Akidah Salafiyah dalam Kalam Rabbul Bariyyah dan Mengungkap Kebatilan Para Ahli Bidah yang Buruk
العَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ فِي كَلَامِ رَبِّ البَرِيَّةِ وَكَشْفُ أَبَاطِيلِ المُبْتَدِعَةِ الرَّدِيَّةِ
Dan di dalamnya ada empat perkara:
- Muqaddimah Cetakan Kedua
- Muqaddimah Kitab
- Peringatan tentang Masalah-masalah yang Diperlukan Sebelum Memasuki Pembahasan Inti
- Garis Besar Rencana Penulisan Kitab
Muqaddimah Cetakan Kedua
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan petunjuk kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, semoga Allah bershalawat dan memberikan salam yang banyak kepadanya.
Amma ba’du:
Sesungguhnya dalam perkiraanku sebelum terbitnya cetakan pertama dari kitab ini bahwa akan ada orang-orang yang bergembira karenanya, dan ada pula orang lain yang tidak senang dengannya, dan itulah yang terjadi.
Adapun kegembiraan, maka itu datang dari Ahlus Sunnah, karena apa yang mereka temukan di dalamnya berupa pembelaan terhadap akidah Salaf dan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan pembatalan bidah-bidah dalam masalah Kalam Allah yang merupakan masalah paling berbahaya dalam perselisihan akidah di antara Ahlul Qiblah, dan karena apa yang mereka lihat di dalamnya berupa kesungguhan dalam mengumpulkan dalil-dalil, mentahqiq, mensyarah, dan menjelaskannya, serta menolak syubhat dan kebatilan para ahli bidah, yang karenanya datang berturut-turut dari beberapa ulama dan orang-orang mulia dengan isyarat-isyarat kepada diriku untuk menulis dengan cara seperti ini dalam seluruh masalah akidah, khususnya masalah-masalah besar, seperti masalah penetapan ketinggian (Allah di atas Arsy), rukyah (melihat Allah), qadar, dan yang semisalnya, dan kitab ini mendapat penerimaan di hati mereka, sehingga mereka berpegang padanya dan merekomendasikannya.
Dan semua ini adalah dari karunia Allah Taala dan anugerah-Nya, maka bagi-Nya segala puji semata, dan Dia-lah yang dimohon agar memberikan taufik kepada ketepatan dan kebenaran dalam akidah, perkataan, dan amal.
Adapun ketidaksenangan, maka itu datang dari ahli bidah, hingga dada mereka menjadi sempit karenanya,
Dan tidaklah membahayakanku bahwa seorang ahli bidah mencela, karena itulah jalan mereka, tetapi cukuplah bagiku dari itu pembelaan terhadap syariat dan sunnah.
Adapun mereka ini, maka aku mengingatkan mereka dengan Allah Taala, dan aku katakan: bertakwalah kalian kepada Allah, dan kembalikanlah akidah-akidah kalian, dan benarkanlah dengan dalil-dalil dan bukti-bukti bukan dengan taklid, dan ikutilah Salaf niscaya kalian akan selamat dan beruntung, dan janganlah keagungan orang yang kalian ikuti menipu kalian sehingga kalian mengikutinya dalam kesalahan, karena sesungguhnya kalian dengan itu meremehkan Salaf yang lebih berhak diikuti daripadanya, dan meremehkan tokoh-tokoh para imam, seperti Empat Imam Ahli Fikih dan yang lainnya, dan jika kalian meridhai madzhab-madzhab mereka dalam masalah cabang, maka layaklah bagi kalian meridhai madzhab mereka dalam masalah pokok, dan jika kalian melihat dari perbuatanku penghancuran terhadap apa yang kalian dibesarkan di atasnya bertahun-tahun, maka sungguh kembalinya kalian kepada kebenaran lebih baik daripada terus-menerusnya kalian dalam kebatilan dan bertahan di atasnya, dan menyelamatkan diri kalian dengan meluruskan akidah-akidah kalian dan menempuh jalan Salaf lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu Rabb kalian Taala dengan penyimpangan akidah.
Kemudian setelah itu, jika kalian memiliki ilmu, maka sampaikanlah, dan jika tidak, maka diam lebih baik bagi kalian, dan ketahuilah bahwa dadaku lapang terhadap perbedaan kalian, maka tulislah kepadaku dan diskusikanlah serta berdebatlah, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.
Dan ada pihak ketiga yang aku isyaratkan dalam muqaddimah kitab yang pertama, mereka yang peduli dengan musibah-musibah kaum muslimin dalam kehidupan dan sebab-sebab penghidupan, dan mereka mengabaikan musibah mereka karena kebodohan mereka terhadap agama mereka, dan aku bersama mereka ini dalam perlunya kepedulian terhadap urusan kaum muslimin, dan kesibukan dalam hal itu termasuk ketaatan yang paling agung, dan nama Islam saja cukup dalam kewajiban membela siapa yang menamai dirinya dengannya, dan dengannya tetap baginya loyalitas umum, karena sesungguhnya manusia hari ini diperangi semata karena afiliasi mereka kepada agama ini, dan musuhnya tidak peduli dari golongan mana pun dia, tetapi ketika kita meyakini itu, kita tidak membolehkan kesibukan untuk menyelamatkannya dari kematian di tangan musuh yang tampak lalu membiarkannya untuk hawa nafsunya dan musuh yang tersembunyi.
Dan setiap orang yang peduli dengan urusan kaum muslimin menyadari longgarnya dan goyahnya barisan Islam, tetapi tidakkah kita bertanya: mengapa demikian? Untuk kita sadari bahwa itulah penyakit-penyakit dalam akidah, perilaku, dan amal, kalau tidak, untuk apa seorang muslim membunuh saudaranya?
Sesungguhnya kita meyakini sebagai kewajiban bagi Ahli Islam untuk sibuk dengan mengobati jiwa-jiwa dengan memperbaiki akidah, amal, dan perilaku, dan tidak boleh satu kewajiban menyibukkan dari kewajiban lain, karena musuh yang tersembunyi lebih mematikan daripada musuh yang tampak.
Dan sebagaimana seorang muslim wajib menemukan para penolong dari saudara-saudaranya yang melindunginya dan menjaganya, maka wajib juga dia menemukan dari mereka yang menggenggam tangannya ke jalan yang lurus, dan melindunginya dari kesesatan hawa nafsu dan syahwat kesesatan.
Dan tidak tersembunyi bagi siapa pun apa yang masuk ke dalam aspek akidah dari hawa nafsu, dan umat terpecah karena itu menjadi kelompok-kelompok dan berselisih, yang menyebabkan kegagalan, hilangnya kekuatan, dan kekalahan, maka tidak boleh tidak ada dari Ahli Islam suatu kelompok yang melakukan perbaikan terhadap apa yang rusak dan meluruskan penyimpangan, bukan dengan klaim-klaim kosong yang dusta, tetapi dengan amal yang terlihat pengaruhnya pada manusia.
Dan aku tidak menduga bahwa kita berbeda dalam prinsip ini. Dan berdasarkan itu, maka pembahasan diriku terhadap persoalan yang dianggap sebagai salah satu masalah akidah yang paling menonjol dan paling berbahaya adalah dari pintu kesibukan dengan menunaikan kewajiban dalam membenarkan akidah-akidah kaum muslimin.
Dan di antara manusia ada yang berkata: tidak diwajibkan kepada diriku untuk mengetahui akidah-akidah yang bidah dan sibuk mempelajarinya, dan cukup bagiku bahwa akidahku adalah akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dinukil dari Salaf.
Maka aku katakan: Ya, benar demikian jika engkau yakin akan kebenaran dari akidah Salaf, dan engkau mengambilnya dari ahlinya bukan dari mereka yang menisbatkan kepada mereka akidah-akidah bidah yang mereka samarkan kepada manusia, maka jika engkau mendapatkan itu tidak diwajibkan kepadamu mengetahui akidah-akidah kelompok-kelompok, dan Allah Tabaraka wa Taala hanya membebanimu dengan mengikuti apa yang diutus kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam berupa petunjuk dan agama yang benar sebelum bidah-bidah dan hawa nafsu, dan mengikuti jalan orang-orang beriman, jika tidak, maka urusannya adalah: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia menguasai apa yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” (Surat An-Nisa: 115).
Dan kitabku ini bukan hanya dalam menjawab kelompok-kelompok ahli bidah saja, bahkan asal dalam penyusunannya adalah mensyarah akidah Salaf, dan aku memulainya dengan menyebutkan Akidah Salafiyah yang dijelaskan dengan ungkapan yang paling mudah, dengan buktinya dari Al-Quran dan Sunnah serta tafsir Salaf, yang wajib Ahli Islam meyakininya, kemudian setelah itu aku condong pada menyebutkan apa yang bertentangan dengannya dan menyelisihinya, yang sepatutnya engkau mengetahuinya, dan jika engkau tidak bersemangat padanya, maka itu untuk siapa yang peduli dari para da’i Ahlus Sunnah yang sibuk membenarkan akidah-akidah kaum muslimin, atau bagi siapa yang menyimpang dari kebenaran dari ahli bidah sebagai penegakan hujjah dan penolakan terhadap kebatilan.
Dan di antara manusia ini ada yang bercerita kepadaku dengan berkata: Engkau telah keras dalam kitabmu terhadap Asy’ariyah khususnya lebih dari yang lain! Maka aku katakan: Ya, karena meratanya bencana dengan akidah mereka.
Dan mungkin sebagian orang memperluaskan kekerasan itu kepada individu-individu, tetapi aku telah mengingatkan di akhir kitabku ini bahwa hukum terhadap akidah-akidah dan kelompok-kelompok tidak mengharuskan hukum terhadap individu tertentu dari manusia yang menisbatkan diri kepadanya.
Dan aku hanya mendiskusikan akidah-akidah bukan individu-individu, dan karena itu engkau dapati dalam kitabku ini pelepasan apa yang dilepaskan oleh imam-imam Sunnah: (Barangsiapa berkata demikian, maka dia kafir), tetapi engkau tidak akan mendapati hukumku terhadap pembicara tertentu dengan kekafiran.
Benar, aku telah menukil bahwa di antara Salaf ada yang mengkafirkan sebagian individu tertentu, namun itu dalam apa yang mereka ketahui dan telah tegak bagi mereka dengannya hujjah terhadap siapa yang mereka kafirkan, jika tidak, maka asalnya:
Bahwa apa yang diperselisihkan oleh Ahlul Qiblah darinya berupa akidah-akidah, mungkin akidah darinya tidak hanya keluar dari Ahlus Sunnah saja, bahkan keluar dari Islam semuanya, namun ini adalah hukum terhadap akidah bukan terhadap orang tertentu yang meyakininya, karena dibolehkan bahwa dia ma’dzur (dimaafkan).
Dan termasuk yang paling batil dari kebatilan dan paling zhalim dari kezhaliman adalah menurunkan nash-nash umum dalam pengkafiran dan semisalnya kepada individu-individu tertentu dari kaum muslimin karena mereka melakukan itu, khususnya di zaman ini karena dominannya kebodohan, sebelum tegak padanya hujjah syar’iyyah dari orang yang ahli untuk menegakkannya, bukan dari anak-anak kecil dalam ilmu dan pengikut-pengikut Khawarij, dan hujjah telah sampai dan dipahami oleh yang diberi, dalam perincian yang bukan ini tempatnya.
Dan yang dimaksud adalah bahwa apa yang aku bahas tentang ahli bidah sesungguhnya adalah akidah-akidah dan perkataan-perkataan, dengan bahwa aku melihat sifat dengan bidah bagi yang melakukannya bukanlah dari pintu (hukum terhadap individu tertentu dengan kekafiran) karena melampaui batasnya hukum dengan kekafiran kepada yang tersembunyi, berbeda dengan bidah; karena sesungguhnya itu adalah hukum terhadap yang tampak dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan, dan pembicaraan dalam itu seperti pembicaraan dalam ta’dil saksi-saksi dan tafsiqqnya, karena sesungguhnya itu adalah hukum terhadap yang tampak, wallahu a’lam.
Dan ada kritik khusus yang aku terima dari sebagian ulama dan orang-orang mulia, aku sebutkan dengan menjawabnya dalam tiga poin:
Pertama: Apa yang aku sebutkan dalam catatan kaki (hal. 268 Cetakan Pertama) tentang pengingkaran ucapan orang yang berkata: “Bagi Abu Al-Hasan Al-Asy’ari ada dua perpindahan”, dan penetapan bahwa dia berpindah dari Mu’tazilah kepada akidah Ibnu Kullab, dan tetap pada akidah Ibnu Kullab, dia mengiranya akidah Imam Ahmad bin Hanbal, maka sebagian orang mulia yang membenarkan itu darinya mengisyaratkan untuk mengkaji itu lebih banyak.
Maka aku katakan kepada kalian wahai orang-orang yang kucintai: Sesungguhnya aku telah meneliti dan mencari maka aku tidak menemukan dalam kenyataannya kecuali apa yang menguatkan apa yang aku sebutkan, dan tidak menambahkan kepada diriku penelitian itu kecuali keyakinan dengan kebenaran itu, bahkan membuatku cenderung untuk mengkhususkannya dan akidah-akidahnya dari kitab-kitabnya dan perkataan orang-orang yang mengenalnya dengan penulisan untuk memberitahu kalian tentang hakikat urusannya dalam umum masalah-masalah akidah.
Kedua: Apa yang aku sebutkan (hal: 157, 158 Cetakan Pertama) dalam penetapan sifat diam, atas makna bahwa Allah Taala berbicara jika Dia berkehendak, dan perkataan terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya, dan Dia diam jika Dia berkehendak, dan aku mengutip untuk itu apa yang datang dengannya Sunnah dan atsar, dan aku tutup dengan nash berikut: Syaikhul Islam berkata: “Maka tetap dengan Sunnah dan Ijma’ bahwa Allah disifati dengan diam” (Majmu’ Fatawa 6/179).
Dan pengambilan dalam ini dari tiga sisi:
- Penetapan sifat diam, dan bahwa nash-nash atasnya tidak memadai.
Ini disampaikan oleh salah seorang yang mulia.
Dan jawabannya:
Jika orang yang mulia ini bermaksud bahwa ini adalah khabar ahad, maka ini luas dalam permasalahan ini, dan khabar ahad yang disertai qarinah-qarinah menghasilkan ilmu (pengetahuan yang pasti), dan saya berpendapat bahwa qarinah-qarinah telah menguatkannya sebagaimana yang telah saya sebutkan dan saya isyaratkan pada tempatnya.
Dan jika dalam dirinya terjadi keraguan dari sisi makna dalam penetapannya, maka dia datang dari dirinya sendiri, dan jika tidak demikian, maka sesungguhnya kita memahami bahwa orang yang berbicara dengan kehendak dan iradahnya, dia diam dengan kehendak dan iradahnya, dan selama keyakinan kita adalah keterikatan kalam dengan kehendak-Nya Yang Maha Mulia, maka hilanglah hal yang dikhawatirkan.
Dan telah tetap pada kami hadits dengannya, maka kami tetapkan untuk-Nya Taala sebagaimana kami tetapkan untuk-Nya seluruh sifat-sifat-Nya, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam sifat-sifat itu, dan telah saya sebutkan pendahulu saya dalam menetapkannya, dan apa yang saya ikuti dalam hal itu dengan mengikuti seorang imam, maka tidak ada dosa bagi saya dalam hal itu, selama hujjah dari nash telah tegak atasnya.
- Mengenai nash yang saya kutip dari Syaikhul Islam, salah seorang yang mulia berkata tentang saya: “Dia melakukan tadlis (penipuan) di dalamnya, dan ini adalah pengkhianatan ilmiah, karena dia memberikan pemahaman bahwa Syaikhul Islam adalah Ibnu Taimiyah, dan ungkapan ini bukan dari perkataan Ibnu Taimiyah, melainkan dikutip oleh Ibnu Taimiyah dari Syaikhul Islam Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi).”
Maka saya katakan: Perkaranya tidak seperti yang dikira oleh syaikh yang mulia, karena sesungguhnya saya bermaksud Ibnu Taimiyah yang sebenarnya, saya tidak melakukan tadlis terhadap gelar itu, dan telah saya sebutkan dalam muqaddimah kitab saya bahwa jika saya menyebut (Syaikhul Islam), maka sesungguhnya saya bermaksud Ibnu Taimiyah, dan nash ini yang saya sebutkan adalah miliknya bukan milik Syaikhul Islam Al-Anshari, benar; memang telah datang perkataan Ibnu Taimiyah setelah perkataan Al-Anshari, kecuali bahwa ia terpisah darinya, dan penjelasannya sebagai berikut: Nash ini datang setelah nukilan dari Abu Ismail Al-Harawi beberapa nash dalam masalah Alquran, dan apa yang terjadi dari Imam Abu Bakar bin Khuzaimah di dalamnya dengan sebagian tokoh, maka dia menyebutkan (Majmu’ al-Fatawa 6/177) berkata: “Dan Syaikhul Islam Abu Ismail berkata…”, dan dia mengutip dari kitabnya dalam akidah Ahlusunnah, kemudian dia berkata: “Dan Syaikhul Islam juga berkata dalam kitab Manaqib Imam Ahmad…”, kemudian dia berkata: “Hingga dia berkata: kemudian datang sekelompok…”, hingga dia berkata: “Syaikhul Islam berkata: maka terbang karena fitnah itu, imam Abu Bakar itu, maka dia tidak berhenti berteriak mempermalukannya, dan menyusun dalam meredanya, seolah-olah dia pemberi peringatan pasukan, hingga dicatat dalam catatan-catatan, dan tertanam dalam hati sanubari, dan diajarkan di sekolah-sekolah, dan terukir di mihrab-mihrab: Sesungguhnya Allah berbicara, jika Dia menghendaki Dia berbicara, dan jika Dia menghendaki Dia diam, maka Allah membalas imam itu dan orang-orang pilihan yang mulia karena menolong agama-Nya dan memuliakan Nabi-Nya dengan kebaikan.
Saya katakan: Dalam hadits Salman dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: ‘Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya…’”
Kemudian dia mulai menyebutkan dalil-dalil yang menetapkan sifat diam, kemudian dia menyebutkan setelah itu nash yang saya sebutkan, kemudian dia mulai menafsirkan diam, hingga dia berkata (hal. 180): “Kemudian di antara mereka yang berfilsafat seperti Al-Ghazali dalam Misykat Al-Anwar…” dan seterusnya.
Maka dalam hal ini terdapat:
1 – Pembedaan oleh Ibnu Taimiyah terhadap perkataan Al-Harawi dalam setiap paragraf yang dia kutip dengan menisbatkannya kepadanya secara tegas.
2 – Pemisahan antara perkataannya dan perkataan Al-Harawi dengan perkataannya: (Saya katakan), dan lafazh ini jelas tanpa perlu dipaksakan bahwa itu miliknya bukan milik Al-Harawi, dan barangsiapa mengklaim bahwa itu milik Al-Harawi, maka itu adalah klaim yang bertentangan dengan yang zhahir.
3 – Datangnya apa yang setelah (Saya katakan) dengan gaya Ibnu Taimiyah yang dikenal oleh setiap orang yang memahami perkataannya, dengan jarak yang sangat jauh dari menyerupai susunan apa yang dikutip Ibnu Taimiyah dari perkataan Al-Harawi.
4 – Penyebutan Abu Hamid Al-Ghazali dan kitabnya, dan ini biasanya tidak mungkin milik Al-Harawi, bagi yang merenungkan biografi masing-masing, dan kapan Al-Harawi meninggal, dan kapan dimulainya ketenaran Al-Ghazali dan dimulainya penulisan karya-karyanya.
Dan dalam hal ini sudah cukup, dan hendaknya syaikh yang mulia berhati-hati dari tergesa-gesa dalam memberi keputusan.
- Seorang yang mulia lainnya mengklaim bahwa saya tidak menyempurnakan nukilan perkataan Syaikhul Islam dalam permasalahan ini.
Dan dalam hal ini ada kesan dari orang yang mulia ini bahwa saya menyembunyikan dari perkataannya sesuatu yang diperlukan dalam konteksnya, dan kenyataannya tidak demikian, karena sesungguhnya Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Salman dan Abu Tsa’labah dalam menetapkan sifat diam, dan mengisyaratkan kepada perkataan para fuqaha dalam dalālah (penunjukan) yang diucapkan dan yang didiamkan, kemudian dia mengatakan ungkapan yang saya sebutkan darinya, kemudian dia berkata: “Akan tetapi diam kadang dari berbicara, dan kadang dari menampakkan kalam”, kemudian dia menjelaskan itu dengan memberikan dalil untuk makna diam bukan dalam sifat Allah Taala, melainkan dalam keumuman kalam, kemudian dia menyebutkan bahwa kedua makna diam itu tidak benar menurut perkataan orang yang tidak berkeyakinan dengan keterikatan kalam-Nya Taala dengan kehendak dan pilihan-Nya.
Dan semua ini tidak berkepentingan bagi kita; karena ia tidak dalam posisi menetapkan diam sebagai sifat, sungguh ia telah selesai dari itu dengan apa yang saya sebutkan darinya, dan melainkan ia dalam posisi mendiskusikan perkataan orang yang tidak memandang keterikatan kalam-Nya Taala dengan kehendak dan pilihan-Nya, dan “Al-Fatawa” dalam jangkauan semua orang, maka hendaknya yang mau meninjaunya.
Yang ketiga: Telah sampai kepada saya dari syaikh yang mulia lainnya klaimnya bahwa saya mengutip dari perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab saya ini dan tidak menyebutkan namanya dengan memberikan kesan bahwa itu dari perkataan saya.
Dan saya katakan: Ini adalah klaim yang zalim, karena saya dalam kitab ini tidak menggunakan kitab-kitab Ibnul Qayyim sebagai rujukan kecuali sedikit, dengan mengandalkan nukilannya dari sebagian ulama, dan telah saya cantumkan itu dalam catatan kaki kitab saya, dan saya sebutkan sumber saya.
Dan saya, Allah Yang Maha Mengetahui, tidak pernah bermaksud dalam sesuatu pun dari kitab-kitab saya atau tahqiq-tahqiq saya untuk mengutip perkataan salah seorang dari ahli ilmu dan tidak menyebutkan namanya, akan tetapi karena banyaknya apa yang saya baca dari sebagian imam seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah misalnya, maka sesungguhnya sebagian ungkapan-ungkapan mereka mungkin melekat di pikiran saya, dan saya tidak mengingat ketika menulis bahwa itu milik si fulan, baik secara spesifik maupun umum, maka masuk dalam susunan saya, dan ini adalah perkara yang luas dalam penulisan ilmu, dan tidak ada seorang imam pun dari imam-imam kita yang kita ikuti dan kita teladani kecuali dia memiliki hal seperti itu yang banyak, dan ini tidak kembali dengan tuduhan terhadap mereka, dan ini bukan aib, dan berdusta dalam ilmu siapa yang mengklaim bahwa seperti itu tidak terjadi padanya jika ia sibuk dengan penulisan.
Ini dalam hal lafazh-lafazh.
Adapun makna-makna, maka kita hampir tidak berbicara dengan sesuatu yang belum pernah didahului, akan tetapi kita berijtihad dalam menyusunnya. Dan sesungguhnya pengkhianatan dalam ilmu adalah mengutip kalam yang jelas dan terpisah dan yang tidak masuk padanya penyusunan penulis tanpa menisbatkan kepada yang mengatakannya.
Dan sesungguhnya sangat menyedihkan saya bahwa saya mendapati meluasnya hal itu pada banyak penulis dan penyusun kitab dahulu maupun sekarang.
Dan berhadapan dengan mereka -sayang sekali- sekelompok yang membawa mereka dalam kebanyakan permusuhan-permusuhan khusus untuk melacak aib-aib lawan-lawan mereka dari para penulis, maka mereka berlebihan hingga mereka menghitung nukilan yang dicantumkan sumbernya jika banyak sebagai pencurian, dan ini adalah kezaliman dan ketidakadilan; karena sesungguhnya pencantuman sumber kalam kepada yang mengatakannya membebaskan niat dan tidak mengaburkan kepada pembaca.
Ini adalah gambaran umum apa yang sampai kepada saya dari bentuk-bentuk kritik terhadap kitab saya, dan sungguh telah Anda ketahui apa yang ada di dalamnya, dan segala puji dan nikmat bagi Allah.
Dan ini adalah cetakan baru darinya, yaitu yang kedua, setelah habisnya naskah-naskah cetakan pertamanya, dan banyaknya desakan untuk memintanya, dan telah saya perbaiki di dalamnya sebagian kekurangan penyusunan di tempat-tempat yang sedikit yang terjadi dalam terbitan sebelumnya, kecuali muqaddimah; maka sungguh telah saya perbaiki di dalamnya sebagian susunan, dan saya tambahkan sedikit dengan apa yang merealisasikan maksud dan meluruskan perkataan.
Dan patut untuk diperingatkan bahwa saya tidak mengizinkan untuk menerbitkan kitab saya ini untuk kepentingan pihak mana pun; kecuali dengan izin tertulis yang tegas dari saya, dan tidak pernah dikeluarkan sebelumnya dengan izin saya kecuali satu cetakan, di belakang sampulnya terdapat ungkapan (dicetak di percetakan Dar As-Siyasah – Kuwait).
Dan telah meminta izin kepada saya untuk memfotokopi sebagian saudara Salafiyyin di Mesir dan Iskandariyah melalui salah seorang kawan, maka saya sebutkan bahwa kita sedang dalam proses menerbitkan kembali penerbitan baru, maka janganlah saudara-saudara terburu-buru dengan hal itu, maka saya terkejut setelahnya dari kawan ini bahwa mereka telah memfotokopi kitab dan menjualnya dengan harga biaya karena kebutuhan mendesak mereka kepadanya, maka saya tidak senang dengan apa yang mereka lakukan, dan tidak saya suka dari mereka hal itu, akan tetapi takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan, dan sesungguhnya saya melarang keras mereka dan selain mereka perbuatan seperti ini tanpa syarat yang telah disebutkan.
Dan ini cetakan kedua, saya memohon kepada Allah Taala agar Dia memberkahi di dalamnya lebih dari yang sebelumnya, dan agar Dia menuliskan untuk saya dengan itu penerimaan di sisi-Nya dan orang tua saya dan keluarga saya, Dia Yang dimintai pertolongan dan kepada-Nya tempat bertawakal.
Britania – Leeds Pada 1 Muharram Al-Haram 1415 H Bertepatan dengan 11/6/1994 M
Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Isa Al-Yaqub Al-Judai’
Mukadimah Buku
Segala puji bagi Allah; kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang berlimpah kepadanya.
Amma ba’du…
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya karunia yang paling agung, yaitu mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menjelaskan kepada mereka jalan-jalan yang diridhai-Nya, dan membimbing mereka dengan ajaran itu menuju jalan yang lurus. Para hamba tidak dapat lepas dari nikmat ini, karena tanpa nikmat ini mereka akan diserahkan kepada akal dan hawa nafsu mereka. Seandainya demikian halnya, niscaya mereka akan tersesat dari jalan yang benar, dan tidak mungkin ada seorang makhluk pun yang dapat mengetahui mana yang haram dan mana yang halal, tidak pula mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak mengenal pahala dan siksa, tidak mengenal kebangkitan dan hisab, tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, tidak dapat membedakan antara kekufuran dan keimanan, tidak dapat membedakan antara orang yang menyembah iblis dengan orang yang menyembah Ar-Rahman. Dengan demikian, penciptaan makhluk akan menjadi sia-sia tanpa hikmah di baliknya, dan pengertian ini tidak pantas bagi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahasuci Allah, Raja Yang sebenarnya, tidak ada tuhan selain Dia, Rabb yang memiliki ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 115-116), “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36), “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.” (Shaad: 27).
Maka para rasul adalah hakim bagi kaum mereka dengan syariat-syariat yang diwahyukan kepada mereka, karena merekalah yang menjadi perantara antara Rabb Yang Mahatinggi dengan seluruh makhluk-Nya, menyampaikan risalah-risalah Rabb mereka, dan meluruskan perilaku kaum mereka.
Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal tidak menyerahkan pelurusan perilaku kepada akal manusia semata, tetapi menjadikan akal sebagai alat untuk memahami kehendak Rabb-nya Yang Mahatinggi. Maka akal adalah pengikut wahyu Allah dan syariat-Nya, tidak memiliki hak untuk memulai dan menetapkan hukum serta syariat secara mandiri.
Makna inilah yang dipahami oleh para rasul dan pengikut mereka, sehingga mereka berada di atas jalan yang lurus. Namun beberapa golongan manusia menolak hal ini, sehingga mereka keluar dari jalan para rasul dan menyimpang dari kebenaran yang nyata.
Sungguh Rabb kita Yang Mahatinggi telah mengaitkan keselamatan, keberuntungan, dan kemenangan dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya:
Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (An-Nur: 51-52)
Dan sebagaimana firman-Nya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa: 69). Dan sebagaimana firman-Nya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa: 13-14).
Dan sebagaimana firman-Nya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 71).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah yang menolak? Beliau bersabda: “Barangsiapa yang mentaatiku akan masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah menolak.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku diutus dengannya oleh Allah adalah seperti seorang laki-laki yang datang kepada kaumnya lalu berkata: Wahai kaumku! Sesungguhnya aku telah melihat dengan mataku sendiri pasukan musuh, dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang telanjang (yang sangat mendesak); maka selamatkanlah diri kalian! Maka ada segolongan dari kaumnya yang mentaatinya, mereka berangkat di malam hari dengan tenang dan selamat. Sementara segolongan lain mendustakannya, mereka tetap berada di tempat mereka hingga pagi hari, lalu pasukan musuh menyerang mereka dan membinasakan serta memusnahkan mereka. Demikianlah perumpamaan orang yang mentaatiku dan mengikuti apa yang aku bawa, dan perumpamaan orang yang mendurhakaiku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa.”
Maka ada dua jalan: mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentaatinya, atau mengikuti hawa nafsu, dan tidak ada jalan ketiga. Barangsiapa tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia pasti mengikuti hawa nafsu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Shaad: 26).
Maka mengikuti akal murni tanpa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah mengikuti hawa nafsu, dan penyimpangan dari jalan yang lurus.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153).
Maka jalan yang lurus itu hanya satu, sedangkan penyimpangan darinya bercabang-cabang menjadi jalan-jalan yang bermacam-macam. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan hal itu dengan sebaik-baik gambaran dan dengan ungkapan yang paling baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus untuk kami, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang bercabang-cabang, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
Sungguh umat ini mendapat rahmat pada awal masa mereka, Allah menyatukan mereka dalam petunjuk, mempersatukan hati anggota-anggotanya, dan melindungi mereka dari hawa nafsu, karena mereka istiqamah dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mengenal selain mengikuti beliau, memuliakan beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersama beliau, dengan berserah diri kepada kebenaran yang dibawanya. Mereka tidak memiliki perkataan bersama perkataan beliau, dan tidak ada penolakan terhadap hukumnya.
Benar kata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika berkata: “Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, maka Dia mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Dia melihat hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Dia mendapati hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Dia menjadikan mereka sebagai para pembantu nabi-Nya, mereka berperang untuk agama-Nya. Maka apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin (para sahabat), itulah yang baik di sisi Allah, dan apa yang mereka anggap buruk, itulah yang buruk di sisi Allah.”
Maka datanglah setelah mereka generasi pengganti yang tidak puas dengan wahyu Allah dan syariat-Nya. Mereka melihat ada kebutuhan untuk perbaikan, penambahan, dan pengurangan. Mereka mempraktikkan akal dalam wahyu yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), dan mengkritik hukum-hukum dari Dzat Yang Mahahidup lagi Berdiri Sendiri. Mereka memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, maka jalan-jalan pun bercabang-cabang membawa manusia, dan terjadilah apa yang ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umatnya yaitu para pemimpin yang menyesatkan:
Sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” Dan sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian adalah syahwat kesesatan pada perut dan kemaluan kalian, serta penyesatan hawa nafsu.”
Maka terjadilah perselisihan dan semakin besar dalam umat ini. Kebanyakan mereka berpaling dari Al-Qur’an, sementara yang lain membenturkan ayat-ayatnya satu sama lain, dan mereka membantah dengan kebatilan untuk menolak kebenaran. Iblis memperindah hal itu dalam pandangan mereka sehingga mereka menganggapnya baik, dan mereka mengiranya sebagai inti akal dan keistiqamahan.
Sungguh Nabi yang ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang keadaan umat setelahnya, dan menunjukkan jalan keselamatan dan keamanan:
Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh bersama kami pada suatu hari, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat yang sangat mengena, hingga air mata bercucuran dan hati gemetar karenanya. Seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka apa yang engkau pesankan kepada kami? Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Maka beliau mengabarkan bahwa umatnya akan berselisih setelahnya dengan perselisihan yang besar, dan perselisihan itu tidak lain disebabkan oleh bid’ah dan hawa nafsu yang masuk ke dalam umat.
Beliau juga mengabarkan bahwa jalan keluar dari hal itu adalah dengan berpegang teguh pada sunnahnya dan sunnah khulafa rasyidin setelahnya, karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.
Beliau memperingatkan dari jalan orang-orang yang berpecah belah dan berselisih, yaitu ahli hawa nafsu dan bid’ah.
Seandainya ada jalan keselamatan lain selain yang disebutkan ini, niscaya beliau akan menunjukkannya kepada umatnya dan membimbing mereka kepadanya, karena sifat yang telah digambarkan Allah Ta’ala tentang beliau dalam firman-Nya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128). Maka dalam hal ini terdapat hujjah bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan mengikuti sunnah dan jalan salaf, serta meninggalkan bid’ah dan jalan khalaf.
Sungguh beliau telah mengabarkan kepada kita tentang perpecahan umat ini setelahnya, dan menunjukkan golongan ahli kebenaran agar dicontoh jejaknya. Beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa orang-orang Ahli Kitab sebelum kalian terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan di neraka, dan satu golongan di surga, yaitu Al-Jama’ah. Dan sesungguhnya akan keluar dari umatku kaum-kaum yang diombang-ambingkan oleh hawa nafsu seperti anjing gila yang menyerang pemiliknya (atau: menyerang dengan pemiliknya), tidak tersisa darinya urat maupun persendian kecuali dimasukinya.”
Sesungguhnya kejahatan golongan-golongan ini menjadi besar karena apa yang mereka lakukan dengan keluar dari syariat, yaitu menyelami ayat-ayat Allah tanpa kebenaran, berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan mengubah kalam dari tempatnya. Dengan demikian mereka menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mereka ridha bagi diri mereka sendiri dengan manhaj-manhaj yang berasal dari akal mereka dan didiktekan oleh hawa nafsu mereka. Allah menjaga golongan ahli kebenaran dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang dibawanya, dan apa yang menjadi jalan Al-Jama’ah yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka melihat kesesatan golongan-golongan lain dan keluarnya mereka dari manhaj para sahabat yang mulia, yang merupakan orang-orang yang paling mengetahui tentang apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling jauh dari perkara-perkara bid’ah. Maka Allah mengangkat bendera Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan golongan ini, dan menumpas ahli bid’ah dengan mereka. Mereka menampakkan dalil-dalil wahyu yang suci, menjelaskannya dengan pemahaman yang benar, dan melesatkannya sebagai anak panah kepada para pembid’ah dalam masalah ushul dan furu’. Mereka tidak memiliki teladan kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada golongan yang mereka ikuti kecuali Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan tidak ada garis yang mereka tempuh kecuali garis salaf mereka yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dengan demikian mereka adalah manusia yang paling lurus jalannya dan paling baik caranya.
Sungguh di antara perkara paling besar yang terjadi perselisihan di dalamnya adalah apa yang diada-adakan oleh para pembid’ah berupa menyelami dzat Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Bahkan ini adalah perkara paling besar dari fitnah-fitnah yang menimpa umat ini. Maka terjadilah ilhad (penyimpangan) beberapa golongan dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pendustaan terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolakan terhadap apa yang pasti dari syariat para rasul, yang menimbulkan kejahatan besar dan kerusakan yang dahsyat.
Di antara masalah paling khusus yang percarannya terbang di kalangan umat dan bahayanya menjadi besar di kalangan manusia adalah apa yang diada-adakan oleh Al-Jahmiyyah -golongan paling sesat yang keluar dari ahli kebenaran- berupa mensifati Allah Ta’ala dengan kekurangan-kekurangan, dan meniadakan sifat-sifat kesempurnaan yang ditetapkan-Nya untuk diri-Nya sendiri dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk-Nya, lebih parah daripada apa yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani.
Di antara yang paling menonjol dari hal itu adalah keyakinan mereka bahwa tidak ada kalam (perkataan) bagi Allah secara hakiki. Mereka menyamakan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat memberi jawaban kepada penyembahnya, tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat bagi mereka.
Mereka menginginkan dengan hal itu untuk membatalkan risalah, karena para rasul diutus hanya untuk menyampaikan risalah-risalah Allah. Ketika tidak ada kalam bagi Allah, maka tidak ada wahyu bagi-Nya, karena yang diwahyukan hanyalah kalam dan syariat-Nya. Dan jika tidak ada wahyu bagi-Nya, maka rasul itu rasul dari siapa? Dan apa yang diwahyukan kepadanya itu wahyu dari siapa?
Karena besarnya bahaya masalah ini, khususnya bid’ah-bid’ah di dalamnya telah bercabang-cabang dan banyak, sedangkan agama Islam berdiri di atas kebenaran akidah dalam masalah ini, maka aku memandang perlu untuk membahasnya secara khusus dari antara seluruh masalah akidah dalam buku ini.
Yang menegaskan hal itu bagiku adalah apa yang masuk ke dalam umat -karena pengelabuan ahli bid’ah- berupa meremehkan masalah berbahaya ini, bahkan mengabaikannya, padahal bid’ah memiliki tokoh-tokoh yang masih kita lihat menyebarkan apa yang bertentangan dengan akidah yang benar dan menyebarkannya, serta menyeru kepadanya di kebanyakan negeri kaum muslimin. Kami melihat kebanyakan saudara-saudara kami para da’i di dunia Islam belum memahami bahaya perkara ini. Mereka meremehkan ahli bid’ah, bahkan sebagian dari mereka membela mereka, bahkan sebagian menganggap masalah-masalah ini sebagai masalah sekunder, bahkan yang lain mengira bahwa masalah ini, bahkan umumnya apa yang berkaitan dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, bukan lagi termasuk masalah yang berbahaya. Pada kenyataannya ada masalah lain yang lebih pantas untuk diperhatikan daripadanya. Bahkan sebagian orang berkata: Sungguh telah berlalu masa Mu’tazilah dan fitnah yang dialami oleh Imam Ahmad, sedangkan kaum muslimin sekarang menghadapi jenis-jenis fitnah lain… dan semacam itu dari pengelabuan-pengelabuan yang dilontarkan setan melalui lidah-lidah mereka.
Dan mereka lalai dari kenyataan bahwa mengetahui apa yang berkaitan dengan nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya termasuk dari pokok-pokok ajaran yang Allah utus para rasul-Nya untuk menyampaikannya, dan menurunkan kitab-kitab-Nya dengannya. Dan fitnah-fitnah yang terjadi karena ulah ahli bid’ah tidaklah memunculkan jenis keyakinan semacam ini, namun justru mengingatkan dan menggerakkan ahli kebenaran untuk menghadapi kebatilan, maka mereka menghadapi para ahli bid’ah dengan hujah-hujah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan dengan pendapat-pendapat yang baru muncul dan pemikiran-pemikiran yang rusak. Karena sesungguhnya dalil-dalil atas keyakinan mereka dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah ada sebelum mereka ada untuk menetapkan keyakinan mereka. Dan tidaklah sepatutnya bagi Ahlus Sunnah yang mengikuti Salaf untuk membuat pokok-pokok ajaran baru yang tidak datang dalam Kitabullah maupun Sunnah. Seandainya mereka melakukan itu, maka dengan apa mereka membedakan diri dari golongan-golongan lainnya?
Dan aku berkata kepada orang-orang ini: Apa sebenarnya yang kalian anggap lebih penting untuk dipelajari daripada mempelajari pokok dari segala pokok, yaitu mengenal Rabb Ta’ala, fondasi yang terkait dengannya penerimaan setiap amal, dan di atasnya berdiri keselamatan agama? Perbaikilah pokok-pokok ajaran terlebih dahulu, kemudian beralihlah kepada cabang-cabangnya.
Dan ketahuilah bahwa sebab terbesar terjadinya hal semacam itu adalah ketidaktahuan terhadap keyakinan Salaf, dan bahwa orang-orang ini—atau banyak dari mereka—ketika melihat kitab-kitab kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah serta sebelum mereka kaum Mu’tazilah, dan apa yang penuh di dalamnya dari metode-metode ilmu kalam dan pendekatan-pendekatan filsafat untuk menetapkan keyakinan-keyakinan mereka, mereka menyangka ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah. Dan yang menegaskan hal itu adalah mereka melihat golongan-golongan ini para pengikutnya menisbatkan diri kepada Sunnah, khususnya kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan mereka menyebutkan keyakinan-keyakinan mereka seolah-olah itu adalah keyakinan Ahlus Sunnah. Demikian juga ketika mereka melihat sebagian orang-orang mulia terjatuh dalam menyepakati keyakinan-keyakinan itu, mereka berkata: Bagaimana mungkin keyakinan-keyakinan ini bid’ah sedangkan ini adalah keyakinan orang-orang besar ini?! Mereka lalai dari prinsip dasar dalam hal itu: “Kebenaran tidak dikenal melalui orang-orangnya, kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal pengikutnya.”
Maka kepada orang-orang ini kami katakan: Keyakinan Salaf dan para imam tidaklah seperti yang kalian sangka, dan orang-orang yang kalian sangka sebagai Ahlus Sunnah pengikut Salaf itu tidaklah demikian. Dan apa yang ada dalam kitab-kitab mereka berupa ilmu kalam dan perdebatan, itu bukanlah dari metode Salaf. Maka berhati-hatilah jangan sampai kebenaran-kebenaran terbalik pada diri kalian sehingga kalian menyangka kebatilan sebagai kebenaran. Ilmu yang wajib bagi makhluk telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perkataan-perkataan Salaf dengan penjelasan yang paling baik dan paling mudah. Seandainya kalian meneliti hal itu, niscaya kalian akan menemukannya. Karena tidaklah sama orang yang mengatakan: “Kami berkeyakinan demikian, kami menetapkan demikian, dan kami menafikan demikian karena firman Allah dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,” dengan orang yang mengatakan: “Kami berkeyakinan demikian atas keyakinan Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi,” atau si fulan dan si fulan. Maka orang-orang akan memahami bahwa keyakinan mereka adalah yang benar, dan karenanya pengikut-pengikut mereka dinamakan “Ahli Kebenaran” dan “Ahlus Sunnah” serta berbagai gelar dan sifat lainnya. Maka kebenaran menurut orang awam adalah apa yang keluar dari jalan mereka, dan selain itu adalah kebatilan.
Dan kami tidak menuntut kalian kecuali untuk memaparkan keyakinan-keyakinan golongan-golongan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar-atsar yang sahih dari Salaf. Sebagaimana kalian telah meneliti keyakinan-keyakinan Rafidhah dan Khawarij dan semisalnya, maka telitilah semua keyakinan yang dinisbatkan kepada orang-orang atau golongan-golongan tertentu, sehingga Al-Qur’an dan As-Sunnah yang memutuskan tentangnya sesuai dengan metode Salaf dari para sahabat dan pengikut-pengikut mereka.
Dan ketahuilah bahwa setiap gelar atau sifat untuk suatu golongan atau kelompok tidak sah untuk ditetapkan atas golongan lain sampai syariat menetapkannya. Dan jika taklid tercela dalam cabang-cabang masalah, maka lebih layak lagi tercela dalam pokok-pokoknya.
Dan semoga dengan ini engkau menyadari pentingnya ijtihad untuk mengetahui hakikat keyakinan Salafi, untuk membedakan antara keyakinan itu dengan keyakinan-keyakinan para ahli bid’ah.
Dan semoga hal itu lebih mendorongmu untuk mencari pengetahuan tentang keyakinan yang benar, mengingat apa yang tersebar dan menyebar di negeri-negeri kaum muslimin berupa keyakinan-keyakinan ahli penyimpangan, yang menampakkan diri secara palsu atau karena kelalaian dengan menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah. Dan kitab-kitab mereka ditetapkan untuk dipelajari di lembaga-lembaga dan universitas-universitas kaum muslimin seolah-olah apa yang ada di dalamnya adalah keyakinan Ahlus Sunnah, sebagaimana yang telah kami lihat dan kami alami. Telah ditetapkan untuk kami pada awal masa menuntut ilmu saat kami masih belia untuk mempelajari “Syarh al-‘Aqa’id an-Nasafiyyah” karya Sa’d at-Taftazani. Dan kami ketika itu belum mengenal keyakinan Salaf, tetapi Allah Ta’ala menganugerahi kami dengan seorang syaikh yang mulia yaitu guru kami Abu Umar Adil ibn Kayid al-Bashri rahimahullah, maka beliau menjelaskan kepada kami keyakinan Salaf, dan mengingatkan kami tentang keyakinan-keyakinan Maturidiyah yang kami hadapi yang menyalahi keyakinan Ahlus Sunnah. Bagaimana mungkin disangka bahwa para pelajar tumbuh di universitas atau lembaga dengan menerima keyakinan dari seorang pembid’ah?! Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Dan kitabku ini yang ada di hadapanmu adalah untuk mengingatkan tentang bahaya bid’ah dan ahlinya, serta memberi pemahaman tentang keyakinan Salafi yang benar, sebagaimana yang akan engkau lihat dijelaskan secara lengkap, insya Allah.
Dan di antara hal terbesar yang mendorongku untuk menyusunnya adalah apa yang aku lihat dari banyak saudara-saudara kami yang bingung dalam urusan ahli bid’ah, khususnya kaum Asy’ariyah yang kita diuji dengan mereka pada zaman ini. Salah seorang dari mereka datang ke universitas-universitas Islam atau lainnya dengan menutupi bid’ah dan kesesatannya, lalu dia mengelabui para pelajar yang sedang belajar, bahkan orang awam kaum muslimin. Bahkan mungkin mereka mengarang karangan-karangan dan menyebarkan buku-buku, dan di dalamnya racun-racun mereka yang merusak keyakinan Salafiyah dengan sangat parah. Sedangkan saudara-saudara kami dalam kebingungan: Apakah kaum Asy’ariyah termasuk Ahlus Sunnah? Ataukah termasuk ahli bid’ah? Mereka terkecoh dengan apa yang mengacaukan mereka yang dilakukan banyak orang bahwa di kalangan Asy’ariyah ada para imam seperti si fulan dan si fulan, maka bagaimana sah menyifati mereka dengan bid’ah?!
Maha Suci Allah! Al-Harits al-Muhasibi dikenal dengan ilmu, kezuhudan, dan ibadahnya, namun demikian imam Ahlus Sunnah Ahmad ibn Hanbal berbicara tentangnya, menjauhinya, dan memperingatkan darinya karena bid’ahnya. Dan kami telah mengungkap dalam kitab kami ini tentang beberapa tokoh seperti Abu Bakar al-Baqillani dan lainnya, mereka menyatakan dengan jelas apa yang mengeluarkan mereka dari kelompok Ahlus Sunnah, meskipun mereka dikenal dengan ilmu dan keagamaannya. Dan petunjuk salaf kami dalam hal itu tetap terkenal, dan perkataan mereka di dalamnya tetap diingat, dalam memperingatkan dari bid’ah dan ahlinya, untuk menjaga keyakinan dan syariat.
Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan keadilan dan pertimbangan yang adil. Dan di antara yang paling besar dari hal itu adalah membedakan antara ahli bid’ah dan Ahlus Sunnah, agar diketahui golongan ahli kebenaran sehingga diikuti, dan diwaspadai golongan-golongan ahli bid’ah sehingga dijauhi. Dan kebenaran tidak ada berpihak dan tidak ada kompromi dengan siapa pun, siapa pun dia. Dan kedudukan keyakinan lebih mulia dari setiap kedudukan, karena dengan kebenarannya kebaikan dunia dan akhirat menjadi baik.
Peringatan tentang Masalah-masalah yang Diperlukan Sebelum Masuk ke Pembahasan Pokok
Masalah Pertama:
Dari pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah: bahwa akal semata tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan sesuatu dari keyakinan-keyakinan dan hukum-hukum. Rujukan dalam hal itu hanyalah kepada sam’ (dalil naqli) yang diriwayatkan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan akal adalah alat untuk memahami.
Imam Abu al-Muzaffar as-Sam’ani berkata: “Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah adalah bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu atas seseorang, dan tidak menghilangkan sesuatu darinya, dan tidak memiliki bagian dalam menghalalkan atau mengharamkan, tidak pula dalam membaguskan atau memburukkan. Seandainya sam’ tidak datang, niscaya tidak wajib atas seseorang sesuatu pun, dan mereka tidak masuk dalam pahala maupun siksa.”
Dan dia berkata: “Ahlus Sunnah berkata: Dasar dalam agama adalah mengikuti, dan yang masuk akal adalah tabi’ (pengikut). Seandainya fondasi agama berdasarkan yang masuk akal, niscaya makhluk tidak membutuhkan wahyu dan para nabi, dan batallah makna perintah dan larangan, dan berkatalah siapa saja yang mau apa yang dia mau.”
Dan ketahuilah bahwa dari sam’ ada yang ma’qul (dapat dipahami akal) yang memungkinkan bagi hamba-hamba untuk meliputi ilmu tentangnya, dan ada yang bukan ma’qul yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk meliputi ilmu tentangnya. Mengikuti dan taslim (menyerahkan diri) dalam semuanya adalah wajib, karena ia adalah ilmu yang tidak datang kebatilan kepadanya, dan tidak ada jalan bagi setan atasnya.
Dari Abdullah ibn Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Sungguh aku dan saudaraku pernah duduk di suatu majelis yang aku tidak menginginkan sesuatu menggantikannya meskipun unta-unta merah. Aku dan saudaraku datang, dan ternyata para sesepuh dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di dekat salah satu pintu rumahnya. Kami tidak suka memisahkan mereka, maka kami duduk agak menjauh. Ketika mereka menyebutkan satu ayat dari Al-Qur’an, lalu mereka berbeda pendapat tentangnya, hingga suara-suara mereka meninggi. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam keadaan marah, wajahnya memerah, melempar debu kepada mereka, dan berkata: “Pelan-pelan wahai kaum! Dengan ini binasa umat-umat sebelum kalian, karena perselisihan mereka terhadap para nabi mereka, dan membenturkan kitab-kitab sebagiannya dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan agar sebagiannya mendustakan sebagian yang lain, tetapi sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Maka apa yang kalian ketahui darinya, amalkanlah. Dan apa yang kalian tidak ketahui darinya, kembalikanlah kepada Yang Mengetahuinya.”
Imam Ahmad berkata: “Dan kami mengembalikan Al-Qur’an kepada Yang Mengetahuinya Tabaraka wa Ta’ala, kepada Allah, maka Dia lebih mengetahuinya.”
Dan keyakinan Salafiyah ini menyelisihi metode ahli bid’ah. Karena menurut mereka, akal mereka adalah yang menetapkan dan menafikan, sedangkan sam’ dipaparkan kepadanya. Jika sesuai dengannya diterima, dan jika bertentangan dengannya ditolak dan dibuang. Dan inilah sebab terbesar kesesatan yang masuk ke umat ini.
Dan benar as-Sam’ani ketika berkata: “Maka mereka telah menjadikan akal-akal mereka sebagai pendakwah kepada Allah, dan menempatkannya di posisi para rasul di antara mereka. Seandainya seseorang berkata: Tiada tuhan selain Allah, akalku adalah Rasulullah, tidak akan mengherankan menurut para ahli kalam dari segi maknanya.”
Aku berkata: Dan tidaklah bid’ah-bid’ah banyak di umat ini dan menyebar kecuali dengan mendahulukan akal atas apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya dan melengkapinya, dan tidak meninggalkan kekurangan untuk disempurnakan oleh para pemilik pemikiran-pemikiran, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (Al-Ma’idah: 3). Maka barangsiapa menambahi dengan akalnya atas syariat, maka sesungguhnya dia menambahi atas Rabb-nya. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah memutuskan, tidak ada yang dapat membatalkan keputusan-Nya” (Ar-Ra’d: 41), dan berfirman: “Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih, tidak ada pilihan bagi mereka” (Al-Qashash: 68).
Maka apabila ilmu tentang ini telah menetap dalam hati-hati ahli iman, mereka berakal bahwa mereka telah dicukupi, dan syariat tidak meninggalkan bagi mereka apa yang harus mereka bersusah payah untuk menetapkannya. Tidak lain hanyalah mengikuti dan meninggalkan bid’ah, sebagaimana perkataan Abdullah ibn Mas’ud: “Ikutilah dan jangan membuat bid’ah, karena kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Maka inilah salah satu pokok dari pokok-pokok yang dengannya Ahlus Sunnah berbeda dengan para ahli bid’ah.
Masalah Kedua:
Penamaan yang dilakukan oleh golongan ahli bid’ah terhadap ilmu tauhid—yang merupakan ilmu paling mulia dan paling suci—dengan sebutan “ilmu kalam” adalah termasuk kezaliman yang paling besar dan kebatilan yang paling nyata.
Hal itu karena sumber ilmu tauhid adalah wahyu yang terjaga dari kesalahan, sedangkan sumber ilmu kalam adalah perdebatan yang tercela. Mana mungkin yang satu ini sama dengan yang lainnya?
Sesungguhnya apa yang diada-adakan oleh golongan ahli bid’ah berupa perdebatan dan pertengkaran, yang mereka klaim sebagai metode terbaik untuk mengenal Allah Taala dan agama Islam, yang murni dari akal-akal mereka yang tidak berdiri di atas manhaj Rasul shallallahu alaihi wasallam, melainkan berdiri di atas pendapat Jahm dan cara Bisyr bin Ghiyats, yang diambil dari cara Ahli Kitab dan dari pendapat penyembah bintang-bintang, yang telah memfitnah orang-orang mukmin dan mukminat dengannya, adalah yang mereka namakan dengan “ilmu kalam”. Ilmu tersebut diambil alih dari mereka oleh Ibnu Kullab, Al-Asy’ari, Abu Manshur Al-Maturidi, dan orang-orang semacam mereka dari kalangan ahli bid’ah, lalu mereka menghiasinya dengan sebagian dalil-dalil sam’iyyah (nash), kemudian mereka keluarkan kepada manusia seolah-olah itu adalah ilmu tauhid. Mereka pun mulai mengatakan: ilmu kalam adalah ilmu tauhid, dan ia adalah ilmu yang paling mulia, karena berkaitan dengan Dzat Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Dan dengan makna inilah ia diajarkan hari ini di sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan universitas-universitas kaum muslimin, kecuali yang diselamatkan oleh Allah.
Namun, segala puji bagi Allah, Allah Taala telah mengalirkan di lisan mereka bukti pembebasan diri mereka dari tauhid Rasul shallallahu alaihi wasallam. Maka engkau akan melihat mereka berkata tentang peletak dasar ilmu ini: peletaknya adalah Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Dan ini adalah pengakuan yang adil dari diri mereka sendiri; karena sesungguhnya mereka hanya mengesakan Allah dengan perdebatan Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, bukan dengan mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam dan salaf umat.
Dan ketahuilah—semoga Allah memberimu taufik—bahwa para salaf adalah orang-orang yang paling keras menjauh dan memperingatkan dari ilmu kalam dan para ahlinya.
Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Para ulama salaf dari kalangan Ahlus Sunnah sepakat untuk melarang perdebatan dan pertengkaran dalam masalah sifat-sifat Allah, dan untuk mencegah pendalaman ilmu kalam dan mempelajarinya.”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Sungguh jika seorang hamba diuji dengan semua yang Allah larang selain syirik, itu lebih baik baginya daripada ilmu kalam. Dan sungguh aku telah melihat dari para ahli kalam sesuatu yang aku tidak pernah menyangka bahwa seorang muslim mengatakannya.”
Dan beliau berkata: “Barang siapa menampakkan fanatisme dan ilmu kalam, serta menyeru kepadanya, maka kesaksiannya tertolak. Dan sungguh jika seorang hamba bertemu Rabbnya Azza wa Jalla dengan setiap dosa kecuali syirik, itu lebih baik baginya daripada bertemu-Nya dengan sesuatu dari hawa nafsu.”
Imam Ahmad rahimahullah berkata kepada Al-Mu’tashim pada masa ujian (mihnah): “Aku bukan orang yang suka berdebat dan ilmu kalam, melainkan aku adalah orang yang berpegang pada atsar (riwayat) dan khabar (berita).”
Ucapan-ucapan para imam dalam hal ini tidak terhitung jumlahnya, namun ahli bid’ah—khususnya yang mengaku bersandar kepada para imam ahli fikih dalam masalah furu’—menginterpretasikan perkataan para imam dalam mencela ilmu kalam seolah-olah mereka bermaksud mencela ilmu kalam yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah!!
Subhanallah! Apakah dalam ilmu perdebatan dan ilmu kalam ada sesuatu selain yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah?! Seandainya tidak ada dalil selain pengada-adaan (bid’ah); maka cukuplah itu sebagai pertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dan juga, seandainya ia sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan telah ditunjukkan oleh dalil sam’i; maka kami tidak memasukkannya ke dalam ilmu kalam.
Dan cara ini adalah cara para salaf, karena sesungguhnya telah terjadi dari banyak di antara mereka perdebatan dengan ahli bid’ah dan bantahan terhadap mereka, namun dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka tidak keluar kepada sesuatu pun dari bid’ah sebagaimana keadaan orang-orang yang dimaksud dalam celaan terhadap ahli kalam. Para salaf tidak mengenal ilmu kalam kecuali sebagai perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada satupun nash dari kitab atau sunnah tentangnya, berbeda dengan kalian wahai golongan ahli bid’ah dari pengikut Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, yang berpura-pura bersandar kepada para imam. Karena sesungguhnya ilmu kalam kalian bukan dari jenis perdebatan salaf, melainkan dari jenis perdebatan Mu’tazilah dan para ahli bid’ah, dan kitab-kitab kalian menjadi saksi atas hal itu. Keluarnya kalian dari jalan salaf dalam kebanyakan masalah akidah dan prinsip-prinsipnya adalah termasuk dalil terbesar atas terjerumusnya kalian ke dalam ilmu kalam yang tercela, namun ini adalah tipuan yang kalian inginkan untuk menipu manusia, agar tidak dikatakan: sesungguhnya kalian telah menyelisihi salaf ketika mereka melarang ilmu kalam dan mencela-nya.
Masalah Ketiga:
Metode salaf dalam akidah dan hukum adalah metode yang paling baik, ia adalah jalan tengah, dan ia adalah yang paling berilmu, paling bijaksana, dan paling selamat, dan tidak ada di dalamnya sesuatu pun dari bid’ah. Banyak sekali aspek untuk menjelaskan makna ini; di antaranya:
- Mereka menyaksikan langsung turunnya syariat dan mengalaminya, sehingga mereka mengetahui tempat-tempat turunnya ayat, dan munculnya dalil-dalil terhadap berbagai peristiwa dan keadaan.
- Dan bahwa khitab (seruan) Pembuat syariat ditujukan kepada mereka pada asalnya, dan mereka yang dimaksud dengannya sebelum yang lainnya.
- Dan mereka adalah ahli kefasihan dan kejelasan berbahasa, dan wahyu turun dengan bahasa mereka, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka apa yang sulit bagi mereka dengan bahasa mereka.
- Dan nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan mereka dan tingginya kedudukan mereka telah mutawatir. Dan kedudukan ini tidak mereka peroleh kecuali karena keutamaan mereka dalam mendahului di jalan-jalan kebaikan.
- Dan Allah Taala telah menjadikan bagi mereka kepemimpinan dalam agama bagi orang-orang setelah mereka, dan memuji orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka. Sesungguhnya pengikut memperoleh keutamaan karena keutamaan yang diikuti; sebagaimana firman Allah Taala: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Surat At-Taubah: 100).
- Hal ini dikuatkan oleh bersihnya zaman mereka dari bid’ah, hawa nafsu, perdebatan, dan pertengkaran, dan kesungguhan mereka terhadap ilmu. Dan seorang muslim yang mengerti tidak akan ragu bahwa taufik bagi orang yang bersungguh-sungguh terhadap apa yang di dalamnya terdapat ridha Rabbnya dan ketaatan kepada-Nya, serta berpaling dari apa yang merusak hati berupa bid’ah dan hawa nafsu, adalah terjamin.
Hingga aspek-aspek lain yang menunjukkan lurus-nya jalan mereka, dan bahwa mereka adalah yang paling selamat akidahnya di umat ini, paling berilmu tentang Allah dan agama-Nya, dan paling bijaksana dalam manhaj-nya. Dan ini membatalkan perkataan sebagian orang yang meremehkan salaf dan bodoh tentang kedudukan mereka: “Metode salaf lebih selamat, sedangkan metode khalaf lebih berilmu dan lebih bijaksana.”
Tidak tersembunyi apa yang terkandung dalam perkataan ini dari kebatilan bagi orang yang mengerti akidahnya dan agamanya dari kalangan kaum muslimin; karena ia dibangun di atas pengutamaan khalaf—yang dimaksud dengan mereka menurut pembuat perkataan tersebut adalah: orang-orang yang terkenal dengan pengetahuan mereka dalam perdebatan dan ilmu kalam dan memiliki kaki yang kokoh di dalamnya—atas orang-orang terbaik umat ini, atas salaf yang mulia: para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang tidak menyibukkan diri dengan perdebatan yang batil, dan tidak dengan ilmu kalam yang tercela, dan mereka beriman kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesuai dengan kehendak Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, yang diam dari ilmu ketika mereka diam, dan berbicara dengan ilmu ketika mereka berbicara, dan yang tidak ada seorang pun yang mengenal Allah Taala seperti pengenalan mereka setelah para rasul dan nabi-nabi-Nya.
Dan aku tidak tahu bagaimana rusaknya perkataan ini bisa tersembunyi dari seseorang yang merasakan rasa ilmu, atau yang memiliki setitik wara’. Dan aku tidak melihat bagi pembuat perkataan ini kemiripan kecuali dengan Rafidhah (Syi’ah); akan tetapi karena dia adalah seorang Asy’ari—yang terbiasa dengan cara para pengikutnya menggunakan taqiyyah dalam banyak masalah—dia menghiasi perkataannya dengan mensifati metode salaf dengan keselamatan. Dan orang malang itu lengah ketika mensifati khalaf dengan ilmu dan hikmah, bahwa dia menyerupakan salaf dengan orang-orang yang tuli, bisu, yang tidak berakal; karena mereka menurut penafsiran orang pembatil ini tidak mampu meraih ilmu dan hikmah yang diperoleh oleh dia dan orang-orang sepertinya. Maka mereka membawa Al-Qur’an dan As-Sunan tetapi tidak tahu apa yang ada di dalamnya; karena mereka tidak mampu melakukan takwil (interpretasi), dan tidak terjerumus dalam ta’thil (pengosongan sifat Allah). Dan orang pembatil ini beserta orang-orang sepertinya mengarungi lautan yang di depannya para salaf berhenti, sehingga mereka mengetahui dari rahasia dan hikmah apa yang tidak diketahui oleh salaf; maka dengan ini mereka menjadi yang paling berilmu dan paling bijaksana! Subhanallah! Ilmu apa dan hikmah apa yang diperoleh oleh orang yang modalnya adalah sia-sia, perdebatan, dan perkataan yang tidak menghasilkan kecuali kerasnya hati bahkan kebingungan dan keraguan?! Karena sesungguhnya para pemimpin orang-orang ini dan tokoh-tokoh di antara mereka, yang memiliki kedudukan kokoh, seperti: Imam Al-Haramain, Asy-Syahrastani, Ar-Razi, dan Al-Amidi, menghabiskan sebagian besar umur mereka dalam kebingungan dan keraguan, dengan apa yang mereka peroleh dari pengetahuan tentang kalam dan perdebatan, dan berdebat dengan penentang mereka dari kalangan ahli hawa nafsu, sampai-sampai akhir dari salah seorang dari mereka adalah memohon kepada Rabbnya untuk mati dalam keadaan beragama seperti agama nenek-nenek tua.
Maka berpeganglah—semoga Allah merahmatimu—pada jalan salafmu yang mulia, dan berpegang teguhlah dengan jalan mereka.
Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Hendaklah engkau berpegang pada atsar (warisan) dari orang-orang yang terdahulu meskipun manusia menolakmu, dan jauhilah pendapat para lelaki meskipun mereka menghiasnya dengan perkataan; karena sesungguhnya perkara itu akan menjadi jelas dan engkau berada di atas jalan yang lurus darinya.”
Dan beliau berkata: “Maka sabarlah dirimu di atas Sunnah, dan berhentilah di mana kaum itu berhenti, dan katakanlah apa yang mereka katakan, dan diamlah dari apa yang mereka diamkan darinya, dan tempuhlah jalan salaf shalihmu; karena sesungguhnya akan cukup bagimu apa yang mencukupi mereka.”
Masalah Keempat:
Ahli bid’ah dan ilmu kalam tidak dapat membedakan akidah salaf dari yang lainnya, dan mungkin mereka tidak mengenalnya; oleh karena itu engkau akan mendapati mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka tentang akidah dan firqah (aliran-aliran) akidah semua kelompok. Dan ketika mereka menyebutkan akidah salaf, mereka tidak menyebutkannya sebagaimana adanya; karena sesungguhnya engkau akan melihat orang yang mengerti di antara mereka menggambarkan mazhab salaf dalam masalah sifat-sifat Allah bahwa mereka adalah mufawwidhah (orang-orang yang menyerahkan makna), tidak tahu apa makna sifat-sifat Allah. Dan ini adalah ketidaktahuan terhadap salaf; karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling besar pemahamannya dan perenungannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, khususnya apa yang berkaitan dengan mengenal Allah Taala. Maka mereka mengetahui makna-makna apa yang mereka baca dan mereka bawa dari ilmu, tetapi mereka tidak memaksakan diri untuk memahami hal gaib yang tersembunyi. Maka mereka tidak mendalami tentang kaifiyyat (bagaimana) sifat-sifat Allah, sebagaimana keadaan ahli kalam dan bid’ah; karena sesungguhnya orang-orang ini ketika mendalami Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya, dan terjatuh dalam takwil dan ta’thil, yang mendorong mereka kepada itu hanyalah kesempitan yang masuk kepada mereka karena tasybih (penyerupaan), maka mereka ingin lari darinya, lalu mereka terjatuh dalam ta’thil. Dan tidak terjadi ta’thil kecuali karena tasybih. Seandainya mereka mensucikan Allah Taala sejak awal—seperti yang dilakukan salaf—dari menyerupai makhluk, dan menetapkan sifat dengan menafikan kemiripan; niscaya mereka selamat dan terbebas, dan akan sesuai dengan akidah salaf, dan akan jelas bagi mereka bahwa salaf bukanlah pembawa kitab yang tidak tahu apa isi-nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menggambarkan metode salaf dalam bab akidah: “Dan barang siapa merenungkan perkataan para imam Sunnah yang terkenal dalam bab ini; akan mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling teliti dalam pemikiran, dan paling berilmu dalam bab ini, tentang shahih al-manqul (riwayat yang shahih) dan sharih al-ma’qul (yang jelas menurut akal), dan bahwa perkataan-perkataan mereka adalah yang sesuai dengan nash dan akal. Oleh karena itu mereka saling bersatu dan tidak berselisih, saling sesuai dan tidak bertentangan. Dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak memahami hakikat perkataan salaf dan para imam, maka mereka tidak mengetahui hakikat nash dan akal. Maka jalan-jalan mereka terpecah belah, dan mereka menjadi berselisih dalam Kitab, menyelisihi Kitab. Dan Allah Taala telah berfirman: ‘Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Kitab benar-benar dalam perpecahan yang jauh.’” (Surat Al-Baqarah: 176).
Dan orang-orang ini engkau lihat mereka menyebutkan mazhab yang mereka kira adalah mazhab salaf, padahal itu dari perkataan ahli bid’ah. Dan itu hanya karena ketidaktahuan mereka tentang yang diriwayatkan dari salaf. Bahkan mungkin sesuai dengan penyebutan mereka sebagian perkataan salaf, mereka mengira itu dari perkataan ahli bid’ah, maka mereka menolaknya dan mengingkarinya. Bahkan mungkin mereka mengkafirkan orang yang mengatakannya tanpa mengetahui bahwa itu adalah mazhab salaf dan akidah mereka.
Dan oleh karena itu mereka mungkin menggambarkan akidah salaf bahwa itu adalah akidah Mujassimah (antropomorfis), atau Musyabbihah (penyerupaan), atau Hasyawiyyah (hasyawiyyah).
Subhanallah! Sesungguhnya hati para ahli bid’ah itu serupa; karena sesungguhnya Jahmiyyah—pada awal perkara—dahulu menggambarkan para imam Sunnah dan yang mengikuti mereka dengan demikian. Kemudian ketika masa berlalu maka muncul Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan semacam mereka; maka sifat-sifat ini untuk Ahlus Sunnah ada di lisan mereka.
Dan sifat-sifat ini hanya dilontarkan oleh ahli bid’ah kepada Ahlus Sunnah untuk mengasingkan makhluk dari akidah salaf, dan membuat mereka tertarik kepada bid’ah mereka, khususnya karena mereka mensifati diri mereka sebagai kebalikannya bahwa mereka adalah Ahlus Sunnah.
Sesungguhnya para imam kita terdahulu telah memahami hal itu, maka mereka menjadikan salah satu ciri khas Jahmiyyah dan Zanadiqqah adalah penggambaran mereka terhadap Ahlu Sunnah dengan gambaran-gambaran seperti ini.
Imam Abu Hatim ar-Razi berkata: “Tanda orang-orang bid’ah adalah: menjatuhkan Ahlu Atsar (pengikut atsar), tanda Zanadiqqah adalah: penamaan mereka terhadap Ahlu Sunnah sebagai Hasyawiyyah (orang-orang yang hanya mengumpulkan hadits tanpa pemahaman), mereka bermaksud membatalkan atsar-atsar, tanda Jahmiyyah adalah: penamaan mereka terhadap Ahlu Sunnah sebagai Musyabbihah (penyerupaan), tanda Qadariyyah adalah: penamaan mereka terhadap Ahlu Atsar sebagai Mujabbirah (pemaksa), tanda Murji’ah adalah: penamaan mereka terhadap Ahlu Sunnah sebagai Mukhalifah dan Nuqshaniyyah, tanda Rafidhah adalah: penamaan mereka terhadap Ahlu Sunnah sebagai Nashbiyyah, dan tidak melekat pada Ahlu Sunnah kecuali satu nama saja, dan mustahil nama-nama ini menghimpun mereka.”
Aku berkata: Yang dimaksud adalah nama Ahlu Sunnah melekat pada mereka bukan nama-nama ini.
Imam al-Hafizh Ahmad bin Sinan al-Wasithi berkata: “Musyabbihah adalah orang-orang yang berlebihan sehingga melampaui hadits, adapun orang-orang yang berpegang pada hadits, mereka tidak menambah dari apa yang mereka dengar, maka mereka inilah Ahlu Sunnah, dan orang-orang yang berpegang pada kebenaran dan haq, dan mereka bukan Musyabbihah, mereka tidak menyerupakan, sesungguhnya mereka hanya beriman dengan apa yang dibawa oleh hadits, mereka adalah orang-orang mukmin yang membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan al-Kitab dan as-Sunnah.”
Maka Salaf dan para imam tidak seperti penggambaran orang-orang bid’ah ini terhadap mereka, dan bagaimana mungkin disangka demikian terhadap pembawa al-Quran, as-Sunan, dan atsar-atsar?!
Akan tetapi Ahlu Bid’ah adalah musuh-musuh sunnah, mereka ingin agar manusia berpaling dari sunnah, maka mereka mendustakan para pengikutnya.
Masalah Kelima:
Pelontaran lafazh-lafazh yang majmul (global) yang tidak terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah dalam bab-bab akidah adalah cara Ahlu Bid’ah dan bukan cara Salaf.
Telah aku sebutkan dalam buku ini beberapa pelontaran seperti ini, seperti pelontaran perkataan mereka dalam masalah lafazh dan lainnya, dan aku telah menjelaskan bahwa cara ini bukan cara Salaf, sedangkan cara Salaf sesungguhnya adalah melontarkan apa yang dilontarkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah, adapun membuat bid’ah lafazh-lafazh yang tidak terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah, maka itu bukan dari mazhab Salaf, dan para imam seperti Ahmad dan lainnya telah mengingkari pelontaran-pelontaran bid’ah yang dimunculkan oleh Ahlu Bid’ah.
Syaikhul Islam berkata: “Sesungguhnya para imam besar melarang dari pelontaran lafazh-lafazh bid’ah yang majmul dan musytabihah (samar), karena padanya terdapat pencampuran kebenaran dengan kebatilan, bersama apa yang ditimbulkannya dari kesamaran, perselisihan, dan fitnah, berbeda dengan lafazh-lafazh ma’tsur, dan lafazh-lafazh yang telah dijelaskan makna-maknanya, karena apa yang ma’tsur terjadi dengannya kebersamaan, dan apa yang dikenal terjadi dengannya pengetahuan, sebagaimana diriwayatkan dari Malik rahimahullah bahwa ia berkata: Apabila ilmu berkurang muncullah kekasaran, dan apabila atsar-atsar berkurang banyaklah hawa nafsu, maka apabila lafazh tidak dinukilkan, dan maknanya tidak dapat dipahami, muncullah kekasaran dan hawa nafsu…”
Ini beberapa peringatan yang diperlukan untuk menjelaskan apa yang mungkin musykil (problematik), atau untuk menolak kesamaran, demikian juga untuk menjelaskan manhajku secara umum dalam buku ini.
Ringkasan Rencana Penulisan Buku
Rencana yang aku tempuh dalam penulisan buku ini adalah bahwa aku merinci pembicaraan dan dalil-dalil untuk menetapkan akidah Salafiyyah dalam kalam Allah Ta’ala, dan aku adakan untuk itu bab tersendiri, yaitu Bab Pertama.
Kemudian aku membahas masalah lafazh tentang al-Quran, maka aku jelaskan dengan penjelasan yang menghilangkan kemusykilan darinya insya Allah, dengan membela dua imam Ahmad dan al-Bukhari, dan membebaskan keduanya dari apa yang dinisbahkan kepada keduanya dari hal itu, dan itu dalam Bab Kedua.
Dan dalam Bab Ketiga aku membahas akidah-akidah kelompok-kelompok bid’ah yang menisbahkan diri kepada Ahlu Qiblah, maka aku sebutkan secara global, kemudian aku beri perhatian dengan merinci bantahan terhadap Jahmiyyah Mu’tazilah, karena mereka adalah asal bencana dalam masalah ini, kemudian aku mengkhususkan satu pasal panjang untuk menguraikan akidah Asy’ariyyah dan membantah mereka, dan itu untuk menjelaskan gambaran di depan orang-orang yang tidak jelas bagi mereka keadaan mereka, mereka antara yang menisbahkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau bersepakat dengan mereka, atau memberi alasan untuk mereka.
Dan terselip dalam semua itu bahasan-bahasan umum untuk mengangkat beberapa kemusykilan dan menolak beberapa kesamaran. Dan syaratku dalam bukuku adalah tidak akan aku sebutkan untuk berdalil dan beristisyhad kecuali apa yang terbukti sanadnya kepada pengucapnya, dan aku tidak taqlid dalam hal itu, dan sesungguhnya aku mengikuti nash-nash sendiri, dan menghukuminya dengan ijtihadku.
Dan aku beri perhatian dengan perkataan-perkataan Salaf dan para imam dalam umumnya masalah-masalah jika aku menemui dengan sanad yang tsubut, dan khususnya perkataan imam Sunnah Ahmad bin Hanbal, karena sesungguhnya ia adalah imam suri teladan dalam hal itu, dan seluruh Ahlu Sunnah setelahnya bangga dengan menisbahkan diri kepada jalannya, karena itu adalah jalan Salaf yang mulia, ia uraikan dan menangnya, maka rahimahullah dan semoga Allah meridhainya dan seluruh saudara-saudaranya dari para imam.
Dan sungguh aku mendapat manfaat banyak dengan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan jalannya, bahkan sesungguhnya aku terkadang mengikuti jejaknya dalam banyak masalah, di samping apa yang aku sebutkan darinya dari nukilan dalam lipatan buku, dan di mana aku melepaskan (Syaikhul Islam), maka sesungguhnya aku maksudkan ia.
Dan sungguh aku telah menamakannya: “Akidah Salafiyyah dalam Kalam Rabb al-Bariyyah, dan Penyingkapan Kebatilan-kebatilan Ahlu Bid’ah yang Buruk”.
Dan sesungguhnya aku berharap kepada Allah Ta’ala agar ia menjadi peringatan bagi ulil albab, membangunkan mereka dari kealpaan, dan menyadarkan mereka akan bahayanya urusan Ahlu Bid’ah, dan agar mereka menghadap pada pemahaman akidah salaf mereka dan membela, karena sesungguhnya kesibukan dengan ilmu-ilmu akidah adalah amal yang paling mulia dan paling suci.
Dan kepada Allah aku memohon agar mengampuni kesalahanku, dan menerima dariku apa yang telah ditulis tanganku, sesungguhnya Dia sebaik-baik yang dimohoni, dan Dia cukup bagiku dan sebaik-baik Wakil.
Kuwait Selasa 27 Jumadal Ula 1407 H
Dan ditulis oleh Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Jadi’
BAB PERTAMA: AKIDAH SALAFIYYAH DALAM KALAM RABB AL-BARIYYAH
Dan di dalamnya tiga pasal:
= Pasal Pertama: Penjelasan hakikat kalam.
= Pasal Kedua: Akidah Salaf dalam menetapkan sifat-sifat.
= Pasal Ketiga: Penjelasan akidah Salaf dalam kalam Allah Ta’ala.
Pasal Pertama: Penjelasan Hakikat Kalam
Dan di dalamnya tiga bahasan:
= Bahasan Pertama: Hakikat kalam.
= Bahasan Kedua: Hakikat mutakallim (yang berbicara).
= Bahasan Ketiga: Jenis-jenis kalam.
Bahasan Pertama: Hakikat Kalam
Kalam dalam bahasa Arab yang dengannya al-Quran turun sebagaimana dikatakan Ibnu Faris rahimahullah: “Menunjukkan pada ucapan yang dapat dipahami, engkau katakan: kallamatahu, ukallimuhu takliman, dan dia kalimi, apabila dia berbicara kepadamu atau engkau berbicara kepadanya.”
Maka kata “ucapan” untuk menunjukkan bahwa ia adalah lafazh lisan.
Dan kata “dapat dipahami” untuk menunjukkan bahwa ia adalah makna.
Maka ia adalah lafazh dan makna.
Dan demikian juga qaul (perkataan).
Dan lafazh “kalam” dan “qaul” termasuk yang diketahui hakikatnya secara dharurat, dan tertanam dalam diri setiap yang berakal dari makhluk Allah pengetahuan tentang mahiyyah (hakikat) dua lafazh ini, karena keduanya adalah dua sifat yang melekat pada setiap yang disifati bahwa ia “mutakallim, qa’il” dan mustahil kesepakatan semua orang berakal pada kejahilan dalam membayangkan keduanya.
Maka setiap yang berakal membayangkan menyadari bahwa setiap apa yang diucapkan oleh lisan dari lafazh-lafazh yang berfaidah makna-makna maka ia adalah kalam, atau qaul.
Dan ketika pemberi kabar mengabarkan lalu berkata: “Zaid berbicara dengan begini” atau “Zaid berkata begini dan begini” pendengar membayangkan bahwa lisan Zaid melafazhkan lafazh-lafazh yang menunjukkan pada makna yang berdiri dalam diri Zaid, pendengar tidak memahami bahwa Zaid menyimpan dalam dirinya makna yang mujjarrad (abstrak), bahkan seandainya Zaid tidak melafazhkan dengan lisannya apa yang ia simpan dalam dirinya, maka pemberi kabar itu dusta dalam pengabarannya: bahwa Zaid berbicara.
Dan juga, maka sesungguhnya pendengar tidak memahami bahwa Zaid mengigau igauan yang tidak memiliki makna lalu pemberi kabar menamakannya kalam, atau qaul, dan sesungguhnya ia memahami bahwa ia berbicara dengan kalam, dan berkata dengan qaul, yang tersusun dari huruf-huruf yang merupakan lafazh-lafazh yang mengandung makna-makna.
Dan tidak dapat dipahami dengan suatu kondisi pun kalam yang terlepas dari makna, atau terlepas dari lafazh, kecuali dengan qarinah (indikasi) yang mengikutinya dengan salah satu dari dua kondisi.
Maka jelaslah dengan ini bahwa “kalam” dan “qaul” sesungguhnya dilepaskan pada apa yang berupa lafazh dan makna, bukan lafazh yang mujjarrad, dan bukan makna yang mujjarrad.
Dan aku peringatkan bahwa qaul berbeda dengan kalam dari sisi terjadinya majaz (kiasan) padanya lebih luas dari terjadinya pada kalam, akan tetapi ini bukan yang dimaksud dalam apa yang kami sebutkan, karena apa yang kami tahqiqkan sesungguhnya adalah hakikat dua lafazh bukan majaznya.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Dan umumnya apa yang terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah dan perkataan Salaf dan para imam, bahkan dan seluruh umat Arab mereka dan non-Arab mereka dari lafazh: kalam, dan qaul, dan ini adalah kalam si fulan, atau kalam si fulan, maka sesungguhnya ia ketika dilepaskan mencakup lafazh dan makna semuanya, karena mencakup keduanya, bukan hakikat pada lafazh saja -sebagaimana dikatakannya oleh suatu kaum- dan bukan pada makna saja -sebagaimana dikatakannya oleh suatu kaum- dan bukan musytarak (bermakna bersama) antara keduanya -sebagaimana dikatakannya oleh suatu kaum- dan bukan musytarak dalam kalam manusia, dan hakikat pada makna dalam kalam Allah -sebagaimana dikatakannya oleh suatu kaum-.”
Berkata Al-Hafizh Al-Imam Abu Nashr As-Sijzi rahimahullah: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara makhluk dengan berbagai aliran mereka sejak awal zaman hingga masa munculnya Ibnu Kullab, Al-Qalanisi, Al-Asy’ari, dan orang-orang sezaman mereka… bahwa kalam itu tidak lain kecuali huruf dan suara, yang memiliki susunan dan keteraturan, meskipun bahasa-bahasanya berbeda…”
Dan di antara dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran apa yang kami sebutkan adalah sebagai berikut:
- Kesepakatan seluruh umat dan golongan—kecuali sebagian ahli bid’ah seperti Ibnu Kullab—dalam menggunakan istilah “kalam” dan “qawl” untuk lafazh dan makna sekaligus, sebagaimana kami sebutkan dari As-Sijzi dan Syaikhul Islam.
- Firman Allah Ta’ala: “Tidakkah mereka melihat bahwa patung itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak (pula) dapat menunjukkan jalan kepada mereka?” (Surat Al-A’raf: 148).
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kalam yang dinafikan dari patung tersebut adalah kalam yang mencakup lafazh dan makna sekaligus, karena pembicaraan kepada mereka tidak mungkin berupa makna semata yang ada dalam diri mereka, dan tidak pula lafazh semata yang tidak menunjukkan makna.
- Firman Allah Ta’ala: “Dan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang mengatakan, ‘Allah mempunyai anak.’ Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, begitu juga nenek moyang mereka. Sungguh besar (kebohongan) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan kebohongan belaka.” (Surat Al-Kahfi: 4-5).
Maka Allah menyebut “kalimah” untuk lafazh yang keluar dari mulut.
Demikian pula semua yang disebutkan dalam Kitabullah Ta’ala berupa penyebutan lafazh kalam yang dimaksudkan dengan hakikatnya.
Dan seperti itu pula qawl (perkataan).
Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak pernah mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-Nya.” (Surat Al-Anbiya: 27).
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari apa yang mereka bisikkan dalam hati mereka, selama tidak diucapkan atau dikerjakan.” Hadits ini jelas menunjukkan bahwa bisikan hati tidak termasuk dalam kalam mutlak, tidakkah engkau lihat bahwa beliau membedakan antara bisikan hati dengan hakikat kalam dengan sabda beliau: “selama tidak diucapkan atau dikerjakan”? Maka beliau menjadikan kalam yang merupakan perkataan sebanding dengan amal, bukan bisikan hati.
- Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan? Maka beliau bersabda: “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidakkah yang menelungkupkan manusia di atas wajah mereka ke dalam neraka—atau beliau bersabda: di atas hidung mereka—melainkan hasil tuaian lidah mereka?”
Saya katakan: Ini jelas bahwa kalam adalah lafazh-lafazh yang tersusun yang menunjukkan makna-makna yang dipahami; karena makna semata yang ada dalam diri orang yang berbicara tidak akan dihisab padanya seorang hamba—sebagaimana dalam hadits sebelumnya—dan ini berbeda dengan apa yang diucapkan lidah karena akan dihisab atasnya, dan inilah yang disebut oleh syariat sebagai kalam, bukan makna semata.
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lidah, berat di timbangan, disukai oleh Ar-Rahman: Subhanallahil ‘Azhim, Subhanallahi wa bihamdihi.”
Saya katakan: Ini juga jelas bahwa kalam adalah makna yang dilafalkan dengan huruf-huruf, karena tidak dapat dipahami ringan di lidah pada makna semata.
- Hadits Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengadakan untuk Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki, dan di antara yang diadakan untuk Nabi-Nya adalah: jangan kalian berbicara dalam shalat.”
Dan hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari pembicaraan manusia, sesungguhnya ia hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.”
Dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu bahwa orang yang berbicara dalam shalatnya dengan sengaja bukan untuk kepentingan shalat maka shalatnya batal, dan mereka tidak menganggap apa yang dibicarakan manusia dalam hatinya yang tidak ada kaitannya dengan shalat dari urusan dunia dan lainnya sebagai pembatal shalat, karena menurut kesepakatan itu bukan kalam. Demikian disebutkan oleh Syaikhul Islam.
Dan yang semacam ini dalam Al-Kitab dan As-Sunnah sangat banyak, dan semuanya merupakan dalil-dalil pasti bahwa lafazh “kalam” mutlak mencakup lafazh dan makna sekaligus, berbeda dengan ahli bid’ah yang ingin memenangkan hawa nafsu mereka dengan membatalkan dalil-dalil yang benar dan jelas dari sisi akal dan naqal.
Kami telah menyebutkan bahwa “kalam” dan “qawl” kadang dimaksudkan dengannya hanya makna saja, atau hanya lafazh saja, namun dengan qarînah (petunjuk) yang menjelaskan hal itu, bukan dalam keadaan mutlak dan bebas dari qarînah.
Berkata Syaikhul Islam: “Kalam apabila disebutkan secara mutlak mencakup lafazh dan makna sekaligus, dan apabila makna saja disebut kalam, atau lafazh saja disebut kalam, maka itu hanya dengan adanya qayd (pembatas) yang menunjukkan hal tersebut.”
Saya katakan: Dan itu seperti perkataan Antarah: Wahai rumah Ablah di Al-Jawa’, berbicaralah… Dan selamatlah di pagi hari wahai rumah Ablah dan berilah salam
Dan seperti perkataan yang lain:
Dan telah penuh kolam itu dan ia berkata: Cukup untukku… Cukup untukku, pelan-pelan, sungguh telah penuh perutku
Maka kesimpulan dari apa yang kami sebutkan:
Bahwa lafazh “kalam” dan “qawl” dan apa yang diturunkan darinya, berupa fi’il (kata kerja), mashdar, isim fail, dan selain itu, semuanya kembali kepada lafazh dan makna sekaligus.
Maka apabila seseorang berkata tentang suatu kalam: Sesungguhnya yang dimaksud dengan kalam di sini adalah lafazh saja, atau makna saja, maka kami akan meminta qarînah pembatas yang mengalihkan kalam dari hakikatnya yang diketahui, jika tidak maka ia adalah pembohong.
Dan kami memiliki pembahasan lain untuk masalah ini dalam Bab Ketiga ketika membatalkan perkataan sebagian ahli bid’ah—Kullabiyah, Asy’ariyah dan yang sejenisnya—bahwa kalam hakikatnya adalah makna, yaitu apa yang mereka namakan “kalam nafsi”. Dan ini hanyalah penjelasan ringkas untuk menghilangkan kerancuan yang mungkin muncul dalam topik ini.
Bahasan Kedua: Hakikat Mutakallim (Yang Berbicara)
Mutakallim: isim fail dari “takallum” (berbicara).
Dan ia adalah orang yang berdiri padanya sifat kalam, maka dengan sifat itu ia menjadi mutakallim.
Dan orang-orang berakal sepakat bahwa apabila gerakan berdiri pada suatu tempat maka sah mendeskripsikan tempat itu dengan bergerak, dan apabila ilmu berdiri pada suatu tempat maka sah mendeskripsikannya dengan mengetahui, demikian pula setiap sifat.
Maka kalam adalah sifat, apabila ia berdiri pada yang disifati dinamakan “mutakallim”.
Ketika sampai ke pendengaranmu: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” engkau memahami darinya bahwa bagi Allah Ta’ala ada sifat pendengaran dan sifat ilmu.
Maka demikian pula ketika sampai ke pendengaranmu: “Dan Allah berbicara kepada Musa” maka engkau memahami darinya bahwa bagi Allah Ta’ala ada sifat kalam.
Maka ini menunjukkan bahwa sifat itu hanya berdiri pada yang disifati.
Dan dalam hal ini terdapat pembatalan terhadap perkataan orang-orang yang mengingkari asma Allah dan sifat-sifat-Nya: Bahwa sifat tidak berdiri pada yang disifati, dan berdasarkan itu berkata sebagian dari mereka: Sesungguhnya Allah mendengar tanpa pendengaran, melihat tanpa penglihatan, hidup tanpa kehidupan, menciptakan tanpa penciptaan.
Dan jelaslah dari yang telah dijelaskan tentang berdirinya sifat pada yang disifati bahwa mutakallim adalah orang yang berdiri padanya kalam, dan tidak sah mendeskripsikannya dengan itu kecuali dengan kemampuannya atasnya, karena kemampuan mutakallim atas kalam adalah keharusan baginya selama ia masih disifati dengan kalam, sebab jika ia tidak mampu berbicara maka ia akan disifati dengan lawannya, yaitu: bisu, karena “akhras” (bisu) adalah orang yang tidak mampu berbicara, dan karena itu sah untuk tidak mendeskripsikannya dengan kalam.
Dan batalah dengan apa yang kami jelaskan dua mazhab dari mazhab-mazhab ahli bid’ah:
Pertama: Mazhab Mu’tazilah yang berkata: Mutakallim adalah orang yang melakukan kalam meskipun pada selain dirinya, dan maknanya adalah tidak berdirinya sifat kalam pada mutakallim.
Dan kedua: Mazhab Kullabiyah dan Asy’ariyah yang berkata: Mutakallim adalah orang yang berdiri padanya kalam meskipun ia tidak melakukannya, dan ia tidak memiliki kemampuan atasnya.
Dan rusaknya kedua mazhab ini jelas secara bahasa, syariat, dan akal, karena konsekuensi dari mazhab pertama adalah kalam makhluk adalah kalam Khaliq—sebagaimana akan dijelaskan rinciannya dalam Bab Ketiga—dan konsekuensi dari mazhab kedua adalah mendeskripsikan orang bisu dengan berbicara, dan ini jelas bertentangan dengan indera dan akal—dan akan datang penjelasan rinci tentang mereka dalam Bab Ketiga.
Dan Salaf serta para Imam tidak mengenal mutakallim kecuali dengan gambaran yang kami jelaskan.
Bahasan Ketiga: Jenis-Jenis Kalam
Kalam dalam bahasa Arab pada asalnya terbagi menjadi dua jenis:
Pertama: Khabar (Berita):
Para ahli balaghah dan ushuliyyin sepakat bahwa khabar adalah kalam yang menerima benar dan bohong karena zatnya.
Dan mereka maksudkan dengan perkataan mereka: “karena zatnya” yaitu tanpa memandang apakah pemberi berita itu jujur atau pembohong pada dirinya sendiri, agar definisi tersebut mencakup setiap khabar.
Dan ia ditinjau dari sisi yang diberitakan terbagi menjadi tiga bagian:
Bagian Pertama: Apa yang tidak menerima kecuali benar saja.
Yaitu berita Allah Ta’ala, seperti firman Allah Ta’ala: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”
Dan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tsabit dari beliau, seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya dari neraka.”
Bagian Kedua: Apa yang tidak menerima kecuali bohong saja.
Yaitu seperti berita Musailamah bahwa ia adalah Rasulullah.
Bagian Ketiga: Apa yang menerima benar dan bohong sekaligus.
Seperti seseorang datang kepadamu lalu berkata: (Aku membaca Al-Qur’an dalam satu malam) maka itu menerima kejujurannya dan menerima kebohongannya, tanpa memandang apakah itu dengan sengaja atau tanpa sengaja, dan mungkin kejujurannya lebih kuat menurutmu dengan kemungkinan kesalahan karena ia dikenal jujur di sisimu, atau kebohongannya lebih kuat menurutmu dengan kemungkinan kejujurannya karena ia dikenal pembohong di sisimu, dan mungkin kedua kemungkinan itu sama di sisimu.
Kedua: Insya’ (Permintaan):
Para ahli balaghah dan ushuliyyin sepakat bahwa ia tidak dapat dideskripsikan dengan benar atau bohong.
Dan ia adalah thalab (permintaan), baik permintaan untuk melakukan atau permintaan untuk meninggalkan.
Dan ia terbagi menjadi beberapa jenis di antaranya:
- Amar (Perintah):
Yaitu permintaan untuk melakukan, seperti firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (Surat Al-Ma’idah: 35).
- Nahi (Larangan):
Yaitu permintaan untuk menahan diri, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tentangnya…” (Surat Al-Isra’: 36).
- Istifham (Pertanyaan):
Yaitu permintaan untuk memahami, seperti firman Allah Ta’ala: “Dia (Zakaria) berkata, ‘Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?'” (Surat Ali ‘Imran: 37).
- Nida’ (Panggilan):
Yaitu permintaan untuk menghadap, seperti firman Allah Ta’ala: “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat An-Naml: 9).
Dan dalam semua ini ada rincian yang bukan tempatnya di sini, dan yang dimaksudkan hanyalah membatalkan pengelabuan ahli bid’ah yang berkata: Sesungguhnya bagian-bagian yang disebutkan ini hanyalah sifat-sifat kalam, dan bukan jenis-jenisnya, untuk memenangkan mazhab mereka: Bahwa kalam hakikatnya adalah makna satu yang berdiri dalam jiwa, yaitu perintah, larangan, dan berita, dan ini adalah perkataan yang sangat buruk, dan sungguh kami telah membuktikan untukmu bahwa semuanya berbeda-beda, dan hanya bersekutu dalam hal semuanya adalah kalam.
Pasal Kedua: Akidah Salaf Dalam Menetapkan Sifat-Sifat Allah
Di dalamnya:
Kaidah yang Jelas dalam Akidah
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat yang paling sempurna dan paling indah, sebagaimana yang layak bagi keagungan dan kebesaran-Nya, dalam kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar makhluk-Nya mengenal-Nya, seperti: ilmu, kehidupan, kekuasaan, kehendak, pendengaran, penglihatan, perkataan, kecintaan, kebencian, kelembutan, kasih sayang, ketinggian, istiwaa (bersemayam) di atas Arasy, datang, kedatangan, turun ke langit dunia, dan bahwa Dia memiliki wajah, tangan, kaki, betis, dan mata, serta berbagai sifat-Nya yang lain yang disebutkan dalam Kitab dan Sunnah.
Dari sifat-sifat-Nya Ta’ala diturunkan nama-nama-Nya yang indah, seperti: Al-Alim (Maha Mengetahui), Al-Hayy (Maha Hidup), Al-Qadir (Maha Kuasa), Al-Wadud (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Ar-Rauf (Maha Lembut), dan seterusnya.
Akidah Salaf yang merupakan generasi paling berilmu dan paling mengenal Allah Rabb semesta alam adalah: beriman kepada semua itu secara global terhadap yang datang secara global, dan secara terperinci terhadap yang datang secara terperinci, tanpa penambahan dan tanpa pengurangan. Akidah ini berdiri di atas empat fondasi:
Pertama: Penetapan yang terperinci dan global bagi setiap sifat sebagaimana dinyatakan dalam nash. Dengan ini terwujudlah firman Allah Ta’ala: “Dan milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu” (Al-A’raf: 180), dan firman-Nya Ta’ala: “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang indah'” (Al-Isra: 110), dan yang semakna dengan ini.
Kedua: Mensucikan, tidak menyerupakan, dan tidak menetapkan kaifiyat (bentuk).
Dengan ini terwujudlah firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11), firman-Nya Ta’ala: “Mahasuci Tuhanmu Yang memiliki keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan” (Ash-Shaffat: 180), dan firman-Nya Ta’ala: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui…” (Al-Isra: 36).
Ketiga: Menjauhkan takwil yang berujung pada ta’thil (peniadaan sifat).
Dengan ini terwujudlah firman Allah Ta’ala: “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Al-A’raf: 180).
Ta’thil adalah penyimpangan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Keempat: Mengetahui Allah Ta’ala dan mengenal-Nya melalui sifat-sifat-Nya.
Dengan ini terwujudlah firman Allah Ta’ala: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran” (Shad: 29).
Fondasi pertama mencakup iman kepada setiap sifat Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah.
Fondasi kedua mencakup pensucian sifat-sifat Rabb Ta’ala dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.
Fondasi ketiga mencakup penetapan setiap sifat secara hakiki sebagaimana dinyatakan nash, tanpa mengalihkannya ke makna lain selain yang zhahir.
Fondasi keempat mencakup bahwa Salaf mengetahui makna-makna sifat, dan membedakan antara satu dengan yang lain sesuai dengan apa yang ditunjukkan dari bahasa Arab yang mereka kenal. Maka ilmu berbeda dengan kehidupan, datang berbeda dengan istiwaa di atas Arasy, tangan berbeda dengan wajah, dan begitu pula seluruh sifat lainnya.
Dalam hal ini terdapat pembatalan pendapat orang-orang yang menyimpang dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam meriwayatkan mazhab Salaf bahwa mereka adalah kaum mufawwidhah (yang mewakilkan makna kepada Allah), yang bermaksud bahwa mereka tidak mengetahui makna-makna sifat dan tidak membedakan di antaranya, dan bahwa sifat-sifat itu termasuk mutasyabih yang ilmunya diserahkan kepada Allah Ta’ala. Karena itulah makna perkataan mereka “Jalankan sebagaimana datangnya”.
Pendapat ini adalah termasuk yang paling rusak yang dinisbatkan kepada Salaf, dan merupakan kebohongan, kedustaan, dan fitnah yang nyata, karena sifat-sifat hanya dikenal melalui yang disifati. Jika Salaf tidak mengetahui maknanya, bagaimana mereka lebih berilmu dari yang lain tentang Allah Ta’ala? Dan dengan apa mereka mengenal-Nya?
Sesungguhnya ini termasuk sangkaan terburuk terhadap mereka, padahal mereka adalah sebaik-baik umat ini, dan di antara mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada seorang pun yang Allah Ta’ala berikan kedudukan seperti mereka.
Sesungguhnya Salaf adalah orang-orang yang paling jauh dari membahas apa yang tidak mereka kuasai ilmunya dari perkara gaib yang Allah Ta’ala kabarkan. Sebagaimana mereka tidak dapat menguasai dengan ilmu tentang zat Allah, mereka juga tidak dapat menguasai dengan ilmu tentang sifat-sifat-Nya, karena pembahasan tentang sifat adalah cabang dari pembahasan tentang zat. Namun sifat-sifat-Nya menjadi dalil untuk mengenal-Nya, dan tidak layak menjadi demikian jika ia termasuk mutasyabih yang tidak boleh hamba-hamba mengetahui hakikatnya. Sifat-sifat itu makna-maknanya diketahui oleh mereka, namun kaifiyatnya (bentuknya) tidak diketahui, sebagaimana zat-Nya Ta’ala diketahui oleh mereka melalui sifat-sifat-Nya, namun kaifiyatnya tidak diketahui. Inilah makna menjalankan sifat-sifat sebagaimana datangnya. Bahkan, perkataan mereka “Kami jalankan sebagaimana datangnya” mencakup penetapannya secara hakiki, karena asal dalam ungkapan adalah hakikat. Maka ilmu adalah sifat secara hakiki, kekuasaan adalah sifat secara hakiki, tangan adalah sifat secara hakiki, dengan setiap sifat memiliki makna yang berbeda dari yang lain, yang diketahui bangsa Arab dari bahasa mereka.
Barangsiapa merenungkan jawaban Imam Malik bin Anas rahimahullah terhadap orang yang bertanya kepadanya tentang kaifiyat istiwaa di atas Arasy, maka ia berkata: “Kaifiyat tidak diketahui, istiwaa tidak diketahui (maknanya tidak asing), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bidah”, akan jelas baginya beberapa perkara:
Pertama: Kaifiyat (bentuk) sifat-sifat tidak diketahui oleh para hamba.
Kedua: Makna-makna sifat-sifat diketahui dari bahasa Arab.
Ketiga: Beriman kepada sifat sebagaimana Allah mengabarkannya dengan tidak mengetahui kaifiyatnya namun mengetahui maknanya adalah wajib, karena hal itu termasuk dalam keumuman iman kepada Allah Ta’ala.
Keempat: Penambahan dan pengurangan dengan bertanya dan membahasnya adalah bidah yang tercela yang tidak dikenal pada Salaf, karena mengandung ucapan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu.
Para imam terus menyebutkan ucapan Imam Malik ini sebagai kaidah Ahlus Sunnah dalam seluruh sifat-sifat Allah Ta’ala.
Dengan ini jelaslah bagimu kelurusan akidah Salaf, dan bahwa ia adalah mazhab yang paling selamat, paling berilmu, dan paling kokoh.
Imam Abu Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata dalam apa yang ia riwayatkan dari akidah Salaf: “Mereka mengenal Rabb mereka Azza wa Jalla dengan sifat-sifat-Nya yang disebutkan oleh wahyu dan tanzil-Nya, atau yang disaksikan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan apa yang datang dalam berita-berita shahih tentangnya, dan diriwayatkan oleh orang-orang adil yang terpercaya darinya. Mereka menetapkan bagi-Nya Jalla Jalaluhu dari sifat-sifat itu apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka tidak meyakini penyerupaan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Mereka mengatakan: Sesungguhnya Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu menegaskannya dalam firman-Nya Azza wa Jalla: ‘Allah berfirman: Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (Shad: 75). Mereka tidak mengubah kalimat dari tempat-tempatnya dengan memaknai kedua tangan sebagai dua nikmat atau dua kekuatan, seperti pengubahan Muktazilah dan Jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-. Mereka juga tidak menetapkan kaifiyatnya dengan suatu kaifiyat, atau menyerupakannya dengan tangan-tangan makhluk, seperti penyerupaan Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-. Allah Ta’ala telah melindungi Ahlus Sunnah dari pengubahan, penetapan kaifiyat, dan penyerupaan, serta menganugerahkan kepada mereka pemahaman dan pengetahuan, sehingga mereka menempuh jalan tauhid dan pensucian, meninggalkan perkataan tentang ta’lil (pencarian sebab) dan penyerupaan, mengikuti firman Allah Azza wa Jalla: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (Asy-Syura: 11).”
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Salafus Ummah dan para imamnya berada di atas iman yang Allah utus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengannya. Mereka mensifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya, dan dengan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya, tanpa pengubahan dan tanpa peniadaan, tanpa penetapan kaifiyat dan tanpa penyerupaan. Mereka mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah Ta’ala, dan mereka mensifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya berupa berbicara, berdialog, dan memanggil, serta apa yang datang dalam Sunnah-sunnah dan atsar-atsar yang sesuai dengan Kitabullah Ta’ala.”
Beliau rahimahullah berkata: “Mereka mengatakan apa yang datang dalam nash-nash Nabawi, dan yang ditunjukkan oleh akal-akal yang cerdas dan murni. Maka mereka tidak menafikan dari Allah Ta’ala sifat-sifat kesempurnaan Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menjadikan-Nya seperti benda-benda mati yang tidak berbicara dan tidak melihat, tidak berbicara dengan penyembah-penyembah-Nya, tidak membimbing mereka ke jalan, tidak mengembalikan perkataan kepada mereka, dan tidak menguasai bahaya maupun manfaat bagi mereka.”
Inilah penjelasan ringkas sebelum memulai apa yang kami maksudkan agar tercapai kecukupan bagi orang yang mencari petunjuk.
Pasal Ketiga: Penjelasan Akidah Salaf Tentang Kalam Allah Ta’ala
Di dalamnya ada sepuluh pembahasan:
Pembahasan Pertama: Gambaran Umum Akidah Ahlus Sunnah tentang Kalam Allah Ta’ala
Salaf berkeyakinan: bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat kalam, yaitu sifat yang berdiri pada-Nya yang tidak terpisah dari-Nya, tidak ada permulaan bagi penetapan sifat ini pada-Nya dan tidak ada akhir, Dia berbicara dengannya dengan kehendak dan pilihan-Nya.
Kalam-Nya Ta’ala adalah sebaik-baik kalam.
Tidak menyerupai kalam makhluk, karena Sang Pencipta tidak dapat diukur dengan makhluk.
Dia berbicara dengannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya: dari malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang lain, dengan perantara jika Dia kehendaki, dan tanpa perantara.
Mendengarnya secara hakiki siapa yang Dia kehendaki dari malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya mendengarnya di akhirat dengan suara-Nya sendiri, sebagaimana Dia berbicara dengan Musa dan memanggilnya ketika ia datang ke pohon dengan suara-Nya sendiri, lalu Musa mendengarnya.
Sebagaimana kalam-Nya Ta’ala tidak menyerupai kalam makhluk, maka suara-Nya tidak menyerupai suara-suara mereka.
Kalimat-kalimat-Nya Ta’ala tidak terbatas.
Di antara kalam-Nya adalah: Al-Quran, Taurat, dan Injil.
Maka Al-Quran adalah kalam-Nya: surah-surahnya, ayat-ayatnya, dan kalimat-kalimatnya.
Dia berkata dengannya dengan huruf-huruf dan makna-maknanya.
Tidak menurunkannya kepada seorang pun sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dia memperdengarkannya kepada Jibril ‘alaihissalam, Jibril memperdengarkannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memperdengarkannya kepada umatnya. Jibril dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menyampaikan dan menyampaikan.
Al-Quran tertulis di Lauhul Mahfuzh, dan ia yang ada di mushaf-mushaf, dibaca oleh para pembaca dengan lisan mereka, dibacakan oleh para qari dengan suara mereka, didengar oleh para pendengar dengan telinga mereka, disalin oleh para penyalin, dicetak oleh para pencetak dengan alat-alat mereka, dan ia yang ada di dada para penghafal, dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya. Allah berbicara dengannya secara hakiki, maka ia adalah kalam-Nya secara hakiki bukan kalam selain-Nya. Darinya dimulai dan kepada-Nya kembali, ia adalah satu Al-Quran yang diturunkan, tidak diciptakan, bagaimanapun bentuknya: dengan bacaan pembaca, ucapan pengucap, hafalan penghafal, atau tulisan penulis, dan di manapun dibaca, ditulis, dan dibacakan.
Barangsiapa mendengarnya lalu mengklaim bahwa ia makhluk maka ia telah kafir.
Allah Ta’ala menulis Taurat untuk Musa dengan tangan-Nya, sebelum penciptaan Adam empat puluh tahun -sebagaimana sahih dalam hadits-.
Kalam Allah Ta’ala terbagi-bagi, terpisah-pisah, dan terpotong-potong.
Al-Quran adalah dari kalam-Nya, Taurat adalah dari kalam-Nya, Injil adalah dari kalam-Nya.
Al-Quran berbeda dengan Taurat, Taurat berbeda dengan Injil.
Dan Al-Fatihah adalah bagian dari Al-Quran, dan Ayat Kursi adalah bagian dari surat Al-Baqarah, dan surat Al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran, dan begitulah seterusnya seluruh kalam-Nya.
Sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman dengan berbagai bahasa, maka Taurat dengan bahasa Ibrani, dan Al-Quran dengan bahasa Arab, dan Injil dengan bahasa Syria.
Dan dalam Al-Quran terdapat makna-makna yang tidak ada dalam Taurat, dan di dalam Taurat terdapat makna-makna yang tidak ada dalam Al-Quran, dan begitulah seterusnya seluruh kalam-Nya.
Sebagaimana kalam-Nya Yang Maha Tinggi memiliki keutamaan berbeda-beda, maka sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain, maka Ayat Kursi lebih utama dari ayat-ayat lainnya dan surat Al-Fatihah tidak diturunkan dalam Taurat, tidak pula dalam Injil, dan tidak pula dalam Al-Quran yang sepertinya, dan “Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa” (surat Al-Ikhlas) setara dengan sepertiga Al-Quran.
Sebagaimana kalam-Nya Yang Maha Tinggi berurutan – yakni sebagiannya mengikuti sebagian yang lain – seperti “Dengan nama Allah” (Bismillah), maka kata “Allah” mengikuti “Bismi” (dengan nama), dan huruf Sin mengikuti huruf Ba, dan huruf Mim mengikuti huruf Sin, dan semua itu adalah kalam Allah Yang Maha Tinggi yang tidak makhluk, dengan lafal-lafalnya dan huruf-hurufnya, tidak menyerupai kalam makhluk.
Dan suara-suara para hamba serta gerakan-gerakan mereka dengan Al-Quran, dan kertas mushaf, dan kulitnya serta tinta tulisan, semua itu makhluk yang dibuat, dan yang tersusun dari huruf-huruf yang diucapkan, didengar, ditulis, dan dihafal, adalah kalam Allah Yang Maha Tinggi yang tidak makhluk dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya.
Inilah ringkasan keyakinan tentang kalam Allah Yang Maha Tinggi, dan perincian ringkasan-ringkasan ini serta dalil-dalilnya akan datang dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.
Pembahasan Kedua: Dalil-dalil yang Menetapkan Sifat Kalam
Dari dalil-dalil Al-Quran:
- Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, di antara mereka ada yang Allah berbicara kepadanya” (Al-Baqarah: 253).
- Dan Dia Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung” (An-Nisa: 164).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya berfirman kepadanya” (Al-A’raf: 143).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku” (Thaha: 13-14).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Maka ketika dia sampai ke sana, dia dipanggil dari tepi lembah yang kanan di tempat yang diberkahi, dari pohon kayu, yaitu: Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam” (Al-Qashash: 30).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, hanyalah Kami mengatakan kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia” (An-Nahl: 40).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Al-Kahf: 109).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya” (Al-An’am: 115).
- Dan Dia Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi berfirman: “Mereka menginginkan mengubah kalam Allah” (Al-Fath: 15).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Mereka mendengar kalam Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahui” (Al-Baqarah: 75).
- Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya” (At-Taubah: 6).
Dan ayat-ayat tentang hal itu sangat banyak sekali.
Dari dalil-dalil Sunnah:
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Adam dan Musa saling berhujjah, maka Musa berkata kepadanya: Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam berkata kepadanya: Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya, dan menulis Taurat untukmu dengan tangan-Nya, apakah engkau mencela aku atas perkara yang telah Allah takdirkan atasku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Maka Adam mengalahkan Musa, maka Adam mengalahkan Musa – tiga kali.”
- Hadits Jabir bin Abdullah, ia berkata:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan dirinya kepada manusia di tempat wukuf seraya berkata:
“Adakah seorang laki-laki yang mau membawaku kepada kaumnya? Karena sesungguhnya Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan kalam Tuhanku ‘azza wa jalla”, hadits tersebut.
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Keutamaan kalam Allah atas seluruh kalam adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”
- Hadits Abu Umamah bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:
Wahai Nabi Allah, apakah Adam seorang nabi? Beliau menjawab: “Ya, yang diajak bicara”.
Ia bertanya: Berapa jarak antara dia dan Nuh? Beliau menjawab:
“Sepuluh generasi.”
- Hadits An-Nu’man bin Basyir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dengan dua ribu tahun, lalu Dia menurunkan darinya dua ayat yang menutup surat Al-Baqarah, maka keduanya tidak dibaca di sebuah rumah selama tiga malam melainkan setan tidak mendekatinya.”
- Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertahan dari kami pada suatu pagi dari salat Subuh, hingga kami hampir melihat piringan matahari, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan tergesa-gesa, lalu dikumandangkan salat, dan beliau salat serta mempersingkat salatnya, ketika salam beliau berkata:
“Tetaplah kalian pada shaf-shaf kalian”.
Kemudian beliau menghadap kepada kami dan berkata: “Sesungguhnya aku akan menceritakan kepada kalian apa yang menahanku dari kalian pagi ini:
Sesungguhnya aku bangun dari malam, lalu aku salat sebanyak yang ditakdirkan untukku, maka aku mengantuk dalam salatku hingga aku tertidur lelap, tiba-tiba aku (bermimpi bertemu) dengan Tuhanku ‘azza wa jalla dalam bentuk yang paling baik, lalu Dia berfirman: Wahai Muhammad, tahukah engkau apa yang diperdebatkan oleh Malaikat Tinggi? Aku menjawab: Aku tidak tahu wahai Tuhanku. Dia berfirman: Wahai Muhammad, apa yang diperdebatkan oleh Malaikat Tinggi? Aku menjawab: Aku tidak tahu wahai Tuhanku. Maka aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dinginnya jari-jemari-Nya di antara dadaku, maka terjelas bagiku segala sesuatu, dan aku mengetahui, lalu Dia berfirman: Wahai Muhammad, apa yang diperdebatkan oleh Malaikat Tinggi? Aku menjawab: Tentang penghapus dosa. Dia berfirman: Dan apa penghapus dosa itu? Aku menjawab: Memindahkan langkah kaki menuju salat berjamaah, dan duduk di masjid setelah salat, dan menyempurnakan wudhu ketika dalam kesulitan. Dia berfirman: Dan apa derajat-derajat itu? Aku menjawab: Memberi makan, melembutkan perkataan, dan salat ketika manusia tidur. Dia berfirman: Mintalah. Aku berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuni aku, dan merahmati aku, dan apabila Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum maka wafatkanlah aku tanpa terfitnah, dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya ia (doa tersebut) adalah kebenaran maka pelajarilah dan pelajarilah.”
Dari atsar:
- Dari Niyar bin Mukrim – dan dia pernah bertemu dengan Nabi – bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertaruh dengan sekelompok orang dari penduduk Makkah bahwa Romawi akan mengalahkan Persia, maka Romawi mengalahkan (Persia), lalu turunlah “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi” (Ar-Rum: 1-2), maka ia mendatangi Quraisy, lalu membacakannya kepada mereka, maka mereka berkata: Apakah ini perkataanmu? Ataukah perkataan sahabatmu? Ia menjawab: “Bukan perkataanku, dan bukan perkataan sahabatku, tetapi ia adalah kalam Allah ‘azza wa jalla”.
Dan dalam lafal lain: “Allah ‘azza wa jalla yang menurunkan ini”.
- Dan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata – dalam kisah Ifki (tuduhan palsu):
“Demi Allah, aku tidak menyangka bahwa Allah akan menurunkan pembersihan (nama baikku) berupa wahyu yang dibaca, dan urusanku menurut diriku sendiri lebih hina dari pada Allah berbicara tentangku dengan perkara yang dibaca …”
- Dan dari Farwah bin Naufal Al-Asyja’i, ia berkata:
Aku adalah tetangga Khabbab, maka kami keluar suatu hari dari masjid, dan dia memegang tanganku, lalu berkata:
“Wahai engkau, dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu, karena sesungguhnya engkau tidak akan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada kalam-Nya – yakni Al-Quran.”
- Dari Nafi’ (yaitu budak Ibnu Umar), ia berkata:
Al-Hajjaj (yaitu Ats-Tsaqafi) berkhutbah lalu berkata: Sesungguhnya Ibnu Az-Zubair (yaitu Abdullah) mengubah kalam Allah Yang Maha Tinggi, maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Al-Hajjaj berdusta, sesungguhnya Ibnu Az-Zubair tidak mengubah kalam Allah Yang Maha Tinggi, dan dia tidak mampu melakukan itu.”
- Dari Abu Abdurrahman As-Sulami (seorang tabi’i yang terpercaya dan imam), ia berkata:
“Keutamaan Al-Quran atas seluruh kalam adalah seperti keutamaan Tuhan atas makhluk-Nya, dan itu karena ia (Al-Quran) dari-Nya.”
- Dan dari Qatadah (bin Di’amah As-Sadusi, terpercaya dan berilmu, termasuk sebaik-baik sahabat Anas), ia berkata:
“Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui bahwasanya (Al-Quran) itu benar dari Tuhan mereka …” (Al-Baqarah: 26), ia berkata: “Yakni: mereka mengetahui bahwa ia adalah kalam Ar-Rahman.”
Dan kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari para sahabatnya yang diridhai radhiyallahu ‘anhum, serta para pengikut mereka rahimahumullah tentang hal itu tidak dapat dihitung, dan apa yang telah kami sebutkan dari hal itu cukup bagi siapa yang mencari kebenaran dan menginginkannya.
Dari yang masuk akal:
Adapun dalil dari yang masuk akal tentang penetapan sifat kalam bagi Allah Yang Maha Tinggi adalah dari dua segi:
Segi pertama:
Sesungguhnya kalam adalah sifat kesempurnaan, dan lawannya adalah sifat kekurangan, yaitu: bisu dan bungkam, dan sifat ini jika terdapat pada makhluk yang lemah dan tidak berdaya sudah menjadi kekurangan yang nyata, maka bagaimana mungkin pantas menetapkannya bagi Dzat yang memiliki kesempurnaan mutlak, Maha Suci Dia? Dan bagaimana mungkin benar hal itu sedangkan Dia adalah pemberi kesempurnaan bagi yang sempurna? Apakah pantas Dia menganugerahkan kepada hamba-Nya apa yang Dia tidak mampu memilikinya dari sifat-sifat kesempurnaan?
Sesungguhnya bagi Allah Yang Maha Tinggi adalah sifat yang paling tinggi, dan kesempurnaan dari segala sisi, dan Dia adalah As-Salam (Yang Maha Sempurna), Al-Malik (Sang Raja), Al-Quddus (Yang Maha Suci), Yang Maha Tinggi dari segala aib dan kekurangan, maka ketika kami meniadakan dari-Nya setiap aib dan kekurangan maka Dia-lah yang memiliki kesempurnaan lawan dari itu, yaitu kalam yang tidak ada tandingannya, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain.
Dan sungguh Al-Quran Yang Agung telah datang dengan menetapkan makna yang masuk akal ini dengan sebaik-baik penetapan, maka Allah Yang Maha Tinggi berfirman tentang anak sapi yang dijadikan oleh kaum Musa sebagai tuhan yang mereka sembah selain Allah: “Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa (anak sapi) itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?” (Al-A’raf: 148). Dan Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa (anak sapi) itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepada mereka?” (Thaha: 89). Maka Dia mencela anak sapi itu karena terbebas dari sifat kalam, maka hal itu menunjukkan bahwa terbebasnya (sesuatu) dari sifat kalam adalah sifat kekurangan yang tidak pantas bagi tuhan yang disembah, dan tidak pantas Dia mencela tuhan palsu mereka, dengan apa yang menjadi aib pada-Nya, Maha Tinggi dan Maha Suci Dia.
Dan Allah Subhanahu berfirman dalam mengisahkan perkataan Ibrahim ‘alaihis salam kepada kaumnya ketika dia menghancurkan patung-patung mereka: “Dia (Ibrahim) berkata: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara” (Al-Anbiya: 63). Maka jawaban mereka adalah pengakuan atas terbebasnya tuhan-tuhan mereka dari sifat ini, dan pengakuan bahwa itu adalah kekurangan pada mereka “Lalu mereka kembali menyalahkan diri mereka sendiri (sambil berkata): Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya engkau (Ibrahim) telah mengetahui bahwa mereka (patung-patung) itu tidak dapat berbicara” (Al-Anbiya: 64-65). Maka ini adalah hujjah Ibrahim atas mereka untuk menampakkan rusaknya agama mereka “Ibrahim berkata: Maka pantaskah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (Al-Anbiya: 66-67).
Maka ayat-ayat menunjukkan bahwa terbebasnya sesuatu dari sifat kalam adalah sifat kekurangan pada yang terbebas darinya, maka termasuk dari hujjah Ibrahim atas mereka adalah: bahwa tuhan-tuhan mereka tidak berbicara, seandainya lawan dari sifat ini tidak menjadi keharusan bagi Tuhannya Yang Maha Tinggi, niscaya tidak ada baginya dalam keharusan itu hujjah atas mereka, karena menyamanya tuhannya dengan tuhan-tuhan mereka dalam terbebasnya dari sifat ini, dan pantaslah bagi kaumnya berkata kepadanya: Apa yang engkau sifatkan kepada tuhan-tuhan kami dari kekurangan juga merupakan sifat tuhanmu, maka batallah dengan itu hujjahnya, tetapi karena Allah Yang Maha Tinggi memiliki sifat kalam maka tidak ada bagi mereka untuk menentangnya dengan seperti apa yang dia tentangkan kepada mereka.
Dan segi kedua:
Sesungguhnya para hamba tidak ada yang mampu tanpa pengiriman para rasul, dan penurunan kitab-kitab, karena urusan dunia dan akhirat tidak akan lurus bagi mereka kecuali dengan itu, bahkan sesungguhnya hikmah dari penciptaan mereka akan hilang tanpa itu, dan manusia akan hidup di dunia seperti hewan tanpa taklif (pembebanan), maka tidak ada perintah dan tidak ada larangan.
Maka karena mereka tidak mampu tanpa itu, Allah Yang Maha Tinggi mengutus para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab, karena seandainya Dia meninggalkan mereka dengan akal mereka niscaya mereka akan sesat, dan tidak ada makna bagi rasul kecuali menyampaikan risalah, dan risalah itu hanyalah wahyu Allah yang Dia wahyukan kepada rasul-rasul-Nya, dan wahyu-Nya itu hanyalah kalam-Nya Yang Maha Tinggi, dan darinya adalah kitab-kitab-Nya yang diturunkan yang memberi petunjuk.
Maka jelaslah dengan apa yang kami jelaskan tentang tetapnya sifat kalam bagi Allah Yang Maha Tinggi, meskipun orang-orang Jahmiyyah yang kafir membencinya, dan segala puji dan karunia bagi Allah.
Pembahasan Ketiga: Pembicaraan Di Dunia
Allah Taala berfirman: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura: 51)
Maka Allah Taala mengabarkan dalam ayat ini bahwa pembicaraan-Nya kepada manusia terjadi dalam tiga tingkatan:
Tingkatan Pertama: Wahyu Murni
Dalilnya adalah firman-Nya: “kecuali dengan wahyu”.
Ini bukan wahyu umum yang mencakup semua jenis pembicaraan, melainkan satu jenis darinya, dan telah ditafsirkan sebagai pemberitahuan yang cepat dan tersembunyi, dan terjadi kepada para nabi alaihimussalam dalam mimpi.
Di antara dalil-dalilnya:
- Mimpi Ibrahim alaihissalam
Allah Taala berfirman: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat sabar (101) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’ (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya) (103) Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim (104) Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.'” (QS. Ash-Shaffat: 101-105)
Ubaid bin Umair berkata: “Mimpi para nabi adalah wahyu,” kemudian ia membaca: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”
- Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:
“Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mimpi yang benar (dalam riwayat lain: yang jujur) dalam tidur. Maka tidaklah beliau bermimpi kecuali datang seperti terbelahnya fajar subuh.”
- Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku bangun di malam hari, lalu aku shalat sesuai yang ditakdirkan untukku, lalu aku mengantuk dalam shalatku hingga tertidur lelap. Maka tiba-tiba aku (bermimpi bertemu) dengan Rabbku Azza wa Jalla dalam bentuk yang paling baik. Maka Dia berfirman: ‘Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang diperdebatkan oleh Malaikal Ala (malaikat yang tertinggi)?’…” Hadits ini telah disebutkan secara lengkap dalam pembahasan sebelumnya.
Dan ilham yang terjadi pada individu-individu manusia bukan termasuk jenis ini, karena tidak sah menyebutnya sebagai pembicaraan, berbeda dengan pendapat sebagian ulama mutaakhirin.
Tingkatan Kedua: Pembicaraan Khusus dari Belakang Tabir Tanpa Perantara
Dalilnya adalah firman-Nya: “atau dari belakang tabir”.
Ini adalah pembicaraan langsung dari Rabb Taala, dengan kalam yang didengar oleh siapa yang Dia kehendaki dari para rasul-Nya, dari belakang tabir.
Tingkatan ini adalah tingkatan pembicaraan yang paling tinggi, paling mulia, dan paling utama. Allah Taala berfirman: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung dengan dia); dan sebagian mereka Allah meninggikannya beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253)
Jenis ini telah terjadi pada tiga orang nabi sebagaimana yang disebutkan dalam dalil-dalil syar’i, mereka adalah:
- Adam alaihissalam
Dalilnya adalah firman Allah Taala: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya…” (QS. Al-Baqarah: 37)
Dari Sunnah: hadits Abu Umamah radhiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Nabiyullah, apakah Adam seorang nabi? Beliau bersabda: “Ya, (dia) diajak bicara.”
- Musa alaihissalam
Dalil-dalilnya dari Al-Quran sangat banyak, di antaranya:
Firman Allah Taala: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164). Dan firman Allah Taala: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 143). Dan firman Allah Taala: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilihmu (melebihkanmu) dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (QS. Al-A’raf: 144)
Dari Sunnah: hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Musa berkata: ‘Wahai Rabb, perlihatkanlah kepada kami Adam yang mengeluarkan kami dan dirinya dari surga.’ Maka Allah memperlihatkan Adam kepadanya, lalu ia berkata: ‘Engkau adalah bapak kami Adam?’ Adam berkata kepadanya: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Engkau adalah orang yang Allah tiupkan padamu ruh-Nya, mengajarimu semua nama, dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu?’ Adam berkata: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Lalu apa yang mendorongmu sehingga mengeluarkan kami dan dirimu dari surga?’ Adam berkata kepadanya: ‘Siapakah engkau?’ Ia berkata: ‘Aku adalah Musa.’ Adam berkata: ‘Engkau adalah nabi Bani Israil yang Allah berbicara denganmu dari belakang tabir, Dia tidak menjadikan antara engkau dan-Nya seorang utusan pun dari makhluk-Nya?’ Ia berkata: ‘Ya.’ Adam berkata: ‘Apakah engkau tidak mendapati bahwa hal itu telah ada dalam kitab Allah sebelum aku diciptakan?’ Ia berkata: ‘Ya.’ Adam berkata: ‘Lalu mengapa engkau mencaciku dalam sesuatu yang telah didahului oleh ketetapan Allah Taala sebelum aku?'” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada saat itu: “Maka Adam mengalahkan Musa dengan hujjah, maka Adam mengalahkan Musa dengan hujjah.”
Allah Taala menyebut pembicaraan ini sebagai panggilan (nida), sebagaimana Dia berfirman: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia: ‘Hai Musa (11) Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa (12) Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) (13) Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.'” (QS. Thaha: 11-14). Dan sebagaimana firman-Nya Yang Maha Suci: “Maka tatkala Musa datang ke tempat api itu, diserulah dia dari sisi (bukit) yang sebelah kanan dari tempat yang diberkahi yaitu dari sebatang pohon kayu: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.'” (QS. An-Naml: 8-9). Dan sebagaimana firman Allah Taala: “Maka tatkala dia sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari pinggir lembah yang sebelah kanan pada tempat yang diberkahi dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.'” (QS. Al-Qashash: 30)
- Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam
Hal itu terjadi padanya dalam peristiwa Isra Mi’raj di Sidratul Muntaha.
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan, lalu Dia mewajibkan atas (umatku) lima puluh shalat setiap hari dan malam. Maka aku turun menemui Musa alaihissalam, lalu ia berkata: ‘Apa yang diwajibkan Rabbmu atas umatmu?’ Aku menjawab: ‘Lima puluh shalat.’ Ia berkata: ‘Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan mengetahui keadaan mereka.’ Beliau bersabda: ‘Maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku berkata: ‘Wahai Rabb, ringankanlah atas umatku,’ maka Dia mengurangi dariku lima. Lalu aku kembali kepada Musa, maka aku berkata: ‘Dikurangi dariku lima.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan.’ Beliau bersabda: ‘Maka aku terus bolak-balik antara Rabbku Tabaraka wa Taala dan Musa alaihissalam, hingga Dia berfirman: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya (shalat) itu adalah lima shalat setiap hari dan malam, setiap shalat (bernilai) sepuluh, maka itu (menjadi) lima puluh shalat. Dan barangsiapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka dituliskan baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, maka dituliskan baginya sepuluh. Dan barangsiapa berniat melakukan kejahatan lalu tidak mengerjakannya, maka tidak dituliskan apa-apa. Jika ia mengerjakannya, maka dituliskan satu kejahatan.’ Beliau bersabda: ‘Maka aku turun hingga aku sampai kepada Musa alaihissalam, lalu aku mengabarinya.’ Ia berkata: ‘Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan.'” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Lalu aku berkata: ‘Aku telah kembali kepada Rabbku hingga aku malu kepada-Nya.'”
Penulis berkata: Oleh karena itu, pembicaraan inilah yang dimaksud dengan firman Allah Taala: “Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.” (QS. An-Najm: 10)
Sebagian ulama berpendapat bahwa pembicaraan ini terjadi dengan perantaraan Jibril, maka mereka berkata: Maka Dia mewahyukan kepada hamba-Nya melalui perantaraan Jibril apa yang Dia wahyukan, yakni: Jibril.
Ini adalah pendapat yang tertolak, karena asal dari kalam adalah tidak ada pengurangan (pembuangan kata), dan zhahir hadits menunjukkan bahwa khitab (pembicaraan) dari Allah Taala kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam adalah tanpa perantara. Di antara buktinya adalah perulangan Nabi shallallahu alaihi wasallam menemui Rabbnya, dan demikian pula ditegaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam diangkat ke suatu tempat yang tidak pernah diangkat ke sana Musa alaihissalam yang diberi keutamaan berbicara dengan Allah, dan tidak pula Ibrahim alaihissalam yang diberi keutamaan sebagai kekasih (khalil). Maka hal itu mengharuskan bahwa keutamaannya lebih besar dari keutamaan orang-orang di bawahnya, sehingga layak baginya untuk mendapatkan derajat-derajat keutamaan yang diperoleh orang-orang di bawahnya.
Yang mendorong para pendukung pendapat ini kepada pernyataan ini adalah karena mereka berkeyakinan bahwa jika ditetapkan bagi beliau shallallahu alaihi wasallam pembicaraan Allah Taala kepadanya tanpa perantara, maka itu mengharuskan beliau shallallahu alaihi wasallam melihat Rabbnya. Sedangkan pendapat yang benar yang dipegang oleh jumhur Ahlus Sunnah adalah bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam tidak melihat Rabbnya Taala pada malam Isra.
Yang benar adalah bahwa apa yang mereka tetapkan ini bukanlah keharusan, karena pembicaraan berbeda dengan penglihatan, dan pembicaraan itu mungkin terjadi berbeda dengan penglihatan, yaitu dari belakang tabir, sebagaimana yang terjadi pada Musa alaihissalam. Sesungguhnya Musa tidak melihat Rabbnya, meskipun Dia berbicara dengannya dan memanggilnya.
Kita telah mengetahui bahwa tingkatan pembicaraan ini adalah tingkatan yang paling sempurna dan paling tinggi, maka itu adalah keutamaan yang besar dan derajat yang tinggi, sehingga layak dimiliki oleh sayyid (pemimpin) anak cucu Adam alaihishshalatu wassalam.
Tingkatan Ketiga: Pembicaraan dengan Perantaraan Rasul
Dalilnya adalah firman-Nya: “atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.”
Rasul itu adalah Jibril alaihissalam, dan terkadang selainnya, namun hal itu jarang. Ini adalah dalam hal rasul dari kalangan malaikat. Adapun rasul dari kalangan manusia, maka sesungguhnya Allah Taala berbicara kepada umat mereka melalui perantaraan mereka, sebagaimana Dia berbicara kepada mereka melalui perantaraan rasul malaikat.
Penjelasannya:
Bahwa rasul malaikat mendengar kalam Allah dari Allah tanpa perantara, lalu menyampaikannya kepada rasul manusia. Ini adalah pembicaraan dengan perantara. Rasul manusia menyampaikannya kepada umatnya, dan ini juga pembicaraan dengan perantara. Setiap orang yang diajak bicara oleh Allah dengan perantara, maka ia mendengar kalam-Nya dari perantara, bukan dari Allah Taala.
Jibril alaihissalam adalah malaikat yang biasa mendatangi Nabi kita shallallahu alaihi wasallam dengan wahyu dari Rabbnya. Allah Taala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril yang terpercaya) (193) Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (194) Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Dan Dia berfirman: “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar…'” (QS. An-Nahl: 102). Dan Allah Taala berfirman: “Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.'” (QS. Al-Baqarah: 97). Dan Allah Taala berfirman: “Demi bintang ketika terbenam (1) Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru (2) Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya (3) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4) Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (5) Yang mempunyai kekuatan…” (QS. An-Najm: 1-6), dan dia adalah Jibril alaihissalam.
Sungguh Jibril biasa datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam bentuk manusia, sebagai bentuk ketenangan bagi beliau, karena sesungguhnya ia alaihissalam adalah makhluk yang besar dari makhluk-makhluk Allah Taala. Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak melihatnya dalam wujud aslinya kecuali dua kali, sebagaimana dikatakan Aisyah radhiyallahu anha kepada Masruq ketika ia bertanya kepadanya tentang firman Allah Taala: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23), dan firman-Nya: “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 13): Aku adalah orang pertama dari umat ini yang bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril, aku tidak melihatnya dalam wujud yang ia diciptakan padanya kecuali dua kali ini. Aku melihatnya turun dari langit, memenuhi kebesaran penciptaannya antara langit dan bumi.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata tentang ayat ini “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain”: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Jibril di Sidratul Muntaha, padanya ada enam ratus sayap, bertebaran dari bulu-bulunya keajaiban-keajaiban: mutiara dan yakut.”
Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah mengabarkan kepada kita tentang sifat datangnya wahyu kepadanya, ketika Al-Harits bin Hisyam radhiyallahu anhu bertanya kepadanya. Ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Lalu wahyu itu selesai dariku dan aku telah memahami apa yang ia katakan. Dan terkadang malaikat menyerupai diriku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku, maka aku memahami apa yang ia katakan.”
Dan sungguh telah datang kepada Maryam alaihassalam dalam bentuk manusia, sebagaimana firman Allah Taala: “Maka Kami mengutus kepadanya ruh Kami (Jibril), lalu dia menjelma di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. (17) Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dari engkau, jika engkau orang yang bertakwa.’ (18) Dia (Jibril) berkata: ‘Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.'” (Maryam: 17-19).
Dan para malaikat utusan Allah datang kepada Ibrahim dan Luth alaihimassalam dalam bentuk manusia, sebagaimana diceritakan Allah dalam surat Hud dan surat-surat lainnya.
Hal itu terjadi demikian karena manusia merasa tenteram dengan sesama jenisnya, dan tidak merasa takut ketika melihatnya. Dalam hal ini terdapat ketenangan hati yang tidak akan terjadi jika malaikat datang dalam bentuk aslinya sebagai malaikat. Dari fitrah manusia adalah menjauh dari hal-hal yang tidak biasa. Oleh karena itu, ini merupakan bagian dari hikmah Allah Taala dalam mengutus para rasul kepada manusia dari kalangan mereka sendiri, sebagaimana firman Allah Taala: “Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?’ Seandainya Kami turunkan malaikat, niscaya selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi penangguhan lagi. (8) Dan seandainya Kami jadikan rasul itu malaikat, tentu Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki dan tentu Kami samarkan atas mereka apa yang mereka samarkan.” (Al-Anam: 8-9). Dan firman Allah Taala: “Dan tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepada mereka, kecuali ucapan mereka: ‘Apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?’ (94) Katakanlah: ‘Jika ada malaikat yang berjalan di bumi dengan tenteram, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat menjadi rasul.'” (Al-Isra: 94-95).
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Maka termasuk rahmat Allah Taala kepada makhluk-Nya adalah bahwa Dia mengutus kepada setiap jenis makhluk para rasul dari kalangan mereka, agar sebagian dari mereka menyeru sebagian yang lain, dan agar mereka dapat saling mengambil manfaat dalam berkomunikasi dan bertanya.”
Penulis berkata: Oleh karena itu Allah Taala menjadikannya sebagai karunia kepada orang-orang beriman, maka Dia berfirman: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus di kalangan mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya…” dan seterusnya (Ali Imran: 164).
Inilah penjelasan tentang jenis-jenis dan tingkatan-tingkatan pembicaraan umum yang dijelaskan dalam ayat Al-Syura, yang mencakup pembatalan pendapat-pendapat banyak ahli bidah yang tidak membedakan antara pembicaraan Allah kepada Musa dan pembicaraan-Nya kepada yang lain melalui perantaraan malaikat, dan tidak membedakan antara wahyu semata dengan pembicaraan khusus. Karena itu mereka jatuh ke dalam kesesatan yang menjerumuskan mereka dalam ilhad (penyimpangan) terhadap sifat-sifat Allah Taala, menonaktifkan nash-nash yang jelas, dan membatalkan hakikat-hakikatnya.
Dan di antara hal yang perlu diperingatkan untuk menghilangkan kekeliruan dalam penggunaan lafaz “wahyu” dan lafaz “pembicaraan” di berbagai tempat dalam Kitabullah Taala, maka kaidahnya sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam rahimahullah: “Keduanya memiliki sisi umum dan khusus. Jika salah satunya bersifat umum, maka yang lain masuk ke dalamnya, sebagaimana wahyu masuk dalam pembicaraan dalam ayat ini, dan pembicaraan masuk dalam wahyu yang umum, ketika Allah Taala berfirman: ‘Maka dengarkanlah apa yang diwahyukan.'” (Thaha: 13).
Pembahasan Keempat: Pembicaraan di Akhirat
Pembicaraan Allah Taala kepada para hamba-Nya di akhirat terjadi dari-Nya kepada mereka tanpa perantara antara-Nya dan mereka. Tujuannya berbeda dengan tujuan pembicaraan di dunia. Pembicaraan di dunia dimaksudkan untuk memperbaiki perilaku menuju kehidupan akhirat. Adapun terjadinya di akhirat, maka ada tiga bentuk:
Bentuk Pertama: Untuk hisab (perhitungan) dan penghakiman di antara para hamba di padang Mahsyar:
Semua makhluk sama dalam pembicaraan ini kecuali kaum-kaum tertentu yang Allah kehendaki untuk mengharamkan mereka dari hal itu, sebagai hukuman dan tambahan siksaan.
Di antara dalil tentang apa yang kami sebutkan:
- Firman Allah Taala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Dia memanggil mereka seraya berfirman: ‘Bagaimana jawaban kalian kepada para rasul?'” (Al-Qashash: 65).
- Firman Allah Taala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Dia memanggil mereka (seraya berfirman): ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku (yang kalian dusta-dustakan itu)?’ Mereka menjawab: ‘Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang menjadi saksi (tentang itu).'” (Fushshilat: 47).
- Hadits Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabat: “Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: ‘Akulah Raja, di manakah raja-raja bumi?'” Dan dalam lafaz lain: “Allah akan menggenggam bumi pada hari kiamat…”
- Hadits Adiy bin Hatim radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Allah akan berbicara kepadanya, tidak ada penerjemah antara dia dan-Nya. Maka ia melihat ke arah kanannya, tidak melihat kecuali apa yang telah ia kerjakan, dan melihat ke hadapannya, tidak melihat kecuali neraka yang menghadap wajahnya. Maka bertakwalah kalian kepada neraka walau dengan sebagian buah kurma.” Dan dalam lafaz lain: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Tuhannya akan berbicara kepadanya, tidak ada penerjemah dan tidak ada hijab yang menghalanginya.”
- Hadits Abdullah bin Unais radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah akan mengumpulkan para hamba -atau manusia- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan tanpa membawa apapun.” Kami bertanya: Apa maksudnya tanpa membawa apapun? Beliau bersabda: “Tidak membawa sesuatu apapun bersama mereka. Lalu Dia memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh -saya kira beliau berkata: sebagaimana didengar oleh yang dekat-: ‘Akulah Raja, Akulah yang memberi balasan. Tidak pantas bagi seseorang dari penghuni surga masuk surga sementara ada seseorang dari penghuni neraka yang menuntutnya karena kezaliman, dan tidak pantas bagi seseorang dari penghuni neraka masuk neraka sementara ada seseorang dari penghuni surga yang menuntutnya karena kezaliman.'” Aku bertanya: Bagaimana bisa, padahal kita datang kepada Allah dalam keadaan telanjang dan tanpa membawa apapun? Beliau bersabda: “Dengan kebaikan dan keburukan.”
- Hadits Shafwan bin Muhriz, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Umar: Bagaimana engkau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbicara tentang pembicaraan rahasia (najwa)? Dia berkata: Aku mendengar beliau bersabda: “Orang mukmin akan didekatkan pada hari kiamat kepada Tuhannya Azza wa Jalla, hingga Dia meletakkan perlindungan-Nya atasnya, lalu Dia mengingatkannya dengan dosa-dosanya, Dia berfirman: ‘Apakah engkau mengenalnya?’ Dia berkata: ‘Ya wahai Tuhanku, aku mengenalnya.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini.’ Lalu dia diberi lembaran catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk: ‘Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Allah.'”
Adapun dalil-dalil tentang pengharaman sebagian kaum dari pembicaraan Allah kepada mereka, di antaranya:
- Firman Allah Taala: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah dari Kitab dan menukarnya dengan harga yang sedikit, mereka hanya menelan api ke dalam perut mereka, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. (174) Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, dan (membeli) azab dengan ampunan. Maka betapa beraninya mereka terhadap api neraka.” (Al-Baqarah: 174-175).
- Firman Allah Azza wa Jalla: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Ali Imran: 77).
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan melihat kepada mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: Seorang laki-laki yang memiliki air di padang pasir lalu menghalanginya dari musafir, seorang laki-laki yang berbai’at kepada imam hanya karena dunia, jika diberi maka dia menepati, dan jika tidak diberi maka dia tidak menepati, dan seorang laki-laki yang menjual barang kepada orang lain setelah shalat Ashar, lalu dia bersumpah dengan nama Allah bahwa dia telah diberi harga sekian dan sekian, maka orang itu membenarkannya, padahal dia berdusta.” Dan dalam lafaz lain: “Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan melihat kepada mereka: Seorang laki-laki yang bersumpah tentang suatu barang dagangan bahwa dia telah diberi harga lebih dari yang sebenarnya, padahal dia berdusta, dan seorang laki-laki yang bersumpah dengan sumpah dusta setelah shalat Ashar untuk mengambil harta seorang Muslim, dan seorang laki-laki yang menolak memberi kelebihan airnya. Maka Allah berfirman pada hari kiamat: ‘Hari ini Aku akan mencegah kelebihan karunia-Ku darimu sebagaimana engkau mencegah kelebihan apa yang tidak dikerjakan oleh tanganmu.'”
- Hadits Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan melihat kepada mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” Beliau membacanya tiga kali. Abu Dzar berkata: Mereka celaka dan merugi, siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Orang yang menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.”
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, tidak akan melihat kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: Orang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.”
Al-Khallal dalam kitab Al-Sunnah meriwayatkan melalui jalur Hanbal bin Ishaq, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah -yaitu Ahmad bin Hanbal-: Apakah Allah Azza wa Jalla berbicara kepada hamba-Nya pada hari kiamat? Dia berkata: “Ya, siapa yang akan menghakimi di antara makhluk kecuali Allah Azza wa Jalla. Dia berbicara kepada hamba-Nya dan bertanya kepadanya. Allah adalah Maha Berbicara, Dia tidak pernah berhenti memerintahkan apa yang Dia kehendaki dan menghukumi, dan tidak ada yang setara atau serupa dengan-Nya, bagaimanapun Dia kehendaki, dan kapanpun Dia kehendaki.”
Penulis berkata: Dalam dalil-dalil yang telah saya paparkan terdapat nash yang tegas tentang sahihnya akidah ini. Dan dalam pengharaman Allah Taala terhadap sebagian kaum dari pembicaraan-Nya terdapat tambahan siksaan yang menjadi dalil atas penetapan pembicaraan bagi yang lain, karena jika tidak, maka tidak ada faedahnya mengkhususkan golongan-golongan ini dari yang lain yang dihisab dengan tidak adanya pembicaraan.
Yang Kedua: Pembicaraan Allah Taala kepada penghuni surga sebagai nikmat dan karunia dari-Nya:
Di antara dalilnya:
Hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Taala berfirman kepada penghuni surga: ‘Wahai penghuni surga!’ Mereka menjawab: ‘Labbaik wahai Tuhan kami, kami selalu siap melayani-Mu.’ Dia berfirman: ‘Apakah kalian ridha?’ Mereka berkata: ‘Mengapa kami tidak ridha, padahal Engkau telah memberi kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?’ Dia berfirman: ‘Tidakkah Aku akan memberi kalian yang lebih baik dari itu?’ Mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu?’ Dia berfirman: ‘Aku turunkan ridha-Ku kepada kalian, maka Aku tidak akan murka kepada kalian selamanya setelah ini.'”
Penulis berkata: Al-Bukhari rahimahullah membuat bab: “Bab Pembicaraan Tuhan dengan Penghuni Surga” dan menyebutkan hadits ini.
Yang Ketiga: Pembicaraan Allah Taala kepada penghuni neraka sebagai teguran dan celaan:
Di antara dalilnya:
- Firman Allah Taala: “Dia berfirman: ‘Menyingkirlah kalian ke dalamnya dengan hina, dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku. (108) Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku yang berkata: Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan kasihanilah kami, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rahmat. (109) Lalu kalian menjadikan mereka bahan ejekan, sehingga (kesibukan) mengejek mereka menjadikan kalian lupa mengingat-Ku, dan kalian selalu mentertawakan mereka. (110) Sesungguhnya Aku telah memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.'” (Al-Mu’minun: 108-111).
- Hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah Tabaraka wa Taala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya: ‘Seandainya engkau memiliki dunia dan segala isinya, apakah engkau akan menebus dirimu dengannya?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Maka Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah meminta darimu yang lebih ringan dari ini ketika engkau masih dalam tulang sulbi Adam: yaitu agar engkau tidak menyekutukan-Ku -saya kira beliau berkata: dan Aku tidak akan memasukkanmu ke neraka- namun engkau menolak kecuali berbuat syirik.'”
Penulis berkata: Ketiga bentuk pembicaraan ini belum terjadi, tetapi nash-nash yang telah kami paparkan menunjukkan akan terjadinya. Hal ini akan terjadi setelah berakhirnya dunia pada hari ketika kiamat terjadi, dan setelah itu, berbeda dengan ahli bidah yang mengatakan: Sesungguhnya Allah telah berbicara dengan itu sejak azali. Pokok permasalahan ini akan dijelaskan dalam pembahasan kedelapan dari bab ini.
Cabang:
Telah sahih berita dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terjaga dari kesalahan bahwa Allah Taala telah berbicara kepada syahid Abdullah bin Amru bin Haram, salah seorang syuhada Uhud, Dia berbicara kepadanya secara langsung tanpa hijab.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu, ia berkata: Ketika Abdullah bin Amru bin Haram terbunuh pada hari Uhud, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menemuiku, lalu bersabda: “Wahai Jabir, tidakkah akan kuberitahukan kepadamu apa yang Allah firmankan kepada ayahmu?” Dan dalam lafaz lain: “Wahai Jabir, mengapa aku melihatmu bersedih?” Saya berkata: Wahai Rasulullah, ayahku syahid, dan dia meninggalkan keluarga dan hutang. Beliau bersabda: “Tidakkah akan kugembirakan engkau dengan apa yang Allah sampaikan kepada ayahmu?” Saya berkata: Tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Allah tidak pernah berbicara kepada seorang pun kecuali dari balik hijab, namun Dia berbicara kepada ayahmu secara langsung, lalu berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu.’ Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, hidupkan aku agar aku dapat terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.’ Tuhan Maha Suci berfirman: ‘Sesungguhnya telah ditetapkan dari-Ku bahwa mereka tidak akan kembali.’ Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, sampaikanlah kepada orang-orang yang masih hidup setelahku.'” Maka Allah menurunkan ayat: “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” (Ali Imran: 169).
Saya katakan: Dan ini adalah perkataan yang hakiki, tanpa perantara, dan bertatap muka tanpa penghalang, dan untuk Abdullah radiyallahu ‘anhu ada kekhususan ini sebagai karunia dan anugerah dari Allah Ta’ala karena apa yang diperolehnya di jalan Allah, dan ini terjadi dalam kehidupan setelah kematian.
Pembahasan Kelima: Kalam Allah Ta’ala Bukan Makhluk
Kalam Allah Ta’ala adalah sifat dari sifat-sifat-Nya yang bukan makhluk seperti sifat-sifat-Nya yang lain, baik itu Al-Qur’an yang berbahasa Arab, Taurat yang berbahasa Ibrani, atau selain itu dari kalam-Nya Ta’ala, baik yang telah terjadi dari kalam-Nya, maupun yang belum terjadi.
Dan Salaf pada awal Islam tidak perlu menyebutkan lafal “bukan makhluk” karena telah menjadi pemahaman mereka bahwa kalam Allah adalah sifat dari sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya bukan makhluk, hingga muncul Jahmiyyah yang menafikan sifat kalam dari Allah Ta’ala. Namun karena perkataan ini munkar dan keji, hati manusia menolaknya, kulit mereka merinding karenanya, dan iman mereka menolaknya, maka mereka menggantinya dengan perkataan: Kalam Allah adalah makhluk. Mereka berpura-pura menetapkan kalam, namun membatalkannya dengan perkataan mereka: makhluk.
Ketika hakikat perkataan mereka adalah membatalkan dan meniadakan sifat kalam, Salaf menanggapi mereka dengan menolak bid’ah ini dan mengingkarinya, serta bersikap keras kepada mereka dalam hal itu, bahkan mengkafirkan mereka, karena hakikat perkataan mereka adalah kekafiran, karena mengandung pendustaan Al-Qur’an dan penetapan kekurangan bagi Ar-Rahman. Maka Salaf berkata ketika itu: “Kalam Allah seperti Al-Qur’an dan selainnya adalah bukan makhluk.”
Dan akidah ini dibangun di atas dasar yang kokoh dan kaidah-kaidah agung dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dalil akal yang jelas, serta nash-nash Salaf dan ucapan mereka, berbeda dengan apa yang dikira oleh orang-orang yang bodoh.
Dan aku akan menyebutkan kepadamu dari hal itu apa yang telah dibukakan Allah Ta’ala agar engkau tidak tersesat, dan agar engkau menghindari apa yang diada-adakan manusia dari berbagai perkataan:
- Dari dalil-dalil Al-Kitab:
- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)
Berdalil dengan ayat ini dari dua sisi:
Pertama: bahwa Allah Ta’ala membedakan antara penciptaan (al-khalq) dan perintah (al-amr), dan keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat-Nya yang dinisbatkan kepada diri-Nya. Adapun penciptaan adalah perbuatan-Nya, sedangkan perintah adalah perkataan-Nya. Asal dalam dua hal yang diatafkan adalah berbeda kecuali jika ada qarinah yang menunjukkan tidak dikehendakinya perbedaan itu, dan di sini telah ada qarinah-qarinah yang menegaskan perbedaan antara keduanya, di antaranya sisi yang berikut.
Kedua: bahwa penciptaan terjadi dengan perintah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Kun (jadilah)’ maka jadilah ia.” (Yasin: 82)
Maka firman-Nya Ta’ala: “Kun” adalah perintah-Nya, maka jika itu makhluk, penciptaannya memerlukan perintah, dan perintah itu memerlukan perintah lagi, sampai tidak ada akhirnya, dan ini batil.
Dan Imam Ahmad rahimahullah telah berdalil kepada Jahmiyyah Mu’tazilah dengan ayat ini.
Beliau rahimahullah berkata: “Aku berkata: Allah berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” maka Dia membedakan antara penciptaan dan perintah.”
Dan beliau berkata kepada mereka: “Allah berfirman: “Telah datang perintah Allah…” (An-Nahl: 1) maka perintah-Nya adalah kalam-Nya dan kemampuan-Nya, bukan makhluk, maka janganlah kalian saling membenturkan Kitabullah sebagian dengan sebagian.”
Dan beliau berkata dalam apa yang ditulisnya kepada Al-Mutawakkil ketika bertanya kepadanya tentang masalah Al-Qur’an: “Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah…” (At-Taubah: 6), dan berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”, maka Dia mengabarkan tentang penciptaan, kemudian berfirman: “dan perintah”, maka Dia mengabarkan bahwa perintah itu bukan makhluk.”
Dan Imam Ahmad didahului dalam berdalil dengan ini oleh gurunya, Imam Sufyan bin ‘Uyainah Al-Hilali Al-Hafidz Ats-Tsiqah Al-Hujjah. Beliau rahimahullah berkata:
“Apa yang dikatakan makhluk kecil ini?” – maksudnya Bisyr Al-Marisi.
Mereka berkata: Wahai Abu Muhammad, dia mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Maka beliau berkata:
“Dia berdusta, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” maka penciptaan adalah ciptaan Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan perintah adalah Al-Qur’an.”
Al-Hafidz Hibatullah Ibnu At-Tabari berkata setelah ini: “Dan demikian pula yang dikatakan Ahmad bin Hanbal, Nu’aim bin Hammad, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Abdussalam bin ‘Ashim Ar-Razi, Ahmad bin Sinan Al-Wasithi, dan Abu Hatim Ar-Razi.”
- Dan Allah Ta’ala berfirman: “(Allah) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia.” (Ar-Rahman: 1-3)
Maka Allah Ta’ala membedakan antara ilmu-Nya dan ciptaan-Nya. Al-Qur’an adalah ilmu-Nya, dan manusia adalah ciptaan-Nya, dan ilmu-Nya Ta’ala bukan makhluk.
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu dari Allah, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu terhadap (siksa) Allah.'” (Al-Baqarah: 140)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 145)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’d: 37)
Maka Allah Ta’ala menamai Al-Qur’an sebagai ilmu, karena itulah yang datang kepadanya dari Tuhannya, dan itulah yang diajarkan Allah Ta’ala kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ilmu-Nya Ta’ala bukan makhluk, karena jika itu makhluk, Dia Ta’ala akan bersifat dengan lawannya sebelum penciptaan, Maha Tinggi Allah dari itu, Maha Suci dan Maha Luhur.
Dan dengan ini Imam Ahmad rahimahullah berdalil kepada Jahmiyyah dalam apa yang ditulisnya kepada Al-Mutawakkil tentang masalah Al-Qur’an.
Beliau rahimahullah berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “(Allah) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” Maka Dia Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an adalah dari ilmu-Nya.” Kemudian beliau berdalil dengan tiga ayat yang disebutkan, lalu berkata: “Maka Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah Ta’ala, dan dalam ayat-ayat ini ada dalil bahwa yang datang kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, karena firman-Nya: “dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu.””
Dan beliau rahimahullah berkata dalam riwayat perdebatannya dengan Jahmiyyah di majelis Al-Mu’tashim: “Abdurrahman Al-Qazzaz berkata kepadaku: Allah ada dan tidak ada Al-Qur’an. Aku berkata kepadanya: Apakah Allah ada dan tidak ada ilmu! Maka dia diam, dan jika dia mengklaim bahwa Allah ada tanpa ilmu, sungguh dia telah kafir kepada Allah.”
Dan dikatakan kepada beliau rahimahullah: Ada kaum yang berkata: Jika seseorang berkata: Kalam Allah bukan makhluk, mereka berkata: Siapa imammu dalam hal ini? Dan dari mana kamu katakan: bukan makhluk? Beliau berkata:
“Hujjahnya adalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “maka siapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang pengetahuan kepadamu”, dan yang datang kepadanya tidak lain adalah Al-Qur’an.”
Beliau berkata: “Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukan makhluk, dan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bukan makhluk, dan yang seperti ini banyak dalam Al-Qur’an.”
Dan beliau rahimahullah berkata: “Al-Qur’an adalah ilmu dari ilmu Allah, maka barangsiapa mengklaim bahwa ilmu Allah adalah makhluk maka dia kafir.”
- Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” (Al-Kahfi: 109). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Luqman: 27)
Maka Dia Ta’ala mengabarkan – dan firman-Nya adalah kebenaran – bahwa kalimat-kalimat-Nya tidak terbatas. Jika lautan yang diciptakan Allah menjadi tinta untuk menulis dengannya, dan pepohonan yang diciptakan Allah menjadi pena untuk menulisnya, niscaya habis tinta lautan, dan habis pena-pena, namun tidak habis kalimat-kalimat Allah.
Dan dalam ini adalah penjelasan tentang keagungan kalam-Nya Ta’ala, dan bahwa itu adalah sifat-Nya dan ilmu-Nya, dan ini tidak dapat dibandingkan dengan kalam makhluk yang fana, karena jika itu makhluk niscaya fana sebelum fana satu lautan dari lautan-lautan, tetapi Allah Ta’ala hanya menulis kepunahan pada makhluk bukan pada diri-Nya dan sifat-Nya.
- Nama-nama Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, seperti (Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim, As-Sami’, Al-‘Alim, Al-‘Afuww, Al-Karim…) dan nama-nama-Nya yang lain yang indah, dan itu dari kalam-Nya, karena Dialah yang menamai diri-Nya dengan nama-nama itu, baik lafal maupun maknanya.
Dan Allah Ta’ala menyamakan antara tasbih kepada-Nya dengan tasbih kepada nama-nama-Nya, maka Dia Ta’ala berfirman: “dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 42), dan berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1), dan berfirman: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung.” (Al-Waqi’ah: 74, 96 dan Al-Haqqah: 52)
Dan Allah Ta’ala menyamakan antara berdoa kepada-Nya dengan berdoa dengan nama-nama-Nya, maka Dia berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Al-A’raf: 55) dan berfirman: “Katakanlah: ‘Seruplah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma-ul-husna (nama-nama yang terbaik).'” (Al-Isra’: 110) dan berfirman: “Hanya milik Allah Asma-ul-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul-husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Dan demikian pula Allah Ta’ala menyamakan antara mengingat-Nya dengan mengingat nama-nama-Nya, maka Dia berfirman: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut.” (Al-A’raf: 205) dan berfirman: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang.” (Al-Insan: 25)
Dan tasbih, doa, dan dzikir ini jika ditujukan kepada makhluk adalah kekafiran kepada Allah.
Jika dikatakan: bahwa kalam-Nya Ta’ala adalah makhluk, maka nama-nama-Nya termasuk dalam itu, dan barangsiapa mengklaim demikian maka dia telah kafir karena apa yang kami sebutkan, dan karena makna itu adalah bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki Asma-ul-husna sebelum menciptakan kalam-Nya, dan orang yang bersumpah dengan salah satu nama-Nya menjadi musyrik karena dia bersumpah dengan makhluk, dan makhluk selain Khaliq, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah berbuat syirik.”
Dan dengan hujjah ini berdalil sejumlah Salaf dan para imam tentang Al-Qur’an bukan makhluk, di antara mereka:
- Imam Al-Hujjah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri.
Beliau berkata: “Barangsiapa berkata: Sesungguhnya “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.'” adalah makhluk, maka dia kafir.”
- Pembela Sunnah, Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Beliau berkata: “Barangsiapa bersumpah dengan salah satu nama Allah lalu melanggarnya maka wajib baginya kaffarah, karena nama Allah bukan makhluk, dan barangsiapa bersumpah dengan Ka’bah atau Shafa dan Marwah, maka tidak wajib baginya kaffarah, karena itu makhluk, sedangkan yang itu bukan makhluk.”
- Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal.
Beliau berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Qur’an adalah makhluk maka dia menurut kami kafir, karena Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah ‘Azza wa Jalla, dan di dalamnya ada nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla.”
Dan beliau berkata: “Dan nama-nama Allah ada dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah, maka barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir, dan barangsiapa mengklaim bahwa nama-nama Allah adalah makhluk maka dia telah kafir.”
Dan seseorang menyebutkan kepada beliau bahwa ada orang yang berkata: Sesungguhnya nama-nama Allah adalah makhluk, dan Al-Qur’an adalah makhluk, maka Ahmad berkata: “Kekafiran yang jelas.”
Dan beliau berkata: “Nama-nama Allah ada dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an adalah dari ilmu Allah, dan ilmu Allah bukan makhluk, dan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bukan makhluk dalam setiap sisi, dalam setiap arah, dan dalam setiap keadaan.”
Dan sebagaimana Dia Ta’ala tidak disifati dengan sifat makhluk, maka Dia tidak dinamai dengan nama makhluk.
- Dia Ta’ala mengabarkan tentang penurunan-Nya dari-Nya dan penisbatan-Nya kepada-Nya, sebagaimana Dia berfirman: “Turunnya Al-Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.” (As-Sajdah: 2), dan berfirman: “Dan orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab (Taurat) kepada mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya.” (Al-An’am: 114), dan berfirman: “Katakanlah: ‘Ruhul-Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar.'” (An-Nahl: 102), dan Dia tidak menisbatkan sesuatu yang diturunkan-Nya kepada diri-Nya selain kalam-Nya, yang menunjukkan kekhususan dengan makna. Jadi bukan seperti menurunkan hujan, besi, dan selainnya, karena benda-benda ini Dia mengabarkan tentang penurunannya, namun Dia tidak menisbatkannya kepada diri-Nya, berbeda dengan kalam-Nya Ta’ala. Dan kalam adalah sifat, dan sifat hanya dinisbatkan kepada yang bersifat dengannya bukan kepada selainnya. Maka jika itu makhluk niscaya terpisah dari Al-Khaliq, dan tidak layak menjadi sifat bagi-Nya, karena Dia Ta’ala Maha Kaya dari makhluk-Nya, tidak bersifat dengan sesuatu darinya.
Dalil-dalil dari Sunnah:
- Hadits Khaulah binti Hakim as-Sulamiyah, ia berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa turun di suatu tempat lalu mengucapkan: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, maka tidak akan ada sesuatu pun yang membahayakannya hingga ia berangkat dari tempat tersebut.”
Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku terkena sengatan kalajengking tadi malam,” beliau bersabda:
“Seandainya kamu mengucapkan ketika sore hari: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, niscaya kalajengking itu tidak akan menyakitimu.”
Dalam riwayat lain darinya, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan ketika sore hari tiga kali: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, maka tidak akan ada binatang berbisa yang menyakitinya pada malam itu.”
Ia berkata: Maka keluarga kami telah mempelajarinya dan mereka mengucapkannya, kemudian seorang budak perempuan dari mereka tersengat, namun ia tidak merasakan sakit.
Dan hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan mengucapkan:
“Aku berlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.”
Dan beliau bersabda:
“Ayahku Ibrahim memberikan perlindungan dengan doa ini kepada Ismail dan Ishaq.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan melalui apa yang kami sebutkan darinya tentang disyariatkannya berlindung dengan kalimat-kalimat Allah. Seandainya kalimat-kalimat-Nya adalah makhluk, maka berlindung dengannya adalah syirik, karena itu berarti berlindung kepada makhluk. Dan telah diketahui bahwa berlindung kepada selain Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya adalah syirik. Lalu bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya sesuatu yang merupakan syirik yang nyata, padahal beliau yang membawa mereka kepada tauhid yang murni?
Maka ini menunjukkan bahwa kalimat-kalimat Allah Ta’ala tidak diciptakan.
Nu’aim bin Hammad (guru al-Bukhari dan termasuk imam Ahlusunnah) berkata: “Tidak boleh berlindung kepada makhluk, dan tidak kepada ucapan hamba, jin, manusia, dan malaikat.”
Al-Bukhari berkata setelahnya: “Dan dalam hal ini terdapat dalil bahwa kalam Allah tidak diciptakan, dan selain-Nya adalah makhluk.” Kemudian al-Bukhari berdalil dengan apa yang telah kami sebutkan.
Sebagian ahli bidah menolak hujjah ini dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan dengan afiat-Mu dari siksa-Mu…” hadits. Mereka berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dengan ridha dan afiat, padahal keduanya adalah makhluk.
Jawabannya: Bahwa penolakan ini berasal dari pemahaman yang rusak yang telah dimasukkan setan kepada mereka – laknat Allah atasnya – yaitu mereka mengira bahwa ridha dan afiat adalah termasuk ciptaan Allah Ta’ala, sesuai dengan kebiasaan mereka bahwa Allah Ta’ala tidak berdiri pada-Nya pilihan dan kehendak. Sedangkan ridha dan afiat berkaitan dengan kehendak, dan semua yang berkaitan dengan kehendak adalah makhluk.
Prinsip yang rusak ini membawa mereka jatuh ke dalam peniadaan seluruh sifat-sifat ikhtiyariyah (pilihan), seperti ridha, murka, rahmat, kasih sayang, cinta, benci, pemberian nikmat, pembalasan, dan lainnya yang berkaitan dengan kehendak dan pilihan-Nya Ta’ala.
Sedangkan kebenaran yang jelas yang menyilaukan mata ahli bidah adalah bahwa pada diri-Nya Ta’ala berdiri sifat-sifat ikhtiyariyah, sebagaimana akan dijelaskan lebih rinci dari ini. Dan berlindung dengan ridha dan afiat adalah berlindung dengan sifat-Nya Ta’ala, karena ridha-Nya Ta’ala adalah sifat-Nya yang dengan-Nya Dia meridhai siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan afiat-Nya adalah sifat-Nya yang dengan-Nya Dia memberi afiat kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Adapun yang makhluk adalah afiat yang ada pada manusia, yang terjadi karena pemberian afiat-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Maka perhatikanlah ini – semoga Allah merahmatimu – niscaya engkau akan mendapat petunjuk insya Allah.
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Keutamaan kalam Allah atas seluruh kalam lainnya seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.”
Hadits ini mencakup penetapan akidah Salaf (al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan) dari dua sisi:
Pertama: Pembedaan antara kalam Allah dan kalam selain-Nya. Kalam itu hanya dua: kalam Allah yang merupakan sifat-Nya, atau kalam makhluk yang keluar dari makhluk-Nya. Maka Dia menisbatkan apa yang merupakan sifat Allah kepada Allah, dan mengumumkan selain itu untuk mencakup semua kalam selain apa yang dinisbatkan kepada Allah. Seandainya semuanya makhluk, maka tidak ada keperluan untuk membedakan.
Kedua: Menjadikan perbedaan antara kalam Allah dan kalam selain-Nya seperti perbedaan antara dzat Allah dan dzat selain-Nya. Maka Dia menjadikan kalam-Nya setara dengan dzat-Nya, dan kalam makhluk setara dengan dzat makhluk. Seandainya kalam-Nya makhluk, niscaya tidak akan menyamakannya dengan dzat-Nya, karena Allah Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya selain sifat-sifat dan nama-nama-Nya.
Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi telah berdalil dengan ini dalam “ar-Radd ‘alal Jahmiyyah”, ia berkata setelah menyebutkan hadits-hadits dengan makna ini:
“Dalam hadits-hadits ini terdapat penjelasan bahwa al-Quran tidak diciptakan, karena tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang memiliki tingkat keutamaan di antara keduanya seperti keutamaan antara Allah dan makhluk-Nya, karena keutamaan antara makhluk dapat dicapai, tetapi keutamaan Allah atas makhluk-Nya tidak dapat dicapai dan tidak ada seorang pun yang dapat menghitungnya. Demikian pula keutamaan kalam-Nya atas kalam makhluk. Seandainya ia makhluk, niscaya keutamaan antara ia dan kalam lainnya tidak seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya, bahkan tidak seperti sepersepuluh bagian dari seribu bagian, dan tidak mendekati. Maka pahamilah, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, maka tidak ada kalam seperti kalam-Nya, dan tidak akan pernah dapat didatangkan yang serupa dengannya selamanya.”
Dari Dalil Akal yang Jelas:
Yaitu dari dua sisi:
Pertama: Bahwa kalam Allah jika makhluk, maka tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Bahwa ia makhluk yang berdiri pada dzat Allah.
Kedua: Bahwa ia terpisah dari Allah, jauh dari-Nya.
Dan kedua keadaan ini batil, bahkan kekufuran yang keji.
Adapun yang pertama, darinya mengharuskan bahwa makhluk berdiri pada Khaliq, dan ini batil menurut perkataan Ahlusunnah dan umumnya ahli bidah, karena Allah Ta’ala Maha Kaya dari makhluk-Nya dari segala sisi.
Adapun yang kedua, darinya mengharuskan peniadaan sifat kalam bagi Allah Ta’ala, karena sifat hanya berdiri pada yang bersifat – sebagaimana telah dijelaskan – tidak berdiri pada selainnya. Jika ia berdiri pada selain yang bersifat, maka ia menjadi sifat bagi siapa yang ia berdiri padanya, dan ini artinya bahwa Rabb Ta’ala tidak berbicara, dan ini kekufuran yang jelas, sebagaimana telah kami jelaskan dalilnya.
Kedua: Engkau telah mengetahui bahwa sifat tidak berdiri sendiri. Jika ia sifat Khaliq, maka ia berdiri pada-Nya, dan jika ia sifat makhluk, maka ia berdiri padanya, pasti demikian. Maka gerakan, diam, berdiri, duduk, kekuasaan, kehendak, ilmu, kehidupan, dan sifat-sifat lainnya, jika dinisbatkan kepada sesuatu, maka ia menjadi sifat untuknya, dan ia mengikuti siapa yang ia berdiri padanya. Ini adalah sifat-sifat yang dinisbatkan kepada makhluk, maka ia adalah sifat-sifatnya ketika dinisbatkan kepadanya, dan di antaranya ada yang dinisbatkan kepada Khaliq, seperti kekuasaan, kehendak, ilmu, kehidupan dan lainnya, maka ia adalah sifat-sifat-Nya ketika dinisbatkan kepada-Nya. Dan ketika dinisbatkan kepada makhluk maka ia makhluk, dan ketika dinisbatkan kepada Khaliq maka ia tidak diciptakan.
Maka sifat kalam seperti sifat-sifat lainnya, ia harus berdiri pada sesuatu. Jika ia berdiri pada sesuatu, maka ia menjadi sifat untuk sesuatu itu, bukan sifat selainnya. Jika ia dinisbatkan kepada Khaliq Ta’ala maka ia adalah sifat-Nya, dan jika dinisbatkan kepada selain-Nya maka ia adalah sifat untuk yang lain itu. Dan sifat Khaliq tidak diciptakan seperti dzat-Nya, dan sifat makhluk adalah makhluk seperti dzatnya.
Maka ketika Allah menisbatkan kepada diri-Nya kalam, dan mensifati diri-Nya dengan-Nya, maka kalam-Nya tidak diciptakan, karena ia mengikuti dzat-Nya, dan dzat-Nya Ta’ala tidak diciptakan, dan pembahasan tentang sifat-sifat adalah cabang dari pembahasan tentang dzat.
Jika dikatakan: Ia makhluk, kami katakan: Kalau begitu Allah tersucikan dari disifati dengan makhluk. Dan kalian – menurut anggapan kalian – menyucikan-Nya Ta’ala dari berdirinya hal-hal yang baru pada-Nya. Maka ketika kalian menyucikan Rabb kalian Ta’ala dari itu, maka kalian harus tidak menisbatkan kepada-Nya kalam. Dan dengan ini kalian mendustakan dalil naqli dan aqli yang menyaksikan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat kalam, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.
Namun mereka menolak pengakuan bahwa kalam Allah Ta’ala tidak diciptakan dengan kebatilan yang lebih buruk dari yang telah disebutkan, maka mereka berkata: Kami menetapkan bahwa Allah berbicara dengan kalam yang berdiri pada selain-Nya. Maka Allah Ta’ala berbicara kepada Musa dengan kalam makhluk yang berdiri pada pohon, bukan pada-Nya Ta’ala. Kami telah menyucikan-Nya dari berdirinya hal-hal baru pada-Nya.
Kami katakan: Kalian menjadikan kalam itu sifat bagi tempat yang ia berdiri padanya, yaitu menurut perkataan kalian adalah pohon. Maka pohon dengan ini adalah yang berkata kepada Musa: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Rabb semesta alam.” (QS. al-Qashash: 30) Maka hilanglah perbedaan antara perkataan pohon dengan perkataan Firaun yang terkutuk: “Akulah rabb kalian yang paling tinggi.” (QS. an-Nazi’at: 24) Karena kalam pohon adalah sifatnya, bukan sifat Allah, dan kalam Firaun adalah sifatnya, dan keduanya mengklaim kerubohan. Maka Musa tidak benar dalam mengingkari perkataan Firaun dan menerima perkataan pohon.
Mahasuci Allah! Betapa banyak bahaya yang ditimbulkan bidah kepada para pelakunya?
Perhatikanlah – semoga Allah merahmatimu – kekufuran yang terang-terangan ini, yang menjatuhkan pelakunya ke dalamnya karena bidah yang memalukan, dan tidak ridha serta tidak menyerahkan diri kepada hakikat-hakikat tanzil (wahyu), dan mengganti wahyu yang mulia dengan sampah pikiran yang dikendalikan hawa nafsu sesukanya.
Dan sungguh hujjah akal ini termasuk yang dijadikan dalil oleh Imam Ahmad rahimahullah atas Jahmiyyah Mu’tazilah ketika beliau berdebat dengan mereka di hadapan al-Mu’tashim, beliau rahimahullah berkata:
“Dan ini kisah Musa, Allah berfirman dalam kitab-Nya, menceritakan dari diri-Nya: ‘Dan Allah berbicara kepada Musa’ (QS. an-Nisa: 164), maka Allah menetapkan kalam untuk Musa sebagai kemuliaan dari-Nya untuk Musa, kemudian Dia berfirma setelah berbicara kepadanya ‘dengan sebenar-benar kalam’ sebagai penegasan untuk kalam. Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku’ (QS. Thaha: 14). Dan kalian mengingkari ini, maka ya (huruf) ini kembali kepada selain Allah, dan jadilah makhluk yang mengklaim kerubohan?! Bukankah itu adalah Allah Azza wa Jalla.”
Demikian pula berdalil dengan hujjah ini dari imam-imam Salaf yang terpercaya dan terjaga, Abu Ayyub Sulaiman bin Daud al-Hasyimi, ia berkata:
“Barangsiapa berkata: al-Quran itu makhluk, maka ia kafir. Jika al-Quran makhluk sebagaimana yang mereka anggap, maka mengapa Firaun lebih pantas untuk kekal di neraka ketika ia berkata: ‘Akulah rabb kalian yang paling tinggi’ (QS. an-Nazi’at: 24), sedangkan mereka anggap ini makhluk. Dan yang berkata: ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku’ (QS. Thaha: 14), ini juga telah mengklaim apa yang Firaun klaim. Lalu mengapa Firaun lebih pantas untuk kekal di neraka daripada ini, sedangkan keduanya makhluk?”
Al-Bukhari rahimahullah berkata: Maka hal itu dikabarkan kepada Abu Ubaid, lalu ia menganggapnya baik dan mengaguminya.
Aku katakan: Dan Abu Ubaid adalah al-Qasim bin Sallam, ahli bahasa dari ahli hadits.
Dari Perkataan Imam-imam Salaf dalam Menetapkan Akidah Ini:
- Amr bin Dinar (termasuk sebaik-baik imam Tabi’in):
Ia berkata: “Aku mendapati sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang setelah mereka sejak tujuh puluh tahun, mereka berkata: Allah adalah Khaliq (Pencipta), dan selain-Nya adalah makhluk, dan al-Quran adalah kalam Allah, dari-Nya ia keluar dan kepada-Nya ia kembali.” Ishaq bin Rahawaih berkata:
“Dan sungguh Amr bin Dinar telah mendapati para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dari kalangan Badriyin, Muhajirin, dan Anshar, seperti: Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin az-Zubair, dan para Tabi’in yang mulia, dan atas dasar ini generasi awal umat ini berlalu.”
- Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain yang dikenal dengan “ash-Shadiq” (imam yang terpercaya dan Sunni):
Mu’awiyah bin Ammar ad-Duhni berkata: Aku bertanya kepada Ja’far – yaitu bin Muhammad – sesungguhnya mereka bertanya tentang al-Quran: apakah ia makhluk? Ia berkata:
“Ia bukan Khaliq (Pencipta) dan bukan makhluk, tetapi ia adalah kalam Allah.”
3 – Malik bin Anas (Imam Dar al-Hijrah):
Abdullah bin Nafi’ berkata: Malik pernah berkata: “Allah berbicara kepada Musa alaihissalam” dan ia juga berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah” serta ia sangat mengingkari perkataan orang yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk.
4 – Sufyan bin ‘Uyainah (Imam yang menjadi hujjah):
Ia ditanya tentang Al-Quran, maka ia menjawab: “Kalam Allah, dan bukan makhluk.”
5 – Abdullah bin al-Mubarak (Sang Ulama):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah Azza wa Jalla, bukan pencipta dan bukan pula makhluk.”
6 – Abu Abdillah asy-Syafi’i sang Imam:
Ar-Rabi’ bin Sulaiman, sahabat sekaligus muridnya, menceritakan perdebatan yang terjadi antara beliau dengan Hafsh al-Fard mengenai Al-Quran:
Maka Hafsh bertanya kepada asy-Syafi’i, lalu asy-Syafi’i membantahnya dengan hujjah dan perdebatan itu berlangsung lama. Asy-Syafi’i berhasil menegakkan hujjah kepadanya bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah yang bukan makhluk, dan beliau mengkafirkan Hafsh al-Fard.
Ar-Rabi’ berkata:
Kemudian aku bertemu Hafsh al-Fard dalam suatu majelis setelah itu, ia berkata: “Asy-Syafi’i hendak membunuhku.”
7 – Waki’ bin al-Jarrah (salah satu tokoh besar penghafal hadits):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah Azza wa Jalla, bukan makhluk.”
8 – Yahya bin Sa’id al-Qaththan (tokoh utama dalam hadits dan illatnya):
Al-Hafizh Abu al-Walid ath-Thayalisi berkata: Yahya bin Sa’id berkata kepadaku:
“Bagaimana mereka menyikapi Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa? Bagaimana mereka menyikapi ayat ini: Sesungguhnya Aku adalah Allah? Apakah itu makhluk?”
9 – Yazid bin Harun (salah satu imam besar hadits):
Ia berkata: “Barangsiapa berkata bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka ia kafir.”
10 – Abdullah bin Idris (tsiqah/tepercaya dan teguh):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah, dari Allah, dan apa yang berasal dari Allah Azza wa Jalla maka ia bukan makhluk.”
11 – Abu al-Walid ath-Thayalisi, yaitu Hisyam bin Abdul Malik (tsiqah dan hafizh):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah, dan Kalam Allah bukan makhluk.”
12 – Sulaiman bin Harb (tsiqah, kokoh bagaikan gunung, ahli sunnah):
Abbas bin Abdul ‘Azhim—seorang yang tsiqah—berkata: Aku mendengar Sulaiman bin Harb berkata:
“Al-Quran bukan makhluk.”
Aku berkata kepadanya: Engkau dahulu tidak mengatakan ini, apa yang membuatmu berubah?
Ia menjawab: “Aku mengambilnya dari Kitabullah Azza wa Jalla: Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak pula memandang kepada mereka (Ali Imran: 77). Maka berbicara dan memandang itu sama.”
13 – Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah:
Nukilan darinya dalam masalah ini mutawatir, dan orang-orang yang menukil darinya tidak terhitung jumlahnya. Cukuplah apa yang terjadi padanya dalam peristiwa mihnah (ujian) bersama Jahmiyah Mu’tazilah yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Telah disebutkan sebagian nukilan darinya sebelumnya, dan akan datang lagi sebagiannya secara tersebar.
Di antara yang baik disebutkan di sini adalah apa yang dikatakan Imam Ahmad sebagai jawaban atas pertanyaan al-Mutawakkil tentang masalah Al-Quran:
“Telah diriwayatkan dari banyak ulama salaf kita—semoga Allah merahmati mereka—bahwa mereka berkata: Al-Quran adalah Kalam Allah Azza wa Jalla, bukan makhluk. Itulah yang aku anut. Aku bukan ahli kalam, dan aku tidak memandang baik berbicara dalam masalah apapun dari hal ini kecuali yang ada dalam Kitabullah Azza wa Jalla, atau dalam hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau dari para sahabat, atau dari tabi’in. Adapun selain itu, maka berbicara tentangnya tidaklah terpuji.”
Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata:
“Allah Azza wa Jalla senantiasa berbicara, dan Al-Quran adalah Kalam Allah Azza wa Jalla yang bukan makhluk, dari segala sisi. Allah tidak disifati dengan sesuatu yang lebih dari apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri Azza wa Jalla.”
14 – Yahya bin Ma’in (Imam al-Jarh wa at-Ta’dil) dan Abu Khaitsumah Zuhair bin Harb (hafizh, imam, kritikus):
Keduanya berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah Azza wa Jalla, dan ia bukan makhluk.”
15 – Abu Bakr bin Abi Syaibah (hafizh, imam, penyusun kitab):
Seorang dari sahabatnya berkata kepadanya: Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk. Maka Abu Bakr berkata:
“Siapa yang tidak mengatakan ini, maka ia sesat dan menyesatkan, serta pelaku bid’ah.”
16 – Utsman bin Abi Syaibah (tsiqah dan hafizh):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk.”
17 – Sekelompok guru Abu Dawud as-Sijistani penulis kitab as-Sunan:
Abu Dawud—semoga Allah merahmatinya—berkata:
Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih, Hannad bin as-Sari, Abdul A’la bin Hammad, Ubaidullah bin Umar bin Maisarah al-Qawariri, Hakim bin Saif ar-Raqqi, Ayyub bin Muhammad, Sawwar bin Abdillah, ar-Rabi’ bin Sulaiman—sahabat asy-Syafi’i—, Abdul Wahhab bin al-Hakam, Muhammad bin ash-Shabbah bin Sufyan, Utsman bin Abi Syaibah, Muhammad bin Bakkar bin ar-Rayyan, Ahmad bin Jawwas al-Hanafi, Wahb bin Baqiyyah, dan orang-orang yang tidak dapat aku hitung dari para ulama kami. Mereka semua aku dengar berkata:
“Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk.”
Dan sebagian mereka berkata: “Al-Quran bukan makhluk.”
Aku katakan: Semua guru ini adalah para imam hadits, dan semuanya tsiqah, kecuali Hakim bin Saif yang ia termasuk orang baik dan tidak mengapa.
18 – Ali bin al-Madini (penilai hadits dan ahlinya):
Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah berkata: Aku mendengar Ali bin al-Madini berkata dua bulan sebelum wafatnya:
“Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Siapa yang mengatakan makhluk, maka ia kafir.”
19 – Abu Ya’qub al-Buwaiti (murid dan didikan asy-Syafi’i):
Ia berkata: “Siapa yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk, maka ia kafir.”
20 – Al-Muzani, yaitu Ismail bin Yahya (imam ahli fikih, salah satu sahabat terdekat asy-Syafi’i):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Siapa yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka ia kafir.”
21 – Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail (Imam para ahli hadits):
Ia berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk.”
22 – Abu Hatim dan Abu Zur’ah ar-Raziyyan (dua ulama hafizh, dari para imam besar hadits):
Abdurrahman bin Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang mazhab Ahlus Sunnah dalam pokok-pokok agama, apa yang mereka dapati dari para ulama di seluruh negeri, dan apa yang keduanya yakini dari hal itu.
Keduanya menjawab: “Kami mendapati para ulama di seluruh negeri—Hijaz, Irak, Syam, dan Yaman—dan di antara mazhab mereka adalah: iman terdiri dari ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, dan Al-Quran adalah Kalam Allah yang bukan makhluk dari segala sisinya.”
Merekalah lebih dari tiga puluh orang imam yang telah kami sebutkan namanya, umumnya adalah orang-orang yang dijadikan panutan, dan semuanya dari generasi utama yang merupakan sebaik-baik generasi.
Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkata:
“Para ahli hadits bersaksi dan meyakini bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah, Kitab-Nya, Khithab-Nya (firman-Nya), Wahyu-Nya, dan Tanzil-Nya (yang diturunkan), bukan makhluk. Siapa yang mengatakan ia makhluk dan meyakininya, maka ia kafir menurut mereka.”
Seandainya kita ingin mengumpulkan semua perkataan mereka yang sampai kepada kita dalam menetapkan akidah ini (Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk), niscaya hal itu memerlukan karangan tersendiri.
Imam Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan ath-Thabari al-Lalika’i dalam kitabnya yang agung Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah atau Kitab as-Sunnah telah menyebutkan pendapat tersebut dari lima ratus lima puluh orang ulama umat dan salafnya. Semuanya berkata: “Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Siapa yang mengatakan makhluk, maka ia kafir.”
Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Merekalah lima ratus lima puluh orang atau lebih, dari kalangan tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para imam yang diridhai, selain para sahabat yang mulia, pada berbagai masa dan berlalunya tahun-tahun. Di antara mereka terdapat sekitar seratus orang imam yang ucapannya dijadikan pegangan oleh manusia dan mazhab mereka dijadikan agama. Seandainya aku sibuk menukil perkataan para ahli hadits, niscaya nama-nama mereka akan mencapai ribuan.”
Aku katakan: Apa yang disebutkan sudah cukup untuk menetapkan kuatnya akidah ini, bahwa ia adalah mazhab yang benar satu-satunya, dan bahwa yang menyelisihinya telah menyimpang dari kebenaran yang jelas dan terang yang telah disepakati oleh para pemuka ulama umat. Ini adalah ijma’ Ahlus Sunnah yang tidak ada keraguan di dalamnya, wallahu a’lam.
- • • • •
Pembahasan Keenam: Sikap Tawaqquf (Berdiam Diri) dalam Masalah Al-Quran
Yang dimaksud dengan masalah ini adalah sikap diam dari menyatakan: “Al-Quran itu makhluk” atau “bukan makhluk”, dan hanya mencukupkan diri dengan mengatakan: “Al-Quran adalah firman Allah.”
Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa umat Islam pada masa awal tidak memerlukan tambahan dari perkataan: “Al-Quran adalah firman Allah”, karena mereka tidak memahami dari penisbatan ini kecuali bahwa ia adalah sifat Allah. Mereka terlalu mulia untuk tidak mengetahui bahwa sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikuti Dzat-Nya dan tidak diciptakan.
Ketika muncul bid’ah perkataan bahwa Al-Quran adalah makhluk, para imam Ahlus Sunnah memahami bahayanya, lalu mereka menolak dan membatalkannya. Setelah itu tidak ada jalan lain kecuali mengatakan: “Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk” untuk membatalkan agama ahli kesesatan dan menegakkan agama Ahlus Sunnah.
Kami telah menegakkan dalil-dalil atas kebenaran keyakinan ini dan kesesuaiannya dengan Al-Quran dan Sunnah.
Namun, sekelompok orang yang menisbatkan diri kepada ilmu tidak memahami hakikat bid’ah ini dan tidak mengerti maksud penganutnya karena kebodohan mereka. Mereka merasa berat untuk mengatakan: “Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk”, sebagaimana mereka juga merasa berat untuk mengatakan: “Firman Allah adalah makhluk”, karena takut terjerumus dalam bid’ah. Maka mereka berdiam diri karena sikap wara’ yang dibangun di atas kebodohan. Yang memperkuat hal itu adalah karena masalah ini baru muncul di benak mereka, dan mereka tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentangnya.
Akan tetapi, ketika orang-orang terjerumus dalam hal itu dan bencana menjadi besar karenanya, maka wajib menampakkan kebenaran dan menjelaskannya. Itulah yang dilakukan oleh para imam dan tokoh-tokoh umat yang menjadi panutan manusia—sebagaimana telah kami ceritakan dari mereka sebelumnya.
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya: “Apakah ada keringanan bagi seseorang untuk mengatakan: ‘Al-Quran adalah firman Allah Ta’ala’ kemudian diam?” Beliau menjawab: “Mengapa harus diam? Seandainya tidak terjadi apa yang orang-orang terjerumus ke dalamnya, tentulah diam itu cukup baginya. Namun ketika mereka sudah berbicara tentang apa yang mereka bicarakan, mengapa tidak berbicara (menjelaskan)?”
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Ajurri berkata: “Makna perkataan Ahmad bin Hanbal dalam hal ini adalah bahwa Ahlul Iman tidak berselisih bahwa Al-Quran adalah firman Allah Azza wa Jalla. Ketika Jahm datang dan mengada-adakan kekufuran dengan perkataannya bahwa Al-Quran adalah makhluk, para ulama tidak punya pilihan lain kecuali membantahnya dengan menyatakan bahwa Al-Quran adalah firman Allah Azza wa Jalla, bukan makhluk, tanpa keraguan dan tanpa tawaqquf di dalamnya. Maka barangsiapa yang tidak mengatakan ‘bukan makhluk’, ia dinamakan Waqifi (orang yang tawaqquf), yang meragukan agamanya.”
Ahmad juga berkata: “Kami dahulu memandang cukup untuk diam tentang masalah ini sebelum orang-orang ini membahasnya. Namun ketika mereka menampakkannya, kami tidak punya pilihan lain kecuali menyelisihi mereka dan membantah mereka.”
Para imam semuanya mengingkari metode orang-orang ini, bersikap keras terhadap mereka, dan menyatakan mereka sebagai ahli bid’ah. Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal adalah yang paling keras pengingkarannya.
Abu Dawud As-Sijistani berkata: Aku mendengar Ahmad menyebut dua orang yang tawaqquf dalam masalah Al-Quran dan mengajak kepadanya. Beliau terus mendoakan keburukan atas keduanya dan berkata kepadaku: “Ini adalah fitnah bagi salah satu dari keduanya.” Beliau terus menyebut keduanya dengan keburukan.
Beliau juga berkata: Aku melihat Ahmad didatangi seorang laki-laki dari penduduk Baghdad yang tawaqquf—menurut kabar yang sampai kepadaku—lalu beliau berkata: “Pergi! Jangan sampai aku melihatmu datang ke pintuku—dengan kata-kata yang kasar.” Beliau tidak menjawab salamnya dan berkata kepadanya: “Betapa butuhnya engkau diperlakukan seperti Umar memperlakukan Shabigh.” Abu Dawud berkata: Sebagian anak Ahmad menjelaskan kepadaku tentang Shabigh, lalu beliau masuk ke rumahnya dan menutup pintu.
Abu Thalib berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang menahan diri (tidak menyatakan apakah Al-Quran makhluk atau bukan), ia berkata: “Aku tidak mengatakan ia bukan makhluk.” Jika ia bertemu denganku di jalan dan mengucapkan salam, apakah aku menjawab salamnya?
Beliau menjawab: “Jangan ucapkan salam kepadanya dan jangan bicara dengannya. Bagaimana orang-orang akan mengenalnya jika engkau mengucapkan salam kepadanya? Bagaimana dia sendiri akan tahu bahwa engkau mengingkarinya? Jika engkau tidak mengucapkan salam kepadanya, dia akan merasakan kehinaan, mengetahui bahwa engkau mengingkarinya, dan orang-orang pun akan mengenalnya.”
Abu Dawud berkata: Aku mendengar Ahmad ditanya: “Bagaimana pendapatmu tentang shalat di belakang orang yang berkata tentang Al-Quran: ‘firman Allah’ lalu berdiam diri?” Beliau menjawab: “Aku suka jika mereka dijauhi.”
Akan datang penjelasan dari beliau bahwa orang yang bodoh di antara mereka ditanya dan diajarkan.
Akan datang pula dari Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah Ar-Raziyain bahwa orang seperti itu adalah ahli bid’ah dan tidak dikafirkan, karena ia tawaqquf karena kebodohan dan lemahnya pemahaman.
Setelah ujian (mihnah) berakhir dari manusia pada masa Al-Mutawakkil, kekuatan Ahlus Sunnah menguat saat itu, api fitnah padam, dan para penganutnya dihinakan. Sekelompok Jahmiyyah berlindung dengan menggunakan taqiyyah karena takut dari pedang Ahlus Sunnah. Mereka berkata: “Kami mengatakan: Al-Quran adalah firman Allah, dan kami tidak menambah. Kami tidak mengatakan makhluk, dan tidak pula bukan makhluk.”
Sebagian orang yang tidak paham mengikuti mereka dalam hal itu.
Mereka menemukan pada sikap tawaqquf sebagian orang yang tawaqquf karena sikap wara’ dari kalangan yang menisbatkan diri kepada hadits yang tidak mengetahui kebenaran—yang telah kami sebutkan tadi—sebuah tipu daya untuk berpegang padanya dan berargumen dengannya atas kebenaran mazhab mereka, padahal mereka menyembunyikan keyakinan yang rusak.
Namun para imam baru saja mengalami fitnah tersebut, telah menghadapi dan mengenalnya, sehingga mereka tidak tertipu dengan perkataan ini. Mereka mengingkarinya dan bersikap keras terhadap penganutnya serta berkata: “Dia adalah orang yang ragu.” Ini adalah keadaan paling rendah mereka menurut para imam.
Mereka menggabungkan mereka dengan Jahmiyyah terdahulu. Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Jahmiyyah terpecah menjadi tiga golongan: golongan yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk, golongan yang mengatakan firman Allah lalu diam, dan golongan yang mengatakan lafazh kita terhadap Al-Quran adalah makhluk.”
Perkataan-perkataan Imam Ahmad tentang mereka sangat banyak dan tersebar luas, demikian pula dari imam-imam Sunnah lainnya. Di antaranya:
- Muhanna Abu Abdillah As-Sulami (beliau termasuk sahabat Ahmad yang terbaik) berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal dua tahun setelah beliau dikeluarkan dari penjara: “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Beliau menjawab: “Firman Allah, bukan makhluk.” Beliau berkata: “Barangsiapa yang meriwayatkan dariku selain perkataan ini, maka dia pembohong.” Aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya sebagian orang menyebutkan darimu bahwa engkau berkata kepadanya: ‘Ia adalah firman Allah, tidak makhluk dan tidak pula bukan makhluk, tetapi ia adalah firman Allah.'” Maka Ahmad berkata: “Bohong! Aku tidak mengatakan ini. Tetapi ia adalah firman Allah, bukan makhluk.”
- Salamah bin Syabib berkata: Aku menemui Ahmad bin Hanbal dan bertanya: “Apa pendapatmu tentang orang yang mengatakan: Al-Quran adalah firman Allah?” Maka Ahmad berkata: “Barangsiapa yang tidak mengatakan: Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk, maka dia kafir.” Kemudian beliau berkata: “Jangan ragu dalam kekafiran mereka, karena barangsiapa yang tidak mengatakan: Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk, maka dia mengatakan: makhluk. Dan barangsiapa yang mengatakan ia makhluk, maka dia kafir kepada Allah Azza wa Jalla.” Salamah berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: “Apakah Waqifah itu kafir?” Beliau menjawab: “Kafir.”
- Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku ditanya tentang Waqifah, maka ayahku berkata: “Barangsiapa yang berdebat dan dikenal dengan ilmu kalam, maka dia Jahmi. Barangsiapa yang tidak dikenal dengan ilmu kalam, dijauhi sampai ia bertaubat. Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu, ia ditanya (diajarkan).”
Beliau pernah berkata tentang Waqifah: “Mereka lebih buruk dari Jahmiyyah.”
Aku berkata: Karena urusan mereka tersembunyi.
- Ishaq bin Rahawaih (imam, faqih, dan hafizh) berkata: “Barangsiapa yang mengatakan: ‘Aku tidak mengatakan Al-Quran makhluk, dan tidak pula bukan makhluk,’ maka dia Jahmi.”
- Qutaibah bin Sa’id (tsiqah, tsabat, dan hafizh) berkata: “Mereka ini—yaitu Waqifah—lebih buruk dari mereka yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk.”
- Al-Hafizh Imam Abu Al-Walid Ath-Thayalisi berkata: “Barangsiapa yang tidak mengikat hatinya bahwa Al-Quran bukan makhluk, maka dia keluar dari Islam.”
- Utsman bin Abi Syaibah (tsiqah, hafizh) berkata: “Orang-orang yang mengatakan ‘firman Allah’ lalu diam ini lebih buruk dari mereka—yaitu dari orang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk.”
- Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Shalih Al-Mishri (Al-Hafizh, Al-Imam) tentang orang yang mengatakan: “Al-Quran adalah firman Allah,” dan tidak mengatakan: “makhluk” atau “bukan makhluk.” Beliau menjawab: “Ini adalah orang yang ragu.”
- Abu Khaitsamah (tsiqah, hafizh) bertanya kepada Yahya bin Ma’in, ia berkata: “Sesungguhnya mereka mengatakan bahwa engkau berkata: Al-Quran adalah firman Allah, dan diam, tidak mengatakan makhluk dan tidak pula bukan makhluk.” Beliau menjawab: “Tidak.” Aku mengulanginya, maka beliau berkata: “Ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah). Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan selain ini, maka atasnya laknat Allah.”
- Abu Hatim dan Abu Zur’ah Ar-Raziyain, keduanya hafizh, berkata: “Barangsiapa yang ragu dalam firman Allah Azza wa Jalla, lalu tawaqquf dengan keraguan padanya, mengatakan: ‘Aku tidak tahu, makhluk atau bukan makhluk,’ maka dia Jahmi. Barangsiapa yang tawaqquf karena bodoh, ia diajarkan dan dibiarkan (tidak dikafirkan).”
Demikian pula Imam Hibatullah bin Ath-Thabari menyebutkan pengingkaran serupa dari sekitar seratus orang ahli hadits dan fuqaha.
Aku berkata: Para imam bersikap keras seperti ini terhadap orang-orang Waqifah karena kebenaran tentang firman Allah telah jelas dan tampak, dan dalil-dalil syar’i yang pasti telah tegak atasnya. Maka tidak tersisa lagi keraguan dalam meyakini dan mengatakannya.
Adapun klaim mereka bahwa perkataan “Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk” tidak diucapkan oleh orang-orang terdahulu, maka itu adalah pembangkangan dari mereka untuk membenarkan kebatilan mereka. Bagaimana mungkin orang-orang terdahulu berbicara tentang sesuatu yang belum terjadi dan belum mereka saksikan? Atau tentang sesuatu yang mereka tidak tahu bagaimana jadinya jika terjadi?
Kami telah menjelaskan dalil-dalil yang cukup untuk kebenaran keyakinan Ahlus Sunnah, dan kami telah menjelaskan bahwa itulah yang dijalani oleh para salaf umat bahkan sebelum munculnya bid’ah ini, dari sisi kesepakatan mereka bahwa ia adalah sifat Allah, dan Sang Pencipta dengan sifat-sifat-Nya berbeda dari makhluk dengan sifat-sifatnya.
Dalam kisah Al-Wahid terdapat hujjah atas orang-orang ini. Allah Ta’ala berfirman:
“Biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta yang banyak. Dan anak-anak yang selalu ada bersamanya. Dan Aku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin supaya Aku menambahnya lagi. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami. Aku akan membebaninya (siksaan yang) mendaki. Sesungguhnya dia telah berpikir dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Kemudian dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Dan tahukah kamu apa Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (Surah Al-Muddatstsir: 11-30)
Betapa miripnya kaum itu dengannya. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah perkataan jin, atau malaikat, atau selain itu dari makhluk Allah, maka dia sama dengan Al-Wahid dalam perkataannya, hanya saja kaum itu bersembunyi di balik Islam.
Telah kami jelaskan kepadamu sebelumnya bahwa Allah Ta’ala tidak disifati dengan sesuatu yang makhluk. Dalam apa yang telah kami sebutkan terdapat kecukupan dan kepuasan bagi siapa yang menghendaki kebenaran dan mengusahakannya.
Pembahasan Ketujuh: Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Huruf dan Suara
Di antara keyakinan Salaf tentang kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bahwa kalam-Nya Yang Mahaagung tersusun dari huruf-huruf. Jika Dia berkehendak, Dia menjadikannya berbahasa Arab; jika Dia berkehendak, Dia menjadikannya berbahasa Ibrani; dan jika Dia berkehendak, Dia menjadikannya selain itu. Maka Dialah yang berbicara dengan huruf-huruf Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan kalam-Nya yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan kepada mereka.” (Ibrahim: 4)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Alif Lam Mim. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia. Dan Dia menurunkan Al-Furqan (pembeda). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka akan mendapat azab yang berat. Dan Allah Mahaperkasa, mempunyai balasan (siksa).” (Ali Imran: 1-4)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menurunkan kitab-kitab: Al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Semua itu dengan bahasa para rasul yang kepadanya kitab-kitab itu diturunkan, dan dengan bahasa kaum mereka, agar hujjah dapat ditegakkan atas mereka dengannya. Sebab seandainya kitab-kitab itu dengan selain bahasa mereka, tentu mereka tidak akan memahaminya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.” (Yusuf: 1-2)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ha Mim. Demi Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti. Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu dalam induk Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, sungguh tinggi dan penuh hikmah.” (Az-Zukhruf: 1-4)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya yang mengajarkannya adalah seorang manusia.’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa asing, sedangkan (Al-Qur’an) ini adalah bahasa Arab yang jelas.” (An-Nahl: 103)
Dan Allah Yang Mahaagung berfirman: “Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. Bukankah menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? Dan sekiranya Al-Qur’an itu Kami turunkan kepada sebagian orang-orang bukan Arab, lalu dia membacakannya kepada mereka, niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.” (Asy-Syu’ara: 192-199)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah membuat dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran, (yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya), agar mereka bertakwa.” (Az-Zumar: 27-28)
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Ha Mim. (Al-Qur’an ini) diturunkan dari (Allah) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, maka mereka tidak mendengar.” (Fushshilat: 1-4)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya Kami menjadikannya sebagai Qur’an dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain Arab sedangkan (rasul) orang Arab? Katakanlah, ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka…'” (Fushshilat: 44)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan oleh Jibril ‘alaihissalam dari-Nya Yang Mahasuci adalah wahyu dan tuntunan-Nya. Itulah Al-Qur’an berbahasa Arab yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa kaumnya, agar mereka memahami, mengerti, dan mengetahuinya.
Firman-Nya: “dengan bahasa Arab yang jelas” artinya: dengan bahasa bangsa Arab.
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara dengannya demikian, dengan huruf-huruf Arab-nya seperti alif, ba, dan ta. Tidak ada sedikit pun dari itu yang merupakan perkataan selain-Nya. Jibril ‘alaihissalam hanyalah menyampaikannya dari-Nya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya dari Jibril. Itulah yang melemahkan orang-orang kafir untuk mendatangkan yang semisal dengannya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menantang manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisal dengannya, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, meskipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.'” (Al-Isra: 88)
Kenyataan bahwa Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf adalah jelas dan tidak memerlukan pembuktian, karena setiap orang mengetahui bahwa “Qul huwallahu ahad” adalah satu ayat yang terdiri dari empat kata, setiap kata tersusun dari dua huruf atau lebih, dan semuanya adalah kata-kata Arab dan huruf-huruf Arab.
Namun sebagian ahli bid’ah membantah penggunaan lafazh “huruf” dan menganggap bahwa penggunaannya memerlukan dalil.
Orang yang membantah ini tidak lepas dari salah satu dari dua keadaan:
Pertama, dia sombong—sebagaimana ciri ahli bid’ah.
Kedua, dia bodoh dan jahil.
Karena setiap orang yang melihat “Alif Lam Mim,” “Alif Lam Mim Ra,” “Kaf Ha Ya ‘Ain Shad,” “Ha Mim,” “Tha Ha,” “Ya Sin” tidak akan terlintas di benaknya selain bahwa itu adalah huruf-huruf, dan tidak ada nama lain untuknya selain ini.
Meskipun demikian, kami akan menambahkan hujjah kepadanya tentang kebenaran penggunaan istilah ini dari Sunnah dan atsar Salaf, untuk mematahkan kesombongan hidungnya atau menghapus kebodohan pikirannya. Di antaranya:
- Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mendengar suara dari atas. Maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini adalah pintu langit yang dibuka hari ini, yang tidak pernah dibuka sama sekali kecuali hari ini.” Lalu turunlah seorang malaikat darinya. Jibril berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, yang tidak pernah turun sama sekali kecuali hari ini.” Malaikat itu memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang tidak diberikan kepada nabi sebelummu: Pembuka Kitab (Al-Fatihah) dan penutup surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun darinya melainkan engkau akan diberi (pahalanya).”
- Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Pelajarilah Al-Qur’an, karena setiap huruf darinya dicatat sepuluh kebaikan dan dihapus dengannya sepuluh keburukan. Ketahuilah, aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ (sebagai satu huruf), tetapi aku mengatakan: Alif sepuluh, Lam sepuluh, dan Mim sepuluh.”
- Perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:
“Apa yang menghalangi salah seorang di antara kalian, ketika pulang dari pasar atau dari keperluannya kepada keluarganya, untuk membaca Al-Qur’an, sehingga ia mendapat sepuluh kebaikan untuk setiap hurufnya?”
- Syu’aib bin Al-Habhab berkata (ia adalah orang terpercaya dari kalangan Tabi’in kecil):
Abu Al-‘Aliyah, jika ada seseorang membaca di hadapannya, tidak berkata: “Bukan seperti itu bacaannya.” Ia hanya berkata: “Adapun aku, aku membacanya begini dan begitu.” Syu’aib berkata: Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim An-Nakha’i, maka ia berkata: “Aku kira temanmu telah mendengar: ‘Barangsiapa yang mengingkari satu huruf darinya, maka sungguh ia telah mengingkari seluruhnya.'”
Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Suara
Adapun kalam-Nya Subhanahu wa Ta’ala dengan suara, maka dalil-dalil yang pasti telah menetapkannya. Ia seperti sifat-sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang lain; sebagaimana sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk, maka suara-Nya Subhanahu wa Ta’ala tidak menyerupai suara-suara mereka. Mengqiyaskan Sang Pencipta dengan makhluk adalah penyerupaan (tasybih), sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” dalam Dzat-Nya dan seluruh sifat-sifat-Nya.
Dalil-dalil yang menetapkan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan suara sangat banyak, di antaranya:
- Pembicaraan-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Musa ‘alaihissalam. Allah berfirman kepadanya: “Maka dengarkanlah apa yang diwahyukan.” (Thaha: 13)
Ini menunjukkan bahwa Musa mendengar kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak ada yang didengar kecuali suara. Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala telah berbicara kepada kita dengan bahasa Arab yang kita pahami, dan tidak ada dalam bahasa ini pendengaran yang terjadi tanpa suara.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kalam Allah kepada Musa adalah tingkatan taklim tertinggi, dan bukan termasuk jenis ilham. Ia adalah kalam yang didengar dengan telinga.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku bertanya kepada ayahku rahimahullah tentang suatu kaum yang berkata: Ketika Allah berbicara kepada Musa, Dia tidak berbicara dengan suara. Maka ayahku berkata:
“Bahkan, sesungguhnya Rabbmu ‘Azza wa Jalla berbicara dengan suara. Hadits-hadits ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya.”
Beliau berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan.
Imam Abu Bakar Al-Marrudzi, murid Imam Ahmad, berkata: Aku mendengar Abu Abdillah—yakni Ahmad—dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Abdul Wahhab telah berbicara dan berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa Allah berbicara kepada Musa tanpa suara, maka dia adalah Jahmiyah, musuh Allah dan musuh Islam. Maka Abu Abdillah tersenyum dan berkata:
“Alangkah baiknya apa yang dikatakannya. Semoga Allah menyembuhkannya.”
Abdullah bin Ahmad juga berkata: Aku berkata kepada ayahku: Sesungguhnya di sini ada orang yang berkata bahwa Allah tidak berbicara dengan suara. Maka beliau berkata:
“Wahai anakku, mereka adalah Jahmiyah zindiq. Mereka hanya berputar-putar menuju peniadaan (sifat Allah).”
Lalu beliau menyebutkan atsar-atsar yang menyelisihi perkataan mereka.
- Pemberitahuan-Nya Subhanahu wa Ta’ala tentang seruan-Nya kepada Musa ‘alaihissalam dan kepada hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat.
Hal itu terdapat di beberapa tempat dalam Kitab-Nya, di antaranya:
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika Tuhannya menyerunya di lembah suci Thuwa.” (An-Nazi’at: 15-16)
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Kami menyerunya dari sebelah kanan Gunung Thur, dan Kami mendekatkannya untuk berbicara secara rahasia.” (Maryam: 52)
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Maka ketika dia sampai ke tempat api itu, dia diseru: ‘Wahai Musa!'” (Thaha: 11)
Firman Allah Yang Mahaagung: “Dan pada hari (ketika) Dia menyeru mereka, lalu berfirman, ‘Apakah jawaban yang kamu berikan kepada para rasul?'” (Al-Qashash: 65)
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Dan pada hari (ketika) Dia menyeru mereka, lalu berfirman, ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu sangka?'” (Al-Qashash: 62, 74)
Kata “nida'” (seruan): Al-Jauhari berkata: “Artinya suara, dan bisa didhammahkan, seperti: doa dan raungan. Naadaahu munaadatan wa nidaa’an, artinya: berteriak kepadanya.”
Dalam kitab Lisan Al-‘Arab: “An-Nidaa’—dengan mad—adalah panggilan dengan suara yang paling tinggi. Naadaituhu nidaa’an (aku memanggilnya dengan seruan).”
Syaikhul Islam berkata: “An-Nidaa’ dalam bahasa Arab adalah suara yang tinggi. Kata nidaa’ tidak digunakan untuk sesuatu yang bukan suara, baik secara hakiki maupun majazi.”
Aku berkata: Apa yang dikatakan Syaikhul Islam sesuai dengan apa yang aku kutip dari ahli bahasa bahwa nidaa’ adalah suara yang tinggi.
Jika ini diketahui, maka tetaplah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru Musa dengan suara, dan akan menyeru hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat dengan suara.
- Hadits Abdullah bin Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah akan mengumpulkan para hamba—atau manusia—dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan tidak membawa apa-apa.” Kami bertanya: “Apa maksud tidak membawa apa-apa?” Beliau bersabda: “Tidak ada sesuatu pun bersama mereka. Lalu Allah menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh—aku kira beliau bersabda: sebagaimana didengar oleh orang yang dekat—(seruan itu adalah): ‘Akulah Raja, Akulah Hakim…'” (Hadits)
Hadits ini tegas dalam menetapkan kalam Rabb Subhanahu wa Ta’ala dengan suara. Imam ahli hadits Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah telah berdalil dengannya untuk hal itu. Beliau berkata: “Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyeru dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Ini tidak ada pada selain Allah Yang Mahaagung penyebutan-Nya. Dan dalam hal ini terdapat dalil bahwa suara Allah tidak menyerupai suara-suara makhluk, karena suara Allah Yang Mahaagung penyebutan-Nya didengar dari jauh sebagaimana didengar dari dekat…” Kemudian beliau meriwayatkan hadits tersebut dengan sanadnya.
- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat memukul sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan bunyi rantai di atas batu licin. Maka ketika rasa takut dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab tentang apa yang difirmankan: ‘Yang benar.’ Dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.”
Dan dalam lafazh lain:
“Sesungguhnya Allah apabila menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka semuanya, dan bagi firman-Nya ada suara seperti suara rantai di atas batu yang licin.” Itulah maksud firman-Nya: “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.'” (Saba’: 23)
Sisi pengambilan dalil dengan lafaz ini sangat jelas, yaitu bahwa sabda beliau: “dan bagi firman-Nya ada suara seperti suara rantai” secara tegas menunjukkan bahwa firman dan kalam Allah Taala terjadi dengan suara.
Adapun lafaz yang pertama, maka kata ganti dalam sabda beliau “seakan-akan ia” kembali kepada kata yang disebutkan paling dekat, yaitu sabda beliau “bagi firman-Nya.” Maka sabda beliau “rantai di atas batu licin” mengandung penetapan suara bagi sesuatu yang diberitakan, yaitu firman tersebut. Dengan ini jelaslah penetapan firman dan kalam Allah Taala dengan suara.
Akan tetapi sebagian ahli bidah menolak hal itu dengan tujuan membatalkan keyakinan bahwa Rabb Taala berbicara dengan suara. Mereka berkata: Kata ganti dalam sabda “seakan-akan ia” kembali kepada sayap-sayap malaikat, maka suara itu adalah suara sayap-sayap malaikat.
Pendapat ini jelas batilnya karena dua alasan:
Pertama: Kata ganti pada asalnya kembali kepada kata yang disebutkan paling dekat.
Kedua: Kata ganti tersebut berbentuk mudzakkar (maskulin), seandainya ia kembali kepada sayap-sayap malaikat tentu berbentuk muannats (feminin).
Jika ada yang berkata: Kedua alasan ini bisa dialihkan oleh indikasi-indikasi (qarinah)!
Kami jawab: Benar, jika ada indikasi tersebut. Namun di sini tidak ada indikasi, bahkan ketiadaannya dikuatkan oleh lafaz kedua dari hadis Abu Hurairah sebagaimana engkau lihat.
Hadis ini termasuk yang dijadikan hujjah oleh Imam al-Bukhari rahimahullah untuk menetapkan bahwa Rabb Taala berbicara dengan suara.
- Hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata:
“Sesungguhnya Allah apabila berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara gemuruh langit seperti tarikan rantai di atas batu licin, maka mereka pingsan. Mereka terus dalam keadaan demikian hingga Jibril mendatangi mereka. Apabila Jibril datang kepada mereka, hilanglah ketakutan dari hati mereka. Mereka berkata: ‘Wahai Jibril, apa yang difirmankan Tuhanmu?’ Ia menjawab: ‘Yang benar.'”
Dan dalam lafaz lain dari Abdullah, ia berkata:
“Apabila Allah Azza wa Jalla berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara-Nya, maka mereka tersungkur sujud. ‘Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka’ —ia berkata: telah tenang hati mereka— penduduk langit berseru: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab: Yang benar…’ Ia berkata: demikian dan demikian.”
Hadis ini termasuk yang dijadikan hujjah oleh Imam Ahmad untuk menetapkan kalam Rabb Taala dengan suara.
Putranya, Abdullah, berkata, ayahku rahimahullah berkata: “Hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu: Apabila Allah Azza wa Jalla berbicara, terdengar bagi-Nya suara seperti tarikan rantai di atas batu licin.”
Ayahku berkata: “Kaum Jahmiyah mengingkari hal ini.”
Ayahku juga berkata: “Mereka ini kafir, mereka ingin mengaburkan pemahaman manusia. Barangsiapa mengklaim bahwa Allah Azza wa Jalla tidak berbicara, maka ia kafir. Hanya saja kami meriwayatkan hadis-hadis ini sebagaimana datangnya.”
Saya (penulis) berkata: Dalil-dalil ini sudah cukup—bagi orang yang mencari petunjuk—untuk menetapkan sifat kalam Rabb Taala dengan suara. Kami menerimanya sebagaimana datangnya, tidak menanyakan bagaimananya, tidak menyerupakannya dengan suara makhluk, dan kami berkata: Ia adalah suara secara hakiki. Kami berlepas diri kepada Allah Taala dari bidah-bidah para ahli bidah yang tidak mengenal dalil kecuali pendapat-pendapat tercela dan sangkaan-sangkaan rusak, yang terhalang dari cahaya al-Quran dan Sunnah serta petunjuk generasi terbaik dari kalangan Salaf dan para Imam.
Syaikhul Islam berkata: “Telah tersebar luas atsar-atsar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabiin, dan para Imam Sunnah setelah mereka, bahwa Allah Subhanahu wa Taala menyeru dengan suara, menyeru Musa, menyeru hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat dengan suara, dan berbicara dengan wahyu dengan suara. Tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan Salaf bahwa ia berkata: Allah berbicara tanpa suara atau tanpa huruf, dan tidak ada pula yang mengingkari bahwa Allah berbicara dengan suara atau dengan huruf.”
Beliau juga berkata: “Tidak ada seorang pun dari kalangan Imam dan Salaf yang berkata bahwa Allah tidak berbicara dengan suara. Bahkan telah tetap dari lebih dari satu orang Salaf dan Imam bahwa Allah berbicara dengan suara. Hal itu datang dalam atsar-atsar yang masyhur dari kalangan Salaf dan para Imam. Para Salaf dan Imam menyebutkan atsar-atsar yang di dalamnya terdapat penyebutan kalam Allah dengan suara dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya.”
Al-Hafizh Abu Nashr as-Sijzi berkata: “Adanya suara dari Allah Taala tidak berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk yang darinya keluar suara, sebagaimana penetapan kalam bagi-Nya tidak berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk yang memiliki kalam.”
Dua Peringatan:
Peringatan Pertama: Perbedaan antara huruf yang Allah berbicara dengannya dan huruf yang makhluk berbicara dengannya.
Manusia berselisih pendapat tentang huruf-huruf hijaiyah: apakah ia makhluk atau bukan makhluk?
Dalam meneliti hal ini tidak ada faedah yang besar, dan tidak ada nash dari orang yang ma’shum yang bisa dijadikan rujukan. Yang wajib adalah menahan diri dari memutlakkan perkataan “makhluk” agar tidak ada orang yang menyangka bahwa huruf-huruf yang Allah berbicara dengannya adalah makhluk.
Syaikhul Islam menyebutkan di banyak tempat bahwa Imam Ahmad mengingkari kemutlakan tersebut karena ia merupakan jalan menuju bidah dan menuju perkataan bahwa al-Quran adalah makhluk.
Sebagaimana dilarang memutlakkan perkataan bahwa huruf-huruf itu makhluk, juga dilarang memutlakkan perkataan bahwa huruf-huruf itu bukan makhluk, agar tidak ada orang yang menyangka bahwa huruf-huruf yang merupakan susunan kalam manusia adalah bukan makhluk. Hal ini akan menggiring kepada perkataan bahwa apa yang diucapkan para hamba dari kalam mereka sendiri adalah kalam Allah itu sendiri. Maka akan menjadi benar bagi kaum zindiq seperti Ibnu Arabi ath-Tha’i dan sejenisnya kebenaran perkataan mereka:
Segala ucapan di alam ini adalah kalam-Nya Sama saja bagi kita prosa dan syairnya
Perkataan ini termasuk kebatilan yang paling keji dan kekafiran yang paling besar, karena maknanya adalah bahwa segala yang diucapkan makhluk berupa kebenaran dan kedustaan, kepalsuan dan kebohongan, kata-kata kotor dan kefasikan serta kekafiran, semuanya adalah kalam Allah.
Jika demikian, tidak akan terbedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang benar dan yang dusta, antara kekafiran dan keimanan.
Yang benar dan tepat adalah dikatakan:
Huruf tunggal yang merupakan bagian dari lafaz, seperti huruf “za” dari kata “Zaid,” tidak dikatakan padanya makhluk atau bukan makhluk, karena huruf tunggal bukanlah kalam. Kalam hanya terjadi pada susunan huruf-huruf yang menghasilkan makna, seperti kata “Zaid” yang merupakan nama orang yang dikenal.
Kalam yang tersusun dari huruf-huruf yang menghasilkan makna harus dirinci: jika ia adalah kalam Allah Taala maka ia bukan makhluk, dan jika ia adalah kalam hamba yang ia ciptakan dari dirinya sendiri dan tidak bermaksud membaca kalam Allah maka ia adalah makhluk.
Firman Allah Taala: “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadapnya (menceraikannya)…” (al-Ahzab: 37) adalah bukan makhluk.
Sedangkan ucapanmu: “Zaid datang kepadaku lalu aku memuliakannya” adalah makhluk, karena yang pertama adalah kalam Allah Taala, susunan dan huruf-hurufnya, sedangkan yang kedua adalah kalammu, susunan dan huruf-hurufnya.
Seandainya seseorang mengucapkan “Muhammad Rasulullah” atau “Alif, Lam, Mim,” tidak tepat dikatakan padanya makhluk atau bukan makhluk hingga diminta penjelasan darinya. Jika ia bermaksud membaca kalam Allah maka ia bukan makhluk, dan jika ia mengucapkannya dari dirinya sendiri atau menyampaikannya dari orang lain yang menciptakannya selain Allah Taala maka ia makhluk.
Al-Hafizh yang terpercaya, Ahmad bin al-Hasan at-Tirmidzi, telah bertanya kepada Imam Ahmad, ia berkata:
Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya manusia telah terjatuh dalam masalah al-Quran, bagaimana aku harus berkata?
Beliau menjawab: “Bukankah engkau makhluk?”
Aku jawab: Ya.
Beliau bertanya: “Apakah kalammu darimu adalah makhluk?”
Aku jawab: Ya.
Beliau bertanya: “Bukankah al-Quran dari kalam Allah?”
Aku jawab: Ya.
Beliau bertanya: “Dan kalam Allah?”
Aku jawab: Ya.
Beliau bertanya: “Apakah ada sesuatu dari Allah yang makhluk?”
Maka renungkanlah perkataan yang ringkas ini karena ia termasuk perkataan yang paling kokoh dan paling baik. Imam Ahmad membedakan di dalamnya antara kalam Allah dan kalam makhluk, bahwa kalam Allah adalah yang Dia ucapkan dari awal, dan kalam makhluk adalah yang ia ucapkan dari awal. Karena kalam Allah berasal dari-Nya maka ia bukan makhluk, sebab tidak ada sesuatu dari Allah yang makhluk. Dan karena kalam makhluk berasal darinya—dengan makna bahwa dialah yang menciptakannya—maka ia makhluk, karena hamba dengan seluruh perbuatannya adalah makhluk.
Peringatan Kedua: Suara yang terdengar dari pembaca saat ia membaca kalam Allah adalah suara pembaca, bukan suara Allah Taala, sebagaimana ditegaskan oleh para Imam seperti Ahmad dan selainnya.
Hal itu karena suara hamba hanyalah perbuatannya yang ada padanya, dan seluruh perbuatannya dinisbatkan kepadanya dan makhluk seperti ia diciptakan. Akan tetapi yang didengar dengan suaranya, yang diucapkan oleh lisannya dan digerakkan oleh bibirnya, adalah kalam Allah Taala.
Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Hiasilah al-Quran dengan suara-suara kalian.”
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menisbatkan suara-suara kepada para pembaca karena itu adalah usaha dan perbuatan mereka, dan beliau membedakan antara suara-suara tersebut dengan al-Quran yang merupakan kalam Allah, wahyu-Nya dan yang diturunkan-Nya, yang dari pembaca tidak ada kecuali membaca, menunaikan, dan menyampaikannya.
Al-Quran adalah kalam Allah yang dinisbatkan kepada-Nya Taala karena ia dari-Nya, tidak dinisbatkan kepada pembaca karena ia menyampaikannya dengan suara dan gerakannya, sebagaimana setiap kalam lainnya yang disampaikan oleh salah seorang dari kita, ia hanya dinisbatkan kepada orang yang mengucapkannya dari awal.
Ucapanmu: “Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan” — engkau menyampaikannya dengan suara dan gerakanmu, dan tidak ada bagianmu dari susunannya sedikitpun. Ia hanyalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan lafaz dan maknanya. Seandainya engkau berkata: Itu adalah kalamku, tentu orang yang mendengarmu akan mendustakanmu, karena tidak ada bagianmu dari itu kecuali menyampaikan dan menunaikannya.
Demikian pula halnya dengan kalam Allah Taala ketika dibacakan oleh pembaca dan dikaji oleh pengkaji.
Allah Taala berfirman: “Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah…” (Surat At-Taubah: 6). Maka Allah menisbatkan kalam kepada diri-Nya, karena Dialah yang memulai menyusunnya dengan huruf-hurufnya dan maknanya, orang musyrik mendengarnya dengan telinganya dengan suara pembaca, karena sesungguhnya dia hanya mendengar kalam Allah dari pembaca.
Pembahasan Kedelapan: Kalam Allah Taala Dengan Kehendak Dan Pilihan-Nya
Kaum Salaf meyakini bahwa Allah Taala memiliki sifat-sifat ikhtiyariyah (pilihan), seperti berbicara, menyeru, ridha, murka, cinta, benci, rahmat, kasih sayang, pembalasan, datang, turun, bersemayam di atas Arasy, menciptakan, memberi rezeki, dan lain-lain dari sifat-sifat-Nya yang mulia yang terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya. Makna terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya adalah bahwa Dia Taala senantiasa berbicara jika Dia menghendaki, senantiasa pengasih jika Dia menghendaki, senantiasa mencipta jika Dia menghendaki, demikianlah seterusnya. Maka sifat tersebut tetap bagi-Nya Taala sejak azali, dan ia terkait dengan kehendak-Nya, jika Dia menghendaki Dia berbicara dan jika Dia menghendaki Dia diam, jika Dia menghendaki Dia mencipta dan jika Dia menghendaki Dia tidak mencipta, jika Dia menghendaki Dia murka dan jika Dia menghendaki Dia ridha.
Di antara dalil-dalil yang menjelaskan hal itu adalah:
- Firman-Nya Taala: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk kamu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kepada Adam, maka mereka pun bersujud…” (Surat Al-A’raf: 11).
Ayat ini mencakup tiga sifat: menciptakan, membentuk, memerintah. Allah mensifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat tersebut, dan itu adalah sifat-sifat-Nya sebelum menciptakan makhluk, terkait dengan kehendak-Nya. Maka Dia menghendaki untuk mencipta lalu Dia mencipta, dan setelah mencipta Dia membentuk, dan setelah membentuk Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Maka itu adalah perbuatan-perbuatan yang berurutan. Tidak terjadi pembentukan Adam sebelum penciptaannya, dan tidak ada perintah kepada malaikat untuk bersujud sebelum penciptaan dan pembentukan Adam, melainkan itu terjadi setelah penciptaan dan pembentukan. Dan Allah Taala senantiasa Maha Pencipta, Maha Pembentuk, Maha Pemberi perintah, jika Dia menghendaki.
- Firman-Nya Taala: “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya” (Surat Az-Zukhruf: 55).
Maka kaum Firaun ketika mereka memurkai Rabb mereka Taala, Dia membalas mereka. Pembalasan-Nya terhadap mereka tidak terjadi sebelum itu, meskipun Dia senantiasa bersifat dengan pembalasan terhadap musuh-musuh-Nya, sebagaimana Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” (Surat As-Sajdah: 22).
- Firman-Nya Taala: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menggagalkan amal-amal mereka” (Surat Muhammad: 28).
Maka penggagalan amal-amal mereka tidak terjadi sebelum mereka mengikuti apa yang memurkai Allah dan membenci keridhaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan penggagalan yang merupakan sifat Rabb Taala hanya dilakukan oleh Allah setelah hamba layak mendapat itu. Contoh-contoh seperti ini tidak terhitung banyaknya, dan ini lebih jelas dari perlu dibuktikan dengan dalil, tetapi ahli bidah menolak kecuali mengingkari kebenaran.
Inilah yang telah kami jelaskan, yaitu pendapat Salaf.
Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Ahli ilmu berkata: Penciptaan adalah perbuatan Allah, dan perbuatan-perbuatan kita adalah makhluk, berdasarkan firman-Nya Taala: ‘Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Tidakkah Allah Yang menciptakan itu mengetahui…’ (Surat Al-Mulk: 13-14), maksudnya: yang rahasia dan yang nyata dari perkataan. Maka perbuatan Allah adalah sifat Allah, dan yang diperbuat adalah selain-Nya dari makhluk-makhluk.”
Saya katakan: Ini berlaku untuk seluruh perbuatan-perbuatan-Nya Taala. Maka semua perbuatan-Nya Taala adalah sifat-sifat bagi-Nya, dan makhluk hanyalah yang diperbuat oleh-Nya.
Syaikhul Islam berkata: “Ini yang diriwayatkan dari Salaf, dan inilah yang disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad dari para ulama secara mutlak, dan dia tidak menyebutkan perselisihan di dalamnya. Demikian pula disebutkan oleh Al-Baghawi dan lainnya dari mazhab Ahlus Sunnah.”
Dan dia berkata: “Ini adalah pendapat Salaf seluruhnya, dan mayoritas golongan…”
Kalam Allah Taala dan seruan-Nya demikian pula. Maka Dia Taala bersifat dengan berbicara dan menyeru sebagai sifat azali, terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya. Dia berbicara jika Dia menghendaki kapan Dia menghendaki, dan Dia menyeru jika Dia menghendaki kapan Dia menghendaki. Dia berbicara dengan kalam demi kalam, dan Dia menyeru dengan seruan demi seruan. Semua itu tidak diciptakan karena itu adalah sifat-Nya. Dalil-dalil tentang itu sangat banyak dalam Kitab, Sunnah, dan akal yang sesuai dengan keduanya.
Di antara itu adalah:
- Firman-Nya Taala: “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia” (Surat Yasin: 82).
Maka Dia Taala berfirman kepada setiap yang Dia kehendaki untuk menciptakan dan menjadikannya: “Jadilah” agar terjadi. Dan firman-Nya “Jadilah” adalah kalam-Nya dan sifat-Nya. Dia menjadikannya terkait dengan kehendak-Nya. Maka kapan Dia menghendaki menjadikan sesuatu, Dia berfirman: “Jadilah”, lalu jadilah itu. Maka firman-Nya Taala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Dia berfirman: Jadilah, lalu terjadilah, firman-Nya itu adalah benar” (Surat Al-An’am: 73), yaitu hari Kiamat. Dan hari Kiamat belum terjadi, dan Allah Taala belum berfirman kepadanya: “Jadilah”, melainkan Dia akan mengatakannya ketika Dia menghendaki itu.
Ini adalah salah satu dalil paling jelas tentang keterkaitan kalam-Nya Taala dengan kehendak-Nya.
Asy’ariyah dan sejenisnya berargumen dengan ayat ini dan yang serupa bahwa Al-Quran tidak diciptakan dan mereka menjawab dengan itu terhadap Mu’tazilah Jahmiyah. Mereka mengabaikan petunjuk ayat itu sendiri tentang keterkaitan firman-Nya Taala dengan kehendak-Nya. Ini adalah bagian dari penyimpangan mereka dari kebenaran dan jalan yang lurus sebagaimana akan dijelaskan dalam Bab Ketiga.
- Allah Taala mengabarkan tentang Dia berbicara kepada Musa dan menyerunya di beberapa tempat dalam kitab-Nya. Itu hanya terjadi setelah penciptaan Musa. Dia tidak berbicara kepada Musa dan tidak menyerunya sebelum menciptakannya. Bahkan Dia tidak menyerunya dan tidak berbicara kepadanya sebelum dia datang ke pohon, sebagaimana firman-Nya Taala: “Ketika ia sampai ke (pohon api) itu, diserulah dia: Wahai Musa”. Maka Dia tidak menyerunya sebelum kedatangannya, bertentangan dengan ahli bidah. Ini adalah konsekuensi bahasa yang dengannya Al-Quran diturunkan. Dan Allah Taala hanya menyapa hamba-hamba dengan bahasa mereka yang mereka pahami dan mengerti.
- Firman-Nya Taala menyapa ahli neraka: “Bukankah ayat-ayat-Ku dibacakan kepadamu lalu kamu mendustakannya? Mereka menjawab: Ya Rabb kami, kemalangan telah menimpa kami dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya, maka jika kami kembali (berbuat jahat), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Dia berfirman: Diamlah kamu di dalamnya dengan hina dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku” (Surat Al-Mu’minun: 105-108).
Ini adalah firman-Nya Taala dan kalam-Nya. Dia hanya akan berbicara dengannya kepada ahli neraka setelah mereka dibawa ke sana. Itu belum terjadi, melainkan Dia mengabarkan kepada kita tentang terjadinya. Tidak ada mukmin yang paham, bahkan tidak ada orang berakal yang mengatakan bahwa Allah Taala telah berbicara kepada ahli neraka sejak azali—sebagaimana diklaim sebagian ahli bidah—lalu Dia berfirman kepada mereka: “Diamlah kamu di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku” padahal mereka belum ada dan belum diciptakan.
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa bertengkar…” lalu dia menyebutkan hadits, dan di dalamnya:
“…Maka Adam berkata: Engkau adalah Musa yang dipilih Allah dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, dan Dia memberimu Luh-luh yang di dalamnya penjelasan segala sesuatu, dan Dia mendekatkanmu dengan dekat, maka berapa tahunkah engkau mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan? Musa berkata: Empat puluh tahun…” Hadits.
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa Rabb Taala berbicara dengan Taurat pada waktu tertentu, yaitu empat puluh tahun sebelum penciptaan Adam. Ini dengan catatan bahwa kalam-Nya Taala adalah qadim jenisnya, dan sifat berbicara bagi-Nya tetap sejak azali, hanya saja ia terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya. Ketika Dia menghendaki untuk berbicara dengan Taurat, Dia berbicara dengannya, lalu Dia menuliskannya untuk Musa dengan tangan-Nya, Maha Agung dan Maha Tinggi.
- Semua dalil tentang berbicara di akhirat yang telah saya sebutkan belum terjadi, melainkan akan terjadi di akhirat. Ini lebih jelas dari perlu dirinci.
Telah disebutkan sebelumnya riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah melalui jalur Hanbal bin Ishaq, dia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah—yaitu Ahmad—: Allah Azza wa Jalla berbicara kepada hamba-Nya pada hari Kiamat? Dia berkata: “Ya, maka siapa yang akan memutuskan di antara makhluk kecuali Allah Azza wa Jalla, Dia berbicara kepada hamba-Nya dan bertanya kepadanya. Allah itu berbicara, Allah senantiasa memerintahkan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan, tidak ada yang setara dan serupa dengan-Nya, bagaimana Dia kehendaki dan kapan Dia kehendaki.”
- Dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma tentang haji Nabi shallallahu alaihi wasallam, sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Kita mulai dengan apa yang Allah mulai”, lalu beliau memulai dengan Shafa dan membaca “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…” (Surat Al-Baqarah: 158).
Dalam ini terdapat dalil bahwa kalam Allah sebagiannya mengikuti sebagian yang lain, dan sebagiannya mendahului sebagian yang lain.
Syaikhul Islam berkata: “Imam Ahmad radhiyallahu anhu dan imam-imam lainnya berkata: Allah senantiasa berbicara jika Dia menghendaki, dan Dia berbicara dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Dia berbicara dengan sesuatu demi sesuatu.”
Abu Abdillah bin Hamid berkata: “Tidak ada perselisihan dari Abu Abdillah—yaitu Ahmad—bahwa Allah adalah berbicara sebelum menciptakan makhluk, dan sebelum semua yang ada, dan bahwa Allah senantiasa berbicara sepanjang zaman, bagaimana Dia kehendaki, dan sebagaimana Dia kehendaki, dan jika Dia menghendaki Dia menurunkan kalam-Nya, dan jika Dia menghendaki Dia tidak menurunkannya.”
Saya katakan: Riwayat ini dari Imam Ahmad memberikan dua faedah:
Pertama: Bahwa sifat berbicara bagi Allah Taala tetap bagi-Nya sejak azali, tidak baru dan tidak diciptakan.
Kedua: Bahwa kalam-Nya Taala terkait dengan kehendak-Nya. Maka Dia berbicara jika Dia menghendaki, dan Dia diam jika Dia menghendaki.
Adapun perkataan Ibn Hamid dalam riwayatnya yang kami sebutkan: “Dan jika Dia menghendaki Dia menurunkan kalam-Nya…” dan seterusnya, maka di dalamnya ada masalah, karena ia memberikan pemahaman bahwa Dia Taala tidak berbicara setelah penciptaan makhluk, melainkan hanya menurunkan kalam-Nya yang telah Dia ucapkan. Makna ini bukanlah pendapat Imam Ahmad—sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikhul Islam dan lainnya—melainkan pendapatnya adalah: Sesungguhnya Allah Taala berbicara dengan kalam demi kalam. Dalam dalil-dalil yang telah kami sebutkan terdapat petunjuk yang jelas tentang itu. Apa yang dikatakan Abu Abdillah bin Hamid hanyalah mengikuti jalan sebagian ulama mulia Hanabilah yang berpendapat tentang qadimnya kalam tertentu sebelum penciptaan makhluk. Yang benar adalah ini bukan mazhab Salaf, dan ia bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil bahwa kalam-Nya Taala terkait dengan kehendak-Nya. Kita tidak boleh menakwilkannya bahwa penurunan kalam-Nya terkait dengan kehendak-Nya. Ibn Hamid bermaksud makna keyakinan Ahmad tetapi dia salah, dan yang benar adalah Syaikhul Islam ketika dia berkata: “…dan Dia berbicara dengan kehendak-Nya, Dia berbicara dengan sesuatu demi sesuatu.”
Telah kami tegaskan bahwa Allah Taala memiliki kesempurnaan mutlak, dan yang berbicara dengan kehendak dan pilihan-Nya lebih sempurna daripada yang tidak berbicara dengan kehendak dan pilihan-Nya. Bahkan tidak terbayangkan ada yang berbicara tanpa kehendak, tanpa kekuasaan, dan tanpa pilihan. Yang disifati dengan itu hanyalah orang bisu, karena seandainya dia membayangkan kalam dalam dirinya, dia tidak mampu berbicara dengannya dan mengucapkannya karena cacat yang ada padanya. Allah Taala Maha Suci dari kekurangan ini, dan Dia Maha Tinggi dan Maha Agung dari disifati dengan itu. Maka barangsiapa tidak menetapkan bagi-Nya kalam dengan kehendak dan pilihan-Nya, maka dia mensifati-Nya dengan kekurangan dan cacat. Maha Tinggi Allah dari itu, setinggi-tingginya.
Pembahasan Kesembilan: Tingkatan Kalam Allah Taala
Kalimat-kalimat Allah Taala tidak ada batasnya, dan ia kekal tidak akan habis sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Al-Kahfi: 109).
Dan di antara kalimat-kalimat-Nya Taala adalah: kitab-kitab-Nya yang diturunkan, seperti Taurat, Injil, dan Al-Quran, dan kalimat-kalimat-Nya yang dengannya Dia menciptakan makhluk, dan kalimat-kalimat-Nya yang dengannya Dia berbicara kepada Adam, dan yang dengannya Dia berbicara kepada Musa, dan yang dengannya Dia berbicara kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan kalimat-kalimat-Nya yang dengannya Dia berbicara kepada hamba-hamba-Nya di Mahsyar, dan di surga, dan kalimat-kalimat-Nya yang dengannya Dia menegur penduduk neraka dengan cercaan dan teguran keras, dan selain itu dari kalam-Nya Tabaraka wa Taala.
Maka kalam-Nya Taala terbagi-bagi dan terpecah-pecah, Taurat adalah sebagian dari kalam-Nya dan bagian darinya, Injil demikian juga, Al-Quran demikian juga, dan Al-Quran adalah bagian-bagian dan juzuk-juzuk, surat-surat dan ayat-ayat, dan kalimat-kalimat.
Dan semua ini termasuk perkara yang sudah pasti yang diketahui oleh semua orang, ditunjukkan oleh indera, akal, dan syariat, dan ia lebih jelas dari pada memerlukan pemberian contoh-contoh, dan penyampaian bukti-bukti dan dalil-dalil, tetapi barangsiapa yang menginginkan petunjuk dengan mengikuti hawa nafsu maka sungguh ia telah tersesat dari jalan. Maka kalam-Nya Taala yang merupakan juzuk-juzuk dan bagian-bagian, sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain, dan itu bukan dari segi Dzat yang berbicara dengannya yaitu Allah Taala, melainkan ia dari segi apa yang terkandung di dalamnya berupa makna-makna yang agung, maka sesungguhnya kalam Allah yang mengandung tauhid dan seruan kepadanya, lebih utama dari kalam-Nya yang mengandung penyebutan hukum-hukum hudud dan qishash dan semacam itu, dan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya dan sifat-sifat-Nya lebih agung daripada apa yang Dia kabarkan tentang sebagian makhluk-Nya, dan itu karena kemuliaan yang pertama atas yang kedua.
Dan sungguh telah datang dalam Sunnah yang shahih apa yang menetapkan hal itu dan menjelaskannya serta mengungkapkannya, maka di antaranya:
- Hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:
Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang dalam perjalanan, lalu beliau turun dan seorang laki-laki turun di sampingnya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menoleh kepadanya, lalu berkata:
“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang ayat yang paling utama dalam Al-Quran?”
Kata Anas: Lalu beliau membacakan kepadanya: Alhamdu lillahi rabbil alamin (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).
- Dan dari Abu Said bin Mualla radhiyallahu anhu berkata:
Aku sedang shalat di masjid, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilku, namun aku tidak menjawabnya, maka aku berkata: Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku sedang shalat, maka beliau berkata: “Bukankah Allah berfirman: Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Rasul menyerumu.” (Al-Anfal: 24).
Kemudian beliau berkata kepadaku:
“Sungguh akan aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran, sebelum kamu keluar dari masjid.”
Kemudian beliau memegang tanganku, maka ketika beliau hendak keluar aku berkata kepadanya: Bukankah engkau berkata: “Sungguh akan aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran”?
Beliau berkata: “Alhamdu lillahi rabbil alamin (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), yaitu tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Quran yang agung yang telah diberikan kepadaku.”
- Dan dari Ubay bin Kaab berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Wahai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang bersamamu yang paling agung?”
Kata Ubay: Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Beliau berkata: “Wahai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat mana dari Kitabullah yang bersamamu yang paling agung?”
Kata Ubay: Aku berkata: Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum (Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus mengurus makhluk-Nya)… (Al-Baqarah: 255).
Kata Ubay: Maka beliau menepuk dadaku, dan berkata: “Demi Allah, berbahagialah kamu dengan ilmu ini wahai Abu Mundzir.”
- Dan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki mendengar seorang laki-laki membaca: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa” sambil mengulanginya, maka ketika pagi hari ia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu menceritakan hal itu kepada beliau -dan seakan-akan laki-laki itu menganggapnya remeh- maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga Al-Quran.”
- Dan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata:
Aku sedang menuntun unta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan, maka beliau berkata kepadaku:
“Wahai Uqbah, maukah aku ajarkan kepadamu dua surat terbaik yang pernah dibaca?”
Maka beliau mengajarkanku: Qul audzu birobbil falaq (Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh) dan Qul audzu birobbin naas (Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia).
Kata Uqbah: Maka beliau tidak melihat aku bergembira dengannya dengan sangat gembira, maka ketika beliau turun untuk shalat Shubuh, beliau shalat dengan kedua surat itu untuk jamaah, maka ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selesai dari shalat, beliau menoleh kepadaku lalu berkata: “Wahai Uqbah bagaimana pendapatmu?”
Dan Syaikhul Islam mengarahkan hadits keutamaan surat Al-Ikhlas dengan berkata: “Dan itu karena Al-Quran itu ada yang berupa berita, dan ada yang berupa perintah, dan berita itu ada yang berupa berita tentang Khaliq, dan ada yang berupa berita tentang makhluk, maka sepertiganya adalah kisah-kisah, dan sepertiganya adalah perintah, dan sepertiganya adalah tauhid, maka surat itu sebanding dengan sepertiga Al-Quran dengan pertimbangan ini.”
Aku berkata: Maka nash-nash ini menunjukkan keutamaan kalam Allah sebagiannya atas sebagian yang lain, dan itu sesuai dengan apa yang ditunjukkan olehnya berupa makna-makna, dan ini adalah madzhab jumhur Salaf dan Ahlus Sunnah.
Syaikhul Islam berkata: “Dan pendapat yang benar yang dipegang oleh jumhur Salaf dan para imam adalah bahwa sebagian kalam Allah lebih utama dari sebagian yang lain, sebagaimana telah ditunjukkan oleh hal itu dari syariat dan akal.”
Pembahasan Kesepuluh: Kalam Allah Taala Diturunkan dari-Nya, Dari-Nya Bermula dan Kepada-Nya Kembali
Salaf meyakini bahwa Al-Quran adalah kalam Allah Taala, dari-Nya keluar dan bermula, Dia berbicara dengannya dengan huruf-hurufnya dan maknanya, lalu memperdengarkannya kepada Jibril alaihissalam, dan Jibril turun dengannya ke dalam hati Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, dan ia adalah lisan Arab yang jelas ini, yang turun dengan bahasa Quraisy.
Dan ini dijelaskan di berbagai tempat dari Kitab Allah Taala, maka di antaranya:
- Firman-Nya Taala: “Alif Lam Ra. (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (Hud: 1).
- Dan firman-Nya Azza wa Jalla: “(Sebagai) wahyu dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” (Thaha: 4).
- Dan firman-Nya Taala: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (An-Naml: 6).
- Dan firman-Nya Taala: “Alif Lam Mim (1) Turunnya Kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam (2) Ataukah mereka mengatakan: Dia (Muhammad) mengada-adakannya? Bahkan itu adalah kebenaran dari Tuhanmu.” (As-Sajdah: 1-3).
- Dan firman-Nya Jalla wa Ala: “Turunnya Kitab (Al-Quran ini) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (1) Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dengan (membawa) kebenaran…” (Az-Zumar: 1-2).
- Dan firman-Nya Taala: “Ha Mim (1) Wahyu yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (2) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (3) Sebagai pembawa berita gembira dan peringatan.” (Fushshilat: 1-4).
- Dan firman-Nya Taala: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Al-Quran ketika ia datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia (41) Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 41-42).
Maka Dia Taala mengabarkan dalam ayat-ayat ini dan yang menyerupainya bahwa Al-Quran Arab yang merupakan kalam-Nya, sesungguhnya ia adalah wahyu-Nya, turun dari-Nya, maka dari-Nya bermula dan keluar bukan dari yang lain.
- Dan firman-Nya Taala: “Dan apabila Kami mengganti suatu ayat di tempat ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang Dia turunkan, mereka berkata: Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (101) Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkannya dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (102) Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa Ajam, sedangkan Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” (An-Nahl: 101-103)
Maka Dia Taala mengabarkan dalam ayat-ayat ini bahwa Al-Quran Arab diturunkan dengan perantaraan Ruhul Qudus dari-Nya, dan Ruhul Qudus adalah Jibril alaihissalam, sebagaimana firman-Nya Taala: “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 97).
Maka ia bukan kalam Muhammad shallallahu alaihi wasallam -sebagaimana diklaim oleh orang-orang kafir- dan bukan pula kalam Jibril alaihissalam -sebagaimana diklaim oleh sebagian ahli bidah- melainkan ia adalah kalam Allah Taala, dari-Nya bermula dan keluar, dan Dialah yang menurunkannya dengan perantaraan utusan-Nya malaikat Jibril, maka barangsiapa berkata selain ini maka sungguh ia telah kafir, karena ia mendustakan Allah dalam perkataan-Nya, dan mengingkari apa yang dikabarkan oleh para rasul-Nya, dan jika ia mengklaim Islam dan menisbatkan dirinya kepadanya, maka Islam berlepas diri darinya.
Dan telah aku sebutkan dalam Pembahasan Kelima bahwa Allah Taala tidak menisbatkan sesuatu dari apa yang Dia turunkan kepada diri-Nya selain kalam-Nya, dan itu karena ia adalah sifat-Nya.
Adapun kembalinya kalam-Nya Taala kepada-Nya maka sebagian Ahlus Sunnah menta’wilkannya dengan kembalinya tilawahnya dan bacaannya yang merupakan perbuatan hamba.
Dan makna ini benar, karena sesungguhnya Dia Taala: “Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh yang menaikkannya.” (Fathir: 10) tetapi bukan itu yang dimaksud dalam menafsirkan ungkapan ini (dan kepadanya kembali) melainkan yang dimaksud adalah bahwa kalam Allah Taala akan diambil darinya pada suatu malam lalu diangkat dari mushaf-mushaf dan dada-dada para penghafal, maka tidak tersisa di bumi darinya satu ayat pun.
Dan dengan ini datang kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan selain beliau dari para sahabatnya.
Adapun kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka dari Hudzaifah bin Yaman dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma keduanya berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Kitab Allah akan diambil pada suatu malam, maka manusia di pagi hari tidak ada di bumi, dan tidak pula di dalam jiwa seorang muslim pun darinya satu ayat.”
Adapun kabar dari para sahabatnya, maka datang dari Abu Hurairah dan Ibnu Masud.
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Kitab Allah akan diambil, lalu diangkat ke langit maka tidak tersisa di bumi satu ayat pun dari Al-Quran, dan tidak dari Taurat, Injil, dan tidak pula Zabur, dan dicabut dari hati-hati manusia, maka mereka bangun pagi dan tidak mengetahui apa itu.”
- Dan dari Syaddad bin Maqil bahwa Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata:
“Sungguh akan dicabut Al-Quran ini dari tengah-tengah kalian.”
Kata Syaddad: Aku berkata: Wahai Abu Abdurrahman! Bagaimana ia dicabut padahal kami telah menetapkannya di dalam dada-dada kami, dan menetapkannya di dalam mushaf-mushaf kami?
Ia berkata: “Ia akan diambil padanya pada suatu malam, maka tidak tersisa di dalam hati seorang hamba pun darinya, dan tidak pula di dalam mushaf pun darinya sesuatu, dan manusia bangun pagi dalam keadaan miskin seperti hewan ternak.”
Kemudian Abdullah membaca: “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapat seorang pun yang dapat menolongmu terhadap (siksaan) Kami.” (Al-Isra: 86).
Kedua atsar ini mengandung pemberitahuan tentang perkara gaib yang tidak boleh dikatakan kecuali berdasarkan ketentuan dari nabi.
Dengan ini menjadi jelas bagimu makna perkataan sebagian salaf yang mengatakan: (Al-Quran adalah kalam Allah, diturunkan bukan makhluk, dariNya ia bermula dan kepadaNya ia kembali).
Kembali kepada penafsiran ini adalah wajib karena dalil yang telah kami sebutkan dari khabar-khabar tersebut.
Syaikhul Islam berkata: “Maka mereka mengatakan: (dariNya ia bermula) sebagai bantahan terhadap kaum Jahmiyyah yang mengatakan: ia bermula dari selain-Nya, sedangkan maksud mereka adalah bahwa Dialah yang berbicara dengannya, sebagaimana Allah Taala berfirman: Turunnya Al-Kitab (ini) adalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan Allah Taala berfirman: Tetapi pasti (akan terlaksana) keputusan yang benar dari-Ku dan yang serupa dengan itu”.
Beliau berkata: “Adapun (kepadaNya ia kembali) maka sesungguhnya ia akan diangkat pada akhir zaman dari mushaf-mushaf dan dada-dada, sehingga tidak tersisa di dalam dada satu kata pun darinya, dan tidak tersisa dalam mushaf-mushaf satu huruf pun darinya”.
Aku katakan: Penjelasan tegas tentang akidah ini diriwayatkan dari sejumlah imam salaf, di antaranya:
1 – Amr bin Dinar (salah seorang terbaik dari kalangan tabiin, yang tsiqah dan menjadi imam mereka).
Beliau berkata: “Aku mendapati para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan generasi-generasi sesudah mereka selama tujuh puluh tahun, mereka mengatakan: Allah adalah Pencipta, dan selain-Nya adalah makhluk, dan Al-Quran adalah kalam Allah, dariNya ia keluar dan kepadaNya ia kembali”.
2 – Sufyan ats-Tsauri (imam yang berilmu).
Beliau berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk, dariNya ia bermula dan kepadaNya ia kembali, barangsiapa mengatakan selain ini maka itu adalah kekufuran”.
3 – Sufyan bin Uyainah (imam hafizh).
Seorang laki-laki bertanya kepadanya: Wahai Abu Muhammad, apa yang engkau katakan tentang Al-Quran? Maka beliau menjawab: “Kalam Allah, dariNya ia keluar dan kepadaNya ia kembali”.
4 – Abu Bakar bin Ayyasy (imam muhaddits ahli sunnah).
Beliau berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah, Dia menyampaikannya kepada Jibril, dan Jibril menyampaikannya kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dariNya ia bermula, dan kepadaNya ia kembali”.
5 – Imam Ahmad bin Hanbal.
Beliau berkata: “Aku bertemu dengan para tokoh, ulama, dan fuqaha di Mekah, Madinah, Kufah, Bashrah, Syam, negeri-negeri perbatasan, dan Khurasan, dan aku melihat mereka berada di atas sunnah dan jemaah, dan aku bertanya kepada para fuqaha tentangnya -yakni lafazh ini- maka semuanya mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah bukan makhluk, dariNya ia bermula, dan kepadaNya ia kembali”.
Dan beliau berkata: “Allah senantiasa Maha Mengetahui lagi Maha Berbicara, kita beribadah kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang tidak terbatas dan tidak diketahui kecuali dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, dan kita mengembalikan Al-Quran kepada yang mengetahuinya Tabaraka wa Taala, kepada Allah, maka Dialah yang paling mengetahuinya, dariNya ia bermula dan kepadaNya ia kembali”.
6 – Abu Ja’far Ahmad bin Sinan al-Wasithi (hafizh tsabit, termasuk guru Bukhari dan Muslim).
Beliau berkata: “Barangsiapa mengira bahwa Al-Quran adalah dua hal atau bahwa Al-Quran adalah hikayat, maka demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, dia adalah zindiq kafir kepada Allah, Al-Quran ini adalah Al-Quran yang diturunkan Allah melalui lisan Jibril kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tidak berubah dan tidak berganti: Tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (Fushshilat: 42), sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman: Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya… (Al-Isra: 88), dan seandainya seseorang bersumpah untuk tidak berbicara pada hari ini, kemudian dia membaca Al-Quran, atau shalat dan membaca Al-Quran, atau mengucapkan salam dalam shalat, dia tidak melanggar sumpahnya, tidak ada sesuatu pun yang dapat disamakan dengan kalam Allah, Al-Quran adalah kalam Allah, dariNya ia bermula dan kepadaNya ia kembali, tidak ada sesuatu dari Allah Taala yang makhluk, tidak pula sifat-sifat-Nya, tidak pula nama-nama-Nya, dan tidak pula ilmu-Nya”.
Syaikhul Islam mengutip kesepakatan salaf dan para imam tentang hal itu di beberapa tempat dalam perkataannya.
Peringatan:
Harus diketahui bahwa bukan makna dari perkataan mereka (dariNya ia keluar) bahwa sifat kalam berpisah dariNya Taala dan berpindah ke yang lain, dan bahwa apa yang Dia ucapkan dinisbatkan kepada selain-Nya, dan menjadi sifat bagi yang lain -sebagaimana telah dibisikkan oleh sebagian ahli bidah- karena sesungguhnya makna ini tidak masuk akal dalam hak manusia makhluk yang lemah, apabila dia berbicara dengan suatu perkataan maka lepas darinya sifat berbicara dengan itu dan berpindah kepada selainnya, karena barangsiapa yang demikian keadaannya tidak mungkin baginya untuk berbicara kecuali satu kali saja, maka apabila dia berbicara satu kali ini maka berpisahlah darinya sifatnya, karena perkataan telah keluar darinya dan berpisah darinya, dan dengan perpisahan itu hilang darinya sifat tersebut dan berpindah kepada yang lain, ini adalah ucapan yang tidak dikatakan oleh orang yang memahami apa yang dia katakan, karena sesungguhnya orang yang disifati dengan perkataan dengan makna ini adalah orang yang disifati dengan ketidakmampuan untuk berbicara, dan ini tidak dapat dibayangkan dalam hak makhluk yang berbicara meskipun dalam kelemahannya, bagaimana mungkin orang-orang sesat ini membayangkannya dalam hak Allah yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, karena sesungguhnya Dia Taala mensifati diri-Nya sendiri bahwa Dia berbicara dengan kalam yang terkait dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, didengar oleh siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, kapan saja Dia kehendaki, dan bahwa kalimat-kalimat-Nya Taala tidak akan habis, dan barangsiapa yang demikian sifatnya maka tidak akan berpisah darinya sifatnya dengan berbicara satu kali atau berkali-kali, dan semua yang dia ucapkan dinisbatkan kepadanya bukan kepada yang lain.
Imam Hafizh Abu al-Walid ath-Thayalisi berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah, tidak terpisah dari Allah”.
Syaikhul Islam berkata: “Dan sesungguhnya perkataan salaf: (dariNya ia bermula) mereka tidak bermaksud dengannya bahwa ia berpisah dari dzat-Nya dan berpindah ke yang lain, karena sesungguhnya perkataan makhluk, bahkan seluruh sifat-sifatnya tidak berpisah darinya dan berpindah kepada yang lain, maka bagaimana mungkin dibolehkan bahwa berpisah dari dzat Allah kalam-Nya atau sifat-Nya yang lain”.
Aku katakan: Allah Taala berfirman: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah (At-Taubah: 6) maka yang didengar oleh orang musyrik yang meminta perlindungan dari pembaca sesungguhnya adalah kalam Allah yang dinisbatkan kepada-Nya bukan kepada yang lain, seandainya kalam-Nya terpisah dari-Nya dan berpisah dari-Nya maka tidak sah penisbatan-Nya kepada-Nya sebagai penisbatan sifat kepada yang bersifat.
Dan kalam ini sendiri adalah yang ada dalam mushaf-mushaf kaum muslimin tanpa keraguan dan tanpa keraguan, berbeda dengan kaum Lafzhiyyah dari kalangan Asy’ariyyah dan yang lain yang mengatakan bahwa yang ada dalam mushaf-mushaf adalah petunjuk atas kalam Allah, dan bukan kalam Allah itu sendiri, padahal Allah Taala telah berfirman: Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang mulia (77) Dalam Kitab yang terpelihara (78) Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (79) Diturunkan dari Tuhan semesta alam maka Dia menjelaskan bahwa kalam-Nya yang merupakan wahyu dan turunnya-Nya berada dalam Kitab yang terpelihara, demikian pula keberadaannya dalam mushaf-mushaf, dan kita tidak mengetahui Al-Quran kecuali yang berbahasa Arab yang diturunkan ini, dan dialah yang Allah Taala namakan sebagai kalam-Nya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:
Janganlah kalian bepergian dengan Al-Quran ke negeri musuh, karena aku khawatir musuh akan mendapatkannya.
Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa larangan bepergian dengan Al-Quran, sesungguhnya adalah larangan bepergian dengan mushaf-mushaf, karena Al-Quran hanya berada di dalamnya, dan mushaf-mushaf itulah yang dibawa dan dipindahkan, dan kita tidak mengetahui Al-Quran kecuali kalam Allah yang diturunkan secara hakiki.
Syaikhul Islam berkata: “Dan di antara yang telah diingkari oleh Ahmad dari perkataan Jahmiyyah adalah perkataan orang yang mengira bahwa Al-Quran tidak berada di dalam dada dan tidak dalam mushaf-mushaf”.
Aku katakan: Dan dalam bab ketiga tentang pembatalan akidah Asy’ariyyah terdapat yang mencakup pembatalan perkataan orang yang mengatakan: Al-Quran tidak berada dalam mushaf secara hakiki, dan sesungguhnya yang ada di dalamnya hanya petunjuk atasnya.
Dan Allah Taala lebih mengetahui, dan tidaklah taufik-ku kecuali dengan-Nya, kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali.
BAB KEDUA: PENJELASAN MASALAH LAFAZH DENGAN AL-QURAN DAN MENGHILANGKAN KERANCUAN YANG TERJADI KARENANYA
Dan di dalamnya terdapat pendahuluan dan dua pasal:
- Pasal Pertama: Penafsiran lafazh-lafazh global yang menyebabkan kerancuan terjadi.
- Pasal Kedua: Masalah lafazh dan sikap Ahlus Sunnah.
Pendahuluan
Yang dimaksud dengan masalah lafazh dengan Al-Quran adalah perkataan bahwa (lafazh pembaca dengan Al-Quran, dan bacaannya terhadapnya, dan tilawahnya) apakah dikatakan: (makhluk, atau makhluk) ataukah tidak dikatakan demikian?
Dan ini termasuk masalah-masalah yang memiliki gema luas di kalangan para muhaddits dan yang lain, yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan, yang menggembirakan syaitan dan para walinya, dan menyempitkan dada Ahlus Sunnah wal Jamaah karenanya.
Masalah ini merupakan pengelakan dari kaum Jahmiyyah yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk menuju lafazh yang menyamarkan kesesuaian mereka dengan Ahlus Sunnah, padahal mereka menginginkan madzhab batil mereka, maka mereka menyamarkan kepada manusia dengan ini, dan membukakan kepada mereka pintu baru dari bidah, maka mereka berkata: Lafazh-lafazh kami dengan Al-Quran adalah makhluk.
Permulaan munculnya lafazh ini dan pengucapannya adalah pada masa Imam Ahmad, ketika kebenaran yang ditinggikan Allah dengan Ahmad bin Hanbal dan orang-orang yang tetap bersamanya dari saudara-saudaranya muncul, dan kekuatan para pengikutnya menguat, dan Allah menolong mereka, dan menghinakan para ahli bidah dari kalangan Jahmiyyah Mutazilah yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk.
Orang pertama yang diketahui mengucapkannya adalah al-Husain al-Karabisi. Imam Ismail bin al-Fadhl al-Ashbahani berkata: “Dan orang pertama yang berkata dengan lafazh, dan mengatakan: Lafazh-lafazh kami dengan Al-Quran adalah makhluk adalah Husain al-Karabisi, maka Ahmad bin Hanbal membidahkannya, dan para ulama di berbagai negeri sepakat dengannya dalam membidahkannya…”
Kemudian beliau menyebutkan nama-nama sejumlah imam dan ulama.
Dan Abdullah bin Said bin Kullab serta Dawud azh-Zhahiri sependapat dengannya.
Dan sebab hal itu adalah apa yang mereka cobakan dari ilmu kalam yang tercela, maka mereka menyetujui kaum Jahmiyyah dalam hakikat perkataan mereka.
Dan ketika Imam Ahmad telah mengetahui kebatilan kaum itu, dan mengenal jalan masuk mereka, beliau tidak ragu-ragu dalam menyesatkan mereka, membidahkan mereka dan menjahmikan mereka, dan orang-orang tsiqah dari para sahabatnya meriwayatkan darinya tentang hal itu apa yang di dalamnya terdapat kecukupan dan kepuasan bagi orang yang Allah terangi hatinya dengan cahaya hidayah, dan jauhkan dari jalan-jalan kesesatan.
Maka datang setelahnya suatu kaum yang keliru dalam mengetahui hakikat perkataannya, dan itu baik karena tersembunyinya nash-nash tegas beliau dari mereka atau karena hawa nafsu dan bidah pada mereka, meskipun sebagian besar dari mereka dinisbatkan kepada ilmu dan sunnah.
Maka aku melihat dari keharusan -dan aku telah menyelami kedalaman topik ini- bahwa aku menjelaskan -dengan apa yang Allah Taala mudahkan- apa yang terjadi dari kesamaran dalam perkara ini, dan seandainya bukan karena apa yang terjadi karenanya dari para tokoh terkemuka maka meninggalkan pembicaraan tentangnya sudah cukup.
Dan Allah tempat meminta pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.
Pasal Pertama: Tafsir Lafaz-Lafaz yang Bersifat Umum yang Menyebabkan Terjadinya Kekeliruan
Di dalamnya terdapat dua pembahasan:
- Pembahasan Pertama: Penjelasan apakah lafaz itu sama dengan yang dilafalkan? Ataukah berbeda?
- Pembahasan Kedua: Penjelasan yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya ini benar-benar perkataan Rasul yang mulia.
Pembahasan Pertama: Penjelasan apakah lafaz itu sama dengan yang dilafalkan? Ataukah berbeda?
Terjadinya keumuman dalam penggunaan ungkapan: “lafaz itu sama dengan yang dilafalkan” atau “berbeda dengannya”, demikian juga: “bacaan itu sama dengan yang dibaca” atau “berbeda dengannya”, dan juga: “tilawah itu sama dengan yang ditilawahkan” atau “berbeda dengannya”, merupakan sumber utama kerancuan dalam masalah ini.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
(Lafaz, bacaan, tilawah) adalah kata-kata yang digunakan untuk menyebut mashdar yang merupakan perbuatan orang yang melafalkan, membaca, dan melafalkan, serta usahanya yang dilakukan dengan alat dan anggota tubuhnya, termasuk suaranya dan gerakan bibirnya.
Dan digunakan juga untuk menyebut maf’ul (objek), yaitu apa yang menjadi sasaran perbuatan pembaca, yaitu yang dilafalkan, yang dibaca, yang ditilawahkan.
Yang paling umum adalah penggunaannya dalam bentuk mashdar dalam bahasa Arab, namun mereka menggunakan mashdar dengan makna maf’ul.
Imam ahli bahasa Arab Sibawaih rahimahullah berkata: “Mashdar kadang datang dengan makna maf’ul, seperti ucapan mereka: (laban halab – susu perahan) yang sebenarnya bermaksud: mahloob (yang diperah), dan seperti ucapan mereka: (al-khalq – penciptaan) yang sebenarnya bermaksud: al-makhluq (yang diciptakan), dan mereka mengatakan tentang dirham: (dharb al-amir – cetakan amir) yang sebenarnya bermaksud: madhroob al-amir (yang dicetak oleh amir).”
Dia berkata: “Dan terkadang digunakan untuk keduanya.”
Saya katakan: Contohnya adalah firman Allah Ta’ala: Dia menciptakan kamu dalam perut ibu-ibu kalian, ciptaan demi ciptaan dalam tiga kegelapan (Surah Az-Zumar: 6). Kata khalq (ciptaan) di sini adalah mashdar, yaitu perbuatan-Nya Ta’ala. Dan firman-Nya: Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah (Surah An-Nisa: 119). Kata khalq (ciptaan) di sini adalah yang diciptakan, yaitu maf’ul dari Rabb Ta’ala.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Qira’ah (bacaan) bisa bermakna Quran, karena pendengar mendengar bacaan, dan pendengar bacaan adalah pendengar Al-Quran, dan Allah Azza wa Jalla berfirman: Maka dengarkanlah dia (Surah Al-A’raf: 204), dan berfirman: Hingga dia mendengar kalam Allah (Surah At-Taubah: 6).
Dia berkata: “Orang Arab menyebut bacaan dengan Quran. Penyair berkata tentang Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu:
Mereka menyembelih orang yang beruban dengan tanda sujud padanya Ia membelah malam dengan tasbih dan Quran
Maksudnya: dengan tasbih dan bacaan.
Abu Ubaid berkata: Dikatakan: qara’tu qira’atan, dan qur’anan, dengan makna yang sama.
Maka dia menjadikan keduanya sebagai mashdar dari qara’tu.
Allah Ta’ala berfirman: Dan bacaan Fajar, sesungguhnya bacaan Fajar itu disaksikan (Surah Al-Isra: 78), artinya: bacaan Fajar.” Dalam semua ini, bacaan adalah yang dibaca.
Demikian juga, bacaan adalah perbuatan yang pelakunya mendapat pahala, juga pujian ditujukan kepada bacaan seorang pembaca, dan celaan kepada bacaan pembaca lain, serta perbandingan antara bacaan seorang pembaca dengan yang lain, dan dalam hal ini bacaan adalah perbuatan pembaca.
Karena kata-kata ini memiliki dua makna, yaitu makna perbuatan orang yang melafalkan, membaca dan melafalkan, serta apa yang menjadi sasaran perbuatannya, yaitu yang dilafalkan, dibaca, dan ditilawahkan, maka Imam Ahmad dan para imam Ahlus Sunnah lainnya melarang penggunaan kedua ungkapan tersebut dalam kalam Allah Ta’ala – sebagaimana akan dijelaskan – maka tidak boleh dikatakan: lafaz itu sama dengan yang dilafalkan, dan tidak boleh dikatakan: berbeda dengannya, demikian juga bacaan dan tilawah, karena dalam penggunaan tersebut terdapat kemungkinan makna-makna yang salah.
Jika diucapkan secara mutlak: (lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk) maka termasuk dalam penggunaan tersebut perbuatan orang yang melafalkan, gerakannya, dan suaranya, dan ini benar, dan termasuk juga yang dilafalkan yang merupakan kalam Allah yang tersusun dari huruf-huruf yang diucapkan, didengar, dan dipahami, dan ini batil.
Inilah yang dimaksud oleh orang yang mengucapkannya secara mutlak, karena yang pertama kali mengucapkannya adalah Jahmiyyah yang berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk.
Dan jika diucapkan secara mutlak: (lafazku terhadap Al-Quran bukan makhluk) maka termasuk dalam penggunaan tersebut juga perbuatan orang yang melafalkan, dan ini batil, karena perbuatan semua hamba adalah diciptakan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (Surah Ash-Shaffat: 96). Dan termasuk juga yang dilafalkan yang merupakan kalam Allah, dan ini benar, karena kalam Allah Ta’ala bukan makhluk, huruf-hurufnya dan maknanya.
Syaikhul Islam berkata: “Lafaz pada asalnya adalah mashdar (lafazha, yalfizhu, lafzhan), demikian juga: tilawah dan qira’ah, namun penggunaannya telah tersebar untuk kalam itu sendiri yang dilafalkan, dibaca, dan ditilawahkan, dan inilah yang dimaksud dengan lafaz dalam penggunaan mereka. Jika dikatakan: (lafazku, atau: lafaz Al-Quran adalah makhluk) maka memberi kesan bahwa Al-Quran ini yang dibaca dan dilafalkan adalah makhluk. Dan jika dikatakan: (lafazku bukan makhluk) maka memberi kesan bahwa sesuatu yang dinisbatkan kepadanya bukan makhluk, padahal suara dan gerakannya adalah makhluk, namun kalam Allah yang dia baca adalah bukan makhluk. Tilawah kadang dimaksudkan dengannya kalam itu sendiri yang ditilawahkan, kadang dimaksudkan perbuatan hamba itu sendiri, dan kadang dimaksudkan gabungan keduanya. Jika dimaksudkan dengannya kalam itu sendiri yang ditilawahkan, maka tilawah adalah yang ditilawahkan. Jika dimaksudkan dengannya gerakan hamba, maka tilawah bukan yang ditilawahkan. Dan jika dimaksudkan gabungan keduanya, maka mencakup perbuatan dan kalam, sehingga tidak bisa diucapkan secara mutlak bahwa tilawah adalah yang ditilawahkan, dan tidak pula bahwa berbeda dengannya.”
Saya katakan: Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barangsiapa berkata: lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk maka dia Jahmiyyah, dan barangsiapa berkata: bukan makhluk, maka dia mubtadi’, tidak boleh diajak bicara.”
Abdullah putranya berkata: Ayahku rahimahullah membenci membicarakan lafaz dengan sesuatu apapun, atau mengatakan: makhluk atau bukan makhluk. Dan akan dijelaskan nanti penjelasan pendapat kedua kelompok: yang menafikan dan yang menetapkan.
Yang dimaksud di sini adalah menjelaskan tidak sahnya penggunaan ungkapan secara mutlak tentang penciptaan lafaz dan ketiadaannya dalam kalam Allah Ta’ala.
Pembahasan Kedua: Penjelasan yang dimaksud dengan firman-Nya Ta’ala Sesungguhnya ini benar-benar perkataan Rasul yang mulia
Firman Allah Ta’ala ini terdapat di dua tempat dalam kitab-Nya:
Tempat pertama: dalam Surah Al-Haqqah (ayat: 40).
Dan tempat kedua: dalam Surah At-Takwir (ayat: 19).
Yang dimaksud dengan Rasul dalam ayat Al-Haqqah adalah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam ayat At-Takwir adalah Jibril ‘alaihissalam, maka salah satunya adalah Rasul dari kalangan manusia, dan yang lain adalah Rasul dari kalangan malaikat.
Allah Ta’ala berfirman: Allah memilih utusan-utusan dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia (Surah Al-Hajj: 75). Dan Dia Subhanahu berfirman: Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, dua, tiga dan empat (Surah Fathir: 1).
Adapun dalil untuk menentukan yang dimaksud di tempat pertama bahwa dia adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dari beberapa segi yang ditunjukkan oleh konteks ayat-ayat.
Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya ini benar-benar perkataan Rasul yang mulia (40) Dan ia bukan perkataan penyair. Sedikit sekali kamu beriman (41) Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran (42) Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam (43) Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (44) Niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya (45) Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya (46) Maka tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami dari bertindak demikian) (47) Dan sesungguhnya ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bertakwa (Surah Al-Haqqah: 40-48).
Segi pertama: Konteks menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah mensucikan perkataan ini yang berupa Al-Quran sebagai perkataan penyair atau tukang tenung.
Dan yang menggambarkan Al-Quran sebagai syair dan tenung adalah orang-orang kafir terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Bahkan mereka berkata: “(Al-Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, bahkan dia mengada-adakannya, bahkan dia adalah seorang penyair” (Surah Al-Anbiya: 5). Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan mereka berkata: “Apakah kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena seorang penyair yang gila?” (Surah Ash-Shaffat: 36). Maka Allah Ta’ala membatalkan penggambaran mereka terhadapnya dengan menetapkan bahwa itu adalah perkataan Rasul yang mulia, yang terkumpul padanya makna-makna kemuliaan, yang di antaranya adalah kesucian, kejujuran, dan amanahnya, yang mencegahnya dari mengada-ada, berbohong, bersyair, dan bertenung, karena semuanya adalah makna-makna batil yang tidak layak bagi kedudukannya, karena dia adalah yang mulia dalam akhlak, tabiat, dan asal-usulnya.
Segi kedua: Firman-Nya: Dan sekiranya dia mengada-adakan atas Kami menyembunyikan fa’il (pelaku) karena sudah diketahui, yaitu yang disebutkan sebelumnya dengan sifatnya sebagai Rasul yang mulia, dan ini jelas. Jika bukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu siapa?
Sebagian ahli bid’ah menjawab tentang ini dengan berkata: Dia adalah Jibril ‘alaihissalam, dengan dalil ayat At-Takwir.
Kami katakan: Ini ditolak oleh zhahir (makna lahiriah) khitab (ucapan). Allah Ta’ala berfirman: Maka tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami). Ini adalah khitab kepada Quraisy. Jika Jibril ‘alaihissalam yang diasumsikan mengada-ada, maka tidak ada makna tantangan kepada Quraisy dengan firman-Nya: Maka tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), karena perlindungan dan pemeliharaan mereka terhadap Jibril tidak mungkin bagi mereka, sehingga tidak ada faedah menantang mereka dalam hal itu.
Segi ketiga: Bahwa ini adalah pendapat mayoritas mufassir, kecuali yang menyimpang karena bid’ah atau ketiadaan amanah, seperti Al-Kalbi dan Muqatil.
Dan dalil untuk menentukan yang dimaksud di tempat kedua, bahwa dia adalah Jibril ‘alaihissalam, juga dari beberapa segi:
Pertama: Penggambarannya dengan firman: Yang mempunyai kekuatan, yang tinggi kedudukannya di sisi Tuhan yang mempunyai ‘Arsy seperti firman-Nya dalam An-Najm: Yang sangat kuat (5) Yang mempunyai akal yang sempurna. Dan diketahui di sana bahwa dia adalah Jibril.
Kedua: Firman-Nya: Dan kawanmu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila (22) Dan sesungguhnya dia telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang nyata. Dhamir ha’ dalam firman-Nya: melihatnya kembali kepada Rasul yang mulia. Dan yang dilihat oleh sahabat kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di ufuk yang nyata adalah Jibril ‘alaihissalam sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam khabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan telah kami sebutkan dalam Bab Pertama.
Ketiga: Firman-Nya: Dan ia bukan perkataan setan yang terkutuk. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang kafir yang berkata: Sesungguhnya yang datang kepada Muhammad adalah setan yang mengajarinya, dan ini serupa dengan firman Allah Ta’ala: Dan ia bukan dibawa turun oleh setan-setan (210) Tidak layak bagi mereka dan tidak pula mereka sanggup (211) Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari (tempat) mendengarkan (Surah Asy-Syu’ara: 210-212). Dan ini setelah firman-Nya: Dan sesungguhnya ini benar-benar wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam (192) Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (193) Ke dalam hatimu agar kamu termasuk orang-orang yang memberi peringatan (194) Dengan bahasa Arab yang jelas (Surah Asy-Syu’ara: 192-195). Dan ini jelas bahwa dia adalah Jibril ‘alaihissalam.
Keempat: Kesepakatan para mufassir bahwa dia adalah Jibril.
Segi-segi yang telah saya sebutkan ini cukup untuk menunjukkan penentuan yang dimaksud dengan Rasul di kedua tempat bagi siapa yang diberi petunjuk dan penglihatan oleh Allah Ta’ala, meskipun saya melihat perbedaan antara keduanya jelas dengan sedikit perenungan.
Makna penisbatan perkataan kepada Jibril dan Muhammad ‘alaihimash-shalatu was-salam:
Yang dimaksud dengan perkataan jelas bahwa itu adalah Al-Quran yang diturunkan dengan lisan Arab yang jelas ini, yang merupakan wahyu dari Tuhan semesta alam. Penisbatannya kepada kedua Rasul karena masing-masing dari mereka menyampaikan dan menyampaikannya. Maka itu adalah perkataannya dari segi ini, dan bukan perkataannya dengan makna bahwa dia yang menciptakan dan memulainya karena itu mustahil. Karena jika itu dari ciptaan salah satu dari keduanya dan susunannya, maka tidak sah menisbatkannya kepada salah satu dari mereka tanpa yang lain, karena masing-masing dari mereka akan menjadi yang menciptakan dan mengatakannya, dan ini batil.
Dan itu adalah kalam Allah dengan lafaz-lafaznya dan makna-maknanya semuanya, disampaikan-Nya kepada Jibril ‘alaihissalam, maka Jibril menyampaikannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya kepada umatnya. Dan tidak ada bagi Jibril ‘alaihissalam maupun Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali penyampaian dan penyampaian saja.
Dalilnya dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa Allah berfirman: Perkataan Rasul, dan tidak berfirman: perkataan malaikat, atau: Nabi. Dan Rasul mengandung makna yang mengutus dan yang diutus dengannya. Yang mengutus adalah Allah Ta’ala, dan yang diutus dengannya adalah kalam-Nya dan wahyu-Nya. Tidak ada makna risalah kecuali ini.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Tidak dimaksudkan bahwa itu adalah perkataan Rasul, tetapi dimaksudkan bahwa itu adalah perkataan Rasul dari Allah Jalla wa ‘Azza. Dan dalam kata ‘Rasul’ terdapat yang menunjukkan kepada itu, maka cukup dengannya tanpa mengatakan: dari Allah.”
Kedua: Bahwa jika Rasul yang menciptakannya, maka dia tidak akan menjadi amanah atas risalahnya, karena yang mengutus mempercayainya untuk menyampaikan kalam-Nya sebagaimana mestinya dengan lafaz-lafaz dan makna-maknanya – karena kalam tidak mungkin kecuali demikian sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab Pertama – lalu Rasul menciptakan untuk-Nya susunan yang lain, dan ini adalah pengkhianatan terhadap amanah.
Ketiga: Bahwa jika itu dari ciptaan salah satu dari kedua Rasul, maka mustahil untuk menjadi dari ciptaan yang lain – sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Keempat: Bahwa Allah Ta’ala berfirman setelah menisbatkan perkataan kepada Rasul yang mulia dalam Surah Al-Haqqah, dan setelah mensucikannya sebagai perkataan penyair atau tukang tenung: Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka Dia menjadikan permulaannya dari-Nya, bukan dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan dari Jibril ‘alaihissalam. Yang memperjelas dan menerangkannya adalah firman-Nya dalam Asy-Syu’ara: Dan sesungguhnya ini benar-benar wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam (192) Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (193) Ke dalam hatimu agar kamu termasuk orang-orang yang memberi peringatan (194) Dengan bahasa Arab yang jelas. Maka dijelaskan bahwa yang diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas – dan lisan adalah bahasa – adalah yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin Jibril dari sisi Tuhan semesta alam Ta’ala. Maka jelaslah dengan ini bahwa itu adalah firman-Nya Ta’ala dan kalam-Nya dan wahyu-Nya.
Dalil Kelima
Dalil kelima: bahwa Allah Taala mengancam dengan neraka Saqar kepada orang yang mengklaim bahwa Alquran adalah perkataan manusia, sebagaimana Allah berfirman tentang orang yang sesat: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (cara untuk menentang Alquran). (18) Maka celakalah dia, bagaimana dia menetapkan. (19) Kemudian celakalah dia, bagaimana dia menetapkan. (20) Kemudian dia memandang. (21) Kemudian dia bermuka masam dan cemberut. (22) Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. (23) Lalu dia berkata: Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang lain). (24) Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. (25) Kelak akan Aku masukkan dia ke dalam (neraka) Saqar.” (Surah Al-Muddatstsir: 18-26).
Tidak samar lagi bahwa tidak ada perbedaan antara mengklaim bahwa Alquran adalah perkataan manusia, atau perkataan malaikat, atau perkataan jin.
Dalil Keenam
Dalil keenam: bahwa Allah Taala menyampaikan Alquran kepada orang-orang Arab dengan bahasa mereka, dan menantang mereka untuk membuat yang serupa dengannya, atau sepuluh surah yang serupa dengannya, bahkan menantang mereka untuk membuat satu surah yang serupa dengannya, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (Surah Al-Isra: 88). Dan firman-Nya: “Bahkan mereka mengatakan (Muhammad) mengada-adakannya. Katakanlah: Kalau begitu datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah siapa saja yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar. (13) Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya (Alquran) itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (Surah Hud: 13-14). Dan firman-Nya: “Bahkan mereka mengatakan (Muhammad) mengada-adakannya. Katakanlah: (Kalau benar yang kamu katakan itu), maka datangkanlah sebuah surah yang sebanding dengan (Alquran), dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Surah Yunus: 38). Dan Allah tidak akan menantang mereka dengan sesuatu yang tidak mungkin bagi mereka. Ketika mereka tidak mampu membuat yang serupa dengannya atau sebagian yang serupa dengannya, maka hal itu menunjukkan bahwa Alquran bukanlah seperti perkataan manusia, dan bukan seperti perkataan jin, melainkan ia adalah kalam Tuhan semesta alam manusia dan jin.
Menguraikan secara rinci semua dalil yang kami sebutkan akan menjadi panjang, dan apa yang telah kami sebutkan sudah cukup bagi orang yang mencari petunjuk.
Telah dijelaskan sebelumnya tentang aqidah salaf bahwa Alquran berbahasa Arab dan selainnya adalah kalam Allah, berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, dan telah disebutkan untuk itu dalil-dalil yang mencukupi. Adapun tujuan di sini adalah menghilangkan kerancuan yang dikemukakan oleh sebagian ahli bidah seputar penisbatan ucapan kepada Rasul dalam Surah Al-Haqqah dan Surah At-Takwir, dan bahwa Alquran adalah kalam Allah Taala, lafaz-lafaznya dan maknanya, tidak diciptakan baik lafaz-lafaznya yang merupakan huruf-huruf Arab yang tersusun maupun maknanya.
Pasal Kedua: Masalah Lafaz dan Sikap Ahlus Sunnah
Pasal ini memuat lima pembahasan:
- Pembahasan Pertama: Ringkasan perbedaan pendapat manusia dalam masalah lafaz.
- Pembahasan Kedua: Lafziyyah yang menafikan adalah Jahmiyyah.
- Pembahasan Ketiga: Menegakkan hujjah atas batilnya aqidah Lafziyyah yang menafikan.
- Pembahasan Keempat: Penjelasan kesalahan Lafziyyah yang menafikan terhadap dua imam Ahmad dan Al-Bukhari.
- Pembahasan Kelima: Lafziyyah yang menetapkan adalah ahli bidah.
Pembahasan Pertama: Ringkasan Perbedaan Pendapat Manusia dalam Masalah Lafaz
Ketika Jahmiyyah membuat bidah—semoga Allah membinasakan mereka—dengan pernyataan bahwa lafaz para hamba tentang Alquran adalah makhluk, hal itu menimbulkan kerancuan yang menyebabkan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah dan Hadis terjatuh dalam beberapa kesalahan, bahkan menyebabkan yang lain menyetujui Jahmiyyah dalam hakikat ucapan dan maksud mereka. Masalah lafaz menjadi penutup yang digunakan kaum munafik dari golongan Jahmiyyah untuk bersembunyi, karena mereka takut dipermalukan oleh ahlul haq ketika mereka menyatakan aqidah mereka secara terang-terangan dengan mengatakan: “Alquran adalah makhluk.”
Manusia terpecah ketika bidah ini muncul menjadi empat kelompok:
Kelompok pertama: Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk, mereka bersembunyi dengan ucapan: “Lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk,” padahal maksud mereka adalah bahwa kalam Allah adalah makhluk sesuai aqidah pendahulu mereka.
Kelompok kedua: Sekelompok orang yang menyerupai Jahmiyyah dalam sebagian ucapan mereka, yaitu Kulabiyyah—pengikut Abdullah bin Kulab—mereka mengatakan seperti Jahmiyyah: “Lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk,” maksud mereka adalah bahwa Alquran berbahasa Arab yang diturunkan oleh Jibril, yaitu lafaz-lafaz yang tersusun dari huruf-huruf seperti alif, ba, dan ta adalah makhluk, dan bahwa Allah Taala tidak berbicara dengan huruf-huruf, melainkan kalam-Nya adalah makna yang terpisah dari lafaz dan ini adalah qadim (tidak diciptakan). Mereka inilah yang disebut sebagai “Lafziyyah yang menafikan.”
Kelompok ketiga: Sekelompok ahli hadis, seperti Abu Hatim Ar-Razi Al-Hafiz, Abu Said Al-Asyajj, dan lain-lain. Ketika mereka melihat perkataan Jahmiyyah dan Kulabiyyah mengandung makna yang batil, mereka ingin menolak mereka, lalu mereka mengatakan kebalikan dari ucapan mereka dengan mengatakan: “Lafaz kami tentang Alquran tidak diciptakan.”
Maksud mereka adalah bahwa lafaz-lafaz yang tersusun dari huruf-huruf, yaitu Alquran berbahasa Arab yang diturunkan oleh Jibril alaihis salam dari Rabbil ‘alamin tidak diciptakan. Namun karena pernyataan mereka menimbulkan kesan memasukkan perbuatan hamba di dalamnya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, terjadilah kesalahan. Lalu sekelompok orang mengikuti mereka dalam ucapan mereka dan memasukkan dalam pernyataan itu suara hamba ketika membaca Alquran dan perbuatannya, dan mungkin sebagian dari mereka ragu dalam hal itu. Mereka inilah yang disebut sebagai “Lafziyyah yang menetapkan.”
Kelompok keempat: Kelompok para imam yang rabbani dari Ahlus Sunnah wal Ittiba’—seperti dua imam Ahmad dan Al-Bukhari serta pengikut mereka—mereka melarang penggunaan kedua pernyataan sebelumnya: “Lafaz tentang Alquran adalah makhluk” dan “tidak diciptakan.” Mereka berkata: “Alquran adalah kalam Allah, wahyu-Nya dan tanzil-Nya, dengan lafaz-lafaz dan maknanya. Ia bukan kalam Allah dengan lafaz-lafaznya tanpa maknanya, dan bukan dengan maknanya tanpa lafaz-lafaznya. Perbuatan para hamba dan suara mereka adalah makhluk, dan hamba membaca Alquran, maka suara adalah suara pembaca, sedangkan kalam adalah kalam Sang Pencipta.”
Inilah ringkasan mazhab manusia ketika bidah lafaz muncul.
Pembahasan Kedua: Lafziyyah yang Menafikan adalah Jahmiyyah
Lafziyyah yang menafikan—sebagaimana disebutkan sebelumnya—adalah mereka yang mengatakan: “Lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk,” dan mereka bermaksud bahwa Alquran berbahasa Arab adalah makhluk, dan bahwa Jibril hanya turun dengan Alquran yang diciptakan.
Perkataan ini sebenarnya adalah perkataan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk. Karena Alquran tidak dikenal kecuali sebagai nama untuk susunan berbahasa Arab. Jahmiyyah mengatakan bahwa ia adalah makhluk, dan kelompok ini menyetujui mereka bahwa Alquran berbahasa Arab adalah makhluk dalam susunannya, karena ia tersusun dari huruf-huruf, dan apa yang tersusun dari huruf adalah makhluk, karena huruf-huruf adalah makhluk, dan Allah tidak berbicara dengannya. Namun mereka menyelisihi Jahmiyyah dalam perbedaan yang sebenarnya hanya bersifat lafzi, yaitu bahwa mereka mengklaim bahwa Allah Taala memiliki sifat kalam, tetapi mereka berkata: “Ia adalah makna atau beberapa makna yang terpisah, bukan berupa huruf dan bukan suara.” Perkataan ini termasuk yang paling rusak, dan akan dijelaskan bantahannya dalam Bab Ketiga tentang bantahan terhadap Asy’ariyyah.
Saya menyifati perkataan ini sebagai “lafzi” karena orang yang mengatakannya sebenarnya tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah Taala, melainkan mereka membuat-buat sifat yang tidak memiliki hakikat, lalu menisbatkannya kepada Rabb Taala, menamakannya sifat kalam, dan membatalkan apa yang diketahui secara pasti dalam tafsir kalam. Karena itu, sah menyifati mereka sebagai Jahmiyyah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata—sebagaimana diriwayatkan oleh putranya Salih darinya:
“Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok: kelompok yang berkata: Alquran adalah makhluk; kelompok yang berkata: Kalam Allah, lalu diam; dan kelompok yang berkata: Lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk.” Allah Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya: “Maka beri dia perlindungan sampai dia mendengar kalam Allah.” (Surah At-Taubah: 6). “Jibril mendengarnya dari Allah, Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Jibril alaihis salam, dan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Nabi, maka Alquran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.”
Nas-nas dari Imam Ahmad tentang membidahkan mereka, bahkan sebagian tentang mengkafirkan mereka, adalah mutawatir. Saya akan menyebutkan sebagian dari apa yang Allah Taala berikan kemudahan dan sahih sanadnya.
Hal ini diriwayatkan dari beliau dari berbagai jalur:
- Abdullah bin Ahmad dari Ayahnya
Abdullah berkata: Saya bertanya kepada ayahku rahimahullah, saya berkata: Bagaimana pendapat Anda tentang seorang laki-laki yang berkata: Tilawah adalah makhluk, dan lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk, dan Alquran adalah kalam Allah Azza wa Jalla dan bukan makhluk? Bagaimana pendapat Anda tentang menjauhinya? Apakah dia disebut ahli bidah? Beliau menjawab: “Dia harus dijauhi, dan dia adalah ahli bidah, ini adalah ucapan Jahmiyyah. Alquran tidak diciptakan. Aisyah radhiyallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca ayat: ‘Dialah yang menurunkan kitab (Alquran) kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alquran.’ (Surah Ali Imran: 7). Maka Alquran tidak diciptakan.”
Abdullah berkata: Saya bertanya kepada ayahku rahimahullah, saya berkata: Sesungguhnya ada orang-orang yang berkata: Lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk? Beliau menjawab: “Mereka adalah Jahmiyyah, dan mereka lebih buruk dari orang yang berhenti (tidak berkomentar). Ini adalah ucapan Jahm.”
Dan beliau sangat menekankan masalah ini, dan berkata: “Ini adalah ucapan Jahm.”
Abdullah berkata: Saya mendengar ayahku rahimahullah berkata:
“Setiap orang yang mengarahkan kepada Alquran dengan lafaz atau selainnya, dia bermaksud bahwa ia adalah makhluk, maka dia adalah Jahmi.”
Penulis berkata: Yang beliau maksud dengan ucapan: “dia bermaksud…” dan seterusnya adalah kehati-hatian dari ucapan orang yang berkata: “Lafazku tentang Alquran adalah makhluk,” dan dia bermaksud perbuatan hamba yang melekat padanya, yaitu gerakan dan suaranya, bukan kalam Allah Taala yang tertulis, yang dibaca, yang dilafalkan. Karena barangsiapa yang mengatakan demikian dengan pengertian seperti ini, maka ucapannya adalah benar dengan makna ini. Namun penggunaannya secara mutlak tidak boleh karena kebingungan yang ditimbulkannya.
Abdullah berkata: Saya mendengar ayahku berkata: “Barangsiapa berkata: Lafazku tentang Alquran adalah makhluk, ini adalah ucapan yang buruk dan jelek, dan ini adalah ucapan Jahmiyyah.”
Saya berkata kepadanya: Sesungguhnya Al-Karabisi mengatakan ini. Beliau menjawab:
“Dia berdusta, semoga Allah mempermalukan dia, si jahat itu.”
Dan beliau berkata: “Dia telah menggantikan posisi Bisyr Al-Marisi.”
Penulis berkata: Al-Karabisi adalah Al-Husain, termasuk pendahulu Asy’ariyyah dan Maturidiyyah dalam masalah lafaz. Karena perkataan mereka sama dengan perkataannya dengan tambahan, padahal dia lebih baik keadaannya daripada mereka.
Ini yang saya sebutkan adalah sebagian dari apa yang dinukil Abdullah dari ayahnya.
- Salih bin Ahmad dari Ayahnya
Salih berkata: Saya berkata kepada ayahku: Orang yang berkata: Lafazku tentang Alquran adalah makhluk, apakah boleh diajak bicara? Beliau menjawab: “Dia tidak boleh diajak bicara, tidak boleh shalat di belakangnya, dan jika seseorang shalat (di belakangnya) dia harus mengulangi.”
Telah disebutkan sebelumnya nukilan darinya tentang ayahnya yang berkata bahwa Jahmiyyah terpecah menjadi tiga kelompok, salah satunya adalah Lafziyyah.
- Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dari Ahmad
Ahmad berkata kepadanya: “Sesungguhnya Lafziyyah hanya berputar pada ucapan Jahm, mereka mengklaim bahwa Jibril hanya datang dengan sesuatu yang makhluk,” yaitu: Jibril, makhluk yang datang dengannya kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Salih bin Ahmad berkata: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi bertanya kepada ayahku tentang orang yang berkata: Lafaznya tentang Alquran adalah makhluk, bagaimana pendapat beliau tentang mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak boleh diajak bicara, dan tidak boleh bicara dalam masalah ini. Alquran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan dari setiap sisi, dari setiap segi, dan dalam keadaan apapun.”
- Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauraqi dari Ahmad
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauraqi berkata: Saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, saya berkata: Bagaimana dengan orang-orang yang berkata: Sesungguhnya lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk? Beliau menjawab: “Mereka lebih buruk dari ucapan Jahmiyyah. Barangsiapa yang mengklaim ini, maka dia mengklaim bahwa Jibril datang dengan yang makhluk, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbicara dengan yang makhluk.”
- Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats dari Ahmad
Abu Dawud berkata: Saya mendengar Ahmad berbicara tentang Lafziyyah, dan mengingkari ucapan mereka.
Abu Dawud berkata: Saya menulis surat dan mengirimkannya kepada Abu Abdullah—saat itu dia sedang bersembunyi—lalu dia mengeluarkan jawaban tertulisnya kepadaku yang berisi:
Saya berkata: Seorang laki-laki berkata: Tilawah adalah makhluk, dan lafaz kami tentang Alquran adalah makhluk, dan Alquran tidak diciptakan. Bagaimana pendapat Anda tentang menjauhinya? Apakah dia disebut ahli bidah? Dan bagaimana seharusnya keyakinan hati tentang tilawah dan lafaz? Dan bagaimana jawabannya? Beliau menjawab: “Dia harus dijauhi, dan dia lebih dari sekedar ahli bidah, dan saya memandangnya sebagai Jahmi, dan ini adalah ucapan Jahmiyyah. Alquran tidak diciptakan. Aisyah radhiyallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Dialah yang menurunkan kitab (Alquran) kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alquran, dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat…’ hingga akhir ayat.” Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat maka waspadalah terhadap mereka, karena mereka itulah yang dimaksud Allah.” “Maka Alquran tidak diciptakan.”
- Ishaq bin Ibrahim bin Hani An-Naisaburi dari Ahmad
Ishaq berkata: Saya mendengar Abu Abdullah—yaitu Ahmad—berkata:
“Barangsiapa mengklaim bahwa lafazku tentang Alquran adalah makhluk, maka dia adalah Jahmi.”
Dan beliau berkata: “Bagaimana pendapat Anda tentang Jibril alaihis salam ketika dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu membacakan kepadanya, apakah tilawah Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah makhluk? Tidak, ia tidak diciptakan.”
Ishaq berkata: Saya bertanya kepada beliau tentang orang yang berkata: Lafazku tentang Alquran adalah makhluk?
Beliau menjawab: “Ini adalah ucapan Jahm. Barangsiapa yang berdebat dengan mereka, maka jangan duduk bersamanya, jangan diajak bicara. Dan Jahmi adalah kafir.”
Ishaq berkata: Beliau—yaitu Ahmad—ditanya tentang orang yang berkata: Lafazku tentang Alquran adalah makhluk, apakah boleh shalat di belakangnya? Beliau menjawab: “Jangan shalat di belakangnya, jangan duduk bersamanya, jangan diajak bicara, dan jangan memberi salam kepadanya.”
7 – Abu Ismail Muhammad bin Ismail At-Tirmidzi meriwayatkan darinya.
Ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata: “Kaum Lafzhiyah adalah Jahmiyah. Allah berfirman: hingga dia mendengar kalam Allah (QS. At-Taubah: 6), dari siapa dia mendengar?”
8 – Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Zanjuwaih meriwayatkan darinya.
Ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: “Barangsiapa berkata: Lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.”
Inilah sebagian nash-nash shahih yang tsabit dari Imam Ahmad, diriwayatkan dari para perawi yang tsiqah dari para sahabatnya, yang menunjukkan dengan jelas bahwa kaum Lafzhiyah adalah Jahmiyah, dan mereka sederajat dengan orang-orang yang terang-terangan mengatakan Al-Quran adalah makhluk.
Imam Abu Utsman Ash-Shabuni telah menukilkan dalam kitabnya “Aqidah” apa yang dinukil oleh Ibnu Jarir rahimahullah dari Imam Ahmad tentang Jahmiyah-nya kaum Lafzhiyah, kemudian ia berkata:
“Yang dinukil dari Ahmad radhiyallahu anhu wa ardhaahu bahwa kaum Lafzhiyah adalah Jahmiyah adalah shahih darinya. Beliau mengatakan demikian karena Jahm dan pengikut-pengikutnya terang-terangan mengatakan Al-Quran adalah makhluk, sedangkan orang-orang yang mengatakan tentang lafaz bertahap menuju kepada pernyataan bahwa Al-Quran adalah makhluk, dan mereka takut kepada Ahlussunnah pada masa itu untuk terang-terangan mengatakan Al-Quran adalah makhluk, maka mereka menyisipkannya dalam perkataan yang ambigu ini, agar mereka tidak dihitung dalam barisan Jahm yang merupakan setan-setan manusia yang sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Maka mereka menyebutkan lafaz ini dan bermaksud dengannya bahwa Al-Quran dengan lafaz kami adalah makhluk. Oleh karena itu Ahmad rahimahullah menyebut mereka Jahmiyah, dan diriwayatkan juga darinya bahwa ia berkata: Kaum Lafzhiyah lebih buruk daripada Jahmiyah.”
Saya katakan: Nash-nash Imam Ahmad yang telah disebutkan sebelumnya secara tegas menyatakan Jahmiyah-nya kaum Lafzhiyah, karena mereka menganggap Al-Quran Arab yang didengar, dibaca, dilafalkan, tersusun dari huruf-huruf dan kata-kata, surat-surat dan ayat-ayat, adalah makhluk. Ahmad rahimahullah telah menjelaskan hal itu dengan perkataannya: “Mereka menyangka bahwa Jibril hanya datang dengan sesuatu yang makhluk.” Dan inilah kata pemisah dalam maksud Ahmad dengan Jahmiyah-nya kaum Lafzhiyah.
Imam Ahmad tidak menjadikan Jahmiyah orang yang bermaksud dengan lafaz adalah perbuatan pembaca dan suaranya yang memang makhluk, oleh karena itu beliau menjelaskan hal itu dengan perkataannya yang diriwayatkan anaknya Abdullah darinya: “Setiap orang yang mengarahkan kepada Al-Quran dengan lafaz atau selainnya, dan dia bermaksud dengannya adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.” Dan yang lebih jelas darinya adalah perkataannya: “Barangsiapa berkata: Lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk, dan dia bermaksud dengannya Al-Quran, maka dia kafir.” Maka beliau berhati-hati dengan perkataannya: “dia bermaksud dengannya Al-Quran” agar tidak mengkafirkan orang yang berkata: “Lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk” dan dia bermaksud dengannya gerakannya dan suaranya dengan Al-Quran, bukan kalam yang dilafalkan dan dibaca itu sendiri. Meskipun melafalkan ungkapan ini mengandung kesamaran dengan perkataan bahwa yang dilafalkan adalah makhluk, yaitu kalam Allah, maka wajib menghentikannya sama sekali karena hal itu.
Sejumlah orang telah salah dalam memahami Imam Ahmad dalam masalah ini, mereka mengatakan atas namanya apa yang tidak ia katakan, dan mereka mengada-adakan kepadanya perkataan bahwa Al-Quran Arab yang tersusun dari huruf-huruf Arab yang diturunkan oleh Jibril kepada Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah makhluk. Saya telah mengkhususkan pembahasan dalam bab ini untuk membebaskannya dari apa yang dinisbatkan kepadanya, dan menegakkan dalil-dalil yang memutuskan dari nukilan-nukilan shahih darinya atas batalnya nisbat ini kepadanya.
Imam Ahmad disetujui oleh para imam Ahlussunnah lainnya pada masanya dan setelahnya dalam mengingkari bidah kaum Lafzhiyah yang menafikan, di antara mereka:
1 – Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih, sang Imam yang alim.
Abu Daud As-Sijistani berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim ditanya tentang kaum Lafzhiyah? Maka ia membidahkan mereka.
2 – Abu Jafar Ahmad bin Shalih Al-Mishri, Al-Hafizh.
Abu Daud berkata: Aku mendengar Ahmad bin Shalih menyebut kaum Lafzhiyah, lalu ia berkata: “Mereka adalah penganut bidah, dan akan masuk kepada mereka lebih dari sekedar bidah.”
3 – Abu Mushab Ahmad bin Abi Bakar Az-Zuhri, sang faqih dan hakim.
Sekelompok orang mendatanginya lalu bertanya kepadanya: Sesungguhnya kami menerima di Baghdad seseorang yang berkata: Lafaznya terhadap Al-Quran adalah makhluk?
Maka ia berkata: “Wahai penduduk Irak, apa yang datang kepada kami dari kalian ini tidak baik, tidak pantas kami menerima wajah-wajah kalian kecuali dengan pedang, ini adalah perkataan Nabathi yang buruk.”
4, 5 – Abu Zur’ah Ubaidullah bin Abdul Karim, dan Abu Hatim Muhammad bin Idris Ar-Razi, dua imam Jarh dan Tadil:
Keduanya berkata: “Barangsiapa berkata: Lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk maka dia adalah Jahmiyah, atau Al-Quran dengan lafazku adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah.”
6 – Harb bin Ismail Al-Kirmani (faqih yang tsiqah, termasuk sebaik-baik murid Ahmad).
Ia berkata: “Sesungguhnya kebenaran dan kebenaran yang jelas lagi lurus yang kami dapati para ulama menganutnya adalah bahwa barangsiapa menyangka bahwa lafaz-lafaz kami terhadap Al-Quran dan tilawah kami adalah makhluk, maka dia adalah Jahmiyah, mubtadi yang buruk.”
Imam Abu Al-Qasim Hibatullah bin Al-Hasan Al-Lalika’i meriwayatkan lebih dari lima puluh orang yang setingkat, di antara mereka ada sejumlah imam yang dijadikan teladan, bahwa mereka berkata: Barangsiapa berkata lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk maka dia sederajat dengan orang yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, dan mereka berkata: Inilah perkataan kami dan agama kami yang dengannya kami beragama kepada Allah.
Kemudian ia meriwayatkan nash-nash sebagian imam, kemudian berkata:
“Maka kembali perkataan para imam ini radhiyallahu anhum bahwa Al-Quran didengar dari Allah secara hakiki, dan ketika pembaca membacanya maka bukan dari lafaz pembaca Al-Quran seperti kalam manusia ketika dilafalkannya lalu menjadi makhluk, dan kalam Allah tidak menyerupai kalam mereka karena ia tidak makhluk, maka demikian pula ia berbeda dengannya dalam pembacaan.”
Saya katakan: Telah diriwayatkan pengingkaran terhadap akidah kaum Lafzhiyah dari imam Ahlussunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafii, namun dengan sanad yang perlu diteliti, dan saya tidak menyangka hal itu terjadi kecuali pada tingkatan murid-muridnya, seperti Imam Ahmad dan teman-temannya dari para imam, maka mereka mengingkarinya dan keras terhadapnya.
Oleh karena itu Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari berkata: “Adapun perkataan tentang lafaz-lafaz para hamba terhadap Al-Quran, maka tidak ada atsar yang kami ketahui dari sahabat yang telah berlalu, tidak pula dari tabiin yang mengikuti, kecuali dari orang yang dalam perkataannya ada kesembuhan dan kecukupan, dan dalam mengikutinya ada petunjuk dan hidayah, dan yang berdiri bagi kami pada kedudukan para imam yang pertama, Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.” Kemudian ia meriwayatkan perkataannya yang telah saya sebutkan sebelumnya dengan nomor 7, dan perkataan lain yang semakna dengannya, kemudian berkata:
“Tidak ada perkataan menurut kami dalam hal itu yang boleh kami katakan selain perkataannya, karena tidak ada imam bagi kami yang kami ikuti selain beliau, dan padanya ada kecukupan dan kepuasan, dan beliaulah imam yang diikuti.”
Saya katakan: Sungguh telah saya nukil dari nash-nashnya yang di dalamnya terdapat kecukupan dan petunjuk bagi orang-orang yang memiliki pandangan tajam.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Ajurri berkata: “Berhati-hatilah, semoga Allah merahmati kalian, terhadap orang-orang yang berkata: Lafazku terhadap Al-Quran adalah makhluk, ini menurut Ahmad bin Hanbal dan orang-orang yang berada di jalannya adalah kemungkaran yang besar, dan orang yang mengatakan ini adalah mubtadi, dijauhi, tidak diajak bicara, tidak diduduki bersamanya, dan manusia diperingatkan darinya.”
Syaikhul Islam berkata: “Para imam pada masa mereka mengingkari bidah kaum Lafzhiyah yang berkata: Sesungguhnya tilawah Al-Quran dan bacaannya serta lafaz dengannya adalah makhluk, mereka menjadikan mereka dari Jahmiyah, dan mereka menjelaskan bahwa perkataan mereka mengharuskan perkataan bahwa Al-Quran adalah makhluk, dan dalam banyak perkataan mereka ada pengkafiran terhadap mereka.”
Pembahasan Ketiga: Menegakkan Hujjah atas Batalnya Akidah Kaum Lafzhiyah yang Menafikan
Telah jelas bagimu dari apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang alasan para imam Ahmad dan lainnya menggolongkan kaum Lafzhiyah yang menafikan, yang berkata: Lafaz-lafaz kami terhadap Al-Quran dan tilawah kami terhadapnya adalah makhluk.
Hal itu karena mereka membedakan antara bacaan dan yang dibaca, antara tilawah dan yang ditilawahkan, dan mereka melafalkan itu, serta berkata: Tilawah dan bacaan adalah makhluk. Dan bukan maksud mereka perbuatan hamba serta gerakannya dan suaranya, melainkan mereka memasukkan dalam hal itu kalam Arab yang tersusun dari huruf-huruf dan kata-kata, surat-surat dan ayat-ayat, maka menurut mereka itu adalah makhluk, dan Jibril datang dengan sesuatu yang makhluk. Yang dibaca dan yang ditilawahkan menurut mereka adalah makna yang diungkapkan dengan huruf-huruf Arab ini, sedangkan huruf-huruf Arab ini adalah makhluk. Mereka berselisih di mana ia diciptakan -sebagaimana akan datang dalam bantahan terhadap Asyariyah di bab ketiga.
Maka menurut mereka Al-Quran yang dibaca oleh manusia dengan lisan-lisan dan suara-suara mereka ini adalah makhluk, bukan yang diturunkan dari Allah, dan bukan yang Dia firmankan.
Akidah ini bertentangan dengan apa yang telah kami tetapkan di bab pertama dari akidah Salaf, dan ia mengandung pendustaan terhadap apa yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, sebagaimana hal itu terkandung dalam akidah Jahmiyah yang terang-terangan mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Dan saya akan menyebutkan dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya hujjah yang menghancurkan perkataan orang-orang yang membatalkan ini, maka saya katakan:
Telah tegak dalil-dalil dari Kitabullah yang terpelihara yang tidak datang kepadanya kebatilan dari depannya maupun dari belakangnya, bahwa Allah taala berfirman dengan Al-Quran Arab ini, dan tidak ada Al-Quran selain itu. Allah taala berfirman dengannya dengan lafaz dan maknanya, Jibril alaihissalam mendengarnya dari-Nya, dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya kepada umatnya. Dan hal itu dari beberapa segi:
Segi Pertama:
Allah taala berfirman: Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya dia tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang Dia turunkan, mereka berkata: Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui. Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkannya dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa Ajam, sedangkan Al-Quran ini adalah dalam bahasa Arab yang terang. (QS. An-Nahl: 98-103)
Ayat-ayat ini menunjukkan kepada apa yang kami sebutkan dari beberapa segi:
Yang Pertama: Firman-Nya: Apabila kamu membaca Al-Quran. Al-Quran adalah nama untuk susunan Arab yang tertulis di antara dua sampul, yang dihafal di dalam hati para penghafal, yang dilafalkan oleh lisan-lisan para pembaca, yang tersusun dari huruf-huruf seperti alif, ba, dan jim, dan ini tidak ada khilaf di dalamnya.
Yang Kedua: Bacaan hanya terjadi pada lafaz-lafaz dan kata-katanya, bukan pada makna-makna yang abstrak, karena makna yang abstrak tidak dapat dibayangkan pembacaannya sebagaimana tidak tersembunyi.
Yang Ketiga: Yang diganti darinya ayat dengan ayat yang lain adalah Al-Quran, karena ia adalah yang tersusun dari ayat-ayat, dan ini diakui oleh kaum Lafzhiyah.
Yang Keempat: Firman-Nya: dan Allah lebih mengetahui apa yang Dia turunkan menetapkan yang menurunkan dan yang diturunkan dengannya. Yang menurunkan adalah Allah sebagaimana itu zhahir, dan perbuatan menurunkan disandarkan kepada-Nya sebagaimana itu sharih dalam ayat, dan telah berlalu kepadamu bahwa Dia taala tidak menyandarkan sesuatu dari penurunan kepada diri-Nya kecuali kalam-Nya. Dan yang diturunkan dengannya adalah Al-Quran yang diganti darinya ayat dengan ayat yang lain, dan ini tidak mampu diingkari oleh kaum Lafzhiyah.
Yang Kelima: Firman-Nya: Ruhul Qudus menurunkannya dari Tuhanmu. Dhamir pada firman-Nya: menurunkannya kembali kepada firman-Nya: apa yang Dia turunkan, dan kami telah mengetahui bahwa itu adalah Al-Quran, maka menetapkan bahwa Ruhul Qudus menurunkannya dari Allah, maka ia didengar olehnya dari-Nya, diterima dari-Nya. Dan Ruhul Qudus adalah Jibril, dan kami telah menjelaskannya sebelumnya.
Maka yang turun dari Allah taala adalah yang diturunkan oleh Ruhul Qudus, dan tidak disandarkan kepada Ruhul Qudus sesuatu dari perbuatannya selain penurunan itu dari Tuhan semesta alam.
Keenam: Maksud dari konteks ayat-ayat ini adalah untuk menetapkan bahwa Al-Quran ini bukanlah kebohongan manusia, dan untuk menolak perkataan orang-orang kafir: “Seorang manusia mengajarkannya kepada dia”, yang mereka maksudkan adalah seorang laki-laki non-Arab. Maka Allah mendustakan perkataan mereka dan menolak kebatilan mereka dengan firman-Nya: “Bahasa orang yang mereka tuduh itu adalah bahasa asing, sedangkan ini adalah bahasa Arab yang jelas”. Lisan (bahasa) adalah lughat (bahasa), dan bahasa itu adalah lafaz-lafaz yang tersusun dari huruf-huruf, dan ini adalah perkara yang tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Maka Allah menegakkan hujah atas orang-orang kafir dan membatalkan tuduhan mereka, bahwa orang yang mereka tuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belajar Al-Quran darinya adalah orang asing, sedangkan ini adalah kalam (bahasa) Arab. Bagaimana mungkin ia dapat mengajarinya dengan keajamannya. Dan seandainya yang datang kepadanya hanyalah makna-makna yang terlepas (dari lafaz), mungkin saja orang ajam itu mengajarkan makna-makna, tetapi yang datang kepadanya adalah Al-Quran berbahasa Arab.
Dan Allah mengisyaratkan dengan firman-Nya: “Dan ini adalah lisan (bahasa)” kepada sesuatu yang hadir, yaitu Al-Quran yang merupakan wahyu-Nya yang diturunkan oleh Jibril. Maka Allah menegakkan hujah atas orang-orang kafir bahwa lisan Arab ini adalah kalam-Nya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampai, dan Jibril ‘alaihissalam adalah penyampai, tidak ada tugas bagi keduanya kecuali ini.
Dalil kedua: Firman Allah: “Maka apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) yang dijelaskan? Dan orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Al-An’am: 114).
Ayat ini menunjukkan apa yang kami sebutkan dari beberapa segi:
Pertama: Al-Kitab yang dijelaskan adalah Al-Quran berbahasa Arab tanpa perbedaan pendapat.
Dan dalam penggambarannya dengan (Al-Kitab/Kitab) terdapat dalil yang pasti bahwa ia adalah Al-Quran yang tersusun dari huruf-huruf Arab. Seandainya ia adalah makna-makna yang terlepas (dari lafaz), tidak sah menggambarkannya dengan (Al-Kitab), karena yang dimaksud dengan Al-Kitab adalah sesuatu yang tertulis, dan makna yang terlepas tidak dapat ditulis sampai tersusun huruf-huruf yang tertata. Penamaan kalam Allah yaitu Al-Quran dengan (Al-Kitab) datang di banyak tempat dalam Al-Quran, dan tidak ada perbedaan antara menamainya dengan (Al-Quran) atau dengan (Al-Kitab), dan semua itu adalah kalam Allah dan perkataan-Nya. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: Diamlah kamu (untuk mendengarkannya), kemudian setelah pembacaan itu selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa” (Al-Ahqaf: 29-30). Maka Allah menamainya Al-Quran dan Al-Kitab, dan yang didengar hanyalah Al-Quran yaitu kalam yang tersusun dari huruf-huruf dan makna-makna.
Syaikhul Islam berkata: “Al-Kitab menurut orang yang berkata: Sesungguhnya kalam Allah adalah makna bukan huruf, adalah nama untuk susunan Arab, dan kalam menurutnya adalah nama untuk makna, dan Al-Quran berserikat di antara keduanya. Maka lafaz (Al-Kitab) mencakup lafaz Arab menurut kesepakatan manusia. Jika memberitakan bahwa “Turunnya Al-Kitab dari Allah”, diketahui bahwa susunan Arab diturunkan dari Allah, dan itu menunjukkan apa yang dikatakan Salaf: Sesungguhnya ia bermula dari-Nya, yakni: Dialah yang berbicara dengannya.”
Kedua: Allah menjadikan menurunkan Al-Kitab secara terperinci sebagai perbuatan yang dinisbatkan kepada-Nya sendiri.
Ketiga: Allah menetapkan bahwa penurunannya dari-Nya, bukan dari selain-Nya, maka hal itu menunjukkan bahwa permulaannya dari-Nya.
Keempat: Allah mengabarkan bahwa Ahli Kitab mengetahui bahwa ia adalah wahyu-Nya dan bahwa permulaannya dari-Nya. Dan ilmu (pengetahuan) memberikan keyakinan yang menafikan kebodohan, prasangka, keraguan dan keragu-raguan. Dan Allah membenarkan pengetahuan mereka ini dan tidak mengingkarinya, bahkan menegaskannya dengan firman-Nya: “Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Al-An’am: 114). Maka hal itu menunjukkan bahwa itu adalah benar. Seandainya apa yang mereka ketahui itu batil, dan bahwa Al-Quran bermula dari selain-Nya bukan dari-Nya, niscaya Allah tidak akan membenarkan mereka atas hal itu. Dan ayat ini mengisyaratkan bahwa Ahli Kitab yang mengetahui bahwa Al-Quran Arab ini diturunkan dari Allah, bukan dari sebagian makhluk-Nya, lebih baik dan lebih utama dari golongan Lafzhiyyah yang berkata: Kitab Arab ini adalah makhluk, sebagaimana mereka juga lebih baik dari semua golongan Jahmiyyah yang berkata tentang tercipatanya Al-Quran.
Dalil ketiga: Ketika orang-orang musyrik menyebutnya sebagai syair, mereka tidak menghendaki dengan penamaan ini kecuali Al-Quran Arab yang tersusun dari huruf-huruf Arab. Maka Allah mendustakan tuduhan mereka, sebagaimana Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” (Yasin: 69).
Imam Abu Muhammad bin Qudamah berkata: “Maka ketika Allah menafikan darinya bahwa ia adalah syair dan menetapkannya sebagai Quran, tidak tersisa keraguan bagi orang yang berakal bahwa Al-Quran adalah kitab Arab ini yang berupa kata-kata dan huruf-huruf dan ayat-ayat, karena apa yang tidak demikian tidak ada seorang pun yang berkata: Sesungguhnya ia adalah syair.” Saya katakan: Dan inilah Al-Quran yang Salaf katakan: Sesungguhnya ia tidak diciptakan, dan Jahmiyyah berkata: Sesungguhnya ia diciptakan.
Dalil keempat: Apa yang telah ditetapkan dalam aqidah Salaf yang telah kami jelaskan di Bab Pertama, bahwa Al-Quran ini bermula dari Allah dan kembali kepada-Nya, dan kami telah merinci hal itu dengan penjelasan yang cukup tanpa perlu diulang.
Dalil kelima: Penisbatan Al-Quran ini terkadang kepada Rasul yang manusia, dan terkadang kepada Rasul yang malaikat -sebagaimana telah dijelaskan di pasal sebelumnya- dan bahwa maksud dari hal itu adalah bahwa keduanya menyampaikannya dan menyiarkannya, adalah dalil bahwa ia adalah perkataan yang disampaikan dari-Nya dan kalam-Nya, yaitu Allah.
Dalil keenam: Firman Allah: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah” (At-Taubah: 6). Allah menisbatkan kalam kepada diri-Nya, dan menjelaskan bahwa Dialah yang kalam-Nya didengar oleh orang kafir yang meminta perlindungan. Dan asal dari kalam adalah hakikatnya yang dipahami ketika diucapkan sampai datang qarinah (petunjuk) yang memindahkannya dari makna yang dipahami. Dan kalam Allah di sini adalah Al-Quran tidak yang lain. Dan kalam sebagaimana telah kami tetapkan di Bab Pertama adalah nama untuk lafaz dan makna secara bersama-sama. Maka ini menunjukkan bahwa apa yang didengar oleh orang musyrik yang meminta perlindungan adalah kalam Allah secara hakiki, dan kalam-Nya tidak diciptakan.
Dalil ketujuh: Kesepakatan semua Ahli Islam bahwa Al-Quran Arab adalah kalam Allah, bukan kalam selain-Nya, bermula dari-Nya dengan lafaz-lafaz dan huruf-hurufnya tidak dari selain-Nya, dan bahwa tidak ada bagi Allah Al-Quran selain ini, yaitu yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Jibril, dan Jibril ‘alaihissalam dari Tuhannya. Tidak ada yang mengada-ada dari Al-Quran baik Jibril maupun Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam satu huruf pun atau satu kata pun, bagaimana mungkin sedangkan keduanya adalah orang yang dipercaya atas wahyu-Nya, dan “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya” (Al-An’am: 124).
Dalil kedelapan: Golongan Lafzhiyyah terkena konsekuensi yang sama dengan orang yang berkata tentang tercipatanya Al-Quran secara mutlak, bahwa seandainya Al-Quran Arab yang dilafalkan dengan lafaz-lafaz Arab adalah makhluk, maka di manakah ia diciptakan? Karena tidak mungkin tidak ia diciptakan di suatu tempat, seperti makhluk-makhluk lainnya. Maka ia akan menjadi sifat bagi tempat yang ia diciptakan di dalamnya, bukan sifat bagi Allah, dan ia akan menjadi kalam bagi tempat yang ia diciptakan di dalamnya, bukan kalam bagi Allah. Dan ini adalah kekufuran yang jelas. Dan yang mengherankan adalah bahwa dalil ini adalah yang digunakan untuk membantah Lafzhiyyah Jahmiyyah.
Inilah beberapa dalil yang membatalkan aqidah Lafzhiyyah, dan dapat ditambahkan lebih dari itu, tetapi hujah sudah tegak dengan sebagian darinya.
Maka barangsiapa merenungkan hakikat-hakikat yang disebutkan ini dan yang serupa dengannya, jelaslah baginya kebenaran penyifatan Lafzhiyyah yang berkata bahwa lafaz-lafaz kami tentang Al-Quran adalah makhluk, dengan Jahmiyyah.
Dan Salaf dan para Imam ketika mengkafirkan orang yang berkata tentang tercipatanya Al-Quran, mereka hanya mengkafirkan orang yang berkata tentang tercipatanya Al-Quran yang ada di antara dua sampul mushaf, yang tertulis di dalamnya, yang dilafalkan dengan lisan, yang tersusun dari huruf-huruf Arab. Dan Salaf dan para Imam tidak mengenal pemisahan bidah ini yang dimunculkan oleh Lafzhiyyah yang menafikan. Maka tidak ada menurut mereka Al-Quran selain Al-Quran Arab ini, dan ia adalah kalam Allah yang Dia ucapkan secara hakiki.
Dan ini adalah beberapa nash yang jelas yang menjelaskan apa yang saya sebutkan dari mereka:
- Abdullah bin Al-Mubarak (Imam yang Hujjah).
Sesungguhnya ia membaca tiga puluh ayat dari (Thaha) lalu berkata: “Barangsiapa mengira bahwa ini adalah makhluk maka ia adalah kafir.”
Saya katakan: Dan ini menurut Lafzhiyyah adalah lafaz-lafaz yang diciptakan.
- Imam Sunnah Ahmad bin Hanbal.
Ahmad bin Sa’id Ad-Darimi berkata: Saya berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Saya katakan kepadamu perkataanku, dan jika engkau mengingkari sesuatu darinya maka katakanlah: Sesungguhnya aku mengingkarinya. Saya berkata kepadanya: Kami berkata: Al-Quran adalah kalam Allah dari awal hingga akhirnya, tidak ada sesuatu pun darinya yang diciptakan, dan barangsiapa mengira bahwa sesuatu darinya adalah makhluk maka ia adalah kafir. Maka ia tidak mengingkari sesuatu pun darinya dan meridhainya.
Saya katakan: Dan Lafzhiyyah berkata: Kalam Allah tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir, dan tidak terbagi-bagi, dan ia bukan Al-Quran Arab, dan Al-Quran Arab hanyalah ungkapan tentangnya atau hikayah.
Dan Imam Ahmad berkata: “Kami tidak perlu meragukan Al-Quran yang ada pada kami ini, di dalamnya terdapat Asma Allah (nama-nama Allah), dan ia adalah dari ilmu Allah. Maka barangsiapa berkata kepada kami: Sesungguhnya ia adalah makhluk, maka ia menurut kami adalah kafir.”
Saya katakan: Dan nash ini dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari darinya dalam Al-Ibanah, dan ini adalah hujjah atas Asy’ariyyah dari berbagai segi, akan saya sebutkan dalam bantahan terhadap mereka. Dan Imam Ahmad berkata: “Dalam segala keadaan, Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan.”
Dan ini seperti perkataannya: “Al-Quran adalah kalam Allah bagaimanapun ia ditashrif (digunakan).”
Saya katakan: Maksudnya dalam segala keadaan, tertulis, terdengar, dibaca, dan dihafal.
Dan nukilan dari Ahmad dalam makna ini sulit untuk dihitung, dan dalam nash-nash yang saya sebutkan darinya dalam bab ini dan sebelumnya sudah cukup bagi yang menginginkan petunjuk.
- Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih, Imam yang Faqih.
Ia berkata: “Tidak ada perbedaan di antara Ahli Ilmu bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Bagaimana mungkin sesuatu yang keluar dari Allah menjadi makhluk?”
Saya katakan: Dan Lafzhiyyah berkata: Kalam Allah tidak keluar dari-Nya, dan Al-Quran bermula dari selain-Nya.
- Yahya bin Yahya An-Naisaburi, yang Tsiqah dan Tsabit.
Ia berkata: “Barangsiapa mengira bahwa dari Al-Quran dari awal hingga akhirnya ada satu ayat yang diciptakan maka ia adalah kafir.”
Saya katakan: Dan Lafzhiyyah berkata: Apa yang tersusun dari ayat-ayat adalah susunan Arab, dan ia adalah makhluk.
- Muhammad bin Aslam Ath-Thusi, yang Tsiqah dan Hafizh.
Ia berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, di mana pun ia dibaca, dan di mana pun ia ditulis, ia tidak berubah, tidak bergeser, dan tidak berganti.”
Saya katakan: Yang ditulis dan dibaca hanyalah Al-Quran Arab yang mulia.
- Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Imam Mujtahid.
Ia berkata dalam aqidahnya: “Yang pertama kami mulai perkataan di dalamnya dari hal itu adalah kalam Allah dan wahyu-Nya, karena ia termasuk makna tauhid-Nya. Dan yang benar dari perkataan dalam hal itu menurut kami adalah: Bahwa ia adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, bagaimana pun ia ditulis, dan bagaimana pun ia dibaca, dan di tempat mana pun ia dibaca, di langit ia wujud, atau di bumi ia dihafal, di Lauh Mahfuzh ia tertulis, atau di papan-papan anak-anak sekolah Al-Quran ia digambarkan, di batu ia diukir, atau di kulit ia ditulis, di hati ia dihafal, atau dengan lisan ia dilafalkan. Maka barangsiapa berkata selain itu, atau mengklaim bahwa Quran di bumi atau di langit selain yang kami baca dengan lisan kami dan kami tulis di mushaf kami, atau meyakini hal itu dengan hatinya, atau menyimpannya di dalam dirinya, atau mengatakannya dengan lisannya sebagai agama baginya, maka ia adalah kafir kepada Allah, halal darahnya, dan berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya. Allah berfirman: ‘Bahkan Al-Quran itu adalah bacaan yang mulia, dalam Lauh Mahfuzh’ (Al-Buruj: 21-22). Dan Dia berfirman -dan firman-Nya adalah kebenaran-: ‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah’ (At-Taubah: 6). Maka Allah memberitakan bahwa ia ada di Lauh Mahfuzh, dan bahwa ia didengar dari lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia adalah satu Al-Quran, didengar dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tertulis di Lauh Mahfuzh. Demikian juga ia dihafal di dada, dan dibaca oleh lisan orang-orang tua dan pemuda. Maka barangsiapa meriwayatkan dari kami atau menukil dari kami, atau mengada-ada atas kami, atau mengklaim bahwa kami berkata selain itu, maka atasnya laknat Allah dan kemurkaan-Nya, dan laknat para pelaknat, malaikat dan manusia seluruhnya, Allah tidak menerima darinya suatu pun yang wajib dan tidak pula yang sunat, dan Allah membuka auratnya dan membeberkannya di hadapan para saksi, di hari tidak berguna permintaan maaf bagi orang-orang yang zalim, dan bagi mereka laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.”
- Qadhi Imam Abu Bakar Ahmad bin Kamil al-Baghdadi (imam hafizh yang konsisten, murid Ibnu Jarir)
Dia meriwayatkan dari Warraq Dawud al-Ashbahani, imam Ahluzh Zhahir, tentang pernyataan Dawud mengenai al-Quran. Dawud ditanya tentang al-Quran, maka dia menjawab: “Al-Quran yang Allah Ta’ala firmankan ‘Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan’ (Surat al-Waqi’ah: 79) dan firman-Nya ‘Dalam kitab yang terpelihara’ (Surat al-Waqi’ah: 78) adalah tidak makhluk. Adapun al-Quran yang ada di tengah-tengah kita yang disentuh oleh wanita haidh dan orang junub, maka itu adalah makhluk.”
Maka Qadhi Ahmad bin Kamil berkata: “Ini adalah madzhab yang dianut oleh an-Nasyi’ al-Mutakallim, dan ini adalah kekufuran kepada Allah. Telah shahih hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang membawa al-Quran dalam perjalanan ke negeri musuh, karena khawatir musuh akan mendapatkannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan apa yang ditulis dalam mushaf-mushaf, lembaran-lembaran, papan-papan tulis dan selainnya sebagai al-Quran. Dan al-Quran dalam keadaan apapun ia dibaca dan dibacakan, ia adalah satu dan tidak makhluk.”
Penulis berkata: Perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—hukum ini terhadap pernyataan Dawud. Padahal perkataan Dawud jauh lebih ringan daripada kaum Lafzhiyyah Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Hal itu karena dia berkeyakinan bahwa ada al-Quran yang tertulis di Lauh yang tidak makhluk. Sedangkan kaum Lafzhiyyah yang datang setelahnya mengatakan: Tidak ada kalam bagi Allah kecuali apa yang ada dalam diri-Nya, dan al-Quran ini diciptakan Allah di Lauhul Mahfuzh atau di tempat lain. Maka mereka menjadikan apa yang ada di Lauh sebagai makhluk, dan ini lebih berbahaya daripada perkataan Dawud.
Akan datang penjelasan lebih lanjut tentang keyakinan mereka di bab ketiga.
- Hafizh Imam Abdullah bin Muhammad bin Ja’far Abu asy-Syaikh al-Ashbahani
Dia berkata: “Sesungguhnya al-Quran adalah kalam Allah yang Dia ucapkan. Di dalamnya terdapat perintah-Nya, larangan-Nya, janji-Nya, ancaman-Nya, penyebutan rahmat-Nya, siksa-Nya, azab-Nya, murka-Nya, penyebutan kenikmatan dan karunia-Nya, berbagai ketakutan dan kesulitan dalam hal targhib dan tarhib, dengan firman-Nya yang benar, ilmu-Nya yang sempurna, kehendak-Nya yang terdahulu, dan hujjah-Nya yang sempurna, serta penyebutan kekuasaan-Nya yang abadi. Tidak ada satupun dari semua itu yang makhluk, karena semuanya adalah perkataan-Nya dari ilmu-Nya yang azali. Dari awal hingga akhirnya adalah kalam Allah yang tidak makhluk. Maka orang yang mengingkarinya seperti orang yang ragu, dan keragu-raguan serta pengingkaran terhadapnya adalah kekufuran. Pengingkar adalah kaum Jahmiyyah, dan yang ragu adalah kaum Waqifiyyah. Ia adalah kalam-Nya dalam segala keadaan, di mana saja ia dibaca dan diucapkan, di dalam dua sampul, di antara dua papan, di dalam dada para lelaki, di mana saja ia dibaca di mihrab dan selainnya, di mana saja ia didengar, atau dihafal, atau ditulis, atau dibaca. Dari-Nya ia bermula dan kepada-Nya ia kembali. Barangsiapa mengklaim bahwa al-Quran atau sebagiannya, atau sesuatu darinya adalah makhluk, maka tidak ada keraguan menurut kami dan menurut ahli ilmu dari Ahlus Sunnah, orang-orang yang memiliki keutamaan dan agama, bahwa dia adalah kafir dengan kekufuran yang memindahkannya dari agama. Barangsiapa mengklaim bahwa al-Quran adalah kalam Allah dan berhenti (tidak mengatakan makhluk atau bukan makhluk), dan tidak mengatakan ‘bukan makhluk’, maka dia adalah Jahmiyyah yang perkataannya lebih buruk dan lebih jahat dari yang pertama. Barangsiapa mengatakan: ‘Aku tidak mengatakan makhluk dan tidak mengatakan bukan makhluk’, maka dia adalah Jahmiyyah. Barangsiapa meragukan kekufuran orang yang mengatakan al-Quran itu makhluk, setelah dia mengetahui dan setelah dia mendengar hal itu dari para ulama yang diridhai, maka dia seperti orang tersebut. Barangsiapa berhenti pada lafazh maka dia adalah Waqifiyyah, dan barangsiapa berhenti pada al-Quran maka dia adalah Jahmiyyah.”
Beliau rahimahullah berkata: “Maka Jibril mendengarnya dari Allah Ta’ala, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya dari Jibril ‘alaihis salam, dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan radhiyallahu ‘anhum mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian orang pertama dan seterusnya demikian hingga hari ini, dan setelah kita akan tetap seperti sebelum kita. Ia adalah kalam Allah yang tidak makhluk. Barangsiapa mengklaim bahwa al-Quran atau sebagiannya adalah makhluk, atau sesuatu darinya dalam keadaan apapun dengan cara apapun, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa Jibril mendengar dari Allah sesuatu yang makhluk, dan menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang makhluk, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada umatnya sesuatu yang makhluk.”
- Imam Hafizh Abu Utsman ash-Shabuni
Dia berkata: “Ahlul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa al-Quran adalah kalam Allah, kitab-Nya, khithab-Nya, wahyu-Nya dan tanzil-Nya yang tidak makhluk. Barangsiapa mengatakan ia makhluk dan berkeyakinan demikian, maka dia adalah kafir menurut mereka. Al-Quran yang merupakan kalam Allah dan wahyu-Nya adalah yang diturunkan oleh Jibril kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa Quran berbahasa Arab untuk kaum yang mengetahui, sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas’ (Surat asy-Syu’ara: 192-195). Dan ia adalah yang disampaikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana diperintahkan kepadanya dalam firman Allah Ta’ala: ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu’ (Surat al-Ma’idah: 67). Maka apa yang disampaikannya adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla. Tentangnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apakah kalian melarangku untuk menyampaikan kalam Tuhanku?’ Dan ia adalah yang dihafal oleh dada-dada, dibaca oleh lisan-lisan, dan ditulis di mushaf-mushaf. Bagaimanapun keadaannya: dengan bacaan seorang pembaca, lafazh seorang yang melafalkan, hafalan seorang penghafal, dan di mana saja ia dibaca, dan di tempat manapun ia dibaca atau ditulis, di mushaf-mushaf kaum muslimin dan papan tulis anak-anak mereka, dan selainnya, semuanya adalah kalam Allah Jalla Jalaluhu. Dan itulah al-Quran itu sendiri yang kami katakan: tidak makhluk. Barangsiapa mengklaim bahwa ia makhluk, maka dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”
- Imam Abu al-Qasim Hibatullah bin ath-Thabari
Dia berkata: “Urutan ayat-ayat dari Kitab Allah Ta’ala, dan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in, yang menunjukkan bahwa al-Quran adalah perkataan Allah secara hakiki, dan bahwa Dia menurunkannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memerintahkannya untuk menantang dengannya, dan untuk mengajak manusia kepadanya, dan bahwa ia adalah al-Quran secara hakiki, dibaca di mihrab-mihrab, ditulis di mushaf-mushaf, dihafal di dada para lelaki, bukan sekedar hikayah dan bukan ungkapan tentang al-Quran. Ia adalah satu al-Quran yang tidak makhluk, dan bukan sesuatu yang dijadikan dan diciptakan, bahkan ia adalah sifat dari sifat-sifat Dzat-Nya. Allah tidak pernah berhenti berkata-kata dengannya. Barangsiapa mengatakan selain ini, maka dia adalah kafir yang sesat lagi menyesatkan, pelaku bid’ah, yang menyelisihi madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Kemudian dia mulai menyebutkan dalil-dalil.
Penulis berkata: Inilah akidah Salaf sebelum manusia mengenal bid’ah lafazh, dan manusia tidak mengenal al-Quran yang diucapkan Allah Ta’ala kecuali dengan tafsir ini, hingga kaum Jahmiyyah memasukkan kepada umat bid’ah lafazh, untuk memadamkan dengannya cahaya akidah yang diridhai yang dianut oleh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabatnya dan orang-orang setelah mereka dari imam-imam petunjuk, hingga masa imam Sunnah yang mengangkat benderanya, musuh bid’ah dan pembuka aibnya, yaitu Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal rahimahullah Ta’ala. Maka dia bersama saudara-saudaranya menghadangnya, sebagaimana dia menghadang mereka ketika mereka terang-terangan mengatakan al-Quran makhluk. Maka dia menghancurkan kegelapannya dengan cahaya Kitab dan petunjuk sebaik-baik makhluk. Maka orang yang memahami ucapannya akan mendapat manfaat dari Allah, dan dia berada di atas petunjuk yang lurus. Namun hati nurani sebagian kaum menjadi buta, maka mereka tersesat dari jalan yang benar, dan mereka tidak memahami ucapannya, maka hawa nafsu menguasai mereka hingga menjangkau mereka dengan keras. Bahkan mungkin di antara mereka ada tokoh-tokoh yang dikaji perkataannya, karena kezuhudan, ibadah, dan ilmu tentang cabang-cabang ilmu dan banyak pokok-pokoknya. Namun petunjuk sejati adalah mengikuti para Salaf yang mulia. Karena sesungguhnya seorang hamba jika dia berpaling kepada orang setelah mereka setelah masuknya hawa nafsu dalam pokok dan cabang, maka dia tidak terjamin keselamatannya dalam beragama. Sesungguhnya seorang alim dari kalangan khalaf dinilai sejauh mana dia mengikuti Salaf.
Semua kebaikan dalam mengikuti yang telah lalu Dan semua keburukan dalam bid’ah dari yang kemudian
Dan kepada Allah kita memohon pertolongan dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Pembahasan Keempat: Penjelasan Kesalahan Kaum Lafzhiyyah yang Mengingkari terhadap Dua Imam Ahmad dan al-Bukhari
Penjelasan kesalahan mereka terhadap Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Sungguh telah kujelaskan kepadamu hukum Imam Ahmad rahimahullah Ta’ala terhadap orang yang mengatakan: “Lafazhku dengan al-Quran adalah makhluk”, dan aku telah menjelaskan hal itu dari berbagai sisi darinya, yang tidak meninggalkan ruang keraguan akan kebenaran ucapannya tentang mereka.
Namun ketika terjadi fitnah kepadanya seperti yang terjadi, yang dengannya Allah mengangkat kedudukannya, maka penisbatan kepada akidahnya menjadi keselamatan, dan menyimpang darinya adalah bid’ah. Tanda Ahlus Sunnah adalah mengikuti akidah Ahmad, dan tanda ahli bid’ah adalah meninggalkannya. Oleh karena itu, setiap kelompok dari golongan Ahlul Qiblah yang datang setelahnya berbangga dengan penisbatan kepadanya dalam akidah dan berpegang teguh dengannya. Setiap kelompok menisbatkan akidahnya kepadanya dan mengatakan: “Ini adalah akidah Ahmad bin Hanbal.” Hal itu beredar di kalangan orang yang tidak bisa membedakan, lalu mereka menerimanya dan membelanya. Namun keadilan dalam hal itu adalah setiap kelompok harus menegakkan hujjahnya atas kebenaran klaimnya. Dan sungguh kita telah mengetahui dari sunnah para Salaf yang mulia rahimahumullah bahwa “Isnad adalah bagian dari agama”, maka barangsiapa yang menyebutkan isnad berarti dia telah lepas tanggung jawab, dan barangsiapa tidak maka tidak.
Tidak ada keraguan bagi orang yang menelaah perkataan Imam Ahmad dan mengikuti jalannya, bahwa dia bersih dari bid’ah dan pelakunya. Maka seluruh kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepadanya membelakan akidah-akidah mereka dengan Ahmad, baik dengan:
- Kebohongan terang-terangan terhadapnya.
- Atau dengan riwayat-riwayat darinya yang isnadnya tidak terbukti.
- Atau dengan riwayat-riwayat yang shahih darinya, tetapi bersifat global, dan mereka tidak mendapat taufiq untuk sampai kepada pengetahuan tentang maksudnya dari riwayat tersebut.
Kecuali kelompok yang mendapat pertolongan—insya Allah—yaitu Ahlus Sunnah wal Atsar, yang tidak mengenal ilmu kalam dan bid’ah, yang menjaga diri dari sifat-sifat di atas yang disifati oleh ahli bid’ah. Maka mereka tidak berdusta atas namanya, tidak berdalil darinya kecuali dengan apa yang shahih isnadnya dan terbukti, dan jelas dalilahnya yang dijelaskan tanpa keraguan dan kesamaran di dalamnya. Hal itu dengan mengumpulkan perkataan-perkataan imam satu sama lain, dan memadukan antara yang musykil di antaranya, serta menggabungkannya dengan perkataan para pendahulunya dan saudara-saudaranya dari para imam yang tidak dikenal dengan bid’ah, jika ada, hingga sah bagi mereka untuk mengatakan: “Akidah kami adalah akidah Ahmad bin Hanbal, dan ia adalah akidah Salaf.”
Inilah manhaj yang kami tempuh dalam kitab kami ini—segala puji dan karunia bagi Allah.
Yang dimaksud di sini adalah: bahwa kaum Lafzhiyyah yang mengingkari menisbatkan diri kepada Imam Ahmad, dan mereka meriwayatkan darinya apa yang mereka sangka sesuai dengan akidah mereka, dan mereka mentakwil nash-nashnya yang sharih dalam mengingkari perkataan mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka membelanya dari beberapa sisi:
Pertama: Mereka meriwayatkan darinya bahwa dia mengatakan: “Lafazhku dengan al-Quran adalah makhluk.”
Karena itu al-Baihaqi menyebutkannya dalam I’tiqad al-Imam Ahmad.
Kedua: Mereka meriwayatkan pengingkarannya terhadap perkataan: “Lafazhku dengan al-Quran bukan makhluk” dalam kisah Abu Thalib dan lainnya.
Al-Baihaqi telah menyebutkan kisah tersebut dari riwayat Fauran dari Imam Ahmad, begitu juga kisah Ibnu Syaddad. Kemudian dia berkata: “Maka kedua riwayat ini menyatakan dengan tegas bahwa Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu bersih dari apa yang menyelisihi madzhab orang-orang yang tahqiq dari sahabat-sahabat kami. Hanya saja dia menyukai sedikitnya berbicara dalam masalah itu, dan meninggalkan perdebatan di dalamnya, dengan mengingkari apa yang menyelisihi madzhab Jama’ah.”
Penulis berkata: Dia bermaksud madzhab kaum Lafzhiyyah. Karena dia berdalil dengan pengingkaran Ahmad terhadap Abu Thalib dan Ibnu Syaddad bahwa dia pada kebalikan dari perkataan mereka berdua, dan bahwa yang benar menurut dia adalah bahwa lafazh dengan al-Quran adalah makhluk. Karena inilah perkataan orang-orang yang dia sebut sebagai ahli tahqiq dari sahabat-sahabat mereka, seperti Abul Hasan al-Asy’ari dan yang mengikutinya seperti Ibnu al-Baqillani, Ibnu Furak dan lainnya.
Dan yang ketiga: mereka mengartikan apa yang diriwayatkan secara mutawatir dari Imam Ahmad tentang pengingkarannya terhadap orang yang berkata: (lafazku dengan Al-Quran adalah makhluk) dengan tiga makna:
1 – Karena perkataan tersebut adalah perkataan baru yang tidak pernah diucapkan oleh para salaf.
2 – Bahwa Imam Ahmad bermaksud dengan hal itu seorang Jahmiyyah murni yang mengklaim bahwa Al-Quran yang tidak turun adalah makhluk.
Dan ini adalah pendapat al-Baihaqi sebagaimana diceritakan oleh Syaikhul Islam darinya.
3 – Bahwa lafaz (lafzh) maknanya adalah membuang dan melempar, seperti ucapan: (lafazhtu bi al-luqmah) yaitu ketika kamu membuangnya dan melemparkannya, dan makna ini tidak boleh disandarkan kepada Al-Quran.
Dan ini adalah pendapat Abu al-Hasan al-Asy’ari dan lainnya.
Dan yang keempat: mungkin sebagian mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Fawran, dia berkata: al-Atsram dan Abu Abdullah al-Mu’aithi memintaku untuk memohon kepada Abu Abdullah (Ahmad bin Hanbal) agar menyendiri denganku, lalu aku bertanya kepadanya tentang teman-teman kami yang membedakan antara lafaz dan yang dihikayatkan (al-mahki), lalu aku bertanyalah kepadanya? Maka beliau berkata: “Al-Quran bagaimanapun perubahan dalam perkataan dan perbuatannya adalah tidak diciptakan, adapun perbuatan kami adalah diciptakan” Aku berkata: Apakah Lafzhiyyah itu engkau anggap wahai Abu Abdullah termasuk golongan Jahmiyyah? Maka beliau berkata: “Tidak, yang Jahmiyyah adalah mereka yang berkata: Al-Quran adalah makhluk”.
Dan kami menjawab -dengan taufik Allah Ta’ala- semua prasangka ini, maka kami katakan:
- Adapun wajah pertama, maka itu adalah kesalahan yang nyata, dan kebohongan yang jelas terhadap Imam Ahmad, yang dibantah oleh riwayat mutawatir darinya dari murid-murid khususnya dan keluarganya, dalam apa yang kami sampaikan sebelumnya.
Dan seandainya itu dari riwayat orang yang terpercaya dan dikenal, maka tetap merupakan kesalahan yang jelas, karena menerima hal tersebut mengharuskan menolak berita-berita shahih yang mutawatir darinya yang bertentangan dengan itu, dan ini tidak dikatakan oleh seorang alim pun, dan tidak heran karena hawa nafsu membuat pengikutnya melakukan hal yang lebih mengherankan dari itu.
- Adapun wajah kedua, maka saya telah menjawabnya dalam pembahasan yang akan datang setelah ini, dan saya jelaskan bahwa sebab pengingkaran Imam Ahmad untuk melontarkan (lafazku dengan Al-Quran bukan makhluk) kembali kepada dua sebab:
- Salah satunya: karena itu adalah bid’ah baru yang tidak pernah dibicarakan oleh para salaf.
- Dan yang kedua: karena makna-makna batil yang ditimbulkannya, seperti memasukkan perbuatan pembaca dan suaranya dalam hal tersebut.
Dan madzhab para pengkaji mereka (!) tidak dikatakan oleh Imam Ahmad dan tidak diridainya, bahkan beliau mengingkarinya dengan lebih keras daripada pengingkarannya terhadap perkataan Abu Thalib yang diceritakan darinya, karena apa yang diceritakan Abu Thalib tentang bahwa lafaz dengan Al-Quran adalah tidak diciptakan, Ahmad menganggapnya sebagai bid’ah yang pengikutnya harus dijauhi, namun perkataan orang-orang yang digambarkan al-Baihaqi sebagai (para pengkaji) beliau mengingkarinya dengan lebih keras, dan menjahmiminya para pengucapnya, karena konsekuensinya adalah bahwa Jibril hanya datang dengan sesuatu yang diciptakan, karena kalam Allah menurut mereka adalah makna yang berdiri pada-Nya, bukan bahasa Arab maupun lainnya, dan bukan huruf maupun kata-kata, dan lafaz Arab ini menurut mereka adalah ungkapan darinya dan itu adalah makhluk, dan Jibril alaihissalam tidak datang dengan Al-Quran selain bahasa Arab ini, maka apa yang dibawanya adalah makhluk menurut keyakinan mereka, dan kembalilah kepada nash-nash Imam Ahmad dalam pengingkaran kesesatan ini dalam pembahasan kedua dari bab ini, agar engkau mengetahui bahwa kelompok yang membawa kalam Ahmad kepada selain tempat pembawaannya telah terhalangi dari taufik dalam memahami perkataannya.
- Adapun wajah ketiga, maka semua yang mereka sebutkan adalah takwil-takwil yang rusak.
- Adapun pertama, maka itu adalah benar pada dirinya sendiri, tetapi bukan yang dimaksud, karena semata-mata perkataan itu adalah bid’ah baru maka itu tidak mengharuskan mengkafirkan pengucapnya, dan makna ini terlalu suci untuk disandarkan kepada orang yang lebih rendah dari Imam Ahmad dalam ilmu, pemahaman, dan pengetahuan, lalu bagaimana pantas dinisbatkan kepadanya rahimahullah padahal beliau adalah orang yang paling suci lisannya, dan paling benar perkataannya, dengan apa yang diberikan Allah kepadanya dari ilmu dan petunjuk?
- Dan adapun kedua, yang membuat mereka jatuh pada hal seperti itu adalah keterpaksaan mereka untuk memberi alasan atas apa yang mereka jatuh padanya yaitu menyelisihi akidah Ahmad, kalau tidak maka sesungguhnya tafsir ini ditolak oleh zhahir perkataan Ahmad rahimahullah, karena sungguh telah kami riwayatkan perkataannya yang menafsirkan yang tidak bisa dibantah dengan pembawaan rusak seperti ini, di antaranya perkataannya: “Mereka lebih buruk dari perkataan Jahmiyyah, barangsiapa yang mengklaim ini maka sungguh dia telah mengklaim bahwa Jibril datang dengan makhluk dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbicara dengan makhluk” dan yang dibawa oleh Jibril dan diucapkan oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah Al-Quran Arab yang diketahui di antara seluruh kaum muslimin ini, Jibril tidak datang dengan Al-Quran selainnya, dan Allah tidak berbicara dengan Al-Quran selainnya, dan Ahmad rahimahullah hanya mengatakan perkataan ini dan yang serupa dengannya kepada orang-orang yang mengatakan diciptakannya Al-Quran Arab ini, bukan kepada orang yang berkata: sesungguhnya Al-Quran yang tidak turun adalah makhluk, karena tidak ada Al-Quran yang tidak turun, dan tidak ada Jahmiyyah yang mengatakan: Al-Quran ada dua Al-Quran, Al-Quran yang turun, dan yang lain yang tidak turun, dan keduanya adalah makhluk, agar dibawa perkataan Ahmad bahwa beliau bermaksud mereka, dan sesungguhnya Jahmiyyah murni mengatakan: tidak ada kalam bagi Allah, dan Allah tidak berbicara, dan Al-Quran adalah makhluk.
- Dan adapun ketiga, maka kerusakannya jelas, karena lafaz-lafaz Imam dalam menjahmiimi Lafzhiyyah tidak mendukung hal seperti itu, kemudian sesungguhnya lafaz (al-lafzh) yang dimaksud di sini adalah pengucapan, bukan lafaz suapan, dan itu lebih jelas dari yang tersembunyi.
- Adapun wajah keempat, maka sesungguhnya (Lafzhiyyah) adalah lafaz yang mujmal (global), dilontarkan kepada Lafzhiyyah yang menafikan yang berkata: (lafaz-lafaz kami dengan Al-Quran adalah diciptakan) dan kepada Lafzhiyyah yang menetapkan yang berkata: (lafaz-lafaz kami dengan Al-Quran bukan diciptakan) dan penentuan yang dimaksud adalah dengan dalil, maka kami perhatikan keadaan Lafzhiyyah yang menafikan apakah mereka yang dimaksud dengan itu atau tidak? Maka kami dapati mereka bukan yang dimaksud karena alasan berikut:
1 – Bahwa penggambaran mereka sebagai Jahmiyyah adalah mutawatir dari Imam Ahmad -sebagaimana telah diriwayatkan sebelumnya-.
2 – Bahwa murid-murid Ahmad tidak ada di antara mereka yang berkata: (lafazku dengan Al-Quran adalah makhluk) dan sesungguhnya di antara mereka ada yang berkata: (lafazku dengan Al-Quran bukan makhluk) -sebagaimana akan datang dalam pembahasan selanjutnya dalam meriwayatkan kisah Abu Thalib dan Ibnu Syaddad- dan Ahmad rahimahullah mengingkarinya, dan membid’ahkan pengikutnya, dan tidak menjahmiminya.
3 – Beliau berkata dalam riwayat: “Al-Quran bagaimanapun perubahan dalam perkataan dan perbuatannya adalah tidak diciptakan, adapun perbuatan kami adalah diciptakan” dan Lafzhiyyah yang menafikan menurut mereka Al-Quran yang tidak diciptakan tidak berubah dalam perkataan dan perbuatannya, dan sesungguhnya ia adalah makna tunggal yang berdiri pada zat Allah, adapun Al-Quran yang berubah dalam perkataan dan perbuatannya maka itu adalah makhluk menurut mereka.
Maka jelaslah dengan ini bahwa beliau bermaksud Lafzhiyyah yang menetapkan yang berkata: (lafazku dengan Al-Quran bukan makhluk) karena mereka dengan bid’ahnya bukanlah Jahmiyyah.
- Penjelasan kesalahan mereka terhadap Imam al-Bukhari rahimahullah:
Al-Bukhari adalah imam yang keutamaan dan kedudukannya tidak diabaikan, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail pemilik “Shahih” kitab terbesar secara mutlak dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, umat menerimanya setelahnya dengan penerimaan, dan menyandarkan kepadanya sebelum lainnya untuk mengetahui apa yang dibawa oleh Rasul, Allah Ta’ala mengangkat baginya kedudukan yang tinggi dengan al-Bukhari, maka hampir tidak terlihat seorang muslim yang paham tidak mengetahui keutamaan Muhammad bin Ismail dengan keutamaan “Shahih”-nya dan begitu juga dia adalah imam yang dipegang dalam jarh dan ta’dil, dan mengetahui rijal dan ‘ilal, dan bagaimana tidak demikian padahal dengan Ahmad, Ibnu al-Madini, dan Ishaq dia belajar? Dan sungguh beliau rahimahullah adalah imam Ahli Sunnah dan kepala Ahli Hadits setelah Ahmad bin Hanbal, karena beliau mengikuti jejak dan jalannya, tidak menyimpang darinya dan tidak menambah, dan barangsiapa yang merenungkan kitab “at-Tauhid” dari “ash-Shahih” dan “Khalq Af’al al-‘Ibad” akan tegak baginya hujjah atas kebenaran apa yang kami katakan.
Tetapi beliau rahimahullah ketika Allah Ta’ala memberinya dari keluasan ilmu dan pengetahuan apa yang diberikannya yang dengannya beliau mengungguli para sekutunya, dan menjadi orang yang ditunjuk dengan jari, beberapa sekutunya menyerangnya karena dengki yang tercela, maka mereka membawa perkataannya kepada apa yang tidak bisa dimuat, dan mengklaim atas beliau melontarkan perkataan: (lafaz-lafaz kami dengan Al-Quran adalah diciptakan) dan menyebarkan itu dan menyiarkannya di Naisabur dan lainnya, agar orang menjauh darinya dan dari mengambil manfaat darinya.
Dan pembawa panji orang-orang yang menjauhkan darinya adalah Imam Hafizh Muhammad bin Yahya adz-Dzuhali, dan dia termasuk huffazh muhadditsun yang terpercaya, para imam memujinya dan merekomendasikannya dan menyetujuinya, dan dia adalah pengikut sunnah, rahimahullah, kecuali bahwa jatuh dalam dirinya kepada al-Bukhari, dan perkataan itu dizurmakan kepadanya tentang beliau dalam masalah lafaz, maka dia menekan al-Bukhari karenanya, padahal dia menyetujuinya pada awal perkara.
Berkata al-Hafizh Abu Hamid al-A’masy (dan dia adalah tsiqah tsabat): aku melihat Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam jenazah Abu Utsman Sa’id bin Marwan, dan Muhammad bin Yahya bertanya kepadanya tentang nama-nama dan kuniyah dan ‘ilal hadits, dan Muhammad bin Ismail melewatinya seperti anak panah seakan dia membaca: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa” (al-Ikhlas: 1) maka tidak berlalu satu bulan atas ini hingga Muhammad bin Yahya berkata: ketahuilah barangsiapa yang menghadiri majlisnya jangan menghadiri (majlis) kami, karena mereka menulis kepada kami dari Baghdad: bahwa dia berbicara tentang lafaz, dan kami melarangnya tetapi dia tidak berhenti. Maka jangan mendekatinya, dan barangsiapa yang mendekatinya; maka jangan mendekat kepada kami. Maka Muhammad bin Ismail tinggal di sini beberapa waktu, dan keluar ke Bukhara.
Aku katakan: al-Bukhari rahimahullah melihat bahwa ini adalah di antara apa yang menjatuhkan Muhammad bin Yahya padanya yaitu dengki dalam ilmu, dan itu karena Allah membukakan baginya dan memberikannya apa yang tidak diberikan kepada adz-Dzuhali.
Berkata Muhammad bin Syadil -dan dia adalah muhaddits tsabat-: ketika terjadi (perselisihan) antara Muhammad bin Yahya dan al-Bukhari, aku masuk kepada al-Bukhari lalu aku berkata: wahai Abu Abdullah, apa jalan keluar bagi kami dalam apa yang terjadi antara engkau dan Muhammad bin Yahya, setiap orang yang menghadiri (majlis)mu diusir?
Maka beliau berkata: “Berapa kali Muhammad bin Yahya diserang dengki dalam ilmu, dan ilmu adalah rezeki Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki” lalu aku berkata: ini masalah yang diceritakan darimu? Beliau berkata: “Wahai anakku, ini adalah masalah yang membawa sial, aku melihat Ahmad bin Hanbal dan apa yang menimpanya dalam masalah ini, dan aku menjadikan atas diriku bahwa aku tidak akan berbicara tentangnya”.
Aku katakan: al-Bukhari rahimahullah adalah bersih lisannya, tidak melempar temannya dengan penyakit dengki dengan semata prasangka tanpa dikelilingi bukti-bukti, tetapi aku melihat dengan itu bahwa nukilan yang sampai kepada adz-Dzuhali dari al-Bukhari adalah sebab yang mengajak untuk menjauhi darinya, dan yang lebih pantas bagi Imam adz-Dzuhali adalah memastikan dari al-Bukhari sendiri, tetapi Allah menolak kecuali apa yang Dia kehendaki.
Dan kebenaran yang diridai setiap orang yang adil adalah bahwa al-Bukhari rahimahullah tidak berkata dengan perkataan Lafzhiyyah, dan lisannya tidak mengucapkannya, dan sesungguhnya beliau mengucapkan lafaz-lafaz yang dengannya beliau menolak beberapa makna samar dan keraguan, tetapi barangsiapa yang merenungkannya akan tegak baginya kebenaran apa yang kami katakan, maka celaan terhadapnya dalam perkara ini ada empat:
Yang pertama: diamnya dari menyatakan dengan jelas menjahmiimi atau membid’ahkan Lafzhiyyah yang berkata: (lafazku dengan Al-Quran adalah makhluk).
Dan yang kedua: datang darinya perkataannya -dan beliau telah ditanya tentang lafaz dengan Al-Quran?-: “Perbuatan kami adalah diciptakan, dan lafaz-lafaz kami dari perbuatan kami” maka sebagian yang menghadiri majlisnya memahami bahwa beliau berkata: “lafazku dengan Al-Quran adalah makhluk” dan yang lain menolak itu.
Ketiga: Apa yang disiarkan oleh adz-Dzahli tentangnya dari perkataan: “Lafal-lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk.”
Keempat: Pelepasan perkataan olehnya tentang perbedaan antara tilawah dan yang ditilawah, serta qiraah dan yang dibaca.
Maka orang-orang yang mengatakan: (Lafal-lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk) dari kalangan Asyariah yang datang setelahnya dan lainnya, memanfaatkan perkara-perkara ini lalu mereka berkata: Perkataan al-Bukhari adalah perkataan kami, karena sesungguhnya kami membedakan antara tilawah dan yang ditilawah. Tilawah adalah lafal-lafal Arab ini, sedangkan yang ditilawah adalah apa yang ditunjukkan oleh tilawah, yaitu menurut mereka kalam Allah yang berdiri pada Dzat-Nya yang merupakan makna yang abstrak.
Ini adalah dusta dan kebohongan besar yang tidak pernah dikatakan oleh al-Bukhari sedikit pun, dan dia bersih darinya dengan segala puji bagi Allah. Dan sesungguhnya aku akan membantah dengan pertolongan dan kekuatan Allah ta’ala apa yang mereka belokkan dari makna-maknanya disebabkan oleh apa yang kami sebutkan dari kritikan-kritikan terhadap al-Bukhari.
Adapun kritikan pertama, maka ia tidak berdiri, karena wukuf-nya ketika dia berwukuf bukanlah karena keraguan terhadap bid’ah mereka atau keragu-raguan tentang kebatilan madzhab mereka. Akan tetapi itu adalah untuk menghindari kemungkinan terjadinya fitnah karenanya. Tidakkah engkau melihat bahwa dia berdalil dengan Ahmad rahimahullah? Dia berkata: “Ini adalah masalah yang membawa sial. Aku telah melihat Ahmad bin Hanbal dan apa yang menimpanya dalam masalah ini. Maka aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berbicara tentangnya.”
Dan dia mencukupkan dengan menjelaskan perbedaan antara perbuatan-perbuatan hamba dengan kalam Allah ta’ala, dan berkata: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk, sedangkan kalam Allah baik al-Quran maupun lainnya adalah tidak makhluk. Dan dia telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang paling baik dalam kitabnya Khalq Afal al-Ibad.
Adapun kritikan kedua, maka itu adalah pertanyaan yang meragukan. Dan kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa (lafal) secara mutlak, bisa dimaksudkan dengannya perbuatan hamba yang merupakan gerakan dan suaranya dengan al-Quran, maka ini adalah makhluk. Dan bisa dimaksudkan dengannya kalam Allah ta’ala yang tertulis dan terbaca yaitu huruf-huruf Arab, maka ini adalah tidak makhluk.
Para imam melarang melepaskan lafal: (lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk) tanpa penjelasan yang dimaksud, karena Jahmiyyah membuat bid’ah itu untuk mengelabui manusia. Dan saat itu belum muncul bid’ah orang-orang yang mengatakan: (lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk) dan mereka bermaksud bahwa al-Quran Arab yang tersusun dari huruf-huruf Arab adalah makhluk, dari kalangan Asyariah dan lainnya.
Maka al-Bukhari rahimahullah dalam perkataan ini telah menjelaskan hakikat perkataannya dengan ucapannya: “Perbuatan-perbuatan kami adalah makhluk, dan lafal-lafal kami termasuk dari perbuatan-perbuatan kami” tentang perpisahannya dari aqidah Jahmiyyah yang batil, dan kesepakatannya dengan Ahlus Sunnah. Karena sesungguhnya dia di sini menafsirkan maksudnya dengan lafal dan bahwa dia hanya bermaksud perbuatan hamba, dan itu adalah makhluk secara pasti. Dan telah kami nukil sebelumnya perkataan Imam Ahmad: “Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, dia bermaksud dengannya al-Quran, maka dia kafir.” Dan al-Bukhari rahimahullah tidak bermaksud dengan lafal adalah al-Quran, akan tetapi dia bermaksud perbuatan hamba. Maka sebagian orang keliru dalam memahami maksudnya lalu mereka membuat kebohongan atasnya. Padahal yang lebih baik dan lebih pantas bagi al-Bukhari rahimahullah adalah meninggalkan lafal ini sama sekali, karena ia termasuk yang ditinggalkan oleh salaf untuk membicarakannya, dan mereka mencukupkan dengan penjelasan: “Bahwa perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk, dan al-Quran adalah kalam Allah yang tidak makhluk di mana pun beredar.”
Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah menjelaskan bahwa al-Bukhari rahimahullah tidaklah aqidahnya tentang lafal adalah aqidah Lafdhiyyah yang meyakini bahwa Jibril alaihissalam hanya datang dengan kalam yang makhluk, yaitu al-Quran ini yang tersusun dari huruf-huruf Arab, dan bahwa Allah ta’ala tidak berbicara dengan huruf.
Adapun kritikan ketiga, maka ia dibangun di atas kesalahan terhadap al-Bukhari, diperkuat dengan apa yang terjadi di dalam jiwa-jiwa berupa hasad dalam ilmu—sebagaimana kami jelaskan.
Adapan kritikan keempat, maka sesungguhnya al-Bukhari ketika membedakan antara tilawah dan yang ditilawah, dia meyakini bahwa tilawah hanyalah perbuatan hamba saja, dan tidak termasuk di dalamnya kalam yang tersusun dari huruf-huruf. Sedangkan yang ditilawah adalah al-Quran Arab yang jelas ini yang diturunkan oleh Jibril alaihissalam kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, berbeda dengan apa yang diyakini oleh Lafdhiyyah yang berpegang dengan perkataannya—dari kalangan Asyariah dan lainnya. Karena sesungguhnya mereka memasukkan al-Quran Arab yang dibuka dengan al-Fatihah dan ditutup dengan an-Nas ke dalam tilawah. Sedangkan yang ditilawah menurut mereka adalah makna yang mereka gambarkan dengan an-nafsi, yang berdiri pada Dzat Allah ta’ala. Dan sangat jauh perbedaan antara kedua makna tersebut.
Ini dengan catatan bahwa kami telah menjelaskan pada awal bab ini tentang tidak sahnya melepaskan perbedaan antara tilawah dan yang ditilawah, atau menyamakan antara keduanya, karena setiap pelepasan dari keduanya mengarah kepada hal-hal yang ditolak secara syariat. Dan kami telah menjelaskan bahwa membedakan perkataan dalam persoalan ini adalah jawaban dari semua permasalahan yang diajukan terhadapnya. Maka jelaslah dengan penjelasan ini kebersihan al-Bukhari rahimahullah dari apa yang dinisbatkan kepadanya oleh Lafdhiyyah an-Nafiyah dari aqidah yang batil. Dan sesungguhnya aku mengajukan kepada mereka perkataan al-Bukhari sendiri dalam hal itu untuk membatalkan kebatilan mereka. Dia rahimahullah berkata setelah dia mensanadkan dari Yahya bin Said perkataannya: “Aku senantiasa mendengar dari para sahabat kami mereka berkata: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.” Al-Bukhari berkata: “Gerakan-gerakan mereka, suara-suara mereka, usaha-usaha mereka, dan tulisan-tulisan mereka adalah makhluk. Adapun al-Quran yang ditilawah, yang jelas, yang tertulis dalam mushaf, yang tertulis, yang dipahami dalam hati-hati, maka ia adalah kalam Allah, bukan makhluk.”
Dan dia rahimahullah berkata: Dan Allah azza wa jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.'” (al-Isra: 88) “Akan tetapi ia adalah kalam Allah yang dilafalkan oleh para hamba dan para malaikat.”
Aku katakan: Dan tidak ada seorang muslim yang memahami pun yang tidak mengetahui bahwa yang dimaksud dengan al-Quran dalam ayat ini adalah al-Quran Arab yang mu’jiz yang menjadikan manusia dan jin tidak mampu membuat yang serupa dengannya. Dan dialah yang digambarkan oleh al-Bukhari sebagai kalam Allah, dan dialah yang dilafalkan oleh para hamba dan para malaikat. Maka tidaklah dia tetapkan untuk para hamba dan para malaikat—dan mereka adalah seluruh makhluk Allah yang berakal—kecuali pelafalan mereka terhadapnya yang merupakan perbuatan mereka: ucapan lisan-lisan mereka dan gerakan bibir-bibir mereka. Adapun al-Quran yang mu’jiz maka bukanlah dalam kemampuan mereka untuk membuat yang serupa dengannya. Dan ini semua bertentangan dengan agama Lafdhiyyah an-Nafiyah, karena sesungguhnya al-Quran Arab yang mu’jiz dalam susunannya ini menurut mereka adalah makhluk susunannya.
Dan sungguh al-Bukhari rahimahullah telah menetapkan dalam kitabnya Khalq Afal al-Ibad bahwa al-Quran adalah diturunkan bukan makhluk, dan bahwa ia dari Allah bermula dan kepada-Nya akan kembali, dan bahwa Allah ta’ala berbicara dengan suara, hingga selain itu dari aqidah Ahlul Haq yang telah kami rinci dalam Bab Pertama, yang dengannya hidung-hidung Lafdhiyyah Asyariah dan lainnya terhina, yang salah seorang dari mereka berkata tanpa malu dan tanpa wara’: “Al-Bukhari termasuk orang yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk.”
Dan di antara yang patut untuk ditegaskan bahwa diriwayatkan dari al-Bukhari rahimahullah bahwa dia berkata kepada al-Hafizh Abu Amr Ahmad bin Nashr al-Khaffaf: “Wahai Abu Amr, ingatlah apa yang aku katakan kepadamu: Barangsiapa mengklaim dari penduduk Naisabur, Qumis, ar-Rayy, Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kufah, Madinah, Makkah, dan Bashrah, bahwa aku berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka dia pendusta. Karena sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan perkataan ini. Akan tetapi aku berkata: Perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.”
Aku katakan: Akan tetapi aku mengabaikan berdalil dengannya karena tidak sahnya sanadnya, meskipun sekelompok imam telah berdalil dengannya. Dan dalam apa yang kami teliti cukup bagi orang yang dikaruniai Allah kejernihan terhadap kebenaran.
Pembahasan Kelima: Lafdhiyyah al-Mutsbitah adalah Mubtadi’ah
Lafdhiyyah al-Mutsbitah—sebagaimana telah disebutkan dalam Pembahasan Pertama—adalah orang-orang yang berkata: (Lafal-lafal kami terhadap al-Quran adalah tidak makhluk) dan mereka bermaksud dengan pelepasan ini lafal yang merupakan kalam Allah yang tersusun dari huruf-huruf Arab, dan mereka bermaksud dengannya juga bantahan terhadap Lafdhiyyah an-Nafiyah yang berkata: (Lafal-lafal kami terhadap al-Quran adalah makhluk).
Akan tetapi mereka ketika melepaskan perkataan ini—dengan benarnya maksud mereka—datanglah setelah mereka suatu kaum yang menyepakati mereka dalam melepaskan lafal, dan mereka memasukkan ke dalam itu perbuatan hamba, gerakannya, dan suaranya. Dan di antara yang menjatuhkan mereka ke dalam itu adalah pelepasan perkataan mereka: Sesungguhnya tilawah adalah yang ditilawah, dan qiraah adalah yang dibaca. Dan sungguh kami telah menjelaskan sebelumnya kerusakan pelepasan ini.
Maka Imam Ahmad rahimahullah melarang pelepasan lafal ini: (Lafal-lafal kami terhadap al-Quran adalah tidak makhluk) karena dua perkara:
Pertama: Bahwa ia adalah lafal yang bid’ah, tidak dibicarakan oleh salaf.
Kedua: Karena yang ditimbulkannya dari jatuh ke dalam hal yang dilarang, sebagaimana yang ditimbulkan oleh sebagian orang yang datang setelah dari pengikut perkataan ini. Maka di antara mereka ada yang berhenti: Apakah masuk dalam lafal suara hamba dan gerakannya? Atau tidak? Dan yang lain berani memasukkan perbuatan hamba, gerakannya, dan suaranya. Dan ini adalah susunan dari sebagian yang memungkinkan untuk ditemukan dari perkataan imam Sunnah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang urusan golongan ini.
- Telah disebutkan sebelumnya dari dia bahwa dia membenci pembicaraan tentang lafal dengan penetapan atau penafian.
- Dan Abu Bakar bin Zanjuwaih berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata: “Barangsiapa berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah makhluk, maka dia Jahmi. Dan barangsiapa berkata: Tidak makhluk, maka dia mubtadi’ yang tidak boleh diajak bicara.”
Dan al-Hafizh al-Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari menukilkan yang serupa dengan ini dari Ahmad, dan al-Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkata setelahnya:
“Adapun apa yang dinukil oleh Muhammad bin Jarir dari Ahmad rahimahullah bahwa barangsiapa berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah tidak makhluk maka dia mubtadi’, maka sesungguhnya dia bermaksud dengannya bahwa salaf shalih dari Ahlus Sunnah tidak berbicara dalam bab lafal, dan keadaan tidak membuat mereka membutuhkannya. Dan sesungguhnya pembicaraan tentang lafal terjadi dari ahli pendalaman dan orang-orang bodoh, yang datang dengan hal-hal yang baru, dan meneliti tentang apa yang mereka dilarang darinya berupa kesesatan dan perkataan-perkataan yang tercela, dan mereka membahas tentang apa yang tidak dibahas oleh salaf dari ulama Islam. Maka Imam Ahmad berkata: Perkataan ini pada dirinya adalah bid’ah, dan menjadi hak orang yang beragama untuk meninggalkannya. Dan setiap bid’ah adalah dibuat-buat, dan tidak boleh mengucapkannya dan tidak pula yang serupa dengannya dari bid’ah-bid’ah yang dibuat-buat, dan cukup dengan apa yang dikatakan oleh salaf yang diikuti: Sesungguhnya al-Quran adalah kalam Allah yang tidak makhluk, dan tidak menambah di atasnya kecuali pengkafiran terhadap yang mengatakan diciptakannya.”
- Dan al-Imam Abu Bakar al-Marrudzi rahimahullah berkata: Abu Abdillah—yaitu Ahmad—berkata kepadaku: “Sungguh hatiku telah marah kepada Ibnu Syaddad.” Aku berkata: Apa yang dia nukil darimu? Dia berkata: “Dia nukil dariku tentang lafal.” Maka sampailah kepada Ibnu Syaddad bahwa Abu Abdillah telah mengingkarinya. Lalu datanglah kepada kami Hamdawaih bin Syaddad dengan catatan yang di dalamnya ada masalah-masalah. Maka aku memasukkannya kepada Abu Abdillah, lalu dia melihat, maka dia melihat di dalamnya: Sesungguhnya lafalku terhadap al-Quran adalah tidak makhluk—bersama masalah-masalah di dalamnya. Maka Abu Abdillah berkata: “Di dalamnya ada perkataan yang tidak aku ucapkan.” Maka dia berdiri dari serambi lalu masuk, kemudian dia mengeluarkan tinta dan pena. Dan Abu Abdillah mencoret pada tempat: Lafalku terhadap al-Quran adalah tidak makhluk. Dan Abu Abdillah menulis dengan tulisan tangannya di antara baris-baris: “Al-Quran di mana pun beredar adalah tidak makhluk.” Dan berkata: “Aku tidak mendengar seorang pun berbicara tentang ini dengan sesuatu.” Dan dia mengingkari terhadap orang yang berkata: Lafalku terhadap al-Quran adalah tidak makhluk.
Aku katakan: Hamdawaih bin Syaddad ini adalah salah satu dari sahabat-sahabat Imam Ahmad.
4 – Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata:
Sampai kepadaku bahwa Abu Thalib menceritakan tentang ayahku bahwa beliau mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan. Maka aku memberitahukan hal itu kepada ayahku, lalu dia berkata: “Siapa yang memberitahumu?” Aku menjawab: Fulan. Dia berkata: “Utus orang kepada Abu Thalib.” Maka aku mengutus orang kepadanya, lalu dia datang, dan Fauran juga datang. Maka ayahku berkata kepadanya: “Apakah aku mengatakan kepadamu: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan?” Beliau marah dan mulai gemetar. Lalu Abu Thalib berkata kepadanya: Aku membacakan kepadamu: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas: 1), lalu engkau berkata kepadaku: “Ini tidak diciptakan.” Dia berkata: “Lalu mengapa engkau menceritakan dariku bahwa aku mengatakan kepadamu: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan? Dan sampai kepadaku bahwa engkau menempatkan itu dalam kitabmu, dan engkau menulis surat dengan itu kepada suatu kaum. Jika itu ada dalam kitabmu maka hapuslah dengan penghapusan yang sangat kuat, dan tulislah kepada kaum yang engkau kirimi surat bahwa aku tidak mengatakan ini kepadamu.” Beliau marah dan menghadap kepadanya seraya berkata: “Apakah engkau menceritakan dariku apa yang tidak aku katakan kepadamu?” Maka Fauran mulai meminta maaf kepadanya, dan dia pulang dari sisinya dalam keadaan ketakutan. Kemudian Abu Thalib kembali dan menyebutkan bahwa dia telah menghapus itu dari kitabnya, dan bahwa dia telah menulis kepada kaum itu memberitahukan kepada mereka bahwa dia telah keliru dalam menceritakannya dari Abu Abdillah.
Aku berkata: Kisah ini shahih dan masyhur dari Imam Ahmad, diriwayatkan darinya oleh anaknya Shalih, dan Abu Bakar al-Marrudzi, dan Fauran bin Muhammad. Ketiganya termasuk murid-murid khusus beliau, dan semuanya menyaksikan kisah tersebut.
Riwayat Abu Bakar al-Marrudzi:
Dia rahimahullah berkata: Sampai kepada Abu Abdillah dari Abu Thalib bahwa dia menulis kepada penduduk Nashidin: Bahwa lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan.
Abu Bakar berkata: Maka Shalih bin Ahmad datang kepada kami, lalu berkata: Berdirilah kalian menuju ayahku. Maka kami datang dan masuk menemui Abu Abdillah, ternyata beliau sedang marah, sangat marah, kemarahan itu tampak di wajahnya. Lalu beliau berkata: “Pergilah dan bawalah Abu Thalib untukku.” Maka aku datang bersamanya. Lalu dia duduk di hadapan Abu Abdillah sambil gemetar. Maka beliau berkata: “Apakah engkau menulis kepada penduduk Nashidin memberitahukan kepada mereka dariku bahwa aku mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan?” Dia menjawab: Sesungguhnya aku hanya menceritakan dari diriku sendiri. Beliau berkata: “Ini tidak halal darimu maupun dari diriku, karena aku tidak pernah mendengar seorang ulama pun mengatakan ini.”
Abu Abdillah berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan bagaimanapun penyebutannya.”
Maka dikatakan kepada Abu Thalib: Keluarlah dan beritahukanlah bahwa Abu Abdillah telah melarang untuk mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan. Maka Abu Thalib keluar dan bertemu dengan sekelompok ahli hadits lalu memberitahukan kepada mereka bahwa Abu Abdillah melarangnya untuk mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan.
Riwayat Fauran bin Muhammad:
Dia rahimahullah berkata: Shalih datang kepadaku—dan Abu Bakar al-Marrudzi ada di sisiku—lalu mengajakku menemui Abu Abdillah, dan berkata: Sesungguhnya telah sampai kepada ayahku bahwa Abu Thalib telah menceritakan darinya bahwa beliau mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan. Maka aku berdiri menujunya, Shalih mengikutiku. Shalih masuk dari pintunya, lalu kami masuk menemui Abu Abdillah, ternyata Abu Abdillah sedang marah, sangat marah, kemarahan itu tampak di wajahnya. Lalu beliau berkata kepada Abu Bakar: Pergilah dan bawalah Abu Thalib untukku. Maka dia datang dengan Abu Thalib. Aku berusaha menenangkan Abu Abdillah sebelum kedatangan Abu Thalib, dan aku berkata: Dia memiliki kehormatan. Lalu dia duduk di hadapan beliau—dalam keadaan wajahnya berubah—maka Abu Abdillah berkata kepadanya: “Apakah engkau menceritakan dariku bahwa aku mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan?” Dia menjawab: Sesungguhnya aku hanya menceritakan dari diriku sendiri. Maka beliau berkata: “Jangan ceritakan ini darimu maupun dariku, karena aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan ini”—atau para ulama, Fauran ragu—dan beliau berkata kepadanya: “Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan bagaimanapun penyebutannya.”
Maka aku berkata kepada Abu Thalib—sementara Abu Abdillah mendengar—: Jika engkau telah menceritakan ini kepada seseorang maka pergilah hingga engkau memberitahukan kepadanya bahwa Abu Abdillah melarang dari hal ini. Maka Abu Thalib keluar dan memberitahukan kepada lebih dari satu orang tentang larangan Abu Abdillah, di antaranya: Abu Bakar bin Zanjuwaih, al-Fadhl bin Ziyadh al-Qaththan, Hamdan bin Ali al-Warraq, Abu Ubaid, dan Abu Amir. Dan Abu Thalib menulis dengan tulisan tangannya sendiri kepada penduduk Nashidin setelah wafatnya Abu Abdillah memberitahukan kepada mereka bahwa Abu Abdillah melarang untuk mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan. Dan Abu Thalib datang kepadaku dengan suratnya dan dia telah mencoret masalah itu dari kitabnya.
Zakariyya bin al-Faraj—perawi kisah ini dari Fauran—berkata:
Maka aku pergi kepada Abdul Wahhab al-Warraq, lalu dia mengambil kertas itu dan membacanya. Lalu dia berkata kepadaku: Siapa yang memberitahumu tentang ini dari Ahmad? Aku menjawab: Fauran bin Muhammad. Dia berkata: Orang yang terpercaya dan dapat dipercaya dalam hal Ahmad.
Zakariyya berkata: Dan sebelum itu Abu Bakar al-Marrudzi telah memberitahukan kepada Abdul Wahhab, maka ada dua saksi di sisi Abdul Wahhab.
Aku berkata: Maka riwayat shahih ini memutuskan bahwa Imam Ahmad tidak mengatakan perkataan ini, bahkan jelas bahwa beliau tidak pernah mengucapkannya, dan apa yang dinukil darinya oleh Abu Thalib hanyalah kesalahan yang dia ta’wilkan, maka Ahmad menegurnya dengan keras dan melarangnya darinya.
Maka setiap yang diriwayatkan darinya tentang perkataannya dengan ini, maka riwayat ini mendustakan hal itu.
5 – Al-Bukhari rahimahullah berkata:
“Sampai kepadaku dari Ahmad bin Hanbal melalui dua puluh dua jalan, semuanya sebagian bertentangan dengan sebagian yang lain, dan yang shahih menurutku adalah bahwa beliau berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang ulama mengatakan: Lafalku terhadap Al-Quran tidak diciptakan.”
Aku berkata: Maka nash-nash yang aku sebutkan dari Imam Ahmad ini cukup dalam menjelaskan keyakinannya dalam masalah ini. Sebagaimana beliau mengingkari bid’ah Lafzhiyyah yang menafikan, demikian juga beliau mengingkari bid’ah Lafzhiyyah yang menetapkan, dan beliau tidak menyetujui salah satu dari kedua golongan dalam bid’ah mereka. Mereka yang menafikan adalah Jahmiyyah, sedangkan mereka yang menetapkan, beliau membid’ahkan mereka dan memerintahkan untuk menjauhi mereka.
Penjelasan Kesalahan Orang yang Salah Terhadap Imam Ahmad dalam Masalah Ini:
Akan tetapi sejumlah orang dari Ahlussunnah wal Jama’ah dan ahli hadits ingin menolak bid’ah Lafzhiyyah yang menafikan yang mengatakan: (Lafal-lafal kami terhadap Al-Quran adalah makhluk), maka mereka menanggapi mereka dengan mengucapkan kebalikannya, lalu mereka berkata: (Lafal-lafal kami terhadap Al-Quran tidak diciptakan). Maksud mereka tidak lain adalah menetapkan bahwa Al-Quran Arab ini adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, namun mereka tidak memperhatikan bahayanya ucapan ini, dan seharusnya mereka mengikuti jalan Imam Ahmad dalam melarang dari hal itu, dan tidak menolak bid’ah dengan bid’ah.
Ketika hal itu terjadi dari mereka, dan di antara mereka ada imam-imam besar, seperti: al-Hafizh al-Imam Abu Hatim ar-Razi, maka sekelompok Ahlussunnah yang dikenal bermazhab dengan akidah Imam Ahmad mengikuti mereka dalam hal itu, seperti: Abu Abdillah bin Hamid, Abu Nashr as-Sijzi, Abu Abdillah bin Mandah, dan lain-lain selain mereka. Mereka menyangka bahwa ini adalah mazhab Ahmad dan keyakinannya, bahkan di antara mereka ada yang memastikan bahwa ini adalah keyakinan Ahmad dan perkataannya yang terpastikan yang beliau rujuk kepadanya. Mereka menyandarkan pada nukilan-nukilan darinya dalam hal itu, dan sebagian mereka mengklaim bahwa riwayat Abu Thalib yang telah disebutkan adalah palsu terhadapnya.
Syaikhul Islam berkata: “Dan keadaan tidak seperti yang mereka katakan, karena sesungguhnya orang yang paling mengetahui tentang Ahmad dan orang yang paling dekat dengan Ahmad dan orang yang paling jujur dalam meriwayatkan darinya adalah mereka yang meriwayatkan itu darinya. Akan tetapi penduduk Khurasan tidak memiliki pengetahuan tentang perkataan-perkataan Ahmad seperti yang dimiliki penduduk Irak yang lebih dekat dengannya.”
Dan beliau berkata tentang apa yang mereka jadikan sebagai hujjah berupa riwayat-riwayat dari Ahmad bahwa beliau mengatakan itu: “Dan itu adalah riwayat-riwayat yang lemah dengan sanad-sanad yang majhul (tidak dikenal), tidak bisa menandingi apa yang mutawatir darinya di sisi murid-murid khususnya dan keluarganya serta ulama-ulama yang terpercaya, apalagi telah diketahui bahwa di masa hidupnya beliau mengoreksi kesalahan Abu Thalib dalam meriwayatkan darinya, hingga Ahmad mengembalikannya dari itu dan marah kepadanya dengan kemarahan yang sangat.”
Penyebutan Apa yang Ditimbulkan oleh Ucapan Ini dari Bid’ah-bid’ah:
Lafal-lafal yang dibuat-buat, seandainya maksud darinya baik, maka tidak terlepas dari kerusakan syar’i. Seandainya tidak terjadi karenanya kecuali bid’ah yang tercela, niscaya layak untuk ditinggalkan dan dihindari. Bagaimana jika lafal itu menjadi pintu bagi bid’ah yang lebih besar darinya, dan kerusakan yang lebih besar darinya, seperti bid’ah ini. Karena sesungguhnya maksud pembuat bid’ahnya adalah menolak Lafzhiyyah Jahmiyyah yang mengucapkan perkataan: (Lafal-lafal kami terhadap Al-Quran adalah makhluk), maka mereka menanggapi kebatilan mereka dengan kebatilan, dan bid’ah mereka dengan bid’ah. Sungguh cukup bagi mereka apa yang cukup bagi para imam petunjuk lainnya seperti Imam Ahmad dan lainnya, sehingga mereka membatalkan bid’ah dengan dalil-dalil Al-Quran, dan membuka kepalsuan mereka dengan penjelasan yang jelas, dengan tidak memerlukan lafal-lafal yang baru. Akan tetapi itu adalah kekeliruan yang terjadi, maka hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.
Dan telah terjadi karenanya dua bid’ah yang buruk, yang terjadi dari sebagian orang bodoh, bukan dari para imam yang kami sebutkan:
Bid’ah Pertama: Perkataan bahwa perbuatan pembaca yang merupakan suaranya dan gerakannya dalam membaca adalah tidak diciptakan.
Mereka menjadikan itu dari kalam Allah, dan suara pembaca adalah suara Allah, dan ini adalah kesesatan yang nyata, dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Ini batil dari banyak segi:
1 – Bahwa semua perbuatan hamba adalah makhluk, dan ini adalah akidah salaf yang mulia.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS. Ash-Shaffat: 96). Dan dari Hudzaifah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membuat setiap pembuat dan pembuatannya.” Dan sebagian perawi membaca saat itu: “Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”
Imam para muhaddits, al-Hujjah al-Hafizh Yahya bin Sa’id al-Qaththan rahimahullah berkata: “Aku senantiasa mendengar dari sahabat-sahabat kami mereka berkata: ‘Sesungguhnya perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk.'”
Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Gerakan-gerakan mereka, suara-suara mereka, usaha-usaha mereka, dan tulisan-tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Quran yang dibaca, yang jelas, yang ditetapkan dalam mushaf, yang tertulis, yang ditulis, yang terpelihara dalam hati, maka itu adalah kalam Allah, bukan makhluk. Allah berfirman: ‘Bahkan itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu’ (QS. Al-Ankabut: 49).”
Dan Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkata: “Dan termasuk perkataan Ahlussunnah wal Jama’ah tentang perbuatan-perbuatan hamba bahwa itu adalah makhluk bagi Allah Ta’ala, mereka tidak ragu dalam hal itu, dan mereka tidak menghitung sebagai ahli petunjuk dan agama yang benar orang yang mengingkari perkataan ini dan menafikannya.”
2 – Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menisbatkan suara pembaca dan memperindahnya kepadanya, bukan kepada Al-Quran yang merupakan kalam Allah Ta’ala, dan itu dalam lebih dari satu hadits darinya. Di antaranya sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kalian.” Dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Allah tidak mendengarkan terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan kepada nabi yang bersuara bagus, bersenandung dengan Al-Quran dengan mengeraskannya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membedakan antara suara pembaca dan Al-Quran yang dibaca yang merupakan kalam Allah. Beliau menisbatkan suara kepada pembaca, karena itu dari usahanya dan perbuatannya.
3 – Pembaca hanyalah menyampaikan Al-Quran dengan suaranya dan gerakan dirinya. Maka kalam itu adalah kalam Sang Pencipta, dan suara itu adalah suara pembaca. Dan makna ini dapat dipahami dan dapat dimengerti dalam setiap kalam, lalu mengapa tidak dapat dipahami dalam kalam Allah Ta’ala? Karena sesungguhnya muhaddits ketika menyampaikan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka”, maka sesungguhnya kalam itu adalah kalam Nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa keraguan dan tanpa keraguan, dan muhaddits hanyalah menyampaikannya dengan suara dirinya, dan gerakan lisannya. Dan tidak dikatakan: Bahwa suara yang terdengar dari muhaddits adalah suara Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan seandainya ada yang mengatakan itu, niscaya dia tidak terhitung dalam orang-orang berakal dari bani Adam. Jika ini jelas dalam kalam makhluk, maka lebih pantas dan lebih layak untuk menjadi lebih jelas dalam kalam Allah Ta’ala. Itu karena sifat makhluk menyerupai sifat sesamanya, dan meskipun demikian dapat dibedakan di dalamnya, sedangkan sifat Allah tidak menyerupai sifat makhluk, lalu mengapa sulit dibedakan di dalamnya?
Dan sungguh para imam rahimahumullah mengingkari bid’ah ini ketika muncul, seperti al-Bukhari rahimahullah Ta’ala dan lainnya. Dan sungguh Imam Abu Bakar al-Marrudzi—murid paling dekat Imam Ahmad dengannya—telah mengambil jawaban-jawaban para imam Islam dan ulamanya di zamannya, dari penduduk Baghdad, Bashrah, Kufah, dua kota suci, Syam, Khurasan, dan para imam lainnya dalam hal itu.
Dan Syaikhul Islam telah menyebutkan sekelompok dari mereka, di antaranya:
Abu Bakar al-Atsram, Muhammad bin Basysyar Bundar, Ya’qub bin Ibrahim ad-Dawraqi, Muhammad bin Abdullah al-Makhrami, al-Abbas bin Muhammad ad-Dauri, Abdul Karim bin al-Haitsam al-Aquli, Ahmad bin Sinan al-Wasithi, dan Ali bin Harb al-Mushili.
Aku berkata: Dan mereka semua termasuk para muhaddits yang terpercaya dan para hafizh mereka.
Syaikhul Islam berkata: “Dan siapa yang Allah Ta’ala kehendaki dari para imam Ahlussunnah dan ahli hadits, dari sahabat-sahabat Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya, mengingkari terhadap orang yang menjadikan lafal hamba terhadap Al-Quran, atau suaranya dengannya, atau selain itu dari sifat-sifat hamba yang berkaitan dengan Al-Quran sebagai tidak diciptakan, dan mereka memerintahkan untuk menghukumnya dengan menjauhi dan lainnya.”
Dan Bid’ah Kedua: Bahwa sejumlah orang menjadikan kalam Allah hanyalah huruf-huruf dan suara-suara, dan makna-makna tidak termasuk dalam itu.
Bid’ah ini tampak jelas kerusakannya, dan telah saya jelaskan dalam Bab Pertama apa yang cukup untuk membuktikan bahwa kalam (perkataan) adalah nama untuk lafaz dan makna secara bersamaan, bukan nama untuk salah satunya tanpa yang lain. Kadang-kadang lawan dari kelompok ini menisbahkan kepada mereka bahwa mereka mengatakan bahwa tinta yang digunakan untuk menulis adalah kalam Allah, dan kertas atau kulit yang ditulisi, atau yang semakna dengan ini tidak diciptakan. Sesungguhnya ini adalah perkataan yang tidak dikatakan oleh seorang pun yang memiliki akal sehat, dan mungkin ada sebagian orang bodoh yang ekstrem yang terjerumus ke dalamnya, dan kerusakannya lebih jelas daripada perlu dibuktikan. Allah Maha Mengetahui, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
BAB KETIGA: AKIDAH-AKIDAH KELOMPOK-KELOMPOK AHLI BID’AH TENTANG KALAM ALLAH TA’ALA DAN PEMBONGKARAN KEBATILAN MEREKA
Bab ini berisi pendahuluan dan tiga pasal:
- Pasal Pertama: Menyebutkan sejumlah perkataan kelompok-kelompok ahli bid’ah tentang kalam Allah Ta’ala.
- Pasal Kedua: Membongkar penipuan Jahmiyyah Mu’tazilah tentang kalam Allah Ta’ala dan hukum Salaf serta para imam terhadap mereka.
- Pasal Ketiga: Membongkar penipuan Asy’ariyyah dalam menetapkan sifat kalam bagi Allah Ta’ala.
Pendahuluan
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar, dan menurunkan bersamanya Kitab sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia. Maka beliau mendidik para sahabatnya dengan ilmu yang kecil dan yang besar, lalu mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh beliau dan membenarkannya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya. Mereka berada di atas petunjuk, jalan, dan sunnah beliau. Mereka melaksanakan hal itu dan memegang Kitab dengan kuat.
Kemudian orang-orang terbaik umat ini mengikuti mereka dalam hal itu.
Hingga datanglah setelah mereka generasi yang berpaling dari Kitab, dan menjadikannya di belakang punggung mereka. Lalu mereka membuat syariat-syariat selain dari Kitab dengan prasangka dan wahm yang mereka kira sebagai hujjah dan dalil. Syaitan menguatkan hal itu bagi mereka, maka mereka menghukumi dengannya terhadap Kitab yang ma’shum, dan mereka mengira dengan itu bahwa mereka telah mencapai puncak ilmu pengetahuan. Maka muncullah Al-Ja’d bin Dirham dengan perkataan yang rusak, yang dia peroleh dari akal yang rusak yang dalam hakikatnya adalah kejahilan murni. Dia mengumumkan bid’ah dan kebatilannya secara terang-terangan, maka dia menyatakan pendustaan terhadap Al-Quran, dan berkata: Allah tidak berbicara kepada Musa dengan sungguh-sungguh, dan tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Maka dia membatalkan dengan hawa nafsunya apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menafikan bahwa Allah memiliki kalam, sehingga dia menyerupakan-Nya dengan orang bisu, dan membatalkan hubungan-Nya Ta’ala dengan para hamba, maka tidak ada rasul yang diutus dan tidak ada kitab yang diturunkan.
Kemudian datanglah setelahnya kepala kesesatan Jahm bin Shafwan, maka dia menambah penyesatan terhadap para hamba melebihi pendahulunya, dan dia memasukkan kepada mereka berbagai syubhat sehingga kerusakan merata. Maka senang hati Iblis yang terkutuk karenanya dan tercapailah baginya keinginan dan tujuan.
Allah melaknat Jahm, betapa banyak kekufuran dan kesesatan yang dia bawa kepada umat ini! Dia menafikan dari Allah sifat-sifat kesempurnaan-Nya, sehingga dia menyerupakan-Nya dengan ketiadaan, bahkan Dia menurut Jahm dan pengikut-pengikutnya adalah ketiadaan murni, tidak bersifat dengan sifat apa pun. Padahal mustahil menetapkan zat yang terlepas dari sifat-sifat. Maka Jahm mendustakan Rasul dan Al-Quran, dan datang dengan apa yang membuat bergidik badan orang-orang beriman ketika mengingatnya. Cukuplah bagimu perkataan Imam yang menjadi hujjah Abdullah bin Al-Mubarak: “Sesungguhnya kami menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrani, tetapi kami tidak sanggup menceritakan perkataan Jahmiyyah.”
Maka ingatlah apa yang oleh Yahudi dan Nasrani mensifati Rabb mereka Ta’ala dari kekurangan-kekurangan, dan apa yang mereka nafikan dari-Nya dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang Allah Ta’ala kisahkan dalam Kitab-Nya, dan apa yang datang dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketahuilah bahwa Jahmiyyah datang dengan yang lebih besar, karena sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak mensifati Allah dengan ketiadaan, dan mereka tidak mengatakan: Dia ada di setiap tempat, sebagaimana perkataan Jahmiyyah, dan mereka tidak mengatakan: Sesungguhnya kalam-Nya adalah makhluk, sebagaimana perkataan Jahmiyyah.
Jahm bekerja untuk menyebarkan racunnya di antara kaum muslimin, maka dia menjadi kepala kejahatan.
Disebutkan di hadapan Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukayn tentang orang yang mengatakan: Al-Quran adalah makhluk, maka dia berkata: “Demi Allah, aku tidak mendengar sesuatu dari ini sampai munculnya orang jahat itu, Jahm.”
Maka mengikutinya dalam hal itu sekelompok orang, hingga Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi dan para pemimpin Mu’tazilah mengangkat panji tersebut. Lalu dakwah mereka dianut oleh pemerintahan dan penguasa, maka kekuatan bekerja pada manusia sebagaimana mestinya dan terjadilah fitnah (mihnak/ujian).
Sungguh masalah Al-Quran adalah yang paling menonjol dalam kemunculan Jahm dengan kekufuran dan bid’ahnya. Dia menafikan bahwa Allah memiliki kalam, mengikuti jejak pendahulunya Al-Ja’d bin Dirham. Namun setelah itu dia takut terhadap kekuatan ahli kebenaran dan kemunculan mereka, maka dia berpura-pura setuju dengan mereka. Dia menetapkan kalam bagi Allah, tetapi menurutnya itu adalah apa yang Allah ciptakan pada selain-Nya. Inilah yang diterima oleh Mu’tazilah darinya, dan mereka menyeru manusia kepadanya, dan kekuatan penguasa memperkuat mereka dalam hal itu. Mereka dalam hakikatnya tetap pada dasar Jahmi mereka dalam menafikan kalam, tetapi mereka mengaku menetapkannya secara lahiriah dengan makna yang rusak dan batil, sebagaimana akan datang penjelasan dan bantahannya.
Sampai masa ini, yaitu secara spesifik masa Imam Ahmad bin Hanbal dan generasinya, tidak muncul dalam kalam Allah dari bid’ah-bid’ah selain bid’ah ini, maka ahli kebenaran berjuang untuk menghancurkan dan membatalkannya.
Syaikhul Islam berkata: “Ketika mereka menampakkan bid’ah ini, pengingkaran Salaf dan para imam terhadapnya sangat keras, dan mereka mengetahui bahwa hakikatnya adalah bahwa Allah tidak berbicara, tidak memerintah, dan tidak melarang, karena kalam dan sifat-sifat lainnya hukumnya kembali kepada siapa yang memilikinya.”
Kemudian ketika terjadi fitnah tentang Al-Quran: apakah ia makhluk atau bukan makhluk, dan terungkaplah dengan keteguhan dan ketetapan ahli kebenaran bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan kemenangan mereka atas Jahmiyyah Mu’tazilah yang mengatakan: bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang diciptakan, dan Allah memenangkan kebenaran karenanya dan menolong ahlinya, pada saat itulah Jahmiyyah melakukan tipu daya baru untuk masuk kepada manusia melalui jalan lain dari jalan-jalan penipuan dan penyamaran. Mereka menampakkan bid’ah lafazh yang telah saya jelaskan di Bab sebelumnya, dan yang lain dari mereka tetap pada taqiyyah terhadap ahli kebenaran, maka mereka berdiam diri (waqaf). Diamnya itu bukanlah karena wara’ dan agama, melainkan karena takut dan segan, atau karena ragu dan bimbang, sebagaimana telah saya jelaskan di Bab Pertama.
Maka bid’ah lafazh itu diterima oleh sekelompok orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah, yang mengaku membela Sunnah, dan mereka menganggapnya sebagai perkataan tengah. Melaluinya mereka berusaha menolak Jahmiyyah Mu’tazilah padahal mereka sepakat dengan mereka dalam hakikat madzhab mereka. Di antara yang mengangkat panji kelompok ini adalah yang bernama Abdullah bin Sa’id bin Kullab Abu Muhammad Al-Qaththan Al-Bashri, yang dinisbahkan kepadanya kelompok (Kullabiyyah). Dia adalah seorang laki-laki yang terkenal dengan perdebatan dan diskusi, dan tidak dihitung dalam ahli riwayah dan atsar meski hidupnya terdahulu, dan ini adalah tanda dari kehinaan. Di antara kebaikannya adalah menetapkan sifat-sifat, dan mungkin sebagian dari itu dengan makna-makna yang diubah dan bid’ah. Dia telah menolak Jahmiyyah Mu’tazilah dari beberapa segi yang membuat sebagian ahli ilmu dan Sunnah menghitungnya sebagai kebaikan baginya.
Namun dalam masalah Al-Quran dia mengadakan apa yang belum pernah didahului, dan dia sepakat dengan Jahmiyyah Mu’tazilah dalam sebagian dasar-dasar mereka, bahkan hakikat perkataannya kembali kepada perkataan mereka, dan dia sepakat dengan mereka dalam menolak dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan akidah Salaf.
Dia memiliki pengikut-pengikut yang sepakat dengannya dalam perkataannya dan mengikutinya, hingga datanglah Al-Asy’ari. Dia dahulunya adalah seorang Mu’tazili yang membela Mu’tazilah selama empat puluh tahun -sebagaimana dikatakan pengikut-pengikutnya dan lainnya- dan dia menulis dalam dakwah kepada akidah mereka. Kemudian dia bertaubat darinya dan kembali, lalu dia menempuh jalan Ibnu Kullab dan meridhainya. Dia hanya menyelisihinya dalam sedikit dari itu, dan mungkin sebagian ahli ilmu dan Sunnah menyebutkan bahwa Ibnu Kullab lebih baik darinya dengan kekurangannya.
Akan tampak bagimu di Pasal berikutnya kesesuaian Kullabiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah Al-Quran.
Demikian juga datang setelah Ibnu Kullab orang yang sepakat dengannya dalam sebagian perkataannya dan menyelisihinya dalam sebagian yang lain. Di antara mereka yang memiliki pengikut adalah: Abu Al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin Salim Al-Bashri, yang terkenal dengan ibadah dan zuhudnya, dan pengikut-pengikutnya disebut: (Salimiyyah). Di antara yang paling terkenal dari mereka adalah sufi terkenal itu Abu Thalib Al-Makki, penulis kitab Qutul Qulub.
Berseberangan dengan mereka adalah kelompok lain yang memiliki nama dan penyebaran serta jumlah besar di Khurasan, yaitu (Karramiyyah), pengikut Muhammad bin Karram As-Sijistani. Dia adalah seorang ahli bid’ah yang terkenal, menyelisihi Ahlus Sunnah dan Salaf dalam banyak dasar-dasar mereka dalam masalah iman, Al-Quran, sifat-sifat, ishmah para nabi, dan selain itu. Di antara pengikut-pengikutnya ada yang mujassimah (menganggap Allah berjasad) dan musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk).
Mereka ini adalah ahli bid’ah yang terkenal dalam kalam Allah Ta’ala. Dan ada kelompok-kelompok selain mereka yang Allah padamkan sebutan mereka, kecuali para filosof yang menisbatkan diri kepada Islam -padahal Islam berlepas diri dari mereka. Mereka ini memiliki perkataan yang mencakup perkataan Jahmiyyah dan lebih, sebagaimana akan datang sebutannya. Di antara tokoh-tokoh yang mengatakannya adalah: Ibnu Sina, zindiq Qaramitah itu yang dihitung dalam Islam; dan Ibnu ‘Arabi Ath-Tha’i penulis Al-Futuhat dan Al-Fushush, kepala orang-orang yang mengatakan dengan ittihad (kesatuan wujud), bahkan kepala ahli ilhad (atheisme), yang dihitung dalam golongan wali, secara dusta dan kebohongan, kezaliman dan permusuhan, serta orang-orang seperti mereka dari orang-orang yang keluar dari agama kaum muslimin.
Sesungguhnya saya akan menyebutkan dalam Bab ini akidah-akidah semua kelompok ini tentang Al-Quran yang agung, dan seluruh kalam Rabb semesta alam, dan membantah itu atas mereka dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalil. Saya mengkhususkan dengan perincian dari mereka Mu’tazilah dan Asy’ariyyah, maka saya mengkhususkan untuk setiap kelompok satu pasal, karena meratanya bencana dengan akidah setiap dari keduanya, khususnya Asy’ariyyah yang dengan akidah mereka tersesat orang khusus dan umum dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan penuntutnya, dan selain mereka, kecuali sedikit dari orang-orang yang asing dengan Sunnah. Tersamarkan kepada banyak orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah dari ulama zaman ini sehingga mereka tidak membedakan antara mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan mereka menganggap mereka bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kesamaran ini terjadi karena sebab-sebab yang akan saya jelaskan di penutup kitab kami ini.
Maka kepada Allah-lah kita meminta pertolongan, dan kepada-Nya kita berpegang teguh.
Pasal Pertama: Penyebutan Sejumlah Pendapat Kelompok-Kelompok Ahli Bidah dalam Kalam Allah Ta’ala
Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok berikut:
- Kaum Filosof dan Sebagian Ghulat Sufi
- Jahmiyah dari Muktazilah dan lainnya
- Kulabiyah
- Asy’ariyah
- Salimiyah dan yang sepakat dengan mereka dari ahli kalam dan hadits
- Karamiyah
Penyebutan Sejumlah Pendapat Kelompok-Kelompok Ahli Bidah dalam Kalam Allah Ta’ala
Pertama: Kaum Filosof dan Sebagian Ghulat Sufi
Mereka mengatakan: Kalam Allah tidak memiliki wujud di luar jiwa Rasul, ia hanyalah makna-makna yang melimpah ke dalam jiwa-jiwa, atau ia adalah yang melimpah dari akal fa’al atau lainnya.
Dan terkadang mereka mengatakan: Akal fa’al adalah Jibril, dan terkadang mereka mengatakan: selainnya.
Dan mereka mengatakan: Kalam Allah itu baru (muhdats) dalam jiwa Nabi, dan kalam yang didengar Musa ada dalam jiwanya sendiri, Musa tidak mendengar kalam di luar dirinya.
Saya katakan: Pernyataan ini termasuk kekufuran yang paling jelas dan nyata, dan merupakan penyelewengan yang terang-terangan terhadap hakikat syariat, hal itu dari beberapa segi, di antaranya:
- Meniadakan sifat kalam bagi Allah Tuhan semesta alam secara hakiki.
- Mendustakan yang diketahui dalam agama Islam secara pasti bahwa Al-Quran benar-benar diturunkan secara hakiki.
- Mendustakan yang diketahui dalam agama Islam secara pasti bahwa utusan Tuhan semesta alam yang turun membawa wahyu adalah Jibril alaihis salam, dan ia adalah malaikat dari malaikat-malaikat Allah, bukan akal fa’al dan bukan yang lainnya.
- Mereka menganggap lafal-lafal dan huruf-huruf Al-Quran adalah dari kreasi Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena akal fa’al hanya melimpahkan makna-makna saja padanya.
- Mereka menyepakati Jahmiyah dalam hal Al-Quran itu makhluk.
Dan semua ini, bahkan sebagiannya saja, mengandung peniadaan sifat kalam bagi Allah Tuhan semesta alam.
Namun mereka adalah kaum yang telah didiktekan oleh wali mereka Iblis bahwa mereka telah mencapai dalam ilmu hakikat tingkatan yang tidak dicapai oleh nabi dan rasul, bagaimana tidak sedangkan pengatanya mengatakan: “Kami mengarungi lautan yang para nabi hanya berhenti di pantainya”?
Dan kami katakan kepada mereka: Kalian benar, sesungguhnya para nabi tidak mengarungi lautan kegelapan, dan tidak berani kepada Allah seperti keberanian kalian, adapun yang dikatakan salah seorang di antara mereka adalah: “Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku” (Saba’: 50), bukan karena diktekan setan dan dihiasinya, dan “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya”.
Dan kami katakan: Kalian berdusta wahai orang-orang ini, karena sesungguhnya para nabi alaihimus salam adalah makhluk yang paling mengetahui Allah dan paling mengenal-Nya.
Dan cukuplah bagi kalian kehinaan, kerendahan, dan kekufuran bahwa tuhan kalian yang kalian sembah berada di tempat-tempat buang air dan najis-najis, atau ia adalah anjing dan babi.
Adapun kami ahli Islam, maka Tuhan kami adalah Allah yang tidak ada ilah selain Dia, di atas tujuh langit-Nya di atas Arsy-Nya bersemayam, dan Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi lagi.
Sesungguhnya pada awalnya saya telah menghapus penyebutan mereka dari kitabku ini, namun saya melihat para ulama kami dari Ahlussunnah menyebutkan mereka dalam kelompok-kelompok yang keluar dari ahli kebenaran dalam masalah kalam Allah, maka saya memilih untuk mengikuti mereka.
Dan ketika Syaikhul Islam menyebutkan pendapat mereka, ia berkata: “Dan pendapat ini lebih jauh dari Islam daripada orang yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk.”
Kedua: Jahmiyah dari Muktazilah dan Lainnya
Mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak tegak pada-Nya sesuatu dari sifat-sifat: tidak hidup, tidak ilmu, tidak qudrah, tidak kalam, dan tidak lainnya, oleh karena itu maka kalam-Nya adalah makhluk, Dia menciptakannya pada sebagian benda, dan permulaannya dari benda itu bukan dari Allah, maka tidak tegak pada diri-Nya kalam baik makna maupun huruf.
Dan mereka menafsirkan al-mutakallim (yang berbicara) dengan: yang melakukan kalam, walaupun di tempat yang terpisah darinya.
Dan telah saya ungkapkan tentang syubhat-syubhat dan kebatilan-kebatilan mereka dalam bab berikutnya.
Ketiga: Kulabiyah
Dan mereka adalah pengikut Abdullah bin Said bin Kulab -sebagaimana telah disebutkan sebelumnya-.
Mereka mengatakan: Allah Ta’ala senantiasa berbicara, dan kalam-Nya adalah sifat bagi-Nya yang tegak pada-Nya, yaitu kalam nafsi, dan ia qadim dengan keqadiman-Nya Ta’ala, tidak berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, dan tegaknya kalam pada-Nya seperti tegaknya kehidupan dan ilmu, dan ia bukan dengan huruf, dan tidak menjadi suara, dan tidak terbagi-bagi dan tersusun, dan tidak berbeda dan bervariasi.
Dan ia adalah makna yang satu, menjadi perintah dan larangan ketika adanya yang diperintah dan yang dilarang.
Maka perintah, larangan, dan khabar menurut mereka adalah makna-makna yang baru.
Dan mereka mengatakan: Huruf-huruf yang tersusun adalah bacaan Al-Quran, dan ia adalah ungkapan tentang kalam Allah, dan ia makhluk.
Dan ungkapan-ungkapan tentang kalam Allah berbeda dan berlainan, maka diungkapkan dengannya dalam bahasa Arab seperti Al-Quran, dan Ibrani seperti Taurat, dan Suryani seperti Injil, dan semuanya adalah kalam yang satu tidak berbeda, yang berbeda hanyalah ungkapannya.
Dan firman Allah: “Hingga ia mendengar kalam Allah” maksudnya hingga ia memahami kalam Allah.
- Maka mereka menafikan bahwa Al-Quran Arab yang diturunkan, yang tersusun dari huruf-huruf yang teratur adalah kalam Allah, ia hanyalah ungkapan tentangnya yang makhluk.
- Dan mereka mengingkari bahwa Tuhan Ta’ala senantiasa memerintah, melarang, dan mengabarkan, ini hanyalah makna-makna yang baru.
- Dan mereka menetapkan bahwa sifat kalam yang tetap bagi Allah Ta’ala, hanyalah kalam nafsi, dan ia tegak pada-Nya tidak berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, dan ia adalah makna yang satu.
Keempat: Asy’ariyah
Mereka sepakat dengan Kulabiyah dalam seluruh pendapat mereka, namun mereka menyelisihi mereka dalam:
- Bahwa kalam Allah dalam azal adalah perintah, larangan, khabar, dan pertanyaan, dan Allah Ta’ala senantiasa memerintah, melarang, dan mengabarkan, dan bahwa ini adalah sifat-sifat kalam bukan jenis-jenisnya, dan kalam Allah yang tegak pada dzat-Nya (kalam nafsi) adalah perintah untuk setiap yang diperintahkan, dan larangan dari setiap yang dilarang, dan khabar tentang setiap yang dikhabarkan.
- Dalam pendapat sebagian mereka: ia adalah beberapa makna dan bukan makna yang satu: perintah, larangan, khabar, pertanyaan, seruan, dan…
Ketika pendapat Kulabiyah sepakat dengan Asy’ariyah dalam kebanyakan hal, saya tidak mengkhususkan mereka dengan bantahan tersendiri, cukup dengan bantahan terhadap Asy’ariyah, dan akan datang secara terperinci dalam bab ketiga dari bab ini.
Dan ada kelompok lain yang sepakat dengan Asy’ariyah dalam akidahnya, mereka adalah yang dikenal dengan Maturidiyah, pengikut Abu Manshur al-Maturidi, yang mereka anggap sebagai imam kedua Ahlussunnah, demikian mereka mengklaim!
Ketika saya melihat mereka sepakat dengan mereka dalam akidah, saya tidak melihat perlunya untuk mengkhususkan mereka dengan pembahasan tersendiri.
Kelima: Salimiyah dan yang Sepakat dengan Mereka dari Ahli Kalam dan Hadits
Mereka mengatakan: Bagi Allah Ta’ala ada sifat kalam, dan kalam-Nya adalah huruf dan suara, dan ia qadim azali tidak makhluk, dan memiliki makna-makna yang tegak pada-Nya, dan kalam-Nya Ta’ala tidak berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya.
Dan sekelompok dari mereka menambahkan lalu mengatakan: Sesungguhnya suara qadim adalah yang terdengar dari pembaca ketika ia membaca Al-Quran.
Saya katakan: Dan mereka sepakat dengan Asy’ariyah dalam tidak berkaitannya kalam-Nya Ta’ala dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, dan dengan ini mereka menyimpang dari akidah Salaf yang lurus dan benar.
Namun mereka sepakat dengan Salaf dalam bahwa kalam Allah tidak makhluk baik huruf maupun maknanya, dan dengan ini mereka menyimpang dari akidah Jahmiyah dan Asy’ariyah, maka pendapat mereka secara keseluruhan lebih baik dari pendapat Asy’ariyah -walaupun ada kekurangannya-. Adapun kelompok yang berlebihan di antara mereka lalu mengklaim bahwa suara qadim adalah yang terdengar dari pembaca, maka itu adalah pendapat yang jelas kerusakannya, sebagaimana telah saya jelaskan di akhir bab sebelumnya, dan ia membawa pengucapnya kepada pendapat hulul (inkarnasi), yaitu: bahwa sifat Khaliq yang merupakan suara-Nya dengan kalam-Nya telah menempati makhluk, dan mungkin membawa pada akhirnya kepada pendapat tentang keqadiman seluruh kalam makhluk dan suaranya, dan kerusakan ini lebih jelas dari untuk didaliilkan, dan penyelewengannya terhadap Al-Kitab, Sunnah, dan akidah Salaf lebih nyata dari untuk bersusah payah menjawabnya.
Keenam: Karamiyah
Mereka mengatakan: Kalam Allah tidak makhluk, dan ia dengan demikian baru (hadits), dan ia adalah huruf dan suara yang tegak pada dzat Allah Ta’ala, berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya setelah kalam itu mustahil bagi-Nya.
Dan mereka mengatakan: Allah senantiasa berbicara, maksudnya: bahwa Dia mampu berbicara.
Dan mereka mengatakan: Tidak ada kalam Allah dalam azal, yaitu Dia tidak bersifat dengannya, karena tidak adanya yang baru.
Saya katakan: Maka mereka sepakat dengan Salaf dalam menetapkan kaitan kalam dengan kehendak dan kekuasaan, dan bahwa ia dengan huruf dan suara, namun mereka menyelisihi mereka dalam mencabut sifat kalam dari Tuhan Ta’ala dalam azal, dan menetapkan ketidakmampuan-Nya Ta’ala darinya, dan ini adalah penetapan yang batil, dan melempar dengan ghaib, mengandung penyifatan Tuhan Ta’ala dengan kekurangan, dan pencabutan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan Salaf berpendapat bahwa kalam Allah adalah sifat yang tetap bagi-Nya Ta’ala dalam azal, dan Dia berbicara dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, dan berbicara dengan huruf dan suara, dan kami telah menegakkan hujjah untuk itu dalam bab pertama dengan yang mencukupi dan memadai.
Dan golongan Karamiyah adalah pengikut bid’ah dan kesesatan dalam kebanyakan keyakinan mereka, dan mereka adalah kelompok yang menyimpang dari jalan yang lurus. Adapun yang dimaksud di sini adalah menyebutkan keyakinan mereka tentang kalam Allah Ta’ala, dan pertentangannya dengan keyakinan Salaf.
Sungguh Allah Ta’ala telah memadamkan bid’ah kelompok ini pada masa-masa belakangan, setelah mereka memiliki nama yang terkenal dan banyak pengikut. Maka bagi-Nya segala pujian dan karunia.
Pasal Kedua Mengungkap Kedustaan Jahmiyah Mu’tazilah tentang Kalam Allah Ta’ala dan Hukum Salaf serta Para Imam terhadap Mereka
Bab ini terdiri dari tiga pembahasan:
- Pembahasan Pertama: Menyebutkan syubhat Mu’tazilah dan bantahannya.
- Pembahasan Kedua: Menyebutkan apa yang telah diselewengkan oleh Mu’tazilah dari makna-makna Tanzil untuk membatalkan sifat Kalam.
- Pembahasan Ketiga: Mu’tazilah dalam timbangan para imam Salaf.
Pembahasan Pertama: Menyebutkan Syubhat Mu’tazilah dan Bantahannya
Sungguh telah saya sebutkan kepadamu keyakinan Mu’tazilah tentang kalam Allah Ta’ala secara ringkas, dan bahwa itu adalah keyakinan Jahmiyah, karena Mu’tazilah adalah Jahmiyah dalam masalah kalam Allah dan dalam masalah lainnya seperti sifat-sifat, ru’yah (melihat Allah), dan selainnya. Keyakinan mereka bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak Salaf, sebagaimana akan tampak jelas bagimu melalui perbandingannya dengan apa yang telah kami jelaskan di Bab Pertama.
Dan sungguh saya akan menyebutkan di sini -dengan pertolongan dan kekuatan Allah- apa yang dijadikan syubhat oleh Mu’tazilah kepada orang yang lemah pengetahuannya, dan menjawab semua itu dengan ringkas namun tidak mengurangi makna, insya Allah.
- Syubhat Pertama:
Al-Qur’an adalah sesuatu, dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu” (Ar-Ra’d: 16). Lafaz “segala” menunjukkan keumuman, maka Al-Qur’an masuk dalam keumuman apa yang diciptakan Allah dari segala sesuatu.
Jawabannya:
Saya tidak mengira bahwa rusaknya pendapat ini tersembunyi dari orang yang mengatakannya, tetapi mereka bermaksud memasukkan keraguan dan syak kepada orang yang tidak paham. Yang demikian karena shighat “segala” dan yang serupa dengannya dari shighat-shighat umum, keumuman masing-masingnya adalah menurut konteksnya. Allah Ta’ala berfirman tentang angin kaum ‘Ad: “Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya” (Al-Ahqaf: 25). Maka penghancuran itu adalah dengan perintah-Nya Ta’ala, dan perintah-Nya Ta’ala adalah kalam-Nya. Allah berfirman: “Maka jadilah mereka tidak terlihat kecuali tempat tinggal mereka”. Ini menjelaskan bahwa tempat tinggal mereka tidak hancur, dan konsekuensinya bahwa angin itu tidak menghancurkan bumi, gunung-gunung, dan selain itu dari yang bukan penduduknya. Maka hal itu menunjukkan bahwa keumuman “segala” adalah dalam hal orang-orang kafir yang berhak mendapat ancaman, bukan segala sesuatu termasuk selain mereka dari benda mati dan lainnya. Dan ini jelas dan dapat dipahami.
Dan Allah Ta’ala berfirman tentang Balqis: “Dan dia diberi segala sesuatu” (An-Naml: 23), padahal diketahui bahwa dia tidak diberi kerajaan Sulaiman, dan tidak pula bumi selain negerinya.
Dan sungguh Allah Ta’ala menetapkan bahwa Dia memiliki nafs (diri), Dia berfirman: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diri-Ku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu” (Al-Ma’idah: 116), dan berfirman: “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku” (Thaha: 41). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Setiap diri akan merasakan kematian” (Ali ‘Imran: 185, Al-Anbiya’: 35). Apakah orang Jahmiyah akan memasukkan diri Allah Ta’ala dalam keumuman ini? Sesungguhnya diri-diri yang mati hanyalah diri-diri yang diciptakan. Adapun Sang Pencipta Ta’ala dengan sifat-Nya adalah Mahahidup yang tidak mati.
Maka nash-nash ini menunjukkan bahwa keumuman “segala” adalah menurut konteks tempat disebutkannya.
Demikian pula firman-Nya Ta’ala: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu”.
Maka Allah Ta’ala adalah sesuatu, dan sifat-Nya adalah sesuatu. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Sesuatu apakah yang paling besar kesaksiannya? Katakanlah: Allah” (Al-An’am: 19). Dan makhluk adalah sesuatu, dan Allah adalah Sang Pencipta, dan Dia bukan makhluk. Sifat-sifat-Nya mengikuti Dzat-Nya, maka sifat-sifat-Nya tidak diciptakan. Al-Qur’an adalah kalam-Nya, dan kalam-Nya adalah sifat-Nya, dan sifat-Nya tidak diciptakan. Maka Allah adalah sesuatu yang tidak diciptakan, sifat-Nya adalah sesuatu yang tidak diciptakan, dan makhluk adalah apa yang terkena perbuatan penciptaan, yaitu segala sesuatu selain Allah Ta’ala dan sifat-Nya.
Tetapi Jahmiyah Mu’tazilah terjerumus dalam hal itu karena keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala tidak berdiri pada-Nya sifat-sifat, maka sifat-sifat-Nya menurut mereka adalah selain-Nya. Dan kami telah menjelaskan di Bab Pertama bahwa sifat itu berdiri pada yang bersifat, dan kalam itu berdiri pada yang berbicara, dan tidak dapat dipahami dzat yang terlepas dari sifat-sifat. Ini dari Jahmiyah Mu’tazilah adalah peniadaan terhadap sifat-sifat Sang Pencipta Ta’ala, karena sifat jika berdiri pada suatu tempat maka ia adalah sifat bagi tempat itu, maka dengan keyakinan mereka batallah semua sifat.
Mahasuci Allah yang berkehendak menampakkan yang tersembunyi dari mereka dan menyingkap yang tertutup dari mereka. Karena mereka memasukkan sifat Allah Ta’ala dalam keumuman “segala” dalam ayat ini, dan mengeluarkan perbuatan-perbuatan hamba dari keumuman ini, lalu berkata: Perbuatan-perbuatan hamba tidak diciptakan oleh Allah. Maka mereka mendustakan Al-Qur’an, karena Allah Ta’ala berfirman: “Padahal Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (Ash-Shaffat: 96), dan berfirman: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu”. Maka mereka mendustakan Allah Tuhan semesta alam, dan menyimpang dalam ayat-ayat-Nya, lalu memalingkan ayat dari maksudnya, dan berdalil dengannya untuk sesuatu yang bukan tujuannya.
- Syubhat Kedua:
Al-Qur’an adalah sesuatu yang dijadikan, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur’an berbahasa Arab” (Az-Zukhruf: 3). Dan kata “menjadikan” artinya: menciptakan.
Jawabannya:
Lafaz “menjadikan” datang dengan makna “menciptakan” dan dengan makna lainnya. Dan kaidahnya adalah: ia tidak datang dengan makna “menciptakan” kecuali jika ia berhubungan dengan satu objek.
Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya” (Al-An’am: 1), dan firman-Nya: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan menjadikan daripadanya pasangannya agar dia merasa tenteram kepadanya” (Al-A’raf: 189).
Dan kadang ia berhubungan dengan satu objek namun tidak bermakna “menciptakan” seperti firman Allah Ta’ala: “Dan mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu” (Al-An’am: 100, Ar-Ra’d: 33), dan firman-Nya: “Lalu Kami menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)” (Al-Fil: 5).
Adapun jika ia berhubungan dengan dua objek maka tidak bermakna “menciptakan” dalam kondisi apa pun.
Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka Kami jadikan (kejadian) itu pelajaran bagi orang-orang yang di hadapannya dan yang di belakangnya” (Al-Baqarah: 66), dan firman-Nya: “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami” (Al-Anbiya’: 73).
Demikian pula di antaranya firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur’an berbahasa Arab”. Maka objek pertama adalah dhamir (kata ganti) dan yang kedua adalah “Al-Qur’an”. Maknanya: Kami menjadikannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab, atau Kami menjelaskannya.
Maka batallah pengelabuan Mu’tazilah dengan karunia Allah.
Dan Imam Ahmad rahimahullah telah menjawab orang Mu’tazili ketika berdalil kepadanya dengan ayat ini dengan ucapannya: “Maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Lalu Kami menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)’, apakah Dia menciptakan mereka?”
- Syubhat Ketiga:
Al-Qur’an adalah yang baru (muhdats), sebagaimana Allah berfirman: “Tiada datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkannya, sedang mereka bermain-main” (Al-Anbiya’: 2), dan sebagaimana Dia berfirman: “Dan tiada datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Tuhan Yang Maha Pengasih, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya” (Asy-Syu’ara’: 5). Dan yang baru adalah yang diciptakan.
Jawabannya:
Kata “yang baru” pada asalnya dari kata “hadats” (kejadian) yaitu adanya sesuatu setelah tidak ada. Dan Al-Qur’an yang agung ketika diturunkan, setiap kali turun sesuatu darinya menjadi baru bagi manusia, belum mereka ketahui sebelumnya. Maka ia adalah yang baru dalam kaitannya dengan manusia. Tidakkah engkau melihat Allah berfirman: “Tiada datang kepada mereka”? Maka ia adalah yang baru bagi mereka ketika datang kepada mereka. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah menghadirkan sesuatu yang baru bagi Nabi-Nya sesuai kehendak-Nya, dan di antara yang dihadirkan-Nya yang baru bagi Nabi-Nya adalah: jangan kalian berbicara dalam shalat”. Dan perintah Allah adalah perkataan-Nya dan kalam-Nya, dan ia tidak diciptakan, yang baru dalam kaitannya dengan para hamba, yaitu: baru bagi mereka. Maka yang baru di sini bukan yang diciptakan.
Dan jawaban ini adalah jawaban terbaik yang dikatakan dalam hal itu.
Abu ‘Ubaid Al-Qasim, imam bahasa Arab, berkata: “‘Yang baru’ artinya terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya ketika Allah mengajarkan apa yang belum mereka ketahui.”
Dan Ibnu Qutaibah berkata: “Yang baru bukanlah dalam konteks ini bermakna: diciptakan. Jika mereka mengingkarinya, maka hendaknya mereka katakan dalam firman Allah: ‘Mudah-mudahan Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru’ (Ath-Thalaq: 1) bahwa artinya: menciptakan. Demikian pula: ‘Mudah-mudahan mereka bertakwa atau timbul bagi mereka suatu peringatan’ (Thaha: 113), yaitu: Al-Qur’an menimbulkan bagi mereka peringatan. Maknanya: membaharui pada mereka apa yang belum ada. Demikian pula firman-Nya: ‘Tiada datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Tuhan mereka’, yaitu: peringatan yang baru terjadi pada mereka yang belum ada sebelumnya.”
Dan Syaikhul Islam berkata: “Yang baru dalam ayat bukanlah yang diciptakan yang dikatakan orang Jahmiyah, tetapi ia adalah yang diturunkan secara baru. Karena Allah menurunkan Al-Qur’an sesuatu demi sesuatu. Maka yang diturunkan pertama adalah lama (qadim) dalam kaitannya dengan yang diturunkan kemudian, dan setiap yang mendahului yang lainnya maka ia adalah qadim dalam bahasa Arab.”
Dan mungkin sebagian imam menjawab selain ini, tetapi ini lebih benar dan lebih jelas.
- Syubhat Keempat:
Allah menjadikan perintah-Nya sebagai sesuatu yang diperbuat, lalu Dia berfirman: “Dan urusan Allah adalah suatu ketentuan yang pasti berlaku” (Al-Ahzab: 38). Dan perintah Allah adalah kalam-Nya, dan yang diperbuat adalah yang diciptakan.
Jawabannya:
Sesungguhnya lafaz “perintah” jika dinisbatkan kepada Allah Ta’ala datang dengan dua tafsir: Pertama: dimaksudkan dengannya mashdar (kata dasar), seperti firman-Nya Ta’ala: “Bagi-Nya penciptaan dan urusan” (Al-A’raf: 54), dan ia tidak diciptakan -sebagaimana telah kami sebutkan di Bab Pertama dalam dalil untuk masalah ini-.
Dan ini jamaknya adalah: “perintah-perintah” (awaamir).
Dan kedua: dimaksudkan dengannya objek yaitu yang diperintahkan yang diperbuat, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan urusan Allah adalah suatu ketentuan yang pasti berlaku”. Maka perintah di sini adalah yang diperintahkan. Dan ini jamaknya adalah: “urusan-urusan” (umuur), dan ia diciptakan.
Dan telah saya sebutkan di bab sebelumnya bahwa shighat mashdar kadang datang dengan makna objek dalam bahasa Arab.
Syaikhul Islam berkata: “Maka dalam firman-Nya: ‘Dan urusan Allah adalah suatu ketentuan yang pasti berlaku’, yang dimaksud adalah yang diperintahkan yang diperbuat, dan ini diciptakan. Adapun dalam firman-Nya: ‘Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu’ (Ath-Thalaq: 5), maka perintah-Nya adalah kalam-Nya, karena tidak diturunkan kepada kita perbuatan-perbuatan yang diperintahkan kepada kita, tetapi yang diturunkan adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu seperti firman-Nya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ (An-Nisa’: 58). Maka perintah ini adalah kalam-Nya.”
Aku katakan: Dan yang serupa dengannya adalah lafaz “penciptaan”. Karena ia datang sebagai mashdar maka ia ketika itu adalah perbuatan Tuhan Ta’ala dan sifat-Nya, dan ia datang sebagai objek maka ia ketika itu adalah makhluk yang terkena perbuatan penciptaan.
Maka lafaz “perintah” tidak seperti yang dikatakan Jahmiyah Mu’tazilah tentang kekhususannya untuk objek yang diperbuat.
- Syubhat Kelima:
Allah Ta’ala menamakan Isa dengan “kalimat-Nya”, lalu Dia berfirman: “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam” (An-Nisa’: 171), dan berfirman: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan sebuah kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih, Isa putra Maryam” (Ali ‘Imran: 45). Dan Isa diciptakan, maka kalimat itu diciptakan.
Jawabannya:
Sesungguhnya Isa alaihissalam adalah makhluk, Allah menciptakannya dengan perintah-Nya ketika Dia berfirman kepadanya: “Kun (Jadilah)” sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dia (Maryam) berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mempunyai anak, padahal tidak ada seorang manusia pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman: “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Kun (Jadilah)’, maka jadilah sesuatu itu.” (Ali Imran: 47) Dan firman-Nya: “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: ‘Kun (Jadilah)’, maka jadilah dia.” (Ali Imran: 59) Maka Isa tercipta dengan kalimat Allah Ta’ala dan firman-Nya (Kun).
Kalimat (Kun) bukanlah wujud Isa, sedangkan yang dijadikan dengannya adalah Isa alaihissalam. Dengan jawaban ini, lebih dari satu ulama imam telah menjawab.
Qatadah – yang merupakan salah seorang imam Tabi’in dalam tafsir dan lainnya – berkata tentang firman-Nya: “dengan kalimat dari-Nya”, dia berkata: “Yaitu firman-Nya (Kun), maka Allah Azza wa Jalla menamakannya sebagai kalimat-Nya, karena ia tercipta dari kalimat-Nya sebagaimana dikatakan terhadap apa yang ditakdirkan Allah dari sesuatu: ini adalah takdir Allah dan ketetapan-Nya, maksudnya: ini terjadi dari takdir Allah dan ketetapan-Nya.”
Syubhat Keenam:
Al-Quran memiliki sifat-sifat kebaruan dan penciptaan, dan itu dari beberapa segi:
- Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila Kami mengganti suatu ayat di tempat ayat yang lain” (An-Nahl: 101), maka Dia mengabarkan tentang terjadinya nasikh (penghapusan) di dalamnya.
- Ia adalah huruf-huruf yang berurutan, sebagiannya mendahului sebagian yang lain.
- Ia tidak ada kecuali dengan kehendak dan pilihan, maka hal itu mengharuskan bahwa peristiwa-peristiwa mendahuluinya, dan ia terlambat setelahnya.
- Ia memiliki permulaan dan akhir, serta awal dan ujung.
- Ia terbagi-bagi dan terpisah-pisah.
- Ia diturunkan, dan penurunan tidak terjadi kecuali dengan gerakan, perpindahan dan perubahan.
- Ia tertulis di Lauh (Mahfuz) dan mushaf-mushaf, dan apa yang terbatas dan terhitung maka ia adalah makhluk.
Dan segi-segi ini serta yang menyerupainya adalah sifat-sifat makhluk yang baru.
Jawabannya:
Semua makna ini dibangun di atas prinsip dasar mereka yang mereka ada-adakan untuk menetapkan penciptaan alam dan keabadian Sang Pencipta, yaitu pendalilan tentang kebaruan alam dengan cara gerakan-gerakan. Mereka berkata: tidak mungkin mengetahui Sang Pencipta kecuali dengan menetapkan kebaruan alam, dan tidak mungkin menetapkan kebaruan alam kecuali dengan menetapkan kebaruan benda-benda, dan pendalilan tentang kebaruan benda-benda hanyalah dengan kebaruan sifat-sifat yang berdiri padanya seperti gerakan dan diam.
Maka prinsip dasar yang dibuat-buat inilah yang menyeret mereka kepada perkataan tentang penciptaan Al-Quran dan peniadaan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatan bagi Allah Ta’ala.
Seandainya mereka menyerahkan diri kepada nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah, niscaya hal itu mencukupi mereka, dan menyelamatkan mereka dari jurang ta’thil (peniadaan sifat-sifat Allah). Sesungguhnya ini adalah perkara-perkara yang tidak dapat dicapai hanya dengan akal semata, dan Allah Ta’ala telah menetapkan keazalan-Nya dan penciptaan alam dengan dalil-dalil terbaik dan hujjah-hujjah terkuat: “Maka dengan perkataan apakah sesudah (Al-Quran) itu mereka akan beriman?” Dan kami tidak berdebat dengan Mu’tazilah dalam menolak kebatilan-kebatilan ini dengan perkataan-perkataan dan prinsip-prinsip yang baru, dan kami tidak menyerahkan kepada mereka perkataan dan klaim mereka. Sebaliknya, kami menolak hal itu dengan penolakan yang keras, dan kami katakan: ia adalah bid’ah kesesatan karena apa yang ditimbulkannya berupa kekufuran dan kebatilan – sebagaimana halnya seluruh bid’ah – dan kami tidak menempuh jalan ahli bid’ah dalam menolak dan berdebat dengan mereka seperti halnya Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang mengikuti Ibnu Kullab, Al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Sesungguhnya mereka ingin membantah kesesatan Mu’tazilah dengan cara yang sama seperti mereka, sehingga terlihat mereka mengikuti mereka dalam prinsip dasar yang telah kami sebutkan dari mereka, maka Mu’tazilah menguasai mereka dengannya dan menampakkan pertentangan mereka.
Syaikhul Islam benar ketika berkata tentang mereka: “Mereka bermaksud menolong Islam dengan apa yang bertentangan dengan agama Islam.”
Prinsip dasar Mu’tazilah yang mereka ada-adakan menjatuhkan mereka dalam qiyas (analogi) sifat Sang Pencipta dengan makhluk dan sifatnya. Sesungguhnya mereka hanya membangun prinsip dasar mereka atas apa yang mereka ketahui pada makhluk dari keadaan-keadaan dan sifat-sifat, maka mereka mengira bahwa hal itu berlaku bagi sifat Dzat yang “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”. Mereka mengqiyaskan apa yang tidak mereka pahami ilmunya pada apa yang mereka peroleh dari sangkaan-sangkaan dan wahm-wahm yang mereka kira sebagai puncak ilmu.
Ini termasuk yang terbesar dari apa yang dimasukkan syetan – semoga Allah melaknatnya – berupa talbiis (pengelabuan) terhadap mereka, bahwa ia menghiasi bagi mereka untuk mengada-adakan prinsip-prinsip yang tidak datang dalam Kitab maupun Sunnah, lalu mereka mewajibkannya, dan karena hal itu mereka mewajibkan penyelisihan terhadap syariat. Mereka menjadikannya sebagai hakim atas Al-Kitab dan As-Sunnah. Di antara prinsip-prinsip rusak itu adalah klaim-klaim yang kosong dari dalil ini yang merupakan murni dari akal-akal yang rusak, yang gersang dari cahaya wahyu. Maka semua yang mereka kemukakan yang mereka namakan (ma’qul/rasional) untuk berdalil dengannya tentang penciptaan Al-Quran adalah dari qiyas sifat Sang Pencipta pada sifat makhluk, dan itu adalah kekufuran kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai-Nya dalam Dzat-Nya, maka tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya, dan ini telah ditetapkan pada tempatnya.
Inilah yang paling jelas dari apa yang dijadikan dalil oleh Jahmiyyah Mu’tazilah dari hujjah-hujjah (!), yang paling terang dan paling kuat menurut mereka. Sungguh telah jelas bagimu kepalsuannya dan kebatilannya. Bandingkanlah dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dari dalil-dalil untuk akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, niscaya kebenaran akan jelas bagimu dan engkau akan mengetahui lurus dan tegaknya manhaj Ahlus Sunnah, serta mengikutnya ahli bid’ah terhadap hawa nafsu dan sangkaan-sangkaan.
Syaikhul Islam benar – dan dia adalah ahli yang paham tentang mereka – dalam ucapannya: “Tidak ada pada mereka dari para Nabi suatu perkataan yang sesuai dengan perkataan mereka, bahkan bagi mereka hanya ada syubhat-syubhat akal yang rusak.”
Pembahasan Kedua: Menyebutkan Apa yang Mu’tazilah Tahrif (Belokkan) dari Makna-Makna Al-Quran untuk Membatalkan Sifat Kalam
Pertama: Allah Ta’ala Berbicara kepada Musa alaihissalam:
Mereka berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan kalam pada pohon yang didatangi Musa, lalu Musa mendengarnya.
Mereka berdalil dengan firman-Nya Ta’ala: “Dia dipanggil dari tepi lembah yang sebelah kanan di tempat yang diberkahi, yaitu dari sebatang pohon” (Al-Qashash: 30) bahwa permulaan kalam adalah dari pohon.
Maka mereka mentahrif Al-Quran untuk menetapkan ta’thil (peniadaan sifat Allah), dengan menetapkan prinsip dasar mereka yang rusak, dan meniadakan sifat Allah Ta’ala.
Bantahan terhadap mereka dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa kalam adalah apa yang berdiri pada yang berbicara, bukan pada selainnya. Tegaknya sifat hanyalah pada yang disifati dengannya, bukan pada selainnya. Sifat apabila berdiri pada tempat, maka ia menjadi sifat untuknya, bukan sifat untuk selainnya – sebagaimana telah saya perinci pembahasannya dalam Bab Pertama. Maka apa yang Allah Ta’ala ciptakan dari sifat-sifat pada benda-benda, tidak ada darinya sesuatu pun yang menjadi sifat bagi-Nya. Sebaliknya, itu adalah sifat-sifat untuk makhluk-makhluk-Nya. Allah Ta’ala telah memberikan kemampuan bicara kepada segala sesuatu, baik dengan cara yang biasa maupun tidak biasa. Dia memberikan kemampuan bicara kepada manusia, jin dan selain itu dari makhluk-Nya dengan cara yang biasa, dan memberikan kemampuan bicara kepada langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan cara yang tidak biasa, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka” (Al-Isra’: 44) dan firman-Nya di beberapa tempat “Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”. Dia memberikan kemampuan bicara kepada burung untuk Sulaiman, memberikan kemampuan bicara kepada semut, dan memperdengarkan kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam tasbih kerikil. Di akhirat nanti surga dan neraka akan berbicara, bumi akan menceritakan berita-beritanya, dan kulit-kulit akan bersaksi atas pemiliknya ketika rahasia-rahasia terungkap: “Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai berkata pula'” (Fushshilat: 21). Maka semua kemampuan bicara ini adalah dari ciptaan Allah pada benda-benda. Ucapan mereka adalah sifat-sifat untuk mereka, dan tidak ada seorang pun yang mengatakan: bahwa ucapan benda-benda adalah sifat Allah, kecuali orang hululi (yang meyakini hulul/bersemayamnya Allah pada makhluk) yang murtad, yang meyakini bahwa sifat Allah bersemayam dalam makhluk, atau orang ittihadi (yang meyakini persatuan makhluk dengan Pencipta) yang melihat persatuan makhluk dengan Sang Pencipta. Maka ucapan makhluk, suaranya dan kalamnya adalah sifat Rabb Ta’ala itu sendiri, sebagaimana kata salah seorang dari mereka:
Dan setiap kalam di alam semesta adalah kalam-Nya … sama bagi kita natsar (prosa) dan nadhom (syair)-nya
Ini adalah puncak kekufuran dan ilhad (penyimpangan), karena konsekuensinya adalah bahwa apa yang diucapkan makhluk dari kebaikan dan kejahatan, ucapan keji, bahkan suara-suara binatang dan seluruh hewan, semua itu adalah sifat Rabb Ta’ala – Maha Suci, Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat-sifat makhluk-Nya.
Seandainya Mu’tazilah ikhlas niatnya kepada Allah dan memohon taufiq kepada-Nya, niscaya mereka mendapat petunjuk tentang kejinya apa yang mereka lakukan. Tetapi mereka tidak mendapat hal itu, maka mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka mengira bahwa suara yang didengar Musa adalah suara makhluk pada pohon, seperti desiran daun-daunnya ketika angin bertiup. Mereka tidak memahami bahwa makna ini adalah bahwa pohon itulah yang berkata kepada Musa: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Thaha: 14) dan pohon itu yang berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam” (Al-Qashash: 30). Tidak ada bedanya saat itu antara klaim pohon dan klaim Fir’aun. Keduanya mengklaim ketuhanan. Maka Musa membenarkan pohon dan mendustakan Fir’aun.
Kedua: Bahwa Allah Ta’ala ketika mengabarkan tentang berbicara-Nya kepada Musa, Dia berfirman: “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung” maka Dia menegaskannya dengan mashdar (kata dasar) “dengan langsung”. Sekelompok ahli tahqiq dalam bahasa Arab telah berkata: “Sesungguhnya ta’kid (penegasan) dengan mashdar meniadakan makna majaz (kiasan).”
Ketiga: Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Mereka keluar dengan ta’wil ini dari bahasa dan dari yang masuk akal, karena makna (takallama-Llah) adalah mendatangkan kalam dari-Nya, dan (tarahhama-Llah) adalah mendatangkan rahmat dari-Nya, sebagaimana dikatakan: (takhasyya’a fulan) mendatangkan khusyu’ dari dirinya, (tasyajja’a) mendatangkan keberanian dari dirinya, (tabattala) mendatangkan tahattul dari dirinya, (tahallama) mendatangkan hilm (kelembutan) dari dirinya. Seandainya yang dimaksud adalah: mewujudkan kalam, tidak boleh dikatakan: (takallama), dan seharusnya dikatakan: (aklama) sebagaimana dikatakan: (aqbaha ar-rajul) mendatangkan keburukan, (athaaba) mendatangkan kebaikan, (akhassa) mendatangkan kehinaan, dan seharusnya dikatakan: (aklama Allahu Musa iklaman) sebagaimana dikatakan: (aqbara Allahu ar-rajula) yaitu menjadikan baginya kuburan, atau (ar’a Allahu al-masyiyah) menjadikannya merumput, dalam contoh-contoh seperti ini yang banyak yang tidak tersembunyi bagi ahli bahasa.”
Keempat: Bahwa Allah Ta’ala berbicara kepada Musa adalah keistimewaan yang dengannya ia dimuliakan atas selainnya dari rasul-rasul yang tidak diberi seperti apa yang diberikan kepadanya. Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki” (Asy-Syura: 51). Apabila berbicara kepada Musa terjadi dengan perantaraan pohon, tidak ada baginya kelebihan atas selainnya dari orang yang diwahyukan kepadanya dengan perantaraan utusan, dan tidak akan ada kedudukan berbicara dari belakang tabir yang diperoleh oleh seorang pun dari rasul-rasul Allah. Ini adalah pendustaan terhadap Al-Quran dan pembatalan terhadap dalil yang jelas. Maka Allah Ta’ala membalas Jahmiyyah Mu’tazilah atas apa yang mereka kehendaki berupa perusakan agama kaum muslimin dengan apa yang pantas bagi mereka.
Kelima: Bahwa firman-Nya: “dari pohon” adalah untuk permulaan tempat, seperti ucapanmu: (Aku melihat hilal dari rumahku) dan (Aku mendengar kalam Zaid dari rumah). Maka hilal bukan di dalam rumah, dan bukan rumah yang berbicara.
Kedua: Penisbahan Kalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Firman-Nya seperti: “Sehingga ia mendengar kalam Allah”:
Mereka berkata: Ia adalah penisbahan penciptaan dan penghormatan, bukan penisbahan sifat, seperti (Baitullah/rumah Allah) dan (Naqatullah/unta Allah) dan (Rasulullah/utusan Allah).
Ini adalah jenis lain dari pengelabuan dan talbiis mereka agar mereka lari dari kebenaran dan menjauhkan makhluk.
Bantahan terhadap mereka dalam kebingungan ini panjang penjelasannya, tetapi saya sebutkan di sini sebuah kaidah yang disebutkan Syaikhul Islam rahimahullah dalam masalah ini yang mencukupi orang yang cerdas dari perincian. Beliau rahimahullah berkata: “Setiap apa yang dinisbahkan kepada Allah, jika ia adalah dzat (benda) yang berdiri dengan dirinya sendiri maka ia adalah kepunyaan-Nya, dan jika ia adalah sifat yang berdiri pada selainnya dan tidak memiliki tempat untuk berdiri padanya maka ia adalah sifat Allah.”
Beliau memberi contoh untuk apa yang berupa dzat yang berdiri dengan dirinya sendiri dengan firman-Nya Ta’ala: “Unta betina Allah dan minumannya” (Asy-Syams: 13), dan firman-Nya: “Maka Kami mengutus kepada-Nya ruh Kami” (Maryam: 17), beliau berkata: “Yaitu Jibril.”
Ini adalah makhluk bagi-Nya dan kepunyaan bagi-Nya. Seperti itu juga: (Rasulullah) dan (‘ibadullah/hamba-hamba Allah) dan (qiblatullah/kiblat Allah) dan semacamnya.
Dan beliau memberi contoh untuk apa yang berupa sifat yang berdiri pada selainnya dengan (‘ilmullah/ilmu Allah, kalamullah/kalam Allah, qudratullah/kekuasaan Allah, hayatullah/kehidupan Allah, amrullah/perintah Allah).
Maka ini apabila dinisbahkan kepada Allah Ta’ala adalah sifat-sifat bagi-Nya.
Beliau berkata: “Namun boleh jadi diungkapkan dengan lafadz mashdar (kata dasar) tentang maf’ul bih (objek), maka disebut yang diketahui sebagai ilmu, yang dikuasai sebagai kekuasaan, yang diperintahkan sebagai perintah, yang diciptakan dengan kalimat sebagai kalimat. Maka hal itu menjadi makhluk, seperti firman-Nya: ‘Telah datang perintah Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datangnya)’ (An-Nahl: 1), dan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kalimat dari-Nya yang namanya Al-Masih Isa putra Maryam, yang mulia di dunia dan di akhirat’ (Ali Imran: 45) dan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya’ (An-Nisa’: 171).”
Saya katakan: dan sesungguhnya kita hanya dapat memahami makna ini melalui petunjuk-petunjuk kontekstual, adapun hanya dengan menisbatkan sifat kepada Allah semata, maka saat itu ia adalah sifat bagi-Nya.
Pembahasan Ketiga: Kaum Muktazilah di Medan Pertempuran
Telah saya jelaskan kepadamu tentang keyakinan kaum Muktazilah Jahmiyyah mengenai kalam Allah, dan apa yang mereka syubhatkan kepada manusia. Mereka membenturkan nash-nash Al-Quran satu sama lain, dan mereka mengubah makna-makna yang diturunkan, dan mereka mensifati Rabb mereka yang Maha Tinggi dengan aib dan kekurangan, dan mereka menghukumi agama-Nya dengan hawa nafsu dan prasangka, dan mereka membawa manusia kepada itu dengan targhib dan tarhib (dorongan dan ancaman), dan mereka menghalangi mereka dari petunjuk kecuali orang yang ditetapkan Allah, dan mereka meninggalkan fitnah mereka yang telah membuka pintu-pintu kejahatan dan bidah bagi umat yang tidak tertutup hingga hari ini.
Dan termasuk tujuan dakwah kaum ini adalah membatalkan agama kaum muslimin, karena makna membatalkan kenyataan bahwa Rabb berbicara adalah membatalkan semua syariat, dan apa yang Allah turunkan kepada para rasul-Nya, karena para rasul itu diutus hanya untuk menyampaikan wahyu Allah dan syariat-Nya yang merupakan kalam-Nya dan tanzil-Nya.
Bahkan dalam hal itu terdapat pembatalan tauhid, karena siapa yang tidak berbicara dan tidak berdiri padanya ilmu dan kehidupan maka ia seperti yang mati, dan siapa yang tidak berdiri padanya sifat-sifat maka ia adalah ketiadaan murni.
Maka ketika para imam umat ini dan ulama-ulamanya memahami tujuan kaum itu, mereka berjihad melawan mereka dengan bukti-bukti yang jelas, hingga Allah menetapkan kebenaran melalui mereka dan menjelaskan jalan yang lurus, maka Dia membatalkan syubhat-syubhat mereka dan menampakkan aib-aib mereka, dan mengungkap keburukan-keburukan mereka, dan ahli kebenaran dari salaf umat dan para imamnya bersepakat bahwa mereka ini adalah golongan yang paling buruk dari golongan-golongan ahli bidah.
Syaikhul Islam berkata: “Hingga banyak orang mengeluarkan mereka dari tujuh puluh dua golongan.”
Saya katakan: dan ini maknanya adalah mengeluarkan mereka dari umat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Dan telah mutawatir nash-nash dari para imam terkemuka tentang mengkafirkan mereka, menjauhi mereka, dan tidak mewalii mereka, dan saya telah menunjukkan sebagiannya di bab pertama, dan saya sampaikan kepadamu di sini sebagian darinya untuk merealisasikan pembebasan tanggungan dan menegakkan hujjah dengan menyebutkan nama-nama sebagian ulama besar para imam salaf dan perkataan-perkataan mereka:
- Sulaiman bin Tharkhan at-Taimi (tabiin, imam, tsiqah).
Dia berkata: “Tidak ada kaum yang lebih keras dalam merusak Islam daripada Jahmiyyah dan Qadariyyah, adapun Jahmiyyah maka sungguh mereka telah menentang Allah, dan adapun Qadariyyah maka sesungguhnya mereka telah berkata tentang Allah Azza wa Jalla.”
- Sufyan bin Said ats-Tsauri (Amirul Mukminin dalam hadits).
Dia berkata: “Barangsiapa berkata: sesungguhnya Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu adalah makhluk, maka ia adalah kafir.”
- Salam bin Abi Muthi’ (berakal, ahli sunnah, tidak mengapa dalam hadits).
Dia berkata: “Jahmiyyah adalah kafir, tidak boleh shalat di belakang mereka.”
- Malik bin Anas (Imam Darul Hijrah):
Abdullah bin Nafi’ -sahabatnya- berkata: Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, ia dipukul sampai sakit, dan dipenjara hingga ia mati.”
Dan Ibnu Nafi’ juga berkata: Malik berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, ia dididik dan dipenjara hingga diketahui taubatnya darinya.”
Dan ia rahimahullah berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat maka baik, kalau tidak maka dipancung lehernya.”
- Abdullah bin al-Mubarak (Imam yang berilmu). Ia berkata: “Jahmiyyah adalah kafir.”
Dan Muhammad bin A’yan (tsiqah, shidduq) berkata: Saya mendengar an-Nadhr bin Muhammad berkata: Barangsiapa berkata: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku adalah makhluk, maka ia adalah kafir.
Dia berkata: Maka saya mendatangi Ibnu al-Mubarak dan berkata kepadanya: Tidakkah engkau kagum dengan Abu Muhammad, ia berkata begini dan begitu?
Dia berkata: “Dan apa lagi selain demikian, dan apakah ia menemukan selain mengatakan ini?”
Dan dalam riwayat:
“Benar Abu Muhammad, semoga Allah memberinya afiat, tidaklah Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar kita menyembah makhluk.”
- Abu Yusuf Yaqub bin Ibrahim al-Qadhi sahabat Abu Hanifah (tsiqah, shidduq, faqih).
Dia berkata: “Datangkan kepadaku dua saksi yang bersaksi terhadap al-Marisi, demi Allah sungguh aku akan memenuhi punggung dan perutnya dengan cambukan, ia berkata tentang Al-Quran” yakni: makhluk.
Saya katakan: Dan nash-nash para imam tentang mengkafirkan al-Marisi -dan ia adalah Bisyr bin Ghiyats, salah seorang kepala dari kepala-kepala Muktazilah Jahmiyyah- sangat banyak.
- Mu’tamir bin Sulaiman, Hammad bin Zaid, Yazid bin Zurai’ (para muhaddits tsiqah, ahli sunnah).
Fithr bin Hammad (syaikh yang shidduq) berkata:
Saya bertanya kepada Mu’tamir bin Sulaiman, maka saya katakan: Wahai Abu Muhammad, seorang imam suatu kaum yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk, apakah saya shalat di belakangnya?
Maka ia berkata: “Seharusnya dipancung lehernya.”
Fithr berkata: Dan saya bertanya kepada Hammad bin Zaid, maka saya katakan: Wahai Abu Ismail, imam kami mengatakan: Al-Quran itu makhluk, apakah saya shalat di belakangnya?
Dia berkata: “Shalatlah di belakang seorang muslim, lebih aku sukai.”
Dan saya bertanya kepada Yazid bin Zurai’ maka saya katakan: Wahai Abu Muawiyah, imam suatu kaum mengatakan: Al-Quran itu makhluk, apakah saya shalat di belakangnya?
Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada penghormatan.”
- Abdullah bin Idris al-Audi (salah seorang imam kaum muslimin, tsiqah, abid).
Yahya bin Yusuf az-Zami (dan ia adalah tsiqah, adil) berkata:
Kami berada di sisi Abdullah bin Idris, maka seorang laki-laki mendatanginya lalu berkata: Wahai Abu Muhammad, apa pendapatmu tentang kaum yang mengatakan: Al-Quran itu makhluk? Maka ia berkata: “Apakah dari kalangan Yahudi?” Dia berkata: Tidak, dia berkata: “Maka dari kalangan Nashrani?” Dia berkata: Tidak, dia berkata: “Maka dari kalangan Majusi?” Dia berkata: Tidak, dia berkata: “Maka dari siapa?” Dia berkata: Dari kalangan ahli tauhid, dia berkata:
“Mereka ini bukan dari ahli tauhid, mereka ini adalah zindiq, barangsiapa mengira bahwa Al-Quran itu makhluk maka sungguh ia mengira bahwa Allah itu makhluk, Allah berfirman: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka Allah tidak mungkin makhluk, dan ar-Rahman tidak mungkin makhluk, dan ini adalah asal-usul zindiq, barangsiapa mengatakan ini maka atasnya laknat Allah, janganlah kalian duduk bersama mereka, dan janganlah kalian menikah dengan mereka.”
- Abu Bakr bin Ayyasy (imam yang adil, muhaddits yang banyak haditsnya).
Hamzah bin Said al-Maruzi (tsiqah, makmun) berkata:
Saya bertanya kepada Abu Bakr bin Ayyasy, saya katakan: Wahai Abu Bakr, sungguh telah sampai kepadamu apa yang terjadi dari perkara Ibnu Iliyyah tentang Al-Quran, maka apa pendapatmu? Maka ia berkata: “Dengarkanlah aku, celakalah engkau: barangsiapa mengira bahwa Al-Quran itu makhluk maka ia di sisi kami adalah kafir zindiq musuh Allah, janganlah engkau duduk bersamanya, dan janganlah engkau berbicara dengannya.”
- Waki’ bin al-Jarrah (tsiqah, hafidz, hujjah).
Dia berkata: “Adapun Jahmi maka sesungguhnya aku meminta taubatnya, jika ia bertaubat maka baik, kalau tidak aku bunuh dia.”
Dan Abu Ja’far as-Suwaidi (dan ia adalah tsiqah, mutatsabbit) berkata: Saya mendengar Waki’, dan dikatakan kepadanya:
Sesungguhnya fulan mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran itu muhdats, maka ia berkata: “Subhanallah, ini adalah kekufuran.” As-Suwaidi berkata: Dan saya bertanya kepada Waki’ tentang shalat di belakang Jahmiyyah?
Maka ia berkata: “Tidak boleh shalat di belakang mereka.”
Dan Abu Khaitsamah (Zuhair bin Harb) berkata:
Aku dan Matsna berselisih, maka Matsna berkata: Al-Quran itu makhluk, dan saya berkata: Kalam Allah, maka Waki’ berkata dan saya mendengar: “Ini adalah kekufuran, barangsiapa berkata: Sesungguhnya Al-Quran itu makhluk, ini adalah kekufuran.” Maka Matsna berkata: Wahai Abu Sufyan, Allah Azza wa Jalla berfirman: Tiada datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Rabb mereka apa ini? Maka Waki’ berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, ini adalah kekufuran.”
- Sufyan bin Uyainah al-Hilali (imam, hujjah, faqih).
Dia berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah Azza wa Jalla, barangsiapa berkata: makhluk, maka ia adalah kafir, dan barangsiapa ragu tentang kekufurannya maka ia adalah kafir.”
- Abu Muawiyah adh-Dharir Muhammad bin Khazim (hafidz, tsiqah).
Dia berkata: “Berbicara tentangnya adalah bidah dan kesesatan, tidaklah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara tentangnya, dan tidak pula para Sahabat, dan tidak pula Tabiin dan orang-orang shalih” yakni: Al-Quran itu makhluk.
- Abdurrahman bin Mahdi (berilmu, salah seorang muhaddits yang paling tsabit dan paling hafal). Dia berkata: “Barangsiapa mengira bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa Alaihis Salam, ia diminta bertaubat, jika ia bertaubat maka baik, kalau tidak dipancung lehernya.”
Dan ia berkata: “Seandainya aku memiliki kewenangan untuk sesuatu, sungguh aku akan berdiri di atas jembatan, maka tidak akan lewat seseorang kecuali aku bertanya kepadanya tentang Al-Quran, jika ia berkata: sesungguhnya ia makhluk, aku pukul kepalanya dan aku lempar dia ke dalam air.”
Dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Jahmiyyah mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran itu makhluk, maka ia berkata: “Sesungguhnya Jahmiyyah tidak menginginkan itu, dan sesungguhnya mereka menginginkan agar mereka menafikan bahwa ar-Rahman bersemayam di atas Arasy, dan mereka menginginkan agar mereka menafikan bahwa Allah berbicara kepada Musa, dan Allah berfirman: Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung, dan mereka menginginkan agar mereka menafikan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, aku berpendapat bahwa mereka diminta bertaubat, jika mereka bertaubat maka baik, kalau tidak dipancung leher-leher mereka.”
- Anas bin Iyadh Abu Dhamrah al-Laitsi (muhaddits, tsiqah, shidduq).
Ishaq bin al-Bahlul (tsiqah, alim) berkata: Saya katakan kepada Anas bin Iyadh Abu Dhamrah: Apakah saya shalat di belakang Jahmiyyah?
Dia berkata: “Tidak. Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
- Yazid bin Harun (imam dalam sunnah, tsabit, hujjah, hafidz).
Dia berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka ia adalah kafir.”
Dan Syadzz bin Yahya al-Wasithi (dan ia adalah baik, shidduq) berkata:
Yazid bin Harun bersumpah kepadaku di rumahnya: “Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka ia adalah zindiq.”
- Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (orang kuat para muhaddits, tsiqah, faqih).
Dia berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka sungguh ia telah mengada-ada terhadap Allah Azza wa Jalla, dan berkata tentang-Nya apa yang tidak dikatakan oleh Yahudi dan Nashrani.”
Dan ia berkata: “Seandainya ada lima puluh orang yang mengimami manusia pada hari Jumat, mereka tidak mengatakan: Al-Quran itu makhluk, sebagian mereka memerintahkan sebagian yang lain untuk menjadi imam, kecuali kepala yang memerintah mereka mengatakan ini, aku berpendapat untuk mengulangi (shalat), karena sesungguhnya Jumat hanya tetap dengan kepala.”
Abdullah putra Imam Ahmad berkata: Maka saya kabarkan kepada ayahku rahimahullah tentang perkataan Abu Ubaid, maka ia berkata: “Ini menyempitkan kepada manusia, jika orang yang shalat dengan kami tidak mengatakan sesuatu dari ini, aku shalat di belakangnya, maka jika orang yang shalat dengan kami mengatakan sesuatu dari perkataan ini, aku mengulangi shalat di belakangnya.”
Saya katakan: Dan ini lebih tepat dari perkataan Abu Ubaid, dan lebih sesuai dengan sunnah, akan tetapi perkataan Abu Ubaid rahimahullah menunjukkan penjelasan tentang keburukan keyakinan ini -keyakinan Jahmiyyah- dan bahwa mereka adalah kafir, kalau tidak, ia tidak akan memperketat seperti ini, dan menyempitkan seperti ini.
- Abu al-Walid Hisyam bin Abdul Malik ath-Thayalisi (hafidz, hujjah).
Dia berkata: “Barangsiapa tidak meyakini dalam hatinya bahwa Al-Quran bukan makhluk, maka ia keluar dari Islam.”
- Ahmad bin Abdullah bin Yunus (tsiqah, tsabit, ahli sunnah).
Dia berkata: “Tidak boleh shalat di belakang orang yang berkata: Al-Quran itu makhluk, mereka ini adalah kafir.”
- Harun bin Ma’ruf al-Maruzi (muhaddits, tsiqah, baik).
Dia berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka ia menyembah berhala.”
Dan ia berkata: “Barangsiapa mengira bahwa Allah Azza wa Jalla tidak berbicara, maka ia menyembah berhala-berhala.”
- Yusuf bin Yahya Abu Yaqub al-Buwaythi sahabat asy-Syafii (tsiqah, faqih, ahli sunnah).
Dia berkata: “Barangsiapa berkata: Al-Quran itu makhluk, maka ia adalah kafir, Allah Azza wa Jalla berfirman: Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, hanyalah Kami berfirman kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia maka Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia menciptakan makhluk dengan ‘kun’, maka barangsiapa mengira bahwa ‘kun’ itu makhluk, maka sungguh ia mengira bahwa Allah menciptakan makhluk dengan makhluk.”
21 – Yahya bin Ma’in (seorang ulama dan imam ahli hadits).
Ia berkata: “Barangsiapa mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.”
Dan Ahmad bin Ibrahim Ad-Durqi (seorang yang tsiqah dan hafizh) berkata: Yahya bin Ma’in memberitahukan kepadaku bahwa ia mengulangi shalat Jumat sejak Abdullah bin Harun Al-Makmun menampakkan apa yang ia tampakkan, yaitu: Al-Qur’an adalah makhluk.
Dan Ahmad bin Zuhair (Ibnu Abi Khaitsaman) berkata: Aku mendengar ayahku bertanya kepada Yahya bin Ma’in, lalu berkata: Sesungguhnya mereka mengatakan: Engkau berkata: Al-Qur’an adalah kalam Allah dan engkau diam, dan engkau tidak mengatakan: makhluk, dan tidak pula tidak makhluk. Ia berkata: “Tidak.” Lalu ayahku mengulanginya, maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak makhluk, dan barangsiapa mengatakan selain ini maka laknat Allah atasnya.”
22 – Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hanbal. Dan nukilan darinya tentang pengkafiran mereka, menjauhi mereka, meninggalkan shalat di belakang mereka, dan mengungkap keburukan-keburukan mereka, tidak dapat dihitung jumlahnya. Di antara itu:
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad: Orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, apakah ia kafir?
Ia berkata: “Aku katakan: Ia kafir.”
Dan Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, ketika Ya’qub Ad-Durqi bertanya kepadanya tentang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia berkata: “Barangsiapa mengira bahwa ilmu Allah Ta’ala dan nama-nama-Nya adalah makhluk, maka sungguh ia telah kafir dengan firman Allah Azza wa Jalla: ‘Barangsiapa membantahmu tentang hal ini setelah datang kepadamu ilmu’ (surah Ali Imran: 61). Bukankah itu adalah Al-Qur’an? Dan barangsiapa mengira bahwa ilmu Allah Ta’ala dan nama-nama-Nya serta sifat-sifat-Nya adalah makhluk, maka ia kafir, tidak ada keraguan dalam hal itu, apabila ia meyakini demikian, dan itu menjadi pendapat dan mazhabnya sebagai agama yang ia jadikan pegangan, maka ia menurut kami adalah kafir.”
Dan Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengatakan perkataan itu, tidak boleh shalat di belakangnya, baik shalat Jumat maupun selainnya, namun kami tidak meninggalkan kehadirannya (shalat Jumat), maka jika seseorang shalat (di belakangnya), hendaklah ia mengulangi shalatnya.” Maksudnya: di belakang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk.
Dan Abdullah berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Apabila hakim itu seorang Jahmiyah, maka jangan menjadi saksi di hadapannya.”
Dan Muhammad bin Yusuf bin Ath-Thaba’ (ia adalah orang yang tsiqah) berkata: Aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Wahai Abu Abdillah, apakah aku shalat di belakang orang yang meminum minuman keras?
Maka ia berkata: “Tidak.”
Ia bertanya: Lalu apakah aku shalat di belakang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk?
Maka ia berkata: “Subhanallah, aku melarangmu dari seorang muslim, dan engkau menanyakan kepadaku tentang orang kafir?”
Dan Shalih bin Ahmad berkata dari ayahnya: “Barangsiapa mengira bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka ia telah kafir, dan barangsiapa mengira bahwa nama-nama Allah adalah makhluk maka ia kafir, tidak boleh shalat di belakang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, maka jika seseorang shalat (di belakangnya), hendaklah ia mengulanginya.”
23 – Ahmad bin Shalih Al-Mishri (seorang imam yang tsabit dan hafizh).
Abu Dawud berkata: Aku bertanya kepada Ahmad bin Shalih tentang orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk.
Maka ia berkata: “Kafir.”
24 – Harun bin Musa Al-Farawi (seorang syaikh yang tsiqah, penganut sunnah).
Ia berkata: “Aku tidak mendengar seorang pun dari ahli ilmu di Madinah dan Ahlus Sunnah kecuali mereka mengingkari orang yang mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, dan mengkafirkannya.”
Harun berkata: “Dan aku berpendapat dengan sunnah ini.”
25 – Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (seorang ulama dan pemilik kitab Shahih). Ia berkata: “Aku telah melihat perkataan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi, dan aku tidak melihat yang lebih sesat dalam kekufuran mereka daripada mereka -yaitu orang-orang Jahmiyah- dan sungguh aku menganggap bodoh orang yang tidak mengkafirkan mereka kecuali orang yang tidak mengetahui kekufuran mereka.”
Dan ia berkata: “Aku tidak peduli, apakah aku shalat di belakang orang Jahmiyah dan Rafidhah, atau aku shalat di belakang orang Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh dijenguk, tidak boleh dinikahi, tidak boleh menjadi saksi, dan sembelihan mereka tidak boleh dimakan.”
26 – Abu Hatim Muhammad bin Idris, dan Abu Zur’ah Ubaidillah bin Abdul Karim Ar-Raziyan (dua imam Jarh wa Ta’dil).
Keduanya berkata: “Dan barangsiapa mengira bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung, kekufuran yang memindahkannya dari agama, dan barangsiapa meragukan kekufurannya dari orang yang memahami, maka ia kafir.”
27 – Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (Imam para Imam).
Ia berkata: “Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak makhluk: Maka barangsiapa mengatakan: Sesungguhnya Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima kesaksiannya, tidak dijenguk apabila sakit, tidak dishalatkan apabila mati, dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, dan ia diminta untuk bertaubat, maka jika ia bertaubat (diterima), dan jika tidak maka lehernya dipenggal.”
28 – Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari (seorang imam hafizh faqih yang menjadi hujjah).
Hakim Ahmad bin Kamil (ia adalah orang yang tsiqah dan memiliki keutamaan) berkata: Aku mendengar Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari berkali-kali tidak terhitung mengatakan: “Barangsiapa mengatakan: Al-Qur’an adalah makhluk, dengan meyakininya, maka ia kafir yang halal darah dan hartanya, tidak diwarisi oleh ahli warisnya dari kaum muslimin, ia diminta bertaubat, maka jika ia bertaubat (diterima), dan jika tidak maka lehernya dipenggal.”
Maka aku bertanya kepadanya: Dari siapa (diriwayatkan) bahwa ia tidak diwarisi oleh ahli warisnya dari kaum muslimin?
Ia berkata: “Dari Yahya Al-Qaththan, dan Abdurrahman bin Mahdi.”
Dikatakan kepada Hakim Ibnu Kamil: Lalu untuk siapa hartanya? Ia berkata: Fai’ bagi kaum muslimin.
Inilah sebagian dari hukum-hukum para imam terkemuka mengenai kaum Mu’tazilah Jahmiyah, yang menjelaskan kepadamu tentang pemisah antara hak dan batil, kekufuran dan keimanan. Mereka adalah para ulama terkemuka dari pemimpin para imam Salaf yang menjadi teladan manusia, dan di antara mereka adalah para pemimpin besar yang menjadi tempat berlindung manusia dalam mengungkap syubhat dan menjelaskan kebenaran dari agama mereka.
Sungguh telah terjadi dalam perkataan sebagian imam pengkafiran terhadap tokoh-tokoh tertentu dari Jahmiyah. Sekelompok ulama Salaf mengkafirkan Al-Ja’d bin Dirham -asal muasal fitnah ini- dan yang lain mengkafirkan Jahm bin Shafwan -kepalanya- dan yang lain Bisyr Al-Marisi -pembelanya- dan Asy-Syafi’i rahimahullah mengkafirkan Hafsh Al-Fard -salah seorang penyerunya- dan hampir membunuhnya.
Sungguh aku melihat sekelompok orang dari Ahlul Bid’ah, dan mungkin sebagian Ahlus Sunnah tertipu oleh mereka, meremehkan urusan Jahmiyah, dan bahkan sebagian mereka mengingkari para imam yang mengkafirkan mereka. Padahal tidak diriwayatkan dari kebanyakan imam Salaf kecuali pengkafiran terhadap mereka -sebagaimana dinukil dari mereka oleh Ibnu Ath-Thabari dan lainnya- dan mereka ini menurut pandanganku salah satu dari dua orang:
Pertama, seorang mubtadi’ yang terbakar dalam paham Jahmiyah dan I’tizal, yang bersikeras pada perkara besar namun takut pada kebenaran dan kekuatan para pengikutnya, sehingga ia tidak terang-terangan, melainkan hanya memberi isyarat dan sindiran.
Kedua, seorang yang bodoh yang tidak memahami akidah Salaf tentang kalam Allah Ta’ala, dan takut untuk mempelajarinya karena kehati-hatian, mengira bahwa itu adalah masuk dalam pembicaraan yang tercela, sehingga tidak memiliki imam yang diikuti kecuali Al-Waqifah yang para imam mengingkari mazhab mereka.
Adapun yang pertama, maka tidak ada keselamatan dan kesehatan baginya dari Allah, dan semoga Allah membuka auratnya dan menampakkan aibnya.
Adapun yang kedua, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan belajar, dan meninggalkan apa yang ia kira sebagai kehati-hatian, maka demi Allah itu bukanlah kehati-hatian yang disyariatkan, karena kebatilan itu ada dan memiliki penyeru, dan bid’ah Jahmiyah tidak pernah lepas dari manusia. Cukuplah baginya mengikuti para tokoh umat dan para kepala imam setelah masa Sahabat dan para Tabi’in besar, yang Allah selamatkan dari bencana ini, seperti: Ats-Tsauri, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ibnu Ma’in, dan Al-Bukhari.
Dan di antara mereka yang telah disebutkan sebelumnya adalah kelompok yang membawa pengkafiran dalam nash-nash terdahulu dari para imam yang menyerupainya kepada kekufuran yang lebih kecil yang tidak memisahkan dari agama. Ini juga termasuk dari tindakan meremehkan persoalan ini dan mengelabui manusia. Padahal banyak dari nash-nash yang disebutkan dan lainnya tegas dalam mengeluarkan mereka dari Islam. Dan wajib membawa apa yang disebutkan secara mutlak dari lafazh pengkafiran mereka kepada makna yang tegas ini. Dan aku yakin bahwa barangsiapa memahami akidah yang benar yang telah kami jelaskan di bab pertama, dan memahami apa yang dijadikan syubhat oleh kaum Mu’tazilah Jahmiyah kepada manusia, maka ia tidak akan ragu tentang kekufuran besar mereka yang mengeluarkan dari Islam.
Jika dikatakan: Bukankah mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?
Kami katakan: Benar, namun mereka membatalkannya dengan perkataan mereka: makhluk, dan mereka membatalkannya dengan mendustakan Al-Qur’an, dengan menafikan sifat-sifat Rabb semesta alam, dan mensifati-Nya dengan ketidakmampuan dan kekurangan, bahkan mensifati-Nya dengan ketiadaan. Lalu tauhid apa yang tersisa setelah ini?
Jika dikatakan: Ini Imam Ahmad rahimahullah, dan ia termasuk orang yang paling keras dalam masalah ini, dan mengalami karena itu apa yang ia alami. Ia tidak mengkafirkan Al-Makmun, tidak pula Al-Mu’tashim, tidak pula Al-Watsiq, bahkan mungkin ia mendoakan sebagian dari mereka, dan mengakui kepemimpinan Amirul Mukminin mereka, padahal mereka adalah pembawa panji fitnah penciptaan Al-Qur’an. Seandainya itu kekufuran yang mengeluarkan dari Islam, tentu ia tidak akan mendoakan, atau memaafkan, atau mengakui kepemimpinan Amirul Mukminin.
Kami katakan: Ini adalah kebodohan dari orang yang keberatan dengan hakikat perkara. Sesungguhnya pengkafiran secara mutlak berbeda dengan pengkafiran secara spesifik terhadap individu tertentu, karena hukum atasnya pada individu tertentu mungkin tidak berlaku karena suatu makna, seperti takwil, atau kebodohan, atau paksaan. Dikatakan: Barangsiapa mengatakan demikian ia kafir, dan barangsiapa meyakini demikian maka ia keluar dari Islam, dan bukan berarti bahwa jika kita menemukan seorang muslim yang jatuh ke dalamnya ia layak mendapat sifat kekufuran, hingga kita tahu dengan yakin bahwa hujjah syar’iyyah yang sempurna dan jelas telah sampai kepadanya, sehingga kebodohannya tentang itu hilang, dan tidak tersisa dalam dirinya bentuk takwil apapun. Ini adalah perkara yang sulit pada umumnya. Oleh karena itu, bukan termasuk petunjuk Salaf untuk mengkafirkan individu tertentu hingga terdapat alasan pengkafiran dan tidak ada penghalangnya. Tidakkah engkau melihat pengkafiran mereka terhadap Al-Ja’d dan Jahm dan Al-Marisi? Mereka mengkafirkan mereka secara spesifik karena tidak adanya kebodohan dan takwil, karena perkataan mereka mengandung kekufuran yang terang. Dan tidakkah engkau melihat pengkafiran Asy-Syafi’i rahimahullah terhadap Hafsh Al-Fard? Itu setelah debat dan penjelasan, maka hujjah tegak atasnya, dan tidak ada lagi baginya hujjah. Maka Asy-Syafi’i tidak jatuh dalam kesulitan dalam mengkafirkannya secara spesifik.
Dan ketika sebagian manusia tidak memahami persoalan ini dan pemisahan di dalamnya, mereka bingung dalam menafsirkan lafazh-lafazh mutlak para imam tentang itu. Sekelompok orang membawanya kepada kekufuran yang lebih kecil, dan sebagian dari mereka mencela sebagian imam dalam ungkapan-ungkapan mutlak tersebut, sebagaimana engkau lihat itu dari sebagian mereka.
Ini dengan catatan bahwa telah tetap dari Imam Ahmad bahwa ia berkata: “Ulama Mu’tazilah adalah zindiq.” Dan ini mengandung arti bahwa keadaan orang yang mengetahui dan berilmu dari mereka berbeda dengan keadaan orang yang mengikuti mereka atas kebodohan, seperti para khalifah -yang tidak memahami kecuali mempertahankan kedudukan- dan kebanyakan orang awam, yang kebenaran menjadi samar bagi mereka dengan syubhat yang ditimbulkan oleh para mubtadi’.
Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
BAB KETIGA: MENGUNGKAP PENYIMPANGAN ASYARIYAH DALAM MENETAPKAN SIFAT KALAM BAGI ALLAH TA’ALA
Dan di dalamnya ada enam pembahasan:
- Pembahasan Pertama: Definisi kalam menurut Asyariyah
- Pembahasan Kedua: Pembatalan pendapat bahwa kalam Allah Ta’ala adalah makna yang abstrak
- Pembahasan Ketiga: Al-Quran berbahasa Arab menurut Asyariyah
- Pembahasan Keempat: Nama-nama Allah Ta’ala menurut Asyariyah
- Pembahasan Kelima: Kesesuaian antara pendapat Muktazilah dan Asyariyah tentang Al-Quran
- Pembahasan Keenam: Asyariyah dan Ahlussunnah dalam masalah Al-Quran
Pembahasan Pertama: Definisi Kalam Menurut Asyariyah
Asyariyah—dan yang sependapat dengan mereka seperti Maturidiyah—ketika melihat fitnah yang terjadi antara Muktazilah Jahmiyah dengan Ahlussunnah dalam masalah sifat-sifat secara umum, dan khususnya dalam masalah kalam Allah Ta’ala, mereka memilih menempuh jalan tengah—menurut anggapan mereka—antara rasionalitas Muktazilah dan nash Ahlussunnah. Mereka ingin mendamaikan antara kedua mazhab, bukan dengan cara menyetujui masing-masing dari kedua kelompok: Muktazilah dan Ahlussunnah, melainkan dengan cara mendamaikan antara akal murni dan nash yang shahih—demikian anggapan mereka.
Namun kaum itu lebih menguasai ilmu kalam dan dialektika yang diwarisi dari Jahmiyah dan lainnya, daripada pengetahuan mereka tentang nash dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan lebih daripada pengetahuan mereka tentang manhaj Salaf. Maka mereka condong kepada rasionalitas Jahmiyah yang lebih menguasai mereka, lebih dari kecenderungan mereka kepada manhaj Salaf, meskipun mereka membantah Jahmiyah dan menolak banyak dari prinsip-prinsip mereka.
Syaikhul Islam rahimahullah Ta’ala berkata: “Namun prinsip rasional yang dijadikan dasar oleh Ibnu Kullab dalam membangun pendapatnya tentang kalam Allah dan sifat-sifat-Nya adalah prinsip Jahmiyah dan Muktazilah sendiri.”
Al-Hafizh Abu Nashr As-Sijzi berkata tentang mereka: “Mereka berusaha membantah Muktazilah dari jalur akal semata, padahal mereka tidak mengetahui prinsip-prinsip Sunnah, dan tidak mengetahui apa yang dianut oleh Salaf, serta tidak berdalil dengan riwayat-riwayat yang datang tentang hal itu dengan anggapan bahwa riwayat-riwayat tersebut adalah khabar ahad yang tidak menghasilkan ilmu.”
Termasuk penyimpangan terbesar mereka dalam mengikuti manhaj Jahmiyah adalah keyakinan mereka tentang kalam Allah Ta’ala. Mereka mengingkari ucapan Jahmiyah “Al-Quran adalah makhluk” dengan sangat keras, menyusun banyak karya tentang hal itu, dan terjadi perdebatan antara mereka. Mereka mengira bahwa mereka menang atas Jahmiyah, padahal mereka menyetujui prinsip mazhab mereka dan banyak dari asas-asasnya, meskipun menolak untuk menyerah pada kebanyakan hal tersebut.
Ketika mereka melihat konsekuensi logis yang ditekankan Jahmiyah Muktazilah dari rasionalitas mereka, mereka menerimanya, dan tidak menolaknya dengan keyakinan Salaf yang bersih. Mereka justru berlindung pada penemuan prinsip-prinsip rusak yang tidak pernah dikatakan oleh Salaf, tidak juga oleh Muktazilah, tidak juga oleh siapa pun dari umat ini, bahkan tidak juga oleh umat-umat sebelum mereka.
KALAM MENURUT ASYARIYAH:
Asal dari prinsip-prinsip tersebut adalah mereka mendefinisikan kalam dengan definisi yang tidak dikenal dalam bahasa, tidak dalam syariat, dan tidak dalam akal. Mereka berkata:
Kalam adalah makna yang berdiri pada jiwa—mereka menyebutnya dengan istilah (kalam nafsi)—dan itulah kalam yang hakiki, sedangkan lafazh-lafazh diletakkan untuk menunjukkan kepadanya. Berdasarkan hal ini mereka berkata: Kalam bukan huruf dan bukan suara, dan mutakallim (yang berbicara) adalah yang padanya berdiri kalam, bukan yang menciptakan kalam.
Ini menurut mereka berlaku umum untuk semua kalam.
Mereka menguatkan pendapat ini dengan beberapa syubhat yang mereka kira sebagai dalil. Mereka berkata: Kebenaran apa yang kami katakan dibuktikan oleh bahasa dan syariat.
Adapun bahasa, orang Arab berkata: “Kan fi nafsi kalam” (ada di jiwaku kalam), “Kan fi nafsi qaul” (ada di jiwaku perkataan), “Kan fi nafsi hadits” (ada di jiwaku pembicaraan).
Umar radhiyallahu anhu berkata: “Zawwartu fi nafsi kalaman fa ata Abu Bakrin fazada alaihi” (Aku menyiapkan dalam jiwaku kalam lalu Abu Bakar datang dan menambahkannya).
Maka Umar menyebut apa yang ada dalam jiwanya sebagai kalam.
Al-Akhthol berkata:
“Jangan engkau kagum dengan khutbah Atsir Hingga ia memiliki kalam yang kokoh
Sesungguhnya kalam itu ada di dalam hati Dan sesungguhnya lidah dijadikan sebagai penunjuk atas hati”
Adapun syariat, Allah Ta’ala berfirman: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami bersaksi, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (Al-Munafiqun: 1)
Allah Ta’ala tidak mendustakan orang-orang munafik dalam lafazh mereka, melainkan mendustakan mereka dalam apa yang tersimpan dalam hati dan batin mereka. Ini menunjukkan bahwa itulah hakikat kalam dan qaul (perkataan).
Seperti halnya firman-Nya: “Dan mereka mengatakan dalam hati mereka: ‘Mengapa Allah tidak menyiksa kami karena apa yang kami katakan?'” (Al-Mujadalah: 8)
Maka perkataan dengan jiwa itu tetap ada meskipun lidah tidak mengucapkannya, dan qaul (perkataan) adalah kalam.
Dan firman-Nya: “Kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dalam beriman.” (An-Nahl: 106)
Maka Allah menggugurkan hukum kekafiran dari orang yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur, dan menjadikan hukum itu untuk kebenaran kalam yang berdiri di hati.
Ayat-ayat ini dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa hakikat kalam adalah makna yang berdiri pada jiwa, bukan huruf dan suara yang merupakan tanda dan petunjuk atas kalam hakiki.
Dari Sunnah:
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya, tetapi belum masuk iman ke dalam hatinya.”
Beliau mengabarkan bahwa kalam hakiki adalah yang ada di dalam hati, bukan ucapan lisan, dan bahwa hukum adalah untuk kalam yang ada di hati secara hakiki, sedangkan perkataan lisan adalah majaz yang mungkin sesuai dengan hati atau menyelisihinya.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Penyesalan adalah taubat.”
Dan penyesalan adalah makna di dalam hati.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingat dia dalam diri-Ku.'”
Maka Allah menetapkan dzikir untuk jiwa. Dzikir, qaul, dan kalam adalah satu.
Maka diketahui bahwa hakikat kalam adalah makna yang berdiri pada jiwa.
Demikian juga mereka berdalil dengan firman-Nya: “Tanda bagimu adalah kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat.” (Ali Imran: 41)
Maka Allah menyebut isyarat dengan nama kalam selain lafazh.
Aku (penulis) berkata: Inilah ringkasan apa yang mereka jadikan dalil untuk menguatkan bidah mereka, dan aku akan menyebutkan dengan taufiq Allah Ta’ala bantahannya terhadap mereka.
BANTAHAN TERHADAP ASYARIYAH:
Sebelum memulai hal itu, aku ingatkan engkau dengan apa yang telah kami sebutkan di Bab Pertama tentang pengakuan Ahlussunnah wal Jamaah bahwa hadits jiwa (pembicaraan dalam hati) kadang disebut kalam dan qaul, tetapi dengan qarinah (indikator) yang menjelaskan hal itu. Adapun kalam dan qaul secara mutlak, maka mencakup lafazh dan makna secara bersamaan. Kalam—misalnya—menurut ahli nahwu khusus untuk lafazh tanpa makna, dengan qarinah dari topik pembahasan ilmu ini, karena ilmu ini hanya membahas lafazh bukan makna. Demikian juga kadang dimaksudkan dengannya makna saja dengan qarinah-qarinah, sebagaimana akan engkau lihat dalam jawaban-jawaban yang akan datang.
Pertama: Penyebutan jawaban atas apa yang mereka jadikan dalil dari bahasa:
Adapun perkataan orang Arab: “Kan fi nafsi kalam” (ada di jiwaku kalam) dan yang semisalnya, kami tidak menyelisihi kebenarannya, tetapi bukan dengan maksud kalian—wahai Asyariyah—melainkan dengan maksud kami, yaitu bahwa lafazh “kalam” jika datang dalam bentuk muqayyad (terikat/terbatas), maka pembatasan itu menjadi qarinah yang menunjukkan pengeluarannya dari kemutlakannya. Kami mengakui bahwa kadang dimaksudkan dengannya makna-makna atau lafazh-lafazh dengan qarinah-qarinah. Ketika orang Arab di sini membatasinya dengan jiwa, ia mengeluarkannya dari kalam mutlak. Bagaimana bisa benar bagi kalian—wahai Asyariyah—berdalil dengan sesuatu yang majaz menurut kaidah kalian untuk menetapkan sesuatu yang hakikat?
Itu karena kalian berkata: Apa yang diubah qarinah-qarinah dari hakikatnya, maka itulah majaz.
Adapun perkataan Umar pada hari Saqifah, jawaban kami terhadapnya dari dua sisi:
Pertama: “At-Tazwir” sebagaimana dikatakan Al-Ashmaii: “Memperbaiki kalam dan menyiapkannya.” Maka maknanya: bahwa ia memperkirakan dalam jiwanya kalam dan menyiapkannya namun belum mengucapkannya. Maka ia bukan kalam hingga ia mengucapkannya.
Perumpamaannya: Orang yang memperkirakan dalam jiwanya akan melakukan suatu amalan seperti shalat misalnya, lalu tidak melakukannya. Apakah dikatakan: Bahwa ia telah shalat dalam jiwanya? Padahal hati memiliki amalan, sebagaimana anggota badan memiliki amalan.
Kedua: Seandainya benar apa yang mereka katakan, itu justru sesuai dengan mazhab kami bukan mazhab mereka. Mereka menganggap kalam mutlak sebagai kalam jiwa, sedangkan kami menganggap kalam mutlak adalah lafazh dan makna bersama-sama, dan kadang dimaksudkan salah satunya dengan qarinah, dan qarinah itu ada dalam perkataan Umar yang disebutkan, yaitu pembatasan dengan jiwa. Bagaimana kalian membenarkan definisi kalam mutlak dengan kalam muqayyad (terbatas)?
Adapun syair Al-Akhthol, jawaban terhadapnya dari beberapa sisi:
Pertama: Sebagian ulama mengingkari bahwa itu adalah syairnya. Mereka memeriksa diwannya dan tidak menemukannya. Abu Muhammad Al-Khasyab, ahli nahwu Irak, berkata: “Aku memeriksa syair Al-Akhthol yang terdokumentasi dengan teliti dan tidak menemukan bait ini.”
Kedua: Tidak terbukti peruwayannya dari pengucapnya dengan sanad, tidak shahih dan tidak dhaif.
Ketiga: Ahli bahasa Arab tidak menerimanya dengan penerimaan.
Keempat: Sebagian meriwayatkannya dengan lafazh:
“Sesungguhnya penjelasan ada di dalam hati…”
Dan ini merusak makna yang mereka kehendaki—sebagaimana tidak tersembunyi.
Kelima: Al-Akhthol adalah penyair muwallad (generasi setelah Arab murni), tidak bisa dijadikan hujjah syairnya dalam bahasa, dan ini diketahui oleh ahli tahqiq.
Keenam: Ia adalah seorang Nasrani penganut trinitas yang kafir. Orang Nasrani telah sesat dalam makna kalam Allah Ta’ala dan konsepnya. Mereka menjadikan Al-Masih sebagai kalimat Allah itu sendiri.
Ketujuh: Kebanyakan ahli bidah yang berdalil dengan syair ini menyembunyikan bait pertama, karena setelah diteliti justru menjadi hujjah atas mereka. Penyair ketika menyebut kalam dalam bait pertama menyebutnya secara mutlak, mencakup lafazh dan makna, karena yang didengar dari seorang khatib adalah lafazh-lafazhnya. Maka penyair menjelaskan tentang hakikat kalam yang berpengaruh yang memberi dampak pada jiwa, bahwa ia adalah yang mengandung makna-makna yang tempatnya di hati, bukan sekedar lafazh-lafazh yang didengar dari mutakallim. Ia tidak bermaksud mendefinisikan kalam dan membuat batasan untuknya bahwa ia adalah makna-makna yang abstrak.
Kedelapan: Istilah (al-kalam/perkataan) dan (al-qaul/ucapan) serta yang semakna dengannya bukanlah sesuatu yang memerlukan penjelasan dari syair penyair dalam menafsirkannya, bahkan bukan pula dari seribu penyair sekalipun, karena hal itu telah diketahui secara pasti, sebab ia adalah sesuatu yang telah diucapkan oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian dari kalangan ahli bahasa, dan mereka mengetahui maknanya dalam bahasa mereka.
Bahasa itu hanya dipelajari dari penggunaan penuturnya dalam percakapan mereka, tidak dipelajari dari batasan dan definisi yang disebutkan dengan mengatakan: (kepala adalah begini… perkataan adalah begitu…).
Kesimpulannya: bahwa berdalil dengan syair ini jelas kerusakannya, dan kerusakannya lebih jelas dan lebih nyata daripada bersusah payah merinci masalahnya, dan kaum tersebut telah menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik, maka mereka meninggalkan nash-nash wahyu yang tegas untuk perkataan seorang Nashrani kafir, yang mereka tidak teliti kebenarannya, baik dari sisi periwayatan maupun pemahaman.
Berkata Imam Abu al-Ma’ali As’ad bin al-Munjaa, guru besar Hanabilah:
Suatu hari saya berada di sisi Syaikh Abu al-Bayan (Naba bin Muhammad bin Mahfuzh al-Qurasyiy asy-Syafi’iy) rahimahullah ta’ala, lalu datanglah Ibnu Tamim yang mengaku sebagai Syaikh al-Amin, maka Syaikh berkata kepadanya setelah terjadi pembicaraan di antara mereka: “Celakalah engkau, Hanabilah apabila ditanyakan kepada mereka: Apa dalil bahwa Al-Quran itu dengan huruf dan suara? Mereka menjawab: Allah berfirman begini, dan Rasul-Nya berfirman begini -dan Syaikh menyebutkan ayat-ayat dan berita-berita- sedangkan kalian apabila ditanyakan kepada kalian: Apa dalil bahwa Al-Quran itu adalah makna yang berdiri di dalam jiwa? Kalian menjawab: al-Akhthol berkata:
Sesungguhnya perkataan itu di dalam hati…
Apa ini al-Akhthol? Seorang Nashrani yang hina, kalian membangun madzhab kalian di atas sebait syair dari perkataannya, dan meninggalkan Al-Quran dan Sunnah?!”
Dan berkata Syaikhul Islam: “Termasuk yang dicela pada orang-orang ini adalah bahwa mereka berdalil dalam pokok agama mereka dan mengenal hakikat perkataan -perkataan Allah, dan perkataan seluruh makhluk- dengan perkataan seorang penyair Nashrani yang dikatakan bernama: al-Akhthol:
Sesungguhnya perkataan itu di dalam hati dan sesungguhnya hanya dijadikan lisan atas hati sebagai dalil
Dan sungguh sekelompok orang berkata: Sesungguhnya ini bukan dari syairnya, dan dengan anggapan bahwa itu dari syairnya maka hakikat-hakikat akal, atau makna lafazh (al-kalam/perkataan) yang diucapkan oleh seluruh Bani Adam, tidak dikembalikan padanya kepada perkataan seribu penyair yang utama sekalipun, terlebih lagi penyair Nashrani yang namanya: al-Akhthol, dan orang-orang Nashrani telah diketahui bahwa mereka berkata-kata tentang kalimat Allah dengan apa yang batil, dan al-khathal dalam bahasa adalah: kesalahan dalam perkataan.
Dan telah disampaikan oleh seorang pembaca syair tentang mereka:
Kehinaan bagi orang yang membuang Al-Quran di belakangnya… maka apabila ia berdalil ia mengatakan: al-Akhthol berkata
Dan berkata Syaikhul Islam juga: “Seandainya seorang yang berdalil berdalil dalam suatu masalah dengan hadits yang dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) dalam dua kitab Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya mereka berkata: Ini adalah khabar ahad, padahal ia termasuk apa yang telah disepakati para ulama untuk membenarkannya dan menerimanya, sedangkan bait ini tidak ditetapkan periwayatannya dari pengucapnya dengan sanad yang shahih, tidak satu orang pun dan tidak lebih dari satu orang, dan tidak diterima oleh ahli bahasa Arab dengan penerimaan, maka bagaimana dapat ditetapkan dengannya perkara bahasa yang paling kecil sekalipun apalagi makna perkataan.”
Pembahasan Kedua: Menyebutkan jawaban atas apa yang mereka jadikan dalil dari Al-Quran dan Sunnah:
Sesungguhnya apa yang mereka jadikan dalil dari itu mereka telah kehilangan taufik dalam memahaminya, maka mereka berkata tentang Allah dengan tidak benar.
Adapun firman-Nya ta’ala: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu…” ayat.
Kami katakan kepada Asy’ariyah: Kalian telah mengakui bahwa Allah ta’ala tidak mendustakan orang-orang munafik dalam lafazh-lafazh mereka, dan sungguh Allah ta’ala menamakannya sebagai ucapan, maka Dia berfirman: “Mereka berkata: Kami bersaksi”.
Dan ketika lafazh-lafazh yang terpisah tidak cukup untuk menetapkan keimanan mereka dan kejujuran mereka dalam hal itu, dan sesungguhnya wajib menyertainya dengan iman hati, dan tegaknya makna apa yang mereka ucapkan di dalamnya, karena itu Allah mendustakan mereka dalam klaim mereka, maka yang Allah ta’ala dustakan mereka padanya sesungguhnya adalah klaim yang terpisah, dan tidak sahnya hal itu dari mereka, dan tidak mendustakan mereka dalam sahnya apa yang mereka ucapkan sebagai ucapan dan perkataan, bahkan Dia mengakui dan menetapkan itu, dan bukanlah perselisihan antara kita dalam kejujuran ucapan atau kedustaannya, dan sesungguhnya dalam hakikat dan kebenarannya.
Dan contoh ayat ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai kelompok yang beriman dengan lisannya…” hadits.
Adapun firman-Nya ta’ala: “Dan mereka berkata di dalam hati mereka…” ayat.
Maka ia seperti yang sebelumnya dalam rusaknya berdalil dengannya, dan itu dari dua sisi:
Pertama: Dimungkinkan mereka mengucapkannya dengan lisan mereka secara rahasia, sebagian mereka membicarakan hal itu kepada sebagian yang lain, dan ini adalah pendapat sebagian ahli tafsir.
Kedua: Bahwa lafazh (al-qaul/ucapan) disebutkan dalam ayat dua kali, satu kali terikat dengan jiwa, dan yang kedua mutlak, dan tidak diragukan bahwa yang mutlak adalah pembicaraan rahasia mereka dengan dosa dan permusuhan, dan bermaksiat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salam mereka kepadanya dengan selain apa yang Allah salamkan kepadanya, dan semua itu adalah ucapan-ucapan, yaitu lafazh-lafazh dan makna-makna, maka Dia mutlakkan untuk diketahui dengannya, dan mengikat ucapan pertama dengan jiwa agar menjadi khusus untuk makna tanpa lafazh, ini dengan anggapan bahwa ia adalah pembicaraan jiwa.
Seandainya ucapan mutlak hanya dimaksudkan dengannya pembicaraan jiwa, niscaya tidak ada kebutuhan untuk mengikatnya dengannya, dan niscaya pembicaraan rahasia dan salam itu adalah makna-makna yang terpisah, hati sebagiannya membicarakan kepada sebagian yang lain dengannya tanpa ucapan dan tanpa lafazh, dan ini tidak dapat dibayangkan oleh orang yang berakal.
Dan seperti ayat ini dalil mereka dengan firman-Nya ta’ala: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara” (al-A’raf: 205). Maka ini adalah dzikir dengan lisan secara rahasia, maka tidak keluar dari menjadi lafazh-lafazh atau makna-makna yang terkumpul, tidakkah engkau melihat firman-Nya: “Dan dengan tidak mengeraskan suara”? Dan yang mengikuti tingkatan jahr (terang-terangan) yang merupakan dzikir dengan mengeraskan suara, adalah tingkatan israr (rahasia) yang merupakan dzikir dengan melembutkan suara, dan semua itu berdiri dengan lisan dan hati.
Dan saya katakan kepada Asy’ariyah: Dengan apa kalian menafsirkan perkataan Abu Hurairah kepada orang yang bertanya kepadanya tentang membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) di belakang imam: “Bacalah dengannya di dalam hatimu”? Apakah ia menurut kalian adalah makna yang berdiri di dalam hati juga? Jika kalian mengatakan: Ya, maka kalian membatalkan madzhab-madzhab kalian, karena kalian menyerahkan bahwa perselisihan dalam masalah ini sesungguhnya adalah dalam ucapan lisan, bukan dalam menghadirkan yang dibaca di dalam hati.
Dan jika kalian mengatakan: Tidak, maka kalian merusak pokok kalian bahwa perkataan yang hakiki adalah apa yang berdiri di dalam jiwa dari makna-makna.
Dan contoh ayat yang disebutkan adalah dalil mereka dengan hadits: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku…” hadits.
Maka sesungguhnya dzikir di dalam jiwa di sini adalah dzikir lisan secara rahasia, tidakkah engkau melihat ia berkata dalam lanjutan hadits: “Dan jika ia menyebut-Ku dalam suatu kelompok, Aku menyebutnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka”? Maka keduanya adalah dua tingkatan.
Dan contohnya juga adalah dalil mereka dengan firman-Nya ta’ala: “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (al-Mulk: 13).
Bahkan sesungguhnya dalil mereka dengan ayat ini lebih jelas dalam menjadi hujjah atas mereka, dan itu karena Allah ta’ala menetapkan bagi mereka perkataan yang dirahasisakan dengannya, dan perkataan yang dinyatakan dengannya, dan yang dinyatakan sesungguhnya dengan mengeraskan suara, dan lawannya yang dirahasisakan dengannya, dan yang mengumpulkan keduanya adalah ucapan lisan, menjelaskannya firman-Nya ta’ala: “Dan jika kamu mengeraskan perkataan, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi” (Thaha: 7), maka ini tiga tingkatan: Pertama: jahr (nyata), Kedua: sirr (rahasia), Ketiga: apa yang lebih tersembunyi dari rahasia, dan tidaklah ia kecuali pembicaraan jiwa, dan karena itu Dia berfirman dalam ayat: “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” untuk mengingatkan mereka bahwa Dia jika mengetahui apa yang ada di dalam dada, dan ia adalah yang diungkapkan dalam ayat yang lain dengan “Dan yang lebih tersembunyi” maka pengetahuan-Nya tentang jahr dalam perkataan dan sirr dengannya lebih utama, menyebutkan seperti ini Syaikhul Islam.
Adapun dalil mereka dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Penyesalan adalah taubat” dan apa yang semakna dengannya, dan sepertinya dalil mereka dengan firman-Nya ta’ala: “Dia mengetahui apa yang ada di dalam hatimu” (al-Baqarah: 235) dan apa yang semakna dengannya, maka tidak masuk dalam tempat perselisihan, karena perselisihan antara kami dan Asy’ariyah sesungguhnya adalah dalam makna ucapan dan perkataan, bukan dalam berdirinya makna-makna di dalam hati.
Adapun dalil mereka dengan ayat paksaan maka menyerupai ini, karena ia tidak menamakan apa yang ada di dalam hati sebagai perkataan, dan sesungguhnya Dia berfirman: “Dan hatinya tenang dengan keimanan” karena ia adalah tempatnya dan kedudukannya pada asalnya.
Dan penamaan apa yang ada di dalam hati dari keimanan sebagai perkataan kembali kepada pokok mereka tentang keimanan bahwa ia adalah pembenaran hati, sebab mereka padanya adalah Murji’ah Jahmiyyah, dan ia menurut Ahlus Sunnah dari Salaf dan para Imam adalah: pembenaran hati, dan ucapan lisan, dan amal anggota badan, hakikat dalam semua ini, maka Allah menghilangkan dosa dari orang yang dipaksa penghapusan yang sementara karena dharurat, untuk memudahkan padanya dan meringankan, bukan atas dasar bahwa keimanan pada hakikatnya adalah pembenaran hati saja, karena seandainya demikian niscaya tidak ada perbedaan antara keadaan paksaan dan tidak adanya, maka untuk apa keringanan itu?
Dan dengan anggapan keimanan orang yang dipaksa adalah perkataan maka sesungguhnya ia terikat dengan penyebutan hati. Adapun dalil mereka dengan firman-Nya ta’ala: “Tandanya ialah kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat” maka bagi kami dua jawaban tentangnya:
Pertama: Bahwa Allah ta’ala berfirman dalam surah Maryam (10): “Tiga malam dengan sempurna” dan ceritanya satu, maka Dia mengecualikan dalam tempat pertama dan tidak mengecualikan dalam yang kedua, maka menunjukkan bahwa ia pengecualian terputus bukan bersambung, maka maknanya: tandamu ialah kamu tidak berbicara kepada manusia, tetapi kamu berisyarat kepada mereka dengan isyarat, dan ia adalah firman-Nya: “Maka dia memberi isyarat kepada mereka” (Maryam: 11) yaitu isyarat dengan tanda. Dan Kedua: Jika tidak sah menjadi pengecualian terputus, maka ia adalah perkataan yang terikat dengan isyarat, maka tidak ada masalah.
Menyebutkan seperti ini Syaikhul Islam.
Maka ini adalah ringkasan apa yang dibuat kesamaran olehnya Asy’ariyah dan Maturidiyah atas umat agar mereka membingungkan padanya agamanya, dan tidak tersembunyi bagimu apa yang dicirikan dengannya dari pertentangan dan kekacauan.
Wahai orang-orang ini, kami tidak berbeda dengan kalian dalam perkataan yang terikat, karena qarinah-qarinah mengeluarkan lafazh dari maknanya kepada berbagai wajah dari makna-makna, dan sesungguhnya kami berbeda dengan kalian dalam mutlak (al-kalam/perkataan) dan (al-qaul/ucapan) dan kalian telah tidak mampu untuk mendatangkan walau satu hujjah saja membuktikan dengan dengannya kebenaran perkataan kalian, dan kalian bergantung dengan apa yang lebih lemah dari rumah laba-laba, untuk menolong apa yang kalian anggap sebagai kebenaran, dan seandainya kalian membayangkan perkataan kalian dan memungkinkan bagi kalian merumuskannya dengan definisi untuk kalian memahaminya kalian sebelum kalian memahaminkannya kepada lawan-lawan kalian.
Kesesatan apa ini yang dimasukkan oleh Ibnu Kullab dan pengikut-pengikutnya kepada umat untuk merusak dengannya kepastian-kepastian? Maka sungguh dahulu manusia dalam keselamatan dari itu, dan bersama itu maka sungguh mereka menghadapi kebatilan Jahmiyyah ketika muncul dengan sebaik-baik bantahan dan paling jelas, dan mereka tidak membutuhkan kepada kesesatan-kesesatan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah ini.
Berkata Syaikhul Islam: “Dan tidak ada perselisihan tentang makna perkataan antara para Sahabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, dan para tabi’ut tabi’in, tidak dari Ahlus Sunnah, dan tidak dari Ahlul Bid’ah, bahkan orang pertama yang diketahui dalam Islam bahwa ia menjadikan makna perkataan adalah makna saja adalah Abdullah bin Sa’id bin Kullab, dan ia terlambat pada zaman fitnah Ahmad bin Hanbal, dan sungguh mengingkari itu darinya para ulama Sunnah dan para ulama Bid’ah, maka mustahil bahwa perkataan yang merupakan sifat yang paling jelas dari Bani Adam, sebagaimana firman-Nya ta’ala: “Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya ini adalah benar-benar (sehingga) seperti kamu berbicara” (adz-Dzariyat: 23) dan lafazhnya tidak terhitung banyaknya wajuh-wajuhnya, tidak diketahui olehnya seorang pun dari Sahabat dan Tabi’in dan tabi’ut tabi’in mereka, sehingga datang orang yang berkata padanya perkataan yang tidak mendahuluinya kepadanya seorang pun dari kaum muslimin dan tidak yang lain mereka.”
Dan berkata al-Hafizh Abu Nashr as-Sijziy: “Mereka menunggangi penentuan penglihatan, dan merobek ijma’ yang terikat antara seluruh: muslim dan kafir” bahkan “memaksa mereka kesempitan dari apa yang masuk kepada mereka dalam perkataan mereka sehingga mereka berkata: Orang yang bisu itu berbicara, dan demikian juga orang yang diam dan yang tidur, dan bagi mereka dalam keadaan bisu dan diam dan tidur perkataan mereka yang berbicara dengannya, kemudian mereka menjelaskan bahwa bisu dan diam dan cacat-cacat yang mencegah dari berbicara bukan lawan-lawan perkataan.”
Ia berkata: “Dan ini adalah perkataan yang menjelaskan aib pengucapnya pada dhahirnya tanpa bantahan padanya, dan barang siapa diketahui darinya merobek ijma’ seluruh, dan menyelisihi setiap yang akal dan yang sam’i sebelumnya maka tidak didebat, bahkan dijauhi dan dihukum.”
Saya katakan: Dan sungguh bid’ah ini pantas untuk berpaling darinya seandainya tidak karena apa yang umum dengannya dari kerusakan keyakinan, dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, maka tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.
PERKATAAN ALLAH MENURUT ASYARIAH
Berdasarkan prinsip yang telah kami sebutkan mengenai definisi kalam (perkataan), mereka membangun keyakinan mereka tentang kalam Allah.
Mereka berkata: Kalam Allah yang qadim (azali) adalah kalam nafsi, yaitu makna tunggal yang berdiri pada zat-Nya, tidak diciptakan, merupakan salah satu sifat-Nya, tidak terpisah dari-Nya, Dia senantiasa mausuf (disifati) dengannya, bukan huruf dan bukan suara, bukan bahasa, tidak terpecah-pecah, tidak terbagi, tidak berfadhilah (tidak ada yang lebih utama dari yang lain), tidak berbilang, tidak dapat dinasakh, tidak terkait dengan mashiah (kehendak) dan pilihan Allah. Ia adalah perintah, larangan, dan berita. Allah memahami maknanya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dengan ungkapan-ungkapan yang diciptakan untuk menunjukkan kepadanya. Ungkapan Alquran dalam bahasa Arab, Taurat dalam bahasa Ibrani, Injil dalam bahasa Suryani, semuanya adalah ungkapan dari kalam nafsi yang hakiki dan petunjuk kepadanya. Semuanya adalah makna yang satu. Maka makna Alquran adalah makna Taurat, Injil, dan kalam Allah lainnya. Pembicaraan Allah kepada siapa saja yang Dia ajak bicara dari hamba-hamba-Nya hanyalah menciptakan pemahaman makna itu bagi mereka.
Maka Alquran, Taurat, dan Injil dengan lafaz dan huruf-hurufnya adalah makhluk (diciptakan), dan merupakan petunjuk kepada kalam nafsi yang diciptakan Allah pada sesuatu.
Mereka berkata tentang Alquran berbahasa Arab: Allah menciptakannya di Lauh Mahfuzh – ini adalah pendapat yang paling masyhur menurut generasi akhir mereka, dan ini yang dikatakan oleh penulis kitab Tuhfatul Murid dan lainnya.
Sebagian mereka berkata: Allah menciptakannya di udara, lalu Jibril mengambilnya.
Sebagian mereka berkata: Allah memahami makna itu kepada Jibril, lalu Jibril mengungkapkannya dengan perkataannya sendiri, maka Alquran adalah perkataan Jibril – ini dinyatakan tegas oleh peneliti terbesar mereka secara mutlak setelah Al-Asyari: Abu Bakar Al-Baqillani.
Sebagian mereka berkata: bahkan ia adalah ungkapan Muhammad shallallahu alaihi wasallam – ini adalah pendapat yang kurang kuat menurut generasi akhir mereka, namun disebutkan dan masyhur di kalangan mereka.
Inilah gambaran umum keyakinan mereka tentang kalam Allah, dan saya akan menyebutkan rinciannya dari mereka dan membantahnya dalam pembahasan-pembahasan berikut dengan taufik dan kemudahan dari Allah.
Pembahasan Kedua: Membatalkan Bahwa Kalam Allah Adalah Makna Yang Mujarrad (Abstrak)
Mereka sepakat bahwa kalam yang ditetapkan sebagai sifat Allah adalah kalam nafsi, yaitu makna yang satu. Sebagian mereka berkata: ia adalah beberapa makna, yaitu perintah, larangan, dan berita. Jika diungkapkan dengan bahasa Arab maka ia adalah Alquran, jika dengan bahasa Ibrani maka ia Taurat, jika dengan bahasa Suryani maka ia Injil.
Abu Bakar Al-Baqillani berkata: “Kalam qadim yang berdiri pada diri (nafs) adalah sesuatu yang satu, tidak berbeda dan tidak berubah.”
Al-Bajuri berkata: “Kalam-Nya adalah sifat yang satu, tidak ada keberbilangan padanya, namun memiliki pembagian secara i’tibari (pertimbangan).” Kemudian ia menyebutkan bahwa pembagian itu adalah perintah, larangan, berita, janji dan ancaman.
Ini menurut mereka adalah pembagian kalam ditinjau dari apa yang diungkapkan tentang kalam. Adapun dalam hakikatnya, mereka menganggapnya sebagai sifat-sifat kalam, bukan jenis dan bagian, karena ia satu, tidak terpecah dan tidak terbagi.
Al-Baihaqi – yang termasuk golongan mereka – berkata: “Kalam Allah adalah satu, tidak berbeda dengan perbedaan ungkapan. Dengan bahasa apapun ia dibaca, maka yang dibaca adalah kalam Allah. Namun ia hanya dinamakan Taurat jika dibaca dengan bahasa Ibrani, hanya dinamakan Injil jika dibaca dengan bahasa Suryani, dan hanya dinamakan Alquran jika dibaca dengan bahasa Arab, sesuai dengan tujuh bahasa yang diizinkan oleh pembawa syariat untuk membacanya, karena turunnya melalui lisan Jibril alaihish shalatu wassalam dengan bahasa-bahasa tersebut tanpa yang lain, dan karena keajaiban dalam susunannya.”
Yang menegaskan bahwa hakikat Taurat dan Injil menurut mereka adalah hakikat Alquran seandainya keduanya dalam bahasa Arab, adalah perkataannya: “Yang dibolehkan dalam syariat ini hanyalah membaca yang dinamakan Alquran, bukan yang dinamakan Taurat dan Injil, karena Allah mendustakan ahli Taurat dan Injil yang ada pada masa Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, dan mengabarkan tentang pengkhianatan mereka dan pengubahan mereka terhadap kalam dari tempat-tempatnya, dan pemalsuan mereka terhadap kitab, kemudian mereka berkata: Ini dari sisi Allah, padahal itu bukan dari sisi Allah, dan mereka mengatakan dusta atas Allah padahal mereka mengetahui. Maka seorang muslim tidak merasa aman jika membaca sesuatu dari kitab-kitab mereka bahwa itu adalah hasil pemalsuan Yahudi dan Nashrani.”
Perhatikanlah bagaimana ia menjadikan Taurat dan Injil sebelum tahrif (pengubahan) sebagai hakikat Alquran, dan bahwa semuanya adalah kalam yang satu, sedangkan bahasa-bahasa hanyalah ungkapan dari yang satu ini.
Ini adalah bid’ah yang keji dan kesesatan yang mengerikan, yang dimasukkan Ibnu Kullab kepada manusia setelah sebelumnya mereka lalai darinya. Jumhur orang-orang berakal dari Ahlussunnah dan ahli bid’ah sepakat tentang rusaknya pendapat ini, dan bahwa kerusakannya diketahui secara dharuri (pasti). Itu dari berbagai segi:
Pertama: Para pengusung pendapat ini sendiri tidak membayangkan hakikatnya, dan tidak mampu menjelaskannya dengan definisi yang tepat.
Syaikhul Islam berkata: “Kalam qadim nafsi yang kalian tetapkan, kalian tidak menetapkan apa hakikatnya, bahkan tidak membayangkannya. Penetapan sesuatu adalah cabang dari pembayangan tentangnya. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak membayangkan apa yang ia tetapkan dapat menetapkannya? Karena itu Abu Said Ibnu Kullab – pemimpin golongan ini dan imam mereka dalam masalah ini – tidak menyebutkan dalam penjelasannya sesuatu yang bisa dipahami, bahkan ia berkata: ia adalah makna yang meniadakan sikap diam dan bisu. Sikap diam dan bisu hanya bisa dibayangkan jika kalam dibayangkan. Yang diam adalah yang diam dari kalam, yang bisu adalah yang tidak mampu melakukan kalam, atau yang mengalami cacat pada tempat berbicara yang mencegahnya dari kalam. Dengan demikian, tidak diketahui yang diam dan yang bisu hingga diketahui kalam, dan tidak diketahui kalam hingga diketahui yang diam dan yang bisu. Maka jelaslah bahwa mereka tidak membayangkan apa yang mereka katakan, dan tidak menetapkannya.”
Saya katakan: Kaum ini telah berlebihan dengan menyebutkan di antara hal-hal yang mustahil bagi-Nya adalah bisu dan tuli, dan mereka berkata: itu lawan dari kalam. Namun pendapat mereka tentang kalam nafsi memaksa mereka untuk mengatakan bahwa yang mustahil bagi-Nya adalah bisu nafsi. Ini berarti bahwa orang bisu yang telah berdiri makna-makna dalam dirinya namun tidak mampu mengungkapkannya dengan lisannya dapat disifati sebagai mutakallim (berbicara), sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Nashr As-Sijzi rahimahullah dalam apa yang kami sebutkan darinya tadi. Celaka kalian! Apakah ini dapat dibenarkan oleh anak-anak kuttab (sekolah)?
Kedua: Kita semua tahu bahwa orang bisu – yang menurut kalian wahai Asyariah adalah mutakallim – hanya dicegah oleh cacat pada lisannya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya, sehingga ia tidak mampu menjelaskan. Ia memahami makna-makna yang ada dalam dirinya kepada orang lain, lalu orang lain itu mengungkapkannya. Kalian berkata tentang Tuhan kalian demikian: bahwa Dia memahami makna yang berdiri pada diri-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia memahaminya kepada Jibril, lalu Jibril mengungkapkan apa yang ada pada diri-Nya.
Kebohongan apakah ini yang kalian bawa wahai para mu’aththilah? Kekurangan apakah yang kalian jangkaukan pada Tuhan kalian? Kalian menyerupakan-Nya dengan orang bisu. Apa bedanya antara Dia dengan sesembahan-sesembahan yang tidak mengembalikan perkataan kepada penyembahnya?
Mahasuci Engkau, ini adalah tuduhan yang besar.
Yang berbicara dengan lafaz dan makna lebih sempurna daripada orang yang makna berdiri dalam dirinya namun tidak mampu mengungkapkannya – dan ini jika ada pada makhluk yang lemah adalah kekurangan yang nyata. Maka Jibril dengan demikian lebih sempurna dari Tuhan kalian, karena ia memahami makna dan mampu mengungkapkannya.
Mahatinggi Allah dari perkataan kalian setinggi-tingginya.
Ketiga: Bahwa perintah adalah larangan, dan larangan adalah berita, adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh orang berakal. Menurut kalian itu adalah makna yang satu. Tidak ada orang berakal yang memahami bahwa Alquran berbahasa Arab jika diterjemahkan ke bahasa Ibrani adalah Taurat, dan Taurat jika diarabkan adalah Alquran, padahal menurut kalian ia adalah makna yang satu.
Atas dasar ini kalian harus menerima bahwa ayat Ad-Dain (ayat tentang utang) adalah ayat Kursi, dan “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah ia” (Al-Masad: 1) adalah “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa” (Al-Ikhlas: 1), dan ilmu adalah qudrah (kekuasaan), dan seluruh sifat-sifat demikian juga. Bahkan mungkin itu menyeret kalian kepada yang lebih parah dan lebih dahsyat.
Jumhur orang-orang berakal berkata kepada mereka: Jika kalian membolehkan bahwa hakikat berita adalah hakikat perintah, dan hakikat larangan dari setiap yang dilarang, dan perintah terhadap setiap yang diperintahkan adalah hakikat berita tentang setiap yang diberitakan, maka bolehkanlah bahwa hakikat ilmu adalah hakikat qudrah (kekuasaan), dan hakikat qudrah adalah hakikat iradah (kehendak).
Syaikhul Islam berkata: “Maka para ahli mereka mengakui bahwa ini adalah konsekuensi logis yang harus mereka terima dan tidak dapat mereka hindari.”
Dan beliau berkata di tempat lain: “Maka para imam dari pandangan ini mengakui bahwa konsekuensi logis ini tidak memiliki jawaban rasional bagi mereka.”
Beliau berkata: “Dan mereka terpaksa menerima kemungkinan bahwa hakikat zat adalah hakikat sifat-sifat, dan hakikat wujud wajib adalah hakikat wujud yang mungkin. Sekelompok dari mereka menerima hal ini, lalu mereka berkata: Wujud itu satu, dan wujud wajib yang qadim (tidak berpermulaan) yang Maha Pencipta adalah wujud yang mungkin yang diciptakan yang baru. Inilah asal dari orang-orang yang mengatakan wahdatul wujud (kesatuan wujud), seperti Ibnu Arabi ath-Tha’i, Ibnu Sab’in, dan para pengikut mereka.”
Saya katakan: Di antara hal yang merusak bid’ah mereka dalam keyakinan mereka bahwa kalam Allah adalah satu makna, adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata: Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: Berikan kami sesuatu yang bisa kami tanyakan kepada orang ini (Nabi Muhammad)? Mereka berkata: Tanyakan kepadanya tentang roh. Maka mereka bertanya, lalu turunlah: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra’: 85), mereka berkata: Kami telah diberi ilmu yang banyak, kami telah diberi Taurat, dan barangsiapa yang diberi Taurat sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan: “Katakanlah: Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu” sampai akhir ayat (Al-Isra’: 109).
Hadits ini menunjukkan bahwa Taurat adalah sebagian dari kalam Allah, bukan seluruh kalamNya, dan sebagian dari ilmu Allah, bukan seluruh ilmuNya. Nabi kita shallallahu alaihi wasallam diberi ilmu yang tidak ada dalam Taurat, karena sesungguhnya kalimat-kalimat Allah tidak terbatas.
Dan ini tidak sesuai dengan kaidah dan prinsip-prinsip Asy’ariyah, karena makna Taurat dan Al-Qur’an adalah satu makna, dan perbedaannya hanya pada bahasa.
Yang keempat: Kalian wahai kaum Asy’ariyah mengakui bahwa Musa mendengar kalam Allah, meskipun kalian berbeda pendapat tentang makna mendengar. Apakah Musa mendengar seluruh makna atau sebagiannya? Jika kalian berkata: Dia mendengar seluruh makna, maka kalian telah mengucapkan kekufuran, karena kalian mengklaim bahwa Musa menguasai ilmu Allah dan kalamNya yang tidak terbatas, sedangkan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Dia kehendaki” (Al-Baqarah: 255).
Dan jika kalian berkata: Dia mendengar sebagiannya, maka kalian telah membatalkan prinsip kalian sendiri, karena menurut kalian kalam tidak dapat terbagi-bagi.
Dan inilah yang digunakan oleh mayoritas orang-orang berakal untuk menyanggah mereka.
Saya telah melihat perdebatan yang bagus tentang sanggahan ini yang terjadi antara al-Hafizh al-Imam Abu Nashr as-Sijzi dengan sebagian kaum Asy’ariyah, yang baik untuk dikemukakan karena mengandung faedah.
Al-Hafizh Abu Nashr berkata dalam perdebatan itu: “…Maka saya berkata kepada lawan bicara saya yang Asy’ari, kita semua telah tahu bahwa hakikat mendengar kalam Allah secara langsung dariNya menurut prinsip kalian adalah mustahil, dan tidak ada orang di sini yang kalian takuti atau kalian khawatir celaan mereka. Sesungguhnya madzhab kalian adalah bahwa Allah memahami kalamNya kepada siapa yang Dia kehendaki dengan cara yang halus dariNya, sehingga orang itu menjadi mengetahui dan yakin bahwa yang dipahaminya adalah kalam Allah. Apa yang ingin saya sanggah kepada kalian berlaku pada pemahaman sebagaimana berlaku pada pendengaran. Maka tinggalkanlah kebohongan dan pura-pura. Apa pendapatmu tentang Musa alaihissalam ketika Allah berbicara kepadanya? Apakah dia memahami kalam Allah secara mutlak ataukah terbatas?
Maka dia ragu-ragu sebentar, lalu berkata: Apa maksudmu dengan ini?
Saya katakan: Tinggalkan maksudku, dan jawablah dengan apa yang ada padamu.
Maka dia menolak dan berkata: Apa maksudmu dengan ini?
Saya katakan: Maksudku adalah jika kamu berkata: Sesungguhnya Musa alaihissalam memahami kalam Allah secara mutlak, maka itu mengharuskan bahwa tidak ada kalam Allah dari azal hingga abad melainkan telah dipahami oleh Musa, dan ini berujung pada kekufuran, karena Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Dia kehendaki”. Seandainya hal itu boleh, niscaya orang yang memahami kalam Allah akan menjadi mengetahui yang gaib dan apa yang ada dalam diri Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala telah menafikan hal itu dengan apa yang Dia kabarkan tentang Isa alaihissalam bahwa dia berkata: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib” (Al-Ma’idah: 116).
Dan jika tidak boleh mengatakan secara mutlak, maka kamu terpaksa berkata: Allah memahami kepadanya apa yang Dia kehendaki dari kalamNya, maka kamu jatuh pada pembagian yang kamu lari darinya dan kamu kafirkan orang yang mengatakannya. Lawanmu lebih beruntung darimu, karena dia berkata dengan apa yang ditunjukkan oleh nash dari Allah Azza wa Jalla dan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sedangkan kamu menolak untuk menerima itu dan mengklaim bahwa wajib kembali kepada keputusan akal dalam bab ini, padahal akal telah mengembalikanmu untuk menyetujui nash dengan hina.
Maka dia berkata: Ini memerlukan perenungan. Dan percakapan terputus.”
Yang kelima: Makna yang abstrak tidak dapat didengar menurut kesepakatan orang-orang berakal.
Syaikhul Islam berkata: “Dan makna yang abstrak tidak dapat didengar, dan barangsiapa berkata bahwa ia dapat didengar, maka dia membantah kenyataan.”
Dan Musa alaihissalam mendengar kalam Allah, demikian pula dia mendengar seruanNya. Seruan tidak bisa kecuali berupa suara yang dapat didengar. Syaikhul Islam berkata: “Tidak dapat dipahami dalam bahasa Arab lafazh seruan tanpa suara yang dapat didengar, baik secara hakiki maupun majazi.” Dan ini telah kami jelaskan di bab pertama.
Namun mayoritas Asy’ariyah menolak menyerahkan bahwa Musa mendengar kalam Allah secara hakiki, maka mereka berkata: Sesungguhnya dia hanya mendengar ungkapan tentang kalam Allah.
Abu Bakar Ibnu Furak berkata—salah satu tokoh mereka—: “Makna Allah Azza wa Jalla berbicara kepada makhlukNya adalah: Dia memahami kepada mereka kalamNya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, baik dengan memperdengarkan ungkapan yang menunjukkan maksudNya, atau dengan menciptakan pemahaman yang Dia ciptakan di hati mereka sehingga mereka memahami apa yang Dia kehendaki untuk mereka pahami. Semua itu boleh dan mungkin, dan itulah makna bagaimana Allah Ta’ala berbicara kepada hamba saat penghisaban.”
Dan barangkali sebagian dari mereka menyatakan bahwa Musa alaihissalam mendengar kalam Allah lalu diam, dan ini adalah hal yang sangat serius, untuk menipu dan membingungkan orang-orang awam yang tidak tahu madzhab mereka.
Dan barangkali sebagian dari mereka terang-terangan bahwa dia sama sekali tidak mendengar, dia hanya mendengar makna, sebagaimana yang dikatakan al-Baqillani. Ini adalah pembantahan yang nyata. Sungguh mengherankan orang yang mengklaim mendalami rasional dan menguasainya namun dia datang dengan kebodohan seperti ini!
Yang keenam: Allah Ta’ala telah membedakan antara tingkatan berbicara kepada para rasulNya, maka Dia berfirman: “Dan tidak mungkin bagi seorang manusia Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izinNya apa yang Dia kehendaki” (Asy-Syura: 51).
Jika kalam itu adalah satu makna, maka tidak ada perbedaan antara Allah berbicara kepada Musa dengan wahyu kepada yang lain, dan tidak ada perbedaan antara berbicara dari belakang tabir dengan berbicara dengan wahyu, karena memahami makna yang abstrak sama untuk semua nabi alaihimussalam. Dalam menghitung semua itu sebagai satu makna adalah penolakan terhadap Al-Qur’an.
Yang ketujuh: Dalam ucapan mereka bahwa kalam itu adalah makna, ada pembatalan agama kaum muslimin bahwa Al-Qur’an Arab ini dengan lafazh dan maknanya adalah kalam Allah Ta’ala secara hakiki. Dan mereka terang-terangan menyatakan hal ini, maka mereka berkata: Al-Qur’an Arab adalah ungkapan tentang kalam Allah dan menunjukkan kepadanya, bukan kalam Allah secara hakiki, karena kalamNya Ta’ala tidak terpisah dariNya, sedangkan Al-Qur’an ini terpisah dariNya. Demikianlah ucapan mereka, dan akan datang penjelasan tentang itu.
Kumpulan sanggahan ini cukup bagi orang yang cerdas untuk membatalkan keyakinan rusak ini yang bertentangan dengan yang rasional dan yang dinukil, serta ijma’ orang-orang berakal sebelum Ibnu Kullab.
Syaikhul Islam berkata: “Dan orang-orang yang cerdas dari pengikut al-Asy’ari mengakui lemahnya konsekuensi logis dari pendapat ini meskipun mereka membela banyak pendapatnya yang lemah.”
Dan telah muncul dari prinsip yang rusak ini dua bid’ah yang buruk:
Bid’ah Pertama: Kalam Allah Bukan Berupa Huruf dan Bukan Berupa Suara
Ketika kaum Asy’ariyah berpendapat bahwa kalam adalah makna yang abstrak, mereka lari dari mensifatinya dengan huruf dan suara, karena huruf dan suara menurut mereka tidak ada kecuali yang diciptakan. Maka mereka mensucikan kalam Allah Ta’ala dari berupa huruf atau suara—menurut anggapan mereka—lalu mereka berkata: Itu adalah kalam nafsi, dan huruf-huruf hanya diciptakan untuk menunjukkan kepadanya, dan suara diciptakan untuk pemberitahuan dan pemahaman.
Al-Baqillani yang merupakan tokoh mereka berkata: “Dan wajib diketahui bahwa Allah Ta’ala tidak bersifat kalam qadimNya dengan huruf dan suara, dan tidak dengan sesuatu pun dari sifat-sifat makhluk.”
Ibnu Furak berkata: “Dan kalam al-Bari (Sang Pencipta) bukan berupa huruf, melainkan ia adalah makna yang ada yang berdiri pada zatNya, yang didengar dan dipahami makna-maknanya dengannya, dan huruf-huruf menjadi dalil-dalil kepadanya, sebagaimana tulisan menjadi tanda-tanda kalam dan dalil-dalil kepadanya. Sebagaimana kita memahami yang berbicara tanpa tempat keluar dan tanpa alat, demikian pula kita memahami kalamnya bukan berupa huruf dan bukan berupa suara.”
Dan al-Ghazali berkata—dan tidak tersembunyi kedudukannya di antara mereka—dalam menjelaskan sifat kalam: “Dan bahwa Dia berbicara, memerintah, melarang, menjanjikan, mengancam, dengan kalam azali qadim yang berdiri pada zatNya, tidak menyerupai kalam makhluk. Maka bukan berupa suara yang terjadi dari keluarnya udara dan benturan benda-benda, dan bukan berupa huruf yang terputus dengan menutup bibir atau menggerakkan lidah.”
Dan penulis Kifayatul Awam berkata: “Kalam: yaitu sifat qadim yang berdiri pada zatNya Ta’ala, bukan huruf dan bukan suara, tersucikan dari mendahului dan mengikuti serta dari i’rab (perubahan akhir kata) dan bina (bentuk tetap), berbeda dengan kalam makhluk.”
Dan seperti ini ucapan penulis Syarh al-Jauharah.
Mereka mengembalikan pendapat tentang mensucikan kalam Allah dari berupa huruf dan suara kepada beberapa dalil yang mereka kira dari yang rasional, dibangun di atas prinsip-prinsip Jahmiyah, yang menurut mereka adalah tanda-tanda baru dan diciptakannya huruf dan suara. Maka mereka ingin mensucikan Rabb Ta’ala dari menyerupai sifat makhluk, lalu hal itu memaksa mereka untuk menyetujui Jahmiyah dalam hakikat ucapan mereka.
Dan dalil-dalil mereka yang paling penting adalah:
Pertama: Bahwa huruf-huruf berurutan dan berturut-turut, sebagian mendahului sebagian dan sebagian mengikuti sebagian.
Kedua: Bahwa huruf-huruf tidak bisa kecuali dengan tempat-tempat keluar dari lidah, bibir, tenggorokan, dan rongga.
Al-Baihaqi berkata—dan dia bersama mereka meskipun keagungannya dalam fikih dan hadits—: “Jika yang berbicara memiliki tempat keluar, maka kalamnya didengar berupa huruf dan suara. Dan jika yang berbicara tidak memiliki tempat keluar, maka kalamnya didengar bukan berupa huruf dan bukan berupa suara. Dan al-Bari (Sang Pencipta) Jalla Tsana’uhu (Maha Tinggi pujianNya) bukan memiliki tempat keluar, dan kalamNya bukan huruf dan bukan suara. Maka jika kita memahaminya lalu kita membacanya, kita membacanya dengan huruf dan suara.”
Ketiga: Bahwa huruf dan suara adalah dari sifat bacaan pembaca, bukan dari sifat kalam al-Bari (Sang Pencipta).
Dan dalilnya adalah hadits Ummu Salamah tentang sifat bacaan Nabi shallallahu alaihi wasallam: …Beliau memotong bacaannya ayat demi ayat, sehingga jika penghitung ingin menghitungnya, dia bisa menghitungnya.
Maka penghitungan dan batasan hanya terjadi pada yang diciptakan, bukan pada sifat Sang Pencipta.
Keempat: Bahwa huruf-huruf terbatas dan berbatas, memiliki awal dan akhir, dan awal dan akhir. Sedangkan kalam Allah yang qadim tidak demikian, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku” (Al-Kahfi: 109). Dan jamak kata kalimat di sini bukan untuk bilangan dan banyak melainkan untuk pengagungan.
Kelima: Bahwa huruf-huruf ini satu menurut konvensi. Alif adalah alif, Sin adalah Sin. Maka huruf-huruf yang digunakan sebagai ungkapan untuk kalam Allah adalah huruf-huruf yang sama yang digunakan makhluk untuk berbicara. Jika kita berkata: Huruf-huruf itu tidak diciptakan, maka kita mengatakan semua kalam makhluk itu qadim.
Yang keenam: bahwa suara mustahil kekal sebagaimana mustahilnya kekalnya gerakan, dan apa yang mustahil kekalnya maka mustahil pula keqadiman zatnya.
Inilah alasan-alasan yang paling penting yang dipegang oleh kaum Kullabiyah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah untuk membatalkan kalam Allah berupa huruf dan suara. Dengan itu mereka menolak Al-Qur’an, Sunnah, dan keyakinan Salaf serta para Imam. Mereka merobek kesepakatan orang-orang berakal dari Ahli Sunnah dan lainnya. Ketika kaum Mu’tazilah memaksa mereka dengan mengatakan bahwa kesepakatan telah terjadi bahwa kalam itu berupa huruf dan suara, yang mengandung urutan dan susunan, dan itu tidak ditemukan dalam yang dapat disaksikan kecuali dengan gerakan dan diam, dan pasti memiliki bagian-bagian dan unsur-unsur, lalu mereka berkata: Sifat ini tidak boleh menjadi sifat bagi Zat Allah Ta’ala. Maka sempit jadinya jalan bagi kaum Asy’ariyah pada tuntutan ini, lalu mereka menerimanya karena ketidaktahuan terhadap Sunnah, dan penyerahan diri kepada akal semata, yang seandainya bebas dari hawa nafsu dan prasangka, dan diperintah oleh keikhlasan, keteguhan, dan ketaatan, niscaya akan menghentikan mereka di pantai keselamatan. Tetapi mereka menjadikannya hakim atas apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akal itu membinasakan mereka dan menjauhkan mereka.
Semua yang mereka kaburkan adalah keberatan terhadap kebenaran yang mutawatir dengan prasangka-prasangka akal yang dasarnya adalah qiyas (analogi) terhadap makhluk. Sungguh kaum itu banyak mencela kaum Mu’tazilah dengan bid’ah ini, yang merupakan penyerupaan pada asalnya yang berujung pada peniadaan, yaitu mengqiyaskan yang gaib kepada yang nyata, dan mereka menjelek-jelekkan mereka karena itu. Padahal mereka sendiri telah menyerahkan kepada kaum Mu’tazilah prasangka-prasangka dan hawa nafsu mereka yang mereka anggap sebagai pemikiran akal, padahal sebenarnya adalah kebodohan, karena mengandung keburukan dan perkataan tentang Allah tanpa ilmu, serta mengqiyaskan Pencipta kepada makhluk. Maka mereka membatalkan hakikat kalam berupa huruf dan suara, dan berakhir keadaan mereka pada pengingkaran bahwa ini adalah sifat kalam Allah Ta’ala. Dengan ini mereka menyelisihi keyakinan Salaf dan keluar dari manhaj Ahli Sunnah.
Berikut ini jawaban-jawaban ringkas tentang syubhat-syubhat ini, yang menjelaskan kebodohan kaum itu terhadap hakikat-hakikat tauhid:
Adapun yang pertama:
Kenyataan bahwa urutan dan keberuntutan dalam kalam Allah adalah dalil atas kebaruan adalah argumen akal yang rusak, yang dalam hal ini mereka mengikuti kaum Mu’tazilah Jahmiyyah. Dan mereka tidak menetapkannya dari sumber yang ma’shum, melainkan hanya pendapat yang rusak. Dan saya telah menjelaskan kebatilannya dalam pembahasan bantahan terhadap syubhat-syubhat Mu’tazilah.
Adapan yang kedua:
Bahwa huruf dan suara tidak ada kecuali dengan makhraj (tempat keluar) adalah salah satu keberatan mereka yang paling rusak. Itu dari beberapa segi:
Pertama: bahwa itu adalah qiyas Rabb Ta’ala kepada makhluk. Mereka membayangkan kalam makhluk bahwa itu tidak ada kecuali dengan makhraj, lalu mereka mengatakan hal yang sama terhadap Rabb mereka. Ini adalah pelanggaran terhadap kaidah Ahli Sunnah dalam tanzih (penyucian) “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Asy-Syura: 11).
Kedua: konsekuensi bagi mereka adalah perkataan Mu’tazilah dalam seluruh sifat-sifat lainnya. Mereka menetapkan ilmu, pendengaran, penglihatan, dan sifat-sifat semacam itu bagi Allah Ta’ala. Makhluk juga memiliki sifat-sifat itu, dan pada makhluk itu tidak ada kecuali dengan alat. Ilmu tidak terwujud kecuali dengan hati, penglihatan tidak ada kecuali dengan bola mata, dan pendengaran tidak terjadi kecuali dengan lubang. Kaum Mu’tazilah telah menuntut mereka dengan ini, lalu mereka menjawab: Bahwa ini termasuk qiyas yang gaib kepada yang nyata, dan itu batil. Allah Ta’ala tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya. Mengapa mereka tidak mengatakan hal yang sama tentang sifat kalam, bahwa itu berupa huruf dan suara, tidak menyerupai kalam-Nya dengan kalam makhluk-Nya, dan tidak pula suara-Nya dengan suara-suara mereka?
Ketiga: bahwa Allah Ta’ala memberikan kemampuan berbicara kepada sebagian makhluk-Nya tanpa makhraj. Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai berbicara'” (Fushshilat: 21). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar tasbih kerikil, sebagaimana yang dikenal dan masyhur. Maka batillah apa yang mereka tetapkan bahwa kalam berupa huruf dan suara tidak ada kecuali dengan makhraj, dan terbukti bahwa itu dapat dipahami.
Adapun yang ketiga:
Bahwa huruf adalah sifat bacaan pembaca adalah pengingkaran terhadap indera dan akal. Sungguh bacaan (qira’ah) pada umumnya digunakan untuk mashdar (kata dasar), dan mungkin dimaksudkan dengannya adalah maf’ul (objek) – sebagaimana telah saya jelaskan di Bab Kedua – dan kaum Asy’ariyah membedakan antara qira’ah (bacaan) dan maqru’ (yang dibaca) secara mutlak. Qira’ah adalah perbuatan pembaca, dan maqru’ adalah objek. Dan dalam penggunaan ini sebagian Ahli Sunnah seperti Al-Bukhari rahimahullah menyetujui mereka. Tetapi maksud mereka berbeda dengan maksudnya, dan penjelasan mereka berbeda dengan penjelasannya. Beliau rahimahullah memiliki kekuatan dalam perkataannya dari sisi bahasa. Dan ulama Sunnah seperti Imam Ahmad dan lainnya mengingkari penggunaan ini untuk menolak kesamaran dan kerancuan yang dikaburkan oleh kaum Jahmiyyah. Al-Bukhari merinci antara qira’ah dan maqru’, maka ia mengkhususkan qira’ah dengan perbuatan pembaca, yaitu gerakan bibirnya dan suaranya dengan Al-Qur’an. Sedangkan maqru’ adalah apa yang digerakkan dengannya bibir-bibir, diucapkan dengannya lisan-lisan, disuarakan dengannya kerongkongan-kerongkongan, yaitu Al-Qur’an Arab yang tersusun dari huruf dan makna, dan yang merupakan kalam Allah secara hakiki. Apa yang dimaksud Al-Bukhari dari makna ini adalah benar dan tepat. Saya telah menyebutkannya darinya di Bab Kedua, dan menjelaskan kesalahan kaum Lafzhiyyah Asy’ariyah terhadapnya di sana.
Menurut kaum Asy’ariyah, qira’ah dan tilawah adalah perbuatan pembaca dan yang membaca, dan mereka berkata: Huruf-huruf termasuk dalam tilawah orang yang membaca dan qira’ah pembaca, dan itu bukan yang dibaca dan yang dibaca (maqru’). Maka mereka menjadikan huruf dari sifat bacaan, bukan dari sifat yang dibaca, karena yang dibaca menurut mereka berdiri pada Zat Allah, yaitu kalam nafsi (kalam dalam diri), dan bacaan adalah ungkapan darinya, yaitu huruf-huruf Arab ini yang diucapkan oleh lisan-lisan, dihafal oleh hati-hati, dan ditulis oleh tangan-tangan di dalam mushaf-mushaf.
Ini adalah hal yang paling jauh dari akal sehat. Sesungguhnya orang Arab dan setiap orang hanya mengenal huruf sebagai sifat kalam, bukan sebagai sifat yang berbicara. Perbuatan yang berbicara hanyalah mengucapkannya, mengangkat suaranya atau merendahkannya, menulisnya, menghafalnya, dan semacam itu yang merupakan perbuatan dirinya. Dan makna-makna inilah yang disifati dengan baik dan buruk, dan padanya didasarkan pahala atau siksa.
Adapun huruf-huruf yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan disampaikan kepada umatnya, maka itu adalah wahyu Allah, tanzil-Nya, dan kalam-Nya yang turun dengannya Jibril dari sisi-Nya Ta’ala. Sungguh Jibril turun dengannya dari sisi Allah Ta’ala dengan tujuh huruf sebagai keringanan bagi umat dan kemudahan, dan semua itu adalah kalam-Nya ‘Azza wa Jalla secara hakiki.
Sungguh sebagian orang yang disifati dengan tahqiq dari para pemuka Asy’ariyah berusaha memperbanyak dalil dari Al-Kitab dan Sunnah tentang perbedaan antara tilawah dan yang dibaca (matlu). Tetapi semuanya menurut madzhab Al-Bukhari rahimahullah yang telah kami sebutkan darinya. Adapun menurut tafsir kaum Asy’ariyah sendiri dalam menghitung huruf-huruf Arab sebagai sifat bacaan bukan sebagai sifat yang dibaca, maka mereka tidak mampu mendatangkan satu hujjah pun yang dapat diandalkan, selain asas mereka yang rusak yang telah kami batalkan dalam apa yang mereka namakan (kalam nafsi).
Hadits Umm Salamah yang mereka sebutkan adalah hujjah atas mereka. Sungguh pengucapan huruf di sini berbeda dengan huruf. Bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Umm Salamah di sini adalah pengucapannya terhadap huruf dan penampilannya untuknya, dan itu adalah perbuatannya ‘alaihissalam, dan itu makhluk. Adapun huruf-huruf yang dia ucapkan dan tampilkan, yang seandainya penghitung ingin menghitungnya dia dapat menghitungnya, karena kejelasan penampilannya dan penjelasannya, maka itu adalah huruf-huruf kalam Allah Arab yang diturunkan dari sisi-Nya, dan itu tidak diciptakan. Pemisahan antara huruf dan pengucapan dengannya ini jelas dan tidak tersembunyi.
Tetapi kaum itu kesempitan dengan perkataan Umm Salamah: “Dan seandainya penghitung ingin menghitungnya dia dapat menghitungnya”. Maka mereka berada di antara dua perkara:
Pertama, menetapkan bahwa apa yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalam Allah yang merupakan sifat-Nya, lalu membatalkan asas mereka, karena kalam Allah menurut mereka tidak terbatas dan tidak dapat dihitung dan bukan ayat-ayat dan surat-surat.
Atau kedua, mengatakan: Huruf adalah sifat bacaan pembaca. Dan mereka melihat ini lebih sesuai dengan madzhab mereka, lalu mereka menentang dan berkata: Itu adalah sifat bacaan pembaca, bukan sifat kalam Pencipta.
Adapun mendeskripsikan kalam Allah dengan suara, maka sungguh mereka buta terhadap pemahaman fiqhnya, dan sesat dari pengetahuannya. Mereka mengira bahwa perkataan Ahli Sunnah dengan menetapkan kalam Allah Ta’ala dengan suara adalah penetapan bahwa suara-suara pembaca adalah sifat kalam Allah – sebagaimana mereka mencela Ahli Sunnah karenanya, dan memberi mereka julukan karenanya – dan mereka berusaha karena pemahaman yang buruk ini untuk berdalil dengan dalil-dalil penisbatan suara kepada pembaca, dan menjadikannya dari perbuatannya. Ahli Sunnah dan para Imam tidak berbeda pendapat dalam makna ini. Sungguh suara-suara para pembaca Al-Qur’an adalah dari perbuatan mereka, dan itu dinisbatkan kepada mereka, dan perbuatan mereka adalah makhluk. Saya telah menjelaskan keyakinan Ahli Sunnah dalam hal itu di akhir Bab Kedua dengan kesimpulan ini. Salaf dan para Imam tidak mengatakan: bahwa suara-suara para pembaca adalah sifat kalam Allah, dan siapa yang mengatakan itu dan meriwayatkannya dari mereka maka sungguh dia telah salah dalam perkataan.
Tetapi suara yang merupakan sifat kalam Allah Ta’ala adalah yang didengar oleh Musa ketika Rabbnya memanggilnya dan berbicara kepadanya, dan didengar oleh Jibril ‘alaihissalam ketika diwahyukan kepadanya wahyu, dan akan didengar oleh para hamba pada hari kiamat. Dan itulah yang kami tetapkan dalam keyakinan Salaf di Bab Pertama dari kitab ini.
Sebagian kaum Asy’ariyah telah memahami makna yang terakhir ini – yang merupakan keyakinan Salaf dan para Imam – lalu mereka melihat bahwa itu tidak sesuai dengan asas mereka tentang kalam Allah sebagai makna yang abstrak, maka mereka mengingkarinya, dan berkata: Kalam Allah tidak mungkin dengan suara. Dengan itu mereka membatalkan dalil-dalil Al-Kitab, Sunnah, dan akal yang sharih atas kebenaran makna ini, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam penjelasan mereka tentang pendengaran Musa ‘alaihissalam terhadap kalam Allah.
Dan tidak perlu di sini menyebutkan dalil-dalil Al-Kitab, Sunnah, dan akal yang sharih untuk menetapkan bahwa kalam Allah Ta’ala berupa huruf, dan bahwa Dia berbicara dengan suara, cukup dengan apa yang telah kami paparkan untuk itu di Bab Pertama.
Adapun yang keempat:
Bahwa huruf itu terbatas, memiliki awal dan akhir, permulaan dan penghabisan, mereka mengemukakannya dalam dua makna:
Pertama: tentang jumlah huruf-huruf Arab yang merupakan huruf-huruf mu’jam (huruf abjad).
Kedua: tentang kalam Arab yang ada di antara dua sampul mushaf yang dimulai dengan Al-Fatihah dan diakhiri dengan An-Nas.
Mereka berkata: Dan semua ini terbatas dan terhitung, dan ini adalah tanda kebaruan (bahwa sesuatu itu baru, bukan qadim).
Kami katakan: Tidak, bahkan kedua pertanyaan itu batil.
Adapun yang pertama, tidak ada seorang pun yang mengatakan: bahwa kalam Allah Ta’ala adalah huruf-huruf yang terpisah: a, b, t… melainkan ia adalah kalam yang tersusun dari huruf-huruf tersebut, dan jumlahnya lebih dari yang dapat dihitung atau dibatasi, sebagaimana tidak tersembunyi.
Jika ada yang menyanggah dengan huruf-huruf yang ada di awal-awal beberapa surat, seperti Alif Lam Mim (QS. Al-Baqarah: 1), maka jawabannya: bahwa ini tidak diucapkan sebagai huruf, melainkan diucapkan sebagai nama, maka kita mengatakan: (Alif, Lam, Mim) dan ini adalah kalam yang tersusun, dan saya telah menjelaskan hal ini di bab pertama, dan menghilangkan kerancuannya dengan karunia Allah.
Adapun yang kedua, maka ia dibangun di atas bid’ah Asy’ariyah yang kedua yang merupakan hasil dari prinsip mereka yang rusak tentang kalam, yaitu tidak terkaitnya kalam-Nya Ta’ala dengan kehendak dan pilihan-Nya, karena menurut mereka kalam itu tidak terbagi, tidak terpecah, dan tidak terpisah-pisah, dan ini bertentangan dengan keyakinan Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf dan para imam, karena menurut mereka kalam itu terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya, Dia berbicara jika Dia menghendaki dengan apa yang Dia kehendaki, dan Al-Qur’an –misalnya– yang dibuka dengan Al-Fatihah dan ditutup dengan An-Nas adalah sebagian dari kalam-Nya yang tidak terbatas, bukan seluruh kalam-Nya.
Dan akan segera disebutkan bid’ah mereka ini dan bantahannya.
Adapun yang kelima:
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya dalam hal kerusakan dan kebatilan atau bahkan lebih parah, yaitu bahwa kaum tersebut mengatakan secara mutlak tentang penciptaan huruf-huruf mu’jam (huruf hijaiyah), maka ketika mereka melihat kalam Allah dalam bahasa Arab tersusun darinya, mereka berkata: tidak mungkin kecuali makhluk, karena huruf-huruf itu makhluk. Dan pernyataan mutlak ini mereka tidak memiliki dalil atasnya, dan hal semacam ini memerlukan penetapan (dari wahyu), dan klaim yang telah dilontarkan tidak dapat diandalkan dalam tempat-tempat perselisihan, maka bagaimana keyakinan dapat berdiri di atas dasarnya?
Dan pemisah dalam masalah ini adalah: bahwa kalam hanya dinisbahkan kepada orang yang mengatakannya secara langsung dan pertama kali, maka kalam Allah Ta’ala dinisbahkan kepada-Nya, dan itu adalah sifat-Nya, maka ia bukan makhluk, karena sifat-sifat-Nya Ta’ala bukan makhluk, dan kalam makhluk yang dia ciptakan dari dirinya sendiri dan dia mulai sendiri dinisbahkan kepadanya, dan ia makhluk, karena sifat itu mengikuti yang disifati, maka ketika ia untuk Sang Pencipta maka ia bukan makhluk, dan ketika ia untuk makhluk maka ia makhluk. Maka jika ada yang berkata: “Muhammad adalah utusan Allah” ini adalah kalam, Allah Ta’ala telah berfirman dengannya, dan makhluk mengucapkannya dari dirinya sendiri tidak bermaksud Al-Qur’an dengannya, maka dalam kondisi pertama ia bukan makhluk, karena yang dimaksud dengannya adalah kalam Allah, dan dalam kondisi kedua ia makhluk, karena yang dimaksud adalah kalam dirinya sendiri.
Menjelaskannya adalah sifat ilmu (pengetahuan), maka ilmu makhluk yang dia peroleh –selain wahyu Allah dan turunnya– adalah makhluk, dan ia diketahui oleh Allah Ta’ala, ilmu Allah Ta’ala meliputi dan mencakupnya, maka dengan pertimbangan penisbatannya kepada makhluk maka ia makhluk, dan dengan pertimbangan penisbatannya kepada Sang Pencipta maka bukan makhluk, dan Allah Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, maka tidak ada kalam seperti kalam-Nya, tidak ada suara seperti suara-Nya, dan tidak ada perbuatan seperti perbuatan-Nya.
Syaikhul Islam berkata: “Dan asal masalah ini adalah bahwa apa yang Allah disifati dengannya dan hamba-hamba disifati dengannya, Allah disifati dengannya sesuai dengan yang layak bagi-Nya, dan hamba-hamba disifati dengannya dengan yang layak bagi mereka dari itu, seperti kehidupan, ilmu, kuasa, pendengaran, penglihatan, dan kalam. Maka sesungguhnya Allah memiliki kehidupan, ilmu, kuasa, pendengaran, penglihatan, dan kalam, maka kalam-Nya mengandung huruf-huruf, dan Dia berbicara dengan suara-Nya sendiri, dan hamba memiliki kehidupan, ilmu, kuasa, pendengaran, penglihatan, dan kalam, dan kalam hamba mengandung huruf-huruf, dan ia berbicara dengan suaranya sendiri.
Maka sifat-sifat ini memiliki tiga pertimbangan:
Kadang-kadang dipandang disandarkan kepada Rabb.
Kadang-kadang dipandang disandarkan kepada hamba.
Dan kadang-kadang dipandang mutlak tidak khusus untuk Rabb dan tidak pula untuk hamba.
Maka jika hamba berkata: kehidupan Allah, ilmu Allah, kuasa Allah, kalam Allah, dan semacam itu, maka semua ini bukan makhluk, dan tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.
Dan jika dia berkata: ilmu hamba, kuasa hamba, kalam hamba, maka semua ini makhluk, dan tidak menyerupai sifat-sifat Rabb. Dan jika dia berkata: ilmu, kuasa, dan kalam, maka ini adalah ungkapan umum yang mutlak, tidak dikatakan tentang semuanya: bahwa ia makhluk, dan tidak pula bahwa ia bukan makhluk, akan tetapi apa yang Allah disifati dengannya dari itu maka ia bukan makhluk, dan apa yang hamba disifati dengannya dari itu maka ia makhluk, maka sifat itu mengikuti yang disifati, jika yang disifati adalah Sang Pencipta maka sifat-sifat-Nya bukan makhluk, dan jika yang disifati adalah hamba yang makhluk maka sifat-sifatnya makhluk.”
Dan telah disebutkan sebelumnya ucapan Imam Ahmad dalam hal itu, ketika Al-Hafizh Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi bertanya kepadanya, dia berkata: Saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya manusia telah terjatuh dalam persoalan Al-Qur’an, maka bagaimana saya harus berkata? Beliau berkata: “Bukankah engkau makhluk?” Saya berkata: Ya. Beliau berkata: “Maka kalammu darimu makhluk?” Saya berkata: Ya. Beliau berkata: “Bukankah Al-Qur’an dari kalam Allah?” Saya berkata: Ya. Beliau berkata: “Dan kalam Allah?” Saya berkata: Ya. Beliau berkata: “Maka mungkinkah dari Allah ada sesuatu yang makhluk?!”
Saya katakan: Dan perbedaan ini tidak tersembunyi.
Adapun yang keenam:
Maka ia adalah qiyas (analogi) yang jelas terhadap sifat Sang Pencipta dengan sifat makhluk, dan penentuan sifat-Nya, dan ini dibantah dengan kaidah Sunniyah Salafiyah: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11).
Maka ini adalah jawaban-jawaban yang membantah keseluruhan keraguan dan pengelabuan yang dikemukakan oleh Asy’ariyah dan orang-orang yang sependapat dengan mereka, dan ini memberitahukan kepadamu tentang betapa besarnya pertentangan kaum tersebut.
Dan mereka memiliki banyak pertentangan dalam merinci hal itu, tetapi rujukan semua itu kembali kepada apa yang telah saya jelaskan.
- Bid’ah Kedua: Bahwa Allah Ta’ala tidak berbicara dengan kehendak dan pilihan-Nya:
Telah saya jelaskan dalam keyakinan Salaf para imam dari Ahlus Sunnah tentang keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan kehendak dan pilihan-Nya, yaitu kapan pun Dia menghendaki Dia berbicara, dan kapan pun Dia menghendaki Dia tidak berbicara, Dia berbicara dengan kalam setelah kalam, maka Dia adalah Yang Berbicara secara azali dan abadi, Dia berbicara sebelum penciptaan makhluk, dan setelah penciptaan mereka, dan Dia berbicara kepada siapa yang Dia kehendaki dari malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya di dunia, dan Dia akan berbicara kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya di akhirat, dan sifat kalam tetap bagi-Nya secara azali dan abadi, dan semua itu terjadi secara hakiki bukan secara majazi. Dan itu karena Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan setiap sifat kesempurnaan yang tidak ada kekurangan padanya maka Allah memiliki sifat tersebut, dan kalam adalah sifat kesempurnaan, karena sesungguhnya orang yang berbicara lebih sempurna daripada orang yang tidak berbicara, dan yang berbicara dengan kehendak dan kuasa-nya lebih sempurna daripada yang tidak berbicara dengan kehendak dan kuasa-nya, dan Dia itu pasti mampu berbicara atau tidak mampu, jika Dia tidak mampu maka Dia adalah yang bisu, dan jika Dia mampu dan tidak berbicara sama sekali kecuali jika dimungkinkan atau diminta berbicara maka Dia tidak berbicara dengan kehendak dan pilihan-Nya, dan bukan ini dan bukan itu adalah sifat bagi Allah.
Dan keyakinan ini tidak diakui oleh Asy’ariyah, karena apa yang terkait menurut mereka dengan kehendak dan pilihan itu makhluk, dan Allah Ta’ala tidak berdiri pada-Nya sesuatu yang terkait dengan kehendak dan kuasa-Nya.
Dan ini termasuk yang dihasilkan dari prinsip mereka yang rusak tentang kalam Allah Ta’ala berupa makna azali yang satu, dan termasuk yang mereka sepakati dengan Jahmiyah.
Syaikhul Islam berkata: “Dan mereka ini menyepakati Jahmiyah dan Mu’tazilah dalam pokok ucapan mereka: bahwa Dia berbicara dengan kalam yang tidak berdiri pada Dzat-Nya dan kehendak serta kuasa-Nya, dan bahwa tidak berdiri pada-Nya perkara-perkara ikhtiyariyah (yang berkaitan dengan pilihan), dan bahwa Dia tidak beristawa di atas Arsy-Nya setelah menciptakan langit dan bumi, dan tidak datang pada hari kiamat, dan tidak memanggil Musa ketika Dia memanggilnya, dan kemaksiatan tidak membuatnya murka, dan ketaatan tidak membuatnya ridha, dan tobat orang-orang yang bertobat tidak membuatnya gembira.”
Saya katakan: Karena Allah menurut mereka tidak disifati dengan ridha, murka, dan gembira, dan tidak dengan datang dan kedatangan, dan tidak dengan istawa di atas Arsy setelah penciptaan langit dan bumi, dan ini bertentangan dengan yang dinyatakan oleh Kitab yang mulia bahwa itu terjadi setelah penciptaan langit dan bumi.
Dan makna ini yang kami sebutkan dari Asy’ariyah tentang tidak terkaitnya kalam-Nya Ta’ala dengan kehendak dan kuasa-Nya, mereka sendiri tidak membayangkannya, dan mereka tidak mampu menjelaskannya dengan penjelasan yang masuk akal dan jelas, kecuali dengan makna membatalkan hakikat kalam.
Dan ini adalah ucapan sebagian peneliti mereka yang mengungkapkan kepadamu tentang hakikat keyakinan mereka:
Ibnu Furak berkata: “Kalam Allah Ta’ala adalah azali qadim (kuno), mendahului seluruh yang baru, dan hanya didengarkan dan difhimkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki pada waktu-waktu dan masa-masa, bukan bahwa kalam-Nya itu sendiri terkait wujudnya dengan masa dan waktu.”
Dan dia berkata: “Kami mengatakan: bahwa Allah tidak pernah berhenti menjadi Yang Berbicara, dan tidak akan pernah berhenti menjadi Yang Berbicara, dan bahwa kalam-Nya telah meliputi seluruh makna perintah, larangan, berita, dan pertanyaan, dan bahwa ungkapan-ungkapan tentangnya dan dalil-dalil itu banyak yang terjadi dan bertambah, dan tidak bertambah dengan bertambahnya ungkapan-ungkapan sebagaimana bahwa dalil-dalil atas Allah Azza wa Jalla terjadi dan bertambah, dan tidak mengharuskan terjadinya yang ditunjukkan dan bertambahnya, maka jika engkau mendapatkan pokok ini maka engkau tahu hakikat apa yang kami katakan.” Dan dia berkata: “Sesungguhnya kalam Allah tidak pernah berhenti dan tidak akan pernah berhenti ada, maka sesungguhnya Dia memfhimkan makhluk-Nya makna-makna kalam-Nya secara bertahap, dan sedikit demi sedikit, dan bahwa yang terjadi adalah mendengarkan dan memfhimkan bukan yang didengar dan difhimkan.”
Dan dia berkata tentang apa yang diriwayatkan dari firman Allah kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat: “Dan yang benar adalah dikatakan: Sesungguhnya kalam Allah tidak pernah berhenti dan tidak akan pernah berhenti, dan sesungguhnya Dia mendengarkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, dan memfhimkan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk memfhimkannya pada waktu yang Dia kehendaki agar dia mendengarnya dan memfhimkannya apa yang Dia kehendaki dari itu, tanpa terjadinya ucapan dan kalam baru, dan jika dikatakan dalam lafazh-lafazh berita-berita ini: Allah berfirman, dan Allah berbicara, maka yang dimaksud dengannya bukan terjadinya ucapan dan kalam yang baru, dan hanya dimaksudkan terjadinya mendengarkan dan memfhimkan untuk ucapan yang tidak pernah berhenti.”
Dan dia menegaskan dengan mengingkari ucapan orang yang mengatakan: bahwa Allah berbicara sekali setelah sekali, dan dia menjelaskan itu dengan ucapannya: “Karena itu mengharuskan terjadinya kalam.”
Al-Bajuri berkata dalam membahas firman Allah kepada Musa: “Yang dimaksud bukanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai suatu perkataan kemudian diam, karena Dia senantiasa berbicara secara azali dan abadi.”
Aku berkata: Dalam pernyataan ini terdapat beberapa poin:
Pertama: bahwa sifat kalam yang ditetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah makna yang qadim (azali), tidak ada awal baginya dan tidak ada akhir.
Kedua: bahwa yang diwahyukan kepada para rasul dan selain mereka yang berkaitan dengan waktu dan tempat adalah ungkapan-ungkapan tentang kalam ini dan petunjuk-petunjuk kepadanya, dan itu adalah makhluk, seperti apa yang didengar oleh Musa ketika ia mendatangi pohon.
Ketiga: bahwa firman Allah terhadap apa yang Dia kehendaki untuk mewujudkannya (kun/jadilah) dan apa yang Dia wahyukan kepada para rasul-Nya berupa kalam yang diungkapkan dengan ungkapan-ungkapan seperti Al-Qur’an, Taurat, dan Injil, semua itu adalah makna yang tetap secara azali dan akan tetap selamanya, dan hanya saja segala sesuatu terjadi pada waktu-waktu yang Allah kehendaki keberadaannya, bukan berarti firman-Nya terhadap apa yang Dia kehendaki untuk mewujudkannya (kun) itu baru atau turun kepada para rasul-Nya berupa ungkapan-ungkapan tentang kalam-Nya, dan inilah yang baru yang disifati dengan permulaan dan akhir serta mendahului dan mengakhiri seperti Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Adapun kalam qadim, maka ia tetap dan tidak baru.
Kesimpulan dari poin-poin ini adalah apa yang diungkapkan bahwa kalam Allah tidak berkaitan dengan kehendak dan pilihan-Nya.
Kaum ini tidak memahami bahwa ini adalah sifat kekurangan dan kelemahan, yang tidak layak bagi makhluk yang lemah, lalu bagaimana mereka menjadikannya layak bagi Tuhan mereka Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Suci lagi Maha Sempurna?
Di antara hal yang membuat mereka bingung karena bid’ah ini adalah masalah perintah dan larangan. Mereka berkata: Perintah dan larangan adalah dua sifat bagi kalam, dan Allah senantiasa memerintah dan melarang, serta akan selamanya memerintah dan melarang, sebagaimana Dia senantiasa berbicara. Ini menuntut untuk mengatakan bolehnya berbicara kepada yang tidak ada (ma’dum), dengan pengertian bahwa Allah berbicara kepada hamba-hamba dengan perintah dan larangan secara azali sebelum penciptaan makhluk, dengan perintah dan larangan yang tidak ada awalnya. Maka mereka terpecah dalam masalah ini menjadi dua kelompok:
Pertama: mereka mengatakan bolehnya berbicara kepada yang tidak ada (ma’dum), maka kalam Allah senantiasa berupa perintah dan larangan kepada mukallaf yang diciptakan setelah itu, dengan syarat mereka melakukan apa yang diperintahkan kepadanya setelah wujud, baligh, dan sempurna akalnya.
Kedua: mereka mengatakan tidak bolehnya berbicara kepada yang tidak ada (ma’dum) sebelum penciptaan makhluk. Kelompok ini tidak mensifati Allah sebagai Yang Memerintah dan Melarang, melainkan mereka berkata: Kalam-Nya menjadi perintah dan larangan ketika kewajiban diarahkan kepada mukallaf.
Kedua mazhab ini rusak.
Adapun yang pertama, dengan kritikan yang kami sampaikan kepada mereka dalam perkataan mereka: Kalam Allah adalah makna murni, dan dengan menegakkan dalil-dalil bahwa kalam-Nya Subhanahu wa Ta’ala berkaitan dengan kehendak dan pilihan-Nya, Dia berbicara dengan perintah, larangan, dan berita-Nya Subhanahu wa Ta’ala ketika Dia kehendaki dan kapan pun Dia kehendaki.
Adapun yang kedua, konsekuensinya adalah mengatakan bahwa kalam Allah seluruhnya makhluk, karena tidak dikenal kalam kecuali apa yang berupa berita atau insya’ (perintah/larangan). Menurut kelompok ini, apa yang tidak mendahului peristiwa-peristiwa baru maka ia baru (hadits), dan berita serta insya’ tidak ada kecuali setelah adanya mukallaf, maka mukallaf mendahului keberadaan perintah, larangan, dan berita, maka semuanya makhluk menurut prinsip mereka. Bukankah kalam Allah itu adalah perintah, larangan, dan berita?
Perkataan ini menuntut agar makna kalam Allah juga makhluk, bukan hanya lafaz-lafaznya. Dengan ini batallah agama Asy’ariyah dalam penetapan sifat kalam, maka tidak ada makna qadim, dan mereka sendiri tidak membayangkan makna qadim yang berupa perintah, larangan, dan berita. Lalu bagaimana mereka bisa membayangkan kalam yang merupakan makna yang bukan perintah, bukan larangan, dan bukan berita?
Kesimpulan dari apa yang kami sebutkan adalah bahwa Asy’ariyah sangat bingung dalam menetapkan mazhab mereka, dan sebab itu adalah ketidakmampuan mereka untuk membayangkan dan memahaminya. Kalau tidak, bagaimana mungkin terjadi kalam dari yang bersifat dengannya tanpa dengan kekuasaan dan kehendak-Nya?
Mereka mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari bisu dan diam, dan makna ini sebenarnya bahwa Dia berbicara dengan huruf dan suara, karena bisu adalah ketiadaan kemampuan berbicara, dan diam adalah ketiadaan mengucapkan kalam. Namun kaum ini lari dari hakikat ini yang tidak dipahami oleh orang berakal selain itu menuju dongeng yang tidak dapat diterima oleh anak-anak, apalagi orang-orang berakal yang mengetahui. Maka mereka berkata: Bisu dan diam adalah nafsiyyah (batin). Yang disucikan Allah darinya menurut mereka adalah bisu nafsiyyah dan diam nafsiyyah. Pernahkah engkau melihat perkataan yang lebih menyerupai sofistik dari ini?!
Maka perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—akidah salaf dan para imam, lihatlah kejelasannya, kekokohan hujah dan dalilnya, dan bandingkan dengan kesalahan Asy’ariyah ini dan lainnya, maka akan jelas bagimu kebenaran dan terputuslah darimu keraguan, karena akidah salaf dengan karunia Allah tidak ditolak oleh sesuatu pun dari perkataan ahli bid’ah, dan kami telah mencukupimu dengannya di bab pertama, segala puji bagi Allah.
Adapun apa yang dicoba ahli bid’ah untuk membingungkan dengannya, maka itu adalah bukti kebingungan mereka, dan itu adalah hujah atas mereka seandainya mereka memahaminya—sebagaimana telah engkau lihat—dan seandainya mereka meninggalkan pembicaraan yang tercela dan menghadap kepada wahyu yang terjaga, niscaya selamatlah agama mereka.
Pembahasan Ketiga: Al-Qur’an Arab menurut Asy’ariyah
Telah saya jelaskan dalam syarah akidah salaf bahwa Al-Qur’an Arab ini yang tersusun dari huruf-huruf Arab, yang mengandung makna-makna berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, berita-berita, dan selain itu dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada hamba-hamba, dan menurunkannya kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantaraan Jibril ‘alaihissalam yang amanah, dalam tujuh huruf sebagai kemudahan bagi umat, dan Al-Qur’an ini adalah kalam Allah secara hakiki dengan lafaz dan maknanya, dengan huruf, kata, ayat, dan surahnya, tidak makhluk, dari awal Al-Fatihah sampai akhir An-Nas, tidak ada Qur’an selainnya. Saya telah merinci itu dengan dalil-dalil, dan telah saya jelaskan di bab kedua dalam menegakkan hujah atas batalnya akidah kaum Lafzhiyyah yang meyakini terciptanya lafaz-lafaz Arab, dengan dalil-dalil yang pasti dari Kitabullah Subhanahu wa Ta’ala dan akidah salaf, dan saya sebutkan di sana dari nash-nash para imam apa yang mencukupi dan meyakinkan bagi siapa yang mencari petunjuk dan menuju kepadanya, serta menginginkan mengikuti salaf dan meninggalkan bid’ah.
Namun Asy’ariyah—pemimpin orang-orang yang mengatakan terciptanya lafaz—menolak penyerahan kepada akidah salaf ini, dan mereka berkata di dalamnya dengan perkataan Jahmiyyah yang sesat: bahwa ia makhluk, dan bukan kalam Allah secara hakiki, melainkan hanya ungkapan tentangnya, karena kalam Allah menurut mereka adalah makna yang berdiri pada diri-Nya—sebagaimana kami jelaskan dari mereka.
Perkataan ini mereka melampaui Mu’tazilah, karena Mu’tazilah menamai Al-Qur’an Arab ini sebagai kalam Allah dan mensifatinya dengan makhluk. Adapun Asy’ariyah, mereka menyetujui Mu’tazilah dalam mensifatinya sebagai makhluk, namun mereka menambahi mereka dengan menafikan bahwa ia adalah kalam Allah. Meskipun ini adalah hakikat perkataan Mu’tazilah, namun mereka tidak menyatakannya dengan jelas seperti kejelasan Asy’ariyah.
Terangkum akidah mereka tentang Al-Qur’an Arab dalam poin-poin berikut:
- Ia adalah ungkapan dan petunjuk kepada kalam qadim, dan bukan kalam qadim itu sendiri.
- Tidak dinamai kalam Allah secara hakiki, kecuali dengan makna bahwa Dia menciptakannya di Lauh Mahfuzh atau selainnya.
- Dinamai kalam Allah secara majaz dengan menamai dalil dengan nama yang ditunjukkannya.
- Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa ia makhluk di Lauh Mahfuzh, sebagian dari mereka berkata: di selainnya, sebagian dari mereka berkata: ia adalah perkataan Jibril ‘alaihissalam, dan sebagian dari mereka berkata: ia adalah perkataan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Tidak turun ke bumi kecuali apa yang makhluk.
Berikut sebagian nash-nash mereka yang tegas yang membuktikan kebenaran apa yang saya sebutkan dari mereka:
Abu Bakar Al-Baqillani berkata: “Sesungguhnya kalam hakiki adalah makna yang ada dalam jiwa, namun dijadikan baginya tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya. Terkadang berupa ucapan dengan lisan menurut hukum ahli lisan itu dan apa yang mereka sepakati dan menjadi kebiasaan mereka dengannya serta dijadikan bahasa bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan itu dengan firman-Nya: ‘Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka,’ (Surah Ibrahim: 4). Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mengutus Musa ‘alaihissalam kepada Bani Israil dengan bahasa Ibrani, lalu ia memahamkan kalam Allah yang qadim yang berdiri pada diri-Nya dengan bahasa Ibrani. Dan Dia mengutus Isa ‘alaihissalam dengan bahasa Suryani, lalu ia memahamkan kaumnya kalam Allah yang qadim dengan bahasa mereka. Dan Dia mengutus Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa Arab, lalu ia memahamkan kaumnya kalam Allah yang qadim yang berdiri pada diri-Nya dengan bahasa mereka. Maka bahasa Arab berbeda dengan bahasa Ibrani, dan bahasa Suryani berbeda dengan keduanya, namun kalam qadim yang berdiri pada diri-Nya adalah satu yang tidak berbeda dan tidak berubah…”
Hingga ia berkata: “Maka jelaslah bahwa kalam hakiki adalah makna yang berdiri pada jiwa selain yang lainnya, dan hanya yang lain itu adalah dalil atasnya dengan hukum kesepakatan dan istilah, dan boleh dinamai kalam karena ia adalah dalil atas kalam, bukan ia sendiri yang merupakan kalam hakiki.”
Dan ia mengungkapkan tentang pencipta kalam Arab ini dengan berkata: “Yang diturunkan adalah bahasa Arab yang dibacakan oleh Jibril, dan kita membacakannya sampai hari kiamat, sesuai firman Allah: dengan bahasa Arab yang jelas (Surat Asy-Syu’ara: 195). Adapun yang turun secara hakiki, yang berpindah dari suatu tempat ke tempat lain adalah perkataan Jibril alaihissalam, dalilnya adalah firman Allah: Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (38) dan apa yang tidak kamu lihat (39) Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar perkataan rasul yang mulia …” kemudian ia menyebut ayat-ayat lainnya, lalu menyebut ayat At-Takwir, kemudian berkata: “Dan ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwa susunan Arab yang merupakan bacaan kalam Allah adalah perkataan Jibril, bukan perkataan penyair, dan bukan perkataan tukang sihir …”
Saya katakan: Sesungguhnya kami telah menjelaskan kebenaran dalam tafsir dua ayat tentang dua rasul di bab kedua dalam penjelasan masalah lafal, dengan sesuatu yang membatalkan mazhab Al-Baqillani dan orang yang mengikutinya, maka kembalilah kepadanya.
Penulis kitab Kifayatul Awam dari kalangan mereka berkata: “Yang dimaksud dengan kalam-Nya Yang Maha Wajib bagi-Nya bukanlah lafal-lafal mulia yang diturunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena ini adalah baru (hadis), sedangkan sifat yang berdiri dengan Zat-Nya adalah qadim (azali). Lafal-lafal ini mengandung urutan, i’rab, surat dan ayat, sedangkan sifat qadim terbebas dari semua itu, tidak ada ayat-ayat di dalamnya, tidak ada surat, tidak ada i’rab, karena ini semua hanya ada pada kalam yang mengandung huruf dan suara, sedangkan sifat qadim tersuci dari huruf dan suara.”
Bahkan ia berkata: “Setiap dari sifat qadim dan lafal-lafal mulia dinamakan Al-Qur’an dan kalam Allah, akan tetapi lafal-lafal mulia itu makhluk, tertulis di Lauhul Mahfuzh, Jibril alaihissalam turun dengannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, setelah turun pada malam Lailatul Qadar di Baitul Izzah: suatu tempat di langit dunia.”
Al-Bajuri berkata: “Mazhab Ahlus Sunnah – maksudnya Asy’ariyah – bahwa Al-Qur’an dengan makna kalam nafsi bukanlah makhluk, adapun Al-Qur’an dengan makna lafal yang kita baca maka ia adalah makhluk.”
Dan ia berkata: “Barangsiapa disandarkan kepadanya kalam lafzi, maka secara urf menunjukkan bahwa ia memiliki kalam nafsi. Dan sesungguhnya kepada-Nya disandarkan kalam lafzi seperti Al-Qur’an, karena ia adalah kalam Allah secara pasti, dengan makna bahwa Dia menciptakannya di Lauhul Mahfuzh, maka ini menunjukkan secara lazim bahwa Dia memiliki kalam nafsi, dan inilah yang dimaksud dengan perkataan mereka: Al-Qur’an itu hadis (baru), dan yang ditunjukkannya qadim (azali). Mereka maksudkan dengan yang ditunjukkannya adalah kalam nafsi, dan cukup dengan penyandaran secara ijmali meskipun lafzi tidak berdiri dengan Zat.”
Penulis Al-Jauharah berkata:
Maka setiap lafal yang menunjukkan kebaruan Ambillah pengertiannya pada lafal yang telah menunjukkan
Al-Bajuri berkata dalam Syarhnya: “(Pada lafal) maksudnya pada Al-Qur’an, dengan makna: lafal yang diturunkan kepada Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, yang dituntut untuk membacanya, yang menjadi tantangan dengan surat terpendek darinya. Dan pendapat yang kuat bahwa yang diturunkan adalah lafal dan makna. Ada yang berkata: yang diturunkan adalah makna, dan Jibril mengungkapkannya dengan lafal dari dirinya. Ada yang berkata: yang diturunkan adalah makna, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengungkapkannya dengan lafal dari dirinya. Tetapi yang benar adalah pendapat pertama, karena Allah menciptakannya pertama kali di Lauhul Mahfuzh, kemudian menurunkannya dalam lembaran-lembaran ke langit dunia, di suatu tempat yang disebut: Baitul Izzah, pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Kemudian menurunkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara bertahap sesuai dengan kejadian-kejadian.”
Hingga ia berkata: “Kesimpulannya bahwa setiap yang zhahir dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan kebaruan Al-Qur’an maka ia diambil pengertiannya pada lafal yang dibaca, bukan pada kalam nafsi.”
Saya katakan: Mereka maksudkan dengan ini firman Allah: Tidak datang kepada mereka suatu peringatan pun yang baru dari Rabb mereka dan yang semakna dengannya yang telah kami sebutkan dari pendahulu mereka kalangan Jahmiyyah di pasal sebelumnya, dan kami telah menampakkan kekeliruan mereka di dalamnya.
Ini adalah nash-nash sebagian muhaqqiq Asy’ariyyah, dan ia lebih jelas dari pada dijelaskan, dan lebih tegas dari pada diterangkan, menyatakan secara tegas tentang penciptaan Al-Qur’an Arab ini yang Allah berfirman tentangnya: Dan Al-Qur’an ini tidaklah mungkin dibuat-buat oleh selain Allah (Surat Yunus: 37) dan yang menjadi tantangan kepada makhluk untuk mendatangkan satu surat yang sepertinya. Maka mereka menyetujui Jahmiyyah dalam perkataan mereka, dan melemparkan mazhab Salaf dan Ahlus Sunnah serta keyakinan mereka ke belakang punggung mereka, dan mereka membantah, lalu berpura-pura menolak Jahmiyyah dan menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah. Saya akan menyebutkan kepadamu sebentar lagi perkataan salah seorang tokoh mereka bahwa mereka sepaham dengan Mu’tazilah dalam masalah ini, yang memberitahumu tentang kelepasan mereka dari keyakinan Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf dan para Imam dalam masalah kalam Allah.
Sungguh saya telah membatalkan perkataan Lafzhiyyah ini di bab sebelumnya, dengan sesuatu yang mencukupi insya Allah.
Dan saya katakan di sini secara ilzam dan ifham: Sesungguhnya kalian – wahai kalangan Asy’ariyyah – telah menyatakan secara tegas di beberapa tempat dalam kitab-kitab kalian dalam rangka menolak Mu’tazilah, bahwa kalam Allah seandainya makhluk niscaya ia adalah makhluk di suatu tempat, dan ia adalah sifat bagi tempat tersebut yang ia diciptakan di dalamnya, bukan sifat bagi Allah.
Dan perkataan kalian ini benar dan masuk akal sesuai dengan yang dinuqilkan, karena apabila Allah menciptakan gerakan atau sifat di suatu tempat, maka tempat tersebut adalah yang bergerak dan bersifat dengan sifat tersebut, bukan Sang Pencipta, karena Dia tidak disifati dengan ciptaan-Nya. Maka kalam-Nya yang disandarkan kepada-Nya adalah sifat-Nya. Jika dikatakan: makhluk, maka wajib ia berdiri dengan makhluk bukan dengan Allah, dan kalian mengakui hal ini. Jika ia berdiri dengan makhluk maka tidak boleh menyandarkannya kepada Allah sebagai sifat bagi-Nya, dan ini sesuai dengan ilzam kalian kepada Mu’tazilah.
Dan Al-Qur’an Arab ini telah diketahui penyandarannya kepada Allah secara pasti, karena umat bersepakat tentang itu, dan mereka menerima itu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ia adalah kalam Allah bukan kalam selain-Nya. Maka meniadakan penyandarannya kepada Allah adalah mendustakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan apa yang dibawanya, dan menjahilkan para Sahabat radhiyallahu anhum, padahal mereka lebih mulia dari pada dijahilkan bahwa seandainya ia makhluk niscaya ia makhluk di suatu tempat, maka dengan ini ia menjadi sifat bagi tempat tersebut bukan bagi Allah.
Dan kalian – wahai kalangan Asy’ariyyah – berkata: Sesungguhnya Allah menciptakannya. Mayoritas kalian berkata: di Lauhul Mahfuzh. Dan yang lain berkata: di selainnya.
Dan ini mewajibkan kalian berdasarkan prinsip kalian yang kalian ilzamkan kepada Mu’tazilah bahwa ia adalah kalam Lauh, bukan kalam Allah, maka tidak baik dari kalian menyandarkannya kepada Allah dalam kondisi apapun. Tetapi kalian menginginkan keserupaan terhadap umat dan menutupinya, serta menyembunyikan perkataan kalian yang buruk yang sebenarnya adalah perkataan Jahmiyyah, maka kalian menutupinya dengan dusta dengan pakaian Ahlus Sunnah, agar kalian sembunyikan hakikat urusan kalian.
Maka kalian mendustakan Rasul shallallahu alaihi wasallam bahwa ia adalah kalam Allah, dan kalian menjahilkan para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang tidak mengenal Al-Qur’an Arab ini kecuali sebagai kalam Allah, wahyu-Nya dan turunan-Nya.
Bahkan sebagian kalian berbangga diri lalu berbuat dusta, dan menambah kebohongan bahwa ia adalah perkataan Jibril, dan membingungkan manusia dengan apa yang tidak dipahaminya sendiri dari Al-Qur’an. Dan lebih sesat darinya dan lebih kafir adalah orang yang berkata dari kalian: sesungguhnya ia dari insya Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan kalian wahai orang-orang yang malang, kalian menampilkan perbedaan pendapat rekan-rekan kalian tentang ia diciptakan di Lauh, atau di udara, atau di Jibril, atau Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dengan menampilkannya sebagai masalah furu’ khilafiyyah.
Adapun perkataan imam kalian Al-Juwaini dan orang yang mengikutinya: bahwa melepaskan kalam Allah pada kalam nafsi dan susunan Arab, adalah hakikat pada keduanya, maka ia adalah sesuatu yang paling jauh dari yang ma’qul yang kalian dakwakan, karena jika kalam Allah itu secara hakikat menurut perkataan ini, maka batallah ia makhluk, baik apa yang kalian namakan dengan kalam nafsi, atau susunan Arab, dan ini membatalkan prinsip kalian. Tetapi urusan ini menyimpan rahasia yang tidak kalian tampakkan dalam kondisi apapun karena takut terbuka aib kalian, dan terbuka aurat kalian, yaitu yang dinyatakan secara tegas oleh penyarah Al-Jauharah ketika berkata: “Sesungguhnya ia kalam Allah secara pasti, dengan makna bahwa Dia menciptakannya di Lauhul Mahfuzh.” Maka inilah hakikat yang dimaksud menurut kalian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Jika dikatakan: sesungguhnya semuanya adalah kalam Allah yang Dia berkata dengannya, dan Jibril menyampaikannya dari-Nya kepada Muhammad – sebagaimana yang diketahui dari agama para rasul – maka ini tegas bahwa tidak ada perbedaan antara huruf dan makna, dan bahwa ini dari kalam Allah, sebagaimana bahwa ini dari kalam Allah. Dan jika dikatakan: sesungguhnya Dia menciptakan pada selain-Nya huruf-huruf tersusun yang menunjukkan makna yang berdiri dengan Zat-Nya, maka telah dinyatakan secara tegas bahwa huruf-huruf tersusun itu bukan kalam-Nya, dan bahwa Dia tidak berkata dengannya sama sekali. Dan jika dikatakan: sesungguhnya itu dinamakan kalam secara hakikat, dan telah diciptakan pada selain-Nya, maka ia menjadi kalam bagi yang lain tersebut, maka ia bukan kalam Allah, dan ini menyelisihi yang diketahui dari agama Islam. Dan jika dikatakan: ia tidak dinamakan kalam secara hakikat, maka ini menyelisihi yang diketahui dari bahasa dan syariat secara pasti.” Maka tahqiq yang tidak ada keraguan padanya adalah bahwa Asy’ariyyah meyakini bahwa Al-Qur’an Arab itu makhluk, dan ini adalah perkataan Mu’tazilah Jahmiyyah.
Syubhat:
Dengan tahqiq yang kami sebutkan tentang keyakinan mereka, maka mereka menyatakan bahwa Al-Qur’an yang kita baca adalah kalam Allah, dibaca dengan lisan kita secara hakiki, ditulis di mushaf kita secara hakiki, dihafal di dada kita secara hakiki, didengar dengan pendengaran kita secara hakiki.
Dan ini adalah syubhat yang hakikatnya membingungkan banyak orang, terutama sebagian saudara kita Salafiyyun, karena ketika mereka melihat itu dalam Al-Ibanah karya Al-Asy’ari dan para pengikutnya yang lain, mereka mengira itu sebagai kesepakatan dari mereka dengan keyakinan Ahlus Sunnah.
Dan urusan tidak demikian, karena kaum itu ketika merinci keyakinan mereka maka jelas hakikat makna yang mereka maksudkan di balik lafal-lafal mujmal ini, bahkan mereka telah menafsirkannya di beberapa tempat.
Abul Qasim Al-Qusyairi – dan ia termasuk muhaqqiq besar mereka – berkata dalam Syikaayatu Ahlis Sunnah ketika ia membela Al-Asy’ari: “Bahkan Al-Qur’an tertulis di mushaf secara hakiki, dan Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan ia qadim tidak makhluk, tidak berhenti Allah berkata dengannya, dan tidak berhenti Dia berfirman dengannya, dan tidak boleh berpisahnya Al-Qur’an dari Zat Yang Qadim Subhanahu, dan tidak boleh hulul di tempat-tempat. Dan tertulisnya kalam secara hakiki di beberapa tempat tidak mengharuskan hulul-nya di dalamnya, dan tidak berpisahnya dari Zat Yang Berkata. Allah berfirman: Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat (Surat Al-A’raf: 157). Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam secara hakiki tertulis di Taurat. Maka demikian pula Al-Qur’an secara hakiki tertulis di mushaf, dihafal di hati orang-orang mukmin, dibaca dan ditilawahkan secara hakiki dengan lisan para pembaca dari kaum muslimin, sebagaimana bahwa Allah secara hakiki bukan majaz disembah di masjid-masjid kita, diketahui di hati-hati kita, disebutkan dengan lisan-lisan kita.”
Saya katakan: Maka ia menyatakan dengan misal yang ia pakai tentang hakikat perkataan ini, bahwa yang ada di Taurat adalah penyebutan Nabi shallallahu alaihi wasallam, bukan diri beliau, dan ini tidak diragukan oleh siapapun. Maka yang tertulis secara hakiki di Taurat adalah penyebutan beliau shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dengan lisan secara hakiki adalah nama-Nya. Maka bukan maksud kaum itu bahwa Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah menurut mereka bukan susunan Arab tertulis di mushaf secara hakiki, dengan makna bahwa dzat kalam Allah tertulis di mushaf, atau dzat kalam-Nya dihafal di dada, atau dzat kalam-Nya didengar dengan telinga, dan sesungguhnya penulisan itu dan pembacaannya dan tilawahannya, dan semua ini adalah makna-makna makhluk menurut mereka, karena ia adalah ungkapan-ungkapan tentang kalam qadim.
Dan menyatakan tentang itu Ibnu Furak, ia berkata: “Kalam Allah terhafal di hati, ditilawahkan dengan lisan, tertulis di mushaf, sebagaimana bahwa Allah Jalla Dzikruhu disebutkan dengan lisan, disembah dengan anggota badan, dan tidak boleh ia berada di sesuatu dari itu dengan cara hulul. Dan seperti ini firman-Nya: Dan telah meresap ke dalam hati mereka (kecintaan menyembah) anak sapi (Surat Al-Baqarah: 93) dan yang dimaksud adalah kecintaan anak sapi, karena anak sapi tidak hulul di hati mereka. Dan ketahuilah bahwa kami tidak menolak bahwa kalam Allah terhafal secara hakiki dengan hafalan di hati, tertulis secara hakiki di mushaf dengan tulisan yang hulul di dalamnya, ditilawahkan dengan lisan dengan tilawah di dalamnya, didengar di telinga, tanpa hulul di sesuatu dari makhluk-makhluk ini, dan kami tidak melampaui.”
Abdul Qahir berkata: “Dan kami berkata: kalam Allah di mushaf tertulis, dan di hati terhafal, dan dengan lisan ditilawahkan, dan tidak dikatakan: sesungguhnya ia di mushaf secara mutlaq, dan tidak kami katakan secara mutlaq: sesungguhnya kalam Allah Subhanahu di suatu tempat, tetapi kami katakan dengan taqyid: sesungguhnya ia tertulis di mushaf.”
Maka ini tegas dari mereka bahwa yang ada di antara dua sampul adalah tulisan kalam Allah yaitu lafal-lafal Arab, bukan kalam Allah. Dan apa yang telah kami jelaskan tentang mereka di atas cukup untuk memperjelas maksud ini, dan mengangkat kemusykilan yang muncul karenanya.
Dan Syaikhul Islam telah menyebutkan bahwa mereka keliru dalam misal yang mereka sebutkan dengan dua kekeliruan: keliru dalam penggambaran mazhab mereka, dan keliru dalam syariat.
Beliau rahimahullah berkata: “Adapun kesalahan dalam menggambarkan mazhab mereka, maka seharusnya mereka mengatakan: Sesungguhnya Al-Qur’an di dalam mushaf itu seperti halnya ilmu dan makna-makna di dalam kertas. Sebagaimana dikatakan: Ilmu ada dalam kitab ini, maka dikatakan pula: Kalam ada dalam kitab ini. Karena kalam menurut mereka adalah makna yang berdiri pada zat, maka digambarkan perumpamaannya dengan ilmu yang berdiri pada zat, bukan pada zat itu sendiri.
Adapun kesalahan dalam syariat, maka dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya Al-Qur’an di dalam mushaf-mushaf seperti halnya nama Allah di dalam mushaf-mushaf. Maka sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalam, ia terhafal di dalam hati sebagaimana kalam terhafal di dalam hati, ia diucapkan dengan lisan sebagaimana kalam diucapkan dengan lisan, dan ia tertulis di dalam mushaf-mushaf dan kertas-kertas sebagaimana kalam ditulis di dalam mushaf-mushaf dan kertas-kertas. Kalam yang berupa lafal itu sesuai dengan makna dan menunjukkan kepadanya, dan makna itu sesuai dengan hakikat-hakikat yang wujud.
Maka barangsiapa berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an terhafal sebagaimana Allah diketahui, dan ia dibaca sebagaimana Allah disebutkan, dan tertulis sebagaimana Rasul tertulis, maka sungguh ia telah keliru dalam qiyas dan tamtsil dengan dua tingkatan. Karena ia menjadikan wujud makhluk-makhluk yang berdiri sendiri seperti wujud ungkapan yang menunjukkan kepada makna yang sesuai dengannya. Sedangkan kaum muslimin mengetahui perbedaan antara firman-Nya Ta’ala: ‘Sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur’an yang mulia, di dalam kitab yang terpelihara’ (Al-Waqi’ah: 77-78) dan antara firman-Nya Ta’ala: ‘Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang dahulu’ (Asy-Syu’ara: 196). Maka sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan kepada seorang pun sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak lafalnya dan tidak pula seluruh maknanya. Akan tetapi Allah menurunkan penyebutan tentangnya dan kabar tentangnya, sebagaimana Ia menurunkan penyebutan Muhammad dan kabar tentangnya.
Maka penyebutan Al-Qur’an dalam kitab-kitab orang dahulu seperti halnya penyebutan Muhammad dalam kitab-kitab orang dahulu, dan ia tertulis pada mereka di dalam Taurat dan Injil. Maka Allah dan Rasul-Nya diketahui dengan hati, disebutkan dengan lisan, tertulis di dalam mushaf, sebagaimana Al-Qur’an diketahui oleh orang-orang sebelum kita, disebutkan kepada mereka, tertulis pada mereka. Namun yang demikian itu adalah penyebutan tentangnya dan kabar tentangnya. Adapun kita, maka Al-Qur’an itu sendiri diturunkan kepada kita, dan Al-Qur’an itu sendiri tertulis di dalam mushaf-mushaf kita, sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri ada di dalam Kitab yang Terpelihara, dan ia ada di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.
Oleh karena itu, wajib membedakan antara firman-Nya Ta’ala: ‘Dan segala yang telah mereka kerjakan (tercatat) dalam kitab-kitab’ (Al-Qamar: 52) dan antara firman-Nya Ta’ala: ‘Dan kitab yang ditulis, di dalam lembaran yang terbuka’ (Ath-Thur: 2-3). Maka sesungguhnya amal-amal perbuatan di dalam kitab-kitab itu seperti Rasul dan seperti Al-Qur’an dalam kitab-kitab orang dahulu. Adapun kitab yang tertulis di dalam lembaran yang terbuka, maka ia seperti kalam itu sendiri yang ditulis di dalam lembaran. Maka di manakah yang ini dari yang itu?”
Aku (penulis) berkata: Maka renungkanlah—semoga Allah memberimu petunjuk—sejauh mana pertentangan kaum yang membanggakan diri dengan mengetahui yang ma’qul (rasional), namun menyimpang dari apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
Peringatan:
Engkau akan melihat dalam sebagian nash-nash Asy’ariyah yang disebutkan di atas dan yang lainnya, pensucian mereka terhadap Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah dari hulul (menempati) di dalam mushaf. Seandainya engkau meminta penjelasan tentang hulul dalam perkataan mereka, engkau akan mendapati mereka menghendaki pensucian kalam Allah Ta’ala yang merupakan sifat-Nya dari berada di dalam kertas, karena ini menurut sangkaan mereka adalah pemisahan sifat dari yang bersifat dan berpisah darinya. Maka mereka berpandangan bahwa jika mereka mengakui bahwa kalam Allah secara hakiki ada di dalam mushaf, mereka telah membatalkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat kalam, karena kalam-Nya ketika itu berpindah dan menempati di dalam kertas.
Ini dari mereka adalah kebodohan terhadap hakikat perkara. Karena perpindahan kalam tidak seperti perpindahan batu dan bongkahan batu. Perpindahan batu dan bongkahan batu memindahkannya dari tempatnya ke tempat yang dipindahkan kepadanya, berbeda dengan kalam. Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada para sahabatnya tentang sunnah-sunnah dan syariat-syariat, dan para sahabatnya menghafal itu dan memindahkannya darinya. Apakah apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada mereka dari perkataannya dan mereka hafalkan itu hilang dari beliau dan berpisah darinya? Tidak ada orang berakal yang memahami ini. Kalau tidak, maka apa yang diucapkan oleh pembicara tidak akan mampu ia ucapkan lebih dari sekali. Dan jika kita katakan: Sifat kalam berpisah darinya dan berpindah kepada yang lain dengan mendengarnya yang lain terhadap kalam ini dan menghafalnya, maka tidak sah bahwa sifat kalam tetap melekat padanya, dan ia akan kembali menjadi bisu setelah berbicaranya sekali, dan ini tidak masuk akal dan tidak terbayangkan. Seandainya apa yang mereka katakan itu benar juga, maka tidak sah penisbatan kalam kepada orang yang mengatakannya pada awalnya. Maka hadits—misalnya—didengar oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menurut perkataan orang-orang ini dinisbatkan kepada Abu Hurairah bukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ia berpisah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ucapannya dengannya dan menempati di dalam Abu Hurairah sehingga menjadi perkataan Abu Hurairah. Makna ini adalah penyimpangan dan kesesatan serta menyimpang dari pemahaman yang benar, dan jauh dari jalan yang lurus.
Syaikhul Islam berkata: “Oleh karena itu dikatakan: Fulan memindahkan ilmu fulan, dan memindahkan kalamnya, dan dikatakan: Ilmu yang ada pada fulan berpindah kepada fulan, dan yang semisalnya. Sebagaimana dikatakan: Aku memindahkan apa yang ada di dalam kitab, dan menyalin apa yang ada di dalam kitab, atau memindahkan kitab atau menyalinnya. Mereka tidak menghendaki bahwa huruf-huruf itu sendiri yang ada di dalam kitab pertama hilang darinya dan menempati di dalam yang kedua. Akan tetapi karena maksud dari menyalin kitab dari kitab-kitab dan memindahkannya adalah dari jenis memindahkan ilmu dan kalam, dan itu tercapai dengan menjadikan di dalam yang kedua seperti apa yang ada di dalam yang pertama, maka tetaplah maksud dari yang pertama terpindahkan dan tersalin, meskipun yang pertama tidak berubah. Berbeda dengan perpindahan benda-benda dan yang mengikutinya, maka sesungguhnya itu jika dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain akan hilang dari yang pertama.”
Maka susunan Arab ini tertulis dalam mushaf-mushaf yang tidak terhitung jumlahnya, dan menghafalnya dari makhluk yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Ia adalah ia sendiri yang didengar oleh para sahabat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, satu Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan dengan surat-suratnya, ayat-ayatnya, huruf-hurufnya dan kata-katanya. Ia adalah ia sendiri yang ada di dalam Lauh Mahfuzh, dan ia adalah ia sendiri yang Allah Ta’ala ucapkan.
Syaikhul Islam berkata: “Bahkan jika manusia membacanya atau menulisnya di dalam mushaf-mushaf, tidak keluar dengan itu dari menjadi kalam Allah Ta’ala secara hakiki. Karena sesungguhnya kalam itu hanya dinisbatkan kepada orang yang mengatakannya sebagai pembuat awal, bukan kepada orang yang mengatakannya sebagai penyampai dan yang menunaikan. Ia adalah kalam Allah: huruf-hurufnya dan makna-maknanya, bukan kalam Allah hanya huruf-huruf tanpa makna-makna, dan bukan makna-makna tanpa huruf-huruf.”
Imam Ibnu Qutaibah berkata: “Al-Qur’an tidak berdiri sendiri dengan dirinya, namun ia hanya berdiri dengan salah satu dari empat: tulisan, atau bacaan, atau hafalan, atau pendengaran. Maka ia dengan amalan dalam tulisan itu berdiri, dan amalan adalah tulisan tangan dan ia makhluk, sedangkan yang tertulis adalah Al-Qur’an dan ia bukan makhluk. Ia dengan amalan dalam bacaan itu berdiri, dan amalan adalah menggerakkan lisan dan tenggorokan dengan Al-Qur’an dan ia makhluk, sedangkan yang dibaca adalah Al-Qur’an dan ia bukan makhluk. Ia dengan hafalan hati itu berdiri, dan hafalan adalah amalan dan ia makhluk, sedangkan yang dihafal adalah Al-Qur’an dan ia bukan makhluk. Ia dengan pendengaran itu berdiri dalam pendengaran, dan pendengaran adalah amalan dan ia makhluk, sedangkan yang didengar adalah Al-Qur’an dan ia bukan makhluk.”
Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata: “Sesungguhnya engkau memindahkan dari mushaf seratus mushaf, sedangkan yang pertama itu tidak berubah pada dirinya sendiri dan tidak berubah. Dan engkau mengajarkan Al-Qur’an kepada seribu jiwa, sedangkan apa yang ada di dalam dadamu tetap dengan keadaannya tidak hilang darimu dan tidak berubah. Itu karena yang tertulis adalah satu, sedangkan tulisannya bermacam-macam. Dan yang ada di dalam dadamu adalah satu dan apa yang ada di dalam dada-dada para pengajar adalah sama persis dengan apa yang ada di dalam dadamu. Yang dibaca meskipun para pembacanya bermacam-macam adalah satu, meskipun ia berupa surat-surat, ayat-ayat dan bagian-bagian yang bermacam-macam. Ia adalah kalam Allah, wahyu-Nya, tanzil-Nya dan inisiatif-Nya, bukan kalam kita sama sekali. Ya, dan ucapan kita dengannya, tilawah kita terhadapnya dan bacaan kita dengannya adalah dari perbuatan-perbuatan kita. Demikian juga tulisan kita terhadapnya dan suara-suara kita dengannya adalah dari perbuatan-perbuatan kita. Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan’ (Ash-Shaffat: 96)…”
Dan ia berkata: “Maka pengajar Al-Qur’an mengajarkan khatam kepada seratus jiwa atau dua ratus jiwa lalu mereka menghafalnya, sedangkan tidak ada yang terpisah darinya. Seperti lentera yang dinyalakan darinya lentera-lentera namun ia tidak berubah.”
Syaikhul Islam rahimahullah menyebutkan keyakinan mereka ini yang telah kami sebutkan, dan berkata: “Bahkan kalam makhluk-makhluk ditulis di dalam kertas-kertas sedangkan ia tidak berpisah dari zat-zat mereka. Bagaimana tidak dipahami seperti ini tentang kalam Allah Ta’ala?”
Maka penafsiran kaum tentang hulul di dalam mushaf atas apa yang telah kami sebutkan dan pengingkaran mereka terhadapnya adalah batil, dibangun atas dasar mereka dalam menafikan bahwa apa yang ada di antara dua sampul mushaf adalah kalam Allah secara hakiki, karena ini terbatas dan terhitung, sedangkan kalam Allah tidak ada akhirnya, dan ia adalah satu makna. Ini adalah pengelabuan yang telah kami singkapkan dengan karunia dan anugerah Allah Ta’ala.
Adapun penggunaan lafal: Sesungguhnya kalam Allah menempati di dalam mushaf, maka bukan dari apa yang diucapkan oleh lisan-lisan salaf dan para imam. Meskipun sebagian ulama mutaakhirin dari Ahlus Sunnah telah menyebutkannya, namun mazhab salaf lebih patut untuk diikuti. Dan sesungguhnya dikhawatirkan dari penggunaan mutlak ini masuknya makna-makna yang batil. Namun cukuplah dengan perkataan: Sesungguhnya apa yang ada di antara dua sampul mushaf adalah kalam Allah dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya, darinya ia bermula dan kepada-Nya ia kembali, dan ia adalah sifat-Nya, tidak terpisah dari-Nya.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Kami tidak meragukan bahwa Al-Qur’an di dalam mushaf-mushaf adalah secara hakiki, bukan secara majaz, sebagaimana dikatakan oleh ahli kalam: Sesungguhnya yang ada di dalam mushaf adalah dalil atas Al-Qur’an dan bukan ia. Sedangkan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur’an yang mulia, di dalam kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan’ (Al-Waqi’ah: 77-79). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian bepergian dengan Al-Qur’an ke negeri musuh’. Beliau menghendaki mushaf.”
Dan sungguh telah aku jelaskan makna ini di bab pertama dengan apa yang menghilangkan pengelabuan Asy’ariyah dan orang yang berkata dengan perkataan mereka.
Pengagungan Mushaf di Sisi Asy’ariyah:
Keyakinan Asy’ariyah tentang kalam Allah Ta’ala bahwa ia adalah makna yang berdiri pada diri-Nya, dan bahwa ini tidak turun, namun yang turun adalah ungkapan tentangnya, dan ungkapan ini adalah makhluk yang menempati di dalam mushaf-mushaf, telah mengantarkan ulama mutaakhirin mereka kepada meremehkan kedudukan mushaf. Bahkan mengantarkan orang-orang bodoh mereka kepada meremehkannya. Ini adalah di mana mereka melampaui Mu’tazilah dan menyerupai ghulat Jahmiyah.
Penjelasannya: Sesungguhnya pengagungannya di sisi orang-orang berakal mereka dan orang-orang terdahulu mereka secara khusus, karena ia adalah ungkapan tentang kalam nafsi dan dalil kepadanya. Maka pengagungannya karena petunjuknya kepada Yang Maha Agung.
Dengan ini mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Janganlah kalian bepergian dengan Al-Qur’an ke negeri musuh, karena sesungguhnya aku khawatir musuh mendapatkannya’.
Adapun yang dibawa hanyalah mushaf-mushaf yang di dalamnya terdapat Al-Quran, dan alasan pelarangan bepergian membawa mushaf tersebut dijelaskan dalam hadits, yaitu karena khawatir jatuh ke tangan orang-orang kafir, sehingga tidak aman dari penghinaan mereka. Makna ini benar dan tepat, namun menurut Ahlussunnah dan para imam, larangannya adalah karena di dalamnya terdapat kalam Allah secara hakikat dengan lafal-lafalnya dan maknanya, dan inilah alasan larangan menurut mereka. Adapun golongan Asy’ariyah, karena di dalamnya terdapat ungkapan tentang kalam Allah.
Kemudian datang pengikut mereka yang belakangan dan menambahkan bahwa kalam itu makhluk di Lauh Mahfuzh, atau selainnya, atau ucapan Jibril, atau Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka hal ini meremehkan kedudukan mushaf menurut mereka, hingga mereka membandingkannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Bajuri berkata: “Manakah yang lebih utama, Al-Quran dalam arti lafal yang dibaca ataukah sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam?” Lalu ia mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal itu, kemudian berkata: “Yang benar adalah bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam lebih utama karena beliau lebih utama dari setiap makhluk” (85).
Saya katakan: Subhanaka (Maha Suci Engkau), ini adalah kebohongan besar, keberanian apakah ini yang menyebabkan para pendukungnya menjadikan sifat Rabb Ta’ala lebih rendah dari makhluk -meskipun makhluk itu mulia-?!!
Bahkan sebagian dari mereka ketika melihat bahwa Al-Quran yang ada dalam mushaf ini bukanlah kalam Allah secara hakikat melainkan hanya dalil yang menunjukkan kepada-Nya, mereka berpendapat bahwa semua makhluk selain Al-Quran adalah dalil-dalil atas Sang Pencipta dan sifat-sifat-Nya, dan meskipun demikian tidak wajib menghormatinya, padahal dalil yang menunjukkan kepada Sang Pencipta lebih berhak dihormati daripada yang menunjukkan kepada sifat-Nya. Keadaan mereka kemudian sampai pada perkataan mereka tentang Al-Quran Arab ini: “Ini tidak lain hanya kertas dan tinta”, maka terjadilah keburukan yang lebih besar.
Syaikhul Islam berkata: “Kemudian sebagian pengikut mereka mengikuti salah satu mazhab tersebut, bahwa Al-Quran adalah makna yang berdiri pada Dzat Allah saja, dan bahwa huruf-huruf bukanlah dari kalam Allah, melainkan Allah menciptakannya di udara, atau Jibril atau Muhammad yang menyusunnya, maka mereka menambahkan pada itu bahwa mushaf tidak berisi kecuali tinta dan kertas, dan mereka berpaling dari apa yang dikatakan pendahulu mereka bahwa itu adalah dalil atas kalam Allah sehingga wajib menghormatinya, karena mereka melihat bahwa sekedar menjadi dalil tidak mewajibkan penghormatan, seperti dalil atas Sang Pencipta yang berbicara dengan kalam, karena semua yang ada adalah dalil atas-Nya, dan tidak wajib menghormatinya (86), maka orang-orang ini meremehkan mushaf hingga menginjaknya dengan kaki mereka, dan di antara mereka ada yang menulis nama-nama Allah dengan kotoran sebagai bentuk menghilangkan kehormatan apa yang ditulis dalam mushaf-mushaf dan kertas berupa nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya” (87).
Saya katakan: Yang membenarkan apa yang diceritakan Syaikhul Islam tentang mereka adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Hazm dalam kitab al-Fashl (88), ia berkata: Ali bin Hamzah al-Muradi ash-Shiqilli ash-Shufi mengabarkan kepadaku bahwa ia melihat sebagian Asy’ariyah merebahkan mushaf dengan kakinya, ia berkata: Aku mengingkari hal itu dan berkata kepadanya: Celakalah kamu! Begitukah engkau memperlakukan mushaf, padahal di dalamnya terdapat kalam Allah Ta’ala? Ia berkata kepadaku: Celakalah kamu! Demi Allah, di dalamnya tidak ada kecuali jelaga dan kehitaman, adapun kalam Allah tidak ada, dan semacam perkataan ini yang maknanya seperti itu (89). Dan engkau -semoga Allah memberimu taufik- mungkin heran dengan keadaan yang dicapai sebagian Asy’ariyah ini, dan mungkin engkau tidak mempercayainya pada awalnya dan mengingkarinya, karena apa yang engkau lihat dari penampakan mereka memuliakan mushaf, mengagungkannya, menciumnya, dan berdiri untuknya ketika dibawa, tetapi ketika engkau memahami apa yang telah kami jelaskan tentang keyakinan mereka, maka tidaklah mustahil terjadinya hal itu dari orang-orang rendahan mereka yang tidak mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana seharusnya.
Orang-orang bodoh ini memiliki pendahulu dalam meremehkan mushaf dan tidak mengagungkannya, yaitu al-Jahm bin Shafwan -pemimpin Jahmiyyah- karena Abu Nu’aim al-Balkhi -yang seorang yang jujur- berkata:
Ada seorang laki-laki dari penduduk Marw yang berteman dengan Jahm, kemudian ia memutuskan dan menjauhkan diri darinya, lalu ditanyakan kepadanya: Mengapa engkau menjauhkan diri darinya? Ia berkata: Darinya datang sesuatu yang tidak dapat ditolerir, suatu hari aku membaca ayat sekian dan sekian, lalu ia berkata: Tidakkah Muhammad itu pandai, maka aku menahannya, kemudian ia membaca surat Thaha, ketika sampai pada: “(Yaitu) Ar-Rahman yang bersemayam di atas Arsy”, ia berkata: Demi Allah, seandainya aku menemukan jalan untuk menghapusnya dari mushaf pasti akan aku hapus, maka aku menahannya, kemudian ia membaca surat al-Qashash, ketika sampai pada penyebutan Musa ia berkata: Apa ini, kisah disebutkan di satu tempat tidak diselesaikan, kemudian disebutkan di sini tidak diselesaikan, lalu ia melempar mushaf dari pangkuannya dengan kakinya, maka aku melawannya (90).
Makna yang membuat bulu kuduk berdiri ini, yang hati menolaknya, dan agama kaum muslimin mengingkarinya, tidak ada pada Asy’ariyah terdahulu, dan Allah Ta’ala memerintahkan berbuat adil, karena mereka -berdasarkan apa yang kami sebutkan tentang keyakinan mereka terhadap Al-Quran al-Azhim- meskipun demikian mereka mengagungkan mushaf, dan memuliakan dan menghormatinya karena penunjukannya menurut mereka kepada Makna Nafsi yang Qadim, bahkan engkau menemukan di antara mereka yang tegas mengkafirkan orang yang meremehkan mushaf.
Namun bidah para pendahulu ini merugikan orang-orang bodoh belakangan ini, karena mereka memperluas bidah itu hingga mengeluarkan mereka dari Islam, dan demikianlah urusan bidah dan pengaruhnya terhadap para penganutnya.
Syaikhul Islam berkata: “Bidah pada awalnya sejengkal, kemudian bertambah banyak pada para pengikut hingga menjadi hasta, mil, dan farsakh” (91).
Ketika Syaikhul Islam menyebutkan bidah Asy’ariyah dan keyakinan batil mereka yang telah kami jelaskan, ia berkata: “Pendapat ini mengandung sejenis kesesatan dan kemunafikan, dan kebodohan tentang batasan-batasan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, dan inilah yang menyebabkan orang-orang bodoh meremehkan kehormatan ayat-ayat Allah dan nama-nama-Nya, hingga mereka menyimpang dalam nama-nama-Nya dan ayat-ayat-Nya” (92).
Dan ia berkata: “Kaum muslimin telah bersepakat bahwa siapa yang meremehkan mushaf, seperti melemparkannya ke tempat najis, atau menendangnya dengan kakinya, sebagai penghinaan terhadapnya, maka ia kafir yang boleh ditumpahkan darahnya” (93).
Pembahasan Keempat: Nama-nama Allah Ta’ala Menurut Asy’ariyah
Sesungguhnya akidah Asy’ariyah tentang kalam Allah Ta’ala menyeret mereka untuk memasukkan nama-nama-Nya yang indah ke dalam apa yang mereka yakini, tetapi dalam ungkapan mereka tentang itu ada kekaburan yang tidak disadari oleh orang yang tidak memahami maksud mereka, karena mereka melontarkan pernyataan: Nama-nama Allah tidak diciptakan, dan pernyataan ini juga ada pada Ahlussunnah, namun makna menurut Asy’ariyah berbeda dengan maknanya menurut Ahlussunnah.
Penjelasannya:
Bahwa Asy’ariyah mengatakan: Nama adalah yang dinamai, dan mereka melontarkan pernyataan itu secara mutlak, maksud mereka: bahwa nama adalah sama dengan yang dinamai, maka nama Allah menurut mereka adalah Allah, maka nama menurut mereka adalah Dzat, bukan yang menunjukkan kepada-Nya, dan makna ini tidak ada yang mendahului mereka, dan manusia tidak mengenal nama kecuali ucapan yang menunjukkan kepada yang dinamai.
Ketika mereka berargumen dengan banyaknya nama-nama Allah Ta’ala, sedangkan Dzat adalah satu tidak banyak, mereka berkata: Yang dimaksud dengan nama-nama ketika banyak adalah penamaan-penamaan bukan Dzat-Dzat, maka hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama” maknanya: sembilan puluh sembilan penamaan, dan firman-Nya Ta’ala: “Dan milik Allah nama-nama yang indah” (al-A’raf: 180) maknanya: penamaan-penamaan, dan penamaan-penamaan adalah ucapan-ucapan yang tersusun dari huruf-huruf, seperti: (ar-Rahman, ar-Rahim, as-Sami’, al-‘Alim) (1) dan ini makhluk menurut mereka; karena lafal-lafal, dan lafal-lafal adalah makhluk.
Ini dari mereka adalah pelanggaran terhadap apa yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah dan ucapan orang Arab, karena orang Arab tidak mengenal penamaan kecuali pengucapan nama dan berbicara dengannya, dan itu bukan nama itu sendiri, dan nama-nama sesuatu adalah lafal-lafal yang mengenal dan menunjukkan kepadanya, bukan sama dengan benda-benda itu (2).
Maka (Zaid) adalah nama diri tanpa perdebatan, jika seseorang dinamai dengannya maka itu bukan sama dengan yang dinamai, melainkan lafal yang menunjukkan kepadanya, dan pengucapan lafal ini untuk Zaid adalah penamaannya dengannya, dan ini jelas tidak tersembunyi insya Allah.
Kitab dan Sunnah telah menyatakan bahwa Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang indah, Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang indah (Asmaul Husna)'” (al-Isra’: 110) dan berfirman: “Dan milik Allah nama-nama yang indah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu” (al-A’raf: 180) dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang menghafalnya masuk surga” (3).
Maka Jahmiyyah dan Mu’tazilah berkata: Nama berbeda dengan yang dinamai, maka nama-nama Allah adalah selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk, maka (ar-Rahman, ar-Rahim, al-Hayy, al-Qayyum…) nama-nama yang tersusun dari huruf-huruf ini, dan nama-nama indah lainnya adalah makhluk menurut mereka.
Maka Asy’ariyah dan yang sejenis dengan mereka ingin membatalkan pendapat mereka, lalu berkata: Nama adalah yang dinamai, yaitu: sama dengannya, maka nama Allah adalah Allah, dan Allah tidak diciptakan, maka nama-Nya tidak diciptakan, dan ini sebenarnya Jahmiyyah tidak berbeda di dalamnya, karena mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak diciptakan dan mereka hanya mengatakan penciptaan nama-nama yang merupakan ucapan-ucapan yang menunjukkan kepada yang dinamai seperti (ar-Rahman, ar-Rahim) dan ini menurut Asy’ariyah adalah penamaan-penamaan, dan lafal-lafal itu makhluk, maka apa perbedaan antara keyakinan kedua kelompok dari segi hakikat dan makna?
Syaikhul Islam berkata: “Mereka menyetujui Jahmiyyah dan Mu’tazilah dalam makna, dan menyetujui Ahlussunnah dalam lafal” (4).
Para Salaf tidak mengenal pembicaraan tentang nama dan yang dinamai, melainkan hanya mengetahui bahwa Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang indah, ketika muncul perkataan Jahmiyyah tentang itu para imam mengingkarinya, dan ada di antara ulama Sunnah yang melontarkan perkataan dalam menolak mereka, lalu berkata: Nama adalah yang dinamai, dan pernyataan ini sesuai dengan pernyataan Asy’ariyah, tetapi berbeda dalam makna, karena siapa yang melontarkan itu dari imam-imam Sunnah tidak bermaksud bahwa nama adalah sama dengan yang dinamai.
Kebanyakan imam Sunnah mengingkari perkataan ini baik penafian maupun penetapan, karena kedua pernyataan itu adalah bidah yang menyeret kepada bahaya, sebagaimana menyeret Jahmiyyah dan Asy’ariyah kepada perkataan tentang penciptaan nama-nama yang indah (5).
Dan pernyataan para pembuat bid’ah ini menjadi batal, bahwa nama-nama Allah Taala adalah bagian dari kalam-Nya. Kami telah menjelaskan keyakinan tentang hal ini, bahwa kalam Allah tidak makhluk, maka nama-nama-Nya pun tidak makhluk.
Demikian juga yang ditegaskan oleh para imam rahimahullah, dan mereka memberikan dalil dengan menyebutkan nama-nama dalam kalam Allah untuk membatalkan perkataan orang yang mengatakan bahwa Al-Quran berbahasa Arab yang jelas adalah makhluk.
Di antaranya:
- Perkataan Imam asy-Syafii rahimahullah: “Barangsiapa bersumpah dengan salah satu nama Allah lalu melanggarnya, maka wajib atasnya kafarat, karena nama Allah bukan makhluk. Sedangkan barangsiapa bersumpah dengan Ka’bah atau Shafa dan Marwah, maka tidak ada kafarat atasnya, karena itu adalah makhluk, sedangkan yang itu bukan makhluk.”
Penulis berkata: Sumpah itu dilakukan dengan lafaz-lafaz seperti “Wallahi”, “Ar-Rahman”, “Al-Khaliq”, “Al-Aziz” dan semacamnya. Jika dikatakan bahwa lafaz-lafaz ini adalah makhluk, sedangkan yang bukan makhluk adalah yang dinamainya—sebagaimana dikatakan oleh para pengkaji Asy’ariyah—dan lafaz-lafaz ini ditetapkan untuk menunjukkan kepada-Nya, maka tidak ada perbedaan antara bersumpah dengannya dengan bersumpah dengan Ka’bah, Shafa, dan Marwah, karena semuanya makhluk. Hal itu karena orang yang bersumpah sesungguhnya bersumpah dengan nama yang merupakan ucapan dan lafaz yang tersusun dari huruf-huruf, yang dimaksudkan dengannya adalah yang dinamai. Lafaz-lafaz ini menurut Asy’ariyah adalah penamaan-penamaan yang makhluk.
- Perkataan Abu Daud: Aku mendengar Ahmad—yaitu Ibnu Hanbal—disebutkan kepadanya bahwa ada seorang laki-laki yang berkata: Sesungguhnya nama-nama Allah adalah makhluk, dan Al-Quran adalah makhluk. Ahmad berkata: “Kekufuran yang nyata.”
Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengatakan: Al-Quran adalah makhluk, maka dia menurut kami adalah kafir, karena Al-Quran adalah bagian dari ilmu Allah Azza wa Jalla, dan di dalamnya terdapat nama-nama Allah Azza wa Jalla.”
- Perkataan Ishaq bin Rahawaih: “Mereka—yakni Jahmiyah—sampai pada perkataan: nama-nama Allah adalah makhluk, karena Allah ada sedangkan tidak ada nama. Ini adalah kekufuran yang murni, karena bagi Allah nama-nama yang husna (Asmaul Husna). Barangsiapa memisahkan antara Allah dengan nama-nama-Nya, ilmu-Nya dan kehendak-Nya, lalu menjadikan semua itu makhluk, sedangkan Allah adalah pencipta semuanya, maka dia telah kafir. Bagi Allah Azza wa Jalla ada sembilan puluh sembilan nama, hal itu sahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau mengatakannya. Sungguh sebagian orang yang dinisbatkan kepada Jahm telah berkata dengan perkataan yang besar, dia berkata: Jika aku mengatakan bahwa Tuhan memiliki sembilan puluh sembilan nama, niscaya aku menyembah sembilan puluh sembuh tuhan. Bahkan dia berkata: Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah yang Esa lagi tempat bergantung (Al-Wahid As-Shamad), sesungguhnya aku hanya menyembah yang dimaksud dengan-Nya. Maka ucapan apakah yang lebih keras kedustaannya dan lebih besar dari ini, sehingga seorang laki-laki mengucapkan bahwa dia berkata: Aku tidak menyembah Allah?”
Penulis berkata: Jahmiyah bermaksud mengingkari nama-nama Allah dengan dalih bahwa banyaknya nama berarti banyaknya tuhan. Maka mereka berkata: Nama-nama itu selain Allah, dan nama-nama itu makhluk, agar mereka membatalkan keterkaitan nama-nama itu dengan Allah Taala. Sedangkan Asy’ariyah berkata: Banyaknya (nama) adalah dalil bahwa nama-nama itu baru dan makhluk. Yang qadim (azali) tidak berbilang, sedangkan nama-nama dapat dihitung. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa menghitungnya (menguasainya) akan masuk surga.” Pembatasan dan penghitungan tidak terjadi kecuali pada yang makhluk. Maka nama-nama ini adalah makhluk, dan nama-nama itu menunjukkan kepada yang dinamai, sebagaimana lafaz-lafaz dalam perkataan menunjukkan kepada kalam yang hakiki, dan bukan lafaz-lafaz itu yang merupakan kalam. Tetapi mereka kesulitan mengatakan bahwa nama-nama adalah makhluk, maka mereka berkata: Nama-nama itu tidak makhluk, karena nama adalah yang dinamai, dan yang berbilang adalah penamaan-penamaan, bukan nama. Maka mereka membatalkan yang diketahui dari bahasa dan syariat dengan pendapat yang rusak.
Sungguh al-Bukhari rahimahullah telah mengajukan konsekuensi logis kepada Jahmiyah yang juga berlaku bagi Asy’ariyah. Beliau berkata:
“Mereka berkata: Sesungguhnya nama Allah adalah makhluk. Maka mereka harus mengatakan ketika muazin mengumandangkan azan: Tidak ada tuhan kecuali Dzat yang namanya adalah Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Dzat yang namanya adalah Allah, karena mereka berkata: Sesungguhnya nama Allah adalah makhluk.”
Maka perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—mazhab Asy’ariyah tentang nama-nama Allah, dan ketahuilah bahwa mereka mensucikan nama Allah yang qadim dari tersusun atas huruf-huruf yang teratur.
Ibnu Asakir—yang termasuk golongan mereka dengan ilmu dan kebesaran yang dimilikinya—berkata ketika menggambarkan musyabbihah (pembuat tasybih): “Mereka berlebihan dalam menetapkan kalam-Nya—yaitu Allah Taala—hingga mereka mengira dengan kebodohan mereka bahwa kalam itu dapat terbagi dan terpisah, dan mereka menyangka nama Allah yang qadim adalah alif dan ha’ yang mengikuti lam dan lam.”
Penulis berkata: Kalimat ini bukanlah keyakinan musyabbihah yang sesat, melainkan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang bersih dari keyakinan para ahli bid’ah. Kami telah menjelaskannya tentang mereka pada pembahasan sebelumnya di Bab Pertama, dan kami telah menjelaskan bahwa kalam Allah dapat terbagi dan terpisah, dan Al-Quran ini adalah hujjah yang paling jelas atas hal itu. Kami jelaskan di sini bahwa nama-nama Allah Taala adalah lafaz-lafaz yang menunjukkan kepada makna-makna, yang Allah memperkenalkan diri-Nya dengannya, sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang lain. Sesungguhnya nama-nama-Nya adalah sifat-sifat bagi-Nya Taala. Nama “Allah” adalah yang tersusun dari alif dan ha’ yang mengikuti lam dan lam, karena nama Allah menurut kami adalah yang menunjukkan kepada dzat-Nya Taala. Tidakkah engkau lihat bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertasbih kepada-Nya sebagaimana Dia memerintahkan mereka bertasbih dengan nama-Nya? Maka Dia berfirman: “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 42) Dan Dia berfirman: “Bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-A’la: 1) Dan Dia berfirman: “Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Agung.” (QS. Al-Waqi’ah: 74, 96; Al-Haqqah: 52). Para hamba menjawab: Subhanallah, Subhana Rabbiyal A’la, Subhana Rabbiyal Azhim. Maka Allah menjelaskan bahwa bertasbih dengan nama-Nya adalah bertasbih kepada-Nya, karena nama sesungguhnya dimaksudkan dengannya adalah yang dinamai. Demikian juga dalam berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya dan berdzikir dengan nama-nama itu.
Demikian juga Allah menjelaskan bahwa nama-Nya Taala adalah berkah. Dia berfirman: “Maha berkah nama Tuhanmu Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78) Dan Dia berfirman: “Maha berkah Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf: 54) Maka nama-nama-Nya Taala diberkahi karena berkahnya Yang dinamai dengannya, yaitu Tuhan Taala.
Yang dimaksud di sini adalah menjelaskan bahwa Asy’ariyah menyimpang dari kebenaran dengan keyakinan mereka bahwa Asmaul Husna yang berbilang bagi Allah Taala sesungguhnya adalah penamaan-penamaan, yaitu lafaz-lafaz yang baru dan makhluk, sedangkan nama Allah yang qadim adalah dzat-Nya Taala.
Dan penjelasan bahwa ini tidak ada perbedaan dalam makna dan hakikat dengan perkataan Jahmiyah, karena semuanya mengatakan bahwa nama-nama adalah makhluk, yaitu lafaz-lafaz yang dimaksudkan dengannya adalah yang dinamai. Mereka mencegah hal itu karena banyaknya nama. Hanya saja Jahmiyah menyatakan secara tegas bahwa banyaknya nama berarti banyaknya dzat, dan ini menurut mereka berarti banyaknya tuhan. Sedangkan Asy’ariyah tidak menyatakan hal itu secara tegas. Maka perbedaan antara mereka dengan Jahmiyah dalam masalah ini adalah perbedaan lafaz saja.
Pembahasan Kelima: Wajah Kesesuaian antara Perkataan Mu’tazilah dan Asy’ariyah tentang Al-Quran
Setelah paparan ini tentang keyakinan Asy’ariyah mengenai kalam Allah Taala, dan perbandingannya dengan keyakinan Salaf, serta keyakinan Jahmiyah Mu’tazilah, menjadi jelas bagimu bahwa mereka menyimpang dalam hal itu dari keyakinan Salaf dan para imam serta berbeda dengan mereka, dan bahwa mereka pada hakikatnya sepaham dengan Mu’tazilah Jahmiyah. Perbedaan antara mereka dengan Mu’tazilah tampaknya merupakan perbedaan lafaz saja, bahkan menurut saya memang demikian. Hal ini telah dinyatakan secara tegas oleh pengkaji mereka, Imamul Haramain. Dia berkata: “Perkataan mereka bahwa Al-Quran adalah kalam Allah Taala, jika dikembalikan kepada hakikatnya, maka persoalan kembali kepada bahasa dan penamaan. Sesungguhnya makna perkataan mereka bahwa ungkapan-ungkapan ini adalah kalam Allah adalah bahwa ungkapan-ungkapan itu adalah ciptaan-Nya. Kami tidak mengingkari bahwa ungkapan-ungkapan itu adalah ciptaan Allah, tetapi kami menolak menyebut pencipta kalam sebagai yang berbicara dengannya. Maka kami telah sepakat dalam makna, dan kami berselisih setelah kesepakatan itu dalam penamaannya.”
Penulis berkata: Penjelasan kesesuaian ini dengan keyakinan Mu’tazilah dari dua segi:
Pertama: Mu’tazilah tidak membolehkan berdirinya sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan pada dzat-Nya Taala. Maka Asy’ariyah sepakat dengan mereka dalam meniadakan berdirinya perbuatan-perbuatan pada dzat-Nya Taala. Karena itu mereka meniadakan bahwa dapat berdiri pada-Nya apa yang terkait dengan kehendak dan pilihan-Nya. Maka lahirlah perkataan mereka: Kalam adalah makna yang satu dan azali—dan aku telah menjelaskan kepadamu tentang batalnya mazhab ini. Mereka berkata: Semua yang terkait dengan kehendak dan kekuasaan adalah makhluk. Maka Asy’ariyah sepakat dengan Mu’tazilah dalam sebagian perkataan mereka, yaitu meniadakan berdirinya perbuatan-perbuatan, dan berkata: Perbuatan-perbuatan adalah makhluk. Mereka menetapkan berdirinya sifat-sifat dengan perincian yang bukan tempatnya di sini.
Kedua: Sesungguhnya apa yang tersusun dari huruf dan lafaz adalah makhluk menurut Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Tetapi Asy’ariyah berkata: Al-Quran adalah ungkapan tentang kalam yang qadim. Sedangkan Mu’tazilah berkata: Bahkan Al-Quran adalah kalam Allah secara hakiki, karena mereka tidak mengakui perkataan Asy’ariyah yang telah kami jelaskan tentang mereka dalam menetapkan kalam nafsi karena rusaknya perkataan itu.
Maka perkataan mereka kembali kepada kesepakatan bahwa Al-Quran berbahasa Arab adalah makhluk. Dalam perkataan Mu’tazilah ada kesesuaian lafaz dengan Salaf dalam masalah ini lebih banyak daripada perkataan Asy’ariyah, yaitu karena mereka menamakannya kalam Allah secara hakiki. Adapun Asy’ariyah, maka hakikat perkataan mereka adalah bahwa Allah tidak memiliki kalam di bumi secara hakiki, dan mereka menyebut Al-Quran sebagai kalam Allah secara majaz menurut pendapat mereka yang paling kuat.
Syaikhul Islam berkata: “Ini lebih buruk dari perkataan Mu’tazilah, dan ini adalah hakikat perkataan Jahmiyah.”
Telah ditetapkan bahwa kalam Allah Taala adalah makna-makna dan lafaz-lafaz yang Tuhan kita berkata-kata dengannya kapan saja Dia kehendaki dan sebagaimana Dia kehendaki. Al-Quran berbahasa Arab adalah kalam-Nya, Taurat berbahasa Ibrani adalah kalam-Nya, dan semua itu secara hakiki bukan secara majaz. Kalam Allah tidak makhluk bagaimanapun bentuknya. Kaum muslimin sejak zaman kenabian tidak mengenal Al-Quran selain yang berbahasa Arab ini. Mereka tidak mengenal apa yang ada di antara dua sampul (mushaf) kecuali kalam Allah secara hakiki. Maka Mu’tazilah Jahmiyah membantah mereka tentang Al-Quran ini, bukan yang lainnya. Mereka berkata: Al-Quran adalah makhluk. Ahlus Sunnah berkata: Kalam Allah tidak makhluk. Tidak terlintas dalam pikiran siapa pun sebelum Ibnu Kullab—asal Asy’ariyah—bahwa kalam Allah adalah kalam nafsi dan itu tidak makhluk. Para imam diuji dan terjadi ujian bagi umat semuanya karena Al-Quran berbahasa Arab ini, bukan karena kalam nafsi yang tidak diketahui dan tidak dikenal orang. Sungguh lebih mudah bagi mereka untuk mengatakan kepada manusia dengan perkataan Jahmiyah tentang Al-Quran ini dan menyepakati mereka tentangnya, karena orang awam dari kaum muslimin tidak mengetahui perbedaan pendapat kecuali tentang Al-Quran ini, karena mereka tidak mengetahui Al-Quran selainnya. Oleh karena itu lebih mudah bagi mereka dalam ujian itu daripada pembunuhan dan penyiksaan, karena tidak ada yang terlarang dalam hal itu menurut Asy’ariyah kecuali menutup pintu yang mengarah kepada larangan, sebagaimana dikatakan oleh lebih dari satu imam mereka.
Al-Bajuri al-Asy’ari berkata: “Meskipun lafaz yang kita baca adalah baru, tidak boleh dikatakan: Al-Quran adalah baru, kecuali dalam konteks pengajaran, karena lafaz itu juga berlaku untuk sifat yang berdiri pada dzat-Nya, tetapi secara majaz menurut pendapat yang paling kuat. Maka barangkali dikira dari ungkapan bahwa Al-Quran adalah baru bahwa sifat yang berdiri pada dzat-Nya Taala adalah baru. Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hanbal dipukul dan dipenjara agar dia mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka dia tidak rela (mengatakannya).”
Dia juga berkata: “Tetapi tidak boleh dikatakan: Al-Quran adalah baru, atau kalam Allah adalah baru, karena meskipun yang dimaksud adalah lafaz-lafaz ini, tetapi hal itu mengisyaratkan sifat yang qadim. Oleh karena itu tidak boleh dikatakan: Al-Quran adalah makhluk, atau kalam Allah adalah makhluk. Sungguh banyak ulama yang diuji agar mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk.”
Saya katakan: Dan ini adalah pernyataan yang keliru, yang mengandung kedustaan terhadap para imam, khususnya Imam Ahmad. Karena sesungguhnya beliau rahimahullah tidak pernah datang darinya sekedar ucapan mutlak: Al-Quran tidak diciptakan. Akan tetapi beliau menegaskan pembatalan perkataan pendahulu Asy’ariyah yang muncul di akhir masa hidupnya seperti Al-Karabisi dan Ibnu Kullab. Mereka adalah kaum Lafizhiyah An-Nafiyah (yang menafikan) yang telah saya jelaskan keyakinan mereka dalam bab kedua. Bahkan beliau menegaskan bahwa mereka adalah kaum Jahmiyah. Teks-teks beliau lebih jelas daripada untuk ditafsirkan dan dirinci dalam hal itu. Bahkan beliau dan seluruh saudara-saudaranya dari kalangan para imam adalah orang-orang yang paling jauh dari keyakinan kaum Lafizhiyah yang berkeyakinan bahwa lafal-lafal Alquran adalah makhluk.
Seandainya perkara itu seperti yang kalian duga bahwa perkataan para imam: Al-Quran tidak diciptakan, adalah untuk menutup sarana (saddud dzari’ah), agar tidak dipahami bahwa kalam nafsi (kalam dalam jiwa) adalah makhluk, maka ini adalah kebodohan dari mereka dan ketidakpahaman terhadap sedikitpun maksud-maksud syariat – dan mereka jauh dari hal itu – karena perkara menurut perkataan kalian pada hakikatnya justru akan menjadi pembukaan pintu sarana bukan penutupannya. Karena kerancuan dan pengelabuan terhadap umat dengan perkataan para imam: Al-Quran tidak diciptakan, lebih keras dan lebih besar. Yang demikian karena umat semuanya mengikuti mereka dalam perkataan ini, dan umat tidak mengetahui maksud perkataan mereka kecuali tertuju kepada Alquran yang ada di antara dua sampul ini. Maka mereka menisbatkan kalam yang makhluk – menurut kalian – kepada Allah, menjadikannya sebagai sifat-Nya, dan mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam hal itu dengan mengikuti para imam mereka. Maka pintu ini lebih memerlukan penutupan daripada pintu kalam nafsi karena besarnya bencana karenanya. Tetapi kalian terhalang dari taufik sehingga tidak memahami apa yang kalian katakan. Dan ini sebagian dari yang pantas kalian terima sebagai balasan dari berpaling kalian dari wahyu yang ma’shum, dan menghadap kalian kepada ilmu kalam yang tercela.
Sebagai tambahan dari ini, maka sesungguhnya kami – golongan Ahlus Sunnah – memberi kalian tenggang waktu sepanjang umur kalian semua – dan sungguh kami telah memberi kalian tenggang waktu berabad-abad – untuk datang dengan satu nukilan shahih atau dhaif pun dari salah seorang dari para imam pada zaman Muktazilah dan sebelumnya sampai zaman kenabian, yang menyatakan untuk kalian bahwa kalam Allah adalah satu makna yang terlepas dari lafal-lafal, dan lafal-lafal itu bukan kalam Allah secara hakiki, jika kalian orang-orang yang benar.
Inilah yang kami yakini ketidakmampuan kalian terhadapnya. Bahkan kalian tidak suka berbicara tentangnya karena takut terbongkar aib dan tampaklah keburukan-keburukan. Maka inilah sahabat kalian Al-Bajuri mengatakan larangan menyebutkan keyakinan kalian kepada siapa pun kecuali dengan cara penjelasan dan perincian. Dan seandainya dikatakan: dengan cara pengelabuan dan penyesatan, niscaya lebih pantas. Dan kalau tidak, maka tauhid apakah ini yang berdiri di atas penyembunyian dan penyamaran?
Maka apa makna yang kalian selisihi padanya dengan Muktazilah dan kalian berpura-pura menolak mereka padanya?
Tidak ada bagi kalian kecuali bahwa Muktazilah tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah kecuali yang makhluk, dan mereka tidak membedakan antara yang makhluk dan kalam nafsi yang qadim.
Dan ini adalah pengelabuan yang telah terbongkar dengan karunia Allah dan anugerah-Nya. Dan Muktazilah lebih baik dari kalian ketika mereka membatalkan kalam nafsi yang kalian ada-adakan ini, meskipun mereka dalam kebid’ahan dan keburukan. Sedangkan kalian mengira bahwa kalian telah sesuai dengan Salaf dan para imam dalam menetapkan sifat kalam. Padahal Salaf tidak mengetahui kalam Allah taala menurut tafsir kalian. Bahkan mereka tidak mengetahui kalam Allah kecuali yang diklaim oleh Muktazilah Jahmiyah bahwa ia makhluk. Dan perkataan Jahmiyah inilah yang merupakan perkataan kalian.
Maka Salaf dan Ahlus Sunnah berlepas diri dari keyakinan kalian.
Dan dengan ini maka saya kira engkau telah memahami wajah kesesuaian antara perkataan Muktazilah dan Asy’ariyah, dan bahwa sesungguhnya pada hakikatnya adalah satu perkataan. Tetapi Muktazilah mendatangkannya secara terang-terangan tanpa kerancuan padanya, sedangkan mereka (Asy’ariyah) mengatakan dengannya dengan cara yang berbelit-belit dan meragukan. Dan sungguh saya telah menyebutkan dalam bab kedua dalam masalah lafal bahwa perkataan tentang penciptaan lafal-lafal yang diturunkan adalah perkataan yang digunakan kaum Jahmiyah untuk menyembunyikan diri agar mereka mengelabui manusia dalam agama mereka.
Syaikhul Islam berkata: “Jumhur manusia berkata: Sesungguhnya para penganut perkataan ini pada hakikatnya tidak menetapkan bagi-Nya kalam yang hakiki selain yang makhluk.” (16)
Pembahasan Keenam: Asy’ariyah dan Ahlus Sunnah dalam Masalah Alquran
Sungguh Muktazilah pada zaman dahulu menyifati diri mereka dengan (Ahlus Sunnah) dan banyak dari ahli bid’ah yang demikian. Dan Asy’ariyah serta Maturidiyah termasuk yang menyandang gelar ini. Mereka menyifati diri mereka dengan (Ahlus Sunnah) dan mereka mengatakan dalam keyakinan mereka: Sesungguhnya itu adalah (keyakinan Ahlus Sunnah) dan mungkin mereka menguatkan itu dengan bahwa di antara mereka banyak dari ahli fikih dan hadits, dan perawi sunan dan atsar.
Az-Zabidi berkata: “Apabila disebutkan: Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud dengan mereka adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.” (17)
Saya katakan: Dan mereka memenangkan itu dengan banyaknya pengikut, dan inilah yang membuat tertipu banyak dari orang-orang zaman kita dan mereka lupa akan kegharibahan ahli kebenaran.
Dan sungguh Imam Ahmad dan para pengikutnya adalah minoritas dibandingkan Muktazilah ketika bersama mereka ada kekuatan penguasa. Dan ini tidak menjadi hujjah dalam timbangan ahli kebenaran atas kebenaran keyakinan mereka. Dan di antara mereka ada yang dinisbatkan kepada fikih, hadits dan ilmu. Dan sesungguhnya timbangan adalah mengembalikan pendapat-pendapat, perkataan-perkataan dan madzhab-madzhab kepada Kitab dan Sunnah dan apa yang telah ada padanya Salaf umat. Dan ini tidak memerlukan penjelasan, karena tidak tersembunyi yang sepertinya kepada orang-orang yang insaf, ikhlas dan mengikuti. Maka apa yang sesuai dengan syariat darinya diterima, dan apa yang tidak sesuai dibuang dan ditolak.
Dan klaim yang telanjang murah bagi yang mengatakannya. Dan tidak pernah ada bagi pemilik bid’ah dalam suatu hari dari masa untuk mengatakan: Sesungguhnya saya pembid’ah, atau pemilik hawa nafsu, terutama jika ia menginginkan penyakitnya menyebar di tengah manusia. Karena sesungguhnya ia bergelar dengan sebaik-baik gelar, dan menamakan diri dengan sebaik-baik nama.
Dan sebagaimana batalnya klaim Muktazilah Jahmiyah pada zaman dahulu, batallah klaim Asy’ariyah dan Maturidiyah di sisi ahli kebenaran dan Sunnah. Dan sungguh saya telah menjelaskan dari itu apa yang di dalamnya terdapat dalil yang memutuskan tentang penyelisihan Asy’ariyah dan Maturidiyah terhadap keyakinan Ahlus Sunnah dan terhadap manhaj Salaf. Dengan bahwa saya membahas keyakinan mereka dalam masalah Alquran dan sebagian yang berkaitan dengannya, bukan seluruh masalah-masalah yang mereka keluar padanya dari jalan yang lurus. Karena sesungguhnya mereka memiliki dari keyakinan-keyakinan yang batil selain yang saya jelaskan, banyak sekali.
Dan engkau wahai orang yang melihat perkataan saya adalah salah satu dari dua orang: Jika engkau orang yang insaf mencari kebenaran karena mengharap wajah Allah, atau jika engkau tidak demikian. Maka jika engkau yang pertama, engkau akan mengetahui kebenaran insya Allah dan jelas bagimu. Dan jika engkau yang kedua, maka saya tidak mengharapkanmu, maka janganlah melelahkan dirimu.
Dan seandainya engkau kembali ke bab kedua dari kitab saya ini dan melihat dengan sedikitnya ta’ammul apa yang saya sebutkan tentang kaum Lafizhiyah yang dijahmi-kan Imam Ahmad dan selainnya dari para imam, engkau akan tahu bahwa itu pas sekali tertuju kepada Asy’ariyah dan Maturidiyah. Bahkan sesungguhnya kaum Lafizhiyah yang pertama yang diingkari Imam Ahmad dan selainnya dari para imam Sunnah perkataan mereka lebih baik dari mereka ini dan lebih dekat kepada kebenaran dari mereka. Karena sesungguhnya orang-orang itu tidak tercatat dari mereka pernyataan bahwa Allah tidak berbicara dengan huruf dan tidak dengan suara (18), dan tidak menafikan keterikatan kalam dengan kehendak dan kekuasaan. Maka datanglah asal dari para mubtadi’ ini, Ibnu Kullab, lalu memasukkan kepada manusia kebatilan-kebatilan ini.
Dan sesungguhnya saya akan menyebutkan untukmu sebagian perkataan para imam dalam mengingkari perkataan Kullabiyah dan orang yang menyesuaikan mereka seperti Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam kalam Allah taala, selain apa yang saya sebutkan dalam bab kedua:
1 – Imam Ahmad bin Hanbal:
Perkataan Ibnu Kullab tidak nyata dalam zaman Imam Ahmad, kecuali perkataan tentang penciptaan lafal-lafal Alquran. Dan telah lewat penjelasan pengingkaran Imam Ahmad terhadap itu dengan sangat keras dan pembid’ahan orang yang mengatakan perkataan ini, bahkan pengkafiran dan penjahmi-annya.
Dan dengan itu, sungguh Imam Ahmad telah mengetahui tentang Ibnu Kullab, dan bahwa ia dari kaum Lafizhiyah yang berkata: Lafal-lafal kami dengan Alquran adalah makhluk. Maka beliau mengingkari bid’ahnya, dan bersikap keras terhadap para sahabatnya, seperti Al-Harits Al-Muhasibi, karena itu.
Dan sungguh telah bertanya sebagian dari yang condong kepada perkataan Ibnu Kullab kepada imam Abu Bakar bin Khuzaimah, lalu ia berkata: Apa yang engkau ingkari dari madzhab-madzhab kami wahai imam sehingga kami kembali darinya? Beliau berkata: “Kecenderungan kalian kepada madzhab Kullabiyah, karena sungguh Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Sa’id (yaitu Ibnu Kullab) dan terhadap para sahabatnya, seperti Al-Harits, dan selainnya.” (19)
Dan sungguh Al-Asy’ari sendiri telah menukil dari Imam Ahmad perkataannya: “Kami tidak perlu meragukan Alquran ini di sisi kami, di dalamnya terdapat nama-nama Allah, dan ia dari ilmu Allah. Maka barangsiapa berkata kepada kami: Sesungguhnya ia makhluk, maka ia menurut kami kafir.” (20)
Saya katakan: Dan nash ini tertuju kepada Asy’ariyah dari beberapa wajah:
Pertama: Bahwa kalam menurut mereka berbeda dengan ilmu, dan tidak sama dengannya secara mutlak.
Al-Bajuri Al-Asy’ari berkata: “Dan kalam adalah: perkataan, dan apa yang mencukupi dengan dirinya. Dan ilmu adalah: pengetahuan, sebagaimana diambil dari Al-Qamus dalam tempat-tempat yang banyak. Dan apabila terbukti bahwa keduanya berbeda secara bahasa, maka keduanya berbeda secara syara’. Dan kesimpulannya, hakikat masing-masing adalah selain hakikat yang lain, dan kami menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada Allah taala.” (21)
Saya katakan: Kami tidak ragu bahwa kalam Allah taala dari ilmu-Nya, sebagaimana firman Allah taala: “Yang Maha Pengasih (1) Mengajarkan Alquran” (Surah Ar-Rahman: 1-2) dan sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang kepadamu dari ilmu…” (Surah Al-Baqarah: 145) dan sebagaimana firman-Nya: “Maka barangsiapa yang membantahmu tentangnya setelah datang kepadamu dari ilmu” (Surah Ali Imran: 61). Dan hal ini adalah dari hujjah Imam Ahmad terhadap Jahmiyah dalam apa yang kami sebutkan tentangnya dalam bab pertama (22).
Yang kedua: Kalam Allah menurut mereka tidak dapat dibagi-bagi, demikian pula ilmu-Nya, sedangkan Imam Ahmad menjadikan Al-Quran sebagai sebagian dari ilmu Allah Taala.
Yang ketiga: Ucapannya: “Al-Quran ini” adalah isyarat kepada sesuatu yang hadir, dan ia menegaskannya dengan ucapannya: “di sisi kami” dan tidak ada di sisi kami kecuali Al-Quran Arab ini.
Yang keempat: Ia menetapkan bahwa nama-nama Allah Taala terdapat dalam Al-Quran yang ditunjuk ini, dan tidak ada seorang pun yang memahami dari itu kecuali Asmaul Husna, seperti (Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim) dan selain itu, dan ini menurut Asyariyah adalah penamaan yang makhluk, karena tersusun dari huruf-huruf, dan Al-Quran Arab itu sendiri menurut mereka adalah makhluk, karena tersusun dari huruf-huruf, hingga kebatilan-kebatilan mereka yang lain.
Maka Asyariyah menyelisihi nash Imam Ahmad dari awal hingga akhir, maka engkau lihat kepada siapa berlaku ucapan Ahmad rahimahullah: “Maka barangsiapa berkata kepada kami: Sesungguhnya ia makhluk maka ia menurut kami adalah kafir”? Dan terhadap siapa?!
Dan sungguh telah saya sebutkan sebelumnya ucapan Ahmad bin Said Ad-Darimi: Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal: Aku sampaikan kepadamu perkataanku, dan jika engkau mengingkari sesuatu darinya maka katakanlah: Sesungguhnya aku mengingkarinya, aku berkata kepadanya: Kami mengatakan: Al-Quran adalah kalam Allah dari awal hingga akhirnya, tidak ada sesuatu pun darinya yang makhluk, dan barangsiapa mengira bahwa sesuatu darinya adalah makhluk maka ia kafir, maka ia tidak mengingkari sesuatu pun darinya, dan ia meridainya.
Aku katakan: Dan Asyariyah berkata: Kalam yang memiliki awal dan akhir serta dapat dibagi-bagi maka ia makhluk.
Maka siapa yang dimaksud dengan ucapannya: “Dan barangsiapa mengira bahwa sesuatu darinya adalah makhluk maka ia kafir”?
2 – Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Imam para Imam:
Ia rahimahullah Taala sangat keras terhadap Kullabiyah -asal Asyariyah dan Maturidiyah-.
Dan sungguh Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshari menyebutkan dalam “Manaqib Al-Imam Ahmad” fitnah Kullabiyah, dan ia berkata:
“Maka terbang menghadapi fitnah itu Imam Abu Bakar -yaitu Ibnu Khuzaimah- dan ia tidak henti-hentinya berteriak mencela mereka, dan menulis dalam membantahnya, seolah-olah ia adalah penjaga tentara, hingga dicatat dalam catatan-catatan, dan tertanam dalam hati-hati, dan diajarkan di tempat-tempat pengajian, dan diukir di mihrab-mihrab: Sesungguhnya Allah berbicara, jika Ia berkehendak berbicara, dan jika Ia berkehendak diam, maka semoga Allah membalas imam itu, dan orang-orang pilihan yang mulia itu atas pertolongan mereka terhadap agama-Nya dan penghormatan mereka terhadap Nabi-Nya dengan kebaikan.”
Dan ia memiliki kisah-kisah yang terjadi bersamanya dengan Kullabiyah yang menunjukkan kekerasan beliau terhadap mereka, dan pengingkarannya terhadap keyakinan mereka tentang Al-Quran.
3 – Al-Hafizh Ats-Tsiqah Ahmad bin Sinan Al-Wasithi:
Ia rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengira bahwa Al-Quran adalah dua hal, atau bahwa Al-Quran adalah hikayah (kisah), maka ia demi Allah yang tiada tuhan selain Dia adalah zindiq, kafir kepada Allah, Al-Quran ini adalah Al-Quran yang diturunkan Allah melalui lisan Jibril kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tidak berubah dan tidak berganti, tidak datang kepadanya kebatilan dari depannya dan tidak dari belakangnya…”
Aku katakan: Dan yang mengatakan: dua hal, pada mulanya, adalah Dawud Al-Ashbahani, dan yang mengatakan: hikayah adalah Ibnu Kullab -asal Asyariyah dan Maturidiyah- namun Al-Asyari menyelisihinya dalam melontarkan lafazh (hikayah) terhadap Al-Quran Arab, dan ia berkata: Ia adalah ungkapan, karena ia berpandangan bahwa lafazh (hikayah) tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
Imam Al-Faqih Abu Hamid Al-Isfarayini berkata: “Dan Ibnu Kullab Abdullah bin Said Al-Qaththan berkata: Ia -yaitu lafazh-lafazh- adalah hikayah dari perintah, dan Abu Al-Hasan Al-Asyari menyelisihinya dalam hal itu, maka ia berkata: Tidak boleh dikatakan: Sesungguhnya ia hikayah, karena hikayah membutuhkan untuk menjadi serupa dengan yang dihikayahkan, tetapi ia adalah ungkapan dari perintah yang berdiri pada jiwa, dan madzhab mereka menetap atas hal ini.”
4 – Imam Al-Faqih Al-Jabal Abu Al-Abbas bin Suraij: Ahmad bin Umar, Imam Syafiiyah di masanya:
Ia rahimahullah berkata: “Dan sungguh telah shahih dan pasti serta jelas di sisi seluruh Ahlul Diyanah dan Sunnah dan Jamaah dari salaf yang telah berlalu, dan para Sahabat, dan Tabiun, dari para imam yang mendapat petunjuk yang rasyid yang terkenal hingga zaman kami ini: Bahwa seluruh ayat-ayat yang datang dari Allah Taala tentang Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan berita-berita yang benar yang keluar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang Allah dan tentang sifat-sifat-Nya yang dishahihkan oleh ahli periwayatan, dan diterima oleh para perawi yang tsiqah, wajib atas seorang muslim mukmin yang diberi taufiq untuk beriman kepada setiap satunya sebagaimana diriwayatkan, dan menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Taala sebagaimana diperintahkan” maka ia menyebutkan sejumlah sifat, kemudian berkata: “Dan penetapan kalam dengan huruf dan suara, dan dengan bahasa-bahasa, dan dengan kalimat-kalimat dan dengan surat-surat, dan kalam-Nya Taala kepada Jibril dan para malaikat, dan kepada malaikat rahim, dan kepada rahim, dan kepada malaikat kematian, dan kepada Ridhwan, dan kepada Malik, dan kepada Adam, dan kepada Musa, dan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan kepada para syuhada, dan kepada orang-orang mukmin ketika hisab, dan di surga, dan turunnya Al-Quran ke langit dunia, dan keberadaan Al-Quran di mushaf-mushaf…” maka ia menyebutkan hal-hal hingga ia berkata: “Kami terima, dan tidak kami tolak, dan tidak kami takwilkan dengan takwil orang-orang yang menyelisihi, dan tidak kami bebankan atas penyerupaan orang-orang musyabbihah, dan tidak kami tambahi, dan tidak kami kurangi, dan tidak kami tafsirkan, dan tidak kami kaifkan, dan tidak kami terjemahkan dari sifat-sifat-Nya dengan bahasa selain Arab, dan tidak kami isyaratkan kepadanya dengan bisikan hati, dan tidak dengan gerakan anggota badan, tetapi kami melontarkan apa yang dilontarkan Allah Azza wa Jalla, dan kami tafsirkan apa yang ditafsirkan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan para sahabatnya, dan Tabiun, dan para imam yang diridhai dari salaf yang dikenal dengan agama dan amanah, dan kami bersepakat atas apa yang mereka sepakati, dan kami diam dari apa yang mereka diamkan, dan kami serahkan khabar zhahir, dan ayat zhahir turunnya, tidak kami katakan dengan takwil Mutazilah dan Asyariyah dan Jahmiyah dan Mulhidah dan Mujassimah dan Musyabbihah dan Karramiyah dan Mukayyifah, tetapi kami terima tanpa takwil, dan kami beriman kepadanya tanpa tamtsil, dan kami katakan: Iman kepadanya wajib, dan perkataan dengannya sunnah, dan mencari takwilnya adalah bidah.”
Aku katakan: Ibnu Suraij, imam agung itu yang tidak diabaikan kedudukannya, dan tidak diingkari keutamaannya, dengannya tersebar fiqih Syafii rahimahullah, dan kadang-kadang sebagian imam lebih mengutamakannya atas seluruh sahabat-sahabat Syafii, bahkan atas Al-Muzani muridnya, dan sungguh ia dihitung sebagai mujaddid pada kepala tiga ratus tahun, dan seorang penyair menggubah tentangnya:
Dua orang telah pergi maka dimuliakan keduanya … Umar Al-Khalifah kemudian pengganti kemuliaan Asy-Syafii yang cerdas Muhammad … Warisan kenabian dan putra paman Muhammad Bergembiralah wahai Abu Al-Abbas sesungguhnya engkau yang ketiga … setelah mereka berdua semoga siraman bagi tanah Ahmad
Maka apakah kalian menganggapnya -wahai Asyariyah- mujassim ketika ia menetapkan kalam dengan huruf-huruf dan bahasa-bahasa, dan menjadi saksi atas kalian dengan takwil yang tercela? Ataukah apa yang akan kalian katakan?
5 – Imam Al-Faqih Al-Hujjah Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini, kepala Syafiiyah dan yang didahulukan di antara mereka:
Ia adalah salah satu orang yang paling keras terhadap Asyariyah, dan khususnya terhadap muhaqiq mereka yang terbesar Abu Bakar Al-Baqillani.
Al-Hafizh Abu Al-Hasan Al-Karji Asy-Syafii berkata: “Dan tidak henti-hentinya para imam Syafiiyah merasa jijik dan enggan bahwa mereka dinisbatkan kepada Al-Asyari, dan berlepas diri dari apa yang Al-Asyari bangun madzhab mereka atasnya, dan melarang sahabat-sahabat mereka dan orang-orang yang mereka cintai dari berkeliling-keliling di sekitarnya, sebagaimana aku mendengar beberapa dari para mashayikh dan para imam -di antara mereka Al-Hafizh Al-Muataman bin Ahmad bin Ali As-Saji- mereka berkata: Kami mendengar sejumlah mashayikh yang tsiqah berkata: Adalah Syaikh Abu Hamid Ahmad bin Abu Thahir Al-Isfarayini, imam para imam yang menutupi bumi dengan ilmu dan sahabat-sahabat, jika ia berjalan ke Jumat dari Qathiiyah Al-Karkh ke Jami Al-Manshur, ia masuk ribath yang dikenal dengan Az-Zauzi, yang bersebelahan dengan jami, dan menghadap kepada siapa yang hadir, dan berkata: Saksikanlah atasku bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak makhluk, sebagaimana dikatakannya oleh Imam Ibnu Hanbal, bukan sebagaimana dikatakannya oleh Al-Baqillani, dan hal itu terulang darinya beberapa kali pada hari Jumat, maka dikatakan kepadanya tentang hal itu, maka ia berkata: Agar tersebar di kalangan manusia, dan di kalangan ahli shalih, dan tersiar berita di kalangan penduduk negeri: Bahwa aku berlepas diri dari apa yang mereka anut -yaitu Asyariyah- dan berlepas diri dari madzhab Abu Bakar bin Al-Baqillani, karena sesungguhnya sejumlah dari para mutafaqqih yang asing masuk kepada Al-Baqillani secara sembunyi-sembunyi, dan membaca kepadanya, maka mereka terfitnah dengan madzhab-nya, maka jika mereka kembali ke negeri mereka pasti mereka menampakkan bidahnya, maka akan mengira orang yang mengira bahwa mereka dariku mempelajarinya sebelumnya, padahal aku tidak mengatakannya, dan aku berlepas diri dari madzhab Al-Baqillani dan keyakinannya.”
Aku katakan: Maka demi Allah atas kalian wahai Asyariyah! Apakah kalian berpandangan bahwa Imam Abu Hamid berlepas diri dari tauhid yang benar ketika ia berlepas diri dari keyakinan kalian? Ataukah ia mujassim yang menyeru manusia kepada penyerupaan dan ketiadaan tanzih?
Dan mengapa ia membedakan antara keyakinan Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Baqillani, padahal ia adalah sebaik-baik imam kalian dan paling agung kedudukan mereka?
Dan mengapa ia mengumumkannya di hadapan manusia?
Bahkan sesungguhnya ia telah menjadi saksi atasnya dengan lebih keras dari itu.
Imam Abu Bakar Ubaidullah bin Ahmad Az-Zadhaqani (dan ia adalah tsiqah yang utama) berkata:
“Aku berada di pengajian Syaikh Abu Hamid Al-Isfarayini, dan ia melarang para sahabatnya dari ilmu kalam dan dari masuk kepada Al-Baqillani, maka sampai kepadanya bahwa beberapa orang dari sahabatnya masuk kepadanya secara sembunyi-sembunyi untuk membaca ilmu kalam, maka ia mengira bahwa aku bersama mereka dan dari mereka” -dan ia menyebutkan kisah, ia berkata di akhirnya: “Sesungguhnya Syaikh Abu Hamid berkata kepadaku: Wahai anakku, sungguh telah sampai kepadaku bahwa engkau masuk kepada orang ini -yaitu Al-Baqillani- maka jauhilah dan jauhilah ia, karena sesungguhnya ia mubtadi yang menyeru manusia kepada kesesatan, dan jika tidak maka jangan engkau hadiri majelisnya, maka aku berkata: Aku berlindung kepada Allah dari apa yang dikatakan dan bertaubat kepada-Nya, dan saksikanlah atasku bahwa aku tidak akan masuk kepadanya.”
Semoga Allah merahmati Syekh Abu Hamid, betapa dia menyerupai para imam terdahulu dalam memperingatkan dari ahli bidah, dan melarang dari bergaul dengan mereka.
Dan beliau rahimahullah berkata: “Madzhab saya dan madzhab Syafi’i serta para fuqaha di berbagai negeri adalah: bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: diciptakan, maka dia kafir. Al-Quran dibawa oleh Jibril yang didengar dari Allah Ta’ala, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarnya dari Jibril, dan para sahabat mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itulah yang kami baca dengan lisan kami, dan yang ada di antara dua sampul mushaf, dan yang ada dalam dada kami, didengar dan ditulis, dan dihafal dan tertulis, dan setiap huruf darinya seperti ba dan ta, semuanya adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan barangsiapa berkata: diciptakan, maka dia kafir, atasnya laknat Allah dan para malaikat dan seluruh manusia.” (31).
Saya katakan: Maka runtuhlah bangunan kalian wahai golongan Asy’ariyah.
Adapun kalian wahai para sahabat Salafi, jika kalian tertipu dengan banyaknya orang yang menisbatkan diri kepada Al-Asy’ari, maka ketahuilah bahwa banyaknya orang pada awal keadaan Asy’ariyah adalah dalam membidahkan mereka dan mencela akidah mereka, dan para imam yang telah kami sebutkan ini dan yang akan disebutkan nanti serta apa yang mereka katakan tentang hak Asy’ariyah, dari para imam Syafi’iyah dan Hanabilah dan lainnya, yang mana para sahabat mereka hanya bersumber dari perkataan dan ucapan mereka, sungguh itu adalah saksi terbesar atas apa yang saya katakan, tetapi ketika zaman semakin menjauh, bertambahlah sikap berpaling dari Al-Quran dan Sunnah serta petunjuk Salaf dan para imam, maka banyaklah ahli bidah.
6 – Imam Abu Al-Husain Yahya bin Abi Al-Khair Al-Imrani, ahli fiqih Syafi’iyah dan imam mereka di negeri Yaman:
Imam Ibnu Qayyim berkata: “Beliau memiliki kitab yang bagus tentang Sunnah menurut madzhab Ahlul Hadits, beliau menyatakan dengan tegas di dalamnya tentang masalah al-fauqiyyah (sifat di atas) dan al-‘uluw (ketinggian), dan istiwak secara hakiki, dan Allah Azza wa Jalla berbicara dengan Al-Quran Arab yang didengar dengan telinga ini secara hakiki, dan bahwa Jibril ‘alaihish shalatu wassalam mendengarnya dari Allah Subhanahu secara hakiki, dan beliau menyatakan dengan tegas di dalamnya tentang penetapan sifat-sifat khabariyyah, dan berdalil dengan itu serta menolongnya, dan menyatakan dengan tegas tentang penentangan terhadap Jahmiyyah yang menafikan.” (32).
7 – Imam Abu Abdullah Al-Hasan bin Hamid, syekh Hanabilah:
Beliau termasuk orang yang mengingkari akidah Asy’ariyah (33).
8 – Imam Al-Hafizh Abu Nashr As-Sijzi, Syekhus Sunnah:
Beliau memiliki kitab tentang itu “Al-Ibanah Al-Kubra fi anna Al-Quran Ghairu Makhluq” (34) dan saya telah mengutip sebagian ucapannya sebelumnya dalam kitab ini, dan beliau termasuk orang yang paling keras terhadap Asy’ariyah, bahkan beliau sangat berlebihan dalam hal itu hingga berkata: “Tidak ada perselisihan antara makhluk dengan perbedaan aliran mereka, dari awal zaman hingga waktu kemunculan Ibnu Kullab, dan Al-Qalanisi, dan Al-Asy’ari, dan teman-teman mereka, yang menampakkan diri dalam membantah Mu’tazilah padahal mereka bersama mereka, bahkan lebih buruk keadaannya daripada mereka secara batin, tentang bahwa kalam tidak akan terjadi kecuali dengan huruf dan suara, yang memiliki susunan dan keteraturan, meskipun bahasa-bahasa berbeda dengannya.” (35).
9 – Imam Al-Hujjah Al-Hafizh Abu Al-Qasim Sa’d bin Ali Az-Zanjani: Beliau termasuk orang yang mengingkari akidah Asy’ariyah (36).
10 – Imam Qiwamus Sunnah Ismail bin Muhammad bin Al-Fadhl Al-Ashbahani:
Beliau berkata: “Ashhabulhadits dan Ahlus Sunnah berkata: Sesungguhnya Al-Quran yang tertulis yang ada di dalam mushaf-mushaf, dan yang dihafal yang ada di dalam hati, adalah hakikat kalam Allah Azza wa Jalla, berbeda dengan apa yang diklaim sekelompok orang: bahwa itu adalah ungkapan dari hakikat kalam yang berdiri pada dzat Allah Azza wa Jalla dan dalil atasnya, dan yang ada dalam mushaf adalah hadits dan huruf-huruf yang diciptakan. Madzhab ulama Sunnah dan para fuqaha mereka: bahwa itu adalah yang Allah ucapkan dengannya, dan Jibril mendengarnya dari Allah, dan Jibril menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menantang dengannya, dan Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai dalil atas kebenaran kenabian dan mukjizatnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikannya kepada para sahabat radiyallahu ‘anhum sebagaimana yang didengarnya dari Jibril ‘alaihis salam, dan Salaf menyampaikannya kepada Khalaf generasi demi generasi.” (37).
11 – Al-Hafizh Al-Faqih Al-‘Alim Muwaffaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi:
Tidak tersembunyi kedudukan dan keutamaannya, beliau rahimahullah sangat keras sekali terhadap Asy’ariyah, dan beliau memiliki karya tulis dalam membantah mereka, dan menampakkan kebatilan mereka, dan telah mashur apa yang terjadi antara keluarga Qudamah dan keluarga Asakir tentang permusuhan karena akidah.
Dan banyak lainnya selain yang kami sebutkan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah dari generasi terdahulu dan kemudian, mereka semua mengingkari akidah Asy’ariyah dan yang serupa dengan mereka dalam masalah Al-Quran, dan berakidah berbeda dengan apa yang mereka yakini, dan mereka dalam timbangan Asy’ariyah adalah musyabbihah (penyerupai) dan mujassimah (pemberi bentuk tubuh), padahal mereka bergantung pada kebanyakan mereka dalam fiqih dan ilmu.
Secara keseluruhan, sesungguhnya perkataan Asy’ariyah dan Maturidiyah tentang kalam Allah Ta’ala, bukanlah perkataan Salaf, bahkan tidak dikenal oleh Salaf, dan itu hanyalah akidah yang dibuat-buat dan menyimpang, yang sesuai dalam hakikat keadaannya dengan akidah Jahmiyyah yang dikafirkan oleh Salaf dan dijauhi oleh mereka, dan mereka memerintahkan untuk menjauhi mereka, dan menampakkan kebatilan mereka serta memperingatkan dari mereka.
Syaikhul Islam berkata: “Dan mengingkari bahwa Allah berbicara dengan suara dan menjadikan kalam-Nya sebagai satu makna yang berdiri pada jiwa adalah bidah yang batil yang tidak pernah dianut oleh seorangpun dari Salaf dan para imam.” (38).
Dan beliau berkata: “Dan mereka ini membantah Khalqiyyah -maksudnya Mu’tazilah- yang berkata: Al-Quran adalah makhluk, dan mereka berkata tentang diri mereka: Sesungguhnya mereka adalah Ahlus Sunnah yang sesuai dengan Salaf yang berkata: Sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak diciptakan, dan perkataan mereka bukanlah perkataan Salaf, tetapi perkataan mereka lebih dekat kepada perkataan Salaf dari satu sisi, dan perkataan Khalqiyyah lebih dekat kepada perkataan Salaf dari sisi lain.” (39).
Saya katakan: Dan kedekatan ini tidak menjadikan mereka dari Ahlus Sunnah, sebagaimana kedekatan Mu’tazilah tidak menjadikan mereka dari Ahlus Sunnah.
Dan Syaikhul Islam juga berkata: “Maka setiap dari Mu’tazilah dan Asy’ariyah dalam masalah-masalah kalam Allah dan perbuatan-perbuatan Allah, bahkan seluruh sifat-sifat-Nya, mereka menyesuaikan Salaf dan para imam dari satu sisi, dan menyelisihi mereka dari sisi lain, dan bukan perkataan salah satu dari mereka adalah perkataan Salaf tanpa yang lain, tetapi Asy’ariyah dalam jenis masalah-masalah sifat, bahkan seluruh sifat dan qadar lebih dekat kepada perkataan Salaf dan para imam daripada Mu’tazilah.” (40).
Dan ucapan Syaikhul Islam tentang mereka tidak terhitung banyaknya, dan ini adalah salah satu sebab kebencian mereka terhadapnya, dan saya telah memasukkan banyak dari itu dalam kitab saya ini.
Saya katakan: Maka Asy’ariyah dan Maturidiyah tidak sah untuk menjadi Ahlus Sunnah, karena apa yang mereka jauh dari Sunnah, dan meninggalkan jalan Salaf dan para imam di dalamnya, karena bidah mereka termasuk dari jenis bidah yang paling buruk, jika bukan yang paling buruk dan paling jelek, dan kalau bukan karena takwil yang karena sebabnya mereka jatuh dalam penyelisihan terhadap akidah Salaf, maka akan ada gambaran lain untuk berbicara dengan mereka!!
Maka renungkanlah wahai saudaraku itu dan berhati-hatilah dari menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meninggalkan jalan orang-orang mukmin dari ahli generasi terbaik, dan jangan terpesona dengan pendapat-pendapat dan prasangka-prasangka sehingga engkau berkata tentang Allah selain kebenaran, dan berdebat dalam ayat-ayat-Nya dengan kebatilan.
Dan siapa yang akan membela Sunnah dan akidah Salafiyyah jika kita menyetujui ahli bidah dan bermaaf-maafan untuk mereka dan membela mereka?
Maka Allah-lah tempat meminta pertolongan atas apa yang telah terjadi pada keadaan dari keterasingan Sunnah dan kemunculan bidah-bidah, dan Dia adalah cukup bagi kami dan sebaik-baik pelindung.
- • • • •
Setelah penjelasan ini tentang akidah Salafiyyah dan akidah ahli bidah, dan dengannya telah sempurna yang dimaksud, saya sebutkan di akhir -secara ringkas- sebab-sebab terpenting yang karena sebabnya terjadi tertipu dengan ahli bidah -khususnya Asy’ariyah dan Maturidiyah- dengan pembelaan yang sesuai dengan syariat terhadap orang yang dikenal dengan kepemimpinan dalam hadits dan fiqih dan selain itu dari ilmu-ilmu syariat dengan penisbatannya kepada kelompok-kelompok ini.
Maka dari sebab-sebab tertipu dengan ahli bidah -seperti Asy’ariyah dan sejenisnya-:
1 – Klaim mereka menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah wal Hadits, dan penegasan mereka atas itu dengan kesibukan mereka dengan ilmu-ilmu Sunnah, dan penyandaran riwayat-riwayat, yang merupakan syiar Salaf dan para imam.
2 – Kemenangan mereka untuk Sunnah dalam masalah-masalah cabang, dan pembelaan terhadapnya, dan penulisan karya-karya tulis dalam hal itu.
3 – Kemasyhuran banyak dari mereka dengan keberagamaan dan kebaikan, dan amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad di jalan Allah.
4 – Kesibukan mereka dengan membantah kelompok-kelompok yang menyelisihi syariat Islam, seperti bantahan Asy’ariyah terhadap Mu’tazilah, dan bantahan-bantahan terhadap para filosof.
5 – Banyaknya orang yang sesuai dengan mereka sepanjang zaman.
Ini adalah sebab-sebab terpenting yang tertipu karenanya banyak orang, maka mereka meremehkan dari bidah-bidah orang-orang ini, bahkan mereka menjadikannya penutup yang mereka tutupi dengannya aib-aib ahli bidah, dan lalai orang-orang ini tentang kesesatan dalam akidah adalah kesesatan yang paling besar, dan sungguh kami telah mengungkapkan kepadamu dalam satu perkara, yaitu perkara (Kalam) tentang kebatilan-kebatilan yang mengherankan, dan kesesatan-kesesatan yang mengerikan.
Dan sebab-sebab yang kami sebutkan ini dianggap kebanyakannya sebagai kebaikan-kebaikan bagi ahli bidah ini, kami tidak mengurangi hak-hak mereka, dan Rabb kami Ta’ala memerintahkan dengan keadilan dalam hukum dan perkataan, maka pemilik bidah mungkin orang yang utama karena makna-makna keutamaan padanya, tetapi karena apa yang dia tergelincir dengannya besar -tanpa memandang tujuan dan maksudnya- karena keterkaitannya dengan pokok-pokok agama, maka wajib memberi peringatan atas bahayanya sebagai nasihat untuk umat, agar manusia tidak dirugikan dengan bidahnya, khususnya jika dia dari pemilik keutamaan-keutamaan yang mashur dan sifat-sifat yang terpuji, karena terpengaruhnya manusia dengan orang yang seperti ini sifatnya lebih kuat daripada lainnya, dan tetap tujuan dan maksudnya dalam apa yang antara dia dan Allah Ta’ala.
Dan ini adalah jalan Salaf, Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Dan sungguh telah berlalu para sahabat, dan Tabi’in, dan pengikut-pengikut mereka, dan ulama Sunnah, atas ini dengan bersepakat, bersepakat atas permusuhan terhadap ahli bidah dan menjauhi mereka.” (1).
Dan barangsiapa yang menelaah kitab-kitab biografi perawi maka tetap baginya kebenaran itu.
Maka tidak boleh bagi seorang Muslim untuk meremehkan urusan bidah-bidah, meskipun jatuh dari orang yang utama, karena sesungguhnya itu bertentangan dengan apa yang Allah Ta’ala wajibkan dari nasihat, dan menyelisihi manhaj Salaf dan sikap-sikap mereka dari ahli bidah.
Dan dalam Asy’ariyah -misalnya- ada ulama yang memiliki kedudukan dalam melayani syariat, seperti: dua hafizh Abu Bakr Al-Baihaqi, dan Abu Al-Qasim bin Asakir, dan Imam Al-‘Izz bin Abdus Salam, dan lainnya dari orang-orang utama Asy’ariyah, kami menyebutkan mereka dengan apa yang mereka miliki dari kebaikan-kebaikan, hanya saja kami memberi peringatan atas apa yang mereka jatuh di dalamnya dari bidah, karena sesungguhnya kebenaran tidak ada pilih kasih di dalamnya, dan tidak menghalangi kami bidah mereka dari memanfaatkan ilmu-ilmu mereka dalam Sunnah dan fiqih dan tafsir dan sejarah dan selain itu, dengan kehati-hatian.
Dan kami mempunyai teladan pada Salaf dan para imam karena sesungguhnya mereka meriwayatkan Sunnah dari banyak ahli bidah karena pengetahuan mereka tentang kejujuran mereka, dengan menyifati mereka dengan bidah.
Dan kami menghindari takfir dan menyesatkan dan memfasikkan untuk individu tertentu dari jenis ulama ini, karena sesungguhnya ini bukan dari manhaj Salaf, dan kami hanya mencukupkan dengan menjelaskan bidahnya dan menolaknya jika kami berhadapan dengannya, atau kami khawatir bahwa manusia akan dirugikan dengannya, dengan menghindari menyebutnya dengan keburukan dalam dirinya dengan apa yang melebihi menyebutkan apa yang ada dalam bidahnya dari penyelisihan agama karena apa yang mungkin melanggar kami kepada ghibah yang diharamkan.
Dan semua ini dalam hak seorang alim jika tidak dikuasai oleh bidah-bidah dan hawa nafsu, dan kami mengetahui darinya keharasannya untuk mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mencari kebenaran dari Kitabullah dan Sunnah kecuali bahwa itu tidak tepat baginya karena syubhat atau selain itu -urusan banyak dari Asy’ariyah terdahulu berbeda dengan kebanyakan mereka yang akhir, karena sesungguhnya bagi banyak dari mereka yang terdahulu ada ijtihad dalam mencari kebenaran-.
Adapun jika dikuasai oleh hawa nafsu dan menyelisihi dalil-dalil syariat yang jelas, dan tidak mencari kebenaran dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-nya shallallahu ‘alaihi wasallam maka tidak ada penghormatan baginya dan tidak ada kehormatan dan tidak ada kemuliaan. Kami memohon kepada Allah agar memberi kami petunjuk kepada jalan yang lurus, dan agar menjauhkan kami dari jalan-jalan kesesatan, dan kami memohon ampunan kepada-Nya dari tergelincirnya pikiran atau pena, Dia adalah cukup bagi kami dan sebaik-baik pelindung dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.
Dan dengan ini berakhir apa yang kami inginkan, dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Penulis : Abdullah bin Yusuf Al-Judai'
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







