Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 02

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 02

Bab Menyebutkan Kaum-Kaum yang Dibinasakan Secara Menyeluruh

Dan itu sebelum turunnya Taurat; dengan dalil firman Allah Ta’ala: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat yang dahulu (Al-Qashash: 43) Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Al-Bazzar dari hadits Auf Al-A’rabi, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Allah tidak membinasakan suatu kaum dengan azab dari langit atau dari bumi setelah diturunkannya Taurat di muka bumi, kecuali kampung yang penduduknya diubah menjadi kera; tidakkah kamu lihat bahwa Allah Ta’ala berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat yang dahulu Al-Bazzar merafa’kannya dalam salah satu riwayatnya, dan yang lebih tepat, wallahu a’lam, adalah mauquf. Maka ini menunjukkan bahwa setiap umat yang dibinasakan secara menyeluruh adalah sebelum Musa alaihi salam.

Di antara mereka: Ashabur Rass (penduduk sumur), Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Furqan: Dan (Kami telah membinasakan) ‘Ad, Tsamud, penduduk Ar-Rass, dan generasi-generasi yang banyak antara mereka. Dan kepada masing-masing mereka Kami telah membuat perumpamaan, dan masing-masing mereka telah Kami binasakan sehancur-hancurnya. (Al-Furqan: 38-39) Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Qaf: Sebelum mereka telah mendustakan kaum Nuh, penduduk Ar-Rass, Tsamud, ‘Ad, Fir’aun, saudara-saudara Luth, penduduk Aikah, dan kaum Tubba’. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka pastilah (ancaman-Ku) terhadap mereka. (Qaf: 12-14) Susunan ini dan sebelumnya menunjukkan bahwa mereka dibinasakan, dihancurkan, dan musnah, yaitu kehancuran. Dan ini menolak pilihan Ibnu Jarir bahwa mereka adalah Ashabul Ukhdud (penduduk parit) yang disebutkan dalam surat Al-Buruj; karena mereka menurut Ibnu Ishaq dan jamaah, adalah setelah Al-Masih alaihi salam. Dan dalam hal itu ada yang perlu diperhatikan juga. Ibnu Jarir meriwayatkan, ia berkata: Ibnu Abbas berkata: Ashabur Rass adalah penduduk kampung dari kampung-kampung Tsamud.

Al-Hafizh Al-Kabir Abu Al-Qasim Ibnu Asakir telah menyebutkan di awal “Tarikhnya”, ketika menyebutkan pembangunan Damaskus dari “Tarikh” Abu Al-Qasim Ubaidillah bin Abdullah bin Khurdadzibah dan lainnya, bahwa Ashabur Rass berada di Hadhur, maka Allah mengutus kepada mereka seorang nabi yang disebut Hanzhalah bin Shafwan. Mereka mendustakannya dan membunuhnya. Maka ‘Ad bin ‘Audh bin Iram bin Sam bin Nuh bergerak dengan anak-anaknya dari Ar-Rass, lalu menempati Al-Ahqaf, dan Allah membinasakan Ashabur Rass, dan mereka tersebar di seluruh Yaman, dan menyebar di seluruh bumi, hingga Jairun bin Sa’d bin ‘Ad bin ‘Audh bin Iram bin Sam bin Nuh menempati Damaskus dan membangun kotanya, dan menamainya Jairun dan itulah Iram yang bertiangkan tiang, dan tidak ada tiang-tiang batu di suatu tempat lebih banyak daripada di Damaskus. Maka Allah mengutus Hud bin Abdullah bin Rabah bin Khalid bin Al-Khulud bin ‘Ad kepada ‘Ad—yaitu anak-anak ‘Ad—di Al-Ahqaf, lalu mereka mendustakannya, dan Allah Azza Wa Jalla membinasakan mereka. Maka ini menuntut bahwa Ashabur Rass adalah sebelum ‘Ad dengan masa yang sangat lama. Wallahu a’lam.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Ashim, dari ayahnya, dari Syabib bin Bisyr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ar-Rass adalah sumur di Azerbaijan. Sa’id Ats-Tsauri berkata, dari Abu Bakir, dari Ikrimah, ia berkata: Ar-Rass adalah sumur yang mereka masukkan nabinya ke dalamnya. Yaitu; mereka menguburkannya di dalamnya. Ibnu Juraij berkata, Ikrimah berkata: Ashabur Rass berada di Falaj, dan mereka adalah Ashab Yasin. Qatadah berkata: Falaj adalah dari kampung-kampung Yamamah. Aku berkata: Jika mereka adalah Ashab Yasin, sebagaimana yang dikira oleh Ikrimah, maka mereka telah dibinasakan secara menyeluruh. Allah Ta’ala berfirman dalam kisah mereka: Tidak adalah teriakan itu selain satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (Yasin: 29) Dan kisah mereka akan disebutkan setelah ini. Dan jika mereka bukan mereka dan itu yang jelas, maka mereka juga telah dibinasakan dan musnah. Dan pada setiap kemungkinan, hal itu bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Jarir.

Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan an-Naqqasy telah menyebutkan bahwa penduduk ar-Rass memiliki sumur yang memberi mereka minum dan mencukupi seluruh tanah mereka. Mereka memiliki seorang raja yang adil dan baik perilakunya. Ketika raja itu meninggal, mereka sangat berduka cita atas kematiannya. Beberapa hari kemudian, syaitan menjelma dalam wujud sang raja dan berkata: “Aku tidak mati, tetapi aku menyembunyikan diri dari kalian untuk melihat apa yang kalian lakukan.” Mereka pun sangat bergembira, lalu syaitan memerintahkan untuk memasang tirai pemisah antara dirinya dan mereka. Ia memberitahu mereka bahwa ia tidak akan pernah mati. Kebanyakan dari mereka membenarkannya, terpedaya olehnya, dan menyembahnya. Maka Allah mengutus seorang nabi kepada mereka yang memberitahu bahwa yang berbicara dari balik tirai itu adalah syaitan, dan melarang mereka menyembahnya serta memerintahkan mereka untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu. As-Suhaili berkata: Nabi itu menerima wahyu melalui mimpi dan namanya adalah Hanzhalah bin Shafwan. Mereka menyerangnya lalu membunuhnya dan melemparkannya ke dalam sumur. Air sumur itu pun surut, mereka kehausan setelah sebelumnya berlimpah air, pohon-pohon mereka mengering, buah-buahan mereka terputus, rumah-rumah mereka hancur, dan mereka berubah dari ketenangan menjadi kesendirian, dari kebersamaan menjadi perpecahan, hingga mereka binasa seluruhnya. Jin dan binatang buas menempati rumah-rumah mereka, sehingga tidak terdengar di tempat-tempat mereka kecuali suara jin, auman singa, dan suara dubuk (hyena).

Adapun yang diriwayatkan—maksudnya Ibnu Jarir—dari Muhammad bin Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang pertama yang masuk surga pada hari kiamat adalah seorang hamba sahaya yang berkulit hitam. Hal itu karena Allah Ta’ala mengutus seorang nabi kepada penduduk suatu kampung, namun tidak ada yang beriman kepadanya kecuali hamba sahaya hitam itu saja. Kemudian penduduk kampung itu menyerang nabi tersebut, mereka menggali sumur untuknya dan melemparkannya ke dalamnya, lalu menutupnya dengan batu yang keras.” Ia berkata: “Hamba sahaya itu biasa pergi mencari kayu bakar yang dipanggulnya, lalu ia datang menjual kayu bakarnya dan membeli makanan dan minuman dengannya, kemudian ia mendatangi sumur itu, mengangkat batu tersebut dengan ditolong Allah, lalu menurunkan makanan dan minuman kepada nabi. Setelah itu ia mengembalikan batu seperti semula.” Ia berkata: “Demikianlah keadaannya selama Allah menghendaki. Kemudian pada suatu hari ia pergi mencari kayu bakar seperti biasa, mengumpulkan kayu dan mengikat ikatannya hingga selesai. Ketika ia hendak memikulnya, ia merasa mengantuk lalu berbaring tidur. Allah menutup telinganya selama tujuh tahun dalam keadaan tidur. Kemudian ia terbangun, meregangkan badannya, berbalik ke sisi lainnya lalu berbaring, maka Allah menutup telinganya selama tujuh tahun lagi. Kemudian ia terbangun dan memikul ikatannya, ia tidak mengira telah tidur kecuali hanya sesaat di siang hari. Ia pun datang ke kampung, menjual ikatannya, lalu membeli makanan dan minuman seperti biasa. Kemudian ia pergi ke lubang, ke tempat yang biasa ia datangi, ia mencarinya namun tidak menemukannya. Kaumnya telah berubah pikiran, mereka mengeluarkan nabi itu, beriman kepadanya dan membenarkannya.” Ia berkata: “Nabi mereka bertanya kepada mereka tentang hamba sahaya hitam itu: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak tahu.’ Hingga Allah mewafatkan nabi ‘alaihissalam itu, dan hamba sahaya hitam terbangun dari tidurnya setelah itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hamba sahaya hitam itu adalah orang pertama yang masuk surga.” Ini adalah hadits mursal, dan hadits semacam ini perlu dikaji. Mungkin perincian kisahnya berasal dari perkataan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. Wallahu a’lam. Kemudian Ibnu Jarir sendiri menolaknya dan berkata: Tidak boleh menganggap mereka ini sebagai Ashabur Rass yang disebutkan dalam Alquran. Ia berkata: Karena Allah memberitahu bahwa Ashabur Rass telah dibinasakan-Nya, sedangkan orang-orang ini telah berubah pikiran dan beriman kepada nabi mereka, kecuali jika terjadi peristiwa-peristiwa baru, mereka beriman kepada nabi setelah kebinasaan bapak-bapak mereka. Wallahu a’lam. Kemudian ia memilih bahwa mereka adalah Ashabul Ukhdud, dan ini lemah karena alasan yang telah disebutkan sebelumnya dan karena apa yang disebutkan dalam kisah Ashabul Ukhdud, di mana mereka diancam dengan siksa di akhirat jika mereka tidak bertobat, dan tidak disebutkan kebinasaan mereka, sedangkan kebinasaan Ashabur Rass disebutkan secara tegas. Wallahu a’lam.

Kisah Kaum Yasin Yaitu Penduduk Kampung

Allah Ta’ala berfirman: “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, (yaitu) penduduk suatu kampung ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.’ Mereka menjawab: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.’ Mereka berkata: ‘Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.’ Mereka (orang-orang kafir itu) berkata: ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.’ Mereka berkata: ‘Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.’ Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku harus mengambil sembahan-sembahan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.’ Dikatakan (kepadanya): ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’ Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (Yasin: 13-29).

Tersebar luas di kalangan Salaf dan Khalaf bahwa kampung ini adalah Antakiyah. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari apa yang sampai kepadanya dari Ibnu Abbas, Ka’ab al-Ahbar, dan Wahb bin Munabbih. Demikian juga diriwayatkan dari Buraidah bin al-Hushayb, Ikrimah, Qatadah, az-Zuhri, dan lain-lain. Ibnu Ishaq berkata dalam apa yang sampai kepadanya dari Ibnu Abbas, Ka’ab, dan Wahb bahwa mereka berkata: Kampung itu memiliki seorang raja bernama Antiyukhus bin Antiyuhus yang menyembah berhala. Maka Allah mengutus kepadanya tiga orang rasul yaitu Shadiq, Shudduq, dan Syalum, namun ia mendustakan mereka. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah utusan dari Allah ‘azza wajalla. Qatadah berpendapat bahwa mereka adalah utusan dari al-Masih. Demikian pula Ibnu Juraij berkata, dari Wahb bin Sulaiman, dari Syu’aib al-Jaba’i: Nama dua rasul pertama adalah Syam’un dan Yuhanna, sedangkan yang ketiga bernama Bulus, dan kampung itu adalah Antakiyah. Pendapat ini sangat lemah karena penduduk Antakiyah ketika al-Masih mengutus tiga orang dari al-Hawariyyin kepada mereka, mereka adalah kota pertama yang beriman kepada al-Masih pada masa itu. Oleh karena itu, Antakiyah menjadi salah satu dari empat kota tempat patriark Nashara berada, yaitu Antakiyah, Baitul Maqdis, Iskandariyah, dan Romawi. Kemudian setelah itu Konstantinopel. Mereka tidak dibinasakan, sedangkan penduduk kampung yang disebutkan dalam Alquran ini dibinasakan, sebagaimana dinyatakan di akhir kisah mereka setelah mereka membunuh pendukung para utusan: “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, (yaitu) penduduk suatu kampung ketika utusan-utusan datang kepada mereka.” Namun jika ketiga rasul yang disebutkan dalam Alquran diutus kepada penduduk Antakiyah pada zaman dahulu, lalu mereka mendustakan dan Allah membinasakan mereka, kemudian kota itu dihuni kembali, maka ketika pada zaman al-Masih mereka beriman kepada utusan-utusannya kepada mereka, maka hal ini tidak mustahil. Wallahu a’lam. Adapun pendapat bahwa kisah yang disebutkan dalam Alquran ini adalah kisah tentang pengikut al-Masih, maka ini lemah karena alasan yang telah disebutkan, dan karena konteks Alquran yang jelas mengisyaratkan bahwa para utusan ini dari Allah.

Allah Ta’ala berfirma: “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan” maksudnya bagi kaummu wahai Muhammad “penduduk suatu kampung” yaitu kota “ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga” maksudnya Kami menguatkan keduanya dengan yang ketiga dalam risalah “maka ketiga utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.'” Mereka menolak dengan mengatakan bahwa para utusan itu adalah manusia seperti mereka, sebagaimana kaum-kaum kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, mereka menganggap aneh bahwa Allah mengutus nabi yang berbentuk manusia. Maka para utusan itu menjawab bahwa Allah mengetahui bahwa mereka adalah utusan-Nya kepada mereka, dan seandainya mereka berdusta atas nama-Nya, maka Dia akan menghukum mereka dengan hukuman yang sangat keras “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas” maksudnya kewajiban kami hanyalah menyampaikan kepada kalian apa yang kami diutus dengannya kepada kalian, dan Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. “Mereka (orang-orang kafir itu) berkata: ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu” maksudnya kami merasa sial dengan apa yang kalian bawa kepada kami “sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu” ada yang berpendapat dengan perkataan. Ada yang berpendapat dengan perbuatan. Yang menguatkan pendapat pertama adalah firman-Nya “dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami” mereka mengancam para utusan dengan pembunuhan dan penghinaan. “Mereka berkata: ‘Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri'” maksudnya kembali kepada kalian sendiri “Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)?” maksudnya karena kami mengingatkan kalian tentang petunjuk dan menyeru kalian kepadanya, kalian mengancam kami dengan pembunuhan dan penghinaan “Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas” maksudnya kalian tidak menerima kebenaran dan tidak menginginkannya.

Firman-Nya Ta’ala: “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas” maksudnya untuk menolong para utusan dan menampakkan keimanan kepada mereka. “ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk'” maksudnya mereka menyeru kalian kepada kebenaran yang murni, tanpa upah dan tanpa imbalan. Kemudian ia menyeru mereka untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu, dan melarang mereka menyembah selain-Nya, yang sama sekali tidak bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. “Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata” maksudnya jika aku meninggalkan ibadah kepada Allah dan menyembah selain-Nya. Kemudian ia berkata sambil berbicara kepada para utusan: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” Ada yang berpendapat: maka dengarkanlah perkataanku dan bersaksilah untukku dengan hal itu di hadapan Tuhan kalian. Ada yang berpendapat: maksudnya dengarkanlah wahai kaumku keimananku kepada utusan-utusan Allah secara terang-terangan. Maka pada saat itulah mereka membunuhnya. Ada yang mengatakan: dengan merajam. Ada yang mengatakan: dengan menggigit. Ada yang mengatakan: mereka menyerangnya dengan serangan satu orang lalu membunuhnya. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari sebagian teman-temannya, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Mereka menginjaknya dengan kaki-kaki mereka hingga usus-ususnya keluar.

Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz: Nama laki-laki ini adalah Habib bin Murri. Kemudian ada yang mengatakan: ia adalah seorang tukang kayu. Ada yang mengatakan: pembuat tali. Ada yang mengatakan: tukang sepatu. Ada yang mengatakan: tukang penatu. Ada yang mengatakan: ia beribadah di sebuah gua di sana. Wallahu a’lam. Dari Ibnu Abbas: Habib an-Najjar telah diserang penyakit kusta, dan ia banyak bersedekah, kaumnya membunuhnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dikatakan (kepadanya): ‘Masuklah ke surga'” maksudnya ketika kaumnya membunuhnya, Allah memasukkannya ke surga. Ketika ia melihat kenikmatan dan kegembiraan yang ada di dalamnya, ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” maksudnya agar mereka beriman dengan apa yang aku imani, sehingga mereka mendapatkan apa yang aku dapatkan. Ibnu Abbas berkata: Ia menasihati kaumnya semasa hidupnya “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu” dan setelah kematiannya “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Demikian pula Qatadah berkata: Engkau tidak akan menemui orang mukmin kecuali ia seorang penasehat, engkau tidak akan menemuinya sebagai penipu. Ketika ia menyaksikan apa yang ia saksikan dari kemuliaan Allah, ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” ia berharap kepada Allah agar kaumnya mengetahui apa yang ia saksikan dari kemuliaan Allah dan apa yang ia temui. Qatadah berkata: Maka tidak, demi Allah, Allah tidak menegur kaumnya setelah pembunuhannya “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.”

Firman-Nya Ta’ala: “Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya” maksudnya Kami tidak membutuhkan untuk membalas mereka dengan menurunkan pasukan dari langit kepada mereka. Inilah makna yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dari sebagian teman-temannya, dari Ibnu Mas’ud. Mujahid dan Qatadah berkata: “Dan tidak menurunkan kepada mereka pasukan” maksudnya risalah yang lain. Ibnu Jarir berkata: Yang pertama lebih tepat. Aku katakan: dan lebih kuat. Oleh karena itu Allah berfirman: “dan tidak layak Kami menurunkannya” maksudnya Kami tidak memerlukan hal ini dalam pembalasan, ketika mereka mendustakan utusan-utusan Kami dan membunuh wali Kami “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.”

Para ahli tafsir berkata: Allah mengutus Jibril ‘alaihissalam kepada mereka, lalu ia memegang kedua tiang pintu kota mereka, kemudian berteriak kepada mereka dengan satu teriakan “maka tiba-tiba mereka semuanya mati” maksudnya suara-suara mereka padam, gerakan-gereka berhenti, dan tidak ada satupun mata dari mereka yang berkedip. Semua ini menunjukkan bahwa kampung ini bukanlah Antakiyah, karena orang-orang ini dibinasakan karena mendustakan utusan-utusan Allah kepada mereka, sedangkan penduduk Antakiyah beriman dan mengikuti utusan-utusan al-Masih dari al-Hawariyyin kepada mereka. Oleh karena itu dikatakan: Sesungguhnya Antakiyah adalah kota pertama yang beriman kepada al-Masih. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari hadits Husain al-Asysqar, dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang mendahului ada tiga: yang mendahului kepada Musa adalah Yusya’ bin Nun, yang mendahului kepada Isa adalah sahabat Yasin, dan yang mendahului kepada Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.” Sesungguhnya ini adalah hadits yang tidak shahih karena Husain ini matruk (ditinggalkan), dan ia adalah seorang Syi’ah dari golongan ghulat (yang berlebihan), dan kesendirannya dalam meriwayatkan ini menunjukkan kelemahannya secara keseluruhan. Wallahu a’lam.

Kisah Yunus alaihissalam

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus: “Maka mengapa tidak ada suatu negeri yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang ditentukan.” (Yunus: 98)

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka dia berseru dalam kegelapan: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun mengabulkan (doa)nya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 87-88)

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ash-Shaffat: “Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan. Kemudian Kami lemparkan dia ke tanah lapang, sedang dia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka sampai waktu yang tertentu.” (Ash-Shaffat: 139-148)

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qalam: “Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa sedang dia dalam keadaan marah yang menumpuk. Kalau tidak sampai kepadanya nikmat dari Tuhannya, niscaya dia akan dilemparkan ke tanah lapang dalam keadaan tercela. Kemudian Tuhannya memilihnya, lalu Dia menjadikan dia termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Qalam: 48-50)

Para ahli tafsir berkata: Allah mengutus Yunus alaihissalam kepada penduduk Nainawa di wilayah Mausil. Dia menyeru mereka kepada Allah Azza wa Jalla, namun mereka mendustakannya dan terus membangkang dalam kekufuran dan keingkaran mereka. Ketika hal itu berlarut-larut, dia keluar dari tengah-tengah mereka dan memberitahukan kepada mereka bahwa azab akan menimpa mereka setelah tiga hari.

Ibnu Mas’ud, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan banyak ulama salaf dan khalaf berkata: Ketika dia keluar dari tengah-tengah mereka dan mereka yakin bahwa azab akan turun kepada mereka, Allah memasukkan ke dalam hati mereka taubat dan kembali kepada-Nya. Mereka menyesali apa yang telah mereka perbuat terhadap nabi mereka. Mereka mengenakan kain karung kasar, memisahkan setiap binatang ternak dari anaknya, kemudian mereka merintih kepada Allah Azza wa Jalla, berteriak dan memohon kepada-Nya dengan penuh kerendahan. Para laki-laki, perempuan, anak laki-laki, dan anak perempuan menangis. Para ibu pun menangis. Binatang-binatang ternak pun meraung, unta dan anak-anaknya merintih, sapi dan anak-anaknya melenguh, domba dan anak-anaknya mengembik. Itu adalah saat yang sangat dahsyat dan menakutkan. Maka Allah Yang Maha Agung dengan kekuasaan-Nya, pertolongan-Nya, kasih sayang-Nya, dan rahmat-Nya mengangkat dari mereka azab yang telah sampai kepada mereka dan berputar di atas kepala mereka seperti bagian-bagian malam yang gelap gulita. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa tidak ada suatu negeri yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya”, artinya mengapa tidak ditemukan dalam umat-umat yang telah lalu suatu negeri yang beriman secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa hal itu tidak pernah terjadi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus dengannya.'” (Saba’: 34)

Dan firman-Nya: “Selain kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang ditentukan”, artinya mereka beriman secara keseluruhan. Para mufassir berbeda pendapat: Apakah iman ini bermanfaat bagi mereka di akhirat sehingga menyelamatkan mereka dari azab akhirat, sebagaimana menyelamatkan mereka dari azab dunia? Ada dua pendapat. Yang lebih jelas dari konteks ayat: ya, insya Allah. Wallahu a’lam. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Ketika mereka beriman”, dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, maka Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka sampai waktu yang tertentu.” Dan pemberian kesenangan sampai waktu tertentu ini tidak menafikan bahwa bersama itu ada yang lainnya, yaitu terangkatnya azab akhirat. Wallahu a’lam.

Mereka pasti berjumlah seratus ribu. Mereka berbeda pendapat tentang kelebihannya. Dari Makhul: sepuluh ribu. At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari hadits Zuhair, dari orang yang mendengar Abul ‘Aliyah: Telah menceritakan kepadaku Ubay bin Ka’ab bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang firman-Nya “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih”, beliau bersabda: “Lebih, yaitu dua puluh ribu.” Seandainya orang yang tidak disebutkan namanya ini tidak ada, hadits ini akan menjadi pemutus dalam masalah ini. Dari Ibnu Abbas: mereka berjumlah seratus tiga puluh ribu. Darinya juga: dan beberapa puluh tiga ribu. Darinya juga: dan beberapa puluh empat ribu. Sa’id bin Jubair berkata: mereka berjumlah seratus tujuh puluh ribu. Mereka berbeda pendapat: Apakah pengutusan beliau kepada mereka sebelum peristiwa ikan atau sesudahnya, atau mereka adalah dua umat? Ada tiga pendapat, yang dijelaskan secara rinci dalam kitab tafsir.

Yang dimaksud adalah bahwa beliau alaihissalam ketika pergi dalam keadaan marah karena kaumnya, dia naik sebuah kapal di laut. Kapal itu terombang-ambing, berguncang, dan bergoyang dengan mereka serta menjadi berat dengan muatannya, dan mereka hampir tenggelam, sebagaimana disebutkan oleh para mufassir. Mereka berkata: Mereka bermusyawarah di antara mereka untuk mengundi, maka siapa yang kena undian akan dilemparkan dari kapal agar beban kapal berkurang. Ketika mereka mengundi, undian jatuh pada Nabi Allah Yunus. Namun mereka tidak rela, lalu mengulang undian untuk kedua kalinya dan undian jatuh pada beliau lagi. Maka beliau bersiap untuk melepas pakaiannya dan melemparkan dirinya, tetapi mereka menolak. Kemudian mereka mengulang undian untuk ketiga kalinya dan undian jatuh pada beliau lagi, karena Allah menghendaki baginya suatu urusan yang agung. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” Yaitu ketika undian jatuh padanya, dia dilemparkan ke laut. Allah Azza wa Jalla mengirim seekor ikan besar dari laut hijau yang menelannya. Allah Ta’ala memerintahkan ikan itu: jangan makan dagingnya dan jangan hancurkan tulangnya, karena dia bukan rezekimu. Maka ikan itu membawanya berkeliling di semua lautan. Ada yang mengatakan: ikan yang menelan itu ditelan oleh ikan lain yang lebih besar darinya.

Mereka berkata: Ketika dia sudah berada di dalam perut ikan, dia mengira bahwa dia telah mati. Lalu dia menggerakkan anggota tubuhnya dan ternyata bergerak, ternyata dia masih hidup. Maka dia sujud kepada Allah dan berkata: Wahai Tuhanku, aku telah mengambil untukMu sebuah masjid yang tidak ada seorang pun yang menyembah-Mu di tempat sepertinya.

Mereka berbeda pendapat tentang lamanya dia tinggal di dalam perut ikan. Mujalid dari Asy-Sya’bi berkata: Dia ditelan pada waktu dhuha dan dikeluarkan pada waktu sore. Qatadah berkata: Dia tinggal di dalamnya tiga hari. Ja’far Ash-Shadiq berkata: Tujuh hari. Ini diperkuat oleh syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt:

Dan Engkau dengan karunia dariMu menyelamatkan Yunus Padahal dia telah bermalam di lipatan-lipatan ikan berhari-hari

Sa’id bin Abi Al-Hasan dan Abu Malik berkata: Dia tinggal di dalam perutnya empat puluh hari. Wallahu a’lam berapa lama dia tinggal di dalamnya.

Yang dimaksud adalah bahwa ketika ikan itu berkeliling dengannya di dasar lautan yang dalam dan menerjangnya di gelombang air asin yang dahsyat, dia mendengar tasbih ikan-ikan kepada Ar-Rahman, bahkan dia mendengar tasbih kerikil kepada Yang Membelah biji dan benih, Tuhan tujuh langit dan tujuh bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Maka pada saat itu dan di sanalah dia mengatakan apa yang dia katakan dengan lisan keadaan dan lisan perkataan, sebagaimana diberitakan tentangnya oleh Dzul ‘Izzah wal Jalal, Yang mengetahui yang tersembunyi dan yang rahasia, Yang menghilangkan kesusahan dan bencana, Yang mendengar semua suara meskipun lemah, Yang mengetahui hal-hal tersembunyi meskipun halus, Yang mengabulkan doa-doa meskipun besar, ketika Dia berfirman dalam Kitab-Nya yang jelas, yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang terpercaya, dan Dia adalah yang paling benar perkataannya, Tuhan semesta alam, dan Sesembahan para rasul: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka dia berseru dalam kegelapan: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun mengabulkan (doa)nya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

“Lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya”, artinya menyulitkan. Ada yang mengatakan: maknanya adalah menentukan, dari kata taqdir (penentuan). Ini adalah bahasa yang masyhur: qadara dan qaddara. Sebagaimana dikatakan oleh penyair:

Tidak akan kembali zaman yang telah berlalu Maha Suci Engkau, apa yang Engkau tentukan akan terjadi dan itu adalah ketetapan-Mu

“Maka dia berseru dalam kegelapan”. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, ‘Amr bin Maimun, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, Al-Hasan, Qatadah, dan Ad-Dhahhak berkata: kegelapan perut ikan, kegelapan laut, dan kegelapan malam. Salim bin Abi Al-Ja’d berkata: Ikan itu ditelan oleh ikan lain, maka terjadilah kegelapan dua ikan ditambah kegelapan laut.

Firman Allah Ta’ala: “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan.” Ada yang mengatakan: maknanya adalah kalau bukan karena dia bertasbih kepada Allah di sana dan mengatakan apa yang dia katakan berupa tahlil dan tasbih, serta pengakuan kepada Allah dengan tunduk, bertaubat kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya, niscaya dia akan tetap tinggal di sana sampai hari kiamat, dan akan dibangkitkan dari dalam perut ikan itu. Ini adalah makna yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dalam salah satu riwayat darinya. Ada yang mengatakan: maknanya adalah kalau bukan karena dia sebelum ditelan ikan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, yaitu orang-orang yang taat, orang-orang yang shalat, orang-orang yang banyak mengingat Allah. Ini dikatakan oleh Ad-Dhahhak bin Qais, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Wahb bin Munabbih, Sa’id bin Jubair, Ad-Dhahhak, As-Suddi, ‘Atha’ bin As-Sa’ib, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan banyak lainnya. Ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan sebagian ahli hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dan Al-Bazzar dalam musnadnya dari hadits Muhammad bin Ishaq, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Abdullah bin Rafi’ maula Ummu Salamah, aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Allah berkehendak menahan Yunus di dalam perut ikan, Allah mewahyukan kepada ikan: Ambil dia dan jangan melukai daging dan jangan patahkan tulang. Ketika ikan membawanya sampai ke dasar laut, Yunus mendengar suara bisikan. Dia berkata dalam hatinya: Apa ini? Maka Allah mewahyukan kepadanya, sedang dia di dalam perut ikan: Ini adalah tasbih binatang-binatang laut. Maka dia pun bertasbih di dalam perut ikan, dan para malaikat mendengar tasbihnya. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar suara lemah dari negeri yang asing. Dia berfirman: Itu adalah hamba-Ku Yunus, dia bermaksiat kepada-Ku maka Aku tahan dia di dalam perut ikan di laut. Mereka berkata: Hamba yang saleh yang setiap hari dan malam naik kepada-Mu darinya amal saleh? Dia berfirman: Ya. Maka mereka memberi syafaat untuknya pada saat itu, lalu Allah memerintahkan ikan itu sehingga melemparkannya di pantai, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman ‘sedang dia dalam keadaan sakit’.” Ini adalah lafal Ibnu Jarir dengan sanad dan matannya. Kemudian Al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan sanad ini, demikianlah katanya.

Ibnu Abi Hatim berkata dalam tafsirnya: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidillah Ahmad bin Abdurrahman bin keponakan Wahb, telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepadaku Abu Shakhr, bahwa Yazid Ar-Raqasyi menceritakan kepadanya, dia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik, dan aku tidak mengetahui kecuali bahwa Anas memarfu’kan hadits ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Nabi Yunus alaihissalam, ketika terlintas dalam pikirannya untuk berdoa dengan kalimat-kalimat ini, sedang dia di dalam perut ikan, dia berkata: Ya Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka doa itu datang memutar di sekitar Arasy. Para malaikat berkata: Wahai Tuhan, suara yang lemah yang dikenal dari negeri yang asing. Dia berfirman: Tidakkah kalian mengenal itu? Mereka berkata: Wahai Tuhan, siapa dia? Dia berfirman: Hamba-Ku Yunus. Mereka berkata: Hamba-Mu Yunus yang tidak henti-hentinya terangkat untuknya amal yang diterima dan doa yang dikabulkan? Dia berfirman: Ya. Mereka berkata: Wahai Tuhan, tidakkah Engkau merahmati apa yang telah dia perbuat di waktu lapang, lalu menyelamatkannya dari bencana? Dia berfirman: Tentu. Maka Allah memerintahkan ikan itu lalu melemparkannya di tanah lapang.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Yunus, dari Ibnu Wahb dengannya. Ibnu Abi Hatim menambahkan: Abu Shakhr Humaid bin Ziyad berkata: Maka Ibnu Qusaith memberitahuku, sedang aku menceritakan hadits ini kepadanya, bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata: Dia dilemparkan di tanah lapang, dan Allah menumbuhkan untuknya pohon labu. Kami berkata: Wahai Abu Hurairah, apa itu labu? Dia berkata: Pohon labu. Abu Hurairah berkata: Dan Allah menyediakan untuknya seekor kambing gunung liar yang makan dari rerumputan bumi, maka (susu kambing itu) mengalir kepadanya, memuaskan dahaganya dengan susunya, setiap sore dan pagi, hingga dia pulih.

Umayyah bin Abi Ash-Shalt mengatakan tentang itu dalam satu bait syairnya:

Maka Dia menumbuhkan labu untuknya dengan rahmat Dari Allah, kalau bukan karena Allah niscaya dia tergeletak di bawah terik matahari

Ini juga gharib dari jalur ini, dan Yazid Ar-Raqasyi lemah, tetapi hadits ini diperkuat oleh hadits Abu Hurairah sebelumnya, sebagaimana hadits itu diperkuat oleh hadits ini. Wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami lemparkan dia”, artinya Kami letakkan dia “ke tanah lapang”, yaitu tempat kosong yang tidak ada pohon di dalamnya, tetapi kosong dari pohon-pohon “sedang dia dalam keadaan sakit”, artinya lemah badannya. Ibnu Mas’ud berkata: Seperti anak burung yang baru menetas, tidak ada bulu padanya. Ibnu Abbas, As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata: Seperti bayi yang baru lahir, yaitu yang baru keluar dari kandungan, tidak ada sesuatu pun padanya.

“Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, ‘Ikrimah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Wahb bin Munabbih, Hilal bin Yasaf, Abdullah bin Thawus, As-Suddi, Qatadah, Ad-Dhahhak, ‘Atha’ Al-Khurasani, dan banyak lainnya berkata: Itu adalah labu.

Sebagian ulama berkata: Dalam penumbuhan labu untuknya terdapat hikmah yang banyak, di antaranya: daunnya sangat lembut, banyak, dan teduh, tidak didekati lalat, buahnya bisa dimakan dari awal tumbuhnya sampai akhir, baik mentah maupun matang, dengan kulitnya dan bijinya juga, di dalamnya terdapat banyak manfaat, menguatkan otak, dan lain-lain. Telah disebutkan sebelumnya perkataan Abu Hurairah tentang Allah menundukkan untuknya kambing gunung itu yang menyusuinya dengan susunya, merumput di padang, dan datang kepadanya pagi dan sore. Ini adalah rahmat Allah kepadanya, nikmat-Nya atasnya, dan kebaikan-Nya kepadanya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami pun mengabulkan (doa)nya dan menyelamatkannya dari kesusahan”, artinya kesempitan dan kesulitan yang dia alami. “Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”, artinya inilah perbuatan Kami terhadap setiap orang beriman yang berdoa kepada Kami dan memohon perlindungan kepada Kami.

Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Imran bin Bakkar Al-Kila’i, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya bin Abdurrahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Manshur, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dia berkata: Aku mendengar Sa’d bin Malik, yaitu Ibnu Abi Waqqash, berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nama Allah yang apabila dipanggil dengan-Nya Dia mengabulkan, dan apabila diminta dengan-Nya Dia memberi, adalah doa Yunus bin Matta.” Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah itu khusus untuk Yunus ataukah untuk kaum muslimin secara umum? Beliau bersabda: “Itu khusus untuk Yunus, dan untuk orang-orang beriman secara umum apabila mereka berdoa dengan-Nya. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala: ‘Maka dia berseru dalam kegelapan: Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami pun mengabulkan (doa)nya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.’ Maka itu adalah syarat dari Allah bagi siapa yang berdoa kepada-Nya dengan-Nya.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyajj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Katsir bin Zaid, dari Al-Muththalib bin Hanthab—Abu Khalid berkata: Aku mengira dari Mush’ab, yaitu Ibnu Sa’d—dari Sa’d, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berdoa dengan doa Yunus, niscaya akan dikabulkan untuknya.” Abu Sa’id Al-Asyajj berkata: Maksudnya adalah “Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” Ini adalah dua jalur dari Sa’d.

Dan yang ketiga lebih baik dari keduanya; Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Umar, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abi Ishaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku ayahku Muhammad, dari ayahnya Sa’d – yaitu Ibnu Abi Waqqash – ia berkata: Aku melewati Utsman bin Affan di masjid, lalu aku memberinya salam, dia memenuhi matanya kepadaku kemudian tidak menjawab salamku. Lalu aku mendatangi Umar bin Al-Khaththab dan berkata: Wahai Amirul Mukminin, apakah terjadi sesuatu dalam Islam? dua kali. Dia berkata: Tidak, memangnya kenapa? Aku berkata: Tidak ada, hanya saja aku melewati Utsman tadi di masjid, lalu aku memberinya salam, dia memenuhi matanya kepadaku, kemudian tidak menjawab salamku. Dia berkata: Lalu Umar mengirim utusan kepada Utsman dan memanggilnya, kemudian berkata: Apa yang menghalangimu untuk tidak menjawab salam saudaramu? Dia berkata: Aku tidak melakukannya. Sa’d berkata: Aku berkata: Tidak, kamu melakukannya. Sampai dia bersumpah dan aku pun bersumpah. Dia berkata: Kemudian Utsman teringat, lalu berkata: Benar, dan aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Sesungguhnya kamu melewatiku tadi, sedangkan aku sedang membincangkan dalam diriku sebuah kalimat yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demi Allah, tidaklah aku mengingatnya melainkan akan menutupi penglihatanku dan hatiku sebuah tutupan. Sa’d berkata: Maka aku akan memberitahumu tentangnya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan kepada kami doa yang pertama, kemudian datang seorang Arab Badui lalu menyibukkannya, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri, maka aku mengikutinya. Ketika aku khawatir dia akan mendahuluiku ke rumahnya, aku menghentakkan kakiku ke tanah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpaling kepadaku dan berkata: Siapa ini? Abu Ishaq? Dia berkata: Aku berkata: Ya, wahai Rasulullah. Dia berkata: Apa itu? Aku berkata: Tidak, demi Allah, hanya saja kamu menyebutkan kepada kami doa yang pertama, kemudian datang Arab Badui ini lalu menyibukkanmu. Dia berkata: Ya, doa Dzun Nun ketika dia berada di perut ikan paus: “Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” (Surah Al-Anbiya:87). Maka sesungguhnya tidaklah berdoa dengan doa itu seorang muslim kepada Tuhannya dalam suatu hal melainkan akan dikabulkan baginya.

Dan telah meriwayatkannya At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari hadits Ibrahim bin Muhammad bin Sa’d dengannya.

Penyebutan Keutamaan Yunus alaihissalam

Allah Taala berfirman: “Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk di antara para rasul” (Surah Ash-Shaffat:139). Dan Allah Taala menyebutkannya dalam kelompok nabi-nabi yang mulia dalam Surah An-Nisa dan Surah Al-An’am, semoga atas mereka limpahan shalawat dan salam terbaik dari Allah.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersaid: Tidak pantas bagi seseorang untuk mengatakan: Aku lebih baik dari Yunus bin Matta. Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Sufyan Ats-Tsauri dengannya.

Dan Al-Bukhari juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu Al-Aliyah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak pantas bagi seorang hamba untuk mengatakan: Sesungguhnya aku lebih baik dari Yunus bin Matta. Dan beliau menisbahkannya kepada ayahnya. Dan telah meriwayatkannya Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud dari hadits Syu’bah dengannya. Syu’bah berkata sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud darinya: Qatadah tidak mendengar dari Abu Al-Aliyah kecuali empat hadits, ini salah satunya.

Dan telah meriwayatkannya Imam Ahmad dari Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Dan tidak pantas bagi seorang hamba untuk mengatakan: Aku lebih baik dari Yunus bin Matta. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya.

Dan telah meriwayatkannya Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabrani: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan bin Kaisan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Raja’, telah memberitakan kepada kami Isra’il, dari Abu Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak pantas bagi seseorang untuk mengatakan: Aku di sisi Allah lebih baik dari Yunus bin Matta. Sanadnya bagus dan mereka tidak mengeluarkannya.

Dan Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim, aku mendengar Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak pantas bagi seorang hamba untuk mengatakan: Aku lebih baik dari Yunus bin Matta. Dan demikian juga Muslim meriwayatkannya dari hadits Syu’bah dengannya.

Dan dalam Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Al-Fadhl, dari Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dalam kisah orang Muslim yang menampar wajah orang Yahudi ketika dia berkata: Tidak, demi Dzat yang memilih Musa atas seluruh alam. Al-Bukhari berkata di akhirnya: Dan aku tidak mengatakan: Bahwa seseorang lebih baik dari Yunus bin Matta. Artinya; tidak ada hak bagi seseorang untuk melebihkan dirinya atas Yunus. Dan dalam riwayat lain: Tidak pantas bagi seseorang untuk melebihkan aku atas Yunus bin Matta. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebagian hadits: Janganlah kalian melebihkan aku atas para nabi, dan tidak pula atas Yunus bin Matta. Dan ini termasuk dalam bab rendah hati dan tawadhu darinya, semoga shalawat dan salam Allah atasnya dan atas seluruh nabi dan rasul Allah.

Penyebutan Kisah Musa Al-Kalim alaihissalam

Dia adalah Musa bin Imran bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim alaihimussalam. Allah Taala berfirman: “Dan ingatlah kisah Musa di dalam Al-Kitab. Sesungguhnya dia adalah seorang yang terpilih, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan Kami memanggilnya dari sisi gunung yang sebelah kanan dan Kami mendekatkannya dengan cara berbisik kepada Kami. Dan Kami menganugerahkan kepadanya dari rahmat Kami saudaranya Harun sebagai nabi” (Surah Maryam:51-53). Dia disebutkan dengan kerasulan, kenabian, keikhlasan, pembicaraan dan penghampiran, dan Allah menganugerahkan kepadanya dengan menjadikan saudaranya Harun sebagai nabi. Dan Allah Taala telah menyebutkannya di banyak tempat yang tersebar dalam Al-Quran, dan menyebutkan kisahnya di beberapa tempat yang terperinci, sedang, dan singkat. Dan kami telah berbicara tentang semua itu di tempat-tempatnya dalam Tafsir. Dan kami akan menyebutkan biografinya di sini, dari awalnya hingga akhirnya dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan apa yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari Israiliyyat yang disebutkan oleh para salaf dan lainnya, insya Allah, dan kepada-Nya lah kepercayaan dan kepada-Nya sandaran.

Allah Taala berfirman: “Tha Sin Mim. Ini adalah ayat-ayat Kitab yang nyata. Kami membacakan kepadamu sebagian berita Musa dan Fir’aun dengan benar untuk kaum yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi. Dan meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan memperlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka” (Surah Al-Qashash:1-6).

Allah Taala menyebutkan ringkasan kisah kemudian menguraikannya setelah ini. Maka Allah Subhanahu disebutkan bahwa Dia membacakan kepada nabi-Nya berita Musa dan Fir’aun dengan kebenaran; artinya dengan kejujuran yang seakan-akan pendengarnya menyaksikan perkara itu dan melihatnya. “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah” artinya; dia bersikap sombong dan melampaui batas, berbuat sewenang-wenang dan zalim, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia serta berpaling dari ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi. Dan menjadikan penduduknya berpecah belah artinya; dia membagi rakyatnya menjadi beberapa kelompok, bagian, dan jenis, “dengan menindas segolongan dari mereka” yaitu golongan Bani Israil yang merupakan keturunan dari nabi Allah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilullah. Dan mereka pada saat itu adalah sebaik-baik penduduk bumi, dan Allah menguasakan atas mereka raja yang zalim, kejam, kafir, dan jahat ini, yang memperbudak dan mempekerjakan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang paling hina, paling buruk, dan paling rendah. Dan dengan semua ini dia menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. “Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dan yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk ini adalah bahwa Bani Israil saling membahas di antara mereka apa yang mereka riwayatkan dari Ibrahim Al-Khalil alaihissalam, bahwa akan keluar dari keturunannya seorang anak laki-laki yang akan menjadi kehancuran raja Mesir di tangannya. Dan itu, wallahu a’lam, ketika terjadi pada Sarah istri Al-Khalil dari raja Mesir yang menginginkan dia untuk berbuat buruk, dan perlindungan Allah untuknya. Dan berita gembira ini terkenal di kalangan Bani Israil, lalu orang-orang Qibti membicarakannya di antara mereka, dan sampai kepada Fir’aun di majelis obrolan malamnya bersama para pembesar dan para pemimpinnya saat mereka berbincang-bincang di sisinya. Maka dia memerintahkan pada saat itu untuk membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil; sebagai kehati-hatian dari keberadaan anak laki-laki ini, dan tidak akan berguna kehati-hatian dari takdir.

Dan As-Suddi menyebutkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa orang sahabat, bahwa Fir’aun melihat dalam mimpinya seakan-akan api telah datang dari arah Baitul Maqdis lalu membakar rumah-rumah Mesir dan seluruh orang Qibti, dan tidak membahayakan Bani Israil. Ketika dia terbangun, dia merasa ketakutan dengan itu lalu mengumpulkan para ahli nujum, dukun, dan penyihir, dan bertanya kepada mereka tentang itu. Maka para ahli nujum berkata kepadanya: Ini adalah seorang anak laki-laki yang akan lahir dari Bani Israil, yang akan menjadi sebab kehancuran penduduk Mesir di tangannya. Maka karena ini dia memerintahkan untuk membunuh anak-anak laki-laki dan membiarkan perempuan-perempuan. Oleh karena itu Allah Taala berfirman: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi” yaitu Bani Israil “dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi” artinya; orang-orang yang akan kembali kepada mereka kekuasaan Mesir dan negeri-negerinya. “Dan meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan memperlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka” artinya; Kami akan menjadikan yang lemah menjadi kuat, yang tertindas menjadi penguasa, dan yang hina menjadi mulia. Dan semua ini telah terjadi pada Bani Israil; sebagaimana Allah Taala berfirman: “Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri yang bagian timurnya dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka” (Surah Al-A’raf:137). Dan Allah Taala berfirman: “Maka Kami keluarkan mereka dari taman-taman dan mata air-mata air, dan perbendaharaan dan tempat tinggal yang mulia. Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya itu kepada Bani Israil” (Surah Asy-Syu’ara:57-59). Dan akan datang perincian tentang itu di tempatnya insya Allah Taala.

Dan maksudnya adalah bahwa Fir’aun berhati-hati dengan segala kehati-hatian agar Musa tidak ada, hingga dia menjadikan laki-laki dan bidan berkeliling pada wanita-wanita hamil dan mengetahui waktu melahirkan mereka. Maka tidaklah melahirkan seorang wanita anak laki-laki melainkan para penyembelih itu menyembelihnya pada saat itu juga. Dan menurut Ahli Kitab bahwa sesungguhnya dia hanya memerintahkan untuk menyembelih anak-anak laki-laki agar kekuatan Bani Israil melemah, sehingga mereka tidak bisa melawan mereka jika mereka memerangi atau membunuh mereka. Dan dalam ini ada pertimbangan, bahkan itu batil. Dan sesungguhnya ini terjadi setelah pengutusan Musa, maka dia membunuh anak-anak, sebagaimana Allah Taala berfirman: “Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari sisi Kami, mereka berkata: Bunuhlah anak-anak laki-laki orang-orang yang beriman bersama dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka” (Surah Ghafir:25). Oleh karena itu Bani Israil berkata kepada Musa: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan setelah kamu datang” (Surah Al-A’raf:129). Maka yang benar adalah bahwa Fir’aun hanya memerintahkan untuk membunuh anak-anak laki-laki pada awalnya sebagai kehati-hatian dari keberadaan Musa alaihissalam. Ini, sedangkan takdir berkata: Wahai raja yang sombong, yang tertipu dengan banyaknya tentaranya, kekuatan kekuasaannya dan luasnya kerajaannya, telah memutuskan Yang Maha Agung yang tidak bisa dilawan dan tidak bisa ditentang, dan tidak berlawanan takdir-takdir-Nya, bahwa bayi yang engkau berhati-hati darinya ini, dan telah engkau bunuh karena dia jiwa-jiwa yang tidak terbilang dan tidak terhitung, tidaklah akan tumbuh kecuali di rumahmu dan di atas tempat tidurmu, dan tidak akan diberi makan kecuali dengan makananmu dan minumanmu di rumahmu, dan engkaulah yang mengadopsinya dan membesarkannya dan melampaui batasnya, dan tidak mengetahui rahasia maknanya. Kemudian akan terjadi kehancaranmu di dunia dan akhiratmu di tangannya; karena penentanganmu terhadap apa yang dibawanya kepadamu dari kebenaran yang nyata, dan pendustaanmu terhadap apa yang diwahyukan kepadanya. Supaya engkau tahu, engkau dan seluruh makhluk, bahwa Tuhan langit dan bumi adalah Dzat Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, dan bahwa Dia adalah Yang Maha Kuat lagi Maha Keras, yang memiliki kekuatan yang besar, dan kekuasaan serta kehendak yang tidak ada yang bisa menolaknya.

Dan telah disebutkan oleh lebih dari satu ahli tafsir, bahwa orang-orang Qibti mengadu kepada Fir’aun tentang sedikitnya Bani Israil karena pembunuhan anak-anak laki-laki mereka, dan mereka khawatir orang-orang dewasa akan habis bersama pembunuhan anak-anak kecil, maka mereka yang akan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh Bani Israil dari pekerjaan-pekerjaan berat. Maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh anak-anak pada satu tahun, dan meninggalkan mereka pada satu tahun. Maka lahirlah Harun alaihissalam pada tahun pembebasan dari pembunuhan anak-anak, dan lahirlah Musa alaihissalam pada tahun pembunuhan mereka. Maka ibunya merasa sempit dengannya, dan berhati-hati sejak awal kehamilannya, dan tidak tampak padanya tanda-tanda kehamilan. Ketika dia melahirkan, dia diberi ilham untuk membuat untuknya sebuah peti, lalu mengikatnya dengan tali. Dan rumahnya berdekatan dengan sungai Nil. Maka dia menyusuinya, dan jika khawatir dari seseorang, dia meletakkannya dalam peti itu lalu melepaskannya ke sungai, dan memegang ujung tali di sisinya. Jika mereka pergi, dia menariknya kembali kepadanya dengannya.

Allah Taala berfirman: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang salah (dalam bertindak). Dan berkatalah istri Fir’aun: (Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak, sedang mereka tidak menyadari” (Surah Al-Qashash:7-9).

Wahyu ini adalah wahyu ilham dan petunjuk, sebagaimana Allah Taala berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)” (Surah An-Nahl:68-69). Dan bukan wahyu kenabian; sebagaimana diklaim oleh Ibnu Hazm dan lebih dari satu ahli kalam, bahkan yang benar adalah yang pertama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dari mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Suhaili berkata: Dan nama ibu Musa adalah Yaukh, dan dikatakan: Iyadzkhat.

Dan maksudnya adalah bahwa dia diberi petunjuk kepada ini yang kami sebutkan, dan diilhamkan dalam hatinya dan perasaannya bahwa janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena jika dia pergi maka sesungguhnya Allah akan mengembalikannya kepadamu, dan sesungguhnya Allah akan menjadikannya nabi rasul yang akan meninggikan kalimat-Nya di dunia dan akhirat. Maka dia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Maka dia melepaskannya pada suatu hari, dan lupa untuk mengikat ujung tali di sisinya, maka dia pergi bersama Nil lalu melewati rumah Fir’aun. Maka keluarga Fir’aun memungutnya. Allah Taala berfirman: “yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka”. Sebagian mereka berkata: Ini adalah lam al-aqibah (lam akibat). Dan ini jelas jika dikaitkan dengan firman-Nya “maka dipungutlah dia”. Adapun jika dijadikan berkaitan dengan kandungan kalimat; yaitu bahwa keluarga Fir’aun ditakdirkan untuk memungutnya supaya menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka, maka lam tersebut menjadi ta’lil (alasan) untuk selainnya, wallahu a’lam. Dan menguatkan tafsir kedua ini firman-Nya “Sesungguhnya Fir’aun dan Haman” yaitu wazir yang buruk “beserta tentaranya” yang mengikuti keduanya “adalah orang-orang yang salah (dalam bertindak)” artinya; mereka menyelisihi kebenaran, maka mereka pantas mendapat hukuman dan penyesalan ini.

Para mufasir menyebutkan bahwa para budak wanita telah mengambil Nabi Musa Alaihissalam dari laut dalam sebuah peti yang tertutup rapat. Mereka tidak berani membukanya hingga akhirnya mereka meletakkannya di hadapan istri Firaun, yaitu Asiyah binti Muzahim bin Ubaid bin Ar-Rayyan bin Al-Walid, yang menjadi Firaun Mesir pada zaman Nabi Yusuf. Ada yang mengatakan bahwa dia berasal dari Bani Israil dari suku Nabi Musa. Ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah bibi Nabi Musa. Demikian yang diriwayatkan oleh As-Suhaili. Wallahu a’lam (Allah Yang Maha Mengetahui). Pujian dan sanjungan terhadapnya akan dijelaskan dalam kisah Maryam binti Imran, dan bahwa keduanya (Asiyah dan Maryam) kelak pada hari kiamat akan menjadi istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di surga. Ketika dia membuka pintu dan menyingkap tirai, dia melihat wajahnya bersinar dengan cahaya kenabian dan keagungan Nabi Musa. Ketika dia melihatnya dan pandangannya jatuh padanya, dia sangat mencintainya. Ketika Firaun datang, dia bertanya: “Apa ini?” dan dia memerintahkan untuk menyembelihnya. Maka Asiyah memohon agar bayi itu diberikan kepadanya dan membelanya dengan berkata: “(Dia adalah) penyejuk mata bagiku dan bagimu.” (QS Al-Qashash: 9) Maka Firaun berkata kepadanya: “Bagimu boleh, tetapi bagiku tidak.” Artinya, aku tidak membutuhkannya. Dan musibah itu mengiringi perkataan. Dan perkataannya: “Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kami” (QS Al-Qashash: 9) dan Allah telah memberikan kepadanya manfaat yang dia harapkan. Adapun di dunia, Allah memberinya petunjuk melalui Nabi Musa, dan di akhirat Allah menempatkannya di surga karena dia. “Atau kami mengangkatnya sebagai anak” (QS Al-Qashash: 9) dan itu karena mereka berdua mengadopsinya karena mereka tidak dikaruniai anak. Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak menyadari” (QS Al-Qashash: 9) artinya, mereka tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah terhadap mereka, bahwa Allah menakdirkan mereka untuk mengambilnya dari bencana besar yang akan menimpa Firaun dan tentaranya. Menurut Ahli Kitab, yang mengambil dan membesarkan Nabi Musa adalah putri Firaun, dan tidak ada sebutan sama sekali tentang istrinya. Ini adalah kesalahan mereka terhadap Kitabullah Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja dia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara perempuan Musa: ‘Ikutilah dia.’ Maka kelihatanlah oleh saudara perempuan Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada ibu-ibu susuan sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait (keluarga) yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS Al-Qashash: 10-13)

Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, Abu Ubaidah, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan lain-lain berkata: “Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa” artinya, kosong dari segala urusan dunia kecuali urusan Nabi Musa. “Sesungguhnya hampir saja dia menyatakan rahasia tentang Musa” artinya, hampir menunjukkan urusannya dan menanyakan tentangnya secara terang-terangan. “Seandainya tidak Kami teguhkan hatinya” artinya, Kami beri kesabaran dan keteguhan kepadanya “supaya dia termasuk orang-orang yang beriman”. “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara perempuan Musa” yaitu anak perempuannya yang sulung: “Ikutilah dia” artinya, ikuti jejaknya dan carikan kabar tentangnya untukku. “Maka kelihatanlah oleh saudara perempuan Musa dari jauh” Mujahid berkata: dari kejauhan. Qatadah berkata: dia memandang kepada Musa seolah-olah dia tidak menginginkannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “sedang mereka tidak mengetahuinya”. Hal itu karena ketika Nabi Musa Alaihissalam telah berada di istana Firaun, mereka ingin menyusuinya, tetapi dia tidak mau menerima puting susu ibu manapun dan tidak mau makan makanan apapun. Mereka kebingungan tentang urusannya dan berusaha keras dalam hal itu untuk memberinya makan dengan segala cara yang mungkin, tetapi dia tidak mau. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada ibu-ibu susuan sebelum itu”. Maka mereka mengutusnya bersama para bidan dan para wanita ke pasar, berharap mereka menemukan yang cocok untuk menyusuinya. Ketika mereka berdiri bersamanya dan orang-orang berkumpul di sekitarnya, tiba-tiba saudara perempuannya melihatnya. Dia tidak menunjukkan bahwa dia mengenalnya, tetapi dia berkata: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait (keluarga) yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (QS Al-Qashash: 12) Ibnu Abbas berkata: Ketika dia mengatakan itu, mereka berkata kepadanya: “Dari mana kamu tahu bahwa mereka akan berlaku baik dan menyayanginya?” Maka dia berkata: “Karena mengharapkan menjadi menantu raja dan mengharapkan manfaatnya.” Maka mereka melepaskannya dan pergi bersamanya ke rumah mereka. Lalu ibunya mengambilnya, dan ketika dia menyusuinya, Nabi Musa menghisap putingnya dan menyusunya. Mereka sangat gembira dengan hal itu, dan pembawa kabar gembira pergi kepada Asiyah untuk memberitahukannya tentang hal itu. Maka dia memanggilnya ke rumahnya dan menawarkan kepadanya untuk tinggal di sana, dan dia akan berbuat baik kepadanya. Tetapi dia menolaknya dan berkata: “Aku mempunyai suami dan anak-anak, dan aku tidak mampu melakukan ini kecuali jika kamu mengirimkannya bersamaku.” Maka dia mengirimkannya bersamanya dan menetapkan untuknya tunjangan, dan memberikan kepadanya nafkah, pakaian, dan hadiah. Maka dia kembali dengannya membawanya ke rumahnya, dan Allah telah menyatukan mereka berdua. Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar” artinya, sebagaimana Kami telah menjanjikannya dengan mengembalikannya dan kerasulannya, ini adalah pengembaliannya, dan ini adalah bukti kebenaran kabar gembira tentang kerasulannya. “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS Al-Qashash: 13)

Dan Allah telah menganugerahkan karunia ini kepada Nabi Musa pada malam Dia berbicara kepadanya, maka Dia berfirman kepadanya dalam apa yang Dia firmankan kepadanya: “Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu (kebaikan) pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mewahyukan kepada ibumu suatu yang diwahyukan (yaitu): ‘Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya.’ Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kecintaan dari-Ku” (QS Thaha: 37-39). Dan itu adalah bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya kecuali mencintainya. “Dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS Thaha: 39). Qatadah dan lebih dari satu orang salaf berkata: artinya kamu diberi makan, dimanjakan, dan diberi makanan yang paling baik, serta dipakaikan pakaian yang paling bagus, dengan pengawasan-Ku. Dan semua itu dengan penjagaan-Ku dan pemeliharaan-Ku atas dirimu dalam apa yang Aku perbuat padamu dan untukmu, dan ketentuan-Ku dari perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan oleh selain-Ku. “(Ingatlah), ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Firaun): ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu telah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan” (QS Thaha: 40). Dan kami akan menyebutkan hadits tentang ujian-ujian itu di tempatnya setelah ini, insya Allah Ta’ala, dan kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami bertawakal.

“Dan tatkala dia cukup dewasa dan sempurna kekuatannya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, lalu dia menjumpai di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari golongan musuhnya. Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari golongan musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: ‘Ini adalah perbuatan setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata menyesatkan.’ Dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku,’ maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, berkat nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.'” (QS Al-Qashash: 14-17)

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah menganugerahkan kepada ibu Nabi Musa dengan mengembalikannya kepadanya, dan ihsan-Nya dengan itu, dan karunia-Nya kepadanya, Dia kemudian menyebutkan bahwa ketika dia mencapai usia sempurna dan dewasa, yaitu kesempurnaan fisik dan akhlak, yaitu usia empat puluh tahun menurut pendapat kebanyakan, Allah menganugerahinya hikmah dan ilmu, yaitu kenabian dan kerasulan yang telah diberi kabar gembira kepada ibunya, di mana Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari rasul-rasul” (QS Al-Qashash: 7). Kemudian Dia menyebutkan tentang sebab keluarnya dari tanah Mesir dan kepergiannya ke tanah Madyan dan tinggalnya di sana, hingga masa yang ditentukan sempurna dan waktu berakhir, dan terjadilah apa yang terjadi dari pembicaraan Allah kepadanya dan menghormatnya dengan apa yang Allah hormatkan kepadanya sebagaimana akan dijelaskan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah” Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Ikrimah, Qatadah, dan As-Suddi berkata: yaitu pada tengah hari. Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: antara maghrib dan isya. “Lalu dia menjumpai di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi” artinya, saling memukul dan berkelahi. “Yang seorang dari golongannya (Bani Israil)” artinya, orang Israil “dan yang seorang (lagi) dari golongan musuhnya” artinya, orang Qibthi. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq. “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari golongan musuhnya” dan itu karena Nabi Musa Alaihissalam memiliki kewibawaan di tanah Mesir karena dinisbatkan kepada pengangkatan Firaun terhadapnya sebagai anak dan pemeliharaannya di rumahnya. Dan Bani Israil telah mulia dan memiliki kehormatan, dan kepala mereka terangkat karena mereka menyusuinya, dan mereka adalah saudara-saudaranya dari susuan. Maka ketika orang Israil itu meminta tolong kepada Nabi Musa Alaihissalam terhadap orang Qibthi itu, Nabi Musa mendatanginya “lalu Musa meninjunya” Mujahid berkata: artinya memukulnya dengan genggaman tangannya. Qatadah berkata: dengan tongkat yang ada bersamanya. “Dan matilah musuhnya itu” artinya, dia mati karenanya. Dan orang Qibthi itu adalah kafir dan musyrik kepada Allah Yang Maha Agung, dan Nabi Musa tidak bermaksud membunuhnya sama sekali, tetapi hanya ingin menghalangi dan mencegahnya. Namun demikian, Nabi Musa berkata: “Ini adalah perbuatan setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata menyesatkan.” Dia berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku,’ maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, berkat nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku” artinya, dari kemuliaan dan kehormatan “maka aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QS Al-Qashash: 14-17)

“Maka jadilah dia di kota itu dengan takut menunggu-nunggu (akibat yang akan menimpanya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya (lagi). Musa berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat yang nyata.’ Maka tatkala Musa hendak menangkap (memukul) orang yang menjadi musuh keduanya, musuh itu berkata: ‘Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak lain hanyalah hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan tiada hendak menjadi orang yang mengadakan perdamaian.’ Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas, ia berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya pembesar-pembesar negeri sedang bermusyawarah tentang kamu untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini); sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu (akibat yang akan menimpanya), dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.'” (QS Al-Qashash: 18-21)

Allah Ta’ala memberitakan bahwa Nabi Musa pada pagi hari berada di kota Mesir dalam keadaan takut, artinya dari Firaun dan para pembesar negerinya, jika mereka mengetahui bahwa orang yang terbunuh ini dibunuh oleh Nabi Musa dalam membela seorang laki-laki dari Bani Israil. Maka dugaan mereka akan kuat bahwa Nabi Musa adalah dari mereka dan akan menimbulkan masalah yang besar. Maka dia berjalan di kota pada pagi hari itu dalam keadaan takut dan menunggu-nunggu, artinya menoleh ke sana kemari. Sementara dia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba orang Israil itu yang meminta pertolongannya kemarin berteriak kepadanya, artinya berteriak dan meminta pertolongannya terhadap laki-laki lain yang berkelahi dengannya. Maka Nabi Musa menegurnya dan mencelanya karena banyak keburukannya dan sering berkelahi. Dia berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat yang nyata.” Kemudian dia hendak menangkap orang Qibthi itu, yang menjadi musuh bagi Nabi Musa dan bagi orang Israil, untuk menghalanginya dan melepaskan orang Israil darinya. Ketika dia bertekad untuk itu dan mendatangi orang Qibthi itu, dia berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak lain hanyalah hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan tiada hendak menjadi orang yang mengadakan perdamaian.” (QS Al-Qashash: 19)

Sebagian mereka berkata: yang mengatakan perkataan ini adalah orang Israil yang mengetahui apa yang telah diperbuat Nabi Musa kemarin. Seolah-olah ketika dia melihat Nabi Musa mendatangi orang Qibthi itu, dia mengira bahwa Nabi Musa datang kepadanya karena tegurannya sebelum itu dengan perkataannya “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat yang nyata”, maka dia mengatakan apa yang dia katakan kepada Nabi Musa, dan menampakkan urusan yang telah terjadi kemarin. Lalu orang Qibthi itu pergi dan mengadu kepada Firaun tentang Nabi Musa. Inilah yang tidak disebutkan oleh banyak orang selain dia. Dan ada kemungkinan yang mengatakan ini adalah orang Qibthi, dan bahwa ketika dia melihat Nabi Musa mendatanginya, dia takut dan melihat dari wataknya pembelaan yang baik terhadap orang Israil, maka dia mengatakan apa yang dia katakan dari segi dugaan dan firasat, bahwa mungkin inilah yang membunuh orang yang terbunuh kemarin, atau mungkin dia memahami dari perkataan orang Israil ketika meminta pertolongannya terhadapnya, apa yang menunjukkan ini. Wallahu a’lam.

Dan maksudnya adalah bahwa berita sampai kepada Firaun bahwa Nabi Musa adalah pembunuh orang yang terbunuh kemarin. Maka dia mengirim orang untuk menangkapnya, dan seorang laki-laki yang penuh nasihat mendahului mereka melalui jalan yang lebih dekat kepadanya. “Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas-gegas” tergesa-gesa kepadanya dan kasihan kepadanya. “Ia berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya pembesar-pembesar negeri sedang bermusyawarah tentang kamu untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini)” artinya, dari kota ini, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu” artinya, dalam apa yang aku katakan kepadamu. Allah Ta’ala berfirman: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu (akibat yang akan menimpanya)” artinya, maka dia keluar dari kota Mesir pada saat itu juga, dengan tidak mengetahui jalan dan tidak mengenalnya, sambil berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

“Dan tatkala ia menuju ke arah negeri Madyan, ia berdoa: ‘Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.’ Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: ‘Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?’ Kedua wanita itu menjawab: ‘Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.’ Maka Musa memberi minum (ternak) untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'” (QS Al-Qashash: 22-24)

Allah Ta’ala memberitakan tentang keluarnya hamba-Nya, rasul-Nya, dan kekasih-Nya dari Mesir dalam keadaan takut dan menunggu-nunggu, artinya menoleh ke sana kemari karena khawatir akan dikejar oleh salah seorang dari kaum Firaun. Dan dia tidak tahu ke mana harus pergi dan ke mana harus menuju, karena dia belum pernah keluar dari Mesir sebelumnya. “Dan tatkala ia menuju ke arah negeri Madyan” artinya, dia mengambil jalan untuk ditempuh “ia berdoa: ‘Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar'” artinya, mudah-mudahan jalan ini menghantarkan kepada tujuan. Dan demikianlah yang terjadi, jalan itu menghantarkannya kepada tujuan, dan tujuan yang bagaimana! “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan” yaitu sebuah sumur tempat mereka mengambil air. Dan Madyan adalah kota yang di dalamnya Allah membinasakan para penduduk Aikah, yaitu kaum Nabi Syuaib Alaihissalam. Dan kebinasaan mereka terjadi sebelum zaman Nabi Musa Alaihissalam menurut salah satu dari dua pendapat ulama. “Dan tatkala ia sampai di sumber air yang disebutkan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya)” artinya, menahan kambing-kambing mereka agar tidak bercampur dengan kambing orang lain. Menurut Ahli Kitab, mereka adalah tujuh orang anak perempuan. Ini juga termasuk kesalahan. Dan mungkin dia memiliki tujuh anak perempuan, tetapi yang memberi minum hanya dua orang dari mereka. Dan penggabungan ini memungkinkan jika itu terpelihara, dan jika tidak maka yang tampak adalah bahwa dia tidak memiliki selain dua anak perempuan.

Allah berfirman: “Berkata Musa: ‘Mengapa kalian berdua (tidak minum)?'” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami) sebelum para penggembala memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang sudah lanjut usia.” (QS. Al-Qashash: 23) Artinya; kami tidak mampu membawa ternak ke air kecuali setelah para penggembala pergi, karena kelemahan kami, dan sebab kami mengurus ternak ini adalah karena kelemahan ayah kami dan usianya yang sudah lanjut. Allah Taala berfirman: “Maka Musa memberi minum (ternak) untuk keduanya.” (QS. Al-Qashash: 24) Para mufassir berkata: Hal itu karena para penggembala jika sudah selesai memberi minum ternak mereka, mereka meletakkan batu besar di mulut sumur. Kemudian datanglah kedua wanita itu lalu mereka memberi minum kambing-kambing mereka dari sisa air ternak orang-orang. Ketika hari itu, datanglah Musa dan ia mengangkat batu itu sendirian, kemudian ia mengambil air untuk kedua wanita itu, dan memberi minum kambing-kambing mereka, lalu mengembalikan batu itu seperti semula. Amirul Mukminin Umar berkata: Batu itu tidak dapat diangkat kecuali oleh sepuluh orang. Dan ia hanya mengambil satu timba air saja sudah mencukupi keduanya, kemudian ia pergi ke tempat yang teduh. (QS. Al-Qashash: 24) Mereka berkata: Dan itu adalah naungan pohon samur (sejenis pohon akasia). Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia melihat pohon itu hijau rimbun. Maka berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24) Ibnu Abbas berkata: Ia berjalan dari Mesir ke Madyan, tidak makan kecuali sayur-sayuran dan daun pohon. Ia berjalan tanpa alas kaki hingga kedua telapak kakinya terkelupas karena tidak beralas kaki. Ia duduk di tempat teduh, padahal ia adalah pilihan Allah dari makhluk-Nya, dan perutnya menempel pada punggungnya karena lapar, dan hijaunya sayuran terlihat dari dalam perutnya, dan sungguh ia sangat membutuhkan sepotong kurma. Atho bin Sa’ib berkata: Ketika Musa berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,” wanita itu mendengarnya.

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’ Maka tatkala Musa mendatangi ayahnya (bapak wanita itu) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), (bapak wanita itu) berkata: ‘Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.’ Salah seorang dari kedua (wanita) itu berkata: ‘Ya ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’ Berkata dia (ayah wanita itu): ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, dan aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.’ Berkata Musa: ‘Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.'” (QS. Al-Qashash: 25-28)

Ketika Musa alaihis salam duduk di tempat teduh, dan berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,” kedua wanita itu mendengarnya, menurut suatu pendapat. Lalu keduanya pergi menemui ayah mereka. Dikatakan: sesungguhnya ayah mereka heran dengan cepatnya kepulangan mereka, maka keduanya memberitahukan kepadanya apa yang terjadi dengan Musa alaihis salam. Lalu ia memerintahkan salah satu dari keduanya untuk pergi menemui Musa dan memanggilnya. “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu” artinya; berjalan seperti wanita merdeka. Umar radhiyallahu anhu berkata: Ia menutupi wajahnya dengan lengan bajunya. “ia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.'” Ia menyampaikan hal ini dengan terus terang kepadanya agar ucapannya tidak menimbulkan keraguan, dan ini adalah kesempurnaan dari rasa malu dan kehormatan dirinya. “Maka tatkala Musa mendatangi ayahnya (bapak wanita itu) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya)” artinya; dan memberitahukan kepadanya berita tentang dirinya, dan apa yang terjadi mengenai keluarnya dari negeri Mesir melarikan diri dari Firaun negeri itu. “(Bapak wanita itu) berkata: ‘Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.'” Artinya; kamu telah keluar dari kekuasaan mereka, maka kamu tidak lagi berada dalam kekuasaan mereka.

Para ulama berbeda pendapat mengenai orang tua ini; siapakah ia? Ada yang berpendapat: ia adalah Syu’aib alaihis salam. Dan ini adalah pendapat yang masyhur menurut banyak orang. Di antara yang menyatakan hal ini adalah Hasan al-Bashri, dan Malik bin Anas, dan disebutkan dengan jelas dalam sebuah hadits, tetapi dalam sanadnya ada permasalahan. Sekelompok ulama menegaskan bahwa Syu’aib alaihis salam hidup dalam usia yang panjang setelah kebinasaan kaumnya, hingga ia bertemu dengan Musa alaihis salam, dan Musa menikahi putrinya. Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, bahwa teman Musa alaihis salam ini bernama Syu’aib, dan ia adalah pemimpin air, tetapi bukan nabi yang menjadi utusan ke Madyan. Ada yang berpendapat: ia adalah keponakan Syu’aib. Ada yang berpendapat: anak paman Syu’aib. Ada yang berpendapat: seorang laki-laki beriman dari kaum Syu’aib. Ada yang berpendapat: seorang laki-laki bernama Yitsron. Demikianlah dalam kitab-kitab Ahli Kitab: Yitsron kahina Madyan, artinya; pemimpin dan ulama mereka. Ibnu Abbas dan Abu Ubaidah bin Abdullah berkata: Namanya adalah Yitsron. Abu Ubaidah menambahkan: Dan ia adalah keponakan Syu’aib. Ibnu Abbas menambahkan: Sahabat Madyan.

Yang dimaksud adalah bahwa ketika ia menjamunya dan memuliakan kedudukannya, dan Musa menceritakan kepadanya apa yang terjadi padanya, ia memberi kabar gembira kepadanya bahwa ia telah selamat. Pada saat itulah salah satu dari kedua putrinya berkata kepada ayahnya: “Ya ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita)” artinya; untuk menggembalakan kambingmu. Kemudian ia memujinya bahwa ia kuat dan dapat dipercaya. Umar, Ibnu Abbas, Syuraih al-Qadhi, Abu Malik, Qatadah, Muhammad bin Ishaq, dan banyak yang lain berkata: Ketika ia mengatakan hal itu, ayahnya berkata kepadanya: Dari mana kamu tahu hal ini? Maka ia berkata: Sesungguhnya ia mengangkat batu yang tidak dapat diangkat kecuali oleh sepuluh orang, dan sesungguhnya ketika aku datang bersamanya, aku berjalan di depannya, maka ia berkata: Berjalanlah di belakangku, dan jika jalan bercabang lemparlah batu kerikil kepadaku agar aku tahu bagaimana jalannya. Ibnu Mas’ud berkata: Orang yang paling cerdas dalam menilai ada tiga; sahabat Yusuf ketika ia berkata kepada istrinya: “Berilah tempat yang baik untuk tinggalnya,” sahabat perempuan Musa ketika ia berkata: “Ya ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya,” dan Abu Bakar ketika ia menunjuk Umar bin Khaththab sebagai khalifah.

“Berkata dia (ayah wanita itu): ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, dan aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.'” Dengan ayat ini sekelompok pengikut Abu Hanifah rahimahullah berdalil atas keabsahan jika seseorang menjual kepadanya salah satu dari dua budak ini atau dua pakaian ini, dan semacamnya, bahwa hal itu sah; karena firman-Nya: “salah seorang dari kedua anakku ini.” Dan dalam hal ini ada pertimbangan; karena ini adalah tawar-menawar bukan akad. Wallahu a’lam. Pengikut Ahmad berdalil atas keabsahan upah dengan makanan dan pakaian, sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan, dan mereka mengambil petunjuk dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dengan judul dalam kitabnya “Bab Menyewa Pekerja dengan Makanan Perutnya”: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Musyaffa al-Himshi, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al-Walid, dari Maslamah bin Ali, dari Sa’id bin Abi Ayyub, dari al-Harits bin Yazid, dari Ali bin Rabah, ia berkata: Aku mendengar Utbah bin an-Nadar berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau membaca surah Tha Sin Mim hingga ketika sampai pada kisah Musa, beliau bersabda: Sesungguhnya Musa alaihis salam menyewakan dirinya delapan tahun atau sepuluh tahun, dengan menjaga kemaluannya dan makanan perutnya. Dan ini dari jalur ini tidak sahih; karena Maslamah bin Ali al-Khusyani ad-Dimasyqi al-Balatyi dhaif (lemah) menurut para imam, tidak dapat dijadikan hujjah dengan kesendirian perawinya. Namun telah diriwayatkan dari jalur lain; maka Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdullah bin Bukair, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Shafwan, telah menceritakan kepada kami al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah, dari al-Harits bin Yazid al-Hadhrami, dari Ali bin Rabah al-Lakhmi, ia berkata: Aku mendengar Utbah bin an-Nadar as-Salami, sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Musa alaihis salam menyewakan dirinya untuk menjaga kemaluannya dan makanan perutnya. Kemudian Allah Taala berfirman: “Berkata Musa: ‘Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.'” (QS. Al-Qashash: 28) Maksudnya: Sesungguhnya Musa berkata kepada mertuanya: Perkara sebagaimana yang engkau katakan, maka mana saja dari keduanya yang aku sempurnakan maka tidak ada tuntutan tambahan atasku, dan Allah adalah pendengar dan saksi atas ucapan kita, dan wakil atasku dan atasmu. Dan dengan demikian Musa tidak menyempurnakan kecuali yang paling sempurna dari kedua waktu dan yang paling lengkap, yaitu sepuluh tahun yang sempurna dan lengkap.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Syuja’, dari Salim al-Afthas, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Seorang Yahudi dari penduduk Hirah bertanya kepadaku: Mana dari kedua waktu yang disempurnakan Musa? Maka aku berkata: Aku tidak tahu, hingga aku datang kepada ulama orang Arab lalu aku bertanya kepadanya. Maka aku datang, lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas, maka ia berkata: Ia menyempurnakan yang lebih banyak dan lebih baik keduanya, sesungguhnya Rasulullah jika berkata maka ia berbuat. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur ini. Dan telah meriwayatkannya an-Nasa’i dalam hadits al-Futun, sebagaimana akan datang dari jalan al-Qasim bin Abi Ayyub, dari Sa’id bin Jubair dengannya. Dan telah meriwayatkannya Ibnu Jarir dari Ahmad bin Muhammad ath-Thusi, dan Ibnu Abi Hatim dari ayahnya, keduanya dari al-Humaidi, dari Sufyan bin Uyainah, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Yahya bin Abi Ya’qub, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Aku bertanya kepada Jibril: Mana dari kedua waktu yang disempurnakan Musa? Ia berkata: Yang paling sempurna dan paling lengkap keduanya. Dan Ibrahim ini tidak dikenal kecuali dengan hadits ini. Dan telah meriwayatkannya al-Bazzar dari Ahmad bin Aban al-Qurasyi, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibrahim bin A’yan, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu ia menyebutkannya. Dan telah meriwayatkannya Sunaid dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij dari Mujahid secara mursal, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya tentang hal itu kepada Jibril, lalu Jibril bertanya kepada Israfil, lalu Israfil bertanya kepada Rabb Azza wa Jalla, maka Dia berfirman: Yang paling baik dan paling sempurna keduanya. Dan dengan makna seperti ini diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari hadits Yusuf bin Sarj secara mursal. Dan meriwayatkannya Ibnu Jarir dari jalan Muhammad bin Ka’b, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: Mana dari kedua waktu yang disempurnakan Musa? Beliau bersabda: Yang paling sempurna dan paling lengkap keduanya. Dan telah meriwayatkannya al-Bazzar dan Ibnu Abi Hatim, dari hadits Uwaid bin Abi Imran al-Jauni—dan ia dhaif (lemah)—dari ayahnya, dari Abdullah bin ash-Shamit, dari Abu Dzar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: Mana dari kedua waktu yang disempurnakan Musa? Beliau bersabda: Yang paling sempurna dan paling baik keduanya. Beliau bersabda: Dan jika ditanya: Mana dari kedua wanita yang ia nikahi? Maka katakanlah: Yang lebih muda dari keduanya. Dan telah meriwayatkannya al-Bazzar dan Ibnu Abi Hatim dari jalan Abdullah bin Lahi’ah, dari al-Harits bin Yazid al-Hadhrami, dari Ali bin Rabah, dari Utbah bin an-Nadar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Musa menyewakan dirinya dengan menjaga kemaluannya dan makanan perutnya. Maka ketika ia menyempurnakan masa kerja. Dikatakan: Wahai Rasulullah, mana dari kedua waktu? Beliau bersabda: Yang paling baik dan paling sempurna keduanya. Maka ketika ia hendak berpisah dengan Syu’aib, ia memerintahkan istrinya untuk meminta kepada ayahnya agar memberikan kepadanya dari kambingnya sesuatu yang dapat mereka hidupi. Maka ia memberikan kepadanya apa yang dilahirkan kambingnya dengan warna yang berbeda dari anak yang lahir tahun itu, dan kambingnya adalah kambing hitam yang bagus. Maka pergilah Musa alaihis salam ke tongkat lalu ia membelahnya dari ujungnya, kemudian meletakkannya di bagian bawah palung, lalu ia membawa kambing-kambing ke sana untuk minum. Dan Musa alaihis salam berdiri di samping palung, maka tidak ada kambing yang keluar kecuali ia memukul lambungnya satu per satu kambing. Ia berkata: Maka semuanya melahirkan anak kembar dan tiga, dan semuanya melahirkan dengan warna berbeda-beda, kecuali satu atau dua kambing; tidak ada di antaranya yang fasyusy, dan tidak dhabub, dan tidak azuz, dan tidak tsa’ul, dan tidak kamsyah yang luput dari genggaman. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika kalian menaklukkan Syam, kalian akan menemukan sisa kambing-kambing itu, dan itu adalah as-Samiriyyah. Ibnu Lahi’ah berkata: Al-Fasyusy: yang lebar pancaran susunya. Ad-Dhabub: yang panjang puting susunya hingga menyeret. Al-Azuz: yang sempit pancaran susunya. Ats-Tsa’ul: yang kecil puting susunya seperti dua puting kecil. Al-Kamsyah: yang tidak dapat digenggam penuh puting susunya karena kecilnya. Dan dalam kesahihan rafa’ hadits ini ada pertimbangan, dan bisa jadi ia adalah mauquf, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Jarir: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik ia berkata: Ketika Nabi Allah Musa meminta sahabatnya pada masa yang telah disepakati antara mereka, sahabatnya berkata kepadanya: Setiap kambing yang melahirkan sesuai warnanya maka anaknya untukmu. Maka ia berusaha lalu meletakkan bayangan pada air, maka ketika kambing-kambing melihat bayangan itu mereka terkejut, lalu mereka berputar satu putaran, maka semuanya melahirkan anak belang kecuali satu kambing. Maka ia membawa anak-anak mereka tahun itu. Dan ini sanadnya perawi-perawinya tsiqah (terpercaya). Wallahu a’lam. Dan telah disebutkan sebelumnya, dari nukilan Ahli Kitab, tentang Yakub alaihis salam, ketika ia berpisah dengan pamannya Laban, bahwa ia memperbolehkan baginya apa yang dilahirkan dari kambingnya yang belang, maka ia melakukan seperti apa yang disebutkan tentang Musa alaihis salam, fa Allahu a’lam (maka Allah yang lebih mengetahui).

Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat bersama keluarganya, dia melihat api dari arah gunung Thur. Dia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari api itu atau membawa sepercik api agar kamu dapat menghangatkan badan.” Maka ketika dia mendatanginya, dia dipanggil dari tepi lembah yang sebelah kanan di tempat yang diberkahi, yaitu dari pohon, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam. Dan lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika dia melihat tongkatnya itu bergerak-gerak seolah-olah seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Wahai Musa, datanglah dan jangan takut, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman. Masukkan tanganmu ke leher bajumu, niscaya tanganmu akan keluar putih bersih tanpa cacat, dan kepitlah kedua lenganmu karena ketakutan. Maka itulah dua bukti (mukjizat) dari Tuhanmu untuk (diperlihatkan) kepada Firaun dan pemuka kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (Al-Qashash: 29-32)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Musa telah menyelesaikan waktu yang paling sempurna dan paling lengkap. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah: “Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan.” Menurut Mujahid, dia menyempurnakan sepuluh tahun, kemudian sepuluh tahun lagi setelahnya.

Firman-Nya: “dan dia berangkat bersama keluarganya” maksudnya dari tempat mertuanya. Sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu orang ahli tafsir dan lainnya, bahwa dia rindu kepada keluarganya, maka dia bermaksud mengunjungi mereka di negeri Mesir secara sembunyi-sembunyi. Ketika dia berangkat bersama keluarganya, dia disertai dua orang anak dan kambing-kambing yang telah dia peroleh selama tinggal di sana.

Mereka berkata: Kebetulan hal itu terjadi pada malam yang gelap dan dingin, dan mereka tersesat di jalan, sehingga tidak dapat menemukan jalan yang biasa dilalui. Musa berusaha menyalakan apinya tetapi tidak menyala sama sekali, dan kegelapan serta dingin semakin bertambah. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba dia melihat dari kejauhan api yang menyala di sisi Gunung Thur, yaitu gunung yang berada di sebelah baratnya, di sebelah kanannya. Maka dia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah, sesungguhnya aku melihat api.” Tampaknya—wallahu a’lam—dia melihatnya sendiri tanpa keluarganya, karena api ini sebenarnya adalah cahaya, dan tidak semua orang layak melihatnya. “Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari api itu” maksudnya: mudah-mudahan aku dapat menanyakan tentang jalan dari orang yang ada di sana, “atau membawa sepercik api agar kamu dapat menghangatkan badan.” Ini menunjukkan bahwa mereka telah tersesat dari jalan pada malam yang dingin dan gelap, sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: “Dan apakah telah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya: ‘Tunggulah, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa api untukmu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.'” (Thaha: 9-10). Ini menunjukkan adanya kegelapan dan bahwa mereka telah tersesat dari jalan.

Semua hal ini dikumpulkan dalam surah An-Naml dalam firman-Nya: “Ketika Musa berkata kepada keluarganya: ‘Sesungguhnya aku melihat api. Aku akan membawa kabar kepadamu dari api itu atau aku akan membawa api yang menyala agar kamu dapat menghangatkan badan.'” (An-Naml: 7). Sungguh dia telah membawa kepada mereka suatu berita, dan berita yang luar biasa! Dan dia mendapatkan petunjuk di sana, dan petunjuk yang luar biasa! Dan dia mendapatkan cahaya darinya, dan cahaya yang luar biasa!

Allah berfirman: “Maka ketika dia mendatanginya, dia dipanggil dari tepi lembah yang sebelah kanan di tempat yang diberkahi, yaitu dari pohon, ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.'” Dan Allah berfirman dalam surah An-Naml: “Maka ketika dia datang ke tempat api itu, dia dipanggil: ‘Berkat bagi siapa yang berada di dalam api ini dan siapa yang berada di sekitarnya. Dan Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.'” (An-Naml: 8-9). Artinya: Mahasuci Allah yang berbuat apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia inginkan.

Dan Allah berfirman dalam surah Thaha: “Maka ketika dia mendatanginya, dia dipanggil: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku. Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, Aku merahasiakannya, agar setiap orang dibalas dengan apa yang dia usahakan. Maka janganlah sampai orang yang tidak beriman kepada hari Kiamat dan mengikuti hawa nafsunya menghalang-halangimu darinya, yang akan menyebabkan engkau binasa.'” (Thaha: 11-16).

Lebih dari satu ahli tafsir, dari kalangan salaf dan khalaf, berkata: Ketika Musa menuju ke api yang dilihatnya, lalu sampai kepadanya, dia mendapatinya menyala di sebuah pohon hijau dari semak berduri. Semakin api itu berkobar, semakin bertambah hijaunya pohon tersebut. Maka dia berdiri dengan takjub. Pohon itu berada di kaki gunung di sebelah baratnya, di sebelah kanannya, sebagaimana firman Allah: “Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sisi barat (Gunung Thur) ketika Kami menetapkan perintah kepada Musa, dan engkau tidak termasuk orang yang menyaksikan.” (Al-Qashash: 44). Musa berada di sebuah lembah bernama Thuwa, menghadap kiblat, dan pohon itu berada di sebelah kanannya dari arah barat. Maka Tuhannya memanggilnya di lembah yang suci, Thuwa. Pertama-tama dia diperintahkan untuk melepas kedua terompahnya sebagai bentuk pengagungan, penghormatan, dan penghargaan terhadap tempat yang diberkahi itu, khususnya pada malam yang diberkahi itu. Menurut Ahli Kitab, dia meletakkan tangannya di wajahnya karena cahaya itu sangat terang sebagai bentuk kehormatan dan ketakutan terhadap penglihatannya.

Kemudian Allah menyapanya sebagaimana yang Dia kehendaki, berfirman kepadanya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku.” Artinya: Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam, yang tidak ada tuhan selain Dia, yang tidak patut disembah dan tidak patut didirikan salat kecuali untuk-Nya.

Kemudian Dia memberitahukan kepadanya bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal yang kekal, sesungguhnya negeri yang kekal adalah hari Kiamat, yang pasti akan terjadi dan pasti ada, “agar setiap orang dibalas dengan apa yang dia usahakan,” yaitu dari kebaikan dan keburukan. Dan Dia mendorongnya dan menyemangatinya untuk beramal untuk hari itu serta menjauhi orang-orang yang tidak beriman kepadanya, yaitu yang durhaka kepada Tuhannya dan mengikuti hawa nafsunya.

Kemudian Dia berfirman kepadanya dengan menyapa dan menenangkannya, serta menjelaskan kepadanya bahwa Dia adalah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang berfirman kepada sesuatu: “Jadilah!” maka jadilah: “Dan apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?” (Thaha: 17). Artinya: Bukankah ini tongkatmu yang telah engkau kenal sejak engkau membawanya? Dia berkata: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku memukulkan untuk menggugurkan dedaunan bagi kambingku, dan untukku masih ada keperluan yang lain.” (Thaha: 18). Artinya: Bahkan ini adalah tongkatku yang aku kenal dan aku yakini. Allah berfirman: “Lemparkanlah tongkatmu, wahai Musa!’ Maka dia melemparkannya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang merayap.” (Thaha: 19-20). Ini adalah mukjizat yang luar biasa dan bukti yang tegas bahwa yang menyapanya adalah Dia yang berfirman kepada sesuatu: “Jadilah!” maka jadilah. Dan bahwa Dia adalah Yang Maha melakukan dengan kehendak-Nya.

Menurut Ahli Kitab, Musa meminta bukti atas kebenarannya kepada orang-orang yang akan mendustakannya dari penduduk Mesir. Maka Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia berfirman kepadanya: “Apa itu yang di tanganmu?” Dia menjawab: “Tongkatku.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ke tanah!” Maka dia melemparkannya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang merayap. Musa pun lari dari hadapannya. Kemudian Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memerintahkan kepadanya untuk mengulurkan tangannya dan mengambilnya dari ekornya. Ketika dia sudah memegangnya dengan kuat, ular itu kembali menjadi tongkat di tangannya.

Allah telah berfirman dalam ayat yang lain: “Dan lemparkanlah tongkatmu!’ Maka ketika dia melihat tongkatnya itu bergerak-gerak seolah-olah seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh.” Artinya: tongkat itu menjadi ular yang sangat besar dengan ukuran yang menakutkan dan taring-taring yang beradu, namun bersamaan dengan itu bergerak dengan cepatnya ular gesit. Ular gesit adalah sejenis ular yang lembut tetapi sangat cepat bergerak. Jadi ular ini menggabungkan ukuran yang besar dan kecepatan yang sangat tinggi. Ketika Musa alaihissalam melihatnya, dia berbalik lari darinya karena sifat kemanusiaannya menuntut hal itu, “tanpa menoleh” artinya tanpa menengok ke belakang. Maka Tuhannya memanggilnya seraya berfirman: “Wahai Musa, datanglah dan jangan takut, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman.” Ketika dia kembali, Allah memerintahkannya untuk memegangnya. Allah berfirman: “Ambillah dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula.” Dikatakan bahwa dia sangat takut kepadanya, maka dia memasukkan tangannya ke lengan jubahnya, kemudian meletakkan tangannya di tengah mulutnya—menurut Ahli Kitab: di ekornya—ketika dia sudah memegangnya dengan kuat, tiba-tiba ular itu kembali seperti semula menjadi tongkat yang bercabang dua. Mahasuci Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, Tuhan tempat terbit matahari dan tempat terbenamnya.

Kemudian Allah memerintahkan kepadanya untuk memasukkan tangannya ke leher bajunya, lalu memerintahkannya untuk mengeluarkannya, maka tiba-tiba tangannya bersinar seperti bulan dengan sangat putih tanpa cacat, artinya tanpa belang putih atau vitiligo. Oleh karena itu Allah berfirman: “Masukkan tanganmu ke leher bajumu, niscaya tanganmu akan keluar putih bersih tanpa cacat, dan kepitlah kedua lenganmu karena ketakutan.” Ada yang berkata: maknanya adalah jika engkau takut, maka letakkan tanganmu di dadamu, niscaya hatimu akan tenang. Meskipun ini khusus untuknya, namun dengan berkah beriman kepadanya dengan sebenar-benar iman, akan bermanfaat bagi siapa yang mengamalkannya dengan cara mengikuti para nabi.

Dan Allah berfirman dalam surah An-Naml: “Dan masukkan tanganmu ke leher bajumu, niscaya tanganmu akan keluar putih bersih tanpa cacat, sebagai salah satu dari sembilan mukjizat kepada Firaun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (An-Naml: 12). Artinya: kedua mukjizat ini yaitu tongkat dan tangan, dan keduanya adalah dua bukti yang disebutkan dalam firman-Nya: “Maka itulah dua bukti (mukjizat) dari Tuhanmu untuk (diperlihatkan) kepada Firaun dan pemuka kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” Selain itu ada tujuh mukjizat lainnya, sehingga jumlahnya sembilan mukjizat yang nyata. Inilah yang disebutkan di akhir surah Al-Isra’ di mana Allah berfirman: “Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil ketika Musa datang kepada mereka, lalu Firaun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku menduga engkau, wahai Musa, terkena sihir.’ Musa berkata: ‘Sungguh engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat ini kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku menduga engkau, wahai Firaun, akan binasa.'” (Al-Isra’: 101-102).

Dan mukjizat-mukjizat itu dijelaskan secara rinci dalam surah Al-A’raf dalam firman-Nya: “Dan sungguh Kami telah menimpakan kepada keluarga Firaun musim kemarau dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran. Tetapi apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggapnya sial karena Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan mereka berkata: ‘Mukjizat apa pun yang engkau datangkan kepada kami untuk menyihir kami dengannya, maka kami tidak akan beriman kepadamu.’ Maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar, belalang, kutu, katak dan darah sebagai mukjizat-mukjizat yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (Al-A’raf: 130-133). Sebagaimana akan dijelaskan pembahasannya pada tempatnya nanti.

Sembilan mukjizat ini berbeda dengan sepuluh kalimat (Sepuluh Perintah). Karena sembilan mukjizat adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, sedangkan sepuluh kalimat adalah firman-firman syariat-Nya. Kami menekankan hal ini karena sebagian perawi telah salah memahami keduanya dan menyangka bahwa yang satu adalah yang lain, sebagaimana telah kami jelaskan di akhir tafsir surah Bani Israil.

Maksudnya adalah bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa alaihissalam untuk pergi kepada Firaun, dia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang dari mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku.” Allah berfirman: “Akan Kami teguhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami berikan kepada kamu berdua kekuasaan, maka mereka tidak akan dapat menyentuh kamu berdua. Dengan mukjizat-mukjizat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamu akan menang.” (Al-Qashash: 33-35).

Allah berfirman, memberitakan tentang hamba dan rasul-Nya serta kekasih-Nya Musa alaihissalam, dalam jawabannya kepada Tuhannya Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, ketika Dia memerintahkannya untuk pergi kepada musuhnya, yang telah dia tinggalkan negeri Mesir karena lari dari kekuasaan dan kezalimannya, setelah terjadi peristiwa pembunuhan orang Qibthi itu. Oleh karena itu dia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang dari mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku.” Artinya: jadikanlah dia sebagai penolong, pembantu, dan pembantuku yang membantu dan membantuku dalam menyampaikan risalah-Mu kepada mereka, karena dia lebih fasih lidahnya daripadaku dan lebih jelas penyampaiannya.

Allah berfirman, mengabulkan permintaannya: “Akan Kami teguhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami berikan kepada kamu berdua kekuasaan,” artinya bukti yang jelas, “maka mereka tidak akan dapat menyentuh kamu berdua” artinya mereka tidak akan dapat menyakiti kalian berdua “dengan mukjizat-mukjizat Kami,” artinya karena kalian berdua membawa mukjizat-mukjizat Kami. Ada yang mengatakan: dengan berkah mukjizat-mukjizat Kami. “Kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamu akan menang.”

Dan Allah berfirman dalam surah Thaha: “Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Dia berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 24-28). Ada yang mengatakan: sesungguhnya pada lidahnya terdapat kecacatan karena bara api yang dia letakkan di lidahnya, ketika Firaun ingin menguji akalnya sewaktu dia masih kecil dengan memegang janggutnya, sehingga Firaun hendak membunuhnya. Maka Asiyah merasa khawatir untuknya dan berkata: “Dia masih anak-anak.” Lalu Firaun mengujinya dengan meletakkan kurma dan bara api di hadapannya. Musa hendak mengambil kurma, namun malaikat mengalihkan tangannya ke bara api, lalu dia mengambilnya dan meletakkannya di lidahnya, sehingga terjadi kecacatan pada lidahnya karenanya. Maka dia meminta agar sebagiannya dihilangkan, sebatas yang membuat mereka dapat memahami ucapannya, dan dia tidak meminta agar semuanya dihilangkan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Para rasul hanya meminta sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu masih tersisa sedikit di lidahnya. Karena itu Firaun berkata—semoga Allah melaknatnya—sebagaimana yang dia sangka sebagai celaan terhadap Nabi yang Mulia: “Dan dia hampir tidak dapat berbicara dengan jelas.” (Az-Zukhruf: 52). Artinya: tidak dapat mengungkapkan maksudnya dengan jelas dan tidak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan jiwanya.

Kemudian Musa alaihissalam berkata: “Dan jadikanlah untukku seorang pembantuku dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengannya, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.” Allah berfirman: “Sungguh telah dikabulkan permintaanmu, wahai Musa.” (Thaha: 29-36). Artinya: Kami telah mengabulkan semua yang engkau minta dan memberikan apa yang engkau inginkan. Ini menunjukkan kedudukannya yang mulia di sisi Tuhannya Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, ketika dia memohon agar Allah mewahyukan kepada saudaranya, maka Allah pun mewahyukan kepadanya. Ini adalah kedudukan yang sangat agung. Allah berfirman: “Dan dia adalah orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah.” (Al-Ahzab: 69). Dan Allah berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepadanya dari rahmat Kami saudaranya Harun sebagai nabi.” (Maryam: 53).

Ummul Mukminin Aisyah pernah mendengar seorang laki-laki bertanya kepada sekelompok orang ketika mereka sedang dalam perjalanan haji: “Saudara manakah yang paling aman terhadap saudaranya?” Orang-orang itu terdiam. Maka Aisyah berkata kepada orang-orang di sekitar tandu-nya: “Dia adalah Musa bin Imran ketika dia memohon untuk saudaranya agar menjadi nabi yang menerima wahyu.” Allah berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepadanya dari rahmat Kami saudaranya Harun sebagai nabi.”

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syu’ara: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memanggil Musa (dengan berfirman), “Datangilah kaum yang zalim, yaitu kaum Fir’aun. Tidakkah mereka bertakwa?” Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka mendustakan aku, dan dadaku menjadi sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah (pula) Harun (bersamaku). Mereka mempunyai (tuduhan) dosa terhadapku, maka aku takut mereka akan membunuhku.” Dia (Allah) berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan. Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan seluruh alam, (yaitu) supaya kamu melepaskan Bani Israil (pergi) bersama kami.'” Dia (Fir’aun) berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah melakukan perbuatan yang telah kamu lakukan itu, padahal kamu termasuk orang-orang yang kafir (tidak tahu berterima kasih).” (Asy-Syu’ara: 10-19)

Takdir kalimatnya: Maka datangilah dia (Fir’aun) dan katakanlah kepadanya hal itu, dan sampaikanlah kepadanya apa yang kalian diutus dengannya, yaitu mengajaknya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan agar dia membebaskan tawanan Bani Israil dari cengkeraman, kekuasaan dan kesewenang-wenangannya, serta membiarkan mereka beribadah kepada Tuhan mereka di mana pun mereka kehendaki, dan mereka dapat mencurahkan perhatian untuk mentauhidkan-Nya, berdoa kepada-Nya, dan bermunajat kepada-Nya.

Maka Fir’aun menyombongkan diri, berlaku durhaka dan melampaui batas, serta memandang Musa alaihissalam dengan pandangan merendahkan dan menghinakan, seraya berkata kepadanya: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” Artinya: Bukankah engkau adalah orang yang kami asuh di rumah kami, kami berbuat baik kepadanya, dan kami anugerahi kenikmatan selama bertahun-tahun? Dan ini menunjukkan bahwa Fir’aun yang diutus kepadanya adalah Fir’aun yang sama yang ia lari darinya, berbeda dengan apa yang ada pada Ahli Kitab bahwa Fir’aun yang ia lari darinya telah meninggal selama masa tinggalnya di Madyan, dan bahwa yang diutus kepadanya adalah Fir’aun yang lain.

Dan firman-Nya: “Dan kamu telah melakukan perbuatan yang telah kamu lakukan itu, padahal kamu termasuk orang-orang yang kafir (tidak tahu berterima kasih).” Artinya: Dan engkau telah membunuh orang Qibti itu, dan lari dari kami, serta mengingkari kenikmatan kami. Dia (Musa) berkata, “Aku melakukannya, ketika itu aku termasuk orang-orang yang sesat.” Artinya: sebelum wahyu diturunkan kepadaku dan sebelum aku menerima wahyu. “Maka aku lari darimu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberiku ilmu dan menjadikanku salah seorang rasul.” (Asy-Syu’ara: 21)

Kemudian dia berkata menjawab Fir’aun tentang apa yang ia banggakan kepadanya berupa asuhan dan kebaikan kepadanya: “Dan itukah nikmat yang kamu limpahkan kepadaku, sedangkan (yang sebenarnya) kamu telah memperbudak Bani Israil?” (Asy-Syu’ara: 22) Artinya: Dan nikmat ini yang engkau sebutkan, yaitu bahwa engkau telah berbuat baik kepadaku padahal aku hanyalah satu orang dari Bani Israil, apakah itu dapat menandingi apa yang telah engkau lakukan terhadap seluruh bangsa yang besar ini, yaitu memperbudak mereka dalam pekerjaan-pekerjaanmu, pelayananmu dan urusan-urusanmu.

Fir’aun bertanya, “Siapakah Tuhan seluruh alam itu?” Dia (Musa) menjawab, “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu (orang-orang) yang mempercayai-Nya.” Dia (Fir’aun) berkata kepada orang-orang sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Dia (Musa) berkata, “Tuhan kamu dan Tuhan nenek moyang kamu yang dahulu.” Dia (Fir’aun) berkata, “Sesungguhnya rasul kamu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” Dia (Musa) berkata, “Tuhan timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mengerti.” (Asy-Syu’ara: 23-28)

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi antara Fir’aun dan Musa, berupa perdebatan, bantahan dan diskusi, serta apa yang ditegakkan oleh Al-Kalim (Musa) atas Fir’aun yang terkutuk berupa hujjah akal yang maknawi kemudian yang indrawi. Yang demikian itu karena Fir’aun, semoga Allah melaknatnya, menampakkan pengingkaran terhadap Sang Pencipta Tabaraka wa Ta’ala, dan mengklaim bahwa dialah yang ilah, lalu dia mengumpulkan (kaumnya) dan menyeru, seraya berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (An-Nazi’at: 23-24). Dan dia berkata: “Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (Al-Qashash: 38). Padahal dalam perkataan ini dia sangat membandel, dia tahu bahwa dia adalah seorang hamba yang diciptakan, dan bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pembuat, Pembentuk, Tuhan Yang Haq, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (An-Naml: 14). Oleh karena itu dia berkata kepada Musa alaihissalam, dengan maksud mengingkari risalahnya dan menampakkan bahwa tidak ada Tuhan yang mengutusnya: “Siapakah Tuhan seluruh alam itu?” (Asy-Syu’ara: 23). Karena keduanya (Musa dan Harun) telah berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan seluruh alam.” Seakan-akan dia berkata kepada keduanya: Dan siapakah Tuhan seluruh alam yang kalian klaim telah mengutus dan membangkitkan kalian? Maka Musa menjawabnya dengan mengatakan: “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu (orang-orang) yang mempercayai-Nya.” (Asy-Syu’ara: 24) Yaitu Tuhan seluruh alam, Pencipta langit-langit dan bumi yang dapat disaksikan ini, dan apa yang ada di antara keduanya berupa makhluk-makhluk yang selalu terjadi; seperti awan, angin, hujan, tumbuh-tumbuhan, dan binatang, yang setiap orang yang meyakini mengetahui bahwa semua itu tidak terjadi dengan sendirinya, dan pasti ada yang mengadakan, menciptakan dan menjadikannya, yaitu Allah yang tiada tuhan selain Dia, Tuhan seluruh alam.

Dia (Fir’aun) berkata, yaitu kepada orang-orang di sekelilingnya dari para pembesar, pejabat dan menteri-menterinya, dengan cara mengolok-olok dan merendahkan apa yang telah dijelaskan oleh Musa alaihissalam: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Yaitu ucapannya ini. Musa berkata sambil berbicara kepadanya dan kepada mereka: “Tuhan kamu dan Tuhan nenek moyang kamu yang dahulu.” (Asy-Syu’ara: 26) Artinya: Dialah yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian; dari para ayah, kakek, dan generasi-generasi masa lalu sepanjang zaman, karena setiap orang mengetahui bahwa dia tidak menciptakan dirinya sendiri dan tidak pula ayahnya atau ibunya, dan tidak terjadi tanpa pencipta, melainkan yang mengadakan dan menciptakannya adalah Tuhan seluruh alam.

Dan kedua maqam ini adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (Fushshilat: 53). Dan dengan semua ini Fir’aun tidak sadar dari tidurnya, dan tidak melepaskan diri dari kesesatannya, bahkan dia terus dalam kedurhakaan, pembangkangan, dan kekafirannya. Dia berkata: “Sesungguhnya rasul kamu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” Dia (Musa) berkata, “Tuhan timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mengerti.” (Asy-Syu’ara: 27-28) Artinya: Dialah yang menundukkan bintang-bintang yang bersinar ini, yang menggerakkan falak-falak yang berputar, Pencipta kegelapan dan cahaya, Tuhan bumi dan langit, Tuhan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, Pencipta matahari, bulan, bintang-bintang yang beredar dan yang tetap bingung, Pencipta malam dengan kegelapannya dan siang dengan cahayanya, dan semuanya di bawah kekuasaan, penundukan dan pengaturan-Nya berjalan, dan dalam falak mereka berenang, mereka silih berganti di semua waktu dan beredar, maka Dialah Ta’ala Sang Pencipta, Pemilik, Pengatur dalam ciptaan-Nya dengan apa yang Dia kehendaki.

Ketika hujjah telah tegak atas Fir’aun dan syubhatnya terputus, dan tidak tersisa baginya perkataan selain pembangkangan, dia beralih menggunakan kekuasaan, kedudukan dan kesewenang-wenangannya. Dia berkata: “Dia (Fir’aun) berkata, ‘Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.’ Dia (Musa) berkata, ‘Apakah (kamu akan berbuat begitu), meskipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang nyata?’ Dia (Fir’aun) berkata, ‘Tunjukkanlah (bukti itu), jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia menjadi ular yang nyata. Dan ia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba (tangan) itu putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya.” (Asy-Syu’ara: 29-33)

Dan kedua ini adalah dua mukjizat yang Allah menganugerahinya dengannya, yaitu tongkat dan tangan. Dan itu adalah maqam yang di dalamnya dia menampakkan mukjizat yang luar biasa, yang dengannya dia mengagumkan akal dan pandangan, ketika dia melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menjadi ular yang nyata, artinya bentuknya besar, mengagumkan dalam kebesaran dan menakutkan, serta penampilan yang sangat besar, mengerikan dan mengagumkan, sampai dikatakan: bahwa Fir’aun ketika menyaksikan itu dan melihatnya, dia dihinggapi rasa takut yang sangat, dan ketakutan yang besar, sehingga dia mengalami diare yang luar biasa lebih dari empat puluh kali dalam satu hari, padahal sebelum itu dia tidak buang air besar kecuali sekali dalam setiap empat puluh hari, maka terbalik kondisinya.

Dan demikian pula ketika Musa alaihissalam memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan mengeluarkannya, dia mengeluarkannya dan ia seperti belahan bulan, bersinar terang menyilaukan pandangan, maka jika dia mengembalikannya ke sakunya, tangannya kembali ke sifatnya semula. Dan dengan semua ini, Fir’aun, semoga Allah melaknatnya, tidak mendapat manfaat sedikitpun dari itu semua, bahkan dia terus pada apa yang dia jalani, dan menampakkan bahwa semua ini adalah sihir, dan dia ingin melawannya dengan para tukang sihir, maka dia mengutus untuk mengumpulkan mereka dari seluruh kerajaannya, dan dari siapa saja yang ada dalam rakyatnya dan di bawah kekuasaan dan pemerintahannya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci pada tempatnya; yaitu tentang penampakan Allah terhadap kebenaran yang nyata, dan hujjah yang jelas lagi meyakinkan atas Fir’aun dan para pembesarnya, serta ahli pemerintahan dan agamanya, dan bagi Allah segala puji dan karunia.

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha: “Kemudian kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa. Dan Aku telah memilihmu untuk Aku sendiri. Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya (Musa dan Harun) berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami takut bahwa dia akan menyiksa kami atau dia akan melampaui batas.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.'” (Thaha: 40-46)

Allah Ta’ala berfirman dengan berbicara kepada Musa, dalam apa yang Dia sampaikan kepadanya di malam ketika Dia mewahyukannya, dan menganugerahinya kenabian, dan berbicara dengannya langsung dari-Nya kepadanya: Sungguh engkau telah berada dalam pengawasan-Ku ketika engkau di istana Fir’aun, dan engkau berada di bawah perlindungan-Ku, pemeliharaan-Ku dan kelembutan-Ku, kemudian Aku keluarkan engkau dari tanah Mesir ke tanah Madyan dengan kehendak-Ku, kekuasaan-Ku dan pengaturan-Ku, lalu engkau tinggal di sana beberapa tahun, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, artinya dari-Ku untuk itu, maka itu sesuai dengan takdir-Ku dan pengaturan-Ku. “Dan Aku telah memilihmu untuk Aku sendiri,” artinya: Aku pilih engkau untuk-Ku dengan risalah-Ku dan kalam-Ku. “Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku,” yaitu: Dan janganlah kalian berdua bermalas-malasan dalam mengingat-Ku ketika kalian menghadap kepadanya dan menemui dia; karena itu adalah pertolongan bagi kalian berdua dalam berbicara dengannya dan menjawabnya, serta menyampaikan nasihat kepadanya, dan menegakkan hujjah atasnya.

Dan telah datang dalam sebagian hadits: Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya hamba-Ku, sebaik-baik hamba-Ku adalah yang mengingat-Ku saat dia menghadapi musuhnya. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al-Anfal: 45)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” Dan ini dari sifat penyantun Allah Ta’ala, kemuliaan-Nya, kasih sayang-Nya dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, dengan pengetahuan-Nya tentang kekafiran Fir’aun, kedurhakaan dan kesombongannya, padahal dia saat itu adalah makhluk-Nya yang paling hina, dan Dia telah mengutus kepadanya pilihan-Nya dari makhluk-Nya pada masa itu, dan dengan ini Dia berfirman kepada keduanya dan memerintahkan keduanya agar mengajaknya kepada-Nya dengan cara yang lebih baik; dengan lemah lembut dan lembut, dan memperlakukannya dengan perlakuan orang yang diharapkan akan sadar atau takut, sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka…” ayat (Al-Ankabut: 46).

Hasan Al-Bashri berkata: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,” yaitu berikanlah alasan kepadanya, katakanlah kepadanya: Sesungguhnya bagimu ada Tuhan, bagimu ada hari kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka. Wahb bin Munabbih berkata: Katakanlah kepadanya: Sesungguhnya Aku kepada maaf dan ampunan lebih dekat daripada kepada murka dan hukuman. Yazid Ar-Raqasyi berkata tentang ayat ini: Wahai Dzat yang mendekatkan diri kepada siapa yang memusuhi-Nya, lalu bagaimana dengan orang yang loyal kepada-Nya dan menyeru-Nya? “Keduanya (Musa dan Harun) berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami takut bahwa dia akan menyiksa kami atau dia akan melampaui batas.'” Yang demikian itu karena Fir’aun adalah penguasa yang keras kepala, setan yang jahat, memiliki kekuasaan di tanah Mesir yang panjang lebar, kedudukan, tentara, pasukan dan kesewenang-wenangan, maka keduanya takut kepadanya dari sisi kemanusiaan, dan takut bahwa dia akan bertindak sewenang-wenang kepada keduanya pada awal perkara, maka Allah Ta’ala meneguhkan keduanya, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, lalu berfirman: “Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat,” sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya Kami beserta kamu berdua mendengarkan. Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah dua utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami, dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kebenaran kami) dari Tuhanmu. Dan kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa azab itu atas orang yang mendustakan dan berpaling.'” (Thaha: 47-48)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia memerintahkan keduanya agar pergi kepada Fir’aun, lalu mengajaknya kepada Allah Ta’ala; agar dia beribadah kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan agar dia melepaskan bersama mereka Bani Israil, serta membebaskan mereka dari tawanan dan kekuasaannya, “dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kebenaran kami) dari Tuhanmu,” yaitu mukjizat yang besar berupa tongkat dan tangan, “Dan kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk,” pengikatan yang bermanfaat, fasih dan agung. Kemudian keduanya mengancamnya dan memperingatkannya atas pendustaan, lalu keduanya berkata: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa azab itu atas orang yang mendustakan dan berpaling,” artinya: mendustakan kebenaran dengan hatinya, dan berpaling dari mengamalkannya dengan jasadnya.

As-Suddi dan yang lainnya menyebutkan, bahwa ketika dia (Musa) datang dari tanah Madyan, dia masuk menemui ibunya dan saudaranya Harun sedangkan keduanya sedang makan malam dari makanan yang di dalamnya ada atthufaisyil; yaitu lobak, lalu dia ikut makan bersama keduanya, kemudian berkata: Wahai Harun, sesungguhnya Allah memerintahkanku dan memerintahkanmu agar kami berdua mengajak Fir’aun kepada ibadah kepada-Nya, maka pergilah bersamaku. Maka keduanya pergi menuju pintu Fir’aun, ternyata pintunya tertutup, maka Musa berkata kepada para penjaga dan pengawal: Beritahukan kepadanya bahwa utusan Allah ada di pintu. Maka mereka mulai mengejek dan mengolok-oloknya. Dan sebagian mereka mengklaim bahwa tidak diizinkan keduanya menemuinya kecuali setelah waktu yang lama. Muhammad bin Ishaq berkata: Diizinkan keduanya setelah dua tahun; karena tidak ada seorang pun yang berani meminta izin untuk keduanya. Wallahu a’lam.

Dan dikatakan: Bahwa Musa maju ke pintu lalu mengetuknya dengan tongkatnya, maka Fir’aun terkejut dan memerintahkan untuk menghadirkan keduanya, lalu keduanya berdiri di hadapannya, keduanya mengajaknya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana yang telah diperintahkan kepada keduanya. Dan menurut Ahli Kitab bahwa Allah berkata kepada Musa alaihissalam: Sesungguhnya Harun Al-Lawi – yaitu dari keturunan Lawi bin Ya’qub – akan keluar dan menemuimu. Dan Dia memerintahkannya agar membawa serta para tetua Bani Israil kepada Fir’aun, dan memerintahkannya agar menampakkan apa yang telah dianugerahkan kepadanya berupa ayat-ayat. Dan Dia berkata kepadanya: Aku akan mengeraskan hatinya sehingga dia tidak akan melepaskan umat itu, dan Aku akan memperbanyak ayat-ayat-Ku dan keajaiban-keajaiban-Ku di tanah Mesir. Dan Allah mewahyukan kepada Harun agar keluar menemui saudaranya di padang pasir dekat Gunung Hureyb, maka ketika dia menemuinya, Musa mengabarkan kepadanya tentang apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya, maka ketika keduanya masuk Mesir, keduanya mengumpulkan para tetua Bani Israil, dan keduanya pergi kepada Fir’aun, maka ketika keduanya menyampaikan risalah Allah kepadanya, dia (Fir’aun) berkata: Siapakah Allah itu? Aku tidak mengenalnya, dan aku tidak akan melepaskan Bani Israil.

Dan Allah berfirman mengisahkan tentang Firaun: “Firaun bertanya, ‘Siapa Tuhanmu wahai Musa?’ Musa menjawab, ‘Tuhan kami ialah Dia yang memberikan kepada segala sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’ Firaun bertanya lagi, ‘Bagaimana keadaan umat-umat yang terdahulu?’ Musa menjawab, ‘Ilmu tentang mereka ada di sisi Tuhanku dalam sebuah kitab. Tuhanku tidak akan salah dan tidak lupa. Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di dalamnya untukmu, dan menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengannya berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewan ternakmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi itu Kami menjadikan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.'” (QS. Thaha: 49-55)

Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Firaun bahwa ia mengingkari penetapan Sang Pencipta Ta’ala, dengan berkata: “Siapa Tuhanmu wahai Musa?” Musa menjawab: “Tuhan kami ialah Dia yang memberikan kepada segala sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” Artinya; Dialah yang menciptakan makhluk, dan menakdirkan untuk mereka perbuatan-perbuatan, rezeki, dan ajal, serta menulis semua itu di sisi-Nya dalam kitab-Nya, yaitu Lauh Mahfuzh, kemudian Dia memberi petunjuk kepada setiap makhluk menuju apa yang telah ditakdirkan untuknya, maka ilmu-Nya tentang mereka sesuai dengan cara yang telah Dia takdirkan dan Dia ketahui; karena kesempurnaan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan takdir-Nya. Dan ayat ini seperti firman-Nya Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, Yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Yang menentukan kadar lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3) Artinya; menentukan takdir kemudian memberi petunjuk kepada makhluk menuju takdir tersebut. Firaun berkata: “Bagaimana keadaan umat-umat yang terdahulu?” Firaun berkata kepada Musa: Jika Tuhanmu adalah Sang Pencipta yang menakdirkan, yang memberi petunjuk kepada makhluk menuju apa yang Dia takdirkan, dan Dia berada pada kedudukan seperti ini sehingga tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain-Nya, maka mengapa orang-orang terdahulu menyembah selain-Nya dan mempersekutukan-Nya dengan bintang-bintang dan patung-patung yang telah engkau ketahui? Mengapa umat-umat yang terdahulu tidak mendapat petunjuk menuju apa yang engkau sebutkan? Musa menjawab: “Ilmu tentang mereka ada di sisi Tuhanku dalam sebuah kitab. Tuhanku tidak akan salah dan tidak lupa.” Artinya; meskipun mereka menyembah selain-Nya, itu bukanlah menjadi hujjah bagimu, dan tidak menunjukkan kebalikan dari apa yang aku katakan; karena mereka adalah orang-orang bodoh sepertimu, dan segala sesuatu yang mereka lakukan telah tertulis di atas mereka dalam kitab-kitab, baik yang kecil maupun yang besar, dan Tuhanku ‘Azza wa Jalla akan membalas mereka atas semua itu, dan Dia tidak menganiaya seorang pun seberat zarah pun; karena semua perbuatan hamba tertulis di sisi-Nya dalam sebuah kitab yang tidak luput darinya sesuatu apa pun, dan Tuhanku tidak lupa akan sesuatu apa pun.

Kemudian Musa menyebutkan kepadanya keagungan Tuhan dan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, dan menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap yang terpelihara, dan menundukkan awan dan hujan untuk rezeki para hamba, hewan-hewan dan ternak mereka, sebagaimana firman-Nya: “Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewan ternakmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal,” yaitu; bagi orang-orang yang memiliki akal yang sehat dan lurus, serta fitrah yang lurus, bukan yang sakit. Maka Dia Ta’ala adalah Sang Pencipta lagi Pemberi Rezeki. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Dan ketika Dia menyebutkan tentang menghidupkan bumi dengan hujan, dan gerakan bumi dengan mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya di dalamnya, Dia memberikan peringatan dengannya tentang hari kebangkitan, maka Dia berfirman: “Dari bumi itu” yaitu; dari bumi “Kami menjadikan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi,” sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Sebagaimana Dia menciptakan kamu pada kali pertama, demikian pula kamu akan kembali.” (QS. Al-A’raf: 29) Dan firman-Nya Ta’ala: “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Bagi-Nya sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya (Firaun) semua tanda-tanda kekuasaan Kami, tetapi dia mendustakan dan enggan (beriman). Firaun berkata, ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu wahai Musa? Maka sesungguhnya kami akan mendatangkan kepadamu sihir yang serupa dengan itu; karena itu buatlah perjanjian antara kami dan kamu, di suatu tempat yang mudah, yang kami dan kamu tidak akan menyalahinya.’ Musa menjawab, ‘Perjanjian antara kamu dan kami ialah pada hari perayaan, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu dhuha (pagi hari).'” (QS. Thaha: 56-59)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesengsaraan Firaun, kebodohannya yang banyak, dan akalnya yang sedikit dalam mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri untuk tidak mengikutinya, dan perkataannya kepada Musa: Sesungguhnya apa yang engkau bawa ini adalah sihir dan kami akan menandingimu dengan yang serupa. Kemudian dia meminta kepada Musa agar membuat janji di waktu yang ditentukan dan tempat yang ditentukan, dan ini merupakan salah satu tujuan terbesar Musa ‘alaihissalam; yaitu untuk menampakkan ayat-ayat Allah, hujjah-hujjah-Nya, dan bukti-bukti-Nya secara terang-terangan dengan disaksikan oleh manusia. Oleh karena itu dia berkata: “Perjanjian antara kamu dan kami ialah pada hari perayaan,” yaitu hari raya dari hari raya-hari raya mereka, dan hari berkumpulnya mereka, “dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu dhuha (pagi hari),” yaitu; dari awal siang, di waktu ketika sinar matahari sangat terang, sehingga kebenaran akan lebih jelas dan lebih nyata. Dan dia tidak meminta agar hal itu dilakukan pada malam hari dalam kegelapan, agar dia bisa menipu mereka dengan sesuatu yang mustahil dan batil, bahkan dia meminta agar hal itu dilakukan pada siang hari secara terang-terangan karena dia berada di atas bukti yang jelas dari Tuhannya, dan yakin bahwa Allah akan menampakkan kalimat-Nya dan agama-Nya meskipun hidung-hidung orang Qibthi (Mesir) tersumbat.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Firaun pun pergi, lalu dia mengumpulkan tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka (para ahli sihir), ‘Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab. Dan sungguh, akan merugilah orang yang mengada-adakan kebohongan.’ Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan itu di antara mereka dan merahasiakan pembicaraan. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kedua orang ini benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya, dan melenyapkan jalan hidupmu yang utama. Maka sepakatkanlah tipu dayamu, kemudian datanglah dengan barisan yang teratur. Dan sungguh, beruntunglah pada hari ini orang yang menang.'” (QS. Thaha: 60-64)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang Firaun bahwa dia pergi lalu mengumpulkan para ahli sihir yang ada di negerinya, dan negeri Mesir pada zaman itu penuh dengan ahli-ahli sihir yang sangat mahir dalam bidang mereka. Maka dikumpulkanlah untuk dia dari setiap negeri dan dari setiap tempat, sehingga terkumpul dari mereka orang banyak dan kelompok yang sangat besar. Ada yang mengatakan: mereka berjumlah delapan puluh ribu. Ini dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab. Ada yang mengatakan: tujuh puluh ribu. Ini dikatakan oleh Al-Qasim bin Abi Bazzah. As-Suddi berkata: tiga puluh ribu lebih. Dari Abu Umamah: sembilan belas ribu. Muhammad bin Ishaq berkata: lima belas ribu. Ka’ab Al-Ahbar berkata: mereka berjumlah dua belas ribu. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas: mereka berjumlah tujuh puluh orang. Juga diriwayatkan darinya bahwa mereka berjumlah empat puluh pemuda dari Bani Israil yang diperintahkan oleh Firaun untuk pergi kepada para ahli sihir untuk mempelajari sihir. Oleh karena itu mereka berkata: “Dan apa yang engkau paksakan kepada kami berupa sihir. Dan Allah lebih baik dan lebih kekal.” Dalam hal ini ada yang perlu dipertimbangkan.

Dan Firaun beserta para pembesar dan rakyatnya serta penduduk negerinya hadir sejak pagi-pagi sekali; itu karena Firaun telah menyerukan kepada mereka agar menghadiri pertemuan besar ini. Maka keluarlah mereka sambil berkata: “Mudah-mudahan kita dapat mengikuti para ahli sihir, jika mereka yang menang.” (QS. Asy-Syu’ara: 40) Dan Musa ‘alaihissalam maju mendekati para ahli sihir, lalu menasihati mereka dan melarang mereka dari melakukan sihir yang batil, yang di dalamnya terdapat perlawanan terhadap ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjah-Nya, maka dia berkata: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab. Dan sungguh, akan merugilah orang yang mengada-adakan kebohongan. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan itu di antara mereka.” Ada yang mengatakan: artinya bahwa mereka berselisih di antara mereka; ada yang berkata: ini adalah perkataan seorang nabi dan bukan penyihir. Dan ada yang berkata di antara mereka: dia adalah seorang penyihir. Wallahu a’lam. Dan mereka berbisik-bisik tentang hal ini dan yang lain. Mereka berkata: “Sesungguhnya kedua orang ini benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya,” mereka berkata: Sesungguhnya orang ini dan saudaranya Harun adalah dua orang penyihir yang ahli dan sangat menguasai ilmu ini dengan sempurna, dan tujuan mereka adalah agar manusia berkumpul bersama mereka, dan mereka menyerang raja dan para pengikutnya, dan membinasakan kalian semua sampai yang terakhir, dan berkuasa atas kalian dengan ilmu ini. “Maka sepakatkanlah tipu dayamu, kemudian datanglah dengan barisan yang teratur. Dan sungguh, beruntunglah pada hari ini orang yang menang.” Dan mereka mengatakan perkataan yang pertama tadi agar mereka memikirkan dan saling berwasiat, dan datang dengan semua yang mereka miliki berupa tipu daya, kecurangan, penipuan, sihir, dusta, dan kebohongan. Namun sia-sia, demi Allah prasangka-prasangka itu bohong dan pendapat-pendapat itu salah, bagaimana mungkin kebohongan, sihir, dan omong kosong bisa menandingi hal-hal luar biasa yang dijalankan oleh Dzat Yang Maha Pengatur atas tangan hamba-Nya Al-Kalim dan Rasul-Nya yang mulia, yang didukung dengan bukti yang menyilaukan mata dan membuat akal dan pikiran bingung. Dan perkataan mereka: “Maka sepakatkanlah tipu dayamu,” artinya; semua yang kalian miliki, “kemudian datanglah dengan barisan yang teratur,” yaitu; sekaligus dalam satu kelompok. Kemudian sebagian dari mereka mendorong sebagian yang lain untuk maju dalam pertemuan ini; karena Firaun telah berjanji kepada mereka dan memberi harapan kepada mereka, padahal syaitan tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan.

Mereka berkata: “Wahai Musa, apakah kamu yang akan melemparkan (lebih dulu) ataukah kami yang akan melemparkan lebih dulu?’ Musa menjawab, ‘Silakan kamu melemparkan.’ Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya seakan-akan ia bergerak-gerak dengan cepat, karena sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman, ‘Jangan takut, sesungguhnya kamulah yang unggul. Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir. Dan tidak akan beruntung pesihir itu, dari mana pun dia datang.'” (QS. Thaha: 65-69)

Ketika para ahli sihir berbaris dan Musa serta Harun ‘alaihimassalam berdiri di hadapan mereka, mereka berkata kepadanya: “Apakah kamu yang akan melemparkan (lebih dulu) ataukah kami yang akan melemparkan lebih dulu?” Musa menjawab: “Silakan kamu melemparkan.” Mereka telah mempersiapkan tali-tali dan tongkat-tongkat yang mereka isi dengan air raksa dan bahan-bahan lain yang menyebabkan tali-tali dan tongkat-tongkat itu bergerak-gerak seolah-olah bergerak dengan kehendaknya sendiri, padahal sebenarnya bergerak karena sebab itu. Maka pada saat itu mereka menyihir mata manusia dan membuat mereka takut, dan mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka sambil berkata: “Demi kemuliaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar orang yang menang.” (QS. Asy-Syu’ara: 44) Allah Ta’ala berfirman: “Maka setelah mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang-orang dan membuat mereka takut, serta mereka menampakkan sihir yang dahsyat.” (QS. Al-A’raf: 116) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya seakan-akan ia bergerak-gerak dengan cepat, karena sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya,” yaitu; dia khawatir terhadap manusia bahwa mereka akan terfitnah dengan sihir dan tipu daya mereka sebelum dia melemparkan apa yang ada di tangannya, karena dia tidak akan melemparkan sesuatu sebelum dia diperintahkan. Maka Allah mewahyukan kepadanya pada saat itu juga: “Jangan takut, sesungguhnya kamulah yang unggul. Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir. Dan tidak akan beruntung pesihir itu, dari mana pun dia datang.” Maka pada saat itulah Musa melemparkan tongkatnya sambil berkata: “Apa yang kamu lakukan itu adalah sihir, sesungguhnya Allah akan menghapuskannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang berbuat kerusakan, dan Allah akan membuktikan yang hak itu dengan kalimat-kalimat-Nya, walaupun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya.” (QS. Yunus: 81-82) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Lalu Musa melemparkan tongkatnya, maka seketika itu juga tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Asy-Syu’ara: 45) “Maka nyatalah kebenaran dan batallah apa yang mereka kerjakan. Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan para ahli sihir itu sujud (bersujud), mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, Tuhan Musa dan Harun.'” (QS. Al-A’raf: 118-122)

Yang terjadi adalah bahwa ketika Musa ‘alaihissalam maju dan melemparkannya, tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar yang mempunyai kaki-kaki – sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu orang dari ulama salaf – dan leher yang besar, dan bentuk yang menakutkan dan mengkhawatirkan, sehingga manusia menjauh darinya, dan mereka lari dengan cepat, dan mereka mundur dari tempatnya. Dan ular itu menghampiri apa yang mereka lemparkan dari tali-tali dan tongkat-tongkat, lalu mulai menelannya satu per satu, dengan gerakan yang sangat cepat, sementara manusia melihatnya dan merasa heran terhadapnya. Adapun para ahli sihir, mereka melihat sesuatu yang membuat mereka ketakutan dan bingung dalam urusan mereka, dan mereka menyaksikan sesuatu yang tidak terlintas dalam pikiran dan bayangan mereka, dan tidak termasuk dalam keahlian dan pekerjaan mereka. Maka pada saat itu dan di sanalah mereka menyadari dengan ilmu yang mereka miliki bahwa ini bukanlah sihir, bukan sulap, bukan tipu muslihat, bukan khayalan, bukan kebohongan, bukan dusta, dan bukan kesesatan, bahkan adalah kebenaran yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Dzat Yang Maha Benar yang mengutus orang yang didukung dengannya dengan kebenaran ini. Dan Allah mengangkat dari hati mereka kegelapan kelalaian, dan meneranginya dengan hidayah yang Dia ciptakan di dalamnya, dan menghilangkan dari mereka kekerasan hati, dan mereka kembali kepada Tuhan mereka, dan mereka bersujud kepada-Nya, dan mereka berkata dengan terang-terangan kepada yang hadir, dan mereka tidak takut akan hukuman atau cobaan: “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.”

Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Maka para ahli sihir itu merebahkan diri dengan bersujud, mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.’ Firaun berkata, ‘Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang telah mengajarkan sihir kepadamu, maka aku pasti akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang, dan aku pasti akan menyalibmu pada batang-batang pohon kurma, dan kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras dan lebih kekal azabnya.’ Mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata yang telah datang kepada kami, dan (tidak pula) daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan apa yang kamu paksakan kepada kami berupa sihir. Dan Allah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya barang siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Di dalamnya dia tidak akan mati dan tidak (pula) hidup. Dan barang siapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan amal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh kedudukan yang tinggi (mulia), (yaitu) surga Adn, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.'” (QS. Thaha: 70-76)

Said bin Jubair, Ikrimah, Al-Qasim bin Abi Bazzah, Al-Auza’i, dan yang lain berkata: Ketika para ahli sihir bersujud, mereka melihat tempat-tempat tinggal mereka dan istana-istana mereka di surga yang sedang dipersiapkan untuk mereka dan dihias untuk kedatangan mereka. Oleh karena itu mereka tidak menghiraukan gertakan Firaun, ancamannya dan kemarahannya. Hal itu karena ketika Firaun melihat para ahli sihir ini telah masuk Islam dan menyebarkan nama Musa dan Harun di antara manusia dengan cara yang sangat baik ini, hal itu membuatnya panik, dan dia melihat sesuatu yang membuatnya bingung dan membutakan pandangan dan wawasannya. Dia adalah orang yang penuh tipu daya, kecurangan, penipuan, dan kepandaian yang luar biasa dalam menghalangi dari jalan Allah. Maka dia berkata kepada para ahli sihir di hadapan manusia: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?” Artinya; mengapa kalian tidak bermusyawarah denganku dalam apa yang kalian lakukan dari perkara yang mengerikan ini di hadapan rakyatku? Kemudian dia mengancam dan memperingatkan, dan berkilat serta menggelegar, dan berdusta lalu menjauh, dengan berkata: “Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang telah mengajarkan sihir kepadamu.” Dan dia berkata dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya dari padanya, maka kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” (QS. Al-A’raf: 123) Dan apa yang dia katakan ini adalah kebohongan yang setiap orang yang berakal mengetahui apa yang ada di dalamnya berupa kekufuran, kebohongan, dan omong kosong, bahkan tidak akan laku seperti ini kepada anak-anak; karena semua manusia, dari rakyatnya dan yang lain, mengetahui bahwa Musa tidak pernah melihat orang-orang ini satu hari pun, bagaimana mungkin dia menjadi pemimpin mereka yang mengajarkan sihir kepada mereka?! Kemudian dia tidak mengumpulkan mereka dan tidak tahu tentang berkumpulnya mereka, sampai Firaun sendirilah yang memanggil mereka dan mengumpulkan mereka dari setiap penjuru yang jauh dan lembah yang dalam, dan dari pusat-pusat kota Mesir dan daerah-daerah pinggiran, serta dari kota-kota dan desa-desa.

Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-A‘raf ayat 103–126:

Kemudian setelah mereka, Kami mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Firaun dan para pembesarnya, tetapi mereka berlaku zalim terhadap ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan Musa berkata, “Wahai Firaun, sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam.

Aku wajib tidak mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhan kalian, maka lepaskanlah Bani Israil bersamaku.”

Firaun berkata, “Jika engkau datang dengan suatu ayat, maka datangkanlah ayat itu jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Lalu Musa melemparkan tongkatnya, maka seketika itu tongkat itu menjadi seekor ular besar yang nyata.

Dan ia mengeluarkan tangannya, maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih bersinar bagi orang-orang yang melihatnya.

Para pembesar dari kaum Firaun berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar seorang penyihir yang sangat pandai,

ia hendak mengusir kalian dari negeri kalian.” Maka Firaun berkata, “Apakah yang kalian anjurkan?”

Mereka menjawab, “Tundalah dia dan saudaranya, dan kirimlah ke seluruh kota para pengumpul,

agar mereka mendatangkan kepadamu setiap penyihir yang pandai.”

Lalu datanglah para penyihir kepada Firaun. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami akan mendapatkan upah jika kami yang menang.”

Firaun berkata, “Ya, dan sesungguhnya kalian benar-benar termasuk orang-orang yang dekat denganku.”

Para penyihir berkata, “Wahai Musa, apakah engkau yang akan melemparkan terlebih dahulu ataukah kami yang akan melemparkan?”

Musa berkata, “Lemparkanlah.”

Maka ketika mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang-orang dan menakut-nakuti mereka, serta mendatangkan sihir yang besar.

Dan Kami mewahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu.” Maka seketika itu tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan.

Maka kebenaran pun menjadi nyata dan batallah apa yang dahulu mereka kerjakan.

Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan mereka pun kembali dalam keadaan hina.

Dan para penyihir itu pun dijatuhkan bersujud.

Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam,

Tuhan Musa dan Harun.”

Firaun berkata, “Apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku mengizinkan kalian? Sesungguhnya ini benar-benar tipu daya yang telah kalian rencanakan di negeri ini untuk mengusir penduduknya darinya. Maka kelak kalian akan mengetahui akibatnya.

Sungguh akan aku potong tangan dan kaki kalian secara bersilang, kemudian sungguh akan aku salib kalian semuanya.”

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.

Dan engkau tidak menyalahkan kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri.”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Yunus: Kemudian setelah mereka Kami utus Musa dan Harun kepada Firaun dan pemuka kaumnya dengan membawa ayat-ayat Kami, lalu mereka menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Maka ketika kebenaran datang kepada mereka dari sisi Kami, mereka berkata: Sesungguhnya ini benar-benar sihir yang nyata. Musa berkata: Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika datang kepadamu, apakah ini sihir? Padahal ahli-ahli sihir tidak akan beruntung. Mereka berkata: Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kebesaran di bumi? Dan kami tidak akan mempercayai kamu berdua. Dan Firaun berkata: Datangkanlah kepadaku setiap ahli sihir yang pandai. Maka ketika ahli-ahli sihir datang, Musa berkata kepada mereka: Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan. Maka ketika mereka melemparkan, Musa berkata: Apa yang kamu datangkan itu adalah sihir. Sesungguhnya Allah akan membatalkannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan berhasil pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah menetapkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya, walaupun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya. (Yunus: 75-82)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syu’ara: Firaun berkata: Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan. Musa berkata: Dan apakah (kamu akan berbuat demikian) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata? Firaun berkata: Datangkanlah dia jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka tiba-tiba tangan itu putih bersinar bagi orang-orang yang melihatnya. Firaun berkata kepada para pemuka yang berada di sekelilingnya: Sesungguhnya ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai. Ia hendak mengeluarkan kamu dari negerimu dengan sihirnya, maka apakah yang kamu anjurkan? Mereka berkata: Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan. Niscaya mereka akan mendatangkan kepadamu semua ahli sihir yang pandai. Maka dikumpulkanlah para ahli sihir pada waktu yang ditentukan di hari yang dimaklumkan. Dan dikatakan kepada orang-orang: Apakah kalian sekalian akan berkumpul? Mudah-mudahan kita dapat mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka yang menang. Maka ketika ahli-ahli sihir datang, mereka bertanya kepada Firaun: Apakah sesungguhnya bagi kami ada pahala jika kami yang menang? Firaun menjawab: Ya, dan sesungguhnya kamu sekalian pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku). Musa berkata kepada mereka: Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan. Maka mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: Demi kekuasaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar orang yang menang. Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan. Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud. Mereka berkata: Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. Tuhan Musa dan Harun. Firaun berkata: Apakah kamu beriman kepada-Nya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang telah mengajarkan sihir kepadamu, maka kelak kamu pasti akan mengetahui. Sungguh akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang dan sungguh akan aku salib kamu semuanya. Mereka berkata: Tidak ada bahaya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat mengharapkan agar Tuhan kami mengampuni bagi kami kesalahan-kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman. (Asy-Syu’ara: 29-51)

Dan maksudnya adalah bahwa Firaun telah mendustakan dan mengada-ada, serta kafir dengan kekafiran yang sangat dalam perkataannya: Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang telah mengajarkan sihir kepadamu. Dan ia datang dengan kebohongan yang diketahui oleh orang-orang yang berilmu, bahkan orang-orang yang berilmu dalam perkataannya: Sesungguhnya ini adalah tipu muslihat yang kamu rencanakan di kota ini untuk mengeluarkan penduduknya darinya, maka kelak kamu akan mengetahui. Dan perkataannya: Sungguh akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang yaitu: memotong tangan kanan dan kaki kiri dan sebaliknya, dan sungguh akan aku salib kamu semuanya yaitu untuk menjadikan mereka sebagai contoh dan pelajaran agar tidak ada seorangpun dari rakyatnya dan pengikut agamanya yang mencontoh mereka, dan oleh karena itu ia berkata: Dan sungguh akan aku salib kamu pada batang-batang pohon kurma yaitu di atas batang-batang pohon kurma karena itu lebih tinggi dan lebih terkenal dan kelak kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras siksaannya dan lebih kekal yaitu di dunia. Mereka berkata: Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada apa yang telah datang kepada kami dari keterangan-keterangan yang nyata yaitu kami tidak akan mentaatimu dan meninggalkan apa yang telah tertanam di hati kami dari keterangan-keterangan yang nyata, dan dalil-dalil yang pasti, dan Tuhan yang menciptakan kami. Dikatakan: ini adalah kata sambung. Dan dikatakan: ini adalah sumpah. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan yaitu lakukanlah apa yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan kehidupan dunia ini saja yaitu sesungguhnya hukummu atas kami hanya di kehidupan dunia ini, maka apabila kami pindah darinya ke negeri akhirat, kami menjadi dalam hukum Tuhan yang kami berserah diri kepada-Nya dan kami mengikuti rasul-rasul-Nya. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni bagi kami kesalahan-kesalahan kami dan apa yang kamu paksakan kepada kami dari sihir. Dan Allah lebih baik dan lebih kekal (Thaha: 73). Yaitu pahala-Nya lebih baik daripada apa yang kamu janjikan kepada kami berupa kedekatan dan targhib, dan lebih kekal yaitu lebih langgeng dari negeri dunia yang fana ini.

Dan dalam ayat yang lain: Mereka berkata: Tidak ada bahaya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat mengharapkan agar Tuhan kami mengampuni bagi kami kesalahan-kesalahan kami yaitu apa yang kami lakukan dari perbuatan-perbuatan dosa dan kejahatan karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman yaitu dari kalangan Qibti, kepada Musa dan Harun alaiihimas salam.

Dan mereka juga berkata kepadanya: Dan kamu tidak mengingkari kami, kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami tatkala ayat-ayat itu datang kepada kami. Yaitu kami tidak mempunyai dosa di sisimu kecuali keimanan kami kepada apa yang dibawa oleh rasul kami kepada kami, dan mengikuti ayat-ayat Tuhan kami ketika datang kepada kami. Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami yaitu teguhkanlah kami atas apa yang kami diuji dengannya berupa hukuman dari penguasa yang keras kepala dan sewenang-wenang ini, dan penguasa yang sangat kejam, bahkan syaitan yang durhaka, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).

Dan mereka juga berkata menasehatinya dan menakut-nakutinya dengan azab Tuhannya yang Maha Agung: Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Mereka berkata kepadanya: maka hendaklah kamu berhati-hati agar tidak termasuk mereka. Maka ia termasuk mereka. Dan barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, lagi telah mengerjakan amal-amal yang saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi yaitu tempat-tempat tinggal yang tinggi yaitu surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan demikianlah balasan orang yang menyucikan diri. Maka bersemangatlah agar kamu termasuk mereka.

Maka terhalanglah dia dari hal itu oleh takdir-takdir yang tidak dapat dilawan dan tidak dapat ditolak, dan hukum dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung bahwa Firaun, semoga Allah melaknatinya, adalah termasuk penghuni neraka Jahanam, untuk merasakan azab yang pedih, disiram dari atas kepalanya air yang mendidih. Dan dikatakan kepadanya, dengan cara mencela dan menegur, sedangkan ia adalah yang tercela yang diusir, yang hina yang keji: Rasakanlah! Sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia (Ad-Dukhan: 49).

Dan yang jelas dari rangkaian kisah ini adalah bahwa Firaun, semoga Allah melaknatinya, menyalib mereka dan menyiksa mereka, semoga Allah meridhoi mereka. Abdullah bin Abbas dan Ubaid bin Umair berkata: Mereka pada awal siang adalah para ahli sihir, lalu pada akhir siang menjadi para syuhada yang berbakti. Dan menguatkan hal ini adalah perkataan mereka: Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).

Pasal

Dan ketika terjadi apa yang terjadi dari peristiwa yang besar, yaitu kekalahan yang dialami Firaun dan kaumnya dari kalangan Qibti di tempat yang menakutkan itu, dan para ahli sihir masuk Islam, yang mereka minta pertolongan kepada Tuhan mereka, hal itu tidak menambah mereka kecuali kekafiran dan keingkaran serta kejauhan dari kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, setelah kisah-kisah yang telah disebutkan di atas dalam surah Al-A’raf: Dan berkata pemuka-pemuka dari kaum Firaun: Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di bumi ini dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu? Firaun berkata: Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka. Musa berkata kepada kaumnya: Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah. Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka berkata: Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Al-A’raf: 127-129)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang para pemuka dari kaum Firaun, yaitu para pemimpin dan pembesar, bahwa mereka menghasut raja mereka Firaun untuk menyakiti Nabi Allah Musa alaihis salam, dan menghadapinya—alih-alih membenarkan apa yang dibawanya—dengan kekafiran dan penolakan serta menyakitinya. Maka mereka berkata: Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di bumi ini dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu maksudnya, semoga Allah mencelakakan mereka, bahwa seruannya kepada penyembahan Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan larangan dari menyembah selain-Nya adalah kerusakan menurut keyakinan orang Qibti, semoga Allah melaknat mereka. Dan sebagian membaca: Dan meninggalkanmu dan penyembahanmu yaitu dan penyembahanmu. Dan ini mengandung dua kemungkinan: pertama, meninggalkan agamamu. Dan ini dikuatkan oleh qiraah yang lain. Kedua, meninggalkan penyembahan kepadamu, karena sesungguhnya ia mengaku bahwa ia adalah tuhan, semoga Allah melaknatinya. Firaun berkata: Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka yaitu agar tidak banyak prajurit mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka yaitu menguasai. Musa berkata kepada kaumnya: Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah. Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa yaitu apabila mereka bermaksud menyakiti kalian dan menindas kalian, maka mintalah pertolongan kalian kepada Tuhan kalian, dan bersabarlah atas ujian kalian. Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah. Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa yaitu maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang bertakwa agar kesudahan yang baik menjadi milik kalian, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain: Dan Musa berkata: Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim. Maka mereka berkata: Kepada Allah-lah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. (Yunus: 84-86)

Dan perkataan mereka: Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang yaitu anak-anak lelaki telah dibunuh sebelum kedatanganmu, dan setelah kedatanganmu kepada kami. Musa berkata: Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Ha Mim Al-Mu’min: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Firaun, Haman dan Qarun, lalu mereka berkata: Ini adalah ahli sihir yang pendusta. (Ghafir: 23-24)

Dan Firaun adalah raja, dan Haman adalah menteri, dan Qarun adalah orang Israil dari kaum Musa, namun ia menganut agama Firaun dan pengikutnya, dan ia memiliki harta yang sangat banyak, sebagaimana akan disebutkan kisahnya nanti, insya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: Bunuhlah anak-anak lelaki orang-orang yang beriman bersama dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka. Dan tidak ada tipu daya orang-orang kafir itu melainkan dalam kesesatan. (Ghafir: 25)

Dan pembunuhan anak-anak lelaki ini, setelah diutusnya Musa, dilakukan dengan tujuan penghinaan dan perendahan, dan mengurangi kekuatan Bani Israil agar mereka tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri atau menyerang orang Qibti karenanya. Dan orang Qibti waspada terhadap mereka, namun hal itu tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak menolak takdir dari Tuhan yang berfirman kepada sesuatu: Jadilah, maka jadilah.

Dan Firaun berkata: Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah dia menyeru Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menampakkan kerusakan di bumi. (Ghafir: 26)

Dan oleh karena itu orang-orang mengatakan dengan cara mengejek: Firaun menjadi pengingat. Dan inilah darinya, karena Firaun dalam sangkaannya khawatir terhadap manusia bahwa Musa alaihis salam akan menyesatkan mereka.

Dan Musa berkata: Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kamu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan. (Ghafir: 27) Yaitu aku berlindung kepada Allah, dan bernaung kepada-Nya serta meminta perlindungan di sisi-Nya dari Firaun atau selainnya yang menyerangku dengan keburukan.

Dan firman-Nya: dari setiap orang yang menyombongkan diri yaitu penguasa yang keras kepala, yang tidak sadar dan tidak berhenti, dan tidak takut akan azab Allah dan hukuman-Nya karena ia tidak meyakini adanya hari pembalasan dan perhitungan, dan oleh karena itu ia berfirman: dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.

Dan berkatalah seorang laki-laki yang beriman dari keluarga Firaun yang menyembunyikan imannya: Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata dari Tuhanmu? Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika dia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. Hai kaumku, kamu memiliki kerajaan pada hari ini yang menguasai di bumi, maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu datang kepada kita? Firaun berkata: Aku tidak memperlihatkan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu kecuali jalan yang benar. (Ghafir: 28-29)

Laki-laki ini adalah sepupu Firaun, dan ia menyembunyikan imannya dari kaumnya karena takut kepada mereka atas dirinya. Dan sebagian orang menduga bahwa ia adalah orang Israil, dan ini jauh dan menyalahi rangkaian kata-kata secara lafaz dan makna. Wallahu a’lam.

Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas berkata: Tidak ada yang beriman dari kalangan Qibti kepada Musa kecuali orang ini, dan orang yang datang dari ujung kota, dan istri Firaun. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Ad-Daraquthni berkata: Tidak dikenal yang namanya Syam’an—dengan syin yang berbintik—kecuali mukmin dari keluarga Firaun. Disebutkan oleh As-Suhaili.

Dan dalam kitab Tarikh karya Ath-Thabrani bahwa namanya adalah: Jabr. Wallahu a’lam.

Dan maksudnya adalah bahwa laki-laki ini menyembunyikan imannya, maka ketika Firaun, semoga Allah melaknatinya, berniat membunuh Musa alaihis salam, dan bertekad untuk itu serta bermusyawarah dengan para pemukanya mengenai hal itu, laki-laki mukmin ini takut terhadap Musa, maka ia berlaku lemah lembut dalam menolak Firaun dengan kata-kata yang menggabungkan antara targhib dan tarhib. Maka ia mengatakan kata kebenaran dengan cara memberikan nasihat dan pendapat.

Dan telah tsabit dalam hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: Jihad yang paling utama adalah kalimat keadilan di hadapan penguasa yang lalim. Dan ini termasuk tingkatan tertinggi dari kedudukan ini, karena Firaun tidak ada yang lebih lalim darinya, dan kata-kata ini tidak ada yang lebih adil darinya karena di dalamnya terdapat penjagaan darah seorang nabi.

Dan dimungkinkan bahwa ia memberikan isyarat kepada mereka dengan menampakkan imannya, dan menyatakan kepada mereka apa yang ia sembunyikan. Dan yang pertama lebih jelas. Wallahu a’lam.

Ia berkata: Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan Tuhanku ialah Allah? Yaitu hanya karena ia berkata: Tuhanku adalah Allah. Maka orang seperti ini tidak dibalas dengan hal seperti ini, bahkan dengan penghormatan dan penghargaan serta menjaganya dan meninggalkan pembalasan dendam, maksudnya karena ia padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata dari Tuhanmu yaitu dengan keajaiban-keajaiban yang menunjukkan kebenarannya dalam apa yang dibawanya dari yang mengutusnya, maka orang ini jika kalian menjaganya kalian akan berada dalam keselamatan karena ia dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu dan itu tidak membahayakan kalian. Dan jika dia seorang yang benar padahal kalian telah mencelakakannya niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu yaitu sedangkan kalian merasa kasihan jika menimpa kalian balasan yang paling ringan dari apa yang diancamkannya kepada kalian, bagaimana dengan kalian jika semuanya menimpa kalian?

Dan kata-kata ini dalam kedudukan ini termasuk tingkatan tertinggi dari kelembutan dan kehati-hatian serta akal yang sempurna.

Dan firman-Nya: Hai kaumku, kamu memiliki kerajaan pada hari ini yang menguasai di bumi ia memperingatkan mereka agar tidak dirampas kerajaan yang mulia ini, karena sesungguhnya negara-negara tidak pernah melawan agama kecuali kerajaan mereka dirampas dan mereka dihinakan setelah kemuliaan mereka. Dan demikian pula terjadi pada keluarga Firaun, mereka senantiasa dalam keraguan dan kebimbangan, serta perlawanan dan pengingkaran terhadap apa yang dibawa Musa kepada mereka, hingga Allah mengeluarkan mereka dari apa yang mereka miliki berupa kerajaan dan kepemilikan serta istana-istana dan rumah-rumah, dan kenikmatan serta kegembiraan, kemudian mereka dibawa ke laut dalam keadaan hina, dan roh mereka dipindahkan setelah ketinggian dan kemuliaan ke tempat yang paling rendah. Dan oleh karena itu laki-laki mukmin yang jujur ini berkata, yang berbakti lagi bijak, yang mengikuti kebenaran dan menasihati kaumnya, yang sempurna akalnya: Hai kaumku, kamu memiliki kerajaan pada hari ini yang menguasai di bumi yaitu tinggi di atas manusia dan berkuasa atas mereka, maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu datang kepada kita yaitu seandainya kalian berlipat ganda dari apa yang kalian miliki dalam jumlah dan peralatan serta kekuatan dan kekerasan, hal itu tidak akan bermanfaat bagi kita dan tidak akan menolak azab dari kita yang dimiliki oleh Pemilik segala kerajaan.

Firaun berkata yaitu dalam menjawab semua ini: Aku tidak memperlihatkan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik yaitu aku tidak mengatakan kepada kalian kecuali apa yang ada padaku dan aku tidak menunjukkan kepadamu kecuali jalan yang benar. Dan ia berdusta dalam setiap dari dua perkataan ini, dan dua premis ini, karena sesungguhnya ia telah mengetahui dan menyadari dalam batinnya dan dalam dirinya bahwa apa yang dibawa oleh Musa ini adalah kebenaran dari sisi Allah tanpa keraguan, dan ia hanya menampakkan kebalikannya karena kezaliman dan permusuhan, serta kesombongan dan kekafiran.

Allah Taala berfirman yang menceritakan tentang Musa: “Berkata (Musa): ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) ini kecuali Tuhan Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, wahai Firaun, akan binasa.'” (Al-Isra: 102). Dan Allah Taala berfirman: “Maka ketika datang kepada mereka ayat-ayat Kami yang memberi penjelasan, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (An-Naml: 13-14). Adapun perkataannya: “Dan aku tidak menunjukkan kepadamu kecuali jalan yang benar.” Maka sesungguhnya dia telah berbohong juga, karena dia tidak berada di atas jalan yang benar dalam urusannya, bahkan dia berada dalam kebodohan dan kesesatan, dan keburukan, dan pada awalnya dia termasuk orang yang menyembah berhala-berhala dan patung-patung, kemudian dia menyeru kaumnya yang bodoh dan sesat untuk mengikutinya dan mematuhinya, dan membenarkannya dalam apa yang dia klaim dari kekufuran yang mustahil dalam klaimnya bahwa dia adalah tuhan, Maha Tinggi Allah Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Allah Taala berfirman: “Dan Firaun menyeru kepada kaumnya, dia berkata: ‘Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak memperhatikan? Ataukah aku (Firaun) lebih baik daripada orang yang hina ini (Musa) dan hampir tidak dapat berbicara dengan terang? Maka mengapa tidak diletakkan kepadanya gelang-gelang dari emas atau datang bersama dia para malaikat yang beriring-iringan?’ Maka Firaun menganggap remeh kaumnya, lalu mereka mematuhinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya. Dan Kami jadikan mereka pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang datang kemudian.” (Az-Zukhruf: 51-56). Dan Allah Taala berfirman: “Maka dia (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling dengan segera. Lalu dia mengumpulkan (kaumnya) dan berseru. Maka dia berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’ Maka Allah menyiksanya dengan siksaan di akhirat dan di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” (An-Nazi’at: 20-26). Dan Allah Taala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Firaun dan pembesar-pembesarnya, lalu mereka mengikuti perintah Firaun, padahal perintah Firaun itu bukanlah (perintah) yang benar. Dia akan mendahului kaumnya di hari kiamat, lalu membawa mereka ke neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat yang didatangi. Mereka dilaknat di dunia ini dan di hari kiamat. Itulah seburuk-buruk pemberian yang diberikan.” (Hud: 96-99). Dan yang dimaksudkan adalah menjelaskan kedustaan Firaun dalam perkataannya: “Aku tidak memperlihatkan kepadamu kecuali apa yang aku lihat” dan dalam perkataannya: “Dan aku tidak menunjukkan kepadamu kecuali jalan yang benar.” “(Musa) berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku terhadap kaum yang berbuat kerusakan.’ Dan ketika datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.’ Dia (Ibrahim) berkata: ‘Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.’ Mereka berkata: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di negeri itu, kami pasti akan menyelamatkannya dan pengikut-pengikutnya, kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).’ Dan ketika datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Luth, dia merasa susah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Sesungguhnya kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk negeri ini karena mereka berbuat fasik.’ Dan sesungguhnya Kami telah tinggalkan darinya tanda yang jelas bagi kaum yang berakal.” (Al-Ankabut: 30-35). Wali Allah memperingatkan mereka, jika mereka mendustakan Rasulullah Musa, bahwa akan menimpa mereka apa yang telah menimpa umat-umat sebelum mereka dari berbagai hukuman dan siksaan, dari apa yang sudah tersebar luas di kalangan mereka dan di kalangan lainnya; apa yang menimpa kaum Nuh, Aad, Tsamud, dan yang setelah mereka hingga zaman mereka itu, dari apa yang Allah tegakkan dengannya hujah atas penduduk bumi seluruhnya, dalam membuktikan kebenaran apa yang dibawa oleh para nabi, dengan apa yang Allah turunkan berupa hukuman kepada orang-orang yang mendustakan mereka dari kalangan musuh, dan apa yang Allah selamatkan bagi orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan para wali, dan Dia menakuti mereka dengan hari kiamat, yaitu hari at-tanad (hari panggilan) yaitu; ketika manusia saling memanggil satu sama lain ketika mereka berpaling melarikan diri jika mereka mampu melakukan itu, dan tidak ada jalan untuk itu. “Manusia bertanya pada hari itu: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali.” (Al-Qiyamah: 10-12). Dan Allah Taala berfirman: “Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu mampu menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, lalu kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 33-36). Dan sebagian dari mereka membaca: “yaumut tanadi” dengan mengetebalkah huruf dal, yaitu hari pelarian. Dan dimungkinkan bahwa itu adalah hari kiamat, dan dimungkinkan bahwa itu adalah hari ketika Allah menurunkan azab kepada mereka, maka mereka ingin melarikan diri namun tidak ada waktu untuk meloloskan diri. “Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri darinya. Janganlah kamu lari dan kembalilah kepada (nikmat dunia) yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat tinggalmu agar kamu dapat ditanya.” (Al-Anbiya: 12-13). Kemudian dia memberitahu mereka tentang kenabian Yusuf di negeri Mesir; apa yang datang darinya berupa kebaikan kepada makhluk dalam urusan dunia dan akhirat mereka, dan ini dari keturunan dan zuriatnya, dan dia menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya, dan agar mereka tidak menyekutukan-Nya dengan siapa pun dari makhluk-Nya, dan dia memberitahu tentang penduduk negeri Mesir pada waktu itu, bahwa dari tabiat mereka adalah mendustakan kebenaran dan menentang para rasul; dan karena itu dia berkata: “Maka kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dia bawa kepadamu, sehingga ketika dia meninggal kamu berkata: ‘Allah sekali-kali tidak akan mengutus rasul sesudahnya.'” yaitu; dan kamu mendustakan dalam hal ini. Dan karena itu Allah berfirman: “Demikianlah Allah menyesatkan orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang membantah tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka” yaitu; mereka menolak hujah-hujah Allah dan bukti-bukti-Nya serta dalil-dalil tauhid-Nya tanpa hujah dan dalil di sisi mereka dari Allah, maka sesungguhnya ini adalah perkara yang sangat dimurkai Allah; yaitu Dia membenci orang yang terlibat dengannya dari manusia, dan yang bersifat dengannya dari makhluk. “Demikianlah Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong lagi keras kepala.” Dibaca dengan cara idhafah dan dengan cara na’at, dan keduanya saling berkaitan; yaitu demikianlah jika hati-hati menyelisihi kebenaran, dan tidak menyelisihinya kecuali tanpa bukti, maka sesungguhnya Allah mengunci matinya; yaitu menutupnya. Dan Firaun berkata: “Wahai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku dapat sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat naik kepada Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.’ Dan demikianlah dijadikan indah bagi Firaun perbuatannya yang buruk dan dia dihalangi dari jalan (yang benar). Dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah dalam kerugian.” (Ghafir: 36-37). Firaun mendustakan Musa alaihissalam dalam klaimnya bahwa Allah mengutusnya, dan Firaun mengklaim kepada kaumnya apa yang dia dustakan dan dia ada-adakan, dalam perkataannya kepada mereka: “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku, maka bakarlah untukku wahai Haman tanah liat, lalu buatkanlah untukku bangunan yang tinggi agar aku dapat naik (ke langit) kepada Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya termasuk orang-orang yang berdusta.” (Al-Qashash: 38). Dan dia berkata di sini: “Agar aku dapat sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit” yaitu; jalan-jalannya dan lorong-lorongnya “agar aku dapat naik kepada Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” dan ini mengandung dua makna; yang pertama, dan sesungguhnya aku memandangnya pendusta dalam perkataannya: Sesungguhnya bagi alam ini ada Tuhan selain aku. Dan yang kedua, dalam klaimnya bahwa Allah mengutusnya. Dan yang pertama lebih sesuai dengan kondisi lahiriah Firaun, karena dia mengingkari secara lahiriah penetapan adanya Sang Pencipta, dan yang kedua lebih dekat dengan lafaznya; di mana dia berkata: “agar aku dapat naik kepada Tuhan Musa” yaitu; maka aku akan bertanya kepada-Nya apakah Dia mengutusnya atau tidak, “dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” yaitu; dalam klaimnya itu. Dan sesungguhnya maksud Firaun adalah untuk menghalangi manusia dari membenarkan Musa alaihissalam, dan untuk mendorong mereka agar mendustakannya. Allah Taala berfirman: “Dan demikianlah dijadikan indah bagi Firaun perbuatannya yang buruk dan dia dihalangi dari jalan (yang benar)” dan dibaca: “washudda ‘anissabili” Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: maksudnya: kecuali dalam kerugian. yaitu; batil, dia tidak mendapatkan sesuatu pun dari maksudnya yang dia tuju, karena tidak ada jalan bagi manusia untuk dapat mencapai dengan kekuatan mereka untuk mencapai langit selamanya – maksudku adalah langit dunia – bagaimana lagi dengan langit-langit setelahnya dari langit-langit yang tinggi, dan apa yang di atas itu dari ketinggian yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Azza wa Jalla.

Dan lebih dari satu mufassir menyebutkan bahwa bangunan yang tinggi ini, yaitu istana yang dibangun wazirnya Haman untuknya, tidak pernah terlihat bangunan yang lebih tinggi darinya, dan bahwa itu dibangun dari batu bata yang dibakar dengan api, dan karena itu dia berkata: “maka bakarlah untukku wahai Haman tanah liat, lalu buatkanlah untukku bangunan yang tinggi” dan menurut Ahlul Kitab bahwa Bani Israil dipaksa bekerja dalam membuat batu bata, dan termasuk dari beban-beban yang dipikul mereka dari tugas-tugas Firaun adalah mereka tidak dibantu dalam sesuatu pun dari apa yang mereka butuhkan di dalamnya, bahkan mereka yang mengumpulkan tanahnya dan jeraminya dan airnya, dan dituntut dari mereka setiap hari bagian yang ditentukan, jika mereka tidak melakukannya maka mereka dipukuli dan dihinakan dengan sangat hina, dan disakiti dengan sangat menyakitkan. Dan karena itu mereka berkata kepada Musa: “Kami telah ditindas sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.” Dia (Musa) berkata: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana kamu beramal.” Maka dia menjanjikan mereka bahwa akibat yang baik akan menjadi milik mereka atas orang-orang Qibthi, dan demikianlah yang terjadi, dan ini termasuk dalil-dalil kenabian.

Dan mari kita kembali kepada nasihat orang mukmin dan petuahnya serta hujahnya, Allah Taala berfirman: “Dan berkata orang yang beriman itu: ‘Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.'” (Ghafir: 38-40). Dia menyeru mereka, semoga Allah meridhainya, kepada jalan yang benar dan kebenaran, yaitu mengikuti Nabi Allah Musa, dan membenarkannya dalam apa yang dia bawa dari Tuhannya, kemudian dia menzuhudkan mereka dari dunia yang rendah dan fana yang pasti akan berakhir, dan dia mendorong mereka untuk mencari pahala di sisi Allah, yang tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di sisi-Nya, Yang Maha Kuasa yang kerajaan segala sesuatu ada di tangan-Nya, Yang memberi atas yang sedikit dengan banyak, dan dari keadilan-Nya tidak membalas kejahatan kecuali sebanding dengannya. Dan dia memberitahu mereka bahwa akhirat adalah negeri yang kekal, yang barang siapa mendatanginya dalam keadaan beriman telah mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka surga-surga yang tinggi, dan kamar-kamar yang aman, dan kebaikan-kebaikan yang banyak dan sempurna, dan rezeki yang terus-menerus yang tidak akan sirna, dan kebaikan yang semua yang mereka miliki darinya terus bertambah.

Kemudian dia mulai membatalkan apa yang mereka ada di atasnya, dan menakut-nakuti mereka dengan apa yang akan mereka dapatkan, maka dia berkata: “Dan wahai kaumku, mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan, sedangkan kamu menyeruku kepada neraka? Kamu menyeruku agar aku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, sedang aku menyeru kamu kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa apa yang kamu seru aku kepadanya itu tidak dapat (memenuhi) seruan (doa) baik di dunia maupun di akhirat, dan sesungguhnya tempat kembali kita adalah kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Maka kelak kamu akan ingat apa yang aku katakan kepadamu, dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.’ Maka Allah melindunginya dari kejahatan tipu daya yang mereka rencanakan, dan azab yang buruk meliputi Firaun dan kaumnya, (yaitu) neraka, mereka dihadapkan kepadanya pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'” (Ghafir: 41-46). Dia menyeru mereka kepada ibadah kepada Tuhan langit dan bumi yang berfirman kepada sesuatu: Jadilah. maka jadilah itu, dan mereka menyerunya kepada ibadah Firaun yang bodoh, sesat dan terkutuk, dan karena itu dia berkata kepada mereka dengan cara mengingkari: “Dan wahai kaumku, mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan, sedangkan kamu menyeruku kepada neraka? Kamu menyeruku agar aku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, sedang aku menyeru kamu kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”, kemudian dia menjelaskan kepada mereka kebatilan apa yang mereka ada di atasnya dari ibadah kepada selain Allah dari sekutu-sekutu dan berhala-berhala, dan bahwa itu tidak memiliki dari manfaat dan tidak pula mudarat. Maka dia berkata: “Tidak dapat disangsikan lagi bahwa apa yang kamu seru aku kepadanya itu tidak dapat (memenuhi) seruan (doa) baik di dunia maupun di akhirat, dan sesungguhnya tempat kembali kita adalah kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka” yaitu; tidak memiliki tindakan dan tidak pula hukum di dunia ini, bagaimana bisa memilikinya di hari perhitungan? Adapun Allah Azza wa Jalla maka sesungguhnya Dia adalah Pencipta Pemberi Rezeki bagi orang-orang baik dan orang-orang jahat, dan Dialah yang menghidupkan hamba-hamba dan mematikan mereka dan membangkitkan mereka, maka Dia memasukkan orang yang taat kepada-Nya ke surga dan orang yang bermaksiat kepada-Nya ke neraka. Kemudian dia mengancam mereka jika mereka terus-menerus dalam kekerasan kepala dengan perkataannya: “Maka kelak kamu akan ingat apa yang aku katakan kepadamu, dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” Allah Taala berfirman: “Maka Allah melindunginya dari kejahatan tipu daya yang mereka rencanakan” yaitu; dengan pengingkarannya dia selamat dari apa yang menimpa mereka dari hukuman atas kekufuran mereka kepada Allah, dan tipu daya mereka dalam menghalangi dari jalan Allah dari apa yang mereka tunjukkan kepada orang awam dari khayalan-khayalan dan hal-hal mustahil yang mereka bingungkan dengannya orang awam dan orang kebanyakan mereka; dan karena itu Allah berfirman: “dan azab yang buruk meliputi” yaitu; mengelilingi “Firaun dan kaumnya, (yaitu) neraka, mereka dihadapkan kepadanya pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'” dan kami telah berbicara tentang dalilnya ayat ini atas azab kubur dalam Tafsir. Dan segala puji bagi Allah.

Dan yang dimaksudkan adalah bahwa Allah Taala tidak membinasakan mereka kecuali setelah menegakkan hujah atas mereka, dan mengutus rasul kepada mereka, dan menghilangkan keraguan dari mereka, dan mengambil hujah atas mereka dari mereka, maka dengan penakutan terkadang dan dorongan di lain waktu, sebagaimana firman-Nya Taala: “Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan kepada Firaun dan kaumnya masa paceklik dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran. Maka apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan mereka berkata: ‘Mukjizat apa pun yang kamu datangkan kepada kami untuk menyihir kami dengannya, maka kami tidak akan beriman kepadamu.’ Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (Al-A’raf: 130-133). Allah Taala memberitakan bahwa Dia menguji Firaun dan kaumnya, yaitu kaumnya dari orang-orang Qibthi, dengan masa paceklik, yaitu tahun-tahun kekeringan yang di dalamnya tidak ada hasil tanaman dan tidak ada manfaat dari susu. Dan firman-Nya: “dan kekurangan buah-buahan” yaitu sedikitnya buah-buahan dari pohon-pohon, “agar mereka mengambil pelajaran” yaitu; tetapi mereka tidak mengambil manfaat dan tidak jera, bahkan mereka terus memberontak dan tetap dalam kekufuran dan kekerasan kepala mereka “Maka apabila datang kepada mereka kebaikan” yaitu kesuburan dan semisalnya “mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami'” yaitu; ini yang kami layak dapatkan dan ini yang pantas bagi kami, “Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya” yaitu; mereka berkata ini; karena kesialan mereka ini menimpa kami. Dan mereka tidak berkata yang pertama: bahwa itu karena berkahnya mereka dan baiknya bertetangga dengan mereka, tetapi hati mereka mengingkari, sombong, menjauh dari kebenaran, jika datang keburukan mereka sandarkan kepadanya, dan jika mereka melihat kebaikan mereka klaim untuk diri mereka sendiri. Allah Taala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah” yaitu; Allah akan membalas mereka atas ini dengan balasan yang paling sempurna “tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dan mereka berkata: ‘Mukjizat apa pun yang kamu datangkan kepada kami untuk menyihir kami dengannya, maka kami tidak akan beriman kepadamu.'” yaitu; mukjizat apa pun yang kamu datangkan kepada kami, yaitu hal-hal yang luar biasa dari kebiasaan, maka kami tidak akan beriman kepadamu dan tidak akan mengikutimu dan tidak akan mematuimu sekalipun kamu datang kepada kami dengan setiap mukjizat. Dan demikianlah Allah memberitakan tentang mereka dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, walaupun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Yunus: 96-97). Allah Taala berfirman: “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

Adapun mengenai banjir bah (ath-thufan), menurut Ibnu Abbas: itu adalah banyaknya hujan yang merusak tanaman dan buah-buahan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Said bin Jubair, Qatadah, as-Suddi, dan adh-Dhahhak. Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas dan Atha’: itu adalah banyaknya kematian. Mujahid berkata: ath-thufan adalah air, dan wabah dalam segala kondisi. Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas: suatu perkara yang mengelilingi mereka. Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan, melalui jalur Yahya bin Yaman dari al-Minhal bin Khalifah, dari al-Hajjaj, dari al-Hakam bin Mina’, dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ath-thufan adalah kematian,” hadits ini berstatus gharib (asing).

Adapun belalang, ia sudah dikenal. Abu Dawud telah meriwayatkan, dari Abu Utsman, dari Salman al-Farisi, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang belalang, beliau bersabda: “Ia adalah pasukan Allah yang paling banyak, aku tidak memakannya dan tidak pula mengharamkannya.” Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggalkan memakannya hanyalah karena merasa jijik kepadanya; sebagaimana beliau meninggalkan makan dhab (biawak), dan menjauhkan diri dari makan bawang putih, bawang merah, dan bawang prei, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Shahihain, dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam tujuh peperangan, kami makan belalang. Kami telah membahas berbagai hadits dan atsar yang diriwayatkan tentangnya dalam kitab Tafsir.

Yang dimaksudkan adalah bahwa belalang menghabiskan tanaman hijau mereka, tidak meninggalkan bagi mereka tanaman maupun buah-buahan, tidak ada yang tertinggal sama sekali.

Adapun kutu (al-qummal), menurut Ibnu Abbas: ia adalah kutu beras yang keluar dari gandum, dan menurut riwayat lainnya: ia adalah belalang kecil yang tidak bersayap. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah. Said bin Jubair dan al-Hasan berkata: ia adalah makhluk-makhluk hitam kecil. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: ia adalah kutu busuk. Ibnu Jarir meriwayatkan dari ahli bahasa Arab bahwa ia adalah al-humnan, yaitu kutu-kutu kecil di atas ukuran tertentu, yang masuk bersama mereka ke dalam rumah-rumah dan tempat tidur, sehingga mereka tidak bisa tenang, tidak bisa tidur nyenyak dan tidak bisa hidup dengan tenang. Atha’ bin as-Sa’ib menafsirkannya dengan kutu yang dikenal. Al-Hasan al-Bashri membacanya dengan ringan.

Adapun katak, ia sudah dikenal, menutupi mereka hingga jatuh ke dalam makanan dan bejana-bejana mereka, bahkan salah seorang dari mereka jika membuka mulutnya untuk makan atau minum, jatuh ke dalam mulutnya seekor katak dari katak-katak itu. Adapun darah, air mereka semua telah bercampur dengannya, sehingga mereka tidak menimba dari sungai Nil sesuatu pun kecuali mendapatinya darah segar, tidak dari sungai maupun sumur atau apa pun kecuali menjadi darah pada saat itu juga. Semua ini, dan Bani Israil tidak tertimpa sedikitpun dari itu semua. Ini adalah kesempurnaan mukjizat yang nyata, dan hujjah yang mematahkan bahwa semua ini terjadi pada mereka karena perbuatan Musa alaihis salam, menimpa mereka semua sampai yang terakhir, dan tidak menimpa seorang pun dari Bani Israil, dan dalam hal ini terdapat dalil yang paling jelas.

Muhammad bin Ishaq berkata: Musuh Allah Firaun kembali ketika para tukang sihir beriman dalam keadaan kalah dan terkalahkan, kemudian ia enggan kecuali tetap dalam kekufuran dan terus-menerus dalam keburukan, maka Allah mengirimkan kepadanya berbagai ayat secara berturut-turut, menimpanya dengan berbagai tahun kesusahan, lalu mengirimkan kepadanya banjir bah, kemudian belalang, kemudian kutu, kemudian katak, kemudian darah sebagai ayat-ayat yang terperinci; Dia mengirimkan banjir bah – yaitu air – lalu meluap di atas permukaan bumi kemudian menggenang, mereka tidak mampu membajak dan tidak mampu mengerjakan sesuatu pun, hingga mereka sangat kelaparan, ketika itu menimpa mereka, dan ketika azab menimpa mereka, mereka berkata: Hai Musa, berdoalah untuk kami kepada Tuhanmu dengan apa yang telah diperjanjikan kepadamu. Sesungguhnya jika engkau menghilangkan azab dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan pergi Bani Israil bersamamu (Surah al-A’raf: 134). Maka Musa berdoa kepada Tuhannya, lalu Dia menghilangkannya dari mereka, tetapi ketika mereka tidak menepati sesuatu pun untuknya, maka Allah mengirimkan kepada mereka belalang, dan belalang memakan pepohonan, sebagaimana yang sampai kepadaku, bahkan belalang memakan paku-paku pintu yang terbuat dari besi, hingga roboh rumah-rumah dan tempat tinggal mereka, lalu mereka berkata seperti yang mereka katakan sebelumnya, maka ia berdoa kepada Tuhannya yang menghilangkannya dari mereka, tetapi mereka tidak menepati sesuatu pun dari yang mereka katakan, maka Allah mengirimkan kepada mereka kutu, disebutkan kepadaku bahwa Musa alaihis salam diperintahkan untuk pergi ke sebuah bukit pasir hingga memukulnya dengan tongkatnya, lalu ia pergi ke sebuah bukit pasir yang besar, lalu memukulnya dengan tongkatnya, maka berhamburanlah kutu kepada mereka hingga menguasai rumah-rumah dan makanan-makanan, dan menghalangi mereka dari tidur dan ketenangan, ketika itu sangat menyusahkan mereka, mereka berkata kepadanya seperti yang mereka katakan, maka ia berdoa kepada Tuhannya yang menghilangkannya dari mereka, tetapi ketika mereka tidak menepati sesuatu pun dari yang mereka katakan, maka Allah mengirimkan kepada mereka katak, lalu memenuhi rumah-rumah, makanan-makanan, dan bejana-bejana, sehingga tidak ada seorang pun yang membuka pakaian atau makanan kecuali mendapati di dalamnya katak yang telah menguasainya, ketika hal itu sangat menyusahkan mereka, mereka berkata kepadanya seperti yang mereka katakan, maka ia berdoa kepada Tuhannya yang menghilangkannya dari mereka, tetapi mereka tidak menepati sesuatu pun dari yang mereka katakan, maka Allah mengirimkan kepada mereka darah, lalu air keluarga Firaun menjadi darah, mereka tidak menimba dari sumur, sungai, dan tidak mengambil dari bejana, kecuali menjadi darah segar. Zaid bin Aslam berkata: Yang dimaksud dengan darah adalah mimisan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Allah Ta’ala berfirman: Dan ketika azab menimpa mereka, mereka berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) apa yang telah diperjanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.” Maka tatkala Kami telah menghilangkan azab itu dari mereka sampai kepada waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka melanggar janji. Maka Kami menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikannya (Surah al-A’raf: 134-136). Allah Ta’ala mengabarkan tentang kekufuran mereka, keangkuhan mereka, dan keteguhan mereka dalam kesesatan dan kebodohan, serta kesombongan untuk mengikuti ayat-ayat Allah, dan membenarkan rasul-Nya, dengan berbagai ayat yang agung dan nyata serta hujjah-hujjah yang meyakinkan dan menundukkan, yang Allah perlihatkan kepada mereka secara langsung, dan menjadikannya sebagai dalil dan bukti bagi mereka, dan setiap kali mereka menyaksikan suatu ayat dan menyaksikannya serta menyusahkan dan menyiksa mereka, mereka bersumpah dan berjanji kepada Musa; jika ia menghilangkan dari mereka ini niscaya mereka akan beriman kepadanya, dan akan melepaskan bersamanya orang-orang yang menjadi pengikutnya, tetapi setiap kali ayat itu dicabut dari mereka, mereka kembali kepada yang lebih buruk dari keadaan sebelumnya, dan berpaling dari kebenaran yang dibawanya, dan tidak memperhatikannya, maka Allah mengirimkan kepada mereka ayat lain, yang lebih keras dari yang sebelumnya dan lebih kuat, lalu mereka berkata, tetapi mereka berbohong. Mereka berjanji tetapi tidak menepatinya: Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu, lalu dihilangkanlah dari mereka azab yang buruk itu. Kemudian mereka kembali kepada kebodohan mereka yang luas dan panjang. Inilah, sementara Yang Maha Agung, Maha Penyantun, Maha Kuasa memberi mereka tenggang waktu dan tidak tergesa-gesa terhadap mereka, dan menunda mereka serta memberikan ancaman kepada mereka, kemudian Dia menyiksa mereka – setelah menegakkan hujjah terhadap mereka, dan memberikan peringatan kepada mereka – dengan siksaan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa, maka Dia menjadikan mereka sebagai pelajaran dan hukuman dan pendahulu bagi orang-orang kafir yang menyerupai mereka, dan perumpamaan bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka dari hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, dan Dia adalah yang paling benar perkataannya dalam Surah Ha Mim dan Kitab yang Nyata: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan semesta alam.” Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa ayat-ayat Kami, tiba-tiba mereka mentertawakannya. Dan tidak Kami perlihatkan kepada mereka suatu ayat pun melainkan ia lebih besar daripada ayat yang lain. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kepada jalan yang benar). Dan mereka berkata: “Hai tukang sihir, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami dengan (perantaraan) apa yang telah diperjanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami akan mengikuti petunjuk.” Maka tatkala Kami hilangkan azab dari mereka, tiba-tiba mereka mengingkari janjinya. Dan Firaun berseru di kalangan kaumnya, ia berkata: “Hai kaumku, bukankah aku mempunyai kerajaan Mesir dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak memperhatikan? Atau apakah aku (Firaun) yang lebih baik ataukah orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat berbicara dengan terang. Maka mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang-gelang dari emas atau datang bersama-sama dia malaikat-malaikat dengan berbaris?” Maka Firaun berusaha merendahkan (Musa) kepada kaumnya, lalu mereka mematuhinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membangkitkan kemurkaan Kami, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya. Dan Kami jadikan mereka pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian (Surah az-Zukhruf: 46-56). Allah Ta’ala menyebutkan pengutusan hamba-Nya al-Kalim yang mulia, kepada Firaun yang hina lagi rendah, dan bahwa Allah Ta’ala menyokong rasul-Nya dengan ayat-ayat yang jelas dan nyata, yang pantas disambut dengan pembenaran dan pengagungan, dan agar mereka berhenti dari kekufuran yang mereka berada di dalamnya, dan kembali kepada kebenaran dan jalan yang lurus, tetapi mereka justru menertawakannya, dan mengejeknya, dan menghalangi dari jalan Allah, dan menjauh dari kebenaran, maka Allah mengirimkan kepada mereka ayat-ayat secara berturut-turut, yang saling mengikuti, dan setiap ayat lebih besar dari ayat saudaranya yang mengikutinya; karena yang dikuatkan lebih meyakinkan dari yang sebelumnya, dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kepada jalan yang benar). Dan mereka berkata: “Hai tukang sihir, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami dengan (perantaraan) apa yang telah diperjanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami akan mengikuti petunjuk.” Lafaz “tukang sihir” pada zaman mereka bukanlah suatu kekurangan atau aib; karena orang-orang alim mereka, pada waktu itu, adalah para tukang sihir; oleh karena itu mereka memanggilnya dengan sebutan itu dalam keadaan mereka membutuhkannya, dan memohon kepadanya, Allah Ta’ala berfirman: Maka tatkala Kami hilangkan azab dari mereka, tiba-tiba mereka mengingkari janjinya. Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesombongan Firaun dengan kerajaannya dan keagungan negerinya dan keindahannya serta mengalirnya sungai-sungai di dalamnya, yaitu anak-anak sungai yang mereka alirkan di depan pertambahan sungai Nil, kemudian ia menyombongkan dirinya dan perhiasannya serta mencaci Rasulullah Musa alaihis salam, dan merendahkannya karena hampir tidak dapat berbicara dengan terang, maksudnya ucapannya, karena apa yang ada pada lisannya berupa sisa cedal tersebut, yang merupakan kehormatan baginya, dan kesempurnaan dan keindahan, dan tidak menghalanginya bahwa Allah Ta’ala berbicara dengannya, dan mewahyukan kepadanya, dan menurunkan setelah itu Taurat kepadanya, dan Firaun – semoga Allah melaknatnya – merendahkannya karena tidak ada gelang di tangannya dan tidak ada perhiasan padanya, padahal itu adalah perhiasan wanita, tidak pantas bagi keberanian laki-laki, apalagi bagi para rasul yang paling sempurna akalnya, dan paling sempurna ma’rifatnya, dan paling tinggi cita-citanya, dan paling zuhud di dunia, dan paling mengetahui apa yang Allah sediakan bagi wali-wali-Nya di akhirat. Dan firman-Nya: atau datang bersama-sama dia malaikat-malaikat dengan berbaris, perkara ini tidak membutuhkan itu jika yang dimaksud adalah agar para malaikat mengagungkannya. Sesungguhnya para malaikat mengagungkan dan merendah kepada orang yang jauh lebih rendah dari Musa alaihis salam, sebagaimana datang dalam hadits: Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan, maka bagaimana kerendahan hati dan pengagungan mereka terhadap Musa al-Kalim, alaihi ash-shalah wat taslim wat takrim? Jika yang dimaksud adalah persaksian mereka baginya dengan kerasulan, maka sungguh ia telah didukung dengan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan secara pasti bagi para pemilik akal, dan bagi siapa yang menuju kepada kebenaran dan kebenaran, dan buta dari ayat-ayat yang jelas dan hujjah-hujjah yang nyata yang dibawanya, siapa yang memandang kepada kulitnya, dan meninggalkan intinya, dan dikunci hatinya oleh Rabb semesta alam, dan dimeteraikan dengan apa yang ada di dalamnya berupa keraguan dan keragu-raguan, sebagaimana keadaan Firaun Qibthi yang buta lagi pendusta, Allah Ta’ala berfirman: Maka Firaun berusaha merendahkan (Musa) kepada kaumnya, lalu mereka mematuhinya, artinya; merendahkan akal-akal mereka, dan membawa mereka dari keadaan ke keadaan lain, hingga mereka membenarkannya dalam klaimnya tentang ketuhanan, semoga Allah melaknatnya dan menghinakan mereka, Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membangkitkan kemurkaan Kami, artinya; membuat Kami murka; Kami menghukum mereka, artinya; dengan tenggelam dan kehinaan, dan hilangnya kemuliaan, dan tergantikan dengan kehinaan dan dengan azab setelah nikmat, dan kehinaan setelah kemewahan, dan neraka setelah kehidupan yang baik, kami berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan kekuasaan-Nya yang Qadim dari itu, Dan Kami jadikan mereka pelajaran, artinya; bagi orang-orang yang mengikuti mereka dalam sifat-sifat, dan contoh, artinya; bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka, dan takut dari buruknya nasib mereka, dari siapa yang sampai kepadanya kabar mereka yang jelas, dan apa yang terjadi dari urusan mereka; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa ayat-ayat Kami yang nyata, mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang diada-adakan dan kami tidak pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” Dan berkata Musa: “Tuhanku lebih mengetahui siapa yang membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan memperoleh kesudahan (yang baik) di negeri akhirat; sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” Dan berkata Firaun: “Hai pembesar-pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandang dia dari golongan orang-orang yang berdusta.” Dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di muka bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikuti mereka dengan laknat di dunia ini dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah) (Surah al-Qashash: 36-42). Allah Ta’ala mengabarkan bahwa ketika mereka sombong untuk mengikuti kebenaran, dan raja mereka mengklaim kebatilan, dan mereka menyetujuinya dalam hal itu, dan menaatinya dalam hal itu, maka sangat keras murka Rabb Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dilawan, kepada mereka, maka Dia membalas mereka dengan balasan yang paling keras, dan menenggelamkan ia dan bala tentaranya dalam satu pagi, tidak ada yang selamat dari mereka seorang pun, dan tidak tersisa dari mereka tempat tinggal, bahkan ia telah tenggelam, lalu masuk neraka, dan mereka diikuti di dunia ini dengan laknat di antara para alam, dan pada hari kiamat, itulah seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).

Kisah Kebinasaan Firaun dan Bala Tentaranya

Ketika bangsa Qibti Mesir terus menerus dalam kekafiran, keangkuhan, dan penentangan mereka, mengikuti raja mereka Firaun, dan menentang Nabi Allah, Rasul-Nya, dan yang dikasih berbicara kepada-Nya, Musa bin Imran alaihissalam, dan Allah telah menegakkan kepada penduduk Mesir hujjah-hujjah yang besar lagi mengalahkan serta memperlihatkan kepada mereka dari peristiwa-peristiwa yang melanggar kebiasaan apa yang membuat mata terpesona dan membuat akal terheran-heran, namun mereka dengan itu semua tidak jera, tidak berhenti, tidak surut, dan tidak kembali (bertobat), dan tidak ada yang beriman dari mereka kecuali sedikit. Dikatakan: tiga orang; yaitu istri Firaun, dan Ahli Kitab tidak mengetahui beritanya, dan mukmin dari keluarga Firaun yang telah disebutkan sebelumnya tentang nasehatnya, musyawarahnya, dan hujjahnya kepada mereka, dan lelaki yang menasehati yang datang bergegas dari ujung kota lalu berkata: Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar sedang berunding tentangmu untuk membunuhmu, maka keluarlah, sesungguhnya aku termasuk orang yang menasehatimu. Demikian kata Ibnu Abbas dalam riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abi Hatim darinya. Dan yang dimaksudkannya selain para penyihir, karena mereka adalah dari bangsa Qibti. Dan ada yang berkata: bahkan beriman kepadanya sekelompok dari bangsa Qibti dari kaum Firaun, dan para penyihir semuanya, dan seluruh umat Bani Israil. Dan yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala: “Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan keturunan (yang sedikit) dari kaumnya (Firaun) karena takut kepada Firaun dan pemuka-pemuka mereka, bahwa mereka akan menganiaya mereka. Dan sesungguhnya Firaun benar-benar orang yang sewenang-wenang di bumi, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas” (Yunus: 83). Maka dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya: melainkan keturunan (yang sedikit) dari kaumnya kembali kepada Firaun; karena konteks menunjukkan hal itu. Dan ada yang berkata: kepada Musa; karena kedekatannya. Dan pendapat pertama lebih jelas, sebagaimana telah diputuskan dalam “Tafsir”. Dan keimanan mereka adalah secara sembunyi-sembunyi; karena ketakutan mereka terhadap Firaun dan kekejamannya, dan kesombongannya dan kekuasaannya, dan dari para pembesar mereka agar mereka tidak melaporkan tentang mereka kepadanya, sehingga dia akan memalingkan mereka dari agama mereka. Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Firaun, dan cukuplah Allah sebagai saksi: “Dan sesungguhnya Firaun benar-benar orang yang sewenang-wenang di bumi” artinya: penindas, keras kepala, bertindak sewenang-wenang tanpa kebenaran, “dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas” artinya: dalam semua urusannya dan keadaannya dan kondisinya, tetapi dia adalah benih yang telah tiba waktu pencabutannya, dan buah buruk yang telah tiba waktu pemetikannya, dan nyawa terkutuk yang telah dipastikan untuk dimusnahkan. Dan ketika itu Musa berkata: “Dan Musa berkata: Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka hanya kepada-Nya sajalah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar muslim (berserah diri kepada-Nya). Maka mereka menjawab: Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari (tipu daya) kaum yang kafir” (Yunus 84-86). Dia memerintahkan mereka untuk bertawakal kepada Allah, dan meminta pertolongan kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya, lalu mereka bermusyawarah dengan hal itu, maka Allah memberikan kepada mereka dari apa yang mereka alami jalan keluar dan penyelesaian. “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: Ambillah oleh kamu berdua untuk kaummu di Mesir rumah-rumah, dan jadikanlah rumah-rumah kamu itu tempat ibadah dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa dan saudaranya Harun alaihimassalam agar mereka mengambil untuk kaum mereka rumah-rumah yang berbeda di antara mereka dari rumah-rumah bangsa Qibti; agar mereka berada dalam kesiapan untuk berangkat, ketika mereka diperintahkan dengan itu, agar sebagian mereka mengenali rumah sebagian yang lain. Dan firman-Nya: “dan jadikanlah rumah-rumah kamu itu tempat ibadah” ada yang berkata: masjid-masjid. Dan ada yang berkata: maknanya adalah banyak shalat di dalamnya. Demikian kata Mujahid, dan Abu Malik, dan Ibrahim An-Nakha’i, dan Ar-Rabi’, dan Ad-Dhahhak, dan Zaid bin Aslam, dan putranya Abdurrahman, dan selain mereka. Dan maknanya menurut ini adalah meminta pertolongan atas apa yang mereka alami dari kesusahan, dan kesulitan, dan kesempitan, dengan memperbanyak shalat; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (Al-Baqarah: 45). Dan adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila suatu urusan membebaninya, beliau shalat. Dan ada yang berkata: maknanya adalah bahwa mereka pada saat itu tidak mampu menampakkan ibadah mereka di tempat-tempat perkumpulan mereka dan tempat-tempat ibadah mereka, maka mereka diperintahkan agar shalat di rumah-rumah mereka, sebagai pengganti dari apa yang luput dari mereka dalam menampakkan syiar agama yang benar pada masa itu, yang menuntut keadaan mereka untuk menyembunyikannya; karena takut kepada Firaun dan para pembesarnya. Dan makna yang pertama lebih kuat; karena firman-Nya: “serta gembirakanlah orang-orang yang beriman” meskipun tidak menafikan yang kedua juga, wallahu a’lam. Dan berkata Sa’id bin Jubair: “dan jadikanlah rumah-rumah kamu itu tempat ibadah” artinya: saling berhadapan.

“Dan Musa berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pembesar kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kuncilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Allah berfirman: Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui” (Yunus 88-89). Ini adalah doa yang besar, didoakan oleh Kalimullah Musa kepada musuh Allah Firaun; karena marah kepada Allah atasnya, karena kesombongannya untuk mengikuti kebenaran dan menghalangi dari jalan Allah, dan penentangannya, dan keangkuhannya, dan kekeras-kepalaan nya, dan kelangsungannya di atas kebatilan, dan membantah kebenaran yang jelas nyata secara indrawi dan maknawi, dan dalil yang pasti, maka dia berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pembesar kaumnya” yaitu: kaumnya dari bangsa Qibti, dan siapa yang berada pada millatnya, dan beragama dengan agamanya “perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu” artinya: dan dengan ini akan tertipu orang yang mengagungkan urusan dunia, maka orang bodoh mengira bahwa mereka berada pada sesuatu; karena harta-harta ini, dan perhiasan ini; dari pakaian, dan kendaraan yang bagus dan menyenangkan, dan rumah-rumah yang indah, dan istana-istana yang dibangun, dan makanan yang lezat, dan pemandangan yang indah, dan kerajaan yang perkasa, dan kemampuan, dan kedudukan yang luas, di dunia bukan agama, “Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka” berkata Ibnu Abbas dan Mujahid: artinya: musnahkanlah itu. Dan berkata Abu Al-Aliyah, dan Ar-Rabi’ bin Anas, dan Ad-Dhahhak: jadikanlah itu batu-batu yang terukir seperti bentuk apa yang ada. Dan berkata Qatadah: sampai kepada kami bahwa tanaman mereka menjadi batu-batu. Dan berkata Muhammad bin Ka’b: jadikanlah gula mereka batu-batu. Dan dia juga berkata: harta benda mereka semua menjadi batu-batu. Hal itu disebutkan kepada Umar bin Abdul Aziz, lalu berkata Umar bin Abdul Aziz kepada seorang budaknya: bawakannya padaku sebuah kantong. Maka dia membawakan kepadanya sebuah kantong, maka di dalamnya ada … dan telur yang sudah dipotong, telah berubah menjadi batu-batu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Dan firman-Nya: “dan kuncilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih” berkata Ibnu Abbas: artinya: materaikanlah atas itu. Dan ini adalah doa kemarahan karena Allah Ta’ala dan karena agama-Nya, dan karena dalil-dalil-Nya, maka Allah Ta’ala mengabulkannya, dan mewujudkannya dan menerimanya; sebagaimana Dia mengabulkan untuk Nuh terhadap kaumnya, ketika dia berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir”. Dan oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman, menyapa Musa ketika dia berdoa kepada Firaun dan para pembesarnya, dan saudaranya Harun mengamini doanya, maka hal itu turun pada tingkatan pendoa juga: “Allah berfirman: Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. Berkata para mufassir dan selain mereka dari Ahli Kitab: Bani Israil meminta izin kepada Firaun untuk keluar untuk perayaan mereka, maka dia mengizinkan mereka padahal dia tidak suka, tetapi mereka bersiap-siap untuk keluar dan bersiap untuk itu, dan sesungguhnya itu pada hakikatnya adalah tipu daya terhadap Firaun dan bala tentaranya; agar mereka lepas dari mereka dan keluar dari mereka. Dan Allah memerintahkan mereka – dalam apa yang disebutkan oleh Ahli Kitab – agar mereka meminjam perhiasan dari mereka, maka mereka meminjamkan kepada mereka sesuatu yang banyak, lalu mereka keluar pada malam hari dan berjalan terus menerus pergi dengan segera menuju negeri Syam. Maka ketika Firaun mengetahui kepergian mereka, dia sangat marah kepada mereka sekali marah, dan sangat keras amarahnya kepada mereka, dan mulai mendesak bala tentaranya dan mengumpulkan pasukannya untuk mengejar mereka dan memusnahkan mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami wahyukan kepada Musa: Pergilah di malam hari bersama hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kamu akan disusuli. Maka Firaun mengirim orang yang mengumpulkan (tentara) ke kota-kota. Sesungguhnya mereka itu benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat kita marah, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga. Maka Kami keluarkan mereka (Firaun dan kaumnya) dari taman-taman dan mata air-mata air, dan perbendaharaan dan tempat yang mulia. Demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada Bani Israil. Maka mereka (Firaun dan tentaranya) mengikuti mereka di waktu matahari terbit. Maka tatkala kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan-golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (Asy-Syu’ara: 52-68). Berkata para ulama tafsir: ketika Firaun naik kendaraan bersama pasukan-pasukannya, mengejar Bani Israil, mengikuti jejak mereka, dia berada dalam bala tentara yang besar dan sangat banyak, hingga dikatakan: di pasukan kudanya ada seratus ribu kuda jantan hitam. Dan jumlah pasukan-pasukan nya lebih dari satu juta enam ratus ribu. Maka hanya Allah yang lebih mengetahui. Dan dikatakan: sesungguhnya Bani Israil adalah sekitar enam ratus ribu pejuang selain keturunan. Dan adalah antara keluarnya mereka dari Mesir bersama Musa alaihissalam dan masuknya mereka ke sana bersama ayah mereka Israil, empat ratus dua puluh enam tahun syamsiah.

Dan yang dimaksud adalah bahwa Firaun mengejar mereka dengan pasukan-pasukan, lalu dia menyusul mereka ketika terbitnya matahari, dan kedua kelompok itu saling melihat, dan tidak tersisa lagi keraguan dan kekaburan, dan masing-masing dari dua kelompok melihat temannya, dan memastikannya dan melihatnya, dan tidak tersisa kecuali pertempuran, dan perebutan, dan pembelaan. Maka pada saat itu berkatalah pengikut-pengikut Musa, dan mereka ketakutan: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Dan itu karena mereka terdesak dalam perjalanan mereka ke laut, maka tidak ada jalan bagi mereka dan tidak ada jalan melengkung kecuali menempuhnya dan memasukinya, dan ini tidak mampu dilakukan oleh siapa pun dan tidak mampu melakukannya, dan gunung-gunung di sebelah kiri mereka dan di sebelah kanan mereka, dan itu tinggi dan menjulang, dan Firaun telah mengepung mereka dan menghadapi mereka, dan mereka menyaksikannya dalam pasukan-pasukannya dan bala tentaranya dan jumlahnya dan peralatannya, dan mereka darinya dalam sangat ketakutan dan panik, karena apa yang mereka rasakan dalam kekuasaannya dari penghinaan dan keburukan. Maka mereka mengadu kepada Nabi Allah tentang apa yang mereka alami, dari apa yang mereka saksikan dan lihat. Maka berkatalah kepada mereka Rasul yang jujur lagi dibenarkan: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. Dan dia berada di barisan belakang, lalu dia maju ke barisan depan, dan melihat ke laut, dan ia bergolak dengan ombak-ombaknya, dan bertambah buih air asinnya, dan dia berkata: Di sini aku diperintahkan. Dan bersamanya saudaranya Harun; dan Yusya’ bin Nun, dan dia pada hari itu dari pemuka-pemuka Bani Israil, dan para ulama mereka, dan penyembah-penyembah mereka yang besar, dan telah Allah wahyukan kepadanya dan menjadikannya nabi setelah Musa dan Harun alaihimassalam, sebagaimana akan kami sebutkan setelah ini insya Allah Ta’ala. Dan bersama mereka juga mukmin dari keluarga Firaun, dan mereka berdiri, dan Bani Israil dengan semuanya kepada mereka berkumpul. Dan dikatakan: sesungguhnya mukmin dari keluarga Firaun terus menerus menceburkan kudanya berkali-kali ke laut, apakah mungkin melaluinya? Maka tidak mungkin. Dan dia berkata kepada Musa alaihissalam: Wahai Nabi Allah, apakah di sini engkau diperintahkan? Maka dia berkata: Ya. Maka ketika urusan memuncak, dan keadaan menyempit dan urusan sangat genting, dan Firaun dan pasukan-pasukannya mendekat dalam kesungguhan mereka, dan ketajaman mereka dan senjata mereka, dan kemarahan mereka, dan kemurkaan mereka, dan mata-mata tergelincir, dan hati-hati sampai di kerongkongan, maka pada saat itu wahyu turun dari Yang Maha Penyantun Maha Agung Maha Kuasa, Tuhan Arasy Yang Mulia kepada Musa sang Kalim: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka ketika dia memukulnya, dikatakan: sesungguhnya dia berkata kepadanya: terbelahlah dengan izin Allah. Dan dikatakan: sesungguhnya dia memanggilnya dengan Abu Khalid. Maka hanya Allah yang lebih mengetahui. Allah Ta’ala berfirman: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”. Dan dikatakan: sesungguhnya itu terbelah menjadi dua belas jalan, untuk setiap suku satu jalan yang mereka lalui di dalamnya, hingga dikatakan: sesungguhnya itu juga menjadi jendela-jendela; agar mereka dapat melihat sebagian mereka sebagian yang lain. Dan dalam hal ini ada pertimbangan; karena air adalah benda yang tembus pandang, apabila di belakangnya ada cahaya akan terlihat. Dan demikianlah air laut berdiri seperti gunung-gunung ditahan dengan kekuasaan yang besar yang keluar dari Yang berkata kepada sesuatu: Jadilah. Maka terjadilah. Dan Allah memerintahkan angin barat lalu meniup keadaan laut, maka menghilangkannya hingga menjadi kering tidak menempel di kuku-kuku kuda dan hewan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut, kamu tidak usah takut akan tersusul dan tidak usah khawatir. Lalu Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, maka mereka ditimpa bencana laut yang telah menenggelamkan mereka. Dan Firaun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk” (Thaha: 77-79). Dan yang dimaksud adalah bahwa ketika keadaan laut sampai pada keadaan ini, dengan izin Tuhan Yang Maha Agung sangat keras siksaan-Nya, Dia memerintahkan Musa alaihissalam agar melewatinya dengan Bani Israil, maka mereka turun ke dalamnya dengan cepat, dengan gembira, dengan tergesa-gesa, dan mereka telah menyaksikan dari urusan yang besar apa yang membuat orang yang melihat tercengang, dan membimbing hati orang-orang yang beriman. Maka ketika mereka melewatinya, dan dia melewatinya, dan keluarlah orang terakhir dari mereka darinya, dan mereka terpisah darinya, hal itu terjadi ketika kedatangan pasukan pertama Firaun kepadanya, dan kedatangan mereka kepadanya. Maka Musa alaihissalam ingin memukul laut dengan tongkatnya agar kembali seperti semula; agar tidak ada jalan bagi Firaun dan pasukan-pasukannya untuk mencapainya, dan tidak ada jalan kepadanya. Maka Yang Maha Kuasa yang memiliki Keagungan memerintahkannya agar membiarkan laut dalam keadaan ini, sebagaimana Dia berfirman, dan Dia adalah Yang Benar dalam perkataan.

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji kaum Firaun sebelum mereka (kaum Quraisy), dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia. Supaya kamu menyerahkan hamba-hamba Allah (Bani Israil) kepadaku, sesungguhnya aku adalah utusan yang dapat dipercaya untuk (menyampaikan wahyu) kepadamu. Dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari (ancaman) kamu yang akan merajam aku. Dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku. Maka dia berdoa kepada Tuhannya: Bahwasanya mereka itu adalah kaum yang berdosa. Maka pergilah membawa hamba-hamba-Ku di malam hari; sesungguhnya kamu akan diikuti. Dan biarkanlah laut itu tetap tenang (terbuka); sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan. Betapa banyak taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan tanaman-tanaman serta tempat yang indah, dan kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah, dan Kami wariskan (semua itu) kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka tidak diberi tangguh. Dan sesungguhnya Kami telah menyelamatkan Bani Israil dari azab yang menghinakan, (yaitu) dari (perbuatan) Firaun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sewenang-wenang lagi melampaui batas. Dan sesungguhnya Kami telah memilih mereka (Bani Israil) dengan sengaja melebihi segala umat (di masa mereka). Dan Kami berikan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami) yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata” (Ad-Dukhan: 17-33).

Maka firman Allah Ta’ala: “Dan biarkanlah laut itu tenang” (Surat Ad-Dukhan: 24), artinya: tenang dalam keadaannya, jangan kamu ubah dari sifat ini. Demikianlah yang dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ar-Rabi’, Ad-Dahhak, Qatadah, Ka’ab Al-Ahbar, Simak bin Harb, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan lain-lain.

Ketika Musa meninggalkan laut dalam keadaan dan kondisinya seperti itu, Firaun sampai di sana, maka dia melihat apa yang dilihatnya dan menyaksikan apa yang disaksikannya. Pemandangan yang luar biasa ini membuatnya takjub, dan dia meyakini apa yang sebelumnya dia duga, bahwa ini adalah perbuatan Tuhan Yang Memiliki Arasy Yang Mulia. Maka dia mundur dan tidak maju, dan dalam hatinya dia menyesal telah keluar untuk mengejar mereka dalam keadaan seperti ini, di mana penyesalan tidak berguna baginya. Namun dia menampakkan ketabahan kepada para tentaranya, dan memperlakukan mereka dengan perlakuan musuh. Jiwa kafir dan tabiat durhaka itu membawanya untuk berkata kepada orang-orang yang dia telah remehkan dan mereka mematuhinya, dan mereka mengikuti kebatilannya: “Lihatlah bagaimana laut surut untukku agar aku dapat mengejar hamba-hambaku yang melarikan diri dariku, yang keluar dari ketaatanku dan negeriku!” Dia terus menghibur dirinya bahwa dia akan pergi mengikuti mereka, dan berharap akan selamat, namun mustahil itu terjadi. Dia maju kadang-kadang, dan mundur di waktu lain.

Mereka menyebutkan bahwa Jibril alaihis salam menampakkan diri dalam wujud seorang penunggang kuda yang mengendarai kuda betina yang sedang birahi. Dia lewat di depan kuda jantan Firaun, semoga Allah melaknatnya, maka kuda jantan itu meringkik kepadanya dan berlari mengikutinya. Jibril mempercepat larinya di depannya, lalu terjun ke laut, dan kuda jantan itu juga berlari dengan baik dan cepat, sementara Firaun tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri atau berbuat apapun untuk dirinya, baik buruk maupun baik.

Ketika para tentara melihat bahwa dia telah masuk ke laut, mereka pun bergegas mengikutinya dengan cepat, hingga mereka semua berada di dalam laut, semuanya tanpa terkecuali, sampai yang paling depan dari mereka hampir keluar darinya. Pada saat itulah, Allah Ta’ala memerintahkan kekasih-Nya (Musa) shallallahu alaihi wasallam melalui wahyu yang diturunkan kepadanya, agar memukul laut dengan tongkatnya. Maka dia memukulnya, dan laut menutup atas mereka seperti semula, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (Surat Asy-Syu’ara: 65-68)

Artinya, dalam penyelamatan-Nya terhadap para wali-Nya sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang tenggelam, dan penenggelaman musuh-musuh-Nya sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat, terdapat tanda yang sangat besar, dan bukti yang jelas atas kekuasaan-Nya Ta’ala yang agung, dan kebenaran rasul-Nya dalam apa yang dibawanya dari Tuhannya berupa syariat yang mulia dan manhaj-manhaj yang lurus.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena kezaliman dan permusuhan; hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Surat Yunus: 90-92)

Allah Ta’ala menceritakan tentang bagaimana tenggelamnya Firaun, pemimpin orang-orang kafir Qibti, dan bahwa ketika ombak membuatnya naik turun, kadang-kadang merendahkan dan kadang-kadang mengangkatnya, sementara Bani Israil menyaksikan apa yang Allah turunkan kepadanya dan kepada mereka berupa azab yang dahsyat dan bencana yang besar, agar menjadi penyejuk mata bagi Bani Israil dan memuaskan hati mereka. Ketika Firaun menyaksikan kebinasaan dan dia terkepung, dan mengalami sakaratul maut, barulah dia bertaubat dan beriman, padahal sudah tidak bermanfaat lagi iman seseorang pada saat itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti ketetapan Tuhanmu (untuk disiksa), mereka tidak akan beriman, walaupun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Surat Yunus: 96-97)

Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah saja dengan tidak mempersekutukan-Nya.’ Maka tidak bermanfaat kepada mereka iman mereka, setelah mereka melihat azab Kami. Itulah sunnatullah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan rugilah di tempat itu orang-orang yang kafir.” (Surat Ghafir: 84-85)

Demikian pula Musa berdoa kepada Firaun dan pembesar-pembesarnya agar Allah memusnahkan harta-harta mereka dan mengunci mati hati-hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih, yaitu ketika hal itu tidak bermanfaat bagi mereka dan menjadi penyesalan bagi mereka. Allah Ta’ala telah berfirman kepada mereka berdua, yaitu kepada Musa dan Harun, ketika mereka berdoa dengan doa ini: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua.” Ini adalah salah satu pengabulan doa kekasih Allah dan saudaranya Harun, alaihimas salam.

Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika Firaun berkata: ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil,’ Jibril berkata kepadaku: ‘Seandainya engkau melihatku ketika aku mengambil lumpur dari laut lalu aku masukkan ke mulutnya karena khawatir rahmat akan menimpanya.'” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, pada ayat ini, dari hadits Hammad bin Salamah. At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan.

Abu Dawud At-Tayalisi berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Adi bin Tsabit dan Atha’ bin As-Saib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jibril berkata kepadaku: ‘Seandainya engkau melihatku ketika aku mengambil lumpur dari laut lalu aku masukkan ke mulut Firaun karena khawatir rahmat akan menimpanya.'” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir, dari hadits Syu’bah. At-Tirmidzi berkata: Hasan gharib sahih. Ibnu Jarir mengisyaratkan dalam suatu riwayat bahwa hadits ini mauquf.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Umar bin Abdullah bin Ya’la Ats-Tsaqafi, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika Allah menenggelamkan Firaun, dia mengisyaratkan dengan jarinya dan mengangkat suaranya: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil.” Jibril khawatir bahwa rahmat Allah akan mendahului murka-Nya terhadapnya, maka dia mengambil lumpur dengan kedua sayapnya, lalu memukulkannya ke wajahnya dan menenggelamkannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Abu Khalid.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari jalur Katsir bin Zadzan, yang tidak dikenal, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jibril berkata kepadaku: ‘Wahai Muhammad, seandainya engkau melihatku ketika aku menutupnya dan memasukkan lumpur ke mulutnya karena khawatir rahmat Allah akan menimpanya sehingga Dia mengampuninya’ – maksudnya Firaun.”

Beberapa salaf telah meriwayatkannya secara mursal, seperti Ibrahim At-Taimi, Qatadah, dan Maimun bin Mihran. Dikatakan bahwa Ad-Dahhak bin Qais berkhutbah dengan hadits ini kepada manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Jibril berkata: “Aku tidak pernah membenci seseorang sebagaimana kebencianku kepada Firaun ketika dia berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’ Sungguh aku memasukkan lumpur ke mulutnya ketika dia mengatakan apa yang dikatakannya.”

Firman Allah Ta’ala: “Apakah sekarang (baru kamu percaya)” adalah pertanyaan pengingkaran, dan nash tentang tidak diterimanya iman Firaun oleh Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya, wallahu a’lam, seandainya dia dikembalikan ke dunia seperti semula, niscaya dia akan kembali kepada apa yang dahulu dia lakukan, sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang kafir, ketika mereka menyaksikan neraka dan melihatnya, bahwa mereka berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kami dikembalikan (ke dunia), dan kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman.” (Surat Al-An’am: 27)

Allah berfirman: “Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (Surat Al-An’am: 28)

Firman-Nya: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu”. Ibnu Abbas dan beberapa ulama berkata: Sebagian Bani Israil meragukan kematian Firaun, sampai-sampai sebagian mereka berkata: “Sesungguhnya dia tidak mati.” Maka Allah memerintahkan laut untuk mengangkatnya ke tempat yang tinggi – dikatakan: ke permukaan air. Dan dikatakan: ke daratan yang tinggi – dengan baju besinya yang mereka kenal dari pakaian-pakaiannya, agar mereka benar-benar yakin akan kebinasaannya, dan mengetahui kekuasaan Allah atasnya. Oleh karena itu Allah berfirman: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu”, artinya: beserta baju besimu yang terkenal padamu “supaya kamu” – maksudnya: kamu sendiri – “dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu”, yaitu dari Bani Israil, sebagai bukti atas kekuasaan Allah yang telah membinasakan dia.

Oleh karena itu sebagian salaf membaca: (Litakuna liman khalaqaka ayah) “supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi yang menciptakanmu”. Dan dimungkinkan bahwa yang dimaksud adalah: Kami selamatkan engkau beserta baju besimu agar baju besimu menjadi tanda bagi orang-orang di belakangmu dari Bani Israil untuk mengenalmu dan bahwa kamu telah binasa, wallahu a’lam.

Kebinasaannya dan tentaranya terjadi pada hari Asyura, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ghundar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah dan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata: “Ini adalah hari ketika Musa menang atas Firaun.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kalian lebih berhak atas Musa daripada mereka, maka berpuasalah.” Asal hadits ini terdapat dalam Shahihain dan lainnya, wallahu a’lam.

Pasal tentang Keadaan Bani Israil setelah Binasanya Firaun

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami mengazab mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikannya. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri yang timur dan yang barat yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka menemui suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka. Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh.’ Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianut mereka, dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa berkata: ‘Patutkah aku mencari tuhan (untuk kamu) selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat.’ Dan (ingatlah), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Firaun dan) pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Surat Al-A’raf: 136-141)

Allah Ta’ala menyebutkan tentang keadaan Firaun dan tentaranya dalam penenggelaman mereka, dan bagaimana Allah merampas kehormatan mereka, harta mereka, dan jiwa mereka, dan mewariskan kepada Bani Israil seluruh harta dan kepemilikan mereka, sebagaimana firman-Nya: “Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya itu kepada Bani Israil.” (Surat Asy-Syu’ara: 59)

Dan firman-Nya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Surat Al-Qashash: 5)

Dan Allah berfirman di sini: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri yang timur dan yang barat yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun.” Artinya: Allah membinasakan semua itu, dan merampas kekuasaan mereka yang perkasa dan luas di dunia. Raja dan para pembesarnya, para panglima dan tentaranya binasa, dan tidak tersisa di negeri Mesir kecuali rakyat biasa.

Ibnu Abdul Hakam menyebutkan dalam Tarikh Misr (Sejarah Mesir), bahwa sejak masa itu perempuan-perempuan Mesir menguasai laki-laki mereka, karena istri-istri para panglima dan pembesar menikah dengan orang-orang yang lebih rendah dari mereka, yaitu rakyat biasa. Maka kekuasaan ada pada para perempuan atas mereka. Dan ini tetap menjadi kebiasaan perempuan-perempuan Mesir hingga hari ini.

Menurut Ahli Kitab, ketika Bani Israil diperintahkan untuk keluar dari Mesir, Allah menjadikan bulan itu sebagai awal tahun mereka. Mereka diperintahkan agar setiap keluarga menyembelih seekor anak domba, jika mereka tidak membutuhkan seekor anak domba penuh, maka hendaklah tetangga dan tetangganya berbagi dengannya. Ketika mereka menyembelihnya, hendaklah mereka memercikkan darahnya pada ambang pintu rumah mereka agar menjadi tanda pada rumah-rumah mereka. Mereka tidak boleh memakannya dalam keadaan rebus, tetapi dalam keadaan panggang dengan kepala, kaki, dan perutnya. Mereka tidak boleh menyisakan apapun darinya, tidak boleh mematahkan tulangnya, dan tidak boleh mengeluarkan apapun darinya ke luar rumah mereka. Roti mereka haruslah roti tidak beragi selama tujuh hari yang dimulai dari hari keempat belas bulan pertama tahun mereka. Dan hal itu terjadi pada musim semi.

Ketika mereka makan, hendaklah pinggang mereka terikat, sandal mereka di kaki mereka, dan tongkat mereka di tangan mereka, dan hendaklah mereka makan dengan cepat sambil berdiri. Apa yang tersisa dari makan malam mereka dan masih tersisa hingga esok hari, hendaklah dibakar dengan api. Hal ini dijadikan hari raya bagi keturunan mereka selama Taurat masih berlaku, dan jika sudah dinasakh (dihapus) maka syariatnya batal, dan memang telah terjadi.

Mereka berkata: Allah Azza wa Jalla membunuh anak-anak sulung orang-orang Qibti dan anak-anak sulung hewan ternak mereka pada malam itu, agar mereka sibuk dengan hal itu dan tidak mengejar Bani Israil. Bani Israil keluar pada pertengahan siang, sementara penduduk Mesir dalam ratapan yang besar atas anak-anak sulung mereka dan anak-anak sulung hewan mereka. Tidak ada rumah kecuali di dalamnya ada tangisan.

Ketika wahyu datang kepada Musa, mereka keluar dengan tergesa-gesa, membawa adonan sebelum mengembang, dan membawa bekal dalam kain, lalu melemparkannya ke pundak mereka. Mereka telah meminjam perhiasan yang banyak dari penduduk Mesir. Mereka keluar sejumlah enam ratus ribu laki-laki, selain anak-anak, dengan hewan ternak yang mereka bawa. Masa tinggal mereka di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Ini adalah nash kitab mereka.

Tahun ini menurut mereka dinamakan tahun Fasakh (Paskah), dan hari raya ini adalah hari raya Fasakh. Mereka juga memiliki hari raya Fathir (roti tidak beragi) dan hari raya Hamal (domba), yang merupakan awal tahun. Ketiga hari raya ini adalah hari raya mereka yang paling penting, yang tertulis dalam kitab mereka.

Ketika mereka keluar dari Mesir, mereka membawa peti jenazah Yusuf alaihis salam bersama mereka. Mereka keluar melalui jalan Laut Suf (Laut Merah). Pada siang hari mereka berjalan dengan awan di depan mereka yang berjalan mendahului mereka, di dalamnya terdapat tiang cahaya. Dan pada malam hari di depan mereka ada tiang api.

Jalan membawa mereka hingga ke tepi laut, maka mereka berkemah di sana. Firaun dan tentaranya dari orang-orang Mesir menyusul mereka ketika mereka sedang berkemah di tepi laut. Banyak dari Bani Israil yang gelisah, sampai-sampai sebagian dari mereka berkata: “Tinggal kami di Mesir lebih kami sukai daripada mati di padang belantara ini.”

Dan Musa alaihissalam berkata kepada orang yang mengatakan perkataan ini: “Jangan takut, sesungguhnya Firaun dan bala tentaranya tidak akan kembali ke negeri mereka setelah ini.” Mereka berkata: Allah memerintahkan Musa alaihissalam agar memukul laut dengan tongkatnya dan membelahnya, agar Bani Israil dapat masuk ke dalam laut di atas daratan. Dan air menjadi seperti dua gunung dari sini dan dari sana, sedangkan tengahnya menjadi daratan kering, karena Allah menguasakan angin selatan dan angin panas padanya. Maka Bani Israil melintasi laut, dan Firaun beserta bala tentaranya mengikuti mereka. Ketika mereka berada di tengah-tengahnya, Allah memerintahkan Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, maka kembalilah air menimpa mereka seperti semula. Namun menurut Ahli Kitab, bahwa hal ini terjadi di malam hari, dan laut menghempas mereka pada waktu pagi, dan ini adalah kesalahan mereka dan ketidakpahaman mereka dalam penerjemahan mereka, wallahu a’lam. Mereka berkata: Ketika Allah menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya, saat itulah Musa dan Bani Israil bertasbih dengan tasbih ini kepada Tuhan, dan mereka berkata: Kami memuji Tuhan Yang Agung yang telah mengalahkan bala tentara, dan melemparkan para penunggangnya ke laut yang kokoh yang terpuji. Dan itu adalah tasbih yang panjang. Mereka berkata: Dan Maryam sang Nabiah, saudara perempuan Harun mengambil rebana dengan tangannya, dan para wanita keluar mengikutinya, semuanya dengan rebana dan gendang, dan Maryam melantunkan untuk mereka dan berkata: Mahasuci Tuhan Yang Maha Perkasa, yang mengalahkan kuda-kuda dan penunggangnya, melemparkan ke laut. Demikianlah yang kulihat dalam kitab mereka. Dan barangkali inilah yang menyebabkan Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzhi berpendapat bahwa Maryam binti Imran, ibu Isa, adalah saudara perempuan Harun dan Musa, dengan firman-Nya: wahai saudara perempuan Harun (Maryam: 28), dan sungguh telah kami jelaskan kesalahannya dalam hal itu, dan bahwa ini tidak mungkin dikatakan, dan tidak ada seorang pun yang mengikutinya dalam hal itu, bahkan setiap orang menyelisihinya dalam hal itu. Seandainya ini terpelihara, maka Maryam binti Imran ini adalah saudara perempuan Musa dan Harun alaihimassalam, sedangkan ibu Isa alaihassalam bersamaan dengannya dalam nama, nama ayah, dan nama saudara laki-laki, karena mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Mughirah bin Shu’bah ketika penduduk Najran bertanya kepadanya tentang firman-Nya: wahai saudara perempuan Harun, maka dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada mereka, hingga dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliau bersabda: Tidakkah kamu tahu bahwa mereka dahulu memberi nama dengan nama-nama para nabi mereka. Diriwayatkan oleh Muslim. Dan perkataan mereka: sang Nabiah, sebagaimana dikatakan kepada wanita dari keluarga raja: ratu, dan dari keluarga kepemimpinan: putri, meskipun dia tidak secara langsung menangani sesuatu dari itu, maka demikian pula ini adalah kiasan untuknya, bukan bahwa dia benar-benar seorang nabiah yang diwahyukan kepadanya. Dan pemukulan rebana olehnya pada hari seperti ini – yang merupakan hari raya terbesar menurut mereka – adalah dalil bahwa sesungguhnya telah menjadi syariat sebelum kami memukul rebana pada hari raya. Dan ini disyariatkan bagi kami juga untuk kaum wanita, berdasarkan hadits dua budak perempuan yang berada di sisi Aisyah yang memukul rebana pada hari-hari Mina, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berbaring, membelakangi mereka, dan wajahnya menghadap ke dinding. Ketika Abu Bakar masuk, dia memarahi mereka dan berkata: Apakah dengan seruling setan di rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Maka beliau bersabda: Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kami. Dan demikian pula disyariatkan pada kami dalam pernikahan dan kedatangan orang yang bepergian, sebagaimana telah dijelaskan pada tempatnya. Wallahu a’lam.

Dan mereka menyebutkan bahwa ketika mereka melewati laut dan pergi menuju negeri Syam, mereka tinggal selama tiga hari tidak menemukan air, maka berbicara beberapa dari mereka karena hal itu. Lalu mereka menemukan air yang pahit dan asin, mereka tidak dapat meminumnya. Maka Allah memerintahkan Musa alaihissalam, lalu dia mengambil sebatang kayu dan meletakkannya di dalamnya, maka air itu menjadi manis dan dapat diminum. Dan Tuhan mengajarkan kepadanya di sana berbagai kewajiban dan sunnah, dan memberikan wasiat kepadanya dengan banyak wasiat. Dan Allah Taala telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, yang mengontrol atas apa yang selain-Nya dari kitab-kitab: Dan Kami seberangkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka mendatangi suatu kaum yang berhasrat pada berhala-berhala mereka. Mereka berkata: Wahai Musa, buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan. Dia berkata: Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh. Sesungguhnya mereka yang itu, pasti akan dihancurkan apa yang mereka berada padanya dan batil apa yang mereka kerjakan. (Al-A’raf: 138-139) Mereka berkata ini dengan kebodohan dan kesesatan, padahal mereka telah menyaksikan dari ayat-ayat Allah dan kekuasaan-Nya, apa yang menunjukkan kepada mereka kebenaran apa yang dibawa oleh Rasul pemilik keagungan dan kemuliaan. Dan itu adalah bahwa mereka melewati suatu kaum yang menyembah berhala-berhala, dikatakan: yang berbentuk sapi. Seolah-olah mereka bertanya kepada mereka: mengapa mereka menyembahnya, maka mereka menyangka kepada mereka bahwa berhala-berhala itu bermanfaat dan membahayakan mereka, dan mereka meminta rezeki dengannya ketika dalam kesulitan. Maka seolah-olah sebagian orang bodoh dari mereka membenarkan mereka dalam hal itu, lalu mereka meminta kepada nabi mereka Al-Kalim yang mulia yang agung, agar menjadikan untuk mereka sesembahan sebagaimana orang-orang itu memiliki sesembahan. Maka dia berkata kepada mereka sambil menjelaskan kepada mereka bahwa mereka tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk: Sesungguhnya mereka yang itu, pasti akan dihancurkan apa yang mereka berada padanya dan batil apa yang mereka kerjakan. Kemudian dia mengingatkan mereka akan nikmat Allah atas mereka, dalam mengutamakan mereka atas orang-orang sedunia pada zaman mereka dengan ilmu, syariat, dan Rasul yang berada di tengah-tengah mereka, dan apa yang telah berbuat baik kepada mereka, dan apa yang telah dikaruniakan kepada mereka, berupa penyelamatan mereka dari cengkeraman Firaun yang penguasa yang keras kepala, dan penghancuran-Nya atasnya sedangkan mereka menyaksikan, dan mewariskan kepada mereka apa yang dikumpulkan oleh Firaun dan kaumnya dari harta dan kebahagiaan, dan apa yang mereka bangun. Dan menjelaskan kepada mereka bahwa tidak layak ibadah kecuali kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena Dialah Pencipta Pemberi rezeki Yang Maha Perkasa. Dan bukanlah semua Bani Israil yang bertanya pertanyaan ini, tetapi kata ganti itu kembali kepada jenis dalam firman-Nya: Dan Kami seberangkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka mendatangi suatu kaum yang berhasrat pada berhala-berhala mereka. Mereka berkata: Wahai Musa, buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan, yaitu sebagian dari mereka berkata sebagaimana dalam firman-Nya: Dan Kami kumpulkan mereka maka Kami tidak meninggalkan seorang pun dari mereka. Dan mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dalam barisan. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada kali pertama, bahkan kamu mengira bahwa Kami tidak akan menjadikan untuk kamu suatu waktu yang dijanjikan. (Al-Kahf: 47-48) Maka orang-orang yang mengira ini adalah sebagian manusia, bukan semuanya.

Dan telah berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Sinan bin Abi Sinan Ad-Daili, dari Abu Waqid Al-Laitsi, dia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuju Hunain, lalu kami melewati sebuah pohon bidara, maka saya berkata: Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana orang-orang kafir memiliki Dzat Anwath. Dan dahulu orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka pada pohon bidara dan berkumpul di sekitarnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allahu Akbar, ini seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: Buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan. Sesungguhnya kalian mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Muhammad bin Rafi’, dari Abdurrazaq dengannya. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sa’id bin Abdurrahman Al-Makhzumi, dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Az-Zuhri dengannya. Kemudian dia berkata: hasan shahih. Dan telah meriwayatkan Ibnu Jarir dari hadits Muhammad bin Ishaq, dan Ma’mar, dan ‘Uqail, dari Az-Zuhri, dari Sinan bin Abi Sinan, dari Abu Waqid Al-Laitsi, bahwa mereka keluar dari Makkah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuju Hunain. Dia berkata: Dan dahulu orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara yang mereka berkumpul di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang disebut: Dzat Anwath. Dia berkata: Maka kami melewati sebuah pohon bidara hijau yang besar. Dia berkata: Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath. Dia berkata: Beliau bersabda: Kalian mengatakan, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sebagaimana yang dikatakan kaum Musa kepada Musa: Buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan. Dia berkata: Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh. Sesungguhnya mereka yang itu, pasti akan dihancurkan apa yang mereka berada padanya dan batil apa yang mereka kerjakan.

Dan yang dimaksud adalah bahwa Musa alaihissalam ketika berpisah dari negeri Mesir dan menghadap negeri Baitul Maqdis, dia menemukan di dalamnya suatu kaum dari orang-orang yang sangat kuat, dari orang-orang Hitites, Perizzites, dan orang-orang Kanaan, dan selain mereka. Maka Musa alaihissalam memerintahkan mereka untuk masuk kepada mereka, memerangi mereka, dan mengusir mereka dari Baitul Maqdis, karena sesungguhnya Allah telah menuliskannya untuk mereka dan menjanjikannya kepada mereka melalui lisan Ibrahim Al-Khalil dan Musa Al-Kalim Al-Jalil. Maka mereka menolak dan mundur dari jihad, lalu Allah menguasakan ketakutan atas mereka dan menjatuhkan mereka ke dalam kebingungan mengembara, mereka berjalan, tinggal, berpindah, pergi, dan datang dalam masa bertahun-tahun yang panjang, yaitu dari bilangan empat puluh tahun, sebagaimana firman Allah Taala: Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menjadikan di antaramu para nabi dan menjadikan kamu orang-orang yang merdeka dan memberikan kepadamu apa yang tidak diberikan kepada seorang pun dari alam semesta. Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah dituliskan Allah untuk kamu dan janganlah kamu berbalik ke belakang, maka kamu akan kembali sebagai orang-orang yang merugi. Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang sangat kuat dan sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sampai mereka keluar darinya, maka jika mereka keluar darinya maka sesungguhnya kami akan masuk. Berkata dua orang laki-laki dari orang-orang yang takut yang Allah telah memberikan nikmat kepada keduanya: Masuklah kepada mereka melalui pintu, maka apabila kamu memasukinya maka sesungguhnya kamu akan menang dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka berada di dalamnya, maka pergilah kamu dan Tuhanmu lalu berperanglah, sesungguhnya kami di sini duduk. Dia berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku dan saudaraku, maka pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik. Dia berfirman: Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan mengembara di bumi, maka janganlah kamu bersedih atas kaum yang fasik. (Al-Ma’idah: 20-26) Nabi Allah mengingatkan mereka akan nikmat Allah atas mereka, kebaikan-Nya atas mereka dengan nikmat-nikmat agama dan dunia, dan memerintahkan mereka untuk berjihad di jalan Allah dan memerangi musuh-musuh-Nya. Maka dia berkata: Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah dituliskan Allah untuk kamu dan janganlah kamu berbalik ke belakang, yaitu mundur ke belakang dan mundur dari memerangi musuh-musuh kalian, maka kamu akan kembali sebagai orang-orang yang merugi, yaitu maka kalian akan rugi setelah untung, dan berkurang setelah sempurna. Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang sangat kuat, yaitu orang-orang kafir yang durhaka yang memberontak, dan sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sampai mereka keluar darinya, maka jika mereka keluar darinya maka sesungguhnya kami akan masuk. Mereka takut kepada orang-orang yang sangat kuat ini, padahal mereka telah menyaksikan kehancuran Firaun, dan dia lebih kuat dari mereka, lebih keras kekuatannya, lebih banyak jumlahnya, lebih besar tentaranya. Dan ini menunjukkan bahwa mereka tercela dalam perkataan ini, dan tercela atas keadaan ini, berupa kehinaan dari menyerang musuh dan melawan orang-orang jahat yang celaka.

Dan telah disebutkan oleh banyak ahli tafsir di sini berbagai riwayat yang di dalamnya terdapat banyak hal yang berlebihan yang batil, yang ditunjukkan oleh akal dan naql berlawanan dengannya, bahwa mereka adalah bentuk-bentuk yang menakutkan yang sangat besar, hingga mereka menyebutkan bahwa utusan-utusan Bani Israil ketika datang kepada mereka, menemui mereka seorang laki-laki dari utusan orang-orang yang sangat kuat itu, lalu dia mengambil mereka satu persatu dan membungkus mereka dalam lengan bajunya dan ikat pinggangnya, dan mereka berjumlah dua belas orang laki-laki, lalu dia datang dengan mereka dan menebarkan mereka di hadapan raja orang-orang yang sangat kuat itu. Maka dia berkata: Apa ini? Dan dia tidak mengetahui bahwa mereka dari Bani Adam hingga mereka memberitahunya. Dan semua ini adalah omong kosong dan dongeng yang tidak ada kebenarannya, dan bahwa raja mengirim bersama mereka anggur, setiap buah anggur cukup untuk satu orang, dan sesuatu dari buah-buahan mereka, agar mereka mengetahui besarnya bentuk-bentuk mereka, dan ini tidak benar. Dan mereka menyebutkan di sini bahwa ‘Uj bin ‘Anaq keluar dari orang-orang yang sangat kuat itu kepada Bani Israil untuk menghancurkan mereka, dan tingginya adalah tiga ribu hasta, dan tiga ratus hasta, dan tiga puluh tiga hasta, dan sepertiga hasta. Demikianlah disebutkan oleh Al-Baghawi dan selainnya, dan ini tidak benar, sebagaimana telah kami jelaskan ketika sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, tingginya enam puluh hasta, kemudian tidak henti-hentinya makhluk berkurang hingga sekarang. Mereka berkata: Maka ‘Uj menuju puncak gunung dan mencabutnya, kemudian mengambilnya dengan kedua tangannya untuk menjatuhkannya pada pasukan Musa, lalu datanglah seekor burung dan mematuk batu itu, lalu melubanginya, maka menjadilah kalung di leher ‘Uj bin ‘Anaq. Kemudian Musa mendatanginya, lalu melompat di udara sepuluh hasta, dan tingginya sepuluh hasta, dan di tangannya tongkatnya yang panjangnya sepuluh hasta, maka sampai ke tumit kakinya lalu membunuhnya. Ini diriwayatkan dari Nauf Al-Bikali, dan dinukil oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, dan dalam sanadnya kepadanya terdapat keraguan. Kemudian dengan semua ini adalah dari Israiliyyat, dan semua ini adalah buatan orang-orang bodoh Bani Israil, karena sesungguhnya berita-berita bohong telah banyak pada mereka, dan tidak ada pembeda bagi mereka antara yang shahih dan yang batil. Kemudian seandainya ini benar, niscaya Bani Israil mempunyai uzur dalam mundurnya dari memerangi mereka, dan Allah telah mencela mereka atas keengganan mereka, dan menghukum mereka dengan kebingungan mengembara atas meninggalkan jihad mereka dan menyelisihi rasul mereka. Dan telah memberi saran kepada mereka dua orang laki-laki yang saleh dari mereka dengan keberanian, dan melarang mereka dari keengganan. Dan dikatakan bahwa keduanya adalah Yusya’ bin Nun dan Kalab bin Yufanna. Berkata Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, ‘Athiyyah, As-Suddi, Ar-Rabi’ bin Anas, dan tidak hanya satu orang.

Berkata dua orang laki-laki dari orang-orang yang takut, yaitu takut kepada Allah. Dan membaca sebagian dari mereka: (yang ditakuti), yaitu disegani. Yang Allah telah memberikan nikmat kepada keduanya, yaitu dengan Islam, dan iman, dan ketaatan, dan keberanian: Masuklah kepada mereka melalui pintu, maka apabila kamu memasukinya maka sesungguhnya kamu akan menang dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu adalah orang-orang yang beriman, yaitu jika kalian bertawakal kepada Allah, dan meminta pertolongan kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya, niscaya Dia menolong kalian atas musuh kalian, dan menguatkan kalian atas mereka, dan memenangkan kalian atas mereka.

Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka berada di dalamnya, maka pergilah kamu dan Tuhanmu lalu berperanglah, sesungguhnya kami di sini duduk. Maka teguh kaum mereka atas keengganan dari jihad, dan terjadilah perkara yang besar dan kelemahan yang besar. Maka dikatakan: Sesungguhnya Yusya’ dan Kalab ketika mendengar perkataan ini merobek pakaian mereka, dan sesungguhnya Musa dan Harun alaihimassalam bersujud, mengagungkan perkataan ini dan marah karena Allah Azza wa Jalla, dan kasihan kepada mereka dari akibat buruk perkataan ini.

Dia (Musa) berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku, maka pisahkanlah antara kami dengan kaum yang fasik itu.” (QS. Al-Ma’idah: 25)

Ibnu Abbas berkata: Putuskanlah antara aku dan mereka.

Allah berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar (mengembara) di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap kaum yang fasik itu.” (QS. Al-Ma’idah: 26)

Mereka dihukum karena keengganan mereka dengan mengembara tersesat di bumi, berjalan tanpa tujuan, malam dan siang, pagi dan petang. Dikatakan bahwa tidak seorang pun yang keluar dari pengembaraan itu dari mereka yang masuk ke dalamnya, bahkan mereka semua meninggal dalam masa empat puluh tahun, dan tidak ada yang tersisa kecuali keturunan mereka selain Yusya’ dan Kalib, alaihimas salam.

Akan tetapi para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Badar tidak berkata kepadanya seperti yang dikatakan kaum Musa kepada Musa. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta saran mereka tentang pergi berperang, Ash-Shiddiq berbicara dengan baik, begitu juga orang-orang Muhajirin lainnya. Kemudian beliau terus berkata: “Berilah aku saran,” hingga Sa’d bin Mu’adz berkata: “Seakan-akan engkau menunjuk kepada kami wahai Rasulullah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau mengajak kami menyeberangi lautan ini dan engkau menceburkan diri ke dalamnya, niscaya kami akan ikut menceburkan diri bersama engkau. Tidak akan ada seorang pun dari kami yang tertinggal. Dan kami tidak membenci untuk bertemu musuh besok. Sesungguhnya kami orang-orang yang sabar dalam peperangan, jujur dalam pertempuran. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepadamu dari kami apa yang menyejukkan matamu. Maka berangkatlah dengan berkah Allah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa gembira dengan perkataan Sa’d, dan hal itu membuatnya senang.

Imam Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abdullah Al-Ahmasi, dari Thariq yaitu Ibnu Syihab, bahwa Al-Miqdad berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Badar: “Wahai Rasulullah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami di sini menunggu saja.’ Tetapi pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami bersama kalian akan ikut berperang.” Ini adalah sanad yang bagus dari jalur ini dan memiliki jalur-jalur lain.

Ahmad berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Mukhariq, dari Thariq bin Syihab, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh aku telah menyaksikan dari Al-Miqdad suatu kejadian, seandainya akulah orangnya, hal itu lebih aku cintai daripada segala yang menyamainya. Dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau sedang berdoa terhadap orang-orang musyrik, lalu dia berkata: ‘Demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami di sini menunggu saja. Tetapi kami akan berperang di kanan, di kiri, di depan, dan di belakangmu.’ Maka aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berseri-seri karena hal itu, dan beliau merasa senang karenanya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Tafsir dan Maghazi dari beberapa jalur dari Mukhariq dengannya.

Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih berkata: Ali bin Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, Abu Hatim Ar-Razi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Al-Anshari menceritakan kepada kami, Humaid menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berangkat ke Badar meminta saran dari kaum muslimin, lalu Umar memberi saran kepadanya, kemudian beliau meminta saran mereka lagi. Maka orang-orang Anshar berkata: “Wahai sekalian Anshar, kalian yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata: “Kalau begitu kami tidak akan berkata kepadanya sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami di sini menunggu saja. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau memukul (mengajak kami ke) punuk-punuk unta mereka sampai ke Birk Al-Ghimad, niscaya kami akan mengikutimu.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ubaidah bin Humaid, dari Humaid Ath-Thawil, dari Anas dengannya. Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Khalid bin Al-Harits, dari Humaid, dari Anas dengannya seperti itu. Dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari Abu Ya’la, dari Abdul A’la bin Hammad, dari Mu’tamir dari Humaid, dari Anas dengannya seperti itu.

Bagian tentang Masuknya Bani Israil ke Pengembaraan dan Apa yang Terjadi pada Mereka di Dalamnya dari Perkara-Perkara yang Menakjubkan

Kami telah menyebutkan keengganan Bani Israil untuk memerangi orang-orang yang perkasa, dan bahwa Allah Ta’ala menghukum mereka dengan pengembaraan, dan memutuskan bahwa mereka tidak akan keluar darinya hingga empat puluh tahun. Aku tidak melihat dalam kitab Ahli Kitab kisah keengganan mereka memerangi orang-orang yang perkasa, tetapi di dalamnya disebutkan bahwa Musa menyiapkan Yusya’ untuk memerangi sekelompok orang kafir, dan bahwa Musa, Harun, dan Khur duduk di atas sebuah bukit, dan Musa mengangkat tongkatnya. Setiap kali dia mengangkatnya, Yusya’ menang atas mereka, dan setiap kali tangannya miring membawanya karena lelah atau semacamnya, orang-orang itu mengalahkannya. Maka Harun dan Khur menyangga kedua tangannya dari kanan dan kirinya sepanjang hari itu hingga matahari terbenam, lalu pasukan Yusya’ ‘alaihis salam menang.

Menurut mereka, Yitsron adalah pendeta Midian dan mertua Musa ‘alaihis salam. Dia mendengar apa yang terjadi dengan urusan Musa dan bagaimana Allah memberikan kemenangan kepadanya atas musuhnya Fir’aun. Maka dia datang kepada Musa dengan masuk Islam, membawa serta putrinya Shafura istri Musa, dan dua putra mereka Jarsyun dan Azir. Maka Musa menyambutnya dan memuliakannya, dan para tetua Bani Israil berkumpul dengannya, serta mengagungkan dan memuliakannya.

Mereka menyebutkan bahwa dia melihat banyaknya orang Bani Israil yang berkumpul pada Musa dalam perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka. Maka dia menyarankan kepada Musa agar menjadikan atas manusia orang-orang yang dapat dipercaya, bertakwa, menjaga kehormatan, membenci suap dan pengkhianatan, lalu menjadikan mereka sebagai pemimpin atas ribuan orang, pemimpin ratusan, pemimpin lima puluhan, dan pemimpin puluhan, agar mereka memutuskan perkara di antara manusia. Jika ada perkara yang membingungkan mereka, mereka datang kepadamu, lalu engkau memisahkan di antara mereka apa yang membingungkan mereka. Maka Musa ‘alaihis salam melakukan hal itu.

Mereka berkata: Bani Israil memasuki padang pasir di dekat Sinai pada bulan ketiga dari keluarnya mereka dari Mesir. Keluarnya mereka adalah pada awal tahun yang disyariatkan bagi mereka, yaitu awal musim semi. Maka seakan-akan mereka memasuki pengembaraan pada awal musim panas, wallahu a’lam.

Mereka berkata: Bani Israil turun di sekitar Gunung Sinai, dan Musa naik ke gunung, lalu Tuhannya berbicara kepadanya dan memerintahkannya agar mengingatkan Bani Israil akan nikmat yang Allah berikan kepada mereka berupa penyelamatan mereka dari Fir’aun dan kaumnya, dan bagaimana Dia membawa mereka di atas seperti dua sayap burung nasar dari tangan dan cengkeramannya. Dan Dia memerintahkannya untuk menyuruh Bani Israil agar bersuci, mandi, mencuci pakaian mereka, dan bersiap-siap hingga hari ketiga. Jika sudah tiba di hari ketiga, hendaklah mereka berkumpul di sekitar gunung, dan jangan ada seorang pun dari mereka yang mendekatinya. Barangsiapa mendekatinya akan dibunuh, bahkan tidak boleh ada seekor hewan pun, selama mereka mendengar suara sangkakala. Jika sangkakala berhenti, maka halal bagi kalian untuk menaikinya.

Bani Israil mendengar hal itu dan mereka taat, mandi, membersihkan diri, dan mewangikan diri. Ketika tiba hari ketiga, gunung tertutup awan besar, dan di dalamnya ada suara-suara dan kilat, serta suara sangkakala yang sangat keras. Maka Bani Israil sangat ketakutan karena hal itu, dan mereka keluar lalu berdiri di kaki gunung. Gunung itu tertutup asap besar dengan tiang cahaya di tengahnya, dan seluruh gunung bergoncang dengan goncangan yang hebat, dan suara sangkakala yaitu terompet terus berlanjut dan mengeras. Musa ‘alaihis salam berada di atas gunung, dan Allah berbicara kepadanya dan bermunajat dengannya.

Tuhan ‘Azza wa Jalla memerintahkan Musa untuk turun, lalu menyuruh Bani Israil agar mendekati gunung supaya mereka mendengar wasiat Allah, dan memerintahkan para pendeta yaitu ulama mereka agar mendekat dan naik ke gunung supaya mereka didahulukan dengan kedekatan – dan ini adalah nash dalam kitab mereka tentang terjadinya nasakh tanpa dapat dielakkan. Maka Musa berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka tidak mampu menaikinya, dan Engkau telah melarang mereka dari hal itu.” Maka Allah Ta’ala memerintahkannya untuk pergi dan membawa serta saudaranya Harun, dan hendaklah para pendeta yaitu ulama, dan rakyat yaitu sisa Bani Israil, tidak jauh. Maka Musa melakukannya, dan Tuhannya ‘Azza wa Jalla berbicara kepadanya, lalu Dia memerintahkannya pada saat itu dengan sepuluh kalimat.

Menurut mereka, Bani Israil mendengar firman Allah, tetapi mereka tidak memahami hingga Musa memahaminya kepada mereka. Mereka berkata kepada Musa: “Sampaikanlah kepada kami engkau dari Tuhan, karena sesungguhnya kami takut akan mati.” Maka dia menyampaikan kepada mereka, lalu dia mengatakan sepuluh kalimat ini. Yaitu: perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, larangan bersumpah atas nama Allah dengan dusta, perintah menjaga hari Sabtu – yang maknanya adalah mengosongkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah, dan ini tercapai dengan hari Jumat yang Allah nasakhkan dengannya hari Sabtu – muliakanlah ayah dan ibumu agar umurmu panjang di bumi yang diberikan Tuhanmu Allahmu kepadamu, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan bersaksi palsu terhadap temanmu, jangan menginginkan rumah temanmu, jangan menginginkan istri temanmu, budak lelakinya, budak perempuannya, lembu jantannya, keledainya, dan bukan apa pun yang menjadi milik temanmu – yang maknanya adalah larangan hasad.

Banyak dari ulama Salaf dan lainnya berkata: Inti dari sepuluh kalimat ini terdapat dalam dua ayat dari Al-Qur’an, yaitu firman-Nya Ta’ala dalam Surah Al-An’am: “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik, sampai dia dewasa, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil sekalipun dia kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat. Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 151-153)

Mereka menyebutkan setelah sepuluh kalimat itu wasiat-wasiat yang banyak, dan hukum-hukum yang berpencar dan mulia, yang ada kemudian hilang dan diamalkan untuk beberapa waktu dari masa, kemudian terjadi pembangkangan dari orang-orang yang ditugaskan dengannya. Kemudian mereka dengan sengaja mengubahnya, memutarbalikkannya, dan menta’wilkannya. Kemudian setelah semua itu mereka mencabutnya, maka jadilah ia mansukh dan terbadal setelah sebelumnya disyariatkan dan disempurnakan. Maka bagi Allah-lah segala urusan dari sebelum dan sesudah, dan Dialah yang memutuskan apa yang Dia kehendaki, dan melakukan apa yang Dia inginkan. Ketahuilah, bagi-Nya-lah khalq dan amr, tabarakallahu rabbul ‘alamin.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu dari musuhmu, dan Kami telah menjanjikan (waktunya kepadamu) di sebelah kanan gunung, dan Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 80-82)

Ta’ala menyebutkan karunia dan kebaikan-Nya kepada Bani Israil, dengan apa yang Dia selamatkan mereka dari musuh-musuh mereka, dan membebaskan mereka dari kesempitan dan kesulitan, dan bahwa Dia menjanjikan mereka pendampingan nabi mereka, kekasih-Nya, ke sisi gunung yang kanan yaitu dari mereka, agar diturunkan kepadanya hukum-hukum besar yang di dalamnya ada kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat mereka. Dan bahwa Ta’ala menurunkan kepada mereka dalam keadaan kesulitan dan kebutuhan mereka, dalam perjalanan mereka di bumi yang tidak ada tanaman dan hewan ternaknya, manna dari langit. Mereka mendapatinya di pagi hari di antara rumah-rumah mereka, lalu mereka mengambil darinya seukuran kebutuhan mereka pada hari itu hingga esok harinya. Barangsiapa menyimpannya lebih dari itu akan rusak, dan barangsiapa mengambil darinya sedikit akan cukup untuknya, atau banyak tidak akan berlebih darinya. Mereka membuat darinya seperti roti, dan ia sangat putih dan manis. Jika sudah akhir siang, burung salwa menutupi mereka, lalu mereka menangkapnya tanpa susah payah seukuran kebutuhan mereka untuk makan malam mereka. Jika tiba musim panas, Allah menaungi mereka dengan awan yaitu awan yang menutupi dari mereka panas matahari dan cahayanya yang terang, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 40-41) hingga firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun sedang kamu sendiri menyaksikan. Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat) empat puluh malam, kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) setelah kepergiannya, dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan (dosa)mu agar kamu bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Alkitab (Taurat) dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) agar kamu mendapat petunjuk. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sebagai sembahanmu), maka bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Penciptamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.’ Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar petir, sedang kamu menyaksikannya.’ Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, agar kamu bersyukur. Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 49-57)

Sampai firman-Nya: Dan (ingatlah), ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al-Baqarah: 60-61).

Allah Taala menyebutkan nikmat-Nya kepada mereka dan kebaikan-Nya kepada mereka dengan apa yang Dia mudahkan bagi mereka berupa mann dan salwa, dua makanan lezat tanpa susah payah dan tanpa usaha dari mereka, bahkan Allah menurunkan mann di pagi hari dan mengirimkan kepada mereka burung salwa di sore hari. Dan Allah memancarkan air untuk mereka ketika Musa alaihissalam memukul dengan tongkatnya sebuah batu yang mereka bawa bersama mereka, maka memancarlah darinya dua belas mata air, untuk setiap suku ada satu mata air yang memancar darinya kemudian mengalir menjadi air yang jernih. Mereka mengambil air, minum, memberi minum hewan-hewan mereka, dan menyimpan kebutuhan mereka. Dan Allah menaungi mereka dengan awan dari panas. Ini semua adalah nikmat Allah yang agung dan pemberian yang besar. Namun mereka tidak menjaganya dengan sebaik-baiknya, tidak melaksanakan syukurnya dan tidak menunaikan hak beribadah kepada-Nya. Kemudian banyak dari mereka merasa jemu dan bosan dengannya, dan mereka meminta untuk menukarnya dengan penggantinya, yaitu apa yang ditumbuhkan bumi dari sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya. Maka Nabi Musa yang berbicara dengan Allah menegur mereka, mencela mereka, dan memarahi mereka atas perkataan ini, dan menegur mereka dengan keras dengan mengatakan: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Artinya: Apa yang kalian minta dan inginkan sebagai pengganti nikmat-nikmat yang kalian miliki ini, tersedia bagi penduduk kota-kota kecil dan besar, ada di sana. Dan jika kalian turun ke sana, artinya: dan kalian turun dari kedudukan ini yang kalian tidak layak untuk menduduki jabatannya, kalian akan menemukan di sana apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian harapkan dari makanan yang rendah dan makanan yang jelek yang telah kalian sebutkan. Tetapi aku tidak akan mengabulkan permintaan kalian itu di sini, dan tidak akan menyampaikan kepada kalian apa yang kalian minta dengan keras kepala dari keinginan-keinginan itu. Dan semua sifat-sifat yang disebutkan tentang mereka yang keluar dari mereka ini menunjukkan bahwa mereka tidak berhenti dari apa yang dilarang kepada mereka, sebagaimana firman Allah Taala: “Dan janganlah kamu melampaui batas tentang nikmat itu, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpa kamu, dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (Thaha: 81). Artinya: maka sungguh ia telah binasa, dan demi Allah ia berhak mendapat kebinasaan dan kehancuran, dan sungguh telah menimpa ia kemurkaan Raja Yang Maha Perkasa. Tetapi Allah Taala mencampurkan ancaman yang keras ini dengan harapan bagi siapa yang bertaubat dan kembali, dan tidak terus-menerus mengikuti setan yang memberontak, maka Dia berfirman: “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82).

Permintaan untuk Melihat Allah

Allah Taala berfirman: Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilihmu (melebihkan kamu) dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik”. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (mau) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menekuninya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan (mendustakan) menemui (Kami di) akhirat, maka hapuslah amal perbuatan mereka. Mereka tidak diberi pembalasan, kecuali (sesuai) dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 142-147).

Sekelompok ulama Salaf, di antaranya Ibnu Abbas, Masruq, dan Mujahid berkata: Tiga puluh malam itu adalah bulan Dzulqa’dah secara penuh, dan disempurnakan menjadi empat puluh malam dengan sepuluh hari Dzulhijjah. Maka berdasarkan ini, Allah berbicara kepadanya pada hari Idul Adha, dan pada hari seperti itu Allah Azza wa Jalla menyempurnakan agama bagi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan menegakkan hujah-Nya dan dalil-dalil-Nya.

Yang dimaksud adalah bahwa Musa alaihissalam ketika menyempurnakan waktu yang ditentukan, dan dia berpuasa dalam masa itu, dikatakan: bahwa dia tidak makan makanan. Maka ketika bulan itu genap, dia mengambil kulit kayu pohon dan mengunyahnya untuk membuat harum bau mulutnya. Maka Allah memerintahkan agar dia berpuasa sepuluh hari lagi, sehingga menjadi empat puluh malam. Oleh karena itu, tetap dalam hadits bahwa: Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Maka ketika dia bertekad untuk pergi, dia menunjuk saudaranya Harun yang dicintai, diagungkan, dan mulia sebagai penggantinya untuk memimpin Bani Israil, dan dia adalah anak dari ibu dan ayahnya, dan menteri dalam dakwah kepada Yang dipilih-Nya. Maka dia berwasiat kepadanya, memerintahnya, dan melarangnya, dan ini tidak bertentangan dengan tingginya kedudukannya dalam kenabian. Allah Taala berfirman: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, artinya: pada waktu yang diperintahkan untuk datang padanya, dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, artinya: Allah berbicara kepadanya dari balik hijab, tetapi Dia memperdengarkan kepadanya pembicaraan, maka Dia memanggilnya dan bermunajat dengannya, mendekatkannya dan menghamparkan untuknya. Dan ini adalah kedudukan yang tinggi, benteng yang kokoh, jabatan yang mulia, dan tempat yang tinggi. Maka shalawat Allah atasnya berturut-turut dan salam-Nya atasnya di dunia dan akhirat. Dan ketika dia diberi kedudukan yang tinggi ini dan martabat yang agung ini, dan mendengar pembicaraan, dia meminta agar hijab diangkat, maka dia berkata kepada Yang Maha Agung yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan, Yang Maha Kuat dalil-Nya: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” Kemudian Allah Taala menjelaskan bahwa dia tidak mampu bertahan ketika Dia Tabaraka wa Taala menampakkan diri, karena gunung yang lebih kuat dan lebih besar zatnya, dan lebih kokoh keberadaannya daripada manusia, tidak bertahan ketika penampakan diri dari Allah Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.”

Dan dalam kitab-kitab terdahulu bahwa Allah Taala berfirman kepadanya: Wahai Musa, sesungguhnya tidak ada yang melihat-Ku dari yang hidup kecuali dia mati, dan tidak ada yang kering kecuali ia hancur. Dan dalam Shahihain, dari Abu Musa, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Hijab-Nya adalah cahaya, dan dalam riwayat lain: api, seandainya Dia menyingkapnya niscaya pancaran cahaya wajah-Nya akan membakar apa yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya. Dan Ibnu Abbas berkata dalam firman Allah Taala: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan-penglihatan,” itulah cahaya-Nya yang merupakan cahaya-Nya, apabila Dia menampakkan diri kepada sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang mampu bertahan. Oleh karena itu, Allah Taala berfirman: “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” Mujahid berkata tentang “Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku,” maka sesungguhnya ia lebih besar darimu dan lebih kuat penciptaannya. “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,” maka dia memperhatikan gunung itu tidak mampu bertahan, dan gunung itu datang lalu hancur pada awalnya, dan Musa melihat apa yang terjadi pada gunung itu, maka dia jatuh pingsan. Dan kami telah menyebutkan dalam Tafsir apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi yang dishahihkan oleh Ibnu Jarir dan Al-Hakim, dari jalur Hammad bin Salamah, dari Tsabit, Ibnu Jarir menambahkan, dan Laits, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca: “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh,” beliau bersabda: Seperti ini dengan jarinya, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam meletakkan ibu jari pada persendian paling atas dari jari kelingking, maka lesuhlah gunung itu. Ini lafadz Ibnu Jarir. As-Suddi berkata, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas: Tidak menampakkan diri – yaitu dari keagungan – kecuali seukuran jari kelingking, maka Dia menjadikan gunung itu hancur luluh, dia berkata: menjadi tanah. “Dan Musa pun jatuh pingsan,” artinya: pingsan. Qatadah berkata: mati. Dan yang benar adalah yang pertama, karena firman-Nya: “Maka setelah Musa sadar kembali,” maka sesungguhnya sadar kembali itu hanya dari pingsan. Dia berkata: “Maha Suci Engkau” pensucian, pengagungan, dan pemuliaan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat-Nya dengan keagungan-Nya. “Aku bertaubat kepada Engkau,” artinya: maka aku tidak akan meminta setelah ini untuk melihat-Mu. “Dan aku orang yang pertama-tama beriman” bahwa tidak ada yang hidup yang melihat-Mu kecuali dia mati, dan tidak ada yang kering kecuali ia hancur.

Dan telah tetap dalam Shahihain, dari jalur Amr bin Yahya bin Imarah bin Abi Hasan Al-Mazini Al-Anshari, dari ayahnya, dari Abu Said Al-Khudri, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mengutamakan aku dari antara para nabi, karena sesungguhnya manusia akan pingsan pada hari kiamat, maka aku adalah orang pertama yang sadar, maka tiba-tiba aku melihat Musa memegang salah satu tiang Arasy, maka aku tidak tahu apakah dia sadar sebelumku, ataukah dia telah diberi ganjaran dengan pingsannya di Gunung Thur. Ini lafadz Bukhari, dan di awalnya ada kisah orang Yahudi yang menampar wajah orang Anshar ketika dia berkata: Tidak, demi Dzat yang memilih Musa atas manusia. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mengutamakan aku dari antara para nabi. Dan dalam Shahihain, dari jalur Az-Zuhri, dari Abu Salamah dan Abdurrahman Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu, dan di dalamnya: Janganlah kalian mengutamakan aku atas Musa. Dan disebutkan kelanjutannya. Dan ini termasuk bab merendahkan diri dan tawadhu, atau larangan tentang membedakan antara para nabi dengan cara marah dan fanatik, atau ini bukan urusan kalian, tetapi Allah yang mengangkat sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, dan ini tidak dapat dicapai hanya dengan pendapat, tetapi dengan penunjukan. Dan barangsiapa berkata: Bahwa ini diucapkan sebelum dia mengetahui bahwa dia yang paling utama, kemudian dihapus dengan mengetahuinya akan keutamaannya atas mereka semua, maka dalam perkataannya ada perdebatan, karena ini dari riwayat Abu Said dan Abu Hurairah, dan Abu Hurairah tidak berhijrah kecuali pada tahun Khaibar yang terlambat, maka jauh jika dia tidak mengetahui hal ini kecuali setelah ini. Wallahu a’lam. Dan tidak diragukan bahwa beliau, shallallahu alaihi wasallam, adalah yang paling utama dari manusia, bahkan makhluk. Allah Taala berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110). Dan mereka tidak sempurna kecuali karena kemuliaan nabi mereka. Dan tetap dengan mutawatir dari beliau, shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat dan bukan kesombongan. Kemudian disebutkan kekhususannya dengan maqam mahmud, yang akan diiri oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, yang para nabi dan rasul menjauh darinya, bahkan ulul azmi yang paling sempurna: Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Dan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: Maka aku adalah orang pertama yang sadar, maka aku menemukan Musa memegang tiang Arasy – artinya: memegangnya – maka aku tidak tahu apakah dia sadar sebelumku, ataukah dia telah diberi ganjaran dengan pingsannya di Gunung Thur. Dalil bahwa pingsan ini yang terjadi pada makhluk di padang mahsyar ketika Allah menampakkan diri untuk memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya, maka mereka pingsan karena hebatnya rasa takut, keagungan, dan kemuliaan. Maka yang pertama sadar di antara mereka adalah Muhammad, penutup para nabi dan yang dipilih oleh Rabb bumi dan langit atas seluruh nabi, maka dia menemukan Musa memegang tiang Arasy. Ash-Shadiq Al-Mashdhuq berkata: Aku tidak tahu apakah dia pingsan lalu sadar sebelumku, artinya pingsannya ringan karena dia telah terkena karena sebab ini di dunia pingsan, atau diberi ganjaran dengan pingsannya di Gunung Thur, yaitu maka dia tidak pingsan sepenuhnya. Dan ini di dalamnya ada kehormatan besar dan tingginya kedudukan bagi Musa alaihissalam dari sisi ini, dan tidak mengharuskan keutamaannya secara mutlak dari segala sisi. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menunjukkan kehormatan dan keutamaannya dengan sifat ini, karena orang Muslim ketika memukul wajah orang Yahudi ketika dia berkata: Tidak, demi Dzat yang memilih Musa atas manusia, mungkin terjadi dalam jiwa orang-orang yang menyaksikan itu penghinaan terhadap Nabi Musa alaihissalam, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaan dan kehormatannya. Dan firman Allah Taala: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilihmu (melebihkan kamu) dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku,” artinya pada zaman itu, bukan sebelumnya, karena Ibrahim Al-Khalil lebih utama darinya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam kisah Ibrahim, dan bukan sesudahnya, karena Muhammad shallallahu alaihi wasallam lebih utama dari keduanya, sebagaimana terlihat kehormatannya pada malam Isra atas semua rasul dan nabi, dan sebagaimana tetap bahwa beliau bersabda: Aku akan berdiri pada suatu kedudukan yang semua makhluk menginginkanku termasuk Ibrahim. Dan firman Allah Taala: “Sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur,” artinya: maka ambillah apa yang Aku berikan kepadamu dari risalah dan pembicaraan, dan jangan meminta tambahan darinya, dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur atas itu.

Allah Taala berfirman: Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Dan luh-luh itu dari permata yang mulia. Maka dalam Shahih bahwa Allah menulis untuknya Taurat dengan tangan-Nya, dan di dalamnya ada nasihat dari perbuatan dosa, dan penjelasan untuk semua yang mereka butuhkan dari yang halal dan haram, hudud, dan hukum-hukum. “Berpeganglah kepadanya dengan teguh,” artinya: dengan tekad dan niat yang tulus yang kuat. “Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya,” artinya: menempatkannya pada sisi terbaik dan pembawaan terindahnya. “Nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik,” artinya: kalian akan melihat akibat orang-orang yang keluar dari ketaatan-Ku, yang melanggar perintah-Ku, yang mendustakan rasul-rasul-Ku. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku,” artinya: dari memahaminya, merenungkannya, dan memikirkan maknanya yang Aku kehendaki darinya dan ditunjukkan oleh maksudnya. “Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya,” artinya: walaupun mereka menyaksikan apa pun yang mereka saksikan dari keajaiban dan mukjizat, mereka tidak tunduk untuk mengikutinya. “Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (mau) menempuhnya,” artinya: tidak menempuhnya dan tidak mengikutinya. “Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menekuninya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami,” artinya: Kami memalingkan mereka dari itu karena pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Kami, dan kealpaan mereka darinya, dan berpaling dari membenarkannya, berpikir tentang maknanya, dan meninggalkan amal dengan maksudnya. “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan (mendustakan) menemui (Kami di) akhirat, maka hapuslah amal perbuatan mereka. Mereka tidak diberi pembalasan, kecuali (sesuai) dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Kisah Penyembahan Mereka terhadap Anak Sapi ketika Kaliimullah Musa Tidak Berada di Tengah Mereka

Allah Yang Mahatinggi berfirman: Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa, mereka membuat dari perhiasan-perhiasan emas mereka anak lembu, yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak melihat bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya sebagai sembahan dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan setelah mereka menyesal dan melihat bahwa sesungguhnya mereka telah sesat, berkatalah mereka: “Sesungguhnya jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi.” Dan tatkala Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan loh-loh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” Musa berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahan) kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka, dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertobat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan setelah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) loh-loh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (Surah Al-A’raf: 148-154)

Dan Allah Yang Mahatinggi berfirkan: “Dan mengapa kamu datang bergegas mendahului kaummu, hai Musa?” Musa menjawab: “Mereka itu di belakangku mengikuti jejakku dan aku bersegera kepada-Mu ya Tuhanku agar Engkau ridha.” Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” Maka kembalilah Musa kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati. Berkatalah Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu ataukah kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?” Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum (Fir’aun), maka kami melemparkannya ke dalam api, maka demikian pula Samiri melemparkannya.” Maka Samiri mengeluarkan untuk mereka seekor anak lembu yang bertubuh dan bersuara, lalu mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” Maka apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa anak lembu itu tidak dapat memberikan jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa memberikan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada mereka? Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelum (kembalinya Musa): “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatlah perintahku.” Mereka berkata: “Kami akan tetap menyembahnya dengan tekun sampai Musa kembali kepada kami.” Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, bahwa kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab: “Hai anak ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan mengatakan: ‘Kamu telah memecah belah Bani Israil dan kamu tidak memelihara perkataanku.'” Berkata Musa: “Maka apakah urusanmu hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku melihat apa yang mereka tidak melihatnya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia (hanya dapat) mengatakan: ‘Jangan menyentuh (aku).’ Dan sesungguhnya bagimu suatu waktu (untuk menerima azab) yang tidak akan dapat kamu ingkari, dan lihatlah Tuhanmu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami akan menghamburkannya ke dalam laut yang bergelombang. Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Surah Thaha: 83-98)

Allah Yang Mahatinggi menyebutkan tentang apa yang terjadi pada Bani Israil, ketika Musa pergi ke tempat perjanjian dengan Tuhannya. Ia tinggal di Gunung Thur bermunajat dengan Tuhannya, dan Musa bertanya kepada-Nya tentang banyak hal, dan Allah Yang Mahatinggi menjawabnya. Lalu seorang laki-laki dari mereka yang bernama As-Samiri mengambil perhiasan yang telah mereka pinjam dan membentuknya menjadi anak sapi, dan melemparkan ke dalamnya segenggam tanah yang ia ambil dari jejak kuda Jibril, ketika ia melihatnya pada hari Allah menenggelamkan Fir’aun melalui tangannya. Maka ketika ia melemparkannya ke dalam anak sapi itu, ia pun bersuara seperti suara anak sapi yang sesungguhnya. Ada yang mengatakan bahwa ia berubah menjadi anak sapi yang bertubuh, yaitu menjadi daging dan darah, hidup dan bersuara. Demikian dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Ada yang mengatakan bahwa angin jika masuk dari duburnya keluar dari mulutnya sehingga bersuara seperti suara sapi, maka mereka menari di sekitarnya dengan gembira. Lalu mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa,” yaitu Musa lupa akan Tuhannya di sisi kita dan pergi mencari-Nya, padahal Dia ada di sini. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sangat besar, dan Mahasuci nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta nikmat-nikmat-Nya dan karunia-Nya berlipat ganda.

Allah Yang Mahatinggi berfirman menjelaskan kepada mereka kebatilan apa yang mereka yakini dan apa yang mereka jadikan sandaran, yaitu ketuhanan benda ini yang paling tinggi derajatnya hanyalah sebagai hewan yang bodoh dan setan yang terkutuk: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa anak lembu itu tidak dapat memberikan jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa memberikan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada mereka?” Dan Allah berfirman: “Apakah mereka tidak melihat bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya sebagai sembahan dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” Maka disebutkan bahwa hewan ini tidak berbicara, tidak membalas jawaban, tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat, dan tidak memberi petunjuk kepada yang benar. Mereka menjadikannya sebagai sembahan padahal mereka zalim terhadap diri mereka sendiri, mengetahui dalam diri mereka kebatilan apa yang mereka yakini berupa kebodohan dan kesesatan. Dan setelah mereka menyesal, yaitu menyesali apa yang mereka lakukan, dan melihat bahwa sesungguhnya mereka telah sesat, berkatalah mereka: “Sesungguhnya jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Dan tatkala Musa kembali kepada mereka dan melihat apa yang mereka lakukan yaitu penyembahan terhadap anak sapi, sementara bersamanya ada loh-loh yang berisi Taurat, ia melemparkannya. Ada yang mengatakan bahwa ia memecahkannya. Demikian pula menurut Ahli Kitab, dan bahwa Allah menggantinya dengan yang lain. Namun dalam lafaz Al-Quran tidak ada yang menunjukkan hal itu, kecuali bahwa ia melemparkannya ketika menyaksikan apa yang ia saksikan. Menurut Ahli Kitab, keduanya adalah dua loh. Sedangkan zhahir Al-Quran adalah bahwa loh-loh itu banyak dan beragam. Musa tidak terpengaruh hanya dengan berita dari Allah Yang Mahatinggi tentang penyembahan anak sapi, maka Allah memerintahkannya untuk menyaksikan hal itu secara langsung. Oleh karena itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berita tidak sama dengan menyaksikan langsung.”

Kemudian Musa mendatangi mereka, mencela mereka, menegur mereka, dan menganggap buruk perbuatan mereka yang keji ini. Mereka pun memberikan alasan kepadanya dengan alasan yang tidak benar. Mereka berkata: “Kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum (Fir’aun), maka kami melemparkannya ke dalam api, maka demikian pula Samiri melemparkannya.” Mereka merasa berdosa memiliki perhiasan keluarga Fir’aun, padahal mereka adalah ahli perang, dan Allah telah memerintahkan mereka untuk mengambilnya dan menghalalkannya bagi mereka. Namun mereka tidak merasa berdosa dengan kebodohan mereka, sedikitnya ilmu dan akal mereka, untuk menyembah anak sapi yang bertubuh dan bersuara bersama Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Mandiri, dan Maha Perkasa.

Kemudian ia menghadap saudaranya Harun, keduanya ‘alaihimassalam, sambil berkata kepadanya: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, bahwa kamu tidak mengikuti aku?” Yaitu, mengapa ketika kamu melihat apa yang mereka lakukan, kamu tidak mengikutiku dan memberitahuku tentang apa yang mereka perbuat? Harun berkata: “Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan mengatakan: ‘Kamu telah memecah belah Bani Israil,'” yaitu kamu meninggalkan mereka dan datang kepadaku, padahal kamu telah mengangkatku sebagai penggantimu di tengah-tengah mereka. “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Harun telah melarang mereka dari perbuatan buruk ini dengan larangan yang sangat keras, dan mencegah mereka darinya dengan pencegahan yang paling sempurna. Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelum (kembalinya Musa): ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan’ yaitu sesungguhnya Allah menakdirkan urusan anak sapi ini dan menjadikannya bersuara sebagai ujian dan cobaan bagi kalian. ‘Dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Pemurah’ yaitu bukan anak sapi ini. ‘Maka ikutilah aku’ yaitu dalam apa yang aku katakan kepada kalian. ‘Dan taatlah perintahku.’ Mereka berkata: ‘Kami akan tetap menyembahnya dengan tekun sampai Musa kembali kepada kami.'” Allah memberikan kesaksian untuk Harun, dan cukuplah Allah sebagai saksi, bahwa ia telah melarang dan mencegah mereka dari hal itu, namun mereka tidak menaatinya dan tidak mengikutinya.

Kemudian Musa menghadap Samiri: “Maka apakah urusanmu hai Samiri?” Yaitu, apa yang mendorongmu melakukan apa yang kamu lakukan? “Aku melihat apa yang mereka tidak melihatnya,” yaitu aku melihat Jibril yang menunggangi kuda. “Maka aku ambil segenggam dari jejak rasul,” yaitu dari jejak kuda Jibril. Sebagian mereka menyebutkan bahwa ia melihatnya, dan bahwa setiap kali kuku kakinya menginjak suatu tempat, tempat itu menghijau dan berumput. Maka ia mengambil dari jejak kukunya. Ketika ia melemparkannya ke dalam anak sapi yang terbuat dari emas ini, terjadilah apa yang terjadi. Oleh karena itu ia berkata: “Lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia (hanya dapat) mengatakan: ‘Jangan menyentuh (aku).'” Ini adalah doa agar ia tidak menyentuh siapa pun sebagai hukuman atas sentuhan terhadap apa yang tidak seharusnya ia sentuh. Ini adalah hukuman baginya di dunia. Kemudian Allah mengancamnya di akhirat dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya bagimu suatu waktu (untuk menerima azab) yang tidak akan dapat kamu ingkari.” Ada yang membacanya: “yang tidak akan Kami ingkari.”

“Dan lihatlah Tuhanmu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami akan menghamburkannya ke dalam laut yang bergelombang.” Disebutkan bahwa Musa melakukan hal itu terhadap anak sapi ini, membakarnya. Ada yang mengatakan dengan api, sebagaimana dikatakan Qatadah dan lainnya. Ada yang mengatakan dengan kikir, sebagaimana dikatakan Ali, Ibnu Abbas, dan lainnya. Ini adalah nash Ahli Kitab. Kemudian ia menghamburkannya di laut, dan memerintahkan Bani Israil untuk meminumnya. Barang siapa yang menyembahnya, maka pada bibirnya melekat abu tersebut yang menunjukkan hal itu. Ada yang mengatakan bahwa warna mereka menjadi kuning.

Kemudian Allah Yang Mahatinggi berfirman sebagai berita dari Musa bahwa ia berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”

Dan Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahan) kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka, dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” Dan demikianlah yang terjadi. Sebagian salaf berkata: “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan” adalah ketetapan bagi setiap pelaku bid’ah hingga Hari Kiamat.

Kemudian Allah Yang Mahatinggi memberitakan tentang kelembutan dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, dan kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dalam menerima tobat orang yang bertobat kepada-Nya dengan menerima tobat mereka. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertobat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Namun Allah tidak menerima tobat penyembah anak sapi kecuali dengan dibunuh, sebagaimana firman Allah Yang Mahatinggi: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.'” (Surah Al-Baqarah: 54)

Disebutkan bahwa pada suatu pagi, orang-orang yang tidak menyembah anak sapi mengambil pedang di tangan mereka, dan Allah menurunkan kabut kepada mereka sehingga orang dekat tidak mengenali orang dekatnya, dan kerabat tidak mengenali kerabatnya. Kemudian mereka menyerang para penyembah anak sapi dan membunuh mereka serta memusnahkan mereka. Disebutkan bahwa mereka membunuh dalam satu pagi sebanyak tujuh puluh ribu orang.

Kemudian Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Dan setelah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) loh-loh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” Sebagian mereka berdalil dengan firman-Nya: “Dan dalam tulisannya” bahwa loh-loh itu pecah. Dalam pendalilan ini terdapat perdebatan, dan tidak ada dalam lafaz yang menunjukkan bahwa loh-loh itu pecah, wallahu a’lam.

Ibnu Abbas menyebutkan dalam hadits Futun, sebagaimana akan disebutkan nanti, bahwa penyembahan mereka terhadap anak sapi terjadi setelah mereka keluar dari laut, dan hal itu tidaklah jauh, karena ketika mereka keluar mereka berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.”

Demikian pula menurut Ahli Kitab, bahwa penyembahan mereka terhadap anak sapi terjadi sebelum kedatangan mereka di tanah Baitul Maqdis. Hal itu karena ketika mereka diperintahkan untuk membunuh siapa yang menyembah anak sapi, mereka membunuh pada hari pertama sebanyak tiga ribu orang. Kemudian Musa pergi memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mengampuni mereka dengan syarat bahwa mereka memasuki tanah yang suci.

“Dan Musa memilih dari kaumnya tujuh puluh orang untuk (memenuhi) janji yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.’ Allah berfirman: ‘Azab-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, (yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.'” (Surah Al-A’raf: 155-157)

As-Suddi, Ibnu Abbas, dan lainnya menyebutkan bahwa tujuh puluh orang ini adalah para ulama Bani Israil, bersama mereka ada Musa, Harun, Yusya’, Nadab, dan Abihu. Mereka pergi bersama Musa untuk meminta maaf atas nama Bani Israil dalam penyembahan anak sapi yang dilakukan oleh sebagian dari mereka. Mereka telah diperintahkan untuk memakai wewangian, bersuci, dan mandi. Ketika mereka pergi bersamanya dan mendekati gunung yang di atasnya ada awan dan tiang cahaya yang terang, Musa naik ke gunung. Bani Israil menyebutkan bahwa mereka mendengar kalam Allah. Hal ini disetujui oleh sekelompok mufassirin, dan mereka memahaminya sebagai maksud firman Allah Yang Mahatinggi: “Dan sungguh ada segolongan dari mereka yang mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahui.” (Surah Al-Baqarah: 75) Namun ini tidak mesti demikian, karena firman Allah Yang Mahatinggi: “Maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman Allah,” yaitu yang disampaikan. Demikian pula orang-orang ini mendengarnya yang disampaikan oleh Musa.

Mereka juga mengklaim bahwa tujuh puluh orang itu melihat Allah. Ini adalah kesalahan dari mereka, karena ketika mereka meminta untuk melihat, mereka digoncang gempa, sebagaimana firman Allah Yang Mahatinggi: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,’ karena itu kamu disambar petir, sedang kamu menyaksikannya. Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, agar kamu bersyukur.” (Surah Al-Baqarah: 55-56)

Dan Allah berfirman di sini: “Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.'” Ayat ini.

Muhammad bin Ishaq berkata: Musa memilih dari Bani Israil tujuh puluh orang, yang terbaik dari yang terbaik, dan berkata: “Pergilah kepada Allah, bertobatlah kepada-Nya dari apa yang kalian lakukan, dan mintalah tobat untuk orang-orang yang kalian tinggalkan dari kaum kalian. Berpuasalah, bersuci, dan bersihkan pakaian kalian.” Maka ia keluar bersama mereka ke Gunung Thur Sina untuk waktu yang telah ditentukan oleh Tuhannya, dan ia tidak datang kepadanya kecuali dengan izin dan ilmu dari-Nya. Tujuh puluh orang itu meminta agar mereka dapat mendengar kalam Allah, maka Musa berkata: “Akan kulakukan.” Ketika Musa mendekati gunung, tiang awan turun di atasnya hingga menutupi seluruh gunung, dan Musa mendekat lalu masuk ke dalam awan, dan berkata kepada kaum: “Mendekatlah.” Musa, ketika Allah berbicara dengannya, pada dahinya terpancar cahaya yang terang, tidak ada seorang pun dari anak Adam yang mampu melihatnya, maka direntangkanlah tirai di bawahnya. Kaum itu mendekat hingga ketika mereka masuk ke dalam awan, mereka bersujud. Mereka mendengar Allah berbicara kepada Musa, memerintah dan melarang: lakukan dan jangan lakukan. Ketika Allah selesai dari perintah-Nya dan awan tersingkap dari Musa, ia menghadap mereka. Mereka berkata kepada Musa: “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” maka mereka disambar petir – yaitu petir – maka jiwa-jiwa mereka tercabut dan mereka semua mati. Maka Musa berdiri memohon kepada Tuhannya, berdoa kepada-Nya, dan meminta kepada-Nya, sambil berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?” Yaitu: jangan menghukum kami karena perbuatan orang-orang bodoh yang menyembah anak sapi dari kalangan kami, sesungguhnya kami berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Juraij berkata: Sesungguhnya mereka digoncang gempa karena mereka tidak melarang kaum mereka dari penyembahan anak sapi.

Firman-Nya: “Itu hanyalah cobaan dari Engkau,” yaitu ujian, cobaan, dan ujian dari-Mu. Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Abul ‘Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, dan tidak hanya satu dari ulama salaf dan khalaf. Maksudnya: Engkaulah yang menakdirkan ini, dan menciptakan apa yang terjadi dari urusan anak sapi, sebagai ujian yang dengannya Engkau menguji mereka, sebagaimana Harun berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengannya,” yaitu diuji dengannya.

Oleh karena itu Dia berfirman: “Dengan itu Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki” (Surah Al-A‘raf ayat 155), yaitu siapa yang Engkau kehendaki Engkau sesatkan melalui ujian yang Engkau berikan kepadanya, dan siapa yang Engkau kehendaki Engkau beri petunjuk. Milik-Mu segala hukum dan kehendak; tidak ada yang dapat menghalangi dan tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau tetapkan dan Engkau putuskan.

“Engkau adalah Pelindung kami, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami, dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi ampun” (Surah Al-A‘raf ayat 155).

Dan tuliskanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami telah bertobat kepada-Mu” artinya: kami telah bertobat kepada-Mu, kembali dan menghadap kepada-Mu. Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Abul Aliyah, Ibrahim At-Taimi, Ad-Dhahhak, As-Suddi, Qatadah, dan lebih dari satu orang, dan demikian pula dalam bahasa Arab.

Allah berfirman: “Azab-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”, artinya: Aku menyiksa siapa yang Aku kehendaki dengan berbagai perkara yang Aku ciptakan dan Aku takdirkan, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu sebagaimana yang telah tetap dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ketika selesai menciptakan langit dan bumi, menulis sebuah catatan, dan catatan itu berada di sisi-Nya di atas Arasy: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.'”

“Maka akan Aku tetapkan (rahmat-Ku) untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” Artinya: Maka Aku akan mewajibkannya secara pasti bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini, “(yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi…” sampai akhir ayat. Dan dalam ayat ini terdapat penyebutan yang mulia tentang Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan umatnya dari Allah Taala kepada Musa alaihissalam dalam rangkaian dialog yang Allah sampaikan kepadanya, dan yang Allah beritahukan serta perlihatkan kepadanya. Dan kami telah membahas ayat ini dan ayat-ayat setelahnya dalam Kitab Tafsir dengan pembahasan yang cukup dan memuaskan, dan segala puji bagi Allah dan nikmat-Nya.

Dan Qatadah berkata: Musa berkata: “Wahai Tuhanku, aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat yang terbaik dari umat-umat yang dilahirkan untuk manusia, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Wahai Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, mereka adalah yang terakhir dalam penciptaan, namun yang terdahulu dalam memasuki surga. Wahai Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, Injil-injil mereka ada di dalam dada mereka, mereka membacanya, sedangkan orang-orang sebelum mereka membaca kitab mereka dengan melihat, sehingga ketika mereka mengangkatnya mereka tidak menghafal sesuatu pun dan tidak mengetahuinya. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada kalian wahai umat ini, dari segi hafalan sesuatu yang tidak diberikan kepada satu umat pun dari umat-umat lain.” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, mereka beriman kepada Kitab yang pertama dan Kitab yang terakhir, dan mereka memerangi kesesatan yang berlebihan, hingga mereka memerangi si Dajjal yang pendusta, maka jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, sedekah-sedekah mereka mereka makan dalam perut mereka, dan mereka mendapat pahala atasnya. Sedangkan orang-orang sebelum mereka apabila bersedekah dengan suatu sedekah lalu diterima darinya, Allah mengirim api ke atasnya lalu memakannya, dan jika ditolak maka ditinggalkan lalu dimakan oleh binatang buas dan burung. Dan sesungguhnya Allah mengambil sedekah-sedekah kalian dari orang kaya kalian untuk orang fakir kalian.” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, apabila salah seorang dari mereka berniat untuk berbuat kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka dituliskan untuknya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dituliskan untuknya sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat.” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Musa berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menemukan dalam Lauh-lauh suatu umat, mereka adalah para pemberi syafaat dan yang diberi syafaat, maka jadikanlah mereka umatku.” Allah berfirman: “Itu adalah umat Ahmad.”

Qatadah berkata kepada kami: Lalu disebutkan kepada kami bahwa Musa alaihissalam melemparkan Lauh-lauh tersebut dan berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku dari umat Ahmad.”

Dan banyak orang telah menyebutkan apa yang terjadi dari dialog rahasia Musa alaihissalam, dan mereka menyebutkan banyak hal yang tidak memiliki dasar, dan kami akan menyebutkan apa yang mudah untuk disebutkan dari hadits-hadits dan atsar-atsar, dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya, serta kebaikan petunjuk-Nya, bantuan-Nya dan dukungan-Nya.

Al-Hafizh Abu Hatim, Muhammad bin Hatim bin Hibban berkata dalam kitab Shahihnya: Penyebutan pertanyaan Kaliimullah (Musa yang berbicara dengan Allah) kepada Tuhannya Azza wa Jalla tentang penduduk surga yang paling rendah dan yang paling tinggi kedudukannya: Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Said At-Thaai di Manbij, telah menceritakan kepada kami Hamid bin Yahya Al-Balkhi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Mutharrif bin Tharif dan Abdul Malik bin Abjar – dua orang syaikh yang saleh – kami mendengar Asy-Syabi berkata: Aku mendengar Al-Mughirah bin Syubah berkata di atas mimbar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: *”Sesungguhnya Musa alaihissalam bertanya kepada Tuhannya Azza wa Jalla: Siapakah di antara penduduk surga yang paling rendah kedudukannya? Allah berfirman: ‘Seorang laki-laki yang datang setelah penduduk surga memasuki surga, lalu dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga.’ Maka dia berkata: ‘Bagaimana aku masuk surga padahal orang-orang telah menempati tempat-tempat mereka dan mengambil bagian-bagian mereka?’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau rela jika engkau memiliki dari surga seperti apa yang dimiliki oleh seorang raja dari raja-raja dunia?’ Maka dia berkata: ‘Ya, wahai Tuhanku.’ Lalu dikatakan: ‘Bagimu ini, dan sepertinya, dan sepertinya.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku ridha.’ Lalu dikatakan: ‘Sesungguhnya bagimu ini dan sepuluh kali lipatnya.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku ridha.’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bagimu dengan ini apa yang jiwamu inginkan dan matamu senang.’ Dan Musa bertanya kepada Tuhannya: ‘Siapakah di antara penduduk surga yang paling tinggi kedudukannya?’ Allah berfirman: ‘Aku akan menceritakan kepadamu tentang mereka, Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri, dan Aku memeteraikannya, maka tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada telinga yang pernah mendengar, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.’ Dan pembenaran atas itu ada dalam Kitabullah Taala ‘Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata…’ sampai akhir ayat.”

Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi, keduanya dari Ibnu Abi Umar, dari Sufyan, yaitu Ibnu Uyainah, dengan sanad ini, dan lafazh Muslim: “Lalu dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau ridha jika engkau memiliki seperti kerajaan seorang raja dari raja-raja dunia?’ Maka dia berkata: ‘Aku ridha, wahai Tuhanku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Bagimu itu dan sepertinya dan sepertinya dan sepertinya dan sepertinya.’ Maka dia berkata pada yang kelima: ‘Aku ridha, wahai Tuhanku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Ini bagimu dan sepuluh kali lipatnya, dan bagimu apa yang jiwamu inginkan dan matamu senang.’ Maka dia berkata: ‘Aku ridha, wahai Tuhanku.’ Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, maka yang paling tinggi kedudukan mereka?’ Allah berfirman: ‘Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki, Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku, dan Aku memeteraikanya, maka tidak pernah melihat mata, tidak pernah mendengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.'” Dan dia berkata: “Dan pembenaran atas itu dari Kitabullah: ‘Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.'”

Dan At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih. Dia berkata: Sebagian dari mereka meriwayatkannya dari Asy-Syabi, dari Al-Mughirah, dan tidak men-marfu-kannya, dan yang marfu lebih shahih.

Dan Ibnu Hibban berkata: Penyebutan pertanyaan Al-Kaliim kepada Tuhannya tentang tujuh perkara: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Sallam, di Baitul Maqdis, telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Amr bin Al-Harits, bahwa Abu As-Samh menceritakan kepadanya dari Ibnu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Musa bertanya kepada Tuhannya Azza wa Jalla tentang enam perkara yang dia kira khusus untuknya, dan yang ketujuh Musa tidak menyukainya. Dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling bertakwa?’ Allah berfirman: ‘Yang mengingat dan tidak lupa.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?’ Allah berfirman: ‘Yang mengikuti petunjuk.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling bijaksana?’ Allah berfirman: ‘Yang memutuskan untuk orang-orang sebagaimana dia memutuskan untuk dirinya sendiri.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling berilmu?’ Allah berfirman: ‘Orang berilmu yang tidak puas dengan ilmu, yang mengumpulkan ilmu orang-orang kepada ilmunya.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling mulia?’ Allah berfirman: ‘Yang apabila berkuasa dia memaafkan.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling kaya?’ Allah berfirman: ‘Yang rela dengan apa yang diberikan.’ Musa berkata: ‘Maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling fakir?’ Allah berfirman: ‘Pemilik yang kekurangan.'” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan jiwa. Dan apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menjadikan kekayaannya dalam jiwanya, dan ketakwaannya dalam hatinya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menjadikan kefakirannya di antara kedua matanya.”

Ibnu Hibban berkata: Ucapan-Nya: “Pemilik yang kekurangan” maksudnya adalah orang yang keadaannya kurang, dia menganggap sedikit apa yang diberikan, dan dia mencari kelebihan.

Dan hal ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab Tarikhnya, dari Ibnu Humaid, dari Yaqub Al-Qummi, dari Harun bin Antarah, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Musa bertanya kepada Tuhannya Azza wa Jalla, lalu dia menyebutkan seperti itu, dan di dalamnya: Musa berkata: “Wahai Tuhanku, maka siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah berfirman: “Yang mencari ilmu orang-orang kepada ilmunya, semoga dia mendapatkan suatu kalimat yang membimbingnya kepada petunjuk, atau mengembalikannya dari kehancuran.” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, apakah ada di bumi ini seseorang yang lebih berilmu dariku?” Allah berfirman: “Ya, Khidir.” Maka dia meminta jalan untuk menemuinya, lalu terjadilah apa yang akan kami sebutkan setelah ini, insya Allah Taala dan kepada-Nya lah kepercayaan.

Penyebutan Hadits Lain dengan Makna Seperti yang Disebutkan oleh Ibnu Hibban

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhaiah, dari Darraj, dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Said Al-Khudri, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang mukmin dibatasi dalam kehidupan dunia.’ Lalu dibukakan untuknya pintu dari surga, maka dia melihatnya. Allah berfirman: ‘Wahai Musa, inilah yang Aku sediakan untuknya.’ Maka Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, demi keagungan-Mu dan kemuliaan-Mu, seandainya dia tanpa tangan dan kaki, diseret dengan wajahnya sejak hari Engkau menciptakannya hingga hari kiamat, dan ini adalah tujuannya, maka dia tidak pernah melihat kesengsaraan sama sekali.’ Kemudian Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang kafir dilapangkan untuknya dalam kehidupan dunia.’ Lalu dibukakan untuknya pintu ke neraka, maka Allah berfirma: ‘Wahai Musa, inilah yang Aku sediakan untuknya.’ Maka Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, demi keagungan-Mu dan kemuliaan-Mu, seandainya dia memiliki dunia sejak hari Engkau menciptakannya hingga hari kiamat, dan ini adalah tujuannya, maka dia tidak pernah melihat kebaikan sama sekali.'” Diriwayatkan sendiri oleh Ahmad dengan cara ini, dan dalam keshahihannya ada pertimbangan, wallahu alam.

Dan Ibnu Hibban berkata: Penyebutan pertanyaan Kaliimullah kepada Tuhannya Jalla wa Ala agar mengajarkannya sesuatu untuk mengingat-Nya dengannya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Sallam, telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Amr bin Al-Harits, bahwa Darraj menceritakan kepadanya, dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Said, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku ingat Engkau dengannya dan aku berdoa kepada-Mu dengannya.’ Allah berfirman: ‘Katakanlah wahai Musa: Laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah).’ Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, semua hamba-Mu mengatakan ini.’ Allah berfirman: ‘Katakanlah: Laa ilaaha illallah.’ Musa berkata: ‘Sesungguhnya aku menginginkan sesuatu yang Engkau khususkan untukku.’ Allah berfirman: ‘Wahai Musa, seandainya penduduk tujuh langit dan tujuh bumi di satu timbangan, dan Laa ilaaha illallah di timbangan lainnya, niscaya Laa ilaaha illallah akan lebih berat daripada mereka.'”

Dan hadits ini disaksikan oleh hadits Al-Bithaqah (kartu). Dan yang paling dekat dengan maknanya adalah hadits yang diriwayatkan dalam Sunan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah: ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli syai-in qadiir (Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).'”

Dan Ibnu Abi Hatim berkata, ketika menafsirkan ayat Kursi: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Qasim bin Athiyyah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman Ad-Dasyataki, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Asyats bin Ishaq, dari Jafar bin Abi Al-Mughirah, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Bani Israil berkata kepada Musa: “Apakah Tuhanmu tidur?” Musa berkata: “Bertakwalah kepada Allah.” Maka Tuhannya memanggil dia: “Wahai Musa, mereka bertanya kepadamu apakah Tuhanmu tidur, maka ambillah dua botol di kedua tanganmu dan berdirilah di malam hari.” Maka Musa melakukannya, dan ketika berlalu sepertiga malam, dia mengantuk lalu jatuh ke lututnya, kemudian dia bangkit, lalu dia menahannya hingga ketika akhir malam dia mengantuk, maka jatuh lah kedua botol tersebut dan pecah. Maka Allah berfirman: “Wahai Musa, seandainya Aku tidur, niscaya jatuh lah langit dan bumi, lalu binasa sebagaimana binasanya dua botol di tanganmu.” Dia berkata: “Dan Allah menurunkan kepada Rasul-Nya ayat Kursi.”

Dan Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Abi Israil, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf, dari Umayyah bin Syibl, dari Al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan tentang Musa alaihissalam di atas mimbar, dia berkata: “Terlintas dalam diri Musa alaihissalam, apakah Allah Azza wa Jalla tidur? Maka Allah mengutus malaikat kepadanya, lalu membuatnya terjaga selama tiga hari, kemudian memberikan kepadanya dua botol, di setiap tangan ada botol, dan memerintahkannya agar menjaganya.” Dia berkata: “Maka dia mulai mengantuk, dan hampir kedua tangannya bertemu lalu dia terbangun, maka dia menahan salah satunya dengan yang lain, hingga dia tidur, maka kedua tangannya bertepuk dan pecah lah kedua botol tersebut.” Dia berkata: “Allah memberikan perumpamaan untuknya bahwa seandainya Dia tidur, maka tidak akan tetap langit dan bumi.” Dan ini adalah hadits yang gharib (asing) karena dirafa-kannya, dan yang lebih tepat adalah mauquf, dan sepertinya asalnya adalah israiliyyat.

Dan Allah Taala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil perjanjian dari kalian dan Kami angkat gunung di atas kalian (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah apa yang Kami berikan kepada kalian dengan kuat dan ingatlah apa yang ada di dalamnya agar kalian bertakwa.’ Kemudian kalian berpaling setelah itu. Maka kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Baqarah: 63-64). Dan Allah Taala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat gunung di atas mereka seakan-akan gunung itu naungan awan dan mereka yakin bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman): ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kalian bertakwa.'” (QS. Al-Araf: 171).

Ibnu Abbas dan lebih dari satu orang dari salaf berkata: Ketika Musa mendatangi mereka dengan Lauh-lauh yang berisi Taurat, dia memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mengambilnya dengan kuat dan tekad, maka mereka berkata: “Bentangkanlah untuknya kepada kami, jika perintah-perintah dan larangan-larangannya mudah, kami akan menerimanya.” Maka Musa berkata: “Bahkan terimalah dengan apa yang ada di dalamnya.” Maka mereka mengulangi kepadanya beberapa kali. Lalu Allah memerintahkan para malaikat maka mereka mengangkat gunung di atas kepala mereka, hingga menjadi seakan-akan naungan, yaitu awan di atas kepala mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Jika kalian tidak menerimanya dengan apa yang ada di dalamnya, maka gunung ini akan jatuh menimpa kalian.” Maka mereka menerimanya, dan diperintahkan untuk sujud lalu mereka sujud, maka mereka melihat kepada gunung dengan sisi wajah mereka, maka jadilah itu sunnah bagi orang-orang Yahudi hingga hari ini, mereka berkata: “Tidak ada sujud yang lebih agung dari sujud yang mengangkat adzab dari kami.”

Dan Sunaid bin Daud berkata, dari Hajjaj bin Muhammad, dari Abu Bakar bin Abdullah, dia berkata: Ketika dia membentangkannya, tidak tersisa di muka bumi gunung, pohon, maupun batu melainkan bergetar. Maka tidak ada di muka bumi orang Yahudi kecil atau besar yang dibacakan kepadanya Taurat melainkan bergetar dan menggelengkan kepalanya.

Allah Taala berfirman: “Kemudian kamu berpaling setelah itu” artinya; kemudian setelah menyaksikan perjanjian yang agung ini, dan peristiwa yang besar, kalian melanggar janji-janji dan perjanjian-perjanjian kalian, “Maka seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian” dengan menjangkau kalian melalui pengiriman rasul-rasul kepada kalian, dan menurunkan Kitab kepada kalian, “niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi.”

Kisah Sapi Betina Bani Israil

Allah Taala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu menjadikan kami bulan-bulanan?’ Dia menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh.’ Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina yang mana?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.’ Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’ Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk mendapatkan sapi itu).’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.’ Mereka berkata: ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.’ Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. Dan (ingatlah), ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman: ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar kalian memahaminya.” (Surah Al-Baqarah: 67-73)

Ibnu Abbas, Ubaidah As-Salmani, Abu Al-Aliyah, Mujahid, As-Suddi, dan tidak hanya satu orang dari kalangan salaf berkata: Ada seorang laki-laki di kalangan Bani Israil yang banyak hartanya, dan dia adalah seorang syaikh yang sudah tua dan dia memiliki anak-anak saudaranya, dan mereka berharap dia mati agar mereka mewarisinya, maka salah seorang dari mereka dengan sengaja membunuhnya di malam hari, dan melemparkannya di persimpangan jalan-jalan, dan ada yang mengatakan: di depan pintu rumah salah seorang dari mereka. Ketika pagi hari orang-orang berselisih tentangnya, dan datanglah anak saudaranya, lalu dia berteriak dan mengadukan ketidakadilan. Maka mereka berkata: Mengapa kalian berselisih dan tidak mendatangi Nabi Allah, maka datanglah anak saudaranya dan mengadukan urusan pamannya kepada Rasulullah Musa alaihis salam. Maka Musa alaihis salam berkata: Aku menyumpah seseorang dengan Allah yang memiliki pengetahuan tentang urusan korban terbunuh ini, selain memberitahu kami tentangnya. Maka tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki pengetahuan, dan mereka memintanya untuk memohonkan dalam perkara ini kepada Tuhannya Azza wa Jalla, maka dia memohon kepada Tuhannya Azza wa Jalla tentang hal itu, lalu Allah memerintahkannya untuk memerintahkan mereka menyembelih sapi betina, maka dia berkata: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina. Mereka berkata: Apakah kamu menjadikan kami bulan-bulanan artinya; kami bertanya kepadamu tentang urusan korban terbunuh ini, dan kamu berkata demikian. Dia menjawab: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh artinya; aku berlindung kepada Allah agar aku mengatakan tentang-Nya selain apa yang Dia wahyukan kepadaku. Dan inilah yang menjawab aku ketika kalian memintaku tentang apa yang kalian minta aku memohonkannya untuk itu. Ibnu Abbas, Ubaidah, Mujahid, Ikrimah, As-Suddi, Abu Al-Aliyah, dan tidak hanya satu orang berkata: Seandainya mereka dengan sengaja menyembelih sapi betina mana saja, maka akan tercapai maksud darinya, tetapi mereka mempersulit maka Allah mempersulit mereka. Dan sesungguhnya telah datang padanya hadits yang marfu’, dan dalam sanadnya ada kelemahan, lalu mereka bertanya tentang sifatnya, kemudian tentang warnanya kemudian tentang umurnya, maka dijawab dengan apa yang sulit ditemukan bagi mereka, dan sungguh telah kami sebutkan dalam tafsir semua itu dalam kitab Tafsir.

Dan maksudnya bahwa mereka diperintahkan menyembelih sapi betina pertengahan; dan itulah yang pertengahan antara setengah tua, yaitu yang besar, dan yang muda, yaitu yang kecil. Demikian kata Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Al-Aliyah, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, dan sejumlah orang. Kemudian mereka mempersulit, dan mempersempit terhadap diri mereka sendiri, maka mereka bertanya tentang warnanya, lalu mereka diperintahkan dengan yang kuning tua warnanya, artinya campuran dengan kemerah-merahan, menyenangkan orang-orang yang memandangnya, dan warna ini langka. Kemudian mereka mempersulit juga maka berkata: Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk mendapatkan sapi itu). Maka dalam hadits marfu’, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Mardawaih: Seandainya Bani Israil tidak beristitsna (tidak mengatakan insya Allah) niscaya mereka tidak diberi dan dalam keshahihannya ada keraguan dan Allah lebih mengetahui. Dia menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. Dan sifat-sifat ini lebih sempit dari yang sebelumnya, dimana mereka diperintahkan menyembelih sapi betina, bukan yang jinak, dan itulah yang sudah dilatih dengan membajak dan mengairi tanah dengan alat pengangkut air, tidak bercacat; dan itulah yang sehat yang tidak ada cacat padanya. Demikian kata Abu Al-Aliyah, dan Qatadah. Dan firman-Nya: tidak ada belangnya artinya; tidak ada padanya warna yang menyalahi warnanya bahkan dia bebas dari cacat-cacat dan dari percampuran berbagai warna selain warnanya, maka ketika dia menentukan dengan sifat-sifat ini, dan membatasi dengan ciri-ciri dan sifat-sifat ini, mereka berkata: Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya dan dikatakan: Sesungguhnya mereka tidak menemukan sapi betina ini dengan sifat ini kecuali pada seorang laki-laki dari mereka, yang berbakti kepada bapaknya, maka mereka memintanya darinya, lalu dia menolak terhadap mereka, maka mereka merayu dia dengan harganya, hingga – mereka memberinya dalam apa yang disebutkan As-Suddi – dengan timbangan beratnya emas, maka dia menolak terhadap mereka hingga mereka memberinya dengan timbangan beratnya sepuluh kali lipat, maka dia menjualnya kepada mereka, lalu Nabi Allah Musa memerintahkan mereka menyembelihnya, maka mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu artinya; dan mereka ragu-ragu dalam urusannya. Kemudian dia memerintahkan mereka dari Allah untuk memukul korban terbunuh itu dengan sebagian darinya, ada yang mengatakan: dengan daging pahanya. Dan ada yang mengatakan: dengan tulang yang dekat dengan tulang rawan. Dan ada yang mengatakan: dengan sepotong (daging) yang antara dua tulang belikat, maka ketika mereka memukulnya dengan sebagian darinya Allah Taala menghidupkannya lalu dia berdiri dan urat nadinya mengucur darah, maka Nabi Allah bertanya kepadanya: Siapa yang membunuhmu? Dia berkata: Anak saudaraku yang membunuhku. Kemudian dia kembali menjadi mayat sebagaimana dia. Allah Taala berfirman: Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar kalian memahaminya artinya; sebagaimana kalian menyaksikan menghidupkan kembali korban terbunuh ini, atas perintah Allah kepadanya, demikianlah urusan-Nya pada seluruh orang mati, jika Dia menghendaki menghidupkan mereka maka Dia menghidupkan mereka dalam satu waktu, sebagaimana firman-Nya: Tidaklah menciptakan kalian dan tidak (pula) membangkitkan kalian melainkan seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja ayat (Surah Luqman: 28).

Kisah Musa dan Khidir, Alaihimas Shalatu was Salam

Allah Taala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’ Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’ Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Dia berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera dengan kekerasan. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Surah Al-Kahfi: 60-82)

Sebagian Ahli Kitab berkata: Sesungguhnya Musa ini yang melakukan perjalanan kepada Khidir, adalah Musa bin Misya bin Yusuf bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Dan mengikuti mereka pada hal itu sebagian orang yang mengambil dari lembaran-lembaran mereka, dan memindahkan dari kitab-kitab mereka, di antara mereka Nauf bin Fadhalah Al-Himyari Asy-Syami Al-Bakali, dan dikatakan: sesungguhnya dia orang Damaskus. Dan ibunya adalah istri Ka’ab Al-Ahbar. Dan yang benar yang ditunjukkan oleh lahirnya susunan Al-Quran, dan nash hadits shahih yang sharih yang disepakati, bahwa dia adalah Musa bin Imran, tokoh Bani Israil.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr bin Dinar, telah mengabarkan kepadaku Said bin Jubair, dia berkata: Aku berkata kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya Nauf Al-Bakali mengklaim bahwa Musa yang bersama Khidir bukan dia Musa tokoh Bani Israil. Ibnu Abbas berkata: Dusta musuh Allah; telah menceritakan kepada kami Ubay bin Ka’ab, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: _Sesungguhnya Musa berdiri menjadi khatib di Bani Israil, maka ditanya: Siapakah orang yang paling berilmu? Maka dia berkata: Aku. Maka Allah mencela dia; karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya, maka Allah mewahyukan kepadanya, sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba di pertemuan dua laut, dia lebih berilmu darimu. Musa berkata: Ya Rabb, dan bagaimana aku bisa menemuinya? Dia berkata: Kamu mengambil bersamamu seekor ikan lalu kamu menjadikannya dalam bakul maka di manapun kamu kehilangan ikan maka dia di sana. Maka dia mengambil ikan lalu menjadikannya di dalam bakul, kemudian dia pergi, dan pergi bersamanya muridnya Yusya’ bin Nun, hingga ketika keduanya sampai di batu, keduanya meletakkan kepala keduanya lalu tidur, dan ikan bergerak-gerak dalam bakul, maka keluar darinya lalu jatuh di laut, dan mengambil jalannya di laut sebagai lorong, dan Allah menahan dari ikan aliran air, maka terjadi atasnya seperti lengkungan, maka ketika dia bangun lupa temannya memberitahukan kepadanya tentang ikan, maka keduanya pergi sisa hari mereka dan malam mereka, hingga ketika hari berikutnya Musa berkata kepada muridnya: Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Dan tidak menemukan Musa kelelahan hingga melewati tempat yang Allah perintahkan kepadanya. Muridnya berkata kepadanya: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Dia berkata: Maka adalah bagi ikan lorong, dan bagi Musa dan muridnya keanehan. Dia berkata: Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Dia berkata: Maka keduanya kembali mengikuti jejak keduanya, hingga berakhir di batu, maka tiba-tiba seorang laki-laki tertutup dengan pakaian, maka Musa memberi salam kepadanya, maka Khidir berkata: Dan bagaimana di negerimu salam. Dia berkata: Aku Musa. Dia berkata: Musa Bani Israil? Dia berkata: Ya, aku datang kepadamu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk. Dia berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku, wahai Musa, sesungguhnya aku atas ilmu dari ilmu Allah yang Allah ajarkan kepadaku, kamu tidak mengetahuinya, dan kamu atas ilmu dari ilmu Allah yang Allah ajarkan kepadamu aku tidak mengetahuinya, maka Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun. Khidir berkata kepadanya: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. Maka berjalanlah keduanya berjalan di pantai laut, maka lewat perahu, maka mereka berbicara dengan mereka agar mereka membawa mereka maka mereka mengenali Khidir, maka mereka membawa keduanya tanpa bayaran, maka ketika keduanya menaiki perahu tidak terkejut kecuali dan Khidir telah mencabut papan dari papan-papan perahu dengan kapak, maka Musa berkata kepadanya: Kaum yang membawa kami tanpa bayaran, kamu dengan sengaja kepada perahu mereka lalu kamu melobanginya yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia berkata: Bukankah aku telah berkata: sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama aku. Musa berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Dia berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Dan adalah yang pertama dari Musa kelupaan. Dia berkata: Dan datang seekor burung pipit lalu hinggap di pinggir perahu lalu mematuk di laut satu patukan, maka Khidir berkata kepadanya: Tidaklah ilmuku dan ilmumu dalam ilmu Allah kecuali seperti apa yang dikurangi burung pipit ini dari laut ini. Kemudian keduanya keluar dari perahu, maka ketika keduanya berjalan di pantai, tiba-tiba Khidir melihat seorang anak kecil bermain bersama anak-anak kecil, maka Khidir mengambil kepalanya dengan tangannya lalu mencabutnya dengan tangannya lalu membunuhnya, maka Musa berkata kepadanya: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar. Dia berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku. Dia berkata: Dan ini lebih keras dari yang pertama, Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Dia berkata: Miring. Maka Khidir berkata dengan tangannya maka dia menegakkan dinding itu. Maka Musa berkata: Kaum yang kami datangi mereka maka mereka tidak memberi kami makan, dan tidak menjamu kami Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Dia berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kami berharap bahwa Musa bersabar, hingga Allah menceritakan kepada kami dari kabar keduanya. Said bin Jubair berkata: Maka adalah Ibnu Abbas membaca: (Dan adalah di hadapan mereka seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang bagus dengan kekerasan). Dan dia membaca: (Dan adapun anak muda itu, maka dia adalah kafir dan adalah kedua orang tuanya orang-orang mukmin).

Kemudian Al-Bukhari juga meriwayatkannya dari Qutaibah, dari Sufyan bin Uyainah, dengan sanadnya sepertinya. Dan di dalamnya: Maka keluar Musa, dan bersamanya muridnya Yusya’ bin Nun, dan bersama keduanya ikan, hingga berakhir di batu, maka turun di sisinya. Dia berkata: Maka Musa meletakkan kepalanya lalu tidur. Sufyan berkata: Dan dalam hadits selain Amr, dia berkata: Dan di pangkal batu mata air dikatakan: Al-Hayat (kehidupan). Tidak terkena dari airnya sesuatu kecuali hidup, maka terkena ikan dari air mata air itu, dia berkata: Maka bergerak, dan melepaskan diri dari bakul, dan masuk ke laut, maka ketika bangun Musa berkata kepada muridnya: Bawalah ke mari makanan kita demikian dia berkata. Dan menyebutkan hadits, dan dia berkata: Dan hinggap seekor burung pipit di pinggir perahu, maka mencelupkan paruhnya di laut, maka Khidir berkata kepada Musa: Tidaklah ilmuku dan ilmumu dan ilmu makhluk-makhluk, dalam ilmu Allah, kecuali kadar apa yang celupkan burung pipit ini paruhnya dan dia menyebutkan sempurna hadits.

Dan Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf, bahwa Ibnu Juraij mengabarkan mereka, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ya’la bin Muslim, dan Amr bin Dinar, dari Said bin Jubair – menambahkan salah satu dari keduanya atas temannya, dan selain keduanya sungguh aku mendengarnya menceritakannya dari Said bin Jubair – dia berkata: Sesungguhnya kami berada di sisi Ibnu Abbas di rumahnya ketika dia berkata: Bertanyalah kepadaku. Maka aku berkata: Wahai Abu Abbas, semoga Allah menjadikan aku tebusan untukmu, di Kufah ada seorang laki-laki pencerita kisah, dikatakan: Nauf. Dia mengklaim bahwa dia bukan Musa Bani Israil. Adapun Amr maka dia berkata kepadaku: Dia berkata: Sungguh dusta musuh Allah.

Adapun Ya’la, ia berkata kepadaku: Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Musa utusan Allah berkata: Pada suatu hari ia menyebut-nyebut manusia (memberikan nasihat) hingga mata-mata meneteskan air mata dan hati-hati menjadi lembut, kemudian ia pergi. Tiba-tiba seorang laki-laki mengejarnya dan berkata: Wahai utusan Allah, apakah di bumi ini ada orang yang lebih berilmu darimu? Ia menjawab: Tidak. Maka Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Dikatakan: Ada. Ia berkata: Wahai Tuhanku, di mana? Allah berfirman: Di pertemuan dua lautan. Ia berkata: Wahai Tuhanku, jadikanlah bagiku tanda agar aku dapat mengetahui hal itu. Amr berkata kepadaku: Ia berkata: Di tempat ikan itu meninggalkanmu. Dan Ya’la berkata kepadaku: Ia berkata: Ambillah ikan yang mati, di tempat di mana roh ditiupkan kepadanya. Maka ia mengambil seekor ikan dan memasukkannya ke dalam keranjang, kemudian berkata kepada pembantunya: Aku tidak membebanimu kecuali agar kamu memberitahuku di mana ikan itu meninggalkanmu. Ia berkata: Itu bukanlah beban yang berat. Itulah maksud firman-Nya: Dan ketika Musa berkata kepada pembantunya Yusya’ bin Nun – ini tidak dari Sa’id bin Jubair – ia berkata: Ketika ia berada di bawah naungan batu karang di tempat yang subur, tiba-tiba ikan itu bergerak-gerak, sementara Musa sedang tidur. Pembantunya berkata: Aku tidak akan membangunkannya. Hingga ketika ia terbangun, ia lupa memberitahunya, dan ikan itu terus bergerak hingga masuk ke laut. Allah menahan aliran air laut darinya sehingga bekasnya seperti pada batu. Amr berkata kepadaku: Begini, bekasnya seperti pada batu – dan ia melingkarkan kedua ibu jarinya dan jari yang di sebelahnya. Sungguh kita telah mengalami kesusahan dalam perjalanan kita ini Ia berkata: Sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesusahan darimu – ini tidak dari Sa’id – Ia memberitahunya, lalu keduanya kembali dan menemukan Khidir. Utsman bin Abi Sulaiman berkata kepadaku: Di atas permadani hijau, di tengah laut. Sa’id berkata: Tertutup dengan pakaiannya, ia meletakkan ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya. Musa memberi salam kepadanya, lalu ia membuka wajahnya dan berkata: Apakah di negerimu ada salam? Siapa kamu? Ia menjawab: Aku Musa. Ia berkata: Musa Bani Israil? Ia menjawab: Ya. Ia berkata: Apa keperluanmu? Ia menjawab: Aku datang kepadamu agar kamu mengajariku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk Ia berkata: Tidakkah cukup bagimu bahwa Taurat ada di tanganmu dan wahyu datang kepadamu? Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak layak bagimu untuk mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang tidak layak bagiku untuk mengetahuinya. Kemudian seekor burung mengambil dengan paruhnya dari laut, lalu ia berkata: Demi Allah, ilmuku dan ilmumu di sisi ilmu Allah hanyalah seperti apa yang diambil burung ini dengan paruhnya dari laut. Hingga ketika keduanya naik ke kapal dan menemukan perahu-perahu kecil yang mengangkut penduduk pantai ini ke penduduk pantai yang lain, mereka mengenalnya lalu berkata: Hamba Allah yang saleh? Sa’id berkata: Kami bertanya kepada Sa’id: Khidir? Ia menjawab: Ya. Mereka tidak mengangkutnya dengan upah, lalu ia melubanginya dan memasang pasak padanya. Musa berkata: Apakah kamu melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh kamu telah melakukan sesuatu yang sangat buruk – Mujahid berkata: sesuatu yang mungkar – Ia berkata: Bukankah aku telah katakan bahwa kamu tidak akan mampu bersabar bersamaku Yang pertama karena lupa, yang tengah karena syarat, dan yang ketiga dengan sengaja. Ia berkata: Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan kesukaran dalam urusanku Lalu keduanya melanjutkan perjalanan hingga ketika keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki, lalu ia membunuhnya. Ya’la berkata: Sa’id berkata: Ia menemukan anak-anak yang sedang bermain, lalu ia mengambil seorang anak kafir yang tampan, kemudian ia membaringkannya lalu menyembelihnya dengan pisau. Ia berkata: Apakah kamu membunuh jiwa yang suci tanpa (balasan) jiwa lain? yang tidak melakukan kejahatan. Ibnu Abbas membacanya: suci, bersih, muslim. Seperti ucapanmu: seorang anak yang suci. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah dinding yang akan roboh, lalu ia menegakkannya. Ia berkata dengan tangannya begini dan mengangkat tangannya, lalu dinding itu tegak. Ya’la berkata: Aku menduga Sa’id berkata: Lalu ia mengusapnya dengan tangannya sehingga tegak. Ia berkata: Sekiranya kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu Sa’id berkata: Upah yang bisa kita makan. Dan di belakang mereka (Dan di depan mereka) Ibnu Abbas membacanya: Di depan mereka ada seorang raja mereka menyebutkan – bukan dari Sa’id – bahwa ia adalah Hadad bin Badad, dan anak laki-laki yang dibunuh mereka sebut: Jaisur yang merampas setiap kapal dengan paksa Maka ketika kapal itu melewatinya, ia membiarkannya karena cacatnya, dan ketika mereka melewatinya, mereka memperbaikinya lalu menggunakannya. Sebagian dari mereka berkata: Mereka menambalnya dengan botol. Dan sebagian berkata: Dengan ter. Adapun kedua orang tuanya adalah mukmin dan anak itu adalah kafir, maka kami khawatir ia akan memaksa keduanya kepada kesesatan dan kekafiran Yaitu: Cintanya akan memaksa keduanya untuk mengikutinya dalam agamanya. Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantikannya dengan (anak) yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya Karena ucapannya: Apakah kamu membunuh jiwa yang suci Dan lebih dekat kasih sayangnya: Keduanya lebih menyayanginya daripada anak pertama yang dibunuh Khidir. Dan selain Sa’id bin Jubair menyebutkan bahwa keduanya diganti dengan seorang anak perempuan. Adapun Dawud bin Abi Ashim berkata dari beberapa orang: Sesungguhnya ia anak perempuan.

Dan telah diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu ia berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah dan perintah-Nya daripada aku. Maka ia diperintahkan untuk menemui orang ini. Kemudian ia menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Hasan bin Umarah, dari Hakam bin Utaibah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang telah disebutkan sebelumnya juga, dan diriwayatkan oleh Aufi darinya secara mauquf.

Dan Az-Zuhri berkata, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia dan Hurr bin Qais bin Hishon Al-Fazari berbeda pendapat tentang sahabat Musa. Ibnu Abbas berkata: Ia adalah Khidir. Lalu Ubay bin Ka’ab melewati mereka berdua, maka Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata: Sesungguhnya aku dan temanku ini berbeda pendapat tentang sahabat Musa yang ia minta petunjuk untuk bertemu dengannya, apakah kamu mendengar sesuatu dari Rasulullah tentang hal itu? Ia menjawab: Ya. Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Dan kami telah menelusuri jalan-jalan hadits ini dan lafaz-lafaznya dalam tafsir Surah Al-Kahfi, dan segala puji serta karunia bagi Allah.

Dan firman-Nya: Adapun dinding itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta terpendam bagi keduanya, sedang ayahnya adalah orang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai pada kedewasaannya dan mengeluarkan hartanya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri. Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya

As-Suhaili berkata: Keduanya adalah Ashram dan Sharim, putra Kasyih. Dan di bawahnya ada harta terpendam bagi keduanya Dikatakan: Itu adalah emas. Ucapan Ikrimah. Dan dikatakan: Ilmu. Ucapan Ibnu Abbas. Dan yang paling dekat adalah bahwa itu adalah lempengan emas yang tertulis padanya ilmu.

Al-Bazzar berkata: Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari menceritakan kepada kami, Bisyr bin Al-Mundzir menceritakan kepada kami, Harits bin Abdullah Al-Yahshubi menceritakan kepada kami, dari Ayyasy bin Abbas Al-Ghassani, dari Ibnu Hujairah, dari Abu Dzar, secara marfu’ ia berkata: Sesungguhnya harta karun yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya adalah lempengan emas murni (yang bertuliskan): Aku heran kepada orang yang yakin dengan takdir bagaimana ia bersusah payah, dan aku heran kepada orang yang mengingat neraka kemudian tertawa, dan aku heran kepada orang yang mengingat kematian kemudian lalai, tidak ada tuhan selain Allah. Dan demikian pula diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, Umar maula Ghufrah, dan Ja’far Ash-Shadiq, seperti ini.

Dan firman-Nya: Sedang ayahnya adalah orang yang saleh Dan telah dikatakan: Sesungguhnya ia adalah ayah yang ketujuh. Dan dikatakan: Yang kesepuluh. Dan bagaimanapun, di dalamnya terdapat dalil bahwa orang yang saleh akan dijaga dalam keturunannya, maka Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Dan firman-Nya: Sebagai rahmat dari Tuhanmu adalah dalil bahwa ia adalah seorang nabi, dan bahwa ia tidak melakukan sesuatu pun dari dirinya sendiri, melainkan dengan perintah Tuhannya, maka ia adalah nabi. Dan dikatakan: Rasul. Dan dikatakan: Wali. Dan yang lebih aneh lagi, ada yang mengatakan: Ia adalah malaikat. Aku katakan: Dan sungguh sangat aneh sekali orang yang mengatakan: Ia adalah putra Fir’aun. Dan dikatakan: Sesungguhnya ia adalah putra Dhahhak yang menguasai dunia selama seribu tahun.

Ibnu Jarir berkata: Dan yang diyakini oleh mayoritas ahli kitab, bahwa ia berada di zaman Afridun. Dan dikatakan: Sesungguhnya ia adalah pemimpin pasukan Dzulqarnain yang dikatakan adalah Afridun, dan Dzul Faris adalah orang yang hidup di zaman Khalil (Ibrahim). Dan mereka mengklaim bahwa ia minum dari mata air kehidupan, maka ia menjadi kekal, dan ia masih ada hingga sekarang. Dan dikatakan: Sesungguhnya ia dari keturunan sebagian orang yang beriman kepada Ibrahim dan hijrah bersamanya dari tanah Babil. Dan dikatakan: Namanya Malkan. Dan dikatakan: Irmiya bin Hilqiya. Dan dikatakan: Ia adalah nabi di zaman Sibasib bin Laharasib.

Ibnu Jarir berkata: Dan sesungguhnya antara Afridun dan Sibasib terdapat masa yang panjang, tidak ada seorang pun dari ahli ilmu nasab yang tidak mengetahuinya. Ibnu Jarir berkata: Yang benar adalah bahwa ia berada di zaman Afridun, dan terus hidup hingga bertemu dengan Musa alaihissalam, dan kenabian Musa adalah di zaman Manusyihir, yang merupakan keturunan Iraj bin Afridun, salah satu raja Persia, dan kekuasaan berada padanya setelah kakeknya Afridun karena wasiatnya, dan ia adalah orang yang adil, dan ia adalah orang pertama yang menggali parit-parit, dan orang pertama yang menjadikan di setiap desa seorang kepala, dan masa pemerintahannya hampir seratus lima puluh tahun. Dan dikatakan: Sesungguhnya ia dari keturunan Ishaq bin Ibrahim. Dan telah disebutkan darinya khutbah-khutbah yang bagus, dan kata-kata yang fasih, bermanfaat dan sangat baik, yang membuat akal terpesona dan pendengar terheran-heran, dan ini menunjukkan bahwa ia dari keturunan Khalil (Ibrahim). Wallahu a’lam.

Dan Allah Ta’ala telah berfirman: Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? (Ali Imran: 81)

Maka Allah mengambil perjanjian dari setiap nabi agar beriman kepada nabi yang datang setelahnya, dan menolongnya. Seandainya Khidir masih hidup di zamannya (Muhammad), maka tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutinya, bertemu dengannya, dan berdiri untuk menolongnya, dan akan menjadi bagian dari orang-orang yang berada di bawah benderanya pada hari Badar, sebagaimana Jibril dan para pemimpin malaikat berada di bawahnya. Dan paling tinggi kedudukan Khidir alaihissalam adalah sebagai nabi, dan itulah yang benar, atau rasul, sebagaimana dikatakan, atau malaikat sebagaimana disebutkan, dan apa pun itu, maka Jibril adalah pemimpin para malaikat, dan Musa lebih mulia daripada Khidir. Dan seandainya ia masih hidup, tentu wajib baginya beriman kepada Muhammad dan menolongnya, apalagi jika Khidir adalah wali, sebagaimana dikatakan oleh banyak kelompok, maka lebih wajib lagi ia masuk dalam keumuman risalah (Muhammad), dan lebih utama.

Dan tidak diriwayatkan dalam hadits yang hasan, bahkan juga tidak dalam hadits dhaif yang bisa diandalkan, bahwa ia datang satu hari pun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau bertemu dengannya. Dan apa yang disebutkan tentang hadits takziah padanya, meskipun Al-Hakim telah meriwayatkannya, maka sanadnya lemah. Wallahu a’lam. Dan kami akan mengkhususkan biografi tersendiri untuk Khidir setelah ini.

Penyebutan Hadits yang Dijuluki Hadits Fitun yang Memuat Kisah Musa secara Lengkap dari Awal hingga Akhir

Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i berkata dalam Kitab Tafsir dari Sunan-nya, pada firman Allah Ta’ala dalam Surat Thaha: “Dan kamu telah membunuh seorang manusia lalu Kami selamatkan kamu dari kesedihan dan Kami telah mengujimu dengan berbagai cobaan.” (Thaha: 20)

Hadits Fitun: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah memberitakan kepada kami Asbagh bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Abi Ayyub, telah memberitahukan kepadaku Sa’id bin Jubair, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abbas tentang firman Allah Ta’ala kepada Musa: “Dan Kami telah mengujimu dengan berbagai cobaan.” Maka aku bertanya kepadanya tentang fitun: Apa itu? Maka ia berkata: Mulailah dari awal hari wahai Ibnu Jubair, karena ini cerita yang panjang. Ketika pagi tiba, aku mendatangi Ibnu Abbas untuk menunaikan janjinya kepadaku tentang kisah fitun, maka ia berkata: Fir’aun dan para pengiringnya membicarakan apa yang telah dijanjikan Allah kepada Ibrahim alaihissalam, yaitu akan menjadikan dalam keturunannya para nabi dan raja-raja. Sebagian dari mereka berkata: Sesungguhnya Bani Israil menantikan hal itu, mereka tidak meragukannya, dan mereka mengira bahwa dia adalah Yusuf bin Ya’qub. Ketika dia meninggal, mereka berkata: Bukan seperti ini janji Ibrahim. Maka Fir’aun berkata: Bagaimana pendapat kalian? Mereka bermusyawarah dan menyepakati rencana mereka untuk mengirim orang-orang yang membawa pisau, berkeliling di kalangan Bani Israil, dan tidak mendapati bayi laki-laki yang baru lahir kecuali mereka menyembelihnya. Mereka melakukan itu. Ketika mereka melihat bahwa orang-orang tua dari Bani Israil meninggal karena ajalnya dan yang kecil-kecil disembelih, mereka berkata: Hampir saja kalian membinasakan Bani Israil, lalu kalian akan langsung mengerjakan pekerjaan dan pelayanan yang selama ini mereka kerjakan untuk kalian. Bunuhlah satu tahun setiap bayi laki-laki yang lahir, agar keturunan mereka berkurang, dan biarkan satu tahun jangan membunuh siapa pun dari mereka agar yang kecil-kecil dapat menggantikan orang tua yang meninggal. Sesungguhnya mereka tidak akan bertambah banyak dengan yang kalian biarkan hidup, sehingga kalian takut jumlah mereka melebihi kalian, dan mereka tidak akan habis dengan yang kalian bunuh, sementara kalian tetap membutuhkan mereka. Maka mereka menyepakati hal itu. Lalu ibu Musa mengandung Harun pada tahun yang tidak menyembelih anak laki-laki, maka ia melahirkannya dengan terang-terangan dalam keamanan.

Ketika tahun berikutnya, ia mengandung Musa alaihissalam, maka jatuh di hatinya kekhawatiran dan kesedihan – dan itulah termasuk fitun wahai Ibnu Jubair – apa yang menimpanya di dalam perut ibunya dari apa yang akan dilakukan padanya. Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari rasul-rasul.” (Al-Qashash: 7). Allah memerintahkannya ketika ia melahirkan untuk memasukkannya ke dalam peti dan melemparkannya ke sungai. Ketika ia melahirkan, ia melakukan itu. Ketika anaknya tersembunyi darinya, datanglah setan, maka ia berkata dalam hatinya: Apa yang telah aku perbuat dengan anakku? Seandainya ia disembelih di sisiku lalu aku menutupi dan mengafaninya, itu lebih aku sukai daripada aku melemparkannya kepada binatang laut dan ikan-ikannya.

Air membawanya hingga tiba di tempat mengambil air para budak perempuan istri Fir’aun. Ketika mereka melihatnya, mereka mengambilnya dan berniat membuka peti itu. Sebagian dari mereka berkata: Sesungguhnya di dalam ini ada harta dan jika kita membukanya, istri raja tidak akan mempercayai kita tentang apa yang kita temukan di dalamnya. Maka mereka membawanya seperti keadaannya, tidak mengeluarkan sesuatu pun darinya hingga menyerahkannya kepada istri Fir’aun. Ketika ia membukanya, ia melihat di dalamnya seorang bayi laki-laki, maka dicurahkan padanya kasih sayang darinya yang tidak pernah dicurahkan kepada siapa pun. Dan hati ibu Musa menjadi kosong dari ingatan segala sesuatu kecuali ingatan akan Musa. Ketika para penyembelih mendengar beritanya, mereka datang dengan pisau-pisau mereka kepada istri Fir’aun untuk menyembelihnya – dan itulah termasuk fitun wahai Ibnu Jubair. Maka ia berkata kepada mereka: Biarkanlah dia karena bayi tunggal ini tidak menambah jumlah Bani Israil, sampai aku datang kepada Fir’aun untuk meminta dia sebagai pemberian. Jika ia memberikannya kepadaku, kalian telah berbuat baik dan elok. Dan jika ia memerintahkan untuk menyembelihnya, aku tidak mencela kalian.

Maka ia mendatangi Fir’aun dan berkata: “Penyejuk mata bagiku dan bagimu.” (Al-Qashash: 9). Fir’aun berkata: Dia untukmu, adapun bagiku, aku tidak memerlukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Demi Dzat yang Dia bersumpah dengan-Nya, seandainya Fir’aun mengakui bahwa dia menjadi penyejuk mata sebagaimana istrinya mengakuinya, niscaya Allah akan memberinya hidayah sebagaimana Allah memberi hidayah kepada istrinya, tetapi Allah mengharamkan hal itu baginya. Maka ia mengirim kepada semua wanita di sekitarnya yang memiliki susu, memilih ibu susuan untuknya. Setiap kali seorang wanita dari mereka mengambilnya untuk menyusuinya, ia tidak mau menyusu dari payudaranya, hingga istri Fir’aun khawatir ia akan menolak susu dan mati, maka hal itu menyedihkannya. Ia memerintahkan agar ia dibawa keluar ke pasar dan tempat berkumpulnya orang-orang, berharap dapat menemukan ibu susuan yang mau menerimanya, tetapi ia tetap menolak. Ibu Musa menjadi gelisah, maka ia berkata kepada saudara perempuannya: Ikutilah jejaknya dan carilah dia, apakah kamu mendengar berita tentangnya? Apakah anakku masih hidup atau dimakan binatang? Ia lupa akan apa yang telah Allah janjikan kepadanya tentangnya. Saudara perempuannya melihatnya dari samping – dan yang dimaksud samping adalah pandangan mata seseorang tertuju pada sesuatu yang jauh sedangkan itu di sampingnya tanpa ia menyadarinya. Maka ia berkata karena gembira, setelah para ibu susuan mengalami kesulitan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu keluarga yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (Al-Qashash: 12).

Maka mereka menangkapnya dan berkata: Apa yang membuatmu tahu tentang kebaikan mereka? Apakah kamu mengenalnya? Hingga mereka meragukan hal itu – dan itulah termasuk fitun wahai Ibnu Jubair. Maka ia berkata: Kebaikan mereka kepadanya dan perhatian mereka padanya adalah karena keinginan mereka untuk menjadi menantu raja dan harapan akan manfaat dari raja. Maka mereka melepaskannya dan ia pergi menemui ibunya lalu memberitahukan beritanya. Ibunya datang dan ketika ia meletakkannya di pangkuannya, ia melompat ke payudaranya dan menyusunya hingga kedua sisinya penuh kenyang. Pembawa berita pergi kepada istri Fir’aun memberi kabar gembira bahwa telah ditemukan ibu susuan untuk anakmu. Maka ia mengirim kepada ibu Musa, lalu ia datang membawa Musa. Ketika istri Fir’aun melihat apa yang dilakukannya, ia berkata: Tinggallah untuk menyusui anakku ini karena aku tidak pernah mencintai sesuatu seperti aku mencintainya.

Ibu Musa berkata: Aku tidak mampu meninggalkan rumahku dan anak-anakku sehingga mereka terlantar. Jika hatimu senang memberikannya kepadaku, maka aku membawanya ke rumahku agar ia bersamaku dan aku tidak mengurangi kebaikan padanya, aku akan lakukan. Sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan rumahku dan anak-anakku. Ibu Musa mengingat apa yang telah Allah janjikan kepadanya, maka ia bersikeras terhadap istri Fir’aun dan yakin bahwa Allah akan menunaikan janji-Nya. Ia kembali ke rumahnya pada hari itu, dan Allah menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menjaganya untuk apa yang telah ditetapkan untuknya. Bani Israil tetap berada di pinggir kota, terlindung dari kerja paksa dan kezaliman selama ia ada di antara mereka.

Ketika ia mulai besar, istri Fir’aun berkata kepada ibu Musa: Perlihatkan anakku kepadaku. Maka ia menjanjikan suatu hari untuk memperlihatkannya. Istri Fir’aun berkata kepada para penjaga gudangnya, para pengasuhnya, dan para pembantunya: Jangan ada seorang pun dari kalian kecuali menyambut anakku hari ini dengan hadiah dan kehormatan agar aku melihat hal itu padanya, dan aku akan mengutus orang terpercaya yang menghitung apa yang dilakukan setiap orang dari kalian. Maka hadiah, kehormatan, dan pemberian terus menyambutnya sejak ia keluar dari rumah ibunya hingga masuk menemui istri Fir’aun. Ketika ia masuk menemuinya, ia memberinya hadiah, menghormatinya dan gembira dengannya, dan memberi hadiah kepada ibunya karena pemeliharaannya yang baik terhadapnya. Kemudian ia berkata: Aku akan membawanya menemui Fir’aun agar ia memberinya hadiah dan menghormatinya.

Ketika ia membawanya masuk menemui Fir’aun, ia meletakkannya di pangkuannya, maka Musa mengambil jenggot Fir’aun dan menariknya ke bawah. Para pembuat keburukan dari musuh-musuh Allah berkata kepada Fir’aun: Tidakkah kamu lihat apa yang dijanjikan Allah kepada Ibrahim nabi-Nya, bahwa ia mengklaim akan membesarkanmu, mengalahkanmu, dan menjatuhkanmu? Maka ia mengutus para penyembelih untuk menyembelihnya – dan itulah termasuk fitun wahai Ibnu Jubair, setelah semua cobaan yang dialaminya dan yang dimaksudkan sebagai fitnah baginya. Istri Fir’aun datang bergegas kepada Fir’aun dan berkata: Apa yang membuatmu berubah pikiran tentang anak laki-laki yang telah kamu berikan kepadaku? Ia berkata: Tidakkah kamu lihat ia mengklaim akan menjatuhkanku dan mengalahkanku? Ia berkata: Jadikanlah di antara aku dan kamu suatu perkara yang dengannya kamu mengetahui kebenaran; datangkan dua bara api dan dua mutiara, lalu dekatkan kepadanya. Jika ia meraih dua mutiara dan menjauhi dua bara api, maka kamu tahu bahwa ia berakal. Dan jika ia mengambil dua bara api dan tidak menginginkan dua mutiara, maka kamu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang mengutamakan dua bara api atas dua mutiara sedangkan ia berakal.

Maka didekatkan kepadanya, lalu ia mengambil dua bara api. Mereka merebutnya darinya karena khawatir membakar tangannya. Wanita itu berkata: Tidakkah kamu lihat? Maka Allah memalingkannya dari Musa setelah Fir’aun hampir melakukannya, dan Allah pasti mencapai urusan-Nya. Ketika Musa mencapai usia dewasa dan menjadi seorang laki-laki, tidak ada seorang pun dari keluarga Fir’aun yang dapat menyakiti seorang pun dari Bani Israil dengannya, dengan kezaliman atau kerja paksa, hingga mereka benar-benar terlindungi sepenuhnya.

Ketika Musa alaihissalam sedang berjalan di pinggir kota, tiba-tiba ada dua orang laki-laki berkelahi, seorang dari golongan Fir’aun dan yang lain orang Israil. Orang Israil itu meminta pertolongan kepadanya terhadap orang Fir’aun. Maka Musa marah dengan sangat marah karena ia menyakitinya, sedangkan ia tahu kedudukannya di antara Bani Israil dan penjagaannya terhadap mereka. Orang-orang tidak tahu kecuali bahwa ia dari hubungan susuan kecuali ibu Musa, kecuali jika Allah telah memberitahu Musa tentang hal itu dengan apa yang tidak diberitahukan kepada yang lainnya. Maka Musa meninju orang Fir’aun itu dan membunuhnya, dan tidak ada yang melihat mereka berdua kecuali Allah Azza wa Jalla dan orang Israil itu. Maka Musa berkata ketika membunuh orang itu: “Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata menyesatkan.” Kemudian ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qashash: 15-16).

Maka ia menjadi takut di kota, menunggu-nunggu berita. Fir’aun didatangi lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Bani Israil telah membunuh seorang laki-laki dari keluarga Fir’aun, maka ambillah hak kami dan jangan memberi kelonggaran kepada mereka. Ia berkata: Carikan aku pembunuhnya, siapa yang bersaksi terhadapnya? Sesungguhnya raja, meskipun keberpihakannya bersama kaumnya, tidak pantas baginya untuk menghukum tanpa bukti dan penetapan, maka carilah aku bukti tentang itu, aku ambil hak kalian. Ketika mereka berkeliling tidak menemukan bukti, tiba-tiba keesokan harinya Musa melihat orang Israil itu berkelahi dengan seorang laki-laki lain dari keluarga Fir’aun. Orang Israil itu meminta pertolongan kepadanya terhadap orang Fir’aun. Musa mendapati dirinya telah menyesali apa yang telah terjadi darinya dan membenci apa yang ia lihat. Orang Israil itu marah, sedangkan Musa hendak menyerang orang Fir’aun. Maka ia berkata kepada orang Israil, karena apa yang dilakukannya kemarin dan hari ini: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang nyata sesat.” (Al-Qashash: 18).

Orang Israil itu melihat kepada Musa setelah ia berkata kepadanya apa yang ia katakan, tiba-tiba ia marah seperti kemarahannya kemarin yang ia bunuh orang Fir’aun padanya. Maka ia takut setelah ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang nyata sesat,” ia khawatir dialah yang dimaksud, padahal bukan ia yang dimaksud, melainkan orang Fir’aun yang dimaksud. Orang Israil itu takut dan berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?” (Al-Qashash: 19). Ia hanya berkata demikian karena takut bahwa dialah yang dimaksud Musa untuk dibunuh. Maka mereka berpisah, dan orang Fir’aun itu pergi lalu memberitahukan mereka tentang apa yang ia dengar dari orang Israil itu dari berita, ketika ia berkata: Apakah kamu bermaksud hendak membunuhku sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?

Maka Fir’aun mengirim para penyembelih untuk membunuh Musa. Utusan-utusan Fir’aun mengambil jalan raya, berjalan dengan santainya mencari Musa, dan mereka tidak takut ia akan lolos dari mereka. Maka datanglah seorang laki-laki dari pengikut Musa dari ujung kota, ia mengambil jalan pintas hingga mendahului mereka sampai kepada Musa lalu memberitahunya – dan itulah termasuk fitun wahai Ibnu Jubair. Maka Musa keluar menuju Madyan, ia tidak mengalami cobaan sebelum itu dan tidak memiliki pengetahuan tentang jalan kecuali prasangka baiknya kepada Tuhannya Azza wa Jalla, karena ia berkata: “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” (Al-Qashash: 22). Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). (Al-Qashash: 23), maksudnya dengan itu menahan kambing-kambing mereka.

Maka ia berkata kepada keduanya: Apa masalah kalian berdua menyendiri, tidak memberi minum bersama orang-orang? Keduanya berkata: Kami tidak mempunyai kekuatan untuk berebut dengan orang-orang, dan kami hanya menunggu sisa air bak mereka. Maka ia memberi minum untuk keduanya, ia terus menimba dari ember air yang banyak, hingga ia menjadi yang pertama di antara para penggembala. Keduanya pulang dengan kambing-kambing mereka kepada ayah mereka, dan Musa pulang lalu berteduh di bawah pohon, maka ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashash: 24).

Ayah mereka heran dengan cepatnya mereka kembali dengan kambing-kambing mereka yang penuh dan gemuk. Maka ia berkata: Sesungguhnya kalian berdua hari ini ada urusannya. Maka keduanya memberitahukan kepadanya apa yang dilakukan Musa. Ia memerintahkan salah satu dari keduanya untuk memanggilnya. Maka ia mendatangi Musa dan memanggilnya. Ketika ia berbicara dengannya, ia berkata: “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim.” (Al-Qashash: 25). Fir’aun dan kaumnya tidak memiliki kekuasaan atas kami, dan kami tidak berada dalam kerajaannya. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26).

Kecemburuan membawanya untuk berkata kepadanya: Apa yang membuatmu tahu tentang kekuatannya dan amanahnya? Ia berkata: Adapun kekuatannya, maka dari apa yang aku lihat darinya pada ember ketika ia memberi minum untuk kami, aku tidak pernah melihat seorang laki-laki pun yang lebih kuat dalam pemberian minum itu darinya. Dan adapun amanah, maka sesungguhnya ia memandang kepadaku ketika aku mendatanginya dan menghadap kepadanya. Ketika ia tahu bahwa aku wanita, ia menundukkan kepalanya dan tidak mengangkatnya hingga aku menyampaikan kepadanya pesanmu. Kemudian ia berkata kepadaku: Berjalanlah di belakangku dan tunjukkan kepadaku jalan. Ia tidak melakukan ini kecuali ia adalah orang yang amanah. Maka ayah mereka merasa lega dan membenarkannya, dan berprasangka tentangnya seperti yang ia katakan.

Maka ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (Al-Qashash: 27). Maka ia melakukannya, dan bagi Nabi Allah Musa itu adalah delapan tahun yang wajib, dan dua tahun adalah janji darinya. Maka Allah menunaikan janjinya dan ia menyempurnakannya sepuluh tahun.

Sa’id bin Jubair berkata: Maka seorang laki-laki dari Nasrani bertemu denganku, dari ulama mereka. Ia berkata: Apakah kamu tahu masa mana yang ditunaikan Musa? Aku berkata: Tidak. Dan aku pada saat itu tidak tahu. Maka aku bertemu dengan Ibnu Abbas dan menyebutkan hal itu kepadanya. Ia berkata: Tidakkah kamu tahu bahwa delapan tahun adalah wajib bagi Nabi Allah? Nabi Allah tidak akan mengurangi darinya sedikit pun, dan kamu tahu bahwa Allah menunaikan janji-Nya yang dijanjikan kepada Musa, maka sesungguhnya ia menunaikan sepuluh tahun. Maka aku bertemu dengan orang Nasrani itu dan memberitahukannya hal itu. Ia berkata: Orang yang kamu tanyai lalu ia memberitahumu lebih mengetahui darimu tentang hal itu. Aku berkata: Benar, dan lebih berhak.

Ketika Musa berjalan dengan keluarganya, terjadilah urusan api, tongkat, dan tangannya, sebagaimana yang Allah kisahkan kepadamu dalam Al-Qur’an. Ia mengadukan kepada Allah Ta’ala apa yang ia takutkan dari keluarga Fir’aun tentang pembunuhan dan kekakuan lidahnya, karena sesungguhnya di lidahnya ada kekakuan yang menghalanginya dari banyak pembicaraan. Ia memohon kepada Tuhannya agar menolongnya dengan saudaranya Harun, menjadikannya pembantunya dan berbicara untuknya tentang banyak hal yang tidak dapat ia ucapkan dengan fasih dengan lidahnya. Maka Allah Azza wa Jalla memberinya permintaannya dan menguraikan kekakuan dari lidahnya. Allah mewahyukan kepada Harun lalu memerintahkannya untuk menemuinya. Musa pergi dengan tongkatnya hingga bertemu Harun, lalu mereka berdua pergi bersama kepada Fir’aun. Keduanya berdiri di pintunya beberapa waktu tidak diizinkan masuk, kemudian diizinkan masuk setelah terhalang dengan sangat.

Maka keduanya berkata: Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu. Ia berkata: Siapakah Tuhan kalian berdua? Maka ia memberitahukan kepadanya dengan apa yang Allah kisahkan kepadamu dalam Al-Qur’an. Ia berkata: Apa yang kalian berdua inginkan? Dan ia mengingatkan tentang pembunuhan, maka ia meminta maaf dengan apa yang telah kamu dengar. Ia berkata: Aku ingin agar kamu beriman kepada Allah dan melepaskan Bani Israil bersamaku. Maka ia menolaknya dan berkata: Datangkanlah suatu mukjizat jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Maka ia melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia adalah ular yang besar, menganga mulutnya, bergegas menuju Fir’aun. Ketika Fir’aun melihatnya menuju kepadanya, ia takut padanya, maka ia melompat dari singgasananya dan meminta tolong kepada Musa agar menahannya darinya. Maka ia melakukannya. Kemudian ia mengeluarkan tangannya dari sakunya, maka ia melihatnya putih tanpa cacat – maksudnya tanpa penyakit kusta – kemudian ia mengembalikannya maka ia kembali ke warnanya yang semula.

Maka ia meminta nasihat kepada para pembesar di sekitarnya tentang apa yang ia lihat. Mereka berkata kepadanya: “Kedua orang ini adalah ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya dan melenyapkan jalan kamu yang utama.” (Thaha: 63).

Artinya kerajaan mereka yang mereka berada di dalamnya, dan kehidupan. Mereka menolak permintaan Musa untuk memberikan apa yang dia minta, dan berkata kepadanya: Kumpulkanlah para tukang sihir karena mereka banyak di negerimu, agar engkau dapat mengalahkan sihir keduanya dengan sihirmu. Maka Firaun mengirim utusan ke kota-kota, dan mengumpulkan baginya setiap tukang sihir yang ahli. Ketika mereka datang kepada Firaun, mereka bertanya: Apa yang dilakukan oleh tukang sihir ini? Dijawab: Dia bekerja dengan ular. Mereka berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun di bumi yang bekerja dengan sihir menggunakan ular, tali, dan tongkat seperti yang kami lakukan. Lalu apa upah kami jika kami menang? Firaun berkata kepada mereka: Kalian adalah kerabat dan orang-orang terdekatku, dan aku akan memberikan kepada kalian segala yang kalian inginkan. Maka mereka berjanji pada hari raya dan berkumpulnya orang-orang pada waktu Dhuha.

Berkata Sa’id: Ibnu Abbas menceritakan kepadaku bahwa hari raya adalah hari ketika Allah menampakkan kemenangan Musa atas Firaun dan para tukang sihir, yaitu hari Asyura. Ketika mereka berkumpul di dataran, orang-orang berkata satu sama lain: Marilah kita hadiri peristiwa ini, semoga kita mengikuti para tukang sihir jika mereka yang menang. Yang mereka maksud adalah Musa dan Harun, dengan mengejek keduanya. Maka mereka berkata: Wahai Musa – dengan kemampuan mereka dalam sihir – engkau yang melempar dahulu atau kami yang akan melempar. Dia berkata: Silakan kalian yang melempar. Maka mereka melemparkan tali dan tongkat mereka dan berkata: Demi kebesaran Firaun, sesungguhnya kami benar-benar yang menang. (Al-Syu’ara: 44). Musa melihat dari sihir mereka sesuatu yang menimbulkan rasa takut dalam dirinya. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Lemparkanlah tongkatmu. Ketika dia melemparkannya, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang membuka mulutnya lebar-lebar. Tongkat-tongkat itu bercampur dengan tali-tali, hingga semuanya menjadi bagian dari ular tersebut yang masuk ke dalamnya, sehingga tidak tersisa tongkat dan tali melainkan ditelannya.

Ketika para tukang sihir mengetahui hal itu, mereka berkata: Seandainya ini adalah sihir, tidak akan mencapai dari sihir kami semua ini, tetapi ini adalah urusan dari Allah Ta’ala. Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa oleh Musa, dan kami bertobat kepada Allah dari apa yang dahulu kami lakukan. Maka Allah mematahkan punggung Firaun pada tempat itu beserta pengikut-pengikutnya, dan kebenaran menjadi nyata dan batallah apa yang mereka kerjakan. Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan kembali dalam keadaan hina. (Al-A’raf: 119). Istri Firaun tampak di luar dengan pakaian sederhana berdoa kepada Allah agar memberi kemenangan kepada Musa atas Firaun dan pengikut-pengikutnya. Barang siapa melihatnya dari keluarga Firaun mengira bahwa dia berpakaian sederhana karena kasihan kepada Firaun dan pengikut-pengikutnya, padahal kesedihannya dan kekhawatirannya adalah untuk Musa.

Ketika Musa lama menunggu dengan janji-janji palsu Firaun – setiap kali dia datang dengan mukjizat, Firaun berjanji padanya untuk melepaskan Bani Israil bersamanya, tetapi ketika mukjizat itu berlalu dia mengingkari janjinya dan berkata: Apakah Tuhanmu mampu membuat selain ini? Maka Allah mengirimkan kepada kaumnya banjir, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda-tanda yang jelas. Setiap itu Firaun mengadu kepada Musa dan meminta kepadanya untuk menghilangkannya darinya, dan menyanggupi untuk melepaskan Bani Israil bersamanya. Tetapi ketika itu dihilangkan darinya, dia mengingkari janjinya dan melanggar perjanjiannya.

Hingga Musa diperintahkan untuk keluar dengan kaumnya, maka dia keluar bersama mereka pada malam hari. Ketika pagi tiba Firaun, dan dia melihat bahwa mereka telah pergi, dia mengirim pengumpul ke kota-kota. Maka dia mengejar mereka dengan pasukan yang besar dan banyak. Allah mewahyukan kepada laut: Jika hamba-Ku Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka terbelahlah menjadi dua belas bagian, hingga Musa dan orang-orang bersamanya dapat menyeberang, kemudian bertemulah atas siapa yang tersisa setelahnya dari Firaun dan pengikut-pengikutnya. Musa lupa memukul laut dengan tongkat. Dia sampai di laut yang bergejolak karena khawatir Musa akan memukulnya dengan tongkat sementara dia lengah sehingga menjadi durhaka kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketika kedua kelompok saling melihat dan mendekat, sahabat-sahabat Musa berkata: Sesungguhnya kami benar-benar akan tersusul. Lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu, karena Dia tidak berdusta dan engkau tidak berdusta. Dia berkata: Tuhanku telah menjanjikan kepadaku jika aku sampai ke laut, ia akan terbelah menjadi dua belas bagian hingga aku dapat menyeberanginya. Kemudian dia teringat tongkatnya, lalu memukul laut dengan tongkatnya ketika pasukan terdepan Firaun mendekati pasukan terakhir Musa. Maka terbelahlah laut sebagaimana diperintahkan Tuhannya dan sebagaimana dijanjikan kepada Musa. Ketika Musa dan seluruh sahabatnya telah menyeberangi laut, dan Firaun dengan sahabat-sahabatnya masuk, bertutuplah laut atas mereka sebagaimana diperintahkan.

Ketika Musa telah menyeberang, sahabat-sahabatnya berkata: Kami khawatir Firaun tidak tenggelam, dan kami tidak yakin dengan kehancurannya. Maka dia berdoa kepada Tuhannya, lalu Allah mengeluarkannya dengan jasadnya, hingga mereka yakin dengan kebinasaannya. Kemudian mereka melewati suatu kaum yang tekun menyembah patung-patung mereka. Mereka berkata: Wahai Musa, buatlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Dia berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan. (Al-A’raf: 138-139). Kalian telah melihat pelajaran dan mendengar apa yang cukup bagi kalian.

Dia melanjutkan perjalanan, lalu Musa menempatkan mereka di suatu tempat dan berkata: Taatilah Harun, karena aku telah menjadikannya khalifah atas kalian, sesungguhnya aku akan pergi kepada Tuhanku. Dia memberi mereka waktu tiga puluh hari untuk kembali kepada mereka. Ketika dia mendatangi Tuhannya Azza wa Jalla dan ingin berbicara kepada-Nya dalam tiga puluh hari, dan dia telah berpuasa malam dan siangnya, dia tidak suka berbicara kepada Tuhannya sementara ada bau mulut orang yang berpuasa. Maka Musa mengambil sesuatu dari tumbuhan bumi dan mengunyahnya. Tuhannya berkata kepadanya ketika dia datang: Mengapa engkau berbuka? Dan Dia lebih mengetahui apa yang terjadi. Dia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak suka berbicara kepada-Mu kecuali dalam keadaan mulutku harum baunya. Dia berkata: Tidakkah engkau tahu wahai Musa bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada bau minyak kesturi? Kembalilah dan berpuasalah sepuluh hari, kemudian datanglah kepada-Ku. Musa melakukan apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya.

Ketika kaum Musa melihat bahwa dia tidak kembali kepada mereka pada waktu yang dijanjikan, hal itu membuat mereka sedih. Harun telah berkhutbah kepada mereka dan berkata: Sesungguhnya kalian keluar dari Mesir, dan kaum Firaun masih mempunyai pinjaman dan titipan pada kalian, dan kalian juga mempunyai yang seperti itu pada mereka. Aku berpendapat agar kalian mengikhlaskan apa yang ada pada kalian pada mereka, dan aku tidak menghalalkan bagi kalian titipan yang kalian titipkan, atau pinjaman, dan kami tidak akan mengembalikan kepada mereka sesuatu pun dari itu, dan tidak pula menahannya untuk diri kami. Maka dia menggali lubang dan memerintahkan setiap kaum yang mempunyai barang atau perhiasan dari itu untuk melemparkannya ke dalam lubang tersebut. Kemudian dia menyalakan api di atasnya dan membakarnya. Dia berkata: Tidak akan menjadi milik kami dan tidak juga milik mereka.

As-Samiri adalah dari kaum yang menyembah sapi, tetangga Bani Israil, dan dia bukan dari Bani Israil. Dia berangkat bersama Musa dan Bani Israil ketika mereka berangkat. Terjadi bahwa dia melihat jejak lalu mengambil segenggam darinya. Dia melewati Harun, maka Harun berkata kepadanya: Wahai Samiri, tidakkah engkau melempar apa yang ada di tanganmu? Dia menggenggamnya dan tidak seorang pun melihatnya selama itu. Dia berkata: Ini segenggam dari jejak rasul yang telah menyeberangkan kalian melewati laut, dan aku tidak akan melemparkannya untuk apa pun kecuali engkau berdoa kepada Allah jika aku melemparkannya agar menjadi apa yang aku inginkan. Maka dia melemparkannya dan Harun berdoa untuknya. Dia berkata: Aku ingin agar menjadi anak sapi. Maka berkumpullah apa yang ada dalam lubang dari barang atau perhiasan, atau tembaga, atau besi, lalu menjadi anak sapi yang berongga, tidak ada ruh di dalamnya, yang mempunyai suara melenguh.

Ibnu Abbas berkata: Demi Allah, dia tidak pernah mempunyai suara sama sekali, hanya angin yang masuk dari belakangnya dan keluar dari mulutnya, itulah suara itu. Bani Israil terpecah menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berkata: Wahai Samiri, apa ini, dan engkau lebih mengetahuinya? Dia berkata: Ini Tuhan kalian, tetapi Musa telah tersesat jalannya. Kelompok lain berkata: Kami tidak akan mendustakan ini hingga Musa kembali kepada kami. Jika ini Tuhan kami, kami tidak akan menyia-nyiakannya dan tidak mampu terhadapnya ketika kami melihatnya. Dan jika ini bukan Tuhan kami, maka kami akan mengikuti perkataan Musa. Kelompok lain berkata: Ini dari perbuatan setan, dan bukan Tuhan kami, dan kami tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya. Satu kelompok meresap dalam hati mereka kebenaran apa yang dikatakan Samiri tentang anak sapi, dan mereka menyatakan pendustaan terhadapnya.

Harun alaihi salam berkata kepada mereka: Wahai kaumku, sesungguhnya kalian hanya diuji dengannya dan sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang Maha Pengasih. (Thaha: 90). Bukan ini. Mereka berkata: Lalu bagaimana dengan Musa yang menjanjikan kami tiga puluh hari kemudian mengingkari kami? Ini sudah empat puluh hari berlalu. Orang-orang bodoh di antara mereka berkata: Dia salah menemukan Tuhannya, maka dia mencarinya dan mengupayakannya.

Ketika Allah berbicara kepada Musa dan berkata kepadanya apa yang Dia katakan, Dia mengabarkan kepadanya tentang apa yang dialami kaumnya setelahnya. Maka dia kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan sedih, lalu berkata kepada mereka apa yang kalian dengar yang ada dalam Al-Quran. Dia memegang kepala saudaranya dan menariknya kepadanya dan melemparkan loh-loh karena marah. Kemudian dia menerima uzur saudaranya dan memintakan ampun untuknya. Dia berpaling kepada Samiri dan berkata kepadanya: Apa yang mendorongmu melakukan apa yang engkau lakukan? Dia berkata: Aku mengambil segenggam dari jejak rasul dan aku memahaminya, sedangkan kalian tidak memahaminya, maka aku melemparkannya. Demikianlah jiwaku membisikkan kepadaku. Dia berkata: Pergilah, maka sesungguhnya bagimu dalam kehidupan untuk mengatakan: Jangan sentuh aku. Dan sesungguhnya bagimu janji yang tidak akan kau ingkari. Dan lihatlah tuhanmu yang selalu engkau tekun menyembahnya, pasti akan kami bakar dia kemudian akan kami hamburkan abu-abunya ke laut. (Thaha: 96-97). Seandainya dia tuhan, kami tidak akan mampu melakukan itu kepadanya.

Bani Israil yakin dengan fitnah itu, dan beruntunglah orang-orang yang pendapatnya seperti pendapat Harun. Mereka semua berkata: Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami agar dibukakan bagi kami pintu tobat yang kami lakukan, yang akan menghapus apa yang kami perbuat. Maka Musa memilih dari kaumnya tujuh puluh orang untuk itu, yang terbaik dari Bani Israil, dan yang tidak menyekutukan dalam anak sapi. Dia berangkat bersama mereka untuk memohonkan tobat bagi mereka. Maka bumi mengguncang mereka. Nabi Allah alaihi salam merasa malu kepada kaumnya dan kepada delegasinya ketika diperlakukan seperti yang diperlakukan. Dia berkata: Jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang bodoh di antara kami? Di antara mereka ada yang Allah ketahui dari apa yang meresap dalam hatinya tentang kecintaan kepada anak sapi dan keimanan kepadanya, karena itulah bumi mengguncang mereka. Dia berkata: Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (Al-A’raf: 156-157).

Maka dia berkata: Ya Tuhanku, aku memohonkan tobat untuk kaumku, lalu Engkau berkata: Sesungguhnya rahmat-Mu Engkau tetapkan untuk kaum selain kaumku. Seandainya Engkau mengakhirkan aku hingga Engkau mengeluarkan aku dalam umat laki-laki itu yang diberi rahmat. Maka Allah berkata kepadanya: Sesungguhnya tobat mereka adalah setiap orang membunuh siapa yang dia temui dari ayah dan anak, lalu dia membunuhnya dengan pedang, tidak peduli siapa yang dia bunuh pada tempat itu. Bertobatlah orang-orang yang tersembunyi dari Musa dan Harun dan Allah mengetahui dari dosa-dosa mereka, lalu mereka mengakuinya dan melakukan apa yang diperintahkan. Maka Allah mengampuni pembunuh dan yang terbunuh.

Kemudian Musa berangkat bersama mereka menuju Tanah Suci. Dia mengambil loh-loh setelah kemarahannya mereda, lalu memerintahkan mereka dengan apa yang diperintahkan dari kewajiban-kewajiban. Hal itu berat bagi mereka dan mereka menolak untuk menerimanya. Maka Allah mengangkat gunung di atas mereka seolah-olah bayangan dan mendekatkannya kepada mereka hingga mereka khawatir akan jatuh menimpa mereka. Maka mereka mengambil kitab dengan tangan kanan mereka sambil menunduk melihat ke gunung, dan kitab di tangan mereka sedang mereka berada di belakang gunung, karena khawatir akan jatuh menimpa mereka.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Tanah Suci, lalu menemukan kota yang di dalamnya ada kaum yang sangat kuat, penciptaan mereka sangat aneh – dan disebutkan dari buah-buahan mereka sesuatu yang mengagumkan dari besarnya. Maka mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang kuat, dan kami tidak akan memasukinya selama mereka berada di dalamnya. Jika mereka keluar darinya, maka kami akan masuk. Berkata dua orang dari orang-orang yang takut – dikatakan kepada Yazid: Begitukah dia membacanya? Dia berkata: Ya – dari kaum yang kuat yang beriman kepada Musa dan keluar kepadanya. Mereka berkata: Kami lebih mengetahui kaum kami. Jika kalian hanya takut dari apa yang kalian lihat dari tubuh dan jumlah mereka, maka sesungguhnya mereka tidak mempunyai hati dan tidak ada kekuatan pada mereka. Maka masuklah kepada mereka melalui pintu, jika kalian memasukinya maka kalian akan menang. Ada orang-orang yang mengatakan: Bahwa keduanya dari kaum Musa.

Berkata orang-orang yang takut, Bani Israil: Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka berada di dalamnya. Maka pergilah engkau dan Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami di sini menunggu saja. (Al-Ma’idah: 24). Maka mereka membuat Musa marah, lalu dia mendoakan keburukan atas mereka dan menyebut mereka orang-orang fasik. Dia tidak mendoakan keburukan atas mereka sebelum itu meskipun melihat dari mereka kemaksiatan dan keburukan mereka, hingga pada hari itu. Maka Allah mengabulkannya dan menyebut mereka sebagaimana dia menyebut mereka orang-orang fasik. Maka Allah mengharamkannya atas mereka selama empat puluh tahun, mereka tersesat di bumi. Mereka bangun setiap pagi lalu berjalan tanpa ada tempat tinggal tetap.

Kemudian Allah menaungi mereka dengan awan di padang Tih, dan menurunkan kepada mereka manna dan salwa, dan menjadikan bagi mereka pakaian yang tidak usang dan tidak kotor. Dia menjadikan di tengah-tengah mereka batu berbentuk persegi. Dia memerintahkan Musa lalu memukulnya dengan tongkatnya, maka memancarlah darinya dua belas mata air, di setiap sisi tiga mata air. Dia memberitahukan setiap suku mata air mereka yang mereka minum darinya. Mereka tidak berpindah dari suatu tempat kecuali mereka menemukan batu itu di tempat yang sama seperti kemarin.

Ibnu Abbas mengangkat hadits ini sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yang membenarkan itu menurutku adalah bahwa Muawiyah mendengar Ibnu Abbas menceritakan hadits ini lalu mengingkarinya bahwa orang Mesir yang membongkar kepada Musa urusan orang yang terbunuh yang dia bunuh. Dia berkata: Bagaimana dia membongkarnya, padahal dia tidak mengetahuinya dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang Israel yang menyaksikan itu? Maka Ibnu Abbas marah, lalu memegang tangan Muawiyah dan pergi bersamanya kepada Sa’d bin Malik Az-Zuhri. Dia berkata kepadanya: Wahai Abu Ishaq, apakah engkau ingat hari ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami tentang orang yang terbunuh oleh Musa yang dia bunuh dari keluarga Firaun? Apakah orang Israel yang membongkarnya ataukah orang Mesir? Dia berkata: Yang membongkarnya adalah orang Mesir dari apa yang dia dengar dari orang Israel yang menyaksikan dan menghadiri itu.

Demikianlah Imam An-Nasa’i menyampaikan hadits ini, dan dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsir keduanya dari hadits Yazid bin Harun. Yang lebih tepat, wallahu a’lam, adalah bahwa ini mauquf, dan sebagai hadits marfu’ di dalamnya ada penelitian. Kebanyakannya diambil dari Israeliyat, dan di dalamnya ada sedikit yang ditegaskan sebagai marfu’ di tengah-tengah perkataan. Pada sebagian isinya ada penelitian dan keanehan. Yang paling banyak adalah bahwa ini dari perkataan Ka’ab Al-Ahbar. Aku telah mendengar guru kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi mengatakan demikian, wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.

Kisah Pembangunan Kemah Pertemuan

Ahli Kitab berkata: Allah memerintahkan Musa alaihissalam untuk membuat kemah dari kayu saru, kulit ternak, dan bulu domba, serta memerintahkan untuk menghiasinya dengan sutra berwarna, emas, dan perak, dengan cara-cara yang terperinci menurut ahli Kitab. Kemah itu memiliki sepuluh layar, panjang setiap layar dua puluh delapan hasta, dan lebarnya empat hasta, memiliki empat pintu, dan tali-tali dari sutra serta kain damaskus berwarna. Di dalamnya terdapat rak-rak dan lembaran-lembaran dari emas dan perak, pada setiap sudut ada dua pintu, dan pintu-pintu besar lainnya, serta tirai-tirai dari sutra berwarna, dan lain-lain yang panjang untuk disebutkan. Dan membuat tabut dari kayu saru, panjangnya dua hasta setengah, lebarnya dua hasta, dan tingginya satu hasta setengah, dilapisi dengan emas murni dari dalam dan luarnya, memiliki empat gelang di keempat sudutnya, dan pada kedua tepinya terdapat dua kerub dari emas, yaitu bentuk dua malaikat bersayap yang saling berhadapan. Ini dibuat oleh seorang bernama Besaleel. Allah memerintahkannya untuk membuat meja dari kayu saru, panjangnya dua hasta, lebarnya satu hasta setengah, memiliki lapisan emas, dan mahkota emas dengan bibir yang menonjol dengan mahkota dari emas, dan empat gelang dari sisinya dari emas; manik-manik seperti delima dari kayu berlapis emas. “Buatlah piring-piring, cawan-cawan, dan mangkuk-mangkuk di atas meja, dan buatlah pelita dari emas yang ditempa, padanya ada enam cabang dari emas, dari setiap sisi tiga cabang, pada setiap cabang ada tiga lampu, dan hendaknya pada pelita itu ada empat lampu, dan semuanya beserta semua perkakas ini dari satu talenta emas.” Ini juga dibuat oleh Besaleel, dan dialah yang juga membuat mezbah. Kemah ini didirikan pada hari pertama tahun mereka, yaitu hari pertama musim semi. Didirikan tabut kesaksian, dan inilah – wallahu a’lam – yang disebutkan dalam firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah akan datang kepadamu tabut yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 248).

Bab ini dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab mereka, di dalamnya terdapat syariat-syariat dan hukum-hukum bagi mereka, sifat kurban mereka dan tata caranya. Di dalamnya disebutkan bahwa kemah pertemuan telah ada sebelum mereka menyembah anak sapi, yang terjadi sebelum kedatangan mereka ke Baitul Maqdis, dan kemah itu bagi mereka seperti Ka’bah, mereka shalat di dalamnya dan menghadap kepadanya, serta mendekatkan diri di sisinya. Musa alaihissalam jika masuk ke dalamnya, mereka berdiri di dekatnya, dan turunlah tiang awan di pintunya, maka mereka bersujud kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berbicara kepada Musa alaihissalam dari tiang awan itu yang merupakan cahaya, dan berdialog dengannya, berbisik kepadanya, memerintahkan dan melarangnya, sementara ia berdiri di dekat tabut menghadap ke arah antara dua kerub. Jika pembicaraan selesai, ia memberitahukan kepada Bani Israil tentang apa yang telah diwahyukan Allah Azza wa Jalla kepadanya berupa perintah-perintah dan larangan-larangan. Jika mereka berhukum kepadanya dalam suatu perkara yang tidak ada ketentuan dari Allah tentangnya, ia datang ke kemah pertemuan, berdiri di dekat tabut, dan menghadap ke arah antara kedua kerub itu, maka datanglah kepadanya firman yang berisi putusan perkara tersebut. Ini adalah syariat bagi mereka di zaman mereka, maksudnya menggunakan emas, sutra berwarna, dan mutiara di tempat ibadah mereka dan di tempat shalat mereka. Adapun dalam syariat kita, tidak demikian, bahkan kita dilarang menghiasi dan mempercantik masjid agar tidak menyibukkan orang yang shalat. Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata ketika meluaskan masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia berkata kepada orang yang ditugaskan untuk pembangunannya: “Bangunlah untuk manusia apa yang melindungi mereka, dan janganlah engkau memerahkan atau menguningkannya sehingga memfitnah manusia.” Ibnu Abbas berkata: “Kalian pasti akan menghiasinya sebagaimana Yahudi dan Nasrani menghiasi gereja-gereja mereka.”

Ini termasuk bentuk penghormatan, pemuliaan, dan penyucian. Umat ini tidak menyerupai umat-umat sebelum mereka, karena Allah mengumpulkan perhatian mereka dalam shalat mereka untuk menghadap kepada-Nya dan menghadapkan diri kepada-Nya, serta menjaga pandangan dan pikiran mereka dari kesibukan dan memikirkan hal lain selain ibadah agung yang sedang mereka lakukan. Maka bagi Allah segala puji dan karunia.

Kemah pertemuan ini berada bersama Bani Israil di Tih, mereka shalat menghadapnya, ia adalah kiblat mereka dan Ka’bah mereka. Imam mereka adalah Musa kaliimullah alaihissalam, dan yang menguruskan kurban adalah saudaranya Harun alaihissalam.

Ketika Harun, kemudian Musa alaihimassalam wafat, keturunan Harun meneruskan urusan kurban yang dahulu ditangani ayah mereka, dan hal itu berlangsung pada mereka hingga sekarang. Yang memikul beban kenabian setelah Musa dan mengurus urusan setelahnya adalah penggantinya Yusya bin Nun alaihissalam, dan dialah yang membawa mereka masuk ke Baitul Maqdis, sebagaimana akan dijelaskan kemudian. Yang dimaksud di sini adalah bahwa ketika ia menguasai Baitul Maqdis, ia mendirikan kemah ini di atas batu Baitul Maqdis, dan mereka shalat menghadapnya. Ketika kemah itu hilang, mereka shalat menghadap tempatnya yaitu batu itu. Oleh karena itu, batu itu menjadi kiblat para nabi setelahnya hingga zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah shalat menghadapnya sebelum hijrah, dan ia menjadikan Ka’bah di hadapannya. Ketika hijrah, ia diperintahkan untuk shalat menghadap Baitul Maqdis, maka ia shalat menghadapnya selama enam belas bulan, dan ada yang mengatakan tujuh belas bulan. Kemudian kiblat diubah ke Ka’bah, yaitu kiblatnya Ibrahim, pada bulan Syakban tahun kedua, pada waktu shalat Ashar. Ada yang mengatakan waktu Zhuhur, sebagaimana kami jelaskan secara rinci dalam kitab Tafsir, pada firman-Nya Ta’ala: “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?'” hingga firman-Nya: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (Al-Baqarah: 142-144).

Kisah Qarun Dengan Musa Alaihissalam

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’ Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Mudah-mudahan kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’ Dan orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.’ Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, pastilah Dia membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah tidak beruntung orang-orang yang kafir.’ Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 76-83).

Al-A’masy meriwayatkan dari Al-Minhal bin Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Qarun adalah anak paman Musa. Demikian juga dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha’i, Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, dan Ibnu Juraij. Ibnu Juraij menambahkan: Ia adalah Qarun bin Yashar bin Qahats, dan Musa bin Imran bin Qahats. Ibnu Juraij berkata: Ini adalah pendapat sebagian besar ahli ilmu bahwa ia adalah anak paman Musa. Dan ia membantah pendapat Ibnu Ishaq yang mengatakan bahwa ia adalah paman Musa. Qatadah berkata: Ia disebut Al-Munawwir karena bagusnya suaranya ketika membaca Taurat, tetapi musuh Allah ini munafik, sebagaimana Samiri munafik, maka ia dibinasakan karena kesombongannya atas banyaknya hartanya. Syahr bin Hausyab berkata: Ia menambah pakaiannya sejengkal panjangnya karena kesombongan terhadap kaumnya.

Allah Ta’ala telah menyebutkan banyaknya harta bendanya hingga kunci-kuncinya sangat berat dipikul oleh sekelompok besar laki-laki yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa kunci-kunci itu terbuat dari kulit, dan dipikul oleh enam puluh ekor bagal. Wallahu a’lam.

Orang-orang yang baik dari kaumnya telah menasihatinya dengan berkata: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”, artinya janganlah sombong dengan apa yang telah diberikan kepadamu dan membanggakan diri di hadapan orang lain. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat”, mereka berkata: Hendaklah cita-citamu tertuju untuk memperoleh pahala Allah di negeri akhirat, karena itu lebih baik dan lebih kekal. Dengan itu, “janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”, artinya ambillah darinya dengan hartamu apa yang telah dihalalkan Allah untukmu, maka nikmati dirimu dengan kenikmatan yang baik dan halal. “Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, artinya berbuat baiklah kepada makhluk Allah sebagaimana Allah Pencipta dan Pembentuk mereka telah berbuat baik kepadamu. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi”, artinya janganlah berbuat buruk kepada mereka dan merusak di tengah mereka, sehingga engkau menghadapi mereka dengan kebalikan dari apa yang diperintahkan kepadamu tentang mereka, maka Dia akan menghukummu dan mengambil apa yang telah Dia berikan kepadamu. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Apa jawaban Qarun terhadap nasihat yang benar dan fasih ini? Tidak lain hanya berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”, artinya: aku tidak perlu menggunakan apa yang kalian sebutkan, dan tidak perlu dengan apa yang kalian tunjukkan, karena Allah hanya memberi aku ini karena pengetahuan-Nya bahwa aku berhak atasnya, dan aku pantas mendapatkannya. Seandainya aku bukan kekasih-Nya dan tidak mendapat bagian di sisi-Nya, Dia tidak akan memberi aku apa yang telah Dia berikan.

Allah Ta’ala berfirman sebagai bantahan terhadap apa yang ia kemukakan: “Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” Artinya: Kami telah membinasakan umat-umat terdahulu karena dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, mereka yang lebih kuat dari Qarun dan lebih banyak harta serta anak-anaknya. Seandainya apa yang ia katakan benar, Kami tidak akan menghukum siapa pun yang lebih banyak hartanya darinya, dan hartanya bukanlah bukti kecintaan Kami kepadanya dan perhatian Kami terhadapnya. Sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” (Saba’: 37). Dan firman-Nya Ta’ala: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Sebenarnya mereka tidak menyadari.” (Al-Mu’minun: 55-56). Bantahan ini menunjukkan kebenaran apa yang kami kemukakan tentang makna ucapannya: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”

Adapun orang yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ia mengetahui ilmu alkimia, atau ia hafal nama Allah yang paling agung lalu menggunakannya untuk mengumpulkan harta, itu tidak benar. Karena alkimia adalah khayalan dan pewarnaan yang tidak mengubah hakikat, dan tidak menyerupai ciptaan Sang Pencipta. Nama yang paling agung tidak akan mengabulkan doa dari orang yang kafir kepada-Nya, dan Qarun adalah kafir di dalam batinnya, munafik di luarnya. Kemudian, jawabannya kepada mereka dengan ini tidak sah berdasarkan anggapan ini, dan tidak ada keterkaitan antara kedua pernyataan itu. Kami telah menjelaskan ini dalam kitab kami Tafsir, dan segala puji bagi Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.” Banyak mufassir menyebutkan bahwa ia keluar dengan kemewahan yang sangat besar; dari pakaian, kendaraan, pelayan, dan pengikut. Ketika orang-orang yang mengagungkan kemewahan hidup dunia melihatnya, mereka berharap seandainya mereka sepertinya, dan mereka iri kepadanya atas apa yang ada padanya dan yang dimilikinya. Ketika para ulama yang memiliki pemahaman yang benar, para zahid yang cerdas, mendengar ucapan mereka, mereka berkata kepada mereka: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh”, artinya pahala Allah di negeri akhirat lebih baik dan lebih kekal, lebih mulia dan lebih tinggi. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”, artinya tidak akan memperoleh nasihat ini, perkataan ini, dan cita-cita yang tinggi menuju negeri akhirat yang mulia ini, ketika melihat kemewahan dunia yang hina ini, kecuali orang yang Allah telah memberi petunjuk kepada hatinya, menetapkan kalbunya, menguatkan akalnya, mewujudkan maksudnya. Betapa baiknya perkataan sebagian salaf: Sesungguhnya Allah mencintai pandangan yang tajam ketika datangnya syubhat, dan akal yang sempurna ketika datangnya syahwat.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” Setelah Allah Ta’ala menyebutkan keluarnya ia dalam kemegahannya, kesombongannya dengannya, dan kefakhirannya kepada kaumnya dengannya, Dia berfirman: “Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang menyombongkan kainnya, tiba-tiba dia dibenamkan ke dalam bumi, maka dia terus berputar-putar di dalam bumi hingga hari kiamat.” Kemudian Bukhari meriwayatkannya dari hadits Jarir bin Zaid, dari Salim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang semakna dengannya.

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas dan As-Suddi, bahwa Qarun memberikan uang kepada seorang wanita pelacur, agar dia mengatakan kepada Musa ‘alaihissalam, di hadapan orang banyak: Engkau telah melakukan ini dan itu kepadaku. Dikatakan: bahwa wanita itu mengatakan hal tersebut kepadanya, maka Musa gemetar ketakutan dan shalat dua rakaat, kemudian dia menghadap kepada wanita itu dan meminta dia bersumpah: Siapa yang menyuruhmu melakukan itu, dan apa yang mendorongmu melakukannya? Maka wanita itu menyebutkan bahwa Qarun-lah yang mendorongnya melakukan hal itu, dan dia memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Saat itulah Musa bersujud kepada Allah, dan berdoa kepada Allah agar menimpakan azab kepada Qarun. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Sesungguhnya Aku telah memerintahkan bumi untuk menaatimu dalam urusan dia. Maka Musa memerintahkan bumi untuk menelan dia dan rumahnya, lalu hal itu terjadi. Maka Allah Maha Mengetahui. Dan telah dikatakan: Sesungguhnya Qarun ketika keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya, melewati dengan pasukan, keledai-keledainya, dan pakaian-pakaiannya, majlis Musa ‘alaihissalam, sementara dia sedang mengingatkan kaumnya dengan hari-hari Allah. Ketika orang-orang melihatnya, banyak wajah orang yang berpaling memandang kepadanya. Maka Musa ‘alaihissalam memanggilnya dan berkata kepadanya: Apa yang mendorongmu melakukan ini? Qarun menjawab: Wahai Musa, jika engkau dilebihkan atasku dengan kenabian, maka sungguh aku dilebihkan atasmu dengan harta, dan jika engkau mau, keluarlah dan berdoalah atasku, dan aku akan berdoa atasmu. Maka dia keluar, dan Qarun keluar bersama kaumnya. Musa berkata kepadanya: Apakah engkau yang berdoa atau aku yang berdoa? Qarun menjawab: Aku yang berdoa. Maka Qarun berdoa, tetapi tidak dikabulkan terhadap Musa. Lalu Musa berkata: Bolehkah aku berdoa? Qarun menjawab: Ya. Maka Musa berkata: Ya Allah, perintahkan bumi, maka taatilah aku hari ini. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: Sesungguhnya Aku telah melakukannya. Maka Musa berkata: Wahai bumi, ambillah mereka. Lalu bumi mengambil mereka sampai ke kaki mereka, kemudian dia berkata: Ambillah mereka. Maka bumi mengambil mereka sampai ke lutut mereka, kemudian sampai ke pundak mereka. Kemudian dia berkata: Datangkanlah perbendaharaan dan harta mereka. Maka bumi mendatangkan semuanya, hingga mereka melihatnya, kemudian Musa memberi isyarat dengan tangannya dan berkata: Pergilah Bani Lawi. Maka bumi meratakan diri bersama mereka. Telah diriwayatkan dari Qatadah bahwa dia berkata: Mereka dibenamkan setiap hari sedalam satu tinggi badan, hingga hari kiamat. Dan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Mereka dibenamkan hingga ke bumi yang ketujuh. Banyak mufassir menyebutkan di sini riwayat-riwayat Israiliyat yang banyak, namun kami berpaling darinya dan kami tinggalkan dengan sengaja.

Firman Allah Ta’ala: “Maka tidak ada baginya golongan yang menolongnya selain Allah dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (Surat Al-Qashash:81) Tidak ada baginya penolong dari dirinya sendiri, maupun dari yang lain, sebagaimana firman-Nya: “Maka tidak ada baginya kekuatan dan tidak (pula) penolong.” (Surat Ath-Thariq:10) Ketika menimpa dia apa yang menimpa berupa pembenaman, hilangnya harta, hancurnya rumah, binasanya jiwa, keluarga, dan harta benda, maka menyesallah orang-orang yang sebelumnya berangan-angan seperti apa yang diberikan kepadanya, dan mereka bersyukur kepada Allah Ta’ala yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dari pengaturan yang baik yang tersimpan. Oleh karena itu mereka berkata: “Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kami, niscaya Dia akan membenamkan kami (pula). Aduhai (alangkah ruginya), orang-orang kafir itu tidak beruntung.” (Surat Al-Qashash:82) Dan kami telah membahas tentang lafadz “Waika” dalam “Tafsir”, dan Qatadah telah berkata: Waika’anna bermakna “Tidakkah engkau lihat bahwa.” Dan ini adalah perkataan yang baik dari segi makna. Wallahu a’lam. Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang negeri akhirat itu yaitu negeri ketetapan. Yaitu negeri yang orang yang diberi negeri itu patut diucapkan selamat, dan orang yang tidak mendapatkannya patut ditakziah. Sesungguhnya itu hanya disediakan “bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (Surat Al-Qashash:83) Sombong adalah takabur, bangga diri, angkuh, dan congkak. Sedangkan kerusakan adalah melakukan kemaksiatan yang melekat dan yang melampaui batas; seperti mengambil harta orang lain, merusak penghidupan mereka, menyakiti mereka, dan tidak memberi nasihat kepada mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Qashash:83)

Kisah Qarun ini, mungkin terjadi sebelum mereka keluar dari Mesir; berdasarkan firman-Nya: “Maka Kami benamkanlah Qarun bersama rumahnya ke dalam bumi.” (Surat Al-Qashash:81) Karena rumah itu jelas berupa bangunan. Dan mungkin juga setelah itu di Tih, dan rumah di sini maksudnya adalah tempat tinggal di mana khemah-khemah didirikan, sebagaimana kata Antarah:

Wahai rumah Ablah di Jawa’, berbicaralah. Dan selamatlah engkau wahai rumah Ablah, dan semoga engkau selamat di pagi hari.

Wallahu a’lam.

Allah Ta’ala telah menyebutkan celaan terhadap Qarun dalam beberapa ayat Al-Quran; Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: ‘(Dia adalah) ahli sihir lagi pendusta.'” (Surat Ghafir:23-24) Dan Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ankabut setelah menyebutkan kaum ‘Ad dan Tsamud: “Dan (Kami telah membinasakan) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka menyombongkan diri di (muka) bumi, dan mereka tidak dapat luput (dari azab Kami). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Surat Al-Ankabut:39-40) Maka yang dibenamkan ke dalam bumi adalah Qarun, sebagaimana telah disebutkan. Dan yang ditenggelamkan adalah Fir’aun, Haman, dan bala tentara mereka. “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Surat Al-Ankabut:40)

Imam Ahmad telah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ka’ab bin Alqamah, dari Isa bin Hilal Ash-Shadufi, dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menyebutkan tentang shalat pada suatu hari, lalu bersabda: “Barangsiapa yang menjaganya, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka tidak akan ada cahaya, bukti, dan keselamatan baginya, dan dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf pada hari kiamat.” Hadits ini diriwayatkan tersendiri oleh Ahmad, rahimahullah.

Penyebutan Keutamaan-Keutamaan Musa ‘alaihissalam, Sifat-Sifatnya, Ciri-Cirinya, dan Wafatnya

Allah Ta’ala berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Musa di dalam Al Kitab (ini). Sesungguhnya dia adalah seorang yang dipilih dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan Kami memanggil dia dari sisi (gunung) yang sebelah kanan dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat (dengan Kami). Dan Kami kurniakan kepadanya sebagai rahmat dari Kami, saudaranya Harun juga seorang nabi.” (Surat Maryam:51-53) Dan Allah Ta’ala berfirman: “(Allah) berfirman: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku memilihmu melebihi manusia (yang lain) dengan membawa risalah-Ku dan dengan kata-kata-Ku.'” (Surat Al-A’raf:144) Telah disebutkan sebelumnya dalam Shahihain, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian mengutamakan aku atas Musa, karena sesungguhnya manusia akan pingsan pada hari kiamat, maka aku adalah orang pertama yang sadar, lalu aku mendapati Musa sedang memegang tiang Arasy, maka aku tidak tahu apakah dia pingsan lalu sadar sebelumku, ataukah dia diberi ganjaran karena pingsannya di gunung Thur.” Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dari pintu merendahkan diri dan tawadhu’, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, dan pemimpin anak cucu Adam di dunia dan akhirat secara pasti dan meyakinkan yang tidak mungkin sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya,” hingga firman-Nya: “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (Surat An-Nisa’:163-164) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Surat Al-Ahzab:69)

Imam Abu Abdullah Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah, dari ‘Auf, dari Al-Hasan, Muhammad, dan Khilas, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Musa adalah seorang yang sangat pemalu dan sangat menutupi tubuhnya, tidak terlihat kulitnya sedikit pun karena malunya. Maka orang-orang Bani Israil yang menyakitinya berkata: Tidaklah dia menutupi dirinya yang sangat ini kecuali karena ada cacat pada kulitnya; baik penyakit kusta, atau bengkak zakar, atau cacat lainnya. Dan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla ingin membebaskannya dari apa yang mereka katakan tentang Musa. Pada suatu hari dia menyendiri, lalu meletakkan pakaiannya di atas batu, kemudian mandi. Ketika selesai, dia mengambil pakaiannya untuk mengenakannya. Dan tiba-tiba batu itu berlari membawa pakaiannya. Maka Musa mengambil tongkatnya dan mengejar batu itu sambil berkata: Pakaianku wahai batu, pakaianku wahai batu. Hingga dia sampai di tengah-tengah kelompok Bani Israil, maka mereka melihatnya dalam keadaan telanjang, dengan bentuk yang paling baik yang diciptakan Allah, dan Allah membebaskannya dari apa yang mereka katakan. Batu itu berhenti, lalu dia mengambil pakaiannya dan memakainya, dan mulai memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, sesungguhnya pada batu itu terdapat bekas pukulannya tiga kali, atau empat kali, atau lima kali.” Dia berkata: “Maka itulah firman-Nya ‘azza wa jalla: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits Abdullah bin Syaqiq, dan Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah dengannya. Dan terdapat dalam Shahihain dari hadits Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah dengannya. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili dari Abu Hurairah.

Sebagian Salaf berkata: Termasuk kedudukannya yang mulia adalah bahwa dia memberi syafaat kepada saudaranya di hadapan Allah, dan meminta kepada-Nya agar saudaranya menjadi pembantunya, maka Allah mengabulkan permintaannya dan memberinya apa yang dia minta, dan menjadikannya seorang nabi; sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami kurniakan kepadanya sebagai rahmat dari Kami, saudaranya Harun juga seorang nabi.” (Surat Maryam:53) Kemudian Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, aku bertanya kepada Abu Wa’il, dia berkata: Aku mendengar Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi suatu pembagian, lalu seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mencari wajah Allah. Maka aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukannya, maka beliau marah hingga aku melihat kemarahan di wajahnya, kemudian berkata: “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh dia disakiti dengan yang lebih dari ini, namun dia bersabar.” Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim, dari berbagai jalan, dari Sulaiman bin Mihran Al-A’masy dengannya.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hajjaj, aku mendengar Israil bin Yunus, dari Al-Walid bin Abi Hasyim maula Hamdan, dari Zaid bin Abi Za’id, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: “Janganlah sampai kepadaku dari seseorang tentang seseorang apa pun, karena aku ingin keluar menemui kalian dalam keadaan dadaku bersih.” Dia berkata: Lalu datanglah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harta, maka beliau membaginya. Dia berkata: Maka aku melewati dua orang laki-laki, dan salah satunya berkata kepada temannya: Demi Allah, Muhammad tidak bermaksud dengan pembagiannya ini wajah Allah, dan tidak pula negeri akhirat. Maka aku berhenti hingga aku mendengar apa yang mereka katakan. Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah berkata kepada kami: Janganlah sampai kepadaku dari seseorang tentang seseorang dari para sahabatku apa pun. Dan sesungguhnya aku melewati fulan dan fulan, dan mereka berdua mengatakan begini dan begini. Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerah, dan beliau merasa berat, kemudian berkata: “Biarkanlah kami darimu, karena Musa telah disakiti lebih dari itu, namun dia bersabar.” Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari hadits Israil, dari Al-Walid bin Abi Hasyim dengannya. Dan dalam riwayat At-Tirmidzi, dan Abu Dawud, dari jalan Al-Husain bin Muhammad, dari Israil, dari As-Suddi, dari Al-Walid dengannya. At-Tirmidzi berkata: Gharib dari jalan ini.

Telah tetap dalam Shahih dalam hadits-hadits Isra’ bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati Musa, dan dia sedang berdiri shalat di kuburnya. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari Anas.

Dalam Shahihain dari riwayat Qatadah, dari Anas, dari Malik bin Sha’sha’ah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melewati pada malam beliau diisra’kan, Musa di langit keenam. Jibril berkata kepadanya: Ini adalah Musa, maka ucapkanlah salam kepadanya. Dia berkata: Maka aku mengucapkan salam kepadanya. Maka dia berkata: Selamat datang Nabi yang saleh, dan saudara yang saleh. Ketika aku melewatinya, dia menangis. Ditanyakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Dia menjawab: Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus setelahku, yang akan masuk surga dari umatnya lebih banyak daripada yang masuk dari umatku. Dan disebutkan Ibrahim di langit ketujuh. Dan inilah yang mahfuzh (terjaga), adapun apa yang terdapat dalam hadits Syarik bin Abi Nimr, dari Anas, bahwa Ibrahim di langit keenam, dan Musa di langit ketujuh, dengan keutamaan berbicara dengan Allah, maka telah disebutkan oleh lebih dari satu orang huffazh, bahwa yang menjadi jalur yang benar, bahwa Musa di langit keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh, dan bahwa dia menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur yang dimasuki setiap hari oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian tidak kembali lagi kepadanya untuk selama-lamanya. Seluruh riwayat sepakat bahwa ketika Allah Ta’ala mewajibkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya, lima puluh shalat dalam sehari semalam, lalu beliau melewati Musa, Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu, karena sesungguhnya aku telah menangani Bani Israil sebelummu dengan penanganan yang paling berat, dan sesungguhnya umatmu lebih lemah pendengaran, penglihatan, dan hati mereka.” Maka beliau terus bolak-balik antara Musa dan Allah ‘azza wa jalla, dan Allah meringankannya pada setiap kali, hingga menjadi lima shalat dalam sehari semalam. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ini adalah lima, dan ini adalah lima puluh,” yaitu dengan pelipatan. Maka semoga Allah membalas kebaikan untuk kami dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kebaikan, dan semoga Allah membalas kebaikan untuk kami dari Musa ‘alaihissalam dengan kebaikan.

Dan Bukhari berkata: Menceritakan kepada kami Musaddad, menceritakan kepada kami Hushain bin Numair, dari Hushain bin Abdurrahman, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami suatu hari, lalu berkata: “Diperlihatkan kepadaku umat-umat, dan aku melihat kerumunan hitam yang sangat banyak memenuhi cakrawala, lalu dikatakan: Ini adalah Musa bersama kaumnya.” Demikianlah Bukhari meriwayatkan hadits ini di sini secara ringkas.

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkannya secara panjang lebar, ia berkata: Menceritakan kepada kami Suraij, menceritakan kepada kami Husyaim, menceritakan kepada kami Hushain bin Abdurrahman, ia berkata: Aku berada di sisi Sa’id bin Jubair, ia berkata: Siapakah di antara kalian yang melihat bintang yang jatuh tadi malam? Aku berkata: Aku. Kemudian aku berkata: Adapun aku, bukanlah dalam keadaan shalat tetapi karena disengat. Ia berkata: Lalu bagaimana kamu berbuat? Aku berkata: Aku meminta ruqyah. Ia berkata: Dan apa yang mendorongmu melakukan itu? Ia berkata: Aku berkata: Hadits yang diceritakan kepada kami oleh Asy-Sya’bi, dari Buraidah Al-Aslami, bahwa ia berkata: “Tidak ada ruqyah kecuali dari penyakit mata atau sengatan.” Maka Sa’id – yaitu Ibnu Jubair – berkata: Sungguh telah berbuat baik orang yang berhenti pada apa yang ia dengar. Kemudian ia berkata: Menceritakan kepada kami Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama sekelompok kecil pengikutnya, dan seorang Nabi bersama seorang atau dua orang laki-laki, dan seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya; tiba-tiba diangkat untukku kerumunan yang sangat besar, maka aku berkata: Ini adalah umatku. Maka dikatakan: Ini adalah Musa dan kaumnya, tetapi lihatlah ke ufuk. Maka tiba-tiba ada kerumunan yang sangat besar, kemudian dikatakan: Lihatlah ke arah yang ini. Maka tiba-tiba ada kerumunan yang sangat besar. Maka dikatakan: Ini adalah umatmu dan bersama mereka tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit lalu masuk, maka kaum itu membicarakan hal tersebut, lalu mereka berkata: Siapakah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab? Maka sebagian dari mereka berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sebagian dari mereka berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam, dan tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun. Dan mereka menyebutkan beberapa hal, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada mereka, maka berkata: “Apa ini yang kalian bicarakan?” Maka mereka mengabarkan kepadanya perkataan mereka, lalu beliau berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak berbekam, tidak meminta ruqyah, tidak menggunakan jimat burung, dan kepada Rabb mereka bertawakal.” Maka Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri, lalu berkata: Apakah aku termasuk mereka wahai Rasulullah? Beliau berkata: “Engkau termasuk mereka.” Kemudian orang lain berdiri lalu berkata: Apakah aku termasuk mereka wahai Rasulullah? Maka beliau berkata: “Ukkasyah telah mendahuluimu.” Dan hadits ini memiliki jalur yang sangat banyak, dan terdapat dalam kitab-kitab shahih dan hasan, dan lainnya, dan kami akan menyebutkannya insya Allah ta’ala dalam bab tentang sifat surga, ketika menyebutkan keadaan-keadaan hari kiamat dan kengerian-kengeriannnya.

Dan sungguh Allah ta’ala menyebutkan Musa ‘alaihissalam dalam Al-Qur’an berkali-kali, memujinya, dan mengisahkan kisahnya dalam kitab-Nya yang mulia berulang kali, dan mengulanginya banyak sekali, secara panjang lebar, terperinci, ringkas, dan memujinya dengan sangat baik. Dan sering kali Allah menyandingkannya, menyebutkannya, dan menyebutkan kitabnya bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kitabnya, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah: “Dan ketika datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 101). Dan Allah ta’ala berfirman: “Alif Laam Miim. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka akan mendapat azab yang berat. Dan Allah Mahaperkasa, mempunyai pembalasan.” (Ali Imran: 1-4). Dan Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-An’am: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya ketika mereka berkata: ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.’ Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan lembaran-lembaran kertas yang sebagiannya kamu perlihatkan dan sebagiannya kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepada kamu apa yang tidak diketahui oleh kamu dan juga nenek moyangmu?’ Katakanlah: ‘Allah (yang menurunkannya),’ kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kebatilan mereka. Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di sekitarnya. Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur’an) dan mereka selalu memelihara shalatnya.” (Al-An’am: 91-92).

Maka Allah ta’ala memuji Taurat, kemudian memuji Al-Qur’an Al-Karim dengan pujian yang sangat agung, dan Allah ta’ala berfirman di akhir surah tersebut: “Kemudian Kami berikan Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat baik, dan untuk menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhannya. Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.” (Al-An’am: 154-155). Dan Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Ma’idah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat yang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. (Yang) dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang-orang Yahudi, dan (demikian pula) para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al-Ma’idah: 44). Hingga firman-Nya: “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (Al-Ma’idah: 47-48) dan seterusnya. Maka Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai hakim atas seluruh kitab-kitab lainnya, dan menjadikannya membenarkan kitab-kitab tersebut, dan menjelaskan apa yang terjadi padanya berupa penyelewengan dan penggantian, karena sesungguhnya Ahli Kitab diminta menjaga apa yang ada di tangan mereka dari kitab-kitab, tetapi mereka tidak mampu menjaganya, tidak mampu menetapkannya dan memeliharanya, maka karena itulah masuk ke dalamnya apa yang masuk berupa perubahan dan penggantian mereka; karena buruknya pemahaman mereka, kekurangan dalam ilmu mereka, buruknya niat mereka, dan pengkhianatan mereka terhadap Tuhan yang mereka sembah, atas mereka laknat Allah yang berturut-turut hingga hari kiamat, dan karena itulah ditemukan dalam kitab-kitab mereka kesalahan yang nyata terhadap Allah dan para rasul-Nya, yang tidak terbatas dan tidak dapat digambarkan, dan tidak ditemukan yang serupa dengannya dan tidak dikenal.

Dan Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Anbiya’: “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil) dan cahaya serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka meskipun tidak melihat-Nya dan mereka merasa takut akan (kedatangan) hari kiamat. Dan (Al-Qur’an) ini adalah peringatan yang penuh berkah yang Kami turunkan. Maka apakah kamu sekalian mengingkarinya?” (Al-Anbiya’: 48-50). Dan Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Qashash: “Maka ketika kebenaran dari sisi Kami datang kepada mereka, mereka berkata: ‘Mengapa dia tidak diberi (mukjizat) seperti yang diberikan kepada Musa?’ Bukankah mereka (juga) telah ingkar kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka berkata: ‘(Itu adalah) dua sihir yang saling mendukung,’ dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari kedua-duanya.’ Katakanlah: ‘Kalau begitu bawalah sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih (dapat) memberi petunjuk daripada kedua kitab itu, niscaya aku mengikutinya, jika kamu orang-orang yang benar.'” (Al-Qashash: 48-49). Maka Allah memuji kedua kitab tersebut, dan kedua Rasul tersebut, ‘alaihimassalam, dan para jin berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan sebuah kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya.” (Al-Ahqaf: 30). Dan Waraqah bin Naufal berkata ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau lihat dari awal wahyu, dan membacakan kepadanya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5). Ia berkata: “Mahasuci, Mahasuci, ini adalah Namus (Jibril) yang diturunkan kepada Musa bin Imran.”

Dan pada intinya, syariat Musa ‘alaihissalam adalah syariat yang agung, dan umatnya adalah umat yang besar jumlahnya, dan di dalamnya terdapat para nabi, ulama, ahli ibadah, ahli zuhud, orang-orang cerdas, raja-raja, para pemimpin, tuan-tuan, dan pembesar-pembesar, akan tetapi mereka telah berlalu dan berubah, sebagaimana syariat mereka diubah, dan mereka dimutasi menjadi kera dan babi, kemudian setelah semua perhitungan itu, agama mereka dinasakh, dan terjadi kepada mereka musibah-musibah dan perkara-perkara yang panjang untuk disebutkan, akan tetapi kami akan menyebutkan apa yang di dalamnya terdapat kecukupan bagi siapa yang ingin mengetahui berita tentang mereka, insya Allah ta’ala, kepada-Nya kepercayaan dan kepada-Nya sandaran.

Kisah Haji Musa ‘alaihissalam ke Baitullah dan Sifatnya

Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami Husyaim, menceritakan kepada kami Daud bin Abi Hind, dari Abu Al-‘Aliyah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati Wadi Al-Azraq, lalu berkata: “Wadi apakah ini?” Mereka berkata: Wadi Al-Azraq. Beliau berkata: “Seolah-olah aku melihat Musa, dan ia turun dari celah gunung, dan ia bersuara keras kepada Allah ‘azza wa jalla dengan talbiyah.” Hingga beliau sampai di Tsaniyyah Harsya’, lalu berkata: “Celah gunung apakah ini?” Mereka berkata: Ini Tsaniyyah Harsya’. Beliau berkata: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta, di atas unta merah, mengenakan jubah dari wol, tali kekang untanya dari sabut,” – Husyaim berkata: yaitu serat – “dan ia sedang bertalbiyah.” Dan Muslim mengeluarkannya dari hadits Daud bin Abi Hind dengannya. Dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Sesungguhnya Musa berhaji di atas lembu jantan merah.” Dan ini sangat gharib (aneh).

Dan Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Adi, dari Ibnu ‘Aun, dari Mujahid, ia berkata: Kami berada di sisi Ibnu Abbas, lalu mereka menyebutkan Dajjal, maka ia berkata: Sesungguhnya tertulis di antara kedua matanya: (K F R). Ia berkata: Apa yang kalian katakan? Ia berkata: Mereka berkata tertulis di antara kedua matanya (K F R). Maka Ibnu Abbas berkata: Aku tidak mendengarnya mengatakan demikian, tetapi ia berkata: “Adapun Ibrahim, maka lihatlah kepada sahabat kalian, dan adapun Musa, maka ia seorang laki-laki berkulit sawo matang, rambut keriting, di atas unta merah, tali kekangnya dari sabut, seolah-olah aku melihatnya dan ia telah turun dari lembah sambil bertalbiyah.” Husyaim berkata: Al-Khulbah adalah serat.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Aswad, dari Isra’il, dari Utsman bin Al-Mughirah, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku melihat Isa bin Maryam, dan Musa, dan Ibrahim; adapun Isa, maka berkulit putih, rambut keriting, bidang dada, dan adapun Musa, maka berkulit sawo matang, berbadan besar,” mereka berkata: Lalu bagaimana dengan Ibrahim? Beliau berkata: “Lihatlah kepada sahabat kalian.” Dan Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami Yunus, menceritakan kepada kami Syaiban, ia berkata: Menceritakan Qatadah, dari Abu Al-‘Aliyah, menceritakan kepada kami sepupu nabi kalian Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku melihat pada malam aku diisra’kan, Musa bin Imran, seorang laki-laki tinggi, rambut keriting, seolah-olah ia dari kaum Syanuu’ah, dan aku melihat Isa bin Maryam, sedang tinggi badan, cenderung ke merah dan putih, rambut lurus.” Dan keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dari hadits Qatadah dengannya.

Dan Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, menceritakan kepada kami Ma’mar, Az-Zuhri berkata: Dan mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata ketika beliau diisra’kan: “Aku bertemu Musa,” lalu beliau menggambarkannya, maka ia berkata: Seorang laki-laki, ia berkata: Aku mengira ia berkata: “Berambut ikal, seolah-olah ia dari kaum Syanuu’ah. Dan aku bertemu Isa,” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkannya, maka berkata: “Sedang tinggi badan, merah, seolah-olah ia baru keluar dari dimas.” Yaitu pemandian. Beliau berkata: “Dan aku melihat Ibrahim, dan aku adalah yang paling mirip dari anak-anaknya dengannya.” Hadits. Dan telah disebutkan sebagian besar hadits-hadits ini dalam riwayat tentang Al-Khalil, shalawatullahi ‘alaihi wasalamuhu.

Penyebutan Wafatnya Nabi Musa, alaihissalam

Al-Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya: Wafat Musa, alaihissalam: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Malaikat maut diutus kepada Musa alaihissalam, ketika ia datang kepadanya, Musa menamparnya, maka malaikat itu kembali kepada Tuhannya Azza wa Jalla, lalu berkata: Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian. Allah berfirman: Kembalilah kepadanya, dan katakan kepadanya agar meletakkan tangannya di atas punggung seekor sapi jantan, maka baginya setiap rambut yang tertutup tangannya satu tahun. Musa berkata: Wahai Tuhanku, kemudian apa? Allah berfirman: Kemudian kematian. Musa berkata: Kalau begitu sekarang saja. Ia memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar mendekatkannya ke Tanah Suci sejauh lemparan batu. Abu Hurairah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seandainya aku berada di sana, niscaya aku tunjukkan kepadamu kuburannya, di tepi jalan, dekat bukit pasir merah.

Ia berkata: Dan telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti itu. Dan Muslim telah meriwayatkan jalur yang pertama dari hadits Abdurrazzaq dengannya. Dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari hadits Hammad bin Salamah, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Abu Hurairah secara marfu’, dan akan datang.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abu Yunus yaitu Sulaim bin Jubair, dari Abu Hurairah – Imam Ahmad berkata: ia tidak merafa’kannya – ia berkata: Malaikat maut datang kepada Musa alaihissalam, lalu berkata: Penuhilah panggilan Tuhanmu. Maka Musa menampar mata malaikat maut, hingga mencongkelnya. Malaikat itu kembali kepada Allah, lalu berkata: Sesungguhnya Engkau mengutusku kepada hamba-Mu yang tidak menginginkan kematian. Katanya: Dan ia telah mencongkel mataku. Allah mengembalikan matanya, dan berfirman: Kembalilah kepada hamba-Ku, dan katakan kepadanya: Apakah engkau menginginkan kehidupan? Jika engkau menginginkan kehidupan, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung seekor sapi jantan, maka sesungguhnya engkau akan hidup dengan setiap rambut yang tertutup tanganmu satu tahun. Musa berkata: Kemudian apa? Allah berfirman: Kemudian kematian. Musa berkata: Kalau begitu sekarang ya Tuhanku, secepatnya. Hanya Ahmad yang menyendiri dengan hadits ini, dan ia mauquf dengan lafazh ini.

Ibnu Hibban telah meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya, dari jalur Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Ma’mar berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar dari Al-Hasan, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu ia menyebutkannya. Kemudian Ibnu Hibban merasa ada yang janggal dengannya, dan menjawabnya dengan inti: bahwa malaikat maut, ketika mengatakannya ini, tidak dikenali olehnya; karena kedatangannya dalam wujud yang tidak dikenal Musa alaihissalam, sebagaimana Jibril alaihissalam datang dalam wujud orang Arab pedalaman, dan sebagaimana malaikat-malaikat datang kepada Ibrahim dan Luth dalam wujud pemuda-pemuda, maka Ibrahim dan Luth tidak mengenali mereka pada awalnya. Demikian pula Musa, mungkin ia tidak mengenalinya karena hal itu dan menamparnya hingga mencongkel matanya; karena ia masuk ke rumahnya tanpa izinnya, dan ini sesuai dengan syariat kita dalam kebolehan mencongkel mata orang yang mengintip ke rumahmu tanpa izin.

Kemudian ia menyebutkan hadits dari jalur Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Malaikat maut datang kepada Musa untuk mencabut nyawanya, ia berkata kepadanya: Penuhilah panggilan Tuhanmu. Maka Musa menampar mata malaikat maut, hingga mencongkel matanya, dan ia menyebutkan kelanjutan hadits – sebagaimana yang ditunjukkan Al-Bukhari – kemudian menakwilkannya bahwa ketika ia mengangkat tangannya untuk menamparnya, malaikat itu berkata kepadanya: Penuhilah panggilan Tuhanmu. Takwil ini tidak sesuai dengan lafazh yang disebutkan, yaitu datangnya ucapan: Penuhilah panggilan Tuhanmu, diikuti dengan menamparnya. Seandainya ia tetap pada jawaban yang pertama, akan berjalan baginya. Dan seolah-olah ia tidak mengenalinya dalam wujud itu, dan tidak mengartikan ucapannya ini bahwa itu sesuai; karena ia tidak memastikan pada saat itu bahwa itu malaikat yang mulia; karena ia berharap banyak hal yang ia sukai terjadi dalam hidupnya; seperti keluarnya mereka dari padang Tih, masuknya mereka ke Tanah Suci, dan telah ditetapkan dalam takdir Allah, bahwa ia alaihissalam akan mati di padang Tih, setelah Harun saudaranya, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah. Sebagian mereka menduga bahwa Musa alaihissalam adalah yang membawa mereka keluar dari padang Tih, dan masuk bersama mereka ke Tanah Suci. Ini berbeda dengan yang diyakini Ahlul Kitab dan jumhur kaum muslimin. Di antara yang menunjukkan hal itu, ucapannya ketika memilih kematian: Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku ke Tanah Suci, sejauh lemparan batu. Seandainya ia telah memasukinya, ia tidak akan meminta itu, tetapi karena ia bersama kaumnya di padang Tih, dan wafatnya telah tiba alaihissalam, ia ingin mendekat ke tanah yang ia hijrah kepadanya, dan mendorong kaumnya kepadanya, tetapi takdir menghalangi antara mereka dan tanah itu, sejauh lemparan batu. Oleh karena itu pemimpin manusia dan Rasulullah kepada penduduk pedalaman dan perkotaan bersabda: Seandainya aku berada di sana, niscaya aku tunjukkan kepadamu kuburannya dekat bukit pasir merah.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dan Sulaiman at-Taimi, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketika aku diisra’kan, aku melewati Musa, dan ia sedang berdiri shalat di kuburnya, dekat bukit pasir merah. Dan Muslim meriwayatkannya dari hadits Hammad bin Salamah dengannya.

As-Suddi berkata, dari Abu Malik, dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat, mereka berkata: Kemudian sesungguhnya Allah mengawahyukan kepada Musa: Sesungguhnya Aku akan mewafatkan Harun, maka datanglah bersamanya ke gunung ini dan ini. Maka Musa dan Harun pergi ke arah gunung itu, tiba-tiba mereka menemukan pohon yang belum pernah terlihat pohon sepertinya, dan tiba-tiba mereka menemukan rumah yang dibangun, dan tiba-tiba di dalamnya ada tempat tidur dengan kasur, dan di dalamnya ada aroma yang harum. Ketika Harun melihat gunung itu, rumah dan apa yang ada di dalamnya, ia mengaguminya. Ia berkata: Wahai Musa, sesungguhnya aku ingin tidur di tempat tidur ini. Musa berkata kepadanya: Tidurlah di sana. Harun berkata: Sesungguhnya aku khawatir pemilik rumah ini akan datang dan marah kepadaku. Musa berkata kepadanya: Jangan takut, aku akan mencukupimu dari pemilik rumah ini, tidurlah. Harun berkata: Wahai Musa, tidurlah bersamaku, jika pemilik rumah ini datang, ia akan marah kepadaku dan kepadamu bersama. Ketika mereka tidur, Harun dicabut nyawanya. Ketika ia merasakan sensasinya, ia berkata: Wahai Musa, engkau telah menipuku. Ketika ia wafat, rumah itu diangkat, pohon itu hilang, dan tempat tidur itu diangkat bersamanya ke langit. Ketika Musa kembali kepada kaumnya, tanpa Harun bersamanya, mereka berkata: Sesungguhnya Musa telah membunuh Harun, dan iri kepadanya karena kecintaan Bani Israil kepadanya. Dan Harun lebih lembut kepada mereka dan lebih lemah lembut kepada mereka daripada Musa, dan ada pada Musa sedikit kekasaran kepada mereka. Ketika hal itu sampai kepadanya, ia berkata kepada mereka: Celakalah kalian, ia adalah saudaraku, apakah kalian menduga aku membunuhnya? Ketika mereka terlalu banyak menuduhnya, ia berdiri dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa kepada Allah, maka tempat tidur itu turun hingga mereka melihatnya di antara langit dan bumi. Kemudian sesungguhnya Musa alaihissalam, ketika ia sedang berjalan bersama Yusya’ pemudanya, tiba-tiba datang angin hitam. Ketika Yusya’ melihatnya, ia mengira itu hari kiamat, maka ia memeluk Musa dan berkata: Hari kiamat terjadi dan aku sedang memeluk Musa Nabi Allah. Maka Musa alaihissalam terlepas dari balik baju, dan baju itu tertinggal di tangan Yusya’. Ketika Yusya’ datang dengan baju itu, Bani Israil menangkapnya dan berkata: Apakah engkau membunuh Nabi Allah? Ia berkata: Tidak demi Allah, aku tidak membunuhnya tetapi ia terlepas dariku. Mereka tidak memercayainya dan ingin membunuhnya. Ia berkata: Jika kalian tidak memercayaiku, maka tangguhkanlah aku tiga hari. Maka ia berdoa kepada Allah, dan setiap orang yang menjaganya didatangi dalam mimpi dan diberi tahu bahwa Yusya’ tidak membunuh Musa, dan sesungguhnya Kami telah mengangkatnya kepada Kami. Maka mereka meninggalkannya, dan tidak tersisa seorang pun dari mereka yang menolak untuk masuk ke negeri orang-orang yang kuat bersama Musa, kecuali ia mati, dan tidak menyaksikan penaklukan. Dan dalam sebagian kisah ini ada keanehan dan keganjilan. Wallahu a’lam.

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa tidak keluar seorang pun dari padang Tih dari mereka yang bersama Musa, kecuali Yusya’ bin Nun, dan Kalab bin Yufanna, dan ia adalah suami Maryam saudari Musa dan Harun, dan mereka berdua adalah dua orang yang disebutkan dalam yang telah lalu, yang menyarankan kepada para pemuka Bani Israil untuk masuk ke negeri mereka. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa Musa alaihissalam melewati sekumpulan malaikat yang sedang menggali kuburan, maka ia tidak melihat yang lebih indah, lebih segar, dan lebih bercahaya darinya. Maka ia berkata: Wahai para malaikat Allah, untuk siapakah kalian menggali kuburan ini? Mereka berkata: Untuk seorang hamba dari hamba Allah yang mulia, jika engkau ingin menjadi hamba ini, masuklah ke kuburan ini, dan berbaringlah di dalamnya, dan menghadaplah kepada Tuhanmu, dan bernapaslah dengan napas yang paling mudah. Maka ia melakukan hal itu dan wafat, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Maka para malaikat menshalatkannya, dan menguburkannya. Ahlul Kitab dan yang lainnya menyebutkan bahwa ia wafat dan umurnya seratus dua puluh tahun.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid, dan Yunus, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yunus berkata: Hadits ini diangkat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia bersabda: Malaikat maut biasa datang kepada manusia secara terang-terangan, ia berkata: Maka ia datang kepada Musa alaihissalam, maka ia menamparnya, hingga mencongkel matanya. Maka ia datang kepada Tuhannya, lalu berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu Musa mencongkel mataku, dan seandainya bukan karena kemuliaannya di sisi-Mu, niscaya aku memarahi dia. Yunus berkata: Niscaya aku menyulitkannya. Allah berfirman kepadanya: Pergilah kepada hamba-Ku, dan katakan kepadanya: Letakkanlah tanganmu di atas kulit – atau bulu – seekor sapi jantan, maka baginya setiap rambut yang tertutup tangannya satu tahun. Maka ia datang kepadanya dan berkata kepadanya, maka ia berkata: Apa setelah ini? Malaikat berkata: Kematian. Musa berkata: Kalau begitu sekarang ya Tuhanku, secepatnya. Yunus berkata: Maka ia menciumnya sekali, lalu mencabut nyawanya. Yunus berkata: Maka Allah mengembalikan matanya kepadanya, dan ia biasa datang kepada manusia secara tersembunyi. Demikian pula Ibnu Jarir meriwayatkannya, dari Abu Kuraib, dari Mush’ab bin al-Miqdaam, dari Hammad bin Salamah dengannya, maka ia juga merafa’kannya, wallahu ta’ala a’lam.

۞۞۞۞۞

Penyebutan Kenabian Yusya’ dan Pengambilannya atas Beban Bani Israil Setelah Musa dan Harun, alaihimussalam

Ia adalah Yusya’ bin Nun bin Afraim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil alaihimussalam. Ahlul Kitab mengatakan: Yusya’ bin Imhud. Allah menyebutkannya dalam Al-Qur’an tanpa menyebutkan namanya secara jelas dalam kisah Khidhir, sebagaimana telah lalu dalam firman-Nya: Dan ketika Musa berkata kepada pemudanya (QS. Al-Kahfi: 60). Maka tatkala keduanya melewati ia berkata kepada pemudanya (QS. Al-Kahfi: 62). Dan telah kami sebutkan apa yang shahih dalam Shahih, dari riwayat Ubai bin Ka’b radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa ia adalah Yusya’ bin Nun, dan kenabiannya disepakati oleh Ahlul Kitab. Sesungguhnya sekelompok dari mereka yaitu Samaritans tidak mengakui kenabian siapa pun setelah Musa kecuali Yusya’ bin Nun; karena ia disebutkan secara jelas dalam Taurat, dan mereka mengingkari apa yang setelah itu, padahal itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Maka atas mereka laknat Allah yang berturut-turut hingga hari kiamat.

Adapun apa yang diceritakan Ibnu Jarir dan yang lainnya dari para mufassir, dari Muhammad bin Ishaq, bahwa kenabian berpindah dari Musa kepada Yusya’ di akhir umur Musa, maka Musa biasa menemui Yusya’ dan bertanya kepadanya tentang apa yang Allah wahyukan kepadanya yang baru dari perintah dan larangan, hingga ia berkata kepadanya: Wahai Kalimullah, sesungguhnya aku biasa tidak bertanya kepadamu tentang apa yang Allah wahyukan kepadamu, hingga engkau mengabariku terlebih dahulu dari dirimu sendiri. Maka pada saat itu Musa membenci kehidupan, dan menyukai kematian. Maka dalam hal ini ada pertimbangan; karena Musa alaihissalam tidak berhenti perintah, wahyu, syariat, dan firman dari Allah kepadanya dalam semua keadaannya, hingga Allah mewafatkannya Azza wa Jalla, dan tidak berhenti dimuliakan, dihormati, dimanjakan, berwibawa di sisi Allah, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Shahih, dari kisah pencongkelan mata malaikat maut, kemudian Allah mengutusnya kepadanya jika ia menginginkan kehidupan maka hendaklah ia meletakkan tangannya di atas kulit seekor sapi jantan, maka baginya setiap rambut yang tertutup tangannya satu tahun ia akan hidup dengannya. Ia berkata: Kemudian apa? Malaikat berkata: Kematian. Musa berkata: Kalau begitu sekarang ya Tuhanku. Dan ia memohon kepada Allah agar mendekatkannya ke Baitul Maqdis sejauh lemparan batu, dan telah dikabulkan hal itu, shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.

Maka ini yang disebutkan Muhammad bin Ishaq, jika ia mengatakannya dari kitab-kitab Ahlul Kitab, maka dalam kitab mereka yang mereka namakan Taurat bahwa wahyu tidak berhenti turun kepada Musa dalam setiap urusan yang mereka butuhkan hingga akhir masa Musa, sebagaimana yang diketahui dari kisah kitab mereka di dekat Tabut Kesaksian, di dalam tenda zaman. Dan mereka menyebutkan dalam kitab ketiga, bahwa Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk menghitung Bani Israil berdasarkan suku-suku mereka, dan menjadikan atas setiap suku dari dua belas suku seorang pemimpin, dan ia adalah naqib, dan itu tidak lain agar mereka bersiap untuk perang; perang melawan orang-orang yang kuat ketika keluar dari padang Tih, dan ini terjadi ketika mendekati berakhirnya empat puluh tahun. Oleh karena itu sebagian mereka berkata: Sesungguhnya Musa alaihissalam mencongkel mata malaikat maut; karena ia tidak mengenalinya dalam wujudnya itu, dan karena ia telah diperintahkan dengan suatu perintah yang ia harapkan terjadi di zamannya, dan tidak terjadi dalam takdir Allah bahwa itu terjadi di zamannya tetapi di zaman pemudanya Yusya’ bin Nun alaihissalam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ingin menyerang Romawi di Syam, maka sampai ke Tabuk, kemudian kembali pada tahunnya itu di tahun sembilan, kemudian berhaji di tahun sepuluh, kemudian kembali dan menyiapkan pasukan Usamah ke Syam, sebagai pasukan perintis di depannya, kemudian ia berketetapan untuk keluar kepada mereka; melaksanakan firman-Nya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (QS. At-Taubah: 29). Dan ketika Rasulullah menyiapkan pasukan Usamah, ia wafat alaihish-shalatu wassalam, dan Usamah berkemah di al-Jurf. Maka sahabatnya dan khalifahnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu mengirimkannya. Kemudian ketika ia memperbaiki keadaan Jazirah Arab, dan apa yang terjadi dari urusan penduduknya, dan kebenaran kembali ke tempatnya, ia menyiapkan pasukan-pasukan ke kanan dan kiri, ke Irak, pasukan Kisra raja Persia, dan ke Syam, pasukan Qaishar raja Romawi. Maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka, dan memberdayakan mereka, dan memberikan kepada mereka, dan menguasakan mereka atas musuh-musuh mereka, sebagaimana akan kami sebutkan di tempatnya, jika kami sampai kepadanya secara rinci, insya Allah dengan pertolongan-Nya dan taufik-Nya dan bimbingan-Nya yang baik.

Demikian pula Musa alaihissalam; Allah telah memerintahkannya agar mengatur pasukan Bani Israil, dan menjadikan atas mereka para naqib, sebagaimana firman-Nya: Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman: Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya akan Aku masukkan kamu ke dalam surga yang mengalir air di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus (QS. Al-Ma’idah: 12).

Dia berkata kepada mereka: “Jika kalian melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepada kalian, dan tidak menghindar dari peperangan sebagaimana kalian menghindar pada kali pertama, niscaya Aku akan menjadikan pahala (peperangan) kali ini sebagai penghapus hukuman yang menimpa kalian pada (peperangan) itu.” Sebagaimana firman Allah kepada orang-orang Arab Badui yang tidak ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Umrah Hudaibiyah: “Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: ‘Kamu akan diajak (untuk berperang) menghadapi kaum yang mempunyai kekuatan yang tangguh, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah masuk Islam. Maka jika kamu patuh (mengikuti ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik; dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.'” (Surah al-Fath: 16). Dan demikian pula firman Allah kepada Bani Israil: “Barangsiapa yang kafir di antara kamu sesudah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” Kemudian Allah mencela mereka atas perbuatan buruk mereka dan pelanggaran mereka terhadap perjanjian-perjanjian mereka, sebagaimana Allah mencela orang-orang Nasrani setelah mereka atas perselisihan mereka dalam agama dan keyakinan mereka. Kami telah menyebutkan hal itu secara lengkap dalam Tafsir, dan segala puji bagi Allah.

Yang dimaksud adalah bahwa Allah memerintahkan Musa alaihissalam untuk mencatat nama-nama para pejuang dari Bani Israil, yaitu mereka yang membawa senjata dan berperang, yang telah mencapai usia dua puluh tahun ke atas, dan menjadikan seorang pemimpin untuk setiap suku dari mereka. Suku pertama adalah suku Ruben, karena ia adalah anak sulung Yakub, jumlah pejuang mereka adalah empat puluh enam ribu lima ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Elisur bin Syediyura. Suku kedua adalah suku Syim’un, mereka berjumlah lima puluh sembilan ribu tiga ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Syelumiil bin Hurisyadai. Suku ketiga adalah suku Yehuda, mereka berjumlah tujuh puluh empat ribu enam ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Nakhsyun bin Aminadab. Suku keempat adalah suku Isakhar, mereka berjumlah lima puluh empat ribu empat ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Nasyail bin Shugar. Suku kelima adalah suku Yusuf alaihissalam, mereka berjumlah empat puluh ribu lima ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Yusya’ bin Nun. Suku keenam adalah suku Misya, mereka berjumlah tiga puluh satu ribu dua ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Gamliyil bin Fadahshur. Suku ketujuh adalah suku Benyamin, mereka berjumlah tiga puluh lima ribu empat ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Abidan bin Gid’un. Suku kedelapan adalah suku Gad, mereka berjumlah empat puluh lima ribu enam ratus lima puluh orang, dan pemimpin mereka adalah Alyasaf bin Ra’uwil. Suku kesembilan adalah suku Asyir, mereka berjumlah empat puluh satu ribu lima ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Fag’iyil bin Akran. Suku kesepuluh adalah suku Dan, mereka berjumlah enam puluh dua ribu tujuh ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Akhi’ezer bin Amisyadai. Suku kesebelas adalah suku Naftali, mereka berjumlah lima puluh tiga ribu empat ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Akhira’ bin ‘Ain. Suku kedua belas adalah suku Zebulun, mereka berjumlah lima puluh tujuh ribu empat ratus orang, dan pemimpin mereka adalah Albab bin Khailun. Ini adalah teks kitab mereka yang ada di tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui.

Tidak termasuk di antara mereka adalah Bani Lawi. Allah memerintahkan Musa untuk tidak menghitung mereka bersama yang lain, karena mereka ditugaskan memikul Kemah Kesaksian, menjaganya, mendirikannya ketika mereka berangkat, dan mereka adalah suku Musa dan Harun alaihimassalam. Mereka berjumlah dua puluh dua ribu orang dari usia satu bulan ke atas, dan mereka sendiri terbagi menjadi beberapa kabilah. Setiap kabilah bertanggung jawab atas sebagian dari Kemah Zaman, menjaganya, memeliharanya, mengurus kepentingannya, mendirikannya, dan memikulnya. Mereka semua berkemah di sekeliling kemah tersebut dan berangkat di depannya, di kanan, kiri, dan belakangnya.

Jumlah total para pejuang yang disebutkan, selain Bani Lawi, adalah lima ratus tujuh puluh satu ribu enam ratus lima puluh enam orang. Namun mereka mengatakan: Jumlah Bani Israil yang berusia dua puluh tahun ke atas yang membawa senjata adalah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang, selain Bani Lawi. Dalam hal ini ada kejanggalan, karena total keseluruhan yang disebutkan sebelumnya, jika sesuai dengan apa yang kami temukan dalam kitab mereka, tidak sesuai dengan jumlah total yang mereka sebutkan. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bani Lawi yang ditugaskan menjaga Kemah Zaman berjalan di tengah-tengah Bani Israil, dan mereka adalah jantung pasukan. Kepala sayap kanan adalah Bani Ruben, kepala sayap kiri adalah Bani Ran, dan Bani Naftali berada di belakang. Musa alaihissalam menetapkan, atas perintah Allah kepadanya, jabatan imam bagi anak-anak Harun, sebagaimana jabatan itu ada pada ayah mereka sebelumnya, yaitu: Nadab (anak sulungnya), Abihu, Eleazar, dan Itamar.

Yang dimaksud adalah bahwa tidak tersisa seorang pun dari Bani Israil yang menolak memasuki kota orang-orang yang perkasa, mereka yang berkata: “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami di sini saja menunggu.” (Surah al-Ma’idah: 24). Ini dikatakan oleh Ats-Tsauri, dari Abu Sa’id, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Ini juga dikatakan oleh Qatadah, Ikrimah, dan diriwayatkan oleh As-Suddi dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan sejumlah Sahabat. Hingga Ibnu Abbas dan ulama Salaf serta Khalaf lainnya berkata: Musa dan Harun (yang meninggal sebelumnya) keduanya meninggal di padang Tih. Ibnu Ishaq berpendapat bahwa yang menaklukkan Baitul Maqdis adalah Musa, dan Yusya’ bin Nun hanya memimpin pasukannya. Dia menyebutkan dalam perjalanannya ke sana kisah Bal’am bin Ba’ura, yang tentangnya Allah berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang Kitab Allah), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceriterakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (Surah al-A’raf: 175-177).

Kami telah menyebutkan kisahnya dalam Tafsir, bahwa dia—menurut Ibnu Abbas dan lainnya—mengetahui Asma al-A’zham (Nama Agung Allah), dan kaumnya memintanya untuk mendoakan keburukan bagi Musa dan kaumnya, tetapi dia menolak. Ketika mereka mendesaknya, dia menaiki keledai betinanya, lalu berjalan menuju perkemahan Bani Israil. Ketika dia melihat mereka dari atas, keledainya berbaring. Dia memukulnya hingga keledai itu berdiri dan berjalan tidak terlalu jauh, kemudian berbaring lagi. Dia memukulnya lebih keras dari sebelumnya, lalu keledai itu berdiri. Kemudian berbaring lagi, lalu dia memukulnya. Keledai itu berkata kepadanya: “Wahai Bal’am, ke mana kamu pergi? Tidakkah kamu melihat para malaikat di depanku yang menghalangiku dari arah ini? Apakah kamu akan pergi kepada Nabi Allah dan orang-orang beriman untuk mendoakan keburukan bagi mereka?” Namun dia tidak berhenti, tetap memukulnya hingga keledai itu membawanya sampai dia melihat mereka dari puncak gunung Khisban. Dia memandang perkemahan Musa dan Bani Israil, lalu mulai mendoakan keburukan bagi mereka, tetapi lidahnya tidak mematuhinya kecuali untuk mendoakan kebaikan bagi Musa dan kaumnya, serta mendoakan keburukan bagi kaumnya sendiri. Kaumnya menyalahkannya atas hal itu, dan dia meminta maaf kepada mereka dengan mengatakan bahwa yang keluar dari lidahnya hanya ini. Lidahnya terjulur hingga jatuh di dadanya, dan dia berkata kepada kaumnya: “Dunia dan akhirat telah hilang dariku sekarang, dan tidak tersisa kecuali tipu daya dan akal.” Kemudian dia memerintahkan kaumnya untuk menghias para wanita dan mengirim mereka dengan barang dagangan untuk dijual kepada mereka, dan membiarkan para wanita menggoda mereka agar mereka terjatuh dalam perzinaan, karena jika salah seorang dari mereka berzina, kalian akan bisa mengalahkan mereka. Mereka melakukannya, menghias para wanita mereka dan mengirim mereka ke perkemahan. Seorang wanita bernama Kasti melewati seorang pemimpin besar Bani Israil, yaitu Zimri bin Syalum, dikatakan bahwa dia adalah kepala suku Bani Syim’un bin Yakub. Dia membawa wanita itu ke kemahnya, dan ketika dia berduaan dengannya, Allah mengirimkan wabah kepada Bani Israil, yang menjalar di antara mereka. Ketika berita itu sampai kepada Finhas bin Eleazar bin Harun, dia mengambil tombaknya yang terbuat dari besi, lalu masuk ke kemah mereka berdua, dan menusuk mereka berdua dengan tombak itu. Kemudian dia keluar membawa mereka berdua di depan orang-orang dengan tombak di tangannya, yang dia sandarkan pada pinggangnya dan dagunya, mengangkat mereka berdua ke arah langit sambil berkata: “Ya Allah, beginilah kami berbuat kepada orang yang mendurhakai-Mu.” Wabah pun terangkat. Jumlah yang meninggal pada saat itu adalah tujuh puluh ribu orang, dan yang mengatakan sedikit menyebutkan dua puluh ribu orang. Finhas adalah anak sulung ayahnya, Eleazar bin Harun, oleh karena itu Bani Israil memberikan kepada keturunan Finhas dari hewan sembelihan: kemah, lengan, dan rahang, serta mereka mendapat anak sulung dari semua harta dan jiwa mereka.

Yang dimaksud adalah bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq tentang kisah Bal’am adalah benar dan telah disebutkan oleh lebih dari seorang ulama Salaf, tetapi mungkin ini terjadi ketika Musa bermaksud memasuki Baitul Maqdis pada awal kedatangannya dari tanah Mesir, dan mungkin inilah yang dimaksud oleh Ibnu Ishaq, tetapi sebagian perawi darinya tidak memahaminya. Kami telah menyebutkan sebelumnya dari teks Taurat apa yang menjadi saksi bagi sebagian dari ini. Dan Allah Maha Mengetahui. Mungkin ini adalah kisah lain yang terjadi selama perjalanan mereka di padang Tih, karena dalam riwayat ini disebutkan Khisban, yang jauh dari tanah Baitul Maqdis, atau mungkin ini terjadi pada pasukan Musa yang dipimpin oleh Yusya’ bin Nun, ketika dia membawa mereka keluar dari padang Tih menuju Baitul Maqdis, sebagaimana ditegaskan oleh As-Suddi. Dan Allah Maha Mengetahui.

Bagaimanapun, menurut pendapat jumhur ulama, Harun meninggal di padang Tih sebelum saudaranya Musa, sekitar dua tahun sebelumnya. Dan setelahnya Musa juga meninggal di padang Tih, sebagaimana telah kami sebutkan, dan bahwa dia meminta kepada Tuhannya agar didekatkan ke Baitul Maqdis, maka permintaannya dikabulkan. Yang membawa mereka keluar dari padang Tih dan menuju Baitul Maqdis adalah Yusya’ bin Nun alaihissalam. Ahli Kitab dan ahli sejarah lainnya menyebutkan bahwa dia menyeberangi Sungai Yordan bersama Bani Israil, dan sampai di Ariha, yang merupakan kota dengan benteng paling kokoh, istana paling tinggi, dan penduduk paling banyak. Dia mengepungnya selama enam bulan, kemudian mereka mengepungnya suatu hari, meniup terompet, dan bertakbir dengan satu takbir bersama-sama, maka tembok kota itu runtuh dan jatuh seketika. Mereka memasukinya, mengambil semua harta rampasan yang mereka temukan di dalamnya, dan membunuh dua belas ribu orang laki-laki dan perempuan. Mereka memerangi banyak raja, dan dikatakan bahwa Yusya’ menguasai tiga puluh satu raja dari raja-raja Syam. Mereka menyebutkan bahwa pengepungannya berakhir pada hari Jumat setelah Asar, dan ketika matahari terbenam atau hampir terbenam, dan hari Sabtu yang telah diwajibkan dan disyariatkan bagi mereka pada masa itu akan dimulai, dia berkata kepada matahari: “Engkau diperintah dan aku diperintah, ya Allah tahanlah matahari untukku.” Allah menahannya untuknya hingga dia berhasil menaklukkan kota tersebut, dan dia memerintahkan bulan untuk berhenti saat terbit. Ini menunjukkan bahwa malam itu adalah malam keempat belas bulan tersebut. Adapun yang pertama, yaitu kisah matahari yang disebutkan dalam hadits yang akan saya sebutkan. Sedangkan kisah bulan, itu dari Ahli Kitab, dan tidak bertentangan dengan hadits, bahkan di dalamnya ada tambahan faidah, maka tidak perlu membenarkan atau mendustakannya. Namun penyebutan mereka bahwa ini terjadi dalam penaklukan Ariha perlu dipertimbangkan, dan yang lebih tepat, wallahu a’lam, bahwa ini terjadi dalam penaklukan Baitul Maqdis, yang merupakan tujuan utama, dan penaklukan Ariha hanya sebagai perantara menuju itu. Dan Allah Maha Mengetahui.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Hisyam, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya matahari tidak pernah ditahan untuk seorang manusia pun kecuali untuk Yusya’ pada malam-malam dia berjalan menuju Baitul Maqdis.” Diriwayatkan oleh Ahmad dari jalur ini, dan sesuai dengan syarat Bukhari. Di dalamnya terdapat bukti bahwa yang menaklukkan Baitul Maqdis adalah Yusya’ bin Nun alaihissalam, bukan Musa, dan bahwa penahanan matahari terjadi dalam penaklukan Baitul Maqdis, bukan Ariha, sebagaimana yang kami katakan. Di dalamnya juga disebutkan bahwa ini adalah kekhususan bagi Yusya’ alaihissalam, maka ini menunjukkan kelemahan hadits yang kami riwayatkan bahwa matahari kembali sehingga Ali bin Abi Thalib dapat salat Asar setelah terlewat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur di pangkuannya, lalu Rasulullah meminta agar matahari dikembalikan untuknya agar Ali dapat salat Asar, maka matahari kembali. Hadits ini telah dishahihkan oleh Ahmad bin Shalih al-Mishri, tetapi ia munkar (tidak dikenal), tidak ada dalam kitab-kitab Shahih maupun Hasan, dan ini termasuk hadits yang seharusnya banyak diriwayatkan, tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang wanita dari Ahlu Bait yang majhul (tidak dikenal), yang tidak diketahui keadaannya. Dan Allah Maha Mengetahui.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang nabi dari para nabi berperang, lalu dia berkata kepada kaumnya: ‘Janganlah mengikutiku seorang laki-laki yang telah menikahi seorang wanita dan ingin menggaulinya tetapi belum menggaulinya, dan jangan pula seorang yang telah membangun bangunan tetapi belum memasang atapnya, dan jangan pula seorang yang telah membeli kambing atau kambing bunting dan dia menunggu anaknya.’ Lalu dia berperang dan mendekati sebuah kampung saat salat Asar atau mendekati waktu itu, maka dia berkata kepada matahari: ‘Engkau diperintah dan aku diperintah, ya Allah tahanlah matahari untukku sebentar.’ Maka Allah menahannya untuknya hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya. Mereka mengumpulkan harta rampasan, lalu api datang untuk memakannya, tetapi api itu menolak untuk memakannya. Maka dia berkata: ‘Di antara kalian ada yang berkhianat (ghulul), hendaklah membai’atku seorang laki-laki dari setiap suku.’ Mereka membai’atnya, maka tangan seorang laki-laki menempel pada tangannya. Dia berkata: ‘Di antara kalian ada yang berkhianat, hendaklah sukumu membai’atku.’ Maka sukunya membai’atnya, lalu tangan dua atau tiga orang menempel. Dia berkata: ‘Di antara kalian ada yang berkhianat, kalianlah yang berkhianat.’ Maka mereka mengeluarkan kepadanya (barang berkhianat) seperti kepala sapi dari emas.’ Dia berkata: ‘Mereka meletakkannya bersama harta dan harta itu di tanah lapang, lalu api datang dan memakannya. Harta rampasan tidak halal bagi seorang pun sebelum kita, yang demikian itu karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita, maka Dia menghalalkannya bagi kita.'” Diriwayatkan hanya oleh Muslim dari jalur ini.

Dan telah meriwayatkan Al-Bazzar dari jalur Mubarak bin Fadhalah, dari Ubaidillah, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang serupa dengannya. Dia berkata: Dan telah meriwayatkannya Muhammad bin Ajlan, dari Sa’id Al-Maqburi. Dia berkata: Dan telah meriwayatkannya Qatadah, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan maksudnya adalah bahwa ketika mereka masuk melalui pintu negeri itu, mereka diperintahkan untuk memasukinya dengan sujud; yaitu ruku’, merendahkan diri, bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka berupa kemenangan agung yang telah dijanjikan Allah kepada mereka, dan hendaklah mereka mengucapkan ketika masuk: hithah (ampunilah). Artinya: hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami yang telah lalu akibat penolakan kami yang terdahulu. Oleh karena itu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk ke Mekah pada hari pembukaannya (fathu Makkah), beliau memasukinya sambil mengendarai untanya, dan beliau merendahkan diri, memuji, dan bersyukur, hingga ujung janggut beliau menyentuh pelana tunggangannya, karena beliau menundukkan kepalanya dengan tunduk kepada Allah Azza wa Jalla, dan bersama beliau adalah pasukan dan bala tentara, yang tidak terlihat dari mereka kecuali mata mereka, terutama pasukan hijau yang di dalamnya ada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian ketika beliau memasukinya, beliau mandi dan shalat delapan rakaat. Dan itu adalah shalat syukur atas kemenangan, menurut salah satu dari dua pendapat para ulama. Dan ada yang mengatakan: sesungguhnya itu adalah shalat dhuha. Dan yang membawa orang yang berpendapat ini kepada pendapatnya ini, tidak lain karena shalat itu dilakukan pada waktu dhuha. Adapun Bani Israil, sesungguhnya mereka menyelisihi apa yang diperintahkan kepada mereka baik dalam perkataan maupun perbuatan; mereka memasuki pintu itu dengan bergeser di atas pantat mereka sambil mengucapkan: hibbah fi sya’rah (biji dalam bulu). Dan dalam riwayat lain: hinthah fi sya’rah (gandum dalam bulu). Dan intinya adalah: bahwa mereka mengubah apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mengejeknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang mereka dalam surat Al-A’raf yang merupakan surat Makkiyah: Dan ketika dikatakan kepada mereka: Tinggallah di negeri ini dan makanlah dari hasil buminya di mana saja kamu kehendaki, dan ucapkanlah ‘hithah’ dan masukilah pintu itu dengan bersujud, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka mengganti perintah itu dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, lalu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit karena mereka berbuat kezaliman. (Al-A’raf: 161-162). Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah yang merupakan surat Madaniyah dengan menyeru kepada mereka: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman: “Masuklah ke negeri ini, dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.” Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit karena mereka berbuat fasik. (Al-Baqarah: 58-59). Berkata Ats-Tsauri, dari Al-A’masy, dari Al-Minhal bin Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, “dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud” dia berkata: ruku’ dari pintu yang kecil. Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim. Dan demikian pula meriwayatkan Al-Aufi, dari Ibnu Abbas. Dan demikian pula meriwayatkan Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’. Berkata Mujahid, As-Suddi, dan Ad-Dhahhak: Pintu itu adalah pintu hithah dari Baitul Maqdis, Yerusalem. Berkata Ibnu Mas’ud: Maka mereka masuk dengan menundukkan kepala mereka, berlawanan dengan apa yang diperintahkan kepada mereka. Dan ini tidak bertentangan dengan perkataan Ibnu Abbas, bahwa mereka masuk dengan bergeser di atas pantat mereka. Dan demikian pula dalam hadits yang akan kami kemukakan sesudah ini, bahwa mereka masuk dengan bergeser sambil menundukkan kepala mereka. Dan firman-Nya: “dan katakanlah: ‘hithah'” huruf wawu di sini adalah untuk menyatakan keadaan, bukan untuk mengatafkan, artinya: masuklah dengan bersujud dalam keadaan kalian mengucapkan: hithah. Berkata Ibnu Abbas, Atha’, Al-Hasan, Qatadah, dan Ar-Rabi’: Mereka diperintahkan untuk memohon ampun.

Berkata Al-Bukhari: Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Dikatakan kepada Bani Israil: Masuklah pintu itu dengan bersujud, dan ucapkanlah hithah. Maka mereka masuk dengan bergeser di atas pantat mereka, lalu mereka mengubahnya dan mengucapkan: hithah; hibbah fi sya’rah. Dan demikian pula meriwayatkan An-Nasa’i dari hadits Ibnu Al-Mubarak sebagiannya, dan meriwayatkannya dari Muhammad bin Ismail bin Ibrahim, dari Ibnu Mahdi dengannya secara mauquf. Dan telah berkata Abdurrazzaq: Telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Allah berfirman kepada Bani Israil: “Masuklah ke negeri ini, dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: ‘hithah’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.” Maka mereka mengubahnya lalu masuk pintu itu dengan bergeser di atas pantat mereka, dan mereka mengucapkan: hibbah fi sya’rah. Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi dari hadits Abdurrazzaq. Dan berkata At-Tirmidzi: Hasan sahih. Dan berkata Muhammad bin Ishaq: Adalah perubahan mereka sebagaimana telah menceritakan kepadaku Shalih bin Kaisan, dari Shalih maula At-Tau’amah, dari Abu Hurairah, dan dari orang yang tidak saya tuduh berbohong, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Mereka masuk pintu yang diperintahkan kepada mereka untuk memasukinya dengan bersujud, dengan bergeser di atas pantat mereka, sambil mengucapkan: hinthah fi sya’irah. Dan berkata Asbath dari As-Suddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata dalam firman-Nya: “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka” dia berkata: Mereka mengucapkan: (hatha samaqatsa azbah mazbah) maka itu dalam bahasa Arab: biji gandum merah berlubang, di dalamnya ada bulu hitam. Dan telah menyebutkan Allah Ta’ala bahwa Dia menghukum mereka atas pelanggaran ini dengan mengirimkan azab yang Dia turunkan kepada mereka, yaitu wabah penyakit, sebagaimana tetap dalam Sahihain dari hadits Az-Zuhri, dari Amir bin Sa’d, dan dari hadits Malik, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dan Salim Abu An-Nadhr, dari Amir bin Sa’d, dari Usamah bin Zaid, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya penyakit ini – atau sakit – adalah azab yang dengannya diazab sebagian umat sebelum kalian. Dan meriwayatkan An-Nasa’i, dan Ibnu Abi Hatim, dan ini adalah lafaznya, dari hadits Ats-Tsauri, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Ibrahim bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dan Usamah bin Zaid, dan Khuzaimah bin Tsabit, mereka berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Tha’un adalah azab, yang dengannya diazab orang-orang sebelum kalian. Dan berkata Ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas: Ar-rijz: azab. Dan demikian pula berkata Mujahid, Abu Malik, As-Suddi, Al-Hasan, dan Qatadah. Dan berkata Abu Al-Aliyah: itu adalah kemurkaan. Dan berkata Asy-Sya’bi: Ar-rijz adalah tha’un atau penyakit. Dan berkata Sa’id bin Jubair: itu adalah tha’un.

Dan ketika kekuasaan Bani Israil di Baitul Maqdis telah stabil, mereka menetap di dalamnya, dan di antara mereka ada Nabi Allah Yusya’ yang memutuskan perkara di antara mereka dengan Kitabullah At-Taurah, hingga Allah mencabutnya kepada-Nya, dan dia berusia seratus dua puluh tujuh tahun, maka masa hidupnya setelah Musa adalah dua puluh tujuh tahun. Dan Allah Ta’ala Maha Mengetahui.

Kisah Khidhir dan Ilyas, alaihimassalam

Adapun Khidhir, maka sungguh telah disebutkan sebelumnya bahwa Musa alaihissalam telah mengadakan perjalanan kepadanya untuk mencari ilmu yang ada padanya berupa ilmu ladunni, dan Allah menceritakan kabar mereka berdua dalam kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Kahfi, dan kami telah menyebutkan dalam tafsir itu di sana, dan kami kemukakan di sini menyebutkan hadits yang secara tegas menyebutkan Khidhir alaihissalam, dan bahwa orang yang mengadakan perjalanan kepadanya adalah Musa bin Imran, nabi Bani Israil alaihissalam, yang diturunkan kepadanya At-Taurah.

Dan telah diperselisihkan mengenai Khidhir; mengenai namanya, nasabnya, kenabiannya, dan kehidupannya sampai sekarang, atas beberapa pendapat yang akan saya sebutkan untukmu di sini insya Allah dan dengan pertolongan-Nya dan kekuatan-Nya.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Asakir: Dikatakan: Sesungguhnya dia adalah Al-Khidhir bin Adam alaihissalam, anak kandungnya. Kemudian dia meriwayatkan dari jalur Ad-Daruquthni: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fath Al-Qalanisi, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Abdullah At-Tarqufi, telah menceritakan kepada kami Rawwad bin Al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Muqatil bin Sulaiman, dari Ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Al-Khidhir adalah anak Adam kandungnya, dan dipanjangkan ajalnya hingga dia mendustakan Dajjal. Dan ini terputus dan aneh. Dan berkata Abu Hatim Sahl bin Muhammad bin Utsman As-Sijistani: Aku mendengar para syaikh kami; di antara mereka, Abu Ubaidah dan yang lainnya, mereka berkata: Sesungguhnya yang paling panjang umurnya dari Bani Adam adalah Al-Khidhir, dan namanya: Khadrun bin Qabil bin Adam. Dia berkata: Dan menyebutkan Ibnu Ishaq bahwa Adam alaihissalam ketika kematiannya datang, dia memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa banjir besar akan menimpa manusia, dan dia berwasiat kepada mereka jika itu terjadi hendaklah mereka membawa jasadnya bersama mereka di dalam bahtera, dan hendaklah mereka menguburkannya di tempat yang ditunjukkannya untuk mereka. Maka ketika banjir besar terjadi, mereka membawanya bersama mereka, maka ketika mereka turun ke bumi, Nuh memerintahkan anak-anaknya agar mereka pergi dengan jasadnya lalu menguburkannya di mana dia berwasiat. Maka mereka berkata: Sesungguhnya di bumi tidak ada orang, dan di atasnya ada kesunyian. Maka dia mendorong mereka dan menyemangati mereka untuk itu. Dan dia berkata: Sesungguhnya Adam berdoa untuk orang yang mengurus penguburannya dengan panjang umur. Maka mereka takut untuk melakukan perjalanan ke tempat itu pada waktu itu, maka jasadnya tetap bersama mereka, hingga Al-Khidhir-lah yang mengurus penguburannya, dan Allah menepati apa yang dijanjikan-Nya, maka dia hidup hingga yang Allah kehendaki untuk dia hidup. Dan menyebutkan Ibnu Qutaibah dalam Al-Ma’arif, dari Wahb bin Munabbih, bahwa nama Al-Khidhir adalah Balya. Dan dikatakan: Ilya bin Malkan bin Faligh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh alaihissalam. Dan berkata Ismail bin Abi Uwais: Nama Al-Khidhir menurut apa yang sampai kepada kami – dan Allah Maha Mengetahui – adalah Al-Mu’ammar bin Malik bin Abdullah bin Nashr bin Al-Azd. Dan berkata yang lain: Dia adalah Khadrun bin Amiyayil bin Al-Yafaz bin Al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Dan dikatakan: Dia adalah Armiya bin Hilqiya. Maka Allah Maha Mengetahui. Dan dikatakan: Sesungguhnya dia adalah anak Fir’aun sahabat Musa, raja Mesir. Dan ini sangat aneh. Berkata Ibnul Jauzi: Meriwayatkannya Muhammad bin Ayyub, dari Ibnu Lahi’ah, dan keduanya lemah. Dan dikatakan: Sesungguhnya dia adalah anak Malik, dan dia adalah saudara Ilyas. Mengatakannya As-Suddi sebagaimana akan datang. Dan dikatakan sesungguhnya dia adalah di barisan depan pasukan Dzulqarnain. Dan dikatakan: Dia adalah anak sebagian orang yang beriman kepada Ibrahim Al-Khalil dan berhijrah bersamanya. Dan dikatakan: Dia adalah seorang nabi di zaman Bisytasb bin Lahrasb.

Berkata Ibnu Jarir dan yang sahih bahwa dia telah hidup di zaman Afridhun bin Atsfian hingga dia bertemu Musa alaihimassalam. Dan meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir, dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa dia berkata: Al-Khidhir ibunya Romawi dan ayahnya Persia.

Dan telah datang apa yang menunjukkan bahwa dia dari Bani Israil di zaman Fir’aun juga. Berkata Abu Zur’ah dalam Dala’il an-Nubuwwah: Telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Shalih Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Basyir, dari Qatadah, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa pada malam beliau diisra’kan beliau mendapati bau harum, maka beliau bertanya: Wahai Jibril, apakah bau harum ini? Dia berkata: Ini adalah bau kubur tukang rias, kedua anaknya, dan suaminya. Dan dia berkata: Dan adalah awal hal itu bahwa Al-Khidhir adalah dari kalangan bangsawan Bani Israil, dan dia melewati seorang rahib di biara kecilnya maka rahib itu memandangnya, lalu mengajarkan kepadanya Islam. Maka ketika Al-Khidhir mencapai usia baligh, ayahnya menikahkannya dengan seorang wanita, maka dia mengajarkan kepadanya Islam dan mengambil kesanggupan darinya agar tidak mengajarkannya kepada seorang pun, dan dia tidak pernah mendekati wanita, kemudian dia menceraikannya. Kemudian ayahnya menikahkannya dengan yang lain maka dia mengajarkan kepadanya Islam, dan mengambil kesanggupan darinya agar tidak mengajarkannya kepada seorang pun, kemudian dia menceraikannya. Maka salah satu dari mereka berdua merahasiakannya, dan yang lain menyebarkannya tentang dia. Maka dia pergi melarikan diri hingga sampai ke sebuah pulau di laut. Maka datanglah dua orang laki-laki yang mencari kayu bakar lalu mereka melihatnya. Maka salah seorang dari mereka berdua merahasiakannya, dan yang lain menyebarkannya tentang dia, dia berkata: Saya telah melihat Al-Khidhir. Maka ditanyakan: Dan siapa yang melihatnya bersamamu? Dia berkata: Si fulan. Maka dia ditanya lalu dia merahasiakan. Dan adalah dari agama mereka bahwa barangsiapa berdusta dia dibunuh maka dia dibunuh. Dan adalah si perahasiaan telah menikahi wanita perahasiaan itu. Dia berkata: Maka ketika dia sedang menyisir putri Fir’aun, sisir itu jatuh dari tangannya, maka dia berkata: Celakalah Fir’aun. Maka dia memberitahu ayahnya, dan adalah untuk wanita itu dua anak dan suami. Maka dia mengutus kepada mereka lalu dia mempengaruhi wanita itu dan suaminya agar mereka kembali dari agama mereka, maka mereka berdua menolak. Maka dia berkata: Sesungguhnya aku akan membunuh kalian berdua. Maka mereka berdua berkata: Kebaikan darimu kepada kami jika engkau membunuh kami hendaknya engkau menjadikan kami dalam satu kubur. Maka dia menjadikan mereka berdua dalam satu kubur. Maka dia berkata: Dan aku tidak mendapati bau yang lebih harum daripada mereka berdua, dan sungguh aku telah masuk surga. Dan telah disebutkan sebelumnya kisah Mailah binti Fir’aun, dan sisir ini dalam perkara Al-Khidhir mungkin merupakan bagian yang disisipkan dari perkataan Ubay bin Ka’ab, atau Abdullah bin Abbas, dan Allah Maha Mengetahui. Dan berkata sebagian mereka: Kuniahnya adalah Abu Al-Abbas. Dan yang lebih mirip – dan Allah Maha Mengetahui – bahwa Al-Khidhir adalah julukan yang menguasainya.

Al-Bukhari rahimahullah berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id al-Ashbahani, telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya dinamakan al-Khidir karena ia duduk di atas farwah (tanah) putih, tiba-tiba tanah di belakangnya bergerak menjadi hijau.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari. Demikian pula diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma’mar dengannya. Kemudian Abdurrazzaq berkata: al-Farwah adalah rumput putih dan yang menyerupainya, yaitu rumput kering yang telah hancur. Al-Khaththabi berkata: Abu Umar berkata: al-Farwah adalah tanah putih yang tidak ada tumbuhan di dalamnya. Yang lain berkata: ia adalah rumput kering yang hancur, disamakan dengan farwah. Dari sini dikatakan farwah ar-ra’s (kulit kepala), yaitu kulit kepala beserta rambut yang ada di atasnya, sebagaimana dikatakan ar-Ra’i:

“Sungguh engkau melihat orang Habsyah di sekitar rumah-rumah kami Bergembira jika suatu hari ia mendapat makanan Berambut keriting hitam seolah-olah kulit kepalanya Ditaburi biji lada yang tumbuh di kedua sisinya”

Al-Khaththabi berkata: Sesungguhnya dinamakan al-Khidir karena ketampanan dan cahaya wajahnya.

Aku (pengarang) berkata: Ini tidak bertentangan dengan apa yang shahih dalam Shahih al-Bukhari. Jika memang harus mencari alasan dengan salah satunya, maka apa yang shahih dalam Shahih al-Bukhari lebih utama dan lebih kuat, bahkan tidak perlu memperhatikan selainnya.

Al-Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkan hadits ini juga dari jalur Abu Ismail bin Hafsh bin Umar al-Aili, telah menceritakan kepada kami Utsman, dan Abu Juzi, dan Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari Abdullah bin al-Harits bin Naufal, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya dinamakan al-Khidir karena ia shalat di atas farwah putih, lalu bergetar menjadi hijau.” Hadits ini gharib (asing) dari jalur ini. Qabbishah berkata, dari ats-Tsauri, dari Manshur, dari Mujahid, ia berkata: Sesungguhnya dinamakan al-Khidir karena ia jika shalat menjadi hijau apa yang ada di sekitarnya. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Musa dan Yusya’ ‘alaihimassalam ketika mereka kembali mengikuti jejak, menemukan al-Khidir di atas permadani hijau di tengah laut, ia tertidur dengan kain yang kedua ujungnya diletakkan di bawah kepala dan kakinya. Musa ‘alaihissalam memberi salam kepadanya, lalu ia membuka wajahnya dan menjawab salam serta berkata: “Dari mana salam ada di negerimu! Siapa kamu?” Ia menjawab: “Aku Musa.” Ia bertanya: “Musa Bani Israil?” Ia menjawab: “Ya.” Kemudian terjadilah urusan mereka berdua sebagaimana Allah kisahkan dalam Kitab-Nya tentang keduanya.

Sungguh konteks kisah ini menunjukkan kenabiannya dari beberapa segi: Pertama, firman Allah Ta’ala: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65). Kedua, ucapan Musa kepadanya: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” Dia (al-Khidir) menjawab: “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Dia (Musa) berkata: “Insya Allah engkau akan mendapatiku orang yang sabar, dan aku tidak akan mendurhakaimu dalam suatu urusan pun.” Dia (al-Khidir) berkata: “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Al-Kahfi: 66-70). Seandainya al-Khidir adalah seorang wali dan bukan nabi, Musa tidak akan berbicara kepadanya dengan cara ini, dan al-Khidir tidak akan menjawab Musa dengan jawaban ini. Bahkan Musa meminta untuk menemaninya agar mendapatkan ilmu yang ada padanya, yang Allah khususkan baginya tanpa Musa. Seandainya ia bukan nabi, ia tidak akan ma’shum (terpelihara dari kesalahan), dan tidak akan ada pada Musa—yang adalah nabi agung dan rasul mulia yang wajib ma’shum—keinginan besar dan permintaan agung terhadap ilmu seorang wali yang tidak wajib ma’shum. Ketika Musa bertekad pergi kepadanya dan mencarinya, sekalipun harus menempuh masa yang lama, dikatakan: delapan puluh tahun. Kemudian ketika bertemu dengannya, ia merendah diri kepadanya, mengagungkannya, dan mengikutinya dalam bentuk orang yang mengambil manfaat darinya, hal ini menunjukkan bahwa ia adalah nabi sepertinya yang diwahyukan kepadanya sebagaimana diwahyukan kepada Musa. Ia telah dikhususkan dengan ilmu-ilmu laduni dan rahasia-rahasia kenabian yang tidak diberitahukan Allah kepada Musa, Kalimullah, nabi Bani Israil yang mulia. Ar-Rumani telah berargumen dengan cara yang sama persis ini tentang kenabian al-Khidir ‘alaihissalam. Ketiga, bahwa al-Khidir berani membunuh anak itu, dan hal itu hanya karena wahyu kepadanya dari Allah Yang Maha Mengetahui. Ini adalah dalil tersendiri atas kenabiannya, dan bukti yang jelas atas kemakshumannya, karena seorang wali tidak boleh berani membunuh jiwa dengan hanya berdasarkan apa yang terlintas dalam hatinya, karena bisikan hatinya tidak wajib ma’shum, karena kesalahan boleh terjadi padanya menurut kesepakatan. Ketika al-Khidir berani membunuh anak yang belum baligh itu, dengan pengetahuan darinya bahwa jika anak itu baligh ia akan kafir dan membawa kedua orangtuanya kepada kekafiran karena cinta mereka yang sangat kepadanya, lalu mereka mengikutinya dalam hal itu. Dalam pembunuhannya ada kemaslahatan besar yang lebih besar daripada tetap hidupnya, yaitu menjaga kedua orangtuanya dari jatuh ke dalam kekafiran dan hukumannya. Hal ini menunjukkan kenabiannya dan bahwa ia didukung oleh Allah dengan kemakshumannya. Aku melihat Syekh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi menempuh cara yang sama persis ini dalam berargumen tentang kenabian al-Khidir dan membenarkannya. Ia menceritakan argumen ini dari ar-Rumani juga. Keempat, bahwa ketika al-Khidir menafsirkan takwil perbuatan-perbuatan itu kepada Musa dan menjelaskan kepadanya hakikat urusannya dengan jelas, ia berkata setelah semua itu: “(Itu adalah) rahmat dari Tuhanmu, dan aku tidak melakukannya atas kehendakku sendiri.” Artinya: aku tidak melakukannya dari diriku sendiri, tetapi aku diperintahkan dengannya dan diwahyukan kepadaku mengenainya. Maka segi-segi ini menunjukkan kenabiannya. Hal ini tidak menafikan kewaliannya, bahkan tidak menafikan kerasulannya, sebagaimana dikatakan orang lain. Adapun ia adalah malaikat dari para malaikat, ini sangat aneh. Jika kenabiannya telah terbukti sebagaimana kami sebutkan, tidak tersisa lagi bagi orang yang mengatakan kewaliannya—dan bahwa seorang wali bisa mengetahui hakikat perkara tanpa memiliki syariat yang zhahir—sandaran untuk bersandar dan pegangan untuk dipegangi.

Adapun perbedaan pendapat tentang keberadaannya hingga zaman kita ini, jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa ia masih hidup hingga hari ini. Dikatakan: karena ia mengubur Adam setelah mereka keluar dari banjir besar, maka ia mendapat doa ayahnya Adam untuk hidup panjang. Dikatakan: karena ia minum dari mata air kehidupan maka ia hidup.

Mereka menyebutkan berita-berita yang mereka jadikan bukti atas keberadaannya hingga sekarang, dan kami akan menyebutkannya bersama yang lainnya, insya Allah Ta’ala, dan kepada-Nya lah kepercayaan. Ini adalah wasiatnya kepada Musa ketika ia berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; kelak aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.” (Al-Kahfi: 78). Diriwayatkan dalam hal itu banyak atsar (riwayat) yang terputus. Al-Baihaqi berkata: telah memberitahu kami Abu Sa’id bin Abi Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah ash-Shaffar, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ibnu Abi ad-Dunya, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah al-Malthi, ia berkata: Ketika Musa hendak berpisah dengan al-Khidir, Musa berkata kepadanya: “Berilah aku wasiat.” Ia berkata: “Jadilah orang yang memberi manfaat dan jangan menjadi orang yang membahayakan, jadilah orang yang ramah dan jangan menjadi orang yang pemarah, kembalilah dari sikap ngotot, dan jangan berjalan tanpa keperluan.” Dalam riwayat dari jalur lain ada tambahan: “Dan jangan tertawa kecuali karena kagum.” Wahb bin Munabbih berkata: Al-Khidir berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya manusia tersiksa di dunia sesuai kadar kesibukan mereka dengannya.” Bisyr bin al-Harits al-Hafi berkata: Musa berkata kepada al-Khidir: “Berilah aku wasiat.” Ia berkata: “Semoga Allah memudahkan bagimu ketaatan kepada-Nya.”

Telah diriwayatkan dalam hal itu hadits marfu’ (yang dinisbatkan kepada Nabi), diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari jalur Zakariya bin Yahya al-Waqqar, namun ia termasuk pendusta-pendusta besar. Ia berkata: Dibacakan kepada Abdullah bin Wahb dan aku mendengar, ia berkata: Ats-Tsauri berkata: Mujalid berkata: Abu al-Waddak berkata: Abu Sa’id al-Khudri berkata: Umar bin al-Khaththab berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saudaraku Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku.’ Ia menyebut sebuah kalimat, lalu datanglah al-Khidir kepadanya, dan ia adalah pemuda yang harum baunya, berpakaian putih yang bersih, dikasarnya. Ia berkata: ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wahai Musa bin Imran, sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu.’ Musa berkata: ‘Dia-lah As-Salam, dan kepada-Nya salam, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang aku tidak bisa menghitung nikmat-nikmat-Nya, dan tidak mampu melaksanakan syukur kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya.’ Kemudian Musa berkata: ‘Aku ingin engkau memberi wasiat kepadaku dengan wasiat yang Allah memberi manfaat dengannya setelah kamu.’ Al-Khidir berkata: ‘Wahai pencari ilmu, sesungguhnya pembicara lebih sedikit bosannya daripada pendengar, maka jangan membuat bosan para sahabatmu jika engkau berbicara kepada mereka. Dan ketahuilah bahwa hatimu adalah wadah, maka perhatikanlah apa yang engkau isi wadahmu dengannya. Dan berpaling lah dari dunia dan lemparkanlah ia di belakangmu, karena ia bukan rumah bagimu dan bukan tempat tinggal bagimu. Ia hanya dijadikan bekal bagi para hamba dan perbekalan darinya untuk hari pembalasan. Dan latihlah dirimu dengan kesabaran, niscaya engkau lepas dari dosa. Wahai Musa, luangkan waktumu untuk ilmu jika engkau menginginkannya, karena sesungguhnya ilmu hanya untuk orang yang meluangkan waktu untuknya. Jangan menjadi orang yang banyak bicara dan cerewet, karena banyak bicara mencela para ulama dan menampakkan keburukan orang-orang bodoh. Tetapi hendaklah engkau bersikap moderat, karena itu termasuk taufik dan kebenaran. Berpalinglah dari orang-orang jahil dan kebatilan mereka, dan bersabarlah terhadap orang-orang bodoh, karena itu perbuatan orang-orang bijaksana dan hiasan para ulama. Jika orang jahil mencacimu maka diamlah dengan sikap sabar, dan menjauhlah darinya dengan kewaspadaan, karena apa yang tersisa dari kejahilannya kepadamu dan cacinya kepadamu lebih banyak dan lebih besar. Wahai bin Imran, jangan menganggap bahwa engkau diberi ilmu kecuali sedikit, karena tergesa-gesa dan memaksakan diri termasuk menceburkan diri dan membebani diri. Wahai bin Imran, jangan membuka pintu yang engkau tidak tahu cara menutupnya, dan jangan menutup pintu yang engkau tidak tahu cara membukanya. Wahai bin Imran, bagaimana bisa menjadi ahli ibadah orang yang tidak pernah puas dengan dunia dan tidak pernah habis keinginannya terhadapnya? Dan bagaimana bisa menjadi zahid orang yang meremehkan keadaannya dan menuduh Allah dalam apa yang telah ditetapkan-Nya untuknya? Apakah bisa menahan diri dari syahwat orang yang hawa nafsunya menguasainya, atau bermanfaatkah mencari ilmu sedangkan kejahilan telah menguasainya? Karena usahanya menuju akhiratnya sedangkan ia menghadap kepada dunianya? Wahai Musa, pelajarilah apa yang engkau pelajari untuk diamalkan, dan jangan pelajarinya untuk diceritakan, sehingga menjadi beban bagimu dan cahaya bagi orang lain. Wahai Musa bin Imran, jadikanlah zuhud dan takwa sebagai pakaianmu, dan ilmu serta zikir sebagai ucapanmu. Perbanyaklah kebaikan, karena engkau pasti melakukan keburukan. Goncangkanlah hatimu dengan rasa takut, karena itu meridhakan Tuhanmu. Lakukanlah kebaikan, karena engkau pasti akan melakukan keburukan. Sungguh aku telah memberi nasihat jika engkau menjaga.’ Ia berkata: Lalu al-Khidir pergi, dan Musa tetap sedih dan gelisah sambil menangis.”

Hadits ini tidak shahih, dan aku menduga ia dari rekayasa Zakariya bin Yahya al-Waqqar al-Mishri, banyak imam yang mendustakan dia. Yang mengherankan adalah bahwa al-Hafizh Ibnu Asakir diam tentangnya. Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub ath-Thabrani, telah menceritakan kepada kami Amr bin Ishaq bin Ibrahim bin al-Ala’ al-Himshi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Fadhl bin Imran al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al-Walid, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya: “Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang al-Khidir?” Mereka berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau berkata: “Ketika ia suatu hari berjalan di pasar Bani Israil, dilihat oleh seorang budak mukatab (yang sedang menebus dirinya), lalu ia berkata: ‘Bersedekahlah kepadaku, semoga Allah memberkahimu.’ Al-Khidir berkata: ‘Aku beriman kepada Allah, apa yang Allah kehendaki dari urusan pasti terjadi. Aku tidak memiliki sesuatu untuk kuberikan kepadamu.’ Orang miskin itu berkata: ‘Aku memintamu dengan wajah Allah agar engkau bersedekah kepadaku, karena aku melihat tanda kebaikan di wajahmu dan mengharapkan berkah darimu.’ Al-Khidir berkata: ‘Aku beriman kepada Allah, aku tidak memiliki sesuatu untuk kuberikan kepadamu, kecuali engkau mengambilku lalu menjualku.’ Orang miskin itu berkata: ‘Apakah ini bisa benar?’ Ia berkata: ‘Ya, benar aku katakan kepadamu, sungguh engkau telah memintaku dengan perkara yang agung. Sesungguhnya aku tidak akan mengecewakanmu dengan wajah Tuhanku, juallah aku.’ Ia berkata: Lalu ia membawanya ke pasar dan menjualnya dengan empat ratus dirham. Ia tinggal di sisi pembelinya beberapa waktu tanpa mempekerjakan dia dalam sesuatu. Lalu ia berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau membeli aku hanya mencari kebaikan padaku, maka perintahkan aku dengan pekerjaan.’ Ia berkata: ‘Aku tidak suka memberatkanmu, engkau adalah orang tua yang sudah besar dan lemah.’ Ia berkata: ‘Tidak memberatkanku.’ Ia berkata: ‘Maka pindahkanlah batu-batu ini.’ Dan batu itu tidak bisa dipindahkan kecuali oleh enam orang dalam sehari. Lalu orang itu keluar untuk suatu keperluan, kemudian kembali dan batu-batu itu sudah dipindahkan dalam satu jam. Ia berkata: ‘Engkau telah berbuat baik dan bagus, dan mampu mengerjakan apa yang aku kira tidak mampu engkau kerjakan.’ Kemudian orang itu akan bepergian, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menganggapmu amanah, maka gantikanlah aku pada keluargaku dengan penggantian yang baik.’ Ia berkata: ‘Maka perintahkan aku dengan pekerjaan.’ Ia berkata: ‘Aku tidak suka memberatkanmu.’ Ia berkata: ‘Tidak memberatkanku.’ Ia berkata: ‘Maka buatlah batu bata untuk rumahku sampai aku kembali kepadamu.’ Lalu orang itu pergi untuk perjalanannya dan kembali sedangkan bangunannya sudah kokoh. Ia berkata: ‘Aku bertanya kepadamu dengan wajah Allah, apa jalanmu dan apa urusanmu?’ Ia berkata: ‘Engkau bertanya kepadaku dengan wajah Allah, dan pertanyaan dengan wajah Allah menjatuhkanku dalam perbudakan. Aku akan memberitahumu siapa aku. Aku adalah al-Khidir yang telah engkau dengar tentangnya. Seorang miskin meminta sedekah kepadaku, tetapi tidak ada sesuatu padaku untuk kuberikan kepadanya. Ia memintaku dengan wajah Allah, lalu aku serahkan diriku kepadanya, lalu ia menjualku. Dan aku memberitahumu bahwa barangsiapa dimintai dengan wajah Allah, lalu ia menolak pemintanya padahal ia mampu, ia akan berdiri pada hari kiamat sedangkan kulitnya tidak ada daging dan tulangnya sambil bergetar.’ Orang itu berkata: ‘Aku beriman kepada Allah, aku telah memberatkanmu wahai nabi Allah dan aku tidak tahu.’ Ia berkata: ‘Tidak apa-apa, engkau telah berbuat baik dan tetap.’ Orang itu berkata: ‘Dengan bapak dan ibuku wahai nabi Allah, putuskanlah dalam keluarga dan hartaku dengan apa yang Allah tunjukkan kepadamu, atau aku menawarkan kepadamu maka aku bebaskan jalanmu.’ Ia berkata: ‘Aku suka engkau membebaskan jalanku agar aku beribadah kepada Tuhanku.’ Lalu ia membebaskan jalannya. Al-Khidir berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang menjatuhkanku dalam perbudakan kemudian menyelamatkanku darinya.'”

Hadits ini, merafa’kannya adalah keliru. Yang lebih menyerupai adalah bahwa ia mauquf (berhenti pada sahabat). Dalam para perawinya ada yang tidak dikenal. Wallahu a’lam (Allah Yang Maha Mengetahui).

Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Ajalatul Muntazhir fi Syarhi Halil Khidir dari jalur Abdul Wahhab bin Adh-Dhahhak, dan dia adalah matruk (ditinggalkan) dari Baqiyyah. Dan telah meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir dengan sanadnya kepada As-Suddi, bahwa Khidir dan Ilyas adalah dua bersaudara, dan ayah mereka adalah seorang raja, maka Ilyas berkata kepada ayahnya: Sesungguhnya saudaraku Khidir tidak berminat kepada kerajaan, seandainya engkau menikahkannya; mudah-mudahan akan lahir darinya seorang anak yang akan menjadi raja. Maka ayahnya menikahkannya dengan seorang wanita cantik yang perawan, lalu Khidir berkata kepadanya: Sesungguhnya aku tidak membutuhkan wanita, jika engkau mau aku akan membebaskanmu, dan jika engkau mau tinggal bersamaku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dan engkau rahasiakan rahasiaku. Maka wanita itu berkata: Ya. Dan dia tinggal bersamanya selama satu tahun, ketika setahun berlalu, sang raja memanggilnya dan berkata: Sesungguhnya engkau wanita muda dan anakku pemuda, maka di mana anaknya? Maka wanita itu berkata: Sesungguhnya anak itu datangnya dari Allah, jika Dia menghendaki akan terjadi, dan jika Dia tidak menghendaki tidak akan terjadi. Maka ayahnya menyuruhnya menceraikannya dan menikahkannya dengan wanita lain yang janda yang sudah pernah melahirkan, ketika wanita itu dibawa kepadanya, dia berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada wanita sebelumnya, maka wanita itu menyetujui untuk tinggal bersamanya, ketika setahun berlalu, sang raja menanyakan kepadanya tentang anak, maka wanita itu berkata: Sesungguhnya anakmu tidak membutuhkan wanita. Maka ayahnya mencarinya lalu dia melarikan diri, maka dia mengirim orang untuk mengejarnya, namun mereka tidak mampu menangkapnya, dikatakan bahwa dia membunuh wanita yang kedua, karena dia membocorkan rahasianya maka dia melarikan diri karena hal itu, dan dia membebaskan wanita yang pertama, maka wanita itu tinggal beribadah kepada Allah di salah satu sudut kota itu, suatu hari seorang laki-laki melewatinya, lalu dia mendengarnya berkata: Bismillah. Maka wanita itu berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapat nama ini? Maka laki-laki itu berkata: Sesungguhnya aku dari sahabat-sahabat Khidir. Maka wanita itu menikahinya, lalu melahirkan anak-anak untuknya, kemudian terjadilah dari urusannya bahwa dia menjadi tukang rias putri Firaun, suatu hari ketika dia sedang menyisirnya; sisir itu terjatuh dari tangannya, maka dia berkata: Bismillah. Maka putri Firaun berkata: Ayahku? Maka wanita itu berkata: Tidak, Tuhanku dan Tuhanmu dan Tuhan ayahmu adalah Allah. Maka putri Firaun mengabarkan kepada ayahnya, lalu dia memerintahkan sapi dari tembaga, lalu dipanaskan, kemudian dia memerintahkan kepadanya, maka dia dilemparkan ke dalamnya, ketika dia menyaksikan itu, dia mundur untuk tidak jatuh ke dalamnya, maka anaknya yang masih kecil berkata kepadanya: Wahai ibuku, bersabarlah karena sesungguhnya engkau di atas kebenaran. Maka dia melemparkan dirinya ke dalam api, lalu dia mati semoga Allah merahmatinya.

Dan telah meriwayatkan Ibnu Asakir, dari Abu Dawud Al-A’ma Nufai’, dan dia adalah pendusta yang memalsukan hadits, dari Anas bin Malik, dan dari jalur Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf, dan dia juga pendusta, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Khidir datang pada suatu malam lalu mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bicaranya sedang dia berdoa dan berkata: Ya Allah tolonglah aku atas apa yang menyelamatkanku dari apa yang Engkau takutkan kepadaku, dan berilah aku rezeki kerinduan orang-orang shalih kepada apa yang Engkau rindukannya kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Anas bin Malik kepadanya, lalu dia memberi salam kepadanya, maka dia membalas salamnya, dan berkata kepadanya: Katakan kepadanya: Sesungguhnya Allah memuliakan engkau atas para nabi, sebagaimana Allah memuliakan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya, dan memuliakan umatmu atas umat-umat lain, sebagaimana Allah memuliakan hari Jumat atas hari-hari lainnya. Hadits ini, dan itu adalah kebohongan, tidak sahih sanad dan matannya; bagaimana mungkin dia tidak hadir di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan datang sendiri untuk memberi salam dan belajar, padahal mereka menyebutkan dalam cerita-cerita mereka dan apa yang mereka sanadkan dari sebagian guru mereka, bahwa Khidir datang kepada mereka dan memberi salam kepada mereka, dan mengetahui nama-nama mereka dan tempat tinggal mereka dan rumah mereka, dan dia dengan ini tidak mengenal Musa bin Imran, Kalimullah (yang berbicara dengan Allah), yang dipilih Allah pada masa itu atas selain dia, sehingga harus memperkenalkan dirinya kepadanya bahwa dia adalah Musa Bani Israil. Dan telah berkata Al-Hafizh Abu Al-Husain bin Al-Munadi setelah menyebutkan hadits Anas ini: Dan ahli hadits sepakat bahwa itu adalah hadits munkar sanadnya, sakit matannya, terlihat padanya bekas pembuatan. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi, berkata: Memberitakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Balawiyah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr bin Mathar, menceritakan kepada kami Kamil bin Thalhah, menceritakan kepada kami Abbad bin Abdul Shamad, dari Anas bin Malik, berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, sahabat-sahabatnya mengelilinginya, lalu mereka menangis di sekelilingnya, dan berkumpul, maka masuklah seorang laki-laki beruban jenggotnya, berbadan besar, tampan, lalu dia melangkahi leher mereka, lalu menangis kemudian berpaling kepada sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia berkata: Sesungguhnya pada Allah ada penghiburan dari setiap musibah, dan pengganti dari setiap yang hilang, dan pengganti dari setiap yang binasa, maka kepada Allah kembalilah, dan kepada-Nya berharaplah, dan pandangan-Nya kepada kalian dalam bencana maka perhatikanlah, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah adalah yang tidak diberi ganjaran. Dan dia pergi, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Apakah kalian mengenal orang itu? Maka Abu Bakar dan Ali berkata: Ya, ini adalah saudara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Khidir alaihissalam. Dan telah meriwayatkannya Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya, dari Kamil bin Thalhah dengannya, dan dalam matannya ada perbedaan dengan riwayat Al-Baihaqi, kemudian Al-Baihaqi berkata: Abbad bin Abdul Shamad lemah, dan ini sangat munkar. Aku berkata: Abbad bin Abdul Shamad ini, dia adalah Ibnu Ma’mar Al-Bashri, meriwayatkan dari Anas sebuah nuskhah. Ibnu Hibban dan Al-Uqaili berkata: Kebanyakannya palsu. Dan Bukhari berkata: Munkar haditsnya. Dan Abu Hatim berkata: Sangat lemah haditsnya, munkar. Dan Ibnu Adi berkata: Kebanyakan apa yang dia riwayatkan dalam keutamaan Ali, dan dia lemah, berlebihan dalam tasyayyu’.

Dan Asy-Syafii berkata dalam musnadnya: Memberitakan kepada kami Al-Qasim bin Abdullah bin Umar, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, Ali bin Al-Husain, berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, dan datang takziyah, mereka mendengar seorang yang berkata: Sesungguhnya pada Allah ada penghiburan dari setiap musibah, dan pengganti dari setiap yang binasa, dan pengganti dari setiap yang hilang, maka kepada Allah percayalah, dan kepada-Nya berharaplah, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah adalah yang kehilangan pahala. Ali bin Al-Husain berkata: Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Khidir. Guru Asy-Syafii, Al-Qasim Al-Umari adalah matruk. Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Main berkata: Dia berdusta. Ahmad menambahkan: Dan memalsu hadits. Kemudian itu mursal, dan yang seperti itu tidak diandalkan di sini. Wallahu a’lam.

Dan telah diriwayatkan dari jalan lain yang lemah, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya, dari Ali. Dan tidak sahih.

Dan telah meriwayatkan Abdullah bin Wahb, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Al-Munkadir bahwa Umar bin Al-Khaththab ketika sedang menshalatkan jenazah; tiba-tiba dia mendengar suara orang yang berkata: Jangan mendahului kami semoga Allah merahmatimu. Maka dia menunggunya sampai dia bergabung dengan shaf, lalu dia menyebutkan doanya untuk mayit; Jika Engkau menyiksanya maka banyak dia bermaksiat kepada-Mu, dan jika Engkau mengampuninya maka dia fakir kepada rahmat-Mu. Dan ketika dikuburkan dia berkata: Beruntunglah engkau wahai penghuni kubur, jika engkau bukan pemimpin, atau pemungut pajak, atau bendahara, atau penulis, atau polisi. Maka Umar berkata: Tangkap orang itu kita tanya tentang shalatnya dan perkataannya dari siapa. Dia berkata: Maka dia menghilang dari mereka, lalu mereka melihat dan ternyata jejak kakinya satu hasta. Maka Umar berkata: Ini demi Allah adalah Khidir yang diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentangnya. Dan atsar ini di dalamnya ada yang mubham (tidak jelas), dan di dalamnya ada keterputusan, dan tidak sahih yang seperti itu.

Dan meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir, dari Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Al-Muharrir, dari Yazid bin Al-Asham, dari Ali bin Abi Thalib, berkata: Aku masuk thawaf pada sebagian malam, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki bergantung pada tirai-tirai Ka’bah, dan dia berkata: Wahai Dzat yang tidak menghalangi pendengaran-Nya satu pendengaran dari pendengaran yang lain, dan wahai Dzat yang tidak membingungkan-Nya berbagai pertanyaan, dan wahai Dzat yang tidak membuatnya jemu desakan orang-orang yang mendesak, dan tidak pertanyaan orang-orang yang bertanya, anugerahkanlah kepadaku kesejukan maaf-Mu, dan manisnya rahmat-Mu. Dia berkata: Maka aku berkata: Ulangi kepadaku apa yang engkau katakan. Maka dia berkata kepadaku: Apakah engkau mendengarnya? Aku berkata: Ya. Maka dia berkata kepadaku: Demi Dzat yang jiwa Khidir di tangan-Nya – dia berkata: Dan dia adalah Khidir – tidaklah seorang hamba mengucapkannya setelah shalat wajib; melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih laut, dan daun pohon, dan bilangan bintang-bintang; pasti Allah mengampuninya. Dan ini lemah dari sisi Abdullah bin Al-Muharrir; karena sesungguhnya dia matruk haditsnya, dan Yazid bin Al-Asham tidak bertemu dengan Ali. Dan yang seperti ini tidak sahih. Wallahu a’lam. Dan telah meriwayatkannya Abu Ismail At-Tirmidzi: Menceritakan kepada kami Malik bin Ismail, menceritakan kepada kami Shalih bin Abi Al-Aswad, dari Mahfuzh bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Muhammad bin Yahya, berkata: Ketika Ali bin Abi Thalib sedang berthawaf di Ka’bah, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki bergantung pada tirai-tirai Ka’bah, dan dia berkata: Wahai Dzat yang tidak menyibukkan satu pendengaran-Nya dari pendengaran yang lain, dan wahai Dzat yang tidak membingungkan-Nya para penanya, dan wahai Dzat yang tidak membuatnya jemu desakan orang-orang yang mendesak, rasakan kepadaku kesejukan maaf-Mu, dan manisnya rahmat-Mu. Dia berkata: Maka Ali berkata kepadanya: Wahai hamba Allah, ulangi doamu ini. Dia berkata: Dan engkau mendengarnya? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Maka berdoalah dengannya setelah setiap shalat, maka demi Dzat yang jiwa Khidir di tangan-Nya, seandainya di atasmu dari dosa-dosa sebanyak bilangan bintang-bintang langit dan hujannya, dan kerikil bumi dan tanahnya, pasti akan diampuni untukmu lebih cepat dari sekejap mata. Dan ini juga terputus dan dalam sanadnya ada yang tidak dikenal. Wallahu a’lam.

Dan telah menyebutkannya Ibnul Jauzi, dari jalur Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya: Menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik bin Ismail, lalu menyebutkan sepertinya. Kemudian dia berkata: Dan ini sanad majhul (tidak dikenal) terputus, dan tidak ada di dalamnya yang menunjukkan bahwa orang itu adalah Khidir.

Dan Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ibnu Asakir berkata: Memberitakan kepada kami Abu Al-Qasim bin Al-Hushain, memberitakan kepada kami Abu Thalib Muhammad bin Muhammad, memberitakan kepada kami Abu Ishaq Al-Muzakki, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Zaid, mendikte kepada kami di Abbadan, memberitakan kepada kami Amr bin Ashim, menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Razin, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Abbas – dia berkata: dan aku tidak mengetahui kecuali marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: Khidir dan Ilyas bertemu setiap tahun pada musim haji, maka masing-masing dari mereka mencukur kepala temannya, dan mereka berpisah dengan kalimat-kalimat ini: Bismillah maa syaa Allah, laa yasuuqul khaira illallah, maa syaa Allah, laa yashrifusy syarra illallah, maa syaa Allah, maa kaana min ni’matin faminallaah, maa syaa Allah, laa haula walaa quwwata illaa billaah. Dia berkata: Dan Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa mengucapkannya ketika pagi dan ketika petang tiga kali, Allah melindunginya dari tenggelam, dan terbakar, dan pencurian. Dia berkata: Dan aku mengira dia berkata: Dan dari setan, dan penguasa, dan ular, dan kalajengking.

Ad-Daruquthni berkata dalam Al-Afrad: Ini hadits gharib dari hadits Ibnu Juraij, tidak menceritakannya selain guru ini darinya. Maksudnya Al-Hasan bin Razin ini. Dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Katsir Al-Abdi juga, dan dengan ini Al-Hafizh Abu Ahmad Ibnu Adi berkata padanya: Bukan orang yang dikenal. Dan Al-Hafizh Abu Ja’far Al-Uqaili berkata: Majhul (tidak dikenal), dan haditsnya tidak terpelihara. Dan Abu Al-Husain bin Al-Munadi berkata: Itu hadits lemah, dengan Al-Hasan bin Razin.

Dan telah meriwayatkan Ibnu Asakir sepertinya dari jalur Ali bin Al-Hasan Al-Jahdlami, dan dia adalah pendusta, dari Dhamrah bin Habib Al-Maqdisi, dari ayahnya, dari Al-Ala’ bin Ziyad Al-Qusyairi, dari Abdullah bin Al-Hasan, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’, berkata: Berkumpul setiap hari Arafah di Arafat Jibril, dan Mikail, dan Israfil, dan Khidir. Dan menyebutkan hadits panjang yang palsu, kami tinggalkan penyebutannya dengan sengaja. Dan segala puji bagi Allah.

Dan meriwayatkan Ibnu Asakir, dari jalur Hisyam bin Khalid, dari Al-Hasan bin Yahya Al-Khasyni, dari Ibnu Abi Rawwad, berkata: Ilyas dan Khidir berpuasa bulan Ramadhan di Baitul Maqdis, dan berhaji setiap tahun, dan minum dari air zamzam satu tegukan yang mencukupi mereka sampai seperti itu dari tahun depan.

Dan meriwayatkan Ibnu Asakir bahwa Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan, pembangun masjid Damaskus, ingin beribadah semalam di masjid maka dia memerintahkan para penjaga untuk mengosongkannya untuknya, lalu mereka melakukannya, ketika malam tiba, dia datang dari pintu Jam, lalu masuk ke masjid, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri shalat di antara dia dan pintu Al-Khadhra’, maka dia berkata kepada para penjaga: Bukankah aku memerintahkan kalian untuk mengosongkannya? Maka mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, ini adalah Khidir yang datang setiap malam shalat di sini.

Dan Ibnu Asakir juga berkata: Memberitakan kepada kami Abu Al-Qasim Ismail bin Ahmad, memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Ath-Thabari, memberitakan kepada kami Abu Al-Husain bin Al-Fadhl, memberitakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, menceritakan kepada kami Ya’qub – yaitu Ibnu Sufyan – Al-Fasawi, menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdul Aziz, menceritakan kepada kami Dhamrah, dari As-Sarri bin Yahya, dari Riyah bin Ubaidah, berkata: Aku melihat seorang laki-laki berjalan bersama Umar bin Abdul Aziz bersandar pada tangannya maka aku berkata dalam diriku: Sesungguhnya orang ini kasar. Dia berkata: Ketika dia pulang dari shalat, aku berkata: Siapa orang yang bersandar pada tanganmu tadi? Dia berkata: Apakah engkau melihatnya wahai Riyah? Aku berkata: Ya. Dia berkata: Aku tidak mengira engkau kecuali seorang yang shalih. Itu adalah saudaraku Khidir, dia memberi kabar gembira kepadaku bahwa aku akan ditanya dan berbuat adil. Asy-Syaikh Abu Al-Faraj Ibnul Jauzi berkata: Ar-Ramli dicacati di sisi para ulama. Dan sungguh Abu Al-Husain bin Al-Munadi mencacati Dhamrah, dan As-Sarri, dan Riyah. Kemudian menyebutkan dari jalur-jalur lain, dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa dia bertemu dengan Khidir. Dan melemahkan semuanya. Dan meriwayatkan Ibnu Asakir juga, bahwa dia bertemu dengan Ibrahim At-Taimi, dan dengan Sufyan bin Uyainah, dan sekelompok orang yang panjang untuk disebutkan.

Riwayat-riwayat dan kisah-kisah ini adalah sandaran bagi orang-orang yang berpendapat bahwa Nabi Khidir masih hidup hingga hari ini. Semua hadits yang marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah) sangat lemah, tidak dapat dijadikan hujah dalam agama. Sedangkan kisah-kisah tersebut, kebanyakannya tidak lepas dari kelemahan dalam sanad (rangkaian perawi), dan paling tinggi derajatnya adalah shahih sampai kepada orang yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan); dari kalangan sahabat atau selain mereka; karena mereka boleh saja keliru. Dan Allah lebih mengetahui.

Abdur Razzaq berkata: telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, bahwa Abu Sa’id berkata: telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah hadits panjang tentang Dajjal, lalu beliau bersabda dalam ceritanya kepada kami: “Akan datang Dajjal, dan dia diharamkan untuk masuk ke dalam perkampungan Madinah, maka pada hari itu akan keluar menghadapinya seorang laki-laki yang merupakan sebaik-baik manusia, atau termasuk yang terbaik dari mereka, lalu dia berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentangnya. Maka Dajjal berkata: Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih ragu dalam perkara ini? Mereka menjawab: Tidak. Maka dia membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali, lalu orang itu berkata ketika dihidupkan: Demi Allah, tidaklah lebih kuat keyakinanku tentang dirimu daripada sekarang ini.” Rasulullah bersabda: “Maka Dajjal ingin membunuhnya untuk kedua kalinya namun dia tidak diberi kuasa atas orang itu.” Ma’mar berkata: telah sampai kepadaku bahwa Dajjal akan meletakkan di lehernya lempeng dari tembaga, dan telah sampai kepadaku bahwa dia adalah Al-Khidir yang dibunuh oleh Dajjal, kemudian dihidupkannya kembali. Hadits ini tercantum dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadits Az-Zuhri dengan sanad ini. Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, ahli fikih perawi dari Muslim, berkata: Yang shahih adalah jika dikatakan: Bahwa laki-laki ini adalah Al-Khidir. Dan perkataan Ma’mar dan lainnya: “telah sampai kepadaku” tidak mengandung hujah. Dan telah datang dalam sebagian lafadz hadits: “Maka datanglah seorang pemuda yang penuh dengan masa mudanya lalu dia membunuhnya.” Dan perkataannya: “Yang telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentangnya” tidak meniscayakan perjumpaan langsung, bahkan cukup dengan mutawatir (banyak jalur periwayatan).

Asy-Syaikh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya: “Ajalah al-Muntazhir, fi Syarhi Halati al-Khidir” telah mengkritisi hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal itu dari hadits-hadits marfu’, lalu beliau menjelaskan bahwa hadits-hadits tersebut adalah palsu, dan dari atsar-atsar (riwayat) dari para sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka, lalu beliau menjelaskan kelemahan sanad-sanadnya dengan menerangkan keadaannya dan ketidakjelasan perawinya, dan beliau telah bagus dan baik dalam mengkritisinya.

Adapun orang-orang yang berpendapat bahwa Nabi Khidir telah meninggal, di antaranya adalah Imam Bukhari, Ibrahim al-Harbi, Abu al-Husain Ibnu al-Munadi, dan Asy-Syaikh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi, dan beliau telah membela pendapat ini dan mengarang kitab tentangnya yang diberi nama: “Ajalah al-Muntazhir fi Syarhi Halati al-Khidir”, maka mereka berdalil dengan banyak hal; di antaranya, firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak menjadikan bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad) hidup abadi.” (Al-Anbiya’: 34). Maka Al-Khidir, jika dia adalah manusia, maka sudah tentu dia masuk dalam keumuman ayat ini, dan tidak boleh mengkhususkannya dari ayat ini kecuali dengan dalil yang shahih, dan asalnya adalah tidak ada pengkhususan sampai terbukti ada, dan tidak disebutkan sesuatu yang mengandung dalil atas pengkhususan dari orang yang ma’shum (yang wajib diterima perkataannya). Di antaranya adalah bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.'” (Ali Imran: 81). Ibnu Abbas berkata: Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan Dia mengambil perjanjian dari nabi itu: Jika Muhammad diutus sedang dia masih hidup, maka dia pasti akan beriman kepadanya dan menolongnya. Dan dia diperintahkan untuk mengambil perjanjian dari umatnya: Jika Muhammad diutus sedang mereka masih hidup; maka mereka pasti akan beriman kepadanya dan menolongnya. Imam Bukhari meriwayatkan hal ini darinya. Maka Al-Khidir jika dia seorang nabi atau wali maka dia sudah masuk dalam perjanjian ini, seandainya dia hidup pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; maka keadaan yang paling mulia baginya adalah berada di hadapannya, beriman dengan apa yang diturunkan Allah kepadanya dan menolong agar tidak ada seorang musuh pun yang sampai kepadanya; karena jika dia seorang wali; maka Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih utama darinya, dan jika dia seorang nabi; maka Nabi Musa lebih utama darinya.

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnadnya: telah menceritakan kepada kami Suraij bin an-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah memberitakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Nabi Musa masih hidup, maka tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Dan inilah yang dipastikan kebenarannya dan diketahui dari agama secara pasti (dharuri), dan telah ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini; bahwa para nabi semuanya seandainya diandaikan mereka hidup dan dibebani taklif pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka semua akan menjadi pengikutnya, dan berada di bawah perintahnya, dan dalam keumuman syariatnya, sebagaimana ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul dengan mereka pada malam Isra’, beliau diangkat di atas mereka semua, dan ketika mereka turun bersamanya ke Baitul Maqdis, dan tiba waktu shalat; Jibril memerintahkannya atas perintah Allah untuk mengimami mereka, maka beliau shalat bersama mereka di tempat kekuasaan mereka, dan tempat tinggal mereka, maka hal itu menunjukkan bahwa beliau adalah imam yang paling agung, dan rasul penutup yang dimuliakan dan didahulukan, semoga shalawat dan salam Allah atasnya dan atas mereka semua. Jika telah diketahui hal ini – dan ini diketahui oleh setiap mukmin – maka diketahui bahwa seandainya Al-Khidir masih hidup, maka dia termasuk dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan termasuk orang yang mengikuti syariatnya, tidak ada pilihan lain baginya kecuali itu. Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam ini, ketika turun di akhir zaman, akan berhukum dengan syariat yang suci ini, tidak akan keluar darinya, dan tidak akan menyimpang darinya, padahal dia adalah salah satu dari lima rasul Ulul ‘Azmi, dan penutup para nabi Bani Israil. Dan yang diketahui bahwa Al-Khidir, tidak dinukil dengan sanad yang shahih atau hasan yang jiwa merasa tenang kepadanya, bahwa dia pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, dan tidak pernah menyaksikan bersama beliau peperangan dalam suatu peristiwa dari berbagai peristiwa, dan ini pada hari Badar, ketika Nabi yang benar lagi dibenarkan itu berdoa kepada Tuhannya Azza wa Jalla, dan meminta pertolongan-Nya, dan meminta kemenangan atas orang yang mengkufurinya: “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi setelahnya di bumi.” Dan kelompok itu berisikan para pemimpin kaum muslimin saat itu, dan para pemimpin malaikat, bahkan Jibril ‘alaihissalam, sebagaimana dikatakan oleh Hassan bin Tsabit dalam salah satu qashidahnya, dalam bait yang dikatakan: bahwa bait ini adalah bait yang paling membanggakan yang diucapkan oleh orang Arab:

Dan di sumur Badar ketika mereka menghadapkan wajah mereka Jibril di bawah panji kami dan Muhammad

Seandainya Al-Khidir masih hidup, maka berdiri di bawah panji ini adalah kedudukan yang paling mulia baginya, dan peperangan yang paling agung baginya.

Al-Qadhi Abu Ya’la Muhammad bin al-Husain bin al-Farra’ al-Hanbali berkata: Ada yang bertanya kepada sebagian ulama kami tentang Al-Khidir: Apakah dia telah meninggal? Maka dia menjawab: Ya. Dia berkata: Dan telah sampai kepadaku seperti ini dari Abu Thahir bin al-Ghabbari. Dia berkata: Dan dia beralasan dengan bahwa seandainya dia masih hidup, niscaya dia akan datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini dinukil oleh Ibnu al-Jauzi dalam “al-Ajalah”. Jika ada yang berkata: Mengapa tidak dikatakan bahwa dia hadir dalam semua peristiwa ini, tetapi tidak ada seorang pun yang melihatnya. Maka jawabannya adalah bahwa asalnya adalah tidak adanya kemungkinan yang jauh ini yang mengharuskan pengkhususan keumuman-keumuman hanya dengan dugaan-dugaan, kemudian apa yang mendorongnya untuk bersembunyi ini? Sedangkan penampakannya lebih besar bagi pahalanya, dan lebih tinggi dalam derajatnya, dan lebih jelas bagi mukjizatnya. Kemudian seandainya dia tetap ada setelahnya, maka penyampaiannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hadits-hadits nabawi, dan ayat-ayat Qur’ani, dan pengingkarannya terhadap hadits-hadits yang dipalsukan, dan riwayat-riwayat yang dibolak-balik, dan pendapat-pendapat bid’ah, dan hawa nafsu fanatik, dan peperangannya bersama kaum muslimin dalam peperangan-peperangan mereka, dan kehadirannya dalam shalat Jumat dan jamaah mereka, dan memberikan manfaat kepada mereka, dan menolak bahaya dari mereka dari orang selain mereka, dan memberi petunjuk kepada para ulama dan hakim, dan menetapkan dalil-dalil dan hukum-hukum, lebih utama dari apa yang dikatakan tentangnya yaitu keberadaannya di berbagai negeri, dan mengelilingi padang pasir dan berbagai wilayah, dan pertemuannya dengan para ahli ibadah yang tidak diketahui keadaan kebanyakan dari mereka, dan menjadikan dirinya bagi mereka seperti penghubung yang menerjemahkan tentang mereka. Dan apa yang kami sebutkan ini tidak akan diragukan oleh siapa pun setelah memahaminya, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Dan di antaranya adalah apa yang thabat dalam Shahihain dan selain keduanya dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Isya pada suatu malam, kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian tentang malam kalian ini, sesungguhnya sampai seratus tahun, tidak akan tersisa dari orang yang berada di muka bumi hari ini seorang pun” – dan dalam riwayat lain: – “mata yang berkedip.” Ibnu Umar berkata: Maka orang-orang salah paham terhadap perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, padahal beliau hanya bermaksud berakhirnya generasinya.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Salim bin Abdullah, dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, bahwa Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada suatu malam Isya di akhir kehidupannya, maka ketika salam beliau berdiri lalu bersabda: “Tahukah kalian tentang malam kalian ini, sesungguhnya pada kepala seratus tahun tidak akan tersisa dari orang yang berada di atas permukaan bumi seorang pun.” Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan Muslim, dari hadits Az-Zuhri.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adi, dari Sulaiman at-Taimi, dari Abu Nadhrah, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sedikit sebelum wafatnya atau sebulan: “Tidaklah ada jiwa yang dilahirkan” – atau: “tidaklah ada di antara kalian jiwa hari ini yang dilahirkan – yang akan mencapai seratus tahun sedang dia pada waktu itu masih hidup.”

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda sebulan sebelum wafatnya: “Mereka bertanya kepadaku tentang hari Kiamat, padahal sesungguhnya ilmunya hanya ada pada sisi Allah, aku bersumpah demi Allah tidaklah ada di bumi jiwa yang dilahirkan hari ini, yang akan mencapai seratus tahun.” Dan demikianlah diriwayatkan oleh Muslim, dari jalur Abu Nadhrah, dan Abu az-Zubair, setiap dari mereka dari Jabir bin Abdullah dengan sanad seperti itu.

At-Tirmidzi berkata: telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada di bumi jiwa yang dilahirkan yang akan mencapai seratus tahun.” Dan ini juga sesuai dengan syarat Muslim. Ibnu al-Jauzi berkata: Maka hadits-hadits shahih ini memutuskan akar klaim tentang kehidupan Al-Khidir. Mereka berkata: Maka Al-Khidir jika dia tidak mendapati zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diduga kuat yang meningkat kekuatannya sampai kepada kepastian maka tidak ada masalah. Dan jika dia mendapati zamannya, maka hadits ini meniscayakan bahwa dia tidak hidup setelahnya seratus tahun, maka sekarang dia sudah hilang bukan ada; karena dia masuk dalam keumuman ini, dan asalnya adalah tidak ada pengkhususan baginya, sampai terbukti dengan dalil yang shahih yang wajib diterima. Dan Allah lebih mengetahui.

Dan Al-Hafizh Abu al-Qasim as-Suhaili telah meriwayatkan dalam kitabnya: “at-Ta’rif wal I’lam” dari Imam Bukhari dan gurunya Abu Bakar Ibnu al-Arabi, bahwa dia mendapati kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi meninggal setelahnya; berdasarkan hadits ini. Dan dalam hal Imam Bukhari rahimahullah mengatakan ini, dan bahwa dia tetap ada sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada pembahasan. Dan as-Suhaili menguatkan keberlangsungannya, dan meriwayatkannya dari kebanyakan ulama; dia berkata: Adapun pertemuannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ta’ziyahnya kepada Ahlul Bait, setelahnya maka diriwayatkan dari jalur-jalur yang shahih. Kemudian dia menyebutkan apa yang telah kami lemahkan sebelumnya, dan dia tidak menyebutkan sanad-sanadnya. Dan Allah lebih mengetahui.

۞۞۞۞۞

Adapun Nabi Ilyas ‘alaihissalam

Maka Allah Ta’ala berfirman, setelah kisah Nabi Musa dan Nabi Harun dari surat Ash-Shaffat: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kamu tidak bertakwa? Apakah kamu menyeru (menyembah) Ba’al dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah, Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapak kamu yang terdahulu?’ Maka mereka mendustakan Ilyas, karena itu sesungguhnya mereka benar-benar akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (Ash-Shaffat: 123-132). Para ahli nasab berkata: Dia adalah Ilyas bin Tisbi. Dan dikatakan: bin Yasin bin Finhas bin al-‘Izar bin Harun. Dan dikatakan: Ilyas bin al-‘Azir bin al-‘Izar bin Harun bin Imran. Mereka berkata: Dan pengutusan beliau adalah kepada penduduk Ba’labak, di sebelah barat Damaskus, maka beliau menyeru mereka kepada peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan agar mereka meninggalkan penyembahan berhala mereka, yang biasa mereka namakan Ba’al. Dan dikatakan: Dahulu ada seorang wanita bernama Ba’al. Dan pendapat pertama lebih shahih. Dan oleh karena itu beliau berkata kepada mereka: “Apakah kamu tidak bertakwa? Apakah kamu menyeru (menyembah) Ba’al dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah, Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapak kamu yang terdahulu?” Maka mereka mendustakan beliau dan menentang beliau, dan ingin membunuhnya, maka dikatakan: sesungguhnya beliau melarikan diri dari mereka, dan bersembunyi dari mereka. Abu Ya’qub al-Azra’i berkata, dari Yazid bin Abdul Shamad, dari Hisyam bin Ammar, dia berkata: dan aku mendengar ada yang menyebutkan dari Ka’b al-Ahbar, bahwa dia berkata: Sesungguhnya Ilyas bersembunyi dari raja kaumnya, di dalam gua yang berada di bawah Damaskus, selama sepuluh tahun, sampai Allah membinasakan raja tersebut, dan menggantikannya dengan yang lain, maka Ilyas mendatanginya, lalu menawarkan Islam kepadanya, maka dia masuk Islam, dan masuk Islam dari kaumnya banyak sekali, kecuali sepuluh ribu orang dari mereka, maka dia memerintahkan untuk membunuh mereka semua sampai habis.

Dan Ibnu Abi ad-Dunya berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad al-Qasim bin Hasyim, telah menceritakan kepada kami Umar bin Sa’id ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz, dari sebagian ulama tua Damaskus, ia berkata: Ilyas alaihissalam bersembunyi dari kaumnya di sebuah gua di gunung selama dua puluh malam, atau ia berkata empat puluh malam, burung gagak membawakan kepadanya rizkinya.

Dan Muhammad bin Sa’d, penulis al-Waqidi, berkata: telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbi, dari ayahnya, ia berkata: Nabi pertama yang diutus adalah Idris, kemudian Nuh, kemudian Ibrahim, kemudian Ismail dan Ishaq, kemudian Yaqub, kemudian Yusuf, kemudian Luth, kemudian Hud, kemudian Salih, kemudian Syu’aib, kemudian Musa dan Harun putra Imran, kemudian Ilyas bin Tisbi bin al-Azir bin Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim alaihimussalam. Demikian ia katakan, dan dalam urutan ini ada yang perlu dipertimbangkan.

Dan Makhul berkata dari Ka’b: empat nabi yang masih hidup, dua di bumi: Ilyas dan Khidir, dan dua di langit: Idris dan Isa. Dan telah kami sebutkan sebelumnya pendapat orang yang menyebut bahwa Ilyas dan Khidir bertemu setiap tahun pada bulan Ramadhan di Baitul Maqdis, dan bahwa mereka berdua menunaikan haji setiap tahun, dan minum dari air Zamzam satu tegukan yang mencukupi mereka hingga tahun berikutnya. Dan kami telah menyebutkan hadits yang di dalamnya disebutkan bahwa mereka berdua bertemu di Arafah setiap tahun, dan kami telah menjelaskan bahwa tidak ada satupun dari itu yang sahih, dan yang ditunjukkan oleh dalil adalah: bahwa Khidir telah wafat, demikian pula Ilyas alaihimassalam.

Dan apa yang disebutkan Wahb bin Munabbih dan lainnya bahwa ketika ia berdoa kepada Rabbnya Azza wa Jalla agar mengambil nyawanya karena kaumnya mendustakannya dan menyakitinya, lalu datanglah kepadanya seekor binatang yang warnanya seperti warna api, maka ia menaikinya, dan Allah menjadikan baginya sayap, dan mengenakan kepadanya cahaya, dan memutuskan darinya kenikmatan makanan dan minuman, dan ia menjadi malaikat manusiawi, langit duniawi, dan ia berwasiat kepada Alyasa’ bin Akhthub, maka dalam hal ini perlu diteliti, dan ini termasuk Isra’iliyyat yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan, bahkan yang jelas kebenarannya sangat jauh. Dan Allah Maha Mengetahui.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Bakr al-Baihaqi: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafidz, telah menceritakan kepadaku Abu al-Abbas Ahmad bin Sa’id al-Ma’dani di Bukhara, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mahmud, telah menceritakan kepada kami Abdan bin Sinan, telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Abdullah al-Barqi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Yazid al-Balawi, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq al-Fazari, dari al-Auza’i, dari Makhul, dari Anas bin Malik, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu kami singgah di suatu tempat, tiba-tiba ada seorang laki-laki di lembah berkata: Ya Allah, jadikanlah aku dari umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang dirahmati, yang diampuni, yang diberi pahala. Ia berkata: Maka aku menengok ke lembah, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tingginya lebih dari tiga ratus hasta, lalu ia berkata kepadaku: Siapa kamu? Aku menjawab: Anas bin Malik, pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Di mana beliau? Aku menjawab: Ini dia mendengar perkataanmu. Ia berkata: Datangilah beliau dan sampaikanlah salamku, dan katakan kepadanya: Saudaramu Ilyas menyampaikan salam kepadamu. Ia berkata: Maka aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengabarkan kepadanya, lalu beliau datang hingga bertemu dengannya, lalu berpelukan dan saling memberi salam, kemudian duduk bercakap-cakap, lalu ia berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak makan dalam setahun kecuali satu hari, dan ini adalah hari berbukaku, maka mari kita makan bersama aku dan engkau. Ia berkata: Maka turunlah kepada mereka berdua sebuah hidangan dari langit yang di atasnya ada roti, ikan, dan seledri, lalu mereka berdua makan dan memberiku makan, dan kami shalat Ashar, kemudian berpamitan dengannya, dan aku melihatnya melewati awan menuju langit.

Maka al-Baihaqi telah mencukupi urusannya dan berkata: Ini hadits yang sangat lemah. Dan yang mengherankan adalah bahwa al-Hakim Abu Abdullah an-Naisaburi mengeluarkannya dalam Mustadrak-nya atas dua kitab Shahih, dan ini termasuk yang dikritik dari Mustadrak tersebut, karena ia adalah hadits palsu, yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih, dari beberapa segi. Dan maknanya juga tidak benar, karena telah disebutkan sebelumnya dalam dua kitab Shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta di langit hingga sabdanya: Kemudian makhluk terus berkurang, hingga sekarang. Dan di dalamnya disebutkan bahwa ia tidak datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga beliau sendiri yang pergi kepadanya. Dan ini tidak benar, karena ia lebih berhak untuk berusaha mendatangi penutup para nabi. Dan di dalamnya disebutkan bahwa ia makan dalam setahun sekali, padahal telah disebutkan sebelumnya dari Wahb bahwa Allah menghilangkan darinya kenikmatan makanan dan minuman, dan dalam apa yang disebutkan sebelumnya dari sebagian mereka bahwa ia minum dari Zamzam setiap tahun satu tegukan yang mencukupinya hingga tahun berikutnya. Dan ini adalah hal-hal yang saling bertentangan, dan semuanya batil, tidak ada satupun yang benar.

Dan Ibnu Asakir telah menyebutkan hadits ini dari jalur lain, dan mengakui kelemahannya dan ini mengherankan darinya, bagaimana ia mengomentarinya, karena ia menyebutkannya dari jalur Khair bin Arfah, dari Hani bin al-Hasan, dari Baqiyyah, dari al-Auza’i, dari Makhul, dari Watsilah bin al-Asqa’, lalu menyebutkan seperti ini secara panjang lebar, dan di dalamnya disebutkan bahwa itu terjadi pada perang Tabuk, dan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus kepadanya Anas bin Malik dan Hudzaifah bin al-Yaman, keduanya berkata: Ternyata ia lebih tinggi badannya dari kami dengan dua atau tiga hasta, dan ia meminta maaf karena tidak datang agar unta-unta tidak lari. Dan di dalamnya disebutkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertemu dengannya, mereka makan dari makanan surga, dan ia berkata: Sesungguhnya bagiku dalam setiap empat puluh hari sekali makan, dan di hidangan itu ada roti, delima, anggur, pisang, kurma basah, dan sayuran, kecuali bawang prei. Dan di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya tentang Khidir, maka ia berkata: Aku berjumpa dengannya tahun lalu, dan ia berkata kepadaku: Sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya sebelum aku, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Dan ini menunjukkan bahwa Khidir dan Ilyas, dengan anggapan keduanya ada dan hadits ini benar, tidak bertemu dengan beliau hingga tahun sembilan Hijriah, dan ini tidak boleh secara syariat, dan ini juga palsu.

Dan Ibnu Asakir telah menyebutkan jalur-jalur tentang orang yang bertemu dengan Ilyas dari kalangan ahli ibadah, dan semuanya tidak menggembirakan karena lemahnya sanad atau karena tidak dikenalnya orang yang diriwayatkan kepadanya. Dan di antara yang terbaik adalah apa yang dikatakan Abu Bakr bin Abi ad-Dunya: telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Mu’adz, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Waqid, dari Tsabit, ia berkata: Kami bersama Mush’ab bin az-Zubair di sawah Kufah, lalu aku memasuki kebun untuk shalat dua rakaat di dalamnya, lalu aku membuka surat Ha Mim, Tanzilul Kitab minallahil Azizil Alim, Ghafiridz dzanbi wa qabilit taub, Syadidil iqab, Dzit thaul (surat Ghafir: 1-3). Tiba-tiba ada seorang laki-laki di belakangku di atas bagal putih, mengenakan pakaian yaman, lalu ia berkata kepadaku: Apabila kamu mengucapkan Ghafiridz dzanb maka ucapkanlah: Ya Ghafiradzdzanb ighfir li dzanbi (Wahai Pengampun dosa, ampunilah dosaku). Dan apabila kamu mengucapkan Qabilit taub maka ucapkanlah: Ya Qabilat taub taqabbal taubati (Wahai Penerima taubat, terimalah taubatku). Dan apabila kamu mengucapkan Syadidil iqab maka ucapkanlah: Ya Syadidal iqab la tu’aqibni (Wahai Yang Keras siksa-Nya, janganlah Engkau menyiksaku). Dan apabila kamu mengucapkan Dzit thaul maka ucapkanlah: Ya Dzat thaul tathawwal alayya bi rahmah (Wahai Yang Memiliki anugerah, limpahkanlah rahmat kepadaku). Lalu aku berpaling, ternyata tidak ada siapa-siapa, dan aku keluar lalu bertanya: Apakah lewat pada kalian seorang laki-laki di atas bagal putih, mengenakan pakaian yaman? Mereka menjawab: Tidak lewat pada kami seorang pun. Maka mereka meyakini bahwa ia adalah Ilyas.

Dan firman-Nya Ta’ala: Lalu mereka mendustakannya, maka sesungguhnya mereka akan dihadirkan yakni untuk menerima azab, baik di dunia dan akhirat, atau di akhirat saja, dan yang pertama lebih jelas menurut apa yang disebutkan para mufassir dan sejarawan. Dan firman-Nya: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang nyata yakni kecuali orang yang beriman di antara mereka. Dan firman-Nya: Dan Kami abadikan untuk dia (pujian yang baik) di kalangan orang-orang kemudian yakni Kami tinggalkan setelahnya kenangan baik baginya di seluruh dunia, maka ia tidak disebut kecuali dengan kebaikan, dan karena itu Allah berfirman: Salam sejahtera atas Ilyasin yakni salam sejahtera atas Ilyas. Dan orang Arab menambahkan nun dalam banyak nama, dan menggantinya dari yang lain, sebagaimana mereka berkata: Ismail dan Isma’in, dan Isra’il dan Isra’in, dan Ilyas dan Ilyasin. Dan yang membaca “Salamun ala ali Yasin” yakni atas keluarga Muhammad. Dan Ibnu Mas’ud dan lainnya membaca: “Salamun ala Idrasin”. Dan diriwayatkan darinya melalui jalur Ishaq dari Ubaidah bin Rabi’ah, dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata: Ilyas adalah Idris. Dan kepada ini pergi ad-Dhahhak bin Muzahim, dan diceritakan oleh Qatadah dan Muhammad bin Ishaq, dan yang benar adalah bahwa ia selain dia, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan Allah Ta’ala Maha Mengetahui kebenaran.

۞۞۞۞۞

Bab Penyebutan Sejumlah Nabi dari Bani Israil Setelah Musa Alaihissalam

Kemudian kami ikuti mereka dengan menyebut Dawud dan Sulaiman alaihimassalam. Ibnu Jarir berkata dalam Tarikh-nya: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu tentang berita-berita orang terdahulu dan urusan-urusan orang yang telah lalu dari umat kami dan selain mereka, bahwa yang mengurus urusan Bani Israil setelah Yusya’ adalah Kalab bin Yufanna. Yakni salah satu sahabat Musa alaihissalam, dan ia adalah suami saudara perempuannya Maryam, dan ia adalah salah satu dari dua orang yang takut kepada Allah, dan mereka berdua adalah Yusya’ dan Kalab, dan mereka berdua adalah yang berkata kepada Bani Israil ketika mereka enggan berjihad: Masuklah ke pintu gerbang itu, apabila kamu memasukinya maka pasti kamu akan menang, dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu orang-orang yang beriman (surat al-Maidah: 23). Ibnu Jarir berkata: Kemudian setelahnya yang mengurus urusan Bani Israil adalah Hizqil bin Budza. Dan dialah yang berdoa kepada Allah lalu menghidupkan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dan mereka berjumlah ribuan karena takut mati.

Kisah Hizqil

Allah Ta’ala berfirman: Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (surat al-Baqarah: 243).

Muhammad bin Ishaq berkata dari Wahb bin Munabbih: Sesungguhnya Kalab bin Yufanna ketika Allah wafatkan setelah Yusya’, menjadi khalifah di Bani Israil Hizqil bin Budza, dan ia adalah anak perempuan tua, dan dialah yang berdoa untuk kaum yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, sebagaimana sampai kepada kami: Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu karena takut mati. Ibnu Ishaq berkata: Mereka lari dari wabah, lalu singgah di dataran dari bumi, maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah. Maka mereka mati semua, lalu dibuatkan untuk mereka pagar dari binatang buas, maka berlalu atas mereka masa yang panjang, lalu Hizqil alaihissalam melewati mereka, maka ia berhenti pada mereka sambil berpikir, lalu dikatakan kepadanya: Apakah kamu suka jika Allah membangkitkan mereka sedang kamu melihat? Maka ia berkata: Ya. Maka ia diperintahkan untuk menyeru tulang-tulang itu agar berbalut daging, dan agar urat terhubung satu sama lain. Maka ia menyeru mereka atas perintah Allah kepadanya dengan itu, maka bangkitlah semua orang itu, dan mereka bertakbir dengan takbir satu orang.

Dan Asbath berkata dari as-Suddi, dari Abu Malik, dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa sahabat, dalam firman-Nya: Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Mereka berkata: Ada sebuah kampung yang disebut Dawardan sebelum Wasith, terjadi wabah di sana, maka sebagian besar penduduknya lari, lalu mereka singgah di suatu tempat darinya, maka mati orang yang tinggal di kampung, dan selamat yang lain, tidak mati dari mereka banyak, maka ketika wabah terangkat, mereka kembali dengan selamat, maka orang yang tinggal berkata: Sahabat-sahabat kami ini lebih bijak dari kami, seandainya kami berbuat seperti yang mereka lakukan tentu kami selamat, dan jika terjadi wabah kedua kalinya tentu kami akan keluar bersama mereka. Maka terjadilah pada tahun berikutnya, lalu mereka lari dan mereka berjumlah tiga puluh ribuan lebih, hingga mereka singgah di tempat itu, dan ia adalah lembah yang luas, maka seorang malaikat menyeru mereka dari bawah lembah, dan yang lain dari atasnya: Matilah. Maka mereka mati, hingga ketika mereka binasa dan jasad-jasad mereka tinggal, lewatlah pada mereka seorang nabi yang disebut Hizqil. Maka ketika ia melihat mereka, ia berdiri pada mereka, lalu ia berpikir tentang mereka dan memutar bibirnya dan jari-jarinya, maka Allah mewahyukan kepadanya: Apakah kamu ingin Aku memperlihatkan kepadamu bagaimana Aku menghidupkan mereka? Ia berkata: Ya. Dan sesungguhnya pemikirannya adalah karena ia kagum atas kekuasaan Allah atas mereka, maka dikatakan kepadanya: Panggillah. Maka ia memanggil: Wahai tulang-tulang, sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berkumpul. Maka tulang-tulang itu mulai beterbangan sebagian kepada sebagian, hingga menjadi jasad-jasad dari tulang-tulang, kemudian Allah mewahyukan kepadanya: Panggillah: Wahai tulang-tulang, sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbalut daging. Maka berbalutlah dengan daging, dan darah, dan pakaian mereka yang mereka mati di dalamnya. Kemudian dikatakan kepadanya: Panggillah. Maka ia memanggil: Wahai jasad-jasad, sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk bangkit. Maka mereka bangkit.

Asbath berkata: Maka Manshur menduga dari Mujahid bahwa mereka berkata ketika dihidupkan: Subhanaka Rabbana wa bihamdika, la ilaha illa anta (Maha Suci Engkau Rabb kami dan dengan memuji-Mu, tiada tuhan selain Engkau). Maka mereka kembali kepada kaum mereka dalam keadaan hidup, mereka mengenali bahwa mereka pernah mati, tanda-tanda kematian pada wajah mereka, mereka tidak mengenakan pakaian kecuali menjadi kain kafan yang kusam, hingga mereka mati pada ajal mereka yang telah ditulis untuk mereka.

Dan dari Ibnu Abbas bahwa mereka berjumlah empat ribu. Dan darinya: delapan ribu. Dan dari Abu Shalih: sembilan ribu. Dan dari Ibnu Abbas juga: mereka berjumlah empat puluh ribu. Dan dari Sa’id bin Abdul Aziz: mereka adalah dari penduduk Adzra’at. Dan Ibnu Juraij berkata dari Atha’: Ini adalah perumpamaan. Yakni bahwa itu adalah perumpamaan yang jelas bahwa kehati-hatian tidak akan menggantikan takdir. Dan pendapat jumhur lebih kuat bahwa ini benar-benar terjadi.

Dan telah meriwayatkan Imam Ahmad dan dua penulis kitab Shahih (yaitu Bukhari dan Muslim) dari jalur Az-Zuhri, dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab, dari Abdullah bin Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Abdullah bin Abbas, bahwa Umar bin Al-Khaththab berangkat ke Syam, hingga ketika ia berada di Sargh, ia bertemu dengan para panglima pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan para sahabatnya, lalu mereka memberitahukan kepadanya bahwa wabah telah terjadi di Syam, kemudian ia menyebutkan hadits tentang musyawarahnya dengan kaum Muhajirin dan Anshar, lalu mereka berselisih pendapat dengannya. Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf, yang sebelumnya sedang tidak hadir karena ada keperluan, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang hal ini; aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika wabah terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya, dan jika kalian mendengar wabah itu terjadi di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya.” Maka Umar memuji Allah kemudian pulang kembali.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Yazid dengan makna yang sama, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, bahwa Abdurrahman bin Auf memberitahukan kepada Umar ketika ia berada di Syam, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya penyakit ini telah menimpa umat-umat sebelum kalian sebagai azab, maka jika kalian mendengarnya terjadi di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya, dan jika terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.” Ia (perawi) berkata: Maka Umar pun pulang dari Syam. Dan Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits ini dari jalur Malik dari Az-Zuhri dengan hadits yang serupa.

Muhammad bin Ishaq berkata: Dan tidak disebutkan kepada kami lamanya Hizkil (Yehezkiel) tinggal di tengah-tengah Bani Israil, kemudian Allah mewafatkannya. Ketika ia wafat, Bani Israil melupakan perjanjian Allah kepada mereka, dan berbagai peristiwa besar terjadi di tengah-tengah mereka, mereka menyembah berhala-berhala, dan di antara berhala yang mereka sembah adalah sebuah patung bernama Ba’al. Maka Allah mengutus kepada mereka Ilyas bin Yasin bin Finhash bin Al-Aizar bin Harun bin Imran. Penulis berkata: Dan sesungguhnya telah kami sebutkan kisah Ilyas setelah kisah Khidir; karena keduanya sering disebutkan bersama-sama, dan karena kisahnya berada setelah kisah Musa dalam Surat Ash-Shaffat, maka kami mendahulukan kisahnya karena hal itu. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Ishaq berkata dalam apa yang disebutkan kepadanya dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Kemudian yang bernubuat di tengah-tengah mereka setelah Ilyas adalah wasiatnya, yaitu Al-Yasa’ bin Akhtub alaihissalam. Dan inilah: Kisah Al-Yasa’ alaihissalam.

Dan sesungguhnya Allah Taala menyebutkannya bersama para nabi, dalam Surat Al-An’am dalam firman-Nya: Dan (ingatlah kisah) Ismail, Al-Yasa’, Yunus, dan Luth. Dan masing-masing Kami lebihkan atas semesta alam (Surat Al-An’am: 86). Dan Allah Taala berfirman dalam Surat Shad: Dan ingatlah (kisah) Ismail, Al-Yasa’, dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik (Surat Shad: 48).

Ishaq bin Bisyr, Abu Hudzaifah berkata: telah memberitahukan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Al-Hasan, ia berkata: Setelah Ilyas ada Al-Yasa’ alaihimassalam, maka ia tinggal selama Allah kehendaki untuk tinggal; menyeru mereka kepada Allah, berpegang teguh pada metode Ilyas dan syariatnya, hingga Allah Azza wa Jalla mewafatkannya, kemudian berbagai khalaf (generasi pengganti) datang setelah mereka, dan berbagai peristiwa besar serta dosa-dosa bertambah di tengah-tengah mereka, dan banyak tiran-tiran, dan mereka membunuh para nabi, dan ada di antara mereka seorang raja yang sombong, lalim, dan melampaui batas, dan dikatakan: dialah yang dijamin oleh Dzulkifli bahwa jika ia bertaubat dan kembali, ia akan masuk surga; maka ia disebut Dzulkifli.

Muhammad bin Ishaq berkata: Dia adalah Al-Yasa’ bin Akhtub.

Dan Al-Hafizh Abu Al-Qasim bin Asakir berkata dalam huruf Ya dari kitab sejarahnya: Al-Yasa’; dan dia adalah: Al-Asybath bin Adi bin Syutlam bin Afraitsim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Dan dikatakan: dia adalah anak paman Ilyas An-Nabi alaihimassalam. Dan dikatakan: ia bersembunyi bersamanya di Gunung Qasiyun dari raja Ba’labak, kemudian pergi bersamanya ke sana, maka ketika Ilyas diangkat, Al-Yasa’ menjadi penggantinya di tengah kaumnya, dan Allah memberikan kenabian kepadanya setelahnya. Hal itu disebutkan oleh Abdul Mun’im bin Idris bin Sinan, dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih. Ia berkata: Dan yang lain berkata: Al-Asybath berada di Banyas. Kemudian Ibnu Asakir menyebutkan bacaan orang yang membaca: Al-Yasa’, dengan peringan dan dengan penebalan, dan orang yang membaca: Al-Laysa’, dan itu adalah satu nama untuk seorang nabi dari para nabi.

Penulis berkata: Sesungguhnya telah kami sebutkan kisah Dzulkifli setelah kisah Ayyub alaihimassalam; karena sesungguhnya dikatakan: dia adalah putra Ayyub, maka Allah Maha Mengetahui yang benar.

Pasal

Ibnu Jarir dan yang lainnya berkata: Kemudian urusan Bani Israil menjadi kacau, dan berbagai peristiwa besar, kesulitan, dan dosa-dosa bertambah di tengah-tengah mereka, dan mereka membunuh sebagian dari para nabi yang mereka bunuh, dan Allah menguasakan atas mereka sebagai pengganti para nabi raja-raja yang tiran yang menzalimi mereka dan menumpahkan darah mereka, dan Allah juga menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka. Dan apabila mereka berperang melawan salah satu musuh, maka bersama mereka ada Tabut Perjanjian yang dahulu berada di tenda pertemuan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, maka mereka dimenangkan berkat berkahnya, dan berkat apa yang Allah jadikan di dalamnya berupa ketenangan dan sisa-sisa peninggalan yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun. Maka ketika dalam salah satu perang mereka dengan penduduk Gaza dan Asqalan, mereka (musuh) mengalahkan mereka atas tabut itu dan menguasai mereka dalam mengambilnya, maka mereka merebut tabut itu dari tangan mereka. Ketika raja Bani Israil pada masa itu mengetahui hal tersebut, lehernya miring lalu ia meninggal karena sedih, dan Bani Israil menjadi seperti kambing tanpa penggembala, hingga Allah mengutus kepada mereka seorang nabi dari para nabi yang disebut Syamwil. Maka mereka meminta kepadanya agar ia mengangkat bagi mereka seorang raja supaya mereka dapat berperang bersamanya melawan musuh-musuh, maka jadilah urusan mereka sebagaimana yang akan kami sebutkan dari apa yang Allah kisahkan dalam kitab-Nya.

Ibnu Jarir berkata: Maka antara wafatnya Yusya’ bin Nun hingga Allah Azza wa Jalla mengutus Syamwil bin Bali adalah empat ratus enam puluh tahun. Kemudian ia menyebutkan rinciannya dengan masa-masa raja yang memerintah atas mereka, dan menyebutkan nama mereka satu per satu, kami tinggalkan penyebutan mereka dengan sengaja.

Kisah Syamwil, dan di dalamnya dimulai urusan Dawud alaihimassalam

Dia adalah Syamwil – dan dikatakan: Asyamwil – bin Bali bin Alqamah bin Yarkham bin Alihu bin Tahu bin Shuf bin Alqamah bin Mahits bin Amusha bin Azarya. Muqatil berkata: Dia dari keturunan Harun. Dan Mujahid berkata: Dia adalah Asyamwil bin Hilfaqa. Dan tidak dinaikkan nasabnya lebih dari ini, maka Allah Maha Mengetahui.

As-Suddi meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud, dan beberapa orang dari para sahabat – dan Ats-Tsa’labi – dan yang lainnya; bahwa ketika orang-orang Amaliq dari wilayah Gaza dan Asqalan mengalahkan Bani Israil, dan membunuh banyak dari mereka, dan menawan banyak dari anak-anak mereka, dan kenabian terputus dari suku Lawi, dan tidak tersisa di antara mereka kecuali seorang wanita yang hamil, maka ia terus berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia memberinya rezeki anak laki-laki, maka ia melahirkan seorang anak laki-laki lalu ia menamainya Asyamwil, yang artinya dalam bahasa Ibrani adalah Ismail; yaitu Allah mendengar doaku. Ketika ia bertumbuh besar, ia mengirimnya ke masjid, dan menyerahkannya kepada seorang lelaki saleh di sana; agar ia berada di sisinya untuk belajar dari kebaikan dan ibadahnya, maka ia berada di sisinya. Ketika ia mencapai usia dewasa, pada suatu malam ketika ia sedang tidur, tiba-tiba ada suara yang datang kepadanya dari arah masjid, maka ia terbangun dengan ketakutan lalu ia menyangka lelaki tua itu memanggilnya, maka ia bertanya: Apakah engkau memanggilku? Maka ia tidak ingin membuatnya takut lalu berkata: Ya, tidurlah. Maka ia tidur. Kemudian memanggilnya untuk kedua kalinya, demikian pula kemudian yang ketiga kalinya, ternyata Jibril yang memanggilnya, maka ia datang kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu. Maka jadilah urusannya bersama mereka sebagaimana yang Allah kisahkan dalam kitab-Nya.

Allah Taala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: Tidakkah engkau memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil setelah (masa) Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Dia (nabi itu) berkata, “Bagaimana jika kalian tidak mau berperang ketika perang itu diwajibkan atas kalian?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Maka ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja atas kalian.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi itu) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) atas kalian dan memberikan kelebihan ilmu dan (kekuatan) fisik.” Allah memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda (kebenaran) kerajaannya ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh para malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebenaran) bagimu, jika kamu orang beriman.” Maka ketika Thalut keluar membawa pasukan, dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sungai. Barangsiapa minum darinya maka dia bukan golonganku. Dan barangsiapa tidak meminumnya maka dia adalah golonganku, kecuali orang yang menciduk sesendok dengan tangannya.” Mereka pun meminumnya kecuali sebagian kecil dari mereka. Maka ketika dia dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi (sungai) itu, mereka berkata, “Kita tidak mampu hari ini melawan Jalut dan pasukannya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Dan ketika mereka maju (berhadapan) dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Maka mereka mengalahkan pasukan itu dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Allah memberikan kerajaan dan hikmah kepada Dawud dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (Surat Al-Baqarah: 246-251).

Mayoritas mufassirin berkata: Nabi kaum ini yang disebutkan dalam kisah ini adalah Syamwil. Dan dikatakan: Syam’un. Dan dikatakan: keduanya adalah satu. Dan dikatakan: Yusya’. Dan ini jauh; karena apa yang disebutkan oleh Imam Abu Ja’far bin Jarir dalam kitab sejarahnya, bahwa antara wafatnya Yusya’ dan diutusnya Syamwil adalah empat ratus enam puluh tahun. Wallahu a’lam.

Yang dimaksud adalah bahwa kaum ini ketika peperangan telah menghabisi mereka, dan musuh-musuh telah mengalahkan mereka, mereka meminta kepada nabi Allah pada masa itu, dan meminta kepadanya agar ia mengangkat bagi mereka seorang raja agar mereka berada di bawah ketaatannya; supaya mereka berperang dari belakangnya, bersamanya, dan di hadapannya melawan musuh-musuh. Maka ia berkata kepada mereka: Bagaimana jika kalian tidak mau berperang ketika perang itu diwajibkan atas kalian? Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah” yaitu: dan apa yang menghalangi kami dari berperang padahal kami telah diusir dari kampung halaman dan (dipisahkan dari) anak-anak kami mereka berkata: Kami telah dirampok dan ditinggalkan dalam kesedihan, maka sudah selayaknya bagi kami untuk berperang demi anak-anak kami yang dirampas, yang dilemahkan di tengah-tengah mereka, yang ditawan dalam genggaman mereka. Allah Taala berfirman: Maka ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim sebagaimana disebutkan di akhir kisah, bahwa tidak ada yang menyeberangi sungai bersama raja kecuali sedikit, dan sisanya kembali dan mundur dari perang.

Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja atas kalian.” Ats-Tsa’labi berkata: Dan dia adalah Thalut bin Qais bin Afil bin Sharu bin Nahurat bin Afih bin Anis bin Binyamin bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Ikrimah dan As-Suddi berkata: Dia adalah tukang air. Dan Wahb bin Munabbih berkata: Dia adalah penyamak kulit. Dan dikatakan selain itu. Wallahu a’lam. Dan oleh karena itu mereka berkata: Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?

Dan mereka telah menyebutkan bahwa kenabian berada dalam suku Lawi, dan bahwa kerajaan berada dalam suku Yehuda, maka ketika orang ini dari suku Binyamin, mereka menolaknya, dan mencela kepemimpinannya atas mereka dan berkata: Kami lebih berhak dengan kerajaan daripadanya. Dan mereka menyebutkan bahwa ia miskin tidak memiliki kekayaan yang banyak, maka bagaimana orang seperti ini bisa menjadi raja? Dia (nabi itu) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) atas kalian dan memberikan kelebihan ilmu dan (kekuatan) fisik.” Dikatakan: Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada Syamwil bahwa: siapa saja dari Bani Israil yang tingginya sesuai dengan tinggi tongkat ini, dan ketika ia hadir di sisimu meluaplah tanduk ini yang di dalamnya terdapat minyak suci, maka dialah raja mereka.

Maka mereka mulai masuk dan mengukur diri mereka dengan tongkat itu, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang sesuai dengan panjangnya kecuali Thalut. Ketika ia hadir di hadapan Syamwil, tanduk itu memancar sehingga ia mengurapinya darinya dan menetapkannya sebagai raja atas mereka. Dan ia (Syamwil) berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian dan menambahkan kepadanya keluasan dalam ilmu”; dikatakan: dalam urusan peperangan. Dan dikatakan: secara mutlak. “dan jasad”; dikatakan: tinggi badan. Dan dikatakan: ketampanan. Yang tampak dari konteks adalah bahwa ia adalah yang paling tampan dan paling berilmu di antara mereka setelah nabi mereka alaihissalam. “Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya” maka bagi-Nya keputusan, dan bagi-Nya penciptaan dan urusan “dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”.

“Dan nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah akan datang kepadamu tabut, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.'”

Ini juga termasuk keberkahan dan kebaikan penguasaan lelaki saleh ini atas mereka; bahwa Allah mengembalikan kepada mereka tabut yang telah dirampas dari mereka, dan musuh-musuh mereka telah mengalahkan mereka dalam merebutnya, padahal mereka dahulu ditolong terhadap musuh-musuh mereka karena tabut itu.

“Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu”, dikatakan: sebuah baskom emas yang digunakan untuk membasuh dada para nabi. Dan dikatakan: ketenangan itu seperti angin yang bertiup kencang. Dan dikatakan: bentuknya seperti kucing, jika ia berteriak dalam keadaan perang, Bani Israil yakin akan mendapat kemenangan.

“Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun”, dikatakan: di dalamnya terdapat serpihan-serpihan lembaran Taurat dan sesuatu dari manna yang dahulu turun kepada mereka di padang Tih.

“Tabut itu dibawa oleh para malaikat” artinya; para malaikat akan membawanya kepada kalian dan kalian akan melihat itu dengan nyata; agar menjadi tanda dari Allah bagi kalian dan bukti yang jelas atas kebenaran apa yang aku katakan kepada kalian, dan atas sahnya penguasaan raja yang saleh ini atas kalian, oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.”

Dan dikatakan: ketika kaum Amalik menguasai tabut ini, dan di dalamnya ada ketenangan dan sisa yang diberkahi yang telah disebutkan – dan dikatakan: di dalamnya juga terdapat Taurat – maka ketika tabut itu berada di tangan mereka, mereka meletakkannya di bawah patung mereka di negeri mereka. Ketika pagi tiba, ternyata tabut itu berada di atas kepala patung, lalu mereka meletakkannya di bawahnya. Ketika hari kedua, ternyata tabut itu di atas patung. Ketika hal ini berulang, mereka mengetahui bahwa ini adalah urusan dari Allah Taala, maka mereka mengeluarkannya dari negeri mereka dan meletakkannya di salah satu kampung mereka. Lalu mereka diserang penyakit di leher mereka. Ketika hal itu berlangsung lama bagi mereka, mereka meletakkannya di kereta dan mengikatnya dengan dua ekor sapi betina dan melepaskannya. Dikatakan bahwa para malaikat menggiringnya hingga mereka datang dengan keduanya kepada pemuka Bani Israil sementara mereka menyaksikan, sebagaimana nabi mereka telah memberitahukan mereka tentang hal itu. Maka hanya Allah yang lebih mengetahui bagaimana cara para malaikat membawanya, dan yang tampak adalah bahwa para malaikat sendiri yang memikul tabut itu, sebagaimana yang dipahami dari ayat. Wallahu a’lam. Meskipun yang pertama telah disebutkan oleh banyak atau kebanyakan mufassir.

“Maka ketika Thalut keluar membawa tentara, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sungai, barangsiapa minum darinya maka ia bukan pengikutku, dan barangsiapa tidak meminumnya maka ia adalah pengikutku, kecuali orang yang menciduk dengan tangannya satu cidukan.'” Ibnu Abbas dan banyak mufassir berkata: Sungai ini adalah sungai Yordan. Yaitu yang dinamakan Syari’ah. Maka yang terjadi pada Thalut dengan tentaranya di sungai ini, atas perintah nabi Allah kepadanya, atas perintah Allah kepadanya, sebagai ujian dan cobaan; bahwa barangsiapa minum dari sungai ini hari ini maka ia tidak akan menemaniku dalam peperangan ini, dan tidak akan menemaniku kecuali orang yang tidak meminumnya, kecuali satu cidukan di tangannya. Allah Taala berfirman: “Maka mereka meminumnya kecuali sedikit di antara mereka.” As-Suddi berkata: Pasukan itu berjumlah delapan puluh ribu, maka enam puluh enam ribu minum darinya, dan tersisa bersamanya empat ribu. Demikianlah ia berkata.

Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari hadits Israil, Zuhair, dan Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin Azib, ia berkata: “Kami para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, bercakap-cakap bahwa jumlah para sahabat Badar sesuai dengan jumlah para sahabat Thalut – yang menyeberangi sungai bersamanya, dan tidak menyeberang bersamanya kecuali orang mukmin – tiga ratus lebih sepuluh orang mukmin.”

Dan perkataan As-Suddi bahwa jumlah pasukan adalah delapan puluh ribu, di dalamnya perlu dipertimbangkan; karena tanah Baitul Maqdis tidak mungkin berkumpul di dalamnya pasukan yang mencapai delapan puluh ribu. Wallahu a’lam.

Allah Taala berfirman: “Maka ketika ia dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberanginya, mereka berkata: ‘Tidak ada kemampuan bagi kami hari ini menghadapi Jalut dan tentaranya.'” Artinya; mereka menganggap diri mereka sedikit dan lemah untuk menghadapi musuh-musuh mereka karena sedikitnya mereka dan banyaknya jumlah musuh mereka. “Orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Allah berkata: ‘Berapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.'” Maksudnya: orang-orang yang pemberani di antara mereka meneguhkan mereka, dan para penunggang kuda, ahli iman dan keyakinan, yang sabar dalam pertempuran dan perjuangan dan tikaman tombak.

“Dan ketika mereka berhadapan dengan Jalut dan tentaranya, mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.'” Mereka memohon kepada Allah agar melimpahkan kesabaran kepada mereka; yaitu merendam mereka dengannya dari atas mereka, sehingga hati mereka tenang dan tidak gelisah, dan agar mengokohkan kaki mereka di medan perang, di tempat bertemunya para pahlawan, di tengah kancah pertempuran, dan seruan untuk bertanding. Maka mereka meminta keteguhan lahir dan batin, dan agar Allah menurunkan kemenangan kepada mereka atas musuh-musuh mereka dan musuh-musuh-Nya, dari orang-orang kafir yang mengingkari ayat-ayat dan nikmat-nikmat-Nya. Maka Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa, Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, mengabulkan apa yang mereka minta dan memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu Allah berfirman: “Maka mereka mengalahkan mereka dengan izin Allah” artinya; dengan kekuatan Allah bukan dengan kekuatan mereka, dan dengan kekuatan Allah dan pertolongan-Nya bukan dengan kekuatan dan jumlah mereka, meskipun musuh-musuh mereka banyak dan perlengkapan mereka lengkap, sebagaimana firman Allah Taala: “Dan sungguh Allah telah menolong kalian di Badar, padahal kalian adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kalian bersyukur.”

Dan firman-Nya: “Dan Daud membunuh Jalut, dan Allah memberikan kepadanya kerajaan dan hikmah, dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki.” Di dalamnya terdapat bukti atas keberanian Daud alaihissalam, dan bahwa ia membunuhnya dengan pembunuhan yang dengannya ia menghinakan tentaranya dan mematahkan pasukannya. Dan tidak ada yang lebih besar dari peperangan di mana raja musuh terbunuh, sehingga karena itu diperoleh harta rampasan yang banyak, ditawan para pahlawan dan orang-orang pemberani dan tandingan, dan ditinggikan kalimat iman di atas berhala, dan dimenangkan para wali Allah atas musuh-musuh-Nya, dan ditampakkan agama yang benar atas kebatilan dan para walinya.

As-Suddi telah menyebutkan dalam riwayatnya bahwa Daud alaihissalam adalah anak laki-laki termuda dari ayahnya, dan mereka berjumlah tiga belas laki-laki. Ia mendengar Thalut raja Bani Israil sedang mendorong Bani Israil untuk memerangi Jalut dan tentaranya, dan ia berkata: “Barangsiapa membunuh Jalut, aku akan menikahkannya dengan putriku dan menjadikannya berserikat dalam kerajaanku.” Dan Daud alaihissalam melempar dengan ketapel dengan lemparan yang hebat. Ketika ia sedang berjalan bersama Bani Israil, tiba-tiba sebuah batu memanggilnya: “Ambil aku karena dengan aku engkau akan membunuh Jalut.” Maka ia mengambilnya, kemudian batu lain seperti itu, kemudian yang lain seperti itu. Ia mengambil ketiga batu itu dalam kantongnya. Ketika kedua barisan berhadapan, Jalut maju dan menantang. Maka Daud maju kepadanya. Lalu Jalut berkata kepadanya: “Kembalilah, karena aku tidak suka membunuhmu.” Ia berkata: “Tapi aku suka membunuhmu.” Dan ia mengambil ketiga batu itu dari kantongnya lalu meletakkannya di ketapel kemudian memutarnya, maka ketiga batu itu menjadi satu batu, kemudian ia melemparkannya kepada Jalut sehingga membelah kepalanya, dan pasukannya melarikan diri dengan kalah. Maka Thalut menepati janjinya; ia menikahkan putrinya dengannya dan menjalankan hukumnya dalam kerajaannya. Daud alaihissalam menjadi agung di mata Bani Israil, dan mereka mencintainya dan lebih condong kepadanya daripada kepada Thalut. Disebutkan bahwa Thalut cemburu kepadanya dan ingin membunuhnya, dan berusaha untuk itu, tetapi ia tidak berhasil. Para ulama terus melarang Thalut untuk membunuh Daud, tetapi ia menguasai mereka dan membunuh mereka, hingga tidak tersisa dari mereka kecuali sedikit. Kemudian ia bertobat dan menyesal serta berhenti dari apa yang telah ia lakukan. Ia sering menangis, dan pergi ke pemakaman lalu menangis hingga membasahi tanah dengan air matanya. Suatu hari ia dipanggil dari pemakaman: “Wahai Thalut, engkau membunuh kami ketika kami hidup, dan engkau menyakiti kami ketika kami mati.” Maka bertambah tangisannya dan ketakutannya karenanya, dan semakin keras kekhawatirannya. Kemudian ia mulai mencari seorang ulama yang dapat ia tanyai tentang urusannya, dan apakah ada tobat baginya. Dikatakan kepadanya: “Apakah masih ada ulama yang tersisa?” Hingga ia ditunjukkan kepada seorang wanita ahli ibadah. Ia membawanya dan pergi dengannya ke kuburan Yusya’ alaihissalam. Mereka berkata: Maka ia berdoa kepada Allah, lalu Yusya’ bangkit dari kuburannya dan berkata: “Apakah hari kiamat sudah terjadi?” Wanita itu berkata: “Tidak, tetapi ini Thalut bertanya kepadamu: Apakah ada tobat baginya?” Ia berkata: “Ya, ia harus melepaskan kerajaan, dan pergi berperang di jalan Allah hingga terbunuh.” Kemudian ia kembali menjadi mayit. Maka ia meninggalkan kerajaan untuk Daud alaihissalam, dan pergi bersama tiga belas orang anaknya, lalu mereka berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Mereka berkata: Itulah firman-Nya: “Dan Allah memberikan kepadanya kerajaan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki.” Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam tarikh-nya dari jalur As-Suddi dengan sanadnya. Dan dalam sebagian ini ada yang perlu dipertimbangkan dan keanehan. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Ishaq berkata: Nabi yang diutus lalu memberitahukan tentang tobatnya kepada Thalut adalah Al-Yasa’ bin Akhthub. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir juga. Ats-Tsa’labi menyebutkan bahwa ia membawanya ke kuburan Asyamwil, lalu ia menegurnya tentang apa yang ia perbuat setelahnya dari berbagai urusan. Dan ini lebih sesuai. Mungkin ia hanya melihatnya dalam mimpi, bukan bangkit dari kuburan dalam keadaan hidup; karena ini hanya dapat menjadi mukjizat bagi seorang nabi, dan wanita itu bukan seorang nabi perempuan. Wallahu a’lam.

Ibnu Jarir berkata: Para ahli Taurat mengira bahwa masa kerajaan Thalut hingga ia terbunuh bersama anak-anaknya adalah empat puluh tahun. Wallahu a’lam.

Kisah Daud alaihissalam dan apa yang terjadi di zamannya, dan penyebutan keutamaan-keutamaannya, sifat-sifatnya, dalil-dalil kenabian dan tanda-tandanya

Ia adalah Daud bin Isy-ha bin Uwaid bin Ba’iz bin Salmon bin Nakhsyun bin Uwinaadzab bin Iram bin Khashrun bin Farish bin Yahudza bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, hamba Allah dan nabi-Nya dan khalifah-Nya di tanah Baitul Maqdis.

Muhammad bin Ishaq berkata dari sebagian ahli ilmu, dari Wahb bin Munabbih: Daud alaihissalam bertubuh pendek, bermata biru, berambut sedikit, berhati suci dan bersih. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika ia membunuh Jalut, dan pembunuhannya terhadapnya – sebagaimana disebutkan Ibnu Asakir – adalah di dekat istana Umm Hakim dekat Marj Ash-Shafar. Maka Bani Israil mencintainya dan condong kepadanya dan kepada kerajaannya atas mereka. Maka terjadilah urusan Thalut, dan kerajaan beralih kepada Daud alaihissalam. Allah mengumpulkan baginya antara kerajaan dan kenabian, antara kebaikan dunia dan akhirat. Dan kerajaan biasanya berada pada satu suku, dan kenabian pada suku lain. Maka berkumpul pada Daud ini dan itu, sebagaimana firman Allah Taala: “Dan Daud membunuh Jalut, dan Allah memberikan kepadanya kerajaan dan hikmah, dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas seluruh alam.” (Al-Baqarah: 251). Artinya: seandainya tidak ada pendirian raja-raja sebagai hakim atas manusia, niscaya orang kuat akan memangsa orang lemah. Oleh karena itu datang dalam sebagian atsar: “Sultan adalah bayangan Allah di bumi-Nya.” Dan Amirul Mukminin Utsman bin Affan berkata: “Sesungguhnya Allah mencegah dengan penguasa apa yang tidak dicegah dengan Al-Quran.”

Ibnu Jarir telah menyebutkan dalam tarikh-nya: Bahwa ketika Jalut menantang Thalut, lalu berkata kepadanya: “Keluarlah kepadaku atau aku akan keluar kepadamu.” Maka Thalut mengajak orang-orang, lalu Daud maju dan membunuh Jalut. Wahb bin Munabbih berkata: Maka orang-orang condong kepada Daud, hingga tidak ada lagi sebutan bagi Thalut, dan mereka menyingkirkan Thalut dan menjadikan Daud pemimpin mereka. Dan dikatakan: bahwa itu atas perintah Syamwil, hingga sebagian mereka berkata: bahwa ia menjadikannya pemimpin sebelum pertempuran.

Ibnu Jarir berkata: Yang menjadi pendapat jumhur adalah bahwa ia baru menjadi raja setelah membunuh Jalut. Wallahu a’lam. Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sa’id bin Abdul Aziz: Bahwa pembunuhannya terhadap Jalut adalah di dekat istana Umm Hakim, dan bahwa sungai yang ada di sana adalah yang disebutkan dalam ayat. Wallahu a’lam.

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Dawud karunia dari Kami: ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,’ dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (Saba’: 10-11).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung bersama Dawud, semuanya bertasbih dan (Kami tundukkan pula) burung-burung. Dan adalah Kami yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (Al-Anbiya’: 79-80). Allah membantunya dalam membuat perisai dari besi untuk melindungi para pejuang dari musuh, dan menunjukkan kepadanya cara membuatnya dan bagaimana caranya, maka Allah berfirman: “dan ukurlah anyamannya” artinya: jangan membuat paku terlalu kecil sehingga longgar, dan jangan terlalu besar sehingga patah. Demikian dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Al-Hakam, Ikrimah, dan lainnya. Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Al-A’masy berkata: Allah telah melunakkan besi untuknya sehingga dia dapat memutarnya dengan tangannya, tidak memerlukan api atau palu. Qatadah berkata: Dialah orang pertama yang membuat perisai dari rantai besi, padahal sebelumnya perisai dibuat dari lempengan. Ibnu Syaudzab berkata: Dia membuat setiap hari sebuah perisai yang dijualnya seharga enam ribu dirham. Dan telah tetap dalam Hadits Shahih: bahwa makanan paling baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud makan dari hasil kerjanya sendiri.

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shad: 17-20). Ibnu Abbas dan Mujahid berkata: Al-Ayd (kekuatan) adalah kekuatan dalam ketaatan. Artinya: memiliki kekuatan dalam ibadah dan amal saleh. Qatadah berkata: Dia diberi kekuatan dalam ibadah dan pemahaman dalam Islam. Dia berkata: Dan telah disebutkan kepada kami bahwa dia biasa melakukan salat malam dan berpuasa separuh tahun.

Dan telah tetap dalam Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Salat yang paling dicintai Allah adalah salatnya Dawud, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya Dawud; dia tidur setengah malam, bangun sepertiga malam, dan tidur seperenam malam, dan dia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan tidak lari ketika bertemu musuh. Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing amat taat kepada Allah.” Sebagaimana firman-Nya: “Hai gunung-gunung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan burung-burung.” Artinya: bertasbihlah bersamanya. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Mujahid, dan lebih dari satu orang dalam menafsirkan ayat ini: “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi” artinya: pada akhir siang dan awalnya; dan itu karena Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepadanya suara yang agung yang tidak diberikan kepada siapapun, sehingga ketika dia melagukan bacaan kitabnya, burung-burung berhenti di udara, mendendangkan bersama dendangannya dan bertasbih bersama tasbihnya, demikian pula gunung-gunung menjawabnya dan bertasbih bersamanya, setiap kali dia bertasbih pada pagi dan petang, semoga salawat dan salam Allah tercurah padanya. Al-Auza’i berkata: Abdullah bin Amir menceritakan kepadaku, dia berkata: Dawud diberi keindahan suara yang tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya; sampai-sampai burung dan binatang buas berkumpul di sekelilingnya hingga mati kehausan dan kelaparan, dan bahkan sungai-sungai berhenti mengalir. Wahb bin Munabbih berkata: Tidak ada yang mendengarnya kecuali bergerak seperti menari, dan dia membaca Zabur dengan suara yang tidak pernah didengar telinga seperti itu, sehingga jin, manusia, burung, dan hewan berkumpul mendengar suaranya hingga sebagian mereka binasa karena kelaparan.

Abu Awanah Al-Isfarayini berkata: Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya menceritakan kepada kami, Muhammad bin Manshur At-Tusi menceritakan kepada kami, aku mendengar Shubaiah Abu Turab. Abu Awanah berkata: Dan Abu Al-Abbas Al-Marri menceritakan kepadaku, Muhammad bin Shalih Al-Adawi menceritakan kepada kami, Sayyar yaitu Ibnu Hatim menceritakan kepada kami, dari Ja’far, dari Malik dia berkata: Dawud, ‘alaihissalam, apabila mulai membaca Zabur, gadis-gadis pingsan. Ini aneh. Abdurrazaq berkata, dari Ibnu Juraij: Aku bertanya kepada Atha’ tentang membaca Al-Quran dengan irama, maka dia berkata: Apa salahnya dengan itu? Aku mendengar Ubaid bin Umair berkata: Dawud, ‘alaihissalam, mengambil alat musik lalu memukulnya, kemudian membaca dengannya, maka suaranya menggema; dia menginginkan dengan itu untuk menangis dan membuat menangis.

Imam Ahmad berkata: Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar suara Abu Musa Al-Asy’ari ketika dia membaca, lalu berkata: Sungguh Abu Musa telah diberi dari mazamir (suara merdu) keluarga Dawud. Dan ini sesuai syarat dua Syaikh (Bukhari dan Muslim), tetapi mereka tidak meriwayatkannya dari jalur ini.

Ahmad berkata: Hasan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh Abu Musa telah diberi dari mazamir Dawud. Ini sesuai syarat Muslim.

Dan kami meriwayatkan dari Abu Utsman An-Nahdi, bahwa dia berkata: Sungguh aku telah mendengar barbut (kecapi) dan mazmar (seruling), tetapi aku tidak mendengar suara yang lebih indah dari suara Abu Musa Al-Asy’ari.

Dan dia memiliki suara yang merdu ini, serta cepat dalam membaca kitabnya Zabur, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad: Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hammam, dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bacaan dipermudah bagi Dawud, maka dia memerintahkan hewannya untuk dipasangi pelana, dan dia membaca Al-Quran sebelum hewannya selesai dipasangi pelana, dan dia tidak makan kecuali dari hasil tangannya sendiri.

Demikian juga diriwayatkan oleh Bukhari tersendiri darinya dari Abdullah bin Muhammad dari Abdurrazaq dengannya, dan lafaznya: Bacaan dipermudah bagi Dawud, maka dia memerintahkan hewan-hewannya untuk dipasangi pelana, lalu dia membaca Al-Quran sebelum hewan-hewannya selesai dipasangi pelana, dan dia tidak makan kecuali dari hasil tangannya sendiri. Kemudian Bukhari berkata: Dan Musa bin Uqbah meriwayatkannya dari Shafwan yaitu Ibnu Sulaim, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Ibnu Asakir telah mensanadkannya dalam biografi Dawud, ‘alaihissalam, dalam sejarahnya dari berbagai jalur dari Ibrahim bin Thahman, dari Musa bin Uqbah, dan dari jalur Abu Ashim dari Abu Bakar As-Sabri dari Shafwan bin Sulaim dengannya.

Yang dimaksud Al-Quran di sini adalah Zabur yang Allah turunkan dan wahyukan kepadanya. Dan penyebutan hewan-hewannya lebih tepat untuk dianggap terpelihara; karena dia adalah seorang raja yang memiliki pengikut, maka dia membaca Zabur dalam waktu yang dibutuhkan untuk memasang pelana pada hewan, dan ini adalah hal yang cepat dengan tadabbur, tarannum, dan bernyanyi dengannya dengan cara takhasyyu’, semoga salawat dan salam Allah tercurah padanya. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami berikan kepada Dawud Zabur.” Dan Zabur adalah kitab yang terkenal, dan kami telah menyebutkan dalam Tafsir hadits yang diriwayatkan Ahmad dan lainnya, bahwa Zabur diturunkan pada bulan Ramadhan, dan di dalamnya terdapat nasihat-nasihat dan hikmah yang terkenal dan diketahui oleh siapa yang melihatnya.

Dan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shad: 20). Artinya: Kami berikan kepadanya kerajaan yang besar dan penguasa yang berlaku. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dua orang mengadukan perkara kepada Dawud ‘alaihissalam tentang sapi, salah satu dari mereka mengklaim bahwa yang lain merebut sapinya, dan terdakwa menyangkalnya, maka Dawud menunda perkara mereka hingga malam. Ketika tiba malam, Allah mewahyukan kepadanya untuk membunuh penuduh. Ketika pagi tiba, Dawud berkata kepadanya: Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk membunuhmu, maka aku pasti membunuhmu, apa ceritamu tentang apa yang kamu tuduhkan kepada orang ini? Dia berkata: Demi Allah wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku benar dalam apa yang aku tuduhkan kepadanya, tetapi aku telah membunuh ayahnya sebelum ini lalu membunuhnya. Maka Dawud memerintahkan agar dia dibunuh; maka urusan Dawud menjadi sangat besar di mata Bani Israil, dan mereka tunduk kepadanya dengan ketundukan yang luar biasa. Ibnu Abbas berkata: Itulah firman Allah Ta’ala: “Dan Kami kuatkan kerajaannya.” Dan firman Allah Ta’ala: “dan Kami berikan kepadanya hikmah”, artinya: kenabian. “dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan” Syuraih, Asy-Sya’bi, Qatadah, Abu Abdurrahman As-Sulami, dan lainnya berkata: Kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan adalah saksi dan sumpah. Mereka maksudkan dengan itu bukti bagi penuduh, dan sumpah bagi yang menyangkal. Mujahid dan As-Suddi berkata: Itu adalah ketepatan dalam peradilan dan pemahamannya. Mujahid berkata: Itu adalah pemisahan dalam perkataan dan dalam hukum. Dan Ibnu Jarir memilihnya, dan ini tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa itu adalah ucapan: Amma ba’du (adapun setelah ini). Wahb bin Munabbih berkata: Ketika kejahatan dan kesaksian palsu bertambah banyak di kalangan Bani Israil, Dawud diberi rantai untuk memisahkan peradilan, rantai itu terbentang dari langit hingga batu Baitul Maqdis, dan terbuat dari emas. Jika dua orang bersengketa tentang sebuah hak, maka siapa di antara mereka yang benar akan mencapainya, dan yang lain tidak dapat mencapainya. Hal itu terus berlanjut hingga seorang menitipkan mutiara kepada seseorang, lalu dia mengingkarinya. Dia membuat tongkat dan menyimpan mutiara di dalamnya. Ketika mereka hadir di rantai, penuduh menyentuhnya. Ketika dikatakan kepada yang lain: Peganglah dengan tanganmu. Dia memberikan tongkat itu kepada penuduh dan di dalamnya terdapat mutiara itu, dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah menyerahkannya kepadanya, kemudian dia menyentuh rantai dan mencapainya. Maka urusannya menjadi membingungkan bagi Bani Israil, kemudian rantai itu segera diangkat dari mereka. Hal ini disebutkan dengan maknanya oleh lebih dari satu mufassir. Dan Ishaq bin Bisyr telah meriwayatkannya, dari Idris bin Sinan, dari Wahb dengannya dengan maknanya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah telah datang kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar (masuk ke) mihrab, ketika mereka masuk menemui Dawud lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata: ‘Janganlah kamu merasa takut, (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor kambing betina. Maka dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia telah mengalahkan aku dalam perdebatan.’ Dawud berkata: ‘Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.’ Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni kesalahan itu baginya; dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Shad: 21-25).

Dan banyak di antara para mufassir dari salaf dan khalaf telah menyebutkan di sini kisah-kisah dan berita-berita yang kebanyakannya adalah isra’iliyyat, dan di antaranya ada yang pasti palsu, kami meninggalkan penyebutannya dalam kitab kami dengan sengaja; mencukupkan diri dan membatasi pada sekedar membaca kisah dari Al-Quran Al-Azhim, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Dan para imam telah berbeda pendapat tentang sujud Shad; apakah itu termasuk sujud yang wajib, ataukah itu hanya sujud syukur yang bukan termasuk sujud wajib, menjadi dua pendapat.

Berkata Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid At-Tanafusi, dari Al-Awwam, ia berkata: saya bertanya kepada Mujahid tentang sujud dalam surat Shaad, maka ia berkata: saya bertanya kepada Ibnu Abbas: dari mana engkau bersujud? Maka ia berkata: apakah engkau tidak membaca: “Dan dari keturunannya, Daud dan Sulaiman” (surat Al-An’am: 84) “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (surat Al-An’am: 90). Maka adalah Daud termasuk orang yang diperintahkan kepada Nabimu shallallahu alaihi wasallam untuk meneladaninya, maka Daud alaihissalam bersujud pada ayat itu, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersujud.

Dan telah berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Ismail, yaitu Ibnu Ulayyah, dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata tentang sujud dalam surat Shaad: ini bukan termasuk sujud-sujud yang diwajibkan, dan sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersujud pada ayat itu. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i, dari hadits Ayyub, dan berkata At-Tirmidzi: hasan shahih.

Dan berkata An-Nasa’i: telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Al-Hasan Al-Miqsami, telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad, dari Umar bin Dzar, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersujud dalam surat Shaad dan berkata: Daud bersujud sebagai taubat, dan kami bersujud sebagai syukur. Diriwayatkan tersendiri oleh Ahmad dan para perawinya terpercaya.

Dan berkata Abu Daud: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Amr bin Al-Harits, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Iyadh bin Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca surat Shaad sedang beliau di atas mimbar, maka ketika sampai pada ayat sajdah, beliau turun lalu bersujud dan orang-orang pun bersujud bersamanya. Maka ketika pada hari yang lain beliau membacanya, ketika sampai pada ayat sajdah orang-orang bersiap-siap untuk sujud, maka beliau bersabda: Ini hanyalah taubat seorang Nabi, tetapi aku melihat kalian bersiap-siap, maka aku turun dan bersujud. Diriwayatkan tersendiri oleh Abu Daud, dan sanadnya sesuai syarat shahih.

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’, telah menceritakan kepada kami Humaid, telah menceritakan kepada kami Bakr, yaitu Ibnu Amr, dan Abu Ash-Shiddiq An-Naji, bahwa ia mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sa’id Al-Khudri melihat mimpi, bahwa ia menulis surat Shaad, maka ketika sampai pada ayat yang disujudi ia melihat tinta dan pena dan segala sesuatu yang ada di hadapannya berubah menjadi sujud. Ia berkata: maka ia menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau senantiasa bersujud pada ayat itu setelahnya. Diriwayatkan tersendiri oleh Ahmad.

Dan meriwayatkan At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari hadits Muhammad bin Yazid bin Khunaiz, dari Al-Hasan bin Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Yazid, ia berkata: berkata kepadaku Ibnu Juraij: telah menceritakan kepadaku kakekmu Ubaidillah bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas ia berkata: datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi seolah-olah aku shalat di belakang sebatang pohon, lalu aku membaca ayat sajdah maka aku bersujud, maka pohon itu bersujud karena sujudku, lalu aku mendengarnya berkata sedang ia bersujud: ya Allah, tulislah bagiku dengan sujud ini di sisi-Mu pahala, dan jadikanlah sujud ini di sisi-Mu simpanan, dan hapuskanlah dengannya dari diriku dosa, dan terimalah daripadaku sebagaimana Engkau menerima dari hamba-Mu Daud. Dan berkata Ibnu Abbas: maka aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam berdiri lalu membaca ayat sajdah kemudian bersujud, maka aku mendengarnya berkata sedang ia bersujud sebagaimana yang diceritakan oleh laki-laki itu tentang ucapan pohon. Kemudian berkata At-Tirmidzi: gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari jalan ini.

Dan telah menyebutkan sebagian mufassir bahwa beliau alaihissalam, tetap bersujud selama empat puluh hari. Demikianlah dikatakan oleh Mujahid dan Al-Hasan dan yang lainnya. Dan diriwayatkan dalam hal itu hadits marfu’, tetapi ia dari riwayat Yazid Ar-Raqasyi, dan ia lemah matruk ar-riwayah (ditinggalkan periwayatannya).

Allah Taala berfirman: “Maka Kami ampuni baginya kesalahan itu. Dan sesungguhnya ia benar-benar mempunyai kedudukan dekat pada Kami dan tempat kembali yang baik” (surat Shaad: 25). Artinya: dan sesungguhnya baginya pada hari kiamat kedudukan dekat, yaitu kedekatan yang Allah dekatkan dengannya, dan mendekatkannya kepada halaman kesucian-Nya karena hal itu, sebagaimana tetap dalam hadits: Para pemimpin yang adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan Ar-Rahman, dan kedua tangan-Nya adalah kanan, mereka adalah orang-orang yang berlaku adil terhadap keluarga mereka dan dalam keputusan mereka dan apa yang mereka pimpin.

Dan berkata Imam Ahmad dalam Musnad-nya: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Fudlail, dari Athiyyah, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ia berkata: bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan yang paling dekat majelis dengannya adalah pemimpin yang adil, dan sesungguhnya manusia yang paling dibenci Allah pada hari kiamat dan yang paling keras siksaannya adalah pemimpin yang zalim. Dan demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Fudlail bin Marzuq Al-Agharr dengannya, dan ia berkata: kami tidak mengenalnya dalam bentuk marfu’ kecuali dari jalan ini. Dan berkata Ibnu Abi Hatim: telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Ziyad, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, aku mendengar Malik bin Dinar tentang firman-Nya: “Dan sesungguhnya ia benar-benar mempunyai kedudukan dekat pada Kami dan tempat kembali yang baik”, ia berkata: Daud alaihissalam akan ditegakkan pada hari kiamat di samping batang Arsy, maka Allah akan berfirman: Wahai Daud, agungkanlah Aku pada hari ini dengan suara yang bagus dan merdu itu, yang dahulu engkau agungkan Aku dengannya di dunia. Maka ia berkata: Bagaimana, padahal sungguh telah dicabut dariku? Maka Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan mengembalikannya kepadamu pada hari ini. Ia berkata: Maka Daud mengangkat suaranya yang membuat penghuni surga menikmati kenikmatannya.

Firman-Nya Taala: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (surat Shaad: 26). Ini adalah khitab dari Allah Taala kepada Daud dan yang dimaksud: para penguasa urusan dan para hakim manusia, dan memerintahkan mereka dengan keadilan dan mengikuti kebenaran yang diturunkan dari Allah bukan yang lainnya dari pendapat-pendapat dan hawa nafsu, dan mengancam orang yang menempuh jalan selain itu dan memutuskan dengan selain itu, dan adalah Daud alaihissalam, yang diteladani dalam hal itu pada masa itu, dalam keadilan dan banyaknya ibadah dan berbagai jenis ketaatan, sampai-sampai tidak berlalu satu jam pun dari waktu-waktu malam dan ujung-ujung siang kecuali keluarganya dalam ibadah malam dan siang, sebagaimana firman-Nya Taala: “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (surat Saba’: 13). Berkata Abu Bakr Ibnu Abi Ad-Dunya: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim bin Bassam, telah menceritakan kepada kami Shalih Al-Marri, dari Abu Imran Al-Jauni, dari Abu Al-Jalad, ia berkata: aku membaca dalam doa Daud alaihissalam, bahwa ia berkata: Ya Rabb, bagaimana aku bisa mensyukurimu sedangkan aku tidak sampai kepada syukur-Mu kecuali dengan nikmat-Mu? Ia berkata: maka datanglah wahyu kepadanya: wahai Daud, tidakkah engkau tahu bahwa nikmat yang ada padamu adalah dari-Ku? Ia berkata: Benar ya Rabb. Allah berfirman: Maka sesungguhnya Aku ridha dengan yang demikian itu darimu.

Dan berkata Al-Baihaqi: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Balawayh, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Lahiq, dari Ibnu Syihab ia berkata: berkata Daud: Segala puji bagi Allah sebagaimana layak bagi kemuliaan wajah-Nya dan keagungan keagungan-Nya. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah melelahkan para malaikat pencatat wahai Daud. Dan meriwayatkannya Abu Bakr Ibnu Abi Ad-Dunya, dari Ali bin Al-Ja’d, dari Ats-Tsauri serupa dengannya.

Dan berkata Abdullah bin Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd: telah mengabarkan kepada kami Sufyan Ats-Tsauri, dari seorang laki-laki, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Sesungguhnya dalam hikmah keluarga Daud: Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak lengah dari empat waktu: waktu ia bermunajat dengan Rabbnya, dan waktu ia menghisab dirinya, dan waktu ia menyendiri dengan saudara-saudaranya yang mengabarkan kepadanya tentang aib-aibnya dan membenarkannya tentang dirinya, dan waktu ia membiarkan antara dirinya dan kenikmatan-kenikmatan yang halal dan indah; maka sesungguhnya waktu ini adalah pertolongan atas waktu-waktu ini, dan penyegaran bagi hati-hati, dan wajib bagi orang yang berakal untuk mengetahui zamannya, dan menjaga lisannya, dan memperhatikan urusannya, dan wajib bagi orang yang berakal untuk tidak berjalan kecuali dalam salah satu dari tiga: bekal untuk akhiratnya, perbaikan untuk kehidupannya, dan kenikmatan dalam yang tidak haram.

Dan telah meriwayatkannya Abu Bakr Ibnu Abi Ad-Dunya dari Abu Bakr bin Abi Khaitsama, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Abu Al-Agharr, dari Wahb bin Munabbih, lalu menyebutkannya. Dan meriwayatkannya juga dari Ali bin Al-Ja’d, dari Umar bin Al-Haitsam Ar-Raqasyi, dari Abu Al-Agharr, dari Wahb bin Munabbih, lalu menyebutkannya. Dan Abu Al-Agharr ini, adalah yang dirahasiakan oleh Ibnu Al-Mubarak dalam riwayatnya. Demikian dikatakan oleh Ibnu Asakir.

Dan berkata Abdurrazaq: telah mengabarkan kepada kami Bisyr bin Rafi’, telah menceritakan kepada kami seorang syaikh dari penduduk Shan’a, dikatakan kepadanya: Abu Abdullah. Ia berkata: aku mendengar Wahb bin Munabbih, lalu menyebutkan serupa dengannya. Dan sungguh telah meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir dalam biografi Daud alaihissalam, hal-hal yang banyak dan bagus, di antaranya perkataannya: Jadilah bagi anak yatim seperti bapak yang penyayang, dan ketahuilah bahwa sebagaimana engkau menanam demikian pula engkau menuai. Dan meriwayatkan dengan sanad gharib secara marfu’, berkata Daud: Wahai penanam kejahatan-kejahatan, engkau akan menuai duri-durinya dan semak-semaknya. Dan dari Daud alaihissalam, bahwa ia berkata: Perumpamaan orang bodoh yang berkhutbah di perkumpulan kaum, seperti perumpamaan penyanyi di samping kepala mayat. Dan ia berkata juga: Alangkah jeleknya kefakiran setelah kekayaan, dan lebih jelek dari itu adalah kesesatan setelah petunjuk. Dan ia berkata: Lihatlah apa yang engkau benci disebutkan tentangmu dalam perkumpulan kaum, maka janganlah engkau lakukan ketika engkau sendirian. Dan ia berkata: Janganlah engkau menjanjikan saudaramu dengan apa yang tidak engkau tunaikan untuknya. Karena sesungguhnya itu adalah permusuhan antara engkau dan dia.

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Umar Al-Waqidi, telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Sa’d, dari Umar maula Ghufrah, ia berkata: Berkata orang-orang Yahudi ketika mereka melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi para wanita: Lihatlah orang ini yang tidak kenyang dari makanan, dan demi Allah tidak ada perhatiannya kecuali kepada para wanita. Mereka mendengkinya karena banyaknya istri-istrinya, dan mencela dia dengan hal itu maka mereka berkata: Jika ia adalah Nabi niscaya ia tidak tertarik pada para wanita. Dan adalah yang paling keras dari mereka dalam hal itu adalah Huyai bin Akhthab, maka Allah mendustakannya dan mengabarkan kepada mereka tentang keutamaan Allah dan keluasan-Nya atas Nabi-Nya, shalawat Allah dan salam-Nya atasnya, maka Dia berfirman: “Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya” (surat An-Nisa’: 54). Yang dimaksud dengan manusia: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “Maka sesungguhnya Kami telah memberikan kepada keluarga Ibrahim Alkitab dan Hikmah, dan Kami berikan kepada mereka kerajaan yang besar” (surat An-Nisa’: 54). Yang dimaksud apa yang diberikan Allah kepada Sulaiman bin Daud, untuknya adalah seribu wanita: tujuh ratus wanita bermahir dan tiga ratus budak perempuan. Dan untuk Daud alaihissalam, adalah seratus wanita di antara mereka adalah istri Uriya ibu Sulaiman bin Daud, yang ia nikahi setelah fitnah, ini lebih banyak daripada yang dimiliki Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan sungguh telah menyebutkan Al-Kalbi serupa dengan ini, dan bahwa untuk Daud alaihissalam, adalah seratus wanita dan untuk Sulaiman seribu wanita, di antara mereka tiga ratus budak perempuan.

Dan Hafizh meriwayatkan dalam kitabnya Tarikh dalam biografi Shadaqah ad-Dimasyqi yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari jalur al-Faraj al-Himshi dari Abu Hurairah al-Himshi, dari Shadaqah ad-Dimasyqi bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas tentang puasa, maka dia berkata: Sungguh aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadits yang tersimpan di sisi dalamku, jika engkau mau aku akan kabarkan kepadamu tentang puasa Daud karena sesungguhnya dia adalah seorang yang sering berpuasa, sering shalat, dan merupakan seorang pemberani yang tidak lari ketika bertemu musuh, dan dia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik puasa adalah puasa Daud dan dia membaca Zabur dengan tujuh puluh suara yang bervariasi di dalamnya, dan dia memiliki satu rakaat di malam hari di mana dia menangisi dirinya, dan segala sesuatu menangis karena tangisannya, dan orang yang sedih dan sakit tertarik dengan suaranya. Dan jika engkau mau aku akan kabarkan kepadamu tentang puasa anaknya Sulaiman, karena sesungguhnya dia berpuasa dari awal bulan tiga hari, dan dari pertengahannya tiga hari, dan dari akhirnya tiga hari, dia membuka bulan dengan puasa, pertengahannya dengan puasa, dan menutupnya dengan puasa. Dan jika engkau mau aku akan kabarkan kepadamu tentang puasa putra perawan yang suci Isa putra Maryam, karena sesungguhnya dia berpuasa sepanjang masa dan memakan jelai serta mengenakan pakaian dari bulu, dia makan apa yang dia temukan dan tidak menanyakan apa yang dia kehilangan, tidak memiliki anak yang akan mati atau rumah yang akan roboh, dan dia jika tertimpa malam berdiri di antara kedua kakinya dan berdiri shalat hingga pagi, dan dia adalah seorang pemanah yang tidak melewatkan buruan yang dia inginkan, dan dia melewati majelis-majelis Bani Israil lalu memenuhi kebutuhan mereka. Dan jika engkau mau aku akan kabarkan kepadamu tentang puasa ibunya Maryam binti Imran, karena sesungguhnya dia berpuasa sehari dan berbuka dua hari. Dan jika engkau mau aku akan kabarkan kepadamu tentang puasa Nabi Arab yang ummi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya dia berpuasa dari setiap bulan tiga hari dan berkata: Sesungguhnya itu adalah puasa sepanjang masa.

Dan telah meriwayatkan sepertinya Imam Ahmad, dari Abu an-Nadhr, dari Faraj bin Fadhalah dari Abu Hiram, dari Shadaqah dari Ibnu Abbas secara marfu dalam puasa Daud.

Penyebutan Kuantitas Hidupnya dan Kualitas Wafatnya alaihis salam

Telah disebutkan sebelumnya dalam penyebutan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang penciptaan Adam, bahwa ketika Allah mengeluarkan keturunannya dari punggungnya, maka dia melihat di antara mereka para nabi alaihimus salam, dan dia melihat di antara mereka seorang laki-laki yang bersinar, maka dia berkata: Wahai Tuhanku, siapa ini? Dia berfirman: Ini adalah anakmu Daud, dia berkata: Wahai Tuhanku, berapa umurnya? Dia berfirman: Enam puluh tahun. Dia berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan umurnya. Dia berfirman: Tidak, kecuali jika Aku menambahkannya dari umurmu. Dan umur Adam adalah seribu tahun maka dia menambahkannya empat puluh tahun, maka ketika umur Adam telah habis malaikat maut datang kepadanya, maka dia berkata: Masih tersisa dari umurku empat puluh tahun. Dan Adam lupa apa yang telah dia hibahkan kepada anaknya Daud, maka Allah menyempurnakan untuk Adam seribu tahun, dan untuk Daud seratus tahun. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Abbas, dan at-Tirmidzi dan dia menshahihkannya dari Abu Hurairah, dan Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dan al-Hakim berkata: Sesuai syarat Muslim. Dan telah disebutkan sebelumnya penyebutan jalur-jalurnya dan lafazh-lafazhnya dalam kisah Adam.

Ibnu Jarir berkata: Dan telah diklaim sebagian ahli kitab bahwa umur Daud adalah tujuh puluh tujuh tahun.

Saya katakan: Ini adalah kesalahan yang ditolak kepada mereka. Mereka berkata: Dan masa kerajaannya adalah empat puluh tahun. Dan ini mungkin dapat diterima penukilannya karena sesungguhnya tidak ada pada kita yang bertentangan dengannya dan tidak pula yang mengharuskannya.

Adapun wafatnya alaihis salam, maka Imam Ahmad berkata dalam Musnad-nya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yaqub bin Abdurrahman bin Muhammad, dari Amru bin Abi Amru, dari al-Muththalib, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Daud an-Nabi memiliki ghirah yang sangat kuat, dan dia jika keluar mengunci pintu-pintu, maka tidak ada seorang pun yang masuk kepada istrinya hingga dia kembali, dia berkata: Maka dia keluar suatu hari dan rumah dikunci, lalu istrinya datang melihat ke dalam rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri di tengah rumah, maka dia berkata kepada orang-orang di dalam rumah: Dari mana laki-laki ini masuk sedangkan rumah terkunci? Demi Allah kalian akan dipermalukan oleh Daud. Maka Daud datang, tiba-tiba laki-laki itu berdiri di tengah rumah, maka Daud berkata kepadanya: Siapa engkau? Dia berkata: Aku adalah yang tidak takut kepada raja-raja dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangiku, maka Daud berkata: Engkau demi Allah adalah malaikat maut, selamat datang dengan perintah Allah. Maka Daud berlari di tempatnya di mana ruhnya dicabut, hingga selesai urusan tentangnya, dan matahari terbit kepadanya, maka Sulaiman berkata kepada burung-burung: Naungilah atas Daud. Maka burung-burung menaunginya hingga bumi gelap di bawah mereka berdua, maka dia berkata kepada burung-burung: Rapatkan sayap demi sayap. Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan kepada kami bagaimana burung-burung melakukannya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengepalkan tangannya, dan pada hari itu burung Madhrahiyah yang mendominasi.

Hanya Imam Ahmad yang mengeluarkannya, dan sanadnya bagus kuat, para perawinya tsiqah.

Dan makna sabdanya: Dan pada hari itu burung Madhrahiyah yang mendominasi; yaitu: Dan yang mendominasi penaungan atasnya adalah burung Madhrahiyah, dan ia adalah elang-elang yang bersayap panjang, satu buahnya adalah Madhrahim. Al-Jauhari berkata: Dan ia adalah elang yang bersayap panjang.

As-Suddi berkata dari Abu Malik dari Ibnu Abbas, dia berkata: Daud alaihis salam wafat secara mendadak, dan dia sedang bersabbat (hari Sabtu), dan burung-burung menaunginya.

As-Suddi juga berkata dari Abu Malik, dan dari Said bin Jubair, dia berkata: Daud alaihis salam wafat pada hari Sabtu secara mendadak.

Dan Ishaq bin Bisyr berkata, dari Said bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari al-Hasan, dia berkata: Daud alaihis salam wafat sedangkan dia berusia seratus tahun, dan wafat pada hari Rabu secara mendadak.

Dan Abu as-Sakan al-Hajari berkata: Ibrahim al-Khalil wafat secara mendadak, Daud secara mendadak, dan anaknya Sulaiman secara mendadak, shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka semua. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Dan diriwayatkan dari sebagian mereka: Bahwa malaikat maut datang kepadanya sedangkan dia turun dari mihrabnya, maka dia berkata kepadanya: Biarkan aku turun atau naik. Maka dia berkata: Wahai Nabi Allah, sungguh tahun-tahun, bulan-bulan, jejak-jejak, dan rezeki telah habis. Dia berkata: Maka dia tunduk bersujud di salah satu tangga itu, maka dia mencabut nyawanya sedangkan dia bersujud.

Dan Ishaq bin Bisyr berkata: Telah memberitahu kami Wafir bin Sulaiman, dari Abu Sulaiman al-Filasthini, dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: Sesungguhnya orang-orang hadir di jenazah Daud alaihis salam, maka mereka duduk di bawah matahari pada hari yang panas. Dia berkata: Dan telah mengiringi jenazahnya pada hari itu empat puluh ribu rahib, mengenakan jubah besar, selain orang-orang lainnya, dan tidak wafat di kalangan Bani Israil – setelah Musa dan Harun – seorang pun yang Bani Israil lebih sangat bersedih atas kematiannya selain mereka atas Daud. Dia berkata: Maka panas menyakiti mereka, lalu mereka memanggil Sulaiman alaihis salam agar dia mempercepat mereka karena panas yang menimpa mereka, maka Sulaiman keluar lalu memanggil burung-burung maka mereka datang, lalu dia memerintahkan mereka maka mereka menaungi orang-orang. Dia berkata: Maka mereka berdesakan satu sama lain dari setiap arah hingga angin terhenti, maka hampir saja orang-orang binasa karena sesak, maka mereka berteriak kepada Sulaiman alaihis salam karena sesak, maka Sulaiman keluar lalu memanggil burung-burung agar menaungi orang-orang dari arah matahari, dan menjauh dari arah angin. Maka mereka melakukannya, maka orang-orang berada dalam naungan dan angin bertiup kepada mereka, maka itulah pertama kali mereka melihat kerajaan Sulaiman.

Dan al-Hafizh Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Hammam al-Walid bin Syuja’, telah menceritakan kepadaku al-Walid bin Muslim, dari al-Haitsam bin Humaid, dari al-Wadin bin Atha’, dari Nashr bin Alqamah, dari Jubair bin Nufair, dari Abu ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh Allah telah mencabut nyawa Daud dari antara sahabat-sahabatnya, mereka tidak terfitnah dan tidak berubah, dan sungguh sahabat-sahabat al-Masih tetap di atas sunnahnya dan petunjuknya selama dua ratus tahun. Ini adalah hadits gharib, dan dalam marfu’nya terdapat keraguan, dan al-Wadin bin Atha’ adalah lemah dalam hadits. Dan Allah lebih mengetahui.

Kisah Sulaiman bin Daud alaihimas salam

Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata: Dia adalah Sulaiman bin Daud bin Isya bin Uwaid bin Ba’iz bin Salmun bin Nahsyun bin Aminadzab bin Iram bin Hashrun bin Farish bin Yahudza bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim, Abu ar-Rabi’, Nabi Allah, putra Nabi Allah.

Datang dalam sebagian atsar bahwa dia masuk Damaskus. Ibnu Makulah berkata: Farish dengan shad yang tidak bertitik. Dan dia menyebutkan nasabnya mendekati apa yang disebutkan oleh Ibnu Asakir.

Allah Taala berfirman: Dan Sulaiman mewarisi Daud dan dia berkata wahai manusia kami telah diajarkan bahasa burung dan kami telah diberi segala sesuatu sesungguhnya ini benar-benar adalah karunia yang nyata (An-Naml: 16). Yaitu: Mewarisinya dalam kenabian dan kerajaan. Dan bukan yang dimaksud warisan harta, karena sesungguhnya dia memiliki anak-anak selain dia, maka tidak mungkin dia dikhususkan dengan harta tanpa mereka. Dan karena sesungguhnya telah tetap dalam kitab-kitab Shahih dari beberapa jalan, dari sekelompok sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kami tidak diwariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Dan dalam lafazh lain: Sesungguhnya kami para golongan nabi tidak diwariskan. Maka yang benar yang membenarkan mengabarkan bahwa para nabi tidak diwariskan harta mereka dari mereka sebagaimana orang lain diwariskan, bahkan harta mereka menjadi sedekah dari mereka kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan, tidak dikhususkan dengan itu kerabat-kerabat mereka, karena dunia adalah lebih hina bagi mereka dan lebih rendah di sisi mereka dari itu, sebagaimana ia di sisi Dzat yang mengutus mereka, memilih mereka, dan melebihkan mereka.

Dan Dia berfirman: Wahai manusia kami telah diajarkan bahasa burung yaitu bahwa dia alaihis salam mengetahui apa yang dibicarakan oleh burung-burung dengan bahasa mereka, dan mengungkapkan kepada manusia tentang maksud dan keinginan mereka.

Dan al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi telah berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Hamsyadz, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Qudamah, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far al-Aswani – yaitu Muhammad bin Abdurrahman – dari Yaqub al-Qummi, telah menceritakan kepadaku Abu Malik, dia berkata: Sulaiman bin Daud melewati seekor burung pipit jantan yang berputar mengelilingi burung pipit betina, maka dia berkata kepada sahabat-sahabatnya: Apakah kalian tahu apa yang dia katakan? Mereka berkata: Dan apa yang dia katakan wahai Nabi Allah? Dia berkata: Dia meminangnya untuk dirinya, dan berkata: Nikahkanlah aku denganku, aku akan menempatkanmu di kamar mana saja di Damaskus yang engkau inginkan. Sulaiman alaihis salam berkata: Sesungguhnya kamar-kamar Damaskus dibangun dengan batu, tidak ada seorang pun yang mampu menempatinya, tetapi setiap peminang adalah pembohong. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu al-Qasim Zahir bin Thahir, dari al-Baihaqi dengannya.

Dan demikian juga selain itu dari hewan-hewan dan beragam jenis makhluk, dan dalil atas ini adalah firman-Nya setelah ini dari ayat-ayat: Dan kami telah diberi segala sesuatu yaitu: Dari segala yang dibutuhkan oleh raja kepadanya, dari peralatan, dan alat-alat, dan pasukan-pasukan, dan bala tentara, dan kumpulan dari jin, manusia, burung-burung, binatang buas, dan setan-setan yang berkeliaran, dan ilmu-ilmu, dan pemahaman-pemahaman, dan pengungkapan dari isi hati makhluk-makhluk dari yang berbicara dan yang diam. Kemudian Dia berfirman: Sesungguhnya ini benar-benar adalah karunia yang nyata yaitu: Dari Pencipta makhluk dan Pencipta bumi dan langit-langit, sebagaimana Allah Taala berfirman: Dan dihimpunkan untuk Sulaiman bala tentaranya dari jin manusia dan burung lalu mereka diatur dengan tertib hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut wahai semut-semut masuklah ke dalam tempat-tempat tinggal kalian agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari maka dia tersenyum sambil tertawa karena perkataannya dan dia berkata wahai Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih (An-Naml: 17-19).

Allah Taala mengabarkan tentang hamba-Nya, nabi-Nya, dan putra nabi-Nya Sulaiman bin Daud alaihimash shalatu was salam, bahwa dia mengendarai suatu hari dalam bala tentaranya semuanya dari jin, manusia, dan burung, maka jin dan manusia berjalan bersamanya, dan burung-burung berjalan bersamanya menaunginya dengan sayap-sayap mereka dari panas dan lainnya, dan pada setiap dari ketiga bala tentara ini ada pengatur, yaitu pemimpin-pemimpin yang mengembalikan bagian awal mereka ke bagian akhir mereka, maka tidak ada seorang pun yang mendahului dari tempatnya yang dia berjalan di dalamnya dan tidak pula tertinggal darinya, Allah Taala berfirman: Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut wahai semut-semut masuklah ke dalam tempat-tempat tinggal kalian agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari maka dia memerintahkan, dan memperingatkan, dan meminta maaf tentang Sulaiman dan bala tentaranya dengan tidak menyadari.

Dan telah disebutkan oleh Wahb bahwa dia melewati sedangkan dia di atas permadani di sebuah lembah di Thaif, dan bahwa semut ini bernama “Jarsa” dan dia dari kabilah yang disebut: Banu asy-Syaishaban, dan dia pincang, dan ukurannya sebesar serigala. Dan dalam semua ini terdapat keraguan, bahkan dalam konteks ini terdapat dalil bahwa dia berada dalam rombongannya mengendarai kuda-kuda dan pasukan berkudanya, bukan sebagaimana diklaim sebagian mereka bahwa dia ketika itu di atas permadani, karena jika demikian maka semut tidak akan mendapat sesuatu pun darinya dan tidak pula terinjak, karena permadani ada di atasnya semua yang mereka butuhkan dari bala tentara, kuda-kuda, unta-unta, beban-beban, kemah-kemah, dan hewan ternak, dan burung-burung dari atas semua itu, sebagaimana akan kami jelaskan setelah itu, insya Allah Taala.

Yang dimaksud adalah bahwa Nabi Sulaiman memahami apa yang disampaikan semut betina itu kepada kaumnya berupa pendapat yang tepat dan perintah yang terpuji, lalu beliau tersenyum karenanya sebagai tanda kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan atas apa yang Allah perlihatkan kepadanya dan tidak kepada orang lain. Bukan seperti yang dikatakan sebagian orang bodoh, bahwa binatang-binatang dahulu dapat berbicara sebelum zaman Nabi Sulaiman dan berbincang dengan manusia sampai Nabi Sulaiman bin Nabi Daud mengambil perjanjian dari mereka dan membungkam mereka, sehingga binatang-binatang itu tidak berbicara lagi dengan manusia setelah itu. Hal ini hanya dikatakan oleh orang-orang yang tidak berilmu. Seandainya hal ini benar, maka Nabi Sulaiman tidak memiliki keistimewaan dalam memahami bahasa binatang-binatang itu dibanding orang lain, karena semua manusia sudah memahami hal itu. Seandainya beliau telah mengambil perjanjian dari binatang-binatang itu agar tidak berbicara dengan orang lain, dan hanya beliaulah yang memahami mereka, maka dalam hal ini pun tidak ada manfaat yang berarti. Oleh karena itu beliau berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham” yaitu: anugerahkan dan tunjukkanlah kepadaku “untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml: 19) Beliau memohon kepada Allah agar Allah memampukannya untuk bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan kepadanya, dan atas keistimewaan yang diberikan kepadanya melebihi orang lain, serta agar Allah memudahkan baginya untuk beramal saleh, dan agar Allah menghimpunkannya ketika beliau wafat bersama hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabulkan doa beliau. Yang dimaksud dengan kedua orang tuanya adalah Nabi Daud dan ibunya, yang merupakan wanita salehah yang tekun beribadah sebagaimana diriwayatkan oleh Sunaid bin Daud, dari Yusuf bin Muhammad bin Al-Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: Ibunda Sulaiman bin Daud berkata: “Wahai anakku, jangan banyak tidur di malam hari, karena banyak tidur di malam hari menjadikan seorang hamba miskin di hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari empat orang gurunya, dari dia dengan redaksi serupa.

Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri: Bahwa Nabi Sulaiman bin Nabi Daud keluar bersama para sahabatnya untuk meminta hujan, lalu mereka melihat seekor semut berdiri dengan mengangkat salah satu kakinya memohon hujan. Maka beliau berkata kepada para sahabatnya: “Kembalilah, kalian telah diberi hujan. Sesungguhnya semut ini telah memohon hujan dan doanya dikabulkan.” Ibnu Asakir berkata: Hadits ini juga diriwayatkan secara marfu’ (bersambung hingga Rasulullah) tanpa menyebutkan Nabi Sulaiman di dalamnya. Kemudian beliau meriwayatkannya dari jalur Muhammad bin Aziz dari Salamah bin Ruh bin Khalid, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dia menceritakan kepadaku Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang nabi dari para nabi keluar bersama manusia memohon hujan kepada Allah, tiba-tiba mereka melihat seekor semut mengangkat sebagian kakinya ke langit. Maka nabi itu berkata: ‘Kembalilah, doanya telah dikabulkan untuk kalian karena semut ini.'”

As-Suddi berkata: Manusia ditimpa kekeringan pada masa Nabi Sulaiman, maka beliau memerintahkan manusia untuk keluar, tiba-tiba mereka melihat seekor semut berdiri dengan kedua kakinya, merentangkan kedua tangannya sambil berkata: “Ya Allah, kami adalah makhluk dari makhluk-Mu dan kami tidak dapat hidup tanpa karunia-Mu.” Maka Allah menurunkan hujan kepada mereka dengan deras.

Allah berfirman: “Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh, aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau aku akan menyembelihnya kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.’ Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu dia berkata: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahuinya; dan aku datang kepadamu dari negeri Saba membawa berita yang pasti. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari, bukan kepada Allah; dan syaitan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.’ Dia (Sulaiman) berkata: ‘Akan kami lihat, apakah kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.’ Dia (Balqis) berkata: ‘Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya adalah): “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah kamu semua berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.”‘ Dia berkata: ‘Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini); aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelismu (untuk memberikan pertimbangan).’ Mereka menjawab: ‘Kita mempunyai kekuatan dan mempunyai keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan itu terserah kepadamu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.’ Maka tatkala (utusan itu) datang kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata: ‘Apakah kamu akan memberiku harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, bahkan kamulah yang bergembira dengan hadiah(mu). Kembalilah kepada mereka, maka sungguh, kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.'” (QS. An-Naml: 20-37)

Allah menyebutkan kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Adapun burung-burung, pada setiap jenisnya ada pemimpin yang melaksanakan apa yang diminta dari mereka, dan mereka hadir di hadapan Nabi Sulaiman secara bergiliran, sebagaimana kebiasaan pasukan dengan para raja. Tugas hud-hud, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas dan lainnya, adalah apabila mereka kekurangan air di padang pasir ketika dalam perjalanan, burung itu datang dan mencari untuk mereka apakah di daerah tersebut ada air. Burung hud-hud memiliki kemampuan yang Allah anugerahkan kepadanya, yaitu dapat melihat air di bawah lapisan bumi. Apabila dia menunjukkan kepada mereka lokasi air, mereka menggali dan mengeluarkannya, lalu menggunakannya untuk keperluan mereka. Ketika Nabi Sulaiman mencari burung itu pada suatu hari, beliau tidak menemukannya dan tidak menjumpainya di tempatnya dalam pelayanannya. Maka beliau berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” Yaitu: mengapa dia tidak ada di sini, ataukah dia tidak terlihat olehku sehingga aku tidak melihatnya di hadapanku? “Sungguh, aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras” beliau mengancamnya dengan suatu jenis azab yang para mufassir berbeda pendapat mengenainya, namun maksudnya tetap tercapai dalam setiap pendapat. “Atau aku akan menyembelihnya kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas” yaitu dengan alasan yang menyelamatkannya dari kesulitan ini.

Allah berfirman: “Maka tidak lama kemudian” yaitu: burung hud-hud tidak lama menghilang kemudian kembali dari kepergiannya “lalu dia berkata” kepada Nabi Sulaiman: “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahuinya” yaitu: aku mendapatkan informasi yang tidak kamu dapatkan. “Dan aku datang kepadamu dari negeri Saba membawa berita yang pasti” yaitu: dengan berita yang benar. “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” Dia menceritakan keadaan raja-raja Saba di negeri Yaman yang memiliki kerajaan besar dan para penguasa yang bermahkota. Kekuasaan pada masa itu berada di tangan seorang wanita dari mereka, putri raja mereka, karena raja tidak meninggalkan pewaris selain dia, maka mereka menjadikannya sebagai ratu atas mereka.

Ats-Tsa’labi dan lainnya menyebutkan bahwa kaumnya mengangkat seorang laki-laki sebagai raja menggantikan ayahnya, namun laki-laki itu membuat kerusakan di negeri. Maka wanita itu mengirim utusan untuk melamarnya, lalu dia menikahinya. Ketika wanita itu masuk ke kamarnya, dia memberinya minum khamar, kemudian memenggal kepalanya dan memasangnya di pintu istananya. Maka orang-orang datang kepadanya dan menjadikannya ratu atas mereka. Dia adalah Balqis binti Al-Basyarakh, yaitu Al-Hadzhadzh. Ada yang berpendapat: Syurahbil bin Dzi Jadan bin Al-Basyarakh bin Al-Harits bin Qais bin Saifi bin Saba bin Yasydjub bin Ya’rub bin Qahtan. Ayahnya termasuk raja-raja besar, dan dia enggan menikah dengan wanita dari penduduk Yaman. Dikatakan bahwa dia menikah dengan seorang wanita dari bangsa jin bernama Raihanah binti Asy-Syukr, lalu wanita itu melahirkan untuknya putri ini yang bernama Bal’amah dan juga dipanggil Balqis.

Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Basyir, dari Qatadah, dari An-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Salah seorang dari kedua orang tua Balqis adalah jin.” Ini adalah hadits gharib (asing) dan dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Ats-Tsa’labi berkata: Abu Abdullah bin Qabhunah memberitahuku, Abu Bakr bin Jarjah menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Al-Laits menceritakan kepada kami, Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Muslim, dari Al-Hasan, dari Abu Bakrah berkata: Balqis disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” Ismail bin Muslim yang ini adalah Al-Makki, dia dhaif (lemah).

Telah shahih dalam Shahih Bukhari dari hadits Auf, dari Al-Hasan, dari Abu Bakrah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sampai kepadanya berita bahwa penduduk Persia menjadikan putri Kisra sebagai ratu atas mereka, beliau bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i dari hadits Humaid dari Al-Hasan, dari Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tirmidzi berkata: Hasan shahih.

Firman Allah: “dan dia dianugerahi segala sesuatu” yaitu: segala sesuatu yang biasanya dianugerahkan kepada para raja “serta mempunyai singgasana yang besar” maksudnya adalah singgasana kerajaannya, yang dihias dengan berbagai jenis permata, mutiara, emas, dan perhiasan yang indah.

Kemudian burung hud-hud menyebutkan kekufuran mereka kepada Allah dan penyembahan mereka kepada matahari selain Allah, serta penyesatan syaitan terhadap mereka dan penghalangannya terhadap mereka dari menyembah Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu. “Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan” yaitu: Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak, baik yang berupa materi maupun makna. “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan yang memiliki Arasy yang agung” yaitu: milik-Nyalah Arasy yang agung, yang tidak ada yang lebih agung darinya dalam makhluk.

Maka pada saat itu Nabi Sulaiman mengutus bersamanya surat beliau yang berisi seruan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya, serta untuk kembali dan tunduk masuk dalam ketaatan kepada kerajaan dan kekuasaan beliau. Oleh karena itu beliau berkata kepada mereka: “Janganlah kamu semua berlaku sombong terhadapku” yaitu: jangan kalian sombong terhadap ketaatanku dan pelaksanaan perintahku. “Dan datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri” yaitu: datanglah kepadaku dalam keadaan mendengar dan taat tanpa penundaan dan tawar-menawar.

Ketika surat itu sampai kepadanya dibawa oleh burung, dan dari sinilah manusia menggunakan surat-menyurat, namun di mana Tsuraya dari Tsara (bintang jauh dengan tanah)? Surat itu dibawa oleh burung yang mendengar, taat, memahami, dan mengetahui apa yang dia katakan dan apa yang dikatakan kepadanya. Lebih dari satu mufassir dan lainnya menyebutkan, bahwa burung hud-hud membawa surat itu dan datang ke istananya lalu menjatuhkannya kepadanya ketika dia sedang menyendiri, kemudian dia berdiri di suatu tempat menunggu apa yang akan terjadi dari jawabannya terhadap surat itu. Maka dia mengumpulkan para pemimpinnya, para menterinya, pembesar-pembesar negaranya, dan penasihat-penasihatnya. “Dia berkata: ‘Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.'” Kemudian dia membacakan kepada mereka tulisan sampulnya terlebih dahulu: “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman” kemudian dia membacakannya: “dan sesungguhnya (isinya adalah): ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah kamu semua berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.'”

Kemudian dia meminta pendapat mereka tentang urusannya dan apa yang menimpanya, dia bersikap sopan kepada mereka, dan berbicara kepada mereka sementara mereka mendengarkan: “Dia berkata: ‘Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini); aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelismu (untuk memberikan pertimbangan).'” Maksudnya: aku tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali kalian hadir. “Mereka menjawab: ‘Kita mempunyai kekuatan dan mempunyai keberanian yang sangat (dalam peperangan)'” maksudnya: kami memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berperang dan melawan para pahlawan, jika engkau menginginkan hal itu dari kami maka kami mampu melakukannya. “Dan keputusan itu terserah kepadamu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” Mereka menyerahkan pendengaran dan ketaatan kepadanya, memberitahukan kepadanya tentang kemampuan mereka, dan menyerahkan keputusan dalam perkara itu kepadanya agar dia mempertimbangkan mana yang lebih tepat baginya dan bagi mereka. Maka pendapatnya lebih sempurna dan lebih tepat daripada pendapat mereka. Dia mengetahui bahwa pemilik surat ini tidak dapat dilawan, tidak dapat ditentang, tidak dapat diselisihkan, dan tidak dapat ditipu.

“Dia berkata: ‘Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.'” Dia mengatakan dengan pendapatnya yang tepat: sesungguhnya raja ini jika telah menguasai kerajaan ini, urusan tidak akan selamat dari antara kalian kecuali untukku, dan serangan keras serta kekuasaan yang dahsyat hanya akan ditujukan kepadaku. “Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” Dia ingin melindungi dirinya dan penduduk kerajaannya dengan hadiah yang dia kirim dan pemberian yang dia utus, dan dia tidak tahu bahwa Nabi Sulaiman tidak akan menerima dari mereka dalam keadaan seperti ini, tidak pembayaran dan tidak penebusan, karena mereka kafir, sementara beliau dan pasukannya mampu mengalahkan mereka. Oleh karena itu “ketika (utusan itu) datang kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata: ‘Apakah kamu akan memberiku harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, bahkan kamulah yang bergembira dengan hadiah(mu).'”

Ini terjadi padahal hadiah-hadiah tersebut mengandung hal-hal yang sangat besar, sebagaimana disebutkan oleh para mufassir. Kemudian beliau berkata kepada utusannya yang datang kepadanya dan utusan yang menghadap kepada beliau, sementara orang-orang hadir mendengarkan: “Kembalilah kepada mereka, maka sungguh, kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” Maksudnya: kembalilah dengan hadiahmu yang kamu bawa ini kepada orang yang memberinya, karena aku memiliki dari apa yang Allah anugerahkan dan berikan kepadaku berupa harta, pemberian, dan pasukan, yang berlipat ganda dari ini dan lebih baik dari ini yang kalian banggakan dan kalian sombongkan kepada orang-orang sejenis kalian karenanya. “Maka sungguh, kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya” yaitu: aku akan mengirim kepada mereka pasukan yang tidak mampu mereka lawan, tidak mampu mereka hadapi, tidak mampu mereka tolak, dan tidak mampu mereka perangi. “Dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu” dari negeri mereka, wilayah mereka, daerah mereka, dan kekuasaan mereka “dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina,” mereka akan tertimpa kehinaan, aib, dan kehancuran.

Ketika hal itu sampai kepada mereka dari nabi Allah, tidak ada pilihan bagi mereka selain mendengar dan taat. Maka mereka segera menyambut ajakannya pada saat itu juga, dan mereka datang bersama sang ratu semuanya dalam keadaan mendengar, taat, dan tunduk. Ketika beliau mendengar kedatangan mereka dan utusan mereka kepada beliau, beliau berkata kepada orang-orang yang berada di hadapannya dari kalangan jin yang ditundukkan untuknya, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Alquran: “Dia (Sulaiman) berkata: ‘Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?’ Berkata ifrit dari golongan jin: ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sesungguhnya aku benar-benar kuat dan dapat dipercaya untuk membawanya.’ Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata: ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah aku mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.’ Dia (Sulaiman) berkata: ‘Samarkanlah singgasananya baginya, agar kita lihat apakah dia dapat mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak dapat mengenal.’ Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakan (kepadanya): ‘Serupa inikah singgasanamu?’ Dia menjawab: ‘Seakan-akan singgasana inilah itu.’ (Sulaiman berkata): ‘Dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.’ Dan apa yang dia sembah selain Allah, menghalanginya (dari jalan yang benar); karena sesungguhnya dia (dahulu) termasuk kaum yang kafir. Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka ketika dia melihat lantai istana itu, dia mengiranya kolam air yang besar, dan menyingkapkan kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah istana licin terbuat dari kaca.’ Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, sungguh, aku telah menzalimi diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.'” (QS. An-Naml: 38-44)

Ketika Sulaiman meminta kepada jin agar mereka menghadirkan singgasana Balqis untuknya, yaitu tahta kerajaan yang ia duduki pada waktu ia memerintah, sebelum kedatangannya kepada Sulaiman. Berkata Ifrit dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu.” (Surah An-Naml: 39) Artinya: sebelum majelis pemerintahanmu berakhir. Konon, waktu tersebut adalah dari awal siang hari hingga mendekati waktu zuhur, di mana ia mengurus urusan-urusan Bani Israil dan berbagai pekerjaan mereka. “Dan sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” Artinya: sesungguhnya aku mempunyai kekuatan untuk menghadirkannya kepadamu, dan dapat dipercaya atas permata berharga yang ada padanya untukmu.

Berkata seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (Surah An-Naml: 40) Yang terkenal adalah bahwa ia adalah Ashaf bin Barkhiya, dan ia adalah putra bibi Sulaiman. Ada yang mengatakan: ia adalah seorang laki-laki dari golongan jin yang beriman, yang konon menghafal Asmaul A’zham (nama Allah yang paling agung). Ada yang mengatakan: seorang laki-laki dari Bani Israil, dari kalangan ulama mereka. Ada yang mengatakan: bahwa ia adalah Sulaiman sendiri. Dan ini sangat aneh. As-Suhaili melemahkan pendapat ini dengan mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai dengan konteks kalimat. Ia berkata: Ada pendapat keempat yang mengatakan bahwa ia adalah Jibril.

“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Ada yang mengatakan: maknanya adalah sebelum kamu mengutus utusan ke tempat terjauh yang dapat dicapai oleh pandanganmu di bumi, kemudian ia kembali kepadamu. Ada yang mengatakan: sebelum orang yang paling jauh yang kamu lihat sampai kepadamu. Ada yang mengatakan: sebelum pandanganmu lelah jika kamu terus menerus melihat, sebelum kamu menutup kelopak matamu. Ada yang mengatakan: sebelum pandanganmu kembali kepadamu jika kamu melihat ke tempat yang paling jauh darimu kemudian memejamkannya. Dan ini adalah yang paling tepat dari semua pendapat yang dikemukakan.

Maka ketika Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, (Surah An-Naml: 40) artinya: ketika ia melihat singgasana Balqis berada di hadapannya dalam waktu singkat dari negeri Yaman ke Baitul Maqdis, dalam sekejap mata, ia berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” Artinya: ini termasuk karunia Allah kepadaku dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya; untuk menguji mereka apakah mereka bersyukur atau sebaliknya. “Dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri,” artinya: manfaat dari hal itu kembali kepadanya. “Dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” Artinya: Maha Kaya dari syukur orang-orang yang bersyukur, dan tidak dirugikan oleh kekufuran orang-orang kafir.

Kemudian Sulaiman ‘alaihissalam memerintahkan agar hiasan singgasana ini diubah dan dibuat asing baginya; untuk menguji kepahaman dan akalnya, oleh karena itu ia berkata: “Agar kami mengetahui apakah dia dapat mengetahui (kebenaran) ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak dapat mengetahui (kebenaran).” (Surah An-Naml: 41)

Maka ketika Balqis datang, ditanyakan kepadanya: “Seperti inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana inilah itu.” (Surah An-Naml: 42) Dan ini menunjukkan kecerdasannya dan kedalaman pemahamannya; karena ia menganggap mustahil bahwa itu adalah singgasananya; karena ia meninggalkannya di belakangnya di negeri Yaman dan ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang mampu melakukan pekerjaan yang mengagumkan dan aneh ini.

Allah Ta’ala berfirman sebagai berita tentang Sulaiman dan kaumnya: “Dan kami telah diberi pengetahuan sebelum dia (Balqis) dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Dan yang menghalang-halangi dia (Balqis untuk beriman kepada Allah) adalah apa yang dia sembah selain Allah, karena sesungguhnya dia berasal dari kaum yang kafir.” (Surah An-Naml: 42-43) Artinya: dan yang menghalanginya adalah penyembahan matahari yang ia dan kaumnya sujud kepadanya selain Allah, mengikuti agama nenek moyang dan leluhur mereka, bukan karena dalil yang membimbing mereka kepada hal itu atau menuntun mereka kepada hal itu. Sulaiman telah memerintahkan untuk membangun istana dari kaca, dan membuat air mengalir di jalurnya, dan menempatkan atap dari kaca di atasnya dan menempatkan ikan di dalamnya dan hewan-hewan air lainnya, dan ia diperintahkan untuk memasuki istana itu sementara Sulaiman duduk di singgasananya di dalamnya. Ketika Balqis melihatnya, ia mengira istana itu kolam air yang besar dan menyingkapkan kedua betisnya. Sulaiman berkata: “Sesungguhnya ini adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Surah An-Naml: 44)

Ada yang mengatakan: bahwa jin ingin membuat penampilannya buruk di hadapan Sulaiman, dan agar ia menyingkap betisnya sehingga ia melihat bulu yang ada padanya agar hal itu membuatnya jijik darinya, dan mereka khawatir bahwa ia akan menikahinya; karena ibunya dari golongan jin sehingga ia akan berkuasa atas mereka bersamanya. Sebagian dari mereka menyebutkan bahwa kukunya seperti kuku binatang. Dan ini lemah. Dalam pendapat pertama juga ada yang perlu dipertimbangkan, wallahu a’lam.

Kecuali bahwa Sulaiman, konon ketika ia ingin menghilangkannya ketika ia berkeinginan untuk menikahinya, ia bertanya kepada manusia tentang cara menghilangkannya, maka mereka menyebutkan pisau cukur kepadanya, tetapi ia menolak hal itu, lalu ia bertanya kepada jin maka mereka membuatkan nura (obat penghilang bulu) untuknya, dan membuatkan kamar mandi untuknya, maka ia adalah orang pertama yang masuk kamar mandi. Ketika ia merasakan sentuhan panasnya ia berkata: “Awwah (aduh) dari azab Allah, awwah awwah sebelum awwah tidak bermanfaat.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani secara marfu’. Dan di dalamnya ada yang perlu dipertimbangkan.

Ath-Tsa’labi dan lainnya telah menyebutkan bahwa ketika Sulaiman menikahinya, ia tetap menjadikannya sebagai ratu kerajaan Yaman dan mengembalikannya ke sana, dan ia mengunjunginya setiap bulan sekali, tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian kembali dengan karpet terbang, dan ia memerintahkan jin untuk membangunkan untuknya tiga istana di Yaman: Ghumdan, Salhin, dan Baniyun, wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari sebagian ahli ilmu, dari Wahab bin Munabbih, bahwa Sulaiman tidak menikahinya tetapi menikahkannya dengan raja Hamdan, dan menjadikannya tetap sebagai ratu Yaman dan memerintahkan Zauba’ah raja jin Yaman untuk membangunkan untuknya tiga istana yang telah kami sebutkan di Yaman. Dan pendapat pertama lebih terkenal dan lebih jelas, wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Shad: “Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika diperlihatkan kepadanya di waktu sore hari kuda-kuda yang pandai berlari. Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta benda (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai matahari terbenam tertutup tabir (malam). (Berkatalah Sulaiman): ‘Kembalikanlah (kuda-kuda itu kepadaku).’ Lalu dia menyapu kaki dan leher (kuda-kuda itu dengan tangan).’ Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan pada kursinya tubuh (yang tidak bernyawa), kemudian dia kembali (kepada Allah). Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.’ Maka Kami tundukkan kepadanya angin, yang berhembus dengan lembut menurut perintahnya ke tempat yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan setan-setan yang lain yang diikat dengan belenggu. (Allah berfirman): ‘Ini adalah pemberian Kami, maka berilah atau tahanlah tanpa perhitungan.’ Dan sesungguhnya dia (Sulaiman) bagi Kami benar-benar mempunyai kedudukan dekat dan tempat kembali yang baik.” (Surah Shad: 30-40)

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menganugerahkan kepada Daud, Sulaiman, ‘alaihimassalam, kemudian Allah Ta’ala memujinya dengan firman-Nya: “Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” Artinya: banyak kembali dan taat kepada Allah. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi dalam perkaranya dengan kuda-kuda ash-shafinat – yaitu yang berdiri dengan tiga kaki dan ujung kuku yang keempat – al-jiyad; yaitu yang kurus dan cepat: “Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta benda (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai matahari terbenam tertutup tabir (malam).'” Maksudnya adalah matahari. Ada yang mengatakan: kuda. Sesuai dengan dua pendapat yang akan kami sebutkan. “(Berkatalah Sulaiman): ‘Kembalikanlah (kuda-kuda itu kepadaku).’ Lalu dia menyapu kaki dan leher (kuda-kuda itu dengan tangan).” Ada yang mengatakan: ia menyapu urat kaki dan leher mereka dengan pedang. Ada yang mengatakan: ia menyeka keringat darinya ketika ia memacu dan berlomba dengannya di hadapannya, sesuai dengan pendapat yang lain.

Yang dipegang oleh kebanyakan salaf adalah pendapat pertama; mereka berkata ia sibuk meninjau kuda-kuda itu sampai waktu Ashar keluar dan matahari terbenam. Ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan lainnya. Dan yang pasti adalah bahwa ia tidak meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa uzur, kecuali jika dikatakan: bahwa hal itu dibolehkan dalam syariat mereka untuk mengakhirkan shalat karena sebab-sebab jihad, dan meninjau kuda termasuk hal itu. Sekelompok ulama telah mengklaim dalam pengakhiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ashar pada hari Khandaq bahwa hal ini dibolehkan pada waktu itu, hingga dinasakh dengan shalat khauf. Demikian kata Asy-Syafi’i dan lainnya. Makhul dan Al-Auza’i berkata: bahkan itu adalah hukum yang tetap sampai hari ini, bahwa dibolehkan mengakhirkannya karena uzur perang yang hebat. Sebagaimana kami sebutkan penjelasannya dalam Surah An-Nisa’ tentang shalat khauf.

Yang lain berkata: pengakhiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ashar pada hari Khandaq adalah karena lupa. Berdasarkan ini maka perbuatan Sulaiman ‘alaihissalam dapat dipahami seperti ini, wallahu a’lam. Adapun yang mengatakan: dhamir dalam firman-Nya: “Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta benda (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai matahari terbenam tertutup tabir (malam).'” kembali kepada kuda, dan bahwa ia tidak melewatkan waktu shalat, dan bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: “(Berkatalah Sulaiman): ‘Kembalikanlah (kuda-kuda itu kepadaku).’ Lalu dia menyapu kaki dan leher (kuda-kuda itu dengan tangan).'” maksudnya: menyeka keringat dari urat kaki dan leher mereka. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, dan diriwayatkan oleh Al-Walibi dari Ibnu Abbas tentang menyeka keringat.

Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini; bahwa ia tidak akan menyiksa binatang dengan memotong urat kaki, dan menghancurkan harta tanpa sebab dan tanpa dosa bagi mereka. Apa yang ia katakan ini perlu dipertimbangkan; karena mungkin hal ini dibolehkan dalam syariat mereka. Sebagian ulama kita berpendapat bahwa jika kaum muslimin khawatir bahwa orang-orang kafir akan menguasai sesuatu dari hewan ternak seperti kambing dan semacamnya; dibolehkan menyembelihnya dan menghancurkannya agar mereka tidak dapat menggunakannya untuk memperkuat diri mereka, dan atas dasar ini dipahami tindakan Ja’far bin Abi Thalib ketika ia memotong kudanya pada kematiannya.

Ada yang mengatakan: kuda-kuda itu sangat banyak; ada yang mengatakan sepuluh ribu kuda. Ada yang mengatakan: dua puluh ribu kuda. Ada yang mengatakan: di antaranya ada dua puluh kuda yang bersayap.

Abu Daud telah meriwayatkan dalam Sunan-nya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Auf, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Maryam, telah memberitakan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepadaku Imarah bin Ghaziyah bahwa Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepadanya dari Muhammad bin Abi Salamah bin Abdurrahman, dari Aisyah ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari perang Tabuk – atau Khaibar – dan di sudut rumahnya ada tabir, lalu angin bertiup dan membuka sebagian tabir tentang boneka-boneka milik Aisyah mainan, maka beliau berkata: ‘Apa ini wahai Aisyah?’ Aku berkata: ‘Boneka-bonekaku.’ Beliau melihat di antara mereka kuda yang mempunyai dua sayap dari potongan, maka beliau berkata: ‘Apa ini yang aku lihat di tengah-tengah mereka?’ Aku berkata: ‘Kuda.’ Beliau berkata: ‘Apa yang ada padanya ini?’ Aku berkata: ‘Dua sayap.’ Beliau berkata: ‘Kuda yang mempunyai dua sayap?’ Aku berkata: ‘Tidakkah engkau mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda-kuda yang bersayap?’ Ia berkata: ‘Maka beliau tertawa sampai aku melihat gigi taringnya Shallallahu ‘alaihi wasallam.'”

Sebagian ulama berkata: ketika ia meninggalkan kuda karena Allah, Allah menggantinya dengan yang lebih baik baginya darinya, yaitu angin yang perjalanan paginya sebulan dan perjalanan sorenya sebulan, sebagaimana akan datang pembahasan tentangnya, sebagaimana kata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Humaid bin Hilal, dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ dan keduanya sering bepergian menuju Baitullah, mereka berdua berkata: Kami menemui seorang laki-laki dari penduduk desa, maka orang Badui itu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tanganku, lalu mulai mengajarkan kepadaku dari apa yang Allah ‘azza wa jalla ajarkan kepadanya, dan beliau berkata: ‘Sesungguhnya tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.'”

Firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan pada kursinya tubuh (yang tidak bernyawa), kemudian dia kembali (kepada Allah).” (Surah Shad: 34) Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan lainnya dari kalangan mufassirin menyebutkan di sini banyak atsar dari sejumlah salaf, dan kebanyakan atau semuanya diambil dari Israiliyyat, dan banyak di antaranya yang sangat mungkar, dan kami telah menjelaskan hal itu dalam kitab kami Tafsir, dan kami hanya membatasi di sini pada sekedar tilawah saja.

Inti dari apa yang mereka sebutkan adalah bahwa Sulaiman ‘alaihissalam hilang dari singgasananya selama empat puluh hari, kemudian kembali kepadanya, dan ketika ia kembali ia memerintahkan untuk membangun Baitul Maqdis, maka ia membangunnya dengan bangunan yang kokoh. Kami telah menyebutkan sebelumnya bahwa dialah yang memperbaharuinya dan bahwa orang pertama yang menjadikannya masjid adalah Israil ‘alaihissalam, sebagaimana kami sebutkan hal itu ketika Abu Dzar berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau bersabda: “Masjidil Haram.” Aku bertanya: “Kemudian yang mana?” Beliau bersabda: “Masjid Baitul Maqdis.” Aku bertanya: “Berapa lama antara keduanya?” Beliau bersabda: “Empat puluh tahun.” Diketahui bahwa antara Ibrahim yang membangun Masjidil Haram dan Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam, lebih dari seribu tahun, bukan empat puluh tahun.

Permintaannya akan kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun sesudahnya adalah setelah ia menyelesaikan pembangunan Baitul Maqdis, sebagaimana kata Imam Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dengan sanad mereka dari Abdullah bin Fairuz Ad-Dailami, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Sulaiman ketika ia membangun Baitul Maqdis meminta kepada Tuhannya ‘azza wa jalla tiga hal, maka Dia memberinya dua, dan kami berharap yang ketiga untuk kami; ia meminta hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, maka Dia memberinya, dan ia meminta kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun sesudahnya, maka Dia memberinya, dan ia meminta siapa saja laki-laki yang keluar dari rumahnya tidak menghendaki kecuali shalat di masjid ini keluar dari dosanya seperti hari ibunya melahirkannya, maka kami berharap Allah telah memberi kami hal itu.”

Adapun hukum yang sesuai dengan hukum Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala telah memuji dia dan ayahnya dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing milik suatu kaum, dan Kami menyaksikan keputusan yang mereka berikan itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Surah Al-Anbiya’: 78-79)

Syuraih Al-Qadhi dan beberapa salaf lainnya telah menyebutkan bahwa orang-orang ini memiliki kebun anggur lalu kambing milik kaum lain merumput di dalamnya, artinya memakannya pada malam hari hingga memakan habis pohonnya, maka mereka berperkara kepada Daud ‘alaihissalam, lalu ia memutuskan untuk pemilik kebun dengan nilainya. Ketika mereka keluar melewati Sulaiman, ia berkata: “Dengan apa Nabi Allah memutuskan untuk kalian?” Mereka berkata: “Dengan begini dan begini.” Ia berkata: “Kalau aku yang memutuskan, aku tidak akan memutuskan kecuali dengan menyerahkan kambing-kambing itu kepada pemilik kebun, sehingga mereka memanfaatkannya dari hasil anak dan susunya sampai pemilik kambing memperbaiki kebun orang-orang itu dan mengembalikannya kepada keadaan semula, kemudian mereka mengambil kambing mereka.” Maka Daud ‘alaihissalam mendengar hal itu, lalu ia memutuskan dengannya.

Dan mendekati hal ini adalah apa yang tetap dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika dua orang wanita beserta kedua anak mereka, tiba-tiba serigala datang dan mengambil anak salah satu dari keduanya, lalu keduanya bertengkar memperebutkan anak yang lain. Wanita yang lebih tua berkata: Sesungguhnya serigala telah membawa anakmu. Dan wanita yang lebih muda berkata: Sesungguhnya serigala telah membawa anakmu. Maka keduanya berhukum kepada Daud, lalu ia memutuskan hukum untuk wanita yang lebih tua. Kemudian keduanya keluar menemui Sulaiman, maka ia berkata: Bawalah pisau untukku, akan kubelah anak ini menjadi dua bagian, untuk masing-masing dari kalian setengahnya. Maka wanita yang lebih muda berkata: Jangan lakukan itu, semoga Allah merahmatimu, anak itu adalah anaknya. Maka ia memutuskan hukum untuk wanita yang lebih muda.

Dan barangkali masing-masing dari kedua hukum tersebut adalah dibolehkan dalam syariat mereka, tetapi apa yang dikatakan Sulaiman lebih kuat, dan karena itulah Allah memujinya dengan apa yang telah diilhamkan kepadanya, dan memuji setelah itu ayahnya dengan firman-Nya: Dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan bersama Daud gunung-gunung yang bertasbih dan burung-burung, dan Kami-lah yang melakukannya. Dan Kami ajarkan kepada Daud pembuatan baju besi untuk kalian agar membentengi kalian dari keganasan (serangan) kalian, maka apakah kalian bersyukur? Kemudian Dia berfirman: Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang, yakni: Dan Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami berkati padanya, dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan dari kalangan setan-setan ada yang menyelam untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain itu, dan Kami menjaga mereka. (QS. al-Anbiya: 80-82)

Dan Allah berfirman dalam surah Shad: Maka Kami tundukkan angin untuknya, ia berhembus dengan perintahnya dengan lemah lembut ke mana ia kehendaki. Dan setan-setan, setiap yang ahli bangunan dan penyelam. Dan yang lain-lain yang dibelenggu dalam rantai. Ini adalah pemberian Kami, maka berilah atau tahanlah tanpa perhitungan. Dan sesungguhnya baginya di sisi Kami benar-benar kedekatan dan tempat kembali yang baik.

Ketika ia meninggalkan kuda-kuda karena mengharap wajah Allah, maka Allah menggantinya dengan angin, yang lebih cepat perjalanannya, lebih kuat, dan lebih besar, dan tidak ada beban baginya untuk itu. Yang berhembus dengan perintahnya dengan lemah lembut ke mana ia kehendaki, yakni: ke mana ia inginkan dari negeri mana pun. Ada baginya permadani yang dipasang dari kayu-kayu, sehingga ia memuat seluruh apa yang ia butuhkan dari rumah-rumah yang dibangun, istana-istana, kemah-kemah, barang-barang, kuda-kuda, unta-unta, beban-beban, para lelaki dari kalangan manusia dan jin, dan selain itu dari hewan-hewan dan burung-burung. Maka jika ia menghendaki perjalanan atau tamasya, atau peperangan melawan raja atau musuh-musuh dari negeri mana pun yang dikehendaki Allah, maka jika ia memuat perkara-perkara yang disebutkan itu di atas permadani, ia memerintahkan angin maka masuk di bawahnya lalu mengangkatnya. Maka jika ia melayang antara langit dan bumi, ia memerintahkan angin sepoi-sepoi maka berjalan dengannya. Jika ia menginginkan lebih cepat dari itu, ia memerintahkan angin topan maka membawanya dengan sangat cepat, lalu meletakkannya di tempat mana pun yang ia kehendaki, sehingga ia berangkat di awal siang dari Baitul Maqdis, maka angin membawanya pagi hari lalu meletakkannya di Istakhr, perjalanan sebulan, maka ia tinggal di sana sampai akhir siang, kemudian ia pulang dari akhirnya, maka angin mengembalikannya ke Baitul Maqdis, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin, perjalanan paginya sebulan dan perjalanan sorenya sebulan. Dan Kami alirkan baginya mata air tembaga. Dan dari kalangan jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan barangsiapa di antara mereka yang menyimpang dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang menyala-nyala. Mereka membuat baginya apa yang ia kehendaki dari mihrab-mihrab, patung-patung, piring-piring besar seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (di tempatnya). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur, dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (QS. Saba: 12-13)

Al-Hasan al-Bashri berkata: Ia berangkat pagi dari Damaskus, lalu turun di Istakhr dan makan siang di sana, dan pergi sore darinya lalu bermalam di Kabul. Dan antara Damaskus dan Istakhr adalah perjalanan sebulan, dan antara Istakhr dan Kabul adalah perjalanan sebulan.

Aku katakan: Telah disebutkan oleh para ahli tentang peradaban dan negeri-negeri, bahwa Istakhr dibangun oleh para jin untuk Sulaiman dan di dalamnya adalah pusat kerajaan Turki dahulu, dan demikian pula negeri-negeri lainnya yang bermacam-macam; seperti Tadmur, Baitul Maqdis, Bab Jirun, dan Bab al-Barid, yang keduanya di Damaskus, menurut salah satu pendapat.

Adapun al-qithr (tembaga), maka Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan banyak yang lain berkata: Itu adalah tembaga. Qatadah berkata: Dan itu ada di Yaman; Allah alirkan untuknya. As-Suddi berkata: Tiga hari saja, ia mengambil darinya seluruh apa yang ia butuhkan untuk bangunan-bangunan dan lainnya.

Dan firman-Nya: Dan dari kalangan jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan barangsiapa di antara mereka yang menyimpang dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang menyala-nyala, yakni: Dan Allah tundukkan baginya dari kalangan jin para pekerja yang bekerja untuknya apa yang ia kehendaki, mereka tidak berhenti dan tidak keluar dari ketaatannya, dan barangsiapa keluar dari mereka dari perintah, ia menyiksanya dan menghukumnya. Mereka membuat baginya apa yang ia kehendaki dari mihrab-mihrab, yaitu tempat-tempat yang indah dan tempat-tempat utama dari majelis-majelis. Dan patung-patung, yaitu gambar-gambar di dinding-dinding, dan ini dibolehkan dalam syariat dan agama mereka. Dan piring-piring besar seperti kolam, Ibnu Abbas berkata: Piring besar seperti cekungan dari tanah. Dan darinya: Seperti kolam-kolam penampung air. Dan demikian pula berkata Mujahid, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak, dan lain-lain. Dan menurut riwayat ini maka al-jawab adalah jamak dari jabiyah; yaitu kolam yang dikumpulkan di dalamnya air, sebagaimana berkata al-A’sya:

Ia menghilangkan celaan dari keluarga al-Muhallaq dengan piring besar … Seperti kolam penampung air Irak yang mengalir meluap

Adapun periuk-periuk yang tetap, maka Ikrimah berkata: Tungku-tungkunya dari periuk itu sendiri. Maksudnya bahwa periuk-periuk itu tetap tidak bergeser dari tempat-tempatnya. Dan demikian pula berkata Mujahid dan banyak yang lain. Dan ketika ini dalam rangka memberi makan dan berbuat baik kepada makhluk dari manusia dan jin, maka Allah Ta’ala berfirman: Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur, dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan setan-setan, setiap yang ahli bangunan dan penyelam. Dan yang lain-lain yang dibelenggu dalam rantai. (QS. Shad: 37-38) Maksudnya bahwa di antara mereka ada yang ia tugaskan dalam pembangunan, dan di antara mereka ada yang ia perintahkan menyelam di air untuk mengeluarkan apa yang ada di sana dari permata dan mutiara, dan selain itu dari apa yang tidak ditemukan kecuali di sana. Dan firman-Nya: Dan yang lain-lain yang dibelenggu dalam rantai, yakni: telah mendurhakai maka mereka dibelenggu, diikat berdua-dua dalam rantai, yaitu belenggu. Semua ini dari sekian banyak hal yang Allah persiapkan dan tundukkan baginya dari perkara-perkara yang merupakan kesempurnaan kerajaan yang tidak pantas untuk seorang pun setelahnya, dan juga tidak ada bagi siapa pun yang sebelumnya.

Dan telah berkata al-Bukhari: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya ifrit dari kalangan jin melepaskan diri tadi malam untuk memutuskan shalatku, maka Allah memberikan kekuasaan kepadaku atasnya, lalu aku menangkapnya dan aku ingin mengikatnya pada tiang dari tiang-tiang masjid; sehingga kalian semua melihatnya, maka aku teringat doa saudaraku Sulaiman: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak pantas bagi seorang pun setelahku.” (QS. Shad: 35) Maka aku kembalikan ia dalam keadaan hina.

Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa’i dari hadits Syu’bah.

Dan berkata Muslim: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, dari Mu’awiyah bin Shalih, telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu ad-Darda, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri untuk shalat, maka kami mendengarnya berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu, aku kutuk kamu dengan laknat Allah. Tiga kali, dan mengulurkan tangannya seolah-olah ia mengambil sesuatu. Maka ketika selesai dari shalat, kami berkata: Wahai Rasulullah, kami mendengarmu berkata dalam shalat sesuatu yang tidak kami dengar engkau mengatakannya sebelum itu, dan kami melihatmu mengulurkan tanganmu. Beliau bersabda: Sesungguhnya musuh Allah Iblis datang dengan obor dari api untuk meletakkannya di wajahku, maka aku berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu – tiga kali – kemudian aku berkata: Aku kutuk kamu dengan laknat Allah yang sempurna. Maka ia tidak mundur – tiga kali – kemudian aku ingin menangkapnya, demi Allah seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman, niscaya ia terikat dipermainkan oleh anak-anak penduduk Madinah. Dan demikian pula diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Muhammad bin Salamah dengan sanad yang sama.

Dan berkata Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Masarrah bin Mu’bad, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid sahabat Sulaiman, ia berkata: Aku melihat Atha’ bin Yazid al-Laitsi berdiri shalat, maka aku pergi untuk melintas di depannya, lalu ia menolakku kemudian berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu shalat subuh dan ia di belakangnya, lalu beliau membaca dan bacaan itu rancu baginya. Maka ketika selesai dari shalatnya, beliau bersabda: Seandainya kalian melihatku dan Iblis, maka aku julurkan tanganku, maka aku terus mencekiknya sampai aku merasakan dinginnya air liurnya di antara kedua jariku ini – ibu jari dan yang di sebelahnya – dan seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman, niscaya ia terikat pada tiang dari tiang-tiang masjid, dipermainkan oleh anak-anak Madinah. Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu tidak menghalangi antara dirinya dan kiblat seorang pun, maka hendaklah ia lakukan. Abu Daud meriwayatkan darinya: Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu, sampai akhirnya, dari Ahmad bin Suraij, dari Abu Ahmad az-Zubairi dengan sanad yang sama.

Dan telah menyebutkan lebih dari satu dari kalangan salaf, bahwa Sulaiman memiliki dari para wanita seribu wanita; tujuh ratus dengan mahar, dan tiga ratus budak. Dan ada yang berkata sebaliknya: tiga ratus yang merdeka dan tujuh ratus dari budak-budak.

Dan memang ia mampu menikmati para wanita dalam perkara yang sangat besar sekali.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Mughirah bin Abdurrahman, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Sulaiman bin Daud berkata: Sungguh akan aku kunjungi malam ini tujuh puluh wanita, setiap wanita melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah. Maka temannya berkata kepadanya: Insya Allah. Maka ia tidak mengatakannya, maka tidak ada yang hamil sedikitpun kecuali satu yang gugur salah satu sisinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya ia mengatakannya, niscaya mereka berjihad di jalan Allah. Dan berkata Syu’aib dan Ibnu Abi az-Zinad: Sembilan puluh. Dan itu lebih shahih. Diriwayatkan sendiri oleh al-Bukhari dari jalan ini.

Dan berkata Abu Ya’la: Telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Hassan, dari Muhammad, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sulaiman bin Daud berkata: Sungguh akan aku kunjungi malam ini seratus wanita, setiap wanita dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang dengan pedang di jalan Allah. Dan ia tidak berkata: Insya Allah. Maka ia mengunjungi malam itu seratus wanita, maka tidak melahirkan dari mereka seorang wanita pun, kecuali seorang wanita melahirkan setengah manusia. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya ia berkata: Insya Allah, niscaya setiap wanita dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang dengan pedang di jalan Allah Azza wa Jalla. Sanadnya sesuai syarat Shahih dan mereka tidak mengeluarkannya dari jalan ini.

Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata: Sulaiman bin Daud berkata: Sungguh akan aku kunjungi malam ini seratus wanita, setiap satu dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah. Dan ia tidak beristitsna; maka tidak melahirkan kecuali satu dari mereka dengan setengah manusia. Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya ia beristitsna, niscaya lahir baginya seratus anak laki-laki semuanya berperang di jalan Allah Azza wa Jalla. Diriwayatkan sendiri oleh Ahmad juga.

Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sulaiman bin Daud berkata: Sungguh akan aku kunjungi malam ini seratus wanita, setiap wanita dari mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah. Ia berkata: Dan ia lupa untuk berkata: Insya Allah. Maka ia mengunjungi mereka, ia berkata: Maka tidak melahirkan dari mereka seorang wanita pun, kecuali satu setengah manusia. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya ia berkata: Insya Allah, ia tidak melanggar sumpah, dan itu mencapai hajatnya. Dan demikian pula keduanya mengeluarkannya dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abdurrazzaq dengan sanad yang sama sepertinya.

Dan berkata Ishaq bin Bisyr: Telah mengabarkan kepada kami Muqatil, dari Abu az-Zinad, dan Ibnu Abi az-Zinad, dari ayahnya, dari Abdurrahman, dari Abu Hurairah: Bahwa Sulaiman bin Daud memiliki empat ratus wanita dan enam ratus budak, maka ia berkata suatu hari: Sungguh akan aku kunjungi malam ini seribu wanita, maka setiap satu dari mereka hamil dengan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah. Dan ia tidak beristitsna, maka ia mengunjungi mereka, maka tidak hamil satu pun dari mereka, kecuali satu wanita dari mereka datang dengan setengah manusia. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya ia beristitsna lalu berkata: Insya Allah, niscaya lahir baginya apa yang ia katakan, para penunggang kuda, dan mereka berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla. Dan ini sanad yang lemah; karena keadaan Ishaq bin Bisyr, karena sesungguhnya ia munkarul hadits (haditsnya mungkar), dan terlebih lagi ia telah menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih.

Dan telah ada padanya, alaihis salam, dari urusan kerajaan, keluasan negara, banyaknya pasukan dan keberagamannya, apa yang tidak ada bagi seorang pun sebelumnya, dan Allah tidak akan memberikannya kepada seorang pun setelahnya, sebagaimana firman-Nya: Dan kami diberi dari segala sesuatu. Dan firman-Nya: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak pantas bagi seorang pun setelahku, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Dan sungguh Allah telah memberikan itu kepadanya dengan nash dari Yang Maha Benar lagi Maha Membenarkan.

Dan ketika Allah Ta’ala menyebutkan apa yang telah dianugerahkan kepada Sulaiman dan diberikan dari nikmat-nikmat sempurna yang agung kepadanya, Allah berfirman: Ini adalah pemberian Kami, maka berilah atau tahanlah tanpa perhitungan, yakni: beri siapa yang engkau kehendaki dan cegah siapa yang engkau kehendaki, maka tidak ada perhitungan atasmu, yakni: bertindaklah dalam harta bagaimana engkau kehendaki; karena sesungguhnya Allah telah memperbolehkan untukmu semua apa yang engkau lakukan dari itu dan tidak menghisabmu atas itu. Dan ini adalah keadaan nabi yang raja berbeda dengan hamba rasul; karena sesungguhnya keadaannya adalah bahwa ia tidak memberi seorang pun dan tidak mencegah seorang pun kecuali dengan izin Allah kepadanya dalam itu.

Dan Nabi kita Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, telah diberi pilihan antara dua kedudukan ini, lalu beliau memilih untuk menjadi hamba yang menjadi rasul. Dan dalam beberapa riwayat disebutkan: bahwa beliau meminta nasihat Jibril dalam hal itu, maka Jibril mengisyaratkan kepadanya agar merendah diri. Maka beliau memilih untuk menjadi hamba yang menjadi rasul, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Dan Allah telah menjadikan khilafah dan kerajaan setelah beliau berada di umatnya sampai hari kiamat, maka senantiasa ada golongan dari umatnya yang menang sampai tegaknya hari kiamat. Maka segala puji dan karunia bagi Allah.

Dan ketika Allah Yang Mahatinggi menyebutkan apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada Nabi-Nya Sulaiman alaihissalam berupa kebaikan dunia, Dia mengingatkan tentang apa yang telah disediakan untuknya di akhirat berupa pahala yang besar dan balasan yang indah, dan kedekatan yang mendekatkannya kepada-Nya, dan kemenangan yang besar serta kemuliaan di sisi-Nya, dan itu adalah pada hari kebangkitan dan perhitungan, di mana Allah Yang Mahatinggi berfirman: Dan sesungguhnya baginya di sisi Kami kedekatan dan tempat kembali yang baik.

Kisah Wafat Sulaiman, Masa Pemerintahan dan Kehidupannya

Allah Yang Maha Berkah dan Mahatinggi berfirman: Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atas dirinya, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya kecuali seekor binatang melata yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia (Sulaiman) roboh, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, niscaya mereka tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (Surat Saba: 14)

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan lainnya meriwayatkan dari hadits Ibrahim bin Thahman, dari Atha’ bin Saib, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sulaiman Nabi Allah alaihissalam, jika beliau shalat melihat sebatang pohon tumbuh di hadapannya, maka beliau bertanya kepadanya: ‘Siapa namamu?’ Pohon itu menjawab: ‘Begini begitu.’ Lalu beliau bertanya: ‘Untuk apa kamu?’ Jika pohon itu untuk ditanam, maka beliau menanamnya, dan jika untuk obat, beliau mencatatnya. Maka pada suatu hari ketika beliau sedang shalat, tiba-tiba beliau melihat sebatang pohon di hadapannya, lalu beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Pohon itu menjawab: ‘Al-Kharrub (pohon carob).’ Beliau bertanya: ‘Untuk apa kamu?’ Pohon itu menjawab: ‘Untuk merobohkan Bait (Baitul Maqdis) ini.’ Maka Sulaiman berkata: ‘Ya Allah, sembunyikan kematianku dari jin, sehingga manusia mengetahui bahwa jin tidak mengetahui yang gaib.’ Lalu beliau membuat pohon itu menjadi tongkat, dan bersandar padanya selama satu tahun sementara jin terus bekerja. Maka pohon itu dimakan rayap, lalu jelaslah bagi manusia bahwa seandainya jin mengetahui yang gaib, niscaya mereka tidak akan tetap selama satu tahun dalam azab yang menghinakan.” Dia (perawi) berkata: Dan Ibnu Abbas membacanya demikian. Dia berkata: Maka jin berterima kasih kepada rayap, dan mereka datang membawa air untuknya. Ini adalah lafazh Ibnu Jarir. Dan dalam hadits Atha’ al-Khurasani terdapat kejanggalan. Dan telah diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dari jalur Salamah bin Kuhail, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas secara mauquf, dan ini lebih mendekati yang benar. Wallahu a’lam.

Dan as-Suddi berkata dalam berita yang disebutkannya dari Abu Malik, dan dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah dari Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa sahabat: Sulaiman alaihissalam biasa beribadah di Baitul Maqdis selama satu atau dua tahun, atau satu atau dua bulan, atau kurang dari itu atau lebih, memasukkan makanan dan minumannya. Maka beliau memasukinya pada kali ketika beliau wafat. Dan permulaan hal itu adalah bahwa tidak ada hari ketika pagi tiba kecuali tumbuh sebatang pohon di Baitul Maqdis, lalu beliau mendatanginya dan bertanya: ‘Siapa namamu?’ Pohon itu menjawab: ‘Namaku begini begitu.’ Jika untuk ditanam, maka beliau menanamnya, dan jika tumbuh sebagai obat, pohon itu berkata: ‘Tumbuh sebagai obat untuk ini dan itu,’ lalu beliau menjadikannya demikian, sampai tumbuh sebatang pohon yang disebut al-Kharrubah (pohon carob). Lalu beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Pohon itu menjawab: ‘Aku al-Kharrubah.’ Beliau bertanya: ‘Untuk apa kamu tumbuh?’ Pohon itu menjawab: ‘Aku tumbuh untuk merobohkan masjid ini.’ Maka Sulaiman berkata: ‘Allah tidak akan merobohkannya sementara aku masih hidup. Kamuah yang karena dirimu kebinaanku dan runtuhnya Baitul Maqdis.’ Lalu beliau mencabutnya dan menanamnya di kebunnya. Kemudian beliau memasuki mihrab dan berdiri shalat sambil bersandar pada tongkatnya, lalu beliau wafat dan jin tidak mengetahuinya, sedangkan mereka tetap bekerja untuknya karena takut beliau keluar dan menghukum mereka. Dan setan-setan berkumpul di sekeliling mihrab. Dan mihrab itu memiliki lubang-lubang di depan dan belakangnya. Maka setan yang ingin keluar berkata: ‘Bukankah aku berani jika aku masuk lalu keluar dari sisi yang lain?’ Lalu dia masuk hingga keluar dari sisi yang lain. Lalu setan dari mereka masuk dan lewat—dan tidak ada setan yang melihat Sulaiman alaihissalam ketika beliau di dalam mihrab kecuali terbakar—dan dia tidak mendengar suara Sulaiman. Kemudian dia kembali dan tidak mendengar. Kemudian dia kembali dan masuk ke dalam ruangan dan tidak terbakar. Dia melihat Sulaiman alaihissalam telah jatuh dalam keadaan mati. Lalu dia keluar dan mengabarkan kepada manusia bahwa Sulaiman telah wafat. Maka mereka membukakan untuk beliau dan mengeluarkannya, dan mereka menemukan tongkatnya—yaitu al-Minsa’ah dengan bahasa Habasyah—telah dimakan rayap. Dan mereka tidak tahu sudah berapa lama beliau wafat. Maka mereka meletakkan rayap pada tongkat, lalu rayap itu memakannya selama sehari semalam. Kemudian mereka menghitung berdasarkan cara itu, dan mereka mendapati beliau telah wafat sejak satu tahun. Dan itulah bacaan Ibnu Mas’ud: “Maka mereka tetap bekerja keras untuknya setelah kematiannya selama satu tahun penuh.” Maka manusia yakin pada saat itu bahwa jin telah berbohong, dan seandainya mereka mengetahui yang gaib, niscaya mereka mengetahui kematian Sulaiman dan tidak akan tetap dalam azab selama satu tahun bekerja untuknya. Dan itulah firman Allah Azza wa Jalla: Tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya kecuali seekor binatang melata yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia roboh, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, niscaya mereka tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan, yakni jelas urusan mereka bagi manusia bahwa mereka telah berbohong kepada mereka. Kemudian sesungguhnya setan-setan berkata kepada rayap: ‘Seandainya kamu makan makanan, niscaya kami datangkan kepadamu makanan yang paling enak, dan seandainya kamu minum minuman, kami beri kamu minum yang paling enak, tetapi kami akan memindahkan kepadamu air dan tanah.’ Dia berkata: Maka mereka memindahkan itu kepadanya di mana pun dia berada. Dia berkata: Tidakkah kamu melihat tanah yang ada di dalam kayu, maka itu adalah apa yang dibawa setan kepadanya sebagai ungkapan terima kasih. Dan ini termasuk kisah-kisah Israiliyat yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan.

Dan Abu Dawud berkata dalam kitab al-Qadar: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Qubaishah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari al-A’masy, dari Khaitsamah, dia berkata: Sulaiman bin Dawud alaihimassalam berkata kepada Malaikat Maut: “Jika kamu hendak mencabut ruhku, maka beritahukan aku.” Dia berkata: “Aku tidak lebih tahu tentang hal itu darimu, sesungguhnya itu hanyalah catatan yang diberikan kepadaku, di dalamnya berisi nama-nama orang yang akan meninggal.”

Dan Asbagh bin al-Faraj dan Abdullah bin Wahb berkata dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia berkata: Sulaiman berkata kepada Malaikat Maut: “Jika kamu diperintahkan tentang diriku, maka beritahukan aku.” Maka dia mendatanginya dan berkata: “Wahai Sulaiman, sungguh aku telah diperintahkan tentang dirimu, tinggal waktu sebentar lagi untukmu.” Maka dia memanggil setan-setan dan mereka membangun untuknya bangunan dari kaca yang tidak memiliki pintu. Lalu dia berdiri shalat sambil bersandar pada tongkatnya. Dia berkata: Malaikat Maut masuk kepadanya dan mencabut ruhnya sedangkan dia bersandar pada tongkatnya. Dan dia tidak melakukan itu karena lari dari Malaikat Maut. Dia berkata: Dan jin bekerja di hadapannya dan mereka melihatnya, mereka mengira bahwa dia masih hidup. Dia berkata: Maka Allah mengutus binatang melata ke tongkatnya, lalu binatang itu memakannya sampai ketika memakan bagian dalam tongkat itu melemah dan berat baginya, maka dia (Sulaiman) roboh. Ketika jin melihat itu, mereka berpencar dan pergi. Dia berkata: Maka itulah firman-Nya: Tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya kecuali seekor binatang melata yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia roboh, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, niscaya mereka tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. Asbagh berkata: Dan sampai kepadaku dari selainnya bahwa rayap itu terus makan tongkatnya selama satu tahun hingga dia roboh. Dan telah diriwayatkan seperti ini dari sekelompok orang salaf dan lainnya. Wallahu a’lam.

Ishaq bin Bisyr berkata dari Muhammad bin Ishaq, dari az-Zuhri dan lainnya: Bahwa Sulaiman alaihissalam hidup selama lima puluh dua tahun, dan pemerintahannya empat puluh tahun. Dan Ishaq berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Rauq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa pemerintahannya adalah dua puluh tahun. Wallahu a’lam. Dan Ibnu Jarir berkata: Maka jumlah umur Sulaiman bin Dawud alaihimassalam adalah lima puluh sekian tahun. Dan pada tahun keempat dari pemerintahannya beliau memulai pembangunan Baitul Maqdis menurut apa yang disebutkan. Kemudian memerintah setelahnya anaknya Rahab’am selama tujuh belas tahun menurut apa yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. Dia berkata: Kemudian setelahnya terpecah-pecah kerajaan Bani Israil.

۞۞۞۞۞

Bab tentang Kisah Sekelompok Nabi Bani Israil Setelah Dawud dan Sulaiman dan Sebelum Zakariya dan Yahya Alaihimussalam

Di antara mereka adalah Sya’ya bin Amsiya. Muhammad bin Ishaq berkata: Dan dia sebelum Zakariya dan Yahya, dan dia termasuk orang yang memberi kabar gembira tentang Isa dan Muhammad alaihimassalam. Dan pada zamannya ada seorang raja bernama Shiddiqa atas Bani Israil di wilayah Baitul Maqdis, dan dia adalah pendengar yang taat kepada Sya’ya dalam apa yang diperintahkan dan dilarangnya dari kemaslahatan. Dan peristiwa-peristiwa besar telah terjadi di Bani Israil, maka raja itu sakit dan keluar bisul di kakinya. Dan raja Babilonia pada zaman itu yang bernama Sanharib mengepung Baitul Maqdis. Ibnu Ishaq berkata: dengan enam ratus ribu panji. Dan manusia ketakutan sangat hebat. Dan raja berkata kepada nabi Sya’ya: “Apa yang Allah wahyukan kepadamu tentang urusan Sanharib dan tentaranya?” Maka dia berkata: “Belum diwahyukan kepadaku sesuatu tentang mereka.” Kemudian wahyu turun kepadanya dengan perintah kepada raja Shiddiqa agar berwasiat dan mengangkat pengganti atas kerajaannya siapa yang dia kehendaki, karena sesungguhnya ajalnya telah dekat. Ketika dia memberitahukan hal itu, raja menghadap kiblat lalu shalat dan bertasbih dan berdoa dan menangis. Lalu dia berkata sambil menangis dan bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla dengan hati yang ikhlas dan tawakal dan sabar: “Ya Allah, Rabb segala rabb dan Tuhan segala tuhan, wahai Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, wahai Dzat yang tidak mengantuk dan tidak tidur, ingatlah aku dengan ilmuku, dan perbuatanku, dan kepemimpinanku yang baik atas Bani Israil, dan semua itu adalah dari-Mu, maka Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku, rahasiaku dan pengumumanku adalah milik-Mu.” Dia berkata: Maka Allah mengabulkan doanya dan merahmatinya, dan Allah mewahyukan kepada Sya’ya agar memberinya kabar gembira bahwa Allah telah merahmati tangisannya, dan telah mengundurkan ajalnya lima belas tahun, dan menyelamatkannya dari musuhnya Sanharib. Ketika dia mengatakan hal itu kepadanya, rasa sakit hilang darinya dan terputus darinya kejahatan dan kesedihan, dan dia sujud syukur dan berkata dalam sujudnya: “Ya Allah, Engkaulah yang memberi kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki, dan memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Engkau merahmati dan mengabulkan doa orang-orang yang terdesak.”

Ketika dia mengangkat kepalanya, Allah mewahyukan kepada Sya’ya agar memerintahkannya untuk mengambil air buah tin lalu meletakkannya pada bisulnya, maka dia akan sembuh dan menjadi sembuh pada pagi hari. Maka dia melakukan hal itu, lalu dia sembuh. Dan Allah mengirimkan kematian kepada tentara Sanharib, maka mereka menjadi pagi hari dan mereka semua binasa kecuali Sanharib dan lima orang dari teman-temannya, di antara mereka Bukhtan Nashr. Maka raja Bani Israil mengutus dan membawa mereka, lalu dia menjadikan mereka dalam belenggu dan berkeliling dengan mereka di negeri-negeri untuk menghinakan mereka dan mempermalukan mereka selama tujuh puluh hari. Dan dia memberi makan setiap orang dari mereka setiap hari dua roti gandum, kemudian dia memasukkan mereka ke penjara. Dan Allah mewahyukan kepada Sya’ya agar memerintahkan raja untuk mengutus mereka ke negeri mereka agar mereka memperingatkan kaum mereka tentang apa yang telah menimpa mereka. Ketika mereka kembali, Sanharib mengumpulkan kaumnya dan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi pada mereka. Maka para ahli sihir dan kahin berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami telah memberitahumu tentang urusan Rabb mereka dan nabi-nabi mereka, tetapi kamu tidak menaati kami. Dan itu adalah umat yang tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya dari Rabb mereka.” Maka urusan Sanharib adalah termasuk yang Allah takutkan kepada mereka. Kemudian Sanharib meninggal setelah tujuh tahun.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian ketika Shiddiqa raja Bani Israil meninggal, urusan mereka kacau dan peristiwa-peristiwa mereka campur aduk, dan kejahatan mereka banyak. Maka Allah mewahyukan kepada Sya’ya, lalu dia berdiri di tengah mereka dan menasihati mereka dan mengingatkan mereka, dan memberitahukan kepada mereka dari Allah tentang apa yang menjadi hak-Nya dan memperingatkan mereka dengan siksa dan hukuman-Nya jika mereka menentang-Nya dan mendustakannya. Ketika dia selesai dari ucapannya, mereka menyerangnya dan mengejarnya untuk membunuhnya, maka dia lari dari mereka. Lalu dia melewati sebatang pohon dan pohon itu terbelah untuknya, maka dia masuk ke dalamnya. Dan setan mendapatinya dan mengambil ujung kainnya lalu memperlihatkannya. Ketika mereka melihat itu, mereka datang dengan gergaji lalu meletakkannya pada pohon itu, dan mereka menggergaji pohon itu dan menggergajinya bersamanya. Maka sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Di antara mereka adalah Yeremia bin Hilkia dari suku Lewi bin Yakub

Telah dikatakan: sesungguhnya dia adalah Khidir. Diriwayatkan oleh adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas. Ini adalah riwayat yang ganjil dan tidak sahih. Ibnu Asakir berkata: Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa dia pernah berdiri di atas darah Yahya bin Zakaria yang terus mendidih di Damaskus, lalu dia berkata: Wahai darah, engkau telah menggelorakan manusia, maka tenangkah. Maka darah itu pun tenang dan mengendap hingga hilang. Abu Bakar bin Abi ad-Dunya berkata: Telah menceritakan kepadaku Ali bin Abi Maryam, dari Ahmad bin Habbab, dari Abdullah bin Abdurrahman. Dia berkata: Yeremia berkata: Ya Tuhanku, siapakah di antara hamba-Mu yang paling Engkau cintai? Dia menjawab: Yang paling banyak mengingat-Ku, yaitu mereka yang menyibukkan diri dengan mengingat-Ku dari mengingat makhluk, mereka yang tidak terbesit dalam hatinya bisikan-bisikan kenikmatan, dan tidak membuat diri mereka berangan-angan untuk kekal. Mereka adalah orang-orang yang jika kehidupan dunia menghampiri mereka, mereka merendahkannya, dan jika dijauhkan dari mereka, mereka bersukacita karenanya. Mereka itulah yang Aku anugerahi cinta-Ku dan Aku beri melebihi batas-batas keinginan mereka.

Kisah Kehancuran Baitul Maqdis

Firman Allah Taala: “Dan Kami berikan kepada Musa Kitab dan Kami jadikan Kitab itu sebagai petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): ‘Janganlah kamu menjadikan selain Aku sebagai pelindung; (yaitu) keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Kami) yang banyak bersyukur. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang sangat hebat, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan musuh-musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan jika kamu kembali (kepada kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazab). Dan Kami jadikan neraka Jahannam tempat mengurung orang-orang kafir.” (Surat al-Isra: 2-8)

Wahb bin Munabbih berkata: Allah mewahyukan kepada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi Bani Israil yang bernama Yeremia ketika kemaksiatan-kemaksiatan telah tampak di tengah-tengah mereka: Berdirilah di tengah-tengah kaummu, lalu beritahukan kepada mereka bahwa mereka memiliki hati namun tidak memahami, memiliki mata namun tidak melihat, dan memiliki telinga namun tidak mendengar. Sesungguhnya Aku telah mengingat kebaikan nenek moyang mereka, dan itu membuat-Ku belas kasihan kepada anak cucu mereka. Maka tanyakanlah kepada mereka: Bagaimana mereka mendapati akibat dari ketaatan kepada-Ku? Apakah ada seorang pun yang bahagia dengan bermaksiat kepada-Ku? Dan apakah ada seorang pun yang celaka dengan menaati-Ku? Sesungguhnya binatang-binatang mengingat kampung halaman mereka lalu tertarik kepadanya, namun kaum ini telah meninggalkan perkara yang dengannya Aku memuliakan nenek moyang mereka, dan mencari kemuliaan dari selain tempatnya. Adapun pendeta-pendeta mereka telah mengingkari hak-Ku, adapun para pembaca mereka telah menyembah selain Aku, adapun para ahli ibadah mereka tidak mengambil manfaat dari ilmu yang mereka ketahui, dan adapun para penguasa mereka telah berdusta atas nama-Ku dan atas nama rasul-rasul-Ku. Mereka menyimpan tipu muslihat dalam hati mereka dan membiasakan dusta pada lidah-lidah mereka. Dan sesungguhnya Aku bersumpah dengan keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku bangkitkan atas mereka pasukan-pasukan yang tidak mereka pahami bahasanya, tidak mereka kenal wajah-wajah mereka, dan tidak mereka kasihani tangisan mereka. Dan sungguh akan Aku utus kepada mereka seorang raja yang lalim lagi keras, yang memiliki pasukan-pasukan laksana potongan-potongan awan, dan rombongan-rombongan seperti gurun-gurun yang luas. Seakan-akan kibaran bendera-bendera mereka adalah terbangan burung rajawali, dan seakan-akan serangan pasukan berkuda mereka seperti serangan burung elang. Mereka akan menjadikan kemakmuran menjadi kehancuran, dan meninggalkan kampung-kampung dalam kesunyian. Maka celakalah Ilya’ (Yerusalem) dan penduduknya, bagaimana Aku akan menghinakan mereka untuk dibunuh dan Aku akan menguasakan atas mereka penawanan. Dan Aku akan mengganti setelah keramaian pesta pernikahan dengan teriakan, setelah ringkikan kuda-kuda dengan lolongan serigala, setelah istana-istana yang megah dengan tempat tinggal binatang-binatang buas, setelah cahaya lampu-lampu dengan debu yang berhamburan. Dan dengan kemuliaan menjadi kehinaan, dengan nikmat menjadi perbudakan. Dan akan Aku ganti bagi wanita-wanita mereka setelah wewangian dengan tanah, dan setelah berjalan di atas permadani dengan berlari-lari. Dan sungguh akan Aku jadikan jasad-jasad mereka pupuk bagi bumi, dan tulang-tulang mereka terpapar matahari. Dan sungguh akan Aku siksa mereka dengan berbagai macam siksaan. Kemudian akan Aku perintahkan langit menjadi lapisan dari besi, dan bumi menjadi batangan dari tembaga. Jika langit menurunkan hujan, bumi tidak akan menumbuhkan, dan jika menumbuhkan sesuatu dalam selang waktu itu, maka itu adalah dengan rahmat-Ku untuk binatang-binatang ternak. Kemudian akan Aku tahan hujan itu di musim menanam, dan Aku turunkan di musim panen. Jika mereka menanam sesuatu dalam selang waktu itu, akan Aku kuasakan kepadanya bencana. Jika ada yang selamat darinya, akan Aku cabut darinya keberkahan. Jika mereka berdoa kepada-Ku, tidak akan Aku kabulkan. Jika mereka meminta, tidak akan Aku beri. Jika mereka menangis, tidak akan Aku kasihi. Jika mereka memohon dengan rendah hati, akan Aku palingkan wajah-Ku dari mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dengan lafal ini.

Ishaq bin Bisyr berkata: Telah memberitakan kepada kami Idris, dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: Sesungguhnya Allah Taala ketika mengutus Yeremia kepada Bani Israil, dan itu terjadi ketika perbuatan-perbuatan buruk telah membesar di tengah-tengah mereka; maka mereka melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan membunuh para nabi, Bukhtanasar menjadi tamak terhadap mereka, dan Allah melemparkan ke dalam hatinya, dan dia membuat rencana dalam dirinya untuk pergi kepada mereka; karena Allah menghendaki untuk membalas dendam dengan perantaraan dia terhadap mereka. Maka Allah mewahyukan kepada Yeremia: Sesungguhnya Aku akan membinasakan Bani Israil dan akan membalas dendam dari mereka. Maka berdirilah di atas batu Baitul Maqdis, akan datang kepadamu perintah-Ku dan wahyu-Ku. Maka Yeremia berdiri, lalu menyobek pakaiannya, dan meletakkan abu di atas kepalanya, dan bersujud sambil berkata: Ya Tuhanku, alangkah baiknya jika ibuku tidak melahirkanku karena Engkau menjadikanku nabi terakhir dari Bani Israil, sehingga kehancuran Baitul Maqdis dan kebinasaan Bani Israil terjadi karena aku. Maka dikatakan kepadanya: Angkatlah kepalamu. Maka dia mengangkat kepalanya dan menangis, kemudian berkata: Ya Tuhanku, siapakah yang akan Engkau kuasakan atas mereka? Dia menjawab: Para penyembah api, mereka tidak takut akan siksa-Ku dan tidak mengharapkan pahala-Ku. Berdirilah wahai Yeremia, maka dengarkanlah wahyu-Ku, Aku beritakan kepadamu tentang dirimu dan tentang Bani Israil: Sebelum Aku menciptakanmu, Aku telah memilihmu; sebelum Aku membentukmu dalam rahim ibumu, Aku telah menyucikanmu; sebelum Aku mengeluarkanmu dari perut ibumu, Aku telah mensucikanmu; sebelum engkau mencapai kedewasaan, Aku telah menjadikanmu nabi; sebelum engkau mencapai usia matang, Aku telah memilihmu; dan untuk urusan yang besar Aku telah memilihmu. Maka berdirilah bersama raja untuk membimbingnya dan memberikan petunjuk kepadanya. Maka dia bersama raja membimbingnya dan wahyu datang kepadanya dari Allah, hingga perbuatan-perbuatan buruk membesar, dan mereka melupakan bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka Sanharib dan pasukannya. Maka Allah mewahyukan kepada Yeremia: Berdirilah, lalu ceritakanlah kepada mereka tentang apa yang Aku perintahkan kepadamu, ingatkan mereka akan nikmat-Ku atas mereka dan beritahukan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Maka Yeremia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku lemah jika Engkau tidak menguatkanku, tidak mampu jika Engkau tidak menyampaikanku, salah jika Engkau tidak membimbingku, terhina jika Engkau tidak menolongku, hina jika Engkau tidak memuliakanku. Maka Allah Taala berfirman kepadanya: Tidakkah engkau mengetahui bahwa segala urusan keluar dari kehendak-Ku, dan bahwa penciptaan dan perintah semuanya adalah milik-Ku, dan bahwa hati dan lidah semuanya ada di tangan-Ku, maka Aku bolak-balikkan sebagaimana Aku kehendaki sehingga taat kepada-Ku. Maka Aku adalah Allah yang tidak ada sesuatu pun yang seperti-Ku. Langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya berdiri dengan firman-Ku. Dan sesungguhnya tidak sempurna pengesaan dan tidak sempurna kekuasaan kecuali bagi-Ku. Dan tidak ada yang mengetahui apa yang ada pada-Ku selain Aku. Dan Aku adalah Dzat yang berbicara dengan lautan, maka lautan memahami perkataan-Ku, dan Aku perintahkan mereka maka mereka melakukan perintah-Ku. Dan Aku tetapkan bagi mereka batas-batas, maka mereka tidak melampaui batas-Ku. Dan mereka datang dengan ombak-ombak seperti gunung-gunung. Maka jika telah mencapai batas-Ku, Aku pakaikan kepada mereka kehinaan untuk ketaatan kepada-Ku, dan ketakutan serta pengakuan akan perintah-Ku. Dan sesungguhnya Aku bersamamu, dan tidak akan sampai kepadamu sesuatu apa pun bersama-Ku. Dan sesungguhnya Aku telah mengutusmu kepada makhluk yang besar dari makhluk-Ku untuk menyampaikan risalah-risalah-Ku kepada mereka, sehingga engkau berhak mendapat pahala orang-orang yang mengikutimu, dan itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan jika engkau memperpendek hal itu, engkau berhak mendapat dosa orang-orang yang engkau tinggalkan dalam kebodohan, dan itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. Pergilah kepada kaummu, maka berdirilah di tengah-tengah mereka dan katakan kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengingat kalian karena kebaikan nenek moyang kalian, oleh karena itu Dia membiarkan kalian tetap ada wahai generasi anak-anak para nabi. Bagaimana nenek moyang kalian mendapati akibat ketaatan kepada-Ku, dan bagaimana kalian mendapati akibat kemaksiatan kepada-Ku? Apakah mereka mendapati seseorang yang bermaksiat kepada-Ku lalu bahagia dengan kemaksiatannya kepada-Ku? Apakah mereka mengetahui seseorang yang menaati-Ku lalu celaka dengan ketaatannya kepada-Ku? Sesungguhnya binatang-binatang jika mengingat kampung halaman mereka yang subur, tertarik kepadanya. Dan sesungguhnya kaum ini telah merumput di padang-padang kebinasaan dan meninggalkan perkara yang dengannya Aku memuliakan nenek moyang mereka, dan mereka mencari kemuliaan dari selain tempatnya. Adapun pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka telah menjadikan hamba-hamba-Ku sebagai budak, mereka memperbudak mereka dan memerintah di tengah-tengah mereka dengan selain Kitab-Ku, hingga mereka menjadikan mereka bodoh akan perintah-Ku, dan melupakan mereka dari mengingat-Ku dan sunah-Ku, dan mereka menipu mereka dari-Ku. Maka hamba-hamba-Ku tunduk kepada mereka dengan ketaatan yang tidak layak kecuali hanya kepada-Ku. Maka mereka menaati mereka dalam bermaksiat kepada-Ku.

Adapun raja-raja dan pemimpin-pemimpin mereka, mereka congkak dengan nikmat-Ku, dan merasa aman dari tipu daya-Ku, dan kehidupan dunia telah menipu mereka, hingga mereka membuang Kitab-Ku dan melupakan perjanjian-Ku. Maka mereka mengubah-ubah Kitab-Ku dan mengada-adakan kebohongan atas rasul-rasul-Ku; sebagai keberanian mereka terhadap-Ku dan tipuan mereka terhadap-Ku. Maka Maha Suci keagungan-Ku, tingginya tempat-Ku, dan agungnya urusan-Ku. Apakah layak bagi-Ku memiliki sekutu dalam kerajaan-Ku? Apakah layak bagi manusia untuk ditaati dalam bermaksiat kepada-Ku? Apakah layak bagi-Ku untuk menciptakan hamba-hamba lalu Aku jadikan mereka tuhan-tuhan selain Aku? Atau Aku izinkan bagi seseorang dengan ketaatan kepada seseorang padahal hal itu tidak layak kecuali kepada-Ku? Adapun para pembaca dan ahli fikih mereka, mereka mempelajari apa yang mereka pilih, lalu mereka tunduk kepada raja-raja, maka mereka mengikuti mereka dalam bid’ah-bid’ah yang mereka ada-adakan dalam agama-Ku, dan mereka menaati mereka dalam bermaksiat kepada-Ku, dan mereka memenuhi janji kepada mereka dengan janji-janji yang melanggar perjanjian-Ku. Maka mereka bodoh tentang apa yang mereka ketahui, tidak mengambil manfaat dari apa pun yang mereka pelajari dari Kitab-Ku. Adapun anak-anak para nabi, maka mereka tertindas dan terfitnah, mereka terjun bersama orang-orang yang terjun, mereka mengangan-angankan seperti pertolongan-Ku kepada nenek moyang mereka, dan kemuliaan yang dengannya Aku muliakan mereka, dan mereka mengira bahwa tidak ada yang lebih berhak dengan hal itu daripada mereka, tanpa kejujuran dari mereka, tanpa berpikir, dan mereka tidak mengingat bagaimana kesabaran nenek moyang mereka, dan bagaimana kesungguhan mereka dalam urusan-Ku, hingga tertipu orang-orang yang tertipu. Dan bagaimana mereka mengorbankan diri-diri dan darah mereka, maka mereka bersabar dan bersikap jujur, hingga mulia urusan-Ku, dan tampak agama-Ku. Maka Aku memberi kesempatan kepada kaum ini agar mereka malu kepada-Ku dan kembali. Maka Aku bersikap toleran kepada mereka dan memaafkan mereka. Maka Aku memperbanyak hal itu dan Aku panjangkan umur bagi mereka, dan Aku beri mereka kesempatan agar mereka mengambil pelajaran. Dan semua itu Aku turunkan hujan dari langit kepada mereka, dan Aku tumbuhkan bagi mereka dari bumi, dan Aku pakaikan kepada mereka kesehatan, dan Aku menangkan mereka atas musuh. Dan mereka tidak bertambah kecuali dalam kedurhakaan dan jauh dari-Ku. Maka sampai kapan ini? Apakah kepada-Ku mereka mengejek? Atau dengan Aku mereka bermain-main? Atau Aku yang mereka tipu? Atau kepada-Ku mereka berani? Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku persiapkan bagi mereka fitnah yang membuat bingung orang yang bijaksana di dalamnya dan tersesat padanya pendapat para ahli pikir dan kebijaksanaan orang yang bijaksana. Kemudian sungguh akan Aku kuasakan atas mereka seorang penguasa yang lalim lagi keras, lagi sangat kejam. Aku pakaikan kepadanya kewibawaan, dan Aku cabut dari hatinya kelembutan dan kasih sayang. Dan Aku bersumpah bahwa akan mengikutinya jumlah dan massa seperti malam yang gelap. Dia memiliki pasukan-pasukan seperti potongan-potongan awan, dan rombongan-rombongan seperti debu yang diterbangkan angin. Dan seakan-akan kibaran bendera-bendera mereka adalah terbangan burung rajawali, dan serangan pasukan berkuda mereka seperti kumpulan burung elang. Mereka akan menjadikan kemakmuran menjadi kehancuran, dan kampung-kampung menjadi padang belantara. Dan mereka akan berbuat kerusakan di muka bumi, dan mereka akan menghancurkan apa saja yang mereka kuasai dengan penghancuran yang sempurna. Hati-hati mereka keras; mereka tidak peduli, tidak tersentuh, tidak mengasihani, tidak melihat, dan tidak mendengar. Mereka berputar-putar di pasar-pasar dengan suara-suara yang tinggi seperti auman singa, kulit-kulit merinding karena kewibawaan mereka, dan akal-akal terbang karena mendengarnya. Dengan bahasa-bahasa yang tidak mereka pahami, dan wajah-wajah yang tampak padanya kemungkaran, tidak mereka kenali. Maka demi kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku tinggalkan rumah-rumah mereka dari kitab-kitab-Ku dan kesucian-Ku. Dan sungguh akan Aku kosongkan majelis-majelis mereka dari pembicaraan dan pelajaran-pelajarannya. Dan sungguh akan Aku sunyi sepiakan masjid-masjid mereka dari para pemakmur dan pengunjungnya, yaitu mereka yang dahulu berhias dengan memakmurkannya untuk selain Aku, dan mereka bermalam di dalamnya dan beribadah untuk mencari dunia dengan agama, dan mereka mempelajari fikih di dalamnya untuk selain agama, dan mereka mempelajari ilmu di dalamnya untuk selain amal. Sungguh akan Aku gantikan raja-raja mereka dengan kehinaan menggantikan kemuliaan, dengan ketakutan menggantikan keamanan, dengan kefakiran menggantikan kekayaan, dengan kelaparan menggantikan nikmat, dan dengan berbagai macam bencana menggantikan panjangnya kesehatan dan kemakmuran. Dan dengan pakaian sutra dan kain sutera menjadi pakaian dari bulu dan kain kasar, dan dengan wewangian yang harum dan minyak-minyak wangi menjadi bangkai-bangkai orang-orang yang terbunuh, dan dengan pakaian mahkota-mahkota menjadi kalung-kalung besi, rantai-rantai dan belenggu-belenggu. Kemudian sungguh akan Aku jadikan di tengah-tengah mereka setelah istana-istana yang luas dan benteng-benteng yang kokoh menjadi kehancuran, dan setelah menara-menara yang kokoh menjadi tempat tinggal binatang-binatang buas, dan setelah ringkikan kuda-kuda menjadi lolongan serigala, dan setelah cahaya lampu-lampu menjadi asap kebakaran, dan setelah keakraban menjadi kesunyian dan padang-padang tandus. Kemudian sungguh akan Aku gantikan bagi wanita-wanita mereka dengan gelang-gelang menjadi belenggu-belenggu, dan dengan kalung-kalung mutiara dan permata menjadi rantai-rantai besi, dan dengan berbagai macam wewangian dan minyak-minyak wangi menjadi debu dan tanah, dan dengan berjalan di atas permadani-permadani menjadi menyeberangi pasar-pasar dan sungai-sungai dan berlari-lari sampai malam di tengah-tengah pasar-pasar, dan dengan kamar-kamar dan tirai-tirai menjadi terbukanya wajah-wajah dan pasar serta tersingkapnya (aurat), dan dengan angin-angin sejuk menjadi angin-angin panas. Kemudian sungguh akan Aku injak-injak mereka dengan berbagai macam siksaan hingga seandainya ada seseorang dari mereka berada di puncak yang sangat tinggi, pasti akan sampai kepadanya hal itu.

Sesungguhnya Aku hanya memuliakan orang yang memuliakan-Ku, dan sesungguhnya Aku hanya menghinakan orang yang remeh baginya urusan-Ku. Kemudian sungguh akan Aku perintahkan langit dalam selang waktu itu; maka jadilah lapisan dari besi atas mereka. Dan sungguh akan Aku perintahkan bumi maka jadilah batangan dari tembaga. Maka tidak ada langit yang menurunkan hujan dan tidak ada bumi yang menumbuhkan. Maka jika langit menurunkan hujan dalam selang waktu itu sesuatu, akan Aku kuasakan atas hal itu bencana. Maka jika selamat darinya sesuatu, akan Aku cabut darinya keberkahan. Dan jika mereka berdoa kepada-Ku, tidak akan Aku kabulkan. Dan jika mereka meminta kepada-Ku, tidak akan Aku beri. Dan jika mereka menangis, tidak akan Aku kasihi. Dan jika mereka memohon dengan rendah hati kepada-Ku, akan Aku palingkan wajah-Ku dari mereka. Dan jika mereka berkata: Ya Allah, Engkaulah yang memulai kami dan ayah-ayah kami sebelum kami dengan rahmat-Mu dan kemuliaan-Mu, dan itu karena Engkau memilih kami untuk diri-Mu dan Engkau jadikan pada kami kenabian-Mu dan Kitab-Mu dan masjid-masjid-Mu. Kemudian Engkau memantapkan kami di negeri-negeri dan Engkau jadikan kami khalifah di dalamnya, dan Engkau besarkan kami dan ayah-ayah kami sebelum kami dengan nikmat-Mu sewaktu kami kecil, dan Engkau pelihara kami dan mereka dengan rahmat-Mu sewaktu kami besar. Maka Engkaulah Yang Maha Menepati nikmat, maka janganlah Engkau ubah walaupun kami mengubah, dan janganlah Engkau ganti walaupun kami mengganti, dan agar Engkau sempurnakan karunia-Mu, pemberian-Mu, kemurahan-Mu dan kebaikan-Mu. Maka jika mereka berkata demikian, Aku katakan kepada mereka: Sesungguhnya Aku memulai hamba-hamba-Ku dengan rahmat-Ku dan nikmat-Ku. Maka jika mereka menerima, Aku sempurnakan. Dan jika mereka meminta tambahan, Aku tambah. Dan jika mereka bersyukur, Aku lipat gandakan. Dan jika mereka mengganti, Aku ubah. Dan jika mereka mengubah, Aku murka. Dan jika Aku murka, Aku azab. Dan tidak ada sesuatu pun yang tahan terhadap kemurkaan-Ku.

Ka’ab berkata: Maka berkatalah Armiya (Yeremia): Dengan rahmat-Mu aku menjadi dapat berbicara di hadapan-Mu, dan apakah pantas bagiku berbuat demikian sedangkan aku lebih hina dan lebih lemah daripada pantas bagiku untuk berbicara di hadapan-Mu, tetapi dengan rahmat-Mu Engkau memeliharaku hingga hari ini, dan tidak ada seorang pun yang lebih berhak untuk takut akan azab ini dan ancaman ini daripada aku, dengan apa yang Engkau ridhai dariku sebagai perpanjangan waktu, dan tinggal di negeri orang-orang yang berdosa sementara mereka bermaksiat kepada-Mu di sekelilingku tanpa ada pengingkaran dan perubahan dariku, maka jika Engkau menyiksaku, itu karena dosaku, dan jika Engkau merahmati aku, itulah sangkaanku kepada-Mu. Kemudian dia berkata: Ya Rabbi, Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, dan Mahamulia Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi Engkau, apakah Engkau akan menghancurkan negeri ini dan apa yang ada di sekitarnya padahal ia adalah tempat tinggal para nabi-Mu, dan tempat turun wahyu-Mu? Ya Rabbi, Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu dan Mahamulia Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi Engkau untuk menghancurkan masjid ini dan apa yang ada di sekitarnya dari masjid-masjid, dan dari rumah-rumah yang ditinggikan untuk menyebut nama-Mu? Ya Rabbi, Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu dan Mahamulia Engkau dan Mahatinggi Engkau untuk kebencian-Mu terhadap umat ini dan siksa-Mu kepada mereka padahal mereka adalah dari keturunan Ibrahim kekasih-Mu, dan umat Musa orang yang Engkau ajak berbicara secara rahasia, dan kaum Daud pilihan-Mu, Ya Rabbi, negeri mana yang akan aman dari hukuman-Mu setelah Ursyalim (Yerusalem)? Dan hamba-hamba mana yang akan aman dari kekuasaan-Mu setelah keturunan kekasih-Mu Ibrahim, dan umat orang yang Engkau ajak berbicara secara rahasia Musa, dan kaum khalifah-Mu Daud? Engkau menguasakan kepada mereka para penyembah api! Allah Taala berfirman: Wahai Armiya, barangsiapa yang bermaksiat kepada-Ku maka janganlah dia mengingkari siksa-Ku; karena sesungguhnya Aku memuliakan kaum ini karena ketaatan mereka kepada-Ku, dan seandainya mereka bermaksiat kepada-Ku niscaya Aku akan menempatkan mereka di negeri orang-orang yang bermaksiat, kecuali jika Aku menyelamatkan mereka dengan rahmat-Ku. Armiya berkata: Ya Rabbi, Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih dan Engkau melindungi kami karena dia, dan Musa Engkau dekatkan sebagai orang yang Engkau ajak berbicara secara rahasia, maka kami memohon kepada-Mu agar Engkau melindungi kami dan tidak membuat kami tercerai-berai, dan tidak menguasakan musuh kami atas kami. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Wahai Armiya, sesungguhnya Aku telah mensucikan engkau dalam perut ibumu, dan Aku mengakhirkan engkau hingga hari ini, maka seandainya kaummu menjaga anak-anak yatim dan para janda dan orang-orang miskin dan ibnu sabil, niscaya Aku akan menjadi pendukung bagi mereka, dan mereka akan berada di sisi-Ku pada kedudukan taman yang subur pohonnya, suci airnya, dan tidak surut airnya, dan tidak rusak buah-buahnya, dan tidak terputus tetapi Aku akan menyampaikan keluhan kepada engkau tentang Bani Israil; sesungguhnya Aku bagi mereka pada kedudukan penggembala yang penyayang, Aku menjauhkan mereka dari setiap kekeringan dan setiap kesulitan, dan Aku mengikuti mereka dengan kesuburan, hingga mereka menjadi seperti domba jantan yang saling menanduk satu sama lain, maka celakalah mereka kemudian celakalah mereka, sesungguhnya Aku hanya memuliakan orang yang memuliakan-Ku, dan Aku menghinakan orang yang menganggap remeh urusan-Ku, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kaum ini dari umat-umat terdahulu menyembunyikan kemaksiatan kepada-Ku, dan sesungguhnya kaum ini bermaksiat kepada-Ku dengan terang-terangan sebagai bentuk pemberontakan; maka mereka menampakkannya di masjid-masjid, dan pasar-pasar, dan di puncak-puncak gunung, dan di bawah naungan pepohonan, hingga langit menjerit kepada-Ku karena mereka, dan bumi dan gunung-gunung menjerit, dan binatang-binatang buas lari darinya ke ujung-ujung bumi dan tempat-tempat yang paling jauh, dan dalam semua itu mereka tidak berhenti dan tidak mengambil manfaat dari apa yang mereka ketahui dari Kitab.

Dia berkata: Maka ketika Armiya menyampaikan kepada mereka risalah Rabb mereka, dan mereka mendengar apa yang ada di dalamnya dari ancaman dan azab, mereka mendurhakai dia dan mendustakan dia dan menuduh dia dan berkata: Engkau telah berdusta dan engkau telah membuat kebohongan besar terhadap Allah, maka engkau mengira bahwa Allah menelantarkan bumi-Nya dan masjid-masjid-Nya dari kitab-Nya dan ibadah-Nya dan tauhid-Nya, lalu siapa yang akan menyembah-Nya ketika tidak tersisa bagi-Nya di bumi seorang penyembah pun atau masjid atau kitab? Sungguh engkau telah membuat kebohongan besar terhadap Allah dan engkau ditimpa kegilaan. Maka mereka menangkap dia dan membelenggu dia dan memenjarakan dia, maka pada saat itulah Allah mengirim Bukhtanashshar (Nebukadnezar) kepada mereka maka dia datang berjalan dengan pasukannya hingga turun di halaman mereka, kemudian dia mengepung mereka, maka terjadilah sebagaimana firman Allah Taala: “maka mereka masuk ke celah-celah rumah” (Surah Al-Isra: 5). Dia berkata: Maka ketika pengepungan berlangsung lama bagi mereka, mereka menyerah pada keputusannya, lalu mereka membuka pintu-pintu, dan mereka masuk ke gang-gang, dan itulah firman-Nya Taala: “maka mereka masuk ke celah-celah rumah” dan dia memutuskan terhadap mereka dengan keputusan jahiliah dan kekuasaan para penguasa yang zalim, maka dia membunuh dari mereka sepertiga, dan menawan sepertiga, dan membiarkan orang-orang yang lemah dan para tua dan perempuan-perempuan tua, kemudian dia menginjak-injak mereka dengan kuda, dan merobohkan Baitul Maqdis, dan menghalau anak-anak, dan menempatkan para perempuan di pasar-pasar dengan kepala terbuka, dan membunuh para pejuang, dan merusak benteng-benteng, dan merobohkan masjid-masjid, dan membakar Taurat, dan bertanya tentang Daniyal yang pernah menulis surat untuknya, maka mereka menemukan dia telah meninggal, dan keluarganya mengeluarkan surat itu kepadanya, dan di antara mereka ada Daniyal bin Hizqil yang lebih muda dan Misya’il, dan Azra’il, dan Mikha’il, maka dia menjalankan surat itu untuk mereka, dan Daniyal bin Hizqil adalah pengganti dari Daniyal yang lebih tua, dan Bukhtanashshar masuk dengan pasukannya ke Baitul Maqdis, dan menginjak-injak seluruh Syam, dan membunuh Bani Israil hingga memusnahkan mereka, maka ketika dia selesai dari sana dia kembali pulang, dan membawa harta-harta yang ada di sana dan menghalau tawanan-tawanan, maka jumlah anak-anak mereka yang ikut dengannya dari anak-anak para pendeta dan para raja mencapai sembilan puluh ribu anak laki-laki, dan dia melemparkan sampah-sampah di Baitul Maqdis, dan menyembelih babi-babi di dalamnya, dan para anak laki-laki itu adalah tujuh ribu anak laki-laki dari keluarga Daud, dan sebelas ribu dari suku Yusuf bin Yakub dan saudaranya Bunyamin, dan delapan ribu dari suku Isya bin Yakub dan empat belas ribu dari suku Zabalun dan Naftali kedua putra Yakub, dan empat belas ribu dari suku Dan bin Yakub, dan delapan ribu dari suku Yastaakhir bin Yakub, dan dua ribu dari suku Railun bin Yakub, dan empat ribu dari suku Rubil dan Lawi, dan dua belas ribu dari Bani Israil lainnya, dan dia pergi hingga tiba di tanah Babil. Ishaq bin Bisyr berkata: Wahab bin Munabbih berkata: Maka ketika dia melakukan apa yang dia lakukan, dikatakan kepadanya: Mereka dahulu memiliki seseorang yang memperingatkan mereka tentang apa yang menimpa mereka, dan menggambarkan engkau dan beritamu kepada mereka, dan mengabarkan kepada mereka bahwa engkau akan membunuh para pejuang mereka dan menawan keturunan mereka dan merobohkan masjid-masjid mereka dan membakar gereja-gereja mereka, maka mereka mendustakan dia dan menuduh dia, dan memukul dia, dan membelenggu dia, dan memenjarakan dia. Maka Bukhtanashshar memerintahkan untuk mengeluarkan Armiya dari penjara, lalu dia berkata kepadanya: Apakah engkau memperingatkan kaum ini tentang apa yang menimpa mereka? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Maka sesungguhnya aku mengetahui itu. Dia berkata: Allah mengutus aku kepada mereka lalu mereka mendustakan aku. Dia berkata: Mereka mendustakan engkau dan memukul engkau dan memenjarakan engkau? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang mendustakan nabi mereka dan mendustakan risalah Rabb mereka, maka apakah engkau mau ikut denganku, agar aku memuliakan engkau dan berbagi dengan engkau, dan jika engkau ingin tinggal di negerimu maka aku telah mengamankan engkau. Armiya berkata kepadanya: Sesungguhnya aku tidak pernah berhenti berada dalam keamanan Allah sejak aku ada, aku tidak pernah keluar darinya sekalipun sejenak, dan seandainya Bani Israil tidak keluar darinya, mereka tidak akan takut kepadamu atau kepada yang lain, dan engkau tidak akan memiliki kekuasaan atas mereka. Maka ketika Bukhtanashshar mendengar ucapan ini darinya, dia membiarkan dia, maka Armiya tinggal di tempatnya di tanah Iliya. Dan ini adalah rangkaian yang aneh, dan di dalamnya terdapat hikmah dan nasihat-nasihat dan hal-hal yang bagus, dan di dalamnya dari segi penerjemahan terdapat keanehan.

Dan Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi berkata: Bukhtanashshar adalah Asfahbadz (panglima) atas wilayah antara Ahwaz sampai Romawi; bagi raja atas Persia yaitu Luhrasb, dan dia telah membangun kota Balkh yang dijuluki dengan “Al-Khansa”, dan memerangi orang-orang Turki, dan memaksa mereka ke tempat-tempat yang paling sempit, dan mengutus Bukhtanashshar untuk memerangi Bani Israil di Syam, maka ketika dia tiba di Syam, penduduk Damaskus berdamai dengannya dan telah dikatakan: Sesungguhnya yang mengutus Bukhtanashshar adalah Bahman raja Persia setelah Bisytaasb bin Luhrasb; dan itu karena perbuatan Bani Israil yang melampaui batas terhadap utusan-utusannya kepada mereka. Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Yunus bin Abdul A’la, dari Ibnu Wahb dari Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Sa’id Al-Anshari, dari Sa’id bin Al-Musayyab, bahwa Bukhtanashshar ketika tiba di Damaskus, dia menemukan di sana darah yang mendidih di atas tempat sampah, maka dia bertanya kepada mereka: Apa darah ini? Maka mereka berkata: Kami menemukan bapak-bapak kami mengenai hal ini, dan setiap kali tampak di atasnya tempat sampah maka ia tampak. Dia berkata: Maka dia membunuh karena itu tujuh puluh ribu dari kaum muslimin dan yang lain, lalu tenang. Dan ini adalah sanad yang sahih sampai Sa’id bin Al-Musayyab, dan telah disebutkan sebelumnya dari perkataan Al-Hafizh Ibnu Asakir apa yang menunjukkan bahwa ini adalah darah Yahya bin Zakariya dan ini tidak benar; karena Yahya bin Zakariya setelah Bukhtanashshar dengan beberapa waktu, dan yang jelas bahwa ini adalah darah nabi terdahulu, atau darah untuk sebagian orang saleh, atau untuk siapa yang Allah kehendaki yang Allah lebih mengetahui tentangnya.

Hisyam bin Al-Kalbi berkata: Kemudian Bukhtanashshar tiba di Baitul Maqdis, maka rajanya berdamai dengannya, dan dia adalah dari keluarga Daud dan dia memberi hadiah atas nama Bani Israil dan Bukhtanashshar mengambil dari dia sandera-sandera dan kembali, maka ketika dia sampai di Thabariyah, dia mendapat kabar bahwa Bani Israil memberontak terhadap raja mereka lalu membunuh dia karena dia berdamai dengannya, maka dia memukul leher-leher orang-orang yang bersamanya dari para sandera dan kembali kepada mereka, maka dia merebut kota dengan paksa dan membunuh para pejuang dan menawan keturunan. Dia berkata: Dan sampai kepada kami bahwa dia menemukan di penjara nabi Armiya, maka dia mengeluarkan dia, dan dia menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi dari urusannya kepada mereka, dan peringatannya kepada mereka tentang itu, maka mereka mendustakan dia dan memenjarakan dia, maka Bukhtanashshar berkata: Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang mendurhakai utusan Allah. Dan dia membebaskan dia dan berbuat baik kepadanya. Dan berkumpul kepadanya orang-orang yang tersisa dari Bani Israil yang lemah lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah berbuat buruk dan kami telah zalim dan kami bertobat kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Mahamulia dari apa yang kami lakukan, maka berdoalah kepada Allah agar menerima tobat kami. Maka dia berdoa kepada Rabbnya lalu Allah mewahyukan kepadanya bahwa Dia tidak akan melakukan itu, jika mereka benar-benar jujur maka hendaklah mereka tinggal bersamamu di negeri ini. Maka dia mengabarkan kepada mereka apa yang diperintahkan Allah Taala kepadanya, maka mereka berkata: Bagaimana kami tinggal di negeri ini padahal ia telah hancur, dan Allah murka kepada penduduknya! Maka mereka menolak untuk tinggal. Ibnu Al-Kalbi berkata: Dan sejak waktu itu Bani Israil bercerai-berai di negeri-negeri, maka turunlah sekelompok dari mereka di Hijaz dan sekelompok di Yatsrib dan sekelompok di Wadi Al-Qura dan pergilah sekelompok kecil dari mereka ke Mesir maka Bukhtanashshar menulis kepada rajanya meminta darinya orang-orang yang melarikan diri dari mereka kepadanya, maka dia menolak atasnya, lalu dia mengendarai dengan pasukannya dan memerangi dia dan mengalahkan dia dan menguasai dia, dan menawan keturunan mereka, kemudian dia mengendarai ke negeri-negeri Maghrib, hingga mencapai tempat yang paling jauh dari arah itu. Dia berkata: Kemudian dia kembali dengan tawanan yang banyak dari tanah Maghrib, dan Mesir, dan penduduk Baitul Maqdis, dan tanah Palestina, dan Yordania dan di antara tawanan itu ada Daniyal. Aku katakan: Dan yang jelas bahwa dia adalah Daniyal bin Hizqil yang lebih muda bukan yang lebih tua, berdasarkan apa yang disebutkan oleh Wahab bin Munabbih dan Allah lebih mengetahui.

Disebutkan sesuatu tentang kabar Daniyal alaihissalam

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul A’la Asy-Syaibani, dia berkata: Jika aku tidak mendengarnya dari Syu’aib bin Shafwan maka telah menceritakan kepadaku sebagian sahabat-sahabat kami dari dia, dari Al-Ajlah Al-Kindi, dari Abdullah bin Abi Al-Huzail, dia berkata: Bukhtanashshar melatih dua ekor singa, lalu dia melemparkan keduanya ke dalam sumur dan datang dengan Daniyal lalu dia melemparkan dia kepada keduanya, maka keduanya tidak mengganggu dia lalu dia tinggal sekehendak Allah, kemudian dia menginginkan apa yang diinginkan manusia dari makanan dan minuman, maka Allah mewahyukan kepada Armiya dan dia di Syam: Bahwa sediakan makanan dan minuman untuk Daniyal. Maka dia berkata: Ya Rabbi, aku berada di tanah yang suci dan Daniyal berada di tanah Babil dari tanah Irak. Maka Allah mewahyukan kepadanya: Bahwa sediakan apa yang Kami perintahkan kepadamu karena sesungguhnya Kami akan mengirim orang yang akan membawamu dan membawa apa yang engkau sediakan. Maka dia melakukan itu, dan Allah mengutus kepadanya orang yang membawa dia dan membawa apa yang dia sediakan hingga berdiri di kepala sumur lalu berkata: Daniyal, Daniyal. Maka dia berkata: Siapa ini? Dia berkata: Aku Armiya. Maka dia berkata: Apa yang membawa engkau datang? Maka dia berkata: Rabbmu mengutus aku kepadamu. Dia berkata: Dan apakah Rabbku telah mengingatku? Dia berkata: Ya. Maka Daniyal berkata: Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingat-Nya, dan segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya, dan segala puji bagi Allah yang barangsiapa mempercayai-Nya maka Dia tidak menyerahkannya kepada yang lain, dan segala puji bagi Allah yang membalas kebaikan dengan kebaikan, dan segala puji bagi Allah yang membalas kesabaran dengan keselamatan, dan segala puji bagi Allah yang Dia menyingkirkan kesusahan kami setelah kesedihan kami, dan segala puji bagi Allah yang Dia adalah kepercayaan kami ketika sangkaan kami buruk terhadap amal-amal kami, dan segala puji bagi Allah yang Dia adalah harapan kami ketika akal terpotong dari kami.

Yunus bin Bukair berkata, dari Muhammad bin Ishaq, dari Abu Khaldah Khalid bin Dinar: Abu al-Aliyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika kami menaklukkan Tustar, kami menemukan di gedung perbendaharaan Hurmuzān sebuah dipan, di atasnya ada seorang laki-laki yang sudah meninggal, di dekat kepalanya terdapat sebuah mushaf. Kami mengambil mushaf itu lalu membawanya kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau memanggil Ka’ab untuk menyalinnya ke dalam bahasa Arab. Maka aku adalah orang Arab pertama yang membacanya, aku membacanya sebagaimana aku membaca Al-Qur’an ini.

Aku bertanya kepada Abu al-Aliyah: “Apa isi mushaf itu?” Dia menjawab: “Riwayat hidup kalian, urusan-urusan kalian, bahasa kalian, dan apa yang akan terjadi setelahnya.” Aku bertanya lagi: “Lalu apa yang kalian lakukan terhadap mayat itu?” Dia menjawab: “Kami menggali tiga belas kuburan terpisah pada siang hari, lalu ketika malam tiba kami menguburkannya dan meratakan semua kuburan itu agar orang-orang tidak tahu kuburan mana yang sebenarnya sehingga mereka tidak menggalinya.” Aku bertanya: “Apa yang mereka harapkan darinya?” Dia menjawab: “Jika langit menahan hujan dari mereka, mereka membawa dipannya keluar lalu turunlah hujan.” Aku bertanya: “Siapa menurut kalian orang itu?” Dia menjawab: “Seorang laki-laki yang bernama Daniel.” Aku bertanya: “Sudah berapa lama ia meninggal ketika kalian menemukannya?” Dia menjawab: “Sudah tiga ratus tahun.” Aku bertanya: “Apakah ada bagian tubuhnya yang berubah?” Dia menjawab: “Tidak, kecuali beberapa helai rambut di tengkuknya; sesungguhnya daging para nabi tidak dimakan bumi dan tidak dimakan binatang buas.”

Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Abu al-Aliyah, tetapi jika sejarah kematiannya yang tiga ratus tahun itu benar, maka ia bukan seorang nabi melainkan orang saleh; karena Isa bin Maryam alaihissalam tidak ada nabi antara dia dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan nash hadits yang ada dalam Shahih al-Bukhari, dan masa kekosongan antara keduanya adalah empat ratus tahun. Ada yang mengatakan: enam ratus tahun. Dan ada yang mengatakan: enam ratus dua puluh tahun.

Boleh jadi sejarah kematiannya adalah delapan ratus tahun, dan ini dekat dengan masa Daniel jika memang benar bahwa dia adalah Daniel sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya; karena boleh jadi dia adalah orang lain, baik dari kalangan para nabi maupun orang-orang saleh, tetapi dugaan kuat bahwa dia adalah Daniel karena Daniel pernah ditangkap oleh raja Persia lalu tinggal di sisinya sebagai tahanan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Telah diriwayatkan dengan sanad shahih sampai kepada Abu al-Aliyah bahwa panjang hidungnya sejengkal. Dan dari Anas bin Malik dengan sanad yang baik, bahwa panjang hidungnya sehasta. Berdasarkan hal ini, boleh jadi dia adalah salah seorang nabi terdahulu sebelum masa-masa tersebut. Wallahu a’lam.

Abu Bakar ibn Abi ad-Dunya berkata dalam kitab Ahkam al-Qubur: Muhammad bin al-Harits bin Abdullah bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari menceritakan kepada kami, Abu Muhammad al-Qasim bin Abdullah menceritakan kepada kami dari Abu al-Asy’ats al-Ahmari, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Daniel berdoa kepada Tuhannya agar dia dikuburkan oleh umat Muhammad.” Ketika Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menaklukkan Tustar, dia menemukan Daniel dalam sebuah peti, urat dan pembuluh darahnya masih berdenyut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa menunjukkan tempat Daniel, maka gembirakanlah dia dengan surga.” Orang yang menunjukkan tempatnya adalah seorang laki-laki bernama Harqush. Abu Musa menulis surat kepada Umar tentang berita itu, lalu Umar membalas suratnya agar dia menguburkannya dan mengutus Harqush; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Ini adalah hadits mursal dari jalur ini, dan dalam keasliannya masih perlu dikaji. Wallahu a’lam.

Kemudian Ibn Abi ad-Dunya berkata: Abu Bilal menceritakan kepada kami, Qasim bin Abdullah menceritakan kepada kami, dari ‘Anbasah bin Sa’id – dan dia adalah seorang yang berilmu – dia berkata: Abu Musa menemukan bersama Daniel sebuah mushaf, sebuah kendi berisi lemak dan dirham, serta cincinnya. Abu Musa menulis surat tentang hal itu kepada Umar, lalu Umar membalas suratnya: “Adapun mushafnya maka kirimkanlah kepada kami, adapun lemaknya maka kirimkanlah sebagiannya kepada kami, dan perintahkan orang-orang Muslim di tempatmu untuk berobat dengannya, bagikanlah dirham-dirham itu di antara mereka, dan adapun cincinnya maka kami memberikannya sebagai hadiah untukmu.”

Ibn Abi ad-Dunya meriwayatkan dari berbagai jalan, bahwa Abu Musa ketika menemukannya dan disebutkan kepadanya bahwa dia adalah Daniel, dia memeluk, merangkul, dan menciumnya. Dia menulis surat kepada Umar menceritakan keadaannya, dan bahwa dia menemukan di sisinya harta yang tersimpan, sekitar sepuluh ribu dirham. Barangsiapa yang datang meminjamnya bisa mengambil, jika dia mengembalikannya maka baik, jika tidak maka dia akan sakit. Dan di sisinya ada sebuah Rab’ah (catatan/kitab). Umar memerintahkan agar dia dimandikan dengan air dan daun bidara, dikafani, dikuburkan, dan kuburnya disembunyikan sehingga tidak ada yang mengetahuinya. Beliau memerintahkan agar harta itu dikembalikan ke baitul mal, dan Rab’ah dibawa kepadanya, dan memberikan cincinnya sebagai hadiah.

Diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa dia memerintahkan empat orang tahanan untuk membendung sungai dan menggali kubur di tengahnya, lalu menguburkan Daniel di sana. Kemudian keempat orang tahanan itu dibawa dan leher mereka dipenggal, sehingga tidak ada yang mengetahui tempat kuburnya selain Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Ibn Abi ad-Dunya berkata: Ibrahim bin Abdullah menceritakan kepadaku, Ahmad bin ‘Amr bin as-Sarh menceritakan kepada kami, Ibn Wahb menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari ayahnya, dia berkata: Aku melihat di tangan Abu Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari sebuah cincin, ukiran matanya adalah dua ekor singa di antara keduanya ada seorang laki-laki yang dijilati oleh kedua singa itu. Abu Burdah berkata: “Ini adalah cincin mayat itu yang diklaim oleh penduduk negeri ini sebagai Daniel, yang diambil oleh Abu Musa pada hari dia menguburkannya.” Abu Burdah berkata: “Abu Musa bertanya kepada para ulama desa itu tentang ukiran cincin tersebut, mereka menjawab: Raja yang Daniel berada dalam kekuasaannya didatangi oleh para peramal dan ahli ilmu, mereka berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya akan lahir pada malam ini dan itu seorang anak laki-laki yang akan merusak kerajaanmu dan menghancurkannya.’ Raja berkata: ‘Demi Allah, pada malam itu tidak akan tersisa satu anak laki-laki pun kecuali akan kubunuh.’ Namun mereka mengambil Daniel lalu melemparkannya ke kandang singa, maka singa jantan dan betina menjilatinya sepanjang malam dan tidak mencelakakannya. Ibunya datang dan menemukan keduanya menjilatinya, maka Allah menyelamatkannya dengan hal itu hingga dia mencapai apa yang dicapainya.”

Abu Burdah berkata: Abu Musa berkata: Para ulama desa itu berkata: “Maka Daniel mengukir gambarnya dan gambar dua ekor singa yang menjilatinya pada mata cincinnya; agar dia tidak lupa akan nikmat Allah kepadanya dalam peristiwa itu.” Sanadnya hasan.

Ini adalah penyebutan pembangunan Baitul Maqdis setelah kehancurannya, dan berkumpulnya kembali Bani Israil setelah bercerai-berai di berbagai penjuru bumi.

Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang jelas, dan Dia adalah yang paling benar perkataannya: “Atau (apakah kamu tidak memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan (kembali) negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lamakah kamu tinggal di sini?’ Dia menjawab: ‘Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah kepada tulang-belulang itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami tutup dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'” (Surat al-Baqarah: 259)

Hisyam ibn al-Kalbi berkata: Kemudian Allah Ta’ala mewahyukan kepada Irmiya alaihissalam – menurut yang sampai kepadaku – bahwa Aku akan memakmurkan Baitul Maqdis, maka keluarlah ke sana dan tinggallah di sana. Maka dia keluar hingga tiba di sana dan kota itu dalam keadaan hancur. Dia berkata dalam hatinya: “Subhanallah, Allah memerintahkanku untuk tinggal di negeri ini dan memberitahukan kepadaku bahwa Dia akan memakmurkannya, kapan Dia akan memakmurkannya, dan kapan Allah akan menghidupkannya setelah kematiannya?”

Kemudian dia meletakkan kepalanya dan tidur, bersamanya ada keledainya dan sekeranjang makanan. Dia tetap dalam tidurnya selama tujuh puluh tahun hingga Bukhtu Nashr dan raja di atasnya meninggal, yaitu Lahrasyb yang masa pemerintahannya seratus dua puluh tahun. Setelahnya memerintah anaknya Basytsyb bin Lahrasyb, dan Bukhtu Nashr meninggal dalam masa pemerintahannya. Sampai kepadanya berita tentang negeri Syam bahwa negeri itu hancur, dan binatang buas telah banyak di tanah Palestina, sehingga tidak tersisa seorang manusia pun di sana. Maka dia mengumumkan di tanah Babil kepada Bani Israil bahwa barangsiapa ingin kembali ke Syam, maka kembalilah.

Dia mengangkat seorang laki-laki dari keluarga Dawud sebagai raja atas mereka, dan memerintahkannya untuk memakmurkan Baitul Maqdis dan membangun masjidnya. Mereka kembali lalu memakmurkannya. Allah membukakan mata Irmiya lalu dia melihat kota itu bagaimana dibangun dan bagaimana dimakmurkan. Dia tetap dalam tidurnya itu hingga genap seratus tahun baginya, kemudian Allah membangkitkannya sedangkan dia tidak mengira bahwa dia tidur lebih dari satu jam, padahal dia menyaksikan kota itu hancur. Ketika dia melihatnya makmur dan berpenghuni, dia berkata: “Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Dia berkata: Maka Bani Israil menetap di sana dan Allah mengembalikan urusan mereka. Mereka tetap seperti itu hingga bangsa Romawi mengalahkan mereka pada masa raja-raja golongan. Kemudian mereka tidak memiliki kesatuan dan kekuasaan, maksudnya setelah kaum Nasrani menang atas mereka. Demikianlah diceritakan oleh Ibn Jarir dalam kitab Tarikhnya dari dia.

Ibn Jarir menyebutkan bahwa Lahrasyb adalah seorang raja yang adil, pandai mengatur kerajaannya, hamba dan negeri tunduk kepadanya, begitu pula raja-raja dan para panglima. Dia memiliki pandangan yang baik dalam memakmurkan kota-kota, sungai-sungai, dan benteng-benteng. Kemudian ketika dia lemah dalam mengatur kerajaan setelah seratus tahun lebih, dia turun dari tahta untuk anaknya Basytsyb. Pada masanya muncul agama Majusi; yaitu ada seorang laki-laki bernama Zaradasyt yang pernah menemani Irmiya alaihissalam lalu membuatnya marah, maka Irmiya mendoakannya dan Zaradasyt menjadi kusta lalu pergi menuju tanah Azerbaijan dan menemani Basytsyb. Dia mengajarkan kepadanya agama Majusi yang diciptakannya dari dirinya sendiri, semoga Allah melaknatnya. Basytsyb menerimanya darinya dan memaksa orang-orang menganutnya, menindas mereka, dan membunuh banyak orang yang menolaknya.

Setelah Basytsyb adalah Yahmin bin Basytsyb, dan dia termasuk raja-raja Persia yang terkenal dan para pahlawan yang tersohor. Bukhtu Nashr menjadi wakil bagi setiap dari ketiga orang ini, dan berumur sangat panjang, semoga Allah mencampakkannya.

Yang dimaksud adalah bahwa apa yang disebutkan oleh Ibn Jarir, bahwa orang yang melewati negeri ini adalah Irmiya alaihissalam, dikatakan oleh Wahb bin Munabbih, Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, dan lain-lain, dan ini kuat berdasarkan konteks sebelumnya. Telah diriwayatkan dari Ali, Abdullah bin Salam, Ibn Abbas, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, Sulaiman bin Buraidah dan lain-lain bahwa dia adalah Uzair. Dan ini lebih masyhur menurut banyak ulama salaf dan khalaf. Wallahu a’lam.

Kisah Uzair

Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Asakir berkata: Dia adalah Uzair bin Haiwah, dan ada yang mengatakan: Ibnu Suriq bin Arna bin Ayyub bin Dartsana bin Ara bin Taqa bin Al-Sabuu’ bin Finhash bin Al-Azar bin Harun bin Imran. Dan ada yang mengatakan: Uzair bin Syarukha. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa kuburannya ada di Damaskus.

Kemudian dia meriwayatkan dari jalur Abu al-Qasim al-Baghawi, dari Dawud bin Amru, dari Habban bin Ali, dari Muhammad bin Kuraib, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Aku tidak tahu apakah Tubba’ itu dilaknat atau tidak, dan aku tidak tahu apakah Uzair itu nabi atau tidak?” Kemudian dia meriwayatkannya dari hadits Mu’ammal bin al-Hasan, dari Muhammad bin Ishaq al-Sijzi, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang serupa.

Kemudian dia meriwayatkan dari jalur Ishaq bin Bisyr—yang matruk (ditinggalkan)—dari Juwaibar dan Muqatil, dari al-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, bahwa Uzair adalah salah satu yang ditawan oleh Bukhtanashar saat dia masih remaja. Ketika dia berusia empat puluh tahun, Allah memberinya hikmah. Dia berkata: Tidak ada yang lebih hafal dan lebih berilmu tentang Taurat daripada dia. Dia berkata: Dan dia disebutkan bersama para nabi hingga Allah menghapus namanya dari itu, ketika dia bertanya kepada Tuhannya tentang takdir. Dan ini lemah, terputus, dan mungkar. Wallahu a’lam.

Ishaq bin Bisyr berkata, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari al-Hasan, dari Abdullah bin Salam, bahwa Uzair adalah hamba yang dimatikan Allah selama seratus tahun kemudian dibangkitkan.

Ishaq bin Bisyr berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin Basyir, dari Qatadah, dari Ka’b, dan Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah, dari al-Hasan, dan Muqatil, dan Juwaibar, dari al-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, dan Abdullah bin Isma’il al-Suddi dari ayahnya, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dan Idris, dari kakeknya, Wahb bin Munabbih. Ishaq bin Bisyr berkata: Semua mereka menceritakan kepadaku tentang kisah Uzair dan sebagian dari mereka menambahkan atas sebagian yang lain.

Mereka berkata dengan sanad mereka: Sesungguhnya Uzair adalah seorang hamba yang saleh lagi bijaksana. Dia keluar pada suatu hari ke ladangnya untuk memeriksa kondisinya. Ketika dia kembali, dia tiba di sebuah reruntuhan ketika waktu zhuhur tiba dan dia kepanasan, lalu masuk ke reruntuhan itu dengan menunggangi keledainya. Dia turun dari keledainya dengan membawa sekeranjang berisi buah tin dan sekeranjang berisi buah anggur. Dia turun di bawah teduh reruntuhan itu dan mengeluarkan sebuah mangkuk yang dibawanya, lalu memeras anggur yang dibawanya ke dalam mangkuk. Kemudian dia mengeluarkan roti kering yang dibawanya dan menaruhnya ke dalam mangkuk itu di dalam air perasan agar lembab untuk dimakan. Kemudian dia berbaring telentang dan menyandarkan kakinya ke dinding. Dia melihat atap rumah-rumah itu dan melihat apa yang ada di dalamnya, sementara rumah itu berdiri di atas pondasinya dan penduduknya telah punah. Dia melihat tulang-tulang yang hancur, lalu berkata: “Bagaimana Allah akan menghidupkan ini setelah matinya?” Dia tidak meragukan bahwa Allah akan menghidupkannya, tetapi dia mengatakannya karena heran.

Maka Allah mengutus malaikat maut, lalu mencabut nyawanya dan Allah mematikannya selama seratus tahun. Ketika seratus tahun berlalu, sementara itu terjadi berbagai urusan dan peristiwa di kalangan Bani Israil. Dia berkata: Maka Allah mengutus malaikat kepada Uzair dan menciptakan hatinya agar dia berakal dengannya, dan kedua matanya agar dia melihat dengannya sehingga dia berakal bagaimana Allah menghidupkan orang mati. Kemudian dia menyusun tubuhnya sementara dia melihat, kemudian menutupi tulang-tulangnya dengan daging, rambut, dan kulit. Kemudian meniupkan ruh kepadanya. Semua itu sementara dia melihat dan berakal.

Dia duduk tegak, lalu malaikat berkata kepadanya: “Berapa lama kamu tinggal?” Dia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari.” Itu karena dia tidur di awal siang ketika zhuhur dan dibangkitkan di akhir siang sementara matahari belum terbenam. Maka dia berkata: “Atau sebagian hari, dan belum genap satu hari bagiku.” Malaikat berkata kepadanya: “Bahkan kamu tinggal seratus tahun, maka lihatlah kepada makanan dan minumanmu,” yaitu makanan berupa roti kering dan minuman berupa air perasan yang dia peras ke dalam mangkuk. Ternyata keduanya dalam keadaan semula tidak berubah; air perasan dan roti kering. Itu adalah firman-Nya: “tidak berubah,” yaitu tidak berubah. Demikian juga buah tin dan anggur masih segar tidak berubah dari keadaannya sama sekali. Seolah-olah dia mengingkari dalam hatinya.

Malaikat berkata kepadanya: “Kamu mengingkari apa yang aku katakan kepadamu? Lihatlah kepada keledaimu.” Dia melihat, ternyata keledainya tulang-tulangnya telah hancur dan menjadi lapuk. Malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu, lalu tulang-tulang itu menjawab dan datang dari setiap arah hingga malaikat menyusunnya, sementara Uzair melihatnya. Kemudian malaikat memasang urat-urat dan otot-ototnya, kemudian menutupinya dengan daging, kemudian menumbuhkan kulit dan rambut di atasnya. Kemudian malaikat meniupkan ruh ke dalamnya, maka keledai itu berdiri mengangkat kepalanya dan telinganya ke langit, meringkik mengira Hari Kiamat telah tiba. Itu adalah firman-Nya: “Dan lihatlah kepada tulang-tulang itu, bagaimana Kami menyusunnya, kemudian Kami menutupinya dengan daging.” (al-Baqarah: 259) Yaitu lihatlah kepada tulang-tulang keledaimu bagaimana Kami menyusun sebagiannya dengan sebagian yang lain pada persendiannya, hingga ketika menjadi tulang-tulang berbentuk keledai tanpa daging. Kemudian lihatlah bagaimana Kami menutupinya dengan daging. Ketika jelas baginya, dia berkata: “Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” termasuk menghidupkan orang mati dan selainnya.

Dia berkata: Maka dia menunggangi keledainya hingga datang ke kediamannya. Orang-orang tidak mengenalnya dan dia tidak mengenal orang-orang, serta tidak mengenal rumah-rumah mereka. Dia pergi dengan rasa ragu, hingga datang ke rumahnya. Di sana ada seorang wanita tua yang buta dan lumpuh yang telah berusia seratus dua puluh tahun. Dia adalah budak mereka, Uzair meninggalkan mereka saat dia berusia dua puluh tahun. Dia mengenal dan memahami Uzair. Ketika dia tua, dia tertimpa kelumpuhan.

Uzair berkata kepadanya: “Wahai wanita ini, apakah ini rumah Uzair?” Dia berkata: “Ya, ini rumah Uzair.” Lalu dia menangis dan berkata: “Aku tidak melihat seorang pun selama sekian-sekian tahun menyebut Uzair dan orang-orang telah melupakannya.” Dia berkata: “Sesungguhnya aku adalah Uzair, Allah mematikanku selama seratus tahun kemudian membangkitkanku.” Dia berkata: “Subhanallah! Sesungguhnya Uzair telah kami kehilangan sejak seratus tahun yang lalu dan kami tidak mendengar kabar tentangnya.” Dia berkata: “Sesungguhnya aku adalah Uzair.” Dia berkata: “Sesungguhnya Uzair adalah seorang yang doanya dikabulkan, dia mendoakan orang sakit dan penderita musibah dengan kesembuhan dan kesehatan. Maka berdoalah kepada Allah agar mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihatmu. Jika kamu benar-benar Uzair, aku akan mengenalmu.”

Dia berkata: Maka dia berdoa kepada Tuhannya dan mengusap kedua matanya dengan tangannya, lalu keduanya sembuh. Dia memegang tangannya dan berkata: “Berdirilah dengan izin Allah.” Maka Allah melepaskan kedua kakinya dan dia berdiri dengan sehat seolah-olah terlepas dari ikatan. Dia melihat dan berkata: “Aku bersaksi bahwa kamu adalah Uzair.” Dia pergi ke pemukiman Bani Israil sementara mereka ada di tempat pertemuan dan majelis mereka. Anak Uzair adalah seorang tua berusia seratus delapan belas tahun dan cucu-cucunya adalah orang-orang tua di majelis. Dia memanggil mereka dan berkata: “Ini adalah Uzair yang telah datang kepada kalian.”

Mereka mendustakannya. Dia berkata: “Aku adalah fulanah, budak kalian. Dia berdoa untuk diriku kepada Tuhannya, lalu Allah mengembalikan penglihatanku dan melepaskan kedua kakiku. Dia mengklaim bahwa Allah mematikannya selama seratus tahun kemudian membangkitkannya.” Dia berkata: Maka orang-orang bangkit dan mendatanginya. Mereka melihatnya. Anaknya berkata: “Ayahku memiliki tanda lahir hitam di antara kedua bahunya.” Maka dia membuka bajunya dari bahu, ternyata dia adalah Uzair.

Bani Israil berkata: “Sesungguhnya tidak ada di antara kami yang hafal Taurat menurut yang diceritakan kepada kami selain Uzair, dan Bukhtanashar telah membakar Taurat sehingga tidak tersisa darinya sedikitpun kecuali yang dihafal orang-orang. Maka tulislah untuk kami.” Ayahnya, Sarukh, telah menyembunyikan Taurat pada zaman Bukhtanashar di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Uzair. Dia pergi bersama mereka ke tempat itu dan menggalinya, lalu mengeluarkan Taurat. Kertas telah membusuk dan tulisan telah luntur.

Dia berkata: Dia duduk di bawah teduh pohon dan Bani Israil di sekelilingnya, lalu dia memperbarui Taurat bagi mereka. Turun dari langit dua meteor hingga masuk ke dalam perutnya. Dia mengingat Taurat dan memperbarui nya untuk Bani Israil. Maka dari situlah orang-orang Yahudi berkata: “Uzair anak Allah”—Mahasuci Allah dan Mahamulia—karena peristiwa dua meteor itu dan pembaruan Taurat serta kepemimpinannya atas urusan Bani Israil. Dia memperbarui Taurat bagi mereka di tanah Sawad di Dair Hizqil. Desa tempat dia meninggal disebut Sayirabadz.

Ibnu Abbas berkata: Maka jadilah sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami akan menjadikan kamu tanda (kekuasaan Allah) bagi manusia,” (al-Baqarah: 259) yaitu bagi Bani Israil. Itu karena dia duduk bersama anak-anaknya sementara mereka orang-orang tua sedang dia masih muda, karena dia meninggal saat berusia empat puluh tahun, lalu Allah membangkitkannya sebagai pemuda seperti hari dia meninggal.

Ibnu Abbas berkata: Dia dibangkitkan setelah Bukhtanashar. Demikian juga yang dikatakan al-Hasan.

Abu Hatim al-Sijistani telah membacakan syair tentang makna apa yang dikatakan Ibnu Abbas:

Seorang dengan kepala hitam yang memutih sedang anaknya Dan anaknya pun memutih sebelumnya, maka dia lebih tua Dia melihat cucu cucunya sebagai orang tua berjalan dengan tongkat Sementara janggutnya hitam dan kepala pirang Tidak ada tipu daya bagi anaknya dan tidak ada kelebihan kekuatan Dia berdiri sebagaimana bayi berjalan lalu tersandung Anaknya dihitung di antara manusia sembilan puluh tahun Dan dua puluh, tidak berlari dan tidak berjalan angkuh Dan umur ayahnya empat puluh dalam perintah Dan untuk cucu cucunya sembilan puluh yang telah berlalu di antara manusia Maka itu bukan dalam akal jika kamu tahu Dan jika kamu tidak tahu maka kamu dimaafkan dengan kebodohan

Pasal

Yang masyhur bahwa Uzair adalah nabi dari para nabi Bani Israil dan bahwa dia berada di antara Daud dan Sulaiman, dan antara Zakariya dan Yahya. Ketika tidak ada lagi di kalangan Bani Israil yang hafal Taurat, Allah mengilhamkan kepadanya hafalannya. Dia membacakannya kepada Bani Israil, sebagaimana yang dikatakan Wahb bin Munabbih: Allah memerintahkan malaikat lalu turun dengan gayung dari cahaya dan melemparkannya ke mulut Uzair, lalu dia menyalin Taurat huruf demi huruf hingga selesai darinya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia bertanya kepada Abdullah bin Salam tentang firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair anak Allah.'” (at-Taubah: 30) Mengapa mereka mengatakan itu? Abdullah bin Salam menceritakan kepadanya tentang penulisan Taurat untuk Bani Israil dari hafalannya, dan perkataan Bani Israil: “Musa tidak mampu membawa Taurat kepada kami kecuali dalam kitab, sedangkan Uzair telah membawa nya kepada kami tanpa kitab.” Maka kelompok-kelompok dari mereka melemparinya dan berkata: “Uzair anak Allah.”

Oleh karena itu banyak ulama berkata: Sesungguhnya mutawatir Taurat terputus pada zaman Uzair. Dan ini sangat tepat jika Uzair bukan nabi, sebagaimana yang dikatakan Atha’ bin Abi Rabah dan al-Hasan al-Bashri, dalam apa yang diriwayatkan Ishaq bin Bisyr dari Muqatil bin Sulaiman, dari Atha’ dan dari Utsman bin Atha’ al-Khurasani dari ayahnya dan Muqatil, dari Atha’ bin Abi Rabah, dia berkata: Pada masa fatrah ada sembilan perkara: Bukhtanashar, Taman Shana’, Taman Saba’, Ashabul Ukhdud, urusan Hasura, Ashabul Kahfi, Ashabul Fil, kota Antiokia, dan urusan Tubba’.

Ishaq bin Bisyr berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari al-Hasan, dia berkata: Urusan Uzair dan Bukhtanashar terjadi pada masa fatrah. Telah shahih dalam Shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibnu Maryam adalah aku, sesungguhnya tidak ada nabi antara aku dan dia.” Wahb bin Munabbih berkata: Dia berada di antara Sulaiman dan Isa ‘alaihimassalam.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Atha’ bin al-Sa’ib bahwa Uzair berada pada zaman Musa bin Imran dan bahwa dia meminta izin kepadanya tetapi tidak diizinkan—yaitu karena pertanyaannya tentang takdir—dan bahwa dia pergi sambil berkata: “Seratus kematian lebih ringan daripada kehinaan sesaat.”

Dalam makna perkataan Uzair: “Seratus kematian lebih ringan daripada kehinaan sesaat,” adalah ucapan sebagian penyair:

Orang merdeka mungkin sabar atas pedang Dan enggan sabar atas ketidakadilan Dan lebih memilih kematian daripada keadaan Di mana dia tidak mampu menjamu tamu

Adapun apa yang diriwayatkan Ibnu Asakir dan selainnya dari Ibnu Abbas, Nauf al-Bikali, Sufyan ath-Tsauri, dan selain mereka, bahwa dia bertanya tentang takdir lalu namanya dihapus dari penyebutan para nabi—itu adalah mungkar dan dalam keshahihannya ada kejanggalan, dan seolah-olah itu diambil dari Israiliyyat.

Abdurrazzaq dan Qutaibah bin Sa’id telah meriwayatkan dari Ja’far bin Sulaiman, dari Abu Imran al-Jauni, dari Nauf al-Bikali, dia berkata: Uzair berkata dalam munajatnya kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, Engkau menciptakan makhluk, lalu Engkau sesatkan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk siapa yang Engkau kehendaki.” Lalu dikatakan kepadanya: “Berpalinglah dari ini.” Dia mengulanginya, lalu dikatakan kepadanya: “Sungguh kamu harus berpaling dari ini atau Aku akan menghapus namamu dari para nabi. Sesungguhnya Aku tidak ditanya tentang apa yang Aku perbuat dan mereka akan ditanya.” (al-Anbiya’: 23) Dan ini menunjukkan terjadinya apa yang diancamkan jika dia mengulanginya. Namun dia tidak mengulanginya, maka namanya tidak dihapus. Wallahu a’lam.

Telah meriwayatkan jama’ah kecuali at-Tirmidzi, dari hadits Yunus bin Yazid, dari az-Zuhri, dari Sa’id dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Demikian juga diriwayatkan Syu’aib dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang nabi dari para nabi turun di bawah pohon, lalu dia disengat semut. Dia memerintahkan barang-barangnya lalu dikeluarkan dari bawahnya, kemudian dia memerintahkan pohon itu lalu dibakar dengan api. Maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Mengapa tidak satu semut saja?'”

Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Abdul Wahhab bin Mujahid, dari ayahnya, bahwa dia adalah Uzair. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan al-Hasan al-Bashri bahwa dia adalah Uzair. Wallahu a’lam.

Kisah Zakaria dan Yahya alaihimassalam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. Ini adalah kisah tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakaria. Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri sudah mencapai umur yang sangat tua. Allah berfirman: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu sebelumnya, padahal kamu belum ada sama sekali. Zakaria berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Allah berfirman: Tandanya bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat. Maka keluarlah Zakaria dari mihrab menemui kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka: hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. Hai Yahya, ambillah Al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa kasih sayang yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (Surat Maryam: 1-15)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan Zakaria menjadi penjaminnya. Setiap Zakaria masuk untuk menemuinya di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini? Maryam menjawab: Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. Kemudian malaikat memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri salat di mihrab: Bahwasanya Allah mengabarkan kepadamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi pemimpin, menahan diri dari perempuan, seorang nabi termasuk orang-orang yang saleh. Zakaria berkata: Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun mandul? Allah berfirman: Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Zakaria berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Allah berfirman: Tandanya bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi. (Surat Ali Imran: 37-41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya: Dan Zakaria, ketika ia berseru kepada Tuhannya: Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik. Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat melahirkan. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Surat Al-Anbiya: 89-90)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Surat Al-An’am: 85)

Al-Hafidz Abu Al-Qasim Ibnu Asakir berkata dalam kitabnya yang terkenal dan komprehensif, Tarikh: Zakaria bin Hanna, dan dikatakan: Zakaria bin Dan, dan dikatakan: Zakaria bin Adnan bin Muslim bin Shadduq bin Muhaman bin Dawud bin Sulaiman bin Muslim bin Shadiqah bin Barhiyah bin Malqathiyah bin Nahur bin Salum bin Bahfaniya bin Hash bin Ani bin Khath’am bin Sulaiman bin Dawud, Abu Yahya sang Nabi alaihissalam, dari Bani Israil. Ia masuk ke Batsniyah dari wilayah Damaskus dalam pencarian anaknya Yahya. Dan dikatakan: bahwa ia berada di Damaskus ketika anaknya Yahya dibunuh. Wallahu a’lam. Dan ada yang mengatakan selain itu tentang nasabnya. Dikatakan dalam namanya: Zakariya dengan panjang dan dengan pendek. Dan dikatakan juga: Zakri.

Yang dimaksud adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kepada manusia tentang kisah Zakaria alaihissalam, dan apa yang terjadi dari urusannya ketika Allah menganugerahinya seorang anak di usia tua, sedangkan istrinya mandul di masa mudanya, dan ia juga sudah lanjut usia; agar tidak ada seorang pun yang berputus asa dari karunia Allah dan rahmat-Nya, dan tidak berputus asa dari kemurahan-Nya, Maha Tinggi dan Maha Suci Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Ini adalah kisah tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakaria. Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Qatadah berkata dalam menafsirkannya: Sesungguhnya Allah mengetahui hati yang bersih dan mendengar suara yang lembut. Sebagian salaf berkata: Ia bangun di malam hari lalu berseru kepada Tuhannya dengan seruan yang ia sembunyikan dari orang yang hadir bersamanya; dengan berbisik, ia berkata: Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb. Maka Allah berfirman: Labbaik, labbaik, labbaik. Ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, maksudnya: lemah dan rapuh karena tua. Dan kepalaku telah ditumbuhi uban, kiasan dari menyalanya api di kayu, yakni uban telah mengalahkan hitam rambutnya, sebagaimana dikatakan Ibnu Duraid dalam maqshurahnya:

Apakah kamu tidak melihat kepalaku menyerupai warnanya, Cahaya fajar di bawah ujung kegelapan, Dan putih menyala di hitamnya, Seperti menyalanya api di kayu kering, Dan taman hiburan menjadi kering layu, Setelah ia adalah tanah yang basah

Ia menyebutkan bahwa kelemahan telah menguasainya lahir dan batin, demikianlah yang dikatakan Zakaria alaihissalam: Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan firman-Nya: Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku, maksudnya: Engkau tidak pernah membiasakan aku dalam apa yang kuminta kepada-Mu kecuali dengan pengabulan.

Yang mendorongnya untuk permintaan ini adalah bahwa ketika ia menjadi penjamin Maryam binti Imran bin Mathan, dan setiap kali ia masuk ke mihrabnya ia menemukan buah-buahan di sisinya yang bukan pada musimnya maupun pada musimnya. Dan ini termasuk karamah para wali. Maka ia tahu bahwa Pemberi rezeki sesuatu yang bukan pada musimnya mampu menganugerahinya seorang anak, meskipun ia telah lanjut usia. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

Dan firman-Nya: Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul. Dikatakan: yang dimaksud dengan mawali adalah kerabat. Dan seolah-olah ia khawatir dari tindakan mereka setelahnya terhadap Bani Israil dengan apa yang tidak sesuai dengan syariat Allah dan ketaatan kepada-Nya, maka ia memohon kehadiran seorang anak dari tulang sulbinya yang akan menjadi anak yang saleh, bertakwa, yang diridhai. Oleh karena itu ia berkata: Maka anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu, maksudnya: dari sisi-Mu dengan daya dan kekuatan-Mu seorang putra yang akan mewarisi aku, maksudnya: dalam kenabian dan kepemimpinan di Bani Israil. Dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai, maksudnya sebagaimana para bapak dan leluhurnya dari keturunan Yakub adalah para nabi, maka jadikanlah ia seperti mereka dalam kemuliaan yang Engkau muliakan kepada mereka berupa kenabian dan wahyu.

Dan bukan yang dimaksud di sini adalah warisan harta, sebagaimana yang diklaim oleh Syiah dan Ibnu Jarir di sini sependapat dengan mereka dan meriwayatkannya dari Abu Shalih dari kalangan salaf; karena beberapa alasan:

Pertama, apa yang telah kami kemukakan terdahulu pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Dan Sulaiman mewarisi Dawud (Surat An-Naml: 16), maksudnya: dalam kenabian dan kerajaan, sebagaimana kami sebutkan dalam hadits yang disepakati oleh para ulama, yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Shahih, Masanid, Sunan, dan lainnya, dari berbagai jalan dari sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Maka ini adalah nash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diwarisi. Oleh karena itu Ash-Shiddiq mencegah agar diserahkan apa yang khusus baginya semasa hidupnya kepada siapa pun dari para pewaris yang seandainya tidak ada nash ini akan diserahkan kepada mereka, yaitu: putrinya Fatimah, sembilan istrinya, dan pamannya Al-Abbas, radhiyallahu ‘anhum. Dan Ash-Shiddiq berdalil kepada mereka dalam pencegahannya terhadap mereka dengan hadits ini. Dan telah sepakat dengannya dalam periwayatannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Abu Hurairah, dan yang lainnya, radhiyallahu ‘anhum.

Kedua, bahwa At-Tirmidzi meriwayatkannya dengan lafadz yang mencakup seluruh para nabi: Kami para nabi tidak mewariskan, dan ia menshahihkannya.

Ketiga, bahwa dunia adalah perkara yang paling hina di sisi para nabi sehingga mereka tidak menimbun untuknya atau memperhatikannya atau mempedulikan urusannya, sampai mereka meminta anak untuk mewarisinya setelah mereka; karena sesungguhnya orang yang tidak mencapai dekat dengan kedudukan mereka dalam kezuhudan tidak akan peduli dengan kadar ini untuk meminta anak yang akan menjadi pewaris baginya di dalamnya.

Keempat, bahwa Zakaria alaihissalam adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan tangannya dan makan dari hasilnya, sebagaimana Dawud alaihissalam makan dari hasil tangannya. Dan umumnya – apalagi dari kondisi seperti para nabi – bahwa ia tidak akan memaksa dirinya dalam bekerja dengan pemaksaan sampai mendapat kelebihan harta yang akan menjadi simpanan yang ia tinggalkan setelahnya. Dan ini adalah perkara yang jelas dan nyata bagi setiap orang yang merenungkannya dengan tadabbur dan pemahaman, insya Allah.

Imam Ahmad berkata: Yazid – yaitu Ibnu Harun – menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Tsabit, dari Abu Rafi’, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Zakaria adalah seorang tukang kayu. Demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Majah dari berbagai jalan, dari Hammad bin Salamah.

Dan firman-Nya: Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Dan ini ditafsirkan dengan firman-Nya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Surat Ali Imran: 9)

Maka ketika diberi kabar gembira dengan seorang anak dan kabar gembira itu dipastikan, ia mulai menanyakan – dengan cara heran – keberadaan anak, dalam kondisi ini baginya: Ia berkata: Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri sudah mencapai umur yang sangat tua, maksudnya: bagaimana bisa ada anak dari seorang tua yang lanjut usia. Dikatakan: usianya ketika itu tujuh puluh tujuh tahun. Dan yang lebih tepat, wallahu a’lam, bahwa ia lebih tua dari itu. Dan istriku adalah seorang yang mandul, maksudnya, dan istriku di masa mudanya adalah mandul yang tidak melahirkan, wallahu a’lam. Sebagaimana yang dikatakan Al-Khalil: Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku padahal usia tua telah menimpaku, maka kabar gembira apakah yang kalian sampaikan? (Surat Al-Hijr: 54) Dan Sarah berkata: Aduhai, apakah aku akan melahirkan padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah lanjut usia pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang aneh. Para malaikat itu berkata: Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Rahmat Allah dan berkah-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (Surat Hud: 72-73)

Demikianlah dijawab Zakaria alaihissalam; malaikat yang mewahyukan kepadanya dengan perintah Tuhannya berkata kepadanya: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku, maksudnya: ini mudah dan ringan bagi-Nya. Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu sebelumnya, padahal kamu belum ada sama sekali, maksudnya: kuasa-Ku telah mewujudkanmu setelah kamu tidak ada sesuatu yang disebut, bukankah bisa mewujudkan darimu seorang anak meskipun kamu adalah orang tua yang lanjut usia?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat melahirkan. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Surat Al-Anbiya: 90) Makna memperbaiki istrinya adalah bahwa ia tidak haid lalu ia haid. Dan dikatakan: ada sesuatu di lisannya; yaitu kata-kata kasar.

Ia berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda, maksudnya: tanda tentang waktu tertempelnya mani dalam rahim wanita dengan anak yang dikabarkan ini. Allah berfirman: Tandanya bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat, yakni: tanda itu adalah akan menimpamu keadaan diam, kamu tidak bisa berbicara dengannya selama tiga hari kecuali dengan isyarat, dan kamu dalam kondisi itu sehat penciptaannya, sehat kesehatan, seimbang fisiknya. Dan ia diperintahkan untuk memperbanyak dzikir dalam keadaan ini dengan hati, dan menghadirkan itu dengan hatinya di waktu petang dan pagi.

Maka ketika diberi kabar gembira dengan kabar gembira ini, ia keluar dengan gembira karena itu kepada kaumnya dari mihrabnya.

Lalu dia memberikan isyarat kepada mereka agar bertasbih di waktu pagi dan petang. Dan wahyu di sini adalah perintah yang tersembunyi; baik melalui tulisan, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan As-Suddi, atau melalui isyarat, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid juga, Wahb, dan Qatadah. Mujahid, Ikrimah, Wahb, As-Suddi, dan Qatadah mengatakan: Lisannya terkunci tanpa ada penyakit. Ibnu Zaid mengatakan: Dia masih bisa membaca dan bertasbih, tetapi tidak bisa berbicara dengan orang lain.

Firman-Nya: Wahai Yahya, ambillah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika dia masih kanak-kanak. Allah Taala mengabarkan tentang kelahiran anak tersebut sesuai dengan kabar gembira Ilahi kepada ayahnya Zakariya alaihissalam, dan bahwa Allah mengajarkan kepadanya Al-Kitab dan hikmah ketika dia masih kecil dalam masa kanak-kanaknya. Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Mamar berkata: Anak-anak berkata kepada Yahya bin Zakariya: “Mari kita pergi bermain.” Maka dia berkata: “Kami tidak diciptakan untuk bermain.” Dia berkata: Dan itulah makna firman-Nya: Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika dia masih kanak-kanak.

Adapun firman-Nya: dan kasih sayang dari sisi Kami. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Amru bin Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Aku tidak tahu apa itu hananan (kasih sayang).” Dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan Ad-Dahhak: dan kasih sayang dari sisi Kami, artinya: rahmat dari sisi Kami yang dengannya Kami merahmati Zakariya, lalu Kami anugerahkan kepadanya anak ini. Dari Ikrimah: (hananan) artinya: kecintaan kepadanya. Dan dimungkinkan bahwa itu adalah sifat kelembutan Yahya kepada manusia, terutama kepada kedua orang tuanya, yaitu mencintai keduanya, belas kasih kepada keduanya, dan berbakti kepada keduanya.

Adapun kesucian (zakah), yaitu bersihnya akhlak dan terbebasnya dari kekurangan dan sifat-sifat tercela. Dan takwa adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kemudian disebutkan kebaikannya kepada kedua orang tuanya dan ketaatannya kepada keduanya dalam perintah dan larangan, serta meninggalkan durhaka kepada keduanya dalam perkataan dan perbuatan, maka Allah berfirman: dan berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka.

Kemudian Allah berfirman: Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia meninggal, dan pada hari dia dibangkitkan kembali hidup. Ketiga waktu ini adalah yang paling berat bagi manusia; karena pada setiap waktu tersebut dia berpindah dari satu alam ke alam yang lain, lalu kehilangan yang pertama setelah dia terbiasa dan mengenalnya, dan menjadi berada di alam yang lain tanpa tahu apa yang ada di hadapannya. Oleh karena itu, dia menangis keras ketika keluar dari perut ibunya dan meninggalkan kelembutannya dan pelukannya, lalu berpindah ke dunia ini untuk menghadapi kesedihan dan kesukarannya. Demikian pula ketika dia meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzakh di antara dunia ini dan negeri yang kekal, dan menjadi setelah rumah-rumah dan istana-istana, berada di perkampungan orang-orang mati, penghuni kubur, dan menunggu di sana tiupan sangkakala untuk hari kebangkitan dan penyebaran. Maka ada yang gembira dan penuh kebahagiaan, dan ada yang sedih dan celaka, di antara yang diperbaiki dan yang dirusak, satu golongan di surga dan satu golongan di neraka.

Sungguh bagus apa yang dikatakan salah seorang penyair:

Ibumu melahirkanmu dalam keadaan menangis meminta tolong… Sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira Maka berjuanglah untuk dirimu agar menjadi ketika mereka menangis… Di hari kematianmu, engkau tertawa gembira

Dan karena ketiga tempat ini adalah yang paling berat bagi anak Adam, maka Allah memberikan keselamatan kepada Yahya di setiap tempat tersebut, lalu berfirman: Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia meninggal, dan pada hari dia dibangkitkan kembali hidup.

Said bin Abi Arubah berkata dari Qatadah bahwa Al-Hasan berkata: Sesungguhnya Yahya dan Isa bertemu, lalu Isa berkata kepadanya: “Mintakan ampun untukku, engkau lebih baik dariku.” Yang lain berkata kepadanya: “Mintakan ampun untukku, engkau lebih baik dariku.” Maka Isa berkata kepadanya: “Engkau lebih baik dariku; aku memberi salam pada diriku sendiri, sedangkan Allah memberi salam kepadamu.” Maka demi Allah, dia mengetahui keutamaannya.

Adapun firman-Nya dalam ayat yang lain: dan seorang pemimpin, yang menahan diri (dari hawa nafsu), seorang nabi termasuk orang-orang saleh. Dikatakan: Yang dimaksud dengan yang menahan diri adalah orang yang tidak mendatangi perempuan. Dan dikatakan selain itu. Dan ini lebih tepat; karena firman-Nya: Berikanlah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik.

Imam Ahmad telah berkata: Affan menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid mengabarkan kepada kami, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali telah berdosa atau berniat untuk berdosa, kecuali Yahya bin Zakariya, dan tidak pantas bagi seseorang untuk mengatakan bahwa aku lebih baik dari Yunus bin Matta. Ali bin Zaid bin Jud’an dipersoalkan oleh lebih dari satu imam, dan dia adalah munkar hadits. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ad-Daruquthni, dari jalur Abu Ashim Al-Abbadani, dari Ali bin Zaid bin Jud’an secara panjang lebar. Kemudian Ibnu Khuzaimah berkata: Dan ini bukan termasuk syarat kami.

Ibnu Wahb berkata: Ibnu Lahiah menceritakan kepadaku, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada sahabat-sahabatnya suatu hari sementara mereka sedang membicarakan keutamaan para nabi. Seseorang berkata: Musa adalah kaliim Allah (orang yang berbicara dengan Allah). Dan yang lain berkata: Isa adalah ruh Allah (roh Allah) dan kalimat-Nya (firman-Nya). Dan yang lain berkata: Ibrahim adalah khalil Allah (kekasih Allah). Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar sementara mereka sedang membicarakan hal itu, maka beliau bersabda: Di mana syahid (saksi), di mana syahid yang memakai pakaian bulu, memakan pohon-pohonan, karena takut akan dosa? Ibnu Wahb berkata: Beliau bermaksud Yahya bin Zakariya.

Muhammad bin Ishaq telah meriwayatkannya, dan dia adalah mudallis, dari Yahya bin Said Al-Anshari, dari Said bin Al-Musayyab, Ibnu Al-Ash menceritakan kepadaku: bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Setiap anak Adam datang pada hari kiamat dan dia mempunyai dosa, kecuali Yahya bin Zakariya. Ini dari riwayat Ibnu Ishaq, dan dia termasuk orang-orang yang melakukan tadlis, dan dia telah men-an’an-kan di sini. Kemudian diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Mamar, dari Qatadah, dari Said bin Al-Musayyab, secara mursal. Kemudian aku melihat Ibnu Asakir membawakan hadits ini dari jalur Abu Usamah, dari Yahya bin Said Al-Anshari.

Kemudian Ibnu Asakir meriwayatkannya dari jalur Ibrahim bin Yaqub Al-Juzjani, khatib Damaskus, Muhammad bin Al-Ashbahani menceritakan kepada kami, Abu Khalid Al-Ahmar menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Said, dari Said bin Al-Musayyab, dari Abdullah bin Amru, dia berkata: Tidak ada seorang pun kecuali bertemu Allah dengan dosa, kecuali Yahya bin Zakariya. Kemudian dia membaca: dan seorang pemimpin, yang menahan diri (dari hawa nafsu). Kemudian dia mengangkat sesuatu dari tanah lalu berkata: Tidak ada padanya kecuali seperti ini, kemudian dia disembelih. Dan ini adalah mauquf (berhenti pada sahabat) dari jalur ini, dan kenyataannya bahwa mauquf lebih shahih daripada marfu (sampai kepada Nabi). Wallahu alam.

Ibnu Asakir membawakan hadits ini dari berbagai jalur, dari Mamar. Di antaranya apa yang dibawakannya dari hadits Ishaq bin Bisyr, dan dia adalah lemah, dari Utsman bin Saj, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari Muadz, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan semakna dengannya.

Diriwayatkan dari jalur Abu Daud At-Thayalisi dan yang lainnya, dari Al-Hakam bin Abdurrahman bin Abi Nuaim, dari ayahnya, dari Abu Said, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga kecuali dua anak bibi, Yahya dan Isa alaihimassalam.

Abu Nuaim Al-Hafizh Al-Ashbahani berkata: Ishaq bin Ahmad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abi Al-Hawari menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Sulaiman berkata: Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya keluar berjalan bersama, lalu Yahya menyenggol seorang perempuan. Maka Isa berkata kepadanya: “Wahai anak bibiku, sungguh engkau telah melakukan kesalahan hari ini, aku tidak menyangka bahwa kesalahanmu akan diampuni selamanya.” Dia berkata: “Apa itu wahai anak bibiku?” Dia berkata: “Seorang perempuan yang engkau senggol.” Dia berkata: “Demi Allah, aku tidak merasakannya.” Dia berkata: “Subhanallah! Badanmu bersamaku, lalu di mana rohmu?” Dia berkata: “Tergantung di Arasy. Dan seandainya hatiku tenang kepada Jibril, aku akan menyangka bahwa aku tidak mengenal Allah sekedip mata.” Di dalamnya ada keanehan, dan ini termasuk Israiliyat.

Israil berkata, dari Abu Hushin, dari Khaitsamah, dia berkata: Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya adalah dua anak bibi. Isa memakai pakaian wol, dan Yahya memakai pakaian bulu. Tidak ada pada keduanya dinar atau dirham, tidak ada hamba sahaya laki-laki atau perempuan, dan tidak ada tempat tinggal bagi keduanya; ke mana pun malam menemui keduanya, keduanya berteduh. Ketika keduanya hendak berpisah, Yahya berkata kepadanya: “Berilah aku wasiat.” Dia berkata: “Jangan marah.” Dia berkata: “Aku tidak mampu untuk tidak marah.” Dia berkata: “Maka jangan memiliki harta.” Dia berkata: “Adapun ini, mungkin.”

Riwayat dari Wahb bin Munabbih berbeda-beda, apakah Zakariya alaihissalam meninggal dengan kematian biasa, atau dibunuh? Ada dua riwayat. Abdul Munim bin Idris bin Sinan meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih bahwa dia berkata: Dia lari dari kaumnya, lalu masuk ke dalam sebatang pohon. Mereka datang dan meletakkan gergaji di atasnya. Ketika gergaji sampai ke tulang rusuknya, dia mengerang. Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Demi (keagungan-Ku), jika engkau tidak menghentikan erangan, niscaya Aku balikkan bumi dan siapa pun yang ada di atasnya.” Maka dia menghentikan erangannya hingga dipotong menjadi dua. Ini telah diriwayatkan dalam hadits marfu (sampai kepada Nabi), dan akan kami bawakan setelah ini insya Allah.

Ishaq bin Bisyr meriwayatkan, dari Idris bin Sinan, dari Wahb bahwa dia berkata: Orang yang pohonnya terbelah untuknya adalah Asy’aya, adapun Zakariya maka dia meninggal dengan kematian biasa. Wallahu alam.

Imam Ahmad berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Khalaf Musa bin Khalaf menceritakan kepada kami, dan dia termasuk orang yang dihitung sebagai Abdal (orang-orang pengganti), Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Salam, dari kakeknya Mamthur, dari Al-Harits Al-Asy’ari, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: *Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat, agar dia mengamalkannya, dan agar dia memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya, dan dia hampir terlambat. Maka Isa alaihissalam berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau telah diperintahkan dengan lima kalimat, agar engkau mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya; maka entah engkau sampaikan atau aku yang akan menyampaikannya.” Dia berkata: “Wahai saudaraku, aku khawatir jika engkau mendahului aku, aku akan diazab atau ditenggelamkan.” Dia berkata: Maka Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid penuh. Dia duduk di atas ketinggian, lalu memuji dan mengagungkan Allah, kemudian berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku dengan lima kalimat, agar aku mengamalkannya, dan aku memerintahkan kalian untuk mengamalkannya. Pertama adalah agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Perumpamaan itu seperti seseorang yang membeli hamba sahaya dari hartanya yang murni dengan perak atau emas, lalu dia bekerja dan menyerahkan hasilnya kepada selain tuannya. Siapa di antara kalian yang senang hambanya seperti itu? Dan sesungguhnya Allah menciptakan kalian dan memberi rezeki kalian, maka sembahlah Dia dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan aku memerintahkan kalian dengan shalat, karena sesungguhnya Allah menghadap wajah-Nya kepada hamba-Nya selama dia tidak berpaling. Maka jika kalian shalat, janganlah berpaling. Dan aku memerintahkan kalian dengan puasa, karena perumpamaannya seperti seseorang yang mempunyai kantong berisi minyak kasturi dalam rombongan, semuanya merasakan bau minyak kasturi. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Dan aku memerintahkan kalian dengan sedekah, karena perumpamaannya seperti seseorang yang ditawan musuh, lalu mereka mengikat tangannya ke lehernya dan membawanya untuk memotong lehernya. Dia berkata: ‘Apakah kalian mau aku menebus diriku dari kalian?’ Maka dia menebus dirinya dari mereka dengan sedikit dan banyak hingga dia membebaskan dirinya. Dan aku memerintahkan kalian dengan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dengan banyak, karena perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat di belakangnya, lalu dia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Dan sesungguhnya hamba paling terlindungi dari setan adalah ketika dia berada dalam dzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” Dia berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Dan aku memerintahkan kalian dengan lima hal yang Allah memerintahkannya kepadaku: dengan jamaah (berjamaah), mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jamaah sejengkal, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika dia kembali. Dan barang siapa yang berdoa dengan doa jahiliyah, maka dia termasuk tumpukan neraka Jahannam.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, meskipun dia berpuasa dan shalat?” Beliau bersabda: “Meskipun dia berpuasa dan shalat dan mengaku bahwa dia muslim. Panggillah orang-orang Islam dengan nama-nama mereka, dengan apa yang Allah Azza wa Jalla namai mereka: orang-orang Islam, orang-orang beriman, hamba-hamba Allah Azza wa Jalla.”

Demikianlah diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Hudbah bin Khalid, dari Aban bin Yazid, dari Yahya bin Abi Katsir dengannya.

Demikian juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Daud Thayalisi, dan Musa bin Ismail, keduanya dari Aban bin Yazid al-Atthar dengannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Hisyam bin Ammar, dari Muhammad bin Syu’aib bin Sabur, dari Mu’awiyah bin Sallam, dari saudaranya Zaid bin Sallam, dari Abu Sallam, dari Harits al-Asy’ari dengannya. Diriwayatkan oleh Hakim dari jalur Marwan bin Muhammad ath-Thathiri, dari Mu’awiyah bin Sallam dari saudaranya dengannya. Kemudian dia berkata: Hanya Marwan ath-Thathiri yang menyendiri meriwayatkannya dari Mu’awiyah bin Sallam. Aku katakan: Tidak seperti yang dia katakan. Diriwayatkan oleh Thabrani, dari Muhammad bin Abdah, dari Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’, dari Mu’awiyah bin Sallam, dari Abu Sallam, dari Harits al-Asy’ari, maka dia menyebutkan seperti itu, maka hilang penyebutan Zaid bin Sallam dari riwayat ini. Kemudian Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan, dari jalur Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, dari ayahnya, dari Rabi’ bin Anas, dia berkata: Disebutkan kepada kami dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang apa yang mereka dengar dari ulama Bani Israil, bahwa Yahya bin Zakariya diutus dengan lima kalimat. Dan dia menyebutkan seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Dan mereka telah menyebutkan bahwa Yahya alaihissalam banyak menyendiri dari manusia, dia hanya merasa tenang di padang pasir, dan makan dari daun pepohonan, dan meminum air sungai, dan kadang-kadang memakan belalang, dan dia berkata: Siapa yang lebih nikmat darimu wahai Yahya. Dan Ibnu Asakir meriwayatkan, bahwa kedua orang tuanya keluar mencarinya, lalu mereka menemukannya di dekat danau Yordania, maka ketika mereka bertemu dengannya, dia membuat keduanya menangis dengan sangat kuat; karena apa yang dia alami berupa ibadah dan ketakutan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Ibnu Wahb berkata, dari Malik, dari Humaid bin Qais, dari Mujahid, dia berkata: Makanan Yahya bin Zakariya adalah rerumputan, dan sungguh dia menangis karena takut kepada Allah, sehingga seandainya ada ter di matanya niscaya akan membakarnya. Dan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhali berkata: Menceritakan kepada kami Abu Shalih, menceritakan kepada kami Laits, menceritakan kepadaku Uqail, dari Ibnu Syihab, dia berkata: Pada suatu hari aku duduk di hadapan Abu Idris al-Khaulani saat dia bercerita, maka dia berkata: Tidakkah aku beritahukan kalian tentang siapa yang paling enak makanannya dari manusia? Maka ketika dia melihat orang-orang memandang kepadanya dia berkata: Sesungguhnya Yahya bin Zakariya, adalah orang yang paling enak makanannya dari manusia; dia hanya makan bersama binatang buas; karena tidak suka bergaul dengan manusia dalam penghidupan mereka. Dan Ibnu Mubarak berkata, dari Wuhaib bin Wird, dia berkata: Zakariya kehilangan anaknya Yahya selama tiga hari, maka dia keluar mencarinya di padang tandus, ternyata dia telah menggali kubur dan berdiri di dalamnya menangisi dirinya sendiri. Maka dia berkata: Wahai anakku aku mencarimu selama tiga hari, sedangkan kamu berada di dalam kubur yang telah kamu gali, berdiri menangis di dalamnya?! Maka dia berkata: Wahai ayahku, bukankah engkau sendiri yang memberitahuku bahwa antara surga dan neraka terdapat padang yang tidak dapat dilalui kecuali dengan air mata orang-orang yang menangis? Maka dia berkata kepadanya: Menangislah wahai anakku. Lalu keduanya menangis bersama-sama. Demikianlah yang dikisahkan oleh Wahb bin Munabbih, dan Mujahid seperti itu. Dan Ibnu Asakir meriwayatkan darinya, bahwa dia berkata: Sesungguhnya penduduk surga tidak tidur karena kenikmatan yang mereka rasakan dari nikmat, maka demikian pula seharusnya para shiddiqin tidak tidur; karena apa yang ada dalam hati mereka berupa kenikmatan cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian dia berkata: Betapa jauh antara kedua kenikmatan itu dan betapa jauh antara keduanya. Dan mereka menyebutkan bahwa dia banyak menangis, sehingga tangisan itu meninggalkan bekas di pipinya karena banyaknya air matanya.

Penjelasan Sebab Pembunuhan Yahya Alaihissalam

Dan mereka menyebutkan dalam pembunuhannya banyak sebab; yang paling masyhur di antaranya adalah bahwa salah seorang raja pada masa itu di Damaskus ingin menikahi salah seorang mahramnya, atau seseorang yang tidak halal baginya untuk menikahinya, maka Yahya alaihissalam melarangnya dari itu, maka tetap ada sesuatu dalam hati perempuan itu terhadapnya, maka ketika terjadi antara perempuan itu dengan raja apa yang dia cintai darinya, dia meminta darinya sebagai hadiah darah Yahya maka dia memberikannya kepadanya, lalu dia mengutus kepadanya orang yang membunuhnya dan membawa kepalanya dan darahnya dalam baskom kepadanya, maka dikatakan: Sesungguhnya dia binasa pada saat itu juga. Dan dikatakan: Bahkan istri raja itu mencintainya dan mengirim surat kepadanya, maka dia menolaknya, maka ketika dia putus asa darinya dia bertipu daya untuk memintanya sebagai hadiah dari raja, maka raja enggan memberikannya kepada perempuan itu, kemudian dia mengabulkannya, maka dia mengutus orang yang membunuhnya dan menghadirkan kepadanya kepalanya dan darahnya dalam baskom.

Dan sungguh telah datang maknanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Bisyr dalam kitabnya “al-Mubtada” ketika dia berkata: Memberitakan kepada kami Ya’qub al-Kufi, dari Amr bin Maimun, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam diisra’kan melihat Zakariya di langit, maka dia memberi salam kepadanya dan berkata kepadanya: Wahai Abu Yahya, ceritakanlah kepadaku tentang pembunuhanmu; bagaimana itu? Dan mengapa Bani Israil membunuhmu? Dia berkata: Wahai Muhammad, aku ceritakan kepadamu bahwa Yahya adalah sebaik-baik penduduk zamannya, dan paling tampan dari mereka, dan paling cantik wajahnya, dan dia adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala katakan: pemimpin dan yang menahan diri, dan dia tidak membutuhkan wanita, maka istri raja Bani Israil mencintainya, dan dia adalah pelacur, maka dia mengirim utusan kepadanya, dan Allah menjaganya, dan Yahya menolak dan enggan kepadanya, dan perempuan itu bertekad untuk membunuh Yahya, dan mereka memiliki hari raya yang mereka kumpulkan setiap tahun, dan kebiasaan raja adalah dia berjanji dan tidak mengingkarinya dan tidak berbohong. Dia berkata: Maka raja keluar ke hari raya lalu istrinya berdiri dan mengantarnya, dan dia sangat kagum dengannya, dan dia tidak melakukannya sebelumnya, maka ketika dia mengantarnya raja berkata: Mintalah kepadaku, maka apa yang kamu minta kepadaku sesuatu pasti aku berikan kepadamu. Dia berkata: Aku ingin darah Yahya bin Zakariya. Dia berkata kepadanya: Mintalah kepadaku yang lain. Dia berkata: Itu yang aku inginkan. Dia berkata: Itu untukmu. Dia berkata: Maka dia mengutus algojo-algojonya kepada Yahya, dan dia berada di mihrabnya sedang shalat, dan aku di sampingnya sedang shalat. Dia berkata: Maka dia disembelih dalam baskom dan kepalanya dan darahnya dibawa kepadanya. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Maka apa yang mencapai dari kesabaranmu? Dia berkata: Aku tidak berpaling dari shalatku. Dia berkata: Maka ketika kepalanya dibawa kepadanya, lalu diletakkan di hadapannya, maka ketika mereka di sore hari Allah menenggelamkan raja dan keluarganya dan pengikutnya, maka ketika mereka pagi hari Bani Israil berkata: Sungguh murka Tuhan Zakariya untuk Zakariya, maka marilah kita marah untuk raja kita, lalu kita bunuh Zakariya. Dia berkata: Maka mereka keluar mencariku untuk membunuhku, dan orang yang memberi kabar datang kepadaku maka aku lari dari mereka, dan Iblis di depan mereka menunjukkan aku kepada mereka, maka ketika aku takut bahwa aku tidak mampu mengalahkan mereka, sebuah pohon menampakkan diri kepadaku dan memanggilku dan berkata: Ke arahku ke arahku. Dan terbelah untukku maka aku masuk ke dalamnya. Dia berkata: Dan Iblis datang hingga mengambil ujung selendangku, dan pohon itu menutup, dan tersisa ujung selendangku keluar dari pohon itu, dan Bani Israil datang maka Iblis berkata: Tidakkah kalian melihatnya masuk ke pohon ini? Ini ujung selendangnya, dia masuk ke dalamnya dengan sihirnya. Maka mereka berkata: Kita bakar pohon ini. Maka Iblis berkata: Belah dia dengan gergaji. Dia berkata: Maka aku dibelah bersama pohon dengan gergaji. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Apakah kamu merasakan sentuhan atau rasa sakit? Dia berkata: Tidak, sesungguhnya aku merasakan itu pohon tersebut Allah menjadikan ruhku di dalamnya. Ini adalah sanad yang aneh, dan hadits yang mengherankan, dan pengangkatannya mungkar, dan di dalamnya ada yang dimungkari pada setiap hal dan kami tidak melihat dalam sesuatu pun dari hadits-hadits Isra’ penyebutan Zakariya alaihissalam kecuali dalam hadits ini, dan sesungguhnya yang mahfuzh dalam sebagian lafazh Shahih dalam hadits Isra’: Maka aku melewati dua anak khalah: Yahya dan Isa dan keduanya adalah anak khalah menurut pendapat jumhur sebagaimana yang jelas dari hadits; karena sesungguhnya ibu Yahya Asyya’ binti Imran adalah saudara perempuan Maryam binti Imran. Dan dikatakan: Bahkan Asyya’, yaitu istri Zakariya ibu Yahya adalah saudara perempuan Hanna istri Imran ibu Maryam, maka jadilah Yahya anak khalah Maryam. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian terjadi perbedaan tentang tempat pembunuhan Yahya bin Zakariya, apakah itu di Masjidil Aqsha atau di tempat lain? Atas dua pendapat; maka Tsauri berkata, dari A’masy, dari Syamir bin Athiyyah, dia berkata: Dibunuh di atas batu yang ada di Baitul Maqdis tujuh puluh nabi, di antara mereka adalah Yahya bin Zakariya alaihissalam. Dan Abu Ubaid Qasim bin Sallam berkata: Menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, dari Laits, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Musayyab, dia berkata: Bukhtanashshar datang ke Damaskus maka ternyata dia melihat darah Yahya bin Zakariya mendidih, maka dia bertanya tentangnya lalu mereka memberitahunya, maka dia membunuh karena darahnya tujuh puluh ribu orang, maka darah itu tenang. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Sa’id bin Musayyab, dan ini menunjukkan bahwa dia dibunuh di Damaskus, dan bahwa kisah Bukhtanashshar terjadi setelah Masih, sebagaimana yang dikatakan oleh Atha’ dan Hasan al-Bashri. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Dan Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan, dari jalur Walid bin Muslim, dari Zaid bin Waqid, dia berkata: Aku melihat kepala Yahya bin Zakariya ketika mereka ingin membangun masjid Damaskus, dikeluarkan dari bawah salah satu sudut kiblat, yang berdekatan dengan mihrab, yang menghadap ke timur, maka kulit dan rambut dalam keadaan aslinya tidak berubah. Dan dalam riwayat: Seolah-olah baru saja dibunuh. Dan disebutkan dalam pembangunan masjid Damaskus, bahwa itu ditempatkan di bawah tiang yang dikenal dengan tiang Sakasikah. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Dan sungguh Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkan dalam “al-Mustaqsha fi Fadha’il al-Aqsha” dari jalur Abbas bin Shabh, dari Marwan, dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Qasim maula Mu’awiyah, dia berkata: Raja kota ini – yaitu Damaskus – adalah Hadad bin Hadad, dan dia telah menikahkan anaknya dengan anak perempuan saudaranya Ariel, ratu Shaida. Aku katakan: Dan sungguh termasuk dari kerajaan-kerajaannya adalah Suq al-Muluk di Damaskus, dan itu adalah toko emas kuno. Dia berkata: Dan dia telah bersumpah dengan talak tiga, kemudian dia ingin merujuknya, maka dia meminta fatwa kepada Yahya bin Zakariya, maka dia berkata: Tidak halal bagimu sampai kamu menikah dengan suami yang lain. Maka perempuan itu mendendam kepadanya dan meminta dari raja kepala Yahya bin Zakariya, dan itu dengan petunjuk ibunya, maka dia menolaknya, kemudian dia mengabulkannya dan mengutus kepadanya sedangkan dia sedang berdiri shalat di masjid Jairun orang yang membawa kepalanya dalam piring, maka kepala itu terus berkata: Tidak halal baginya, tidak halal baginya sampai kamu menikah dengan suami yang lain. Maka perempuan itu mengambil piring, lalu membawanya di atas kepalanya dan datang dengannya kepada ibunya, dan kepala itu berkata demikian, maka ketika dia berdiri di hadapan ibunya dia ditenggelamkan ke kakinya kemudian ke pinggangnya, dan ibunya meraung dan para budak wanita berteriak dan menampar wajah mereka, kemudian dia ditenggelamkan ke pundaknya, maka ibunya memerintahkan algojo untuk memenggal lehernya agar dia terhibur dengan kepalanya, maka dia melakukannya, maka bumi memuntahkan jenazahnya pada saat itu, dan mereka jatuh dalam kehinaan dan kehancuran, dan darah Yahya terus mendidih sampai Bukhtanashshar datang, maka dia membunuh karena itu tujuh puluh lima ribu orang. Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Dan itu adalah darah setiap nabi. Dan tidak henti-hentinya mendidih, sampai Irmiya alaihissalam berdiri di hadapannya, maka dia berkata: Wahai darah kamu telah membinasakan Bani Israil, maka tenanglah dengan izin Allah. Maka darah itu tenang, lalu pedang diangkat dan lari orang yang lari dari penduduk Damaskus ke Baitul Maqdis, maka dia mengikuti mereka ke sana, lalu membunuh banyak makhluk yang tidak terhitung banyaknya, dan menawan dari mereka, kemudian kembali dari mereka.

Kisah Isa bin Maryam, semoga atasnya dilimpahkan shalawat dan salam terbaik dari Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran, yang bagian awalnya diturunkan—yaitu delapan puluh tiga ayat darinya—sebagai bantahan terhadap orang-orang Nasrani, semoga laknat Allah atas mereka, yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak. Mahasuci Allah dari apa yang mereka ucapkan dengan sangat tinggi. Delegasi dari Najran pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka menyebutkan kebatilan yang mereka yakini, yaitu ajaran trinitas dalam tiga oknum, dan mereka mengklaim bahwa Allah adalah yang ketiga dari tiga; yaitu Zat Yang Mahasuci, Isa, dan Maryam, menurut perbedaan kelompok-kelompok mereka. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menurunkan awal surah ini untuk menjelaskan bahwa Isa adalah hamba dari hamba-hamba Allah, yang diciptakan dan dibentuk-Nya dalam rahim, sebagaimana Dia membentuk makhluk-makhluk lainnya, dan bahwa Dia menciptakannya tanpa ayah, sebagaimana Dia menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu, dan Dia berfirman kepadanya: “Jadilah.” Maka jadilah ia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjelaskan asal-usul kelahiran ibunya Maryam, bagaimana keadaannya, dan bagaimana ia mengandung anaknya Isa. Demikian pula Allah menguraikan hal itu secara terperinci dalam surah Maryam, sebagaimana akan kita bicarakan semuanya dengan pertolongan Allah dan taufik serta hidayah-Nya yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merupakan pembicara paling benar berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat. Sebagian mereka adalah keturunan dari sebagian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ketika istri Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada dalam rahimku untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ Maka ketika ia melahirkannya, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkannya seorang anak perempuan.’ Padahal Allah lebih mengetahui apa yang ia lahirkan itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. ‘Dan sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk.’ Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata: ‘Hai Maryam, dari mana ini bagimu?’ Maryam menjawab: ‘Itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (Ali Imran: 33-37)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah memilih Adam ‘alaihissalam dan keturunannya yang terpilih yang mengikuti syariat-Nya dan melazimkan ketaatan kepada-Nya. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus dengan berfirman: “dan keluarga Ibrahim,” maka termasuk di dalamnya Bani Ismail dan Bani Ishaq. Kemudian Dia menyebutkan keutamaan keluarga suci dan baik ini, yaitu keluarga Imran. Yang dimaksud dengan Imran di sini adalah ayah Maryam ‘alaihimassalam. Muhammad bin Ishaq berkata: Dia adalah Imran bin Basyim bin Amun bin Mansya bin Hizkiya bin Ahziq bin Mutsam bin ‘Azarya bin Amshiya bin Yausya bin Ahziyahu bin Yarim bin Yahfasyath bin Aisya bin Aban bin Ruhab’am bin Sulaiman bin Daud.

Abu al-Qasim Ibnu Asakir berkata: Maryam binti Imran bin Matan bin al-Ya’azir bin al-Yaud bin Ajaban bin Shaduq bin ‘Iyazur bin al-Yaqim bin Aibud bin Zurba’il bin Syaltan bin Yuhanya bin Barastiya bin Amun bin Misya bin Hazqil bin Ajaz bin Yutsam bin ‘Azriya bin Buram bin Busafath bin Asa bin Abiya bin Rakhi’im bin Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam. Di dalamnya terdapat perbedaan dengan apa yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq. Tidak ada perselisihan bahwa ia adalah dari keturunan Daud ‘alaihissalam. Ayahnya, Imran, adalah pemimpin shalat Bani Israil di zamannya. Ibunya, yaitu Hannah binti Faqud bin Qabil, termasuk dari kalangan ahli ibadah. Zakariya, nabi pada masa itu, adalah suami saudara perempuan Maryam yang bernama Asyya’ menurut pendapat jumhur. Ada juga yang berpendapat bahwa ia adalah suami bibi Maryam yang bernama Asyya’. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Ishaq dan yang lainnya menyebutkan bahwa ibu Maryam tidak bisa hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anaknya, lalu ia sangat menginginkan anak. Maka ia bernazar kepada Allah bahwa jika ia hamil, ia akan menjadikan anaknya sebagai hamba yang dibebaskan, yaitu dipersembahkan untuk pelayanan di Baitul Maqdis. Mereka berkata: Lalu ia langsung mengalami haid. Setelah suci, ia disetubuhi suaminya, lalu ia hamil dengan Maryam ‘alaihassalam. Ketika ia melahirkannya, ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkannya seorang anak perempuan.” Padahal Allah lebih mengetahui apa yang ia lahirkan itu, dan “anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan,” yaitu dalam pelayanan di Baitul Maqdis. Pada masa itu mereka bernazar untuk Baitul Maqdis dengan menyerahkan pelayan dari anak-anak mereka.

Perkataan ibunya: “Dan sesungguhnya aku telah menamainya Maryam” dijadikan dalil untuk menamai bayi pada hari kelahirannya, sebagaimana yang sahih dalam Shahihain dari Anas tentang ia membawa saudaranya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau mentahnik saudaranya dan menamainya Abdullah. Dalam hadis dari Hasan dari Samurah secara marfu’: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, diberi nama dan dicukur rambutnya,” diriwayatkan oleh Ahmad dan ahli Sunan, dishahihkan oleh at-Tirmidzi. Dalam beberapa lafaznya disebutkan: “dan dilukai” sebagai pengganti “dan diberi nama,” dan dishahihkan oleh sebagian mereka. Wallahu a’lam.

Perkataan ibunya: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk” telah dikabulkan untuknya dalam hal ini, sebagaimana nazarnya diterima. Imam Ahmad berkata: Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, dari Ibnu al-Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada bayi yang lahir melainkan setan menyentuhnya ketika ia lahir, sehingga ia menangis keras karena sentuhan setan itu, kecuali Maryam dan anaknya.” Kemudian Abu Hurairah berkata: Bacalah jika kalian mau: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk.” Dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) dari hadis Abdurrazaq. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Jarir dari Ahmad bin al-Faraj, dari Baqiyyah, dari az-Zubaidi, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serupa.

Ahmad juga berkata: Ismail bin Umar menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami, dari Ajlan maula al-Musyma’al, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Setiap anak yang lahir dari Bani Adam disentuh setan dengan jarinya, kecuali Maryam binti Imran dan anaknya Isa.” Hanya diriwayatkan melalui jalur ini. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu ath-Thahir, dari Ibnu Wahb, dari Umar bin al-Harits, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serupa.

Ahmad berkata: Haitsam menceritakan kepada kami, Hafsh bin Maisarah menceritakan kepada kami, dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap manusia yang dilahirkan ibunya, setan menusuknya dengan kedua sisi tubuhnya, kecuali Maryam dan anaknya. Tidakkah kalian melihat bayi ketika ia jatuh, bagaimana ia menangis?” Mereka berkata: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Itu ketika setan menusuknya dengan kedua sisi tubuhnya.” Ini sesuai dengan syarat Muslim, namun tidak dikeluarkannya melalui jalur ini.

Diriwayatkan oleh Qais dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada bayi yang lahir melainkan setan menekannya dengan satu atau dua tekanan, kecuali Isa bin Maryam dan Maryam.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk.” Demikian juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abdullah bin Qusaith, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pokok hadis ini.

Imam Ahmad berkata: Abdul Malik menceritakan kepada kami, al-Mughirah yaitu Ibnu Abdullah al-Huzami menceritakan kepada kami, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Setiap anak dari Bani Adam ditusuk setan di lambungnya ketika ia dilahirkan, kecuali Isa bin Maryam. Setan mencoba menusuk, namun menusuk pada penghalang.” Ini sesuai dengan syarat Shahihain, namun keduanya tidak mengeluarkannya melalui jalur ini.

Firman-Nya: “Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya.” Banyak mufassir menyebutkan bahwa ibunya ketika melahirkannya, membungkusnya dengan kain, lalu membawanya keluar ke masjid dan menyerahkannya kepada para ahli ibadah yang tinggal di sana. Ia adalah putri imam mereka dan pemimpin shalat mereka, maka mereka berebut untuk memeliharanya. Yang jelas, ia baru menyerahkannya kepada mereka setelah masa menyusui dan pemeliharaan semasa kecilnya. Kemudian ketika ia menyerahkannya kepada mereka, mereka berebut siapa di antara mereka yang akan memeliharanya. Zakariya adalah nabi mereka pada masa itu, dan ia ingin memeliharanya sendiri tanpa mereka, karena istrinya adalah saudara perempuannya atau bibinya, menurut dua pendapat. Mereka menentangnya dalam hal itu dan meminta untuk diundi bersamanya. Takdir memihak kepadanya, maka undinya keluar sebagai pemenang atas mereka. Hal itu karena bibi berkedudukan seperti ibu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan Dia menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya,” yaitu karena kemenangannya atas mereka dalam undian, sebagaimana firman-Nya: “Itu termasuk berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka berselisih.” (Ali Imran: 44) Mereka berkata: Bahwa setiap dari mereka melemparkan penanya yang dikenal sebagai miliknya, lalu mereka mengumpulkannya dan menaruhnya di suatu tempat, kemudian mereka menyuruh seorang anak yang belum baligh untuk mengeluarkan salah satunya. Pena Zakariya ‘alaihissalam yang muncul. Mereka meminta untuk diundi lagi kali kedua, yaitu dengan melemparkan pena-pena mereka ke sungai, maka siapa yang penanya mengalir berlawanan dengan aliran air, dialah pemenangnya. Mereka melakukannya, dan pena Zakariya yang mengalir berlawanan dengan aliran air, sedangkan pena-pena mereka mengikuti aliran air. Kemudian mereka meminta darinya untuk diundi ketiga kalinya, siapa yang penanya mengalir mengikuti air, sedangkan pena-pena lainnya mengalir terbalik ke atas, dialah pemenangnya. Mereka melakukannya, dan Zakariya yang memenangkan mereka. Maka ia memeliharanya karena ia lebih berhak atasnya secara syar’i dan takdir, karena berbagai alasan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata: ‘Hai Maryam, dari mana ini bagimu?’ Maryam menjawab: ‘Itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.'” Para mufassir berkata: Zakariya membuatkan untuknya tempat yang mulia di masjid, yang tidak dimasuki selain dirinya. Maka ia beribadah kepada Allah di dalamnya, dan melakukan kewajiban yang harus dilakukannya dalam menjaga rumah (Baitul Maqdis) ketika tiba gilirannya. Ia beribadah siang dan malam, sehingga ia dijadikan teladan dalam ibadahnya di kalangan Bani Israil, dan terkenal dengan keadaan mulia dan sifat-sifat luhur yang tampak padanya. Bahkan nabi Allah Zakariya setiap kali masuk menemuinya di tempat ibadahnya, ia menemukan padanya rezeki yang aneh di luar musimnya. Ia menemukan padanya buah-buahan musim panas di musim dingin, dan buah-buahan musim dingin di musim panas. Maka ia bertanya kepadanya: Dari mana ini untukmu? Ia menjawab: Itu dari sisi Allah, yaitu rezeki yang Allah berikan kepadaku. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Maka di saat itu dan di tempat itulah Zakariya berharap untuk memiliki anak dari tulang punggungnya sendiri, meskipun ia sudah tua dan lanjut usia. Ia berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Sebagian dari mereka berkata: Ia berkata: Wahai Zat yang memberi rezeki kepada Maryam buah-buahan di luar musimnya, berilah aku anak, meskipun di luar waktunya. Maka terjadilah kisah dan peristiwanya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam kisahnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan ketika malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu, dan mengutamakanmu atas wanita-wanita di seluruh alam. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.’ Itu termasuk berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka berselisih. Ketika malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan firman dari-Nya, namanya adalah al-Masih Isa putra Maryam, yang terhormat di dunia dan akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dia akan berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan termasuk orang-orang yang saleh.’ Maryam berkata: ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mempunyai anak padahal tidak ada seorang manusia pun yang menyentuhku?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah! Maka jadilah ia.’ Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israil (yang berkata): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah (berbentuk) seperti burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumah-rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.’ Maka ketika Isa merasakan…” (Ali Imran: 42-51)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan bahwa malaikat memberi kabar gembira kepada Maryam tentang Allah yang memilihnya dari antara semua wanita di zamannya, dengan memilihnya untuk memiliki anak darinya tanpa ayah. Dan memberi kabar bahwa ia akan menjadi nabi yang mulia dan berbicara dengan manusia di buaian, yaitu di masa kecilnya, mengajak mereka untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya. Demikian juga di masa dewasanya, maka ini menunjukkan bahwa ia akan mencapai masa dewasa dan mengajak kepada Allah di dalamnya. Ia diperintahkan untuk memperbanyak ibadah, taat, sujud, dan rukuk, agar menjadi layak untuk kemuliaan ini dan melaksanakan syukur atas nikmat ini. Dikatakan bahwa ia berdiri dalam shalat hingga kedua kakinya pecah-pecah, radhiyallahu ‘anha wa rahimaha wa rahima ummaha wa abaha.

Perkataan malaikat: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu,” yaitu memilih dan memutuskanmu. “Mensucikanmu,” yaitu dari akhlak yang buruk, dan memberimu sifat-sifat yang indah.

“Dan telah memilihmu di atas para wanita di seluruh alam,” ada kemungkinan yang dimaksud adalah alam pada zamannya, sebagaimana firman Allah kepada Musa: “Sesungguhnya Aku telah memilihmu di atas manusia” dan firman-Nya tentang Bani Israil: “Dan sungguh Kami telah memilih mereka dengan pengetahuan di atas segala umat.” (Surat Ad-Dukhan: 32). Diketahui bahwa Ibrahim alaihissalam lebih utama daripada Musa, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam lebih utama dari keduanya, dan demikian pula umat ini lebih utama daripada seluruh umat sebelumnya, dan lebih banyak jumlahnya, lebih utama ilmunya, dan lebih suci amalnya, dari Bani Israil dan selain mereka. Ada kemungkinan pula bahwa firman-Nya: “Dan telah memilihmu di atas para wanita di seluruh alam” bersifat umum; maka dia adalah wanita terbaik di dunia dari yang ada sebelumnya dan yang ada sesudahnya; karena jika dia adalah seorang nabi wanita, menurut pendapat yang mengatakan kenabiannya dan kenabian Sarah ibu Ishaq, dan kenabian ibu Musa, dengan berdalil pada pembicaraan malaikat dan wahyu kepada ibu Musa, sebagaimana diklaim oleh Ibnu Hazm dan lainnya, maka tidak mustahil dengan pendapat ini bahwa Maryam lebih utama daripada Sarah dan ibu Musa; karena keumuman firman-Nya: “Dan telah memilihmu di atas para wanita di seluruh alam” karena tidak ada yang menentangnya. Wallahu a’lam.

Adapun menurut pendapat jumhur ulama, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari dan lainnya dari Ahli Sunnah wal Jama’ah, bahwa kenabian khusus untuk laki-laki, dan tidak ada nabi wanita, maka kedudukan tertinggi Maryam adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Al-Masih putra Maryam tidak lain hanyalah seorang rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (Surat Al-Ma’idah: 75). Berdasarkan hal ini, tidak mustahil bahwa dia adalah wanita shiddiqah (sangat benar) terbaik yang terkenal dari yang ada sebelumnya dan yang akan ada sesudahnya. Wallahu a’lam.

Namanya telah disebutkan bersama-sama dengan Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad, radhiyallahu anhunna wa ardlahunna.

Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i meriwayatkan dari berbagai jalur, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Ja’far, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanitanya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanitanya adalah Khadijah binti Khuwailid.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita seluruh alam dengan empat; Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dari Abu Bakar bin Zanjuwaih, dari Abdurrazaq dengannya, dan dia menshahihkannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalur Abdullah bin Abi Ja’far Ar-Razi, dan Ibnu Asakir, dari jalur Tamim bin Ziyad, keduanya dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita seluruh alam adalah empat: Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnu al-Musayyab, dia berkata: Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita-wanita shalih dari Quraisy, yang paling penyayang kepada anak di masa kecilnya, dan yang paling menjaga suami dalam hartanya.” Abu Hurairah berkata: “Padahal Maryam tidak pernah mengendarai unta sama sekali.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dari Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid, keduanya dari Abdurrazaq dengannya.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Hubab, telah menceritakan kepadaku Musa bin Ali, aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita-wanita Quraisy, yang paling penyayang kepada anak di masa kecilnya, dan yang paling berbelas kasih kepada suami meskipun hartanya sedikit.” Abu Hurairah berkata: “Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui bahwa putri Imran tidak mengendarai unta.” Hanya dia yang meriwayatkannya, dan ini sesuai dengan syarat Shahih. Hadits ini memiliki jalur-jalur lain dari Abu Hurairah.

Abu Ya’la Al-Mushili berkata: Telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi al-Furat, dari Ilba’ bin Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuat empat garis di tanah lalu bertanya: “Tahukah kalian apa ini?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wanita-wanita terbaik penghuni surga: Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.” Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari beberapa jalur dari Dawud bin Abi al-Furat.

Ibnu Asakir meriwayatkannya dari jalur Abu Bakar Abdullah bin Abi Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hatim al-Askari, telah memberitakan kepada kami Bisyr bin Mihran bin Hamdan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Dinar, dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah bagimu dari mereka empat, wanita-wanita pemimpin dari wanita seluruh alam: Fatimah binti Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran.”

Abu al-Qasim Al-Baghawi berkata: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Abdullah al-Wasithi, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Aisyah bahwa dia berkata kepada Fatimah: “Bagaimana ketika engkau membungkuk di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu engkau menangis, kemudian tertawa?” Dia berkata: “Beliau memberitahuku bahwa beliau akan wafat dari sakitnya ini, maka aku menangis, kemudian aku membungkuk kepadanya, lalu beliau memberitahuku bahwa aku adalah keluarganya yang paling cepat menyusulnya, dan bahwa aku adalah pemimpin wanita penghuni surga, kecuali Maryam binti Imran, maka aku tertawa.” Asal hadits ini ada dalam Shahih. Ini adalah sanad yang sesuai dengan syarat Muslim, dan di dalamnya disebutkan bahwa keduanya adalah yang terbaik dari empat yang disebutkan.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Yazid, yaitu Ibnu Abi Ziyad, dari Abdurrahman bin Abi Nu’aim, dari Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni surga, kecuali Maryam binti Imran.” Sanadnya hasan, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, namun tidak meriwayatkannya. Hadits serupa diriwayatkan dari hadits Ali bin Abi Thalib, tetapi dalam sanadnya ada kelemahan.

Yang dimaksud adalah bahwa ini menunjukkan bahwa Maryam dan Fatimah adalah yang terbaik dari empat ini, kemudian pengecualian itu mengandung kemungkinan bahwa Maryam lebih utama daripada Fatimah, dan ada kemungkinan bahwa keduanya sama dalam keutamaan; namun ada hadits yang diriwayatkan, jika shahih, menentukan kemungkinan pertama, Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Asakir berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan bin al-Farra, dan Abu Ghalib dan Abu Abdullah, putra-putra Al-Banna, mereka berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ja’far bin al-Maslamah, telah memberitakan kepada kami Abu Thahir al-Mukhlis, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair, yaitu Ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan, dari Abdul Aziz bin Muhammad, dari Musa bin Uqbah, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pemimpin wanita penghuni surga adalah Maryam binti Imran, kemudian Fatimah, kemudian Khadijah, kemudian Asiyah istri Firaun.” Jika lafazh ini mahfuzh dengan “tsumma” (kemudian) yang menunjukkan urutan, maka ini menjelaskan salah satu dari dua kemungkinan yang ditunjukkan oleh pengecualian tersebut, dan didahulukan atas lafazh-lafazh sebelumnya yang datang dengan huruf waw athaf, yang tidak mengharuskan urutan maupun meniadakannya. Wallahu a’lam.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hatim Ar-Razi, dari Dawud al-Ja’fari, dari Abdul Aziz bin Muhammad, yaitu Ad-Darawardi, dari Ibrahim bin Uqbah, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas secara marfu’, lalu menyebutkannya dengan huruf waw athaf bukan dengan “tsumma” yang menunjukkan urutan, maka dia menyelisihinya dalam sanad dan matan. Wallahu a’lam.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih, dari hadits Syu’bah, dari Muawiyah bin Qurrah, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Banyak laki-laki yang sempurna, dan tidak sempurna dari wanita kecuali tiga; Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lainnya seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya.”

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh para imam kecuali Abu Dawud, dari beberapa jalur, dari Syu’bah, dari Amr bin Murrah, dari Murrah al-Hamdani, dari Abu Musa al-Asy’ari, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Banyak laki-laki yang sempurna dan tidak sempurna dari wanita kecuali Asiyah istri Firaun, dan Maryam binti Imran, dan sesungguhnya keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lainnya seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya.” Ini adalah hadits shahih sebagaimana engkau lihat, disepakati oleh kedua imam (Bukhari dan Muslim) untuk memuatnya, dan lafazhnya menunjukkan pembatasan kesempurnaan pada wanita hanya pada Maryam dan Asiyah, dan mungkin yang dimaksud dengan itu adalah pada zaman mereka, karena masing-masing dari keduanya memelihara seorang nabi di masa kecilnya, maka Asiyah memelihara Musa al-Kalim, dan Maryam memelihara anaknya Abdullah dan Rasul-Nya, maka ini tidak meniadakan kesempurnaan wanita lain di umat ini, seperti Khadijah dan Fatimah; maka Khadijah melayani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebelum diutus selama lima belas tahun, dan setelahnya lebih dari sepuluh tahun, dan dia adalah menteri yang benar baginya dengan diri dan hartanya, radhiyallahu anha wa ardlaha. Adapun Fatimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia dikhususkan dengan keutamaan tambahan atas saudara-saudarinya; karena dia tertimpa musibah (wafat) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sedangkan sisa saudarinya meninggal di masa hidup Nabi shallallahu alaihi wasallam. Adapun Aisyah; maka dia adalah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang paling beliau cintai, dan beliau tidak menikah dengan perawan selain dirinya, dan tidak diketahui di antara wanita-wanita di umat ini, bahkan di selainnya, yang lebih berilmu dan lebih paham darinya. Allah telah cemburu untuknya ketika ahli kebohongan mengatakan tentang dirinya apa yang mereka katakan, maka Allah menurunkan pembelaannya dari atas tujuh langit. Dia hidup setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mendekati lima puluh tahun, menyampaikan dari beliau Al-Qur’an dan Sunnah, dan memberikan fatwa kepada kaum muslimin serta mendamaikan orang-orang yang berselisih, dan dia adalah yang paling mulia dari ummahatul mukminin, bahkan Khadijah binti Khuwailid, ibu dari anak-anak perempuan dan laki-laki, menurut pendapat sekelompok ulama terdahulu dan kemudian, dan yang lebih baik adalah berhenti (tidak memutuskan) di antara keduanya, radhiyallahu anhuma. Itu tidak lain karena sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Dan keutamaan Aisyah atas wanita-wanita lainnya seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya” mengandung kemungkinan umum terhadap yang disebutkan dan lainnya, dan mengandung kemungkinan umum terhadap selain yang disebutkan. Wallahu a’lam.

Yang dimaksud di sini adalah menyebutkan apa yang berkaitan dengan Maryam binti Imran alaihassalam, karena Allah mensucikannya dan memilihnya di atas wanita-wanita alam pada zamannya, dan boleh jadi keutamaannya atas wanita secara mutlak, sebagaimana telah kami sebutkan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dia akan menjadi salah satu istri Nabi shallallahu alaihi wasallam di surga, yaitu dia dan Asiyah binti Muzahim. Telah kami sebutkan dalam Tafsir dari sebagian salaf, bahwa dia mengatakan demikian, dan mengambil dalil dari firman-Nya: “Janda-janda dan gadis-gadis.” (Surat At-Tahrim: 5). Dia berkata: “Janda adalah Asiyah, dan dari gadis-gadis adalah Maryam binti Imran.” Telah kami sebutkan di akhir Surat At-Tahrim. Wallahu a’lam.

Ath-Thabarani berkata: Abdul-lah bin Najiyah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sa’d al-‘Aufi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, pamanku al-Husain menceritakan kepada kami, Yunus bin Nafi’ menceritakan kepada kami, dari Sa’d bin Junadah – yaitu al-‘Aufi, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menikahkan aku di surga dengan Maryam binti ‘Imran, istri Fir’aun, dan saudari Musa.”

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: Ibrahim bin ‘Ar’arah menceritakan kepada kami, Abdul-Nur bin Abdul-lah menceritakan kepada kami, Yunus bin Syu’aib menceritakan kepada kami, dari Abu Umamah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah engkau bahwa Allah menikahkan aku dengan Maryam binti ‘Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Kultsum saudari Musa?” Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’far al-‘Uqaili dari hadits Abdul-Nur dengannya, dan ia menambahkan: maka aku berkata: “Selamat untukmu wahai Rasulullah.” Kemudian al-‘Uqaili berkata: Dan ini tidak terjaga (sahih).

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Muhammad bin al-Hasan menceritakan kepadaku, dari Ya’la bin al-Mughirah, dari Ibnu Abi Dawud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Khadijah ketika ia dalam sakitnya yang ia wafat karenanya, maka beliau berkata kepadanya: “Dengan rasa tidak senangnya aku melihat apa yang menimpamu wahai Khadijah, dan sungguh Allah menjadikan dalam kesusahan itu kebaikan yang banyak. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah menikahkan aku bersamamu di surga dengan Maryam binti ‘Imran, Kultsum saudari Musa, dan Asiyah istri Fir’aun?” Ia berkata: Dan sungguhkah Allah telah berbuat demikian kepadamu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata: Selamat dan semoga diberi anak-anak. Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir, dari hadits Muhammad bin Zakariya al-Ghulabi, al-‘Abbas bin Bakkar menceritakan kepada kami, Abu Bakar al-Hudzali menceritakan kepada kami, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Khadijah ketika ia dalam kematian, maka beliau bersabda: “Wahai Khadijah, apabila engkau bertemu dengan madumu maka sampaikanlah salam dariku kepada mereka.” Ia berkata: Wahai Rasulullah, dan apakah engkau telah menikah sebelumku? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi Allah menikahkan aku dengan Maryam binti ‘Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Kultsum saudari Musa.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir, dari jalan Suwaid bin Sa’id, Muhammad bin Shalih bin ‘Umar menceritakan kepada kami, dari adh-Dhahhak dan Mujahid, dari Ibnu ‘Umar ia berkata: Jibril turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang diutuskan kepadanya, dan ia duduk berbincang dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Khadijah lewat, maka Jibril berkata: Siapakah ini wahai Muhammad? Beliau bersabda: “Ini adalah wanita yang jujur dari umatku.” Jibril berkata: Bersamaku ada risalah untuknya dari Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, Dia menyampaikan salam kepadanya dan memberinya kabar gembira dengan sebuah rumah di surga dari qashab (mutiara berongga), jauh dari nyala api, tidak ada kelelahan di dalamnya dan tidak ada keributan. Ia berkata: Allah adalah Salam, dan dari-Nya Salam, dan salam sejahtera, rahmat Allah dan berkah-Nya atas Rasulullah, apakah rumah yang dari qashab itu? Beliau bersabda: “Mutiara berongga antara rumah Maryam binti ‘Imran dan rumah Asiyah binti Muzahim, dan mereka berdua dari istriku pada hari kiamat.” Dan asal pemberian salam kepada Khadijah dari Allah dan kabar gembiranya dengan rumah di surga dari qashab tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan, ada dalam Shahih. Tetapi riwayat ini dengan tambahan-tambahan ini sangat gharib (ganjil). Dan setiap hadits dari hadits-hadits ini dalam sanad-sanadnya terdapat kejanggalan.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir, dari hadits Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, Abdul-lah bin Shalih menceritakan kepada kami, Mu’awiyah menceritakan kepadaku, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Khalid bin Mi’dan, dari Ka’b al-Ahbar, bahwa Mu’awiyah bertanya kepadanya tentang batu – yaitu batu Baitul Maqdis, maka ia berkata: Batu itu di atas pohon kurma, dan pohon kurma itu di atas sungai dari sungai-sungai surga, dan di bawah pohon kurma itu ada Maryam binti ‘Imran dan Asiyah binti Muzahim, keduanya merangkai kalung-kalung ahli surga, hingga datang hari kiamat. Kemudian ia meriwayatkannya dari jalan Isma’il bin ‘Ayyasy, dari Tsa’labah bin Muslim, dari Mas’ud dari Abdur-Rahman, dari Khalid bin Mi’dan, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan yang semisalnya. Dan ini munkar dari jalur ini, bahkan ia maudhu’ (palsu).

Kemudian sungguh Abu Zur’ah meriwayatkannya, dari Abdul-lah bin Shalih, dari Mu’awiyah, dari Mas’ud bin Abdur-Rahman, dari Ibnu ‘Aidz, bahwa Mu’awiyah bertanya kepada Ka’b tentang batu Baitul Maqdis, lalu ia menyebutkannya. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir berkata: Dan kenyataannya dari perkataan Ka’b al-Ahbar, lebih menyerupai. Aku berkata: Dan perkataan Ka’b al-Ahbar ini, sesungguhnya ia menerimanya dari Isra’iliyat, yang di antaranya ada yang didustakan dan dipalsukan, diletakkan oleh sebagian zindik mereka atau orang bodoh mereka, dan ini darinya. Wallahu a’lam (dan Allah yang lebih mengetahui).

Penyebutan Kelahiran Hamba dan Rasul Isa bin Maryam yang Suci

Allah Ta’ala berfirman: “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’ Ia (Jibril) berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.’ Maryam berkata: ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!’ Jibril berkata: ‘Demikianlah.’ Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.’ Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina,’ maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?’ Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’ Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah,’ maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang kafir yaitu dalam menghadiri hari yang besar.” (Surat Maryam: 16-37).

Allah Ta’ala menyebutkan kisah ini setelah kisah Zakariya, yang merupakan pendahuluan untuknya dan persiapan sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali ‘Imran digabungkan antara keduanya dalam satu konteks, dan sebagaimana firman-Nya dalam Surat al-Anbiya’: “Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya: ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.’ Maka Kamipun memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (rahimnya) roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”

Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa Maryam, ketika ibunya menjadikannya sebagai hamba yang dibebaskan, untuk mengabdi di Baitul Maqdis dan bahwa ia dipelihara oleh suami saudarinya – atau bibinya – nabi pada masa itu yaitu Zakariya ‘alaihissalam, dan bahwa ia membuat untuknya mihrab, yaitu tempat yang mulia dari masjid, tidak ada seorangpun yang memasukinya kecuali ia, dan bahwa ia ketika mencapai usia dewasa bersungguh-sungguh dalam ibadah, maka tidak ada pada masa itu yang setara dengannya dalam berbagai jenis ibadah, dan tampak padanya dari keadaan-keadaan yang membuat Zakariya ‘alaihissalam iri kepadanya, dan bahwa para malaikat berbicara kepadanya dengan kabar gembira untuknya dengan pemilihan Allah untuknya, dan bahwa Dia akan menganugerahkan kepadanya seorang anak yang suci, yang akan menjadi nabi yang mulia, suci, dimuliakan, didukung dengan mukjizat-mukjizat, maka ia heran dari keberadaan seorang anak tanpa ayah; karena ia tidak mempunyai suami, dan ia bukan termasuk orang yang menikah, maka para malaikat memberitahunya bahwa Allah berkuasa atas apa yang Dia kehendaki, apabila Dia menetapkan sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah. Maka jadilah; maka ia tunduk untuk itu dan kembali dan berserah diri kepada perintah Allah dan mengetahui bahwa ini di dalamnya ada ujian yang besar untuknya; karena orang-orang akan membicarakannya karena itu, karena mereka tidak mengetahui hakikat perkara itu, dan mereka hanya melihat kepada yang zahir dari keadaan tanpa pertimbangan dan tanpa akal, dan ia hanya keluar dari masjid pada masa haidnya, atau untuk keperluan darurat yang tidak dapat dihindarinya; dari mengambil air atau mendapatkan makanan, maka ketika ia suatu hari telah keluar untuk sebagian urusannya dan mengasingkan diri yaitu menyendiri sendirian di sebelah timur Masjid al-Aqsha, tiba-tiba Allah mengutus kepadanya Ruhul Amin (Roh yang Terpercaya), Jibril ‘alaihissalam lalu ia menjelma untuknya dalam bentuk manusia yang sempurna maka ketika ia melihatnya ia berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah darimu jika kamu seorang yang bertakwa.” Abu al-‘Aliyah berkata: Ia tahu bahwa orang yang bertakwa itu mempunyai larangan. Dan ini menolak perkataan orang yang mengira bahwa ada dalam Bani Isra’il seorang laki-laki yang fasik yang terkenal dengan kefasikannya, namanya taqiy, maka sesungguhnya ini perkataan yang batil tanpa dalil, dan ia termasuk perkataan yang paling konyol. Ia berkata: “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu” yaitu malaikat berbicara kepadanya dengan berkata: Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, yaitu: aku bukan manusia tetapi aku malaikat yang diutus Allah kepadamu “untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” yaitu seorang anak yang suci. Ia berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki” yaitu: bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, atau adakah bagiku seorang anak, “sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan seorang pezina” yaitu: dan aku tidak mempunyai suami, dan aku bukan termasuk orang yang melakukan perbuatan keji. Ia berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: hal itu adalah mudah bagi-Ku” yaitu: maka malaikat menjawabnya tentang keheranannya dari keberadaan seorang anak darinya, dan keadaannya ini, dengan berkata: demikianlah Tuhanmu berfirman yaitu: Dia berjanji bahwa Dia akan menciptakan darimu seorang anak laki-laki dan engkau tidak mempunyai suami, dan engkau tidak akan menjadi termasuk orang yang berzina. “Hal itu adalah mudah bagi-Ku” yaitu: dan ini mudah bagi-Nya, dan gampang bagi-Nya, maka sesungguhnya Dia atas apa yang Dia kehendaki Maha Kuasa. Dan firman-Nya: “dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia” yaitu: dan agar Kami menjadikan penciptaannya, dan keadaannya ini, dalil atas kesempurnaan kekuasaan Kami atas jenis-jenis penciptaan; maka sesungguhnya Dia Ta’ala menciptakan Adam dari tanpa laki-laki dan tanpa perempuan, dan menciptakan Hawa dari laki-laki tanpa perempuan, dan menciptakan Isa dari perempuan tanpa laki-laki, dan menciptakan sisa makhluk dari laki-laki dan perempuan. Dan firman-Nya: “dan sebagai rahmat dari Kami” yaitu: Kami merahmati dengan dia para hamba, dengan bahwa ia menyeru mereka kepada Allah dalam kecilnya dan besarnya, dalam masa kanak-kanaknya dan kedewasaannya, agar mereka mengkhususkan Allah dengan ibadah semata-mata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mensucikan-Nya dari mengambil pasangan dan anak-anak dan sekutu-sekutu dan yang setara, dan lawan-lawan dan tandingan-tandingan. Dan firman-Nya: “dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan” mungkin ini dari sempurnaan perkataan Jibril kepadanya, yang bermaksud bahwa ini adalah perkara yang telah diputuskan Allah dan dipastikan-Nya dan ditakdirkan-Nya dan ditetapkan-Nya. Dan ini makna perkataan Muhammad bin Ishaq, dan dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia tidak meriwayatkan selainnya. Wallahu a’lam.

Dan mungkin firman-Nya: “dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan” kiasan dari tiupan Jibril kepadanya, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Dan (ingatlah) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalamnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami.” (Surat at-Tahrim: 12). Maka menyebutkan lebih dari seorang dari Salaf, bahwa Jibril meniup di saku baju gamis-nya, maka turunlah tiupan itu ke kemaluannya, maka ia mengandung dari saat itu, sebagaimana seorang perempuan mengandung saat persetubuhan suaminya. Dan siapa yang berkata bahwa ia meniup di mulutnya, atau bahwa yang berbicara kepadanya adalah Ruh yang masuk ke dalamnya dari mulutnya, maka perkataannya berbeda dengan apa yang dipahami dari konteks-konteks kisah ini di tempat-tempatnya dari Al-Qur’an; maka sesungguhnya konteks ini menunjukkan bahwa yang diutus kepadanya adalah malaikat dari para malaikat, dan ia adalah Jibril ‘alaihissalam, dan bahwa ia hanya meniup kepadanya, dan malaikat tidak berhadapan dengan kemaluan, tetapi meniup di sakunya maka turunlah tiupan itu ke kemaluannya, maka masuklah ke dalamnya, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “maka Kami tiupkan ke dalamnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami” maka menunjukkan bahwa tiupan masuk ke dalamnya, bukan di mulutnya, sebagaimana diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b, dan bukan di dadanya, sebagaimana diriwayatkan oleh as-Suddi dengan sanadnya dari sebagian Sahabat, dan karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka Maryam mengandungnya” yaitu: maka ia mengandung anaknya “lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh” dan itu karena Maryam ‘alaihassalam, ketika ia mengandung merasa gelisah dengannya, dan mengetahui bahwa banyak dari manusia akan ada perkataan dari mereka dalam haknya, maka disebutkan oleh lebih dari seorang dari Salaf, di antara mereka Wahb bin Munabbih, bahwa ia ketika tampak padanya tanda-tanda kehamilan adalah orang pertama yang menyadari itu seorang laki-laki dari ahli ibadah Bani Isra’il, dikatakan: Yusuf bin Ya’qub an-Najjar (tukang kayu).

Dan ia adalah putra paman ibunya, maka ia sangat terkejut dengan hal itu, dan itu karena ia mengetahui tentang keberagamaan Maryam, kesuciannya, dan ibadahnya. Namun demikian, ia melihatnya hamil padahal ia tidak memiliki suami. Suatu hari ia menyinggung hal itu dalam pembicaraan, lalu berkata: “Wahai Maryam, apakah mungkin ada tanaman tanpa benih?” Maryam menjawab: “Ya, lalu siapa yang menciptakan tanaman yang pertama?” Kemudian ia berkata lagi: “Apakah mungkin ada pohon tanpa air dan tanpa hujan?” Maryam menjawab: “Ya, lalu siapa yang menciptakan pohon yang pertama?” Kemudian ia berkata: “Apakah mungkin ada anak tanpa laki-laki?” Maryam menjawab: “Ya, sesungguhnya Allah menciptakan Adam tanpa laki-laki dan tanpa perempuan.” Ia berkata kepadanya: “Beritahukanlah kepadaku beritamu.” Maryam berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi kabar gembira kepadaku dengan sebuah kalimat daripada-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah, dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk orang-orang yang saleh.” (Surah Ali Imran: 45-46). Dan diriwayatkan yang serupa tentang Zakariya alaihissalam, bahwa ia bertanya kepadanya dan ia menjawab dengan jawaban seperti ini. Wallahu a’lam.

Dan As-Suddi menyebutkan dengan sanadnya dari para sahabat, bahwa Maryam suatu hari datang kepada saudara perempuannya, lalu saudara perempuannya berkata kepadanya: “Apakah kamu tahu bahwa aku hamil?” Maryam berkata: “Dan aku juga merasakan bahwa aku hamil.” Lalu ibu Yahya memeluknya dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku melihat apa yang ada dalam perutku sujud kepada apa yang ada dalam perutmu.” Dan itulah firman-Nya: membenarkan kalimat dari Allah (Surah Ali Imran: 39). Makna sujud di sini adalah tunduk dan mengagungkan, seperti sujud saat bertemu untuk memberi salam, sebagaimana dalam syariat orang-orang sebelum kita, dan sebagaimana Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam. Ibnu Al-Qasim berkata: Malik berkata: “Sampai kepadaku bahwa Isa putra Maryam dan Yahya putra Zakariya adalah putra dari dua bersaudara perempuan, dan kehamilan keduanya terjadi bersamaan. Sampai kepadaku bahwa ibu Yahya berkata kepada Maryam: ‘Sesungguhnya aku melihat apa yang ada dalam perutku sujud kepada apa yang ada dalam perutmu.'” Malik berkata: “Aku melihat itu sebagai keutamaan Isa alaihissalam, karena Allah Ta’ala menjadikannya menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Dan diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: Maryam berkata: “Ketika aku sendiri, ia berbicara kepadaku dan berbicara denganku, dan ketika aku berada di antara orang-orang, ia bertasbih di dalam perutku.”

Kemudian yang jelas, ia mengandungnya selama sembilan bulan sebagaimana wanita pada umumnya mengandung dan melahirkan pada waktu kehamilannya dan persalinannya, karena jika ada yang berbeda dari itu tentu disebutkan. Dan dari Ibnu Abbas dan Ikrimah, bahwa ia mengandungnya selama delapan bulan. Dan dari Ibnu Abbas: “Tidak lain adalah bahwa ia mengandungnya lalu melahirkannya.” Sebagian mereka berkata: “Ia mengandungnya selama sembilan jam.” Dan mereka beristidlal dengan firman-Nya: Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungan itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya untuk bersandar pada pangkal pohon kurma (Surah Maryam: 22-23). Yang benar adalah bahwa penyambungan setiap sesuatu sesuai dengan kadarnya, sesuai dengan firman-Nya: Maka tiba-tiba bumi itu menjadi hijau (Surah Al-Hajj: 63). Dan seperti firman-Nya: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Surah Al-Mu’minun: 14). Dan diketahui bahwa antara setiap dua keadaan adalah empat puluh hari, sebagaimana tetap dalam hadis yang disepakati.

Muhammad bin Ishaq berkata: Kemudian urusan Maryam tersebar dan terkenal di kalangan Bani Israil bahwa ia hamil, maka tidak ada yang menimpa suatu keluarga seperti yang menimpa keluarga Zakariya. Ia berkata: Dan sebagian orang zindik menuduhnya dengan Yusuf yang beribadah bersamanya di masjid. Maryam bersembunyi dari mereka, menjauh dari mereka, dan menyisihkan diri ke tempat yang jauh. Dan firman-Nya: Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya untuk bersandar pada pangkal pohon kurma, yakni maka persalinan memaksanya dan mendorongnya ke pangkal pohon kurma. Dan ini – dengan nash hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad yang tidak apa-apa, dari Anas secara marfu’, dan Al-Baihaqi dengan sanad yang ia shahihkan, dari Syaddad bin Aus secara marfu’ juga – adalah di Baitul Lahm, yang kemudian dibangun di atasnya oleh sebagian raja-raja Romawi – sebagaimana akan kami sebutkan – bangunan besar yang terlihat ini. Maryam berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan” (Surah Maryam: 23). Di dalamnya ada dalil tentang bolehnya berharap mati ketika ada fitnah. Itu karena ia tahu bahwa orang-orang akan menuduhnya dan tidak membenarkannya, bahkan akan mendustakannya ketika ia datang kepada mereka dengan seorang anak laki-laki di tangannya, padahal ia telah menjadi orang yang ahli ibadah dan zuhud di antara mereka, yang tinggal di masjid, yang memutuskan diri untuk beribadah kepada Allah, yang beri’tikaf di dalamnya, dan dari keluarga kenabian dan keberagamaan. Maka ia menanggung kesedihan karena hal itu sehingga ia berharap seandainya ia telah mati sebelum keadaan ini atau menjadi sesuatu yang dilupakan, yakni tidak diciptakan sama sekali.

Dan firman-Nya: (Maka Jibril) menyerunya dari tempat yang rendah (Surah Maryam: 24). Dan dibaca: dari tempat yang rendah dengan kasrah. Dan dalam kata ganti ada dua pendapat: Pertama, bahwa ia adalah Jibril. Ini dikatakan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas. Ia berkata: Dan Isa tidak berbicara kecuali di hadapan kaum. Dan demikian pula dikatakan oleh Sa’id bin Jubair, Amr bin Maimun, Ad-Dahhak, As-Suddi, dan Qatadah. Dan Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan Sa’id bin Jubair dalam riwayat lain berkata: “Ia adalah putranya Isa.” Dan Ibnu Jarir memilihnya. Dan firman-Nya: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu” (Surah Maryam: 24). Dikatakan: sungai. Dan jumhur ulama berpendapat demikian. Dan datang dalam hal ini hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, namun ia lemah. Dan Ibnu Jarir memilihnya dan itu yang benar. Dan dari Al-Hasan, Ar-Rabi’ bin Anas, Ibnu Aslam dan lainnya, bahwa ia adalah putranya. Dan yang benar adalah pendapat pertama, karena firman-Nya: “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Surah Maryam: 25). Maka disebutkan makanan dan minuman, dan karena itu Allah berfirman: “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu” (Surah Maryam: 26). Kemudian dikatakan: Pangkal pohon kurma itu kering. Dan dikatakan: Ia adalah pohon kurma yang berbuah. Wallahu a’lam. Dan dimungkinkan bahwa ia adalah pohon kurma, tetapi tidak berbuah saat itu, karena kelahirannya pada musim dingin, dan itu bukan waktu berbuah. Dan dapat dipahami dari firman Allah Ta’ala, sebagai bentuk karunia: “niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Surah Maryam: 25). Amr bin Maimun berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi wanita yang baru melahirkan daripada kurma dan buah kurma basah.” Kemudian ia membaca ayat ini.

Dan Ibnu Abi Hatim berkata: Ali bin Al-Husain menceritakan kepada kami, Syaiban menceritakan kepada kami, Masrur bin Sa’id At-Tamimi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Amr Al-Auza’i menceritakan kepada kami, dari Urwah bin Ruwaim, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Muliakanlah bibi kalian pohon kurma, karena ia diciptakan dari tanah yang darinya Adam diciptakan, dan tidak ada sesuatu dari pohon yang dibuahi selain pohon kurma.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah makan kepada istri-istri kalian yang melahirkan anak buah kurma basah, jika tidak ada kurma basah maka kurma kering. Dan tidak ada dari pohon-pohon, pohon yang lebih mulia di sisi Allah daripada pohon yang di bawahnya Maryam binti Imran turun.” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya, dari Syaiban bin Farrukh, dari Masruq bin Sa’id. Dan dalam riwayat: Masrur bin Sa’d. Dan yang benar: Masrur bin Sa’id At-Tamimi. Ibnu Adi menyebutkan untuknya hadis ini, dari Al-Auza’i dengannya, kemudian berkata: Dan ia adalah perawi hadis mungkar, dan aku tidak mendengar penyebutannya kecuali dalam hadis ini. Dan Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan dari Al-Auza’i hadis-hadis mungkar yang banyak yang tidak boleh berhujjah dengan orang yang meriwayatkannya.”

Dan firman-Nya: “Maka jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini'” (Surah Maryam: 26). Dan ini adalah kelanjutan dari perkataan orang yang menyerunya dari bawahnya. Ia berkata: “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Maka jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah”, yakni jika kamu melihat seseorang dari manusia maka katakanlah kepadanya, yakni dengan lisan halnya dan isyarat: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah”, yakni diam. Dan termasuk puasa mereka dalam syariat mereka adalah meninggalkan berbicara dan makan. Ini dikatakan oleh Qatadah, As-Suddi, dan Ibnu Aslam. Dan yang menunjukkan hal itu adalah firman-Nya: “maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Surah Maryam: 26). Adapun dalam syariat kita, maka dimakruhkan bagi orang yang berpuasa diam satu hari sampai malam. Dan firman Allah Ta’ala: “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina'” (Surah Maryam: 27-28). Banyak dari kalangan salaf yang mengutip dari Ahli Kitab, bahwa ketika mereka kehilangan Maryam dari tengah-tengah mereka, mereka pergi mencarinya. Mereka melewati tempat tinggalnya dan cahaya-cahaya di sekitarnya. Ketika mereka menghadapinya, mereka mendapati bersamanya anaknya. Maka mereka berkata kepadanya: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar”, yakni perkara besar yang mungkar. Dan dalam apa yang mereka katakan ini ada pertimbangan, dengan bahwa itu adalah perkataan yang awalnya membatalkan akhirnya. Dan itu karena zhahir dari siyaq Al-Qur’an Al-Azhim menunjukkan bahwa ia menggendongnya sendiri, dan membawanya kepada kaumnya sedang ia menggendongnya. Ibnu Abbas berkata: “Dan itu setelah ia selesai dari masa nifasnya setelah empat puluh hari.”

Yang dimaksud adalah bahwa ketika mereka melihatnya menggendong anaknya, mereka berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar” (Surah Maryam: 27). Dan al-fariyyah adalah perbuatan mungkar yang besar dari perbuatan dan perkataan. Kemudian mereka berkata kepadanya: “Hai saudara perempuan Harun” (Surah Maryam: 28). Dikatakan: Mereka menyerupakan Maryam dengan seorang ahli ibadah dari ahli ibadah pada zaman mereka yang ia menyamainya dalam ibadah, dan namanya adalah Harun. Dan dikatakan: Mereka menyerupakan Maryam dengan seorang laki-laki fasik pada zaman mereka, namanya Harun. Ini dikatakan oleh Sa’id bin Jubair. Dan dikatakan: Yang dimaksud dengan Harun adalah saudara Musa, mereka menyerupakannya dengannya dalam ibadah. Dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi salah dalam anggapannya bahwa Maryam adalah saudara Musa dan Harun dalam nasab, karena antara keduanya ada masa yang panjang yang tidak tersembunyi bagi orang yang paling sedikit ilmunya yang menolaknya dari pendapat yang buruk ini. Dan seolah-olah yang menyesatkannya adalah bahwa dalam Taurat disebutkan bahwa Maryam saudara Musa dan Harun memukul rebana pada hari Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya. Maka ia meyakini bahwa Maryam ini adalah Maryam itu. Dan ini sangat batil dan menyelisihi hadis shahih beserta nash Al-Qur’an sebagaimana telah kami uraikan dalam Tafsir secara panjang lebar, dan segala puji dan karunia bagi Allah. Dan telah datang hadis shahih yang menunjukkan bahwa ia memiliki saudara laki-laki bernama Harun. Dan tidak ada dalam penyebutan kisah kelahirannya dan pembebasan ibunya untuk Maryam, apa yang menunjukkan bahwa ia tidak memiliki saudara lain selain dirinya. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami, aku mendengar ayahku menyebutkannya dari Simak, dari Alqamah bin Wa’il, dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku ke Najran. Mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang kalian baca: ‘Hai saudara perempuan Harun’ (Surah Maryam: 28), sedangkan Musa sebelum Isa sekian dan sekian?” Ia berkata: “Maka aku kembali dan menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: ‘Mengapa kamu tidak memberitahu mereka bahwa mereka biasa menamai dengan nama para nabi dan orang-orang saleh sebelum mereka?'” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dari hadis Abdullah bin Idris. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadisnya.” Dan dalam riwayat: “Mengapa kamu tidak memberitahu mereka bahwa mereka biasa menamai dengan nama-nama orang saleh dan para nabi mereka?” Dan Qatadah dan lainnya menyebutkan, bahwa mereka banyak memberi nama dengan Harun, hingga dikatakan: Sesungguhnya hadir di beberapa pemakaman mereka orang banyak dari mereka yang bernama Harun empat puluh ribu orang. Wallahu a’lam.

Maksudnya adalah mereka berkata: “Wahai saudara perempuan Harun,” dan hadits menunjukkan bahwa sesungguhnya dia memiliki saudara laki-laki kandung bernama Harun yang terkenal dengan ketaatan, kesalehan, dan kebaikannya. Oleh karena itu mereka berkata: “Ayahmu bukanlah laki-laki yang jahat dan ibumu bukanlah perempuan yang berzina,” artinya: kamu bukan dari keluarga yang perilaku dan tabiatnya seperti ini; bukan saudaramu, bukan ibumu, dan bukan ayahmu. Maka mereka menuduhnya melakukan perbuatan keji yang sangat besar, dan melontarkan tuduhan yang dahsyat kepadanya. Ibnu Jarir menyebutkan dalam kitab Tarikhnya bahwa mereka menuduhnya dengan Zakaria dan bermaksud membunuhnya, lalu dia melarikan diri dari mereka. Mereka mengejarnya dan pohon terbelah untuknya lalu dia masuk ke dalamnya, dan Iblis memegang ujung selendangnya, lalu mereka menggergajinya di dalam pohon itu, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

Dan di antara orang-orang munafik ada yang menuduhnya dengan anak pamannya Yusuf bin Yaqub an-Najjar. Ketika keadaan menjadi sempit, jalan keluar tertutup, pembicaraan tidak mungkin, maka bertawakallah kepada Yang Maha Agung menjadi besar, dan tidak tersisa kecuali keikhlasan dan ketergantungan kepada Allah. Maka Maryam menunjuk kepada Isa, artinya: ajak dia bicara dan bicaralah dengannya; karena jawaban kalian ada padanya, dan apa yang kalian inginkan dari pembicaraan ada padanya. Maka saat itu berkatalah orang yang jahat dan sombong di antara mereka: “Bagaimana kami berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian?” artinya: bagaimana engkau menyerahkan jawaban kepada kami pada bayi kecil yang tidak berakal untuk menjawab, dia masih bayi yang menyusu dalam buaiannya, dan tidak bisa membedakan antara susu murni dan mentega. Ini tidak lain dari engkau adalah untuk mengejek dan mengolok-olok kami, merendahkan dan meremehkan kami; karena engkau tidak menjawab kami dengan ucapan yang jelas, tetapi menyerahkan jawaban kepada bayi yang masih dalam buaian. Maka saat itu Isa berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Surah Maryam: 30-31)

Ini adalah kata-kata pertama yang diucapkan oleh Isa bin Maryam. Maka hal pertama yang dia ucapkan adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah,” dia mengakui kepada Tuhannya Yang Maha Tinggi dengan penghambaan, dan bahwa Allah adalah Tuhannya. Maka dia menyucikan keagungan Allah dari ucapan orang-orang zalim dalam anggapan mereka bahwa dia adalah anak Allah, bahkan dia adalah hamba-Nya, rasul-Nya dan anak hamba perempuan-Nya. Kemudian dia membersihkan ibunya dari apa yang dituduhkan kepadanya oleh orang-orang jahil, dan yang mereka tuduhkan dan lontarkan kepadanya karena dia, dengan perkataannya: “Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi.” Karena sesungguhnya Allah tidak memberikan kenabian kepada orang yang seperti yang mereka sangka, semoga Allah melaknat dan menghinakan mereka, sebagaimana firman Allah: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan yang besar.” (Surah an-Nisa: 156). Dan itu karena sekelompok orang Yahudi pada masa itu berkata: Sesungguhnya dia mengandungnya dari perzinaan di masa haid, semoga Allah melaknat mereka. Maka Allah membersihkan Maryam dari tuduhan itu, dan mengabarkan tentangnya bahwa dia adalah seorang yang sangat membenarkan (shiddiqah), dan menjadikan anaknya sebagai nabi yang diutus, salah satu dari lima ulul azmi yang agung. Oleh karena itu dia berkata: “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.” Itu karena di mana saja dia berada, dia menyeru kepada penyembahan Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan menyucikan keagungan-Nya dari kekurangan dan cacat; dari mengambil istri dan anak, Maha Tinggi dan Maha Suci Dia. “Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Surah Maryam: 31) Dan ini adalah tugas para hamba dalam melaksanakan hak Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji; dengan salat, dan berbuat baik kepada makhluk dengan zakat, yang mencakup pembersihan jiwa dari akhlak yang buruk, dan pembersihan harta yang banyak dengan pemberian kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan berbagai golongan, dan menjamu tamu, serta nafkah kepada istri-istri, budak-budak, kerabat-kerabat, dan semua bentuk ketaatan dan berbagai jenis ibatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian dia berkata: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (Surah Maryam: 32) Artinya: dan Dia menjadikan aku berbakti kepada ibuku, dan itu karena haknya atas diriku sangat penting, karena hubungannya murni, karena tidak ada ayah bagiku selain dia, maka Maha Suci Allah yang menciptakan makhluk dan membentuknya, dan memberikan kepada setiap jiwa petunjuknya. “Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka,” artinya: aku tidak kasar dan tidak keras, dan tidak keluar dariku perkataan maupun perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya. “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Surah Maryam: 33) Dan ketiga tempat ini telah disebutkan pembahasannya dalam kisah Yahya bin Zakaria, semoga keselamatan atas keduanya. Kemudian ketika Allah menceritakan kisahnya dengan jelas, dan menjelaskan urusannya serta memperjelas dan menguraikannya, Dia berfirman: “Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (Surah Maryam: 34-35) Sebagaimana firman Allah setelah menyebutkan kisahnya dan apa yang terjadi darinya dalam Surah Ali Imran: “Demikianlah Kami membacakan kepadamu sebagian dari ayat-ayat dan Al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ (seorang manusia), maka jadilah dia. (Itu adalah) kebenaran dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Maka barangsiapa yang membantahmu tentang hal Isa setelah datang pengetahuan kepadamu, maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah (berdoa) kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’ Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Surah Ali Imran: 58-63).

Oleh karena itu ketika utusan Najran datang dan mereka berjumlah enam puluh pengendara, urusan mereka kembali kepada empat belas orang dari mereka, dan urusan semuanya bermuara kepada tiga orang yang merupakan pembesar dan pemimpin mereka, yaitu: al-Aqib, as-Sayyid, dan Abu Haritsah bin Alqamah. Maka mereka mulai berdebat tentang masalah al-Masih, lalu Allah menurunkan awal Surah Ali Imran tentang hal itu, dan menjelaskan masalah al-Masih dan awal penciptaannya dan penciptaan ibunya sebelumnya, dan memerintahkan Rasul-Nya untuk bermubahalah dengan mereka jika mereka tidak mau menerimanya dan mengikutinya. Ketika mereka melihat dan mendengar hal itu, mereka mundur dan tidak mau bermubahalah, dan beralih kepada perdamaian dan perjanjian damai. Berkata pembicara mereka, yaitu al-Aqib Abdul Masih: “Wahai kaum Nasrani, sungguh kalian telah mengetahui bahwa Muhammad adalah nabi yang diutus, dan sungguh dia telah datang kepada kalian dengan keputusan tentang sahabat kalian, dan sungguh kalian telah mengetahui bahwa tidak pernah suatu kaum yang melaknat seorang nabi, kecuali orang dewasa mereka akan binasa dan anak kecil mereka tidak tumbuh, dan itu adalah kebinasaan bagi kalian jika kalian melakukannya. Jika kalian tetap ingin mempertahankan agama kalian dan tetap pada pendapat kalian tentang sahabat kalian, maka buatlah perjanjian damai dengan orang ini dan kembalilah ke negeri kalian.” Maka mereka meminta hal itu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan meminta beliau untuk menetapkan jizyah atas mereka, dan untuk mengutus bersama mereka seorang yang amanah. Maka beliau mengutus bersama mereka Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Dan kami telah menjelaskan hal itu dalam tafsir Ali Imran, dan akan datang penjelasan luas tentang peristiwa ini dalam Sirah Nabawiyah dari kitab kami ini, insya Allah, dan dengan-Nya adalah kepercayaan.

Maksudnya adalah bahwa Allah ketika menjelaskan masalah al-Masih, Dia berfirman kepada Rasul-Nya: “Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya,” yaitu dari bahwa dia adalah hamba yang diciptakan dari seorang perempuan dari hamba-hamba Allah, dan oleh karena itu Dia berfirman: “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu,” (Surah Maryam: 35) artinya: tidak ada sesuatu yang mustahil bagi-Nya dan tidak ada yang memberatkan-Nya dan tidak ada yang merepotkan-Nya, bahkan Dia Maha Kuasa Yang Mahaperkasa untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Surah Yasin: 82).

Dan firman-Nya: “Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Quran), sesungguhnya dia adalah seorang yang tulus ikhlas dan dia adalah seorang rasul dan nabi,” (Surah Maryam: 51) adalah kelanjutan dari perkataan Isa kepada mereka dalam buaian, dia mengabarkan kepada mereka bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan mereka, dan Tuhan sembahan-Nya dan Tuhan sembahan mereka, dan bahwa ini adalah jalan yang lurus. Allah berfirman: “Maka berselisihlah golongan-golongan (yang datang) sesudah Isa, maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (hari kiamat).” (Surah Maryam: 37) Artinya: maka berselisih penduduk masa itu dan yang sesudah mereka tentangnya. Ada yang berkata dari kalangan Yahudi: Sesungguhnya dia adalah anak zina. Dan mereka terus dalam kekafiran dan kedegilan mereka, dan yang lain membalas mereka dalam kekafiran lalu berkata: Dia adalah Allah. Dan yang lain berkata: Dia adalah anak Allah. Dan orang-orang mukmin berkata: Dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan anak hamba perempuan-Nya, dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Dan mereka inilah yang selamat, yang diberi pahala, yang didukung, yang ditolong. Dan barangsiapa menyelisihi mereka dalam sesuatu dari batasan ini, maka merekalah orang-orang kafir yang zalim, yang sesat lagi jahil. Dan Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui telah mengancam mereka dengan firman-Nya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (hari kiamat).” (Surah Maryam: 37)

Berkata al-Bukhari: Menceritakan kepada kami Shadaqah bin al-Fadhl, mengabarkan kepada kami al-Walid, menceritakan kepada kami al-Auza’i, menceritakan kepadaku Umair bin Hani, menceritakan kepadaku Junadah bin Abi Umayyah, dari Ubadah bin ash-Shamit, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam dan roh dari-Nya, dan surga itu benar, dan neraka itu benar – Allah akan memasukkannya ke dalam surga atas dasar amal yang ia lakukan.” Berkata al-Walid: Maka menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Umair, dari Junadah, dan menambahkan: “Dari pintu-pintu surga yang delapan, mana saja yang dia kehendaki.” Dan telah meriwayatkannya Muslim dari Dawud bin Rasyid dari al-Walid, dari Ibnu Jabir dengannya, dan dari jalan lain dari al-Auza’i dengannya.

۞۞۞۞۞

Bab Penjelasan Bahwa Allah Maha Suci dari Memiliki Anak

Allah berfirman di akhir surah ini: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,” (Surah Maryam: 88-89) yaitu sesuatu yang besar, dan perkataan yang mungkar lagi dusta. “Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Surah Maryam: 89-95) Maka Dia menjelaskan bahwa Dia tidak layak memiliki anak; karena Dia adalah pencipta segala sesuatu dan pemiliknya, dan segala sesuatu itu fakir kepada-Nya, tunduk dan hina di hadapan-Nya, dan semua penghuni langit dan bumi adalah hamba-hamba-Nya, dan Dia adalah Tuhan mereka, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan tidak ada Tuhan selain-Nya, sebagaimana firman Allah: “Dan mereka menjadikan jin-jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): ‘Bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar) ilmu. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sifatkan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-An’am: 100-103). Maka Dia menjelaskan bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin Dia memiliki anak, dan anak tidak mungkin ada kecuali antara dua hal yang saling menyerupai! Dan Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada istri bagi-Nya, maka tidak mungkin ada anak bagi-Nya, sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.'” (Surah al-Ikhlas: 1-4). Maka tetap bahwa Dia adalah “Yang Maha Esa” yang tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam Zat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya. “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,” yaitu Pemimpin yang sempurna dalam ilmu-Nya dan hikmah-Nya dan rahmat-Nya, dan semua sifat-sifat-Nya. “Dia tidak beranak,” artinya: tidak ada anak yang dilahirkan dari-Nya. “Dan tidak pula diperanakkan,” artinya: dan tidak dilahirkan dari sesuatu sebelum-Nya. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia,” artinya: dan tidak ada yang setara atau sepadan atau sederajat dengan-Nya, maka terputuslah yang serupa yang dekat maupun yang lebih tinggi atau yang setara; maka terbatalah bahwa Dia memiliki anak, karena anak tidak mungkin ada kecuali dilahirkan antara dua hal yang setara atau mendekati, dan Maha Tinggi Allah dari itu dengan ketinggian yang besar.

Dan berfirman Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi dan Maha Suci: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang sempurna dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya; dan adapun orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. Dan mereka tidak memperoleh bagi mereka selain Allah seorang pelindung dan tidak (pula) seorang penolong.” (Surah an-Nisa: 171-173).

Allah Ta’ala melarang Ahli Kitab dan orang-orang yang menyerupai mereka dari sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam agama, yaitu melampaui batas yang semestinya. Orang-orang Nasrani—semoga Allah melaknat mereka—telah berlebihan dan melampaui batas terhadap Al-Masih hingga mereka melampaui batas yang seharusnya. Padahal yang wajib bagi mereka adalah meyakini bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan putra dari ibunya yang suci lagi perawan yang memelihara kemaluannya. Maka Allah mengutus Malaikat Jibril kepadanya, lalu meniupkan ruh ke dalamnya atas perintah Allah, sehingga ia hamil dan melahirkan anaknya Isa alaihissalam. Dan yang berhubungan dengannya dari malaikat adalah ruh yang dinisbatkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, dan ia adalah makhluk dari makhluk-makhluk Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan: Baitullah (rumah Allah), naqatullah (unta Allah), dan abdillah (hamba Allah), demikian pula ruhullah (ruh Allah), dinisbatkan kepada-Nya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Dan Isa dinamai dengannya karena ia ada melaluinya tanpa ayah, dan ia juga adalah kalimat yang dengannya ia diciptakan dan karenanya ia ada, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali Imran: 59)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (Dia adalah) Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah!’ lalu jadilah ia.” (Al-Baqarah: 116-117)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Semoga Allah membinasakan mereka; bagaimana mereka sampai berpaling (dari kebenaran)?” (At-Taubah: 30)

Maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani—semoga laknat Allah atas mereka—masing-masing dari kedua golongan itu telah menuduh Allah dengan tuduhan yang melampaui batas, dan mereka menyangka bahwa Allah mempunyai anak. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. Dan Dia mengabarkan bahwa mereka tidak memiliki dalil dalam apa yang mereka sangkakan dan dalam apa yang mereka ada-adakan, kecuali hanya ucapan semata dan meniru orang-orang yang mendahului mereka dalam ucapan yang sesat ini. Hati mereka saling menyerupai satu sama lain, yaitu bahwa para filsuf—semoga laknat Allah atas mereka—menyangka bahwa Akal Pertama keluar dari Wajibul Wujud yang mereka sebut dengan Illatul Ilal (Sebab dari segala sebab) dan Prinsip Pertama, dan bahwa dari Akal Pertama keluar Akal Kedua, jiwa, dan falak. Kemudian dari yang kedua demikian pula, hingga akal-akal mencapai sepuluh, jiwa-jiwa mencapai sembilan, dan falak-falak mencapai sembilan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rusak yang mereka sebutkan dan pilihan-pilihan yang dingin yang mereka kemukakan. Dan untuk membahas secara mendalam dengan mereka serta menjelaskan kebodohan dan minimnya akal mereka, ada tempatnya tersendiri.

Dan demikian pula kelompok-kelompok dari orang-orang musyrik Arab, karena kebodohan mereka menyangka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah, dan bahwa Dia berbesan dengan para pemuka jin lalu lahir dari keduanya para malaikat. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan, dan Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” (Az-Zukhruf: 19)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka tanyakanlah kepada mereka (orang-orang musyrik Mekah): ‘Apakah Tuhanmu mempunyai anak perempuan sedang mereka mempunyai anak laki-laki?’ Ataukah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya? Ingatlah, sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: ‘Allah beranak.’ Dan sesungguhnya mereka adalah pendusta. Apakah Allah memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu (berbuat) demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Ataukah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka datangkanlah kitabmu jika kamu orang-orang yang benar. Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dengan jin. Dan sesungguhnya jin itu mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari kesesatan).” (Ash-Shaffat: 149-160)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.’ Maha Suci Dia, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (Al-Anbiya: 26-29)

Dan Allah Ta’ala berfirman di awal surah Al-Kahfi, yang merupakan surah Makkiyah: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, dan untuk memperingatkan orang-orang yang berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, demikian pula nenek moyang mereka. Besar (dosanya) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan kebohongan belaka.” (Al-Kahfi: 1-5)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Maha Suci Dia; bahkan Dia Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.’ (Bagi mereka) kesenangan sedikit di dunia, kemudian kepada Kami-lah tempat kembali mereka, kemudian Kami rasakan kepada mereka azab yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” (Yunus: 68-70)

Maka ayat-ayat Makkiyah yang mulia ini mencakup bantahan terhadap seluruh kelompok orang-orang kafir dari kalangan filsuf, orang-orang musyrik Arab, Yahudi, dan Nasrani yang mengklaim dan menyangka tanpa ilmu bahwa Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim yang melampaui batas dengan ketinggian yang besar.

Dan karena orang-orang Nasrani—semoga laknat Allah yang berturut-turut atas mereka hingga hari kiamat—adalah yang paling terkenal mengatakan ucapan ini, maka mereka disebutkan dalam Al-Quran berkali-kali untuk membantah mereka dan menjelaskan pertentangan, minimnya ilmu, dan banyaknya kebodohan mereka. Dan telah beragam ucapan-ucapan mereka dalam kekufuran mereka, karena yang batil itu banyak bercabang, berbeda, dan bertentangan. Adapun yang hak, maka tidak berbeda dan tidak bergoncang. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa: 82)

Maka hal ini menunjukkan bahwa yang hak itu bersatu dan sepakat, sedangkan yang batil berbeda dan bergoncang. Sebagian dari kesesatan dan kebodohan mereka menyangka bahwa Al-Masih adalah Allah. Maha Tinggi Allah. Sebagian berkata: dia adalah anak Allah. Maha Agung Allah. Dan sebagian berkata: dia adalah yang ketiga dari tiga. Maha Suci Allah.

Allah Ta’ala berfirman di awal surah Al-Maidah: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)

Maka Allah Ta’ala mengabarkan tentang kekafiran dan kebodohan mereka, dan menjelaskan bahwa Dia adalah Pencipta yang Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang Maha Mengatur segala sesuatu, dan bahwa Dia adalah Tuhan segala sesuatu, Penguasanya, dan Tuhannya.

Dan Dia berfirman di akhir surah itu: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam,’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Maidah: 72-75)

Allah Ta’ala menetapkan kekafiran mereka secara syariat dan takdir, dan mengabarkan bahwa hal ini keluar dari mereka padahal Rasul kepada mereka, yaitu Isa putra Maryam, telah menjelaskan kepada mereka bahwa ia adalah hamba yang dipelihara, makhluk yang dibentuk dalam rahim, yang menyeru kepada penyembahan Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan mengancam mereka atas pelanggaran terhadap hal itu dengan neraka, tidak mendapat keberuntungan di negeri yang kekal, kehinaan di negeri akhirat, dan kehinaan serta aib. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Kemudian Allah berfirman: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.”

Ibnu Jarir dan lainnya berkata: Yang dimaksud dengan itu adalah ucapan mereka tentang Aqanim Tiga: Aqnum Bapak, Aqnum Anak, dan Aqnum Kalimat yang terpancar dari Bapak kepada Anak, dengan perbedaan di antara mereka dalam hal itu antara Melkiyah, Yaaqubiyah, dan Nasturiyah—semoga laknat Allah atas mereka—sebagaimana akan kami jelaskan bagaimana perbedaan mereka dalam hal itu dan tiga pertemuan mereka pada masa Konstantin bin Qustus, dan itu setelah Al-Masih tiga ratus tahun, dan sebelum pengutusan Muhammad tiga ratus tahun. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa,” yaitu tidak ada tuhan kecuali Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada istri bagi-Nya dan tidak ada anak.

Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan mereka, maka berfirman: “Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”

Kemudian Allah menyeru mereka dengan rahmat dan kelembutan-Nya kepada taubat dan istighfar dari perkara-perkara besar ini dan hal-hal dahsyat yang mewajibkan neraka, maka berfirman: “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kemudian Allah menjelaskan keadaan Al-Masih dan ibunya, bahwa ia adalah hamba rasul, dan ibunya adalah perempuan yang sangat benar, yaitu bukan perempuan yang berzina, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi—semoga Allah melaknat mereka. Dan dalam hal ini terdapat dalil bahwa ia bukan nabi perempuan, sebagaimana yang disangka oleh sebagian ulama kita.

Dan firman-Nya: “kedua-duanya biasa memakan makanan” adalah kinayah (sindiran) tentang keluarnya makanan dari keduanya sebagaimana keluar dari yang lain, yaitu: dan siapa yang berada dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin dia menjadi tuhan?! Maha Tinggi Allah dari ucapan dan kebodohan mereka dengan ketinggian yang besar.

As-Suddi dan lainnya berkata: Yang dimaksud dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'” adalah sangkaan mereka terhadap Isa dan ibunya bahwa keduanya adalah tuhan bersama Allah, yaitu sebagaimana Allah Ta’ala menjelaskan kekafiran mereka dalam hal itu dengan firman-Nya di akhir surah yang mulia ini: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,’ dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'” (Al-Maidah: 116-118)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan bertanya kepada Isa putra Maryam pada hari kiamat, sebagai bentuk penghormatan kepadanya dan celaan serta teguran kepada para penyembahnya, dari orang-orang yang berdusta atasnya dan mengada-ada serta menyangka bahwa ia adalah anak Allah, atau bahwa ia adalah Allah, atau bahwa ia adalah sekutu-Nya. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Maka Allah bertanya kepadanya padahal Dia mengetahui bahwa hal yang ditanyakan tidak pernah terjadi darinya, tetapi untuk menegur orang yang berdusta atasnya. Maka Allah berfirman kepadanya: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'”

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau,” yaitu: Maha Tinggi Engkau bahwa ada sekutu bersama-Mu. “tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya),” yaitu: hal ini tidak layak bagi siapa pun selain Engkau. “Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib.” Dan ini adalah kesopanan yang agung dalam ucapan dan jawaban.

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku” ketika Engkau mengutusku kepada mereka dan menurunkan kepadaku Kitab yang dibacakan kepada mereka. Kemudian ia menafsirkan apa yang ia katakan kepada mereka dengan ucapannya: “yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,'” yaitu Penciptaku dan Pencipta kalian, Pemberi rizkiku dan pemberi rizki kalian.

“dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku” yaitu: mengangkatku kepada-Mu ketika mereka ingin membunuhku dan menyalibku, lalu Engkau merahmatiku dan menyelamatkanku dari mereka, dan Engkau melemparkan syubhatku (keserupaanku) kepada salah seorang dari mereka, hingga mereka membalas dendam terhadapnya. Ketika hal itu terjadi, “Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

Kemudian ia berkata dengan cara mewakilkan kepada Tuhan Yang Maha Agung dan berlepas diri dari Ahli Nasrani: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau,” yaitu: dan mereka layak mendapat itu. “dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Dan penyerahan dan penyandarannya ini kepada kehendak dengan syarat tidak mengharuskan terjadinya hal itu, oleh karena itu Allah berfirman: “sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” dan tidak berfirman: Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan telah kami sebutkan dalam Tafsir apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri dengan ayat yang mulia ini sepanjang malam hingga pagi: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meminta kepada Tuhanku Yang Maha Agung syafaat untuk umatku, maka Dia memberikannya kepadaku, dan ia akan diperoleh, insya Allah, bagi siapa yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu untuk permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian. Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). Dan kepunyaan-Nya-lah siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 16-20)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentulah Dia memilih apa yang dikehendaki-Nya dari apa yang telah Dia ciptakan. Maha Suci Dia, Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Az-Zumar: 4-5)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Jika Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula menyembah (anak itu).’ Maha Suci Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi, Tuhan (yang mempunyai) Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.” (Az-Zukhruf: 81-82)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'” (Al-Isra: 111)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4)

Dan telah tetap dalam Shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mencaci Aku padahal tidak layak baginya berbuat demikian, ia menyangka bahwa Aku mempunyai anak, padahal Aku adalah Yang Maha Esa lagi Maha Dibutuhkan, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Aku.'”

Dan dalam Shahih juga dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorangpun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengar-Nya daripada Allah, sesungguhnya mereka menjadikan bagi-Nya anak, padahal Dia memberi rizki kepada mereka dan menyehatkan mereka.”

Namun telah tetap dalam Shahih juga dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang zalim, hingga apabila Dia menyiksanya Dia tidak melepaskannya.” Kemudian beliau membaca: “Dan demikian itulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (Hud: 102)

Dan demikian pula firman Allah Ta’ala: “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang Aku beri tangguh dalam keadaan berbuat zalim, kemudian Aku siksa mereka. Dan kepada Aku-lah tempat kembali.” (Al-Hajj: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam azab yang berat.” (Luqman: 24)

Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. (Itu hanyalah) kesenangan sementara di dunia, kemudian kepada Kamilah tempat kembali mereka, lalu Kami rasakan kepada mereka azab yang sangat keras karena kekafiran yang dahulu mereka lakukan.” (Surat Yunus ayat 69–70)

Dan Allah Yang Mahatinggi berfirman: “Maka berilah tangguh kepada orang-orang kafir itu; beri tangguhlah mereka sebentar.” (Surat At-Tariq ayat 17)

Kisah Awal Kehidupan Isa Putra Maryam, semoga keselamatan tercurah pada keduanya, dan Penjelasan tentang Awal Wahyu yang Diturunkan Allah kepada Beliau

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dia dilahirkan di Betlehem, dekat Baitul Maqdis. Wahab bin Munabbih menyatakan bahwa dia dilahirkan di Mesir, dan bahwa Maryam bepergian bersama Yusuf bin Yaqub sang tukang kayu, dengan Maryam menunggangi seekor keledai tanpa ada alas apa pun antara dirinya dan pelana. Namun hal ini tidak benar, dan hadits yang telah disebutkan sebelumnya menjadi dalil bahwa kelahirannya terjadi di Betlehem sebagaimana kami sebutkan, dan apa pun yang menentangnya adalah batil.

Wahab bin Munabbih menyebutkan bahwa ketika Isa dilahirkan, berhala-berhala di timur dan barat bumi berjatuhan pada hari itu, dan setan-setan kebingungan tentang penyebabnya, hingga Iblis yang besar menyingkapkan kepada mereka perihal Isa. Mereka menemukan dia dalam pangkuan ibunya dengan malaikat-malaikat mengelilinginya. Sebuah bintang besar muncul di langit, dan raja Persia khawatir dengan kemunculannya, lalu dia bertanya kepada para pendeta tentang hal itu. Mereka berkata: “Ini karena kelahiran seorang bayi yang agung di bumi.” Maka dia mengirim utusannya dengan membawa emas, mur, dan kemenyan sebagai hadiah untuk Isa. Ketika mereka tiba di Syam, rajanya bertanya tentang apa yang membawa mereka datang, lalu mereka menyebutkan hal itu. Raja bertanya tentang waktu peristiwa itu, ternyata pada saat itu Isa putra Maryam telah lahir di Baitul Maqdis, dan kabar tentangnya tersebar karena dia berbicara di dalam buaian. Raja mengirim mereka kepadanya dengan membawa hadiah-hadiah itu dan mengirim bersama mereka orang yang akan mengenalinya; untuk berupaya membunuhnya ketika mereka kembali. Ketika mereka tiba menemui Maryam dengan hadiah-hadiah itu lalu kembali, dikatakan kepada Maryam: “Sesungguhnya utusan raja Syam datang untuk membunuh anakmu.” Maka dia membawa anaknya dan pergi ke Mesir, dan tinggal di sana hingga usianya mencapai dua belas tahun. Kemuliaan dan mukjizat tampak pada dirinya sejak masa kecilnya.

Disebutkan di antaranya bahwa tuan tanah yang mereka menumpang di rumahnya kehilangan sejumlah harta dari rumahnya, padahal rumahnya hanya dihuni oleh orang-orang fakir, lemah, dan yang membutuhkan. Dia tidak tahu siapa yang mengambilnya, dan hal itu membuat Maryam semoga keselamatan tercurah padanya sedih, serta menyusahkan orang-orang dan pemilik rumah, dan mereka tidak berdaya mengatasinya. Ketika Isa semoga keselamatan tercurah padanya melihat hal itu, dia mendatangi seorang buta dan seorang lumpuh dari sekelompok orang yang bergantung kepadanya, lalu berkata kepada si buta: “Pikul orang lumpuh ini dan bangkitlah bersamanya.” Si buta berkata: “Aku tidak mampu melakukan itu.” Isa berkata: “Tentu bisa, sebagaimana yang kamu dan dia lakukan ketika kalian mengambil harta itu dari jendela rumah itu.” Ketika dia mengatakan itu, keduanya membenarkan apa yang dia katakan, dan membawa harta itu. Maka Isa menjadi agung di mata orang-orang meskipun dia masih sangat kecil.

Di antara kejadian lainnya, putra tuan tanah itu mengadakan jamuan untuk orang-orang karena perayaan khitan anak-anaknya. Ketika orang-orang berkumpul dan dia memberi mereka makan, kemudian ingin memberi mereka minuman, yakni khamr sebagaimana kebiasaan mereka di zaman itu, dia tidak menemukan apa pun di dalam bejana-bejananya. Hal itu membuatnya susah. Ketika Isa melihat hal itu darinya, dia berdiri dan mulai melewati bejana-bejana itu serta mengusap mulut-mulutnya, dan tidak ada bejana yang dia perlakukan demikian melainkan terisi penuh dengan minuman dari minuman terbaik. Orang-orang sangat takjub dengan hal itu dan mengagungkannya serta menawarkan kepadanya dan kepada ibunya harta yang banyak, namun keduanya tidak menerimanya dan berangkat menuju Baitul Maqdis. Wallahu alam.

Ishaq bin Basyir berkata: Utsman bin As-Saj dan lainnya mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Wardan, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said, dan dari Makhul, dari Abu Hurairah yang berkata: Sesungguhnya Isa putra Maryam, pertama kali Allah melonggarkan lisannya setelah ucapan yang dia ucapkan saat masih kanak-kanak, maka dia memuji Allah dengan pujian yang belum pernah didengar telinga sepertinya. Tidak ada matahari, bulan, gunung, sungai, maupun mata air melainkan dia menyebutnya dalam pujiannya. Dia berkata: “Ya Allah, Engkau Yang Dekat dalam ketinggian-Mu, Yang Maha Tinggi dalam kedekatan-Mu, Yang Maha Luhur atas segala sesuatu dari ciptaan-Mu. Engkaulah Yang menciptakan tujuh (langit) di udara dengan kalimat-kalimat-Mu, berlapis-lapis sebagai lapisan-lapisan, yang tadinya lemah seperti asap karena takut pada-Mu, lalu mereka tunduk patuh pada perintah-Mu. Di dalamnya ada malaikat-malaikat-Mu yang memuji kesucian-Mu untuk menyucikan-Mu. Engkau menjadikan di dalamnya cahaya di atas kegelapan yang pekat, dan sinar dari cahaya matahari di siang hari. Engkau menjadikan di dalamnya guntur yang bertasbih dengan memuji-Mu. Dengan keagungan-Mu Engkau menyingkapkan cahaya dari kegelapan-Mu. Engkau menjadikan di dalamnya lentera-lentera yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bagi yang tersesat. Maha Suci Engkau ya Allah dalam ciptaan langit-langit-Mu, dan dalam apa yang Engkau bentangkan dari bumi-Mu. Engkau bentangkan dia di atas air, lalu Engkau tegakkan dia di atas arus ombak yang bergelombang, lalu Engkau taklukkan dia seperti penakhlukan air yang murni. Maka tunduk patuh pada ketaatan-Mu yang sulit darinya, dan malu pada perintah-Mu urusannya, dan tunduk pada keagungan-Mu ombak-ombaknya. Lalu Engkau memancarkan di dalamnya setelah lautan, sungai-sungai, dan setelah sungai-sungai, aliran-aliran kecil, dan setelah aliran-aliran itu mata air yang deras mengalir. Kemudian Engkau keluarkan dari dalamnya sungai-sungai, pepohonan, dan buah-buahan. Kemudian Engkau jadikan di atasnya gunung-gunung, lalu Engkau pasang dia sebagai pasak-pasak di atas permukaan air. Tunduk patuh gunung-gunung dan batu-batunya. Maha Suci Engkau ya Allah, siapakah yang dapat menggambarkan sifat-Mu dengan gambaran? Atau siapakah yang dapat menggambarkan sifat-Mu dengan deskripsi? Engkau yang membentangkan awan, melepaskan belenggu, memutuskan dengan kebenaran, dan Engkau sebaik-baik yang memutuskan. Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Engkau memerintahkan agar kami memohon ampunan-Mu dari setiap dosa. Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Engkau menutup langit dari manusia. Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya yang takut kepada-Mu dari hamba-hamba-Mu adalah orang-orang yang berakal. Kami bersaksi bahwa Engkau bukanlah tuhan yang kami ciptakan, bukan pula Tuhan yang akan lenyap ingatan kepada-Nya, tidak ada sekutu bersama-Mu yang memutuskan bersama-Mu sehingga kami menyeru mereka dan meninggalkan-Mu, tidak ada yang membantu-Mu dalam menciptakan kami sehingga kami ragu tentang-Mu. Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Esa, Tempat Bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Mu.”

Ishaq bin Basyir berkata dari Juwaibir dan Muqatil, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Isa putra Maryam berhenti berbicara setelah dia berbicara kepada mereka saat masih kanak-kanak, hingga dia mencapai usia sebagaimana usia anak-anak lainnya. Kemudian Allah memberinya kemampuan berbicara setelah itu dengan hikmah dan kefasihan. Orang-orang Yahudi banyak membicarakan tentangnya dan ibunya, mereka menyebutnya anak perempuan sundal. Itulah firman Allah: “Dan karena kekafiran mereka dan perkataan mereka terhadap Maryam dengan kebohongan yang besar.” (Surah An-Nisa: 156). Dia berkata: Ketika dia mencapai usia tujuh tahun, ibunya menyerahkannya ke tempat belajar. Guru tidak mengajarkan sesuatu kepadanya melainkan dia mendahuluinya. Guru mengajarinya Abjad. Isa berkata: “Apa itu Abjad?” Guru berkata: “Aku tidak tahu.” Isa berkata: “Bagaimana kamu mengajariku apa yang kamu tidak tahu?” Guru berkata: “Kalau begitu ajari aku.” Isa berkata kepadanya: “Bangkitlah dari tempat dudukmu.” Guru berdiri, lalu Isa duduk di tempatnya. Dia berkata: “Tanyakan padaku.” Guru berkata: “Apa itu Abjad?” Isa berkata: “Alif adalah karunia Allah, Ba adalah keindahan Allah, Jim adalah keagungan Allah dan keindahan-Nya.” Guru takjub dengan hal itu, dan dialah orang pertama yang menafsirkan Abjad.

Kemudian disebutkan bahwa Utsman bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang hal itu, lalu beliau menjawabnya untuk setiap kata dengan hadits yang panjang yang dibuat-buat, tidak ada keraguan padanya dan tidak diperselisihkan.

Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari hadits Ismail bin Ayyasy, dari Ismail bin Yahya, dari Ibnu Mulaikah, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Ibnu Masud, dan dari Misar bin Kidam, dari Athiyyah, dari Abu Said, yang memarfukan hadits tentang masuknya Isa ke tempat belajar dan pengajarannya kepada guru tentang makna huruf-huruf Abjad, dan itu panjang tidak menggembirakan. Kemudian Ibnu Adi berkata: Hadits ini batil dengan sanad ini, tidak ada yang meriwayatkannya selain Ismail.

Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Abdullah bin Hubairah yang berkata: Abdullah bin Amr biasa berkata: Isa putra Maryam ketika masih anak-anak bermain bersama anak-anak lain. Dia berkata kepada salah seorang dari mereka: “Maukah kamu aku beritahu apa yang ibumu simpan untukmu?” Anak itu berkata: “Ya.” Dia berkata: “Dia menyimpan untukmu ini dan itu.” Anak itu pergi kepada ibunya dan berkata: “Beri aku makan apa yang kamu simpan untukku.” Ibunya berkata: “Apa yang kusimpan untukmu?” Dia berkata: “Ini dan itu.” Ibunya berkata: “Siapa yang memberitahumu?” Dia berkata: “Isa putra Maryam.” Mereka berkata: “Demi Allah, jika kalian membiarkan anak-anak ini bersama putra Maryam, dia akan merusak mereka.” Maka mereka mengumpulkan mereka di sebuah rumah dan mengunci mereka. Isa keluar mencari mereka tetapi tidak menemukannya. Dia mendengar kegaduhan mereka di dalam sebuah rumah, lalu bertanya tentang mereka. Mereka berkata: “Mereka itu adalah kera-kera dan babi-babi.” Dia berkata: “Ya Allah, jadikan mereka demikian.” Maka mereka menjadi demikian. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Ishaq bin Basyir berkata dari Juwaibir dan Muqatil, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas yang berkata: Isa melihat keajaiban-keajaiban di masa kecilnya sebagai ilham dari Allah. Hal itu tersebar di kalangan Yahudi. Ketika Isa beranjak besar, Bani Israil berniat jahat terhadapnya. Ibunya takut atas dirinya, maka Allah mewahyukan kepada ibunya agar pergi bersamanya ke tanah Mesir. Itulah firman Allah: “Dan Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami lindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Surah Al-Mu’minun: 50).

Para salaf dan mufassir telah berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan tanah tinggi ini yang Allah sebutkan sifatnya bahwa dia memiliki tempat tinggal dan mata air mengalir. Ini adalah sifat yang aneh bentuknya; yaitu tanah tinggi, yaitu tempat yang tinggi dari bumi yang bagian atasnya rata sehingga bisa ditempati, meskipun tinggi tetapi luas, dan meskipun tinggi, di dalamnya ada mata air yang mengalir; yaitu yang mengalir di atas permukaan bumi. Ada yang mengatakan: Yang dimaksud adalah tempat di mana Almasih dilahirkan, yaitu daerah Baitul Maqdis. Oleh karena itu “Lalu (Jibril) menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” Yaitu sungai kecil menurut pendapat jumhur salaf.

Dari Ibnu Abbas dengan sanad yang baik bahwa itu adalah sungai-sungai Damaskus. Mungkin dia bermaksud menyerupakan tempat itu dengan sungai-sungai Damaskus. Ada yang mengatakan: Itu di Mesir, sebagaimana diklaim oleh orang-orang Ahli Kitab dan yang menerima dari mereka. Wallahu alam. Ada yang mengatakan: Itu adalah Ramlah.

Ishaq bin Basyir berkata: Idris berkata kepada kami dari kakeknya Wahab bin Munabbih yang berkata: Ketika Isa mencapai usia tiga belas tahun, Allah memerintahkannya untuk kembali dari negeri Mesir ke Baitul Maqdis. Dia berkata: Yusuf bin paman ibunya datang menjemputnya, lalu membawa mereka berdua dengan keledai hingga tiba di Baitul Maqdis. Dia tinggal di sana hingga Allah mengadakan Injil untuknya, mengajarkan kepadanya Taurat, memberinya kemampuan menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, dan pengetahuan tentang hal-hal gaib, apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Orang-orang membicarakan kedatangannya dan terheran-heran dengan keajaiban-keajaiban yang dia lakukan. Mereka sangat takjub padanya, lalu dia menyeru mereka kepada Allah dan tersebarlah kabar tentangnya.

Penjelasan tentang Turunnya Empat Kitab dan Waktu-Waktunya

Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Muawiyah bin Shalih menceritakan kepadaku, dari orang yang menceritakan kepadanya yang berkata: Taurat diturunkan kepada Musa pada enam malam yang telah berlalu dari bulan Ramadhan. Zabur diturunkan kepada Daud pada dua belas malam yang telah berlalu dari bulan Ramadhan, yaitu setelah Taurat empat ratus delapan puluh dua tahun. Injil diturunkan kepada Isa putra Maryam pada delapan belas malam yang telah berlalu dari bulan Ramadhan, setelah Zabur seribu lima puluh tahun. Al-Furqan diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada dua puluh empat dari bulan Ramadhan. Kami telah menyebutkan dalam “Tafsir” pada firman-Nya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran” hadits-hadits yang diriwayatkan tentang hal itu, dan di dalamnya disebutkan bahwa Injil diturunkan kepada Isa putra Maryam semoga keselamatan tercurah padanya pada delapan belas malam yang telah berlalu dari bulan Ramadhan.

Ibnu Jarir menyebutkan dalam Tarikhnya bahwa Injil diturunkan kepadanya ketika dia berusia tiga puluh tahun, dan dia tinggal hingga diangkat ke langit ketika berusia tiga puluh tiga tahun, sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

Ishaq bin Basyir berkata: Said bin Abi Arubah mengabarkan kepada kami dari Qatadah, dan Muqatil, dari Qatadah, dari Abdurrahman bin Adam, dari Abu Hurairah yang berkata: Allah azza wa jalla mewahyukan kepada Isa putra Maryam: “Wahai Isa, bersungguh-sungguhlah dalam urusan-Ku dan jangan lemah, dengar dan taatlah wahai putra yang suci, perawan, dan tidak menikah. Sesungguhnya kamu tanpa ayah dan Aku yang menciptakanmu sebagai tanda bagi seluruh alam. Maka sembahlah Aku dan bertawakallah kepada-Ku. Ambillah Kitab dengan kuat, tafsirlah untuk ahli bahasa Suryaniyah, sampaikanlah kepada orang-orang yang ada di hadapanmu bahwa Aku adalah Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri yang tidak akan lenyap. Percayalah kepada Nabi yang ummi, orang Arab, pemilik unta dan mahkota – yaitu sorban – dan baju perang, sandal, dan tongkat – yaitu pentungan. Matanya indah, dahinya lebar, pipinya jelas, kepalanya keriting, jenggotnya lebat, alisnya menyambung, hidungnya bengkok, gigi serinya renggang, bulu di dagunya tampak, lehernya seperti teko perak, seolah-olah emas mengalir di tulang dadanya. Dia memiliki bulu dari lehernya hingga pusarnya mengalir seperti tongkat, tidak ada bulu di perutnya maupun di dadanya selain itu. Telapak tangan dan kakinya kasar. Jika berpaling, dia berpaling sepenuhnya, dan jika berjalan seakan-akan dia mencabut dari batu dan turun dari lereng. Keringatnya di wajahnya seperti mutiara, dan aroma misk tercium darinya. Tidak pernah terlihat sebelumnya maupun sesudahnya orang sepertinya. Postur tubuhnya bagus, aromanya harum, menikahi wanita, memiliki keturunan yang sedikit. Keturunannya hanya dari wanita yang diberkahi yang memiliki rumah – yaitu di surga – dari buluh, tidak ada kesusahan di dalamnya dan tidak ada kegaduhan. Dia akan dipelihara – wahai Isa – di akhir zaman sebagaimana Zakariya memelihara ibumu. Dia memiliki dua anak yang mati syahid darinya. Dia memiliki kedudukan di sisi-Ku yang tidak dimiliki siapa pun dari manusia. Perkataannya adalah Al-Quran, agamanya adalah Islam, dan Aku adalah As-Salam. Beruntunglah bagi siapa yang menemui zamannya, menyaksikan hari-harinya, dan mendengar perkataannya.”

Penjelasan tentang Pohon Tuba, Apakah Itu?

Isa berkata: Ya Tuhanku, apakah Tuba itu? Allah berfirman: Ia adalah pohon yang Aku tanam dengan tangan-Ku sendiri, dan ia untuk seluruh surga. Akarnya berasal dari Ridwan, airnya dari Tasnim, kesegarannya seperti kesegaran kafur, rasanya seperti rasa jahe, dan aromanya seperti aroma misk. Barang siapa minum darinya sekali teguk, maka ia tidak akan pernah merasa haus selamanya. Isa berkata: Ya Tuhanku, berikanlah aku minum darinya. Allah berfirman: Haram bagi para nabi untuk minum darinya, hingga nabi itu (Muhammad) minum darinya, dan haram bagi umat-umat untuk minum darinya, hingga umat nabi itu minum darinya. Allah berfirman: Wahai Isa, Aku akan mengangkatmu kepada-Ku. Isa berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengangkatku? Allah berfirman: Aku akan mengangkatmu kemudian menurunkanmu kembali di akhir zaman, agar engkau menyaksikan keajaiban-keajaiban dari umat nabi itu, dan agar engkau membantu mereka dalam memerangi si terkutuk Dajjal. Aku akan menurunkanmu pada waktu salat, kemudian jangan engkau salat menjadi imam mereka, karena mereka adalah umat yang diberi rahmat, dan tidak ada nabi setelah nabi mereka.

Hisyam bin Ammar berkata, dari Al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Zaid, dari ayahnya, bahwa Isa berkata: Ya Tuhanku, beritahukan kepadaku tentang umat yang diberi rahmat ini. Allah berfirman: Umat Ahmad, mereka adalah orang-orang berilmu dan bijaksana seakan-akan mereka para nabi. Mereka ridha kepada-Ku dengan sedikit pemberian, dan Aku ridha kepada mereka dengan sedikit amal, dan Aku memasukkan mereka ke dalam surga dengan kalimat tidak ada tuhan selain Allah. Wahai Isa, mereka adalah penghuni surga yang paling banyak, karena tidak pernah ada lidah suatu kaum yang begitu rendah hati dengan kalimat tidak ada tuhan selain Allah seperti rendah hatinya lidah-lidah mereka, dan tidak pernah ada tengkuk suatu kaum yang begitu rendah hati dengan sujud seperti rendah hatinya tengkuk-tengkuk mereka dengan sujud itu. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Ia juga meriwayatkan melalui jalur Abd bin Budail Al-Uqaili, dari Abdullah bin Awsajah, ia berkata: Allah mewahyukan kepada Isa bin Maryam: Jadikanlah Aku dalam dirimu sebagai perhatianmu, dan jadikanlah Aku sebagai simpanan bagimu di tempat kembalimu, dan dekatkanlah diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah, niscaya Aku mencintaimu. Janganlah menjadikan selain-Ku sebagai pelindung, karena Aku akan menelantarkanmu. Bersabarlah atas cobaan, dan ridhailah ketentuan, dan jadilah untuk kesenanganku padamu, sesungguhnya kesenanganku adalah bahwa Aku ditaati dan tidak didurhakakan. Jadilah dekat dari-Ku, dan hidupkan ingatan kepada-Ku dengan lidahmu, dan hendaklah cintaku ada di dalam dadamu. Terjagalah dari waktu-waktu kelalaian, dan putuskanlah hukum untuk-Ku dengan kecerdasan yang halus. Jadilah orang yang sangat menginginkan-Ku dan takut kepada-Ku, dan matikanlah hatimu karena takut kepada-Ku. Jagalah malam demi hakku yang membuat-Ku senang, dan berpuasalah di siang hari untuk hari dahagamu di sisi-Ku. Bersemangatplah dalam kebaikan dengan sungguh-sungguhmu, dan kenalilah kebaikan ke mana pun engkau menuju. Berdirilah di tengah makhluk dengan nasihat-Ku, dan putuskanlah hukum di antara hamba-hamba-Ku dengan keadilanku. Sesungguhnya Aku telah menurunkan kepadamu obat untuk bisikan dada dari penyakit kelupaan, dan penerang penglihatan dari selubung kemalasan. Janganlah menjadi pemalu seakan-akan engkau sudah meninggal padahal engkau masih hidup bernafas. Wahai Isa bin Maryam, tidaklah beriman kepada-Ku suatu makhluk melainkan ia khusyuk, dan tidaklah khusyuk kepada-Ku melainkan ia mengharap pahala-Ku. Maka Aku mempersaksikan kepadamu bahwa ia aman dari siksa-Ku, selama ia tidak mengubah atau mengganti sunah-Ku. Wahai Isa bin Maryam sang perawan suci, menangislah untuk dirimu di hari-hari kehidupan dengan tangisan orang yang berpisah dengan keluarga, membenci dunia, meninggalkan kenikmatan bagi para ahlinya, dan terangkat keinginannya pada apa yang ada di sisi Tuhannya. Jadilah dalam hal itu lemah lembut dalam perkataan, menyebarkan salam, dan jadilah terjaga ketika mata-mata orang-orang saleh tertidur, berhati-hatilah terhadap apa yang akan datang dari urusan tempat kembali, dan goncangan dahsyatnya musibah-musibah, sebelum tidak berguna lagi keluarga dan harta. Celakkan matamu dengan celak kesedihan ketika orang-orang yang sia-sia tertawa, dan jadilah dalam hal itu sabar dan mengharap pahala. Maka berbahagialah bagimu jika engkau mendapatkan apa yang dijanjikan kepada orang-orang yang sabar. Harapkan terhadap dunia dengan Allah: hari demi hari, dan rasakanlah pengalaman apa yang telah lari darimu, di mana rasanya, dan apa yang belum datang kepadamu bagaimana kenikmatannya. Beradailah dari dunia dengan secukupnya, dan cukuplah bagimu darinya yang kasar dan keras. Sungguh engkau telah melihat kepada apa yang akan menjadi keadaanmu. Beramallah untuk perhitungan, karena sesungguhnya engkau akan ditanya. Seandainya matamu melihat apa yang telah Aku sediakan untuk para wali-Ku yang saleh, niscaya mencair hatimu dan melayanglah jiwamu.

Abu Dawud berkata dalam kitab Al-Qadar: Muhammad bin Yahya bin Faris menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Mamar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, ia berkata: Isa bin Maryam berjumpa dengan Iblis, lalu Iblis berkata: Bukankah engkau tahu bahwa tidak akan menimpamu kecuali apa yang telah ditetapkan bagimu? Iblis berkata: Naiklah ke puncak gunung ini, lalu jatuhkanlah dirimu darinya dan lihatlah apakah engkau akan hidup atau tidak? Lalu Ibnu Thawus berkata, dari ayahnya: Maka Isa berkata: Bukankah engkau tahu bahwa Allah berfirman: Janganlah hamba-Ku menguji-Ku, karena sesungguhnya Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Az-Zuhri berkata: Sesungguhnya hamba tidak menguji Tuhannya, tetapi Allah yang menguji hamba-Nya.

Abu Dawud berkata: Ahmad bin Abdah menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Amr, dari Thawus ia berkata: Setan mendatangi Isa bin Maryam, lalu berkata: Bukankah engkau mengaku bahwa engkau jujur? Maka datangilah tempat ini dan jatuhkanlah dirimu. Isa berkata: Celakalah engkau! Bukankah Allah berfirman: Wahai anak Adam, janganlah meminta kepada-Ku kebinasaan dirimu, karena sesungguhnya Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Abu Taubah Ar-Rabi bin Nafi menceritakan kepada kami, Husain bin Thalhah menceritakan kepada kami, aku mendengar Khalid bin Yazid berkata: Setan beribadah bersama Isa selama sepuluh tahun atau dua tahun. Pada suatu hari ia berdiri di tepi gunung, lalu setan berkata: Bagaimana menurutmu jika aku menjatuhkan diriku, apakah akan menimpaku kecuali apa yang telah ditetapkan bagiku? Isa berkata: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang menguji Tuhanku, tetapi Tuhanku jika Dia menghendaki, Dia menguji aku. Lalu ia mengetahui bahwa dia adalah setan, maka ia berpisah darinya.

Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Suraij bin Yunus menceritakan kepada kami, Ali bin Tsabit menceritakan kepada kami, dari Al-Khaththab bin Al-Qasim, dari Abu Utsman, ia berkata: Isa Alaihissalam sedang salat di atas sebuah gunung, lalu Iblis mendatanginya dan berkata: Engkau adalah orang yang mengaku bahwa segala sesuatu dengan takdir dan ketentuan? Isa berkata: Ya. Iblis berkata: Jatuhkanlah dirimu dari gunung ini dan katakan: Ini telah ditakdirkan untukku. Isa berkata: Wahai si terkutuk, Allah menguji para hamba, dan bukan para hamba yang menguji Allah Azza wa Jalla. Ia juga berkata: Al-Fadhl bin Musa Al-Bashri menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Basyar menceritakan kepada kami, aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Isa bin Maryam berjumpa dengan Iblis, lalu Iblis berkata kepadanya: Wahai Isa bin Maryam, engkau adalah orang yang begitu agung ketuhananmu sehingga engkau berbicara dalam buaian ketika masih kecil, dan tidak ada seorang pun yang berbicara di dalamnya sebelum engkau. Isa berkata: Akan tetapi ketuhanan itu adalah bagi Tuhan yang membuatku berbicara, kemudian mematikanku, kemudian menghidupkanku. Iblis berkata: Engkau adalah orang yang begitu agung ketuhananmu sehingga engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Isa berkata: Akan tetapi ketuhanan itu adalah bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan siapa yang aku hidupkan kemudian Dia menghidupkannya. Iblis berkata: Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah tuhan di langit dan tuhan di bumi. Ia (perawi) berkata: Maka Jibril menamparnya dengan sayapnya sekali tampar, hingga ia tidak berhenti kecuali di tanduk-tanduk matahari, kemudian menamparnya lagi dengan sayapnya, hingga ia tidak berhenti kecuali di mata air yang panas, kemudian menamparnya lagi, lalu memasukkannya ke dalam lautan yang ketujuh dan menenggelamkannya – dalam riwayat lain: memasukkannya – di dalamnya hingga ia merasakan rasa lumpur hitam. Lalu ia keluar darinya sambil berkata: Tidak ada seorang pun yang mengalami dari seseorang seperti apa yang aku alami darimu wahai Ibnu Maryam.

Telah diriwayatkan seperti ini dengan lebih lengkap dari jalur lain. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khatib berkata: Abu Al-Hasan bin Rizqawaih mengabarkan kepadaku, Abu Bakar Ahmad bin Sindi mengabarkan kepada kami, Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Qaththan menceritakan kepada kami, Ismail bin Isa Al-Aththar menceritakan kepada kami, Ali bin Ashim mengabarkan kepada kami, Abu Salamah Suwaid menceritakan kepadaku, dari sebagian sahabatnya, ia berkata: Isa salat di Baitul Maqdis lalu pulang. Ketika ia berada di sebagian jalan menanjak, Iblis menghadangnya dan menahannya. Lalu Iblis terus menerus menawarkan sesuatu kepadanya dan berbicara kepadanya serta berkata kepadanya: Sesungguhnya tidak pantas bagimu menjadi hamba. Iblis banyak bicara kepadanya, dan Isa berusaha keras agar bisa terlepas darinya, namun ia tidak bisa terlepas darinya. Iblis berkata kepadanya di antara perkataannya: Tidak pantas bagimu wahai Isa menjadi hamba. Ia (perawi) berkata: Maka Isa meminta pertolongan kepada Tuhannya. Lalu datanglah Jibril dan Mikail. Ketika Iblis melihat keduanya, ia berhenti. Ketika keduanya telah berada bersamanya di jalan menanjak itu, keduanya mengapit Isa. Jibril memukul Iblis dengan sayapnya, lalu melemparkannya ke tengah lembah. Ia (perawi) berkata: Maka Iblis kembali bersamanya, dan ia tahu bahwa keduanya tidak diperintahkan kecuali untuk itu saja. Lalu ia berkata kepada Isa: Sungguh aku telah memberitahumu bahwa tidak pantas bagimu menjadi hamba. Sesungguhnya kemarahanmu bukanlah kemarahan seorang hamba, dan sungguh engkau telah melihat apa yang aku alami darimu ketika engkau marah. Tetapi aku mengajakmu kepada suatu perkara yang baik untukmu. Aku akan memerintahkan setan-setan agar mereka mentaatimu. Maka ketika manusia melihat bahwa setan-setan mentaatimu, mereka akan menyembahmu. Adapun aku, aku tidak mengatakan bahwa engkau menjadi tuhan yang tidak ada tuhan selain dia, tetapi Allah menjadi tuhan di langit, dan engkau menjadi tuhan di bumi. Ketika Isa mendengar hal itu darinya, ia meminta pertolongan kepada Tuhannya dan berteriak dengan teriakan keras. Tiba-tiba Israfil telah turun. Jibril dan Mikail melihatnya, lalu Iblis berhenti. Ketika Israfil telah berada bersama mereka, ia memukul Iblis dengan sayapnya, lalu menamparnya hingga ke mata matahari. Kemudian memukulnya dengan pukulan lain. Lalu Iblis jatuh melayang, dan ia melewati Isa sementara ia masih di tempatnya. Lalu ia berkata: Wahai Isa, sungguh aku telah mengalami kelelahan yang sangat hari ini karenamu. Lalu ia dilemparkan ke mata matahari, dan ia mendapati tujuh malaikat di mata air yang panas itu. Ia (perawi) berkata: Maka mereka menenggelamkannya, dan setiap kali ia keluar, mereka menenggelamkannya ke dalam lumpur hitam itu. Ia (perawi) berkata: Demi Allah, ia tidak kembali lagi kepadanya setelah itu.

Ia berkata: Ismail Al-Aththar menceritakan kepada kami, Abu Hudzaifah menceritakan kepada kami, ia berkata: Setan-setannya berkumpul kepadanya, lalu mereka berkata: Wahai pemimpin kami, sungguh engkau telah mengalami kelelahan. Ia berkata: Sesungguhnya ini adalah hamba yang terpelihara, aku tidak memiliki jalan atasnya. Aku akan menyesatkan banyak manusia dengannya, dan aku akan menyebarkan di antara mereka keinginan-keinginan yang berbeda-beda, dan aku akan menjadikan mereka golongan-golongan, dan mereka akan menjadikannya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Ia (perawi) berkata: Allah menurunkan tentang apa yang Dia kuatkan pada Isa dan Dia pelihara dari Iblis, Al-Quran yang berbicara dengan menyebut nikmat-Nya kepada Isa, maka Allah berfirman: “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus” – maksudnya: ketika Aku kuatkan kamu dengan Ruhul Qudus, yaitu Jibril – “Engkau berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan ketika Aku ajarkan kepadamu Al-Kitab” – maksudnya: Injil dan Taurat – “dan Al-Hikmah, dan ketika Aku cegah Bani Israil darimu” (QS. Al-Ma’idah: 110). Dan ketika Aku jadikan orang-orang miskin sebagai sahabat karibmu, dan sebagai sahabat dan penolong yang engkau ridhai mereka, dan sahabat dan penolong yang ridha denganmu sebagai pembimbing dan pemimpin menuju surga. Maka itu – ketahuilah – adalah dua akhlak yang agung. Barang siapa menemui-Ku dengan keduanya, maka sungguh ia telah menemui-Ku dengan akhlak yang paling suci dan paling diridhai di sisi-Ku. Bani Israil akan berkata kepadamu: Kami berpuasa namun puasa kami tidak diterima, kami salat namun salat kami tidak diterima, kami bersedekah namun sedekah kami tidak diterima, dan kami menangis seperti tangisan unta namun tangisan kami tidak dikasihi. Maka katakanlah kepada mereka: Mengapa demikian? Dan apa yang mencegah-Ku, apakah karena kepemilikan tangan-Ku berkurang?! Bukankah perbendaharaan langit dan bumi berada di tangan-Ku, Aku berikan darinya bagaimana Aku kehendaki? Ataukah karena kebakhilan menghinggapi-Ku? Bukankah Aku adalah yang paling dermawan yang diminta dan paling luas yang memberi? Ataukah rahmat-Ku menyempit? Dan sesungguhnya orang-orang yang saling mengasihi itu hanya saling mengasihi dengan kelebihan rahmat-Ku. Seandainya orang-orang ini, wahai Isa bin Maryam, tidak menghitung diri mereka dengan hikmah yang tumbuh dalam hati mereka yang dengan itu mereka mementingkan dunia atas akhirat, niscaya mereka tahu dari mana mereka datang. Dan jika demikian, niscaya mereka yakin bahwa diri mereka adalah musuh yang paling memusuhi mereka. Bagaimana Aku menerima puasa mereka padahal mereka kuat melakukannya dengan makanan-makanan yang haram?! Bagaimana Aku menerima salat mereka padahal hati-hati mereka condong kepada orang-orang yang memerangi-Ku dan menghalalkan yang Aku haramkan?! Bagaimana Aku menerima sedekah mereka padahal mereka merampas manusia untuk mendapatkannya, lalu mereka mengambilnya bukan dari jalan yang halal?! Wahai Isa, sesungguhnya Aku hanya membalas terhadapnya kepada para ahlinya. Bagaimana Aku mengasihi tangisan mereka padahal tangan-tangan mereka menetes dengan darah para nabi? Aku tambah murka kepada mereka. Wahai Isa, Aku telah menetapkan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, bahwa barang siapa menyembah-Ku dan berkata tentang kalian berdua dengan perkataan-Ku, niscaya Aku jadikan mereka sebagai tetanggamu di negeri, teman seperjalananmu di tempat-tempat tinggal, dan sekutumu dalam kemuliaan. Aku telah menetapkan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, bahwa barang siapa menjadikan engkau dan ibumu sebagai dua tuhan selain Allah, niscaya Aku jadikan mereka di tingkat yang paling bawah dari neraka. Aku telah menetapkan pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, bahwa sesungguhnya Aku akan menetapkan perkara ini di tangan hamba-Ku Muhammad dan Aku mengakhiri dengannya para nabi dan rasul. Kelahirannya di Makkah, tempat hijrahnya di Thaibah (Madinah), dan kekuasaannya di Syam. Ia tidak kasar, tidak keras, tidak berteriak-teriak di pasar-pasar, tidak berhias dengan kekejian, dan tidak berbicara dengan kata-kata keji. Aku luruskan ia untuk setiap perkara yang indah, dan Aku anugerahkan kepadanya setiap akhlak yang mulia. Aku jadikan takwa sebagai nuraninya, hikmah sebagai akalnya, kesetiaan sebagai wataknya, keadilan sebagai jalannya, kebenaran sebagai syariatnya, Islam sebagai agamanya, dan namanya Ahmad. Aku memberi petunjuk dengannya setelah kesesatan, Aku memberi ilmu dengannya setelah kebodohan, Aku memberi kekayaan dengannya setelah kemiskinan, Aku meninggikan dengannya setelah kehinaan. Aku memberi petunjuk dengannya, dan Aku membukakan dengannya di antara telinga-telinga yang tuli, hati-hati yang tertutup, dan keinginan-keinginan yang berbeda-beda dan terpecah-pecah. Aku jadikan umatnya sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, mereka menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar, dengan keikhlasan untuk nama-Ku dan membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul. Aku ilhamkan kepada mereka tasbih, tahlil, dan takdis di masjid-masjid mereka, majlis-majlis mereka, rumah-rumah mereka, tempat pergi dan tempat tinggal mereka. Mereka salat untuk-Ku dengan berdiri, duduk, ruku, dan sujud. Mereka berperang di jalan-Ku dengan barisan dan serangan. Kurban mereka adalah darah mereka, Injil mereka ada di dada-dada mereka, dan kurban mereka ada di perut-perut mereka. Mereka adalah rahib-rahib di malam hari, singa-singa di siang hari. Itulah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan Aku adalah Pemilik karunia yang agung.

Dan kami akan menyebutkan apa yang banyak membenarkan konteks ini, dengan apa yang akan kami sampaikan dari surat Al-Maidah dan As-Shaf, insya Allah Ta’ala, dan kepada-Nya kami bertawakal.

Abu Hudzaifah Ishaq bin Bisyr telah meriwayatkan dengan sanad-sanadnya, dari Ka’b Al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, Ibnu Abbas, dan Salman Al-Farisi—hadits sebagian mereka masuk ke dalam hadits sebagian yang lain—mereka berkata: Ketika Isa putra Maryam diutus dan datang kepada mereka dengan bukti-bukti nyata, orang-orang kafir dan munafik dari Bani Israil mulai mengejek dan mengolok-oloknya, maka mereka berkata: Apa yang dimakan si fulan semalam, dan apa yang disimpannya di rumahnya? Maka Isa memberitahu mereka, lalu orang-orang mukmin bertambah imannya, sedangkan orang-orang kafir dan munafik bertambah ragu dan kekafiran mereka. Isa pada waktu itu tidak memiliki tempat tinggal untuk berlindung, dia hanya berkelana di muka bumi, tidak memiliki tempat tinggal tetap atau tempat yang dikenal dengannya. Maka yang pertama kali dia hidupkan dari orang-orang mati adalah ketika dia melewati seorang wanita yang duduk di samping sebuah kuburan sambil menangis. Dia bertanya kepadanya: Ada apa denganmu wahai wanita ini? Wanita itu menjawab: Putriku telah meninggal, aku tidak memiliki anak selain dia, dan aku telah berjanji kepada Tuhanku bahwa aku tidak akan beranjak dari tempatku ini sampai aku merasakan apa yang dia rasakan dari kematian, atau Allah menghidupkannya untukku sehingga aku dapat melihatnya. Maka Isa berkata kepadanya: Bagaimana pendapatmu jika kamu melihatnya, apakah kamu akan kembali (meninggalkan tempat ini)? Wanita itu menjawab: Ya. Mereka berkata: Maka Isa shalat dua rakaat, kemudian datang dan duduk di samping kuburan, lalu menyeru: Wahai fulanah, bangunlah dengan izin Ar-Rahman dan keluarlah. Mereka berkata: Maka kuburan itu bergerak, kemudian dia menyeru yang kedua kalinya, maka kuburan itu terbelah dengan izin Allah, kemudian dia menyeru yang ketiga kalinya, maka keluarlah dia (anak wanita itu) sambil mengibaskan kepalanya dari tanah. Maka Isa berkata kepadanya: Apa yang membuatmu lambat menjawabku? Dia menjawab: Ketika seruan pertama datang kepadaku, Allah mengutus malaikat untukku yang menyusun bentuk tubuhku, kemudian datang seruan kedua, maka ruhku kembali kepadaku, kemudian datang seruan ketiga, maka aku takut bahwa itu adalah seruan hari kiamat, maka rambutku, alisku, dan bulu mataku memutih karena ketakutan akan kiamat. Kemudian dia menghadap kepada ibunya dan berkata: Wahai ibuku, apa yang membuatmu sehingga aku merasakan kesusahan kematian dua kali? Wahai ibuku, bersabarlah dan berikanlah penghiburan, karena aku tidak memerlukan dunia. Wahai ruh Allah dan kalimat-Nya, mohonkah kepada Tuhanmu agar mengembalikanku ke akhirat, dan meringankan kesusahan kematian bagiku. Maka Isa berdoa kepada Tuhannya lalu Allah mencabut nyawanya, dan tanah rata kembali menutupinya. Berita itu sampai kepada orang-orang Yahudi, maka mereka semakin bertambah marah kepadanya.

Kami telah menyebutkan dalam kisah Nuh, bahwa Bani Israil meminta kepadanya untuk menghidupkan Sam bin Nuh untuk mereka, maka dia berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan shalat untuknya, lalu Allah menghidupkannya untuk mereka, maka dia menceritakan kepada mereka tentang bahtera dan peristiwanya, kemudian dia berdoa maka Sam kembali menjadi tanah.

As-Suddi telah meriwayatkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dalam sebuah berita yang dia sebutkan, dan di dalamnya disebutkan bahwa seorang raja dari raja-raja Bani Israil meninggal dan diangkat di atas usungannya, maka Isa ‘alaihis salam datang lalu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah Azza wa Jalla menghidupkannya, lalu orang-orang melihat perkara yang menakjubkan dan pemandangan yang luar biasa.

Allah Ta’ala berfirman dan Dia adalah yang paling benar perkataannya: “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa. Dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan kepadamu Al-Kitab, Al-Hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah) ketika engkau membuat (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung dengan izin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan izin-Ku, dan (ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) ketika engkau datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Dan (ingatlah) ketika Aku mengilhamkan kepada pengikut-pengikutmu yang setia, “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku!” Mereka menjawab, “Kami beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (Surat Al-Maidah ayat 110-111)

Dia Ta’ala mengingatkannya tentang nikmat-Nya kepadanya, dan kebaikan-Nya kepadanya dalam menciptakannya tanpa ayah, bahkan dari seorang ibu tanpa lelaki, dan menjadikannya tanda bagi manusia, dan bukti atas kesempurnaan kekuasaan-Nya Ta’ala, kemudian mengutusnya setelah semua ini dan kepada ibunya dalam memilihnya dan mengkhususkannya untuk nikmat besar ini, dan menegakkan bukti atas pembelaannya dari apa yang dinisbatkan kepadanya oleh orang-orang jahil; oleh karena itu Dia berfirman: “ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus” yaitu Jibril, dengan melemparkan ruhnya kepada ibunya, dan menemaninya dalam keadaan kerasulannya, dan membelanya dari orang-orang yang kafir kepadanya “Engkau dapat berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa” yaitu: kamu menyeru manusia kepada Allah dalam keadaan kecilmu di buaianmu, dan dalam keadaan dewasamu “dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah” yaitu tulisan dan pemahaman. Sebagian salaf menegaskan hal ini “Taurat dan Injil” Dan firman-Nya “dan (ingatlah) ketika engkau membuat (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung dengan izin-Ku” yaitu: kamu membentukannya dan membentuknya dari tanah dengan bentuknya, dengan perintah Allah kepadanya untuk melakukan hal itu “kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku” yaitu: dengan perintah-Ku. Dia Ta’ala menegaskan dengan menyebutkan izin kepadanya dalam hal itu untuk menghilangkan keraguan. Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir” Sebagian salaf berkata: yaitu orang yang dilahirkan buta, dan tidak ada jalan bagi seorang pun dari para tabib untuk mengobatinya “dan orang yang berpenyakit kusta” yaitu orang yang tidak ada obatnya, bahkan dia telah sakit dengan kusta dan penyakitnya menjadi sangat parah “dan (ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati” yaitu dari kubur mereka dalam keadaan hidup “dengan izin-Ku”. Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang menunjukkan terjadinya hal itu berkali-kali berulang kali yang di dalamnya terdapat kecukupan. Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) ketika engkau datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata'” Dan itu adalah ketika mereka ingin menyalibnya, maka Allah mengangkatnya kepada-Nya, dan menyelamatkannya dari tengah-tengah mereka; menjaga kedudukan mulianya dari gangguan, dan keselamatan baginya dari kebinasaan. Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Aku mengilhamkan kepada pengikut-pengikutmu yang setia, ‘Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku!’ Mereka menjawab, ‘Kami beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim'” Dikatakan: Yang dimaksud dengan wahyu ini adalah wahyu ilham. Yaitu Allah menunjukkan mereka kepadanya, dan menunjukkan mereka kepadanya, sebagaimana Dia berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah” (Surat An-Nahl ayat 68). “Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil)'” (Surat Al-Qashash ayat 7). Dan dikatakan: Yang dimaksud adalah wahyu melalui perantaraan Rasul, dan taufik di dalam hati mereka untuk menerima kebenaran; oleh karena itu mereka menyambut dengan berkata: “Kami beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”

Dan ini termasuk nikmat-nikmat Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa putra Maryam; bahwa Dia menjadikan baginya para penolong dan pembantu yang menolongnya dan menyeru bersama dia kepada ibadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman kepada hamba-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan yang mempersatukan hati mereka (para mukmin). Sekiranya engkau menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat Al-Anfal ayat 62-63)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Al-Hikmah, Taurat, dan Injil, dan (sebagai) rasul kepada Bani Israil (yang berkata), ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka menjadilah ia seekor burung (yang sebenarnya) dengan izin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta; dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang (datang) sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.’ Maka ketika Isa merasakan keingkaran dari mereka (Bani Israil), dia berkata, ‘Siapakah penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Para pengikut yang setia menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. Ya Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam (golongan) orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).’ Dan mereka (orang-orang kafir itu) membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Surat Ali Imran ayat 48-54)

Mukjizat setiap nabi pada zamannya sesuai dengan keadaan orang-orang pada zaman itu; mereka menyebutkan bahwa Musa alaihis salam, mukjizatnya sesuai dengan keadaan orang-orang pada zamannya, karena mereka adalah para pesihir yang pandai, maka dia diutus dengan ayat-ayat yang memukau pandangan, dan leher-leher tunduk kepadanya. Dan ketika para pesihir ahli dalam berbagai jenis sihir dan apa yang menjadi puncaknya, dan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan dari perkara yang memukau dan menakjubkan, yang tidak mungkin terjadi kecuali dari orang yang didukung Allah dan keajaiban terjadi atas tangannya untuk membenarkannya, mereka masuk Islam dengan cepat, dan mereka tidak ragu-ragu. Demikian juga Isa putra Maryam, dia diutus pada zaman para tabib ahli hikmah, maka dia diutus dengan mukjizat-mukjizat yang tidak mereka mampu dan tidak mereka temukan jalannya. Dari mana seorang tabib dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, yang keadaannya lebih buruk daripada orang buta dan orang yang berpenyakit kusta dan orang yang berpenyakit kusta, dan orang yang menderita penyakit kronis. Dan bagaimana seseorang dari makhluk dapat membangunkan orang mati dari kuburnya, ini adalah sesuatu yang diketahui oleh setiap orang bahwa itu adalah mukjizat yang menunjukkan kebenaran orang yang terjadi padanya, dan atas kekuasaan Dia yang mengutusnya. Demikian juga Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah kepadanya dan kepada mereka semua, dia diutus pada zaman orang-orang yang fasih dan pandai berbicara, maka Allah menurunkan kepadanya Al-Qur’an Al-Azhim, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depannya maupun dari belakangnya, diturunkan dari Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji. Maka lafaznya adalah mukjizat, dia menantang jin dan manusia untuk mendatangkan yang sepertinya atau sepuluh surat dari yang sepertinya, atau satu surat, dan dia memutuskan kepada mereka bahwa mereka tidak mampu, tidak pada saat ini dan tidak pada masa yang akan datang. Jika mereka tidak melakukannya dan tidak akan melakukannya, dan itu tidak lain karena itu adalah kalam Al-Khaliq Azza wa Jalla, dan Allah Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak dalam Dzat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Dan yang dimaksud adalah bahwa Isa alaihis salam, ketika dia menegakkan hujjah dan bukti-bukti atas mereka, kebanyakan mereka tetap dalam kekafiran, kesesatan, keangkuhan, dan kedurhakaan mereka. Maka tampil untuknya dari antara mereka sekelompok orang yang shalih, maka mereka menjadi penolong dan pembantu baginya, mereka melaksanakan tugasnya untuk mengikutinya, menolongnya, dan menasihinya. Dan itu ketika Bani Israil bermaksud buruk kepadanya, dan mengadukan dia kepada sebagian raja pada zaman itu, maka mereka bertekad untuk membunuhnya dan menyalibnya, lalu Allah menyelamatkannya dari mereka, dan mengangkatnya kepada-Nya dari tengah-tengah mereka, dan melemparkan persamaannya kepada salah seorang sahabatnya, maka mereka mengambilnya lalu membunuhnya dan menyalibnya, dan mereka meyakini bahwa dia adalah Isa, padahal mereka dalam hal itu keliru, dan mereka menentang kebenaran. Dan banyak dari orang-orang Nasrani menyerahkan kepada mereka apa yang mereka klaim, dan kedua kelompok dalam hal itu keliru, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka (orang-orang kafir itu) membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.’ Maka ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, padahal dia diajak kepada Islam. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (Surat As-Shaf ayat 6-9)

Hingga Dia berfirman setelah itu: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Para pengikut yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,’ lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami memberi kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Surat As-Shaf ayat 14)

Maka Isa alaihis salam adalah penutup para nabi Bani Israil, dan dia telah berdiri di antara mereka sebagai khatib lalu memberi kabar gembira kepada mereka tentang penutup para nabi yang akan datang setelahnya, dan menyebut namanya, dan menyebutkan kepada mereka sifat-sifatnya agar mereka mengenalinya dan mengikutinya jika mereka menyaksikannya; penegakan hujjah atas mereka, dan kebaikan dari Allah kepada mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat makruf dan melarang mereka dari yang mungkar dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat Al-A’raf ayat 157)

Muhammad bin Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Khalid bin Ma’dan, dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa mereka berkata: Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang dirimu. Dia berkata: “Doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa, dan ibuku melihat ketika mengandungku seolah-olah cahaya keluar darinya yang menerangi istana-istana Bushra di tanah Syam.” Dan telah diriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah, dan Abu Umamah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam seperti ini, dan di dalamnya: “Doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa.” Dan itu karena Ibrahim ketika membangun Ka’bah berkata: “Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka” (Surat Al-Baqarah ayat 129) Ayat. Dan ketika kenabian pada Bani Israil berakhir pada Isa, dia berdiri di antara mereka sebagai khatib, lalu memberitahu mereka bahwa kenabian telah terputus dari mereka, dan bahwa kenabian setelahnya ada pada Nabi Arab yang ummi, penutup para nabi secara mutlak, Ahmad, dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim, yang berasal dari keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalil, alaihimus salam.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” Boleh jadi kata ganti ini kembali kepada Isa alaihis salam, dan boleh jadi kembali kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian Dia Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menolong Islam dan ahlinya, dan menolong nabi-Nya serta membantu dan membantunya dalam menegakkan agama dan menyebarkan dakwah, maka Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'” yaitu: siapa yang akan membantuku dalam dakwah kepada Allah “Para pengikut yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.'” Dan itu terjadi di sebuah desa yang disebut: An-Nashirah. Maka mereka dinamakan Nashara (Nasrani) karena itu.

Allah Ta’ala berfirman: “lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir” yaitu, ketika Isa menyeru Bani Israil dan yang lainnya kepada Allah Ta’ala, di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir. Maka termasuk orang yang beriman kepadanya adalah penduduk Anthakiyah secara keseluruhan, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu ahli sirah, tarikh, dan tafsir. Dia mengutus kepada mereka tiga rasul, salah satunya adalah Syam’un Ash-Shafa, maka mereka beriman dan menyambut. Dan mereka bukan orang-orang yang disebutkan dalam surat Yasin sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam kisah Ashabul Qaryah. Dan orang-orang lain dari Bani Israil kafir, dan mereka adalah mayoritas Yahudi. Maka Allah memberi kekuatan kepada orang-orang yang beriman kepadanya terhadap orang-orang yang kafir setelahnya, dan mereka menjadi unggul atas mereka dan mengalahkan mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari (tuduhan) orang-orang kafir, dan Aku akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.'” (Surat Ali Imran ayat 55) Ayat. Maka setiap orang yang lebih dekat kepadanya, maka dia akan mengalahkan orang yang di bawahnya. Dan ketika pendapat kaum Muslimin tentangnya adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi, yaitu bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya, maka mereka unggul atas orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadapnya dan memujinya berlebihan, dan menempatkannya melebihi apa yang ditempatkan Allah baginya. Dan ketika orang-orang Nasrani lebih dekat secara keseluruhan daripada apa yang dipilih oleh orang-orang Yahudi tentangnya, laknat Allah kepada mereka, maka orang-orang Nasrani mengalahkan orang-orang Yahudi pada masa-masa fatrah hingga zaman Islam dan ahlinya. Dan Allah Ta’ala Maha Mengetahui.

Kisah Hidangan dari Langit

Allah Taala berfirman: (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.” Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.” Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” Allah berfirman, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam).” (Surah Al-Maidah: 112-115).

Telah kami sebutkan dalam kitab Tafsir berbagai riwayat yang berkaitan dengan turunnya hidangan ini, dari Ibnu Abbas, Salman Al-Farisi, Ammar bin Yasir, dan ulama salaf lainnya. Intisari dari riwayat-riwayat tersebut adalah bahwa Isa alaihis salam memerintahkan para hawariyyin untuk berpuasa selama tiga puluh hari. Setelah mereka menyelesaikan puasa, mereka meminta kepada Isa agar diturunkan hidangan dari langit kepada mereka supaya mereka bisa makan darinya, dan agar hati mereka tenang bahwa Allah telah menerima puasa mereka dan mengabulkan permintaan mereka. Hidangan itu akan menjadi hari raya bagi mereka, yaitu hari berbuka puasa mereka, dan akan mencukupi orang pertama hingga terakhir di antara mereka, baik yang kaya maupun yang miskin. Maka Isa alaihis salam memberi nasihat kepada mereka tentang hal itu dan khawatir mereka tidak akan mampu mensyukurinya serta tidak menunaikan syarat-syaratnya. Namun mereka tetap bersikukuh memintanya untuk memohonkan hal itu kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla. Ketika mereka tidak berhenti dari permintaan itu, Isa bangkit menuju tempat shalatnya, mengenakan kain bulu, berdiri dengan kedua kakinya rapat, menundukkan kepalanya, matanya meneteskan air mata, dan ia bermunajat kepada Allah dengan doa dan permohonan agar permintaan mereka dikabulkan. Maka Allah Taala menurunkan hidangan dari langit, sementara orang-orang menyaksikannya turun di antara dua awan. Hidangan itu semakin mendekat sedikit demi sedikit. Setiap kali mendekat, Isa alaihis salam memohon kepada Tuhannya Azza wa Jalla agar menjadikannya rahmat, bukan murka, dan menjadikannya berkah serta keselamatan. Hidangan itu terus mendekat hingga akhirnya berhenti di hadapan Isa alaihis salam dalam keadaan tertutup kain. Isa pun bangkit membuka penutupnya sambil mengucapkan, “Bismillahi khair ar-raziqin” (Dengan nama Allah sebaik-baik pemberi rezeki). Ternyata di atasnya terdapat tujuh ekor ikan dan tujuh roti. Ada yang mengatakan juga ada cuka. Ada pula yang mengatakan ada buah delima dan buah-buahan. Hidangan itu memiliki aroma yang sangat harum. Allah berfirman kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah. Kemudian Isa memerintahkan mereka untuk makan darinya. Mereka berkata, “Kami tidak akan makan sampai engkau yang makan lebih dulu.” Isa berkata, “Kalian yang memulai memintanya.” Namun mereka tetap menolak untuk makan terlebih dahulu. Maka Isa memerintahkan para fakir miskin, orang-orang yang membutuhkan, orang sakit, dan orang lumpuh—yang jumlahnya sekitar seribu tiga ratus orang—untuk makan darinya. Mereka pun makan, dan sembuh setiap orang yang menderita cacat, penyakit, atau sakit menahun. Orang-orang yang tidak makan menjadi menyesal karena melihat perbaikan kondisi mereka yang makan. Kemudian dikatakan bahwa hidangan itu turun setiap hari sekali, dan orang-orang makan darinya. Yang terakhir makan mendapat bagian yang sama dengan yang pertama makan. Bahkan dikatakan ada sekitar tujuh ribu orang yang makan darinya. Kemudian hidangan itu turun sehari sekali, seperti unta betina milik Nabi Salih yang susunya diminum sehari sekali. Kemudian Allah memerintahkan Isa untuk membatasi hidangan itu hanya untuk orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkan, tidak untuk orang kaya. Hal ini memberatkan banyak orang, dan orang-orang munafik di antara mereka mulai membicarakan hal itu. Maka hidangan itu diangkat sama sekali, dan orang-orang yang membicarakan hal itu dimutasikan menjadi babi.

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan, keduanya menceritakan: Al-Hasan bin Qaza’ah Al-Bahili menceritakan kepada kami, Sufyan bin Habib menceritakan kepada kami, Said bin Abi Arubah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Khilas, dari Ammar bin Yasir, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Hidangan turun dari langit berupa roti dan daging. Mereka diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak menyimpan untuk besok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan menyimpan. Maka mereka dimutasikan menjadi kera dan babi.”

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Bundar, dari Ibnu Abi Adi, dari Said, dari Qatadah, dari Khilas, dari Ammar, secara mauquf. Ini lebih sahih. Demikian juga diriwayatkan melalui jalur Simak, dari seorang laki-laki Bani Ijl, dari Ammar, secara mauquf. Ini yang benar. Wallahu a’lam. Khilas dari Ammar adalah sanad yang terputus. Seandainya hadits ini sahih secara marfu’, maka ia akan menjadi pemutus dalam kisah ini. Sebab, para ulama berbeda pendapat mengenai hidangan itu, apakah benar-benar turun atau tidak. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hidangan itu turun, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat ini dan sebagaimana dipahami dari zhahir konteks ayat Quran, terutama firman Allah: Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, sebagaimana ditetapkan oleh Ibnu Jarir. Wallahu a’lam.

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanad sahih dari Mujahid dan dari Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri bahwa keduanya berkata: Hidangan itu tidak turun. Mereka menolak penurunannya ketika Allah berfirman: Barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam). Oleh karena itu, dikatakan bahwa orang-orang Nasrani tidak mengetahui kisah hidangan ini, dan tidak disebutkan dalam kitab mereka, padahal kisahnya adalah sesuatu yang seharusnya diriwayatkan dengan seksama. Wallahu a’lam.

Telah kami uraikan pembahasan tentang hal ini dalam kitab Tafsir, maka hendaklah dicatat dari sana. Dan barangsiapa ingin merujuknya, hendaklah melihatnya dari sana. Segala puji dan karunia bagi Allah.

Pasal

Abu Bakar Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Seorang laki-laki yang namanya tidak disebutkan menceritakan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abu Hilal Muhammad bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Bakr bin Abdullah Al-Muzani, ia berkata: Para hawariyyin kehilangan nabi mereka Isa, lalu dikatakan kepada mereka bahwa ia menuju ke laut. Mereka pun pergi mencarinya. Ketika mereka tiba di laut, ternyata ia sedang berjalan di atas air. Ombak mengangkatnya sekali dan menurunkannya sekali lagi. Ia mengenakan jubah, sebagian untuk selendang dan sebagian untuk sarung, bertelanjang kaki, sambil menangis, berdebu, wajahnya pucat karena lapar, bibirnya kering karena haus. Hidangan itu terus mendekat hingga sampai kepada mereka. Salah seorang dari mereka—Abu Hilal berkata: Kukira ia salah satu yang paling utama di antara mereka—berkata, “Bolehkah aku datang kepadamu, wahai Nabi Allah?” Isa menjawab, “Boleh.” Maka ia meletakkan salah satu kakinya di atas air, lalu hendak meletakkan kaki yang lain, tetapi ia berkata, “Aduh, aku tenggelam wahai Nabi Allah!” Maka Isa berkata, “Berikan tanganmu kepadaku, wahai orang yang pendek imannya. Seandainya anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji gandum, niscaya ia bisa berjalan di atas air.”

Abu Said bin Al-A’rabi meriwayatkannya dari Ibrahim bin Abi Al-Jahim, dari Sulaiman bin Harb, dari Abu Hilal, dari Bakr, dengan redaksi yang serupa.

Kemudian Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Al-Asy’ats menceritakan kepada kami, dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata: Dikatakan kepada Isa bin Maryam, “Wahai Isa, dengan apa engkau berjalan di atas air?” Ia menjawab, “Dengan iman dan keyakinan.” Mereka berkata, “Tetapi kami beriman sebagaimana engkau beriman dan yakin sebagaimana engkau yakin.” Ia berkata, “Kalau begitu berjalanlah.” Maka mereka berjalan bersamanya di atas ombak, namun tenggelam. Isa berkata kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami takut kepada ombak.” Ia berkata, “Mengapa kalian tidak takut kepada Tuhan yang menguasai ombak?” Kemudian ia meletakkan tangannya ke tanah dan menggenggamnya, lalu membuka tangannya. Ternyata di salah satu tangannya ada emas, dan di tangan yang lain ada tanah atau kerikil. Ia berkata, “Mana yang lebih manis di hati kalian?” Mereka menjawab, “Emas ini.” Ia berkata, “Sesungguhnya keduanya sama saja bagiku.”

Telah kami sebutkan sebelumnya dalam kisah Yahya bin Zakariya dari sebagian ulama salaf bahwa Isa alaihis salam mengenakan pakaian bulu, makan dari daun pepohonan, tidak menginap di rumah, tidak memiliki keluarga atau harta, dan tidak menyimpan sesuatu untuk besok. Sebagian ulama berkata: Ia makan dari hasil tenunan ibunya, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa ia berkata: Isa alaihis salam, apabila disebut di hadapannya tentang hari kiamat, ia berteriak dan berkata, “Tidak pantas bagi putra Maryam apabila disebut di hadapannya hari kiamat lalu ia diam.”

Dari Abdul Malik bin Said bin Abjar bahwa Isa apabila mendengar nasihat, ia berteriak seperti teriakannya orang yang kehilangan anaknya.

Abdur-Razzaq berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, Ja’far bin Burqan menceritakan kepada kami bahwa Isa biasa berdoa: “Ya Allah, aku berada di pagi hari dalam keadaan tidak mampu menolak apa yang kubenci dan tidak memiliki manfaat yang kuharapkan. Urusan ini berada di tangan selain aku. Aku berada di pagi hari sebagai orang yang tergadai dengan amalku. Tidak ada orang fakir yang lebih fakir dariku. Ya Allah, jangan jadikan musuhku bergembira karenaku, jangan buat temanku sedih karenaku, jangan jadikan musibahku pada agamaku, dan jangan kuasakan atasku orang yang tidak merahmiku.”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata dari Yunus bin Ubaid: Isa biasa berdoa, “Seseorang tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia tidak peduli siapa yang makan dunia.”

Al-Fudhail berkata: Dan Isa biasa berkata, “Aku memikirkan makhluk dan menemukan bahwa orang yang tidak diciptakan lebih beruntung menurutku daripada yang diciptakan.”

Ishaq bin Bisyr berkata, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hasan, ia berkata: Sesungguhnya Isa adalah pemimpin para zahid pada hari kiamat. Ia berkata: Dan sesungguhnya orang-orang yang lari dari dosa-dosa mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama Isa. Ia berkata: Dan ketika Isa sedang tidur di atas sebuah batu sebagai bantal dan merasakan nikmatnya tidur, tiba-tiba Iblis lewat dan berkata, “Wahai Isa, bukankah engkau mengklaim bahwa engkau tidak menginginkan sesuatu dari kemewahan dunia? Batu ini adalah bagian dari kemewahan dunia.” Maka Isa bangkit, mengambil batu itu, dan melemparkannya kepada Iblis sambil berkata, “Ini untukmu bersama dunia.”

Mu’tamir bin Sulaiman berkata: Isa keluar menemui sahabat-sahabatnya mengenakan jubah bulu, kain, sarung, bertelanjang kaki, menangis, berdebu, wajahnya kuning karena lapar, bibirnya kering karena haus. Ia berkata, “Assalamu alaikum wahai Bani Israil! Akulah orang yang menempatkan dunia pada tempatnya dengan izin Allah, dan tidak heran dan tidak sombong. Tahukah kalian di mana rumahku?” Mereka berkata, “Di mana rumahmu, wahai Ruh Allah?” Ia berkata, “Rumahku adalah masjid-masjid, wewangianku adalah air, makananku adalah lapar, pelitaku adalah bulan pada malam hari, shalatku adalah sinar matahari di musim dingin, kesenanganku adalah tanaman bumi, pakaianku adalah bulu, kebanggaanku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia, teman-teman dudukku adalah orang-orang lumpuh dan orang-orang miskin. Aku berada di pagi hari tanpa memiliki sesuatu dan berada di petang hari tanpa memiliki sesuatu, namun jiwaku gembira, kaya, dan berlimpah. Siapa yang lebih kaya dariku dan lebih beruntung?” Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Ia meriwayatkan dalam biografi Muhammad bin Al-Walid bin Aban bin Habban Abu Al-Hasan Al-Uqaili Al-Mishri: Hani bin Al-Mutawakkil Al-Iskandari menceritakan kepada kami, dari Haiwah bin Syuraih, Al-Walid bin Abi Al-Walid menceritakan kepada saya, dari Syafi bin Mati’, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Allah Taala mewahyukan kepada Isa: ‘Wahai Isa, berpindahlah dari suatu tempat ke tempat lain, agar engkau tidak dikenali sehingga engkau tidak disakiti. Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku akan menikahkanmu dengan seribu bidadari dan akan mengadakan walimah untukmu selama empat ratus tahun.'”

Ini adalah hadits yang gharib secara marfu’, dan bisa jadi ia mauquf dari riwayat Syafi bin Mati’ dari Ka’b Al-Ahbar atau dari Israiliyyat lainnya. Wallahu a’lam.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, dari Sufyan bin Uyainah, dari Khalaf bin Hausyab, ia berkata: Isa berkata kepada para hawariyyin, “Sebagaimana para raja meninggalkan hikmah untuk kalian, maka demikian pula tinggalkanlah dunia untuk mereka.”

Qatadah berkata: Isa alaihis salam berkata, “Mintalah kepadaku karena aku lembut hati, dan aku kecil di hadapan diriku sendiri.”

Ismail bin Ayyasy berkata dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: Isa alaihis salam berkata kepada para hawariyyin, “Makanlah roti gandum, minumlah air yang jernih, dan keluarlah dari dunia dengan selamat dan aman. Sungguh benar apa yang kukatakan kepada kalian: Sesungguhnya manisnya dunia adalah pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia adalah manisnya akhirat. Sesungguhnya hamba-hamba Allah bukanlah orang-orang yang bersenang-senang. Sungguh benar apa yang kukatakan kepada kalian: Sesungguhnya seburuk-buruk kalian adalah seorang alim yang lebih mementingkan hawa nafsunya daripada ilmunya. Ia berharap semua orang seperti dirinya.” Dan diriwayatkan yang serupa dari Abu Hurairah.

Abu Mush’ab berkata, dari Malik bahwa ia menerima bahwa Isa biasa berkata, “Wahai Bani Israil, gunakanlah air yang jernih, sayuran liar, dan roti gandum. Jauhilah roti gandum karena kalian tidak akan mampu mensyukurinya.”

Ibnu Wahb berkata, dari Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Said, ia berkata: Isa biasa berkata, “Laluilah dunia dan jangan memakmurkannya.” Dan ia biasa berkata, “Cinta dunia adalah pangkal setiap kesalahan. Pandangan mata menabur syahwat dalam hati.”

Diriwayatkan dari Wuhaib bin Al-Ward yang serupa, dan ia menambahkan, “Betapa banyak syahwat yang mewariskan pemiliknya kesedihan yang panjang.”

Dari Isa alaihis salam: “Wahai anak Adam yang lemah, bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Jadilah tamu di dunia, jadikan masjid-masjid sebagai rumahmu, ajari matamu menangis, tubuhmu bersabar, dan hatimu berpikir. Jangan khawatir tentang rezeki besok karena itu adalah dosa.”

Darinya alaihis salam bahwa ia berkata, “Sebagaimana seseorang di antara kalian tidak mampu membangun rumah di atas ombak laut, maka jangan jadikan dunia sebagai tempat tinggal.”

Tentang hal ini, Sabiq Al-Barbari berkata dalam syairnya:

Bagi kalian rumah-rumah di atas aliran air Dan apakah akan tetap di atas air rumah yang fondasinya dari tanah?

Sufyan Ats-Tsauri berkata: Isa bin Maryam berkata, “Tidak akan lurus cinta dunia dan cinta akhirat dalam hati seorang mukmin, sebagaimana tidak akan lurus air dan api dalam satu wadah.”

Ibrahim Al-Harbi berkata, dari Dawud bin Rasyid, dari Abu Abdullah Ash-Shufi, ia berkata: Isa berkata, “Orang yang mencari dunia seperti orang yang minum air laut. Semakin banyak ia minum, semakin bertambah hausnya hingga membunuhnya.”

Dari Isa alaihis salam bahwa setan bersama dunia, tipu muslihatnya bersama harta, perhiasannya bersama hawa nafsu, dan kekuasaannya pada saat syahwat.

Al-A’masy berkata, dari Khaitsamah: Isa biasa menyiapkan makanan untuk sahabat-sahabatnya dan melayani mereka, lalu berkata, “Demikianlah lakukanlah kepada tamu.”

Dan darinya: Seorang wanita berkata kepada Isa alaihis salam, “Berbahagialah rahim yang mengandungmu dan payudara yang menyusuimu.” Maka ia berkata, “Berbahagialah orang yang membaca kitab Allah dan mengikutinya.”

Darinya: “Berbahagialah orang yang menangis karena mengingat kesalahannya, menjaga lisannya, dan rumahnya cukup baginya.”

Darinya: “Berbahagialah mata yang tidur namun tidak berangan-angan dengan maksiat, dan terjaga tanpa dosa.”

Dari Malik bin Dinar, ia berkata: Isa dan sahabat-sahabatnya melewati bangkai, lalu mereka berkata, “Alangkah busuknya baunya.” Maka Isa berkata, “Alangkah putihnya giginya.” Untuk melarang mereka dari ghibah.

Dan Abu Bakar bin Abi ad-Dunya berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Abdurrahman, dari Zakaria bin Adi, dia berkata: Isa bin Maryam berkata: “Wahai para Hawariyyin, ridholah dengan kehidupan dunia yang sederhana bersama keselamatan agama, sebagaimana orang-orang dunia telah ridha dengan kehidupan agama yang sederhana bersama keselamatan dunia.”

Zakaria berkata: Dan dalam hal itu seorang penyair berkata: Aku melihat orang-orang ridha dengan agama yang sedikit Namun aku tidak melihat mereka ridha dalam kehidupan dengan yang rendah Maka cukupkanlah dirimu dengan agama dari dunianya para raja Sebagaimana para raja mencukupkan diri dengan dunia mereka dari agama

Dan Abu Mush’ab berkata, dari Malik: Isa bin Maryam alaihissalam berkata: “Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa mengingat Allah, karena itu akan mengeraskan hati kalian. Sesungguhnya hati yang keras itu jauh dari Allah, tetapi kalian tidak mengetahui. Dan janganlah kalian memandang dosa-dosa hamba seolah-olah kalian adalah tuhan-tuhan mereka, tetapi pandanglah seperti kalian adalah hamba-hamba. Sesungguhnya manusia itu ada dua: yang diberi keselamatan dan yang diuji. Maka kasihanilah orang-orang yang tertimpa ujian, dan bersyukurlah kepada Allah atas keselamatan.”

Dan asy-Tsauri berkata: Aku mendengar ayahku berkata, dari Ibrahim at-Taimi, dia berkata: Isa berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Sungguh, aku berkata dengan benar kepada kalian: Barangsiapa yang menginginkan Firdaus, maka roti gandum untuknya, dan tidur di tempat pembuangan sampah bersama anjing-anjing adalah terlalu banyak.”

Dan Malik bin Dinar berkata: Isa berkata: “Sesungguhnya makan gandum bersama abu, dan tidur di tempat pembuangan sampah bersama anjing-anjing adalah sedikit dalam mengejar Firdaus.”

Dan Abdullah bin al-Mubarak berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Manshur, dari Salim bin Abi al-Ja’d, dia berkata: Isa berkata: “Beramallah untuk Allah dan janganlah beramal untuk perut kalian. Lihatlah burung-burung ini yang pergi di pagi hari dan kembali di sore hari, tidak membajak dan tidak menuai, namun Allah memberi mereka rezeki. Jika kalian berkata: Perut kami lebih besar dari burung. Maka lihatlah sapi-sapi liar dan keledai-keledai ini, sesungguhnya mereka pergi di pagi hari dan kembali di sore hari, tidak membajak dan tidak menuai, namun Allah memberi mereka rezeki.”

Dan Shafwan bin Amr berkata, dari Syuraih bin Ubaid, dari Yazid bin Maisarah, dia berkata: Para Hawariyyin berkata kepada al-Masih: “Wahai Masihnya Allah, lihatlah masjid Allah betapa indahnya.” Dia berkata: “Amin, amin. Sungguh, aku berkata kepada kalian dengan benar: Allah tidak akan membiarkan dari masjid ini sebuah batu pun yang berdiri kecuali akan menghancurkannya karena dosa-dosa penduduknya. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan sesuatu dari emas, perak, dan batu-batu ini yang kalian kagumi. Sesungguhnya yang paling dicintai Allah adalah hati-hati yang shalih, dan dengan hati-hati itulah Allah memakmurkan bumi, dan dengan hati-hati itu pula Allah menghancurkan bumi jika hati-hati itu berada dalam keadaan selain itu.”

Dan al-Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir berkata dalam tarikhnya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Manshur Ahmad bin Muhammad ash-Shufi, telah mengabarkan kepada kami Aisyah binti al-Hasan bin Ibrahim al-Warkaniyah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Umar bin Abdullah bin al-Haitsam dengan cara imla, telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Aban dengan cara imla, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ja’far ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Ibrahim al-Hanzhali, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Abdul Aziz, dari al-Mu’tamir, dari Laits, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Isa alaihissalam melewati sebuah kota yang hancur, lalu dia kagum dengan bangunannya, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku, perintahkanlah kota ini agar menjawabku.” Maka Allah mewahyukan kepada kota itu: “Wahai kota yang hancur, jawablah Isa.” Dia berkata: Maka kota itu memanggil Isa: “Kekasihku, apa yang engkau inginkan dariku?” Dia berkata: “Apa yang terjadi dengan pohon-pohonmu, apa yang terjadi dengan sungai-sungaimu, apa yang terjadi dengan istana-istanamu, dan di mana penghunimu?” Kota itu berkata: “Kekasihku, janji Tuhanmu yang benar telah datang, maka pohon-pohonku kering, sungai-sungaiku surut, istana-istanaku hancur, dan penghuninya mati.” Dia berkata: “Lalu di mana harta mereka?” Kota itu berkata: “Mereka mengumpulkannya dari yang halal dan haram, tersimpan di dalam perutku. Bagi Allah warisan langit dan bumi.” Dia berkata: Maka Isa alaihissalam berseru: “Aku heran pada tiga orang: orang yang mencari dunia padahal kematian mencarinya, orang yang membangun istana padahal kubur adalah rumahnya, dan orang yang tertawa terbahak-bahak padahal neraka ada di hadapannya. Wahai anak Adam, engkau tidak akan kenyang dengan yang banyak, dan tidak puas dengan yang sedikit. Engkau mengumpulkan hartamu untuk orang yang tidak memujimu, dan engkau menghadap kepada Tuhan yang tidak memaafkanmu. Sesungguhnya engkau hanyalah hamba perutmu dan syahwatmu. Dan sesungguhnya engkau hanya akan memenuhi perutmu ketika masuk ke kuburmu. Dan engkau wahai anak Adam, engkau melihat kumpulan hartamu berada di timbangan orang lain.” Ini adalah hadits yang sangat gharib, dan di dalamnya terdapat nasihat yang baik, maka kami menuliskannya karena itu.

Dan Sufyan ats-Tsauri berkata, dari ayahnya, dari Ibrahim at-Taimi, dia berkata: Isa alaihissalam berkata: “Wahai para Hawariyyin, jadikanlah perbendaharaan kalian di langit, karena sesungguhnya hati seseorang itu berada di mana perbendaharaannya.”

Dan Tsaur bin Yazid berkata, dari Abdul Aziz bin Zhibyan, dia berkata: Isa bin Maryam alaihissalam berkata: “Barangsiapa yang belajar, mengajar, dan beramal, maka dia disebut orang yang agung di dalam kerajaan langit.”

Dan Abu Kuraib berkata: Diriwayatkan bahwa Isa alaihissalam berkata: “Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak menyeberangkanmu melewati lembah, dan tidak memakmurkan perkumpulan denganmu.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan, dengan sanad yang gharib dari Ibnu Abbas secara marfu, bahwa Isa alaihissalam berdiri di kalangan Bani Israil lalu berkata: “Wahai para Hawariyyin, janganlah kalian menceritakan hikmah kepada selain ahlinya sehingga kalian menzhalimi hikmah itu, dan janganlah kalian menghalanginya dari ahlinya sehingga kalian menzhalimi mereka. Dan perkara itu ada tiga: perkara yang jelas kebenarannya maka ikutilah, perkara yang jelas kesesatannya maka jauhilah, dan perkara yang kalian berselisih padanya maka kembalikanlah ilmunya kepada Allah Azza wa Jalla.”

Dan Abdurrazzaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari seorang laki-laki, dari Ikrimah, dia berkata: Isa berkata: “Janganlah kalian melemparkan mutiara kepada babi, karena sesungguhnya babi tidak akan berbuat apa-apa dengan mutiara. Dan janganlah kalian memberikan hikmah kepada orang yang tidak menginginkannya, karena sesungguhnya hikmah itu lebih baik dari mutiara, dan orang yang tidak menginginkannya lebih buruk dari babi.” Demikian juga yang diceritakan oleh Wahb dan yang lainnya darinya.

Dan darinya bahwa dia berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Kalian adalah garam bumi, maka jika kalian rusak maka tidak ada obat untuk kalian. Dan sesungguhnya ada dua sifat kebodohan pada kalian: tertawa tanpa keheranan, dan pagi hari tanpa begadang.”

Dan darinya bahwa dikatakan kepadanya: Siapakah manusia yang paling besar fitnah? Dia berkata: “Kesalahan seorang ulama. Karena sesungguhnya jika seorang ulama tergelincir, maka banyak orang yang tergelincir karena kegelincirannya.”

Dan darinya bahwa dia berkata: “Wahai ulama buruk, kalian menjadikan dunia di atas kepala kalian, dan akhirat di bawah kaki kalian. Perkataan kalian adalah obat dan perbuatan kalian adalah penyakit. Perumpamaan kalian seperti pohon oleander, memukau siapa yang melihatnya, dan membunuh siapa yang memakannya.”

Dan Wahb berkata: Isa berkata: “Wahai ulama buruk, kalian duduk di pintu-pintu surga, maka kalian tidak memasukinya dan tidak membiarkan orang-orang miskin memasukinya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia di sisi Allah adalah ulama yang mencari dunia dengan ilmunya.”

Dan Makhul berkata: Yahya dan Isa bertemu, lalu Isa berjabat tangan dengannya sambil tertawa. Maka Yahya berkata kepadanya: “Wahai anak bibi, mengapa aku melihatmu tertawa seolah-olah engkau merasa aman.” Maka Isa berkata kepadanya: “Mengapa aku melihatmu bermuka masam seolah-olah engkau berputus asa.” Maka Allah mewahyukan kepada mereka berdua: “Sesungguhnya yang paling Aku cintai dari kalian berdua adalah yang paling banyak memberi kabar gembira kepada temannya.”

Dan Wahb bin Munabbih berkata: Isa berdiri bersama sahabat-sahabatnya di atas sebuah kuburan, dan pemiliknya sedang diturunkan ke dalamnya. Mereka menyebut-nyebut kuburan dan kesempitannya. Maka dia berkata: “Kalian pernah berada di tempat yang lebih sempit dari itu, yaitu di dalam rahim ibu-ibu kalian. Maka jika Allah berkehendak untuk melapangkan, Dia akan melapangkan.”

Dan Abu Amr adh-Dharir berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Isa jika disebutkan kematian, kulitnya mengeluarkan darah.

Dan atsar-atsar dalam hal seperti ini sangat banyak. Dan al-Hafizh Ibnu Asakir telah menyebutkan sebagian yang cukup banyak darinya. Kami hanya mengambil sebanyak ini saja, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pemberi taufik kepada yang benar.

Kisah Pengangkatan Isa alaihissalam ke Langit dalam Penjagaan Tuhan, dan Penjelasan Kebohongan Orang Yahudi dan Nashara—semoga laknat Allah atas mereka—dalam Klaim Penyaliban

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. Ketika Allah berfirman: “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian kepada-Ku tempat kembali kalian, lalu Aku memutuskan di antara kalian tentang apa yang kalian perselisihkan.” (Ali Imran: 54-55)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Maka karena mereka melanggar perjanjian mereka, dan karena kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah, dan karena pembunuhan mereka terhadap para nabi tanpa alasan yang benar, dan karena ucapan mereka: “Hati kami tertutup.” Bahkan Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafiran mereka, sehingga mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil saja. Dan karena kekafiran mereka dan perkataan mereka terhadap Maryam dengan tuduhan yang sangat keji. Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab melainkan akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan pada hari kiamat Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (an-Nisa: 155-159)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mengangkat Isa ke langit setelah mewafatkannya dengan tidur menurut pendapat yang shahih yang pasti, dan menyelamatkannya dari orang-orang yang ingin menyakitinya dari kalangan orang Yahudi yang mengadukan dia kepada sebagian raja-raja kafir pada masa itu.

Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq berkata: Namanya adalah Daud bin Yura. Maka dia memerintahkan untuk membunuh dan menyalibnya. Lalu mereka mengepung dia di sebuah rumah di Baitul Maqdis, dan itu pada sore hari Jumat malam Sabtu. Maka ketika tiba waktu mereka masuk, keserupaan Isa dilemparkan kepada salah seorang sahabatnya yang hadir bersamanya, dan Isa diangkat dari jendela rumah itu ke langit, sementara penghuni rumah melihat. Dan masuk para polisi lalu mereka menemukan pemuda yang dilemparkan keserupaan Isa kepadanya, maka mereka mengambilnya dengan sangka bahwa dia adalah Isa, lalu mereka menyalibnya dan meletakkan duri di atas kepalanya sebagai penghinaan terhadapnya. Dan kebanyakan orang Nashara yang tidak menyaksikan apa yang terjadi pada Isa menyerahkan kepada orang Yahudi bahwa dia telah disalibkan, dan mereka tersesat karena itu dengan kesesatan yang nyata, banyak, sangat buruk, dan jauh. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan dengan firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab melainkan akan beriman kepadanya sebelum kematiannya, yaitu setelah turunnya ke bumi pada akhir zaman, sebelum terjadinya kiamat. Maka sesungguhnya dia akan turun dan membunuh babi, memecahkan salib, menghapuskan jizyah, dan tidak menerima kecuali Islam, sebagaimana kami jelaskan itu dengan hadits-hadits yang datang tentangnya ketika menafsirkan ayat yang mulia ini dari Surat an-Nisa. Dan sebagaimana akan kami sebutkan itu secara lengkap dalam kitab al-Fitan wal-Malahim tentang berita-berita al-Masih ad-Dajjal, maka kami akan menyebutkan apa yang datang tentang turunnya al-Masih al-Mahdi alaihissalam dari Dzul Jalal untuk membunuh al-Masih ad-Dajjal yang pendusta yang menyeru kepada kesesatan. Dan ini adalah penyebutan apa yang datang dalam atsar-atsar tentang sifat pengangkatannya ke langit.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, dari al-A’masy, dari al-Minhal bin Amr, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika Allah berkehendak mengangkat Isa ke langit, dia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dan di dalam rumah ada dua belas orang laki-laki dari mereka—yaitu dari para Hawariyyin. Dia keluar menemui mereka dari sebuah mata air di dalam rumah, dan kepalanya meneteskan air. Maka dia berkata: “Sesungguhnya di antara kalian ada yang akan kafir kepadaku dua belas kali setelah beriman kepadaku.” Kemudian dia berkata: “Siapa di antara kalian yang mau dilemparkan keserupaanku kepadanya sehingga dibunuh menggantikan diriku, dan dia akan bersamaku di derajatku?” Maka berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya di antara mereka. Maka dia berkata kepadanya: “Duduklah.” Kemudian dia mengulangi kepada mereka, lalu pemuda itu berdiri. Maka dia berkata: “Duduklah.” Kemudian dia mengulangi kepada mereka, lalu pemuda itu berdiri. Maka dia berkata: “Aku.” Maka dia berkata: “Engkaulah orangnya.” Maka keserupaan Isa dilemparkan kepadanya, dan Isa diangkat dari jendela di rumah itu ke langit. Dia berkata: Dan datang para pencari dari orang Yahudi lalu mereka mengambil yang serupa itu, membunuhnya, kemudian menyalibnya. Maka sebagian dari mereka kafir kepadanya dua belas kali setelah beriman kepadanya. Dan mereka terpecah menjadi tiga golongan. Maka sekelompok berkata: Allah ada di tengah-tengah kami sekehendak-Nya, kemudian naik ke langit. Dan mereka adalah al-Ya’qubiyah. Dan sekelompok berkata: Putra Allah ada di tengah-tengah kami sekehendak-Nya, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya. Dan mereka adalah an-Nasthuriyah. Dan sekelompok berkata: Hamba Allah dan Rasul-Nya ada di tengah-tengah kami sekehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya. Dan mereka adalah orang-orang Muslim. Maka kedua golongan kafir itu bersatu melawan golongan Muslim lalu membunuh mereka. Dan Islam tetap tersembunyi hingga Allah mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Abbas berkata: Dan itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Maka Kami kuatkan orang-orang yang beriman terhadap musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (ash-Shaff: 14)

Ini adalah sanad yang sahih – sampai kepada Ibnu Abbas – menurut syarat Muslim, dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i, dari Abu Kuraib, dari Abu Mu’awiyah dengannya yang serupa, dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Salm bin Junadah, dari Abu Mu’awiyah, dan demikianlah disebutkan oleh lebih dari satu orang dari kalangan Salaf, dan di antara yang menyebutkan hal itu secara panjang lebar adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasar, ia berkata: Dan Isa alaihissalam terus berdoa kepada Allah azza wa jalla agar mengakhirkan ajalnya, yakni agar dapat menyampaikan risalah, menyempurnakan dakwah, dan memperbanyak orang yang masuk ke dalam agama Allah azza wa jalla. Dikatakan: Dan pada saat itu bersamanya ada dua belas orang dari kalangan Hawariyin; Petrus, Ya’qub bin Zabdi, Yuhanna saudara Ya’qub, Andreas, Filippus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Ya’qub bin Halqiya, Tadeus, Fatatiya, Yudas Zakaria Yuta, dan dialah yang menunjukkan Yahudi kepada Isa. Ibnu Ishaq berkata: Dan ada seorang laki-laki lain di antara mereka bernama Sarjus, yang disembunyikan oleh Nashrani, dan dialah yang dilemparkan serupa dengan Almasih kepadanya, lalu disalib menggantikannya. Ia berkata: Dan sebagian Nashrani mengira bahwa orang yang disalib menggantikan Almasih dan dilemparkan keserupaan kepadanya adalah Yudas Zakaria Yuta. Dan Allah lebih mengetahui.

Dan Ad-Dahhak berkata, dari Ibnu Abbas: Isa menunjuk Syam’un sebagai pengganti, dan Yahudi membunuh Yudas Zakaria Yuta yang keserupaan dilemparkan kepadanya. Dan Ahmad bin Marwan berkata: Muhammad bin Al-Jahm menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Al-Farra’ berkata tentang firman-Nya: Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membuat tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya (Ali Imran: 54), ia berkata: Sesungguhnya Isa menghilang dari bibinya selama beberapa waktu, lalu ia mendatanginya, maka Kepala Jalut Yahudi bangkit, lalu memukul drum mencari Isa, hingga mereka berkumpul di pintu rumahnya, lalu mereka memecahkan pintu, dan Kepala Jalut masuk untuk menangkap Isa, maka Allah membutakan matanya dari Isa kemudian ia keluar kepada teman-temannya dan berkata: Aku tidak melihatnya. Dan bersamanya pedang terhunus, maka mereka berkata: Engkaulah Isa. Dan Allah melemparkan serupa Isa kepadanya, maka mereka menangkapnya, lalu membunuhnya, dan menyalibnya, maka Allah jalla dzikruhu berfirman: Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya tetapi diserupakan kepada mereka (An-Nisa’: 157). Dan Ibnu Jarir berkata: Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, Ya’qub Al-Qummi menceritakan kepada kami, dari Harun bin Antarah, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Isa didatangi dan bersamanya tujuh belas orang dari kalangan Hawariyin di dalam sebuah rumah, lalu mereka mengepung mereka, maka ketika mereka masuk kepada mereka Allah menyerupakan wajah mereka semua pada rupa Isa, maka mereka berkata kepada mereka: Kalian telah menyihir kami, sungguh Isa harus keluar kepada kami atau kami akan membunuh kalian semua, maka Isa berkata kepada sahabat-sahabatnya: Siapa di antara kalian yang menjual dirinya hari ini dengan surga. Maka seorang laki-laki berkata: Saya. Lalu ia keluar kepada mereka, dan berkata: Aku adalah Isa. Dan Allah telah menyerupakan wajahnya pada rupa Isa, maka mereka menangkapnya lalu membunuhnya dan menyalibnya, maka dari situlah diserupakan kepada mereka, dan mereka mengira bahwa mereka telah membunuh Isa, dan Nashrani mengira seperti itu juga, bahwa ia adalah Isa, dan Allah mengangkat Isa pada hari itu.

Ibnu Jarir berkata: Dan Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Ishaq menceritakan kepada kami, Isma’il bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, Abdul Shamad bin Ma’qil menceritakan kepada saya bahwa ia mendengar Wahb berkata: Sesungguhnya Isa bin Maryam ketika Allah memberitahunya bahwa ia akan keluar dari dunia, ia gelisah dari kematian, dan hal itu menyusahkannya, maka ia mengundang para Hawariyyun dan menyiapkan makanan untuk mereka lalu berkata: Datanglah kepada saya malam ini; karena aku memiliki hajat kepada kalian. Maka ketika mereka berkumpul kepadanya di malam hari, ia menjamu mereka, dan ia berdiri melayani mereka, maka ketika mereka selesai dari makanan, ia mulai membasuh tangan mereka dan memwudhukan mereka dengan tangannya, dan menyeka tangan mereka dengan pakaiannya, maka mereka merasa hal itu terlalu besar dan membencinya, maka ia berkata: Ketahuilah barangsiapa menolak sesuatu kepada saya malam ini dari apa yang aku lakukan maka ia bukan dari golongan saya dan aku bukan dari golongannya. Maka mereka membiarkannya hingga ketika ia selesai dari itu ia berkata: Adapun apa yang aku lakukan kepada kalian malam ini dari melayani kalian atas makanan, dan membasuh tangan kalian dengan tanganku, maka jadilah hal itu sebagai teladan bagi kalian dengan diriku, karena kalian melihat bahwa aku adalah orang terbaik di antara kalian maka jangan sebagian dari kalian membesarkan diri atas sebagian yang lain, dan hendaklah sebagian dari kalian memberikan dirinya untuk sebagian yang lain sebagaimana aku memberikan diriku untuk kalian, dan adapun hajatku yang aku minta bantuan kalian atasnya, maka kalian berdoa untuk saya kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam doa agar Dia mengakhirkan ajalku. Maka ketika mereka menyiapkan diri mereka untuk berdoa dan ingin bersungguh-sungguh, kantuk mengambil mereka hingga mereka tidak mampu berdoa, maka ia mulai membangunkan mereka dan berkata: Subhanallah, apakah kalian tidak dapat bersabar untuk saya satu malam saja, kalian menolong saya di dalamnya? Maka mereka berkata: Demi Allah kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami, demi Allah sungguh kami biasa begadang dan banyak begadang, dan kami tidak mampu begadang malam ini, dan kami tidak ingin berdoa kecuali terhalang antara kami dan hal itu. Maka ia berkata: Penggembala akan pergi dan domba-domba akan bercerai-berai. Dan ia mulai mengucapkan kata-kata seperti ini yang dengan itu ia mengumumkan kematiannya. Kemudian ia berkata: Sungguh salah satu dari kalian akan mengingkari saya sebelum ayam berkokok tiga kali, dan salah satu dari kalian akan menjual saya dengan dirham yang sedikit, dan akan memakan hargaku. Maka mereka keluar dan bercerai-berai, dan Yahudi mencarinya maka mereka menangkap Syam’un – salah satu dari Hawariyyun – maka mereka berkata: Ini dari sahabat-sahabatnya. Maka ia mengingkari dan berkata: Aku bukan sahabatnya. Maka mereka meninggalkannya kemudian orang-orang lain menangkapnya maka ia mengingkari seperti itu, kemudian ia mendengar suara ayam maka ia menangis dan bersedih. Maka ketika pagi salah satu dari Hawariyyun mendatangi Yahudi, lalu berkata: Apa yang kalian berikan kepada saya jika aku menunjukkan kalian kepada Almasih. Maka mereka memberikan kepadanya tiga puluh dirham lalu ia mengambilnya dan menunjukkan mereka kepadanya. Dan ia telah diserupakan kepada mereka sebelum itu maka mereka menangkapnya dan mengikatnya dengan kuat, dan mengikatnya dengan tali dan mulai menuntunnya, dan mereka berkata: Engkau dahulu menghidupkan orang mati dan membentak setan, dan menyembuhkan orang gila, apakah engkau tidak dapat menyelamatkan dirimu dari tali ini? Dan mereka meludahinya, dan melemparkan kepadanya duri, hingga mereka membawanya kepada kayu yang mereka ingin menyalibnya di atasnya, maka Allah mengangkatnya kepada-Nya dan mereka menyalib apa yang diserupakan kepada mereka, maka ia bertahan tujuh hari. Kemudian ibunya dan wanita yang dahulu Isa mengobatinya, maka Allah menyembuhkannya dari kegilaan, keduanya datang menangis di tempat yang disalib, maka Isa mendatangi keduanya, lalu berkata: Atas apa kalian berdua menangis. Keduanya berkata: Atas engkau. Maka ia berkata: Sesungguhnya Allah telah mengangkat saya kepada-Nya, dan tidak menimpaku kecuali kebaikan, dan sesungguhnya ini adalah sesuatu yang diserupakan kepada mereka, maka ia memerintahkan Hawariyyun agar menemui saya di tempat demikian dan demikian. Maka mereka menemuinya di tempat itu sebelas orang, dan hilang orang yang telah menjualnya dan menunjukkan kepadanya kepada Yahudi, maka ia bertanya tentang dia kepada sahabat-sahabatnya lalu mereka berkata: Sesungguhnya ia menyesal atas apa yang ia perbuat, maka ia bunuh diri dan membunuh dirinya. Maka ia berkata: Seandainya ia bertaubat niscaya Allah menerima taubatnya. Kemudian ia bertanya kepada mereka tentang seorang pemuda yang mengikuti mereka yang disebut: Yuhanna. Maka ia berkata: Dia bersama kalian maka pergilah maka ia akan menjadi setiap orang dari kalian akan berbicara dengan bahasa suatu kaum maka hendaklah ia memperingatkan mereka dan hendaklah ia mengajak mereka.

Dan ini adalah sanad yang gharib dan mengagumkan, dan ini lebih sahih daripada apa yang disebutkan oleh Nashrani, semoga Allah melaknat mereka, bahwa Almasih datang kepada Maryam, dan ia duduk menangis di kayunya, lalu ia memperlihatkan kepadanya tempat paku dari tubuhnya, dan memberitahunya bahwa ruhnya diangkat, dan bahwa tubuhnya disalib, dan ini adalah kebohongan dan dusta dan rekayasa dan perubahan dan penggantian dan tambahan yang batil dalam Injil atas penyelisihan kebenaran dan konsekuensi periwayatan.

Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan, dari jalur Yahya bin Habib, bahwa ia sampai kepadanya bahwa Maryam meminta dari istana kerajaan – setelah yang disalib disalib tujuh hari, dan ia mengira bahwa ia adalah anaknya – agar menurunkan tubuhnya, maka mereka memenuhi mereka untuk itu, dan ia dikubur di sana, maka Maryam berkata kepada ibu Yahya: Apakah engkau tidak pergi bersama kami agar kami menziarahi kubur Almasih. Maka keduanya pergi maka ketika keduanya dekat dari kubur, Maryam berkata kepada ibu Yahya: Apakah engkau tidak bersembunyi. Maka ia berkata: Dan dari siapa aku bersembunyi. Maka ia berkata: Dari laki-laki ini yang ada di dekat kubur. Maka ibu Yahya berkata: Sesungguhnya aku tidak melihat seorang pun. Maka Maryam berharap bahwa ia adalah Jibril, dan ia telah lama tidak bertemu dengannya maka ia meminta ibu Yahya menunggu dan pergi menuju kubur, maka ketika ia dekat dari kubur Jibril berkata kepadanya, dan ia mengenalnya: Wahai Maryam, ke mana engkau ingin pergi? Maka ia berkata: Aku menziarahi kubur Almasih dan mengucapkan salam kepadanya dan memperbarui perjanjian dengannya. Maka ia berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya ini bukan Almasih, sesungguhnya Allah telah mengangkat Almasih dan mensucikannya dari orang-orang yang kafir, tetapi ini adalah pemuda yang keserupaan dilemparkan kepadanya dan disalib dan dibunuh menggantikannya, dan tanda itu bahwa keluarganya telah kehilangan dia maka mereka tidak tahu apa yang dilakukan kepadanya, maka mereka menangis atasnya, maka jika tiba hari demikian dan demikian, maka datanglah ke hutan demikian dan demikian, maka sesungguhnya engkau akan bertemu Almasih. Ia berkata: Maka ia kembali kepada saudarinya, dan Jibril naik lalu ia memberitahunya tentang Jibril, dan apa yang ia katakan kepadanya dari perkara hutan. Maka ketika tiba hari itu, ia pergi maka menemukan Isa di hutan, maka ketika ia melihatnya ia bergegas kepadanya lalu ia membungkuk kepadanya, dan mencium kepalanya dan mulai mendoakan untuknya sebagaimana ia biasa lakukan, dan berkata: Wahai ibuku, sesungguhnya kaum itu tidak membunuh saya, tetapi Allah mengangkat saya kepada-Nya, dan memberi izin kepada saya dalam pertemuan denganmu, dan kematian akan datang kepadamu sebentar lagi, maka bersabarlah dan sebutlah Allah. Kemudian Isa naik maka ia tidak bertemu dengannya kecuali pertemuan itu hingga ia meninggal. Ia berkata: Dan sampai kepadaku bahwa Maryam bertahan setelah Isa lima tahun, dan meninggal dan usianya lima puluh tiga tahun, semoga Allah meridhainya dan meredhai untuknya.

Dan Al-Hasan Al-Bashri berkata: Usia Isa alaihissalam pada hari ia diangkat adalah tiga puluh empat tahun. Dan dalam hadits: Sesungguhnya penduduk surga akan memasukinya dalam keadaan tidak berbulu, tidak memiliki kumis, bercelak, berusia tiga puluh tiga tahun Dan dalam hadits yang lain: Seperti kelahiran Isa, dan ketampanan Yusuf Dan demikian pula Hammad bin Salamah berkata, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin Al-Musayyab, bahwa ia berkata: Isa diangkat, dan ia berusia tiga puluh tiga tahun.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, dan Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dalam Tarikh-nya, dari Sa’id bin Abi Maryam, dari Nafi’ bin Yazid, dari Umarah bin Ghaziyyah, dari Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Utsman, bahwa ibunya Fathimah binti Al-Husain, menceritakan kepadanya bahwa Aisyah biasa berkata: Fathimah memberitahuku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahunya bahwa tidak ada nabi yang ada setelahnya nabi kecuali yang setelahnya hidup setengah umur yang sebelumnya, dan bahwa ia memberitahuku: bahwa Isa bin Maryam hidup seratus dua puluh tahun, maka aku tidak melihat diriku kecuali akan pergi pada kepala enam puluh tahun ini adalah lafazh Al-Fasawi; maka ini adalah hadits yang gharib.

Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata: Dan yang sahih bahwa Isa tidak mencapai umur ini, dan yang dimaksud dengannya adalah masa kediamannya di umatnya, sebagaimana diriwayatkan Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Yahya bin Ju’dah, ia berkata: Fathimah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada saya: Sesungguhnya Isa bin Maryam bertahan di Bani Israil empat puluh tahun Dan ini adalah mursal. Dan Jarir, dan Ats-Tsauri berkata, dari Al-A’masy dari Ibrahim: Isa bertahan di kaumnya empat puluh tahun. Dan diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali, bahwa Isa alaihissalam diangkat malam dua puluh dua dari Ramadhan, dan malam itu pada sejenisnya Ali wafat setelah ditikam lima hari. Dan Ad-Dahhak telah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas bahwa Isa ketika diangkat ke langit mendatanginya awan lalu mendekat kepadanya hingga ia duduk di atasnya, dan Maryam datang kepadanya lalu berpamitan dengannya dan menangis, kemudian ia diangkat dan ia memandangnya dan Isa melemparkan kepadanya selendangnya dan berkata: Ini adalah tanda antara aku dan engkau pada hari kiamat. Dan ia melemparkan serbannya kepada Syam’un, dan ibunya mulai berpamitan dengannya dengan jarinya, menunjuk dengannya kepadanya hingga ia hilang darinya. Dan ia mencintainya dengan cinta yang sangat; karena terkumpul padanya cintanya dari sisi kedua orang tua, karena tidak ada ayahnya, dan ia tidak berpisah darinya baik dalam perjalanan maupun di tempat tinggal. Sebagian penyair berkata:

Dan aku melihat seperti kematian antara satu saat
Maka bagaimana dengan perpisahan yang janjinya adalah pengumpulan

Dan Ishaq bin Bisyir menyebutkan dari Mujahid bin Jabr, bahwa Yahudi ketika mereka menyalib laki-laki itu yang diserupakan kepada mereka, dan mereka mengira ia adalah Almasih, dan kebanyakan Nashrani menyerahkan kepada mereka; karena kebodohan mereka tentang itu, mereka menguasai atas sahabat-sahabatnya dengan pembunuhan dan pemukulan dan pemenjaraan maka perkara mereka sampai kepada penguasa Rum, dan ia adalah raja Damaskus pada waktu itu, maka dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Yahudi telah menguasai atas sahabat-sahabat seorang laki-laki yang dahulu menyebutkan kepada mereka bahwa ia adalah Rasulullah, dan ia menghidupkan orang mati, dan menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta, dan melakukan keajaiban-keajaiban, maka mereka menyerang kepadanya lalu membunuhnya, dan menghina sahabat-sahabatnya dan memenjarakan mereka. Maka ia mengirim lalu mereka didatangkan dan di antara mereka Yahya bin Zakariya, dan Syam’un, dan jamaah, maka ia bertanya kepada mereka tentang perkara Almasih, maka mereka memberitahunya tentangnya maka ia mengikuti mereka dalam agama mereka dan meninggikan kalimat mereka, dan kebenaran menang atas Yahudi, dan kalimat Nashrani tinggi atas mereka, dan ia mengirim kepada yang disalib lalu diturunkan dari kayunya, dan didatangkan kayu yang disalib di atasnya laki-laki itu lalu ia mengagungkannya, maka dari situlah Nashrani mengagungkan salib, dan dari sini masuk agama Nashrani ke dalam Rum. Dan dalam hal ini ada pertimbangan dari beberapa sisi; pertama, bahwa Yahya bin Zakariya adalah nabi, tidak menetapkan bahwa yang disalib adalah Isa; karena ia ma’shum mengetahui apa yang terjadi atas sisi kebenaran. Kedua, bahwa Rum tidak masuk dalam agama Almasih kecuali setelah tiga ratus tahun, dan itu pada zaman Qusthantin bin Qusthus pembangun kota yang dinisbahkan kepadanya sebagaimana akan kami sebutkan. Ketiga, bahwa Yahudi ketika mereka menyalib laki-laki itu kemudian melemparkannya dengan kayunya mereka menjadikan tempatnya tempat pembuangan sampah dan kotoran dan bangkai mayat dan kotoran-kotoran, maka tidak berhenti seperti itu hingga pada zaman Qusthantin yang disebutkan, maka ibunya Hilana Al-Harraniyyah Al-Funduqaniyyah berusaha keras mengeluarkannya dari sana dengan keyakinan bahwa ia adalah Almasih, dan mereka menemukan kayu yang disalib di atasnya yang disalib, maka mereka menyebutkan bahwa tidak ada yang menyentuhnya pemilik cacat kecuali disembuhkan. Maka Allah lebih mengetahui apakah hal ini atau tidak? Dan apakah ini karena laki-laki itu yang memberikan dirinya adalah laki-laki shalih, atau ini adalah ujian dan fitnah untuk umat Nashrani pada hari itu? Hingga mereka mengagungkan kayu itu dan melapisinya dengan emas dan mutiara, dan dari situ mereka mengambil salib-salib dan tabarruk dengan bentuknya dan menciumnya, semoga Allah melaknat mereka, dan ibu raja Hilana memerintahkan maka sampah itu dipindahkan, dan dibangun di tempatnya gereja yang megah yang dihiasi dengan berbagai jenis perhiasan. Maka ia adalah ini yang terkenal hari ini di negeri Baitul Maqdis, yang dikatakan kepadanya: Al-Qumamah. Karena apa yang ada di dekatnya, dan mereka menamakannya Al-Qiyamah, yang berarti yang tubuh Almasih bangkit darinya. Kemudian Hilana memerintahkan agar sampah negeri, dan sampah kotoran dan kotorannya diletakkan pada batu yang ia adalah kiblat Yahudi, maka tidak berhenti seperti itu hingga Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu menaklukkan Baitul Maqdis, maka ia menyapu darinya sampah dengan selendangnya, dan mensucikannya dari kotoran-kotoran dan najis-najis, dan tidak meletakkan masjid di belakangnya, tetapi di depannya, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat, malam Isra dengan para nabi, dan ia adalah Al-Aqsha.

Sifat Isa alaihissalam, Perangainya, dan Keutamaannya

Allah Taala berfirman: Almasih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar. (QS. Al-Ma’idah: 75)

Dikatakan: Ia dinamakan Almasih karena mengusap bumi, yaitu perjalanannya di bumi, dan larinnya dengan agamanya dari berbagai fitnah di masa itu, karena beratnya pendustaan kaum Yahudi terhadapnya dan kebohongan mereka terhadapnya serta ibunya, alaihimassalam. Dan dikatakan pula: karena ia memiliki telapak kaki yang rata.

Allah Taala berfirman: Dan Kami iringkan jejak para rasul itu dengan mengutus Isa putra Maryam yang membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami berikan kepadanya Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. (QS. Al-Ma’idah: 46)

Dan Allah Taala berfirman: Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. (QS. Al-Baqarah: 87)

Dan ayat-ayat tentang hal itu sangat banyak sekali. Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang shahih dalam Shahihain: Tidaklah ada seorang bayi yang dilahirkan kecuali setan menusuk rusuknya ketika ia dilahirkan, lalu ia menangis keras kecuali Maryam dan anaknya. Setan pergi untuk menusuk tetapi menusuk pada hijab.

Dan telah disebutkan sebelumnya hadits Umair bin Hani, dari Junadah, dari Ubadah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar, dan neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan apa pun amal yang telah dilakukannya. Diriwayatkan oleh Bukhari, dan ini adalah lafadznya, dan Muslim.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Asy-Sya’bi, dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila seorang laki-laki mendidik budak perempuannya lalu ia mendidiknya dengan baik, dan mengajarnya lalu ia mengajarnya dengan baik, kemudian memerdekakannya lalu menikahinya, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia beriman kepada Isa putra Maryam kemudian beriman kepadaku, maka baginya dua pahala. Dan seorang budak apabila ia bertakwa kepada Tuhannya dan taat kepada tuannya, maka baginya dua pahala. Ini adalah lafadz Bukhari.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa, telah memberitakan kepada kami Hisyam, dari Ma’mar. Dan telah menceritakan kepadaku Mahmud, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, telah memberitakan kepadaku Said bin Musayyib, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda pada malam diisra’kan: Aku bertemu Musa, lalu beliau menggambarkan sosoknya dan beliau berkata: Ia adalah seorang laki-laki yang rambutnya keriting, seolah-olah ia dari orang-orang Syanu’ah. Dan aku bertemu Isa, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam menggambarkan sosoknya dan berkata: Perawakannya sedang, berkulit merah, seakan-akan ia baru keluar dari dimas, yaitu pemandian. Dan aku melihat Ibrahim, dan aku adalah yang paling mirip dengan anak-anaknya dengannya. Hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam kisah Ibrahim dan Musa.

Kemudian ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah memberitakan kepada kami Israil, dari Utsman bin Mughirah, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Aku melihat Isa, Musa, dan Ibrahim. Adapun Isa, ia berkulit merah, berambut keriting, bidang dada. Adapun Musa, ia berkulit sawo matang, berbadan besar, rambutnya lurus, seolah-olah ia dari orang-orang Zath. Hanya diriwayatkan oleh Bukhari.

Dan telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mundzir, telah menceritakan kepada kami Abu Dlamrah, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah, dari Nafi’, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam pada suatu hari menyebut-nyebut di tengah-tengah manusia tentang Almasihud Dajjal, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya Allah tidaklah buta sebelah, tetapi Almasihud Dajjal buta mata sebelah kanannya, seolah-olah matanya seperti anggur yang menonjol. Dan aku diberi petunjuk pada malam ini di dekat Ka’bah dalam mimpi, maka tiba-tiba ada seorang laki-laki berkulit sawo matang, sebaik-baik yang kamu lihat dari laki-laki berkulit sawo matang, rambutnya terurai di antara kedua pundaknya, rambutnya lurus, dari kepalanya meneteskan air, ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak dua orang laki-laki, dan ia sedang melakukan tawaf di Baitullah. Lalu aku bertanya: Siapa ini? Mereka berkata: Almasih putra Maryam. Kemudian aku melihat seorang laki-laki di belakangnya berambut keriting, sangat keriting, buta mata kanannya, ia adalah orang yang paling mirip yang aku lihat dengan Ibnu Qathan, ia meletakkan tangannya di atas pundak seorang laki-laki sedang melakukan tawaf di Baitullah. Lalu aku bertanya: Siapa ini? Mereka berkata: Almasihud Dajjal. Dan Muslim meriwayatkannya dari hadits Musa bin Uqbah.

Kemudian Bukhari berkata: Diikuti oleh Ubaidullah bin Nafi’. Kemudian ia meriwayatkannya dari jalan Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar. Az-Zuhri berkata: Dan Ibnu Qathan adalah seorang laki-laki dari Khuzaah, ia binasa pada masa jahiliyah.

Maka beliau shallawatullahi wasalamahu alaihi menjelaskan sifat dua Almasih; Masih petunjuk dan Masih kesesatan, agar yang satu ini dikenal ketika ia turun, maka orang-orang beriman akan beriman kepadanya, dan yang lain dikenal maka orang-orang muwahhid akan waspada terhadapnya.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Isa putra Maryam melihat seorang laki-laki mencuri, lalu ia berkata kepadanya: Apakah kamu mencuri? Ia berkata: Tidak, demi Dzat yang tidak ada tuhan selain-Nya. Maka Isa berkata: Aku beriman kepada Allah dan mendustakan mataku. Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Rafi’, dari Abdurrazzaq.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Humaid Ath-Thawil, dari Al-Hasan dan yang lainnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Dan aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Isa melihat seorang laki-laki mencuri, lalu ia berkata: Wahai fulan, apakah kamu mencuri? Ia berkata: Tidak, demi Allah aku tidak mencuri. Maka ia berkata: Aku beriman kepada Allah dan mendustakan penglihatanku. Dan ini menunjukkan tabiat yang suci, di mana ia mendahulukan sumpah laki-laki itu – dan ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang bersumpah dengan keagungan Allah secara dusta – atas apa yang ia saksikan darinya secara langsung, lalu ia menerima uzurnya, dan menyalahkan dirinya sendiri, maka ia berkata: Aku beriman kepada Allah, maksudnya: aku membenarkanmu, dan mendustakan penglihatanku karena sumpahmu.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mughirah bin Nu’man, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kalian akan dibangkitkan dalam keadaan bertelanjang kaki, telanjang, dan tidak berkhitan, kemudian beliau membaca: Sebagaimana Kami memulai penciptaan yang pertama, Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami penuhi. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya. (QS. Al-Anbiya: 104) Maka orang yang pertama diberi pakaian adalah Ibrahim, kemudian diambil beberapa orang dari para sahabatku ke kanan dan ke kiri, lalu aku berkata: Para sahabatku. Maka dikatakan: Sesungguhnya mereka tidak henti-hentinya murtad sejak kamu meninggalkan mereka. Lalu aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang shaleh Isa putra Maryam: Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau mengadzab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Ma’idah: 117-118) Hanya diriwayatkan olehnya tanpa Muslim dari jalan ini.

Dan ia juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Zubair Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, aku mendengar Az-Zuhri berkata: Telah memberitakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, ia mendengar Umar berkata di atas mimbar: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian memuji-mujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji-muji Isa putra Maryam secara berlebihan, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidaklah berbicara dalam ayunan kecuali tiga orang: Isa. Dan dahulu di Bani Israil ada seorang laki-laki bernama Juraij. Ia sedang shalat ketika ibunya datang lalu memanggilnya. Ia berkata: Apakah aku menjawabnya atau shalat? Maka ibunya berkata: Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya hingga Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah para pelacur. Dan Juraij berada dalam biara monastiknya, lalu ada seorang perempuan yang mendekatinya dan berbicara kepadanya, tetapi ia menolak. Lalu perempuan itu mendatangi seorang penggembala dan mempersilahkan dirinya kepada penggembala itu, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki. Maka dikatakan kepadanya: Dari siapa? Ia berkata: Dari Juraij. Maka mereka mendatanginya dan menghancurkan biaranya, lalu mereka menurunkannya dan mencacinya. Lalu ia berwudhu dan shalat, kemudian mendatangi anak itu dan berkata: Siapa ayahmu wahai anak? Ia berkata: Fulan si penggembala. Mereka berkata: Apakah kami bangunkan biaramu dari emas? Ia berkata: Tidak, kecuali dari tanah liat. Dan dahulu ada seorang perempuan menyusui anaknya di Bani Israil, lalu seorang laki-laki berkuda yang gagah berlalu di dekatnya. Maka ia berkata: Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia. Lalu anak itu meninggalkan payudaranya dan menghadap kepada orang yang berkuda itu, dan berkata: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia. Kemudian ia kembali ke payudara ibunya menyusunya. Abu Hurairah berkata: Seakan-akan aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengisap jarinya. Kemudian seorang budak perempuan lewat, lalu ibunya berkata: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti perempuan ini. Lalu anak itu meninggalkan payudaranya dan berkata: Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia. Maka ibunya berkata: Mengapa demikian? Ia berkata: Orang yang berkuda itu adalah penguasa yang zalim, dan budak perempuan ini mereka katakan: ia mencuri dan berzina, padahal ia tidak melakukannya.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri, telah memberitakan kepadaku Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Aku adalah orang yang paling berhak atas putra Maryam, dan para Nabi adalah anak-anak dari ayah yang berbeda, tidak ada nabi antara aku dan dia. Hanya diriwayatkan oleh Bukhari dari jalan ini. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari hadits Abu Dawud Al-Hafari, dari Ats-Tsauri, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan yaitu Ats-Tsauri, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Aku adalah orang yang paling berhak atas Isa alaihissalam, dan para Nabi adalah saudara-saudara dari ayah yang berbeda, dan tidak ada nabi antara aku dan Isa. Dan ini adalah sanad yang shahih menurut syarat keduanya (Bukhari dan Muslim), dan mereka tidak mengeluarkannya dari jalan ini.

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan nada yang sama. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari hadits Abdurrazzaq dengannya dengan nada yang sama.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ibnu Abi ‘Arubah, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Abdurrahman bin Adam, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Para Nabi adalah saudara-saudara dari ayah yang berbeda, agama mereka satu dan ibu-ibu mereka berbeda-beda. Dan aku adalah orang yang paling berhak atas Isa putra Maryam karena tidak ada nabi antara aku dan dia. Dan sesungguhnya ia akan turun. Maka apabila kalian melihatnya, kenalilah dia, karena ia adalah seorang laki-laki yang perawakannya sedang cenderung ke merah dan putih, rambutnya lurus seolah-olah kepalanya meneteskan air padahal tidak terkena basah, di antara dua pakaian yang berwarna kuning. Ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah, dan menonaktifkan agama-agama, hingga binasa di zamannya semua agama kecuali Islam. Dan Allah akan membinasakan di zamannya Almasihud Dajjal si pendusta. Dan akan terjadi keamanan di bumi, hingga unta-unta merumput bersama singa, macan tutul bersama sapi, serigala bersama kambing, dan anak-anak kecil serta pemuda-pemuda bermain dengan ular, tidak ada yang saling menyakiti. Maka ia akan tinggal sesuai kehendak Allah, kemudian ia wafat, lalu orang-orang Muslim menshalatkannya dan menguburkannya.

Kemudian Ahmad meriwayatkannya dari Affan, dari Hammam, dari Qatadah, dari Abdurrahman, dari Abu Hurairah, lalu menyebutkan sepertinya. Dan ia berkata: Maka ia tinggal selama empat puluh tahun, kemudian ia wafat dan orang-orang Muslim menshalatkannya. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Hadbah bin Khalid, dari Hammam bin Yahya dengannya dengan nada yang sama. Dan Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Shalih budak Abu Hurairah, darinya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Maka ia tinggal di bumi selama empat puluh tahun.

Dan akan datang penjelasan turunnya alaihissalam di akhir zaman dalam kitab Al-Malahim sebagaimana kami telah merincinya juga dalam At-Tafsir pada firman Allah Taala dalam surah An-Nisa: Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan pada hari kiamat ia akan menjadi saksi atas mereka. (QS. An-Nisa: 159) Dan firman-Nya: Dan sesungguhnya kedatangan Isa itu benar-benar merupakan tanda bagi hari kiamat. (QS. Az-Zukhruf: 61)

Dan sesungguhnya ia akan turun di menara putih Damaskus, dan telah ditegakkan shalat Subuh, lalu imam orang-orang Muslim berkata kepadanya: Majulah wahai Ruhullah, lalu shalatlah. Maka ia berkata: Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah kepada umat ini. Dan dalam riwayat lain: Maka Isa berkata kepadanya: Sesungguhnya shalat ditegakkan untukmu. Lalu ia shalat di belakangnya, kemudian ia mengendarai kendaraan dan bersamanya orang-orang Muslim dalam mengejar Almasihud Dajjal, lalu ia menyusulnya di pintu Lud, lalu ia membunuhnya dengan tangan mulianya.

Dan disebutkan bahwa harapan itu kuat ketika dibangun menara timur Damaskus ini yang terbuat dari batu-batu putih, dan ia juga telah dibangun dari harta orang-orang Nasrani ketika mereka membakar menara yang roboh dan sekitarnya. Maka Isa putra Maryam alaihissalam akan turun di atasnya, lalu ia akan membunuh babi dan memecahkan salib, dan tidak akan menerima dari seorang pun kecuali Islam. Dan sesungguhnya ia akan berhaji dari Fajjur Rauha, sebagai haji atau umrah, atau keduanya. Dan ia akan tinggal selama empat puluh tahun kemudian ia meninggal, lalu ia dikuburkan – menurut yang dikatakan – di Hujrah Nabawiyah di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kedua sahabatnya.

Dan telah datang dalam hal itu hadits yang disebutkan oleh Ibnu Asakir di akhir biografi Almasih alaihissalam dalam kitabnya, dari Aisyah secara marfu’, bahwa ia akan dikuburkan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar di Hujrah Nabawiyah, tetapi sanadnya tidak shahih.

Abu Isa At-Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam Ath-Thaiy, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah Salm bin Qutaibah, telah menceritakan kepadaku Abu Maudud Al-Madani, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Adl-Dlalhak, dari Muhammad bin Yusuf bin Abdullah bin Salam, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Tertulis dalam Taurat tentang sifat Muhammad dan Isa putra Maryam alaihimassalam, ia akan dikuburkan bersamanya. Abu Maudud berkata: Dan sesungguhnya masih tersisa di rumah itu tempat untuk kuburan. Kemudian At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan. Demikianlah ia berkata. Dan yang benar adalah Adl-Dlalhak bin Utsman Al-Madani. Dan Bukhari berkata: Hadits ini tidak shahih menurutku, dan tidak ada yang mengikutinya.

Bukhari meriwayatkan dari Yahya bin Hammad, dari Abu Awanah, dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Salman, ia berkata: Masa kekosongan antara Isa dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah enam ratus tahun. Dan dari Qatadah: lima ratus enam puluh tahun.

Dan dikatakan: lima ratus empat puluh tahun. Dan dari Ad-Dhahhak: empat ratus dan beberapa puluh tiga tahun. Dan yang masyhur adalah enam ratus tahun. Dan di antara mereka ada yang mengatakan: enam ratus dua puluh tahun menurut perhitungan Qamariyah (bulan) maka itu menjadi enam ratus tahun menurut perhitungan Syamsiyah (matahari). Dan Allah lebih mengetahui.

Dan Ibnu Hibban berkata dalam kitab Shahih-nya: Penyebutan masa yang tetap di dalamnya umat Isa berada di atas petunjuknya. Telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la, telah menceritakan kepada kami Abu Hammam, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, dari Al-Haitsam bin Humaid, dari Al-Wadhin bin ‘Atha’, dari Nashr bin ‘Alqamah, dari Jubair bin Nufair, dari Abu Ad-Darda’, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersauk: “Sungguh Allah telah mengambil (wafatkan) Daud dari tengah-tengah para sahabatnya, maka mereka tidak terfitnah dan tidak mengubah (agamanya). Dan sungguh para sahabat Al-Masih tetap di atas sunnahnya dan petunjuknya selama dua ratus tahun.” Dan ini adalah hadits yang sangat gharib (aneh), meskipun Ibnu Hibban menshahihkannya. Dan Ibnu Jarir menyebutkan dari Muhammad bin Ishaq, bahwa Isa ‘alaihissalam, sebelum diangkat, berwasiat kepada para Hawariyyin agar mereka menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan menunjuk setiap orang dari mereka kepada suatu kelompok manusia di suatu wilayah dari berbagai wilayah Syam, Masyriq (Timur), dan negeri-negeri Maghrib (Barat). Maka mereka menyebutkan bahwa setiap orang dari mereka menjadi berbicara dengan bahasa orang-orang yang diutus Al-Masih kepadanya. Dan lebih dari satu orang menyebutkan bahwa Injil dipindahkan darinya oleh empat orang: Lukas, Matius, Markus, dan Yohanes. Dan di antara keempat Injil ini terdapat perbedaan yang banyak berkenaan dengan setiap naskah dengan naskah lainnya, dan penambahan-penambahan yang banyak serta pengurangan berkenaan dengan yang lain. Dan keempat orang ini, di antara mereka ada dua orang yang sempat bertemu Al-Masih dan melihatnya, yaitu Matius dan Yohanes, dan di antara mereka ada dua orang dari kalangan sahabat-sahabat para sahabatnya. Dan Allah lebih mengetahui. Dan keduanya adalah Markus dan Lukas. Dan termasuk orang yang beriman kepada Al-Masih dan membenarkannya dari penduduk Damaskus adalah seorang laki-laki yang disebut: Dhaina, dan ia bersembunyi di dalam sebuah gua di dalam Pintu Timur dekat dengan gereja penyaliban; karena takut kepada Paulus si Yahudi, dan ia adalah orang yang zalim, kejam, membenci Al-Masih, dan apa yang dibawanya. Dan ia telah mencukur kepala anak saudaranya ketika beriman kepada Al-Masih, dan mengelilinginya di negeri kemudian merajamnya hingga mati, semoga Allah merahmatinya. Dan ketika Paulus mendengar bahwa Al-Masih ‘alaihissalam telah menuju ke arah Damaskus, ia mempersiapkan keledainya dan keluar untuk membunuhnya, lalu menemuinya di Kaukaba. Maka ketika menghadapi para sahabat Al-Masih, datanglah kepadanya seorang malaikat, lalu menampar wajahnya dengan ujung sayapnya sehingga membutakannya. Maka ketika melihat hal itu, terjatuh di dalam hatinya pembenaran terhadap Al-Masih. Lalu ia datang kepadanya dan meminta maaf atas apa yang telah diperbuatnya, dan beriman kepadanya, maka Al-Masih menerima darinya. Dan ia meminta kepadanya agar mengusap kedua matanya agar Allah mengembalikan penglihatannya kepadanya. Maka ia berkata: Pergilah kepada Dhaina di tempatmu di Damaskus di ujung pasar yang memanjang dari timur, maka dialah yang akan mendoakan untukmu. Maka ia datang kepadanya, lalu ia berdoa, maka penglihatannya dikembalikan kepadanya, dan baiklah keimanan Paulus kepada Al-Masih ‘alaihissalam, bahwa sesungguhnya ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Dan dibangun untuknya sebuah gereja atas namanya, maka itulah gereja Paulus yang masyhur di Damaskus, sejak masa pembukaan (penaklukan)nya oleh para Sahabat, semoga Allah meridhai mereka, hingga rusak pada masa yang akan kami sebutkan, insya Allah ta’ala.

Pasal

Para sahabat Al-Masih ‘alaihissalam berselisih setelah pengangkatannya ke langit – tentang dirinya atas beberapa pendapat, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan selain beliau dari para imam Salaf, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada firman-Nya: “Maka Kami kuatkan orang-orang yang beriman terhadap musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaff: 14) Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: Berkata sebagian mereka: Ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya di tengah-tengah kami, lalu diangkat ke langit. Dan berkata yang lain: Dia adalah Allah. Dan berkata yang lain: Dia adalah anak Allah. Maka yang pertama adalah yang benar, dan dua pendapat yang lain adalah kekafiran yang besar, sebagaimana firman-Nya: “Maka golongan-golongan (yang berselisih) itu berselisih pendapat di antara mereka; kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang kafir ketika menyaksikan hari yang besar (hari Kiamat).” (QS. Maryam: 37). Dan mereka telah berselisih dalam memindahkan Injil-Injil atas empat pendapat, antara penambahan, pengurangan, penyelewengan, dan penggantian. Kemudian setelah Al-Masih tiga ratus tahun terjadilah bencana besar dan musibah yang dahsyat, berselisihlah keempat Patriark dan seluruh Uskup, Pendeta, Diakon, dan Rahib-rahib tentang Al-Masih atas pendapat-pendapat yang beragam yang tidak terbatas dan tidak teratur, dan mereka berkumpul dan berperkara kepada Raja Qustanthin, pembangun Konstantinopel, dan mereka adalah Konsili Pertama. Maka raja berpihak kepada pendapat kelompok terbanyak yang bersepakat pada satu pendapat dari pendapat-pendapat tersebut, maka mereka dinamai Al-Mala’ikah (para Malaikat/Melkite), dan menolak selain mereka, serta mengusir mereka. Dan menyendiri kelompok pengikut Abdullah bin Adyus, yang tetap (meyakini) bahwa Isa adalah hamba dari hamba-hamba Allah, dan Rasul dari para Rasul-Nya. Maka mereka tinggal di padang-padang dan gurun-gurun, dan membangun biara-biara, tempat pertapaan, dan sel-sel (untuk beribadah), dan puas dengan kehidupan yang zuhud, dan tidak berbaur dengan aliran-aliran dan mazhab-mazhab tersebut. Dan Al-Mala’ikah membangun gereja-gereja yang megah, mereka menuju kepada apa yang menjadi bangunan bangsa Yunani, lalu mengubah mihrab-mihrabnya ke arah timur, padahal sebelumnya ke arah utara menuju bintang Jadi (Kutub Utara).

Penjelasan tentang Pembangunan Bethlehem dan Kumamah (Makam)

Dan Raja Qustanthin membangun Bethlehem di atas tempat kelahiran Al-Masih, dan ibunya Helena membangun Al-Qumamah, yaitu di atas kubur orang yang disalib, dan mereka menyerahkan kepada orang-orang Yahudi bahwa dialah Al-Masih, dan sungguh telah kafir kelompok ini dan kelompok itu. Dan mereka meletakkan kanun-kanun dan hukum-hukum, dan di antaranya ada yang mخالف Perjanjian Lama yang merupakan Taurat, dan mereka menghalalkan hal-hal yang haram berdasarkan nash Taurat, dan di antaranya adalah babi, dan mereka shalat menghadap ke timur, padahal Al-Masih tidak pernah shalat kecuali ke arah batu Baitul Maqdis, dan demikian pula seluruh Nabi setelah Musa dan Muhammad penutup para Nabi shalat ke arahnya setelah hijrahnya ke Madinah, enam belas – atau tujuh belas – bulan, kemudian dipalingkan ke Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim Al-Khalil. Dan mereka menggambar gereja-gereja padahal tidak pernah digambar sebelum itu, dan mereka meletakkan akidah yang dihafal oleh anak-anak mereka, wanita-wanita mereka, dan laki-laki mereka yang mereka sebut dengan Al-Amanah (kepercayaan), dan ia dalam hakikatnya adalah kekafiran terbesar dan pengkhianatan. Dan seluruh Melkite, dan Nestorian pengikut Nestorius penganut Konsili Kedua, dan Jacobite pengikut Ya’qub Al-Barada’i penganut Konsili Ketiga, meyakini akidah ini, dan mereka berselisih dalam penafsirannya. Dan inilah saya sebutkan, dan orang yang menyebutkan kekafiran bukanlah kafir untuk menyebarkan apa yang ada padanya, kekacauan kata-kata dan banyaknya kekafiran dan kebingungan yang membawa pemiliknya kepada neraka yang memiliki lidah api. Maka mereka berkata, semoga laknat Allah yang berturut-turut atas mereka hingga hari Kiamat: Kami beriman kepada satu Tuhan yang menguasai segala sesuatu, pencipta langit dan bumi; segala yang terlihat, dan segala yang tidak terlihat, dan kepada satu Tuhan Yesus Al-Masih putra Allah, yang tunggal yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala masa, cahaya dari cahaya, Tuhan yang benar, dari Tuhan yang benar, dilahirkan bukan diciptakan, setara dengan Bapa dalam substansi yang dengannya segala sesuatu ada, demi kami, manusia, dan demi keselamatan kami ia turun dari langit, dan menjadi daging dari roh kudus, dan dari Maryam sang perawan dan menjadi manusia, dan disalib pada masa Pilatus orang Nabath, dan menderita dan dikubur, dan bangkit pada hari ketiga, sebagaimana dalam Kitab-Kitab, dan naik ke langit, dan duduk di sebelah kanan Bapa. Dan juga maka ia akan datang dengan tubuhnya untuk mengadili yang hidup dan yang mati, yang tidak ada akhir bagi kerajaan-Nya, dan roh kudus Tuhan yang menghidupkan yang memancar dari Bapa bersama Bapa, dan putra disujudi kepadanya, dan dengan kemuliaan yang berbicara dalam para Nabi, satu gereja yang menyeluruh, kudus, dan apostolik, dan pengakuan dengan satu baptisan untuk pengampunan dosa-dosa, dan sesungguhnya ia hidup kebangkitan orang-orang mati dan kehidupan masa yang akan datang menjadi ada. Amin.

۞۞۞۞۞

Kitab tentang Berita Orang-Orang Terdahulu dari Bani Israil dan Selain Mereka

Hingga akhir masa fatrah (kekosongan) selain masa-masa Arab dan jahiliyah mereka, maka sesungguhnya kami akan menyebutkan hal itu setelah selesai dari pasal ini insya Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman: “Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu; dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Qur’an).” (QS. Thaha: 99). Dan berfirman: “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sungguh, sebelum (turunnya) Al-Qur’an ini engkau termasuk orang yang tidak mengetahui (kisah-kisah ini).” (QS. Yusuf: 3).

Kisah Dzulqarnain

Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberinya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan. Sehingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam mata air yang keruh, dan dia mendapati di situ suatu kaum. Kami berfirman, ‘Wahai Dzulqarnain! Engkau boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan kepada mereka.’ Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Adapun orang yang zalim, maka dia akan kami siksa, kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Dia akan menyiksanya dengan azab yang sangat (pedih). Adapun orang yang beriman dan berbuat kebajikan, maka dia akan memperoleh balasan yang terbaik (surga) sebagai pahala, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari kami.’ Kemudian dia menempuh jalan (yang lain lagi). Sehingga apabila dia telah sampai ke tempat terbitnya matahari, dia mendapati matahari itu terbit pada kaum yang Kami tidak menjadikan sesuatu yang melindungi mereka dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah. Dan sungguh, ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain lagi). Sehingga apabila dia telah sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua (gunung) itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberikan suatu upah kepadamu agar engkau membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (tenaga dan alat-alat), nanti aku akan membuat dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Sehingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia berkata, ‘Tiuplah (api itu)!’ Sehingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia berkata, ‘Berilah aku tembaga cair agar aku kutuangkan ke atasnya.’ Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar.'” (QS. Al-Kahf: 83-98).

Allah ta’ala menyebutkan Dzulqarnain ini, dan memujinya dengan keadilan, dan bahwa ia telah sampai ke tempat-tempat terbit dan terbenam (matahari), dan menguasai wilayah-wilayah dan mengalahkan penduduknya, dan berjalan di tengah-tengah mereka dengan keadilan yang sempurna, dan kekuasaan yang didukung, dimenangkan, diberi pertolongan, menguasai, adil. Dan yang shahih adalah bahwa ia adalah seorang raja dari raja-raja yang adil. Dan dikatakan: ia adalah seorang Nabi. Dan dikatakan: ia adalah seorang Rasul. Dan yang paling aneh dari yang mengatakan: raja dari para malaikat. Dan sungguh telah diceritakan ini dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya ia mendengar seorang laki-laki berkata kepada yang lain: Wahai Dzulqarnain. Maka ia berkata: Cukup, tidakkah cukup bagi kalian kalian menamai diri dengan nama-nama para Nabi hingga kalian menamai dengan nama-nama para malaikat. Disebutkan oleh As-Suhaili.

Dan telah meriwayatkan Waki’, dari Isra’il, dari Jabir, dari Mujahid, dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Dzulqarnain adalah seorang Nabi. Dan meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir, dari hadits Abu Muhammad bin Abi Nashr, dari Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Tsabit, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hammad, telah memberitakan kepada kami Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Al-Maqburi, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak tahu apakah Tubba’ adalah orang yang terlaknat atau tidak, dan aku tidak tahu apakah hukuman-hukuman hudud adalah kafarat bagi pelakunya atau tidak, dan aku tidak tahu apakah Dzulqarnain adalah seorang Nabi atau tidak.” Dan ini adalah gharib dari jalan ini. Dan berkata Ishaq bin Bisyr, dari Utsman bin As-Saj, dari Khushayf, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata: Dzulqarnain adalah seorang raja yang shalih, Allah ridha atas amalnya, dan memujinya dalam Kitab-Nya, dan ia diberi kemenangan, dan Khidhir adalah wazirnya. Dan disebutkan bahwa Khidhir ‘alaihissalam berada di barisan depan pasukannya dan berada di sisinya pada kedudukan penasehat, yang berada dari raja pada kedudukan wazir dalam memperbaiki manusia pada hari ini. Dan telah menyebutkan Al-Azraqi dan yang lainnya, bahwa Dzulqarnain masuk Islam di tangan Ibrahim Al-Khalil, dan thawaf bersamanya di Ka’bah yang mulia, ia dan Isma’il ‘alaihissalam. Dan diriwayatkan dari Ubaid bin Umair, dan putranya Abdullah dan yang lainnya, bahwa Dzulqarnain haji dengan berjalan kaki, dan bahwa Ibrahim ketika mendengar kedatangannya menemuinya dan mendoakan untuknya dan meridhainya, dan bahwa Allah menundukkan awan untuk Dzulqarnain membawanya ke mana ia kehendaki. Dan Allah lebih mengetahui. Dan mereka berselisih tentang sebab yang dengannya ia dinamai Dzulqarnain. Maka dikatakan: karena ia memiliki di kepalanya yang menyerupai dua tanduk. Dan berkata Wahb bin Munabbih: ia memiliki dua tanduk dari tembaga di kepalanya. Dan ini lemah. Dan berkata sebagian Ahli Kitab: karena ia menguasai Persia dan Romawi. Dan dikatakan: karena ia sampai ke dua ujung matahari, barat dan timur, dan menguasai apa yang ada di antara keduanya dari bumi. Dan ini lebih mirip dari yang lainnya, dan ini adalah pendapat Az-Zuhri. Dan berkata Al-Hasan Al-Bashri: ia memiliki dua kepangan dari rambut yang menginjak keduanya, maka dinamai Dzulqarnain. Dan berkata Ishaq bin Bisyr, dari Abdullah bin Ziyad bin Sam’an, dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa sesungguhnya ia berkata: Ia menyeru seorang raja yang sombong kepada Allah lalu memukulnya pada tanduknya dan mematahkannya dan menghancurkannya, kemudian menyerunya lalu memukul tanduknya yang kedua dan mematahkannya, maka dinamai Dzulqarnain. Dan meriwayatkan Ats-Tsauri dari Habib bin Abi Tsabit, dari Ath-Thufail, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya ia ditanya tentang Dzulqarnain, maka ia berkata: Ia adalah seorang hamba yang menasihati Allah maka Allah menasihatinya, ia menyeru kaumnya kepada Allah lalu mereka memukulnya pada tanduknya maka ia mati, lalu Allah menghidupkannya, kemudian ia menyeru kaumnya kepada Allah lalu mereka memukulnya pada tanduknya yang lain maka ia mati, maka dinamai Dzulqarnain. Dan demikian pula meriwayatkannya Syu’bah, dari Al-Qasim bin Abi Bazzah, dari Ath-Thufail, dari Ali dengannya. Dan dalam sebagian riwayat dari Ath-Thufail dari Ali, ia berkata: Ia bukan seorang Nabi dan bukan Rasul dan bukan raja, tetapi ia adalah seorang hamba yang shalih.

Dan telah berselisih tentang namanya. Maka meriwayatkan Az-Zubair bin Bakkar, dari Ibnu Abbas: namanya adalah Abdullah bin Adh-Dhahhak bin Ma’d. Dan dikatakan: Mush’ab bin Abdullah bin Qanan bin Manshur bin Abdullah bin Al-Azd bin Ghauth bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’ bin Qahtan.

Dan telah datang dalam sebuah hadits bahwa ia berasal dari Himyar, ibunya orang Romawi, dan ia dipanggil dengan nama Ibnu Al-Failasuf (Anak Filsuf) karena akal pikirannya. Sebagian orang Himyar telah melantunkan syair tentang hal itu dengan membanggakan bahwa Dzulqarnain adalah salah satu kakek moyangnya, ia berkata:

Sungguh Dzulqarnain adalah kakekku yang muslim Raja yang ditaati oleh para raja dan dihimpun Ia mencapai Timur dan Barat untuk mencari Sebab-sebab urusan dari yang bijaksana lagi pemberi petunjuk Maka ia melihat terbenamnya matahari ketika tenggelam Di mata air yang berlumpur dan hitam Setelahnya Bilqis adalah bibiku Ia memerintah mereka hingga burung hud-hud datang kepadanya

As-Suhaili berkata: Dikatakan bahwa namanya adalah Marzaba bin Mardzabah, disebutkan oleh Ibnu Hisyam. Ia menyebutkan di tempat lain bahwa namanya adalah Ash-Sha’b bin Dzi Maratsid. Ia adalah Tubba’ pertama, dan ia yang memberikan keputusan kepada Ibrahim mengenai sumur Saba’. Dikatakan bahwa ia adalah Afridon bin Asfian yang membunuh Adh-Dhahhak. Dalam khutbah Quss: Wahai kaum Iyad, di manakah Ash-Sha’b Dzulqarnain, raja dua ufuk, yang menghinakan dua golongan, hidup dua ribu tahun, kemudian menjadi seperti sekejap mata. Kemudian Ibnu Hisyam melantunkan syair Al-A’sya:

Dan Ash-Sha’b Dzulqarnain telah terbaring Di Hanu dalam liang kubur yang tertutup dan menetap

Ad-Daraquthni dan Ibnu Makulah menyebutkan bahwa namanya adalah Harmas. Dikatakan: Hardis bin Fithun bin Rumi bin Lanthi bin Kaslujin bin Yunan bin Yafits bin Nuh. Maka Allah lebih mengetahui. Ishaq bin Bisyr berkata dari Sa’id bin Basyir dari Qatadah berkata: Iskandar adalah Dzulqarnain dan ayahnya adalah Qaisharah pertama, dan ia dari keturunan Sam bin Nuh alaihissalam. Adapun Dzulqarnain yang kedua adalah Iskandar bin Filibus bin Madhrim bin Harmas bin Hardis bin Mithun bin Rumi bin Lanthi bin Yunan bin Yafits bin Nunah bin Sarhun bin Rumah bin Tsarnatth bin Tufil bin Rumi bin Al-Ashfar bin Alyafaz bin Al-Aish bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil. Demikianlah nasabnya menurut Al-Hafizh Ibnu Asakir dalam “Tarikhnya” Al-Maqduni Al-Yunani Al-Mishri, pembangun Iskandariyah, yang dijadikan tarikh oleh orang-orang Romawi pada masanya. Ia hidup jauh setelah yang pertama dengan masa yang panjang, ia hidup sekitar tiga ratus tahun sebelum Isa Almasih, dan Aristhathalis sang filsuf adalah menterinya. Ia yang membunuh Dara bin Dara, menghinakan raja-raja Persia dan menguasai negeri mereka. Kami menjelaskan hal ini karena banyak orang yang meyakini bahwa keduanya adalah orang yang sama, dan bahwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah yang Aristhathalis sebagai menterinya, sehingga terjadi kesalahan besar dan kerusakan yang luas dan panjang. Karena yang pertama adalah hamba yang beriman, saleh, dan raja yang adil, dan menterinya adalah Khidir, dan ia adalah nabi sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Adapun yang kedua adalah musyrik, dan menterinya adalah seorang filsuf. Antara masa keduanya lebih dari dua ribu tahun. Maka di manakah yang satu dengan yang lain, keduanya tidak sama dan tidak mirip, kecuali bagi orang bodoh yang tidak mengetahui hakikat perkara.

Firman Allah Ta’ala: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain” (Al-Kahfi: 83). Sebabnya adalah bahwa orang-orang Quraisy bertanya kepada orang-orang Yahudi tentang sesuatu untuk menguji ilmu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka mereka berkata kepada mereka: Tanyakan kepadanya tentang seorang laki-laki yang berkeliling di muka bumi, dan tentang pemuda-pemuda yang keluar dan tidak diketahui apa yang mereka lakukan. Maka Allah Ta’ala menurunkan kisah Ashabul Kahfi dan kisah Dzulqarnain. Oleh karena itu Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu tentang dia suatu cerita'” yakni dari kabarnya dan urusannya, suatu cerita yakni kabar yang bermanfaat dan cukup dalam mengenalkan urusannya dan menjelaskan keadaannya. Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” yakni: Kami luaskan kerajaannya di negeri-negeri dan memberikan kepadanya dari alat-alat kerajaan yang dapat ia gunakan untuk meraih perkara-perkara besar dan tujuan-tujuan agung yang ia inginkan.

Qutaibah berkata dari Abu Awanah dari Simak dari Habib bin Himmaz berkata: Aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang Dzulqarnain, bagaimana ia sampai ke Timur dan Barat? Maka ia berkata: Awan ditundukkan untuknya, sebab-sebab dihamparkan untuknya, dan cahaya digelar untuknya. Dan ia berkata: Maukah aku tambahkan? Maka laki-laki itu diam, dan Ali radhiyallahu anhu pun diam.

Dan dari Abu Ishaq As-Subai’i dari Amr bin Abdullah Al-Wadi’i, aku mendengar Mu’awiyah berkata: Yang menguasai bumi ada empat orang: Sulaiman bin Daud An-Nabi alaihimassalam, Dzulqarnain, seorang laki-laki dari penduduk Hulwan, dan seorang laki-laki lainnya. Ditanyakan kepadanya: Khidir? Ia berkata: Tidak.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al-Mundzir dari Muhammad bin Adh-Dhahhak dari ayahnya dari Sufyan Ats-Tsauri berkata: Telah sampai kepadaku bahwa yang menguasai seluruh bumi ada empat orang: Dua mukmin dan dua kafir; Sulaiman An-Nabi, Dzulqarnain, Namrudz, dan Bukhtunashar. Demikian juga yang dikatakan Sa’id bin Basyir. Ishaq bin Bisyr berkata dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Al-Hasan berkata: Dzulqarnain adalah raja setelah Namrudz, dan kisahnya adalah bahwa ia seorang muslim yang saleh, sampai ke Timur dan Barat, Allah memanjangkan umurnya dan menolongnya hingga ia menguasai negeri-negeri dan menguasai harta benda, menaklukkan kota-kota dan membunuh laki-laki, berkeliling di negeri-negeri dan benteng-benteng. Ia berjalan hingga sampai ke Timur dan Barat, itulah firman Allah: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu tentang dia suatu cerita'” yakni: kabar “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” yakni: ilmu untuk mencari sebab-sebab tempat-tempat.

Ishaq berkata: Muqatil menyebutkan bahwa ia menaklukkan kota-kota dan mengumpulkan harta karun, siapa yang mengikutinya dalam agamanya dan membai’atnya, maka ia biarkan, jika tidak maka ia membunuhnya. Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Ubaid bin Ya’la, As-Suddi, Qatadah, dan Adh-Dhahhak berkata: “Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” yakni ilmu. Qatadah dan Matthar Al-Waraq berkata: Tanda-tanda bumi, tempat-tempatnya, alamat-alamatnya dan bekas-bekasnya. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: yakni pengajaran bahasa-bahasa, ia tidak memerangi suatu kaum kecuali berbicara dengan mereka dalam bahasa mereka.

Yang benar adalah mencakup semua sebab yang dapat digunakan untuk mencapai tujuannya dalam kerajaan dan lainnya; karena ia mengambil dari setiap wilayah dari barang-barang, makanan, dan bekal yang cukup dan membantunya terhadap penduduk wilayah lainnya.

Sebagian Ahli Kitab menyebutkan bahwa ia tinggal seribu enam ratus tahun berkeliling bumi, menyeru penduduknya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa sekutu. Dalam semua masa ini perlu diperhatikan. Wallahu a’lam. Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan hadits yang berkaitan dengan firman-Nya: “Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” yang sangat panjang, dan hadits itu sangat munkar. Dalam sanadnya ada Muhammad bin Yunus Al-Kudaimi yang tertuduh, oleh karena itu kami tidak menulisnya karena gugur menurut kami. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: “Maka diapun menempuh suatu jalan” yakni: jalan “hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari” yakni dari bumi, sampai ke tempat yang tidak mungkin seorang pun dapat melampauinya, dan berdiri di tepi laut yang melingkupi bagian Barat yang disebut: Okeanus yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang bernama Al-Khalidah, yang merupakan awal garis bujur, menurut salah satu pendapat ahli geografi, dan yang kedua dari pantai laut ini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Di sana ia menyaksikan terbenamnya matahari – menurut penglihatannya – terbenam dalam mata air yang berlumpur yang dimaksud adalah laut menurut penglihatannya, karena siapa yang berada di laut atau di pantainya melihat matahari seolah-olah terbit dari laut dan tenggelam di dalamnya. Oleh karena itu Allah berfirman: “dia mendapatinya” yakni: menurut penglihatannya, dan tidak berfirman: maka sesungguhnya ia tenggelam dalam mata air yang berlumpur. Yakni: yang memiliki lumpur. Ka’b Al-Ahbar berkata: yaitu tanah hitam. Sebagian membacanya “hamiyah” (panas). Dikatakan: kembali kepada yang pertama. Dikatakan: dari panas. Itu karena kuatnya paparan cahaya matahari dan sinarnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Harun dari Al-Awwam bin Hausyab, telah menceritakan kepadaku seorang maula Abdullah bin Amr dari Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat matahari ketika tenggelam lalu bersabda: “Dalam api Allah yang panas, seandainya bukan karena yang menghalanginya dari perintah Allah, niscaya ia membakar apa yang ada di muka bumi” di dalamnya ada keanehan, dan di dalamnya ada seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya, dan rafa’nya perlu diperhatikan, dan mungkin mauquf dari perkataan Abdullah bin Amr, karena ia memperoleh pada hari Yarmuk dua beban buku-buku orang terdahulu, maka ia menceritakan darinya. Wallahu a’lam.

Siapa yang menduga dari para pencerita kisah bahwa Dzulqarnain melampaui tempat terbenam matahari dan berjalan dengan pasukannya dalam kegelapan selama masa yang panjang, maka ia telah salah dan terlalu jauh, serta mengatakan apa yang bertentangan dengan akal dan dalil.

Penjelasan Pencarian Dzulqarnain terhadap Mata Air Kehidupan

Ibnu Asakir menyebutkan dari jalan Waki’ dari ayahnya dari Mu’tamir bin Sulaiman dari Abu Ja’far Al-Baqir dari ayahnya Zain Al-Abidin, sebuah kabar yang sangat panjang yang menyebutkan bahwa Dzulqarnain memiliki sahabat dari malaikat yang bernama: Ranaqil. Maka Dzulqarnain bertanya kepadanya: Apakah engkau mengetahui di bumi mata air yang disebut: Mata Air Kehidupan? Maka ia menyebutkan kepadanya sifat tempatnya. Dzulqarnain pergi mencarinya dan menjadikan Khidir di barisan depannya, lalu Khidir sampai kepadanya di sebuah lembah di tanah kegelapan, ia minum darinya dan Dzulqarnain tidak mendapatkannya. Disebutkan pertemuan Dzulqarnain dengan sebagian malaikat di sebuah istana di sana, dan bahwa ia diberi sebuah batu. Ketika ia kembali ke pasukannya, ia bertanya kepada para ulama tentangnya, mereka meletakkannya di satu sisi timbangan dan meletakkan di hadapannya seribu batu sepertinya lalu menimbangnya, hingga ia bertanya kepada Khidir. Khidir meletakkan di hadapannya tanah, dan meletakkan di atasnya segenggam tanah maka batu itu terkalahkan, dan ia berkata: Ini adalah perumpamaan anak Adam, ia tidak kenyang hingga ditutup dengan tanah. Maka para ulama sujud kepadanya sebagai penghormatan dan pengagungan. Wallahu a’lam.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menetapkan hukum-Nya terhadap penduduk daerah itu “Kami berkata: ‘Wahai Dzulqarnain, kamu dapat menyiksa atau berbuat kebaikan kepada mereka.’ Dia berkata: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami akan menyiksanya, kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Dia akan menyiksanya dengan siksaan yang mengerikan'” yakni: maka baginya terkumpul siksa dunia dan akhirat, dan dimulai dengan siksa dunia karena ia lebih menakut-nakuti bagi orang kafir “Dan adapun orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah” maka dimulai dengan yang paling penting yaitu pahala akhirat, dan dilanjutkan dengannya kebaikan darinya kepadanya, dan inilah keadilan, ilmu, dan keimanan. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain)” yakni: menempuh jalan kembali dari Barat ke Timur. Dikatakan: bahwa ia kembali dalam dua belas tahun “hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari, dia mendapatinya terbit pada suatu kaum yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu” yakni: mereka tidak memiliki rumah atau tempat berlindung untuk berlindung dari panasnya matahari. Banyak ulama berkata: Tetapi mereka berlindung, jika panas matahari menyengat mereka, ke gua-gua yang telah mereka buat di bumi, seperti kubur-kubur. Allah Ta’ala berfirman: “Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya” yakni: dan Kami mengetahui apa yang ia alami dan Kami menjaganya dan melindunginya dengan penjagaan Kami dalam perjalanannya itu semua dari barat bumi hingga timurnya.

Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair, anaknya Abdullah, dan selain keduanya dari kalangan Salaf, bahwa Dzulqarnain menunaikan haji dengan berjalan kaki. Ketika Ibrahim Al-Khalil mendengar kedatangannya, ia menemuinya. Ketika mereka bertemu, Al-Khalil berdoa untuknya dan memberikan wasiat kepadanya. Dikatakan: Bahwa didatangkan kuda untuk ditungganginya lalu ia berkata: Aku tidak akan menunggang di negeri yang di dalamnya ada Al-Khalil. Maka Allah menundukkan awan untuknya, dan Ibrahim memberinya kabar gembira dengan hal itu, maka awan itu membawanya jika ia menghendaki.

Firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan” yakni tidak jelas. Dikatakan: Bahwa mereka adalah bangsa Turki, anak paman Ya’juj dan Ma’juj. Mereka menyebutkan kepadanya bahwa dua suku ini telah melampaui batas terhadap mereka dan berbuat kerusakan di negeri mereka, memutus jalan bagi mereka, dan memberikan kepadanya hamlan yaitu upeti agar ia mendirikan di antara mereka penghalang yang menghalangi mereka untuk sampai kepada mereka. Maka ia menolak mengambil upeti karena merasa cukup dengan harta yang melimpah yang Allah berikan kepadanya. “Dia berkata: ‘Apa yang Tuhanku berikan kepadaku adalah lebih baik'” kemudian ia meminta dari mereka untuk mengumpulkan baginya laki-laki dan alat-alat untuk membangun di antara mereka penghalang, yaitu benteng di antara dua gunung. Mereka tidak mampu keluar kepada mereka kecuali dari antara keduanya, dan sisanya adalah laut yang dalam dan gunung yang tinggi. Maka ia membangunnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, dari besi dan qithr yaitu tembaga yang dicairkan. Dikatakan: timah. Yang benar adalah yang pertama. Ia menjadikan pengganti bata dengan besi, dan pengganti tanah liat dengan tembaga. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka tidak bisa mendakinya” yakni: menaikinya dengan tangga atau lainnya “dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya” yakni: dengan beliung atau kapak atau lainnya. Maka Allah membalas yang lebih mudah dengan yang lebih mudah dan yang lebih kuat dengan yang lebih kuat. “Dia berkata: ‘Ini adalah rahmat dari Tuhanku'” yakni: takdir Allah dan keberadaannya agar menjadi rahmat dari-Nya bagi hamba-hamba-Nya untuk menghalangi dengan sebabnya kezaliman kaum ini terhadap orang yang bertetangga dengan mereka di tempat itu “Maka apabila sudah datang janji Tuhanku” yakni waktu yang ditakdirkan keluarnya mereka terhadap manusia di akhir zaman “Dia menjadikannya hancur luluh” yakni rata dengan bumi. Dan tidak bisa tidak hal ini terjadi, oleh karena itu Allah berfirman: “dan adalah janji Tuhanku itu benar” sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar” (Al-Anbiya: 96-97).

Oleh karena itu, Allah berfirman di sini: “Dan Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain” yakni pada hari dibukanya benteng, menurut pendapat yang sahih “dan ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka semuanya.” Kami telah mengemukakan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keluarnya Yakjuj dan Makjuj dalam kitab Tafsir kami, dan akan kami kemukakan lagi, insya Allah, dalam kitab Al-Fitan wal-Malahim dari kitab kami ini, apabila kami sampai kepadanya, dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya, serta taufik, bantuan, dan petunjuk-Nya yang baik.

Abu Dawud ath-Thayalisi berkata, dari ats-Tsauri: Telah sampai kepada kami bahwa orang pertama yang berjabat tangan adalah Dzulkarnain. Diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar bahwa ia berkata kepada Muawiyah: Sesungguhnya Dzulkarnain ketika kematian mendatanginya, ia berwasiat kepada ibunya; apabila ia meninggal, hendaklah ibunya menyediakan makanan dan mengumpulkan para wanita penduduk kota, lalu meletakkan makanan itu di hadapan mereka, dan mengizinkan mereka memakannya, kecuali wanita yang kehilangan anak, maka jangan makan darinya sedikitpun. Ketika ibunya melakukan hal itu, tak seorang pun dari mereka yang menaruh tangannya pada makanan tersebut. Maka ibunya berkata kepada mereka: Subhanallah! Kalian semua kehilangan anak! Mereka menjawab: Ya, demi Allah, tidak ada di antara kami kecuali yang telah kehilangan anak. Hal itu menjadi penghiburan bagi ibunya. Ishaq bin Bisyr menyebutkan, dari Abdullah bin Ziyad, dari sebagian Ahli Kitab, wasiat Dzulkarnain dan nasihatnya kepada ibunya berupa nasihat yang fasih dan panjang, di dalamnya terdapat hikmah dan hal-hal yang bermanfaat, dan bahwa ia meninggal dalam usia tiga ribu tahun, dan ini gharib (asing).

Ibnu Asakir berkata: Dan sampai kepadaku dari jalan lain bahwa ia hidup selama tiga puluh enam tahun. Dan dikatakan: Usianya adalah tiga puluh dua tahun, dan ia hidup setelah Dawud tujuh ratus empat puluh tahun, dan ia hidup setelah Adam lima ribu seratus delapan puluh satu tahun, dan masa kerajaannya adalah enam belas tahun. Yang disebutkan ini hanya sesuai dengan Iskandar yang kedua, bukan yang pertama, dan ia telah mencampuradukkan antara keduanya di awal dan akhir biografi. Yang benar adalah membedakan keduanya sebagaimana telah kami sebutkan, mengikuti sejumlah ahli hadits. Wallahu a’lam (Allah Maha Mengetahui). Di antara yang menjadikan keduanya satu orang adalah Imam Abdul Malik bin Hisyam, perawi Sirah, dan hal itu telah diingkari oleh al-Hafizh Abu al-Qasim as-Suhaili, rahimahullah, dengan sangat keras, dan ia menolak pendapatnya dengan penolakan yang buruk, serta membedakan antara keduanya dengan pembedaan yang baik, sebagaimana telah kami kemukakan. As-Suhaili berkata: Mungkin sejumlah raja-raja terdahulu menamai diri mereka Dzulkarnain, menyerupai yang pertama. Wallahu a’lam.

Penyebutan Umat Yakjuj dan Makjuj, Sifat-sifat Mereka, Berita-berita yang Diriwayatkan tentang Mereka, dan Sifat Benteng

Mereka adalah dari keturunan Adam tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui. Kemudian dalil atas hal itu adalah apa yang shahih dalam Shahihain dari jalan al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat: Wahai Adam, berdirilah dan utuslah utusan neraka dari keturunanmu. Maka Adam berkata: Wahai Tuhan, apakah utusan neraka itu? Allah berfirman: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan ke neraka, dan satu ke surga. Maka saat itulah anak kecil beruban, setiap wanita hamil menggugurkan kandungannya,” “dan kamu melihat manusia mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat keras.” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang satu itu? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bergembiralah, karena sesungguhnya di antara kalian ada satu orang, dan dari Yakjuj dan Makjuj seribu orang. Dalam riwayat lain: Maka beliau bersabda: Bergembiralah, karena sesungguhnya di antara kalian ada dua umat; tidaklah keduanya berada dalam sesuatu melainkan mereka mengalahkannya dengan jumlah mereka yang banyak. Ini menunjukkan banyaknya jumlah mereka, dan bahwa mereka berlipat ganda dari manusia berkali-kali.

Kemudian mereka dari keturunan Nuh; karena Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa hamba-Nya Nuh atas penduduk bumi dengan firman-Nya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di atas bumi.” (Nuh: 26). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami selamatkan dia dan penumpang-penumpang kapal.” (al-Ankabut: 15). Dan berfirman: “Dan Kami jadikan keturunannya sebagai orang-orang yang kekal.” (ash-Shaffat: 77). Dan telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan: Bahwa Nuh mempunyai tiga anak; yaitu Sam, Ham, dan Yafits. Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang kulit hitam, dan Yafits adalah bapak orang Turki. Maka Yakjuj dan Makjuj adalah kelompok dari orang Turki, dan mereka adalah Mughal dari bangsa Mongol, dan mereka lebih keras dalam peperangan dan lebih banyak dalam membuat kerusakan daripada orang-orang ini, dan perbandingan mereka dengan orang-orang ini seperti perbandingan orang-orang ini dengan yang lainnya. Dan telah dikatakan: Sesungguhnya orang Turki dinamai demikian ketika Dzulkarnain membangun benteng dan memaksa Yakjuj dan Makjuj ke belakangnya, maka tersisa dari mereka sekelompok yang tidak memiliki kerusakan seperti mereka, lalu mereka ditinggalkan (turk) di belakangnya. Maka karena itulah mereka disebut Turki.

Barangsiapa mengira bahwa Yakjuj dan Makjuj diciptakan dari mani Adam ketika ia bermimpi basah, lalu bercampur dengan tanah kemudian mereka diciptakan dari itu, dan bahwa mereka bukan dari Hawa, maka ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abu Zakariya an-Nawawi dalam Syarah Muslim dan lainnya, dan mereka melemahkannya, dan memang layak demikian; karena tidak ada dalil atasnya, bahkan ia bertentangan dengan apa yang kami sebutkan bahwa semua manusia sekarang adalah dari keturunan Nuh, berdasarkan nash al-Quran. Demikian pula barangsiapa mengira bahwa mereka memiliki bentuk-bentuk yang berbeda dan tinggi badan yang sangat beragam; di antara mereka ada yang seperti pohon kurma yang tinggi menjulang, di antara mereka ada yang sangat pendek, di antara mereka ada yang menghamparkan salah satu telinganya dan berselimut dengan telinga yang lain, maka semua ini adalah pendapat tanpa dalil, dan hanya tebakan terhadap yang gaib tanpa bukti. Yang benar adalah bahwa mereka dari Bani Adam dan memiliki bentuk dan sifat seperti mereka. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian ukuran manusia terus berkurang hingga sekarang.” Dan ini adalah pemisah dalam bab ini dan lainnya. Adapun yang dikatakan bahwa salah seorang dari mereka tidak mati hingga ia melihat dari keturunannya seribu orang, maka jika shahih dalam suatu berita, kami katakan dengannya, dan jika tidak, maka kami tidak menolaknya, karena akal memungkinkannya, dan naql (riwayat) juga mungkin mengarah kepadanya. Wallahu a’lam.

Bahkan telah diriwayatkan hadits yang tegas tentang hal itu, jika shahih; ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin al-Abbas al-Ashbahani, telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud Ahmad bin al-Furat, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami al-Mughirah, dari Muslim, dari Abu Ishaq, dari Wahb bin Jabir, dari Abdullah bin Amru, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj adalah dari keturunan Adam, dan seandainya mereka dilepaskan, niscaya mereka merusak penghidupan manusia, dan tidaklah mati salah seorang laki-laki dari mereka melainkan ia meninggalkan dari keturunannya seribu orang atau lebih. Dan sesungguhnya di belakang mereka ada tiga umat: Tawil, Taris, dan Mansak.” Ini adalah hadits yang sangat gharib dan sanadnya lemah. Dan di dalamnya terdapat keganjilan yang sangat.

Adapun hadits yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam Tarikhnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi kepada mereka pada malam Isra lalu menyeru mereka kepada Allah namun mereka menolak untuk menjawab dan mengikutinya, dan bahwa beliau menyeru umat-umat yang ada di sana; Taris, Tawil, dan Mansak, lalu mereka menjawabnya, maka itu adalah hadits palsu yang dikarang oleh Abu Nu’aim Umar bin ash-Shabh, salah seorang pendusta besar yang mengaku telah membuat hadits palsu. Wallahu a’lam.

Jika dikatakan: Bagaimana hadits yang disepakati kesahihannya menunjukkan bahwa mereka adalah tebusan orang-orang beriman pada hari kiamat, dan bahwa mereka di neraka, padahal tidak diutus kepada mereka rasul-rasul, dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul?” Maka jawabannya adalah bahwa mereka tidak akan disiksa kecuali setelah hujjah ditegakkan atas mereka, dan diberi peringatan kepada mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Jika mereka pada zaman sebelum diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah didatangi rasul-rasul dari kalangan mereka, maka sungguh telah tegak hujjah atas mereka. Dan jika Allah tidak mengutus kepada mereka rasul-rasul, maka mereka dalam hukum ahli fatrah (masa kekosongan rasul) dan orang yang belum sampai kepadanya dakwah. Dan telah menunjukkan hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan dari sejumlah sahabat, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa barangsiapa seperti itu akan diuji di padang mahsyar, maka barangsiapa menjawab penyeru masuk surga, dan barangsiapa menolak masuk neraka. Dan kami telah mengemukakan hadits dengan jalan-jalannya dan lafazh-lafazhnya, serta perkataan para imam tentangnya dalam tafsir kami pada firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Dan telah menceritakan hal itu Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagai ijma’ dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, dan ujian mereka tidak mengharuskan keselamatan mereka dan tidak bertentangan dengan kabar tentang mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka; karena Allah memberitahukan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang Dia kehendaki dari urusan gaib, dan telah memberitahukan kepada beliau bahwa mereka ini adalah penghuni kesengsaraan, dan bahwa tabiat mereka menolak menerima kebenaran dan tunduk kepadanya, maka mereka tidak akan menjawab penyeru pada hari kiamat. Maka diketahui dari ini bahwa mereka lebih keras dalam mendustakan kebenaran di dunia seandainya sampai kepada mereka di dunia; karena di padang mahsyar tunduk banyak makhluk yang dahulu mendustakan di dunia, maka terjadinya keimanan di sana karena menyaksikan berbagai keadaan mengerikan lebih mudah dan lebih patut daripada di dunia. Wallahu a’lam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan seandainya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka, (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.'” (as-Sajdah: 12). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Alangkah teganya (pendengaran dan penglihatan) mereka pada hari mereka datang kepada Kami.” (Maryam: 38). Adapun hadits yang di dalamnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru mereka pada malam Isra lalu mereka tidak menjawab, maka itu adalah hadits munkar, bahkan palsu, yang dibuat-buat oleh Umar bin ash-Shabh.

Adapun benteng, maka telah disebutkan bahwa Dzulkarnain membangunnya dari besi dan tembaga, dan menyamakannya dengan gunung-gunung yang keras, tinggi menjulang, dan panjang, maka tidak diketahui di permukaan bumi bangunan yang lebih agung darinya, dan tidak lebih bermanfaat bagi makhluk dalam urusan dunia mereka. Al-Bukhari berkata: Dan seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Aku telah melihat benteng itu. Beliau bertanya: Bagaimana kamu melihatnya? Ia menjawab: Seperti kain bergaris-garis. Maka beliau bersabda: Kamu telah melihatnya. Al-Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq (tanpa sanad lengkap) dengan shighat jazm (tegas), dan aku tidak menemukannya secara musnad dari jalan yang bersambung yang aku ridhai, namun Ibnu Jarir meriwayatkannya dalam Tafsirnya secara mursal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, ia berkata: Disebutkan kepada kami bahwa seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku telah melihat benteng Yakjuj dan Makjuj. Beliau bersabda: Sifatkan untukku. Ia berkata: Seperti kain bergaris-garis, garis hitam dan garis merah. Beliau bersabda: Kamu telah melihatnya.

Dan telah disebutkan bahwa khalifah al-Watsiq mengutus utusan dari pihaknya, dan menulis untuk mereka surat-surat kepada para raja agar mereka menghubungkan mereka dari negeri ke negeri hingga mereka sampai ke benteng, lalu mereka menyingkap beritanya dan melihat bagaimana Dzulkarnain membangunnya, dan dengan sifat apa. Ketika mereka kembali, mereka memberitakan tentang sifatnya dan bahwa di dalamnya terdapat pintu yang besar dan ada gembok-gembok, dan bahwa itu adalah bangunan yang kokoh, sangat tinggi dan megah sekali, dan masih tersisa bata besi dan peralatan di sebuah menara di sana, dan mereka menyebutkan bahwa tidak henti-hentinya ada penjaga di sana bagi raja-raja yang berbatasan dengan negeri itu, dan letaknya di sebelah timur bumi di arah utara, di sudut bumi bagian timur laut. Dan dikatakan: Sesungguhnya negeri mereka sangat luas sekali, dan sesungguhnya mereka mencari penghidupan dengan berbagai jenis mata pencaharian, dari bercocok tanam dan pertanian serta berburu dari darat dan dari laut, dan mereka adalah umat-umat dan makhluk yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Yang menciptakan mereka.

Jika dikatakan: Bagaimana menggabungkan antara firman Allah Ta’ala: “Maka mereka tidak sanggup mendakinya dan mereka tidak sanggup (pula) melubanginya” (al-Kahfi: 97) dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Zainab binti Jahsy Ummul Mukminin, radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbangun dari tidur dengan wajah memerah dan beliau bersabda: “Laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah), celakalah orang Arab dari keburukan yang telah dekat! Hari ini telah terbuka dari benteng Yakjuj dan Makjuj sebesar ini” dan beliau membuat lingkaran dengan sembilan puluh. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di antara kita ada orang-orang saleh? Beliau bersabda: “Ya, apabila keburukan telah banyak.” Dan mereka (al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahihain, dari hadits Wuhaib, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari ini telah terbuka dari benteng Yakjuj dan Makjuj sebesar ini” dan beliau membuat lingkaran dengan sembilan puluh.

Maka jawabannya: Adapun menurut pendapat orang yang berpendapat bahwa ini adalah isyarat terhadap terbukanya pintu-pintu keburukan dan fitnah, dan bahwa ini adalah kiasan murni dan perumpamaan, maka tidak ada masalah. Adapun menurut pendapat orang yang menjadikan itu sebagai kabar tentang sesuatu yang kasat mata, sebagaimana dhahirnya yang terlihat, maka tidak ada masalah juga; karena firman-Nya: “Maka mereka tidak sanggup mendakinya dan mereka tidak sanggup (pula) melubanginya” yakni: pada waktu itu, karena ini adalah shighat khabar madhi (lampau), maka tidak menafikan terjadinya di masa yang akan datang dengan izin Allah bagi mereka dalam hal itu secara takdir, dan pemberian kuasa kepada mereka atasnya secara bertahap sedikit demi sedikit, hingga sempurnalah ajal dan berakhirlah masa yang ditakdirkan, lalu mereka keluar, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka keluar dari setiap tempat yang tinggi dengan cepat.” (al-Anbiya’: 96). Tetapi hadits yang lain lebih bermasalah dari ini, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, telah menceritakan kepada kami Abu Rafi’, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj menggali benteng setiap hari, hingga apabila mereka hampir melihat sinar matahari, pemimpin mereka berkata: Kembalilah, kalian akan menggalinya besok. Maka mereka kembali kepadanya dan benteng itu lebih keras dari semula. Hingga apabila telah sampai masa mereka, dan Allah menghendaki mengutus mereka kepada manusia, mereka menggali hingga apabila mereka hampir melihat sinar matahari, pemimpin mereka berkata: Kembalilah, kalian akan menggalinya besok insya Allah. Dan ia mengucapkan pengecualian (insya Allah), maka mereka kembali kepadanya dan keadaannya seperti ketika mereka meninggalkannya, lalu mereka menggalinya dan keluar kepada manusia. Maka mereka mengeringkan air, dan manusia berlindung dari mereka di benteng-benteng mereka. Lalu mereka melempar anak panah mereka ke langit, maka anak panah itu kembali dengan membawa sesuatu seperti darah. Maka mereka berkata: Kami telah menaklukkan penduduk bumi, dan kami telah mengatasi penduduk langit. Maka Allah mengutus kepada mereka ulat di tengkuk mereka, lalu membunuh mereka dengannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya binatang-binatang bumi akan menjadi gemuk karena syukur dari daging dan darah mereka.” Dan Ahmad juga meriwayatkannya dari Hasan bin Musa, dari Syaiban, dari Qatadah dengannya. Demikian pula Ibnu Majah meriwayatkannya dari hadits Sa’id, dari Qatadah, kecuali bahwa ia berkata: telah menceritakan Abu Rafi’.

Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Awanah dari Qatadah dengannya. Kemudian dia berkata: gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari jalur ini. Sungguh telah dikhabarkan dalam hadits ini bahwa mereka setiap hari menjilatnya (bendungan Yakjuj dan Makjuj), sehingga hampir mereka melihat sinar matahari dari belakangnya karena tipisnya. Jika periwayatan marfu’ hadits ini tidak terpelihara dengan baik, dan hanya diambil dari Ka’ab Al-Ahbar, sebagaimana dikatakan sebagian mereka, maka kita sudah terlepas dari kesulitan. Dan jika memang terpelihara, maka bisa dipahami bahwa perbuatan mereka ini akan terjadi di akhir zaman ketika mendekati keluarnya mereka, sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, atau yang dimaksud dengan sabda Nabi: “dan mereka tidak mampu membuat lubang padanya” yakni: lubang yang tembus, sehingga tidak menafikan bahwa mereka menjilatnya namun tidak menembusnya. Dan Allah lebih mengetahui. Berdasarkan ini, maka dimungkinkan untuk mengumpulkan antara hadits ini dengan apa yang ada dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu: “Hari ini telah terbuka dari bendungan Yakjuj dan Makjuj seperti ini” dan beliau membuat lingkaran dengan jarinya sembilan puluh. Artinya: terbuka lubang yang tembus padanya. Dan Allah lebih mengetahui.

Kisah Ashhabul Kahfi

Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah kamu mengira bahwa Ashhabul Kahfi dan Ar-Raqim itu termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang mengherankan? (Ingatlah) ketika para pemuda itu mencari perlindungan ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami’. Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu beberapa tahun. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami menguatkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu mereka berkata: ‘Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami tidak akan menyembah tuhan selain Dia, sungguh kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas tentang tuhan-tuhan itu? Siapa yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah perlindungan ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu’. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk. Dan kamu mengira mereka bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari’. Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya’. Dan demikianlah Kami mempertemukan mereka (dengan penduduk kota) agar mereka mengetahui bahwa janji Allah itu benar dan bahwa terjadinya hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka (penduduk kota) mempertengkarkan urusan mereka di antara mereka, maka mereka berkata: ‘Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka’. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya’. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: ‘(Jumlah mereka) adalah lima orang, yang keenam adalah anjingnya’, sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: ‘(Jumlah mereka) tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya’. Katakanlah: ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit’. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini’. Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan’.” (Surat Al-Kahfi: 9-26)

Adapun sebab turunnya kisah Ashhabul Kahfi dan berita Dzulqarnain, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dalam As-Sirah dan lainnya, bahwa kaum Quraisy mengirim utusan kepada orang-orang Yahudi untuk menanyakan tentang beberapa hal untuk menguji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka akan menanyakannya kepada beliau untuk menguji jawaban beliau. Maka mereka berkata: Tanyakan kepadanya tentang suatu kaum yang pergi di masa lampau dan tidak diketahui apa yang mereka lakukan, dan tentang seorang laki-laki yang berkeliling di bumi, dan tentang ruh. Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh” (Surat Al-Isra: 58). “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain”. Dan Allah berfirman di sini: “Ataukah kamu mengira bahwa Ashhabul Kahfi dan Ar-Raqim itu termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang mengherankan?” Artinya: mereka bukanlah keajaiban yang sangat besar dibandingkan dengan berita-berita besar yang telah Kami perlihatkan kepadamu, ayat-ayat yang jelas dan keajaiban-keajaiban yang aneh. Dan Al-Kahfi adalah gua di gunung. Berkata Syu’aib Al-Jiba’i: Nama gua mereka adalah Haizum. Adapun Ar-Raqim, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengannya. Dan ada yang berkata: ia adalah kitab yang tertulis di dalamnya nama-nama mereka dan apa yang terjadi pada mereka, ditulis oleh orang-orang setelah mereka. Ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan lainnya. Dan ada yang berkata: ia adalah nama gunung yang di dalamnya terdapat gua mereka. Berkata Ibnu Abbas dan Syu’aib Al-Jiba’i: Namanya adalah Banajulus. Dan ada yang berkata: ia adalah nama lembah dekat gua mereka. Dan ada yang berkata: nama desa di sana. Dan Allah lebih mengetahui.

Berkata Syu’aib Al-Jiba’i: Nama anjing mereka adalah Humran. Dan perhatian orang-orang Yahudi terhadap urusan mereka dan pengetahuan mereka tentang kisah mereka, menunjukkan bahwa masa mereka lebih dahulu daripada apa yang disebutkan sebagian mufassir bahwa mereka hidup setelah Isa Almasih, dan bahwa mereka adalah orang-orang Nashrani. Dan yang jelas dari konteks bahwa kaum mereka adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Berkata banyak mufassir, ahli sejarah dan lainnya: Mereka hidup di zaman seorang raja yang disebut Diqyanus. Dan mereka adalah dari anak-anak para pembesar. Dan ada yang berkata: dari anak-anak para raja. Dan terjadilah pertemuan mereka pada hari raya kaum mereka, lalu mereka melihat apa yang dilakukan kaum mereka, yaitu bersujud kepada berhala dan mengagungkan patung-patung. Maka mereka melihat dengan mata hati yang tajam, dan Allah menyingkap dari hati mereka hijab kelalaian, dan mengilhamkan kepada mereka jalan yang benar. Maka mereka mengetahui bahwa kaum mereka tidak berada pada kebenaran. Lalu mereka keluar dari agama mereka dan bergabung dengan ibadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dikatakan: Sesungguhnya setiap orang dari mereka ketika Allah menjatuhkan ke dalam jiwanya apa yang menunjukinya kepada tauhid, menyingkir dari orang-orang, dan terjadilah pertemuan para pemuda ini di satu tempat, sebagaimana shahih dalam Bukhari: “Ruh-ruh itu adalah bala tentara yang terkumpul, maka yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang saling mengingkari akan berselisih”. Maka setiap orang dari mereka menanyakan yang lain tentang urusannya dan keadaannya, lalu dia mengabarkan kepadanya tentang apa yang dia yakini, dan mereka sepakat untuk menyingkir dari kaum mereka, berlepas diri dari mereka, keluar dari tengah-tengah mereka, dan melarikan diri dengan agama mereka dari mereka. Dan inilah yang disyariatkan ketika terjadi fitnah dan munculnya keburukan-keburukan. Allah Ta’ala berfirman: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami menguatkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu mereka berkata: ‘Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami tidak akan menyembah tuhan selain Dia, sungguh kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas'”, yaitu: dalil yang nyata atas apa yang mereka tuju dan mereka yakini dalam urusan itu. “Siapa yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah”, artinya: dan apabila kalian telah memisahkan diri dari mereka dalam agama mereka dan berlepas diri dari apa yang mereka sembah selain Allah, dan itu karena mereka berbuat syirik kepada Allah, sebagaimana dikatakan Khalilullah: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku; maka sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (Surat Az-Zukhruf: 26-27). Dan demikian pula para pemuda ini, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Apabila kalian telah memisahkan diri dari kaum kalian dalam agama mereka, maka pisahkanlah diri kalian dari mereka dengan badan kalian agar kalian selamat dari mereka, jangan sampai mereka menyampaikan keburukan kepada kalian. “Maka carilah perlindungan ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”, artinya: akan membentangkan atas kalian perlindungan-Nya, dan kalian akan berada di bawah pemeliharaan dan perlindungan-Nya, dan Dia akan menjadikan akhir urusan kalian kepada kebaikan. Sebagaimana dalam hadits: “Ya Allah perbaikilah akhir kami dalam semua urusan, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan dari azab akhirat”.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan sifat gua yang mereka jadikan tempat berlindung, dan bahwa pintunya menghadap ke arah utara, dan dalamnya ke arah kiblat. Dan itu adalah tempat yang paling bermanfaat; bahwa tempat itu menghadap kiblat, dan pintunya menuju utara. Allah berfirman: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong”, dan dibaca: (tazuru) “dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri”. Maka Allah mengabarkan bahwa matahari, yaitu di musim panas dan yang sejenisnya, menyinari di awal terbitnya di dalam gua di sisi baratnya, kemudian mulai keluar darinya sedikit demi sedikit, dan itulah condongnya ke kanan. Lalu matahari naik di langit dan menjauh dari pintu gua, kemudian ketika mendekati terbenam mulai masuk ke dalamnya dari sisi timurnya sedikit demi sedikit hingga waktu terbenam, sebagaimana yang disaksikan di tempat seperti ini. Dan hikmah masuknya matahari ke dalamnya di sebagian waktu adalah agar tidak rusak udaranya. “Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah”, artinya: kelangsungan mereka dalam keadaan seperti ini selama masa yang panjang dari tahun-tahun, tidak makan dan tidak minum, dan tidak berganti tubuh mereka dalam masa yang panjang ini, adalah termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan bukti keagungan kekuasaan-Nya. “Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan baginya seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk. Dan kamu mengira mereka bangun, padahal mereka tidur”. Berkata sebagian mereka: karena mata mereka terbuka; agar tidak rusak karena terpejam terlalu lama. “Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri”. Ada yang berkata: setiap tahun mereka berpindah satu kali dari satu sisi ke sisi lain, dan mungkin lebih dari itu. Maka Allah lebih mengetahui. “Sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua”. Berkata Syu’aib Al-Jiba’i: Nama anjing mereka adalah Humran. Dan berkata yang lain: Al-Washid adalah ambang pintu. Dan yang dimaksud bahwa anjing mereka yang bersama mereka, dan menemani mereka ketika mereka menyendiri dari kaum mereka, melekat pada mereka dan tidak masuk bersama mereka ke dalam gua, tetapi berbaring di pintunya dan meletakkan kedua tangannya di ambang pintu. Dan ini termasuk adabnya dan termasuk kemuliaan yang diberikan kepada mereka; karena sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing. Dan ketika keikutsertaan itu berpengaruh, sampai-sampai pada anjing orang-orang ini, maka ia tetap bersama mereka dengan keberadaan mereka; karena barangsiapa mencintai suatu kaum akan berbahagia bersama mereka. Jika ini terjadi pada anjing, maka bagaimana menurutmu dengan orang yang mengikuti ahli kebaikan dan dia layak mendapat kemuliaan. Dan telah disebutkan oleh banyak pencerita kisah dan mufassir tentang anjing ini cerita dan berita yang panjang, kebanyakannya diambil dari kisah-kisah Israiliyat, dan banyak di antaranya adalah dusta, dan kebanyakan tidak ada manfaatnya, seperti perbedaan pendapat tentang namanya dan warnanya.

Adapun perbedaan pendapat ulama tentang lokasi gua ini, maka berkata banyak orang: ia berada di tanah Ailah. Dan ada yang berkata: di tanah Nainawa. Dan ada yang berkata: di Balqa. Dan ada yang berkata: di negeri Romawi. Dan ini yang lebih tepat. Dan Allah lebih mengetahui. Dan ketika Allah Ta’ala menyebutkan apa yang lebih bermanfaat dari kabar mereka dan yang lebih penting dari urusan mereka, dan menggambarkan keadaan mereka, sehingga seolah-olah yang mendengar melihat, dan yang mengabarkan menyaksikan sifat gua mereka, dan bagaimana keadaan mereka di dalam gua itu dan berpindah-pindahnya mereka dari satu sisi ke sisi lain, dan bahwa anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu. Allah berfirman: “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, artinya: karena keagungan dan kemuliaan yang ada pada mereka dalam urusan yang mereka alami. Dan mungkin khitab di sini untuk jenis manusia yang diajak bicara, bukan khusus untuk Rasul shallallahu alaihi wasallam, seperti firman-Nya: “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (itu)?” (Surat At-Tin: 7), artinya: wahai manusia; dan itu karena tabiat manusia biasanya melarikan diri dari melihat hal-hal yang menakutkan, dan oleh karena itu Allah berfirman: “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, dan menunjukkan bahwa kabar tidaklah seperti penyaksian langsung, sebagaimana dalam hadits; karena kabar telah sampai namun tidak terjadi pelarian dan ketakutan.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia membangunkan mereka dari tidurnya setelah tidur selama tiga ratus tahun dan sembilan tahun. Maka ketika mereka terbangun, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab: ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari’. Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini”, yaitu dengan membawa dirham kalian ini, maksudnya yang ada bersama mereka, “ke kota”. Dan dikatakan, nama kota itu adalah Dafsus. “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik”, artinya: harta yang lebih baik. “Maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu”, yaitu makanan yang kalian makan. Dan ini dari kezuhudan dan kehati-hatian mereka. “Dan hendaklah dia berlaku lemah-lembut”, artinya: dalam memasuki kota itu. “Dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”, artinya: jika kalian kembali ke agama mereka setelah Allah menyelamatkan kalian darinya; dan semua ini karena prasangka mereka bahwa mereka tidur sehari atau setengah hari atau lebih dari itu, dan mereka tidak menghitung bahwa mereka telah tidur lebih dari tiga ratus tahun dan telah berganti negara-negara dalam berbagai fase, dan telah berubah negeri dan penghuninya, dan telah pergi generasi yang hidup di zaman mereka, lalu datang yang lain dan pergi, lalu datang yang lain; dan oleh karena itu ketika keluar salah seorang dari mereka, yaitu Tidzusyis menurut yang dikatakan, dan datang ke kota dengan menyamar; agar tidak ada seorangpun dari kaumnya yang mengenalnya menurut prasangkanya, maka negeri itu berubah baginya dan orang yang melihatnya dari penduduk negeri itu mengingkarinya, dan mereka menganggap aneh bentuk, sifat dan dirhamnya. Maka dikatakan: mereka membawanya kepada penguasa mereka, dan mereka takut dari urusannya bahwa ia adalah mata-mata, atau ia mempunyai kekuatan yang mereka khawatir mudharatnya. Maka dikatakan: ia melarikan diri dari mereka. Dan dikatakan: bahkan ia memberitahu mereka kabar dirinya dan orang-orang yang bersamanya, dan apa yang terjadi pada urusan mereka. Maka mereka pergi bersamanya untuk ia memperlihatkan kepada mereka tempat mereka. Maka ketika mereka mendekati gua, dia masuk kepada saudara-saudaranya, lalu mengabarkan kepada mereka hakikat urusan mereka, dan berapa lama mereka tidur. Maka mereka mengetahui bahwa ini dari kekuasaan Allah. Maka dikatakan: mereka terus tidur. Dan dikatakan: bahkan mereka meninggal setelah itu.

Adapun penduduk negeri, maka dikatakan: mereka tidak diberi petunjuk kepada tempat mereka dari gua, dan Allah menutup dari mereka urusan mereka. Dan dikatakan: mereka tidak mampu memasukinya secara indrawi. Dan dikatakan: karena keagungan mereka.

Mereka berbeda pendapat tentang urusan mereka; ada yang berkata: Bangunlah bangunan di atas mereka, artinya: tutuplah pintu gua itu; agar mereka tidak keluar atau agar tidak sampai kepada mereka sesuatu yang menyakiti mereka. Dan yang lain, yaitu mereka yang menang dalam urusan ini berkata: Mari kita bangun masjid di atas mereka, artinya: tempat ibadah yang akan menjadi berkah karena bertetangga dengan orang-orang saleh ini. Hal ini adalah kebiasaan pada orang-orang sebelum kita. Adapun dalam syariat kita, telah tetap dalam Shahihain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid, beliau memperingatkan apa yang mereka lakukan.

Adapun firman Allah Ta’ala: Dan demikianlah Kami memperlihatkan mereka kepada manusia agar mereka mengetahui bahwa janji Allah itu benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya (Surah Al-Kahf: 21), maka makna memperlihatkan adalah memberitahukan kepada manusia tentang urusan mereka. Banyak mufassir berkata: Agar manusia mengetahui bahwa hari kebangkitan itu benar, dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya, ketika mereka mengetahui bahwa orang-orang ini telah tertidur lebih dari tiga ratus tahun kemudian bangun, sebagaimana keadaan mereka tanpa ada perubahan pada mereka. Maka sesungguhnya Dia yang memelihara mereka sebagaimana keadaan mereka adalah Maha Kuasa untuk mengembalikan jasad meskipun telah dimakan cacing, dan menghidupkan orang-orang mati meskipun jasad mereka dan tulang-tulang mereka telah hancur. Ini adalah hal yang tidak diragukan oleh orang-orang beriman Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia (Surah An-Nahl: 40). Dengan demikian, kemungkinan kembalinya dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya: agar mereka mengetahui kepada ashhabul kahfi, karena pengetahuan mereka tentang hal itu dari diri mereka sendiri lebih kuat daripada pengetahuan orang lain tentang mereka. Dan mungkin juga kembali kepada semuanya. Wallahu a’lam.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Mereka akan mengatakan (jumlah mereka) tiga orang, yang keempatnya anjing mereka, dan mereka mengatakan (jumlah mereka) lima orang, yang keenamnya anjing mereka, secara menduga-duga tanpa pengetahuan yang pasti; dan mereka mengatakan (jumlah mereka) tujuh orang dan yang kedelapannya anjing mereka (Surah Al-Kahf: 22). Maka disebutkan perbedaan pendapat manusia tentang jumlah mereka, lalu menyebutkan tiga pendapat dan melemahkan dua pendapat pertama, dan menetapkan yang ketiga, maka ini menunjukkan bahwa itulah yang benar; karena jika dikatakan selain itu pasti akan disebutkan, dan jika pendapat ketiga ini bukan yang benar pasti akan dilemahkannya, maka ini menunjukkan apa yang kami katakan. Ketika perdebatan tentang hal seperti ini tidak ada manfaatnya dan tidak ada faedahnya, Allah membimbing Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam kepada adab dalam keadaan seperti ini, ketika manusia berbeda pendapat di dalamnya, hendaknya dia berkata: Allah yang lebih mengetahui. Oleh karena itu Allah berfirman: Katakanlah: Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Dan firman-Nya: Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit (Surah Al-Kahf: 22), artinya: dari kalangan manusia maka janganlah kamu memperdebatkan tentang hal mereka, kecuali perdebatan lahir saja artinya mudah, dan janganlah membebani diri dengan melakukan perdebatan dalam keadaan seperti ini, dan janganlah meminta fatwa tentang urusan mereka kepada siapapun dari kalangan orang; oleh karena itu Allah menyamarkan jumlah mereka di awal kisah, maka Allah berfirman: Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Surah Al-Kahf: 13). Seandainya dalam penentuan jumlah mereka ada manfaat besar, pasti akan disebutkan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.

Dan firman Allah Ta’ala: Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa dan katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini (Surah Al-Kahf: 23-24). Ini adalah adab yang agung yang Allah tunjukkan kepadanya dan mendorong makhluk-Nya kepadanya, yaitu apabila salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku akan melakukan di masa depan begini, maka disyariatkan baginya untuk mengatakan: Insya Allah, agar itu menjadi penegasan dari azamnya; karena seorang hamba tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok dan tidak tahu apakah apa yang dia azamkan ini ditakdirkan atau tidak. Pengecualian ini bukanlah ta’liq (pengaitan), tetapi inilah yang hakiki. Oleh karena itu Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya hal itu sah sampai setahun. Tetapi mungkin dalam beberapa tempat untuk ini dan untuk itu, sebagaimana telah disebutkan dalam kisah Sulaiman ‘alaihissalam, ketika dia berkata: Sungguh aku akan menggauli sembilan puluh wanita malam ini, setiap wanita melahirkan seorang anak laki-laki yang berjihad di jalan Allah. Maka dikatakan kepadanya: Katakanlah: Insya Allah. Namun dia tidak mengatakannya, lalu dia menggauli mereka, maka tidak ada yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan setengah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya dia berkata: Insya Allah, niscaya dia tidak melanggar sumpah, dan akan menjadi tercapainya hajatnya.

Dan firman-Nya: Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa, hal itu karena kelupaan mungkin dari syetan, maka mengingat Allah mengusirnya dari hati, lalu teringatlah apa yang telah dilupakan.

Dan firman-Nya: Dan katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini, artinya: Jika suatu urusan samar dan keadaan membingungkan dan ucapan manusia tentang sesuatu menjadi kacau, maka memohonlah kepada Allah agar dimudahkan bagimu dan dipermudah bagimu. Kemudian Allah berfirman: Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (Surah Al-Kahf: 25). Ketika dalam berita tentang lamanya mereka tinggal ada manfaat yang besar, Allah menyebutkannya. Dan sembilan tahun tambahan ini adalah dengan perhitungan qamariyah, dan itu untuk menyempurnakan tiga ratus tahun syamsiyah, karena setiap seratus tahun qamariyah kurang dari syamsiyah tiga tahun. Katakanlah: Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua) (Surah Al-Kahf: 26), artinya: Jika kamu ditanya tentang hal seperti ini, dan tidak ada padamu riwayat tentang itu, maka kembalikanlah urusan itu kepada Allah ‘azza wa jalla Kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi, artinya: Dialah Yang Maha Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkannya kecuali kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya Maha Melihat Dia dan Maha Mendengar artinya bahwasanya Dia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya karena ilmu-Nya yang sempurna tentang makhluk-Nya, dan tentang apa yang mereka layak dapatkan. Kemudian Allah berfirman: Mereka tidak mempunyai seorang pelindungpun selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (Surah Al-Kahf: 26), artinya: Bahkan Dialah Yang Maha Esa dengan kekuasaan dan yang mengatur di dalamnya sendirian tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Kisah Dua Orang Laki-laki; yang Mukmin dan yang Kafir

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Kahf setelah kisah ashhabul kahfi: Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan Kami jadikan di antara kedua kebun itu tanaman. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu. Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: Aku lebih banyak daripadamu harta dan lebih kuat (jumlah) anggota keluarga. Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: Ma syaa Allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit daripadamu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu; dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi. Dan harta kekayaannya telah musnah, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan tidak ada baginya segolongan (pembela) yang menolongnya selain daripada Allah; dan dia tidak dapat membela dirinya. Di situlah kekuasaan hanya kepunyaan Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan (Surah Al-Kahf: 32-44).

Sebagian orang berkata: Ini adalah perumpamaan yang dibuat dan tidak harus benar-benar terjadi. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa ini adalah urusan yang telah terjadi. Firman-Nya: Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan artinya untuk orang-orang kafir Quraisy, dalam hal tidak berkumpulnya mereka dengan orang-orang lemah dan fakir, dan meremehkan mereka, dan menyombongkan diri terhadap mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan, (yaitu) penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka (Surah Yaasiin: 13), sebagaimana telah kami sebutkan pembicaraan tentang kisah mereka sebelum kisah Musa ‘alaihissalam. Yang masyhur bahwa kedua orang ini adalah dua orang laki-laki yang bersahabat, dan salah seorang di antara keduanya beriman sedangkan yang lain kafir. Dikatakan: Bahwasanya masing-masing dari keduanya memiliki harta, maka orang mukmin membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya dengan mengharapkan wajah-Nya. Adapun orang kafir, maka dia menjadikan untuknya dua kebun, yaitu dua kebun yang disebutkan dalam ayat, sesuai dengan sifat dan keterangan yang disebutkan; di dalamnya ada anggur, dan kurma mengelilingi anggur-anggur itu dan tanaman di sela-selanya, dan sungai-sungai mengalir ke sana kemari untuk pengairan dan bersenang-senang. Buah-buahan telah sempurna di dalamnya, dan sungai-sungai mengalir di dalamnya, dan tanaman serta buah-buahan menjadi indah. Pemiliknya menyombongkan diri terhadap sahabatnya yang mukmin dan fakir dengan berkata kepadanya: Aku lebih banyak daripadamu harta dan lebih kuat (jumlah) anggota keluarga, artinya: Dan lebih terlindungi kehormatannya. Maksudnya bahwa dia lebih baik darinya, dan maknanya: Apa yang telah dimanfaatkan atasmu dari pembelanjaanmu terhadap apa yang kamu miliki pada cara yang kamu belanjakan di dalamnya? Seharusnya kamu melakukan seperti yang aku lakukan agar kamu menjadi sepertiku. Maka dia menyombongkan diri terhadap sahabatnya dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri, artinya: Dan dia tidak berada di atas jalan yang diridhai ia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya dan itu karena apa yang dia lihat dari luasnya tanahnya, dan banyaknya airnya dan baiknya tumbuhan pohon-pohonnya; dan seandainya masing-masing dari pohon-pohon ini musnah pasti akan tumbuh di tempatnya yang lebih baik darinya, dan tanamannya berkelanjutan karena banyaknya airnya. Kemudian dia berkata: Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, maka dia yakin dengan keindahan kehidupan dunia yang fana, dan mendustakan keberadaan akhirat yang kekal dan abadi. Kemudian dia berkata: Dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu, artinya: Dan jika ada akhirat dan kebangkitan pasti aku akan mendapatkan di sana yang lebih baik dari ini. Dan itu karena dia tertipu dengan dunianya, dan meyakini bahwa Allah tidak memberikan itu kepadanya di dalamnya kecuali karena kecintaan-Nya kepadanya dan kehormatannya di sisi-Nya, sebagaimana Al-‘Ash bin Wail berkata dalam apa yang Allah ceritakan tentang beritanya dan berita Khabbab bin Al-Aratt dalam firman-Nya: Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan dia mengatakan: Pasti aku akan diberi harta dan anak. Apakah dia melihat yang gaib ataukah dia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah? (Surah Maryam: 77-78). Dan Allah Ta’ala berfirman memberitakan tentang manusia jika Allah memberinya nikmat Pasti dia akan berkata: Ini adalah hakku, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan sungguh jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan memperoleh (pahala) yang lebih baik di sisi-Nya (Surah Fushshilat: 50). Allah Ta’ala berfirman: Maka Kami pasti akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan Kami pasti akan merasakan kepada mereka azab yang keras (Surah Fushshilat: 50). Dan Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku (Surah Al-Qashash: 78), artinya: karena pengetahuan Allah tentangku bahwa aku layak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman: Dan apakah dia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka (Surah Al-Qashash: 78). Dan kami telah menyebutkan pembicaraan tentang kisahnya pada kisah Musa.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan harta bendamu dan anak-anakmu sekali-kali bukanlah yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (Surah Saba’: 37). Dan Allah Ta’ala berfirman: Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti) bahwa Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Sebenarnya mereka tidak menyadari (Surah Al-Mu’minuun: 55-56).

Ketika orang bodoh ini tertipu dengan apa yang Allah berikan kepadanya di dunia, maka dia mengingkari akhirat, dan mengklaim bahwa jika akhirat itu ada pasti dia akan mendapatkan di sisi Tuhannya yang lebih baik dari apa yang dia miliki, dan sahabatnya mendengarnya mengatakan itu Kawannya berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, artinya: mendebatnya Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?, artinya: Apakah kamu mengingkari kebangkitan sedangkan kamu mengetahui bahwa Allah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani kemudian membentukmu tahap demi tahap hingga kamu menjadi laki-laki yang sempurna, mendengar, melihat, mengetahui dan melakukan sesuatu dan memahami, maka bagaimana kamu mengingkari kebangkitan sedangkan Allah berkuasa atas penciptaan pertama Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, artinya: Tetapi aku berkata dengan lain dari apa yang kamu katakan dan aku meyakini lain dari keyakinanmu Dialah Allah, Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan dengan Tuhanku seorangpun, artinya: Aku tidak menyembah selain-Nya, dan aku meyakini bahwa Dia membangkitkan jasad-jasad setelah kehancurannya, dan menghidupkan orang-orang mati, dan mengumpulkan tulang-tulang yang hancur, dan aku mengetahui bahwa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan-Nya, dan tidak dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada ilah selain-Nya.

Kemudian dia menunjukkan kepadanya apa yang seharusnya dia lakukan ketika memasuki kebunnya, maka dia berkata: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: Ma syaa Allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Oleh karena itu disunnahkan bagi setiap orang yang kagum dengan sesuatu dari hartanya atau keluarganya atau keadaannya untuk mengatakan demikian.

Dan telah diriwayatkan di dalamnya hadits marfu’ (disandarkan kepada Nabi), dalam kesahihannya ada keraguan; Abu Ya’la Al-Maushili berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarrah bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Isa bin ‘Aun, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Zurarah, dari Anas dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba berupa keluarga atau harta atau anak lalu dia berkata: Ma syaa Allah laa quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), kecuali dia akan melihat padanya bencana selain kematian. Dan beliau menta’wilkan ayat ini: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: Ma syaa Allah, laa quwwata illaa billah. Al-Hafizh Abu Al-Fath Al-Azdi berkata: Isa bin ‘Aun, dari Abdul Malik bin Zurarah, dari Anas, tidak sahih.

Kemudian orang mukmin berkata kepada orang kafir: Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu, artinya: Di negeri akhirat dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu. Ibnu Abbas, Adh-Dhahhak, dan Qatadah berkata: Artinya: Azab dari langit. Dan yang zhahir bahwa itu adalah hujan yang dahsyat yang menghancurkan, yang mencabut tanaman dan pohon-pohonnya hingga menjadi tanah yang licin, yaitu tanah yang rata yang tidak ada tumbuhan di dalamnya atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, dan itu kebalikan dari mata air yang mengalir maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi, artinya: Maka kamu tidak berkuasa untuk mengembalikannya.

Allah Ta’ala berfirman: Dan harta kekayaannya telah musnah, artinya: Datang kepadanya urusan yang melingkupi semua panen-panennya, dan merusakkan kebunnya, dan menghancurkannya lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, artinya: Rusak sama sekali, maka tidak ada yang kembali untuknya, dan itu kebalikan dari apa yang menjadi harapannya ketika dia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan dia menyesal atas apa yang telah terjadi darinya berupa ucapan yang dia kafir karenanya kepada Allah Yang Maha Agung, maka dia berkata: Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.

Allah Ta’ala berfirman: Dan tidak ada baginya segolongan (pembela) yang menolongnya selain daripada Allah; dan dia tidak dapat membela dirinya. Di situlah, artinya: Tidak ada baginya seorangpun yang dapat memperbaiki apa yang telah terlanjur dari urusannya, dan tidak ada padanya kemampuan pada dirinya sendiri terhadap sesuatu dari itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Maka tidak ada baginya suatu kekuatanpun dan tidak (pula) pembela (Surah Ath-Thariq: 10).

Dan firman-Nya: “Kekuasaan adalah milik Allah Yang Maha Benar”. Di antara mereka ada yang memulai dengan firman-Nya: “Di sanalah kekuasaan adalah milik Allah Yang Maha Benar” dan ini juga baik, seperti firman-Nya: “Kerajaan pada hari itu adalah milik Yang Maha Pengasih, dan hari itu adalah hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir” (Al-Furqan: 26). Maka keputusan yang tidak tertolak, tidak terintangi, dan tidak terlawan – pada saat itu dan dalam setiap keadaan – adalah milik Allah Yang Maha Benar. Di antara mereka ada yang merafa’kan (Al-Haqq/Yang Maha Benar) menjadikannya sifat untuk (Al-Walayah/kekuasaan) dan keduanya saling berkaitan. Dan firman-Nya: “Dia lebih baik pahalanya dan lebih baik akibatnya” artinya: muamalah dengan-Nya lebih baik bagi pemiliknya dalam hal pahala, yaitu balasan, dan lebih baik akibatnya; yaitu kesudahan di dunia dan akhirat.

Kisah ini mengandung makna bahwa seseorang tidak sepatutnya bersandar pada kehidupan dunia, tidak tertipu olehnya, dan tidak percaya padanya, bahkan ia harus menjadikan ketaatan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dalam setiap keadaan sebagai fokus perhatiannya, dan hendaknya ia lebih yakin pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Di dalamnya terdapat pelajaran bahwa barangsiapa yang mendahulukan sesuatu atas ketaatan kepada Allah dan berinfak di jalan-Nya, ia akan disiksa dengannya, dan mungkin dicabut darinya; sebagai balasan yang bertentangan dengan niatnya. Di dalamnya juga terdapat bahwa wajib menerima nasihat dari saudara yang memberi nasihat dengan tulus, dan bahwa menentangnya akan mendatangkan kecelakaan dan kehancuran bagi orang yang menolak nasihat yang benar. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa penyesalan tidak bermanfaat ketika takdir telah tiba dan keputusan yang pasti telah dilaksanakan. Dan kepada Allah kita memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakal.

Kisah Pemilik Kebun

Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (penduduk Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetik (hasil)nya pada waktu pagi. Dan mereka tidak mengucapkan insya Allah (pengecualian). Maka datanglah malapetaka yang mengitarinya dari Tuhanmu, sedang mereka tidur. Maka jadilah (kebun) itu seperti kebun yang telah dipetik (buahnya). Kemudian mereka saling memanggil di waktu pagi, (katanya) pergilah ke kebunmu jika kamu hendak memetik. Maka berangkatlah mereka sambil berbisik-bisik, janganlah sekali-kali kamu memperkenankan seorang miskin pun masuk ke kebun itu pada hari ini. Dan mereka pergi dengan pagi-pagi benar dengan bermaksud (menghalangi orang miskin), sedang mereka mampu (memenuhi maksud itu). Maka ketika mereka melihat (kebun itu), mereka berkata: Sesungguhnya kita benar-benar telah tersesat, bahkan kita adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu). Mereka berkata: Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Maka sebagian mereka menyalahkan sebagian yang lain. Mereka berkata: Kecelakaan besarlah bagi kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kami akan memberi ganti kepada kami dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu, sesungguhnya kami sangat berharap kepada Tuhan kami. Demikianlah azab (di dunia) itu. Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui” (Al-Qalam: 17-33).

Ini adalah perumpamaan yang Allah buat untuk orang-orang kafir Quraisy, tentang nikmat yang Allah berikan kepada mereka dengan mengutus Rasul yang agung dan mulia kepada mereka, namun mereka menyambutnya dengan pendustaan dan penentangan, sebagaimana firman Allah Taala: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekufuran dan menempati kaumnya di lembah kebinasaan, (yaitu) neraka Jahanam? Mereka masuk ke dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman” (Ibrahim: 28-29). Ibnu Abbas berkata: Mereka adalah orang-orang kafir Quraisy. Maka Allah Taala membuat perumpamaan untuk mereka dengan pemilik kebun yang berisi berbagai jenis tanaman dan buah-buahan yang telah sempurna dan layak untuk dipetik; yaitu dipanen, karena itu Allah berfirman: “Ketika mereka bersumpah” yaitu di antara mereka sendiri untuk memanen kebun itu, yaitu memanennya, (di waktu pagi) yaitu pada waktu subuh, ketika tidak ada orang fakir atau orang yang membutuhkan melihat mereka sehingga mereka tidak memberikan sesuatu kepadanya. Mereka bersumpah untuk itu dan tidak mengucapkan pengecualian dalam sumpah mereka. Maka Allah melemahkan mereka dan menimpakan bencana yang membakar kebun itu; yaitu bencana yang memusnahkannya dan tidak menyisakan sesuatu pun yang bermanfaat. Karena itu Allah berfirman: “Maka datanglah malapetaka yang mengitarinya dari Tuhanmu, sedang mereka tidur. Maka jadilah (kebun) itu seperti kebun yang telah dipetik (buahnya)” artinya: seperti malam yang gelap gulita yang terpisah dari cahaya. Ini adalah balasan yang bertentangan dengan tujuan mereka. “Kemudian mereka saling memanggil di waktu pagi” artinya: mereka bangun dari tidur lalu sebagian dari mereka memanggil yang lain dengan berkata: “Pergilah ke kebunmu jika kamu hendak memetik” artinya: berangkatlah pagi-pagi ke kebunmu dan petiklah sebelum hari semakin tinggi dan banyak orang meminta. “Maka berangkatlah mereka sambil berbisik-bisik” artinya: mereka berbicara di antara mereka sendiri dengan pelan sambil berkata: “Janganlah sekali-kali kamu memperkenankan seorang miskin pun masuk ke kebun itu pada hari ini” artinya: mereka sepakat untuk ini dan saling berkomplot untuk melakukannya. “Dan mereka pergi dengan pagi-pagi benar dengan bermaksud (menghalangi orang miskin), sedang mereka mampu (memenuhi maksud itu)” artinya: mereka berangkat dengan bersungguh-sungguh dalam hal itu, mampu melakukannya, bertekad bulat dan berkeras pada niat buruk ini. Ikrimah dan Asy-Sya’bi berkata: “Dan mereka pergi dengan bermaksud” artinya: dengan marah kepada orang-orang miskin. As-Suddi mengatakan hal yang jauh dengan perkataannya; bahwa nama kebun mereka adalah “Hardin”. “Maka ketika mereka melihat (kebun itu)” artinya: mereka sampai padanya dan melihat apa yang menimpanya, dan kondisi yang buruk yang dialaminya setelah keindahan, kecantikan dan kemegahannya, karena ia berubah akibat niat yang buruk. Pada saat itu “mereka berkata: Sesungguhnya kita benar-benar telah tersesat” artinya: kita telah tersesat darinya dan salah jalan. Kemudian mereka berkata: “Bahkan kita adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian” artinya: bahkan kami dihukum karena niat kami yang buruk, dan kami dicabut berkah kebun kami. “Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka” Ibnu Abbas, Mujahid, dan beberapa orang lain berkata: Dia adalah yang paling adil dan paling baik di antara mereka. “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)” Ada yang berkata: mengucapkan pengecualian. Ini dikatakan oleh Mujahid, As-Suddi, dan Ibnu Juraij. Ada yang berkata: mengucapkan kebaikan sebagai pengganti keburukan yang kalian ucapkan. “Mereka berkata: Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Maka sebagian mereka menyalahkan sebagian yang lain. Mereka berkata: Kecelakaan besarlah bagi kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mereka menyesal ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat, dan mengakui dosa setelah hukuman, dan itu pada saat yang tidak berguna lagi. Dikatakan bahwa mereka ini adalah saudara-saudara yang mewarisi kebun ini dari ayah mereka, dan ayah mereka dahulu banyak bersedekah darinya. Ketika urusan kebun itu beralih kepada mereka, mereka menganggap buruk tindakan ayah mereka, dan ingin memanfaatkan kebun itu tanpa memberikan sesuatu pun kepada orang-orang fakir. Maka Allah menghukum mereka dengan hukuman yang sangat berat; karena itu Allah memerintahkan untuk bersedekah dari buah-buahan dan menganjurkan hal itu pada hari panen, sebagaimana firman Allah Taala: “Makanlah dari buahnya ketika ia berbuah, dan tunaikanlah haknya pada hari memanennya” (Al-An’am: 141). Kemudian dikatakan: mereka adalah penduduk Yaman dari sebuah desa yang bernama Darwan. Ada yang berkata: dari penduduk Habasyah. Wallahu a’lam. Allah Taala berfirman: “Demikianlah azab (di dunia) itu” artinya: demikianlah Kami mengadzab orang yang menentang perintah Kami dan tidak berbelas kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di antara makhluk Kami. “Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih besar” artinya: lebih besar dan lebih dahsyat daripada azab dunia. “Kalau mereka mengetahui”.

Kisah mereka ini mirip dengan firman Allah Taala: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka ditimpa azab, sedang mereka zalim” (An-Nahl: 112-113). Ada yang berkata: Ini adalah perumpamaan yang dibuat untuk penduduk Makkah. Ada yang berkata: Mereka adalah penduduk Makkah sendiri, dibuat perumpamaan untuk diri mereka sendiri. Dan tidak ada pertentangan dalam hal itu, wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.

Kisah Penduduk Ailah yang Melanggar pada Hari Sabtu Mereka

Allah Taala berfirman dalam Surah Al-A’raf: “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (di permukaan air) pada hari Sabtu mereka, dan di hari mereka tidak melaksanakan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat keras? Mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan mudah-mudahan mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina” (Al-A’raf: 163-166).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Baqarah: “Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang yang ada pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 65-66).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah An-Nisa: “Atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti berlaku” (An-Nisa: 47). Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Suddi, dan lain-lain berkata: Mereka adalah penduduk Ailah. Ibnu Abbas menambahkan: antara Madyan dan Gunung Tursina. Mereka berkata: Mereka berpegang teguh pada agama Taurat dalam pengharaman hari Sabtu pada masa itu. Ikan-ikan telah terbiasa dengan ketenangan dari mereka pada hari seperti ini; karena memang diharamkan bagi mereka berburu ikan pada hari itu, begitu juga semua kerajinan, perdagangan, dan usaha. Ikan-ikan pada hari Sabtu banyak berdatangan ke tempat tinggal mereka dari laut; datang dari sana-sini, tampak, aman, dan tenang, sehingga mereka tidak mengganggunya dan tidak membuatnya takut. “Dan di hari mereka tidak melaksanakan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka” karena mereka menangkapnya pada hari-hari selain Sabtu. Allah Taala berfirman: “Demikianlah Kami mencoba mereka” artinya: Kami menguji mereka dengan banyaknya ikan pada hari Sabtu. “Disebabkan mereka berlaku fasik” artinya: karena kefasikan mereka yang terdahulu. Ketika mereka melihat itu, mereka mencari akal untuk menangkap ikan pada hari Sabtu, dengan memasang tali, jaring, dan kail, serta menggali lubang-lubang yang airnya mengalir ke tempat penampungan yang telah mereka siapkan. Jika ikan masuk ke dalamnya, ia tidak bisa keluar darinya. Mereka melakukan itu pada hari Jumat. Ketika ikan-ikan datang dengan tenang pada hari Sabtu, mereka terjebak dalam perangkap-perangkap ini. Ketika Sabtu mereka berakhir, mereka mengambilnya. Maka Allah murka kepada mereka dan melaknat mereka; karena mereka mencari akal untuk menyelisihi perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya dengan tipu daya yang tampak bagi yang melihat, tetapi pada hakikatnya adalah pelanggaran murni. Ketika sekelompok dari mereka melakukan itu, orang-orang yang tidak melakukannya terbagi menjadi dua kelompok; kelompok yang mengingkari perbuatan mereka dan tipu daya mereka untuk menyelisihi Allah dan syariat-Nya pada masa itu, dan kelompok lain yang tidak melakukan dan tidak melarang, bahkan mengingkari orang-orang yang melarang dan berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat keras” mereka berkata kepada mereka: apa gunanya kalian melarang orang-orang ini padahal mereka sudah pasti layak mendapat hukuman? Maka kelompok yang mengingkari menjawab dengan mengatakan: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu” artinya: dalam apa yang diperintahkan kepada kami yaitu amar makruf dan nahi munkar, maka kami melaksanakannya karena takut akan azab-Nya. “Dan mudah-mudahan mereka bertakwa” artinya: dan mudah-mudahan orang-orang ini meninggalkan apa yang mereka lakukan dari perbuatan ini, sehingga Allah menghindarkan azab-Nya dari mereka dan mengampuni mereka jika mereka kembali dan mendengarkan. Allah Taala berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka” artinya: mereka tidak memperhatikan orang yang melarang mereka dari perbuatan yang keji dan buruk ini. “Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat” yaitu kelompok yang amar makruf dan nahi munkar. “Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim” yaitu mereka yang melakukan kejahatan “siksaan yang keras” yaitu yang sangat menyakitkan dan pedih. “Disebabkan mereka selalu berbuat fasik” kemudian Allah menjelaskan azab yang menimpa mereka dengan firman-Nya: “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina” dan kami akan menyebutkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan itu.

Yang dimaksud di sini adalah bahwa Allah memberitakan bahwa Dia membinasakan orang-orang zalim, dan menyelamatkan orang-orang beriman yang mengingkari, dan diam tentang orang-orang yang diam. Para ulama berbeda pendapat tentang mereka dalam dua pendapat; ada yang berkata: sesungguhnya mereka termasuk yang selamat. Ada yang berkata: sesungguhnya mereka termasuk yang binasa. Yang benar adalah pendapat pertama menurut para muhaqqiq, dan itulah pendapat yang dikembalikan kepada Ibnu Abbas, imam para mufassir, yaitu ketika berdebat dengan mantan budaknya Ikrimah, lalu dia memberinya pakaian bagus karena itu; sebagai penghormatan. Saya katakan: mereka tidak disebutkan bersama orang-orang yang selamat; karena mereka meskipun membenci dalam hati mereka perbuatan keji itu, tetapi seharusnya mereka melakukan secara lahiriah perbuatan yang diperintahkan yaitu pengingkaran dengan ucapan, yang merupakan tingkatan tengah dari tiga tingkatan, yang paling tinggi adalah pengingkaran dengan tangan, kemudian pengingkaran dengan ucapan lisan, dan yang ketiga pengingkaran dengan hati. Ketika mereka tidak disebutkan, mereka tidak disebutkan bersama orang-orang yang selamat, karena mereka tidak melakukan perbuatan keji itu, bahkan mengingkarinya. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij dari seorang laki-laki dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan Malik meriwayatkan dari Ibnu Ruman, dan Syaiban dari Qatadah, dan Atha Al-Khurasani, yang intinya bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan ini, dihindari oleh sisa penduduk negeri, dan yang melarang dari mereka melarang mereka, tetapi mereka tidak menerima. Mereka bermalam sendiri dan menutup antara mereka dan orang lain dengan pintu-pintu, sebagai penghalang dari apa yang mereka antisipasi yaitu kebinasaan mereka. Mereka bangun pada suatu hari dan pintu-pintu daerah mereka tertutup tidak dibuka, dan hari semakin tinggi dan terik semakin kuat. Sisa penduduk negeri memerintahkan seorang laki-laki untuk naik dengan tangga dan mengawasi mereka dari atas mereka. Ketika dia mengawasi mereka, ternyata mereka adalah kera-kera yang berekor saling bersahut-sahutan dan saling berlari-larian. Mereka membuka pintu-pintu kepada mereka, lalu kera-kera itu mulai mengenali kerabat mereka, tetapi kerabat mereka tidak mengenali mereka. Mereka mulai mendekati mereka, dan orang-orang yang melarang berkata kepada mereka: Bukankah kami telah melarang kalian dari perbuatan kalian? Maka kera-kera itu mengangguk dengan kepala mereka bahwa benar. Kemudian Abdullah bin Abbas menangis dan berkata: Sesungguhnya kami melihat kemungkaran yang banyak, tetapi kami tidak mengingkarinya dan tidak mengatakan sesuatu tentangnya. Al-Aufi berkata dari Ibnu Abbas: Pemuda-pemuda negeri menjadi kera, dan orang-orang tua mereka menjadi babi. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Mujahid dari Ibnu Abbas, bahwa mereka tidak hidup kecuali sebentar, kemudian mati, tidak ada keturunan bagi mereka. Ad-Dahhak berkata dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya tidak ada yang dimaskh (diubah wujudnya) yang hidup lebih dari tiga hari, dan mereka ini tidak makan, tidak minum, dan tidak berketurunan. Kami telah mengumpulkan riwayat-riwayat tentang itu, dalam tafsir Surah Al-Baqarah dan Al-A’raf. Dan bagi Allah segala puji dan karunia. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Najih dari Mujahid bahwa dia berkata: Hati mereka yang dimaskh, dan mereka tidak dimaskh menjadi kera dan babi, itu hanya perumpamaan yang Allah buat, seperti perumpamaan keledai yang membawa kitab-kitab. Ini adalah riwayat yang sahih kepadanya, dan sangat aneh darinya, dan bertentangan dengan zhahir Al-Quran, dan dengan apa yang dinyatakan oleh lebih dari satu orang dari kalangan salaf dan khalaf. Wallahu a’lam.

۞۞۞۞۞

Facebook Comments Box

Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 1 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB