mengesakan Allah maka ia adalah pengingkar hakikat tauhid-Nya. Karena tauhid-Nya mengandung penyaksian Dzat Yang Esa dan ketunggalan-Nya, dan itu adalah dualitas yang jelas, berbeda dengan tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri, karena Dia adalah yang mengesakan dan yang disesakan, dan tauhid adalah sifat-Nya dan kalam-Nya yang ada pada-Nya. Maka tidak ada yang lain, maka tidak ada dualitas dan tidak ada keberagaman.
Dan juga orang yang mengesakan-Nya dari makhluk maka harus mensifati-Nya dengan sifat, dan itu mengandung pengingkaran hak-Nya yaitu tidak terlingkup di bawah sifat-sifat. Maka barangsiapa mensifati-Nya maka telah mengingkari kemutlakan-Nya dari batasan-batasan sifat.
Dan ucapannya: “Tauhid orang yang berbicara tentang sifat-Nya pinjaman yang dibatalkan oleh Yang Esa”.
Artinya tauhid orang-orang yang berbicara tentang-Nya, “pinjaman yang dibatalkan oleh Yang Esa”, artinya: pinjaman yang dikembalikan, sebagaimana pinjaman dikembalikan, isyarat bahwa tauhid mereka adalah pinjaman bukan milik mereka, bahkan Tuhan meminjamkannya kepada mereka, sebagaimana pemberi pinjaman meminjamkan barangnya kepada yang lain untuk mengambil manfaat darinya, dan itu adalah milik pemberi pinjaman bukan peminjam.
Dan ucapannya “dibatalkan oleh Yang Esa” artinya Yang Esa yang mutlak dari segala sisi, ketunggalan-Nya membatalkan pinjaman ini, dan mengembalikannya kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Karena ketunggalan yang mutlak dari semua sisi menafikan kepemilikan yang lain terhadap sesuatu dari segala sesuatu, bahkan pemilik pinjaman itu adalah Yang Esa saja. Oleh karena itu ketunggalan membatalkan pinjaman ini.
Dan ucapannya: “Tauhid-Nya terhadapnya adalah tauhid-Nya” artinya tauhid-Nya yang hakiki adalah: tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri tanpa pengaruh yang lain dengan cara apapun, bahkan tidak ada yang lain di sana.
Dan ucapannya: “dan sifat orang yang mensifati-Nya adalah penyelewengan”, artinya sifat orang yang mensifati-Nya adalah ilhad (penyimpangan), yaitu berpaling dari apa yang seharusnya Dia terima berupa kesempurnaan tauhid. Karena ia menisbatkan kepada kesucian Tuhan apa yang tidak layak dinisbatkan kepada-Nya. Karena hakikat keterdahuluan menolak ucapan yang baru, dan tauhid yang murni menolak agar yang lain memiliki pengaruh sama sekali.
Maka dikatakan – dan dengan pertolongan Allah -: dalam perkataan ini terdapat keumuman, kebenaran dan penyimpangan yang tidak tersembunyi.
Adapun ucapannya: “bahwa Tuhan taala adalah yang mengesakan diri-Nya sendiri dalam hati golongan pilihan-Nya, bukan bahwa mereka yang mengesakan-Nya”, jika yang dimaksud adalah zhahirnya, dan bahwa yang mengesakan Allah adalah Allah bukan yang lain-Nya, dan bahwa Allah Subhanahu bersemayam dalam golongan pilihan-Nya, sehingga mengesakan diri-Nya sendiri, maka Dialah yang mengesakan diri-Nya sendiri dalam hati wali-wali-Nya, karena bersatunya dengan mereka dan bersemayamnya dalam diri mereka: maka ini adalah ucapan orang-orang Nasrani persis, bahkan lebih buruk darinya; karena mereka mengkhususkannya dengan Al-Masih, sedangkan orang-orang ini menyamaratakan dengan setiap orang yang bertauhid. Bahkan menurut golongan ittihad (kesatuan): yang mengesakan dan yang disesakan adalah satu, dan tidak ada keberagaman dalam hakikatnya.
Dan jika yang dimaksud: Dialah yang memberi taufik kepada mereka untuk tauhid-Nya, dan mengilhamkan kepada mereka, dan menjadikan mereka mengesakan-Nya, maka Dialah yang mengesakan diri-Nya sendiri dengan apa yang dikenalkan-Nya kepada mereka tentang tauhid-Nya, dan dengan apa yang dilemparkan-Nya ke dalam hati mereka dan dijalankan-Nya pada lisan mereka: maka makna ini benar, akan tetapi tidak sah menafikan perbuatan mereka dari mereka. Maka tidak dikatakan: bahwa Allah adalah yang mengesakan diri-Nya sendiri, bukan bahwa hamba-Nya mengesakan-Nya, ini batil secara syariat, akal dan indrawi. Bahkan yang benar adalah bahwa Allah Subhanahu mengesakan diri-Nya sendiri dengan tauhid yang ada pada-Nya, dan hamba-hamba-Nya mengesakan-Nya dengan tauhid yang ada pada mereka dengan izin-Nya, kehendak-Nya dan taufik-Nya. Maka Dia yang mengesakan diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri, dan mereka adalah orang-orang yang mengesakan-Nya dengan taufik-Nya, pertolongan-Nya dan izin-Nya. Maka yang ada pada mereka bukan yang ada pada Tuhan taala dan bukan sifat-Nya, akan tetapi ilmu tentang-Nya, kecintaan kepada-Nya dan tauhid-Nya. Dan itu dinamakan saksi dan contoh tertinggi. Maka itulah saksi-saksi dan contoh-contoh yang tinggi, yang Allah taala berfirman tentangnya “Dan bagi-Nya sifat yang Mahattinggi di langit dan di bumi, dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Surah Ar-Rum: 27), dan Allah taala berfirman “Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, sifat yang buruk, dan bagi Allah sifat yang Mahatinggi” (Surah An-Nahl: 60). Dan seringkali seseorang berkata kepada yang lain: engkau di hatiku dan di dadaku, dan yang dimaksud adalah: ini, bukan dzat dan dirinya.
Dan ucapannya “dan yang ditunjukkan pada lisan-lisan para penunjuk: bahwa itu adalah menghapus yang baru (hadits) dan menetapkan yang qadim” jika yang dimaksud: menghapusnya dari wujud; maka ini adalah pembohongan terhadap kenyataan. Dan jika yang dimaksud: menghapusnya dari penyaksian; maka itu bukan yang diperintahkan, dan bukan kesempurnaan, apalagi sampai menjadi tauhid khusus dari yang khusus. Maka apa penghapusan yang baru ini yang menjadi puncak tauhid dan tingkatan tertingginya? Dan apakah kesempurnaan kecuali menyaksikan segala sesuatu atas apa adanya, sebagaimana dalam kesaksian Tuhan Subhanahu?
Maka menghapus yang baru adalah perkataan yang tidak ada hasilnya, karena tidak ada kesempurnaan di dalamnya, bahkan yang bermanfaat adalah menghapus yang baru pada tingkat tujuan dan penuhaman. Maka menghapus yang baru – sebagaimana telah disebutkan – ada tiga tingkatan: menghapusnya dari wujud, dan itu pembohongan, menghapusnya dari penyaksian, dan itu kekurangan, dan menghapusnya dari tujuan-tujuan, dan itu kesempurnaan. Oleh karena itu orang yang menyimpang berkata: menghapus yang baru dan menetapkan yang qadim itu benar, dan pandangan yang datang pada hadirat ini karena kelemahannya. Maka ketika ia teguh ia mengetahui bahwa yang baru itu tidak pernah terhapus. Maka tidak ada arti bagi ucapannya “menghapus yang baru” dan tidak ada arti bagi ucapannya “menetapkan yang qadim” karena yang Qadim tidak pernah terputus keberadaan-Nya. Maka perkataan ini tidak diridhai oleh orang yang bertauhid, dan tidak oleh orang yang menyimpang, dan tidak ditunjukkan olehnya Al-Quran yang mengandung tingkatan tauhid yang tertinggi. Bahkan Al-Quran – dari awal sampai akhir – menunjukkan sebaliknya.
Orang yang menyimpang berkata: dan juga tauhid menyerap ucapan dalam penghapusan, maka jika di sana ada ucapan maka tidak di sana penyaksian, sebagaimana ia berkata dalam Al-Mawaqif: Aku lebih dekat kepada lisan daripada ucapannya ketika ia berbicara, maka barangsiapa menyaksiku tidak menyebut, dan barangsiapa menyebutku tidak menyaksikan.
Ia berkata: maka ucapannya “barangsiapa menyebutku tidak menyaksikan” adalah persis ucapan penulis Al-Manazil: atas bahwa isyarat ini dalam tauhid itu adalah illat (sebab) tidak sah tauhid itu kecuali dengan menghapusnya.
Dan hakikat dari itu: bahwa tidak sah tauhid kecuali dengan menghapus tauhid; karena isyarat dan petunjuk dan berita itu adalah tentang tauhid itu sendiri. Maka ia adalah tauhid yang diucapkan dan dikabarkan yang sesuai dengan tauhid yang diketahui yang dikabarkan tentangnya. Maka jika tidak sah tauhid kecuali dengan menghapus itu maka hakikat perkara adalah bahwa tidak sah tauhid kecuali dengan menghapus tauhid.
Kemudian ia berkata: ini adalah poros isyarat kepadanya pada lisan-lisan ulama jalan ini, meskipun mereka menghiasi untuknya sifat-sifat, dan memperincikannya dengan perincian-perincian, artinya: bahwa ucapan mereka tauhid adalah menghapus yang baru dan menetapkan yang qadim adalah poros perputaran isyarat-isyarat kepada tauhid menurut golongan ini. Dan dengan ini maka tidak sah tauhid kecuali dengan menghapus apa yang mereka katakan. Oleh karena itu ia berkata: maka sesungguhnya tauhid itu ungkapan menambahkannya kesamaran, dan sifat menambahkannya penolakan, dan perluasan menambahkannya kesulitan.
Maka sesungguhnya jika tidak sah kecuali dengan menghapus isyarat, sifat dan perluasan: maka ungkapan tentangnya tidak menambahkannya kecuali kesamaran, dan sifat kecuali penolakan, artinya lari dan pergi, dan perluasan serta penjelasan tidak menambahkannya kecuali kesulitan; karena banyaknya isyarat-isyarat dan ungkapan-ungkapan.
Ucapannya: “dan kepada tauhid ini: tertuju ahli riyadhah, dan ahli-ahli ahwal – artinya hati-hati mereka tertuju – dan kepadanya maksud ahli pengagungan, dan itulah yang dimaksud para pembicara dalam hakikat kesatuan, dan padanya terhapuslah isyarat-isyarat, kemudian tidak berbicara tentangnya lisan, dan tidak menunjukkan kepadanya ungkapan.
Maka dikatakan: demi Allah yang menakjubkan! Apa rahasia ini yang tidak dibicarakan Allah tentangnya, dan tidak ditunjukkan oleh Rasul-Nya, dan tidak tercapai oleh isyarat, dan tidak tegak dengannya ungkapan, dan tidak menunjukkan kepadanya makhluk, dan tidak mendapatkannya waktu, dan tidak menerimanya sebab?? Maka akal-akal ini hadir, dan pengetahuan-pengetahuan ini, dan ini kalam Allah dan Rasul-Nya, bahkan seluruh kitab-kitab Allah, dan perkataan para pemimpin orang-orang yang mengenal dari umat. Maka apa kebenaran ini yang dialihkan kepadanya? Dan kepada siapa pelimpahan ini terjadi? Karena kalian telah melimpahkan dengan apa yang tidak berbicara tentangnya lisan dan tidak menunjukkan kepadanya ungkapan, dan tidak mendapatkannya waktu, dan tidak menerimanya sebab. Maka kepada siapa kalian limpahkan kebenaran yang tidak dikenal ini yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya, dan tidak mengungkapkannya, dan tidak menunjukkan kepadanya?!! Dan dimana ucapannya: “tidak mengesakan Yang Esa dari seorang yang esa” dari firman-Nya taala: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu (menyatakan) dengan tegak pada keadilan” (Surah Ali Imran: 18)? Maka Dia Subhanahu mengabarkan bahwa para malaikat semuanya mengesakan-Nya, dan bahwa orang-orang yang berilmu mengesakan-Nya. Dan demikian pula kabar-Nya tentang para nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya dan pengikut-pengikut mereka bahwa mereka mengesakan-Nya, dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, sebagaimana Dia mengabarkan tentang Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, dan tentang seluruh Rasul dan yang mengikuti mereka. Bahkan Dia Subhanahu mengabarkan tentang langit-langit tujuh dan bumi dan apa yang ada di dalamnya bahwa ia bertasbih dengan memuji-Nya dalam tauhid dan ma’rifat.
Maka apakah sah dikatakan: tidak ada yang mengesakan-Nya dari para Rasul, Nabi-nabi dan orang-orang mukmin? Dan tidak bertasbih dengan memuji-Nya langit dan tidak bumi dan tidak sesuatu? Dan yang paling batil adalah dikatakan: setiap orang yang mengesakan Allah dari orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian adalah pengingkar kepada-Nya dan tauhid-Nya, bukan pengesak-Nya secara hakikat? Dan bahwa sifat seluruh Rasul, Nabi-nabi dan pengikut-pengikut mereka adalah ilhad (penyimpangan), dan setiap orang yang mensifati-Nya dari orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian maka ia adalah orang yang menyimpang. Maka tidak ada makna yang benar, dan tidak ada lafazh yang indah, bahkan makna lebih batil dari lafazh, dan lafazh lebih buruk dari makna!
Kemudian dikatakan: Apakah yang telah kamu sebutkan—dalam tingkatan ini—itu merupakan tauhid dan gambaran tentang tauhid, ataukah bukan tauhid? Jika itu bukan tauhid, maka ia adalah batil, dan jika itu adalah tauhid, maka sungguh engkau telah mengesakan Yang Maha Esa.
Dan juga, jika tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri adalah tauhid yang sesungguhnya dan selain itu bukan tauhid, maka sudah pasti bahwa tauhid-Nya terhadap diri-Nya sendiri adalah yang telah diutus kepada para rasul-Nya dan diturunkan dalam kitab-kitab-Nya serta Dia kabarkan tentang diri-Nya dalam Al-Quran dari awal hingga akhir, dan ini menurutmu adalah tauhid orang awam. Lalu di manakah tauhid yang dengan itu Dia mengesakan diri-Nya sendiri, yang tidak diucapkan oleh lisan, tidak diungkapkan dengan ungkapan, dan tidak dikemukakan oleh sebab apa pun?
Jika engkau berkata: Itu adalah tauhid yang melekat pada-Nya, maka itu adalah sifat-Nya, perkataan-Nya, dan pengetahuan-Nya tentang diri-Nya sendiri. Hal itu bukanlah perbuatan hamba atau sifatnya sehingga ia menjadi tingkatan ketiga dari tauhid hamba kepada Tuhannya, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain tidak masuk dalam tingkatan-tingkatan perjalanan spiritual, karena tingkatan-tingkatan tersebut adalah tingkatan-tingkatan penghambaan.
Dan juga, sesungguhnya perkataan yang terkandung dalam bait-bait syair ini tidak lurus menurut madzhab orang-orang yang menyimpang (mulhid) dan tidak pula menurut madzhab orang-orang yang bertauhid.
Adapun orang-orang yang bertauhid, mereka berkata: Sesungguhnya para rasul, nabi, malaikat, dan orang-orang beriman mengesakan Allah dengan sebenar-benar tauhid yang mereka mampu lakukan. Sedangkan orang-orang yang menyimpang (mulhid) berkata: Pada hakikatnya tidak ada yang lain, karena menurut mereka Allah adalah wujud mutlak yang mengalir dalam segala yang ada, maka Dia adalah yang mengesakan sekaligus yang disesatkan. Dan setiap apa yang dikatakan tentang-Nya menurut mereka adalah benar dan merupakan tauhid, sebagaimana dikatakan oleh arif mereka, Ibnu Arabi:
Pergilah ke mana pun engkau kehendaki, karena Allah ada di sana, dan katakanlah Apa pun tentang-Nya, karena Yang Maha Luas adalah Allah
Dan ia juga berkata:
Makhluk meyakini berbagai keyakinan tentang Tuhan Dan aku meyakini semua yang mereka yakini
Madzhab kaum ini adalah bahwa penyembah berhala, penyembah salib, penyembah api, penyembah bintang, semuanya adalah orang-orang yang bertauhid, karena menurut mereka tidak ada yang disembah selain Allah dalam setiap yang disembah. Barang siapa yang bersujud kepada batu-batu di padang pasir atau yang menyembah api dan salib, maka ia adalah orang yang bertauhid dan menyembah Allah. Sedangkan syirik menurut mereka adalah menetapkan adanya wujud yang qadim dan hadits, Pencipta dan makhluk, Tuhan dan hamba. Oleh karena itu, salah seorang arif mereka ketika dikatakan kepadanya: “Seluruh Al-Quran membatalkan pendapat kalian,” ia menjawab: “Al-Quran seluruhnya adalah syirik, dan tauhid adalah apa yang kami katakan.”
Jika ketiga sajak ini pada mulanya adalah madzhab dan paham mereka, maka karena itulah para arif mereka menerimanya dengan penuh penerimaan dan sangat memujinya, dan berkata: “Ini adalah terjemahan madzhab ahli tahqiq.” Setiap orang yang mengesakan Allah, maka ia mengingkari kemutlakan-Nya, karena ia mensifati-Nya lalu membatasi-Nya di bawah sifat-sifat, dan pembatasannya di bawahnya adalah pengingkaran terhadap kemutlakan-Nya dari batasan-batasan sifat dan nisbah. Oleh karena itu, tauhid orang yang mensifati dan menisbati-Nya adalah: pinjaman yang dipinjamkannya sehingga muncul dari itu sifat dan yang disifati, yang mengesakan dan yang disesatkan. Sedangkan kesatuan mutlak membatalkan pinjaman ini dan mengembalikan yang dipinjam kepada wujud mutlak yang tidak terikat oleh sifat dan tidak terkhususkan oleh nisbah.
Kemudian ia mengungkap tabir dari itu dengan mengatakan: Pengesaan-Nya terhadap-Nya adalah pengesaan-Nya, yaitu Dialah yang mengesakan diri-Nya sendiri dengan diri-Nya sendiri, bukan yang lain mengesakan-Nya karena tidak ada yang lain.
Dan ia menambah penjelasan itu dengan perkataannya: “dan nisbah dari yang menisbati-Nya adalah penyimpangan”. Ilhad (penyimpangan) adalah condong dari yang benar, dan nisbah adalah pembatasan dan pengkhususan bagi Dzat yang tidak terbatas dan tidak terkhususkan, maka ia adalah ilhad (penyimpangan).
Yang paling baik untuk dijadikan penafsiran perkataannya adalah: Bahwa fana dalam penyaksian azali dan hukum menghapus penyaksian hamba terhadap dirinya dan sifat-sifatnya, apalagi penyaksian selainnya. Maka ia tidak menyaksikan adanya yang mewujudkan dan yang berbuat secara hakiki kecuali Allah saja. Dalam penyaksian ini, semua bentuk-bentuk lenyap seluruhnya, sehingga tidak tersisa dalam penyaksian dan fana ini bentuk sama sekali. Maka penyaksian ini menghapus dari hati segala sesuatu selain Haqq, bukan menghapusnya dari wujud. Pada saat itu ia menyaksikan bahwa tauhid hakiki—yang bukan pinjaman—adalah tauhid Tuhan terhadap diri-Nya sendiri, sedangkan tauhid selain-Nya kepada-Nya adalah pinjaman murni yang dipinjamkan kepadanya oleh Pemilik segala urusan. Pinjaman-pinjaman itu dikembalikan kepada Dzat yang kepadanya segala urusan dikembalikan. “Dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (Yunus: 30) Maka Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa—Mahasuci Dia—membatalkan pinjaman itu: bahwa ia menjadi milik yang dipinjami, sebagaimana yang meminjamkan menjelaskan kepada peminjam ketika ia mengambil kembali barang yang dipinjamkan—padahal peminjam menyangka bahwa yang dipinjam adalah miliknya—: bahwa perkaranya tidak demikian, dan bahwa itu hanyalah pinjaman murni di tangannya. Yang meminjamkan—jika ia membatalkan sangkaan peminjam tentang pinjaman—ia tidak membatalkan asal pinjaman itu. Oleh karena itu, ia menyatakannya dengan menetapkannya di awal bait, hanya saja wazan (irama) menyempitkannya dari kesempurnaan makna dan penjelasannya. Makna ini adalah benar, dan inilah yang lebih layak bagi imam yang agung kedudukannya ini daripada apa yang disangkakan kepadanya oleh kelompok Ittihad (persatuan) dan Hulul (inkarnasi), meskipun perkataan-perkataannya yang global menjadi syubhat bagi mereka, tetapi sunnahnya yang terperinci membatalkan sangkaan mereka.
Perkataannya memiliki penafsiran lain juga, yaitu: Bahwa tidak ada yang mengesakan Allah dengan sebenar-benar pengesaan yang layak bagi-Nya dan yang Dia layak menerimanya karena Dzat-Nya selain diri-Nya sendiri, sebagaimana diucapkan oleh orang yang paling agung dalam tauhid, shallallahu alaihi wasallam: “Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Dalam hal seperti ini, penafian umum ini layak, sebagaimana dikatakan: Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Allah, dan tidak ada yang memuji-Nya selain Dia sendiri. Satu kalimat diucapkan oleh dua orang, yang satu menghendaki dengannya kebatilan yang paling besar, dan yang lain menghendaki dengannya kebenaran murni. Yang menjadi ukuran adalah jalan, perjalanan, dan madzhab orang yang mengucapkannya serta apa yang ia serukan dan ia perjuangkan.
Syaikhul Islam—semoga Allah mensucikan ruhnya—telah kokoh dalam menetapkan sifat-sifat, menafikan ta’thil (peniadaan sifat), dan memusuhi para pengikutnya. Ia memiliki kitab-kitab dalam hal itu seperti: kitab Dzammul Kalam dan lainnya yang menyelisihi jalan para Mu’aththilah, Hululiyah, dan Ittihadiyah. Kemudian ia menyatakan dengan jelas makna yang telah kami sebutkan dengan perkataannya “pengesaan-Nya terhadap-Nya adalah pengesaan-Nya“, yaitu pengesaan-Nya terhadap diri-Nya sendiri adalah tauhid yang sempurna dan lengkap, yang tidak ada jalan bagi ungkapan dan isyarat kepadanya, dan di atas apa yang diketahui oleh akal dan disifati oleh lisan-lisan. Ini adalah benar, tetapi ungkapannya kering setelahnya dengan perkataannya: “dan nisbah dari yang menisbati-Nya adalah penyimpangan“. Penafsirannya, sebagaimana telah kamu ketahui: bahwa nisbah makhluk kepada-Nya berada di bawah apa yang Dia ada—Mahasuci Dia—dan apa yang Dia ada dari sifat-sifat dan nisbah-nisbah adalah lebih agung dan lebih besar daripada yang dapat dicakup oleh ilmu yang diciptakan atau diucapkan oleh lisan-lisan. Ilhad adalah condong, dan ia tidak bermaksud bahwa nisbah orang-orang yang menisbati-Nya adalah ilhad dan kekufuran, karena ia sendiri telah menisbati-Nya dalam kitab ini dan dalam kitab-kitabnya, dan ia tidak menjadi mulhid (orang yang menyimpang) dengan itu. Maka nisbah makhluk kepada-Nya condong dari nisbat-Nya terhadap diri-Nya sendiri.
Meskipun demikian, seandainya ia menghendaki ilhad yang merupakan kebatilan dan kesesatan, maka hal itu memiliki sisi yang benar, yaitu: bahwa nisbah makhluk kepada-Nya dari diri mereka sendiri adalah ilhad, dan tauhid yang benar adalah apa yang Allah nisabkan kepada diri-Nya sendiri melalui lisan para rasul-Nya. Mereka tidak menisbati-Nya dari diri mereka sendiri, tetapi mereka menisbati-Nya dengan apa yang Dia izinkan kepada mereka untuk menisbati-Nya dengan itu. Allah Subhanahu Wataala telah menyatakan dengan jelas makna ini dalam firman-Nya: “Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih.” (Ash-Shaffat: 159-160) Maka Dia mensucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan oleh para hamba kecuali para rasul, karena mereka tidak mensifati-Nya dari diri mereka sendiri. Demikian pula firman-Nya: “Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Ash-Shaffat: 180-182)
Maka kami tutup kitab ini dengan ayat ini sambil memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan apa yang layak bagi-Nya, dan dengan apa yang Dia pujikan kepada diri-Nya sendiri.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, pujian yang baik lagi penuh berkah di dalamnya, sebagaimana Tuhan kami cintai dan ridhai, dan sebagaimana layak bagi kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kebesaran-Nya, yang tidak mencukupi, tidak dikufuri, tidak ditinggalkan, dan tidak dapat dilepaskan darinya, ya Tuhan kami.
Kami memohon kepada-Nya agar memberi kami taufik untuk mensyukuri nikmat-Nya, agar memberi kami taufik untuk menunaikan hak-Nya, agar menolong kami dalam mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya, serta agar menjadikan apa yang kami maksudkan dalam kitab ini dan lainnya—sebagai sesuatu yang ikhlas karena wajah-Nya yang mulia dan sebagai nasihat untuk hamba-hamba-Nya.
Wahai pembaca kitab ini, bagimu keuntungannya dan atas pengarangnya kerugiannya, bagimu buahnya dan atasnya akibatnya. Apa yang engkau temukan di dalamnya berupa kebenaran dan haq, maka terimalah dan jangan pandang kepada yang mengatakannya, tetapi lihatlah kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Allah Subhanahu Wataala telah mencela orang yang menolak kebenaran jika datang dari orang yang ia benci, dan menerimanya jika dikatakan oleh orang yang ia cintai. Ini adalah akhlaq umat yang marah. Salah seorang sahabat berkata: Terimalah kebenaran dari siapa pun yang mengatakannya meskipun ia dibenci, dan tolak kebatilan dari siapa pun yang mengatakannya meskipun ia dicintai. Dan apa yang engkau temukan di dalamnya berupa kesalahan, maka sesungguhnya yang mengatakannya tidak menyisakan usaha untuk mencapai kebenaran. Allah menolak kecuali bahwa Dia menyendiri dengan kesempurnaan, sebagaimana dikatakan:
Kekurangan terkandung dalam asal tabi’at Maka anak-anak tabi’at, kekurangan mereka tidak diingkari
Dan bagaimana akan terpelihara dari kesalahan orang yang diciptakan sangat zhalim lagi sangat bodoh, tetapi barang siapa kesalahan-kesalahannya dihitung lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang ketepatan-ketepatannya dihitung.
Atas pembicara dalam bab ini dan lainnya hendaknya sumber perkataannya dari ilmu tentang kebenaran, dan tujuannya adalah nasihat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan saudara-saudaranya kaum muslimin. Jika ia menjadikan kebenaran sebagai pengikut hawa nafsu, maka rusak hati, amal, keadaan, dan jalan. Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” (Al-Mu’minun: 71) Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” Maka ilmu dan keadilan adalah asal setiap kebaikan, dan kezhaliman dan kejahilan adalah asal setiap kejahatan. Allah Subhanahu Wataala mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar serta memerintahkannya agar berlaku adil di antara berbagai kelompok dan tidak mengikuti hawa nafsu salah satu dari mereka. Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: ‘Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).'” (Asy-Syura: 15)
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada penutup para rasul, Muhammad, dan kepada seluruh keluarganya.
Penulis : Muhammad bin Abi Bakr Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc. & Muhammad al-Mu'tashim Billah al-Baghdadi







