Prinsip-Prinsip Menuju Allah Ta‘ala
أُصُولُ الوُصُولِ إِلَى اللهِ تَعَالَى
Pendahuluan: Kilasan-Kilasan Di Jalan Menuju Allah Ta’ala
Ketahuilah saudaraku yang kucintai bahwa perjalanan menuju Allah memiliki dasar-dasar dan aturan-aturan. Dan ada perkara penting yaitu bahwa para musafir menuju Allah adalah mereka yang terpilih dari makhluk Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada hamba-hamba Kami yang Kami pilih. Maka di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32). Maka mereka semua adalah orang-orang terpilih yang dipilih untuk menempuh jalan ini. Jika engkau menempuhnya maka bergembiralah, tetapi berdisiplinlah dan bersyukurlah agar engkau tidak diusir.
Dari kebiasaan manusia dalam kehidupan mereka bahwa jalan tidak dapat ditempuh kecuali dengan tanda-tanda petunjuk dan isyarat-isyarat perjalanan yang menjelaskan tahapan-tahapan, menangkal bahaya-bahaya, memudahkan melewati rintangan-rintangan, dan mempermudah menembus padang-padang pasir. Tanda-tanda ini mungkin bersifat audio atau visual, sebagaimana ia mungkin untuk penjelasan dan petunjuk atau untuk peringatan dan pencegahan. Demikian pula musafir dalam perjalanan menuju Allah membutuhkan pemberitahuan dan peringatan berupa nasihat-nasihat yang merupakan isyarat-isyarat yang bersinar di jalan panjangnya dan peringatan-peringatan yang melindunginya dari kejahatan tikungan-tikungan.
Jalan ini—wahai saudaraku yang mulia—membutuhkan ilmu yang sangat penting dan berbahaya yaitu ilmu suluk (perilaku spiritual). Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam “Thariq al-Hijratain”: “Musafir menuju Allah Ta’ala dan negeri akhirat, bahkan setiap musafir menuju tujuan, tidak akan sempurna perjalanannya dan tidak akan sampai ke tujuannya kecuali dengan dua kekuatan: kekuatan ilmiah dan kekuatan praktis. Dengan kekuatan ilmiah ia melihat tempat-tempat perjalanan dan posisi-posisi jalan, sehingga ia menuju ke sana sebagai musafir di dalamnya, dan ia menghindari sebab-sebab kebinasaan, tempat-tempat kerusakan, dan jalan-jalan kebinasaan yang menyimpang dari jalan yang menghantarkan. Maka kekuatan ilmiahnya bagaikan cahaya besar di tangannya yang ia pakai berjalan di malam yang gelap gulita. Dengan cahaya itu ia melihat apa yang dialami oleh pejalan di kegelapan berupa lembah-lembah dan tempat-tempat berbahaya, dan ia tersandung oleh batu-batu, duri, dan lain-lainnya. Dengan cahaya itu juga ia melihat tanda-tanda jalan dan petunjuk-petunjuk yang dipasang di atasnya sehingga ia tidak tersesat darinya. Maka cahaya itu mengungkapkan baginya dua perkara: tanda-tanda jalan, dan bahaya-bahayanya. Dan dengan kekuatan praktis ia berjalan secara hakiki, bahkan perjalanan adalah hakikat kekuatan praktis, karena perjalanan adalah amal musafir. Demikian pula musafir menuju Rabbnya, jika ia melihat jalan dan tanda-tandanya serta melihat tempat-tempat tersandung, lembah-lembah, dan jalan-jalan yang menyimpang darinya, maka ia telah memperoleh separuh kebahagiaan dan kesuksesan. Tinggal separuh yang lain yaitu ia meletakkan tongkatnya di bahunya dan bersiap sebagai musafir di jalan, memotong tempat-tempat perjalanannya tempat demi tempat. Setiap kali ia memotong satu tahap, ia bersiap untuk memotong yang lain dan merasakan kedekatan dari rumah sehingga ringan baginya kesulitan perjalanan.”
Ya wahai kekasih yang mencintai: sesungguhnya jalan menuju Allah Ta’ala ditempuh dengan hati bukan dengan kaki. Ya: ia adalah jalan yang panjang dan ya ia berpenghuni karena telah menempuhnya sebelummu orang-orang terpilih yang baik dari sebaik-baik makhluk Allah sepanjang masa.
Tetapi jalan ini di zaman kita telah menjadi tidak dikenal bagi kebanyakan manusia karena berpaling dari padanya bahkan menghindarinya.
Karena itu engkau membutuhkan ilmu—ilmu yang hakiki tentang jalan ini. Dan sebagaimana disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullah bahwa engkau membutuhkan kekuatan ilmiah, artinya engkau harus belajar. Dan janganlah yang berpikir mengira bahwa musafir menuju Allah tidak ada hubungannya dengan menuntut ilmu. Apa urusannya dengan akidah atau fikih atau musthalah atau ushul, bahkan apa yang menyibukkannya dari dakwah kecuali Allah. Persangkaan ini terjadi dari keadaan kaum sufi, sehingga kebanyakan manusia meyakini bahwa makna “musafir” dan “jalan” dan semacamnya dari kata-kata ini adalah sufisme dan ia terkait dengan bid’ah. Dan tidak terjadi bid’ah ini kecuali karena kebodohan dan berpaling dari ilmu serta berpuas diri dengan sekedar latihan-latihan spiritual. Tetapi pada kami dan dalam manhaj kami bahwa menuntut ilmu adalah dasar menuju kesempurnaan dan ia tidak berpisah dari musafir selamanya. Maka harus pertama ada manhaj ilmiah yang teratur dengan tahapan-tahapan dalam semua cabang ilmu: akidah, fikih, tafsir, sirah, hadits… Ilmu sebelum perkataan dan amal, jika tidak maka engkau sesat dan tidak sampai. Harus ada kekuatan ilmiah, kemudian kekuatan praktis: bahwa engkau mulai melaksanakan ilmu ini dalam kenyataan—bahwa engkau berjalan secara hakiki. Dan sesungguhnya aku menuntutmu—wahai kekasih—agar engkau merasakan makna ini: bahwa engkau musafir, bahwa engkau pengembara, bahwa engkau yang berangkat. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.” (al-Insyiqaq: 6). “Apa urusanku dengan dunia, aku hanyalah seperti pengembara.” Ini adalah semboyanmu di dunia ini. Dan harus seimbang dan selaras kedua kekuatan, ilmu dan amal, jika tidak maka kebinasaan yang lain dan kesesatan dari jenis yang lain, dan kegilaan itu beragam.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Dan di antara manusia ada yang memiliki kekuatan ilmiah yang mengungkap jalan, tempat-tempatnya, tanda-tandanya, penghalang-penghalangnya, dan bahaya-bahayanya. Kekuatan ini adalah yang paling dominan dari dua kekuatan padanya, dan ia lemah dalam kekuatan praktis. Ia melihat hakikat-hakikat tetapi tidak mengamalkan konsekuensinya. Ia melihat bahaya-bahaya, ketakutan-ketakutan, dan tempat-tempat rusak tetapi tidak menghindarinya. Maka ia adalah faqih selama amal tidak hadir, jika amal hadir ia berserikat dengan orang-orang bodoh dalam ketertinggalan dan berbeda dari mereka dalam ilmu. Dan ini adalah yang dominan pada kebanyakan jiwa-jiwa yang sibuk dengan ilmu. Yang terlindungi adalah yang Allah lindungi dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Dan di antara manusia ada yang memiliki kekuatan praktis kehendak dan ia adalah yang paling dominan dari dua kekuatan padanya. Kekuatan ini menuntut perjalanan, suluk, zuhud di dunia, keinginan kepada akhirat, kesungguhan dan persiapan dalam amal. Ia buta mata ketika datang syubhat-syubhat dalam akidah dan penyimpangan-penyimpangan dalam amal, perkataan, dan maqam-maqam, sebagaimana yang pertama lemah akalnya ketika datang syahwat-syahwat. Penyakit yang ini dari kebodohannya, dan penyakit yang pertama dari rusaknya kehendaknya dan lemahnya akalnya. Ini adalah keadaan kebanyakan ahli fakir dan tasawuf yang berjalan bukan berdasar jalan ilmu, melainkan berdasar jalan dzauq, wujud, dan kebiasaan. Salah seorang mereka terlihat buta dari tujuannya, tidak tahu siapa yang ia sembah dan dengan apa ia menyembah-Nya. Kadang ia menyembah-Nya dengan dzauq dan wujudnya, kadang ia menyembah-Nya dengan kebiasaan kaumnya dan sahabat-sahabatnya seperti pakaian tertentu atau membuka kepala atau mencukur jenggot dan semacamnya. Kadang ia menyembah-Nya dengan cara-cara yang dibuat oleh sebagian orang yang sok pintar dan tidak memiliki dasar dalam agama. Kadang ia menyembah-Nya dengan apa yang dicintai dan dikehendaki nafsunya apa pun itu. Dan di sini ada jalan-jalan dan kesesatan yang tidak terhitung kecuali oleh Rabb para hamba. Maka mereka semua buta dari Rabb mereka, dari syariat-Nya dan agama-Nya. Mereka tidak mengenal syariat-Nya dan agama-Nya yang diutus kepada rasul-rasul-Nya dan diturunkan dalam kitab-kitab-Nya, dan Dia tidak menerima dari seorang pun agama selain itu. Sebagaimana mereka tidak mengenal sifat-sifat Rabb mereka yang Dia memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan rasul-rasul-Nya, dan Dia menyeru mereka untuk mengenal-Nya dan mencintai-Nya dari jalan itu. Maka tidak ada ma’rifat kepada-Nya dan tidak ada ibadah kepada-Nya. Dan barangsiapa memiliki kedua kekuatan ini, maka lurus perjalanannya menuju Allah Ta’ala dan diharapkan baginya ketembusannya dan kuatnya menolak penghalang-penghalang dan pembatas-pembatas dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya.”
Demikianlah—saudaraku yang kucintai—engkau memahami bahwa sebagian manusia memiliki kekuatan ilmiah, artinya ia belajar ilmu dan mengenal jalan kemudian tidak menempuhnya, maka ia adalah munafik yang berpengetahuan tentang kemunafikan. Allah Subhanahu berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (al-Jumu’ah: 5).
Dan yang memiliki kekuatan praktis tanpa ilmu, artinya ia sangat giat dalam ibadah, sangat antusias pada agama, maka ia tidak diragukan akan salah dan berbuat bid’ah. Karena itu harus di jalan ini—wahai saudaraku yang mulia—seimbang kedua kekuatan ilmiah dan praktis, dan harus ada bagimu manhaj untuk ilmu dan manhaj untuk ibadah serta amal. Kedua manhaj berjalan pada waktu yang sama, dilakukan pemantauan atas keduanya, dan ada pentahapan di dalamnya hingga tercapai kesempurnaan. Dan ada syarat-syarat lain. Syarat-syarat ini adalah kilasan-kilasan pertama yang menerangi jalan bagimu sehingga bersinar dengannya, maka mudahlah perjalanan menuju Allah, insya Allah.
Kilasan Pertama: Syarat-Syarat Jalan
Pertama: Dalil (Petunjuk)
Yaitu syaikh yang mendidik, ulama yang mengamalkan ilmunya, guru yang terdahulu, dan ahli yang berpengalaman. Sesungguhnya engkau membutuhkan dalam perjalananmu kepada syaikh yang memiliki pandangan tajam yang menunjukkan dan menasihati, mendidik dan memantau, menyelami dan menyimpulkan, memperhatikan dan mengetahui. Ia adalah orang yang berpengalaman. Ia bukan hanya pembimbingmu di jalan, melainkan ia adalah pembimbingmu pada dirimu sendiri: apa yang engkau cocoki dan bagaimana engkau menjadi baik. Ia menemanimu dalam perjalananmu dan mendidikmu dengan pergaulan.
Wahai saudara-saudara, sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang luas. Dan ini syarat dalam sifat jalan lurus: bahwa ia menampung semua musafir. Tidaklah semua musafir pada satu watak. Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk lalu berbeda-beda semangat mereka, beragam bakat mereka, dan berbeda energi serta kemampuan mereka. “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’am: 165). Ke mana engkau berjalan? Bagaimana engkau berjalan? Dari mana engkau memulai? Dalam apa engkau terus? Kapan engkau berhenti dan sampai kapan? Ini adalah pekerjaan dalil dan fungsinya. Apa yang engkau cocoki, dengan apa engkau perhatikan, dan dalam apa engkau spesialisasi?
WATAK JALAN
Agar jelas pembicaraan kita tentang kebutuhanmu kepada murabbi ini, maka harus engkau ketahui dahulu watak jalan. Bacalah bersamaku apa yang dikatakan Ibnu al-Qayyim rahimahullah wa barakatuhu:
“Jalan menuju Allah dalam hakikatnya satu, tidak ada keragaman di dalamnya. Ia adalah jalan lurus-Nya yang Dia pasang sebagai pengantar bagi yang menempuhnya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’ (al-An’am: 153). Maka Dia menjadikan jalan-Nya tunggal karena ia dalam dirinya satu tidak ada keragaman di dalamnya, dan Dia menjamakkan jalan-jalan yang menyelisihi karena ia banyak dan beragam, sebagaimana shahih bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menggaris satu garis kemudian menggaris beberapa garis di kanan dan di kirinya, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan di antaranya ada setan yang menyeru kepadanya.’ Kemudian beliau membaca: ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’
Dan dari ini adalah firman Allah Ta’ala: ‘Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan.’ (al-Baqarah: 257). Maka Dia menjadikan tunggal cahaya yang merupakan jalan-Nya dan menjamakkan kegelapan-kegelapan yang merupakan jalan-jalan setan. Barangsiapa memahami ini maka ia memahami rahasia dalam penunggalan cahaya dan penjamakan kegelapan-kegelapan dalam firman-Nya Ta’ala: ‘Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya.’ (al-An’am: 1). Walaupun ini di dalamnya ada rahasia yang lebih halus dari ini, yang diketahui oleh yang mengenal sumber cahaya dan dari mana ia memancar dan tentang apa ia terjadi, dan bahwa asalnya semuanya satu. Adapun kegelapan-kegelapan maka ia beragam dengan keragaman hijab-hijab yang menuntutnya, dan ia sangat banyak. Setiap hijab memiliki kegelapan khusus. Kegelapan-kegelapan tidak kembali kepada Cahaya yang Memberi Petunjuk, jalla jalaluhu, sama sekali: tidak sifat, tidak dzat, tidak nama, dan tidak perbuatan. Melainkan ia kembali kepada makhluk-makhluk-Nya Subhanahu. Maka Dia adalah yang menjadikan kegelapan-kegelapan dan makhluk-makhluk-Nya beragam dan banyak. Berbeda dengan cahaya karena ia kembali kepada nama-Nya dan sifat-Nya, jalla jalaluhu, Maha Tinggi Dia dari ada yang seperti-Nya. Dan Dialah cahaya langit dan bumi.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada pada Rabb kalian malam dan tidak ada siang. Cahaya langit dan bumi dari cahaya wajah-Nya.” Ad-Darimi menyebutkannya darinya. Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar, aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Rabbmu?” Beliau bersabda: “Cahaya, bagaimana aku melihat-Nya!”
Dan yang dimaksud bahwa jalan menuju Allah Ta’ala adalah satu, karena ia adalah kebenaran yang nyata. Dan kebenaran adalah satu, kembalinya kepada Yang Satu. Adapun kebatilan dan kesesatan maka tidak terbatas, bahkan semua selain-Nya adalah batil, dan setiap jalan menuju kebatilan maka ia batil. Maka kebatilan beragam, dan jalan-jalannya beragam. Adapun apa yang terjadi dalam perkataan sebagian ulama bahwa jalan menuju Allah beragam dan bervariasi, Allah menjadikannya demikian karena keragaman kesiapan-kesiapan dan perbedaannya sebagai rahmat dan karunia dari-Nya, maka ia benar tidak bertentangan dengan apa yang kami sebutkan tentang kesatuan jalan. Pengungkapan dan penjelasannya adalah bahwa jalan itu satu yang mencakup semua yang diridhai Allah. Dan apa yang Dia ridhai beragam dan bervariasi. Maka semua yang Dia ridhai adalah satu jalan, sedang apa yang Dia ridhai beragam dan bervariasi sesuai dengan zaman, tempat, orang, dan keadaan. Semuanya adalah jalan-jalan keridhaan-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu jadikan untuk rahmat dan hikmah-Nya, banyak dan beragam sekali karena perbedaan kesiapan-kesiapan hamba dan penerimaan-penerimaan mereka. Seandainya Dia menjadikannya satu jenis dengan perbedaan pikiran-pikiran, akal, kekuatan kesiapan-kesiapan, dan kelemahannya, tidak akan menempuhnya kecuali satu demi satu. Tetapi karena kesiapan-kesiapan berbeda, maka jalan-jalan beragam agar setiap orang menempuh kepada Rabbnya jalan yang dituntut oleh kesiapannya, kekuatannya, dan penerimaannya.
Dari sini diketahui keragaman dan perbedaan syariat-syariat dengan kembalinya semuanya kepada satu agama, bahkan keragaman satu syariat dengan kesatuan Yang Disembah, agama-Nya dan diri-Nya. Termasuk dalam hal ini hadits yang masyhur: “Para nabi adalah anak-anak dari ibu-ibu yang berbeda, agama mereka satu.” (Muttafaq ‘alaih: Bukhari: 3442, dan Muslim: 2365). Maksud anak-anak dari ibu-ibu yang berbeda adalah ayahnya satu sedangkan ibu-ibunya berbeda-beda. Maka agama para nabi diumpamakan seperti ayah yang satu, sedangkan syariat-syariat mereka seperti ibu-ibu yang berbeda-beda. Meskipun berbeda-beda, rujukannya semuanya kepada satu ayah.
1 – Apabila hal ini sudah diketahui, maka di antara manusia ada yang amalan pokok dan jalannya yang dianggap sebagai jalan suluknya menuju Allah adalah jalan ilmu dan pengajaran. Ia menghabiskan waktunya untuk itu dengan mengharap ridha Allah. Ia terus menerus tekun pada jalan ilmu dan pengajaran hingga ia sampai dari jalan itu kepada Allah dan dibukakan untuknya kemenangan khusus, atau ia meninggal dalam perjalanan mencarinya, maka diharapkan baginya sampai kepada tujuannya setelah kematiannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia menemukan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki yang) banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (An-Nisa: 100)
Dan telah diceritakan tentang banyak kelompok yang ditemui ajalnya sedangkan ia sangat bersemangat mencari (ilmu) Al-Quran, bahwa ia terlihat setelah kematiannya dan mengabarkan bahwa ia sedang menyempurnakan tujuannya dan bahwa ia belajar di alam barzakh, karena sesungguhnya seorang hamba mati dalam keadaan seperti apa ia hidup.
2 – Di antara manusia ada yang amalan pokoknya adalah dzikir, ia menjadikannya bekal untuk akhiratnya dan modal pokoknya untuk tujuan akhirnya. Bila ia lemah dalam hal itu atau kurang, ia merasa telah tertipu dan rugi.
3 – Di antara manusia ada yang amalan pokok dan jalannya adalah shalat. Bila ia kurang dalam wiridnya atau berlalu atasnya waktu sedangkan ia tidak sibuk dengannya atau tidak mempersiapkan diri untuknya, menjadi gelap waktunya dan sempit dadanya.
4 – Di antara manusia ada yang jalannya adalah ihsan dan manfaat yang meluas, seperti memenuhi hajat, menghilangkan kesusahan, menolong yang tertimpa musibah, dan berbagai jenis sedekah. Telah dibukakan untuknya dalam hal ini dan ia menempuh darinya jalan menuju Tuhannya.
5 – Di antara manusia ada yang jalannya adalah puasa. Bila ia berbuka, berubah hatinya dan menjadi buruk keadaannya.
6 – Di antara mereka ada yang jalannya adalah amar makruf nahi munkar. Allah telah membukakan hal itu untuknya dan ia menembus darinya menuju Tuhannya.
7 – Di antara mereka ada yang jalan yang ia tempuh adalah haji dan umrah.
8 – Di antara mereka ada yang jalannya adalah memutus ikatan-ikatan dunia, mengerahkan semangat, terus menerus muraqabah, memelihara bisikan hati, dan menjaga waktu-waktu agar tidak hilang sia-sia.
9 – Di antara mereka ada yang menggabungkan dan menembus, yang suluk kepada Allah melalui setiap lembah, yang sampai kepada-Nya dari setiap jalan. Ia menjadikan tugas-tugas penghambaan sebagai kiblat hatinya dan pandangan matanya, ia menuju ke mana pun itu berada dan berjalan bersama ke mana pun itu pergi. Ia telah mengambil bagian dari setiap kelompok. Di mana pun penghambaan berada, engkau akan mendapatinya di sana: jika itu ilmu, engkau akan mendapatinya bersama ahlinya; atau jihad, engkau akan mendapatinya dalam barisan mujahidin; atau shalat, engkau akan mendapatinya dalam barisan yang khusyuk; atau dzikir, engkau akan mendapatinya dalam barisan dzakirin; atau ihsan dan manfaat, engkau akan mendapatinya dalam kelompok muhsinin; atau muraqabah, mahabbah, dan inabah kepada Allah, engkau akan mendapatinya dalam kelompok muhibbin dan munibin. Ia beragama dengan agama penghambaan ke mana pun kendaraannya berangkat, dan ia menghadap ke arah itu di mana pun kemahnya berdiri. Seandainya dikatakan kepadanya: Apa yang engkau inginkan dari amal-amal? Ia akan menjawab: Aku ingin melaksanakan perintah-perintah Tuhanku di mana pun dan kapan pun, membawa apa yang dibawanya, menuntut apa yang dituntutnya, mengumpulkanku atau menceraiku. Tidak ada keinginanku kecuali melaksanakannya dan menunaikannya dengan muraqabah kepada-Nya di dalamnya, tekun kepada-Nya dengan ruh, hati, badan, dan rahasia, telah kuserahkan kepada-Nya barang dagangan menunggu darinya penyerahan harga. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)
Inilah hamba yang suluk kepada Tuhannya, yang benar-benar menembus kepada-Nya. Termasuk menembus kepada-Nya adalah hatinya bersambung dengan-Nya dan terikat kepada-Nya, ikatan seorang pencinta sempurna cintanya kepada kekasihnya, sehingga terhibur dengannya dari semua tujuan selain-Nya. Tidak tersisa dalam hatinya kecuali cinta kepada Allah, perintah-Nya, dan mencari pendekatan kepada-Nya.
Apabila hamba suluk di atas jalan ini, Tuhannya belas kasih kepadanya lalu mendekatkannya dan memilihnya, mengambil hatinya kepada-Nya dan menjadikannya wali dalam semua urusannya dalam kehidupan dan agamanya, dan mengambil alih pendidikannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna daripada cara orang tua yang penyayang mendidik anaknya. Karena Dia – Subhanahu – adalah Yang Maha Berdiri Sendiri yang menegakkan segala sesuatu dari makhluk-makhluk, yang taat maupun yang durhaka, maka bagaimana kiranya sifat Maha Berdiri Sendiri-Nya terhadap orang yang Dia cintai, yang Dia jadikan wali, yang mengutamakan-Nya atas selain-Nya, yang ridha dengan-Nya sebagai kekasih, Tuhan, wakil, penolong, pembantu, dan pemberi petunjuk dari manusia!! Seandainya tersingkap tabir dari kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, dan perbuatan-Nya untuknya dari yang ia ketahui dan yang tidak ia ketahui, niscaya hatinya akan meleleh karena cinta kepada-Nya dan kerinduan kepada-Nya, dan akan hancur berkeping-keping karena bersyukur kepada-Nya. Namun hati-hati terhalangi dari menyaksikan itu karena cenderungnya kepada dunia syahwat dan terikatnya kepada sebab-sebab, sehingga terhijab dari kesempurnaan kenikmatan mereka. Dan itulah takdir Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika tidak, hati mana yang merasakan manisnya makrifat kepada Allah dan cinta kepada-Nya lalu bersandar kepada selain-Nya dan tenang kepada selain-Nya?! Ini tidak akan pernah terjadi.”
Jalan telah jelas… Semoga Allah merahmatimu wahai Syaikhul Islam dan wahai panji para panji Ibnu Qayyim, wahai alim yang mendidik.
Dan engkau melihat keragamannya, maka ke mana engkau akan pergi dan bagaimana engkau akan pergi?! Dan siapa yang akan mengarahkanmu, mendorongmu, membimbingmu, dan membangkitkan semangatmu selain sang pendidik?! Mereka berkata: Demi Allah seandainya bukan karena sang pendidik, aku tidak akan mengenal Tuhanku.
Maka tugas pendidik ini adalah memilihkan untukmu, mengusulkan kepadamu, bahkan terkadang mewajibkanmu dengan apa yang menyelisihi hawa nafsumu dan engkau mengira bahwa engkau tidak akan berhasil di dalamnya, padahal engkau tidak layak kecuali untuknya.
Dan mungkin engkau berteriak – wahai saudara muda yang mulia lagi dermawan – dan mengeraskan suaramu bertanya: Di mana sang pendidik? Di mana sang pendidik?
Dan aku berkata kepadamu: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3). Sesungguhnya engkau – wahai orang yang baik – mencari para tokoh terkenal dan mengira bahwa tidak layak mendidikmu kecuali mereka. Dan ini termasuk kesombongan dan kebodohan, karena para tokoh dari kalangan dai, ulama, rukun-rukun, dan penuntut ilmu membayar harga ketenaran sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk siapa pun… Cukup bagi mereka kesibukan dan kesibukan mereka… Dan mereka ma’dzur (dimaafkan) – semoga Allah mengampuni kami dan mereka.
Maka rendah hatilah – saudaraku yang mulia – dan carilah sang pendidik ini… Seorang saudara yang tidak dikenal, tidak terkenal, tidak dipedulikan, tetapi ia lama dan tampak di wajahnya tanda orang-orang saleh… Seorang abid yang jarang engkau lihat bercampur dengan manusia dalam apa yang mereka geluti… Terdahulu dalam kebaikan… Telah istiqamah sejak bertahun-tahun dan telah mengarungi dalamnya jalan.
Katakan kepadaku: Aku tidak akan menemukan… Dan aku berkata kepadamu: Engkau akan menemukan. Dia Subhanahu berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69). Dan ini juga termasuk kaidah-kaidah jalan ini… Bahwa tidak diberikan anugerah berjalan di dalamnya kecuali kepada orang yang bersemangat, memberi, dan berkorban. Carilah, bersungguhlah, bersemangatlah, dan bersabarlah, niscaya engkau akan diberi… Itulah pokok-pokokmu wahai orang yang malang.
Kedua: Sang Sahabat
Dalam hijrah ada pelajaran dan rahasia. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak berhijrah, beliau mengajak dua orang, hanya dua orang… Seorang pemandu dan seorang sahabat… Pemandu adalah orang yang ahli dan mengetahui jalan-jalan, dan ini tugasnya berakhir pada itu… Yaitu menunjukkan jalan… Adapun sang sahabat, maka syarat-syaratnya sangat banyak… Engkau boleh bertanya mengapa tidak mengajak Umar padahal ia lebih pemberani, dan perjalanan seperti ini membutuhkan keberanian, atau mengapa tidak mengajak Ali padahal ia lebih muda dan dari keluarga, dan berkorban dengannya lebih mudah dengan bukti bahwa ia tidur di ranjangnya. Mengapa memilih Abu Bakar tanpa yang lain? Sesungguhnya persahabatan dalam perjalanan membutuhkan seseorang yang berada di atas manhaj, karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih seorang laki-laki yang hatinya dekat dengan hatinya sehingga mereka tidak pernah berselisih… Perhatikanlah bersamaku peristiwa gua:
Ketika Abu Bakar berkata: Seandainya salah seorang mereka melihat hingga ke telapak kakinya, niscaya ia akan melihat kita, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka apa jawaban atau komentar Abu Bakar atas perkataan ini? Sudah pasti tidak ada… Masalah selesai… Menyerah.
Dan aku yakin bahwa seandainya selain Abu Bakar, ia akan tetap gelisah dan mengulangi masalah itu, tetapi karena hatinya sesuai dengan hatinya, ia menyerah.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tenang dan Abu Bakar tenang.
Kesimpulannya aku berkata kepadamu: Harus ada sahabat dalam jalan ini yang berada di atas manhaj yang sama, hatinya seperti hatimu, karena sesungguhnya aku melihatmu wahai kekasih yang mencintai, mereka telah menipumu lalu berkata: Carilah orang yang menarikmu ke atas… Dan engkau terkejut bahwa semua orang mencari yang menarik mereka hari-hari ini… Dan engkau terkejut bahwa tarikan itu ke bawah bukan ke atas. Sesungguhnya aku ingin – wahai kekasih – agar engkau mencari orang malang sepertimu yang mencari jalan menuju Allah dan ingin sampai kepada Allah… Ini syaratnya… Bahwa ia bersemangat dalam ketaatan kepada Allah dan ingin sampai kepada Allah… Carilah dia dan ridhailah dengannya dan jangan mensyaratkannya dari orang-orang sempurna, karena orang yang dirinya belum sempurna tidak sepatutnya mencari kesempurnaan pada orang lain.
Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Barangsiapa mencari saudara tanpa cacat, ia akan menjadi tanpa saudara.
Maka tidak sepatutnya orang yang suluk kepada Allah bersikap zuhud terhadap saudaranya yang suluk bersamanya di jalan karena satu atau dua akhlak yang ia ingkari padanya jika ia ridha dengan sisa akhlaknya, karena yang sedikit dimaafkan dan kesempurnaan mustahil. Dan siapa yang semua akhlaknya engkau ridhai… Cukup bagi seseorang kemuliaan bahwa cacatnya terhitung.
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: Menegur saudaramu lebih baik bagimu daripada kehilangannya.
Dan sebagian orang bijak berkata: Meminta keadilan adalah dari sedikitnya keadilan.
Dan sebagian salaf berkata: “Janganlah membuatmu zuhud terhadap seorang laki-laki yang engkau puji perjalanannya, ridhai caranya, ketahui keutamaannya, dan kenali akalnya, cacat tersembunyi yang dikelilingi banyak keutamaannya, atau dosa kecil yang dimintakan ampunan untuknya oleh kekuatan wasilah-wasilahnya.”
Dan jangan sampai aku menghalangimu (merampas) nasihat… Mungkin sahabat ini adalah istrimu, ayahmu, saudaramu laki-laki, atau saudaramu perempuan, bahkan jika itu anakmu laki-laki atau perempuanmu… Dan saat itu urusan menjadi lebih kuat… Karena bergaul, lamanya persahabatan, dan terbiasa dengan tabiat perjalanan termasuk hal-hal yang wajib dalam jalan ini… Tetapi seperti yang kukatakan kepadamu, dengan satu hati, karena perselisihan semuanya keburukan, dan jalan adalah kesibukan, dan sibuk darinya adalah kebinasaan. Maka jangan bersahabat kecuali dengan orang yang sepaham agar tidak bertambah dan banyak perselisihan dan hilang jalan.
Rombongan Jalan: Telah kukatakan kepadamu bahwa ia sahabat… Dan mengapa mereka tidak menjadi rombongan?
Dia Subhanahu berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya.” (Al-Fath: 29). Ya: Harus untukmu – wahai kekasih yang suluk kepada Allah – ada rombongan dan sahabat dalam jalan ini… Harus untukmu kelompok yang engkau nyaman bersamanya, untuk menghilangkan kesepian karena menyendiri, membenarkan kesalahanmu, dan menjelaskan kepadamu rintangan-rintangan jalan.
Jika rombongan itu penting dan dibutuhkan dalam perjalanan dunia, maka bagaimana dengan perjalanan akhirat di mana mukmin sangat membutuhkan penolong yang saleh dan partner yang sepaham yang bersama pasangannya seperti dua tangan yang satu membasuh yang lain. Maka bergabunglah dengan rombongan – wahai kekasih – karena rombongan memiliki kebaikan.
“Dan sesungguhnya teman seperjalanan jalan akhirat memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang harus ada. Teman seperjalanan menuju Allah Ta’ala adalah mereka yang tinggi cita-citanya, bersih niatnya, dan benar perjalanannya hingga mereka mendahului manusia dan meninggalkan ketenangan, dan berdesak-desakan untuk menaiki kendaraan kafilah dengan berlari menuju Allah Ta’ala dan bergegas kepada ridha-Nya.” “Dan aku bersegera kepada-Mu ya Tuhanku agar Engkau ridha.” (Thaha: 84). Mereka tidak berhenti pada bentuk, tidak terikat pada nama, dan tidak menunggu untuk ditunjuk dengan jari atau diangkatkan bendera untuk mereka, karena telah tinggi dari mereka cita-cita yang tidak berhenti di bawahnya gerakan perjalanan, dan pemiliknya tidak ridha dengan selain Sang Pencipta sebagai ganti, sebagaimana telah bersih dari mereka niat yang khalis dari kotoran hingga tidak menghalangi dari yang dituju, dan terjadilah dari mereka pelepasan total untuk Yang Disembah. Dan tanda lain bagi teman seperjalanan ini yaitu benarnya suluk yang selamat dari kerusakan-kerusakan, penghalang-penghalang, pemutus-pemutus, dan hijab-hijab.”
Dan kesehatan perjalanan yang selamat ini tidak terwujud kecuali dengan tiga syarat yang merupakan kesempurnaan sifat-sifat saudara seperjalanan dan sahabat di jalan:
Pertama: Hendaknya jalan yang agung adalah jalan Nabi Muhammad, bukan berdasarkan cara-cara yang dibuat-buat.
Kedua: Jangan memenuhi panggilan kemalasan, berhenti, dan bersenang-senang di perjalanan.
Ketiga: Hendaknya dalam perjalanannya selalu memandang kepada tujuan.
Dengan tiga hal ini perjalanan menjadi benar, dan ungkapan yang menyeluruh adalah hendaknya menjadi satu untuk Yang Satu, di jalan yang satu.
Kilasan Kedua: Tentukan Tujuanmu:
Bagaimana mungkin musafir bepergian tanpa tujuan? Dengan niat, perjalanan menjadi jelas dan tujuan menjadi terang, dan berdasarkan itu ia merencanakan metode perjalanan baik panjang maupun pendek, dan berdasarkan kejujuran niat itu ia membawa bekal. Demikian pula perjalanan orang beriman harus dengan niat yang jujur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapat sesuai niatnya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.”
Muttafaq ‘alaih: Bukhari: (1), dan Muslim (1907).
Maka tentukan tujuanmu – saudaraku yang mulia – apa yang kamu inginkan dengan jalan ini, penetapan yang jelas tanpa keraguan, agar kamu dapat mencapai apa yang telah kamu tetapkan.
Apakah kamu berkomitmen untuk menjadi syaikh terkenal atau pemimpin yang diikuti? Apakah kamu berkomitmen dan menempuh jalan ini karena kegagalanmu meraih dunia, lalu ingin mendapatkannya dengan dalih akhirat? Tentukan tujuanmu wahai orang yang malang, dan ketahuilah bahwa Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal niat-niat itu Maha Melihat.
Ketika seorang Arab badui pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam jihad, lalu ia diberi bagian dari ghanimah, orang itu berkata: “Bukan untuk ini aku mengikutimu!” Maka jernihkan niatmu: untuk apa engkau mengikuti kami?!
Dan niat – wahai kekasih – adalah asal ibadah, dan dengannya dibedakan yang sahih dari yang rusak, yang ikhlas dari yang lain, dan dengan niat ditentukan tingkatan para salik (penempuh jalan), arah orang-orang yang menuju, dan siapa yang menginginkan wajah Allah Ta’ala, atau yang ingin bepergian dengan berbagai tujuan seperti hijrah, karena hijrah bisa saja untuk kepentingan duniawi, atau dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi. Dengan niat inilah ditentukan keikhlasan yang dengannya seseorang mendapat pahala atas kesulitan perjalanan, dan dengannya ia merasakan manisnya penderitaan, dan dengannya meringankan kesulitan perjalanan.
Dan keikhlasan saja yang membawa kepada kejernihan hati dan kemurnian perasaan, karena orang mukmin setelahnya tidak memikirkan kecuali keagungan Tuhannya dan tidak mengarah kecuali kepada Penciptanya. Maka tidak memudharatkannya kesulitan para penghambat, tidak panggilan orang-orang yang menakut-nakuti, dan tidak menghentikannya kelesuan orang-orang yang jatuh.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Keikhlasan adalah jalan keselamatan, Islam adalah kendaraan keselamatan, dan iman adalah pantai keamanan.”
Jika telah ditentukan tujuanmu – wahai orang yang berjalan – dan diketahui maksudmu dengan dua tauhid yaitu: tauhid tujuan dan tauhid yang dituju, maka yang dituju adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tujuannya adalah mengharap wajah-Nya yang Mulia. Jika telah ditentukan tujuanmu ini dan diketahui maksudmu ini, maka kamu telah beristirahat dalam perjalanan ini. Dan akan jelas bagimu hal itu ketika kami sebutkan nanti bahwa para pembuat keonaran banyak, jalan-jalan gelap gulita, dan rintangan-rintangan yang melemahkan tekad. Jika terjadi tauhid tujuan dan tauhid yang dituju, maka tidak akan berpaling kepada yang lain.
Maka niat – saudaraku yang berjalan – niat, niat adalah awal perjalanan. Maka bersihkan hatimu agar siap untuk bepergian.
Kilasan Ketiga: Komponen Perjalanan:
Jika kamu – saudaraku yang menempuh – masih bersikeras untuk menyelesaikan, maka ketahuilah bahwa di antara komponen perjalanan adalah: metode. Dan ketahuilah bahwa metode kita terjaga dari kesalahan, maka tidak ada ruang bagi kita untuk berijtihad di dalamnya, karena para ulama sepakat bahwa amalan-amalan ibadah itu tauqifi (ditentukan), yang zhahir maupun yang batin. Oleh karena itu syariat – Kitab dan Sunnah – telah menjamin penjelasan metode di jalan ini dengan penjelasan yang tidak menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami yang memberi petunjuk” (Al-Lail: 12). Dan jika Allah berfirman “‘alayna” (atas Kami), maka itu telah wajib. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (Al-Balad: 10). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman – mengisahkan tentang Musa ketika ditanya tentang Tuhannya, lalu ia mengenal-Nya dan berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Thaha: 50). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (At-Taubah: 115). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu Yaitu Al Kitab (Al Quran) Itulah yang benar, membenarkan kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (Fathir: 31).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang” dan dalam riwayat “putih bersih seperti matahari, tidak menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” Diriwayatkan oleh Ahmad: (4/126), dan Abu Daud (4607) dan Al-Albani mengatakan sahih.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat selamanya sepeninggalku: Kitab Allah dan Sunnahku.” Diriwayatkan oleh Ahmad (3/59) dan At-Tirmidzi (3786) dan berkata: hasan gharib, dan lihat Ash-Shahihah (1761).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin, gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap kesesatan di neraka.” Diriwayatkan oleh Abu Daud: (4607).
Dengan nash-nash ini dan ijma’ umat, jelas bagi kita dengan yakin tanpa keraguan bahwa agama telah sempurna, jalan telah dijelaskan, tanda-tanda telah dipasang, dan pokok-pokok telah ditetapkan.
Maka tidak ada ruang untuk ocehan para pengoceh, tidak untuk penyelewengan para Qaramithah, tidak ada ruang untuk kepalsuan orang-orang yang memalsukan, tidak untuk teori orang-orang yang sombong dan ujub, tidak ada ruang untuk memperbarui agama dan tidak untuk pemahaman yang tercerahkan – menurut mereka – dan tidak untuk bid’ah ahli hawa nafsu. Agama adalah agama Muhammad dan apa yang beliau dan para sahabatnya jalani.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang-orang Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya. Dan pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang dilarikan oleh hawa nafsu seperti anjing gila menggigit pemiliknya, tidak tersisa urat dan sendi kecuali dimasukinya.” Diriwayatkan oleh Ahmad (4/102) dan Abu Daud (4597) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (203, 204).
Dan sesungguhnya hadits ini dan semisalnya menambah keimanan orang mukmin – demi Allah – ketika melihat lariannya hawa nafsu pada kaum tersebut. Wahai orang yang berjalan yang mulia, metode itu terjaga, tidak ada ruang untuk berijtihad di dalamnya. Ketahuilah ini pertama, lalu ambil yang kedua.
Jika metode itu terjaga, maka harus ada metode. Permulaan – permulaan berjalan – tanpa metode akan mengantarkan pada kelesuan dan membawa pada kemunduran, kemudian banyak keluhan tanpa yang mendengar dan menjawab.
Harus ada metode yang nyata dalam berjalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dalam pokok-pokok ibadah: shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan sunnahnya. Maksudku adalah engkau mengambil untuk dirimu sebuah metode: apa yang akan kamu lakukan, berapa banyak, kapan, dan bagaimana?
Dan berkomitmen dengan metode ini dan mengikutinya dengan muhasabah yang ketat.
Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dalam sehari empat puluh rakaat, tujuh belas rakaat fardhu dan dua belas rakaat rawatib, sebelas rakaat tahajjud. Dan jika beliau tertinggal sesuatu darinya, beliau mengqadha’nya, bahkan terbukti bahwa beliau mengqadha’ sunnah zhuhur setelah ashar. Jika kamu mampu ini dan berkomitmen dengannya, maka komitmenlah dan jangan menyia-nyiakannya, dan hati-hati dengan sikap meremehkan.
Contoh lain, para Sahabat membagi Quran menjadi hizb-hizb, yaitu khatam setiap minggu sekali, dimulai dari ashar Jumat dan khatam ashar Kamis dengan rata-rata lima juz sehari. Apakah kamu mampu ini? Komitmenlah dan jangan menyia-nyiakannya, dan hati-hati jangan meremehkan.
Berdasarkan dua contoh ini, ukurlah dalam tiga sayap metode: menuntut ilmu, ibadah, dan dakwah kepada Allah. Buatlah untuk dirimu metode yang jelas: berapa rakaat akan kamu shalat dalam sehari? Dan berapa hari akan kamu puasa dalam seminggu? Demikian juga wiridmu dalam berdzikir, demikian juga ilmu dan dakwah. Tentukan apa yang akan kamu lakukan agar kamu bisa menghisab atas apa yang kamu tetapkan, dan jangan biarkan perkara-perkara itu kabur. Dan jangan lupa: metode itu terjaga. Jadilah salafi mengikuti metode.
Kilasan Keempat: Dan Berbekallah:
Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesungguhnya setiap perjalanan pasti ada bekalnya. Maka berbekallah dari dunia untuk akhirat dan jadilah seperti orang yang menyaksikan apa yang Allah Ta’ala sediakan dari pahala dan siksa-Nya, kalian berharap dan takut, dan jangan kalian perpanjang angan-angan sehingga hati kalian keras dan kalian tunduk pada musuh kalian. Sesungguhnya – demi Allah – tidaklah panjang angan-angan orang yang tidak tahu mungkin ia tidak akan sampai pagi setelah sorenya dan tidak akan sampai sore setelah paginya. Dan mungkin di antara itu ada sambarannya kematian. Maka betapa banyak kita dan kalian melihat orang yang tertipu dengan dunia. Dan sesungguhnya yang sejuk matanya adalah orang yang yakin selamat dari azab Allah, dan sesungguhnya yang gembira adalah yang aman dari dahsyatnya hari Kiamat.”
Dan Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata:
“Sungguh aneh musafir yang mati tanpa berbekal untuk perjalanan, dan yang bepergian tanpa mengumpulkan untuk perjalanan perlengkapannya, dan yang berpindah ke kuburnya tidak bersiap untuk perpindahan, dan yang menyia-nyiakan urusannya tidak bermusyawarah dengan akalnya. Saudara-saudaraku, kafilah-kafilah telah lewat di jalan yang panjang dan kuda-kuda perjalanan bagi yang tersisa telah dipasang pelananya. Kaum telah berjalan menuju kubur dengan cepat dan arwah telah tercabut dari jasad. Sampai kapan penundaan dan keragu-raguan ini? Dagangan kalian semua palsu dan jalan kalian sulit dan penuh duri, dan kalian akan tahu beritanya ketika naza’ (sakaratul maut).”
Ya – demi Allah – engkau benar wahai Ibnu Al-Jauzi. Maha Suci Sang Raja! Betapa utamanya ilmu salaf atas ilmu khalaf.
Lihatlah perkataan orang ini, engkau akan melihat orang yang berpengalaman dan meneliti, lalu berbicara tentang pengalaman dan pengamatan.
Maka berangkatlah dalam perjalananmu dengan pengetahuan yang jelas, dan cukuplah keragu-raguan, keengganan, dan kebengkokan.
Dan ketahuilah – saudaraku yang tercinta – bahwa di antara berkah perjalanan menuju Allah Ta’ala adalah apa yang sempurna dengannya dari pelimpahan nikmat kepada hamba dan apa yang mungkin Allah bukakan kepada hamba-hamba-Nya dari pintu-pintu dan perbendaharaan nikmat, dan apa yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya dari rahmat yang tidak terlintas di benak manusia kecuali yang merasakan kenikmatannya dan meneguk dari sumbernya.
Cara Berbekal:
1 – Tauhid dan Iman:
Sesungguhnya aku – wahai kekasih – ketika menuntutmu untuk berbekal dan engkau berpaling dariku dengan alasan bahwa engkau tidak memiliki, lalu syaitan meninggalkan dengan berpaling darimu dengan mengaku bahwa engkau durhaka kepada Allah. Aku tidak menuntutmu ketika menuntutmu dari bekal selain: tauhid dan iman. Kemudian Allah memberikan berkah padanya bagi para musafir dan menghapuskan berkah dari orang-orang bodoh yang menganggur.
Sesungguhnya manisnya iman adalah bekal terbesar dalam perjalanan ini, dan tidak merasakan manisnya perjalanan dan nikmatnya hidup ini kecuali yang memiliki bagian dengan ma’rifah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, dan menghayati hakikat-hakikat iman dan mencoba kelezatan ini.
“Karena sesungguhnya kelezatan, kegembiraan, kebahagiaan, enaknya waktu, dan kenikmatan yang tidak dapat diekspresikan hanyalah dalam ma’rifah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentauhidkan-Nya, beriman kepada-Nya, terbukanya hakikat-hakikat iman dan ma’rifah-ma’rifah Qur’ani. Sebagaimana berkata sebagian guru: Sungguh aku berada dalam keadaan yang aku katakan di dalamnya: jika penghuni surga dalam keadaan ini, sesungguhnya mereka dalam kehidupan yang enak. Dan berkata yang lain: Melewati hati saat-saat yang menari karenanya dengan gembira. Dan berkata yang lain dengan kefakirannya: Andai para raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami rasakan, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang.” Ya Allah, jangan Engkau haramkan kami kelezatan iman, rasa iman, dan manisnya iman. Amin.
2 – KEYAKINAN
Dan aku hanya bermaksud – wahai kekasih – bahwa pada permulaannya cukuplah bekal yang sedikit, kemudian dengan berkah Allah, Dia akan memberkahi yang sedikit itu sehingga menjadi banyak. Maka berbekallah untuk perjalanan ini pada awalnya dengan perbekalan yaitu keyakinan.
Ibnu Qayyim berkata: “Di jalan ini ada lembah-lembah dan celah-celah, pendakian dan lembah rendah, duri dan semak belukar, dan para perampok yang memotong jalan para musafir, terutama orang-orang malam yang berjalan di kegelapan. Jika mereka tidak memiliki perbekalan iman dan pelita keyakinan yang menyala dengan minyak kekhusyukan, maka penghalang-penghalang itu akan mengganggu mereka, dan penghadang-penghadang itu akan menahan mereka dan menghalangi mereka dari perjalanan.”
Maka harus ada keyakinan pada awalnya yang menerangi jalanmu. Keyakinan adalah cahaya. Inilah perbekalan kedua. Keyakinan kepada Allah, keyakinan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai petunjuk, dan keyakinan pada manhaj sebagai pengantar.
“Dan ketika keyakinan sampai ke hati, hati itu akan dipenuhi cahaya dan pancaran. Segala keraguan, kemurkaan, kesedihan, dan kegundahan akan hilang darinya. Maka hati akan dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, ridha kepada-Nya, syukur kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Keyakinan adalah bahan semua maqam dan pembawanya.”
3 – TAKWA
Dan berbekallah – wahai musafir – juga dengan takwa kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, karena itulah satu-satunya jalan menuju keikhlasan.
Takwa adalah: ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Allah berfirman: “Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)
Berbekallah – wahai para musafir – setiap saat, karena “dunia bukanlah tempat menetap, tempat yang Allah tetapkan kehancuran untuknya, dan Allah tetapkan kepergian bagi penghuninya. Berapa banyak bangunan kokoh yang sebentar lagi akan runtuh, dan berapa banyak penghuni yang gembira yang sebentar lagi akan pergi. Maka perbaguslah – semoga Allah merahmati kalian – kepergiannya, dan perbaguslah yang kalian hadapkan dari perpindahan ini. Berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dunia ini bagaikan bayangan yang singkat lalu hilang. Sementara anak Adam di dunia bersaing, sesungguhnya dunia tidak menyenangkan sebesar yang ia mudaratkan. Ia menyenangkan sebentar, dan membawa kesedihan yang panjang.” Wahai saudara-saudaraku, berbahagialah bagi siapa yang berbekal dari dunia menuju akhirat, dari stasiun yang cepat berlalu menuju stasiun yang kekal, dari sempitnya kehidupan menuju luasnya hari kebangkitan, dari tempat kepergian menuju tempat yang kekal.
4 – KEIKHLASAN
Adapun keikhlasan, maka beritanya mengagumkan dan bahayanya besar. Ia adalah bekalmu yang keempat yang jalan ini tidak akan baik kecuali dengannya. Ia adalah dasar dari perbekalan dan akhirnya. Dan sampainya hanya bagi orang-orang yang ikhlas. Allah berfirman: “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.'” (Shad: 82-83)
Dan diketahui bahwa penyesatan adalah bagi orang-orang yang sesat yang mengetahui jalan tetapi tidak menempuhnya. Manusia ada tiga: yang mendapat petunjuk, yang sesat, dan yang menyimpang. Yang mendapat petunjuk adalah yang mengetahui jalan dan menempuhnya. Yang sesat adalah yang tidak mengetahui jalan maka tersesat darinya. Yang menyimpang adalah yang mengetahui jalan tetapi tidak menempuhnya. Maka keikhlasan adalah bekal yang berbahaya, maka berbekallah wahai musafir.
5 – SIMPANAN RAHASIA
Dan di antara bekal adalah simpanan rahasia, simpanan amal saleh yang tidak diketahui oleh manusia, yang baik untuk bertawasul dengannya di stasiun-stasiun jalan dan rintangannya, sebagaimana bertawasulnya orang-orang yang berlindung ke gua – lalu tertutup oleh batu besar – dengan simpanan amal ikhlas mereka.
6 – KESABARAN
Dan terakhir dari bekal adalah kesabaran. Kesabaran di jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perjalanan adalah sepotong siksaan.” (Muttafaq ‘alaih: Bukhari: 1804, dan Muslim: 1927). Jika perjalanan dunia menyebabkan kesulitan dan kelelahan, bagaimana dengan perjalanan akhirat yang di dalamnya ada kesusahan dan kepayahan?! Allah berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan.” (Al-Balad: 4)
Fakhr ar-Razi berkata: Dalam kesusahan ada beberapa wajah:
Pertama: yaitu Kami ciptakan ia dalam tahapan-tahapan yang semuanya berisi kesulitan dan kesusahan. Terkadang di perut ibu, kemudian masa menyusui, kemudian ketika dewasa dalam jerih payah mencari penghidupan, kemudian setelah itu kematian.
Kedua: yaitu kesusahan dalam agama. Al-Hasan berkata: ia bersusah payah bersyukur atas kebahagiaan, sabar atas kesusahan, dan bersusah payah dalam ujian menunaikan ibadah.
Ketiga: yaitu akhirat, maka kematian adalah pertanyaan malaikat dan kegelapan kubur, kemudian kebangkitan dan pemaparan kepada Allah hingga ia menetap di tempat, baik di surga maupun di neraka.
Keempat: yaitu lafaz ini mencakup semuanya dan itulah yang benar. Menurutku ada wajah lain, yaitu bahwa tidak ada kenikmatan sama sekali di dunia ini, bahkan apa yang kita kira sebagai kenikmatan adalah pembebasan dari rasa sakit. Kenikmatan yang terbayang saat makan adalah pembebasan dari rasa sakit lapar. Kenikmatan yang terbayang dari pakaian adalah pembebasan dari rasa sakit panas dan dingin. Maka tidak ada bagi manusia kecuali rasa sakit atau pembebasan dari rasa sakit dan perpindahan ke yang lain. Inilah makna firman Allah: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan.” (Al-Balad: 4)
Maka ketahuilah – wahai kekasih – bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kesabaran, hingga tampak mutiara-mutiara mereka, sebagaimana yang terjadi pada para nabi.
“Dan inilah Nuh ‘alaihissalam dipukul hingga pingsan, kemudian sebentar kemudian selamat di kapal dan musuh-musuhnya binasa. Dan inilah Khalilullah (Ibrahim) dilemparkan ke dalam api, kemudian sebentar kemudian keluar dalam keselamatan. Dan inilah Adz-Dzabih (Ismail) dibaringkan dengan pasrah, kemudian selamat dan pujian kekal. Dan inilah Ya’qub ‘alaihissalam penglihatannya hilang karena perpisahan, kemudian kembali dengan pertemuan. Dan inilah Kalimullah (Musa) ‘alaihissalam bekerja sebagai penggembala, kemudian naik kepada percakapan (dengan Allah).”
Dan kesabaran adalah obat. Para ulama berkata dalam mendefinisikannya: menahan hati dari ketidakrelaan, menahan lisan dari keluhan. Jalan ini panjang dan penderitaan di jalan banyak, dan obatnya adalah kesabaran. Karena orang yang terburu-buru tidak memotong jalan dan tidak menjaga punggungnya. Dan tidaklah berbeda-beda derajat pemilik semangat kecuali karena perbedaan mereka dalam panjangnya kesabaran hingga akhir jalan. Maka berbekallah wahai musafir.
Dan sesudahnya: Maka berbahagialah orang yang mendapat manfaat dari kilat-kilat dan cahaya-cahaya ini, dan mendapat inspirasi dari isyarat-isyarat dan peringatan-peringatan itu, sehingga mengetahui jalan, melihat arah, dan menjadi sebaik-baik musafir dalam kafilah orang-orang beriman.
Pendahuluan
Saudaraku yang berjalan menuju Allah, jalan menuju Allah seperti jalan yang nyata. Kau akan menemukan di dalamnya terowongan-terowongan gelap, tikungan-tikungan berbahaya, polisi tidur yang melelahkan, dan jembatan layang. Sebagaimana kadang kau menemukan di pinggir jalan taman-taman yang mempesona dan jalan-jalan bercabang. Dan barang siapa tidak memperhatikan hal seperti ini dan tidak dipimpin untuk keluar darinya oleh orang yang ahli dan melihat, pasti akan tersesat di jalan atau terputus. Saudaraku yang mulia, mengetahui bahaya-bahaya jalan adalah di antara hal-hal penting yang harus diketahui musafir.
Ibnu Qayyim berkata:
“Dan tidak akan sempurna tujuan kecuali dengan petunjuk menuju jalan, dan petunjuk di dalamnya, waktu-waktu perjalanan selain itu, bekal perjalanan, dan bahaya-bahaya jalan. Karena itu Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah: ‘Untuk masing-masing Kami jadikan syariat dan jalan.’ (Al-Maidah: 48) – ia berkata: jalan dan sunnah. Dan tafsir ini memerlukan tafsir. Jalan adalah thariqah, yaitu manhaj. Dan sunnah adalah syariat, yaitu rincian jalan dan kesulitannya, cara berjalan di dalamnya, waktu-waktu berjalan. Atas dasar ini, ucapannya: ‘jalan dan sunnah’ maka jalan adalah manhaj, dan sunnah adalah syariat. Yang didahulukan dalam ayat adalah yang diakhirkan dalam tafsir. Dalam lafaz lain: sunnah dan jalan, maka yang didahulukan untuk yang didahulukan, dan yang diakhirkan untuk yang diakhirkan.” Maka ia menjadikan dari petunjuk di jalan adalah terbebas dari bahaya-bahaya jalan dan kesulitan-kesulitannya, dan mengetahui rincian kesulitan-kesulitan itu.
Maka perhatikanlah bersamaku bahaya-bahaya paling berbahaya ini – semoga Allah menjaga kita dan kamu darinya.
Bahaya Pertama: Takut Dari Kesepian Menyendiri
Sebagian salaf berkata: Hendaklah kau di jalan petunjuk dan jangan membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang binasa. Di antara sunnatullah yang rabbani dan kauniyah adalah bahwa ahli kebenaran selalu sedikit. Ini adalah prinsip yang tidak boleh luput darimu. Allah berfirman: “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka itu.” (Shad: 24)
Dan Allah berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’: 13)
Dan sebaliknya: kau akan menemukan sifat banyak selalu bersama ahli kebatilan. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji dan sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang fasik.” (Al-A’raf: 102). Dan Allah berfirman: “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103). Dan Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu.” (Al-An’am: 116). Dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar orang-orang fasik.” (Al-Maidah: 49).
Jika telah jelas bagimu itu, maka janganlah kau merasa kesepian dari sedikitnya orang yang berjalan bersamamu di jalan. Karena kebanyakan musafir mundur ke belakang ketika mereka melihat gerombolan besar yang bertentangan dengan arah jalan atau di pinggir jalan lurus ini. Maka tetaplah dan jangan bersedih.
Bahaya Kedua: Banyak Bicara Dan Bergaul
Dan ini adalah yang paling berbahaya dari bahaya-bahaya itu. Banyak bicara dan bergaul lebih dari kebutuhan, hingga bertemu orang menjadi syahwat dan kebiasaan yang terputus dengannya dari tujuan. Dan telah dikatakan: Jika kau melihat dirimu merasa tenang dengan makhluk dan merasa kesepian dari kesendirian, maka ketahuilah bahwa kau tidak pantas bagi Allah. Dan sesungguhnya di antara tanda-tanda kebangkrutan adalah merasa tenang dengan manusia.
Dan untuk menyendiri – wahai saudara yang mulia – ada kelebihan-kelebihan. Karena berkumpul dengan manusia tidak lepas dari bahaya, yang paling ringannya adalah kau berhias untuk makhluk. Dan disebutkan dari sebagian ahli hadits bahwa ia berkata: Sungguh bertemu dengan syetan lebih aku sukai daripada bertemu dengan Hudzaifah Al-Mar’asyi, aku takut aku berhias untuknya sehingga jatuh dari pandangan Allah.
Bahaya Ketiga: Terowongan Gelap
Musafir mungkin menemui dalam perjalanannya terowongan gelap yang tidak bisa ia bedakan jalannya dari jalan-jalan lain, kecuali jika cahaya-cahaya keyakinan menyinari, dan jalan-jalan diketahui agar musafir tidak kehilangan arahnya, atau berceceran tubuhnya di bawah kecelakaan, atau berlebihan dalam optimisme ketika melihat cahaya di akhir terowongan yang mungkin adalah fatamorgana.
Sesungguhnya terowongan seperti ini adalah fitnah perpecahan di antara kaum muslimin. Ketika musafir berjalan dalam rombongan yang penuh berkah dan jalan lancar, dan ia menunggu sampai ke stasiun berikutnya, tiba-tiba jalan menjadi gelap total seperti orang yang memasuki terowongan, dikejutkan oleh kegelapan pekat setelah cahaya terang. Sebagian kaum muslimin bertabrakan satu sama lain dan sebagian berbuat aniaya kepada yang lain, maka kegelapan melilit, dan cahaya padam. Musafir malang terpaksa mengarungi kegelapan dan memasuki terowongan. Jika hati nurani tidak yakin dan penglihatan tidak jelas, maka bencana pasti terjadi, dan terjadilah kesesatan yang tidak diketahui apa jalan keluarnya.
Oleh karena itu, cahaya-cahaya penerang dalam terowongan ini terwujud dalam berpegang teguh dengan kejelasan manhaj: Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaf umat.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Surah At-Taubah: 100).
Kamu harus memperhatikan bagian “dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”. Ihsan artinya: penglihatan, bukan sekadar mengikuti tetapi mengikuti dengan ihsan. Dan ihsan adalah engkau melihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.” Muttafaq ‘alaih (Bukhari: 50, dan Muslim: 9). Ini adalah jalan keluar pertama dari terowongan.
Adapun cahaya kedua untuk keluar dari terowongan gelap ini adalah jangan menyibukkan dirimu dengan diskusi, perdebatan, dan bantahan, tetapi “bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (Surah Al-Qiyamah: 14).
Kenali jalanmu dan berjalanlah. Jika memang harus, sampaikanlah nasihat lalu berjalanlah. Sungguh, orang yang paling merugi adalah yang sibuk dengan orang lain hingga melupakan dirinya sendiri, dan yang lebih rugi lagi adalah yang sibuk dengan dirinya sendiri hingga melupakan Allah. Maka kenalilah cahaya-cahaya penerang terowongan agar engkau keluar dari kegelapan ini dengan selamat.
Bahaya Keempat: Jembatan di Jalan
Dan di jalan ini—wahai pejalan yang tercinta—ada jembatan yang harus dilalui dan diseberangi, karena inilah kondisi orang-orang yang berjalan menuju Allah Ta’ala di setiap zaman dan tempat, bahkan ini adalah kondisi para nabi dan rasul. Jembatan itu adalah ujian dan cobaan yang menimpa sang pejalan.
Maka dalam jalan ini, ia harus ditempa oleh ujian dan harus ditampakkan logamnya oleh cobaan. Allah Ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (Surah Al-Ankabut: 2-3).
Dan kabar gembira pertama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kenabian adalah peringatannya tentang pengusiran. Waraqah berkata: Tidaklah datang seorang pun dengan seperti apa yang engkau bawa kecuali ia akan dimusuhi. Dan rahib berkata kepada pemuda: Engkau hari ini lebih utama dariku dan sesungguhnya engkau akan diuji. Dan dikatakan kepada Asy-Syafi’i: Mana yang lebih engkau sukai, seseorang diberi kemampuan atau diuji? Ia menjawab: Ia tidak akan diberi kemampuan hingga diuji.
Maka jembatan menuju kemampuan di jalan ini adalah ujian. Dan harus ada kesabaran di dalamnya, mengharap pahala, dan ridha kepada dan dari Allah Ta’ala. Karena itu adalah jembatan untuk sampai. Dan surga telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ibnu Qayyim berkata:
“Dan jika engkau merenungkan hikmah-Nya—Mahasuci dan Mahatinggi—dalam apa yang Dia uji kepada hamba-hamba-Nya dan pilihan-Nya dengan apa yang Dia arahkan kepada mereka menuju tujuan yang paling mulia dan akhir yang paling sempurna yang tidak akan mereka capai kecuali melalui jembatan ujian dan cobaan. Dan jembatan itu untuk kesempurnaan mereka seperti jembatan yang tidak ada jalan bagi mereka untuk menyeberang menuju surga kecuali melaluinya. Dan ujian serta cobaan itu adalah pemberian dalam hak mereka dan kemuliaan. Bentuknya adalah bentuk ujian dan cobaan, tetapi batinnya mengandung rahmat dan nikmat. Betapa banyak nikmat Allah yang besar dan karunia yang agung yang dipetik dari buah ujian dan cobaan.”
Dan untuk cobaan di jalan ini ada ciri-ciri dan keistimewaan. Sebagaimana seorang Muslim harus tidak terpisah dari ibadah apa pun: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Surah Al-An’am: 162). Maka perasaannya tentang ujian harus seperti ini: bahwa ia sedang beribadah yang berlangsung bersamanya dalam semua gerak dan diamnya, hingga hamba menyertakan niat atas ujian dan mengharap pahala dari Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, “Yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (Surah Asy-Syu’ara: 218-219).
Dan jembatan ini berbahaya—jembatan ujian. Sungguh banyak dari para pejalan yang lemah kekuatannya untuk menyeberanginya, lalu ia mundur ke belakang dan meninggalkan jalan.
Kemudian engkau akan melihat jembatan lain di jalan—yaitu nafsu. Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal kami.
Ibnu Qayyim berkata dalam Al-Madarij:
“Nafsu adalah gunung yang besar dan sulit di jalan perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla. Dan setiap pejalan tidak ada jalan baginya kecuali melalui gunung itu. Maka ia harus sampai kepadanya. Tetapi di antara mereka ada yang sulit baginya, dan di antara mereka ada yang mudah baginya. Dan sesungguhnya ia mudah bagi siapa yang Allah mudahkan baginya.
Di gunung itu ada lembah-lembah, cabang-cabang, tanjakan, jurang, duri, semak belukar, tanaman merambat, dan para perampok yang memutus jalan para pejalan, terutama orang-orang malam yang berjalan di kegelapan. Jika tidak bersama mereka peralatan iman dan pelita-pelita keyakinan yang menyala dengan minyak kekhusyukan, maka penghalang-penghalang itu akan menempel pada mereka, dan pemutus-pemutus itu akan berpegang pada mereka dan menghalangi antara mereka dan perjalanan.
Sungguh kebanyakan pejalan di sana kembali ke belakang ketika mereka tidak mampu melewatinya dan menaklukkan tanjakan-tanjakannya. Dan setan berada di puncak gunung itu memperingatkan orang-orang dari mendakinya dan ketinggiannya, dan menakut-nakuti mereka darinya. Maka bertepatan kesulitan pendakian dengan duduknya yang menakut-nakuti itu di puncaknya, dengan lemahnya tekad dan niat pejalan, lalu terlahir dari itu: terputusnya perjalanan dan kembali ke belakang. Dan terpelihara adalah yang Allah pelihara. Dan semakin pejalan naik di gunung itu, semakin keras teriakan pemutus jalan dan peringatannya serta peringatan takutnya. Maka jika ia melewatinya dan sampai ke puncaknya, semua ketakutan itu berubah menjadi keamanan. Dan saat itulah perjalanan menjadi mudah, dan hilang darinya rintangan jalan dan kesulitan tanjakannya. Dan ia melihat jalan yang luas dan aman yang membawanya kepada tempat-tempat singgah dan mata air. Di atasnya ada tanda-tanda dan di dalamnya ada tempat-tempat istirahat yang telah disiapkan untuk kafilah Ar-Rahman.
Maka antara hamba dengan kebahagiaan dan kemenangan adalah: kekuatan tekad, kesabaran sejenak, keberanian jiwa, dan keteguhan hati. Dan karunia ada di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Pemilik karunia yang agung.”
Maka nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, mengajak kepada kebinasaan, menginginkan syahwat. Oleh karena itu ia juga merupakan jembatan yang harus diseberangi. Datang seorang laki-laki kepada Abu Ali Ad-Daqqaq lalu berkata: Aku telah menempuh jarak jauh kepadamu. Maka ia berkata: Perkara ini bukan dengan menempuh jarak. Pisahkan dirimu dari nafsumu dengan selangkah, maka engkau sampai kepada yang dituju. Maka harus diseberangi jembatan nafsu, syahwat-syahwatnya, kelezatan-kelezatannya, hawa nafsunya, angan-angannya. Harus engkau seberangi tahap “diriku dan apa yang diinginkannya” untuk sampai melalui jembatan nafsumu kepada apa yang diridhai Tuhanmu.
Dan menambah pemahamanmu dalam perkara ini adalah perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Thariq Al-Hijratain:
“Dan setiap kali nafsunya tenang dari kelelahan perjalanan dan terus-menerus berangkat dan bepergian, ia menjanjikannya kedekatan perjumpaan dan sejuknya kehidupan saat sampai. Maka itu melahirkan baginya semangat, kegembiraan, dan keinginan. Maka ia berkata: Wahai jiwaku, bergembiralah karena telah dekat tempat singgah dan dekat perjumpaan. Jangan terputus di jalan sebelum sampai, karena engkau akan terhalang dari tempat-tempat kekasih. Jika engkau bersabar dan terus berjalan, engkau akan sampai dengan terpuji, gembira, dan melimpah. Dan kekasih-kekasih akan menyambutmu dengan berbagai hadiah dan kemuliaan. Dan tidak ada antara engkau dan itu kecuali kesabaran sejenak. Karena dunia seluruhnya hanya untuk sejam dari jam-jam akhirat, dan umurmu adalah satu tingkat dari tingkat-tingkat jam itu. Demi Allah, demi Allah, jangan terputus di padang pasir. Sungguh—demi Allah—itu adalah kebinasaan dan kehancuran seandainya engkau mengetahui.
Jika itu sulit baginya, hendaklah ia mengingatkannya tentang apa yang ada di hadapannya dari kekasih-kekasihnya, dan apa yang ada pada mereka dari kemuliaan dan pemberian, serta apa yang di belakangnya dari musuh-musuhnya dan apa yang ada pada mereka dari penghinaan, azab, dan berbagai bencana. Jika ia kembali, maka kepada musuh-musuhnyalah ia kembali. Dan jika ia maju, maka kepada kekasih-kekasihnyalah tujuannya. Dan jika ia berhenti di jalannya, musuh-musuhnya akan mengejarnya. Karena mereka di belakangnya dalam pengejaran. Dan ia harus memilih salah satu dari tiga bagian ini. Maka hendaklah ia memilih mana yang ia kehendaki. Dan jadikanlah pembicaraan tentang kekasih dan urusan mereka sebagai penggiring dan penggiringnya. Dan cahaya pengetahuan tentang mereka dan petunjuk mereka sebagai penunjuk dan penuntunnya. Dan kejujuran cinta dan kecintaan kepada mereka sebagai makanan, minuman, dan obatnya. Dan janganlah kesendiriannya di jalan perjalanannya membuatnya merasa sepi. Dan janganlah ia tertipu dengan banyaknya orang-orang yang terputus. Karena kesakitan putusnya perjalanan dan jauhnya ia akan sampai kepadanya tanpa mereka, dan bagiannya dari kedekatan dan kemuliaan khusus baginya tanpa mereka. Maka apa makna kesibukan dengan mereka dan terputusnya perjalanan bersama mereka? Dan hendaklah ia tahu bahwa kesendirian ini tidak akan kekal, tetapi ia dari hal-hal sementara di jalan. Maka akan tampak baginya kemah-kemah. Dan akan keluar kepadanya para penyambut yang mengucapkan selamat atas keselamatan dan kedatangannya kepada mereka. Maka betapa sejuknya matanya saat itu, dan betapa gembiranya ketika ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (Surah Yasin: 26-27).
Dan janganlah ia merasa sepi dengan apa yang ia rasakan dari kekakuan tabiat dan cairnya nafsu serta lambatnya perjalanannya. Karena semakin ia terus-menerus dalam perjalanan dan menjaganya pagi dan petang serta waktu sahur, ia semakin dekat dari tempat singgah dan semakin halus kekakuan itu dan cair kotoran-kotoran dan noda-noda itu. Maka tampak padanya semangat para musafir dan tanda-tanda mereka. Maka berubah kesendirian menjadi ketenangan, kekakuan menjadi kelembutan, dan noda menjadi kesucian.”
Inilah jembatan nafsu—ujian yang paling besar dan penghalang yang paling keras. Ia menyerupai jembatan gantung yang tidak ada sisi-sisi yang dapat dijadikan sandaran oleh pejalan. Maka ia sangat berbahaya. Saat melewatinya harus dengan konsentrasi dan ketenangan, kewaspadaan dan perhatian terhadap setiap gerakan tangan dan langkah kaki. Jika tidak—maka jatuh.
Ya, ia adalah jembatan yang rapuh—karena banyaknya dosa dan maksiat. Oleh karena itu pejalan harus berhati-hati, berlatih berkali-kali, mencoba dan mengulangi, kemudian mencoba dan mengulangi hingga berhasil menjinakkan nafsunya untuk menyeberangi jembatan-jembatan itu.
Dan setelah itu—wahai pejalan yang tercinta—betapa bahagianya orang yang berjuang melawan bencana-bencana itu. Ya, ia adalah duri-duri, tetapi ia adalah kerinduan di mana pejalan merasakan kelezatan rasa sakit karena Allah, dan mengharap pahala dari Allah. Maka injak duri itu dan berjalanlah menuju Allah.
Sungguh telah menjadi sunnah Sang Pencipta bahwa madu tidak diperoleh kecuali dengan sengatan lebah. Maka musafir menuju Allah tidak akan memperoleh apa yang bermanfaat baginya di jalan sampai kecuali dengan sedikit penderitaan dan kesulitan.
Ibnu Qayyim—’alaihi rahmatullah—berkata:
“Dan tidaklah seseorang berani menanggung kesulitan yang cepat kecuali untuk buah yang tertunda. Nafsu itu terkait dengan kecintaan kepada yang cepat. Dan sesungguhnya ciri akal adalah: melihat akibat-akibat dan menyaksikan tujuan-tujuan. Dan sepakat orang-orang berakal dari setiap umat bahwa kenikmatan tidak diraih dengan kenikmatan. Dan bahwa barangsiapa menemani kenyamanan, ia akan mendapat kesulitan pada waktu kenyamanan di negeri kenyamanan. Karena sesuai kadar kesulitan akan ada kenyamanan.”
Pendahuluan
Dan setelah kita menempuh perjalanan dalam mengenal tanda-tanda jalan dan rintangan-rintangannya, dan setelah kita belajar bagaimana menyeberangi jembatan-jembatan, tibalah saatnya bagi kita untuk mengambil bagian istirahat. Karena musafir menuju Allah Ta’ala harus menyegarkan diri untuk dapat menyelesaikan perjalanan dan melengkapi tahap agar berkurang penolakan dan tubuh segar serta hati rileks. Maka itu akan menjadi penguat untuk melanjutkan menempuh tahap berikutnya.
Maka harus bagi musafir ada perhentian-perhentian di jalan—perhentian-perhentian rekreasi di sisi jalan, di mana ia menyegarkan diri dengan beberapa hal yang mubah dari hiburan, bercanda, dan kegembiraan, serta apa yang mengikuti itu dari lemah lembut ucapan, senyuman, dan lapangnya dada. Dan semua yang dilakukan dari yang mubah untuk menyenangkan jiwa dan menenangkannya adalah sunnah yang disukai.
Ibnu Qayyim berkata—semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya—dalam Zad al-Ma’ad:
“Perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama istri-istrinya adalah pergaulan yang baik dan akhlak yang mulia. Beliau mengirimkan anak-anak perempuan Anshar untuk bermain bersama Aisyah. Apabila Aisyah menginginkan sesuatu yang tidak ada larangannya, beliau mengikutinya. Ketika Aisyah minum dari bejana, beliau mengambilnya lalu meletakkan mulutnya di tempat bekas mulut Aisyah dan minum. Ketika Aisyah memakan daging dari tulang, beliau mengambilnya dan meletakkan mulutnya di tempat bekas mulut Aisyah. Beliau bersandar di pangkuan Aisyah dan membaca Alquran dengan kepala di pangkuannya, kadang-kadang dalam keadaan haid. Beliau memerintahkan Aisyah yang sedang haid untuk mengenakan kain, kemudian beliau bermesraan dengannya. Beliau mencium Aisyah ketika sedang berpuasa. Dari kelembutan dan kebaikan akhlak beliau terhadap keluarganya adalah beliau membiarkan Aisyah bermain dan menunjukkan kepadanya orang-orang Habasyah yang bermain di masjidnya, sementara Aisyah bersandar di pundak beliau sambil menonton. Beliau berlomba lari dengannya dalam perjalanan dua kali, dan mereka berdua saling mendorong ketika keluar dari rumah suatu ketika.”
Terkadang diperlukan bercanda dengan istri, atau memuaskannya dengan jalan-jalan yang tidak lepas dari dzikir dan perenungan terhadap keindahan ciptaan Allah, bermain dengan anak-anak yang tidak lepas dari ibadah dalam pendidikan, dan percakapan malam yang singkat dan menyenangkan bersama teman-teman saleh, dengan menyebutkan syair-syair indah dan cerita-cerita menarik serta hikayat, jauh dari kejelekan.
Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, dan diriwayatkan pula dari Ali radhiyallahu anhu: “Hiburlah hati-hati sejenak demi sejenak, karena hati bisa bosan sebagaimana badan bisa bosan.”
Dalam istirahat ini juga terjadi kelembutan terhadap jiwa dan pengelolaannya, agar setelah itu lebih mudah dan lebih ringan untuk dikendalikan. Misalnya berbaring sambil bekerja dengan pikiran dan pandangan adalah salah satu jenis hiburan yang diberi pahala jika musafir memperbaiki niatnya. Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu berkata: Sesungguhnya aku menghitung tidurku sebagaimana aku menghitung berdiriku.
Namun yang penting dalam bercanda adalah bagi orang yang menguasainya dan menempatkannya pada tempatnya, sehingga mengaturnya dengan batasan-batasan syariat. Candaan yang disertai atau menghasilkan penghinaan, ejekan, meremehkan, sinisme, atau kebohongan, itulah yang dilarang secara syariat. Adapun candaan yang berisi kekaguman, perhatian, kasih sayang, atau membawa kegembiraan ke hati orang lain, itulah yang diperbolehkan secara syariat. Mungkin kaidah yang merangkum hal ini adalah apa yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dengan ucapannya:
“Candaan yang dilarang adalah yang berlebihan dan terus-menerus dilakukan, karena itu akan menimbulkan tawa berlebihan dan kekerasan hati, menyibukkan dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berpikir tentang urusan-urusan agama, dan pada banyak kesempatan akan berujung pada menyakiti orang lain, menimbulkan kedengkian, dan menghilangkan wibawa dan kehormatan. Adapun candaan yang terbebas dari hal-hal ini maka itulah yang diperbolehkan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wa sallam melakukannya pada saat-saat tertentu untuk kemaslahatan, menyenangkan hati lawan bicara, dan menghiburnya. Ini sama sekali tidak dilarang, bahkan merupakan sunnah yang dianjurkan jika dengan sifat demikian. Maka ikutilah apa yang kami sampaikan dari para ulama dan kami teliti, karena ini sangat dibutuhkan, dan dengan pertolongan Allah.”
Dan perhatikan juga timbangan yang tepat yang ditetapkan oleh Said bin Al-Ash ketika ia berkata kepada anaknya:
“Bersikap sederhanálah dalam candaanmu, karena berlebihan dalam candaan akan menghilangkan kewibawaan dan membuat orang-orang bodoh berani kepadamu, sedangkan menguranginya akan menjauhkan teman-teman yang menyenangkan dan membuat teman-teman bergaul merasa asing darimu.”
“Ibnu Umar radhiyallahu anhuma ditanya: Apakah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tertawa? Ia menjawab: Ya, dan iman di hati-hati mereka seperti gunung.
Bilal bin Saad berkata: Aku mendapati mereka berlari-lari di antara sasaran-sasaran dan tertawa satu sama lain, tetapi ketika malam tiba mereka menjadi rahib-rahib.”
Dalam istirahat musafir kita dapat menemukan beberapa permainan dan perlombaan, sebagaimana kita menemukan beberapa percakapan malam seperti hikmah, lelucon, humor, peribahasa, syair, kisah, dan lain-lain. Dan inilah sebagian dari hiburan-hiburan tersebut:
Hiburan di Jalan: Ilmu-ilmu yang Tidak Ada dalam Buku:
Di antara ilmu-ilmu ada ilmu yang tidak terdapat dalam buku: Di antaranya yang tidak dipelajari kecuali dari kemiskinan. Di antaranya yang tidak dipelajari kecuali dari ujian. Di antaranya yang tidak dipelajari kecuali dari penyakit. Di antaranya yang tidak dipelajari kecuali dari penindasan dan penghinaan. Di antaranya yang tidak dipelajari kecuali dari kesedihan dan masalah.
Hiburan di Jalan: Ujian-ujian:
Sebagian mereka berkata: Emas diuji dengan api. Dan wanita dengan emas. Dan laki-laki dengan wanita.
Hiburan di Jalan: Kebijaksanaan dan Menutupi:
Al-Khattabi berkata:
Selama engkau hidup maka bijaksanalah terhadap semua orang Karena engkau berada di negeri kebijaksanaan Siapa yang bijaksana akan bijaksana, dan siapa yang tidak bijaksana akan melihat Tidak lama lagi akan menjadi teman penyesalan
Dan yang lain berkata:
Jangan mencari aib manusia yang mereka tutupi Nanti Allah membuka tutup dari aib-aibmu Dan sebutlah kebaikan-kebaikan mereka jika mereka disebut Dan jangan cela seorang pun dari mereka dengan apa yang ada padamu Dan cukuplah dengan Allah dari segala yang fana karena pada-Nya Ada kecukupan untuk semua dan percayalah kepada Allah niscaya Dia mencukupimu
Hiburan di Jalan: Bencana Selalu Mengiringi Ucapan:
Al-Kisai dan Al-Yazidi berkumpul di sisi Harun Al-Rasyid, lalu tiba waktu salat Maghrib. Mereka mendahulukan Al-Kisai (salah seorang dari tujuh qari terkenal) untuk memimpin salat mereka. Al-Kisai mengalami kesalahan dalam membaca surat “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” (surat Al-Kafirun: 1)—ia salah atau lupa dalam hafalan. Ketika salam, Al-Yazidi berkata: Seorang qari dan imam penduduk Kufah salah, lupa, dan keliru dalam surat Al-Kafirun??? Lalu tiba waktu salat Isya, Al-Yazidi maju dan salat bersama mereka, tetapi ia keliru dan salah serta lupa dalam surat “Alhamdulillahi Rabbil Alamin” (surat Al-Fatihah: 2). Ketika salam, Al-Kisai berkata kepadanya:
Jagalah lisanmu jangan berbicara nanti engkau diuji Sesungguhnya bencana selalu mengiringi ucapan
Hiburan di Jalan: Menjilat:
Dzun Nun Al-Mishri berkata: Allah mewahyukan kepada Yakub alaihissalam: Wahai Yakub, jilatilah Aku. Ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjilat kepada-Mu? Katakanlah: Wahai yang dahulu dalam kebaikan Wahai yang kekal dalam kebaikan Wahai yang banyak kebaikan
Maka ia mengatakannya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya Yusuf telah mati, pasti akan Kuhidupkan dia untukmu.
Hiburan di Jalan: “Agar Engkau Termasuk Orang-orang yang Berbuat Baik”:
Yahya bin Muadz berkata: Bagian mukmin darimu adalah tiga sifat agar engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik:
Pertama: jika engkau tidak memberinya manfaat maka jangan mudharati dia Kedua: jika engkau tidak menyenangkannya maka jangan menyusahkannya Ketiga: jika engkau tidak memujinya maka jangan mencela dia
Hiburan di Jalan: Celakalah Engkau… Celakalah Engkau:
Celakalah engkau: Engkau telah melemparkan Yusuf hatimu ke dalam sumur hawa nafsu Dan engkau datang pada baju amanah dengan darah dusta Celakalah engkau: Setiap kali engkau mendalami hawa nafsu, semakin bertambah tersandung Celakalah engkau: Sesungguhnya dasar Jahannam itu sangat dalam, tetapi nampaknya Bahwa cita-citamu lebih rendah darinya Celakalah engkau: Pelita pikiran di mihrab hatimu gelap Maka carilah untuknya minyak pengasingan dan sumbu tekad.
Hiburan di Jalan: Dari Ucapan-ucapan Ibnu Taimiyah:
Dan kemiskinan bagiku adalah sifat zat yang selalu ada selamanya Sebagaimana kekayaan selamanya adalah sifat zat bagi-Nya
Hiburan di Jalan: Majlis Kami:
Majlis kami adalah lautan yang didatangi gajah dan burung pipit Kami berada di taman yang makanan kami di dalamnya adalah kekhusyukan Dan minuman kami di dalamnya adalah air mata Dan makanan ringan kami adalah perkataan yang tercetak ini Kami mengobati penyakit-penyakit yang tidak mampu diobati Bukhtisythu Kami mengobati yang jatuh dan mengobati yang tersengat Semoga saja setiap hari bukan setiap minggu
Hiburan di Jalan: “Apakah untuk Kalian Anak Laki-laki dan untuk Dia Anak Perempuan, Itu Sungguh…”
Ketakutan adalah laki-laki… dan harapan adalah perempuan Dan banci kebatilan lebih condong kepada perempuan-perempuan Siapa yang menanam benih amal di ladang-ladang harapan akan tumbuh di dalamnya ketakutan dari “jangan-jangan tidak diterima” Orang bodoh tidur di ranjang keamanan sehingga tidurnya berat dan mimpi-mimpi angan-angannya banyak, Dan orang berilmu berbaring di tempat tidur ketakutan dan penjaga kewaspadaan membangunkannya.
Hiburan di Jalan: Ia Melukai Agamanya dengan Kuku-kuku Keluhannya:
Seorang laki-laki datang kepada Fudhail mengeluh tentang kebutuhan, lalu Fudhail berkata kepadanya: Wahai orang ini, apakah engkau mencari pengatur selain Allah?!! Ibnu Adham sakit lalu di dekat kepalanya diletakkan apa yang dimakan oleh orang sehat, agar tidak menyerupai orang-orang yang mengeluh. Ini—demi Allah—uang palsu yang lebih baik dari uangmu.
Hiburan di Jalan: Jangan Berebut dengan Ahli Dunia
Isa bin Maryam alaihissalam berkata: Jangan berebut dunia dengan ahli dunia, nanti mereka berebut agama dengan kalian, maka tidak dunia mereka kalian dapatkan, dan tidak agama kalian kalian jaga.
Hiburan di Jalan: Seburuk-buruk Keburukan
Penguasa yang buruk: menakuti orang yang tidak bersalah dan merekrut orang rendah. Negeri yang buruk: mengumpulkan orang-orang rendah dan menghasilkan penyakit. Anak yang buruk: mempermalukan nenek moyang dan menghancurkan kehormatan. Tetangga yang buruk: menyebarkan rahasia dan membuka aib.
Hiburan di Jalan: Cambuk Nasihat
- Musibah adalah tamu maka sambutlah dengan baik agar pergi darimu menuju negeri balasan dengan memuji bukan mencela.
- Setiap hari engkau menggadaikan hatimu dengan harga syahwat, lalu yang menerima gadaian menggunakannya… sungguh telah usang.
- Apakah engkau menangisi maksiatmu, sementara pengulangan dosa tertawa!!
- Penghalang-penghalang adalah ujian yang dengannya dibedakan orang jujur dari pendusta, jika engkau melaluinya maka berubah menjadi penolong yang mengantarkanmu kepada tujuan… Maka ia adalah penolong yang paling aneh.
Hiburan di Jalan: Aku Heran dengan Orang Ini yang
Sebagian mereka berkata: Aku heran dengan orang yang menangisi kematian orang lain dengan air mata tetapi tidak menangisi kematian hatinya dengan darah, dan lebih heran dari itu adalah orang yang melihat aib orang lain besar sementara di matanya tentang aibnya sendiri ada kebutaan.
Hiburan di Jalan: Carilah Aku di Kuburan
Sebagian Salaf berkata: Jika kalian mendengar: Hayya alash-shalah (mari salat) dan tidak melihatku di barisan, maka carilah aku di kuburan.
Hiburan di Jalan: Golongan-golongan Manusia
Yang paling lemah di antara manusia adalah yang lemah menyimpan rahasianya Yang paling kuat mereka adalah yang kuat menahan amarahnya Yang paling sabar mereka adalah yang menutupi kefakirannya Yang paling kaya mereka adalah yang qanaah dengan apa yang dimudahkan baginya
Hiburan di Jalan: Tingkatan-Tingkatan Kekeliruan
Awal kekeliruan: “Apabila mereka disentuh oleh godaan (setan)” (Al-A’raf: 201)
Pertengahan kekeliruan: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (Al-Muthaffifin: 14)
Akhir kekeliruan: “Ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
Hiburan di Jalan: Diantara Syair Zaman Keemasan
Abu Thayyib Al-Mutanabbi berkata:
Jika engkau menerjang dalam kemuliaan yang diharapkan, maka janganlah puas dengan apa yang di bawah bintang-bintang
Maka rasa mati dalam urusan kecil, seperti rasa mati dalam urusan besar
Dan ia berkata:
Betapa banyak orang yang mencela perkataan benar, dan cacatnya dari pemahaman yang keliru
Dan ia juga berkata:
Dan termasuk bencana adalah menasihati orang yang tidak sadar dari kebodohannya, dan bercakap dengan orang yang tidak memahami
Abu Al-‘Atahiyah, penyair zuhud berkata:
Aku melihat dunia bagi yang memilikinya di tangannya, sebagai siksaan setiap kali bertambah banyak di sisinya
Ia menghinakan orang-orang mulia karenanya dengan kehinaan, dan memuliakan setiap orang yang dunia hina baginya
Jika engkau merasa cukup dari sesuatu maka tinggalkanlah, dan ambillah apa yang engkau butuhkan kepadanya
Hiburan di Jalan: Tanda-Tanda Kebahagiaan
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Tanda-tanda kebahagiaan ada lima:
Keyakinan di dalam hati
Wara’ dalam agama
Zuhud terhadap dunia
Malu di kedua mata
Rasa takut dalam badan
Hiburan di Jalan: Yang Paling Berbahaya
Hal paling berbahaya di era teknologi
Bukan dalam menciptakan mesin yang berpikir seperti manusia
Tetapi dalam menciptakan manusia yang berpikir seperti mesin
Hiburan di Jalan: Kisah Ular dan Orang Mabuk
Dari Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku bersama Dzun Nun Al-Mishri di tepi sebuah kolam, lalu aku melihat seekor kalajengking terbesar yang pernah ada di tepi kolam sedang berdiri, tiba-tiba seekor katak keluar dari kolam lalu kalajengking itu menumpanginya. Katak itu berenang hingga menyeberang. Dzun Nun berkata: Sesungguhnya kalajengking ini memiliki urusan penting, mari kita ikuti. Kami pun mengikuti jejaknya, tiba-tiba ada seorang pria tertidur dalam keadaan mabuk, dan ada ular yang datang naik dari arah pusatnya menuju dadanya dan ular itu mencari telinganya. Kalajengking itu menyerang ular tersebut lalu mematuknya hingga ular itu terbalik dan mati. Kemudian kalajengking itu kembali ke kolam dan katak datang lalu ia menumpanginya dan menyeberang. Dzun Nun lalu menggerakkan pria yang tertidur itu. Ia membuka matanya, lalu Dzun Nun berkata: Wahai pemuda, lihatlah dari apa Allah menyelamatkanmu! Kalajengking ini datang lalu membunuh ular yang hendak menyerangmu. Kemudian Dzun Nun melantunkan:
Wahai yang lalai sedang Yang Maha Agung menjaganya, dari segala kejahatan yang merayap di dalam kegelapan
Bagaimana mata dapat tidur dari raja, yang datang kepadanya dari-Nya nikmat-nikmat yang berfaedah
Pemuda itu bangkit dan berkata: Tuhanku, ini perbuatan-Mu kepada orang yang bermaksiat kepada-Mu! Bagaimana kelembutan-Mu kepada orang yang taat kepada-Mu?! Kemudian ia pergi, lalu aku bertanya:
Kemana? Ia berkata: Menuju ketaatan kepada Allah.
Hiburan di Jalan: Ayam Jago Sahl bin Harun
Al-Jahizh “pemimpin bahasa Arab” – sebagaimana dikatakan tentang dirinya oleh Syaikh Abdul Salam Harun – mengutip sikap yang menyindir ini dalam kitabnya “Al-Hayawan” (Hewan), ia berkata:
“Da’bil sang penyair berkata: Kami tinggal di tempat Sahl bin Harun dan kami tidak beranjak hingga kami hampir mati kelaparan. Ketika kami mendesaknya, ia berkata: Wahai pelayan, celakalah kamu, sarapan kami! Lalu kami dibawakan semangkuk kuah berisi daging ayam jago yang sudah tua renta, tidak ada sebelumnya dan sesudahnya, pisau tidak bisa memotongnya, dan gigi tidak bisa menggigitnya. Ia menatap ke dalam mangkuk dan membolak-balik pandangannya di dalamnya, lalu mengambil sepotong roti kering dan membolak-balikkan semua yang ada di mangkuk, hingga ia kehilangan kepala ayam jago itu sendiri. Ia terdiam sejenak lalu mengangkat kepalanya kepada pelayan dan berkata: Mana kepalanya? Pelayan berkata: Aku membuangnya. Ia berkata: Mengapa kau membuangnya? Pelayan berkata: Aku tidak menyangka tuan akan memakannya! Ia berkata: Dan mengapa kau menyangka aku tidak akan memakannya? Demi Allah, aku membenci orang yang membuang kedua kakinya, apalagi yang membuang kepalanya! Kemudian ia berkata: Seandainya aku tidak benci dengan apa yang kau lakukan hanya karena pertanda buruk dan firasat, pasti aku akan membencinya! Kepala adalah pemimpin dan di dalamnya ada indra, dan darinya ayam jago berkokok, dan seandainya bukan karena suaranya ia tidak akan diinginkan, dan di dalamnya ada jambulnya yang diberkahi, dan matanya yang menjadi perumpamaan, dikatakan: ‘minuman seperti mata ayam jago’ dan otaknya mengagumkan untuk sakit ginjal dan aku tidak pernah melihat tulang yang lebih renyah di bawah gigi daripada tulang kepalanya. Jika kau menyangka aku tidak akan memakannya, mengapa kau tidak menyangka bahwa keluarga akan memakannya?! Dan jika kemuliaan dirimu telah membuat kau tidak memakannya, maka di tempat kami ada yang memakannya. Atau tidakkah kau tahu bahwa itu lebih baik dari ujung sayap, dari betis dan leher? Lihat di mana itu? Pelayan berkata: Demi Allah aku tidak tahu kemana aku membuangnya! Ia berkata: Tetapi aku tahu, sesungguhnya kau membuangnya ke dalam perutmu, dan Allah yang menghisabmu!”
Komentar:
Dan setelah istirahat ini yang memang harus dilakukan musafir untuk menghilangkan kebosanan, kelesuan, dan kemalasan, dan untuk membangkitkan semangat dalam menunaikan kewajiban perjalanan menuju Allah… dan setelah istirahat-istirahat yang banyak ini… sudah saatnya baginya untuk bersiap-siap melakukan perjalanan sekali lagi dan bersiap untuk melangkah dalam jalan menuju Allah sambil membawa bekal dan perbekalannya serta bertawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya semata dalam menempuh tahapan-tahapan selanjutnya dengan mengingat firman Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut: 69).
Kata Terakhir:
Jika telah jelas bagimu – wahai saudaraku yang mulia dan tercinta – apa yang telah disebutkan… dan engkau ingin melangkah dalam buku ini “Ushulul Wushul ilallah Ta’ala” (Pokok-Pokok Jalan Menuju Allah Ta’ala), maka ketahuilah – akhirnya – bahwa ini adalah sebuah perjalanan.
Perjalanan yang hakiki… bukan simbolis yang jauh… tetapi ini adalah hakikat kehidupan dan perpindahannya… dan manusia bahkan dalam kehidupan biasanya senantiasa berada di antara satu perjalanan dengan perjalanan lainnya, panjang atau pendek, agar Allah mengingatkan kita dengan yang kecil terhadap yang besar, dan dengan yang sepele terhadap yang penting dan dengan yang sementara terhadap yang kekal… dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutkan bahwa beliau di dunia seperti penunggang yang berteduh di bawah naungan pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.
Dan mukmin dengan perjalanan panjangnya, masih ada perjalanan-perjalanan lain… setelah ia menempuh perjalanannya dari kejahiliahan menuju Islam, kemudian ia meninggikan dirinya dari kemaksiatan menuju ketaatan, ia menyingsingkan lengan kesungguhan hingga ia berpindah dari lereng yang menurun menuju puncak yang menjulang dan ia termasuk orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan… dan dialah yang kami ajak untuk perjalanan ini.
Ini adalah perjalanan yang paling penting yang menghantarkan ke jalan keselamatan menuju ridha Allah.
“Dan ketahuilah juga bahwa orang yang berjalan menuju Allah tidak terputus perjalanannya kepada-Nya selama ia masih hidup, dan hamba tidak sampai kepada Allah selama ia masih hidup dengan sampainya ia bisa merasa cukup dari berjalan kepada-Nya sama sekali dan ini adalah mustahil, bahkan perjalanannya kepada Allah semakin kuat setiap kali pandangannya terhadap tauhid-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya bertambah. Dan karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling besar kesungguhannya dan paling teguh dalam melaksanakan amal, dan paling konsisten dalam menjaganya hingga Allah mewafatkannya, dan beliau adalah yang paling besar kesungguhan dan keteguhannya dalam menunaikan kewajiban penghambaan. Seandainya hamba datang dengan amal jin dan manusia semuanya, hakikat perjalanan menuju Allah tidak akan meninggalkannya, dan ia masih tetap dalam jalan pencarian dan keinginan.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berwasiat untuk memohon hidayah kepada Allah Ta’ala… dan tidaklah hidayah itu kecuali bagi orang yang telah menemukan jalan setelah kesesatan…
Ibnu Qayyim berkata:
“Ketika Allah memerintahkannya untuk mengingat saat ia memohon kepada Allah petunjuk menuju jalan ridha-Nya dan surga-Nya, seolah-olah ia adalah musafir yang telah tersesat dari jalan dan tidak tahu kemana harus menuju, lalu muncul baginya seorang yang ahli dan mengetahui jalan, maka ia memohon kepadanya untuk menunjukkan jalan. Demikianlah keadaan jalan akhirat, mengibaratkannya dengan jalan yang nyata yang dapat dirasakan musafir, dan kebutuhan musafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah memberinya petunjuk ke jalan itu lebih besar dari kebutuhan musafir menuju suatu negeri kepada orang yang menunjukkan jalan yang menghantarkan ke sana.”
Maka tidak ada bagi engkau – wahai musafir yang tercinta – dalam jalan ini selain kejujuran berlindung kepada Allah… agar Dia memberimu petunjuk dan mengulurkan tanganmu dalam jalan menuju kepada-Nya… maka senantiasa engkau berdoa dan memohon dan membutuhkan kepada-Nya – Subhanahu – sepenuh-penuh kebutuhan dalam setiap langkah dan dalam setiap tahapan yang engkau tempuh di jalan ini.
“Maka kefakiran yang hakiki adalah: senantiasa membutuhkan kepada Allah dalam setiap keadaan, dan hendaknya hamba menyaksikan – dalam setiap partikel dari partikel-partikelnya yang lahir dan batin – kebutuhan yang sempurna kepada Allah Ta’ala dari segala sisi.”
Ya Allah… kami membutuhkan kepada-Mu dan memohon petunjuk kepada-Mu, maka berilah kami petunjuk untuk amal dan akhlak yang shalih, karena sesungguhnya tidak ada yang memberi petunjuk kepada yang baik dan tidak menghindarkan dari yang buruk kecuali Engkau… Ya Allah berilah aku petunjuk jalan menuju kepada-Mu… wahai Penyelamat orang-orang yang binasa dan wahai Penyelamat orang-orang yang tenggelam… wahai Yang Maha Besar pemberian ihsan-Nya.
Tuhanku… jika dosa-dosaku telah menakutiku, maka sesungguhnya cintaku kepada-Mu telah melindungiku, maka aturlah urusanku sebagaimana Engkau layak melakukannya, dan kembalilah dengan anugerah-Mu kepada orang yang terlena dengan kebodohannya.
Tuhanku… jika Engkau menginginkan penghinaanku, tentu Engkau tidak akan memberiku petunjuk, dan jika Engkau menginginkan agar aku dipermalukan, tentu Engkau tidak akan menutupi aibku, maka nikmatilah aku dengan apa yang telah Engkau beri petunjuk kepadaku, dan kekalkanlah bagiku apa yang dengan itu Engkau tutupi aku.
Tuhanku… dan Tuanku dan Pemeliharaku… ikatlah hatiku dengan tali cinta kepada-Mu, dan dekatkanlah aku ke ujung kehendak-Mu, dan tempuhlah aku pada jalan orang-orang pilihan-Mu, dan singkaplah bagiku dari ilmu-Mu yang tersembunyi, hingga aku sampai ke taman kesucian-Mu, dan aku memetik dari buah-buah kerinduan kepada-Mu, dan aku meneguk dari kolam pengetahuan tentang-Mu, dan aku berjalan-jalan di kebun-kebun nikmat-Mu, dan aku berendam di kolam-kolam dzikir nikmat-Mu.
Ya Allah… jadikanlah hatiku dari hati-hati yang berjalan menuju kepada-Mu, dan tenteram dengan-Mu, dan jadikanlah jiwaku dari jiwa-jiwa yang berpaling dari pilihannya karena megah-Mu, dan bebaskanlah ia dari belenggu agar ia berkeliling dalam pelayanan kepada-Mu bersama orang-orang yang berkeliling.
Ya Allah… berilah jiwa kami ketakwaannya, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau adalah pemimpin dan pemeliharanya.
Ya Allah… kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyuk, dan dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.
Amin… Amin… Amin
Dan semoga Allah melimpahkan shalawat, salam dan berkah kepada Nabi kami Muhammad dan kepada keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan iman dan ihsan hingga hari pembalasan dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Prinsip-Prinsip Jalan Menuju Allah Taala
Di antara keajaiban, dan keajaiban itu banyak … dekatnya kekasih namun tak ada jalan untuk mencapainya Seperti unta di padang pasir yang terbunuh kehausan … sementara air berada di atas punggungnya
Prinsip Pertama: Kewajibanmu Memulai dan Kewajiban-Nya Menyempurnakan
Ketahuilah wahai kekasihku dalam kemuliaan Allah yang sedang berjalan menuju Allah:
Bahwasanya Allah Taala dengan rahmat-Nya—Mahasuci Dia—dan Dia adalah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui dan Maha Mengenal lagi Maha Melihat, telah berkehendak mengatur alam semesta ini dengan sunnatullah yang sangat teliti dan tetap. “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnatullah, dan sekali-kali tidak akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah.” (Fathir: 43) … Itulah yang pertama.
Adapun yang kedua: sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan diuji di dunia ini. “Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)
Dan yang ketiga: bahwasanya Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mulia menciptakan makhluk dan Dia lebih mengetahui mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32)
Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Zat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Isra: 17)
Allah berkehendak untuk ujian dan perbaikan, untuk menguji hamba-hamba-Nya dengan taklif yang sangat besar kepentingannya, yaitu bahwasanya Dia—Subhanahu—menggantungkan pada mereka untuk memulai. Maka Dia mewajibkan mereka untuk memulai langkah menuju-Nya dan meniatkan diri kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Wahai hamba-Ku, berdirilah maka Aku akan berjalan menuju kepadamu.” Dan ini adalah penghormatan terhadap keagungan dan penjagaan terhadap kehormatan kebesaran-Nya: bahwa hamba ditugaskan untuk datang kepada tuannya kemudian dari tuanlah penerimaan dan kemuliaan itu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu.” (Ghafir: 60). Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)
Dan Allah Taala berfirman dalam hadits qudsi, “Wahai anak Adam, berdirilah menuju-Ku niscaya Aku berjalan menuju kepadamu, dan berjalanlah menuju-Ku niscaya Aku berlari kecil menuju kepadamu.” (dishahihkan oleh Al-Albani)
Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, “Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.” (Muttafaq alaih)
Maka mulailah… Mulailah, karena permulaan jalan itu adalah satu langkah. Mulailah satu langkah menuju Allah dan Allah akan memberkahi dan menyempurnakannya, karena Dia—Subhanahu—Maha Mulia. Mulailah dan jangan mengeluh.
Sesungguhnya banyak di antara kita yang mengeluh tentang kelesuan dan tidur. Jika kamu tertimpa kelesuan maka hendaklah kamu segera berpikir tentang amal yang akan kamu lakukan. Beramallah dan Allah akan mengangkat darimu bala. Mulailah dan Allah akan menuntun tanganmu. Beramallah. Bergeraklah.
Sesungguhnya banyak dari saudara-saudara yang menunggu pertolongan Allah dengan keajaiban, menunggu perbaikan kerusakan hatinya dengan keajaiban dalam sekejap tanpa melakukan sesuatu pun. Dan ini tidak akan terjadi.
Saudaraku, sesungguhnya masalah ini membutuhkan amal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bahkan beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya.” (Muttafaq alaih). Beramallah… harus ada amal.
Sesungguhnya sebagian manusia menjalani dunia ini seolah-olah itu “keberuntungan nasib”, menjalani kehidupan seolah-olah itu “keadaan”, maka ia hidup bagaimanapun juga, persis seperti orang yang masuk ke dalam shalat dan tidak tahu apa yang ia shalati, karena pada dasarnya ia tidak peduli dengan kekhusyuan. Ia membiarkan dirinya begitu saja, yang penting baginya adalah bahwa ia telah melaksanakan shalat saja. Yang penting baginya adalah hidup. Dan perkara itu tidak demikian.
Dan perhatikanlah bersamaku kisah Ukkasyah bin Mihshan dalam hadits tujuh puluh ribu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Umat-umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat Nabi dan bersamanya sekelompok kecil orang, dan Nabi dan bersamanya satu atau dua orang laki-laki, dan Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba diangkat untukku kerumunan besar maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku, lalu dikatakan kepadaku: Ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian aku melihat maka ada kerumunan besar, lalu dikatakan kepadaku: Ini adalah umatmu dan bersama mereka tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.” Kemudian beliau bangkit dan masuk ke rumahnya, maka orang-orang membicarakan siapakah mereka itu. Sebagian mereka berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Dan mereka menyebutkan berbagai hal. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada mereka dan mereka memberitahukan kepadanya, maka beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak meminta dibakar (berbekam dengan api), tidak bertathayur (percaya sial), dan kepada Tuhan mereka bertawakal.” Lalu Ukkasyah berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk golongan mereka. Beliau bersabda: “Kamu termasuk golongan mereka.” Kemudian berdiri laki-laki lain dan berkata: Berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk golongan mereka. Maka beliau bersabda: “Ukkasyah telah mendahuluimu dalam hal ini.” (Muttafaq alaih)
Mungkin bagi yang melihat tampak bahwa Ukkasyah “menangkap” surga tanpa hisab atau meraihnya dengan satu kata, dengan keberuntungan nasib. Tetapi engkau—saudaraku—melihat kepada sentuhan akhir dan tidak melihat apa yang di balik itu. Sesungguhnya engkau melihat kepada gambar terakhir dan tidak melihat asal persoalan dan takdir rezeki.
Sesungguhnya Ukkasyah telah berjalan menuju Allah dalam waktu lama dan beramal banyak hingga mencapai kedudukan ini. Ketika ia mencapainya, Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk menerima Ukkasyah dalam kelompok tujuh puluh orang yang istimewa, dan mengalirkan di lisan beliau shallallahu alaihi wasallam yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu perkataan ini, kemudian Dia membuat Ukkasyah mengucapkan permintaan pada saat itu dan ini adalah bukti kenaikan derajatnya untuknya maka ia diberikannya. Inilah hakikat perkara. Jadi bukan Ukkasyah telah menangkapnya dalam sekejap. Tidak. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Maha Mengetahui, Dia tahu bahwa Ukkasyah telah berusaha keras dalam berjalan menuju-Nya, maka ia lebih berhak atasnya, lebih layak padanya, dan lebih pantas untuknya. Dan ketika pintu dibuka dan yang lain mengikuti, mereka ditolak. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Yunus: 44)
Sesungguhnya Ukkasyah telah memulai perjalanan menuju Allah di jalan ini, maka ketika ia sampai pada kedudukan itu dan Allah berkehendak untuk memberikannya kepadanya, Allah mengalirkan perkataan ini di lisan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menghadirkannya di tempat itu lalu membuatnya mendengar kemudian membuatnya berbicara lalu memberitahukan kabar gembira kepadanya. Inilah persoalannya. Jadi bukan tangkapan dalam sekejap. Pahamilah hal itu dengan baik.
Suatu kejadian lain yang menjelaskan kepadamu masalah ini:
Ja’far Ash-Shadiq memegang seorang budak untuk menghukumnya, maka budak itu berkata: Wahai tuanku, apakah engkau menghukum orang yang tidak memiliki pemberi syafaat padamu selain engkau?
Maka ia berkata: Pergilah. Ketika budak itu pergi, ia berpaling kepadanya dan berkata: Wahai tuanku, ketahuilah bahwa engkau bukan yang membebaskanku, sesungguhnya yang membebaskanku adalah Dzat yang mengalirkannya di lisanku. Maka ia berkata: Pergilah, engkau merdeka karena Allah.
Aku berhenti—wahai saudara-saudara—dengan kejadian ini lama, aku berkata: Mahasuci Allah! Ini adalah perkataan hamba kepada hamba, maka hamba memerdekakan hambanya. Lalu bagaimana jika perkataan ini mengalir dengan Tuan Yang Maha Mulia, Allah?! Ya Allah, bebaskanlah leher-leher kami dari neraka. Amin.
Ya: seandainya perkataan ini mengalir di lisanmu kepada Tuhanmu niscaya engkau terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya, tetapi siapakah yang mengalirkannya di lisanmu, dan apa yang telah kamu berikan agar Dia mengalirkannya?! Harus engkau memulai terlebih dahulu. Sesungguhnya Allah jika menginginkan hamba-Nya untuk suatu urusan maka Dia mempersiapkannya untuknya dan mengalirkannya di lisannya, karena Dia—Subhanahu—yang membuat lisannya berbicara. Allah Taala berfirman, “Allah yang membicarakan kami yang telah membicarakan segala sesuatu.” (Fushshilat: 21). Membicarakan segala sesuatu. Mahasuci Dia dan Mahatinggi.
Dan oleh karena itu Allah Taala berfirman, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37). Maka Allah Taala-lah yang mengalirkan di lisan Adam kalimat-kalimat tobat kemudian menerimanya, maka karunia dari-Nya pertama dan terakhir. Ya: Dia memberinya taufik untuk bertobat maka ia bertobat, dan menerima tobatnya, karena Dia Taala Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Wahai saudara-saudara, sesungguhnya masalah ini membutuhkan pemberhentian besar. Maka iman tidak datang secara tiba-tiba melainkan ia memiliki permulaan dan persiapan yang membutuhkan darimu pertolongan kepada Allah dan amal. Ya Allah, tetapkanlah atas iman hati-hati kami, dan berikanlah kepada kami pemahaman dalam agama yang Engkau ridhai kami dengannya. Amin.
Sesungguhnya orang yang memperhatikan kisah para tukang sihir, tukang sihir Firaun dengan Musa, mereka yang beriman dalam sekejap dan menghadapi ancaman paling keras: sungguh akan kupotong, akan kusalib, akan kulakukan dan akan kulakukan, maka mereka tetap teguh dan berkata, “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.” (Thaha: 72)—sesungguhnya yang memperhatikan mereka mengira bahwa mereka memperoleh iman dalam sekejap. Ia tidak melihat takdir Allah bagaimana bekerja pada para tukang sihir ini bertahun-tahun untuk mempersiapkan mereka bagi saat itu. Mengapa para tukang sihir ini yang dipilih? Dan mengapa mereka berada di tempat ini? Jawabannya: karena mereka berusaha. Ya—saudaraku—sesungguhnya masalah ini membutuhkan darimu usaha.
Dan dalam kisah tiga orang penghuni gua, ketika batu besar turun lalu menutupi pintu gua bagi mereka, yang pertama bertawassul dengan amal saleh maka batu itu terbuka sedikit hingga mereka melihat cahaya. Ketika yang kedua bertawassul maka batu itu terbuka lebih banyak hingga mereka melihat langit. Ketika yang ketiga bertawassul maka batu itu terbuka hingga mereka keluar berjalan. Maka sesuai kadar pemberianmu, engkau diberi, dan sesuai kadar usahamu, engkau dianugerahi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk dalam halaqah dari para sahabatnya lalu tiga orang masuk. Adapun yang pertama: ia menemukan celah lalu duduk di situ. Adapun yang kedua: ia malu lalu duduk di belakang halaqah. Dan yang ketiga berpaling lalu berjalan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang berita tiga orang itu? Adapun yang pertama: ia berlindung kepada Allah maka Allah melindunginya. Adapun yang kedua: ia malu maka Allah malu kepadanya. Adapun yang ketiga: ia berpaling maka Allah berpaling darinya.” (Muttafaq alaih)
Maka jika engkau berlindung kepada Allah, Dia melindungimu. Dan jika engkau berpaling dari-Nya, Dia berpaling darimu, mengusirmu, dan membuangmu. Allah Mahamulia berfirman tentang Yunus alaihissalam, “Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perutnya sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144). Meskipun ia seorang Nabi. Ya: maka tidak ada seorang pun yang mulia di sisi Allah—bagaimanapun tingginya kedudukannya—jika ia tidak berlindung kepada Allah. Maka berlindunglah kepada Allah dan jangan berpaling.
Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah: “Dan arah mana pun yang Allah berpaling darinya maka gelapkanlah sekitarnya dan kemalangan berputar padanya.”
Berlindunglah kepada Allah dan mulailah. Mulailah satu langkah. Beramallah. Berusahalah. Bergeraklah. Berusaha keraslah dan akan disempurnakan atasmu dengan kebaikan. Dan selalu diketahui bahwa titik permulaan adalah yang paling berat, dan loncatan permulaan adalah yang paling sulit, dan inilah ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Maka apabila telah tetap kemauan (mereka untuk berperang), maka jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21). Maka kebahagiaannya dalam kesungguhan tekad dan kesungguhan perbuatan. Kesungguhan tekad adalah mengumpulkannya dan membulatkannnya dan tidak ragu-ragu padanya bahkan tekad yang tidak bercampur keragu-raguan dan tidak menyesal.
Maka jika ia bersungguh-sungguh tekadnya, tersisa padanya kesungguhan perbuatan, yaitu mencurahkan kemampuan dan mengerahkan usaha padanya, dan bahwa ia tidak tertinggal darinya dengan sesuatu dari lahir dan batinnya. Maka kesungguhan niat mencegahnya dari lemahnya keinginan dan semangat, dan kesungguhan perbuatan mencegahnya dari kemalasan dan kelesuan. Dan barangsiapa bersungguh-sungguh kepada Allah dalam semua urusannya maka Allah berbuat untuknya melebihi apa yang Dia berbuat untuk selainnya. Dan kesungguhan ini adalah makna yang tersusun dari kebenaran ikhlas dan kebenaran tawakal. Maka orang yang paling sungguh-sungguh adalah orang yang benar ikhlasnya dan tawakkalnya.
Maka saudaraku yang kucintai, engkau diuji dengan memulai, dan diuji dengan bersungguh-sungguh. Maka jika engkau memulai sebagaimana Dia cintai, Dia sempurnakan untukmu sebagaimana engkau cintai.
Dan terputusnya perjalanan sebabnya adalah permulaan yang lemah. Maka sesungguhnya orang yang berjalan jika lemah tekadnya, perjalananya berlanjut dengan kekuatan dorongan pertama. Lalu di mana permulaanmu wahai kekasih? Berikanlah aku dorongan pertama dan biarkanlah cicilan-cicilan atas Allah.
Prinsip Kedua: Jadilah Satu Untuk Yang Satu Di Atas Jalan Yang Satu
Prinsip ini adalah inti pembahasan dalam masalah perjalanan menuju Allah, dan sampai kepada-Nya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Jadilah satu untuk Yang Satu di atas jalan yang satu, maka engkau akan sampai.
Jadilah satu… apa maknanya?
Saudaraku, apakah engkau mengenal di zaman kita ini orang yang bermuka dua? Aku tidak mengenal!! Sebab kebanyakan orang hari ini memiliki sepuluh wajah bukan hanya dua wajah. Bahkan dua puluh, bahkan lima puluh, bahkan seratus… sampai-sampai yang bermuka dua pun jarang engkau temukan!! Lalu di mana orang yang ikhlas yang hanya dikenal memiliki satu wajah?! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.
Ya – saudara-saudaraku -: seringkali engkau mendapati seseorang bersamamu di masjid, kakinya di samping kakimu, bahunya di bahumu dan kepalanya di samping kepalamu dalam sujud, dia memohon kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, bergumam dengan kata-kata yang paling indah, kemudian ketika keluar dari masjid dia dengan wajah lain, jika masuk rumahnya bersama istri dan anak-anaknya maka dengan wajah ketiga, dan di tempat kerja dengan wajah keempat, jika bertransaksi dengan wanita-wanita asing maka lembut dan baik dengan wajah kelima, dan jika bertransaksi dengan laki-laki maka dengan wajah keenam, jika bertransaksi dengan orang-orang besar atau mereka yang lebih tinggi darinya secara sosial seperti manajernya atau atasannya di tempat kerja maka dengan wajah ketujuh, dan jika bertransaksi dengan mereka yang lebih rendah darinya seperti orang-orang fakir dan lemah maka dengan wajah kedelapan, dan kesembilan dan kesepuluh… Siapakah engkau??!!
Siapakah engkau wahai hamba wajah?! Wajah manakah wajahmu yang sebenarnya?! Sampai kapan engkau akan terus melepas satu wajah dan memakai yang lain?! Sampai kapan engkau akan terus menjadi penipu?! Tidakkah engkau tahu bahwa Allah melihat semua wajah ini?! Dia melihatmu di sini dan melihatmu di sana. Dia melihatmu sekarang dan melihatmu besok.
Engkau melihat si banyak wajah jika sakit dengan satu wajah, dan jika sehat dengan satu wajah, dan jika miskin dengan satu wajah, dan jika kaya dan memiliki harta maka dengan wajah lain, engkau mendapatinya jika berkuasa berusaha di muka bumi untuk membuat kerusakan di dalamnya dan membinasakan tanaman dan keturunan, dan jika memimpin maka hina dan munafik… Engkau mendapati si banyak wajah tidak malu dari Allah padahal Dia melihatnya.
Siapakah engkau saudaraku? Jawablah pertanyaan ini… Siapakah engkau dan wajah manakah wajahmu dan pribadi manakah pribadimu dan jalan manakah jalanmu? Mengapa engkau hidup dengan dua puluh wajah, dan dua puluh warna, dan dua puluh cara?!!
Tidakkah engkau malu dari Allah padahal Dia melihatmu?!
Saudaraku jadilah satu, jadilah pemilik satu wajah, yang berjalan dengan satu cara.
Saudaraku wajah manakah yang aku inginkan untukmu? Aku menginginkan untukmu wajah hamba… agar engkau tetap menjadi hamba… Hamba yang rukuk dan sujud dan membaca Alquran dan memohon dan berkonsentrasi. Hamba ini jadilah dia di rumah bersama istri dan anak-anak, dan jadilah dia di jalan bersama manusia, jadilah dia bagaimanapun engkau berada, dan kapanpun engkau berada, dan dimanapun engkau berada… jadilah hamba dalam semua keadaanmu.
Saudaraku jika datang kepadamu seorang wanita yang berpakaian terbuka untuk menyelesaikan keperluannya darimu, kami melihatmu bertransaksi dengannya dengan lembut dan baik, tahukah engkau kelembutanmu? Tahukah engkau keindahanmu? Tidakkah ini seharusnya dengan istrimu? Dan dia lebih berhak… Mengapa engkau tidak bertransaksi seperti ini dengan pasangan hidupmu dan ibu anak-anakmu?!! Ya: Hamba adalah yang bertransaksi dengan kelembutan dan keindahan dan kasih sayang dan keramahan dengan istri, sedangkan ketegasan dan wajah yang keras dengan wanita asing… inilah yang dituntut dan dengan ini engkau menjadi hamba Allah.
Saudaraku fillah, kekasihku fillah, sesungguhnya aku menginginkanmu menjadi hamba Allah di rumah, dan hamba Allah di masjid, dan hamba Allah di jalan, dan hamba Allah di tempat kerja, hamba Allah semata di sini dimana manusia mengenalmu, dan hamba Allah di sana dimana engkau menyendiri dan tidak ada yang mengenalmu kecuali Allah, karena Allah yang melihatmu di sana adalah Dia yang mengenalmu di sini, maka malulah jika Dia melihatmu berbeda dengan apa yang Dia kenali. Jadilah satu dan jangan menjadi sepuluh, jangan menjadi dua, jadilah hamba Allah semata, dan aku tidak bermaksud agar engkau selamanya hina, bahkan hamba sesuai tuntutan penghambaan: di rumah seorang laki-laki yang memiliki kepemimpinan dan pendidikan, dan di tempat kerja engkau melihatnya ikhlas meskipun tidak ada yang melihatnya, dan di jalan mengawasi Tuhannya.
Jadilah hamba Allah semata bersama laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kaya dan miskin, dan orang-orang kecil dan besar… Jadilah hamba dan letakkan tangan dan kakimu dalam belenggu syariat yang mulia agar engkau bebas dari penghambaan kepada selain Allah… Tetaplah pada perintah dan larangan, dan jadilah sebagaimana Allah menginginkan… Hiduplah sesuai kehendak Allah darimu agar engkau menjadi hamba.
Maka jadilah satu: yaitu hamba…
Untuk Yang Satu:
Yaitu untuk Allah semata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba permadani dan selimut sutra, celakalah hamba wanita, celaka dan tertelungkup, dan jika tertusuk duri maka tidak bisa mencabutnya.” Hadits ini asalnya dalam Bukhari. Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, dan jujurlah wahai hamba Allah: Engkau hamba siapa? Hamba Allah semata ataukah hamba keadaan juga? Ataukah hamba lingkungan dan masyarakat?! Hamba adat dan tradisi?! Ataukah hamba profesi dan pekerjaan dan gaji bulanan, hamba pemilik pekerjaan, ataukah hamba istrimu dan anak-anakmu dan kebutuhan serta tuntutan mereka?! Hamba siapakah engkau?
Banyak dari manusia yang menjadi hamba banyak hal, maka di antara mereka ada yang menghambai perutnya, dan di antara mereka ada yang menghambai syahwat dan kemaluannya, dan di antara mereka ada yang menghambai rumah dan tempat tidurnya, dan di antara mereka ada yang menghambai saldo dan hartanya, dan di antara mereka… dan di antara mereka… maka jadilah engkau hamba Allah.
Sesungguhnya orang yang merenungkan – saudara-saudaraku – sejarah akidah Islam yang panjang, akan menyadari sejauh mana kekerasan kepala dan pendustaan yang dihadapi para nabi Allah dan rasul-rasul-Nya dalam menghambakan hati-hati kepada satu tuhan yaitu Allah, maka kaum Nuh mendustakan para rasul, dan kaum Tsamud dan Aad mendustakan hari kiamat, dan Bani Israil mendustakan Musa dan mengingkari apa yang dibawanya, dan orang-orang musyrik menentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam… Dan dengan semua ini para nabi dan rasul ini bersabar, karena pengetahuan mereka akan keagungan dan pentingnya apa yang mereka serukan… yaitu Tauhid.
Maka Tauhid adalah sistem alam semesta, dan tidak akan benar di jalan menuju Allah kecuali Tauhid, tauhid tujuan dan tauhid yang disembah, oleh karena itu jika engkau menginginkan – wahai kekasih – untuk berjalan menuju Tuhanmu dengan perjalanan yang baik maka tetaplah pada Tauhid, Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Surah Al-Anam: 162-163).
Dan engkau harus tahu bahwa Allah Subhanahu wa Taala mengancam para nabi dan rasul-Nya dengan hancurnya amal-amal – meskipun banyak – jika kehilangan Tauhid, maka Dia berfirman setelah menyebutkan sejumlah besar dari mereka dalam Surah Al-Anam: “Dan sekiranya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Surah Al-Anam: 88). Bahkan Dia berfirman menyapa Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlah Allah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Surah Az-Zumar: 65-66).
Dan dari bahayanya urusan Tauhid adalah syirik di umat ini lebih tersembunyi dari jejak semut, oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkanmu untuk mengucapkan setiap hari berulang kali: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk apa yang tidak aku ketahui.” Shahih Adabul Mufrad.
Dan dari bahayanya urusan Tauhid adalah ketakutan terhadap Tauhid, Allah Subhanahu wa Taala berfirman menceritakan tentang Ibrahim alaihissalam doanya: “Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala.” (Surah Ibrahim: 35).
Maka ini Ibrahim kekasih Allah takut terhadap tauhidnya, maka dia meminta keteguhan di atasnya dan meminta untuk anak cucunya agar tidak menyimpang darinya.
Dan dari bahayanya Tauhid adalah bahwa ia bisa membingungkan hamba. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam “Al-Fawaid”:
“Tauhid adalah sesuatu yang paling halus dan paling suci dan paling bersih dan paling murni, maka sesuatu yang paling kecil pun bisa menggoresnya dan mengotorinya dan mempengaruhinya, maka ia seperti pakaian yang paling putih, mempengaruhi padanya bekas yang paling kecil, dan seperti cermin yang sangat jernih, sesuatu yang paling kecil mempengaruhinya.
Dan oleh karena itu pandangan dan ucapan dan syahwat tersembunyi mengacaukannya, jika pemiliknya segera mencabut bekas itu dengan lawannya, jika tidak maka akan menguat dan menjadi tabiat yang sulit untuk dicabutnya. Dan bekas-bekas dan tabiat-tabiat ini yang terjadi padanya: di antaranya ada yang cepat terjadi cepat hilang, dan di antaranya ada yang lambat terjadi cepat hilang, dan di antaranya ada yang lambat terjadi lambat hilang.
Namun dari manusia ada yang tauhidnya besar dan agung, tenggelam di dalamnya banyak dari bekas-bekas itu, dan berubah di dalamnya seperti air yang banyak yang bercampur dengannya najis atau kotoran yang paling kecil, maka pemilik Tauhid yang lebih rendah darinya terkecoh dengannya, lalu ia mencampurkan tauhidnya yang lemah dengan apa yang dicampurkan oleh pemilik Tauhid yang besar dan banyak tauhidnya, maka tampak dari pengaruhnya padanya apa yang tidak tampak pada Tauhid yang banyak.
Dan juga sesungguhnya tempat yang tidak mencapai kesucian seperti mencapainya, maka dia mengatasinya dengan penghilangan di bawah ini, maka sesungguhnya dia tidak merasakannya.
Dan juga sesungguhnya kekuatan iman dan Tauhid jika sangat kuat merubah materi-materi yang buruk dan mengalahkannya, berbeda dengan kekuatan yang lemah.”
Maka perhatikanlah – semoga Allah merahmatimu – tauhidmu: apakah masih pada kesucian dan kebersihan dan kemurniannya ataukah ia telah tercemar dari pergaulan dengan manusia dan transaksi mereka, dan hilangnya ilmu dari hati, dan lupa dzikir dan banyaknya bicara dan perdebatan yang menjijikkan dan cinta ketinggian dan kemenangan, dan terkaitnya hati dengan pujian manusia dan menolak celaan mereka, dan syahwat-syahwat yang tertanam dalam jiwa-jiwa… Ini semua – demi Allah – jika jatuh ke dalam hati maka jatuhlah langit tauhidmu ke buminya, maka tidak akan berdiri lagi hatimu. Maka wahai saudaraku yang kucintai, jadilah untuk Yang Satu maka engkau akan tenang.
Allah Taala berfirman: “Allah membuat perumpamaan seorang laki-laki (hamba) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua hamba itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Surah Az-Zumar: 29).
Allah membuat perumpamaan untuk hamba yang bertauhid dan hamba yang musyrik: dengan seorang hamba yang dimiliki oleh para sekutu yang saling bertengkar tentangnya, dan dia di antara mereka terbagi, dan untuk setiap dari mereka padanya ada arahan, dan untuk setiap dari mereka atasnya ada pembebanan, dan dia di antara mereka bingung tidak bisa menetap pada satu cara dan tidak bisa lurus pada satu jalan, dan tidak bisa memuaskan hawa nafsu mereka yang saling bertikai dan berselisih dan bertentangan yang merobek arah dan kekuatannya! Dan seorang hamba yang dimiliki oleh seorang tuan saja, dan dia mengetahui apa yang dimintanya darinya, dan membebaninya dengannya, maka dia tenang dan menetap pada satu cara yang jelas… Apakah kedua orang itu sama…? Sesungguhnya keduanya tidak sama.
Maka yang tunduk kepada seorang tuan saja menikmati kenyamanan kelurusan dan pengetahuan dan keyakinan dan terkumpulnya tenaga dan kesatuan arah dan kejelasan jalan. Dan yang tunduk kepada para tuan yang bertengkar tersiksa gelisah tidak menetap pada satu keadaan dan tidak memuaskan satu pun dari mereka apalagi memuaskan semuanya!
Dan perumpamaan ini menggambarkan hakikat Tauhid dan hakikat syirik dalam semua keadaan, maka hati yang beriman dengan hakikat Tauhid adalah hati yang memotong perjalanan di bumi ini dengan petunjuk, karena pandangannya selalu tergantung pada satu bintang di ufuk maka tidak akan bengkok bersamanya jalan. Dan karena dia mengetahui satu sumber untuk kehidupan dan kekuatan dan rezeki, dan satu sumber untuk manfaat dan mudharat, dan satu sumber untuk pemberian dan pencegahan, maka luruslah langkahnya menuju sumber yang satu ini, dia mengambil darinya saja, dan menggantungkan tangannya pada satu tali dia memegang pegangannya, dan tenang arahnya menuju satu tujuan tidak menyimpang darinya pandangannya, dan dia mengabdi kepada seorang tuan saja dia mengetahui apa yang memuaskannya maka dia melakukannya dan apa yang membuatnya marah maka dia menghindarinya… Dan dengan itu terkumpul tenaganya dan menjadi satu, maka dia menghasilkan dengan semua tenaga dan usahanya dan dia tetap kokoh kakinya di bumi memandang kepada satu tuhan di langit… Dan Dia – Mahasuci – mengomentari perumpamaan yang berbicara dan hidup ini, dengan memuji Allah yang telah memilih untuk hamba-hamba-Nya kenyamanan dan keamanan dan ketenangan dan kelurusan dan ketetapan. Dan mereka dengan ini menyimpang, dan kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Maka apakah engkau untuk Yang Satu? Ataukah engkau untuk para sekutu yang bertengkar?!
Ya: sesungguhnya kebanyakan manusia hari ini menyimpang dari Tauhid, dan hidup dalam ketercerai-beraian, maka engkau mendapati hati mereka tergantung pada harta dan istri dan anak dan manusia, maka mereka hidup dalam kegelisahan kesedihan keterpencar-pencaran kesia-siaan… Dan tidak mungkin hati tergantung pada Allah semata kecuali dengan menjadikan di dalam hatimu satu kegelisahan: yaitu mencari ridha Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, maka kegelisahanmu dan semangatmu dan pemikiranmu berputar dalam memperoleh ridha Allah, saat itulah engkau menjadi hamba Allah semata… engkau menjadi satu untuk Yang Satu dengan hak, dan dari sana engkau meluncur di jalan untuk sampai kepada Allah Taala.
Di Atas Jalan Yang Satu:
Jika engkau adalah satu untuk Yang Satu maka agar engkau sampai haruslah bagimu satu jalan menuju Allah Taala, maka kedua tauhid itu:
Tauhid tujuan dan tauhid yang disembah. Yaitu satu jalan yang tidak berlipat ganda dan tidak berubah, sebagaimana Tuhan kita Jalla wa Ala berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Surah Al-Anam: 153). Maka Dia menunggalkan jalan-Nya karena ia pada dirinya sendiri satu tidak ada kelipatgandaan padanya, dan Dia menjamakkan jalan-jalan yang menyalahinya karena ia banyak dan beraneka ragam.
Maka jadilah di atas satu jalan maka engkau akan sampai dan ia adalah jalan menuju Allah Subhanahu wa Taala dan asalnya: Al-Kitab dan Sunnah. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib kalian dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus, gigitlah ia dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap perkara baru adalah bidah dan setiap kesesatan di neraka.” Dishahihkan oleh Al-Albani. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku selamanya: Kitabullah dan sunnahku.” Ahmad dan Tirmidzi dan berkata hasan gharib. Maka tempuhlah jalan yang satu dan jika engkau menempuhnya maka jangan mengubah dan jangan mengganti agar engkau tidak diusir… Jangan berubah-ubah dan jangan mengikuti hawa nafsu maka ia menyesatkanmu dari jalan Allah… Ya Allah selamatkanlah kami dari kesesatan fitnah-fitnah.
Ketika Hudzaifah bin Yaman menjelang kematiannya, Abdullah bin Masud duduk di samping kepalanya dan berkata kepadanya: Berwasiatilah kepadaku, maka dia berkata kepadanya: Bukankah telah datang kepadamu keyakinan? Dia berkata: Ya demi keagungan Tuhanku, maka Hudzaifah berkata: Dan jauhilah perubahan-ubahan, maka sesungguhnya agama Allah itu satu.
Dan termasuk perubahan-ubahan: menghalalkan yang haram, para ulama berkata: Fitnah adalah engkau menghalalkan apa yang dahulu engkau memandangnya haram.
Seorang pemuda berjalan di jalan menuju Allah selama bertahun-tahun dengan keyakinannya: haramnya televisi, kemudian terkejut dengan perubahan warna… Ya: televisi telah masuk ke rumah-rumah banyak orang yang komitmen… Dia memasukkannya karena terpesona… telah berubah warna, maka jalan baginya menjadi beberapa jalan. Setelah sebelumnya dia meyakini bahwa salat berjamaah di masjid adalah fardu ain, dia kemudian berkata: ada mazhab-mazhab lain, jadi saya bisa salat di rumah… perubahan warna dan kelesuan… Setelah sebelumnya dia meyakini bahwa menuntut ilmu itu wajib baginya, dan setelah sebelumnya dia meyakini bahwa dakwah kepada Allah adalah amanah di pundaknya, dia meninggalkannya dan sibuk dengan dunianya, maka bercerai-berailah jalan-jalan baginya.
Wahai orang yang terpesona: kamu akan mati, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pandangan-pandangan lamamu, mengapa kamu mengubahnya… mengapa kamu mengganti… mengapa kamu berubah warna…
Mengapa kamu berpaling?… Dia dulunya rela dengan yang sedikit, tiba-tiba dia menginginkan kehidupan orang-orang mewah dan kaya… mengapa wahai hamba Allah?
Mengapa kamu mengubah jalanmu? Sesungguhnya itu adalah rel yang satu dan manhaj yang satu yang benar “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” (Yunus: 32)… Saudaraku, kebenaran itu satu tidak berbilang, maka tetaplah pada manhajmu “Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya” (Fussilat: 6).
Jadilah pada satu jalan, dan ketahuilah bahwa Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus ummah adalah manhaj yang maksum, bukan karena aku mengatakan demikian, tetapi karena Allah Taala memerintahkan demikian. Allah Taala berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka” (At-Taubah: 100), dan Allah Subhanahu Wa Taala berfirman “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan” (Al-Baqarah: 137).
Abu Ali… Al-Hasan bin Ali bin Al-Jauzajani ditanya: Bagaimana jalan menuju Allah? Dia menjawab: Jalan-jalan menuju Allah itu banyak, dan jalan yang paling jelas dan paling jauh dari kesamaran adalah: mengikuti Sunnah dalam perkataan, perbuatan, ketetapan hati, akidah dan niat, karena Allah berfirman: “Dan jika kamu menaatinya, niscaya kamu mendapat petunjuk” (An-Nur: 54). Lalu ditanyakan kepadanya: Bagaimana jalan menuju Sunnah? Dia menjawab: Menjauhi bidah, dan mengikuti apa yang telah disepakati oleh generasi pertama dari ulama Islam, menjauh dari majelis-majelis kalam dan para ahlinya, dan berpegang pada jalan iqtida (mengikuti teladan). Dan demikianlah Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dengan firman Allah Subhanahu Wa Taala: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim” (An-Nahl: 123).
Abu Al-Hasan Al-Warraq berkata: Hamba tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan Allah dan dengan menyesuaikan diri dengan kekasih-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam syariat-syariatnya. Dan barangsiapa menjadikan jalan untuk sampai (kepada Allah) selain dengan iqtida (mengikuti teladan), dia akan sesat padahal dia menyangka bahwa dia mendapat petunjuk.
Abu Bakar At-Tamastani berkata: Jalannya jelas, Al-Kitab dan As-Sunnah ada di tengah-tengah kita, dan keutamaan para sahabat diketahui karena keutamaan mereka dalam hijrah dan persahabatan mereka. Maka barangsiapa di antara kita yang bersahabat dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, mengasingkan diri dari dirinya sendiri dan makhluk, serta berhijrah dengan hatinya kepada Allah, maka dialah orang yang jujur dan benar.
Tentang jalan bidah, Al-Hasan berkata: Pelaku bidah tidak akan bertambah kesungguhannya dalam puasa dan salat, kecuali semakin menjauh dari Allah.
Dari Abu Idris Al-Khaulani bahwa dia berkata: Sungguh aku melihat api di masjid yang tidak mampu aku padamkan lebih aku sukai daripada melihat bidah di dalamnya yang tidak mampu aku ubah.
Maka berpegang teguhlah—saudaraku—dengan apa yang dianut oleh salaf salehmu, dan jauhilah bidah dan para ahlinya, dan jadilah pada satu jalan “jalan Sunnah” dan jangan berpaling. Bandar bin Al-Husain berkata: Bergaul dengan ahli bidah akan mendatangkan sikap berpaling dari kebenaran.
Hamdun Al-Qassar berkata: Barangsiapa melihat perjalanan hidup salaf, dia akan mengetahui kekurangannya dan ketinggalannya dari derajat para lelaki sejati.
Asy-Syatibi berkata: “Dan ini—wallahu alam—adalah isyarat untuk gigih mengikuti teladan mereka, karena mereka adalah ahli Sunnah.”
Saudara-saudaraku: Jalan menuju Allah itu satu tidak akan berubah selamanya. Kita tidak memperbarui manhaj kita atau mengubahnya atau menggantinya atau merevisinya.
Itu adalah manhaj yang jelas, dan keteguhan di atasnya adalah rahasia sampai kepada Allah. Jika kamu mengubah atau mengganti atau memperbarui atau berpaling, kamu akan tersesat.
Ibnu Al-Qayyim berkata: “Seandainya seorang hamba menghadap kepada Allah selama seribu tahun, kemudian berpaling dari Allah sejenak saja, maka apa yang hilang dalam hal ini lebih besar dari apa yang dia peroleh dalam seribu tahun itu.”
Maka berjalanlah—saudaraku—dan jangan berpaling… Bergeraklah pada satu jalan… Bergeraklah dan jadilah satu untuk Yang Maha Esa pada satu jalan, niscaya kamu akan sampai dengan izin Allah.
Prinsip Ketiga: Apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi, dan apa yang tidak untuk Allah tidak bermanfaat dan tidak langgeng
Renungkanlah kaidah ini, maka berpegang teguhlah dengan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”… Dan inilah penjelasannya:
Apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi:
Hamba itu lemah… diciptakan pada dasarnya membutuhkan dan miskin. Allah berfirman: “Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Fathir: 15), dan Allah Taala berfirman: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah” (An-Nisa: 28). Pada asal penciptaanmu ada kelemahan. Perhatikan firman Allah Azza wa Jalla “Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil (saja)” (An-Nisa: 83), dan Allah Taala berfirman: “Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” (An-Nur: 21).
Dan Allah Subhanahu berfirman “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tetapkan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain); dan sesungguhnya akhirat itu lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya” (Al-Isra: 18-21). “Kepada masing-masing Kami berikan bantuan”… Siapa yang memberi? Allah. Dan siapa yang dimintai pertolongan? Allah… Allah yang memberi, yang menolong…
Allah yang memberi taufik dan petunjuk… Allah yang memilih dan menentukan… Maka perjalanan di jalan menuju Allah didasarkan pada pemilihan dan penentuan. Jika Dia memilihmu dan menentukanmu, Dia akan mempersiapkanmu.
Allah Taala berfirman tentang Yunus alaihissalam “Kemudian Tuhannya memilihnya, lalu Dia menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (Al-Qalam: 50).
Memilihnya lalu menjadikannya… Maka kamu lemah tidak memiliki daya… Kamu lemah tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki daya kecuali dengan Allah. Maka apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi. Yang membawamu ke masjid adalah Allah, dan yang berbicara sehingga aku mendengar adalah Allah… Allah yang memilihmu dan menjadikanmu dari orang-orang yang komitmen.
Saudaraku fillah, kekasihku fillah di jalan kebenaran untuk sampai kepada Allah, berpegang teguhlah dengan: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”.
Berlepas dirilah dari daya dan kekuatanmu dan berpalinglah kepada daya dan kekuatan-Nya dan mintalah pertolongan kepada-Nya. Mintalah pertolongan kepada-Nya saja, menghadaplah kepada-Nya dan mintalah kepada-Nya…
Mintalah pertolongan kepada-Nya saja, Dia akan menjadi untukmu… Sebagaimana para ulama berkata: Jadilah untuk Allah sebagaimana Dia kehendaki, Dia akan menjadi untukmu melebihi apa yang kamu kehendaki.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa seandainya umat bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu” dan yang lebih menakjubkan darinya: “Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”. Jagalah Allah, kamu akan mendapati-Nya bersamamu, di arahmu, di arah yang kamu inginkan kamu akan mendapati-Nya—Subhanahu—di hadapanmu.
Sesungguhnya banyak dari kita ketika berjalan di jalan menuju Allah lalu terkena kelesuan atau terpesona kemudian mundur, dia tetap sepanjang waktu bertanya tentang jalan kembali dan mengetahui sebab-sebab kembali dan mengambil sebab-sebabnya namun melupakan Allah, maka sebab-sebab itu tidak membuahkan hasil. Kamu berkata kepadanya: lakukan ini, dia berkata: sudah kulakukan dan tidak ada manfaatnya. Lakukan ini… sudah kulakukan dan tidak ada manfaat… Lakukan, sudah kulakukan dan kulakukan… dan kulakukan… Ya: dia melakukan tapi tidak meminta pertolongan kepada Allah maka tidak ada buahnya, dan tidak ada dan tidak akan ada kecuali dengan Allah.
Dan renungkanlah bersamaku hadis agung ini untuk meneguhkan keyakinanmu pada kaidah ini: Apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi, dan tambahkanlah padanya kaidah pertama dan prinsip pertama: Atasmu permulaan dan atas-Nya kesempurnaan:
Allah Taala berfirman dalam hadis qudsi: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kalian…”
Begitulah: “Kalian semua” kecuali yang meminta kepada Allah maka Dia memberinya… Maka kamu tidak akan diberi sesuatu kecuali di sisi Allah ada perbendaharaannya “Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu” (Al-Hijr: 21). Maka mintalah pertolongan kepada Allah niscaya kamu ditolong dan mintalah petunjuk niscaya kamu diberi petunjuk… Dan begitulah: Apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi.
Maka jadilah untuk Allah niscaya Dia akan menjadi untukmu. Jika tidak, maka yang ada adalah kesesatan dan keterombang-ambingan kemudian kebinasaan—kita berlindung kepada Allah Taala— “Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Ali Imran: 101).
Dan apa yang tidak untuk Allah tidak bermanfaat dan tidak langgeng:
Saudara-saudaraku fillah, apa yang untuk selain Allah akan lenyap… lenyap… hilang seperti gambar-gambar di atas pasir pantai yang dihapus ombak laut… Ya: apa yang untuk Allah akan kekal dan bersambung, dan apa yang untuk selain Allah akan terputus dan terpisah.
Pohon safsaf tumbuh dalam tiga bulan sebesar apa yang ditumbuhkan pohon pinus dalam tiga puluh tahun, kemudian dia berkata kepadanya:
Apa yang kamu tumbuhkan dalam tiga puluh tahun, kutumbuhkan dalam tiga bulan dan aku disebut pohon dan kamu disebut pohon. Maka pohon pinus berkata kepadanya: Bersabarlah hingga angin musim gugur berhembus, jika kamu tetap bertahan, barulah kesombonganmu sempurna.
Dan ketika ulat sutra mulai menenun, laba-laba ikut menenun dan berkata kepadanya: Kamu punya tenunan dan aku punya tenunan. Maka ulat sutra berkata: Adapun tenunanmu adalah perangkap lalat, sedangkan tenunanku adalah pakaian para raja. Dan saat disentuh akan terlihat perbedaannya.
Ya, begitulah—saudaraku—jika angin ujian berhembus, jika kamu tetap bertahan barulah kesombonganmu sempurna. Karena masalahnya bukan pada tampilan amal, karena bisa saja pohon-pohon itu sama dalam penampilan dan semuanya disebut tenunan, tetapi yang palsu tidak akan langgeng. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman “Demikianlah Allah membuat perumpamaan yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi” (Ar-Ra’d: 17).
Maka orang-orang yang memasuki jalan menuju Allah karena syahwat atau hawa nafsu atau keinginan pribadi, mereka tidak memberi manfaat dan tidak mendapat manfaat, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menyelesaikan suatu pekerjaan meskipun sederhana. Dan ketika dia memulai proyek kebaikan seperti menuntut ilmu atau beribadah atau dakwah kepada Allah, kau akan mendapatinya terputus dan tidak istiqamah melakukannya. Dan kami bertanya: Apa rahasianya?!!
Sesungguhnya rahasia tersembunyi—saudaraku—untuk tidak diterimanya amal adalah adanya kepentingan pribadi dalam amal tersebut. Maka orang yang datang ke salat Jumat—bukan karena Allah—dan orang yang salat malam atau puasa siang hari, menghafal Alquran atau belajar ilmu, atau menjadi imam bagi orang-oanak atau berkhutbah Jumat, atau memberikan pengajian, atau… atau… sedangkan dalam amalnya ada noda dari kepentingan pribadi, maka amalnya batil batil.. Dia telah membatalkannya ketika dia beramal untuk kepentingan pribadinya.”
Ya: Tanyalah pada dirimu sendiri: amalmu untuk siapa? Dan jujurlah, jangan menghindar karena masalahnya sangat serius.. Tidakkah kamu takut terhadap kalimat ini yang membuat gelisah: “Beramal agar dikatakan (orang), dan sungguh telah dikatakan, maka tidak ada pahala bagimu di sisi-Ku kemudian dia diseret dengan wajahnya ke neraka Jahanam”
Ketahuilah—saudaraku—bahwa jika kamu salat kemudian keluar dan salatmu tidak mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar—ketahuilah bahwa kamu tidak salat untuk Allah, seandainya kamu salat untuk-Nya niscaya Dia akan memberimu buahnya. Dan jika kamu menghafal Alquran namun larangan-larangannya tidak menegurmu dan perintah-perintahnya tidak mengikatmu maka ketahuilah bahwa kamu tidak menghafalnya untuk Allah, karena Allah Maha Mensyukuri.. Dia mensyukuri yang sedikit.. Jika kamu beramal untuk-Nya suatu amal pasti Dia akan memberimu pahala dan mensyukurinya, dan memberikanmu darinya. Jika kamu tidak diberi maka tudulah amalmu.. Tuduh amalmu karena sesungguhnya Yang disembah Maha Pemurah. Maka keikhlasan keikhlasan—saudaraku—keikhlasan jika tidak maka sia-sia.. Keikhlasan jika tidak maka tersesat dari jalan Allah. Keikhlasan agar kalian tidak tersesat dari jalan.. Keikhlasan adalah cahaya jalan.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh biasa berkata: Jika orang-orang yang jujur ditanya tentang kejujuran mereka, seperti Ismail dan Isa—’alaihimash shalatu was salam—maka bagaimana dengan para pendusta dari orang-orang seperti kita?! Dan dia—rahimahullah—jika membaca: “Dan Kami akan menguji berita-berita kalian” (Muhammad: 31) berkata: Ya Allah sesungguhnya jika Engkau menguji berita-berita kami maka Engkau akan mempermalukan kami dan menyingkap tutup-tutupan kami, kesehatan-Mu itu lebih luas bagi kami, dan Engkau Maha Penyayang dari para penyayang.
Abu Utsman Al-Maghribi berkata: Keikhlasan adalah melupakan pandangan terhadap makhluk dengan senantiasa memandang kepada Khalik.
Dan Sahl bin Abdullah At-Tusturi berkata: Orang-orang cerdas melihat dalam tafsir Surah Al-Ikhlas dan mereka tidak menemukan selain ini: Bahwa gerak dan diamnya dalam rahasia dan terang-terangannya adalah untuk Allah Ta’ala, tidak bercampur dengannya sesuatu, tidak nafsu, tidak hawa nafsu, dan tidak dunia.
Dan dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad: Mengapa perkataan Salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita? Dia berkata: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan ridha Ar-Rahman, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia, dan ridha makhluk.
Saudaraku Syaikh Sayyid Al-Affani—hafizhahullahu ta’ala—berkata: “Maka fahamilah derajatmu dan jangan bangga di hadapan makhluk sedangkan intimu adalah inti kehinaan dan penampilanmu penampilan orang-orang berbakti. Hitung dirimu bersama diri para pendusta, dan ruhmu bersama ruh orang-orang yang binasa dan badanmu bersama badan orang-orang berdosa. Dan berusahalah mempelajari keikhlasan, demi Allah sesungguhnya ilmunya adalah sebaik-baik ilmu, dan fikih tentangnya adalah fikih seluruhnya.
Wahai saudaraku, keikhlasan adalah minyak kesturi hati, dan air kehidupannya dan poros seluruh kesuksesannya ada padanya. Ya: Perniagaan akhirat tidak akan meninggi kecuali dengan orang yang ikhlas dan jujur.
Dan tidak ada keselamatan dan tidak ada fikih kecuali dengan mengikuti jalan Salaf Ash-Shalih, karena para syaikh di zaman dahulu adalah pemilik pendirian. Dan para penuntut ilmu adalah pemilik kesusahan. Maka hilang pendirian dan kesusahan. Hari ini kesedihan tanpa kisah. Dan sesungguhnya pendidikan dengan keteladanan adalah sebaik-baik metode pendidikan, dan kisah-kisah tentang salaf kita adalah tentara dari tentara Allah—ta’ala—Allah meneguhkan dengan kisah tersebut hati para wali-Nya.”
Imam Abu Hanifah berkata: Kisah-kisah tentang para ulama dan kebaikan mereka lebih aku cintai daripada banyak fikih, karena kisah-kisah itu adalah adab dan akhlak kaum, Allah—ta’ala—berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111), dan berfirman—ta’ala—kepada Nabi-Nya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90).
Dan bertolak dari perkataan yang baik ini, maka pembicaraan tentang keikhlasan dan orang-orang yang ikhlas, dan inilah sebagiannya:
Salat:
Abu Tamim bin Malik berkata: Manshur bin Al-Mu’tamir jika salat Subuh, dia menampakkan semangat kepada teman-temannya, lalu dia berbincang dengan mereka dan banyak bergaul dengan mereka, padahal dia bermalam berdiri di atas ujung-ujung kakinya, semua itu dia sembunyikan dari mereka amal tersebut. Abu Ishaq Ka’ab Al-Ahbar—pemilik kitab dan catatan—berkata: Barangsiapa beribadah kepada Allah satu malam di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengenalnya melihatnya, dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana dia keluar dari malamnya.
Sedekah Tersembunyi:
Dan ini Zainul ‘Abidin Ali bin Al-Husain: Dia membawa karung roti di punggungnya pada malam hari, lalu dia bersedekah dengannya dan berkata: Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi memadamkan murka Rabb ‘Azza wa Jalla.
Dan ketika dia wafat mereka mendapatinya memberi makan seratus keluarga di Madinah. Dan ketika mereka datang memandikannya mereka menemukan di punggungnya bekas kehitaman, mereka berkata: Apa ini? Lalu dikatakan: Dia biasa membawa karung tepung di malam hari di atas punggungnya, dia memberikannya kepada fakir miskin penduduk Madinah.
Puasa:
Dan jika disebutkan puasa dan menyembunyikannya maka sebutlah Dawud bin Abi Hind.. Dia berpuasa empat puluh tahun tidak diketahui oleh keluarganya dan tidak oleh siapa pun. Dia adalah pedagang kain, dia membawa makanan siangnya dari rumah mereka lalu dia sedekahkan di jalan dan pulang sore hari lalu berbuka bersama mereka. Maka penduduk pasar mengira dia telah makan di rumah dan keluarganya mengira dia telah makan di pasar.
Ibrahim bin Adham berkata: Jangan menanyakan kepada saudaramu tentang puasanya karena jika dia berkata: Aku berpuasa, maka dirinya gembira, dan jika dia berkata: Aku tidak berpuasa, maka dirinya sedih, dan keduanya dari tanda-tanda riya, dan dalam hal itu ada pemaparan aib bagi yang ditanya dan melihat auratnya dari yang bertanya.
Zikir dan Membaca Alquran:
Ibnul Jauzi berkata: Ibrahim An-Nakha’i jika membaca di mushaf lalu ada orang masuk, dia menutupnya. Dan Imam Ahmad berkata: Aku menginginkan yang tidak akan terjadi.. Aku menginginkan tempat yang tidak ada seorang pun dari manusia di dalamnya.
Tangisan:
Ats-Tsauri berkata: Tangisan ada sepuluh bagian, sembilan bukan untuk Allah dan satu untuk Allah, jika yang untuk Allah datang dalam setahun sekali maka itu sudah banyak.
Ibnul Jauzi berkata: Ibnu Sirin di siang hari berbincang dan tertawa, namun jika datang malam seakan-akan dia membunuh penduduk kampung.
Keadaan kami berubah karena kehilanganmu, hari-hari kami menjadi hitam padahal dulu dengan kalian putih malam-malam kami Siapa yang memberitahu orang-orang yang memakaikan kami setelah mereka pergi kesedihan bersama masa yang tidak usang namun membuat kami usang Sesungguhnya zaman yang dahulu membuat kami tertawa karena senang dengan kedekatan mereka kini membuatkami menangis Semoga masa bersamamu disiram masa kebahagiaan karena kalian bagi ruh kami tidak lain adalah bunga-bunga
Muhammad bin Wasi’ berkata: Sesungguhnya ada laki-laki menangis dua puluh tahun sedangkan istrinya bersamanya dalam satu selimut tidak mengetahuinya.
Dan Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Suatu hari aku ditimpa kelemahan lalu aku menangis, kemudian aku berkata dalam diriku: Seandainya ada sebagian teman-teman kami tentu dia akan lembut bersamaku. Kemudian aku tertidur lalu datang kepadaku seseorang dalam mimpiku dan menendangku seraya berkata: Wahai Sufyan ambillah pahalamu dari orang yang kamu inginkan melihatmu!!
Ilmu:
Asy-Syafi’i berkata: Aku berharap makhluk mempelajari ini (maksudnya ilmunya) tanpa dinisbatkan kepadaku satu huruf pun.
Dan ‘Aun bin ‘Imarah berkata: Aku mendengar Hisyam Ad-Dustuwa’i berkata: Demi Allah aku tidak mampu mengatakan: Sesungguhnya aku pergi suatu hari menuntut hadis dengan menginginkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla. Adz-Dzahabi berkata: Demi Allah, aku pun tidak.. Maka ya Allah maafkanlah kami!
Pemilik Kebaikan Tersembunyi dan Takut dari Ketenaran:
Ibnul Mubarak berkata tentang Ibrahim bin Adham: Pemilik kebaikan tersembunyi dan aku tidak melihatnya menampakkan tasbih atau sesuatu dari kebaikan dan tidak makan bersama kaum melainkan dia yang terakhir mengangkat tangannya.
Imam para penasihat Ibnul Jauzi berkata: Ibnu Adham terkenal di suatu negeri lalu dikatakan: Dia di kebun si fulan. Maka orang-orang masuk berkeliling dan berkata: Di mana Ibrahim bin Adham? Maka dia ikut berkeliling bersama mereka dan berkata: Di mana Ibrahim bin Adham?!
Dan lihatlah Al-‘Ala’ bin Ziyad Al-‘Adawi yang Al-Hasan Al-Bashri berkata tentangnya: Kepada orang ini demi Allah berakhir meremehkan kesedihan.. Seorang laki-laki berkata kepadanya: Aku melihat seakan-akan kamu di surga, maka dia berkata kepadanya: Celakalah kamu!! Apakah setan tidak menemukan orang yang dia permainkan selain aku dan kamu.
Imam Ahmad berkata: Sufyan Ats-Tsauri jika dikatakan kepadanya: Kamu terlihat dalam mimpi, dia berkata: Aku lebih mengenal diriku daripada ahli mimpi.
Dan Ibrahim An-Nakha’i sang imam fakih: Dia tidak duduk di tiang masjid karena menghindari ketenaran. Dia biasa berkata: Aku berbicara, seandainya aku menemukan jalan lain tentu aku tidak berbicara, karena zaman yang aku menjadi fakih Kufah padanya adalah zaman yang buruk. Dan dia biasa berkata:
Negeri-negeri kosong maka aku menjadi pemimpin tanpa layak jadi pemimpin Dan di antara musibah adalah menyendiriku dengan kepemimpinan
Dan Muhammad bin Yusuf Al-Ashbahani: (Pengantin para zahid) tidak membeli bekalnya dari satu tukang roti. Dia berkata: Agar mereka tidak mengenalku lalu memperlakukanku dengan baik maka aku menjadi orang yang hidup dengan agamaku.
Dan Sufyan Ats-Tsauri: Yang Imam Ahmad berkata tentangnya: Tahukah kamu siapa imam? Imam adalah Sufyan Ats-Tsauri, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya dalam hatiku.. Dia—rahimahullah—tidak membiarkan seorang pun duduk kepadanya kecuali sekitar tiga orang. Suatu hari dia lengah dan melihat halaqah telah membesar maka dia berdiri dengan ketakutan dan berkata: Kita tertangkap demi Allah dan kita tidak sadar. Demi Allah seandainya Amirul Mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu menemui orang sepertiku sedang dia duduk di majelis ini niscaya dia mengusirnya, dan berkata kepadanya: Orang sepertimu tidak pantas untuk itu.
Dan dia—rahimahullah—jika duduk untuk mendiktekan hadis, dia duduk dengan ketakutan. Awan berlalu di atasnya maka dia berubah warna sampai awan itu berlalu dan berkata: Aku takut di dalamnya ada batu yang merajam kami dengannya.
Dan dia biasa berkata: Setiap sesuatu yang aku tampakkan dari amalku maka aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu karena ketidakmampuan orang-orang seperti kami untuk ikhlas jika orang-orang melihatnya.. Rahimakallah wahai Sufyan dan semoga Allah memberkahimu wahai imam sebagaimana engkau mengajari kami untuk menjadi milik Allah.
Al-Hasan Al-Bashri melewati Thawus yang sedang mendiktekan hadis di Haram dalam halaqah besar, lalu dia mendekatinya dan berkata di telinganya: Jika dirimu mengagumi dirimu maka berdirilah dari majelis ini. Maka Thawus langsung berdiri. Bisyr berkata: Tidak pantas bagi orang-orang seperti kami menampakkan dari amal-amal shalihnya sebesar zarrah apalagi amal-amalnya yang masuk riya?! Maka yang pertama bagi orang-orang seperti kami adalah menyembunyikan!
Dan Malik bin Dinar biasa berkata: Jika disebutkan orang-orang shalih maka cih dan cuh bagiku.
Dan Al-Fudhail berkata: Barangsiapa ingin melihat orang yang riya maka lihatlah aku.
Saudaraku kami panjang lebar berbicara dengan orang-orang yang ikhlas karena pentingnya, karena tanpa keikhlasan tidak ada nilai bagi amal-amal dan tidak akan sampai kepada Allah sama sekali selama kamu masih riya..
Maka mulailah dari sekarang dan jadilah sepenuhnya untuk Allah.. Ikhlaskan jika tidak maka jangan bersusah payah.. Ikhlaskan jika tidak maka kerugian dan kehancuran dan kerusakan negeri.
Saudaraku apa yang tidak dengan Allah tidak akan terjadi, dan apa yang tidak untuk Allah tidak bermanfaat dan tidak kekal.. Maka mintalah pertolongan kepada Allah dan ikhlaskanlah untuk Allah dan lazimilah “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5) niscaya kalian sampai kepada Allah—ta’ala—dengan selamat dan tenang.
Prinsip Keempat: Syukur adalah Dasar Bertambahnya Nikmat
Sesungguhnya di antara prinsip-prinsip paling penting untuk mencapai Allah Ta’ala adalah bersyukur atas nikmat Allah Azza wa Jalla yang telah mempersiapkan dan memudahkan bagimu serta menjadikanmu mencintai jalan menuju-Nya. Dan sesungguhnya memilih jalan ini dengan penuh keinginan, ketakutan, mencari keridhaan Allah dan takut akan azab-Nya adalah nikmat.
Dan sesungguhnya mengetahui jalan menuju Allah Azza wa Jalla, bersemangat menempuhnya, dan bersungguh-sungguh untuk terus maju di dalamnya adalah nikmat. Dan amal-amal saleh seperti membaca Al-Quran, berdzikir, berpuasa, salat malam, bermunajat, tahajud, berbuat ihsan, berbakti dan lainnya adalah kendaraan untuk sampai di jalan ini. Dan itu semua adalah nikmat. Dan nikmat-nikmat ini jika tidak dijaga, ditambah dan diberkahi, maka akan terjadi kemunduran, murtad, hilang dan terhalang. Dan tidak ada cara sama sekali untuk menjaga nikmat, melindunginya dan menambahnya kecuali dengan bersyukur.
Rombongan dari Yaman datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di antara mereka ada seorang laki-laki bernama Hudair. Ketika mereka hendak pulang – dan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memberikan hadiah kepada setiap tamu – beliau memberikan hadiah kepada setiap orang. Hudair sedang sibuk berdzikir kepada Allah dan tidak terlihat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudair malu untuk meminta hadiahnya, maka mereka pun pulang dan Hudair ikut bersama mereka. Setelah mereka pergi, tiba-tiba Jibril turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Tuhanmu menyampaikan salam dan mengingatkanmu tentang Hudair – mengingatkanmu bahwa engkau lupa kepada Hudair.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seorang penunggang kuda dan memberikan hadiah seraya berkata: “Kejarlah rombongan itu, tanyakan tentang Hudair dan berikan hadiah ini serta sampaikan salamku kepadanya.” Ketika penunggang kuda itu menyusul mereka, ia bertanya: “Di mana Hudair?” Mereka berkata kepadanya: “Ini dia.” Lalu ia berkata kepadanya: “Rasulullah menyampaikan salam kepadamu dan berkata: ‘Sesungguhnya aku lupa kepadamu, maka Allah mengingatkanku tentangmu.'” Maka Hudair berkata: “Ya Allah, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair, maka jadikanlah Hudair tidak melupakan-Mu.” Maka ia menjadi orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah.
“Ya Allah, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair, maka jadikanlah Hudair tidak melupakan-Mu.” Inilah tempat pelajaran, yaitu bersyukur atas nikmat sesuai dengan haknya, yaitu meminta tambahan kebaikan akhirat.
Saudara-saudaraku, salah seorang saudara diuji dengan penyakit diabetes, lalu ia berkata kepadaku: “Aku mendapat manfaat dari penyakit ini: aku tidak mengetahui nikmat Allah berupa tidur tiga jam berturut-turut kecuali setelah sakit, karena setiap jam aku bangun untuk masuk kamar mandi!”
Apakah engkau sudah tidur tiga jam berturut-turut? Apakah engkau sudah bersyukur atas nikmat ini? Jika engkau diuji – kita memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan untukmu – engkau akan mengetahui dan menghargai nikmat ini.
Orang yang patah tulang ini berkata: “Aku ingin bisa berbalik ke sampingku!” Apakah engkau berbalik-balik di sampingmu saat tidur? Apakah engkau bersyukur atas nikmat ini? Apakah engkau pernah berpikir untuk pergi ke rumah sakit melihat orang-orang lumpuh yang tidak bisa bergerak? Untuk melihat di bagian luka bakar apa yang dilakukan api terhadap wajah-wajah yang indah? Dan untuk melihat di bagian mata orang-orang yang kehilangan cahaya matanya?
Bakar bin Abdullah al-Muzani rahimahullah biasa berkata: “Wahai anak Adam, jika engkau ingin mengetahui kadar nikmat yang Allah berikan kepadamu, maka pejamkan matamu.”
Apakah engkau melihat orang-orang dengan infus tergantung? Dan apakah engkau melihat orang yang menghabiskan hidupnya di rumah sakit kemudian meninggal? Semua nikmat ini yang hilang dari orang lain dan engkau miliki, apakah engkau sudah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat itu? Dan engkau wahai orang sakit yang diuji, apakah engkau sudah bersyukur atas nikmat-nikmat yang engkau miliki? Apakah engkau melihat orang yang ujiannya lebih berat darimu? Dan jika engkau adalah orang sakit yang paling menderita, apakah engkau bersyukur kepada Allah yang mengujimu dalam tubuhmu tetapi menjaga hatimu dan mengisinya dengan iman? Apakah engkau bersyukur atas nikmat ini: nikmat iman dan tauhid yang merupakan nikmat terbesar?
Dari Mujahid tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin” (Luqman: 20), ia berkata: “Laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah).”
Dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Allah Azza wa Jalla tidak memberikan nikmat kepada para hamba yang lebih utama daripada mengenalkan mereka bahwa tidak ada tuhan selain Allah.” Ia berkata: “Dan sesungguhnya ‘Laa ilaaha illallah’ bagi mereka di akhirat seperti air di dunia.”
Sesungguhnya di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengingat orang yang kehilangan nikmat agar syukur menjadi besar di sisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbaring di tempat tidurnya berkata: “Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan, memberi kami minum, mencukupi kami dan memberi kami tempat berlindung. Betapa banyak orang yang tidak ada yang mencukupinya dan tidak ada tempat berlindung baginya.” (HR. Muslim) Ayah, ibu dan diriku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Salam bin Abi Muthi’ berkata: “Aku menjenguk orang sakit, ternyata ia mengerang. Aku katakan kepadanya: ‘Ingatlah orang-orang yang tergeletak di jalanan, ingatlah orang-orang yang tidak punya tempat berlindung dan tidak ada yang merawat mereka.’ Ia berkata: ‘Kemudian aku menjenguknya lagi setelah itu dan aku tidak mendengarnya mengerang.’ Ia berkata: ‘Dan ia terus berkata: Ingatlah orang-orang yang tergeletak di jalanan, ingatlah orang yang tidak punya tempat berlindung dan tidak ada yang merawatnya.'”
Saudara-saudaraku, syukur atas nikmat adalah prinsip. Raja berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat keras'” (Ibrahim: 7).
Ibnu Qayyim rahimahullah Ta’ala berkata: “Barangsiapa diberi nikmat lalu ia tidak bersyukur, ia pasti akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.”
Engkau tahu – saudaraku yang istiqamah – apa sebab futur (kelesuan)? Karena engkau tidak bersyukur atas nikmat istiqamah. Seandainya engkau bersyukur atas nikmat ini, Allah akan menambahkan istiqamahmu. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan ketakwaan mereka (kepada mereka)” (Muhammad: 17). Tetapi karena engkau tidak bersyukur atas nikmat istiqamah, maka engkau menjadi futur, dan istiqamahmu mundur.
Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membiarkan nikmat selama Dia kehendaki, maka jika tidak disyukuri, Dia mengubahnya menjadi azab bagi mereka.”
Benar: setiap orang yang diberi anak-anak lalu tidak bersyukur atas nikmat anak-anak akan disiksa dengan mereka. Dan barangsiapa Allah beri nikmat istri lalu tidak bersyukur atas nikmat istri akan disiksa dengannya. Dan barangsiapa diberi harta lalu tidak bersyukur akan disiksa dengannya. Begitulah: setiap nikmat yang tidak engkau syukuri, engkau akan disiksa dengannya. Dan rahasia syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada Pemberi nikmat.
Hudair bersyukur atas nikmat dan meminta Allah agar tidak melupakannya dari dzikir kepada-Nya. Dan seandainya aku yang diberi hadiah, kegembiraanku dengan hadiah akan menyibukkanku dari dzikir kepada Allah. Kenyataan yang pahit: banyak kaum muslimin yang sibuk dengan nikmat dan lupa kepada Pemberi nikmat, sibuk dengan musibah dan lupa kepada Yang menguji, sibuk dari Allah dengan selain Allah, lupa kepada-Nya, lalai dari-Nya.
Saudara-saudaraku, Sulaiman bin Daud, nabi saleh anak nabi saleh – ‘alaihimas salam – tidak disibukkan oleh kerajaan – yang Allah tidak berikan kepada seorang pun dari semua manusia sebelum dan sesudahnya – dari bersyukur dan menceritakan nikmat-nikmat Allah kepadanya.
Allah berfirman: “Dan Sulaiman mewarisi Daud, dan dia berkata, ‘Wahai manusia, kami telah diajarkan bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, ini benar-benar karunia yang nyata.’ Dan dihimpunkan untuk Sulaiman pasukannya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, seekor semut berkata, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan pasukannya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam (golongan) hamba-hamba-Mu yang saleh.'” (An-Naml: 16-19).
Dan ketika singgasana Balqis dibawa kepadanya, ia berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (An-Naml: 40).
Dari Al-Hasan, ia berkata: Nabi Allah Daud berkata: “Tuhanku, seandainya setiap rambutku memiliki dua lidah yang bertasbih kepada-Mu siang dan malam sepanjang masa, itu tidak akan memenuhi hak satu nikmat pun.”
Ibnu Qayyim berkata: “Sultan memenjarakan seorang laki-laki, lalu temannya mengirimi pesan: ‘Bersyukurlah kepada Allah’, lalu ia dipukul. Kemudian temannya mengirimi pesan lagi: ‘Bersyukurlah kepada Allah.’ Lalu didatangkanlah seorang tahanan Majusi yang sakit perut, lalu ia dirantai dan satu gelang rantainya dipasang di kakinya dan gelang yang lain dipasang di kaki laki-laki tadi. Majusi itu bangun di malam hari beberapa kali, sehingga laki-laki tadi harus berdiri di atas kepalanya sampai ia selesai. Lalu temannya mengiriminya surat: ‘Bersyukurlah kepada Allah.’ Maka ia berkata kepadanya: ‘Sampai kapan engkau berkata “Bersyukurlah kepada Allah”, ujian apa yang lebih berat dari ini?’ Temannya berkata: ‘Seandainya sabuk yang ada di pinggangnya diletakkan di pinggangmu sebagaimana rantai yang ada di kakinya diletakkan di kakimu, apa yang akan engkau lakukan? Maka bersyukurlah kepada Allah.'”
Seorang laki-laki masuk menemui Sahl bin Abdullah dan berkata: “Pencuri masuk rumahku dan mengambil barangku.” Ia berkata: “Bersyukurlah kepada Allah. Seandainya pencuri masuk ke hatimu – yaitu syaitan – dan merusak tauhidmu, apa yang akan engkau lakukan?”
Salah seorang saleh ditanya: “Bagaimana paginmu?” Ia berkata: “Aku memulai pagi dengan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, sementara banyak kemaksiatan (yang kami lakukan). Kami tidak tahu mana yang harus kami syukuri: kebaikan yang disebarkan atau keburukan yang ditutupi?”
Yang lain berkata: “Aku memulai pagi di antara dua nikmat, aku tidak tahu mana yang lebih besar: dosa-dosa yang Allah tutupi dariku sehingga tak seorang pun bisa mencela aku dengannya, atau kecintaan yang Allah lemparkan ke hati makhluk yang tidak dapat dicapai oleh amalku.”
Benar – saudara-saudaraku fillah: di antara prinsip-prinsip perjalanan menuju Allah adalah: setiap kali Allah memberimu nikmat, maka syukurilah.
Jika engkau menghafal ayat, syukurilah. Jika engkau mengingat-Nya sejenak, syukurilah. Jika engkau memelihara jenggotmu, syukurilah. Jika engkau salat berjamaah, syukurilah. Jika engkau mempelajari suatu masalah, syukurilah. Jika engkau salat malam, syukurilah. Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-Nya, karena jika engkau tidak bersyukur, engkau akan disiksa. Itulah sunnatullah (hukum Allah), maka sibukkan dirimu dengan bersyukur atas nikmat.
Tetapi bagaimana cara bersyukur atas nikmat?
Syukur memiliki lima rukun:
- Mengakui nikmat
- Memuji Allah atas nikmat
- Tunduk kepada Allah dengan nikmat
- Mencintai Pemberi nikmat
- Menggunakan nikmat untuk bersyukur kepada Pemberi nikmat
Dari Anbasah bin al-Azhar, ia berkata: “Muharib bin Ditsar – qadhi Kufah – adalah tetanggaku yang dekat, kadang aku mendengarnya di tengah malam berkata: ‘Aku adalah anak kecil yang Engkau besarkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang lemah yang Engkau kuatkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang miskin yang Engkau kayakan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang asing yang Engkau sambungkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang papa yang Engkau jadikan tuan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang bujang yang Engkau nikahkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang lapar yang Engkau kenyangkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang telanjang yang Engkau pakaikan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah musafir yang Engkau temani, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang yang pergi yang Engkau kembalikan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah pengembara yang Engkau angkut, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang sakit yang Engkau sembuhkan, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah penanya yang Engkau beri, maka bagi-Mu segala puji. Aku adalah orang yang berdoa yang Engkau kabulkan, maka bagi-Mu segala puji. Maka bagi-Mu segala puji, Tuhan kami, pujian yang banyak atas pujianku kepada-Mu.'”
Demi Allah, betapa indahnya perkataan ini! Benar – demi Allah – perkataan mereka adalah obat bagi orang-orang yang bersalah.
Ya Rabb, “Cahaya-Mu sempurna, maka Engkau memberi petunjuk, maka bagi-Mu segala puji. Kesabaran-Mu agung, maka Engkau mengampuni, maka bagi-Mu segala puji. Dan Engkau bentangkan tangan-Mu, maka Engkau memberi, maka bagi-Mu segala puji. Tuhan kami, wajah-Mu adalah wajah yang paling mulia, kemulian-Mu adalah kemuliaan yang paling besar, dan pemberian-Mu adalah pemberian yang paling utama dan paling menyenangkan. Engkau ditaati Tuhan kami, maka Engkau disyukuri. Engkau dimaksiat, maka Engkau mengampuni. Engkau mengabulkan orang yang terdesak, dan Engkau menghilangkan kesulitan, dan Engkau menyembuhkan orang sakit, dan Engkau mengampuni dosa, dan Engkau menerima taubat. Tidak ada yang dapat membalas karunia-Mu, dan tidak ada ucapan orang yang dapat mencapai pujian kepada-Mu.” Maka bagi-Mu segala puji.
Saudara-saudaraku, syukur adalah dasar bertambahnya nikmat. Kekasihku fillah, wahai orang-orang yang bertekad menuju Allah, bersyukurlah kepada Allah. Bersyukurlah kepada Allah. Bersyukurlah kepada Allah, niscaya Dia akan menambah untukmu.
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata kepada seorang laki-laki dari penduduk Hamdan: “Sesungguhnya nikmat bersambung dengan syukur, dan syukur terikat dengan tambahan, dan keduanya terikat dalam satu ikatan. Maka tidak akan terputus tambahan dari Allah Azza wa Jalla hingga terputus syukur dari hamba.”
Maka jika engkau melihat imanmu – saudaraku fillah – tidak bertambah, kembalilah kepada syukur.
Bersyukurlah, niscaya engkau akan bertambah imannya, karena sesungguhnya syukur adalah dasar bertambahnya nikmat.
Prinsip Kelima: Miliki Tongkat Pemindah Rel
Sebagian orang menaiki kereta dan mengira bahwa masuklah yang mengendalikannya, dan lupa bahwa ada petugas sederhana yang di tangannya ada tongkat kecil yang dengannya dia mengalihkan jalur seluruh kereta meski si masinis tidak menginginkannya. Maka tongkat pemindah rel hatimu ada di tangan siapa?!
Wahai saudara-saudara: Shirath (jalan lurus) adalah jalan yang licin dan mudah tergelincir, kaki-kaki bisa tergelincir darinya. Dengan perjalanan yang panjang, kaki mungkin berpaling dari jalan tanpa disadari. Oleh karena itu, seharusnya engkau memiliki tongkat pemindah rel dan tidak menyerahkannya kepada siapa pun yang mengendalikanmu dengannya selain Allah yang membimbingmu ke shirath al-mustaqim (jalan yang lurus), jalan menuju kepada-Nya, Maha Suci Dia.
Berapa banyak di antara kita yang menyerahkan tongkat itu kepada istrinya lalu dia mengubahnya dari penuntut ilmu menjadi pengejar dunia. Dan berapa banyak di antara kita yang menyerahkannya kepada anak-anaknya lalu mereka mengubah perhatiannya dari pengejar surga menjadi pengejar harta. Tongkat pemindah rel hatimu ada di tangan siapa? Kepada siapa kau serahkan? Kepada teman, rekan, guru, atasan?!!
Saudaraku karena Allah, tanyakan pada dirimu siapa yang mengendalikanmu, dan siapa yang mengarahkan hatimu. Apakah Allah semata? Atau hal-hal lain?
Berhentilah dengan dirimu sendiri untuk menyerahkan hatimu kepada Allah agar Dia menuntunmu sesuai kehendak-Nya.
Saudaraku karena Allah, berserahlah kepada Allah. Serahkan hatimu kepada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa penguasa dan Alquran akan berpisah, maka berputarlah kalian mengikuti Alquran ke mana pun dia berputar.” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan lafal: Berputarlah kalian mengikuti kitab Allah ke mana pun dia berputar – dan dengan lafal ini dilemahkan oleh Al-Albani]
Ya: Sesungguhnya kita membutuhkan untuk memiliki tongkat pemindah rel agar kita berputar mengikuti Alquran, berputar mengikuti syariat, berputar mengikuti agama, mengikuti perintah dan larangan, sehingga kita tidak menetap pada kebatilan.
Saudaraku, tongkat pemindah rel itu berbahaya. Permainan dengannya bisa menyebabkan kereta menyimpang dari jalur tujuan, dan mungkin bertabrakan lalu terbalik. Maka kendalilah – saudaraku – setiap atom dari hatimu, dan arahkan ia kepada Allah semata. Gerakkan kereta dirimu di satu jalan saja – jalan menuju Allah.
Saudaraku, kau telah berjalan menuju Allah selama bertahun-tahun lalu berpaling. Apa yang membuatmu berpaling?! Siapa yang membuatmu berpaling?! Mengapa kau berubah sehingga mengubah arahmu?! Mengapa kakimu tergelincir sehingga keluar dari jalan menuju Allah?!
Sesungguhnya kita membutuhkan – wahai saudara-saudara – untuk memiliki tongkat pemindah rel, agar kita mengembalikan perjalanan ke jalan yang benar sekali lagi, meskipun kita telah menyimpang atau tersesat atau terjerumus atau salah atau berdosa. Kita harus kembali. Kembalilah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung itu Maha Pemurah yang menerima taubat hamba jika dia bertaubat. Sang Raja Yang Maha Agung keagungan-Nya berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 110). Maka kembalilah kepada Allah dan menujulah kepada Allah, berdirilah di jalan menuju Allah.
Dengan tongkat pemindah rel, ubahlah arahmu dan putar hatimu menuju shirath al-mustaqim. Perbaikilah jalanmu, aturlah perjalananmu, arahkan hatimu niscaya kau akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Miliki tongkat pemindah rel agar kau menempuh jalan menuju Allah.
Prinsip Keenam: Harimu Adalah Harimu
Wahai saudara-saudara, Allah Yang Maha Agung keagungan-Nya ketika menciptakan hamba, tidak menciptakannya kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56) Kemudian Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Penyayang menjalankan pembebanan-Nya kepada hamba dan membebaninya dengan apa yang dia mampu.
Sang Raja berfirman: “Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menyusahkan kamu.” (Al-Baqarah: 220) Artinya: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjerumuskan kalian ke dalam kesulitan, kesusahan, dan kelelahan, tetapi Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185) Dan Dia Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (An-Nisa: 28).
Maka termasuk rahmat dan kelembutan Allah kepada hamba dalam pembebanan adalah bahwa Dia membebankanmu setiap hari sesuai dengan harimu, agar tidak menyusahkanmu. Oleh karena itu, termasuk kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri adalah menanggung beban hari esok. Dari rahmat-Nya, Maha Suci Dia, Dia menjadikan pembebanan itu hari demi hari. Jika kau salat Isya, Allah tidak menuntutmu dengan sesuatu atau kewajiban sampai azan Subuh. Setiap waktu ada kewajibannya, dan Allah tidak menuntutmu kecuali dengan kewajiban pada waktunya. Dia tidak menuntutmu – Maha Suci Dia – dengan kewajiban hari esok. Adapun hari ini, ya.
Jika kau meninggal sekarang sebelum salat Isya, Allah tidak akan menanyaimu tentang salat Isya. Jika kau meninggal sebelum setahun berlalu dan haul (tahun) berputar, kau tidak akan ditanya tentang zakat tahun ini. Jika kau hidup sepanjang umurmu dan hartamu tidak mencapai nisab, Allah tidak menanyaimu tentang zakat. Dan ini semua dari rahmat Allah. Maka termasuk kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri adalah menanggung beban hari esok.
Kau dapati seseorang hari ini duduk berpikir: Akhir bulan dari mana kita akan mendapatkan uang. Wahai saudaraku, di mana posisimu dan di mana akhir bulan?! Kau dapati dia berbicara dan berkata: Anak-anak ketika mereka besar nanti di mana mereka akan tinggal? Wahai saudaraku, ketika mereka besar nanti mereka punya Tuhan yang akan menjamin mereka, lebih sayang kepada mereka daripada kamu. Dan demikianlah dia menanggung beban sehingga disibukkan dengannya.
Kau dapati ayah di zaman kita – sayangnya – sibuk membeli sebidang tanah untuk membangun rumah bagi anak-anak. Sibuk dengan kebahagiaan duniawi dan kenyamanan jasmani mereka, sehingga lupa di tengah masalah dan kondisi untuk mengenalkan mereka jalan Allah.
Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak laki-laki, selain anak perempuan. Ketika kematian datang kepadanya, sekretarisnya Raja’ bin Haiwah berkata kepadanya: Seandainya kau wasiatkan mereka kepada seseorang. Wasiatkan kepada seseorang yang memberi nafkah kepada mereka. Dia berkata demikian karena Umar bin Abdul Aziz ketika meninggal tidak meninggalkan apa-apa kecuali sepuluh dirham. Sebelas anak dia wariskan sebelas dirham kepada mereka. Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya: Demi Allah, aku tidak mewasiatkan mereka kepada siapa pun kecuali Allah. Jika mereka menjadi orang-orang saleh maka Allah yang akan mengurus orang-orang saleh. Kemudian dia mengumpulkan mereka dan berkata: Sesungguhnya aku akan meninggal dan tidak meninggalkan apa pun untuk kalian, kecuali bahwa kalian tidak melewati seorang pun dari kaum muslimin kecuali dia tahu bahwa kalian memiliki hak atas dirinya.
Dan kalimat terakhir ini kalimat yang indah. Bahwa ketika kau meninggalkan anak-anakmu dan kau memiliki kenangan baik di sisi manusia, kau dapati mereka setiap kali anak-anak melewati mereka, mereka berkata: Ya Allah rahmatilah ayah kalian, dia adalah orang yang saleh. Dan ini sudah cukup. Ya, inilah ayah yang sesungguhnya yang mengenal jalan menuju Allah lalu mengenalkannya kepada anak-anaknya, bukan ayah yang menyia-nyiakan hari-harinya dan sibuk dengan dunia. Dan kau akan heran ketika mengetahui bahwa ayah ini semakin dia sibuk dengan anak-anak untuk memuaskan mereka, mereka tidak puas dan masalah serta beban bertambah. Seandainya dia menyibukkan dirinya dan keluarganya dengan Allah, pasti masalah akan terselesaikan.
Sesungguhnya kita hari ini ketika melihat realitas kaum muslimin, tidak menemukan seorang pun yang menjalani harinya. Semua orang melihat masa depan dan menganggap bahwa mungkin dia tidak akan menyelesaikan harinya. Ibnu Umar berkata: “Jika kau memasuki pagi, jangan tunggu sore dan jika kau memasuki sore, jangan tunggu pagi.” Aku heran dengan beberapa pemikiran dan akhlak yang sampai ke desa-desa! Dan bagaimana aku tidak terkejut padahal kita selalu menganggap para petani ini sebagai akar kita. Mereka adalah anak-anak dari akar. Mereka adalah orang-orang yang memahami tentang akar. Sungguh, kutukan Allah bagi orang-orang zalim yang mencemari kejernihan rohani pedesaan.
Televisi merusak akhlak mereka. Kau dapati seseorang mengutus anak perempuannya untuk belajar dan mungkin bepergian sendiri dan pulang malam, lalu kau berkata kepadanya: Mengapa kau sekolahkan anak perempuan? Toh pada akhirnya dia akan menikah dan tinggal di rumah. Dia berkata kepadamu: Agar dia memiliki “senjata” di tangannya. Dan kau berkata kepadanya: Dan jika dia diceraikan karena senjata itu atau tidak menikah, apa solusinya?! Dan apakah ibunya dulu memiliki senjata? Apakah dia memiliki “sarjana”?! Dan ibumu sendiri apa yang dia miliki?! Apa senjata mereka?!! Sesungguhnya senjata adalah rida Allah.
Ya: Orang-orang ini melihat masa depan dan tidak menjalani realitas mereka, tidak menjalani hari mereka. Dan lihatlah di sekelilingmu untuk melihat bagaimana manusia hidup, dan bagaimana hati mereka tergantung pada hari esok.
Oleh karena itu, agar kau sampai pada rida Allah, hiduplah hari demi hari. Jadikan setiap hari sebagai target untuk mencapai derajat tertinggi di surga. Mulailah hari baru dari salat Subuh, dan masukkan dalam perhitunganmu bahwa ini adalah hari terakhir dalam umurmu. Oleh karena itu, tanyakan pada dirimu apa yang akan aku lakukan? Yang pertama: Aku bertaubat – Ya Allah terimalah taubat kami ya Tuhan.
Wahai saudara-saudara, apakah ada di antara kalian yang ingin bertaubat hari ini? Jika dia berkata: Ya, aku bertaubat, aku berkata: Dari apa? Dia berkata: Dari segalanya, aku berkata: Kau tidak jujur. Sesungguhnya orang yang berkata: Aku bertaubat dari segalanya ingin menipu Allah. Saudaraku, katakan kepadaku, tentukan bagiku dari dosa apa kau bertaubat? Dari memandang wanita, dari berbohong, dari rokok, atau dari tidur tidak salat Subuh, atau dari kemunafikan. Kau bertaubat dari apa? Dari memakan yang haram, atau dari mencukur jenggot. Dari apa kau bertaubat?!
Aku akan memberimu kesempatan lain sekarang – dan namakan itu ujian jika kau mau: Hadirkan dalam pikiranmu sekarang sebuah dosa, dosa yang berat dan bertaubatlah darinya sekarang. Kalau begitu, ayo kita bertaubat. Sekarang, sekarang. Ya Allah terimalah taubat kami ya Tuhan. Ya Allah terimalah taubat kami, sucikanlah dosa kami, dan kabulkanlah doa kami.
Ya – wahai saudara-saudara – kau memulai hari dan berkata: Hari ini aku akan bertaubat dari memandang wanita. Janji ya Tuhan. Perjanjian antara aku dan Engkau. Hari ini aku tidak akan memandang apa pun yang terjadi. Hari ini tantangan. Hari ini aku akan menghafal seperempat juz, hari ini aku akan membaca tiga juz, hari ini aku akan berpuasa, hari ini aku akan bersedekah lima pound. Dan demikianlah setiap hari kau bertanya pada dirimu: Apa yang akan aku kerjakan hari ini? Sehingga kau memiliki rencana kerja yang jelas. Kau menyelesaikan setiap hari sesuatu yang baru, sehingga hidupmu menjadi bermakna.
Ibnu Qayyim berkata: “Hamba sejak kakinya menetap di negeri ini, maka dia adalah musafir di dalamnya menuju Tuhannya, dan masa perjalanannya adalah umur yang telah dituliskan untuknya. Maka umur adalah masa perjalanan manusia di negeri ini menuju Tuhannya Ta’ala. Kemudian telah dijadikan hari-hari dan malam-malam sebagai tahap-tahap perjalanannya. Setiap hari dan malam adalah tahap-tahap, maka dia terus melipatnya tahap demi tahap sampai perjalanan berakhir. Maka orang yang cerdas dan pandai adalah orang yang menjadikan setiap tahap di depan matanya, lalu dia memperhatikan untuk melewatinya dengan selamat dan beruntung. Jika dia melewatinya, dia jadikan tahap berikutnya di depan matanya dan tidak memperpanjang ajalnya sehingga hatinya mengeras dan harapannya memanjang dan dia hadiri dengan penundaan, janji, dan penangguhan. Bahkan dia menganggap umurnya adalah tahap tunggal itu, lalu dia bersungguh-sungguh dalam melewatinya dengan sebaik-baik apa yang ada padanya. Karena jika dia yakin akan pendeknya dan cepatnya berlalu, mudah baginya beramal dan jiwanya taat untuk berbekal. Jika dia menyambut tahap lain dari umurnya, dia menyambutnya seperti itu juga. Maka terus begitulah kebiasaannya sampai dia melipat semua tahap umurnya, lalu dia memuji usahanya dan bergembira dengan apa yang dia siapkan untuk hari kefakiran dan kebutuhannya. Jika terbit fajar akhirat dan tersingkap kegelapan dunia, maka pada saat itulah dia memuji perjalanannya dan tersingkap darinya kesedihannya. Betapa baiknya dia menyambut harinya dan telah terbit paginya dan jelas kebahagiaannya.”
Jadi, kita ingin menjadikan setiap hari sebagai unit yang mandiri yang kita jalani dan kita rencanakan pada waktunya. Adapun “besok”, tidak ada hubungannya dengan kita. Ketika dia datang kita akan memikirkannya pada waktunya. Dan adapun “kemarin”, telah berlalu dan berakhir, tidak ada hubungannya dengan kita juga. Kita sekarang di “hari ini”, apa yang akan kita lakukan dengannya. Apakah kita akan menyia-nyiakannya dengan memikirkan “kemarin” dan “besok”, atau kita akan menjadikan hidup kita sebagai unit yang mandiri yang kita jalani hari demi hari agar kita nyaman dan merasa nyaman?
Saudaraku karena Allah, kau melewatkan salat kemarin, maka bertekadlah hari ini untuk tidak menyia-nyiakan salat fardhu berjamaah. Kemarin tidak ada kekhusyukan atau pemahaman atau konsentrasi dalam bacaan, dan otakmu sibuk. Maka bertawakallah hari ini kepada Allah, dan lemparkan bebanmu kepada-Nya agar kau sampai kepada-Nya, dan jalani harimu yang kau ada di dalamnya.
Jadilah anak harimu dan bangun bangunannya dengan menunaikan apa yang meridai Allah dan mendekatkan kepada-Nya, sehingga jika kau meninggal di hari ini, kau masuk surga – Ya Allah karuniakanlah kami surga ya Tuhan.
Dan Ibnu Qayyim juga berkata: “Tahun adalah pohon, dan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, dan hari-hari adalah ranting-rantingnya, dan jam-jam adalah daun-daunnya, dan napas-napas adalah buahnya. Maka barangsiapa napasnya dalam ketaatan, maka buah pohonnya baik, dan barangsiapa dalam kemaksiatan, maka buahnya pahit. Dan sesungguhnya panen adalah pada hari pembalasan, pada saat itulah tampak buah yang manis dari yang pahit.”
Para gadis yang sedang berhias di “Coiffeur” (salon kecantikan) di Dumyath dan bangunan runtuh menimpa mereka, mereka meninggal. Empat mempelai wanita dan gadis-gadis yang bersama mereka semua meninggal. Seandainya gadis mempelai itu mengira bahwa dia akan meninggal, pasti dia tidak masuk dan tidak pergi, dan pasti dia beramal dengan ketaatan kepada Allah di hari terakhir dia meninggalkan kehidupan sebagai persiapan untuk bertemu Allah. Dan demikianlah harimu, harus kau penuhi dengan ketaatan kepada Allah dengan meyakini bahwa ini adalah hari terakhirmu di dunia, jika tidak maka kematian akan datang kepadamu sebagaimana datang kepada para mempelai, lalu kau meninggal dan belum sampai kepada Allah.
Saudaraku karena Allah, kekasihku karena Allah, aku wasiatkan kepadamu dengan wasiat Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah rahimahullah ketika beliau berkata:
“Maka manfaatkanlah – semoga Allah merahmatimu – hidupmu yang berharga, dan jagalah waktu-waktumu yang mulia. Ketahuilah bahwa masa hidupmu terbatas, dan napasmu terhitung. Setiap napas mengurangi sebagian darimu. Dan umur itu semua pendek, dan yang tersisa darinya adalah yang sedikit. Dan setiap bagian darinya adalah permata berharga yang tidak ada penggantinya dan tidak ada gantinya. Karena dengan kehidupan yang sebentar ini adalah keabadian selamanya dalam kenikmatan atau azab yang pedih. Dan jika kau menyamakan kehidupan ini dengan keabadian selamanya, kau tahu bahwa setiap napas menyamai lebih dari seribu ribu tahun dalam kenikmatan. Dan apa yang seperti itu tidak ada nilainya. Maka jangan sia-siakan permata umurmu yang berharga tanpa ketaatan atau pendekatan diri yang kau dekati dengannya. Karena jika kau memiliki permata dari permata dunia, pasti kau sedih kehilangannya. Maka bagaimana kau menyia-nyiakan jam-jammu, dan bagaimana kau tidak sedih atas umurmu yang hilang tanpa ganti?!”
Dari Umar bin Dzar bahwa ia berkata: “Beramallah untuk diri kalian sendiri – semoga Allah merahmati kalian – maka inilah malam dengan kegelapannya, sungguh orang yang merugi adalah orang yang kehilangan kebaikan malam dan siang, dan orang yang terhalang adalah orang yang terhalang dari kebaikan keduanya. Sesungguhnya malam dan siang dijadikan jalan bagi orang-orang beriman menuju ketaatan kepada Rabb mereka, dan menjadi bencana bagi orang-orang lain karena kelalaian terhadap diri mereka sendiri. Maka hidupkanlah diri kalian untuk Allah dengan berdzikir kepada-Nya, karena sesungguhnya hati hidup dengan dzikir kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung. Betapa banyak orang yang berdiri untuk Allah yang Maha Agung di malam ini telah bergembira dengan qiyamnya (salat malam) ketika berada dalam kegelapan kuburnya. Dan betapa banyak orang yang tidur di malam ini telah menyesal atas tidur panjangnya ketika melihat kemuliaan Allah bagi para ahli ibadah esok hari. Maka manfaatkanlah berlalunya jam, malam, dan hari-hari – semoga Allah merahmati kalian. Muraqabahlah (awasilah) Allah yang Maha Agung setiap saat, dan lakukanlah syukur kepada-Nya secara terus-menerus.”
Oleh karena itu aku tuntut kepada engkau – saudaraku karena Allah – agar engkau sampai kepada ridha Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia dengan perkara penting: yaitu agar engkau memiliki pengasingan perasaan sepenuhnya dari masa depan dan apa yang terjadi di dalamnya, karena engkau tidak mengetahui yang gaib. Allah Rabb kita yang Maha Agung dan Maha Mulia berfirman:
“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok.” (Luqman: 34)
Dan janganlah engkau takut terhadap masa depan, karena Allah bersamamu menolongmu, dan Dia – Maha Suci – tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang saleh. “Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al-Kitab dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Al-A’raf: 196)
Maka tinggalkanlah kepedulian hari esok untuk hari esok, karena rezeki hari esok ada di sisi Rabbmu, dan boleh jadi “esok” datang namun tidak menjumpaimu. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah (akhir yang baik).
Maka lakukanlah hari ini yang engkau berada di dalamnya, dan curahkanlah segala kemampuanmu untuk menjadikan hari ini sebagai kendaraan untuk sampai kepada Allah Taala, karena boleh jadi ini adalah hari terakhirmu dalam kehidupan ini. Maka hari ini adalah harimu wahai pencari perjumpaan dengan Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Marilah untuk masuk menemui Allah dan berdampingan dengan-Nya di Darus Salam (negeri keselamatan) tanpa kepayahan, tanpa kelelahan, dan tanpa kesusahan, bahkan dari jalan yang paling dekat dan paling mudah. Yaitu bahwa engkau berada di waktu di antara dua waktu dan ini pada hakikatnya adalah umurmu, yaitu waktu sekarang antara yang telah berlalu dan yang akan datang. Adapun yang telah berlalu, engkau perbaiki dengan taubat, penyesalan, dan istighfar. Dan itu adalah sesuatu yang tidak ada kelelahan bagimu di dalamnya, tidak ada kepayahan, dan tidak ada beban amal yang berat. Ini hanyalah amal hati. Dan berhentilah dari dosa-dosa di masa yang akan datang. Penghentianmu adalah meninggalkan dan istirahat, bukan merupakan amal dengan anggota tubuh yang memberatkanmu untuk melakukannya. Ini hanyalah tekad dan niat yang sungguh-sungguh yang mengistirahatkan jasadmu, hatimu, dan batinmu. Maka yang telah berlalu engkau perbaiki dengan taubat, dan yang akan datang engkau perbaiki dengan berhenti, tekad, dan niat. Dan tidak ada kepayahan bagi anggota tubuh dalam kedua hal ini, dan tidak ada kelelahan. Akan tetapi persoalannya adalah pada umurmu, yaitu waktumu yang berada di antara kedua waktu. Jika engkau menyia-nyiakannya, engkau telah menyia-nyiakan kebahagiaanmu dan keselamatanmu. Dan jika engkau menjaganya dengan memperbaiki kedua waktu sebelumnya dan sesudahnya dengan apa yang telah kusebutkan, engkau akan selamat dan beruntung dengan ketenangan, kelezatan, dan kenikmatan.”
Inilah ringkasan perkataan wahai para pengembara: hari ini adalah harimu.
Prinsip Ketujuh: Hendaklah Rumahmu Mencukupimu
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada orang yang bertanya tentang keselamatan: “Tahanlah lidahmu, hendaklah rumahmu mencukupimu, dan menangislah atas dosamu.” (dishahihkan oleh Al-Albani)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Orang yang paling merugi transaksinya adalah orang yang sibuk dengan urusan manusia sehingga melalaikan dirinya sendiri, dan yang lebih rugi darinya adalah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri sehingga melalaikan Allah.”
Sebagian Salaf berkata: “Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah kesibukannya dengan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Sebagian Salaf juga berkata: “Tanda kebangkrutan adalah banyak berbicara tentang manusia.”
Ibnul Jauzi berkata: “Jika engkau melihat dirimu merasa tenteram dengan makhluk dan merasa kesepian dengan khalwat (menyendiri), maka ketahuilah bahwa engkau tidak layak untuk Allah.”
Ibnu Qudamah berkata: “Jika engkau melihat manusia kagum kepadamu, maka ketahuilah bahwa mereka hanya kagum dengan perlindungan Allah atasmu. Maka janganlah engkau mengusir lalat dari manusia sementara batumu penuh dengan kalajengking.”
Musibah zaman kita adalah kesibukan dengan urusan manusia. Dan termasuk kesibukan dengan selain Allah adalah kesibukan dengan media massa, surat kabar, majalah, dan televisi. Dan sangat disayangkan, sebagian saudara mulai memiliki televisi, dan ini adalah kemunduran… kemunduran. Para ulama berkata: Fitnah adalah ketika engkau menghalalkan apa yang dulu engkau anggap haram. Maka orang yang dahulu keyakinannya bahwa televisi haram dan hari ini mulai memasukkannya ke rumahnya, maka ia terfitnah – sebagaimana telah kami sebutkan.
Dan engkau menemuinya berkata: Aku memasukkannya ke rumahku untuk mengikuti berita agar mengetahui peristiwa dunia, dan menonton beberapa saluran yang bermanfaat… Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa duduk hari ini di depan berita tanpa batasan adalah fitnah… Ya: fitnah, karena engkau bisa sibuk dengan urusan dunia sehingga melalaikan dirimu sendiri.
Wahai saudaraku, sesungguhnya apa yang kalian saksikan di berita mengenai peristiwa Palestina – Ya Allah singkapkanlah kesusahan dari mereka, Ya Allah balaskanlah kaum Yahudi dan segerakanlah kehancuran mereka – dan semua yang terjadi, tidak setara dengan sepersepuluh dari sepersepuluh dari satu per seratus ribu dibandingkan dengan apa yang terjadi di tempat-tempat lain. Akan tetapi tempat-tempat lain mereka sembunyikan dan tutup dari kalian, sedangkan ini mereka buka untuk kalian saksikan. Mengapa? Apa rahasianya?! Sesungguhnya api yang mereka kobarkam dalam jiwa-jiwa memiliki illat (sebab), maka waspadalah agar engkau tidak jatuh dalam kesyirikan.
Sesungguhnya kita – wahai saudaraku – berada di zaman pengecilan tokoh-tokoh besar dan pengecilan masalah-masalah besar. Oleh karena itu, isu yang selalu meresahkan kalian, isu Palestina… ini adalah isu yang sangat besar yang mereka kecilkan di Palestina, kemudian mereka mengecilkannya lebih lagi di Yerusalem. Padahal isu ini lebih besar dari itu. Seandainya Israel memberikan kepada rakyat Palestina negara merdeka yang berdaulat dengan batas wilayah dan berhenti membunuh kaum muslimin, apakah dengan begitu isu selesai? Tidak. Menurut mereka selesai, tetapi menurut kita tidak selesai dan tidak akan pernah selesai. Isunya adalah kaum Yahudi, bukan Palestina – Ya Allah balaskanlah kaum Yahudi. Ini contoh media di dunia, lalu apa manfaatnya menyia-nyiakan energi pemuda di depan layar-layar ini?!
Sesungguhnya mereka yang duduk hari ini di depan televisi dan ingin menyelamatkan Palestina, engkau melihat mereka sebagai orang yang paling stagnan. Engkau melihat salah seorang dari mereka sibuk mendengar berita lebih dari memegang mushaf. Ia terus berbicara tentang berita dan memindahkannya lebih dari berdzikir dan berdoa. Jika demikian, maka menonton dan sibuk dengan hal-hal yang sia-sia ini tidak menyelamatkan kaum muslimin. Engkau harus memahami situasinya. Kita ingin menghentikan tontonan dan kesibukan dengan urusan manusia, karena itu adalah posisi orang yang lemah, hina, dan pengecut. Dan hendaknya kita sibuk dengan diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum segala sesuatu, karena dengan perbaikan diri akan terperbaiki umat dan akan datang kemenangan.
Oleh karena itu para ulama berkata tentang isu ini: Fitnah itu berputar, dan mereka menyebut apa yang terjadi sekarang sebagai “pusaran fitnah.”
Pusaran, apakah engkau pernah melihatnya? Fitnah seperti itu, berputar. Maka sangat mungkin dalam putaran fitnah itu mengenai kita. Sangat mungkin besok engkau menemui musuh di depan rumahmu. Kira-kira saat itu, apakah engkau akan teguh atau menjual agamamu?! Dan isterimu, apakah ia akan teguh atau menjualmu?! Dan anak-anakmu, apakah mereka akan teguh dalam agama ataukah mereka akan tersesat, tersekulerkan, dan terlantar?!
Renungkanlah apa yang kukatakan kepadamu dan berhentilah dengan dirimu sendiri, berhenti sebagai laki-laki yang menginginkan keselamatan untuknya. Sibukkan dirimu dengan dirimu sendiri dan penghuni rumahmu. Allah Taala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Ya: Sesungguhnya kesibukanmu dengan dirimu sendiri adalah prinsip. Allah berfirman: “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri.” (An-Nisa: 84)
Dan Dia berfirman: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Al-An’am: 164)
Maka prinsip dalam Islam adalah: Selamatkanlah dirimu terlebih dahulu.
Wahai saudara yang mulia, pertanyaan yang jelas, spesifik, dan terus terang, dan memerlukan jawaban yang tegas: Bagaimana keadaanmu dengan Allah?
Aku bertanya kepadamu sekarang juga: Sekarang, apakah Allah ridha kepadamu? Jawablah dan janganlah engkau sombong. Seandainya engkau mati hari ini pada saat ini, apakah engkau akan bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di surga?! Inilah isu yang kumaksudkan. Bahwa engkau menjadikan dirimu sebagai isumu, dan ridha Rabbmu kepadamu adalah tema hidupmu.
Ya para pemuda: Kita semua sibuk, tetapi 99% kesibukan dengan orang lain, 99% kesibukan dengan diri kita bukan karena Allah. Bahkan bagian kecil yang kita sibukkan untuk memperbaiki diri kita tidak karena Allah – wa laa haula wa laa quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keikhlasan dan jadikanlah kami termasuk ahlinya. Oleh karena itu, janganlah engkau tertipu dengan ibadah yang engkau lakukan, ketaatan yang engkau tegakkan, amal saleh yang engkau persembahkan, dan ibadah yang engkau banggakan bentuknya padahal sejatinya itu termasuk fitnah.
Wahai saudaraku karena Allah, kekasihku karena Allah, renungkanlah bersamaku kisah ini: Seorang laki-laki dari kalangan sufi keluar ke padang pasir untuk beribadah kepada Allah, lalu ia menemukan di padang pasir di atas tanah seekor burung gagak yang buta dan sayapnya patah. Ia berhenti merenungi: Subhanallah! Burung gagak yang buta dan patah sayapnya di padang pasir! Dari mana ia makan dan minum, dan bagaimana ia hidup?! Sementara ia sedang melihat, tiba-tiba datang burung gagak lain, lalu berhenti. Burung gagak yang buta membuka mulutnya, maka burung gagak yang lain memberinya makan di mulutnya dan memberinya minum hingga kenyang. Laki-laki itu heran dan berkata: Subhanallah! Demi Allah, Allah telah memperlihatkan kepadaku sebuah ayat (tanda). Masih pantaskah setelah ini aku bersusah payah mencari rezeki? Lalu ia pergi ke sebuah gua dan tinggal di sana. Seorang ulama mendengar tentangnya, lalu bertanya tentang tempatnya. Mereka berkata: Ia pergi ke gua untuk beribadah. Maka ia pergi kepadanya dan berkata: Apa yang membuatmu melakukan apa yang engkau lakukan? Ia menceritakan kisah burung gagak kepadanya. Ia berkata kepadanya: Subhanallah! Dan mengapa engkau rela menjadi yang buta?!!
Subhanallah al-Azhim, betapa banyak manfaat dalam kisah ini! Di antaranya: pembenaran hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku lalu memahaminya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, karena boleh jadi orang yang menerima penyampaian lebih memahami daripada yang mendengar.” (dishahihkan oleh Al-Albani)
Maka Allah memperlihatkan tanda kepada laki-laki pertama, adapun yang kedua hanya mendengarnya tetapi ia mendapat manfaat darinya lebih dari yang pertama, maka ia lebih baik dari yang pertama. Maka mengapa engkau tidak menjadi yang lebih baik?!
Mengapa engkau rela menjadi yang buta?! Mengapa engkau tidak menjadi yang melihat dan memberi makan yang buta?! Mengapa engkau rela dengan kehinaan?! Mengapa engkau memilih tidur dan malas?! Inilah realita sekarang di umat, pemudanya hari ini lebih memilih kebutaan. Mereka ingin tidur dan orang lain bekerja untuk mereka. Mereka menunggu orang yang menanggung beban mereka dan menyelesaikan masalah mereka.
Ya – wahai saudaraku -: Banyak dari kita selalu menuntut haknya dan tidak memperhatikan kewajibannya. Maka sebelum engkau menuntut hakmu, tunaikanlah kewajibanmu. Dan tidak diragukan bahwa kewajiban pertama kita adalah terhadap diri kita sendiri. Dan sangat disayangkan, engkau duduk bersama sebagian saudara, lalu salah seorang dari mereka berkata: Aku khawatir terhadap si fulan, karena ia berhari-hari tidak salat Subuh. Aku katakan kepadanya: Khawatirlah engkau terhadap dirimu sendiri.
Ya: Tidak masalah kita khawatir terhadap saudara-saudara kita, akan tetapi tidak sepatutnya kita sibuk dengan aib-aib mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian melihat serpihan kayu kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat balok di matanya sendiri.” (Mauquf kepada Abu Hurairah)
Jika engkau – wahai ini – jujur dalam ucapanmu “aku khawatir terhadap si fulan,” maka pergilah kepadanya secara rahasia, dan cariah ia, boleh jadi ia terlibat dalam masalah, boleh jadi ia punya alasan. Pergilah kepadanya dan bantulah ia untuk bangun salat. Dan jika tidak, cegahlah kejahatanmu darinya, dan janganlah engkau menolong setan atas dirinya, dan sibukkan dirimu dengan dirimu sendiri, karena ini lebih utama bagimu.
Lazimilah dirimu dan lazimilah ia dalam ketaatan kepada Allah. Pikullah beban dirimu, karena ini adalah prinsip dari prinsip-prinsip yang penting. Dan hendaklah rumahmu mencukupimu. Sibukkan dirimu dengan memperbaiki hatimu, urusan salatmu, dzikirmu kepada Allah, hafalanmu terhadap Al-Quran, belajar ilmu, dakwahmu kepada Allah, dan pendidikan anak-anakmu dan penghuni rumahmu berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan hendaklah rumahmu mencukupimu.
Prinsip Kedelapan: Orang Yang Jujur Adalah Kekasih Allah
Aku ingin bertanya kepadamu satu pertanyaan, dan jawablah dengan jujur: demi Allah, apakah kamu ingin masuk surga ataukah kamu ingin memiliki sejuta pound hari ini?! Jangan jawab sekarang karena kamu akan berbohong, mungkin kamu akan berkata: keduanya, kita kumpulkan dua kebaikan tersebut… berikan aku sejuta pound dan masukkan aku juga ke surga. Aku katakan: tidak… tidak bisa, karena persoalannya adalah pilihan antara dunia atau akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya akhirat telah datang menghadap, dan sesungguhnya dunia telah pergi membelakangi, dan masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia.”
Barangsiapa yang disibukkan dengan dunianya, pasti akan merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang disibukkan dengan akhiratnya, pasti akan merusak dunianya, dan ini tidak bisa dihindarkan.
Syu’bah bin Hajjaj, Amirul Mukminin dalam hadits, berkata: “Aku menetapi ilmu hadits maka aku jatuh miskin, sedangkan saudaraku si fulan menetapi kedainya maka ia berhasil dan sukses.” Ia berkata: “si fulan terus berdagang hingga ia menjadi orang yang memiliki jutaan, sedangkan aku menuntut ilmu dan sekarang tidak memiliki sesuatu pun.” Oleh karena itu, Imam Syafi’i berkata: “Tidak layak menuntut ilmu ini kecuali seorang laki-laki yang dipukul oleh kemiskinan.” Mereka bertanya: “Bagaimana dengan orang kaya yang berkecukupan?” Ia menjawab: “Tidak…” Artinya: bahkan orang yang memiliki harta yang mencukupinya tidak layak menuntut ilmu. Untuk itulah aku katakan tanpa berlebihan: kalian semua tidak layak menuntut ilmu, karena kita – wahai para pemuda – adalah orang-orang yang berorientasi dunia. Mari kita jujur, tegas, dan terang-terangan… karena seandainya kita mencari Allah, kita akan ridha dengan kecukupan.
Baqiy bin Makhlad, seorang ulama murid Imam Ahmad, ketika para penuntut ilmu mengadu tentang kemiskinan kepadanya, ia berkata: “Demi Allah, pernah ada hari di mana aku menjual celanaku untuk membeli kertas, dan sungguh pernah berlalu hari-hari di mana aku tidak merasakan makanan sama sekali, maka aku berpindah-pindah di antara tempat sampah memakan daun kubis yang dibuang orang-orang.” Ya, inilah penuntut ilmu… dan inilah akhirat… dan merekalah orang-orang yang jujur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah orang yang diberi petunjuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan dijadikan qana’ah oleh Allah dengan apa yang diberikan kepadanya.” [dishahihkan oleh Al-Albani]
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekadarnya saja.” [Bukhari]. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyimpan untuk esok hari.
Saudaraku, apa yang dimaksud dengan kejujuran? Karena orang-orang hari ini telah mengecilkan masalah kejujuran, ketika seseorang datang berbicara tentang kejujuran, pikiran langsung tertuju kepada mengatakan yang benar dan kejujuran lisan saja, padahal kejujuran jauh lebih besar dari itu. Ya, kita berada di zaman mengecilkan yang besar… mengecilkan dosa-dosa besar dan perkara-perkara besar serta membesarkan hal-hal kecil dan masalah-masalah kecil. Dan kejujuran lebih besar dari yang kalian sangka.
Kejujuran – saudaraku – adalah Islam itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surat Az-Zumar: 33). Dan Tuhan kita berfirman: “Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu ialah (kebaikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yang menepati janjinya apabila berjanji, dan yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Surat Al-Baqarah: 177). Setelah Allah menyebutkan rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam, Dia berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang benar.” Jadi kejujuran adalah seluruh agama. Dan takwa juga mencakup seluruh agama, karena setiap ketaatan adalah takwa.
Namun jenis kejujuran yang paling mulia adalah: kejujuran dalam tekad. Allah Ta’ala berfirman: “(Itu adalah) ketaatan dan perkataan yang baik. Apabila telah ditetapkan perintah (untuk berperang), maka jika mereka benar (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Surat Muhammad: 21). Ayat ini sangat memukau. Bacalah sekali lagi. Apakah kamu memahaminya?
Aku bertanya: apakah kamu memiliki keinginan untuk masuk surga? Apakah kamu siap untuk berdiri sepanjang malam, kemudian puasa di siangnya, dan bersedekah dengan setengah dari hartamu? Kamu berkata: ya, insya Allah. Dan inilah yang Allah katakan dalam ayat tersebut: “Ketaatan dan perkataan yang baik”. Kamu melihat orang ini mendengar perkataan lalu berbicara dengan kata-kata yang indah, “apabila telah ditetapkan perintah”… Tahukah kamu apa makna dari titik-titik ini?! Artinya apabila perintah telah ditetapkan, kamu tidak menemukan seorang pun, “maka jika mereka benar kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Tuhanmu berfirman: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika engkau (Muhammad) memerintahkan kepada mereka (untuk berperang), pastilah mereka akan berangkat. Katakanlah, ‘Janganlah kamu bersumpah, (karena) ketaatan (kamu) itu sudah dikenal (palsu)’.” (Surat An-Nur: 53).
Aku memiliki buku kecil bernama “Ayat-Ayat yang Membongkar”. Aku kumpulkan di dalamnya ayat-ayat yang membongkar batin dan menampakkan kebenaran serta menyingkap keburukan tersembunyi, ayat-ayat yang ketika kamu membacanya kamu merasa bahwa ayat itu berbicara tentangmu dan mengarahkan jari tuduhan kepadamu, dan ayat ini termasuk di antaranya, ayat yang benar-benar membongkar. Di waktu berbicara kamu menemukannya, tetapi di waktu keseriusan dan pelaksanaan kamu sama sekali tidak menemukan seorang pun. Ya Allah, tutuplah aib kami dan jangan Engkau membongkar kami, ya Allah, sejahterakanlah kami dan jangan Engkau uji kami, ya Allah, terimalah tobat kami wahai Tuhan semesta alam, ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau anugerahi kami kejujuran dan keikhlasan, ya Allah, anugerahilah kami kejujuran tekad bersama-Mu wahai Allah. Amin.
Saudaraku, jujurlah dalam tekad kalian kepada Allah, dan bersiaplah untuk memenuhi tekad ini, karena jiwa terkadang dermawan dengan tekad saat itu, karena tidak ada kesulitan dalam janji dan tekad, tetapi ketika kebenaran telah nyata dan syahwat telah bergejolak, tekad pun menjadi kendur dan tidak terwujud pemenuhan terhadap tekad tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) sedikitpun.” (Surat Al-Ahzab: 23)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Pamanku Anas bin Nadhr – aku dinamai menurut namanya – tidak mengikuti perang Badar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu membuatnya sedih. Ia berkata: perang pertama yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi aku tidak hadir!! Demi Allah, sungguh jika Allah memperlihatkan kepadaku perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Allah akan melihat apa yang akan aku lakukan.’ Dia takut mengatakan selain itu, lalu ia mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Uhud tahun berikutnya. Lalu ia bertemu Sa’d bin Mu’adz, ia berkata: ‘Wahai Abu Amru, mau ke mana?’ – peringatan atas kesalahannya dalam mundur dan melarikan diri. Kemudian Anas berkata: ‘Wah, bau surga!! Aku menciumnya di kaki Gunung Uhud.’ Maka ia bertempur hingga terbunuh, dan ditemukan di tubuhnya delapan puluhan lebih, antara bekas sabetan, tusukan, dan lemparan. Bibiku Ar-Rabi’ binti An-Nadhr berkata: ‘Maka aku tidak mengenali saudaraku kecuali dari ujung jarinya.’ Dan turunlah ayat ini: ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) sedikitpun.'” (Surat Al-Ahzab: 23) [Muttafaq ‘alaih]. Sungguh luar biasa seorang yang jujur yang rabbani!! Ia merasakan manisnya amal sebelum memulainya, ia mencium bau surga sebelum berperang! Dan itu semua tidak lain karena kejujurannya dalam memenuhi tekad.
Saudara-saudaraku yang tercinta, di antara bukti kuat tentang kejujuran dalam kisah Ashabul Ukhdud: ketika anak kecil itu belajar tauhid dari pendeta dan belajar kekufuran dari tukang sihir, di dalam hatinya ada kehendak yang jujur untuk mengetahui kebenaran, ada kecenderungan fitrah kepada pendeta tetapi ia ingin memiliki keyakinan bahwa apa yang ia anut adalah benar.
Ia berkata: ketika ia melihat binatang yang menghalangi jalan orang-orang: “Ya Allah, jika urusan pendeta lebih Engkau cintai, maka bunuhlah binatang ini dan biarkan orang-orang berjalan.” Karena ia jujur dalam mencari kebenaran, Allah memperlihatkan kepadanya tanda. Dan ini adalah poin yang sangat penting, bahwa ia jujur maka Allah mengenalkannya kepada kebenaran, lalu ia mengenalnya dan berjalan di atasnya dan teguh. Gurunya dipotong menjadi dua bagian di hadapannya, temannya dipotong menjadi dua bagian di hadapannya, ia dinaikkan ke gunung dan dimasukkan ke laut tetapi ia dalam keteguhan yang sempurna. Dan tanda kejujuran adalah bahwa ia menunjukkan kepada raja bagaimana membunuhnya!! Anak kecil itu berkata kepada raja: “Engkau tidak akan membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan, ambillah anak panah dari tabasku dan letakkan di busurmu kemudian katakan: Bismillah, Tuhan anak kecil ini, barulah engkau membunuhku.” Jadi anak kecil itulah yang menunjukkan kepada raja bagaimana membunuhnya. Dan mengapa ia mengorbankan dirinya demi dibunuh?! Agar orang-orang mendengar kalimat: Bismillah… agar orang-orang tahu bahwa mereka memiliki sesembahan yang bernama Allah. Inilah kejujuran.
Bukti kedua tentang kejujuran dari kisah yang sama: pendeta ketika anak kecil datang kepadanya dan berkata: ada binatang yang menghalangi jalan orang-orang lalu aku melemparnya dan membunuhnya, pendeta berkata kepadanya: “Wahai anakku, hari ini engkau lebih utama dariku.” Jujur. Ia tidak menyembunyikan keutamaan tersebut. Bahkan tukang sihir pun jujur dengan dirinya sendiri. Kalian tahu bahwa tukang sihir adalah pembohong besar, tetapi ia jujur dengan dirinya sendiri, di mana ia berkata kepada raja: “Sesungguhnya aku sudah tua, maka berikanlah kepadaku seorang anak yang akan kuajarkan sihir agar menjadi penggantimu setelahku.” Tukang sihir berkata: aku akan mati. Ia tidak menyanjung dirinya sendiri – meskipun ia menyanjung orang lain.
Jadi anak kecil itu jujur maka ia mengetahui (kebenaran), pendeta jujur maka ia tidak takut, dan tukang sihir jujur maka ia tidak menyanjung dirinya sendiri.
Jika kamu heran dengan perkataan kami: tukang sihir jujur dengan dirinya sendiri, maka yang lebih mengherankan adalah mereka yang tidak mencapai tingkat itu “jujur dengan diri sendiri”. Mereka yang menyanjung diri bahkan terhadap kenyataan. Sesungguhnya sebagian dari kita – dan sangat disayangkan – berbohong satu kebohongan lalu kebohongan itu membesar hingga ia memercayainya. Ia berkomitmen pada kebohongan hingga kebohongan itu membesar, dan lupa bahwa dialah yang membuat kebohongan itu pada awalnya, lalu ia hidup dalam kebohongan “syekh” atau “orang yang berkomitmen”… persis seperti orang yang di tangannya ada kotoran kambing yang ia muakkan, tetapi orang-orang mengiranya kurma, maka mereka berkata: kurma… kurma yang lezat di tangannya… maka ia memakannya!!! Ya, ia memakannya karena hina dirinya.
Muhammad bin Ka’b berkata: sesungguhnya pembohong berbohong karena rendahnya dirinya di hadapan dirinya sendiri.
Sebagian mereka berkata: tidak akan mencium bau kejujuran orang yang menyanjung dirinya sendiri atau orang lain.
Juga di antara kisah-kisah yang menarik, bahwa ada seorang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis dan membawa surat, ia berjalan di jalan lalu memberikan surat itu kepada seorang laki-laki untuk membacakannya, tetapi laki-laki ini penglihatannya lemah, ia mencoba membaca tetapi tidak bisa, lalu ia mengeluarkan kacamatanya dan membacakannya dan menjelaskan kepadanya isi surat itu. Maka si buta huruf itu berkata dalam hatinya dengan heran: kacamata melakukan semua ini!! Dan ia berkata kepada laki-laki itu: apa kacamata ajaib ini?! Laki-laki itu berkata: ini kacamata baca. Maka ia pergi membeli kacamata baca dan memakainya lalu melihat dengannya tetapi tidak bisa membaca!! Dan ia lupa bahwa persoalannya bukan pada kacamata… persoalannya pada otak yang berada di balik kacamata. Paham apa yang kumaksud?!
Sebagian orang mengira bahwa karena ia telah memanjangkan janggutnya, membaca dua buku, mendengarkan beberapa kaset, dan menghadiri beberapa pelajaran, ia telah menjadi “imam”. Tidak, wahai anakku, persoalannya pada hati yang berada di balik kacamata… pada hati yang berada di balik penampilan. Ya – saudaraku -: penampilan harus sesuai dengan batin, kalau tidak maka kita adalah pembohong, penipu, yang menipu diri kita sendiri sebelum orang lain.
Abdul Wahid bin Zaid berkata: Al-Hasan Al-Bashri apabila memerintahkan sesuatu, ia adalah orang yang paling banyak mengamalkannya, dan apabila melarang sesuatu, ia adalah orang yang paling meninggalkannya, dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang rahasia dan terang-terangannya lebih mirip darinya. Abu Abdurrahman Az-Zahid berkata: “Tuhanku, aku memperlakukan manusia dalam hubungan antara aku dan mereka dengan amanah, dan aku memperlakukan-Mu dalam hubungan antara aku dan Engkau dengan khianat.” Dan ia menangis.
Abu Ya’qub An-Nahrjuri berkata: Kejujuran adalah kesesuaian dengan kebenaran dalam rahasia dan terang-terangan.
Saudaraku, jujurlah dalam amal-amal kalian kepada Allah. “Karena bertentangannya lahir dengan batin dengan sengaja adalah riya, dan jika tidak disengaja maka akan menghilangkan kejujuran. Terkadang seseorang berjalan dengan sikap tenang dan berwibawa padahal batinnya tidak memiliki wibawa tersebut, maka ini tidak jujur dalam amalnya, meskipun ia bukan orang yang riya.”
Pertanyaan: apakah kamu suka jika Allah memenangkan Islam? Andai saja seluruh umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sepertimu… andai seluruh umat, anak kecil dan besar, persis sepertimu… dengan dosa-dosamu, cacatmu, imanmu, dan amal-amalmu… apakah umat akan menang?! Umat menang dengan orang-orang yang tulus ikhlas. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas.
Apakah kamu layak untuk kemenangan?! Tidak mungkin, karena jika kamu berkata: ya, maka kamu sangat sombong. Maka aku katakan kepadamu: sesungguhnya perkataanmu bahwa kamu suka jika Allah memenangkan Islam adalah bohong… kemenangan pertama agama adalah kamu memperbaiki dirimu sendiri. Dari sini permulaannya.
Oleh karena itu, ketika aku berkata kepadamu: apakah kamu layak menjadi pembaharu Islam? Janganlah kamu berkata: Allah yang dimintai pertolongan, lalu pergi. Tidak. Karena kalimat “Allah yang dimintai pertolongan” ini membutuhkan pekerjaan, membutuhkan ilmu dan ibadah, membutuhkan hubungan dengan Allah, membutuhkan usaha siang malam. Jika kamu jujur kepada Allah maka kemari dan galilah parit untuk dirimu sendiri… gali sendiri… gali dan berjerih payahlah, karena urusan agama membutuhkan pekerjaan, begadang, dan jihad. Maka jujurlah dan jangan menjadi pembohong.
Imam Nawawi ketika datang kematiannya, orang-orang berkata kepadanya: Mengapa engkau tidak menikah? Ia menjawab: Kalau saja aku ingat, tentu akan aku lakukan… aku lupa… Dan Imam Ibnu Taimiyah juga meninggal tanpa menikah… dia juga lupa… Mahasuci Allah Yang Mahaagung! Mereka lupa menikah, persoalan yang hampir membuat akal para pemuda hari ini terguncang… khususnya yang berkomitmen dalam agama.
Ya: sejak hari seorang pemuda berkomitmen pada agama, tidak akan kau dapati sesuatu di kepalanya yang ia pikirkan siang malam kecuali pernikahan. Maka pernikahan menjadi kesibukan utamanya dan kegelisahan yang terus-menerus, dan karenanya pernikahan menjadi penghalang… Kau akan melihatnya ketika melihat wanita bercadar berkata: Apakah aku akan menikahi yang ini… tidak tidak, bahkan yang ini… begitu seterusnya… Mereka ini bukan orang-orang yang diharapkan menjadi laki-laki sejati… Apakah mereka ini yang akan memikul agama?!… Apakah mereka ini yang akan Allah menangkan agama dengan mereka?!!, Dan di manakah para laki-laki sejati?!!!, bahkan di manakah setengah laki-laki?!, bahkan di manakah yang menyerupai laki-laki?!!… Aduhai, betapa menyedihkannya nasib para laki-laki!!
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Allah menolong agama dengan laki-laki yang urusannya adalah agama… laki-laki yang benar-benar menepati janji mereka kepada Allah… laki-laki yang tidak mengenal selain Allah… laki-laki yang mencintai Allah dan dicintai-Nya… laki-laki yang benar-benar jujur.
Wahai saudara-saudaraku, jujurlah kepada Allah dalam istiqamah kalian… istiqamahlah dengan jujur dan jangan menoleh kepada selain Allah.
Seorang penyair berkata:
Kami menginginkan kalian murni, namun ketika kalian bercampur… kalian menjauh seukuran atensi kalian terhadap kami
Dan kami berkata kepada kalian jangan tempatkan selain kami di hati… lalu kalian tempatkan yang lain, kalian bukan dari kami
Ja’far ash-Shadiq berkata: Kejujuran adalah perjuangan, dan bahwa engkau tidak memilih selain Allah atas-Nya, sebagaimana Dia tidak memilih selain engkau atas diri-Mu. Allah Ta’ala berfirman: “Dia telah memilih kalian” (Al-Hajj: 78).
Dan kejujuran – wahai saudara-saudaraku – adalah kunci ash-shiddiqiyyah (derajat orang-orang yang sangat jujur), dan tingkatan tertinggi dari kejujuran adalah: sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Dan sesungguhnya seseorang itu terus-menerus jujur hingga dituliskan di sisi Allah sebagai ash-shiddiq” [Muttafaq ‘alaih]. Maka kejujuran adalah kunci ash-shiddiqiyyah, permulaan dan tujuan akhirnya. Maka tidak akan mencapai derajatnya seorang pendusta sama sekali, tidak dalam ucapannya, tidak dalam amalnya, dan tidak dalam keadaannya… Allah Ta’ala berfirman tentang Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu: “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Az-Zumar: 33).
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Allah menamakan Abu Bakar di langit sebagai ash-shiddiq.
Maka orang yang membawa kebenaran: adalah orang yang keadaannya jujur dalam ucapan, amalan, dan keadaannya.
Maka kejujuran: dalam tiga hal ini. Kejujuran dalam ucapan: keselarasan lisan atas ucapan-ucapan, seperti kelurusan bulir gandum di atas batangnya. Dan kejujuran dalam amal: keselarasan perbuatan atas perintah dan keteladanan, seperti kelurusan kepala di atas tubuh. Dan kejujuran dalam keadaan: keselarasan amal hati dan anggota tubuh atas keikhlasan, dan mencurahkan upaya, dan mengerahkan kemampuan. Maka dengan demikian hamba menjadi termasuk orang-orang yang membawa kebenaran. Dan sesuai dengan kesempurnaan hal-hal ini padanya dan tegaknya dalam dirinya, maka jadilah derajat kejujurannya. Dan karena itu Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu memiliki puncak tertinggi ash-shiddiqiyyah, dinamakan: “ash-Shiddiq” secara mutlak, dan “ash-Shiddiq” lebih tinggi dari ash-Shaduq.
Dan ash-Shaduq lebih tinggi dari ash-Shadiq. Maka tingkatan tertinggi dari kejujuran: derajat ash-shiddiqiyyah, yaitu kesempurnaan ketundukan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersama kesempurnaan keikhlasan kepada Yang Mengutus.
Ibnu Qayyim berkata: “Guru kami berkata: Dan ash-shiddiq lebih sempurna dari al-muhaddats (orang yang diajak bicara oleh malaikat), karena ia tidak membutuhkan dengan kesempurnaan kejujurannya dan ketaatannya kepada pembicaraan dan ilham dan penyingkapan. Karena sesungguhnya ia telah menyerahkan hatinya dan rahasianya dan lahir dan batinnya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ia tidak membutuhkan apa yang darinya. Beliau berkata: Dan al-muhaddats ini memaparkan apa yang dibicarakan kepadanya kepada apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sesuai ia terima, jika tidak ia tolak. Maka diketahui bahwa derajat ash-shiddiqiyyah di atas derajat at-tahdits”.
Dan pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tanda ash-shiddiqiyyah, dan piagam al-wilayah an-nabawiyyah (kewaliallahan kenabian), dan di dalamnya terdapat perbedaan tingkatan para ulama, hingga seribu dihitung dengan satu.
Saudaraku karena Allah, kekasihku karena Allah, orang yang jujur adalah kekasih Allah. Apakah engkau menginginkan Allah ataukah menginginkan dunia?… Apakah engkau menginginkan surga ataukah menginginkan syahwatmu?… Menginginkan kemuliaan di dunia ataukah menginginkan kedudukan tinggi di surga?… Ini persoalan yang membutuhkan kejujuran darimu… Maka bersikaplah jujur kepada Allah, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda: “Bersikaplah jujur kepada Allah, niscaya Allah akan jujur kepadamu” [Dishahihkan oleh Al-Albani]. Abu Sulaiman berkata: Jadikanlah kejujuran sebagai kendaraanmu, dan kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Ta’ala sebagai tujuan permintaanmu.
Dzun Nun al-Mishri berkata: Kejujuran adalah pedang Allah di bumi-Nya, tidaklah diletakkan pada sesuatu kecuali memotongnya.
Dan dikatakan: Barangsiapa mencari Allah dengan kejujuran, Allah memberinya cermin yang dengannya ia melihat kebenaran dan kebatilan.
Muhammad bin Sa’id al-Maruzi berkata: Jika engkau mencari Allah dengan kejujuran, Allah Ta’ala mendatangkan kepadamu cermin di tanganmu, engkau melihat segala sesuatu dari keajaiban dunia dan akhirat.
Abu Sulaiman berkata: “Barangsiapa kejujuran menjadi perantaranya, maka keridhaan dari Allah adalah pahalanya”… Maka bersikaplah jujur kepada Allah – saudaraku – karena orang yang jujur adalah kekasih Allah.
Prinsip Kesembilan: Selalu Dalam Muamalah Adalah Menarik Dari Saldo
Dalam muamalah dengan Allah Jalla Jalaluhu selalu adalah menarik dari saldo.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan kepada mereka sebagian dari dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (Surat Al-Ma’idah: 49).
Dan engkau sedang berjalan di jalanmu menuju Allah tiba-tiba tersendat, engkau tidak mampu melakukan ketaatan, tidak mampu melakukan qiyamul lail misalnya, dan kita bertanya apa sebabnya?!.
Sufyan berkata: Aku menggunjing seseorang maka aku terhalang qiyamul lail selama sebulan… Dan sebagian mereka berkata: Aku berbuat dosa maka aku sejak empat tahun ini mundur… empat tahun dalam kemunduran karena sebuah dosa… Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat” (Ali ‘Imran: 155).
Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu… Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit”… Inilah makna kalimat “menarik dari saldo”. Maka harus ada bagimu di sisi Allah saldo sebelumnya dari kebaikan yang menghasilkan kebaikan baru, Allah menerima keduanya dan keduanya menjadi saldo bagimu di masa depan.
Dan demikianlah… “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka takwa mereka” (Muhammad: 17). Maka setiap kali mereka bertambah petunjuk, Allah memberikan kepada mereka takwa, dan setiap kali mereka bertambah takwa, Allah menambah kepada mereka petunjuk.
Sesungguhnya muamalah dengan Rabb kita Yang Maha Mulia itu agung, dan semakin tinggi saldomu di sisi-Nya semakin berlimpah rezekimu dari-Nya dalam kebaikan.
Lihatlah kepada tiga orang yang tertimpa batu besar di dalam gua. Ketika mereka pada awalnya ikhlas, dengan bukti bahwa mereka bertawasul dengan amal yang di dalamnya mereka ikhlas, Allah memberi mereka pemahaman untuk bertawasul dengannya… artinya: agar Allah memberimu pemahaman maka harus ada padamu amal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Dia adalah pelindung mereka dengan apa yang mereka kerjakan” (Al-An’am: 127). Maka al-wilayah (perlindungan) membutuhkan amal. Jadi ketika engkau datang untuk memulai muamalah dengan Allah, engkau menarik dari saldomu yang terdahulu dari amal-amal di sisi-Nya, dengan itu engkau mendatangkan penambahan dan yang baru.
Dan permulaan – tidak diragukan – membutuhkan perjuangan. Karena itu para ulama berkata: “Barangsiapa memiliki permulaan yang membara, maka baginya akhir yang bersinar”… Bahwa menjadi start awal itu kuat, berpengaruh, dan benar…
Salah satu salaf berkata: Aku berjuang untuk qiyamul lail dua puluh tahun kemudian aku menikmatinya dua puluh tahun… Dan yang lain berkata: Aku menjaga hatiku dua puluh tahun maka hatiku menjagaku dua puluh tahun… Ya: harus selalu menarik dari saldo.
Aku pernah dalam perjalanan ke negara Barat maka aku melihat di masjid seorang pemuda yang wajahnya dipenuhi cahaya iman, maka aku terkejut mendapati di atmosfer ini wajah yang mengingatkan kepada Allah. Maka aku katakan kepadanya: Siapa engkau dan apa yang membawamu ke sini? Ia berkata kepadaku: Sejak sebulan yang lalu aku tinggal di masjid tidak keluar… Mengapa?!… Ia berkata: Karena ketika aku bepergian ke negara ini aku terpesona, dan tentu saja aku hidup di negeriku dalam kekangan. Maka ketika aku datang ke sini aku dapati keterbukaan, dan tidak ada seorang pun yang berkata kepadaku: Ke mana engkau pergi atau dari mana engkau datang? Kehidupan terbuka, maka minum khamr, zina, pencurian, dan segala sesuatu.
Ia berkata: Hingga aku sakit dengan sangat parah sekali… Aku terus batuk hingga aku jatuh dari atas tempat tidur sementara aku di apartemen sendirian… Dan pada suatu saat aku batuk lalu jatuh, aku berusaha bangun namun tidak bisa… Maka aku katakan: Ya Rabb ya Rabb ya Rabb, dan aku menangis… Kemudian aku sadar dan berkata: Ya Rabb!! Tapi dengan wajah apa aku memanggil Rabb-ku?!!… Karena aku tidak shalat, tidak puasa, tidak mengenal Rabb kami… Aku berkata ya Rabb dengan apa?!… Ia berkata: Dan ketika jatuh di benakku kalimat ini, aku gemetar dan berlari dengan cepat mencari masjid. Maka aku dapati masjid ini lalu aku masuk ke dalamnya dan tidak keluar hingga sekarang!!
Maka yang membuatku kagum – wahai para pemuda – dari kejadian ini adalah kalimat pemuda ini: “Aku berkata: ya Rabb, tapi ya Rabb dengan apa?!”… Apa yang kumiliki di sisi Allah sehingga aku berdoa kepada-Nya?!… Dan inilah makna: “Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit”… Inilah makna kalimat yang selalu aku katakan kepada kalian: “Jangan sampai engkau menjual-Nya maka Dia menjualmu”.
Dan juga makna hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dan adapun yang ketiga ia berpaling, maka Allah berpaling darinya” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Dan makna firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Mereka melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka” (At-Taubah: 67).
Maka apa yang telah engkau siapkan dan apa saldomu untuk meminta?! Dan apakah engkau menginginkan dari Allah sementara engkau tidak berada pada apa yang Dia inginkan?!!…
Ibnu Qayyim – ‘alaihi rahmatullah – berkata: “Jadilah untuk Allah sebagaimana Dia menginginkan, niscaya Dia akan menjadi bagimu melebihi apa yang engkau inginkan”… Maka karena itu selalu dalam muamalah adalah menarik dari saldo.
Dari asy-Sya’bi: Bahwa sekelompok dari Muhajirin keluar sebagai sukarelawan di jalan Allah, lalu keledai salah seorang dari mereka mati. Maka mereka menginginkannya agar pergi bersama mereka namun ia menolak, dan sahabat-sahabatnya pergi meninggalkannya. Maka ia berdiri lalu berwudhu dan shalat, kemudian mengangkat kedua tangannya dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku keluar dari ad-Dafinah (tempat antara Makkah dan Bashrah) berjihad di jalan-Mu dan mengharap keridaan-Mu, dan aku bersaksi bahwa Engkau menghidupkan orang yang mati dan membangkitkan yang ada di dalam kubur. Ya Allah maka hidupkan untukku keledaiku. Kemudian ia berdiri menuju keledai itu lalu memukulnya, maka keledai itu berdiri menggelengkan telinganya. Lalu ia memasang pelana dan kekangnya kemudian menungganginya, lalu memacu hingga menyusul sahabat-sahabatnya. Maka mereka berkata kepadanya: Apa kabarmu? Ia berkata: Kabarku adalah bahwa Allah telah membangkitkan keledaiku…
Ya: Inilah saldo yang ia tarik darinya, dan karena itu doanya dikabulkan. Dan inilah makna tawasul dengan amal salih. “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar seorang penyeru yang menyeru kepada iman (yaitu): berimanlah kepada Rabb kalian, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami” (Ali ‘Imran: 193)… Lihatlah kepada fa’ at-tartib (huruf fa’ yang menunjukkan urutan) dalam firman-Nya Ta’ala: “Ya Rabb kami, maka ampunilah” artinya kami bertawasul kepada-Mu dengan cepatnya respons kami kepada penyeru-Mu agar Engkau mengabulkan doa kami.
Dan lihatlah kepada al-Bara’ bin Malik yang bertemu dengan orang-orang musyrik dan mereka telah menyakiti kaum muslimin. Maka mereka berkata kepadanya: Wahai Bara’, sesungguhnya Rasulullah berkata: “Sesungguhnya engkau jika bersumpah kepada Allah, Dia akan mengabulkanmu” maka bersumpahlah kepada Rabb-mu. Maka ia berkata: Aku bersumpah kepada-Mu ya Rabb agar Engkau memberi kami kemenangan atas pundak mereka, dan melhakkanku dengan nabi-Mu. Maka mereka memberikan pundak mereka (kalah), dan al-Bara’ terbunuh sebagai syahid… Ya: mustajabud da’wah (terkabul doanya)…
Ia memohon kepada Rabb-nya kemenangan bagi kaum muslimin, dan untuk dirinya kesyahidan, maka dikabulkan dan ia mendapatkannya… Subhanallahil ‘Adhim, ia bersumpah kepada Allah maka dikabulkan seketika itu juga… Ya – wahai saudara-saudaraku -: Karena ia pada awalnya memiliki saldo yang ia tarik darinya.
Dan al-wa’idh al-barr Umar bin Dzar, Katsir bin Muhammad berkata tentangnya: Aku mendengar Umar bin Dzar berkata: Ya Allah, sesungguhnya kami telah mentaati-Mu dalam perkara yang paling Engkau cintai untuk ditaati di dalamnya: iman kepada-Mu dan pengakuan kepada-Mu, dan kami tidak bermaksiat kepada-Mu dalam perkara yang paling Engkau benci untuk dimaksiati di dalamnya: kekufuran dan pengingkaran kepada-Mu. Ya Allah maka ampunilah kami di antara keduanya. Dan Engkau telah berfirman: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati” (An-Nahl: 38), dan kami bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh bahwa Engkau akan membangkitkan orang yang mati. Apakah Engkau akan mengumpulkan antara kedua golongan yang bersumpah di satu negeri? Ya: ia mendahulukan ketaatan dan iman dan menjauh dari apa yang memurkai Ar-Rahman, maka patut dikabulkan baginya.
Dan Amir bin ‘Abdil Qais yang meminta kepada Rabb-nya agar mencabut syahwat terhadap wanita dari hatinya, maka ia tidak peduli apakah ia bertemu lelaki atau perempuan… Allah mengabulkan doanya, karena baginya di sisi Allah saldo besar dari kebaikan… Maka apa saldomu untuk meminta?!
Kekasihku karena Allah, aku tunjukkan kepadamu apa yang menambah saldomu dari kebaikan?… Al-Qur’an… Al-Qur’an adalah sumber yang tidak pernah habis… Ia adalah sebaik-baik dzikir dan sebaik-baik ketaatan. Maka gigitlah ia, ia akan membantumu dalam melakukan kebaikan.
Saudaraku karena Allah, siapkan kebaikan niscaya engkau akan dapati kebaikan… Penuhilah saldomu untuk menarik darinya saat dibutuhkan. Maka selalu dalam muamalah dengan Allah adalah menarik dari saldo.
Prinsip Kesepuluh: Al-Qur’an Adalah Pemimpin, Penggerak, Dan Penunjuk Jalan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami utus di setiap negeri seorang pemberi peringatan. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an itu dengan jihad yang besar.” (Surat Al-Furqan: 51-52). Berjihadlah dengan apa? Dengan Al-Qur’an. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan dalam ayat ini bahwa Al-Qur’an ini adalah pengganti dari pengutusan para rasul. Allah telah menjamin dengannya tugas semua rasul, yaitu agar Al-Qur’an mencetak manusia-manusia seperti para rasul.
Tuhanku berfirman—dan perkataan Tuhanku adalah yang paling benar—: “Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya ayat-ayat dari Tuhannya?'” (Surat Al-Ankabut: 50)
Maka Allah berfirman: “Tidakkah cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka?” (Surat Al-Ankabut: 51). Mereka meminta ayat, lalu Allah memberitahukan kepada mereka ayat yang paling agung, yaitu Al-Qur’an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan diberi mukjizat yang karena mukjizat itu manusia beriman kepadanya. Adapun yang diberikan kepadaku adalah Al-Kitab yang dibacakan, dan aku berharap menjadi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.” [Muttafaq ‘alaih]
Dalam Surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.” (Surat Al-Baqarah: 259). Orang itu berkata: Apakah masuk akal Allah menghidupkan ini kembali, bagaimana?! Maka Allah memperlihatkan kepadanya ayat pada dirinya sendiri, Allah mematikannya lalu menghidupkannya. Allah berkata kepadanya: Sudahkah kamu melihat? Dia menjawab: Aku tidak melihat apa-apa. Allah berkata: Berapa lama kamu tinggal? Dia menjawab: Aku tinggal sehari atau sebagian hari. Tidak. “Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledaimu.” Allah memperlihatkan kepadanya ayat dengan mata kepalanya sendiri. “Dan lihatlah kepada tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” (Surat Al-Baqarah: 259). Keledai itu ada di hadapannya, kerangka tulang di atas tanah. Tulang-tulang itu mulai berdiri dan tersusun satu sama lain, setelah tulang muncul tulang rawan, kemudian dibalut dengan daging, lalu ditiupkan roh ke dalam keledai itu dan ia meringkik. Apakah kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri?! “Dia berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'” (Surat Al-Baqarah: 259).
Setelah kisah ini langsung: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.'” (Surat Al-Baqarah: 260). Pertanyaan yang sama. Tetapi Allah tidak memperlihatkan kepadanya ayat pada dirinya sendiri, melainkan berfirman: “Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” (Surat Al-Baqarah: 260). Yang pertama, Allah memperlihatkan kepadanya ayat pada dirinya sendiri, sedangkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah memperlihatkan kepadanya ayat pada burung-burung, yaitu di alam semesta.
Dan pertanyaan yang sama diajukan oleh Al-Ash bin Wa’il As-Sahmi dan Ubay bin Khalaf kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman: “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?'” (Surat Yasin: 78). Maka Allah menjawabnya dengan Al-Qur’an: “Katakanlah: ‘Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yang menjadikan bagimu api dari pohon yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari pohon itu. Dan tidakkah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan (kuasa-Nya) mampu menciptakan yang serupa dengan mereka? Benar, (Dia mampu) dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.'” (Surat Yasin: 79-81).
Jadi yang pertama, Allah memperlihatkan kepadanya ayat pada dirinya sendiri, pada keledai dan makanannya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah memperlihatkan kepadanya ayat pada burung-burung. Adapun pada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayatnya ada dalam Al-Qur’an. Inilah persoalannya, persoalan menyeluruh: bahwa agama kita semuanya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an adalah asalnya dan Sunnah menyempurnakan, melengkapi, dan menafsirkannya. Oleh karena itu, kalian harus selalu mengingat: “Segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Al-Qur’an adalah sial bagimu.”
Sebagian orang sepanjang waktu mendengarkan kaset, menghadiri kajian para syaikh, membaca kitab-kitab ilmu, sementara dia meninggalkan Al-Qur’an. Semua ini tidak akan bermanfaat bagimu. Al-Qur’an-lah yang akan membuatmu. Al-Qur’an mendidikmu. Al-Qur’an bermanfaat bagimu. Maka hendaklah engkau bersungguh-sungguh dengan Al-Qur’an: menghafalnya, membacanya, merenunginya, menafsirkannya, dan mempelajarinya. Apakah kamu paham arti kata mempelajari?!
Al-Qur’an di dalamnya ada ilmu akidah, fikih, sirah, tafsir, sejarah, bahasa, balaghah, raqaiq (penyejuk hati)—semuanya ada. Al-Qur’an adalah kalam Allah, kitab yang diberkahi, mendidikmu pada ilmu, amal, dan dakwah. Al-Qur’an adalah jalanmu untuk menjadi lelaki sejati. Ya: Al-Qur’an-lah yang mencetak lelaki, dan akan terus mencetak mereka hingga Allah mewarisi bumi dan seisinya.
Ya—wahai saudaraku—: Al-Qur’an adalah pabrik lelaki. Al-Qur’an melahirkan para pahlawan di kandang penghambaan. Ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya. Apakah engkau termasuk keluarga Allah? Apakah engkau termasuk ahli Al-Qur’an?! Apakah engkau telah mengabdikan seluruh hidupmu untuk Al-Qur’an? Apakah engkau telah menempatkannya pada puncak prioritasmu? Apakah engkau pernah berpikir untuk mempelajarinya sebagaimana engkau mempelajari buku sekolah dengan serius dan bersungguh-sungguh?!
Saudaraku karena Allah, jika engkau jauh dari Al-Qur’an, ketahuilah bahwa engkau terhalang sepenuhnya, dan seandainya engkau merasakan manisnya, engkau tidak akan menjauh. Datanglah kepada Allah dan tekunkanlah diri pada Al-Qur’an agar engkau terbentuk, jika tidak, betapa jauhnya obat dari penyakit-penyakit itu.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau dengan bacaan itu orang-orang mati dapat berbicara, (tentulah Al-Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.” (Surat Ar-Ra’d: 31). Orang-orang musyrik meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mukjizat yang bersifat indrawi: menggerakkan gunung, membelah bumi, atau berbicara dengan orang mati. Maka Allah menurunkan Al-Qur’an ini bukan untuk urusan seperti itu, melainkan lebih agung dari itu, yaitu membentuk jiwa, mencetak hati, dan menciptakan manusia yang diridhai Allah untuk menjadi hamba-Nya.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum—generasi terbaik yang dikenal sejarah—dididik oleh pendidik terhebat yang pernah dikenal umat manusia. Mereka dididik dengan Al-Qur’an, sehingga jadilah mereka sebagaimana yang engkau dengar dan baca: iman dan keteguhan yang membuat gunung-gunung pun runtuh di hadapannya.
Dan ini satu contoh dari mereka: Abbad bin Bisyr, sahabat Al-Qur’an. Doktor Abdurrahman Ra’fat Basha rahimahullah berkata: “Jika engkau mencarinya di antara para ahli ibadah, engkau akan mendapatinya orang yang bertakwa dan bersih, qiyamul lail dengan membaca juz-juz Al-Qur’an. Jika engkau mencarinya di antara para pahlawan, engkau akan mendapatinya ksatria pemberani yang terjun dalam pertempuran untuk meninggikan kalimat Allah. Jika engkau mencarinya di antara para penguasa, engkau akan melihatnya orang yang kuat lagi amanah terhadap harta kaum muslimin.
Abbad bin Bisyr mendengarkan Mush’ab bin Umair ketika datang ke Madinah, sementara ia melantunkan Al-Qur’an dengan suaranya yang lembut dan hangat serta nada yang menyentuh dan memikat. Maka Ibnu Bisyr pun jatuh cinta pada kalam Allah, dan memberinya tempat yang luas di lubuk hatinya. Al-Qur’an menjadi kesibukannya yang paling menyibukkan. Dia membacanya siang dan malam, dalam tinggal dan bepergian, hingga dia dikenal di kalangan sahabat sebagai imam dan sahabat Al-Qur’an.”
Di antara para imam yang dididik oleh Al-Qur’an adalah Imam Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Sahl, yang dikenal dengan Ibnu An-Nabulusi. Abu Dzar Al-Hafizh berkata tentangnya: Banu Ubaid (Fathimiyyun) memenjarakannya dan menyalibnya karena Sunnah. Aku mendengar Ad-Daraquthni menyebutnya sambil menangis dan berkata: Dia berkata ketika dikuliti: “Sungguh yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab.” (Surat Al-Isra’: 58)
Abu Al-Faraj Ibnu Al-Faraj berkata: Jauhar, panglima Abu Tamim penguasa Mesir, mendatangkan Abu Bakar An-Nabulusi kepadanya dan berkata: Telah sampai kepadaku bahwa engkau berkata: Jika seseorang memiliki sepuluh anak panah, wajib ia melempar satu anak panah kepada Rum dan sembilan kepada kami. Dia menjawab: Aku tidak mengatakan itu, bahkan aku berkata: Jika dia memiliki sepuluh anak panah, wajib ia melempar kalian dengan sembilan, dan melempar yang kesepuluh juga kepada kalian, karena kalian telah mengubah agama, membunuh orang-orang saleh, dan mengaku sebagai cahaya ketuhanan. Lalu dia disiksa, dipukul, kemudian diperintahkan kepada seorang Yahudi untuk menguliti kulitnya.
Mu’ammar bin Ahmad bin Ziyad Ash-Shufi berkata: Orang terpercaya memberitahuku bahwa Abu Bakar dikuliti dari ubun-ubun kepalanya hingga sampai ke wajah, dan dia terus berdzikir kepada Allah dan bersabar hingga sampai ke dada. Lalu pengulitnya merasa kasihan, kemudian menusuknya dengan pisau di tempat jantungnya hingga dia meninggal. Dan orang terpercaya memberitahuku: bahwa dia adalah seorang imam dalam hadits dan fikih, orang yang berpuasa sepanjang masa, memiliki kedudukan besar di mata masyarakat umum dan khusus. Dan ketika dikuliti, terdengar dari tubuhnya bacaan Al-Qur’an.
Ya: ketika dia menyuapi Al-Qur’an ke dagingnya dan meminumkannya ke darahnya. Ketika Al-Qur’an bercampur dengan daging dan darahnya, mengalir dalam urat nadinya dan berdenyut dalam perasaannya, maka tubuhnya yang suci pun berbicara dengan Al-Qur’an. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ahli Al-Qur’an. Ya Allah, jangan haramkan kami dari kenikmatan Al-Qur’an, kecapan Al-Qur’an, kelezatan Al-Qur’an, dan manisnya Al-Qur’an, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Yang Maha Pemberi.
Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah Al-Qur’an Al-Azhim sebagai musim semi hati kami, cahaya penglihatan kami, penghilang kesedihan, kerisauan, dan kegelisahan kami. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai hujjah untuk kami bukan terhadap kami. Ya Allah, jadikanlah dia bagi kami di dunia sebagai imam, di kubur sebagai penghibur, pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat, di atas shirath sebagai cahaya, dan dari neraka sebagai penutup dan penghalang. Ya Allah, ya Tuhan kami, didiklah kami dengan Al-Qur’an, untuk Al-Qur’an, dan di atas Al-Qur’an. Ya Allah, jangan haramkan kami dari nikmat Al-Qur’an. Amin.
Ya—demi Allah: Al-Qur’an adalah nikmat. Dan perhatikanlah apa yang dikatakan oleh orang yang merasakan nikmat Al-Qur’an. Dia adalah seorang lelaki yang dididik oleh Al-Qur’an dan lafazh serta maknanya mengalir dalam darahnya: “Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat umur, membarakahinya, dan mensucikannya. Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan kepadaku kehidupan dalam naungan Al-Qur’an dalam suatu periode waktu. Aku merasakan di dalamnya nikmat yang tidak pernah kurasakan sepanjang hidupku. Aku hidup merenungkan dalam naungan Al-Qur’an, konsep yang sempurna, menyeluruh, tinggi, dan bersih tentang wujud, tentang tujuan wujud seluruhnya dan tujuan wujud kemanusiaan. Aku hidup dalam naungan Al-Qur’an merasakan keselarasan yang indah antara gerakan manusia sebagaimana dikehendaki Allah dan gerakan alam semesta yang diciptakan Allah. Aku hidup dalam naungan Al-Qur’an melihat wujud jauh lebih besar dari penampakannya yang disaksikan, lebih besar dalam hakikatnya dan lebih besar dalam keberagaman sisi-sisinya. Ia adalah alam gaib dan nyata, bukan hanya alam nyata saja. Ia adalah dunia dan akhirat, bukan hanya dunia ini saja. Aku hidup dalam naungan Al-Qur’an melihat manusia jauh lebih mulia dari semua penghargaan yang pernah dikenal umat manusia sebelum dan sesudahnya untuk manusia. Ia adalah manusia dengan tiupan dari perintah Allah. Dan dengan tiupan ini dia adalah khalifah di bumi. Dalam naungan Al-Qur’an aku belajar bahwa tidak ada tempat dalam wujud ini untuk kebetulan buta atau keteledoran yang terjadi begitu saja. ‘Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’ (Surat Al-Qamar: 49).
Oleh karena itu aku hidup—dalam naungan Al-Qur’an—dengan jiwa yang tenang, batin yang tenteram, hati nurani yang sejuk. Aku hidup melihat takdir dan ketentuan Allah, perintah dan kehendak-Nya dalam setiap kejadian dan setiap perkara. Aku hidup dalam perlindungan Allah dan pemeliharaan-Nya. Aku hidup merasakan sifat-sifat-Nya Ta’ala yang positif dan efektivitasnya. ‘Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.’ (Surat An-Naml: 62). ‘Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.’ (Surat Al-An’am: 18). ‘Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ (Surat Yusuf: 21). ‘Dan ketahuilah bahwa Allah menghalangi antara seseorang dengan hatinya.’ (Surat Al-Anfal: 24). ‘Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.’ (Surat Al-Buruj: 16). ‘Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.’ (Surat Ath-Thalaq: 2). ‘Tidak ada suatu makhluk melata melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.’ (Surat Hud: 56). ‘Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan (berhala-berhala) yang selain Allah.’ (Surat Az-Zumar: 36). ‘Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya.’ (Surat Al-Hajj: 18). ‘Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun.’ (Surat Az-Zumar: 23).
Itulah yang kurasakan ketika membaca Al-Qur’an dan hidup bersamanya. Lalu apa hasil dan kesimpulan dari penghayatan yang panjang ini? Dia berkata rahimahullah: “Aku sampai pada kesimpulan dari periode hidup dalam naungan Al-Qur’an kepada keyakinan yang tegas dan pasti: bahwa tidak ada kebaikan bagi bumi ini, tidak ada ketenangan bagi umat manusia ini, tidak ada ketentraman bagi manusia ini, tidak ada kemuliaan, tidak ada keberkahan, tidak ada kesucian, tidak ada keselarasan dengan sunnatullah dan fitrah kehidupan kecuali dengan kembali kepada Allah. Dan kembali kepada Allah—sebagaimana terjelaskan dalam naungan Al-Qur’an—hanya memiliki satu bentuk dan satu jalan, satu, tidak ada yang lain. Yaitu mengembalikan seluruh kehidupan kepada manhaj Allah yang telah Dia gariskan untuk umat manusia dalam Kitab-Nya yang mulia. Yaitu menjadikan Kitab ini saja yang berhukum dalam kehidupan mereka, dan berhukum kepadanya saja dalam urusan mereka. Jika tidak, maka itu adalah kerusakan di bumi, kesengsaraan bagi manusia, dan kemunduran ke dalam lumpur jahiliyah yang menyembah hawa nafsu selain Allah. ‘Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) itu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.'” (Surat Al-Qashash: 50).
Sesungguhnya berhukum kepada manhaj Allah dalam Kitab-Nya bukanlah sunnah (amalan tambahan), bukan pula bersifat sukarela, dan bukan pula masalah pilihan, melainkan ia adalah iman atau tiada iman sama sekali. Perkara ini bila sudah serius, maka ia adalah masalah akidah dari dasarnya, kemudian ia adalah masalah kebahagiaan umat manusia ini atau kesengsaraannya. Sesungguhnya umat manusia ini yang merupakan ciptaan Allah tidak dapat membuka kunci fitrahnya kecuali dengan kunci-kunci dari ciptaan Allah, dan tidak dapat mengobati penyakit serta kelemahan-kelemahannya kecuali dengan obat yang keluar dari sisi-Nya—Maha Suci Dia—dan Dia telah menjadikan dalam manhaj-Nya sendiri kunci bagi segala yang terkunci dan penyembuh bagi segala penyakit. “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra: 82)
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (Al-Isra: 9)
Sungguh Islam telah mengambil alih kepemimpinan dengan Al-Quran ini dan dengan konsepsi baru yang dibawanya dari Al-Quran, serta dengan syariat yang bersumber dari konsepsi ini. Maka hal itu merupakan kelahiran baru bagi manusia, yang lebih agung dalam hakikatnya daripada kelahiran yang dengannya ia dilahirkan. Sungguh Al-Quran ini telah menciptakan bagi umat manusia konsepsi baru tentang alam semesta, kehidupan, nilai-nilai, dan sistem-sistem, sebagaimana ia juga mewujudkan bagi mereka realitas sosial yang unik yang sulit dibayangkan oleh khayalan mereka sebelum Al-Quran menciptakannya bagi mereka. Ya, realitas ini memang dari sisi kebersihan, keindahan, keagungan, ketinggian, kesederhanaan, kemudahan, kenyataan, positivitas, keseimbangan, dan keserasian yang tidak pernah terlintas dalam benak umat manusia, seandainya Allah tidak menghendakinya bagi mereka dan mewujudkannya dalam kehidupan mereka di bawah naungan Al-Quran, manhaj Al-Quran, dan syariat Al-Quran.
Oleh karena itu, nasihat saya kepada kalian senantiasa: didiklah anak-anak kalian dengan Al-Quran, biarkanlah Al-Quran yang mendidik mereka. Didiklah mereka dan terdidiklah bersama mereka di atas hidangan Al-Quran. Maka Al-Quran, Al-Quran… Al-Quran adalah asal. Dan barangsiapa menempuh jalan Al-Quran, maka ia telah mencapai maksud Allah darinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah.” (Ali Imran: 103) Para ulama berkata: Tali Allah adalah Al-Quran. Maka jadikanlah Al-Quran bersamamu dan beradalah bersama Al-Quran. Jangan lupakan ia selamanya, karena ia adalah pemimpin, penunjuk jalan, dan penggerak menuju Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami, dan keturunan kami termasuk ahlul Quran (ahli Al-Quran), yaitu keluarga-Mu dan orang-orang pilihan-Mu.
Prinsip Kesebelas: Jangan Mengenakan Pakaian Waktu Luang Saat Sedang Bekerja
Di Mesir, engkau akan menemukan mekanik sepanjang minggu dengan pakaian kerja yang berminyak, engkau melihatnya mengenakan “afrita” (baju kerja) berwarna biru, tangannya berminyak dan wajahnya terkena oli, dan pada hari Ahad engkau tidak mengenalinya! Engkau melihatnya telah menyisir rambutnya dan membubuhkan vaselin serta krim-krim, mengenakan setelan jas dan memasang sapu tangan merah serta kancing berlian, memakai kacamata hitam, dan keluar dengan penampilan terbaik, sambil berkata: Waktu kerja ya kerja, adapun akhir pekan ya jalan-jalan, bersenang-senang, dan refreshing. Tukang ini bila datang ke bengkel dengan pakaian seperti ini, apa yang akan dikatakan pemilik bengkel kepadanya? Dia akan berkata: Pulang, ini bukan penampilan orang yang ingin bekerja! Inilah yang saya maksud dengan perkataan: Jangan mengenakan pakaian waktu luang saat sedang bekerja. Sebagian dari kita ingin menjalani surga di dunia seperti orang ini.
Sesungguhnya sebagian dari kita ingin berkomitmen pada agama dan pada saat yang sama menginginkan apartemen yang luas, ponsel dan mobil ber-AC, istri bermata biru berambut pirang yang tinggi dan bidang serta patuh dan penuntut ilmu, sepuluh anak laki-laki, seorang putri yang memanjakan, pelayan laki-laki dan perempuan… Tidak… Dunia adalah tempat ujian. “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan.” (Al-Balad: 4)
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2) Orang mukmin di dunia ini dalam kesibukan. Dan kapan waktu luangnya? Waktu luang itu di surga. Maka ketika engkau masuk surga, lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Dunia adalah tempat amal, maka jangan mengenakan pakaian waktu luang saat sedang bekerja, karena engkau tidak dalam kelonggaran dari urusanmu. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” [Dikeluarkan oleh Muslim] Dunia adalah penjara orang mukmin, dan penjara memiliki kondisinya. Penjara memiliki pakaiannya, makanan dan minumannya, aturan-aturannya dan jadwal-jadwalnya, serta batasan-batasannya. Dunia adalah penjara, maka jangan mencoba di penjara untuk menjalani surga.
Penjara memiliki jadwal-jadwalnya, jadwal istirahat. Ada waktu-waktu untuk shalat yang tidak boleh untuk tidur di dalamnya dan tidak boleh bekerja pada waktu itu, inilah penjara dunia. Harus dibagi seperti itu. Tetapi orang yang ingin menjalaninya sebagai surga, makan sesuai selera, minum sesuai selera, jalan sesuai selera dan tidur sesuai selera, melakukan apa yang ia inginkan dan kehendaki, pasti akan tersesat.
Engkau harus menjalani dunia sebagaimana Allah menghendakinya, bukan sebagaimana engkau menghendakinya. Engkau sekarang berada dalam penjara kewajiban-kewajiban syariat. Dan jika engkau merasa cukup dengan kewajiban-kewajiban mulia ini, ada orang-orang selain engkau yang juga merasa cukup dengan adat dan tradisi, namun mereka tidak mendapat pahala sedangkan engkau mendapat pahala. Jika engkau sakit, maka orang-orang kafir juga sakit, dan jika engkau lelah, maka orang-orang munafik pun lelah. Jika engkau disakiti di jalan Allah, maka ada orang-orang yang disakiti demi manhaj-manhaj yang batil bahkan kafir. “Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka juga menderita kesakitan seperti yang kamu derita, sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (An-Nisa: 104) Engkau mengharapkan pahala dengan apa yang engkau kerjakan yang tidak mereka harapkan. Dan inilah penghiburanmu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberimu. Maka tempatkan dirimu dalam penjara kewajiban-kewajiban syariat agar keluarnya melalui pintu surga.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kepada orang-orang mukmin setelah Perang Uhud: Cukuplah apa yang telah terjadi dan duduklah di rumah-rumah kalian… Tidak… Bahkan Dia—Maha Suci dan Maha Tinggi—berfirman: “Dan janganlah kamu lemah dalam mengejar mereka.” Kejar mereka dan jangan kalian meninggalkan mereka. Ya: kerja terus-menerus, amal yang berkesinambungan, dan usaha yang tidak terputus. Meskipun demikian, engkau menemukan sebagian orang ingin meraih semua syahwat, dan selalu hidup dalam kesehatan. Wahai saudaraku, sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disakiti, diusir, dicaci bahkan diludahi di wajahnya yang mulia. Dizalimi makhluk paling mulia dan paling suci di muka bumi, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka mencacinya dan meletakkan kotoran di atas kepalanya. Mereka mencekiknya dengan pakaiannya dan melemparinya dengan batu. Dan digali untuknya lubang di Perang Uhud agar ia terjatuh ke dalamnya. Maka ia terjatuh dan luka kakinya. Dan cincin besi dari helm masuk ke pipinya. Kepala beliau dilukai dan wajahnya berdarah serta bahunya dipukul. Dan ia dilempari dengan anak panah. Dan di Thaif ia dilempari dengan batu hingga terluka seluruh tubuhnya—semoga ayah, ibu, dan jiwaku menjadi tebusannya, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia terjatuh dari atas kuda hingga luka lambungnya yang mulia. Ia sakit demam hingga tidak ada yang tahan dengan panasnya. Ia hidup sebagai orang asing, dikejar oleh orang-orang kafir yang ingin membunuhnya. Semoga ayah, ibu, dan jiwaku menjadi tebusannya, Rasulullah.
Sejak hari dipanggil Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan “Wahai orang yang berselimut * Bangunlah lalu berilah peringatan” (Al-Muddatstsir: 1-2), ia berdiri dan tidak tidur atau berhenti setelahnya sejenak pun. Telah pergi masa tidur wahai Khadijah. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang mempelajari sirah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menemukan satu saat pun ia beristirahat di dalamnya, hari-harinya semua adalah jihad, kesulitan, dan kesusahan. Dan mata pun menitikkan air karena kasih sayang dan belas kasihan kepadanya. Ia berjalan banyak dan berlari banyak. Ia lapar berbulan-bulan dan ia makan kurma kering (kurma yang paling buruk) dan terkadang tidak mendapatkannya. Ia begadang bertahun-tahun. Dan tidur di atas tikar. Dan tidak mengenakan sutra halus atau sutra. Ia menjalani dunia ini dalam kesusahan dan kesulitan, untuk menegakkan kebenaran dan menyampaikan dakwah Tuhannya, semoga ayah, ibu, dan jiwaku menjadi tebusannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia diutus dengan Al-Muddatstsir lalu ia bangkit sabar dan mengharap pahala, maka ia tidak tenang hingga datang kepadanya pertolongan Allah, dan manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjalaninya, dan engkau ingin menjalaninya bersih dan manis! Engkau ingin menjalaninya dengan kenikmatan dan kesehatan! Engkau ingin menjalaninya dalam kenyamanan dan keamanan! Tidak wahai saudaraku. Ini adalah dunia yang asalnya adalah masalah dan kesedihan, kalau tidak, tidak akan ada kerinduan kepada akhirat. Dunia—wahai saudaraku—adalah untuk bekerja, lelah, kesungguhan, dan kesungguhan, maka jangan mengenakan pakaian waktu luang saat sedang bekerja.
Dunia adalah kerja, kerja untuk akhirat, maka tetaplah bekerja hingga negeri ini berlalu dengan selamat. Maka jika engkau menginginkan istri, maka biarlah ia sebagaimana adanya, pendek atau kurus atau… atau… Yang penting ia adalah orang yang memiliki agama dan “anak orang baik-baik”. Dan jangan berkompromi dengan dua syarat ini selamanya. Dan ridhailah ia bagaimanapun sifat-sifatnya, dan jadikanlah ia sebagai sarana menuju surga. Dan di surga Allah akan membuatnya untukmu dari awal. “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung * dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan * penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waqi’ah: 35-37), bahkan menambahkan untukmu tujuh puluh bidadari dari para bidadari. Tetaplah bekerja dan jangan bersedih atas sesuatu dari dunia dan jangan memikirkannya. Maka jika ia datang kepadamu atau memberikan isyarat kepadamu, maka manfaatkanlah ia dalam melayani apa yang engkau lakukan dari amal akhirat, kalau tidak maka buanglah ia ke samping dan teruslah dalam jalanmu menuju Allah.
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang berjalan di atas manhaj ini adalah orang akhirat yang ingin sampai, maka ia tidak melepas pakaian kerja hingga ia bertemu Allah. Adapun orang yang ingin mengenakan pakaian waktu luang saat bekerja sehingga hatinya sibuk dengan istri, harta, dan anak-anak, maka ia adalah orang dunia yang hidup untuknya, dan oleh karena itu ia tidak akan sampai kepada Allah sama sekali hingga ia melepas pakaian waktu luang, dan selalu mengenakan pakaian kerja untuk akhirat.
Maka manfaatkanlah—wahai saudaraku di jalan Allah—semua aspek kehidupanmu dalam beramal untuk akhirat, dan lanjutkan kerja siang malam. Karena engkau berada dalam posisi sebagai hamba, dan tidak pantas bagi pekerja untuk mengenakan pakaian istirahat di waktu pekerjaan. Dan setiap waktu orang bertakwa adalah siang hari puasa. Maka lanjutkan perjalanan dan jangan terputus.
Prinsip Kedua Belas: Di Jalan Ada Posisi-Posisi untuk Membedakan
Orang yang berjalan menuju Allah atau umumnya orang yang hidup di kehidupan ini pasti akan menghadapi posisi-posisi. Karena kehidupan ini adalah ombak yang berturut-turut di mana manusia menaiki tingkat demi tingkat. Posisi-posisi ini adalah untuk ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), maka berjalanlah di bumi lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan * Ini adalah penjelasan bagi manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa * Dan janganlah kamu lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman * Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim * Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir * Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 137-142)
Ayat-ayat ini menunjukkan kepadamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membalikkan hari-hari kepada manusia agar terlihat keadaan mereka, dan agar Allah mengetahui dengan pengetahuan yang tampak dan penegakan hujjah atas para hamba siapa yang berhak mendapat surga dan siapa yang tidak berhak. Maka orang-orang yang berjalan menuju Allah adalah golongan pilihan, tetapi “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali Imran: 179) Wahai saudara-saudara, membedakan antara nikmat dan bencana serta fitnah, dan antara karunia dan hujjah, dan antara pemberian dan bencana, dan antara cobaan dan karunia adalah penting bagi orang yang berjalan di jalan menuju Allah.
Maka di jalan menuju Allah, engkau harus menjadi orang yang dapat membedakan antara nikmat dan fitnah. Karena mungkin dua orang tertimpa satu hal, dan bagi salah satunya menjadi nikmat dan bagi yang lain menjadi fitnah. Mungkin satu hal bagi seseorang adalah bencana dan bagi yang lain adalah pemberian.
Tuhanmu berfirman: “Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat.” (Al-Baqarah: 19) “Hujan lebat” (air) yang dengannya Allah menghidupkan bumi, tetapi pada saat yang sama di dalamnya ada kegelapan, guruh, dan kilat. “Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati.” (Al-Baqarah: 19)
Para ulama berkata: Ini adalah perumpamaan air yang diperbuat Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Al-Quran, bahwa ia adalah hujan lebat dan ia untuk orang-orang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra: 82)
Dalam kisah Ka’ab bin Malik ketika datang kepadanya surat dari raja Ghasssan yang mengatakan kepadanya: “Telah sampai kepada kami bahwa sahabatmu telah menelantarkanmu, dan Allah tidak menjadikanmu di tempat yang hina, maka datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.” Ia tidak berkata—yaitu Ka’ab—: Telah datang hujan… tetapi inilah pembedaan. Ia berkata: “Dan ini adalah dari ujian, maka aku mendatangi tungku lalu aku membakarnya.”
Ya: karena mungkin seorang hamba diberi rezeki harta dan ia mengira itu nikmat dan harta ini baginya adalah fitnah. Mungkin ia diberi rezeki pekerjaan dan pekerjaan ini dari sudut pandang semua orang adalah kemuliaan, dan ia dalam haknya adalah ujian. Mungkin ia menghafal Al-Quran dan itu menjadi hujjah atasnya. Ya: Al-Quran adalah hujjah untukmu atau atasmu.
Para ulama berkata: “Jika engkau melihat Allah memberi hamba atas kemaksiatannya, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj (pembiaran bertahap).” Engkau bermaksiat dan Dia memuliakan, dan engkau bermaksiat dan Dia menambahkan, dan engkau bermaksiat dan Dia memberkahi untukmu. Jika begitu Dia akan membalas dendam darimu. Jangan tenang, karena Dia—Maha Suci—menarikmu untuk membalas dendam darimu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui * Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.” (Al-Qalam: 44-45)
Penulis kitab Fi Zhilalil Quran berkata tentang dua ayat ini: “Dan sesungguhnya urusan orang-orang yang mendustakan dan penduduk bumi semuanya lebih hina dan lebih kecil daripada Allah merencanakan rencana-rencana ini untuk mereka. Tetapi Dia—Maha Suci—memperingatkan mereka tentang diri-Nya agar mereka menyadari diri mereka sebelum terlambat, dan agar mereka mengetahui bahwa keamanan lahiriah yang Dia biarkan untuk mereka adalah jebakan yang mereka jatuh di dalamnya sedangkan mereka tertipu, dan bahwa penangguhan mereka atas kezaliman, kesombongan, berpaling, dan kesesatan adalah pembiaran bertahap bagi mereka menuju nasib yang paling buruk, dan bahwa itu adalah rencana dari Allah agar mereka memikul beban mereka secara lengkap, dan datang ke tempat perhentian terbebani dengan dosa-dosa, berhak atas kehinaan, kepayahan, dan azab. Dan tidak ada yang lebih besar dari peringatan, dan pengungkapan pembiaran bertahap dan rencana, keadilan dan rahmat. Dan Allah—Maha Suci—memberikan kepada musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh agama-Nya dan rasul-Nya keadilan dan rahmat-Nya dalam peringatan ini dan ancaman itu, dan mereka setelah itu dan apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri, karena tutupan telah tersingkap dan urusan telah jelas!
Sesungguhnya Dia—Maha Suci—memberi tangguh dan tidak mengabaikan, dan Dia memberi tangguh kepada orang zalim hingga apabila Dia menangkapnya tidak akan melepaskannya. Dan Dia di sini mengungkapkan tentang cara-Nya dan tentang sunnah-sunnah-Nya yang telah Dia takdirkan dengan kehendak-Nya, dan berfirman kepada rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Maka biarkanlah Aku dengan orang yang mendustakan perkataan ini.” (Al-Qalam: 44), dan tinggalkanlah antara Aku dan orang yang membanggakan harta, anak-anak, kehormatan, dan kekuasaan, maka Aku akan memberi tangguh kepada mereka, dan menjadikan nikmat ini sebagai jebakan mereka! Maka rasul-Nya merasa tenang, dan musuh-musuh-Nya diperingatkan. Kemudian Dia membiarkan mereka dengan ancaman yang menakutkan itu.”
Maka jangan gembira—saudaraku karena Allah—dengan kemurahan setelah bermaksiat, dan bedakanlah antara pemberian dengan bencana dan antara nikmat dengan azab. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (Al-Hadid: 23). Istri Sa’id bin Amir al-Jumahy berkata: Suatu hari aku terbangun mendengar suaranya berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu, aku berlindung kepada Allah darimu, aku berlindung kepada Allah darimu. Maka aku bangun dan mendapati di hadapannya sekantong harta dan dia mendorongnya dengan tangannya seolah-olah itu kalajengking. Aku bertanya: Ada apa denganmu? Dia menjawab: “Dunia masuk padaku untuk merusak agamaku”.
Ya—saudara-saudaraku—: kamu harus memiliki pandangan jernih dan kemampuan membedakan antara apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan akhiratmu. Jika Allah memberikanmu nikmat dan kamu menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya, maka itu adalah nikmat. Dan jika kamu menggunakannya untuk maksiat, maka itu adalah cobaan dan fitnah. Allah memberimu harta: apakah harta ini menambah kedekatanmu atau menjauhkanmu?! Allah memberimu istri yang membantumu dalam ketaatan kepada-Nya, maka ini adalah nikmat. Dan jika dia menyibukkanmu dari Allah, maka itu adalah fitnah.
Maka perhatikanlah setiap saat dalam hidupmu untuk melihat nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu: apakah itu mendekatkanmu kepada-Nya atau menjauhkanmu dari-Nya? Apakah itu nikmat atau azab? Apakah itu menghentikanmu di hadapan Allah atau menyibukkanmu dari-Nya? Apakah itu menambah imanmu atau mengeraskan hatimu? Apakah itu menambah syukurmu atau menambah ketamakanmu?!
Berhentilah dengan nikmat-nikmat Allah untuk mengetahui di mana posisimu, untuk mengetahui di mana kamu berada. Apakah di jalan mencapai-Nya atau tersesat di jalan-jalan lain? Bedakan antara nikmat dan azab, antara cobaan dan karunia, antara bencana dan pemberian, antara dalih dan pemberian. Bedakan agar kamu mengetahui di mana fitnah itu sehingga kamu dapat menjauhinnya dan sampai kepada Allah dengan selamat.
Prinsip Ketiga Belas: Berlindung Kepada Allah Dalam Akidah, Amal, Dan Doa
Allah Ta’ala berfirman “Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu pada malam dan siang hari dari (azab) Tuhan Yang Maha Pemurah?’ Tetapi mereka berpaling dari peringatan Tuhannya” (Al-Ahzab: 17). Maka manusia membutuhkan pelindung dan penolong, dan tidak ada bagimu selain Allah sebagai pelindung dan penolong. Oleh karena itu, jika kamu menginginkan pelindung dan penolong, maka berlindunglah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman “Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Ali Imran: 101). Tetapi bagaimana kita berlindung kepada Allah?
Istri al-Aziz berkata: “Sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak” (Yusuf: 32). Bagaimana dia menolak?
Pertama: Akidah: Dia berkata: “Aku berlindung kepada Allah”. Aku berlindung kepada Allah, aku mencari perlindungan kepada Allah dan berlindung hanya kepada-Nya. Dan dia tidak berkata kepadanya: Apakah kamu sudah gila?! Dia juga tidak berkata: Tidakkah kamu tahu siapa aku?! Aku adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim alaihimus salam. Aku adalah anak dari para nabi ini. Dia tidak berkata kepadanya: Pergilah nona, semoga Allah memberimu petunjuk. Dia tidak berkata demikian, tetapi dia berkata: Aku berlindung kepada Allah. Ini adalah akidah bahwa yang menyelamatkanku adalah Allah.
Juga ketika istri al-Aziz gagal dan mendengar para wanita membicarakannya, dia berkata dalam hatinya: Apakah aku membawa mereka kepadanya atau membawa dia kepada mereka? Keduanya. Dia membawa mereka dan mendudukkan mereka lalu mengeluarkannya kepada mereka. Dia keluar dan di hadapannya bukan tipu daya seorang wanita tetapi tipu daya para wanita. Maka dia segera berkata: “Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (Yusuf: 33). Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada sutera istri al-Aziz. Subhanallah! Kamu dapat mencium aroma kejujuran dari kata-kata itu.
Demi Allah—saudaraku—apakah kamu menemukan dalam dirimu titik ini? Sesungguhnya kita—sayangnya—menertawakan diri kita sendiri. Kita bermain-main dalam agama Allah. Apakah benar-benar penjara lebih kamu sukai daripada ajakan para wanita penggoda atau pelacur yang keji? Yusuf berkata: Ya Tuhanku, siksaan penjara lebih baik bagiku daripada istana al-Aziz. Siksaan karena-Mu ya Tuhanku lebih aku sukai daripada tidur dalam keadaan bermaksiat kepada-Mu. Inilah berlindung kepada Allah. Maka jadilah kamu berakidah yang jujur kepada Allah agar kamu dapat berlindung dengan itu di saat kesulitan. Tuhanku berfirman tentang Yusuf alaihis salam: “Dan tatkala Yusuf cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 22).
“Maka dia telah diberi kebenaran dalam menghukumi perkara-perkara, dan diberi ilmu tentang akibat-akibat peristiwa atau tentang takwil mimpi, atau tentang yang lebih umum dari itu, yaitu ilmu tentang kehidupan dan keadaan-keadaannya. Lafaznya umum dan mencakup banyak hal. Dan itu adalah balasan atas kebaikannya dalam akidah dan kebaikannya dalam perilaku: ‘Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’. Dan pada saat itulah datang kepadanya cobaan kedua dalam hidupnya, yang lebih keras dan lebih dalam dari cobaan pertama. Cobaan itu datang kepadanya ketika dia telah diberi kebenaran dalam menghukumi dan diberi ilmu—sebagai rahmat dari Allah—agar dia menghadapinya dan selamat darinya sebagai balasan atas kebaikannya yang telah dicatat Allah dalam Alquran-Nya.
Dan sekarang kita menyaksikan pemandangan yang menggebu, berbahaya, dan menggemparkan sebagaimana digambarkan oleh ungkapan:
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (Yusuf: 23). Maka godaan pada kesempatan ini sudah terbuka, dan ajakan di dalamnya terang-terangan menuju perbuatan terakhir. Dan gerakan menutup pintu-pintu tidak terjadi pada ajakan pertama dari wanita itu, tetapi terjadi pada ajakan terakhir. Dan itu mungkin tidak terjadi sama sekali jika wanita itu tidak terpaksa melakukannya. Dan pemuda itu hidup bersamanya sementara kekuatan dan kepemudaannya semakin sempurna, dan kewanitaannya juga semakin sempurna dan matang. Maka pasti ada rayuan-rayuan berbeda yang ringan dan lembut sebelum kejutan kasar dan keras ini. “Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung'”.
“Aku berlindung kepada Allah”.
Aku melindungi diriku dengan Allah agar tidak melakukannya. “Sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”.
Dan memuliakan aku dengan menyelamatkan aku dari sumur dan menjadikan di rumah ini tempat tinggalku yang baik dan aman.
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”. Yaitu mereka yang melampaui batas-batas Allah dan melakukan apa yang kamu ajak aku kepadanya saat ini. Akidah. Akidah kepada Allah yang dengannya Yusuf berlindung sehingga Allah menyelamatkannya dari fitnah.
Dan Syaikhul Islam dan Guru Besar Ibnu Qayyim rahimahullah Ta’ala berkata tentang kerusakan-kerusakan segera dan kemudian dari cinta terhadap gambaran-gambaran:
“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menceritakan penyakit ini dari dua golongan manusia, yaitu kaum Luth dan para wanita. Maka Dia mengabarkan tentang cinta istri al-Aziz kepada Yusuf, dan apa yang dia rayukan dan tipukan kepadanya. Dan Dia mengabarkan tentang keadaan yang dialami Yusuf dengan kesabaran, kesucian, dan ketakwaannya, padahal apa yang diuji kepadanya adalah perkara yang tidak ada yang sabar terhadapnya kecuali orang yang Allah sabari dia. Karena keselarasan dengan perbuatan itu tergantung pada kekuatan pendorong dan hilangnya penghalang. Dan pendorong di sini sangat kuat, dan itu karena beberapa alasan:
Pertama: Apa yang Allah Subhanahu ciptakan dalam tabiat laki-laki berupa kecenderungannya kepada wanita, seperti orang yang haus cenderung kepada air, dan orang yang lapar cenderung kepada makanan. Bahkan banyak dari manusia yang dapat bersabar terhadap makanan dan minuman tetapi tidak dapat bersabar terhadap wanita. Dan ini tidak tercela jika menemukan yang halal.
Kedua: Bahwa Yusuf alaihis salam adalah seorang pemuda, dan syahwat pemuda dan intensitasnya lebih kuat.
Ketiga: Bahwa dia adalah seorang bujangan yang tidak memiliki istri atau budak yang dapat mematahkan intensitas syahwat.
Keempat: Bahwa dia berada di negeri perantauan, dan orang asing di sana tidak dapat memenuhi hasrat seperti yang dapat dilakukan orang lain di tanah air, keluarga, dan teman-temannya.
Kelima: Bahwa wanita itu memiliki kedudukan dan kecantikan, sehingga setiap satu dari kedua hal ini menyeru untuk menyetujuinya.
Keenam: Bahwa dia tidak menolak dan tidak menghalangi, karena banyak dari manusia yang kehilangan keinginannya terhadap wanita karena penolakannya dan penghalangannya, karena apa yang dia rasakan dalam dirinya berupa kehinaan jiwa, kepatuhan, dan meminta kepadanya.
Ketujuh: Bahwa dialah yang meminta, menginginkan, dan berusaha keras. Maka dia menghindarkannya dari beban meminta dan kehinaan keinginan kepadanya. Bahkan dialah yang berkeinginan dan hina sementara dialah yang mulia dan diinginkan.
Kedelapan: Bahwa dia berada di rumahnya dan di bawah kekuasaan dan dominasinya, sehingga dia khawatir jika tidak mematuhinya akan celaka karenanya. Maka berkumpullah pendorong keinginan dan ketakutan.
Kesembilan: Bahwa dia tidak khawatir bahwa dia atau siapa pun dari pihaknya akan mengadu. Ini dia yang meminta dan menginginkan, dan dia telah menutup pintu-pintu dan menyembunyikan pengawas.
Kesepuluh: Bahwa dia adalah budak miliknya di rumah, sehingga dia masuk dan keluar dan hadir bersamanya, dan tidak ada yang mengingkarinya. Dan keamanan itu mendahului permintaan, dan itu adalah pendorong terkuat.
Kesebelas: Bahwa dia meminta bantuan kepadanya dengan para ahli tipu muslihat dan akal bulus. Maka dia memperlihatkannya kepada mereka dan mengadu kepadanya keadaannya kepada mereka, agar dapat dibantu oleh mereka terhadapnya. Maka dia meminta bantuan kepada Allah terhadap mereka, lalu berkata: “Dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka daripadaku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan aku akan termasuk orang-orang yang bodoh” (Yusuf: 33).
Kedua belas: Bahwa dia mengancamnya dengan penjara dan kehinaan. Dan ini adalah jenis paksaan, karena itu adalah ancaman dari orang yang sangat mungkin akan melakukan apa yang diancamkan. Maka berkumpullah pendorong syahwat dan pendorong cinta keselamatan dari sempitnya penjara dan kehinaan.
Ketiga belas: Bahwa suami tidak menunjukkan kecemburuan dan kehormatan yang dengannya dia memisahkan antara keduanya dan menjauhkan masing-masing dari yang lain. Dan dengan semua pendorong ini, dia lebih memilih keridhaan Allah dan takut kepada-Nya. Dan cintanya kepada Allah membawanya untuk memilih penjara daripada zina. Maka dia berkata:
“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (Yusuf: 33). Dan dia tahu bahwa dia tidak mampu memalingkan itu dari dirinya sendiri, dan bahwa Tuhannya Ta’ala jika tidak melindunginya dan memalingkan tipu daya mereka darinya, dia akan cenderung kepada mereka dengan tabiatnya dan akan menjadi termasuk orang-orang yang bodoh. Dan ini adalah dari kesempurnaan pengetahuannya tentang Tuhannya dan tentang dirinya.
Kemudian berlindung kepada Allah tidak akan terjadi kecuali jika ada amal dan doa. Misalnya: saudara yang kukatakan kepadanya bertobatlah, lalu dia berkata: Doakan aku ya Syekh. Aku katakan kepadanya: Nak, “bertobat” ini membutuhkan amal dan kesungguhan, dan kamu harus berdoa untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian aku mendoakan untukmu setelah itu. Yusuf alaihis salam adalah seorang yang berbuat baik, berbuat baik dalam akidah dan berbuat baik dalam perilaku. Dan di atas itu dia berdoa meminta perlindungan, maka terjadilah keselamatan. Dia selamat karena pada dasarnya dia berbuat baik dalam amal.
Ya: Yusuf berbuat baik kepada Tuhannya dan juga kepada manusia. Dan Allah menamai kisahnya “sebaik-baik kisah” (Yusuf: 3).
Dan para penghuni penjara menggambarkannya dengan kebaikan, maka mereka berkata: “Beritahukanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menta’birkan mimpi)” (Yusuf: 36).
Dan dengan kebaikan, Allah Ta’ala memberikannya kekuasaan di muka bumi. “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di muka bumi (Mesir); dia berkuasa di mana saja dia kehendaki. Kami anugerahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 56). Dan saudara-saudaranya berkata kepadanya sementara mereka tidak mengenalinya: “Maka tahanlah salah seorang di antara kami sebagai penggantinya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan” (Yusuf: 78). Kemudian dia memuji Tuhannya atas kebaikan-Nya kepadanya: “Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara” (Yusuf: 100).
Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24). Dan mereka ini tidak ada bagi setan kekuasaan atas mereka sama sekali. Dan dengan semua itu Yusuf berlindung kepada Allah dan berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (Yusuf: 23).
Dan kita harus mengetahui bahwa kesucian Yusuf alaihis salam adalah dasar berlindung kepada Allah. Maka berlindung kepada Allah harus berdasarkan akidah yang teguh kepada Allah dan amal yang terus-menerus untuk-Nya, dan perilaku yang lurus dengan-Nya Subhanahu dan dengan manusia.
Ya—saudara-saudaraku—: berlindung kepada Allah adalah amal. Berlindung kepada Allah adalah doa. Berlindung kepada Allah adalah akidah.
Maka ikatlah hatimu kepada Allah saja, berjujurlah dengan-Nya, kerjakan apa yang ada dalam kemampuanmu, dan berdoalah dengan ikhlas, niscaya Allah akan melindungimu sehingga kamu mendapat petunjuk ke jalan menuju-Nya.
Tuhanmu berfirman “Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Ali Imran: 101).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Artinya dan dengan ini, berlindung kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya adalah sandaran dalam petunjuk, dan perbekalan dalam menjauhkan kesesatan, dan perantara kepada petunjuk yang benar, dan jalan kebenaran dan tercapainya yang diinginkan”.
Maka berlindunglah kepada Allah wahai pencari jalan menuju-Nya.
Prinsip Keempat Belas: Barang Siapa Memandang Jalan Itu Panjang, Maka Lemah Langkahnya
Jalan menuju Allah sangat panjang, sangat jauh, oleh karena itu membutuhkan semangat tinggi dan amal yang terus-menerus serta tidak menoleh ke belakang agar engkau dapat menempuhnya dan sampai dengan selamat. Sebaliknya, jika engkau terus berkata: jalannya panjang dan jauh, sementara engkau di tempat, maka engkau tidak akan sampai. Maka mintalah pertolongan kepada Allah dan tinggalkan keluhan. Beramallah, bersungguh-sungguhlah, dan bersusah payahlah hingga mati. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (Al-Hijr: 99), yaitu kematian.
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Asy-Syarh: 7). Ibnu Katsir berkata: “Zaid bin Aslam dan Ad-Dhahhak berkata: apabila kamu telah selesai, yaitu dari jihad, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh, yaitu: dalam beribadah: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Asy-Syarh: 8). Ats-Tsauri berkata: jadikanlah niat dan harapanmu kepada Allah Azza wa Jalla.”
“Maka apabila engkau telah selesai dari kesibukanmu dengan manusia, dengan bumi, dan dengan kesibukan-kesibukan hidup. Apabila engkau telah selesai dari semua itu, maka hadapkanlah hatimu sepenuhnya kepada apa yang layak engkau bersungguh-sungguh, bersusah payah, dan berusaha keras di dalamnya, yaitu ibadah, bersikap zuhud, bertawakkal, dan bertawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah). “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Hanya kepada Tuhanmu dengan kosong dari segala sesuatu bahkan dari urusan manusia yang engkau sibukkan diri untuk mendakwahi mereka. Sesungguhnya bekal untuk jalan ini harus ada. Dan inilah bekalnya. Perbekalan untuk jihad harus ada. Dan inilah perbekalannya. Di sinilah engkau akan menemukan kemudahan bersama setiap kesulitan dan jalan keluar bersama setiap kesempitan. Inilah jalannya!”
Inilah jalan menuju Allah, maka bersungguh-sungguhlah dan jangan tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Khadijah berkata kepadanya: tidaklah engkau tidur wahai Rasulullah?! Beliau menjawab: “Telah berlalu masa tidur wahai Khadijah.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Aisyah ketika ia heran dengan ibadah beliau padahal Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur.” (Muttafaq ‘alaih).
Saudaraku fillah, tetaplah di jalan ini dalam ketaatan dan janganlah berputus asa karena panjangnya jalan, karena yang ada padamu hanyalah bersungguh-sungguh dalam berjalan, mempercepat langkah, tidak menoleh, dan engkau akan sampai dengan izin Allah. Sabarlah dalam menahan dirimu dan bersabarlah, dan ketahuilah bahwa sabar dalam ketaatan adalah sabar yang paling tinggi. Orang-orang yang paling sempurna kesabarannya dalam ketaatan adalah Ulul ‘Azmi dari kalangan para rasul. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam agar bersabar seperti kesabaran mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (Al-Ahqaf: 35). Dan telah dimaklumi bahwa perintah kepada teladan adalah perintah bagi pengikutnya. Dan Allah melarang beliau untuk menyerupai shahibul hut (Nabi Yunus), karena ia tidak bersabar dengan kesabaran Ulul ‘Azmi. Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (Al-Qalam: 48).
Dan sungguh Allah telah menjadikan sampai kepada-Nya, meraih surga, dan selamat dari neraka hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Al-Mu’minun: 111). Dan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa kesabaran adalah cahaya.
Ali bin Abi Thalib berkata: Kesabaran adalah tunggangan yang tidak pernah tersandung.
Sulaiman bin Al-Qasim berkata: Setiap amal diketahui pahalanya kecuali kesabaran. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10), ia berkata: seperti air yang mengalir deras.
Saudaraku fillah, bersabarlah dalam berjalan menuju Allah dan janganlah memandang jalan itu panjang. Sesungguhnya Nabi Nuh telah bersabar dan menghentikan napasnya untuk berdakwah kepada Allah selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Ia tidak memandang jalan itu panjang, bahkan tetap bersama Allah dalam kesabaran terpanjang yang dikenal dalam sejarah manusia, dan kesabaran yang paling mulia.
Ibnu Katsir berkata dalam Qashash Al-Anbiya: “Dan setiap kali satu generasi habis, mereka berwasiat kepada generasi setelah mereka untuk tidak beriman kepadanya—yaitu kepada Nuh—dan untuk memeranginya serta menentangnya. Dan seorang ayah apabila anaknya telah dewasa dan dapat memahami perkataannya, ia berwasiat kepadanya secara rahasia agar tidak beriman kepada Nuh selamanya selama ia hidup dan selamanya selama ia ada.”
Allah Ta’ala berfirman: “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu. Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?'” (Nuh: 5-13).
Abul Qasim Al-Gharnathi berkata dalam At-Tashil li ‘Ulum At-Tanzil: “Ia menyebutkan pertama-tama bahwa ia menyeru mereka di malam dan siang hari, kemudian menyebutkan bahwa ia menyeru mereka secara terang-terangan, kemudian menyebutkan bahwa ia menggabungkan antara terang-terangan dan diam-diam. Dan ini adalah puncak kesungguhan dalam memberikan nasihat dan menyampaikan risalah.”
Al-Qasimi berkata dalam Mahasin At-Ta’wil: “Nuh telah mengerahkan segenap usaha secara terus-menerus tanpa lemah dan tanpa lelah, dan cara-caranya telah menjadi sempit baginya dalam waktu yang sangat panjang itu.”
Dan saudaraku fadhilah Syaikh Sayyid bin Husain Al-Affani—semoga Allah memeliharanya—berkata:
“Perjuangan mulia yang panjang: Nuh telah menempuh berbagai cara dan beragam sarana menuju telinga kaumnya, hati mereka, dan akal mereka dengan usaha yang panjang, dengan kesabaran yang indah, dan dengan upaya yang mulia, selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian ia kembali kepada Tuhannya untuk menyampaikan pertanggungjawabannya dan menuangkan keluhannya dalam pernyataan terperinci ini dan dengan nada yang menyentuh ini.
Dan gambaran Nuh dalam dakwahnya, sementara ia tidak bosan, tidak lemah, dan tidak putus asa di hari-hari penolakan dan pengingkaran, adalah gambaran keteguhan seorang da’i dalam dakwah, dan menunggu setiap kesempatan untuk menyampaikan dakwah itu kepada mereka, serta keteguhan mereka dalam kesesatan.
Dan Nuh ‘alaihish shalatu wassalam tidak melupakan dakwah bahkan ketika kematian datang menjemputnya. Ia telah berwasiat kepada kedua anaknya dengan kalimat laa ilaaha illallah dan melarang keduanya dari kemusyrikan, dan memerintahkan keduanya dengan subhanallah wabihamdihi.
Dan sungguh manusia akan merasa takjub dan heran, sebagaimana dirundung keagungan dan kekhusyukan, ketika ia menelaah usaha yang terus-menerus ini dari para rasul—semoga shalawat Allah dan salam-Nya tercurah kepada mereka—untuk memberi petunjuk kepada umat manusia yang sesat lagi keras kepala. Dan merenungkan kehendak Allah yang telah menetap untuk mengutus para rasul ini, satu demi satu untuk umat manusia yang berpaling dan keras kepala ini.
Dan mungkin terlintas dalam pikiran manusia untuk bertanya: apakah hasil itu sebanding dengan usaha panjang ini, dan pengorbanan-pengorbanan mulia itu, sejak Nuh ‘alaihis salam hingga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian usaha-usaha yang ada di antara keduanya dan setelah keduanya dari usaha-usaha orang-orang beriman kepada dakwah Allah dan pengorbanan-pengorbanan besar mereka? Apakah hasil itu sebanding dengan usaha keras yang digambarkan oleh Nuh ‘alaihis salam ini, yang menghabiskan umur yang sangat panjang, yang kaumnya dalam masa itu tidak cukup hanya dengan berpaling, bahkan mereka mengikutinya dengan ejekan dan tuduhan, sementara ia menerima itu dengan sabar, sikap baik, adab yang indah, dan penjelasan yang terang?!!
Kemudian usaha-usaha yang terus berlanjut sejak masa itu, dan pengorbanan-pengorbanan mulia yang tidak pernah terputus sepanjang sejarah dari para rasul yang diejek, atau dibakar dengan api, atau digergaji dengan gergaji, atau dihijrahkan dari keluarga dan negeri, hingga datanglah risalah yang terakhir, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha keras dalam risalah itu dengan usaha keras yang terkenal dan diketahui. Kemudian terus berlanjut usaha-usaha yang melelahkan dan pengorbanan-pengorbanan yang menakjubkan dari orang-orang yang menegakkan dakwahnya di setiap negeri dan di setiap generasi?
Apakah hasil itu sebanding dengan semua usaha ini, dan semua perjuangan berat yang pahit ini?!
Kemudian apakah umat manusia ini semuanya sebanding dengan perhatian yang mulia dari Allah ini, yang terwujud dalam penetapan kehendak-Nya—Subhanahu—untuk mengutus para rasul berturut-turut, setelah penentangan, penolakan, pengingkaran, dan kesombongan dari makhluk lemah kecil ini yang bernama manusia?! Dan jawabannya setelah direnungkan: Ya, dan tanpa perdebatan!!
Sesungguhnya mantapnya hakikat iman kepada Allah di bumi itu sebanding dengan semua usaha ini, semua kesabaran ini, semua kesulitan ini, dan semua pengorbanan mulia yang berkelanjutan ini dari para rasul dan pengikut-pengikut mereka yang jujur di setiap generasi!
Dakwah kepada Allah harus terus berjalan dalam jalannya sebagaimana dikehendaki Allah, karena hasilnya layak mendapatkan usaha-usaha yang melelahkan dan pengorbanan-pengorbanan yang mulia, walaupun kecil sehingga hanya terbatas pada satu hati yang mendekat kepada Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil, dan seorang nabi bersama satu atau dua orang laki-laki, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya.’ (Muttafaq ‘alaih).”
Kekasihku fillah, janganlah memandang jalan menuju Allah itu panjang, karena barang siapa memandang jalan itu panjang, maka lemah langkahnya. Maka teruslah beramal. Teruslah, karena Allah bersamamu. Dan ketahuilah bahwa syarat dalam berjalan adalah engkau harus berusaha keras dan bersusah payah. Maka teruslah beramal dan jangan terputus. Dan ingatlah selalu Nuh ‘alaihis salam. Saudaraku fillah, beramallah tanpa terputus, dan di sisi Allah tempat istirahat.
Wahai saudara-saudaraku, timbang manisnya yang diinginkan dengan pahitnya azab, akan nyata bagimu perbedaannya. Ketika orang-orang mengetahui nilai kehidupan, mereka mematikan hawa nafsu di dalamnya sehingga mereka hidup. Mereka mengumpulkan dengan tangan kesungguhan dari waktu apa yang ditebarkan oleh masa pengangguran. Ringan bagi mereka panjangnya jalan karena pengetahuan mereka akan mana tujuan. Dan manis bagi mereka pahitnya ujian karena cinta terhadap akibat keselamatan. Maka bergembiralah mereka di hari dikatakan: “Inilah hari kalian.”
Prinsip Kelima Belas: Rahasia Tersembunyi Untuk Ketidakterimaan Adalah Adanya Kepentingan Nafsu Dalam Amal
Apakah engkau shalat untuk Allah ataukah untuk beristirahat?! Engkau puasa untuk mengistirahatkan perutmu, ataukah agar Allah ridha kepadamu?! Engkau memuliakan manusia agar mereka memperlakukanmu dengan baik ataukah engkau memuliakan mereka karena Allah karena engkau mencintai-Nya?! Engkau memelihara jenggot untuk wibawa ataukah karena itu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?! Engkau membayar apa yang wajib atasmu agar manusia berkata tentangmu: terhormat, ataukah untuk meraih ridha Tuhanmu?! Engkau haji dan umrah karena riya dan jalan-jalan serta perubahan suasana, ataukah untuk beristighfar kepada Tuhanmu di sana?!
Al-Hasan rahimahullah berkata: Semoga Allah merahmati hamba yang berhenti pada niatnya, maka jika niat itu untuk Allah, ia melanjutkan, dan jika untuk selain-Nya, ia mundur. Engkau merantau dari negerimu dan berhijrah kepada Allah untuk apa? Untuk mempelajari ilmu, beribadah kepada Allah, dan berdakwah kepada-Nya untuk apa? Untuk apa engkau mempelajari ilmu?! Untuk apa engkau bersedekah?! Jika dalam amal-amal ini ada sesuatu walaupun sedikit dari kepentingan nafsu, Allah tidak akan menerimanya sama sekali.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Barang siapa beramal dengan suatu amal dan menyekutukan dengan-Ku selain-Ku di dalamnya, Aku tinggalkan dia dengan syiriknya.” (Dikeluarkan oleh Muslim). Allah Azza wa Jalla Maha Kaya, Maha Perkasa, memiliki ghirah (cemburu). Ia tidak menerima dari amal kecuali yang ikhlas dan ditujukan untuk wajah-Nya. Ya Allah, anugerahkan kepada kami keikhlasan dan jadikanlah kami termasuk ahlinya. Oleh karena itu, orang-orang yang datang pada hari kiamat sementara amal mereka tidak diterima akan terkejut bahwa amal mereka adalah untuk Allah, tetapi tidak ikhlas. Ada sesuatu di dalamnya dari kepentingan nafsu. Ya Allah!! Maka perbaikilah niatmu, karena jalan menuju Allah tidak baik di dalamnya kecuali niat yang baik. Ikhlaskanlah sebelum datang kepadamu hari kiamat.
Dan ah, dari hari kiamat! Ya Allah, rahmatilah pada hari kiamat kelemahan kami. Ya Allah, rahmatilah kehinaan berdiri kami di hadapan-Mu wahai Maha Penyayang di antara para penyayang. Hari kiamat, dan tahukah engkau apa itu hari kiamat?! Jangan sampai engkau melupakan hari itu. Tuhan kita berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46). Ingatlah saat berdiri ini pada hari berdirimu di hadapan-Nya sementara semua amalmu dipamerkan kepada-Nya. Hari ketika Ia berkata kepadamu: hamba-Ku, engkau hidup tujuh puluh tahun dan tidak shalat kecuali dua tahun, mengapa? Maka engkau bersumpah: demi keagungan dan kemuliaan-Mu ya Tuhan, aku shalat sejak hari aku pergi ke sekolah sewaktu aku di kelas satu SD. Apa yang terjadi?!!! Engkau dapati lima puluh tahun dari umurmu tidak diterima dan hanya sepuluh tahun saja yang diterima!! “Dan nyatalah bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perkirakan.” (Az-Zumar: 47). Sebabnya: adanya kepentingan nafsu. Engkau puasa banyak, dan yang diterima hanya yang sedikit sekali. Ya: karena adanya kepentingan nafsu dalam amal.
Aku sering berkata kepada kalian: seandainya ada ujian ulang, seandainya ada kesempatan tambahan, atau seandainya ada pengulangan, niscaya kami berkata: ya Tuhan, kami telah salah maka kembalikanlah kami agar kami memperbaiki apa yang telah kami lakukan. Tetapi ini hanya satu kali, jika engkau masuk neraka di dalamnya, itulah musibah. Al-Hasan berkata: “Wahai anak Adam, tebuslah dirimu, karena sesungguhnya jika engkau masuk neraka, engkau tidak akan pernah tertolong setelahnya selamanya.” Ya Allah, anugerahkan kepada kami husnul khatimah, ya Allah, lindungi kami dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.
Ya—wahai saudara-saudaraku—: Rahasia tersembunyi mengapa amal tidak diterima adalah adanya kepentingan nafsu dalam beramal: kamu menikahi gadis si fulan karena dia menarik perhatianmu dan kamu mencintainya, bukan agar Allah menjagamu dan melindungimu.. kamu memuliakan orang agar mereka memuliakanmu, bukan agar Allah memuliakanmu.. kamu shalat untuk merasa tenang, bukan karena Dia memerintahkanmu untuk shalat.. kamu menunaikan hak-hak sebagaimana mestinya agar orang-orang berkata tentangmu: terpercaya, bukan karena Allah mewajibkan itu kepadamu..
Adanya kepentingan nafsu dalam amal berarti: kamu bekerja untuk kepentinganmu sendiri.. kamu bekerja untuk dirimu sendiri, bukan untuk Allah.. adanya kepentingan nafsu.. jangan sampai kamu melupakan kata-kata ini.. bahwa kamu menjadi “pekerja” untuk kepentinganmu sendiri.. untuk seleramu.. untuk hawa nafsumu.. untuk dirimu sendiri.. bukan untuk Allah.. Ya Allah tutupilah aib kami dan jangan Engkau permalukan kami.
Inilah masalah besar.. bahwa kebanyakan dari kita lebih banyak beramal untuk dirinya sendiri, bukan untuk Allah.. inilah kenyataannya dan jangan marah, karena itu berdirilah dengan bersungguh-sungguh dan wujudkanlah keikhlasan.. jernihkan niat karena Allah, karena kamu tidak tahu kapan kamu akan mati.. ikhlaskan amalmu agar diterima, jika tidak maka amalmu akan dilemparkan ke wajahmu, dan kamu rugi tidak sampai kepada Allah.
Abu Ayyub bekas budak Daighom bin Malik berkata: Suatu hari Abu Malik berkata kepadaku: Wahai Abu Ayyub, jagalah dirimu atas dirimu, karena aku melihat kesedihan orang-orang mukmin di dunia tidak akan pernah berakhir, demi Allah, jika akhirat tidak mendatangkan kegembiraan bagi orang mukmin, sungguh telah berkumpul padanya dua perkara: kesedihan dunia dan kesengsaraan akhirat. Aku berkata: Demi ayah dan ibuku, bagaimana mungkin akhirat tidak mendatangkan kegembiraan baginya, padahal dia bersusah payah untuk Allah di dunia dan bekerja keras?! Dia berkata: Wahai Abu Ayyub, bagaimana dengan penerimaan amalnya?! Dan bagaimana dengan keselamatannya?! Kemudian dia berkata: Berapa banyak orang yang merasa telah memperbaiki dirinya, telah memperbaiki ibadah-ibadahnya, telah memperbaiki niatnya, telah memperbaiki amalnya, semua itu dikumpulkan pada hari kiamat kemudian dipukulkan ke wajahnya.
Wahai saudara-saudaraku, hisablah diri kalian dan renungkanlah.. Amir bin Qais biasa berkata kepada dirinya sendiri: Bangunlah wahai tempat segala keburukan, demi kemuliaan Tuhanku, sungguh aku akan mendorongmu maju seperti dorongan unta, dan jika aku mampu agar lemak tubuhmu tidak menyentuh tanah pasti akan kulakukan. Kemudian dia berguling-guling seperti biji-bijian di atas penggorengan, kemudian dia berdiri dan berseru: Ya Allah, neraka telah mencegahku dari tidur, maka ampunilah aku.
Seseorang beribadah karena terinspirasi oleh bait syair yang didengarnya: Untuk diriku aku menangis, tidak menangis untuk selainnya… untuk diriku dalam diriku aku sibuk dari manusia
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya fitnah nafsu dan syahwat, daya tarik dunia, kenyamanan dan ketenangan, sulitnya istiqamah di jalan iman, dan tegak di atas ridha-Nya, dengan berbagai hambatan dan penghambat di kedalaman jiwa—itulah fitnah terbesar.
Tetapi apa solusinya—wahai saudara-saudaraku—agar kita hilangkan kepentingan nafsu dari amal-amal kita supaya Allah menerima kita?
Jiwa dilebur dengan perjuangan sehingga keburukan hilang darinya, dan menggugah kekuatan tersimpan yang terkandung di dalamnya sehingga terbangun. Cukuplah firman Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut: 69).
Abu Yazid Al-Busthami berkata: Aku telah merawat segala sesuatu, namun tidak ada yang lebih sulit daripada merawat diriku sendiri, tidak ada yang lebih ringan bagiku darinya. Dan dia berkata: Aku menyeru diriku kepada Allah, namun dia menolak dan sulit, maka aku tinggalkan dia dan pergi menuju Allah.
Dikatakan kepada sebagian ahli riyadhah (latihan spiritual): Bagaimana kamu mengalahkan nafsumu? Dia berkata: Aku berdiri di barisan perangnya dengan senjata kesungguhan, maka keluarlah Marhab hawa nafsu untuk mempertahankan diri, maka keteguhan memukulnya dengan pedang yang tajam, belum berlalu satu jam hingga Khaibar hancur.
Dikatakan kepada yang lain: Bagaimana kamu mampu mengatasi hawa nafsumu? Dia berkata: Aku tipunya hingga aku menawannya, dan aku ambil tongkatnya lalu aku patahkan, dan aku belenggu dengan belenggu pengasingan, dan aku gali untuknya penjara bawah tanah kehinaan di rumah ketawaduan, dan aku pukul dengan cambuk kelaparan sehingga dia lunak.. Wahai fulan: Apakah kamu punya niat untuk berjihad melawan nafsu, ataukah hanya niat saja?.. Kamu telah melelahkanku.. Sampai kapan kamu berkeliling mencari kesia-siaan?! Tidak ada kemuliaan bagi Yusuf kecuali dengan meninggalkan apa yang menghinakan Ma’iz.
Wahai saudara-saudaraku, Allah tidak menerima amal yang di dalamnya ada kepentingan nafsu, maka tinggalkanlah nafsu kalian dan datanglah kepada Allah.. dan mintalah pertolongan kepada Allah atas nafsu itu dengan berjihad dan berbuat ihsan dalam bermuamalah, Tuhanku berfirman—dan yang paling benar ucapannya adalah ucapan Tuhanku—: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut: 69).
Prinsip Keenam Belas: Semua Urusan Di Tangan Allah, Maka Berseraplah Niscaya Selamat
Allah Ta’ala berfirman tentang Ibrahim: “(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah!” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku tunduk patuh kepada Tuhan seluruh alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan (menjalankan agama itu) kepada anak-anaknya” (Al-Baqarah: 131-132).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan firman-Nya Ta’ala: “(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan seluruh alam'” artinya: Allah Ta’ala memerintahkannya untuk ikhlas kepada-Nya, tunduk dan patuh, maka dia memenuhi itu secara syariat dan takdir.
Dan firman-Nya “Dan Ibrahim telah mewasiatkan (menjalankan agama itu) kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub” artinya: dia berwasiat dengan agama ini yaitu Islam kepada Allah, atau kembali kepada kalimat, yaitu ucapannya: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan seluruh alam” karena semangat mereka terhadapnya dan kecintaan mereka kepadanya, mereka menjaganya hingga saat kematian, dan berwasiat kepada anak-anak mereka dengannya setelah mereka.”
Maka berseraplah kepada Tuhanmu wahai pencari perjumpaan dengan-Nya, karena semua urusan adalah milik-Nya, sang Raja berfirman: “(Ingatlah) ketika kamu lari (meninggalkan musuh) dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasul memanggil kamu dari belakangmu, maka Allah memberikan balasan kepada kamu berupa kesedihan atas kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak (pula) terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kesedihan itu, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita (hak campur tangan) sesuatu dari urusan (peperangan) ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi kita (hak campur tangan) sesuatu dari urusan (peperangan) ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (gugur) di sini.’ Katakanlah, ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka gugur. (Allah berbuat demikian) agar Dia menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali Imran: 153-154). “Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri”.. ya: betapa banyak orang di dunia ini yang tidak punya perhatian kecuali untuk diri mereka sendiri.. mereka menyerahkan urusan mereka kepada diri mereka sendiri, bukan kepada Allah.. dan sudah lama orang berkata: Barang siapa hidup untuk dirinya sendiri, dia hidup kecil dan mati hina.. maka serahkan dirimu kepada Allah semata, Dialah yang memerintah dan melarangnya dengan apa yang lebih bermanfaat dan lebih baik untuknya, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.. letakkan tangan dan kakimu dalam belenggu syariat yang mulia agar kamu terbebas dari kehinaan penghambaan kepada selain Allah.. berserahlah niscaya selamat, karena semua urusan di tangan Allah.
Betapa banyak kita melihat orang yang hal terpenting baginya adalah makan, minum, berpakaian dan tidur.. hal terpenting adalah seleranya, adapun keluarga maka bukan urusanku dengan keluarga! Akulah yang mendatangkan keluarga.. dan istri?.. apa urusanku dengan istri, biarlah dia pergi ke keluarganya, mereka yang memberinya makan.. dan tentang akhirat dia berkata: Ketika perhitungan datang nanti akan ada jalan!!
Tentu kamu akan heran dengan orang ini, karena ucapannya tidak dikatakan kecuali oleh orang bodoh atau maksiat, tetapi jangan heran, karena ucapan ini ada di dalam diri banyak dari kita—para orang yang berkomitmen—meskipun dia tidak mengatakannya dengan lisannya.. ya: banyak dari kita ingin hidup untuk dirinya sendiri—dan dirinya sendiri—saja.. dan mari kita jujur agar kita bisa mengatasi masalah-masalah itu, jika tidak maka kutu akan terus menggerogoti tulang.. tulang umat.
Sesungguhnya penyebab musibah kita hari ini adalah diri kita sendiri.. kita terlihat “terbalik dan terhina” mengapa?.. dari diri kita sendiri.. sekelompok yahudi.. segelintir yahudi memukul kita di atas kepala kita mengapa?.. mengapa mereka melemahkan dan meremehkan kita?.. karena kehinaan kita pada diri kita sendiri.. padahal kita lebih banyak dari semua orang-orang ini, dan kita memiliki semua kemampuan yang memenuhi syarat untuk memimpin dunia tetapi kita tidak memimpin.. karena “kutu” ada di dalam hati kita. Sesungguhnya kemenangan pertama agama adalah kamu memperbaiki dirimu.. maka dari sinilah titik tolaknya, dan dari sinilah permulaan.. dan perbaikan diri adalah dengan menyerahkannya kepada Allah dengan penuh cinta dan ridha, Dialah yang memerintah dan melarangnya.
Permulaan dari dirimu.. dan ucapan ini telah kukatakan sejak dua puluh tahun lalu.. dan sepuluh.. dan lima.. dan kemarin.. dan hari ini.. dan akan terus kukatakan hingga aku mati, karena ini adalah hukum ilahi.. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11).. “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Al-Anfal: 53).
Dan sesungguhnya orang yang berbicara tentang perubahan pada segala hal kecuali dari dirinya sendiri tidak akan mengubah apa pun sama sekali. Maka permulaan dari mana?.. dari diri kita sendiri.. dan ini bukan dari diriku, tetapi ini adalah firman Allah sebagaimana telah berlalu.
Jadi, harus ada perenungan.. tahukah kamu arti perenungan?.. Perenungan pada hakikat diri kita sendiri.. hal apa dalam diri kita yang harus diubah?.. maka ubahlah dirimu dan serahkan dirimu bukan kepada dirimu tetapi kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman “Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita (hak campur tangan) sesuatu dari urusan (peperangan) ini?'” (Ali Imran: 154).. orang-orang munafik ini berkata: Siapa yang membawa kita ke sini.. apa urusan kita dengan perkara ini?! Seperti orang-orang yang berkata: Apa urusan kita dengan Palestina?! Dan mereka berkata: Merekalah yang menjual tanah mereka.. Sesungguhnya perkara ini wahai orang-orang!! bukan Palestina.. ini adalah perkara Islam dan Yahudi.. perkara ini adalah perkara Islam dan kekufuran. Dan sesungguhnya orang yang peduli dan bersedih atas keadaan kaum muslimin seharusnya memikirkan dirinya maka memperbaikinya agar umatnya yang terluka juga tertolong.. dan hendaklah dia berserah kepada Allah dan berkata dengan lisan hati dan ucapan: kami mendengar dan kami taat wahai Tuhan.. “Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali'” (Al-Baqarah: 285).. maka janganlah dia mencukur jenggotnya misalnya dan berkata: Cukurlah dan istirahatkan kepalamu.. tidak.. mana mendengar dan taat kalau begitu?! Mana penyerahan diri yang kita bicarakan?!! Kamu tidak mengistirahatkan dirimu tetapi justru kamu membangkang kepada Tuhanmu yang di tangan-Nya perintah dan larangan.
Mengapa Imam Ahmad bin Hanbal dipenjara?.. Karena akidah.. orang-orang berkata kepadanya: Al-Quran adalah makhluk, dia berkata kepada mereka: Al-Quran adalah kalam Allah yang bukan makhluk.. mereka memenjarakannya dan memukulnya.. orang yang memukulnya berkata: Aku memukul Ahmad tujuh belas kali cambuk, jika cambukan itu dipukulkan ke gunung pasti gunung itu hancur.. ya: dipenjara.. dan di Syi’b Abi Thalib berapa banyak orang yang dipukul! Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri dipenjara dan dipukul.. maka pendidikan dengan penjara dan pukulan sekarang bukanlah hal baru.. “Tidak dikatakan kepadamu (Muhammad) kecuali apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu” (Fushshilat: 43)..
Ayah Sayyidina Ibrahim berkata kepadanya: “Sungguh, jika engkau tidak berhenti (menyembah berhalaku), pasti aku akan merajammu” (Maryam: 46)..
Firaun berkata kepada Musa alaihissalam: “Sungguh, aku akan menjadikanmu salah seorang yang dipenjarakan” (Asy-Syu’ara: 29)..
Maka ini adalah sunnatullah.. sunnah yang tetap tidak berubah.. dan ujian Ahmad bin Hanbal adalah karena sebuah kata yang sangat mudah bagi orang-orang hari ini untuk melepaskannya, bahkan orang-orang yang berkomitmen.
Abu Sa’id Al-Wasithi berkata: Aku masuk menjenguk Ahmad di penjara sebelum dia dipukul, lalu aku berkata: Wahai Abu Abdillah, kamu punya tanggungan keluarga dan anak-anak kecil dan kamu dimaafkan, seolah aku memudahkan baginya untuk menjawab.. seolah dia berkata kepadanya dengan bahasa zaman kita: Kamu punya keluarga di belakang dan butuh membesarkan mereka, katakanlah kepada mereka kata yang mereka inginkan.. “Al-Quran adalah makhluk”.. dan keluarlah dari sini.. bukankah dari dalam hatimu kamu meyakini bahwa Al-Quran adalah kalam Allah?! Jadi tidak masalah bagimu selama hatimu tenteram dengan iman!! Maka Imam Ahmad berkata: “Wahai Abu Sa’id, jika ini akalmu maka sungguh kamu beristirahat!!”.. dan betapa banyak pemilik akal yang beristirahat di zaman kita.. mengistirahatkan kepalanya.. dan tidak peduli dengan urusan apa pun.. dan membiarkan dirinya mengikuti arus, dan ketika dia mati tidak menemukan kecuali neraka.
Karena itu – wahai saudara-saudaraku – ketika Allah berfirman: “Apakah bagi kami ada sedikit urusan?” (Ali ‘Imran: 154), maka kita menjawab: Seluruh urusan adalah milik Allah.
Urusan adalah urusan Allah. Maka jika Allah menghendaki engkau untuk memikul sesuatu, pikullah apa yang diperintahkan kepadamu. Itulah tanggung jawabmu. Inilah amanah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut akan amanah itu. Namun manusia menerimanya. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Pikul tanggung jawab agama ini, karena agama adalah amanah. Agama adalah hubungan kehormatanmu. Agama adalah tanggung jawab setiap muslim. Agama adalah tanggung jawab pribadimu, dan engkau akan ditanya tentangnya. Demi Allah, sungguh engkau akan ditanya tentang agama Allah: apa yang engkau lakukan dengannya dan apa yang engkau persembahkan untuknya?
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata ketika sebagian orang menolak zakat: “Apakah agama akan berkurang sementara aku masih hidup? Tidak, demi Allah!”
Maka bagaimana denganmu? Apakah agama berkurang sementara engkau masih hidup?
Apakah agama berkurang di rumahmu, di daerahmu, di negerimu, dan di seluruh dunia?
Ya, agama berkurang karena engkau tidak memikulnya.
Orang-orang munafik adalah mereka yang tidak mau memikul agama. Allah berfirman: “Mereka berkata: apakah bagi kami ada sedikit urusan? Katakanlah: seluruh urusan adalah milik Allah.” (Ali ‘Imran: 154).
Mereka berkata dalam diri mereka: Apa yang membuat kalian datang ke sini?
“Mereka menyembunyikan dalam diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu. Mereka berkata: ‘Sekiranya kami memiliki urusan sedikit saja, niscaya kami tidak akan terbunuh di sini.’” (Ali ‘Imran: 154)
Seolah mereka berkata: “Kalau urusan ini di tangan kami, kami tidak akan datang ke sini. Mengapa kami harus bertempur? Untuk apa kami berperang?”
Tidak. Urusan bukan di tangan kalian.
“Katakanlah: Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan kematian bagi mereka pasti keluar menuju tempat mereka terbunuh.” (Ali ‘Imran: 154)
Andai Rasul tidak datang kepada kalian, dan kalian tidak keluar, kalian tetap akan terbunuh di tempat ini, selama Allah telah menuliskan itu bagi kalian. Inilah takdir.
Karena itu, orang yang mencukur jenggotnya supaya tidak diganggu, akhirnya tetap mengalami gangguan. Sudah tertulis. Persoalannya bukan pada sebab-sebab lahiriah. Persoalannya pada Sang Pencipta sebab-sebab. Sadarlah.
Maka ketika seseorang datang berkata: “Saya akan mencukur jenggot saya,” kita katakan: Wahai saudaraku, bala (musibah) itu ditolak dengan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah, bukan dengan maksiat kepada Allah dan Rasulullah. Apakah engkau bermaksiat kepada Rabbmu untuk menolak bala darimu?
Ya Allah, angkatlah bala dari kaum muslimin.
Taatilah Rabbmu. Laksanakan perintah-Nya. Karena seluruh urusan adalah milik-Nya, bukan milik mereka yang engkau takutkan. Pasrahlah kepada-Nya, niscaya engkau selamat. Dialah Allah Al-‘Aziz, Allah Al-Jabbar, Allah Al-Latif.
“Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya.” (Asy-Syura: 19)
Allah Maha Penyayang, Allah Maha Menjaga. Bersamalah dengan-Nya. Jika engkau berada di dalam perlindungan-Nya, Dia tidak akan menyia-nyiakanmu. Dia adalah Allah.
Ada ucapan yang sangat agung dari Abu Isma‘il Al-Harawi mengenai prinsip ini. Ia berkata: “Engkau harus mengetahui bahwa perintah itu datang dari Zat yang tidak takut akibat dari perintah itu.”
Yang memerintahkanmu itu siapa? Allah.
Apakah Dia takut?
Kita berlindung kepada Allah. Mustahil Allah takut.
Allah berfirman:
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta betina itu. Maka Rabb mereka membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka. Dan Allah tidak takut akibat dari perbuatan-Nya itu.” (Asy-Syams: 14–15)
Maka bersamalah dengan-Nya, Dia akan melindungimu, menjaga dirimu, membimbingmu, dan menyelamatkanmu. Jika Dia mengujimu, Dia akan membuatmu ridha.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Jujurlah kepada Allah. Jika engkau jujur, engkau akan hidup di antara kasih dan kelembutan-Nya. Kasih-Nya akan melindungimu dari apa yang engkau takutkan, dan kelembutan-Nya akan membuatmu ridha terhadap apa yang Dia tetapkan.”
Engkau akan hidup di antara kasih dan kelembutan. Dia mencurahkan kasih-Nya kepadamu sehingga apa pun yang engkau takutkan tidak akan terjadi, karena Dia adalah Raja. Di alam semesta tidak terjadi apa pun kecuali dengan ketentuan, izin, dan kehendak-Nya. Dia akan melindungimu dengan kasih-Nya.
Dan jika Dia menakdirkan kepadamu sesuatu yang engkau tidak suka, Dia akan membuatmu ridha dengan kelembutan-Nya.
Maka serahkan seluruh urusan kepada Allah sesuai yang Dia kehendaki. Dia akan melindungimu dan membuatmu ridha. Berserah dirilah kepada-Nya, niscaya engkau selamat.
Ada seseorang yang sedang mengemudi mobil. Pada detik takdir, ia tidak melihat apa yang ada di depannya, dan terjadilah kecelakaan itu. Di dalamnya terlihat kasih dan kelembutan Allah.
Kasih-Nya: mobilnya hancur, tetapi ia dan anak-anaknya keluar dengan selamat. Itulah kasih.
Adapun kelembutan (lutf) Allah: orang itu turun dari mobil dalam keadaan bersujud sambil berkata, “Alhamdulillah.”
Orang-orang berkata kepadanya: “Mobilmu hancur.”
Ia menjawab: “Wahai saudaraku, alhamdulillah, alhamdulillah.”
Itulah kelembutan Allah.
Sebaliknya, ada orang yang mencukur jenggotnya, bermaksiat, lalu ia disakiti, kemudian ia mengucapkan kata-kata yang membuat Allah murka.
Ia tidak menjalankan perintah sehingga tidak hidup dalam kasih (athf) Allah, dan ia juga tidak diam sehingga dapat hidup bahagia dan menang dalam kelembutan Allah.
Demikianlah, jika engkau hidup untuk Allah, melaksanakan seluruh perintah-Nya, menyerahkan kendali dirimu kepada-Nya dan taat dalam semua yang Dia perintahkan, niscaya engkau selamat, dan Dia akan membawa dirimu berjalan di antara kasih dan kelembutan-Nya.
Ya Allah, jagalah kami dengan kasih dan kelembutan-Mu wahai Rabb.
Maka berserahlah kepada-Nya niscaya engkau selamat dan sampai kepada tujuan, karena seluruh urusan adalah milik Allah.
Prinsip Ketujuh Belas: Tanda bahwa Allah tidak ridha kepadamu adalah ketidakridhaanmu kepada-Nya
Ada seorang lelaki yang istrinya mengganggunya sedikit, namun ia seorang yang saleh, ridha, sabar, dan berkata: “Ini karena dosa-dosaku.”
Lelaki yang ridha ini kemudian Allah buat ridha. Allah datangkan seorang lelaki yang duduk di sampingnya lalu berkata: “Wahai saudaraku, aku tidak tahu lagi harus bagaimana dengan istriku! Setiap kali aku bicara, ia memarahiku dan merendahkanku.”
Maka lelaki yang pertama berkata dalam hatinya: “Segala puji bagi Allah. Kalau begitu aku dalam nikmat.”
Sementara lelaki lain, setiap kali istrinya mengganggunya, ia berkata: “Wahai Rabb, dosa apa yang telah aku lakukan sampai Engkau timpakan musibah seperti ini kepadaku?!”
Maka Allah datangkan seseorang duduk di sampingnya dan berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, mengapa engkau menyiksa dirimu? Ceraikan saja istrimu agar engkau tenang dari semua masalahnya!”
Seandainya ia ridha, niscaya Allah akan membuatnya ridha.
Sufyan berkata, dari Al-Hasan: “Barang siapa ridha dengan apa yang Allah tetapkan baginya, maka Allah luaskan baginya dan memberkahinya. Barang siapa tidak ridha, maka Allah tidak meluaskannya dan tidak memberkahinya.”
Abu ‘Utsman Al-Hairi berkata: “Selama empat puluh tahun Allah tidak menempatkanku dalam suatu keadaan yang aku benci, dan tidak memindahkanku ke suatu keadaan yang aku tidak sukai.”
Ada kisah menakjubkan yang terjadi pada salah seorang saudara. Di malam hari ia merasa haus. Ia bangun, minum, lalu kembali. Ia mendapati istrinya terbangun dan berkata kepadanya: “Dari mana engkau?”
Ia menjawab: “Aku tadi minum.”
Istrinya menangis dan berkata: “Mengapa engkau tidak membangunkanku? Mengapa engkau tidak memerintahkanku? Apa gunaku sebagai istrimu?!”
Yang menempatkan lelaki ini pada posisi itu dan menempatkan perempuan itu pada posisinya adalah siapa? Allah.
Maka ketika engkau ridha, Allah akan membuatmu ridha.
Dan ketika engkau murka, Allah akan menambah murkamu.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan. Barang siapa murka, maka baginya kemurkaan.” (Dishahihkan oleh Al-Albani)
Inilah masalahnya: jika engkau selalu ridha, Allah akan meridhai dirimu, dan Dia akan mendatangkan kepadamu hal-hal yang membuatmu ridha serta orang-orang yang membuatmu ridha.
Kisah yang telah disebutkan sebelumnya — kisah Hudair — merupakan bukti terbaik. Ketika mereka berjalan dan masing-masing mendapatkan hadiah di tangannya, ia tidak berkata: “Aku bagaimana?” Ia tidak kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berkata: “Aku belum menerima hadiahku.”
Seandainya ia meminta, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pasti memberinya.
Namun lelaki itu ridha, cukup baginya bahwa Allah menyebut namanya.
Dan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutnya, beliau segera mengirimkan hadiah kepadanya.
Maka ia mendapatkan hadiah dan mendapat penyebutan dari Allah — karena keridhaannya.
Sa‘d bin Abi Waqqash terkenal sebagai orang yang mustajab doanya. Di akhir hidupnya penglihatannya hilang.
Anaknya berkata: “Wahai ayahku, aku melihat engkau mendoakan orang lain. Mengapa engkau tidak berdoa untuk dirimu agar Allah mengembalikan penglihatanmu?”
Ia menjawab: “Wahai anakku, ketetapan Allah lebih aku cintai daripada penglihatanku.”
Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian ridha kepada Allah?
Apakah benar-benar ketetapan dan takdir Allah lebih kalian cintai daripada keadaan kalian saat ini, berupa ujian, fitnah, dan keterasingan?
Kalau kalian ingin memastikan, maka ridha kepada Allah terbukti dengan tiga syarat yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin:
- Sama saja antara nikmat dan musibah bagi seorang hamba, karena ia melihat baiknya pilihan Allah untuknya.
- Tidak mengadukan atau menyalahkan manusia, kecuali dalam hal yang merupakan hak Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
- Orang yang ridha tidak berselisih dan tidak menegur kecuali dalam perkara yang berkaitan dengan hak Allah.
- Inilah keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak pernah memarahi atau menegur seseorang kecuali terkait hak Allah. Beliau juga tidak marah untuk dirinya sendiri.
- Namun jika batas-batas Allah dilanggar, tidak ada yang mampu menahan kemarahan beliau sampai beliau menegakkan kebenaran untuk Allah.
Perselisihan karena kepentingan pribadi memadamkan cahaya ridha, menghilangkan keindahannya, mengganti manisnya dengan pahit, dan mengeruhkan kebeningannya.
Syarat ketiga: bebas dari meminta kepada manusia dan bebas dari memaksa mereka. Allah berfirman: “Orang yang tidak tahu mengira mereka orang kaya karena sikap menjaga diri; engkau dapat mengenali mereka dari sifat mereka, mereka tidak meminta kepada manusia dengan memaksa.” (Al-Baqarah: 273).
Ibnu Abbas berkata: “Jika ia memiliki makanan siang, ia tidak meminta makanan malam. Jika ia memiliki makanan malam, ia tidak meminta makanan siang.”
Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan bahwa pencegahan dari Allah kepada hamba-Nya adalah pemberian, dan ujian-Nya adalah bentuk keselamatan. Ia berkata:
“Sesungguhnya Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi hamba-Nya yang beriman melainkan itu baik baginya, apakah ketetapan itu menyenangkannya atau menyusahkannya. Maka ketetapan Allah kepada hamba yang beriman adalah pemberian meskipun tampak seperti pencegahan. Nikmat meskipun tampak seperti musibah. Dan ujian adalah keselamatan meskipun tampak seperti bencana. Namun karena kebodohan dan kezaliman hamba, ia tidak menganggap pemberian, nikmat, dan keselamatan melainkan apa yang ia rasakan menyenangkan secara langsung dan cocok dengan tabiatnya. Seandainya ia diberi pengetahuan yang luas, niscaya ia akan menganggap pencegahan sebagai nikmat, musibah sebagai rahmat, dan ia akan merasakan nikmat dalam musibah lebih besar daripada nikmat dalam kelapangan. Ia akan menikmati kefakiran lebih daripada menikmati kekayaan. Dan ketika ia dalam keadaan sedikit, ia lebih banyak bersyukur daripada ketika ia dalam keadaan banyak.
Orang yang ridha adalah orang yang menganggap nikmat Allah padanya dalam perkara yang ia benci lebih besar dan lebih banyak daripada nikmat yang ia sukai. Sebagaimana sebagian salaf berkata: ‘Ridhalah kepada Allah dalam seluruh yang Dia lakukan padamu, karena Dia tidak pernah mencegahmu kecuali untuk memberi, tidak mengujimu kecuali untuk menyelamatkanmu, tidak membuatmu sakit kecuali untuk menyembuhkanmu, dan tidak mematikanmu kecuali untuk menghidupkanmu. Maka jangan sampai engkau berpisah dari keridhaan kepada-Nya walau sekejap mata, sehingga engkau jatuh dari pandangan-Nya.’”
Wahai saudara-saudaraku, Ats-Tsauri suatu hari berkata di hadapan Rabi‘ah: “Ya Allah, ridhoilah kami.”
Rabi‘ah berkata: “Tidakkah engkau malu meminta agar Allah ridha kepadamu sementara engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya?”
Ia pun berkata: “Aku memohon ampun kepada Allah.”
Lalu Ja‘far bin Sulaiman bertanya kepada Rabi‘ah: “Kapan seorang hamba mencapai derajat ridha?”
Ia menjawab: “Jika kegembiraannya terhadap musibah sama seperti kegembiraannya terhadap nikmat.”
Seorang lelaki masuk menemui Abu Al-‘Aliyah ketika ia sakit menjelang wafat, lalu Abu Al-‘Aliyah berkata: “Yang paling aku cintai adalah yang paling dicintai Allah.”
Yahya bin Mu‘adz pernah ditanya: “Kapan seorang hamba sampai pada maqam ridha?”
Ia menjawab: “Jika ia menegakkan dirinya di atas empat prinsip dalam hubungannya dengan Rabb-nya: Jika Engkau memberi, aku menerima. Jika Engkau mencegah, aku ridha. Jika Engkau membiarkan (tanpa perhatian khusus), aku tetap beribadah. Jika Engkau memanggilku, aku menjawab.”
Hafsh bin Humaid berkata: “Aku bersama Abdullah bin Al-Mubarak di Kufah ketika istrinya meninggal. Aku bertanya kepadanya: ‘Apakah ridha itu?’ Ia menjawab: ‘Ridha adalah tidak menginginkan keadaan yang berbeda dari keadaannya sekarang.’”
Seseorang melihat bisul pada kaki Muhammad bin Wasi‘ dan berkata: “Aku kasihan melihat lukamu ini.”
Ia menjawab: “Aku sudah mensyukurinya sejak muncul, karena ia tidak muncul di mataku.”
Basyir Ath-Thabari memiliki kebun yang berisi empat ratus kerbau — harta yang nilainya setara satu juta pound pada zaman sekarang.
Suatu hari pasukan Romawi menyerbu dan menggiring seluruh kerbau tersebut. Ia memiliki seratus budak penjaga. Mereka mengirim pesan kepadanya bahwa kerbau-kerbau itu telah dirampas.
Ia pun berangkat bersama anaknya.
Ketika sampai, para budak itu menangis: “Wahai tuanku, seluruh kerbau telah dibawa!”
Ia berkata: “Kalian juga: pergilah, kalian semua merdeka karena Allah.”
Anaknya berkata: “Wahai ayah, engkau membuat kita jatuh miskin!”
Ia menjawab: “Diam wahai anakku. Sesungguhnya Allah ingin menguji keridhaanku pada-Nya, maka aku ingin menambahkannya.”
Allah merahmatimu, wahai Basyir.
Ia berkata: “Allah menguji apakah aku ridha dengan ketetapan-Nya atau tidak. Maka aku berkata kepada-Nya: Tidak! Aku sangat ridha. Dan tambahan ini pun aku persembahkan untuk-Mu wahai Rabb.”
“Pergilah, kalian merdeka karena Allah!”
Seorang hamba itu mudah bosan, sedangkan Allah Mahabesar ketetapan-Nya.
Zaman silih berganti kekuasaan, dan rezeki telah dibagi.
Seluruh kebaikan ada dalam pilihan yang dipilih Pencipta kita,
dan dalam pilihan selain-Nya ada cela dan keburukan.”
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
“Buah dari ridha adalah kegembiraan dan kebahagiaan bersama Rabb tabaraka wa ta‘ala. Aku pernah melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah — semoga Allah meninggikan derajat ruhnya — dalam mimpi. Seakan-akan aku menyebutkan kepadanya sesuatu dari amalan hati dan aku membesar-besarkan manfaatnya — aku tidak lagi ingat apa itu — maka beliau berkata: ‘Adapun aku, jalanku adalah bergembira dengan Allah dan berbahagia bersama-Nya.’ Atau kalimat yang semakna dengannya.”
Wahai Tuhanku, kelolalah diri kami bagaimana pun Engkau kehendaki, niscaya kami ridha.
Wahai Tuhanku:
Jika para tokoh mulia suatu hari bepergian menuju-Mu,
mencari kedudukan demi kedudukan,
maka sesungguhnya perjalanan kami telah berhenti agar Engkau ridha,
karena kelembutan-Mu atas segala keadaan.
Kami menambatkan tunggangan kami di halaman-Mu wahai Tuhan kami,
menghadap kepada-Mu tanpa mampu menahan diri.
Maka kelolalah kami sebagaimana Engkau kehendaki dan jangan serahkan kami
kepada pengaturan diri kami sendiri, wahai Pemilik segala keluhuran.”
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata dalam Shaydul Khatir, pada subjudul “Bab: Mengingat keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”:
“Barang siapa ingin mengetahui hakikat ridha kepada Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya, dan ingin tahu dari mana ridha itu muncul, hendaklah ia merenungkan keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Ketika kesempurnaan ma’rifah beliau kepada Allah telah terhimpun, beliau melihat bahwa Sang Pencipta adalah Pemilik, dan Pemilik berhak melakukan apa saja terhadap miliknya. Beliau melihat bahwa Allah Mahabijaksana dan tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia. Maka beliau menyerah total seperti seorang hamba yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana. Keajaiban-keajaiban terjadi pada diri beliau namun tidak tampak perubahan atau keluhan.
Beliau tidak pernah berkata dalam hatinya: ‘Seandainya begini…’
Beliau berdiri tegak menghadapi takdir sebagaimana gunung menghadapi kencangnya angin.”
Ini adalah pemimpin para rasul, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yang diutus kepada seluruh makhluk seorang diri, sementara kekufuran telah memenuhi seluruh penjuru. Maka beliau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan bersembunyi di rumah Khaizuran. Mereka memukul beliau ketika keluar, melukainya hingga tumit beliau berdarah, meletakkan kotoran di punggung beliau, sedangkan beliau diam dan tenang.
Beliau keluar setiap musim dan berkata: “Siapa yang akan melindungiku, siapa yang akan menolongku?”
Kemudian beliau keluar dari Mekah dan tidak mampu kembali kecuali dalam perlindungan seorang kafir, dan tidak ditemukan sedikitpun keluh kesah dari tabiat beliau.
Seandainya selain beliau, tentu akan berkata: Ya Rabb, Engkau Pemilik semua makhluk dan Maha Kuasa untuk menolong, mengapa aku dihinakan?
Sebagaimana yang dikatakan Umar radhiyallahu anhu pada hari Perjanjian Hudaibiyyah: Bukankah kita berada di atas kebenaran? Mengapa kita harus menerima kehinaan dalam agama kita?!!
Ketika dia berkata demikian, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku”. Maka dua kalimat ini mengumpulkan dua prinsip yang telah kami sebutkan.
Sabda beliau: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, adalah pengakuan akan kepemilikan Allah, seolah beliau berkata: Aku adalah hamba yang diperlakukan sesuai kehendak-Nya.
Dan sabda beliau: Dia tidak akan menyia-nyiakanku, adalah penjelasan tentang hikmah-Nya, dan bahwa Dia tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia.
Kemudian beliau diuji dengan kelaparan sehingga mengikatkan batu di perut, padahal milik Allah lah perbendaharaan langit dan bumi. Para sahabat beliau dibunuh, wajah beliau terluka, gigi seri beliau patah, paman beliau dimutilasi, dan beliau tetap diam.
Kemudian beliau dikaruniai seorang anak lalu direnggut darinya, maka beliau menghibur diri dengan Hasan dan Husain, namun beliau diberitahu tentang apa yang akan terjadi pada keduanya.
Secara alami beliau dekat dengan Aisyah radhiyallahu anha, namun kehidupan beliau diganggu dengan tuduhan terhadapnya.
Beliau sangat banyak menampakkan mukjizat, namun muncul Musailamah, Al-Ansi, dan Ibnu Shayad yang menentang beliau.
Beliau menegakkan undang-undang amanah dan kejujuran, namun disebut: pendusta dan tukang sihir.
Kemudian penyakit menyerang beliau seperti menimpa dua orang, dan beliau tetap diam dan tenang.
Jika beliau menceritakan kondisinya, maka ketahuilah kesabaran itu.
Kemudian kematian menyulitkan beliau, maka ruh mulia beliau dicabut sementara beliau terbaring di atas kain kusut dan kain sarung yang kasar, dan mereka tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu pada malam itu.
Ini adalah sesuatu yang tidak ada nabi sebelum beliau yang mampu bersabar atasnya sebagaimana mestinya, dan seandainya malaikat diuji dengan hal ini, mereka tidak akan mampu bersabar.
Ini adalah Adam alaihissalam: dibolehkan baginya surga kecuali satu pohon, namun lalat keserakahannya tidak hinggap kecuali pada yang mandul. Sedangkan Nabi kita shalallahu alaihi wasallam berkata tentang yang halal: “Apa urusanku dengan dunia”!
Dan ini adalah Nuh alaihissalam: mengeluh atas apa yang dialaminya, maka berteriak karena sedih dan amarah “Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (Nuh: 26), sedangkan Nabi kita shalallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.
Ini adalah Musa Kalimullah shalallahu alaihi wasallam: meminta pertolongan ketika kaumnya menyembah anak sapi atas takdir sambil berkata: “Itu tidak lain hanyalah fitnah-Mu” (Al-A’raf: 155), dan ketika malaikat maut datang kepadanya, dia mencongkel matanya.
Dan Isa shalallahu alaihi wasallam berkata: “Jika Engkau menolak kematian dari seseorang, maka tolakkanlah dariku”, sedangkan Nabi kita shalallahu alaihi wasallam diberi pilihan antara tetap hidup dan wafat, maka beliau memilih berpindah kepada Ar-Rafiq Al-A’la (Teman Yang Tertinggi).
Ini adalah Sulaiman shalallahu alaihi wasallam berkata: Berikanlah kepadaku kerajaan, sedangkan Nabi kita shalallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup”.
Ini, demi Allah, adalah perbuatan seorang laki-laki yang mengenal alam semesta dan Yang Mewujudkan, maka tujuan-tujuannya mati dan keberatan-keberatannya tenang, sehingga hawa nafsunya berada dalam apa yang terjadi.
Jika engkau ridha wahai hamba Allah, maka ketahuilah bahwa Allah ridha kepadamu. Maka bukti ketidakridha-an-Nya kepadamu adalah ketidakridhaanmu kepada-Nya. Maka ridhailah Allah, niscaya engkau sampai kepada-Nya. Dan ingatlah selalu kondisi-kondisi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Prinsip Kedelapan Belas: Janganlah Engkau Menipu-Nya Maka Dia Akan Menipu-Mu
Renungkanlah bersamaku ayat-ayat ini: Allah Taala berfirman: “Dan orang-orang yang membuat tipu daya yang buruk, bagi mereka azab yang keras” (Fathir: 10), dan Allah Taala berfirman: “Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membuat tipu daya (pula). Dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat tipu daya” (Al-Anfal: 30). Dan Allah Taala berfirman: “Dan sungguh mereka telah membuat tipu daya mereka, padahal di sisi Allah (balasan) tipu daya mereka. Dan sesungguhnya tipu daya mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya” (Ibrahim: 46), dan Allah Taala berfirman: “Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami membuat tipu daya (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengetahui” (An-Naml: 50-52), dan Allah Taala berfirman: “Sungguh orang-orang sebelum mereka telah membuat tipu daya, maka Allah menghancurkan bangunan mereka dari fondasinya, lalu atapnya runtuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari” (An-Nahl: 26), dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat sesudah malapetaka menimpa mereka, tiba-tiba mereka membuat tipu daya terhadap ayat-ayat Kami. Katakanlah: ‘Allah lebih cepat membuat tipu daya’. Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menulis apa yang kamu tipu dayakan” (Yunus: 21), dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah mereka membuat tipu daya melainkan terhadap diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari” (Al-An’am: 123), dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami membuat tipu daya (pula), sedang mereka tidak menyadari” (An-Naml: 50), dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka apakah orang-orang yang membuat tipu daya yang buruk itu merasa aman dari Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi atau datangnya azab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari? Atau Allah mengazab mereka ketika mereka sedang bepergian, maka mereka tidak mampu melepaskan diri? Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur? Maka sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (An-Nahl: 45-47).
Dan Allah Jalla wa Ala berfirman: “Kelak orang-orang yang berdosa akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya” (Al-An’am: 124).
Dan Allah Jalla wa Ala berfirman: “Karena kesombongan di muka bumi dan karena tipu daya yang jahat. Dan tipu daya yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang melakukannya” (Fathir: 43), dan Allah Jalla wa Ala berfirman: “Dan tipu daya orang-orang itu akan binasa” (Fathir: 10), dan Allah Jalla wa Ala berfirman: “Dan sungguh orang-orang sebelum mereka telah membuat tipu daya, maka bagi Allah-lah segala tipu daya. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri” (Ar-Ra’d: 42), dan Allah Jalla wa Ala berfirman: “Maka apakah mereka merasa aman dari tipu daya Allah? Tiada yang merasa aman dari tipu daya Allah kecuali kaum yang merugi” (Al-A’raf: 99).
Sesungguhnya perenungan terhadap ayat-ayat ini dan membacanya berulang-ulang dengan tenang dan tadabbur akan menanamkan dalam hati rasa takut dari tipu daya. Maka lihatlah akibat tipu daya yang engkau lihat jelas di hadapanmu dalam ayat-ayat tersebut. Dan seolah-olah ayat-ayat itu berkata kepadamu: Janganlah engkau menipu. Janganlah.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tipu daya, penipuan, dan pengkhianatan di dalam neraka” (dishahihkan oleh Al-Albani). Maka janganlah engkau menipu, niscaya engkau akan ditipu.
Banyak dari manusia hidup di dunia ini memperlakukan Allah dengan tipu daya. Kebodohan. Ia memperlakukan istrinya dengan tipu daya, ayahnya dengan tipu daya, atasannya dan rekan kerjanya dengan tipu daya, tetangganya dan orang-orang di sekitarnya dengan tipu daya, maka ia menyangka bahwa ia mampu menipu Allah! Kata-kata berbahaya dari Ibnu Al-Jauzi yang dia katakan: “Engkau bersikeras pada kemaksiatan dan merias dengan beberapa ketaatan, demi Allah, sesungguhnya ini adalah tipu daya” akhir kutipan.
Maka engkau melihatnya telah berjanji dengan si fulanah untuk bertemu dengannya besok, dan dia duduk di masjid di hadapan khatib sambil memikirkan janji tersebut. Bersikeras pada kemaksiatan. Apakah engkau menipu Rabbmu?! Dia memakan yang haram dan sudah berjanji untuk suap, namun demikian dia shalat dan bersedekah dan sudah memesan umrah. Menipu siapa?!
Dan engkau akan menemukan orang yang duduk di masjid beristighfar sambil membawa bungkus rokok. Bersikeras pada kemaksiatan, dan berkata: Ya Allah, bertobatlah atas diriku! Menipu siapa?!! Dan lebih mengherankan dari mereka semua adalah orang yang jika mendengar pembicaraan ini berkata dengan keras kepala: Jika begitu demi Allah aku tidak akan bertobat dan tidak akan shalat. Tidak. Aku tidak mengatakan pembicaraan itu agar engkau berkata demikian, tetapi aku mengatakannya agar engkau tidak menipu Rabbmu. Karena Dialah yang menciptakanmu dan mengetahuimu.
Maka orang yang sudah berjanji dengan si fulanah dan datang untuk shalat adalah penipu. Ya: ini adalah tipu daya. Dan yang mengherankan dari ucapannya ketika mendengar pembicaraan ini: Aku minta maaf, dan aku tidak akan shalat setelah ini. Dan inilah yang salah. Inilah cacat dalam pandangan. Maka daripada engkau berkata: Aku bertobat kepada Allah, engkau malah berkata demikian?! Selamatkanlah ya Rabb, selamatkanlah. Engkau bersikeras pada kemaksiatan dan merias dengan beberapa ketaatan, sesungguhnya ini adalah tipu daya. Maka yang seharusnya dan yang diharapkan ketika aku berkata kepadamu pembicaraan ini adalah engkau berkata: Tidak untuk kemaksiatan, bukan engkau berkata: Tidak untuk ketaatan!!
Dan perbedaan besar antara orang yang bermaksiat kemudian beristighfar dan bertobat dan menyesal serta bertekad untuk tidak mengulanginya, dengan orang yang menipu dengan kejahatan. Dan perbedaan besar antara orang yang melakukan keburukan karena kebodohan kemudian bertobat dengan segera, dengan orang yang merencanakan dan menipu serta bersikeras dan terus-menerus.
Inilah titik perhatian yang berbahaya ketika merenungkan ayat-ayat sebelumnya: bahwa engkau menemukan pembedaan antara orang yang terlibat dalam kemaksiatan ketika dikuasai syahwat bersama orang-orang bodoh dan kelalaian yang keras, dengan orang yang menipu untuk masalah tersebut maka dia bertipu daya dan merencanakan serta berhati-hati dan berputar-putar, mencari syubhat dan menutup mata dari batasan-batasan. Oleh karena itu, hukuman penipu jauh lebih keras daripada hukuman pelaku maksiat.
Oleh karena itu, jika aku berkata kepadamu: Engkau merias dengan ketaatan padahal engkau bersikeras pada kemaksiatan, maka janganlah berkata: Jika begitu aku tidak akan shalat hingga aku berhenti dari kemaksiatan!! Karena ini adalah tipu daya! Dan mengapa engkau tidak berhenti dari kemaksiatan dan terus shalat?!! Ya Allah, bertobatlah atas setiap muslim yang bermaksiat, ya Rabb.
Dan renungkanlah bersamaku kisah para sahabat hari Sabtu ketika mereka menipu Allah dan meremehkan larangan-Nya, mereka dimutasikan menjadi kera.
Allah Taala berfirman: “Dan tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan pada hari Sabtu mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari mereka tidak bersabat, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (Al-A’raf: 163).
Artinya: Tanyakanlah wahai Muhammad kepada Yahudi Madinah tentang berita-berita pendahulu mereka dan tentang urusan negeri yang berada di dekat laut dan di pantainya, apa yang menimpa mereka ketika mereka mendurhakai perintah Allah dan menangkap ikan pada hari Sabtu? Bukankah Dia memutasikan mereka menjadi kera dan babi?! Dan pelanggaran pada hari Sabtu hanyalah kemaksiatan yang lebih ringan dari banyak kemaksiatan mereka, seperti membunuh para nabi, meminta melihat Allah secara terang-terangan, meminta berhala, dan menyembah anak sapi. Pelanggaran pada hari Sabtu lebih ringan dari semua itu tanpa diragukan. Dan dalam semua itu mereka tidak dimutasikan, tetapi mereka dimutasikan karena pelanggaran mereka pada hari Sabtu. Dan ini menunjukkan kepadamu bahwa hukuman bukan pada kemaksiatan semata, tetapi hukuman karena tipu daya.
Al-Fairuzabadi berkata: “Sesungguhnya kemaksiatan mereka ini mengandung sikap meremehkan Allah,” karena mereka menggali lubang pada hari Jumat dan memasang jaring-jaring di atasnya, lalu ikan-ikan jatuh ke dalamnya pada hari Sabtu sementara mereka menyaksikannya, kemudian mereka mengumpulkan ikan tersebut pada hari Ahad. Maka tampaklah mereka telah menipu dan melakukan tipu muslihat dengan memasang jaring pada hari Jumat dan duduk seakan-akan meremehkan Tuhan mereka pada hari Sabtu sambil memasukkan tangan mereka ke dalam saku mereka sementara mereka menyaksikan ikan-ikan berjatuhan ke dalam jaring yang telah mereka pasang, dan mereka berkata: “Ya Tuhan, lihatlah bagaimana kami taat kepada-Mu pada hari Sabtu, kami sama sekali tidak melakukan apa pun…” Namun sungguh sia-sia, sia-sia sekali.
Marilah bersamaku untuk menyimak kisah ini:
“Bani Israil telah meminta agar ditetapkan bagi mereka satu hari istirahat yang mereka jadikan sebagai hari raya untuk beribadah, dan mereka tidak bekerja mencari penghidupan pada hari tersebut, maka ditetapkanlah bagi mereka hari Sabtu. Kemudian datanglah ujian agar Allah mendidik mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana kehendak mereka harus kuat menghadapi godaan dan keserakahan, dan bagaimana mereka menepati janji mereka ketika berbenturan dengan godaan dan keserakahan tersebut. Dan hal itu sangat diperlukan bagi Bani Israil yang kepribadian dan tabiat mereka telah goyah karena kehinaan yang mereka alami dalam waktu lama, dan tidak ada jalan lain kecuali membebaskan kehendak setelah kehinaan dan perbudakan, agar terbiasa teguh dan tabah. Terlebih lagi, hal ini diperlukan bagi setiap orang yang membawa dakwah Allah dan dipersiapkan untuk amanah khalifah di muka bumi. Ujian kehendak dan mengatasi godaan adalah ujian pertama yang diarahkan sebelumnya kepada Adam dan Hawa. Namun mereka berdua tidak tabah menghadapinya dan mendengarkan godaan setan tentang pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa! Kemudian ujian itu tetap menjadi ujian yang harus dilalui oleh setiap kelompok sebelum Allah mengizinkan mereka menerima amanah khilafah di muka bumi. Hanya saja bentuk ujian itu berbeda, namun isinya tidak berubah!
Dan sekelompok dari Bani Israil tidak tabah—pada kesempatan ini—menghadapi ujian yang telah Allah tetapkan kepada mereka karena kefasikan dan penyimpangan mereka yang berulang kali sebelumnya. Ikan-ikan dibuat tampak kepada mereka di pantai pada hari Sabtu, mudah dijangkau, mudah ditangkap. Namun ikan-ikan itu luput dan terlepas dari tangan mereka karena larangan hari Sabtu yang telah mereka tetapkan atas diri mereka sendiri! Maka ketika hari Sabtu berlalu dan datang hari-hari yang diperbolehkan, mereka tidak menemukan ikan-ikan itu dekat dan tampak, sebagaimana mereka menemukannya pada hari yang dilarang! Inilah yang diperintahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengingatkan mereka, dan mengingatkan mereka tentang apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka katakan.
Bagaimanapun, hal itu terjadi pada penduduk desa yang berada di tepi laut dari Bani Israil. Maka sekelompok dari mereka tersulut keserakahannya di hadapan godaan ini, lalu runtuh tekad mereka, dan mereka melupakan janji mereka dengan Tuhan mereka dan perjanjian mereka, sehingga mereka melakukan berbagai tipu muslihat—dengan cara khas Yahudi—untuk menangkap ikan pada hari Sabtu! Dan betapa banyaknya tipu muslihat ketika hati menjadi bengkok, ketakwaan berkurang, dan perbuatan hanya berdasarkan teks-teks semata, serta dikehendaki untuk melepaskan diri dari zahir nash-nash.
Sesungguhnya perintah dan larangan syariat tidak dijaga hanya dengan keberadaan nash-nash dalam kitab-kitab atau di lisan para da’i dan penceramah, bahkan tidak dengan pedang atau meriam, melainkan dijaga oleh hati-hati yang terjaga dan bertakwa yang di dalamnya tertanam takwa kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya, maka hati-hati itulah yang menjaga dan melindungi syariatnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia terjerumus dalam perkara haram, seperti penggembala yang menggembalakan (ternaknya) di sekitar daerah terlarang, yang hampir saja memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang Allah adalah larangan-larangan-Nya.” Kemudian Nabi mengomentari hal itu dengan sabdanya: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” [Muttafaq ‘alaih]
Maka sebanyak apa pun kita mengatakan: halal… haram… boleh… tidak boleh… wajib… makruh… maka ucapan ini tidak akan mendapat sambutan kecuali pada pemilik hati-hati yang bertakwa, bersih, dan berniat baik.
“Karena itulah gagal sistem-sistem dan keadaan-keadaan yang tidak didasarkan pada penjagaan hati-hati yang bertakwa. Dan gagallah teori-teori dan ideologi-ideologi yang dibuat oleh manusia untuk manusia yang tidak ada kekuasaan dari Allah di dalamnya. Dan karena itulah lemah aparat-aparat manusiawi yang didirikan oleh negara-negara untuk menjaga hukum-hukum dan melaksanakannya. Dan lemah pula pengawasan dan pemantauan yang mengikuti urusan-urusan dari permukaannya saja!
Dan demikianlah sekelompok penduduk desa yang berada di tepi laut melakukan tipu muslihat terhadap hari Sabtu yang diharamkan bagi mereka menangkap ikan pada hari itu. Diriwayatkan bahwa mereka membuat pembatas-pembatas untuk ikan dan mengurung ikan tersebut pada hari Sabtu, hingga ketika datang hari Ahad mereka segera mendatanginya dan mengumpulkannya, dan mereka berkata: Sesungguhnya mereka tidak menangkapnya pada hari Sabtu, karena ikan-ikan itu masih berada di dalam air—di balik pembatas-pembatas—belum tertangkap.”
Dan bagaimana mungkin hal ini bisa diterima oleh Allah, sedangkan Allah—Mahasuci Dia—mengawasi gerak-gerik jiwa dan rahasia hati. Seberapapun mereka mengatakan dengan lisan mereka: “belum tertangkap,” sungguh mereka telah menangkapnya dengan hati dan niat mereka.
Maka wahai kalian yang menangkap kemaksiatan dan keburukan dengan tipu daya dan penipuan, Allah melihatmu dan mengetahui niatmu, maka bertakwalah kepada Allah dan waspadalah terhadap akibat buruk dosamu dan konsekuensi perbuatanmu. Meskipun kamu menipu manusia dan memperdaya makhluk dan hal itu berhasil kepada mereka, kamu tidak akan pernah bisa menipu Allah. Dan jika kamu melakukan tipu muslihat, ketahuilah bahwa “tidaklah tipu daya yang buruk itu menimpa kecuali kepada pelakunya sendiri. Maka apakah mereka menunggu (kebinasaan mereka) kecuali (mengikuti) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu? Maka kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah Allah.” (Surah Fathir: 43).
Wahai orang yang mengisi hatimu dengan kegelisahan dan menodainya dengan kemaksiatan secara sengaja, kemudian meminta kepada Allah keselamatan hati! Sesungguhnya ini adalah tipu muslihat. Terus-menerus mengisi hatimu dengan kegelisahan dan dengan sengaja. Kamu membawa beban harta, beban pakaian, beban musim panas, beban musim dingin, beban keluarga, beban anak-anak perempuan, beban gaji, beban pekerjaan, beban… dan beban… dan kamu berkata: Ya Tuhan, sucikan hatiku. Padahal kamulah yang terus-menerus menodainya!! Sesungguhnya ini adalah tipu muslihat. Ya Allah, sucikanlah hati-hati kami, ya Tuhan.
Bersemangat terhadap dunia, lalai dari akhirat, banyak dosa, lambat bertobat, kemudian mengeluh tentang kerasnya hati!! Sesungguhnya ini adalah tipu muslihat. Janganlah kamu melakukan tipu muslihat. Bersikaplah jujur kepada Allah. Janganlah menjadi rubah, karena jalan itu terjal. Jalan menuju Allah itu terjal, dan kamu tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya. Apakah kepada-Nya kamu melakukan tipu muslihat, padahal Dia adalah satu-satunya pembimbingmu?!!
Oleh karena itu, jika kamu ingin sampai kepada Allah, maka bertobatlah dari tipu muslihat, jadikan kegelisahanmu satu kegelisahan saja yaitu Allah. Kegelisahan-kegelisahan adalah najis, maka sucikanlah hatimu darinya. Ya Allah, sucikanlah hati-hati kami, ya Tuhan.
Sebab-Sebab Penyucian Hati dari Kegelisahan
Dan agar aku membantumu—semoga Allah membantu aku dan dirimu—maka di antara sebab-sebab penyucian hati dari kegelisahan ada tujuh:
Pertama: Bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam:
Ketika seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, apakah aku jadikan seluruh doaku sebagai shalawat kepadamu? Beliau menjawab: “Kalau begitu Allah akan mencukupimu dari apa yang menggelisahkanmu.” [Hadits Hasan].
Dan dalam riwayat kedua: “Akan diampuni dosamu dan dicukupi apa yang menggelisahkanmu.” [Dihasankan oleh al-Albani].
Salah seorang guru kami didatangi oleh seorang laki-laki yang mobilnya dicuri, lalu guru itu berkata kepadanya: Pergilah dan duduklah di masjid dan ucapkanlah shalawat Ibrahimiyyah:
“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” Dan Mahasuci Allah Yang Mahaagung! Matahari belum naik setelah shalat Fajar hingga waktu Dhuha melainkan mobilnya telah kembali kepadanya. Dan ini bukan ucapan sufi, tetapi keyakinan pada hadits. Seorang sufi pemilik bidah akan mengarang cerita untukmu, adapun aku berbicara kepadamu tentang sunnah. Ini adalah ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam: Bershalawatlah kepadanya niscaya Allah akan mencukupimu dari apa yang menggelisahkanmu. Apa pun yang menjadi beban kegelisahanmu, perbanyaklah shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam niscaya akan dilapangkan, diselesaikan, dan dipecahkan.
Kedua: Membaca al-Mu’awwidzatain:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ (Surah al-Ikhlas) dan ‘Qul a’udzu birabbil falaq’ (Surah al-Falaq) ketika pagi dan ketika petang, Allah akan mencukupinya dari semua yang menggelisahkannya.” [Dihasankan oleh al-Albani]. Tetapi syaratnya—wahai para pemuda—: keyakinan dan mengharap pahala, yaitu aku membacanya dengan niat agar Allah mencukupi kegelisahanku. Aku membacanya dan aku yakin bahwa Allah mampu mencukupi kegelisahanku, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam benar. Bacalah dengan keyakinan dan mengharap pahala niscaya Allah akan mencukupimu dari apa yang menggelisahkanmu.
Ketiga: Mengucapkan: Hasbiyallah:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan ketika pagi dan ketika petang: Hasbiyallahu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim (Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan Arsy yang Agung), tujuh kali, Allah akan mencukupinya dari semua yang menggelisahkannya dari urusan dunia dan akhirat.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]
Saat kamu mengucapkan: Hasbiyallah, renungkanlah maknanya. Hasbiyallah… Pelindungku… Laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu, wahuwa rabbul ‘arsyi… Bayangkan kubur agar engkau dicukupi dari kegelisahan kubur, dan shirath agar engkau dicukupi dari kegelisahan shirath, dan bertebaran catatan amal agar engkau dicukupi dari bertebaran catatan amal, dan timbangan agar engkau dicukupi dari kegelisahan timbangan, dan dihadapkan kepada Allah agar engkau dicukupi dari kegelisahan dihadapkan kepada-Nya…
Keempat: Menyebut doa kegelisahan:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan anak hamba-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku atas diriku hukum-Mu, adil atas diriku keputusan-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib pada-Mu, agar Engkau jadikan Al-Quran Al-Azhim sebagai musim semi hatiku, dan penyembuh dadaku, dan penghilang kegelisahan dan kesedihanku, melainkan Allah akan menggantinya dengan kelapangan menggantikan kegelisahan.” Mereka berkata: Ya Rasulullah, apakah kami mempelajarinya? Beliau bersabda: “Sepatutnya setiap orang yang mendengarnya mempelajarinya.” [Dishahihkan oleh Ahmad Syakir]. Oleh karena itu, hendaklah setiap orang dari kalian memilazimi hafalan hadits ini.
Kelima: Istighfar:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesusahan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Keenam: Menjadikan Semua Kekhawatiran Menjadi Satu Kekhawatiran:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan kekhawatirannya satu kekhawatiran, yaitu kekhawatiran akan akhirat, maka Allah akan mencukupinya dari apa yang mengkhawatirkannya. Dan barangsiapa yang bercabang-cabang kekhawatirannya, maka Allah tidak peduli dalam lembah dunia mana dia binasa.”
Jadi jika kekhawatiranmu siang dan malam adalah: Kira-kira apakah Allah ridha kepadaku atau tidak? Jika aku mati sekarang apakah aku akan masuk surga atau neraka? Kira-kira apakah aku akan terjatuh di Shirath atau akan melewatinya dengan selamat? Kira-kira di Mizan mana yang akan ringan? Saat lembaran catatan amal beterbangan, apakah aku akan menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri? Inilah kekhawatiranmu yang utama dan mendasar: akhirat. Adapun kekhawatiran dunia sangat banyak dan ringan bagi Allah, dan barangsiapa yang bercabang-cabang kekhawatirannya akan hidup sengsara dan mati dalam kesengsaraan.
Ketujuh: Doa:
Doa adalah senjatamu, maka berdoalah kepada Allah agar Dia mengumpulkan hatimu dan mencukupimu dari apa yang mengkhawatirkanmu. Bermohonlah kepada-Nya dan katakan: Ya Allah, kosongkan hatiku untuk-Mu sehingga tidak ada yang menghalangi antara aku dan Engkau. Ya Allah, jadikanlah kekhawatiranku satu kekhawatiran yaitu untuk-Mu, jadikanlah kesibukanku satu kesibukan yaitu kepada-Mu, dan jadikanlah pikiranku satu pikiran yaitu tentang-Mu. Rahmatilah aku ya Rabbku dan kumpulkanlah serpihan hatiku. Cukupkanlah aku dari apa yang mengkhawatirkanku dan menyusahkanku. Katakan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan. Berdoalah kepada Allah, dan Dia Maha Suci lagi Maha Tinggi, Dia Maha Dekat, mengabulkan doa orang yang tertekan dan terpaksa.
Demikianlah wahai saudaraku fillah wahai pencari ketercapaian, begitulah seharusnya kekhawatiran. Maka bersihkanlah hatimu dari kekhawatiran-kekhawatiran dunia. Dan bersungguh-sungguhlah, jangan bermain-main dengan Allah agar Dia tidak bermain-main denganmu sehingga kamu menjadi termasuk orang-orang yang binasa dan merugi. Jadikanlah kekhawatiranmu yang kamu hidup karenanya dan kamu hidup dengannya adalah: kehidupan akhirat, ridha Allah dan hanya itu. Jangan bermain-main, jika tidak maka kamu tidak akan sampai kepada Allah sama sekali.
Prinsip Kesembilan Belas: Ambillah Madu dan Jangan Memecahkan Sarangnya
Setiap pintu ada kuncinya, maka ambillah madu dan jangan memecahkan sarangnya.
Sebagian orang jika ingin mendapatkan madu dari sarang lebah, dia menginjak-injaknya dengan kakinya lalu menghancurkannya. Tunggu dulu, tunggu dulu, karena sarang itu punya kunci. Jika kamu tidak tahu maka datangkanlah orang yang tahu agar kamu bisa makan madu dan membiarkan sarang itu menghasilkan madu lagi. Jangan memecahkan sarang itu.
Wahai saudara-saudara, sesungguhnya sebagian dari kita ketika berjalan di jalan menuju Allah dan ingin memetik sesuatu dari kebaikan, kamu melihatnya menyerbu tanpa kesadaran dan tanpa memiliki kunci-kunci, kunci-kunci untuk mencapai tujuan. Dia akan mendapatkan madu tetapi untuk terakhir kalinya. Maka pahamilah dan jangan menyerbu. Dan berdoalah kepada Allah agar Dia memberimu pemahaman dalam agamamu. Ya Allah, pahamilah kami apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai agar kami melakukannya. Ya Allah, sampaikanlah kami kepada ridha-Mu ya Rabb.
Ibnu Qayyim telah menyebutkan dalam kitabnya yang berharga, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah – Ya Allah, sampaikanlah kami ke negeri kegembiraan ya Rabb – dia menyebutkan sekelompok kunci, dia berkata – semoga Allah merahmatiya:
“Dan Allah Maha Suci telah menjadikan untuk setiap yang diinginkan sebuah kunci untuk membukanya. Maka Dia menjadikan kunci shalat adalah bersuci, sebagaimana sabda Nabi: Kunci shalat adalah bersuci. Kunci haji adalah ihram. Kunci kebaikan adalah kejujuran. Kunci surga adalah tauhid. Kunci ilmu adalah bertanya dengan baik dan mendengarkan dengan baik. Kunci kemenangan dan kesuksesan adalah kesabaran. Kunci tambahan adalah syukur. Kunci kewalian adalah kecintaan dan dzikir. Kunci keberuntungan adalah takwa. Kunci taufik adalah keinginan dan ketakutan. Kunci dikabulkannya doa adalah berdoa. Kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia. Kunci iman adalah memikirkan apa yang Allah serukan kepada hamba-hamba-Nya untuk memikirkannya. Kunci masuk kepada Allah adalah menyerahkan hati dan keselamatannya untuk-Nya, ikhlas untuk-Nya dalam cinta dan benci, perbuatan dan meninggalkan. Kunci kehidupan hati adalah merenungkan Al-Quran, bermunajat di waktu sahur, dan meninggalkan dosa. Kunci memperoleh rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan berusaha memberi manfaat kepada makhluk-Nya. Kunci rezeki adalah berusaha dengan beristighfar dan bertakwa. Kunci kemuliaan adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci kesiapan untuk akhirat adalah memendekkan angan-angan. Kunci setiap kebaikan adalah keinginan kepada Allah dan negeri akhirat. Kunci setiap kejahatan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.”
Ibnu Qayyim berkata: “Kunci shalat adalah bersuci.” Maka agar kamu shalat sebagaimana mestinya, berwudhulah sebagaimana mestinya. Para ulama berkata: Jika imam salah dan bingung dalam shalat, maka ini adalah bukti bahwa orang yang di belakangnya tidak berwudhu dengan benar.
Maka lihatlah bagaimana ketaatan atau kemaksiatan makmum mempengaruhi imam. Dan jika pengaruhnya sampai kepada imam, bagaimana dengan shalatnya sendiri? Jadi ketika kamu berkata kepadaku: Aku sering melamun dalam shalat, aku katakan kepadamu: berwudhulah dengan benar. Kita ingin saat berwudhu merasakan makna setiap gerakan. Jika kamu mencuci tanganmu, lihatlah air dan rasakanlah turunnya dosa-dosa bersamanya yang diperbuat oleh tanganmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba mencuci tangannya, keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan oleh tangannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya. Jika dia berkumur-kumur, keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan oleh lisannya hingga kesalahan-kesalahan keluar dari sela-sela giginya.”
Bayangkanlah saat kamu mencuci wajahmu, bayangkanlah kesalahan-kesalahan keluar dari bawah bulu matamu. Matamu ini yang sudah banyak berbuat dosa. Maka berwudhulah dengan benar, karena wudhu adalah kunci shalat. “Kunci haji adalah ihram.” Jika kamu berihram sebagaimana mestinya, kamu akan menikmati haji dan berhaji dengan benar. Kunci-kuncinya banyak.
Maka peganglah kunci-kunci itu agar pintu terbuka untukmu. Adapun jika kamu meninggalkan kunci-kunci dan memecahkan pintu, kamu akan masuk, tetapi kamu akan kehilangan madu sepanjang hidupmu.
Untuk Kejahatan Juga Ada Kunci-Kunci:
Kunci zina adalah pandangan. Kunci neraka adalah berpaling dari Allah. Kunci kemunafikan adalah dusta. Kunci riya adalah perdebatan. Kunci setiap dosa adalah khamr. Kunci cinta yang berlebihan adalah bercampur baur. Inilah kunci-kunci kejahatan, maka kenalilah dengan baik.
Ibnu Qayyim berkata: “Sebagaimana Dia Maha Suci menjadikan syirik, kesombongan, berpaling dari apa yang diutus Allah kepada Rasul-Nya, lalai dari mengingat-Nya dan menunaikan hak-Nya sebagai kunci neraka. Dan sebagaimana Dia menjadikan khamr sebagai kunci setiap dosa. Dia menjadikan nyanyian sebagai kunci zina. Dia menjadikan melepaskan pandangan pada gambar-gambar sebagai kunci pencarian dan cinta yang berlebihan. Dia menjadikan kemalasan dan kenyamanan sebagai kunci kekecewaan dan kekurangan. Dia menjadikan kemaksiatan sebagai kunci kekufuran. Dia menjadikan dusta sebagai kunci kemunafikan. Dia menjadikan kikir dan tamak sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahmi, dan mengambil harta dari jalan yang tidak halal. Dia menjadikan berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasul sebagai kunci setiap bid’ah dan kesesatan.”
Oleh karena itu – wahai saudara-saudara – datangilah rumah-rumah dari pintu-pintunya. Jika kamu datang ke pintu, maka miliki kuncinya, barulah kamu masuk dan sampai.
Wahai saudara-saudara, sesungguhnya kita membutuhkan untuk memiliki kunci-kunci yang dengannya kita membuka pintu-pintu kebaikan menuju Allah.
Ibnu Qayyim berkata: Ini adalah pintu yang agung dari pintu-pintu ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan kejahatan. Tidak diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali orang yang besar haknya dan taufiknya. Sesungguhnya Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi telah menjadikan untuk setiap kebaikan dan kejahatan sebuah kunci dan pintu untuk masuk kepadanya.
Kemudian dia mengomentari – semoga Allah merahmatinya – di akhir pembicaraannya tentang kunci-kunci dengan berkata:
“Perkara-perkara ini tidak akan dipercayai kecuali oleh setiap orang yang memiliki pandangan yang benar dan akal yang dengannya dia mengenal apa yang ada dalam dirinya dan apa yang ada dalam wujud ini dari kebaikan dan kejahatan. Maka seorang hamba hendaknya sangat memperhatikan pengetahuan tentang kunci-kunci dan apa yang dijadikan kunci-kunci untuknya. Dan Allah yang memberikan taufik dan keadilan untuknya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, bagi-Nya nikmat dan karunia. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan mereka yang ditanya.”
Saudaraku fillah, ini adalah prinsip jangan sampai kamu melupakannya. Setiap kebaikan ada pintunya, dan setiap pintu ada kuncinya. Jika kamu datang ke pintu maka kamu layak mendapat kebaikan, bersiaplah. Dan sebagaimana kata pepatah: “Sesungguhnya apel hanya jatuh untuk orang yang mencarinya di bawah pohon.” Apakah orang yang mencari apel di bawah tiang listrik akan turun apel untuknya?! Tidak mungkin. Apel hanya turun untuk orang yang mencarinya di tempat yang sesuai. Oleh karena itu, setiap kebaikan ada pintunya, jika kamu datang kepadanya maka kamu layak mendapat kebaikan, dan tidak tersisa bagimu kecuali membuka pintu. Dan jika membuka pintu dengan kunci, maka kunci harus memiliki gerigi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kunci surga adalah laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah).” Setiap kunci ada geriginya, dan gerigi laa ilaaha illallah adalah syariat-syariat Islam dan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi jangan kamu berkata: Rabb kita Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, lalu meninggalkan amal, karena dengan itu kamu memecahkan sarang. Mana kuncimu dan mana geriginya?!!
Wahb bin Munabbih berkata ketika ditanya kepadanya: Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Kunci surga adalah laa ilaaha illallah”? Dia berkata: “Benar, tetapi tidak ada kunci kecuali memiliki gerigi. Jika kamu datang dengan kunci yang memiliki gerigi, maka akan dibukakan untukmu, jika tidak maka tidak akan dibukakan untukmu.”
Oleh karena itu “laa ilaaha illallah” memiliki “gerigi”, yaitu syarat-syaratnya. Penuhilah agar pintu surga terbuka untukmu. Surga ada pintunya, pintu ada kuncinya, kunci ada geriginya, demikian juga semua jenis kebaikan ada pintu-pintunya.
Masalah yang berbahaya adalah sebagian dari kita datang ke pintu kebaikan lalu kembali. Ya Allah, teguhkanlah kami di atas iman ya Rabb. Banyak orang yang Allah muliakan dan terima tobatnya setelah dia bekerja dalam dosa dan kemaksiatan, lalu dia kembali dan memilih kemaksiatan, meninggalkan ketaatan, dan menjauh dari jalan Allah – Ya Allah, terimalah tobat kami dengan tobat yang Engkau ridhai. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu tobat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau perbaiki hati kami, beri petunjuk jiwa kami, dan terangi pandangan kami.
Kekasihku fillah, kamu menemukan sebagian pemuda yang telah mengenal jalan kebaikan telah sampai ke pintu lalu masuk masjid, menghadiri pengajian, mendengarkan kaset, dengan itu dia berdiri di pintu, tiba-tiba kamu melihatnya telah membelakangi pintu! Allah berfirman: “Dan barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan membahayakan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)
Dan penyebab kembalinya ini – wahai saudaraku – karena kita berada di zaman penghiasan. Fitnah penghiasan. Ya: penghiasan adalah fitnah yang sangat berbahaya di hari-hari ini. Sesungguhnya kita berada di zaman di mana kebatilan dihias, dipercantik, dan ditampilkan dalam bentuk kebenaran sehingga jiwa-jiwa menerimanya lalu terperdaya.
Dan di antara penyebab penghiasan yang paling berbahaya adalah: hawa nafsu – Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hawa nafsu. Dan yang paling berbahaya dari hawa nafsu adalah kekuasaannya yang kuat dan tipudayanya yang tersembunyi. Hawa nafsu adalah selera, seleramu yang pribadi. Berapa banyak orang di sekitar kita yang telah bertobat – ya Rabb, teguhkanlah kami di atas tobat ya Rabb – lalu salah satu dari mereka mulai shalat dan berhenti berjalan dengan perempuan, menghapus CD musik dan disko. Tetapi di dalam dirinya ada hawa nafsu. Di dalam jiwanya ada hawa nafsu: bahwa dia masih ingin bermaksiat untuk menikmati kemaksiatan. Jika dia membaca di koran lalu menemukan Syaikh fulan ditanya tentang lagu-lagu, dia berkata: “Lagu-lagu seperti syair, yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk,” maka apa yang kita harapkan darinya?! Tidak diragukan dia akan terperdaya dengan fatwa yang menyesatkan dan membingungkan. Dan perkataan syaikh ini bukan dalil bagi dirinya atau orang lain: “Aku mendengarkan lagu.”
Intinya: bahwa pemuda ketika membaca fatwa-fatwa dan bencana ini, dia berkata: Jadi itu halal, dan dia mulai memutarnya karena hawa nafsu yang menguasai. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Demi Allah – wahai saudara-saudara – sesungguhnya salah satu saudaramu bersamaku di masjid dan di pengajian, bahkan dia hadir bersamaku di mobil. Dia terperdaya – Ya Allah, kembalikanlah dia kepada kami dengan pengembalian yang indah – dia berkata kepadaku: Aku mendengar sedikit lagu dan setelahnya aku tenggelam di lautan syahwat. Dia tersesat, dia tersesat, karena jalan yang licin berbahaya. Kekuasaan hawa nafsu kuat, arusnya deras, dan ombaknya melempar jauh dari pantai ke dalam laut.
Ya: kekuasaan hawa nafsu atas hati dan akal kuat dan tersembunyi. Kamu menemukan orang yang memiliki hawa nafsu berkata: Aku akan menikmati diriku sedikit dan sebentar – maksudnya dengan kemaksiatan! – kemudian aku akan kembali kepada Allah, jadi aku tidak akan dirugikan banyak. Aku katakan kepadamu: Kamu tidak menjamin, karena Allah mungkin murka kepadamu saat kemaksiatanmu – yang kamu anggap kecil ini – lalu kamu menyimpang dan terseret untuk hidup dalam lumpur.
Ya Allah, teguhkanlah kami di atas iman ya Rabb. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keteguhan di atas kebenaran, keteguhan dalam menempuh jalan yang benar, kemenangan dari setiap kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Ya Allah, palingkanlah dari kami tipu daya hawa nafsu, jiwa, dan setan.
Yang menjadi perhatian adalah: bahwa sebagian orang bahkan kebanyakan mereka datang ke pintu – dan ini adalah karunia Allah kepada mereka – namun mereka tidak ingin memasukinya. Mereka tidak ingin masuk dalam ketaatan, terus-menerus di dalamnya, dan teguh di atasnya. Mereka tidak menginginkan itu karena hati mereka telah dipenuhi oleh hawa nafsu. Maka engkau akan melihat mereka kembali dan membelakangi kebaikan, karena mereka sejak awal tidak memiliki kunci-kunci kebaikan. Bahkan mereka justru bersemangat mencari kunci-kunci kejahatan seperti hawa nafsu yang merupakan kunci setiap musibah. Engkau dapati ia telah datang ke pintu, dan pintu itu akan segera terbuka, tiba-tiba ia berbalik dan meninggalkan pintu!! Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
Wahai orang-orang yang datang ke pintu-pintu tetapi tidak memiliki kuncinya. Wahai orang-orang yang tidak mengetahui kuncinya sehingga tidak mampu berbuat sesuatu, izinkanlah aku memberimu sekelompok kunci. Jadikanlah kunci-kunci itu bersamamu dan simpanlah. Janganlah sekali-kali kalian menggunakan kunci-kunci ini untuk pintu siapa pun selain Allah.
Apakah engkau memiliki kesiapan sekarang untuk mengambil kunci-kunci ini? Dan di mana engkau akan menyimpannya? Ambillah di dalam hatimu. Aku ingin engkau menggantungkan kunci-kunci ini di hatimu dan mengikatnya dengannya – Ya Allah bukakanlah hati-hati kami ya Rabb. Karena jika kunci-kunci ini masuk ke hatimu dengan benar, maka hati itu akan terbuka, dan dengannya juga akan membuka hati-hati lain yang tertutup.
Kunci-Kunci:
Pertama: Kunci Terkabulnya Doa
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata: “Aku tidak memikul beban terkabulnya doa, tetapi aku memikul beban berdoa itu sendiri. Karena jika aku diberi ilham untuk berdoa, maka sesungguhnya pengabulan menyertainya.”
Saudara-saudaraku para pemuda, ketika engkau sujud dalam shalat, apa yang engkau minta kepada Allah? Dan doa apa yang hadir di hatimu? – Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kehadiran hati ya Rabb. Apakah engkau meminta kepada Rabbmu Firdaus yang tertinggi dari surga? Apakah engkau memohon kepada-Nya agar memberimu rezeki untuk qiyamullail? Dan khusyuk dalam shalat? Apakah engkau memohon kepada-Nya agar memberimu kesabaran? Apakah engkau memohon taubat kepada-Nya? Memohon kembali kepada-Nya? Memohon keselamatan dari fitnah? Dan agar Dia menjauhkan bahaya darimu? Apa yang engkau tanyakan kepada-Nya?!!
Sangat disayangkan, kebanyakan kita berdoa kepada Allah dalam keadaan lalai. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan lengah.” [dihasankan oleh Al-Albani]. Oleh karena itu, jika engkau menginginkan sesuatu atau menghadapi suatu perkara, maka doa adalah kuncimu, maka berdoalah agar dibukakan untukmu. Jadi pengabulan adalah sebuah pintu, dan kuncinya adalah doa. Doa adalah pintu dan kuncinya adalah kehadiran hati. Sedangkan gigi-gigi kunci adalah keikhlasan. Jika pintu tidak terbuka, jangan pergi, tetapi tetaplah berdiri dan teruslah mencoba membuka. Gerakkan kuncinya. Gerakkan hatimu dengan keikhlasan. Jangan terburu-buru dan jangan putus asa, karena dengan satu gigi kunci saja pintu bisa terbuka, tetapi yang penting adalah engkau menjaga keikhlasan dan jangan tergesa-gesa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru, mengatakan: Aku telah berdoa tetapi aku tidak melihat doaku dikabulkan.” [Muttafaq alaih].
Kedua: Kunci Keinginan kepada Akhirat adalah Zuhud terhadap Dunia
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari dunia dan apa yang ada di dalamnya. Dunia adalah fitnah. Dan fitnah dunia adalah musibah. Sesungguhnya bahaya terbesar dalam dunia adalah perhiasannya. Perhiasan dunia. Allah Yang Mahamulia berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Surah Ali Imran: 14).
“Dan perhiasan (emas dan perak). Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan hidup di dunia.” (Surah Az-Zukhruf: 35).
“Dunia”… Apa arti kata ini? Artinya: mobil yang lebih mahal dan lebih baik, dan lebih bagus, dan apartemen mewah dan jutaan dan wanita-wanita. Lalu apa setelah itu?! Masuk neraka Jahannam. Itulah kenyataannya.
Wahai orang yang tidak mau mengendarai kecuali mobil baru untuk menarik perhatian para gadis, dunia telah mempesona engkau dan engkau ingin mempesona orang lain?! Ini adalah fitnah di atas fitnah, dan musibah di atas musibah, bahwa kita terpesona lalu mempesona orang lain. Maka ingatlah akhiratmu, ingatlah hari perhitungan, hari berdiri dan dihadapkan kepada Allah, hari ketika neraka Jahannam didatangkan. “Pada hari itu manusia teringat, dan apakah gunanya mengingat bagi manusia itu?” (Surah Al-Fajr: 23). Ingatlah hari ketika engkau berkata: “Alangkah baiknya jika dahulu aku mengerjakan (amal saleh) untuk kehidupanku ini. Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksaan Allah. Dan tiada seorang pun yang dapat mengikat seperti ikatan-Nya.” (Surah Al-Fajr: 24-26).
Agar engkau memiliki keinginan kepada akhirat, zuhudlah terhadap harta dunia yang fana. Dunia akan sirna, maka lemparkanlah ia ke belakang punggungmu, bahkan letakkanlah di bawah kakimu. Satu pandangan saja kepada tujuan akhirmu akan membuatnya ringan bagimu. Maka renungkanlah keadaanmu di hari ketika engkau diletakkan di dalam tanah, hari ketika engkau meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta, hari ketika engkau melepas pakaian terbaik, dan mengenakan pakaian orang-orang mati. Ingatlah saja kubur, karena kengerian-kengerian di dalamnya cukup untuk membuatmu menghadap kepada akhirat dan zuhud terhadap dunia. Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya, kubur itu berbicara kepadanya. Inilah kengerian pertama: “berbicara kubur”. Dinding-dinding kubur berbicara kepadanya dan berkata kepadanya – yaitu kepada orang mukmin -: Sungguh engkau adalah sebaik-baik orang yang berjalan di atas punggungku. Namun sekarang aku telah mengujimu hari ini dan engkau telah berada di dalam perutku, maka engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan kepadamu. Kemudian kubur memeluknya seperti pelukan ibu yang penuh kasih sayang kepada anaknya yang telah lama pergi – Ya Allah jadikanlah kami termasuk mereka ya Rabb – seperti ketika engkau pulang dari bepergian lalu ibumu memelukmu ke dadanya. Ia menarikmu dengan keras dan memelukmu dengan kuat tetapi itu adalah pelukan yang indah. Pelukan yang menenangkan. Ia adalah ibumu tanah. Ia adalah ibu dan ayahmu. Asal dan asalmu.
Adapun yang lainnya – ya Rabb lindungilah kami ya Rabb, ya Allah anugerahilah kami husnul khatimah, ya Allah jangan Engkau wafatkan kami kecuali Engkau ridha kepada kami – kubur berbicara kepadanya dan berkata kepadanya: Sungguh engkau adalah orang yang paling aku benci yang berjalan di atas punggungku. Maka renungkanlah – saudaraku – keadaan dua orang ini. Pikirkan hari ketika mereka meletakkanmu di dalam kubur dan menguncimu di dalamnya.
Aku hadir saat pemakaman salah seorang saudara – ya Allah rahmatilah dia dan rahmatilah orang-orang mati muslim ya Rabb, ya Allah rahmatilah setiap mayit muslim ya Hayyu ya Qayyum – dan kami melihat orang yang menguburnya sedang meletakkan tanah dan bata dan lumpur dan gips!!! Dan mengunci dengan kuat!!! Subhanallah, apakah dia akan berlari dan meninggalkan kubur?! Tinggalkanlah dia wahai saudaraku, engkau telah menyakiti hatiku. Mereka akan melakukan hal yang sama kepadamu suatu hari nanti.
Semua orang akan meninggalkanmu. Istrimu tidak akan bermanfaat untukmu, tidak pula kekasihmu dan belahan jiwamu, “hidupmu” yang telah menghabiskan umurmu demi dia dan engkau durhaka kepada Rabbmu untuk memuaskannya, tidak akan menanyakanmu. Mereka menutup kubur untukmu, engkau tidak akan menemukan seorang pun yang duduk bersamamu dan tidak seorang pun yang memegangmu. Ibumu, ayahmu, saudara-saudaramu, teman-temanmu, orang-orang yang engkau cintai, hartamu… Semua mereka akan menyerahkanmu kemudian pergi untuk beristirahat. Mereka akan menutup dan mengunci dengan rapat dan meninggalkanmu untuk tetap sendirian. Maka khayalkanlah dirimu sendiri, dan bayangkanlah keadaanmu.
Kegelapan… kesepian… ketakutan… kengerian… telanjang… kemudian engkau terkejut karena seseorang berkata kepadamu: Sungguh engkau adalah orang yang paling aku benci yang berjalan di atas punggungku. Siapa engkau? Apa yang terjadi?!! Engkau dapati dinding-dinding kubur berbicara kepadamu!! Kemudian setelah itu malaikat-malaikat datang kepadamu untuk bertanya: Siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu? Setelah mereka pergi, engkau terkejut dengan seorang lelaki yang wajahnya hitam, pakaiannya hitam, baunya busuk. Engkau bertanya kepadanya: Siapa engkau?! Wajahmu adalah wajah yang tidak membawa kebaikan. Dia berkata kepadamu: Apakah engkau tidak mengenalku? Aku adalah kekasihmu, amalmu.
Ah… Ah… Ah… Demi Allah, hampir saja hati berhenti berdetak ketika aku membayangkan situasi ini. Yang mengherankan – saudara-saudaraku – adalah bahwa kita mendengar perkataan ini, membacanya, memahaminya, mengerti, dan mengaguminya, kemudian kita melakukan perbuatan-perbuatan yang akan masuk kepada kita dalam keadaan hitam: berzina, berbohong, tidur meninggalkan shalat, menggunjing, mengadu domba, menyakiti, melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Mereka akan masuk kepadamu saat engkau sendirian di kuburmu.
Dalam kengerian kubur dan kegelapannya, engkau melihat dan bertanya: Siapa engkau? Dia berkata kepadamu: Aku adalah amalmu yang hitam. Aku adalah kemaksiatanmu. Apakah engkau tidak mengenalku?!! Aku adalah kekasihmu yang hidup bersamamu sepanjang umurmu. Aku adalah amalmu yang buruk.
Tetapi musibah yang paling besar adalah dia akan tetap bersamamu sampai hari kiamat! Seandainya dia bersamamu hanya waktu yang terbatas, hal itu akan lebih ringan. Tetapi tidak… tidak ada yang lain bersamamu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, kunci keinginan kepada akhirat adalah zuhud terhadap dunia. Yang engkau cintai untuk bersamamu di kuburmu dari dunia ini, maka kerjakanlah.
Aku akan memberitahu kalian sesuatu yang indah: Yang ingin kuburnya “ber-AC”, maka “AC-kan” masjid ini untuk kita. Yang ingin lampu penerangan di kuburnya, bersedekahlah kepada orang-orang fakir dengan lampu listrik. Yang ingin makan dan minum di kuburnya, berilah makan lima puluh orang miskin hari ini. Gunakanlah anggota tubuhmu dalam ketaatan kepada Allah. Pabrik yang telah Allah karuniakan kepadamu, gunakanlah untuk memproduksi kebaikan-kebaikan. Jangan sibukkan dirimu dengan mengumpulkan dunia. Karena dunia tidak akan bermanfaat untukmu, dan tidak ada yang bermanfaat darinya kecuali amal saleh. Maka zuhudlah terhadapnya, niscaya engkau akan menginginkan akhirat.
Saudaraku fillah, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya, tidak akan lurus keinginanmu kepada akhirat kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari dunia.
Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu anhu memiliki sebuah kebun kurma dan anggur, Madinah tidak mengenal kebun yang lebih besar pohonnya, tidak lebih lezat buahnya, dan tidak lebih jernih airnya. Ketika Abu Thalhah sedang shalat di bawah naungannya yang teduh, perhatiannya tertarik pada burung hijau yang berkicau dengan paruh merah dan kaki berwarna merah. Burung itu melompat-lompat di dahan-dahan pohon sambil berkicau dan menari-nari. Abu Thalhah terpikat dengan penampilannya dan pikirannya melayang bersamanya. Kemudian ia kembali ke dirinya sendiri, tiba-tiba ia tidak ingat sudah shalat berapa rakaat? Dua rakaat? Tiga? Ia tidak tahu. Setelah selesai dari shalatnya, ia pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengadu tentang dirinya yang terpalingkan dari shalat oleh kebun dan pohonnya yang rindang serta burungnya yang berkicau. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah: Aku bersaksi wahai Rasulullah: Sesungguhnya aku telah menjadikan kebun ini sebagai sedekah untuk Allah Ta’ala. Maka letakkanlah di tempat yang Allah dan Rasul-Nya cintai. [Muttafaq alaih].
Abu Thalhah mengingatkanmu dalam tindakannya ini pada Nabi Sulaiman alaihissalam yang menyembelih kuda-kudanya dengan pedangnya pada betis dan lehernya, karena memeriksa kuda-kuda itu telah menyibukkannya dari shalat dan tasbihnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika diperlihatkan kepadanya di waktu sore hari kuda-kuda yang pantas untuk peperangan yang tangkas. Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta benda sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai matahari terbenam tertutup tabir. (Sulaiman berkata): ‘Kembalikanlah (kuda itu kepadaku).’ Lalu dia menyapu betis dan leher kuda itu.” (Surah Shad: 30-33). Demikianlah, renungkanlah – saudaraku fillah – Abu Thalhah dan bagaimana ia radhiyallahu anhu ketika mendapati kebun dan burung-burungnya “dunia” telah menyibukkannya dan melalaikannya dari Allah, ia segera meninggalkannya dan zuhud terhadapnya. Ya, kunci keinginan kepada akhirat adalah zuhud terhadap dunia. Ya Allah janganlah Engkau jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan puncak ilmu kami. Ya Allah jadikanlah akhirat sebagai negeri kami dan perhatian kami, dan jadikanlah kematian kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Ya Allah dan janganlah Engkau haramkan kami dari kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia. Amin.
Ketiga: Kunci Iman adalah Berpikir tentang Nikmat-nikmat Allah dan Makhluk-makhluk-Nya
Berpikir tentang nikmat-nikmat adalah kunci iman. Allah Ta’ala berfirman: “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.” (Surah Al-A’raf: 69). Aku berkata kepada seorang saudara di fakultas teknik: Allah memberimu akal. Akal ini nikmat atau bukan? Engkau lulus ujian akhir sekolah dengan nilai 98% dan masuk fakultas teknik karena kecintaanmu padanya, dan engkau bersungguh-sungguh lalu berprestasi dan diangkat sebagai asisten dosen, kemudian mendapatkan gelar master dan doktor. Semua ini dengan otak yang Allah karuniakan kepadamu.
Dia memberimu nikmat akal yang berpikir ini. Apakah engkau telah menggunakannya untuk mencapai-Nya Subhanahu wa Ta’ala?! Engkau telah banyak menggunakannya dalam dunia, tetapi kami melihatmu sama sekali tidak menggunakannya bersama Allah!! Mengapa engkau menganggurkannya dalam berdagang dengan Allah?! Wahai anakku, sesungguhnya jalan Allah membutuhkan teknik. Membutuhkan akal. Maka gunakanlah akalmu dalam berpikir tentang nikmat-nikmat dan merenungkan makhluk-makhluk agar keagungan Allah bertambah di hatimu.
Kalian tahu – saudara-saudaraku fillah – bahwa jenis-jenis tauhid ada tiga: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma wa Sifat.
Adapun Tauhid Rububiyyah: yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan Allah. Allah-lah yang menurunkan hujan, menghidupkan dan mematikan, memberi dan mencegah, membahayakan dan memberi manfaat, memuliakan dan menghinakan. Tidak ada seorang pun dari makhluk yang menentangnya dalam hal ini. Tidak ada yang mengatakan: Dialah yang menciptakan langit dan bumi. Orang-orang musyrik mengakui hal itu. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali para atheis dan komunis di zaman kita, yang fitrahnya telah terbalik sehingga mereka tidak menggunakan akal mereka.
Aku selalu mengatakan kalimat: “Sesungguhnya mata semut terkecil dapat membutakan mata atheis terbesar.”
Kita katakan kepadanya: Ambillah semut itu dan tanyakan pada dirimu sendiri: Siapa yang meletakkan matanya di sini dan membuatnya bisa melihat?! Pikirkan tentang penciptaannya agar engkau tidak berkata: Ia tercipta secara kebetulan.
Adapun Tauhid Uluhiyyah: yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba, yaitu kita tidak bersujud kecuali kepada Allah, tidak berdoa kecuali kepada Allah, tidak bernadzar kecuali kepada Allah, tidak takut kecuali kepada Allah. Mengkhususkan semua jenis ibadah hanya untuk Allah.
Adapun jenis ketiga adalah tauhid asma dan sifat: yaitu kita menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri, dan apa yang telah ditetapkan untuk-Nya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun rububiyah – sebagaimana telah saya katakan – tidak ada seorang pun yang menyelisihinya, oleh karena itu engkau mendapati banyak dari saudara-saudara tidak peduli dan tidak mempedulikan tauhid rububiyah. Mereka berkata: tidak ada masalah, yang terpenting adalah tauhid uluhiyah. Ya, ini benar, tetapi rububiyah adalah pintu masuk dan penyulut bagi uluhiyah. Maka setiap kali hati bertambah perenungan dan pemikirannya terhadap nikmat-nikmat Allah, terhadap diri dan alam semesta, maka bertambahlah rasa syukur dan ibadahnya kepada Allah.
Oleh karena itu saya bertanya: kapan terakhir kali kalian memandang ke langit?! Saya katakan – dan sangat disayangkan -: sungguh kita telah berada di zaman yang penduduknya mengubah ketaatan menjadi kemaksiatan. Maka yang memandang ke langit sekarang hanya “sang kekasih”, mereka berkata: “Aku semalaman menghitung bintang”. Dan mereka terus memandang bulan… kemaksiatan. Lalu di manakah orang-orang yang benar-benar merenungkan dan memikirkan, di manakah pemilik akal yang cerdas dan berpikir?!!
Saudara-saudaraku, laut adalah salah satu tanda kebesaran Allah, apakah kalian telah merenungkannya?!! Sungguh ada seorang anak di tepi laut yang merasakan airnya dan mendapatinya sangat asin, lalu dia bertanya kepada ibunya: siapa yang meletakkan garam di laut?! Maka aku duduk berpikir: siapa yang meletakkan garam di laut?!
“Yang ini tawar lagi segar dan yang ini asin lagi pahit” (Surah Al-Furqan: 53). Ajaj artinya: asin. Siapa yang melakukan ini? Mahasuci Dia, Dia-lah Raja. Lihatlah sungai Nil dan rasakanlah airnya, Subhanallah. Perbedaannya sangat besar. Air dan air tetapi sifatnya berbeda!! Siapa sekarang yang memandang ke laut?! Tidak ada seorang pun, kecuali orang-orang yang pergi ke tempat-tempat musim panas yang buruk. Mereka memandang dengan pandangan durhaka dan khianat. Mereka mengubah ketaatan menjadi kemaksiatan. Tidak ada seorang pun hari ini yang berdiri di tepi sungai Nil sambil bertasbih kepada Allah. Semuanya bermaksiat di hadapan nikmat yang memukau akal dan melunakkan hati. Dan ini tidak berarti kita harus berdiri bersama mereka, bahkan kita harus mencari tempat-tempat lain yang bebas dari kemaksiatan untuk merenungkan nikmat-nikmat Allah.
Keluarlah ke taman atau ke ladang-ladang yang luas dan renungkanlah jenis-jenis bunga dan tanaman, dan bertasbihlah kepada Allah. Pegang sebuah bunga dan renungkanlah. Renungkan jenis-jenis burung. Renungkan jenis-jenis tanaman dan perbedaannya dalam ukuran, warna, dan buah-buahan. Yang ini pahit getir di samping yang lain manis lezat, dan yang ini hijau di samping yang lain merah. Subhanallah. Padahal semuanya disiram dengan air yang satu dan di tanah yang satu, sesungguhnya tangan Allah-lah yang mengatur, menjalankan, dan menentukan segala sesuatu dengan takdirannya. Mahasuci Dia, Mahasuci Dia. Mahasuci Dia, Tuhan yang Mahaagung. Mahasuci Dia, Sang Pencipta yang Maha Indah.
Demi Allah – wahai para pemuda – sungguh aku pernah dalam perjalanan menempuh empat ratus lima puluh kilometer, lidahku tidak berhenti bertasbih, karena apa yang kulihat dari keindahan ciptaan Allah, keagungan ciptaan Allah, keindahan ciptaan Allah. Keindahan dari keindahan!! Subhanallah. Oleh karena itu aku ingin kalian memandang dan merenungkan. Naiklah ke atap rumah kalian malam ini dan berbaringlah telentang, dan jangan memandang ke kanan atau ke kiri. Pandanglah hanya ke langit. Lihatlah bintang-bintang, planet-planet, dan bagian-bagian alam semesta. Ini menambah di hatimu keagungan Allah. Maka kamu akan merasakan cahaya-cahaya agung memenuhi hatimu. Aku ingin kalian pergi ke tempat yang ada gunungnya dan memandang gunung-gunung itu, lihatlah kanan dan kirinya, atasnya dan bawahnya. Cobalah dan katakanlah: Subhanallah! Cobalah, dan jangan bermaksiat kepada Allah dengan nikmat-nikmat Allah. Maka jangan pergi ke laut di musim panas, tetapi pergilah di musim dingin ketika tidak ada seorang pun. Pergilah untuk umrah, dan ini adalah ajakan ke tempat musim panas yang baru di Mekah Al-Mukarramah – Ya Allah berilah kami rezeki haji dan umrah, dan berilah kami haji dan umrah secara berturut-turut, Ya Allah jangan haramkan kami dari haji dan umrah.
Para pendosa pergi ke pantai-pantai di musim panas, maka pergilah kamu ke Ka’bah, pergilah ke Madinah. Duduklah di hadapan Ka’bah dan renungkanlah keagungan dan kemegahan. Renungkanlah saat kamu bepergian dengan pesawat atau kapal atau dengan bus darat. Renungkanlah ciptaan Allah, nikmatilah laut saat kamu bepergian, nikmatilah negeri-negeri Allah dan taman-tamannya yang indah. Renungkanlah agar keagungan Allah bertambah di hatimu, agar kamu merasakan manisnya iman, kelezatan iman, dan rasa iman.
Keempat: Kunci masuk kepada Allah adalah penyerahan hati:
Kita ingin masuk kepada Allah. Siapa di antara kalian yang ingin masuk? Kita masih berdiri sejak tadi hanya menonton. Dan aku selalu berkata: aku adalah penjual yang menawarkan dagangan Allah, tetapi para pembeli dari jenis orang-orang zaman kita hanya menonton dan tidak membeli. Siapa yang akan membeli surga? Siapa di antara kalian – wahai para pemuda – yang ingin masuk kepada Tuhannya.
Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Berserah dirilah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku berserah diri'” (Surah Al-Baqarah: 131). Berserah diri, aku berserah diri. Inilah persoalannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia menunaikannya” (Surah Al-Baqarah: 124). Inilah persoalan masuk kepada Allah. Bahwa kamu mendengar perintah lalu berkata: aku berserah diri. Dan kamu mendengar larangan lalu berkata: aku berserah diri. Kamu melaksanakan yang diminta. Aku berserah diri. Penyerahan yang sempurna. Bahwa kamu bersama Allah sejak awal pendapat. Sang Raja berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya” (Surah Al-Hujurat: 1).
Seseorang yang mustajab doanya, dia memiliki hutang lalu anaknya berkata kepadanya: mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar melunasi hutangmu. Maka dia mengangkat tangannya ke langit dan berkata: Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku. Anaknya berkata: wahai ayahku, berdoalah kepada Allah untuk pelunasan hutang. Dia berkata: “Wahai anakku, jika dosaku diampuni maka hutangku akan dilunasi”. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, dan lunaskanlah hutang-hutang kami. Inilah persoalannya: keterikatnya hati kepada Allah. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Berserah dirilah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku berserah diri'”. Maka berserah dirilah – saudara-saudaraku – karena kunci masuk kepada Allah adalah penyerahan hati kepada Allah.
Banyak dari para pemuda yang menarik kembali ucapannya lalu meninggalkan jalan menuju Allah, mereka menarik diri dan meninggalkan jalan itu karena hati mereka belum berserah diri. Hatinya masih sibuk dengan perempuan-perempuan, dengan dunia, dengan kekhawatiran, harta, pernikahan, permainan, jalan-jalan, pakaian. Tetapi jika hati telah berserah diri kepada Allah, maka yang paling dicintainya adalah ketaatan kepada Allah.
Sungguh para pemuda jika mereka berkomitmen namun masih ada hawa nafsu di hatinya – kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari hawa nafsu – maka pastilah dia akan jatuh dalam kemaksiatan lagi.
Dikatakan kepada Ibnu Al-Jauzi: mengapa jika kita mengisi ember tidak menjadi dingin, dan jika kita kurangi isinya menjadi dingin? Dia berkata: “Agar kalian tahu bahwa hawa nafsu tidak masuk kecuali pada yang kurang”. Maka jangan kamu menjadi orang yang kurang, jadilah orang yang hatinya penuh dengan iman agar hawa nafsu tidak masuk kepadamu. Tambahkan imanmu agar hatimu berserah diri kepada Allah. Maka kunci masuk kepada Allah adalah penyerahan hati kepada Allah dan keselamatannya untuk-Nya. Ya Allah anugerahkanlah kepada kami hati-hati yang selamat ya Tuhan.
Banyak dari kita hatinya terpecah-pecah, terputus-putus, terpatah-patah. Dengan perempuan-perempuan, apartemen, mobil, pakaian, penampilan, dengan “tatanan rambutnya”, kuliah, teman-teman, tetangga. Dunia. Sebagian dari kita hatinya tersebar antara pekerjaan, perusahaan, hutang, harta, saldo, mengamankan masa depan, dan… dan… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dunia menjadi tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan menjadikan kefakirannya di depan matanya, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan baginya” (dishahihkan oleh Al-Albani).
Ya – saudara-saudaraku – keselamatan hati untuk Allah. Dan aku tidak berkata kepadamu: jangan berpakaian bagus. Tidak. Bahkan berpakaianlah dan memakai wangi-wangian dan kendarai mobil satu, dua, dan tiga. Bukan ini persoalannya. Persoalannya adalah agar hatimu sibuk dengan Allah bukan dengan mobil-mobil. Menikahlah satu, dua, tiga, dan empat, tetapi jangan hatimu sibuk dengan perempuan-perempuan. Dapatkan gelar-gelar, magister, dan doktor, tetapi jangan hatimu sibuk dengan jabatan-jabatan. Jadikan hatimu sibuk dengan Allah. Ya Allah jangan Engkau sibukkan kami kecuali dengan-Mu.
Lihatlah apa yang Tuhanmu katakan. Ayat yang membuat ubanan muncul!! “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (hari) bertemu dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempat kembalinya adalah neraka, disebabkan apa yang mereka kerjakan” (Surah Yunus: 7-8).
Renungkanlah ayat ini dan bacalah berulang kali agar kamu tahu hakikat keadaanmu. Maka janganlah kamu ridha dengan dunia, condong kepadanya, dan lalai dari Allah.
Banyak orang hari ini berkata: Alhamdulillah, apa yang kurang? Aku tidak meminta apa-apa dari Allah. Wahai orang yang malang, kamu membutuhkan Allah dalam segala hal, maka apa yang ada padamu adalah dunia, maka pahamilah, oleh karena itu dia tidak melihat kecuali yang paling rendah darinya. Adapun orang yang bertauhid, maka tidak membuatnya ridha kecuali melihat wajah Allah Ta’ala di surga. Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid, Ya Allah karuniailah kami kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia, Ya Allah jangan Engkau haramkan kami dari memandang wajah-Mu yang mulia. Aamiin.
Ya – saudara-saudara – kunci masuk kepada Allah adalah penyerahan hati dan keselamatannya untuk Allah, dan keikhlasan kepada-Nya dalam cinta dan benci, perbuatan dan meninggalkan – Ya Allah anugerahkanlah kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan. Ini adalah kunci yang sangat besar. Keikhlasan kepada Allah dalam cinta dan benci. Maka kamu mencintai si fulan. Mengapa kamu mencintainya? Inilah persoalannya. Maka cintailah karena Allah dan bencilah karena Allah, dengan mewujudkan dua kalimat ini hatimu telah berserah diri kepada Allah dan selamat untuk Allah.
Jadi penyerahan hati kepada Allah dan keselamatannya untuk-Nya dari selain-Nya adalah dengan keikhlasan kepada-Nya – Mahasuci Dia – dalam cinta dan benci. Maka ketika aku benci, aku benci karena Allah, dan ketika aku cinta, aku cinta karena Allah. Demikian juga perbuatan dan meninggalkan, maka ketika aku berbuat, aku berbuat karena Allah, dan ketika aku meninggalkan, aku meninggalkan karena Allah. Inilah kunci masuk kepada Allah, maka petiklah madunya dan jangan hancurkan sarangnya.
Kelima: Kunci kehidupan hati ada tiga:
Pertama: meninggalkan dosa-dosa, kedua: merenungkan Al-Quran, dan ketiga: berdoa dengan penuh kerendahan diri di waktu sahur.
Pertama – Meninggalkan dosa-dosa:
Ibnu Qayyim berkata dalam kitab Al-Fawaid di bawah judul “Meninggalkan dosa-dosa terlebih dahulu”:
“Orang yang mengenal Allah tidak memerintahkan manusia untuk meninggalkan dunia, karena mereka tidak mampu meninggalkannya, tetapi dia memerintahkan mereka untuk meninggalkan dosa-dosa dengan tetap berada dalam dunia mereka. Maka meninggalkan dunia adalah keutamaan, dan meninggalkan dosa adalah kewajiban, lalu bagaimana diperintahkan dengan keutamaan orang yang belum menegakkan kewajiban! Jika sulit bagi mereka meninggalkan dosa-dosa, maka berusahalah keras agar Allah dicintai oleh mereka dengan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya, pemberian-Nya, kebaikan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan sifat keagungan-Nya. Karena sesungguhnya hati-hati diciptakan atas fitrah mencintai-Nya. Maka jika hati terikat dengan cinta-Nya, mudahlah baginya meninggalkan dosa-dosa, bersikeras melakukannya, dan beristiqamah darinya. Dan sungguh Yahya bin Muadz berkata: Pencarian orang berakal terhadap dunia lebih baik daripada peninggalan orang bodoh terhadapnya”.
Sesungguhnya dosa-dosa mencekik hati. Kemaksiatan membunuh hati. Dosa-dosa mematikan hati. Ibnu Qayyim berkata tentang akibat-akibat kemaksiatan: “Sedikitnya taufik, rusaknya pendapat, tersembunyinya kebenaran, rusaknya hati, terpendam penyebutan, tersia-siakannya waktu, larinya makhluk, keterasingan antara hamba dan Tuhannya, tercegahnya ijabah doa, kerasnya hati, hilangnya keberkahan dalam rezeki dan umur, terharamkannya ilmu, pakaian kehinaan, hinaan musuh, sempitnya dada, cobaan dengan teman-teman buruk yang merusak hati dan menyia-nyiakan waktu, panjangnya kesedihan dan duka, sempitnya kehidupan, dan buramnya keadaan. Semuanya lahir dari kemaksiatan dan kelalaian dari mengingat Allah sebagaimana tanaman lahir dari air dan pembakaran dari api, dan lawan-lawan dari ini semuanya lahir dari ketaatan”.
Sesungguhnya pemuda yang terfitnahkan – Ya Allah kembalikanlah dia kepada komitmen dengan pengembalian yang dekat, Ya Allah teguhkanlah hati-hati kami di atas iman – dia berkata: aku akan mendengarkan beberapa lagu kemudian masuk ke internet, kemudian aku mendengarkan kaset Syaikh fulan kekasihku, dan aku akan hadir pada pelajaran Syaikh fulan yang akan datang. Dia pergi ke Syaikh, dia bertemu dengan seorang gadis lalu dia terus berbicara dengannya hingga sampai pada tingkat zina melalui udara. Maka dia terfitnahkan – Ya Allah selamatkanlah kami dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang tersembunyi. Terfitnahkan karena dosa pertamanya. Maka karena dosa yang tidak dia tinggalkan, dia membunuh hatinya dan menyia-nyiakan dirinya.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Tidak ada hamba yang dipukul dengan hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya dari Allah”.
Dan dia rahimahullah menjelaskan jalan menuju kejernihan hati dengan berkata:
“Barangsiapa menginginkan kejernihan hatinya maka hendaklah dia mengutamakan Allah di atas syahwat-syahwatnya. Hati-hati yang terikat dengan syahwat-syahwat terhalang dari Allah sebesar keterikannya dengannya. Hati-hati adalah bejana-bejana Allah di bumi-Nya, maka yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, paling keras, dan paling jernih. Mereka menyibukkan hati-hati mereka dengan dunia, seandainya mereka menyibukkannya dengan Allah dan negeri akhirat niscaya hati-hati itu berkeliaran dalam makna-makna kalam-Nya dan ayat-ayat-Nya yang disaksikan, dan kembali kepada pemilik-pemiliknya dengan keanehan-keanehan hikmah dan sisi-sisi faidah. Jika hati diperangi dengan zikir, disiram dengan pikiran, dan dibersihkan dari semak-semak, dia akan melihat keajaiban-keajaiban dan diilhami hikmah. Tidaklah setiap orang yang berhias dengan makrifat dan hikmah serta mengklaimnya adalah termasuk ahlinya. Bahkan ahli makrifat dan hikmah adalah mereka yang menghidupkan hati-hati mereka dengan membunuh hawa nafsu. Adapun orang yang membunuh hatinya dan menghidupkan hawa nafsu, maka makrifat dan hikmah hanya pinjaman di atas lisannya”.
Ya – saudara-saudaraku -: meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan hati. Tinggalkanlah dosa karena dosa membunuh hati. Membunuhnya. Aku berkata kepada salah seorang dari mereka: mengapa kamu tidak bangun di malam hari? Dia berkata: aku tidur seperti orang mati, aku tidak bisa bergerak. Aku berkata kepadanya: karena dosa-dosa.
Dikatakan kepada salah seorang salaf (pendahulu): Bagaimana aku dapat membantu diriku untuk shalat malam? Dia berkata: “Jangan bermaksiat kepada-Nya di siang hari, niscaya Dia akan membangunkanmu untuk shalat di malam hari.” Jika engkau merasa shalat malam itu berat bagimu, maka ketahuilah bahwa engkau terhalang dan terbelenggu. Dosa-dosamu telah membelenggumu, terkungkung, kesalahan-kesalahanmu telah mengikatmu, maka tinggalkanlah dan bertaubatlah darinya agar hatimu dapat hidup.
Kedua – Merenungkan Al-Quran:
Wahai saudaraku karena Allah, wahai mahasiswa Fakultas Teknik, wahai kekasihku karena Allah, wahai mahasiswa Fakultas Kedokteran, wahai saudaraku karena Allah, wahai mahasiswa Fakultas Perdagangan. Wahai orang yang mampu memecahkan masalah-masalah tersulit, akal cemerlangmu ini, apa yang telah kamu pahami darinya tentang Al-Quran?!
Salah seorang saudara berkata kepadaku: Aku membaca di koran ada penulis yang mengatakan: Sesungguhnya Allah memerintahkan laki-laki untuk menutup pakaian seperti perempuan, maka Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka” (Al-Ahzab: 59)!! Aku berkata: Apakah orang ini berakal?!! Nun niswa (kata ganti perempuan jamak) wahai saudaraku!! Di mana akalnya?! Apakah tidak ada pemahaman?! Bahkan akal mereka pun tidak mereka gunakan!! Oleh karena itu, aku ingin engkau memahami dan merenungkan Al-Quran “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya” (Shad: 29). Renungkan, renungkan Al-Quran. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berdiri shalat dengan satu ayat yang beliau ulang-ulang: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Maidah: 118).
Dan Tamim Ad-Dari pernah berdiri shalat semalam penuh dengan ayat ini: “Ataukah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan itu” (Al-Jatsiyah: 21). Dan Said bin Jubair pernah berdiri shalat semalam mengulang-ulang ayat ini: “Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berdosa” (Yasin: 59), yaitu berpisahlah dan menyendirilah dari orang-orang beriman.
Dan Muhammad bin Al-Munkadir ditanya oleh Abu Hazim tentang tangisannya sepanjang malam, lalu dia berkata: Satu ayat dari Kitabullah yang membuatku menangis, “Dan tampaklah bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perkirakan” (Az-Zumar: 47).
Sebagian mereka berkata: Sesungguhnya aku membuka suatu surat, lalu aku terhenti oleh sebagian dari apa yang aku saksikan di dalamnya sehingga tidak selesai darinya hingga terbit fajar. Dan sebagian mereka berkata: Ayat yang tidak aku pahami, dan tidak hadir hatiku di dalamnya, aku tidak menghitung pahala untuknya.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Sesungguhnya aku membaca ayat lalu aku berdiri di dalamnya empat atau lima malam, seandainya bukan karena aku memutus pemikiran di dalamnya, niscaya aku tidak melewatinya ke yang lain. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan” (Qaf: 37).
Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata dalam “Al-Fawaid” di bawah judul “Kaidah Mulia: Syarat-syarat Mendapat Manfaat dari Al-Quran”: “Jika engkau ingin mendapat manfaat dari Al-Quran, maka kumpulkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya, dan pasanglah pendengaranmu, dan hadirkan kehadiran orang yang diajak bicara oleh Yang Maha Suci – Yang berbicara dengannya – dari-Nya kepada-Nya, karena itu adalah khitab (pembicaraan) dari-Nya kepadamu melalui lisan Rasul-Nya, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan” (Qaf: 37)
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh itu bergantung pada sesuatu yang mempengaruhi yang menuntut, dan tempat yang menerima, dan syarat untuk terwujudnya pengaruh dan hilangnya penghalang yang mencegahnya, maka ayat ini mencakup semua itu dengan lafal yang paling ringkas, paling jelas, dan paling menunjukkan kepada yang dimaksud. Maka firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan” adalah isyarat kepada apa yang telah disebutkan di awal surat sampai di sini. Dan ini adalah sesuatu yang mempengaruhi, dan firman-Nya: “bagi orang yang mempunyai hati” maka ini adalah tempat yang menerima, dan yang dimaksud dengannya adalah hati yang hidup yang berakal dari Allah, sebagaimana Allah berfirman: “Tidak lain hanyalah peringatan dan Al-Quran yang memberi penerangan, agar dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup” (Yasin: 69-70), yaitu: yang hidup hatinya. Dan firman-Nya: “atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan” (Qaf: 37), yaitu: mengarahkan pendengarannya, dan memfokuskan indera pendengarannya kepada apa yang dikatakan kepadanya, dan ini adalah syarat terpengaruh oleh perkataan.
Dan firman-Nya: “sedang dia menyaksikan”, yaitu menyaksikan dengan hati, hadir tidak ghaib.
Ibnu Qutaibah berkata: “Mendengarkan Kitabullah sedang dia menyaksikan dengan hati dan pemahaman, bukan dalam keadaan lalai atau terlena.” Dan ini adalah isyarat kepada penghalang dari terjadinya pengaruh, yaitu lalainya hati dan ketidakhadirannya dari memahami apa yang dikatakan kepadanya dan memperhatikannya serta merenungkannya. Maka jika terwujud sesuatu yang mempengaruhi yaitu Al-Quran, dan tempat yang menerima yaitu hati yang hidup, dan terdapat syarat yaitu mendengarkan dengan saksama, dan hilangnya penghalang yaitu kesibukannya hati dan keabsenannya dari makna pembicaraan dan berpalingnya kepada sesuatu yang lain, maka terwujudlah pengaruh yaitu mendapat manfaat dan mengingat.
Ibnu Qayyim melanjutkan pembicaraannya yang menarik dengan berkata: “Maka pemilik hati menggabungkan antara hatinya dan makna-makna Al-Quran, lalu dia mendapatinya seakan-akan telah tertulis di dalamnya, maka dia membacanya dari luar kepala. Dan di antara manusia ada yang tidak sempurna kesiapannya, tidak peka hatinya, tidak sempurna kehidupannya, maka dia membutuhkan saksi yang membedakan untuknya antara hak dan batil, dan belum sampai kehidupan hatinya dan cahayanya dan kecerdasan fitrahnya sampai derajat pemilik hati yang hidup dan peka, maka jalan terwujudnya petunjuk baginya adalah dengan mengosongkan pendengarannya untuk perkataan, dan hatinya untuk merenungkannya dan berpikir di dalamnya, dan memahami makna-maknanya, maka dia mengetahui saat itu bahwa itu adalah kebenaran.” Saudara-saudaraku, pahamilah Al-Quran dan renungkanlah. Bukalah hati, telinga, dan pandangan kalian untuknya. Dahulu guru berkata kepada kami:
Jika engkau mempelajari topik dari buku, maka tutuplah lalu tulislah di kertas terpisah apa yang engkau pahami. Maka apakah engkau pernah bertanya kepada dirimu setelah selesai membaca: Apa yang aku pahami? Apa yang tertanam di hatiku dari makna-makna Al-Quran? Dengan apa aku keluar hari ini dari Al-Quran?
Sesungguhnya kebanyakan kita hari ini – wahai saudara-saudara – datang kepada Al-Quran dalam keadaan hati yang tertutup sepenuhnya. Tidak mau membuka hatinya, maka tidak mendapat manfaat dari Al-Quran, karena tidak mau melelahkan dirinya dalam merenungkan, dan barangsiapa keadaannya seperti ini maka dia datang kepada Al-Quran dan tidak keluar darinya dengan sesuatu, bahkan mungkin keluar dari duduknya dalam keadaan jenuh terhadap Al-Quran, karena dia datang kepadanya di waktu-waktu ketika hatinya tidak siap, dan dalam kondisi ketika jiwanya tidak tenang.
Saudara-saudaraku, jika kalian ingin kehidupan untuk hati-hati kalian, maka kalian harus memahami keseluruhan Al-Quran dan topik Al-Quran, dan maksud Al-Quran. Kalian harus merenungkan kalam Allah dan apa yang dikandungnya, agar kalian keluar darinya dengan mengenal Allah dan mencintai Allah, dan takwa hati kalian dalam berjalan kepada Allah.
Ibnu Qayyim berkata di bawah judul “Faidah: Isi Pembicaraan Al-Quran”:
“Renungkanlah pembicaraan Al-Quran, engkau akan menemukan Raja yang memiliki seluruh kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, kendali segala urusan di tangan-Nya dan sumbernya dari-Nya dan kembalinya kepada-Nya, bersemayam di atas singgasana kerajaan-Nya, tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu yang tersembunyi di penjuru kerajaan-Nya, mengetahui apa yang ada di dalam jiwa hamba-hamba-Nya, mengetahui rahasia dan terang-terangan mereka, menyendiri dalam mengatur kerajaan, mendengar dan melihat, memberi dan mencegah dan memberi pahala dan menghukum, dan memuliakan dan menghinakan, dan menciptakan dan memberi rezeki dan mematikan, dan menentukan dan memutuskan dan mengatur. Urusan-urusan turun dari sisi-Nya, yang kecil dan yang besar, dan naik kepada-Nya, tidak bergerak zarah di alam ini kecuali dengan izin-Nya, dan tidak jatuh sehelai daun kecuali dengan pengetahuan-Nya.
Maka renungkanlah bagaimana engkau mendapati-Nya memuji diri-Nya sendiri dan mengagungkan diri-Nya sendiri, dan memuji diri-Nya sendiri, dan menasihati hamba-hamba-Nya, dan menunjukkan kepada mereka apa yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungan mereka dan membuat mereka tertarik kepadanya, dan memperingatkan mereka dari apa yang di dalamnya terdapat kebinasaan mereka, dan memperkenalkan diri kepada mereka dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan mendekatkan diri kepada mereka dengan nikmat dan karunia-Nya. Maka Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-Nya kepada mereka dan memerintahkan mereka dengan apa yang mereka pantas mendapatkan kesempurnaannya, dan memperingatkan mereka dari siksa-Nya dan mengingatkan mereka dengan apa yang telah Dia siapkan untuk mereka dari kemuliaan jika mereka taat kepada-Nya, dan apa yang telah Dia siapkan untuk mereka dari hukuman jika mereka durhaka kepada-Nya. Dan mengabarkan kepada mereka tentang perlakuan-Nya terhadap wali-wali-Nya dan musuh-musuh-Nya dan bagaimana akibat mereka dan mereka.
Dan memuji wali-wali-Nya dengan amal salih mereka dan sifat terbaik mereka, dan mencela musuh-musuh-Nya dengan amal buruk mereka dan sifat jelek mereka, dan memberikan perumpamaan-perumpamaan dan menghadirkan berbagai dalil dan bukti, dan menjawab keraguan musuh-musuh-Nya dengan jawaban terbaik, dan membenarkan yang benar dan mendustakan yang dusta, dan mengatakan yang hak dan memberi petunjuk jalan.
Dan mengajak kepada negeri keselamatan, dan menyebutkan sifat-sifatnya dan keindahannya dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya, dan memperingatkan dari negeri kehancuran dan menyebutkan siksanya dan kejelekannya dan penderitaannya, dan mengingatkan hamba-hamba-Nya akan kefakiran mereka kepada-Nya dan sangat butuh mereka kepada-Nya dari segala sisi, dan bahwa mereka tidak kaya dari-Nya sekejap mata, dan menyebutkan kekayaan-Nya dari mereka dan dari semua makhluk, dan bahwa Dia Maha Kaya dengan diri-Nya dari segala sesuatu selain-Nya, dan segala sesuatu selain-Nya faqir (butuh) kepada-Nya dengan sendirinya, dan bahwa tidak ada seorang pun yang mendapat setitik kebaikan atau lebih kecuali dengan karunia dan rahmat-Nya, dan tidak setitik kejahatan atau lebih kecuali dengan keadilan dan hikmah-Nya.
Dan disaksikan dari pembicaraan-Nya teguran-Nya kepada kekasih-kekasih-Nya dengan teguran yang paling lembut, dan bahwa Dia dengan itu memaafkan kesalahan mereka, dan mengampuni kekeliruan mereka, dan menegakkan alasan mereka, dan memperbaiki kerusakan mereka, dan membela mereka, dan melindungi mereka, dan menolong mereka, dan penjamin kepentingan mereka, dan penyelamat mereka dari setiap kesusahan, dan pemenuhan janji-Nya kepada mereka, dan bahwa Dia adalah wali mereka yang tidak ada wali bagi mereka selain-Nya, maka Dia Maulana mereka yang benar dan penolong mereka atas musuh mereka, maka sebaik-baik Maulana dan sebaik-baik penolong.
Maka jika hati-hati menyaksikan dari Al-Quran Raja yang Maha Agung, Maha Penyayang, Maha Mulia, Maha Indah yang seperti ini keadaan-Nya, maka bagaimana hati-hati tidak mencintai-Nya dan bersaing dalam mendekat kepada-Nya, dan menghabiskan nafas-nafas mereka dalam mendekatkan diri kepada-Nya, dan Dia menjadi yang paling dicintai oleh mereka dari segala sesuatu selain-Nya, dan ridha-Nya lebih utama di sisi mereka dari ridha segala sesuatu selain-Nya?! Dan bagaimana hati-hati tidak bergumam dengan zikir-Nya dan menjadikan cinta kepada-Nya dan kerinduan kepada-Nya dan ketenangan bersama-Nya adalah makanan mereka dan kekuatan mereka dan obat mereka sehingga jika kehilangan itu maka hati-hati rusak dan binasa dan tidak mendapat manfaat dari kehidupan mereka?!”
Ketiga – Merendahkan Diri di Waktu Sahur:
Aku ingin engkau bangun di waktu sahur, dan berwudhu ketika dunia sunyi dan semua orang tidur. Maha Suci Allah! Betapa banyak di antara kalian yang ingin bertemu dengan Syekh fulan dan duduk bersamanya dan berbicara dengannya dan memenuhi matanya darinya. Tidakkah engkau ingin bertemu Tuhanmu, dan duduk bersama-Nya sendirian sebelum Fajar?! Untuk berkata kepada-Nya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Setelah engkau memenuhi hatimu dengan “Allahu Akbar”. Demi Allah – wahai saudara-saudaraku – sesungguhnya untuk bermunajat di tengah malam ada kelezatan yang tidak dapat ditandingi oleh kelezatan-kelezatan dunia semuanya. Bahwa engkau memanggil Tuhanmu Subhanahu wa Taala ketika engkau berdiri di hadapan-Nya dalam kehinaan dan kekhusyukan dan kerendahan dan keagungan untuk berkata doa iftitah:
“Aku hadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus lagi Muslim dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan yang demikian itu aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (Muslim)” (Al-Anam: 162-163).
Shalatlah dan dengarkanlah dirimu membaca. Di kamarmu, di balkon, di atas atap, atau di masjid di bawah rumahmu. Engkau akan merasakan bahwa engkau berbicara dengan Allah, memanggil-Nya, bermunajat kepada-Nya, merasakan bahwa ada rahasia antara engkau dan Dia. Engkau akan merasakan adanya hubungan, hubungan kasih sayang dan cinta dan kedekatan. Betapa indahnya perjumpaan itu, betapa agungnya berdiri itu, dan betapa indahnya pembicaraan itu. Sungguh itu adalah pertemuan dengan Sang Raja, Ar-Rahman, ketika engkau merasakan posisi itu dan bahwa engkau bersama Allah. Akan melimpahkan kepadamu saat itu rahmat-rahmat. Maka merendahlah di waktu sahur, karena waktu ini mahal tidak dapat diganti dengan harta dunia. Merendahlah untuk melindungi hatimu, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersaid: “Barangsiapa yang shalat dengan sepuluh ayat maka tidak ditulis termasuk orang-orang yang lalai, dan barangsiapa shalat dengan seratus ayat ditulis termasuk orang-orang yang taat, dan barangsiapa shalat dengan seribu ayat ditulis termasuk orang-orang yang mendapat qinthar” (dishahihkan oleh Al-Albani). Dan Al-Muqanthirun: mereka adalah orang-orang yang telah ditulis untuk mereka qinthar dari pahala, dan qinthar – sebagaimana datang dalam hadits Fadhalah bin Ubaid dan Tamim Ad-Dari di Thabrani -: “lebih baik dari dunia dan seisinya”.
Abdul Aziz bin Salman, Rabiʻah rahimahallah biasa menyebutnya: “Sayyid al-ʻAbidin (Pemimpin Para Ahli Ibadah)”. Beliau rahimahullah biasa berkata: Apa urusan ahli ibadah dengan tidur!! Demi Allah, tidak ada tidur di dunia ini kecuali tidur yang terpaksa. Dan putranya Muhammad berkata tentang beliau: Ketika ayahku bangun di malam hari untuk tahajud, aku mendengar suara gemuruh yang keras di rumah, dan air yang banyak ditarik. Katanya: Kami melihat bahwa jin-jin bangun untuk tahajud dan mereka salat bersamanya.
Dan ini adalah ʻAjradah al-ʻAmiyah rahimahallah. Raja’ bin Muslim al-ʻAbdi berkata tentangnya: Kami berada di rumah bersama ʻAjradah al-ʻAmiyah, dia menghidupkan malamnya dengan salat, dan terkadang dia berkata: Dia berdiri sejak awal malam hingga sahur. Ketika waktu sahur tiba, dia berseru dengan suara sedihnya: Kepada-Mu para ahli ibadah melewati gelapnya malam-malam, dengan takbir di kegelapan hingga gelapnya waktu sahur, mereka berlomba menuju rahmat-Mu dan keutamaan ampunan-Mu. Maka dengan-Mu, wahai Tuhanku, bukan dengan yang lain, aku memohon agar Engkau menjadikanku dalam kelompok pertama orang-orang yang mendahului kepada-Mu, dan agar Engkau mengangkatku kepada-Mu dalam derajat orang-orang yang didekatkan, dan agar Engkau menyatukan aku dengan hamba-hamba-Mu yang saleh. Sungguh Engkau adalah Yang Maha Pemurah dari segala pemurah, Yang Maha Penyayang dari segala penyayang, dan Yang Maha Agung dari segala yang agung. Kemudian dia sujud, dan terus menangis dan berdoa dalam sujudnya, hingga fajar terbit. Itulah kebiasaannya selama tiga puluh tahun.
Dan dikatakan kepada ʻUfairah al-ʻAbidah: Sesungguhnya engkau tidak tidur di malam hari. Maka dia menangis dan berkata: Terkadang aku ingin tidur tetapi tidak mampu melakukannya. Bagaimana bisa tidur atau mampu tidur orang yang kedua malaikat penjaganya tidak tidur dari mengawasinya siang maupun malam?!
Ini adalah wanita!! Maka di mana kalian wahai para lelaki?!! Wahai penyesalan atas para lelaki!! Dan kesimpulan dari apa yang telah disebutkan: Tinggalkan dosa-dosamu terlebih dahulu, kemudian hadaplah kepada Kitabullah dengan membaca, memahami, dan merenungkannya. Bacalah dengan khusyuk dan kesedihan agar hatimu melebur sehingga keburukannya hilang, kemudian bermohonlah kepada Tuhanmu di waktu sahur agar kamu hidup dalam kenikmatan dan merasakan kelezatan munajat. Dengan itu hatimu akan hidup, sehingga teguh dalam perjalanan menuju Allah. Maka miliki kunci ini dan jangan sia-siakan, agar kamu tidak memecahkan sarang lebah sehingga madunya hilang darimu.
Dan demikianlah, saudaraku yang berjalan di jalan menuju Allah, hendaknya kamu sangat memperhatikan untuk mengetahui “ilmu kunci-kunci”, agar kamu menuai madu tanpa memecahkan sarang lebahnya.
Prinsip Kedua Puluh: “Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat, maka berlarilah kepada Allah”
Allah Taʻala berfirman: “Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat. Maka berlarilah kepada Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kamu.” (Surah adz-Dzariyat: 49-50)
Ibnu Katsir rahimahullahu taʻala berkata: Artinya: semua makhluk adalah berpasang-pasangan: langit dan bumi, malam dan siang, matahari dan bulan, darat dan laut, cahaya dan kegelapan, iman dan kufur, mati dan hidup, sengsara dan bahagia, surga dan neraka, bahkan hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu Allah Taʻala berfirman: “agar kamu mengingat”, artinya: agar kamu mengetahui bahwa Sang Pencipta adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya… “Maka berlarilah kepada Allah”, artinya: berlindunglah kepada-Nya dan sandarkan urusan-urusanmu kepada-Nya. “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kamu.”
Dan penulis Fi Dzilal al-Quran rahimahullahu taʻala berkata: “Dan dalam bayangan sentuhan-sentuhan yang pendek ungkapannya namun dahsyat jangkauannya: di angkasa langit, di keluasan bumi, dan di kedalaman makhluk-makhluk, Allah menyeru manusia agar berlari kepada Pencipta langit, bumi, dan makhluk-makhluk, dengan melepaskan diri dari semua yang memberatkan jiwa mereka dan mengikatnya, dengan mengesakan Allah yang menciptakan alam semesta ini sendiri tanpa sekutu.
“Maka berlarilah kepada Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kamu. Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah tuhan yang lain, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kamu.” (Surah adz-Dzariyat: 50-51). Dan ungkapan dengan lafaz “berlari” sungguh menakjubkan.
Ia memberi isyarat tentang beban-beban, belenggu-belenggu, rantai-rantai, dan ikatan-ikatan yang mengikat jiwa manusia ke bumi ini, membuatnya berat untuk terbang bebas, mengepungnya, menawannya, dan membiarkannya terbelenggu. Terutama ikatan rezeki, keserakahan, dan kesibukan dengan sebab-sebab lahiriah untuk bagian yang telah dijanjikan. Maka dari itu datanglah seruan yang kuat untuk terbang bebas, melepaskan diri, dan berlari kepada Allah dari beban-beban dan belenggu-belenggu ini! Berlari kepada Allah semata dengan mensucikan-Nya dari segala sekutu. Dan mengingatkan manusia akan terputusnya hujah dan gugurnya alasan: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kamu.” Dan pengulangan peringatan ini dalam dua ayat yang berdekatan adalah penambahan dalam peringatan dan peringatan keras!”
Saudara-saudaraku, maka berlarilah kepada Allah. Mendekatlah ke jalan Allah. Marilah selangkah saja kepada Allah. Letakkan kaki kalian di awal jalan. Bantulah kami terhadap diri kalian sendiri dengan berdiri di ujung jalan, dan Allah akan mengulurkan tangan-Nya kepada kalian.
Tunjukkanlah kepada Allah kebaikan dari diri kalian, karena Allah jalla jalaluhu telah menetapkan satu sunnatullah dalam ciptaan-Nya: bahwa barangsiapa mendekat kepada-Nya maka Dia Subhanahu akan mendekat kepadanya, dan barangsiapa menjauh dari-Nya maka Dia Subhanahu akan menjauh darinya. “Mereka melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka” (Surah at-Taubah: 67). “Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka” (Surah ash-Shaff: 5). Barangsiapa bertobat maka Allah menerima tobatnya dan mencintainya, dan barangsiapa mengerahkan usahanya dan menggunakan segenap kemampuannya dalam ketaatan kepada Allah, maka Allah menolongnya dan memberinya petunjuk. Ini adalah kaidah, sunnatullah yang pasti. Maka jangan engkau tidur dari ketaatan kemudian berkata: Jika Allah mencintaiku niscaya Dia membimbingku. Tidak! Tetapi datanglah maka Dia akan membimbingmu.
Dan Ibnul Qayyim rahimahullah telah menamai prinsip ini sebagai serbuk sari (liqah), seperti serbuk sari tanaman. Beliau berkata—semoga Allah merahmatinya—dalam kitab al-Fawaid:
- Pencarian adalah serbuk sari iman. Jika iman dan pencarian berkumpul, keduanya menghasilkan amal saleh.
- Berbaik sangka kepada Allah adalah serbuk sari kebutuhan dan kepasrahan kepada-Nya. Jika keduanya berkumpul, keduanya menghasilkan terkabulnya doa.
- Rasa takut adalah serbuk sari kecintaan. Jika keduanya berkumpul, keduanya menghasilkan pelaksanaan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.
- Kesabaran adalah serbuk sari keyakinan. Jika keduanya berkumpul, keduanya mewariskan kepemimpinan dalam agama. Allah Taʻala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Surah as-Sajdah: 24)
- Kebenaran dalam meneladani Rasul adalah serbuk sari keikhlasan. Jika keduanya berkumpul, keduanya menghasilkan diterimanya amal dan diperhitungkannya.
- Amal adalah serbuk sari ilmu. Jika keduanya berkumpul, terjadilah kesuksesan dan kebahagiaan. Dan jika salah satunya terpisah dari yang lain, tidak memberikan manfaat apa pun.
- Kelembutan adalah serbuk sari ilmu. Jika keduanya berkumpul, diperoleh kepemimpinan dunia dan akhirat, dan terjadi manfaat dari ilmu orang yang berilmu. Dan jika salah satunya terpisah dari yang lain, hilanglah manfaat dan pemanfaatan.
- Keteguhan hati adalah serbuk sari ketajaman pandangan. Jika keduanya berkumpul, pemiliknya meraih kebaikan dunia dan akhirat, dan cita-citanya mencapai segala ketinggian. Maka kekurangan kesempurnaan adalah karena kurangnya ketajaman pandangan, atau kurangnya keteguhan hati.
- Kebaikan niat adalah serbuk sari kesehatan akal. Jika keduanya hilang, hilanglah segala kebaikan. Dan jika keduanya berkumpul, keduanya menghasilkan berbagai jenis kebaikan.
- Kebenaran pendapat adalah serbuk sari keberanian. Jika keduanya berkumpul, terjadilah kemenangan dan kesuksesan. Dan jika keduanya hilang, terjadilah kehinaan dan kekalahan. Dan jika ada pendapat tanpa keberanian, terjadilah kepengecutan dan kelemahan. Dan jika ada keberanian tanpa pendapat, terjadilah kecerobohan dan kebinasaan.
- Kesabaran adalah serbuk sari ketajaman pandangan. Jika keduanya berkumpul, maka kebaikan ada dalam kebersamaan keduanya. Al-Hasan berkata: Jika engkau ingin melihat orang yang tajam pandangan tetapi tidak sabar, engkau akan melihatnya. Dan jika engkau ingin melihat orang yang sabar tetapi tidak tajam pandangan, engkau akan melihatnya. Maka jika engkau melihat orang yang sabar dan tajam pandangan, itulah orangnya.
- Nasihat adalah serbuk sari akal. Semakin kuat nasihat, semakin kuat dan bercahaya akal.
- Mengingat dan merenung, masing-masing adalah serbuk sari yang lain. Jika keduanya berkumpul, keduanya menghasilkan zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat.
- Takwa adalah serbuk sari tawakal. Jika keduanya berkumpul, hati menjadi lurus.
- Dan serbuk sari mengambil persiapan untuk pertemuan adalah pendeknya angan-angan. Jika keduanya berkumpul, maka segala kebaikan ada dalam kebersamaan keduanya, dan kejahatan ada dalam perpisahan keduanya.
- Dan serbuk sari cita-cita yang tinggi adalah niat yang benar. Jika keduanya berkumpul, hamba mencapai puncak keinginannya.
Maka masalahnya membutuhkan penyerbukan. Maksudku adalah masalah perjalanan menuju Allah dan mencapai-Nya. Ya, mencapai Allah membutuhkan penyerbukan-penyerbukan. Dan marilah sekarang—saudara-saudaraku karena Allah—kita mulai menjelaskan penyerbukan-penyerbukan yang paling penting ini:
Pertama: Serbuk sari persiapan untuk pertemuan dengan Allah adalah pendeknya angan-angan:
Ibnul Qayyim berkata: “Dan serbuk sari mengambil persiapan untuk pertemuan adalah pendeknya angan-angan. Jika keduanya berkumpul, maka segala kebaikan ada dalam kebersamaan keduanya, dan kejahatan ada dalam perpisahan keduanya.”
Dan aku bertanya kepadamu: Jika kamu diberi pilihan, kapan kamu ingin mati? Pertanyaan yang seharusnya memaksakan dirinya kepadamu. Kapan kamu ingin mati? Salah seorang berkata: Sekarang. Maka aku berkata kepadanya: Apakah kamu sudah siap?! Aku khawatir atas dirimu, karena Allah berfirman: “Dan nampak bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perkirakan.” (Surah az-Zumar: 47). Dan yang lain berkata: Aku takut menghadapi-Nya dan mendapati perkara-perkara yang tidak pernah aku duga. Hal-hal yang tidak pernah aku perhitungkan. Tidak pernah aku harapkan. Ada masalah-masalah dan persoalan-persoalan yang menungguku, Allah akan menghisabku atasnya yang tidak aku ketahui. Oleh karena itu aku takut.
Muadz bin Jabal ketika kematian datang kepadanya berkata: “Selamat datang kematian, selamat datang pengunjung yang jarang, dan kekasih yang datang di saat kefakiran. Tidak beruntung orang yang menyesal.” Maka Muadz sudah siap dan bersiap.
Hudzaifah bin al-Yaman ketika kematian datang kepadanya berkata: “Wahai kematian, seranglah seranganmu! Wahai kematian, ikat ikatanmu! Hatiku menolak kecuali mencintaimu.”
Dia mencintai kematian karena dia sudah siap dan bersiap. Apakah kamu sudah siap?!! Apakah kamu siap untuk menghadap Allah sekarang?!
“Dan nampak bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perkirakan.” (Surah az-Zumar: 47). “Dan nampak bagi mereka kejahatan-kejahatan yang mereka kerjakan.” (Surah az-Zumar: 48). Mereka mendapati perolehan mereka adalah kejahatan-kejahatan!
Maka serbuk sari mengambil kesiapan adalah bahwa kamu berjalan di jalan menuju Allah dengan hati-hati dan waspada, sehingga kamu takut kematian datang kepadamu secara tiba-tiba. Hiduplah harimu yang sedang kamu jalani dengan meyakini dan memastikan bahwa itu adalah hari terakhirmu di dunia. Hiduplah dunia sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghidupinya. Hiduplah sebagaimana dia hidup dan matilah sebagaimana dia mati. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.” [Dishahihkan oleh al-Albani]
Oleh karena itu, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” Ini adalah semboyannya shallallahu alaihi wasallam.
Dan ketahuilah bahwa angan-angan adalah lautan orang-orang yang bangkrut. Ya, orang yang tidur dengan menyangka bahwa dia akan bangun besok adalah orang yang panjang angan-angannya dan tidak siap untuk menghadap Allah. Oleh karena itu, jika kamu pendekkan angan-anganmu di dunia, maka kamu telah menyerbuki kesiapanmu untuk kematian. Maka terjadilah kesungguhan dan kamu berjalan menuju Allah dengan itu. Dengan ini kamu menjadi siap.
Yang Kedua: Penyerbukan Semangat yang Tinggi dengan Niat yang Benar:
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami semangat yang tinggi… Salah seorang saudara kami dahulu menghafal Al-Quran, kemudian ia mulai mengikuti kajian ilmiah di musim panas dan ia konsisten di dalamnya. Tiba-tiba ia meninggalkan kajian tersebut seraya berkata: “Aku mendapati bahwa perhatian terhadap kajian telah menyibukkanku dari Al-Quran…” Mengapa anakku tidak keduanya sekaligus?! Di mana semangat yang tinggi?! Engkau di perguruan tinggi mempelajari enam atau delapan mata kuliah dalam satu semester dan engkau mengulang semuanya, bahkan mendapat nilai cum laude. Mengapa semangat kita tidak tinggi juga dalam menuntut ilmu Al-Quran dan Sunnah serta dalam ibadah dan dakwah kepada Allah?!
Kemudian, semangat yang tinggi saja tidak cukup, bahkan seringkali hal itu merugikan pemiliknya dan menarik mereka ke belakang… Orang yang memiliki semangat tinggi tanpa niat yang saleh, akan engkau dapati ia tertimpa ujub (bangga diri), kesombongan, rida terhadap dirinya sendiri, takabur, dan meremehkan serta menghina orang lain… Oleh karena itu, penyerbuk semangat dan pasangannya adalah niat yang saleh… Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebaikan niat.
Semangat adalah nikmat, dan meremehkan nikmat Allah kepadamu akan menjatuhkanmu dari pandangan Allah… Karena itu, jika Allah menganugerahkan kepadamu semangat yang tinggi, maka serbuklah dengan niat yang saleh, agar nikmat terjaga dan engkau istiqamah di jalan yang benar.
Ibnu Qayyim berkata: “Penyerbukan semangat yang tinggi adalah niat yang saleh. Jika keduanya berkumpul, maka hamba mencapai puncak yang diinginkan”… Baikkanlah niatmu dalam semangatmu, maka semangat itu akan menjadi saleh, dan engkau akan sampai ke surga yang tinggi.
Yang Ketiga: Takwa adalah Penyerbuk Tawakal:
Ibnu Qayyim berkata: “Takwa adalah penyerbuk tawakal. Jika keduanya berkumpul, maka hati menjadi lurus.”
Takwa adalah meninggalkan apa yang engkau inginkan demi apa yang engkau takuti… Orang yang berjalan di jalan tidak menoleh ke kanan atau ke kiri, tetapi batas akhir matanya hanya satu atau dua langkah… Ini adalah takwa, karena ia menempuh jalan yang penuh duri. Jika ia melihat ke arah mana pun, ia akan menemukan cobaan dan musibah. Oleh karena itu, ia selalu berjalan di atas duri dengan takwa… Jika ia menemukan dua orang sedang berbicara, ia tidak berusaha mengetahui apa yang mereka bicarakan… Inilah takwa.
Dikatakan kepada salah seorang di antara mereka: “Apakah engkau pernah menempuh jalan yang berduri?” Ia menjawab: “Ya.” Ditanyakan: “Apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “Aku menyingsingkan dan bersungguh-sungguh.” Dikatakan kepadanya: “Itulah takwa: menyingsingkan dan bersungguh-sungguh…” Bahwa engkau hidup dalam kehidupan ini berjalan di atas duri, maka engkau sangat berhati-hati. Penyerbuk takwa ini dan pasangannya adalah tawakal… Bahwa engkau bertawakal kepada Allah saat engkau berjalan di atas duri. Allah berfirman:
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.” (Surah Ath-Thalaq: 3)
Ibnu Qayyim berbicara tentang hakikat tawakal pada salah satu derajatnya yang tinggi, ia berkata:
“Sandaran hati kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan tenang kepada-Nya, sehingga tidak tersisa di dalamnya kegoncangan akibat kekacauan sebab-sebab, dan tidak pula tenang kepadanya, bahkan ia melepas ketenangan kepadanya dari hatinya, dan mengenakan ketenangan kepada Dzat yang menyebabkan sebab-sebab.
Tanda ini adalah: ia tidak peduli dengan datang atau perginya, hatinya tidak goncang dan tidak berdebar-debar ketika perginya apa yang ia cintai darinya dan datangnya apa yang ia benci. Karena sandarannya kepada Allah, ketenangan kepada-Nya, dan berpegang kepada-Nya, telah membentenginya dari takut dan harap kepadanya. Maka keadaannya seperti keadaan orang yang diserang musuh besar yang tidak mampu melawannya, lalu ia melihat benteng yang terbuka, kemudian Tuhannya memasukkannya ke dalamnya dan menutup pintu benteng itu untuknya. Ia menyaksikan musuhnya di luar benteng. Maka kegoncangan hatinya dan ketakutannya dari musuhnya dalam keadaan ini tidak ada maknanya.
Dan ini telah diumpamakan dengan keadaan bayi yang menyusu dalam sandarannya, ketenangan, dan ketenangannya dengan payudara ibunya, ia tidak mengenal yang lain. Dan tidak ada dalam hatinya perhatian kepada yang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang yang mengenal: ‘Orang yang bertawakal seperti bayi, ia tidak mengenal sesuatu untuk ia berlindung kepadanya kecuali payudara ibunya. Demikian juga orang yang bertawakal, ia tidak berlindung kecuali kepada Tuhannya Yang Mahasuci’.”
Jadi, penyerbuk takwa adalah tawakal. Maka orang yang bertakwa harus benar-benar bertawakal kepada Allah, jika tidak, maka itu hanya kehati-hatian semata tanpa niat yang saleh. Ia akan jatuh ke dalam bahaya padahal ia sangat bertakwa. Engkau akan menemukan orang yang rugi ini yang kehilangan tawakal bersama takwa, meskipun ia sangat berhati-hati dan sangat bertakwa, ia jatuh ke dalam dosa-dosa besar yang dibenci oleh orang-orang fasik… Tidakkah engkau lihat orang yang salat, banyak berdiri dan berpuasa memakan harta manusia dengan batil?! Dan contoh-contoh seperti itu banyak karena ia bergantung pada takwa dan tidak bertawakal kepada Allah. Maka keduanya harus bersamaan. Dengan keduanya bersama, Allah akan mencukupimu dari apa yang membuatmu khawatir dari rintangan jalan, maka Dia akan sampai dan mengantarkanmu kepada-Nya.
Yang Keempat: Tadzakkur dan Tafakkur, Masing-masing adalah Penyerbuk yang Lain:
Ibnu Qayyim berkata: “Tadzakkur dan tafakkur, masing-masing adalah penyerbuk yang lain. Jika keduanya berkumpul, akan menghasilkan kezuhudan di dunia dan keinginan terhadap akhirat.” Maka tafakkur (merenungkan) makhluk-makhluk Allah bersama dzikir adalah pasangan yang tidak terpisah… Renunglah dan katakan: Subhanallah!! Jika engkau berdzikir kepada Allah, engkau akan berpikir. Dan jika engkau berpikir, engkau akan berdzikir… Ya: Dzikir membersihkan hati, sehingga membuatnya tidak melewati sesuatu kecuali ia memahami dan merenungkannya… Demikian juga tafakkur menguatkan hati sehingga membuatnya selalu larut dalam dzikir kepada Allah… Maka bersungguh-sungguhlah -saudaraku- pada kedua penyerbukan ini dalam perjalanan menuju Allah, niscaya engkau akan zuhud di dunia, bersemangat untuk akhirat, dan sangat membantu dalam sampai kepada Allah Taala.
Yang Kelima: Sabar adalah Penyerbuk Bashirah (Pandangan Hati):
Ibnu Qayyim berkata: “Sabar adalah penyerbuk bashirah. Jika keduanya berkumpul, maka kebaikan ada dalam pertemuan keduanya. Al-Hasan berkata: ‘Jika engkau ingin melihat orang yang memiliki bashirah tanpa sabar, engkau akan melihatnya. Dan jika engkau ingin melihat orang yang sabar tanpa bashirah, engkau akan melihatnya. Dan jika engkau ingin melihat orang yang sabar lagi memiliki bashirah, maka itulah…’ Itulah lelaki sejati… Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu.
Sabar disertai bashirah… Bahwa engkau melihat kebenaran dan mengenalnya, melihat kebatilan dan mengenalnya… Bahwa engkau mengenal kebenaran dari kebatilan dan bersabar atas keduanya hingga engkau sampai kepada Allah Azza wa Jalla.
Yang Keenam: Azam (Tekad) adalah Penyerbuk Bashirah:
Ibnu Qayyim berkata: “Azam adalah penyerbuk bashirah. Jika keduanya berkumpul, pemiliknya meraih kebaikan dunia dan akhirat, dan cita-citanya mencapai setiap tempat yang tinggi. Maka tidak tercapainya kesempurnaan, bisa karena tidak adanya bashirah atau tidak adanya azam.”
Bashirah adalah hatimu melihat kebenaran dan mengenalnya. Jika ia melihat kebenaran, ia bertekad padanya dan hidup dengannya. Kemudian terjadi bagimu tekad yang kedua untuk meninggalkan kebatilan, maka engkau menjauh darinya.
Yang Ketujuh: Husn Adh-Dhan (Berbaik Sangka) kepada Allah adalah Penyerbuk Iftiqar (Merasa Butuh) dan Idthirar (Terpaksa) kepada-Nya:
Ibnu Qayyim berkata: “Husn adh-dhan kepada Allah adalah penyerbuk iftiqar dan idthirar kepada-Nya. Jika keduanya berkumpul, akan membuahkan terkabulnya doa.”
Husn adh-dhan… Dan renungkanlah hadits ini: “Sesungguhnya seorang laki-laki dibangkitkan lalu dihisab, maka beratnya timbangan kejelekannya. Allah berfirman: Bawa dia ke neraka. Lalu ia mulai menoleh. Allah berfirman: Kembalikan dia. Lalu Allah berfirman: Hamba-Ku, apakah engkau menemukan kejelekan dalam catatan amalmu yang tidak engkau lakukan? Ia berkata: Tidak wahai Tuhanku. Allah berfirman: Mengapa engkau menoleh? Ia berkata: Bukan ini sangkaanku kepada-Mu wahai Tuhanku. Maka Allah berfirman: Bawa dia ke surga.” Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami surga… Bukan sangkaanku kepada-Mu wahai Tuhanku bahwa Engkau akan memasukkanku ke neraka, tetapi sangkaanku bahwa Engkau akan merahmati dan memasukkanku ke surga… Itulah sangkaanku kepada-Mu wahai Tuhanku.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam hadits qudsi: “Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah hamba-Ku bersangka apa yang ia kehendaki.” (dishahihkan oleh Al-Albani) Apa sangkaanmu kepada Allah, azab atau surga?! Ya Allah, tutuplah aib kami wahai Tuban… Dan jika engkau bersangka baik kepada-Nya, apakah engkau telah beramal baik?! Apakah engkau layak dan pantas agar Dia memasukkanmu ke surga?! Jujurlah dengan Allah niscaya Dia akan merahmatimu dan menyelamatkanmu.
Cobalah menjadi layak agar Allah mencintaimu, maka kendalikan dirimu dalam ketaatan kepada-Nya… Husn adh-dhan disertai amal yang buruk tidak bermanfaat bagi pemiliknya, bahkan itu adalah buruknya adab kepada Allah. Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya suatu kaum tertipu oleh angan-angan. Mereka berkata: Kami berbaik sangka kepada Allah, dan mereka berdusta. Seandainya mereka berbaik sangka, niscaya mereka berbuat baik.”
Bagaimana engkau berbaik sangka kepada Allah sedangkan engkau memerangi-Nya dan memusuhi-Nya dengan kemaksiatan?! Bagaimana sedangkan engkau membelakangi-Nya?! Bagaimana sedangkan engkau tidak mengingat-Nya?! Bagaimana sedangkan engkau tidak membaca firman-Nya dan tidak melaksanakan perintah dan hukum-hukum-Nya?! Dan bagaimana sedangkan engkau tidak menaati-Nya?! Bagaimana engkau berbaik sangka kepada Allah sedangkan engkau melakukan semua yang Dia larang?! Sesungguhnya perkara ini -wahai saudaraku- bukan permainan. Allah Taala berfirman: “Dan ia bukan main-main.” (Surah Ath-Thariq: 14)
Maka berbaik sangkalah dengan benar, beramallah… Berbaik sangkalah, karena husn adh-dhan adalah penyerbuk iftiqar dan idthirar. Allah berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” (Surah An-Naml: 62)
Wahai Tuhanku, tidak ada bagiku kecuali Engkau… Merasa butuh dan terpaksa… Wahai Tuhanku, jika Engkau serahkan aku kepada diriku, maka aku akan tersesat. Jangan serahkan aku kepada diriku sekejap mata selamanya dan tidak kurang dari itu… Peganglah tanganku wahai Tuhanku… Jangan kuasakan aku kepada musuh-musuh-Mu karena aku lemah… Jangan serahkan aku kepada ahli maksiat dan pendosa karena aku tergoda dan lemah… Wahai Tuhanku!
Sayyidina Yusuf merasa butuh kepada Tuhannya, lalu ia berkata: “Dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka daripadaku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka.” (Surah Yusuf: 33) Maka katakanlah: Wahai Tuhanku… Katakanlah: “Sesungguhnya aku orang yang teraniaya, maka tolonglah (aku).” (Surah Al-Qamar: 10) Merasa butuhlah kepada Allah dalam segala hal… Wahai Tuhanku, aku tidak bisa salat, maka ajarkanlah aku… Wahai Tuhanku, Al-Quran berat bagiku, maka mudahkanlah untukku… Wahai Tuhanku, aku tidak salat malam dan tidak salat subuh, dengan wajah apa aku akan menghadap-Mu, maka peganglah tanganku… Wahai Tuhanku, kemaksiatan memenuhi bumi, dan setiap kali aku berjalan aku jatuh, maka peganglah tanganku… Wahai Tuhanku… Wahai Tuhanku… Inilah keadaan mukmin, seperti seorang laki-laki di laut di atas kayu, ia berkata: Wahai Tuhanku… Wahai Tuhanku. Maka ya Allah, selamatkanlah kami dan ridhailah kami… Terpaksa dan merasa butuh disertai husn adh-dhan bahwa Dia tidak akan mengecewakan harapanmu kepada-Nya, maka Dia mengambil tanganmu dan mengantarkanmu kepada yang dimaksud.
Yang Kedelapan: Khasyah (Takut) adalah Penyerbuk Mahabbah (Cinta):
Ibnu Qayyim berkata: “Khasyah adalah penyerbuk mahabbah. Jika keduanya berkumpul, akan membuahkan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.”
Sahl berkata: “Ketakutan para shiddiqin dari akhir yang buruk pada setiap langkah dan setiap gerakan. Mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah Taala ketika Dia berfirman: “Dan hati mereka takut.” (Surah Al-Mu’minun: 60)
Ketika Sufyan Ats-Tsauri hendak wafat, ia terus menangis. Dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, hendaklah engkau berharap, karena ampunan Allah lebih besar daripada dosa-dosamu.” Ia berkata: “Atau karena dosa-dosaku aku menangis?! Seandainya aku tahu bahwa aku akan mati dalam keadaan tauhid, aku tidak peduli jika aku bertemu Allah dengan dosa sebesar gunung.”
Dan Tsabit Al-Bunani berkata: “Nabi Daud alaihissalam tidak pernah minum minuman setelah pengampunan kecuali setengahnya bercampur air mata kedua matanya.”
Dan sahabat mulia ini, Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Sungguh aku menangis satu tetes air mata karena takut kepada Allah lebih aku cintai daripada aku bersedekah seribu dinar.”
Dan putri Rabi’ bin Khatsim berkata: “Aku biasa berkata kepada ayahku: Wahai ayahku, tidaklah engkau tidur?! Maka beliau menjawab: Wahai putriku, bagaimana bisa tidur orang yang takut akan serangan mendadak?!”
Dan Al-Hasan rahimahullah berkata: Layaklah bagi orang yang mengetahui bahwa kematian adalah tempat kembalinya, bahwa hari Kiamat adalah waktu janjinya, dan bahwa penyaksian di hadapan Allah Ta’ala adalah tempat kehadirannya, untuk memperpanjang kesedihannya.
Yusuf bin Asbath berkata: “Sufyan Ats-Tsauri apabila memulai mengingat akhirat, ia kencing darah.”
Dan dari Zaid bin Abi Az-Zarqa berkata: Air kencing Sufyan dibawa kepada seorang tabib ketika ia sakit, ketika tabib itu melihatnya ia berkata: Ini air kencing seorang laki-laki yang rasa takutnya telah membakar isi perutnya.
Wahai saudara-saudaraku, berbahagialah hati-hati yang dipenuhi kecintaan kepada Allah sehingga mereka takut kepada-Nya.
Hakim bin Hizam, seorang pemimpin yang syiarnya adalah cinta. Beliau radhiyallahu ‘anhu biasa tawaf di sekitar Ka’bah dan berkata: Tiada tuhan selain Allah, Dia sebaik-baik Rabb dan sebaik-baik Ilah, aku mencintai-Nya dan takut kepada-Nya.
Dan Haram bin Hayyan berkata: Seorang mukmin apabila mengenal Rabbnya ‘Azza wa Jalla, ia mencintai-Nya, dan apabila ia mencintai-Nya, ia menghadap kepada-Nya, dan apabila ia merasakan manisnya menghadap kepada-Nya, ia tidak memandang dunia dengan pandangan syahwat, dan tidak memandang akhirat dengan pandangan kelemahan, dan hal itu menyedihkannya di dunia dan menenangkannya di akhirat.
Khalid Al-‘Ashri berkata: Wahai saudara-saudaraku, apakah ada di antara kalian seorang pun yang tidak ingin bertemu dengan kekasihnya?! Maka cintailah Rabb kalian ‘Azza wa Jalla dan berjalanlah kepada-Nya dengan perjalanan yang indah, tidak mendaki dan tidak miring.
Dan demi Allah, betapa indahnya ucapan penyair:
Hatiku dahulu memiliki kecenderungan-kecenderungan yang terpencar Maka berkumpullah sejak hati melihatmu segala kecenderunganku Maka mulailah mereka iri kepada orang yang dulu aku irikan Dan aku menjadi pelindung manusia sejak engkau menjadi pelindungku Aku tinggalkan untuk manusia dunia mereka dan permainan mereka Kesibukan dengan cintamu wahai agamaku dan duniaku
Dan penyair berkata:
Aku pulang dan telah terkunci di hatiku Dengan cintamu bahwa tak ada yang menempatinya selain Engkau Seandainya aku mampu memejamkan pandanganku Maka aku tidak akan memandang dengannya hingga aku melihatmu Aku mencintaimu bukan dengan sebagianku tetapi dengan seluruhku Dan jika cintamu tidak meninggalkan bagiku gerakan Dan di antara kekasih-kekasih ada yang khusus dengan kerinduan Dan yang lain mengaku dengan adanya kebersamaan Dan setiap orang mengaku cinta kepada Rabbku Dan Rabbku tidak mengakui mereka dalam hal itu Apabila air mata bercampur di pipi Tampaklah yang menangis dari yang berpura-pura menangis Adapun yang menangis maka ia meleleh karena kerinduan Dan yang berbicaralah dengan cinta orang yang berpura-pura menangis
Dan Musamma’ bin ‘Ashim berkata: Aku mendengar seorang ahli ibadah dari penduduk Bahrain berkata di tengah malam: Penyejuk mataku dan kegembiraan hatiku!! Apa yang telah menjatuhkanku dari matamu wahai Pemberi perlindungan? Kemudian ia berteriak dan menangis, kemudian ia memanggil: Berbahagialah hati-hati yang Engkau penuhi dengan rasa takut kepada-Mu, dan dikuasai oleh kecintaan kepada-Mu, maka kecintaan kepada-Mu mencegah mereka dari setiap kelezatan selain bermunajat kepada-Mu dan bersungguh-sungguh dalam mengabdi kepada-Mu, dan rasa takut kepada-Mu memutus mereka dari jalan setiap kemaksiatan karena takut akan turunnya kemurkaan-Mu. Kemudian ia menangis dan berkata: Wahai saudara-saudaraku, menangislah atas terlewatnya kebaikan akhirat, di mana tidak ada kembali dan tidak ada cara.
Dan ‘Utbah Al-Ghulam yang berkata: Apakah Engkau melihat Maulaku, Engkau menyiksa orang-orang yang mencintai-Mu sedangkan Engkau Maha Hidup Maha Mulia?
Sulaim An-Nahif berkata tentangnya: Aku memperhatikan ‘Utbah pada suatu malam, dan ia tidak menambah pada malamnya itu selain kalimat-kalimat ini: Jika Engkau menyiksaku maka sesungguhnya aku mencintai-Mu, dan jika Engkau merahmatiku maka sesungguhnya aku mencintai-Mu. Maka ia tidak henti-hentinya mengulanginya dan menangis hingga terbit fajar.
Dan ‘Anbasah Al-Khawwash berkata: ‘Utbah Al-Ghulam bermalam di sisi ku pada suatu malam, maka ia menangis menjelang fajar dengan tangisan yang keras, ketika pagi tiba aku berkata kepadanya: Sungguh engkau telah mengejutkan hatiku tadi malam dengan tangisanmu, dalam hal apa itu wahai saudaraku? Ia berkata: Wahai ‘Anbasah, sesungguhnya demi Allah aku teringat hari penampakan diri di hadapan Allah. Kemudian ia hampir terjatuh maka aku memeluknya… lalu aku memanggilnya: ‘Utbah ‘Utbah, maka ia menjawabku dengan suara yang lemah: Ingatan akan hari penampakan diri di hadapan Allah telah memutuskan ikatan-ikatan orang-orang yang mencintai. Ia berkata: Dan ia mengulanginya, kemudian ia mulai terisak-isak menangis dan mengulanginya seperti tarikan napas orang yang menjelang ajal sambil berkata: Apakah Engkau melihat Maulaku, Engkau menyiksa orang-orang yang mencintai-Mu, Engkau Maha Hidup Maha Mulia?! Ia berkata: Maka ia tidak henti-hentinya mengulanginya hingga demi Allah ia membuatku menangis.
Dan ‘Utbah rahimahullah berkata: Barangsiapa cinta kepada-Nya menempati hatinya, ia tidak merasakan panas dan dingin. ‘Abdurrahim bin Yahya Ad-Dabiili berkata: Maksudnya barangsiapa cinta kepada Allah menempati hatinya, kesibukan itu membuatnya tidak mengenali panas dari dingin, tidak manis dari asam, tidak panas dari sejuk.
Dan ‘Utbah rahimahullah berkata: Barangsiapa mengenal Allah ia mencintai-Nya, dan barangsiapa mencintai Allah ia menaati-Nya, dan barangsiapa menaati Allah, Allah memuliakannya, dan barangsiapa Allah muliakan, Allah menempatkanya di sisi-Nya, dan barangsiapa Allah tempatkan di sisi-Nya maka berbahagialah ia dan berbahagialah, dan berbahagialah dan berbahagialah. Maka ia tidak henti-hentinya berkata: Dan berbahagialah, hingga ia terjatuh pingsan.
Dan kesimpulannya: Perkawinlah cinta dengan rasa takut, niscaya engkau akan kuat di jalan menuju Allah.
Kesembilan: Kesabaran adalah Perkawinan Keyakinan
Aku yakin bahwa Allah akan menolong umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah engkau yakin? Keyakinan datang dengan kesabaran, Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24). Dengan kesabaran dan keyakinan engkau mencapai kepemimpinan dalam agama.
Sabar terhadap ujian, sabar dari kemaksiatan, sabar dalam ketaatan. Sabar bersama Allah, dengan Allah, dan untuk Allah. Kesabaran adalah perkawinan keyakinan. Maka bersabarlah wahai saudara-saudaraku dengan kesabaran yang indah.
Tanda-tanda Keyakinan
Al-Fairuzabadi berkata: Tiga dari tanda-tanda keyakinan:
- Sedikitnya bergaul dengan manusia dalam pergaulan.
- Meninggalkan pujian kepada mereka dalam pemberian.
- Menjaga diri dari celaan mereka ketika menolak.
Dan di antara tanda-tandanya juga: Melihat kepada Allah dalam segala sesuatu, kembali kepada-Nya dalam setiap urusan, dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam setiap keadaan.
Kesepuluh: Kesempurnaan Keteladanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Perkawinan Keikhlasan
Kesempurnaan keteladanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melahirkan keikhlasan, jika keduanya berkumpul maka keduanya menghasilkan penerimaan amal dan adanya dampaknya.
Syarat diterimanya amal ada dua: keikhlasan dan keteladanan. Jika engkau tidak ikhlas maka perbanyaklah amal-amal sunnah maka keikhlasan akan datang kepadamu. Dan jika engkau tidak beramal, jika engkau lambat, lemah, dan malas, maka perbanyaklah keikhlasan niscaya Allah menempatkanmu dalam pengabdian sehingga engkau menjadi dari hamba-hamba-Nya. Jadi harus ada salah satu dari dua syarat padamu agar yang lain terpenuhi. Dan celakalah orang yang kehilangan kedua syarat!! Bagaimana keadaannya?! Dan apa yang harus dilakukannya?! Tidak ada baginya kecuali berkata: Ya Rabb.
Aku pernah berkata kepada anak-anakku yang kecil: Jika salah satu dari kita ikhlas apakah itu menghasilkan keteladanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah jika meneladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menghasilkan keikhlasan? Ini adalah persoalan “telur atau ayam?” Keduanya bersama-sama. Yang satu membawa yang lain. Inilah perkawinan. Jika engkau ikhlas maka pastilah keadaanmu adalah meneladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jika engkau meneladan maka pastilah keadaanmu adalah keikhlasan. Dan buah dari keikhlasan dan keteladanan adalah diterimanya amal dan adanya buah amal. Bahwa engkau menemukan hasil dari amal. Jika engkau ikhlas dan meneladan dan keluar ke jalan, engkau sama sekali tidak memandang para wanita, ini adalah hasil dan buah dari amal saleh. Bahwa engkau tidak bermaksiat. Jika engkau ikhlas atau meneladan, engkau akan mendapati dirimu bangun sebelum fajar menunggu salat lalu duduk dengan hati yang hadir. Buah dan hasil. Maka engkau mendapati dari dirimu kerendahan hati dan rasa takut dalam hatimu.
Para ulama berkata: “Antara amal dan hati ada jarak, dan antara hati dan Rabb ada jarak, dan di antara jarak-jarak itu ada perampok-perampok.” Maka engkau melihat seseorang banyak salat, banyak puasa, banyak dzikir kepada Allah dan membaca Al-Quran tetapi tidak sampai ke hatinya sedikitpun dari itu. Ya, perampok-perampok telah memutus jalan baginya. Tetapi jika ia beramal dengan keikhlasan dan keteladanan maka pasti akan sampai ke hati dampak amal.
Kesebelas: Amal adalah Perkawinan Ilmu
Ilmu dan amal adalah dua sisi dari satu mata uang dan dua pasangan yang tidak terpisah pada asalnya, dan oleh karena itu jika keduanya berkumpul maka terjadilah keberuntungan dan kebahagiaan. Jika engkau belajar dan tidak beramal maka engkau munafik, dan jika engkau beramal tanpa ilmu maka engkau pelaku bid’ah. Dan orang yang berilmu tanpa beramal padanya ada kemiripan dengan orang-orang yang dimurkai yaitu Yahudi, dan orang yang beramal tanpa ilmu padanya ada kemiripan dengan orang-orang yang sesat yaitu Nasrani. Jadi, ilmu harus disertai dengan amal. Imam Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ilmu memanggil amal, jika dijawab kalau tidak ia pergi.” Maka beramallah dengan apa yang engkau ketahui niscaya engkau bertambah ilmu, ketakwaan, dan rasa takut. Perkawinlah ilmu dengan amal.
Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata dalam “Al-Muwafaqat”:
“Setiap masalah yang tidak dibangun atasnya amal maka membahasnya adalah membahas apa yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar’i atas baiknya, dan aku maksudkan dengan amal adalah amal hati dan amal anggota badan dari segi ia dituntut secara syar’i.” Dan beliau rahimahullah menjelaskan bahwa dalil atas itu adalah penelitian terhadap syariat, maka ia menyebutkan sejumlah ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa pembuat syariat berpaling dari apa yang tidak memberi manfaat amal yang ditugaskan padanya.
Dan di antara dalil-dalil ini secara ringkas: Firman Allah Ta’ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.'” (Al-Baqarah: 189), maka jawaban datang dengan apa yang berkaitan dengan amal, berpaling dari apa yang dimaksud dari pertanyaan tentang hilal: mengapa ia muncul di awal bulan tipis seperti benang, kemudian mengembang, kemudian menjadi purnama kemudian kembali ke keadaan semula.
Dan Allah Ta’ala berfirman setelah pertanyaan mereka tentang hari Kiamat: “Untuk apa kamu menanyakan (waktunya)?” (An-Nazi’at: 43), yaitu sesungguhnya ini adalah pertanyaan tentang apa yang tidak berguna, karena cukup dari mengetahuinya bahwa ia pasti akan terjadi, dan oleh karena itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hari Kiamat, beliau berkata kepada penanya: “Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?”, berpaling dari pertanyaannya yang terang-terangan, kepada apa yang berkaitan dengannya yang di dalamnya ada manfaat, dan beliau tidak menjawabnya tentang apa yang ia tanyakan.
Dan Malik bin Anas tidak menyukai pembicaraan tentang apa yang tidak ada amal di bawahnya, dan ia menceritakan ketidaksukaannya dari orang-orang yang mendahuluinya.
Dan Imam Asy-Syathibi rahimahullah menegaskan bahwa setiap ilmu yang syariat menuntutnya, hanyalah ketika ia adalah wasilah untuk beribadah dengannya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya dia benar-benar mempunyai ilmu karena apa yang telah Kami ajarkan kepadanya.” (Yusuf: 68), Qatadah berkata: Maksudnya benar-benar beramal dengan apa yang Kami ajarkan kepadanya.
Dan diriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali dalam firman Allah Ta’ala: “Lalu mereka dilemparkan ke dalamnya bersama orang-orang yang sesat.” (Asy-Syu’ara: 94), ia berkata: Kaum yang mensifati kebenaran dan keadilan dengan lisan mereka dan menyalahinya kepada selainnya.
Dan dari Abu Ad-Darda: Sesungguhnya aku takut akan dikatakan pada hari Kiamat: Apakah engkau berilmu ataukah bodoh? Maka aku menjawab: Aku berilmu, maka tidak tersisa ayat dari kitab Allah yang memerintah atau melarang kecuali ia datang kepadaku menanyakan kewajibannya, maka ayat yang memerintah bertanya: Apakah engkau mematuhinya? Dan yang melarang: Apakah engkau menjauhinya? Maka aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak puas, dan dari doa yang tidak didengar.
Dan Malik menyebutkan bahwa telah sampai kepadanya dari Al-Qasim bin Muhammad berkata: Aku mendapati manusia dan yang mengagumkan mereka bukanlah perkataan tetapi yang mengagumkan mereka adalah amal.
Dan Asy-Syathibi melanjutkan pembicaraannya dengan berkata:
Dan dalil-dalil atas makna ini lebih banyak dari yang dapat dihitung. Dan semua itu membuktikan bahwa ilmu adalah wasilah dari wasilah-wasilah, bukan dituju untuk dirinya sendiri dari segi pandangan syar’i dan hanyalah ia adalah wasilah kepada amal. Dan setiap yang datang tentang keutamaan ilmu maka sesungguhnya ia tetap bagi ilmu dari segi ia dijadikan wasilah kepadanya, yaitu amal.
Dan hanyalah ilmu menjadi pendorong kepada amal jika ia menjadi sifat dan akhlak bagi jiwa. Dan di sini Asy-Syathibi rahimahullah menasihati orang-orang yang sibuk dengan ilmu, dan yang belum sampai kepada tingkat orang-orang yang ilmu telah menjadi sifat dan akhlak bagi jiwa mereka dengan tidak meninggalkan ilmu karena tidak beramal dengannya pada awalnya atau karena buruknya niat mereka di dalamnya, hendaknya mereka melanjutkan belajar, karena sesungguhnya itu pasti akan memaksa mereka kepada amal.
Beliau rahimahullah berkata: “Bahkan ketekunan mencari ilmu dan mendalaminya, dan tidak mencukupkan dengan yang sedikit darinya, menarik kepada amal dengannya, dan memaksa kepadanya, dan itulah makna ucapan Al-Hasan: Kami mencari ilmu untuk dunia maka ia menarik kami kepada akhirat. Dan dari Habib bin Abi Tsabit: Kami mencari urusan ini dan tidak ada bagi kami di dalamnya niat, kemudian datanglah niat setelahnya. Dan dari Abu Al-Walid Ath-Thayalisi berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Uyainah sejak lebih dari enam puluh tahun yang lalu berkata: Kami mencari hadits ini bukan untuk Allah maka Allah memberikan kami akibat apa yang kalian lihat.”
Dan jika perkawinan ilmu adalah beramal dengannya, dan bahwa zakat ilmu adalah amal, ini dalam hak semua manusia, maka mereka ditugasi dengan amal. Jika demikian maka amal dalam hak orang-orang yang menjadi tempat keteladanan bagi mereka lebih utama dan lebih pantas.
Dan di akhir penelitian yang menarik ini, Asy-Syathibi rahimahullah berkata: “Maka yang disimpulkan bahwa perbuatan-perbuatan lebih kuat dalam keteladanan dan penjelasan jika menyertai perkataan-perkataan, dari sendirian perkataan-perkataan, maka mempertimbangkannya dalam dirinya sendiri bagi orang yang berdiri di tempat keteladanan adalah penting dan wajib, bahkan dikatakan: Jika dipertimbangkan makna ini dalam setiap orang yang menjadi tempat keteladanan dan kedudukan penjelasan, maka wajib baginya memeriksa semua perkataannya dan perbuatannya. Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara apa yang wajib dan apa yang sunnah atau mubah atau makruh atau terlarang. Dan penjelasan yang menyembuhkan ini yang mengeluarkan dari ujung-ujung dan penyimpangan-penyimpangan inilah yang mengembalikan kepada jalan yang lurus.” Selesai.
KEDUA BELAS: KELEMAHLEMBUTAN ADALAH PENYERBUK AMAL
Kelemahlembutan adalah hendaknya engkau bersikap lemah lembut dalam syariat Allah, dan lemah lembut terhadap makhluk Allah.
Kelemahlembutan dalam Syariat Allah: Yaitu hendaknya engkau berbelas kasih kepada para pelaku maksiat dan para pendosa, memandang mereka dengan mata kasih sayang dan belas kasihan. Engkau bersabar terhadap mereka dan berusaha menggandeng tangan mereka untuk menyelamatkan mereka dari tenggelam, untuk mendorong mereka ke jalan Allah. Engkau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan mereka dari api kemaksiatan yang membakar. Dan yang membantumu adalah mengingat keadaanmu sebelumnya, dan bahwa Allah telah menganugerahkan kepadamu dan menyelamatkanmu. Dahulu mereka berkata: Tidak ada yang tersenyum di hadapan pelaku maksiat kecuali orang yang berilmu. Ya: semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah kelemahlembutan.
Manshur bin Muhammad al-Karizi berkata:
Aku akan memaksa diriku memaafkan setiap orang yang bersalah … Meskipun banyak kejahatan darinya kepadaku
Karena manusia tidak lain hanyalah satu dari tiga … Yang mulia, yang dimuliakan, dan yang setara
Dan kelemahlembutan mengubah permusuhan menjadi cinta, Allah Taala berfirman: “Tolaklah (kejahatan mereka) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Fushshilat: 34-35). Dan dalam hal itu Mu’in bin Aus al-Muzani berkata:
Maka aku sembuhkan kedengkian dada darinya dengan lapang … Dengan kelembutan hatiku sebagaimana luka disembuhkan oleh lembah
Dan aku padamkan api perang antara aku dan dia … Maka dia menjadi setelah perang dan dia bagi kami adalah damai
Saudaraku, kelemahlembutan adalah jalan menuju amal. Jika engkau tidak beramal, maka bersikaplah lemah lembut niscaya amal akan datang kepadamu. Bersikaplah lemah lembut niscaya Allah akan mencintaimu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Asyajj Abd al-Qais: “Sesungguhnya padamu ada dua sifat yang dicintai Allah: kelemahlembutan dan kesabaran” (diriwayatkan oleh Muslim).
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan” (diriwayatkan oleh Bukhari).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan, dan Dia memberikan atas kelembutan apa yang tidak diberikan atas kekerasan dan apa yang tidak diberikan atas selainnya” (diriwayatkan oleh Muslim).
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang orang yang diharamkan atas api neraka – atau yang api neraka diharamkan atasnya? – Diharamkan atas setiap orang yang dekat, lembut, mudah, dan permisif” (dishahihkan oleh al-Albani).
Saudaraku karena Allah, kekasihku karena Allah, bersikaplah lemah lembut terhadap makhluk Allah, dan teladanilah Nabimu shallallahu alaihi wasallam serta para sahabatnya yang mulia dan salafmu yang shalih.
Dari Anas radiyallahu anhu berkata: “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau mengenakan selendang Najran yang tepi kainnya kasar, lalu seorang Arab badui menyusulnya dan menarik selendangnya dengan tarikan yang keras, maka aku melihat leher Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bekas tepi selendang itu pada lehernya karena keras tarikannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhammad, perintahkanlah untukku, maka beliau menoleh kepadanya lalu tersenyum, kemudian memerintahkan pemberian untuknya” (disepakati).
Dan seorang lelaki mencaci Abu Dzar radiyallahu anhu, maka dia berkata kepadanya: Wahai orang ini, janganlah engkau berlebihan dalam mencaciku, dan sisakan tempat untuk perdamaian. Karena kami tidak akan membalas orang yang bermaksiat kepada Allah dalam urusan kami lebih besar daripada kami taat kepada Allah dalam urusannya.
Dan Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha sedang berpuasa, maka dia memerintahkan hambanya Barirah untuk menyiapkan makanan untuknya untuk berbuka, namun dia sibuk dengan hal itu hingga siang berlalu dan waktu maghrib tiba, dan Ummul Mukminin tidak menemukan makanan, maka dia menoleh kepadanya dan berkata sambil menahan kemarahannya: “Maha sempurna takwa lillahi, tidak menyisakan kesembuhan bagi pemilik kemarahan.”
“Dan dikatakan kepada al-Ahnaf bin Qais: Dari mana engkau belajar kelemahlembutan? Dia menjawab: Dari Qais bin Ashim. Dikatakan: Sampai mana kelemahlembutan mencapainya? Dia berkata: Ketika dia sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba datang kepadanya hambanya membawa tusukan sate di atasnya ada daging panggang, lalu jatuh dari tangannya dan mengenai anak kecilnya lalu meninggal, maka hambaitu terkejut, lalu dia berkata kepadanya: Jangan takut, engkau merdeka karena Allah Taala.”
“Dan dikatakan: Sesungguhnya Uwais al-Qarni ketika melihat anak-anak kecil, mereka melemparinya dengan batu, maka dia berkata kepada mereka: Wahai saudaraku, jika memang harus, lemparilah aku dengan yang kecil-kecil, agar tidak melukai kakiku sehingga menghalangiku dari shalat.”
“Dan Yahya bin Ziyad al-Haritsi memiliki budak yang buruk, lalu dikatakan kepadanya: Mengapa engkau menahannya?! Dia menjawab: Agar aku belajar kelemahlembutan atasnya.”
Dan Muawiyah radiyallahu anhu memiliki sebidang tanah dan di sampingnya ada tanah lain milik Abdullah bin Zubair radiyallahu anhuma yang dia duduki bersama keluarganya. Maka para pegawai Muawiyah masuk kepadanya. Lalu dia menulis kepada Muawiyah berkata: Wahai anak pemakan hati, cegah pegawaimu dariku, kalau tidak akan ada urusan antara aku dan engkau. Wassalam.
Ketika Muawiyah membaca surat itu, dia menyerahkannya kepada anaknya Yazid dan berkata kepadanya: Apa pendapatmu? Dia berkata: Aku berpendapat hendaknya engkau kirimkan pasukan kepadanya yang awalnya di tempatnya dan akhirnya di tempatmu yang membawakan kepalanya kepadamu. Maka Muawiyah berkata kepadanya: Selain ini lebih baik. Kemudian dia membalik surat itu dan menulis di belakangnya: Amma ba’du: Aku telah membaca suratmu wahai anak pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, wahai anak Dzat an-Nithaqain, dan aku sedih dengan apa yang menyedihkanmu. Demi Allah seandainya seluruh dunia berada antara aku dan engkau pasti aku datangi engkau dengannya. Dan aku telah turun dari tanahku untukmu, maka tambahkanlah ke tanahmu dengan budak dan harta yang ada di dalamnya. Wassalam.
Ketika Ibnu Zubair radiyallahu anhu membacanya, dia menangis. Dan dia menulis kepadanya: Aku telah membaca surat Amirul Mukminin – semoga Allah panjangkan umurnya, dan semoga tidak kehilangan pendapat yang telah menempatkannya dari Quraisy pada kedudukan ini. Wassalam.
Ketika Muawiyah membacanya, wajahnya cerah dan berseri, dan dia berkata kepada anaknya: Wahai anakku, barangsiapa memaafkan dia akan menjadi pemimpin, dan barangsiapa bersikap lemah lembut dia akan menjadi agung, dan barangsiapa memaklumi dia akan menarik hati kepadanya. Maka jika engkau tertimpa sesuatu dari urusan-urusan ini, obatilah dengan obat seperti ini.
Ya – saudaraku -: Orang-orang ini sampai kepada Allah Taala dengan melatih diri mereka untuk taat kepada-Nya dan menetapi perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya, dan ini juga termasuk kelemahlembutan dalam syariat Allah. Allah Mahamulia berfirman: “Maka maafkanlah dengan maaf yang baik” (al-Hijr: 85), dan Allah Mahamulia berfirman: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (an-Nur: 22). Dan al-Afwu (memaafkan) adalah: meninggalkan tuntutan atas dosa, dan ash-Shafhu (berlapang dada) adalah: meninggalkan celaan atasnya. Dan Allah Mahamulia berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imran: 134), dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang penting” (asy-Syura: 43).
Dan kesimpulannya: Suburkanlah amal dengan kelemahlembutan.
Dan setelah itu – saudaraku -: Inilah penyerbuk-penyerbuk di jalan. Penyerbuk-penyerbuk di jalan perjalanan dan sampai kepada Allah, yang menguatkanmu dan menyediakan bagimu sebab-sebab untuk sampai. Maka tetapilah pada setiap pasang dari penyerbuk-penyerbuk ini niscaya engkau petik buah kebaikan dari masing-masingnya, untuk memotong jalan dengan kuat, cepat, dan mudah. Dan ingatlah selalu firman Allah Taala “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). Maka segeralah kembali kepada Allah”. Maka segeralah kembali kepada Allah. Berlindunglah kepada Allah, bertawakkallah kepada-Nya, dan mohonlah pertolongan kepada-Nya. Dan berangkatlah.
Prinsip Kedua Puluh Satu: Barangsiapa Yang Bersih Maka Bersih Untuknya, Dan Barangsiapa Yang Keruh Maka Keruh Atasnya
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau jernihkan bagi kami amal-amal kami dari kekeruhan, dan hati-hati kami dari riya, dan mata-mata kami dari khianat, dan lisan-lisan kami dari dusta. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau jernihkan bagi kami kehidupan kami agar menjadi khalis untuk-Mu. Barangsiapa yang bersih maka bersih untuknya, dan barangsiapa yang keruh maka keruh atasnya.
Wahai saudara yang mulia, izinkanlah aku berkata kepadamu: Sesungguhnya hubungan dengan Allah adalah hubungan yang sangat sensitif. Dan sebagian pemuda tidak memperhatikan hubungan tersebut, maka engkau melihatnya berkomitmen – Ya Allah karuniakanlah kepada pemuda-pemuda kami komitmen, Ya Allah teguhkanlah mereka atas iman, Ya Allah selamatkanlah mereka dari fitnah yang tampak dan yang tersembunyi – dan memulai jalan, namun demikian dia masih berubah-ubah, masih remeh dan kosong, air hatinya masih keruh. Engkau melihatnya bersiasat dengan Allah. Dia mencoba menipu Allah. Dan sesungguhnya orang malang ini datang dari kebodohannya, karena dia tidak mengenal Allah.
Aku pernah berada di atas mimbar lalu aku keluarkan satu pound dan berkata: Apakah kalian melihat pound ini?! Sesungguhnya yang memberiku pound ini adalah seorang lelaki pemilik toko kelontong. Dan pound itu tertulis padanya dengan tulisan yang jelas: “Kekasihku yang berharga, selamat tahun baru, aku ingin mengungkapkan kepadamu apa yang ada di dalamku. Demi Allah wahai kekasihku seandainya bukan karena takutku kepada Allah, dan bahwa aku menyembah-Nya, pasti aku menyembahmu wahai kekasihku. Kekasihmu si Fulan.” Sebagian orang tertawa dari ini, namun demi Allah sesungguhnya itu adalah urusan yang menyakitkan hati.
Sesungguhnya anak muda ini mungkin saja beriman, dengan bukti bahwa kata pertama yang dia katakan: seandainya bukan karena takutku kepada Allah. Kata-kata ini mungkin dikatakan sebagian orang, tetapi kenyataannya anak muda ini seandainya takut kepada Allah tentu tidak akan mengatakan kata-kata ini sejak awal. Ya: dia bodoh dan tidak takut, dia mengeluarkan apa yang ada di dalam dirinya dan menampakkannya. Dan betapa banyak yang di dalam diri mereka seperti pemuda ini bahkan lebih, tetapi mereka tidak mengatakannya dengan lisan mereka, karena mereka pembohong, menipu Allah.
Pemilik toko kelontong berkata kata yang sangat bagus: “Lihatlah! Anak muda itu berkata kepadanya: Aku menyembahmu, namun dia menjualnya dan menukarkan pound itu!!” Dia menjualnya dan meninggalkannya meskipun dia menyembahnya!!
Kebodohan wahai para pemuda berbuat lebih dari ini. Maka para pemuda malang ini dalam kebodohan yang padat tentang akidah, tentang agama, tentang fikih. Maka anak muda ini bodoh dan dosa ayah dan ibunya sama seperti dosanya persis, karena keduanya tidak mengenalkannya dengan agama. Seandainya dia mengenal Allah tentu dia tidak akan mengatakan kata-kata ini. Maka janganlah engkau bersiasat dengan Allah, dan janganlah engkau menjual Allah seperti pemuda ini, dan bertaubatlah kepada Allah dan jujurlah kepada-Nya.
Dan oleh karena itu ketika aku berkata kepadamu: Bertaubatlah, lalu engkau berkata: Aku bertaubat dari segala sesuatu, maka engkau ketika itu pembohong. Tentukanlah dari apa engkau bertaubat. Bertaubat dari apa? Karena dosa-dosamu banyak?! Hendaknya engkau menyebut sesuatu dengan namanya agar engkau jelas. Bergaullah dengan Allah dengan terus terang dan jangan sekali-kali engkau menipu atau bersiasat.
Saudaraku karena Allah, jika engkau berkomitmen maka jernihkanlah. Jernihkan. Kita harus menjernihkan amal-amal kita dengan setan. Kita jernihkan perhitungan kita dengan nafsu dan hawa. Kita harus mulai menjernihkan keadaan kita dengan syahwat, agar kehidupan kita tetap jernih sepenuhnya untuk Allah semata.
Sebagian pemuda memandang kepada wanita-wanita yang berpakaian terbuka, apakah ini menjernihkan atau mengkeruhkan? Dia berkata: Aku merasakan kekerasan dalam hatiku, aku tidak tahu mengapa?! Sungguh aneh urusanmu! Apakah engkau bersiasat?! Engkau tahu apa sebab kekerasan ini. Maka ketika engkau keruh maka keruh atasmu.
Para ulama berdalil dengan prinsip ini: “Barangsiapa yang murni (jernih), maka akan dimurnikan (dijernihkan) untuknya, dan barangsiapa yang keruh, maka akan dikeruhkan atasnya”. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti minum dari gelas yang campurannya adalah kafur. (Yaitu) mata air yang hamba-hamba Allah minum daripadanya.” (Al-Insan: 5-6) … Mata air yang diminum oleh siapa? “Hamba-hamba Allah” … Maka mereka adalah orang-orang yang berbakti, hamba-hamba Allah terlebih dahulu, dan karena itu mereka berhak mendapat kenikmatan dan penghormatan.
Para ulama berkata: Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan: Tingkatan pertama: Golongan kiri – semoga Allah melindungi kita dari mereka – dan mereka adalah penghuni neraka, meskipun pada akhirnya mereka akan masuk surga. Tingkatan kedua: Orang-orang yang berbakti (abrar), dan mereka adalah penghuni surga. Tingkatan ketiga: Orang-orang yang didekatkan (muqarrabun) dan mereka lebih utama dan lebih tinggi daripada abrar.
Jadi, penghuni surga terbagi menjadi dua tingkatan: abrar dan muqarrabun, oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (Ar-Rahman: 46), dan dalam firman-Nya: “Dan selain dua surga itu ada dua surga (lagi).” (Ar-Rahman: 62), dua surga dari emas untuk muqarrabun, dan dua surga dari perak untuk golongan kanan… Dan tentang mereka semua Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka golongan kanan, alangkah beruntungnya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Al-Waqi’ah: 8-11).
Golongan kanan dan orang-orang yang terdahulu, atau abrar dan muqarrabun… Dua tingkatan: istimewa dan biasa… Tingkatan mana yang kamu lebih suka?! Oleh karena itu, tentang orang-orang yang berbakti Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti minum dari gelas yang campurannya adalah kafur.” (Al-Insan: 5)… Campurannya artinya bercampur… Artinya mereka akan minum air kafur… “campurannya adalah kafur”, artinya: baunya kafur… Adapun hamba-hamba Allah yang didekatkan akan minum kafur murni, kafur yang jernih… Karena mereka murni… Dan barangsiapa yang murni akan dimurnikan untuknya, dan barangsiapa yang keruh akan dikeruhkan atasnya.
Saya pernah berkata kepada anak-anak saya – ya Allah perbaikilah anak-anakku dan anak-anak kaum muslimin, ya Allah Rabb didiklah anak-anak kami, ya Allah jagalah anak-anak kami dan selamatkanlah mereka dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi – saya berkata kepada mereka ketika saya menemukan di dalam diri mereka kelesuan dan kurangnya kemurnian: Kalian bukan orang-orang bodoh… Kalian tahu keutamaan shalat malam, dan kalian tahu keutamaan shalat sunnah, keutamaan dzikir, dan keutamaan sedekah… Dan kalian tahu dan kalian tahu… Lalu mengapa kalian tidak mengamalkannya?!… Mengapa kalian malas?!… Saya katakan kepada mereka dan saya katakan juga kepada kalian karena kalian juga anak-anakku: Tahukah kalian apa sebabnya?!… Sebabnya adalah kalian belum membayangkan surga sebagaimana mestinya.
Dan saya berkata kepada anak-anak perempuanku: Kalau kamu mati sekarang, apakah kamu akan bersama Sayyidah Fathimah atau Aisyah kekasih Nabi shallallahu alaihi wasallam di surga?!… Lalu apa gunanya surga jika kamu tidak bersama mereka?!!
Sesungguhnya sebagian orang di surga – ya Allah anugerahkanlah kami surga ya Rabb – melihat wajah Tuhannya pagi dan sore, dan sebagian orang tidak melihat Allah kecuali setiap Jumat… Setiap minggu sekali, lalu apa niatmu? Apakah kamu ingin melihat Allah dua kali seminggu atau sekali setiap hari?… Jika di dunia kita berharap untuk datang ke majlis ilmu setiap hari, bagaimana dengan di surga untuk melihat Sang Raja!!
Saudaraku, seandainya kalian di surga, dan kamu terhalang dari melihat wajah Allah Yang Mulia setiap hari, dan tidak menikmati melihat-Nya sebagaimana penghuni Firdaus menikmatinya, bagaimana kamu membayangkan keadaanmu?!… Ya: Kamu akan bahagia di surga tetapi tidak seperti kebahagiaannya penghuni Firdaus… Inilah masalahnya… Bahwa kamu berpikir tentang keadaanmu, dan apakah kamu murni dengan Allah atau tidak?… Apakah jika kamu mati hari ini kamu akan bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam?… Jawablah!!… Maka beramallah untuk Firdaus yang tertinggi… Mulailah dan jernihkan diri dan jangan menoleh, karena orang yang menempatkan Firdaus dalam pikirannya akan terus beramal untuknya sepanjang hidupnya untuk mendapatkannya.
Ya: Kamu tidak akan bisa berjalan di jalan menuju Firdaus kecuali jika kamu murni, maka jernihkanlah agar Allah menjernihkan hatimu untukmu, dan menjernihkan ibadahmu untukmu… Jernihkan agar dijernihkan untukmu kehidupanmu… Jernihkan agar dijernihkan untukmu jalanmu kepada-Nya… Tinggalkanlah masalah-masalahmu dan kesibukanmu dan jangan berpikir kecuali tentang Allah… Hiduplah untuk Allah secara ikhlas dan jernih… Jangan sibuk kecuali dengan Allah semata… Dan setiap kali kamu murni kepada Allah, Dia akan menjernihkan untukmu… Dan barangsiapa yang keruh akan dikeruhkan atasnya… Jika kamu menemukan dalam hidupmu kekeruhan, seperti mendapati ayahmu mengganggumu ketika kamu berkomitmen atau istrimu atau teman-temanmu di tempat kerja, maka ketahuilah dengan yakin bahwa kekeruhan ini darimu sendiri, jadi seandainya kamu murni kepada Allah niscaya Dia akan menenangkan hatimu… Ya: Sebabnya: bahwa kamu tidak ikhlas… Kamu keruh maka Allah mengeruhkan hidupmu atasmu… Maka jernihkanlah agar dijernihkan untukmu.
Jika kamu mendapati bahwa kamu berdiri dalam shalat lalu pikiranmu melayang, dan kamu membaca Al-Quran tetapi tidak fokus dan tidak merenungkan dan kamu berdzikir kepada Allah sedangkan pikiranmu melayang… Maka ketahuilah bahwa kamu telah mengeruhkan ibadah… Kamu belum murni kepada Allah… Maka kekeruhan datang dari dirimu sendiri.
Oleh karena itu para ulama berkata: “Dari mata air datang kekeruhan”… Maka kekeruhan keluar dari dalam dirimu sendiri, dari kedalaman hatimu, maka jernihkanlah hatimu untuk Allah… Kosongkan hatimu untuk Allah semata, agar dijernihkan untukmu kehidupanmu, maka kamu akan sampai kepada-Nya dengan aman dan tenang.
Prinsip Kedua Puluh Dua: Jangan Mengabaikan Satu Sisi pun dari Sisi-sisi Agama
Agama… Apa itu agama?!
Sebagian orang melihat bahwa agama adalah dakwah, dan seluruh perhatiannya adalah dakwah kepada Allah… Dia mengumpulkan orang-orang dan memasukkan mereka ke masjid-masjid dan duduk berbicara kepada mereka dan membimbing mereka dan menyeru mereka, dan melupakan segala sesuatu dalam agama kecuali ini… Dan sebagian orang melihat bahwa agama hanyalah ibadah: puasa dan qiyam dan dzikir dan shalat… Maka dia mengosongkan dirinya untuk ibadah sepenuhnya dan meninggalkan seluruh agama… Dan sebagian lainnya melihat bahwa agama adalah ilmu, maka kamu melihatnya duduk untuk ilmu siang malam… Ilmu… ilmu… dan melupakan sisa sisi-sisi agama… Dan sebagian lainnya mengira bahwa agama adalah mendirikan negara, maka kamu melihatnya berjuang dan berperang untuk mendirikan negara Islam, dan melupakan sisa agama dan menyia-nyiakannya demi bagian ini.
Ini bukan agama… Agama adalah satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah… Maka semua ini adalah agama… Agama adalah ilmu dan amal dan ibadah dan dakwah dan jihad untuk pemantapan… Agama adalah keseluruhan… Dan sering kali saya mengatakan kalimat ini: Agama tidak diambil secara parsial, dan tidak diambil secara mencicil… Tidak diambil per bagian… Agama adalah keseluruhan, oleh karena itu Rabbku berfirman – dan yang paling benar ucapannya adalah ucapan Rabbku – “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (Al-Baqarah: 208), artinya ambillah Islam dengan keseluruhannya, dan beramallah dengan semua kebaikan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu ketika saya menegur orang yang mengenakan celana panjang agar berkomitmen, mereka berkata: Bersyukurlah kepada Allah, ini lebih baik daripada yang lain… Bertahap… Maka hari ini celana panjang dan besok memakai jilbab… Dan begitu seterusnya… Bertahap, saya katakan: Tidak… Bukan begitu agama… Agama bukan permainan… Agama bukan main-main, Allah Ta’ala berfirman: “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau.” (Al-An’am: 70).
Dan renungkanlah bersamaku hadits agung ini yang seharusnya tidak dibaca oleh siapa pun kecuali hatinya gemetar dan rambutnya memutih, hadits tentang tiga orang yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang pertama yang akan diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, lalu dia didatangkan, maka Allah menunjukkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, lalu dia mengenalinya, Allah bertanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan itu? Dia menjawab: Aku berperang di jalan-Mu hingga mati syahid, Allah berfirman: Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan: Dia pemberani, dan telah dikatakan, kemudian diperintahkan, lalu dia diseret dengan wajahnya, hingga dilemparkan ke dalam api. Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya, dan membaca Al-Quran, lalu dia didatangkan, maka Allah menunjukkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, lalu dia mengenalinya, Allah bertanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan itu? Dia menjawab: Aku belajar ilmu dan mengajarkannya, dan membaca Al-Quran karena-Mu, Allah berfirman: Kamu berdusta, tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan: Dia alim, dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan: Dia qari, dan telah dikatakan, kemudian diperintahkan, lalu dia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api. Dan seorang laki-laki yang Allah melapangkan untuknya, dan memberinya dari segala macam harta, lalu dia didatangkan, maka Allah menunjukkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, lalu dia mengenalinya, Allah bertanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan itu? Dia menjawab: Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai untuk berinfak di dalamnya kecuali aku berinfak di dalamnya karena-Mu, Allah berfirman: Kamu berdusta, tetapi kamu melakukannya agar dikatakan: Dia dermawan, dan telah dikatakan, kemudian diperintahkan, lalu dia diseret dengan wajahnya, hingga dilemparkan ke dalam api.” Lihatlah bagaimana neraka Jahannam dipanaskan dengan ketiga orang ini setelah mereka diseret dengan wajah mereka ke dalamnya, sungguh – demi Allah – sesuatu yang menakutkan… Sesuatu yang mengerikan… Seorang alim yang Allah bersaksi bahwa dia mengajar lalu berkata: Kamu mengajar agar dikatakan, kemudian dia menjadi orang pertama yang diseret dengan wajahnya ke Jahannam… Seorang alim pengajar… Seorang syaikh pendakwah… Terkenal berpengaruh memiliki pengikut namun demikian dia masuk Jahannam, karena dia kehilangan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan saya kira itu juga akibat dari pandangan yang sepihak, mungkin dia ketika diajak untuk berjihad atau bersedekah atau qiyamul lail atau majlis dzikir atau membantu fakir miskin yang membutuhkan, maka dia berkata: Sesungguhnya aku seorang alim… Maka dia menghancurkan semua sisi agama dengan mengira bahwa cukup baginya sisi yang dia ada di dalamnya… Sisi ini juga goyah baginya, maka sisi itu membuatnya jatuh ke dalam jurang yang dalam dari Jahannam.
Dan seperti dia pula orang yang bersedekah: Dia bekerja siang malam untuk mengumpulkan harta yang dia sedekahkan… Dan dia lalai dalam semua sisi agama, dan jika kamu mengingatkannya dia berkata: Aku membuka rumah-rumah dan menafkahi orang-orang fakir dan memuaskan lapar mereka, sesungguhnya aku bekerja agar banyak orang hidup karenaku… Maka ketika sisi ini juga jatuh dan dia tidak memiliki yang lain, dia terjun ke dalam sumur Jahannam.
Maka hati-hatilah – saudaraku – agar kamu tidak tertipu dengan satu sisi yang kamu lakukan, tetapi jadilah untuk agama keseluruhannya – semoga Allah menjaga kita dan kamu dari mengikuti hawa nafsu.
Agama ketika datang dengan perintah, maka kamu harus berkomitmen kepadanya secara keseluruhan dengan segera, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah maka lakukanlah semampu kalian, dan apa yang aku larang maka tinggalkanlah.” [Muttafaq alaih]. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah Ta’ala berkata dalam manzhūmah-nya dalam ushul fiqih dan kaidah-kaidahnya:
Dan perintah untuk segera maka bersegeralah dengan waktu … kecuali jika dalil menunjukkan maka dengarkanlah
“Dan makna ini adalah bahwa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam jika memerintahkan sesuatu maka itu untuk segera, artinya wajib atas manusia untuk melakukannya segera sejak ada sebab kewajiban dan dia mampu untuk itu. “Maka bersegeralah dengan waktu” artinya bahwa waktu berlalu dan berjalan, maka bersegeralah sebelum terlewat. Dan dalilnya adalah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya pada tahun Hudaibiyah untuk bercukur dan tahallul, tetapi mereka menunda dengan harapan terjadi nasakh bagi mereka, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam marah karenanya. Maka ini menjadi dalil bahwa perintah mutlak untuk segera, dan seandainya kita katakan: Boleh menunda, niscaya perintah-perintah akan menumpuk dan banyak dan manusia tidak mampu melakukannya.”
Maka jika kamu berkomitmen hari ini di jalan Allah, maka kamu harus berhenti dari merokok pada saat yang sama ketika kamu berkomitmen… Bukan bertahap… Jangan berkata: Hari ini aku merokok sepuluh batang dan besok lima dan begitu seterusnya hingga aku berhenti… Tidak… Dan jangan berkata – wahai saudari yang berpakaian terbuka -: Hari ini aku akan meninggalkan “berhias” dan setelah itu memakai pakaian panjang, kemudian menutup rambutku dan menutupi leherku kemudian setelah itu mengenakan hijab… Tidak… Maka perintah adalah agama… Hari ini kamu berkomitmen dan bertobat kepada Allah maka pakailah hijab syar’imu, dan berjalanlah di jalan Allah, dan selesailah perkaranya.
Salah seorang saudara ingin bermain tenis, maka dia pergi menemui pelatih dan berkata kepadanya: Apa yang diperlukan dalam bermain tenis? Pelatih menjawab: Raket tenis dan topi putih dan kaus putih dan celana pendek putih dan kaos kaki putih dan sepatu putih. Lalu saudara itu berkata: Tidak sah bermain tenis kecuali dengan pakaian ini? Pelatih menjawab: Ya, tidak ada permainan tenis kecuali dengan penampilan seperti ini. Maka pergilah saudara itu dan membawa pakaian tersebut, dia datang sambil membawa raket lalu bertemu dengan seseorang yang mengenalnya yang berkata kepadanya: Kamu bermain tenis?!! Mengapa kamu bermain?! Lihatlah kekaguman orang-orang terhadapnya karena mereka mengira pada dasarnya dia adalah orang yang beragama yang tidak bermain dan tidak bersenang-senang!!
Yang menjadi pelajaran dari peristiwa ini: bahwa siapa yang menginginkan agama maka harus mengenakan “agama”. Pelatih berkata: Tidak sah bermain tenis kecuali dengan penampilan ini, dan saya katakan kepadamu: Tidak sah agama kecuali jika kamu berkomitmen padanya secara menyeluruh. Jika kamu ingin berjalan di jalan Allah maka penampilan kamu harus dengan agama, dan hidupmu dengan agama, agar menjadi termasuk ahli agama yang beruntung mencapai Allah.
Jika seseorang masuk ke rumahmu, dia tahu sejak pandangan pertama: bahwa kamu adalah orang yang beragama, maka hiduplah dengan agama dan untuk agama dan di atas agama. Sesungguhnya manusia hari ini – wahai saudaraku – tidak bermain tenis, tetapi bermain dengan agama, maka berpegang teguhlah pada agama dan jangan bermain dengannya, karena agama bukanlah kelakar. Sesungguhnya ia adalah kebenaran, sungguh kebenaran, dan ia bukan main-main.
Jika kamu ingin bernyanyi maka jangan bernyanyi atas nama agama. Jika kamu ingin bermain maka bermainlah jauh dari agama, dan jangan mencampur adukkan agama manusia dengan hawa nafsumu, sehingga kamu mengambil dari agama apa yang menyenangkanmu dan meninggalkan apa yang menentang hawa nafsumu. Jika kamu ingin masuk ke dalam agama dan jika kamu ingin menjadi termasuk ahlinya, maka syaratnya adalah kamu harus berpegang teguh pada keseluruhan. Jangan mengabaikan satu sisi pun dari sisi-sisi agama.
Rasul shallallahu alaihi wasallam ketika kembali dari Thaif dan duduk di Mekah mulai menawarkan dirinya, yaitu menawarkan agama kepada kabilah-kabilah, lalu beliau berkata kepada mereka: “Ucapkanlah: Tidak ada tuhan selain Allah, niscaya kalian beruntung”, sebagaimana beliau menawarkannya kepada mereka sebelum Thaif, namun penawaran setelah Thaif adalah penawaran untuk perlindungan. Maka Rasul shallallahu alaihi wasallam berkata: “Adakah seorang laki-laki yang membawaku kepada kaumnya lalu melindungiku agar aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku, karena sesungguhnya Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan risalah Tuhanku”. Ya, beliau meminta perlindungan dari kabilah-kabilah Arab. Lalu beliau mendatangi Bani Amir bin Sha’sha’ah, maka beliau menawarkan dirinya kepada mereka. Lalu berdirilah seorang laki-laki dari mereka yang bernama Buhairah bin Firas dan berkata: Demi Allah, jika aku mengambil pemuda dari Quraisy ini niscaya aku akan memakan Arab dengannya, kemudian dia berkata kepadanya: Bagaimana menurutmu jika kami membaiatmu atas urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menentangmu, apakah urusan itu menjadi milik kami sepeninggalmu? Maksudnya: Kami bersamamu, tetapi ketika kamu meninggal aku akan menjadi pemimpin yang ditaati. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Urusan itu milik Allah, Dia meletakkannya di mana Dia kehendaki”. Makna perkataan ini adalah: bahwa jika kamu ingin masuk ke dalam agama maka jangan membuat syarat kepada Raja. Kamu adalah hamba. Rasul shallallahu alaihi wasallam ingin mengajarinya dan mengajari kita: bahwa kamu membaiatku dan melindungiku untuk beribadah kepada Tuhanmu. Kamu membaiatku dan melindungiku demi surga, bukan untuk sesuatu dari dunia.
Sebagian pemuda berkomitmen hingga Allah memberinya harta dan lainnya. Tidak. Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya urusan itu milik Allah, Dia meletakkannya di mana Dia kehendaki”. Oleh karena itu kamu dapati sebagian manusia menjalani agama dengan penipuan, mereka masuk ke dalam komitmen karena kepentingan-kepentingan duniawi. Jika kamu telah melakukannya, maka perbaikilah niatmu, niscaya Allah akan memperbaiki amalmu.
Sesungguhnya kebiasaan kami adalah pergi ke rumah sakit lalu membawa bersama kami madu, setengah kilogram madu, dan kitab Hishnu al-Muslim, dan Al-Quran untuk para pasien – ya Allah sembuhkanlah orang-orang sakit dari kaum muslimin -, maka itu adalah Kitab dan Sunnah dan kesembuhan. Kami berikan kepada pasien ketiga hal ini. Lalu kami datang kepadanya setelah dua minggu dan mendapatinya telah memelihara jenggot. Dia berkata: Ini aku telah memelihara jenggot, seolah-olah dia merelakan kami. Tidak, tetapi katakanlah: Aku memelihara jenggot karena Allah agar Dia menyembuhkanku. Masuklah ke dalam agama karena Allah. Masuklah saat kamu kuat dan sehat. Masuklah dengan keridhoanmu, daripada kamu masuknya saat kamu dalam cobaan dan terpaksa.
Yang menjadi pelajaran: bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam menawarkan dirinya kepada suatu majelis yang di dalamnya terdapat ketenangan dan wibawa. Lalu masuklah sayyidina Abu Bakar dan berkata: Dari mana kaum ini? Mereka menjawab: Syaiban bin Tsa’labah. Lalu Abu Bakar menoleh kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata kepadanya: Demi ayah dan ibuku, mereka ini adalah individu terkemuka di kaumnya. Lalu Abu Bakar berkata: Bagaimana perlindungan di kalangan kalian? Mereka menjawab: Kami sangat serius dan berusaha keras dan setiap kaum memiliki keseriusan – perkataan yang bagus -. Lalu mereka berkata kepadanya: Ke apakah kamu mengajak wahai saudara Quraisy? Beliau bersabda: “Aku mengajak kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah”. Mereka berkata: Dan ke apakah lagi kamu mengajak wahai saudara Quraisy? Beliau bersabda: “Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan atas kalian” (Surah Al-An’am: 151), dan ke apakah lagi kamu mengajak, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan” (Surah An-Nahl: 90). Lalu mereka berkata: Kamu telah mengajak wahai saudara Quraisy demi Allah kepada akhlak mulia dan perbuatan-perbuatan baik, dan sungguh telah berdusta kaum yang mendustakanmu dan memusuhi kamu.
Salah seorang dari mereka berkata: Akan tetapi – aku masih mengatakan: bahwa keburukan manusia adalah kata “akan tetapi” – aku berpendapat: jika kami meninggalkan agama kami dan mengikutimu atas agamamu dalam satu majelis yang kamu duduk bersama kami, maka sesungguhnya itu adalah kelemahan dalam pendapat, dan buruknya pertimbangan terhadap akibat. Sesungguhnya kehinaan itu terjadi dengan tergesa-gesa, dan sesungguhnya di belakang kami ada kaum yang kami tidak suka kami mengikat perjanjian atas mereka, tetapi kami akan kembali dan kamu kembali, dan kami akan melihat dan kamu melihat. Tidak. Agama tidak seperti itu. Agama tidak ada di dalamnya: apakah aku shalat atau tidak? Dan tidak ada di dalamnya: apakah aku memelihara jenggot atau tidak? Dan tidak ada di dalamnya: apakah kamu bercadar atau tidak? Agama adalah keputusan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Lalu berdirilah seorang laki-laki dari mereka yaitu Al-Mutsanna bin Haritsah dan berkata: Sesungguhnya kami telah tinggal di antara sungai-sungai Yamamah dan Samaawah. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah sungai-sungai ini?” Al-Mutsanna menjawab: Sungai-sungai Kisra dan air-air Arab. Adapun yang berasal dari sungai-sungai Kisra maka dosa pelakunya tidak diampuni dan uzurnya tidak diterima. Maksudnya: kami tidak mampu melawan Kisra. Adapun yang berasal dari air-air Arab maka dosanya diampuni dan uzurnya diterima. Dan sesungguhnya kami tinggal di atas perjanjian yang diambil oleh Kisra atas kami: bahwa kami tidak membuat perkara baru dan tidak melindungi orang yang membuat perkara baru. Sesungguhnya urusan ini dibenci oleh para raja. Agama apakah ini yang kamu bawa? Dan sesungguhnya kami melihat bahwa urusan ini dibenci oleh para raja. Maka jika kamu suka agar kami melindungimu dan menolongmu dari orang yang berada di sisi air-air Arab maka kami lakukan, adapun dari Kisra atau Qaishar maka tidak, karena kami tidak sanggup berdiri menghadapi mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kalian tidak buruk dalam penolakan ketika kalian terus terang dengan kejujuran, dan sesungguhnya agama Allah tidak akan ditolong kecuali oleh orang yang melingkupinya dari semua sisinya”.
Ya Allah! Lihatlah apa yang dikatakan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seni dakwah. Beliau berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu orang baik. Beliau memujinya. Lalu bersabda: “Ketika kalian terus terang dengan kejujuran”. Kata-kata ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dakwah. Oleh karena itu ketika datang kepadaku seorang saudara dan berkata: Aku mengarahkan ayahku untuk tidak menonton televisi, aku katakan kepadanya: Tidak. Urusan tidak seperti itu. Aku ingin kamu masuk menemui ayahmu dan berkata kepadanya: Masya Allah, dan kamu cium tangannya dan katakan kepadanya: Sebaik-baik ayah adalah kamu! Kamu termasuk manusia yang utama, alhamdulillah bahwa aku memiliki ayah sepertimu, tetapi alangkah baiknya jika kamu menjauhi televisi, karena sesungguhnya itu tidak layak bagi ahli ilmu dan adab dan keutamaan untuk duduk di depannya. Ya, pujilah dia dengan apa yang ada padanya. Begitulah agama, dan begitulah dakwah. Dengan kelembutan dan kasih sayang dan adab. Maka pahamilah agama. Katakan kepadanya: Demi Allah wahai ayahku, aku tidak melihat seorang pun yang menjaga shalat subuh sepertimu, maka jazakallahu khairan. Kamu orang yang baik, dan aku tidak melihat seorang pun yang memuliakan saudara-saudaranya sepertimu. Aku melihatmu termasuk ahli kebenaran, maka kamu memberikan pekerja haknya, dan tidak mendzalimi seorang pun.
Demi Allah wahai ayahku, aku mencintaimu karena Allah, karena sepanjang umurku aku tidak pernah mendengarmu berbohong atau mencaci maki. Saudaraku karena Allah, pujilah ayahmu dengan apa yang ada padanya, niscaya kamu mendapatkan hatinya dan dia mencintai agama. Ajaklah dia dengan adab, jika dia kasar perkataannya kepadamu dan berkata misalnya: Keluar dari rumah, atau berkata: Apakah kamu memberi contoh kepadaku, maka katakan kepadanya dengan adab dan kasih sayang sebagaimana yang dikatakan Rasul shallallahu alaihi wasallam: “Kalian tidak buruk dalam penolakan, ketika kalian terus terang dengan kejujuran, tetapi agama ini tidak akan ditolong kecuali oleh orang yang melingkupinya dari semua sisinya”.
Wahai saudaraku, sesungguhnya kita menyempitkan terhadap orang yang kita ajak, karena kita tidak memahami agama, karena kita sempit dan gelisah, atau katakanlah: bermaksiat. Datang kepadaku salah seorang dari mereka gelisah dan sesak. Ada apa?! Dia berkata: Jiwaku hampir keluar. Aku katakan kepadanya: Apakah kamu membutuhkan harta? Tidak, harta banyak. Apakah istrimu membuatmu marah? Tidak, semoga semua wanita seperti istriku. Anak-anakmu? Alhamdulillah keadaan mereka baik. Kamu membutuhkan pekerjaan?! Tidak, semuanya baik-baik saja. Lalu apa masalahnya? Dia berkata: Aku tidak tahu, aku sesak dan lelah. Aku katakan kepadanya: Kemarilah, buka dadamu untukku dan katakan kepadaku.
Dia berkata: Demi Allah aku tidak tahu, dan seandainya aku tahu pasti aku katakan kepadamu. Tidak ada penyebab yang jelas untuk kesempitan yang aku rasakan sekarang. Dan terkadang perkataan ini diucapkan oleh saudara yang berkomitmen. Keadaanku sebelum aku berkomitmen lebih baik dari ini, karena aku tidak bermaksiat kepada Allah dengan cara seperti ini, apa yang terjadi setelah komitmen?!!
Wahai saudaraku, inilah rahasianya. Rahasia kesempitan dan gelisah dan sedih adalah kemaksiatan besar yang kamu lakukan dan kamu bersikeras padanya sehingga menyebabkan bagimu kesendirian. Ibnu al-Qayyim berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’: “Sesungguhnya kemaksiatan menimbulkan antara hamba dan Allah kesendirian, maka jika bertambah maka mengukuhlah kesendirian itu”.
Jika kemaksiatan bertambah maka bertambahlah jarak antara dia dan orang yang paling dekat dengannya.
Maka kamu melihat orang yang kesendirian telah mengukuh padanya jika seseorang berkata kepadanya: Ada apa? Dia berkata: Aku tidak ingin ada seorang pun yang berkata kepadaku: Ada apa! Dan jika sahabat-sahabatnya menanyakan tentangnya, dia berkata: Katakan kepada mereka dia tidak ada. Jika kesendirian semakin mengukuh maka terjadilah antara dia dan dirinya sendiri.
Para ulama berkata: Dan mungkin kesendirian ini membunuh jika bertambah. Ya, dia mungkin meninggal karenanya. Rahasia kesendirian adalah kemaksiatan, dan kemaksiatan yang paling berbahaya adalah kemaksiatan yang tersembunyi, bahwa kamu bermaksiat kepada Tuhanmu dan tidak ada yang melihatmu selain Dia, karena kamu saat itu berhati-hati agar manusia melihatmu dan tidak berhati-hati agar Allah melihatmu, kamu takut kepada manusia dan tidak takut kepada Allah.
Jadi mungkin ada sisi dari agama yang runtuh dalam hidupmu yaitu sisi ini “kemaksiatan dalam kerahasiaan” yang menyebabkan bagimu kesendirian.
Dan mungkin sisi ini adalah bahwa kamu meninggalkan Al-Quran, maka tidak menghafal dan tidak mengulang dan tidak membaca. Meninggalkannya sama sekali. Dan membaca Al-Quran untuk beribadah adalah sunnah yang dianjurkan, tetapi meruntuhkannya adalah meruntuhkan agama. Dan mungkin sisi yang runtuh dari agamamu adalah tidak menyambung silaturrahim atau tidak berbakti kepada kedua orang tuamu, dan mungkin jenggot.
Saya melihat sebagian orang yang berkomitmen -pada agamanya- hari ini tanpa berjenggot.. Apakah jenggot tidak penting?! Jenggot itu wajib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah jenggot” (Muttafaq alaih).. “Panjangkanlah jenggot” (diriwayatkan oleh Muslim).. “Lebatkanlah jenggot” (diriwayatkan oleh Bukhari).. dengan perintah. Dan jika kamu beralasan dengan berbagai masalah, mungkin kamu bisa menipuku tetapi tidak akan pernah bisa menipu Allah.. Tidak.. jenggot itu wajib.
Dan mungkin sisi yang kamu robohkan dari agama adalah: shalat. Kadang-kadang saya pergi ke majelis ilmu dan kami terlambat di jalan, lalu saya shalat Maghrib di sebuah masjid dan saya mendapati imam yang melakukannya dengan tergesa-gesa dalam satu menit. Saya shalat bersama teman saya dan imam, lalu imam berkata: Allahu Akbar, sami’allahu liman hamidah, assalamu alaikum warahmatullah.. begitu cepat.. ucapan yang cepat beruntun, dan setelah selesai saya mengejarnya sementara saya tidak bisa menahan diri, lalu saya katakan kepadanya: Shalat ini tidak bisa saya lewatkan begitu saja.. Saya tidak bisa melewatkan Maghrib dengan cara seperti ini.. Maka saya akan mengulanginya.
Dan saya tidak mengatakan: bahwa shalat orang itu batal, tetapi saya tidak shalat (dengan benar).. Saya ingin merasakan shalat.. Saya ingin menikmati.. Saya ingin shalat agar menyerap makna-makna shalat sehingga mempengaruhi hatiku.. Bukan dengan cepat.
Mungkin masjid yang di samping rumahmu shalatnya seperti shalat orang ini, dan kamu shalat setiap hari dengan cara seperti ini, dan kamu berkata: Apa yang harus saya lakukan?! Saya katakan: Wahai saudaraku, masjid itu banyak – Ya Allah perbanyaklah rumah-Mu di bumi -, tidak ada jalan yang kosong dari satu, dua, atau tiga masjid. Kamu akan berkata: Shalat mereka juga cepat, saya katakan: Carilah masjid terdekat yang membuatmu tenang dalam shalat. Carilah dan kamu pasti akan menemukan masjid yang imamnya bersungguh-sungguh mengikuti Sunnah.
Dulu di dekat kami ada masjid yang mereka sebut: “Al-Majra”.. Muazin mengumandangkan adzan dan tetap berdiri kemudian langsung iqamat, dan imam di belakangnya berdiri, maka kamu shalat di belakangnya seolah-olah kamu tidak shalat. Maka bersungguh-sungguhlah dalam shalat yang bermanfaat bagimu di hadapan Allah.. shalat yang memberi makan hatimu dengan keimanan.. shalat yang menutup kelaparanmu secara spiritual. Mungkin shalat adalah sisi yang runtuh dalam hidupmu yang menyebabkanmu kesepian.
Saudaraku fillah, carilah sisi atau sisi-sisi yang kamu robohkan dalam agamamu dan tutuplah.. Tegakkanlah sisi-sisi agama, niscaya kesepianlah hilang darimu.. Jangan abaikan satu sisi pun dari sisi-sisi agama.. Karena agama itu satu kesatuan. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Maka jika kamu tergelincir setelah datang kepadamu keterangan-keterangan yang nyata, maka ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu melainkan datangnya Allah dan para malaikat dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (Al-Baqarah: 208-210)
Maka kamu harus mengambil agama secara keseluruhan.. Dan jangan sekali-kali kamu berpegang pada sebagian darinya dan meninggalkan sisanya.. Karena dengan keseluruhan bukan sebagian dengan izin Allah kamu akan sampai.
Prinsip Ketiga Puluh Tiga: Selesaikan Sesuatu yang Baru Setiap Hari
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya iman itu bisa usang di dalam dada salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian menjadi usang, maka mintalah kepada Allah untuk memperbarui iman di hati kalian” (dishahihkan oleh Al-Albani).. Ya Allah perbaharuilah iman di hati kami.. Bagaimana kamu memperbarui iman di hatimu? Yaitu dengan mengerjakan setiap hari pekerjaan yang baru, dan itu karena dasar keyakinan kita bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan yang bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Sebagian orang setelah periode komitmen lalu berbaring, duduk, dan tidur.. berhenti dan terhenti.. keadaannya memburuk sehingga tidak ada yang baru baginya.. Sesungguhnya agama kita – wahai saudara-saudara – kebaruannya tidak pernah berakhir, selalu ada yang baru yang belum kamu kerjakan.
Saya pernah berbicara dengan saudara-saudara tentang yang baru dalam komitmen, lalu saya katakan: Sesungguhnya para ilmuwan mengatakan: Bahwa oksigen yang baru dibuat di laboratorium lebih mudah terbakar daripada oksigen yang ada di udara.. Apa sebabnya? Mereka menjawab: Karena ia baru.. Demikian juga komitmen yang baru akan ada semangat, vitalitas, dan keimanan yang tinggi, kemudian setelah itu menjadi usang, lemah, dan padam.
Oleh karena itu, kamu perlu selalu memperbarui.. dengan membuat setiap hari dalam hidupmu berbeda dari hari sebelum dan sesudahnya.. Setiap hari memiliki warna baru dalam ketaatan.. Agar tidak bosan dan tidak lemah, dan kamu selalu merasakan keimanan.
Dan jangan berkata: Bahwa perbuatan agama akan berakhir.. Tidak.. Perbuatan dalam agama kita banyak dan beragam, dan ketaatan tidak memiliki batas.. Maka selesaikanlah setiap hari sesuatu yang baru dengan syarat kamu mengerjakannya dengan sebaik-baiknya.
Mulailah hari ini dan katakan: Hari ini saya akan menertibkan lima waktu shalat.. Saya tidak akan membiarkan pikiran saya melayang.. Hari ini tantangan.. Saya akan menantang hari ini setan shalat “Khindzab”.. Hari ini saya akan membaca dalam lima waktu shalat surat-surat baru yang belum pernah saya baca sebelumnya.. Sebagian orang dalam semua shalatnya hanya membaca dua surat pendek dan tetap dengan keduanya berbulan-bulan, oleh karena itu ia melayang dan tidak menghayati shalat. Karena ia shalat… (otomatis) shalat yang berulang.
Hari lain, kamu katakan: Dzikir-dzikir shalat akan saya ucapkan hari ini dengan hatiku dan dengan air mata mataku.. Hari lain: Saya akan merenungkan hari ini satu halaman baru dari Al-Quran, dan saya akan terus menanamkan maknanya di hatiku sepanjang hari.. Dan seterusnya.. Setiap hari sesuatu yang baru.
Subhanallah Al-Azhim.. Hadits dalam Shahih Muslim yang saya kenal, saya membacanya seolah-olah saya membacanya untuk pertama kali dalam hidup saya.. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada pasukan yang berperang di jalan Allah lalu mereka memperoleh ghanimah kecuali mereka telah mempercepat dua pertiga pahala mereka dari akhirat, dan tersisa bagi mereka sepertiga, dan jika mereka tidak memperoleh ghanimah maka sempurna bagi mereka pahala mereka” (diriwayatkan oleh Muslim).
Dan maknanya: “Bahwa pasukan perang jika selamat atau memperoleh ghanimah maka pahala mereka lebih sedikit dari pahala orang yang tidak selamat, atau selamat tetapi tidak memperoleh ghanimah, dan bahwa ghanimah itu sebagai pengganti sebagian dari pahala perang mereka, maka jika mereka memperolehnya berarti mereka telah mempercepat dua pertiga pahala mereka yang diperoleh dari perang, dan ghanimah ini termasuk bagian dari pahala”.
Jadi ada banyak hadits yang kamu dengar dan kamu ketahui, tetapi ketika merenungkan dan berhenti padanya kamu merasa seolah-olah ia baru bagimu, maka bertambahlah imanmu dengannya.. Jadi dengan yang baru bertambahlah iman.
Demikian juga ada ayat-ayat dari Al-Quran yang kamu baca lalu kamu berkata: Subhanallah, ayat ini baru bagiku: Saya belum mendengarnya sebelumnya, padahal kamu membacanya siang malam, tetapi karena kamu mulai merenungkan dan membuka hatimu dan berhenti pada ayat-ayat, maka Allah memberimu makna-makna yang baru. Ayat dalam surat Ar-Ra’d “Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Ar-Ra’d: 26).. Ayat yang indah dan baru, dan mengulanginya serta memahaminya menambah dan menguatkan iman.. Ayat – demi Allah – yang menenangkan hati, meringankan masalah, menzuhudkan dunia, dan mendorong untuk berjalan menuju Allah.
Ya: Kita membaca Al-Quran banyak, namun demikian kita menemukan yang baru setiap kali membaca.. Dan makna-makna Al-Quran tidak akan pernah habis, “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” (Al-Kahfi: 109).. Maka bacalah dari Al-Quran satu ayat yang sama di waktu-waktu berbeda dan keadaan yang berubah, kamu akan keluar setiap kali membaca dengan yang baru.. Jadi yang baru itu banyak.. Dan kamu hanya perlu bertekad dan bersungguh-sungguh.
Saudara-saudaraku, dan ketika kalian menyelesaikan yang baru dan menyempurnakannya dengan sempurna, kalian akan tahu bahwa kalian sebelumnya bermain-main, ketika kalian merasakan nikmat ketaatan dan rasa iman serta kelezatan iman.. Penyair berkata:
Dan aku mengira bahwa telah berakhir padaku cinta… dan mencapai padaku batas yang tidak ada bagiku setelahnya jalan Maka ketika kita bertemu dan aku melihat keindahannya… aku tahu bahwa aku sebelum hari ini bermain-main
Maka jika kamu shalat maka shalatlah sebagaimana seharusnya, dan jika kamu membaca Al-Quran maka bacalah sebagaimana seharusnya, dan jika kamu bersedekah maka bersedekahlah sebagaimana seharusnya.. Dan jika kamu qiyamullail atau berdzikir atau berhaji atau umrah atau thawaf atau sujud maka dengan sungguh-sungguh.. Selesaikanlah yang baru di hari yang baru dengan cara yang seharusnya, agar kamu merasakan manisnya iman.
Ibnu Qayyim berkata: “Dan kebahagiaan pemberi lebih besar dari kebahagiaan penerima”.. Ya: Ketaatan yang sungguh-sungguh memiliki kebahagiaan, kemanisan, kenikmatan, dan kelezatan.. Dan inilah agama.. Ya Allah anugerahkan kepada kami komitmen dengan agama ya Rabb.
Saudaraku fillah, bacalah hari ini bab baru dalam tauhid, dan bacalah besok tentang sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan lusa bacalah tafsir ayat yang belum pernah kamu baca sebelumnya.. Dan seterusnya.. Selesaikan setiap hari yang baru.. baru dalam ilmu.. atau baru dalam ibadah.. atau baru dalam dakwah kepada Allah.
Perbaruilah imanmu setiap hari agar kamu tidak lemah atau bosan dalam perjalanan menuju Allah.. Karena pembaruan mendorong kebosanan dan menguatkan perjalanan serta mendorong padanya.. Maka perbaruilah imanmu dan mintalah kepada Allah hal itu, niscaya kamu sampai dengan izin Allah.. Ya Allah perbaharuilah iman di hati kami ya Rabb.
Prinsip Keempat Puluh Empat: Berhentilah Mengeluh dan Mulailah Pengobatan
Banyak orang siang malam tidak memiliki kesibukan selain mengeluh.. Tabarruj (bersolek/tidak menutup aurat) banyak! Dan fitnah! Dan.. dan.. Ismail Al-Harawi berkata: “Zuhud di dunia adalah mengibaskan tangan dari dunia baik secara penguasaan maupun pencarian, dan membungkam lisan darinya baik pujian maupun celaan, dan keselamatan darinya baik pencarian maupun meninggalkan”.
Bukti yang kita ambil dari perkataan penting ini: Bahwa orang yang mencintai dunia banyak berbicara tentangnya meskipun dengan celaan.. Demikian juga seorang laki-laki dianggap terpesona dengan wanita jika banyak menyebut mereka meskipun dengan celaan, dan yang banyak berbicara tentang harta meskipun dengan celaan maka ia juga terpesona.. Dan dari sini orang yang banyak mengeluh maka ia terpesona, Allah Yang Maha Mengetahui berfirman dalam salah satu ayat yang membuka kedok: “Dan di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Izinkanlah aku (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu memfitnah aku.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (At-Taubah: 49).
Kamu dapati salah seorang dari mereka berkata: Saya tidak ingin pergi ke majelis ilmu si fulan karena di sana ada wanita dan saya lemah!! Wahai orang yang terpesona.. Kamu katakan kepadanya: Berkhutbahlah pada Jumat, dia berkata kepadamu: Saya takut riya! Terpesona.. Aneh bagimu! Sepanjang waktu kamu berbicara dan berkata: Halal dan haram, dan menobatkan dirimu sebagai syaikh, mengapa ketika memikul tanggung jawab kamu takut riya?!! Ya Allah tetapkanlah kami di atas iman dan anugerahkan kepada kami keikhlasan.
Imam Malik apabila menyampaikan nasihat, ia menangis dan berkata: “Mereka mengira bahwa mataku terhibur dengan perkataanku, padahal aku tahu bahwa Allah akan menanyaiku tentang hal itu di hari kiamat, apa yang aku maksudkan dengannya.”
Saudara-saudaraku karena Allah, apakah kalian mengira aku bergembira ketika aku menyampaikan pelajaran atau berkhutbah Jumat?! Apakah di hari kiamat nanti kalian akan duduk di hadapanku seperti ini?!! Sesungguhnya Tuhanku akan bertanya kepadaku: engkau bergerak dari sini ke Kairo Baru untuk memberi nasihat, untuk apa? Demi manusia ataukah demi-Ku? Maka apa yang akan aku katakan kepada-Nya?! Ya Allah, berilah kami keikhlasan dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas.
Berhentilah mengeluh dan mulailah pengobatan. Engkau dapati sebagian orang mengeluh tentang waswas padahal tidak ada apa-apa pada dirinya, namun ia terus berkata: waswas… waswas… hingga benar-benar terkena waswas karena banyaknya keluhan. Ia terus mengeluh: wanita… wanita, maka terjerumuslah ia dalam fitnah, padahal seandainya ia berhenti mengeluh dan memulai pengobatan, niscaya Allah akan mencukupinya dari fitnah ini.
Sesungguhnya musibah banyak dari saudara-saudara adalah bahwa mereka sibuk dengan pernikahan. Engkau lihat salah seorang dari mereka berjalan di jalan lalu berkata dalam hatinya: Apakah aku menikahi yang ini atau yang ini? Tidak, yang ini saja. Tidak tidak, yang seperti ini… Jika engkau menginginkan ketenangan maka angkat topik ini dari pikiranmu, dan hiduplah kehidupan imanmu sebagaimana mestinya, dan saat engkau memutuskan untuk menikah maka menikahlah pada saat itu juga. Adapun jika engkau hidup seperti ini, dengan pikiran yang terpecah, terus mengeluh tentang masalah ini, maka engkau tidak akan selamat dari fitnah selamanya. Maka istirahatkan otakmu sekarang dari beban pernikahan selama kondisi iman dan kehidupanmu tidak memungkinkan.
Inilah solusi untuk fitnah: tidak mengeluh, tidak bersedih hati, tidak merasa sempit dan sakit karenanya. Sebagian orang berkata: Harta… apa urusannya dengan harta, harta adalah dunia, maka ucapannya yang berulang-ulang ini tentang harta adalah bukti bahwa ia terfitnah dengan harta dan dunia. Dan ada perbedaan antara orang yang mengeluh untuk ditolong dengan orang yang mengeluh untuk menghindar.
Sayyidina Musa alaihissalam, ketika Tuhannya berkata kepadanya: “Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas” (Surah An-Naazi’aat: 17), “Musa berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku” (Surah Al-Qashash: 33-34). Ia mengeluh, namun ia meminta pertolongan maka ditolonglah ia. Allah menolongnya dan menganugerahi Harun kenabian, dan ini termasuk berkah bahwa seseorang dianugerahi kenabian. Musa berkata: Ya Tuhanku, dan saudaraku, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: dan saudaramu.
Oleh karena itu aku ingin darimu ketika Allah menganugerahinya komitmen (keistiqamahan), aku ingin engkau berkata: Ya Tuhanku, dan saudaraku. Ya Tuhanku, dan ayahku. Ya Tuhanku, dan ibuku. Ya Tuhanku, dan saudariku. Ya Tuhanku, dan tetanggaku. Berdoalah kepada Allah agar Dia memberi mereka hidayah dan sibukkan dirimu dengan memperbaiki mereka alih-alih terus mengeluhkan dan mengadukan mereka sehingga engkau membenci mereka dan mereka membencimu. Berdoalah kepada Allah untuk mereka dan berhentilah mengeluh, agar Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkanmu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanyakan kepadanya: Apakah kami timpakan kedua gunung ini kepada mereka? Beliau berkata: “Mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka orang yang mentauhidkan Allah” [Muttafaq ‘alaih]. Beliau keluar, berusaha keras, dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Maka bukan urusan kita agar Allah membakar orang-orang kafir, melainkan urusan kita agar Dia memberi mereka hidayah, apalagi keluargamu yang engkau keluhkan. Ya Allah, berilah hidayah kepada kaum muslimin dan non-muslim.
Wahai saudara-saudara, berhentilah mengeluh dan mulailah pengobatan. Cukuplah keluhan-keluhan. Aku tidak bisa bangun untuk Subuh, aku tidak mampu berdakwah, aku tidak mampu begini, aku tidak bisa begitu. Selama engkau mengeluh maka engkau tidak akan bisa bangun, tidak akan mampu, dan tidak akan bisa.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika datang kepadanya seorang laki-laki yang terkena waswas dan berkata kepadanya: Sesungguhnya salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang sangat besar untuk diucapkan, beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipu dayanya menjadi waswas. Jika salah seorang dari kalian mendapati itu maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan hendaklah ia berlindung kepada Allah tiga kali dan hendaklah ia berhenti” [dishahihkan oleh Al-Albani], “dan hendaklah ia berhenti”: yaitu jangan memikirkannya lagi kedua kalinya.
“Segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipu dayanya menjadi waswas” yaitu sesungguhnya setan ketika ia berputus asa dan gagal dalam menyesatkan seseorang, ia tidak menemukan sesuatu untuk menipu selain waswas ini, maka ia adalah senjatanya yang lemah, dan oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Segala puji bagi Allah”.
Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam memutus waswas: “Ludahlah ke kirimu tiga kali dan katakanlah: Ya Allah Tuhanku, tidak ada sekutu bagi-Nya” [diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya].
Ludahlah kepada setan, karena ini adalah penghinaan, pelecehan, dan penghinaan terhadapnya, agar ia tidak datang kepadamu lagi. Dan jangan hiraukan dia, melainkan sibukkan dirimu dengan Allah saja maka katakanlah: Allah Tuhanku, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian berhentilah dari itu, yaitu: jangan berbicara, jangan bertanya kepada siapa pun, jangan membaca tentang masalah ini, jangan mencarinya, melainkan berhentilah, agar waswas terputus. Maka pengobatannya ada empat perkara:
- Katakanlah: Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
- Berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.
- Ludahlah ke kirimu tiga kali.
- Diamlah. Berkomitmen pada keheningan. Jangan mengeluh. Berhenti. Tutup pintu ini sepenuhnya.
Banyak pemuda berkata: Ayahku melakukan begini dan begitu, dan ibuku melakukan begini dan begitu, dan saudariku, dan saudaraku, dan masjid ada begini, dan imam berbuat begitu, dan syaikh berkata begini, dan ia terus mengeluh. Sayangilah dirimu, dan jangan banyak mengeluh. Jangan banyak mengeluh, melainkan diamlah. Berdiamlah agar engkau beristirahat dan mengistirahatkan manusia dari beban dan masalahmu, karena manusia memiliki apa yang cukup bagi mereka, dan sesungguhnya yang ridha di antara mereka adalah yang diridhai oleh Allah, maka ridhailah Allah dan adukan keluhanmu hanya kepada-Nya, Dia akan mencukupimu dari apa yang membuatmu susah, karena Dia Subhanahu wa Ta’ala mengetahui keadaanmu.
Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang-orang yang mengeluhkan realitas tidak akan mengubahnya sama sekali, bahkan mereka sendiri juga tidak akan berubah, mereka akan tetap seperti ini dalam lumpur fitnah, merasakan kepahitan dan kesedihan selama mereka belum memulai pengobatan dari dalam diri mereka sendiri.
Sesungguhnya mencapai Allah – kekasih-kekasihku karena Allah – membutuhkan dari kita agar kita tidak berdiri di hadapan masalah dan kegelisahan dengan tangan terlipat, meletakkan tangan kita di pipi kita mengeluh kepada setiap orang yang datang dan pergi, bahkan harus ada pergerakan dan pengobatan. Maka buatlah perjanjian dengan dirimu sendiri – saudaraku karena Allah – mulai sekarang untuk tidak mengeluh sama sekali. Berhentilah mengeluh dan mulailah pengobatan, agar Allah menolongmu untuk mencapai-Nya.
Prinsip Kedua Puluh Lima: Bukan masalahnya bahwa engkau mencintai-Nya, melainkan masalahnya adalah apakah Dia mencintaimu
Apakah Allah mencintaimu?
Saudara-saudaraku karena Allah, demi Dzat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, sesungguhnya aku mencintai kalian karena Allah, dan aku mohon kepada Allah Jalla Jalaluhu agar mengumpulkan kita dengan cinta ini di bawah naungan Arasy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Kekasih-kekasihku karena Allah, cinta… cinta Allah… Ya Allah, anugerahilah kami cinta-Mu dan cinta setiap hamba saleh yang mencintai-Mu, dan cinta setiap amal saleh yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kami cintai daripada keluarga kami, diri kami, dan air dingin di saat dahaga.
Kekasih-kekasihku karena Allah, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa dunia tidak berdiri kecuali atas cinta, maka setiap gerakan dan ketenangan dalam kehidupan, pendorongnya adalah cinta, dan asal cinta adalah cinta Allah. Dan bukan masalahnya bahwa engkau bertekad dan sepanjang malam dan siang berkata: Aku mencintai-Mu, melainkan masalahnya adalah apakah Dia mencintaimu, dan oleh karena itu Allah memilih suatu kaum, mendahulukan cinta-Nya atas cinta mereka, Allah Jalla Jalaluhu berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (Surah Al-Maidah: 54), maka Dia mendahulukan cinta-Nya atas cinta mereka kepada-Nya, Dia Subhanahu mencintai mereka dan dengan cinta-Nya kepada mereka, mereka mencintai-Nya, dan oleh karena itu prinsip dalam masalah ini – wahai saudara yang mulia -: Apakah Allah mencintaimu?!!
Inilah pertanyaannya. Apakah Allah mencintaimu atau tidak? Pertanyaan yang sungguh membutuhkan jawaban darimu. Apakah engkau layak? Apakah engkau pantas?! Contoh: jika dikatakan: sesungguhnya aktris si anu mencintaimu, maka engkau berkata kepada seseorang: Si anu mencintaiku, maka ia melihatmu dengan heran dan berkata kepadamu: Mencintaimu?!! Dengan apa? Dan atas dasar apa ia mencintaimu?!! Dan siapa engkau?! “Dan bagi-Nya-lah perumpamaan yang tertinggi di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Ar-Rum: 27). Maka jika engkau duduk bersama manusia dan berkata: Sesungguhnya Allah mencintaiku, kami juga akan berkata kepadamu: Atas dasar apa Dia mencintaimu, dan mengapa Dia mencintaimu? Dengan apa Dia mencintaimu? Dan siapa engkau hingga Dia mencintaimu?! Allah Yang Maha Besar, Allah Yang Maha Agung, Allah Yang Maha Mulia, Allah Sang Raja Yang Maha Tinggi mencintaimu?!! Apa yang ada padamu sehingga Allah mencintaimu?!!
Sangat mudah untuk mengatakan: Aku mencintai-Nya, tetapi sulit untuk mengatakan: Dia mencintaiku.
Dan jika engkau berkata: Ya, Dia mencintaiku, maka tidaklah aku meminta sesuatu kepada-Nya kecuali Dia memberikannya kepadaku, aku katakan kepadamu: Tidak harus demikian. Karena Dia telah memberikan kepada orang-orang kafir apa yang mereka inginkan, apakah berarti Dia mencintai mereka?! Maka masalahnya berbahaya, dan pembicaraan tentangnya juga berbahaya.
Dan Ibnu Qayyim rahimahullah berdalil untuk itu maka ia berkata: Bagaimana mungkin, padahal Dia telah memberikan kepada makhluk yang paling Dia benci. Yaitu: bahwa iblis ketika meminta kepada-Nya penundaan, Dia memberikannya kepadanya. “Iblis berkata: Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh” (Surah Al-A’raaf: 14-15). Iblis meminta maka Allah memberikannya, apakah Dia mencintainya?! Tidak. Maka tidak harus dalam pemberian bahwa Dia mencintaimu. Mungkin Dia memberikan kepadamu karena Dia membencimu. Tidak menginginkanmu. Ambillah dan aku tidak ingin mendengar suaramu. Dan oleh karena itu termasuk prinsip penting: kesempurnaan kehinaan adalah kesibukan hamba dengan nikmat dari Yang Memberi Nikmat.
Apakah Allah mencintaimu, dan apakah engkau mencinta Allah? Ya: Aku mencintai-Nya, kalau begitu apa buktinya? Sesungguhnya setiap anak dari yang duduk-duduk di pojok jalan yang berjanjian dengan gadis si anu, engkau dapati ia ketika pergi menemuinya dalam penampilan terbaiknya, dan hatinya bergetar, hampir terbang karena gembira. Maka apakah ketika engkau datang untuk shalat hatimu bergetar gembira untuk bertemu Tuhanmu?!! Jika tidak, maka ketahuilah bahwa engkau tidak mencintai-Nya. Ini pembicaraan yang logis. Jika engkau tidak bahagia dengan perjumpaan dengan Allah, dan engkau di rumah Allah, dan bersama Allah, maka engkau tidak mencintai-Nya.
Dan oleh karena itu barangsiapa mengaku mencintai Allah kemudian condong hatinya kepada dunia maka ia adalah pembohong. Ya: jika hatimu tidak bergetar dengan cinta-Nya maka engkau pembohong. Masalahnya adalah engkau mencintai-Nya, masalahnya adalah apakah Dia mencintaimu – Ya Allah, cintailah kami ya Tuhanku -, jika Dia mencintaimu engkau mendapat kebahagiaan dan pencapaian.
Ibnu Qayyim berkata: “Maka ia adalah cinta yang memutus waswas, membuat pelayanan menjadi nikmat, dan menghibur dari musibah.”
Maka jika Dia mencintaimu, terputuslah darimu waswas. Banyak pemuda yang komit hari ini diuji dengan waswas. Ya: karena ia tidak mencintai Allah, dan seandainya ia mencintai-Nya niscaya terputuslah darinya waswas. Dan sebab lain adalah: bahwa orang yang terkena waswas selalu bertanya tentang waswas dan mengeluhkannya – sebagaimana kami katakan dalam prinsip sebelumnya. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar menyembuhkan setiap muslim yang diuji.
Saudaraku karena Allah, tidak ada yang terkena waswas kecuali orang yang kosong (tidak sibuk), adapun orang yang hatinya penuh dan otaknya sibuk, maka dengan apa ia terkena waswas?!, karena ia sibuk jauh dari waswas ini. Ia sibuk dengan Allah dan dengan cinta Allah.
Dan ketika Allah mencintaimu, Dia memenuhi hatimu dengan cinta-Nya sehingga engkau tidak sibuk dengan selain-Nya – Ya Allah cintailah kami ya Tuhanku -, maka engkau dapati dirimu sibuk siang dan malam dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada kegelisahan bagimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pencapaian kepada-Nya, dan meraih ridha-Nya, maka engkau beramal untuk melayani-Nya, maka engkau tetap sibuk dengan-Nya Subhanahu saja sepanjang waktu dan sepanjang umur.
Ya: Jika Engkau mencintainya, maka Dia akan menyibukkan hatimu dengan cinta kepada-Nya, anggota tubuhmu dengan mengabdi kepada-Nya, dan akalmu dengan berpikir tentang-Nya, kemudian kamu tidak akan menemukan dalam dirimu sisa untuk selain-Nya. Hal pertama dalam cinta adalah bahwa cinta itu memutus was-was. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu ya Rabb.
Kemudian sesungguhnya cinta itu membuat pengabdian menjadi nikmat. Salah seorang saudara kami pergi untuk berumrah dan dia menghabiskan satu hari untuk melayani para jamaah umrah. Aku memohon kepada Allah agar menerima (amal) dari kami, dari kalian, dan darinya. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami haji dan umrah. Aku berkata kepadanya: Buatlah hatimu – saat engkau melayani saudara-saudaramu – sibuk dengan Allah. Dan rasakan pandangan-Nya kepadamu, agar engkau semakin merasakan kenikmatan dan cinta dalam pengabdian.
Saudaraku fillah, seandainya engkau mendatangkan seorang lelaki yang bekerja untukmu untuk mengecat perpustakaan ini misalnya dan engkau berdiri di belakangnya, maka dia akan terus bekerja dengan hati-hati dan sungguh-sungguh. Maka jadikanlah ini perasaanmu. Muraqabah (merasa diawasi Allah). Engkau berdiri di hadapan kekasihmu dan Dia melihatmu. Kekasihmu yang untuknya engkau bekerja dan beramal, rasakan muraqabah-Nya kepadamu selalu, saat itu engkau akan bekerja dengan cinta dan kenikmatan, bukan hanya karena takut saja, tetapi dengan cinta, karena kekasihmu melihatmu, dan orang yang mencintai suka dilihat oleh kekasihnya selalu saat dia bekerja untuknya.
Aku pernah salat menjadi imam bagi orang-orang lalu aku memanjangkan salat dan aku berkata kepada mereka: Sesungguhnya Sang Pengkritik Maha Melihat (maksudku: bahwa Allah melihat kita). Dan kami pernah melewati seorang tukang cat yang di hadapannya ada set kursi dan dia sedang duduk mengecatnya. Dia memegang kapas dan kuas. Kami berkata: Mengapa kamu tidak selesai-selesai?! Dia berkata: Sesungguhnya pemilik set kursi ini sangat teliti pada setiap hal. Pahamkah?!
Oleh karena itu, jika engkau salat maka ketahuilah bahwa Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajahmu dalam salatmu selama engkau tidak berpaling. Jika engkau berdiri untuk salat maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu dan memperhatikanmu. Oleh karena itu salah seorang salaf jika berwudu warna kulitnya menjadi kuning dan kulitnya bergetar. Mereka bertanya kepadanya: Ada apa denganmu?! Dia berkata: Tahukah kalian di hadapan siapa aku akan berdiri?!!!
Oleh karena itu, di antara prinsip-prinsip penting juga adalah: Menghadirkan ibadah secara mental sebelum memasukinya, adalah jalan untuk ikhlas di dalamnya.
Wahai saudara yang mulia, cinta membuat pengabdian menjadi nikmat. Ya: cinta membuat pengabdian nikmat. Pengabdian menjadi sangat nikmat. Amir Al-Syu’ara (pangeran para penyair) berkata tentang qiyamul lail Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dilakukannya dengan penuh kenikmatan:
Jiwanya yang rida tidak mengeluh bosan… dan tidak ada kebosanan bersama cinta jika engkau ikhlas
Salah seorang salaf menangis saat kematiannya. Dikatakan: Apa yang membuatmu menangis? Dia berkata: “Aku menangis karena aku mati dan belum puas dari qiyamul lail”. Aku menangis karena aku mati dan belum kenyang dari qiyamul lail.
Dan sebagian salaf berkata saat kematiannya: “Ya Allah, jika Engkau menulis bagi seseorang untuk salat di kuburnya maka jadikanlah aku termasuk orang yang salat di kuburnya”. Dia belum kenyang dari salat dan ingin salat lebih banyak lagi. Mereka mengatakan ini, karena mereka mencintai Allah, lalu menghadirkan ibadah secara mental. Mereka beribadah dengan penuh cinta, maka was-was terputus dari mereka dan mereka merasakan kenikmatan dalam pengabdian, dan mereka terhibur dengan cinta itu dari semua musibah dan kesulitan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dan dijadikan penyejuk mataku dalam salat” (Al-Albani berkata: hasan sahih). Inilah kenikmatan yang sejati, dan inilah kenikmatan dalam pengabdian yang sebenarnya. Apakah engkau mencintai Rabbmu sehingga engkau merasakan kenikmatan ini? Apakah engkau merasakan manisnya cinta dan kenikmatannya dan keindahannya setelah engkau berada dalam kejahiliyahan?
Engkau dulu makan dan minum dan berfoya-foya dan berjalan bersama para gadis dan mendengar musik dan masuk bioskop dan pergi ke gedung pertunjukan dan masuk tempat hiburan dan bepergian berlibur ke pantai. Engkau berada dalam kebodohan. Dalam kesesatan. Dalam kejahiliyahan yang buta, lalu Allah menerima tobatmu dan engkau masuk pintu masjid dan mulai mencintai Allah. Engkau mulai mencintai-Nya setelah mencintai para gadis. Mencintai mushaf setelah musik dan lagu-lagu. Engkau mulai salat setelah duduk-duduk di kafe dan (menghisap) shisha. Engkau mulai berjalan di jalan kebaikan setelah engkau berjalan menggoda para gadis. Lalu engkau merasakan perbedaannya. Dan engkau mengetahui kebersihan dan memahami kesucian. Lalu engkau merasakan perbedaannya. Maka jika engkau merasakan itu dan menghayatinya maka engkau tidak bisa diam. Engkau harus menyampaikan perasaanmu ini kepada orang lain. Harus.
Namun sayangnya banyak di antara kita ketika mulai istiqamah dan ingin menyampaikan perasaannya, dia menyampaikannya dengan cara yang tidak pantas sehingga membuat orang-orang jera, dan membuat mereka benci pada agama. Ini haram. Haram. Salah. Sangat salah. Engkau mendapatinya berkata kepada orang-orang: Syaikh fulan mengharamkan ini dan itu. Sehingga mereka membenci syaikh dan agama. Tidak. Bukan masalahnya adalah engkau berbicara tentang orang lain, sesungguhnya masalahnya adalah engkau menyampaikan perasaanmu sendiri. Katakan kepada mereka: Tahukah kalian apa yang aku rasakan, kemudian sampaikan perasaanmu kepada mereka.
Katakan kepada mereka: Saat aku sujud aku merasakan begini, dan saat aku membaca firman Allah aku merasakan begini. Ketika aku berdzikir kepada Allah lalu aku mengucapkan: Subhanallahil Azhim wa bihamdihi (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya), hatiku dipenuhi ketenangan dan ketenteraman. Dan dengan begitu engkau sampai ke hati orang-orang, adapun jika engkau tidak merasakan apa yang engkau katakan maka engkau adalah pembohong dalam keistiqamahanmu dan belum istiqamah hingga sekarang. Oleh karena itu rasakan keindahan dan hayati manisnya iman dan rasa iman. Penuhi hatimu dengan cinta agar engkau merasakan kenikmatan dalam pengabdian, dan terhibur dengan cinta dari masalah-masalah dan kesedihan.
Kemudian sesungguhnya cinta ini tumbuh dari merenungkan nikmat – sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim. Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Cintailah Allah karena apa yang Dia beri makan kepada kalian, cintailah aku dengan mencintai Allah” (Al-Albani melemahkannya). Cintailah Allah karena Dialah yang memberimu makan dan memberimu nafkah.
Ya: Hati-hati diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Seandainya seseorang hari ini memberimu sepuluh Junaih (Pound Mesir), dan besok memberimu sepuluh lagi, dan lusa memberimu seperti itu juga. Begitu seterusnya setiap hari dia memberi, dan setelah sepuluh dia memberi seratus, dan setelahnya seribu, kemudian sejuta. Dan begitu seterusnya setiap hari bertambah, maka tidak diragukan lagi bahwa engkau akan mencintainya dengan sangat. Bagaimana jika yang memberi adalah Allah?! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberimu jutaan berlipat ganda, berapa nilai matamu dan berapa nilai pendengaranmu. Dan berapa nilai dunia jika engkau kehilangan matamu?!!
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberimu dan masih terus memberimu. Udara yang engkau hirup jika satu tarikan napas seharga sepuluh qirsy (seperseratus Pound), berapa yang akan engkau bayar setiap hari?! Seandainya engkau membayar sebagaimana engkau membayar meteran listrik atau tagihan telepon, berapa yang akan engkau bayar untuk udara ini?! Seandainya Allah menghitungmu dan mengambil uang darimu atas memberimu kemampuan berbicara dan mendengar, berapa yang akan engkau bayar?! Dia membuatmu berbicara dan menciptakan kalian dan tidak menginginkan apa pun darimu. “Mereka berkata: ‘Allah yang telah memperkatakan kami yang memperkatakan segala sesuatu telah memperkatakan kami.'” (Fussilat: 21). Ya Allah, sebagaimana Engkau memperkatakan kami dengan kekuasaan-Mu dan keagungan-Mu, karuniakanlah kepada kami cinta-Mu. Dan karuniakanlah kepada kami merenungkan nikmat-nikmat-Mu agar kami mencintai-Mu. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu ya Rabb.
Apa yang akan engkau lakukan – saudaraku fillah – seandainya ada tagihan untuk setiap nikmat dari nikmat-nikmat ini?!! Maka renungkanlah nikmat-nikmat Allah, dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat itu, dan cintailah Dia dengan segenap hatimu, maka tidak diragukan lagi bahwa siapa yang merenungkan nikmat-nikmat Allah kepadanya yang beruntun sehingga dia melihatnya dengan hati dan matanya – tidak diragukan bahwa dia akan meleleh karena cinta kepada Allah. Dia – Subhanahu – memberimu dan tidak mengharapkan apa pun darimu, kebalikan dari makhluk sama sekali, para pedagang semuanya bertransaksi denganmu untuk mendapat untung darimu, adapun Allah: maka Dia – Subhanahu – sendiri yang berdagang denganmu agar engkau mendapat untung dari-Nya. Dia memberimu saat Dia menemukan di hatimu cinta kepada-Nya, maka cintailah Dia karena Dialah Sang Pemberi. Cintailah Dia agar Dia memberimu. Cintailah Dia agar Dia mencintaimu.
Yang menjadi kesaksian: bahwa cinta tumbuh dari merenungkan nikmat. Allah berfirman: “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah” (Al-A’raf: 74). Menyebut nikmat-nikmat menumbuhkan cinta.
Ayahku – semoga Allah merahmatinya dan orang-orang yang mati dari kaum muslimin – jika dia sakit lalu orang-orang bertanya kepadanya: Ada apa denganmu? Dia menjawab: Alhamdulillah, jangan bertanya ada apa denganmu? Karena sebagian orang jika engkau bertanya kepadanya: Ada apa denganmu? Dia berkata: Aku sakit kepala, dan sakit kepala itu datang kepadaku karena tekanan darah tinggi, dan tekanan darah tinggi asalnya adalah sakit di lambung, dan penyebab denyut nadi naik adalah denyut nadi naik adalah kenaikan dalam derajat panas. Dan dia terus menghitung seolah-olah dia mengadu Rabbnya kepada manusia. Ayahku – semoga Allah merahmatinya – maksudnya: agar engkau tidak membuka pintu keluhan kepada orang-orang, tetapi bukakanlah bagi mereka pintu menyebut nikmat-nikmat. Engkau dapati orang-orang jika engkau bertanya kepada mereka: Bagaimana kabarnya? Mereka berkata kepadamu: Anak perempuanku sakit, dan istriku aku tidak tahu apa yang menimpanya. Dan kami tinggal di lantai dasar, dan lantai dasar itu ada lembabnya, kemudian para tetangga ada di hadapan kami sehingga kami tidak bisa membuka jendela, dan anak-anak bermain di jalan menggangu kami. Begitu seterusnya. Keluhan. Keluhan. Sehingga mereka hidup dalam keluhan terus!!
Subhanallah! Apakah engkau mendapati seseorang yang engkau duduk bersamanya lalu dia berkata: Sungguh Allah telah memberiku. Dan memberiku?! Apakah engkau pernah melakukannya? Apakah engkau pernah duduk bersama orang-orang lalu berkata: Demi Allah Yang Maha Agung sesungguhnya Allah telah memuliakanku. Dahulu aku miskin tidak mendapatkan sesuap nasi lalu Dia memberiku, dan menjadikanku kaya. Alhamdulillah Dia menyelamatkanku padahal aku tidak layak. Aku tidak pantas, tetapi Dia – Subhanahu – menganugerahiku istri yang salihah, dan memberiku apartemen, dan menganugerahiku anak-anak, dan kesehatanku alhamdulillah sangat baik. Alhamdulillah alhamdulillah pekerjaanku tenang maka rekan-rekanku mencintaiku. Dan berkat Allah, gajinya cukup. Dan dengan karunia Allah, urusan berjalan dengan baik. Apakah ada yang duduk bersamamu lalu berkata kepadamu ucapan seperti ini?!!
Sesungguhnya engkau hari ini dalam semua majelismu mengeluhkan kepada orang-orang tentang sakit kepala dan masalah dan sakit perut dan istri dan anak-anak dan rumah dan pekerjaan dan kesedihan dan kesusahan. Padahal Allah memerintahkan sebaliknya. Dia berfirman – Ta’ala – “Dan adapun nikmat Rabbmu maka sampaikanlah” (Ad-Dhuha: 11). Mana penyampaianmu tentang nikmat?! Mana cintamu?! Cinta tumbuh dari merenungkan nikmat.
Aku pernah melakukan umrah – dan aku mengatakan ini untuk mengajarimu bagaimana caranya – aku agak sakit dan segala puji dan nikmat bagi Allah – setelah aku tawaf aku mendapati kakiku sakit sehingga aku tidak bisa dan tidak mampu lalu aku menyewa kursi – dan di sana disewakan dengan lima puluh atau lima puluh lima Riyal – untuk sa’i dengannya. Tiba-tiba aku saat berada di atasnya dengan nyaman melihat orang-orang lalu aku mendapati seorang perempuan miskin tidak mampu berjalan bersandar pada pagar Shafa dan Marwah. Lalu aku berkata kepadanya saat aku kembali: Tunggulah sebentar, Kemarilah wahai anakku berikan aku kursi, dan aku berkata kepadanya: Naiklah. Dia berkata: Tidak ada uang padaku. Aku berkata: Aku yang membayar. Dia berkata: Betapa mulianya Engkau ya Rabb. Engkau melihatku dan mengetahui keadaanku dan memberiku kursi. Aku mencintai-Mu ya Rabb.
Berapa nilai kalimat ini – wahai saudariku -?! Dan berapa nilai membuat seseorang mengucapkan cinta kepada Allah?! Demi Allah jutaan dunia tidak sebanding dengannya. Rabb kami memuliakan aku dan memberiku begini dan begini, dan melakukan untukku begini dan begini, dan aku meminta kepada-Nya begini lalu Dia menganugerahiku begini, dan menutupi (aibku) dalam begini, dan menyehatkanku dari begini dan begini. Begitulah berbicara tentang nikmat-nikmat, dan bukan semua pembicaraan kita adalah mengeluh. Inilah yang aku ingin menanamkannya dalam diri kalian, dan aku ingin kalian mengamalkannya. Agar kalian membuat orang-orang mencintai Allah.
Dan jika cinta tumbuh dengan merenungkan nikmat, maka ia tetap dengan mengikuti Sunnah – Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami mengikuti Sunnah ya Rabb, Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu mengikuti Sunnah dan melakukan Sunnah. Kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari bid’ah dan para pelakunya. Cinta tetap dengan mengikuti Sunnah. Jadilah di belakang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka engkau akan sampai. Jadilah satu untuk Yang Esa di atas jalan yang satu maka engkau akan sampai. Jadilah seseorang yang satu bukan dengan dua wajah maka ikhlaskanlah. “Untuk Yang Esa” yaitu: tekunilah tauhid. Di atas jalan yang satu yaitu mengikuti Sunnah, di atas jalan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, engkau akan tetap dan tidak berubah warna dan tidak berubah dan tidak menyimpang atau beralih. Tetaplah di atas jalan Sunni – Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keteguhan di atas agama.
Dan cinta tumbuh dengan mengakui kebutuhan.. Engkau harus menampakkan kefakiran, kelemahan, dan kehinaanmu di hadapan Allah.. Sebagian dari kita – wahai para pemuda – mengira bahwa dirinya “kuat”.. Apa yang tidak terjadi dengan kehendak Allah tidak akan terjadi dengan yang lain, Allah berfirman: “Dan kamu tidak mampu menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (Surah Al-Insan: 30), dan oleh karena itu cinta tumbuh dengan menampakkan kebutuhan, kelemahan, kefakiran, kehinaan, dan kemiskinan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melihat seseorang berdiri di bawah terik matahari dengan kepala terbuka dan bertelanjang kaki, lalu ia bertanya tentang orang itu dan mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya ia bernazar untuk tidak duduk di tempat teduh, maka Syaikhul Islam berkata: “Wahai orang bodoh, ini adalah kesombongan kepada Allah”.. Apakah engkau bersikap sombong kepada Allah?!! Allah telah menyuruhmu: Berpakaianlah, berlindunglah, dan berkendaralah, lalu mengapa engkau bersikap sombong kepada-Nya?!! Jangan bersikap sombong dengan dirimu sendiri kepada Allah, Allah berfirma: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir” (Surah At-Taubah: 60), maka tampakkanlah kefakiranmu agar Allah bersedekah kepadamu.. Tampakkanlah kelemahanmu agar Dia merahimimu.
Ibnu Al-Jauzi berkata: “Perbanyaklah menampakkan kelemahan semampumu, karena kelembutan Allah terhadap yang lemah lebih banyak”.
Semakin engkau menampakkan kelemahanmu, semakin Dia berbelas kasih kepadamu, dan jangan katakan: Aku mampu menghadapi ini dan aku sanggup melakukan itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berharap bertemu musuh, tetapi mohonlah kepada Allah keselamatan” (Muttafaq alaih).. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keselamatan kepada-Mu di dunia dan akhirat.. Maka jangan sekali-kali engkau meyakini bahwa engkau “kuat”.. Sebagian orang berkata: Engkau khawatir kepada kami dari universitas karena ikhtilath (campur baur).. tidak.. Ikhtilath tidak mengkhawatirkanku.. Jika di hadapanku ada seribu wanita telanjang pun tidak akan mengalahkanku sedikitpun.. Aku katakan: Ya Allah bertaubatlah kepadamu.. Banyak orang berkata demikian dan mengerjakannya serta tidak menampakkan kelemahannya, sehingga ia mengandalkan dirinya sendiri, maka ia akan menjadi orang pertama yang patah lehernya oleh apa yang tidak ia takuti atau waspadai.. Ya: ia akan menjadi orang pertama yang jatuh dalam fitnah.
Maka berlarilah kepada Allah dan berkekuranganlah kepada-Nya karena engkau lemah.. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Surah An-Nisa: 28), Allah menciptakanmu lemah agar engkau lari kepada-Nya.. Ibnu Taimiyah berkata dalam tafsirnya: “Lemah di hadapan syahwat kemaluannya”, sesungguhnya ketergantunganmu pada dirimu sendiri dalam menghadapi fitnah lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih berat daripada dosa itu sendiri.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa: Ya Allah jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri sekejap mata pun selamanya” (dihasankan oleh Al-Albani).. Ya Allah jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri sehingga Engkau membinasakan kami.. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri sekejap mata atau kurang dari itu.. Amin.
Saudaraku fillah, kekasihku fillah, wahai orang yang tergila-gila ingin sampai kepada Allah, jika engkau mencintai Tuhanmu maka tanyakan pada dirimu: Apakah Dia mencintaimu?!, karena persoalannya bukan pada engkau mencintai-Nya, tetapi persoalannya adalah apakah Dia mencintaimu.. Dan tandanya jika Dia mencintaimu adalah Dia menyibukkanmu dengan-Nya saja sehingga engkau hidup untuk-Nya dan dengan-Nya.. Jika Dia mencintaimu, Dia menyibukkan hatimu dengan cinta-Nya, dan anggota badanmu dengan mengabdi kepada-Nya, dan akalmu dengan memikirkan-Nya, kemudian engkau tidak menemukan dalam dirimu sisa untuk selain-Nya.. Maka lihatlah di mana kakimu berpijak.. Jika Dia mencintaimu, Dia meletakkan kakimu di tempat-tempat yang Dia ridhai.. Ya: jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu maka lihatlah di mana Dia menempatkanmu?!
Tanda-tanda cinta Allah kepada hamba:
1 – Mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Allah berfirma: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Surah Ali Imran: 31).
2 – Merendahkan diri kepada orang-orang mukmin.
3 – Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.
4 – Berjihad di jalan Allah.
5 – Tidak takut celaan orang yang mencela karena Allah.
Dan Allah mengumpulkan empat hal ini dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” (Surah Al-Maidah: 54).
6 – Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memukul dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku lindungi” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
7 – Diterima di bumi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, maka Jibril mencintainya lalu menyeru di kalangan penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit mencintainya, kemudian diletakkan penerimaan baginya di bumi (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dan dalam riwayat Muslim: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril lalu berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia, maka Jibril mencintainya kemudian menyeru di langit dan berkata: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit mencintainya, kemudian diletakkan penerimaan baginya di bumi. Dan jika Dia membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril lalu berfirman: Sesungguhnya Aku membenci fulan maka bencilah dia, maka Jibril membencinya kemudian menyeru di kalangan penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci fulan maka bencilah dia, maka diletakkan kebencian baginya di bumi” (Diriwayatkan oleh Muslim).
8 – Beribadah kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus seorang laki-laki untuk memimpin pasukan, dan ia biasa membaca untuk sahabat-sahabatnya dalam shalat mereka dan mengakhiri dengan “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa'”, maka ketika mereka kembali mereka menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Tanyakan kepadanya untuk apa ia melakukan itu?”, maka mereka bertanya kepadanya, dan ia berkata: Karena surat itu adalah sifat Ar-Rahman dan aku suka membacanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya” (Muttafaq alaih).
Maka telitilah – saudaraku – dalam dirimu tentang tanda-tanda cinta Allah kepadamu.. Karena persoalannya bukan pada propaganda bahwa engkau mencintai-Nya, tetapi persoalan yang sebenarnya adalah apakah Dia mencintaimu.. Maka ketahuilah bahwa persoalan ini saling berkaitan satu sama lain, karena sesungguhnya engkau tidak akan mencintai-Nya sampai Dia mencintaimu lalu Dia menjadikanmu mencintai-Nya kemudian Dia memberi balasan atas cintamu dengan cinta yang kedua dari-Nya Subhanahu wa Taala.. Maka cintamu terkurung di antara dua cinta dari-Nya Subhanahu wa Taala, cinta sebelumnya dan cinta sesudahnya.. Tetapi ini tergantung kelayakan tempat dan kesesuaian pribadi.. Apakah engkau layak menjadi kekasih Allah?.. Bersegeralah dan Allah Maha Pemurah.
Prinsip Kedua Puluh Enam: Setiap kesenangan di dunia akan mengurangi simpanan kenikmatanmu di akhirat
Aku merasa ngeri ketika membaca hadits shahih Muslim: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah suatu pasukan berperang di jalan Allah lalu mereka mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), kecuali mereka menyegerakan dua pertiga pahala mereka dari akhirat dan tersisa bagi mereka sepertiga, dan jika mereka tidak mendapatkan ghanimah maka sempurna bagi mereka pahala mereka” (Diriwayatkan oleh Muslim).. Dan seakan-akan aku membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku, hadits yang menakutkan.. yang mengerikan..
Kita memahami dari hadits ini bahwa orang-orang yang berperang lalu mendapatkan ghanimah dan selamat, mereka telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka, artinya: mereka menyia-nyiakan dua pertiga pahala di dunia, sehingga tidak tersisa bagi mereka di akhirat kecuali pahala yang sedikit.. Maka apa yang engkau ambil dari dunia, berapa banyak yang engkau sia-siakan sebagai gantinya di akhirat.. Sesungguhnya setiap apa yang engkau ambil dari dunia akan dipotong dari rekeningmu di akhirat.
Engkau mengambil dari dunia harta atau mobil atau.. dipotong dari kenikmatan akhirat.. Dan tidak sama di akhirat antara orang fakir dengan orang kaya, meskipun orang kaya masuk surga.. Mereka tidak akan pernah sama.. Allah berfirman: “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya” (Surah Al-Ahqaf: 20), dan Allah berfirman: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (Surah At-Takatsur: 8).. Maka setiap apa yang engkau dapatkan dari kesenangan dunia adalah dengan pemotongan dari kenikmatanmu di akhirat. Oleh karena itu Tuhan kita Jalla Jalaluhu berfirman: “Makan dan minumlah dengan enak karena (amal saleh) yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Surah Al-Haqqah: 24).. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Artinya dikatakan kepada mereka sebagai anugerah, kebaikan, nikmat dan ihsan kepada mereka, jika tidak maka telah tetap dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Beramallah, luruskan dan dekatkanlah, dan ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan dimasukkan ke dalam surga karena amalnya”, mereka berkata: Tidak juga engkau wahai Rasulullah, beliau bersabda: “Tidak juga aku kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya” (Muttafaq alaih) selesai.
Maka jika amal saleh saja tidak bisa memasukkan ke surga apalagi yang buruk, oleh karena itu kesenangan duniawimu “yang buruk” semakin banyak semakin menyia-nyiakan akhiratmu, dan Allah berfirman: “karena (amal saleh) yang telah kamu kerjakan”, untuk meninggikan semangatmu dalam berjalan kepada-Nya, jika tidak maka pada asalnya adalah Dia Subhanahu yang memberimu taufik.
“Dan warna kenikmatan ini dengan warna penghormatan ini dalam bentuk perhatian kepada penghuninya dengan seruan, dan firman-Nya: “Makan dan minumlah dengan enak karena (amal saleh) yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.. Selain itu ia adalah warna yang dapat dicapai oleh pemahaman orang-orang yang diajak bicara oleh Al-Quran di awal masa hubungan dengan Allah, sebelum perasaan meninggi lalu melihat dalam kedekatan kepada Allah apa yang lebih menakjubkan dari setiap kesenangan.. Selain ini, sesungguhnya ia memenuhi kebutuhan jiwa-jiwa yang banyak sepanjang masa, dan kenikmatan memiliki warna-warna selain ini dan warna-warna lainnya”.
Maka barang siapa yang menikmati kenikmatan dunia, ia akan terhalang dari kenikmatan akhirat. Maka hadapkanlah dirimu kepada Allah dan tinggalkanlah dunia beserta kelezatan dan syahwatnya. Hadapkanlah dirimu kepada yang kekal, karena kenikmatan akhirat lebih baik dan lebih kekal. “Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Surat Ar-Ra’d: 26).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemuliaan, agama, ketinggian derajat, dan kekuasaan di muka bumi. Barang siapa di antara mereka yang mengerjakan amal akhirat untuk (kepentingan) dunia, maka tidak ada baginya bagian di akhirat.” (dishahihkan oleh Al-Albani).
Rabbku berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.'” (Surat Al-Ahqaf: 20).
Sesungguhnya orang-orang yang mencari dunia, mencurahkan diri untuknya, dan berusaha menambahnya, sudah seharusnya kita mengingatkan mereka tentang keadaan Nabi mereka shallallahu alaihi wasallam, dan bagaimana beliau shallallahu alaihi wasallam meninggal dunia dan tidak menemukan sesuatu yang dapat mengenyangkan perutnya dari kurma kering (kurma paling buruk) selama tiga hari. Beliau tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Kenyang hari ini lalu lapar esok hari, kenyang dua hari lalu lapar hari ketiga. Ya, tidak pernah berlalu tiga hari berturut-turut yang beliau kenyang di dalamnya. Kapan terakhir kali kamu merasa lapar? Sesungguhnya kita tidak pernah lapar sehari penuh, namun demikian kita mengeluh dan tidak bersyukur atas nikmat Allah. Ya Allah, janganlah Engkau siksa kami ya Rabb, ya Allah anugerahilah kami syukur atas nikmat-Mu ya Rabb. Dan dari sinilah kita memahami prinsip ini, bahwa teladan kita dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebaik-baik orang yang berjalan menuju Allah. Setiap yang kamu ambil di dunia, maka itu akan dipotong dari rekeningmu di akhirat.
Beberapa sahabat radhiyallahu anhum ajma’in berkata: Kami masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan salah seorang dari kami tidak mendapatkan sesuatu yang dapat mengenyangkan perutnya. Di antara kami ada yang meninggal dan tidak mendapatkan apa pun dari dunia ini, seperti Mush’ab bin Umair. Ia meninggal dan kami tidak menemukan kain kafan untuknya, kecuali sehelai kain. Jika kami tutupi kepalanya, tampaklah kedua kakinya, dan jika kami tutupi kakinya, tampaklah kepalanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tutupilah kepalanya dan letakkanlah padanya sesuatu dari tumbuhan idzkhir.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Mush’ab bin Umair yang menaklukkan Madinah sendirian, dan tidak bersamanya kecuali Abdullah bin Ummi Maktum. Pemimpin penaklukan Madinah meninggal dunia dan mereka tidak menemukan kain kafan untuknya. Berapa banyak pakaian yang kamu miliki?! Berapa jumlah kemeja dan jubah yang kamu punya?! Berapa setelan jas yang kamu miliki?! Berapa banyak dan berapa banyak lagi…
Salman Al-Farisi ketika kematian mendatanginya, ia menangis. Mereka bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?!” Ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada kami suatu pesan, dan aku merasa telah melampauinya.” Mereka bertanya: “Apa pesannya?” Ia berkata: “Beliau berpesan kepada kami agar bekal salah seorang dari kami seperti bekal penunggang kendaraan.” (dishahihkan oleh Al-Albani). Ketika ia meninggal, mereka menghitung warisannya dan menemukan padanya enam belas dirham (64 pon). Lalu di manakah orang-orang yang meninggalkan ribuan dan jutaan?! Di manakah orang-orang yang mewariskan tanah dan lahan-lahan?! Di manakah para pemilik gedung-gedung, toko-toko, dan warung-warung?! Di manakah mereka dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?! Sesungguhnya kenikmatan, kelezatan, dan kegembiraan ini akan dipotong dari rekeningmu di akhirat, maka waspadalah. Waspadalah sebelum kamu pergi ke sana dan tidak menemukan sesuatu yang menyenangkanmu.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang pundakku lalu bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara.” Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi, dan jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Ambillah (manfaat) dari kesehatanmu untuk sakitmu, dan dari hidupmu untuk kematianmu.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara”, artinya: jangan bersandar padanya, jangan menjadikannya sebagai tempat tinggal, jangan berbicara kepada dirimu sendiri tentang kekal di dalamnya, dan jangan terikat dengannya kecuali sebagaimana terikatnya orang asing di negeri bukan tanah airnya yang ia ingin pergi darinya menuju keluarganya.
Inilah makna perkataan Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu: Kekasihku shallallahu alaihi wasallam memerintahkanku agar tidak mengambil dari dunia kecuali seperti bekal penunggang kendaraan.
“Engkau mengharap kekal di negeri yang tidak ada kekalnya… Pernahkah engkau mendengar bayangan yang tidak berpindah?”
“Dan dari hidupmu untuk kematianmu”: perintah untuk menyiapkan bekal, dan ini seperti firman Allah Ta’ala: “Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Surat Al-Hasyr: 18). Dan janganlah ia menyia-nyiakannya hingga kematian menjemputnya lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan…” (Surat Al-Mu’minun: 99-100).
Al-Ghazali rahimahullah Ta’ala berkata: “Wahai anak Adam, badanmu bersamamu bagaikan jaring yang dengannya engkau memperoleh amal-amal saleh. Jika ia memperoleh kebaikan kemudian meninggal, itu cukup baginya, dan ia tidak akan berkumpul setelah itu dengan jaring, yaitu badan yang ditinggalkannya dengan kematian.
Tidak diragukan bahwa manusia jika meninggal, terputuslah syahwatnya dari dunia, dan jiwanya menginginkan amal saleh karena itu adalah bekal kubur. Jika bersamanya ada bekal, ia akan merasa cukup dengannya, dan jika tidak ada bersamanya, ia meminta untuk dikembalikan ke dunia agar mengambil bekal darinya, dan itu jika jaring telah diambil darinya.
Lalu dikatakan kepadanya: Jauh sekali, sungguh telah berlalu. Maka ia akan tetap bingung selamanya, menyesal atas kelalaiannya dalam mengambil bekal sebelum jaring dicabut. Karena itu beliau bersabda:
“Dan ambillah dari hidupmu untuk kematianmu”, maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Selesai.
Saudaraku di jalan Allah, tambahkanlah saldo rekeningmu di akhirat, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Kamu akan berkata: Apa yang harus aku lakukan?! Allah telah memberiku harta, apakah aku harus membuangnya di jalan?!! Aku katakan kepadamu: Sedekahkanlah kepada orang-orang fakir, kamu akan mendapatkannya di sana.
“Anak Adam berkata: hartaku hartaku. Dikatakan kepadanya: Tidak ada bagimu wahai anak Adam dari hartamu kecuali yang kamu makan lalu habis, atau yang kamu pakai lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kekal.” Maka harta adalah harta Allah yang diberikan kepadamu, kembalikanlah kepadaNya dan jangan katakan: hartaku. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa untuk memfakirkanmu dan mengambil harta ini, maka kamu akan berjalan dalam keadaan fakir dan membutuhkan. Tidakkah kamu bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan hartaNya kepadamu, dan di atas itu Dia memberimu pahala dan meninggikan derajatmu ketika kamu mengembalikannya kepadaNya dan menafkahkannya di jalanNya. Tidakkah kamu malu kepada Rabbmu?! Jika kamu memiliki harta, maka sedekahkanlah.
Karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, aku tidak suka memiliki emas sebesar Gunung Uhud, lalu bermalam tiga malam ada sisanya, maka aku lakukan seperti ini dan seperti ini dan seperti ini dan seperti ini.” (muttafaq alaih). Artinya: ia membagikan harta ini dan menyebarkannya kepada orang-orang fakir dengan cepat.
Imam An-Nawawi rahimahullah Ta’ala berkata dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu, dan berzuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu” (dishahihkan oleh Al-Albani):
“Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak dibutuhkan dari dunia meskipun halal, dan membatasi diri pada yang mencukupi.” Dan wara’: meninggalkan perkara yang syubhat. Mereka berkata: Orang yang paling berakal adalah orang-orang zahid, karena mereka mencintai apa yang Allah cintai, dan membenci apa yang Allah benci dari seluruh dunia, dan mereka menggunakan kenyamanan untuk diri mereka sendiri. Asy-Syafi’i rahimahullah dalam mencela dunia:
“Barang siapa merasakan dunia, maka sesungguhnya aku telah merasakannya… Manisnya dan pedihnya telah mendahului kita Aku tidak melihatnya kecuali tipu daya dan kebatilan… Seperti fatamorgana yang terlihat di padang pasir Dan ia tidak lain kecuali bangkai yang berubah… Di atasnya anjing-anjing yang kegemaran mereka menarik-nariknya Jika kamu menjauhinya, kamu akan aman dari penduduknya… Dan jika kamu menariknya, anjing-anjingnya akan merebutmu Maka tinggalkanlah hal-hal yang berlebihan… Karena haram bagi jiwa orang bertakwa mengerjakannya”
Perkataannya: “Haram bagi jiwa orang bertakwa mengerjakannya” menunjukkan haramnya bergembira dengan dunia, dan Al-Baghawi telah menyatakan secara tegas tentang hal itu dalam tafsir firman Allah Ta’ala: “Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia” (Surat Ar-Ra’d: 26). Kemudian yang dimaksud dengan dunia yang tercela adalah: mencari yang lebih dari kecukupan, adapun mencari kecukupan maka wajib.
Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Mencari yang berlebih dari yang halal adalah hukuman yang Allah ujikan kepada ahli tauhid.”
Dan Allah memuji orang-orang yang sederhana dalam hidup, maka Dia berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir.” (Surat Al-Furqan: 67). Dan dahulu dikatakan: Sederhana dalam penghidupan akan mencukupimu separuh dari beban. Dan kesederhanaan adalah: ridha dengan kecukupan.
Salah seorang (semoga Allah melapangkan kesusahannya dan melunasi utangnya) berkata kepadaku: Aku membayar kepada bank enam puluh ribu pon riba setiap bulan. Aku katakan kepadanya: Seandainya enam puluh ribu pon itu kamu sedekahkan kepada orang-orang fakir setiap bulan, betapa kayanya kamu di akhirat?! Ia ingin melunasi setelah terjebak dan hidup dalam keresahan dan kesedihan siang dan malam. Ya Allah, terimalah tobat setiap orang yang durhaka dan berurusan dengan riba. Ya, riba adalah perang terhadap Allah. Orang ini berkata: Karena itu jika aku bertemu seseorang di dunia aku katakan kepadanya: “Jalan bank adalah jalan kehancuran.” Semoga Allah menjauhkan riba dari kaum muslimin. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari riba, zina, nyanyian, dan wabah.
Seandainya harta yang ditimbun ini dibelanjakan untuk keridhaan Allah, niscaya orang-orang akan merasa tenang, bahagia, tenteram, dan Allah ridha kepada mereka. Banyak orang yang terus bertanya: Aku telah menjauhi bank dan tidak menempatkan hartaku di sana, lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menggunakannya dalam proyek?! Tapi aku takut rugi! Aku katakan: Sedekahkanlah kepada orang-orang fakir, itu akan bermanfaat bagimu di sisi Allah, dan itulah pemanfaatan yang sebenarnya. Mensedekahkannya.
Ya, kamu memiliki kelebihan harta yang ingin kamu tempatkan di bank atau kamu jadikan proyek. Tidak. Tapi sedekahkanlah kepada orang-orang fakir. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, ada orang-orang fakir yang tidak menemukan apa yang bisa mereka makan. Demi Allah, ada orang-orang fakir yang tidak menemukan “roti kering”. Ada orang-orang fakir yang tidak melihat daging berbulan-bulan, dan jika kamu mendatangi mereka dengan ayam dari “koperasi”, mereka akan terbang karena senang. Wahai orang yang tidak mau makan kecuali daging dengan daging. Kamu ingin menyimpan dan menimbun harta, sedangkan saudaramu di antara mereka ada yang tidak menemukan sesuatu untuk menahan laparnya.
Berilah makan orang-orang fakir dan nafkahkanlah hartamu kepada mereka dengan dermawan. Berilah mereka makan dan belas kasihlah kepada mereka, karena harta adalah harta Allah dan Dialah yang telah menjadikanmu kaya. “Wahai manusia, kamu yang memerlukan Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya…” (Surat Fathir: 15). Ya Allah, berilah makan orang-orang fakir muslimin. Ya Allah, kayakanlah orang-orang fakir muslimin dengan karunia dan kemurahanMu, wahai Arhamurrahimin. Ya Allah, lapangkanlah rezeki kaum muslimin dan berkahilah bagi mereka ya Rabb semesta alam.
Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi, sahabat yang mulia, yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Barang siapa yang senang melihat seorang lelaki berjalan di muka bumi yang telah menunaikan janjinya, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.” (dihasankan oleh Al-Albani).
Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basha rahimahullah Ta’ala berkata tentangnya setelah menyebutkan kisah wafatnya: “Inilah kisah mengapa Thalhah bin Ubaidillah dijuluki ‘Asy-Syahidul Hayy’ (Syahid yang Hidup). Adapun gelarnya sebagai Thalhah Al-Khair dan Thalhah Al-Jud (Thalhah yang Dermawan), maka untuk itu ada seratus kisah lebih…
Diantaranya adalah bahwa Thalhah adalah seorang pedagang yang usahanya luas dan sangat kaya raya. Suatu hari datang kepadanya harta dari “Hadramaut” sebesar tujuh ratus ribu dirham, maka ia bermalam sepanjang malam dalam kegelisahan dan kesedihan.
Lalu masuklah istrinya Ummu Kultsum binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan berkata: “Ada apa denganmu wahai Abu Muhammad?!! Jangan-jangan ada sesuatu dari kami yang mengganggumu!!” Ia berkata: “Tidak, dan kamu adalah sebaik-baik istri bagi seorang muslim. Tetapi aku berpikir sejak semalam dan berkata: Bagaimana sangkaan seseorang terhadap Tuhannya jika ia tidur sementara harta sebanyak ini ada di rumahnya?!” Ia berkata: “Apa yang membuatmu khawatir karenanya?! Di mana kamu dari orang-orang yang membutuhkan dari kaummu dan teman-temanmu?! Jika sudah pagi, bagikanlah kepada mereka.” Ia berkata: “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kamu adalah wanita yang diberi taufik, putri dari orang yang diberi taufik.” Maka ketika pagi tiba, ia menempatkan harta itu dalam kantong-kantong dan wadah-wadah, dan membagikannya di antara kaum fakir dari Muhajirin dan Anshar.
Dan diriwayatkan juga bahwa seorang laki-laki datang kepada Thalhah bin Ubaidillah meminta bantuannya, dan menyebutkan kepadanya hubungan kekerabatan yang menghubungkannya dengannya. Maka Thalhah berkata: “Ini adalah hubungan kekerabatan yang tidak pernah disebutkan kepadaku oleh siapapun sebelumnya, dan aku memiliki sebidang tanah yang Utsman bin Affan telah menawariku tiga ratus ribu untuknya. Jika kamu mau ambillah tanah itu, dan jika kamu mau aku jualkan untukmu kepadanya dengan harga tiga ratus ribu dan aku berikan harganya kepadamu.” Laki-laki itu berkata: “Aku lebih suka mengambil harganya.” Maka ia memberikannya kepadanya. Selamat untuk Thalhah Al-Khair wal Juud (Thalhah yang Baik dan Dermawan) atas gelar ini yang diberikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya, dan semoga Allah meridhainya dan menerangi kuburnya.
Saudaraku muslim, kamu memiliki kelebihan – dan pembicaraan ini bukan hanya untuk orang kaya saja – maka bersedekahlah dengannya. Bangunlah masjid atau klinik untuk mengobati orang-orang fakir secara gratis. Buatlah proyek untuk membiayai keluarga-keluarga yatim. Bantulah dalam pernikahan pemuda yang membutuhkan dan menjaga diri. Bantulah pelajar ilmu syariat agar dapat melayani umat. Infakkanlah hartamu dalam proyek-proyek akhirat yang akan menjadi simpanan bagimu di sisi Allah, dan jika kamu tidak melakukannya maka itu akan menjadi pengurang dari perhitunganmu di akhirat.
Prinsip Kedua Puluh Tujuh: Seseorang Bersama Orang yang Dicintainya, Maka Pilihlah Kekasihmu dari Sini
Seseorang berkata kepadaku: “Aku mencintai artis si anu.” Aku berkata kepadanya: “Apakah kamu ingin dikumpulkan bersamanya di akhirat?! Apakah kamu ingin bersama dengannya ataukah bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam?! Kamu ingin bersama siapa?” Seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Bagaimana dengan seseorang yang mencintai suatu kaum tetapi belum bergabung dengan mereka?” Beliau bersabda: “Seseorang bersama orang yang dicintainya.” (Muttafaq alaih)
Apakah kamu ingin bersama orang-orang rusak dan ahli sia-sia dan kesia-siaan?!
Karena itu ketika Anas bin Malik mendengar hadits ini, ia berkata: “Kami tidak pernah bergembira dengan sesuatu setelah Islam sebagaimana kami bergembira dengan hadits ini ‘Seseorang bersama orang yang dicintainya’, karena aku mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap dapat bersama mereka di surga.”
Oleh karena itu, salah satu pesanku melalui telepon kepada orang-orang yang kucintai karena Allah adalah: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku meskipun bermaksiat kepada-Mu, namun aku mencintai orang yang taat kepada-Mu, maka jadikanlah itu sebagai cara untuk mendekatkan diriku kepada-Mu. Amin.” Inilah pesan-pesan yang bermanfaat, bukan yang mereka tulis hari ini berupa omong kosong yang tidak bermanfaat. Tulislah sesuatu yang bermanfaat. Telepon adalah nikmat, jangan gunakan untuk kemaksiatan. Mengapa kamu menggunakannya untuk kelalaian dan keghaflah?!
Gunakanlah untuk ketaatan kepada Allah dan menyebarkan cinta karena Allah. Tulislah: “Hari ini ada kajian di tempat si anu.” Kirimkan kepada semua orang. Semua yang tersimpan di telepon kirimkan kepadanya. Jika ia datang maka itu kebaikan besar, dan jika tidak datang maka tetap menjadi timbangan kebaikanmu. Tulislah ayat yang kamu baca yang bermanfaat bagimu, tulislah dan kirimkan. Hadits yang kamu dengar tulislah dan kirimkan. Ajaklah kepada Allah dengan cinta semoga Allah memberi manfaat melaluimu, dan jika kamu tidak melakukannya.
Jika kamu melakukan ini dan hidup dengan ini, maka kamu mencintai kebaikan dan mencintai ahlinya, dan kamu akan dikumpulkan bersama mereka dengan izin Allah Taala.
Dan orang yang mencintai penari si anu dan seniman si anu dan aktor si anu maka ia akan bersama mereka. Orang yang kamu cintai, kamu akan bersamanya. Kamu mencintai pemain si anu, drama si anu, lagu si anu, kalian akan bersama pada hari kiamat di tempat berkumpul, dan setelah itu neraka jahannam, kami berlindung kepada Allah.
Tetapi jika kamu mencintai Allah dan mencintai orang yang mencintai Allah, maka kamu akan menjadi tetanggaNya di surga Firdaus yang tertinggi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian meminta surga kepada Allah maka mintalah Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi dan tengah surga, dan darinya mengalir sungai-sungai surga, dan atapnya adalah Arasy Ar-Rahman.” (Diriwayatkan Bukhari). Jika kamu mencintai Allah maka kamu menjadi tetanggaNya, dan jika kamu mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam maka kamu bersamanya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar, Ali, Utsman, Abu Darda, Anas, Abu Dzar dan Muadz radhiyallahu anhum, mereka inilah bintang-bintang yang sesungguhnya. Jika kamu mencintai mereka maka kamu akan bersama mereka di akhirat. Ya, mereka inilah yang layak dicintai. Siapa yang kamu cintai?! Sesungguhnya masalah cinta di zaman ini adalah masalah yang sangat aneh, karena orang-orang hari ini mencintai hal-hal yang aneh dan topik-topik yang mengherankan. Aku membaca di salah satu media cetak: bahwa dua orang laki-laki telah mengajukan gugatan terhadap satu sama lain karena kata-kata kotor. Aneh!! Aneh melihat orang-orang di jalan suka mengucapkan kata-kata seperti ini.
Dahulu orang-orang mencari kata-kata yang di dalamnya terdapat adab dan selera baik, kata-kata aristokrat. Mereka meniru orang Prancis dalam melembutkan kata-kata dan mengucapkan huruf Ra dengan Ghain. Meskipun kami tidak setuju dengan mereka, karena bahasa kami berwibawa, terhormat dan di dalamnya terdapat semua keindahan dan adab. Tetapi yang menjadi saksi adalah bahwa orang-orang dahulu mencari kata-kata yang disukai dan indah. Adapun hari ini orang-orang mencari kata-kata pasar, kata-kata kasar. Mereka mencari kata-kata orang jalanan yang tersesat di jalan-jalan. Dan sayangnya kita mendapati diri kita berlomba-lomba dan berbangga dengannya. Umat di dasar!
Sesungguhnya kita membutuhkan untuk mencari setiap kata yang indah, nyaman, lembut, dan setiap isyarat yang sopan dan setiap gerakan yang beradab untuk kita berinteraksi dengan orang-orang, agar kita mendapat cinta mereka dan membuat mereka mencintai Allah, agar kita bersama mereka dan mereka bersama kita di jalan cinta karena Allah.
Dan lihatlah kelembutan dan adab dalam interaksi di antara para sahabat radhiyallahu taala anhum ajmain:
Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya: “Umar memberhentikan Khalid, tetapi Abu Ubaidah tidak memberitahunya sampai ia mengetahuinya dari orang lain. Maka ia berkata: ‘Semoga Allah merahmatimu, apa yang membuatmu tidak memberitahuku?’ Ia berkata: ‘Aku tidak suka mengejutkanmu.'” Cinta karena Allah.
Ash-Shauri berkata: Tanda cinta karena Allah adalah mengawasi yang dicintai dan berusaha mencari keridhaan-Nya.
Ketika Abu Bakar membeli Bilal sementara ia tertimbun dalam batu dengan lima awaqiyah emas, mereka berkata: “Seandainya kamu menolak kecuali satu awaqiyah pasti kami menjualnya kepadamu.” Maka ia berkata: “Seandainya kalian menolak kecuali seratus awaqiyah pasti aku mengambilnya.” Cinta karena Allah.
Fadhil bin Ghazwan berkata: Aku mendatangi Abu Ishaq setelah matanya buta. Aku berkata: “Apakah kamu mengenalku?” Ia berkata: “Fadhil?” Aku berkata: “Ya.” Ia berkata: “Demi Allah aku mencintaimu, seandainya bukan karena malu kepadamu pasti aku menciummu.” Lalu ia memelukku ke dadanya kemudian berkata: “Abu Al-Ahwash menceritakan kepadaku dari Abdullah:
“Seandainya kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al-Anfal: 63) Turun tentang orang-orang yang saling mencintai.
Dan adalah Abu Al-Aliyah jika teman-temannya masuk kepadanya ia menyambut mereka dan membaca: “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah: ‘Salamun alaikum (semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu).'” (Al-Anam: 54)
Dan adalah Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya aku keluar dan tidak ada keperluanku kecuali agar aku memberi salam kepada orang-orang dan mereka memberi salam kepadaku.” Cinta karena Allah. Ia mencintai kaum muslimin dan mencintai melihat mereka.
Al-Auza’i berkata: Qatadah menulis kepadaku dari Bashrah: “Jika rumah memisahkan antara kami dan kamu, maka sesungguhnya persaudaraan Islam mengumpulkan di antara ahlinya.”
Cinta karena Allah dan benci karena Allah, loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah. Cinta karena Allah adalah mencintai Allah Taala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan mencintai karena cinta kepada keduanya orang-orang mukmin. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah: 55)
Dan benci karena Allah adalah membenci kekufuran dan orang-orang kafir, kesyirikan dan orang-orang musyrik, kefasikan dan orang-orang fasik, meskipun mereka adalah orang-orang terdekat kepadamu. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.'” (Al-Mumtahanah: 4)
Dan Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah, orang kepercayaan umat ini, merealisasikan prinsip besar ini pada hari Badar, prinsip loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah. Prinsip ini yang para ulama katakan tentangnya: Al-Wala wal Bara adalah ukuran praktis dan hakiki bagi tauhid yang murni.
“Abu Ubaidah hidup dalam pengalaman keras kaum muslimin di Makkah sejak awal hingga akhir, dan menderita bersama kaum muslimin terdahulu dari kekerasannya dan kegalannya, penderitaan dan kesedihannya yang tidak dialami pengikut agama manapun di muka bumi ini. Ia teguh menghadapi ujian, dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam setiap keadaan.
Tetapi cobaan Abu Ubaidah pada hari Badar dalam kekerasannya melampaui perhitungan yang menghitung dan melampaui khayalan yang membayangkan.
Abu Ubaidah berangkat pada hari Badar menyerang di antara barisan-barisan dengan serangan orang yang tidak takut mati, maka orang-orang musyrik takut kepadanya. Ia berkeliling dengan keliling orang yang tidak menghindari kematian, maka para kesatria Quraisy menghindarinya, dan mereka menjauh darinya setiap kali menghadapinya.
Tetapi satu orang di antara mereka terus muncul menghadapi Abu Ubaidah di setiap arah. Maka Abu Ubaidah menghindar dari jalannya dan menghindari bertemu dengannya.
Laki-laki itu gigih dalam menyerang dan Abu Ubaidah semakin menghindar. Laki-laki itu menutup jalan bagi Abu Ubaidah dan menghalangi antara dirinya dan memerangi musuh-musuh Allah. Ketika ia merasa terdesak, ia memukul kepalanya dengan pedang satu pukulan yang membelah kepalanya menjadi dua bagian. Maka laki-laki itu terjatuh terbunuh di hadapannya.
Jangan coba – wahai pembaca yang mulia – menebak siapa laki-laki yang terbunuh itu. Bukankah aku katakan kepadamu: Sesungguhnya kekerasan cobaan melampaui perhitungan yang menghitung dan melampaui khayalan yang membayangkan? Dan kepala kamu mungkin akan hancur jika kamu tahu bahwa laki-laki yang terbunuh itu adalah Abdullah bin Al-Jarrah, ayah Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, tetapi ia membunuh kesyirikan dalam diri ayahnya.
Maka Allah Subhanahu menurunkan dalam urusan Abu Ubaidah dan urusan ayahnya Al-Quran. Maka Allah berfirman, firman-Nya yang tinggi:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)*
Hal itu tidaklah mengherankan dari Abu Ubaidah, karena sungguh telah sampai tingkat keimanannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama-Nya, serta amanah atas umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada derajat yang dicita-citakan oleh jiwa-jiwa yang agung di sisi Allah.
Maka pilihlah—wahai saudaraku—orang-orang yang kalian senang bersama mereka di hari kiamat dan mereka senang bersama kalian, dan jauhilah jalan orang-orang yang menghalangi dari jalan Allah, yang senang apabila tersebar perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman. Berlepas dirilah dari orang-orang fasik lagi jahat agar Allah tidak mengumpulkan kalian bersama mereka. Tinggalkanlah pergaulan dengan mereka, tinggalkanlah penyerupaan terhadap mereka dalam perayaan, peringatan, pakaian, penampilan, dan penggunaan kata-kata mereka yang dibenci Allah.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu pelindung-pelindung selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113). Dalam ayat ini terdapat dalil tentang kewajiban menjauhi ahli kekufuran dan kemaksiatan, serta ahli bid’ah dan hawa nafsu, karena persahabatan dengan mereka adalah kekufuran atau kemaksiatan, sebab persahabatan tidak terjadi kecuali karena adanya kecintaan.
Wahai saudaraku, jalan menuju Allah pasti memerlukan penjarakan diri dari orang-orang yang melemahkan dan membuat malas, yang condong kepada cinta dunia dan menikmatinya. Maka cintailah orang-orang beriman yang taat lagi suci, mereka akan membantu kalian mencapai tujuan dan meringankan kesulitan perjalanan.
Saudaraku di jalan Allah, kekasihku karena Allah, cintailah karena Allah dan bencilah karena Allah. Dengan prinsip inilah pilihlah kekasihmu, dan ketahuilah bahwa musafir menuju Allah pasti membutuhkan teman seperjalanan yang saleh dan sahabat yang baik. Ia membutuhkan hidup dalam masyarakat yang dipenuhi kecintaan dan persaudaraan.
Saudaraku di jalan Allah, seseorang bersama orang yang dicintainya. Siapa yang engkau cintai dan mengapa?
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, cinta setiap hamba saleh yang mencintai-Mu, dan cinta setiap amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kami cintai daripada diri kami, keluarga kami, dan air sejuk saat dahaga. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang Engkau cintai sehingga Engkau ridha kepada mereka. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mengumpulkan kami dalam cinta-Mu di dunia, kumpulkanlah kami di surga-Mu, surga kenikmatan, di atas dipan-dipan berhadap-hadapan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari melihat orang-orang saleh, dan janganlah—ya Allah—Engkau halangi kami dari memandang wajah-Mu yang mulia.
Amin, amin, amin.
Menemanimu—wahai kekasih—seperempat perjalanan. Begitulah seharusnya bantuan yang sesungguhnya, karena seseorang yang terhenti di sebagian jalan atau menanyakan jalan, maka pembimbing tidak harus berjalan bersamanya sepanjang jalan. Demikian pula orang yang memberikan bantuan kepada kita tidak menyelesaikan semuanya.
Perjalanan ini dua puluh tujuh dari seratus yang akan dilengkapi—insya Allah dan atas takdir-Nya. Tetapi aku mengujimu: apakah engkau cocok untuk jalan ini atau tidak?! Jangan menunggu, berjalanlah dan berangkatlah. Bantuan akan datang dari Sang Raja. Jangan sampai engkau terlambat atau menoleh ke belakang. Setelah engkau berjalan bersamaku di awal jalan, jangan sampai engkau terputus.
Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu mengingatkanmu dan memperingatkanmu dengan berkata:
“Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau telah melewati perjalanan yang panjang, dan tinggal sedikit lagi. Ingatlah—wahai saudaraku—tempat berangkat dan tempat kembali, karena sungguh telah diwahyukan kepada nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Al-Quran bahwa engkau termasuk ahli yang akan datang (ke neraka), tetapi tidak dikabarkan bahwa engkau termasuk ahli yang keluar darinya. Janganlah dunia menipumu, karena dunia adalah rumah bagi orang yang tidak memiliki rumah, dan harta bagi orang yang tidak memiliki harta. Wahai saudaraku, sesungguhnya ajalmu telah dekat, maka jadilah wasiat bagi dirimu sendiri, dan janganlah engkau menjadikan orang lain sebagai wasimu.”
Dan yang lebih berbahaya dari itu: ancaman Ibnu Qayyim yang mengatakan:
“Barangsiapa telah merasakan sesuatu dari itu dan mengenal jalan yang menghantarkan kepada Allah kemudian meninggalkannya dan menghadap kepada keinginannya, kenyamanannya, syahwatnya, dan kenikmatan-kenikmatan dunianya, maka ia akan jatuh dalam akibat-akibat yang membahayakan, hatinya dipenjara dalam penjara-penjara kesempitan, dan tersiksa dalam hidupnya dengan siksaan yang tidak dialami oleh seorang pun dari seluruh alam. Hidupnya adalah kelemahan, kesedihan, dan duka. Kematiannya adalah kekeruhan dan penyesalan. Kembaliannya adalah kekecewaan dan penyesalan. Sungguh ia telah menyia-nyiakan urusannya dan mencerai-beraikan persatuannya, serta mendatangkan kepada dirinya kesedihan dan kedukaan. Ia tidak mendapat kenikmatan orang-orang yang jahil dan tidak pula ketenangan orang-orang yang arif. Ia meminta tolong tetapi tidak ditolong, ia mengadu tetapi tidak didengar aduannya. Kegembiraan dan kegembiraannya telah pergi berlalu, dan datanglah kesakitan, kesedihan, dan penyesalannya. Ia telah menukar ketenangan dengan kegelisahan, kemuliaan dengan kehinaan, kekayaan dengan kemiskinan, dan persatuan dengan perpecahan. Mereka menjauhkannya sehingga ia tidak memperoleh kedekatan mereka, mereka menggantinya dari ketenangan menjadi pengasingan. Itu karena ia mengenal jalannya kepada Allah kemudian meninggalkannya dengan berpaling darinya sambil jatuh tertelungkup. Ia telah melihat kemudian buta, mengenal kemudian mengingkari, menghadap kemudian berpaling, dipanggil tetapi tidak menjawab, dibukakan pintu untuknya tetapi ia memalingkan punggungnya dari pintu itu. Ia telah meninggalkan jalan Tuhannya dan menghadap sepenuhnya kepada hawa nafsunya. Seandainya ia meraih sebagian kesenangannya dan menikmati kenyamanan dan urusannya, maka hatinya tetap terbelenggu dari bergerak bebas dalam keluasan tauhid, padang-padang ketenangan, taman-taman kecintaan, dan hidangan-hidangan kedekatan.
Ia telah jatuh karena berpaling dari Tuhannya yang Haq ke tingkat yang paling rendah, dan masuk dalam barisan orang-orang yang binasa. Api hijab setiap saat membakar hatinya, dan keberpalingan alam semesta darinya—ketika ia berpaling dari Tuhannya—menghalangi antara dirinya dan keinginannya. Ia adalah kubur yang berjalan di atas muka bumi, rohnya dalam kegelisahan dari tubuhnya, dan hatinya dalam kejenuhan dari hidupnya. Ia berangan-angan mati dan mendambakannya meskipun di dalamnya ada apa yang ada. Hingga ketika kematian datang kepadanya dalam keadaan seperti itu—dan kita berlindung kepada Allah—maka janganlah engkau bertanya tentang apa yang menimpanya dari azab yang pedih, karena terjadi hijab antara dirinya dan Tuhannya yang Haq, dan pembakarannya dengan api kejauhan dari kedekatan-Nya dan berpaling dari-Nya, sementara ia terhalang dari kebahagiaan dan angan-angannya. Seandainya hamba yang malang ini membayangkan keadaan ini dan jiwanya memperlihatkan kepadanya sesuai kenyataannya, niscaya—demi Allah—hatinya akan terpotong-potong, ia tidak akan menikmati makanan dan minuman, dan akan keluar ke tanah lapang meraung-raung kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta maaf kepada-Nya di waktu meminta maaf masih bisa diterima. Ini padahal jika ia lebih mengutamakan syahwat dan kenikmatan-kenikmatannya yang fana yang seperti bayangan hantu atau awan musim panas, maka kenikmatan itu akan merusaknya saat ia sangat membutuhkannya, dan terhalang antara dirinya dengan kenikmatan itu saat ia paling mampu mendapatkannya. Itulah sunnatullah terhadap makhluk-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (Yunus: 24)
Inilah akibat berpalingnya dan mengutamakan syahwatnya daripada keridhaan Tuhannya. Takdir menghalangi sebab-sebab keinginannya sehingga ia rugi dalam dua perkara sekaligus. Ia tersiksa di dunia dengan merusaknya syahwat-syahwatnya dan kesungguhan perhatiannya dalam mencari apa yang tidak ditakdirkan untuknya. Dan jika ditakdirkan untuknya sesuatu darinya, maka isinya adalah ketakutan, kesedihan, kegelisahan, dan kesakitan. Kekhawatiran yang tidak terputus, penyesalan yang tidak berakhir, ketamakan yang tidak habis, kehinaan yang tidak berujung, dan ketamakan yang tidak berhenti. Ini di dunia ini.
Adapun di alam barzakh maka berlipat ganda dari itu: terhalang antara dirinya dan apa yang didambakannya, luput darinya apa yang dicita-citakannya berupa kedekatan Tuhannya, kemuliaan-Nya, dan meraih pahala-Nya, serta dikumpulkan seluruh kesedihan dan kedukaannya.
Adapun di negeri pembalasan: maka penjara bagi orang-orang sejenisnya dari yang dijauhkan dan diusir. Aduh wahai tolong aku, kemudian aduh wahai tolong aku dengan penolong orang-orang yang meminta tolong dan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Barangsiapa berpaling dari Allah sepenuhnya, maka Allah berpaling darinya sepenuhnya. Barangsiapa Allah berpaling darinya, maka kesengsaraan, kepapaan, dan kerugian akan melekat padanya dalam keadaan dan amal-amalnya. Buruknya keadaan akan menyertainya, dan kerusakan dalam agama dan akibatnya. Karena ketika Tuhan berpaling dari suatu arah, maka sial akan berputar di dalamnya, kawasannya gelap gulita, cahaya-cahayanya terhalang, kegelisahan keberpalingan tampak padanya, dan menjadi tempat tinggal setan-setan, sasaran kejahatan-kejahatan, dan tempat turunnya bencana. Orang yang terhalang segala halangan adalah orang yang mengenal jalan kepada-Nya kemudian berpaling darinya, atau menemukan secercah cinta-Nya kemudian dirampas darinya sehingga tidak sampai kepada Tuhannya, terlebih jika ia condong dengan keinginan itu kepada sesuatu dari kenikmatan-kenikmatan, dan berpaling sepenuhnya untuk mendapatkan tujuan-tujuan dan syahwat-syahwat, mengabdi kepada hal itu pada malam dan siangnya, pagi dan petangnya, turun dari puncak tertinggi ke titik terendah. Sungguh telah berlalu masa-masa dari waktunya di mana perhatiannya adalah Allah, tujuannya adalah kedekatan dan keridhaan-Nya, mengutamakan-Nya daripada selain-Nya. Dengan itu ia pagi dan petang, siang dan sore. Pada keadaan itu Allah adalah penolong dan pelindungnya, karena Dia adalah pelindung orang yang menjadikan-Nya pelindung, dan kekasih orang yang mencintai dan menjadikan-Nya wali. Kemudian ia menjadi terkurung dalam penjara hawa nafsu, dalam tawanan musuh, jatuh dalam sumur kemaksiatan, mengembara dalam lembah-lembah kebingungan dan perpecahan, berpaling dari tujuan-tujuan tinggi kepada maksud-maksud hina lagi fana. Hatinya dahulu mengelilingi Arsy, kini terkurung di tempat paling bawah:
Ia menjadi seperti elang yang dicabuti bulunya Melihat penyesalan setiap kali burung terbang Dan dahulu ia di taman-taman dimanjakan Atas setiap buruan yang didambakannya ia berkuasa Hingga menimpanya di masa itu musibah Maka sayapnya terpotong dan ia terbuka
Wahai orang yang merasakan sesuatu dari mengenal Tuhannya dan mencintai-Nya kemudian berpaling darinya dan menukarnya dengan yang lain, sungguh mengherankan baginya dengan apa ia bertukar, bagaimana ia tenang dan tidak berusaha kembali kepada kemuliaannya, tidak mendekatkan diri. Bagaimana ia menjadikan selain kemuliaannya sebagai tempat tinggal, dan menjadikan hatinya tempat bagi orang yang memusuhinya karena Tuhannya. Bagaimana hatinya merelakan untuk bersabar, dan menyetujui untuk tinggal bersama orang-orang asing.
Wahai yang berpaling dari kehidupan kekalnya dan kenikmatan tetapnya, wahai yang menjual kebahagiaan besarnya dengan azab yang pedih, wahai yang membuat murka Zat yang kehidupan, kenyamanan, dan kemenangannya ada dalam keridhaan-Nya, dan mencari keridhaan zat yang kebahagiaannya ada dalam memuaskan selain-Nya. Ini hanyalah kenikmatan yang fana dan syahwat yang habis, lezatnya hilang dan akibatnya tetap. Kegembiraan sesaat bukan sebulan, dan kesedihan setahun bahkan selamanya. Makanan lezat yang beracun, awalnya nikmat dan akhirnya kebinasaan. Orang yang mengerjakan dan berusaha untuk mendapatkannya seperti ulat sutra yang menutup jalan keluar bagi dirinya sendiri dengan kepompong yang ditenunnya. Ia akan menyesal ketika penyesalan tidak berguna, dan meminta pembatalan ketika permintaan pembatalan tidak diterima.
Berbahagialah orang yang menghadap kepada Allah dengan sepenuhnya, dan mengabdi kepada-Nya dengan keinginan dan kecintaannya. Karena Allah akan menghadap kepadanya dengan perlindungan, kecintaan, perhatian, dan rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu jika menghadap kepada seorang hamba, maka kawasannya akan bercahaya, lapangannya bersinar, kegelapannya terang, dan tampak padanya bekas-bekas perhatian-Nya berupa keceriaan keagungan dan bekas-bekas keindahan. Penduduk alam tinggi menghadap kepadanya dengan kecintaan dan perwalian karena mereka mengikuti Tuhan mereka. Jika Dia mencintai seorang hamba, mereka mencintainya, dan jika Dia menjadi wali seorang wali, mereka menjadi walinya. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia menyeru: “Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Maka Jibril menyeru di langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit mencintainya kemudian penduduk bumi mencintainya. Maka ditempatkan untuknya penerimaan di antara mereka, dan Allah menjadikan hati-hati wali-wali-Nya berdatangan kepadanya dengan kasih sayang, kecintaan, dan rahmat. Cukuplah bagi orang yang menghadap kepadanya Pemilik kerajaan Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah dengan kecintaan-Nya, dan menghadap kepadanya dengan berbagai kemuliaan-Nya, dan Alam Tinggi dan penduduk bumi memandangnya dengan penghormatan dan pemuliaan. Itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Pemilik karunia yang besar.
Saudaraku yang terkasih, ini adalah ancaman yang menakutkan, disampaikan kepadamu oleh Ibnu Qayyim yang cerdas. Engkau termasuk orang yang bermanfaat baginya ancaman, karena itu adalah suara yang menggiring engkau kepada Allah Ta’ala.
Minta tolonglah kepada Allah dan berjalanlah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tenang, karena aku mencintaimu karena Allah, dan aku akan kembali kepadamu dalam waktu dekat, untuk melanjutkan perjalanan.
Wasiatku: Jagalah Allah, niscaya Engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Aku menitipkanmu kepada Allah yang tidak akan hilang titipan di sisi-Nya. Perjumpaan kita dekat—insya Allah dan atas takdir-Nya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan para pengikut mereka dengan iman dan kebaikan hingga hari pembalasan.
Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Wahai Pemberi segala pemberian, dan Yang Melimpahkan segala harapan. Aku berlindung kepada-Mu dari turun setelah sampai, dari keruh setelah jernih, dari kerinduan setelah ketenangan, dari taufan penyesalan karena kemalasan, dari berubahnya keridhaan, dari ketinggalan dari pembimbing walau sebentar, atau iman tanpa ilmu, dan dari tempat berhati-hati yang mewajibkan akal untuk lambat. Ya Rabb, hingga sempurna nikmat-nikmat di sisiku. Angkatlah di puncak kemuliaan jiwaku. Segar-segarkanlah—ya Allah—dengan kesempurnaan pada-Mu keceriaanku. Jauhkan aku dari yang rendah. Sembunyikan ilmuku dari yang melintas. Wahai yang menganugerahkan kepada orang-orang pilihan kedudukan-kedudukan kebenaran dan tingkat tujuan-tujuan. Jernihkanlah petunjuk-Mu kepadaku dari kotoran yang datang. Putuskanlah musuhku dari memperhatikanku. Ikhlaskan aku dengan kesempurnaan keinginanku. Dan dengan apa yang tidak dapat dicapai oleh permintaanku. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Penulis : Abu al-'Ala Muhammad bin Husain bin Ya'qub as-Salafi al-Mishri
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







