EKSPEDISI IBNU BATUTAH 02/04

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKSPEDISI IBNU BATUTAH 02/04

(Persembahan bagi Para Pengamat tentang Keajaiban Kota-Kota dan Keunikan Perjalanan)

رِحْلَةُ ابْنِ بَطُّوطَةَ (تُحْفَةُ النُّظَّارِ فِي غَرَائِبِ الْأَمْصَارِ وَعَجَائِبِ الْأَسْفَارِ) 

[LANJUTAN] PASAL KELIMA: IRAK DAN PERSIA

(Irak Arab dan Irak Ajam) Najaf Asyraf

  • Dari Najaf ke Basrah
  • Di mana dimulainya Jilid Kedua
  • Dari Basrah ke Isfahan
  • Kota Isfahan dan Keberangkatan ke Syiraz
  • Kota Syiraz
  • Dari Syiraz ke Baghdad
  • Kota Baghdad
  • Perjalanan ke Tabriz, Ibu Kota Kesultanan Irak Arab dan Ajam
  • Haji yang Lain dan Menetap di Sana
  • Kemudian Haji untuk Ketiga Kalinya

Menuju Kota Basrah

Setelah kami menyelesaikan ziarah ke makam Amirul Mukminin Ali, rombongan haji berangkat ke Baghdad, sedangkan saya berangkat ke Basrah bersama rombongan besar dari Arab Khafajah. Mereka adalah penduduk daerah tersebut, memiliki kekuatan besar dan keberanian yang luar biasa. Tidak mungkin bepergian di wilayah-wilayah itu kecuali bersama mereka. Maka saya menyewa seekor unta melalui pemimpin kafilah tersebut, Syamir bin Darraj al-Khafaji, dan kami keluar dari makam Ali. Kami singgah di Khawarnak, tempat tinggal Nu’man bin Mundzir dan ayah-ayahnya dari raja-raja Bani Ma’ as-Sama’. Di sana terdapat bangunan dan sisa-sisa kubah-kubah besar di tanah lapang yang luas di tepi sungai yang bersumber dari Efrat.

Kemudian kami berangkat dari sana dan singgah di tempat bernama Qa’im al-Watsiq. Di sana terdapat bekas kampung yang sudah rusak dan masjid yang hancur, tidak tersisa kecuali menaranya. Kemudian kami berangkat dari sana mengikuti tepi Efrat di tempat yang dikenal dengan nama al-‘Udzar, yaitu hutan bambu di tengah air yang dihuni oleh Arab yang dikenal dengan nama al-Ma’adi. Mereka adalah perampok jalan, penganut mazhab Rafidhah yang menyerang sekelompok fakir yang tertinggal dari rombongan kami dan merampas mereka hingga sandal dan mangkuk mereka pun diambil. Mereka berlindung di hutan bambu tersebut dan bertahan dari siapa pun yang mengincar mereka. Binatang buas banyak di sana. Kami melakukan perjalanan menyusuri al-‘Udzar ini selama tiga hari perjalanan, kemudian kami sampai di kota Wasith.

Kota Wasith

Kota Wasith adalah kota yang indah wilayahnya, banyak kebun dan pepohonan. Di sana terdapat para ulama yang menyaksikan mereka memberi petunjuk kebaikan dan menyaksikan tempat-tempat mereka memberi pelajaran pengambilan hikmah. Penduduknya termasuk orang-orang terbaik Irak, bahkan mereka adalah yang terbaik secara mutlak. Kebanyakan mereka menghafal Al-Quran dan mahir membacanya dengan tajwid dan qiraah yang benar. Penduduk negeri-negeri Irak datang kepada mereka untuk mempelajari hal tersebut.

Dalam kafilah yang kami tumpangi terdapat sekelompok orang yang datang untuk mempelajari tajwid Al-Quran dari para syaikh di sana. Di kota itu terdapat madrasah besar yang megah yang memiliki sekitar tiga ratus bilik yang ditempati oleh para pendatang yang datang untuk belajar Al-Quran. Madrasah itu dibangun oleh Syaikh Taqiyuddin bin Abdul Muhsin al-Wasithi, salah satu pembesar dan fuqaha kota tersebut. Ia memberikan kepada setiap pelajar di sana pakaian setahun sekali dan memberikan nafkah harian. Ia dan saudara-saudaranya serta sahabat-sahabatnya duduk mengajarkan Al-Quran di madrasah tersebut. Saya bertemu dengannya dan ia menjamu saya serta memberikan saya bekal kurma dan dirham.

Ketika kami singgah di kota Wasith, kafilah tinggal selama tiga hari di luar kota untuk berdagang. Maka saya berkesempatan untuk berziarah ke makam wali Abu al-Abbas Ahmad ar-Rifa’i yang berada di kampung bernama Umm ‘Ubaidah, berjarak satu hari perjalanan dari Wasith. Saya meminta kepada Syaikh Taqiyuddin agar ia mengirim seseorang yang mengantarkan saya ke sana, maka ia mengutus tiga orang dari Arab Bani Asad yang merupakan penduduk daerah itu. Ia meminjamkan saya kudanya dan saya berangkat pada siang hari. Saya bermalam di perkampungan Bani Asad dan tiba pada siang hari berikutnya di ar-Rawaq, sebuah ribath besar yang dihuni ribuan fakir.

Kami mendapati kedatangan Syaikh Ahmad Kujuk, cicit wali Allah Abu al-Abbas ar-Rifa’i yang makamnya kami kunjungi. Ia datang dari tempat tinggalnya di negeri Rum untuk berziarah ke makam kakeknya. Kepadanya berakhir kepemimpinan di ar-Rawaq. Setelah salat Asar selesai, ditabuh genderang dan rebana, para fakir mulai menari. Kemudian mereka salat Maghrib dan menyajikan hidangan berupa roti nasi, ikan, dan kurma. Orang-orang makan, lalu mereka salat Isya dan mulai berdzikir. Syaikh Ahmad duduk di atas sajadah kakeknya yang telah disebutkan. Kemudian mereka mulai sima’ (mendengarkan musik spiritual). Mereka telah menyiapkan muatan kayu bakar yang mereka nyalakan menjadi api besar. Mereka masuk ke tengah-tengahnya sambil menari. Ada yang berguling-guling di dalamnya, ada yang memakannya dengan mulut hingga mereka memadamkan seluruhnya. Inilah kebiasaan mereka. Kelompok Ahmadiyah ini dikhususkan dengan hal ini. Di antara mereka ada yang mengambil ular besar lalu menggigit kepalanya dengan giginya hingga memutuskannya.

Kisah [Menari dalam Api]

Suatu ketika saya berada di tempat bernama Afqanbur dari wilayah Hazar Amruha, berjarak lima hari perjalanan dari Delhi, ibu kota India. Kami singgah di sana di tepi sungai yang disebut Sungai Sarw. Itu terjadi pada musim Syikal. Syikal bagi mereka adalah musim hujan yang turun pada puncak musim panas. Banjir mengalir di sungai ini dari pegunungan Qarajil. Siapa pun yang minum dari sungai itu, baik manusia maupun hewan, akan mati karena hujan turun di atas rerumputan beracun. Kami tinggal di tepi sungai itu selama empat hari tanpa ada seorang pun yang mendekatinya.

Datang kepada saya di sana sekelompok fakir yang lehernya dan tangannya dirantai besi. Pemimpin mereka adalah seorang pria berkulit sangat hitam. Mereka dari kelompok yang dikenal dengan nama Haidariyah. Mereka bermalam bersama kami semalam. Pemimpin mereka meminta kepada saya agar membawakan kayu bakar untuk dinyalakan saat mereka menari. Saya meminta kepada wali daerah itu, yaitu Aziz yang dikenal dengan nama al-Khammar (yang akan disebut nanti), untuk membawa kayu bakar. Ia mengutus sekitar sepuluh muatan. Mereka menyalakan api setelah salat Isya hingga menjadi bara. Mereka mulai sima’, kemudian masuk ke dalam api itu. Mereka terus menari dan berguling-guling di dalamnya.

Pemimpin mereka meminta kepada saya sebuah kemeja, maka saya memberikannya kemeja yang sangat tipis. Ia memakainya dan berguling-guling dengannya di dalam api sambil memukul api dengan lengan bajunya hingga api itu padam dan mati. Ia datang kepada saya dengan kemeja itu dan api sama sekali tidak meninggalkan bekas apa pun padanya! Saya sangat heran melihatnya!

Setelah saya selesai berziarah ke makam Syaikh Abu al-Abbas ar-Rifa’i semoga Allah memberi manfaat dengannya, saya kembali ke kota Wasith dan mendapati rombongan yang saya ikuti telah berangkat. Saya menyusul mereka di jalan dan kami singgah di mata air yang disebut al-Hadhaib. Kemudian kami berangkat dan singgah di Wadi al-Kura’ yang tidak ada airnya. Kemudkan kami berangkat dan singgah di tempat yang disebut al-Masyirab. Kemudian kami berangkat dari sana dan singgah di dekat Basrah. Kemudian kami berangkat dan memasuki kota Basrah pada pagi hari.

Kota Basrah

Kami singgah di sana di ribath Malik bin Dinar. Ketika tiba di kota itu, sekitar dua mil dari kota saya melihat bangunan tinggi seperti benteng. Saya bertanya tentangnya dan dikatakan kepada saya bahwa itu adalah Masjid Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridainya. Basrah dulunya sangat luas wilayahnya dan lapang, sehingga masjid ini berada di tengah-tengahnya. Sekarang jaraknya dua mil dari kota, begitu juga jaraknya dari tembok pertama yang mengelilingi kota sekitar itu, jadi masjid itu berada di tengah-tengah keduanya.

Kota Basrah adalah salah satu ibu kota Irak, terkenal di seluruh penjuru, luas wilayahnya, indah pekarangannya, memiliki kebun-kebun yang banyak dan buah-buahan yang melimpah. Ia mendapat bagiannya dari kesuburan karena merupakan pertemuan dua laut: yang asin dan yang tawar. “Tidak ada di dunia yang lebih banyak pohon kurmanya daripada kota ini.” Kurma dijual di pasarnya dengan harga empat belas rathl Irak per dirham, dan dirham mereka adalah sepertiga nuqrah. Hakim kota itu, Hujjatul Din, mengutus kepada saya sekeranjang kurma yang dibawa seseorang dengan susah payah. Ketika saya ingin menjualnya, ia dijual seharga sembilan dirham. Pengantar mengambil sepertiganya sebagai upah membawanya dari rumah ke pasar!

Di kota ini dibuat dari kurma madu yang disebut as-Sailan, rasanya enak seperti jullāb. Basrah terbagi menjadi tiga kampung: pertama, kampung Hudzail yang pembesarnya adalah Syaikh al-Fadhil Alauddin bin al-Atsir, termasuk orang dermawan dan berilmu. Ia menjamu saya dan mengirimkan pakaian dan dirham kepada saya. Kampung kedua adalah kampung Bani Haram, pembesarnya adalah as-Sayyid asy-Syarif Majduddin Musa al-Hasani yang memiliki kemuliaan dan keutamaan. Ia menjamu saya dan mengirimkan kepada saya kurma, as-sailan, dan dirham. Kampung ketiga adalah kampung al-‘Ajam (Persia), pembesarnya adalah Jamaluddin bin al-Luki.

Penduduk Basrah memiliki akhlak yang mulia, ramah kepada orang asing, dan memenuhi haknya sehingga tidak ada orang asing yang merasa kesepian di antara mereka. Mereka salat Jumat di Masjid Amirul Mukminin Ali semoga Allah meridainya yang telah saya sebutkan, kemudian masjid itu ditutup dan mereka tidak datang ke sana kecuali pada hari Jumat.

Masjid ini termasuk masjid yang paling indah, halamannya sangat luas, dilapisi dengan kerikil merah yang dibawa dari Wadi as-Siba’. Di dalamnya terdapat mushaf mulia yang dahulu dibaca oleh Utsman semoga Allah meridainya ketika ia terbunuh. Bekas perubahan warna darah masih terlihat pada lembaran yang memuat firman-Nya: “Maka Allah akan melindungimu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Kisah Pengambilan Pelajaran

Suatu ketika saya menyaksikan salat Jumat di masjid ini. Ketika khatib berdiri untuk khutbah dan menyampaikannya, ia melakukan kesalahan nahwu yang sangat banyak dan jelas. Saya heran dengan hal itu dan menyebutkannya kepada hakim Hujjatul Din. Ia berkata kepada saya: “Sesungguhnya di negeri ini tidak tersisa orang yang mengetahui sesuatu tentang ilmu nahwu!” Ini adalah pelajaran bagi siapa yang merenungkannya. Maha Suci pengubah segala sesuatu dan pembalik semua urusan. Inilah Basrah yang kepada penduduknya berakhir kepemimpinan ilmu nahwu. Di kota inilah pokok dan cabangnya, dan dari penduduknya adalah imamnya yang tidak dapat disangkal keunggulannya, namun khatibnya tidak dapat menyampaikan khutbah Jumat dengan benar meskipun ia terus melakukannya.

Masjid ini memiliki tujuh menara. Salah satunya adalah menara yang bergerak, menurut anggapan mereka, ketika Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridainya disebutkan. Saya naik ke sana dari atas atap masjid bersama beberapa penduduk Basrah. Saya menemukan di salah satu sudutnya pegangan kayu yang dipaku seperti pegangan alat perata bangunan. Orang yang bersama saya meletakkan tangannya di pegangan itu dan berkata: “Demi kepala Amirul Mukminin Ali semoga Allah meridainya, bergeraklah!” dan ia menggoyangkan pegangan itu, maka menara itu bergerak. Lalu saya meletakkan tangan saya di pegangan itu dan berkata kepadanya: “Dan saya berkata: Demi kepala Abu Bakar, khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bergeraklah!” dan saya menggoyangkan pegangan itu, maka menara itu bergerak! Mereka heran dengan hal itu!

Penduduk Basrah menganut mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan orang yang melakukan seperti yang saya lakukan tidak perlu takut di antara mereka. Seandainya hal seperti ini terjadi di makam Ali atau makam Husain atau di Hillah atau Bahrain atau Qum atau Kashan atau Sawah atau Awah atau Tus, maka pelakunya akan binasa! Karena mereka adalah Rafidhah yang ekstrem.

Ibn Juzay berkata: Saya telah menyaksikan di kota Barsyanah dari Wadi al-Mansurah di negeri Andalus semoga Allah melindunginya, sebuah menara yang bergoyang tanpa ada yang menyebutkan salah satu khalifah atau lainnya. Ia adalah menara Masjid Agung di sana. Bangunannya tidak terlalu tua. Ia adalah menara yang paling bagus yang dapat Anda lihat, indah penampilannya, tegak, dan tinggi, tidak miring dan tidak bengkok. Suatu ketika saya naik ke sana bersama sekelompok orang. Sebagian dari mereka yang bersama saya memegang sisi-sisi puncaknya dan menggoyangkannya, maka ia bergoyang hingga saya memberi isyarat kepada mereka untuk berhenti, lalu mereka berhenti menggoyangkannya! Kembali (ke cerita).

Tentang Tempat-Tempat Suci yang Diberkati di Bashrah

Di antaranya adalah makam Thalhah bin Ubaidillah, salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, semoga Allah meridhai mereka. Makamnya berada di dalam kota, di atasnya terdapat kubah, masjid, dan pojokan yang menyediakan makanan bagi para pengunjung yang datang maupun yang pergi. Penduduk Bashrah sangat mengagungkannya, dan memang sudah sepatutnya demikian. Di antaranya juga makam Zubair bin Awwam, sahabat karib Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan putra bibinya, semoga Allah meridhai keduanya. Makamnya berada di luar Bashrah, tidak ada kubah di atasnya, namun ada masjid dan pojokan yang menyediakan makanan bagi para musafir.

Di antaranya juga makam Halimah As-Sa’diyah, ibu susuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, semoga Allah meridhainya. Di sampingnya ada makam putranya yang menjadi saudara sepersusuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antaranya juga makam Abu Bakrah, sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di atasnya terdapat kubah. Sekitar enam mil dari sana, dekat dengan Wadi as-Siba’, terdapat makam Anas bin Malik, pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada jalan untuk ziarah ke makamnya kecuali dengan rombongan yang besar karena banyaknya binatang buas dan tidak adanya pemukiman.

Di antaranya juga makam Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri, pemimpin para tabi’in, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Muhammad bin Sirin, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Muhammad bin Wasi’, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Utbah al-Ghulam, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Malik bin Dinar, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Habib al-Ajami, semoga Allah meridhainya. Di antaranya makam Sahl bin Abdullah at-Tusturi, semoga Allah meridhainya.

Di atas setiap makam tersebut terdapat batu nisan yang tertulis nama pemilik makam dan tahun wafatnya. Semua itu berada di dalam tembok lama. Saat ini, jarak antara makam-makam tersebut dengan kota sekitar tiga mil. Di sana, selain itu, terdapat banyak makam para sahabat dan tabi’in yang gugur sebagai syuhada pada hari Jamal. Ketika saya tiba di Bashrah, amir (pemimpin) kota tersebut bernama Ruknuddin al-Ajami at-Taurizi. Ia menjamu saya dengan sangat baik.

Bashrah terletak di tepi sungai Furat dan Dijlah. Di sana terjadi pasang surut seperti yang terjadi di Wadi Sala di negeri Maghrib dan tempat-tempat lain. Muara air asin yang keluar dari Teluk Persia berjarak sepuluh mil darinya. Ketika terjadi pasang, air asin mengalahkan air tawar, dan ketika terjadi surut, air tawar mengalahkan air asin. Pada saat itulah penduduk Bashrah mengambil air untuk rumah mereka. Karena itu dikatakan bahwa air mereka payau.

Ibnu Juzay berkata: Karena sebab itu, udara Bashrah tidak baik dan warna kulit penduduknya kuning pucat, sehingga mereka dijadikan perumpamaan. Seorang penyair berkata ketika dihadirkan di hadapan ash-Shahib sebiji jeruk purut:

Demi Allah, jeruk purut hadir di antara kami
Menggambarkan keadaan yang menjadi pelajaran
Seperti Allah mengenakan pakaian kesakitan
Kepada orang-orang yang rindu dan penghuni Bashrah!!

Kembali ke cerita. Kemudian saya berlayar dari tepi pantai Bashrah dengan perahu kecil menuju al-Ubullah. Jaraknya sepuluh mil dari Bashrah melalui kebun-kebun yang bersambungan dan pohon kurma yang rindang di kanan dan kiri. Para pedagang berjualan di bawah naungan pepohonan, menjual roti, ikan, susu, dan buah-buahan.

Di antara Bashrah dan al-Ubullah terdapat tempat ibadah Sahl bin Abdullah at-Tusturi. Ketika orang-orang melewatinya dengan kapal, mereka minum air dari sungai yang sejajar dengannya dan berdoa pada saat itu untuk mencari berkah dari wali yang saleh ini, semoga Allah meridhainya. Para pendayung mengayuh di negeri ini sambil berdiri. Al-Ubullah dahulu adalah kota besar yang menjadi tujuan para pedagang dari India dan Persia, kemudian kota itu hancur. Sekarang ia hanya sebuah desa dengan bekas-bekas istana dan lainnya yang menunjukkan kebesarannya.

Kemudian kami berlayar di muara Teluk Persia dengan perahu kecil milik seorang penduduk al-Ubullah bernama Mughamis. Itu terjadi setelah maghrib, dan kami tiba di Abadan pada pagi hari. Abadan adalah desa besar di tanah sabkhah (tanah berkadar garam tinggi) yang tidak ada bangunannya. Di sana terdapat banyak masjid, tempat ibadah, dan ribath untuk orang-orang saleh. Jaraknya tiga mil dari pantai.

Ibnu Juzay berkata: Abadan dahulu adalah sebuah negeri. Ia tandus, tidak ada tanaman di sana, segala sesuatu dibawa ke sana. Air pun sedikit di sana. Seorang penyair berkata tentangnya:

Siapa yang menyampaikan kepada Andalusia bahwa aku
Tinggal di Abadan, ujung bumi
Tempat paling sunyi yang kupandang, seolah-olah aku
Berniat menyebarkan beritanya ke seluruh dunia
Roti di sana saling dihadiahkan
Dan seteguk air di sana harus dibeli!!

Kembali ke cerita. Di pantai laut dari sana terdapat ribath yang dinisbahkan kepada Khidhir dan Ilyas alaihimassalam. Di dekatnya ada pojokan yang dihuni oleh empat orang fakir bersama anak-anak mereka. Mereka melayani ribath dan pojokan tersebut, dan hidup dari sedekah orang-orang. Setiap orang yang melewati mereka bersedekah kepada mereka.

Penghuni pojokan ini memberitahuku bahwa di Abadan ada seorang ahli ibadah yang sangat besar kedudukannya, tidak ada teman baginya. Ia datang ke laut ini sekali dalam sebulan untuk menangkap ikan yang cukup untuk makanannya selama sebulan, kemudian ia tidak terlihat kecuali setelah genap sebulan. Ia telah melakukan itu sejak beberapa tahun. Ketika kami tiba di Abadan, tujuan pertamaku hanyalah mencarinya. Teman-teman seperjalananku sibuk shalat di masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah, sementara aku pergi mencarinya. Aku datang ke sebuah masjid yang rusak dan menemukannya sedang shalat di sana. Aku duduk di sampingnya. Ia meringkas shalatnya, dan ketika salam, ia memegang tanganku dan berkata kepadaku: “Semoga Allah memberikanmu apa yang kamu inginkan di dunia dan akhirat!” Alhamdulillah, aku telah mencapai keinginanku di dunia, yaitu berkelana di muka bumi, dan aku telah mencapai apa yang tidak dicapai orang lain sepengetahuanku. Masih tersisa akhirat, dan harapan kuat pada rahmat Allah dan ampunan-Nya serta tercapainya keinginan untuk masuk surga.

Ketika aku kembali kepada teman-temanku, aku menceritakan kepada mereka tentang orang itu dan memberitahu mereka tempatnya. Mereka pergi kepadanya tetapi tidak menemukannya dan tidak mendapat kabar tentangnya. Mereka heran dengan keadaannya!

Kami kembali pada sore hari ke zawiyah (pojokan/tempat khusus) dan bermalam di sana. Salah seorang dari empat fakir itu masuk menemui kami setelah shalat Isya. Kebiasaan fakir itu adalah datang ke Abadan setiap malam untuk menyalakan lampu di masjid-masjidnya, kemudian kembali ke zawiyahnya. Ketika ia sampai di Abadan, ia menemui ahli ibadah itu yang memberinya seekor ikan segar, dan berkata kepadanya: “Sampaikan ini kepada tamu yang datang hari ini.” Ketika fakir itu masuk menemui kami, ia berkata: “Siapa di antara kalian yang melihat syekh hari ini?” Aku menjawab: “Saya yang melihatnya!” Ia berkata: “Ia berkata kepadamu: Ini jamuan untukmu.” Aku bersyukur kepada Allah atas itu. Fakir itu memasak ikan tersebut untuk kami dan kami semua memakannya. Aku tidak pernah makan ikan yang lebih enak dari itu. Terlintas dalam pikiranku untuk tinggal seumur hidup melayani syekh itu, tetapi nafsu yang keras kepala mengalihkanku dari niat itu.

Kemudian kami berlayar di laut pada waktu pagi dengan tujuan negeri Majul. Kebiasaanku dalam perjalanan adalah tidak kembali melalui jalan yang telah kulalui selama hal itu memungkinkan. Aku ingin pergi ke Baghdad di Iraq, tetapi beberapa penduduk Bashrah menyarankan agar aku pergi ke negeri Lur kemudian ke Iraq Ajam, lalu ke Iraq Arab. Aku mengikuti sarannya. Kami tiba setelah empat hari di negeri Majul, huruf jimnya berharakat dhammah. Ia adalah kota kecil di tepi muara yang kami sebutkan yang keluar dari Teluk Persia. Tanahnya sabkhah, tidak ada pohon maupun tumbuhan di sana. Ia memiliki pasar besar, termasuk pasar terbesar. Aku tinggal di sana satu hari saja.

Kemudian aku menyewa hewan tunggangan dari orang-orang yang membawa biji-bijian dari Ramiz ke Majul. Kami berjalan tiga hari melalui padang pasir yang dihuni orang-orang Kurdi dalam tenda-tenda dari bulu. Dikatakan bahwa asal-usul mereka dari Arab. Kemudian kami tiba di kota Ramiz, huruf pertamanya ra dan terakhirnya zay, dengan mim berharakat kasrah. Ia adalah kota yang bagus dengan buah-buahan dan sungai-sungai. Kami menginap di sana di rumah hakim Husamuddin Mahmud. Aku bertemu di sana dengan seorang yang berilmu, taat, dan wara’, berasal dari India, dipanggil Bahauddin dan bernama Ismail. Ia adalah anak cucu Syekh Bahauddin Abu Zakariya al-Multani dan belajar kepada para syekh di Tabriz dan tempat lain.

Aku tinggal di kota Ramiz satu malam, kemudian kami berangkat darinya selama tiga hari melalui dataran yang di dalamnya terdapat desa-desa yang dihuni orang Kurdi. Di setiap marhalah (tahap perjalanan) terdapat zawiyah yang menyediakan roti, daging, dan halwa bagi para pengunjung. Halwa mereka terbuat dari sirup anggur yang dicampur dengan tepung dan mentega. Di setiap zawiyah ada syekh, imam, muazin, dan pelayan untuk para fakir, serta budak dan pembantu yang memasak makanan.

Kemudian aku tiba di kota Tustar. Ia adalah akhir dataran dari negeri Atabak dan awal pegunungan. Ia adalah kota besar, indah dan segar, dengan kebun-kebun yang mulia dan taman-taman yang tinggi. Ia memiliki keindahan yang menonjol dan pasar-pasar yang lengkap. Ia kuno bangunannya, dibuka oleh Khalid bin Walid. Penguasa kota ini dinisbahkan kepada Sahl bin Abdullah. Kota ini dikelilingi oleh sungai yang dikenal dengan nama al-Azraq (yang biru). Ia adalah sungai yang menakjubkan, sangat jernih, sangat dingin di hari-hari panas. Aku tidak melihat kebiruan seperti kebiruannya kecuali sungai Balakhshan. Kota ini memiliki satu pintu untuk para musafir yang disebut Darwazah Dasbul. Darwazah dalam bahasa mereka berarti pintu. Ia memiliki pintu-pintu lain yang menuju ke sungai. Di kedua sisi sungai terdapat kebun-kebun dan kincir air. Sungai itu dalam, dan di pintu para musafir terdapat jembatan di atas perahu-perahu seperti jembatan Baghdad dan Hillah.

Ibnu Juzay berkata: Tentang sungai itu, seseorang berkata dalam syairnya:

Lihatlah bendungan Tustar dan takjublah
Dari pengumpulan air untuk mengairi negerinya
Seperti raja suatu kaum yang mengumpulkan hartanya
Lalu ia membagikannya kepada tentaranya

Buah-buahan di Tustar melimpah, dan kebaikan mudah dan banyak. Tidak ada yang seperti pasar-pasarnya dalam keindahan. Di luarnya terdapat makam yang diagungkan, dikunjungi oleh penduduk negeri-negeri tersebut untuk berziarah. Mereka bernazar untuk makam itu. Makam itu memiliki zawiyah yang di dalamnya ada sekelompok fakir. Mereka mengklaim bahwa itu adalah makam Zainul Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Saya turun di kota Tustar di madrasah Syekh Imam yang saleh lagi berpengetahuan luas Syarafuddin Musa bin Syekh yang saleh lagi alim Imam Sadruddin Sulaiman. Beliau adalah keturunan Sahal bin Abdullah. Syekh ini memiliki kemuliaan dan keutamaan, menggabungkan antara ilmu, agama, kesalehan, dan suka memberi. Beliau memiliki madrasah dan zawiyah (asrama sufi). Pelayan-pelayannya adalah empat orang pemuda: Sunbul, Kafur, Jauhar, dan Surur. Salah seorang dari mereka ditugaskan mengurus wakaf zawiyah, yang kedua mengatur keperluan pengeluaran setiap hari, yang ketiga melayani hidangan di hadapan para tamu dan menyiapkan makanan untuk mereka, dan yang keempat mengawasi para juru masak, penyaji air, dan pelayan tempat tidur. Saya tinggal di sana selama enam belas hari dan tidak pernah melihat pengaturan yang lebih mengagumkan dari miliknya, dan tidak pernah melihat makanan yang lebih melimpah dari makanannya. Disajikan di hadapan seseorang makanan yang cukup untuk empat orang berupa nasi berpedas yang dimasak dengan ghee, ayam goreng, roti, daging, dan manisan.

Syekh ini termasuk orang yang paling tampan rupanya dan paling baik perilakunya. Beliau memberikan nasihat kepada orang-orang setelah salat Jumat di masjid jami. Ketika saya menyaksikan majelis-majelis nasihatnya, maka mengecillah di hadapan saya setiap penceramah yang pernah saya lihat sebelumnya di Hijaz, Syam, dan Mesir. Saya tidak menemui orang yang sepertinya di antara orang-orang yang pernah saya temui.

Suatu hari saya hadir di sisinya di sebuah kebun miliknya di tepi sungai. Para fuqaha (ahli fikih) kota dan tokoh-tokohnya telah berkumpul, dan datanglah para fakir dari segala penjuru. Beliau memberi makan semuanya, kemudian salat Zuhur bersama mereka. Beliau berdiri berkhutbah dan memberi nasihat setelah para qari membaca di hadapannya dengan langgam-langgam yang memilukan dan nada-nada yang menggerakkan dan membangkitkan hati. Beliau berkhutbah dengan tenang dan berwibawa, berkeliling dalam berbagai cabang ilmu mulai dari tafsir Kitab Allah dan menyebutkan hadis Rasulullah serta berbicara tentang makna-maknanya. Kemudian berhamburanlah kepadanya kertas-kertas pertanyaan dari segala penjuru. Kebiasaan orang-orang Ajam (Persia) adalah menulis pertanyaan-pertanyaan di kertas dan melemparkannya kepada penceramah, lalu ia menjawabnya. Ketika kertas-kertas itu dilemparkan kepadanya, beliau mengumpulkannya di tangannya dan mulai menjawabnya satu per satu dengan jawaban yang paling indah dan paling baik. Tiba waktu salat Asar, maka beliau salat bersama orang-orang lalu mereka pulang. Majelis beliau adalah majelis ilmu, nasihat, dan berkah. Para taubat (orang yang bertobat) berbondong-bondong, lalu beliau mengambil janji dari mereka dan memotong rambut mereka. Mereka adalah lima belas orang laki-laki dari kalangan pelajar yang datang dari Basrah untuk maksud itu, dan sepuluh orang dari rakyat biasa Tustar.

Kisah Syekh yang Murah Hati

Ketika saya memasuki kota ini, saya terkena penyakit demam. Negeri-negeri ini, siapa yang memasukinya di musim panas akan demam, sebagaimana terjadi di Damaskus dan negeri-negeri lain yang banyak airnya dan buah-buahannya. Demam juga menimpa para sahabat saya, sehingga meninggal di antara mereka seorang syekh bernama Yahya Al-Khurasani. Syekh mengurus segala keperluan jenazahnya dan salat atasnya. Saya meninggalkan di sana seorang sahabat saya yang bernama Bahauddin Al-Khatni, dan ia meninggal setelah kepergian saya.

Ketika saya sakit, saya tidak selera makan makanan-makanan yang dibuat untuk saya di madrasahnya. Maka Faqih Syamsuddin As-Sindi, salah seorang pelajarnya, menyebutkan sebuah makanan kepada saya dan saya menginginkannya. Saya memberikan uang dirham kepadanya, dan ia memasak makanan itu di pasar lalu membawanya kepada saya. Saya makan darinya. Hal itu sampai kepada Syekh dan membuatnya sedih. Beliau datang kepada saya dan berkata: “Bagaimana kamu melakukan ini dan memasak makanan di pasar? Mengapa kamu tidak memerintahkan para pelayan untuk membuat apa yang kamu inginkan?” Kemudian beliau menghadirkan semua pelayan dan berkata kepada mereka: “Semua yang ia minta dari kalian berupa berbagai jenis makanan, gula, dan lain-lain, maka berilah kepadanya dan masakkanlah untuknya apa yang ia inginkan.” Beliau menekankan hal itu kepada mereka dengan sangat keras. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Kemudian kami berangkat dari kota Tustar selama tiga hari melewati gunung-gunung yang tinggi, dan di setiap tempat pemberhentian ada zawiyah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Kami tiba di kota Izaj. Nama kota ini ditulis dengan hamzah kasrah, ya panjang, dzal berharkat fathah, dan jim. Kota ini juga disebut Malul Amir. Kota ini adalah ibu kota Sultan Atabak. Ketika saya tiba di sana, saya bertemu dengan Syekh para Syekh, yaitu Alim yang wara Nuruddin Al-Kirmani. Beliau memiliki pengawasan terhadap semua zawiyah, yang mereka sebut madrasah. Sultan mengagungkannya dan sengaja mengunjunginya, demikian pula para pejabat negara dan pembesar-pembesar ibu kota mengunjunginya pagi dan sore. Beliau memuliakan saya, menjamu saya, dan menginap­kan saya di zawiyah yang dikenal dengan nama Ad-Dainuri. Saya tinggal di sana beberapa hari. Kedatangan saya adalah di hari-hari musim panas. Kami salat malam kemudian tidur di atas atapnya, lalu turun ke zawiyah pada waktu dhuha. Dalam rombongan saya ada dua belas orang fakir, di antaranya seorang imam, dua orang qari yang mahir, dan seorang pelayan. Kami berada dalam pengaturan yang paling baik.

Tentang Raja Izaj dan Tustar

Raja Izaj pada waktu saya memasukinya adalah Sultan Atabak Afrasiyab bin Sultan Atabak Ahmad. Atabak di kalangan mereka adalah gelar bagi setiap orang yang memerintah negeri ini sebagai raja. Negeri ini disebut negeri Lur. Sultan ini memerintah setelah saudaranya Atabak Yusuf, dan Yusuf memerintah setelah ayahnya Atabak Ahmad. Ahmad yang disebutkan adalah raja yang saleh. Saya mendengar dari orang-orang yang terpercaya di negerinya bahwa ia membangun empat ratus enam puluh zawiyah di negerinya, di antaranya di ibu kota Izaj ada empat puluh empat zawiyah. Ia membagi hasil bumi negerinya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk biaya zawiyahzawiyah dan madrasah-madrasah, sepertiga untuk gaji tentara, dan sepertiga untuk nafkahnya sendiri, nafkah keluarganya, budak-budaknya, dan pelayan-pelayannya. Ia mengirim hadiah dari bagiannya itu kepada Raja Irak setiap tahun, dan kadang-kadang ia sendiri yang datang menemuinya.

Saya menyaksikan jejak-jejak kesalehannya di negerinya bahwa kebanyakan negerinya berada di gunung-gunung yang tinggi. Jalan-jalan telah dipahat di bebatuan dan batu-batu, diratakan dan dilebarkan sehingga hewan-hewan tunggangan dapat mendaki dengan muatannya. Panjang gunung-gunung ini adalah perjalanan tujuh belas hari dengan lebar sepuluh hari. Gunung-gunung itu tinggi menjulang dan sambung-menyambung satu sama lain, dibelah oleh sungai-sungai. Pohonnya adalah pohon ek. Mereka membuat roti dari tepungnya. Di setiap tempat pemberhentian ada zawiyah yang mereka sebut madrasah. Jika musafir tiba di salah satu madrasah, maka ia diberi apa yang cukup untuknya berupa makanan dan pakan untuk hewan tunggangannya, baik ia meminta ataupun tidak. Kebiasaan mereka adalah pelayan madrasah datang menghitung orang-orang yang menginap di sana dan memberi setiap orang dari mereka dua potong roti, daging, dan manisan. Semua itu dari wakaf Sultan untuk zawiyahzawiyah. Sultan Atabak Ahmad adalah seorang zahid yang saleh sebagaimana telah kami sebutkan. Ia memakai di bawah pakaiannya, yang langsung bersentuhan dengan tubuhnya, pakaian dari bulu.

Kisah Adat Penduduk Izaj dalam Berkabung untuk Pemimpin Mereka

Sultan Atabak Ahmad suatu kali datang kepada Raja Irak Abu Said. Salah seorang orang kepercayaannya berkata kepadanya bahwa Atabak masuk menemuimu dengan mengenakan baju besi. Ia mengira pakaian bulu yang ada di bawah pakaiannya adalah baju besi. Maka Raja memerintahkan mereka untuk memeriksa hal itu dengan cara bercanda untuk mengetahui kebenarannya. Suatu hari ia masuk menemui Raja, lalu Amir Al-Juban, pemimpin besar para amir Irak, Amir Suwaitah, amir Diyar Bakr, dan Syekh Hasan yang sekarang menjadi Sultan Irak bangkit mendatanginya dan memegang pakaiannya seolah-olah mereka bercanda dan bersenang-senang dengannya. Mereka menemukan di bawah pakaiannya ada pakaian bulu. Sultan Abu Said melihatnya, lalu bangkit mendatanginya, memeluknya, dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata kepadanya: “San ata,” yang artinya dalam bahasa Turki: “Engkau adalah ayahku.” Ia mengganti hadiahnya dengan berlipat ganda dan menulis untuknya yarligh, yaitu piagam, bahwa ia dan anak-anaknya tidak akan diminta hadiah setelahnya. Pada tahun itu ia wafat, dan putranya Atabak Yusuf memerintah selama sepuluh tahun, kemudian saudaranya Afrasiyab memerintah.

Ketika saya memasuki kota Izaj, saya ingin bertemu Sultan Afrasiyab yang disebutkan, tetapi tidak terlaksana bagi saya karena ia tidak keluar kecuali pada hari Jumat karena kecanduannya pada khamar. Ia memiliki seorang putra yang menjadi putra mahkota dan tidak punya anak selain dia. Putranya sakit pada hari-hari itu. Pada suatu malam, salah seorang pelayannya datang kepada saya dan menanyakan keadaan saya. Saya memberitahunya lalu ia pergi dari saya. Kemudian ia datang setelah salat Magrib dengan membawa dua baki besar, satu berisi makanan dan yang lain berisi buah-buahan, dan sebuah kantong berisi dirham. Bersamanya ada ahli sama (musik sufi) dengan alat-alat mereka. Ia berkata: “Adakanlah sama (sesi musik spiritual) agar para fakir bergembira dan berdoa untuk putra Sultan.” Saya berkata kepadanya: “Sesungguhnya sahabat-sahabat saya tidak tahu sama dan tidak tahu menari.” Kami berdoa untuk Sultan dan putranya. Saya membagikan dirham-dirham itu kepada para fakir. Ketika tengah malam, kami mendengar teriakan dan tangisan. Orang yang sakit itu telah meninggal.

Keesokan harinya, Syekh zawiyah dan penduduk kota datang kepada saya dan berkata: “Sesungguhnya pembesar-pembesar kota dari para hakim, fuqaha, syarif, dan amir telah pergi ke istana Sultan untuk takziah, maka sebaiknya engkau pergi bersama mereka.” Saya menolak hal itu, tetapi mereka memaksa saya, maka tidak ada pilihan bagi saya kecuali pergi. Saya pergi bersama mereka dan menemukan balai istana Sultan penuh dengan orang-orang dan anak-anak dari kalangan mamluk (budak-tentara) dan anak-anak raja, para menteri, dan tentara. Mereka mengenakan kain-kain kasar dan selimut hewan tunggangan. Mereka menaruh tanah dan jerami di atas kepala mereka, sebagian dari mereka telah memotong rambutnya. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok di bagian atas balai dan satu kelompok di bagian bawahnya. Setiap kelompok merangkak ke arah kelompok yang lain sambil memukul-mukul dada mereka dengan tangan mereka sambil berkata: “Khund karma,” yang artinya “Tuanku, hamba.” Saya melihat dari itu pemandangan yang mengerikan dan memalukan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.

Kisah [Duka Putra Sultan]

Di antara peristiwa aneh yang saya alami pada waktu itu adalah ketika saya masuk dan melihat para hakim, khatib, dan para pembesar telah bersandar di dinding-dinding majlis, dan tempat itu penuh sesak oleh mereka dari segala penjuru. Mereka ada yang menangis, ada yang pura-pura menangis, dan ada yang tertunduk. Mereka mengenakan di atas pakaian mereka pakaian kasar dari katun tebal yang jahitannya tidak rapi, bagian dalamnya di atas dan bagian luarnya menempel pada tubuh mereka, dan di kepala masing-masing mereka ada secarik kain atau ikat pinggang hitam. Demikianlah kebiasaan mereka hingga genap empat puluh hari, yang merupakan akhir masa berkabung menurut mereka. Setelah itu Sultan mengirimkan kepada setiap orang yang melakukan hal tersebut satu stel pakaian lengkap. Ketika saya melihat penjuru-penjuru majlis penuh sesak dengan orang-orang, saya melihat ke kanan dan kiri mencari tempat untuk duduk. Lalu saya melihat sebuah serambi yang terangkat dari tanah kira-kira sejengkal, dan di salah satu sudutnya ada seorang laki-laki yang menyendiri dari orang-orang, sedang duduk. Dia mengenakan pakaian wol seperti kain tebal yang biasa dipakai oleh orang-orang miskin di negeri itu pada musim hujan dan salju, dan untuk bepergian. Maka saya maju ke arah laki-laki itu, dan teman-teman saya berpisah dari saya ketika mereka melihat saya mendekatinya. Mereka heran pada saya, sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang keadaan orang itu. Lalu saya naik ke serambi dan mengucapkan salam kepada laki-laki itu, maka dia menjawab salamku dan bangkit dari tanah seolah-olah hendak berdiri—mereka menyebut hal itu setengah berdiri—kemudian dia duduk. Saya duduk di sudut yang berhadapan dengannya, kemudian saya melihat orang-orang, ternyata mereka semua menatap saya dengan pandangan mereka. Saya heran pada mereka dan melihat para ulama, syaikh, dan para pembesar bersandar di dinding di bawah serambi. Salah seorang hakim memberi isyarat kepadaku agar turun ke sampingnya, tetapi saya tidak melakukannya. Saat itulah saya merasa bahwa dia adalah Sultan! Kemudian setelah beberapa saat datanglah syaikhul masyaikh Nuruddin al-Karmani yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dia naik ke serambi dan mengucapkan salam kepada laki-laki itu, maka dia berdiri menyambutnya dan duduk di antara saya dan dia. Saat itulah saya tahu bahwa laki-laki itu adalah Sultan. Kemudian jenazah dibawa, dia berada di antara pohon-pohon jeruk besar, lemon, dan jeruk nipis yang cabang-cabangnya telah diisi dengan buah-buahannya. Pohon-pohon itu ditandu oleh orang-orang, sehingga seolah-olah jenazah berjalan di dalam taman. Obor-obor berada di tombak-tombak panjang di depannya, demikian pula lilin-lilin. Lalu dishalatkan jenazah tersebut, dan orang-orang pergi bersamanya ke pemakaman para raja yang berada di tempat yang disebut Halafihan, sekitar empat mil dari kota. Di sana terdapat madrasah besar yang dibelah oleh sungai, di dalamnya ada masjid untuk melaksanakan shalat Jumat, di luarnya ada pemandian, dan dikelilingi taman besar. Di sana tersedia makanan untuk pengunjung yang datang dan pergi. Saya tidak bisa pergi bersama mereka ke pemakaman jenazah karena tempat itu jauh, maka saya kembali ke madrasah. Beberapa hari kemudian Sultan mengirim utusan kepadaku—utusan yang pertama kali membawakan jamuan untukku—memanggilku menghadap. Maka saya pergi bersamanya ke pintu yang dikenal dengan nama Pintu Servi. Kami naik melalui banyak tangga hingga sampai ke tempat yang tidak ada permadaninya karena duka yang mereka alami. Sultan duduk di atas bantal, dan di hadapannya ada dua bejana tertutup, satu dari emas dan yang lain dari perak. Di majlis itu ada sajadah hijau yang dibentangkan untukku dekat dengannya, lalu saya duduk di atasnya. Di majlis itu tidak ada selain hakim pengawalnya al-Faqih Mahmud dan seorang teman dekatnya yang tidak saya ketahui namanya. Dia bertanya kepadaku tentang keadaanku, negeriku, dan bertanya tentang Raja Nashir dan negeri Hijaz. Saya menjawab semua itu. Kemudian datanglah seorang ahli fikih besar yang merupakan ketua para ahli fikih di negeri-negeri itu. Sultan berkata kepadaku: “Ini Maulana Fadhil.” Ahli fikih di seluruh negeri orang-orang Ajam hanya dipanggil dengan Maulana, dan dengan panggilan itulah Sultan dan orang lain memanggilnya. Kemudian dia mulai memuji ahli fikih tersebut dan tampak bagiku bahwa kemabukan menguasainya! Saya telah mengetahui kecanduannya terhadap khamr. Kemudian dia berkata kepadaku dalam bahasa Arab—dia fasih berbahasa Arab—: “Bicaralah!” Maka saya berkata kepadanya: “Jika kamu mau mendengarkanku, saya akan berkata kepadamu: kamu adalah salah satu putra Sultan Atabak Ahmad yang terkenal dengan kesalehan dan kezuhudannya, dan tidak ada padamu yang mencela kesultananmu selain ini!” Saya menunjuk ke dua bejana itu, maka dia malu dengan perkataanku dan diam. Saya bermaksud untuk pulang tetapi dia memerintahkan saya untuk tetap duduk dan berkata kepadaku: “Pertemuan dengan orang-orang sepertimu adalah rahmat.” Kemudian saya melihatnya bergoyang-goyang dan hendak tidur, maka saya pulang. Saya telah meninggalkan sandalku di pintu tetapi tidak menemukannya. Al-Faqih Mahmud turun untuk mencarinya, dan al-Faqih Fadhil naik mencarinya di dalam majlis, maka dia menemukannya di sebuah relung di sana. Dia membawanya kepadaku, dan kebaikannya membuatku malu. Saya minta maaf kepadanya, maka dia mencium sandalku saat itu, meletakkannya di atas kepalanya, dan berkata kepadaku: “Semoga Allah memberkahimu. Apa yang kamu katakan kepada Sultan kami, tidak ada seorang pun yang berani mengatakannya kepadanya selain kamu. Demi Allah, saya benar-benar berharap bahwa hal itu akan berpengaruh padanya.”

Kemudian saya berangkat dari ibu kota Izaj setelah beberapa hari dan singgah di madrasah para Sultan yang di sana terdapat makam-makam mereka. Saya tinggal di sana beberapa hari. Sultan mengirimkan kepadaku sejumlah dinar, dan mengirimkan yang sama kepada teman-teman saya. Kami melakukan perjalanan di negeri Sultan ini selama sepuluh hari di gunung-gunung yang menjulang tinggi. Setiap malam kami singgah di madrasah yang menyediakan makanan. Di antaranya ada yang berada di pemukiman, dan ada yang tidak ada pemukiman di sekitarnya, tetapi semua kebutuhan dibawa ke sana.

Pada hari kesepuluh kami singgah di madrasah yang dikenal dengan nama Madrasah Kariyu al-Rukh, dan itu adalah ujung wilayah raja ini. Kami berangkat dari sana melewati dataran yang banyak airnya dari wilayah kota Isfahan. Kemudian kami tiba di kota Asytarkan—namanya dieja dengan dammah hamzah, sukun syin bertitik, dammah ta’ bertitik atas, sukun ra’, dan akhirnya nun—yaitu kota yang bagus dengan banyak air dan taman. Kota itu memiliki masjid yang indah yang dibelah oleh sungai. Kemudian kami berangkat dari sana menuju kota Fairuzan—namanya seperti tashniyah Fairuz—yaitu kota kecil yang memiliki sungai-sungai, pepohonan, dan taman-taman. Kami tiba di sana setelah shalat Asar dan melihat penduduknya telah keluar untuk mengantar jenazah. Mereka telah menyalakan obor-obor di belakang dan di depannya, dan mengikutinya dengan seruling dan penyanyi dengan berbagai jenis nyanyian yang menghibur. Kami heran dengan keadaan mereka. Kami bermalam di sana satu malam.

Keesokan harinya kami melewati desa yang disebut Nablan, yaitu desa besar di sungai besar. Di sampingnya ada masjid yang sangat indah yang didaki melalui tangga dan dikelilingi taman-taman. Kami berjalan pada hari itu di antara taman-taman, air, dan desa-desa yang bagus dengan banyak menara merpati. Kami tiba setelah Asar ke kota Isfahan dari Irak Ajam. Namanya diucapkan dengan fa’ murni dan diucapkan dengan fa’ tebal yang ditekankan. Kota Isfahan termasuk kota-kota besar dan indah, namun sekarang sebagian besarnya telah hancur karena fitnah yang terjadi antara Ahlusunnah dan Rafidhah (Syiah). Fitnah itu terus berlanjut hingga sekarang, mereka tidak berhenti berperang. Di sana banyak buah-buahan, di antaranya aprikot yang tidak ada tandingannya, mereka menyebutnya Qamaruddin. Mereka mengeringkannya dan menyimpannya, bijinya pecah mengeluarkan almond manis. Di sana ada quince yang tidak ada tandingannya dalam kelezatan rasa dan besarnya ukuran, anggur yang enak, dan semangka yang luar biasa yang tidak ada di dunia sepertinya kecuali semangka Bukhara dan Khwarizm. Kulitnya hijau dan dalamnya merah. Ia disimpan seperti penyimpanan syarihah di Maghrib dan memiliki kemanisan yang sangat. Barang siapa belum terbiasa memakannya, maka pada awalnya akan mencret, dan demikianlah yang terjadi padaku ketika memakannya di Isfahan.

Penduduk Isfahan tampan rupanya dan warna kulit mereka putih cerah bercampur merah. Yang dominan pada mereka adalah keberanian dan kejantanan. Pada mereka ada kedermawanan dan persaingan besar di antara mereka dalam hal makanan, diceritakan tentang mereka berita-berita aneh dalam hal itu. Kadang salah seorang dari mereka mengundang temannya dan berkata: “Pergilah bersamaku untuk makan nan dan mas,” nan dalam bahasa mereka adalah roti, dan mas adalah susu. Jika temannya pergi bersamanya, dia memberinya makan berbagai jenis makanan yang menakjubkan sambil memamerkannya kepadanya. Penduduk setiap kerajinan mengangkat di antara mereka seorang ketua yang mereka sebut al-Kilu. Demikian pula para pembesar kota selain orang-orang kerajinan. Ada kelompok-kelompok pemuda bujangan, dan kelompok-kelompok itu saling membanggakan diri dan saling menjamu sambil menunjukkan kemampuan yang mereka miliki, berbeda-beda dalam makanan dan lainnya dengan perhatian besar.

Sungguh disebutkan kepadaku bahwa sekelompok dari mereka menjamu kelompok lain, mereka memasak makanan mereka dengan api lilin, kemudian yang lain menjamu mereka, mereka memasak makanan mereka dengan sutra! Saya singgah di Isfahan di zawiyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Ali bin Sahl, murid al-Junaid. Zawiyah itu diagungkan, dikunjungi oleh penduduk wilayah-wilayah tersebut dan mereka mencari berkah dengan mengunjunginya. Di sana tersedia makanan untuk pengunjung yang datang dan pergi. Di sana ada pemandian yang menakjubkan, bermarmer dan dindingnya dengan al-Qasyani, diwakafkan untuk umum, tidak ada yang dikenakan biaya untuk memasukinya. Syaikh zawiyah ini adalah orang saleh, ahli ibadah yang wara’ Quthbuddin Husain bin Syaikh Shalih waliullah Syamsuddin Muhammad bin Mahmud bin Ali yang dikenal dengan al-Raja’, dan saudaranya adalah ulama mufti Syihabuddin Ahmad. Saya tinggal di zawiyah ini bersama Syaikh Quthbuddin selama empat belas hari dan melihat kesungguhannya dalam beribadah, kecintaannya kepada orang-orang fakir dan miskin, dan kerendahan hatinya kepada mereka, yang membuatku sangat kagum. Dia sangat memuliakan saya, menjamuku dengan baik, dan memberiku pakaian bagus serta arloji. Ketika tiba di zawiyah, dia mengirimkan makanan dan tiga buah semangka dari semangka yang telah kami sebutkan tadi. Saya belum pernah melihat dan memakannya sebelumnya.

Karamah Syaikh Ini

Suatu hari dia menemuiku di tempat saya singgah di zawiyah. Tempat itu menghadap ke taman Syaikh. Pakaiannya telah dicuci pada hari itu dan dijemur di taman. Saya melihat di antaranya ada jubah putih berlapis yang mereka sebut hazarmihi. Jubah itu menarik hatiku, dan saya berkata dalam hati: “Seperti ini yang saya inginkan.” Ketika Syaikh masuk menemuiku, dia melihat ke arah taman dan berkata kepada salah seorang pelayannya: “Bawakan untukku pakaian hazarmihi itu.” Mereka membawanya, lalu dia memberiku pakaian itu. Saya hendak mencium kedua kakinya dan meminta kepadanya agar memakaikan kepadaku topi dari kepalanya, dan memberiku ijazah dalam hal itu dengan apa yang diberikan ayahnya dari para syaikhnya. Maka dia memakaikannya kepadaku pada tanggal empat belas Jumadal Akhirah tahun tujuh ratus dua puluh tujuh di zawiyahnya yang telah disebutkan, sebagaimana yang dipakaikan oleh ayahnya Syamsuddin. Ayahnya dipakaikan oleh ayahnya Tajuddin Mahmud dari ayahnya Syihabuddin Ali al-Raja’. Ali dipakaikan oleh Imam Syihabuddin Abu Hafsh Umar bin Muhammad bin Abdullah al-Suhrawardi. Umar dipakaikan oleh Syaikh Besar Dhiyauddin Abu al-Najib al-Suhrawardi. Abu al-Najib dipakaikan oleh pamannya Imam Wahiduddin Umar. Umar dipakaikan oleh ayahnya Muhammad bin Abdullah yang dikenal dengan Amwiyah. Muhammad dipakaikan oleh Syaikh Akhi Faraj al-Zanjani. Akhu Faraj dipakaikan oleh Syaikh Ahmad al-Dainuri. Ahmad dipakaikan oleh Imam Mimsyad al-Dainuri. Mimsyad dipakaikan oleh Syaikh Muhaqiq Ali bin Sahl al-Sufi. Ali dipakaikan oleh Abu al-Qasim al-Junaid. Al-Junaid dipakaikan oleh Sari al-Saqathi. Sari al-Saqathi dipakaikan oleh Dawud al-Tha’i. Dawud dipakaikan oleh al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri. Al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri dipakaikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Juzay berkata: Demikianlah Syekh Abu Abdillah menyebutkan sanad ini. Yang dikenal dalam sanad tersebut adalah bahwa Sirri as-Saqathi berguru kepada Ma’ruf al-Karkhi, dan Ma’ruf berguru kepada Daud ath-Tha’i, demikian pula Daud ath-Tha’i antara dirinya dengan al-Hasan terdapat Habib al-Ajami. Adapun saudara Faraj az-Zanjani, yang dikenal adalah bahwa ia berguru kepada Abul Abbas an-Nahawandi, dan an-Nahawandi berguru kepada Abu Abdillah bin Khafif, dan Ibnu Khafif berguru kepada Abu Muhammad Ruwaim.

Dan Ruwaim berguru kepada Abul Qasim al-Junaid. Adapun Muhammad bin Abdullah Amawiyah adalah orang yang berguru kepada Syekh Ahmad ad-Dinawari al-Aswad dan tidak ada seorang pun di antara keduanya, wallahu a’lam. Dan yang berguru kepada saudara Faraj az-Zanjani adalah Abdullah bin Muhammad bin Abdullah, ayah dari Abu an-Najib.

Kembali ke cerita, kemudian kami berangkat dari Isfahan dengan tujuan mengunjungi Syekh Majduddin di Syiraz, dan jarak antara keduanya sepuluh hari perjalanan. Kami sampai di kota Kulil, nama ini dibaca dengan membuka huruf kaf, mengasre huruf lam, dan ya panjang. Jaraknya dari Isfahan tiga hari perjalanan. Ini adalah kota kecil yang memiliki sungai-sungai, kebun-kebun, dan buah-buahan. Aku melihat apel dijual di pasarnya, lima belas ratl Irak seharga satu dirham, dan dirham mereka sepertiga nuqrah. Kami menginap di zawiyah yang dibangun oleh pembesar kota ini yang dikenal dengan nama Khawajah Kafi. Dia memiliki harta yang berlimpah yang telah Allah bantu untuk diinfakkannya di jalan kebaikan, berupa sedekah, pembangunan zawiyahzawiyah, dan pemberian makanan kepada musafir. Kemudian kami berangkat dari Kulil suatu hari dan sampai di sebuah desa besar yang disebut Sarma. Di sana ada zawiyah yang menyediakan makanan untuk yang datang dan pergi, dibangun oleh Khawajah Kafi yang telah disebutkan. Kemudian kami berangkat dari sana menuju Yazd Khas. Nama ini dibaca dengan membuka huruf ya terakhir, mensukunkan huruf za, mendlammahkan huruf dal muhmal, kha mu’jam, alif, dan shad muhmal. Ini adalah kota kecil dengan bangunan kokoh dan pasar yang bagus. Masjid jami’ di sana sangat menakjubkan, dibangun dengan batu dan beratapkan batu. Kota ini terletak di tepi parit yang di sana terdapat kebun-kebunnya dan mata airnya. Di luarnya ada ribath yang dijadikan tempat menginap para musafir, memiliki pintu besi, dan sangat kuat dan kokoh. Di dalamnya ada toko-toko yang menjual segala yang dibutuhkan para musafir.

Ribath ini dibangun oleh Amir Muhammad Syah Yanju, ayah Sultan Abu Ishaq penguasa Syiraz. Di Yazd Khas dibuat keju Yazd Khasi yang tidak ada bandingannya dalam kelezatannya, dan berat satu kejunya dari dua uqiyah hingga empat.

Kemudian kami berangkat dari sana melalui jalan Dasyt ar-Rum, yaitu padang pasir yang dihuni orang-orang Turki. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Mayyin, namanya dengan dua huruf ya di bawah, yang pertama berharakat kasrah. Ini adalah kota kecil yang banyak sungai dan kebunnya, pasarnya bagus, dan kebanyakan pohonnya adalah pohon kenari.

Kemudian kami berangkat dari sana menuju kota Syiraz. Ini adalah kota asli pembangunannya, luas wilayahnya, terkenal namanya, tinggi kedudukannya, memiliki kebun-kebun yang indah, sungai-sungai yang mengalir deras, pasar-pasar yang menakjubkan, dan jalan-jalan yang megah. Kota ini sangat makmur bangunannya, kokoh pembangunannya, menakjubkan pengaturannya. Penduduk setiap kerajinan di pasarnya tidak bercampur dengan yang lain. Penduduknya cantik-cantik wajahnya dan bersih pakaiannya. Tidak ada di Timur suatu kota yang menyamai kota Damaskus dalam keindahan pasar, kebun, sungai, dan kecantikan wajah penduduknya kecuali Syiraz. Kota ini berada di dataran yang dikelilingi kebun dari semua arah, dan dibelah oleh lima sungai. Salah satunya adalah sungai yang dikenal dengan nama Rukn Abad, airnya manis, sangat dingin di musim panas dan hangat di musim dingin. Ia mengalir dari mata air di kaki gunung di sana yang disebut al-Quli’ah. Masjid besarnya disebut Masjid al-Atiq. Ini adalah salah satu masjid paling luas dan paling bagus bangunannya. Halamannya luas dan dilapisi marmer. Di musim panas dicuci setiap malam dan berkumpul di sana para pembesar kota setiap sore untuk shalat maghrib dan isya. Di sebelah kirinya ada pintu yang disebut Pintu Hasan yang menuju pasar buah, yang merupakan pasar paling indah. Aku berpendapat bahwa pasar ini lebih baik dari pasar Bab al-Barid di Damaskus. Penduduk Syiraz adalah orang-orang yang shalih, beragama, dan sopan, khususnya para wanitanya. Mereka memakai sandal dan keluar dengan berselimut dan bercadar sehingga tidak tampak sesuatu pun dari mereka. Mereka bersedekah dan mengutamakan orang lain. Di antara keanehan keadaan mereka adalah bahwa mereka berkumpul untuk mendengarkan penceramah setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat di masjid besar. Kadang-kadang berkumpul di antara mereka seribu hingga dua ribu orang dengan kipas di tangan mereka untuk mengipas diri dari panasnya terik. Aku tidak pernah melihat perkumpulan wanita sebanyak itu di kota mana pun.

Ketika aku masuk ke kota Syiraz, tidak ada yang menjadi perhatianku kecuali mengunjungi Syekh Hakim Imam Quthbul Auliya, orang unik di zamannya yang memiliki karamah-karamah yang nyata, Majduddin Ismail bin Muhammad bin Khudadad. Arti Khudadad adalah pemberian Allah. Aku sampai di madrasahnya al-Majdiyah yang dinisbatkan kepadanya, dan di sana tempat tinggalnya, yang merupakan bangunannya sendiri. Aku masuk menemuinya dengan tiga orang temanku. Aku mendapati para fuqaha dan pembesar kota sedang menunggunya. Kemudian ia keluar untuk shalat asar bersama Muhibbuddin dan Alauddin, kedua putra saudaranya yang bernama Ruhuddin. Salah satunya di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya. Keduanya adalah wakilnya dalam peradilan karena lemahnya penglihatannya dan usianya yang lanjut. Aku memberi salam kepadanya dan ia memelukku serta menggenggam tanganku hingga sampai ke tempat shalatnya, lalu ia melepaskan tanganku dan memberi isyarat kepadaku agar shalat di sampingnya. Aku lakukan dan shalat asar. Kemudian dibacakan di hadapannya dari kitab al-Mashabih dan Syawariq al-Anwar karya as-Saghani. Kedua wakilnya melaporkan kepadanya perkara-perkara yang terjadi di hadapan mereka. Para pembesar kota maju untuk memberi salam kepadanya, demikian kebiasaan mereka dengannya pagi dan sore. Kemudian ia bertanya kepadaku tentang keadaanku dan bagaimana kedatanganku, dan bertanya tentang Maghrib, Mesir, Syam, dan Hijaz. Aku memberitahukan kepadanya tentang hal itu. Ia memerintahkan para pelayannya untuk menempatkanku di kamar kecil di madrasah.

Keesokan harinya datang kepadanya utusan raja Irak Sultan Abu Said, yaitu Nashiruddin ad-Darqandi, salah satu pembesar amir yang berasal dari Khurasan. Ketika ia sampai kepadanya, ia melepaskan ikat kepalanya yang mereka sebut al-kula, mencium kaki Hakim, dan duduk di hadapannya sambil memegang telinganya sendiri dengan tangannya. Demikianlah yang dilakukan para amir Tatar kepada raja-raja mereka. Amir ini datang dengan sekitar lima ratus penunggang kuda dari budak-budaknya, pelayannya, dan sahabat-sahabatnya. Ia berkemah di luar kota dan masuk menemui Hakim dengan lima orang, dan masuk ke majelisnya sendirian sebagai bentuk penghormatan.

Kisah yang menjadi sebab pengagungan Syekh ini, dan ini termasuk karamah yang nyata

Raja Irak Sultan Muhammad Khudabandah ketika masih kafir ditemani oleh seorang fakih dari golongan Rafidhah Imamiyah yang bernama Jamaluddin bin Muthahhar. Ketika Sultan tersebut masuk Islam dan orang-orang Tatar masuk Islam karena keislamannya, ia semakin mengagungkan fakih ini. Fakih itu memperbagus di matanya mazhab Rafidhah dan mengutamakannya dari yang lain. Ia menjelaskan kepadanya tentang keadaan para sahabat dan khilafah, dan menetapkan di sisinya bahwa Abu Bakar dan Umar adalah dua menteri Rasulullah, sedangkan Ali adalah putra paman dan menantunya sehingga ia adalah pewaris khilafah. Ia memberinya perumpamaan dengan apa yang biasa ia ketahui, yaitu kerajaan yang di tangannya adalah warisan dari kakek-kakek dan kerabatnya, padahal Sultan baru saja keluar dari kekafiran dan tidak mengetahui kaidah-kaidah agama. Maka Sultan memerintahkan agar manusia dipaksa menganut paham Rafidhah, dan menulis hal itu ke Irak, Fars, Azerbaijan, Isfahan, Kirman, dan Khurasan. Ia mengirim utusan ke negeri-negeri. Negeri pertama yang sampai perintah itu adalah Baghdad, Syiraz, dan Isfahan. Adapun penduduk Baghdad, maka penduduk Bab al-Azaj di antara mereka menolak, yaitu ahlus sunnah yang kebanyakan mereka bermazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka berkata: Tidak ada pendengaran dan tidak ada ketaatan! Mereka datang ke masjid jami’ pada hari Jumat dengan senjata, dan di sana ada utusan Sultan. Ketika khatib naik mimbar, mereka bergerak menghampirinya padahal mereka sekitar dua belas ribu orang dalam senjata mereka. Mereka adalah pelindung Baghdad dan orang-orang yang disegani di sana. Mereka bersumpah kepadanya bahwa jika ia mengubah khutbah yang biasa atau menambah atau menguranginya, maka mereka akan membunuhnya dan membunuh utusan raja, dan setelah itu mereka pasrah pada kehendak Allah. Sultan telah memerintahkan agar nama-nama para khalifah dan semua sahabat dihapus dari khutbah dan tidak disebutkan kecuali nama Ali dan orang-orang yang mengikutinya seperti Ammar semoga Allah meridhai mereka. Khatib takut dibunuh, maka ia berkhutbah dengan khutbah yang biasa. Penduduk Syiraz dan Isfahan melakukan seperti yang dilakukan penduduk Baghdad. Maka para utusan kembali kepada Raja dan memberitahukan kepadanya apa yang terjadi. Ia memerintahkan agar para hakim dari tiga kota itu didatangkan. Yang pertama didatangkan di antara mereka adalah Hakim Majduddin hakim Syiraz. Sultan ketika itu berada di tempat yang disebut Qarabagh, yaitu tempat musim panasnya. Ketika Hakim tiba, Sultan memerintahkan agar ia dilemparkan kepada anjing-anjingnya, yaitu anjing-anjing besar yang di lehernya ada rantai yang dipersiapkan untuk memakan manusia. Jika ada orang yang ingin diserang anjing-anjing itu, ia ditempatkan di halaman besar tanpa diikat, kemudian anjing-anjing itu dikirim kepadanya. Ia lari di depannya tetapi tidak ada tempat pelarian, maka anjing-anjing itu mengejarnya, mencabik-cabiknya, dan memakan dagingnya. Ketika anjing-anjing itu dilepaskan kepada Hakim Majduddin dan sampai kepadanya, mereka mengibaskan ekor di hadapannya dan tidak menyerangnya sedikit pun. Hal itu sampai kepada Sultan, maka ia keluar dari rumahnya dengan kaki telanjang, mencium kedua kaki Hakim, memegang tangannya, dan melepaskan kepadanya semua pakaian yang dipakainya. Ini adalah kehormatan terbesar Sultan menurut mereka. Jika ia melepaskan pakaiannya demikian kepada seseorang, maka itu menjadi kehormatan baginya, bagi anak-anaknya, dan keturunannya yang mewarisinya selama pakaian itu atau sebagiannya ada, dan yang paling agung di antaranya adalah celana. Ketika Sultan melepaskan pakaiannya kepada Hakim Majduddin, ia memegang tangannya dan memasukkannya ke rumahnya, memerintahkan para istrinya untuk mengagungkannya dan meminta berkah darinya. Sultan kembali dari mazhab Rafidhah dan menulis ke negerinya agar manusia ditetapkan pada mazhab ahlus sunnah wal jamaah. Ia memberikan hadiah yang melimpah kepada Hakim dan mengembalikannya ke negerinya dengan dimuliakan dan diagungkan. Ia memberinya di antara pemberiannya seratus desa dari desa-desa Jumkan. Ini adalah parit antara dua gunung yang panjangnya dua puluh empat farsakh yang dibelah oleh sungai besar dan desa-desa berjajar di kedua sisinya. Ini adalah tempat paling indah di Syiraz. Di antara desa-desanya yang besar yang menyerupai kota adalah desa Maymin yang menjadi milik Hakim tersebut.

Di antara keajaiban tempat yang disebut Jumkan ini adalah bahwa setengahnya yang menghadap Syiraz, yaitu jarak dua belas farsakh, sangat dingin dan turun salju, kebanyakan pohonnya adalah kenari. Sedangkan setengah yang lain yang menghadap negeri Hunj dan Bal dan negeri al-Lar di jalan menuju Hurmuz sangat panas dan di sana ada pohon kurma.

Dan telah terulang kembali bagiku pertemuan dengan Hakim Majduddin untuk kedua kalinya ketika aku keluar dari India. Aku sengaja mendatanginya dari Hurmuz untuk mencari berkah dari pertemuannya, dan itu pada tahun delapan dan empat puluh (748 H). Antara Hurmuz dan Syiraz adalah perjalanan tiga puluh lima hari. Maka aku masuk menemuinya dan dia sudah lemah untuk bergerak. Aku memberi salam kepadanya lalu dia mengenaliku dan bangkit ke arahku lalu memelukku. Tanganku jatuh pada sikunya, dan kulitnya menempel pada tulang tanpa ada daging di antaranya. Dia mengantarku ke madrasah di tempat dia mengantarku pada kali pertama. Aku mengunjunginya pada suatu hari dan menemukan raja Syiraz, Sultan Abu Ishaq—yang akan disebutkan nanti—duduk di hadapannya sambil memegang telinganya sendiri. Itulah puncak kesopanan menurut mereka, dan orang-orang melakukannya jika duduk di hadapan raja. Aku datang kepadanya lagi ke madrasah dan menemukan pintunya tertutup. Aku bertanya tentang sebab hal itu maka aku diberi tahu bahwa ibu Sultan dan saudara perempuannya bertengkar dalam masalah warisan, lalu dia menyuruh keduanya kepada Hakim Majduddin. Keduanya datang kepadanya ke madrasah dan berperkara di hadapannya, maka dia memutuskan di antara keduanya dengan apa yang diwajibkan syariat.

Penduduk Syiraz tidak memanggilnya dengan Hakim, tetapi mereka mengatakan kepadanya Maulana A’zham, dan demikian juga mereka menulis dalam dokumen-dokumen dan akad-akad yang memerlukan penyebutan namanya di dalamnya. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah pada bulan Rabiul Akhir tahun delapan dan empat puluh delapan (748 H), cahayanya memancar kepadaku dan berkahnya tampak bagiku. Semoga Allah memberi manfaat melalui dia dan orang-orang sepertinya.

Tentang Sultan Syiraz

Sultan Syiraz pada saat kedatanganku adalah Raja yang utama Abu Ishaq bin Muhammad Syah Inju. Ayahnya menamainya dengan nama Syekh Abu Ishaq al-Kazaruni, semoga Allah memberi manfaat melalui dia. Dia termasuk sebaik-baik para sultan, baik wajah, perilaku, dan penampilannya, mulia jiwanya, bagus akhlaknya dan rendah hati, memiliki kekuatan dan kerajaan yang besar. Tentaranya lebih dari lima puluh ribu orang dari Turki dan Persia, dan para pembantunya yang terdekat dengannya adalah penduduk Isfahan. Dia tidak mempercayai penduduk Syiraz atas dirinya, tidak mempekerjakan mereka, tidak mendekatkan mereka, dan tidak mengizinkan seorang pun dari mereka membawa senjata karena mereka adalah orang-orang yang pemberani, sangat berani, dan berani terhadap raja-raja. Barangsiapa ditemukan membawa senjata di antara mereka akan dihukum. Sungguh aku pernah melihat seorang lelaki diseret oleh para jandarah—mereka adalah polisi—kepada hakim dan mereka telah mengikatnya di lehernya. Aku bertanya tentang urusannya maka aku diberi tahu bahwa dia ditemukan membawa busur di tangannya pada malam hari. Maka Sultan yang disebutkan itu pergi untuk menaklukkan penduduk Syiraz dan lebih mengutamakan orang-orang Isfahan atas mereka karena dia takut kepada mereka atas dirinya. Ayahnya Muhammad Syah Inju adalah gubernur di Syiraz dari pihak raja Irak, dan dia berperilaku baik sehingga dicintai oleh penduduknya. Ketika dia meninggal, Sultan Abu Said mengangkat Syekh Husain menggantikannya—dia adalah putra Jawban Amirul Umara, yang akan disebutkan nanti—dan mengirim bersamanya pasukan yang banyak. Dia tiba di Syiraz dan menguasainya serta mengatur pajaknya, dan itu adalah salah satu negeri Allah yang pajaknya paling besar.

Haji Qawamuddin at-Tamghaji—dia adalah kepala pajak di sana—menceritakan kepadaku bahwa dia menanggung pajaknya dengan sepuluh ribu dinar dirham setiap hari, dan nilainya dalam emas Maghrib adalah seribu lima ratus dinar emas. Amir Husain tinggal di sana beberapa waktu, kemudian dia ingin datang kepada raja Irak. Maka dia menangkap Abu Ishaq bin Muhammad Syah Inju dan dua saudaranya Ruknuddin dan Mas’ud Bek dan ibunya Tasy Khatun, dan bermaksud membawa mereka ke Irak untuk menuntut harta ayah mereka. Ketika mereka berada di tengah pasar di Syiraz, Tasy Khatun membuka wajahnya—dia sebelumnya bercadar karena malu terlihat dalam keadaan itu, karena kebiasaan wanita Turki adalah tidak menutupi wajah mereka—dan meminta tolong kepada penduduk Syiraz dan berkata: “Apakah seperti ini, wahai penduduk Syiraz, aku dikeluarkan dari antara kalian padahal aku adalah si Fulanah istri si Fulan?” Maka bangkitlah seorang lelaki dari tukang kayu bernama Pahlawan Mahmud—aku telah melihatnya di pasar ketika kedatanganku di Syiraz—lalu berkata: “Kami tidak akan membiarkannya keluar dari negeri kami dan kami tidak rela dengan itu.” Maka orang-orang mengikuti perkataannya dan rakyat jelata bangkit dan masuk dengan senjata. Mereka membunuh banyak dari tentara dan mengambil harta-harta serta membebaskan wanita itu dan anak-anaknya. Amir Husain dan yang bersamanya melarikan diri dan datang kepada Sultan Abu Said dalam keadaan kalah. Maka dia memberinya pasukan yang besar dan memerintahkannya untuk kembali ke Syiraz dan berbuat sesukanya terhadap penduduknya.

Ketika hal itu sampai kepada penduduknya, mereka tahu bahwa mereka tidak mampu menghadapinya, maka mereka mendatangi Hakim Majduddin dan meminta darinya agar dia menjaga darah kedua kelompok dan terjadi perdamaian. Maka dia keluar menemui Amir Husain lalu Amir itu turun dari kudanya untuk menghormatinya dan memberi salam kepadanya. Terjadilah perdamaian dan Amir Husain turun pada hari itu di luar kota. Ketika esok harinya, penduduknya keluar untuk menyambutnya dengan susunan yang paling indah dan mereka menghias negeri serta menyalakan lilin yang banyak. Amir Husain masuk dengan kemegahan dan kehormatan yang besar, dan berperilaku kepada mereka dengan perilaku yang paling baik. Ketika Sultan Abu Said meninggal dan keturunannya punah serta setiap amir menguasai apa yang ada di tangannya, Amir Husain takut kepada mereka atas dirinya dan keluar dari mereka. Sultan Abu Ishaq menguasainya, juga Isfahan dan negeri-negeri Persia, dan itu adalah perjalanan satu bulan setengah. Kekuatannya menjadi kuat dan cita-citanya terbang untuk menguasai negeri-negeri yang berdekatan dengannya. Maka dia mulai dengan yang paling dekat darinya yaitu kota Yazd, sebuah kota yang bagus, bersih, luar biasa pasarnya, memiliki sungai-sungai yang mengalir dan pepohonan yang hijau. Penduduknya adalah para pedagang bermazhab Syafi’i. Maka dia mengepungnya dan menguasainya. Amir Muzaffar Syah bin Amir Muhammad Syah bin Muzaffar berlindung di benteng enam mil darinya yang kokoh dan dikelilingi oleh pasir, maka dia mengepungnya di sana.

Maka tampaklah dari Amir Muzaffar keberanian yang melampaui kebiasaan dan tidak pernah didengar yang sepertinya. Dia menyerang pasukan Sultan Abu Ishaq pada malam hari dan membunuh sekehendaknya serta merobek tenda-tenda dan kemah-kemah, lalu kembali ke bentengnya sehingga tidak ada yang mampu meraihnya. Pada suatu malam dia menyerang istana Sultan dan membunuh sejumlah orang di sana, mengambil sepuluh dari kuda-kuda pilihan dan kembali ke bentengnya. Maka Sultan memerintahkan agar setiap malam lima ribu penunggang kuda ditugaskan dan mereka membuat penyergapan untuknya. Mereka melakukan itu dan dia keluar seperti kebiasaannya dengan seratus dari para pengikutnya lalu menyerang pasukan. Pasukan penyergap mengepungnya dan pasukan-pasukan bertemu, maka dia bertempur melawan mereka dan lolos ke bentengnya. Tidak ada yang terluka dari para pengikutnya kecuali satu orang yang dibawa kepada Sultan Abu Ishaq. Sultan memberinya pakaian kehormatan dan melepaskannya serta mengirim bersamanya jaminan keamanan untuk Muzaffar agar turun kepadanya, tapi dia menolak.

Kemudian terjadi surat-menyurat di antara keduanya dan terjadi kecintaan kepadanya di hati Sultan Abu Ishaq karena apa yang dia lihat dari keberaniannya. Maka dia berkata: “Aku ingin melihatnya, jika aku melihatnya aku akan pergi darinya.” Sultan berdiri di luar benteng dan dia berdiri di pintunya lalu memberi salam kepadanya. Sultan berkata kepadanya: “Turunlah dengan jaminan keamanan.” Muzaffar berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah bahwa aku tidak akan turun kepadamu sampai kamu masuk ke bentengku, dan pada saat itulah aku akan turun kepadamu.” Dia berkata kepadanya: “Aku akan melakukan itu.” Maka Sultan masuk kepadanya dengan sepuluh dari para sahabat khususnya. Ketika dia tiba di pintu benteng, Muzaffar turun dari kuda dan mencium sanggurdinya, dan berjalan di hadapannya dengan berjalan kaki. Dia memasukkannya ke rumahnya dan makan dari makanannya, lalu turun bersamanya ke perkemahan dengan berkuda. Sultan mendudukkannya di sampingnya dan memberinya pakaian kehormatan serta memberinya harta yang besar. Terjadilah kesepakatan di antara mereka bahwa khutbah akan dengan nama Sultan Abu Ishaq, dan negeri-negeri akan untuk Muzaffar dan ayahnya. Sultan kembali ke negerinya.

Sultan Abu Ishaq pernah bercita-cita untuk membangun sebuah aula seperti aula Kisra, dan memerintahkan penduduk Syiraz untuk mengerjakan penggalian pondasinya. Mereka mulai melakukan itu dan penduduk setiap keahlian saling berbangga dengan yang lain. Mereka sampai pada puncak kesombongan hingga mereka membuat keranjang untuk mengangkut tanah dari kulit, dan melapisinya dengan kain sutra bersulam. Mereka melakukan hal serupa pada pelana-pelana hewan dan barang-barang bawaan mereka. Sebagian dari mereka membuat kapak dari perak, dan menyalakan lilin yang banyak. Mereka ketika menggali mengenakan pakaian-pakaian mereka yang paling indah dan mengikat selendang sutra di pinggang mereka, dan Sultan menyaksikan perbuatan mereka dari tempat penontonannya. Aku telah melihat bangunan ini dan telah naik dari tanah sekitar tiga hasta. Ketika pondasinya dibangun, beban itu diangkat dari penduduk kota dan para pekerja mulai bekerja di sana dengan upah. Ribuan dari mereka dikumpulkan untuk itu. Aku mendengar gubernur kota berkata: “Sesungguhnya sebagian besar pajaknya dibelanjakan untuk bangunan itu.” Yang ditugaskan untuk itu adalah Amir Jalaluddin bin al-Falaki at-Tabrizi, dia termasuk orang-orang besar. Ayahnya adalah wakil dari menteri Sultan Abu Said yang bernama Ali Syah Gilan. Amir Jalaluddin al-Falaki ini memiliki saudara yang utama bernama Hibatullah dan bergelar Bahaul Mulk. Dia datang kepada raja India ketika aku datang kepadanya, dan datang bersama kami Syarful Mulk Amir Bakht. Raja India memberi pakaian kehormatan kepada kami semua dan mempromosikan setiap orang dalam pekerjaan yang sesuai dengannya, dan menentukan untuk kami tunjangan dan hadiah. Kami akan menyebutkan itu. Sultan Abu Ishaq ini ingin menyerupai raja India yang disebutkan dalam hal kemurahan hati dan pemberian yang melimpah, tetapi di mana Bintang Syu’ra dari debu! Yang paling besar yang kami ketahui dari pemberian-pemberian Abu Ishaq adalah bahwa dia memberi Syekh Zadeh al-Khurasani yang datang kepadanya sebagai utusan dari raja Herat tujuh puluh ribu dinar. Adapun raja India, maka dia tidak berhenti memberi berlipat ganda dari itu kepada orang-orang yang tidak terhitung banyaknya dari penduduk Khurasan dan lainnya.

Kisah Raja India dan Kedermawanannya

Di antara perbuatan mengagumkan raja India dengan orang-orang Khurasan adalah bahwa seorang lelaki dari para ahli fikih Khurasan datang kepadanya, penduduk Herat yang tinggal di Khawarizm bernama Amir Abdullah. Dia diutus oleh Khatun Tarabak istri Amir Qutlu Damur penguasa Khawarizm dengan hadiah kepada raja India yang disebutkan. Raja menerimanya dan membalasnya dengan berlipat ganda, dan mengirim itu kepadanya. Utusan yang disebutkan itu memilih untuk tinggal di sisinya, maka dia menjadikannya di antara teman-teman duduknya. Pada suatu hari dia berkata kepadanya: “Masuklah ke perbendaharaan lalu angkatlah darinya sejumlah emas yang kamu mampu membawanya.” Dia pergi ke rumahnya lalu datang dengan tiga belas karung, dan memasukkan ke dalam setiap karung sejumlah yang ditampungnya. Dia mengikat setiap karung pada anggota tubuhnya—dia adalah orang yang kuat—dan bangkit dengan membawanya. Ketika dia keluar dari perbendaharaan dia jatuh dan tidak mampu bangkit! Sultan memerintahkan untuk menimbang apa yang dia bawa keluar maka jumlahnya adalah tiga belas mann dengan mann Delhi. Satu mann darinya adalah dua puluh lima ratl Mesir. Maka dia memerintahkannya untuk mengambil semua itu, lalu dia mengambilnya dan pergi dengan membawanya!!

Kisah yang Sesuai dengan Itu

Amir Bakht yang bergelar Syarful Mulk al-Khurasani—dia yang disebutkan sebelumnya—pernah sakit di hadapan raja India. Maka raja datang menjenguknya. Ketika masuk kepadanya, dia ingin berdiri tapi raja bersumpah kepadanya agar tidak turun dari tempat tidurnya—tempat tidur itu adalah ranjang. Untuk Sultan diletakkan sandaran yang mereka sebut al-murah, maka dia duduk di atasnya. Kemudian dia kembali dengan emas dan timbangan, maka itu didatangkan. Dia memerintahkan orang sakit untuk duduk di salah satu piringan timbangan. Maka dia berkata: “Wahai Khwand Alam, seandainya aku tahu bahwa kamu akan melakukan ini, tentu aku akan memakai banyak pakaian.” Dia berkata kepadanya: “Pakailah sekarang semua yang kamu miliki dari pakaian.” Maka dia memakai pakaian-pakaiannya yang disediakan untuk musim dingin yang diisi dengan kapas, dan duduk di piringan timbangan. Emas diletakkan di piringan yang lain sampai emas itu lebih berat darinya, dan dia berkata kepadanya: “Ambillah ini lalu sedekahkanlah untuk kepalamu.” Lalu dia keluar darinya!

Kisah Kesesuaian Keduanya

Seorang fakih bernama Abdul Aziz Al-Arduili datang menghadapnya. Ia telah mempelajari ilmu hadits di Damaskus dan mendalami fikih di sana, maka Sultan menetapkan penghasilannya seratus dinar dirham sehari, yang setara dengan dua puluh lima dinar emas. Suatu hari ia menghadiri majelis Sultan, lalu Sultan menanyakan kepadanya tentang sebuah hadits. Ia pun menyebutkan banyak hadits yang berkaitan dengan makna tersebut. Sultan kagum dengan hafalannya dan bersumpah demi kepalanya bahwa ia tidak akan meninggalkan majelisnya sampai ia berbuat sesuatu yang ia pandang baik untuknya. Kemudian Raja turun dari tempat duduknya lalu mencium kedua kakinya dan memerintahkan untuk menghadirkan sebuah nampan emas yang menyerupai meja kecil. Ia memerintahkan agar seribu dinar emas dimasukkan ke dalamnya. Sultan mengambilnya dengan tangannya sendiri lalu menuangkannya kepada sang fakih seraya berkata, “Ini untukmu beserta nampannya.”

Suatu kali datang menghadapnya seorang lelaki dari Khurasan yang dikenal sebagai Ibnu Syaikh Abdul Rahman Al-Asfaraini. Ayahnya pernah tinggal di Baghdad, maka Sultan memberinya lima puluh ribu dinar dirham, kuda-kuda, budak-budak, dan pakaian kehormatan.

Kami akan menyebutkan banyak berita tentang Raja ini ketika membahas negeri-negeri India. Kami menyebutkan hal ini karena apa yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa Sultan Abu Ishaq ingin menyerupainya dalam hal pemberian, meskipun ia seorang yang dermawan dan mulia, namun ia tidak mencapai derajat Raja India dalam hal kedermawanan dan kemurahan hati.

Tentang Beberapa Makam di Syiraz

Di antaranya adalah makam Ahmad bin Musa, saudara Ar-Ridha Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridhai mereka semua. Makam ini sangat diagungkan oleh penduduk Syiraz, mereka mencari berkah dengannya dan bertawasul kepada Allah dengan keutamaannya.

Thasy Khatun, ibu Sultan Abu Ishaq, membangun di atasnya sebuah madrasah besar dan zawiyah yang menyediakan makanan bagi yang datang dan pergi. Para qari membaca Al-Quran di makam tersebut secara terus-menerus.

Kebiasaan Khatun adalah ia datang ke makam ini setiap malam Senin. Pada malam itu berkumpul para hakim, fuqaha, dan para syarif. Syiraz adalah salah satu negeri Allah yang paling banyak penduduknya dari kalangan syarif. Aku mendengar dari orang-orang terpercaya bahwa mereka yang mendapat tunjangan di sana dari kalangan syarif berjumlah seribu empat ratus lebih, baik kecil maupun besar. Naqib mereka adalah Adhud Ad-Din Al-Husaini. Ketika orang-orang hadir di makam yang diberkahi tersebut, mereka mengkhatamkan Al-Quran dengan membaca mushaf-mushaf, dan para qari membaca dengan suara-suara yang indah. Kemudian dihadirkan makanan, buah-buahan, dan manisan. Setelah orang-orang makan, seorang penceramah memberikan nasihat. Semua ini berlangsung dari setelah shalat Zhuhur hingga sore hari. Khatun berada di sebuah ruangan yang menghadap ke masjid dengan sebuah jendela. Kemudian ditabuh genderang, nafir, dan terompet di pintu makam sebagaimana yang dilakukan di pintu-pintu para raja.

Di antara makam yang ada di sana adalah makam Imam, Quthub, Wali Abu Abdullah Ibnu Khafif yang dikenal di kalangan mereka sebagai Asy-Syaikh. Ia adalah teladan bagi seluruh negeri Persia. Makamnya diagungkan oleh mereka, mereka datang kepadanya pagi dan sore untuk menyentuhnya. Aku melihat Hakim Majduddin datang berziarah kepadanya dan menciumnya. Khatun datang ke masjid ini setiap malam Jumat. Di atasnya terdapat zawiyah dan madrasah. Para hakim dan fuqaha berkumpul di sana dan melakukan seperti yang mereka lakukan di makam Ahmad bin Musa. Aku telah hadir di kedua tempat itu. Makam Amir Muhammad Syah Yinzu, ayah Sultan Abu Ishaq, bersambung dengan makam ini. Syaikh Abu Abdullah bin Khafif adalah seorang yang sangat besar kedudukannya di kalangan para wali dan sangat terkenal namanya. Dialah yang membuka jalan Gunung Sarandib di pulau Sailan dari tanah India.

Karamah Syaikh Ini

Dikisahkan bahwa suatu kali ia bermaksud mendaki Gunung Sarandib bersama sekitar tiga puluh orang fakir. Mereka mengalami kelaparan di jalan gunung di tempat yang tidak ada pemukiman. Mereka tersesat dari jalan dan meminta izin kepada Syaikh untuk menangkap beberapa gajah kecil. Gajah-gajah itu sangat banyak di tempat tersebut, dan dari sana dibawa ke istana raja India. Syaikh melarang mereka melakukan hal itu. Namun rasa lapar mengalahkan mereka, sehingga mereka melanggar perkataan Syaikh. Mereka menangkap seekor gajah kecil, menyembelihnya, dan memakan dagingnya. Syaikh menolak untuk memakannya. Ketika mereka tidur malam itu, gajah-gajah berkumpul dari setiap penjuru dan datang kepada mereka. Gajah-gajah itu mencium seorang lelaki lalu membunuhnya hingga mereka semua terbunuh. Gajah mencium Syaikh tetapi tidak menyakitinya. Seekor gajah mengangkatnya, melilitkan belalainya padanya, dan melemparkannya ke atas punggungnya. Gajah membawanya ke tempat yang ada pemukimannya. Ketika penduduk daerah itu melihatnya, mereka heran dan menyambutnya untuk mengetahui keadaannya. Ketika ia mendekat kepada mereka, gajah memegangnya dengan belalainya dan menurunkannya dari punggungnya ke tanah agar mereka dapat melihatnya. Mereka datang kepadanya dan menyentuhnya untuk mencari berkah. Mereka membawanya kepada raja mereka dan menceritakan beritanya kepada raja, padahal mereka adalah orang-orang kafir. Ia tinggal bersama mereka beberapa hari.

Tempat itu disebut Khur Ismi Khur Al-Khaizuran. Khur artinya sungai. Di tempat itu terdapat tempat menyelam mutiara. Dikisahkan bahwa Syaikh menyelam di salah satu hari itu di hadapan raja mereka. Ia keluar sambil mengatupkan kedua tangannya dan berkata kepada raja, “Pilihlah apa yang ada di salah satu tanganku.” Raja memilih yang di tangan kanan, lalu Syaikh melemparkan kepadanya apa yang ada di dalamnya. Ternyata itu adalah tiga batu permata yakut yang tiada bandingnya. Permata itu berada di mahkota para raja mereka dan diwariskan turun-temurun.

Aku telah memasuki pulau Sailan ini. Mereka tetap dalam kekafiran, namun mereka mengagungkan para fakir Muslim, memberi mereka tempat tinggal di rumah-rumah mereka, memberi mereka makan, dan mereka berada di rumah-rumah mereka di antara keluarga dan anak-anak mereka. Ini berbeda dengan orang-orang kafir India lainnya yang tidak mendekati orang Muslim, tidak memberi mereka makan di bejana mereka, dan tidak memberi mereka minum di dalamnya, meskipun mereka tidak menyakiti mereka dan tidak menghina mereka. Sungguh, kami terpaksa meminta sebagian dari mereka memasak daging untuk kami. Mereka datang membawanya dalam periuk mereka dan duduk agak jauh dari kami. Mereka datang membawa daun pisang, lalu meletakkan nasi di atasnya—nasi adalah makanan mereka—dan menuangkan kusan di atasnya, yaitu lauk-pauk, lalu mereka pergi. Kami makan darinya dan apa yang tersisa dimakan oleh anjing dan burung. Jika seorang anak kecil yang belum berakal memakannya, mereka memukulnya dan memberinya makan kotoran sapi, yang menurut anggapan mereka adalah pembersih!

Di antara makam yang ada di sana adalah makam Syaikh yang saleh, Quthub Ruzjihan Al-Baqli, salah satu wali besar. Kuburnya berada di sebuah masjid jami tempat khutbah disampaikan. Di masjid itulah Hakim Majduddin yang telah disebutkan sebelumnya, semoga Allah meridhainya, shalat. Di masjid ini aku mendengar darinya kitab Musnad Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafii. Ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami tentangnya Waziroh binti Umar bin Al-Manja. Ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Husain bin Abi Bakr bin Al-Mubarak Az-Zubaidi. Ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Zur’ah Thahir bin Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi. Ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Hasan Al-Makki bin Muhammad bin Manshur bin Ilal Al-Ardhi. Ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Al-Qadhi Abu Bakr Ahmad bin Al-Hasan Al-Harsyi, dari Abu Al-Abbas bin Ya’qub Al-Asham, dari Ar-Rabi bin Sulaiman Al-Muradi, dari Imam Abu Abdullah Asy-Syafii.”

Aku juga mendengar dari Hakim Majduddin di masjid yang disebutkan ini kitab Masyariq Al-Anwar karya Imam Radhiyuddin Abu Al-Fadha’il Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Hasan Ash-Shaghani berdasarkan hak mendengarnya dari Syaikh Jalaluddin Abu Hasyim Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Hasyimi Al-Kufi dengan riwayannya dari Imam Nizhamuddin Mahmud bin Muhammad bin Umar Al-Harawi dari sang pengarang.

Di antara makam yang ada di sana adalah makam Syaikh yang saleh Zarkub. Di atasnya terdapat zawiyah untuk memberi makan. Semua makam ini berada di dalam kota. Demikian pula sebagian besar kuburan penduduknya, karena seseorang dari mereka jika anaknya atau istrinya meninggal, ia membuat makam untuknya dari salah satu kamar rumahnya dan menguburkannya di sana. Ia mengalasi kamar itu dengan tikar dan permadani serta meletakkan banyak lilin di kepala dan kaki mayat. Ia membuat pintu untuk kamar itu ke arah gang dan jendela besi. Para qari masuk dari sana membaca dengan suara-suara yang indah. Tidak ada di bumi yang berpenghuni ini suara yang lebih indah dalam membaca Al-Quran selain penduduk Syiraz. Penghuni rumah merawat makam, mengalasi dan menyalakan lampu-lampu di dalamnya, seolah-olah mayat tidak pernah pergi. Disebutkan kepadaku bahwa mereka memasak setiap hari bagian mayat dari makanan dan menyedekahkannya untuknya.

Kisah Fakih yang Dermawan

Suatu hari aku melewati salah satu pasar kota Syiraz. Aku melihat sebuah masjid yang bangunannya kokoh dan permadaninya indah. Di dalamnya terdapat mushaf-mushaf yang diletakkan dalam sampul sutra yang diletakkan di atas kursi. Di sisi utara masjid terdapat zawiyah dengan jendela yang terbuka ke arah pasar. Di sana ada seorang syaikh yang penampilannya dan pakaiannya bagus. Di hadapannya ada mushaf yang sedang ia baca. Aku memberi salam kepadanya dan duduk bersamanya. Ia bertanya kepadaku tentang kedatanganku, lalu aku memberitahunya. Aku bertanya kepadanya tentang urusan masjid ini. Ia memberitahuku bahwa dialah yang membangunnya dan mewakafkan banyak wakaf untuknya untuk para qari dan lainnya, dan bahwa zawiyah yang aku duduki bersamanya adalah tempat kuburnya jika Allah menakdirkan kematiannya di kota itu. Kemudian ia mengangkat sebuah permadani yang ada di bawahnya, dan kuburan itu ditutupi dengan papan-papan kayu. Ia memperlihatkan kepadaku sebuah peti yang ada di hadapannya. Ia berkata, “Di dalam peti ini ada kain kafanku, wewangianku, dan dirham-dirham yang dengannya aku menyewa diriku untuk menggali sumur bagi seorang lelaki saleh. Ia membayarku dirham-dirham ini, lalu aku menyimpannya agar menjadi biaya pemakamanku. Sisanya akan disedekahkan.” Aku kagum dengan urusannya dan ingin pulang, tetapi ia bersumpah kepadaku dan menjamuku di tempat itu.

Di antara makam di luar Syiraz adalah kuburan Syaikh yang saleh yang dikenal sebagai As-Saadi. Ia adalah penyair terbaik pada zamannya dalam bahasa Persia, dan kadang-kadang ia menyinggung dalam ucapannya dengan bahasa Arab. Ia memiliki zawiyah yang telah ia bangun di tempat itu dengan indah. Di dalamnya terdapat taman yang cantik. Zawiyah ini berada di dekat hulu sungai besar yang dikenal sebagai Ruknabad. Syaikh telah membuat di sana kolam-kolam kecil dari marmer untuk mencuci pakaian. Orang-orang keluar dari kota untuk menziarahinya, makan dari hidangannya, mencuci pakaian mereka di sungai itu, lalu pulang. Demikian pula yang kulakukan di sana, semoga Allah merahmatinya. Di dekat zawiyah ini terdapat zawiyah lain yang bersambung dengan madrasah yang dibangun di atas kuburan Syamsuddin As-Simnani. Ia adalah salah seorang amir yang ahli fikih, dan dikuburkan di sana atas wasiatnya.

Di kota Syiraz terdapat salah seorang fuqaha besar, yaitu Syarif Majiduddin. Urusannya dalam hal kedermawanan sangat mengagumkan. Kadang-kadang ia menyedekahkan semua yang ada padanya termasuk pakaian yang ada di tubuhnya, lalu ia mengenakan jubah tambalnya. Pembesar-pembesar kota masuk menemuinya dan mendapatinya dalam keadaan seperti itu, lalu mereka memberinya pakaian. Penghasilannya setiap hari dari Sultan adalah lima puluh dinar dirham.

Kemudian aku keluar dari Syiraz untuk berziarah ke kuburan Syaikh yang saleh Abu Ishaq Al-Kazaruni di Kazarun yang berjarak dua hari perjalanan dari Syiraz. Kami singgah pada hari pertama di negeri Asy-Syul. Mereka adalah sekelompok orang Ajam yang tinggal di padang pasir dan di antara mereka ada orang-orang saleh.

Kemuliaan Bagi Sebagian Dari Mereka

Suatu hari saya berada di salah satu masjid di Shiraz dan saya duduk membaca kitab Allah Azza wa Jalla setelah salat Zuhur. Tiba-tiba terlintas di pikiran saya andai saya memiliki mushaf yang mulia untuk saya baca. Di tengah-tengah itu, seorang pemuda masuk menemui saya dan berkata dengan suara tegas: “Ambillah!” Saya mengangkat kepala ke arahnya lalu dia melemparkan sebuah mushaf yang mulia ke pangkuan saya, kemudian pergi meninggalkan saya. Saya menyelesaikan membacanya pada hari itu dan menunggunya untuk mengembalikannya kepadanya tetapi dia tidak kembali lagi. Lalu saya bertanya tentangnya, dan dikatakan kepada saya: “Itu adalah Bahlul asy-Syauli.” Saya tidak melihatnya lagi setelah itu.

Kami tiba pada sore hari kedua di Kazarun dan menuju zawiyah Syaikh Abu Ishaq, semoga Allah memberi manfaat melaluinya, dan kami bermalam di sana pada malam itu. Kebiasaan mereka adalah memberikan makan kepada siapa saja yang datang, siapapun dia, berupa harishah yang terbuat dari daging, gandum, dan mentega yang dimakan dengan roti tipis. Mereka tidak membiarkan orang yang datang kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan sampai dia tinggal sebagai tamu selama tiga hari. Kebutuhan-kebutuhannya disampaikan kepada syaikh yang ada di zawiyah, kemudian syaikh menyampaikannya kepada para fakir yang menetap di zawiyah, dan mereka berjumlah lebih dari seratus orang, di antara mereka ada yang sudah menikah dan ada yang masih bujangan yang hidup sederhana. Mereka mengkhatamkan Al-Quran dan berdzikir serta berdoa untuknya di makam Syaikh Abu Ishaq, maka kebutuhannya terpenuhi dengan izin Allah.

Syaikh Abu Ishaq ini sangat diagungkan oleh penduduk India dan Tiongkok. Kebiasaan para penumpang laut Tiongkok adalah jika cuaca berubah dan mereka takut akan perompak, mereka bernazar untuk Abu Ishaq. Setiap orang menuliskan di atas dirinya apa yang dia nazarkan. Ketika mereka tiba dengan selamat di daratan, para pelayan zawiyah naik ke kapal dan memegang kendali serta mengambil nazar dari setiap orang yang bernazar. Tidak ada kapal yang datang dari Tiongkok atau India kecuali di dalamnya ada ribuan dinar. Para wakil datang dari pihak pelayan zawiyah dan mengambilnya. Di antara para fakir ada yang datang meminta sedekah dari syaikh, maka dituliskan untuknya surat perintah yang di dalamnya terdapat tanda syaikh yang terukir dalam cetakan dari perak. Mereka meletakkan cetakan itu dalam pewarna merah dan menempelkannya pada surat perintah sehingga bekas cap tertinggal di dalamnya. Isinya adalah: “Barangsiapa yang memiliki nazar untuk Syaikh Abu Ishaq hendaklah memberikannya kepada si fulan.” Surat perintah itu bisa bernilai seribu atau seratus atau di antaranya atau kurang dari itu sesuai dengan keadaan fakir tersebut. Ketika menemukan orang yang memiliki nazar, mereka mengambilnya dan menuliskan kwitansi di belakang surat perintah tentang apa yang telah diambil.

Suatu ketika Raja India pernah bernazar untuk Syaikh Abu Ishaq sebesar sepuluh ribu dinar. Berita itu sampai kepada para fakir zawiyah, lalu salah seorang dari mereka pergi ke India, mengambilnya, dan kembali dengannya ke zawiyah.

Kemudian kami melakukan perjalanan dari Kazarun ke kota az-Zaidain. Kota ini dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat makam Zaid bin Tsabit dan makam Zaid bin Arqam al-Anshari, keduanya adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, semoga Allah meridai keduanya. Kota ini adalah kota yang indah dengan banyak taman dan sumber air, pasar-pasar yang menarik, dan masjid-masjid yang mengagumkan. Penduduknya saleh, amanah, dan beragama. Di antara penduduknya adalah Hakim Nuruddin az-Zaidani. Dia pernah datang ke India dan diangkat menjadi hakim di Dzibat al-Mahal, yaitu pulau-pulau yang banyak yang diperintah oleh Jalaluddin bin Shalahuddin Shalih. Dia menikahi saudara perempuan raja ini. Akan datang pembahasannya dan pembahasan putrinya Khadijah yang memegang pemerintahan setelah dia di pulau-pulau ini. Di sanalah Hakim Nuruddin yang disebutkan tadi wafat.

Kemudian kami melakukan perjalanan dari sana ke al-Huwaizaa. Kota ini adalah kota kecil yang dihuni oleh orang-orang Persia. Jarak antara kota ini dengan Basrah adalah perjalanan empat hari, dan antara kota ini dengan Kufah adalah perjalanan lima hari. Di antara penduduknya adalah Syaikh yang saleh dan ahli ibadah Jamaluddin al-Huwaizai, syaikh dari khanqah Said as-Su’ada di Kairo.

Kemudian kami melakukan perjalanan dari sana menuju Kufah melalui padang pasir yang tidak ada air kecuali di satu tempat yang disebut ath-Tharfawi. Kami sampai ke tempat itu pada hari ketiga perjalanan kami. Kemudian kami tiba setelah hari kedua sejak kami singgah di sana ke kota Kufah.

Kota Kufah

Kufah adalah salah satu kota induk di wilayah Irak, yang dibedakan dengan keutamaan khusus, tempat tinggal para sahabat dan tabi’in, tempat para ulama dan orang-orang saleh, dan ibu kota Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin. Namun kehancuran telah menguasainya karena tangan-tangan agresif yang menyerangnya dan kerusakannya berasal dari Arab Khafajah yang bertetangga dengannya, karena mereka memutus jalannya. Tidak ada tembok di kota itu, bangunannya dari batu bata, pasar-pasarnya indah, dan kebanyakan yang dijual di dalamnya adalah kurma dan ikan.

Masjid besarnya adalah masjid yang besar dan mulia, serambinya ada tujuh yang berdiri di atas tiang-tiang batu besar yang dipahat dan dibuat berbentuk potongan-potongan, diletakkan sebagian di atas sebagian yang lain dan dicor dengan timah, dan tingginya sangat berlebihan. Di masjid ini terdapat jejak-jejak yang mulia. Di antaranya adalah ruangan di depan mihrab di sebelah kanan orang yang menghadap kiblat. Dikatakan bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam memiliki tempat salat di tempat itu. Tidak jauh dari sana terdapat mihrab yang terbuat dari kayu jati yang tinggi, yaitu mihrab Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Di sanalah dia dipukul oleh Ibnu Muljam yang celaka. Orang-orang sengaja datang salat di sana.

Di sudut ujung serambi ini terdapat masjid kecil yang juga terbuat dari kayu jati. Disebutkan bahwa itu adalah tempat di mana tungku meluap pada saat banjir Nuh alaihissalam. Di belakangnya di luar masjid terdapat rumah yang mereka klaim sebagai rumah Nuh alaihissalam. Di depannya terdapat rumah yang mereka klaim sebagai tempat ibadah Idris alaihissalam. Bersambung dengan itu adalah tanah lapang yang berhubungan dengan dinding kiblat masjid. Dikatakan bahwa itu adalah tempat pembuatan kapal Nuh alaihissalam.

Di ujung tanah lapang ini terdapat rumah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan rumah tempat dia dimandikan. Bersambung dengannya adalah rumah yang juga dikatakan sebagai rumah Nuh alaihissalam. Allah lebih mengetahui kebenaran semua itu.

Di sisi timur masjid terdapat rumah yang tinggi yang bisa didaki. Di dalamnya terdapat makam Muslim bin Aqil bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Tidak jauh dari sana, di luar masjid, terdapat makam Atikah dan Sakinah, putri-putri Husain alaihissalam.

Adapun istana pemerintahan di Kufah yang dibangun oleh Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, tidak tersisa kecuali fondasinya! Sungai Efrat berjarak sekitar setengah farsakh dari Kufah di sisi timurnya, dan dikelilingi oleh taman-taman kurma yang lebat yang saling berhubungan. Saya melihat di sebelah barat pemakaman Kufah sebuah tempat yang sangat hitam di atas dataran putih. Saya diberitahu bahwa itu adalah makam Ibnu Muljam yang celaka, dan bahwa penduduk Kufah datang setiap tahun dengan kayu api yang banyak dan menyalakan api di tempat makamnya selama tujuh hari. Tidak jauh dari sana terdapat kubah yang saya diberitahu bahwa itu adalah makam al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Kemudian kami berangkat dan singgah di Bir Malahah. Ini adalah kota yang indah di antara taman-taman kurma. Saya menginap di luarnya dan tidak suka memasukinya karena penduduknya adalah Rafidhah (Syiah). Kami berangkat darinya pada pagi hari dan singgah di kota al-Hillah. Ini adalah kota besar yang memanjang mengikuti sungai Efrat yang berada di sebelah timurnya. Kota ini memiliki pasar-pasar indah yang mencakup berbagai fasilitas dan kerajinan, dan sangat ramai. Taman-taman kurma tersebar di dalamnya baik di dalam maupun di luar, dan rumah-rumahnya berada di antara taman-taman.

Kota ini memiliki jembatan besar yang terbuat dari perahu-perahu yang tersambung dan tersusun rapi di antara kedua tepi, diikat dengan rantai besi dari kedua sisinya yang terikat di kedua tepi pada kayu besar yang tertancap di pinggir sungai.

Seluruh penduduk kota ini adalah Imamiyah Dua Belas. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: satu dikenal sebagai Kurdi dan yang lain dikenal sebagai Ahli Jami’ain. Fitnah di antara mereka terus berlanjut dan pertempuran selalu terjadi.

Tidak jauh dari pasar besar di kota ini terdapat masjid yang di pintunya tergantung tirai sutra. Mereka menyebutnya Masyhad Shahib az-Zaman. Kebiasaan mereka adalah setiap malam seratus orang dari penduduk kota keluar dengan membawa senjata dan pedang terhunus. Mereka datang kepada amir kota setelah salat Asar dan mengambil darinya seekor kuda atau bagal yang dipasangi pelana dan kekang. Mereka memukul genderang, terompet, dan sangkakala di depan hewan itu. Lima puluh orang berjalan di depannya dan lima puluh mengikutinya, sementara yang lain berjalan di kanan dan kirinya. Mereka datang ke masyhad Shahib az-Zaman dan berdiri di pintu sambil berkata: “Dengan nama Allah, wahai Shahib az-Zaman, dengan nama Allah keluarlah! Kerusakan telah muncul dan kezaliman telah banyak, inilah saatnya keluarmu agar Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan melaluimu.” Mereka terus begitu sambil memukul terompet, genderang, dan sangkakala hingga waktu Maghrib. Mereka mengatakan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari memasuki masjid itu dan menghilang di dalamnya, dan bahwa dia akan keluar. Dia adalah Imam yang Ditunggu menurut mereka.

Setelah kematian Sultan Abu Said, Amir Ahmad bin Rumaisyah bin Abi Numayy, amir Mekah, telah menguasai kota al-Hillah. Dia memerintahnya selama beberapa tahun dan memiliki reputasi yang baik yang dipuji oleh penduduk Irak, sampai Syaikh Hasan, sultan Irak, mengalahkannya, menyiksanya, dan membunuhnya, serta mengambil harta dan simpanan yang ada padanya.

Kemudian kami melakukan perjalanan dari sana ke kota Karbala, masyhad Husain bin Ali alaihimassalam. Kota ini adalah kota kecil yang dikelilingi oleh taman-taman kurma dan diairi oleh air sungai Efrat. Raudhah yang suci berada di dalamnya, dan di atasnya terdapat madrasah besar dan zawiyah yang mulia yang di dalamnya tersedia makanan bagi yang datang dan yang pergi. Di pintu raudhah terdapat penjaga dan petugas. Tidak ada yang masuk kecuali dengan izin mereka. Orang mencium ambang pintu yang mulia yang terbuat dari perak. Di atas darih yang suci terdapat lentera-lentera dari emas dan perak, dan di pintu-pintunya terdapat tirai sutra.

Penduduk kota ini terbagi menjadi dua kelompok: Aulad Rukhaik dan Aulad Faiz. Di antara mereka selalu terjadi pertempuran. Mereka semua adalah Imamiyah yang berasal dari satu bapak. Karena fitnah mereka, kota ini menjadi hancur.

Kemudian kami melakukan perjalanan dari sana ke Baghdad.

Kota Baghdad

Kota Darussalam, ibu kota Islam yang memiliki kedudukan mulia dan keutamaan tinggi, tempat tinggal para khalifah dan tempat para ulama. Abu al-Husain bin Jubair radhiyallahu anhu berkata: “Kota kuno ini, meskipun masih menjadi ibu kota Khilafah Abbasiyah dan pusat dakwah Imamiyah Quraisy, namun kemuliaannya telah hilang dan tidak tersisa kecuali namanya saja. Dibandingkan dengan kondisinya sebelum berbagai bencana menimpanya dan berbagai musibah menatapnya, kota ini seperti reruntuhan yang usang atau bayangan khayalan yang berdiri. Tidak ada keindahan di dalamnya yang dapat menghentikan pandangan dan menarik perhatian dari orang yang lalai untuk berhenti dan melihat, kecuali sungai Tigrisnya yang berada di antara sisi timur dan baratnya seperti cermin yang dipoles di antara dua sisinya, atau kalung yang tersusun di antara dua leher. Kota ini mengunjunginya tanpa merasa haus, dan menatapnya dalam cermin yang mengkilap yang tidak berkarat. Keindahan sejati timbul di antara udaranya dan airnya.”

Ibnu Juzay berkata: “Seolah-olah Abu Tammam Habib bin Aus telah melihat apa yang akan terjadi padanya ketika dia berkata tentangnya:

Sungguh telah datang kepada Baghdad yang meratapi dirinya, maka hendaklah yang menangisinya menangisinya karena kehancuran zaman!

Dahulu di atas airnya sementara perang menyala, dan api padam karena keindahan di sekitarnya

Diharapkan untuknya masa pemulihan yang baik di masa depan, namun sekarang orang yang berharap telah menyimpan keputusasaan terhadapnya

Seperti wanita tua yang masa mudanya telah berlalu, dan hilang darinya keindahan yang dahulu membahagiakan hatinya!

Orang-orang telah menggubah syair dalam memuji Baghdad dan menyebutkan keindahannya dengan panjang lebar, mereka mendapati ruang untuk berkata-kata yang luas sehingga mereka memperpanjang dan memperindah puisi-puisi mereka. Tentang Baghdad, Imam Hakim Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Ali bin Nashr al-Maliki al-Baghdadi berkata, dan ayahku, semoga Allah merahmatinya, menyandarkan puisi ini kepadaku beberapa kali:

Udara yang harum di Baghdad membangkitkan kerinduanku Mendekat kepadanya meski takdir menghalangi Bagaimana aku akan meninggalkannya hari ini, padahal telah berkumpul Dua udara yang harum, yang diperpanjang dan yang dipendekkan

Tentang Baghdad, beliau juga berkata, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya:

Salam untuk Baghdad di setiap tempat Dan memang pantas bagiku salam yang berlipat ganda Demi Allah, aku tidak meninggalkannya karena benci kepadanya Dan sungguh aku mengenal kedua tepi sungainya Bukan karena kota itu sempit bagiku meski luasnya Dan bukan karena takdir tidak membantuku di dalamnya Kota itu seperti seorang sahabat yang aku suka mendekatkan diri kepadanya Tetapi akhlaknya menjauhkannya dan berbeda!

Tentang Baghdad, beliau juga berkata dengan nada marah kepadanya, dan ayahku, semoga Allah merahmatinya, menyandarkan puisi ini kepadaku beberapa kali:

Baghdad adalah rumah yang luas bagi orang-orang kaya Dan bagi orang-orang miskin adalah rumah kesempitan dan kesusahan Aku terus berjalan tersesat di gang-gangnya Seolah-olah aku adalah mushaf di rumah seorang zindiq!!

Tentang Baghdad, Hakim Abu al-Hasan Ali bin al-Nabih berkata dalam sebuah qasidah:

Aku bergembira dengan Iraq, bulan yang bersinar Maka aku melipat kegelapan dan mengarungi terik Dan merasa nikmat dengan hembusan angin Baghdad Hampir-hampir terbang kalau bukan karena padang pasir Aku ingat dari lapangan-lapangan Karkh, taman Yang selalu hijau dan air yang jernih Dan aku memetik dari bukit-bukit Muhul bunga Dan aku melihat dari tempat terbit Taj cahaya

Seorang wanita Baghdad dalam menyebutkannya:

Ah, Baghdad dan Iraqnya Dan kijang-kijangnya dan sihir di matanya Dan majelisnya di tepi Sungai Furat dengan wajah-wajah Yang bulan-bulan sabitnya tampak di kalung-kalungnya Berjalan angkuh dalam kenikmatan seolah-olah Cinta yang murni diciptakan dari akhlaknya Jiwaku sebagai tebusan untuknya, maka keindahan apa Di dunia yang bersinar dari cahaya kemerangannya

Kembali ke pembahasan, Baghdad memiliki dua jembatan yang dibangun dengan cara seperti yang kami sebutkan dalam jembatan kota Hillah, dan orang-orang melewatinya siang dan malam, pria dan wanita, mereka dalam hal itu berada dalam tamasya yang terus-menerus. Di Baghdad terdapat masjid-masjid tempat khutbah disampaikan dan shalat Jumat dilaksanakan, sebanyak sebelas masjid, di antaranya di sisi barat ada delapan dan di sisi timur ada tiga. Adapun masjid-masjid selain itu sangat banyak, demikian juga madrasah-madrasahnya, kecuali bahwa sebagiannya telah rusak. Pemandian-pemandian Baghdad sangat banyak dan termasuk pemandian yang paling indah dan paling banyak, dilapisi dengan ter dan diratakan dengannya sehingga terlihat oleh yang melihatnya seperti marmer hitam.

Ter ini didatangkan dari mata air antara Kufah dan Basrah yang selalu memancarkan ter dan mengeras di pinggir-pinggirnya seperti tanah liat, lalu diambil dari sana dan dibawa ke Baghdad. Di setiap pemandian terdapat banyak kamar pribadi, setiap kamar dilapisi dengan ter, setengah dindingnya dari bagian bawah dicat dengan ter dan setengah bagian atas dicat dengan kapur putih yang bersih, maka dua hal yang berlawanan di dalamnya terkumpul dengan keindahan yang saling berhadapan. Di dalam setiap kamar pribadi terdapat kolam dari marmer dengan dua pipa, satu mengalirkan air panas dan yang lain mengalirkan air dingin. Maka orang masuk ke kamar sendirian tanpa ada yang berbagi dengannya kecuali jika dia menginginkan itu. Di sudut setiap kamar juga terdapat kolam lain untuk mandi, di dalamnya juga ada dua pipa yang mengalirkan air panas dan dingin. Setiap orang yang masuk diberi tiga handuk: satu untuk diikatkan saat masuk, yang lain untuk diikatkan saat keluar, dan yang ketiga untuk mengeringkan air dari tubuhnya. Aku tidak pernah melihat kesempurnaan seperti ini di kota mana pun selain Baghdad, dan beberapa negeri mendekatinya dalam hal itu.

Tentang Sisi Barat Baghdad

Sisi barat Baghdad adalah yang pertama kali dibangun, dan sekarang sebagian besarnya sudah rusak, namun demikian masih tersisa darinya tiga belas kawasan, setiap kawasan seperti sebuah kota, di dalamnya terdapat dua atau tiga pemandian, dan di delapan kawasan terdapat masjid-masjid jami’.

Di antara kawasan-kawasan ini adalah kawasan Bab al-Basrah, dan di dalamnya terdapat masjid Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, semoga Allah merahmatinya, dan rumah sakit (maristan) berada di antara kawasan Bab al-Basrah dan kawasan al-Syari’ di tepi Sungai Dijlah, dan itu adalah istana besar yang rusak, masih tersisa bekasnya. Di sisi barat ini dari tempat-tempat ziarah terdapat makam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah meridhainya, dan ia berada di kawasan Bab al-Basrah. Di jalan Bab al-Basrah terdapat tempat ziarah yang bangunannya megah, di dalamnya terdapat makam yang luas gundukan tanahnya, tertulis di atasnya: Ini adalah makam Aun, salah seorang putra Ali bin Abi Thalib. Di sisi ini terdapat makam Musa al-Kazhim bin Ja’far ash-Shadiq, ayah dari Ali bin Musa ar-Ridha, dan di sampingnya makam al-Jawad. Kedua makam berada di dalam taman, di atasnya terdapat panggung yang dilapisi dengan kayu yang di atasnya terdapat lempengan-lempengan perak.

Tentang Sisi Timur Baghdad

Bagian timur Baghdad ini pasar-pasarnya ramai, penatannya sangat bagus, dan pasar yang paling besar adalah pasar yang dikenal dengan nama pasar Selasa (Suq ath-Thalatha), setiap kerajinan di dalamnya terpisah sendiri. Di tengah pasar ini terdapat Madrasah Nizhamiyah yang menakjubkan yang menjadi perumpamaan karena keindahannya. Di ujungnya terdapat Madrasah Mustanshiriyah, dinisbatkan kepada Amirul Mukminin al-Mustanshir Billah Abu Ja’far bin Amirul Mukminin azh-Zhahir bin Amirul Mukminin an-Nashir. Di dalamnya terdapat empat madzhab, setiap madzhab memiliki iwan dengan masjid dan tempat pengajaran, dan tempat duduk pengajar berada di kubah kayu kecil di atas kursi yang dialasi permadani. Pengajar duduk dengan penuh ketenangan dan keagungan, mengenakan pakaian hitam dan sorban. Di kanan dan kirinya terdapat dua mu’id (asisten) yang mengulang semua yang ia dikte. Demikian pula susunan setiap majelis dari empat majelis ini. Di dalam madrasah ini terdapat pemandian untuk para pelajar dan tempat wudhu.

Di bagian timur ini terdapat tiga masjid tempat shalat Jumat dilaksanakan: Pertama, masjid Khalifah yang berhubungan dengan istana-istana khalifah dan rumah-rumah mereka, masjid yang besar dengan banyak tempat minum dan tempat wudhu serta tempat mandi. Aku bertemu di masjid ini dengan Syaikh Imam Alim Shalih Musnad Iraq Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali bin Umar al-Qazwini, dan aku mendengar darinya di dalamnya semua Musnad Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin al-Fadhl bin Bahram ad-Darimi, itu pada bulan Rajab tahun tujuh ratus dua puluh tujuh. Ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Syaikhah Shalihah Musnad Sitt al-Muluk Fathimah binti al-Adl Tajuddin Abu al-Hasan Ali bin Ali bin Abi al-Badr, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Syaikh Abu Bakr Muhammad bin Mas’ud bin Bahrawaz ath-Thabib al-Maristani, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu al-Waqt Abdul Awwal bin Syu’aib as-Sinjari ash-Shufi, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Imam Abu al-Hasan Abdurrahman bin Muhammad bin al-Muzhaffar ad-Dawudi, ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Hamuwaih as-Sarakhsi, dari Abu Imran Isa bin Umar bin al-Abbas as-Samarqandi, dari Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin al-Fadhl ad-Darimi. Masjid kedua adalah masjid Sultan yang berada di luar kota dan berhubungan dengannya istana-istana yang dinisbatkan kepada Sultan. Masjid ketiga adalah masjid ar-Rusafah, dan antara masjid ini dengan masjid Sultan sekitar satu mil.

Tentang Makam-Makam Khalifah di Baghdad dan Makam Sebagian Ulama dan Orang-Orang Shalih di Sana

Makam-makam khalifah-khalifah Abbasiyah, semoga Allah meridhai mereka, berada di ar-Rusafah, dan di atas makam setiap orang dari mereka tertulis nama pemiliknya. Di antaranya makam al-Mahdi, makam al-Hadi, makam al-Amin, makam al-Mu’tashim, makam al-Watsiq, makam al-Muntashir, makam al-Musta’in, makam al-Mu’tazz, makam al-Muhtadi, makam al-Mu’tamid, makam al-Mu’tadhid, makam al-Muktafi, makam al-Muqtadir, makam al-Qahir, makam ar-Radhi, makam al-Mustakfi, makam al-Muthi’, makam ath-Tha’i’, makam al-Qa’im, makam al-Qadir, makam al-Mustazhir, makam al-Mustarsyid, makam ar-Rasyid, makam al-Muqtafi, makam al-Mustanjid, makam al-Mustadhi, makam an-Nashir, makam azh-Zhahir, makam al-Mustanshir, makam al-Musta’shim, dan ia adalah yang terakhir dari mereka. Ketika tentara Tatar masuk Baghdad dengan pedang, mereka menyembelihnya beberapa hari setelah masuk, dan terhenti dari Baghdad nama Khilafah Abbasiyah, itu pada tahun enam ratus lima puluh empat. Dekat ar-Rusafah terdapat makam Imam Abu Hanifah, semoga Allah meridhainya, di sana terdapat kubah besar dan zawiyah yang menyediakan makanan bagi yang datang dan yang pergi. Tidak ada di kota Baghdad sekarang zawiyah yang menyediakan makanan kecuali zawiyah ini. Maha Suci Yang menghilangkan segala sesuatu dan mengubahnya. Dekat sana terdapat makam Imam Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, semoga Allah meridhainya, dan tidak ada kubah di atasnya. Disebutkan bahwa kubah dibangun di atas makamnya beberapa kali tetapi runtuh dengan qudrat Allah. Makamnya diagungkan oleh penduduk Baghdad dan kebanyakan mereka menganut madzhabnya. Dekat makamnya terdapat makam Abu Bakr asy-Syibli dari para imam Sufi, semoga Allah merahmatinya, makam Sari as-Saqathi, makam Bisyr al-Hafi, makam Dawud ath-Tha’i, makam Abu al-Qasim al-Junaid, semoga Allah meridhai mereka semua.

Penduduk Baghdad memiliki jadwal setiap hari Jumat untuk mengunjungi salah seorang syekh dari para syekh tersebut, dan hari lain untuk syekh yang lain, demikian seterusnya hingga akhir pekan. Di Baghdad banyak terdapat makam orang-orang saleh dan para ulama, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka. Bagian timur Baghdad ini tidak memiliki buah-buahan dan harus didatangkan dari bagian barat karena di sana terdapat kebun-kebun dan taman-taman. Kedatangan saya ke Baghdad bertepatan dengan keberadaan raja Irak di sana, maka mari kita sebutkan tentang dia di sini.

Tentang Sultan Irak dan Khurasan

Dia adalah Sultan yang mulia Abu Said Bahadur Khan. Khan pada mereka artinya raja, dan Bahadur dengan ba (b) berharakat fathah, dal (d) berharakat dhammah dan diakhiri dengan ra (r), putra Sultan yang mulia Muhammad Khudabandah, dan dia adalah orang yang masuk Islam dari raja-raja Tatar. Penyebutan namanya masih diperdebatkan. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa namanya Khudabandah dengan kha (kh) berharakat dhammah, dzal (dz) berharakat fathah, dan Bandah tidak diperselisihkan, yaitu dengan ba (b) berharakat fathah, nun (n) berharakat sukun, dal (d) berharakat fathah dan ha (h) istirahat. Tafsirannya menurut pendapat ini adalah hamba Allah karena Khuda dalam bahasa Persia adalah nama Allah azza wa jalla, dan Bandah artinya budak atau hamba atau yang semakna dengan keduanya. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya adalah Khar Bandah dengan kha (kh) berharakat fathah dan ra (r) berharakat dhammah. Tafsiran Khar dalam bahasa Persia adalah keledai, maka artinya menurut ini adalah budak keledai. Lihatlah betapa jauh perbedaan antara dua pendapat ini! Pendapat kedua inilah yang lebih masyhur, dan sepertinya pendapat pertama diubah oleh orang yang fanatik. Dikatakan bahwa alasan penamaannya dengan nama yang kedua ini adalah bahwa bangsa Tatar menamai anak yang baru lahir dengan nama orang pertama yang masuk ke rumah saat kelahirannya. Ketika sultan ini lahir, orang pertama yang masuk adalah penggembala keledai, dan mereka menyebutnya Khar Bandah maka dia diberi nama demikian. Saudara Khar Bandah adalah Qazaghan yang disebut orang Qazan, dan Qazaghan adalah kuali. Dikatakan bahwa dia diberi nama demikian karena ketika dia lahir, budak perempuan masuk membawa kuali.

Khudabandah adalah orang yang masuk Islam dan telah kami sebutkan kisahnya sebelumnya, bagaimana dia ingin memaksa orang-orang untuk memeluk paham Rafidhi ketika dia masuk Islam, dan kisah Hakim Majd al-Din bersamanya. Ketika dia meninggal, putranya Abu Said Bahadur Khan menjadi raja. Dia adalah raja yang utama dan mulia. Dia menjadi raja saat masih muda. Saya melihatnya di Baghdad, dia adalah pemuda yang paling tampan ciptaan Allah, belum tumbuh bulu di pipinya. Menterinya saat itu adalah Amir Ghiyath al-Din Muhammad bin Khawajah Rasyid, dan ayahnya dari orang-orang Yahudi yang hijrah. Sultan Muhammad Khudabandah, ayah Abu Said, menjadikannya menteri. Saya melihat mereka berdua suatu hari di perahu di Sungai Tigris yang mereka sebut Syabarah, yang mirip dengan perahu kecil. Di hadapannya ada Dimasyq Khawajah, putra Amir Jauban yang menguasai Abu Said. Di kanan dan kirinya ada perahu-perahu yang berisi orang-orang yang bermain musik dan bernyanyi. Saya melihat dari kemuliaan akhlaknya pada hari itu ketika sekelompok orang buta menghadapnya dan mengadu tentang keadaan mereka yang lemah. Dia memerintahkan untuk setiap orang dari mereka diberi pakaian dan budak laki-laki yang menuntunnya, serta nafkah yang mengalir untuk mereka.

Ketika Sultan Abu Said menjadi raja saat masih kecil seperti yang kami sebutkan, Amirul Umara Jauban menguasai urusannya dan menguasai kebijakannya, sehingga tidak ada di tangannya dari kerajaan kecuali namanya saja. Disebutkan bahwa dia membutuhkan pada salah satu hari raya nafkah untuk dibelanjakan, tetapi tidak ada jalan untuknya, maka dia mengirim kepada salah seorang pedagang yang memberinya uang yang dia inginkan. Keadaan tetap demikian hingga suatu hari istri ayahnya, Dunya Khatun, masuk menemuinya. Dia berkata kepadanya: “Seandainya kami adalah laki-laki, tidak akan kami biarkan Jauban dan putranya dalam keadaan seperti ini.” Dia menanyakan kepadanya apa maksudnya dengan ucapan ini. Dia berkata kepadanya: “Sungguh telah sampai urusan Dimasyq Khawajah bin Jauban hingga dia berani menggoda istri-istri ayahmu, dan dia bermalam tadi malam di tempat Tughy Khatun! Dia juga mengirim kepadaku dan berkata: ‘Malam ini aku akan bermalam di tempatmu.’ Tidak ada pendapat kecuali engkau mengumpulkan para amir dan pasukan, maka ketika dia naik ke benteng dengan sembunyi-sembunyi untuk bermalam, engkau dapat menangkapnya, dan ayahnya akan Allah cukupi urusannya.”

Jauban saat itu sedang tidak ada di Khurasan. Maka rasa cemburu menguasai Abu Said dan dia semalam merencanakan urusannya. Ketika dia tahu bahwa Dimasyq Khawajah ada di benteng, dia memerintahkan para amir dan pasukan untuk mengepungnya dari setiap arah. Ketika pagi tiba, Dimasyq keluar bersama seorang prajurit yang dikenal dengan Haji al-Mishri. Mereka menemukan rantai terbentang di pintu benteng dengan gembok di atasnya, sehingga dia tidak dapat keluar dengan berkuda. Maka Haji al-Mishri memukul rantai itu dengan pedangnya hingga putus dan mereka berdua keluar bersama. Pasukan mengepung mereka. Seorang amir dari para amir khusus yang dikenal dengan Mishr Khawajah dan seorang pemuda yang dikenal dengan Lu’lu’ mengejar Dimasyq Khawajah lalu membunuhnya dan membawa kepalanya kepada Raja Abu Said. Mereka melemparkannya di depan kudanya, dan itu adalah kebiasaan mereka bahwa mereka melakukan terhadap kepala-kepala musuh besar mereka. Sultan memerintahkan untuk merampas rumahnya, dan membunuh siapa yang melawan dari pelayan dan budak-budaknya.

Berita sampai kepada ayahnya Jauban yang berada di Khurasan. Bersamanya ada putra-putranya: Amir Hasan yang paling besar, Thalish, dan Jalu Khan yang paling kecil dari mereka dan dia adalah putra saudari Sultan Abu Said dari ibunya, Sati Bik, putri Sultan Khudabandah. Bersamanya ada pasukan Tatar dan penjaga mereka. Mereka sepakat untuk memerangi Sultan Abu Said dan bergerak menyerangnya. Ketika kedua pasukan bertemu, orang-orang Tatar lari ke sultan mereka dan meninggalkan Jauban sendirian. Ketika dia melihat itu, dia mundur dan lari ke gurun Sijistan. Dia masuk jauh ke dalamnya dan berniat untuk bergabung dengan Raja Herat, Ghiyath al-Din, meminta perlindungan kepadanya dan berlindung di kotanya. Dia memiliki jasa-jasa terdahulu kepadanya. Namun putranya Hasan dan Thalish tidak setuju dengannya dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya dia tidak akan menepati janji, dan dia telah mengkhianati Firuz Shah setelah dia berlindung kepadanya lalu membunuhnya.” Jauban menolak kecuali bergabung dengannya. Kedua putranya berpisah darinya dan dia pergi bersama putranya yang paling kecil, Jalu Khan. Ghiyath al-Din keluar untuk menyambutnya dan turun dari kuda untuknya lalu membawanya masuk ke kota dengan jaminan keamanan. Kemudian dia mengkhianatinya setelah beberapa hari dan membunuh putranya. Dia mengirim kedua kepala mereka kepada Sultan Abu Said.

Adapun Hasan dan Thalish, mereka berdua menuju Khawarizm dan pergi kepada Sultan Muhammad Uzbek. Dia memuliakan tempat tinggal mereka dan menempatkan mereka hingga terjadi sesuatu dari mereka berdua yang mewajibkan pembunuhan mereka, maka dia membunuh mereka. Jauban memiliki putra keempat bernama Damurtasy. Dia melarikan diri ke negeri Mesir. Raja Nashir memuliakannya dan memberinya Alexandria, tetapi dia menolak menerimanya. Dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya menginginkan pasukan untuk memerangi Abu Said.” Setiap kali Raja Nashir mengirimkan pakaian kepadanya, dia memberikan kepada orang yang mengantarkannya pakaian yang lebih baik darinya, meremehkan Raja Nashir. Dia menampakkan hal-hal yang mewajibkan pembunuhannya, maka dia membunuhnya dan mengirim kepalanya kepada Abu Said. Kami telah menyebutkan kisahnya dan kisah Qarasunqur sebelumnya. Ketika Jauban dibunuh, dia dan putranya dibawa dalam keadaan meninggal lalu dihentikan di Arafah dan dibawa ke Madinah untuk dikubur di makam yang dibuat Jauban dekat Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dicegah dari itu dan dikubur di Baqi. Jauban adalah orang yang mengalirkan air ke Mekah, semoga Allah ta’ala memuliakannya.

Ketika Sultan Abu Said memegang kerajaan secara penuh, dia ingin menikahi putri Jauban yang bernama Baghdad Khatun. Dia adalah salah satu wanita yang paling cantik. Dia adalah istri Syekh Hasan yang menguasai kerajaan setelah kematian Abu Said, dan dia adalah putra bibinya. Maka dia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, lalu Abu Said menikahinya. Dia adalah wanita yang paling disukai di sisinya. Wanita-wanita di kalangan Turki dan Tatar memiliki kedudukan yang sangat besar. Mereka ketika menulis suatu perintah mengatakan di dalamnya: atas perintah Sultan dan para Khatun. Setiap Khatun memiliki negeri, wilayah, dan pemasukan yang besar. Jika dia bepergian bersama Sultan, dia berada di perkemahan tersendiri.

Khatun ini menguasai Abu Said dan dia mengutamakannya dari yang lain. Keadaan tetap demikian sepanjang masa hidupnya. Kemudian dia menikahi seorang wanita bernama Dilsyad. Dia sangat mencintainya dan meninggalkan Baghdad Khatun. Dia cemburu karena itu dan meracuninya dengan sapu tangan yang dia gunakan untuk menyekanya setelah berhubungan intim! Maka dia meninggal dan keturunannya terputus. Para amirnya menguasai wilayah-wilayah seperti yang akan kami sebutkan. Ketika para amir tahu bahwa Baghdad Khatun adalah yang meracuninya, mereka sepakat untuk membunuhnya. Yang melakukan itu adalah pemuda Rum, Khawarjah Lu’lu’. Dia dari amir-amir besar dan yang senior. Dia mendatanginya saat dia berada di pemandian, lalu memukulnya dengan gada dan membunuhnya. Dia dibuang di sana beberapa hari dengan auratnya tertutup dengan secarik kain. Syekh Hasan menguasai kerajaan Irak Arab dan menikahi Dilsyad, istri Sultan Abu Said, seperti apa yang telah dilakukan Abu Said dengan menikahi istrinya.

Tentang Orang-orang yang Menguasai Kerajaan Setelah Kematian Sultan Abu Said

Di antara mereka adalah Syekh Hasan, putra bibinya yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dia menguasai seluruh Irak Arab. Di antara mereka adalah Ibrahim Shah putra Amir Sunaytah. Dia menguasai Mosul dan Diyar Bakr. Di antara mereka adalah Amir Artana. Dia menguasai negeri Turkoman yang juga dikenal dengan negeri Rum. Di antara mereka adalah Hasan Khawajah bin Damurtasy bin Jauban. Dia menguasai Tabriz, Sultaniyah, Hamadan, Qum, Qasyhan, Ray, Ramin, Farghanan, dan Kurj. Di antara mereka adalah Amir Tughatimur. Dia menguasai sebagian negeri Khurasan. Di antara mereka adalah Amir Husain putra Amir Ghiyath al-Din. Dia menguasai Herat dan sebagian besar negeri Khurasan. Di antara mereka adalah Malik Dinar. Dia menguasai negeri Makran dan negeri Kij. Di antara mereka adalah Muhammad Shah putra Muzaffar. Dia menguasai Yazd, Kirman, dan Warqu. Di antara mereka adalah Raja Quthb al-Din Tamtahan. Dia menguasai Hurmuz, Kisy, Qathif, Bahrain, dan Qalhat. Di antara mereka adalah Sultan Abu Ishaq yang telah disebutkan sebelumnya. Dia menguasai Syiraz, Isfahan, dan kerajaan Fars, dan itu perjalanan empat puluh lima. Di antara mereka adalah Sultan Afrasiyab Atabak. Dia menguasai Idzaj dan negeri-negeri lainnya, dan telah disebutkan sebelumnya.

Mari kita kembali kepada apa yang sedang kita bicarakan: Kemudian saya keluar dari Baghdad bersama perkemahan Sultan Abu Said. Maksud saya adalah untuk menyaksikan pengaturan raja Irak dalam perjalanan dan perkemahannya, bagaimana perpindahannya dan perjalanannya. Kebiasaan mereka adalah mereka berangkat saat terbit fajar dan berkemah saat dhuha. Pengaturan mereka adalah setiap amir dari para amir datang dengan pasukannya, genderang-genderangnya, dan bendera-benderanya lalu berdiri di tempat yang tidak dilampauinya, sudah ditentukan untuknya, entah di sayap kanan atau sayap kiri. Ketika mereka semua berkumpul dan barisan mereka lengkap, raja naik kuda dan dipukullah genderang-genderang berangkat dan terompet-terompetnya. Setiap amir dari mereka datang lalu memberi salam kepada raja dan kembali ke tempatnya. Kemudian di depan raja berjalan para hajib dan naqib, kemudian diikuti orang-orang yang bermain musik, mereka sekitar seratus orang mengenakan pakaian yang bagus dan mengendarai kendaraan Sultan. Di depan orang-orang musik ada sepuluh penunggang kuda yang menggendong sepuluh genderang dan lima penunggang kuda membawa lima terompet yang kami sebut ghaythah. Mereka memukul genderang-genderang dan terompet-terompet itu kemudian berhenti dan sepuluh orang dari ahli musik menyanyikan giliran mereka. Ketika mereka selesai, dipukullah genderang-genderang dan terompet-terompet itu kemudian mereka berhenti dan sepuluh yang lain menyanyikan giliran mereka, demikian seterusnya hingga genap sepuluh giliran. Pada saat itulah terjadi perkemahan. Di kanan dan kiri Sultan saat perjalanannya ada amir-amir besar, mereka sekitar lima puluh orang. Di belakangnya ada pembawa bendera, genderang, pasukan, dan terompet, kemudian budak-budak Sultan, kemudian para amir menurut tingkatan mereka. Setiap amir memiliki bendera, genderang, dan terompet. Yang mengatur semua itu adalah Amir Jandar yang memiliki kelompok besar. Hukuman bagi siapa yang tertinggal dari pasukan dan kelompoknya adalah sadel kudanya diambil lalu diisi pasir dan digantungkan di lehernya. Dia berjalan dengan kakinya hingga sampai ke tempat perkemahan! Kemudian dia dibawa kepada Amir lalu ditidurkan di tanah dan dipukul dua puluh lima kali cambuk di punggungnya, baik dia orang tinggi maupun rendah, mereka tidak segan terhadap siapa pun. Ketika mereka berkemah, Sultan berkemah bersama budak-budaknya di perkemahan tersendiri. Setiap Khatun dari istri-istrinya berkemah di perkemahan tersendiri. Setiap salah satu dari mereka memiliki imam, muadzin, qari’, dan pasar.

Para menteri, sekretaris, dan pegawai turun secara terpisah, dan mereka semua datang untuk menghadap setelah sholat Ashar dan pulang setelah sholat Isya terakhir, dengan obor-obor di hadapan mereka. Ketika akan berangkat, ditabuh genderang besar, kemudian genderang Khatun yang paling besar yaitu sang Ratu, lalu genderang para Khatun lainnya, kemudian genderang Menteri, lalu genderang para Amir sekaligus. Kemudian berkendara Amir barisan depan dengan pasukannya, lalu disusul para Khatun, kemudian barang-barang Sultan dan rombongannya serta barang-barang para Khatun, lalu seorang Amir kedua dengan pasukannya yang mencegah orang-orang memasuki wilayah antara barang-barang dan para Khatun, kemudian orang-orang lainnya! Saya bepergian dalam rombongan ini selama sepuluh hari, kemudian saya menemani Amir Alauddin Muhammad ke kota Tabriz. Ia termasuk Amir besar yang utama, dan kami tiba setelah sepuluh hari ke kota Tabriz dan turun di luarnya di tempat yang dikenal dengan nama Sham. Di sana terdapat makam Ghazan, Raja Irak, dan di atasnya ada madrasah yang bagus dan zawiyah yang menyediakan makanan untuk yang datang dan pergi berupa roti, daging, nasi yang dimasak dengan mentega dan halwa. Amir itu menginzalkanku di zawiyah tersebut, yang berada di antara sungai-sungai yang deras dan pepohonan yang rindang. Keesokan harinya aku memasuki kota melalui pintu yang dikenal dengan nama Pintu Baghdad, dan kami tiba di pasar besar yang dikenal dengan Pasar Ghazan, termasuk pasar terindah yang pernah kulihat di negara-negara dunia. Setiap kerajinan ada tempatnya sendiri tidak bercampur dengan yang lain. Aku melewati pasar para pedagang permata, maka pandanganku terpesona dengan apa yang kulihat dari berbagai jenis permata yang berada di tangan budak-budak tampan yang mengenakan pakaian mewah dengan pinggang diikat kain sutra, mereka di hadapan para pedagang menunjukkan permata kepada wanita-wanita Turki yang membelinya dalam jumlah banyak dan saling bersaing untuk mendapatkannya. Aku melihat dari semua itu fitnah yang harus kita berlindung kepada Allah darinya! Kami masuk ke pasar amber dan musk lalu melihat seperti itu atau lebih besar lagi. Kemudian kami tiba di Masjid Jami yang dibangun oleh Menteri Ali Syah yang dikenal dengan nama Gilan. Di luarnya sebelah kanan menghadap kiblat ada madrasah dan di sebelah kirinya zawiyah. Halaman masjid dilapisi marmer dan dindingnya dengan qasyani yang mirip zillij (keramik Maroko). Mengalir di dalamnya sungai air, dan ada berbagai jenis pohon, pohon anggur, dan pohon melati. Kebiasaan mereka adalah membaca setiap hari Surah Yasin, Surah Al-Fath, dan Surah An-Naba setelah sholat Ashar di halaman masjid, dan penduduk kota berkumpul untuk itu. Kami bermalam satu malam di Tabriz, kemudian keesokan harinya datang perintah Sultan Abu Said kepada Amir Alauddin agar datang kepadanya, maka aku kembali bersamanya. Aku tidak bertemu dengan seorang ulama pun di Tabriz. Kemudian kami bepergian hingga tiba di kemah Sultan, lalu Amir tersebut memberitahukan tentang keberadaanku dan memasukkanku menghadapnya. Ia bertanya kepadaku tentang negeriku, memberiku pakaian dan kendaraan, dan Amir memberitahunya bahwa aku ingin bepergian ke tanah suci Makkah. Maka ia memerintahkan memberiku bekal dan kendaraan dalam perjalanan bersama kafilah haji, dan menulis untukku surat kepada Amir Baghdad Khawajah Ma’ruf. Maka aku kembali ke kota Baghdad dan mendapatkan apa yang diperintahkan Sultan untukku.

Masih ada waktu lebih dari dua bulan sebelum keberangkatan kafilah, maka terlintas dalam pikiranku untuk bepergian ke Mosul dan Diyar Bakr agar aku bisa menyaksikan negeri-negeri tersebut dan kembali ke Baghdad ketika kafilah berangkat untuk menuju tanah suci Makkah. Maka aku keluar dari Baghdad menuju tempat persinggahan di Sungai Dujail yang bercabang dari Sungai Tigris dan mengairi banyak desa. Kemudian kami turun setelah dua hari di desa besar yang dikenal dengan nama Harbah yang subur dan luas. Kemudian kami berangkat dan turun di tempat di tepi Sungai Tigris dekat benteng yang bernama Al-Ma’syuq yang dibangun di atas Sungai Tigris. Di tepi timur benteng ini terdapat kota Surra Man Ra’a yang juga disebut Samarra, dan juga disebut Sam Rah, yang artinya dalam bahasa Persia adalah jalan Sam, dan Rah adalah jalan. Kota ini telah dikuasai kehancuran sehingga tidak tersisa kecuali sedikit. Udaranya sedang dan keindahannya menawan meskipun dalam keadaan rusak dan bekas-bekasnya telah lenyap. Di dalamnya juga terdapat makam Imam Mahdi seperti yang ada di Hillah. Kemudian kami berjalan dari sana satu hari perjalanan dan tiba di kota Tikrit, yang merupakan kota besar luas dengan pasar yang indah dan banyak masjid. Penduduknya terkenal dengan akhlak yang baik. Sungai Tigris berada di sisi utaranya, dan kota ini memiliki benteng yang kokoh di tepi Sungai Tigris. Kota ini kuno dengan tembok yang mengelilinginya. Kemudian kami berangkat dari sana dua hari perjalanan dan tiba di desa yang dikenal dengan nama Al-Aqr di tepi Sungai Tigris. Di atasnya ada bukit yang dulunya ada benteng dan di bawahnya khan yang dikenal dengan Khan Al-Hadid yang memiliki menara-menara dan bangunannya megah. Desa-desa dan pemukiman bersambung dari sana hingga Mosul. Kemudian kami berangkat dan turun di tempat yang dikenal dengan Al-Qayyarah dekat Sungai Tigris. Di sana ada tanah hitam dengan mata air yang memancarkan aspal, dan dibuat kolam-kolam untuk mengumpulkannya. Terlihat seperti tanah liat di permukaan tanah, berwarna hitam pekat, mengkilap dan basah, dengan aroma yang harum. Di sekeliling mata air tersebut ada kolam besar berwarna hitam yang di atasnya terdapat semacam lumut tipis yang dilemparkan ke pinggirnya dan juga berubah menjadi aspal. Dekat tempat ini ada mata air besar. Jika mereka ingin memindahkan aspal darinya, mereka menyalakan api padanya sehingga api itu menghilangkan kelembaban air yang ada, kemudian mereka memotongnya menjadi potongan-potongan dan memindahkannya. Telah disebutkan sebelumnya tentang mata air yang berada di antara Kufah dan Basrah seperti ini. Kemudian kami bepergian dari mata air ini dua hari perjalanan dan setelahnya kami tiba di Mosul.

Kota Mosul

Ini adalah kota kuno yang sangat subur, dan bentengnya yang dikenal dengan Al-Hadba sangat besar dan terkenal karena kekuatannya. Di atasnya ada tembok yang kokoh dengan menara-menara yang kuat, dan menyambung dengannya istana Sultan yang dipisahkan antara istana dan kota oleh jalan luas memanjang dari bagian atas kota sampai bawahnya. Kota ini memiliki dua tembok yang kokoh dengan menara-menara yang banyak dan berdekatan. Di bagian dalam tembok ada rumah-rumah bertingkat yang melingkari dindingnya, dan pintu-pintunya terbuka pada tembok karena luasnya. Aku tidak melihat tembok kota yang seperti ini kecuali tembok kota Delhi, ibu kota Raja India.

Mosul memiliki pinggiran kota besar dengan masjid-masjid, pemandian, penginapan, dan pasar-pasar. Di dalamnya ada Masjid Jami di tepi Sungai Tigris yang dikelilingi jendela-jendela besi dan berhubungan dengan teras-teras yang menghadap Sungai Tigris, sangat indah dan kokoh. Di depannya ada rumah sakit. Di dalam kota ada dua masjid jami, satu yang lama dan satu yang baru. Di halaman masjid yang baru ada kubah yang di dalamnya terdapat pilar marmer berbentuk segi delapan yang tinggi di atas tiang marmer. Dari sana keluar air dengan kuat dan deras, naik setinggi tinggi badan kemudian kembali turun sehingga terlihat sangat indah.

Qaysariyah (pasar tertutup) Mosul sangat indah dengan pintu-pintu besi dan dikelilingi toko-toko, serta rumah-rumah bertingkat yang kokoh. Di kota ini terdapat makam Nabi Jirjis alaihissalam dan di atasnya ada masjid. Makamnya berada di sudut masjid sebelah kanan bagi yang masuk ke dalamnya, terletak antara Masjid Jami yang baru dan Pintu Jembatan. Kami telah menziarahinya dan sholat di masjidnya, segala puji bagi Allah Taala.

Di sana ada Bukit Yunus alaihissalam, dan sekitar satu mil darinya ada mata air yang dinisbatkan kepadanya. Dikatakan bahwa ia memerintahkan kaumnya untuk bersuci di sana, kemudian mereka naik ke bukit dan ia berdoa dan mereka berdoa, maka Allah mengangkat azab dari mereka. Di dekatnya ada desa besar yang dekat dengan reruntuhan, dikatakan bahwa itu adalah lokasi kota yang dikenal dengan Niniwe, kota Yunus alaihissalam. Bekas tembok yang mengelilinginya masih terlihat, dan lokasi pintu-pintunya masih jelas. Di bukit itu ada bangunan besar dan ribath dengan banyak kamar, ruang-ruang, tempat bersuci, dan tempat minum yang semuanya dijangkau satu pintu. Di tengah ribath ada ruangan dengan tirai sutra dan pintu yang dihiasi mutiara. Dikatakan bahwa itu adalah tempat berdiri Yunus alaihissalam, dan mihrab masjid yang ada di ribath ini dikatakan dulunya adalah tempat ibadahnya alaihissalam. Penduduk Mosul keluar setiap malam Jumat ke ribath ini untuk beribadah di dalamnya. Penduduk Mosul memiliki akhlak yang mulia, lemah lembut dalam berbicara, memiliki keutamaan, mencintai orang asing dan menyambutnya dengan baik. Amir kota ini ketika aku datang adalah Sayyid Syarif yang utama Alauddin Ali bin Syamsuddin Muhammad yang bergelar Haidar, ia termasuk orang dermawan dan utama. Ia menginzalkanku di rumahnya dan memberiku nafkah selama aku tinggal bersamanya. Ia memiliki sedekah dan kedermawanan yang terkenal. Sultan Abu Said sangat menghormatinya dan mewakilkan kepadanya kota ini dan wilayah sekitarnya. Ia berkendara dengan rombongan besar dari budak-budaknya dan pasukannya. Tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang besar kota datang untuk memberi salam kepadanya pagi dan sore. Ia memiliki keberanian dan kehormatan. Anaknya sekarang ketika tulisan ini dibuat berada di kota Fez, tempat berkumpulnya orang-orang asing dan tempat berlindung berbagai kelompok serta tempat singgah para tamu. Semoga Allah menambah kegembiraan dan kecerlangannya dengan keberkahan hari-hari penguasa kami Amirul Mukminin dan menjaga wilayah dan sekitarnya. Kemudian kami berangkat dari Mosul dan turun di desa yang dikenal dengan Ain Al-Rashad yang berada di sungai yang di atasnya dibangun jembatan, dan di dalamnya ada khan besar. Kemudian kami berangkat dan turun di desa yang dikenal dengan Al-Muwailihah. Kemudian kami berangkat dari sana dan turun di Jazirah Ibn Umar, yang merupakan kota besar yang indah yang dikelilingi sungai, karena itulah disebut Jazirah (pulau). Sebagian besarnya rusak, dan kota ini memiliki pasar yang bagus dan masjid kuno yang dibangun dengan batu dengan konstruksi yang kokoh. Temboknya juga dibangun dengan batu. Penduduknya adalah orang-orang utama yang mencintai orang asing. Pada hari kami turun di sana, kami melihat Gunung Judi yang disebutkan dalam Kitabullah Azza wa Jalla, Surah Hud ayat 44, tempat kapal Nuh alaihissalam berlabuh. Gunung ini tinggi dan memanjang.

Kemudian kami berangkat dari sana dua hari perjalanan dan tiba di kota Nusaybin. Ini adalah kota kuno sedang yang sebagian besarnya telah rusak. Kota ini berada di dataran yang sangat luas dengan air yang mengalir, kebun-kebun yang rimbun, pohon-pohon yang teratur, dan buah-buahan yang melimpah. Di sana dibuat air mawar yang tidak ada bandingannya dalam keharuman dan kebaikannya. Mengitarinya sungai yang memeluknya seperti gelang, sumbernya dari mata air di gunung yang dekat darinya. Sungai ini terbagi menjadi beberapa cabang yang mengalir di antara kebun-kebunnya, dan masuk satu sungai ke dalam kota yang mengalir di jalan-jalan dan rumah-rumahnya serta menembus halaman Masjid Agungnya dan mengisi dua kolam, satu di tengah halaman dan yang lain di pintu timur. Di kota ini ada rumah sakit dan dua madrasah. Penduduknya adalah ahli sholeh, beragama, jujur, dan amanah. Sungguh benar Abu Nuwas dalam syairnya:

Nusaybin menyenangkanku suatu hari dan aku pun menyenangkan baginya. Andai bagianku dari dunia adalah dua Nusaybin!

Ibn Juzay berkata: Orang-orang menggambarkan kota Nusaybin dengan air yang buruk dan tidak sehat. Tentang kota ini salah seorang penyair berkata:

Aku heran dengan Nusaybin padahal tidak ada di rumahnya yang mengajak pada penyakit. Bunga mawar merahnya tidak ada di wilayahnya karena sakit bahkan pada pipi-pipi

Kemudian kami berangkat ke kota Sinjar. Ini adalah kota besar dengan banyak buah-buahan dan pohon-pohon, mata air yang mengalir dan sungai-sungai. Dibangun di kaki gunung, mirip dengan Damaskus dalam banyaknya sungai dan kebun-kebunnya. Masjid Jaminya terkenal berkah, disebutkan bahwa doa di dalamnya dikabulkan. Mengitarinya dan menembus di dalamnya sungai air. Penduduk Sinjar adalah orang Kurdi, mereka memiliki keberanian dan kedermawanan. Di antara yang kutemui di sana adalah Syaikh sholeh ahli ibadah zahid Abdullah Al-Kurdi, salah satu syaikh besar yang memiliki karamah. Disebutkan tentangnya bahwa ia tidak berbuka kecuali setelah empat puluh hari, dan berbukalah ia dengan setengah roti gandum. Aku bertemu dengannya di ribath di atas Gunung Sinjar. Ia mendoakan untukku dan memberiku bekal berupa dirham yang tetap ada padaku hingga orang-orang kafir India merampasnya dariku.

Kemudian kami melakukan perjalanan ke kota Dara, yang merupakan kota besar dan tua dengan pemandangan yang putih, memiliki benteng yang megah, namun sekarang telah menjadi reruntuhan tanpa ada bangunan yang tersisa, dan di luarnya terdapat desa yang berpenghuni di mana kami singgah. Kemudian kami berangkat dari sana dan tiba di kota Mardin.

Mardin adalah kota besar di lereng gunung, termasuk salah satu kota terindah di negeri-negeri Islam, paling menakjubkan, paling kokoh, dan memiliki pasar-pasar yang terbaik. Di kota ini diproduksi kain-kain wol yang dinisbahkan kepadanya, yang dikenal dengan nama al-Mar’az. Kota ini memiliki benteng yang tinggi menjulang, termasuk benteng-benteng terkenal yang berada di puncak gunungnya.

Ibn Juzay berkata: Benteng Mardin ini disebut al-Shahba’ (Yang Kelabu), dan tentang benteng inilah penyair Irak, Shafi al-Din Abdul Aziz bin Saraya al-Hilli, menyebutkan dalam syairnya:

Tinggalkanlah bukit-bukit Hillah yang subur Dan beloklah dengan unta dari al-Zawra’ Jangan berhenti di Mosul yang berpunuk Sesungguhnya sinar Benteng al-Shahba’ Membakar setan dari segala kemalangan zaman

Benteng Aleppo juga disebut al-Shahba’. Syair ini sangat indah, dibuat untuk memuji Sultan al-Malik al-Manshur, penguasa Mardin. Dia adalah seorang yang dermawan dan terkenal, memerintah sekitar lima puluh tahun, dan menyaksikan masa-masa Ghazan, raja Tatar, serta menikahkan putrinya, Dunya Khatun, dengan Sultan Khodabandeh.

Penguasa Mardin pada Masa Kedatangan Saya

Penguasa saat itu adalah al-Malik al-Shalih, putra al-Malik al-Manshur yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dia mewarisi kerajaan dari ayahnya dan memiliki sifat-sifat mulia yang terkenal. Tidak ada penguasa di tanah Irak, Syam, dan Mesir yang lebih dermawan darinya. Para penyair dan fakir mendatanginya dan dia memberikan hadiah yang melimpah, mengikuti jejak ayahnya. Abu Abdullah Muhammad bin Jabir al-Andalusi al-Murri, seorang penyair tunanetra, datang memujinya dan diberi dua puluh ribu dirham. Dia juga memiliki banyak sedekah, madrasah-madrasah, dan zawiyahzawiyah untuk memberi makan. Dia memiliki seorang menteri yang sangat terhormat, yaitu al-Imam al-‘Alim, satu-satunya di zamannya dan tak tertandingi di masanya, Jamal al-Din al-Sinjari, yang belajar di kota Tabriz dan bertemu dengan para ulama besar. Hakim al-Qudhatnya adalah al-Imam al-Kamil Burhan al-Din al-Mawsili, yang merupakan keturunan Syekh Wali Fath al-Mawsili. Hakim ini termasuk orang yang sangat religius, wara’, dan memiliki keutamaan. Dia mengenakan pakaian kasar dari wol yang harganya tidak mencapai sepuluh dirham dan sorbannya juga seperti itu. Sering kali dia duduk untuk memutuskan perkara di halaman masjid di luar madrasah tempat dia beribadah. Jika orang yang tidak mengenalnya melihatnya, akan mengira dia salah satu pelayan atau pembantu hakim!

Kisah (Perdamaian antara Suami Istri)

Diceritakan kepadaku bahwa seorang wanita mendatangi hakim ini ketika dia keluar dari masjid, dan wanita itu tidak mengenalnya. Dia bertanya: “Wahai Syekh, di mana hakim duduk?” Dia menjawab: “Apa yang kamu inginkan darinya?” Wanita itu berkata: “Suamiku memukulku, dan dia memiliki istri kedua. Dia tidak berlaku adil kepada kami dalam pembagian giliran. Aku telah memanggilnya untuk menghadap hakim tetapi dia menolak, dan aku miskin, tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada orang-orang hakim agar mereka membawanya ke majlisnya.” Hakim berkata: “Di mana rumah suamimu?” Dia menjawab: “Di kampung para pelaut di luar kota.” Hakim berkata: “Aku akan pergi bersamamu kepadanya.” Wanita itu berkata: “Demi Allah, aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan kepadamu.” Dia berkata: “Aku tidak akan mengambil apa pun darimu.”

Kemudian dia berkata kepadanya: “Pergilah ke kampung itu dan tunggulah aku di luarnya, aku akan menyusulmu.” Wanita itu pergi seperti yang diperintahkan dan menunggunya. Hakim sampai kepadanya tanpa ada seorang pun yang menyertainya, karena kebiasaannya memang tidak membiarkan siapa pun mengikutinya. Wanita itu membawanya ke rumah suaminya. Ketika suaminya melihatnya, dia berkata kepada istrinya: “Siapa syekh sial yang bersamamu ini?” Hakim berkata kepadanya: “Ya, demi Allah, aku memang begitu, tetapi ridhoilah istrimu!” Ketika pembicaraan berlanjut, orang-orang datang dan mengenali hakim lalu memberi salam kepadanya. Pria itu menjadi takut dan malu. Hakim berkata kepadanya: “Tidak apa-apa, perbaikilah hubunganmu dengan istrimu.” Pria itu meminta maaf kepada istrinya dan hakim memberikan nafkah untuk hari itu kepada mereka berdua, lalu pulang.

Aku bertemu dengan hakim ini dan dia menjamuku di rumahnya. Kemudian aku berangkat kembali ke Baghdad dan tiba di kota Mosul yang telah kami sebutkan. Aku menemukan kafilahnya di luar kota, menuju Baghdad. Di antara mereka ada seorang wanita shalihah yang ahli ibadah bernama al-Sitt Zahidah, keturunan para khalifah. Dia telah berhaji beberapa kali dan selalu berpuasa. Aku memberi salam kepadanya dan berada di dekatnya. Bersamanya ada beberapa fakir yang melayaninya. Dalam perjalanan ini, dia meninggal dunia—semoga Allah merahmatinya. Dia wafat di Zarud dan dikubur di sana.

Kemudian kami tiba di kota Baghdad dan mendapati para jamaah haji dalam persiapan keberangkatan. Aku mendatangi pemimpinnya, Ma’ruf Khawajah, dan meminta darinya apa yang telah diperintahkan Sultan untukku. Dia menetapkan untukku sebuah tenda Maharah dan menambah empat orang laki-laki beserta air mereka, dan menuliskan hal itu untukku. Dia mengirim amir rombongan, yaitu al-Bahlawan Muhammad al-Huwaih, dan berwasiat kepadaku. Hubungan antara aku dan dia sudah terjalin sebelumnya, dan hal itu semakin diperkuat. Aku terus berada di dekatnya dan dia berbuat baik kepadaku serta menambahkan apa yang telah diperintahkan untukku.

Ketika kami keluar dari Kufah, aku menderita diare. Mereka menurunkanku dari mahmal berkali-kali dalam sehari, dan amir selalu memperhatikan keadaanku dan berwasiat tentangku. Aku tetap sakit hingga tiba di Mekah—semoga Allah memuliakan Tanah Haram-Nya dan menambah kehormatan serta keagungannya. Aku melakukan tawaf di Baitullah al-Haram—semoga Allah memuliakannya—tawaf qudum, dan aku dalam keadaan lemah sehingga melaksanakan shalat wajib dengan duduk. Aku melakukan tawaf dan sa’i antara Shafa dan Marwah dengan menunggang kuda amir al-Huwaih yang telah disebutkan.

Kami wukuf tahun itu pada hari Senin. Ketika kami turun di Mina, aku mulai beristirahat dan pulih dari sakitku. Setelah haji selesai, aku tinggal menjadi mujawir di Mekah tahun itu. Di sana ada amir Ala’ al-Din bin Hilal, pembangun gedung-gedung pemerintahan, yang sedang memimpin pembangunan rumah wudhu di luar para pedagang minyak wangi, dekat pintu Bani Syaibah. Tahun itu juga berjama’ah dari orang-orang Mesir, sejumlah orang besar mereka, di antaranya: Taj al-Din bin al-Kuwaik, Nur al-Din al-Qadhi, Zain al-Din bin al-Ashil, Ibn al-Khalili, Nashir al-Din al-Asyuthi. Aku tinggal tahun itu di Madrasah al-Muzhaffariyyah, dan Allah menyembuhkanku dari penyakitku. Aku berada dalam kehidupan yang paling nikmat dan meluangkan waktu untuk tawaf, ibadah, dan umrah.

Di pertengahan tahun itu, jamaah haji dari Sha’id datang, dan bersama mereka datang Syekh yang shalih, Najm al-Din al-Ashfuni. Ini adalah haji pertamanya. Juga hadir dua bersaudara: Ala’ al-Din Ali dan Siraj al-Din Umar, putra dari Hakim yang shalih Najm al-Din al-Balisi, Hakim Mesir, serta sekelompok orang lainnya. Pada pertengahan Dzulqa’dah, tiba amir Saif al-Din Yalbulak, yang termasuk orang-orang mulia. Bersamanya tiba sekelompok orang dari Tangier, negeriku—semoga Allah menjaganya—di antaranya: al-Faqih Abu Abdullah Muhammad bin al-Qadhi Abu al-Abbas bin al-Qadhi al-Khatib Abu al-Qasim al-Jarawi, al-Faqih Abu Abdullah bin ‘Atha’ Allah, al-Faqih Abu Muhammad Abdullah al-Hadhari, al-Faqih Abu Abdullah al-Mursi, Abu al-Abbas bin al-Faqih Abu Ali al-Balansi, Abu Muhammad bin al-Qabilah, Abu al-Hasan al-Bayyari, Abu al-Abbas bin Tafut, Abu al-Shabr Ayyub al-Fakhkhar, Ahmad bin Hakamah, dan dari penduduk Qashr al-Majaz: al-Faqih Abu Zaid Abd al-Rahman bin al-Qadhi Abu al-Abbas bin Khaluf, dan dari penduduk al-Qashr al-Kabir: al-Faqih Abu Muhammad bin Muslim, Abu Ishaq Ibrahim bin Yahya beserta putranya.

Tahun itu juga datang amir Saif al-Din Taqazdamur dari al-Khashakiyyah, amir Musa bin Qaraman, Hakim Fakhr al-Din, nazir pasukan, penulis budak-budak, al-Taj Ishaq, al-Sitt Hadaq, pengasuh al-Malik al-Nashir. Mereka semua memberikan sedekah yang banyak di Tanah Haram yang mulia, dan yang paling banyak bersedekah adalah Hakim Fakhr al-Din.

Wukuf kami pada tahun itu adalah pada hari Jumat tahun dua puluh delapan. Pada tahun ini datang Ahmad bin amir Rumaytha dan Mubarak bin amir ‘Atifah dari Irak bersama amir Muhammad al-Huwaih, Syekh Zadah al-Harbawi, dan Syekh Daniyal. Mereka membawa sedekah yang sangat besar untuk para mujawir dan penduduk Mekah, dari Sultan Abu Sa’id, penguasa Irak. Pada tahun itu namanya disebutkan dalam khutbah setelah penyebutan al-Malik al-Nashir, dan doa dipanjatkan untuknya di atas kubah Zamzam. Setelahnya disebutkan Sultan Yaman, al-Malik al-Mujahid Nur al-Din. Namun amir ‘Atifah tidak menyetujui hal itu dan mengutus saudaranya, Manshur, untuk memberitahu al-Malik al-Nashir tentang hal tersebut. Dia memerintahkan Rumaytha untuk mengembalikannya, maka dia dikembalikan. Kemudian dia mengirimnya lagi melalui jalur Jeddah hingga memberitahu al-Malik al-Nashir tentang hal itu.

Kami berwukuf tahun itu, yaitu tahun dua puluh sembilan, pada hari Selasa. Setelah haji selesai, aku tinggal menjadi mujawir di Mekah—semoga Allah menjaganya—tahun tiga puluh. Pada musim haji tahun itu, terjadi fitnah antara amir Mekah, ‘Atifah, dengan Aydemur, amir Jandar al-Nashiri. Penyebabnya adalah bahwa pedagang-pedagang dari penduduk Yaman dirampok, maka mereka mengadu kepada Aydemur tentang hal itu. Aydemur berkata kepada Mubarak bin amir ‘Atifah: “Bawa pencuri-pencuri itu kemari!” Mubarak menjawab: “Aku tidak mengenal mereka, bagaimana aku bisa membawa mereka? Lagipula, penduduk Yaman berada di bawah kekuasaan kami, dan kamu tidak punya kekuasaan atas mereka. Jika penduduk Mesir dan Syam kehilangan sesuatu, tuntutlah aku karenanya.” Aydemur memaki-makinya dan berkata: “Wahai pengecut! Kamu berani berkata begitu kepadaku!” Dia memukul dadanya, Mubarak jatuh dan sorbannya terlepas dari kepalanya. Budak-budaknya menjadi marah. Aydemur menunggang kuda menuju pasukannya, tetapi Mubarak dan budak-budaknya mengejarnya lalu membunuhnya bersama putranya. Fitnah pun pecah di Tanah Haram. Di sana ada amir Ahmad, sepupu al-Malik al-Nashir.

Orang-orang Turki melepaskan anak panah dan membunuh seorang wanita yang konon menghasut penduduk Mekah untuk berperang. Orang-orang Turki yang ada di rombongan menunggang kuda, dipimpin oleh Khas Turk. Hakim, para imam, dan para mujawir keluar menemui mereka dengan mushaf-mushaf di atas kepala mereka, berusaha melakukan perdamaian. Para jamaah haji masuk ke Mekah, mengambil harta mereka yang ada di sana, lalu kembali ke Mesir.

Berita itu sampai kepada al-Malik al-Nashir dan dia sangat sedih. Dia mengirim pasukan ke Mekah. Amir ‘Atifah dan putranya Mubarak melarikan diri. Saudaranya, Rumaytha, beserta anak-anaknya keluar ke Wadi Nakhlah. Ketika pasukan tiba di Mekah, amir Rumaytha mengutus salah seorang putranya untuk meminta perlindungan bagi dirinya dan anak-anaknya. Mereka diberi jaminan keamanan. Rumaytha datang dengan kain kafan di tangannya kepada amir, lalu dia diberi pakaian kehormatan dan Mekah diserahkan kepadanya. Pasukan kembali ke Mesir. Al-Malik al-Nashir—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang yang penyantun dan mulia.

 

 

BAB KEENAM: ANTARA SAMUDRA HINDIA DAN TELUK PERSIA

  • Meninggalkan Jeddah menuju Yaman,
  • Dari pulau Sawakin ke kota Hali di Zabid,
  • Ibu kota kecantikan dan kesempurnaan,
  • Tradisi-tradisi antara India dan Yaman,
  • Tangki-tangki air bersejarah Aden,
  • Ke Zaila’ dan Mogadishu—pulau Manbasa—Kilwa,
  • Hadramaut—dan kemiripan penduduk wilayah itu dengan Shanhajah orang-orang Maghrib,
  • Oman Raya—antara Qalhat dan Hormuz…
  • Tempat-tempat penyelaman mutiara dan negeri Bahrain,
  • Dari Bahrain ke Qatif,
  • Pelaksanaan manasik haji tahun 732 Hijriah.

[Arabia Selatan – Afrika Timur – Teluk]

Maka pada hari-hari itu aku keluar dari Mekah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakannya, menuju negeri Yaman. Lalu aku tiba di Hudah, dengan ha’ tanpa titik yang berbaris fathah, dan itu adalah setengah jalan antara Mekah dan Jeddah dengan jim yang berbaris dhammah. Kemudian aku tiba di Jeddah, yaitu sebuah kota tua di pesisir laut yang dikatakan bahwa ia termasuk bangunan orang Persia. Di luarnya terdapat pelabuhan-pelabuhan tua dan di sana ada sumur-sumur air yang digali di batu keras, yang saling berhubungan satu sama lain dan sangat banyak sehingga tak terhitung jumlahnya. Tahun ini adalah tahun yang sedikit hujannya dan air dibawa ke Jeddah dari perjalanan sehari, dan para jamaah haji meminta air dari pemilik rumah-rumah.

Kisah [Orang Buta dan Cincin]

Dan termasuk peristiwa aneh yang terjadi padaku di Jeddah adalah bahwa seorang pengemis buta berdiri di pintuku meminta air yang dipandu oleh seorang budak. Ia mengucapkan salam kepadaku dan menyebut namaku serta memegang tanganku, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya dan ia tidak mengenalku. Maka aku heran dengan keadaannya. Kemudian ia memegang jariku dengan tangannya dan berkata: “Di mana fatkah?” yaitu cincin. Ketika aku keluar dari Mekah ada seorang fakir menemuiku dan meminta sesuatu, dan pada waktu itu aku tidak memiliki sesuatu pun, maka aku memberikan cincinku kepadanya. Ketika orang buta ini bertanya tentangnya aku berkata kepadanya: “Aku memberikannya kepada seorang fakir.” Maka ia berkata: “Kembalilah mencarinya karena di dalamnya ada nama-nama yang tertulis yang memiliki salah satu rahasia.” Maka bertambahlah keherananku terhadapnya dan terhadap pengetahuannya tentang semua itu, dan Allah lebih mengetahui keadaannya.

Di Jeddah ada masjid yang dikenal dengan Masjid al-Abanous yang dikenal berkahnya dan doa yang dipanjatkan di sana dikabulkan. Amir di sana adalah Abu Ya’qub bin Abdul Razzaq dan hakimnya serta khatibnya adalah al-Faqih Abdullah dari penduduk Mekah yang bermadzhab Syafi’i. Jika tiba hari Jumat dan orang-orang berkumpul untuk shalat, muadzin datang dan menghitung penduduk Jeddah yang menetap di sana. Jika jumlah mereka genap empat puluh orang, ia berkhutbah dan shalat Jumat bersama mereka, tetapi jika jumlah mereka tidak mencapai empat puluh, ia shalat Zhuhur empat rakaat. Dan tidak dihitung orang yang bukan dari penduduknya walaupun jumlah mereka banyak.

Kemudian kami naik dari Jeddah ke sebuah kapal yang mereka sebut al-jalbah milik Rasyid al-Din al-Alfi al-Yamani yang berasal dari Habasyah. Syarif Manshur bin Abi Numayy naik di jalbah yang lain dan mengharapkan dariku agar aku bersamanya tetapi aku tidak melakukannya karena di dalam jalbahnya ada unta dan aku takut akan hal itu, dan aku belum pernah naik kapal sebelumnya. Di sana ada sekelompok orang Yaman yang telah menaruh bekal dan barang-barang mereka di kapal dan mereka bersiap untuk berangkat.

Kisah [Dirham yang Tersembunyi di dalam Karung]

Ketika kami naik kapal, Syarif Manshur memerintahkan salah seorang budaknya untuk membawakan karung tepung untuknya – yaitu setengah beban – dan kaleng ghee yang diambil dari kapal orang-orang Yaman. Maka budak itu mengambilnya dan membawanya kepadanya. Para pedagang datang kepadaku sambil menangis dan menyebutkan bahwa di dalam karung itu ada sepuluh ribu dirham perak, dan mereka memintaku untuk berbicara dengannya agar mengembalikannya dan mengambil yang lain. Maka aku mendatanginya dan berbicara tentang hal itu dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya para pedagang memiliki sesuatu di dalam karung ini.” Maka ia berkata: “Jika itu gula maka aku tidak mengembalikannya kepada mereka, tetapi jika selain itu maka itu milik mereka.” Maka mereka membukanya dan menemukan dirham, lalu ia mengembalikannya kepada mereka. Dan ia berkata kepadaku: “Seandainya itu Ajlan, ia tidak akan mengembalikannya.” Ajlan adalah keponakan saudara laki-lakinya Rumaytsah, dan pada hari-itu ia telah masuk ke rumah seorang pedagang dari penduduk Damaskus yang menuju Yaman dan mengambil sebagian besar apa yang ada di dalamnya. Ajlan adalah amir Mekah pada masa ini dan keadaannya telah baik serta menampakkan keadilan dan keutamaan.

Kemudian kami berlayar di laut ini dengan angin baik selama dua hari dan kemudian angin berubah dan menghalangi kami dari jalan yang kami tuju. Ombak laut masuk bersama kami ke dalam kapal dan mabuk laut semakin parah pada orang-orang. Kami terus dalam ketakutan hingga kami keluar di pelabuhan yang dikenal dengan Ra’s Dawa’ir, antara Aidzab dan Sawakin. Maka kami turun di sana dan kami menemukan di pantainya pondok bambu berbentuk masjid, dan di dalamnya banyak cangkang telur burung unta yang penuh dengan air, maka kami minum darinya dan memasak.

Aku melihat keajaiban di pelabuhan itu, yaitu teluk seperti lembah yang keluar dari laut. Orang-orang mengambil kain dan memegang ujung-ujungnya dan keluar dengannya dalam keadaan penuh dengan ikan. Setiap ikan ukurannya sekitar satu hasta dan mereka menyebutnya al-buri (ikan belanak). Orang-orang memasak banyak darinya dan membakarnya. Sekelompok suku Beja datang kepada kami, mereka adalah penduduk negeri itu yang berkulit hitam, pakaian mereka selendang kuning dan mereka mengikat di kepala mereka ikat kepala merah selebar jari. Mereka adalah orang-orang yang gagah berani dan senjata mereka adalah tombak dan pedang. Mereka memiliki unta yang mereka sebut al-shahb yang mereka tunggangi dengan pelana. Maka kami menyewa unta dari mereka dan bepergian bersama mereka di padang pasir yang banyak rusa-rusanya. Suku Beja tidak memakannya sehingga rusa-rusa itu jinak dengan manusia dan tidak lari darinya.

Setelah dua hari perjalanan kami tiba di perkampungan orang Arab yang dikenal dengan Bani Kahil yang bercampur dengan suku Beja dan mengerti bahasa mereka. Pada hari itu kami tiba di pulau Sawakin yang berjarak sekitar enam mil dari daratan. Tidak ada air di sana, tidak ada tanaman, dan tidak ada pohon. Air dibawa ke sana dengan perahu-perahu. Di sana ada tangki-tangki tempat berkumpulnya air hujan. Pulau itu besar dan di sana ada daging burung unta, rusa, dan keledai liar. Kambing di sana banyak, susu, dan ghee. Dari sana dibawa ke Mekah dan biji-bijian mereka adalah al-jurjur, yaitu sejenis jagung besar bijinya yang juga dibawa darinya ke Mekah.

Tentang Sultannya

Sultan pulau Sawakin ketika aku tiba di sana adalah Syarif Zaid bin Abi Numayy. Ayahnya adalah amir Mekah dan kedua saudaranya adalah amir setelahnya, yaitu Atifah dan Rumaytsah yang telah disebutkan sebelumnya. Pulau itu menjadi miliknya dari suku Beja karena mereka adalah paman-paman dari pihak ibunya, dan bersamanya ada pasukan dari suku Beja, Bani Kahil, dan Arab Juhaynah.

Kami naik kapal dari pulau Sawakin menuju tanah Yaman. Laut ini tidak dilayari pada malam hari karena banyaknya batu karang, tetapi mereka berlayar di dalamnya dari terbit matahari hingga terbenam. Mereka berlabuh dan turun ke daratan. Jika pagi tiba mereka naik ke kapal. Mereka menyebut pimpinan kapal dengan al-rubban, dan ia selalu berada di bagian depan kapal memberi tanda kepada pemegang kemudi tentang batu karang, dan mereka menyebutnya al-nabat.

Setelah enam hari sejak kami keluar dari pulau Sawakin, kami tiba di kota Hali dengan namanya diucapkan dengan ha’ tanpa titik berbaris fathah, lam berbaris kasrah dan ringan. Kota itu dikenal dengan nama Ibn Ya’qub, ia adalah salah seorang sultan Yaman yang dahulu tinggal di sana. Kota itu besar dengan bangunan yang bagus, dihuni oleh dua kelompok Arab yaitu Banu Haram dan Banu Kinanah. Masjid kota ini termasuk masjid terindah dan di dalamnya ada sekelompok fakir yang mengasingkan diri untuk beribadah. Di antara mereka adalah syekh yang saleh, ahli ibadah, zahid Qabulah al-Hindi dari kalangan orang-orang saleh besar. Pakaiannya adalah muraqqa’ah dan topi dari kain felt. Ia memiliki khalwat yang berhubungan dengan masjid yang dialasi pasir, tidak ada tikar di sana dan tidak ada permadani. Aku tidak melihat di sana ketika bertemu dengannya sesuatu pun kecuali kendi untuk wudhu, dan nampan dari pelepah kurma yang berisi remah-remah jelai kering, dan piring yang berisi garam dan za’tar. Jika ada orang datang kepadanya ia menyajikan itu di hadapannya, dan para sahabatnya mendengar tentangnya maka setiap orang dari mereka membawa apa yang ada tanpa persiapan apa pun. Jika mereka shalat Ashar mereka berkumpul untuk berdzikir di hadapan syekh hingga shalat Maghrib. Jika mereka shalat Maghrib setiap orang dari mereka mengambil tempatnya untuk shalat sunah dan mereka tetap demikian hingga shalat Isya. Jika mereka shalat Isya mereka melakukan dzikir hingga sepertiga malam kemudian mereka pulang. Mereka kembali di awal sepertiga terakhir malam ke masjid dan bertahajjud hingga Subuh, kemudian berdzikir hingga tiba waktu shalat Isyraq lalu pulang setelah shalatnya. Di antara mereka ada yang tetap hingga shalat Dhuha di masjid. Ini adalah kebiasaan mereka selamanya. Sungguh aku ingin tinggal bersama mereka selama sisa hidupku tetapi aku tidak diberi taufiq untuk itu. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengayomi kami dengan kebaikan dan taufiq-Nya!

Tentang Sultan Hali

Sultannya adalah ‘Amir bin Dzu’ayb dari Banu Kinanah. Ia termasuk orang-orang utama, beradab, penyair. Aku menemaninya dari Mekah ke Jeddah dan ia berhaji pada tahun tiga puluh (730 H). Ketika aku tiba di kotanya ia menampungku dan memuliakanku. Aku tinggal dalam tamunya beberapa hari dan naik kapal miliknya lalu tiba di kota al-Sarjah dengan namanya diucapkan dengan sin tanpa titik berbaris fathah, ra’ sukun, dan jim berbaris fathah. Kota kecil yang dihuni oleh sekelompok Bani al-Habi, mereka adalah kelompok dari pedagang Yaman yang kebanyakan tinggal di Sha’da. Mereka memiliki keutamaan dan kemuliaan serta memberi makan para musafir. Mereka membantu para jamaah haji, menaikkan mereka di kapal-kapal mereka, dan memberi bekal dari harta mereka. Mereka telah dikenal dan terkenal dengan itu. Semoga Allah memperbanyak harta mereka dan menambah mereka dari karunia-Nya serta menolong mereka untuk berbuat kebaikan.

Tidak ada di muka bumi yang menyamai mereka dalam hal itu kecuali Syekh Badr al-Din al-Naqqas yang tinggal di kota al-Qahmah. Ia memiliki kemuliaan dan pengorbanan yang serupa.

Kami tinggal di al-Sarjah satu malam dalam tamu orang-orang yang disebutkan tadi, kemudian kami berangkat ke pelabuhan al-Hadits dan tidak turun di sana, kemudian ke pelabuhan al-Abwab, kemudian ke kota Zabid. Kota besar di Yaman yang jaraknya dengan Shan’a empat puluh farsakh. Tidak ada di Yaman setelah Shan’a yang lebih besar darinya dan tidak lebih kaya penduduknya, luas kebunnya, banyak air dan buah-buahannya seperti pisang dan lainnya. Ia adalah daratan bukan pesisir, salah satu pusat negeri Yaman. Dengan zay berbaris fathah dan ba’ bertitik satu berbaris kasrah. Kota besar dengan banyak bangunan, di sana ada pohon kurma dan kebun-kebun serta air. Negeri paling indah dan paling cantik di Yaman. Penduduknya memiliki kelembutan perangai, baik akhlak, dan cantik rupa. Wanita-wanitanya memiliki kecantikan yang sangat menakjubkan. Ini adalah Wadi al-Hashib yang disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz dalam wasiatnya: “Wahai Mu’adz, jika engkau tiba di Wadi al-Hashib maka berlarilah!” Penduduk kota ini memiliki hari Sabtu kurma yang terkenal. Yaitu bahwa mereka keluar pada hari-hari buah kurma mentah dan matang setiap hari Sabtu ke kebun-kebun kurma. Tidak ada yang tinggal di kota dari penduduknya maupun orang asing. Keluar ahli hiburan dan pemilik pasar untuk menjual buah-buahan dan manisan. Para wanita keluar menunggangi unta dalam mahmal. Mereka dengan kecantikan yang luar biasa yang telah kami sebutkan juga memiliki akhlak yang baik dan kemuliaan. Bagi orang asing di sisi mereka ada keistimewaan dan mereka tidak menolak menikahinya sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita negeri kami. Jika ia hendak bepergian, istri keluar bersamanya dan mengantarnya. Jika ada anak di antara keduanya maka ia yang menanggungnya dan melakukan apa yang wajib untuknya hingga ayahnya kembali. Ia tidak menuntutnya selama masa pergi untuk nafkah, pakaian, atau lainnya. Jika ia menetap maka ia cukup darinya dengan sedikit nafkah dan pakaian, tetapi mereka tidak keluar dari negeri mereka selamanya. Walaupun salah seorang dari mereka diberi apa yang mungkin diberikan dengan syarat keluar dari negerinya, ia tidak akan melakukannya.

Ulama negeri itu dan para fuqahanya adalah ahli shaleh, agama, amanah, kemuliaan, dan baik akhlak. Aku bertemu di kota Zabid dengan syekh alim yang saleh Abu Muhammad al-Shan’ani, ahli fikih sufi muhaqqiq Abu al-‘Abbas al-Abyani, ahli fikih muhaddits Abu ‘Ali al-Zabidi. Aku turun di sekitar mereka dan mereka memuliakanku serta menjamuku. Aku masuk ke kebun-kebun mereka dan berkumpul di tempat salah seorang dari mereka dengan ahli fikih hakim alim Abu Zaid Abdurrahman al-Sufi, salah seorang orang utama Yaman. Di sana disebutkan tentang ahli ibadah zahid khusyu’ Ahmad bin al-‘Ajil al-Yamani. Ia termasuk orang-orang besar dan memiliki karamah.

Karamah: Mereka menyebutkan bahwa para fuqaha Zaidiyah dan pembesar-pembesar mereka datang suatu kali untuk mengunjungi Syekh Ahmad bin al-‘Ajil. Ia duduk untuk mereka di luar zawiyah dan para sahabatnya menyambut mereka. Syekh tidak beranjak dari tempatnya. Mereka memberi salam kepadanya dan ia berjabat tangan dengan mereka serta menyambut mereka. Terjadi pembicaraan di antara mereka tentang masalah takdir. Mereka berkata bahwa tidak ada takdir dan bahwa mukallaf menciptakan perbuatan-perbuatannya. Maka syekh berkata kepada mereka: “Jika memang demikian seperti yang kalian katakan, maka berdirilah dari tempat kalian ini.” Mereka ingin berdiri tetapi tidak mampu. Syekh membiarkan mereka dalam keadaan itu dan masuk ke zawiyah. Mereka tetap demikian dan panas menimpa mereka serta terik matahari menyinari mereka dan mereka mengeluh karena apa yang menimpa mereka. Para sahabat syekh masuk menemuinya dan berkata kepadanya bahwa orang-orang ini telah bertobat kepada Allah dan kembali dari madzhab mereka yang rusak. Maka syekh keluar kepada mereka dan memegang tangan-tangan mereka serta membuat perjanjian dengan mereka untuk kembali kepada kebenaran dan meninggalkan madzhab mereka yang buruk. Ia memasukkan mereka ke zawiyahnya dan mereka tinggal dalam tamunya selama tiga hari kemudian pulang ke negeri mereka.

Dan aku keluar untuk berziarah ke makam laki-laki saleh ini yang berada di sebuah desa bernama Ghasanah di luar Zabid, dan aku bertemu dengan putranya yang saleh Abu al-Walid Ismail, lalu dia menjamuku dan aku menginap di tempatnya, dan aku berziarah ke makam Syekh dan tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian aku berangkat dalam rombongannya untuk berziarah ke Fakih Abu al-Hasan al-Zaila’i, dan dia termasuk orang-orang saleh yang besar dan memimpin para jamaah haji Yaman ketika mereka menuju ke haji, dan penduduk negeri itu serta orang-orang Badui mereka mengagungkan dan menghormatinya. Maka kami tiba di gunung tempat tinggalnya, yaitu sebuah kota kecil yang bagus dengan pohon kurma dan buah-buahan dan sungai-sungai, ketika Fakih Abu al-Hasan al-Zaila’i mendengar kedatangan Syekh Abu al-Walid, dia menyambutnya dan menempatkannya di zawiyahnya dan aku memberi salam kepadanya bersamanya, dan kami tinggal di tempatnya selama tiga hari dalam tempat tinggal yang terbaik, kemudian kami pulang dan dia mengirim salah seorang fakir bersama kami lalu kami menuju kota Ta’iz, ibu kota raja Yaman, dan penyebutan namanya dengan membuka huruf Ta yang ada titiknya di atas dan mengasrahkan huruf ‘Ain yang tidak ada titiknya dan Za, dan dia adalah salah satu kota terindah di Yaman dan paling besar, dan penduduknya memiliki sifat sombong dan angkuh dan kasar, demikian pula yang umum di negeri-negeri yang didiami oleh raja-raja, dan dia terdiri dari tiga kawasan, salah satunya ditinggali oleh Sultan dan budak-budaknya dan pengikutnya dan para pembesar negaranya dan dinamai dengan nama yang tidak kuingatkan, dan yang kedua ditinggali oleh para Amir dan tentara, dan dinamakan ‘Adinah, dan yang ketiga ditinggali oleh orang-orang biasa dan di sana terdapat pasar yang besar, dan dinamakan al-Mahalib.

Tentang Sultan Yaman

Dan dia adalah Sultan al-Mujahid Nuruddin Ali bin Sultan al-Mu’ayyad Hizbruddin Dawud bin Sultan al-Muzhaffar Yusuf bin Ali bin Rasul, kakeknya terkenal dengan sebutan Rasul karena salah seorang khalifah Bani Abbas mengirimnya ke Yaman untuk menjadi amir di sana, kemudian anak-anaknya merdeka dalam kerajaan. Dan dia memiliki tata cara yang mengagumkan dalam duduknya dan perjalanannya, dan aku ketika tiba di kota ini bersama fakir yang dikirim oleh Syekh Fakih Abu al-Hasan al-Zaila’i dalam rombonganku, dia membawaku ke Hakim Agung Imam al-Muhaddits Shafiuddin al-Thabari al-Makki lalu kami memberi salam kepadanya dan dia menyambut kami dan kami tinggal di rumahnya dalam jamuan tamunya selama tiga hari, ketika tiba di hari keempat yaitu hari Kamis, dan pada hari itu Sultan duduk untuk orang-orang biasa, dia membawaku masuk kepadanya lalu aku memberi salam kepadanya, dan cara memberi salam kepadanya adalah seseorang menyentuh tanah dengan jari telunjuknya, kemudian mengangkatnya ke kepalanya, dan berkata: semoga Allah melanggengkan kemuliaanmu, maka aku melakukan seperti yang dilakukan Hakim, dan Hakim duduk di sebelah kanan Raja, dan dia memerintahkanku lalu aku duduk di hadapannya lalu dia bertanya kepadaku tentang negeriku dan tentang maulana Amirul Mukminin yang paling dermawan Abu Sa’id semoga Allah meridhainya, dan tentang raja Mesir dan raja Irak dan raja al-Lur, maka aku menjawab apa yang dia tanyakan tentang keadaan mereka dan menterinya berada di hadapannya lalu dia memerintahkannya untuk memuliakan dan menempatkanku.

Dan tata cara duduk Raja ini adalah dia duduk di atas tempat duduk beralas dan dihias dengan kain sutera, dan di sebelah kanan dan kirinya para pembawa senjata, dan yang paling dekat dengannya dari mereka adalah pemilik pedang dan perisai, dan setelah mereka pemilik busur, dan di hadapan mereka di sisi kanan dan kiri Hajib, dan para pembesar negara dan sekretaris negara dan Amir Jandar di atas kepalanya, dan para Syawusyiyah, dan mereka adalah dari para Janadirah berdiri di kejauhan, ketika Sultan duduk mereka berteriak satu teriakan: Bismillah, ketika dia berdiri mereka melakukan seperti itu, sehingga semua orang yang ada di majelis mengetahui waktu berdirinya dan waktu duduknya, ketika dia duduk dengan tegak masuklah setiap orang yang kebiasaannya memberi salam kepadanya lalu memberi salam dan berdiri di mana yang ditentukan untuknya di sisi kanan atau kiri, tidak ada seorang pun melampaui tempatnya dan tidak ada yang duduk kecuali yang diperintahkan untuk duduk. Dan Sultan berkata kepada Amir Jandar: perintahkan si Fulan untuk duduk, lalu orang yang diperintahkan untuk duduk itu maju sedikit dari tempatnya berdiri, dan duduk di atas permadani di sana di depan orang-orang yang berdiri di sisi kanan dan kiri, kemudian didatangkan makanan, dan itu adalah dua macam makanan, makanan orang biasa dan makanan orang khusus, adapun makanan khusus maka Sultan makan darinya bersama Hakim Agung dan para pembesar dari para Syarif dan para Fakih dan para tamu, adapun makanan umum maka makan darinya seluruh para Syarif dan Fakih dan Hakim dan Syekh dan Amir dan tokoh-tokoh tentara, dan majelis setiap orang untuk makanan ditentukan tidak melampaui itu, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berdesakan dengan yang lain. Dan atas tata cara ini juga adalah tata cara raja India dalam makanannya, maka aku tidak tahu apakah para sultan India mengambil itu dari para sultan Yaman ataukah para sultan Yaman mengambilnya dari para sultan India. Dan aku tinggal dalam jamuan tamu Sultan Yaman beberapa hari, dan dia berbuat baik kepadaku dan menaikkanku, dan aku pulang berangkat ke kota Sana’a, dan dia adalah ibu kota pertama negeri Yaman, kota besar bagus bangunannya, bangunannya dengan batu bata dan kapur, banyak pohon-pohon dan buah-buahan dan tanaman, udaranya sedang, airnya enak, dan yang aneh bahwa hujan di negeri India dan Yaman dan Habasyah hanya turun di hari-hari musim panas, dan paling banyak turunnya setelah Dzuhur setiap hari di waktu itu, maka para musafir bergegas saat Zuhur agar tidak terkena hujan, dan penduduk kota kembali ke rumah-rumah mereka karena hujannya lebat mengalir deras.

Dan kota Sana’a semuanya beralas maka ketika turun hujan mencuci semua gang-gangnya dan membersihkannya, dan masjid Sana’a termasuk masjid terindah, dan di dalamnya ada makam seorang nabi dari para nabi alaihimus salam.

Kemudian aku berangkat darinya ke kota Aden pelabuhan negeri Yaman di tepi laut yang besar, dan gunung-gunung mengelilinginya dan tidak ada jalan masuk ke dalamnya kecuali dari satu sisi, dan dia adalah kota besar dan tidak ada tanaman di sana dan tidak ada pohon dan tidak ada air, dan di sana ada tangki-tangki yang mengumpulkan air di hari-hari hujan, dan air berjarak jauh darinya kadang-kadang orang Arab mencegahnya dan menghalangi antara penduduk kota dan airnya sampai mereka membayar dengan uang dan pakaian, dan dia sangat panas, dan dia adalah pelabuhan penduduk India datang kepadanya kapal-kapal besar dari Kanbayah dan Tanah, dan Kulam, dan Qaliqut, dan Fandaraniyah, dan al-Syaliyat, dan Manjrur, dan Faknur, dan Hanur, dan Sandabur, dan lain-lain, dan pedagang-pedagang India tinggal di sana dan pedagang-pedagang Mesir juga.

Dan penduduk Aden antara pedagang dan antara kuli dan nelayan ikan, dan pedagang-pedagang dari mereka memiliki harta yang luas dan kadang-kadang salah seorang dari mereka memiliki kapal besar dengan semua yang ada di dalamnya tidak ada orang lain yang berbagi dengannya karena luasnya harta yang ada di tangannya, dan mereka dalam hal itu memiliki kebanggaan dan kecongkakan.

Kisah [Domba yang Membebaskan Budak]

Disebutkan kepadaku bahwa salah seorang dari mereka mengirim budaknya untuk membelikannya seekor domba dan mengirim yang lain dari mereka budaknya untuk keperluan itu juga, maka kebetulan tidak ada di pasar pada hari itu kecuali seekor domba saja maka terjadi pelelangan di dalamnya antara dua budak itu, maka sampailah harganya ke empat ratus dinar, lalu salah satunya mengambilnya, dan berkata: sesungguhnya modal saya empat ratus dinar, maka jika tuanku memberikan kepadaku harganya maka baik dan jika tidak saya bayar di dalamnya modal saya dan menang sendiri dan mengalahkan temanku, dan dia pergi dengan domba itu ke tuannya ketika tuannya mengetahui perkara itu dia membebaskannya dan memberikannya seribu dinar, dan yang lain kembali ke tuannya dengan kecewa lalu dia memukulnya dan mengambil hartanya dan mengusirnya! Dan aku turun di Aden di tempat seorang pedagang yang dikenal dengan Nasiruddin al-Fa’ri. Maka dia menghadirkan makanannya setiap malam sekitar dua puluh orang dari pedagang, dan dia memiliki budak dan pembantu lebih dari itu, dan dengan semua ini mereka adalah orang-orang yang beragama dan rendah hati dan saleh dan berakhlak mulia berbuat baik kepada orang asing dan lebih mementingkan orang fakir, dan memberikan hak Allah dari zakat atas apa yang wajib, dan aku bertemu di kota ini hakimnya yang saleh Salim bin Abdullah al-Hindi, dan ayahnya adalah dari budak-budak kuli dan anaknya belajar ilmu lalu menjadi pemimpin dan tuan, dan dia termasuk hakim-hakim terbaik dan orang-orang mulia mereka, aku tinggal dalam jamuan tamunya beberapa hari. Dan aku berangkat dari kota Aden di laut empat hari dan tiba ke kota Zaila’, dan dia adalah kota Barbarah, dan mereka adalah satu kaum dari orang-orang Sudan, bermadzhab Syafi’i dan negeri mereka perjalanan sebulan, awalnya Zaila’ dan akhirnya Maqadisyu, dan ternak mereka adalah unta dan mereka memiliki kambing yang terkenal gemuknya.

Dan penduduk Zaila’ hitam warnanya dan kebanyakan mereka Rafidhah, dan dia adalah kota besar memiliki pasar yang besar tetapi dia adalah kota terkotornya di muka bumi dan paling seram dan paling berbau busuk, dan sebab busuknya adalah banyaknya ikan dan darah unta yang mereka sembelih di gang-gang. Dan ketika kami tiba kepadanya kami memilih menginap di laut meskipun dahsyatnya dan kami tidak menginap di sana karena kotorannya. Kemudian kami berangkat darinya di laut lima belas malam, dan tiba di Maqadisyu, dan penyebutan namanya dengan membuka huruf Mim dan mensukunkan Qaf dan membuka huruf Dal yang tidak ada titiknya dan Syin yang ada titiknya dan mensukunkan Waw. Dan dia adalah kota yang sangat besar, dan penduduknya memiliki unta banyak menyembelih darinya ratusan setiap hari, dan mereka memiliki kambing banyak dan penduduknya pedagang-pedagang kuat dan di sana dibuat pakaian yang dinisbatkan kepadanya yang tidak ada tandingannya, dan darinya dibawa ke negeri Mesir dan lain-lain.

Dan dari kebiasaan penduduk kota ini adalah apabila tiba kapal ke pelabuhan naiklah perahu-perahu kecil, dan itu adalah perahu-perahu kecil kepadanya, dan ada di setiap perahu kecil sekelompok dari pemuda-pemuda penduduknya maka datang setiap orang dari mereka dengan piring tertutup, di dalamnya makanan lalu dia memberikannya kepada pedagang dari pedagang-pedagang penumpang, dan berkata: ini tamu saya, dan demikian juga melakukan setiap orang dari mereka, dan tidak turun pedagang dari kapal kecuali ke rumah tamunya dari pemuda-pemuda ini kecuali yang sering datang ke negeri dan mendapat pengenalan penduduknya maka dia turun di mana dia mau, maka ketika turun ke tempat tamunya dia menjual untuknya apa yang ada padanya dan membeli untuknya, dan siapa yang membeli darinya dengan murah atau menjual darinya tanpa kehadiran tamunya maka penjualan itu ditolak di antara mereka, dan mereka memiliki manfaat dalam itu.

Dan ketika naik para pemuda ke kapal yang aku berada di dalamnya, datang kepadaku salah seorang dari mereka, maka teman-temanku berkata kepadanya: ini bukan pedagang dan hanyalah fakih! Maka dia berteriak kepada teman-temannya dan berkata kepada mereka: ini tamu Hakim, dan ada di antara mereka salah seorang teman Hakim lalu dia memberitahukan itu, maka dia datang ke pantai laut dalam kelompok dari para pelajar, dan dia mengirim salah seorang dari mereka kepadaku lalu aku turun bersama teman-temanku dan memberi salam kepada Hakim dan teman-temannya, dan dia berkata kepadaku: Bismillah kita menuju untuk memberi salam kepada Syekh, maka aku berkata: dan siapa Syekh? Lalu dia berkata: Sultan, dan kebiasaan mereka bahwa mereka berkata kepada Sultan dengan Syekh, maka aku berkata kepadanya: jika aku turun aku menuju kepadanya, lalu dia berkata kepadaku: sesungguhnya kebiasaan apabila datang fakih atau syarif atau laki-laki saleh tidak turun sampai melihat Sultan, maka aku pergi bersama mereka kepadanya seperti yang mereka minta.

Kisah tentang Sultan Maqdisyu

Sultan Maqdisyu, sebagaimana telah kami sebutkan, mereka menyebutnya dengan sebutan asy-Syaikh dan namanya adalah Abu Bakar bin asy-Syaikh Umar. Ia berasal dari suku Barbarah dan berbicara dalam bahasa Maqdisyi, serta menguasai bahasa Arab. Di antara kebiasaannya adalah setiap kali sebuah kapal tiba, perahu kecil Sultan akan mendatanginya untuk menanyakan dari mana kapal itu datang, siapa pemiliknya, siapa nahodanya yang disebut ar-Rais, apa muatannya, dan siapa saja pedagang atau orang lain yang datang dengannya. Semua informasi itu dilaporkan kepada Sultan, dan barangsiapa yang layak untuk dijamu di kediamannya, maka akan dijamu.

Ketika saya tiba bersama Hakim yang telah disebutkan—yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Burhan yang berasal dari Mesir—ke kediaman Sultan, salah seorang pemuda keluar dan memberi salam kepada Hakim. Hakim lalu berkata kepadanya: “Sampaikanlah dan beritahukan kepada maulana asy-Syaikh bahwa orang ini telah datang dari tanah Hijaz.” Pemuda itu menyampaikan pesan tersebut, kemudian kembali membawa sebuah nampan berisi daun-daun sirih dan pinang. Ia memberikan kepada saya sepuluh lembar daun sirih dengan sedikit pinang, memberikan hal yang sama kepada Hakim, dan memberikan sisanya kepada para sahabat saya dan para pelajar Hakim. Kemudian ia membawa sebotol air mawar Damaskus lalu menuangkannya kepada saya dan kepada Hakim, seraya berkata: “Maulana memerintahkan agar Anda menginap di rumah para pelajar,” yaitu sebuah rumah yang disediakan untuk menjamu para pelajar. Hakim menggandeng tangan saya, dan kami pergi ke rumah tersebut yang terletak tidak jauh dari kediaman asy-Syaikh, telah diberi permadani dan dilengkapi dengan segala yang dibutuhkan.

Kemudian makanan diantarkan dari kediaman asy-Syaikh, ditemani oleh salah seorang menterinya yang bertugas mengurusi para tamu. Ia berkata: “Maulana memberi salam kepada kalian dan berkata: kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan.” Lalu ia meletakkan makanan, dan kami pun makan. Makanan mereka adalah nasi yang dimasak dengan mentega yang mereka letakkan dalam mangkuk kayu besar, dan di atasnya mereka letakkan mangkuk-mangkuk lauk pauk berupa ayam, daging, ikan, dan sayur-sayuran. Mereka memasak pisang sebelum matang dalam susu segar dan meletakkannya dalam mangkuk, meletakkan susu asam dalam mangkuk tersendiri, dan menambahkan di atasnya jeruk nipis yang diasamkan, tandan-tandan cabai yang diasamkan yang diasinkan dan diasamkan, jahe hijau, dan al-amba yang menyerupai apel tetapi memiliki biji. Jika sudah matang, rasanya sangat manis dan dimakan seperti buah-buahan, tetapi sebelum matang rasanya asam seperti jeruk dan mereka mengasamkannya dalam cuka. Ketika mereka makan sesuap nasi, mereka akan memakan makanan asam dan acar tersebut setelahnya. Satu orang penduduk Maqdisyu dapat makan sebanyak yang dimakan oleh sekelompok orang di antara kami—itu kebiasaan mereka—dan mereka sangat besar dan gemuk tubuhnya.

Setelah kami makan, Hakim pergi meninggalkan kami. Kami tinggal selama tiga hari dan makanan diantarkan kepada kami tiga kali sehari—itulah kebiasaan mereka. Pada hari keempat, yaitu hari Jumat, Hakim, para pelajar, dan salah seorang menteri asy-Syaikh datang dan membawakan saya pakaian. Pakaian mereka berupa kain yang diikatkan seseorang di pinggangnya sebagai pengganti celana karena mereka tidak mengenalnya, jubah dari kain Mesir yang bermotif, mantel dari kain al-Qudsi yang dilapisi, dan sorban Mesir bermotif. Mereka juga membawakan pakaian yang sesuai untuk para sahabat saya. Kami pergi ke masjid besar dan salat di belakang Maqsurah.

Ketika asy-Syaikh keluar dari pintu Maqsurah, saya memberi salam bersama Hakim. Ia menyambut dengan ramah dan berbicara dalam bahasa mereka dengan Hakim, kemudian berkata dalam bahasa Arab: “Anda datang dengan sebaik-baik kedatangan, telah memuliakan negeri kami dan menghibur kami.” Ia keluar ke halaman masjid dan berdiri di atas makam ayahnya yang dimakamkan di sana, membaca dan berdoa. Kemudian datanglah para menteri, para panglima, dan para pembesar tentara yang memberi salam. Kebiasaan mereka dalam memberi salam seperti kebiasaan penduduk Yaman: mereka meletakkan jari telunjuk di tanah kemudian meletakkannya di kepala mereka sambil berkata: “Semoga Allah mengabadikan kejayaanmu.”

Kemudian asy-Syaikh keluar dari pintu masjid, memakai sandalnya, memerintahkan Hakim untuk memakai sandal, dan memerintahkan saya untuk memakai sandal. Ia berjalan kaki menuju rumahnya yang berada dekat masjid, sementara seluruh rakyat berjalan dengan kaki telanjang. Di atas kepalanya dinaikkan empat kubah dari sutera berwarna-warni, dan di atas setiap kubah terdapat gambar burung dari emas.

Pakaiannya pada hari itu adalah mantel hijau al-Qudsi, di bawahnya pakaian-pakaian Mesir yang indah. Ia mengikatkan kain sutera di pinggangnya dan mengenakan sorban besar. Genderang, terompet, dan nafiri dibunyikan di hadapannya. Para panglima tentara berjalan di depan dan di belakangnya, sedangkan Hakim, para fuqaha, dan para Syarif berjalan bersamanya. Ia memasuki balai pertemuannya dengan tata cara seperti itu. Para menteri, panglima, dan pembesar tentara duduk di serambi di sana. Sebuah permadani dibentangkan untuk Hakim dan tidak ada yang duduk bersamanya di atasnya. Para fuqaha dan Syarif bersamanya. Mereka tetap seperti itu hingga salat Asar.

Ketika mereka salat Asar bersama asy-Syaikh, seluruh tentara datang dan berdiri berbaris sesuai dengan pangkat mereka. Kemudian genderang, nafiri, dan serunai dibunyikan. Ketika dibunyikan, tidak ada seorang pun yang bergerak atau beranjak dari tempatnya. Barangsiapa sedang berjalan, ia berhenti dan tidak bergerak mundur atau maju. Ketika tabuhan selesai, mereka memberi salam dengan jari-jari mereka sebagaimana telah kami sebutkan, lalu bubar. Itulah kebiasaan mereka setiap hari Jumat.

Pada hari Sabtu, orang-orang datang ke pintu asy-Syaikh dan duduk di serambi-serambi di luar rumah. Hakim, para fuqaha, para Syarif, orang-orang saleh, para Syaikh, dan para jemaah haji masuk ke balai pertemuan kedua dan duduk di bangku-bangku kayu yang disediakan untuk itu. Hakim duduk di bangku tersendiri, dan setiap golongan di bangku khusus mereka yang tidak ditempati oleh golongan lain. Kemudian asy-Syaikh duduk di majlisnya dan memanggil Hakim untuk duduk di sebelah kirinya. Lalu para fuqaha masuk, orang-orang besar mereka duduk di hadapannya sementara yang lainnya memberi salam dan pergi. Kemudian para Syarif masuk, orang-orang besar mereka duduk di hadapannya sementara yang lainnya memberi salam dan pergi. Jika mereka adalah tamu, mereka duduk di sebelah kanannya. Kemudian para Syaikh dan jemaah haji masuk, orang-orang besar mereka duduk sementara yang lainnya memberi salam dan pergi. Kemudian masuk para menteri, lalu para panglima, kemudian para pembesar tentara kelompok demi kelompok, memberi salam dan pergi.

Kemudian makanan dibawa dan dimakan di hadapan asy-Syaikh oleh Hakim, para Syarif, dan siapa saja yang duduk di majlis tersebut. Asy-Syaikh makan bersama mereka. Jika ia ingin menghormati salah seorang panglima besarnya, ia memanggilnya untuk makan bersama mereka. Orang-orang lainnya makan di ruang makan dengan urutan seperti urutan mereka masuk menghadap asy-Syaikh. Kemudian asy-Syaikh masuk ke rumahnya, dan Hakim, para menteri, sekretaris, serta empat orang panglima besar duduk untuk menyelesaikan perkara rakyat dan orang-orang yang mengadu. Yang berkaitan dengan hukum syariat diputuskan oleh Hakim, sedangkan yang lainnya diputuskan oleh anggota dewan syura yaitu para menteri dan panglima. Yang memerlukan musyawarah dengan Sultan, mereka menuliskannya kepadanya, dan jawaban keluar saat itu juga di belakang surat sesuai dengan pandangannya. Itulah kebiasaan mereka selamanya.

Kemudian saya berlayar dari kota Maqdisyu menuju negeri as-Sawahil dengan tujuan kota Kilwa dari negeri Zanuj. Kami tiba di pulau Manbasa—nama ini dieja dengan mim yang difathah, nun yang disukun, ba yang difathah, sin yang difathah, dan ya—yaitu sebuah pulau besar yang berjarak dua hari perjalanan laut dari daratan as-Sawahil. Pulau ini memiliki pohon-pohon pisang, jeruk nipis, dan jeruk sitrun. Mereka memiliki buah yang disebut al-jamun yang menyerupai zaitun dan memiliki biji seperti bijinya, tetapi sangat manis. Penduduk pulau ini tidak memiliki tanaman gandum dan hanya mendatangkannya dari as-Sawahil. Makanan mereka yang paling banyak adalah pisang dan ikan. Mereka bermadzhab Syafii, orang-orang yang beragama, bersih, dan saleh. Masjid-masjid mereka terbuat dari kayu yang dibuat dengan sangat rapi. Di setiap pintu masjid terdapat satu atau dua sumur dengan kedalaman satu atau dua hasta. Mereka mengambil air dengan gayung kayu yang ditancapi sebatang kayu tipis sepanjang satu hasta. Tanah di sekitar sumur dan masjid diratakan. Barangsiapa ingin masuk masjid, ia mencuci kakinya lalu masuk. Di pintunya terdapat selembar tikar tebal untuk menyeka kakinya. Barangsiapa ingin berwudhu, ia memegang gayung di antara kedua pahanya, menuangkan air ke tangannya, dan berwudhu. Semua orang berjalan dengan kaki telanjang.

Kami bermalam di pulau ini satu malam, lalu berlayar menuju kota Kilwa—nama ini dieja dengan dhammah pada kaf, sukun pada lam, dan fathah pada waw. Ini adalah kota besar di tepi pantai, sebagian besar penduduknya adalah orang-orang Zanuj yang sangat hitam kulitnya. Mereka memiliki torehan di wajah mereka seperti yang ada di wajah orang-orang al-Limiyyin dari Janawah. Salah seorang pedagang memberitahu saya bahwa kota Safalah berjarak setengah bulan perjalanan dari kota Kilwa, dan antara Safalah dan Yufi dari negeri al-Limiyyin berjarak satu bulan perjalanan, dan dari Yufi dibawa emas batangan ke Safalah.

Kota Kilwa termasuk kota yang paling indah dan paling kokoh bangunannya. Semuanya terbuat dari kayu dan atap rumah-rumahnya terbuat dari alang-alang. Hujan di sana sangat banyak. Mereka adalah ahli jihad karena mereka berada di daratan yang bersambung dengan orang-orang kafir Zanuj. Yang dominan pada mereka adalah agama dan kesalehan, dan mereka bermadzhab Syafii.

Kisah tentang Sultan Kilwa

Sultan Kilwa pada masa saya berkunjung ke sana adalah Abu al-Muzhaffar Hasan, yang juga dikenal dengan nama Abu al-Mawahib karena banyaknya pemberian dan kemuliaan hatinya. Ia sering berperang ke tanah Zanuj, menyerang mereka dan mengambil harta rampasan, mengeluarkan seperlimanya dan membelanjakannya untuk keperluan-keperluan yang ditentukan dalam Kitab Allah, dan menempatkan bagian kerabat dalam perbendaharaan tersendiri. Apabila datang kepadanya para Syarif, ia memberikannya kepada mereka.

Para Syarif datang kepadanya dari Irak, Hijaz, dan tempat-tempat lainnya. Saya melihat di sisinya sekelompok Syarif dari Hijaz, di antaranya Muhammad bin Jammaz, Manshur bin Labidah bin Abi Nami, dan Muhammad bin Syumailah bin Abi Nami. Saya bertemu di Maqdisyu dengan Tabal bin Kubais bin Jammaz yang bermaksud menghadapnya. Sultan ini sangat rendah hati, duduk bersama orang-orang miskin, makan bersama mereka, dan sangat menghormati ahli agama dan para Syarif.

Kisah tentang Kemuliaan Hatinya

Saya menghadapnya pada suatu hari Jumat ketika ia keluar dari salat menuju ke rumahnya. Salah seorang fakir dari Yaman menghadangnya dan berkata: “Ya Abu al-Mawahib!” Ia menjawab: “Labbaik wahai fakir, apa keperluanmu?” Ia berkata: “Berikanlah kepadaku pakaian yang engkau kenakan ini.” Ia berkata kepadanya: “Ya, akan kuberikan kepadamu.” Ia berkata: “Sekarang.” Ia berkata: “Ya, sekarang.” Lalu ia kembali ke masjid dan masuk ke ruangan khatib, mengenakan pakaian lain, melepas pakaian itu dan berkata kepada si fakir: “Masuklah dan ambillah.” Si fakir masuk, mengambilnya, membungkusnya dengan saputangan, dan meletakkannya di atas kepalanya lalu pergi. Rakyat sangat memuji Sultan atas kerendahan hati dan kemurahan hati yang ditunjukkannya.

Putranya yang menjadi putra mahkota mengambil pakaian itu dari si fakir dan menggantikannya dengan sepuluh budak. Ketika Sultan mendengar pujian rakyat kepadanya atas hal itu, ia juga memerintahkan untuk memberikan kepada si fakir sepuluh budak dan dua muatan gading. Sebagian besar pemberian mereka adalah gading, dan jarang mereka memberikan emas.

Ketika Sultan yang mulia dan murah hati ini wafat—semoga rahmat Allah bersamanya—saudaranya Dawud menjadi penguasa dan ia berlawanan dengan itu. Apabila datang kepadanya seorang peminta, ia berkata kepadanya: “Yang biasa memberi telah mati dan tidak meninggalkan sesuatu pun setelahnya untuk diberikan!” Ia membiarkan para rombongan tinggal di sisinya berbulan-bulan, dan kemudian ia memberikan yang sedikit, hingga para pendatang berhenti datang ke pintunya.

Kami berlayar dari Kilwa menuju kota Dhafar al-Humudh—nama ini dieja dengan fathah pada zha muʿjam, fa, dan akhirnya ra yang dikasrah. Ini adalah kota terakhir Yaman di tepi Laut Hindi. Dari sini diangkut kuda-kuda Arab murni ke India. Laut antara Dhafar dan India dapat ditempuh dengan angin yang mendukung dalam satu bulan penuh. Saya pernah menyeberangi laut dari Qaliqut dari negeri India ke Dhafar dalam dua puluh delapan hari dengan angin yang baik, tidak terputus pelayaran kami baik malam maupun siang.

Jarak antara Dhafar dan Aden melalui darat adalah satu bulan perjalanan melintasi padang pasir, dan antara Dhafar dan Oman dua puluh hari. Kota Dhafar berada di padang pasir yang terpencil tanpa kampung atau daerah penyangganya. Pasar berada di luar kota di pinggiran yang dikenal dengan sebutan al-Harja. Ini adalah salah satu pasar yang paling kotor, paling bau, dan paling banyak lalatnya karena banyaknya buah-buahan dan ikan yang dijual di sana. Ikan yang paling banyak adalah jenis yang dikenal sebagai sarden, yang sangat gemuk di sana. Di antara keajaiban adalah bahwa hewan ternak mereka hanya diberi makan dengan sarden ini, demikian pula kambing mereka. Saya tidak melihat hal ini di tempat lain.

Dan kebanyakan penjualnya adalah para pelayan perempuan yang mengenakan pakaian hitam, dan penduduknya menanam jagung yang mereka sirami dari sumur-sumur yang airnya dalam. Cara mereka menyiram adalah dengan membuat timba besar dan memasang banyak tali padanya, setiap tali diikatkan pada pinggang seorang budak atau pelayan, kemudian mereka menarik timba itu dengan kayu besar yang ditinggikan di atas sumur dan menuangkannya ke dalam bak air untuk kemudian mereka gunakan untuk menyiram. Mereka memiliki gandum yang disebut al-‘als, yang sebenarnya adalah sejenis jelai, sedangkan beras didatangkan kepada mereka dari negeri-negeri India dan itulah makanan pokok mereka. Mata uang kota ini terbuat dari tembaga dan timah, dan tidak berlaku di tempat lain. Mereka adalah pedagang yang tidak memiliki penghidupan kecuali dari perdagangan.

Dari kebiasaan mereka adalah apabila kapal datang dari negeri-negeri India atau tempat lain, para budak sultan keluar ke pantai dan naik dengan perahu kecil ke kapal tersebut sambil membawa pakaian lengkap untuk pemilik kapal atau wakilnya dan untuk nakhoda yang merupakan pemimpin kapal serta untuk juru tulis kapal. Mereka dibawakan tiga ekor kuda untuk mereka tunggangi dan genderang serta terompet dibunyikan di hadapan mereka dari pantai laut hingga ke istana sultan, lalu mereka memberi salam kepada menteri dan amir jandar. Jamuan dikirimkan untuk setiap orang di kapal selama tiga hari, dan setelah tiga hari mereka makan di istana sultan. Mereka melakukan ini untuk menarik para pemilik kapal. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati, berakhlak baik, berbudi luhur, dan mencintai orang asing. Pakaian mereka dari katun yang didatangkan kepada mereka dari negeri-negeri India, mereka mengikatkan kain di pinggang mereka sebagai pengganti celana, dan kebanyakan mereka mengikat kain di pinggang dan meletakkan kain lain di punggung mereka karena sangat panas. Mereka mandi beberapa kali dalam sehari. Kota ini banyak masjidnya, dan di setiap masjid terdapat banyak tempat bersuci yang disediakan untuk mandi. Di sana dibuat pakaian dari sutera, katun, dan linen yang sangat bagus.

Yang dominan pada penduduknya, baik laki-laki maupun perempuan, adalah penyakit yang dikenal dengan penyakit kaki gajah, yaitu pembengkakan kaki, dan kebanyakan laki-laki mereka menderita hidrokel (pembengkakan buah zakar), na’udzu billah.

Di antara kebiasaan baik mereka adalah bersalaman di masjid setelah salat subuh dan asar. Orang-orang di shaf pertama bersandar menghadap kiblat dan disalami oleh mereka yang di belakang mereka, demikian pula mereka lakukan setelah salat Jumat, mereka semua bersalaman.

Di antara kekhususan dan keajaiban kota ini adalah tidak ada seorang pun yang bermaksud jahat terhadapnya kecuali keburukan itu akan kembali kepadanya dan ia terhalang darinya. Disebutkan kepadaku bahwa Sultan Quthb al-Din Tamahtan bin Turan Syah, penguasa Hormuz, pernah mengepungnya dari darat dan laut, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan angin topan yang menghancurkan kapal-kapalnya, maka ia mundur dari pengepungannya dan berdamai dengan rajanya. Demikian pula disebutkan kepadaku bahwa Raja al-Mujahid, sultan Yaman, menunjuk seorang sepupunya dengan pasukan besar untuk merebut kota ini dari tangan rajanya yang juga sepupunya. Ketika panglima itu keluar dari rumahnya, tembok roboh menimpanya dan sekelompok pengikutnya sehingga mereka semua tewas, maka raja pun membatalkan niatnya dan meninggalkan rencana mengepung dan merebutnya.

Di antara keanehan adalah bahwa penduduk kota ini paling mirip dengan penduduk Maghrib dalam urusan-urusan mereka. Aku tinggal di rumah khatib masjid besarnya yaitu Isa bin Ali, yang berkedudukan tinggi dan berjiwa mulia. Ia memiliki budak-budak perempuan yang diberi nama seperti nama-nama pelayan di Maghrib: salah satunya bernama Bakhit, yang lain bernama Zad al-Mal, dan aku tidak mendengar nama-nama ini di negeri lain selain di sana.

Kebanyakan penduduknya kepalanya terbuka tidak memakai sorban, dan di setiap rumah mereka terdapat sajadah dari rumput tergantung di dalam rumah yang digunakan pemilik rumah untuk salat sebagaimana yang dilakukan penduduk Maghrib. Makanan mereka adalah jagung. Semua kemiripan ini memperkuat pendapat bahwa Shanhajah dan suku-suku lain dari Maghrib berasal dari Himyar.

Tidak jauh dari kota ini, di antara kebun-kebunnya, terdapat zawiyah Syekh yang saleh dan ahli ibadah Abu Muhammad bin Abu Bakar Isa dari penduduk Zhafar. Zawiyah ini diagungkan oleh mereka, mereka datang kepadanya pagi dan sore. Mereka meminta perlindungan di sana, dan apabila seseorang yang meminta perlindungan masuk ke dalamnya, sultan tidak dapat menguasainya. Aku melihat di sana seseorang yang menyebutkan kepadaku bahwa ia sudah berada di sana bertahun-tahun meminta perlindungan dan sultan tidak mengganggunya. Pada hari-hari ketika aku berada di sana, seorang sekretaris sultan meminta perlindungan di sana dan tinggal di dalamnya hingga terjadi perdamaian antara keduanya. Aku datang ke zawiyah ini dan bermalam di sana dalam jamuan dua syekh yaitu Abu al-‘Abbas Ahmad dan Abu Abdullah Muhammad, kedua putra Syekh Abu Bakar yang disebutkan tadi, dan aku menyaksikan keutamaan besar dari mereka berdua. Ketika kami mencuci tangan setelah makan, Abu al-‘Abbas mengambil air yang kami gunakan untuk mencuci tangan itu dan meminumnya, lalu mengirimkan sisanya dengan pelayan kepada keluarga dan anak-anaknya untuk mereka minum. Demikianlah yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang mereka anggap baik dari para pendatang kepada mereka. Demikian pula hakim mereka yang saleh Abu Hasyim Abdul Malik al-Zabidi menjamuku dan ia melayani serta mencuci tanganku sendiri, dan tidak menyerahkan hal itu kepada orang lain.

Tidak jauh dari zawiyah ini terdapat makam leluhur Sultan al-Malik al-Mughith, yang diagungkan oleh mereka, dan orang yang meminta hajat dengan perantaraannya akan dikabulkan hajatnya.

Dari kebiasaan para tentara adalah apabila bulan telah berakhir dan mereka belum menerima gaji mereka, mereka meminta perlindungan di makam ini dan tinggal di sekitarnya hingga mereka diberi gaji mereka.

Pada jarak setengah hari perjalanan dari kota ini terdapat al-Ahqaf, yaitu tempat tinggal kaum ‘Ad. Di sana terdapat zawiyah dan masjid di tepi laut dengan sebuah kampung nelayan di sekitarnya. Di zawiyah itu terdapat kubur yang tertulis di atasnya: Ini adalah kubur Hud bin ‘Abir alaihishshalatu wassalam. Aku telah menyebutkan bahwa di Masjid Damaskus terdapat tempat yang tertulis: ini adalah kubur Hud bin ‘Abir. Yang lebih sesuai adalah kuburnya berada di al-Ahqaf karena itu adalah negerinya, wallahu a’lam.

Kota ini memiliki kebun-kebun dengan banyak pisang yang besar, aku menimbang satu buahnya di hadapanku dan beratnya dua belas uqiyah, rasanya enak dan sangat manis. Di sana juga terdapat tanaman sirih dan kelapa yang dikenal dengan nama kacang India, dan keduanya hanya ada di negeri-negeri India dan di kota Zhafar ini karena kemiripannya dengan India dan kedekatannya dengannya, kecuali di kota Zabid di kebun sultan terdapat beberapa pohon kelapa. Karena telah disebutkan sirih dan kelapa, maka mari kita sebutkan keduanya dan kekhususan keduanya.

Tentang Sirih

Sirih adalah pohon yang ditanam seperti menanam anggur dan dibuatkan terali dari bambu untuknya seperti yang dibuat untuk anggur, atau ditanam di dekat pohon kelapa sehingga merambat padanya seperti anggur merambat, dan seperti lada merambat. Sirih tidak memiliki buah, yang diinginkan darinya adalah daunnya yang menyerupai daun blackberry. Yang paling enak adalah yang berwarna kuning. Daunnya dipetik setiap hari. Penduduk India sangat mengagungkan sirih. Apabila seseorang datang ke rumah temannya dan diberi lima lembar daun darinya, seolah-olah ia diberi dunia dan seisinya, terutama jika ia seorang amir atau pembesar. Pemberian sirih di sisi mereka lebih besar maknanya dan lebih menunjukkan penghormatan terhadap yang diberi daripada pemberian perak dan emas!

Cara penggunaannya adalah dengan mengambil terlebih dahulu fofal, yaitu semacam pala, lalu dipecah hingga menjadi potongan-potongan kecil dan dimasukkan orang ke dalam mulutnya dan dikunyah, kemudian mengambil daun sirih dan meletakkan di atasnya sedikit kapur lalu mengunyahnya bersama fofal. Khasiatnya adalah membuat napas harum, menghilangkan bau mulut, mencerna makanan, menghilangkan bahaya minum air saat perut kosong, membuat gembira yang memakannya, membantu dalam hubungan intim. Orang meletakkannya di dekat kepalanya di malam hari, ketika bangun dari tidurnya atau dibangunkan oleh istri atau jariyahnya, ia mengambilnya sehingga hilang bau tidak sedap yang ada di mulutnya. Disebutkan kepadaku bahwa para jariyah sultan dan para amir di negeri-negeri India tidak memakan selain itu. Kami akan menyebutkannya ketika menyebut negeri-negeri India.

Tentang Kelapa

Yaitu kacang India. Pohon ini adalah di antara pohon yang paling aneh urusannya dan paling menakjubkan. Pohonnya menyerupai pohon kurma, tidak ada perbedaan di antara keduanya kecuali yang ini berbuah kelapa sedangkan yang itu berbuah kurma. Kelapanya menyerupai kepala manusia karena di dalamnya ada yang menyerupai mata dan mulut, dan bagian dalamnya menyerupai otak ketika masih hijau. Di atasnya ada sabut yang menyerupai rambut, dan mereka membuat tali darinya untuk menjahit kapal sebagai pengganti paku besi, dan membuat tali untuk kapal. Satu buah kelapa, khususnya yang ada di pulau-pulau Dibah al-Mahal, sebesar kepala manusia.

Mereka mengklaim bahwa seorang hakim dari hakim-hakim India pada zaman dahulu kala berhubungan dengan seorang raja dan diagungkan di sisinya. Raja itu memiliki seorang menteri yang antara dia dan hakim ini ada permusuhan. Hakim berkata kepada raja: “Sesungguhnya kepala menteri ini jika dipotong dan dikubur akan tumbuh darinya pohon kurma yang berbuah kurma besar yang manfaatnya akan kembali kepada penduduk India dan lainnya dari penduduk dunia.” Raja berkata kepadanya: “Jika tidak muncul dari kepala menteri apa yang kamu sebutkan?” Ia berkata: “Jika tidak muncul, maka lakukan pada kepalaku seperti yang kamu lakukan pada kepalanya!” Maka raja memerintahkan kepala menteri dipotong dan hakim mengambilnya, lalu menanam biji kurma di dalam otaknya dan merawatnya hingga menjadi pohon dan berbuah kelapa ini! Cerita ini termasuk kebohongan tetapi kami sebutkan karena terkenalnya di kalangan mereka.

Di antara khasiat kelapa ini adalah menguatkan tubuh, mempercepat kegemukan, dan menambah kemerah-merahan wajah. Adapun membantu dalam kemampuan bersetubuh, pengaruhnya sangat menakjubkan. Di antara keajaibannya adalah pada awal perkaranya ia berwarna hijau, maka barang siapa memotong dengan pisau sepotong dari kulitnya dan membuka kepala kelapa, ia minum darinya air yang sangat manis dan dingin, sifatnya panas dan membantu dalam bersetubuh. Setelah meminum air itu, ia mengambil potongan kulit dan menjadikannya seperti sendok lalu mengambil apa yang ada di dalam kelapa dari makanan, rasanya seperti telur yang dipanggang tetapi belum sepenuhnya matang, dan orang makan dengannya sebagai makanan. Dari kelapa inilah makanan sahurku selama tinggal di pulau-pulau Dibah al-Mahal selama satu setengah tahun.

Di antara keajaibannya adalah dibuat darinya minyak, susu, dan madu. Adapun cara membuat madu darinya adalah pelayan pohon kelapa yang mereka sebut al-Fazaniyah naik ke pohon kelapa pagi dan sore ketika mereka ingin mengambil airnya yang mereka buat madu darinya, dan mereka menyebutnya al-Athwaq. Mereka memotong tandan yang keluar darinya buah dan menyisakan darinya ukuran dua jari, lalu mengikat padanya periuk kecil sehingga air yang mengalir dari tandan menetes ke dalamnya. Ketika mengikatnya di pagi hari dan naik kepadanya di sore hari dengan membawa dua mangkuk dari kulit kelapa yang disebutkan, salah satunya berisi air, ia menuangkan air tandan yang terkumpul ke salah satu mangkuk dan mencucinya dengan air yang ada di mangkuk lain, lalu mengiris sedikit dari tandan dan mengikat periuk padanya lagi, kemudian melakukan di pagi hari seperti yang dilakukannya di sore hari. Ketika terkumpul baginya banyak air itu, ia memasaknya seperti memasak air anggur ketika dibuat rob darinya, maka jadilah madu yang sangat bermanfaat dan enak. Para pedagang India, Yaman, dan Tiongkok membelinya dan membawanya ke negeri-negeri mereka dan membuat halwa darinya.

Adapun cara membuat susu darinya adalah di setiap rumah ada semacam kursi yang diduduki perempuan di atasnya dengan tongkat di tangannya yang di salah satu ujungnya ada besi yang tajam. Mereka membuka kelapa seukuran yang bisa dimasuki besi itu, lalu memarut apa yang ada di dalam kelapa. Semua yang turun darinya terkumpul di dalam mangkuk hingga tidak tersisa di dalam kelapa sesuatu. Kemudian parutan itu diremas dengan air sehingga menjadi seperti warna susu, putih, dan rasanya seperti rasa susu, dan orang-orang menjadikannya lauk. Adapun cara membuat minyak adalah mereka mengambil kelapa setelah matang dan jatuh dari pohonnya, lalu menghilangkan kulitnya dan memotongnya potongan-potongan dan menjemurnya di bawah matahari. Ketika layu mereka memasaknya dalam periuk dan mengeluarkan minyaknya. Dengan minyak itu mereka menyalakan lampu dan menjadikannya lauk, dan wanita-wanita meletakkannya di rambut mereka, dan sangat bermanfaat.

Tentang Sultan Zhafar

Yaitu Sultan al-Malik al-Mughith bin al-Malik al-Fa’iz, sepupu raja Yaman. Ayahnya adalah amir di Zhafar dari pihak penguasa Yaman, dan ia memiliki hadiah yang dikirimkannya kepadanya setiap tahun. Kemudian al-Malik al-Mughith merdeka dengan kerajaannya dan berhenti mengirim hadiah. Raja Yaman bermaksud memeranginya dan menunjuk sepupunya untuk itu, dan robohnya tembok menimpanya sebagaimana kami sebutkan tadi.

Sultan memiliki istana di dalam kota yang disebut al-Hishn, besar dan luas, dengan masjid agung di hadapannya. Dari kebiasaannya adalah genderang, terompet, nafir, dan surna dibunyikan di pintunya setiap hari setelah salat asar. Setiap hari Senin dan Kamis pasukan datang ke pintunya dan berdiri di luar musyawarah sesaat, lalu pulang, dan sultan tidak keluar dan tidak ada yang melihatnya kecuali pada hari Jumat. Ia keluar untuk salat lalu kembali ke rumahnya dan tidak melarang siapa pun masuk ke musyawarah. Amir jandar duduk di pintunya dan kepadanya berakhir setiap orang yang memiliki hajat atau keluhan, dan ia melaporkan kepada sultan dan segera datang jawabannya.

Apabila sultan ingin berkendaraan, kendaraannya keluar dari istana dengan senjata dan budak-budaknya ke luar kota, dan didatangkan unta dengan tandu yang ditutup dengan kain putih yang diukir dengan emas. Sultan dan teman setianya naik ke dalam tandu sehingga tidak terlihat. Apabila ia keluar ke kebunnya dan ingin menunggang kuda, ia menungganginya dan turun dari unta.

Kebiasaannya adalah tidak ada yang menghadangnya di jalannya untuk melihatnya atau untuk keluhan atau lainnya. Barang siapa melakukan itu akan dipukul dengan sangat keras, maka kamu dapati orang-orang apabila mendengar keluarnya sultan lari dari jalan dan menghindarinya.

Menteri sultan ini adalah al-Faqih Muhammad al-‘Adani. Ia dahulu adalah guru anak-anak, lalu mengajar sultan ini membaca dan menulis, dan sultan berjanji kepadanya akan menjadikannya menteri jika ia menjadi raja. Ketika ia menjadi raja, ia menjadikannya menteri tetapi ia tidak pandai dalam hal itu, maka nama untuknya sedangkan kekuasaan untuk selainnya!

Dari kota ini kami berlayar mengarungi laut menuju Oman dalam kapal kecil milik seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Ali bin Idris al-Mishiri, dari penduduk pulau Masirah. Pada hari kedua pelayaran kami, kami berlabuh di pelabuhan Hasik. Di sana ada orang-orang Arab nelayan yang tinggal di sana, dan mereka memiliki pohon kemenyan yang daunnya tipis. Apabila daun darinya disayat, maka menetes darinya air seperti susu, kemudian menjadi getah, dan getah itulah kemenyan yang sangat banyak di sana. Tidak ada penghidupan bagi penduduk pelabuhan itu kecuali dari menangkap ikan. Ikan mereka dikenal dengan al-lakhm, dengan kha mu’jamah yang difathah, yaitu menyerupai anjing laut, diiris dan dijemur dan dijadikan makanan. Rumah-rumah mereka dari tulang ikan dan atapnya dari kulit unta.

Kami berlayar dari pelabuhan Hasik empat hari dan sampai ke Jabal Lam’an, dengan dhammah lam, yang berada di tengah laut. Di atasnya ada ribath yang dibangun dari batu dan atapnya dari tulang ikan, dan di luarnya ada telaga air yang terkumpul dari hujan.

Tentang Wali Yang Kami Temui Di Gunung Ini

Ketika kami berlabuh di bawah gunung ini, kami mendakinya menuju rabithah ini, lalu kami menemukan di sana seorang syekh yang sedang tidur. Kami mengucapkan salam kepadanya dan ia terbangun, lalu memberi isyarat membalas salam. Kami berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menjawab dan hanya menggerakkan kepalanya. Kemudian para penumpang kapal datang membawa makanan kepadanya, tetapi ia menolak menerimanya. Kami meminta doa darinya, dan ia menggerakkan bibirnya tetapi kami tidak tahu apa yang ia ucapkan. Ia mengenakan jubah tambal sulam dan topi dari kain felt, dan tidak membawa kendi air, cerek, tongkat, maupun sandal. Para penumpang kapal berkata bahwa mereka tidak pernah melihatnya sebelumnya di gunung ini.

Kami bermalam malam itu di pesisir gunung ini, dan kami shalat Ashar dan Maghrib bersamanya. Kami datang membawa makanan kepadanya, tetapi ia menolaknya. Ia terus shalat hingga waktu Isya, kemudian ia mengumandangkan adzan dan kami shalat bersamanya. Ia memiliki suara yang bagus dalam membaca Al-Quran dan sangat mahir. Setelah selesai shalat Isya, ia memberi isyarat kepada kami untuk pergi, maka kami berpamitan dan pergi dalam keadaan takjub dengan keadaannya. Kemudian saya ingin kembali kepadanya setelah kami pergi, tetapi ketika saya mendekat, saya merasa segan dan rasa takut menguasai saya, lalu teman-teman saya kembali, maka saya ikut pergi bersama mereka. Kami berlayar dan setelah dua hari kami tiba di Pulau Burung yang tidak ada penduduknya. Kami berlabuh dan naik ke pulau itu, lalu kami mendapatinya dipenuhi burung-burung yang menyerupai berkik, tetapi lebih besar darinya. Orang-orang mengambil telur burung-burung itu, merebusnya dan memakannya. Mereka juga menangkap sejumlah burung itu, memasak tanpa menyembelihnya dan memakannya.

Ada seorang pedagang dari penduduk Pulau Masirah yang tinggal di Dhofar bernama Muslim yang duduk bersama saya. Saya melihatnya makan bersama mereka burung-burung itu, maka saya mengingkarinya. Ia sangat malu dan berkata kepada saya: “Saya kira mereka menyembelihnya.” Setelah itu ia menjauh dari saya karena malu dan tidak mendekati saya kecuali jika saya memanggilnya.

Makanan saya pada hari-hari itu di kapal adalah kurma dan ikan. Mereka menangkap ikan pada pagi dan sore hari yang dalam bahasa Persia disebut syirmaahi, artinya singa ikan, karena syir adalah singa, dan maahi adalah ikan. Ikan ini mirip dengan ikan yang di negeri kami disebut tazart. Mereka memotongnya menjadi potongan-potongan dan membakarnya, lalu memberikan kepada setiap orang di kapal satu potong, tidak membedakan seorang pun atas yang lain, baik pemilik kapal maupun yang lainnya. Mereka memakannya dengan kurma. Saya memiliki roti dan kue yang saya bawa dari Dhofar, tetapi setelah habis, saya makan ikan bersama mereka.

Kami merayakan Idul Adha di tengah laut. Pada hari itu setelah fajar, angin kencang bertiup hingga terbit matahari dan hampir menenggelamkan kami.

KAROMAH [HAJI KHADIR]

Bersama kami di kapal ada seorang haji dari penduduk India bernama Khadir yang dipanggil Maulana karena ia hafal Al-Quran dan pandai menulis. Ketika ia melihat dahsyatnya laut, ia membungkus kepalanya dengan mantel yang dimilikinya dan berpura-pura tidur. Setelah Allah melepaskan kami dari musibah itu, saya berkata kepadanya: “Wahai Maulana Khadir, bagaimana menurutmu?” Ia berkata: “Ketika dalam bahaya, saya membuka mata untuk melihat apakah para malaikat yang mencabut nyawa sudah datang, tetapi saya tidak melihat mereka. Maka saya berkata: Alhamdulillah, seandainya akan tenggelam pasti mereka sudah datang untuk mencabut nyawa. Kemudian saya menutup mata saya, lalu membukanya lagi dan melihat seperti itu sampai Allah melapangkan kami!”

Ada sebuah kapal milik seorang pedagang yang berangkat lebih dulu dari kami, tetapi tenggelam dan tidak ada yang selamat kecuali seorang laki-laki yang berhasil berenang keluar setelah kesulitan yang sangat berat. Di kapal itu saya makan sejenis makanan yang tidak pernah saya makan sebelumnya maupun sesudahnya, dibuat oleh seorang pedagang dari Oman. Makanan itu terbuat dari jewawut yang dimasak tanpa digiling, lalu disiram dengan silan yaitu madu kurma, dan kami memakannya.

Kemudian kami tiba di Pulau Masirah, yang merupakan pulau asal pemilik kapal yang kami tumpangi. Namanya diucapkan seperti mashir dengan tambahan ta marbuthah. Pulau yang besar dan penghuninya tidak memiliki penghidupan selain dari ikan. Kami tidak turun ke pulau itu karena jauhnya tempat berlabuh dari pantai. Saya sudah membenci mereka karena melihat mereka memakan burung tanpa menyembelih. Kami tinggal di sana sehari, dan pemilik kapal pergi ke rumahnya lalu kembali kepada kami. Kemudian kami berlayar sehari semalam dan tiba di pelabuhan sebuah desa besar di tepi laut yang dikenal dengan nama Shur. Kami melihat dari sana kota Qalhat di kaki gunung yang tampak seperti desa bagi kami.

Kami tiba di pelabuhan pada waktu zuhur atau sebelumnya. Ketika kota itu terlihat oleh kami, saya ingin berjalan ke sana dan bermalam di sana, karena saya sudah tidak suka dengan para penumpang kapal. Saya bertanya tentang jalannya dan diberi tahu bahwa saya akan tiba di sana pada waktu Ashar. Maka saya menyewa salah seorang pelaut untuk menunjukkan jalan, dan Khadir al-Hindi yang telah disebutkan sebelumnya menemani saya. Saya meninggalkan teman-teman saya dengan barang-barang saya di kapal agar mereka menyusul saya keesokan harinya. Saya mengambil pakaian-pakaian yang saya miliki dan memberikannya kepada pemandu itu agar ia menanggung beban membawanya, sementara saya membawa tombak di tangan.

Ternyata pemandu itu ingin menguasai pakaian saya! Ia membawa kami ke sebuah teluk yang keluar dari laut yang memiliki pasang surut, dan ia ingin menyeberanginya dengan membawa pakaian. Saya berkata kepadanya: “Kamu menyeberang sendiri dan tinggalkan pakaian pada kami. Jika kami mampu menyeberang, baik, jika tidak, kami akan naik mencari tempat penyeberangan.” Ia pun kembali. Kemudian kami melihat orang-orang menyeberanginya dengan berenang, maka kami yakin bahwa maksudnya adalah menenggelamkan kami dan pergi dengan pakaian. Pada saat itu saya menunjukkan semangat dan bersikap waspada, mengikat pinggangku, dan saya mengayunkan tombak sehingga pemandu itu takut kepada saya. Kami naik hingga menemukan tempat penyeberangan, lalu keluar ke padang pasir tanpa air dan kami kehausan serta kesulitan melanda kami.

Allah mengutus kepada kami seorang penunggang kuda bersama beberapa temannya, dan salah seorang dari mereka membawa kendi air. Ia memberi minum saya dan teman saya. Kami pergi mengira kota itu dekat dari kami, padahal antara kami dan kota itu ada parit-parit yang kami lalui bermil-mil jauhnya.

Ketika sore tiba, pemandu ingin membawa kami ke arah laut yang tidak ada jalannya karena pantainya berbatu. Ia ingin membuat kami terjebak di sana dan pergi dengan pakaian. Saya berkata kepadanya: “Kami akan berjalan di jalan ini yang kami lalui.” Antara jalan itu dan laut sekitar satu mil. Ketika malam menjelang gelap, ia berkata kepada kami: “Kota itu dekat dari kami, mari kita berjalan hingga kita bermalam di luarnya sampai pagi.” Saya khawatir ada orang yang mengganggu kami di jalan, dan saya tidak yakin berapa jarak yang tersisa ke kota. Maka saya berkata kepadanya: “Yang benar adalah kita keluar dari jalan dan tidur. Jika sudah pagi, kita akan datang ke kota, insya Allah.”

Saya telah melihat sejumlah orang di kaki gunung di sana, dan saya khawatir mereka adalah perampok. Saya berkata, bersembunyi lebih baik. Rasa haus menguasai teman saya sehingga ia tidak setuju dengan itu. Maka saya keluar dari jalan dan menuju sebatang pohon gum arab. Saya sudah kelelahan dan kesulitan menimpa saya, tetapi saya menunjukkan kekuatan dan ketabahan karena takut kepada pemandu. Adapun teman saya, ia sakit dan tidak memiliki kekuatan. Maka saya menempatkan pemandu di antara saya dan teman saya, meletakkan pakaian di antara pakaian saya dan tubuh saya, memegang tombak di tangan saya. Teman saya tidur, pemandu tidur, dan saya tetap terjaga. Setiap kali pemandu bergerak, saya berbicara kepadanya dan menunjukkan bahwa saya terjaga. Kami terus seperti itu hingga pagi.

Lalu kami keluar ke jalan dan menemukan orang-orang pergi dengan keperluan mereka ke kota. Saya menyuruh pemandu untuk membawakan kami air, dan teman saya membawa pakaian. Antara kami dan kota ada jurang dan parit-parit. Ia datang membawa air dan kami minum pada saat panas terik. Kemudian kami tiba di kota Qalhat. Namanya diucapkan dengan qaf berharakat fathah, lam sukun, dan akhiran ta marbuthah. Kami tiba dalam keadaan sangat lelah. Sandal saya sudah sempit di kaki saya hingga darah hampir keluar dari bawah kuku. Ketika kami tiba di pintu kota, sebagai puncak kesulitan, penjaga pintu berkata kepada kami: “Kamu harus pergi bersamaku kepada penguasa kota agar ia mengetahui perkaramu dan dari mana kamu datang.” Maka saya pergi bersamanya dan bertemu dengan penguasa itu. Saya mendapatinya sebagai orang yang mulia dan berakhlak baik. Ia bertanya tentang keadaan saya, memberikan tempat tinggal, dan saya tinggal di rumahnya enam hari tidak mampu berdiri dengan kaki saya karena sakit yang menimpanya.

Kota Qalhat terletak di tepi pantai. Kota ini memiliki pasar-pasar yang bagus dan memiliki masjid dari masjid-masjid terindah dengan dinding dari ubin (qasyani) yang menyerupai mozaik. Masjid itu tinggi dan dari sana dapat melihat laut dan pelabuhan. Masjid ini dibangun oleh wanita salehah Bibi Maryam, dan kata Bibi dalam bahasa mereka berarti wanita merdeka. Saya makan di kota ini ikan yang tidak pernah saya makan sepertinya di wilayah manapun. Saya lebih menyukainya daripada semua daging dan tidak makan yang lain. Mereka membakarnya di atas daun pohon dan meletakkannya di atas nasi lalu memakannya.

Nasi diimpor kepada mereka dari negeri India. Mereka adalah pedagang dan penghidupan mereka dari yang datang kepada mereka di Laut India. Jika sebuah kapal tiba kepada mereka, mereka sangat gembira. Bahasa mereka tidak fasih meskipun mereka orang Arab. Setiap kata yang mereka ucapkan, mereka sambungkan dengan “la”, misalnya mereka berkata: “Makan la? Pergi la? Lakukan begini la?”

Kebanyakan mereka adalah Khawarij tetapi mereka tidak mampu menampakkan mazhab mereka karena mereka berada di bawah kekuasaan Sultan Quthbuddin Tamhatan, raja Hormuz, yang berasal dari Ahlus Sunnah. Di dekat Qalhat ada desa Thaibi, namanya seperti kata “thaib” (wangi) jika diidhafatkan oleh orang pertama kepada dirinya. Desa ini adalah desa terindah dan terbaik pemandangannya, memiliki sungai-sungai yang mengalir, pepohonan yang rindang, dan kebun-kebun yang banyak. Dari sana buah-buahan dibawa ke Qalhat. Di sana ada pisang yang dikenal dengan nama murwari. Murwari dalam bahasa Persia adalah seperti mutiara, dan pisang ini banyak di sana. Dari sana diangkut ke Hormuz dan tempat lainnya. Di sana juga ada daun sirih tetapi daunnya kecil. Kurma diangkut ke wilayah-wilayah ini dari Oman.

Kemudian kami menuju negeri Oman. Kami berjalan enam hari di padang pasir, lalu tiba di negeri Oman pada hari ketujuh. Negeri ini subur memiliki sungai-sungai, pepohonan, kebun-kebun, taman-taman kurma, dan buah-buahan yang banyak dengan berbagai jenis. Kami tiba di ibu kota negeri ini yaitu kota Nizwa. Namanya diucapkan dengan nun berharakat fathah, zai sukun, dan waw berharakat fathah. Kota di kaki gunung yang dikelilingi kebun-kebun dan sungai-sungai. Kota ini memiliki pasar-pasar yang bagus dan masjid-masjid yang diagungkan dan bersih. Kebiasaan penduduknya adalah mereka makan di halaman-halaman masjid. Setiap orang datang dengan apa yang dimilikinya dan mereka berkumpul untuk makan di halaman masjid. Yang datang dan yang pergi ikut makan bersama mereka.

Mereka memiliki keberanian dan kegagahan. Perang selalu terjadi di antara mereka. Mereka bermazhab Ibadhiyah dan shalat Jumat pada waktu Zuhur empat rakaat. Setelah selesai, imam membaca ayat-ayat dari Al-Quran dan mengucapkan kata-kata seperti khutbah yang di dalamnya ia meridhai Abu Bakar dan Umar, dan diam tentang Utsman dan Ali. Jika mereka ingin menyebut Ali radhiyallahu anhu, mereka menyebutnya dengan kinayah “ar-rajul” (laki-laki itu), sehingga mereka berkata: “Disebut dari ar-rajul” atau “Ar-rajul berkata.” Mereka meridhai orang celaka terlaknat Ibnu Muljam dan berkata tentangnya: “Hamba yang saleh, penghancur fitnah.”

Wanita-wanita mereka banyak melakukan kerusakan dan tidak ada kecemburuan pada mereka, dan tidak ada pengingkaran terhadap itu. Kami akan menyebutkan kisah setelah ini yang menjadi saksi tentang hal itu.

Tentang SULTAN OMAN

Sultannya adalah orang Arab dari suku Azad bin al-Ghauth, dikenal dengan nama Abu Muhammad bin Nabhan. Abu Muhammad pada mereka adalah sebutan untuk setiap sultan yang memerintah Oman, seperti halnya Atabeg pada raja-raja Lur. Kebiasaannya adalah ia duduk di luar pintu rumahnya di majelisnya di sana. Ia tidak memiliki penjaga pintu maupun menteri, dan tidak menghalangi siapapun untuk masuk kepadanya, baik orang asing maupun yang lain. Ia memuliakan tamu sesuai kebiasaan orang Arab, menentukan jamuan untuknya dan memberikan sesuai kadarnya.

Ia memiliki akhlak yang baik. Di mejanya dimakan daging keledai jinak, dan dijual di pasar karena mereka berpendapat menghalalkannya. Tetapi mereka menyembunyikan itu dari orang yang datang kepada mereka dan tidak menampakkannya di hadapannya.

Di antara kota-kota Oman adalah kota Izki yang tidak saya masuki. Menurut yang diceritakan kepada saya, kota ini adalah kota besar. Dari kota-kota Oman ada al-Qurayyat, Shaba, Kalba, Khur Fakkan, dan Sohar. Semuanya memiliki sungai-sungai, taman-taman, dan pohon-pohon kurma. Kebanyakan negeri-negeri ini berada di bawah kekuasaan Hormuz.

KISAH SULTAN YANG TOLERAN

Suatu hari aku berada di sisi Sultan Abu Muhammad bin Nabhan. Tiba-tiba datanglah seorang wanita muda yang cantik rupanya dengan wajah terbuka. Ia berdiri di hadapan sang sultan dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad! Setan telah menguasai kepalaku.” Sultan berkata kepadanya, “Pergilah dan usirlah setan itu.” Wanita itu menjawab, “Aku tidak bisa, sedangkan aku berada dalam perlindunganmu, wahai Abu Muhammad.” Sultan berkata, “Pergilah dan lakukan sesukamu.”

Ketika wanita itu pergi meninggalkannya, sultan menceritakan kepadaku bahwa wanita ini dan orang-orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatannya berada dalam perlindungan sultan, lalu mereka pergi berbuat maksiat. Ayah mereka maupun kerabat mereka tidak mampu mencegah mereka. Jika mereka membunuhnya, maka mereka akan dibunuh karena wanita itu berada dalam perlindungan sultan!

Kemudian aku bepergian dari negeri Oman ke negeri Hormuz. Hormuz adalah negeri di tepi laut, juga disebut Mug Astan. Di seberangnya di laut terdapat Hormuz Baru, jarak keduanya di laut tiga farsakh (sekitar 120 kilometer). Kami tiba di Hormuz Baru, yaitu sebuah pulau yang kotanya bernama Jarun, dengan huruf jim difathah, ra difathah, dan diakhiri nun. Kota ini besar dan bagus, memiliki pasar-pasar yang ramai. Kota ini adalah pelabuhan India dan Sind. Dari sini barang-barang dagangan India diangkut ke Irak, Persia, dan Khorasan. Di kota inilah sultan bertempat tinggal.

Pulau tempat kota ini berada luasnya perjalanan sehari. Sebagian besarnya adalah tanah garam dan gunung-gunung garam, yaitu garam darani. Dari garam ini mereka membuat wadah-wadah untuk hiasan dan lampu-lampu tempat meletakkan pelita. Makanan mereka adalah ikan dan kurma yang didatangkan dari Basrah dan Oman. Mereka berkata dalam bahasa mereka, “Khurma wa mahi lut badshahi,” yang artinya dalam bahasa Arab: kurma dan ikan adalah makanan para raja!!

Air di pulau ini berharga. Di sana terdapat mata air dan tangki-tangki air yang dibuat untuk menampung air hujan. Letaknya jauh dari kota. Orang-orang datang ke sana dengan membawa geriba, mengisinya, dan memanggulnya di punggung mereka ke laut. Mereka memuatnya di perahu-perahu kecil dan membawanya ke kota.

Aku melihat salah satu keajaiban di depan pintu masjid, antara masjid dan pasar: kepala ikan sebesar bukit! Kedua matanya seperti dua pintu! Orang-orang masuk dari salah satunya dan keluar dari yang lain!

Di kota ini aku bertemu dengan Syaikh Saleh yang suka bepergian, Abu al-Hasan al-Aqsarani, yang asalnya dari negeri Rum. Ia menjamuku, mengunjungiku, memberiku pakaian, dan memberi kambar sahabat, yaitu ikat pinggang yang digunakan untuk bersandar, sehingga orang yang duduk seakan-akan bersandar. Kebanyakan fakir Ajam mengenakan ikat pinggang ini.

Sekitar enam mil dari kota ini terdapat tempat ziarah yang dinisbahkan kepada Nabi Khidir dan Nabi Ilyas semoga keselamatan atas keduanya. Disebutkan bahwa keduanya shalat di sana. Di tempat itu tampak berkah dan bukti-bukti. Di sana ada zawiyah yang dihuni oleh salah seorang syaikh yang melayani orang yang datang dan pergi. Kami tinggal bersamanya sehari.

Dari sana kami bermaksud berziarah kepada seorang laki-laki saleh yang mengasingkan diri di ujung pulau ini. Ia telah memahat gua untuk tempat tinggalnya. Di dalamnya ada zawiyah, ruang tamu, dan rumah kecil tempat tinggal jariyahnya. Ia memiliki budak-budak di luar gua yang menggembalakan sapi dan kambingnya. Orang ini dahulu adalah pedagang besar, lalu ia berhaji ke Baitullah, memutuskan semua ikatan duniawi, dan menetap di sana untuk beribadah. Ia menyerahkan hartanya kepada salah seorang saudaranya untuk diperdagangkan untuknya. Kami bermalam bersamanya satu malam. Ia menyambut dengan sangat baik. Semoga Allah Subhanahu wa Taala meridhainya. Tanda-tanda kebaikan dan ibadah tampak jelas padanya.

TENTANG SULTAN HORMUZ

Ia adalah Sultan Qutb al-Din Tamhatan bin Turan Shah. Penulisan namanya: ta difathah, ta difathah dengan titik di atasnya, mim difathah, ha disukunkan, dan diakhiri nun. Ia termasuk sultan yang dermawan, sangat rendah hati, dan baik akhlaknya. Kebiasaannya adalah mengunjungi setiap orang yang datang kepadanya, baik fakih, orang saleh, maupun syarif, dan ia menunaikan haknya.

Ketika kami masuk ke pulaunya, kami mendapatinya sedang bersiap untuk perang dan sibuk dengan perang melawan kedua putra saudaranya, Nizam al-Din. Setiap malam ia bersiap untuk bertempur, dan kelaparan melanda pulau itu. Menterinya Syams al-Din Muhammad bin Ali dan hakimnya Imad al-Din al-Syunkari serta sejumlah orang terpelajar datang kepada kami dan meminta maaf karena mereka sedang menangani perang.

Kami tinggal di sana enam belas hari. Ketika kami hendak pergi, aku berkata kepada sebagian sahabat, “Bagaimana kami pergi tanpa bertemu sultan ini?” Kami datang ke rumah menteri yang letaknya di dekat zawiyah tempat aku menginap. Aku berkata kepadanya, “Aku ingin memberi salam kepada raja.” Ia berkata, “Bismillah,” lalu memegang tanganku dan membawaku ke rumah sultan. Rumahnya di tepi laut dengan kapal-kapal besar berlabuh di sana.

Ternyata ada seorang syaikh mengenakan jubah-jubah ketat yang kotor, di kepalanya ada sorban, dan pinggangnya diikat dengan saputangan. Menteri memberi salam kepadanya dan aku pun memberi salam, tetapi aku tidak tahu bahwa ia adalah raja. Di sampingnya ada putra saudara perempuannya, yaitu Ali Shah bin Jalal al-Din al-Kiji, yang sudah aku kenal. Maka aku mulai berbincang dengannya, sedangkan aku tidak mengenali raja. Menteri memberitahuku tentang hal itu, maka aku malu kepadanya karena aku lebih memperhatikan putra saudara perempuannya daripada dia. Aku meminta maaf kepadanya.

Kemudian sultan bangkit dan masuk ke rumahnya. Para amir, menteri, dan para pejabat negara mengikutinya. Aku masuk bersama menteri. Kami mendapatinya duduk di singgasana kerajaannya dengan pakaian yang sama, tidak diganti. Di tangannya ada tasbih mutiara yang tidak pernah dilihat mata sepertinya, karena tempat-tempat penyelaman mutiara berada di bawah kekuasaannya.

Salah seorang amir duduk di sampingnya dan aku duduk di samping amir itu. Ia bertanya tentang keadaanku, kedatanganku, dan raja-raja yang telah aku temui. Aku memberitahunya tentang hal itu. Makanan dihidangkan. Orang-orang yang hadir makan, tetapi ia tidak makan bersama mereka. Kemudian ia bangkit, aku berpamitan, dan aku pergi.

Sebab perang antara dia dengan kedua putra saudaranya adalah bahwa ia pernah naik kapal dari kotanya yang baru menuju Hormuz Lama dan kebun-kebunnya untuk bersantai. Jarak keduanya di laut tiga farsakh sebagaimana telah kami sebutkan. Saudaranya Nizam al-Din menentangnya, menyerukan dirinya sebagai pemimpin, dan penduduk pulau membaiatnya, demikian juga pasukan membaiatnya. Qutb al-Din takut atas dirinya, maka ia naik kapal ke kota Qalhat yang telah disebutkan sebelumnya, yang termasuk wilayahnya. Ia tinggal di sana beberapa bulan, lalu mempersiapkan kapal-kapal dan datang ke pulau. Penduduk pulau bersamaan saudaranya berperang melawannya dan mengalahkannya, maka ia kembali ke Qalhat. Ia melakukan hal itu berulang kali tetapi tidak ada jalan keluar baginya, kecuali ia menghubungi beberapa istri saudaranya, lalu mereka meracuni saudaranya hingga mati!

Ia datang ke pulau dan memasukinya. Kedua putra saudaranya melarikan diri dengan membawa harta, uang, dan pasukan ke pulau Qais, tempat penyelaman mutiara. Mereka memutus jalan bagi orang-orang yang menuju pulau dari penduduk India dan Sind, dan menyerang negeri-negerinya yang berada di laut hingga sebagian besarnya hancur.

Kemudian kami bepergian dari kota Jarun bermaksud menemui seorang laki-laki saleh di negeri Khunj Bal. Setelah kami menyeberangi laut, kami menyewa hewan tunggangan dari orang-orang Turkman. Mereka adalah penduduk negeri-negeri itu. Tidak ada yang bepergian di sana kecuali bersama mereka karena keberanian dan pengetahuan mereka tentang jalan-jalan. Di sana ada padang pasir selama empat hari perjalanan yang dilalui perampok-perampok Arab. Di sana berhembus angin samum pada bulan Juli dan Juni. Siapa yang tertimpa angin itu akan terbunuh. Telah disebutkan kepadaku bahwa jika seseorang terbunuh oleh angin itu dan teman-temannya ingin memandikannya, setiap anggota tubuhnya terpisah dari anggota tubuh lainnya. Di sana banyak kuburan orang-orang yang mati karena angin ini. Kami bepergian di sana pada malam hari. Jika matahari terbit, kami turun di bawah naungan pohon-pohon ummghilan, dan kami berangkat setelah Asar hingga terbit matahari.

Di padang pasir ini dan sekitarnya, Jamal al-Lak yang namanya terkenal di sana biasa memotong jalan.

KISAH FAKIR-FAKIR KOTA LAR

Jamal al-Lak adalah dari penduduk Sijistan, asalnya orang Ajam. Al-Lak dengan lam didhammah artinya yang terpotong, karena tangannya terpotong dalam salah satu perangnya. Ia memiliki kelompok besar penunggang kuda Arab dan Ajam yang bersamanya memotong jalan. Ia mendirikan zawiyahzawiyah dan memberi makan orang yang datang dan pergi dari harta yang dirampasnya dari orang-orang. Dikatakan bahwa ia berdoa agar tidak ditimpakan kecuali kepada orang yang tidak mengeluarkan zakat hartanya! Ia tetap seperti itu lama. Ia dan penunggang kudanya menyerang dan melewati padang-padang belantara yang tidak diketahui selain mereka. Mereka mengubur air dan wadah-wadah air di dekat mata air. Jika pasukan sultan mengejar mereka, mereka masuk padang pasir dan mengeluarkan air-air itu, sedangkan pasukan kembali dari mereka karena takut binasa.

Ia tetap dalam keadaan ini lama sehingga raja Irak dan lainnya tidak mampu menguasainya. Kemudian ia bertaubat dan beribadah hingga meninggal. Kuburnya diziarahi di negerinya.

Kami melewati padang pasir ini hingga tiba di Kurastan. Penulisan namanya: kaf difathah, waw disukunkan, ra. Ini adalah negeri kecil yang memiliki sungai-sungai dan kebun-kebun, dan sangat panas. Kemudian kami bepergian darinya tiga hari di padang pasir seperti yang terdahulu dan tiba di kota Lar, dengan huruf ra di akhir namanya. Kota besar dengan banyak mata air, air mengalir, dan kebun-kebun. Kota ini memiliki pasar-pasar yang bagus.

Kami menginap di zawiyah Syaikh Abid Abu Dalf Muhammad. Dialah yang kami maksudkan untuk ziarah di Khunj Bal. Di zawiyah ini ada putranya Abu Zaid Abd al-Rahman beserta sekelompok fakir. Kebiasaan mereka adalah berkumpul di zawiyah setelah shalat Asar setiap hari, kemudian mereka berkeliling ke rumah-rumah kota. Dari setiap rumah mereka diberi satu atau dua roti, lalu mereka memberi makan orang yang datang dan pergi dengan roti-roti itu.

Penghuni rumah sudah terbiasa dengan hal itu, sehingga mereka memasukkannya dalam kebutuhan pokok mereka dan menganggapnya sebagai bantuan untuk memberi makan. Setiap malam Jumat, fakir-fakir kota dan orang-orang saleh berkumpul di zawiyah ini. Setiap orang membawa dirham sesuai kemampuannya, lalu mereka mengumpulkannya dan membelanjakannya pada malam itu. Mereka bermalam dalam ibadah: shalat, zikir, dan tilawah, lalu pulang setelah shalat Subuh.

TENTANG SULTAN LAR

Di kota ini ada seorang sultan bernama Jalal al-Din, asalnya Turkman. Ia mengirimkan jamuan kepada kami, tetapi kami tidak bertemu dengannya dan tidak melihatnya.

Kemudian kami bepergian ke kota Khunj Bal. Penulisan namanya: kha didhammah (kadang diganti dengan ha), nun disukunkan, jim didhammah, ba bertitik, alif, dan lam. Di sana tinggal Syaikh Abu Dalf yang kami maksudkan untuk ziarah, dan kami menginap di zawiyahnya.

Ketika aku memasuki zawiyah, aku melihatnya duduk di salah satu sudutnya di atas tanah. Ia mengenakan jubah wol hijau yang lusuh dan di kepalanya ada sorban wol hitam. Aku memberi salam kepadanya, ia membalas dengan baik, dan bertanya tentang kedatanganku dan negeriku, lalu ia menempatkanku. Ia mengirimkan makanan dan buah-buahan kepadaku bersama putranya yang saleh, sangat khusyu dan rendah hati, puasa sepanjang waktu, dan banyak shalat.

Syaikh Abu Dalf ini memiliki keadaan yang menakjubkan dan urusan yang aneh. Belanjanya di zawiyah ini sangat besar. Ia memberi dengan sangat murah hati, memberi pakaian kepada orang-orang, memberi mereka kuda, dan berbuat baik kepada setiap orang yang datang dan pergi. Aku tidak melihat seperti dia di negeri-negeri itu. Tidak diketahui sumber hartanya kecuali apa yang datang kepadanya dari saudara-saudara dan sahabat-sahabat, sehingga banyak orang menduga bahwa ia membelanjakan dari alam gaib!

Di zawiyahnya yang disebutkan itu terdapat makam Syaikh Wali Saleh Qutub Danial. Ia memiliki nama yang terkenal di negeri-negeri itu dan kedudukan besar dalam kewalian. Di makamnya ada kubah besar yang dibangun oleh Sultan Qutb al-Din Tahmatan bin Turan Shah.

Aku tinggal pada Syaikh Abu Dalf satu hari saja karena rombongan yang menyertaiku tergesa-gesa. Aku mendengar bahwa di kota Khunj Bal yang disebutkan itu ada zawiyah yang dihuni sejumlah orang saleh yang beribadah. Aku pergi ke sana pada sore hari, memberi salam kepada syaikh mereka dan kepada mereka, dan aku melihat jamaah yang penuh berkah yang telah terpengaruh oleh ibadah. Mereka pucat wajahnya, kurus badannya, banyak menangis, dan lebat air matanya.

Ketika aku tiba kepada mereka, mereka membawa makanan. Pemimpin mereka berkata, “Panggilkan anakku Muhammad untukku.” Ia sedang menyendiri di salah satu sudut zawiyah. Anak itu datang kepada kami seakan-akan baru keluar dari kubur karena ibadah telah membuatnya sangat kurus. Ia memberi salam dan duduk. Ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku, ikutlah makan bersama para tamu ini agar kamu mendapat berkah mereka.” Ia sedang berpuasa, lalu ia berbuka bersama kami. Mereka bermazhab Syafi’i.

Setelah kami selesai makan, mereka mendoakan kami dan kami pulang.

Kemudian kami berpergian dari sana menuju kota Qais yang juga disebut Siraf, dan kota ini terletak di tepi Samudra Hindia yang bersambung dengan Laut Yaman dan Persia, termasuk dalam wilayah distrik Persia. Kota yang luas dengan wilayah yang baik, di sekelilingnya terdapat kebun-kebun yang menakjubkan di dalamnya terdapat bunga-bunga dan pepohonan yang rimbun. Penduduknya minum dari mata air yang mengalir dari gunung-gunungnya. Mereka adalah bangsa Ajam dari Persia yang terhormat, dan di antara mereka ada kelompok dari Arab Bani Saffaf, dan merekalah yang menyelam mencari mutiara.

Penjelasan tentang Tempat Penyelaman Mutiara

Tempat penyelaman mutiara berada di antara Siraf dan Bahrain di sebuah teluk yang tenang seperti sebuah lembah besar. Ketika tiba bulan April dan bulan Mei, datanglah ke sana perahu-perahu banyak yang di dalamnya terdapat para penyelam dan pedagang dari Persia, Bahrain, dan Qatif. Penyelam memasang pada wajahnya ketika ia hendak menyelam sesuatu yang dibuat dari tulang penyu laut, dan dari tulang ini juga dibuat bentuk seperti gunting yang ia ikatkan pada hidungnya. Kemudian ia mengikat tali di pinggangnya dan menyelam. Mereka berbeda-beda dalam kesabaran di dalam air, di antara mereka ada yang bisa bertahan satu jam dan dua jam atau kurang dari itu. Ketika sampai ke dasar laut, ia menemukan kerang di sana di antara batu-batu kecil yang tertanam di pasir, lalu ia mencabutnya dengan tangannya atau memotongnya dengan besi yang telah disiapkan untuk itu. Ia memasukkannya ke dalam kantong kulit yang digantungkan di lehernya. Ketika napasnya sesak, ia menggerakkan tali, maka orang yang memegang tali di pantai merasakannya dan mengangkatnya ke perahu. Kantong diambil darinya dan kerang dibuka, lalu di dalamnya ditemukan potongan-potongan daging yang dipotong dengan besi. Ketika terkena udara, ia membeku menjadi mutiara. Semua dikumpulkan, baik yang kecil maupun yang besar. Sultan mengambil seperlimanya, sisanya dibeli oleh para pedagang yang hadir di perahu-perahu itu, dan kebanyakan mereka memiliki piutang kepada para penyelam, maka ia mengambil mutiara untuk piutangnya atau bagian yang menjadi haknya.

Kemudian kami berpergian dari Siraf menuju kota Bahrain. Kota yang besar dan bagus dengan kebun-kebun, pepohonan dan sungai-sungai. Airnya mudah diperoleh, digali dengan tangan lalu ditemukan. Di sana terdapat kebun-kebun kurma, delima, dan jeruk. Di sana ditanam kapas. Kota ini sangat panas dan banyak pasirnya. Terkadang pasir menguasai sebagian rumah-rumahnya. Dahulu ada jalan antara kota ini dan Oman, namun pasir menguasainya dan jalan terputus, sehingga tidak dapat dicapai dari Oman kecuali melalui laut.

Di dekat kota ini ada dua gunung besar, salah satunya disebut Kusair yang berada di sebelah baratnya, dan yang lain disebut Uwair yang berada di sebelah timurnya. Keduanya dijadikan perumpamaan, maka dikatakan: Kusair dan Uwair, keduanya tidak ada kebaikan.

Kemudian kami berpergian menuju kota Qatif. Nama kota ini diucapkan dengan huruf qaf yang dibaca dhammah seolah-olah tasghir (bentuk kecil) dari qatf. Kota yang besar dan bagus dengan kurma yang banyak. Dihuni oleh kelompok-kelompok Arab, mereka adalah Rafidhah ekstrem yang menampakkan sikap Rafidhi secara terang-terangan tanpa takut kepada siapa pun. Muazin mereka dalam azannya setelah dua kalimat syahadat mengatakan: Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah. Dan menambahkan setelah dua kalimat hayya’alah: Hayya ‘ala khairil ‘amal (marilah menuju sebaik-baik amal). Dan menambahkan setelah takbir terakhir: Muhammad dan Ali adalah sebaik-baik manusia, siapa yang menyelisihi keduanya maka ia kafir.

Kemudian kami berpergian dari sana menuju kota Hajar yang sekarang disebut al-Hasa dengan membaca fathah pada huruf ha dan sin tanpa titik. Kota inilah yang dijadikan perumpamaan sehingga dikatakan: Seperti membawa kurma ke Hajar. Di sana terdapat pohon kurma yang tidak ada di kota manapun selainnya, dan dengannya mereka memberi makan hewan ternak mereka. Penduduknya adalah Arab, kebanyakan mereka dari suku Abdul Qais bin Aqsha.

Kemudian kami berpergian dari sana menuju kota Yamamah yang juga disebut Hajr dengan membaca fathah pada huruf ha tanpa titik dan sukun pada huruf jim. Kota yang bagus dan subur dengan sungai-sungai dan pepohonan, dihuni oleh kelompok-kelompok Arab dari Bani Hanifah, dan ini adalah negeri mereka sejak dahulu. Amir mereka adalah Tufail bin Ghanim.

Kemudian aku berpergian dari sana dalam rombongan amir ini untuk tujuan haji. Itu terjadi pada tahun tiga puluh dua (732 H), dan aku sampai ke Mekah semoga Allah memuliakan kota itu. Dan pada tahun itu berhaji Sultan Malik Nashir penguasa Mesir semoga Allah merahmatinya bersama sekelompok amir-amirnya. Ini adalah haji terakhir yang ia lakukan. Ia memberikan kemurahan yang melimpah kepada penduduk dua tanah suci dan para mujawir. Dalam tahun itu Malik Nashir membunuh Amir Ahmad yang disebutkan sebagai anaknya, dan juga membunuh amir besar mereka Baktamur as-Saqi.

Kisah Pembunuhan Amir Ahmad

Disebutkan bahwa Malik Nashir memberikan hadiah seorang budak perempuan kepada Baktamur as-Saqi. Ketika ia hendak mendekatinya, perempuan itu berkata kepadanya: Sesungguhnya aku hamil dari Malik Nashir. Maka ia menjauhinya. Perempuan itu melahirkan seorang anak yang ia beri nama Amir Ahmad, dan ia tumbuh dalam asuhan Baktamur. Kecerdasannya muncul dan ia terkenal sebagai anak Malik Nashir. Ketika pada musim haji ini, keduanya bersepakat untuk menyerang Malik Nashir, dan Amir Ahmad akan menjadi sultan. Baktamur membawa bersamanya tanda-tanda kerajaan, genderang, pakaian-pakaian, dan harta. Berita itu sampai kepada Malik Nashir, maka ia memanggil Amir Ahmad pada hari yang sangat panas. Amir Ahmad masuk menemuinya, di hadapannya ada gelas-gelas minuman. Malik Nashir minum satu gelas dan memberikan kepada Amir Ahmad gelas kedua yang berisi racun, lalu ia meminumnya. Ia memerintahkan untuk berangkat pada saat itu juga untuk menyibukkan waktu. Orang-orang berangkat dan belum sampai ke tempat perhentian hingga Amir Ahmad meninggal. Baktamur sangat berduka atas kematiannya, merobek pakaiannya, dan tidak mau makan dan minum. Beritanya sampai kepada Malik Nashir, maka ia mendatanginya sendiri, menghiburnya dan menenangkannya. Ia mengambil gelas yang berisi racun dan memberikannya kepadanya sambil berkata: Demi hidupku, minumlah agar api hatimu menjadi dingin! Maka ia meminumnya dan meninggal seketika itu. Ditemukan padanya pakaian-pakaian kesultanan dan harta, maka terbukti apa yang dinisbahkan kepadanya tentang penyerangan terhadap Malik Nashir.

 

 

BAB KETUJUH ASIA KECIL

  • Dari Jeddah ke Aidzab – Mesir – Syam.
  • Dari Ladhiqiyah ke Anatolia – Kelompok Pemuda Akhiyah.
  • Di kota Ladhiq dan di Konya.
  • Dari Konya ke Kaisariyah – Arzinjan Armenia.
  • Kota Barki tempat ia bertemu dengan dokter Yahudi di majelis sultan!
  • Cerita tentang pahlawan Umar amir Izmir.
  • Bursa dan sultannya Orkhan Bey bin Usman yang dinisbahkan kepadanya kaum Utsmani.
  • Di Boli tempat ia melihat tungku pertama kali!
  • Pertemuannya di Iznik dengan Sultan Orkhan dan istrinya Bailun Khatun.
  • Dari Kastamonu ke semenanjung Sinop di Laut Hitam.

Ketika haji selesai, aku menuju Jeddah untuk naik kapal menuju Yaman dan India, namun tidak terlaksana dan aku tidak mendapatkan teman seperjalanan. Aku tinggal di Jeddah sekitar empat puluh hari. Di sana ada kapal milik seorang laki-laki yang dikenal dengan Abdullah at-Tunisi yang ingin berlayar ke Qusair dari wilayah Qus. Aku naik ke kapal itu untuk melihat keadaannya namun aku tidak menyukainya dan hatiku tidak senang untuk berlayar dengannya. Itu adalah pertolongan dari Allah, karena kapal itu berlayar dan ketika sampai di tengah laut, kapal itu tenggelam di tempat yang disebut Ras Abu Muhammad. Pemiliknya dan sebagian pedagang keluar dengan perahu kecil setelah usaha keras dan hampir binasa. Sebagian mereka binasa dan seluruh orang tenggelam, dan di dalamnya ada sekitar tujuh puluh orang jamaah haji!

Kemudian aku naik kapal setelah itu di sebuah perahu kecil menuju Aidzab, namun angin mengembalikan kami ke pelabuhan yang dikenal dengan Ras Dawair. Kami berpergian darinya melalui darat bersama suku Bujah. Kami melewati padang pasir yang banyak burung untanya dan kijangnya. Di sana ada Arab Juhainah dan Bani Kahil, dan mereka tunduk kepada Bujah. Kami singgah di mata air yang dikenal dengan Mafrur dan mata air yang dikenal dengan al-Jadid. Bekal kami habis, maka kami membeli dari sekelompok Bujah yang kami temui di padang pasir, kambing-kambing, dan kami menjadikan dagingnya sebagai bekal.

Aku melihat di padang pasir ini seorang anak Arab yang berbicara kepadaku dalam bahasa Arab dan memberi tahu aku bahwa Bujah menawannya. Ia mengaku bahwa sejak satu tahun ia tidak makan makanan, ia hanya makan dari susu unta. Setelah itu daging yang kami beli habis dan tidak tersisa bekal bagi kami. Aku memiliki sekitar satu beban kurma Saihani dan Barni untuk hadiah kepada teman-temanku. Aku bagikan kepada rombongan dan kami jadikan bekal selama tiga hari. Setelah perjalanan sembilan hari dari Ras Dawair, kami sampai ke Aidzab. Sebagian rombongan telah berangkat lebih dulu ke sana, maka penduduknya menyambut kami dengan roti, kurma, dan air. Kami tinggal di sana beberapa hari dan menyewa unta-unta. Kami keluar bersama sekelompok Arab Dughaim dan singgah di mata air yang dikenal dengan al-Junaib. Kami singgah di Humaithra tempat makam wali Allah Abu al-Hasan asy-Syadzili. Kami mendapat kesempatan untuk ziarah kepadanya untuk kedua kalinya dan bermalam di dekatnya. Kemudian kami sampai ke desa Atwani yang berada di tepi Sungai Nil berhadapan dengan kota Idfu dari Sha’id Atas. Kami menyeberangi Nil ke kota Isna, kemudian ke kota Armant, kemudian ke Luxor. Kami ziarah Syaikh Abu al-Hajjaj al-Uqsuri untuk kedua kalinya. Kemudian ke kota Qus, kemudian ke kota Qina. Kami ziarah Syaikh Abdul Rahim al-Qinawi untuk kedua kalinya. Kemudian ke kota Hu, kemudian ke kota Akhmim, kemudian ke kota Asyut, kemudian ke kota Manfalut, kemudian ke kota Manlawi, kemudian ke kota al-Asymunain, kemudian ke kota Minya Ibn Khushaib, kemudian ke kota Bahnasa, kemudian ke kota Bush, kemudian ke kota Minya al-Qa’id. Telah disebutkan sebelumnya tentang kota-kota ini. Kemudian ke Mesir dan aku tinggal di sana beberapa hari. Aku berpergian melalui jalan Bilbais menuju Syam dan menemani aku Haji Abdullah bin Abi Bakar bin al-Farhan at-Tuzari. Ia tetap dalam rombonganku bertahun-tahun hingga kami keluar dari negeri India, lalu ia meninggal di Sindapur dan akan kami sebutkan itu. Kami sampai ke kota Gaza, kemudian ke kota Khalil alaihissalam dan kami mengulangi ziarah kepadanya. Kemudian ke Baitul Maqdis, kemudian ke kota Ramlah, kemudian ke kota Akka, kemudian ke kota Tarablus, kemudian ke kota Jabalah. Kami ziarah Ibrahim bin Adham radhiyallahu anhu untuk kedua kalinya. Kemudian ke kota Ladhiqiyah. Telah disebutkan sebelumnya tentang semua kota-kota ini.

Dari Ladhiqiyah kami naik di kapal besar milik orang Genoa yang pemiliknya bernama Martalimin. Kami tuju daratan Turki yang dikenal dengan negeri Rum. Ia dinisbahkan kepada Rum karena dahulu ini adalah negeri mereka. Dari sinilah orang-orang Rum kuno dan Yunani. Kemudian kaum Muslim menaklukkannya, dan sekarang di sana banyak orang Nasrani di bawah perlindungan kaum Muslim dari Turkman. Kami berlayar di laut selama sepuluh hari dengan angin yang baik. Orang Nasrani itu memuliakan kami dan tidak mengambil ongkos dari kami. Pada hari kesepuluh kami sampai ke kota Alaya, dan ini adalah negeri Rum yang pertama.

Wilayah yang dikenal dengan negeri Rum ini termasuk wilayah terindah di dunia. Allah telah mengumpulkan di dalamnya keindahan-keindahan yang tersebar di negeri-negeri lain. Penduduknya adalah manusia yang paling bagus wajahnya, paling bersih pakaiannya, paling enak makanannya, dan paling penyayang di antara makhluk Allah. Oleh karena itu dikatakan: Keberkahan ada di Syam dan kasih sayang ada di Rum, yang dimaksud adalah penduduk negeri ini. Setiap kali kami singgah di negeri-negeri ini di zawiyah atau rumah, maka tetangga kami dari laki-laki dan perempuan memperhatikan keadaan kami. Para perempuan tidak berhijab. Ketika kami berpergian dari mereka, mereka mengucapkan selamat tinggal seolah-olah mereka kerabat dan keluarga kami. Kau akan melihat para perempuan menangis karena perpisahan dengan kami dan menyesal.

Dan dari kebiasaan mereka di negeri-negeri itu bahwa mereka memanggang roti pada satu hari dalam seminggu, mereka menyiapkan pada hari itu apa yang mencukupi mereka untuk sisa minggu tersebut. Maka para lelaki mereka datang kepada kami dengan membawa roti yang masih hangat pada hari pembuatannya disertai lauk-pauk yang lezat sebagai hadiah untuk kami, dan mereka berkata kepada kami: “Sesungguhnya para perempuan mengirimkan ini kepada kalian dan mereka meminta doa dari kalian.”

Dan seluruh penduduk negeri ini menganut mazhab Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu, mereka berpegang teguh pada Sunnah, tidak ada penganut Qadariyah di antara mereka, tidak ada Rafidhah (Syiah), tidak ada Muktazilah, tidak ada Khawarij, dan tidak ada ahli bidah. Itulah keutamaan yang Allah Ta’ala khususkan kepada mereka, kecuali bahwa mereka memakan hasyisy (ganja) dan mereka tidak mencela hal itu.

Dan kota Alaya yang telah kami sebutkan adalah kota besar di tepi pantai, dihuni oleh orang-orang Turkoman, dan para pedagang Mesir, Iskandariyah, dan Syam singgah di sana. Kota ini memiliki banyak kayu dan dari sana kayu diangkut ke Iskandariyah dan Dumyath serta diangkut dari sana ke seluruh negeri Mesir. Kota ini memiliki benteng di puncaknya yang mengagumkan dan kokoh, dibangun oleh Sultan Muazzam Alauddin Rumi. Aku bertemu di kota ini dengan hakimnya, Jalaluddin Arzanjani, dan dia naik bersamaku ke benteng pada hari Jumat, kami shalat di sana. Dia menjamuku dan memuliakanku. Aku juga dijamu di sana oleh Syamsuddin bin Rajihani yang ayahnya, Alauddin, meninggal di Mali, negeri orang-orang Sudan.

Tentang Sultan Alaya

Pada hari Sabtu, Hakim Jalaluddin berkuda bersamaku dan kami pergi menemui raja Alaya, yaitu Yusuf Bek—makna Bek adalah raja—putra Qaraman dengan fathah pada qaf dan ra. Tempat tinggalnya berjarak sepuluh mil dari kota. Kami mendapatinya sedang duduk sendirian di tepi pantai di atas sebuah bukit kecil di sana. Para amir dan menteri berada di bawahnya, sedangkan para tentara berada di sebelah kanan dan kirinya. Rambutnya dicelup hitam. Aku mengucapkan salam kepadanya dan dia bertanya tentang kedatanganku, maka aku memberitahukan apa yang dia tanyakan. Kemudian aku pulang darinya, dan dia mengirimkan kepadaku pemberian.

Aku bepergian dari sana menuju kota Antalya, penulisan namanya: dengan fathah pada hamzah, sukun pada nun, fathah pada tha muhmal, alif, lam maksur, dan ya sebagai huruf terakhir. Adapun yang di Syam adalah Antakiyah dengan timbangan yang sama kecuali kaf menggantikan lam. Kota ini adalah salah satu kota terindah, sangat luas dan besar, paling indah dari negeri-negeri yang terlihat, paling banyak bangunannya, dan paling baik penatannya. Setiap kelompok penduduknya terpisah sendiri dari kelompok lainnya. Para pedagang Nasrani tinggal di tempat yang dikenal sebagai pelabuhan, mereka dikelilingi tembok yang pintunya ditutup pada malam hari dan saat shalat Jumat. Bangsa Rum yang dahulu merupakan penduduk aslinya tinggal di tempat lain yang terpisah, mereka juga dikelilingi tembok. Orang-orang Yahudi berada di tempat lain dan mereka dikelilingi tembok. Raja, keluarganya, dan budak-budaknya tinggal di sebuah kota yang juga dikelilingi tembok yang mengelilinginya dan memisahkan antara mereka dengan kelompok-kelompok yang telah kami sebutkan. Sisanya dari kaum muslimin tinggal di kota besar, dan di sana terdapat masjid jami, madrasah, pemandian umum yang banyak, pasar-pasar besar yang tertata dengan tata letak yang paling indah. Kota ini dikelilingi tembok besar yang mengelilinginya dan semua tempat yang telah kami sebutkan. Di sana terdapat taman-taman yang banyak, buah-buahan yang lezat, dan aprikot yang menakjubkan yang mereka sebut dengan nama Qamaruddin. Di dalam bijinya terdapat almond manis, buah ini dikeringkan dan diangkut ke negeri Mesir, dan buah ini sangat istimewa di sana. Di sana terdapat mata air dengan air yang lezat, tawar, sangat dingin pada hari-hari musim panas. Kami singgah di kota ini di madrasahnya, dan syaikhnya adalah Syihabuddin Hamawi. Dari kebiasaan mereka, sekelompok anak-anak membaca dengan suara-suara merdu setelah Ashar setiap hari di masjid jami dan juga di madrasah, surat Al-Fath, surat Al-Mulk, dan surat ‘Amma.

Tentang Akhiyah Para Pemuda

Bentuk tunggal akhiyah adalah akhi, seperti lafazh akh ketika pembicara menambahkannya kepada dirinya sendiri. Mereka ada di semua negeri Turkoman Rum, di setiap negeri, kota, dan desa. Tidak ditemukan di dunia ini orang-orang seperti mereka yang paling memperhatikan orang-orang asing, paling cepat dalam menjamu makanan, memenuhi kebutuhan, mengambil tangan orang-orang zalim, membunuh polisi dan orang-orang jahat yang menyerupai mereka.

Dan akhi menurut mereka adalah: seorang lelaki yang dihimpuni oleh orang-orang dari profesinya dan lainnya dari para pemuda yang masih bujangan dan orang-orang yang menyendiri, mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka, dan itulah juga yang disebut futuwa. Dia membangun zawiyah dan menempatkan di dalamnya permadani dan pelana, serta segala alat yang dibutuhkan. Para anggotanya bekerja pada siang hari mencari penghidupan mereka, kemudian mereka datang kepadanya setelah Ashar dengan apa yang mereka kumpulkan, lalu mereka membeli dengannya buah-buahan, makanan, dan hal-hal lain yang dibelanjakan di zawiyah tersebut. Jika pada hari itu ada musafir yang datang ke negeri itu, mereka menampungnya di tempat mereka dan itu menjadi jamuan mereka untuknya. Dia tetap bersama mereka sampai pergi. Jika tidak ada yang datang, mereka berkumpul sendiri untuk makan bersama, kemudian bernyanyi dan menari, lalu pulang ke pekerjaan mereka pada pagi hari. Mereka datang setelah Ashar kepada pemimpin mereka dengan apa yang mereka kumpulkan.

Mereka disebut para pemuda (futyan), dan pemimpin mereka disebut sebagaimana kami sebutkan, akhi. Aku tidak melihat di dunia ini orang-orang yang lebih indah perbuatannya daripada mereka. Yang menyerupai mereka dalam perbuatan adalah penduduk Syiraz dan Isfahan, kecuali bahwa orang-orang ini lebih mencintai tamu yang datang dan pergi serta lebih mulia dalam memuliakannya dan menyayanginya. Pada hari kedua dari kedatangan kami ke kota ini, salah seorang dari para pemuda ini datang kepada Syaikh Syihabuddin Hamawi dan berbicara dengannya dalam bahasa Turki, dan aku pada hari itu belum memahaminya. Dia mengenakan pakaian usang dan di kepalanya topi dari kain felt. Syaikh berkata kepadaku: “Apakah kamu tahu apa yang dikatakan lelaki ini?” “Aku tidak tahu apa yang dia katakan,” jawabku. Dia berkata kepadaku: “Dia mengundangmu untuk dijamu, kamu dan teman-temanmu.” Aku heran kepadanya dan berkata kepadanya: “Baik.” Ketika dia pulang, aku berkata kepada Syaikh: “Ini lelaki lemah dan tidak mampu menjamu kami, dan kami tidak ingin membebaninya.” Syaikh tertawa dan berkata kepadaku: “Ini salah seorang syaikh para pemuda akhiyah, dia dari tukang kulit, dan dia memiliki jiwa yang mulia. Teman-temannya sekitar dua ratus orang dari ahli kerajinan, mereka telah menjadikannya pemimpin mereka dan membangun zawiyah untuk jamuan, dan apa yang mereka kumpulkan pada siang hari mereka belanjakan pada malam hari.”

Ketika aku shalat Maghrib, lelaki itu kembali kepada kami dan kami pergi bersamanya ke zawiyahnya. Kami mendapati zawiyah yang indah, dilapisi dengan permadani-permadani Rum yang indah, dan di sana banyak lampu gantung dari kaca Irak.

Di ruangan itu ada lima bayasis. Bayasus adalah seperti menara dari tembaga, memiliki tiga kaki, dan di kepalanya seperti mangkuk dari tembaga. Di tengahnya ada tabung untuk sumbu. Ia diisi dengan lemak cair. Di sampingnya ada wadah tembaga penuh dengan lemak dan di dalamnya ada gunting untuk memperbaiki sumbu. Salah seorang dari mereka ditugaskan untuk itu, dan mereka menyebutnya jaraji.

Sekelompok pemuda berbaris di ruangan itu, pakaian mereka adalah jubah-jubah, di kaki mereka sepatu bot, setiap orang dari mereka berikat pinggang, di pinggangnya pisau sepanjang dua hasta, dan di kepala mereka topi-topi putih dari wol. Di bagian atas setiap topi ada potongan yang tersambung dengannya sepanjang satu hasta dan lebar dua jari. Ketika mereka sudah duduk di majlis, setiap orang melepas topinya dan meletakkannya di depannya, dan tetap di kepalanya topi lain dari zardakhani dan kain lainnya yang indah penampilannya. Di tengah majlis mereka ada seperti tikar yang diletakkan untuk tamu yang datang.

Ketika kami sudah duduk di majlis bersama mereka, mereka datang dengan makanan yang banyak, buah-buahan, dan manisan. Kemudian mereka mulai bernyanyi dan menari. Kami senang dengan keadaan mereka dan sangat takjub dengan kedermawanan dan kemuliaan jiwa mereka. Kami pulang dari mereka pada akhir malam dan meninggalkan mereka di zawiyah mereka.

Tentang Sultan Antalya

Dan sultannya adalah Khidhir Bek bin Yusuf Bek. Kami mendapatinya ketika tiba di sana dalam keadaan sakit. Kami menemuinya di rumahnya dan dia sedang di tempat tidur sakit. Dia berbicara kepada kami dengan ucapan yang paling lembut dan paling baik. Kami berpamitan kepadanya dan dia mengirimkan kepada kami pemberian. Kami bepergian menuju kota Burdur, penulisan namanya: dengan dhammah pada ba muwahhad, sukun pada ra, dhammah pada dal muhmal, waw, dan ra. Kota ini adalah kota kecil yang banyak taman dan sungainya. Kota ini memiliki benteng di puncak gunung yang tinggi. Kami singgah di rumah khatibnya. Para akhiyah berkumpul dan mereka ingin kami singgah di tempat mereka, tetapi khatib menolak mereka. Maka mereka membuat jamuan untuk kami di taman salah seorang dari mereka dan membawa kami ke sana. Sungguh menakjubkan bagaimana mereka menampakkan kegembiraan kepada kami, kebahagiaan, dan kesukaan. Mereka tidak mengerti bahasa kami dan kami tidak mengerti bahasa mereka, dan tidak ada penerjemah di antara kami. Kami tinggal bersama mereka sehari kemudian pulang. Kemudian kami bepergian dari kota ini menuju kota Sibirta, penulisan namanya: dengan fathah pada sin muhmal dan ba muwahhad, sukun pada ra, fathah pada ta muallat, dan alif. Kota ini adalah kota dengan bangunan dan pasar yang indah, banyak taman dan sungainya. Kota ini memiliki benteng di gunung yang menjulang tinggi. Kami tiba di sana pada sore hari dan singgah di tempat hakimnya. Kami bepergian dari sana menuju kota Akridur, penulisan namanya: dengan fathah pada hamzah, sukun pada kaf, kasrah pada ra, ya panjang, dal muhmal berdhammah, waw panjang, dan ra. Kota yang besar, banyak bangunannya, pasar-pasarnya indah, memiliki sungai-sungai, pepohonan, dan taman-taman. Kota ini memiliki danau dengan air tawar, kapal berlayar di dalamnya dua hari menuju Aqshahr, Baqshahr, dan negeri-negeri serta desa-desa lainnya. Kami singgah di madrasah yang berhadapan dengan masjid besar di sana bersama pengajar yang alim, haji yang berjiran (di Mekkah), yang mulia, Mushlihudin. Dia belajar di negeri Mesir dan Syam, tinggal di Irak beberapa waktu. Dia fasih lisannya, indah bicaranya, keajaiban dari keajaiban zaman. Dia memuliakan kami dengan pemuliaan yang sempurna dan melaksanakan hak kami dengan sebaik-baiknya.

Tentang Sultan Akridur

Dan sultannya adalah Abu Ishaq Bek bin Dandar Bek, termasuk sultan-sultan besar negeri-negeri itu. Dia tinggal di negeri Mesir pada masa ayahnya dan melaksanakan haji. Dia memiliki perjalanan yang baik. Dari kebiasaannya adalah dia datang setiap hari untuk shalat Ashar di masjid jami. Ketika shalat Ashar selesai, dia bersandar pada dinding kiblat dan para pembaca duduk di hadapannya di atas panggung kayu yang tinggi. Mereka membaca surat Al-Fath, Al-Mulk, dan ‘Amma dengan suara-suara merdu yang berpengaruh pada jiwa, hati menjadi khusyuk karenanya, kulit merinding, dan mata meneteskan air mata. Kemudian dia pulang ke rumahnya. Kami mengalami bulan Ramadhan bersamanya. Dia duduk di setiap malam Ramadhan di atas tikar yang menempel di tanah tanpa dipan, dan dia bersandar pada bantal besar. Ahli fikih Mushlihudin duduk di sampingnya, aku duduk di samping ahli fikih, dan di samping kami para pembesar kerajaannya dan amir-amir yang hadir. Kemudian makanan dibawa, maka yang pertama dia berbuka dengannya adalah tsarid dalam mangkuk kecil, di atasnya lentil yang disiram dengan mentega dan gula. Mereka mendahulukan tsarid untuk tabarruk, dan mereka berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutamakannya dari semua makanan, maka kami memulai karena pengutamaan Nabi terhadapnya.” Kemudian dibawakan makanan-makanan lainnya, dan demikianlah perbuatan mereka di semua malam-malam Ramadhan.

Pada beberapa hari itu, anak Sultan meninggal dunia. Mereka tidak menambah selain tangisan kasihan sebagaimana yang dilakukan penduduk Mesir dan Syam, berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan dari perbuatan penduduk Lur ketika anak sultan mereka meninggal. Ketika dia dimakamkan, Sultan dan para pelajar tetap tiga hari keluar ke kuburnya setelah shalat Subuh. Pada hari kedua dari pemakamannya, aku keluar bersama orang-orang, maka Sultan melihatku berjalan kaki, lalu dia mengirimkan untukku seekor kuda dan meminta maaf. Ketika aku tiba di madrasah, aku mengirimkan kuda itu kembali, maka dia mengembalikannya dan berkata: “Sesungguhnya aku memberikannya sebagai pemberian, bukan pinjaman.” Dia mengirimkan kepadaku pakaian dan dirham. Kami pulang menuju kota Qalhishar, penulisan namanya: dengan dhammah pada qaf, sukun pada lam, kemudian ha muhmal yang berkashah, shad muhmal, dan akhirnya ra. Kota kecil yang memiliki air dari setiap sisi, telah tumbuh di dalamnya alang-alang, sehingga tidak ada jalan menuju kota itu kecuali jalan seperti jembatan yang dibuat di antara alang-alang dan air, tidak cukup kecuali untuk satu penunggang kuda. Kota ini berada di atas bukit di tengah air-air, kokoh, dan tidak dapat ditaklukkan. Kami singgah di zawiyah salah seorang pemuda akhiyah di sana.

Tentang Sultan Qal Hishar

Sultannya adalah Muhammad Jalabi. Jalabi dengan jim berharakat kasrah, lam berharakat fathah, ba muwahhad, dan ya. Artinya dalam bahasa Romawi adalah tuanku. Dia adalah saudara Sultan Abu Ishaq, penguasa Akridur. Ketika kami tiba di kotanya, dia sedang tidak berada di sana, sehingga kami tinggal beberapa hari. Kemudian dia datang, menyambut kami dengan penghormatan, memberi kami kendaraan, memberikan bekal, dan kami berangkat menuju Qara Aghaj. Qara dengan fathah pada qaf artinya hitam, dan Aghaj dengan fathah pada hamzah dan ghain mu’jam serta diakhiri jim artinya kayu. Tempat ini adalah padang rumput hijau yang dihuni oleh suku Turkman. Sultan mengirim pasukan berkuda bersama kami untuk mengantar kami ke kota Ladhiq, karena di padang rumput ini ada kelompok perampok yang disebut al-Jarmiyan. Disebutkan bahwa mereka adalah keturunan Yazid bin Mu’awiyah dan mereka memiliki kota bernama Kutahiyah. Allah melindungi kami dari mereka.

Kami sampai di kota Ladhiq, dengan kasrah pada dzal mu’jam dan setelahnya qaf. Kota ini juga disebut Dhun Ghuzlah, yang artinya dalam bahasa mereka adalah negeri babi. Ini adalah salah satu kota yang paling indah dan terbesar. Di sana terdapat tujuh masjid untuk melaksanakan shalat Jumat, memiliki taman-taman yang indah, sungai-sungai yang mengalir, mata air yang memancar, dan pasar-pasarnya bagus. Di sana diproduksi kain katun yang dihiasi dengan emas yang tiada bandingannya, berumur panjang karena katunnya berkualitas baik dan tenunannya kuat. Kain-kain ini terkenal berdasarkan nama kota tersebut. Kebanyakan pengrajinnya adalah wanita-wanita Romawi. Di kota ini terdapat banyak orang Romawi yang berada dalam perlindungan (dzimmah), dan mereka membayar pajak jizyah dan lainnya kepada sultan.

Tanda orang Romawi di sana adalah topi-topi panjang, ada yang merah dan putih. Wanita-wanita Romawi mengenakan sorban besar. Penduduk kota ini tidak mengingkari kemungkaran, demikian pula seluruh penduduk wilayah ini. Mereka membeli budak-budak wanita Romawi yang cantik dan membiarkan mereka berbuat maksiat. Setiap budak wanita dikenai pajak yang harus dibayarkan kepada pemiliknya. Saya mendengar di sana bahwa para budak wanita masuk ke pemandian umum bersama laki-laki, dan siapa yang ingin berbuat maksiat melakukannya di pemandian tanpa ada yang mengingkarinya. Disebutkan kepada saya bahwa qadhi (hakim) di sana memiliki budak-budak wanita dengan kondisi seperti ini!

Ketika kami memasuki kota ini, kami melewati salah satu pasarnya. Beberapa laki-laki turun dari toko-toko mereka dan memegang kendali kuda-kuda kami. Mereka bertengkar dengan laki-laki lain yang juga ingin melakukan hal yang sama. Pertengkaran mereka berlangsung lama hingga sebagian mereka menghunus pisau. Kami tidak tahu apa yang mereka katakan, sehingga kami ketakutan dan mengira mereka adalah perampok Jarmiyan dan bahwa kota itu adalah kota mereka. Kami mengira mereka ingin merampok kami. Kemudian Allah mengutus kepada kami seorang haji yang mengerti bahasa Arab. Kami bertanya kepadanya tentang maksud mereka. Dia berkata: Mereka adalah para futuwwah (kesatria persaudaraan), dan yang pertama mendatangi kalian adalah kelompok Futuwwa Akhi Sinan, sedangkan yang lain adalah kelompok Futuwwa Akhi Tuman. Setiap kelompok ingin kalian menginap di tempat mereka. Kami kagum dengan kemurahan hati mereka. Kemudian mereka sepakat untuk mengundi, siapa yang menang undiannya, kami akan menginap di tempatnya terlebih dahulu. Undian jatuh pada Akhi Sinan. Berita itu sampai kepadanya, lalu dia datang kepada kami bersama sekelompok pengikutnya. Mereka memberi salam kepada kami dan kami menginap di zawiyahnya (semacam asrama). Dia menghadirkan berbagai macam makanan, lalu membawa kami ke pemandian dan masuk bersama kami. Dia melayani saya sendiri, sementara pengikutnya melayani para sahabat saya—satu orang dari mereka melayani tiga atau empat orang. Kemudian kami keluar dari pemandian dan mereka menghadirkan makanan yang banyak, kue-kue manis, dan buah-buahan berlimpah. Setelah selesai makan, para pembaca Quran membaca ayat-ayat dari Kitab Suci. Kemudian mereka mulai melakukan sima’ (musik spiritual) dan menari. Mereka memberitahu sultan tentang kedatangan kami.

Keesokan harinya, sultan mengirim utusan memanggil kami pada sore hari. Kami pergi menemuinya dan putranya, sebagaimana akan kami sebutkan. Kemudian kami kembali ke zawiyah dan menemukan Akhi Tuman beserta pengikutnya sedang menunggu kami. Mereka membawa kami ke zawiyah mereka dan melakukan hal yang sama dalam hal makanan dan pemandian seperti kelompok sebelumnya, bahkan mereka menambahkannya dengan menyiramkan air mawar kepada kami setelah keluar dari pemandian. Kemudian mereka membawa kami ke zawiyah dan juga melakukan perjamuan dengan makanan, kue manis, buah-buahan, pembacaan Quran setelah selesai makan, kemudian sima’ dan tari seperti yang dilakukan kelompok sebelumnya atau bahkan lebih baik. Kami tinggal bersama mereka di zawiyah beberapa hari.

Tentang Sultan Ladhiq

Dia adalah Sultan Yananj Bek. Namanya dengan ya di akhir huruf berharakat fathah, kemudian dua nun—yang pertama fathah dan yang kedua sukun—dan jim. Dia adalah salah satu sultan besar di wilayah Romawi. Ketika kami menginap di zawiyah Akhi Sinan sebagaimana telah kami sebutkan, sultan mengirimkan kepada kami seorang penceramah dan pengingat yang alim, Alauddin al-Qastamuni. Dia membawa kuda sejumlah kami. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. Kami pergi menemuinya dan memberi salam kepadanya.

Kebiasaan raja-raja di wilayah ini adalah bersikap rendah hati kepada para pendatang, bertutur kata lembut, dan sedikit memberi hadiah. Kami shalat Maghrib bersamanya dan menghadiri hidangannya untuk berbuka puasa, kemudian kami pulang. Dia mengirimkan dirham (uang) kepada kami. Kemudian dia memanggil kami untuk menemui putranya, Murad Bek, yang tinggal di sebuah kebun di luar kota. Ini terjadi pada musim buah-buahan. Dia juga mengirimkan kuda-kuda sejumlah kami seperti yang dilakukan ayahnya. Kami datang ke kebunnya dan tinggal bersamanya malam itu. Dia memiliki seorang faqih (ahli fikih) yang menerjemahkan antara kami dan dia. Kemudian kami pulang pada pagi hari.

Hari Raya Idul Fitri tiba saat kami berada di kota ini. Kami keluar ke tanah lapang shalat Id, dan sultan keluar bersama pasukannya serta para futuwwah akhi, semuanya membawa senjata. Setiap kelompok pekerja memiliki bendera, terompet, genderang, dan nafir. Mereka saling membanggakan dan memamerkan penampilan yang bagus dan kelengkapan senjata. Setiap kelompok pekerja keluar membawa sapi, domba, dan beban roti. Mereka menyembelih hewan-hewan di pemakaman dan menyedekahkannya bersama roti. Mereka keluar pertama kali ke pemakaman, kemudian ke tempat shalat Id. Setelah kami melaksanakan shalat Id, kami masuk bersama sultan ke rumahnya. Hidangan dihadirkan. Dia membuat satu barisan tersendiri untuk para fuqaha (ahli fikih), para syekh, dan para futuwwah, dan membuat barisan tersendiri untuk orang-orang fakir dan miskin. Pada hari itu, pintunya tidak menolak siapa pun, baik fakir maupun kaya. Kami tinggal di kota ini beberapa waktu karena bahaya perjalanan. Kemudian ada rombongan yang siap berangkat, maka kami berangkat bersama mereka selama sehari dan sebagian malam.

Kami sampai di benteng Tawas. Namanya dengan fathah pada tha, waw yang ringan, dan diakhiri sin muhmal. Ini adalah benteng besar. Disebutkan bahwa Shuhaib Radiyallahu anhu, sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, berasal dari benteng ini. Kami bermalam di luarnya. Keesokan harinya kami tiba di pintunya dan bertanya kepada penduduknya dari atas tembok tentang kedatangan kami. Kami memberi tahu mereka. Kemudian amir benteng, Ilyas Bek, keluar bersama pasukannya untuk memeriksa sekitar benteng dan jalan, karena takut perampok menyerang ternak. Setelah mereka berkeliling di sekitarnya, ternak mereka dikeluarkan. Begitulah kebiasaan mereka selamanya.

Kami menginap di benteng ini, di luar tembok, di zawiyah seorang fakir. Amir benteng mengirimkan hidangan dan bekal kepada kami. Kami berangkat dari sana menuju Mughla. Namanya dengan dhammah pada mim, sukun pada ghain mu’jam, dan fathah pada lam. Kami menginap di zawiyah salah seorang syekh di sana. Dia adalah orang yang murah hati dan berbudi luhur, sering mengunjungi kami di zawiyahnya, dan tidak pernah datang kecuali membawa makanan, buah-buahan, atau kue manis. Di kota ini kami bertemu Ibrahim Bek, putra sultan kota Milas yang akan kami sebutkan. Dia memuliakan kami dan memberi kami pakaian. Kemudian kami berangkat ke kota Milas. Namanya dengan kasrah pada mim, ya panjang, dan diakhiri sin muhmal. Ini adalah salah satu kota terindah dan terbesar di wilayah Romawi, banyak buah-buahan, kebun, dan airnya. Kami menginap di zawiyah salah satu futuwwah akhi. Dia melakukan berlipat-lipat dari yang dilakukan pendahulunya dalam hal penghormatan, jamuan, masuk pemandian, dan tindakan terpuji serta perbuatan baik lainnya.

Di kota Milas kami bertemu seorang lelaki saleh yang berumur panjang bernama Baba al-Shisytri. Disebutkan bahwa umurnya lebih dari seratus lima puluh tahun. Dia masih kuat dan bergerak, akalnya tetap kokoh dan pikirannya tajam. Dia mendoakan kami dan kami mendapat berkahnya.

Tentang Sultan Milas

Dia adalah Sultan yang mulia, Syujauddin Arkhan Bek bin al-Muntasya. Namanya dengan dhammah pada hamzah, sukun pada ra, kha mu’jam, dan diakhiri nun. Dia adalah salah satu raja terbaik, berpenampilan dan perilaku baik. Teman duduknya adalah para fuqaha, dan mereka dimuliakan olehnya. Di istananya ada sekelompok dari mereka, di antaranya adalah al-Faqih al-Khawarizmi yang menguasai berbagai ilmu dan berbudi luhur. Pada saat saya bertemu dengannya, sultan sedang marah kepadanya karena perjalanannya ke kota Aya Saluq dan kunjungannya kepada sultannya serta menerima apa yang diberikannya. Faqih ini meminta saya untuk berbicara kepada raja tentang urusannya agar menghilangkan kemarahannya. Maka saya memujinya di hadapan sultan dan menyebutkan ilmu dan keutamaannya yang saya ketahui. Saya terus berbicara dengannya hingga kemarahannya hilang. Sultan ini berbuat baik kepada kami, memberi kami kendaraan dan bekal.

Kediamannya di kota Barjin yang dekat dengan Milas, jaraknya dua mil. Namanya dengan fathah pada ba muwahhad, sukun pada ra, jim, ya panjang, dan diakhiri nun. Ini adalah kota baru di atas bukit di sana, memiliki bangunan yang bagus dan masjid-masjid. Dia telah membangun sebuah masjid jami di sana yang pembangunannya belum selesai. Di kota inilah kami bertemu dengannya. Kami menginap di zawiyah Futuwwa Akhi Ali. Kemudian kami pulang setelah dia berbuat baik kepada kami sebagaimana telah kami sebutkan, menuju kota Quniyah. Namanya dengan dhammah pada qaf, waw panjang, nun sukun, dan ya di akhir huruf. Kota yang besar dengan bangunan yang bagus, banyak air, sungai, kebun, dan buah-buahan. Di sana ada aprikot yang disebut Qamaruddin yang telah disebutkan sebelumnya, dan juga dikirim darinya ke Mesir dan Syam. Jalan-jalannya sangat luas, pasar-pasarnya tersusun dengan indah, dan setiap pekerja berkumpul tersendiri. Dikatakan bahwa kota ini dibangun oleh Alexander. Kota ini termasuk wilayah Sultan Badruddin bin Qaraman yang akan kami sebutkan. Penguasa Irak pernah menguasainya pada suatu waktu karena kedekatannya dengan wilayahnya di kawasan ini.

Kami menginap di zawiyah hakimnya yang dikenal dengan Ibnu Qalam Syah. Dia adalah salah satu futuwwah, dan zawiyahnya adalah salah satu zawiyah terbesar. Dia memiliki banyak murid. Mereka memiliki sanad dalam futuwwah yang bersambung hingga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Alaihissalam. Pakaian mereka adalah celana panjang seperti kaum sufi mengenakan jubah khirqah.

Perbuatan hakim ini dalam memuliakan dan menjamu kami lebih besar dan lebih indah daripada yang sebelumnya. Dia mengirimkan putranya sebagai penggantinya untuk masuk ke pemandian bersama kami. Di kota ini terdapat makam Syekh Imam yang saleh, Sang Quthub, Jalaluddin yang dikenal dengan Maulana. Dia sangat tinggi kedudukannya. Di tanah Romawi ada kelompok yang menisbatkan diri kepadanya dan dikenal dengan namanya, sehingga disebut al-Jalaliyyah, seperti al-Ahmadiyyah di Irak dan al-Haydariyyah di Khurasan. Pada makamnya terdapat zawiyah besar yang menyediakan makanan bagi yang datang dan pergi.

KISAH [SYEKH PENYAIR]

Dikisahkan bahwa pada awal kariernya, ia adalah seorang fakih (ahli fikih) yang mengajar, para pelajar berkumpul di madrasahnya di Konya. Suatu hari masuklah ke madrasah seorang penjual manisan, di atas kepalanya terdapat nampan berisi manisan yang telah dipotong-potong, ia menjual setiap potongannya seharga satu fulus. Ketika ia tiba di majelis pengajaran, Syekh berkata kepadanya: “Bawa kemari nampanmu!” Penjual manisan itu mengambil sepotong darinya dan memberikannya kepada Syekh. Syekh mengambilnya dengan tangannya dan memakannya. Penjual manisan itu pun keluar dan tidak memberi makan siapa pun selain Syekh. Syekh pun keluar mengikutinya dan meninggalkan pengajaran. Ia lama tidak kembali kepada para pelajar, dan mereka menunggunya lama sekali, lalu mereka keluar mencarinya tetapi tidak menemukan tempat tinggalnya.

Kemudian ia kembali kepada mereka setelah bertahun-tahun dalam keadaan tergila-gila dan tidak berbicara kecuali dengan syair Persia yang rumit dan tidak dapat dipahami. Para pelajar mengikutinya dan menuliskan apa yang keluar darinya berupa syair-syair itu, dan mereka menyusunnya menjadi sebuah kitab yang mereka namakan Masnawi. Penduduk negeri itu mengagungkan kitab tersebut, menganggap penting perkataannya, mengajarkannya dan membacanya di zawiyahzawiyah mereka pada malam-malam Jumat. Di kota ini juga terdapat makam fakih Ahmad yang dikisahkan sebagai guru Jalaluddin yang telah disebutkan.

Kemudian kami bepergian ke kota Laranda, dan ia diucapkan dengan membuka ra yang setelah alif dan lam, mendiamkan nun dan membuka dal yang tidak bertitik. Kota yang indah, banyak air dan taman-tamannya.

Keterangan tentang Sultan Laranda

Sultannya adalah al-Malik Badruddin bin Qaraman, dengan membuka qaf dan ra. Sebelumnya kota ini dikuasai saudaranya Musa, lalu ia menyerahkannya kepada al-Malik an-Nashir dan diberi ganti rugi, kemudian dikirim ke sana seorang amir dan pasukan. Kemudian Sultan Badruddin menguasainya dan membangun istananya di sana, urusannya pun menjadi stabil.

Aku bertemu sultan ini di luar kota saat ia kembali dari berburu. Aku turun dari tungganganku sebagai penghormatan kepadanya, ia pun turun dari tunggangannya, aku memberi salam kepadanya, ia menyambutku. Dari kebiasaan raja-raja negeri ini bahwa jika ada tamu yang turun dari tunggangannya untuk menghormati mereka, mereka pun turun untuknya dan kagum dengan perbuatannya, dan menambah kehormatan kepadanya. Namun jika ia memberi salam kepada mereka sambil menunggang, hal itu menyakiti hati mereka dan tidak menyenangkan mereka serta menjadi sebab terampasnya kehormatan tamu! Hal ini pernah terjadi padaku dengan salah satu dari mereka, akan aku sebutkan nanti. Setelah aku memberi salam kepadanya dan ia naik kembali, ia menanyakan keadaanku dan kedatanganku. Aku masuk bersama ke kota, ia memerintahkan untuk menempatkanku di tempat penginapan terbaik, dan ia mengirimkan makanan yang banyak, buah-buahan, manisan dalam nampan perak, lilin, pakaian, dan tunggangan yang bagus, serta memperlakukanku dengan sangat baik. Kami tidak lama tinggal di sisinya.

Kami berangkat menuju kota Aksaray, diucapkan dengan membuka hamzah, mendiamkan qaf, membuka shad yang tidak bertitik dan ra. Ia termasuk kota-kota terindah di Rum dan paling sempurna. Dikelilingi mata air yang mengalir dan taman-taman dari setiap sisi. Tiga sungai membelah kota dan air mengalir di rumah-rumahnya. Di sana terdapat pohon-pohon dan tanaman anggur. Di dalamnya terdapat banyak taman. Dibuat di sana permadani yang dinisbatkan kepadanya dari bulu domba, tidak ada yang menyamainya di negeri mana pun. Dari sana dipikul ke Syam, Mesir, Irak, India, Tiongkok, dan negeri-negeri Turki. Kota ini berada dalam ketaatan raja Irak. Kami menginap di zawiyah Syarif Husain yang menjadi wakil di sana bagi Amir Artana. Artana adalah wakil raja Irak di wilayah-wilayah Rum yang dikuasainya. Syarif ini adalah salah satu fata (anggota perkumpulan akhiyah), ia memiliki banyak pengikut dan menyambut kami dengan penghormatan yang sangat sempurna, ia melakukan apa yang dilakukan pendahulunya.

Kemudian kami berangkat ke kota Nigde, diucapkan dengan membuka nun, mendiamkan kaf, dan dal tidak bertitik yang dibuka. Ia termasuk negeri raja Irak, kota yang besar, banyak bangunannya, sebagian darinya telah rusak. Dibelah oleh sungai yang dikenal dengan Sungai Hitam, ia termasuk sungai-sungai besar, di atasnya terdapat tiga jembatan, salah satunya di dalam kota dan dua di luarnya. Di atasnya terdapat kincir-kincir air di dalam maupun di luar yang menyirami taman-taman. Buah-buahan di sana banyak. Kami menginap di zawiyah Fata Akhi Jaruq, ia adalah amir di sana. Ia memuliakan kami sesuai kebiasaan para fata, dan kami tinggal di sana tiga hari.

Kami berangkat dari sana menuju kota Kayseri, ia termasuk negeri penguasa Irak dan salah satu kota besar di wilayah ini. Di sana terdapat pasukan tentara Irak dan salah satu istri Amir Alauddin Artana yang telah disebutkan. Ia termasuk istri yang paling mulia dan terbaik, ia memiliki hubungan kekerabatan dengan raja Irak dan dipanggil Agha, dengan membuka hamzah dan ghain yang bertitik, makna Agha adalah yang besar. Setiap orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan dipanggil demikian. Namanya adalah Tugha Khatun. Kami masuk menemuinya, ia berdiri untuk kami, menyambut dengan baik dan berbicara dengan baik. Ia memerintahkan untuk menghadirkan makanan, kami pun makan. Ketika kami pulang, ia mengirimkan seekor kuda berpelana dan berkekang, pakaian, dan dirham bersama salah satu pelayannya, serta meminta maaf.

Kami menginap di kota ini di zawiyah Fata Akhi Amir Ali. Ia adalah amir besar dari kalangan besar Akhiyah di negeri ini. Ia memiliki kelompok pengikut dari pembesar-pembesar kota dan tokoh-tokohnya. Zawiyahnya termasuk zawiyah terindah dalam hal permadani, lampu, makanan yang banyak, dan kesempurnaan. Para pembesar dari kalangan sahabat-sahabatnya dan yang lain berkumpul setiap malam di tempatnya dan mereka melakukan dalam memuliakan tamu berlipat ganda dari yang dilakukan orang lain. Dari kebiasaan negeri ini bahwa apa yang tidak ada sultannya, maka Akhi-lah yang menjadi hakimnya. Ia yang mengendarai tunggangan tamu, memberinya pakaian, dan berbuat baik kepadanya sesuai kadarnya. Kedudukannya dalam memerintah, melarang, dan menunggang kuda adalah kedudukan raja-raja.

Kemudian kami bepergian ke kota Sivas, diucapkan dengan mengkasrah sin yang tidak bertitik, ya panjang, dan di akhirnya sin yang tidak bertitik. Ia termasuk negeri raja Irak, dan paling besar miliknya di wilayah ini dari negeri-negeri. Di sana terdapat tempat tinggal para amir dan pegawainya. Kota yang indah bangunannya, luas jalan-jalannya, pasar-pasarnya penuh dengan orang. Di sana terdapat rumah seperti madrasah yang disebut Dar as-Siyadah, tidak tinggal di sana kecuali para Syarif. Naqib (pemimpin) mereka tinggal di sana dan diberikan kepada mereka selama mereka tinggal permadani, makanan, lilin, dan lainnya, lalu mereka dibekali ketika berangkat.

Ketika kami tiba di kota ini, keluar untuk menyambut kami para sahabat Fata Akhi Ahmad Bichakchi, dan chak dalam bahasa Turki artinya pisau, ia dinisbatkan kepadanya. Dua jim darinya bertemu di antaranya qaf, dan ba-nya dikasrah.

Mereka adalah kelompok, di antara mereka ada yang menunggang dan yang berjalan kaki. Kemudian setelah mereka kami bertemu dengan sahabat-sahabat Fata Akhi Chalabi. Ia termasuk kalangan besar Akhiyah, dan tingkatannya lebih tinggi dari tingkat Akhi Bichakchi. Mereka meminta agar kami menginap di tempat mereka tetapi tidak mungkin bagiku karena kelompok pertama telah mendahului. Kami masuk kota bersama mereka semua sementara mereka saling berbangga, dan mereka yang mendahului kami sangat gembira karena kami menginap di tempat mereka. Kemudian mereka melakukan dalam hal makanan, pemandian, dan penginapan seperti yang dilakukan pendahulu, dan kami tinggal di tempat mereka tiga hari dengan penjamuan terbaik. Kemudian datang hakim dan sekelompok pelajar bersama mereka kuda-kuda Amir Alauddin Artana, wakil raja Irak di negeri Rum. Kami pun menunggang menuju kepadanya. Amir itu menyambut kami hingga ke serambi rumahnya, memberi salam kepada kami dan menyambut. Ia fasih berbahasa Arab. Ia bertanya kepadaku tentang kedua Irak, Isfahan, Syiraz, dan Kirman, tentang Sultan Atabik, negeri Syam dan Mesir, serta sultan-sultan Turkoman. Maksudnya agar aku memuji yang mulia di antara mereka dan mencela yang kikir, tetapi aku tidak melakukan itu! Sebaliknya aku memuji semuanya, ia pun senang dengan hal itu dariku dan berterima kasih kepadaku atasnya. Kemudian dihadirkan makanan, kami pun makan. Ia berkata: “Kalian akan menjadi tamu saya.” Fata Akhi Chalabi berkata kepadanya: “Mereka belum menginap di zawiyahku, maka biarlah mereka di sisiku dan penjamuan Anda akan sampai kepada mereka.” Ia berkata: “Lakukanlah.” Kami pun pindah ke zawiyahnya dan tinggal di sana enam hari dalam penjamuan dan penjamuan Amir. Kemudian Amir mengirimkan kuda, pakaian, dan dirham, serta menulis surat kepada para wakilnya di negeri-negeri agar menjamu kami, memuliakan kami, dan membekali kami.

Kami bepergian ke kota Amasya, diucapkan dengan membuka hamzah, mim, alif, shad tidak bertitik yang dikasrah, dan ya akhir huruf yang dibuka. Kota yang besar dan indah, memiliki sungai-sungai, taman-taman, pohon-pohon, dan buah-buahan yang banyak. Di atas sungai-sungainya terdapat kincir-kincir air yang menyirami taman dan rumah-rumahnya. Ia luas jalan dan pasarnya. Penguasanya adalah raja Irak. Dekat darinya terdapat kota Sonisa, diucapkan dengan mendammah sin tidak bertitik, waw panjang, nun yang didammah, dan sin tidak bertitik yang dibuka. Ia juga milik raja Irak. Di sana tinggal anak-anak wali Allah Ta’ala Abul Abbas Ahmad ar-Rifa’i, di antara mereka Syekh Izzuddin, ia sekarang syekh ar-riwaq dan pemilik sajadah ar-Rifa’i, serta saudara-saudaranya Syekh Ali, Syekh Ibrahim, dan Syekh Yahya, anak-anak Syekh Ahmad Kuchuk, artinya yang kecil, bin Tajuddin ar-Rifa’i. Kami menginap di zawiyah mereka, dan kami melihat keutamaan mereka atas yang lain.

Kemudian kami bepergian ke kota Kemah, diucapkan dengan mendammah kaf, mengkasrah mim, dan syin yang bertitik. Ia termasuk negeri raja Irak, kota yang besar dan makmur, pedagang-pedagang datang kepadanya dari Irak dan Syam. Di sana terdapat tambang perak. Pada jarak perjalanan dua hari darinya terdapat gunung-gunung yang tinggi dan sulit yang tidak aku capai. Kami menginap di zawiyah Akhi Majduddin, dan tinggal di sana tiga hari dalam penjamuan. Ia melakukan seperti yang dilakukan pendahulunya. Wakil Amir Artana datang kepada kami dan mengirimkan jamuan dan bekal. Kami berangkat dari negeri-negeri itu dan tiba di Erzincan, diucapkan dengan membuka hamzah, mendiamkan ra, membuka zay, mendiamkan nun, jim, alif, dan nun. Ia termasuk negeri raja Irak, kota yang besar dan makmur. Kebanyakan penduduknya adalah orang Armenia, dan kaum Muslim berbicara di sana dengan bahasa Turki. Ia memiliki pasar-pasar yang tersusun baik. Dibuat di sana kain-kain bagus yang dinisbatkan kepadanya. Di sana terdapat tambang tembaga, dan dibuat darinya bejana-bejana dan bayasis yang telah kami sebutkan, yaitu semacam menara di tempat kami. Kami menginap di zawiyah Fata Akhi Nizhamuddin. Ia termasuk zawiyah terindah. Ia juga termasuk fata terbaik dan terbesarnya. Ia menjamu kami dengan jamuan terbaik.

Kami berangkat ke kota Erzurum. Ia termasuk negeri raja Irak, besar wilayahnya, sebagian besarnya rusak karena fitnah yang terjadi antara dua kelompok Turkoman di sana. Dibelah oleh tiga sungai. Di sebagian besar rumahnya terdapat taman-taman di dalamnya pohon-pohon dan tanaman anggur. Kami menginap di zawiyah Fata Akhi Tuman. Ia sudah tua, dikatakan usianya melebihi seratus tiga puluh tahun. Aku melihatnya berjalan dengan kedua kakinya sambil bersandar pada tongkat, pikirannya tetap teguh, menjaga shalat pada waktunya. Tidak mengingkari sesuatu dari dirinya, kecuali ia tidak sanggup berpuasa. Ia melayani kami sendiri dalam hal makanan, anak-anaknya melayani kami di pemandian. Kami bermaksud berangkat darinya pada hari kedua penginapan kami tetapi hal itu menyulitkannya dan ia menolak. Ia berkata: “Jika kalian melakukan itu, kalian mengurangi kehormatanku, sesungguhnya minimal penjamuan adalah tiga hari.” Kami pun tinggal di sisinya tiga hari.

Kemudian kami berangkat ke kota Bayburt, diucapkan dengan ba yang tunggal dikasrah, kaf yang bertemu dikasrah, di antaranya ra yang dimatikan. Kami tiba di sana setelah Ashar. Kami bertemu seorang laki-laki dari penduduknya, kami bertanya kepadanya tentang zawiyah Akhi di sana. Ia berkata: “Aku akan menunjukkan kalian kepadanya.” Kami mengikutinya, ia membawa kami ke rumahnya sendiri di sebuah taman miliknya. Ia menempatkan kami di atas atap rumahnya, pohon-pohon menaunginya, dan itu pada waktu panas yang sangat. Ia datang kepada kami dengan berbagai buah-buahan, memperlakukan kami dengan baik dalam penjamuan dan memberi makan binatang-binatang tunggangan kami. Kami bermalam di tempatnya malam itu. Kami telah mengetahui bahwa di kota ini ada seorang pengajar yang utama bernama Muhyiddin. Orang yang kami bermalam di tempatnya, yang merupakan salah satu pelajar, membawa kami ke madrasah. Tiba-tiba pengajar itu datang menunggang seekor bagal yang tangkas, budak-budak dan pelayan-pelayannya di kedua sisinya, para pelajar di hadapannya, ia mengenakan pakaian terbuka yang indah bersulam emas. Kami memberi salam kepadanya, ia menyambut kami, memperlakukan kami dengan baik dalam salam dan ucapan. Ia memegang tanganku dan mendudukkanku di sampingnya. Kemudian datang Hakim Izzuddin Firishtiy, makna Firishtiy adalah malaikat, ia diberi gelar demikian karena agama, kesucian, dan keutamaannya. Ia duduk di sebelah kanan pengajar dan memulai mengajar ilmu-ilmu ushul (pokok) dan furu’ (cabang). Kemudian setelah selesai dari itu, ia mendatangi sebuah kamar kecil di madrasah, memerintahkan untuk menghamparkannya dan menempatkanku di dalamnya, lalu mengirim jamuan yang lengkap. Kemudian ia mengirim pesuruh setelah Maghrib, aku pun pergi kepadanya. Aku mendapatinya di sebuah majelis di taman miliknya. Di sana terdapat kolam air, air turun kepadanya dari pancuran marmer putih yang dikelilingi ubin. Di hadapannya sejumlah pelajar, budak-budak dan pelayan-pelayannya berdiri di kedua sisinya. Ia duduk di atas kursi yang di atasnya terdapat permadani bermotif yang indah. Ketika aku melihatnya, aku menyangkanya raja dari raja-raja. Ia berdiri untukku, menyambutku, memegang tanganku, dan mendudukkanku di sampingnya di atas kursinya. Didatangkan makanan, kami pun makan, lalu kami pulang ke madrasah.

Sebagian mahasiswa menceritakan kepadaku bahwa semua mahasiswa yang hadir malam itu di rumah guru tersebut biasa datang untuk makan malamnya setiap malam. Guru ini menulis surat kepada Sultan memberitahukan tentang kami dan memuji kami dalam suratnya. Sementara Sultan sedang berada di sebuah gunung di sana untuk menghabiskan musim panas karena cuaca yang sangat panas, dan gunung itu dingin. Kebiasaannya adalah menghabiskan musim panas di sana.

Kisah Sultan Bargi

Dialah Sultan Muhammad bin Aydin, termasuk sultan-sultan yang terbaik, dermawan dan mulia. Setelah guru tersebut mengirim surat kepadanya memberitahukan tentang kedatanganku, ia mengirim wakilnya kepadaku agar aku datang menemuinya. Guru itu menyarankan agar aku tinggal hingga Sultan mengirim orang kedua kalinya. Saat itu guru tersebut mengalami luka di kakinya sehingga tidak bisa menunggang kuda, dan ia tidak bisa pergi mengajar di madrasah. Kemudian Sultan mengirim orang untuk memanggilku kedua kalinya, hal ini membuat guru tersebut bingung. Ia berkata: “Aku tidak bisa menunggang kuda, tetapi aku ingin pergi bersamamu untuk menyampaikan kepada Sultan tentang apa yang menjadi hakmu.” Kemudian ia memaksakan diri, membebat kakinya dengan kain, dan menunggang kuda tanpa menaruh kakinya di sanggurdi. Aku dan teman-temanku juga menunggang kuda dan kami mendaki gunung melalui jalan yang telah dipahat dan diratakan. Kami tiba di tempat Sultan saat waktu dzuhur, lalu turun di tepi sungai di bawah naungan pohon-pohon kenari. Kami mendapati Sultan dalam keadaan gelisah dan cemas karena putra bungsunya Sulaiman melarikan diri darinya kepada menantunya Sultan Arkhan Bek. Ketika berita kedatangan kami sampai kepadanya, ia mengirim kedua putranya Khidr Bek dan Umar Bek. Mereka memberi salam kepada guru tersebut, lalu Sultan memerintahkan mereka untuk memberi salam kepadaku, dan mereka melakukannya serta menanyakan keadaan dan kedatanganku. Kemudian mereka pergi. Sultan mengirim sebuah rumah yang mereka sebut khargah, yaitu tongkat-tongkat kayu yang disusun menyerupai kubah dan dilapisi dengan kain wol. Bagian atasnya dibuka untuk masuknya cahaya dan udara seperti badahanj, dan ditutup ketika perlu ditutup. Mereka membawa permadani dan membentangkannya. Guru tersebut duduk dan aku duduk bersamanya, sementara pengikut-pengikutnya dan pengikutku berada di luar rumah di bawah naungan pohon kenari. Tempat itu sangat dingin, dan seekor kudaku mati malam itu karena dinginnya cuaca!

Keesokan harinya, guru tersebut pergi menemui Sultan dan berbicara tentang urusanku sesuai dengan kemuliaan akhlaknya. Kemudian ia kembali kepadaku dan memberitahukan hal itu. Setelah beberapa saat, Sultan mengirim utusan untuk memanggil kami berdua. Kami datang ke tempat tinggalnya dan mendapati ia berdiri. Kami memberi salam kepadanya. Guru tersebut duduk di sebelah kanannya dan aku di samping guru. Sultan menanyakan keadaanku dan kedatanganku, bertanya tentang Hijaz, Mesir, Syam, Yaman, Irak, dan negeri-negeri Ajam. Kemudian makanan dihidangkan, kami makan lalu pulang. Sultan mengirimkan beras, tepung, dan mentega dalam perut-perut kambing, begitu juga dilakukan oleh orang-orang Turki lainnya. Kami tinggal dalam keadaan seperti itu beberapa hari, setiap hari ia mengirim orang untuk memanggil kami menghadiri jamuan makannya.

Suatu hari setelah dzuhur ia datang kepada kami. Guru duduk di tempat kehormatan dan aku di sebelah kirinya, Sultan duduk di sebelah kanan guru, hal itu karena kedudukan mulia para ahli fikih di kalangan Turki. Sultan memintaku untuk menuliskan beberapa hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku menuliskannya untuknya dan guru membacakannya kepadanya pada saat itu juga. Sultan memerintahkan guru untuk menulis penjelasannya dalam bahasa Turki. Kemudian ia berdiri dan keluar. Ia melihat para pelayan memasak makanan untuk kami di bawah naungan pohon kenari tanpa bumbu atau sayuran, lalu ia memerintahkan untuk menghukum kepala gudangnya dan mengirimkan bumbu-bumbu dan mentega.

Kami tinggal di gunung itu cukup lama hingga aku merasa bosan dan ingin pergi. Guru tersebut juga bosan tinggal di sana, maka ia mengirim kabar kepada Sultan bahwa aku ingin melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya Sultan mengirim wakilnya untuk berbicara dengan guru dalam bahasa Turki. Saat itu aku belum memahaminya. Guru menjawab perkataannya lalu wakil itu pergi. Guru berkata kepadaku: “Tahukah kamu apa yang dikatakannya?” Aku menjawab: “Aku tidak tahu apa yang dikatakannya.” Ia berkata: “Sultan mengutus kepadaku untuk bertanya: Apa yang akan diberikan kepadamu? Aku menjawabnya: Sultan memiliki emas, perak, kuda, dan budak, maka berikanlah kepadanya apa yang ia sukai dari itu.” Wakil itu pergi kepada Sultan kemudian kembali kepada kami dan berkata: “Sultan memerintahkan agar kalian tinggal di sini hari ini dan besok turun bersamanya ke rumahnya di kota.”

Keesokan harinya Sultan mengirimkan seekor kuda bagus dari tunggangan-tunggangnya. Ia turun dan kami bersamanya ke kota. Orang-orang keluar menyambutnya, termasuk hakim yang disebutkan sebelumnya dan yang lainnya. Sultan masuk dan kami bersamanya. Ketika ia turun di pintu rumahnya, ia pergi dengan guru ke arah madrasah. Kemudian ia memanggil kami dan memerintahkan kami untuk masuk bersamanya ke rumahnya. Ketika kami sampai di serambi rumah, kami menemukan sekitar dua puluh pelayan, wajah-wajah mereka sangat tampan, mengenakan pakaian sutera, rambut mereka terurai berpisah, kulit mereka putih bersih bercampur kemerahan. Aku bertanya kepada guru: “Wajah-wajah cantik apakah ini?” Ia menjawab: “Mereka adalah pemuda-pemuda Romawi.” Kami naik tangga bersama Sultan hingga kami tiba di sebuah ruangan yang indah. Di tengahnya terdapat kolam air dan di setiap sudutnya terdapat patung singa dari tembaga yang memancarkan air dari mulutnya. Sekeliling kolam ini terdapat bangku-bangku yang bersambung dan beralaskan permadani. Di atas salah satunya terdapat tempat duduk Sultan. Ketika kami sampai di sana, Sultan memindahkan tempat duduknya dengan tangannya sendiri dan duduk bersama kami di atas permadani. Guru duduk di sebelah kanannya, hakim di samping guru, dan aku di samping hakim. Para pembaca Quran duduk di bagian bawah bangku. Para pembaca Quran tidak meninggalkannya di manapun ia berada dalam majelis-majelisnya. Kemudian mereka membawa piring-piring dari emas dan perak berisi sirup yang telah dilarutkan, yang telah diperas ke dalamnya air jeruk nipis dan diberi kue-kue kecil yang dipotong-potong, dengan sendok-sendok emas dan perak. Mereka juga membawa piring-piring berisi hal yang sama dengan sendok-sendok kayu. Barangsiapa yang berhati-hati menggunakan piring porselen dan sendok kayu. Aku berbicara berterima kasih kepada Sultan, memuji guru dan melebih-lebihkan dalam hal itu, sehingga Sultan terkesan dan senang.

Kisah Dokter Yahudi

Saat kami duduk bersama Sultan, datanglah seorang syaikh yang di kepalanya terdapat sorban dengan jumbai. Ia memberi salam kepada Sultan. Hakim dan guru berdiri untuknya dan ia duduk di depan Sultan di atas bangku sementara para pembaca Quran di bawahnya. Aku bertanya kepada guru: “Siapa syaikh ini?” Ia tertawa dan diam. Kemudian aku bertanya lagi, ia menjawab: “Ini adalah dokter Yahudi, dan kami semua membutuhkannya! Karena itulah kami berdiri untuknya seperti yang kamu lihat.” Aku sangat tidak senang dengan hal ini, lalu aku berkata kepada orang Yahudi itu: “Wahai orang terkutuk anak orang terkutuk, bagaimana kamu duduk di atas para pembaca Quran sedangkan kamu seorang Yahudi?” Aku mencacinya dan mengeraskan suaraku. Sultan heran dan bertanya tentang maksud perkataanku, lalu guru memberitahukan kepadanya. Orang Yahudi itu marah dan keluar dari majelis dalam keadaan sangat buruk. Ketika kami pulang, guru berkata kepadaku: “Kamu telah berbuat baik, semoga Allah memberkatimu. Tidak ada seorang pun selain kamu yang berani berbicara kepadanya seperti itu. Sungguh kamu telah menyadarkannya!”

Kisah Lain tentang Batu yang Jatuh dari Langit

Sultan bertanya kepadaku dalam majelis ini, ia berkata: “Pernahkah kamu melihat batu yang jatuh dari langit?” Aku menjawab: “Aku tidak pernah melihat atau mendengarnya.” Ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya telah jatuh di luar kota kami ini sebuah batu dari langit.” Kemudian ia memanggil beberapa orang dan memerintahkan mereka untuk membawa batu itu. Mereka membawa sebuah batu hitam yang padat, sangat keras dan berkilau. Aku memperkirakan beratnya mencapai satu kuintal. Sultan memerintahkan untuk memanggil para pemecah batu dan datanglah empat orang. Ia memerintahkan mereka untuk memukul batu itu. Mereka memukulnya dengan empat pukulan bersamaan dengan palu-palu besi sebanyak empat kali tetapi tidak membuat bekas sedikitpun. Aku heran dengan hal itu. Sultan memerintahkan untuk mengembalikannya ke tempatnya semula.

Pada hari ketiga sejak kami masuk ke kota bersama Sultan, ia membuat jamuan yang besar dan mengundang para ahli fikih, syaikh-syaikh, para pemimpin tentara dan pembesar-pembesar kota. Mereka makan dan para pembaca Quran membaca Quran dengan suara-suara yang indah. Kami kembali ke tempat tinggal kami di madrasah. Sultan mengirimkan makanan, buah-buahan, manisan, dan lilin setiap malam. Kemudian ia mengirimu seratus mitsqal emas, seribu dirham, pakaian lengkap, seekor kuda, dan seorang budak Romawi bernama Mikha’il. Ia juga mengirimkan kepada setiap teman-temanku pakaian dan dirham. Semua ini dengan perantaraan guru Muhyiddin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Kami pamit dan pergi. Lama tinggal kami di dekatnya di gunung dan di kota adalah empat belas hari.

Kemudian kami menuju kota Tirah, yang merupakan negeri Sultan ini. Nama itu diucapkan dengan kasrah pada huruf ta, kemudian ya panjang dan ra. Kota yang indah dengan sungai-sungai, kebun-kebun, dan buah-buahan. Kami turun di zawiyah Fata Akhimuhammad, ia adalah salah seorang wali yang besar yang berpuasa sepanjang tahun. Ia memiliki pengikut-pengikut yang mengikuti jalannya. Ia menjamu kami dan mendoakan kami.

Kami pergi ke kota Ayasuluk. Nama itu diucapkan dengan fathah pada hamzah, ya akhir huruf, sin muhmal yang berdhammah, lam yang berdhammah, dan akhirnya qaf. Kota yang besar dan kuno, diagungkan oleh orang-orang Romawi. Di dalamnya terdapat gereja besar yang dibangun dengan batu-batu yang sangat besar. Panjang sebuah batu mencapai sepuluh hasta atau kurang, dipahat dengan sangat indah. Masjid Jami di kota ini termasuk masjid-masjid terindah di dunia, tidak ada yang menyamainya dalam keindahan. Ia dulunya adalah gereja orang-orang Romawi yang mereka agungkan dan mereka datangi dari berbagai negeri. Ketika kota ini ditaklukkan, kaum muslimin menjadikannya masjid jami. Dinding-dindingnya dari marmer berwarna-warni dan lantainya dari marmer putih. Atapnya dari timah dan di dalamnya terdapat sebelas kubah yang beragam. Di tengah setiap kubah terdapat kolam air. Sungai membelahnya, dan di kedua sisi sungai terdapat pohon-pohon dari berbagai jenis, pohon anggur, dan terali melati. Masjid ini memiliki lima belas pintu.

Penguasa kota ini adalah Khidr Bek bin Sultan Muhammad bin Aydin. Aku telah melihatnya di rumah ayahnya di Bargi, kemudian aku bertemu dengannya di kota ini di luarnya. Aku memberi salam kepadanya saat aku menunggang kuda, ia tidak suka itu dariku, dan itu menjadi sebab aku tidak mendapat kehormatannya. Karena kebiasaan mereka adalah apabila seorang tamu turun untuk mereka, mereka akan turun untuknya dan mereka suka dengan hal itu. Ia tidak mengirimu kecuali sehelai kain sutera berbordir emas yang mereka sebut nakh. Aku membeli di kota ini seorang budak perempuan Romawi yang masih perawan seharga empat puluh dinar emas.

Kemudian kami pergi ke kota Izmir. Nama itu diucapkan dengan ya akhir huruf yang berharakat fathah, zay yang bersukun, mim yang berkasrah, ya panjang dan ra. Kota besar di tepi laut, sebagian besarnya hancur. Ia memiliki benteng yang bersambung dengan bagian atasnya. Kami turun di zawiyah Syaikh Yaqub. Ia adalah seorang dari golongan Ahmadiyah yang saleh dan berilmu. Kami bertemu di luarnya dengan Syaikh Izzuddin bin Ahmad ar-Rifai dan bersamanya Zadah al-Akhlathi, termasuk syaikh-syaikh besar, dan bersamanya seratus orang fakir yang gila. Amir telah mendirikan kemah-kemah untuk mereka dan Syaikh Yaqub membuat jamuan untuk mereka. Aku hadir dan bertemu dengan mereka.

Penguasa kota ini adalah Umar Bek bin Sultan Muhammad bin Aydin yang disebutkan sebelumnya. Tempat tinggalnya di bentengnya. Saat kami tiba ia sedang berada di tempat ayahnya, kemudian ia datang lima hari setelah kami turun di sana. Di antara kedermawanannya adalah ia datang kepadaku di zawiyah, memberi salam, dan meminta maaf. Ia mengirimkan jamuan yang besar dan setelah itu memberiku seorang budak Romawi berusia lima tahun bernama Nuqulah, dua helai pakaian dari kamkha, yaitu pakaian sutera yang dibuat di Baghdad, Tabriz, Naisabur, dan di Tiongkok. Guru yang mengimami salat bersamanya menceritakan kepadaku bahwa Amir tidak memiliki budak lagi selain budak yang diberikan kepadaku itu karena kedermawanannya, semoga Allah merahmatinnya. Ia juga memberikan kepada Syaikh Izzuddin tiga ekor kuda yang lengkap perlengkapannya, wadah perak besar yang mereka sebut masyrabah berisi dirham, pakaian-pakaian dari mullaf, marz, qudsi, dan kamkha, serta budak-budak perempuan dan laki-laki.

Dan amir ini adalah seorang yang mulia, saleh, dan banyak berjihad, ia memiliki kapal-kapal perang yang digunakan untuk menyerang daerah sekitar Konstantinopel Besar, sehingga ia dapat menawan dan merampas harta, kemudian ia habiskan semua itu dengan kedermawanan dan kemurahan hati, lalu kembali berjihad hingga serangan-serangannya sangat memberatkan bangsa Romawi, maka mereka mengadukan perkaranya kepada Paus. Paus kemudian memerintahkan orang-orang Kristen Genoa dan Prancis untuk menyerangnya, maka mereka menyerangnya dengan mengirim pasukan dari Roma dan menyerbu kotanya pada malam hari dengan banyak kapal dan berhasil menguasai pelabuhan serta kota tersebut. Amir Umar turun dari benteng menemui mereka dan bertempur melawan mereka, maka beliau gugur sebagai syahid bersama sekelompok orang-orangnya. Orang-orang Kristen kemudian menetap di negeri itu namun tidak mampu menguasai bentengnya karena kuatnya pertahanan.

Kemudian kami berangkat dari kota ini menuju kota Magnisia, penulisan namanya dengan mim terbuka, ghain bertitik dimatikan, nun dikasrah, ya panjang, sin tanpa titik dikasrah, dan ya di akhir huruf yang ditasydid. Kami tiba di sana pada sore hari Arafah, menginap di zawiyah seorang pemuda futuwwah. Ini adalah kota besar yang indah di kaki gunung dengan dataran yang banyak sungai, mata air, kebun, dan buah-buahan.

Kisah Sultan Magnisia

Sultannya bernama Sarukhan. Ketika kami tiba di kota ini, kami mendapatinya berada di makam anaknya yang telah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Ia bersama ibu si anak berada di makamnya pada malam hari raya dan pagi harinya. Jenazah anak itu telah diawetkan dan diletakkan dalam peti kayu yang dilapisi besi berukir dan digantung di dalam kubah yang tidak memiliki atap agar baunya hilang. Setelah itu kubah ditutup dan petinya diletakkan terlihat di atas permukaan tanah dengan pakaian-pakaiannya diletakkan di atasnya. Begitulah yang kulihat juga dilakukan pada sultan-sultan lainnya. Kami memberi salam kepadanya di tempat itu dan salat Idul Fitri bersamanya, lalu kembali ke zawiyah. Pemuda yang menjadi pelayanku mengambil kuda-kuda kami dan pergi bersama pelayan salah seorang sahabat untuk memberi minum kuda-kuda itu, namun lama tidak kembali. Hingga sore hari tidak ada berita tentang mereka berdua. Di kota ini ada seorang faqih mudarris yang mulia bernama Muslih al-Din. Ia mengendarai kuda bersamaku menemui sultan dan memberitahukan hal itu kepadanya, maka sultan mengirim orang untuk mencari mereka namun tidak ditemukan. Sementara orang-orang sibuk dengan hari raya mereka, kedua pelayan itu menuju sebuah kota kafir di tepi laut bernama Foja, berjarak satu hari perjalanan dari Magnisia. Orang-orang kafir ini berada di negeri yang kuat bentengnya, mereka mengirimkan hadiah setiap tahun kepada Sultan Magnisia dan sultan puas dengan itu karena kuatnya negeri mereka. Setelah waktu ashar, beberapa orang Turki membawa mereka berdua beserta kuda-kudanya, mereka menyebutkan bahwa kedua pelayan itu melewati mereka menjelang sore, maka mereka curiga dan memaksa mereka hingga mengaku berniat melarikan diri!

Kemudian kami berangkat dari Magnisia dan bermalam di tempat sekelompok orang Turkoman yang berkemah di padang rumput mereka. Kami tidak menemukan makanan untuk kuda-kuda kami malam itu, dan sahabat-sahabat kami bergantian berjaga sepanjang malam karena takut pencurian. Ketika giliran faqih Afif al-Din al-Tuzari, aku mendengarnya membaca Surah al-Baqarah, maka aku berkata kepadanya: “Jika engkau ingin tidur, beritahu aku agar aku perhatikan siapa yang berjaga.” Kemudian aku tertidur dan tidak terbangun kecuali pagi hari, ternyata pencuri telah pergi dengan kudaku yang biasa ditunggangi Afif al-Din beserta pelana dan kendalinya. Kuda itu termasuk kuda pilihan yang kubeli di Ayasuluq.

Keesokan harinya kami berangkat dan tiba di kota Bergama, penulisan namanya dengan ba bertitik dibuka, ra dimatikan, ghain bertitik dibuka, dan mim dibuka. Kota yang rusak dengan benteng besar yang kuat di puncak gunung. Konon Plato sang filosof berasal dari kota ini dan rumahnya terkenal dengan namanya hingga sekarang. Kami menginap di zawiyah seorang faqir dari golongan Ahmadiyah. Kemudian datang salah seorang pembesar kota yang memindahkan kami ke rumahnya dan memuliakan kami dengan sangat mulia.

Kisah Sultan Bergama

Sultannya bernama Yahsyi Khan—dengan kasrah pada syin—dan Khan di kalangan mereka berarti sultan. Yahsyi dengan ya di akhir huruf, kha bertitik, dan syin bertitik dikasrah, artinya: baik. Kami menemuinya di tempat peristirahatannya di musim panas, ia diberitahu tentang kedatangan kami maka mengirimkan jamuan dan kain Quds. Kemudian kami menyewa pemandu jalan dan berjalan melalui gunung-gunung tinggi yang terjal hingga tiba di kota Balikesir, penulisan namanya dengan ba bertitik dibuka, lam dikasrah, ya panjang, kaf dibuka, sin tanpa titik dimatikan, ra dikasrah, dan ya. Kota yang indah dengan banyak bangunan dan pasar yang bagus, tidak memiliki masjid jami untuk salat Jumat. Mereka ingin membangun masjid jami di luar kota yang bersambung dengannya, maka mereka membangun dindingnya namun tidak membuat atap, dan mereka salat serta salat Jumat di sana di bawah naungan pepohonan. Kami menginap di kota ini di zawiyah futuwwah Akhi Sinan yang termasuk orang-orang mulia mereka. Datang menemui kami hakim dan khatibnya, faqih Musa.

Kisah Sultan Balikesir

Namanya Demur Khan, tidak ada kebaikan padanya. Ayahnya yang membangun kota ini dan bangunannya bertambah banyak pada masa anaknya yang tidak baik ini. Manusia mengikuti agama rajanya. Aku melihatnya dan ia mengirimkan kepadaku kain sutra. Aku membeli di kota ini seorang budak perempuan Romawi bernama Marghalita.

Kemudian kami berangkat menuju kota Bursa, penulisan namanya dengan ba bertitik didam, ra dimatikan, dan sad tanpa titik dibuka. Kota besar yang sangat besar dengan pasar-pasar yang indah dan jalan-jalan yang luas, dikelilingi kebun-kebun dari semua arah dan mata air yang mengalir. Di luarnya ada sungai air yang sangat panas yang mengalir ke kolam besar. Telah dibangun di atasnya dua bangunan: satu untuk laki-laki dan yang lain untuk perempuan. Orang-orang sakit berobat dengan pemandian air panas ini dan datang kepadanya dari daerah-daerah yang jauh.

Di sana ada zawiyah untuk para pendatang yang menginap di sana dan diberi makan selama mereka tinggal yaitu tiga hari. Zawiyah ini didirikan oleh salah seorang raja Turkoman. Kami menginap di kota ini di zawiyah futuwwah Akhi Syams al-Din, salah seorang pemuka futuwwah. Kami bertepatan dengannya pada hari Asyura, maka ia membuat makanan yang banyak dan mengundang para pembesar tentara dan penduduk kota pada malam hari dan mereka berbuka di tempatnya. Para pembaca Quran membaca dengan suara yang indah, dan hadir faqih penceramah Majd al-Din al-Qunawi. Ia berceramah dan berdzikir dengan bagus, kemudian mereka mulai sama’ (mendengarkan musik spiritual) dan menari, itu adalah malam yang sangat agung. Penceramah ini termasuk orang-orang saleh yang berpuasa terus-menerus dan hanya berbuka setiap tiga hari, tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri. Konon ia tidak pernah makan makanan siapa pun, tidak memiliki tempat tinggal atau harta kecuali pakaian penutup tubuhnya, tidak tidur kecuali di pekuburan. Ia berceramah di majelis-majelis dan berdzikir, maka banyak orang bertobat di tangannya di setiap majelis. Aku mencarinya setelah malam itu namun tidak menemukannya. Aku datang ke pemakaman namun tidak menemukannya. Konon ia datang ke sana setelah orang-orang terlelap tidur.

Kisah Faqir yang Berteriak

Ketika kami menghadiri malam Asyura di zawiyah Syams al-Din, Majd al-Din berceramah di sana pada akhir malam, maka salah seorang faqir berteriak satu teriakan hingga ia pingsan. Mereka menuangkan air mawar kepadanya namun ia tidak sadar, mereka mengulanginya namun ia tidak sadar. Orang-orang berbeda pendapat tentangnya, ada yang berkata: “Ia telah mati,” dan ada yang berkata: “Ia hanya pingsan.” Penceramah melanjutkan ceramahnya, para pembaca membaca, kami salat Subuh dan matahari terbit. Mereka memeriksa keadaan orang itu dan mendapatinya telah meninggalkan dunia—semoga Allah merahmatinya. Mereka kemudian sibuk memandikan dan mengafaninya. Aku termasuk yang hadir mensalatkannya dan menguburkannya.

Faqir ini bernama al-Sayyah (si Penjeriak). Mereka menyebutkan bahwa ia beribadah di sebuah gua di gunung di sana. Setiap kali ia tahu penceramah Majd al-Din berceramah, ia mendatanginya dan menghadiri ceramahnya. Ia tidak makan makanan siapa pun. Jika Majd al-Din berceramah, ia berteriak dan pingsan, kemudian sadar, berwudu, dan salat dua rakaat. Kemudian ketika mendengar penceramah ia berteriak, melakukan itu berulang kali dalam satu malam. Ia disebut al-Sayyah karena itu. Ia cacat tangan dan kakinya, tidak mampu bekerja. Ia memiliki ibu yang memberinya makan dari hasil tenunannya. Ketika ibunya meninggal, ia makan dari tumbuhan bumi.

Aku bertemu di kota ini dengan Syaikh saleh Abdullah al-Misri al-Saih yang termasuk orang-orang saleh. Ia telah mengelilingi bumi kecuali ia tidak masuk ke Tiongkok, pulau Sarandib (Sri Lanka), Maghrib, Andalus, dan negeri Sudan. Aku telah melebihinya dengan masuk ke wilayah-wilayah ini!

Kisah Sultan Bursa (Raja Kedua dalam Kekaisaran Usmani)

Sultannya adalah Ikhtiyar al-Din Orkhan Bey—Orkhan dengan hamzah didam dan kha bertitik—putra Sultan Usman Cuk. Cuk dengan jim bernoktah didam dan akhirnya qaf, artinya dalam bahasa Turki adalah kecil. Sultan ini adalah raja terbesar di antara raja-raja Turkoman, paling banyak hartanya, negerinya, dan tentaranya. Ia memiliki benteng hampir seratus buah, dan di sebagian besar waktunya ia selalu berkeliling ke benteng-bentengnya dan tinggal di setiap benteng beberapa hari untuk memperbaiki urusan-urusannya dan memeriksa keadaannya. Konon ia tidak pernah tinggal sebulan penuh di satu negeri. Ia memerangi orang-orang kafir dan mengepung mereka. Ayahnya yang menaklukkan kota Bursa dari tangan bangsa Romawi dan makamnya ada di masjidnya, masjid itu dulunya adalah gereja orang-orang Kristen.

Disebutkan bahwa ia mengepung kota Iznik sekitar dua puluh tahun dan meninggal sebelum menaklukkannya, maka anaknya yang kami sebutkan ini mengepungnya selama dua belas tahun dan menaklukkannya. Di sanalah aku bertemu dengannya. Ia mengirimkan kepadaku dirham yang banyak.

Kemudian kami berangkat menuju kota Iznik, penulisan namanya dengan ya di akhir huruf dibuka, zay dimatikan, nun dikasrah, ya panjang, dan kaf. Kami bermalam sebelum tiba di sana semalam di sebuah desa bernama Karlak di zawiyah seorang futuwwah dari Akhiyyah. Kemudian kami berangkat dari desa ini sehari penuh melalui sungai-sungai air yang di tepinya terdapat pohon-pohon delima manis dan asam. Kemudian kami tiba di sebuah danau air yang ditumbuhi buluh sejauh delapan mil dari Iznik. Tidak dapat masuk ke sana kecuali melalui satu jalan seperti jembatan yang hanya dapat dilalui oleh satu penunggang kuda. Dengan demikian kota ini menjadi kuat.

Danau mengelilinginya dari semua arah dan ia kosong melompong, tidak dihuni kecuali oleh sedikit orang dari pelayan-pelayan sultan. Di sana ada istri sultan, Bayalun Khatun, dan ia yang memerintah atas mereka, seorang wanita salehah yang mulia. Kota ini memiliki empat lapis tembok, antara setiap dua tembok ada parit yang berisi air. Masuk ke sana melalui jembatan kayu, jika mereka ingin mengangkatnya maka mereka angkat. Di dalam kota ada kebun-kebun, rumah-rumah, tanah, dan ladang-ladang pertanian. Setiap orang memiliki rumahnya, ladangnya, dan kebunnya yang terkumpul. Minumannya dari sumur-sumur di sana yang dekat. Di sana ada semua jenis buah-buahan, kenari, dan kastanye yang sangat banyak dan murah harganya. Mereka menyebut kastanye dengan qastanah dengan nun, dan kenari dengan quz dengan qaf. Di sana ada anggur Udzari yang tidak kulihat sepertinya di tempat lain, sangat manis, besar bijinya, jernih warnanya, tipis kulitnya. Satu bijinya hanya memiliki satu biji. Kami menginap di kota ini bersama faqih imam haji mujawir Ala al-Din al-Sultanyuki yang termasuk orang-orang mulia dan dermawan. Tidak pernah sekali pun aku datang menjenguknya kecuali ia menghadirkan makanan. Penampilannya bagus dan perilakunya lebih bagus. Ia pergi bersamaku menemui Khatun yang disebutkan tadi, maka ia memuliakan, berbuat baik, dan berbuat ihsan.

Setelah beberapa hari kedatangan kami, Sultan Arkhan Bek yang telah kami sebutkan tiba di kota ini. Aku tinggal di kota ini sekitar empat puluh hari karena kuda milikku sakit. Ketika masa tinggalku terlalu lama, aku meninggalkannya dan berangkat bersama tiga orang temanku, seorang budak perempuan, dan beberapa budak laki-laki. Tidak ada seorang pun di antara kami yang menguasai bahasa Turki dan dapat menerjemahkan untuk kami, padahal kami memiliki seorang penerjemah yang meninggalkan kami di kota ini.

Kemudian kami keluar dari kota itu dan bermalam di sebuah desa bernama Makja, dengan Ma dibaca fathah, Kaf, dan Jim. Kami bermalam di rumah seorang fakih di sana yang memuliakan dan menjamu kami. Kami melanjutkan perjalanan dari rumahnya, dan kami mengikuti seorang wanita Turki yang menunggangi kuda dengan seorang pelayan laki-lakinya. Dia menuju kota Yanja, dan kami mengikuti jejaknya. Dia sampai di sebuah lembah besar bernama Saqari, seolah-olah dinisbahkan kepada Saqar (neraka), semoga Allah melindungi kami darinya. Dia mencoba menyeberangi lembah itu, namun ketika sampai di tengahnya, kudanya hampir tenggelam dan membuangnya dari punggungnya. Pelayan yang bersamanya berusaha menolongnya, tetapi lembah itu menghanyutkan mereka berdua. Ada orang-orang di tepi lembah yang terjun ke dalam air berenang mengejar mereka, lalu mereka mengeluarkan wanita itu dalam keadaan masih bernapas, sementara laki-laki itu sudah meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.

Orang-orang itu memberi tahu kami bahwa ada perahu penyeberangan di bawah tempat itu, maka kami menuju ke sana. Perahu itu terdiri dari empat papan kayu yang diikat dengan tali. Mereka menempatkan pelana kuda dan barang-barang di atasnya, lalu laki-laki di seberang sana menariknya. Orang-orang naik di atasnya, sedangkan kuda-kuda menyeberang dengan berenang. Demikian yang kami lakukan dan kami tiba malam itu di Kawiyah, namanya seperti bentuk kata fa’ilah, dari kata kay (membakar). Kami singgah di zawiyah salah seorang akhi. Kami berbicara dengannya dalam bahasa Arab tetapi dia tidak memahami kami, dia berbicara dengan kami dalam bahasa Turki tetapi kami tidak memahaminya! Maka dia berkata: “Carilah fakih karena dia mengerti bahasa Arab.” Fakih itu datang lalu berbicara dengan kami dalam bahasa Persia dan kami berbicara dengannya dalam bahasa Arab, tetapi dia tidak memahaminya dari kami. Maka dia berkata kepada pemuda itu: “Ishan arabi kahna miguyan wa man arabi naw midam anam wa ishan,” artinya: “Mereka, lama, mengatakan, dan aku, baru, mengerti. Ishan” artinya: mereka, kahna: lama, miguyan: mengatakan, man: aku, naw: baru, midam anam: mengerti. Yang dimaksud oleh fakih dengan kata-kata ini adalah menutupi dirinya dari aib ketika mereka mengira dia mengerti bahasa Arab padahal dia tidak mengerti. Maka dia berkata kepada mereka: “Mereka berbicara dengan bahasa Arab lama dan aku hanya mengerti bahasa Arab baru!” Pemuda itu mengira bahwa keadaannya seperti yang dikatakan fakih, dan hal itu menguntungkan kami di hadapannya. Dia sangat memuliakan kami dan berkata: “Mereka ini harus dihormati karena mereka berbicara dengan bahasa Arab lama!” Yaitu bahasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kami tidak memahami perkataan fakih itu saat itu, tetapi aku menghafalkan kata-katanya. Ketika aku mempelajari bahasa Persia, aku memahami maksudnya. Kami bermalam di zawiyah itu, dan dia mengirim bersama kami seorang penunjuk jalan ke Yanja. Penulisan namanya dengan Ya (huruf terakhir) dibaca fathah, Nun dibaca kasrah, dan Jim. Kota besar yang indah. Kami mencari zawiyah akhi di sana, lalu kami menemui salah seorang fakir yang linglung. Aku bertanya kepadanya: “Apakah ini zawiyah akhi?” Dia menjawab: “Ya.” Aku gembira pada saat itu karena menemukan orang yang memahami bahasa Arab. Namun ketika aku mengujinya, terungkap bahwa dia tidak mengerti bahasa Arab kecuali kata “ya” saja! Kami menginap di zawiyah itu. Salah seorang pelajar datang kepada kami dengan membawa makanan, sementara akhi itu tidak hadir. Kami merasa nyaman dengan pelajar ini. Meskipun dia tidak mengerti bahasa Arab, tetapi dia bermurah hati dan berbicara dengan wakil kota, lalu dia memberiku seorang penunggang kuda dari para pengikutnya dan berangkat bersama kami ke Kinuk. Penulisan namanya dengan Kaf dibaca fathah, Ya dibaca sukun, dan Nun dibaca dhammah. Kota kecil yang dihuni oleh orang-orang kafir Rum di bawah perlindungan kaum muslim. Di sana hanya ada satu rumah kaum muslim dan mereka adalah penguasa mereka. Kota ini termasuk wilayah Sultan Arkhan Bek. Kami menginap di rumah seorang perempuan tua kafir, pada masa salju dan musim dingin. Kami berbuat baik kepadanya dan bermalam di rumahnya malam itu.

Kota ini tidak ada pohon dan tanaman anggur merambat, yang ditanam di sana hanya za’faran. Perempuan tua itu datang kepada kami dengan membawa za’faran yang banyak dan dia mengira kami adalah pedagang yang akan membelinya! Ketika pagi tiba, kami berangkat dan penunggang kuda yang dikirim oleh pemuda dari Kawiyah datang kepada kami, lalu mengirim penunggang kuda lain untuk mengantar kami ke kota Matrani. Pada malam itu turun salju yang banyak sehingga menutupi jalan. Penunggang kuda itu mendahului kami, maka kami mengikuti jejaknya hingga pada tengah hari kami sampai di sebuah desa Turkman. Mereka membawa makanan, kami makan darinya. Penunggang kuda itu berbicara kepada mereka, lalu salah seorang dari mereka menunggang kuda bersama kami dan membawa kami melewati lembah dan gunung, serta aliran air yang kami seberangi lebih dari tiga puluh kali. Setelah kami keluar dari sana, penunggang kuda itu berkata kepada kami: “Berikan sesuatu dari dirham kepada saya.” Kami berkata kepadanya: “Jika kami sampai di kota, kami akan memberimu dan membuatmu puas.” Tetapi dia tidak ridha dengan itu atau tidak memahami kami. Dia mengambil busur milik salah seorang temanku dan pergi tidak jauh, kemudian kembali dan mengembalikan busur itu kepada kami. Aku memberikan sesuatu dari dirham kepadanya, dia mengambilnya lalu melarikan diri dari kami dan meninggalkan kami tanpa tahu arah mana yang harus kami tuju, dan tidak ada jalan yang terlihat bagi kami. Kami menelusuri jejak jalan di bawah salju dan menyusurinya hingga saat matahari terbenam kami sampai di sebuah gunung yang jalannya terlihat karena banyaknya batu. Aku takut akan kebinasaan diriku dan orang-orang yang bersamaku, dan aku menduga akan turun salju di malam hari padahal tidak ada pemukiman di sana. Jika kami turun dari kuda, kami akan binasa, dan jika kami melanjutkan perjalanan di malam hari, kami tidak tahu arah mana yang harus kami tuju! Aku memiliki seekor kuda bagus maka aku berharap dapat selamat. Aku berkata dalam hati: “Jika aku selamat, mungkin aku dapat berusaha menyelamatkan teman-temanku.” Maka demikianlah yang terjadi. Aku menitipkan mereka kepada Allah Taala dan melanjutkan perjalananku.

Penduduk wilayah itu membangun rumah dari kayu di atas kubur sehingga orang yang melihatnya menyangka itu adalah pemukiman tetapi ternyata itu adalah kubur. Banyak kubur seperti itu terlihat olehku. Setelah lewat shalat Isya, aku sampai di beberapa rumah. Aku berdoa: “Ya Allah, jadikanlah rumah-rumah itu berpenghuni.” Aku mendapatinya berpenghuni. Allah Taala membimbingku ke pintu sebuah rumah, aku melihat seorang syekh di sana. Aku berbicara dengannya dalam bahasa Arab, dia berbicara dengan bahasa Turki dan memberi isyarat kepadaku untuk masuk. Aku memberi tahunya tentang teman-temanku tetapi dia tidak memahami. Dari kebaikan Allah, rumah itu adalah zawiyah para fakir dan orang yang berdiri di pintu adalah syekhnya. Ketika para fakir yang berada di dalam zawiyah mendengar percakapanku dengan syekh, sebagian dari mereka keluar. Aku punya kenalan dengan salah seorang dari mereka. Dia memberi salam kepadaku. Aku memberi tahunya tentang teman-temanku dan memberi isyarat kepadanya agar pergi bersama para fakir untuk menyelamatkan teman-temanku. Mereka melakukan hal itu dan pergi bersamaku menuju teman-temanku, lalu kami semua datang ke zawiyah. Kami memuji Allah Taala atas keselamatan kami! Itu adalah malam Jumat. Penduduk desa berkumpul dan menghabiskan malam mereka dengan berzikir kepada Allah Taala. Masing-masing dari mereka datang dengan makanan yang tersedia untuknya, dan kesulitan pun hilang. Kami berangkat saat pagi dan tiba di kota Matrani pada waktu shalat Jumat. Penulisan namanya dengan Mim dibaca dhammah, Tha tidak bertitik dibaca sukun, Ra, Nun dibaca kasrah, dan Ya panjang. Kami menginap di zawiyah salah seorang pemuda akhi. Di sana ada sekelompok musafir dan kami tidak menemukan tempat untuk mengikat kuda, lalu kami shalat Jumat dalam keadaan gelisah karena banyaknya salju, dingin, dan tidak ada tempat untuk mengikat kuda. Kami bertemu dengan salah seorang haji dari penduduk kota itu, dia memberi salam kepada kami. Dia mengerti bahasa Arab. Aku gembira bertemu dengannya dan meminta kepadanya agar menunjukkan tempat untuk mengikat kuda dengan sewa. Dia berkata: “Adapun mengikatnya di rumah, itu tidak memungkinkan karena pintu rumah-rumah di kota ini kecil sehingga kuda tidak bisa masuk. Tetapi aku akan menunjukkan kalian tempat berteduh di pasar tempat para musafir mengikat kuda mereka, dan orang-orang yang datang untuk menghadiri pasar.” Dia menunjukkan tempat itu kepada kami, lalu kami mengikat kuda kami di sana. Salah seorang teman menginap di sebuah toko kosong di seberangnya untuk menjaga kuda.

Yang aneh dari yang terjadi pada kami adalah aku mengutus salah seorang pelayan untuk membeli jerami untuk kuda, dan mengutus yang lain untuk membeli mentega. Yang satu datang dengan jerami, sedangkan yang lain datang tanpa membawa apa-apa sambil tertawa. Kami bertanya kepadanya tentang sebab tawanya, dia berkata: “Kami berdiri di sebuah kedai di pasar, lalu meminta mentega kepadanya. Dia memberi isyarat kepada kami untuk menunggu, dan berbicara kepada anaknya. Kami memberikan dirham kepadanya. Dia pergi sebentar lalu datang dengan jerami. Kami mengambilnya darinya dan berkata kepadanya: ‘Kami ingin mentega.’ Dia berkata: ‘Ini mentega.'” Terungkaplah bahwa mereka menyebut jerami dengan kata “saman” dalam bahasa Turki! Adapun mentega disebut “rughan” pada mereka!!

Ketika kami bertemu dengan haji yang mengerti bahasa Arab ini, kami meminta kepadanya agar bepergian bersama kami ke Qastamuniyah yang jaraknya sepuluh hari perjalanan dari kota ini. Aku memberinya pakaian Mesir dari pakaianku, memberikan nafkah yang ditinggalkan untuk keluarganya, menyiapkan kendaraan untuknya, dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Dia bepergian bersama kami, tetapi terlihat dari keadaannya bahwa dia orang yang memiliki banyak harta dan memiliki piutang pada orang-orang, namun dia rendah cita-cita, buruk sifat, dan buruk perbuatan! Kami memberinya dirham untuk nafkah kami, tetapi dia mengambil roti yang tersisa dan membeli dengan itu bumbu, sayuran, dan garam, lalu menyimpan harga itu untuk dirinya sendiri! Dia menyebutkan kepadaku bahwa dia biasa mencuri dari dirham nafkah selain itu. Kami menahannya karena kesulitan kami dalam tidak mengerti bahasa Turki. Keadaannya sampai pada titik bahwa kami membongkar aibnya. Kami biasa berkata kepadanya di akhir siang: “Wahai Haji, berapa banyak yang kamu curi hari ini dari nafkah?” Dia menjawab: “Sekian!” Kami tertawa darinya dan ridha dengan itu!! Di antara perbuatannya yang hina adalah ketika salah satu kuda kami mati di suatu tempat singgah, dia sendiri yang menguliti kulitnya dan menjualnya. Di antaranya juga adalah kami bermalam suatu malam di rumah saudara perempuannya di salah satu desa. Dia datang dengan makanan dan buah-buahan dari pir, apel, aprikot, dan persik semuanya dikeringkan dan direndam dalam air hingga basah lalu dimakan dan airnya diminum. Kami ingin berbuat baik kepadanya, tetapi dia mengetahui hal itu lalu berkata: “Jangan beri dia apa-apa dan berikan itu kepada saya.” Kami memberinya untuk memuaskannya, dan kami memberinya dengan baik secara diam-diam sehingga dia tidak mengetahui hal itu!

Kemudian kami sampai di kota Boli. Penulisan namanya dengan Ba bertitik satu dibaca dhammah dan Lam dibaca kasrah. Ketika kami hampir sampai di sana, kami menemui sebuah lembah yang terlihat kecil menurut pandangan mata, namun ketika sebagian teman kami memasukinya, mereka mendapatinya sangat deras alirannya. Mereka semua menyeberanginya, tetapi tersisa seorang budak perempuan kecil yang mereka takut untuk menyeberangkannya. Kudaku lebih baik dari kuda-kuda mereka, maka aku memboncengnya. Aku mulai menyeberangi lembah itu, namun ketika sampai di tengahnya, kudaku terjatuh, budak perempuan itu juga terjatuh. Teman-temanku mengeluarkannya dan dia masih bernapas, sedangkan aku selamat. Kami memasuki kota lalu menuju zawiyah salah seorang pemuda akhi. Di antara kebiasaan mereka adalah api selalu dinyalakan di zawiyah mereka pada hari-hari musim dingin. Mereka menempatkan tungku api di setiap sudut zawiyah dan membuat cerobong tempat asap naik darinya sehingga tidak mengganggu zawiyah. Mereka menyebutnya al-bukhary, yang tunggal adalah bukhayri.

Berkata Ibnu Juzay: Shafiyuddin Abdul Aziz ibn Saraya al-Hilli telah membuat kata-kata yang bagus dalam tauriyah, dan aku mengingatnya dengan menyebut al-bukhayri:

Sesungguhnya al-bukhayri sejak kalian meninggalkannya telah menjadi… menabur abu di atas tungku berdebu miliknya

Seandainya kalian menghendaki bahwa dia menjadi Abū Lahab… istri kalian yang membawa kayu bakar akan datang

Kembali. Dia berkata: Ketika kami memasuki zawiyah, kami menemukan api yang menyala. Aku melepas pakaianku dan mengenakan pakaian lain, lalu menghangatkan diri di api. Akhi itu datang dengan makanan dan buah-buahan dalam jumlah banyak. Alangkah mulianya jiwa mereka sebagai kelompok, alangkah hebatnya pengorbanan mereka, alangkah besarnya kasih sayang mereka kepada orang asing, alangkah lembutnya mereka kepada pendatang, alangkah besar cinta mereka padanya, dan alangkah baiknya perhatian mereka terhadap urusannya! Kedatangan orang asing kepada mereka seperti kedatangannya kepada keluarganya yang paling dicintainya! Kami bermalam malam itu dalam keadaan yang menyenangkan, kemudian kami berangkat pagi hari dan sampai di kota Karadi Boli. Penulisan namanya dengan Kaf berbaris, Ra dibaca fathah, Dal tidak bertitik dibaca sukun, Ya, Ba bertitik satu dibaca dhammah, Waw panjang, Lam dibaca kasrah, dan Ya. Kota besar di dataran tanah yang indah, luas jalan-jalan dan pasarnya, termasuk daerah yang paling dingin. Kota ini terdiri dari pemukiman yang terpisah. Setiap pemukiman dihuni oleh sekelompok orang yang tidak bercampur dengan yang lain.

Tentang sultannya

Dia adalah Sultan Syah Bek dari kalangan sultan menengah di wilayah ini, tampan dan baik perilakunya, indah akhlaknya, sedikit pemberiannya. Kami shalat Jumat di kota ini dan menginap di salah satu zawiyahnya. Aku bertemu di sana dengan khatib fakih Syamsuddin ad-Dimasyqi al-Hanbali. Dia telah menetap di sana bertahun-tahun dan memiliki anak-anak di sana. Dia adalah fakih sultan ini, khatibnya, dan kata-katanya didengarkan olehnya. Fakih ini menemui kami di zawiyah lalu memberi tahu kami bahwa sultan akan datang mengunjungi kami. Aku berterima kasih atas perbuatannya. Aku menyambut sultan lalu memberi salam kepadanya. Dia duduk lalu bertanya tentang keadaanku, kedatanganku, dan sultan-sultan yang telah aku temui. Aku memberi tahunya semua itu. Dia tinggal sebentar lalu pergi, dan mengirimkan seekor kendaraan berpelana dan pakaian.

Kami pergi ke kota Bolu. Nama kota ini dieja dengan ba berharakat dhammah, ra sukun, dan lam berharakat dhammah. Kota ini adalah kota kecil yang terletak di atas bukit dengan parit di bawahnya dan memiliki benteng di puncak yang tinggi. Kami menginap di sebuah madrasah yang bagus di kota ini. Haji yang bepergian bersama kami mengenal guru madrasah dan para santrinya serta menghadiri pelajaran bersama mereka. Dia, meskipun dengan segala kekurangannya, termasuk santri yang bermazhab Hanafi. Amir kota ini bernama Ali Bek bin Sultan yang terhormat Sulaiman Padishah, raja Kastamonu, yang akan kami sebutkan nanti. Kami naik menemuinya ke benteng, lalu memberi salam kepadanya. Dia menyambut kami dengan baik, memuliakan kami, dan bertanya kepadaku tentang perjalanan dan keadaanku. Aku menjawabnya tentang hal itu. Dia mendudukkanku di sampingnya. Hadir pula hakimnya dan juru tulisnya yang merangkap sebagai hajib bernama Ala’uddin Muhammad, yang merupakan salah seorang penulis terkemuka. Kemudian hidangan dihadirkan, kami pun makan. Setelah itu para pembaca Quran membaca dengan suara yang mengharukan dan irama yang mengagumkan. Kemudian kami pulang.

Keesokan harinya kami berangkat menuju kota Kastamonu. Nama kota ini dieja dengan qaf berharakat fathah, shad sukun, tha berharakat fathah, mim berharakat dhammah, waw, nun berharakat kasrah, dan ya di akhir huruf. Kota ini termasuk kota yang paling besar dan paling indah, banyak kebaikan dan murah harganya. Kami menginap di zawiyah seorang syekh yang dikenal dengan sebutan Al-Atrasy (orang tuli) karena pendengarannya kurang tajam. Aku melihat keajaiban darinya, yaitu bahwa salah seorang santri menulis untuknya di udara dan kadang di tanah dengan jarinya, maka dia memahaminya dan menjawabnya serta menceritakan kepadanya berbagai kisah dengan cara itu, dan dia memahaminya. Kami tinggal di kota ini sekitar empat puluh hari. Kami membeli satu tabaq daging kambing yang gemuk seharga dua dirham, membeli roti seharga dua dirham yang cukup untuk kami sehari dan kami berjumlah sepuluh orang, membeli halawah madu seharga dua dirham yang cukup untuk kami semua, membeli kacang seharga satu dirham dan kastanya seharga satu dirham pula, kami semua makan darinya dan masih tersisa, dan kami membeli satu beban kayu bakar seharga satu dirham, dan itu pada masa dingin yang sangat. Aku tidak melihat di berbagai negeri ada kota yang lebih murah harganya dari kota ini. Di kota ini aku bertemu dengan Syekh Imam yang alim, mufti, dan pengajar bernama Tajuddin As-Sultanuiki, salah seorang ulama besar. Dia belajar di Irak dan Tabriz, tinggal di sana beberapa lama, belajar di Damaskus, dan bermukim di dua tanah suci sejak dulu.

Di kota ini aku juga bertemu dengan ulama pengajar bernama Shadruddin Sulaiman Al-Finiki, dari penduduk Finika, salah satu daerah di negeri Rum. Dia menjamuku di madrasahnya yang terletak di pasar kuda. Di kota ini aku juga bertemu dengan Syekh yang berumur panjang dan saleh bernama Dada Amir Ali. Aku masuk menemuinya di zawiyahnya yang tidak jauh dari pasar kuda. Aku mendapatinya terbaring telentang, lalu salah seorang pelayannya mendudukkannya dan sebagian yang lain mengangkat alisnya dari matanya, maka dia membuka kedua matanya dan berbicara kepadaku dalam bahasa Arab yang fasih. Dia berkata, “Kamu datang dengan kedatangan yang baik.” Aku bertanya kepadanya tentang umurnya, maka dia berkata, “Aku adalah salah seorang sahabat khalifah Al-Mustanshir Billah. Dia wafat ketika aku berumur tiga puluh tahun, dan umurku sekarang adalah seratus enam puluh tiga tahun.” Maka aku meminta doa darinya lalu pulang.

Tentang Sultan Kastamonu

Dia adalah Sultan yang terhormat Sulaiman Padishah. Namanya dieja dengan ba, alif, dal sukun. Dia sudah lanjut usia, lebih dari tujuh puluh tahun, berwajah tampan, rambutnya panjang, memiliki wibawa dan kewibawaan. Para fuqaha dan orang-orang saleh duduk bersamanya. Aku masuk menemuinya di majlisnya, lalu dia mendudukkanku di sampingnya dan bertanya kepadaku tentang keadaanku, kedatanganku, dan tentang dua tanah suci, Mesir, dan Syam. Aku menjawabnya dan dia memerintahkan agar aku ditempatkan dekat darinya. Pada hari itu dia memberiku seekor kuda asli berwarna putih keabu-abuan, pakaian, dan menentukan nafkah serta pakan untukku. Setelah itu dia memerintahkan memberiku gandum dan jelai yang diserahkan kepadaku di sebuah desa dari desa-desa kota itu yang berjarak setengah hari perjalanan darinya. Aku tidak menemukan orang yang mau membelinya karena murahnya harga-harga, maka aku memberikannya kepada haji yang berada dalam rombongan kami. Kebiasaan sultan ini adalah duduk setiap hari di majlisnya setelah salat Asar, kemudian makanan dihadirkan, pintu-pintu dibuka, dan tidak ada seorang pun yang dilarang hadir, baik penduduk kota, pedalaman, orang asing, maupun musafir, untuk makan. Dia duduk pada awal hari dalam majlis khusus, lalu putranya datang dan mencium tangannya, kemudian pergi ke majlisnya sendiri. Para pembesar negara datang dan makan di tempatnya lalu pulang.

Kebiasaannya pada hari Jumat adalah berkendaraan menuju masjid yang jauh dari rumahnya. Masjid tersebut memiliki tiga lantai dari kayu. Sultan, para pembesar negaranya, hakim, para fuqaha, dan para pemuka tentara salat di lantai bawah. Afandi, yaitu saudara sultan, beserta teman-temannya, pelayannya, dan sebagian penduduk kota salat di lantai tengah. Putra sultan yang menjadi putra mahkota dan dia adalah anak bungsunya, bernama Al-Jawad, beserta teman-temannya, budak-budaknya, para pelayannya, dan orang-orang lainnya salat di lantai atas. Para pembaca Quran berkumpul dan duduk membentuk lingkaran di depan mihrab, khatib dan hakim duduk bersama mereka, sultan berada di hadapan mihrab, dan mereka membaca Surat Al-Kahf dengan suara yang merdu dan mengulang ayat-ayat dengan cara yang mengagumkan. Setelah selesai membacanya, khatib naik ke mimbar lalu berkhutbah, kemudian salat. Setelah selesai dari salat, mereka melakukan salat sunah dan pembaca membaca sepuluh ayat di hadapan sultan, kemudian sultan dan rombongannya pulang. Kemudian pembaca membaca di hadapan saudara sultan, dan setelah selesai membacanya dia dan rombongannya pulang. Kemudian pembaca membaca di hadapan putra sultan, dan setelah selesai membacanya, muarrif, yaitu penceramah, berdiri lalu memuji sultan dengan syair Turki, memuji putranya, dan mendoakan mereka berdua, kemudian pulang. Putra raja datang ke rumah ayahnya setelah mencium tangan pamannya dalam perjalanan, dan pamannya berdiri menunggunya, kemudian mereka berdua masuk menemui sultan. Saudaranya maju dan mencium tangannya lalu duduk di hadapannya. Kemudian putranya datang dan mencium tangannya lalu pergi ke majlisnya dan duduk di sana bersama orang-orangnya. Ketika tiba waktu salat Asar, mereka semua salat bersama, lalu saudara sultan mencium tangannya dan pergi dari tempatnya dan tidak kembali lagi kepadanya kecuali pada Jumat berikutnya. Adapun anak, dia datang setiap pagi sebagaimana telah kami sebutkan.

Kemudian kami berangkat dari kota ini dan menginap di sebuah zawiyah besar di salah satu desa, zawiyah paling indah yang pernah kulihat di negeri itu. Zawiyah ini dibangun oleh seorang amir besar yang bertobat kepada Allah Ta’ala bernama Fakhruddin. Dia menjadikan pengawasannya untuk putranya dan penyelia bagi orang-orang faqir yang tinggal di zawiyah. Hasil desa ini diwakafkan untuk zawiyah. Dia membangun pemandian di seberang zawiyah untuk umum, yang dapat dimasuki oleh orang yang datang dan pergi tanpa ada kewajiban apa pun baginya. Dia membangun pasar di desa itu dan mewakafkannya untuk masjid jami. Dia menentukan dari wakaf zawiyah ini untuk setiap faqir yang datang dari dua tanah suci atau dari Syam, Mesir, Irak, Khurasan, dan tempat lainnya, pakaian lengkap dan seratus dirham pada hari kedatangannya serta tiga ratus dirham pada hari keberangkatannya, dan nafkah selama tinggal, yaitu roti, daging, nasi yang dimasak dengan mentega, dan halawah. Untuk setiap faqir dari negeri Rum, sepuluh dirham dan jamuan tiga hari.

Kemudian kami pergi dan bermalam satu malam di sebuah zawiyah di gunung yang tinggi yang tidak ada bangunan di dalamnya. Zawiyah ini dibangun oleh salah seorang pemuda Akhiyah bernama Nizhamuddin dari penduduk Kastamonu, dan dia mewakafkan sebuah desa untuk zawiyah itu yang hasilnya dibelanjakan untuk orang yang datang dan pergi di zawiyah ini.

Kami berangkat dari zawiyah ini menuju kota Sinop. Nama kota ini dieja dengan shad berharakat fathah, nun berharakat dhammah, dan akhirnya ba. Kota ini adalah kota besar yang menggabungkan pertahanan dan keindahan. Laut mengelilinginya dari semua arah kecuali satu arah, yaitu arah timur. Di sana ada satu pintu gerbang, tidak ada yang masuk ke kota ini kecuali dengan izin amirnya, Ibrahim Bek, putra Sultan Sulaiman Padishah yang telah kami sebutkan.

Ketika izin diminta untuk kami, kami masuk ke kota dan menginap di zawiyah Izzuddin saudara Jalabi. Zawiyah ini berada di luar pintu gerbang laut. Dari sana naik ke sebuah gunung yang masuk ke laut, seperti posisi Ceuta. Di gunung itu ada kebun-kebun, ladang-ladang, dan sumber air. Kebanyakan buahnya adalah tin dan anggur. Gunung ini kuat dan tidak dapat didaki. Di gunung ini ada sebelas desa yang dihuni oleh orang-orang kafir Rum di bawah perlindungan kaum muslimin. Di puncaknya ada ribath yang dinisbatkan kepada Khidhir dan Ilyas Alaihimassalam yang tidak pernah sepi dari orang yang beribadah. Di sana ada mata air, dan doa di sana dikabulkan. Di kaki gunung ini ada makam wali yang saleh, yaitu sahabat Bilal Al-Habsyi, dan di atasnya ada zawiyah yang menyediakan makanan untuk orang yang datang dan pergi.

Masjid jami di kota Sinop termasuk masjid yang paling indah. Di tengahnya ada kolam air yang di atasnya ada kubah yang ditopang oleh empat kaki, dan setiap kaki diiringi dua tiang dari marmer. Di atasnya ada majlis yang naik dengan tangga kayu. Itu adalah hasil pembangunan Sultan Parwanah bin Sultan Alauddin Ar-Rumi. Dia salat Jumat di atas kubah itu. Setelahnya putranya, Ghazi Jalabi, menjadi raja. Ketika dia meninggal, Sultan Sulaiman yang telah disebutkan menguasainya. Ghazi Jalabi tersebut adalah orang yang pemberani dan terkemuka. Allah menganugerahinya kemampuan khusus dalam menahan napas di bawah air dan kekuatan berenang. Dia bepergian dengan kapal-kapal perang untuk berperang melawan orang-orang Rum. Ketika terjadi pertempuran dan orang-orang sibuk berperang, dia menyelam di bawah air dengan alat besi di tangannya yang digunakan untuk melubangi kapal-kapal musuh. Mereka tidak menyadari apa yang menimpa mereka hingga tenggelam menghampiri mereka. Suatu kali kapal-kapal musuh datang ke pelabuhan negerinya, maka dia melubanginya dan menawan orang-orang yang ada di dalamnya. Dia memiliki kemampuan yang tiada tanding, namun mereka menyebutkan bahwa dia sering memakan hashish, dan karena itulah dia meninggal. Dia keluar suatu hari untuk berburu, dan dia sangat gemar berburu. Dia mengejar burung bangau dan masuk di antara pepohonan. Dia memacu kudanya dengan keras, lalu sebuah pohon mengenai kepalanya dan menghancurkannya sehingga dia meninggal. Sultan Sulaiman menguasai negeri itu dan menempatkan putranya Ibrahim di sana. Dikatakan bahwa dia juga memakan apa yang dimakan oleh pendahulunya, padahal semua penduduk negeri Rum tidak mengingkari memakannya. Suatu hari aku melewati pintu gerbang masjid di Sinop, dan di luarnya ada kedai-kedai tempat orang-orang duduk. Aku melihat beberapa orang dari pemuka tentara dan di hadapan mereka ada pelayan mereka yang memegang kantong berisi sesuatu yang menyerupai pacar. Salah seorang dari mereka mengambil darinya dengan sendok dan memakannya, sementara aku memperhatikannya dan aku tidak tahu apa yang ada di dalam kantong. Aku bertanya kepada orang yang bersamaku, maka dia memberitahuku bahwa itu adalah hashish. Di kota ini, hakimnya, wakil amir di sana, dan gurunya yang dikenal dengan Ibnu Abdurrazzaq menjamu kami.

Ketika kami masuk ke kota ini, penduduknya melihat kami salat dengan tangan terurai ke bawah. Mereka bermazhab Hanafi dan tidak mengenal mazhab Malik serta cara salatnya. Pendapat yang dipilih dari mazhabnya adalah menguraikan tangan. Sebagian dari mereka pernah melihat orang-orang Rafidah di Hijaz dan Irak salat dengan tangan terurai, maka mereka menuduh kami bermazhab seperti mereka dan bertanya kepada kami tentang hal itu. Kami memberitahu mereka bahwa kami bermazhab Malik, namun mereka tidak puas dengan jawaban kami, dan tuduhan itu menetap dalam hati mereka. Hingga wakil sultan mengirimkan kepada kami seekor kelinci dan memerintahkan salah seorang pelayannya untuk terus bersama kami hingga melihat apa yang kami lakukan terhadapnya. Kami menyembelihnya dan memakannya. Pelayan itu kembali kepadanya dan memberitahunya tentang hal itu. Pada saat itulah tuduhan terhadap kami hilang, dan mereka mengirimkan jamuan kepada kami. Orang-orang Rafidah tidak memakan kelinci. Empat hari setelah kedatangan kami di Sinop, ibu Amir Ibrahim meninggal di sana. Aku keluar dalam jenazahnya, dan putranya keluar dengan berjalan kaki, kepalanya terbuka, demikian pula para amir dan budak-budak dengan pakaian mereka terbalik. Adapun hakim, khatib, dan para fuqaha, mereka membalikkan pakaian mereka tetapi tidak membuka kepala, melainkan meletakkan saputangan dari wol hitam sebagai pengganti sorban. Mereka memberikan makanan selama empat puluh hari, yaitu masa berkabung menurut mereka.

 

 

BAB DELAPAN: KIPCHAK, NEGERI SULTAN MUHAMMAD UZBEK KHAN

Dari Sinope menyeberangi Laut Hitam menuju Kerch tempat tinggal orang Genoa. Dari Krimea menuju tempat tinggal Sultan Uzbek dengan menumpang kereta. Bersama Sultan Muhammad Uzbek, salah satu dari tujuh raja dunia Ibnu Battuta. Keistimewaan Permaisuri Taytughli! Tanah utara dan negeri kegelapan. Upacara-upacara orang Uzbek saat perayaan. Dari kota Haji Tarkhan menuju Konstantinopel menemani sang Permaisuri. Penggambaran Konstantinopel. Kembali ke istana Sultan melalui Itil (Volga) dalam iklim yang sangat dingin.

Kami tinggal di kota ini sekitar empat puluh hari menunggu kemudahan untuk berlayar di laut menuju kota Krimea. Kami menyewa sebuah kapal milik orang Rum dan tinggal sebelas hari menunggu angin yang mendukung. Kemudian kami mengarungi laut. Setelah tiga hari berada di tengah laut, kami diserang badai dahsyat dan keadaan menjadi sangat berat bagi kami. Kami melihat kehancuran dengan mata kepala sendiri. Saya berada di geladak kapal bersama seorang lelaki dari Maghrib bernama Abu Bakar. Saya memerintahkannya naik ke bagian atas kapal untuk melihat keadaan laut. Dia melakukannya, lalu datang menemui saya di geladak dan berkata, “Saya titipkan kalian kepada Allah!” Kami ditimpa kengerian yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kemudian angin berubah arah dan membawa kami kembali mendekati kota Sinope yang telah kami tinggalkan. Sebagian pedagang ingin turun di pelabuhannya, namun saya melarang pemilik kapal menurunkan mereka.

Kemudian angin kembali normal dan kami melanjutkan perjalanan. Ketika kami berada di tengah laut, badai kembali menyerang kami dan terjadilah hal serupa seperti kejadian pertama. Kemudian angin mendukung kami dan kami melihat gunung-gunung di daratan. Kami menuju pelabuhan bernama Kerch. Kami hendak memasukinya, namun orang-orang yang berada di gunung memberi isyarat kepada kami agar tidak masuk. Kami takut pada diri kami dan menyangka ada perahu-perahu musuh di sana, maka kami kembali menyusuri pantai. Ketika kami mendekatinya, saya berkata kepada pemilik kapal, “Saya ingin turun di sini.” Maka dia menurunkan saya di pantai. Saya melihat sebuah gereja dan menuju ke sana. Di sana saya menemukan seorang rahib. Saya melihat di salah satu dinding gereja gambar seorang lelaki Arab mengenakan sorban, menyandang pedang, di tangannya ada tombak, dan di hadapannya ada lampu yang menyala. Saya bertanya kepada rahib, “Gambar apakah ini?” Dia menjawab, “Ini gambar Nabi Ali.” Saya heran dengan ucapannya. Kami bermalam di gereja itu dan memasak ayam, namun kami tidak sanggup memakannya karena ayam itu kami bawa dari kapal dan bau laut telah menempel pada semua yang ada di dalamnya.

Tempat kami turun ini adalah bagian dari padang rumput yang dikenal dengan nama Dasht Kipchak. Dasht, dengan huruf shin bertitik dan ta bertitik dua, dalam bahasa Turki berarti padang rumput. Padang rumput ini hijau segar tanpa pepohonan, tanpa gunung, tanpa lembah, dan tanpa kayu bakar. Mereka hanya membakar kotoran hewan dan menyebutnya tezek, dengan za terbuka. Anda akan melihat orang-orang besar mereka memungut kotoran itu dan menaruhnya di ujung pakaian mereka. Tidak ada yang melakukan perjalanan di padang rumput ini kecuali dengan kereta (araba). Perjalanannya memakan waktu enam bulan: tiga bulan di wilayah Sultan Muhammad Uzbek dan tiga bulan di wilayah penguasa lainnya.

Keesokan harinya setelah kami tiba di pelabuhan ini, sebagian pedagang dari rombongan kami pergi menemui kelompok yang dikenal sebagai Kipchak yang tinggal di padang rumput ini. Mereka beragama Kristen. Dia menyewa dari mereka sebuah kereta yang ditarik kuda, lalu kami menumpanginya dan tiba di kota Kaffa. Namanya ditulis dengan kaf dan fa yang keduanya bertanda fathah. Ini adalah kota besar yang memanjang di tepi laut, dihuni oleh orang-orang Kristen, kebanyakan mereka adalah orang Genoa, dan mereka memiliki seorang amir yang dikenal dengan sebutan Domdiir. Kami turun di masjid kaum Muslim.

Kisah [Suara Lonceng]

Ketika kami turun di masjid ini, kami tinggal di sana sebentar. Kemudian kami mendengar suara lonceng dari segala penjuru. Saya belum pernah mendengarnya sebelumnya, maka saya sangat terkejut. Saya memerintahkan sahabat-sahabat saya untuk naik ke menara, membaca Alquran, berdzikir kepada Allah, dan mengumandangkan azan. Mereka melakukannya. Tiba-tiba seorang lelaki masuk menemui kami dengan mengenakan baju besi dan senjata. Dia mengucapkan salam kepada kami. Kami bertanya tentang keadaannya. Dia memberitahu kami bahwa dia adalah hakim kaum Muslim di sana. Dia berkata, “Ketika saya mendengar bacaan Alquran dan azan, saya khawatir pada kalian, maka saya datang seperti yang kalian lihat.” Kemudian dia pergi dari kami. Kami tidak melihat kecuali kebaikan. Keesokan harinya, saudara laki-laki datang kepada kami dan membuat makanan. Kami makan di tempatnya dan berkeliling kota. Kami melihatnya memiliki pasar-pasar yang bagus. Semua penduduknya kafir. Kami turun ke pelabuhannya dan melihat pelabuhan yang menakjubkan dengan sekitar dua ratus kapal, ada yang untuk perang dan ada yang untuk perjalanan, kecil dan besar. Ini adalah salah satu pelabuhan terkenal di dunia.

Kemudian kami menyewa sebuah kereta dan bepergian ke kota Krimea. Namanya ditulis dengan kasrah pada qaf dan fathah pada ra. Ini adalah kota besar dan indah dari wilayah Sultan Agung Muhammad Uzbek Khan. Penguasanya adalah seorang amir dari pihaknya bernama Tuluktemur. Penulisan namanya: ta bertitik dua bertanda dhammah, lam berdhammah, kaf mati, ta seperti yang pertama berdhammah, mim berdhammah, waw, dan ra. Salah satu pelayan amir ini telah menemani kami dalam perjalanan kami, maka dia memberitahunya tentang kedatangan kami. Dia mengirim kuda kepada saya bersama imamnya, Saaduddin. Kami turun di zawiyah seorang syekh bernama Zadeh al-Khurasani. Syekh ini memuliakan kami, menyambut kami dengan baik, dan berbuat baik kepada kami. Dia sangat dihormati di kalangan mereka. Saya melihat orang-orang datang untuk memberi salam kepadanya, mulai dari hakim, khatib, faqih, dan lain-lain.

Syekh Zadeh ini memberitahu saya bahwa di luar kota ini ada seorang rahib Kristen di sebuah biara yang beribadah di sana dan banyak berpuasa. Dia telah sampai pada tingkat berpuasa terus-menerus selama empat puluh hari, kemudian berbuka dengan sebiji kacang fava. Dia memiliki kemampuan membuka tabir hal-hal gaib. Syekh meminta saya menemaninya mengunjungi rahib itu, namun saya menolak. Kemudian saya menyesal karena tidak melihatnya dan mengetahui keadaan sebenarnya.

Saya bertemu di kota ini dengan hakim agungnya, Syamsuddin as-Saili, hakim mazhab Hanafi. Saya juga bertemu dengan hakim mazhab Syafii yang bernama Khidr, dan faqih pengajar Alauddin al-Asiy, serta khatib mazhab Syafii, Abu Bakar. Dialah yang berkhutbah di masjid jami yang dibangun oleh Raja an-Nashir, semoga Allah merahmatinya, di kota ini. Juga Syekh hakim saleh Muzaffaruddin, yang berasal dari Rum lalu masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Dan Syekh saleh abid Muzhharuddin, yang termasuk di antara para ulama yang dihormati.

Amir Tuluktemur sedang sakit, maka kami menjenguknya. Dia memuliakan dan berbuat baik kepada kami. Dia akan segera berangkat ke kota Saray, ibu kota Sultan Muhammad Uzbek. Maka saya bertekad untuk pergi bersamanya dan membeli kereta untuk keperluan itu.

Penjelasan tentang Kereta yang Digunakan untuk Bepergian di Negeri Ini

Mereka menyebut kereta dengan nama araba, dengan ain tanpa titik, ra, dan ba bertitik satu, semuanya bertanda fathah. Kereta ini memiliki empat roda besar. Ada yang ditarik dua ekor kuda, ada yang ditarik lebih dari itu. Juga ditarik oleh sapi dan unta sesuai dengan berat atau ringannya kereta. Orang yang melayani kereta menunggang salah satu kuda penarik dengan pelana. Di tangannya ada cambuk untuk menggerakkan kereta berjalan, dan tongkat besar untuk mengarahkannya jika kereta menyimpang dari tujuan. Pada kereta dipasang semacam kubah dari batang-batang kayu yang diikat satu sama lain dengan tali kulit tipis. Kubah ini ringan dan dilapisi dengan kain felt atau kain tebal. Di dalamnya ada jendela berlubang. Orang di dalamnya bisa melihat orang luar, tetapi orang luar tidak bisa melihatnya. Dia bisa berguling-guling di dalamnya sesuka hatinya, tidur, makan, membaca, dan menulis sementara kereta berjalan.

Kereta yang mengangkut barang berat, perbekalan, dan peti makanan memiliki semacam rumah di atasnya seperti yang telah kami sebutkan, dan rumah itu dikunci.

Ketika saya hendak berangkat, saya mempersiapkan sebuah kereta untuk kendaraan saya yang dilapisi kain felt, dan di dalamnya ada budak perempuan saya. Sebuah kereta kecil untuk sahabat saya, Afifuddin at-Tuzari. Dan sebuah kereta besar untuk para sahabat lainnya yang ditarik tiga ekor unta, salah satunya ditunggangi pelayan kereta. Kami bepergian bersama Amir Tuluktemur, saudara laki-lakinya Isa, dan kedua putranya Qutludumur dan Sarubak. Juga bepergian bersamanya dalam perjalanan ini: imamnya Saaduddin, khatib Abu Bakar, Hakim Syamsuddin, faqih Syarafuddin Musa, dan mu’arrif Alauddin.

Tugas mu’arrif ini adalah berada di hadapan amir di majelisnya. Jika hakim datang, mu’arrif ini berdiri untuknya dan berkata dengan suara keras, “Bismillah, tuan dan maulana kami, hakim para hakim dan hakim, penjelas fatwa-fatwa dan hukum-hukum, bismillah.” Jika datang faqih yang dihormati atau orang yang disegani, dia berkata, “Bismillah, tuan kami Fulanuddin, bismillah.” Maka orang-orang yang hadir bersiap untuk menyambut kedatangan tamu, berdiri untuknya, dan memberikan tempat di majelis.

Kebiasaan orang Turki adalah bepergian di padang rumput ini seperti perjalanan jamaah haji di jalur Hijaz. Mereka berangkat setelah salat Subuh dan turun pada pagi hari. Mereka berangkat lagi setelah salat Zuhur dan turun pada sore hari. Ketika mereka turun, mereka melepaskan kuda, unta, dan sapi dari kereta dan melepaskannya untuk merumput siang dan malam. Tidak ada seorang pun yang memberi makan hewannya, baik sultan maupun yang lain. Keistimewaan padang rumput ini adalah tumbuhan di sana menggantikan jelai untuk hewan. Tidak ada negeri lain yang memiliki keistimewaan ini. Karena itu, hewan-hewan sangat banyak di sana. Hewan-hewan mereka tidak memiliki penggembala maupun penjaga, dan itu karena ketatnya hukum mereka terhadap pencurian.

Hukum mereka tentang pencurian adalah: barang siapa yang ditemukan padanya kuda curian, dia wajib mengembalikannya kepada pemiliknya dan memberikan bersamanya sembilan kali lipat. Jika dia tidak mampu, anak-anaknya diambil untuk itu. Jika dia tidak memiliki anak, dia disembelih seperti menyembelih kambing!

Orang-orang Turki ini tidak makan roti dan makanan berat. Mereka hanya membuat makanan dari sesuatu yang ada pada mereka yang mirip anli, mereka menyebutnya dugi, dengan dal tanpa titik berdhammah, waw, qaf berkasrah dan i panjang. Mereka menaruh air di atas api. Jika sudah mendidih, mereka menuangkan sedikit dari dugi ini ke dalamnya. Jika mereka memiliki daging, mereka memotongnya kecil-kecil dan memasaknya bersamanya. Kemudian mereka memberikan bagian setiap orang di piring dan menuangkan susu asam di atasnya, lalu mereka minum susu kuda yang mereka sebut qumiz, dengan kasrah pada qaf dan mim, serta za bertasydid. Mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, dan memiliki temperamen yang baik.

Kadang-kadang mereka menggunakan makanan yang disebut burkhani. Ini adalah adonan yang dipotong kecil-kecil, bagian tengahnya dilubangi, dan dimasukkan ke dalam panci. Setelah matang, mereka menuangkan susu asam di atasnya dan meminumnya. Mereka memiliki minuman keras yang dibuat dari biji dugi yang telah disebutkan. Mereka menganggap makan halwa sebagai aib! Suatu hari saya hadir di hadapan Sultan Uzbek pada bulan Ramadan. Dibawakan daging kuda, dan itu adalah daging yang paling banyak mereka makan, daging kambing, dan rasyita, yaitu sejenis itriyah (mie) yang dimasak dan diminum dengan susu. Malam itu saya membawakan kepadanya sepiring halwa yang dibuat oleh salah seorang sahabat saya. Saya sajikan di hadapannya. Dia meletakkan jarinya di atasnya dan memasukkannya ke mulutnya, tidak lebih dari itu.

Amir Tuluktemur memberitahu saya bahwa salah seorang pembesar dari mamluk sultan ini, yang memiliki sekitar empat puluh orang anak dan cucu, suatu hari sultan berkata kepadanya, “Makanlah halwa dan saya akan memerdekakan kalian semua,” namun dia menolak! Dia berkata, “Seandainya engkau membunuhku, aku tidak akan memakannya!!”

Ketika kami keluar dari kota Krimea, kami turun di zawiyah Amir Tuluktemur di tempat yang dikenal dengan Sajjan. Dia mengutus seseorang untuk memanggil saya menghadap. Saya menunggang kuda menuju ke sana. Saya memiliki kuda yang siap untuk ditunggangi, dipimpin oleh pelayan kereta. Jika saya ingin menungganginya, saya menungganginya. Saya tiba di zawiyah dan menemukan amir telah membuat banyak makanan di sana, termasuk roti. Kemudian mereka membawa air putih dalam mangkuk-mangkuk kecil, lalu orang-orang meminumnya. Syekh Muzaffaruddin duduk di sebelah amir di majelisnya, dan saya di sebelahnya. Saya bertanya kepadanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ini air minyak.” Saya tidak memahami apa yang dikatakannya. Saya mencicipinya dan mendapati rasanya asam, lalu saya meninggalkannya. Ketika saya keluar, saya bertanya tentangnya. Mereka berkata, “Ini minuman keras yang mereka buat dari biji dugi.” Mereka bermazhab Hanafi dan minuman keras bagi mereka halal. Mereka menyebut minuman keras yang terbuat dari dugi ini: buza, dengan dhammah pada ba bertitik satu, waw panjang, dan za terbuka. Syekh Muzaffaruddin sebenarnya berkata kepada saya “air dukhn (jewawut)”, tetapi lisannya cadel karena asing, maka saya menyangka dia berkata “air minyak.”

Setelah perjalanan delapan belas perhentian dari kota Krimea, kami tiba di air yang banyak yang kami seberangi selama satu hari penuh. Jika hewan dan kereta banyak menyeberangi air ini, lumpur akan mengental dan kesulitan bertambah. Maka amir mendatangi kendaraan saya dan mendahulukan saya di depannya bersama beberapa pelayannya. Dia menulis surat untuk saya kepada amir Azaq, memberitahunya bahwa saya ingin menghadap raja, dan mendesaknya untuk memuliakan saya. Kami bepergian hingga tiba di air lain yang kami seberangi setengah hari. Kami bepergian setelahnya selama tiga hari dan tiba di kota Azaq. Penulisan namanya: dengan fathah pada hamzah dan za, dan akhirannya qaf. Ini berada di tepi laut, indah bangunannya, didatangi oleh orang-orang Genoa dan lainnya untuk berdagang. Di kota ini ada saudara laki-laki Bajaqji, yang termasuk orang-orang besar dan memberi makan orang yang datang dan pergi.

Ketika surat Amir Tuluktemur sampai kepada amir Azaq, yaitu Muhammad Khawarja al-Khawarizmi…

Dia keluar untuk menyambut kedatanganku dan bersamanya ada hakim serta para pelajar, dan dia mengeluarkan makanan. Setelah kami memberi salam kepadanya, kami turun di suatu tempat dan makan di sana. Kami tiba di kota itu dan turun di luarnya, berdekatan dengan sebuah ribat di sana yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir dan Nabi Ilyas Alaihima Salam. Keluarlah seorang syekh dari penduduk Azaq yang bernama Barjab Annahr Maliki, yang dinisbatkan kepada sebuah desa di Irak. Dia menjamu kami di zawiyahnya dengan jamuan yang baik. Dua hari setelah kedatangan kami, datanglah Amir Tiliktimur. Amir Muhammad keluar untuk menemuinya bersama hakim dan para pelajar, dan mereka menyiapkan jamuan untuknya. Mereka mendirikan tiga tenda yang saling berhubungan: satu dari sutera warna-warni yang menakjubkan, dan dua lainnya dari kain linen. Mereka memasang pagar di sekelilingnya, yang kami sebut afraj. Di luarnya ada serambi, yang bentuknya seperti menara di negeri kami.

Ketika amir itu turun, dibentangkan di hadapannya permadani sutera untuk dia berjalan di atasnya. Karena kemuliaan dan keutamaannya, dia mendahulukan aku di depannya agar amir itu melihat kedudukanku di sisinya. Kemudian kami sampai ke tenda pertama yang disediakan untuk tempat duduknya. Di bagian depannya ada kursi kayu besar yang bertatahkan permata untuk tempat duduknya, dan di atasnya ada kasur yang bagus. Amir itu mendahulukan aku di depannya, dan mendahulukan Syekh Muzhaffar Addin. Dia naik dan duduk di antara kami, dan kami semua berada di atas kasur. Hakimnya, khathib, hakim kota ini, dan para pelajarnya duduk di sebelah kiri kursi di atas permadani mewah. Kedua putra Amir Tiliktimur, saudaranya, Amir Muhammad, dan anak-anaknya berdiri melayani. Kemudian mereka membawakan makanan dari daging kuda dan lainnya, dan membawa susu kuda, kemudian buza. Setelah selesai makan, para qari membaca dengan suara yang merdu. Kemudian mimbar didirikan dan naiklah sang penceramah ke atasnya. Para qari duduk di hadapannya dan dia berkhutbah dengan khutbah yang fasih, mendoakan Sultan, Amir, dan para hadirin. Dia mengucapkan itu dalam bahasa Arab kemudian menerjemahkannya untuk mereka dalam bahasa Turki. Di sela-sela itu, para qari mengulang ayat-ayat Al-Quran dengan lantunan yang menakjubkan. Kemudian mereka mulai bernyanyi dengan bahasa Arab, yang mereka sebut qawwal. Kemudian dalam bahasa Persia dan Turki yang mereka sebut malmma’. Kemudian mereka membawa makanan lain, dan mereka terus begitu hingga sore. Setiap kali aku ingin keluar, Amir itu mencegahku. Kemudian mereka membawa pakaian untuk Amir dan pakaian untuk kedua putranya dan saudaranya, untuk Syekh Muzhaffar Addin dan untukku. Mereka membawa sepuluh ekor kuda untuk Amir, enam ekor kuda untuk saudaranya dan kedua putranya, seekor kuda untuk setiap pembesar dari para pengikutnya, dan seekor kuda untukku. Kuda di negeri-negeri ini sangat banyak, dan harganya murah. Harga kuda yang bagus adalah lima puluh dirham atau enam puluh dari dirham mereka, yaitu setara dengan satu dinar dari dinar kami atau sekitarnya. Kuda-kuda ini adalah yang dikenal di Mesir dengan sebutan akadisy. Dari situlah penghidupan mereka, dan kuda-kuda itu di negeri mereka seperti kambing di negeri kami, bahkan lebih banyak. Seorang Turki di antara mereka bisa memiliki ribuan kuda.

Kebiasaan orang-orang Turki yang menetap di negeri-negeri itu, yaitu pemilik kuda, adalah mereka menempatkan di kereta yang ditumpangi wanita-wanita mereka sepotong kain felt sepanjang sejengkal yang diikat pada sebatang kayu tipis sepanjang hasta di sudut kereta, dan mereka membuat satu potong untuk setiap seribu ekor kuda. Aku melihat di antara mereka ada yang memiliki sepuluh potong, dan ada yang kurang dari itu. Kuda-kuda ini dibawa ke negeri-negeri India, dan dalam satu rombongan bisa ada enam ribu ekor atau lebih atau kurang. Setiap pedagang memiliki seratus atau dua ratus ekor, bisa kurang atau lebih dari itu. Pedagang menyewa untuk setiap lima puluh ekor kuda seorang penggembala yang mengurus dan menggembalakan kuda-kuda itu seperti kambing. Mereka menyebutnya qusyi. Dia mengendarai salah satu kuda dan di tangannya ada tongkat panjang dengan tali. Jika dia ingin menangkap seekor kuda, dia sejajarkan dengan kuda yang dia tunggangi, melemparkan tali ke lehernya dan menariknya, lalu menungganginya dan melepaskan yang lain untuk merumput. Ketika mereka sampai ke tanah Sind, mereka memberi makan kuda-kuda itu dengan pakan ternak, karena tumbuhan tanah Sind tidak bisa menggantikan gandum. Banyak kuda yang mati dan dicuri. Mereka dikenai biaya di tanah Sind tujuh dinar perak per kuda di tempat yang disebut Sisyinqar. Mereka juga dikenai biaya di Multan, ibu kota negeri Sind. Pada masa lalu mereka dikenai seperempat dari apa yang mereka bawa. Raja India mengadukan hal itu kepada Sultan Muhammad, dan dia memerintahkan agar diambil zakat dari pedagang Muslim dan sepersepuluh dari pedagang kafir. Meskipun demikian, para pedagang masih mendapat keuntungan besar karena mereka menjual kuda yang murah di negeri-negeri India seharga seratus dinar dirham, dan kursnya dari emas Maghribi adalah dua puluh lima dinar. Kadang-kadang mereka menjualnya dengan harga dua kali lipat atau bahkan empat kali lipat.

Kuda-kuda yang bagus berharga lima ratus dinar atau lebih. Penduduk India tidak membeli kuda-kuda itu untuk berlari dan balapan, karena mereka mengenakan baju zirah dalam perang dan melengkapi kuda dengan zirah. Mereka hanya mengutamakan kekuatan kuda dan lebarnya langkah. Kuda yang mereka cari untuk balapan dibawa kepada mereka dari Yaman, Oman, dan Persia, dan seekor kuda dijual dengan harga seribu hingga empat ribu dinar.

Ketika Amir Tiliktimur berangkat dari kota ini, aku tinggal tiga hari setelah kepergiannya hingga Amir Muhammad Khawaja mempersiapkan perlengkapan perjalananku. Aku berangkat ke kota Al-Majar. Ini adalah kota besar, salah satu kota Turki yang terindah, terletak di tepi sungai besar, dan di sana ada kebun-kebun dan buah-buahan yang banyak. Kami turun di zawiyah Syekh yang saleh, ahli ibadah, berumur panjang, Muhammad Al-Batha’ihi dari Batha’ih Irak. Dia adalah khalifah Syekh Ahmad Ar-Rifa’i Radhiyallahu Anhu. Di zawiyahnya ada sekitar tujuh puluh fakir dari Arab, Persia, Turki, dan Rum, di antara mereka ada yang sudah menikah dan ada yang bujangan. Kehidupan mereka dari sedekah. Penduduk negeri-negeri itu memiliki keyakinan yang baik terhadap para fakir. Setiap malam mereka datang ke zawiyah dengan kuda, sapi, dan kambing. Sultan dan para khatun datang untuk mengunjungi sang syekh dan mencari berkah darinya. Mereka sangat dermawan dan memberi banyak pemberian, terutama para wanita, karena mereka banyak bersedekah dan mencari perbuatan baik.

Kami salat Jumat di kota Al-Majar. Setelah salat selesai, penceramah Izz Addin naik ke mimbar. Dia adalah salah seorang ulama Bukhara dan orang-orang terpandangnya, dan dia memiliki sekelompok pelajar. Para qari membaca di hadapannya. Dia berceramah, memberi nasihat, dan amir kota serta para pembesarnya hadir. Syekh Muhammad Al-Batha’ihi berdiri dan berkata: “Sesungguhnya faqih penceramah ini ingin bepergian, dan kami ingin memberinya bekal.” Kemudian dia melepas jubah bulu kambing yang dikenakannya dan berkata: “Ini dariku untuknya.” Maka para hadirin ada yang melepas pakaiannya, ada yang memberi kuda, ada yang memberi dirham, dan terkumpul banyak dari semua itu.

Aku melihat di pasar kota ini seorang Yahudi yang memberi salam kepadaku dan berbicara denganku dalam bahasa Arab. Aku bertanya kepadanya tentang negerinya. Dia menyebutkan bahwa dia dari negeri Andalus dan dia datang dari sana melalui darat, tidak melalui laut. Dia melalui jalur Konstantinopel Yang Agung, negeri-negeri Rus, dan negeri-negeri Jarkasy. Dia menyebutkan bahwa dia meninggalkan Andalus empat bulan yang lalu. Para pedagang yang bepergian dan mengetahui hal itu memberitahuku tentang kebenaran perkataannya.

Aku melihat di negeri-negeri ini hal yang mengherankan tentang penghormatan terhadap wanita di sana, dan mereka lebih tinggi kedudukannya daripada laki-laki. Adapun istri-istri para amir, pertama kali aku melihat mereka adalah ketika aku keluar dari Krim. Aku melihat Khatun istri Amir Sultiyah di dalam keretanya. Kereta itu seluruhnya tertutup dengan kain biru yang bagus, jendela-jendela rumah terbuka begitu juga pintu-pintunya. Di hadapannya ada empat gadis yang sangat cantik dengan pakaian yang indah, dan di belakangnya ada beberapa kereta berisi gadis-gadis yang mengikutinya. Ketika dia mendekat ke rumah Amir, dia turun dari kereta ke tanah, dan turun bersamanya sekitar tiga puluh gadis yang mengangkat ujung-ujung pakaiannya. Pakaiannya memiliki tali-tali, setiap gadis memegang satu tali dan mengangkat ujung pakaian dari tanah dari setiap sisi. Dia berjalan dengan angkuh seperti itu. Ketika dia sampai kepada Amir, dia berdiri untuk menemuinya, memberi salam, dan mendudukkannya di sampingnya. Gadis-gadisnya berputar mengelilinginya. Mereka membawa bejana-bejana qumiz, menuangkannya ke dalam mangkuk, dan dia berlutut di hadapan Amir dan menyerahkan mangkuk itu kepadanya. Dia minum, kemudian dia memberi minum saudaranya, dan Amir memberinya minum. Makanan dihadirkan, dan dia makan bersamanya. Amir memberinya pakaian dan dia pergi. Dengan cara seperti inilah istri-istri para amir. Kami akan menyebutkan istri-istri raja nanti.

Adapun istri-istri pedagang dan orang awam, aku melihat mereka. Salah seorang dari mereka berada di dalam kereta yang ditarik oleh kuda-kuda, dan di hadapannya ada tiga atau empat gadis yang mengangkat ujung-ujung pakaiannya. Di kepalanya ada bughtaq, yaitu aqruf yang bertatahkan permata, dan di bagian atasnya ada bulu burung merak. Jendela-jendela rumah terbuka, dan dia tampak mukanya, karena wanita-wanita Turki tidak bercadar. Salah seorang dari mereka datang dengan cara seperti ini bersama budak-budaknya dengan kambing dan susu, menjualnya kepada orang-orang dengan barang-barang harum. Kadang-kadang bersama wanita itu ada suaminya, dan orang yang melihatnya mengira dia salah seorang pelayannya. Dia tidak mengenakan pakaian kecuali bulu dari kulit kambing dan di kepalanya ada topi yang sesuai dengan itu yang mereka sebut kala.

Kami bersiap dari kota Al-Majar menuju perkemahan Sultan yang berjarak empat hari dari Al-Majar di tempat yang disebut Basy Dagh. Makna basy menurut mereka adalah lima, dan dagh artinya gunung. Di lima gunung ini ada mata air panas. Orang-orang Turki mandi di sana dan mereka mengklaim bahwa siapa yang mandi di sana tidak akan tertimpa penyakit! Kami berangkat ke tempat perkemahan dan tiba di sana pada hari pertama Ramadan. Kami mendapati perkemahan sudah berangkat, maka kami kembali ke tempat yang kami tinggalkan karena perkemahan akan turun di dekat sana. Aku mendirikan tendaku di atas bukit di sana dan memasang bendera di depan tenda, dan meletakkan kuda-kuda serta kereta-kereta di belakangnya. Perkemahan datang, mereka menyebutnya urdu. Kami melihat kota besar yang berjalan dengan penduduknya, di dalamnya ada masjid-masjid dan pasar-pasar, asap dapur mengepul ke udara. Mereka memasak sambil berjalan. Kereta-kereta ditarik oleh kuda-kuda bersama mereka. Jika mereka sampai di tempat pemberhentian, mereka menurunkan tenda-tenda dari kereta dan meletakkannya di tanah. Tenda-tenda itu ringan muatannya. Demikian pula mereka lakukan dengan masjid-masjid dan toko-toko.

Para khatun Sultan lewat di dekat kami, masing-masing dengan orang-orangnya tersendiri. Ketika khatun keempat lewat, yaitu putri Amir Isa Beg, yang akan kami sebutkan, dia melihat tenda di atas bukit dan bendera di depannya, yang merupakan tanda pendatang. Dia mengutus para pemuda dan gadis untuk memberi salam kepadaku dan menyampaikan salamnya kepadaku. Dia berhenti menunggu mereka. Aku mengirimkan hadiah kepadanya bersama salah seorang temanku dan bersama pengenal Amir Tiliktimur. Dia menerimanya untuk berkah dan memerintahkan agar aku turun di dekatnya, lalu dia pergi. Sultan datang dan turun di perkemahannya tersendiri.

Tentang Sultan Yang Agung Muhammad Uzbeg Khan

Namanya Muhammad Uzbeg, dan makna khan menurut mereka adalah sultan. Sultan ini memiliki kerajaan yang besar, kekuatan yang dahsyat, urusan yang besar, kedudukan yang tinggi, dapat mengalahkan musuh-musuh Allah, yaitu penduduk Konstantinopel Yang Agung. Dia bersungguh-sungguh dalam memerangi mereka. Negerinya luas dan kota-kotanya besar, di antaranya adalah Al-Kaffa, Krim, Al-Majar, Azaq, Sardaq, Khawarizm, dan ibu kotanya As-Sara.

Dia adalah salah satu dari tujuh raja yang merupakan raja-raja besar dan agung di dunia, yaitu: Amirul Mukminin kami, bayangan Allah di bumi-Nya, imam kelompok yang mendapat pertolongan yang tidak henti-hentinya tegak di atas kebenaran hingga hari kiamat, semoga Allah menguatkan urusannya dan memuliakan pertolongan-Nya; Sultan Mesir dan Syam; Sultan kedua Irak; Sultan Uzbeg ini; Sultan negeri-negeri Turkistan dan Ma Wara An-Nahr; Sultan India; dan Sultan Tiongkok.

Sultan ini, ketika bepergian, berada dalam perkemahan tersendiri bersama budak-budaknya dan pembesar-pembesar negerinya. Setiap khatun dari para khatunnya berada tersendiri di perkemahannya. Jika dia ingin berada di salah satu dari mereka, dia mengutus utusan kepadanya untuk memberitahukan hal itu. Dia bersiap untuknya. Dia memiliki dalam hal duduk, bepergian, dan urusan-urusannya pengaturan yang menakjubkan dan indah.

Kebiasaannya adalah duduk pada hari Jumat setelah salat di sebuah kubah yang disebut Kubah Emas: dihias dengan indah dan terbuat dari batang kayu yang dilapisi lembaran emas. Di tengahnya terdapat dipan dari kayu yang dilapisi lembaran perak berlapis emas, tiang-tiangnya dari perak murni dan ujung-ujungnya bertahtakan permata. Sultan duduk di atas dipan, di sebelah kanannya Khatun Thaithghuli, diikuti Khatun Kabak, dan di sebelah kirinya Khatun Bilun, diikuti Khatun Arduja. Di bawah dipan sebelah kanan berdiri putra Sultan, Tin Bik, dan di sebelah kiri putranya yang kedua, Jan Bik. Putrinya, It Kajkaj, duduk di hadapannya. Ketika salah seorang dari mereka datang, Sultan berdiri dan memegang tangannya hingga naik ke dipan. Adapun Thaithghuli, dialah sang ratu dan yang paling disukai olehnya, maka Sultan menyambutnya hingga pintu kubah, memberi salam, dan memegang tangannya. Setelah ia naik ke dipan dan duduk, barulah Sultan duduk. Semua ini dilakukan di hadapan orang banyak tanpa hijab!

Setelah itu datanglah para amir besar, kursi mereka dipasang di kanan dan kiri. Setiap orang yang datang ke majelis Sultan membawa serta budak yang membawa kursinya. Di hadapan Sultan berdiri para putra raja dari anak pamannya, saudara-saudaranya, dan kerabatnya. Di hadapan mereka, di pintu kubah, berdiri para putra amir-amir besar. Di belakang mereka berdiri para pemimpin tentara di kanan dan kiri. Kemudian orang-orang masuk untuk memberi salam, menurut urutan kemuliaan: tiga-tiga orang. Mereka memberi salam lalu pergi dan duduk agak jauh. Ketika telah tiba waktu setelah salat Asar, sang ratu dari para khatun pulang, kemudian yang lain menyusul, mereka duduk agak jauh. Ketika telah waktu setelah salat Asar, sang ratu dari para khatun pulang, lalu seluruh khatun menyusul mengikutinya ke kediamannya. Setelah ia masuk, masing-masing kembali ke kediamannya dengan menaiki kereta mereka. Setiap khatun diiringi sekitar lima puluh budak perempuan yang menunggang kuda! Di depan kereta terdapat sekitar dua puluh perempuan tua yang menunggang kuda di antara para pemuda dan kereta. Di belakang semuanya ada sekitar seratus budak laki-laki anak-anak. Di depan para pemuda terdapat sekitar seratus budak besar yang menunggang kuda, dan sejumlah yang sama berjalan kaki dengan membawa tongkat dan pedang terhunus di pinggang mereka, berjalan di antara penunggang kuda dan para pemuda. Begitulah susunan setiap khatun ketika pulang dan datang.

Saya menginap di perkemahan di dekat putra Sultan, Jan Bik, yang akan disebutkan nanti. Esok hari setelah kedatangan saya, saya masuk menghadap Sultan setelah salat Asar. Ia telah mengumpulkan para syekh, hakim, fuqaha, para syarif, dan kaum fakir. Ia menyiapkan makanan yang banyak dan kami berbuka di hadapannya. Sayyid asy-Syarif Naqib asy-Syurafa Ibnu Abdul Hamid dan Hakim Hamzah berbicara tentang saya dengan baik dan menyarankan Sultan untuk memuliakan saya.

Bangsa Turki ini tidak mengenal penginapan untuk tamu atau pemberian nafkah, mereka hanya mengirimkan domba dan kuda untuk disembelih serta kantong susu kuda fermentasi (qumiz). Itulah kehormatan mereka. Beberapa hari setelah itu, saya salat Asar bersama Sultan. Ketika saya hendak pulang, ia memerintahkan saya untuk tetap duduk. Mereka membawa makanan berupa minuman seperti yogurt, lalu daging rebus dari domba dan kuda. Pada malam itu saya datang kepada Sultan dengan membawa sepiring halwa. Ia meletakkan jarinya di atasnya lalu memasukkannya ke mulut, tidak lebih dari itu!

Tentang Para Khatun dan Pengasuhan Mereka

Setiap khatun menaiki kereta. Kamar tempatnya berada memiliki kubah dari perak berlapis emas atau dari kayu bertatahkan permata. Kuda-kuda yang menarik keretanya diselimuti kain sutera berlapis emas. Pelayan kereta yang menunggangi salah satu kuda adalah seorang pemuda yang disebut al-Qusyi. Sang khatun duduk di dalam keretanya, di sebelah kanannya seorang perempuan tua yang disebut Ulu Khatun, dengan dhammah pada hamzah dan lam, artinya menteri perempuan. Di sebelah kirinya ada perempuan tua lain yang juga disebut Kajak Khatun, dengan dhammah pada kaf dan jim, artinya pengawal perempuan. Di hadapannya ada enam budak perempuan muda yang disebut “anak-anak perempuan”, sangat cantik dan sempurna. Di belakangnya ada dua orang seperti mereka yang ia sandarkan kepadanya. Di kepala sang khatun terdapat Bagthaq, yaitu seperti mahkota kecil yang dimahkotai dengan permata dan di atasnya bulu burung merak. Ia mengenakan pakaian sutera bertatahkan permata seperti jubah yang dikenakan orang Romawi. Di kepala menteri dan pengawal terdapat kerudung sutera dengan pinggiran bersulam emas dan permata. Di kepala setiap “anak perempuan” terdapat Kala, yaitu seperti sorban tinggi, di atasnya ada lingkaran emas bertatahkan permata dan bulu burung merak di atasnya. Setiap mereka mengenakan pakaian sutera berlapis emas yang disebut an-Nakh. Di hadapan sang khatun terdapat sepuluh atau lima belas pemuda Romawi dan India yang mengenakan pakaian sutera berlapis emas bertatahkan permata. Di tangan masing-masing ada tongkat emas atau perak, atau dari kayu yang dilapisi keduanya. Di belakang kereta sang khatun terdapat sekitar seratus kereta, di setiap kereta ada tiga atau empat budak perempuan besar dan kecil. Pakaian mereka dari sutera dan di kepala mereka ada Kala. Di belakang kereta-kereta ini terdapat sekitar tiga ratus kereta yang ditarik unta dan sapi, membawa peti harta sang khatun, harta bendanya, pakaiannya, perabotannya, dan makanannya. Dengan setiap kereta ada seorang budak yang bertanggung jawab atasnya, telah menikah dengan salah satu budak perempuan yang kami sebutkan. Sebab kebiasaan mereka bahwa tidak ada budak laki-laki yang masuk di antara para budak perempuan kecuali yang memiliki istri di antara mereka! Setiap khatun dengan susunan seperti ini. Mari kita sebutkan mereka satu per satu.

Tentang Khatun Agung

Khatun Agung adalah sang ratu, ibu dari kedua putra Sultan, Jan Bik dan Tin Bik, yang akan kami sebutkan. Ia bukan ibu dari putrinya, It Kajkaj. Ibunya dahulu adalah ratu sebelum yang ini. Nama khatun ini adalah Thaithghuli, dengan fathah pada tha’ pertama yang tidak bertitik, sukun pada ya’ akhir huruf, dhammah pada tha’ kedua, sukun pada ghain yang bertitik, kasrah pada lam, dan ya’ panjang. Ia adalah perempuan yang paling disukai Sultan. Ia bermalam bersamanya pada sebagian besar malam. Orang-orang memuliakan dia karena kemuliaannya terhadapnya. Padahal ia adalah yang paling pelit di antara para khatun! Orang yang saya percayai yang mengetahui berita tentang ratu ini menceritakan kepada saya bahwa Sultan mencintainya karena keistimewaan yang ada padanya, yaitu bahwa ia mendapatinya setiap malam seperti perawan! Orang lain menyebutkan kepada saya bahwa ia adalah keturunan perempuan yang disebutkan bahwa kerajaan hilang dari Sulaiman alaihi salam karena sebabnya. Ketika kerajaannya kembali kepadanya, ia memerintahkan agar perempuan itu ditempatkan di gurun Qifjaq, dan bahwa rahim khatun ini berbentuk seperti cincin secara alami, demikian pula setiap yang berasal dari keturunan perempuan yang disebutkan itu. Saya tidak melihat di gurun Qifjaq atau tempat lainnya orang yang memberitahukan bahwa ia melihat perempuan dengan bentuk ini atau mendengar tentangnya kecuali khatun ini! Ya Allah, kecuali beberapa penduduk Tiongkok memberitahukan saya bahwa di Tiongkok ada sejenis perempuan mereka yang berbentuk seperti ini, tetapi saya tidak mendapatkan hal itu dan tidak mengetahui kebenarannya!!

Esok hari setelah pertemuan saya dengan Sultan, saya masuk menemui khatun ini. Ia duduk di antara sepuluh perempuan tua seperti pelayan baginya, dan di hadapannya sekitar lima puluh budak perempuan muda yang disebut anak-anak perempuan. Di hadapan mereka ada nampan emas dan perak berisi biji-bijian raja-raja dan mereka sedang membersihkannya. Di hadapan sang khatun ada baki emas berisi biji-bijian itu dan ia membersihkannya. Kami memberi salam kepadanya. Di antara teman-teman saya ada seorang pembaca yang membaca Al-Quran dengan cara orang Mesir dengan cara yang bagus dan suara yang merdu. Ia membaca, lalu ia memerintahkan agar qumiz dibawakan. Qumiz dibawa dalam mangkuk kayu yang halus dan ringan. Ia mengambil mangkuk dengan tangannya dan memberikannya kepada saya. Itu adalah puncak kehormatan menurut mereka. Saya belum pernah minum qumiz sebelumnya, tetapi saya tidak bisa menolak! Saya mencicipinya dan tidak ada kebaikan padanya, lalu memberikannya kepada salah satu teman saya. Ia bertanya kepada saya tentang banyak hal mengenai perjalanan kami, kami menjawabnya, lalu kami pergi darinya. Permulaan kami dengannya adalah karena kemuliaannya di sisi Sultan!

Tentang Khatun Kedua yang Mengikuti Sang Ratu

Namanya adalah Kabak Khatun, dengan fathah pada kaf pertama dan fathah pada ba’ yang bertitik satu. Artinya dalam bahasa Turki adalah dedak. Ia adalah putri Amir Naghtha. Namanya dengan nun, ghain yang bertitik, tha’ yang tidak bertitik, semuanya dibaca fathah, dan ya’ yang sukun. Ayahnya masih hidup tetapi tertimpa penyakit asam urat. Saya telah melihatnya. Esok hari setelah kami masuk menemui sang ratu, kami masuk menemui khatun ini. Kami mendapatinya di atas dipan membaca Al-Quran Karim. Di hadapannya sekitar sepuluh perempuan tua dan sekitar dua puluh anak perempuan sedang menyulam pakaian. Kami memberi salam kepadanya. Ia baik dalam salam dan percakapan. Pembaca kami membaca dan ia menganggapnya bagus. Ia memerintahkan qumiz dibawakan. Qumiz dibawa dan ia memberikan mangkuk kepada saya dengan tangannya seperti yang dilakukan sang ratu, lalu kami pergi darinya.

Tentang Khatun Ketiga

Namanya adalah Bilun, dengan ba’ yang bertitik satu dan ya’ akhir huruf, keduanya dibaca fathah, lam yang dibaca dhammah, waw, mad, dan nun. Ia adalah putri raja Konstantinopel Agung, Sultan Takfur. Kami masuk menemui khatun ini dan ia duduk di atas dipan bertatahkan permata dengan tiang-tiang perak. Di hadapannya sekitar seratus budak perempuan: Romawi, Turki, dan Nubia, di antara mereka ada yang berdiri dan duduk. Para pemuda di kepalanya, dan para pengawal di hadapannya dari laki-laki Romawi. Ia bertanya tentang keadaan kami, kedatangan kami, dan jauhnya negeri kami. Ia menangis dan menyeka wajahnya dengan saputangan yang ada di hadapannya karena kelembutan dan kasih sayangnya. Ia memerintahkan makanan dibawakan. Makanan dibawa dan kami makan di hadapannya sementara ia memperhatikan kami. Ketika kami hendak pergi, ia berkata: “Jangan putus dari kami, kunjungilah kami, dan sampaikan kepada kami kebutuhan kalian.” Ia menunjukkan kemuliaan akhlak. Ia mengirimkan setelah kami makanan dan roti yang banyak, mentega, domba, dirham, pakaian yang bagus, tiga ekor kuda pilihan dan sepuluh ekor kuda lainnya. Bersama khatun inilah perjalanan saya ke Konstantinopel Agung, sebagaimana akan kami sebutkan nanti.

Tentang Khatun Keempat

Namanya adalah Arduja, dengan dhammah pada hamzah, sukun pada ra’, dhammah pada dal yang tidak bertitik, jim, dan alif. Ard dalam bahasa mereka artinya perkemahan. Ia dinamai demikian karena kelahirannya di perkemahan. Ia adalah putri Amir Besar Isa Bik, amir al-Ulus, dengan dhammah pada hamzah dan lam, artinya amir para amir. Saya mendapatinya masih hidup dan ia telah menikah dengan putri Sultan, It Kajkaj. Khatun ini termasuk yang paling mulia di antara para khatun, paling lembut akhlaknya, dan paling pengasih. Dialah yang mengirim kepada saya ketika ia melihat rumah saya di atas bukit saat perkemahan berpindah, sebagaimana telah kami sebutkan. Kami masuk menemuinya dan melihat kebaikan akhlaknya dan kemuliaan jiwanya yang tiada tara. Ia memerintahkan makanan dibawakan, kami makan di hadapannya. Ia memanggil untuk membawa qumiz, teman-teman kami meminumnya. Ia bertanya tentang keadaan kami, kami menjawabnya. Kami juga masuk menemui saudara perempuannya, istri Amir Ali bin Arzaq.

Tentang Putri Sultan Agung Uzbak

Namanya adalah It Kujjuk. “It” dilafalkan dengan kasrah pada hamzah, ya panjang, dan ta (huruf ta bertitik dua). “Kujjuk” dilafalkan dengan dhammah pada kaf dan dua jim. Arti namanya adalah “anjing kecil”, karena “it” berarti anjing, dan “kujjuk” berarti kecil. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa orang-orang Turki menamai dengan pertanda baik, sebagaimana yang dilakukan orang Arab.

Kami menuju ke arah Khatun putri raja ini yang berada di perkemahan terpisah sekitar enam mil dari perkemahan ayahnya. Ia memerintahkan untuk menghadirkan para fuqaha, hakim, Sayyid Syarif Ibnu Abdul Hamid, kelompok para pelajar, para syaikh, dan para fakir. Hadir pula suaminya, Amir Isa, yang putrinya adalah istri Sultan. Ia duduk bersamanya di atas satu permadani. Ia menderita penyakit asam urat sehingga tidak dapat berjalan dengan kakinya sendiri dan tidak dapat menunggang kuda, melainkan hanya menunggang kereta. Jika ia hendak menghadap Sultan, para pelayannya menurunkannya dan membawanya masuk ke majelis dalam keadaan terpikul. Dengan cara seperti ini pula aku melihat Amir Nughti, yaitu ayah dari Khatun yang kedua. Penyakit ini mewabah di kalangan orang-orang Turki ini. Kami melihat dari Khatun putri Sultan ini kemuliaan dan akhlak yang baik yang tidak kami lihat dari yang lain. Ia sangat dermawan dan berbuat baik. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Tentang Kedua Putra Sultan

Keduanya adalah saudara kandung, dan ibu mereka berdua adalah Taitughli yang telah kami sebutkan sebelumnya. Yang tertua di antara keduanya bernama Tin Bak. “Tin” dilafalkan dengan ta atas, ya panjang, dan nun terbuka. “Bak” berarti Amir (panglima), dan “tin” berarti jasad. Seakan-akan namanya adalah “Amir Jasad”. Nama saudaranya adalah Jan Bak, dengan jim terbuka dan nun kasrah. Arti “jan” adalah ruh, seakan-akan ia dinamai “Amir Ruh”. Setiap satu dari mereka memiliki perkemahan tersendiri.

Tin Bak adalah salah satu makhluk Allah yang paling tampan rupanya. Ayahnya telah menyerahkan kerajaan kepadanya, dan ia mendapat kehormatan serta penghargaan dari ayahnya. Namun Allah tidak menghendaki hal itu, karena ketika ayahnya meninggal, ia memerintah sebentar lalu dibunuh karena perbuatan-perbuatan buruk yang ia lakukan. Kemudian saudaranya Jan Bak yang memerintah, dan ia lebih baik dan lebih utama darinya.

Sayyid Syarif Ibnu Abdul Hamid adalah orang yang mengurus pendidikan Jan Bak. Ia, Hakim Hamzah, Imam Badruddin Al-Qaumi, Imam Al-Muqri Husamuddin Al-Bukhari, dan yang lain menyarankan kepadaku ketika aku tiba agar aku tinggal di perkemahan Jan Bak yang disebutkan tadi karena keutamaannya. Maka aku melakukan hal itu.

Tentang Perjalananku ke Kota Bulghar

Aku pernah mendengar tentang kota Bulghar dan aku ingin pergi ke sana untuk melihat apa yang disebutkan tentangnya mengenai sangat pendeknya malam di sana, dan sangat pendeknya siang pada musim sebaliknya. Jarak antara kota itu dengan perkemahan Sultan adalah sepuluh hari perjalanan. Aku meminta darinya orang yang dapat mengantarku ke sana, maka ia mengirimkan bersamaku orang yang mengantarku ke sana dan mengembalikanku kepadanya. Aku tiba di sana pada bulan Ramadhan. Ketika kami shalat Maghrib, kami berbuka, dan azan Isya dikumandangkan di tengah-tengah berbuka kami. Kami shalat, kemudian shalat Tarawih, Syaf’, dan Witir, lalu fajar terbit setelah itu. Demikian pula siang di sana sangat pendek pada musim ketika siang memang pendek. Aku tinggal di sana selama tiga hari.

Tentang Negeri Kegelapan

Aku ingin masuk ke Negeri Kegelapan. Masuk ke sana dilakukan dari Bulghar, dan jarak antara keduanya adalah empat puluh hari perjalanan. Namun aku membatalkan hal itu karena besarnya biaya yang diperlukan dan sedikitnya manfaatnya. Perjalanan ke sana hanya dapat dilakukan dengan kereta-kereta kecil yang ditarik oleh anjing-anjing besar, karena di padang pasir itu terdapat es, sehingga kaki manusia dan telapak kaki hewan tidak dapat berpijak di atasnya. Anjing-anjing memiliki cakar sehingga kaki-kaki mereka dapat berpijak di atas es. Tidak ada yang masuk ke sana kecuali pedagang-pedagang kuat yang salah satu dari mereka memiliki seratus kereta atau sekitarnya yang diisi penuh dengan makanan, minuman, dan kayu bakarnya, karena di sana tidak ada pohon, tidak ada batu, dan tidak ada tanah. Pemandu di negeri itu adalah anjing yang telah berjalan di sana berkali-kali, dan harganya mencapai seribu dinar atau sekitarnya. Kereta diikatkan pada lehernya dan digandeng bersamanya tiga ekor anjing lain. Ia menjadi yang terdepan dan anjing-anjing lainnya dengan kereta-kereta mereka mengikutinya. Jika ia berhenti, mereka berhenti. Anjing ini tidak boleh dipukul oleh pemiliknya dan tidak boleh dibentak. Jika makanan disajikan, anjing-anjing diberi makan terlebih dahulu sebelum manusia, kalau tidak, anjing itu akan marah dan melarikan diri serta meninggalkan pemiliknya untuk binasa!

Ketika perjalanan para musafir di padang tandus ini telah mencapai empat puluh marhalah (tahap perjalanan), mereka berhenti di dekat kegelapan, dan setiap orang dari mereka meninggkan barang dagangannya yang ia bawa di sana, lalu kembali ke tempat tinggal mereka yang biasa. Ketika keesokan harinya, mereka kembali untuk memeriksa barang dagangan mereka, maka mereka menemukan di hadapannya bulu samur, tupai, dan qaqum. Jika pemilik barang dagangan merasa puas dengan apa yang ia temukan di hadapan barang dagangannya, ia mengambilnya. Jika ia tidak puas, ia meninggalkannya, lalu mereka menambahnya. Kadang-kadang mereka (penduduk Negeri Kegelapan) mengambil barang dagangan mereka dan meninggalkan barang dagangan para pedagang. Demikianlah jual beli mereka. Para pedagang yang pergi ke sana tidak mengetahui siapa yang berjual beli dengan mereka, apakah dari kalangan jin atau manusia, dan mereka tidak melihat seorang pun!

Qaqum adalah jenis bulu yang paling bagus. Sehelai pakaian darinya di negeri-negeri India senilai seribu dinar, yang bila ditukarkan dengan emas kami adalah dua ratus lima puluh. Bulunya sangat putih, berasal dari kulit binatang kecil sepanjang sejengkal, dan ekornya panjang. Mereka membiarkan ekor itu di pakaian bulunya apa adanya. Samur lebih rendah dari itu; sehelai pakaian darinya senilai empat ratus dinar atau kurang.

Keistimewaan kulit-kulit ini adalah kutu tidak dapat masuk ke dalamnya. Para penguasa Tiongkok dan orang-orang besar mereka membuat satu helai kulit utuh tersambung pada pakaian bulu mereka di dekat leher. Demikian pula para pedagang Persia dan Iraq.

Aku kembali dari kota Bulghar bersama Amir yang dikirim Sultan untuk menemaniku. Aku menemukan perkemahan Sultan di tempat bernama Bish Dagh, yaitu pada tanggal dua puluh delapan Ramadhan. Aku hadir bersamanya dalam shalat Idulfitri, dan Idul tersebut bertepatan dengan hari Jumat.

Tentang Tata Cara Mereka pada Hari Raya

Ketika pagi hari raya tiba, Sultan menunggang kuda bersama pasukan-pasukannya yang besar. Setiap Khatun menunggang keretanya dengan pasukan-pasukannya. Putri Sultan menunggang kuda dengan mahkota di kepalanya, karena ia adalah ratu yang sesungguhnya, mewarisi kerajaan dari ibunya. Putra-putra Sultan menunggang kuda, setiap orang dengan pasukannya.

Hakim Agung Syihabuddin As-Saili telah datang untuk menghadiri Idul, bersamanya sejumlah fuqaha dan para syaikh. Mereka menunggang kuda, demikian pula Hakim Hamzah, Imam Badruddin Al-Qawami, dan Syarif Ibnu Abdul Hamid. Pawai para fuqaha ini bersama Tin Bak, putra mahkota Sultan, dan bersama mereka ada genderang-genderang dan panji-panji. Hakim Syihabuddin memimpin shalat mereka dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat bagus. Sultan menunggang kuda dan tiba di menara kayu yang disebut “kiosek” oleh mereka. Ia duduk di dalamnya bersama para Khatunnya. Sebuah menara kedua yang lebih rendah didirikan, dan di sana duduk putra mahkotanya dan putrinya yang pemilik mahkota. Dua menara lain yang lebih rendah didirikan di sebelah kanan dan kirinya, di dalamnya ada putra-putra Sultan dan kerabat-kerabatnya. Kursi-kursi didirikan untuk para Amir dan putra-putra raja, yang disebut “sandaliyat”, di sebelah kanan dan kiri menara. Setiap orang duduk di kursinya.

Kemudian dipasang sasaran-sasaran panah untuk setiap Amir Tuman. Amir Tuman pada mereka adalah orang yang memimpin sepuluh ribu pasukan. Para Amir Tuman yang hadir berjumlah tujuh belas orang, memimpin seratus tujuh puluh ribu pasukan, dan pasukannya lebih banyak dari itu. Untuk setiap Amir dipasang semacam mimbar, lalu ia duduk di atasnya sementara anak buahnya bermain-main di hadapannya. Mereka melakukan hal itu selama beberapa saat.

Kemudian pakaian kehormatan dibawa, lalu pakaian kehormatan dikenakan kepada setiap Amir. Ketika ia memakainya, ia datang ke bawah menara Sultan dan bersujud. Sujudnya adalah dengan menyentuhkan tanah dengan lutut kanannya, meluruskan kakinya di atasnya, sementara kaki yang lain tegak. Kemudian dibawa kuda yang telah dipasang pelana dan kekangnya, lalu kakinya diangkat dan Amir menciumnya. Ia memimpinnya sendiri ke kursinya. Di sana ia menungganginya dan berdiri bersama pasukannya. Setiap Amir dari mereka melakukan perbuatan ini.

Kemudian Sultan turun dari menara dan menunggang kuda. Di sebelah kanannya adalah putranya yang putra mahkota, diikuti putrinya, Ratu It Kujjuk. Di sebelah kirinya adalah putranya yang kedua. Di hadapannya, keempat Khatun berada dalam kereta-kereta yang dilapisi kain sutra berlapis emas. Kuda-kuda yang menariknya ditutup dengan sutra berlapis emas. Semua Amir besar dan kecil, putra-putra raja, para menteri, para hajib, dan pejabat-pejabat negara turun dan berjalan di hadapan Sultan dengan berjalan kaki sampai ia tiba di wataq. Wataq, dengan kasrah pada waw, adalah ufraj (kemah besar). Di sana telah dipasang barakah yang besar. Barakah pada mereka adalah rumah besar yang memiliki empat tiang dari kayu yang dilapisi lembaran-lembaran perak yang dilapisi emas. Di puncak setiap tiang ada jamur dari perak berlapis emas yang memiliki kilau dan sinar, dan barakah ini terlihat dari jauh seakan-akan ia adalah bukit. Di sebelah kanan dan kirinya diletakkan kanopi-kanopi dari kapas dan linen, dan semua itu dihamparkan dengan permadani sutra. Di tengah barakah dipasang singgasana yang paling agung. Mereka menyebutnya “takht”. Ia terbuat dari kayu bertatahkan permata, dan tiang-tiangnya dilapisi lembaran-lembaran berlapis emas, sedangkan kaki-kakinya dari perak murni yang dilapisi emas. Di atasnya ada permadani yang besar.

Di tengah singgasana yang paling agung ini ada sebuah martabah tempat Sultan dan Khatun besar duduk. Di sebelah kanannya ada martabah tempat putrinya It Kujjuk duduk bersamanya Khatun Arduja. Di sebelah kirinya ada martabah tempat Khatun Bailun duduk, bersamanya Khatun Kabak. Sebuah kursi dipasang di sebelah kanan singgasana, di atasnya duduk Tin Bak putra Sultan. Sebuah kursi dipasang di sebelah kirinya, di atasnya duduk Jan Bak putra keduanya. Kursi-kursi dipasang di sebelah kanan dan kiri, di atasnya duduk putra-putra raja dan para Amir besar, kemudian para Amir kecil seperti Amir Hazarah, yaitu mereka yang memimpin seribu pasukan.

Kemudian makanan dibawa di atas dulang-dulang emas dan perak, dan setiap dulang dibawa oleh empat orang atau lebih. Makanan mereka adalah daging kuda dan kambing yang direbus, dan diletakkan di hadapan setiap Amir sebuah dulang. Lalu datanglah bawarji, yaitu pemotong daging, yang mengenakan pakaian sutra dan telah mengikatkan padanya handuk sutra. Di ikat pinggangnya ada sejumlah pisau dalam sarungnya. Setiap Amir memiliki seorang bawarji. Ketika dulang dihadirkan, ia duduk di hadapan Amirnya. Dibawa mangkuk kecil dari emas atau perak yang berisi garam yang dilarutkan dengan air. Bawarji memotong daging menjadi potongan-potongan kecil. Mereka memiliki keahlian dalam memotong daging yang bercampur dengan tulang, karena mereka tidak makan darinya kecuali yang bercampur dengan tulang.

Kemudian didatangkan bejana-bejana emas dan perak untuk minum, dan kebanyakan minuman mereka adalah nabidz madu, dan mereka menganut mazhab Hanafi yang menghalalkan nabidz. Apabila Sultan hendak minum, putrinya mengambil cawan dengan tangannya, dan melayaninya dengan kakinya, kemudian menyerahkan cawan itu kepada Sultan lalu ia minum, kemudian ia mengambil cawan lain dan menyerahkannya kepada Khatun Besar sehingga ia minum darinya, kemudian menyerahkannya kepada para khatun lainnya sesuai urutan mereka. Kemudian putra mahkota mengambil cawan dan melayani serta menyerahkannya kepada ayahnya lalu ia minum, kemudian menyerahkannya kepada para khatun lalu kepada kakak perempuannya dan melayani mereka semua. Kemudian putra kedua berdiri lalu mengambil cawan dan memberikan minum kepada kakaknya, kemudian para amir besar berdiri dan masing-masing dari mereka memberikan minum kepada putra mahkota dan melayaninya. Kemudian para putra raja berdiri dan masing-masing dari mereka memberikan minum kepada putra kedua ini dan melayaninya, kemudian para amir kecil berdiri dan memberikan minum kepada para putra raja.

Dan mereka bernyanyi selama itu dalam bahasa Malali. Telah didirikan sebuah kemah besar juga di seberang masjid untuk hakim, khatib, syarif dan seluruh fuqaha dan para syekh, dan aku bersama mereka. Maka kami diberi hidangan di atas piring emas dan perak, setiap piring dibawa oleh empat orang dari kalangan besar Turki, dan tidak ada yang bertugas pada hari itu di hadapan Sultan kecuali orang-orang besar. Ia memerintahkan mereka untuk mengangkat piring yang ia kehendaki kepada siapa yang ia kehendaki. Di antara fuqaha ada yang makan, dan di antara mereka ada yang bersikap wara dari makan di piring perak dan emas. Aku melihat sejauh mata memandang ke kanan dan kiri dari gerobak-gerobak yang di atasnya terdapat tempat air qumiz, lalu Sultan memerintahkan untuk membagikannya kepada orang-orang. Mereka datang kepadaku dengan sebuah gerobak darinya, lalu aku memberikannya kepada tetangga-teranggaku dari orang Turki. Kemudian kami datang ke masjid menunggu salat Jumat, namun Sultan terlambat. Ada yang berkata bahwa ia tidak akan datang karena mabuk telah menguasainya, dan ada yang berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan Jumat. Ketika waktu sudah mantap, ia datang dalam keadaan sempoyongan! Lalu ia memberi salam kepada Sayid Syarif dan tersenyum kepadanya, dan ia memanggilnya dengan Atha, yang artinya ayah dalam bahasa Turki. Kemudian kami salat Jumat dan orang-orang kembali ke rumah mereka, dan Sultan kembali ke Barakah. Ia tetap dalam keadaannya itu sampai salat Asar, kemudian semua orang pulang, dan yang tinggal bersama raja pada malam itu adalah para khatunnya dan putrinya.

Kemudian kami berangkat bersama Sultan dan rombongan ketika Hari Raya telah selesai, lalu kami tiba di kota Haji Tarkhan, dan makna Tarkhan menurut mereka adalah tempat yang dibebaskan dari pajak. Ia dieja dengan fatah Ta bertitik dua, sukun Ra, fathah Kha bertitik satu dan diakhiri dengan Nun. Kota ini dinisbahkan kepada seorang haji yang saleh, orang Turki yang tinggal di tempatnya dan Sultan membebaskan tempat itu untuknya sehingga menjadi desa, kemudian berkembang dan menjadi kota. Ia adalah salah satu kota terindah, memiliki pasar-pasar besar, dibangun di tepi sungai Itil, yang merupakan salah satu sungai besar di dunia. Di sana Sultan tinggal sampai cuaca menjadi sangat dingin dan sungai ini membeku, dan perairan yang terhubung dengannya juga membeku. Kemudian ia memerintahkan penduduk negeri-negeri itu untuk membawa ribuan muatan jerami dan meletakkannya di atas es yang membeku di atas sungai. Jerami di sana tidak dimakan oleh hewan ternak karena membahayakan mereka, demikian juga di negeri-negeri India, tetapi makanan mereka adalah rumput hijau karena suburnya negeri. Mereka bepergian dengan gerobak di atas sungai ini dan perairan yang terhubung dengannya sepanjang tiga marhalah. Kadang-kadang kafilah-kafilah melintasinya pada akhir musim dingin lalu tenggelam dan binasa.

Ketika kami tiba di kota Haji Tarkhan, Khatun Bailun putri Raja Romawi meminta izin kepada Sultan agar diizinkan mengunjungi ayahnya untuk melahirkan kandungannya di sana dan kembali kepadanya. Maka Sultan mengizinkannya, dan ia memintaku untuk diizinkan pergi bersamanya untuk melihat Konstantinopel yang Agung. Namun ia menolakku karena khawatir atasku. Lalu aku membujuknya dan berkata kepadanya: Aku hanya memasukinya dalam perlindungan dan penjagaanmu sehingga aku tidak takut kepada siapapun! Maka ia mengizinkanku dan kami berpamitan dengannya. Ia memberiku seribu lima ratus dinar, jubah kehormatan dan banyak kuda. Setiap khatun memberiku batangan perak, yang mereka sebut som dengan fathah Shad tanpa titik, satunya disebut somah. Putrinya memberi lebih banyak dari mereka, membelikanku pakaian dan kuda, dan terkumpul padaku kuda-kuda, pakaian-pakaian, mantel tupai dan sable dalam jumlah besar.

Tentang Perjalananku ke Konstantinopel

Kami berangkat pada tanggal sepuluh Syawal dalam rombongan Khatun Bailun dan dalam perlindungannya. Sultan berangkat mengantarnya sejauh satu marhalah lalu ia kembali bersama Ratu dan putra mahkota. Para khatun lainnya bepergian bersamanya satu marhalah kedua, kemudian mereka kembali. Amir Baidara menemaninya dengan lima ribu pasukannya.

Pasukan Khatun sekitar lima ratus penunggang kuda, di antaranya para pelayannya dari budak dan Romawi sekitar dua ratus orang, dan sisanya dari Turki. Bersamanya ada sekitar dua ratus budak perempuan, kebanyakan mereka Romawi. Ia memiliki sekitar empat ratus gerobak dan sekitar dua ribu kuda untuk menariknya dan untuk tunggangan, sekitar tiga ratus sapi dan dua ratus unta untuk menariknya. Bersamanya ada sepuluh pemuda Romawi dan sepuluh orang India, komandan besar mereka bernama Sunbul al-Hindi, dan komandan Romawi bernama Mikha’il, orang-orang Turki memanggilnya Lulu, dan ia termasuk pemberani besar. Ia meninggalkan sebagian besar budak perempuan dan barang-barangnya di rombongan Sultan karena ia berangkat untuk berkunjung dan melahirkan.

Kami menuju kota Ukak, ditulis dengan dhammah Hamzah dan fathah Kaf pertama, sebuah kota sedang dengan bangunan indah, banyak kebaikan, sangat dingin, dan jaraknya dari Sarai ibu kota Sultan sepuluh hari perjalanan. Pada jarak satu hari dari kota ini terdapat pegunungan Rus, mereka adalah orang-orang Nasrani berambut pirang, bermata biru, buruk rupa, penuh tipu daya, dan di sana terdapat tambang perak. Dari negeri mereka dibawa som, yaitu batangan perak yang dengannya jual beli dilakukan di negeri-negeri ini, berat setiap somah lima uqiyah.

Kemudian kami tiba setelah sepuluh hari dari kota ini ke kota Saradak, penulisan namanya dengan dhammah Sin tanpa titik, sukun Ra, fathah Dal tanpa titik dan diakhiri Qaf. Ia termasuk kota-kota Dasyt Qipchaq di tepi laut, pelabuhannya termasuk pelabuhan terbesar dan terindah. Di luarnya terdapat kebun-kebun dan perairan. Dihuni oleh orang Turki dan sekelompok Romawi di bawah perlindungan mereka, mereka adalah ahli kerajinan. Kebanyakan rumahnya dari kayu. Kota ini dahulu besar namun sebagian besar hancur karena fitnah yang terjadi antara Romawi dan Turki, dan kemenangan berpihak pada Romawi. Lalu orang-orang Turki membalas dendam dan membunuh Romawi dengan pembunuhan yang buruk, mengusir kebanyakan mereka, dan sebagian tetap tinggal dalam perlindungan hingga sekarang.

Jamuan dibawa kepada Khatun di setiap tempat pemberhentian dari negeri-negeri itu berupa kuda, kambing, sapi, dukhi, qumiz, susu sapi dan kambing. Perjalanan di negeri-negeri ini dilakukan pagi dan sore. Setiap amir di negeri-negeri itu menemani Khatun dengan pasukannya sampai akhir perbatasan negerinya sebagai bentuk penghormatan kepadanya, bukan karena takut atasnya, karena negeri-negeri itu aman.

Kemudian kami tiba di kota yang dikenal dengan nama Baba Saltuq. Baba menurut mereka sama artinya dengan di kalangan Barbar, kecuali bahwa mereka mengucapkan Ba dengan tebal. Saltuq ditulis dengan fathah Sin tanpa titik, sukun Lam, dhammah Tha tanpa titik dan diakhiri Qaf. Mereka menyebutkan bahwa Saltuq ini adalah seorang mukasyif, tetapi disebutkan tentang dia hal-hal yang diingkari oleh syariat. Kota ini adalah kota terakhir Turki, dan antara kota ini dengan awal wilayah Romawi delapan belas hari di padang pasir yang tidak berpenghuni, delapan hari di antaranya tidak ada air, air dipasok untuk perjalanan itu dan dibawa dalam tempat air dan kantong di atas gerobak. Kami memasukinya pada hari-hari dingin, sehingga kami tidak memerlukan banyak air. Orang-orang Turki memasukkan susu dalam kantong dan mencampurnya dengan dukhi yang dimasak lalu meminumnya sehingga mereka tidak haus.

Kami mulai bersiap-siap di kota ini untuk memasuki padang pasir. Aku memerlukan tambahan kuda, lalu aku menemui Khatun dan memberitahunya tentang hal itu. Aku memberi salam kepadanya pagi dan sore, dan setiap kali jamuan datang kepadanya, ia mengirimku dua atau tiga kuda dan kambing. Aku tidak menyembelih kuda-kuda itu, dan para budak dan pelayan yang bersamaku makan dari teman-teman kami orang Turki, sehingga terkumpul padaku sekitar lima puluh kuda. Khatun memerintahkan untuk memberiku lima belas kuda dan memerintahkan wakilnya Sarujah ar-Rumi untuk memilih yang gemuk dari kuda-kuda dapur. Ia berkata: Jangan takut, jika kamu memerlukan yang lain kami akan menambahkannya untukmu!! Kami memasuki padang pasir pada pertengahan Dzulqaidah. Perjalanan kami dari hari kami meninggalkan Sultan sampai awal padang pasir sembilan belas hari, dan kami tinggal lima hari. Kami berangkat dari padang pasir ini delapan belas hari pagi dan sore, dan kami tidak melihat kecuali kebaikan, segala puji bagi Allah.

Kemudian kami tiba setelah itu ke benteng Mahtuli, yang merupakan awal wilayah Romawi. Penulisan namanya dengan fathah Mim, sukun Ha, dhammah Ta bertitik di atas, Waw panjang, Lam kasrah dan Ya. Orang-orang Romawi telah mendengar tentang kedatangan Khatun ini ke negeri mereka, maka sampai ke benteng ini Kafali Nuqulah ar-Rumi dengan pasukan besar dan jamuan besar. Datanglah para khatun dan pengasuh dari istana ayahnya Raja Konstantinopel.

Antara Mahtuli dan Konstantinopel perjalanan dua puluh dua hari sampai teluk dan enam hari darinya ke Konstantinopel. Tidak ada perjalanan dari benteng ini kecuali dengan kuda dan bagal, dan gerobak ditinggalkan di sana karena medan yang sulit dan pegunungan. Kafali yang disebutkan tadi datang membawa banyak bagal, dan Khatun mengirimku enam ekor, dan ia berpesan kepada amir benteng itu tentang orang-orang yang kutinggalkan dari para sahabat dan budakku bersama gerobak dan barang-barang. Maka ia memerintahkan untuk memberi mereka rumah. Amir Baidara kembali dengan pasukannya, dan tidak bepergian bersama Khatun kecuali orangnya sendiri. Ia meninggalkan masjidnya di benteng ini dan hukum azan terangkat!! Khamar dibawa kepadanya dalam jamuan lalu ia meminumnya, demikian juga babi. Salah seorang khususnya memberitahuku bahwa ia memakannya, dan tidak ada yang tersisa bersamanya yang salat kecuali sebagian orang Turki yang biasa salat bersama kami. Hati berubah karena kami memasuki negeri kufur, tetapi Khatun berpesan kepada Amir Kafali untuk menghormatiku. Ia pernah memukul salah seorang budaknya karena tertawa melihat salat kami! Kemudian kami tiba ke benteng Maslamah bin Abdul Malik, yang terletak di lereng gunung di tepi sungai yang deras bernama Ustufiliy. Tidak tersisa dari benteng ini kecuali reruntuhannya, dan di luarnya terdapat desa besar. Kemudian kami berjalan dua hari dan tiba di teluk, dan di tepinya terdapat desa besar. Kami menemukan air pasang di sana, lalu kami tinggal sampai air surut dan kami menyeberanginya. Lebarnya sekitar dua mil. Kami berjalan empat mil di atas pasir dan tiba di teluk kedua lalu menyeberanginya, lebarnya sekitar tiga mil. Kemudian kami berjalan sekitar dua mil di atas batu dan pasir dan tiba di teluk ketiga. Air pasang telah dimulai sehingga kami kesulitan, lebarnya satu mil. Lebar teluk seluruhnya, air dan daratan, dua belas mil, dan semuanya menjadi air di hari-hari hujan sehingga tidak bisa diseberangi kecuali dengan perahu. Di tepi teluk ketiga ini terdapat kota al-Finiykah, namanya ditulis dengan Fa fathah, Nun, Ya panjang, Kaf fathah. Ia kota kecil tetapi indah dan kokoh, gereja-gerejanya dan rumah-rumahnya indah. Sungai-sungai melintasinya dan kebun-kebun mengelilinginya. Anggur, pir, apel, dan quince disimpan di sana dari tahun ke tahun. Kami tinggal di kota ini tiga hari, dan Khatun berada di istana ayahnya di sana. Kemudian datanglah saudara kandungnya yang bernama Kafali Qaras dengan lima ribu penunggang kuda bersenjata lengkap. Ketika mereka hendak bertemu Khatun, saudaranya yang disebutkan mengendarai kuda putih dan memakai pakaian putih, dan menempatkan payung di atas kepalanya yang dihiasi permata. Di sebelah kanannya lima orang putra raja, dan di sebelah kirinya lima orang juga mengenakan pakaian putih, dan di atas mereka payung-payung yang dihias dengan emas. Di depannya ditempatkan seratus orang pejalan kaki, dan seratus penunggang kuda yang telah mengenakan baju besi pada diri mereka dan kuda-kuda mereka. Setiap orang dari mereka menuntun seekor kuda berpelana berperisai dengan perlengkapan penunggang kuda berupa helm berpermata, baju besi, perisai, busur, dan pedang. Di tangannya tombak dengan bendera di ujung kepala tombaknya. Kebanyakan tombak-tombak itu dilapisi dengan lempengan emas dan perak, dan kuda-kuda yang dituntun itu adalah tunggangan putra Sultan. Ia membagi para penunggang kudanya menjadi regu-regu, setiap regu seratus penunggang kuda, dan mereka memiliki amir yang telah mendahului di depannya sepuluh penunggang kuda bersenjata lengkap. Setiap orang dari mereka menuntun seekor kuda, dan di belakangnya sepuluh bendera berwarna-warni di tangan sepuluh penunggang kuda, dan sepuluh genderang yang digantungkan oleh sepuluh penunggang kuda, bersama mereka enam orang yang memukul terompet, nafir, dan sarnaiy yaitu ghaithat.

Khatun mengendarai kuda bersama budak-budaknya, para budak perempuannya, pemuda-pemudanya dan pelayan-pelayannya, mereka sekitar lima ratus orang mengenakan pakaian sutera berhias emas berpermata. Khatun mengenakan jubah yang disebut an-nakh, juga disebut an-nasij, berpermata, dan di kepalanya mahkota berpermata. Kudanya ditutupi dengan pelana sutera berhias emas, di tangan dan kakinya gelang emas, di lehernya kalung berpermata, dan sebagian besar pelana dilapisi emas dihiasi permata.

Pertemuan mereka terjadi di dataran tanah sekitar satu mil dari kota. Saudaranya turun dari kuda untuknya karena ia lebih muda darinya dan mencium sanggurdi kudanya, dan ia mencium kepalanya. Para amir dan putra-putra raja turun dari kuda dan semuanya mencium sanggurdi kudanya, dan ia pergi bersama saudaranya.

Dan pada keesokan hari itu, kami tiba di sebuah kota besar di tepi pantai laut, yang sekarang saya tidak dapat memastikan namanya, yang memiliki sungai-sungai dan pepohonan. Kami singgah di luar kota tersebut. Kemudian datanglah saudara laki-laki Khatun, sang pewaris tahta, dengan susunan yang megah dan pasukan yang besar terdiri dari sepuluh ribu tentara bersenjata lengkap. Di kepalanya terdapat mahkota, dan di sebelah kanannya ada sekitar dua puluh orang putra raja-raja, dan di sebelah kirinya juga sejumlah yang sama. Dia telah mengatur pasukan berkudanya sama seperti pengaturan saudaranya, hanya saja upacaranya lebih megah dan jumlahnya lebih banyak. Lalu dia bertemu dengan kakak perempuannya yang mengenakan pakaian seperti sebelumnya, dan keduanya turun dari kuda. Kemudian sebuah tenda sutra dibawakan, lalu mereka berdua masuk ke dalamnya. Saya tidak tahu bagaimana cara mereka bersalam! Kami bermalam pada jarak sepuluh mil dari Konstantinopel.

Ketika tiba keesokan harinya, penduduk kota keluar, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, ada yang berkuda dan ada yang berjalan kaki, dengan pakaian terbaik dan busana terindah. Saat fajar tiba, gendang, terompet, dan nafiri dipukul. Pasukan berkuda, kemudian Sultan keluar bersama istri putra mahkota, yaitu ibu dari Khatun ini, beserta para pembesar negara dan orang-orang khusus. Di atas kepala Raja terdapat kanopi yang diangkat oleh sejumlah penunggang kuda dan orang-orang yang memegang tongkat-tongkat panjang. Di ujung setiap tongkat ada semacam bola kulit yang mereka gunakan untuk mengangkat kanopi tersebut. Di tengah kanopi ada semacam kubah yang diangkat oleh para penunggang kuda dengan tongkat-tongkat.

Ketika Sultan datang, pasukan bercampur-baur dan debu berterbangan di mana-mana. Saya tidak dapat masuk ke tengah-tengah mereka, sehingga saya mengikuti barang-barang Khatun dan para pengikutnya karena khawatir akan keselamatan diri. Disebutkan kepada saya bahwa ketika dia mendekati kedua orang tuanya, dia turun dari kuda dan mencium tanah di hadapan mereka, kemudian mencium tapak kaki kuda mereka! Para pembesar pengikutnya juga melakukan hal yang sama.

Masuknya kami ke Konstantinopel yang agung adalah pada waktu zuhur atau sesudahnya. Mereka telah membunyikan lonceng-lonceng hingga langit bergema karena suara-suara yang bercampur-baur. Ketika kami tiba di pintu pertama dari pintu-pintu istana Raja, kami menemukan di sana sekitar seratus orang dengan seorang komandan mereka di atas sebuah landasan. Saya mendengar mereka berkata: “Saraceno! Saraceno!” yang artinya: orang-orang Muslim. Mereka melarang kami masuk. Para pengikut Khatun berkata kepada mereka bahwa kami dari pihaknya, tetapi mereka berkata: “Tidak boleh masuk kecuali dengan izin!” Maka kami tinggal di pintu gerbang, dan beberapa pengikut Khatun pergi untuk memberitahu hal itu kepadanya. Dia berada di hadapan ayahnya, lalu dia menyebutkan urusan kami kepadanya. Ayahnya memerintahkan kami masuk dan menunjuk sebuah rumah untuk kami yang berdekatan dengan rumah Khatun. Dia menulis perintah untuk kami agar tidak diganggu ke manapun kami pergi di kota tersebut, dan hal itu diumumkan di pasar-pasar. Kami tinggal di rumah itu selama tiga hari. Jamuan dikirim kepada kami berupa tepung, roti, domba, ayam, mentega, buah-buahan, ikan, uang perak, dan permadani. Pada hari keempat, kami masuk menghadap Sultan.

Tentang Sultan Konstantinopel

Namanya adalah Takfur, anak dari Sultan Jurjis. Ayahnya, Sultan Jurjis, masih hidup tetapi telah hidup zuhud dan menjadi rahib, menyepi untuk beribadah di gereja-gereja, dan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya. Kami akan menyebutkannya nanti. Pada hari keempat sejak kedatangan kami ke Konstantinopel, Khatun mengutus kepada saya seorang pemuda bernama Sunbul al-Hindi. Dia memegang tanganku dan membawaku masuk ke istana. Kami melewati empat pintu gerbang, di setiap pintu terdapat serambi dengan orang-orang beserta senjata mereka, dan komandan mereka berada di atas landasan yang diberi alas. Ketika kami sampai di pintu kelima, pemuda Sunbul meninggalkanku dan masuk. Kemudian dia datang bersama empat orang pemuda Romawi yang menggeledahku agar tidak ada pisau yang kubawa! Komandan itu berkata kepadaku: “Itu adalah kebiasaan mereka, orang yang masuk menghadap Raja harus digeledah, baik orang khusus maupun umum, orang asing maupun penduduk setempat.” Begitu pula kebiasaan di tanah India. Kemudian setelah mereka menggeledahku, petugas pintu gerbang bangkit dan memegang tanganku, membuka pintu, dan empat orang mengelilingiku.

Dua orang memegang lengan bajuku dan dua orang di belakangku. Mereka membawaku masuk ke sebuah balairung besar yang dindingnya bermosaik dengan gambar-gambar makhluk hidup dari hewan dan benda mati. Di tengahnya ada saluran air dan di sampingnya ada pepohonan. Orang-orang berdiri di kanan dan kiri, diam tidak ada yang berbicara. Di tengah balairung ada tiga orang berdiri. Empat orang tadi menyerahkanku kepada mereka, lalu mereka memegang pakaianku seperti yang dilakukan yang lain. Seorang laki-laki memberi isyarat kepada mereka, maka mereka membawaku maju. Salah seorang dari mereka adalah seorang Yahudi. Dia berkata kepadaku dalam bahasa Arab: “Jangan takut, begitulah kebiasaan mereka terhadap orang yang datang. Aku adalah penerjemah, dan asalku dari negeri Syam.” Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana cara mengucapkan salam?” Dia menjawab: “Katakan: Assalamu’alaikum.”

Kemudian aku sampai di sebuah kubah besar. Sultan berada di atas singgasana dan istrinya, ibu Khatun ini, berada di hadapannya. Di bawah singgasana ada Khatun dan saudara-saudaranya. Di sebelah kanannya ada enam orang, dan di sebelah kirinya ada empat orang. Di atas kepalanya ada empat orang, dan semuanya bersenjata. Dia memberi isyarat kepadaku sebelum mengucapkan salam dan sebelum mendekat kepadanya untuk duduk sebentar agar hatiku tenang! Maka aku melakukan itu. Kemudian aku mendekatinya dan mengucapkan salam. Dia memberi isyarat kepadaku untuk duduk, tetapi aku tidak melakukannya! Dia bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis, tentang Shakhrah al-Muqaddasah, tentang al-Qumamah, tentang tempat lahir Isa alaihissalam, tentang Baitul Lahm, tentang kota Khalil alaihissalam, kemudian tentang Damaskus, Mesir, Irak, dan negeri Rum. Aku menjawab semua itu, dan orang Yahudi itu menerjemahkan antara aku dan dia. Ucapanku membuatnya kagum, dan dia berkata kepada anak-anaknya: “Muliakanlah orang ini dan berilah dia rasa aman.” Kemudian dia memberi pakaian kehormatan kepadaku, dan memerintahkan untuk memberiku seekor kuda yang sudah dipasangi pelana dan kekang serta payung dari jenis yang biasa diletakkan Raja di atas kepalanya sebagai tanda keamanan. Aku meminta kepadanya agar menunjuk seseorang yang akan menunggangi kuda bersamaku di kota setiap hari agar aku dapat menyaksikan keajaiban dan keanehannya serta menceritakannya di negeriku. Maka dia menunjuk orang untuk itu.

Di antara kebiasaan mereka adalah bahwa orang yang mengenakan pakaian kehormatan Raja dan menunggangi kudanya akan diarak keliling di pasar-pasar kota dengan terompet, nafiri, dan gendang agar orang-orang dapat melihatnya. Hal ini paling sering dilakukan terhadap orang-orang Turki yang datang dari negeri Sultan Uzbak agar mereka tidak diganggu. Maka mereka membawaku berkeliling di pasar-pasar.

Tentang Kota [Konstantinopel]

Kota ini sangat besar, terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh sungai besar yang mengalami pasang-surut, mirip dengan Wadi Sala di negeri Maghrib. Dahulu di atasnya ada jembatan yang dibangun, tetapi telah rusak. Sekarang orang menyeberang dengan perahu. Nama sungai ini adalah Absami. Salah satu bagian dari kota ini disebut Istanbul, berada di tepi timur sungai. Di sana terdapat kediaman Sultan, para pembesar negaranya, dan penduduk lainnya. Pasar-pasarnya dan jalan-jalannya dipaving dengan batu lempeng yang lebar. Penduduk dari setiap kerajinan terpisah, tidak bercampur dengan yang lain. Setiap pasar memiliki pintu-pintu yang ditutup pada malam hari. Sebagian besar pengrajin dan pedagang di sana adalah perempuan.

Kota ini berada di kaki gunung yang masuk ke laut sekitar sembilan mil, dan lebarnya sama atau lebih. Di puncaknya ada benteng kecil dan istana Sultan. Tembok mengelilingi gunung ini, dan tembok itu kuat sehingga tidak ada siapapun yang dapat mendekatinya dari arah laut. Di dalamnya ada sekitar tiga belas desa yang makmur. Gereja besar berada di tengah bagian kota ini. Adapun bagian kedua dari kota ini disebut Galata, berada di tepi barat sungai, mirip dengan Ribat al-Fath dalam kedekatannya dengan sungai. Bagian ini khusus bagi orang-orang Nasrani Franka yang tinggal di sana. Mereka terdiri dari berbagai golongan: di antaranya orang Genoa, orang Venesia, orang Roma, dan orang Prancis. Mereka berada di bawah kekuasaan raja Konstantinopel. Raja menunjuk dari antara mereka orang yang mereka ridhai, yang mereka sebut al-Qumsh. Mereka membayar pajak tahunan kepada raja Konstantinopel. Kadang-kadang mereka membangkang terhadapnya, maka dia memerangi mereka sampai Paus mendamaikan antara mereka. Mereka semua adalah pedagang. Pelabuhannya adalah salah satu pelabuhan terbesar. Aku melihat di sana sekitar seratus kapal jenis qarajir dan yang lain dari kapal-kapal besar. Adapun kapal-kapal kecil tidak terhitung banyaknya. Pasar-pasar di bagian ini bagus, tetapi kotoran sangat banyak. Sebuah sungai kecil yang kotor dan najis membelahnya. Gereja-gereja mereka kotor dan tidak ada kebaikan padanya!

Tentang Gereja Besar

Kami hanya akan menyebutkan bagian luarnya, adapun bagian dalamnya tidak aku saksikan. Gereja ini disebut Ayasofya oleh mereka. Disebutkan bahwa gereja ini dibangun oleh Ashaf bin Barkhiya, yaitu anak dari bibi Nabi Sulaiman alaihissalam. Gereja ini termasuk gereja terbesar orang-orang Rum. Terdapat tembok yang mengelilinginya sehingga seakan-akan ia adalah sebuah kota. Pintunya ada tiga belas. Gereja ini memiliki halaman sepanjang satu mil dengan pintu gerbang besar, dan tidak ada seorangpun yang dilarang memasukinya. Aku pernah memasukinya bersama ayah Raja yang akan disebut nanti. Halaman itu seperti balairung yang dipaving dengan marmer, dan sebuah saluran air yang keluar dari gereja membelahnya. Saluran itu memiliki dua dinding yang tingginya sekitar satu hasta, terbuat dari marmer bergaris yang diukir dengan sangat indah. Pepohonan tersusun rapi di kedua sisi saluran.

Dari pintu gereja sampai pintu balairung ini terdapat teralis kayu yang tinggi, di atasnya ada tanaman anggur merambat, dan di bawahnya ada melati dan bunga-bungaan. Di luar pintu balairung ini ada kubah kayu besar yang di dalamnya terdapat bangku-bangku kayu untuk tempat duduk para pelayan pintu gerbang itu. Di sebelah kanan kubah terdapat bangku-bangku dan toko-toko, kebanyakan dari kayu, tempat para hakim dan penulis dewan-dewan mereka duduk. Di tengah toko-toko itu ada kubah kayu yang naik kepadanya melalui tangga kayu. Di dalamnya ada kursi besar yang dilapisi dengan kain, tempat hakim mereka duduk. Kami akan menyebutkannya nanti. Di sebelah kiri kubah yang berada di pintu balairung ini terdapat pasar pedagang minyak wangi.

Dan saluran air yang kami sebutkan terbagi menjadi dua bagian: salah satunya melewati pasar para pedagang rempah-rempah, dan yang lainnya melewati pasar tempat para hakim dan penulis berada. Di pintu gereja terdapat kanopi-kanopi tempat para pelayan gereja duduk, yang bertugas membersihkan jalan-jalannya, menyalakan lampu-lampunya, dan menutup pintu-pintunya. Mereka tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalamnya sampai bersujud kepada salib terbesar menurut mereka, yang mereka klaim sebagai sisa dari kayu tempat orang yang menyerupai Isa alaihissalam disalib. Salib itu terletak di pintu gereja, diletakkan dalam kotak emas yang panjangnya sekitar sepuluh hasta. Mereka telah memasang kotak emas lain yang serupa di atasnya sehingga berbentuk salib.

Pintu ini dilapisi dengan lembaran-lembaran perak dan emas, dan kedua pegangannya terbuat dari emas murni. Disebutkan kepadaku bahwa jumlah rahib dan pendeta di gereja ini mencapai ribuan, dan bahwa sebagian dari mereka adalah keturunan para hawari (murid-murid Isa), dan bahwa di dalamnya terdapat gereja khusus untuk para wanita yang di dalamnya terdapat lebih dari seribu perawan yang mengabdikan diri untuk beribadah, sedangkan wanita-wanita tua jumlahnya lebih banyak lagi dari itu semua.

Kebiasaan raja, para pembesar kerajaannya, dan semua orang adalah datang setiap pagi untuk mengunjungi gereja ini. Paus datang ke sini sekali dalam setahun, dan ketika ia berada pada jarak empat mil dari kota, raja keluar untuk menyambutnya dan turun dari kendaraannya untuknya. Ketika memasuki kota, raja berjalan kaki di hadapannya, dan mendatanginya pagi dan sore untuk memberi salam sepanjang ia berada di Konstantinopel sampai ia kembali.

Tentang Manastara-manastara di Konstantinopel

Manastara pengucapannya seperti maristana, hanya saja nun-nya didahulukan dan ra-nya diakhirkan. Bagi mereka, manastara seperti zawiyah (pusat sufi) bagi kaum Muslim. Manastara-manastara ini banyak di sana. Di antaranya adalah manastara yang dibangun oleh Raja Jirjis, ayah raja Konstantinopel, yang akan kami sebutkan. Manastara itu terletak di luar Istanbul, berhadapan dengan al-Ghalatah. Di antaranya ada dua manastara di luar gereja besar, di sebelah kanan orang yang memasukinya. Keduanya berada dalam sebuah taman yang dibelah oleh sungai, salah satunya untuk pria dan yang lain untuk wanita. Di masing-masing ada gereja, dan rumah-rumah mengelilinginya untuk para pria dan wanita yang beribadah. Untuk masing-masing telah diwakafkan harta wakaf untuk pakaian dan biaya hidup para penyembah. Keduanya dibangun oleh salah seorang raja.

Di antaranya ada dua manastara di sebelah kiri orang yang memasuki gereja besar, serupa dengan dua yang terakhir ini. Rumah-rumah mengelilingi keduanya. Salah satunya dihuni oleh orang-orang buta, dan yang kedua dihuni oleh para lansia yang tidak mampu bekerja, yaitu mereka yang telah mencapai usia enam puluh tahun atau sekitarnya. Setiap orang dari mereka mendapat pakaian dan nafkahnya dari wakaf yang ditentukan untuk itu.

Di dalam setiap manastara terdapat ruangan kecil untuk beribadah bagi raja yang membangunnya. Kebanyakan raja-raja ini, ketika mencapai usia enam puluh atau tujuh puluh tahun, membangun sebuah manastara dan mengenakan kain kabung, yaitu pakaian dari bulu, kemudian menyerahkan kerajaan kepada anaknya dan memusatkan diri pada ibadah sampai meninggal.

Mereka berlomba-lomba dalam membangun manastara-manastara ini dan membuatnya dengan marmer dan mosaik. Manastara-manastara ini banyak di kota ini.

Aku masuk bersama orang Rum yang ditunjuk raja untuk menemaniku ke sebuah manastara yang dibelah oleh sungai. Di dalamnya ada gereja yang berisi sekitar lima ratus perawan yang mengenakan kain kabung, kepala mereka dicukur dengan topi dari kain kempa. Mereka memiliki kecantikan yang luar biasa dan tampak jelas bekas-bekas ibadah pada mereka! Seorang anak laki-laki duduk di mimbar membacakan Injil untuk mereka dengan suara yang belum pernah kudengar yang lebih indah darinya. Di sekelilingnya ada delapan anak laki-laki di atas mimbar-mimbar, bersama pendeta mereka. Ketika anak ini selesai membaca, anak lain membaca. Orang Rum itu berkata kepadaku: Gadis-gadis ini adalah putri-putri raja yang menyerahkan diri mereka untuk melayani gereja ini, demikian pula anak-anak laki-laki yang membaca. Mereka memiliki gereja lain di luar gereja itu.

Aku juga masuk bersamanya ke sebuah gereja di taman, dan kami menemukan di sana sekitar lima ratus perawan atau lebih, dan seorang anak laki-laki membaca untuk mereka di mimbar, serta sekelompok anak laki-laki bersamanya di mimbar-mimbar seperti yang pertama. Orang Rum itu berkata kepadaku: Mereka ini adalah putri-putri para menteri dan para amir yang beribadah di gereja ini.

Aku masuk bersamanya ke gereja-gereja yang di dalamnya terdapat perawan-perawan dari kalangan bangsawan kota, dan ke gereja-gereja yang di dalamnya terdapat wanita-wanita tua, dan ke gereja-gereja yang di dalamnya terdapat para rahib, yang jumlahnya di satu gereja bisa seratus orang atau lebih atau kurang. Sebagian besar penduduk kota ini adalah rahib, penyembah, dan pendeta. Gereja-gereja di sana tidak terhitung banyaknya. Penduduk kota, baik tentara maupun lainnya, kecil dan besar, memakai payung-payung besar di kepala mereka, baik musim dingin maupun musim panas. Para wanita mengenakan sorban yang besar.

Tentang Raja yang Menjadi Rahib, Jirjis

Raja ini menyerahkan kerajaan kepada anaknya dan mengasingkan diri untuk beribadah. Ia membangun sebuah manastara seperti yang telah kami sebutkan, di luar kota di pantainya. Suatu hari aku bersama orang Rum yang ditunjuk untuk menemaniku, tiba-tiba raja ini berjalan kaki dengan mengenakan kain kabung, di kepalanya topi kain kempa, memiliki jenggot putih panjang dan wajah yang tampan dengan bekas-bekas ibadah. Di belakang dan di depannya sekelompok rahib, di tangannya tongkat, dan di lehernya tasbih. Ketika orang Rum itu melihatnya, ia turun dan berkata kepadaku: Turunlah! Ini adalah ayah raja. Ketika orang Rum itu memberi salam kepadanya, ia bertanya tentang diriku. Kemudian ia berhenti dan mengutus orang untuk memanggilku. Aku datang kepadanya, lalu ia memegang tanganku dan berkata kepada orang Rum itu, yang mengerti bahasa Arab: Katakan kepada orang Saracen ini—maksudnya Muslim—aku bersalaman dengan tangan yang telah memasuki Baitul Maqdis dan kaki yang telah berjalan di dalam Shakhrah dan gereja besar yang disebut Qumamah dan Bayt Lahm (Bethlehem). Ia meletakkan tangannya di kakiku dan mengusap wajahnya dengannya. Aku heran dengan keyakinan mereka terhadap orang yang memasuki tempat-tempat itu dari luar agama mereka! Kemudian ia memegang tanganku dan aku berjalan bersamanya. Ia bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis dan orang-orang Kristen di sana, dan ia memperpanjang pertanyaan. Aku masuk bersamanya ke halaman gereja yang telah kami gambarkan tadi. Ketika ia mendekati pintu terbesar, sekelompok pendeta dan rahib keluar untuk memberi salam kepadanya. Ia termasuk pemimpin besar mereka dalam kerahibanan. Ketika ia melihat mereka, ia melepaskan tanganku. Aku berkata kepadanya: Aku ingin masuk bersamamu ke gereja. Ia berkata kepada penerjemah: Katakan kepadanya bahwa siapa pun yang memasukinya harus bersujud kepada salib terbesar, karena ini adalah aturan yang ditetapkan oleh para pendahulu dan tidak mungkin dilanggar! Maka aku meninggalkannya dan ia masuk sendirian. Aku tidak melihatnya lagi setelah itu.

Tentang Hakim Konstantinopel

Ketika aku berpisah dari raja yang menjadi rahib yang disebutkan tadi, aku memasuki pasar para penulis. Hakim melihatku dan mengirim salah seorang pembantunya. Ia bertanya kepada orang Rum yang bersamaku, dan orang Rum itu berkata kepadanya: Ia adalah salah seorang penuntut ilmu dari kaum Muslim. Ketika pembantu itu kembali kepadanya dan memberitahunya, ia mengirim salah seorang temannya kepadaku. Mereka menyebut hakim itu an-Najsyi Kafali. Ia berkata kepadaku: An-Najsyi Kafali memanggilmu. Maka aku naik menemuinya ke kubah yang telah disebutkan sebelumnya. Aku melihat seorang syaikh berparas tampan dengan rambut panjang, mengenakan pakaian rahib, yaitu mantel hitam. Di hadapannya ada sekitar sepuluh orang penulis yang sedang menulis. Ia berdiri untukku dan para temannya juga berdiri. Ia berkata: Kamu adalah tamu raja, dan kami wajib menghormatimu. Ia bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis, Syam, dan Mesir, dan memperpanjang pembicaraan. Orang-orang berdesakan di sekitarnya. Ia berkata kepadaku: Kamu harus datang ke rumahku agar aku menjamumu. Maka aku pergi darinya dan tidak bertemu dengannya lagi.

Tentang Kepergian dari Konstantinopel

Ketika menjadi jelas bagi orang-orang Turki yang ada dalam rombongan Khatun bahwa ia menganut agama ayahnya dan ingin tinggal bersamanya, mereka meminta izin darinya untuk kembali ke negeri mereka. Ia mengizinkan mereka dan memberi mereka hadiah yang besar, serta mengirim bersama mereka seorang yang akan mengantarkan mereka ke negeri mereka, yaitu seorang amir bernama Sarujah ash-Shaghir dengan lima ratus penunggang kuda. Ia memanggil aku dan memberiku tiga ratus dinar emas mereka—mereka menyebutnya al-Barbarah, dan itu bukan emas yang baik—dan dua ribu dirham Venesia, sehelai mantel dari buatan gadis-gadis, yang merupakan jenis terbaik, sepuluh helai kain sutra, linen dan wol, serta dua ekor kuda. Itu semua adalah pemberian dari ayahnya. Ia berwasiat kepadaku kepada Sarujah. Aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan pergi. Lamanya aku tinggal di sana adalah satu bulan enam hari.

Kami berangkat bersama rombongan Sarujah. Ia menghormati aku sampai kami tiba di ujung wilayah mereka, tempat kami meninggalkan teman-teman kami dan kereta-kereta kami. Kami menaiki kereta dan memasuki padang pasir. Sarujah sampai bersama kami ke kota Bab Saltuq. Ia tinggal di sana tiga hari dalam jamuan lalu kembali ke negerinya. Itu terjadi dalam musim dingin yang sangat dingin. Aku mengenakan tiga buah mantel bulu dan celana, salah satunya dilapisi. Di kakiku ada sepatu dari wol, di atasnya sepatu yang dilapisi kain linen, dan di atasnya lagi sepatu dari barghali, yaitu kulit kuda yang dilapisi dengan kulit serigala. Aku berwudu dengan air panas dekat api, dan air yang menetes langsung membeku. Ketika aku membasuh wajahku, air yang sampai ke jenggotku membeku. Aku menggerakkannya dan turun darinya seperti salju. Air yang keluar dari hidung membeku di kumis. Aku tidak bisa naik kendaraan karena banyaknya pakaian yang kupakai, sehingga teman-temanku yang menaikkanku! Kemudian aku tiba di kota al-Hajj Tarkhan, tempat kami berpisah dengan Sultan Uzbak. Kami mendapatinya telah berangkat dan menetap di ibu kota kerajaannya. Kami berjalan di sungai Itil dan perairan di sekitarnya selama tiga hari dan semuanya membeku. Ketika kami membutuhkan air, kami memotong potongan-potongan dari es dan memasukkannya ke dalam panci sampai menjadi air, lalu kami meminumnya dan memasak dengannya! Kami tiba di kota as-Sara, yang namanya ditulis dengan sin tidak bertitik, dua ra yang terbuka, dan alif. Kota ini dikenal dengan Sara Barakah. Ini adalah ibu kota Sultan Uzbak. Kami menghadap Sultan dan ia bertanya kepada kami tentang perjalanan kami, tentang raja Rum dan kotanya. Kami memberitahunya. Ia memerintahkan agar nafkah diberikan kepada kami dan menempatkan kami.

Kota as-Sara adalah salah satu kota yang paling indah, sangat besar di dataran, penuh sesak dengan penduduknya yang sangat banyak, indah pasarnya, luas jalan-jalannya. Suatu hari kami naik kendaraan bersama salah seorang pembesarnya dengan tujuan berkeliling dan mengetahui ukurannya. Tempat tinggal kami berada di salah satu ujungnya. Kami berangkat dari sana pada pagi hari dan tidak sampai ke ujung lainnya kecuali setelah matahari tergelincir. Kami salat zuhur dan makan. Kami tidak sampai ke tempat tinggal sampai waktu maghrib. Suatu hari kami berjalan melintasi lebarnya, pergi dan kembali, dalam setengah hari. Itu dalam keadaan bangunan yang bersambung, tidak ada kerusakan di dalamnya dan tidak ada kebun. Di dalamnya ada tiga belas masjid untuk menyelenggarakan salat Jumat: salah satunya untuk pengikut Syafii, sedangkan masjid selain itu sangat banyak. Di sana ada berbagai kelompok manusia, di antaranya bangsa Mughul—mereka adalah penduduk negeri dan para sultan, sebagian dari mereka Muslim—di antaranya bangsa As, mereka Muslim, di antaranya bangsa Qifchaq, Jarkis, Rusia, dan Rum, mereka Kristen. Setiap kelompok tinggal di tempat tersendiri yang di dalamnya ada pasarnya. Para pedagang dan orang asing dari penduduk kedua Irak, Mesir, Syam dan lainnya tinggal di tempat tersendiri yang dikelilingi tembok untuk menjaga harta para pedagang. Istana Sultan di sana disebut Altun Tasy. Altun dengan fathah hamzah, sukun lam, dammah tha tidak bertitik, wawu panjang dan nun, artinya emas. Tasy dengan fathah tha tidak bertitik dan syin bertitik, artinya kepala.

Hakim ibu kota ini adalah Badruddin al-A’raj, termasuk hakim-hakim terbaik. Di sana ada dari guru-guru Syafiiyah, yaitu fakih, imam yang utama, Sadruddin Sulaiman al-Lakzi, salah seorang yang mulia. Di sana ada dari Malikiyah, yaitu Syamsuddin al-Mishri. Ia termasuk orang yang agamanya dicela. Di sana ada zawiyah milik orang saleh al-Hajj Nizhamuddin. Ia menjamu kami di sana dan menghormati kami. Di sana ada zawiyah milik fakih, imam yang alim, Nu’manuddin al-Khawarizmi. Aku bertemu dengannya di sana. Ia termasuk syaikh-syaikh yang mulia, berakhlak baik, berjiwa mulia, sangat rendah hati, sangat berkuasa terhadap orang-orang dunia. Sultan Uzbak datang mengunjunginya setiap hari Jumat. Syaikh tidak menyambutnya dan tidak berdiri untuknya. Sultan duduk di hadapannya dan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang paling lembut, serta merendahkan diri kepadanya, sedangkan Syaikh berlawanan dengan itu! Perlakuannya terhadap orang-orang fakir, miskin, dan para pendatang berbeda dengan perlakuannya terhadap Sultan. Karena ia merendahkan diri kepada mereka, berbicara kepada mereka dengan kata-kata yang paling lembut, dan menghormati mereka. Ia menghormatiku, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, dan ia mengirim kepadaku seorang budak Turki. Aku menyaksikan berkahnya.

Tentang Keramatannya

Saya ingin melakukan perjalanan dari Sara menuju Khwarizm, namun beliau melarang saya dan berkata kepada saya, “Tinggallah beberapa hari, setelah itu barulah engkau berangkat.” Namun jiwa saya bergejolak, dan saya menemukan rombongan besar yang akan melakukan perjalanan, di antaranya ada para pedagang yang saya kenal. Maka saya sepakat untuk bepergian bersama mereka, dan saya memberitahukan hal itu kepadanya. Beliau berkata kepada saya, “Engkau harus tinggal dulu.” Saya bertekad untuk berangkat, namun seorang budak saya melarikan diri sehingga saya terpaksa tinggal karena hal itu. Ini adalah salah satu keramat yang nyata. Setelah tiga hari, salah seorang sahabat saya menemukan budak yang kabur itu di kota Haji Tarkhan, lalu membawanya kepada saya. Setelah itu barulah saya berangkat ke Khwarizm. Jarak antara Khwarizm dengan ibu kota Sara adalah padang pasir selama perjalanan empat puluh hari. Kuda tidak dapat melintasi daerah itu karena sedikitnya rumput, dan hanya unta yang menarik kereta-kereta di sana.

Facebook Comments Box

Penulis : Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati ath-Thanji, Abu Abdullah, Ibnu Batutah

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Agama-agama dan Mazhab-mazhab
AD-DAKHIL DALAM TAFSIR
TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Berita ini 7 kali dibaca

Artikel Terjkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:44 WIB

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:39 WIB

AD-DAKHIL DALAM TAFSIR

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Artikel Terbaru

Kitab Ulama

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:44 WIB

Uncategorized

Fawaid ilmiyah 11

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:42 WIB

Kitab Ulama

AD-DAKHIL DALAM TAFSIR

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:39 WIB

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB