Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 03

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 03

Kisah Luqman

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Dan sungguh, Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah!” Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut, Mahateliti. Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 12-19)

Dia adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun, dan ada yang mengatakan Luqman bin Tharan, demikian yang diriwayatkan oleh As-Suhaili dari Ibnu Jarir dan Al-Qutaibi.

As-Suhaili berkata: Dia adalah orang Nubia dari penduduk Ailah.

Penulis berkata: Dia adalah seorang yang saleh, memiliki ibadah, pemahaman, dan hikmah yang besar. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah hakim pada zaman Nabi Daud alaihissalam. Maka Allah lebih mengetahui.

Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Al-Asy’ats dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas: Dia adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah yang berprofesi sebagai tukang kayu.

Qatadah berkata dari Abdullah bin Az-Zubair: Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Apa yang sampai kepadamu tentang urusan Luqman? Ia berkata: Dia bertubuh pendek, berhidung pesek, dari golongan Nubia.

Yahya bin Said Al-Anshari berkata, dari Said bin Al-Musayyab: Luqman termasuk orang kulit hitam dari Mesir, berbibir tebal, Allah memberikan kepadanya hikmah dan tidak memberikan kepadanya kenabian.

Al-Auza’i berkata: Abdurrahman bin Harmalah menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang pria berkulit hitam datang kepada Said bin Al-Musayyab untuk bertanya, maka Said berkata kepadanya: Jangan bersedih karena engkau berkulit hitam, karena sesungguhnya ada tiga orang berkulit hitam yang termasuk sebaik-baik manusia: Bilal, Muhjaj budak sahaya Umar, dan Luqman Al-Hakim. Dia berkulit hitam dari Nubia dan berbibir tebal.

Al-A’masy berkata dari Mujahid: Luqman adalah seorang budak berkulit hitam, berbibir besar, dan bertelapak kaki yang terbelah. Dalam riwayat lain: bertelapak kaki rata.

Amr bin Qais berkata: Dia adalah seorang budak berkulit hitam, berbibir tebal, bertelapak kaki rata. Kemudian datang seorang pria kepadanya ketika dia berada dalam majelis beberapa orang sedang berbicara kepada mereka, lalu pria itu berkata kepadanya: Bukankah engkau yang dulu menggembala kambing bersamaku di tempat ini dan ini? Dia menjawab: Ya. Ia berkata: Lalu apa yang membuatmu sampai pada keadaan yang aku lihat ini? Dia menjawab: Kejujuran dalam berbicara dan diam dari hal yang tidak bergunan bagiku. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Humaid dari Al-Hakam darinya.

Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Zur’ah menceritakan kepada kami, Shafwan menceritakan kepada kami, Al-Walid menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Yazid bin Jabir menceritakan kepada kami, ia berkata: Sesungguhnya Allah mengangkat Luqman Al-Hakim karena hikmahnya, maka seorang pria yang mengenalnya sebelum itu melihatnya, lalu berkata: Bukankah engkau budak Bani Fulan yang kemarin menggembala? Dia menjawab: Betul. Ia berkata: Lalu apa yang membuatmu sampai pada keadaan yang aku lihat ini? Dia menjawab: Takdir Allah, menunaikan amanah, kejujuran dalam berbicara, dan meninggalkan apa yang tidak bergunan bagiku.

Ibnu Wahb berkata: Abdullah bin Ayyasy Al-Qatbani mengabarkan kepadaku dari Umar budak sahaya Ghufrah, ia berkata: Seorang pria berdiri di hadapan Luqman Al-Hakim lalu berkata: Apakah engkau Luqman? Apakah engkau budak Bani Al-Hashash? Dia menjawab: Ya. Ia berkata: Apakah engkau penggembala kambing yang berkulit hitam itu? Dia menjawah: Adapun warna kulitku yang hitam itu memang jelas, lalu apa yang membuatmu kagum dari urusanku? Ia berkata: Orang-orang menginjak permadanimu, mereka memadati pintumu, dan mereka rela dengan perkataanmu. Dia berkata: Wahai keponakanku, jika engkau melakukan apa yang akan aku katakan kepadamu, engkau akan seperti itu. Ia berkata: Apa itu? Luqman berkata: Menundukkan pandanganku, menjaga lisanku, menjaga kesucian makananku, menjaga kemaluanku, menunaikan janjiku, menepati janji setiku, memuliakan tamuku, menjaga tetanggaku, dan meninggalkan apa yang tidak bergunan bagiku; itulah yang menjadikanku sebagaimana yang engkau lihat.

Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ibnu Nufail menceritakan kepada kami, Amr bin Waqid menceritakan kepada kami dari Abdah bin Rabah dari Rabi’ah dari Abu Ad-Darda bahwa ia berkata suatu hari, ia menyebutkan Luqman Al-Hakim lalu berkata: Dia tidak diberi apa yang diberinya karena keluarga, harta, keturunan, atau keistimewaan, tetapi dia adalah seorang pria yang tegas, pendiam, panjang dalam berfikir, mendalam pandangannya. Dia tidak pernah tidur siang sekalipun, tidak seorang pun melihatnya meludah, berdeham, buang air kecil, buang air besar, mandi, main-main, atau tertawa. Dia tidak pernah mengulangi perkataan yang telah diucapkannya kecuali jika itu adalah hikmah yang diminta seseorang untuk diulanginya. Dia pernah menikah dan dikaruniai anak-anak, lalu mereka meninggal tetapi dia tidak menangisi mereka. Dia biasa menghadiri penguasa, mendatangi para hakim untuk melihat, berfikir, dan mengambil pelajaran. Dengan itulah dia diberi apa yang diberinya.

Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa kenabian ditawarkan kepadanya, namun dia khawatir tidak mampu menanggung bebannya, maka dia memilih hikmah karena lebih mudah baginya. Dalam hal ini masih perlu dipertimbangkan. Wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui). Ini diriwayatkan dari Qatadah sebagaimana akan kami sebutkan.

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Waki’ dari Isra’il dari Jabir Al-Ju’fi dari Ikrimah bahwa ia berkata: Luqman adalah seorang nabi. Ini lemah karena keadaan Al-Ju’fi. Yang masyhur dari jumhur bahwa dia adalah seorang hakim yang wali, dan bukan seorang nabi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkannya dalam Al-Qur’an, memujinya, dan mengisahkan perkataannya dalam nasihat yang diberikannya kepada anaknya yang merupakan makhluk paling dicintainya dan orang yang paling menyayanginya. Maka termasuk nasihat pertama yang diberikannya adalah ketika ia berkata: Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Luqman: 13). Dia melarangnya dari syirik dan memperingatkannya darinya.

Al-Bukhari telah berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah, ia berkata: Ketika turun ayat Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (Al-An’am: 82), hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka berkata: Siapa di antara kami yang tidak mencampuradukkan imannya dengan kezaliman? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya itu bukan seperti itu. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman: “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13). Dan Muslim meriwayatkannya dari hadits Sulaiman bin Mihran Al-A’masy dengannya.

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyela dengan wasiat kepada kedua orang tua, menjelaskan hak keduanya atas anak, penekanannya, dan perintah untuk berbuat baik kepada keduanya bahkan jika keduanya musyrik, tetapi tidak boleh menaati keduanya untuk masuk dalam agama keduanya, hingga Allah berfirman mengabarkan tentang Luqman dalam nasihatnya kepada anaknya: Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut, Mahateliti. Dia melarangnya dari menzalimi manusia walaupun seberat biji sawi, karena Allah akan menanyakannya dan menghadirkannya di arena hisab, dan meletakkannya dalam timbangan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya sesiapa pun walaupun seberat atom (An-Nisa: 40). Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dirugikan walau sedikit. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, niscaya Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (Al-Anbiya: 47).

Dan dia mengabarkan kepada anaknya bahwa kezaliman ini sekalipun sekecil biji sawi, dan sekalipun berada di dalam batu yang padat tanpa pintu dan tanpa lubang, atau jatuh dalam kegelapan bumi atau langit dengan keluasan dan kejauhan sudut-sudutnya, maka Allah mengetahui tempatnya. Sesungguhnya Allah Mahalembut, Mahateliti. Artinya ilmu-Nya sangat halus sehingga tidak tersembunyi dari-Nya partikel-partikel kecil yang terlihat oleh mata atau yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata. (Al-An’am: 59). Dan firman-Nya: Dan tidak ada sesuatu yang tersembunyi di langit dan di bumi melainkan (terdapat) dalam Kitab yang nyata. (An-Naml: 75). Dan firman-Nya: Mengetahui yang gaib, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat atom pun di langit dan di bumi, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak (pula) yang lebih besar, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata. (Saba’: 3).

As-Suddi telah menyebutkan dalam kabarnya dari para sahabat bahwa yang dimaksud dengan batu ini adalah batu yang berada di bawah tujuh lapis bumi. Demikian juga diriwayatkan dari Athiyyah Al-Aufi, Abu Malik, Ats-Tsauri, Al-Minhal bin Amr dan lain-lain. Namun dalam kebenaran pendapat ini dari asalnya perlu dipertimbangkan, kemudian bahwa inilah yang dimaksud juga perlu dipertimbangkan lagi. Karena ayat ini berbentuk nakirah (kata benda tak tentu) bukan ma’rifah (kata benda tertentu). Seandainya yang dimaksud adalah apa yang mereka katakan, niscaya akan dikatakan: “maka berada di dalam batu tersebut”. Sesungguhnya yang dimaksud adalah “maka berada dalam sebuah batu”, batu mana pun itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, Darraj menceritakan kepada kami dari Abu Al-Haitsam dari Abu Said Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Seandainya salah seorang dari kalian beramal di dalam batu yang padat yang tidak memiliki pintu dan tidak memiliki lubang, niscaya amalnya akan keluar kepada manusia bagaimanapun keadaannya.

Kemudian Allah berfirman: Wahai anakku! Laksanakanlah salat. Artinya tunaikanlah dengan semua kewajiban-kewajibannya berupa batasan-batasannya, waktu-waktunya, ruku’nya, sujudnya, tuma’ninah-nya, khusyu’nya dan apa yang disyariatkan padanya, serta hindarilah apa yang dilarang padanya. Kemudian dia berkata: Dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar. Artinya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupanmu. Artinya jika mampu dengan tangan maka dengan tangan, jika tidak maka dengan lisanmu, jika tidak mampu maka dengan hatimu. Kemudian dia memerintahkannya dengan kesabaran, maka berkata: Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Itu karena orang yang menyuruh yang makruf dan melarang yang mungkar berada dalam posisi yang akan dimusuhi dan akan mendapat gangguan, tetapi baginya ada akibat yang baik. Oleh karena itu dia memerintahkannya dengan kesabaran atas hal itu. Dan sudah diketahui bahwa akibat kesabaran adalah kelapangan. Dan firman-Nya: Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Artinya perintahmu dengan yang makruf, laranganmu dari yang mungkar, dan kesabaranmu atas gangguan termasuk perkara-perkara penting yang tidak bisa tidak darinya dan tidak bisa menghindar darinya.

Dan firman-Nya: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong). Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, Ad-Dahhak, Yazid bin Al-Asham, Abu Al-Jauza, dan banyak lainnya berkata: Maknanya adalah jangan sombong terhadap manusia dan memalingkan pipimu saat berbicara kepada mereka dan saat mereka berbicara kepadamu dengan cara sombong terhadap mereka dan meremehkan mereka. Ahli bahasa berkata: Asal kata ash-sha’ar adalah penyakit yang menimpa unta pada lehernya sehingga kepalanya menjadi bengkok, maka hal ini diserupakan dengan orang yang sombong yang memalingkan wajahnya ketika berbicara kepada manusia atau mereka berbicara kepadanya dengan cara membesarkan diri atas mereka.

Abu Thalib berkata dalam syairnya: Dan kami dahulu tidak membiarkan kezaliman Ketika mereka memalingkan pipi dengan sombong, kami meluruskannya

Dan Amr bin Hani At-Taghlibi berkata: Dan kami dahulu, jika orang yang zalim memalingkan pipinya Kami meluruskan baginya dari kemiringannya hingga lurus

Dan firman-Nya: Dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dia melarangnya dari berjalan dengan sombong dengan cara membesarkan diri dan berbangga atas manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung. (Al-Isra: 37). Artinya: dengan cepatnya jalanmu, kamu tidak bisa memotong negeri-negeri dengan jalanmu ini, dan kamu tidak bisa dengan menghentakkan bumi dengan kakimu membuat bumi terbenam dengan pijakanmu di atasnya, dan kamu tidak bisa dengan tinggi hatimu, membesarkan dirimu, dan meninggikanmu mencapai setinggi gunung. Maka tenangkanlah dirimu, karena kamu tidak melampaui kadarmu.

Dan telah tetap dalam hadits: Ketika seorang pria berjalan dengan dua selendangnya sambil berjalan dengan sombong dengan keduanya, maka Allah membenamkan dia ke dalam bumi, maka dia bergoyang-goyang di dalamnya hingga hari kiamat. Dan dalam hadits yang lain: Jauhilah menjulurkan kain, karena sesungguhnya hal itu termasuk kesombongan, dan kesombongan tidak disukai Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat ini: Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan ketika dia melarangnya dari sombong dalam berjalan, dia memerintahkannya dengan pertengahan padanya, karena dia pasti akan berjalan. Maka dia melarangnya dari kejelekan dan memerintahkannya dengan kebaikan, maka Allah berfirman: Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu. Artinya jangan terlalu lambat secara berlebihan dan jangan terlalu cepat secara berlebihan, tetapi pertengahan antara keduanya dengan wajar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu (ialah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” (Al-Furqan: 63).

Kemudian Allah berfirman: Dan lunakkanlah suaramu. Artinya jika kamu berbicara maka jangan memaksakan meninggikan suaramu, karena sesungguhnya suara yang paling tinggi dan paling mungkar adalah suara keledai.

Dan telah tetap dalam Shahihain perintah untuk beristiadhah (memohon perlindungan kepada Allah) ketika mendengar suara keledai di malam hari karena sesungguhnya dia telah melihat setan. Oleh karena itu dilarang meninggikan suara di tempat yang tidak ada kebutuhan kepadanya, terutama saat bersin, maka disunahkan merendahkan suara dan menutup wajah, sebagaimana telah tetap dalam hadits dari perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Adapun meninggikan suara dengan adzan, saat menyeru pasukan untuk berperang, saat berihram, dan semacam itu, maka itu disyariatkan.

Inilah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kisahkan tentang Luqman alaihissalam dalam Al-Qur’an berupa hikmah, nasihat, dan wasiat-wasiat yang bermanfaat yang mencakup kebaikan dan mencegah dari keburukan. Dan telah datang atsar-atsar (riwayat) yang banyak dalam berita-beritanya dan nasihat-nasihatnya. Dan dahulu dia memiliki sebuah kitab yang diriwayatkan darinya yang disebut dengan Hikmah Luqman. Dan kami akan menyebutkan dari itu apa yang dimudahkan, insya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq, telah memberitakan kepada kami Ibnu Mubarak, telah memberitakan kepada kami Sufyan, telah mengabarkan kepadaku Nahsyal bin Mujma’ Ad-Dabbi dari Qaza’ah dari Ibnu Umar, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Luqman Al-Hakim biasa berkata: Sesungguhnya Allah jika menitipkan sesuatu, Dia akan menjaganya.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyajj, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Al-Auza’i dari Musa bin Sulaiman dari Al-Qasim bin Mukhaimirah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Luqman berkata kepada anaknya ketika menasihatinya: Wahai anakku, jauhilah menutup kepala; karena hal itu menakutkan di malam hari dan merendahkan di siang hari.”

Ia juga berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amru bin Utsman, telah menceritakan kepada kami Damrah, telah menceritakan kepada kami As-Sirri bin Yahya, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, sesungguhnya hikmah telah mendudukkan orang-orang miskin di tempat duduk para raja.” Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman, telah memberitakan kepada kami Ibnu Mubarak, telah memberitakan kepada kami Abdurrahman Al-Mas’udi dari Aun bin Abdullah, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jika engkau datang ke perkumpulan suatu kaum, maka lemparlah mereka dengan anak panah Islam – maksudnya salam – kemudian duduklah di sudut mereka, jangan berbicara hingga engkau melihat mereka telah berbicara. Jika mereka berbicara dalam zikir kepada Allah, maka lepaskan anak panahmu bersama mereka. Dan jika mereka berbicara tentang selain itu, maka berpindahlah dari mereka kepada yang lain.” Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amru bin Utsman, telah menceritakan kepada kami Damrah dari Hafsh bin Umar, ia berkata: Luqman meletakkan sekarung biji sesawi di sisinya, dan ia mulai menasihati anaknya dengan suatu nasihat dan mengeluarkan sebutir biji sesawi hingga biji sesawi itu habis. Lalu ia berkata: “Wahai anakku, sungguh aku telah menasihatimu dengan nasihat yang jika dinasihati kepada gunung niscaya gunung itu akan terbelah.” Ia berkata: Maka anaknya pun terbelah (hatinya).

Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Baqi Al-Mishshi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abdurrahman Ath-Thara’ifi, telah menceritakan kepada kami Abyan bin Sufyan Al-Maqdisi dari Khalifah bin Salaam dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah orang-orang Sudan (berkulit hitam), karena tiga orang dari mereka termasuk pemimpin penghuni surga; Luqman Al-Hakim, An-Najasyi, dan Bilal sang muazin.” Ath-Thabrani berkata: Maksudnya orang Habasyah. Dan ini adalah hadits ganjil bahkan mungkar.

Imam Ahmad menyebutkan riwayat hidupnya dalam kitab Az-Zuhd, ia menyebutkan di dalamnya faidah-faidah penting dan mutiara-mutiara yang banyak, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari seorang laki-laki dari Mujahid “Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Luqman hikmah” (QS. Luqman: 12), ia berkata: Pemahaman dan ketepatan tanpa kenabian. Demikian juga diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih.

Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Asy’ats dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Luqman adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah.

Telah menceritakan kepada kami Aswad, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa Luqman adalah seorang penjahit.

Telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada kami Ja’far, telah menceritakan kepada kami Malik – yaitu – Ibnu Dinar, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jadikanlah ketaatan kepada Allah sebagai perdagangan; maka keuntungan akan datang kepadamu tanpa modal.”

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Asyhab dari Muhammad bin Wasi’, ia berkata: Luqman biasa berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dan jangan perlihatkan kepada orang-orang bahwa engkau takut kepada Allah agar mereka menghormatimu karena itu sedangkan hatimu bejat.”

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dan Waki’, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Asyhab dari Khalid Ar-Rib’i, ia berkata: Luqman adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah, seorang tukang kayu. Tuannya berkata kepadanya: “Sembelihkan seekor kambing untukku.” Maka ia menyembelih seekor kambing untuknya. Kemudian tuannya berkata: “Bawalah untukku dua bagian yang paling enak darinya.” Maka ia membawa lidah dan hati. Tuannya berkata: “Apakah tidak ada yang lebih enak dari keduanya?” Ia menjawab: “Tidak.” Ia berkata: Maka tuannya diam beberapa waktu, kemudian berkata kepadanya: “Sembelihkan seekor kambing untukku.” Maka ia menyembelih seekor kambing untuknya. Kemudian tuannya berkata: “Buanglah dua bagian yang paling buruk darinya.” Maka ia membuang lidah dan hati. Tuannya berkata: “Aku menyuruhmu membawa dua bagian yang paling enak; maka engkau membawa lidah dan hati, dan aku menyuruhmu membuang dua bagian yang paling buruk; maka engkau membuang lidah dan hati.” Ia berkata: “Sesungguhnya tidak ada yang lebih enak dari keduanya jika keduanya baik dan tidak ada yang lebih buruk dari keduanya jika keduanya buruk.”

Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rasyid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Abu Utsman, seorang laki-laki dari penduduk Bashrah yang disebut Al-Ja’d Abu Utsman, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Jangan berharap kepada persahabatan orang bodoh, maka ia akan menyangka bahwa engkau menyetujui perbuatannya, dan jangan meremehkan kebencian orang bijak, maka ia akan tidak tertarik padamu.”

Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rasyid, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy dari Damdam bin Zur’ah dari Syuraih bin Ubaid Al-Hadhrami dari Abdullah bin Zaid, ia berkata: Luqman berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya tangan Allah berada di atas mulut para ahli hikmah, tidak ada seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali apa yang Allah siapkan untuknya.”

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, aku mendengar Ibnu Juraij berkata: Aku biasa menutup kepalaku di malam hari, maka Amru berkata kepadaku: Tidakkah engkau tahu bahwa Luqman berkata: “Menutup kepala di siang hari adalah kehinaan, uzur atau ia berkata kekurangan di malam hari, maka mengapa engkau menutup kepalamu di malam hari?” Ia berkata: Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya Luqman tidak mempunyai utang. Telah menceritakan kepadaku Hasan bin Al-Junaid, telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku tidak pernah menyesal karena diam, dan jika berbicara itu dari perak maka diam itu dari emas.”

Telah menceritakan kepada kami Abdush-Shamad dan Waki’, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Asyhab dari Qatadah bahwa Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, menjauh dari kejahatan, maka ia akan menjauhimu, karena sesungguhnya kejahatan itu diciptakan untuk kejahatan.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata: Ditulis dalam kitab hikmah: “Wahai anakku, jauhilah tamak, karena tamak setiap tamak menjauhkan orang dekat dari orang dekat, dan menghilangkan kesabaran sebagaimana kegirangan menghilangkannya. Wahai anakku, jauhilah kemarahan yang keras, karena sesungguhnya kemarahan yang keras merusak hati orang bijak.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar dari Ibnu Abi Mulaikah dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya ketika menasihatinya: “Wahai anakku, pilihlah majelis-majelis dengan matamu, jika engkau melihat majelis yang di dalamnya disebut nama Allah Azza wa Jalla maka duduklah bersama mereka. Jika engkau seorang yang berilmu, ilmumu akan bermanfaat bagimu, dan jika engkau bodoh mereka akan mengajarimu, dan jika Allah melihat mereka dengan rahmat, engkau akan mendapatkannya bersama mereka. Wahai anakku, jangan duduk di majelis yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, karena jika engkau seorang yang berilmu, ilmumu tidak akan bermanfaat bagimu, dan jika engkau bodoh mereka akan menambah kebodohanmu, dan jika Allah melihat mereka setelah itu dengan kemurkaan, engkau akan mendapatkannya bersama mereka. Wahai anakku, jangan iri terhadap seorang laki-laki yang luas tangannya yang menumpahkan darah orang-orang mukmin, karena baginya di sisi Allah ada pembunuh yang tidak mati.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata: Ditulis dalam kitab hikmah: “Anakku, hendaklah ucapanmu baik, dan hendaklah wajahmu berseri-seri, niscaya engkau akan lebih dicintai oleh manusia daripada orang yang memberi mereka pemberian.” Dan ia berkata: Ditulis dalam kitab hikmah atau dalam Taurat: “Kelembutan adalah kepala hikmah.” Dan ia berkata: Ditulis dalam Taurat: “Sebagaimana kalian merahmati, kalian akan dirahmati.” Dan ia berkata: Ditulis dalam kitab hikmah: “Sebagaimana kalian menanam, kalian akan menuai.” Dan ia berkata: Ditulis dalam kitab hikmah: “Cintailah teman dekatmu, dan teman dekat ayahmu.”

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Ayyub dari Abu Qilabah, ia berkata: Dikatakan kepada Luqman: “Siapa manusia yang paling sabar?” Ia menjawab: “Kesabaran yang tidak diikuti dengan menyakiti.” Dikatakan: “Siapa manusia yang paling berilmu?” Ia menjawab: “Orang yang menambah ilmu manusia ke ilmunya.” Dikatakan: “Siapa manusia yang paling baik?” Ia menjawab: “Yang kaya.” Dikatakan: “Kaya dari harta?” Ia menjawab: “Tidak, tetapi yang kaya adalah yang jika dicari kebaikan padanya ia ditemukan, dan jika tidak, ia menjaga dirinya dari manusia.”

Telah menceritakan kepada kami Sufyan – yaitu Ibnu Uyainah – ia berkata: Dikatakan kepada Luqman: “Siapa manusia yang paling buruk?” Ia menjawab: “Yang tidak peduli jika manusia melihatnya berbuat buruk.” Telah menceritakan kepada kami Abu Abdush-Shamad dari Malik bin Dinar, ia berkata: Aku menemukan dalam sebagian kitab hikmah: “Allah akan menghancurkan tulang-tulang orang-orang yang berbicara sesuai hawa nafsu manusia.” Dan aku menemukan di dalamnya: “Tidak ada kebaikan bagimu dalam mempelajari apa yang belum engkau pelajari, padahal engkau belum mengamalkan apa yang telah engkau pelajari; karena sesungguhnya perumpamaan itu seperti seorang laki-laki yang mencari kayu bakar lalu mengikat satu ikatan, kemudian ia pergi membawanya tetapi ia lemah untuk membawanya lalu ia menambah ikatan yang lain.”

Abdullah bin Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Abi Zuhair – yaitu Al-Hakam bin Musa – telah menceritakan kepada kami Al-Faraj bin Fadhalah dari Abu Sa’id, ia berkata: Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jangan ada yang memakan makananmu kecuali orang-orang bertakwa, dan mintalah nasihat dalam urusanmu kepada para ulama.”

Ini adalah ringkasan apa yang disebutkan Imam Ahmad di tempat-tempat ini. Kami telah menyebutkan sebelumnya banyak riwayat yang tidak ia riwayatkan sebagaimana ia menyebutkan hal-hal yang tidak ada pada kami. Dan Allah Maha Mengetahui.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Yahya bin Ubaid Al-Khuza’i, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Basyir dari Qatadah, ia berkata: Allah memberi pilihan kepada Luqman Al-Hakim antara kenabian dan hikmah, maka ia memilih hikmah daripada kenabian. Ia berkata: Maka Jibril datang kepadanya ketika ia sedang tidur lalu menaburkan hikmah kepadanya. Ia berkata: Maka ia bangun berbicara dengannya. Sa’id berkata: Maka aku mendengar Qatadah berkata: Dikatakan kepada Luqman: “Bagaimana engkau memilih hikmah daripada kenabian padahal Tuhanmu telah memberimu pilihan?” Maka ia berkata: “Sesungguhnya jika Dia mengirim kepadaku kenabian sebagai kewajiban, aku mengharap darinya untuk berhasil darinya, dan aku mengharap agar aku mampu melaksanakannya, tetapi Dia memberi aku pilihan, maka aku takut akan lemah dalam kenabian, maka hikmah lebih aku cintai.” Dan ini perlu dipertimbangkan karena Sa’id bin Basyir dari Qatadah telah dipermasalahkan. Adapun yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dalam firman-Nya “Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Luqman hikmah” (QS. Luqman: 12), ia berkata: Maksudnya pemahaman dalam Islam, dan ia bukan seorang nabi, dan tidak diwahyukan kepadanya. Demikian juga ditegaskan oleh lebih dari satu orang dari Salaf, di antara mereka Mujahid, Sa’id bin Al-Musayyab, dan Ibnu Abbas. Dan Allah Maha Mengetahui.

Kisah Ashhabul Ukhdud

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan, binasalah Ashhabul Ukhdud, (yaitu) api yang mempunyai kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (QS. Al-Buruj: 1-10). Kami telah membahas hal itu secara lengkap dalam tafsir surah ini, segala puji bagi Allah. Muhammad bin Ishaq berpendapat bahwa mereka ada setelah diutusnya Al-Masih (Isa ‘alaihissalam), dan yang lain menyelisihinya, mereka berpendapat bahwa mereka ada sebelum beliau. Telah disebutkan oleh lebih dari seorang bahwa perbuatan ini terulang di dunia berkali-kali terhadap orang-orang mukmin dari para penguasa kafir yang zalim. Tetapi mereka yang disebutkan dalam Al-Qur’an telah datang tentang mereka hadits marfu’ dan atsar yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq, keduanya saling bertentangan, dan ini kami sebutkan keduanya agar engkau mengetahuinya.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu ada seorang raja di antara orang-orang sebelum kalian, dan ia mempunyai seorang penyihir. Ketika penyihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja: Sesungguhnya aku sudah tua dan ajalku sudah dekat, maka serahkan kepadaku seorang anak muda agar aku mengajarinya sihir. Maka raja menyerahkan kepadanya seorang anak muda, lalu ia mengajarinya sihir. Ada seorang rahib antara raja dan penyihir. Anak muda itu melewati rahib tersebut lalu ia mendengar ucapannya dan ia kagum dengan caranya dan ucapannya. Jika ia datang kepada penyihir, penyihir memukulnya dan berkata: Apa yang menahanmu, dan jika ia datang kepada keluarganya, mereka memukulnya dan berkata: Apa yang menahanmu. Maka ia mengadu hal itu kepada rahib, lalu rahib berkata: Jika penyihir hendak memukulmu, katakan: Keluargaku yang menahanku, dan jika keluargamu hendak memukulmu, katakan: Penyihir yang menahanku.”

“Ia berkata: Ketika ia berada di suatu hari, tiba-tiba ia melewati binatang yang sangat besar dan mengerikan yang telah menghalangi manusia sehingga mereka tidak bisa melewatinya. Maka ia berkata: Hari ini aku akan tahu, apakah urusan penyihir lebih dicintai oleh Allah ataukah urusan rahib. Ia berkata: Lalu ia mengambil batu dan berkata: Ya Allah, jika urusan rahib lebih Engkau cintai dan lebih Engkau ridhai daripada urusan penyihir, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa lewat, dan ia melemparnya lalu membunuhnya, kemudian berlalu dan mengabarkan hal itu kepada rahib. Maka rahib berkata: Wahai anakku, engkau lebih utama dariku, dan sesungguhnya engkau akan diuji, maka jika engkau diuji, jangan tunjukkan aku. Anak muda itu menyembuhkan orang buta, orang berkusta, dan berbagai penyakit lainnya serta menyembuhkan mereka.”

“Ada seorang teman raja yang buta, ia mendengar tentang anak muda itu lalu ia datang kepadanya dengan banyak hadiah. Ia berkata: Sembuhkan aku dan bagimu semua yang ada di sini. Maka anak muda itu berkata: Aku tidak menyembuhkan siapa pun, sesungguhnya hanya Allah Azza wa Jalla yang menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada-Nya, dan aku berdoa kepada Allah, Dia akan menyembuhkanmu. Maka ia beriman, lalu ia berdoa kepada Allah dan Allah menyembuhkannya. Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di dekatnya seperti biasa. Maka raja berkata kepadanya: Wahai fulan, siapa yang mengembalikan penglihatanmu? Ia berkata: Tuhanku. Raja berkata: Aku? Ia berkata: Tidak, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Raja berkata: Apakah engkau punya tuhan selain aku? Ia berkata: Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Maka raja terus menyiksanya hingga ia menunjukkan anak muda itu. Maka anak muda itu didatangkan kepadanya. Ia berkata: Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat engkau menyembuhkan orang buta, orang berkusta, dan penyakit-penyakit ini. Anak muda itu berkata: Aku tidak menyembuhkan siapa pun, sesungguhnya hanya Allah Azza wa Jalla yang menyembuhkan. Raja berkata: Aku? Ia berkata: Tidak. Raja berkata: Apakah engkau punya tuhan selain aku? Ia berkata: Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Maka ia menyiksanya juga, dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan rahib itu. Maka rahib didatangkan dan dikatakan kepadanya: Kembalilah dari agamamu. Ia menolak, maka gergaji diletakkan di tengah kepalanya hingga terbelah dua. Dikatakan kepada orang buta itu: Kembalilah dari agamamu. Ia menolak, maka gergaji diletakkan di tengah kepalanya hingga terbelah dua.”

“Dikatakan kepada anak muda itu: Kembalilah dari agamamu. Ia menolak, maka ia dikirim bersama beberapa orang ke gunung tertentu, dan raja berkata: Jika kalian sampai di puncaknya, jika ia kembali dari agamanya atau jika tidak maka jatuhkan dia. Maka mereka pergi bersamanya, ketika mereka naik ke gunung, ia berkata: Ya Allah, cukupkanlah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. Maka gunung berguncang pada mereka lalu mereka semua jatuh, dan anak muda itu datang berjalan hingga masuk menemui raja. Maka raja berkata: Apa yang terjadi dengan teman-temanmu? Ia berkata: Allah telah mencukupkanku dari mereka. Maka raja mengirimnya bersama beberapa orang di perahu dan berkata: Jika kalian sampai ke tengah laut, jika ia kembali dari agamanya atau jika tidak maka tenggelamkan dia di laut. Maka mereka berlayar bersamanya ke tengah laut, lalu anak muda itu berkata: Ya Allah, cukupkanlah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. Maka mereka semua tenggelam, dan anak muda itu datang hingga masuk menemui raja. Maka raja berkata: Apa yang terjadi dengan teman-temanmu? Ia berkata: Allah telah mencukupkanku dari mereka.”

Kemudian ia berkata kepada raja: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan, maka engkau akan dapat membunuhku, dan jika tidak, maka engkau tidak akan mampu membunuhku.” Raja bertanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Kumpulkanlah manusia di satu dataran, lalu salibkan aku di sebatang pohon, dan ambillah anak panah dari tempat panahku, kemudian katakanlah: ‘Dengan nama Allah, Tuhan sang anak muda.’ Jika engkau melakukan itu, maka engkau akan dapat membunuhku.” Maka raja melakukannya, meletakkan anak panah pada busur, lalu melepaskannya sambil berkata: “Dengan nama Allah, Tuhan sang anak muda.” Anak panah itu mengenai pelipisnya, lalu anak muda itu meletakkan tangannya di tempat anak panah itu dan meninggal. Maka orang-orang berkata: “Kami beriman kepada Tuhan sang anak muda.” Dikatakan kepada raja: “Tahukah engkau apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, hal itu telah menimpamu, semua orang telah beriman.” Maka ia memerintahkan agar parit-parit digali di ujung-ujung jalan, dan api dinyalakan di dalamnya. Ia berkata: “Barangsiapa yang kembali dari agamanya, maka biarkanlah, dan jika tidak, maka campakkanlah ia ke dalamnya.” Mereka saling berlari dan saling mendorong ke dalamnya. Datanglah seorang wanita dengan anaknya yang masih menyusu, seakan-akan ia ragu-ragu untuk jatuh ke dalam api. Maka bayi itu berkata: “Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Demikianlah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan diriwayatkan juga oleh Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah. An-Nasa’i menambahkan: dan Hammad bin Zaid, keduanya dari Tsabit dengan sanad tersebut. At-Tirmidzi meriwayatkannya dari jalur Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanadnya, dengan redaksi yang sama, dan telah membahas penampilannya sebagaimana kami uraikan dalam kitab Tafsir.

Muhammad bin Ishaq telah mengemukakan kisah ini dengan cara lain. Ia berkata: telah menceritakan kepadaku Yazid bin Ziyad dari Muhammad bin Ka’ab, dan telah menceritakan kepadaku juga sebagian penduduk Najran dari penduduknya, bahwa penduduk Najran adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Di salah satu desa dekat Najran—dan Najran adalah desa besar yang menjadi pusat penduduk negeri itu—ada seorang tukang sihir yang mengajarkan sihir kepada anak-anak penduduk Najran. Ketika Faimiyun—dan mereka tidak menyebutkan namanya dengan nama yang disebutkan oleh Ibnu Munabbih, mereka mengatakan: seorang laki-laki turun ke sana—mendatangi tempat itu, ia mendirikan kemah antara Najran dan desa tempat tukang sihir itu berada. Penduduk Najran mengirim anak-anak mereka kepada tukang sihir itu untuk belajar sihir. Ats-Tsamir mengirim anaknya Abdullah bin Ats-Tsamir bersama anak-anak penduduk Najran. Ketika ia melewati pemilik kemah itu, ia kagum dengan apa yang dilihatnya dari ibadah dan shalatnya. Maka ia mulai duduk bersamanya dan mendengarkan darinya hingga ia masuk Islam, mengesakan Allah dan beribadah kepada-Nya. Ia mulai menanyakan kepadanya tentang syariat-syariat Islam hingga ia memahaminya. Kemudian ia menanyakan kepadanya tentang Ismu Al-A’dham (Nama Allah yang Paling Agung), padahal ia mengetahuinya tetapi merahasiakannya darinya. Ia berkata kepadanya: “Wahai keponakanku, sesungguhnya engkau tidak akan mampu memikulnya, aku khawatir akan kelemahanmu untuk memikulnya.”

Ats-Tsamir, ayah Abdullah, mengira anaknya pergi kepada tukang sihir seperti anak-anak lainnya. Ketika Abdullah melihat bahwa temannya kikir terhadapnya dan khawatir akan kelemahannya, ia mengumpulkan potongan-potongan kayu, kemudian ia menulis setiap nama Allah yang ia ketahui di sebuah potongan kayu, setiap nama di satu potongan, hingga ia mengumpulkan semuanya. Ia menyalakan api, kemudian melemparkannya satu per satu. Ketika sampai pada Ismu Al-A’dham, ia melemparkan potongan kayu itu ke dalamnya, maka potongan kayu itu meloncat hingga keluar darinya tanpa terkena apa-apa. Ia mengambilnya, lalu datang kepada temannya dan memberitahunya bahwa ia telah mengetahui Ismu Al-A’dham yang dirahasiakan darinya. Temannya berkata: “Apa itu?” Ia menjawab: “Begini dan begini.” Temannya berkata: “Bagaimana engkau mengetahuinya?” Ia memberitahukan apa yang ia lakukan. Temannya berkata: “Wahai keponakanku, engkau telah mendapatkannya, maka jagalah untuk dirimu sendiri, dan aku tidak mengira engkau akan melakukannya.”

Abdullah bin Ats-Tsamir, ketika memasuki Najran, tidak menemui seorang pun yang sakit kecuali ia berkata: “Wahai Abdullah, maukah engkau mengesakan Allah, masuk dalam agamaku, dan aku berdoa kepada Allah untukmu agar Ia menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita?” Orang itu menjawab: “Ya.” Maka ia mengesakan Allah, masuk Islam, dan ia berdoa untuknya lalu ia sembuh. Hingga tidak tersisa seorang pun di Najran yang sakit kecuali ia datang kepadanya, mengikutinya dalam urusannya, dan ia berdoa untuknya lalu ia sembuh. Hingga urusannya sampai kepada raja Najran. Raja memanggilnya dan berkata: “Engkau telah merusak penduduk desaku, menyelisihi agamaku dan agama nenek moyangku. Aku akan membuat contoh darimu.” Abdullah berkata: “Engkau tidak akan mampu melakukan itu.” Maka raja mengirimkannya ke gunung tinggi lalu melemparkannya dari atasnya, tetapi ia jatuh ke tanah tanpa ada cedera apa-apa. Raja mengirimnya ke mata air di Najran yang dalam, dimana apa pun yang dilemparkan ke dalamnya pasti binasa, lalu ia dilemparkan ke dalamnya tetapi ia keluar tanpa ada cedera apa-apa. Ketika raja kewalahan, Abdullah bin Ats-Tsamir berkata kepadanya: “Sesungguhnya demi Allah engkau tidak akan mampu membunuhku sampai engkau mengesakan Allah dan beriman dengan apa yang aku imani. Jika engkau melakukan itu, engkau akan diberi kuasa atasku lalu engkau membunuhku.” Maka raja itu mengesakan Allah dan mengucapkan kesaksian Abdullah bin Ats-Tsamir, kemudian memukulnya dengan tongkat di tangannya dan melukainya dengan luka yang tidak besar lalu membunuhnya. Raja itu meninggal di tempatnya, dan semua penduduk Najran berkumpul di atas agama Abdullah bin Ats-Tsamir. Ia berada di atas apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam dari Injil dan hukumnya. Kemudian mereka tertimpa apa yang menimpa penganut agama mereka dari peristiwa-peristiwa yang baru. Dari sanalah asal agama Nasrani di Najran.

Ibnu Ishaq berkata: Inilah hadits Muhammad bin Ka’ab dan sebagian penduduk Najran tentang Abdullah bin Ats-Tsamir, maka Allah yang lebih mengetahui yang mana yang benar. Ia berkata: Maka Dzu Nuwas berjalan menuju mereka dengan pasukannya dan menyeru mereka kepada agama Yahudi, dan memberi mereka pilihan antara itu atau dibunuh. Mereka memilih dibunuh, maka ia menggali parit-parit, membakar dengan api, membunuh dengan pedang, dan menyiksa mereka. Ia membunuh dari mereka hampir dua puluh ribu orang. Tentang Dzu Nuwas dan pasukannya, Allah menurunkan kepada Rasul-Nya: “Binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang mempunyai kayu bakar…” sampai akhir ayat-ayat. Ini menunjukkan bahwa kisah ini berbeda dari apa yang terdapat dalam riwayat Muslim.

Sebagian dari mereka mengira bahwa parit terjadi di dunia ini berkali-kali, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim: telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah memberitakan kepada kami Shafwan dari Abdurrahman bin Jubair, ia berkata: Parit-parit itu ada di Yaman pada zaman Tubba’, di Konstantinopel pada zaman Konstantinus ketika ia mengalihkan kiblat orang-orang Nasrani dari agama Al-Masih dan tauhid, membuat tungku, dan melemparkan ke dalamnya orang-orang Nasrani yang berada di atas agama Al-Masih dan tauhid. Dan di Irak di tanah Babil pada zaman Bukhtanashshar ketika ia membuat patung dan memerintahkan manusia untuk bersujud kepadanya. Daniel dan dua temannya Azarya dan Misyail menolak, maka ia menyalakan tungku untuk mereka, melemparkan kayu bakar dan api ke dalamnya, kemudian melemparkan mereka ke dalamnya. Maka Allah menjadikannya dingin dan sejahtera bagi mereka, menyelamatkan mereka darinya, dan melemparkan ke dalamnya orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka, yaitu sembilan orang, maka api memakan mereka.

Asbath berkata dari As-Suddi tentang firman-Nya: “Binasalah orang-orang yang membuat parit”, ia berkata: Parit itu ada tiga, parit di Syam, parit di Irak, dan parit di Yaman. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Aku telah menjelaskan secara lengkap tentang Ashabul Ukhdud dan pembahasan tafsirnya dalam Surah Al-Buruj dari kitab kami “Tafsir”, dan segala puji dan karunia bagi Allah.

Penjelasan tentang Izin Meriwayatkan dari Berita-berita Bani Israil

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdush-Shamad, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Zaid dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al-Khudri semoga Allah meridhainya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Ceritakanlah dariku dan jangan berdusta atasku. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka. Dan ceritakanlah tentang Bani Israil, tidak mengapa.”

Imam Ahmad juga berkata: telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah memberitakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jangan menulis dariku sesuatu selain Al-Quran. Barangsiapa menulis dariku sesuatu selain Al-Quran, maka hapuskanlah.” Dan beliau bersabda: “Ceritakanlah tentang Bani Israil, tidak mengapa. Ceritakanlah dariku dan jangan berdusta atasku.” Ia berkata: “Dan barangsiapa berdusta atasku”—Hammam berkata: aku mengira ia berkata “dengan sengaja”—“maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” Demikian diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammam. Abu Awanah Al-Isfarayini meriwayatkannya dari Abu Dawud As-Sijistani dari Hudbah dari Hammam dari Zaid bin Aslam dengannya. Kemudian ia berkata: Abu Dawud berkata: Hammam salah dalam hal ini, dan itu adalah perkataan Abu Sa’id. Demikian katanya. At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Sufyan dari Waki’ dari Sufyan bin Uyainah dari Zaid bin Aslam dengan sebagiannya secara marfu’, maka Allah yang lebih mengetahui.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah memberitakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepada kami Hassan bin Athiyyah, telah menceritakan kepadaku Abu Kabsyah As-Sululi bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash telah menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil tidak mengapa, dan barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” Ahmad juga meriwayatkannya dari Abdullah bin Numair dan Abdur Razzaq, keduanya dari Al-Auza’i dengannya. Demikian pula Al-Bukhari meriwayatkannya dari Abu Ashim An-Nabil dari Al-Auza’i dengannya. At-Tirmidzi juga meriwayatkannya dari Bundar dari Abu Ashim. Kemudian ia meriwayatkannya dari Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dari Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi dari Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin Athiyyah dengannya. Dan ia berkata: hasan shahih.

Abu Bakar Al-Bazzar berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna Abu Musa, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku dari Qatadah dari Abu Hassan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami sebagian besar malamnya tentang Bani Israil hingga pagi hari, beliau tidak berdiri kecuali untuk shalat yang penting. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Al-Mutsanna. Kemudian Al-Bazzar berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal dari Qatadah dari Abu Hassan dari Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami sebagian besar malamnya tentang Bani Israil, beliau tidak berdiri kecuali untuk shalat yang penting. Al-Bazzar berkata: Hisyam lebih hafal daripada Abu Hilal. Maksudnya bahwa yang benar adalah dari Abdullah bin Amr, bukan dari Imran bin Hushain. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Al-Qaththan dari Muhammad bin Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ceritakanlah tentang Bani Israil, tidak mengapa.” Sanadnya shahih, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sa’d Al-Ja’fi dari Abdurrahman bin Sabit dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ceritakanlah tentang Bani Israil, karena sesungguhnya telah terjadi di kalangan mereka hal-hal yang menakjubkan.” Kemudian beliau mulai bercerita shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Keluarlah sekelompok dari Bani Israil hingga mereka sampai ke salah satu pemakaman mereka. Mereka berkata: ‘Seandainya kita shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan untuk kita seorang laki-laki yang telah meninggal untuk kita tanyai, ia menceritakan kepada kita tentang kematian.’ Maka mereka melakukannya. Tiba-tiba seorang laki-laki menampakkan kepalanya dari salah satu kuburan itu, di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Ia berkata: ‘Wahai kalian, apa yang kalian inginkan dariku? Aku telah meninggal sejak seratus tahun yang lalu, dan panasnya kematian tidak hilang dariku hingga sekarang. Maka berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikanku seperti semula.'” Ini adalah hadits yang gharib.

Jika telah ditetapkan kebolehan meriwayatkan dari mereka, maka itu diartikan pada apa yang mungkin benar. Adapun apa yang diketahui atau diduga kebatilannya karena menyelisihi kebenaran yang ada pada kita dari yang maksum (Nabi), maka itu ditinggalkan dan ditolak, tidak diperhatikan. Kemudian dengan semua ini, tidaklah wajib dari bolehnya meriwayatkannya bahwa kita meyakini kebenarannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Mubarak dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata: Ahli Kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dalam bahasa Arab untuk penganut Islam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan membenarkan Ahli Kitab dan jangan mendustakan mereka, dan katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami…'” (QS. Al-Baqarah: 136). Hanya Al-Bukhari yang menyendiri meriwayatkannya dari jalur ini.

Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Az-Zuhri dari Abu Numlah Al-Anshari dari ayahnya bahwa ia sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Yahudi lalu berkata: “Wahai Muhammad, apakah jenazah ini berbicara?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah yang lebih mengetahui.” Orang Yahudi itu berkata: “Aku bersaksi bahwa ia berbicara.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika Ahli Kitab menceritakan kepada kalian, maka jangan membenarkan mereka dan jangan mendustakan mereka, dan katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.’ Jika itu benar, kalian tidak mendustakan mereka, dan jika itu batil, kalian tidak membenarkan mereka.” Hanya Ahmad yang menyendiri meriwayatkannya.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Syuraih bin An-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah memberitakan kepada kami Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar bin Al-Khaththab datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sebuah kitab yang ia peroleh dari sebagian Ahli Kitab, lalu ia membacakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Maka beliau marah dan bersabda: “Apakah kalian bingung tentangnya wahai Ibnu Al-Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan yang putih bersih. Jangan kalian menanyakan sesuatu kepada mereka, lalu mereka memberitakan kepada kalian dengan kebenaran tetapi kalian mendustakannya, atau dengan kebatilan tetapi kalian membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, ia tidak akan mendapat keluasan kecuali mengikutiku.” Hanya Ahmad yang menyendiri meriwayatkannya, dan sanadnya memenuhi syarat Muslim.

Hadits-hadits ini adalah dalil bahwa mereka telah mengubah kitab-kitab samawi yang ada di tangan mereka, mengubahnya, menta’wilkannya, dan meletakkannya bukan pada tempatnya, terutama yang mereka tunjukkan dari kata-kata Arab yang tidak mereka kuasai ilmunya, padahal itu dalam bahasa mereka sendiri, lalu bagaimana mereka mengungkapkannya dengan bahasa lain. Karena alasan inilah, terjadi kesalahan besar dalam penerjemahan mereka, dan banyak kekeliruan, ditambah dengan maksud-maksud buruk dan pendapat-pendapat yang lemah yang mereka miliki. Hal ini dapat dipahami oleh orang yang melihat kitab-kitab mereka yang ada di tangan mereka, dan merenungkan apa yang ada di dalamnya dari buruknya ungkapan, jeleknya penggantian dan pengubahan. Dan Allah tempat meminta pertolongan, Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Taurat yang mereka tunjukkan ini, dan mereka menyembunyikan banyak darinya, dalam apa yang mereka sebutkan di dalamnya terdapat pengubahan, penggantian, perubahan, dan buruknya ungkapan, yang diketahui oleh orang yang melihatnya dan merenungkan apa yang mereka katakan, apa yang mereka tunjukkan, dan apa yang mereka sembunyikan, dan bagaimana mereka menyusun ungkapan yang rusak struktur dan susunannya, batil dari segi makna dan lafaznya. Seperti Ka’ab al-Ahbar yang merupakan salah satu orang paling baik yang dinukil dari mereka, dia telah masuk Islam pada masa Umar dan biasa memindahkan sesuatu dari kitab-kitab Ahli Kitab. Umar radhiyallahu anhu menganggap baik sebagian dari apa yang dia nukil karena membenarkan kebenaran, dan untuk mengarang hatinya. Maka banyak orang yang terlalu luas mengambil apa yang ada padanya, dan dia juga sangat berlebihan dalam memindahkan hal-hal tersebut yang banyak di antaranya tidak bernilai tintanya, sebagiannya batil pasti, dan sebagiannya benar karena dibuktikan oleh kebenaran yang ada di tangan kita.

Al-Bukhari berkata: Dan Abu al-Yaman berkata: Syu’aib menceritakan kepada kami dari az-Zuhri, Humaid bin Abdurrahman memberitahukan kepadaku bahwa dia mendengar Muawiyah menceritakan kepada sekelompok orang Quraisy di Madinah, dan dia menyebut Ka’ab al-Ahbar lalu berkata:_ Sesungguhnya dia termasuk orang yang paling jujur dari para perawi yang meriwayatkan dari Ahli Kitab, meskipun demikian kami mendapati padanya kedustaan _—maksudnya bukan karena kesengajaan darinya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal kitab kalian yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya adalah kitab yang paling baru dari Allah, kalian membacanya murni tidak bercampur? Dan telah diceritakan kepada kalian bahwa Ahli Kitab telah mengubah kitab Allah dan menggantinya, menulis dengan tangan mereka kitab, dan berkata: ini dari Allah, untuk mendapatkan harga yang sedikit dengannya. Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian melarang kalian dari bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah, kami tidak melihat dari mereka seorang pun yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa dia berkata: Jangan bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu karena mereka tidak akan memberi petunjuk kepada kalian sedang mereka telah sesat, kalian mungkin akan mendustakan kebenaran, atau membenarkan kebatilan. Wallahu a’lam.

Kisah Juraij Salah Seorang Ahli Ibadah Bani Israil

Imam Ahmad berkata: Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, aku mendengar Muhammad bin Sirin menceritakan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang; Isa bin Maryam, dan ada di Bani Israil seorang ahli ibadah yang disebut Juraij, dia membangun biara dan beribadah di dalamnya. Bani Israil menyebut-nyebut ibadah Juraij, lalu seorang pelacur dari mereka berkata: Jika kalian mau, aku akan memfitnahnya! Mereka berkata: Kami mau itu. Dia datang kepadanya dan menampakkan diri kepadanya tetapi dia tidak melihatnya, lalu dia memberikan dirinya kepada seorang penggembala yang biasa menginap gembalaannya di bawah biara Juraij, maka dia hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Mereka berkata: Dari siapa? Dia berkata: Dari Juraij. Maka mereka mendatanginya dan menurunkannya, lalu mencacinya, memukulnya, dan meruntuhkan biaranya. Dia berkata: Ada apa dengan kalian? Mereka berkata: Engkau berzina dengan pelacur ini lalu dia melahirkan anak laki-laki. Dia berkata: Di mana dia? Mereka berkata: Ini dia. Dia berdiri lalu shalat dan berdoa, kemudian menghadap anak itu lalu menusuknya dengan jarinya dan berkata: Demi Allah wahai anak, siapa ayahmu? Dia berkata: Aku anak penggembala. Maka mereka mendatangi Juraij dan mulai menciumnya, dan berkata: Kami akan membangun biaramu dari emas. Dia berkata: Tidak, aku tidak memerlukan itu, bangunlah dari tanah seperti semula. Dan ketika seorang wanita sedang menyusui anaknya, tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda yang bagus, maka dia berkata: Ya Allah, jadikanlah anakku seperti ini. Anak itu meninggalkan puting susunya dan menghadap kepada penunggang kuda itu lalu berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya. Kemudian kembali ke puting susunya dan menyusunya. Abu Hurairah berkata: Seolah-olah aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menirukan tindakan bayi itu, dan meletakkan jarinya di mulutnya untuk menyusunya. Kemudian lewat seorang budak wanita yang sedang dipukuli, lalu ibunya berkata: Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya. Anak itu meninggalkan puting susunya dan menghadap kepada budak wanita itu lalu berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya. Pada saat itulah mereka saling berbicara, ibunya berkata: Halqaa! Lewat penunggang kuda yang bagus lalu aku berkata: Ya Allah, jadikanlah anakku sepertinya, lalu engkau berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya, dan lewat budak wanita ini lalu aku berkata: Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya, lalu engkau berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya. Dia berkata: Wahai ibuku, sesungguhnya penunggang kuda yang bagus itu adalah penguasa yang zalim, dan budak wanita ini mereka mengatakan: dia berzina, padahal dia tidak berzina, dan mencuri, padahal dia tidak mencuri, sedangkan dia berkata: Cukuplah Allah bagiku. Demikianlah al-Bukhari meriwayatkannya dalam Ahadits al-Anbiya, dan dalam al-Mazalim dari Muslim bin Ibrahim, dan Muslim dalam kitab al-Adab dari Zuhair bin Harb dari Yazid bin Harun, keduanya dari Jarir bin Hazim dengannya.

Jalan lain dan redaksi lain, Imam Ahmad berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Sulaiman bin al-Mughirah menceritakan kepada kami, Humaid bin Hilal menceritakan kepada kami dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Juraij beribadah di biaranya. Ibunya datang kepadanya lalu berkata: Wahai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku. Abu Hurairah menggambarkan sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggambarkannya, meletakkan tangannya di atas alis kanannya. Dia mendapatinya sedang shalat. Wahai Rabb, ibuku dan shalatku, *lalu dia memilih shalatnya, maka ibunya pulang. Kemudian ibunya datang lagi dan mendapatinya sedang shalat, lalu berkata: Wahai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku. Dia berkata: Wahai Rabb, ibuku dan shalatku, lalu dia memilih shalatnya. Ibunya berkata: Ya Allah, ini Juraij dan dia anakku, aku berbicara dengannya tetapi dia enggan berbicara denganku, ya Allah jangan matikan dia sampai Engkau perlihatkan kepadanya para pelacur. Seandainya dia mendoakannya agar dia tergoda niscaya dia akan tergoda. Ada seorang penggembala yang menginap di biaranya, lalu keluarlah seorang wanita dan penggembala itu menyetubuhinya, lalu dia melahirkan seorang anak laki-laki. Ditanyakan: Dari siapa ini? Dia berkata: Dari penghuni biara. Maka mereka datang dengan kapak dan sekop mereka dan mendatangi biara lalu memanggilnya tetapi dia tidak menjawab mereka. Mereka mulai meruntuhkan biaranya, lalu dia turun kepada mereka. Mereka berkata: Tanyakan wanita ini. Aku melihatnya tersenyum. Kemudian dia mengusap kepala bayi itu lalu berkata: Siapa ayahmu? Dia berkata: Penggembala kambing. Mereka berkata: Wahai Juraij, kami akan membangun apa yang kami runtuhkan dari biaramu dengan emas dan perak. Dia berkata: Tidak, tetapi kembalikanlah seperti semula, lalu mereka melakukannya. Muslim meriwayatkannya dalam al-Isti’dzan dari Syaiban bin Farukh dari Sulaiman bin al-Mughirah dengannya.

Redaksi lain, Imam Ahmad berkata: Affan menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, Tsabit memberitahukan kepada kami dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ada di Bani Israil seorang laki-laki yang disebut Juraij, dia beribadah di biaranya. Suatu hari ibunya datang kepadanya lalu memanggilnya dan berkata: Wahai Juraij, wahai anakku, tampaklah padaku agar aku berbicara denganmu, aku ibumu, tampaklah padaku. Dia berkata: Wahai Rabbku, shalatku dan ibuku, lalu dia melanjutkan shalatnya. Kemudian ibunya kembali dan memanggilnya beberapa kali lalu berkata: Wahai Juraij, wahai anakku, tampaklah padaku. Dia berkata: Wahai Rabb, shalatku dan ibuku, lalu dia melanjutkan shalatnya. Ibunya berkata: Ya Allah, jangan matikan dia sampai Engkau perlihatkan kepadanya para pelacur. Ada seorang penggembala wanita yang menggembalakan kambing untuk keluarganya, kemudian berteduh di bawah biaranya, lalu dia melakukan perbuatan keji dan hamil. Dia ditangkap—dan barangsiapa di antara mereka yang berzina akan dibunuh—lalu mereka berkata: Dari siapa? Dia berkata: Dari Juraij penghuni biara. Maka mereka datang dengan kapak dan sekop lalu berkata: Wahai Juraij, wahai orang munafik, turunlah, tetapi dia enggan dan melanjutkan shalatnya. Mereka mulai meruntuhkan biaranya. Ketika dia melihat itu, dia turun. Mereka memasang tali di lehernya dan leher wanita itu, lalu mereka membawa keduanya berkeliling di tengah orang-orang. Dia meletakkan jarinya di perut wanita itu lalu berkata: Wahai anak, siapa ayahmu? Dia berkata: Ayahku adalah si fulan penggembala kambing. Maka mereka menciumnya dan berkata: Jika engkau mau, kami akan membangun biaramu dari emas dan perak. Dia berkata: Kembalikanlah seperti semula. Ini adalah redaksi yang aneh, dan sanadnya sesuai syarat Muslim tetapi tidak dikeluarkan oleh seorang pun dari penulis kitab dari jalan ini.

Mereka bertiga berbicara di dalam buaian: Isa bin Maryam alaihissalam dan telah disebutkan kisahnya, dan anak pelacur dari penggembala sebagaimana engkau dengar, dan yang ketiga adalah anak wanita yang sedang menyusuinya lalu dia berharap anaknya menjadi seperti pemilik penampilan yang bagus, maka anaknya berharap agar menjadi seperti budak wanita yang dituduh dengan sesuatu yang dia tidak bersalah darinya, dan dia berkata: Cukuplah Allah bagiku dan Dia sebaik-baik Wakil, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah secara marfu’. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Haudzah dari Auf al-A’rabi dari Khallas dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang kisah anak yang menyusu ini, dan ini adalah sanad yang hasan.

Al-Bukhari berkata: Abu al-Yaman menceritakan kepada kami, Syu’aib memberitahukan kepada kami, Abu az-Zanad menceritakan kepada kami dari Abdurrahman al-A’raj, dia menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketika seorang wanita sedang menyusui anaknya, tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda dan dia sedang menyusui anaknya, lalu dia berkata: Ya Allah, jangan matikan anakku sampai menjadi seperti ini. Anak itu berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya, kemudian kembali ke puting susu. Dan lewat seorang wanita yang diseret dan dipermainkan, lalu dia berkata: Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti ini. Anak itu berkata: Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya. Dia berkata: Adapun penunggang kuda itu adalah orang kafir, dan adapun wanita itu, mereka mengatakan: dia berzina, dan dia berkata: Cukuplah Allah bagiku, dan mereka mengatakan: dia mencuri, dan dia berkata: Cukuplah Allah bagiku. Telah diriwayatkan juga tentang yang berbicara di dalam buaian adalah saksi Yusuf sebagaimana disebutkan, dan anak pemandikan keluarga Firaun. Wallahu a’lam.

Kisah Barshisha

Ini adalah kebalikan dari kasus Juraij, karena Juraij terpelihara, sedangkan yang ini tergoda.

Ibnu Jarir berkata: Yahya bin Ibrahim al-Mas’udi menceritakan kepadaku, ayahku menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya dari al-A’masy dari Umarah dari Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah bin Mas’ud tentang ayat ini: Seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: Kafirlah kamu, maka tatkala manusia itu telah kafir, dia berkata: Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (Surah al-Hasyr: 16-17)

Ibnu Mas’ud berkata: Ada seorang wanita yang menggembalakan kambing dan dia memiliki empat orang saudara laki-laki, dan dia berteduh pada malam hari di biara seorang rahib. Rahib itu turun lalu berzina dengannya, maka dia hamil. Syaitan datang kepadanya lalu berkata kepadanya: Bunuhlah dia kemudian kuburkan, karena engkau adalah orang yang dipercaya dan didengar perkataannya, maka dia membunuhnya dan menguburkannya. Syaitan datang kepada saudara-saudaranya dalam mimpi lalu berkata kepada mereka: Sesungguhnya rahib penghuni biara berzina dengan saudara perempuan kalian, ketika dia menghamilinya, dia membunuhnya, kemudian menguburkannya di tempat ini dan ini. Ketika pagi, salah seorang dari mereka berkata: Demi Allah, aku melihat mimpi semalam, aku tidak tahu apakah aku ceritakan kepada kalian atau aku tinggalkan? Mereka berkata: Tidak, ceritakan kepada kami. Dia menceritakannya, lalu yang lain berkata: Dan aku demi Allah telah melihat itu. Yang lain berkata: Dan aku demi Allah telah melihat itu. Mereka berkata: Demi Allah, ini pasti untuk sesuatu, lalu mereka pergi dan meminta pertolongan raja mereka terhadap rahib itu. Mereka mendatanginya dan menurunkannya, kemudian pergi dengannya. Syaitan datang kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya aku yang menjatuhkanmu ke dalam ini, dan tidak akan menyelamatkanmu darinya kecuali aku, maka sujudlah kepadaku sekali sujud dan aku akan menyelamatkanmu dari apa yang aku jatuhkan padamu. Dia bersujud kepadanya. Ketika mereka membawanya kepada raja mereka, dia berlepas diri darinya dan diambil lalu dibunuh. Demikianlah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Thawus, dan Muqatil bin Hayyan, semacam itu.

Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dengan redaksi lain. Ibnu Jarir berkata: Khallad bin Aslam menceritakan kepada kami, an-Nadhr bin Syumail menceritakan kepada kami, Syu’bah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, aku mendengar Abdullah bin Nuhaik, aku mendengar Ali berkata: Sesungguhnya seorang rahib beribadah selama enam puluh tahun, dan sesungguhnya syaitan menginginkannya tetapi tidak mampu, lalu dia menuju kepada seorang wanita dan menggila-gilakannya, dan wanita itu memiliki saudara-saudara laki-laki. Dia berkata kepada saudara-saudaranya: Bawalah dia kepada pendeta ini agar mengobatinya. Mereka membawanya kepadanya lalu dia mengobatinya dan dia tinggal di sisinya. Suatu hari ketika dia berada di sisinya, dia mengaguminya lalu mendatanginya, maka dia hamil. Dia mendatanginya lalu membunuhnya. Saudara-saudaranya datang, lalu syaitan berkata kepada rahib: Aku adalah temanmu, engkau membuatku tidak berdaya, aku yang membuat ini padamu, maka taatilah aku agar aku menyelamatkanmu dari apa yang aku perbuat padamu, sujudlah kepadaku sekali sujud. Dia bersujud kepadanya. Ketika dia bersujud kepadanya, dia berkata: Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabb semesta alam. Itulah firman-Nya: Seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: Kafirlah kamu, maka tatkala manusia itu telah kafir, dia berkata: Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.

Kisah Tiga Orang yang Berteduh di Gua Lalu Tertutup Batu Besar, Mereka Bertawasul kepada Allah dengan Amal Saleh Mereka, Maka Allah Melapangkan Kesulitan Mereka

Imam Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Khalil, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir, dari Ubaidillah bin Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketika tiga orang dari umat sebelum kalian sedang berjalan, tiba-tiba mereka kehujanan lalu berteduh ke sebuah gua, kemudian gua itu tertutup batu besar. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: Demi Allah wahai kalian, tidak ada yang akan menyelamatkan kalian kecuali kejujuran, maka hendaklah setiap orang di antara kalian berdoa dengan amal yang dia yakini telah dilakukannya dengan jujur. Salah seorang di antara mereka berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku dahulu memiliki seorang buruh yang bekerja untukku dengan upah satu faraq beras, lalu dia pergi meninggalkan upahnya. Aku menanami faraq beras itu hingga berkembang menjadi sapi-sapi yang kubeli dari hasil itu. Kemudian dia datang menuntut upahnya, lalu aku berkata: Ambillah sapi-sapi itu dan giringlah! Dia berkata kepadaku: Sesungguhnya yang menjadi hakku padamu hanyalah satu faraq beras. Aku berkata kepadanya: Ambillah sapi-sapi itu karena itu berasal dari faraq beras tersebut. Lalu dia menggiringnya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka lapangkanlah kesulitan kami. Maka bergeraklah batu itu dari mereka. Yang kedua berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku memiliki dua orang tua yang sudah tua renta, dan aku biasa mendatangi mereka setiap malam dengan susu kambingku. Pada suatu malam aku terlambat datang kepada mereka, dan ketika aku datang mereka sudah tertidur, sementara keluarga dan anak-anakku menangis kelaparan. Aku tidak memberi mereka minum sebelum kedua orang tuaku minum. Aku tidak suka membangunkan mereka dan tidak suka membiarkan mereka hingga kehilangan minuman mereka. Maka aku terus menunggu hingga terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka lapangkanlah kesulitan kami. Maka bergeraklah batu itu dari mereka hingga mereka dapat melihat langit.

Yang ketiga berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku memiliki seorang anak paman perempuan yang merupakan orang paling kucintai, dan aku merayunya tetapi dia menolak kecuali aku memberinya seratus dinar. Maka aku mencarinya hingga aku mampu, lalu aku datang kepadanya dengan uang itu dan memberikannya kepadanya. Dia pun membiarkan aku menggaulinya. Ketika aku telah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata: Bertakwalah kepada Allah dan jangan buka penutupnya kecuali dengan haknya. Maka aku bangkit dan meninggalkan seratus dinar itu. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka lapangkanlah kesulitan kami. Maka Allah melapangkan kesulitan mereka dan mereka keluar. Diriwayatkan oleh Muslim dari Suwaid bin Said dari Ali bin Mushir dengannya.

Imam Ahmad meriwayatkannya sendiri dari Marwan bin Muawiyah dari Umar bin Hamzah bin Abdullah bin Umar dari Salim dari ayahnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu, dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari hadits Wahb bin Munabbih dari Numan bin Basyir dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan redaksi serupa, dan di dalamnya terdapat tambahan. Diriwayatkan oleh Bazzar dari jalur Abu Ishaq dari seorang laki-laki dari Bajilah dari Numan bin Basyir secara marfu’ seperti itu, dan diriwayatkan oleh Bazzar dalam musnadnya dari hadits Abu Hanasy dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu.

Kisah Tiga Orang: Si Buta, Si Berpenyakit Kulit, dan Si Botak

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari berbagai jalur dari Hammam bin Yahya dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abi Amrah bahwa Abu Hurairah menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya ada tiga orang di Bani Israil: seorang yang berpenyakit kulit, seorang buta, dan seorang botak. Allah berkehendak untuk menguji mereka, maka Dia mengutus seorang malaikat kepada mereka. Malaikat itu mendatangi orang yang berpenyakit kulit dan berkata: Apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Kulit yang bagus dan warna yang bagus, karena orang-orang telah menjijikkan aku. Dia berkata: Maka malaikat itu mengusapnya, lalu penyakitnya hilang dan dia diberi warna kulit yang bagus dan kulit yang bagus. Lalu dia berkata: Harta apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Unta – atau dia berkata: Sapi, ada keragu-raguan dalam itu bahwa si penderita kulit dan si botak, salah satunya berkata: Unta, dan yang lain berkata: Sapi – maka dia diberi unta bunting sepuluh bulan, lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahimu dengannya.

Dia berkata: Lalu malaikat mendatangi si botak dan berkata: Apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Rambut yang bagus, dan hilangnya kebotakanku ini karena orang-orang telah menjijikkan aku. Maka malaikat mengusapnya, lalu kebotakannya hilang dan dia diberi rambut yang bagus. Dia berkata: Harta apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Sapi. Maka dia diberi sapi yang sedang hamil, dan malaikat berkata: Semoga Allah memberkahimu dengannya.

Dan malaikat mendatangi si buta lalu berkata: Apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Semoga Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang-orang. Dia berkata: Maka malaikat mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya. Dia berkata: Harta apa yang paling engkau sukai? Dia berkata: Kambing. Maka dia diberi kambing yang sedang bunting. Ketiga hewan itu berkembang biak, sehingga orang pertama memiliki lembah penuh unta, yang kedua memiliki lembah penuh sapi, dan yang ketiga memiliki lembah penuh kambing. Kemudian malaikat mendatangi si penderita penyakit kulit dalam rupa dan bentuk aslinya lalu berkata: Aku seorang miskin yang terputus perjalanannya dalam safarku, tidak ada yang bisa menolongku hari ini kecuali Allah, kemudian engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dia yang telah memberimu warna kulit yang bagus, kulit yang bagus, dan harta, seekor unta untuk aku lanjutkan perjalananku. Dia berkata kepadanya: Sesungguhnya hak-hak orang banyak. Malaikat berkata kepadanya: Sepertinya aku mengenalmu, bukankah engkau dahulu penderita penyakit kulit yang dijauhi orang-orang? Orang miskin, lalu Allah Azza wa Jalla memberimu? Dia berkata: Sesungguhnya aku mewarisi ini turun-temurun dari leluhur yang mulia! Malaikat berkata: Jika engkau berbohong, maka semoga Allah mengembalikanmu seperti semula. Lalu malaikat mendatangi si botak dalam rupa dan bentuk aslinya dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada yang pertama, dan dia menjawab seperti jawaban yang pertama. Maka malaikat berkata: Jika engkau berbohong, maka semoga Allah mengembalikanmu seperti semula.

Lalu malaikat mendatangi si buta dalam rupanya dan berkata: Aku seorang miskin dan musafir yang terputus perjalanannya dalam safarku, tidak ada yang bisa menolongku hari ini kecuali Allah kemudian engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dia yang telah mengembalikan penglihatanmu, seekor kambing untuk aku lanjutkan perjalananku. Dia berkata: Aku dahulu buta lalu Allah mengembalikan penglihatanku, dan aku miskin lalu Allah membuatku kaya. Maka ambillah apa yang engkau mau, demi Allah aku tidak akan memberatkanmu hari ini dengan sesuatu yang engkau ambil untuk Allah Azza wa Jalla. Malaikat berkata: Simpanlah hartamu, sesungguhnya kalian diuji. Maka Allah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu. Ini adalah lafaz Bukhari dalam bab kisah-kisah Bani Israil.

Hadits Orang yang Meminjam dari Temannya Seribu Dinar Lalu Mengembalikannya

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Laits dari Ja’far bin Rabi’ah dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau menceritakan: Sesungguhnya seorang laki-laki dari Bani Israil meminta kepada sebagian Bani Israil agar meminjamkannya seribu dinar. Dia berkata: Datangkan kepadaku saksi-saksi untuk aku persaksikan. Dia berkata: Cukuplah Allah sebagai saksi. Dia berkata: Datangkan kepadaku penjamin. Dia berkata: Cukuplah Allah sebagai penjamin. Dia berkata: Engkau benar. Maka dia memberikannya hingga waktu yang ditentukan. Lalu dia berangkat ke laut dan menyelesaikan keperluannya, kemudian dia mencari kapal untuk kembali pada waktu yang telah ditentukan tetapi tidak menemukan kapal. Maka dia mengambil sebatang kayu, melubanginya, dan memasukkan ke dalamnya seribu dinar dan surat untuk pemiliknya, kemudian menutup lubangnya. Lalu dia membawanya ke laut dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam dari fulan seribu dinar, lalu dia meminta dariku penjamin, maka aku berkata: Cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia ridha dengan itu. Dia meminta dariku saksi, maka aku berkata: Cukuplah Allah sebagai saksi, dan dia ridha dengan itu. Sesungguhnya aku telah berusaha keras mencari kapal untuk mengirimkan kepadanya haknya tetapi tidak mendapatkan kapal, dan sesungguhnya aku menitipkannya kepada-Mu. Maka dia melemparkannya ke laut hingga masuk ke dalamnya, kemudian dia pergi sambil terus mencari kapal ke negerinya. Sementara orang yang meminjamkannya keluar untuk melihat-lihat, semoga ada kapal yang datang membawa uangnya. Tiba-tiba dia melihat kayu yang berisi uang itu, lalu dia mengambilnya untuk keluarganya sebagai kayu bakar. Ketika dia membelahnya, dia menemukan uang dan surat. Kemudian datanglah orang yang meminjam itu dan membawa seribu dinar kepadanya, dan berkata: Demi Allah, aku tidak berhenti berusaha keras mencari kapal untuk membawakan uangmu tetapi tidak menemukan kapal sebelum kapal yang kubawa ini. Dia berkata: Apakah engkau mengirimkan sesuatu kepadaku? Dia berkata: Bukankah aku telah mengabarkan kepadamu bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang kudatangi ini? Dia berkata: Sesungguhnya Allah telah membayarkan untukmu apa yang engkau kirimkan dalam kayu itu, maka pulanglah dengan seribu dinarmu dengan penuh berkah. Demikianlah Imam Ahmad meriwayatkannya secara musnad, dan Bukhari menggantungkannya di berbagai tempat dalam shahihnya dengan rumusan jazm dari Laits bin Sa’d, dan menyambungkannya di sebagian tempat dari Abdullah bin Shalih, penulis Laits, darinya. Mengherankan dari Hafizh Abu Bakar Bazzar bagaimana dia meriwayatkannya dalam musnadnya dari Hasan bin Mudrik dari Yahya bin Hammad dari Abu Awanah dari Umar bin Abi Salamah dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu, kemudian berkata: Tidak diriwayatkan kecuali dari jalur ini dengan sanad ini.

Kisah Lain yang Mirip dengan Kisah Ini dalam Kejujuran dan Amanah

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashr, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seorang laki-laki membeli tanah dari seorang laki-laki, lalu pembeli menemukan di tanahnya sebuah guci berisi emas. Pembeli berkata kepada penjual: Ambillah emasmu dariku, sesungguhnya aku hanya membeli darimu tanah, dan aku tidak membeli darimu emas. Pemilik tanah berkata: Sesungguhnya aku menjual kepadamu tanah dan apa yang ada di dalamnya. Maka keduanya berhukum kepada seseorang. Orang yang mereka mintai keputusan berkata: Apakah kalian berdua punya anak? Salah satunya berkata: Aku punya anak laki-laki, dan yang lain berkata: Aku punya anak perempuan. Dia berkata: Nikahkanlah anak laki-laki dengan anak perempuan, dan nafkahilah mereka dari emas itu, dan bersedekahlah. Demikianlah Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam bab kisah-kisah Bani Israil, dan diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Rafi’ dari Abdurrazzaq dengannya.

Telah diriwayatkan bahwa kisah ini terjadi pada zaman Dzulqarnain, dan dia hidup sebelum Bani Israil dengan masa yang sangat panjang, maka Allah yang lebih mengetahui. Ishaq bin Bisyr berkata dalam kitabnya Al-Mubtada dari Said bin Abi Arubah dari Qatadah dari Hasan: Sesungguhnya Dzulqarnain memeriksa urusan raja-raja dan pegawainya sendiri, dan dia tidak menemukan pengkhianatan dari salah seorang di antara mereka kecuali dia mengingkarinya, dan dia tidak menerimanya hingga dia melihatnya sendiri. Dia berkata: Ketika dia sedang berjalan menyamar di salah satu kota, dia duduk di dekat seorang hakim dari hakim-hakimnya beberapa hari, tidak ada seorang pun yang datang kepadanya dalam perkara. Ketika hal itu berlangsung lama bagi Dzulqarnain, dan dia tidak menemukan sesuatu dari urusan hakim itu, dan dia hendak pergi, tiba-tiba ada dua orang yang bersengketa kepadanya. Salah satunya mengadu dan berkata: Wahai hakim, sesungguhnya aku membeli dari orang ini sebuah rumah, lalu aku merenovasinya dan menemukan di dalamnya harta karun. Sesungguhnya aku mengajaknya untuk mengambilnya tetapi dia menolak. Hakim berkata kepadanya: Apa yang engkau katakan? Dia berkata: Aku tidak menanamnya dan tidak mengetahuinya, maka itu bukan untukku dan aku tidak mau mengambilnya darinya. Penggugat berkata: Wahai hakim, perintahkanlah seseorang untuk mengambilnya dan letakkanlah di mana engkau suka. Hakim berkata: Engkau lari dari kejahatan dan memasukkan aku ke dalamnya, engkau tidak adil kepadaku, dan aku tidak menyangka ini ada dalam keputusan raja. Lalu hakim berkata: Apakah kalian berdua setuju dengan perkara yang lebih adil dari apa yang kalian tawarkan kepadaku? Keduanya berkata: Ya. Dia berkata kepada penggugat: Apakah engkau punya anak laki-laki? Dia berkata: Ya. Dan dia berkata kepada yang lain: Apakah engkau punya anak perempuan? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Pergilah, nikahkanlah anak perempuanmu dengan anak laki-laki ini, persiapkanlah mereka dari harta ini, dan berikanlah sisa yang tersisa kepada mereka untuk hidup dengannya, maka kalian berdua akan mendapat kebaikannya dan kejelekannya. Dzulqarnain takjub ketika mendengar itu, kemudian berkata kepada hakim: Aku tidak menyangka ada di bumi orang yang melakukan seperti ini, atau hakim yang memutuskan seperti ini?! Hakim berkata, dan dia tidak mengenalnya: Apakah ada orang yang melakukan selain ini? Dzulqarnain berkata: Ya. Hakim berkata: Apakah mereka mendapat hujan di negeri mereka? Dzulqarnain takjub dengan itu dan berkata: Dengan yang seperti inilah langit dan bumi tegak.

Kisah-Kisah Lainnya

Kisah Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adi dari Syu’bah dari Qatadah dari Abu ash-Shiddiq an-Naji dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dahulu di Bani Israil ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian dia keluar bertanya, lalu dia mendatangi seorang rahib dan bertanya kepadanya: ‘Apakah masih ada tobat untukku?’ Rahib itu menjawab: ‘Tidak.’ Maka dia membunuhnya. Kemudian dia terus bertanya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: ‘Datanglah ke kampung ini dan itu.’ Maka ajal menjemputnya, lalu dia menelungkupkan dadanya menuju ke arah kampung itu. Maka terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab mengenai dirinya. Kemudian Allah mewahyukan kepada kampung yang satu agar mendekat, dan Allah mewahyukan kepada kampung yang lain agar menjauh, lalu Allah berfirman: ‘Ukurlah jarak di antara keduanya.’ Maka ditemukan dia lebih dekat ke kampung yang dituju sebesar satu jengkal, maka dia diampuni.” Demikianlah diriwayatkan di sini secara ringkas, dan telah diriwayatkan oleh Muslim dari Bundar dengannya, dan dari hadits Syu’bah dari jalan lain dari Qatadah dengannya secara panjang lebar.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Subuh, kemudian beliau menghadap kepada orang-orang dan bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang menggiring sapi, tiba-tiba dia menungganginya lalu memukulnya, maka sapi itu berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak diciptakan untuk ini, kami hanya diciptakan untuk membajak.’ Maka orang-orang berkata: ‘Subhanallah! Sapi berbicara!’ Maka aku (Rasulullah) bersabda: ‘Sesungguhnya aku beriman dengan hal ini, begitu juga Abu Bakar dan Umar’ – padahal keduanya tidak hadir saat itu. Dan ketika seorang laki-laki berada di antara kambing-kambingnya, tiba-tiba serigala menyerang dan membawa seekor kambing, lalu dia mengejar hingga seolah berhasil menyelamatkannya dari serigala itu, maka serigala itu berkata kepadanya: ‘Ini kamu selamatkan dariku! Lalu siapa yang akan menjaganya di hari yang buas (hari kiamat), di hari tidak ada penggembala baginya selain aku?’ Maka orang-orang berkata: ‘Subhanallah! Serigala berbicara!’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku beriman dengan hal ini, begitu juga Abu Bakar dan Umar’ – padahal keduanya tidak hadir.”

Kemudian dia berkata: dan telah menceritakan kepada kami Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Mis’ar dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang serupa. Dan telah menyandarkannya al-Bukhari dalam bab Muzara’ah dari Muhammad bin Basysyar, dan Muslim dari Muhammad bin ‘Abbad dari Sufyan bin ‘Uyainah, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dari jalur Syu’bah, keduanya dari Sa’d dengannya. Dan berkata at-Tirmidzi: hasan shahih. Dan Muslim mengeluarkan jalur pertama dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah dan Sufyan ats-Tsauri, keduanya dari Abu az-Zinad dengannya.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Sa’d dari ayahnya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang diajak bicara (oleh malaikat), dan jika ada di umatku ini orang seperti itu maka dia adalah Umar bin al-Khaththab.” Muslim tidak mengeluarkannya dari jalan ini. Dan telah diriwayatkan dari Ibrahim bin Sa’d dari ayahnya Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bahwa dia mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun dia berhaji di atas mimbar, lalu dia mengambil sehelai rambut yang ada di tangan pengawalnya, lalu berkata: “Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang yang seperti ini, dan bersabda: ‘Sesungguhnya Bani Israil binasa ketika para wanita mereka menggunakannya (penyambungan rambut).‘” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari hadits Malik, dan demikian pula diriwayatkan oleh Ma’mar dan Yunus dan Sufyan bin ‘Uyainah dari az-Zuhri semisalnya, dan berkata at-Tirmidzi: hadits shahih.

Dan berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Amr bin Murrah berkata: aku mendengar Sa’id bin al-Musayyab berkata: Mu’awiyah bin Abi Sufyan datang ke Madinah pada kedatangannya yang terakhir, lalu dia berkhutbah kepada kami dan mengeluarkan segumpal rambut, lalu berkata: “Aku tidak menyangka ada orang yang melakukan ini selain orang Yahudi, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menamakannya az-zur (kepalsuan), yaitu penyambungan rambut.” Diriwayatkan pula oleh Ghundar dari Syu’bah dengannya. Dan yang mengherankan bahwa Muslim meriwayatkannya dari berbagai jalur dari Ghundar dari Syu’bah dengannya, dan dari hadits Qatadah dari Sa’id bin al-Musayyab.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Talid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb berkata: telah mengabarkan kepadaku Jarir bin Hazim dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika seekor anjing berkeliling di sebuah sumur hampir mati karena kehausan, tiba-tiba dilihat oleh seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil, lalu dia melepas sepatunya dan memberinya minum, maka dia diampuni karenanya.” Dan diriwayatkan oleh Muslim dari Abu ath-Thahir bin as-Sarh dari Ibnu Wahb dengannya.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma’, telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati, maka dia masuk neraka karenanya. Tidak dia memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan tidak pula dia melepaskannya agar bisa memakan binatang-binatang kecil di bumi.” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Muhammad bin Asma’ dengannya.

Hadits Lain

Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, telah menceritakan kepada kami al-Mustamirr bin ar-Rayyan, telah menceritakan kepada kami Abu Nadhrah dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu di Bani Israil ada seorang wanita pendek, maka dia membuat dua kaki dari kayu, lalu dia berjalan di antara dua wanita yang tinggi, dan dia membuat cincin dari emas, dan dia memasukkan di bawah ikatannya wewangian yang paling harum yaitu minyak kesturi, maka jika dia melewati majelis, dia menggerakkannya sehingga terciumlah aromanya.” Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits al-Mustamirr dan Khulaid bin Ja’far, keduanya dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id secara marfu’ yang mendekatinya, dan berkata at-Tirmidzi: hadits shahih.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur, aku mendengar Rib’i bin Hirasy menceritakan dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara apa yang diperoleh manusia dari kalimat-kalimat kenabian adalah: Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hanya al-Bukhari yang meriwayatkannya tanpa Muslim. Dan telah diriwayatkan oleh sebagian mereka dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah secara marfu’ dan juga mauquf. Wallahu a’lam.

Hadits Lain

Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Syahr bin Hausyab berkata: berkata Abu Hurairah: Ketika seorang laki-laki dan istrinya di masa lampau, tidak memiliki sesuatu apa pun, lalu laki-laki itu datang dari bepergian dan masuk menemui istrinya dalam keadaan lapar dan sangat kelaparan, maka dia berkata kepada istrinya: ‘Apakah ada sesuatu padamu?’ Dia berkata: ‘Ya, bergembiralah, datang kepadamu rezeki Allah.’ Maka dia mendesaknya berkata: ‘Celakalah kamu, carilah jika ada sesuatu padamu.’ Dia berkata: ‘Ya, sebentar lagi, kita berharap rahmat Allah.’ Hingga ketika kelaparan telah lama menimpanya, dia berkata: ‘Celakalah kamu, bangkitlah dan carilah jika ada roti padamu, datangkanlah kepadaku, karena aku sudah sangat lemah dan susah.’ Dia berkata: ‘Ya, sekarang tungku sudah matang, jangan terburu-buru.’ Maka ketika dia diam darinya sesaat, dan dia juga menunggu-nunggu bahwa dia akan berkata kepadanya, maka dia berkata dari dirinya sendiri: ‘Seandainya aku bangkit dan melihat tungkuku.’ Maka dia bangkit dan mendapati tungkunya penuh dengan daging kambing yang dipanggang, dan gilingannya sedang menggiling. Maka dia bangkit menuju gilingan lalu membersihkannya dan mengeluarkan apa yang ada di tungkunya dari daging kambing yang dipanggang. Berkata Abu Hurairah: Demi Dzat yang jiwa Abu al-Qasim (Muhammad) di tangan-Nya – dari sabda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Seandainya dia mengambil apa yang ada di gilingannya dan tidak membersihkannya, niscaya gilingan itu akan terus menggiling sampai hari kiamat.’

Dan berkata Ahmad: telah menceritakan kepada kami Ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dari Hisyam dari Muhammad, dari Abu Hurairah berkata: Seorang laki-laki masuk ke rumah keluarganya, maka ketika melihat kondisi mereka yang membutuhkan, dia keluar ke padang pasir. Ketika istrinya melihat, dia bangkit menuju gilingan lalu menaruhnya, dan menuju tungku lalu menyalakannya, kemudian berkata: ‘Ya Allah, berilah kami rezeki.’ Maka dia melihat tiba-tiba wadah sudah penuh. Berkata: Dan dia pergi ke tungku dan mendapatinya penuh. Berkata: Maka suaminya pulang. Berkata: ‘Apakah kalian mendapat sesuatu sepeninggalku?’ Istrinya berkata: ‘Ya, dari Rabb kami.’ Berkata: Dia bangkit menuju gilingan lalu mengangkatnya, kemudian hal itu disebutkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: ‘Ketahuilah, seandainya dia tidak mengangkatnya, gilingan itu tidak akan berhenti berputar sampai hari kiamat.’ Aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersabda: ‘Demi Allah, sungguh jika salah seorang dari kalian datang membawa berkas kayu bakar, lalu dia menjualnya dan menjaga diri dengannya, itu lebih baik baginya daripada dia mendatangi seseorang lalu meminta-minta kepadanya.’

Kisah Dua Raja Yang Bertobat

Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah menceritakan kepada kami al-Mas’udi dari Simak bin Harb dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya berkata: Ketika seorang laki-laki di antara orang-orang sebelum kalian berada dalam kerajaannya, lalu dia berpikir dan mengetahui bahwa semua itu akan terputus darinya, dan bahwa apa yang dia miliki telah menyibukkannya dari beribadah kepada Rabbnya, maka dia menyelinap keluar pada suatu malam dari istananya dan tiba di kerajaan lain. Dia sampai di tepi laut dan di sana dia membuat batu bata dengan upah, lalu dia makan dan bersedekah dengan sisanya. Dia terus seperti itu hingga keadaannya sampai kepada raja mereka, begitu juga ibadahnya dan keutamaannya. Maka raja mereka mengutus kepadanya untuk datang menemuinya, namun dia menolak datang. Raja mengutus lagi, namun dia menolak datang, dan berkata: ‘Apa urusanku dengan dia?’ Berkata: Maka raja itu naik kendaraan menemuinya. Ketika laki-laki itu melihatnya, dia lari. Ketika raja melihat hal itu, dia mengejar di belakangnya namun tidak bisa mengejarnya. Berkata: Maka raja itu memanggilnya: ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada bahaya atasmu dariku.’ Maka dia berhenti hingga raja menyusulnya, lalu raja berkata kepadanya: ‘Siapa kamu, semoga Allah merahmatimu?’ Dia berkata: ‘Aku adalah si fulan bin fulan, pemilik kerajaan ini dan itu. Aku berpikir tentang keadaanku dan mengetahui bahwa apa yang aku miliki akan terputus, dan sesungguhnya hal itu telah menyibukkanku dari beribadah kepada Rabbku ‘azza wa jalla, maka aku meninggalkannya dan datang ke sini untuk beribadah kepada Rabbku ‘azza wa jalla.’ Maka raja itu berkata kepadanya: ‘Kamu tidak lebih membutuhkan apa yang kamu lakukan daripada aku.’ Berkata: Kemudian raja itu turun dari kendaraannya lalu melepaskannya, kemudian mengikutinya. Maka keduanya bersama-sama beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Lalu keduanya berdoa kepada Allah agar mematikan keduanya bersama-sama. Berkata Abdullah: ‘Seandainya aku berada di Rumailah Mesir, niscaya aku akan menunjukkan kepada kalian kuburan keduanya, dengan sifat yang telah disebutkan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Qatadah dari Uqbah bin Abdul Ghafir dari Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki sebelum kalian yang Allah memberinya harta, maka dia berkata kepada anak-anaknya ketika ajalnya tiba: ‘Ayah seperti apa aku bagi kalian?’ Mereka berkata: ‘Ayah terbaik.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku tidak pernah berbuat kebaikan sedikitpun, maka jika aku mati, bakarlah aku, kemudian hancurkanlah aku, kemudian hambur-hambirkanlah aku di hari yang berangin kencang.’ Maka mereka melakukan hal itu, kemudian Allah ‘azza wa jalla mengumpulkannya lalu berfirman: ‘Apa yang mendorongmu?’ Dia berkata: ‘Rasa takutku kepada-Mu.’ Maka Allah menerimanya dengan rahmat-Nya.” Dan diriwayatkan di tempat-tempat lain, dan Muslim dari berbagai jalur dari Qatadah dengannya. Kemudian diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisalnya, dan dari hadits az-Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisalnya.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang memberikan piutang kepada orang-orang, maka dia berkata kepada pelayannya: ‘Jika kamu mendatangi orang yang sedang kesulitan, maka berilah keringanan kepadanya, semoga Allah memberi keringanan kepada kita.’ Berkata: Maka dia bertemu Allah, kemudian Allah memberinya keringanan.” Dan telah diriwayatkannya di tempat-tempat lain, dan Muslim dari jalur az-Zuhri dengannya.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin al-Munkadir, dan dari Abu an-Nadhr bekas budak Umar bin Ubaidillah dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari ayahnya bahwa dia mendengarnya bertanya kepada Usamah bin Zaid: Apa yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wabah? Berkata Usamah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wabah adalah azab yang dikirim kepada segolongan dari Bani Israil – atau kepada orang-orang sebelum kalian – maka jika kalian mendengarnya di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya, dan jika wabah terjadi di suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dengan melarikan diri darinya.” Berkata Abu an-Nadhr: “Janganlah kalian keluar kecuali dengan melarikan diri darinya.” Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Malik, dan dari jalur-jalur lain dari Amir bin Sa’d dengannya.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi al-Furat, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya’mar dari Aisyah berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wabah, maka beliau mengabarkan kepadaku bahwa itu adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan bahwa Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang pun yang terkena wabah lalu dia tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap pahala, dia mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali dia akan mendapat pahala seperti pahala syahid. Hanya al-Bukhari yang meriwayatkannya tanpa Muslim dari jalan ini.

Hadits Lain

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwa Quraisy sangat khawatir tentang persoalan wanita Makhzumiyah yang mencuri, maka mereka berkata: “Siapa yang akan berbicara tentangnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka mereka berkata: “Dan siapa yang berani kepadanya selain Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka Usamah berbicara dengannya, lalu beliau bersabda: “Apakah kamu memberi syafaat dalam salah satu hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah, kemudian bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika di antara mereka ada orang terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya, dan jika di antara mereka ada orang lemah yang mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan kupotong tangannya.” Dan mengeluarkannya seluruh ahli hadits yang lain dari berbagai jalur dari al-Laits bin Sa’d dengannya.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Maisarah, aku mendengar An-Nazzal bin Sabrah Al-Hilali dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar seorang laki-laki membaca ayat, dan aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacanya berbeda dengannya, maka aku datang bersamanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu aku memberitahukan hal itu kepadanya, maka aku mengenali raut kebencian di wajahnya, dan beliau bersabda: “Kalian berdua sama-sama baik, dan janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari saja tanpa Muslim.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdillah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir (rambut), maka selisihilah mereka.” Diriwayatkan oleh Bukhari saja tanpa Muslim, dan dalam Sunan Abu Dawud: “Shalatlah dengan sandal-sandal kalian, selisihilah orang-orang Yahudi.”

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdillah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Thawus dari Ibnu Abbas: Aku mendengar Umar radhiyallahu anhu berkata: “Semoga Allah memerangi si fulan, tidakkah dia tahu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Allah melaknat orang-orang Yahudi, diharamkan atas mereka lemak-lemak (hewan) maka mereka mencairkannya lalu menjualnya.'” Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Uyainah, dan dari hadits Amru bin Dinar dengannya. Kemudian Imam Bukhari berkata: hadits ini dikuatkan oleh Jabir dan Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan hadits ini memiliki banyak jalan periwayatan yang akan datang dalam bab tentang Hiyal dari kitab Al-Ahkam insya Allah, dan kepadanya kepercayaan.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Khalid dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata: Mereka menyebutkan api dan lonceng, maka mereka menyebutkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, lalu Bilal diperintahkan agar menggandakan adzan dan mengganjilkan iqamah. Diriwayatkan oleh sisa jamaah (perawi) dari hadits Abu Qilabah, Abdullah bin Zaid Al-Jarmi dengannya.

Yang dimaksud dari ini adalah menyelisihi Ahli Kitab dalam seluruh simbol mereka, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika tiba di Madinah, kaum muslimin memperkirakan waktu shalat tanpa ada seruan kepadanya, kemudian beliau memerintahkan seseorang untuk menyeru di antara mereka waktu shalat: “Shalat berjamaah.” Kemudian mereka ingin menyeru kepadanya dengan sesuatu yang diketahui orang-orang, maka sebagian orang berkata: Kita memukul lonceng, dan yang lain berkata: Kita nyalakan api, maka mereka membenci hal itu karena menyerupai Ahli Kitab. Lalu Abdullah bin Zaid bin Abd Rabbihi Al-Anshari melihat adzan dalam mimpinya, maka dia menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau memerintahkan Bilal maka dia menyerunya sebagaimana dijelaskan secara rinci di tempatnya dari bab adzan dalam kitab Al-Ahkam.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah, telah mengabarkan kepadaku Ma’mar dan Yunus dari Az-Zuhri berkata: telah mengabarkan kepadaku Ubaidillah bin Abdillah bahwa Aisyah dan Ibnu Abbas berkata: Ketika sakaratul maut menimpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau menutupkan kain khamishah di wajahnya, jika beliau merasa sesak nafas, beliau membukanya dari wajahnya, maka beliau bersabda dalam keadaan demikian: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid,” beliau memperingatkan apa yang mereka perbuat. Demikianlah diriwayatkan di beberapa tempat, dan Muslim dari beberapa jalan dari Az-Zuhri dengannya.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan berkata: telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya.” Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah (yang dimaksud) orang-orang Yahudi dan Nasrani? Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa lagi?!” Demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Zaid bin Aslam dengannya.

Yang dimaksud dari berita-berita ini tentang apa yang terjadi dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dilarang secara syariat dari apa yang menyerupai Ahli Kitab sebelum kita, karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang dari menyerupai mereka dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan mereka, bahkan seandainya niat seorang mukmin adalah kebaikan, tetapi dia menyerupai dalam perbuatannya secara lahiriah dari perbuatan mereka. Sebagaimana dilarang shalat ketika matahari terbit dan ketika terbenam; agar tidak menyerupai orang-orang musyrik yang bersujud kepada matahari pada saat itu, meskipun seorang mukmin sama sekali tidak terlintas di benaknya sesuatu dari itu. Demikian pula firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berkata ‘Ra’ina’, tetapi katakanlah ‘Unzhurna’, dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104) Maka orang-orang kafir berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam percakapan mereka dengannya: Ra’ina, yaitu: lihatlah kami dengan pandanganmu dan dengarlah ucapan kami, dan mereka bermaksud dengan ucapan mereka: Ra’ina dari kata bodoh (ar-ru’unah), maka orang-orang mukmin dilarang mengatakan itu, meskipun sama sekali tidak terlintas di benak salah seorang dari mereka ini selamanya.

Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat sehingga Allah disembah sendiri tanpa sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizqiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka; tidak dalam ibadah-ibadah mereka, tidak dalam musim-musim mereka, dan tidak dalam perayaan-perayaan mereka; karena Allah Ta’ala telah memuliakan umat ini dengan penutup para nabi yang disyariatkan baginya agama yang agung, lurus, menyeluruh dan sempurna yang seandainya Musa bin Imran yang diturunkan kepadanya Taurat, dan Isa bin Maryam yang diturunkan kepadanya Injil masih hidup, tidak ada bagi keduanya syariat yang diikuti, bahkan seandainya keduanya ada, bahkan semua nabi, tidak layak bagi salah seorang dari mereka untuk berada di atas selain syariat yang suci, mulia, terhormat dan agung ini. Jika Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita dengan menjadikan kita dari pengikut-pengikut Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana pantas bagi kita untuk menyerupai kaum yang telah sesat sebelumnya dan menyesatkan banyak orang dan sesat dari jalan yang lurus (QS. Al-Ma’idah: 77), sungguh mereka telah mengubah agama mereka dan mengubahnya dan menta’wilkannya sehingga menjadi seolah-olah selain apa yang disyariatkan kepada mereka pada mulanya, kemudian ia setelah itu semua sudah mansukh (dihapus), dan berpegang teguh dengan yang mansukh adalah haram, Allah tidak menerima darinya sedikit pun dan tidak banyak, dan tidak ada perbedaan antara itu dengan yang tidak disyariatkan sama sekali, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Hadits Lain

Imam Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya masa kalian di antara masa umat-umat yang telah lalu seperti antara shalat Ashar hingga terbenam matahari, dan sesungguhnya perumpamaan kalian dan perumpamaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja, maka dia berkata: Siapa yang bekerja bagiku hingga pertengahan siang dengan upah satu qirath? Maka orang-orang Yahudi bekerja hingga pertengahan siang dengan upah satu qirath. Kemudian dia berkata: Siapa yang bekerja bagiku dari pertengahan siang hingga shalat Ashar dengan upah satu qirath? Maka orang-orang Nasrani bekerja dari pertengahan siang hingga shalat Ashar dengan upah satu qirath. Kemudian dia berkata: Siapa yang bekerja bagiku dari shalat Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath? Ketahuilah kalian adalah orang-orang yang bekerja dari shalat Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath, ketahuilah bagi kalian pahala dua kali lipat. Maka marahlah orang-orang Yahudi dan Nasrani, lalu mereka berkata: Kami lebih banyak bekerja dan lebih sedikit pemberian!” Allah berfirman: “Apakah Aku menzalimi kalian dari hak kalian sedikitpun?” Mereka berkata: “Tidak.” Allah berfirman: “Maka itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.” Hadits ini di dalamnya ada dalil bahwa masa umat ini pendek, dibandingkan dengan apa yang telah berlalu dari masa-masa umat sebelumnya; karena sabdanya: “Sesungguhnya masa kalian di antara masa umat-umat yang telah lalu seperti antara shalat Ashar hingga terbenam matahari.”

Maka yang telah berlalu tidak diketahui kecuali oleh Allah sebagaimana yang akan datang tidak diketahui kecuali oleh-Nya, tetapi ia pendek dibandingkan dengan apa yang telah berlalu, dan tidak ada pengetahuan seseorang tentang penentuan apa yang tersisa kecuali Allah Azza wa Jalla sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidak ada yang menyingkapkannya pada waktunya kecuali Dia.” (QS. Al-A’raf: 187) Dan Allah berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya? Dalam hal apa engkau (berhak) menyebutkannya? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya.” (QS. An-Nazi’at: 42-44) Dan apa yang disebutkan oleh sebagian orang dari hadits yang masyhur di kalangan awam bahwa beliau alaihissalam tidak menyusun di bawah bumi, maka itu tidak memiliki asal dalam kitab-kitab hadits, dan diriwayatkan dalam hadits: “Sesungguhnya dunia adalah seminggu dari minggu-minggu akhirat,” dan dalam kesahihannya ada catatan. Yang dimaksud dari perumpamaan ini dengan para pekerja adalah perbedaan upah-upah mereka, dan bahwa itu tidak terkait dengan banyaknya pekerjaan atau sedikitnya, tetapi dengan perkara-perkara lain yang dipertimbangkan di sisi Allah Ta’ala, dan betapa banyak pekerjaan yang sedikit menghasilkan apa yang tidak dihasilkan oleh pekerjaan yang banyak; ini adalah malam Lailatul Qadar, beramal di dalamnya lebih utama dari ibadah seribu bulan selainnya, dan mereka ini para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam menafkahkan di waktu-waktu seandainya orang lain menafkahkan dari emas sebesar gunung Uhud tidak akan mencapai satu mud salah seorang dari mereka dan tidak separuhnya dari kurma. Dan ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Allah mengutusnya pada kepala empat puluh tahun dari umurnya, dan Allah wafatkannya sedang beliau berusia enam puluh tiga tahun menurut pendapat masyhur, dan sungguh beliau telah unggul dalam masa ini – yang adalah dua puluh tiga tahun – dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat dan amal-amal saleh atas seluruh nabi-nabi sebelumnya, bahkan atas Nuh yang tinggal di tengah kaumnya seribu tahun kecuali lima puluh tahun menyeru mereka kepada penyembahan Allah sendiri tanpa sekutu bagi-Nya, dan beramal dengan ketaatan kepada Allah siang dan malam, pagi dan petang, shalawat Allah dan salam-Nya atasnya dan atas seluruh nabi-nabi semuanya.

Maka umat ini hanya dimuliakan dan dilipatgandakan pahalanya dengan berkah kepemimpinan nabinya dan kehormatannya dan keagungannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia memberikan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan bagimu cahaya yang dengannya kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Hal itu) agar Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tidak mampu menguasai sesuatu pun dari karunia Allah, dan bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mempunyai Karunia yang agung.” (QS. Al-Hadid: 28-29)

Pasal

Berita-berita tentang Bani Israil sangat banyak sekali dalam Kitab (Al-Qur’an) dan dalam Sunnah Nabi, dan seandainya kita mencoba menelusuri itu semua niscaya akan panjang kitab ini, tetapi kami menyebutkan apa yang disebutkan oleh Imam Abu Abdillah Al-Bukhari dalam bab ini, maka di dalamnya ada yang mencukupkan dan memadai dan ia adalah peringatan dan contoh untuk bab ini, wallahu a’lam.

Adapun berita-berita Israiliyat dari apa yang disebutkan oleh banyak dari ahli tafsir dan ahli sejarah maka sangat banyak sekali, dan di antaranya ada yang sahih sesuai dengan apa yang terjadi dan banyak di antaranya – bahkan kebanyakannya – dari apa yang disebutkan oleh para pencerita adalah dusta dan dibuat-buat, yang dikarang oleh orang-orang zindik dan sesat mereka, dan itu tiga bagian: di antaranya ada yang sahih karena sesuai dengan apa yang dikisahkan Allah dalam Kitab-Nya atau dikhabarkan oleh Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan di antaranya ada yang diketahui kebatilannya karena menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan di antaranya ada yang mungkin benar dan mungkin dusta, maka inilah yang kita diperintahkan untuk menahan diri darinya, maka kita tidak membenarkannya dan tidak mendustakannya; karena apa yang tetap dalam hadits sahih: “Jika Ahli Kitab menceritakan kepada kalian, maka janganlah kalian benarkan mereka dan janganlah kalian dustakan mereka, dan katakanlah: Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan diturunkan kepada kalian.” Dan boleh meriwayatkannya dengan hadits yang terdahulu ini: “Dan ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa.”

 

 

Pengubahan Ahli Kitab Dan Penggantian Agama-Agama Mereka

Adapun orang-orang Yahudi, maka sungguh Allah telah menurunkan kepada mereka Taurat melalui Musa bin Imran alaihissalam dan ia adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kemudian Kami berikan kepada Musa Kitab untuk menyempurnakan (nikmat) atas orang yang berbuat baik dan penjelasan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 154) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan Kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kalian jadikan lembaran-lembaran kertas yang kalian perlihatkan dan kalian sembunyikan banyak (darinya)?'” (QS. Al-An’am: 91) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan dan cahaya serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Anbiya’: 48) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami berikan kepada keduanya Kitab yang jelas, dan Kami tunjuki keduanya jalan yang lurus.” (QS. Ash-Shaffat: 117-118) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Para nabi yang berserah diri (kepada Allah) memutuskan dengan itu bagi orang-orang Yahudi, dan rabbani-rabbani serta ahli-ahli hukum mereka, dengan apa yang diamanahkan kepada mereka dari Kitabullah dan mereka menjadi saksi atasnya. Maka janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Dan barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma’idah: 44) Maka mereka memutuskan dengannya dan mereka berpegang teguh dengannya untuk sebentar dari masa, kemudian mereka mulai mengubahnya dan menggantinya dan mengubahnya dan menta’wilkannya dan menampakkan apa yang bukan darinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidah mereka dengan Kitab, agar kalian menyangka itu dari Kitab, padahal ia bukan dari Kitab, dan mereka berkata: ‘Ia dari sisi Allah,’ padahal ia bukan dari sisi Allah, dan mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 78) Maka Allah mengabarkan bahwa mereka menafsirkannya dan menta’wilkannya dan meletakkannya di selain tempat-tempatnya. Dan ini tidak ada perselisihan di dalamnya di antara para ulama, yaitu bahwa mereka bertindak dalam makna-maknanya dan membebankannya kepada selain yang dimaksud, sebagaimana mereka mengubah hukum rajam dan tahmim (menghitamkan wajah) dengan tetapnya lafaz rajam di dalamnya, dan sebagaimana mereka ketika pencuri di antara mereka adalah orang terhormat mereka membiarkannya, dan ketika pencuri di antara mereka adalah orang lemah mereka menegakkan had (hukuman) atasnya, padahal mereka diperintahkan untuk menegakkan had dan potong (tangan) atas orang terhormat dan rendah.

Adapun penggantian lafaz-lafaznya; maka sebagian orang berkata bahwa semuanya diganti, dan yang lain berkata: tidak diganti, dan mereka berdalil dengan firman-Nya Ta’ala: “Dan bagaimana mereka menjadikanmu hakim, padahal di sisi mereka ada Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah?” (QS. Al-Ma’idah: 43) Dan firman-Nya: “Yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil, menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik.” (QS. Al-A’raf: 157) Ayat. Dan dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Bawalah Taurat lalu bacalah ia jika kalian orang-orang yang benar.'” (QS. Ali Imran: 93) Dan dengan kisah rajam, karena sesungguhnya mereka – sebagaimana tetap dalam dua kitab Sahih dari Ibnu Umar, dan dalam Sahih Muslim dari Al-Bara’ bin Azib dan Jabir bin Abdillah, dan dalam Sunan dari Abu Hurairah dan selainnya – ketika mereka berhukum kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kisah laki-laki Yahudi dan perempuan Yahudi yang keduanya berzina, maka beliau bersabda kepada mereka: “Apa yang kalian dapati dalam Taurat tentang masalah rajam?” Maka mereka berkata: Kami mempermalukan mereka dan mereka dicambuk. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk menghadirkan Taurat, maka ketika mereka datang dengannya dan mereka mulai membacanya dan menyembunyikan ayat rajam yang ada di dalamnya, dan Abdullah bin Shuriya meletakkan tangannya di atas ayat rajam, dan membaca apa sebelumnya dan apa sesudahnya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Angkat tanganmu wahai orang buta!” Maka dia mengangkat tangannya, maka ternyata di sana ada ayat rajam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan merajam keduanya, dan bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang pertama yang menghidupkan perintah-Mu ketika mereka mematikannya.” Dan pada Abu Dawud bahwa mereka ketika datang dengannya beliau mencabut bantal dari bawahnya lalu meletakkannya di bawahnya, dan bersabda: “Aku beriman kepadamu dan kepada yang menurunkanmu.” Dan sebagian dari mereka menyebutkan bahwa beliau berdiri untuknya. Dan aku tidak menemukan sanadnya, wallahu a’lam.

Semua ini menjadi masalah atas apa yang dikatakan oleh banyak dari ahli kalam dan selain mereka: Bahwa Taurat terputus tawaturnya pada zaman Bukhtanashshar, dan tidak tersisa orang yang menghafalnya kecuali Uzair. Kemudian Uzair jika dia nabi maka dia ma’shum (terpelihara dari dosa) dan tawatur kepada orang yang ma’shum itu mencukupi, akan tetapi mungkin dikatakan: Bahwa ia tidak mutawatir kepadanya, tetapi setelahnya Zakariya dan Yahya dan Isa, dan semuanya berpegang teguh dengan Taurat, maka seandainya ia tidak sahih dan tidak diamalkan dengannya, niscaya mereka tidak akan menyandarkan padanya sedang mereka adalah nabi-nabi yang ma’shum. Kemudian sungguh Allah Ta’ala berfirman dalam apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad penutup para nabi, shalawat Allah dan salam-Nya atasnya dan atas semua nabi, mengingkari orang-orang Yahudi dalam maksud mereka yang rusak ketika mereka berpaling dari apa yang mereka yakini kesahihannya di sisi mereka – dan bahwa mereka diperintahkan dengannya secara pasti – hingga berhukum kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka menentang apa yang dibawanya, tetapi ketika ada – menurut sangkaan mereka – apa yang mungkin menyetujui mereka atas apa yang mereka ciptakan dari cambukan dan tahmim yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah secara pasti, dan mereka berkata: Jika dia memutuskan untuk kalian dengan cambukan dan tahmim maka terimalah itu, dan kalian akan menjadi orang-orang yang berdalih dengan hukum nabi kalian di sisi Allah pada hari kiamat, dan jika dia tidak memutuskan untuk kalian dengan ini, tetapi dengan rajam maka berhati-hatilah untuk menerimanya darinya.

Maka Allah Ta’ala mengingkari mereka dalam maksud rusak ini yang tidak membawa mereka kepadanya kecuali tujuan yang rusak dan mengikuti hawa nafsu, bukan agama yang benar, maka Allah berfirman: “Dan bagaimana mereka menjadikanmu hakim, padahal di sisi mereka ada Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling setelah itu? Dan mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Para nabi yang berserah diri (kepada Allah) memutuskan dengan itu bagi orang-orang Yahudi, dan rabbani-rabbani serta ahli-ahli hukum mereka, dengan apa yang diamanahkan kepada mereka dari Kitabullah.” (QS. Al-Ma’idah: 43-44) Ayat. Oleh karena itu ketika beliau memutuskan dengan rajam, beliau bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang pertama yang menghidupkan perintah-Mu ketika mereka mematikannya.” Dan beliau bertanya kepada mereka apa yang membawa mereka kepada ini? Dan mengapa mereka meninggalkan perintah Allah yang ada di tangan mereka? Maka mereka berkata: Sesungguhnya zina telah banyak di antara para bangsawan kami, dan tidak mungkin bagi kami untuk menegakkannya atas mereka, dan kami merajam siapa yang berzina dari kalangan lemah kami, maka kami berkata: ‘Marilah kepada suatu ketentuan yang setengahnya kami laksanakan bersama orang terpandang maupun orang hina.’ Lalu mereka bersepakat untuk menjatuhkan hukuman cambuk dan penghitaman (wajah). Ini termasuk bagian dari penyelewengan, penggantian, perubahan, dan penakwilan batil mereka. Hal itu mereka lakukan pada sisi makna, sementara lafaz rajam tetap ada dalam kitab mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis yang disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).

Oleh karena itu, sebagian orang berkata: sesungguhnya penggantian yang terjadi hanyalah pada makna-maknanya, sedangkan lafaz-lafaznya tetap ada, dan lafaz-lafaz itu menjadi hujjah atas mereka, karena seandainya mereka menegakkan semua isi kitab mereka, niscaya hal itu akan menuntun mereka untuk mengikuti kebenaran dan mengikuti Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Surah Al-A’raf: 157). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan.” (Surah Al-Ma’idah: 66). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.'” (Surah Al-Ma’idah: 68).

Pendapat ini, yaitu bahwa penggantian hanya terjadi pada makna-maknanya, bukan pada lafaz-lafaznya, telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas di akhir kitabnya “Ash-Shahih” dan beliau menetapkannya tanpa menolaknya. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh ulama besar Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam “Tafsir”-nya dari mayoritas ahli teologi.

Para fuqaha (ahli fikih) Hanafiyah berpendapat bahwa orang junub tidak boleh menyentuh Taurat dalam keadaan tidak berwudhu. Pendapat ini diriwayatkan oleh Al-Hanathi dalam fatwa-fatwanya dari sebagian pengikut Asy-Syafi’i, dan ini sangat aneh. Ulama lain mengambil jalan tengah antara dua pendapat ini, di antaranya adalah guru kami, imam dan ulama besar Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang berkata: Adapun orang yang berpendapat bahwa Taurat dan Injil seluruhnya telah diganti dari awal hingga akhir, tidak tersisa satu huruf pun kecuali telah mereka ganti, maka ini pendapat yang jauh dari kebenaran. Demikian juga orang yang berkata: tidak ada yang diganti sama sekali, ini juga pendapat yang jauh dari kebenaran. Yang benar adalah telah terjadi penggantian dan perubahan di dalamnya, dan mereka telah mengubah sebagian lafaznya dengan penambahan dan pengurangan, sebagaimana mereka mengubah makna-maknanya. Ini dapat diketahui ketika menelitinya dengan saksama, dan pembahasan rinci tentang hal ini ada di tempat lain. Wallahu a’lam.

Seperti perkataan mereka dalam kisah penyembelihan: “Sembelihlah anakmu yang tunggal,” dan dalam satu naskah: “anak sulungmu Ishaq.” Kata Ishaq ini ditambahkan dan disisipi tanpa keraguan, karena yang tunggal—yaitu anak sulung—adalah Ismail, karena ia lahir empat belas tahun sebelum Ishaq. Bagaimana mungkin yang tunggal dan sulung adalah Ishaq?! Yang mendorong mereka melakukan itu adalah iri hati terhadap bangsa Arab karena bapak mereka adalah yang disembelih, sehingga mereka ingin menghilangkan keutamaan ini dari bangsa Arab, lalu mereka menambahkan itu dalam Kitab Allah sebagai kebohongan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Banyak orang dari kalangan salaf dan khalaf tertipu dengan tambahan ini dan menyetujui mereka bahwa yang disembelih adalah Ishaq, padahal yang benar adalah yang disembelih adalah Ismail, sebagaimana telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.

Demikian juga dalam Taurat bangsa Samaria, pada Sepuluh Perintah terdapat tambahan perintah untuk menghadap ke Gunung Thur dalam shalat, sedangkan hal itu tidak terdapat dalam naskah-naskah Yahudi dan Nasrani lainnya. Begitu pula dalam Zabur yang diriwayatkan dari Dawud ‘alaihissalam terdapat banyak perbedaan, dan di dalamnya terdapat hal-hal yang ditambahkan dan dilampirkan padanya, padahal itu bukan dari Zabur. Wallahu a’lam.

Saya berkata: Adapun Taurat yang mereka miliki dalam bahasa Arab, tidak ada orang berakal yang meragukan perubahannya, penggantian banyak lafaznya, perubahan kisah-kisah dan ungkapan-ungkapan, serta penambahan dan pengurangan yang jelas dan nyata. Di dalamnya terdapat kebohongan yang nyata dan kesalahan yang sangat banyak. Adapun yang mereka baca dengan lisan mereka dan tulis dengan pena mereka, kami tidak dapat mengaksesnya, dan kami berprasangka bahwa mereka adalah pembohong dan pengkhianat yang banyak berbuat dusta terhadap Allah, para rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya.

Adapun orang-orang Nasrani, Injil mereka yang empat melalui jalur Markus, Lukas, Matius, dan Yohanes, lebih banyak perbedaannya, lebih banyak penambahan dan pengurangannya, dan lebih parah ketidaksesuaiannya dibandingkan Taurat. Mereka telah melanggar hukum-hukum Taurat dan Injil dalam banyak hal yang mereka syariatkan sendiri. Di antaranya adalah shalat mereka menghadap ke Timur, padahal ini tidak ada nashnya dan tidak diperintahkan dalam Injil yang empat itu. Demikian juga penggambaran gereja-gereja mereka, meninggalkan khitan, memindahkan puasa mereka ke musim semi dan menambahnya hingga lima puluh hari, memakan babi, menetapkan Amanat Besar (padahal itu adalah pengkhianatan kecil yang hina), rahbaniyah yaitu meninggalkan pernikahan bagi orang yang ingin beribadah dan mengharamkannya bagi mereka, serta kitab-kitab Qanun yang ditetapkan oleh tiga ratus delapan belas uskup bagi mereka.

Semua hal ini mereka ciptakan dan tetapkan pada masa Constantine bin Qusthus, pembangun kota Konstantinopel. Zamannya adalah tiga ratus tahun setelah Masih. Ayahnya adalah salah satu raja Romawi. Ia menikahi ibunya Helena dalam salah satu perjalanan berburunya di negeri Harran. Helena adalah seorang Nasrani menurut agama para rahib terdahulu. Ketika ia melahirkan Constantine, ia belajar filsafat dan mahir di dalamnya, serta memiliki kecenderungan terhadap agama Nasrani yang dianut ibunya, sehingga ia agak mengagungkan para pemimpinnya, namun ia tetap pada keyakinan para filsuf. Ketika ayahnya meninggal dan ia memegang kekuasaan penuh, ia memerintah rakyatnya dengan adil sehingga orang-orang mencintainya dan ia menjadi pemimpin mereka, menguasai seluruh wilayah Syam beserta Jazirah, dan kebesarannya meningkat.

Ia adalah Kaisar pertama. Kemudian terjadi perselisihan pada zamannya di antara orang-orang Nasrani. Terjadi persengketaan antara Patriark Iskandariyah Iksandrus dengan seorang ulama mereka bernama Abdullah bin Arius. Iksandrus berpendapat bahwa Isa adalah anak Allah—Maha Tinggi Allah dari perkataannya—sedangkan Ibnu Arius berpendapat bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Sekelompok orang Nasrani mengikutinya dalam pendapat ini, namun mayoritas yang merugi mengikuti pendapat patriark mereka. Ibnu Arius dan pengikutnya dilarang memasuki gereja. Lalu ia mengadu kepada Raja Constantine tentang Iksandrus dan pengikutnya. Raja bertanya kepadanya tentang pendapatnya. Abdullah bin Arius memaparkan pandangannya tentang Masih bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta memberikan dalil-dalilnya. Raja cenderung kepadanya dan condong pada pendapatnya. Orang-orang berkata kepadanya: “Sebaiknya Anda memanggil lawannya untuk mendengar perkataannya.” Maka raja memerintahkan untuk menghadirkannya dan meminta dari seluruh wilayah setiap uskup dan setiap orang yang memiliki ilmu dalam agama Nasrani, serta mengumpulkan empat patriark dari Yerusalem, Antiokhia, Roma, dan Iskandariyah. Konon mereka berkumpul selama satu tahun dua bulan, lebih dari dua ribu uskup.

Ia mengumpulkan mereka dalam satu majelis, yaitu Konsili pertama dari tiga konsili mereka yang terkenal. Mereka sangat berbeda pendapat dan sangat bercerai-berai. Ada kelompok dengan pendapat yang tidak disetujui oleh kelompok lain: lima puluh orang dengan satu pendapat, delapan puluh orang dengan pendapat lain, sepuluh orang dengan satu pendapat, empat puluh orang dengan pendapat lain, seratus orang dengan satu pendapat, dua ratus orang dengan pendapat lain, sekelompok orang dengan pendapat Ibnu Arius, dan kelompok lain dengan pendapat yang berbeda. Ketika perselisihan mereka memuncak dan perbedaan mereka menyebar, Raja Constantine bingung menghadapi mereka, padahal ia berprasangka buruk terhadap agama-agama selain agama Shabiun dari nenek moyangnya orang-orang Yunani. Ia memilih kelompok terbanyak yang memiliki satu pendapat, dan ternyata mereka adalah tiga ratus delapan belas uskup yang telah sepakat pada pendapat Iksandrus. Ia tidak menemukan kelompok yang mencapai jumlah mereka. Ia berkata: “Mereka lebih berhak untuk didukung pendapatnya karena mereka adalah kelompok terbesar.” Ia berkumpul khusus dengan mereka, meletakkan pedang dan cincinnya kepada mereka, dan berkata: “Aku melihat kalian adalah kelompok terbesar yang telah sepakat pada pendapat ini, maka aku akan mendukungnya dan mengikutinya.” Mereka sujud kepadanya. Ia meminta mereka menyusun kitab hukum untuknya, agar shalat menghadap ke Timur karena itu adalah terbitnya bintang-bintang yang bercahaya, dan agar mereka menggambar dalam gereja-gereja mereka gambar-gambar yang memiliki bentuk fisik. Mereka sepakat bahwa gambar itu hanya di dinding. Ketika mereka sepakat tentang itu, ia mulai mendukung mereka, menampakkan perkataan mereka, menegakkan pendapat mereka, menjauhkan orang yang menentang mereka dan melemahkan pendapat dan perkataannya. Maka pengikutnya menang dengan kekuasaannya atas penentang mereka. Ia memerintahkan untuk membangun gereja-gereja menurut agama mereka, dan mereka adalah Malkiyah (Melkite), dinisbatkan kepada agama raja. Dibangunlah pada masa Constantine di Syam dan tempat-tempat lain di kota-kota dan desa-desa lebih dari dua belas ribu gereja. Raja sangat memperhatikan pembangunan Bethlehem, yaitu di tempat kelahiran Masih. Ibunya Helena membangun Gereja Makam Suci di Yerusalem di tempat orang yang disalib yang diklaim oleh Yahudi dan Nasrani dengan kebodohan dan kurangnya akal mereka bahwa ia adalah Masih ‘alaihissalam. Konon ia membunuh orang-orang selain mereka, menggali parit-parit di bumi untuk mereka, menyalakan api di dalamnya dan membakar mereka dengannya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Surah Al-Buruj.

Agama Nasrani menjadi besar dan urusannya sangat tampak karena Raja Constantine, namun ia telah merusaknya bagi mereka dengan kerusakan yang tidak ada perbaikannya, tidak ada kesuksesan bersamanya, dan tidak ada keberuntungan darinya. Hari raya mereka bertambah banyak karena tokoh-tokoh mereka, gereja-gereja mereka bertambah banyak dengan nama-nama para pemuka mereka, kekufuran mereka memburuk, musibah mereka membesar, kesesatan mereka abadi, dan kecelakaan mereka besar. Allah tidak memberi petunjuk kepada hati mereka dan tidak memperbaiki keadaan mereka, bahkan mengalihkan hati mereka dari kebenaran dan memalingkan keadaan mereka dari jalan lurus. Kemudian mereka mengadakan dua konsili lagi dalam masalah Nestorianisme dan Yakobitisme. Setiap kelompok dari mereka mengkafirkan kelompok lain dan meyakini mereka kekal dalam neraka Jahannam, dan tidak membolehkan berkumpul dengan mereka di tempat-tempat ibadah dan gereja-gereja. Semua mereka mengatakan dengan Tiga Pribadi (Aqanim): Pribadi Bapak, Pribadi Anak, dan Pribadi Kalimat, namun di antara mereka ada perbedaan tentang hulul (tirakatan) dan ittihad (penyatuan) antara Lahut (ketuhanan) dan Nasut (kemanusiaan), apakah Lahut mengenakan Nasut, ataukah bersemayam di dalamnya, atau bersatu dengannya. Perbedaan mereka dalam hal itu sangat keras dan kekufuran mereka karenanya sangat parah. Semuanya berada di atas kebatilan kecuali yang berkata dari Arianisme, pengikut Abdullah bin Arius: sesungguhnya Masih adalah hamba Allah dan Rasul-Nya serta anak hamba-Nya, dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan roh dari-Nya, sebagaimana yang dikatakan kaum Muslim tentangnya, persis sama. Namun ketika urusan Arianisme menetap pada pendapat ini, ketiga kelompok lainnya menguasai mereka dengan pengusiran dan pencampakan hingga mereka menjadi sedikit, sehingga hari ini tidak diketahui seorang pun dari mereka sejauh yang kami ketahui. Wallahu a’lam.

Kitab Al-Jami’ untuk Berita Para Nabi Terdahulu

Allah Ta’ala berfirman: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian (yang lain). Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dengan dia dan Allah meninggikan sebagian (yang lain) beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” (Surah Al-Baqarah: 253). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah An-Nisa’: 163-165).

Ibnu Hibban telah meriwayatkan dalam Shahih-nya, Ibnu Mardawaih dalam Tafsir-nya, dan yang lainnya dari jalur Ibrahim bin Hisyam dari Yahya bin Yahya Al-Ghassani Asy-Syami—dan mereka telah membicarakannya—ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku dari Abu Idris dari Abu Dzar, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi?” Beliau bersabda: “Seratus ribu dan dua puluh empat ribu.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, berapa jumlah rasul di antara mereka?” Beliau bersabda: “Tiga ratus tiga belas, jumlah yang banyak.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang pertama di antara mereka?” Beliau bersabda: “Adam.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ia nabi yang diutus?” Beliau bersabda: “Ya, Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, meniupkan roh-Nya ke dalamnya, kemudian menyempurnakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, empat orang berbahasa Suryani: Adam, Syits, Nuh, dan Akhnukh yaitu Idris, dan ia adalah orang pertama yang menulis dengan pena. Empat orang dari bangsa Arab: Hud, Shalih, Syu’aib, dan nabimu wahai Abu Dzar. Nabi pertama dari Bani Israil adalah Musa, dan yang terakhir dari mereka adalah Isa. Nabi yang pertama adalah Adam, dan yang terakhir adalah nabimu.”

Hadits ini telah dikutip oleh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi dalam “Al-Maudhu’at” (hadits-hadits palsu). Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur lain. Ia berkata: Muhammad bin ‘Auf menceritakan kepada kami, Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, Ma’an bin Rifa’ah menceritakan kepada kami dari Ali bin Yazid bin Al-Qasim dari Abu Umamah, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi?” Beliau bersabda: “Seratus ribu dan dua puluh empat ribu. Para rasul di antara mereka adalah tiga ratus lima belas, jumlah yang banyak.” Hadits ini juga dari jalur ini lemah, di dalamnya ada tiga orang yang lemah: Ma’an, gurunya, dan guru dari gurunya.

Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili telah berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq Abu Abdillah Al-Jauhari Al-Bashri, telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidah Ar-Rabadzi dari Yazid Ar-Raqasyi dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah mengutus delapan ribu nabi, empat ribu kepada Bani Israil dan empat ribu kepada selain mereka.” Musa dan gurunya (Yazid) adalah perawi yang lemah.

Abu Ya’la juga berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabi’, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tsabit Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Mu’bad bin Khalid Al-Anshari dari Yazid Ar-Raqasyi dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Di antara saudara-saudaraku yang telah berlalu dari para nabi ada delapan ribu nabi, kemudian ada Isa putra Maryam, kemudian aku.” Yazid Ar-Raqasyi adalah perawi yang lemah. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Ismaili telah meriwayatkannya dari Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Thariq, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Sa’d dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Shafwan bin Sulaim dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabad: “Aku diutus setelah delapan ribu nabi, di antara mereka empat ribu dari Bani Israil.” Ini adalah sanad yang tidak mengapa, tetapi aku tidak mengenal keadaan Ahmad bin Thariq ini. Wallahu a’lam.

Hadits lain: Abdullah putra Imam Ahmad berkata: aku menemukan dalam kitab ayahku dengan tulisan tangannya: telah menceritakan kepadaku Abdul Muta’ali bin Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al-Umawi, telah menceritakan kepada kami Mujalid dari Abu Al-Waddak berkata: Abu Sa’id berkata: Apakah orang-orang Khawarij mengakui Dajjal? Aku berkata: Tidak. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah penutup seribu nabi atau lebih, dan tidak ada seorang nabi pun yang diutus dan ditaati melainkan dia memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Sungguh telah dijelaskan kepadaku tentang urusannya yang tidak dijelaskan kepada seorang pun. Ia adalah seorang yang buta sebelah, dan Tuhan kalian tidaklah buta. Mata kanannya buta dan menonjol tidak tersembunyi, seakan-akan lendir di dinding bercat kapur. Mata kirinya seperti bintang yang bersinar terang. Bersamanya ada dari setiap bahasa, bersamanya gambaran surga yang hijau mengalir di dalamnya air, dan gambaran neraka yang hitam berasap.” Ini adalah hadits yang gharib (asing).

Dan telah diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata: telah menceritakan kepada kami Amr bin Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Jabir berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku adalah penutup seribu nabi atau lebih, dan tidak ada seorang nabi pun di antara mereka melainkan dia memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Sungguh telah jelas bagiku tentang dia yang tidak jelas bagi seorang pun di antara mereka. Ia adalah buta sebelah, dan Tuhan kalian tidaklah buta.” Ini adalah sanad yang hasan dan ia dimaksudkan untuk menyebutkan jumlah nabi yang memperingatkan kaumnya tentang Dajjal, tetapi dalam hadits yang lain (disebutkan) tidak ada nabi melainkan dia memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Wallahu a’lam.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Furat berkata: aku mendengar Abu Hazim berkata: aku duduk bersama Abu Hurairah selama lima tahun dan aku mendengarnya menceritakan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bani Israil dahulu dipimpin oleh para nabi, setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada khalifah-khalifah dan mereka akan banyak.” Mereka bertanya: Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Penuhilah bai’at yang pertama kemudian yang pertama, berikanlah hak mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang Dia titipkan kepada mereka untuk mereka urus.” Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim dari Bundar, dan dari jalur lain dari Furat dengannya seperti itu.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku Al-A’masy, telah menceritakan kepadaku Syaqiq berkata: Abdullah yaitu Ibnu Mas’ud berkata: Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan tentang seorang nabi dari para nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, dan dia menyeka darah dari wajahnya sambil berkata: “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Al-A’masy dengannya seperti itu.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zaid bin Aslam, dari seorang laki-laki dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: seorang laki-laki meletakkan tangannya pada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Demi Allah, aku tidak sanggup meletakkan tanganku padamu karena demammu yang sangat panas. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kami para nabi, musibah dilipat gandakan untuk kami sebagaimana pahala dilipat gandakan untuk kami. Sesungguhnya ada nabi di antara para nabi yang diuji dengan kutu sampai membunuhnya, dan sesungguhnya ada nabi di antara para nabi yang diuji dengan kemiskinan sampai dia mengambil jubah lalu melilitkannya, dan sesungguhnya mereka bergembira dengan musibah sebagaimana kalian bergembira dengan kemudahan.” Demikian diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Zaid bin Aslam dari seorang laki-laki dari Abu Sa’id. Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Duhaim dari Ibnu Abi Fudaik dari Hisyam bin Sa’d dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id, lalu menyebutkannya.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ashim bin Abi An-Nujud dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang paling utama lalu yang paling utama dari manusia. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika ada keteguhan dalam agamanya maka ditambahkan ujiannya, dan jika ada kelemahan dalam agamanya maka diringankan darinya. Dan ujian itu terus menimpa hamba sehingga ia berjalan di muka bumi dan tidak ada lagi dosa padanya.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari hadits Ashim bin Abi An-Nujud. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih. Dan telah disebutkan sebelumnya dalam hadits: “Kami para nabi adalah saudara tiri, agama kami satu sedangkan ibu-ibu kami berbeda-beda.” Maknanya adalah bahwa syariat-syariat mereka meskipun berbeda dalam cabang-cabangnya, dan sebagiannya menasakh sebagian yang lain hingga semuanya berakhir pada apa yang Allah syariatkan untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan semoga shalawat dan salam Allah atasnya dan atas mereka semua, namun setiap nabi yang Allah utus maka agamanya adalah Islam yaitu tauhid, menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Surat Al-Anbiya: 25) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: Apakah Kami menjadikan tuhan-tuhan selain Yang Maha Pengasih untuk disembah?” (Surat Az-Zukhruf: 45) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut. Maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan di antara mereka ada yang telah pasti kesesatan atasnya.” Ayat tersebut (Surat An-Nahl: 36). Maka saudara tiri adalah bahwa ayah satu sedangkan ibu-ibunya berbeda-beda. Ayah adalah seperti agama yaitu tauhid, dan ibu-ibu adalah seperti syariat-syariat dalam perbedaan hukum-hukumnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan untuk setiap umat Kami jadikan ibadah agar mereka melaksanakannya.” (Surat Al-Hajj: 67) Dan firman-Nya: “Dan bagi setiap umat ada kiblat yang ia menghadap kepadanya.” (Surat Al-Baqarah: 148) menurut salah satu dari dua pendapat dalam tafsirnya.

Yang dimaksudkan adalah bahwa syariat-syariat meskipun beragam pada masanya, namun semuanya memerintahkan untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan itulah agama Islam yang Allah syariatkan untuk semua nabi, dan itulah agama yang tidak diterima Allah selainnya pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Surat Ali Imran: 85) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapa yang benci terhadap agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berislamlah! Ia menjawab: Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah mewasiatkannya kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub: Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Surat Al-Baqarah: 130-132) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengan itu para nabi yang berserah diri (muslim) memberikan keputusan bagi orang-orang Yahudi.” Ayat tersebut (Surat Al-Ma’idah: 44).

Maka agama Islam adalah menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, yaitu ikhlas kepada-Nya saja tanpa selain-Nya. Dan ihsan adalah melakukannya sesuai cara yang disyariatkan pada masa itu yang diperintahkan. Oleh karena itu Allah tidak menerima dari seorang pun amal setelah diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kecuali sesuai dengan apa yang disyariatkan untuknya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah untuk kalian semua.” (Surat Al-A’raf: 158) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini agar aku memperingatkan kalian dengannya dan siapa yang sampai (kepadanya).” (Surat Al-An’am: 19) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa mengingkarinya dari golongan-golongan maka neraka adalah tempat janjinya.” (Surat Hud: 17) Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus kepada yang merah dan yang hitam.” Dikatakan: yang dimaksud adalah orang Arab dan non-Arab. Dan dikatakan: jin dan manusia. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika Musa ada di antara kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, niscaya kalian sesat.” Hadits-hadits dalam hal ini sangat banyak.

Yang dimaksudkan adalah bahwa saudara tiri adalah mereka dari satu ayah sedangkan ibu-ibu mereka berbeda-beda, diambil dari minum setelah minum pertama. Adapun saudara se-ibu adalah kebalikan dari ini, yaitu ibu mereka satu dari ayah-ayah yang berbeda-beda. Dan saudara kandung adalah mereka yang seibu sebapak dari satu ayah dan satu ibu. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Dan dalam hadits yang lain: “Kami para nabi tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Ini adalah salah satu kekhususan para nabi bahwa mereka tidak diwarisi. Dan itu tidak lain karena dunia lebih hina di sisi mereka daripada untuk ditinggalkan setelah mereka. Dan karena tawakkal mereka kepada Allah Azza wa Jalla untuk keturunan mereka lebih besar, lebih kuat, dan lebih pasti daripada mereka membutuhkan meninggalkan harta untuk ahli waris mereka setelah mereka yang mereka ambil sendiri tanpa orang lain. Bahkan semua yang mereka tinggalkan menjadi sedekah untuk orang-orang miskin, orang-orang yang membutuhkan, dan orang-orang yang berkekurangan.

Dan kami akan menyebutkan semua yang khusus bagi para nabi alaihimus salam beserta kekhususan nabi kita shallallahu alaihi wasallam dan atas mereka semua di awal kitab Nikah dari kitab Al-Ahkam Al-Kabir dimana para imam dari kalangan penulis menyebutkannya dengan mengikuti Imam Abu Abdullah Asy-Syafi’i rahimahullah, dan atas mereka semua.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al-A’masy dari Zaid bin Wahb dari Abdurrahman bin Abdu Rabbil Ka’bah berkata: aku sampai kepada Abdullah bin Amr dan dia duduk di bawah bayangan Ka’bah, lalu aku mendengarnya berkata: Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau turun di suatu tempat. Di antara kami ada yang mendirikan kemahnya, ada yang sedang mencari ternak, dan ada yang sedang berlomba memanah, tiba-tiba penyeru beliau mengumumkan: Shalat bersama. Ia berkata: lalu kami berkumpul. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri lalu berkhutbah kepada kami. Beliau bersabda: “Tidak ada nabi sebelumku melainkan dia menunjukkan umatnya pada kebaikan yang ia ketahui bagi mereka dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui bagi mereka. Dan sesungguhnya umat kalian ini kesejahteraan mereka ditempatkan di awal mereka, dan sesungguhnya akhir mereka akan menimpa mereka bala yang keras dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Datang fitnah-fitnah, sebagiannya menjernihkan sebagian yang lain. Datang fitnah lalu orang mukmin berkata: Ini yang akan membinasakanku, kemudian tersingkap. Kemudian datang fitnah lalu orang mukmin berkata: Ini! Kemudian tersingkap. Maka barangsiapa di antara kalian yang senang dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaklah kematiannya menjumpainya sedangkan dia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah dia datang kepada manusia dengan yang dia suka didatangkan kepadanya. Dan barangsiapa membai’at seorang imam lalu memberikan tangan dan hatinya kepadanya, maka hendaklah dia menaatinya selama dia mampu. Jika datang orang lain menandinginya maka penggallah leher yang lain itu.” Ia berkata: lalu aku masukkan kepalaku dari antara orang-orang lalu aku berkata: Aku minta kesaksianmu kepada Allah, apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: lalu dia menunjuk dengan tangannya ke dua telinganya dan berkata: Kedua telingaku mendengarnya dan hatiku mengingatnya. Ia berkata: lalu aku berkata: Ini sepupumu yaitu Mu’awiyah memerintahkan kami untuk memakan harta kami di antara kami dengan batil, dan agar kami membunuh diri kami sendiri, padahal Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian di antara kalian dengan batil.” (Surat Al-Baqarah: 188) Ia berkata: lalu dia mengumpulkan kedua tangannya kemudian meletakkannya di keningnya, kemudian menunduk sebentar kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata: “Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan durhakailah dia dalam kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla.”

Ahmad juga meriwayatkannya dari Waki’ dari Al-A’masy dengannya, dan dia berkata di dalamnya: “Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada nabi sebelumku melainkan adalah hak atasnya untuk menunjukkan umatnya pada kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui bagi mereka.” Dan menyebutkan kelanjutannya seperti itu. Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari beberapa jalan dari Al-A’masy dengannya. Muslim juga meriwayatkannya dari hadits Asy-Sya’bi dari Abdurrahman bin Abdu Rabbil Ka’bah dari Abdullah bin Amr dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu.

Penyebutan Berita-berita Bangsa Arab

Dikatakan bahwa seluruh bangsa Arab dinasabkan kepada Ismail bin Ibrahim alaihimassalam, semoga salam dan penghormatan tercurah kepada keduanya. Yang benar dan masyhur adalah bahwa bangsa Arab Asli (al-‘Aribah) ada sebelum Ismail. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa bangsa Arab Asli di antaranya adalah ‘Ad, Tsamud, Thasm, Jadis, Umaim, Jurhum, ‘Amaliq, dan umat-umat lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Semua mereka ada sebelum Khalilurrahman (Ibrahim) alaihi ash-shalatu wassalam, dan juga pada zamannya. Adapun bangsa Arab Musta’ribah (yang menjadi Arab), yaitu orang Arab Hijaz, mereka dari keturunan Ismail bin Ibrahim alaihimassalam. Adapun orang Arab Yaman, yaitu Himyar, yang masyhur adalah mereka dari Qahthan yang namanya Muhrim, demikian menurut Ibnu Makulah. Mereka menyebutkan bahwa mereka adalah empat bersaudara: Qahthan, Qahith, Muqhith, dan Faligh. Qahthan bin Hud, ada yang mengatakan dia adalah Hud, ada yang mengatakan Hud adalah saudaranya, ada yang mengatakan dari keturunannya. Ada yang mengatakan bahwa Qahthan dari keturunan Ismail alaihi ash-shalatu wassalam, diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Sebagian dari mereka mengatakan: dia adalah Qahthan bin al-Humaisa’ bin Taiman bin Qaidzar bin Nabt bin Ismail. Ada yang menyebutkan silsilah nasabnya kepada Ismail dengan cara lain. Wallahu a’lam.

Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab tentang itu dengan mengatakan: Bab Nasab Yaman kepada Ismail alaihissalam. Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Yazid bin Abi Ubaid, telah menceritakan kepada kami Salamah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menemui sekelompok orang dari Aslam yang sedang berlomba memanah di pasar, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail, dan aku bersama Bani Fulan” – untuk salah satu kelompok – maka mereka berhenti memanah. Beliau bersabda: “Kenapa kalian?” Mereka menjawab: “Bagaimana kami memanah sedangkan engkau bersama Bani Fulan?” Maka beliau bersabda: “Panahlah, dan aku bersama kalian semua.” Hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Dalam sebagian lafaznya: “Panahlah wahai Bani Ismail, sesungguhnya ayah kalian adalah pemanah. Panahlah dan aku bersama Ibnu al-Adra'”. Maka kaum itu berhenti. Beliau bersabda: “Panahlah dan aku bersama kalian semua.” Al-Bukhari berkata: Aslam bin Afsha bin Haritsah bin Amr bin Amir dari Khuza’ah, yaitu Khuza’ah adalah kelompok dari yang tercerai-berai dari kabilah-kabilah Saba’ ketika Allah mengirimkan kepada mereka Sail al-‘Arim seperti akan dijelaskan nanti, dan Aus dan Khazraj adalah dari mereka. Beliau alaihi ash-shalatu wassalam bersabda kepada mereka: “Panahlah wahai Bani Ismail”, ini menunjukkan bahwa mereka dari keturunannya. Yang lain menta’wilkannya bahwa yang dimaksud dengan itu adalah jenis bangsa Arab, namun itu ta’wil yang jauh karena menyelisihi zhahir tanpa dalil. Akan tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa Arab Qahthaniyyah dari Arab Yaman dan lainnya bukan dari keturunan Ismail. Menurut mereka, seluruh bangsa Arab terbagi menjadi dua bagian: Qahthaniyyah dan Adnaniyyah. Qahthaniyyah dua cabang: Saba’ dan Hadhramaut. Adnaniyyah juga dua cabang: Rabi’ah dan Mudhar, keduanya putra Nizar bin Ma’d bin Adnan. Cabang kelima, yaitu Qudha’ah, ada perbedaan pendapat tentang mereka. Ada yang mengatakan: mereka adalah Adnaniyyah. Ibnu Abd al-Barr berkata: ini pendapat mayoritas. Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Jubair bin Muth’im, ini pilihan az-Zubair bin Bakkar, pamannya Mush’ab az-Zubairi, dan Ibnu Hisyam. Telah diriwayatkan dalam hadits “Qudha’ah bin Ma’d”, tetapi tidak shahih, demikian kata Ibnu Abd al-Barr dan lainnya. Dikatakan bahwa mereka di masa jahiliyyah mereka dan awal Islam terus menasabkan diri kepada Adnan. Ketika di zaman Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah, karena mereka adalah paman-paman dari pihak ibunya, mereka menasabkan diri kepada Qahthan. Maka al-A’sya bin Tsa’labah mengatakan dalam qashidahnya:

Sampaikanlah kepada Qudha’ah dalam surat bahwa mereka Seandainya bukan karena khalifah-khalifah keluarga Allah, mereka tidak akan merdeka Qudha’ah berkata: Sesungguhnya kami dari keturunan Yaman Dan Allah mengetahui mereka tidak berbakti dan tidak benar Mereka mengklaim ayah yang tidak pernah menggauli ibu mereka Mereka mengetahui tetapi itulah perpecahan

Abu Amr as-Suhaili juga menyebutkan dari sya’ir Arab, yang di dalamnya terdapat penjelasan menarik tentang Qudha’ah dalam penisbatan mereka kepada Yaman. Wallahu a’lam.

Pendapat kedua: bahwa mereka dari Qahthan, ini adalah pendapat Ibnu Ishaq, al-Kalbi, dan segolongan ahli nasab. Ibnu Ishaq berkata: Dia adalah Qudha’ah bin Malik bin Himyar bin Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Sebagian penyair mereka, yaitu Amr bin Murrah – seorang sahabat yang memiliki dua hadits – mengatakan:

Wahai sang penyeru, panggillah kami dan bergembiralah Dan jadilah Qudha’i dan jangan menyimpang Kami adalah putra syaikh yang mulia lagi bercahaya Qudha’ah bin Malik bin Himyar Nasab yang dikenal, tidak diingkari Di dalam batu yang terukir di bawah mimbar

Sebagian ahli nasab berkata: dia adalah Qudha’ah bin Malik bin Amr bin Murrah bin Zaid bin Himyar. Ibnu Lahi’ah berkata dari Ma’ruf bin Suwaid dari Abu ‘Asyaanah Hayy bin Yauman dari Uqbah bin Amir, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah kami dari Ma’d?” Beliau bersabda: “Tidak.” Aku bertanya: “Lalu dari siapa kami?” Beliau bersabda: “Kalian adalah Qudha’ah bin Malik bin Himyar.” Abu Umar Ibnu Abd al-Barr berkata: Mereka tidak berbeda pendapat bahwa Juhaynah bin Zaid bin Suwad bin Aslam bin Imran bin al-Haaf bin Qudha’ah adalah kabilah Uqbah bin Amir al-Juhani. Berdasarkan ini, Qudha’ah termasuk dalam Yaman, dalam Himyar bin Saba’. Sebagian ulama menggabungkan kedua pendapat ini dengan apa yang disebutkan oleh az-Zubair bin Bakkar dan lainnya, bahwa Qudha’ah adalah seorang wanita dari Jurhum yang dinikahi oleh Malik bin Himyar, lalu melahirkan untuknya Qudha’ah. Kemudian Ma’d bin Adnan menikahinya dan anaknya masih kecil – sebagian menyebutkan dia masih dalam kandungan – maka dinasabkan kepada suami ibunya, sebagaimana kebiasaan banyak dari mereka menasabkan seseorang kepada suami ibunya. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Sallam al-Bashri an-Nassabah berkata: Arab tiga kelompok besar: Adnaniyyah, Qahthaniyyah, dan Qudha’ah. Dikatakan kepadanya: Mana yang lebih banyak, Adnaniyyah atau Qahthaniyyah? Dia menjawab: Terserah Qudha’ah. Jika mereka condong ke Yaman maka Qahthaniyyah lebih banyak, dan jika mereka condong ke Ma’d maka Adnaniyyah lebih banyak. Ini menunjukkan bahwa mereka ragu-ragu dalam nasab mereka. Jika hadits Ibnu Lahi’ah yang disebutkan sebelumnya shahih, maka itu dalil bahwa mereka dari Qahthaniyyah. Wallahu a’lam. Allah Ta’ala berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat: 13) Para ulama nasab berkata: Dikatakan syu’ub (bangsa-bangsa), kemudian qaba’il (kabilah-kabilah), kemudian ‘ama’ir, kemudian buthun, kemudian afkhadz, kemudian fasha’il, kemudian ‘asyair. ‘Asyirah adalah orang yang paling dekat kepada seseorang, tidak ada setelahnya. Mari kita mulai pertama dengan menyebutkan Qahthaniyyah, kemudian setelah mereka kita sebutkan Arab Hijaz yaitu Adnaniyyah dan apa yang terjadi pada masa Jahiliyyah agar menyambung dengan sirah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, insya Allah Ta’ala, dan kepada-Nya kami bertawakkal.

Al-Bukhari berkata: Bab Penyebutan Qahthan. Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Tsaur bin Zaid dari Abu al-Ghaits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan terjadi Kiamat hingga keluar seorang laki-laki dari Qahthan yang menggiring manusia dengan tongkatnya.” Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim dari Qutaibah dari ad-Darawardi dari Tsaur bin Zaid dengannya. As-Suhaili berkata: Qahthan adalah orang pertama yang dikatakan kepadanya: Abaita al-la’na (semoga engkau bermalam tanpa laknat), dan orang pertama yang dikatakan kepadanya: An’im shabahan (selamat pagi). Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah dari Huraiz, telah menceritakan kepadaku Rasyid bin Sa’d al-Miqra’i dari Abu Hayy dari Dzi Mikhbar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Urusan ini dahulu ada pada Himyar, lalu Allah mencabutnya dari mereka dan menjadikannya pada Quraisy” (dan akan kembali kepada mereka). Abdullah berkata: Demikian ada dalam kitab ayahku terputus, dan ketika dia menceritakannya kepada kami, dia mengucapkannya dengan lengkap, yaitu: “dan akan kembali kepada mereka.”

Kisah Saba’

Allah Ta’ala berfirman: Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah oleh kalian dari rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (dan Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon tamariska dan sedikit dari pohon bidara. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. Dan Kami jadikan antara mereka dengan negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah padanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kalian di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman. Tetapi mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah (jarak) perjalanan kami,” dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (Saba’: 15-19)

Para ulama nasab, di antaranya Muhammad bin Ishaq berkata: Nama Saba’ adalah Abd Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Mereka berkata: Dia adalah orang pertama yang melakukan penawanan (sabyu) di kalangan Arab, maka dinamai Saba’ karenanya. Dia dijuluki ar-Ra’isy karena dia memberikan harta dari hartanya kepada manusia. As-Suhaili berkata: Dikatakan bahwa dia adalah orang pertama yang memakai mahkota. Sebagian mereka menyebutkan bahwa dia adalah seorang muslim dan memiliki sya’ir yang mengabarkan keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antaranya ucapannya:

Akan memerintah setelah kami seorang raja yang agung Seorang nabi yang tidak mengizinkan yang haram Dan akan memerintah setelahnya dari mereka raja-raja Yang membuat manusia beragama tanpa celaan Dan akan memerintah setelah mereka dari kami raja-raja Kerajaan menjadi pada kami dengan pembagian Dan akan memerintah setelah Qahthan seorang nabi Yang takwa dan rendah hati, sebaik-baik manusia Yang dinamai Ahmad, alangkah berharapnya aku Hidup setelah diutusnya satu tahun Maka aku akan membantunya dan mencintainya dengan pertolonganku Dengan setiap pasukan bersenjata dan setiap pemanah Kapanpun dia muncul, jadilah penolongnya Dan siapa yang menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya

Diriwayatkan oleh Ibnu Dihyah dalam kitabnya at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Abdullah bin Hubairah as-Saba’i dari Abdurrahman bin Wa’lah, aku mendengar Abdullah bin Abbas berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang Saba’, apakah itu? Apakah laki-laki, perempuan, atau negeri? Beliau bersabda: “Bahkan dia adalah laki-laki yang melahirkan sepuluh anak. Enam di antaranya menetap di Yaman dan empat di Syam. Adapun yang Yamani: Madzhij, Kindah, al-Azd, al-Asy’ariyyun, Anmar, dan Himyar. Adapun yang Syami: Lakhm, Judzam, Amilah, dan Ghassaan.” Telah kami sebutkan dalam Tafsir bahwa Farwah bin Musaik al-Ghuthayfi adalah yang bertanya tentang itu, sebagaimana telah kami uraikan jalur-jalur hadits ini dan lafaz-lafaznya di sana, walillahilhamd.

Yang dimaksud adalah bahwa Saba’ menghimpun semua kabilah ini. Pada mereka ada para Tababi’ah (jamak dari Tubba’) di negeri Yaman, satu di antaranya disebut Tubba’. Raja-raja mereka memiliki mahkota yang mereka pakai saat memerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh para Akasiroh, raja-raja Persia. Bangsa Arab menyebut setiap orang yang memerintah Yaman bersama Syihr dan Hadhramaut dengan Tubba’, sebagaimana mereka menyebut yang memerintah Syam bersama Jazirah dengan Qaishar, yang memerintah Persia dengan Kisra, yang memerintah Mesir dengan Fir’aun, yang memerintah Habasyah dengan an-Najasyi, dan yang memerintah India dengan Bathlaymus. Di antara raja-raja Himyar di negeri Yaman ada Balqis. Telah kami sebutkan kisahnya dengan Sulaiman alaihissalam sebelumnya. Mereka dahulu dalam kenikmatan yang besar, rezeki yang melimpah, buah-buahan dan tanaman yang banyak. Mereka dengan semua itu berada di atas istiqamah, kejujuran, dan jalan petunjuk. Ketika mereka menukar nikmat Allah dengan kekufuran, mereka membawa kaumnya ke negeri kebinasaan.

Muhammad bin Ishaq dari Wahb bin Munabbih berkata: Allah mengutus kepada mereka tiga belas nabi. As-Suddi menyebutkan bahwa Allah mengutus kepada mereka dua belas ribu nabi. Wallahu a’lam. Yang dimaksud adalah ketika mereka beralih dari petunjuk kepada kesesatan, bersujud kepada matahari selain Allah – hal itu terjadi di zaman Balqis dan sebelumnya juga – dan berlanjut pada mereka hingga Allah mengirimkan kepada mereka Sail al-‘Arim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon tamariska dan sedikit dari pohon bidara. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

Lebih dari satu ulama Salaf dan Khalaf dari kalangan mufassir dan lainnya menyebutkan bahwa bendungan Ma’rib, pembuatannya adalah: air mengalir dari antara dua gunung, maka mereka di zaman dahulu menutup ruang di antara keduanya dengan bangunan yang sangat kokoh hingga air naik dan mengendalikan puncak-puncak kedua gunung. Mereka menanam di dalamnya kebun-kebun dan pohon-pohon berbuah yang indah, dan menanam tanaman yang banyak. Dikatakan bahwa yang pertama kali membangunnya adalah Saba’ bin Ya’rub. Dia mengalirkan ke sana tujuh puluh lembah yang mengalir ke sana dan membuat untuk itu tiga puluh lubang tempat air keluar. Dia meninggal dan belum menyelesaikan pembangunannya, maka Himyar menyempurnakannya setelahnya. Luasnya satu farsakh kali satu farsakh. Mereka dalam kenikmatan besar dan kehidupan yang makmur serta hari-hari yang baik, hingga Qatadah dan lainnya menyebutkan bahwa seorang wanita berjalan dengan keranjang di atas kepalanya, lalu penuh dengan buah-buahan yang jatuh ke dalamnya karena kematangannya dan banyaknya. Mereka menyebutkan bahwa di negeri mereka tidak ada kutu dan hewan-hewan yang menyakitkan karena sehatnya udara mereka dan baiknya halaman mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah oleh kalian dari rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (dan Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim: 7) Ketika mereka menyembah selain Allah, berbangga diri dengan nikmat-Nya, dan meminta setelah dekatnya jarak antara negeri-negeri mereka dan baiknya kebun-kebun di antaranya serta amannya jalan-jalan, mereka meminta agar dijauhkan jarak perjalanan mereka, dan agar perjalanan mereka dalam kesulitan dan keletihan. Mereka meminta untuk diganti kebaikan dengan keburukan, sebagaimana Bani Israil meminta pengganti mann dan salwa dengan sayur-sayuran, mentimun, bawang putih, lentil, dan bawang. Maka dicabut dari mereka nikmat besar dan karunia yang agung itu dengan kehancuran negeri dan keterceraian di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir yang besar. Lebih dari satu ulama berkata: Allah mengirimkan ke dasar bendungan tikus, yaitu tikus besar, dan dikatakan: tikus tanah. Ketika mereka menyadari hal itu, mereka menjaga di sana kucing-kucing, tetapi tidak berguna karena takdir sudah datang, dan kehati-hatian tidak bermanfaat. Tidak ada perlindungan. Ketika kerusakan telah menguasai dasarnya, bendungan runtuh dan jebol. Maka air mengalir ke lembah, terputuslah saluran-saluran dan sungai-sungai itu, lenyaplah buah-buahan itu, musnahlah tanaman dan pohon-pohon itu. Mereka diganti setelahnya dengan pohon-pohon dan buah-buahan yang buruk, sebagaimana firman Yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa: dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon tamariska. Ibnu Abbas, Mujahid, dan lebih dari satu ulama berkata: yaitu pohon arak yang buahnya bidara. Dan pohon tamariska, yaitu pohon tharfa’, dan dikatakan: yang menyerupainya, yaitu kayu bakar yang tidak berbuah. Dan sedikit dari pohon bidara. Hal itu karena ketika berbuah nabiq, buahnya sedikit padahal durinya banyak. Buahnya dibandingkan dengannya seperti yang dikatakan dalam peribahasa: Daging unta kurus di atas gunung yang sulit, tidak mudah didaki dan tidak gemuk untuk diambil. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. Artinya: hanya kami hukum dengan hukuman berat ini orang yang kafir kepada Kami, mendustakan rasul-rasul Kami, menyelisihi perintah Kami, dan melanggar larangan-larangan Kami. Allah Ta’ala berfirman: maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Hal itu karena ketika harta mereka hancur dan negeri mereka rusak, mereka butuh untuk pindah darinya dan berpindah darinya. Maka mereka bercerai-berai di dataran rendah dan dataran tinggi negeri, terpecah-pecah. Kelompok dari mereka turun ke Hijaz, yaitu Khuza’ah yang turun di sekitar Mekah, dan akan kami sebutkan urusan mereka. Sebagian dari mereka ke Madinah Nabawiyyah hari ini, mereka adalah orang pertama yang mendiaminya. Kemudian turun di tempat mereka tiga kabilah dari Yahudi: Banu Qainuqa’, Banu Quraizhah, dan Banu an-Nadhir. Mereka bersekutu dengan Aus dan Khazraj dan tinggal bersama mereka, dan akan kami sebutkan urusan mereka. Kelompok lain dari mereka turun di Syam, yaitu yang masuk Nasrani setelahnya, mereka adalah Ghassaan, Amilah, Bahra’, Lakhm, Judzam, Tanukh, Taghlib, dan lainnya. Akan kami sebutkan mereka ketika menyebutkan penaklukan Syam di zaman dua Syaikh (Abu Bakar dan Umar) radhiyallahu anhuma.

Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah, ia berkata: Al-A’sya bin Qais bin Tsa’labah, yaitu Maimun bin Qais, berkata:

Dan dalam hal itu terdapat penghiburan bagi orang yang berduka, dan Ma’rib yang telah ditimpa banjir Arim. Batu-batu yang dibangun oleh Himyar untuk mereka, ketika air datang tidak tertahan. Lalu mengaliri tanaman dan anggur-anggur mereka, dengan luas air mereka ketika dibagi. Maka mereka menjadi tercerai-berai tidak mampu darinya untuk minum bayi yang disapih.

Muhammad bin Ishaq telah menyebutkan dalam kitab As-Sirah bahwa orang pertama yang keluar dari Yaman sebelum banjir Arim adalah Amr bin Amir Al-Lakhmi. Lakhm adalah putra Adi bin Al-Harits bin Murrah bin Adad bin Zaid bin Humais’ bin Amr bin ‘Ariib bin Yasyjub bin Zaid bin Kahlan bin Saba. Dan dikatakan: Lakhm bin Adi bin Amr bin Saba, demikian menurut Ibnu Hisyam.

Ibnu Ishaq berkata: Penyebab keluarnya ia dari Yaman, menurut apa yang diceritakan kepadaku oleh Abu Zaid Al-Anshari, adalah bahwa ia melihat tikus menggali bendungan Ma’rib yang dahulu menahan air untuk mereka sehingga mereka bisa mengalirkannya ke mana pun mereka mau di tanah mereka. Maka ia tahu bahwa tidak ada kelangsungan bagi bendungan itu, lalu ia bertekad untuk berpindah dari Yaman. Ia menipu kaumnya dengan memerintahkan putra bungsunya agar menamparnya ketika ia bersikap keras kepadanya. Maka putranya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Lalu Amr berkata: “Aku tidak akan tinggal di negeri di mana putra bungsuku menampar wajahku.” Ia pun menjual harta bendanya. Para pembesar dari Yaman berkata: “Manfaatkanlah kemarahan Amr,” lalu mereka membeli harta bendanya. Ia pindah bersama anak-anaknya dan cucu-cucunya. Kabilah Azd berkata: “Kami tidak akan meninggalkan Amr bin Amir,” maka mereka menjual harta benda mereka dan keluar bersamanya. Mereka berjalan hingga singgah di tanah Akk sambil mencari-cari negeri. Akk memerangi mereka, perang mereka bergantian. Tentang hal itu Abbas bin Mirdas berkata:

Dan Akk bin Adnan yang mempermainkan Ghasan hingga mengusir setiap yang diusir.

Ia berkata: Maka mereka berangkat dari mereka dan berpencar di berbagai negeri. Keluarga Jafnah bin Amr bin Amir menetap di Syam, Aus dan Khazraj menetap di Yatsrib, Khuza’ah menetap di Marr, Azd As-Sarāh menetap di As-Sarāh, Azd Oman menetap di Oman. Kemudian Allah Ta’ala mengirimkan banjir ke bendungan itu sehingga menghancurkannya. Tentang hal itu Allah menurunkan ayat-ayat ini. Dan telah diriwayatkan dari As-Suddi yang serupa dengan ini, dan dari Muhammad bin Ishaq dalam suatu riwayat bahwa Amr bin Amir adalah seorang dukun. Dan selain dia mengatakan bahwa istrinya, Tarifah binti Al-Khair Al-Himyariyyah, adalah seorang dukun perempuan, ia mengabarkan tentang akan segera binasanya negeri mereka. Seolah-olah mereka melihat buktinya pada tikus yang ditimpakan kepada bendungan mereka, maka mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Wallahu a’lam. Dan telah disebutkan kisahnya secara panjang lebar dari Ikrimah dalam apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir.

Pasal

Tidak semua Saba keluar dari Yaman ketika mereka ditimpa banjir Arim, bahkan kebanyakan mereka tetap di sana. Yang pergi adalah penduduk Ma’rib yang memiliki bendungan itu, lalu mereka berpencar di berbagai negeri. Ini adalah maksud dari hadits yang telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas bahwa seluruh kabilah Saba tidak keluar dari Yaman, bahkan hanya empat kabilah saja yang sial, sedangkan enam kabilah tetap di Yaman, yaitu Madzhij, Kindah, Anmār, Al-Asy’ariyyun. Anmār adalah bapak Khatsa’m dan Bajilah serta Himyar. Ini adalah enam kabilah dari Saba yang menetap di Yaman. Kerajaan dan para Tabābi’ah tetap pada mereka hingga direbut oleh raja Habasyah dengan pasukan yang dikirimnya bersama dua pemimpinnya, Abrahah dan Aryat, selama sekitar tujuh puluh tahun. Kemudian Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari merebutnya kembali, dan hal itu terjadi sedikit sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana akan kami sebutkan secara terperinci nanti insya Allah Ta’ala, dan kepada-Nyalah kami bertawakkal dan bergantung.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ke penduduk Yaman, Ali dan Khalid bin Al-Walid, kemudian Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal yang menyeru kepada Allah Ta’ala dan menjelaskan kepada mereka berbagai hujjah. Kemudian Al-Aswad Al-Ansi menguasai Yaman dan mengusir wakil-wakil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari sana. Ketika Al-Aswad terbunuh, kekuasaan Islam atas Yaman mantap pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana akan kami jelaskan setelah pembahasan masa kenabian insya Allah Ta’ala.

 

 

Kisah Rabi’ah bin Nashr bin Abi Haritsah bin Amr bin Amir yang telah disebutkan sebelumnya, Al-Lakhmi

Demikianlah disebutkan oleh Ibnu Ishaq. As-Suhaili berkata: Para ahli nasab Yaman mengatakan: Nashr bin Rabi’ah, dan ia adalah Rabi’ah bin Nashr bin Al-Harits bin Nimarah bin Lakhm. Az-Zubair bin Bakkar berkata: Rabi’ah bin Nashr bin Malik bin Sya’wudz bin Malik bin ‘Ajam bin Amr bin Nimarah bin Lakhm. Lakhm adalah saudara Judzam. Ia dinamai Lakhma karena ia melathama (menampar) saudaranya, lalu saudaranya yang lain menggigit tangannya sehingga melukai (jadzama) tangannya, maka ia dinamai Judzam.

Rabi’ah adalah salah satu raja Himyar dari para Tabābi’ah. Kabarnya dengan Syiqq dan Sathih, dua orang dukun, dan peringatan mereka tentang keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun Sathih, namanya adalah Rabi’ bin Rabi’ah bin Mas’ud bin Mazin bin Dzi’b bin Adi bin Mazin bin Ghasan. Adapun Syiqq, ia adalah putra Sha’b bin Yasykur bin Rahm bin Afrāk bin Qasar bin Abqar bin Anmār bin Nizar. Di antara mereka ada yang mengatakan: Anmār bin Arāsy bin Lahyān bin Amr bin Al-Ghautsbin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba. Dan dikatakan: Sathih tidak memiliki anggota badan, ia hanya seperti bidang datar, dan wajahnya di dadanya. Ia apabila marah, mengembang dan duduk. Syiqq adalah setengah manusia. Dikatakan bahwa Khalid bin Abdullah bin Al-Qasri adalah keturunannya. As-Suhaili menyebutkan bahwa keduanya lahir pada hari yang sama, yaitu hari ketika Tarifah binti Al-Khair Al-Himyariyyah meninggal. Dikatakan bahwa ia meludah ke mulut masing-masing dari mereka, maka mereka mewarisi kemampuan meramal darinya. Ia adalah istri Amr bin Amir yang telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Ishaq berkata: Rabi’ah bin Nashr adalah raja Yaman di antara berbagai raja Tabābi’ah. Ia bermimpi mimpi yang menakutkannya dan membuatnya ngeri. Ia tidak meninggalkan seorang dukun, tukang sihir, peramal burung, atau ahli nujum pun dari penduduk kerajaannya melainkan mengumpulkan mereka kepadanya. Ia berkata kepada mereka: “Aku telah melihat mimpi yang menakutkanku dan membuatku ngeri, maka beritahukanlah kepadaku tentangnya dan takwilnya.” Mereka berkata: “Ceritakanlah kepadaku, kami akan memberitahumu takwilnya.” Ia berkata: “Sesungguhnya jika aku memberitahumu tentangnya, aku tidak akan tenang dengan kabar kalian tentang takwilnya, karena tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali yang mengetahuinya sebelum aku memberitahunya.” Seorang laki-laki dari mereka berkata kepadanya: “Jika raja menginginkan ini, maka kirimkanlah utusan kepada Syiqq dan Sathih, karena tidak ada yang lebih tahu dari keduanya, mereka berdua akan memberitahumu tentang apa yang ia tanyakan.” Maka ia mengutus kepada keduanya. Sathih datang kepadanya sebelum Syiqq. Ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku telah melihat mimpi yang menakutkanku dan membuatku ngeri, maka beritahukanlah kepadaku tentangnya, karena jika engkau benar tentangnya, engkau akan benar pula tentang takwilnya.” Ia berkata: “Aku akan melakukannya. Engkau melihat nyala api keluar dari kegelapan lalu jatuh di tanah Tihamah dan memakan darinya setiap yang memiliki tengkorak.” Raja berkata kepadanya: “Engkau tidak salah sedikitpun darinya wahai Sathih, maka apa pendapatmu tentang takwilnya?” Ia berkata: “Aku bersumpah dengan apa yang ada di antara dua tanah berbatu dari ular, sungguh akan turun ke tanah kalian orang-orang Habasyah, lalu mereka akan memerintah antara Abyan hingga Jurusy.” Raja berkata kepadanya: “Demi bapakmu wahai Sathih, sesungguhnya ini bagi kami sangat menyedihkan dan menyakitkan. Kapan hal itu terjadi? Apakah di zamanku atau setelahnya?” Ia berkata: “Tidak, bahkan setelahnya beberapa waktu, lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun yang berlalu.” Ia berkata: “Apakah itu akan langgeng dari kekuasaan mereka atau terputus?” Ia berkata: “Bahkan akan terputus untuk beberapa puluh tujuh tahun, kemudian mereka dibunuh dan keluar darinya dalam keadaan melarikan diri.” Ia berkata: “Dan siapa yang akan melakukan pembunuhan mereka dan pengusiran mereka?” Ia berkata: “Iram Dzi Yazan yang akan menguasai mereka, keluar dari Aden, lalu tidak meninggalkan seorang pun dari mereka di Yaman.” Ia berkata: “Apakah itu akan langgeng dari kekuasaannya atau terputus?” Ia berkata: “Bahkan akan terputus.” Ia berkata: “Dan siapa yang akan memutusnya?” Ia berkata: “Seorang nabi yang suci yang datang kepadanya wahyu dari Yang Maha Tinggi.” Ia berkata: “Dan dari mana nabi ini?” Ia berkata: “Seorang laki-laki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr, kerajaan akan ada pada kaumnya hingga akhir masa.” Ia berkata: “Dan apakah masa memiliki akhir?” Ia berkata: “Ya, yaitu hari ketika dikumpulkan di dalamnya orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, orang-orang yang berbuat baik akan berbahagia di dalamnya, dan orang-orang yang berbuat buruk akan sengsara di dalamnya.” Ia berkata: “Apakah benar apa yang engkau kabarkan kepadaku?” Ia berkata: “Ya, demi syafaq dan ghasaq dan falaq ketika meluas, sesungguhnya apa yang aku kabarkan kepadamu adalah benar.

Ia berkata: Kemudian Syiqq datang kepadanya, ia berkata kepadanya seperti perkataannya kepada Sathih, dan ia menyembunyikan darinya apa yang dikatakan Sathih untuk melihat apakah keduanya sepakat atau berbeda. Ia berkata: “Ya, engkau melihat nyala api keluar dari kegelapan lalu jatuh di antara taman dan bukit, lalu memakan darinya setiap yang bernyawa.” Ketika ia mengatakan itu kepadanya, ia tahu bahwa keduanya sepakat dan perkataan mereka satu, kecuali bahwa Sathih berkata: “Jatuh di tanah Tihamah lalu memakan darinya setiap yang memiliki tengkorak,” sedangkan Syiqq berkata: “Jatuh di antara taman dan bukit lalu memakan darinya setiap yang bernyawa.” Raja berkata kepadanya: “Engkau tidak salah sedikitpun darinya wahai Syiqq, maka apa pendapatmu tentang takwilnya?” Ia berkata: “Aku bersumpah dengan apa yang ada di antara dua tanah berbatu dari manusia, sungguh akan turun ke tanah kalian orang-orang Sudan, lalu mereka akan menguasai setiap ujung jari anak kecil, dan akan memerintah antara Abyan hingga Najran.” Raja berkata kepadanya: “Demi bapakmu wahai Syiqq, sesungguhnya ini bagi kami sangat menyedihkan dan menyakitkan. Kapan hal itu terjadi? Apakah di zamanku atau setelahnya?” Ia berkata: “Tidak, bahkan setelahnya beberapa waktu, kemudian kalian akan diselamatkan dari mereka oleh seorang yang agung yang memiliki kedudukan tinggi, dan ia akan merasakan kepada mereka kehinaan yang paling keras.” Ia berkata: “Dan siapa yang agung berkedudukan tinggi ini?” Ia berkata: “Seorang pemuda bukan orang hina dan bukan orang lemah, ia keluar terhadap mereka dari keluarga Dzi Yazan.” Ia berkata: “Apakah kekuasaannya langgeng atau terputus?” Ia berkata: “Bahkan akan terputus oleh seorang rasul yang diutus, datang dengan kebenaran dan keadilan, dari ahli agama dan keutamaan, kerajaan akan ada pada kaumnya hingga hari pemisahan.” Ia berkata: “Dan apa itu hari pemisahan?” Ia berkata: “Hari ketika dibalas di dalamnya para wali, dipanggil di dalamnya dari langit dengan panggilan-panggilan, didengar darinya orang-orang hidup dan orang-orang mati, dan dikumpulkan manusia di dalamnya untuk waktu yang ditentukan, akan ada di dalamnya bagi orang yang bertakwa kemenangan dan kebaikan-kebaikan.” Ia berkata: “Apakah benar apa yang engkau katakan?” Ia berkata: “Ya, demi Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dari yang tinggi dan rendah, sesungguhnya apa yang aku kabarkan kepadamu adalah benar, tidak ada keragu-raguan di dalamnya.

Ibnu Ishaq berkata: Maka terbesit di hati Rabi’ah bin Nashr apa yang mereka katakan, lalu ia mempersiapkan anak-anaknya dan keluarganya ke Irak, dan menulis surat untuk mereka kepada seorang raja dari raja-raja Persia yang disebut Sabur bin Khurzadz, lalu ia menempatkan mereka di Al-Hirah. Ibnu Ishaq berkata: Dari sisa keturunan Rabi’ah bin Nashr adalah An-Nu’man bin Al-Mundzir bin An-Nu’man bin Al-Mundzir bin Amr bin Adi bin Rabi’ah bin Nashr, yaitu yang menjadi wakil di Al-Hirah untuk raja-raja Akasira (Persia), dan orang-orang Arab datang kepadanya dan memujinya. Ini yang dikatakan Muhammad bin Ishaq bahwa An-Nu’man bin Al-Mundzir dari keturunan Rabi’ah bin Nashr, dikatakan oleh kebanyakan orang. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab ketika didatangi pedang An-Nu’man bin Al-Mundzir, bertanya kepada Jubair bin Muth’im tentangnya dari mana ia berasal. Ia berkata: “Dari serpihan Qanash bin Ma’ad bin Adnan.” Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah lebih mengetahui mana yang benar.

Kisah Tubba’ Abu Karib Tubban As’ad Raja Yaman dengan penduduk Madinah, dan bagaimana ia ingin menyerang Baitullah Al-Haram, kemudian memuliakan dan mengagungkannya serta mengenakan kepadanya kain-kain, maka ia adalah orang pertama yang mengenakan kain kepadanya.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rabi’ah bin Nashr meninggal, kekuasaan Yaman semuanya kembali kepada Hassan bin Tubban As’ad Abu Karib. Tubban As’ad adalah Tubba’ yang terakhir, putra Kulaikirab bin Zaid. Zaid adalah Tubba’ yang pertama, putra Amr Dzi Al-Adz’ar bin Abrahah Dzi Al-Manar bin Ar-Ra’isy bin Adi bin Shaifi bin Saba Al-Ashghar bin Ka’b – Kahfu Azh-Zhulm – bin Zaid bin Sahl bin Amr bin Qais bin Mu’awiyah bin Jasym bin Abd Syams bin Wa’il bin Al-Ghauts bin Qathan bin ‘Ariib bin Zuhair bin Anas bin Al-Humais’ bin Al-‘Aranjaj. Al-‘Aranjaj adalah Himyar bin Saba Al-Akbar bin Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan.

Abdul Malik bin Hisyam berkata: Saba bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan.

Ibnu Ishaq berkata: Tubban As’ad Abu Karib adalah orang yang datang ke Madinah, membawa dua orang habar (ahli) dari Yahudi ke Yaman, memakmurkan Baitullah Al-Haram, dan mengenakan kain kepadanya. Kerajaannya sebelum kerajaan Rabi’ah bin Nashr. Ia telah menjadikan jalannya ketika kembali dari penyerangan terhadap negeri-negeri Timur melalui Madinah, dan ia telah melewatinya di awal perjalanannya sehingga tidak mengganggu penduduknya. Ia meninggalkan di tengah-tengah mereka seorang putranya, lalu ia terbunuh secara tiba-tiba. Maka ia datang dengan bertekad untuk menghancurkannya, memusnahkan penduduknya, dan menebang pohon kurmanya. Kelompok dari Anshar ini berkumpul untuknya, pemimpin mereka adalah Amr bin Thalah, saudara Bani An-Najjar, kemudian salah satu dari Bani Amr bin Mabdzul. Nama Mabdzul adalah Amir bin Malik bin An-Najjar. Nama An-Najjar adalah Taimullah bin Tsa’labah bin Amr bin Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa’labah bin Amr bin Amir.

Ibnu Hisyam berkata: Amr bin Thalah adalah Amr bin Mu’awiyah bin Amr bin Amir bin Malik bin An-Najjar. Thalah adalah ibunya, ia adalah putri Amir bin Zuraiq Al-Khazrajiyyah.

Ibnu Ishaq berkata: Dahulu ada seorang laki-laki dari Bani Adi bin An-Najjar yang bernama Ahmar. Ia menyerang seorang dari sahabat-sahabat Tubba’ dan mendapatinya sedang memetik buah kurmanya, lalu ia memukulnya dengan sabitnya hingga tewas. Ia berkata: “Sesungguhnya kurma itu untuk orang yang menyerbukinya.” Hal ini menambah kemarahan Tubba’ kepada mereka, lalu terjadilah pertempuran. Orang-orang Anshar mengklaim bahwa mereka berperang melawannya pada siang hari dan menjamunya di malam hari. Hal itu membuatnya kagum dan ia berkata: “Demi Allah, sungguh kaum kita adalah orang-orang mulia.” Ibnu Ishaq menuturkan dari orang-orang Anshar bahwa kemarahan Tubba’ sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Yahudi karena mereka menghalangi orang-orang Anshar darinya.

As-Suhaili berkata: Dikatakan bahwa sesungguhnya ia datang untuk menolong orang-orang Anshar – anak-anak pamannya – melawan orang-orang Yahudi yang tinggal bersama mereka di Madinah dengan syarat-syarat tertentu namun mereka tidak menepatinya dan justru berbuat sewenang-wenang terhadap mereka. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Tubba’ sedang dalam keadaan berperang melawan mereka, datanglah kepadanya dua orang pendeta dari para pendeta Yahudi dari Bani Quraizhah yang sangat berilmu dan mendalam pengetahuannya. Ketika mereka mendengar keinginannya untuk menghancurkan Madinah dan penduduknya, mereka berkata kepadanya: “Wahai raja, jangan lakukan itu! Jika engkau tetap bersikeras dengan keinginanmu, maka engkau akan dihalangi darinya dan kami tidak aman bagimu dari siksa yang segera datang.” Ia bertanya kepada keduanya: “Mengapa demikian?” Mereka menjawab: “Kota ini adalah tempat hijrah seorang nabi yang akan keluar dari tanah haram ini dari suku Quraisy pada akhir zaman. Kota ini akan menjadi tempat tinggal dan tempatnya menetap.” Maka Tubba’ berhenti dan merasa bahwa keduanya memiliki ilmu, dan ia kagum dengan apa yang ia dengar dari keduanya. Lalu ia berpaling dari Madinah dan mengikuti agama keduanya.

Ibnu Ishaq berkata: Tubba’ dan kaumnya adalah penyembah berhala yang mereka sembah. Ia berangkat menuju Mekah – yang merupakan jalannya ke Yaman – hingga ketika ia berada di antara Usfan dan Amaj, datanglah kepadanya beberapa orang dari Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Mereka berkata kepadanya: “Wahai raja, maukah kami tunjukkan kepadamu sebuah rumah harta karun yang telah dilupakan oleh raja-raja sebelummu, di dalamnya terdapat mutiara, zamrud, yaqut, emas dan perak?” Ia menjawab: “Ya.” Mereka berkata: “Sebuah rumah di Mekah yang penduduknya menyembahnya dan shalat di sisinya.” Sesungguhnya orang-orang Hudzail bermaksud membinasakan Tubba’ dengan itu karena mereka tahu kehancuran yang menimpa raja-raja yang bermaksud jahat terhadapnya. Ketika Tubba’ bertekad untuk melakukan apa yang mereka katakan, ia memanggil kedua pendeta itu dan bertanya kepada mereka tentang hal itu. Keduanya berkata kepadanya: “Kaum itu tidak menginginkan apapun kecuali kehancuranmu dan kehancuran pasukanmu. Kami tidak mengetahui adanya rumah yang Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung jadikan untuk diri-Nya di bumi selain rumah itu. Jika engkau melakukan apa yang mereka serukan, niscaya engkau akan binasa dan akan binasa pula semua yang bersamamu.” “Lalu apa yang kalian perintahkan agar aku lakukan ketika aku tiba di sana?” Keduanya menjawab: “Engkau lakukan di sana apa yang dilakukan penduduknya: engkau thawaf mengelilinginya, mengagungkannya dan memuliakannya, mencukur kepalamu di sana, dan merendahkan diri untuknya hingga engkau keluar darinya.” Ia bertanya: “Lalu apa yang menghalangi kalian berdua dari melakukan itu?” Keduanya menjawab: “Adapun demi Allah, sesungguhnya rumah itu adalah rumah bapak kami Ibrahim alaihissalam, dan sesungguhnya ia seperti yang kami beritahukan kepadamu. Tetapi penduduknya telah menghalangi kami dan rumah itu dengan berhala-berhala yang mereka dirikan di sekelilingnya dan dengan darah yang mereka tumpahkan di sana. Mereka adalah orang-orang najis, ahli kesyirikan.” Atau seperti itulah yang keduanya katakan kepadanya. Maka ia mengetahui nasihat mereka dan membenarkan pembicaraan mereka. Ia mendekati beberapa orang dari Hudzail lalu memotong tangan dan kaki mereka. Kemudian ia melanjutkan perjalanan hingga tiba di Mekah. Ia thawaf mengelilingi Baitullah, menyembelih di sana, mencukur kepalanya, dan tinggal di Mekah selama enam hari sebagaimana disebutkan. Ia menyembelih untuk manusia dan memberi makan penduduknya serta memberi mereka minum madu. Ia bermimpi agar ia memberi pakaian pada Baitullah, maka ia memberinya pakaian dari kain Khashaf. Kemudian ia bermimpi agar ia memberinya pakaian yang lebih baik dari itu, maka ia memberinya pakaian dari kain Ma’afir. Kemudian ia bermimpi agar ia memberinya pakaian yang lebih baik dari itu, maka ia memberinya pakaian dari kain Mala’ dan Washa’il. Maka Tubba’ – sebagaimana mereka klaim – adalah orang pertama yang memberi pakaian pada Baitullah. Ia berwasiat kepada para penjaganya dari suku Jurhum dan memerintahkan mereka untuk membersihkannya, tidak mendekatkannya dengan darah, bangkai, dan mai’lah yaitu darah haid. Ia membuatkan pintu dan kunci untuknya. Tentang hal itu Sabi’ah binti Al-Ahab berkata – ia menyebut putranya Khalid bin Abdul Manaf bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib, dan melarangnya dari berbuat aniaya di Mekah, serta menyebutkan kepadanya apa yang terjadi pada Tubba’ di sana:

Wahai anakku, jangan engkau berbuat zhalim di Mekah, tidak kepada yang kecil maupun yang besar. Dan jagalah kehormatan-kehormatannya, anakku, dan jangan sampai engkau tertipu oleh kedustaan. Wahai anakku, barangsiapa berbuat zhalim di Mekah, ia akan menemui berbagai macam keburukan. Wahai anakku, mukanya akan dipukul dan pipinya akan terbakar dengan api yang menyala. Wahai anakku, aku telah mencobanya, maka kudapati orang yang berbuat zhalim di sana akan binasa. Allah telah mengamankannya dan apa yang dibangun di halamannya berupa istana-istana. Dan Allah mengamankan burung-burungnya dan kambing-kambing gunung merasa aman di Tsabir. Dan sungguh Tubba’ telah menyerangnya, lalu ia melapisi bangunannya dengan kain sutera. Dan Tuhanku merendahkan kerajaannya di sana, maka ia menunaikan nazar-nazarnya. Ia berjalan menuju ke sana dengan berjalan kaki, di halamannya ribuan unta. Dan ia terus memberi makan penduduknya dengan daging unta jantan muda dan daging yang dipotong. Ia memberi mereka minum madu yang jernih dan minuman yang dibuat dari gandum. Dan (pasukan) gajah, pasukan mereka dibinasakan, mereka dilempari dengan batu-batu di sana. Dan kerajaan ada di ujung negeri dan di negeri-negeri ajam dan orang-orang Persia. Maka dengarkanlah jika engkau diberi tahu dan pahamilah bagaimana akibat dari perkara-perkara.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Tubba’ berangkat menuju Yaman bersama pasukannya yang bersamanya dan bersama kedua pendeta itu. Hingga ketika ia memasuki Yaman, ia menyeru kaumnya untuk masuk ke dalam agama yang ia masuki, tetapi mereka menolaknya hingga mereka mengadukan perkaranya kepada api yang ada di Yaman.

Ibnu Ishaq berkata: Abu Malik bin Tsa’labah bin Abi Malik Al-Qurazhi menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bin Ubaidillah menceritakan bahwa Tubba’ ketika mendekati Yaman untuk memasukinya, Himyar dan kabilah-kabilah Yaman menghalanginya. Mereka berkata: “Engkau tidak boleh memasukinya kepada kami sedangkan engkau telah meninggalkan agama kami.” Maka ia menyeru mereka kepada agamanya dan berkata: “Sesungguhnya agama ini lebih baik dari agama kalian.” Mereka berkata: “Kalau begitu jadikanlah api sebagai hakimnya.” Ia menjawab: “Ya.” Disebutkan bahwa di Yaman – menurut penduduk Yaman – ada api yang memutuskan perkara di antara mereka dalam hal yang mereka perselisihkan. Api itu memakan orang yang zhalim dan tidak membahayakan orang yang terzhalimi. Maka kaumnya keluar membawa berhala-berhala mereka dan apa yang mereka persembahkan dalam agama mereka. Kedua pendeta keluar dengan mushaf-mushaf mereka tergantung di leher mereka, membawanya hingga mereka duduk di tempat keluarnya api. Maka api keluar kepada mereka. Ketika api mendekati mereka, mereka menghindar darinya dan takut. Maka orang-orang yang hadir menyemangati mereka dan memerintahkan mereka untuk bersabar menghadapinya. Maka mereka bersabar hingga api menghampiri mereka dan memakan berhala-berhala serta apa yang dipersembahkan bersamanya, dan orang-orang dari Himyar yang membawa itu. Kedua pendeta keluar dengan mushaf-mushaf mereka di leher mereka, dahi mereka berkeringat dan api tidak membahayakan keduanya. Maka setelah itu Himyar bersepakat mengikuti agamanya. Dari sinilah asal mula Yahudi di Yaman.

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menceritakan kepadaku bahwa kedua pendeta dan orang-orang Himyar yang keluar hanyalah mengikuti api untuk mengembalikannya. Mereka berkata: “Barangsiapa yang mengembalikannya maka dialah yang lebih berhak dengan kebenaran.” Maka mendekatlah laki-laki Himyar dengan berhala-berhala mereka untuk mengembalikannya, tetapi api mendekati mereka untuk memakan mereka. Maka mereka menghindar darinya dan tidak mampu mengembalikannya. Kedua pendeta mendekatinya setelah itu sambil membaca Taurat, maka api mundur dari keduanya hingga mereka mengembalikannya ke tempat keluarnya. Maka setelah itu Himyar bersepakat mengikuti agama keduanya. Wallahu a’lam mana yang benar.

Ibnu Ishaq berkata: Riyam adalah sebuah rumah milik mereka yang mereka agungkan dan mereka menyembelih di sana. Mereka berbicara di dalamnya ketika mereka masih dalam kesyirikan. Maka kedua pendeta berkata kepada Tubba’: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menipu mereka dengan itu. Jadi biarkanlah kami menghadapinya.” Ia berkata: “Silakan kalian.” Maka keduanya mengeluarkan darinya – menurut penduduk Yaman – seekor anjing hitam lalu menyembelihnya. Kemudian mereka meruntuhkan rumah itu. Bekas-bekasnya masih ada hingga hari ini sebagaimana disebutkan kepadaku, berupa bekas-bekas darah yang biasa ditumpahkan di sana.

Dan kami telah menyebutkan dalam Tafsir hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Janganlah kalian mencela Tubba’, karena sesungguhnya ia telah masuk Islam.”

As-Suhaili berkata: Ma’mar meriwayatkan dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela As’ad Al-Himyari, karena sesungguhnya dialah orang pertama yang memberi pakaian pada Ka’bah.”

As-Suhaili berkata: Tubba’ berkata ketika kedua pendeta memberitahunya tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam syair:

Aku bersaksi atas Ahmad bahwa ia adalah utusan dari Allah Pencipta jiwa-jiwa. Seandainya umurku diperpanjang hingga zamannya, niscaya aku menjadi wazir baginya dan anak pamannya. Dan aku akan berjihad dengan pedang melawan musuh-musuhnya, dan melapangkan dadanya dari setiap kesusahan.

Ia berkata: Syair ini terus diwariskan oleh orang-orang Anshar dan mereka menghafalnya di antara mereka. Syair itu ada pada Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu wa ardhahu.

As-Suhaili berkata: Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dalam kitab Al-Qubur bahwa sebuah kubur digali di Shan’a dan ditemukan di dalamnya dua orang wanita bersama sebuah lembaran perak yang ditulis dengan emas. Di dalamnya tertulis: “Ini adalah kubur Lamis dan Habba, dua anak perempuan Tubba’. Keduanya mati dalam keadaan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan atas itu orang-orang shalih sebelum keduanya meninggal.”

Kemudian kerajaan setelah itu beralih kepada Hassan bin Tubban As’ad, yaitu saudara laki-laki Al-Yamamah Az-Zarqa’ yang disalib di pintu kota Jaw, maka sejak hari itu kota itu dinamakan Al-Yamamah.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika putranya Hassan bin Abi Karib Tubban As’ad menjadi raja, ia berjalan bersama penduduk Yaman bermaksud menginjakkan kaki mereka di tanah Arab dan tanah Ajam. Hingga ketika mereka berada di sebagian tanah Irak, Himyar dan kabilah-kabilah Yaman tidak suka berjalan bersamanya dan ingin kembali ke negeri dan keluarga mereka. Maka mereka berbicara kepada saudaranya yang bernama Amr – yang bersamanya dalam pasukannya. Mereka berkata kepadanya: “Bunuhlah saudaramu Hassan, dan kami akan mengangkatmu sebagai raja atas kami, dan kembalikan kami ke negeri kami.” Maka ia menyetujui mereka dan mereka bersepakat atas hal itu kecuali Dzu Ra’in Al-Himyari yang melarang Amr dari itu, tetapi ia tidak mau mendengarkan. Maka Dzu Ra’in menulis sebuah surat yang berisi dua bait ini:

Ketahuilah, siapakah yang menjual terjaga dengan tidur? Berbahagialah orang yang bermalam dengan mata yang sejuk. Adapun Himyar telah curang dan berkhianat, maka maafkanlah Allah untuk Dzu Ra’in.

Kemudian ia menitipkannya kepada Amr. Ketika Amr membunuh saudaranya Hassan dan kembali ke Yaman, tidur dicegah darinya dan terjaga dipaksakan kepadanya. Maka ia bertanya kepada para dokter, dukun, dan peramal tentang apa yang ia derita. Dikatakan kepadanya: “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang membunuh saudaranya atau kerabatnya karena kezhaliman kecuali tidurnya hilang dan terjaga dipaksakan kepadanya.” Maka ketika itu ia mulai membunuh setiap orang yang memerintahkannya membunuh saudaranya. Ketika giliran tiba pada Dzu Ra’in, ia berkata kepadanya: “Aku memiliki bukti tidak bersalah di sisimu.” Ia bertanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Surat yang aku berikan kepadamu.” Maka ia mengeluarkannya dan di dalamnya terdapat dua bait itu. Maka ia membiarkannya dan melihat bahwa ia telah menasihatinya. Amr binasa dan urusan Himyar menjadi kacau, lalu mereka bercerai-berai.

Bangkitnya Lakhn’iah Dzu Syanatir atas Kerajaan Yaman

Ia memerintah selama dua puluh tujuh tahun.

Ibnu Ishaq berkata: Maka bangkitlah melawan mereka seorang laki-laki dari Himyar yang bukan dari keluarga kerajaan yang bernama Lakhn’iah Yanuf Dzu Syanatir. Ia membunuh orang-orang terbaik mereka dan berbuat seenaknya terhadap rumah-rumah keluarga kerajaan dari mereka. Selain itu, ia adalah seorang yang fasik yang melakukan perbuatan kaum Luth. Ia mengirim utusan kepada anak-anak laki-laki dari kalangan raja-raja lalu memperkosanya di sebuah kamar khusus yang ia buat untuk itu agar ia tidak menjadi raja setelah itu. Kemudian ia keluar dari kamarnya itu kepada pengawalnya dan yang hadir dari pasukannya sambil mengambil siwak lalu memasukkannya ke mulutnya, yaitu untuk memberitahu mereka bahwa ia telah selesai darinya. Hingga ia mengirim utusan kepada Zur’ah Dzu Nuwas bin Tubban As’ad, saudara laki-laki Hassan. Ia masih kanak-kanak ketika saudaranya Hassan dibunuh, kemudian ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan, berwibawa, berakal. Ketika utusannya datang kepadanya, ia tahu apa yang diinginkan darinya. Maka ia mengambil sebilah pisau kecil yang tajam lalu menyembunyikannya di antara kakinya dan sandalnya. Kemudian ia mendatanginya. Ketika ia bersepi dengannya, Dzu Nuwas menyerangnya dan menikamnya hingga tewas. Kemudian ia memotong kepalanya dan meletakkannya di lubang yang biasa ia gunakan untuk melihat keluar, dan meletakkan siwak di mulutnya. Kemudian ia keluar menemui orang-orang.

Mereka berkata kepadanya: “Dzu Nuwas, masak atau mentah?” Ia menjawab: “Tanyakan pada Nakhmas, Dzu Nuwas sudah masak, tidak apa-apa.” Maka mereka melihat ke lubang dan di sana kepala Lakhn’iah yang terpenggal. Mereka mengejar Dzu Nuwas hingga menyusulnya. Mereka berkata: “Tidak pantas yang menjadi raja kami selain engkau karena engkau telah membebaskan kami dari orang jahat ini.” Maka mereka mengangkatnya sebagai raja atas mereka. Himyar dan kabilah-kabilah Yaman bersatu di bawahnya. Ia adalah raja terakhir Himyar dan diberi nama Yusuf. Ia menjabat sebagai raja untuk beberapa waktu.

Di Najran ada sisa-sisa dari penganut agama Isa bin Maryam alaihissalam yang berpegang pada Injil, orang-orang yang shalih dan lurus dari penganut agama mereka. Mereka memiliki seorang pemimpin yang bernama Abdullah bin Ats-Tsamer.

Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan sebab masuknya penduduk Najran ke dalam agama Nashrani, dan bahwa itu terjadi melalui tangan seorang laki-laki yang bernama Faimiyun yang termasuk dari para ahli ibadah Nashrani di perbatasan Syam. Ia adalah orang yang doanya dikabulkan. Seorang laki-laki yang bernama Shalih menemaninya. Keduanya beribadah pada hari Ahad dan Faimiyun bekerja pada sisa hari Jumat dalam bidang bangunan. Ia berdoa untuk orang-orang sakit, orang-orang cacat, dan orang-orang yang mengalami musibah, lalu mereka sembuh. Kemudian ia dan temannya ditawan oleh sebagian orang Arab dan dijual di Najran. Orang yang membeli Faimiyun melihatnya ketika ia berdiri di tempat shalatnya di rumah di mana ia berada – pada malam hari – rumah itu dipenuhi cahaya. Hal itu membuatnya kagum. Penduduk Najran menyembah pohon kurma yang tinggi, mereka menggantungkan perhiasan wanita mereka padanya dan beri’tikaf di sisinya. Maka Faimiyun berkata kepada tuannya: “Bagaimana menurutmu jika aku berdoa kepada Allah terhadap pohon ini lalu ia binasa, apakah kalian akan tahu bahwa apa yang kalian jalani adalah batil?” Ia menjawab: “Ya.” Maka ia mengumpulkan penduduk Najran untuknya. Faimiyun berdiri di tempat shalatnya lalu berdoa kepada Allah terhadap pohon itu. Maka Allah mengirimkan angin topan yang mencabutnya dari akarnya dan melemparkannya ke tanah. Maka penduduk Najran mengikutinya dalam agama Nashrani dan ia membimbing mereka pada syariat Injil hingga terjadi pada mereka berbagai peristiwa yang terjadi pada penganut agama mereka di setiap negeri. Dari sinilah agama Nashrani ada di Najran dari tanah Arab.

Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan kisah Abdullah bin Ats-Tsamer ketika ia masuk Nashrani melalui tangan Faimiyun, dan bagaimana Dzu Nuwas membunuhnya dan para sahabatnya. Ia menggali bagi mereka Al-Ukhdud – Ibnu Hisyam berkata: yaitu galian yang memanjang di tanah seperti parit – dan menyalakan api di dalamnya dan membakar mereka dengannya. Ia membunuh yang lain hingga ia membunuh mendekati dua puluh ribu orang sebagaimana kami telah menyebutkannya secara panjang lebar dalam berita Bani Israil, dan sebagaimana dijelaskan secara lengkap dalam tafsir Surah Wassamaa’i Dzaatil Buruuj dari kitab kami At-Tafsir. Walillahil hamdu.

Penyebutan Keluarnya Kekuasaan di Yaman dari Himyar dan Berpindahnya ke Habasyah (Sudan)

Sebagaimana telah diberitakan oleh Syaqq dan Sathih, dua orang dukun. Yang terjadi adalah tidak ada yang selamat dari penduduk Najran kecuali satu orang yang bernama Daus Dzu Tsa’laban yang mengendarai kudanya. Dia melalui padang pasir sehingga mereka tidak dapat menangkapnya, lalu dia terus pergi hingga menemui Kaisar, raja Romawi, untuk meminta bantuan melawan Dzu Nuwas dan pasukannya. Dia memberitahu Kaisar tentang apa yang telah mereka lakukan, karena dia adalah seorang Nasrani yang seagama dengan mereka. Kaisar berkata kepadanya: “Negerimu terlalu jauh dari kami, tetapi aku akan menulis surat untukmu kepada raja Habasyah karena dia menganut agama yang sama, dan dia lebih dekat dengan negerimu.” Maka Kaisar menulis surat kepadanya yang memerintahkan untuk membantu Daus dan membalaskan dendamnya. Daus kemudian datang kepada Najasyi dengan membawa surat Kaisar. Maka Najasyi mengirim bersamanya tujuh puluh ribu tentara Habasyah, dan mengangkat sebagai pemimpin mereka seorang yang bernama Aryath, dan dalam pasukannya ada Abrahah al-Asyram. Aryath berlayar menyeberangi laut hingga turun di pantai Yaman bersama Daus. Dzu Nuwas bersama Himyar dan kabilah-kabilah Yaman yang menaatinya berbaris menghadapi mereka. Ketika mereka berhadapan, Dzu Nuwas dan para pengikutnya kalah. Ketika Dzu Nuwas melihat apa yang menimpa dirinya dan kaumnya, dia mengarahkan kudanya ke laut, kemudian memukulnya sehingga masuk ke dalamnya. Dia mengarungi laut yang dangkal hingga sampai ke tempat yang dalam, lalu menceburkan diri ke dalamnya. Itulah akhir dari keberadaannya. Aryath kemudian memasuki Yaman dan menguasainya.

Ibnu Ishaq telah menyebutkan di sini syair-syair dari orang Arab tentang peristiwa aneh ini, dan di dalamnya terdapat kefasihan, keindahan, kefasihan berbahasa, dan keanggunan. Namun kami tidak menyebutkannya karena khawatir akan kepanjangan dan menimbulkan kebosanan. Dan kepada Allah lah kita memohon pertolongan.

Penyebutan Pemberontakan Abrahah al-Asyram terhadap Aryath dan Perselisihan Mereka Berdua

Ibnu Ishaq berkata: Aryath tinggal di tanah Yaman selama beberapa tahun dalam kekuasaannya itu, kemudian Abrahah menentangnya hingga pasukan Habasyah terpecah di antara mereka berdua. Sebagian bergabung dengan masing-masing dari mereka, kemudian yang satu bergerak menghadapi yang lain. Ketika pasukan sudah saling mendekat, Abrahah mengirim utusan kepada Aryath: “Kamu tidak akan mendapat manfaat dengan membuat pasukan Habasyah saling berhadapan hingga saling memusnahkan sedikit demi sedikit. Keluarlah menghadapiku dan aku akan keluar menghadapimu, maka siapa di antara kita yang mengalahkan lawannya, pasukannya akan tunduk kepadanya.” Aryath mengirim balasan kepadanya: “Kamu telah berlaku adil.” Maka Aryath keluar menghadapinya. Abrahah adalah seorang yang pendek dan gemuk, dan dia adalah seorang yang religius dalam agama Kristen. Aryath keluar menghadapinya, dia adalah seorang yang tampan, besar, dan tinggi, dan di tangannya ada tombak miliknya. Di belakang Abrahah ada seorang budak yang bernama ‘Atudah yang melindungi punggungnya. Aryath mengangkat tombak dan menikam Abrahah yang mengarah ke ubun-ubunnya, tetapi tombak mengenai dahi Abrahah sehingga merobek alis, mata, hidung, dan bibirnya. Karena itulah dia disebut Abrahah al-Asyram (yang berwajah cacat). ‘Atudah menyerang Aryath dari belakang Abrahah dan membunuhnya. Pasukan Aryath kemudian bergabung dengan Abrahah, dan seluruh pasukan Habasyah di Yaman bersatu di bawah kepemimpinannya. Abrahah membayar diyat untuk Aryath. Ketika hal itu sampai kepada Najasyi, raja Habasyah yang telah mengutus mereka ke Yaman, dia sangat marah kepada Abrahah dan berkata: “Dia menyerang panglimaku dan membunuhnya tanpa perintahku.” Kemudian dia bersumpah tidak akan membiarkan Abrahah hingga dia menginjak negerinya dan memotong ubun-ubunnya. Maka Abrahah mencukur kepalanya dan mengisi kantong dengan tanah Yaman, kemudian mengirimkannya kepada Najasyi, kemudian menulis surat kepadanya: “Wahai Raja, sesungguhnya Aryath adalah hambamu, dan aku pun hambamu. Kami berselisih dalam urusanmu, dan semuanya taat kepadamu, kecuali bahwa aku lebih kuat atas urusan Habasyah, lebih mampu mengendalikan dan mengatur mereka daripada dia. Aku telah mencukur seluruh kepalaku ketika sampai kepadaku sumpah raja, dan aku kirimkan kepadanya kantong berisi tanah dari tanahku agar dia meletakkannya di bawah kakinya sehingga sumpahnya terpenuhi padaku.” Ketika hal itu sampai kepada Najasyi, dia memaafkannya dan menulis kepadanya: “Tetaplah di tanah Yaman hingga datang perintahku kepadamu.” Maka Abrahah tinggal di Yaman.

Penyebutan Sebab Abrahah Membawa Gajah ke Mekah untuk Menghancurkan Ka’bah

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka dalam kesesatan? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang keras, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Surah al-Fil: 1-5)

Dikatakan: Orang pertama yang menjinakkan gajah adalah Afridun bin Atsfian yang membunuh adh-Dhahhak, demikian menurut ath-Thabari. Dia adalah orang pertama yang membuat pelana untuk kuda. Adapun orang pertama yang menundukkan kuda dan mengendarainya adalah Tahmuras, dia adalah raja ketiga dari raja-raja dunia. Dikatakan juga bahwa orang pertama yang mengendarainya adalah Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam. Dan mungkin dia adalah orang pertama yang mengendarainya dari kalangan Arab, Wallahu Ta’ala A’lam. Dikatakan bahwa gajah meskipun besar tubuhnya, dia takut pada kucing. Sebagian panglima perang pernah bersiasat dalam peperangan melawan orang-orang India dengan mendatangkan kucing-kucing ke medan perang sehingga gajah-gajah itu ketakutan.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abrahah membangun al-Qullais di Shan’a. Dia membangun sebuah gereja yang tidak ada bandingannya di masanya di mana pun di bumi. Dia menulis surat kepada Najasyi: “Aku telah membangun untukmu sebuah gereja yang belum pernah dibangun sepertinya oleh raja sebelummu. Aku tidak akan berhenti hingga aku alihkan haji orang Arab kepadanya.”

As-Suhaili menyebutkan bahwa Abrahah memperbudak penduduk Yaman dalam pembangunan gereja yang hina ini, dan menyiksa mereka dalam berbagai jenis siksaan. Barangsiapa yang terlambat dari pekerjaan hingga matahari terbit, tangannya pasti dipotong. Dia memindahkan ke sana marmer, batu-batu, dan barang-barang berharga dari istana Balqis. Dia memasang salib-salib dari emas dan perak, dan membuat mimbar dari gading dan kayu abnus. Dia membuat ketinggiannya sangat besar dan keluasannya sangat menakjubkan. Ketika Abrahah meninggal setelah itu dan pasukan Habasyah bercerai-berai, siapa pun yang mencoba mengambil sesuatu dari bangunan dan barang-barangnya, jin akan menimpanya dengan keburukan. Hal itu karena gereja itu dibangun atas nama dua berhala, Ka’ib dan istrinya. Tinggi masing-masing dari mereka adalah enam puluh dzira’. Penduduk Yaman membiarkannya dalam keadaan seperti itu, dan tetap seperti itu hingga zaman as-Saffah, khalifah pertama Bani Abbas. Dia mengutus sekelompok orang yang berketetapan hati, berani, dan berilmu ke sana, lalu mereka meruntuhkannya batu demi batu, dan jejaknya terhapus hingga hari ini.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika orang-orang Arab membicarakan surat Abrahah kepada Najasyi, marahlah seorang dari para Nasa’ah (orang-orang yang menggeser bulan haram ke bulan halal) dari Kinanah yang menggeser bulan haram menjadi halal di Mekah pada musim haji, sebagaimana telah kami jelaskan saat membahas firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya menggeser bulan haram itu adalah menambah kekafiran…” ayat (Surah at-Taubah: 37). Ibnu Ishaq berkata: Maka orang Kinani itu pergi hingga tiba di al-Qullais lalu buang air besar di sana tanpa dilihat siapa pun, kemudian pergi kembali ke negerinya. Abrahah diberitahu tentang hal itu, maka dia berkata: “Siapa yang melakukan ini?” Dikatakan kepadanya: “Yang melakukannya adalah seorang dari penduduk rumah yang dihaji oleh orang Arab di Mekah. Ketika dia mendengar perkataanmu bahwa kamu ingin mengalihkan haji orang Arab ke rumahmu ini, dia marah lalu datang dan buang air besar di dalamnya, artinya rumah ini tidak layak untuk itu.” Maka Abrahah marah karenanya dan bersumpah akan pergi ke Ka’bah hingga menghancurkannya. Kemudian dia memerintahkan pasukan Habasyah untuk bersiap-siap, lalu berangkat dan membawa gajah bersamanya.

Orang-orang Arab mendengar tentang hal itu dan menganggapnya besar serta menganggapnya mengerikan. Mereka melihat memeranginya adalah kewajiban atas mereka ketika mendengar bahwa dia ingin menghancurkan Ka’bah, Baitul Haram milik Allah. Maka seorang dari para pembesar Yaman dan raja-raja mereka yang bernama Dzu Nafar keluar menghadapinya. Dia mengajak kaumnya dan orang Arab lainnya yang menjawab ajakannya untuk memerangi Abrahah dan membela Baitul Haram milik Allah dari apa yang ingin dia lakukan yaitu menghancurkan dan merusaknya. Orang-orang yang menjawab ajakannya lalu menghadapinya dan memeranginya, tetapi Dzu Nafar dan pengikutnya kalah. Dzu Nafar ditawan dan dibawa kepadanya sebagai tawanan. Ketika Abrahah ingin membunuhnya, Dzu Nafar berkata kepadanya: “Wahai Raja, jangan bunuh aku, karena boleh jadi keberadaanku bersamamu lebih baik bagimu daripada membunuhku.” Maka dia tidak membunuhnya dan menahannya dalam belenggu. Abrahah adalah seorang yang penyabar. Kemudian Abrahah melanjutkan perjalanannya untuk tujuan yang dia kehendaki hingga ketika tiba di tanah Khats’am, Nufail bin Habib al-Khats’ami menghadangnya bersama dua kabilah Khats’am yaitu Syahran dan Nahis serta orang Arab lain yang mengikutinya, lalu memeranginya. Tetapi Abrahah mengalahkannya dan menawan Nufail sebagai tawanan. Ketika dia akan membunuhnya, Nufail berkata: “Wahai Raja, jangan bunuh aku. Aku adalah penunjuk jalanmu di tanah Arab, dan inilah dua tanganku untukmu atas kabilahku Khats’am – Syahran dan Nahis – untuk mendengar dan taat.” Maka dia membebaskannya dan membawanya bersama sebagai penunjuk jalan hingga ketika melewati Thaif, keluarlah Mas’ud bin Mu’attib bin Malik bin Ka’b bin ‘Amr bin Sa’d bin ‘Auf bin Tsaqif bersama orang-orang Tsaqif. Mereka berkata kepadanya: “Wahai Raja, kami adalah hamba-hambamu yang mendengar dan taat kepadamu. Tidak ada penentangan dari kami untukmu. Rumah kami ini – maksudnya al-Lat – bukanlah rumah yang kamu tuju. Kamu hanya menginginkan rumah yang di Mekah. Kami akan mengutus bersamamu orang yang akan menunjukkan jalan kepadanya.” Maka dia membiarkan mereka.

Ibnu Ishaq berkata: Al-Lat adalah rumah (berhala) milik mereka di Thaif yang mereka agungkan sebagaimana mereka mengagungkan Ka’bah. Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka mengutus bersamanya Abu Righal untuk menunjukkan jalan ke Mekah. Abrahah keluar dan bersamanya Abu Righal hingga menginap di al-Mughammis. Ketika menginap di sana, Abu Righal meninggal di tempat itu. Maka orang-orang Arab merajam kuburnya, dan itulah kubur yang dirajam orang-orang di al-Mughammis. Telah disebutkan sebelumnya dalam kisah Tsamud bahwa Abu Righal adalah seorang dari mereka dan dia dilindungi oleh tanah haram, tetapi ketika keluar darinya, dia tertimpa batu yang membunuhnya. Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya: “Tandanya adalah bahwa dia dikubur bersamanya dua cabang dari emas.” Maka mereka menggali dan menemukan keduanya. Dikatakan bahwa dia adalah bapak Tsaqif.

Saya katakan: Penggabungan antara hal ini dengan apa yang disebutkan Ibnu Ishaq adalah bahwa Abu Righal yang belakangan ini namanya sama dengan nama kakek moyangnya yang terdahulu, dan orang-orang merajamnya sebagaimana mereka merajam kubur yang pertama. Dan demikian pula, Wallahu A’lam. Jarir telah berkata:

“Jika al-Farazdaq mati maka rajamlah dia, seperti kalian merajam kubur Abu Righal.”

Yang jelas maksudnya adalah yang kedua.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Abrahah turun di al-Mughammis, dia mengutus seorang Habasyah yang bernama al-Aswad bin Maqsud dengan pasukan berkudanya hingga sampai ke Mekah. Dia mengusir harta-harta Tihamah milik Quraisy dan yang lainnya, dan mengambil di dalamnya dua ratus ekor unta milik Abdul Muththalib bin Hasyim. Dia saat itu adalah pemimpin Quraisy dan tuan mereka. Quraisy, Kinanah, Hudzail, dan siapa saja yang berada di tanah haram itu berniat untuk memeranginya, kemudian mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu melawannya, maka mereka meninggalkan hal itu. Abrahah mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekah dan berkata kepadanya: “Tanyakan tentang pemimpin penduduk negeri ini dan pembesar mereka, kemudian katakan kepadanya: Sesungguhnya raja berkata: Aku tidak datang untuk memerangi kalian. Aku hanya datang untuk menghancurkan rumah ini. Jika kalian tidak menghadang kami dengan peperangan untuk melindunginya, maka aku tidak memerlukan darah kalian. Jika dia tidak menginginkan peperangan denganku, maka bawalah dia kepadaku.” Ketika Hunathah memasuki Mekah, dia bertanya tentang pemimpin Quraisy dan pembesarnya. Dikatakan kepadanya: “Abdul Muththalib bin Hasyim.” Maka dia mendatanginya dan menyampaikan apa yang diperintahkan Abrahah kepadanya. Abdul Muththalib berkata kepadanya: “Demi Allah, kami tidak ingin memeranginya dan kami tidak mampu untuk itu. Ini adalah rumah Allah yang haram dan rumah khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam – atau sebagaimana dia katakan. Jika Dia melindunginya dari Abrahah, maka itu adalah haknya dan rumah-Nya. Jika Dia membiarkan Abrahah menghadapinya, maka demi Allah kami tidak memiliki pertahanan untuk melindunginya.” Hunathah berkata kepadanya: “Ikutlah bersamaku kepadanya karena dia telah memerintahkanku untuk membawamu kepadanya.” Maka Abdul Muththalib pergi bersamanya bersama beberapa anaknya hingga datang ke perkemahan. Dia menanyakan Dzu Nafar – yang merupakan temannya – hingga masuk menemuinya saat dia sedang dipenjara. Dia berkata kepadanya: “Wahai Dzu Nafar, apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat membantu dalam apa yang menimpa kami?” Dzu Nafar berkata kepadanya: “Apa yang dapat dilakukan oleh seorang tawanan yang berada di tangan raja yang menunggu untuk dibunuh besok atau lusa? Aku tidak memiliki pertolongan dalam apa pun yang menimpa kamu, kecuali bahwa Unais, pengurus gajah, adalah temanku. Aku akan mengutus kepadanya dan mewasiatinya tentangmu, dan aku akan membesarkan hakmu di hadapannya, dan memintanya untuk memohonkan izin untukmu kepada raja agar kamu dapat berbicara dengannya tentang apa yang kamu inginkan, dan meminta syafa’at untukmu dengan kebaikan jika dia mampu melakukan hal itu.” Abdul Muththalib berkata: “Cukuplah itu.” Maka Dzu Nafar mengutus kepada Unais dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya Abdul Muththalib adalah pemimpin Quraisy dan pemilik makanan Mekah yang memberi makan orang-orang di dataran dan binatang buas di puncak gunung. Raja telah mengambil dua ratus ekor untanya. Mohonkan izin untuknya kepada raja dan bantu dia di hadapannya dengan apa yang kamu mampu.” Unais berkata: “Aku akan melakukannya.” Maka Unais berbicara dengan Abrahah dan berkata kepadanya: “Wahai Raja, ini adalah pemimpin Quraisy di pintumu yang meminta izin kepadamu. Dia adalah pemilik makanan Mekah, yaitu orang yang memberi makan orang-orang di dataran dan binatang buas di puncak gunung. Izinkan dia menemuimu agar dia dapat berbicara denganmu tentang keperluannya.” Maka Abrahah mengizinkannya. Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muththalib adalah orang yang paling tampan, paling besar, dan paling tampan di antara manusia. Ketika Abrahah melihatnya, dia memuliakan dan menghormatinya, dan merasa tidak enak membuatnya duduk di bawahnya. Dia tidak suka jika orang-orang Habasyah melihatnya duduk bersamanya di atas singgasana kerajaannya. Maka Abrahah turun dari singgasananya dan duduk di atas permadani, lalu mempersilakan Abdul Muththalib duduk bersamanya di atas permadani itu di sampingnya. Kemudian dia berkata kepada penerjemahnya: “Tanyakan kepadanya apa keperluannya.” Maka penerjemah bertanya. Abdul Muththalib berkata: “Keperluanku adalah agar raja mengembalikan kepadaku dua ratus ekor unta yang diambil dariku.” Ketika dia mengatakan hal itu, Abrahah berkata kepada penerjemahnya: “Katakan kepadanya: Aku terkesan denganmu ketika melihatmu, tetapi aku kecewa denganmu ketika kamu berbicara denganku. Kamu berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang diambil darimu, dan kamu meninggalkan rumah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu yang aku datang untuk menghancurkannya, kamu tidak berbicara denganku tentang hal itu?” Abdul Muththalib berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku adalah pemilik unta-unta itu, dan sesungguhnya bagi rumah itu ada Tuhan yang akan melindunginya.” Abrahah berkata: “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku.” Abdul Muththalib berkata: “Kamu dan itu.” Maka Abrahah mengembalikan unta-unta Abdul Muththalib.

Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan bahwa bersama Abdul Muththalib masuk menemui Abrahah adalah Yam’ar bin Nufatsah bin ‘Adi bin ad-Dil bin Bakr bin ‘Abd Manah bin Kinanah, pemimpin Bani Bakr, dan Khuwailid bin Watsilah, pemimpin Hudzail. Mereka menawarkan kepada Abrahah sepertiga harta Tihamah agar dia kembali dari mereka dan tidak menghancurkan Ka’bah. Tetapi Abrahah menolak tawaran mereka. Maka Allahu A’lam apakah hal itu terjadi atau tidak.

Ketika mereka pergi meninggalkannya, Abdul Muththalib kembali kepada Quraisy dan memberitahu mereka tentang kejadian itu, dan memerintahkan mereka untuk keluar dari Mekah dan berlindung di puncak-puncak gunung. Kemudian Abdul Muththalib berdiri dan memegang cincin pintu Ka’bah, dan bersamanya berdiri beberapa orang dari Quraisy berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya atas Abrahah dan pasukannya. Abdul Muththalib berkata sambil memegang cincin pintu Ka’bah:

“Ya Tuhan, sesungguhnya hamba melindungi kendaraannya, maka lindungilah kawasanmu. Jangan sampai salib mereka dan tipu daya mereka besok mengalahkan tipu daya-Mu. Jika Engkau membiarkan mereka dan kiblat kami, maka lakukan apa yang Engkau kehendaki.”

Ibnu Hisyam berkata: Ini adalah yang shahih darinya.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abdul Muthalib melepaskan pegangan pintu Kakbah, dan pergi bersama orang-orang Quraisy yang bersamanya menuju puncak-puncak gunung untuk berlindung di sana sambil menunggu apa yang akan diperbuat Abrahah. Ketika pagi tiba, Abrahah bersiap untuk memasuki Makkah dan menyiapkan gajahnya serta merapikan pasukannya. Nama gajah itu adalah Mahmud. Ketika mereka mengarahkan gajah menuju Makkah, Nufail bin Habib datang mendekati gajah tersebut, kemudian memegang telinganya dan berkata: “Berlututlah Mahmud dan kembalilah dengan selamat dari mana engkau datang, karena engkau berada di tanah haram Allah.” Lalu ia melepaskan telinga gajah itu, maka gajah tersebut berlutut. As-Suhaili berkata: Artinya jatuh ke tanah, padahal bukan kebiasaan gajah untuk berlutut. Ada yang berpendapat bahwa di antara gajah ada yang berlutut seperti unta, maka Allah lebih mengetahui.

Nufail bin Habib keluar berlari cepat hingga naik ke gunung. Mereka memukul gajah agar bangkit tetapi ia menolak. Mereka memukul kepalanya dengan kapak agar bangkit tetapi ia menolak. Mereka memasukkan alat pengait ke perutnya dan menusuknya agar bangkit tetapi ia menolak. Ketika mereka mengarahkannya kembali ke Yaman, ia bangkit dan berlari kencang. Ketika diarahkan ke Syam, ia melakukan hal yang sama. Ketika diarahkan ke timur, ia melakukan hal yang sama. Ketika diarahkan ke Makkah, ia berlutut. Allah mengirimkan kepada mereka burung-burung dari laut seperti burung layang-layang dan burung gelatik. Setiap burung membawa tiga batu; sebuah batu di paruhnya dan dua batu di kedua kakinya sebesar kacang chickpea dan lentil. Tidak ada seorang pun yang terkena kecuali binasa. Tidak semua dari mereka terkena. Mereka keluar melarikan diri menyusuri jalan dari mana mereka datang, dan menanyakan tentang Nufail bin Habib agar menunjukkan jalan kepada mereka menuju Yaman. Nufail mengatakan tentang hal itu dalam syair:

Semoga kalian selamat dari kami wahai Rudaina, kami nikmat kalian dengan kesegaran mata di pagi hari Rudainah, seandainya engkau melihat, dan tidak akan melihat, di sisi Muhashab apa yang kami lihat Maka engkau akan memaafkanku dan memuji keputusanku, dan tidak menyesal atas apa yang telah terjadi antara kita Aku memuji Allah ketika aku melihat burung-burung, dan aku takut batu-batu yang dilemparkan kepada kami Semua orang bertanya tentang Nufail, seakan-akan aku berutang kepada orang-orang Habasyah

Ibnu Ishaq berkata: Mereka keluar berjatuhan di setiap jalan dan binasa di setiap tempat kebinasaan di setiap tempat pemberhentian. Abrahah terkena di tubuhnya, dan mereka membawanya keluar bersama mereka. Jari-jarinya berjatuhan satu per satu, setiap kali jari jatuh, mengalir darinya nanah yang memancarkan nanah dan darah hingga mereka membawanya ke Sanaa dan ia seperti anak burung. Ia tidak mati hingga dadanya terbelah dan jantungnya keluar, menurut apa yang mereka katakan. Ibnu Ishaq berkata: Yaqub bin Utbah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar bahwa pertama kali penyakit campak dan cacar terlihat di tanah Arab adalah pada tahun itu, dan bahwa pertama kali terlihat di sana buah-buahan pohon harmal, hanzhal, dan usyar adalah pada tahun itu.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Allah mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam, di antara nikmat dan karunia Allah yang disebutkan kepada Quraisy adalah apa yang Dia tolak dari mereka berupa urusan Habasyah demi kelangsungan urusan dan masa mereka. Allah Taala berfirman: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang keras, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Surah Al-Fiil: 1-5)

Kemudian Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam berbicara tentang tafsir surah ini dan surah sesudahnya. Kami telah menjelaskan hal itu secara panjang lebar dalam kitab kami “Tafsir” dengan penjelasan yang cukup insya Allah Taala, dan bagi-Nya segala puji dan karunia.

Ibnu Hisyam berkata: Ababil berarti kelompok-kelompok, dan orang Arab tidak menggunakan bentuk tunggalnya yang kami ketahui. Ia berkata: Adapun sijjil, Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah mengabarkan kepadaku bahwa menurut orang Arab artinya: sangat keras dan padat. Ia berkata: Sebagian mufassir mengira bahwa itu adalah dua kata dalam bahasa Persia yang dijadikan orang Arab sebagai satu kata, yaitu “sang” dan “gil”. Sang berarti batu dan gil berarti tanah, artinya: batu-batu dari dua jenis ini, batu dan tanah. Ia berkata: Ashf adalah daun tanaman yang belum berbatang. Al-Kisa’i berkata: Aku mendengar sebagian ahli nahwu berkata: bentuk tunggal ababil adalah ibil. Banyak dari salaf berkata: Ababil adalah kelompok-kelompok burung yang sebagian mengikuti sebagian yang lain dari sana dan dari sini. Dari Ibnu Abbas: Burung-burung itu memiliki paruh seperti paruh burung dan telapak seperti telapak anjing. Dari Ikrimah: Kepala mereka seperti kepala singa yang keluar dari laut kepada mereka dan berwarna hijau. Ubaid bin Umair berkata: Burung-burung itu hitam dari laut, di paruh dan telapaknya ada batu-batu. Dari Ibnu Abbas: Bentuk mereka seperti anqa maghrib. Dari Ibnu Abbas: Batu terkecil di antaranya sebesar kepala manusia, dan di antaranya ada yang sebesar unta. Demikian juga yang disebutkan Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq. Ada yang mengatakan burung-burung itu kecil. Allah lebih mengetahui.

Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Zur’ah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Abu Sufyan dari Ubaid bin Umair berkata: Ketika Allah hendak membinasakan pasukan bergajah, Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang tumbuh dari laut seperti burung layang-layang. Setiap burung membawa tiga batu bergaris, dua batu di kedua kakinya dan sebuah batu di paruhnya. Ia berkata: Burung-burung itu datang hingga berbaris di atas kepala mereka, kemudian berteriak dan melemparkan apa yang ada di kaki dan paruhnya. Tidak jatuh batu di kepala seseorang kecuali keluar dari duburnya, dan tidak jatuh pada sesuatu dari tubuhnya kecuali keluar dari sisi yang lain. Allah mengirimkan angin yang sangat kencang yang memukul batu-batu itu sehingga menambah kekerasannya, maka mereka semua binasa.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Ibnu Ishaq berkata: Tidak semua dari mereka terkena batu, artinya: sebagian dari mereka kembali ke Yaman hingga memberitahu keluarga mereka tentang bencana yang menimpa kaum mereka. Mereka menyebutkan bahwa Abrahah kembali dengan jari-jarinya berjatuhan satu per satu. Ketika sampai di Yaman, dadanya terbelah dan ia mati, semoga Allah melaknatnya. Ibnu Ishaq meriwayatkan, ia berkata: Abdullah bin Abi Bakr menceritakan kepadaku dari Amrah dari Aisyah, ia berkata: Aku melihat penuntun gajah dan pengasuhnya di Makkah dalam keadaan buta dan lumpuh, meminta-minta. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pengasuh gajah bernama Unais, adapun penuntunnya tidak disebutkan namanya. Allah lebih mengetahui.

An-Naqqasy menyebutkan dalam tafsirnya bahwa banjir membawa jasad-jasad mereka dan melemparkannya ke laut. As-Suhaili berkata: Peristiwa gajah terjadi pada awal Muharram tahun delapan puluh enam dan delapan ratus dari tarikh Dzulqarnain.

Aku berkata: Pada tahun itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilahirkan menurut pendapat yang masyhur. Ada yang mengatakan: Itu terjadi beberapa tahun sebelum kelahirannya, sebagaimana akan kami sebutkan insya Allah Taala, dan kepadanya kepercayaan.

Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan apa yang dikatakan orang-orang Arab dalam syair-syair tentang peristiwa besar ini yang dengannya Allah menolong Baitul Haram-Nya yang Dia kehendaki untuk dimuliakan, diagungkan, disucikan, dan dihormatkan dengan pengutusan Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan apa yang disyariatkan kepadanya berupa agama yang lurus yang salah satu rukunnya adalah shalat, bahkan tiang agamanya, dan akan dijadikan kiblatnya ke Kakbah yang suci ini. Bukan karena apa yang Dia perbuat terhadap pasukan bergajah sebagai pertolongan kepada Quraisy saat itu atas orang-orang Nasrani yaitu Habasyah, karena Habasyah saat itu lebih dekat kepada mereka daripada kaum musyrik Quraisy. Namun pertolongan itu untuk Baitul Haram, dan sebagai pertanda serta persiapan untuk pengutusan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Di antaranya adalah apa yang dikatakan Abdullah bin Az-Ziba’ra As-Sahmi:

Maka mundurlahlah dari perut Makkah, karena ia sejak dahulu, haramnya tidak dapat diganggu Bintang Syi’ra tidak diciptakan ketika malam-malam ia diharamkan, ketika tidak ada yang perkasa dari manusia yang mengharapkannya Tanyakan kepada panglima tentang itu apa yang ia lihat, maka ia akan memberitahu orang-orang bodoh, orang yang mengetahui Enam puluh ribu tidak kembali ke negeri mereka, bahkan tidak hidup setelah kepulangan, orang yang sakit Dahulu di sana ada kaum Ad dan Jurhum sebelum mereka, dan Allah dari atas hamba-hamba menegakkannya

Di antaranya adalah perkataan Abu Qais bin Al-Aslat Al-Anshari Al-Madani:

Dan dari perbuatan-Nya pada hari gajah Habasyah, ketika setiap kali mereka mengirimnya, ia berlutut Pengait-pengait mereka di bawah perutnya, dan mereka telah melukai hidungnya hingga sobek Dan mereka telah membuat cambuknya tajam, ketika mereka menghadapkannya padanya, punggungnya terluka Maka ia berpaling dan kembali ke belakang, dan telah kembali dengan kezaliman orang yang ada di sana Maka Dia mengirimkan dari atas mereka batu yang menghujani, melilit mereka seperti melilitnya benang Pendeta-pendeta mereka mendorong mereka untuk bersabar, dan mereka telah berteriak seperti teriakannya kambing

Di antaranya adalah perkataan Abu Ash-Shalt Rabi’ah bin Abi Rabi’ah Wahb bin Allaj Ats-Tsaqafi. Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan juga untuk Umayyah bin Abi Ash-Shalt:

Sesungguhnya tanda-tanda Tuhan kita menembus, tidak ada yang meragukan tentang mereka kecuali orang kafir Dia menciptakan malam dan siang, maka semuanya jelas perhitungannya yang ditakdirkan Kemudian siang menyingsingkan Tuhan yang Maha Pengasih, dengan cahaya yang sinarnya tersebar Dia menahan gajah di Mughammis hingga ia menjadi merangkak seakan-akan ia terikat Melekat pada cincin leher sebagaimana menetes dari batu yang besar yang jatuh Di sekelilingnya dari raja-raja Kindah para pahlawan, singa-singa dalam peperangan, burung elang Mereka meninggalkannya kemudian mereka semua tersebar, setiap orang tulang kakinya patah Setiap agama pada hari kiamat di sisi Allah kecuali agama hanif adalah sia-sia

Di antaranya adalah perkataan Abu Qais bin Al-Aslat juga:

Maka berdirilah dan shalatlah kepada Tuhan kalian dan usaplah rukun-rukun rumah ini di antara tiang-tiang Karena di sisi kalian darinya cobaan yang dibenarkan, pagi hari Abu Yaksum pemimpin pasukan Pasukannya di dataran berjalan dan kakinya di atas yang melontar di puncak-puncak gunung Ketika datang kepada kalian pertolongan Dzat Arsy, mereka dikembalikan oleh tentara Yang Memiliki kerajaan antara yang berbaris dan yang melontar Maka mereka berpaling dengan cepat melarikan diri, dan tidak kembali ke keluarganya yang terlibat kecuali beberapa kelompok

Di antaranya adalah perkataan Ubaidillah bin Qais Ar-Ruqayyat tentang keagungan Baitul Haram dan perlindungannya dengan kebinasaan orang yang menghendakinya dengan keburukan:

Asyram yang datang dengan gajah bersiasat terhadapnya, maka ia berpaling dan pasukannya kalah Burung-burung menghujani mereka dengan batu hingga seakan-akan ia dilempari Barangsiapa dari manusia menyerangnya akan kembali dan ia adalah sisa dari pasukan yang tercela

Ibnu Ishaq dan yang lainnya berkata: Ketika Abrahah mati, yang memerintah Habasyah setelahnya adalah putranya Yaksum, kemudian setelahnya saudaranya Masruq bin Abrahah, dan ia adalah raja terakhir mereka. Dialah yang direbut kekuasaannya oleh Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari dengan pasukan yang ia bawa dari Kisra Anusyirwan, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Peristiwa gajah terjadi pada bulan Muharram tahun delapan puluh enam dan delapan ratus dari tarikh Dzulqarnain, yaitu yang kedua, Iskandar bin Failafus Al-Maqaduni, yang menjadi patokan tarikh orang-orang Romawi. Ketika Abrahah dan kedua putranya binasa, dan kekuasaan Habasyah hilang dari Yaman, Qullais yang telah dibangun Abrahah ditinggalkan. Ia ingin mengalihkan haji orang-orang Arab kepadanya karena kebodohan dan kurangnya akalnya, dan menjadi sepi tanpa penghuni. Ia telah membangunnya di atas dua patung yaitu Ka’ib dan istrinya yang terbuat dari kayu, tinggi masing-masing enam puluh hasta ke langit. Keduanya disertai jin. Oleh karena itu tidak ada seorang pun yang berani mengambil sesuatu dari bangunan Qullais dan perabotannya kecuali mereka akan dicelakakan. Keadaan itu berlangsung hingga masa As-Saffah, khalifah pertama Bani Abbas. Keadaannya disebutkan kepadanya beserta harta dan marmer yang dipindahkan Abrahah ke sana dari istana Balqis yang ada di Yaman. Maka ia mengirim orang untuk menghancurkannya batu demi batu dan mengambil semua harta dan isinya yang ada di dalamnya. Demikian yang disebutkan As-Suhaili. Allah lebih mengetahui.

Kisah Keluarnya Bangsa Habasyah dari Kekuasaan dan Kembalinya Kekuasaan kepada Saif bin Dzi Yazan

Muhammad bin Ishaq rahimahullah berkata: Ketika Abrahah meninggal, yang memerintah Habasyah adalah Yaksum bin Abrahah, dan dengan namanya ia dikenal dengan sebutan kunyah. Ketika Yaksum meninggal, yang memerintah Yaman dari kalangan Habasyah adalah saudaranya Masruq bin Abrahah. Ia berkata: Ketika penderitaan penduduk Yaman berlarut-larut, keluarlah Saif bin Dzi Yazan al-Himyari—yaitu Saif bin Dzi Yazan bin Dzi Asbah bin Malik bin Zaid bin Sahl bin Amru bin Qais bin Muawiyah bin Jusyam bin Abd Syams bin Wail bin al-Ghauth bin Qathan bin Urayb bin Zuhair bin Aiman bin al-Humaisau bin al-Aranjaj, dan ia adalah Himyar bin Saba. Saif dikenal dengan kunyah Abu Murrah—hingga ia tiba di hadapan Qaishar, raja Romawi. Ia mengadukan kepadanya apa yang dialaminya, dan memintanya untuk mengusir mereka (Habasyah) darinya, dan ia sendiri yang akan memerintah mereka, serta mengirimkan siapa pun yang dikehendaki dari bangsa Romawi untuk keluar kepada mereka sehingga kekuasaan Yaman menjadi milik Qaishar. Namun Qaishar tidak membantunya. Maka keluarlah ia hingga mendatangi Numan bin Mundzir yang merupakan petugas Kisra di Hirah dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengannya dari tanah Irak.

Ia mengadukan kepadanya urusan Habasyah. Numan berkata kepadanya: Sesungguhnya aku memiliki kunjungan kepada Kisra setiap tahunnya, maka tinggallah bersamaku hingga tiba waktunya. Maka ia melakukannya, kemudian keluar bersamanya dan memasukkannya kepada Kisra. Kisra biasa duduk di serambi tempat duduknya yang di dalamnya terdapat mahkotanya. Mahkota itu menurut perkiraan mereka seperti keranjang besar, dihiasi dengan yaqut, zamrud, mutiara dengan emas dan perak, digantung dengan rantai emas di ujung langit-langit di tempat duduknya itu. Lehernya tidak mampu menopang mahkotanya, ia hanya ditutup dengan kain-kain hingga duduk di tempat duduknya itu, kemudian memasukkan kepalanya ke dalam mahkota. Ketika telah duduk dengan tegak di tempat duduknya, kain-kain itu dibuka darinya. Maka tidak ada seorang pun yang melihatnya yang belum pernah melihatnya sebelum itu kecuali akan bersujud karena kewibawaan kepadanya. Ketika Saif masuk menemuinya, ia menundukkan kepalanya. Maka raja berkata: Sungguh orang bodoh ini masuk menemuiku dari pintu yang tinggi ini, kemudian menundukkan kepalanya. Hal itu disampaikan kepada Saif. Maka ia berkata: Aku melakukan ini karena kesedihanku, karena segala sesuatu terasa sempit bagiku. Kemudian ia berkata: Wahai Raja, orang-orang asing telah mengalahkan kami di negeri kami. Kisra bertanya: Orang asing yang mana; Habasyah atau Sind? Ia menjawab: Bahkan Habasyah. Maka aku datang kepadamu agar engkau menolongku, dan kekuasaan negeriku menjadi milikmu. Kisra berkata kepadanya: Negerimu jauh dengan sedikitnya kebaikannya, maka aku tidak akan menghadapkan pasukan Persia ke tanah Arab, aku tidak membutuhkan itu. Kemudian ia memberinya hadiah sepuluh ribu dirham yang penuh, dan memberinya pakaian yang bagus. Ketika Saif menerima itu darinya, ia keluar lalu menebarkan uang perak itu kepada orang-orang.

Hal itu sampai kepada raja. Maka ia berkata: Sungguh orang ini memiliki kepentingan. Kemudian ia mengutus kepadanya dan berkata: Engkau sengaja mengambil hadiah raja lalu menebarkannya kepada orang-orang! Ia berkata: Apa yang harus kulakukan dengan ini? Gunung-gunung negeriku yang aku datang darinya tidak lain adalah emas dan perak, ia ingin membuatnya tertarik. Maka Kisra mengumpulkan para marzubannya dan berkata kepada mereka: Apa pendapat kalian tentang urusan orang ini dan untuk apa ia datang? Seorang berkata: Wahai Raja, sesungguhnya di penjara-penjaramu ada orang-orang yang telah engkau penjara untuk dibunuh. Seandainya engkau mengirim mereka bersamanya, jika mereka binasa, itu adalah yang engkau inginkan untuk mereka, dan jika mereka menang, itu adalah kekuasaan yang bertambah bagimu. Maka Kisra mengirim bersamanya siapa pun yang ada di penjara-penjaranya, mereka adalah delapan ratus orang, dan ia mengangkat atas mereka Wahraz. Ia termasuk orang yang sudah tua di antara mereka dan orang yang paling mulia keturunan dan rumah tangganya. Maka mereka keluar dengan delapan kapal. Dua kapal tenggelam dan yang tiba di pantai Aden adalah enam kapal. Saif mengumpulkan kepada Wahraz siapa pun yang ia mampu dari kaumnya, dan berkata kepadanya: Pasukanku dan pasukanmu hingga kita mati bersama atau menang bersama. Wahraz berkata kepadanya: Engkau adil. Dan Masruq bin Abrahah, raja Yaman, keluar menemuinya dan mengumpulkan kepadanya tentaranya. Maka Wahraz mengutus kepada mereka seorang anaknya untuk berperang melawan mereka agar mencoba kemampuan perang mereka. Anak Wahraz terbunuh, dan itu menambah kemarahannya kepada mereka. Ketika orang-orang berhadapan di barisan mereka, Wahraz berkata: Tunjukkan kepadaku raja mereka. Mereka berkata kepadanya: Apakah engkau melihat seorang laki-laki di atas gajah yang mengikat mahkotanya di atas kepalanya di antara kedua matanya dengan yaqut merah? Ia berkata: Ya. Mereka berkata: Itu adalah raja mereka. Ia berkata: Biarkan dia. Ia berkata: Maka mereka berdiri lama, kemudian ia berkata: Apa yang ia tunggangi sekarang? Mereka berkata: Ia telah berpindah ke atas kuda. Ia berkata: Biarkan dia. Maka mereka membiarkannya lama. Kemudian ia berkata: Apa yang ia tunggangi sekarang? Mereka berkata: Di atas bagal. Wahraz berkata: Anak betina keledai, hina dan hina kerajaannya. Aku akan memanahnya. Jika kalian melihat anak buahnya tidak bergerak, maka tetaplah hingga aku memberi isyarat kepada kalian, karena aku telah meleset dari orang itu. Dan jika kalian melihat kaum itu telah berputar mengelilinginya dan berkumpul, maka aku telah mengenai orang itu, seranglah mereka. Kemudian ia memasang tali pada busurnya—dan menurut perkiraan mereka, tidak ada yang memasang tali pada busurnya selain dia karena kekuatannya—dan ia memerintahkan untuk kedua alisnya lalu diikat untuknya. Kemudian ia memanah Masruq, maka ia menembus yaqut yang di antara kedua matanya, dan anak panah itu masuk ke dalam kepalanya hingga keluar dari tengkuknya, dan ia terjatuh dari tunggangannya. Orang-orang Habasyah berputar dan berkumpul di sekelilingnya, dan pasukan Persia menyerang mereka sehingga mereka terpukul mundur. Mereka dibunuh dan melarikan diri ke segala arah. Wahraz mendatangi untuk memasuki Sana’a hingga ketika ia sampai di pintunya, ia berkata: Benderaku tidak akan masuk dalam keadaan tertunduk selamanya, runtuhkanlah pintu ini. Maka pintu itu diruntuhkan. Kemudian ia memasukinya dengan bendera yang tegak. Maka Saif bin Dzi Yazan al-Himyari berkata:

Orang-orang mengira tentang dua raja … bahwa keduanya telah bersatu Dan barangsiapa mendengar tentang persatuan mereka … maka sesungguhnya peristiwa telah melampaui batas Kami telah membunuh raja Masruq … dan kami telah membasahi bukit pasir dengan darah Dan sesungguhnya raja, raja manusia … Wahraz yang bersumpah Ia merasakan kemenangan gemilang hingga … kami mengembalikan tawanan dan kemakmuran

Orang-orang Arab dari Hijaz dan selainnya berdatangan kepada Saif untuk memberikan selamat kepadanya atas kembalinya kekuasaan kepadanya dan memujinya. Di antara yang berdatangan kepadanya adalah Quraisy yang di dalamnya ada Abdul Muthalib bin Hasyim. Saif memberitahunya tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan memberitahunya tentang apa yang ia ketahui tentang urusannya, dan itu akan datang secara terperinci di bab tentang kabar gembira tentang beliau alaihi ash-shalatu wa as-salam.

Ibnu Ishaq berkata: Abu ash-Shalt bin Abi Rabi’ah ats-Tsaqafi berkata. Ibnu Hisyam berkata: Dan diriwayatkan untuk Umayyah bin Abi ash-Shalt.

Hendaklah pembalasan dicari seperti anak Dzi Yazan … yang berjalan di laut untuk musuh-musuh dengan keadaan yang berubah-ubah Ia menuju Qaishar ketika tiba perjalanannya … namun ia tidak menemukan padanya sebagian dari yang ia minta Kemudian ia kembali menuju Kisra setelah sepuluh … tahun yang mempermalukan diri dan harta Hingga ia datang dengan anak-anak orang-orang bebas membawa mereka … sesungguhnya, demi umurku, engkau telah cepat bergerak Demi Allah, mereka adalah kelompok yang keluar … aku tidak melihat bagi mereka di antara manusia semisal Marzuban-marzuban yang kuat, yang bergelang putih … singa-singa yang membesarkan di hutan-hutan anak-anak singa Mereka melempar dari busur yang kuat seperti padang rumput … dengan anak panah yang mempercepat yang dilempar dengan cepat Engkau melepaskan singa atas anjing-anjing hitam … maka sungguh mereka yang tercerai-berai di bumi menjadi pecah Maka minumlah dengan nikmat, atasmu mahkota bersandar … di puncak Ghumdan, tempat tinggal darimu yang indah Dan minumlah dengan nikmat, karena sungguh telah rusak nasib buruk mereka … dan terurailah hari ini di kain-kainmu dengan terurai Itulah kemuliaan, bukan dua mangkuk dari susu … yang tercampur dengan air lalu menjadi setelahnya seperti air kencing

Dikatakan: Sesungguhnya Ghumdan adalah istana di Yaman, dibangun oleh Ya’rub bin Qahtan, dan disempurnakan setelahnya dan ditempati oleh Wailah bin Himyar bin Saba. Dikatakan: Ketinggiannya dua puluh tingkat, wallahua’lam.

Ibnu Ishaq berkata: Dan Adi bin Zaid al-Hairi berkata, dan ia adalah salah seorang dari Bani Tamim:

Apa setelah Sana’a yang telah memakmurkannya … para penguasa kerajaan yang murah pemberian-pemberiannya Diangkat bangunannya oleh yang membangun untuk yang memiliki puncak-puncak awan … dan mengalir misk medan perangnya Dikelilingi oleh gunung-gunung selain telanjang … si penipu, tidak dapat naik punggung-punggungnya Terdengar di dalamnya suara burung hantu … ketika menjawabnya di sore hari burung qaashib-nya Membawa kepadanya sebab-sebab pasukan anak … orang-orang bebas, penunggang kudanya, rombongan-rombongannya Dan dilengkapi dengan bagal-bagal yang membawa kematian … dan bergerak dengannya rubah-rubahnya Hingga melihatnya para kepala dari ujung … al-Manqil, hijau barisan-barisannya Hari mereka memanggil orang-orang Barbar … dan Yaksum, tidak akan beruntung pelari-pelarinya Maka hari itu adalah sisa pembicaraan, dan lenyaplah … umat yang kokoh derajat-derajatnya Dan digantikan gajah dengan jerapah dan hari-hari … penuh khianat dengan banyak keajaiban-keajaiban Setelah anak-anak Tubba’, para yang angkuh … telah tenang dengan mereka para marzuban-nya

Ibnu Hisyam berkata: Dan ini yang dimaksud oleh Sathih dengan ucapannya: Yang akan memerintah adalah Iram Dzi Yazan, ia keluar atas mereka dari Aden, maka ia tidak akan meninggalkan seorang pun dari mereka di Yaman. Dan yang dimaksud oleh Syiqq dengan ucapannya: Seorang pemuda yang bukan lemah dan bukan pendek, ia keluar dari keluarga Dzi Yazan. Ibnu Ishaq berkata: Dan Wahraz tinggal bersama orang-orang Persia di Yaman. Maka dari sisa pasukan Persia itu adalah al-Abna (anak-anak) yang ada di Yaman pada hari ini. Dan kekuasaan Habasyah di Yaman di antara masuknya Aryath hingga dibunuhnya Masruq bin Abrahah oleh Persia, dan dikeluarkannya Habasyah adalah tujuh puluh dua tahun. Yang mewarisi itu dari mereka adalah empat orang: Aryath, kemudian Abrahah, kemudian Yaksum bin Abrahah, kemudian Masruq bin Abrahah.

Kisah Apa yang Menjadi Urusan Persia di Yaman

Ibnu Hisyam berkata: Kemudian Wahraz meninggal. Maka Kisra mengangkat anaknya al-Marzuban bin Wahraz atas Yaman. Kemudian al-Marzuban meninggal. Maka Kisra mengangkat anaknya at-Tiinjaan. Kemudian ia meninggal. Maka ia mengangkat anak at-Tiinjaan. Kemudian ia memecatnya dari Yaman, dan mengangkat atas Yaman Badzan. Dan di zamannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus. Ibnu Hisyam berkata: Maka sampai kepadaku dari az-Zuhri bahwa ia berkata: Kisra menulis kepada Badzan: Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki dari Quraisy keluar di Makkah, ia mengklaim bahwa ia adalah nabi. Maka pergilah kepadanya dan mintalah ia bertobat. Jika ia bertobat, dan jika tidak, maka kirimkan kepadaku kepalanya. Maka Badzan mengirimkan surat Kisra kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menulis kepadanya: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku bahwa Dia akan membunuh Kisra pada hari ini dan ini dari bulan ini dan ini. Ketika surat itu sampai kepada Badzan, ia menunggu untuk mengamati, dan berkata: Jika ia adalah seorang nabi, maka akan terjadi apa yang ia katakan. Maka Allah membunuh Kisra pada hari yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan. Ibnu Hisyam berkata: Atas tangan anaknya Syirawaih. Saya (penulis) berkata: Dan sebagian mereka berkata: Anak-anaknya bersepakat untuk membunuhnya. Dan Kisra ini adalah Abruwaiz bin Hurmuz bin Anusyarwan bin Qabadz, dan dialah yang mengalahkan Romawi dalam firman Allah Ta’ala: “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat,” (ar-Rum: 1-3) sebagaimana akan dijelaskan.

As-Suhaili berkata: Dan pembunuhannya adalah malam Selasa pada sepuluh hari yang tersisa dari Jumadil Ula tahun sembilan Hijriah. Dan wallahua’lam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menulis kepadanya mengajaknya kepada Islam, ia marah dan merobek suratnya. Ia menulis kepada wakilnya di Yaman mengatakan kepadanya apa yang ia katakan. Dan dalam sebagian riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada utusan Badzan: Sesungguhnya Rabbku telah membunuh malam ini rabb-mu. Maka terjadilah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan. Ia dibunuh pada malam itu sendiri, dibunuh oleh anak-anaknya karena kezalimannya setelah keadilannya, setelah mereka melengserkannya, dan mereka menobatkan anaknya Syirawaih. Maka ia tidak hidup setelah membunuh ayahnya kecuali enam bulan atau kurang. Dan dalam hal ini Khalid bin Haq asy-Syaibani berkata:

Dan Kisra ketika anak-anaknya membagi-baginya … dengan pedang-pedang sebagaimana dibagi daging Kehamilan-kehamilan telah melahirkan untuknya hari … yang datang, dan bagi setiap yang hamil ada kelahiran

Az-Zuhri berkata: Ketika hal itu sampai kepada Badzan, ia mengirimkan keislamannya dan keislaman siapa yang bersamanya dari orang-orang Persia kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka para utusan bertanya: Kepada siapa kami ini wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kalian dari kami, dan kepada kami Ahlul Bait. Az-Zuhri berkata: Dan dari situ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Salman dari kami Ahlul Bait. Saya (penulis) berkata: Dan yang jelas bahwa ini adalah setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, dan karena itu beliau mengutus para pemimpin ke Yaman untuk mengajarkan orang-orang kebaikan, dan mengajak mereka kepada Allah Azza wa Jalla. Maka beliau mengutus pertama kali Khalid bin Walid, dan Ali bin Abi Thalib, kemudian menyusulkan mereka Abu Musa al-Asy’ari, dan Muadz bin Jabal. Dan Yaman serta penduduknya tunduk kepada Islam. Dan Badzan meninggal. Maka setelahnya berdirilah anaknya Syahr bin Badzan, dan dialah yang dibunuh oleh al-Aswad al-Ansi ketika ia mengklaim kenabian dan mengambil istrinya—sebagaimana akan dijelaskan—dan mengusir dari Yaman para wakil Rasulullah. Ketika al-Aswad dibunuh, kembalilah kekuasaan Islam atasnya. Dan Ibnu Hisyam berkata: Dan inilah yang dimaksud oleh Sathih dengan ucapannya: Seorang nabi yang suci, datang kepadanya wahyu dari Sang Maha Tinggi. Dan yang dimaksud oleh Syiqq dengan ucapannya: Bahkan akan terputus dengan seorang rasul yang diutus yang datang dengan kebenaran dan keadilan di antara ahlul agama dan keutamaan, kekuasaan akan berada di kaumnya hingga hari pemisahan.

Ibnu Ishaq berkata: Di Hajar, Yaman, menurut anggapan mereka, terdapat sebuah kitab yang ditulis dengan aksara Zabur yang ditulis pada zaman dahulu: Untuk siapa kerajaan Dzamar? Untuk Himyar yang baik-baik. Untuk siapa kerajaan Dzamar? Untuk Habasyah yang jahat. Untuk siapa kerajaan Dzamar? Untuk Persia yang merdeka. Untuk siapa kerajaan Dzamar? Untuk Quraisy para pedagang. Sebagian penyair telah menggubah makna ini menjadi syair sebagaimana disebutkan oleh Al-Mas’udi:

Ketika Dzamar dibangun, ditanyakan untuk siapa engkau … maka ia menjawab untuk Himyar yang baik-baik Kemudian setelah itu ditanyakan lagi, maka ia berkata … aku untuk Habasyah yang paling jahat dari yang jahat Kemudian mereka berkata setelah itu untuk siapa engkau … maka ia berkata untuk Persia yang merdeka Kemudian mereka berkata setelah itu untuk siapa engkau … maka ia berkata kepada Quraisy para pedagang

Dikatakan bahwa kalimat yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq ini ditemukan tertulis di kuburan Nabi Hud alaihissalam ketika angin menyingkap kuburannya di tanah Yaman, dan itu terjadi tidak lama sebelum zaman Balqis di masa Malik bin Dzi Al-Manar saudara Amru Dzi Al-Adz’ar bin Dzi Al-Manar. Dikatakan pula bahwa tulisan itu berada di mimbar Nabi Hud dan merupakan dari ucapannya alaihissalam. Dikisahkan oleh As-Suhaili. Wallahu a’lam.

Kisah Sathirun Penguasa Hadr

Ia menyebutkan kisahnya di sini, Abdul Malik bin Hisyam, karena apa yang dikatakan sebagian ahli nasab bahwa Nu’man bin Mundzir yang disebutkan sebelumnya dalam kunjungan Saif bin Dzi Yazan kepadanya dan permintaannya untuk membantu mengembalikan kerajaan Yaman kepadanya, bahwa ia adalah dari keturunan Sathirun penguasa Hadr. Telah kami sebutkan dari Ibnu Ishaq bahwa Nu’man bin Mundzir adalah dari keturunan Rabi’ah bin Nashr, dan diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im bahwa ia dari sisa-sisa Qanash bin Ma’ad bin Adnan. Ini adalah tiga pendapat tentang nasabnya. Maka Ibnu Hisyam memperluas pembahasan tentang penguasa Hadr. Hadr adalah benteng besar yang dibangun oleh raja ini yaitu Sathirun di tepi Sungai Furat. Ia tinggi menjulang bangunannya, luas halaman dan pekarangannya, lingkarannya sebesar kota besar dan sangat kokoh, megah, indah dan elok. Ke tempat itu dikumpulkan hasil dari wilayah-wilayah sekitarnya dari berbagai penjuru. Nama Sathirun adalah Ad-Daizan bin Mu’awiyah bin Ubaid bin Ajram dari Bani Sulayh bin Hulwan bin Al-Haf bin Qudha’ah. Demikian nasabnya menurut Ibnul Kalbi. Yang lain berkata: Ia adalah dari Jaramiqah dan merupakan salah seorang raja dari raja-raja kelompok, dan ia adalah pemimpin mereka jika mereka berkumpul untuk memerangi musuh dari luar mereka. Bentengnya berada di antara Sungai Dijlah dan Sungai Furat.

Ibnu Hisyam berkata: Kisra Sabur Dzul Aktaf menyerang Sathirun raja Hadr. Yang selain Ibnu Hisyam berkata: Sesungguhnya yang menyerang penguasa Hadr adalah Sabur bin Ardsyir bin Babak, raja pertama dari Bani Sasan yang menghinakan raja-raja kelompok dan mengembalikan kerajaan kepada para Kisra. Adapun Sabur Dzul Aktaf bin Hurmuz adalah setelah itu dengan masa yang panjang. Wallahu a’lam. Disebutkan oleh As-Suhaili.

Ibnu Hisyam berkata: Maka ia mengepungnya selama dua tahun. Yang lain berkata: Empat tahun. Itu karena ia telah menyerbu negeri Sabur ketika ia tidak ada di tanah Irak. Maka putri Sathirun yang bernama Nadhirah melihat ke arah Sabur yang mengenakan pakaian sutra dan di kepalanya ada mahkota dari emas yang dihiasi dengan zamrud, yakut, dan mutiara, dan ia tampan. Maka ia mengirim utusan kepadanya: Maukah engkau menikaiku jika aku membukakan pintu Hadr untukmu? Ia berkata: Ya. Ketika petang tiba, Sathirun minum sampai mabuk, dan ia tidak pernah bermalam kecuali dalam keadaan mabuk. Maka ia mengambil kunci-kunci pintu Hadr dari bawah kepalanya dan mengirimkannya bersama budaknya, lalu ia membuka pintu. Dikatakan: Sebenarnya ia menunjukkan kepada mereka sungai yang airnya masuk dengan luas, maka mereka masuk melaluinya ke Hadr. Dikatakan pula: Ia menunjukkan kepada mereka tentang sihir yang ada di Hadr, dan dalam pengetahuan mereka bahwa Hadr tidak akan terbuka sampai diambil seekor merpati yang berwarna abu-abu dan kakinya dicelup dengan darah haid seorang gadis perawan yang bermata biru, kemudian dilepas, jika ia hinggap di tembok Hadr maka sihir itu akan jatuh dan pintu akan terbuka. Maka hal itu dilakukan dan pintu terbuka. Sabur masuk dan membunuh Sathirun, menguasai Hadr, menghancurkannya, dan membawanya pergi bersamanya lalu menikahinya. Suatu malam ketika ia tidur di tempat tidurnya, ia gelisah tidak bisa tidur. Maka ia meminta lilin dan memeriksa tempat tidurnya, lalu menemukan sehelai daun pohon bidara. Sabur berkata kepadanya: Inikah yang membuatmu terjaga? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Apa yang ayahmu lakukan untukmu? Ia berkata: Ia menyiapkan sutra untukku, memakaikan aku pakaian sutra, memberi makan sumsum, dan memberi minum arak. Ia berkata: Apakah balasan ayahmu adalah apa yang kamu lakukan kepadanya?! Kamu akan lebih cepat berbuat demikian kepadaku. Kemudian ia memerintahkan agar rambutnya diikatkan pada ekor kuda, kemudian kuda itu dipacu sampai ia mati. Tentang hal itu Al-A’sya bin Qais bin Tsa’labah berkata:

Tidakkah kamu lihat Hadr ketika penghuninya … dalam kenikmatan, dan apakah ada yang kekal dari kenikmatan Syahbur Al-Junud tinggal di sana … dua tahun memukulnya dengan martil Maka ketika ia berdoa kepada Tuhannya suatu doa … ia kembali kepada-Nya namun tidak membalas dendam Apakah Tuhannya menambahkan kekuatan baginya … dan tetangganya yang seperti itu tidak tinggal Dan ia telah mengajak kaumnya dengan seruan … marilah pada urusanmu yang telah terputus Maka matilah dengan mulia dengan pedang-pedangmu … aku melihat kematian menghadapi siapa yang menghadapinya

Dan Adi bin Zaid berkata tentang itu:

Dan Hadr menimpanya bencana … dari atasnya tangan yang kuat Seorang anak yang tidak menjaga ayahnya … untuk ajalnya ketika ia menyia-nyiakan penjaganya Ketika ia memberinya minum anggur yang jernih … dan anggur, apakah mabuk yang meminumnya Maka ia menyerahkan penduduknya di malamnya … mengira bahwa pemimpin melamarnya Maka itulah bagian pengantin ketika fajar menyingsing … darah mengalir dari pembuluh darahnya Dan Hadr dihancurkan dan dijarah … dan telah terbakar di kamarnya tempat tidurnya

Dan Adi bin Zaid juga berkata:

Wahai yang mencemooh yang mencela dengan masa … apakah kamu yang bebas yang terpenuhi Ataukah pada kamu ada janji yang kuat dari masa … bahkan kamu adalah orang yang jahil yang tertipu Siapa yang kamu lihat masa memberinya keabadian ataukah siapa … yang padanya ada pelindung dari yang menzalimi Di mana Kisra, Kisra para raja, Anusyirwan … ataukah di mana sebelumnya Sabur Dan Bani Al-Ashfar yang mulia, raja-raja … Romawi tidak tersisa dari mereka yang disebutkan Dan saudara Hadr ketika ia membangunnya dan ketika … Sungai Dijlah dikumpulkan kepadanya dan Khabur Ia membangunnya dengan marmer dan melapisinya dengan … sehingga burung di puncaknya bersarang Tidak menyelamatkannya ketentuan masa, maka lenyaplah kerajaan … darinya, maka pintunya ditinggalkan

Dan ia mengingat penguasa Khawarnaq ketika … ia menyaksikan suatu hari dan untuk petunjuk ia berpikir Ia senang dengan hartanya dan banyaknya apa yang … ia miliki dan laut yang terbentang dan Sadir Maka hatinya sadar dan berkata dan apa … kehidupan makhluk hidup selain kepada kematian akan berakhir Kemudian mereka menjadi seperti dedaunan kering … maka angin utara dan barat membawanya

Aku berkata: Adapun penguasa Khawarnaq yang disebutkannya dalam syairnya adalah seorang laki-laki dari raja-raja terdahulu, dan salah seorang ulama zamannya memberinya nasihat tentang urusannya yang telah ia berlebih-lebihan dan melampaui batas, dan ia memberontak di dalamnya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak memperhatikan Tuhannya. Maka ia memberinya nasihat dengan menyebutkan para raja dan negara-negara yang telah berlalu sebelumnya, dan bagaimana mereka telah binasa dan tidak tersisa seorang pun dari mereka, dan bahwa apa yang sampai kepadanya dari orang lain pastilah akan berpindah darinya kepada orang setelahnya. Maka nasihatnya mempengaruhinya dan mencapai setiap pencapaian. Ia tersadar untuk dirinya, memikirkan harinya dan kemarin, dan takut akan sempitnya kuburnya. Maka ia bertaubat dan kembali, meninggalkan apa yang ia ada di dalamnya, melepaskan kerajaan, mengenakan pakaian orang-orang fakir, dan berjalan di padang-padang tandus, dan menikmati kesendirian, dan keluar dari apa yang manusia ada di dalamnya dari mengikuti syahwat dan bermaksiat kepada Tuhan penguasa langit. Telah disebutkan kisahnya secara lengkap oleh Syaikh Imam Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah dalam kitab “Kitab At-Tawwabin”, dan demikian pula disampaikan dengan sanad yang kuat oleh Al-Hafizh Abu Al-Qasim As-Suhaili dalam kitab “Ar-Raudh Al-Unf” yang tersusun dengan susunan terbaik dan penjelasan yang paling jelas.

Berita Raja-Raja Kelompok

Adapun penguasa Hadr yaitu Sathirun, telah disebutkan sebelumnya bahwa ia adalah pemimpin seluruh raja-raja kelompok dan ia hidup pada zaman Iskandar bin Filipus Al-Maqaduni Al-Yunani. Itu karena ketika ia mengalahkan kerajaan Persia Dara bin Dara dan menghinakan kerajaannya, menghancurkan negerinya, menjarah istananya, menjarah harta bendaranya, dan mengoyak-ngoyak persatuan Persia menjadi berantakan, ia bertekad agar mereka tidak berkumpul lagi setelah itu dan urusan mereka tidak tersusun lagi. Maka ia mengangkat setiap raja atas sekelompok manusia di suatu wilayah dari wilayah-wilayah bumi, baik dari Arab maupun non-Arab. Maka tetaplah setiap raja dari mereka menjaga wilayahnya, memelihara bagiannya, dan mengeksploitasi tempatnya. Jika ia mati, maka anaknya setelahnya atau salah seorang kaumnya akan menggantikannya. Urusan tetap demikian selama hampir lima ratus tahun sampai datang Ardsyir bin Babak dari Bani Sasan bin Bahman bin Isfandiyar bin Yisytasab bin Luhrasab. Maka ia mengembalikan kerajaan mereka seperti semula, dan seluruh kerajaan kembali kepadanya, dan ia menghapuskan kerajaan raja-raja kelompok, tidak tersisa dari mereka yang lama maupun yang baru. Dan yang masih tersisa baginya adalah pengepungan penguasa Hadr yang merupakan yang terbesar, terkuat, dan terbesar dari mereka karena ia adalah pemimpin mereka dan panglima mereka. Ketika Ardsyir meninggal, anaknya Sabur menghadapinya dan mengepungnya sampai ia menguasainya sebagaimana telah disebutkan. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Bab Penyebutan Bani Ismail

Dan Apa yang Terjadi dari Urusan Jahiliyah Sampai Zaman Kerasulan

Telah disebutkan sebelumnya tentang Nabi Ismail alaihissalam sendiri dalam pembahasan para Nabi, dan bagaimana keadaannya ketika ayahnya Nabi Ibrahim Al-Khalil alaihissalam membawanya bersama ibunya Hajar lalu menempatkannya di lembah Makkah di antara gunung-gunung Faran di mana tidak ada teman di sana dan tidak ada suara, dan Ismail masih menyusu. Kemudian ia pergi dan meninggalkan mereka di sana atas perintah Allah kepadanya untuk itu. Tidak ada pada ibunya kecuali sebuah kantong yang berisi kurma dan sebuah wadah yang berisi air. Ketika itu habis, Allah memancarkan untuk Hajar sumur Zamzam yang merupakan makanan yang mengenyangkan dan obat yang menyembuhkan, sebagaimana telah disebutkan penjelasannya dalam hadits Ibnu Abbas yang panjang yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah. Kemudian turunlah Jurhum, yaitu sekelompok dari Arab murni dari umat-umat Arab yang paling dahulu, ke tempat Hajar di Makkah dengan syarat bahwa mereka tidak memiliki sesuatu dari air kecuali untuk minum dan mengambil manfaat darinya. Maka Hajar merasa tenang dengan mereka. Dan Nabi Ibrahim alaihissalam selalu memeriksa keadaan mereka setiap waktu. Dikatakan bahwa ia mengendarai Buraq dari negeri Baitul Maqdis dalam pergi dan pulangnya. Kemudian ketika anak itu bertambah besar dan dewasa, dan mencapai masa berjalan bersama ayahnya, terjadilah kisah penyembelihan sebagaimana telah disebutkan penjelasan bahwa yang disembelih adalah Ismail menurut pendapat yang shahih.

Kemudian ketika ia dewasa, ia menikah dengan seorang wanita dari Jurhum kemudian menceraikannya dan menikah dengan yang lain, dan menikah dengan Sayyidah binti Mudhad bin Amru Al-Jurhumi. Ia melahirkan baginya dua belas anak laki-laki sebagaimana telah disebutkan mereka, yaitu Nabit, Qaidhar, Misya, Masma’, Masyiy, Duma, Adar, Yathur, Nabusy, Thaima, dan Qaidhuma. Demikian disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dan yang lain dari kitab-kitab Ahlul Kitab. Ia memiliki satu anak perempuan bernama Nasmah, dan dialah yang ia nikahkan dengan anak saudaranya Al-Ish bin Ishaq bin Ibrahim. Maka lahir baginya darinya bangsa Romawi, Yunani, dan juga Spanyol menurut salah satu pendapat.

Kemudian seluruh Arab Hijaz dengan berbagai suku mereka kembali dalam nasab mereka kepada kedua anaknya Nabit dan Qaidhar. Dan yang menjadi pemimpin setelahnya dan yang mengatur urusan, penguasa di Makkah dan yang mengurus Baitullah dan Zamzam adalah Nabit bin Ismail, dan ia adalah anak saudara perempuan Jurhum. Kemudian Jurhum menguasai Baitullah karena tamak kepada anak-anak saudara perempuan mereka. Maka mereka memerintah di Makkah dan sekitarnya menggantikan Bani Ismail untuk waktu yang lama. Yang pertama menjadi penguasa Baitullah setelah Nabit adalah Mudhad bin Amru bin Sa’d bin Ar-Raqib bin Hain bin Nabat bin Jurhum. Dan Jurhum bin Qahtan. Dikatakan: Jurhum bin Yaqthan bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh Al-Jurhumi. Ia tinggal di atas Makkah di Qu’aiqi’an. Dan As-Sumaid sayyid Qathura’ tinggal bersama kaumnya di bawah Makkah. Masing-masing dari mereka memungut cukai dari siapa yang melewatinya dalam perjalanan ke Makkah. Kemudian terjadi perkelahian antara Jurhum dan Qathura’. Mereka saling berperang dan As-Sumaid terbunuh, dan urusan menjadi kokoh bagi Mudhad. Dialah penguasa Makkah dan Baitullah, tidak ada yang menyainginya dalam hal itu dari anak-anak Ismail meskipun mereka banyak, mulia, dan tersebar di Makkah dan di tempat lain. Itu karena mereka adalah paman dari pihak ibu baginya, dan karena keagungan Baitullah Al-Haram. Kemudian kerajaan beralih setelahnya kepada anaknya Al-Harits, kemudian kepada Amru bin Al-Harits. Kemudian Jurhum berbuat melampaui batas di Makkah dan memperbanyak kerusakan di dalamnya, dan berbuat tidak benar terhadap Masjidil Haram sampai disebutkan bahwa seorang laki-laki dari mereka yang disebut Isaf bin Baghy dan seorang wanita yang disebut Nailah binti Wail berkumpul di Ka’bah, maka ia berbuat keji kepadanya. Allah menjadikan mereka batu dan orang-orang menempatkan keduanya dekat Baitullah agar mereka mengambil pelajaran dari keduanya. Ketika masa berlalu setelah itu untuk waktu yang lama, keduanya disembah selain Allah pada zaman Khuza’ah sebagaimana akan datang penjelasannya pada tempatnya. Maka keduanya menjadi berhala yang dipasang yang disebut Isaf dan Nailah. Ketika Jurhum memperbanyak pelanggaran di negeri haram, Khuza’ah yang tinggal di sekitar Haram bersatu untuk melawan mereka. Mereka dari keturunan Amru bin Amir yang keluar dari Yaman karena apa yang diperkirakan dari banjir bendungan Marib sebagaimana telah disebutkan. Dikatakan bahwa Khuza’ah dari Bani Ismail. Wallahu a’lam.

Yang dimaksud adalah bahwa mereka berkumpul untuk berperang dan memberitahukan perang kepada mereka, lalu mereka saling berperang. Bani Ismail bersikap netral terhadap kedua kelompok tersebut. Khuzaah (yaitu Bani Bakr bin Abdul Manah dan Ghabsyan) menang dan mengusir mereka dari Baitullah. Maka Amru bin Al-Harits bin Mudhadh Al-Jurhumi—yang merupakan pemimpin mereka—mengambil dua ekor rusa emas milik Ka’bah dan Hajar Ar-Rukn (yaitu Hajar Aswad), serta pedang-pedang berhiaskan dan benda-benda lainnya, lalu menguburkannya di sumur Zamzam dan menutupinya. Kemudian ia berangkat bersama kaumnya kembali ke Yaman. Dalam hal ini Amru bin Al-Harits bin Mudhadh berkata:

Dan ada yang bertanya sementara air mata mengalir deras Dan pelupuk matanya telah basah oleh air mata Seakan-akan tidak pernah ada teman di antara Al-Hujun hingga Ash-Shafa Dan tidak pernah ada yang bercengkrama di Mekah Maka aku menjawabnya sementara hatiku seolah-olah Ada burung yang menggerakkannya di antara kedua sayap Benar, kami adalah penduduknya, namun kami disingkirkan Oleh perputaran zaman dan nasib buruk yang menghalangi Dan kami adalah para pengurus Baitullah setelah Nabit Kami thawaf di Baitullah itu dan kebaikan tampak jelas Dan kami mengurus Baitullah setelah Nabit Dengan kemuliaan, maka tidak ada yang meraih kesombongan di sisi kami Kami berkuasa lalu kami mulia, betapa agungnya kekuasaan kami Maka tidak ada kaum selain kami yang kemudian berbangga Tidakkah kalian menikahi orang terbaik yang kami ketahui Maka anak-anaknya dari kami dan kami adalah para mertua Jika dunia berbalik melawan kami dengan keadaannya Maka sesungguhnya dunia memiliki keadaan dan di dalamnya ada pertengkaran Maka Yang Maha Memiliki mengeluarkan kami darinya dengan kuasa Demikianlah wahai manusia, takdir berjalan Aku berkata ketika orang yang tenang tidur dan aku tidak tidur Wahai Yang Memiliki Arasy, janganlah Suhail dan Amir menjauh Dan aku diganti oleh wajah-wajah yang tidak aku sukai Kabilah-kabilah termasuk Himyar dan Yahabir Dan kami menjadi cerita-cerita padahal kami dulu dalam kenikmatan Dengan itu tahun-tahun yang berlalu menggigit kami Maka air mata mengalir deras menangisi negeri Yang di dalamnya ada tanah haram yang aman dan di dalamnya ada Masy’air Dan menangisi Baitullah yang merpatinya tidak disakiti Ia tetap aman di dalamnya dan di dalamnya ada burung pipit Dan di dalamnya ada binatang-binatang liar yang jinak yang tidak diganggu Jika keluar darinya maka tidak meninggalkannya

Ibnu Ishaq berkata: Amru bin Al-Harits bin Mudhadh juga berkata menyebut Bani Bakr dan Ghabsyan yang menggantikan mereka di Mekah setelah mereka:

Wahai manusia, berjalanlah, sesungguhnya kelalaian kalian Adalah kalian akan suatu hari tidak berjalan lagi Doronglah unta-unta dan lepaskan tali kekangnya Sebelum kematian dan laksanakan apa yang harus kalian laksanakan Kami adalah kaum sebagaimana kalian, namun zaman mengubah kami Maka kalian akan seperti kami dahulu

Ibnu Hisyam berkata: Ini adalah yang shahih menurutnya dari syair tersebut. Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu tentang syair bahwa bait-bait ini adalah syair pertama yang diucapkan di kalangan Arab, dan bahwa syair ini ditemukan tertulis di atas batu di Yaman, dan tidak disebutkan siapa yang mengucapkannya. As-Suhaili menyebutkan untuk bait-bait ini ada saudara-saudaranya dan ia menceritakan pada kesempatan itu kisah yang mengagumkan dan pembacaan-pembacaan yang indah. Ia berkata: Abu Al-Walid Al-Azraqi dalam kitabnya Fadhail Makkah menambahkan pada bait-bait yang disebutkan yang dinisbahkan kepada Amru bin Al-Harits bin Mudhadh:

Zaman telah condong kepada kami lalu membinasakan kami Dengan kezaliman terhadap kami, dan orang-orang dirampas oleh orang lain Sesungguhnya memikirkan tidak bermanfaat bagi pemiliknya Ketika tiba-tiba dalam ilmu yang tidak ada di hadapannya Putuskanlah urusan-urusan kalian dengan ketegasan, karena untuk urusan itu Ada jalan yang benar jika kalian mendapat petunjuk dan jalan yang sudah biasa Dan carilah informasi tentang perbuatan orang-orang sebelum kalian Sebagaimana jelas jalan yang di sana ada kehinaan Kami dahulu adalah raja manusia sebelum kalian Di tempat tinggal di dalam tanah haram Allah yang dihuni

Kisah Khuzaah dan Amru bin Luhay Dan Penyembahan Berhala oleh Orang Arab

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Ghabsyan dari Khuzaah mengurus Baitullah tanpa melibatkan Bani Bakr bin Abdul Manah, dan yang mengurusnya dari mereka adalah Amru bin Al-Harits Al-Ghabsyani. Sedangkan Quraisy saat itu adalah kelompok-kelompok, golongan-golongan dan rumah tangga yang tersebar di antara kaum mereka dari Bani Kinanah. Mereka berkata: Khuzaah hanya dinamakan Khuzaah karena mereka terpisah dari keturunan Amru bin Amir ketika datang dari Yaman menuju Syam, lalu turun di Marr Azh-Zhahran dan menetap di sana. Aun bin Ayyub Al-Anshari, kemudian Al-Khazraji berkata tentang hal itu:

Ketika kami turun di lembah Marr, Khuzaah terpisah Dari kami dalam kelompok-kelompok yang kuat Mereka melindungi setiap lembah di Tihamah dan dilindungi Oleh tombak yang keras dan pedang yang tajam

Dan Abu Al-Muthahhir Ismail bin Rafi’ Al-Anshari Al-Ausi berkata:

Ketika kami turun di lembah Mekah, Khuzaah memuji Tempat tinggal yang subur Maka mereka tinggal di Akarisa dan tersebar di Qanabil Pada setiap kaum antara Najd dan daerah pantai Mereka mengusir Jurhum dari lembah Mekah dan mengendalikan Dengan kemuliaan Khuzaah yang kuat pundaknya

Maka Khuzaah mengurus Baitullah secara turun-temurun dari generasi ke generasi hingga yang terakhir adalah Hulail bin Hubsyiyah bin Salul bin Ka’b bin Amru bin Rabi’ah Al-Khuza’i yang menikahkan putrinya Hubba kepada Qushay bin Kilab, lalu Hubba melahirkan empat anaknya: Abdul Dar, Abdul Manaf, Abdul Uzza dan Abd. Kemudian urusan Baitullah beralih kepadanya (Qushay) sebagaimana akan dijelaskan dan dirinci pada tempatnya insya Allah Ta’ala dan hanya kepada-Nya-lah kepercayaan. Khuzaah terus mengurus Baitullah selama sekitar tiga ratus tahun, dan ada yang mengatakan lima ratus tahun. Wallahu a’lam.

Mereka membawa sial dalam pengurusan mereka karena di masa mereka dimulai penyembahan berhala pertama kali di Hijaz. Hal itu disebabkan oleh pemimpin mereka Amru bin Luhay—semoga Allah melaknatnya—karena dialah orang pertama yang menyeru mereka kepada hal itu. Ia memiliki harta yang sangat banyak, dikatakan bahwa ia mencongkel mata dua puluh ekor unta. Itu adalah ungkapan bahwa ia memiliki dua puluh ribu ekor unta. Kebiasaan orang Arab adalah bahwa siapa yang memiliki seribu ekor unta, ia mencongkel mata salah satunya karena dengan itu ia menolak mata jahat darinya. Di antara yang menyebutkan hal itu adalah Al-Azraqi. As-Suhaili menyebutkan bahwa kadang-kadang ia menyembelih di hari-hari haji sepuluh ribu ekor unta kurban, dan memberi sepuluh ribu pakaian setiap tahun, memberi makan orang Arab dan membuat Al-Hais dengan mentega dan madu untuk mereka, serta membuat tepung gandum basah untuk mereka. Mereka berkata: Ucapan dan perbuatannya di kalangan mereka seperti syariat yang diikuti karena kemuliaan, kedudukan dan kedermawanannya di tengah mereka.

Ibnu Hisyam berkata: Telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu bahwa Amru bin Luhay keluar dari Mekah menuju Syam untuk suatu urusan. Ketika ia tiba di Ma’ab di wilayah Al-Balqa’, dan di sana saat itu ada kaum Amaliqah (yaitu keturunan Imlaq atau Amliq bin Lawudz bin Sam bin Nuh), ia melihat mereka menyembah berhala. Maka ia berkata kepada mereka: Berhala-berhala apakah ini yang aku lihat kalian sembah? Mereka menjawab: Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah, maka kami meminta hujan kepadanya lalu ia menurunkan hujan kepada kami, dan kami meminta pertolongan kepadanya lalu ia menolong kami. Maka ia berkata kepada mereka: Tidakkah kalian memberi aku salah satunya agar aku bawa ke negeri Arab lalu mereka menyembahnya? Maka mereka memberinya berhala yang bernama Hubal. Ia membawanya ke Mekah lalu menempatkannya, dan memerintahkan manusia untuk menyembah dan mengagungkannya.

Ibnu Ishaq berkata: Mereka mengira bahwa yang pertama kali ada penyembahan batu di kalangan Bani Ismail alaihissalam adalah bahwa tidak ada yang berangkat dari Mekah dari mereka ketika tempat menjadi sempit bagi mereka dan mereka mencari kelapangan di negeri-negeri kecuali membawa serta batu dari batu-batu tanah haram sebagai pengagungan terhadap tanah haram. Di mana pun mereka turun, mereka meletakkannya lalu thawaf mengelilinginya seperti thawaf mereka mengelilingi Ka’bah, hingga hal itu menyebabkan mereka menyembah apa yang mereka anggap baik dari batu-batu yang menakjubkan bagi mereka, hingga generasi-generasi berganti dan mereka lupa apa yang dahulu mereka lakukan.

Dalam Shahih Bukhari dari Abu Raja’ Al-Utharidi, ia berkata: Kami dahulu di masa Jahiliyah jika tidak menemukan batu, kami mengumpulkan setumpuk tanah, lalu kami datangkan kambing lalu memerasnya di atasnya, kemudian kami thawaf mengelilinginya.

Ibnu Ishaq berkata: Dan mereka mengganti agama Ibrahim dan Ismail alaihimassalam dengan yang lain, lalu mereka menyembah berhala dan berpaling kepada apa yang dilakukan umat-umat sebelum mereka dari kesesatan. Namun pada mereka masih ada sisa-sisa dari masa Ibrahim alaihissalam yang mereka pegang, yaitu mengagungkan Baitullah, thawaf mengelilinginya, haji, umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan kurban, bertalbiyah untuk haji dan umrah, dengan memasukkan ke dalamnya hal-hal yang bukan dari ajaran tersebut. Maka Kinanah dan Quraisy jika bertalbiyah berkata: Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wa ma malaka (Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang adalah milik-Mu, Engkau memilikinya dan apa yang ia miliki). Mereka meng-Esakan-Nya dengan talbiyah, kemudian memasukkan berhala-berhala mereka kepada-Nya, dan menjadikan kepemilikannya di tangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Dan tidak beriman kebanyakan mereka kepada Allah kecuali dalam keadaan mempersekutukan (Allah).” (Yusuf: 106) Artinya: Mereka tidak meng-Esakan-Ku dengan mengenal hak-Ku kecuali menjadikan bersama-Ku sekutu dari makhluk-Ku.

As-Suhaili dan lainnya telah menyebutkan bahwa orang pertama yang mengucapkan talbiyah ini adalah Amru bin Luhay, dan bahwa Iblis menjelma kepadanya dalam wujud seorang syaikh lalu terus mengajarkannya itu, dan ia mendengarkan darinya dan mengucapkan seperti yang ia ucapkan. Dan orang Arab mengikutinya dalam hal itu. Telah shahih dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jika mendengar mereka berkata: “Labbaika la syarika laka”, beliau berkata: “Qad qad” (cukup cukup).

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Hushin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Amru bin Luhay bin Qam’ah bin Khindif adalah bapak Khuzaah.” Hanya Bukhari yang meriwayatkannya dari jalur ini.

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku membacakan kepada ayahku: Telah menceritakan kepadamu Amru bin Mujammi’, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Hijri dari Abu Al-Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya orang pertama yang melepaskan As-Sawaib dan menyembah berhala adalah bapak Khuzaah Amru bin Amir, dan sesungguhnya aku melihatnya menyeret ususnya di neraka.” Ahmad sendirian yang meriwayatkannya dari jalur ini. Ini menunjukkan bahwa Amru bin Luhay adalah bapak Khuzaah yang dinisbahkan kepadanya seluruh kabilah sebagaimana diklaim oleh sebagian ahli nasab dalam apa yang diceritakan Ibnu Ishaq dan lainnya. Jika kita hanya mengikuti ini saja, maka akan jelas bahkan seperti nash. Namun telah datang apa yang menyelisihinya dari beberapa sisi.

Bukhari berkata: Dan Abu Al-Yaman berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az-Zuhri, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab berkata: Al-Bahirah adalah yang susunya diharamkan untuk thawaghit sehingga tidak seorang pun dari manusia memerasnya. As-Saibah adalah yang mereka lepaskan untuk tuhan-tuhan mereka, tidak ada yang dimuat di atasnya. Ia berkata: Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Amru bin Amir Al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka, dan ia adalah orang pertama yang melepaskan As-Sawaib.”

Demikianlah Bukhari meriwayatkannya, juga Muslim dari hadits Shalih bin Kaisan dari Az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dengannya. Kemudian Bukhari berkata: Dan Ibnu Al-Had meriwayatkannya dari Az-Zuhri. Al-Hakim berkata: Bukhari bermaksud: Ibnu Al-Had meriwayatkannya dari Abdul Wahhab bin Bakht dari Az-Zuhri, demikian ia berkata.

Dan Ahmad meriwayatkannya dari Amru bin Salamah Al-Khuza’i dari Al-Laits bin Sa’d dari Yazid bin Al-Had dari Az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Amru bin Amir menyeret ususnya di neraka, dan ia adalah orang pertama yang melepaskan As-Sawaib dan membuat Al-Bahirah.” Dan ia tidak menyebut di antara keduanya Abdul Wahhab bin Bakht sebagaimana yang dikatakan Al-Hakim, wallahu a’lam.

Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az-Zuhri dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Amru bin Amir Al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka, dan ia adalah orang pertama yang melepaskan As-Sawaib.” Ini terputus dari jalur ini. Yang shahih adalah: Az-Zuhri dari Sa’id darinya sebagaimana telah disebutkan.

Ucapannya dalam hadits ini dan hadits sebelumnya “Al-Khuza’i” menunjukkan bahwa ia bukan bapak kabilah tetapi hanya dinisbahkan kepadanya. Mungkin apa yang terjadi dalam riwayat dari ucapannya “Abu Khuzaah” adalah kesalahan dari perawi dari “Akhi Khuzaah” (saudara Khuzaah), atau bahwa ia berkunyah Abu Khuzaah dan tidak berarti itu sebagai pemberitahuan bahwa ia adalah bapak seluruh Khuzaah. Wallahu a’lam.

Berkata Muhammad bin Ishaq: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi bahwa Abu Shalih as-Samman menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aktsam bin al-Jaun al-Khuza’i: “Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhay bin Qama’ah bin Khindif menyeret ususnya di neraka dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mirip dengan seseorang melebihi kemiripanmu dengannya dan kemiripannya denganmu.” Maka Aktsam berkata: Apakah kemiripannya denganku akan membahayakanku, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Tidak, sesungguhnya engkau seorang mukmin sedangkan dia seorang kafir. Sesungguhnya dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail; maka dia mendirikan berhala-berhala, membuat bahirah, menjadikan saibah, menghubungkan wasilah, dan melindungi hami.” Tidak ada dalam kitab-kitab hadits dari jalur ini dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Hanad bin Abdah dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serupa atau seperti itu, dan juga tidak ada dalam kitab-kitab.

Berkata al-Bukhari: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Ya’qub Abu Abdullah al-Kirmani, telah menceritakan kepada kami Hassan bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yunus dari az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Jahannam, sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain, dan aku melihat Amr menyeret ususnya dan dialah orang pertama yang membuat saibah-saibah.” Hanya al-Bukhari yang menyendiri meriwayatkan ini, dan ath-Thabrani meriwayatkan melalui jalur Shalih dari Ibnu Abbas secara marfu’ tentang hal tersebut.

Yang dimaksudkan adalah bahwa Amr bin Luhay, semoga Allah melaknatnya, telah membuat berbagai hal baru dalam agama yang mengubah agama Khalilullah, maka orang-orang Arab mengikutinya dalam hal itu sehingga mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh, jelas, mengerikan, dan buruk. Dan Allah ta’ala telah mengingkari mereka dalam Kitab-Nya yang Mulia dalam beberapa ayat darinya. Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah…” ayat (an-Nahl: 116). Dan Allah ta’ala berfirman: “Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti (al-Maidah: 103).” Dan kami telah berbicara tentang semua ini secara panjang lebar, dan telah menjelaskan perbedaan pendapat para salaf dalam menafsirkan hal tersebut, maka barangsiapa yang menghendaki hendaklah mengambilnya dari sana, dan segala puji dan karunia bagi Allah.

Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka menetapkan bagi apa yang tidak mereka ketahui, suatu bagian dari apa yang telah Kami berikan kepada mereka sebagai rezeki. Demi Allah, kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu ada-adakan (an-Nahl: 56).” Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’ Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan mereka berkata: ‘Binatang ternak dan tanaman ini adalah terlarang, tidak boleh memakannya kecuali orang-orang yang kami kehendaki’ menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah atasnya, sebagai kebohongan yang mereka ada-adakan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang mereka ada-adakan. Dan mereka berkata: ‘Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk laki-laki kami, dan diharamkan atas istri-istri kami’, dan jika binatang itu lahir mati, maka mereka semua boleh memakannya. Kelak Allah akan memberi pembalasan kepada mereka terhadap perkataan-perkataan mereka itu. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan pada mereka dengan mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (al-An’am: 136-140).”

Berkata al-Bukhari dalam Shahih-nya: Bab Kebodohan Orang Arab: telah menceritakan kepada kami Abu an-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, dia berkata: Jika engkau ingin mengetahui kebodohan orang Arab maka bacalah apa yang ada di atas tiga puluh dan seratus dalam Surah al-An’am: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan pada mereka dengan mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (al-An’am: 140).” Dan telah kami sebutkan tafsir ayat ini dan apa yang mereka ada-adakan dari syariat-syariat batil dan rusak yang dikira oleh tokoh besar mereka Amr bin Luhay -semoga Allah memburukkannya- sebagai kemaslahatan dan rahmat bagi hewan ternak dan binatang, padahal dia pendusta dan pembuat kedustaan dalam hal itu. Dan dengan kejahilan dan kesesatan ini, orang-orang bodoh dan massa mengikutinya dalam hal tersebut, bahkan mereka telah mengikutinya dalam hal yang lebih buruk dan lebih besar dari itu dengan banyak, yaitu menyembah berhala-berhala bersama Allah ‘azza wa jalla, dan mereka mengubah apa yang Allah utus kepada Ibrahim Khalilullah berupa agama yang lurus dan jalan yang lurus yaitu mengesakan ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mengharamkan syirik, serta mereka mengubah syi’ar haji dan tanda-tanda agama tanpa ilmu, tanpa bukti, tanpa dalil yang shahih maupun lemah. Dan mereka mengikuti dalam hal itu orang-orang sebelum mereka dari umat-umat musyrikin, dan mereka menyerupai kaum Nuh yang merupakan orang pertama yang menyekutukan Allah dan menyembah berhala-berhala. Oleh karena itu Allah mengutus kepada mereka Nuh dan dia adalah rasul pertama yang diutus yang melarang dari penyembahan berhala-berhala sebagaimana telah disebutkan penjelasannya dalam kisah Nuh. “Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) (Nuh: 23-24)” ayat. Berkata Ibnu Abbas: Mereka adalah orang-orang saleh pada kaum Nuh, ketika mereka meninggal, mereka berkumpul di kubur-kubur mereka, maka ketika waktu berlalu panjang bagi mereka, mereka menyembah mereka. Dan telah kami jelaskan bagaimana keadaan perkara mereka dalam penyembahan mereka dengan apa yang cukup untuk tidak perlu mengulanginya di sini.

Berkata Ibnu Ishaq dan yang lainnya: Kemudian berhala-berhala ini sampai kepada orang-orang Arab setelah mereka mengubah agama Ismail. Maka adalah Wadd untuk Bani Kalb bin Wabrah bin Taghlib bin Hulwan bin Imran bin al-Haf bin Qudha’ah dan didirikan di Daumat al-Jandal. Dan adalah Suwa’ untuk Bani Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar dan didirikan di tempat yang disebut Ruhat. Dan adalah Yaghuts untuk Bani An’um dari Thayyiy dan untuk penduduk Jurats dari Madzhij dan didirikan di Jurats. Dan adalah Ya’uq didirikan di tanah Hamdan dari Yaman untuk Bani Khaiwan, suku dari Hamdan. Dan adalah Nasr didirikan di tanah Himyar untuk kabilah yang disebut Dzu al-Kala’.

Berkata Ibnu Ishaq: Dan adalah untuk Khauwlan di tanah mereka sebuah berhala yang disebut ‘Amiyanis, mereka membagi untuk berhala itu dari binatang ternak mereka dan tanaman mereka satu bagian antara berhala itu dan Allah menurut anggapan mereka. Maka apa yang masuk dalam hak ‘Amiyanis dari hak Allah yang mereka bagikan untuknya, mereka biarkan untuk berhala itu, dan apa yang masuk dalam hak Allah dari hak ‘Amiyanis mereka kembalikan kepada berhala itu. Turunlah ayat: “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah (al-An’am: 136).” Dia berkata: Dan adalah untuk Bani Malkan bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah sebuah berhala yang disebut Sa’d, sebuah batu di padang pasir dari tanah mereka yang panjang. Maka datanglah seorang laki-laki dari mereka dengan unta-untanya yang subur untuk dihentikan di hadapannya mengharapkan berkahnya menurut anggapannya. Maka ketika unta-unta itu melihatnya -dan unta-unta itu digembalakan tidak ditunggangi- dan berhala itu disiram dengan darah, unta-unta itu lari ketakutan darinya dan pergi ke setiap arah. Maka pemiliknya marah dan mengambil batu lalu melemparinya, kemudian berkata: Semoga Allah tidak memberkahimu, engkau telah menakuti unta-untaku. Kemudian dia keluar mencari unta-untanya. Ketika unta-unta itu berkumpul untuknya, dia berkata:

Kami datang kepada Sa’d agar dia menyatukan urusan kami Maka Sa’d mencerai-beraikan kami, kami tidak lagi dari Sa’d Apakah Sa’d itu kecuali batu di padang pasir Dari bumi yang tidak menyeru kepada sesat dan tidak pula petunjuk

Berkata Ibnu Ishaq: Dan adalah di Daus sebuah berhala untuk Amr bin Humamah ad-Dausi. Dia berkata: Dan Quraisy telah membuat sebuah berhala di atas sumur di dalam Ka’bah yang disebut Hubal. Dan telah disebutkan sebelumnya dalam apa yang disebutkan Ibnu Hisyam bahwa dialah berhala pertama yang didirikan oleh Amr bin Luhay, semoga Allah melaknatnya.

Berkata Ibnu Ishaq: Dan mereka membuat Isaf dan Nailah di atas tempat sumur Zamzam, mereka menyembelih kurban di hadapannya. Kemudian disebutkan bahwa keduanya adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu dia menyetubuhinya di dalam Ka’bah maka Allah mengubah keduanya menjadi dua batu. Kemudian dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm dari Amrah bahwa dia berkata: Aku mendengar Aisyah berkata: Kami senantiasa mendengar bahwa Isaf dan Nailah adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan dari Jurhum yang berbuat maksiat di dalam Ka’bah maka Allah ‘azza wa jalla mengubah keduanya menjadi dua batu. Dan Wallahu a’lam. Dan telah dikatakan bahwa Allah tidak memperhatikan keduanya sampai mereka berzina di dalamnya, bahkan mengubah keduanya sebelum itu. Maka pada saat itulah keduanya didirikan di Shafa dan Marwah. Ketika masanya Amr bin Luhay, dia memindahkan keduanya lalu meletakkannya di atas Zamzam, dan manusia bertawaf kepada keduanya. Dalam hal itu Abu Thalib berkata:

Dan di tempat orang-orang Asy’ari mengikatkan kendaraan mereka Di tempat mengalirnya air banjir dari Isaf dan Nailah

Dan telah disebutkan oleh al-Waqidi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memerintahkan untuk menghancurkan Nailah pada hari penaklukan Makkah, keluarlah darinya seorang perempuan hitam beruban yang mencakar wajahnya dan menyeru dengan celaka dan kehancuran. Dan telah disebutkan oleh as-Suhaili bahwa Aja’ dan Salma, keduanya adalah dua gunung di tanah Hijaz, dinamai dengan nama seorang laki-laki bernama Aja’ bin Abdul Hayy yang berzina dengan Salma binti Ham maka keduanya disalib di kedua gunung ini lalu keduanya dikenal dengan mereka. Dia berkata: Dan adalah di antara Aja’ dan Salma sebuah berhala untuk Thayyiy yang disebut Fals.

Berkata Ibnu Ishaq: Dan penduduk setiap rumah membuat di rumah mereka sebuah berhala yang mereka sembah. Jika seorang laki-laki dari mereka hendak bepergian, dia mengusapnya ketika dia mengendarai, maka hal itu adalah hal terakhir yang dia lakukan ketika dia menuju bepergian. Dan jika dia pulang dari bepergiannya, dia mengusapnya, maka hal itu adalah hal pertama yang dia mulai sebelum dia masuk kepada keluarganya. Dia berkata: Ketika Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tauhid, Quraisy berkata: “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat mengherankan (Shaad: 5).” Berkata Ibnu Ishaq: Dan sesungguhnya orang Arab telah membuat bersama Ka’bah thawaghit, yaitu rumah-rumah yang mereka agungkan seperti pengagungan mereka terhadap Ka’bah, untuk rumah-rumah itu ada penjaga dan penjaga pintu, dan mereka memberikan hadiah kepadanya seperti mereka memberikan hadiah kepada Ka’bah, dan mereka bertawaf di sekelilingnya seperti tawaf mereka di sekelilingnya, dan mereka menyembelih di dekatnya. Dan mereka dengan itu semua mengakui keutamaan Ka’bah atasnya karena dia adalah bangunan Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam dan masjidnya. Maka adalah untuk Quraisy dan Bani Kinanah al-Uzza di Nakhlah, dan adalah penjaga dan penjaga pintunya Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim. Dan telah menghancurkannya Khalid bin Walid pada masa penaklukan Makkah sebagaimana akan disebutkan.

Dia berkata: Dan adalah al-Lat untuk Tsaqif di Thaif dan adalah penjaga dan penjaga pintunya Bani Mu’attib dari Tsaqif, dan menghancurkannya Abu Sufyan dan al-Mughirah bin Syu’bah setelah kedatangan penduduk Thaif sebagaimana akan disebutkan. Dia berkata: Dan adalah Manat untuk Aus dan Khazraj dan orang yang menganut agama mereka dari penduduk Madinah di pantai laut dari arah al-Musyallal di Qudaid. Dan telah menghancurkannya Abu Sufyan juga, dan ada yang mengatakan Ali bin Abi Thalib sebagaimana akan disebutkan. Dia berkata: Dan adalah Dzu al-Khalashah untuk Daus dan Khats’am dan Bajilah dan orang-orang yang ada di negeri mereka dari orang Arab di Tabalah dan dikatakan tentangnya Ka’bah al-Yamaniyah, dan untuk Ka’bah Makkah Ka’bah asy-Syamiyah. Dan telah menghancurkannya Jarir bin Abdullah al-Bajali sebagaimana akan disebutkan. Dia berkata: Dan adalah Fals untuk Thayyiy dan orang yang dekat dengannya di dua gunung Thayyiy antara Aja’ dan Salma, keduanya adalah dua gunung yang masyhur sebagaimana telah disebutkan. Dia berkata: Dan adalah Ri’am sebuah rumah untuk Himyar dan penduduk Yaman sebagaimana telah disebutkan dalam kisah Tubba’ salah satu raja Himyar dan kisah dua rabi ketika mereka menghancurkannya dan membunuh darinya seekor anjing hitam. Dia berkata: Dan adalah Ridha’ sebuah rumah untuk Bani Rabi’ah bin Ka’b bin Sa’d bin Zaid Manat bin Tamim. Dan untuk berhala itu berkata al-Mustaghir, namanya Ka’b bin Rabi’ah bin Ka’b:

Dan sungguh aku telah menyerang Ridha’ dengan serangan yang keras Maka aku tinggalkan dia kosong di tanah lapang yang sunyi Dan Abdullah telah membantu dalam keburukannya Dan dengan seperti Abdullah aku mendatangi tempat suci

Dan dikatakan bahwa al-Mustaghir ini hidup tiga ratus tiga puluh tahun dan dia adalah orang Mudhar yang paling panjang umurnya dan dialah yang berkata:

Dan sungguh aku telah bosan dari kehidupan dan panjangnya Dan aku telah hidup dari hitungan tahun-tahun beratus-ratus Seratus, kemudian setelahnya dua ratus untukku Dan aku tambahkan dari hitungan bulan-bulan beberapa tahun Tidakkah apa yang tersisa kecuali seperti apa yang telah berlalu bagi kami Hari yang berlalu dan malam yang menyusul kami

Berkata Ibnu Hisyam: Dan diriwayatkan untuk Zuhair bin Janab bin Hubal. Berkata as-Suhaili: Dan dari orang-orang yang berumur panjang yang melampaui dua ratus dan tiga ratus adalah Zuhair ini, dan Ubaid bin Syaryah, dan Dughfal bin Hanzhalah an-Nassabah, dan ar-Rabi’ bin Dhabi’ al-Fazari, dan Dzu al-Ishba’ al-Adwani, dan Nashr bin Dahman bin Asyja’ bin Raits bin Ghathfan. Dan dia telah menghitam rambutnya setelah memutih, dan lurus punggungnya setelah membungkuk. Dia berkata: Dan adalah Dzu al-Ka’bat untuk Bakr dan Taghlib kedua putra Wail, dan Iyad di Sindad. Dan tentangnya berkata al-A’sya bin Qais bin Tsa’labah:

Antara al-Khawarnaq dan as-Sadir dan Bariq Dan rumah yang mempunyai atap dari Sindad

Dan awal puisi ini:

Dan sungguh aku telah mengetahui meskipun masa telah panjang bagiku Bahwa jalan adalah jalan pemilik tiang-tiang Apa yang aku harapkan setelah keluarga Muharriq Mereka meninggalkan tempat tinggal mereka dan setelah Iyad Mereka tinggal di Anqirah, mengalir kepada mereka Air Furat yang datang dari tempat-tempat tinggi Tanah al-Khawarnaq dan as-Sadir dan Bariq Dan rumah yang mempunyai ka’bah dari Sindad Angin telah berhembus di atas bekas tempat tinggal mereka Maka seakan-akan mereka ada di atas janji Dan aku melihat kenikmatan dan semua yang dimainkan dengannya Suatu hari akan berubah menjadi kerusakan dan kemusnahan

Berkata as-Suhaili: al-Khawarnaq adalah istana yang dibangun oleh an-Nu’man al-Akbar untuk Sabur agar anaknya berada di dalamnya dekat dengannya. Dan membangunnya seorang laki-laki yang disebut Sinmar dalam dua puluh tahun, dan tidak pernah terlihat bangunan yang lebih mengagumkan darinya. Maka an-Nu’man khawatir dia akan membangun untuk orang lain sepertinya, lalu dia melemparkannya dari atasnya maka dia terbunuh. Maka dalam hal itu penyair berkata:

Dia membalasuku, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang paling buruk Balasan Sinmar padahal dia tidak bersalah Kecuali menyusun bangunan dua puluh tahun Dia menghitung atasnya dengan ubin dan kapur Ketika selesai bangunan suatu hari sempurnanya Dan dia menjadi seperti gunung yang tinggi dan kokoh Dia melempari Sinmar di atas kepalanya Dan itu demi Allah adalah dari perkara yang paling buruk

Berkata as-Suhaili: Telah menyairkannya al-Jahizh dalam kitab al-Hayawan dan as-Sinmar adalah dari nama-nama bulan.

Yang dimaksudkan adalah bahwa semua rumah ini dihancurkan ketika Islam datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan kepada setiap rumah dari rumah-rumah ini untuk menghancurkannya, dan kepada berhala-berhala itu untuk menghancurkannya hingga tidak tersisa untuk Ka’bah apa yang menyamainya, dan Allah disembah sendiri tidak ada sekutu bagi-Nya sebagaimana akan disebutkan penjelasannya dan rinciannya di tempat-tempatnya insya Allah ta’ala, dan kepada-Nya kepercayaan.

Berita tentang Adnan, Kakek Bangsa Arab Hijaz

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Adnan berasal dari keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalil semoga kesejahteraan atas keduanya. Namun para ulama berbeda pendapat tentang jumlah leluhur antara Adnan dan Ismail, dengan banyak pendapat. Yang paling banyak disebutkan adalah empat puluh leluhur, dan inilah yang terdapat pada Ahli Kitab yang mereka ambil dari kitab Rakhya, penulis Armiya bin Hilqiya, sebagaimana akan kami sebutkan. Ada yang mengatakan antara keduanya tiga puluh leluhur. Ada yang mengatakan dua puluh. Ada yang mengatakan lima belas. Ada yang mengatakan sepuluh. Ada yang mengatakan sembilan. Ada yang mengatakan tujuh. Dan disebutkan bahwa pendapat paling sedikit dalam hal ini adalah empat leluhur. Ini berdasarkan riwayat Musa bin Ya’qub dari Abdullah bin Wahab bin Zam’ah Az-Zam’i dari bibinya dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Ma’d bin Adnan bin Adad bin Zand bin Yara bin A’raq Ats-Tsara.” Ummu Salamah berkata: Zand adalah Al-Humaisa’, Yara adalah Nabt, dan A’raq Ats-Tsara adalah Ismail, karena ia adalah anak Ibrahim, dan Ibrahim tidak dimakan api sebagaimana api tidak memakan tanah lembab. Ad-Daruquthni berkata: Kami tidak mengenal Zand kecuali dalam hadits ini, dan Zand bin Al-Jaun yaitu ayah Dulamah sang penyair.

Al-Hafizh Abu Al-Qasim As-Suhaili dan para imam lainnya berkata: Masa antara Adnan hingga zaman Ismail lebih lama daripada hanya empat atau sepuluh atau dua puluh leluhur saja. Hal ini karena Ma’d bin Adnan berumur dua belas tahun pada zaman Bukhtanashar. Abu Ja’far Ath-Thabari dan yang lainnya menyebutkan bahwa Allah Ta’ala mewahyukan pada masa itu kepada Armiya bin Hilqiya: “Pergilah kepada Bukhtanashar dan beritahukan kepadanya bahwa Aku telah memberikan kekuasaan kepadanya atas bangsa Arab.” Allah memerintahkan Armiya untuk membawa serta Ma’d bin Adnan dengan Buraq agar ia tidak terkena siksaan bersama mereka, karena Aku akan mengeluarkan dari tulang sulbinya seorang nabi yang mulia yang dengannya Aku mengakhiri para rasul. Maka Armiya melakukan hal itu dan membawa Ma’d dengan Buraq ke tanah Syam. Ia tumbuh bersama Bani Israil dari mereka yang tersisa setelah kehancuran Baitul Maqdis. Ia menikah di sana dengan seorang wanita bernama Ma’anah binti Jaushun dari Bani Dabb bin Jurhum sebelum kembali ke negerinya. Kemudian ia kembali setelah fitnah mereda dan Jazirah Arab menjadi bersih. Rakhya, penulis Armiya, telah menulis silsilahnya dalam sebuah kitab yang ada padanya untuk disimpan dalam khazanah Armiya agar nasab Ma’d terpelihara demikian. Wallahu a’lam. Karena itulah Malik rahimahullah membenci penetapan nasab hingga setelah Adnan.

As-Suhaili berkata: Sesungguhnya kami membahas penetapan nasab-nasab ini berdasarkan mazhab orang yang membolehkannya dan tidak membencinya seperti Ibnu Ishaq, Al-Bukhari, Az-Zubair bin Bakkar, Ath-Thabari dan para ulama lainnya. Adapun Malik rahimahullah, ia pernah ditanya tentang seseorang yang menetapkan nasabnya hingga Adam, maka ia membenci hal itu dan berkata: “Dari mana ia mengetahui hal itu?” Lalu dikatakan kepadanya: “Bagaimana jika hingga Ismail?” Ia juga mengingkari hal itu dan berkata: “Siapa yang memberitahukan hal itu kepadanya?” Ia juga membenci penetapan nasab para nabi, seperti mengatakan: Ibrahim bin fulan bin fulan, demikian disebutkan oleh Al-Mu’aithi dalam kitabnya.

Ia berkata: Perkataan Malik ini sejalan dengan apa yang diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair bahwa ia berkata: “Kami tidak menemukan seorang pun yang mengetahui apa yang ada antara Adnan dan Ismail.” Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Antara Adnan dan Ismail ada tiga puluh leluhur yang tidak diketahui.” Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa ia apabila sampai kepada Adnan berkata: “Para ahli nasab telah berdusta,” dua atau tiga kali. Yang lebih shahih dari Ibnu Mas’ud serupa dengan itu. Umar bin Al-Khaththab berkata: “Kami hanya menisbatkan hingga Adnan.” Abu Umar Ibnu Abd Al-Barr berkata dalam kitabnya Al-Inbah fi Ma’rifah Qaba’il Ar-Ruwah: Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad bahwa ia mendengar Urwah bin Az-Zubair berkata: “Kami tidak menemukan seorang pun yang mengetahui apa yang di balik Adnan atau apa yang di balik Qahthan kecuali berupa perkiraan belaka.” Abu Al-Aswad berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Sulaiman bin Abi Hatsmah—dan ia termasuk orang Quraisy yang paling mengetahui syair dan nasab mereka—berkata: “Kami tidak menemukan seorang pun yang mengetahui apa yang di balik Ma’d bin Adnan dalam syair seorang penyair atau ilmu seorang yang berilmu.”

Abu Umar berkata: Ada sekelompok ulama Salaf di antara mereka Abdullah bin Mas’ud, Amr bin Maimun Al-Audi, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, apabila membaca “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah” (Ibrahim: 9) mereka berkata: “Para ahli nasab telah berdusta.”

Abu Umar rahimahullah berkata: Menurut kami, makna dalam hal ini bukan seperti apa yang mereka maksudkan. Yang dimaksud adalah bahwa barangsiapa yang mengaku menghitung seluruh Bani Adam, maka mereka tidak mengetahui mereka kecuali Allah yang menciptakan mereka. Adapun nasab-nasab bangsa Arab, maka para ahli ilmu tentang sejarah dan nasab mereka telah mengetahui dan menghafal garis besarnya dan induk-induk suku mereka, namun mereka berbeda pendapat dalam beberapa cabangnya.

Abu Umar berkata: Yang menjadi pegangan para imam dalam bidang ini tentang nasab Adnan, mereka berkata: Adnan bin Adad bin Muqawwam bin Nahur bin Tairah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim Al-Khalil semoga kesejahteraan atas keduanya. Demikian juga disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq bin Yasar dalam As-Sirah.

Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan pula Adnan bin Add, yaitu Adnan bin Add bin Adad. Kemudian Abu Umar melanjutkan sisa nasab hingga Adam sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam kisah Al-Khalil semoga kesejahteraan atasnya. Adapun nasab-nasab hingga Adnan dari berbagai suku Arab lainnya adalah terpelihara dan sangat masyhur, tidak ada dua orang pun yang meragukan hal itu. Nasab Nabi hingga Adnan lebih terang dan lebih jelas dari cahaya fajar. Telah datang hadits marfu’ dengan nash tentang hal itu sebagaimana akan kami sebutkan di tempatnya setelah pembahasan tentang suku-suku Arab, penyebutan nasab-nasab mereka dan tersusunnya mereka dalam rangkaian nasab yang mulia dan asal-usul yang luhur, insya Allah Ta’ala. Kepada-Nya kami berharap dan kepada-Nya kami bertawakal. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Alangkah indahnya apa yang dinazhamkan oleh Imam Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad An-Nasyi’ tentang nasab Nabi dalam qashidahnya yang masyhur yang dinisbatkan kepadanya, yaitu perkataannya:

Aku memuji Rasulullah, dengan pujianku aku mencari kepenuhan bagianku dari kemuliaan yang agung

Aku memuji seorang laki-laki yang melampaui pujian, bertauhid dengan sifat-sifatnya dari yang jauh dan yang dekat

Seorang nabi yang cahayanya menjulang tinggi di timur, maka petunjuk-petunjuknya terlihat oleh penduduk barat

Kabar-kabar tentangnya datang kepada kami sebelum kedatangannya, dan berita-berita tentangnya tersebar di setiap penjuru

Para dukun pun berseru menyebut namanya, dan menolak lemparan dugaan-dugaan yang dusta

Berhala-berhala pun berbicara dengan ucapan yang membebaskan diri kepada Allah darinya dari perkataan kebohongan

Mereka berkata kepada kaum kafir dengan ucapan yang jelas: Telah datang kepada kalian seorang nabi dari Luay bin Ghalib

Para jin bermaksud mencuri pendengaran, maka tempat-tempat duduk mereka diusir darinya dengan lemparan bintang-bintang

Ia memberi petunjuk kepada kami pada apa yang tidak pernah kami dapatkan petunjuknya karena lamanya kebutaan dari jalan-jalan yang jelas

Ia datang dengan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa itu adalah bukti-bukti dari Yang Maha Kuasa, Yang memberi balasan, Yang menghukum

Di antaranya adalah terbelahnya bulan ketika cabang-cabang cahaya darinya menutupi puncak-puncak gunung yang tinggi

Di antaranya adalah terpancarnya air di antara jari-jemarinya, padahal para pengunjung kekurangan dekat dengan tempat minum

Maka ia memberikan minum kepada rombongan besar yang banyak, dan leher-leher dengan patuh tunduk di bawah tangan-tangan yang mengambil air

Sumur yang meluap dengan air karena sentuhan tombaknya, padahal sebelumnya tidak pernah memberikan seteguk air pun kepada yang haus

Puting susu yang ia lihat lalu mengeluarkan susu, padahal sebelumnya tidak ada tetesan yang mengalir ke tangan pemerah

Ucapan yang fasih dari lengan yang menjelaskan tipu daya musuh yang memusuhi

Kabar-kabarnya tentang suatu perkara sebelum terjadi, dan ketika awal-awalnya tentang apa yang ada di masa depan

Di antara ayat-ayat itu adalah wahyu yang datang kepadanya, dekat maksud-maksudnya, penuh dengan keajaiban-keajaiban

Pikiran-pikiran menjadi pendek terhadapnya, maka tidak ada orang fasih yang mampu dan tidak pernah terlintas di hati orang yang berpikir

Ia mengandung segala ilmu dan mengandung segala hikmah, melampaui jangkauan orang yang terus-menerus menghindar

Ia datang kepada kami bukan dari hasil pemikiran orang yang berpikir, bukan dari lembaran-lembaran yang didiktekan dan bukan pula dari tulisan penulis

Ia datang kepadanya terkadang dalam menjawab penanya, memberi fatwa kepada yang meminta fatwa dan menasihati yang diajak bicara

Mendatangkan bukti, menetapkan syariat-syariat, menceritakan kisah-kisah dan menyebutkan maksud-maksud

Menjelaskan perumpamaan-perumpamaan, meneguhkan hujjah, mengenalkan orang yang mengingkari dan menegur pendusta

Di majlis berkumpul, di medan perang, dan ketika munculnya masalah-masalah yang sulit dan aneh

Maka ia datang sesuai dengan apa yang engkau kehendaki dari jalan-jalannya, lurus maknanya, mengalir isinya

Sebagiannya membenarkan sebagian yang lain seakan-akan maknanya memandang dengan mata pengawas

Lemahnya manusia untuk mendatangkan seperti apa yang kami sifatkan itu diketahui dengan lamanya percobaan

Ia bangga dengan Abdullah, leluhur yang paling mulia, yang terbit darinya kemuliaan nasab-nasab

Syaibah Dzul Hamd yang dengannya Quraisy berbangga atas ahli kemuliaan dan kedudukan

Orang yang dengan wajahnya dimintakan hujan dari awan dan kembali pada pendapat-pendapatnya dalam musibah

Hasyim yang membangun kemegahan kebanggaannya dengan perbuatan-perbuatan mulia dan pemberian anugerah

Abdul Manaf dan ia adalah bendera kaumnya, berlebihannya angan-angan dan kehendak keinginan

Sesungguhnya Qushay dari tanamannya yang mulia berada di tempat air yang tidak dekat dari tangan yang memotong

Dengannya Allah mengumpulkan suku-suku setelah mereka terpecah menjadi jarahan tangan-tangan yang merampas

Kilab menempati dari puncak kemuliaan benteng yang pendek di bawahnya setiap yang dekat dan yang jauh

Murrah tidak mencairkan kepahitan tekadnya, kebodohan orang bodoh atau kesalahan yang salah

Ka’b mengangkat tinggi tumitnya dari pencari kemuliaan, maka meraih dengan usaha paling dekat derajat yang paling tinggi

Luay membelokkan musuh-musuh, maka tunduk kepadanya cita-cita para orang mulia yang pemberani

Pada Ghalib ada keberanian ayah keberanian yang di hadapan mereka melawan setiap musuh yang melawan

Pada Fihr ada pidato di Quraisy yang ia berlindung dengannya ketika bertengkar dalam berpidato

Tidak berhenti darinya Malik, sebaik-baik pemilik dan semulia teman yang disertai dan semulia sahabat

Bagi An-Nadhr ada ketinggian yang pandangan menjadi pendek di bawahnya, di mana cahaya bintang-bintang yang bersinar bertemu

Demi umurku, sungguh Kinanah telah menampakkan sebelumnya kebaikan-kebaikan yang menolak untuk tunduk kepada yang menang

Sebelumnya Khuzaimah meninggalkan pujiannya yang warisan turun-temurun dari kerabat yang terpuji

Mudrikah, manusia tidak menemukan yang sepertinya, paling menjaga kehormatan dan paling tinggi dari perolehan yang hina

Ilyas, keputusasaan darinya menyertai musuh-musuhnya sebelum perhitungan pasukan

Pada Mudhar terkumpul kebanggaan semuanya ketika suatu hari barisan perang bertabrakan

Nizar menempati dari kepemimpinan keluarganya tempat yang menjulang di atas mata-mata pengawal

Ma’dd adalah bekal bagi walinya jika ia takut dari tipu daya musuh yang berperang

Tidak berhenti Adnan jika keutamaannya dihitung, menyendiri di dalamnya dari teman dan sahabat

Add menyampaikan keutamaan darinya dengan tujuan, mewarisinya dari pemimpin-pemimpin yang tua

Pada Adad ada kesabaran yang dihiasi dengan kebijaksanaan, jika kesabaran membanggakannya dengan keriangan alis

Tidak berhenti Humaisa’ mengangkat tinggi dengan kemuliaan dan mengikuti angan-angan yang jauh dan diinginkan

Nabt ditegakkan pohon rindangnya akan kemuliaan dan membangun bentengnya di tempat yang tinggi

Qaidar dikumpulkan baginya kemurahan hati Hatim dan hikmah Luqman dan cita-cita Hajib

Mereka adalah keturunan Ismail yang benar janjinya, maka tidak ada setelahnya dalam kebanggaan usaha bagi yang pergi

Khalilullah adalah yang paling mulia dari yang ditundukkan baginya bumi dari yang berjalan di atasnya dan yang mengendarai

Tarih tidak berhenti baginya ada kebesaran jiwa yang menjelaskan darinya tentang pujian tempat-tempat pukul

Nahur yang menyembelih musuh-musuh, dipelihara baginya perbuatan-perbuatan mulia yang tidak terhitung oleh penghitung

Asyra’ di medan perang adalah singa hutan yang membelah anak-anak dengan pedang-pedang yang tajam

Arghu, taring dalam peperangan yang kokoh, kikir terhadap jiwa orang yang pelit dan yang melawan

Faligh dalam keutamaannya mengikuti kaumnya, dan tidak ada yang melewati selain mereka dalam derajat

Syalikh, Arfakhsyadzd dan Sam, meninggikan mereka sifat-sifat yang melindungi mereka dari setiap yang datang dan yang mencela

Tidak berhenti Nuh di sisi Yang memiliki Arasy menjadi utama, menghitungnya di antara orang-orang pilihan yang baik

Lamak ayahnya dahulu di antara yang gagah berani yang berani terhadap jiwa pahlawan perang yang menyerang

Sebelum Lamak tidak berhenti Matusyalakh mengusir musuh-musuh dengan yang mengusir yang berlari

Bagi Idris An-Nabi ada kedudukan-kedudukan dari Allah yang tidak disandingkan dengan cita-cita yang menginginkan

Yarid adalah lautan di sisi keluarga bangsawan-bangsawannya, menolak kehinaan, cermat dalam maksud-maksud

Bagi Mahlalyil ada pemahaman keutamaan-keutamaan yang bersih dari keburukan-keburukan yang tercela

Qainan sebelumnya memperoleh kemuliaan kaumnya dan melampaui dengan jarak keutamaan tunggangan-tunggangan

Anusy membangkitkan untuk kemuliaan dirinya dan mensucikannya dari tuntutan-tuntutan yang membinasakan

Tidak berhenti Syits dengan keutamaan-keutamaan menjadi utama, mulia, bersih dari celaan yang tercela

Mereka semua dari cahaya Adam mengambil dan dari cabangnya mereka petik buah-buah kemuliaan

Rasulullah adalah yang paling mulia dari yang melahirkan, mengalir di punggung-punggung orang-orang baik yang melahirkan

Berhadapan leluhurnya dengan ibu-ibunya, bersih dari keburukan-keburukan yang memalukan

Atasnya salam Allah di setiap timur yang terbit bagi kami dengan cahaya dan di setiap barat

Demikian qashidah ini disampaikan oleh Syaikh Abu Umar Ibnu Abd Al-Barr dan guru kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi dalam Tahdzibnya dari syair Guru Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad An-Nasyi’ yang dikenal dengan Ibnu Syarsyir. Asal-usulnya dari Al-Anbar, ia datang ke Baghdad, kemudian pergi ke Mesir dan menetap di sana hingga wafat pada tahun dua ratus sembilan puluh tiga. Ia adalah seorang ahli kalam Mu’tazilah. Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari menceritakan tentangnya dalam kitabnya Al-Maqalat dalam apa yang ia ceritakan tentang Mu’tazilah. Ia adalah penyair yang matang, bahkan di antara kepiawaiannya dalam syair ia berlawanan dengan para penyair dalam makna-maknanya, ia menggubah dalam menentang mereka dan menciptakan apa yang tidak mampu mereka lakukan dari makna-makna yang indah dan lafazh-lafazh yang fasih hingga sebagian orang menisbatkan dirinya kepada kegilaan dan kebingungan. Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan bahwa ia memiliki qashidah dengan satu qafiyah mendekati empat ribu bait yang disebutkan oleh An-Najim dan menetapkan wafatnya sebagaimana yang kami sebutkan.

Aku berkata: Qashidah ini menunjukkan keutamaan, kepiawaian, kefasihan, kebalaghahannya, ilmunya, pemahamannya, hafalannya, keindahan lafazhnya, pengetahuannya, kemampuannya dan kepiawaiannya dalam menyusun nasab yang mulia ini dalam rangkaian syairnya, menyelam pada makna-makna ini yang merupakan permata-permata berharga dari lautan ilmunya. Semoga Allah merahmatinya, memberinya pahala, membaguskan tujuan dan kembalinya.

Penyebutan Asal-usul Nasab Arab Hijaz hingga Adnan

Adnan melahirkan dua anak laki-laki: Ma’ad dan Akk. As-Suhaili berkata: “Adnan juga memiliki anak bernama Al-Harits dan yang lainnya bernama Al-Madzhab.” Dia berkata: “Juga disebutkan di antara anak-anaknya ada Adh-Dhahhak, dan dikatakan bahwa Adh-Dhahhak adalah anak Ma’ad bukan anak Adnan.” Dia berkata: “Dan dikatakan bahwa Adan yang dengannya terkenal kota Adan, demikian pula Abyan, keduanya adalah anak Adnan.” Ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari.

Akk menikah dengan suku Asy’ariyyin dan tinggal di negeri mereka di Yaman sehingga bahasa mereka menjadi satu. Maka sebagian penduduk Yaman mengklaim bahwa mereka dari mereka, lalu mereka berkata: “Akk bin Adnan bin Abdullah bin Al-Azd bin Yaghuts.” Dan dikatakan: “Akk bin Adnan bin Adz-Dzib bin Abdullah bin Al-Asad.” Dan dikatakan: Ar-Rayts menggantikan Adz-Dzib. Yang benar adalah apa yang kami sebutkan bahwa mereka dari Adnan. Abbas bin Mirdas berkata:

“Dan Akk bin Adnan yang mereka juluki Ghassaan hingga mereka mengusir setiap yang diusir”

Adapun Ma’ad, dia melahirkan empat anak: Nizar, Qudha’ah, Qanas, dan Iyad. Qudha’ah adalah anak sulungnya dan dengannya ia dikunyah. Kami telah menjelaskan sebelumnya perbedaan pendapat tentang Qudha’ah, tetapi inilah yang benar menurut Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a’lam.

Adapun Qanas, dikatakan bahwa mereka binasa dan tidak ada yang tersisa kecuali An-Nu’man bin Al-Mundzir yang menjadi wakil Kisra di Hirah adalah dari keturunannya menurut pendapat sekelompok salaf. Dan dikatakan: bahkan dia dari Himyar sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Adapun Nizar, dia melahirkan Rabi’ah, Mudhar, dan Anmaar. Ibnu Hisyam berkata: “Dan Iyad bin Nizar sebagaimana kata penyair:

“Dan pemuda yang wajahnya baik Dari Iyad bin Nizar bin Ma’ad”

Dia berkata: Iyad dan Mudhar adalah saudara seibu, ibu mereka adalah Saudah binti Akk bin Adnan. Ibu Rabi’ah dan Anmaar adalah Syaqiqah binti Akk bin Adnan. Dan dikatakan: Jum’ah binti Akk bin Adnan.

Ibnu Ishaq berkata: “Adapun Anmaar, dialah ayah Khatsa’m dan Bajilah, kabilah Jarir bin Abdullah Al-Bajali.” Dia berkata: “Mereka condong ke Yaman dan bergabung dengan Yaman.” Ibnu Hisyam berkata: “Penduduk Yaman berkata: Anmaar bin Arasy bin Lahyan bin Amr bin Al-Ghawts bin Nabt bin Malik bin Kahlaan bin Saba’.”

Aku berkata: Hadits yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan Saba’ menunjukkan hal ini. Wallahu a’lam.

Mereka berkata: Mudhar adalah orang pertama yang berdendang. Hal itu karena ia bersuara merdu. Suatu hari ia terjatuh dari untanya dan tangannya terluka, lalu ia berkata: “Wahai tanganku, wahai tanganku,” maka unta-unta itu berlari karenanya.

Ibnu Ishaq berkata: Mudhar bin Nizar melahirkan dua laki-laki: Ilyas dan Ailan. Ilyas melahirkan Mudrikah, Thabakhah, dan Qama’ah. Ibu mereka adalah Khindif binti Imran bin Al-Haf bin Qudha’ah.

Ibnu Ishaq berkata: Nama Mudrikah adalah Amir dan nama Thabakhah adalah Amr. Tetapi suatu ketika mereka berburu, lalu ketika mereka memasak buruan, unta-unta mereka lari. Amir pergi mengejar hingga mengejarnya (adrakaha) dan yang lain duduk memasak (yathbukh). Ketika mereka pulang kepada ayah mereka dan menceritakan hal itu, ayah mereka berkata kepada Amir: “Engkau Mudrikah (yang mengejar),” dan berkata kepada Amr: “Engkau Thabakhah (yang memasak).”

Dia berkata: Adapun Qama’ah, ahli nasab Mudhar mengklaim bahwa Khuza’ah dari keturunan Amr bin Luhai bin Qama’ah bin Ilyas.

Aku berkata: Yang lebih jelas adalah bahwa dia dari mereka bukan ayah mereka, dan bahwa mereka dari Himyar sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq berkata: Mudrikah melahirkan Khuzaimah dan Hudzail. Ibu mereka adalah seorang wanita dari Qudha’ah. Khuzaimah melahirkan Kinanah, Asad, Asadah, dan Al-Haun.

Dia berkata: Kinanah melahirkan An-Nadhr, Malik, Abdu Manaaf, dan Malkan. Abu Ja’far Ath-Thabari menambahkan anak-anak Kinanah selain keempat ini: Amir, Al-Harits, An-Nadhir, Ghanm, Sa’d, Auf, Jarwal, Al-Haddal, dan Ghazwan.

Pembahasan tentang Quraisy dari Segi Nasab, Asal-usul Kata, dan Keutamaan

Mereka adalah Bani An-Nadhr bin Kinanah

Ibnu Ishaq berkata: Ibu An-Nadhr adalah Barrah binti Murr bin Adad bin Thabakhah, sedangkan anak-anaknya yang lain dari wanita lain. Ibnu Hisyam menyanggahnya dan menjadikan Barrah binti Murr sebagai ibu An-Nadhr, Malik, dan Malkan. Adapun ibu Abdu Manaaf adalah Halah binti Suwaid bin Al-Ghathrif dari Azd Syanua’ah.

Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr adalah Quraisy. Barangsiapa dari keturunannya maka ia Quraisyi, dan barangsiapa bukan dari keturunannya maka bukan Quraisyi. Dan dia berkata: Dikatakan Fihr bin Malik adalah Quraisy, maka barangsiapa dari keturunannya maka ia Quraisyi, dan barangsiapa bukan dari keturunannya maka bukan Quraisyi.

Kedua pendapat ini telah diriwayatkan oleh lebih dari satu imam ahli nasab seperti Syaikh Abu Umar bin Abdul Barr, Az-Zubair bin Bakkar, Mush’ab, dan lainnya. Abu Ubaid dan Ibnu Abdul Barr berkata: “Yang dipegang oleh mayoritas adalah bahwa ia An-Nadhr bin Kinanah, karena hadits Al-Asy’ats bin Qais.”

Aku berkata: Inilah yang dinashkan oleh Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna, dan ini adalah jalan madzhab Asy-Syafi’i rahimahullahu. Kemudian Abu Umar memilih bahwa ia Fihr bin Malik, dan berdalil bahwa tidak ada seorang pun hari ini yang menisbahkan diri kepada Quraisy kecuali ia kembali dalam nasabnya kepada Fihr bin Malik. Kemudian ia mengutip pilihan pendapat ini dari Az-Zubair bin Bakkar, Mush’ab Az-Zubairi, dan Ali bin Kaisan. Dia berkata: “Kepada merekalah rujukan dalam urusan ini.”

Az-Zubair bin Bakkar berkata: “Para ahli nasab Quraisy dan lainnya telah sepakat bahwa Quraisy hanya bercabang dari Fihr bin Malik. Yang menjadi pegangan para ahli nasab Quraisy yang aku temui adalah bahwa keturunan Fihr bin Malik adalah Quraisyi, dan barangsiapa melampaui Fihr bin Malik dengan nasabnya maka ia bukan dari Quraisy.” Kemudian ia memenangkan pendapat ini dengan sangat kuat, dan membelanya bahwa ia dan sejenisnya lebih mengetahui nasab kaum mereka dan lebih hafal terhadap kemuliaan mereka.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Kulaib bin Wa’il, dia berkata: Aku berkata kepada anak tiri Nabi shallallahu alaihi wasallam—yaitu Zainab—dalam hadits yang disebutkan: “Beritahukan kepadaku tentang Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah ia dari Mudhar?” Dia berkata: “Dari siapa lagi kalau bukan dari Mudhar? Dari Bani An-Nadhr bin Kinanah.”

Ath-Thabarani berkata: Ibrahim bin Na’ilah Al-Ashbahani menceritakan kepada kami, Isma’il bin Amr Al-Bajali menceritakan kepada kami, Al-Hasan bin Shalih menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Al-Jafasyisy Al-Kindi, dia berkata: Sekelompok orang dari Kindah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Engkau dari kami,” dan mereka mengklaimnya. Maka beliau bersabda: “Kami tidak akan mengingkari ibu kami dan tidak akan menyangkal ayah kami. Kami adalah keturunan An-Nadhr bin Kinanah.”

Imam Abu Utsman Sa’id bin Yahya bin Sa’id berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Al-Kalbi menceritakan kepada kami dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, dia berkata: Seorang laki-laki dari Kindah yang bernama Al-Jafasyisy datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengklaim bahwa Abdu Manaaf dari kami.” Maka beliau berpaling darinya. Kemudian ia kembali dan berkata seperti itu lagi, lalu beliau berpaling darinya. Kemudian ia kembali dan berkata seperti itu, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kami adalah Bani An-Nadhr bin Kinanah. Kami tidak akan mengingkari ibu kami dan tidak akan menyangkal ayah kami.” Maka Al-Asy’ats berkata: “Seandainya engkau diam sejak pertama kali!” Maka ini membatalkan klaim mereka atas lisan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ini juga gharib dari jalur ini dan Al-Kalbi lemah. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: Bahz dan Affan menceritakan kepada kami, mereka berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dia berkata: Uqail bin Abi Thalhah menceritakan kepadaku—Affan berkata: Uqail bin Thalhah As-Salami—dari Muslim bin Al-Haisham dari Al-Asy’ats bin Qais bahwa ia berkata: “Aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama delegasi Kindah”—Affan berkata: “mereka tidak melihatku lebih utama dari mereka”—dia berkata: “Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengklaim bahwa kalian dari kami.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kami adalah Bani An-Nadhr bin Kinanah. Kami tidak akan mengingkari ibu kami dan tidak akan menyangkal ayah kami.” Al-Asy’ats bin Qais berkata: “Demi Allah, aku tidak akan mendengar seorang pun yang menyangkal Quraisy dari An-Nadhr bin Kinanah kecuali aku akan mencambuknya dengan hukuman had.”

Demikianlah Ibnu Majah meriwayatkannya dari beberapa jalan dari Hammad bin Salamah dengannya. Ini sanad yang baik dan kuat, dan ini adalah pemisah dalam masalah ini, maka tidak ada pertimbangan terhadap pendapat yang menyelisihinya. Wallahu a’lam.

Jarir bin Athiyah At-Tamimi berkata memuji Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan:

“Tidaklah ibu yang melahirkan Quraisy Bercampur keturunan yang hina dan tidak mandul Tidaklah pemimpin yang lebih mulia dari ayahmu Dan tidak paman yang lebih mulia dari Tamim”

Ibnu Hisyam berkata: “Yang dimaksud adalah ibu An-Nadhr bin Kinanah, yaitu Barrah binti Murr, saudari Tamim bin Murr.”

Adapun asal kata Quraisy, dikatakan dari at-taqarrush yaitu berkumpul setelah berpisah, yaitu pada zaman Qushay bin Kilab. Karena mereka dulunya terpisah-pisah lalu ia mengumpulkan mereka di Tanah Haram, sebagaimana akan dijelaskan. Hudzafah bin Ghanim Al-Adawi berkata:

“Bapakmu Qushay dahulu dipanggil Mujammi’ Dengannya Allah mengumpulkan kabilah-kabilah dari Fihr”

Sebagian orang berkata: Qushay disebut Quraisy. Dikatakan dari berkumpul. At-taqarrush adalah berkumpul sebagaimana kata Abu Khuldah Al-Yaskuri:

“Saudara-saudara yang mengumpulkan dosa-dosa kepada kami Dalam cerita dari masa kami yang baru dan lama”

Dikatakan: Quraisy dinamai dari at-taqarrush yaitu mencari nafkah dan berdagang. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam. Al-Jauhari berkata: “Al-qarsy adalah mencari nafkah dan mengumpulkan, dan telah qorasha yaqrishu.” Al-Farra’ berkata: “Dengannya dinamai Quraisy, yaitu suatu kabilah. Bapak mereka adalah An-Nadhr bin Kinanah. Maka setiap yang dari keturunannya adalah Quraisyi, selain keturunan Kinanah ke atas.”

Dikatakan: dari pemeriksaan. Hisyam bin Al-Kalbi berkata: “An-Nadhr bin Kinanah dinamakan Quraisy karena ia memeriksa kebutuhan dan keperluan manusia lalu memenuhinya dengan hartanya. At-taqarrush adalah pemeriksaan. Anak-anaknya memeriksa orang-orang musim haji tentang kebutuhan mereka lalu memberi mereka bantuan untuk sampai ke negeri mereka, maka mereka dinamai dengan perbuatan mereka dan pemeriksaan mereka sebagai Quraisy.”

Al-Harits bin Hillizah berkata dalam menjelaskan bahwa at-taqarrush adalah pemeriksaan:

“Wahai yang berbicara memeriksa tentang kami Di sisi Amr, apakah ada kelemahannya?”

Az-Zubair bin Bakkar mengutip hal itu. Dikatakan: Quraisy adalah pengecilan dari qorsy, yaitu binatang di laut. Sebagian penyair berkata:

“Dan Quraisy adalah yang menghuni laut Dengannya Quraisy dinamai Quraisy”

Al-Baihaqi berkata: Abu Nashr bin Qatadah memberitahu kami, Abu Al-Hasan Ali bin Isa Al-Malini menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Khalil An-Nasawi menceritakan kepada kami bahwa Abu Kuraib menceritakan kepada mereka, Waki’ bin Al-Jarrah menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Abu Rukanah Al-Amiri bahwa Mu’awiyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Mengapa dinamakan Quraisy?” Maka ia berkata: “Dari binatang yang ada di laut yang merupakan binatang laut yang terbesar, yang disebut al-qorsy. Ia tidak melewati sesuatu yang jelek maupun yang gemuk kecuali memakannya.” Dia berkata: “Maka bacakan kepadaku syair tentang itu.” Maka ia membacakan syair Al-Jumahi ketika berkata:

“Dan Quraisy adalah yang menghuni laut Dengannya Quraisy dinamai Quraisy Ia memakan yang jelek dan yang gemuk Tidak meninggalkan bagi yang bersayap bulunya Demikianlah di negeri-negeri kaum Quraisy Mereka memakan negeri-negeri dengan rakus Dan bagi mereka di akhir zaman seorang nabi Yang memperbanyak pembunuhan di antara mereka dan cakaran”

Dikatakan: Mereka dinamai Quraisy bin Al-Harits bin Yakhludu bin An-Nadhr bin Kinanah. Ia adalah penunjuk jalan Bani An-Nadhr dan penanggung jawab perbekalan mereka. Maka orang-orang Arab berkata: “Kafilah Quraisy telah datang.” Mereka berkata: Ibnu Badr bin Quraisy dialah yang menggali sumur yang dinisbahkan kepadanya, yang di dekatnya terjadi peperangan besar pada Hari Furqan, hari bertemunya dua pasukan. Wallahu a’lam.

Dikatakan dalam nisab kepada Quraisy: qurasyiy dan quraisyiy. Al-Jauhari berkata: “Dan ini adalah qiyas.” Penyair berkata:

“Bagi setiap Quraisyi atasnya ada kewibawaan Cepat kepada yang memanggil kedermawanan dan kemuliaan”

Dia berkata: Apabila engkau maksudkan dengan Quraisy adalah kaum maka sharaf-kanlah, dan apabila engkau maksudkan kabilah maka jangan di-sharaf-kan. Penyair berkata dalam tidak men-sharaf-kannya:

“Dan cukuplah Quraisy mengatasi yang sulit dan memimpinnya”

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari hadits Abu Amr Al-Auza’i, dia berkata: Syaddad Abu Ammar menceritakan kepadaku, Watsilah bin Al-Asqa’ menceritakan kepadaku, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Abu Umar bin Abdul Barr berkata: Dikatakan: Banu Abdul Muththalib adalah fashilah (ranting) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Banu Hasyim adalah fakhdz-nya (cabang), Banu Abdu Manaaf adalah bathn-nya (perut), Quraisy adalah imarah-nya (suku besar), Banu Kinanah adalah qabilah-nya (kabilah), dan Mudhar adalah sya’ab-nya (kelompok besar). Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepadanya hingga Hari Pembalasan.

Kemudian Ibnu Ishaq berkata: Nadhir bin Kinanah melahirkan Malik dan Yakhyud. Ibnu Hisyam berkata: dan Shalt, ibu mereka semua adalah putri Sa’d bin Azh-Zharib al-Adwani. Katsir bin Abdurrahman, yaitu Katsir ‘Azzah, salah seorang dari Bani Mulaih bin ‘Amru dari Khuzaa’ah, berkata:

Bukankah ayahku adalah Shalt, atau bukankah saudara-saudaraku … untuk setiap yang mulia dari Bani Nadhir yang paling bercahaya Aku melihat pakaian ‘Ashb bercampur benangnya … oleh kami dan mereka serta pakaian Hadhramaut yang berpinggang Jika kalian bukan dari Bani Nadhir maka tinggalkanlah … pohon arak di ekor-ekor unta betina yang menghijau

Ibnu Hisyam berkata: Bani Mulaih bin ‘Amru menisbatkan diri mereka kepada Shalt bin Nadhir.

Ibnu Ishaq berkata: Malik bin Nadhir melahirkan Fihr bin Malik, ibunya adalah Jundalah binti al-Harits bin Midhad al-Ashghar. Fihr melahirkan Ghalib, Muharib, al-Harits, dan Asad. Ibu mereka adalah Layla binti Sa’d bin Hudzail bin Mudrikah.

Ibnu Hisyam berkata: Saudara perempuan mereka dari ayah dan ibu adalah Jundalah binti Fihr. Ibnu Ishaq berkata: Ghalib bin Fihr melahirkan Luayy bin Ghalib dan Taim bin Ghalib, mereka yang disebut Bani al-Adram. Ibu mereka berdua adalah Salma binti ‘Amru al-Khuzaa’i. Ibnu Hisyam berkata: dan Qais bin Ghalib, ibunya adalah Salma binti Ka’b bin ‘Amru al-Khuzaa’i, dan dia adalah ibu Luayy dan Taim putra Ghalib. Ibnu Ishaq berkata: Luayy bin Ghalib melahirkan empat orang: Ka’b, ‘Amir, Samah, dan ‘Auf. Ibnu Hisyam berkata: dan dikatakan juga al-Harits, mereka adalah Jasyam bin al-Harits dalam Hazzan dari Rabi’ah, dan Sa’d bin Luayy, mereka adalah Bananah dalam Syaiban bin Tsa’labah—Bananah adalah pengasuh mereka—dan Khuzaimah bin Luayy, mereka adalah ‘Aidzah dalam Syaiban bin Tsa’labah.

Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan kisah Samah bin Luayy, bahwa dia keluar menuju Oman dan tinggal di sana karena permusuhan antara dia dan saudaranya ‘Amir. ‘Amir menakuti-nakutinya sehingga dia melarikan diri ke Oman. Dia meninggal di sana sebagai orang asing. Hal itu terjadi ketika dia sedang menggembala untanya, lalu seekor ular menempel di bibir atas unta itu dan menggigitnya. Kemudian ular itu menyengat Samah hingga membunuhnya. Dikatakan bahwa dia menulis dengan jarinya di tanah:

Wahai mata, menangislah untuk Samah bin Luayy … sesuatu telah menimpa Samah Aku tidak melihat yang seperti Samah bin Luayy … ketika dia terbaring menjadi korban untanya Sampaikanlah kepada ‘Amir dan Ka’b pesan … bahwa jiwaku merindukan mereka berdua Jika rumahku di Oman, sesungguhnya aku … keluar dari Ghalib bukan karena kemiskinan Betapa banyak gelas yang kau tumpahkan wahai putra Luayy … karena takut kematian padahal tidak seharusnya ditumpahkan Kau berusaha menolak kematian wahai putra Luayy … tidak ada yang mampu menolak kematian Unta yang tangguh dalam perjalanan kau tinggalkan kurus … setelah kesungguhan, nenek, dan kelincahan

Ibnu Hisyam berkata: dan sampai kepadaku bahwa sebagian keturunannya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menisbatkan diri kepada Samah bin Luayy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Yang penyair?” Sebagian sahabatnya berkata kepadanya: Seakan-akan engkau wahai Rasulullah menunjuk pada ucapannya:

Betapa banyak gelas yang kau tumpahkan wahai putra Luayy … karena takut kematian padahal tidak seharusnya ditumpahkan

Beliau bersabda: “Ya.” As-Suhaili menyebutkan dari sebagian ulama bahwa dia tidak memiliki keturunan. Az-Zubair berkata: Samah bin Luayy melahirkan Ghalib, an-Nubait, dan al-Harits. Mereka berkata: Dia memiliki keturunan di Irak yang membenci Ali, di antara mereka Ali bin al-Ja’d yang membenci ayahnya karena memberinya nama Ali. Dari Bani Samah bin Luayy adalah Muhammad bin ‘Ar’arah bin Yazid, guru al-Bukhari.

Ibnu Ishaq berkata: Adapun ‘Auf bin Luayy, dia keluar—menurut perkiraan mereka—bersama rombongan dari Quraisy. Ketika sampai di tanah Ghathafan bin Sa’d bin Qais bin ‘Ailan, dia terlambat sehingga kaumnya yang bersamanya pergi meninggalkannya. Kemudian Tsa’labah bin Sa’d datang kepadanya—dia adalah saudaranya dalam nasab Bani Dzubyan—lalu menahannya, menikahkannya, membuatnya menetap dan mempersaudarakannya. Maka tersebarlah nasabnya dalam Dzubyan dan Tsa’labah menurut perkiraan mereka.

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair atau Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin al-Husain menceritakan kepadaku bahwa Umar bin al-Khaththab berkata: Seandainya aku mengklaim suatu suku dari Arab atau menghubungkan mereka kepada kami, niscaya aku mengklaim Bani Murrah bin ‘Auf. Kami mengenali kemiripan di antara mereka dengan apa yang kami ketahui dari posisi orang itu di tempat dia berada—maksudnya ‘Auf bin Luayy.

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku tuduh menceritakan kepadaku bahwa Umar bin al-Khaththab berkata kepada orang-orang dari mereka, dari Bani Murrah: Jika kalian ingin kembali kepada nasab kalian, maka kembalilah kepadanya. Ibnu Ishaq berkata: Kaum itu adalah orang-orang terkemuka di Ghathafan, mereka adalah pemimpin mereka dan panglima mereka, kaum yang memiliki reputasi di Ghathafan dan Qais seluruhnya. Mereka tetap pada nasab mereka. Dia berkata: Mereka biasa berkata ketika disebutkan nasab mereka: Kami tidak mengingkarinya dan tidak menolaknya, dan itu adalah nasab yang paling kami cintai. Kemudian dia menyebutkan syair-syair mereka dalam menisbatkan diri kepada Luayy.

Ibnu Ishaq berkata: Pada mereka ada al-Basl yaitu pengharaman delapan bulan bagi mereka dari setiap tahun dari antara orang Arab. Orang Arab mengakui hal itu untuk mereka dan merasa aman dalam bulan-bulan itu, dan mereka pun memberi keamanan kepada orang lain. Aku (penulis) berkata: Rabi’ah dan Mudhar hanya mengharamkan empat bulan dari tahun yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram. Rabi’ah dan Mudhar berbeda pendapat tentang bulan keempat yaitu Rajab. Mudhar berkata: Bulan yang antara Jumadal dan Sya’ban. Rabi’ah berkata: Bulan yang antara Sya’ban dan Syawal.

Telah shahih dalam Shahihain dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam khutbah haji Wada’: “Sesungguhnya waktu telah berputar seperti keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram, tiga berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang antara Jumada dan Sya’ban.” Maka beliau menegaskan untuk mengutamakan pendapat Mudhar, bukan Rabi’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Surah at-Taubah: 36). Ini adalah sanggahan terhadap Bani ‘Auf bin Luayy dalam menjadikan bulan-bulan haram itu delapan, sehingga mereka menambahi hukum Allah dan memasukkan ke dalamnya apa yang bukan termasuknya. Sabda beliau dalam hadits “tiga berturut-turut” adalah sanggahan terhadap ahli nasi’ yang menunda pengharaman Muharram ke Safar. Sabda beliau di dalamnya “Rajab Mudhar” adalah sanggahan terhadap Rabi’ah.

Ibnu Ishaq berkata: Ka’b bin Luayy melahirkan tiga orang: Murrah, ‘Adiy, dan Hushaish. Murrah melahirkan tiga orang juga: Kilab bin Murrah, Taim bin Murrah, dan Yaqazhah bin Murrah, dari tiga ibu yang berbeda. Dia berkata: Kilab melahirkan dua laki-laki: Qushayy bin Kilab dan Zuhrah bin Kilab. Ibu mereka berdua adalah Fathimah binti Sa’d bin Sail, salah seorang al-Jadarah dari Ja’tsamah al-Asad dari Yaman, sekutu Bani ad-Di’l bin Bakr bin Abdu Manah bin Kinanah. Tentang ayahnya penyair berkata:

Kami tidak melihat di kalangan manusia seorang pun … yang kami ketahui seperti Sa’d bin Sail Penunggang kuda yang gagah perkasa di dalamnya … dan jika berhadapan dengan lawan dia turun Penunggang kuda yang menarik kuda sebagaimana … elang menarik burung batu

As-Suhaili berkata: Sail namanya adalah Khair bin Hammalah, dan dia adalah orang pertama yang menyepuh pedang dengan emas dan perak.

Ibnu Ishaq berkata: Mereka dinamai al-Jadarah karena ‘Amir bin ‘Amru bin Khuzaimah bin Ja’tsamah menikahi putri al-Harits bin Midhad al-Jurhumi. Jurhum pada waktu itu adalah penguasa Baitullah. Dia membangun dinding untuk Ka’bah sehingga ‘Amir disebut al-Jadir karena itu, maka keturunannya disebut al-Jadarah.

Kisah Qushayy bin Kilab

Dan apa yang terjadi dari urusannya dalam mengambil kembali pengurusan Baitullah kepada Quraisy, dan merebutnya dari Khuzaa’ah, serta berkumpulnya Quraisy ke tanah Haram yang Allah Ta’ala jadikan sebagai tempat aman bagi hamba-hamba-Nya, setelah mereka berpencar di negeri-negeri dan tersebar di gunung-gunung dan dataran. Hal itu terjadi ketika ayahnya Kilab meninggal, ibunya dinikahi oleh Rabi’ah bin Haram dari ‘Udzrah, dan dia membawanya beserta Qushayy ke negerinya. Kemudian Qushayy datang ke Mekah saat masih muda lalu menikahi Hubba putri pemimpin Khuzaa’ah Hulail bin Hubsyiyah. Adapun Khuzaa’ah, mereka mengklaim bahwa Hulail berwasiat kepada Qushayy tentang pengurusan Baitullah, karena apa yang dia lihat dari banyaknya keturunannya dari putrinya, dan berkata: Engkau lebih berhak atas itu dariku.

Ibnu Ishaq berkata: Kami tidak mendengar itu kecuali dari mereka. Adapun yang lain, mereka mengklaim bahwa dia meminta bantuan saudara-saudaranya dari ibunya—pemimpin mereka adalah Razah bin Rabi’ah—dan saudara-saudara saudaranya, Bani Kinanah dan Qudha’ah, serta yang di sekitar Mekah dari Quraisy dan selain mereka. Maka dia mengusir mereka dari Baitullah dan menguasai sendiri pengurusan Baitullah, kecuali izin keberangkatan haji adalah milik Shufah, yaitu Bani al-Ghauths bin Murr bin Udd bin Thabakhah bin Ilyas bin Mudhar. Orang-orang tidak melempar jumrah sampai mereka melempar dan tidak berangkat dari Mina sampai mereka berangkat. Hal itu terus berlangsung pada mereka sampai mereka punah, lalu diwarisi oleh bani Qad’ad, yaitu Bani Sa’d bin Zaid Manah bin Tamim. Yang pertama dari mereka adalah Shafwan bin al-Harits bin Syajanah bin ‘Attharud bin ‘Auf bin Ka’b bin Sa’d bin Zaid Manah bin Tamim. Hal itu ada pada keluarganya sampai datang Islam pada orang terakhir mereka yaitu Kurb bin Shafwan. Izin keberangkatan dari Muzdalifah ada pada ‘Adwan sampai datang Islam pada orang terakhir mereka yaitu Abu Sayyarah ‘Umailah bin al-A’zal, dikatakan namanya adalah al-‘Ash bin Khalid. Dia memberi izin keberangkatan kepada manusia dengan menunggangi keledai betina buta sebelah. Dia terus mendorong di tempat wuquf dengannya selama empat puluh tahun. Dia adalah orang pertama yang menjadikan diyat seratus, dan orang pertama yang berkata: “Bersemangatlah Tsabir agar kami berangkat.” Hal ini diriwayatkan as-Suhaili.

‘Amir bin azh-Zharib al-‘Adwani, jika ada perselisihan di antara orang Arab, mereka berhukum kepadanya dan ridha dengan apa yang dia putuskan. Mereka berhukum kepadanya suatu kali tentang warisan khuntsa (banci). Dia terjaga sepanjang malam memikirkan apa yang harus dia putuskan. Seorang budak perempuannya yang menggembala kambingnya bernama Sukhailah melihatnya lalu berkata: Ada apa denganmu—semoga engkau tidak punya ayah—terjaga malam ini? Dia menceritakan kepadanya apa yang sedang dia pikirkan, dan berkata: Mungkin dia memiliki sesuatu tentang itu. Dia berkata: Ikutilah keputusan pada alat kencing. Dia berkata: “Demi Allah engkau telah menyelesaikannya wahai Sukhailah.” Dan dia memutuskan dengan itu.

As-Suhaili berkata: Keputusan ini termasuk dari pintu istidlal (pengambilan kesimpulan) dengan tanda-tanda dan bukti, dan memiliki dasar dalam syariat. Allah Ta’ala berfirman: Dan mereka datang dengan baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu (Surah Yusuf: 18), di mana tidak ada bekas taring serigala di dalamnya. Dan Allah Ta’ala berfirman: Jika baju gamisnya koyak di muka, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamis Yusuf koyak di belakang, maka perempuan itu dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar (Surah Yusuf: 26). Dalam hadits: “Perhatikanlah dia, jika dia melahirkan anak yang coklat, keriting, dan berhidung pesek maka dia adalah orang yang dituduh.”

Ibnu Ishaq berkata: Nasi’ (penundaan bulan haram) ada pada Bani Fuqaim bin ‘Adiy bin ‘Amir bin Tsa’labah bin al-Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Ibnu Ishaq berkata: Yang pertama kali menunda bulan-bulan pada orang Arab adalah al-Qalamas, yaitu Hudzaifah bin ‘Abd bin Fuqaim bin ‘Adiy. Kemudian berdiri setelahnya anaknya ‘Abbad, kemudian Qala’ bin ‘Abbad, kemudian Umayyah bin Qala’, kemudian ‘Auf bin Umayyah, kemudian yang terakhir dari mereka adalah Abu Tsamamah Junadah bin ‘Auf bin Qala’ bin ‘Abbad bin Hudzaifah—dialah al-Qalamas—dan pada Abu Tsamamah datanglah Islam. Orang Arab jika selesai dari hajinya berkumpul kepadanya lalu dia berkhutbah kepada mereka dan mengharamkan bulan-bulan haram. Jika dia ingin menghalalkan sesuatu darinya, dia menghalalkan Muharram dan menjadikan sebagai gantinya Safar, untuk menyesuaikan bilangan yang Allah haramkan. Dia berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku menghalalkan salah satu dari dua Safar, Safar yang pertama, dan menunda yang lain untuk tahun yang akan datang. Maka orang Arab mengikutinya dalam hal itu. Tentang itu ‘Umair bin Qais, salah seorang dari Bani Firas bin Ghanm bin Malik bin Kinanah—’Umair bin Qais ini dikenal dengan Jadzlu ath-Thi’an—berkata:

Sungguh Ma’d telah mengetahui bahwa kaumku … adalah orang mulia dari manusia, bahwa bagi mereka ada kemuliaan Orang manakah yang mengalahkan kami dalam dendam … dan orang manakah yang tidak kami kunyah kendalinya Bukankah kami yang menunda pada Ma’d … bulan-bulan halal kami jadikan haram

Qushayy di kaumnya adalah seorang pemimpin yang dihormati dan ditaati serta diagungkan. Yang dimaksud adalah bahwa dia mengumpulkan Quraisy dari tempat-tempat mereka yang berpencar di Jazirah Arab, dan meminta bantuan dari siapa yang menaatinya dari kabilah-kabilah Arab untuk memerangi Khuzaa’ah, dan mengusir mereka dari Baitullah, serta menyerahkannya kepada Qushayy. Terjadi antara mereka pertempuran yang banyak dan darah yang banyak mengalir. Kemudian mereka saling memanggil untuk berhukum, lalu berhukum kepada Ya’mur bin ‘Auf bin Ka’b bin ‘Amir bin Laits bin Bakr bin Abdu Manah bin Kinanah. Dia memutuskan bahwa Qushayy lebih berhak atas Baitullah daripada Khuzaa’ah, dan bahwa setiap darah yang ditumpahkan Qushayy dari Khuzaa’ah dan Bani Bakr adalah gugur dan diinjak-injak di bawah kakinya, dan apa yang ditumpahkan Khuzaa’ah dan Bani Bakr dari Quraisy, Kinanah, dan Qudha’ah maka harus dibayar diyatnya. Dan harus dibiarkan antara Qushayy dengan Mekah dan Ka’bah. Maka Ya’mur pada hari itu dinamai asy-Syaddakh (yang menginjak-injak).

Ibnu Ishaq berkata: Qushayy mengurus Baitullah dan urusan Mekah, serta mengumpulkan kaumnya dari tempat tinggal mereka ke Mekah. Dia berkuasa atas kaumnya dan penduduk Mekah, maka mereka meminta dia menjadi raja. Kecuali dia tetap membiarkan orang Arab pada apa yang mereka lakukan, karena dia melihat itu sebagai agama dalam dirinya yang tidak boleh diubah. Maka dia membiarkan keluarga Shafwan, ‘Adwan, an-Nasa’ah, dan Murrah bin ‘Auf pada apa yang mereka lakukan sampai datang Islam, lalu Allah menghapus semua itu dengannya. Dia berkata: Qushayy adalah orang pertama dari Bani Ka’b yang memperoleh kekuasaan yang kaumnya taat kepadanya. Maka padanya ada hijabah (penjagaan Ka’bah), siqayah (memberi minum jamaah haji), rifadah (memberi makan jamaah haji), nadwah (tempat musyawarah), dan liwa’ (bendera). Dia mengumpulkan kehormatan Mekah semuanya, dan membagi Mekah menjadi bagian-bagian di antara kaumnya. Dia menempatkan setiap kaum dari Quraisy di tempat tinggal mereka di Mekah.

Aku (penulis) berkata: Maka kembalilah kebenaran ke tempatnya yang benar, dan kembali keadilan setelah kepergiannya. Quraisy menetap di negeri itu, dan mencapai tujuan serta keinginan mereka dari Khuzaa’ah. Mereka mengambil alih rumah mereka yang suci dan kuno. Namun dengan apa yang Khuzaa’ah telah hadirkan dari penyembahan berhala, dan pendirian mereka di sekitar Ka’bah, penyembelihan mereka untuknya, permohonan mereka padanya, permintaan pertolongan mereka dengannya, permintaan rizki mereka darinya. Qushayy menempatkan kabilah-kabilah Quraisy di lembah-lembah Mekah, dan menempatkan sebagian dari mereka di luarnya. Maka dikatakan: Quraisy al-Bithah (Quraisy lembah) dan Quraisy azh-Zhawahir (Quraisy luar). Qushayy bin Kilab memiliki semua kepemimpinan: hijabah (penjagaan) Baitullah dan sidanahnya (pengawasannya), liwa’ (bendera). Dia membangun rumah untuk menghilangkan kezaliman dan menyelesaikan sengketa yang disebut Dar an-Nadwah. Jika ada masalah yang sulit, pemimpin-pemimpin dari setiap kabilah berkumpul lalu bermusyawarah di dalamnya dan menyelesaikannya. Tidak diikat bendera perang dan tidak diakadkan nikah kecuali di dalamnya. Tidak ada gadis yang mencapai usia untuk memakai baju kecuali di dalamnya. Pintu rumah ini menghadap ke Masjidil Haram. Kemudian rumah ini setelahnya menjadi milik Hakim bin Hizam setelah Bani Abdu ad-Dar. Dia menjualnya pada zaman Mu’awiyah dengan seratus ribu dirham. Mu’awiyah mencela dia atas penjualannya, dan berkata: Engkau menjual kehormatan kaummu dan kemuliaan mereka dengan seratus ribu? Dia berkata: Sesungguhnya kemuliaan hari ini adalah dengan takwa. Demi Allah, sungguh aku membelinya di zaman jahiliyah dengan sepundi khamr, dan sekarang aku menjualnya dengan seratus ribu, dan aku persaksikan kalian bahwa harganya sedekah di jalan Allah. Siapa di antara kami yang merugi? Hal ini disebutkan ad-Daruquthni dalam kitab Asma Rijal al-Muwaththa’.

Qushayy juga mengurus siqayah (pemberian minuman) jamaah haji, sehingga mereka tidak minum kecuali dari air kolam-kolamnya. Sumur Zamzam pada waktu itu sudah tertutup sejak zaman Jurhum, karena lamanya waktu mereka tidak lagi mengingat urusannya dan tidak mengetahui tempatnya.

Al-Waqidi berkata: Qushay adalah orang pertama yang menyalakan api di Muzdalifah sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang yang datang dari Arafah, dan orang pertama yang menyelenggarakan rifadah, yaitu memberi makan para jamaah haji pada musim haji hingga mereka kembali ke negeri mereka.

Ibnu Ishaq berkata: Qushay menetapkan kewajiban itu kepada suku Quraisy, lalu ia berkata kepada mereka: Wahai kaum Quraisy, kalian adalah tetangga Allah dan penduduk Makkah, serta penghuni tanah Haram. Sesungguhnya jamaah haji adalah tamu Allah dan peziarah rumah-Nya, dan mereka lebih berhak mendapat jamuan. Maka sediakanlah untuk mereka makanan dan minuman selama hari-hari haji hingga mereka pulang dari kalian. Maka mereka pun melakukannya. Mereka mengeluarkan harta setiap tahun untuk itu lalu menyerahkannya kepada Qushay, dan ia menjadikannya makanan untuk orang-orang pada hari-hari Mina. Hal itu terus berlangsung pada masa Jahiliah hingga datangnya Islam, kemudian berlanjut dalam Islam hingga hari ini. Itulah makanan yang disediakan sultan setiap tahun di Mina untuk orang-oang hingga selesai haji.

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Kemudian kebiasaan ini terputus setelah masa Ibnu Ishaq, lalu diperintahkan untuk mengeluarkan sebagian dari Baitul Mal untuk disalurkan sebagai bekal dan air bagi orang-orang yang hendak berhaji. Ini adalah perbuatan yang baik dari berbagai sisi yang panjang jika disebutkan, namun yang wajib adalah agar hal itu berasal dari Baitul Mal yang murni, dan lebih baik lagi jika dari jizyah ahli dzimmah karena mereka tidak berhaji ke Baitullah. Telah diriwayatkan dalam hadits: “Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berhaji, maka biarlah ia mati sebagai Yahudi atau Nasrani.”

Seseorang mengatakan dalam memuji Qushay dan kemuliaan di kaumnya:

Demi umurku, Qushay sungguh dipanggil Mujammi’ (pengumpul) Dengannya Allah mengumpulkan kabilah-kabilah dari Fihr Mereka memenuhi Bathha dengan kemuliaan dan kepemimpinan Dan mereka mengusir dari kami orang-orang sesat Bani Bakr

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Qushay selesai dari perangnya, saudaranya Razzah bin Rabi’ah kembali ke negerinya bersama orang-orang yang bersamanya, beserta ketiga saudara seayahnya, yaitu Hunn, Mahmud, dan Jalhamah. Razzah berkata tentang menjawab panggilan Qushay:

Ketika datang utusan dari Qushay Dan utusan berkata: Penuhilah panggilan sahabat Kami bangkit menujunya dengan membawa kuda-kuda Dan kami melepaskan yang berat yang melelahkan Kami berjalan dengan mereka sepanjang malam hingga pagi Dan bersembunyi di siang hari agar tidak terlihat Mereka berlari cepat seperti burung qatha yang datang Menanggapi untuk kami utusan dari Qushay Kami kumpulkan dari Sirr dari Asymadzin Dan dari setiap kaum kami kumpulkan kabilah Sungguh suatu kumpulan apa yang terjadi malam itu, melebihi Seribu ekor unta yang lurus dan cepat Ketika mereka melewati Asjur Dan mudah dari tempat pemberhentian jalan Dan melewati Rukun dari Warqan Dan melewati Al-Arj kaum yang bertempat tinggal

Mereka lewati tanah Hil dan apa di sekitarnya Dan menempuh malam yang panjang dari Marr Kami ajak dari unta-unta betina anak-anaknya Bermaksud agar ringkik kuda tidak terdengar Ketika kami sampai ke Makkah Kami halalkan laki-laki kabilah demi kabilah Kami serang mereka dengan mata pedang yang tajam Dan di setiap kesempatan kami rebut akal mereka Kami pukul mereka dengan pedang yang keras Memukulnya orang yang kuat yang mulia dan hina Kami bunuh Khuzaah di negerinya Dan Bakr kami bunuh, dan Jail demi Jail Kami usir mereka dari negeri Raja Sebagaimana mereka tidak menempati tanah yang mudah Maka pagi mereka dalam rantai besi Dan dari setiap kaum kami obati kemarahan

Ibnu Ishaq berkata: Ketika Razzah kembali ke negerinya, Allah menyebarkannya, dan Hunn juga disebarkan, maka keduanya menjadi kabilah Udzrah hingga hari ini.

Ibnu Ishaq berkata: Qushay bin Kilab berkata tentang hal itu:

Aku adalah anak para pelindung Bani Luay Di Makkah tempatku dan di sana aku dibesarkan Ke Bathha telah mengetahui Ma’ad Dan Marwahnya, aku ridha dengannya, aku ridha Aku bukan untuk Ghalib jika tidak menetap Di sana anak-anak Qaidar dan An-Nabit Razzah penolongku dan dengannya aku dinamakan Aku tidak takut penghinaan selama aku hidup

Al-Umawi telah menyebutkan dari Al-Asyram dari Abu Ubaidah dari Muhammad bin Hafs bahwa Razzah datang setelah Qushay mengusir Khuzaah. Wallahu a’lam.

Pasal

Kemudian ketika Qushay sudah tua, ia menyerahkan urusan jabatan-jabatan yang ada padanya dari kepemimpinan Quraisy dan kemuliaannya, yaitu rifadah, siqayah, hijabah, liwa’, dan an-nadwah kepada anaknya Abdul Dar. Ia adalah anak sulungnya. Ia mengkhususkan semua itu kepadanya karena saudara-saudaranya yang lain, yaitu Abdul Manaf, Abdul Uzza, dan Abd, telah meraih kemuliaan di masa ayah mereka, dan telah mencapai kemasyhuran besar dalam kekuatan mereka. Maka Qushay ingin menyamakan Abdul Dar dengan mereka dalam kepemimpinan, sehingga ia mengkhususkan hal itu kepadanya. Saudara-saudaranya tidak merebut hal itu darinya. Ketika mereka meninggal, anak-anak mereka bertengkar mengenai hal itu, dan berkata: Sesungguhnya Qushay mengkhususkan Abdul Dar dengan hal itu agar menyamakannya dengan saudara-saudaranya, maka kami lebih berhak dengan apa yang menjadi hak ayah-ayah kami. Bani Abdul Dar berkata: Ini adalah urusan yang diserahkan Qushay kepada kami, maka kami lebih berhak dengannya. Mereka berselisih dengan sangat. Kabilah-kabilah Quraisy terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok membaiat Bani Abdul Dar dan bersekutu dengan mereka, dan kelompok lain membaiat Bani Abdul Manaf dan bersekutu dengan mereka dalam hal itu. Mereka meletakkan tangan mereka saat bersekutu di dalam mangkuk berisi wewangian, kemudian ketika berdiri mereka mengusapkan tangan mereka ke rukun-rukun Ka’bah, maka mereka disebut Hilf Al-Muthayyibin (persekutuan yang memakai wewangian). Yang termasuk dalam kelompok ini dari kabilah-kabilah Quraisy adalah: Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, Bani Zuhrah, Bani Taym, dan Bani Al-Harits bin Fihr. Yang bersama Bani Abdul Dar adalah: Bani Makhzum, Bani Sahm, Bani Jumah, dan Bani Adiy. Bani Amir bin Luay dan Muharib bin Fihr menyendiri dari semuanya dan tidak bersama salah satu dari keduanya. Kemudian mereka berdamai dan sepakat bahwa rifadah dan siqayah untuk Bani Abdul Manaf, sedangkan hijabah, liwa’, dan an-nadwah tetap pada Bani Abdul Dar. Maka urusan itu ditetapkan demikian dan terus berlanjut.

Al-Umawi meriwayatkan dari Al-Atsram dari Abu Ubaidah yang berkata: Sekelompok dari Khuzaah menyebutkan bahwa ketika Qushay menikahi Hubba binti Hulail, dan Hulail sudah tua untuk mengelola Ka’bah, ia menyerahkannya kepada putrinya Hubba, dan menunjuk Abu Ghubsyan Sulaim bin Amr bin Buwai bin Milkan bin Afsha bin Haritsah bin Amr bin Amir sebagai wakil. Maka Qushay membeli pengelolaan Ka’bah darinya dengan sebotol khamar dan seekor unta. Maka dikatakan: Lebih rugi dari transaksi Abu Ghubsyan. Ketika Khuzaah melihat hal itu, mereka menentang Qushay dengan keras, maka ia meminta bantuan saudaranya yang datang dengan orang-orang bersamanya dan terjadilah apa yang terjadi. Kemudian Qushay menyerahkan jabatan-jabatan yang ada padanya, yaitu sadanah, hijabah, liwa’, an-nadwah, rifadah, dan siqayah kepada anaknya Abdul Dar – sebagaimana akan dijelaskan nanti – dan ia tetapkan Ijazah dari Muzdalifah pada Bani Adwan, tetapkan nasi’ pada Faqim, dan tetapkan ijazah – yaitu nafr – pada Shufah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya semua yang ada di tangan mereka sebelum itu.

Ibnu Ishaq berkata: Qushay melahirkan empat laki-laki dan dua perempuan: Abdul Manaf, Abdul Dar, Abdul Uzza, Abd, Takhmur, dan Barrah. Ibu mereka semua adalah Hubba binti Hulail bin Habsyiyyah bin Salul bin Ka’ab bin Amr Al-Khuza’i, dan dialah orang terakhir dari Khuzaah yang mengelola Ka’bah, dan dari tangannya Ka’bah diambil oleh Qushay bin Kilab.

Ibnu Ishaq berkata: Abdul Manaf bin Qushay melahirkan empat laki-laki: Hasyim, Abdu Syams, dan Al-Muthalib – ibu mereka adalah Atikah binti Murrah bin Hilal – dan Naufal bin Abdul Manaf yang ibunya adalah Waqidah binti Amr Al-Maziniyyah.

Ibnu Hisyam berkata: Abdul Manaf juga melahirkan Abu Amr, Tamadlur, Qilabah, Hayyah, Raithah, Ummu Al-Aktsam, dan Ummu Sufyan.

Ibnu Hisyam berkata: Hasyim bin Abdul Manaf melahirkan empat laki-laki dan lima perempuan: Abdul Muththalib, Asad, Abu Shaifi, Nadlah, Asy-Syifa’, Khalidah, Dlu’aifah, Ruqayyah, dan Hayyah. Ibu Abdul Muththalib dan Ruqayyah adalah Salma binti Amr bin Zaid bin Labid bin Khidasy bin Amir bin Ghanm bin Adiy bin An-Najjar dari Madinah. Ia menyebutkan ibu-ibu yang lainnya.

Ia berkata: Abdul Muththalib melahirkan sepuluh laki-laki dan enam perempuan, yaitu: Al-Abbas, Hamzah, Abdullah, Abu Thalib – namanya adalah Abdul Manaf bukan Imran – Az-Zubair, Al-Harits – ia adalah anak sulung ayahnya dan dengannya ia berkunyah – Jahl, dan ada yang mengatakan Hajl yang diberi julukan Al-Ghaiddaq karena banyaknya kebaikannya, Al-Muqawwam, Dhirar, Abu Lahab – namanya adalah Abdul Uzza – dan Shafiyyah, Ummu Hakim Al-Baidla’, Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah. Ia menyebutkan ibu-ibu mereka hingga berkata: Ibu Abdullah, Abu Thalib, Az-Zubair, dan semua perempuan kecuali Shafiyyah adalah Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Ia berkata: Abdullah melahirkan Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pemimpin anak cucu Adam, dan ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay. Kemudian ia menyebutkan ibu-ibu neneknya dengan sangat rinci hingga berkata: Maka beliau adalah anak cucu Adam yang paling mulia nasabnya dan paling utama keturunannya, dari sisi ayah maupun ibunya, semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.

Telah disebutkan sebelumnya hadits Al-Auza’i dari Syaddad Abu Ammar dari Watsilah bin Al-Asqa’ yang berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim, dan memilih aku dari Bani Hasyim.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Akan dijelaskan nanti kelahiran beliau yang mulia dan apa yang diriwayatkan mengenainya dari berita-berita dan atsar-atsar. Kami akan menyebutkan pada saat menyebutkan nasab yang mulia faidah-faidah lain yang tidak ada di sini, insya Allah ta’ala, kepada-Nya kepercayaan, dan kepada-Nya ketergantungan.

Penyebutan Ringkasan Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi di Masa Jahiliah

Telah disebutkan sebelumnya tentang pengambilan pengelolaan Ka’bah oleh Jurhum dari Bani Ismail karena mereka tamak kepada mereka karena mereka adalah anak-anak putri mereka, dan tentang tindakan Khuzaah yang menguasai Jurhum dan merebut pengelolaan Ka’bah dari mereka, kemudian kembalinya hal itu kepada Qushay dan anak-anaknya, dan berlanjutnya hal itu di tangan mereka hingga Allah mengutus Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau menetapkan jabatan-jabatan itu sebagaimana keadaan sebelumnya.

Bab Penyebutan Sekelompok Orang yang Terkenal di Masa Jahiliah

Kisah Khalid bin Sinan Al-Absi yang Hidup di Masa Fatrah

Sebagian mereka menyebutkan bahwa ia adalah seorang nabi. Wallahu a’lam.

Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair At-Tusytari, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Al-Mu’alla bin Manshur Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shalt, telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar-Rabi’ dari Salim Al-Afthas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Putri Khalid bin Sinan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau membentangkan kainnya untuknya dan bersabda: “Putri nabi yang disia-siakan kaumnya.”

Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar telah meriwayatkannya dari Yahya bin Al-Mu’alla bin Manshur dari Muhammad bin Ash-Shalt dari Qais dari Salim dari Sa’id dari Ibnu Abbas, ia berkata: Khalid bin Sinan disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Itulah nabi yang disia-siakan kaumnya.” Kemudian ia berkata: Kami tidak mengetahuinya marfu’ kecuali dari jalur ini. Qais bin Ar-Rabi’ adalah tsiqah pada dirinya, hanya saja ia lemah hafalannya dan ia memiliki seorang anak yang memasukkan ke dalam haditsnya apa yang bukan darinya. Wallahu a’lam.

Al-Bazzar berkata: Ats-Tsauri telah meriwayatkannya dari Salim Al-Afthas dari Sa’id bin Jubair secara mursal.

Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Mushili berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mu’alla bin Mahdi Al-Mushili, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Yunus dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki dari Abs bernama Khalid bin Sinan berkata kepada kaumnya: Aku akan memadamkan untuk kalian api Al-Hadatsan. Maka seorang laki-laki dari kaumnya berkata kepadanya: Demi Allah wahai Khalid, engkau tidak pernah berkata kepada kami kecuali kebenaran, maka apa urusanmu dengan api Al-Hadatsan yang engkau klaim akan memadamkannya? Maka Khalid keluar bersama beberapa orang dari kaumnya, di antaranya Amarah bin Ziyad. Mereka mendatanginya, ternyata api itu keluar dari celah gunung. Khalid membuat garis untuk mereka lalu mendudukkan mereka di dalamnya, kemudian berkata: Jika aku terlambat kepada kalian, maka jangan panggil aku dengan namaku. Api itu keluar seperti kuda-kuda pirang yang saling mengikuti. Khalid menemuinya lalu ia mulai memukulnya dengan tongkatnya sambil berkata: “Sudahlah, sudahlah, setiap petunjuk dikira oleh anak penggembala kambing bahwa aku tidak akan keluar darinya sementara pakaianku basah.” Hingga dia masuk bersamanya ke dalam celah, lalu dia terlambat keluar menemui mereka.

Maka Amarah bin Ziyad berkata kepada mereka: “Demi Allah, seandainya temanmu masih hidup, dia pasti sudah keluar menemui kalian sekarang.” Mereka berkata: “Panggillah dia dengan namanya.” Dia berkata: “Maka mereka berkata: ‘Sesungguhnya dia telah melarang kami memanggilnya dengan namanya.'” Lalu mereka memanggilnya dengan namanya, maka dia keluar sambil memegang kepalanya seraya berkata: “Bukankah aku telah melarang kalian memanggil namaku? Demi Allah, kalian telah membunuhku, maka kuburkanlah aku. Apabila keledai-keledai melewati kalian dan di antaranya ada keledai yang buntungnya ekor, maka galilah kuburku, karena kalian akan menemukan aku hidup.” Lalu mereka menguburkannya. Kemudian keledai-keledai melewati mereka dan di antaranya ada keledai buntung ekor. Maka kami berkata: “Galilah kuburnya karena dia telah memerintahkan kami untuk menggali kuburnya.” Maka Amarah berkata kepada mereka: “Jangan menggali kuburnya! Tidak, demi Allah, jangan sampai orang-orang Mudhar menceritakan bahwa kami menggali kubur orang-orang mati kami.” Dan dia telah berkata kepada mereka bahwa Khalid berkata: “Sesungguhnya dalam karung istrinya ada dua papan, jika suatu perkara menjadi tidak jelas bagi kalian, maka lihatlah keduanya, maka kalian akan menemukan apa yang kalian tanyakan.” Dia berkata: “Dan jangan disentuh oleh wanita yang sedang haid.” Ketika mereka kembali kepada istrinya, mereka menanyakan kepadanya tentang kedua papan itu, lalu dia mengeluarkannya untuk mereka, sedangkan dia dalam keadaan haid. Maka hilanglah ilmu yang ada pada keduanya.

Abu Yunus berkata: Simak bin Harb berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentangnya, lalu beliau bersabda: ‘Itu adalah seorang nabi yang disia-siakan oleh kaumnya.’” Abu Yunus berkata: Simak bin Harb berkata: “Sesungguhnya anak Khalid bin Sinan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: ‘Selamat datang anak saudaraku.’” Maka riwayat ini mauquf kepada Ibnu Abbas, dan tidak ada di dalamnya bahwa dia adalah seorang nabi. Dan riwayat-riwayat mursal yang menyebutkan bahwa dia adalah nabi tidak dapat dijadikan hujjah di sini. Dan yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa dia adalah seorang laki-laki saleh yang memiliki keadaan-keadaan dan karamah-karamah. Karena jika dia hidup di zaman fatrah (kekosongan nabi), maka telah tetap dalam Shahih Bukhari dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam adalah aku, karena tidak ada nabi antara aku dan dia.” Dan jika dia sebelumnya, maka tidak mungkin dia seorang nabi karena Allah Ta’ala berfirma: “Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu” (Al-Qashash: 46). Dan lebih dari satu ulama telah mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengutus nabi setelah Ismail dalam bangsa Arab kecuali Muhammad shallallahu alaihi wasallam, penutup para nabi, yang didoakan oleh Ibrahim Al-Khalil, pembangun Kakbah yang dimuliakan yang Allah jadikan sebagai kiblat bagi penduduk bumi secara syariat, dan yang dikabarkan oleh para nabi kepada kaum mereka hingga yang terakhir memberikan kabar gembira tentangnya adalah Isa bin Maryam alaihissalam. Dan dengan metode yang sama ini dapat dibantah apa yang disebutkan oleh As-Suhaili dan lainnya tentang pengutusan seorang nabi dari Arab yang bernama Syuaib bin Dzi Mahdzam bin Syuaib bin Shafwan, sahabat Madyan, dan diutus kepada orang Arab juga Handzalah bin Shafwan, lalu mereka mendustakan keduanya, maka Allah menguasakan Bukhtanashshar atas orang Arab, dia membunuh dan menawan mereka seperti apa yang dia lakukan kepada Bani Israil, dan itu terjadi di zaman Ma’ad bin Adnan. Dan yang jelas bahwa orang-orang ini adalah kaum yang saleh yang menyeru kepada kebaikan. Wallahu a’lam. Dan telah disebutkan sebelumnya tentang Amr bin Luhay bin Qama’ah bin Khindif dalam kisah-kisah Khuza’ah setelah Jurhum.

Penyebutan Hatim Ath-Tha’i, Salah Satu Orang Dermawan Jahiliyah

Dia adalah Hatim bin Abdullah bin Sa’d bin Al-Hasyrij bin Imri’ul Qais bin Adi bin Akhzam bin Abi Akhzam, dan namanya Hazumah bin Rabi’ah bin Jarwal bin Ta’l bin Amr bin Al-Ghauth bin Thayyi’, Abu Sufanah Ath-Tha’i, ayah dari Adi bin Hatim Ash-Shahabi. Dia adalah orang yang dermawan dan terpuji pada masa Jahiliyah, demikian juga anaknya pada masa Islam. Dan Hatim memiliki kemuliaan-kemuliaan dan perkara-perkara yang menakjubkan, serta kisah-kisah yang mengherankan tentang kedermawanannya yang panjang penyebutannya, namun dia tidak bermaksud dengannya karena Allah dan negeri akhirat, melainkan dia hanya bermaksud mencari kemasyhuran dan penyebutan nama.

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata dalam Musnad-nya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mu’ammar, telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Waqid Al-Qaisi, telah menceritakan kepada kami Abu Mudhar yaitu An-Naji dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar, dia berkata: “Hatim disebutkan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: ‘Itu adalah orang yang menginginkan suatu perkara lalu dia mendapatkannya.’” Hadits ini gharib. Ad-Daraquthni berkata: “Ubaid bin Waqid sendirian meriwayatkannya dari Abu Mudhar An-Naji, dan dikatakan bahwa namanya adalah Hammad.” Ibnu Asakir berkata: “Dan Abu Ahmad Al-Hakim telah membedakan antara Abu Mudhar An-Naji dengan Abu Nashr Hammad dan tidak menyebutkan nama An-Naji, dan terdapat dalam sebagian riwayat Al-Hafizh Ibnu Asakir dari Abu Nadhr Syaibah An-Naji. Wallahu a’lam.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak bin Harb dari Murriy bin Quthri dari Adi bin Hatim, dia berkata: “Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya ayahku menyambung silaturahmi dan berbuat begini dan begini, apakah dia mendapat pahala dalam hal itu? Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya ayahmu mencari sesuatu lalu dia mendapatkannya.’” Dan demikian pula Abu Ya’la meriwayatkannya dari Al-Qawariri dari Ghundar dari Syu’bah dari Simak dengannya, dan dia berkata: “Sesungguhnya ayahmu menginginkan suatu perkara lalu dia mendapatkannya,” yaitu penyebutan nama. Dan demikian pula Abu Al-Qasim Al-Baghawi meriwayatkannya dari Ali bin Al-Ja’d dari Syu’bah dengannya secara sama. Dan telah tetap dalam Shahih tentang tiga orang yang akan dipanaskan dengan mereka Jahannam, di antaranya adalah laki-laki yang menafkahkan (harta) agar dikatakan: Sesungguhnya dia dermawan, maka balasannya adalah dikatakan itu di dunia, demikian juga orang alim dan mujahid. Dan dalam hadits yang lain dalam Shahih bahwa mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang Abdullah bin Jud’an bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah, lalu mereka berkata kepadanya: “Dia biasa menjamu tamu, memerdekakan budak, dan bersedekah, apakah itu bermanfaat baginya?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya dia tidak pernah berkata suatu hari dari hari-hari: Wahai Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan.” Ini padahal dia termasuk orang-orang dermawan yang terkenal juga, yang memberi makan pada tahun-tahun paceklik dan waktu-waktu kekeringan.

Dan Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Yusuf Al-Amani, telah menceritakan kepada kami Abu Said Ubaid bin Katsir bin Abdul Wahid Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Dhirar bin Shard, telah menceritakan kepada kami Ashim bin Humaid dari Abu Hamzah Ats-Tsumali dari Abdurrahman bin Jundub dari Kumil bin Ziyad An-Nakha’i, dia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Subhanallah, betapa banyak orang yang zuhud dalam kebaikan, sungguh heran dengan laki-laki yang didatangi oleh saudaranya sesama muslim untuk suatu keperluan lalu dia tidak menganggap dirinya layak untuk kebaikan. Seandainya dia tidak mengharapkan pahala dan tidak takut azab, maka sudah sepantasnya baginya untuk bergegas dalam kemuliaan akhlak karena itu menunjukkan jalan keselamatan.” Lalu seorang laki-laki berdiri menghadapnya dan berkata: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Amirul Mukminin, apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Dia berkata: “Ya, dan yang lebih baik darinya ketika tawanan-tawanan Thayyi’ didatangkan, jatuh kepada bagianku seorang budak wanita yang kemerahan, bermata lebar, berhidung pesek, bermata indah, bertubuh tinggi semampai, berkepala sempurna, berpergelangan kaki kencang, berpaha gempal, berpaha besar, berpinggang ramping, berpinggang kecil, berpunggung halus.” Dia berkata: “Ketika aku melihatnya, aku kagum dengannya, dan aku berkata: ‘Aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar dia menjadikannya dalam bagianku.’ Ketika dia berbicara, aku melupakan kecantikannya karena apa yang aku lihat dari kefasihannya, lalu dia berkata: ‘Wahai Muhammad, jika engkau memandang untuk membebaskanku dan tidak menjadikan hidup orang Arab mengejekku, maka sesungguhnya aku adalah putri penghulu kaumku, dan sesungguhnya ayahku melindungi kehormatan, membebaskan tawanan, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, menjamu tamu, memberi makan, menyebarkan salam, dan tidak pernah menolak orang yang meminta hajat. Dan aku adalah putri Hatim Thayyi’.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Wahai budak wanita, ini adalah sifat orang-orang mukmin yang sesungguhnya. Seandainya ayahmu seorang mukmin, niscaya kami akan mendoakan rahmat untuknya. Bebaskanlah dia karena sesungguhnya ayahnya menyukai kemuliaan akhlak, dan Allah Ta’ala menyukai kemuliaan akhlak.’” Maka Abu Burdah bin Niyar berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Allah menyukai kemuliaan akhlak?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga seorang pun kecuali dengan akhlak yang baik.”

Dan Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Telah menceritakan kepadaku Umar bin Bakar dari Abu Abdurrahman Ath-Tha’i yaitu Al-Haitsam bin Adi dari Malhan dari Araki bin Hulbis Ath-Tha’i dari ayahnya dari kakeknya – dan dia adalah saudara Adi bin Hatim dari ibunya – dia berkata: “Dikatakan kepada Nawar, istri Hatim: ‘Ceritakanlah kepada kami tentang Hatim.’ Dia berkata: ‘Semua urusannya menakjubkan, kami ditimpa tahun yang menghilangkan segala sesuatu, bumi menjadi kering karenanya dan langit menjadi berdebu karenanya, ibu-ibu menyusui menjadi kikir kepada anak-anak mereka, dan unta-unta kembali dalam keadaan berpunuk kurus kering, tidak menghasilkan setetes pun, dan hewan-hewan hilang. Dan kami dalam suatu malam yang sangat dingin, yang jauh antara kedua ujungnya, tiba-tiba anak-anak kecil menangis karena lapar; Abdullah, Adi, dan Sufanah. Demi Allah, kami tidak menemukan sesuatu untuk menenangkan mereka. Lalu dia berdiri menuju salah satu anak kecil lalu menggendongnya, dan aku berdiri menuju anak perempuan lalu menenangkannya. Demi Allah, mereka tidak diam kecuali setelah malam hening. Kemudian kami kembali kepada anak kecil yang lain lalu menenangkannya hingga dia diam dan hampir tidak. Kemudian kami membentangkan selimut kami yang berasal dari Syam yang berbulu lalu kami baringkan anak-anak kecil di atasnya, dan aku tidur bersamanya di sudut sedangkan anak-anak kecil di antara kami. Kemudian dia mulai menenangkanku agar aku tidur, dan aku tahu apa yang dia inginkan lalu aku berpura-pura tidur.

Dia berkata: ‘Apakah kamu tidur?’ Lalu aku diam. Dia berkata: ‘Aku tidak melihatnya kecuali sudah tidur, dan tidak ada tidur padaku.’ Ketika malam semakin gelap, dan bintang-bintang menghilang, dan suara-suara hening, dan orang-orang diam, tiba-tiba sisi rumah terangkat, lalu dia berkata: ‘Siapa ini?’ Lalu dia pergi hingga ketika aku kira: kami sudah sahur atau hampir, dia kembali. Lalu dia berkata: ‘Siapa ini?’ Dia berkata: ‘Tetanggamu si Fulanah wahai Abu Adi, aku tidak menemukan orang yang dapat kusandari selain dirimu, aku datang kepadamu dari anak-anak kecil yang meraung-raung seperti serigala karena lapar.’ Dia berkata: ‘Bawalah mereka segera kepadaku.’ Nawar berkata: ‘Lalu aku bangkit dan berkata: Apa yang kamu lakukan? Demi Allah, anak-anakmu telah menangis dan kamu tidak menemukan apa yang dapat menenangkan mereka, lalu bagaimana dengan wanita ini dan anak-anaknya?’ Lalu dia berkata: ‘Diamlah, demi Allah aku akan mengenyangkanmu dan mereka insya Allah.’ Dia berkata: ‘Lalu dia datang membawa dua anak dan berjalan di sisi-sisinya empat anak seperti burung unta yang dikelilingi anak-anaknya. Lalu dia berdiri menuju kudanya dan menikam leher kudanya dengan tombaknya, kemudian menyalakan apinya dan menyulut apinya, kemudian datang dengan pisau dan menguliti kulitnya, kemudian menyerahkan pisau itu kepada wanita itu, kemudian berkata: ‘Ambillah.’ Kemudian berkata: ‘Carikan aku anak-anakmu,’ lalu aku carikan mereka. Kemudian berkata: ‘Celaka, apakah kalian makan sesuatu tanpa penduduk perkampungan?’ Lalu dia berkeliling kepada mereka hingga mereka bangun dan mendatanginya, dan dia berselimut kainnya, kemudian berbaring di suatu sisi sambil melihat kami. Tidak, demi Allah, dia tidak merasakan satu potong pun, padahal dia yang paling memerlukan. Lalu kami mendapati pagi dan tidak ada di bumi darinya kecuali tulang atau kuku.”

Dan Ad-Daraquthni berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Qadhi Abu Abdullah Al-Mahamili, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Sa’d, dan telah menceritakan kepada kami Ghanam bin Tsawabah bin Humaid Ath-Tha’i dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: “Istri Hatim berkata kepada Hatim: ‘Wahai Abu Sufanah, aku ingin aku dan kamu makan makanan berdua saja, tidak ada orang lain atasnya.’ Lalu dia memerintahkannya, kemudian dia memindahkan kemahnya dari perkumpulan sejauh satu farsakh, dan memerintahkan makanan untuk disiapkan, sedangkan tirai-tirainya diturunkan atasnya dan atasnya. Ketika makanan hampir matang, dia membuka kepalanya kemudian berkata:

Maka janganlah engkau memasak periukku sedangkan tirai engkau berada di bawahnya Atasku, maka haram bagiku apa yang engkau masak Tetapi dengan puncak itu maka nyalakanlah Dengan kayu besar jika engkau menyalakan, bukan dengan ranting-ranting kecil

Dia berkata: “Kemudian dia membuka tirai-tirai dan menghadirkan makanan, dan mengundang orang-orang, lalu dia makan dan mereka makan. Lalu dia berkata: ‘Kamu tidak menyelesaikan untukku apa yang kamu katakan.’ Lalu dia menjawabnya: ‘Sesungguhnya aku, jiwaku tidak menuruti diriku, dan jiwaku lebih mulia bagiku daripada dipuji seperti ini, padahal kedermawanan telah mendahuluiku.’ Kemudian dia mulai berkata:

Aku melatih jiwa kedermawanan hingga aku memuliakannya Dan aku meninggalkan jiwa kekikiran, aku tidak meminta nasihatnya Dan tetanggaku tidak mengeluhkan aku kecuali bahwa Ketika suaminya tidak ada darinya, aku tidak mengunjunginya Kebaikanku akan sampai kepadanya dan suaminya akan kembali Kepadanya, dan tirai-tirainya tidak terbatas atasnya

Dan dari syair Hatim:

Jika aku bermalam minum di atas kenyang Karena mabuk dalam minuman, maka janganlah aku kenyang Jika aku bermalam memikat istri tetanggaku Agar kegelapan menyembunyikanku, maka janganlah aku tersembunyi Apakah aku mempermalukan tetanggaku dan mengkhianati tetanggaku Maka tidak, demi Allah, aku tidak akan melakukan selama aku hidup

Dan dari syairnya juga:

Apa yang merugikan tetanggaku yang aku bertetangga dengannya Bahwa tidak ada untuk pintunya tirai Aku menundukkan pandangan jika tetanggaku keluar Hingga tetanggaku tersembunyi oleh kamar

Dan dari syair Hatim juga:

Dan bukan dari akhlakku mencaci anak pamanku Dan aku bukan orang yang mengingkari orang yang berharap kepadaku Dan kata orang yang iri tanpa kesalahan Aku mendengar dan berkata: Lewatlah, maka teruskan aku Dan mereka mencela padaku, lalu dia tidak mencela diriku Dan tidak berkeringat untuknya suatu hari dahiku Dan orang yang bermuka dua menemuiku dengan ramah Dan bukan ketika dia tidak ada dia baik kepadaku Aku mendapatkan aibnya lalu aku menahan darinya Menjaga kehormatanku dan agamaku

Dan dari syairnya:

Tanyakan kepada orang yang meminta-minta yang kedinginan wahai Ummu Malik Ketika dia datang kepadaku di antara apiku dan tempat pemotonganku Apakah aku membentangkan wajahku, sesungguhnya itu adalah awal keramahan Dan aku berikan kebaikanku kepadanya tanpa kemungkaran

Dan dia juga berkata:

Dan sesungguhnya jika kamu memberikan perutmu permintaannya Dan kemaluanmu, keduanya akan mencapai puncak cercaan semuanya

Dan Al-Qadhi Abu Al-Faraj Al-Mu’afa bin Zakariya Al-Jariri berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al-Husain bin Al-Qasim Al-Kaukabi, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Abbas Al-Mubarrad, telah mengabarkan kepadaku Ats-Tsauri dari Abu Ubaidah, dia berkata: “Ketika sampai kepada Hatim Thayyi’ ucapan Al-Mutallammis:

Harta yang sedikit, kamu perbaiki lalu dia tetap Dan tidak tetap yang banyak atas kerusakan Dan menjaga harta lebih baik daripada fana’nya Dan kekerasan di negeri-negeri tanpa bekal

Dia berkata: ‘Apa yang dia miliki, semoga Allah memotong lidahnya, dia membawa orang-orang kepada kekikiran, mengapa dia tidak berkata:

Maka tidak kedermawanan menghancurkan harta sebelum fana’nya Dan tidak kekikiran dalam harta orang yang pelit menambah Maka janganlah engkau mencari harta dengan kehidupan yang kikir Untuk setiap hari esok rezeki yang kembali baru Tidakkah engkau lihat bahwa harta pergi dan datang Dan bahwa yang memberikanmu tidak jauh

Tidakkah engkau lihat bahwa harta pergi dan datang Dan bahwa yang memberikan kepadamu tidak jauh'”

Qadhi Abu al-Faraj berkata: Sungguh ia telah berbuat baik dalam ucapannya: Dan bahwa Dia yang memberimu tidaklah jauh. Dan seandainya ia seorang Muslim, tentu diharapkan kebaikan baginya di hari kemudiannya. Allah telah berfirman dalam kitab-Nya: Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya (Surat An-Nisa’: 32) dan Allah berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku (Surat Al-Baqarah: 186).

Dari Al-Waddhah bin Mu’bad Ath-Tha’i ia berkata: Hatim Ath-Tha’i datang menghadap Nu’man bin Al-Mundzir, lalu Nu’man memuliakan dan mendekatkannya, kemudian memberinya bekal ketika hendak pulang berupa dua muatan emas dan perak, selain apa yang telah diberikan berupa barang-barang berharga dari negerinya. Maka berangkatlah Hatim, dan ketika ia hampir sampai kepada keluarganya, orang-orang badui dari Thayyi’ menemuinya dan berkata: Wahai Hatim, engkau datang dari sisi raja, sedangkan kami datang dari keluarga kami dengan membawa kefakiran. Hatim berkata: Kemarilah, ambillah apa yang ada di hadapanku dan bagikanlah. Maka mereka berebut mengambil apa yang ada di hadapannya dari pemberian Nu’man dan membagi-bagikannya. Lalu keluarlah Tharifah, budak perempuannya, dan berkata kepadanya: Bertakwalah kepada Allah dan jagalah dirimu, karena orang-orang ini tidak akan menyisakan satu dinar pun, tidak satu dirham, tidak seekor kambing, dan tidak seekor unta. Maka Hatim bersyair:

Tharifah berkata: Apa yang tersisa dari dirham kami Padahal kami tidaklah boros dengannya dan tidak pula ceroboh Jika habis apa yang ada pada kami, maka Allah akan memberi rezeki kepada kami Dari selain kami, dan kami tidak mencari rezeki sendiri Tidaklah dirham yang tercabik-cabik itu melekat pada pakaian kami Kecuali hanya melewatinya kemudian pergi Sesungguhnya jika suatu hari dirham-dirham kami berkumpul Maka ia akan tetap berlomba menuju jalan-jalan kebaikan

Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Dikatakan kepada Hatim: Apakah ada di kalangan Arab yang lebih dermawan darimu? Ia berkata: Seluruh Arab lebih dermawan dariku. Kemudian ia mulai bercerita, ia berkata: Aku singgah pada seorang pemuda Arab yang yatim pada suatu malam, dan ia memiliki seratus ekor kambing, lalu ia menyembelih untukku seekor kambing darinya dan membawanya untukku. Ketika ia mendekatkan kepadaku otaknya, aku berkata: Betapa lezatnya otak ini. Maka ia pergi dan terus membawakan kepadaku darinya hingga aku berkata: Aku sudah cukup. Ketika pagi tiba, ternyata ia telah menyembelih seratus kambing itu dan tidak tersisa apa-apa baginya. Ditanyakan: Lalu apa yang engkau lakukan terhadapnya? Ia berkata: Dan kapankah aku dapat membalas terima kasihnya sekalipun aku telah berbuat segala hal untuknya. Dikatakan: Bagaimanapun juga. Ia berkata: Aku memberinya seratus ekor unta dari pilihan unta-untaku.

Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi berkata dalam kitab Makarim Al-Akhlaq: Al-‘Abbas bin Al-Fadhl Ar-Rabi’i menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Hammad Ar-Rawiyah dan para syekh dari kalangan syekh Thayyi’ menceritakan kepadaku, mereka berkata: Ghaniyyah binti ‘Afif bin ‘Amr bin Imru’ Al-Qais, ibu Hatim Ath-Tha’i, tidak pernah menahan sesuatu karena kemurahan dan kedermawanannya. Saudara-saudaranya melarangnya tetapi ia menolak, dan ia adalah seorang wanita yang berkecukupan. Maka mereka mengurungnya di dalam rumah selama setahun dan memberinya makanan secukupnya agar ia berhenti dari apa yang dilakukannya. Kemudian mereka mengeluarkannya setelah setahun dan mereka mengira bahwa ia telah meninggalkan kebiasaan itu, lalu mereka menyerahkan kepadanya sejumlah harta dari hartanya, dan berkata: Nikmatilah ini. Maka datanglah kepadanya seorang wanita dari Hawazin yang biasa mengunjunginya lalu meminta kepadanya, maka ia berkata: Ambillah kawanan ternak ini, karena demi Allah kelaparan telah menimpaku sehingga aku bersumpah untuk tidak menolak orang yang meminta. Kemudian ia bersyair:

Demi hidupku, sungguh kelaparan telah menggigitku satu gigitan Maka aku bersumpah untuk tidak menolak orang yang lapar sepanjang masa Katakanlah kepada orang yang mencelaku hari ini: Biarkan aku Dan jika engkau tidak melakukannya, maka gigitlah jari-jari Lalu apa yang akan kalian katakan kepada saudari kalian Selain celaan kalian atau celaan orang yang melarang Dan apa yang kalian lihat hari ini kecuali tabiat Maka bagaimana dengan meninggalkan tabiat wahai anakku

Al-Haitham bin ‘Adi dari Milhan bin ‘Arki bin ‘Adi bin Hatim dari ayahnya dari kakeknya berkata: Aku menyaksikan Hatim dalam keadaan hampir meninggal, lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku, aku berpesan dari diriku tiga sifat: Demi Allah aku tidak pernah menipu tetangga perempuan untuk hal yang meragukan, dan aku tidak pernah diamanahi amanat kecuali aku menunaikannya, dan tidak ada seorang pun yang mendapat keburukan dariku.

Abu Bakar Al-Khara’ithi berkata: Ali bin Harb menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Yahya Al-‘Adawi menceritakan kepada kami, Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi menceritakan kepada kami dari Abu Miskin – yaitu Ja’far bin Al-Muharriz bin Al-Walid – dari Al-Muharrir budak Abu Hurairah, ia berkata: Beberapa orang dari ‘Abd Al-Qais melewati kuburan Hatim Ath-Tha’i lalu mereka turun dekat darinya. Salah seorang dari mereka yang dipanggil Abu Al-Khaibari berdiri ke arah kuburnya lalu ia mulai menendang kuburnya dengan kakinya, dan berkata: Wahai Abul Ja’ra’, jamulah kami. Sebagian temannya berkata kepadanya: Engkau berbicara dengan siapa dari tulang yang telah hancur. Dan malam pun tiba kepada mereka lalu mereka tidur. Orang yang mengatakan hal itu bangun dalam keadaan ketakutan dan berkata: Wahai kaum, cepatlah kendaraan kalian karena sesungguhnya Hatim datang kepadaku dalam mimpi, dan ia membacakan kepadaku syair dan aku telah menghafalnya, ia berkata:

Wahai Khaibari, engkau adalah seorang laki-laki Yang zhalim kepada kaumnya dan mencaci maki mereka Engkau datang dengan teman-temanmu mencari jamuan Di sebuah lubang yang ribut hantu-hantunya Engkau mencarikan kesalahan bagiku ketika bermalam Sedangkan di sekelilingmu Thayyi’ dan ternak-ternaknya Dan sesungguhnya kami benar-benar mengenyangkan tamu-tamu kami Dan unta-unta pun datang lalu kami sembelih untuk mereka

Ia berkata: Dan ternyata unta milik orang yang berbicara itu terpotong kakinya, maka mereka menyembelihnya dan mereka mulai memanggang dan makan, dan berkata: Demi Allah, sungguh Hatim telah menjamu kami dalam keadaan hidup dan mati. Ia berkata: Dan pagi hari orang-orang itu memboncengkan teman mereka di unta, dan mereka berjalan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki memanggil mereka sambil mengendarai unta dan membawa unta lainnya, lalu ia berkata: Siapakah di antara kalian Abu Al-Khaibari? Ia berkata: Aku. Ia berkata: Sesungguhnya Hatim datang kepadaku dalam mimpi lalu mengabarkan kepadaku bahwa ia telah menjamu teman-temanmu dengan untamu, dan ia memerintahkan aku untuk membawamu. Dan ini adalah unta, ambillah. Dan ia menyerahkannya kepadanya.

Cerita tentang Abdullah bin Jud’an

Ia adalah Abdullah bin Jud’an bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’d bin Taim bin Murrah, pemimpin Bani Taim, dan ia adalah sepupu ayah Abu Bakar Ash-Shiddiq semoga Allah meridhainya. Ia termasuk orang-orang dermawan yang murah hati di zaman Jahiliyah yang memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan. Pada awal hidupnya ia adalah seorang yang miskin papa dan ia adalah orang yang jahat yang banyak melakukan kejahatan hingga ia dibenci oleh kaumnya, keluarganya, dan sukunya, bahkan ayahnya pun membencinya. Pada suatu hari ia keluar di celah-celah gunung Mekah dalam keadaan bingung dan sengsara, lalu ia melihat celah di sebuah gunung dan ia mengira ada sesuatu yang menyakitkan di dalamnya, maka ia menuju ke sana berharap ia mati agar dapat beristirahat dari keadaannya. Ketika ia mendekatinya, tiba-tiba seekor ular keluar menuju ke arahnya dan melompat kepadanya, maka ia menghindar dan ular itu melompat tetapi tidak berguna. Ketika ular itu dekat darinya, ternyata itu terbuat dari emas dan memiliki dua mata yang berupa dua yakut. Maka ia mematahkannya dan mengambilnya, lalu masuk ke dalam gua dan ternyata di dalamnya ada kuburan laki-laki dari raja-raja Jurhum, di antaranya Al-Harith bin Mudhadh yang lama menghilang sehingga tidak diketahui ke mana ia pergi. Dan ia menemukan di kepala mereka sebuah papan dari emas yang berisi sejarah kematian mereka dan masa pemerintahan mereka, dan ternyata di sisi mereka ada permata, mutiara, emas, dan perak yang banyak. Maka ia mengambil sesuai kebutuhannya kemudian keluar dan menandai pintu gua itu, kemudian kembali kepada kaumnya lalu memberi mereka hingga mereka mencintainya dan ia menjadi pemimpin mereka. Ia mulai memberi makan kepada manusia, dan setiap kali yang ada di tangannya berkurang, ia pergi ke gua itu lalu mengambil kebutuhannya kemudian kembali. Di antara yang menyebutkan hal ini adalah Abdul Malik bin Hisyam dalam kitab At-Tijan, dan disebutkan oleh Ahmad bin ‘Ammar dalam kitab Rayy Al-‘Athisy wa Uns Al-Wahisy.

Ia memiliki sebuah mangkuk besar yang dimakan darinya oleh pengendara di atas untanya, dan ada anak kecil yang jatuh ke dalamnya lalu tenggelam. Ibnu Qutaibah dan yang lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku pernah berteduh di bawah bayangan mangkuk besar Abdullah bin Jud’an pada waktu dhuhur pamanku. Dan dalam hadits terbunuhnya Abu Jahal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: kepada sahabat-sahabatnya: Carilah dia di antara orang yang terbunuh, dan kenalilah dia dengan luka di lututnya karena aku pernah berdesak-desakan dengan dia pada jamuan Ibnu Jud’an lalu aku mendorongnya dan ia jatuh di lututnya hingga hancur, dan bekasnya masih ada di lututnya. Maka mereka menemukannya demikian. Mereka menyebutkan bahwa ia memberi makan kurma dan tepung gandum yang sudah diolah, dan memberi minum susu hingga ia mendengar ucapan Umayyah bin Abi Ash-Shalt:

Dan sungguh aku telah melihat orang-orang yang berbuat dan perbuatan mereka Maka aku melihat yang paling mulia dari mereka adalah Bani Ad-Dayyan Kebaikan yang dicampur dengan madu sebagai makanan mereka Bukan apa yang dipermainkan kepada kami oleh Bani Jud’an

Maka Ibnu Jud’an mengirim ke Syam dua ribu ekor unta yang membawa gandum, madu, dan minyak samin, dan ia menjadikan penyeru yang menyeru setiap malam di atas Ka’bah: Datanglah ke mangkuk Ibnu Jud’an. Maka Umayyah berkata dalam hal itu untuknya:

Ia memiliki penyeru di Mekah yang keras suaranya Dan yang lain di atas Ka’bahnya menyeru Kepada mangkuk besar dari mangkuk yang penuh Bagian dalam gandum yang dicampur dengan madu

Dan dengan semua ini, telah tsabit dalam shahih Muslim, bahwa Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibnu Jud’an memberi makan, dan menjamu tamu, apakah itu bermanfaat baginya di hari Kiamat? Maka Rasulullah bersabda: Tidak, karena ia tidak pernah berkata suatu hari: Ya Rabbi, ampunilah kesalahanku di hari pembalasan.

Cerita tentang Imru’ Al-Qais bin Hujr

Al-Kindi, pemilik salah satu dari tujuh Mu’allaqat, yaitu yang paling terkenal dan paling masyhur di antaranya, yang awalnya:

Berhentilah berdua kita menangisi kenangan kekasih dan tempat tinggal

Imam Ahmad berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, Abu Al-Jahm menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Imru’ Al-Qais adalah pembawa bendera para penyair menuju Neraka. Dan hadits ini telah diriwayatkan dari Husyaim oleh banyak orang, di antaranya Bisyr bin Al-Hakam, Al-Hasan bin ‘Arafah, Abdullah bin Harun Amirul Mukminin Al-Ma’mun saudara Al-Amin, Yahya bin Ma’in, dan Ibnu ‘Adi mengeluarkannya dari jalur Abdur Razzaq dari Az-Zuhri dengannya. Dan ini terputus, dan diriwayatkan dari jalan lain dari Abu Hurairah dan tidak shahih dari selain jalan ini. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir berkata: Ia adalah Imru’ Al-Qais bin Hujr bin Al-Harith bin ‘Amr bin Hujr Akil Al-Mirar bin ‘Amr bin Mu’awiyah bin Al-Harith bin Ya’rub bin Tsaur bin Murta’ bin Mu’awiyah bin Kindah Abu Yazid, dan dikatakan: Abu Wahb, dan dikatakan: Abu Al-Harith Al-Kindi. Ia berada di wilayah Damaskus dan ia telah menyebutkan tempat-tempat di sana dalam syairnya. Di antaranya ucapannya:

Berhentilah berdua kita menangisi kenangan kekasih dan tempat tinggal Di Siqth Al-Liwa antara Ad-Dukhul dan Haumal Maka Taudhih hingga Al-Miqraah, tidak terhapus bekasnya Karena apa yang dijalin olehnya dari angin selatan dan utara

Ia berkata: Dan ini adalah tempat-tempat yang dikenal di Hauran.

Kemudian ia meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, Farwah bin Sa’id bin ‘Afif bin Ma’di Karib menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah utusan dari Yaman lalu mereka berkata: Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menghidupkan kami dengan dua bait syair Imru’ Al-Qais. Rasulullah berkata: Bagaimana itu? Mereka berkata: Kami datang menuju kepadamu hingga ketika kami berada di sebagian jalan, kami salah jalan lalu kami tinggal tiga hari tanpa dapat menemukan air, maka kami berpencar ke akar-akar pohon thalh dan samur agar setiap orang dari kami mati di bawah bayangan pohon. Ketika kami dalam keadaan hampir mati, tiba-tiba ada pengendara yang sedang di atas unta. Ketika sebagian dari kami melihatnya – ia berkata dan pengendara itu mendengar -:

Dan ketika ia melihat bahwa tepi air adalah tujuannya Dan bahwa putih dari rusuknya berdarah Aku menuju mata air yang di Dharij Yang teduh atasnya, lumutnya penuh

Maka pengendara itu berkata: Dan siapa yang mengatakan syair ini? – dan ia telah melihat kesulitan yang menimpa kami – Ia berkata: Kami berkata: Imru’ Al-Qais bin Hujr. Ia berkata: Demi Allah, ia tidak berbohong. Dharij ada di dekat kalian. Maka kami melihat dan ternyata antara kami dan air sekitar lima puluh dzira’. Maka kami merangkak ke sana di atas lutut dan ternyata seperti apa yang dikatakan Imru’ Al-Qais, di atasnya ada lumut yang teduh atasnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Itu adalah seorang laki-laki yang terkenal di dunia dan terlupakan di akhirat, mulia di dunia dan hina di akhirat, di tangannya bendera para penyair, ia memimpin mereka ke Neraka.

Al-Kalbi menyebutkan bahwa Imru’ Al-Qais datang dengan panji-panjinya, ia ingin memerangi Bani Asad ketika mereka membunuh ayahnya. Ia melewati Tabalah dan di sana ada Dzul Khalashash, yaitu berhala yang orang-orang Arab biasa melakukan istiqsamah (undian) di sisinya. Maka ia melakukan istiqsamah dan keluar anak panah yang melarang, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga demikian juga. Maka ia mematahkan anak panah dan memukulkannya ke wajah Dzul Khalashash, dan berkata: Gigitlah kemaluan ayahmu, seandainya ayahmu yang terbunuh, tentu engkau tidak akan menghalangiku. Kemudian ia menyerang Bani Asad dan membunuh mereka dengan pembunuhan yang dahsyat. Ibnu Al-Kalbi berkata: Maka tidak dilakukan istiqsamah di sisi Dzul Khalashash hingga datang Islam.

Sebagian dari mereka menyebutkan bahwa ia memuji Qaishar raja Romawi untuk meminta bantuan dalam sebagian peperangan dan meminta pertolongan, tetapi ia tidak mendapatkan apa yang diharapkan darinya, maka setelah itu ia mencacinya. Dikatakan bahwa Qaishar memberinya minum racun lalu membunuhnya, dan kematian memaksanya di samping kuburan seorang wanita di sebuah gunung yang disebut ‘Asib. Maka di sana ia menulis:

Wahai tetangga kami, sesungguhnya tempat kunjungan itu dekat Dan sesungguhnya aku menetap selama ‘Asib menetap Wahai tetangga kami, sesungguhnya kami berdua orang asing di sini Dan setiap orang asing kepada orang asing adalah kerabat

Mereka menyebutkan bahwa tujuh Mu’allaqat itu digantung di Ka’bah, dan itu karena orang-orang Arab jika salah seorang dari mereka membuat qashidah (syair panjang), ia menawarkannya kepada Quraisy, maka jika mereka menerimanya, mereka menggantungkannya di Ka’bah untuk mengagungkan kedudukannya. Maka terkumpullah dari itu tujuh Mu’allaqat ini. Yang pertama untuk Imru’ Al-Qais bin Hujr Al-Kindi sebagaimana telah disebutkan dan awalnya:

Berhentilah berdua kita menangisi kenangan kekasih dan tempat tinggal Di Siqth Al-Liwa antara Ad-Dukhul dan Haumal

Dan yang kedua untuk An-Nabighah Adz-Dzubyani, namanya adalah Ziyad bin Mu’awiyah, dan dikatakan: Ziyad bin ‘Amr bin Mu’awiyah bin Dhibab bin Jabir bin Yarbu’ bin Ghaizh bin Murrah bin ‘Auf bin Sa’d bin Dzubyan bin Bughaidh, dan awalnya:

Wahai rumah Mayyah di Al-‘Alya’ hingga As-Sanad Telah kosong dan lama atasnya umur yang telah berlalu

Dan yang ketiga untuk Zuhair bin Abi Sulma Rabi’ah bin Riyah Al-Muzani, dan awalnya:

Apakah dari Ummu Aufa bekas yang tidak berbicara Di Hummanah Ad-Darraj hingga Al-Mutatslam

Yang keempat adalah karya Tharafah bin ‘Abd bin Sufyan bin Sa’d bin Malik bin Dhubai’ah bin Qais bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sha’b bin ‘Ali bin Bakr bin Wa`il, yang awalnya berbunyi:

Milik Khaulah adalah bekas-bekas perkemahan di Barqah Tsahmad Yang masih terlihat seperti sisa tato di punggung tangan

Yang kelima adalah karya ‘Antarah bin Syaddad bin Mu’awiyah bin Qarad bin Makhzum bin Rabi’ah bin Malik bin Ghalib bin Quthai’ah bin ‘Abs al-‘Absi, yang awalnya berbunyi:

Apakah para penyair meninggalkan sesuatu untuk diperbaiki Atau apakah engkau mengenali rumah itu setelah keraguan

Yang keenam adalah karya ‘Alqamah bin ‘Abdah bin an-Nu’man bin Qais, salah seorang dari Bani Tamim, yang awalnya berbunyi:

Hatimu terbang melayang karena para wanita cantik Jauh dari masa muda, datanglah masa uban

Yang ketujuh – dan di antara mereka ada yang tidak menetapkannya sebagai bagian dari Mu’allaqat, yaitu pendapat al-Ashma’i dan lainnya – adalah karya Labid bin Rabi’ah bin Malik bin Ja’far bin Kilab bin Rabi’ah bin ‘Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin ‘Ikrimah bin Khashfah bin Qais bin ‘Ailan bin Mudhar, yang awalnya berbunyi:

Telah terhapus bekas-bekas kediaman, tempat tinggal dan tempat menetapnya Di Mina, telah lama kosong Ghaulaha dan Rijamaha

Adapun qashidah yang tidak diketahui pengarangnya sebagaimana disebutkan oleh Abu ‘Ubaidah, al-Ashma’i, al-Mubarrad dan lainnya adalah yang berbunyi:

Apakah bekas-bekas perkemahan itu bisa menjawab pertanyaan penanya Atau apakah ia memiliki kesanggupan untuk berbicara

Dan qashidah ini panjang serta mengandung banyak makna yang indah.

Kisah tentang Umayyah bin Abi ash-Shalt ats-Tsaqafi

Dia adalah salah seorang penyair masa Jahiliyah dan sempat hidup di zaman Islam. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir berkata: Dia adalah Umayyah bin Abi ash-Shalt Abdullah bin Abi Rabi’ah bin ‘Auf bin ‘Uqdah bin Ghairah bin ‘Auf bin Tsaqif bin Munabbih bin Bakr bin Hawazin, Abu ‘Utsman, dan ada yang mengatakan: Abu al-Hakam ats-Tsaqafi, seorang penyair Jahiliyah yang datang ke Damaskus sebelum Islam. Ada yang mengatakan bahwa dia dahulu lurus, dan bahwa dia pada awalnya beriman kemudian menyimpang darinya, dan dialah yang dimaksud oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Surat al-A’raf: 175)

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Ruqayyah binti ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf melahirkan Umayyah sang penyair bin Abi ash-Shalt, dan nama Abi ash-Shalt adalah Rabi’ah bin Wahb bin ‘Ilaj bin Abi Salamah bin Tsaqif. Yang lain berkata: Ayahnya adalah salah seorang penyair terkenal di Thaif dan Umayyah adalah yang paling pandai bersyair di antara mereka.

‘Abdurrazzaq berkata: Ats-Tsauri berkata: Habib bin Abi Tsabit mengabarkan kepadaku bahwa Abdullah bin ‘Amr berkata tentang firman Allah Ta’ala “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat”: Dia adalah Umayyah bin Abi ash-Shalt. Demikian juga diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dari Abu Bakr asy-Syafi’i dari Mu’adz bin al-Mutsanna dari Musaddad dari Abu ‘Awanah dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari Nafi’ bin ‘Ashim bin Mas’ud yang berkata: Aku berada di suatu majelis yang di dalamnya ada Abdullah bin ‘Amr, lalu seorang dari mereka membaca ayat dalam Surat al-A’raf “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu”, maka dia berkata: Apakah kalian tahu siapa dia? Sebagian dari mereka berkata: Dia adalah Shaifi bin ar-Rahib. Yang lain berkata: Bahkan dia adalah Bal’am, seorang laki-laki dari Bani Israil. Maka dia berkata: Bukan. Mereka bertanya: Lalu siapa dia? Dia menjawab: Dia adalah Umayyah bin Abi ash-Shalt. Demikian juga yang dikatakan oleh Abu Shalih dan al-Kalbi, dan Qatadah meriwayatkannya dari sebagian mereka.

Ath-Thabrani berkata: Ali bin ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami, Abdullah bin Syabib ar-Rabi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Salamah bin Hisyam al-Makhzumi menceritakan kepada kami, Isma’il bin ath-Tharih bin Isma’il ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Marwan bin al-Hakam dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari ayahnya yang berkata: Aku dan Umayyah bin Abi ash-Shalt ats-Tsaqafi berangkat berdagang ke Syam. Setiap kali kami singgah di suatu tempat, Umayyah mengambil sebuah kitabnya dan membacakannya kepada kami. Kami terus seperti itu hingga kami singgah di sebuah kampung Nasrani, lalu mereka mendatanginya, memuliakannya dan memberinya hadiah, dan dia pergi bersama mereka ke rumah-rumah mereka kemudian kembali di tengah hari lalu melemparkan kedua pakaiannya dan mengambil dua pakaiannya yang hitam lalu memakainya, dan berkata kepadaku: Apakah kau mau, wahai Abu Sufyan, menemui seorang ulama Nasrani yang kepadanya berakhir ilmu Kitab, lalu kau bertanya kepadanya? Aku berkata: Aku tidak berminat. Demi Allah, jika dia menceritakan kepadaku apa yang aku sukai, aku tidak akan mempercayainya, dan jika dia menceritakan kepadaku apa yang aku benci, aku akan takut karenanya. Dia berkata: Lalu dia pergi, dan seorang syaikh Nasrani datang menghampiriku dan bertanya: Apa yang menghalangimu untuk pergi kepada syaikh ini? Aku berkata: Aku tidak seagama dengannya. Dia berkata: Meskipun begitu, kau akan mendengar darinya sesuatu yang menakjubkan dan kau akan melihatnya. Kemudian dia berkata kepadaku: Apakah kau orang Tsaqif? Aku berkata: Tidak, tapi orang Quraisy. Dia berkata: Lalu apa yang menghalangimu dari syaikh itu? Demi Allah, sesungguhnya dia mencintai kalian dan berwasiat baik kepada kalian. Dia berkata: Lalu dia pergi dari tempat kami, dan Umayyah tinggal bersama mereka hingga datang kepada kami setelah malam sunyi. Dia melemparkan kedua pakaiannya lalu berbaring di tempat tidurnya. Demi Allah, dia tidak tidur dan tidak bangun hingga pagi dalam keadaan murung dan sedih, meninggalkan makan malamnya hingga pagi, tidak berbicara kepada kami dan kami tidak berbicara kepadanya. Kemudian dia berkata: Tidakkah kau akan berangkat? Aku berkata: Apakah kau ingin berangkat? Dia berkata: Ya. Lalu kami berangkat dan kami berjalan selama dua malam karena kekhawatirannya.

Kemudian pada malam ketiga dia berkata: Tidakkah kau mau berbincang, wahai Abu Sufyan? Aku berkata: Apakah kau ingin berbincang? Demi Allah, aku tidak pernah melihat seperti apa yang kau bawa kembali dari temanmu itu. Dia berkata: Adapun itu adalah sesuatu yang bukan urusanku, itu hanyalah sesuatu yang membuatku takut dari tempat kembali. Aku berkata: Apakah kau memiliki tempat kembali? Dia berkata: Ya, demi Allah aku akan mati, kemudian aku akan dibangkitkan. Dia berkata: Aku berkata: Apakah kau mau menerima amanatku? Dia berkata: Tentang apa? Aku berkata: Bahwa kau tidak akan dibangkitkan dan tidak akan dihisab. Dia berkata: Lalu dia tertawa, kemudian berkata: Bahkan, demi Allah wahai Abu Sufyan, kita pasti akan dibangkitkan kemudian kita akan dihisab, dan akan masuk satu kelompok ke surga dan satu kelompok ke neraka. Aku berkata: Lalu di mana kau berada di antara keduanya, apakah temanmu memberitahumu? Dia berkata: Temanku tidak memiliki pengetahuan tentang itu, tidak tentangku dan tidak tentang dirinya sendiri. Dia berkata: Kami menghabiskan dua malam dalam hal itu, dia heran terhadapku dan aku tertawa padanya hingga kami tiba di Ghuthah Damaskus. Kami menjual barang dagangan kami dan tinggal di sana selama dua bulan. Lalu kami berangkat hingga kami singgah di sebuah kampung Nasrani.

Ketika mereka melihatnya, mereka mendatanginya dan memberinya hadiah, dan dia pergi bersama mereka ke gereja mereka. Dia tidak datang kecuali setelah tengah hari, lalu memakai pakaiannya dan pergi kepada mereka hingga datang setelah malam sunyi. Dia melemparkan pakaiannya dan merebahkan dirinya di tempat tidurnya. Demi Allah, dia tidak tidur dan tidak bangun, dan pagi hari dalam keadaan sedih dan murung, tidak berbicara kepada kami dan kami tidak berbicara kepadanya. Kemudian dia berkata: Tidakkah kau akan berangkat? Aku berkata: Ya, jika kau mau. Lalu kami berangkat seperti itu dalam kesedihan dan kemurungannya selama beberapa malam. Kemudian dia berkata kepadaku: Wahai Abu Sufyan, apakah kau mau kita berjalan mendahului rombongan kita? Aku berkata: Apakah kau mau? Dia berkata: Ya. Lalu kami berjalan hingga kami berada di depan rombongan kami sejenak. Kemudian dia berkata: Ayolah Shakhr! Aku berkata: Apa yang kau inginkan? Dia berkata: Ceritakan kepadaku tentang ‘Utbah bin Rabi’ah, apakah dia menjauhi kezaliman dan kemaksiatan? Aku berkata: Ya, demi Allah. Dia berkata: Dan menyambung silaturahmi dan memerintahkan untuk menyambungnya? Aku berkata: Ya, demi Allah. Dia berkata: Dan mulia dari kedua belah pihak dan menengah dalam klannya? Aku berkata: Ya. Dia berkata: Apakah kau tahu orang Quraisy yang lebih mulia darinya? Aku berkata: Tidak, demi Allah aku tidak tahu. Dia berkata: Apakah dia miskin? Aku berkata: Tidak, bahkan dia memiliki harta yang banyak. Dia berkata: Dan berapa usianya? Aku berkata: Dia sudah lebih dari seratus tahun. Dia berkata: Apakah kemuliaan, usia dan harta mencela dirinya? Aku berkata: Mengapa itu akan mencelanya? Tidak, demi Allah, bahkan itu menambah kebaikannya. Dia berkata: Benar sekali. Apakah kau mau bermalam? Aku berkata: Apakah aku mau? Dia berkata: Lalu kami berbaring hingga rombongan lewat. Dia berkata: Lalu kami berjalan hingga kami singgah di tempat peristirahatan dan bermalam di sana. Kemudian kami berangkat dari sana. Ketika malam tiba dia berkata kepadaku: Wahai Abu Sufyan. Aku berkata: Apa yang kau inginkan? Dia berkata: Apakah kau mau seperti tadi malam? Aku berkata: Apakah aku mau? Dia berkata: Lalu kami berjalan dengan dua unta Bukhti hingga ketika kami sudah berada di depan, dia berkata: Ayolah Shakhr, ayolah tentang ‘Utbah bin Rabi’ah. Dia berkata: Aku berkata: Ayolah tentangnya. Dia berkata: Apakah dia menjauhi kemaksiatan dan kezaliman, menyambung silaturahmi dan memerintahkan untuk menyambungnya? Aku berkata: Ya, demi Allah dia melakukan itu. Dia berkata: Dan memiliki harta? Aku berkata: Dan memiliki harta. Dia berkata: Apakah kau tahu orang Quraisy yang lebih mulia darinya? Aku berkata: Tidak, demi Allah aku tidak tahu. Dia berkata: Berapa usianya? Aku berkata: Dia sudah lebih dari seratus tahun. Dia berkata: Apakah usia, kemuliaan dan harta mencela dirinya? Aku berkata: Tidak sama sekali, demi Allah itu tidak mencelanya, dan kau akan mengatakan sesuatu maka katakanlah. Dia berkata: Jangan kau sebutkan perkataanku hingga datang darinya apa yang akan datang. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya apa yang kau lihat menimpaku adalah bahwa aku datang kepada ulama ini lalu aku bertanya kepadanya tentang beberapa hal, kemudian aku berkata: Beritahukan kepadaku tentang Nabi yang dinantikan ini. Dia berkata: Dia adalah seorang laki-laki dari bangsa Arab. Aku berkata: Aku sudah tahu bahwa dia dari bangsa Arab, lalu dari Arab yang mana dia? Dia berkata: Dari keluarga yang dihaji oleh orang Arab. Aku berkata: Dan di antara kami ada rumah yang dihaji oleh orang Arab. Dia berkata: Dia dari saudara-saudara kalian dari Quraisy. Maka menimpaku, demi Allah, sesuatu yang tidak pernah menimpaku seperti itu, dan lepas dari tanganku kemenangan dunia dan akhirat, padahal aku berharap bahwa akulah dia. Aku berkata: Jika demikian yang terjadi, maka sifatkan dia untukku. Dia berkata: Seorang pemuda yang baru memasuki masa paruh baya, pada awal urusannya dia menjauhi kezaliman dan kemaksiatan, menyambung silaturahmi dan memerintahkan untuk menyambungnya, dia miskin, mulia dari kedua belah pihak, menengah dalam klannya, kebanyakan pasukannya dari para malaikat. Aku berkata: Dan apa tandanya? Dia berkata: Syam telah berguncang sejak wafatnya Nabi Isa bin Maryam, delapan puluh kali guncangan, semuanya di dalamnya ada musibah, dan tersisa satu guncangan umum yang di dalamnya ada banyak musibah.

Abu Sufyan berkata: Lalu aku berkata: Ini, demi Allah, adalah kebatilan. Jika Allah mengutus seorang rasul, pasti Dia tidak akan mengambilnya kecuali orang tua yang mulia. Umayyah berkata: Demi apa yang kau bersumpah dengannya, sesungguhnya ini seperti itu wahai Abu Sufyan; kau mengatakan bahwa perkataan Nasrani itu benar. Apakah kau mau bermalam? Aku berkata: Apakah aku mau? Dia berkata: Lalu kami bermalam hingga rombongan datang kepada kami. Kemudian kami berangkat hingga ketika jarak antara kami dengan Makkah tinggal dua malam, seorang pengendara menyusul kami dari belakang, lalu kami bertanya kepadanya dan dia berkata: Syam telah diguncang setelah kalian pergi, yang menghancurkan penduduknya, dan menimpa mereka musibah yang sangat besar. Abu Sufyan berkata: Lalu Umayyah menghampiriku dan berkata: Bagaimana pendapatmu tentang perkataan Nasrani itu, wahai Abu Sufyan? Aku berkata: Aku berpendapat dan mengira, demi Allah, bahwa apa yang diceritakan temanmu kepadamu adalah benar. Dia berkata: Lalu kami tiba di Makkah dan aku menyelesaikan apa yang ada padaku, kemudian aku pergi hingga aku datang ke Yaman untuk berdagang dan aku tinggal di sana lima bulan. Kemudian aku kembali ke Makkah. Ketika aku berada di rumahku, orang-orang datang menyalamiku dan bertanya tentang barang dagangan mereka hingga datanglah Muhammad bin Abdullah, dan Hind ada di sampingku sedang bermain dengan anak-anaknya. Dia menyalamiku dan menyambutku, dan bertanya kepadaku tentang perjalananku dan tinggalku, dan dia tidak menanyakan tentang barang dagangannya kemudian dia pergi. Lalu aku berkata kepada Hind: Demi Allah, orang ini membuatku kagum. Tidak ada seorang pun dari Quraisy yang memiliki barang dagangan padaku kecuali dia telah menanyakannya kepadaku, dan orang ini tidak menanyakan tentang barang dagangannya! Maka Hind berkata kepadaku: Apakah kau tidak tahu urusannya? Aku berkata, dan aku terkejut: Apa urusannya? Dia berkata: Dia mengklaim bahwa dia Rasulullah. Maka aku terkejut dan teringat perkataan Nasrani itu, lalu aku terdiam hingga Hind berkata kepadaku: Ada apa denganmu? Lalu aku tersadar dan berkata: Sesungguhnya ini adalah kebatilan! Dia lebih berakal daripada mengatakan ini. Dia berkata: Bahkan, demi Allah dia benar-benar mengatakan itu dan diikuti karenanya, dan dia memiliki para sahabat yang menganut agamanya. Aku berkata: Ini adalah kebatilan. Dia berkata: Dan aku keluar, lalu ketika aku sedang thawaf di Ka’bah aku bertemu dengannya dan aku berkata kepadanya: Sesungguhnya barang daganganmu telah mencapai sekian dan sekian dan di dalamnya ada kebaikan, maka utuslah orang untuk mengambilnya dan aku tidak akan mengambil darimu apa yang aku ambil dari kaumku. Maka dia menolak, dan berkata: Kalau begitu aku tidak akan mengambilnya. Aku berkata: Maka utuslah orang untuk mengambilnya dan aku akan mengambil darimu seperti apa yang aku ambil dari kaumku. Maka dia mengutus untuk mengambil barang dagangannya dan aku mengambil darinya apa yang biasa aku ambil dari yang lain. Abu Sufyan berkata: Dan tidak lama kemudian aku berangkat ke Yaman lalu aku tiba di Thaif dan singgah di rumah Umayyah bin Abi ash-Shalt. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu ‘Utsman. Dia berkata: Apa yang kau inginkan? Aku berkata: Apakah kau ingat perkataan Nasrani itu? Maka dia berkata: Aku mengingatnya. Aku berkata: Dan itu telah terjadi. Dia berkata: Siapa? Aku berkata: Muhammad bin Abdullah. Dia berkata: Bin ‘Abdul Muththalib? Aku berkata: Bin ‘Abdul Muththalib. Kemudian aku menceritakan kepadanya berita Hind. Dia berkata: Allah Yang Maha Mengetahui. Dan dia mulai berkeringat, kemudian berkata: Demi Allah wahai Abu Sufyan, mungkin dia, sesungguhnya sifatnya memang demikian. Jika dia menang dan aku masih hidup, aku akan menunjukkan kepada Allah Azza wa Jalla udzurku dalam menolongnya. Dia berkata: Dan aku pergi ke Yaman dan tidak lama kemudian datanglah kepadaku berita tentang keislamannya. Dan aku kembali hingga singgah di rumah Umayyah bin Abi ash-Shalt di Thaif. Aku berkata: Wahai Abu ‘Utsman, telah terjadi dari urusan orang itu apa yang telah sampai kepadamu dan kau dengar. Dia berkata: Memang telah terjadi. Aku berkata: Lalu bagaimana sikapmu terhadapnya, wahai Abu ‘Utsman? Maka dia berkata: Demi Allah, aku tidak akan beriman kepada rasul dari selain Tsaqif selamanya. Abu Sufyan berkata: Dan aku pergi ke Makkah. Demi Allah, aku tidak jauh hingga aku tiba di Makkah dan aku mendapati para sahabatnya dipukuli dan direndahkan. Abu Sufyan berkata: Lalu aku berkata: Lalu di mana pasukannya dari para malaikat? Dia berkata: Lalu masuk padaku apa yang masuk pada manusia berupa iri hati. Ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi dalam kitab ad-Dala`il dari hadits Isma’il bin Tharih dengannya, tetapi riwayat ath-Thabrani yang kami sebutkan lebih lengkap dan lebih panjang. Wallahu a’lam.

Dan berkata Ath-Thabrani: telah menceritakan kepada kami Bakr bin Ahmad bin Muqbil telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Muhammad Az-Zuhri telah menceritakan kepada kami Mujasyi’ bin Amr Al-Asadi telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa’d dari Abu Al-Aswad Muhammad bin Abdurrahman dari Urwah bin Az-Zubair dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari Abu Sufyan bin Harb bahwa Umayyah bin Abi Ash-Shalt berada di Gaza atau di Ilya’. Ketika kami pulang, Umayyah berkata kepadaku: “Wahai Abu Sufyan, bagaimana kalau engkau mendahului rombongan agar kita bisa berbincang-bincang?” Aku menjawab: “Baiklah.” Maka kami pun melakukannya. Lalu dia bertanya kepadaku: “Wahai Abu Sufyan, bagaimana kabar Utbah bin Rabi’ah?” Aku menjawab: “Mulia kedua ujungnya, dan menjauhi hal-hal yang haram serta kezaliman.” Dia bertanya: “Ya?” Aku menjawab: “Ya.” Dia bertanya: “Dan seorang yang mulia dan sudah tua?” Aku menjawab: “Dan seorang yang mulia dan sudah tua.” Dia berkata: “Usia dan kemuliaan telah membuatnya lemah.” Maka aku berkata kepadanya: “Engkau dusta! Tidaklah bertambah usianya melainkan bertambah pula kemuliaannya.” Dia berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah perkataan yang tidak pernah aku dengar dari seorang pun yang mengatakannya kepadaku sejak aku menyadarinya, jadi jangan terburu-buru menyalahkanku sampai aku memberitahumu.” Aku berkata: “Katakanlah.” Dia berkata: “Sesungguhnya aku mendapati dalam kitab-kitabku tentang seorang nabi yang akan diutus dari tanah kami ini, maka aku mengira, bahkan aku tidak ragu bahwa akulah orangnya. Namun ketika aku mempelajarinya bersama ahli ilmu, ternyata dia berasal dari Bani Abdul Manaf.

Maka aku melihat pada Bani Abdul Manaf dan tidak menemukan seorang pun yang layak untuk perkara ini selain Utbah bin Rabi’ah. Namun ketika engkau memberitahuku tentang usianya, aku mengetahui bahwa bukan dialah orangnya karena telah melewati usia empat puluh tahun dan belum diwahyukan kepadanya.” Abu Sufyan berkata: Lalu masa berlalu sekian lama, kemudian diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku keluar bersama rombongan dari Quraisy menuju Yaman untuk berdagang. Maka aku melewati Umayyah dan aku berkata kepadanya seolah mengejeknya: “Wahai Umayyah, telah keluar nabi yang dahulu engkau sebutkan ciri-cirinya.” Dia berkata: “Sesungguhnya dia adalah benar, maka ikutilah dia.” Aku bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya?” Dia menjawab: “Yang menghalangiku hanyalah rasa malu dari wanita-wanita Tsaqif. Sesungguhnya aku dahulu menceritakan kepada mereka bahwa akulah orangnya, kemudian mereka akan melihatku sebagai pengikut seorang pemuda dari Bani Abdul Manaf!” Kemudian Umayyah berkata: “Dan seakan-akan aku melihatmu wahai Abu Sufyan, jika engkau menentangnya, sungguh engkau akan diikat seperti anak kambing diikat hingga engkau dibawa kepadanya lalu dia memutuskan tentangmu dengan apa yang dia kehendaki.”

Dan berkata Abdurrazzaq: telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Al-Kalbi, dia berkata: Ketika Umayyah sedang tidur dan bersamanya dua orang putrinya, tiba-tiba salah satu dari keduanya terkejut lalu berteriak kepadanya. Dia bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi denganmu?” Dia menjawab: “Aku melihat dua ekor burung elang merobek atap rumah, lalu salah satunya turun kepadamu dan membelah perutmu, sementara yang lain berdiri di atas atap rumah lalu memanggilnya dan berkata: ‘Apakah dia memahami?’ Dia menjawab: ‘Dia memahami.’ Dia bertanya: ‘Apakah dia suci?’ Dia menjawab: ‘Tidak.'” Maka dia berkata: “Itu adalah kebaikan yang ditawarkan kepada ayahmu namun dia tidak menerimanya.”

Dan telah diriwayatkan dari jalur lain dengan redaksi lain. Berkata Ishaq bin Bisyr dari Muhammad bin Ishaq dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyab, dan Utsman bin Abdurrahman dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyab, dia berkata: Datang Al-Fari’ah, saudara perempuan Umayyah bin Abi Ash-Shalt, kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah penaklukan Makkah. Dia adalah seorang wanita yang berakal, cerdas, dan cantik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kagum kepadanya. Suatu hari dia berkata kepadanya: “Wahai Fari’ah, apakah engkau masih mengingat sesuatu dari syair saudaramu?” Dia menjawab: “Ya, dan yang lebih menakjubkan dari itu adalah apa yang telah aku saksikan.” Dia berkata: Saudaraku dalam suatu perjalanan, dan ketika dia kembali, dia memulai dengan mengunjungiku lalu masuk kepadaku dan berbaring di tempat tidurku sementara aku sedang menyamak kulit di tanganku. Tiba-tiba datang dua ekor burung putih atau seperti dua ekor burung putih, salah satunya hinggap di jendela dan yang lain masuk lalu hinggap padanya. Yang hinggap padanya membelah dari dadanya hingga kemaluannya, kemudian memasukkan tangannya ke dalam perutnya lalu mengeluarkan jantungnya dan meletakkannya di telapak tangannya kemudian menciumnya. Lalu burung yang lain bertanya kepadanya: “Apakah dia memahami?” Dia menjawab: “Dia memahami.” Dia bertanya: “Apakah dia suci?” Dia menjawab: “Dia menolak.” Kemudian dia mengembalikan jantung itu ke tempatnya lalu luka itu menutup lebih cepat dari sekejap mata, kemudian keduanya pergi. Ketika aku melihat itu, aku mendekatinya dan menggerakkannya lalu bertanya: “Apakah engkau merasakan sesuatu?” Dia menjawab: “Tidak, kecuali kelemahan di tubuhku.” Dan aku memang ketakutan karena apa yang telah aku lihat. Lalu dia berkata: “Mengapa aku melihatmu ketakutan?” Dia berkata: Maka aku memberitahukan kepadanya peristiwa itu, lalu dia berkata: “Kebaikan yang ditawarkan kepadaku namun aku tidak menerimanya.” Kemudian dia berpaling dariku, lalu mulai melantunkan syair:

Kekhawatiranku terus berdatangan di malam hari yang mendatangiku … kelopak mataku terjaga dan air mata mengalir mendahuluinya

Dari keyakinan yang datang kepadaku dan tidak … kubawa alasan yang dikisahkan oleh yang menuturkannya

Atau dari api yang menyala-nyala padanya yang membakar … api yang mengelilingi mereka dengan tirai-tirainya

Atau aku menempati surga yang dijanjikan … kepada orang-orang yang saleh dengan bantal-bantal yang tersusun rapi

Tidak sama kedua tempat tinggal itu dan juga tidak … amal-amalnya tidak sama jalan-jalannya

Mereka adalah dua kelompok, suatu kelompok masuk … ke surga yang dikelilingi oleh taman-tamannya

Dan suatu kelompok dari mereka telah dimasukkan … ke neraka maka buruk bagi mereka tempat kembalinya

Hati-hati ini saling berjanji jika … bermaksud pada kebaikan menghalangnya penghalang-penghalangnya

Dan menghalanginya karena kesengsaraan dari mencari … surga adalah dunia yang Allah hapuskan

Seorang hamba memanggil dirinya lalu menegurnya … dia tahu bahwa Yang Melihat mengawasinya

Apa keinginan jiwa dalam kehidupan meskipun … dia hidup sebentar karena kematian menyusulnya

Sebentar lagi orang yang lari dari ajalnya … suatu hari tanpa disangka akan bertemu dengannya

Barangsiapa tidak mati dalam keadaan muda akan mati dalam keadaan tua … untuk kematian ada cangkir dan manusia merasakannya

Dia berkata: Kemudian dia pergi ke rumahnya, dan tidak lama kemudian aku mendengar kabar tentang kematiannya. Maka datanglah kabar itu kepadaku lalu aku pergi kepadanya dan mendapatinya telah dimandikan dan dikafani. Aku mendekatinya lalu dia tersentak dan membuka matanya serta melihat ke arah langit-langit dan mengeraskan suaranya, dan berkata:

Aku penuhi panggilan kalian berdua, aku penuhi panggilan kalian berdua … ini aku di hadapan kalian berdua

Tidak memiliki harta untuk menebuskanku dan tidak memiliki keluarga untuk melindungiku. Kemudian dia pingsan lalu tersentak lagi, maka aku berkata: “Sungguh orang ini telah binasa.” Lalu dia membuka matanya menuju langit-langit dan mengeraskan suaranya lalu berkata:

Aku penuhi panggilan kalian berdua, aku penuhi panggilan kalian berdua … ini aku di hadapan kalian berdua

Tidak memiliki pembenaran untuk meminta maaf dan tidak memiliki suku untuk meminta pertolongan. Kemudian dia pingsan lalu tersentak lagi dan membuka matanya serta melihat ke arah langit-langit lalu berkata:

Aku penuhi panggilan kalian berdua, aku penuhi panggilan kalian berdua … ini aku di hadapan kalian berdua

Dengan nikmat-nikmat dilimpahi … dan dengan dosa dihitung

Kemudian dia pingsan lalu tersentak lagi dan berkata:

Aku penuhi panggilan kalian berdua, aku penuhi panggilan kalian berdua … ini aku di hadapan kalian berdua

Jika Engkau ampuni ya Allah Engkau ampuni banyak … dan hamba mana dari hambamu yang tidak berbuat kesalahan

Kemudian dia pingsan lalu tersentak lagi dan berkata:

Setiap kehidupan meskipun lama masanya … akan kembali suatu kali untuk lenyap

Alangkah baiknya aku sebelum yang tampak bagiku … di puncak-puncak gunung menggembalakan kambing gunung

Dia berkata: Kemudian dia meninggal. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai Fari’ah, maka sesungguhnya perumpamaan saudaramu adalah seperti perumpamaan orang yang Allah berikan kepadanya ayat-ayat-Nya lalu dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu” (ayat). Dan Khathabi telah berbicara tentang kata-kata asing dalam hadits ini.

Dan meriwayatkan Al-Hafizh Ibnu Asakir dari Az-Zuhri bahwa dia berkata: Berkata Umayyah bin Abi Ash-Shalt:

Tidakkah ada utusan bagi kami dari kami yang memberitahu kami … apa yang ada setelah tujuan kami dari ujung perjalanan kami

Dia berkata: Kemudian keluarlah Umayyah bin Abi Ash-Shalt menuju Bahrain, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diangkat sebagai nabi, dan Umayyah tinggal di Bahrain selama delapan tahun. Kemudian dia datang ke Thaif lalu berkata kepada mereka: “Apa yang dikatakan Muhammad bin Abdullah?” Mereka berkata: “Dia mengaku sebagai nabi, maka dialah yang dahulu engkau harapkan.” Dia berkata: Maka dia keluar hingga datang kepadanya di Makkah lalu bertemu dengannya dan berkata: “Wahai anak Abdul Muththalib, apa ini yang engkau katakan?” Dia menjawab: “Aku mengatakan: Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan bahwa tidak ada tuhan selain Dia.” Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berbicara denganmu, maka janjikan aku besok.” Dia berkata: “Maka janjimu adalah besok.” Dia berkata: “Apakah engkau suka aku datang kepadamu sendirian atau bersama sekelompok temanku, dan engkau datang kepadaku sendirian atau bersama sekelompok temanmu?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Yang mana saja yang engkau kehendaki.” Dia berkata: “Maka sesungguhnya aku akan datang kepadamu bersama sekelompok orang, maka datanglah bersama sekelompok orang.” Dia berkata: Ketika tiba esok harinya, datanglah Umayyah bersama sekelompok orang Quraisy. Dia berkata: Dan datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersamanya beberapa orang dari sahabatnya hingga mereka duduk di bawah naungan Ka’bah. Dia berkata: Maka Umayyah memulai dengan berpidato kemudian berorasi dengan sajak, kemudian membacakan syair hingga ketika selesai dari syair itu, dia berkata: “Jawablah aku wahai anak Abdul Muththalib.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah (Yasin, surat 36: 1-2) hingga ketika selesai darinya, Umayyah berdiri sambil menyeret kakinya. Dia berkata: Maka Quraisy mengikutinya sambil berkata: “Apa yang engkau katakan wahai Umayyah?” Dia berkata: “Aku bersaksi bahwa dia berada di atas kebenaran.” Mereka bertanya: “Apakah engkau mengikutinya?” Dia berkata: “Sampai aku melihat dalam urusannya.” Dia berkata: Kemudian Umayyah keluar menuju Syam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah. Ketika penduduk Badar terbunuh, datanglah Umayyah dari Syam hingga turun di Badar, kemudian berangkat menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka berkata seseorang: “Wahai Abu Ash-Shalt, apa yang engkau inginkan?” Dia berkata: “Aku ingin menemui Muhammad.” Dia bertanya: “Apa yang akan engkau lakukan?” Dia berkata: “Aku akan beriman kepadanya dan menyerahkan kunci-kunci perkara ini kepadanya.” Dia berkata: “Apakah engkau tahu siapa yang ada di dalam sumur?” Dia berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Di dalamnya ada Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah dan mereka berdua adalah anak paman ibumu” – dan ibunya adalah Rabi’ah binti Abdul Syams. Dia berkata: Maka dia memotong kedua telinga untanya dan memotong ekornya, kemudian berdiri di atas sumur sambil berkata:

Apa yang terjadi di Badar dan Al-Aqanqal … dari para bangsawan yang gagah berani

Qashidah itu hingga akhirnya sebagaimana akan disebutkan secara lengkap dalam kisah Badar insya Allah. Kemudian dia kembali ke Makkah dan Thaif dan meninggalkan Islam. Kemudian disebutkan kisah dua ekor burung dan kisah kematiannya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan disebutkan syairnya ketika wafat:

Setiap kehidupan meskipun lama masanya … akan kembali suatu kali untuk lenyap

Alangkah baiknya aku sebelum yang telah tampak bagiku … di puncak-puncak gunung menggembalakan kambing gunung

Maka jadikanlah kematian di depan matamu dan waspadalah … terhadap keganasan masa karena sesungguhnya bagi masa ada keganasan

Yang mendapatkan cakarnya adalah singa-singa dan banteng-banteng … liar dan anak dalam tempat yang tinggi dan merah

Dan burung pemakan bangkai di gunung-gunung dan kijang yang lari … dan burung unta yang kurus dan kecil

Adapun perkataannya: Al-Qasawirah adalah jamak dari qaswarah yaitu singa, dan ash-shid’an: banteng-banteng liar yang satu disebut shad’, dan ath-thifl asy-syakil: dari kemerahan mata, dan al-baghats: burung bangkai, dan an-niyaf: gunung-gunung, dan al-ya’fur: kijang, dan al-‘awhaj: anak burung unta. Maksudnya bahwa kematian tidak akan lolos darinya binatang-binatang buas di padang pasir dan tidak juga burung bangkai yang tinggal di puncak-puncak gunung, dan tidak meninggalkan yang kecil karena kecilnya dan tidak yang besar karena besarnya. Dan telah berbicara Al-Khathabi dan lainnya tentang kata-kata asing dalam hadits-hadits ini.

Dan telah menyebutkan As-Suhaili dalam kitabnya At-Ta’rif wal-I’lam bahwa Umayyah bin Abi Ash-Shalt adalah orang pertama yang mengatakan: “Dengan namamu ya Allah.” Dan disebutkan pada saat itu kisah yang aneh, yaitu bahwa mereka keluar dalam sekelompok orang dari Quraisy dalam suatu perjalanan dan di antara mereka ada Harb bin Umayyah, ayah Abu Sufyan. Dia berkata: Mereka melewati dalam perjalanan mereka seekor ular lalu membunuhnya. Ketika sore hari datanglah kepada mereka seorang wanita dari jin lalu menegur mereka karena membunuh ular itu, dan bersamanya ada sebatang tongkat. Dia memukul tanah dengan tongkat itu satu pukulan, maka unta-unta itu lari semuanya dan pergi serta tercerai-berai ke setiap arah. Mereka pun pergi dan terus mencarinya hingga mereka mengembalikannya. Ketika mereka berkumpul, wanita itu datang lagi kepada mereka lalu memukul tanah dengan tongkatnya, maka unta-unta itu lari. Mereka pun pergi mencarinya, namun ketika hal itu melelahkan mereka, mereka berkata: “Demi Allah, apakah engkau punya jalan keluar untuk apa yang kami alami ini?” Maka dia berkata: “Tidak, demi Allah, tetapi aku akan memikirkan hal itu.” Dia berkata: Maka dia berjalan di tempat itu berharap menemukan seseorang yang bisa ditanyai tentang kesulitan yang menimpa mereka, tiba-tiba api menyala di kejauhan lalu dia mendatanginya, ternyata seorang lelaki tua di depan pintu tenda sedang menyalakan api, dan ternyata dia dari kalangan jin yang sangat kurus dan buruk rupa. Dia mengucapkan salam kepadanya lalu menanyakan tentang apa yang mereka alami. Maka dia berkata: “Jika dia datang kepadamu, maka katakanlah: Dengan namamu ya Allah, maka dia akan lari.” Ketika mereka berkumpul dan wanita itu datang kepada mereka untuk ketiga dan keempat kalinya, Umayyah berkata di hadapannya: “Dengan namamu ya Allah,” maka dia lari dan tidak ada tempat untuk dia tinggal. Namun jin-jin menyerang Harb bin Umayyah lalu membunuhnya karena ular itu, maka teman-temannya menguburkannya di sana di tempat yang tidak ada tetangga dan tidak ada rumah. Tentang hal itu jin berkata:

Dan kuburan Harb di tempat yang sunyi … dan tidak ada dekat kuburan Harb kuburan lain

Dan disebutkan oleh sebagian mereka bahwa dia terkadang bisa menebak bahasa-bahasa hewan. Dia pernah melewati burung dalam perjalanan lalu berkata kepada teman-temannya: “Sesungguhnya burung ini mengatakan begini dan begitu.” Mereka berkata: “Kami tidak tahu kebenaran apa yang dia katakan.” Hingga mereka melewati kawanan domba yang terpisah darinya seekor domba bersama anaknya. Domba itu menoleh kepadanya lalu mengembek seakan menyuruhnya cepat. Dia berkata: “Apakah kalian tahu apa yang dia katakan kepadanya?” Mereka berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Sesungguhnya dia berkata kepadanya: Cepatlah kita, jangan sampai serigala datang dan memakanmu sebagaimana serigala memakan saudaramu tahun lalu.” Mereka pun bergegas hingga bertanya kepada penggembala: “Apakah serigala memakan untukmu anak domba tahun lalu di tempat itu?” Dia menjawab: “Ya.” Dia berkata: Dan suatu hari dia melewati seekor unta yang di atasnya ada seorang wanita yang mengendarainya dan unta itu mengangkat kepalanya kepadanya sambil merintih. Dia berkata: “Sesungguhnya dia berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau membuatku membawa beban, dan di dalam pelana ada jarum.” Maka mereka menurunkan wanita itu dan membuka pelana itu, ternyata di dalamnya ada jarum sebagaimana yang dia katakan.

Dan Ibnu As-Sikit menyebutkan bahwa Umayyah bin Abi Ash-Shalt ketika sedang minum suatu hari, tiba-tiba bersuara seekor burung gagak. Maka ia berkata kepadanya: “Semoga mulutmu berisi tanah” dua kali. Lalu dikatakan kepadanya: “Apa yang dikatakannya?” Maka ia berkata: “Sesungguhnya ia mengatakan: Sesungguhnya engkau meminum gelas yang ada di tanganmu ini, kemudian engkau bersandar lalu mati.” Kemudian gagak itu bersuara lagi, maka ia berkata: “Sesungguhnya ia mengatakan: Dan tandanya adalah aku akan turun ke tumpukan sampah ini lalu memakan darinya, kemudian tersangkut tulang di tenggorokanku lalu aku mati.” Kemudian gagak itu turun ke tumpukan sampah tersebut lalu memakan sesuatu, maka tersangkutlah tulang di tenggorokannya lalu ia mati. Maka Umayyah berkata: “Adapun gagak ini maka ia telah benar tentang dirinya, tetapi aku akan melihat apakah ia benar tentang diriku atau tidak.” Kemudian ia meminum gelas yang ada di tangannya itu, lalu ia bersandar dan meninggal.

Dan telah tetap dalam shahih dari hadits Ibnu Mahdi dari Ats-Tsauri dari Abdul Malik bin Umair dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kata paling benar yang diucapkan seorang penyair adalah kata Labid: Ketahuilah segala sesuatu selain Allah adalah batil. Dan hampir saja Umayyah bin Abi Ash-Shalt masuk Islam.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maisarah bahwa ia mendengar Amr bin Asy-Syarid berkata: Asy-Syarid berkata: Aku pernah membonceng Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berkata kepadaku: Apakah engkau memiliki sesuatu dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt? Aku berkata: Ya. Beliau berkata: Bacakanlah untukku. Maka aku membacakan untuknya satu bait, dan beliau terus berkata setiap kali aku membacakan untuknya satu bait: Lanjutkan, hingga aku membacakan untuknya seratus bait. Ia berkata: Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam diam, dan aku diam. Dan demikianlah Muslim meriwayatkannya dari hadits Sufyan bin Uyainah dari Ibrahim bin Maisarah dengannya, dan dari berbagai jalan dari Amr bin Asy-Syarid dari ayahnya Asy-Syarid bin Suwaid Ats-Tsaqafi dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan dalam sebagian riwayat: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Hampir saja ia masuk Islam.

Dan Yahya bin Muhammad bin Sha’id berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Abi Shaghirah dari Simak bin Harb dari Amr bin Nafi’ dari Asy-Syarid Al-Hamdani – dan saudara-saudara ibunya adalah Tsaqif – ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada haji wada’, maka ketika aku berjalan suatu hari, tiba-tiba unta jatuh di belakangku, ternyata itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berkata: Asy-Syarid? Aku berkata: Ya. Beliau berkata: Maukah aku membawamu? Aku berkata: Ya, dan tidak ada kelelahan atau kepenatan pada diriku, tetapi aku menginginkan berkah dalam berkendaraan bersamamu ya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau menabuhkan untanya lalu membawaku. Lalu beliau berkata: Apakah engkau memiliki sesuatu dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt? Aku berkata: Ya. Beliau berkata: Mari. Maka aku membacakan untuknya – ia berkata aku menyangka ia berkata – seratus bait. Maka beliau berkata: Di sisi Allah ada ilmu Umayyah bin Abi Ash-Shalt. Kemudian Ibnu Sha’id berkata: Ini hadits gharib. Adapun yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata tentang Umayyah: Syairnya beriman dan hatinya kafir, maka aku tidak mengetahuinya, wallahu a’lam.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad – yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah – telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin Ishaq dari Ya’qub bin Utbah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenarkan Umayyah dalam sesuatu dari syairnya. Ia berkata:

Seorang laki-laki dan lembu di bawah kaki kanannya, dan burung elang untuk yang lain dan singa yang mengintai.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Benar. Dan ia berkata:

Dan matahari muncul setiap akhir malam, merah, warnanya menjadi kemerah-merahan pada pagi hari. Ia enggan maka tidak terbit untuk kami dengan tenang, kecuali tersiksa dan kecuali dicambuk.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Benar. Dan dalam riwayat Abu Bakar Al-Hudzali dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Sesungguhnya matahari tidak terbit hingga tujuh puluh ribu malaikat mendorongnya, mereka berkata kepadanya: Terbitlah, terbitlah. Maka ia berkata: Aku tidak akan terbit atas kaum yang menyembahku selain Allah. Maka ketika ia ingin terbit, datanglah kepadanya setan yang ingin menahannya, maka ia terbit di antara dua tanduknya dan membakarnya. Maka ketika ia condong untuk terbenam, ia terbenam dalam sujud kepada Allah Azza wa Jalla. Maka datanglah kepadanya setan yang ingin menahannya dari sujud, maka ia terbenam dari dua tanduknya dan membakarnya. Ibnu Asakir mengemukakannya secara panjang lebar. Dan dari syairnya tentang malaikat pemikul Arasy:

Maka siapa yang memikul salah satu tiang-tiang Arasy-Nya, dan seandainya tidak ada Tuhan sang Pencipta, semuanya akan lelah dan terbebani. Berdiri di atas kaki mereka, lemah di bawahnya, gemetaran mereka karena sangat takut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dan diriwayatkan dari Al-Ashma’i bahwa ia membaca dari syair Umayyah:

Muliakanlah Allah maka Dia layak untuk dimuliakan, Tuhan kami di langit telah menjadi Maha Besar. Dengan bangunan yang paling tinggi yang mendahului manusia, dan menyamakan di atas langit sebuah singgasana. Sangat tinggi tidak dapat dijangkau oleh pandangan mata, engkau melihat sebelumnya para malaikat dengan leher tertunduk.

Kemudian Al-Ashma’i berkata: Al-mala’ikah adalah jamak dari malak, dan ash-shur adalah jamak dari ashwar yaitu yang miring lehernya, dan mereka ini adalah pemikul Arasy. Dan dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt yang memuji Abdullah bin Jud’an At-Taimi:

Apakah aku sebutkan kebutuhanku ataukah telah cukup bagiku, malumu, sesungguhnya sifatmu adalah malu. Dan pengetahuanmu tentang hak-hak dan engkau adalah cabang, bagimu keturunan yang mulia dan kemuliaan. Mulia tidak mengubahnya pagi hari, dari akhlak yang indah dan tidak malam hari. Berlomba dengan angin dalam kemurahan dan kedermawanan, ketika anjing menahan dinginnya musim dingin. Dan tanahmu adalah tanah yang mulia yang dibangun, oleh Bani Taim dan engkau adalah langitnya. Jika seseorang memujimu suatu hari, cukuplah baginya dari penunjukannya adalah pujian.

Dan untuknya ada pujian-pujian lain. Dan sungguh Abdullah bin Jud’an ini termasuk orang-orang yang dermawan, murah hati yang dipuji dan terkenal. Dia memiliki mangkuk besar yang bisa dimakan pengendara darinya sementara ia di atas untanya, karena luas tepinya dan banyaknya makanannya. Ia mengisinya dengan gandum murni yang dicampur dengan madu dan minyak samin. Ia memerdekakan budak-budak dan menolong dalam kesulitan. Dan Aisyah telah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam apakah itu bermanfaat baginya, maka beliau berkata: Sesungguhnya ia tidak pernah berkata suatu hari dari masa: Ya Tuhanku ampunilah kesalahanku di hari pembalasan. Dan dari syair Umayyah yang indah:

Mereka tidak menggores tanah ketika dimintai, seperti mencari alasan dengan tongkat-tongkat. Bahkan mereka mencerahkan wajah-wajah mereka maka engkau melihatnya, ketika diminta seperti warna-warna yang paling indah. Dan jika orang miskin berdiri di tengah perkemahan mereka, mereka mengembalikannya sebagai pemilik kuda-kuda dan budak-budak perempuan. Dan jika engkau menyeru mereka untuk setiap bencana, mereka menutup sinar matahari dengan para penunggang kuda.

Akhir dari biografi Umayyah bin Abi Ash-Shalt.

Bahira Ar-Rahib

Yang melihat tanda-tanda kenabian pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau bersama pamannya Abu Thalib, ketika tiba di Syam dalam perjalanan dagang bersama orang-orang Makkah, dan umur beliau ketika itu adalah dua belas tahun. Maka ia melihat awan yang menaunginya dari antara mereka, maka ia membuat makanan untuk mereka sebagai jamuan, dan meminta mereka seperti yang akan disebutkan penjelasannya dalam sirah. Dan Tirmidzi telah meriwayatkan tentang itu sebuah hadits yang kami jelaskan pembicaraan padanya di sana. Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir telah mengemukakan untuknya bukti-bukti dan keterangan dalam biografi Bahira dan tidak mengemukakan apa yang diriwayatkan Tirmidzi. Dan ini aneh. Dan Ibnu Asakir menyebutkan bahwa Bahira tinggal di sebuah desa yang disebut: Al-Kafar, antara desa itu dengan Bushra enam mil, dan ia adalah yang disebut: Dair Bahira. Ia berkata: Dan dikatakan: Sesungguhnya ia tinggal di sebuah desa yang disebut: Manfa’ah di Al-Balqa’, di belakang Zaira, wallahu a’lam.

Penyebutan Quss bin Sa’idah Al-Iyadi

Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin Sahl Al-Khara’ithi berkata dalam kitab Hawatif Al-Jinn: Telah menceritakan kepada kami Dawud Al-Qanthiri, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Al-Masyriqi dari Abu Al-Harits Al-Warraq dari Tsaur bin Yazid dari Muwarriq Al-Ajli dari Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata: Ketika delegasi Iyad datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata: Wahai sekalian delegasi Iyad, apa yang terjadi dengan Quss bin Sa’idah Al-Iyadi? Mereka berkata: Ia telah meninggal ya Rasulullah. Beliau berkata: Sungguh aku pernah menyaksikannya suatu hari di pasar Ukadz di atas unta merah, ia berbicara dengan kata-kata yang menakjubkan dan indah, aku tidak mendapatkan diriku menghafalnya. Maka berdirilah kepadanya seorang Arab Badui dari ujung kaum, lalu berkata: Aku menghafalnya ya Rasulullah. Ia berkata: Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam gembira dengan itu. Ia berkata: Maka ia berada di pasar Ukadz di atas unta merah, dan ia berkata: Wahai sekalian manusia berkumpullah, maka setiap yang terlewat telah terlewat, dan setiap sesuatu yang datang akan datang. Malam yang gelap dan langit yang memiliki bintang-bintang, dan laut yang bergelombang, bintang-bintang yang bersinar, dan gunung-gunung yang tertancap, dan sungai-sungai yang mengalir. Sesungguhnya di langit ada berita, dan sesungguhnya di bumi ada pelajaran. Mengapa aku melihat manusia pergi dan tidak kembali? Apakah mereka ridha dengan tempat tinggal maka mereka tinggal, ataukah mereka ditinggalkan maka mereka tidur? Quss bersumpah dengan Allah dengan sumpah yang tidak ada keraguan padanya, sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih diridhai daripada agama kalian ini. Kemudian ia mulai mengatakan:

Di antara orang-orang yang pergi terdahulu, dari generasi-generasi untuk kami ada pelajaran. Ketika aku melihat tempat-tempat datangnya kematian, tidak ada tempat keluarnya. Dan aku melihat kaumku menuju ke sana, yang kecil dan yang besar berjalan. Tidak ada yang berlalu datang kepadamu, dan tidak ada dari yang tersisa yang hilang. Aku yakin bahwa aku tak terelakkan, di mana kaum telah pergi, aku akan pergi.

Dan ini sanad yang gharib dari jalan ini. Dan Al-Thabrani telah meriwayatkannya dari jalan lain, maka ia berkata dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin As-Sirri bin Mihran bin An-Naqid Al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hassan As-Simti, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hajjaj dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Ibnu Abbas, ia berkata: Delegasi Abdulqais datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berkata: Siapa di antara kalian yang mengenal Quss bin Sa’idah Al-Iyadi? Mereka berkata: Semuanya mengenalnya ya Rasulullah. Beliau berkata: Apa yang terjadi dengannya? Mereka berkata: Ia telah meninggal. Beliau berkata: Maka aku tidak melupakannya di Ukadz pada bulan haram, dan ia di atas unta merah, dan ia berkhutbah kepada manusia dan ia berkata: Wahai sekalian manusia berkumpullah dan dengarkanlah dan pahamilah, siapa yang hidup akan mati, dan siapa yang mati telah terlewat, dan semua yang datang akan datang. Sesungguhnya di langit ada berita, dan sesungguhnya di bumi ada pelajaran. Hamparan yang diletakkan, dan langit yang ditinggikan, dan bintang-bintang yang bergerak, dan laut-laut yang tidak tenggelam. Dan Quss bersumpah dengan sumpah yang benar, jika pada perkara ada keridaan pasti akan ada setelahnya kemarahan. Sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih dicintai-Nya daripada agama kalian yang kalian berada padanya. Mengapa aku melihat manusia pergi dan tidak kembali? Apakah mereka ridha dengan tempat tinggal maka mereka tinggal, ataukah mereka ditinggalkan maka mereka tidur? Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Apakah di antara kalian ada yang meriwayatkan syairnya? Maka sebagian mereka membacakan untuknya:

Di antara orang-orang yang pergi terdahulu, dari generasi-generasi untuk kami ada pelajaran. Tidakkah aku melihat tempat-tempat datangnya, kematian tidak ada tempat keluarnya. Dan aku melihat kaumku menuju ke sana, yang kecil dan yang besar berjalan. Tidak kembali yang telah berlalu, dan tidak dari yang tersisa yang hilang. Aku yakin bahwa aku tak terelakkan, di mana kaum telah pergi, aku akan pergi.

Dan demikianlah Al-Hafizh Al-Baihaqi mengemukakannya dalam kitabnya Dala’il An-Nubuwwah, dari jalan Muhammad bin Hassan As-Simti dengannya. Dan demikianlah kami meriwayatkannya dalam juz yang dikumpulkan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih dalam berita-berita Quss. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Karim bin Al-Haitsam Ad-Dair Aquli dari Sa’id bin Syabib dari Muhammad bin Al-Hajjaj dari Ibrahim Al-Wasithi yang tinggal di Baghdad, dan dikenal dengan penjual hariisah dengannya. Dan Yahya bin Ma’in, Abu Hatim Ar-Razi dan Ad-Daraquthni telah mendustakannya, dan lebih dari satu orang telah menuduhnya, di antaranya Ibnu Adi dengan memalsu hadits. Dan Al-Bazzar, Abu Nu’aim telah meriwayatkannya dari hadits Muhammad bin Al-Hajjaj ini. Dan Ibnu Durustawaih, Abu Nu’aim meriwayatkannya dari jalan Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Dan jalan ini lebih baik dari yang sebelumnya, dan di dalamnya bahwa Abu Bakar adalah yang mengemukakan kisah secara lengkap, nadzamnya dan natsrnya di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Al-Hafizh Abu Nu’aim meriwayatkannya dari hadits Ahmad bin Musa bin Ishaq Al-Hathmi, telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Husain bin Muhammad Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Abu Hatim As-Sijistani, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir dari Muhammad bin Ishaq dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Ibnu Abbas, ia berkata: Delegasi Bakr bin Wa’il datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berkata kepada mereka: Apa yang terjadi dengan sekutu kalian yang disebut: Quss bin Sa’idah Al-Iyadi? Dan ia menyebutkan kisah secara panjang lebar.

Dan telah mengabarkan kepada kami Syaikh Musnad Rahlah Ahmad bin Abi Thalib Al-Hajjar dengan ijazah jika bukan dengan cara mendengar langsung, ia berkata: telah memberi ijazah kepada kami Ja’far bin Ali Al-Hamdani, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Al-Hafizh Abu Thahir Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim As-Salafi dengan cara mendengar langsung, dan aku membacakan kepada Syaikh kami Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabi, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Al-Hasan bin Ali bin Abi Bakr Al-Khallal dengan cara mendengar langsung, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ali dengan cara mendengar langsung, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami As-Salafi dengan cara mendengar langsung, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim Ar-Razi, telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ahmad Isa As-Sa’di, telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Qasim Ubaidillah bin Ahmad bin Ali Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih An-Nahwi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim bin Ahmad As-Sa’di – hakim Fars – telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Sulaiman bin Saif bin Yahya bin Dirham Ath-Tha’i dari penduduk Harran, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Sa’id bin Bazi’ dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku sebagian sahabat kami dari kalangan ahli ilmu dari Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia berkata:

Al-Jarud bin Al-Mu’alla bin Hanasy bin Mu’alla Al-Abdi adalah seorang Nashrani yang memiliki pemahaman baik tentang tafsir kitab-kitab suci dan takwilnya, ahli dalam sejarah Persia dan perkataan-perkataannya, menguasai filsafat dan kedokteran, tampak kecerdasannya dan adabnya, sempurna keindahannya, memiliki kekayaan dan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan bersama sejumlah lelaki dari Abdul Qais yang memiliki pandangan, usia dewasa, fasih berbicara, jelas bicaranya, serta memiliki hujah dan dalil. Ketika ia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berdiri di hadapannya dan memberi isyarat kepadanya, kemudian mulai mengucapkan syair:

Wahai Nabi petunjuk, datanglah kepadamu kaum lelaki, Yang telah melalui padang dan gundukan demi gundukan, Dan melintasi sahara menuju kepadamu dengan penuh rindu, Tidak menganggap kelelahan dalam mencarimu sebagai kelelahan, Setiap padang tandus yang melelahkan pandangan, Kami pacu unta-unta kami dengan cepat, Dan unta-unta pilihan melipatnya sambil berlari, Dengan para pemberani bagai bintang-bintang yang bersinar, Mengharap penolakan azab di hari yang dahsyat, Yang mengerikan, menyakitkan hati dan menakutkan, Dan bekal untuk padang mahsyar seluruh makhluk, Dan pemisah bagi siapa yang terus-menerus dalam kesesatan, Menuju cahaya dari Allah dan kebaikan, Serta kebajikan dan nikmat yang akan diperoleh, Allah mengkhususkanmu wahai putra Aminah dengan kebaikan, Ketika ia datang berturut-turut, Maka jadikanlah bagian darimu wahai hujjatullah, Berlimpah, bukan bagian yang tipis dan hampa.

Ia berkata: Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mendekatkannya dan memuliakan majelisnya, dan berkata kepadanya: “Wahai Jarud, sungguh telah tertunda yang dijanjikan tentangmu dan kaummu.” Maka Al-Jarud berkata: tebuslah engkau dengan ayah dan ibuku, adapun orang yang terlambat darimu maka sungguh ia telah kehilangan bagiannya, dan itu adalah dosa yang paling besar dan hukuman yang paling keras. Dan aku bukan termasuk orang yang melihatmu atau mendengar tentangmu lalu melewatkanmu dan mengikuti selain engkau. Dan sekarang aku berada pada agama yang telah aku ketahui dengannya, aku datang kepadamu, dan ini aku akan meninggalkannya untuk agamamu. Apakah itu termasuk yang akan menghapus dosa-dosa, kesalahan-kesalahan, dan dosa-dosa besar? Dan akan memuaskan Tuhan terhadap hambaNya? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Aku jamin untukmu itu, dan ikhlaslah sekarang kepada Allah dengan tauhid, dan tinggalkan agama Nashrani.” Maka Al-Jarud berkata: tebuslah engkau dengan ayah dan ibuku, ulurkan tanganmu maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa engkau Muhammad adalah hamba dan rasulNya.

Ia berkata: Maka ia masuk Islam dan bersamanya masuk Islam pula beberapa orang dari kaumnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bergembira dengan keislaman mereka, dan menampakkan penghormatan kepada mereka sehingga mereka gembira dan bergembira dengannya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadap kepada mereka seraya bertanya: “Apakah di antara kalian ada yang mengenal Quss bin Sa’idah Al-Iyadi?” Maka Al-Jarud berkata: tebuslah engkau dengan ayah dan ibuku, kami semua mengenalnya, dan aku di antara mereka adalah yang paling mengetahui beritanya dan mengetahui urusannya. Quss wahai Rasulullah adalah salah seorang bangsawan Arab, ia hidup selama enam ratus tahun, menghabiskan lima masa kehidupan di padang-padang sahara dan padang tandus, bersuara dengan tasbih seperti Al-Masih, tidak tenang di satu tempat, tidak berdiam di satu rumah, dan tidak bergaul dengan tetangga. Ia mengenakan kain wol, mengungguli para pengembara, dan tidak pernah berhenti dari kehidupan rahib. Dalam pengembaraannya ia meminum telur burung unta, merasa tenang dengan binatang-binatang melata, dan menikmati kegelapan. Ia melihat lalu mengambil pelajaran, berpikir lalu menahan diri, sehingga menjadi orang yang satu-satunya yang dengannya ditetapkan perumpamaan-perumpamaan tentang kebijaksanaannya, dan dengannya tersingkap hal-hal yang menakutkan. Ia bertemu dengan pemimpin para hawari Sim’an, dan ia adalah orang Arab pertama yang bertuhan, mengesakan Allah, mengakui, beribadah, meyakini kebangkitan dan hisab, memperingatkan buruknya tempat kembali, memerintahkan beramal sebelum terlambat, menasihati dengan kematian, menerima takdir dengan rida dan tidak dengan kemarahan, mengunjungi kubur-kubur dan menyebut kebangkitan, menyeru dengan syair-syair, merenungkan takdir, memberitakan tentang langit dan pertumbuhan, menyebutkan bintang-bintang dan menjelaskan air, menggambarkan lautan dan mengetahui jejak-jejak, berkhutbah sambil mengendarai, menasihati terus-menerus, memperingatkan dari kesedihan dan dari kekerasan amarah, mengirim surat-surat, menyebutkan setiap yang menakutkan, tunduk dalam khutbah-khutbahnya dan menjelaskan dalam tulisan-tulisannya, menakut-takuti masa dan memperingatkan dosa, mengagungkan urusan, menjauhkan dari kekufuran, membuat rindu kepada agama Hanif, menyeru kepada ketuhanan. Dan ia adalah yang berkata di hari Ukazh:

Timur dan barat, yatim dan kelompok, damai dan perang, kering dan basah, asin dan tawar, matahari dan bulan, angin dan hujan, malam dan siang, betina dan jantan, orang-orang baik dan orang-orang durhaka, biji dan tumbuhan, ayah dan ibu, yang berkumpul dan yang tercerai-berai, dan tanda-tanda yang diikuti oleh tanda-tanda lain, cahaya dan kegelapan, kemudahan dan ketiadaan, Tuhan dan berhala-berhala, sungguh telah sesat manusia. Adanya kelahiran, penguburan bayi hidup-hidup dan pemeliharaan yang dipanen, orang miskin dan kaya, orang yang berbuat baik dan yang berbuat buruk, celakalah para penguasa kelalaian agar orang yang beramal memperbaiki amalnya dan orang yang berharap kehilangan harapannya. Tidak, bahkan Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak dilahirkan dan tidak melahirkan, mengembalikan dan menciptakan, mematikan dan menghidupkan, menciptakan laki-laki dan perempuan, Tuhan akhirat dan dunia. Amma ba’du, wahai para pemuda Iyad, di mana Tsamud dan ‘Ad? Dan di mana para ayah dan kakek? Dan di mana orang sakit dan penjenguk? Setiap orang memiliki tempat kembali. Quss bersumpah demi Tuhan para hamba dan yang membentangkan hamparan, pasti kalian akan dibangkitkan secara sendiri-sendiri di hari seruan, ketika ditiup sangkakala dan dipukul nakir, dan bumi bersinar, dan penasihat menasihati lalu orang yang putus asa menyingkir dan orang yang memperhatikan melihat. Maka celakalah bagi orang yang berpaling dari kebenaran yang nyata dan cahaya yang terang dan pemaparan yang lebih besar di hari pemisahan, dan timbangan keadilan ketika Yang Mahakuasa memutuskan dan yang memberi peringatan bersaksi dan penolong menjauh dan kekurangan tampak, maka satu golongan di surga dan satu golongan di neraka.

Dan ia adalah yang berkata:

Hati mengingat dengan hatinya ingatan, Dan malam-malam yang berlalu yang memiliki siang, Dan hujan deras yang turun dari awan, Yang mengeluarkan air dan di dalamnya ada api, Cahayanya membutakan mata dan guntur, Yang keras di cakrawala bergerak, Dan istana-istana yang kokoh yang menampung kebaikan, Dan lainnya yang kosong yang di dalamnya ada padang tandus, Dan gunung-gunung yang menjulang yang tetap dan lautan, Yang airnya melimpah, Dan bintang-bintang yang bersinar dalam kegelapan malam, Kita melihatnya setiap hari berputar, Kemudian matahari yang dikejar oleh bulan malam, Dan semuanya mengikuti yang bergerak, Dan yang kecil dan yang beruban dan yang besar, Semuanya di padang akan dikunjungi suatu hari, Banyak yang tidak dapat dijangkau oleh dugaannya, Pemikir yang tidak bingung, Maka apa yang telah disebutkan menunjukkan kepada Allah, Jiwa-jiwa yang memiliki petunjuk dan pelajaran.

Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Apa pun yang aku lupa, aku tidak akan lupa dia di pasar Ukazh, berdiri di atas unta merah, berkhutbah kepada manusia: ‘Berkumpullah dan dengarlah, dan jika kalian mendengar maka pahamilah, dan jika kalian memahami maka ambillah manfaatnya dan katakanlah, dan jika kalian berkata maka jujurlah. Siapa yang hidup akan mati, dan siapa yang mati telah lewat, dan semua yang akan datang pasti datang. Hujan dan tumbuhan, makhluk hidup dan kematian, malam yang gelap dan langit yang memiliki bintang-bintang, dan bintang-bintang yang bersinar, dan lautan yang bergolak, dan cahaya dan kegelapan, dan malam dan hari-hari, dan kebajikan dan dosa. Sesungguhnya di langit ada berita, dan sesungguhnya di bumi ada pelajaran, membingungkan pandangan. Hamparan yang terbentang, dan atap yang terangkat, dan bintang-bintang yang terbenam, dan lautan yang tidak meluap, dan kematian yang berputar, dan masa yang pengkhianat seperti ujung mistar dan timbangan yang seimbang. Quss bersumpah dengan sumpah yang tidak dusta di dalamnya dan tidak berdosa, jika dalam urusan ini ada keridhaan pasti akan ada kemarahan.’ Kemudian ia berkata: ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih Dia cintai daripada agama kalian yang kalian berada padanya ini. Dan ini adalah masanya dan waktunya.’ Kemudian ia berkata: ‘Mengapa aku melihat manusia pergi dan tidak kembali, apakah mereka rida dengan tempat tinggal lalu menetap, ataukah mereka ditinggalkan lalu tidur?'”

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menoleh kepada sebagian sahabatnya seraya bertanya: “Siapa di antara kalian yang meriwayatkan syairnya untuk kami?” Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: tebuslah engkau dengan ayah dan ibuku, aku menyaksikannya pada hari itu ketika ia berkata:

Pada orang-orang yang telah pergi yang pertama, Dari generasi-generasi, bagi kami ada pelajaran, Ketika aku melihat tempat-tempat kedatangan, Untuk kematian yang tidak memiliki tempat keluar, Dan aku melihat kaumku menuju ke sana, Berjalan yang kecil-kecil dan yang besar-besar, Tidak kembali yang telah pergi kepadaku, Dan tidak dari yang tersisa yang luput, Aku yakin bahwa aku pasti, Akan menuju ke mana kaum pergi.

Ia berkata: Maka bangkit kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seorang syaikh dari Abdul Qais yang kepalanya besar, tinggi tubuhnya, jauh jarak antara kedua bahunya, lalu berkata: tebuslah engkau dengan ayah dan ibuku, dan aku melihat dari Quss sesuatu yang menakjubkan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apa yang engkau lihat wahai saudaraku dari Bani Abdul Qais?” Maka ia berkata: aku keluar di masa mudaku, empat ekor untaku melarikan diri dariku lalu aku pergi melacak jejaknya di padang-padang tandus yang memiliki bukit-bukit kecil dan lapangan-lapangan luas, di antara dada-dada pohon muda, dan semak lebat, dan padang gelap, dan dataran tinggi keputihan. Sementara aku di padang-padang itu berkeliling di padangnya dan memperhatikan datarnya, tiba-tiba aku berada di sebuah bukit, di elevasinya ada pohon arak yang buahnya hitam subur, dan dahan-dahannya menggantung seolah-olah buahnya adalah biji lada, dan bunga aster yang menjulang, dan mata air yang mengalir, dan taman yang menghijau, dan pohon yang rindang. Dan tiba-tiba aku berada di depan Quss bin Sa’idah di bawah pohon itu dan di tangannya ada tongkat. Aku mendekatinya dan berkata kepadanya: selamat pagi. Maka ia berkata: dan engkau pun selamat pagi. Dan sungguh telah datang ke mata air itu banyak binatang buas, dan setiap kali seekor binatang buas pergi untuk minum dari mata air sebelum temannya, Quss memukulnya dengan tongkat yang ada di tangannya, dan berkata: “Sabarlah hingga yang sebelummu minum.” Maka aku sangat terkejut dengan itu, dan ia melihat kepadaku lalu berkata: “Jangan takut.” Dan tiba-tiba ada dua kuburan, di antaranya ada masjid. Maka aku berkata: apa kedua kuburan ini? Ia berkata: kuburan dua saudara yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla di tempat ini, maka aku tinggal di antara kubur mereka berdua beribadah kepada Allah hingga aku menyusul mereka berdua. Maka aku berkata kepadanya: tidakkah engkau menyusul kaummu agar engkau bersama mereka dalam kebaikan mereka, dan engkau membedakan dirimu dari kejahatan mereka? Maka ia berkata kepadaku: ibumu kehilangan dirimu, tidakkah engkau tahu bahwa keturunan Ismail meninggalkan agama ayah mereka, dan mengikuti perlawanan, dan mengagungkan tandingan-tandingan? Kemudian ia menghadap kepada dua kuburan, dan mulai berkata:

Wahai dua kekasihku, bangunlah, sudah lama kalian tidur, Sungguhkah kalian berdua tidak menyelesaikan tidur kalian, Aku melihat tidur di antara kulit dan tulang dari kalian berdua, Seolah-olah yang memberi minum minuman keras memberi minum kalian berdua, Apakah karena lamanya tidur kalian tidak menjawab yang memanggil, Seolah-olah yang memberi minum minuman keras memberi minum kalian berdua, Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku di Najran sendirian, Dan tidak ada bagiku di dalamnya kekasih selain kalian berdua, Tinggal di kuburan kalian berdua, aku tidak akan pergi, Sepanjang malam-malam atau sampai gaung kalian menjawab, Apakah aku menangisi kalian berdua sepanjang hidup, dan apa yang, Mengembalikan kepada yang mempunyai kesedihan bahwa ia menangisi kalian berdua, Jika dijadikan jiwa sebagai tebusan jiwa seseorang, Aku akan memberi jiwaku agar menjadi tebusan kalian berdua, Seolah-olah kalian berdua dengan kematian yang lebih dekat tujuannya, Dengan rohku di kuburan kalian berdua sungguh telah datang kepada kalian berdua.

Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Semoga Allah merahmati Quss, adapun ia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat tersendiri.” Dan hadits ini sangat gharib (asing) dari jalan ini dan ia adalah mursal kecuali jika Al-Hasan mendengarnya dari Al-Jarud. Wallahu a’lam.

Telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hafiz Abu Al-Qasim Ibnu Asakir dari jalur lain dari hadits Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Said Al-Quraisyi Al-Akhbari, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Ali bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Ali dari Ali bin Abdullah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Al-Jarud bin Abdullah datang, lalu ia menyebutkan kisah yang serupa atau hampir sama dengan yang panjang lebar disertai tambahan-tambahan yang banyak dalam syair dan prosa yang teratur. Di dalamnya disebutkan tentang orang yang kehilangan untanya lalu pergi mencarinya. Ia berkata: Aku bermalam di suatu lembah, aku tidak merasa aman di dalamnya terhadap kematianku dan tidak bersandar kecuali kepada pedangku. Aku bermalam memperhatikan bintang dan mengamati kegelapan hingga ketika malam telah hampir berakhir dan subuh hampir menyingsing, seseorang menyeruku dengan berkata:

Wahai engkau yang tertidur di malam yang kelam… Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang nabi di tanah Haram

Dari Bani Hasyim, keluarga yang menepati janji dan mulia… Ia menerangi kegelapan-kegelapan yang pekat dan kabut

Ia berkata: Maka aku memutar pandanganku namun aku tidak melihat sosoknya dan tidak mendengar suaranya. Ia berkata: Lalu aku mengucapkan:

Wahai penyeru dalam kegelapan malam yang pekat… Selamat datang dan selamat sejahtera bagimu wahai penampakan yang datang

Semoga Allah memberimu petunjuk dalam nada bicaramu… Apakah yang engkau serukan yang patut diambil

Ia berkata: Tiba-tiba aku mendengar suara berdehem, dan seseorang berkata: Cahaya telah muncul dan kebatilan telah sirna, dan Allah telah mengutus Muhammad dengan kabar gembira, pemilik unta merah, mahkota, penutup kepala, wajah yang berseri, alis yang seperti bulan, dan mata yang indah. Pemilik kalimat syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan dialah Muhammad yang diutus kepada orang-orang hitam dan putih, penduduk kota dan pedalaman. Kemudian ia mengucapkan:

Segala puji bagi Allah yang… Tidak menciptakan makhluk dengan sia-sia

Tidak meninggalkan kami suatu hari terlantar… Setelah Isa dan Dia peduli

Dia mengutus di antara kami Ahmad… Sebaik-baik nabi yang diutus

Semoga Allah memberikan shalawat kepadanya selama… Jamaah haji pergi ke Baitullah dan bergegas

Dan di dalamnya terdapat syair dari Quss bin Sa’idah:

Wahai penyeru kematian dan orang yang terbaring di liang kubur… Di atas mereka dari sisa pembicaraan mereka adalah sobekan

Biarkanlah mereka karena sesungguhnya bagi mereka ada hari dimana mereka akan dipanggil… Mereka akan terbangun dari tidur mereka dalam keadaan gelisah

Hingga mereka kembali dalam keadaan yang berbeda dari keadaan mereka… Ciptaan baru sebagaimana mereka diciptakan sebelumnya

Di antara mereka ada yang telanjang dan di antara mereka ada yang berpakaian… Di antaranya ada yang baru dan di antaranya pakaian yang lusuh

Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Muhammad bin Abdullah bin Yusuf bin Ahmad Al-Ashbahani, ia berkata: Abu Bakr Ahmad bin Said bin Fardhakh Al-Ikhmimi menceritakan kepada kami di Mekah, Al-Qasim bin Abdullah bin Mahdi menceritakan kepada kami, Abu Abdullah bin Mahdi menceritakan kepada kami, Abu Ubaidillah Said bin Abdurrahman Al-Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Abu Hamzah Ats-Tsumali dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkan kisahnya dan menyebutkan syair. Ia berkata: Mereka menemukan di dekat kepalanya sebuah lembaran yang berisi:

Wahai penyeru kematian dan orang-orang mati di liang kubur… Di atas mereka dari sisa tidur mereka adalah sobekan

Biarkanlah mereka karena sesungguhnya bagi mereka ada hari dimana mereka akan dipanggil… Sebagaimana terbangunnya orang yang tersambar petir dari tidurnya

Di antara mereka ada yang telanjang dan mayat dalam pakaian mereka… Di antaranya ada yang baru dan di antaranya pakaian biru yang lusuh

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya Quss telah beriman kepada hari kebangkitan. Asal kisahnya terkenal, dan jalur-jalur ini meskipun lemah namun saling menguatkan untuk menetapkan asal kisah ini. Dan Abu Muhammad Ibnu Durustawaih telah berbicara tentang kata-kata asing yang terdapat dalam hadits-hadits ini.

Al-Baihaqi berkata: Abu Saad bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syuaitsi memberitahukan kepada kami, Abu Amr bin Abi Thahir Al-Muhammadabadzi menceritakan kepada kami secara lafaz, Abu Lubabah Muhammad bin Al-Mahdi Al-Ibiyurdi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Said bin Hubairah menceritakan kepada kami, Al-Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Anas bin Malik, ia berkata: Delegasi Iyad datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bertanya: Bagaimana kabar Quss bin Sa’idah? Mereka menjawab: Dia telah meninggal. Beliau bersabda: Sungguh aku mendengar darinya suatu perkataan yang sepertinya aku masih menghafalnya. Sebagian kaum berkata: Kami menghafalnya wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sampaikan. Salah seorang dari mereka berkata: Aku sedang berdiri di pasar Ukaz lalu ia berkata: Wahai sekalian manusia, dengarkanlah dan simak, dan pahamilah. Setiap yang hidup akan mati, dan setiap yang mati akan lenyap, dan setiap yang akan datang pasti datang. Malam yang gelap, langit yang memiliki gugusan bintang, bintang-bintang yang bersinar, lautan yang berombak besar, gunung-gunung yang kokoh, dan sungai-sungai yang mengalir. Sesungguhnya di langit ada berita, dan sesungguhnya di bumi ada pelajaran. Aku melihat manusia mati dan tidak kembali. Apakah mereka ridha dengan menetap maka mereka tinggal, ataukah mereka ditinggalkan lalu mereka tidur? Quss bersumpah dengan nama Allah dalam sumpah yang tidak ada dosa padanya, sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih diridhai daripada apa yang kalian anut. Kemudian ia melanjutkan dengan mengucapkan:

Pada orang-orang yang telah pergi dahulu… Dari generasi-generasi terdapat pelajaran bagi kami

Ketika aku melihat tempat-tempat datangnya… Kematian yang tidak ada jalan keluarnya

Dan aku melihat kaumku menuju ke sana… Yang berjalan adalah anak-anak kecil dan orang-orang dewasa

Aku meyakini bahwa aku pasti… Ke tempat dimana kaum telah pergi sebagai orang yang pergi

Kemudian Al-Baihaqi menyampaikannya dari jalur-jalur lain yang telah kami sebutkan sebelumnya. Kemudian ia berkata setelah itu semua: Dan hadits ini telah diriwayatkan dari Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas dengan tambahan dan pengurangan. Dan diriwayatkan dari jalur lain dari Al-Hasan Al-Bashri secara terputus. Dan diriwayatkan secara ringkas dari hadits Saad bin Abi Waqqash dan Abu Hurairah. Aku (pengarang) berkata: Dan Ubadah bin Ash-Shamit sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan Abdullah bin Mas’ud sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Ad-Dala’il dari Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al-Washithi dari Abu Al-Walid Tharif bin Ubaidillah maula Ali bin Abi Thalib di Maushal dari Yahya bin Abdul Hamid Al-Hammani dari Abu Muawiyah dari Al-A’masy dari Abu Ad-Dhuha dari Masruq dari Ibnu Mas’ud, lalu ia menyebutkannya. Abu Nuaim juga meriwayatkan hadits Ubadah yang telah disebutkan sebelumnya, dan Saad bin Abi Waqqash. Kemudian Al-Baihaqi berkata: Dan apabila hadits diriwayatkan dari jalur-jalur lain, meskipun sebagiannya lemah, hal itu menunjukkan bahwa hadits tersebut memiliki asal. Wallahu a’lam.

Zaid bin Amr bin Nufail Radhiyallahu anhu

Ia adalah Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka’b bin Luay Al-Quraisyi Al-Adawi. Al-Khaththab, ayah dari Umar bin Al-Khaththab, adalah pamannya dan saudara seibu dengannya. Hal itu karena Amr bin Nufail telah menikahi istri ayahnya setelah ayahnya meninggal, dan istri tersebut memiliki anak dari Nufail yaitu saudaranya Al-Khaththab. Demikian dikatakan oleh Az-Zubair bin Bakkar dan Muhammad bin Ishaq. Zaid bin Amr telah meninggalkan penyembahan berhala dan meninggalkan agama mereka. Ia tidak memakan kecuali yang disembelih atas nama Allah semata. Yunus bin Bukair berkata dari Muhammad bin Ishaq: Hisyam bin Urwah menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata: Sungguh aku pernah melihat Zaid bin Amr bin Nufail menyandarkan punggungnya ke Ka’bah sambil berkata: Wahai sekalian Quraisy, demi Dzat yang jiwa Zaid berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku. Kemudian ia berkata: Ya Allah, seandainya aku tahu muka mana yang paling Engkau cintai niscaya aku akan beribadah kepada-Mu dengan cara itu, tetapi aku tidak tahu. Kemudian ia bersujud di atas telapak tangannya. Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Usamah dari Hisyam dengannya, dan ia menambahkan: Dan ia shalat menghadap Ka’bah dan berkata: Tuhanku adalah Tuhan Ibrahim, dan agamaku adalah agama Ibrahim. Ia menghidupkan bayi perempuan yang hendak dikubur hidup-hidup, dan ia berkata kepada seseorang yang hendak membunuh anak perempuannya: Jangan bunuh dia, serahkan dia kepadaku, aku akan menanggungnya. Ketika ia sudah besar, ia berkata: Jika kamu mau ambillah dia, dan jika kamu mau serahkan padaku. Hadits ini dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari jalur Abu Usamah, dan digantung oleh Al-Bukhari, ia berkata: Dan Al-Laits berkata: Hisyam bin Urwah menulis kepadaku dari ayahnya dengannya.

Yunus bin Bukair berkata dari Muhammad bin Ishaq: Ada beberapa orang dari Quraisy yaitu Zaid bin Amr bin Nufail, Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, Utsman bin Al-Huwairits bin Asad bin Abdul Uzza, dan Ubaidullah bin Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanam bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah. Ibunya adalah Umaimah binti Abdul Muththalib, dan saudara perempuannya adalah Zainab binti Jahsy yang menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah bekas budaknya Zaid bin Haritsah sebagaimana akan dijelaskan nanti. Mereka menghadiri acara Quraisy di sebuah berhala milik mereka yang biasa mereka sembelih untuknya pada salah satu hari raya mereka. Ketika mereka berkumpul, sebagian dari orang-orang tersebut menyendiri dengan sebagian yang lain, dan mereka berkata: Jujurlah kalian, dan rahasiakan oleh sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Salah seorang dari mereka berkata: Ketahuilah demi Allah kaum kalian tidak berada di atas sesuatu yang benar. Sungguh mereka telah salah dalam agama Ibrahim dan menyalahinya. Berhala apa yang disembah yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak memberi manfaat? Maka carilah untuk diri kalian. Maka mereka keluar mencari dan berjalan di bumi mencari Ahli Kitab dari orang-orang Yahudi, Nasrani, dan semua agama, mencari dan menanyakan tentang Ahli Kitab terdahulu tentang agama Ibrahim, dan bertanya tentangnya. Ia tidak berhenti dalam hal itu menurut yang mereka duga hingga ia sampai ke Maushal dan seluruh Jazirah, kemudian ia datang hingga sampai ke Syam lalu ia berkeliling di sana hingga ia menemui seorang rahib di sebuah gereja di daerah Al-Balqa yang kepadanya berakhir ilmu Nasrani menurut yang mereka duga. Ia bertanya kepadanya tentang Hanifiyyah agama Ibrahim. Rahib tersebut berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu bertanya tentang agama yang kamu tidak akan menemukan orang yang dapat membimbingmu kepadanya hari ini. Sungguh ilmunya telah hilang dan orang-orang yang mengetahuinya telah tiada. Tetapi telah dekat keluarnya seorang nabi dan ini adalah zamannya. Ia telah mempelajari Yahudi dan Nasrani tetapi tidak ridha dengan keduanya. Maka ia keluar dengan cepat setelah rahib tersebut mengatakan apa yang ia katakan, hendak menuju Mekah. Hingga ketika ia berada di tanah Lakhm, mereka menyerangnya lalu membunuhnya. Maka Waraqah meratapi kematiannya:

Engkau mendapat petunjuk dan mendapat nikmat wahai anak Amr, dan sesungguhnya… Engkau telah menghindari api neraka yang membara

Dengan agamamu kepada Tuhan yang tidak ada Tuhan seperti-Nya… Dan dengan meninggalkanmu berhala-berhala Thawaghit sebagaimana adanya

Dan sungguh rahmat Tuhannya akan mencapai manusia… Meskipun ia berada di bawah bumi enam puluh lembah

Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah berkata: Ahmad bin Thariq Al-Wabishi menceritakan kepada kami, Amr bin Athiyyah menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Ibnu Umar dari Zaid bin Amr bin Nufail bahwa ia bertauhid pada masa Jahiliyyah, lalu ia pergi hingga mendatangi seorang Yahudi dan berkata kepadanya: Aku ingin agar engkau memasukkan aku bersamamu dalam agamamu. Yahudi tersebut berkata kepadanya: Aku tidak akan memasukkanmu dalam agamaku hingga engkau menerima bagianmu dari murka Allah. Ia berkata: Dari murka Allah aku lari. Lalu ia pergi hingga mendatangi seorang Nasrani dan berkata kepadanya: Aku ingin agar engkau memasukkan aku bersamamu dalam agamamu. Nasrani tersebut berkata: Aku tidak akan memasukkanmu dalam agamaku hingga engkau menerima bagianmu dari kesesatan. Ia berkata: Dari kesesatan aku lari. Nasrani tersebut berkata kepadanya: Sesungguhnya aku menunjukkanmu kepada agama jika engkau mengikutinya, engkau akan mendapat petunjuk. Ia berkata: Agama apa? Ia berkata: Agama Ibrahim. Ia berkata: Maka ia berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku mempersaksikan Engkau bahwa aku berada di atas agama Ibrahim, dengannya aku hidup dan dengannya aku mati. Ia berkata: Maka keadaannya disebutkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: Ia adalah umat tersendiri pada hari kiamat.

Telah meriwayatkan Musa bin Uqbah dari Salim dari Ibnu Umar yang serupa dengan ini. Berkata Muhammad bin Sa’d: telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Saif Al-Qurasyyi dari Ismail bin Mujalid dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab, ia berkata: berkata Zaid bin Amr bin Nufail: Aku mencium (meneliti) agama Yahudi dan Nasrani lalu aku membenci keduanya. Maka aku berada di Syam dan sekitarnya hingga aku mendatangi seorang rahib di biara. Lalu aku ceritakan kepadanya tentang pengasinganku dari kaumku, dan kebencianku terhadap penyembahan berhala, Yahudi, dan Nasrani. Maka ia berkata kepadaku: Aku melihatmu menginginkan agama Ibrahim wahai saudara penduduk Makkah. Sesungguhnya engkau mencari agama yang tidak ditemukan hari ini seorang pun yang memeluknya, dan itu adalah agama bapakmu Ibrahim. Ia adalah seorang Hanif, tidak Yahudi dan tidak Nasrani. Ia shalat dan sujud menghadap ke rumah (Ka’bah) ini yang ada di negerimu. Maka kembalilah ke negerimu karena sesungguhnya Allah akan mengutus dari kaummu di negerimu seseorang yang akan membawa agama Ibrahim yang Hanifiyyah, dan dia adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah.

Berkata Yunus dari Ibnu Ishaq: telah menceritakan kepadaku sebagian keluarga Zaid bin Amr bin Nufail: bahwa Zaid apabila masuk Ka’bah berkata: Labbaikallahumma sungguh-sungguh, penuh ketaatan dan kerendahan hati. Aku berlindung dengan apa yang berlindung dengannya Ibrahim ketika ia berdiri saat berkata:

Aku tunduk padaMu ya Allah dengan penuh harap Apapun yang Engkau bebankan padaku, sungguh aku menanggungnya Aku menginginkan kebaikan bukan yang haram Bukanlah orang yang hijrah seperti orang yang tinggal

Berkata Abu Daud Ath-Thayalisi: telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi dari Nufail bin Hisyam bin Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail Al-Adawi dari ayahnya dari kakeknya bahwa Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keluar mencari agama hingga sampai kepada seorang rahib di Mausil. Maka ia berkata kepada Zaid bin Amr: Dari mana engkau datang wahai pemilik unta? Ia menjawab: Dari bangunan Ibrahim. Ia berkata: Dan apa yang engkau cari? Ia berkata: Aku mencari agama. Ia berkata: Kembalilah karena sesungguhnya hampir akan muncul di negerimu. Ia berkata: Adapun Waraqah maka ia menjadi Nasrani, sedangkan aku bertekad untuk Nasrani tetapi tidak cocok bagiku lalu aku kembali sambil mengucapkan: Labbaikallahumma sungguh-sungguh, penuh ketaatan dan kerendahan hati.

Aku menginginkan kebaikan bukan yang haram Maka adakah orang yang hijrah seperti orang yang tinggal

Aku beriman dengan apa yang diimani oleh Ibrahim dan ia mengucapkan:

Aku tunduk padaMu ya Allah dengan penuh harap Apapun yang Engkau bebankan padaku, sungguh aku menanggungnya

Kemudian ia rebah lalu sujud. Ia berkata: Dan datang anaknya – yaitu Sa’id bin Zaid salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga semoga Allah meridhainya – lalu berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku sebagaimana engkau lihat dan sebagaimana sampai kepadamu, maka mohonkanlah ampun untuknya. Beliau bersabda: Ya, karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat tersendiri. Ia berkata: Dan Zaid bin Amr bin Zaid mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bersamanya Zaid bin Haritsah, dan keduanya sedang makan dari hidangan mereka lalu keduanya mengajaknya untuk makan dari makanan mereka. Maka berkata Zaid bin Amr: Wahai keponakan, aku tidak makan dari apa yang disembelih di atas patung-patung sesembahan.

Berkata Muhammad bin Sa’d: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Sabrah dari Musa bin Maisarah dari Ibnu Abi Mulaikah dari Hujair bin Abi Ihab, ia berkata: Aku melihat Zaid bin Amr, dan aku berada di dekat berhala Buwanah setelah ia pulang dari Syam dan ia memperhatikan matahari, maka apabila matahari tergelincir ia menghadap Ka’bah lalu shalat satu rakaat dua sujud, kemudian berkata: Ini adalah kiblatnya Ibrahim dan Ismail. Aku tidak menyembah batu dan tidak shalat kepadanya dan tidak memakan apa yang disembelih untuknya dan tidak mengundi nasib dengan anak panah, dan sesungguhnya aku shalat menghadap rumah ini hingga aku mati. Dan ia melaksanakan haji lalu wukuf di Arafah dan ia bertalbiyah lalu berkata: Labbaikallahumma tidak ada sekutu bagiMu dan tidak ada tandingan bagiMu, kemudian berangkat dari Arafah dengan berjalan kaki sambil mengucapkan: Labbaikallahumma dengan penuh ibadah dan kerendahan hati.

Berkata Al-Waqidi: telah menceritakan kepadaku Ali bin Isa Al-Hakmi dari ayahnya dari Amir bin Rabi’ah, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Amr bin Nufail berkata: Aku menunggu seorang nabi dari keturunan Ismail, kemudian dari Bani Abdul Muththalib dan aku tidak menyangka aku akan menemui-nya tetapi aku beriman kepadanya dan membenarkannya dan bersaksi bahwa ia adalah nabi. Maka jika engkau hidup panjang lalu menemuinya maka sampaikanlah salamku kepadanya, dan aku akan memberitahumu ciri-cirinya hingga tidak tersembunyi bagimu. Aku berkata: Silakan. Ia berkata: Ia adalah seorang laki-laki tidak tinggi dan tidak pendek, tidak banyak rambut dan tidak sedikit rambutnya, dan tidak lepas dari matanya kemerahan, dan stempel kenabian ada di antara kedua bahunya, dan namanya Ahmad. Dan negeri ini adalah tempat kelahiran dan pengutusan-nya kemudian kaumnya akan mengusirnya darinya, dan mereka membenci apa yang dibawanya hingga ia hijrah ke Yatsrib maka akan tampak urusannya. Maka janganlah engkau tertipu tentang dia karena sesungguhnya aku telah berkeliling ke semua negeri mencari agama Ibrahim lalu siapa saja yang aku tanyai dari Yahudi, Nasrani, dan Majusi mereka berkata: Agama ini ada di belakangmu, dan mereka menggambarkan-nya seperti apa yang aku gambarkan untukmu, dan mereka berkata: Tidak tersisa nabi selain dia. Berkata Amir bin Rabi’ah: Maka ketika aku masuk Islam aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perkataan Zaid bin Amr, dan aku sampaikan salam darinya. Maka beliau membalas salamnya dan mendoakan rahmat atasnya, dan bersabda: Sungguh aku telah melihatnya di surga menyeret-nyeret kain.

Berkata Al-Bukhari dalam Shahihnya: Disebutkan Zaid bin Amr bin Nufail, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bakar, telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah, telah menceritakan kepadaku Salim dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bertemu Zaid bin Amr bin Nufail di bawah Baldah sebelum turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam wahyu. Maka disajikan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam hidangan lalu ia (Zaid) menolak untuk memakannya, kemudian berkata Zaid: Sesungguhnya aku tidak memakan dari apa yang kalian sembelih di atas patung-patung sesembahan kalian dan aku tidak memakan kecuali apa yang disebut nama Allah atasnya. Dan sesungguhnya Zaid bin Amr mencela terhadap Quraisy tentang sembelihan mereka, dan berkata: Kambing diciptakan Allah, dan diturunkan untuknya dari langit air, dan ditumbuhkan untuknya dari bumi, kemudian kalian menyembelih-nya atas nama selain Allah sebagai pengingkaran terhadap itu, dan pengagungan terhadap-nya.

Berkata Musa bin Uqbah: dan telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah – dan aku tidak mengetahui kecuali ia menceritakan-nya dari Ibnu Umar – bahwa Zaid bin Amr bin Nufail keluar ke Syam untuk bertanya tentang agama, dan mengikuti-nya lalu bertemu dengan seorang alim dari Yahudi maka ia bertanya kepadanya tentang agama mereka lalu berkata: Sesungguhnya aku mungkin memeluk agama kalian maka beritahukanlah aku. Ia berkata: Sesungguhnya engkau tidak akan berada di atas agama kami hingga engkau mengambil bagianmu dari murka Allah. Berkata Zaid: Dan aku tidak lari kecuali dari murka Allah Ta’ala dan aku tidak memikul dari murka Allah sesuatu pun dan tidak mampu akan hal itu, maka apakah engkau menunjukiku kepada yang lain? Ia berkata: Aku tidak mengetahui kecuali jika engkau menjadi Hanif. Berkata Zaid: Dan apa itu Hanif? Ia berkata: Agama Ibrahim alaihissalam, tidak Yahudi dan tidak Nasrani dan tidak menyembah kecuali Allah. Maka keluar Zaid lalu bertemu dengan seorang alim dari Nasrani, lalu disebutkan yang serupa, maka ia berkata: Engkau tidak akan berada di atas agama kami hingga engkau mengambil bagianmu dari laknat Allah. Ia berkata: Aku tidak mengetahui kecuali jika engkau menjadi Hanif. Berkata: Dan apa itu Hanif? Ia berkata: Agama Ibrahim. Tidak Yahudi dan tidak Nasrani dan tidak menyembah kecuali Allah. Maka ketika Zaid melihat perkataan mereka tentang Ibrahim, ia keluar, maka ketika berada di tempat terbuka ia mengangkat kedua tangannya lalu berkata: Ya Allah sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku di atas agama Ibrahim.

Ia berkata: Dan berkata Al-Laits: telah menulis kepadaku Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Asma binti Abi Bakar, ia berkata: Aku melihat Zaid bin Amr bin Nufail berdiri, bersandar punggungnya ke Ka’bah mengucapkan: Wahai sekalian Quraisy, demi Allah tidak ada di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku. Dan ia menghidupkan bayi perempuan yang terkubur hidup-hidup, ia berkata kepada laki-laki apabila ia hendak membunuh anak perempuannya: Jangan kau bunuh dia, aku akan mencukupi kebutuhannya untukmu lalu ia mengambil-nya, maka apabila ia tumbuh besar ia berkata kepada ayahnya: Jika engkau mau aku serahkan kepadamu, dan jika engkau mau aku cukupi kebutuhannya untukmu. Selesai apa yang disebutkan oleh Al-Bukhari.

Dan hadits yang terakhir ini telah disandarkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir dari jalan Abu Bakar bin Abi Daud dari Isa bin Hammad dari Al-Laits dari Hisyam dari ayahnya dari Asma lalu menyebutkan yang serupa. Dan berkata Abdurrahman bin Abi Az-Zinad dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Asma, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Amr bin Nufail ketika ia bersandar punggungnya ke Ka’bah mengucapkan: Wahai sekalian Quraisy, jauhilah zina karena sesungguhnya ia mewariskan kemiskinan.

Dan sungguh telah menceritakan Ibnu Asakir di sini hadits-hadits yang sangat aneh, dan di sebagian-nya ada keanehan yang kuat, kemudian ia menyebutkan dari jalur-jalur yang banyak dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Ia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat tersendiri. Maka di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub Ash-Shaffar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al-Umawi dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Jabir, ia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang Zaid bin Amr bin Nufail bahwa ia menghadap kiblat di masa jahiliyah, dan berkata: Tuhanku adalah Tuhan Ibrahim, dan agamaku adalah agama Ibrahim, dan ia sujud. Maka bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Orang itu akan dikumpulkan sebagai umat tersendiri antara aku dan Isa bin Maryam. Sanadnya baik dan hasan.

Berkata Al-Waqidi: telah menceritakan kepadaku Musa bin Syaibah dari Kharijah bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab menyebutkan Zaid bin Amr bin Nufail lalu berkata: Ia meninggal, dan Quraisy sedang membangun Ka’bah lima tahun sebelum turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sungguh telah turun kepada-nya (kematian), dan sesungguhnya ia mengucapkan: Aku di atas agama Ibrahim. Maka masuk Islam anaknya Sa’id bin Zaid, dan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan datang Umar bin Al-Khaththab dan Sa’id bin Zaid kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu keduanya bertanya kepada beliau tentang Zaid bin Amr bin Nufail. Maka beliau bersabda: Allah mengampuninya dan merahmatinya, karena sesungguhnya ia meninggal di atas agama Ibrahim. Ia berkata: Maka kaum muslimin setelah hari itu, tidaklah menyebutkan-nya yang menyebut di antara mereka kecuali mendoakan rahmat untuknya, dan memohon ampun untuknya, kemudian berkata Sa’id bin Al-Musayyab semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya.

Berkata Muhammad bin Sa’d dari Al-Waqidi, telah menceritakan kepadaku Zakariyya bin Yahya As-Sa’di dari ayahnya, ia berkata: Meninggal Zaid bin Amr bin Nufail di Makkah, dan dimakamkan di bawah gunung Hira. Dan sungguh telah terdahulu bahwa ia meninggal di tanah Balqa dari Syam ketika diserang oleh kaum dari Bani Lakhm lalu mereka membunuhnya di tempat yang disebut Maifa’ah. Wallahu a’lam.

Berkata Al-Baghandi dari Abu Sa’id Al-Asyajj dari Abu Mu’awiyah dari Hisyam dari ayahnya dari Aisyah, ia berkata: bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Aku masuk surga lalu aku melihat untuk Zaid bin Amr bin Nufail dua pohon besar. Dan ini sanad yang baik, dan tidak ada di dalam salah satu dari kitab-kitab.

Dan dari syair Zaid bin Amr bin Nufail semoga Allah merahmatinya adalah apa yang kami sampaikan di bagian awal penciptaan dari qasidah itu:

Kepada Allah aku persembahkan pujianku dan sanjunganku Dan ucapan yang diridhai yang tidak pernah sirna di sepanjang masa Kepada Raja Yang Maha Tinggi yang tidak ada di atasNya Tuhan dan tidak ada Rabb yang menjadi dekat denganNya

Dan telah dikatakan: Sesungguhnya itu dari Umayyah bin Abi Ash-Shalt. Wallahu a’lam. Dan dari syairnya dalam tauhid, apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq dan Az-Zubair bin Bakkar dan lainnya:

Dan aku pasrahkan wajahku kepada yang telah dipasrahkan untukNya Bumi memikul batu-batu yang berat Ia bentangkan lalu ketika rata Ia ikat dengan kokoh Dan ditegakkan atasnya gunung-gunung

Dan aku pasrahkan wajahku kepada yang telah dipasrahkan untukNya Awan memikul air yang manis jernih Apabila ia digiring ke sebuah negeri Ia taat lalu tercurah atasnya dengan deras

Dan aku pasrahkan wajahku kepada yang telah dipasrahkan untukNya Angin berubah keadaan demi keadaan

Berkata Muhammad bin Ishaq: telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Urwah, ia berkata: telah meriwayatkan ayahku bahwa Zaid bin Amr berkata:

Satu Tuhan ataukah seribu tuhan Aku memeluk agama ketika urusan terbagi Aku tinggalkan Al-Lat dan Al-Uzza keduanya Demikianlah yang dilakukan oleh orang yang kuat dan sabar

Maka tidak Al-Uzza aku memeluk agamanya dan tidak kedua anak perempuannya Dan tidak kedua berhala Bani Amr aku kunjungi Dan tidak Hubal aku memeluk agamanya padahal ia adalah tuhan Bagi kami di masa dulu ketika akalku belum matang

Aku heran dan pada malam-malam ada keajaiban-keajaiban Dan pada hari-hari diketahui oleh orang yang melihat Bahwa Allah telah membinasakan orang-orang Yang banyak adalah urusan mereka kefasikan

Dan menyisakan yang lain karena kebaikan suatu kaum Maka tumbuh di antara mereka anak kecil

Dan ketika seseorang tersandung ia kembali suatu hari Sebagaimana segar kembali dahan yang basah

Tetapi aku menyembah Ar-Rahman Tuhanku Agar mengampuni dosaku Rabb Yang Maha Pengampun

Maka bertakwalah kepada Allah Tuhan kalian peliharalah itu Kapan pun kalian memeliharanya kalian tidak akan binasa

Kau lihat orang-orang yang baik tempat tinggal mereka adalah surga Dan bagi orang-orang kafir api yang menyala-nyala

Dan kehinaan dalam kehidupan dan apabila mereka mati Mereka akan menemui apa yang menyempitkan karenanya dada-dada

Ini adalah sempurna apa yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dari qasidah ini.

Dan telah meriwayatkannya Abu Qasim al-Baghawi dari Mus’ab bin Abdullah dari ad-Dhahhak bin Utsman dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad yang berkata: Hisyam bin Urwah berkata dari ayahnya dari Asma binti Abu Bakar yang berkata: Zaid bin Amr bin Nufail berkata:

Aku menjauhkan jin dan taman-taman dari diriku … begitulah yang dilakukan oleh orang yang kuat lagi sabar Maka aku tidak menyembah al-Uzza dan tidak pula kedua putrinya … dan tidak pula berhala Bani Tasm yang aku putar Dan aku tidak menyembah Ghanm padahal dia adalah tuhan … bagi kami di masa lampau ketika pemahamanku masih kecil Satu tuhan ataukah seribu tuhan … yang kusembah ketika urusan terbagi-bagi Tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah membinasakan … orang-orang yang urusan mereka adalah kefasikan Dan menyisakan yang lain karena kebajikan suatu kaum … maka berkembang di antara mereka anak kecil Dan ketika seseorang tersandung, suatu hari ia kembali … sebagaimana ranting yang segar bergoyang

Berkata: Maka Waraqah bin Naufal berkata:

Engkau mendapat petunjuk dan nikmat wahai putra Amr dan sesungguhnya … engkau telah menghindari kobaran api neraka yang menyala Bagi agamamu, ada tuhan yang tidak ada tuhan yang seperti-Nya … dan engkau meninggalkan jin-jin gunung sebagaimana adanya Aku berkata ketika aku turun ke bumi yang menakutkan … lindungilah aku, jangan Engkau tampakkan kepada musuh-musuh Lindungilah aku, sesungguhnya jin adalah harapan mereka … dan Engkau adalah tuhanku, Tuhan kami dan harapan kami Sungguh akan mencapai seseorang rahmat Tuhannya … meskipun dia berada di bawah bumi tujuh puluh lembah Aku beragama kepada Tuhan yang mengabulkan dan aku tidak melihat … aku beragama kepada yang tidak mendengar sepanjang masa penyeru Aku berkata ketika aku shalat di setiap gereja … Maha Suci Engkau, sungguh aku telah banyak berdoa dengan nama-Mu

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Zaid bin Amr bin Nufail keluar menuju Syam bersama Waraqah bin Naufal, Utsman bin al-Huwairts, dan Ubaidullah bin Jahsy, lalu mereka masuk Nasrani kecuali Zaid, karena dia tidak masuk ke dalam satupun dari agama-agama tersebut, bahkan dia tetap pada fitrahnya; dari menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya, mengikuti apa yang mungkin baginya dari agama Ibrahim sesuai dengan apa yang kami sebutkan. Adapun Waraqah bin Naufal, maka akan datang kabarnya di awal masa diutusnya Nabi. Adapun Utsman bin al-Huwairts, maka dia menetap di Syam hingga meninggal di sana di sisi Kaisar, dan baginya ada cerita yang menakjubkan yang disebutkan oleh al-Umawi. Ringkasnya bahwa ketika dia datang kepada Kaisar lalu mengadu kepadanya apa yang dia alami dari kaumnya, maka Kaisar menuliskan surat untuknya kepada Ibnu Jafnah raja Arab Syam agar menyiapkan pasukan bersamanya untuk memerangi Quraisy, lalu dia bertekad untuk itu. Maka orang-orang Arab mengirim surat kepadanya yang melarangnya dari hal itu karena mereka melihat keagungan Mekah dan bagaimana Allah memperlakukan pasukan bergajah. Maka Ibnu Jafnah memberinya pakaian jubah yang dicelup dengan racun, lalu dia meninggal karena racunnya. Maka Zaid bin Amr bin Nufail meratapi dia dengan syair yang disebutkan oleh al-Umawi, kami tinggalkan demi ringkasan. Dan wafatnya adalah sebelum masa kenabian tiga tahun atau sekitarnya, dan Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi Maha Mengetahui.

Beberapa Peristiwa di Masa Fatrah

Pembangunan Ka’bah

Di antaranya adalah pembangunan Ka’bah. Dan telah dikatakan: Sesungguhnya yang pertama kali membangunnya adalah Adam. Dan telah datang dalam hal itu hadits marfu dari Abdullah bin Amr, dan dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah dan dia lemah. Dan pendapat yang paling kuat bahwa yang pertama kali membangunnya adalah Khalil alaihissalam (Ibrahim) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan demikian juga diriwayatkan oleh Sammak bin Harb dari Khalid bin Ar’arah dari Ali bin Abi Thalib yang berkata: Kemudian runtuh lalu dibangun oleh orang-orang Amaliqah, kemudian runtuh lalu dibangun oleh Jurhum, kemudian runtuh lalu dibangun oleh Quraisy.

Saya berkata: Akan datang pembangunan Quraisy untuk Ka’bah, dan itu adalah lima tahun sebelum masa kenabian, dan dikatakan: lima belas tahun. Dan az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mencapai masa baligh. Dan akan datang semua itu di tempatnya insya Allah, dan kepada-Nya lah kepercayaan.

Ka’b bin Lu’ay

Abu Nu’aim meriwayatkan dari jalur Muhammad bin al-Hasan bin Zibalah dari Muhammad bin Thalhah at-Taimi dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits dari Abu Salamah yang berkata: Ka’b bin Lu’ay mengumpulkan kaumnya pada hari Jumat – dan Quraisy menamakan hari Jumat dengan al-Urubah – lalu dia berkhutbah kepada mereka seraya berkata: Amma ba’du (adapun selanjutnya), maka dengarlah dan belajarlah dan pahamilah, dan ketahuilah malam yang gelap, dan siang yang terang, dan bumi adalah hamparan, dan langit adalah bangunan, dan gunung-gunung adalah pasak-pasak, dan bintang-bintang adalah tanda-tanda, dan orang-orang terdahulu seperti orang-orang kemudian, dan perempuan dan laki-laki, dan roh dan apa yang menggerakkan menuju kebinasaan. Maka sambunglah tali silaturahim kalian, dan jagalah mertua-mertua kalian, dan kembangkanlah harta kalian. Maka apakah kalian melihat orang yang binasa kembali atau mayat yang bangkit? Kampung halaman di hadapan kalian dan persangkaan bukan seperti apa yang kalian katakan. Tanah haram kalian hiasi dan agungkan serta berpeganglah dengannya, maka akan datang baginya berita yang besar, dan akan keluar darinya seorang nabi yang mulia. Kemudian dia berkata:

Siang dan malam setiap hari dengan peristiwa, sama bagi kami malamnya dan siangnya Keduanya datang dengan peristiwa-peristiwa hingga keduanya datang dan dengan nikmat yang melimpah bagi kami tirai-tirainya Dalam keadaan lengah datang Nabi Muhammad, lalu dia mengabarkan berita-berita yang jujur lagi Maha Mengetahui tentangnya

Kemudian dia berkata: Demi Allah, seandainya aku berada di dalamnya dengan pendengaran dan penglihatan dan tangan dan kaki, sungguh aku akan bersungguh-sungguh di dalamnya dengan kesungguhan unta, dan sungguh aku akan berlari di dalamnya dengan larian anak sapi. Kemudian dia berkata:

Andai aku menyaksikan ajakan seruan ajakannya, ketika kaum mencari kebenaran dengan pengkhianatan

Berkata: Dan antara wafatnya Ka’b bin Lu’ay dan diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah lima ratus enam puluh tahun.

Kisah Pembaharuan Penggalian Zamzam

Di tangan Abdul Muththalib bin Hasyim, yang telah hilang bekasnya setelah Jurhum menutupnya hingga zamannya.

Muhammad bin Ishaq berkata: Kemudian sesungguhnya Abdul Muththalib ketika dia sedang tidur di al-Hijr, tiba-tiba dia didatangi lalu diperintahkan untuk menggali Zamzam. Dan yang pertama kali dimulai oleh Abdul Muththalib dari penggaliannya, sebagaimana diceritakan kepadaku oleh Yazid bin Abi Habib al-Mishri dari Martsad bin Abdullah al-Yazani dari Abdullah bin Zurayr al-Ghafiqiy bahwa dia mendengar Ali bin Abi Thalib menceritakan kisah Zamzam ketika Abdul Muththalib diperintahkan untuk menggalinya. Dia berkata: Abdul Muththalib berkata: Sesungguhnya aku sedang tidur di al-Hijr tiba-tiba datang kepadaku yang datang lalu berkata kepadaku: Galilah Thayyibah. Dia berkata: Aku berkata: Apakah Thayyibah? Dia berkata: Kemudian dia pergi dariku. Maka ketika besok harinya aku kembali ke tempat tidurku lalu aku tidur, maka dia datang kepadaku lalu berkata: Galilah Barrah. Dia berkata: Aku berkata: Apakah Barrah? Dia berkata: Kemudian dia pergi dariku. Maka ketika besok harinya aku kembali ke tempat tidurku lalu aku tidur, maka dia datang kepadaku lalu berkata: Galilah al-Madhnunah. Dia berkata: Aku berkata: Apakah al-Madhnunah? Dia berkata: Kemudian dia pergi dariku. Maka ketika besok harinya aku kembali ke tempat tidurku lalu aku tidur di dalamnya, maka dia datang kepadaku, berkata: Galilah Zamzam. Dia berkata: Aku berkata: Apakah Zamzam? Dia berkata: Tidak akan kering selamanya dan tidak akan tercela, memberi minum para jamaah haji yang agung.

Dan dia berada di antara kotoran dan darah, di dekat cakaran burung gagak yang lumpuh, di dekat sarang semut. Dia berkata: Maka ketika dijelaskan bagiku keadaannya, dan ditunjukkan tempatnya, dan aku tahu bahwa dia benar, aku berangkat pagi dengan beliungku, dan bersamaku putraku al-Harits bin Abdul Muththalib – dan tidak ada baginya pada hari itu anak selain dia – lalu menggali. Maka ketika tampak bagi Abdul Muththalib sumur tua, dia bertakbir. Maka Quraisy mengetahui bahwa dia telah mencapai keperluannya, lalu mereka berdiri kepadanya lalu berkata: Wahai Abdul Muththalib, sesungguhnya dia adalah sumur bapak kami Ismail, dan sesungguhnya bagi kami di dalamnya ada hak, maka sertakan kami bersamamu di dalamnya. Dia berkata: Aku tidak akan melakukannya, sesungguhnya perkara ini telah dikhususkan bagiku tanpa kalian, dan diberikan kepadaku dari antara kalian. Mereka berkata kepadanya: Maka adilkanlah kami, karena sesungguhnya kami tidak akan meninggalkanmu hingga kami menuntutmu di dalamnya. Dia berkata: Maka jadikanlah antara aku dan kalian siapa yang kalian kehendaki, aku akan berhukum kepadanya. Mereka berkata: Dukun Bani Sa’d bin Huzaim. Dia berkata: Baiklah. Dan dia berada di dataran tinggi Syam. Maka Abdul Muththalib menunggang, dan bersamanya beberapa orang dari Bani Umayyah, dan menunggang dari setiap kabilah dari Quraisy beberapa orang. Maka mereka keluar dan bumi pada waktu itu adalah padang pasir. Hingga ketika mereka berada di sebagian darinya, habis air Abdul Muththalib dan teman-temannya, lalu mereka kehausan hingga mereka yakin dengan kebinasaan. Maka mereka meminta minum dari yang bersama mereka, lalu mereka menolak kepada mereka, dan berkata: Sesungguhnya kami di padang pasir, dan sesungguhnya kami khawatir terhadap diri kami sendiri seperti apa yang menimpa kalian.

Maka Abdul Muththalib berkata: Sesungguhnya aku melihat bahwa setiap orang dari kalian menggali lubangnya untuk dirinya sendiri dengan apa yang ada pada kalian sekarang dari kekuatan. Maka setiap kali meninggal seorang laki-laki, teman-temannya memasukkannya ke dalam lubangnya kemudian menguburnya, hingga menjadi yang terakhir dari mereka seorang laki-laki satu. Maka sia-sianya seorang laki-laki satu lebih ringan daripada sia-sianya rombongan semua. Maka mereka berkata: Bagus apa yang engkau perintahkan. Maka menggali setiap laki-laki untuk dirinya lubang, kemudian mereka duduk menunggu kematian dalam kehausan. Kemudian sesungguhnya Abdul Muththalib berkata kepada teman-temannya: Sesungguhnya membuang diri kami begini untuk kematian – tidak mencari di bumi, tidak mencari untuk diri kami sendiri – sungguh lemah. Maka mudah-mudahan Allah memberi rezeki kepada kami air di sebagian negeri. Maka mereka berangkat hingga ketika Abdul Muththalib menggerakkan tunggangannya, terpancar dari bawah telapak kakinya mata air yang manis. Maka Abdul Muththalib bertakbir dan bertakbir teman-temannya, kemudian turun lalu minum dan minum teman-temannya, dan mengambil air hingga memenuhi wadah-wadah air mereka. Kemudian menyeru kabilah-kabilah Quraisy, dan mereka melihat kepada mereka dalam semua keadaan ini. Maka dia berkata: Kemarilah kepada air, maka Allah telah memberi minum kepada kami. Maka mereka datang lalu minum dan mengambil air semuanya. Kemudian mereka berkata kepada Abdul Muththalib: Sungguh demi Allah telah diputuskan bagimu atas kami. Demi Allah kami tidak akan menuntutmu dalam Zamzam selamanya. Sesungguhnya yang memberi minum kepadamu air ini di padang pasir ini, sungguh Dia adalah yang memberi minum kepadamu Zamzam. Maka kembalilah kepada air minummu dengan mendapat petunjuk. Maka dia kembali dan mereka kembali bersamanya, dan mereka tidak sampai kepada dukun itu, dan mereka melepaskan antara dia dan Zamzam.

Ibnu Ishaq berkata: Maka inilah yang sampai kepadaku dari Ali bin Abi Thalib tentang Zamzam. Ibnu Ishaq berkata: Dan sungguh aku telah mendengar dari yang menceritakan dari Abdul Muththalib bahwa dikatakan kepadanya ketika dia diperintahkan untuk menggali Zamzam:

Kemudian berdo’alah dengan air yang memuaskan bukan yang keruh, memberi minum jamaah haji Allah di setiap tempat berlari, tidak ditakuti darinya sesuatu selama dirawat

Berkata: Maka Abdul Muththalib keluar ketika dikatakan kepadanya itu kepada Quraisy lalu berkata: Ketahuilah kalian bahwa sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk menggali Zamzam. Mereka berkata: Maka apakah telah dijelaskan kepadamu di mana dia? Dia berkata: Tidak. Mereka berkata: Maka kembalilah ke tempat tidurmu yang engkau lihat di dalamnya apa yang engkau lihat. Maka jika itu benar dari Allah akan dijelaskan kepadamu, dan jika itu dari setan maka tidak akan kembali kepadamu. Maka dia kembali dan tidur, lalu didatangi, maka dikatakan kepadanya: Galilah Zamzam, sesungguhnya engkau jika menggalinya tidak akan menyesal, dan dia adalah warisan dari bapakmu yang agung. Tidak akan kering selamanya dan tidak akan tercela, memberi minum para jamaah haji yang agung, seperti unta yang penuh tidak dibagi, dan bernazar di dalamnya yang bernazar untuk yang memberi nikmat, menjadi warisan dan ikatan yang kukuh, bukan seperti sebagian yang telah engkau ketahui, dan dia berada di antara kotoran dan darah.

Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka menyangka bahwa Abdul Muththalib ketika dikatakan kepadanya itu berkata: Dan di mana dia? Dikatakan kepadanya: Di dekat sarang semut, di mana gagak mematuk besok. Maka Allah Maha Mengetahui mana dari itu yang terjadi. Dia berkata: Maka Abdul Muththalib berangkat pagi dan bersamanya putranya al-Harits, dan tidak ada baginya pada hari itu anak selain dia – al-Umawi menambahkan: dan budaknya Ashram – lalu menemukan sarang semut, dan menemukan gagak mematuk di dekatnya di antara dua berhala Isaf dan Na’ilah, yang Quraisy menyembelih di dekat keduanya. Maka dia datang dengan beliung dan berdiri untuk menggali di mana dia diperintahkan. Maka Quraisy berdiri kepadanya, dan berkata: Demi Allah kami tidak akan membiarkanmu menggali di antara dua berhala kami yang kami menyembelih di dekat keduanya. Maka Abdul Muththalib berkata kepada putranya al-Harits: Lindungi aku hingga aku menggali, maka demi Allah sungguh aku akan melanjutkan untuk apa yang aku diperintahkan dengannya. Maka ketika mereka mengetahui bahwa dia tidak akan berhenti, mereka membiarkan antara dia dan penggalian, dan berhenti darinya. Maka dia tidak menggali kecuali sedikit hingga tampak baginya sumur tua, lalu dia bertakbir, dan mengetahui bahwa dia telah benar. Maka ketika terus baginya penggalian, dia menemukan di dalamnya dua rusa dari emas yang Jurhum telah menguburkan keduanya, dan menemukan di dalamnya pedang-pedang Qal’iyyah dan baju besi. Maka Quraisy berkata kepadanya: Wahai Abdul Muththalib, bagi kami bersamamu dalam ini ada persekutuan dan hak. Dia berkata: Tidak, tetapi kemarilah kepada perkara yang adil antara aku dan kalian, kami mengundi atasnya dengan anak panah. Mereka berkata: Bagaimana kami lakukan? Dia berkata: Aku jadikan untuk Ka’bah dua anak panah, dan bagiku dua anak panah, dan bagi kalian dua anak panah. Maka siapa keluar anak panahnya atas sesuatu adalah baginya, dan siapa tertinggal anak panahnya maka tidak ada sesuatu baginya. Mereka berkata: Engkau adil. Maka dia jadikan untuk Ka’bah dua anak panah kuning, dan baginya dua hitam, dan bagi mereka dua putih. Kemudian mereka memberi anak-anak panah kepada yang mengundi di sisi Hubal, dan Hubal adalah yang terbesar dari berhala-berhala mereka. Dan untuk ini Abu Sufyan berkata pada hari Uhud: Tinggikan Hubal, yakni berhala ini. Dan berdiri Abdul Muththalib berdo’a kepada Allah. Dan Yunus bin Bukair menyebutkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa Abdul Muththalib terus berkata:

Ya Allah Engkau Raja yang terpuji, Tuhanku maka Engkau Yang Memulai Yang Mengembalikan, dan pemegang yang kokoh yang keras, dari sisi-Mu yang baru dan yang lama, jika Engkau kehendaki Engkau ilhamkan sebagaimana Engkau kehendaki, untuk tempat perhiasan dan besi, maka jelaskanlah hari ini untuk apa yang Engkau kehendaki. Sesungguhnya aku bernazar, yang berjanji yang dijanjikan, jadikanlah baginya Tuhanku maka aku tidak akan kembali

Berkata: Dan mengundi pemegang anak panah, lalu keluar dua kuning atas dua rusa untuk Ka’bah, dan keluar dua hitam atas pedang-pedang dan baju besi untuk Abdul Muththalib, dan tertinggal anak panah Quraisy. Maka Abdul Muththalib menempa pedang-pedang menjadi pintu untuk Ka’bah, dan menempa di pintu dua rusa dari emas. Maka itu adalah perhiasan emas pertama yang dikenakan Ka’bah – dalam sangkaan mereka. Kemudian sesungguhnya Abdul Muththalib menegakkan penyediaan air Zamzam untuk jamaah haji.

Dan Ibnu Ishaq dan yang lainnya menyebutkan bahwa Mekah di dalamnya ada sumur-sumur yang banyak sebelum munculnya Zamzam di zaman Abdul Muththalib. Kemudian Ibnu Ishaq menghitungnya, dan menamakan mereka, dan menyebutkan tempat-tempat mereka dari Mekah, dan penggali-penggali mereka hingga dia berkata: Maka terhapuslah Zamzam atas sumur-sumur semuanya, dan berpaling manusia semuanya kepadanya karena tempatnya dari Masjidil Haram, dan karena keutamaannya atas apa yang selainnya dari air-air, dan karena dia adalah sumur Ismail bin Ibrahim, dan berbangga dengannya Bani Abdul Manaf atas Quraisy semuanya, dan atas seluruh Arab.

Dan telah ditetapkan dalam Shahih Muslim dalam hadits islamnya Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang zamzam: “Sesungguhnya ia adalah makanan yang mengenyangkan, dan obat penyakit.” Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Walid dari Abdullah bin al-Mu’mal dari Abu az-Zubair dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”

Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Abdullah bin al-Mu’mal dan mereka telah mempersoalkan dirinya, dan lafazhnya “Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya” dan diriwayatkan Suwaid bin Sa’id dari Abdullah bin al-Mubarak dari Abdurrahman bin Abi al-Mawal dari Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya” namun Suwaid bin Sa’id itu lemah dan yang terjaga dari Ibnu al-Mubarak dari Abdullah bin al-Mu’mal sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Dan telah meriwayatkannya al-Hakim dari Ibnu Abbas secara marfu’ “Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya” dan di dalamnya ada pembahasan. Wallahu a’lam. Dan demikian pula diriwayatkan Ibnu Majah juga dan al-Hakim dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata kepada seorang laki-laki: Apabila engkau minum dari zamzam maka hadapilah Kakbah dan sebutlah nama Allah, dan bernapaslah tiga kali, dan minumlah dengan kenyang darinya, maka apabila selesai maka pujilah Allah; karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda yang membedakan antara kami dan orang-orang munafik adalah mereka tidak minum zamzam hingga kenyang.”

Dan telah disebutkan dari Abdul Muththalib bahwasanya ia berkata: Ya Allah sesungguhnya aku tidak menghalalkannya untuk mandi, dan ia untuk peminum adalah halal dan mubah. Dan telah disebutkan oleh sebagian fuqaha dari al-Abbas bin Abdul Muththalib dan yang benar bahwasanya itu dari Abdul Muththalib sendiri karena sesungguhnya dialah yang memperbaharui penggalian zamzam sebagaimana kami telah sebutkan. Wallahu a’lam. Dan telah berkata al-Umawi dalam kitab Maghazi-nya: telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari Abdurrahman bin Harmalah aku mendengar Sa’id bin al-Musayyab bercerita bahwa Abdul Muththalib bin Hasyim ketika menggali zamzam, ia berkata: Aku tidak menghalalkannya untuk mandi, dan ia untuk peminum adalah halal dan mubah, dan yang demikian itu karena ia membuat untuknya dua kolam: kolam untuk minum, dan kolam untuk berwudhu, maka pada saat itu ia berkata: Aku tidak menghalalkannya untuk mandi; untuk menjaga kesucian masjid agar tidak dimandikan di dalamnya.

Berkata Abu Ubaid: berkata al-Ashma’i: ucapannya, “dan mubah” adalah pengikut. Berkata Abu Ubaid: dan pengikut tidak menggunakan wawu athaf, dan sesungguhnya ia sebagaimana berkata Mu’tamir bin Sulaiman: Sesungguhnya “bal” dalam bahasa Himyar artinya: mubah.

Kemudian berkata Abu Ubaid: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy dari Ashim bin Abi an-Nujud bahwasanya ia mendengar Raza bahwasanya ia mendengar al-Abbas berkata: Aku tidak menghalalkannya untuk mandi, dan ia untuk peminum adalah halal dan mubah. Dan telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin Alqamah bahwasanya ia mendengar Ibnu Abbas berkata demikian. Dan ini shahih kepada keduanya seakan-akan keduanya mengatakan hal itu di masa mereka dengan cara menyampaikan dan memberitahukan apa yang disyaratkan oleh Abdul Muththalib ketika menggalinya maka tidak bertentangan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Dan telah ada siqayah (urusan memberi minum jamaah haji) kepada Abdul Muththalib di masa hidupnya, kemudian beralih kepada anaknya Abu Thalib untuk beberapa waktu, kemudian terjadi bahwasanya ia jatuh miskin pada salah satu tahun maka ia berhutang dari saudaranya al-Abbas sepuluh ribu hingga musim berikutnya, dan dibelanjakannya oleh Abu Thalib kepada para jamaah haji di tahunnya terkait dengan siqayah, maka ketika tahun berikutnya tidak ada bersama Abu Thalib sesuatu maka ia berkata kepada saudaranya al-Abbas: Utangkan kepadaku empat belas ribu juga hingga tahun depan, aku akan berikan seluruh hartamu. Maka berkata kepadanya al-Abbas: Dengan syarat jika engkau tidak memberiku engkau serahkan siqayah kepadaku, aku akan mencukupinya. Maka ia berkata: Ya. Maka ketika datang tahun berikutnya tidak ada bersama Abu Thalib apa yang bisa diberikan kepada al-Abbas maka ia serahkan kepadanya siqayah, lalu berpindahlah kepadanya, kemudian setelahnya beralih kepada Abdullah anaknya, kemudian kepada Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian kepada Dawud bin Ali, kemudian kepada Sulaiman bin Ali, kemudian kepada Isa bin Ali, kemudian diambilnya oleh al-Manshur dan menjadikan wakilnya budaknya Abu Razin, disebutkan oleh al-Umawi.

Penyebutan Nadzar Abdul Muththalib untuk Menyembelih Salah Satu Anaknya

Berkata Ibnu Ishaq: Dan adalah Abdul Muththalib – sebagaimana mereka mengira – bernadzar ketika ia mendapat perlawanan dari Quraisy yang ia dapati ketika menggali zamzam, jika dilahirkan untuknya sepuluh orang, kemudian mereka mencapai dengannya hingga mereka membelanya maka akan disembelihnya salah satu dari mereka kepada Allah di sisi Kakbah, maka ketika lengkaplah anak-anaknya sepuluh, dan ia tahu bahwasanya mereka akan membelanya, dan mereka adalah: al-Harits dan az-Zubair dan Hujl dan Dhirar dan al-Muqawwam dan Abu Lahab dan al-Abbas dan Hamzah dan Abu Thalib dan Abdullah, ia kumpulkan mereka kemudian ia kabarkan kepada mereka tentang nadzarnya, dan ia menyeru mereka untuk menunaikan kepada Allah Azza wa Jalla dengan itu maka mereka menaatinya, dan berkata: Bagaimana kami berbuat? Ia berkata: Hendaklah setiap orang dari kalian mengambil anak panah, kemudian tulislah di dalamnya namanya, kemudian datanglah kepadaku, maka mereka lakukan, kemudian mereka datang kepadanya, lalu ia masuk bersama mereka kepada Hubal di dalam Kakbah dan adalah Hubal di atas sumur di dalam Kakbah, dan adalah sumur itu yang dikumpulkan di dalamnya apa yang dihadiahkan untuk Kakbah dan adalah di sisi Hubal tujuh anak panah, yaitu azlam yang mereka berhukum kepadanya apabila sulit bagi mereka suatu perkara dari akal atau nasab atau perkara dari berbagai perkara, mereka datang kepadanya lalu beristiqsamah dengannya, maka apa yang diperintahkannya kepada mereka atau melarangnya dari hal itu, mereka kerjakan. Dan yang dimaksud bahwasanya Abdul Muththalib ketika datang beristiqsamah dengan anak panah di sisi Hubal, keluarlah anak panah kepada anaknya Abdullah dan adalah ia anak yang paling kecil, dan paling dicintainya kepadanya, maka mengambillah Abdul Muththalib tangan anaknya Abdullah dan mengambil pisau, kemudian datanglah dengannya kepada Isaf dan Na’ilah untuk menyembelihnya, maka berdirilah kepadanya Quraisy dari tempat duduk mereka, lalu berkata: Apa yang engkau inginkan wahai Abdul Muththalib? Ia berkata: Aku akan menyembelihnya. Maka berkatalah kepadanya Quraisy dan anak-anaknya: Demi Allah engkau tidak akan menyembelihnya selamanya hingga engkau meminta maaf terhadapnya; jika engkau lakukan ini maka tidak akan berhenti laki-laki datang dengan anaknya hingga ia menyembelihnya, maka apa kelangsungan hidup manusia atas ini.

Dan menyebutkan Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq bahwa al-Abbas adalah yang menarik Abdullah dari bawah kaki ayahnya ketika meletakkannya atasnya untuk menyembelihnya, maka dikatakan: sesungguhnya ia melukai wajahnya luka yang tidak hilang di wajahnya hingga ia meninggal, kemudian menunjukkan Quraisy kepada Abdul Muththalib supaya pergi ke Hijaz karena sesungguhnya di sana ada dukun wanita yang memiliki jin pengikut, maka bertanyalah kepadanya tentang itu, kemudian engkau atas pendapatmu, jika ia memerintahkanmu dengan menyembelihnya maka sembelihlah ia, dan jika ia memerintahkanmu dengan perkara bagimu dan baginya di dalamnya jalan keluar maka terimalah.

Maka berangkatlah mereka hingga mereka datang ke Madinah, lalu mereka menemukan dukun wanita itu, dan ia adalah Sajah – sebagaimana disebutkan Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq – di Khaibar, lalu mereka berkendara hingga mereka datang kepadanya, lalu mereka bertanya kepadanya, dan ia ceritakan kepadanya Abdul Muththalib kabarnya dan kabar anaknya, maka berkata kepadanya: Kembalilah dariku hari ini hingga datang kepadaku jinku lalu aku bertanya kepadanya, maka mereka kembali dari sisinya, maka ketika mereka keluar berdirilah Abdul Muththalib berdoa kepada Allah, kemudian mereka datang lagi kepadanya esoknya, maka berkata kepada mereka: Telah datang kepadaku kabar, berapa diat di kalangan kalian? Mereka berkata: Sepuluh ekor unta. Dan memang demikian. Ia berkata: Maka kembalilah kalian ke negeri kalian, kemudian dekatkanlah temanmu dan dekatkanlah sepuluh ekor unta, kemudian undianlah atasnya dan atasnya dengan anak panah, maka jika keluar kepada temanmu maka tambahkanlah dari unta hingga ridha Tuhanmu, dan jika keluar kepada unta maka sembelihlah ia untuknya maka telah ridha Tuhanmu dan selamatlah temanmu, maka keluarlah mereka hingga mereka tiba di Makkah, maka ketika mereka sepakat atas perkara itu berdirilah Abdul Muththalib berdoa kepada Allah, kemudian mereka dekatkanlah Abdullah dan sepuluh ekor unta, kemudian mereka undi maka keluarlah anak panah kepada Abdullah, maka mereka tambahkan sepuluh, kemudian mereka undi maka keluarlah anak panah kepada Abdullah, maka mereka tambahkan sepuluh, maka tidaklah mereka berhenti menambahkan sepuluh sepuluh, dan keluarlah anak panah kepada Abdullah hingga mencapai unta seratus, kemudian mereka undi maka keluarlah anak panah kepada unta, maka berkatalah pada saat itu Quraisy kepada Abdul Muththalib dan ia berdiri di sisi Hubal berdoa kepada Allah: Sungguh telah sampai keridhaan Tuhanmu wahai Abdul Muththalib, maka mereka mengira bahwasanya ia berkata: Tidak hingga aku undi atasnya dengan anak panah tiga kali, maka mereka undi tiga kali dan jatuh anak panah di dalamnya kepada unta, maka disembelihlah kemudian dibiarkan tidak dihalau darinya manusia dan tidak dicegah. Berkata Ibnu Hisyam: Dan dikatakan: Dan tidak binatang buas.

Dan dikatakan: Sesungguhnya ketika mencapai unta seratus keluarlah kepada Abdullah juga, maka mereka tambahkan seratus yang lain hingga mencapai dua ratus, maka keluarlah anak panah kepada Abdullah, maka mereka tambahkan seratus yang lain, maka menjadilah unta tiga ratus, kemudian mereka undi maka keluarlah anak panah kepada unta, maka menyembelihnya pada saat itu Abdul Muththalib. Dan yang shahih adalah yang pertama, wallahu a’lam.

Dan telah meriwayatkan Ibnu Jarir dari Yunus bin Abdul A’la dari Ibnu Wahb dari Yunus bin Yazid dari az-Zuhri dari Qubaishah bin Dzu’aib bahwa Ibnu Abbas ditanya olehnya seorang wanita bahwasanya ia bernadzar menyembelih anaknya di sisi Kakbah, maka ia memerintahkannya untuk menyembelih seratus ekor unta, dan menyebutkan untuknya kisah ini dari Abdul Muththalib, dan ia bertanya kepada Abdullah bin Umar maka tidak memfatwainya dengan sesuatu bahkan ia diam, maka sampailah hal itu kepada Marwan bin al-Hakam dan ia adalah amir di Madinah, maka berkata: Sesungguhnya keduanya tidak tepat dalam fatwa, kemudian ia memerintahkan wanita itu supaya mengerjakan apa yang ia mampu dari kebaikan, dan melarangnya dari menyembelih anaknya, dan tidak memerintahkannya untuk menyembelih unta, dan mengambil manusia dengan pendapat Marwan dengan itu. Wallahu a’lam.

Penyebutan Perkawinan Abdul Muththalib Anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahb az-Zuhriyah

Berkata Ibnu Ishaq: Kemudian pulanglah Abdul Muththalib sambil memegang tangan anaknya Abdullah, maka lewatlah dengannya – sebagaimana mereka mengira – kepada seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushayy, dan ia adalah Ummu Qattal saudara perempuan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushayy, dan ia di sisi Kakbah, maka ia melihat kepada wajahnya, lalu berkata: Ke mana engkau pergi wahai Abdullah? Ia berkata: Bersama ayahku. Ia berkata: Untukmu seperti unta yang disembelih untukmu, dan jatuhilah aku sekarang. Ia berkata: Aku bersama ayahku dan aku tidak mampu menyelisihinya dan tidak meninggalkannya. Maka keluarlah dengannya Abdul Muththalib hingga ia datang kepada Wahb bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr, dan ia pada hari itu adalah pemimpin Bani Zuhrah dalam usia dan kemuliaan, maka ia nikahkannya anak perempuannya Aminah binti Wahb dan ia pada hari itu adalah pemimpin wanita-wanita kaumnya, maka mereka mengira bahwasanya ia masuk kepadanya ketika memilikinya di tempatnya, lalu jatuhilah ia atasnya, maka hamillah darinya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian keluarlah dari sisinya, lalu ia datang kepada wanita yang menawarkan kepadanya apa yang ia tawarkan, maka ia berkata kepadanya: Apa untukmu tidak menawarkan kepadaku hari ini apa yang engkau tawarkan kemarin? Ia berkata kepadanya: Telah berpisah darimu cahaya yang bersama engkau kemarin, maka tidak ada bagiku kepadamu hari ini kebutuhan. Dan adalah ia mendengar dari saudaranya Waraqah bin Naufal – dan adalah ia telah masuk Nasrani, dan mengikuti kitab-kitab – bahwasanya akan ada di umat ini seorang nabi, maka ia berharap supaya ada darinya, maka menjadikannya Allah Ta’ala dalam unsur yang paling mulia dan tempat lahir yang paling mulia, dan asal yang paling baik, sebagaimana firman Allah Ta’ala “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya” (Surah al-An’am: 124) dan akan kami sebutkan kelahiran secara terperinci.

Dan dari apa yang dikatakan Ummu Qattal binti Naufal dari syair menyesali atas apa yang luput darinya dari perkara yang ia inginkan, dan itu sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari jalur Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq rahimahullah:

Atasmu dengan keluarga Zuhrah di mana mereka berada, dan Aminah yang mengandung seorang anak laki-laki Engkau melihat al-Mahdi ketika ia menimpakannya atasnya, dan cahaya yang mendahuluinya sebagai imam

Hingga ia berkata:

Maka seluruh makhluk mengharapkannya semuanya, ia memimpin manusia sebagai imam yang mendapat petunjuk Menciptakannya Allah dari cahaya yang suci, maka hilangnya cahayanya dari kami kegelapan Dan yang demikian itu adalah perbuatan Tuhanmu ketika menganugerahinya, apabila ia berjalan suatu hari atau berdiam Maka ia memberi petunjuk penduduk Makkah setelah kekufuran, dan mewajibkan setelah itu puasa

Dan berkata Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin Sahl al-Khara’ithi: telah menceritakan kepada kami Ali bin Harb telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amarah al-Qurasyi telah menceritakan kepada kami Muslim bin Khalid az-Zanji telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas ia berkata: Ketika pergi Abdul Muththalib dengan anaknya Abdullah untuk menikahkannya, lewatlah dengannya kepada seorang dukun wanita dari penduduk Tabalah yang beragama Yahudi yang telah membaca kitab-kitab, dikatakan kepadanya: Fathimah binti Murr al-Khats’amiyyah, maka ia melihat cahaya kenabian di wajah Abdullah, lalu berkata: Wahai pemuda apakah ada bagimu supaya engkau jatuhkan kepadaku sekarang, dan aku berikan kepadamu seratus ekor unta. Maka berkata Abdullah:

Adapun yang haram maka kematian lebih baik daripadanya, dan yang halal tidak ada halal maka aku menjelaskannya Lalu bagaimana dengan perkara yang engkau inginkan, ia melindungi yang mulia kehormatannya dan agamanya

Kemudian ia melanjutkan bersama ayahnya, lalu ia nikahkannya dengan Aminah binti Wahb bin Abdul Manaf bin Zuhrah, maka ia tinggal di sisinya tiga hari, kemudian sesungguhnya nafsunya menyerunya kepada apa yang menyerunya kepadanya dukun wanita itu, maka ia datang kepadanya, lalu berkata: Apa yang engkau lakukan setelahku? Maka ia kabarkan kepadanya, lalu berkata: Demi Allah aku bukan pemilik keraguan, namun aku melihat di wajahmu cahaya, maka aku ingin supaya ada di dalamku, dan menolak Allah kecuali menjadikannya di mana Dia kehendaki, kemudian mulailah Fathimah berkata:

Sesungguhnya aku melihat awan yang bersinar, ia berkilau-kilau dengan butir-butir air Maka terkejutlah aku dengannya sebagai cahaya yang menerangi untuknya, apa yang di sekitarnya seperti cahaya bulan purnama Dan aku mengharapkannya sebagai kemuliaan yang aku akan mendapatnya, tidak setiap yang menggosok kayunya ia menyala Kepada Allah apa yang az-Zuhriyyah telah merampas, ia merampas kedua pakaianmu, apa yang ia rampas dan apa yang engkau tahu

Dan berkata Fathimah juga:

Bani Hasyim sungguh telah ditinggalkan dari saudaramu, Aminah ketika untuk syahwat keduanya bergulat Sebagaimana ditinggalkan pelita ketika padamnya, sumbu yang telah dinyalakan untuknya dengan minyak Dan tidaklah setiap yang menggenggam pemuda dari warisannya, dengan ketegasan dan tidaklah apa yang luput darinya untuk kelalaian Maka baguskanlah apabila engkau menuntut suatu perkara maka sesungguhnya, akan mencukupimu dua keberuntungan yang bergulat Akan mencukupimu baik tangan yang tergenggam, atau pun tangan yang terhampar dengan jari-jari Dan ketika mengandung darinya Aminah apa yang ia kandung, ia mengandung darinya kemuliaan yang tidak ada keduanya untuk itu

Dan Abu Nu’aim Al-Hafizh meriwayatkan dalam kitab Dala’il an-Nubuwwah dari jalur Ya’qub bin Muhammad Az-Zuhri dari Abdul Aziz bin Imran dari Abdullah bin Ja’far dari Abu ‘Aun dari Al-Miswar bin Makhramah dari Ibnu Abbas yang berkata: Sesungguhnya Abdul Muththalib pergi ke Yaman dalam perjalanan dagang musim dingin lalu singgah di tempat seorang pendeta Yahudi. Berkata: maka berkatalah kepadaku seorang laki-laki dari ahli Zabur, yaitu ahli kitab: “Wahai Abdul Muththalib, apakah engkau mengizinkan aku melihat sebagian tubuhmu?” Aku berkata: “Ya, selama bukan aurat.” Berkata: maka ia membuka salah satu lubang hidungku lalu melihat ke dalamnya, kemudian melihat yang satunya lagi. Ia berkata: “Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu ada kerajaan dan di tangan yang lain ada kenabian. Dan kami mendapati hal itu pada Bani Zuhrah, bagaimana hal itu?” Aku berkata: “Aku tidak tahu.” Ia berkata: “Apakah engkau memiliki seorang istri?” Aku berkata: “Apa itu istri?” Ia berkata: “Istri.” Aku berkata: “Adapun sekarang tidak.” Ia berkata: “Apabila engkau kembali maka kawinlah dengan mereka.” Maka Abdul Muththalib kembali lalu menikahi Halah binti Wuhaib bin Abdul Manaf bin Zuhrah. Maka ia melahirkan Hamzah dan Shafiyyah. Kemudian Abdullah bin Abdul Muththalib menikahi Aminah binti Wahb maka ia melahirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Quraisy berkata ketika Abdullah menikahi Aminah: “Falaja” yaitu menang, dan Abdullah mengalahkan ayahnya Abdul Muththalib.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

 

Kitab Sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Dan Penyebutan Hari-Harinya, Peperangan-Peperangannya, Pasukan-Pasukannya, Utusan-Utusan Kepadanya, Sifat-Sifat dan Keutamaan-Keutamaannya, serta Bukti-Bukti yang Menunjukkan Kepadanya

Bab Penyebutan Nasab Mulianya dan Kebaikan Asal-Usul yang Luhur

Allah Ta’ala berfirman: “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.” (Surah Al-An’am: 124) Dan ketika Heraklius raja Romawi menanyakan kepada Abu Sufyan pertanyaan-pertanyaan tersebut tentang sifat-sifatnya ‘alaihish-shalatu wassalam, ia berkata: “Bagaimana nasabnya di kalangan kalian?” Ia menjawab: “Dia di antara kami memiliki nasab yang mulia.” Heraklius berkata: “Demikianlah para rasul diutus dari nasab-nasab kaum mereka.” Artinya: dari yang paling mulia keturunannya, dan paling banyak kabilahnya, semoga rahmat Allah atas mereka semua.

Maka beliau adalah pemimpin putra Adam dan kebanggaan mereka di dunia dan akhirat, Abul Qasim dan Abu Ibrahim, Muhammad dan Ahmad dan Al-Mahi yang dengannya kekufuran dihapus, dan Al-‘Aqib yang tidak ada nabi sesudahnya, dan Al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di depan kedua kakinya, dan Al-Muqaffi dan Nabi Rahmat dan Nabi Taubat dan Nabi Peperangan dan Penutup Para Nabi dan Al-Fatih dan Thaha dan Yasin dan Abdullah.

Al-Baihaqi berkata: Dan sebagian ulama menambahkan lalu berkata: Allah menamakannya dalam Al-Quran sebagai Rasul, Nabi, Ummi, Saksi, Pembawa kabar gembira, Pemberi peringatan, dan Penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan Pelita yang menerangi, dan Ra’uf (Sangat penyantun), Rahim (Penyayang), dan Pemberi peringatan, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat dan nikmat dan pemberi petunjuk.

Dan kami akan membawakan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang nama-namanya ‘alaihish-shalatu wassalam dalam bab yang akan kami buat setelah selesai dari sirah, karena sesungguhnya telah datang hadits-hadits banyak tentang hal itu. Para hafizh besar Abu Bakar Al-Baihaqi dan Abul Qasim Ibnu Asakir telah berupaya mengumpulkannya. Dan orang-orang telah membuat karya khusus tentang hal itu, hingga sebagian dari mereka berupaya mengumpulkan seribu nama baginya ‘alaihish-shalatu wassalam. Adapun fakih besar Abu Bakar Ibnu Al-Arabi Al-Maliki yang mensyarah kitab At-Tirmidzi dengan kitabnya yang ia beri nama Al-Ahwadzi, maka ia menyebutkan dari itu enam puluh empat nama. Wallahu a’lam.

Dan beliau adalah putra Abdullah, dan ia adalah anak terkecil ayahnya Abdul Muththalib, dan ia adalah orang yang akan disembelih kedua yang ditebus dengan seratus ekor unta sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Az-Zuhri berkata: Dan ia adalah laki-laki Quraisy yang paling tampan. Dan ia adalah saudara Al-Harits, Az-Zubair, Hamzah, Dhirar, Abu Thalib yang namanya Abdul Manaf, Abu Lahab yang namanya Abdul ‘Uzza, Al-Muqawwim yang namanya Abdul Ka’bah, dan dikatakan bahwa keduanya adalah dua orang, dan Hajl yang namanya Al-Mughirah, dan Al-Ghaidaq yaitu yang sangat dermawan, dan namanya Naufal, dan dikatakan bahwa ia adalah Hajl, dan Al-Abbas. Maka mereka inilah paman-pamannya ‘alaihish-shalatu wassalam. Dan bibi-bibinya ada enam orang yaitu Arwa, Barrah, Umaimah, Shafiyyah, ‘Atikah, dan Ummu Hakim yaitu Al-Baidha’. Dan kami akan membicarakan tentang masing-masing mereka nanti insya Allah Ta’ala.

Maka mereka inilah anak-anak Abdul Muththalib, yang namanya Syaibah. Dikatakan karena uban yang ada di kepalanya, dan ia dipanggil Syaibatul Hamd karena kedermawanannya, dan hanya dipanggil Abdul Muththalib karena ayahnya Hasyim ketika melewati Madinah dalam perdagangannya ke Syam singgah di tempat Amr bin Zaid bin Labid bin Haram bin Khudasy bin ‘Amir bin Ghanim bin ‘Adiy bin An-Najjar Al-Khazraji An-Najjari, dan ia adalah pemimpin kaumnya. Maka ia terkesan dengan putrinya Salma lalu melamarnya kepada ayahnya, maka ia menikahkannya kepadanya, dan mensyaratkan agar ia tinggal di tempatnya.

Dan dikatakan bahwa ia mensyaratkan agar ia tidak melahirkan kecuali di tempatnya di Madinah. Maka ketika ia kembali dari Syam, ia menikahi dan membawanya bersamanya ke Mekkah. Ketika ia keluar untuk berdagang, ia membawanya bersamanya sedang ia hamil lalu meninggalkannya di Madinah, dan masuk ke Syam maka meninggal di Gaza. Dan Salma melahirkan anaknya maka menamainya Syaibah. Maka ia tinggal di sisi paman-paman dari pihak ibunya Bani ‘Adiy bin An-Najjar selama tujuh tahun. Kemudian datanglah pamannya Al-Muththalib bin Abdul Manaf lalu membawanya secara diam-diam dari ibunya dan pergi bersamanya ke Mekkah. Ketika orang-orang melihatnya dan melihatnya di atas kendaraan, mereka berkata: “Siapa ini bersamamu?” Ia berkata: “Budakku.” Kemudian mereka datang dan mengucapkan selamat kepadanya dan terus berkata kepadanya: “Abdul Muththalib” karena itu maka nama itu melekat padanya. Dan ia menjadi pemimpin di Quraisy dengan kepemimpinan yang agung, dan memperoleh kehormatan dan kepemimpinan mereka. Maka urusan mereka terkumpul padanya, dan kepadanya urusan memberi minum dan rafa­dah setelah Al-Muththalib. Dan dialah yang memperbaharui penggalian sumur Zamzam setelah ia tertutup sejak zaman Jurhum. Dan ia adalah orang pertama yang menghiasi Ka’bah dengan emas pada pintu-pintunya dari kedua rusa emas yang ia temukan di sumur Zamzam beserta pedang-pedang Qal’iyah tersebut.

Ibnu Hisyam berkata: Dan Abdul Muththalib adalah saudara Asad, Nadhlah, Abu Shaifi, Hayyah, Khalidah, Ruqayyah, Asy-Syafa’ dan Dha’ifah, mereka semua anak-anak Hasyim yang namanya Amr. Dan ia hanya dinamai Hasyim karena ia meremukkan roti bersama daging untuk kaumnya di tahun-tahun paceklik, sebagaimana dikatakan oleh Mathrud bin Ka’b Al-Khuza’i dalam syairnya, dan dikatakan bahwa syair itu adalah karya Abdullah bin Az-Zib’ara:

Amr yang meremukkan roti untuk kaumnya Suatu kaum di Mekkah yang kelaparan dan lemah Kedua perjalanan itu ditetapkan kepadanya keduanya Perjalanan musim dingin dan perjalanan musim panas

Dan itu karena ia adalah orang pertama yang menetapkan perjalanan musim dingin dan musim panas. Dan ia adalah anak tertua ayahnya. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa ia adalah saudara kembar saudaranya Abdul Syams, dan bahwa Hasyim keluar dengan kakinya yang melekat pada kepala Abdul Syams, maka tidak terpisah hingga mengalir darah di antara keduanya. Maka orang-orang berkata: “Dengan itu akan terjadi peperangan di antara anak-anak mereka.” Maka terjadilah peristiwa Bani Abbas dengan Bani Umayyah bin Abdul Syams pada tahun seratus tiga puluh tiga Hijriyah. Dan saudara ketiga mereka adalah Al-Muththalib. Dan Al-Muththalib adalah anak terkecil ayahnya, dan ibu mereka adalah ‘Atikah binti Murrah bin Hilal. Dan keempat mereka adalah Naufal dari ibu yang lain, yaitu Waqidah binti Amr Al-Maziniyyah. Mereka telah memimpin kaum mereka setelah ayah mereka, dan kepemimpinan berpindah kepada mereka. Dan mereka dipanggil Al-Mujirun, dan itu karena mereka mengambil jaminan untuk kaum mereka Quraisy dari raja-raja wilayah agar mereka masuk dalam perdagangan ke negeri-negeri mereka. Maka Hasyim telah mengambil jaminan dari raja-raja Syam, Romawi dan Ghassan. Dan Abdul Syams mengambil untuk mereka dari An-Najasyi Al-Akbar raja Habasyah. Dan Naufal mengambil untuk mereka dari para Kisra. Dan Al-Muththalib mengambil untuk mereka jaminan dari raja-raja Himyar. Dan untuk mereka penyair berkata:

Wahai orang yang memindahkan kendaraannya Tidakkah engkau singgah di keluarga Abdul Manaf

Dan kepada Hasyim urusan memberi minum dan rafadah setelah ayahnya, dan kepadanya dan kepada saudaranya Al-Muththalib dinisbahkan Dzawil Qurba. Dan mereka adalah satu kesatuan dalam keadaan jahiliyah dan Islam, tidak pernah berpisah, dan masuk bersama mereka ke Syi’ib, dan meninggalkan mereka Bani Abdul Syams dan Naufal. Dan oleh karena itu Abu Thalib berkata dalam syairnya:

Semoga Allah membalas kami dari Abdul Syams dan Naufal Dengan hukuman keburukan yang segera tidak tertunda

Dan tidak diketahui anak-anak seorang ayah yang berbeda dalam kematian seperti mereka. Maka sesungguhnya Hasyim meninggal di Gaza dari tanah Syam, dan Abdul Syams meninggal di Mekkah, dan Naufal meninggal di Salman dari tanah Irak, dan Al-Muththalib meninggal – dan ia dipanggil Al-Qamar karena ketampanannya – di Radman dari jalan Yaman. Maka mereka inilah empat bersaudara yang mashur yaitu Hasyim, Abdul Syams, Naufal dan Al-Muththalib. Dan mereka memiliki saudara kelima yang tidak mashur yaitu Abu Amr yang namanya Abd, dan asal namanya Abd Qushay. Maka orang-orang berkata: “Abd bin Qushay tidak memiliki keturunan.” Demikian dikatakan Az-Zubair bin Bakkar dan lainnya. Dan enam orang saudara perempuan yaitu Tamadhur, Hayyah, Raithah, Qalabah, Ummu Al-Akhtam dan Ummu Sufyan. Semua mereka ini adalah anak-anak Abdul Manaf. Dan Manaf adalah nama berhala, dan asal nama Abdul Manaf adalah Al-Mughirah. Dan ia telah menjadi pemimpin di masa ayahnya, dan memperoleh kehormatan dengan segala cara. Dan ia adalah saudara Abdul Dar yang adalah anak tertua ayahnya, dan kepadanya ia berwasiat dengan jabatan-jabatan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Dan Abdul ‘Uzza, ‘Abd, Barrah dan Takhmur, dan ibu mereka semua adalah Hubba binti Hulail bin Habsyiyyah bin Sulul bin Ka’b bin Amr Al-Khuza’i, dan ayahnya adalah raja terakhir Khuza’ah dan penjaga Baitullah dari mereka. Dan mereka semua adalah anak-anak Qushay yang namanya Zaid, dan ia hanya dinamai demikian karena ibunya menikah setelah ayahnya dengan Rabi’ah bin Haram bin ‘Udzrah lalu berpergian bersamanya ke negerinya sedang anaknya masih kecil maka ia dinamai Qushay karena itu. Kemudian ia kembali ke Mekkah sedang ia sudah besar, dan mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai-berai dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri yang berpencar, dan mengambil kekuasaan Khuza’ah atas Baitullah dan mengusir mereka dari Mekkah, dan kebenaran kembali ke tempatnya. Dan ia menjadi pemimpin Quraisy secara mutlak, dan kepadanya urusan rafadah yaitu ia yang menetapkannya, dan memberi minum, penjagaan Ka’bah, hijabah, bendera, dan rumahnya adalah Darul Nadwah sebagaimana telah disebutkan penjelasan tentang semua itu sebelumnya. Dan oleh karena itu penyair berkata:

Qushay demi umurku dahulu dipanggil Mujamma’ Dengannya Allah mengumpulkan kabilah-kabilah dari Fihr

Dan ia adalah saudara Zuhrah, keduanya putra Kilab saudara Taim dan Yaqazhah ayah Makhzum, ketiganya putra Murrah saudara ‘Adiy dan Hushaysh, dan mereka adalah putra-putra Ka’b. Dan dialah yang dahulu berkhutbah kepada kaumnya setiap Jumat, dan memberi kabar gembira kepada mereka tentang diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan membaca tentang itu syair-syair sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Dan ia adalah saudara ‘Amir, Samah, Khuzaimah, Sa’d, Al-Harits dan ‘Auf, ketujuhnya putra Lu’ay saudara Taim Al-Adram, dan keduanya putra Ghalib saudara Al-Harits dan Muharib, ketiganya putra Fihr. Dan ia adalah saudara Al-Harits, dan keduanya putra Malik. Dan ia adalah saudara Ash-Shalt dan Yakhlud, dan mereka adalah putra-putra An-Nadhr yang kepadanya berkumpul semua Quraisy menurut pendapat yang benar sebagaimana kami telah sebutkan dalilnya sebelumnya. Dan ia adalah saudara Malik, Malkan dan Abdu Manah dan lain-lain, mereka semua putra Kinanah saudara Asad, Asadah dan Al-Haun putra-putra Khuzaimah. Dan ia adalah saudara Hudzail, dan keduanya putra Mudrikah yang namanya Amr saudara Thabikh­ah yang namanya ‘Amir, dan Qam’ah, ketiganya putra Ilyas. Dan saudara Ilyas adalah ‘Ailan ayah seluruh Qais, dan keduanya putra Mudhar saudara Rabi’ah, dan dikatakan kepada keduanya Ash-Sharihan dari keturunan Ismail. Dan kedua saudara mereka Anmar dan Iyad bergerak ke Yaman, keempatnya putra Nizar saudara Qudha’ah – menurut pendapat sekelompok orang yang berpendapat bahwa Qudha’ah adalah Hijazi Adnani – dan telah disebutkan penjelasannya sebelumnya, keduanya putra Ma’ad bin Adnan.

Dan nasab ini dengan sifat ini tidak ada perselisihan di dalamnya di antara para ulama. Maka semua kabilah Arab Hijaz berakhir pada nasab ini. Dan oleh karena itu Ibnu Abbas dan lainnya berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Itulah yang Allah kabarkan gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepada kalian sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekerabatan. Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan, Kami tambahkan kebaikan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.'” (Surah Asy-Syura: 23) Tidak ada satu cabang pun dari cabang-cabang Quraisy kecuali bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada nasab yang bersambung kepada mereka. Dan benar apa yang dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang apa yang ia katakan, dan lebih dari apa yang ia katakan, yaitu bahwa semua kabilah Arab Adnaniyah berakhir kepadanya melalui para ayah dan banyak dari mereka melalui para ibu juga, sebagaimana disebutkan Muhammad bin Ishaq dan lainnya tentang ibu-ibunya dan ibu-ibu bapak-bapaknya dan ibu-ibu mereka, yang panjang jika disebutkan. Dan telah ditahqiq oleh Ibnu Ishaq rahimahullah dan Al-Hafizh Ibnu Asakir. Dan kami telah sebutkan dalam biografi Adnan, nasabnya dan apa yang dikatakan tentangnya, dan bahwa ia dari keturunan Ismail pasti, walaupun berselisih tentang berapa ayah di antara keduanya, atas beberapa pendapat yang telah kami jelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Dan kami telah sebutkan sisa nasab dari Adnan sampai Adam, dan membawakan qasidah Abul Abbas An-Nasyi’ yang memuat hal itu, semua itu dalam berita-berita Arab Hijaz dan segala puji bagi Allah.

Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah berbicara di awal kitab sejarahnya tentang hal itu dengan pembahasan yang luas, bagus, teliti, dan bermanfaat. Telah diriwayatkan sebuah hadits tentang nasabnya shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada Adnan ketika beliau berada di atas mimbar, namun hanya Allah yang lebih mengetahui tentang keshahihannya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqi: telah memberitakan kepada kami Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al-Muqri di Baghdad, telah menceritakan kepada kami Abu Isa Bakkar bin Ahmad bin Bakkar, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Musa bin Sa’id secara imla pada tahun dua ratus sembilan puluh enam, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Aban Al-Qalanisi, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Rabi’ah Al-Qudami, telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Az-Zuhri dari Anas, dan dari Abu Bakr bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam, ia berkata: telah sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada orang-orang dari Kindah yang mengklaim bahwa mereka dari beliau dan beliau dari mereka, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya yang mengatakan itu hanyalah Al-Abbas dan Abu Sufyan bin Harb agar mereka aman dengan hal itu, dan sesungguhnya kami tidak akan melepaskan diri dari bapak-bapak kami, kami adalah Bani An-Nadhr bin Kinanah.” Beliau berkata: dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah lalu bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar. Dan tidaklah manusia terbagi menjadi dua kelompok melainkan Allah menjadikanku pada kelompok yang terbaik. Aku dilahirkan dari kedua orang tuaku dan tidak mengenai sedikitpun dariku keburukan zina jahiliyah, dan aku keluar dari pernikahan dan tidak keluar dari perzinaan, sejak Adam hingga aku sampai kepada ayah dan ibuku, maka aku adalah sebaik-baik kalian jiwanya dan sebaik-baik kalian ayahnya.”

Dan ini adalah hadits yang sangat gharib dari hadits Malik yang diriwayatkan sendiri oleh Al-Qudami dan ia adalah dhaif. Namun kami akan menyebutkan syahid-syahidnya dari jalur-jalur lain; di antaranya adalah sabda beliau “Aku keluar dari pernikahan bukan dari perzinaan.” Berkata Abdurrazzaq: telah memberitakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya Abu Ja’far Al-Baqir tentang firman Allah Ta’ala “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari (kalangan) dirimu sendiri” (Surat At-Taubah: 128), ia berkata: tidak mengenainya sedikitpun dari kelahiran jahiliyah. Ia berkata: dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku keluar dari pernikahan, dan tidak keluar dari perzinaan.” Dan ini adalah mursal yang baik. Dan demikianlah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani dari Yahya bin Abi Bukair dari Abdul Ghaffar bin Al-Qasim dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengeluarkanku dari pernikahan, dan tidak mengeluarkanku dari perzinaan.”

Dan telah meriwayatkannya Ibnu ‘Adiy secara mawshul, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Amr Al-‘Adani Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain, ia berkata: aku bersaksi atas ayahku telah menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku keluar dari pernikahan, dan tidak keluar dari perzinaan sejak Adam hingga ayah dan ibuku melahirkanku, dan tidak mengenai sedikitpun dariku perzinaan jahiliyah.” Dan ini adalah gharib dari jalur ini dan hampir tidak shahih.

Dan berkata Husyaim: telah menceritakan kepada kami Al-Madini dari Abu Al-Huwayrits dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak melahirkanku dari pernikahan orang-orang jahiliyah sedikitpun, tidak melahirkanku kecuali pernikahan seperti pernikahan Islam.” Dan ini juga gharib yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir, kemudian ia menyandarkannya dari hadits Abu Hurairah, dan dalam sanadnya ada kedhaifan. Wallahu a’lam. Dan berkata Muhammad bin Sa’d: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Umar, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Muslim dari pamannya Az-Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dilahirkan dari pernikahan bukan perzinaan.” Kemudian Ibnu Asakir mengemukakan dari hadits Abu Ashim dari Syabib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala “Dan (ingatlah) perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud” (Surat Asy-Syu’ara: 219), ia berkata: dari nabi ke nabi hingga aku dilahirkan sebagai nabi, dan diriwayatkan dari Atha.

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Muhammad Al-Kalbi dari ayahnya, ia berkata: aku tuliskan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lima ratus ibu, maka aku tidak mendapati di antara mereka perzinaan dan tidak sedikitpun dari perkara jahiliyah.

Dan telah tetap dalam Shahih Bukhari dari hadits ‘Amr bin Abi ‘Amr dari Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diutus dari sebaik-baik generasi Bani Adam, generasi demi generasi hingga aku diutus dari generasi yang aku berada di dalamnya.” Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Al-Auza’i dari Syaddad Abu ‘Ammar dari Watsilah bin Al-Asqa’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih dari keturunan Ibrahim yaitu Ismail, dan memilih dari Bani Ismail yaitu Bani Kinanah, dan memilih dari Bani Kinanah yaitu Quraisy, dan memilih dari Quraisy yaitu Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dari Sufyan dari Yazid bin Abi Ziyad dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal dari Al-Muththalib bin Abi Wada’ah, ia berkata: Al-Abbas berkata (telah sampai kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagian dari apa yang dikatakan orang-orang, maka beliau naik ke mimbar lalu bersabda: “Siapakah aku?” Mereka berkata: engkau adalah Rasulullah. Beliau bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk lalu menjadikanku pada sebaik-baik makhluk-Nya, dan menjadikan mereka dua kelompok lalu menjadikanku pada sebaik-baik kelompok, dan menciptakan kabilah-kabilah lalu menjadikanku pada sebaik-baik kabilah, dan menjadikan mereka rumah-rumah lalu menjadikanku pada sebaik-baik rumah mereka, maka aku adalah sebaik-baik kalian rumahnya, dan sebaik-baik kalian jiwanya.” Shalawat dan salam Allah atasnya selamanya selama-lamanya hingga hari kiamat.

Dan berkata Ya’qub bin Sufyan: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Isma’il bin Abi Khalid dari Yazid bin Abi Ziyad dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ia berkata: aku berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya Quraisy apabila mereka bertemu sebagian mereka menyambut sebagian yang lain dengan wajah ceria, dan apabila mereka menemui kami mereka menemui kami dengan wajah yang tidak kami kenali, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah saat itu dengan kemarahan yang sangat, kemudian bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak akan masuk iman ke dalam hati seorang laki-laki hingga ia mencintai kalian karena Allah dan karena Rasul-Nya.” Maka aku berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya Quraisy duduk lalu mereka saling menyebutkan nasab-nasab mereka, maka mereka menjadikan perumpamaanmu seperti perumpamaan pohon kurma di tengah-tengah sampah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah pada hari Dia menciptakan makhluk menjadikanku pada sebaik-baik mereka, kemudian ketika Dia membagi mereka menjadi kabilah-kabilah menjadikanku pada sebaik-baik kabilah mereka, kemudian ketika Dia menjadikan rumah-rumah menjadikanku pada sebaik-baik rumah mereka, maka aku adalah sebaik-baik mereka jiwanya dan sebaik-baik mereka rumahnya.” Dan telah meriwayatkannya Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Ibnu Fudhail dari Yazid bin Abi Ziyad dari Abdullah bin Al-Harits dari Rabi’ah bin Al-Harits, ia berkata: telah sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia menyebutkannya dengan seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan ia tidak menyebutkan Al-Abbas.

Dan berkata Ya’qub bin Sufyan, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abdul Hamid, telah menceritakan kepadaku Qais bin Abdullah dari Al-A’masy dari ‘Ubayah bin Rub’i dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membagi makhluk menjadi dua bagian lalu menjadikanku pada sebaik-baik keduanya bagian, maka itulah firman-Nya ‘dan golongan kanan’ (Surat Al-Waqi’ah: 27) ‘dan golongan kiri’ (Surat Al-Waqi’ah: 41), maka aku dari golongan kanan, dan aku adalah sebaik-baik golongan kanan, kemudian Dia menjadikan kedua bagian itu menjadi tiga bagian lalu menjadikanku pada sebaik-baik ketiganya bagian, maka itulah firman-Nya ‘golongan kanan’ (Surat Al-Waqi’ah: 8) ‘dan orang-orang yang terdahulu, orang-orang yang terdahulu’ (Surat Al-Waqi’ah: 10), maka aku dari orang-orang yang terdahulu dan aku adalah sebaik-baik orang-orang yang terdahulu, kemudian Dia menjadikan ketiga bagian itu menjadi kabilah-kabilah lalu menjadikanku pada sebaik-baik kabilahnya, maka itulah firman-Nya ‘dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahateliti’ (Surat Al-Hujurat: 13), dan aku adalah yang paling bertakwa dari keturunan Adam dan paling mulia di sisi Allah dan tidak sombong, kemudian Dia menjadikan kabilah-kabilah itu menjadi rumah-rumah lalu menjadikanku pada sebaik-baik rumahnya, dan itulah firman-Nya ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya’ (Surat Al-Ahzab: 33), maka aku dan Ahlul Baitku disucikan dari dosa-dosa.” Dan hadits ini di dalamnya ada keanehan dan keingkaran.

Dan telah meriwayatkan Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari hadits Muhammad bin Dzakwan paman anak-anak Hammad bin Zaid dari ‘Amr bin Dinar dari Ibnu Umar, ia berkata: kami sedang duduk di halaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba seorang wanita melewati beliau, maka sebagian kaum berkata: ini adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Sufyan berkata: perumpamaan Muhammad di Bani Hasyim adalah seperti perumpamaan bunga harum di tengah-tengah kotoran, maka pergilah wanita itu lalu memberitakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat di wajahnya kemarahan, lalu bersabda: “Ada apa dengan ucapan-ucapan kaum yang sampai kepadaku, sesungguhnya Allah menciptakan langit tujuh lalu memilih yang tertinggi di antaranya lalu menempatkan di dalamnya siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, kemudian menciptakan makhluk lalu memilih dari makhluk itu Bani Adam, dan memilih dari Bani Adam yaitu Arab, dan memilih dari Arab yaitu Mudhar, dan memilih dari Mudhar yaitu Quraisy, dan memilih dari Quraisy yaitu Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim, maka aku adalah pilihan dari pilihan, barangsiapa mencintai Arab maka karena cintanya kepadaku ia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci Arab maka karena kebenciannya kepadaku ia membenci mereka.” Dan ini juga hadits gharib.

Dan telah tetap dalam Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah pemimpin keturunan Adam pada hari kiamat dan tidak sombong.” Dan telah meriwayatkan Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga dari hadits Musa bin ‘Ubaidah, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abdullah bin Naufal dari Az-Zuhri dari Abu Usamah – atau Abu Salamah – dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril berkata kepadaku: aku telah membalikkan bumi dari timur dan baratnya maka aku tidak mendapati seorang laki-laki yang lebih utama dari Muhammad, dan aku membalikkan bumi timur dan baratnya maka aku tidak mendapati bani seorang ayah yang lebih utama dari Bani Hasyim.”

Berkata Al-Hafizh Al-Baihaqi: dan hadits-hadits ini, walaupun dalam para perawinya ada yang tidak dapat dijadikan hujjah, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, dan makna keseluruhannya kembali kepada hadits Watsilah bin Al-Asqa’. Wallahu a’lam.

Aku katakan: dan dalam makna ini berkata Abu Thalib memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Apabila Quraisy berkumpul suatu hari untuk bermegah-megahan … maka Abdu Manaf adalah rahasianya dan intinya Apabila terkumpul para pemuka Abdu Manaf … maka pada Hasyim ada para pembesar mereka dan masa lalunya Dan apabila engkau bermegah-megahan suatu hari, maka sesungguhnya Muhammad … dia adalah yang terpilih dari rahasia mereka yang mulia Quraisy memanggil yang buruk dan yang baik mereka … kepada kami, namun mereka tidak berhasil dan akal mereka terbang Dan kami dahulu tidak membiarkan kezhaliman … apabila mereka melengkungkan pipi dengan sombong, kami luruskan Dan kami melindungi tempat perlindungannya setiap hari yang berat … dan kami pukul dari tempat tinggalnya siapa yang bermaksud jahat padanya Dengan kami bangkit tongkat yang layu dan sesungguhnya … di pinggiran kami menjadi subur dan tumbuh akar pohonnya

Dan berkata Abu As-Sikin Zakariya bin Yahya Ath-Tha’i dalam Juz’ yang dinisbatkan kepadanya yang masyhur: telah menceritakan kepadaku paman ayahku Zuhr bin Hishn dari kakeknya Humaid bin Manhab, ia berkata: kakekku Khuraim bin Aus berkata: aku berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku datang kepadanya saat kepulangannya dari Tabuk lalu aku masuk Islam, maka aku mendengar Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin memujimu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah, semoga Allah tidak merontokkan mulutmu,” maka ia mulai membaca syair:

Sebelumnya engkau bersih dalam bayangan dan di … tempat penyimpanan ketika dedaunan dijahit Kemudian engkau turun ke negeri-negeri bukan manusia … engkau bukan segumpal darah dan bukan segumpal daging Bahkan setetes air mani yang menunggangi bahtera dan sungguh … telah dikekang burung Nasr dan keluarganya tenggelam Berpindah dari tulang punggung ke rahim … apabila berlalu satu generasi muncul generasi berikutnya Hingga menguasai rumahmu Yang Mahatinggi dari … Khindif yang tinggi di bawahnya ada sabuk Dan engkau ketika dilahirkan menyinari bumi … dan terang dengan cahayamu cakrawala Maka kami dalam cahaya itu dan dalam … cahaya dan jalan-jalan petunjuk kami menempuh

Dan telah diriwayatkan syair ini untuk Hassan bin Tsabit, maka meriwayatkan Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ibnu Asakir dari jalan Abu Al-Hasan bin Abi Al-Hadid, telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin Abi Nashr, telah memberitakan kepada kami Abdus Salam bin Ahmad bin Muhammad Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Hushain Muhammad bin Isma’il bin Muhammad At-Tamimi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Az-Zahid Al-Khurasani, telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrahim bin Bannan, telah menceritakan kepada kami Salam bin Sulaiman Abu Al-Abbas Al-Makfuf Al-Mada’ini, telah menceritakan kepada kami Warqa’ bin Umar dari Ibnu Abi Najih dari Atha, dan Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku berkata: ditebus ayah dan ibuku untukmu, di manakah engkau berada ketika Adam di surga? Ia berkata: maka beliau tersenyum hingga terlihat gigi taringnya, kemudian bersabda: “Aku berada di tulang punggungnya, dan aku dibawa dengan bahtera di tulang punggung ayahku Nuh, dan aku dilemparkan di tulang punggung ayahku Ibrahim, tidak pernah bertemu kedua orang tuaku dalam perzinahan, tidak henti-hentinya Allah memindahkanku dari tulang punggung yang mulia ke rahim-rahim yang suci, sifatku terpimpin, tidaklah bercabang dua cabang melainkan aku berada pada yang terbaik keduanya, dan sungguh Allah telah mengambil dengan kenabian perjanjian-Ku, dan dengan Islam janji-Ku, dan memberikan kabar gembira dalam Taurat dan Injil penyebutan-Ku, dan menjelaskan pada setiap nabi sifat-Ku, bersinar bumi dengan cahaya-Ku, dan awan untuk wajah-Ku, dan mengajarkan kepadaku kitab-Nya dan menyirami aku dengan awan-Nya, dan memisahkan untuk-Ku nama dari nama-nama-Nya, maka Dzat Pemilik Arasy adalah Mahmud dan aku adalah Muhammad, dan menjanjikan kepada-Ku bahwa Dia akan memberi-Ku hadiah dengan Haudh dan Kautsar, dan bahwa Dia akan menjadikan-Ku pemberi syafaat pertama dan yang pertama diberi syafaat, kemudian Dia mengeluarkan-Ku dari sebaik-baik generasi untuk umat-Ku, dan mereka adalah Al-Hammadun (yang banyak memuji), mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.”

Berkata Ibnu Abbas, maka Hassan bin Tsabit berkata tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Sebelumnya engkau bersih dalam bayangan dan di … tempat penyimpanan pada hari dedaunan dijahit Kemudian engkau mendiami negeri-negeri bukan manusia … engkau bukan setetes air mani dan bukan segumpal darah Yang disucikan menunggangi bahtera dan sungguh … telah dikekang burung Nasr dan keluarganya tenggelam Berpindah dari tulang punggung ke rahim … apabila berlalu satu generasi muncul generasi berikutnya

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Hassan.” Maka Ali bin Abi Thalib berkata: “Wajib surga untuk Hassan, demi Rabb Ka’bah.” Kemudian berkata Al-Hafizh Ibnu Asakir: ini adalah hadits yang sangat gharib. Aku katakan: bahkan sangat munkar.

Ia berkata: dan yang mahfuzh bahwa bait-bait ini untuk Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu, kemudian ia mengemukakannya dari hadits Abu As-Sikin Zakariya bin Yahya Ath-Tha’i sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Aku katakan: dan sebagian orang menduga bahwa itu untuk Al-Abbas bin Mirdas As-Sulami. Wallahu a’lam.

Peringatan

Qadhi Iyadh berkata dalam kitabnya asy-Syifa’: Adapun nama Ahmad yang disebutkan dalam kitab-kitab suci dan yang dikabarkan oleh para nabi, Allah dengan hikmah-Nya telah mencegah agar tidak ada seorang pun yang dinamai dengan nama itu selain dia dan tidak ada yang mengaku dengan nama itu sebelumnya, sehingga tidak menimbulkan keraguan pada orang yang lemah hatinya atau keraguan. Demikian pula nama Muhammad, tidak ada seorang pun dari bangsa Arab atau selainnya yang dinamai dengannya, hingga tersebar sebelum keberadaannya dan kelahirannya bahwa akan diutus seorang nabi bernama Muhammad. Lalu sekelompok kecil orang Arab menamakan anak-anak mereka dengan nama itu dengan harapan salah satu dari mereka adalah dia. Namun Allah Maha Mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya. Mereka adalah: Muhammad bin Uhaiha bin al-Jallah al-Ausi, Muhammad bin Salamah al-Anshari, Muhammad bin al-Bara’ al-Kindi, Muhammad bin Sufyan bin Muja’syi’, Muhammad bin Himran al-Ja’fi, Muhammad bin Khuza’i as-Sulami, tidak ada yang ketujuh bagi mereka. Dan dikatakan bahwa orang pertama yang diberi nama Muhammad adalah Muhammad bin Sufyan bin Muja’syi’. Penduduk Yaman mengatakan: “Bahkan Muhammad bin al-Yahmad dari suku Azd.” Kemudian Allah melindungi setiap orang yang dinamai dengannya agar tidak mengaku sebagai nabi atau ada yang mengakuinya sebagai nabi, atau muncul padanya suatu sebab yang membuat seseorang ragu tentang urusannya, hingga kedua nama itu benar-benar menjadi miliknya, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, tanpa ada yang menyainginya dalam kedua nama tersebut. Demikianlah kata-katanya.

Bab Kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Beliau, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, dilahirkan pada hari Senin, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Ghailan bin Jarir bin Abdullah bin Ma’bad az-Zamani dari Abu Qatadah bahwa seorang Arab Badui berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang puasa hari Senin?” Maka beliau menjawab: “Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika wahyu diturunkan kepadaku.”

Imam Ahmad berkata: Musa bin Dawud menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami dari Khalid bin Abi Imran dari Hanasy ash-Shan’ani dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi nabi pada hari Senin, keluar berhijrah dari Makkah menuju Madinah pada hari Senin, tiba di Madinah pada hari Senin, wafat pada hari Senin, dan mengangkat Hajar Aswad pada hari Senin. Ahmad sendirian meriwayatkan ini, dan diriwayatkan oleh Ibnu Ufair dan Ibnu Bukair dari Ibnu Lahi’ah, dengan tambahan: Dan Surat al-Ma’idah diturunkan pada hari Senin: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu” (QS. al-Ma’idah: 3). Demikian pula diriwayatkan oleh sebagian mereka dari Musa bin Dawud dengannya, dengan tambahan juga: Dan Perang Badar terjadi pada hari Senin. Yang mengatakan ini adalah Yazid bin Hubaib. Ini sangat munkar (aneh). Ibnu Asakir berkata: Dan yang mahfuzh (terpelihara) bahwa Badar dan turunnya ayat “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu” adalah pada hari Jumat. Ibnu Asakir benar.

Ubaidillah bin Umar meriwayatkan dari Kuraib dari Ibnu Abbas: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Demikian pula diriwayatkan dari jalur lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin. Ini tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin. Sangat jauh bahkan keliru orang yang berkata: Beliau dilahirkan pada hari Jumat tanggal tujuh belas Rabiul Awwal. Ini dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Dihyah sebagaimana yang ia baca dalam kitab I’lam al-Wara bi-A’lam al-Huda karya sebagian kalangan Syiah. Kemudian Ibnu Dihyah mulai melemahkannya, dan memang pantas dilemahkan karena bertentangan dengan nash. Kemudian jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa itu terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Ada yang mengatakan: dua malam setelahnya, ini dikatakan oleh Ibnu Abdul Barr dalam al-Isti’ab, dan diriwayatkan oleh al-Waqidi dari Abu Ma’syar Nujayh bin Abdurrahman al-Madani. Ada yang mengatakan: delapan hari setelahnya, ini diceritakan oleh al-Humaidi dari Ibnu Hazm, dan diriwayatkan oleh Malik, Uqail, Yunus bin Yazid, dan lainnya dari az-Zuhri dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im. Ibnu Abdul Barr menukil dari para ahli sejarah bahwa mereka membenarkannya, dan al-Hafizh al-Kabir Muhammad bin Musa al-Khawarizmi memastikannya, dan al-Hafizh Abu al-Khaththab Ibnu Dihyah menguatkannya dalam kitabnya at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir. Ada yang mengatakan: sepuluh hari setelahnya, dinukil oleh Ibnu Dihyah dalam kitabnya, dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Ja’far al-Baqir, dan diriwayatkan oleh Mujalid dari asy-Sya’bi sebagaimana telah disebutkan. Ada yang mengatakan: dua belas hari setelahnya, ini ditegaskan oleh Ibnu Ishaq, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya dari Affan dari Sa’id bin Mina dari Jabir dan Ibnu Abbas bahwa keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah, hari Senin tanggal dua belas bulan Rabiul Awwal, dan pada bulan itu beliau diutus, dan pada bulan itu beliau di-Mi’raj-kan ke langit, dan pada bulan itu beliau berhijrah, dan pada bulan itu beliau wafat. Inilah yang masyhur di kalangan jumhur. Wallahu a’lam.

Ada yang mengatakan: tujuh belas hari setelahnya, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Dihyah dari sebagian Syiah. Ada yang mengatakan: delapan hari tersisa darinya, dinukil oleh Ibnu Dihyah dari tulisan tangan al-Wazir Abu Rafi’ bin al-Hafizh Abu Muhammad bin Hazm dari ayahnya. Yang benar dari Ibnu Hazm adalah pendapat pertama, yaitu delapan hari berlalu darinya, sebagaimana dinukil dari beliau oleh al-Humaidi, dan ini lebih kuat. Pendapat kedua: bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, dinukil oleh Ibnu Abdul Barr dari az-Zubair bin Bakkar, dan ini pendapat yang sangat aneh. Sandaran pendapat ini adalah bahwa beliau ‘alaihish shalatu was salam menerima wahyu pada bulan Ramadhan tanpa perbedaan pendapat, dan itu pada usia empat puluh tahun dari umurnya, sehingga kelahirannya adalah di bulan Ramadhan. Ini perlu dikaji lebih lanjut. Wallahu a’lam.

Al-Hafizh Khaitsamah bin Sulaiman meriwayatkan dari Khalaf bin Muhammad Kardus al-Wasithi dari al-Mu’alla bin Abdurrahman dari Abdul Hamid bin Ja’far dari az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin di bulan Rabiul Awwal, kenabian diturunkan kepadanya pada hari Senin di awal bulan Rabiul Awwal, dan Surat al-Baqarah diturunkan kepadanya pada hari Senin di bulan Rabiul Awwal. Ini sangat aneh, diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Ibunya mengandungnya pada hari-hari Tasyriq di Syi’ib Abi Thalib dekat Jamrah Wustha, dan beliau dilahirkan di Makkah di rumah yang dikenal sebagai milik Muhammad bin Yusuf saudara al-Hajjaj bin Yusuf, dua belas malam berlalu dari bulan Ramadhan. Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalan Muhammad bin Utsman bin Uqbah bin Mukrim dari al-Musayyab bin Syuraik dari Syu’aib bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikandung pada hari Asyura Muharram, dan dilahirkan pada hari Senin dua belas malam berlalu dari bulan Ramadhan, tahun dua puluh tiga dari peristiwa Pasukan Gajah. Yang lain menyebutkan bahwa al-Khaizuran, ibu Harun ar-Rasyid, ketika menunaikan haji memerintahkan untuk membangun rumah ini sebagai masjid, sehingga hingga hari ini dikenal dengan namanya.

As-Suhaili menyebutkan bahwa kelahiran beliau ‘alaihish shalatu was salam adalah pada tanggal dua puluh bulan Nisan (April). Ini adalah masa dan musim yang paling adil. Itu adalah tahun delapan ratus delapan puluh dua dari zaman Dzul-Qarnain sebagaimana disebutkan oleh para ahli Azh-Zij (astronomi). Mereka mengklaim bahwa bintang yang terbit adalah dua puluh derajat dari Capricorn, Jupiter dan Saturnus bersatu pada tiga derajat dari Scorpio, yaitu derajat pertengahan langit, dan bersesuaian dengan bintang Aries, dan itu terjadi saat terbitnya bulan di awal malam. Semua ini dinukil oleh Ibnu Dihyah. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq berkata: Kelahiran beliau ‘alaihish shalatu was salam adalah pada tahun Gajah. Inilah yang masyhur dari jumhur. Ibrahim bin al-Mundzir al-Hazami berkata: Inilah yang tidak diragukan oleh seorang pun dari ulama kami bahwa beliau ‘alaihish shalatu was salam dilahirkan pada tahun Gajah, dan diutus pada usia empat puluh tahun dari tahun Gajah. Al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Abu Ishaq as-Sabi’i dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah. Muhammad bin Ishaq berkata: Al-Muththalib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya Qais bin Makhramah, ia berkata: Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah, kami seumuran. Ia berkata: Utsman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Qabath bin Asyim saudara Bani Ya’mar bin Laits: Apakah kamu lebih tua ataukah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ia menjawab: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tua dariku, dan aku lebih dahulu dalam kelahiran. Aku melihat kotoran gajah berwarna hijau kehitaman. Ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim dari hadits Muhammad bin Ishaq dengannya.

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun (peristiwa) Ukaz berusia dua puluh tahun.

Ibnu Ishaq berkata: Perang Fijar terjadi dua puluh tahun setelah peristiwa Gajah, pembangunan Ka’bah terjadi lima belas tahun setelah perang Fijar, dan diutus menjadi nabi lima tahun setelah pembangunannya. Muhammad bin Jubair bin Muth’im berkata: Ukaz terjadi lima belas tahun setelah peristiwa Gajah, pembangunan Ka’bah sepuluh tahun setelah Ukaz, dan diutus menjadi nabi lima belas tahun setelah pembangunannya. Al-Hafizh al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Abdul Aziz bin Abi Tsabit al-Madini, ia menceritakan kepada kami: Az-Zubair bin Musa dari Abu al-Huwairts, ia berkata: Aku mendengar Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Qabath bin Asyim al-Kanani kemudian al-Laitsi: “Wahai Qabath, apakah kamu lebih tua ataukah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tua dariku, dan aku lebih senior. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah, dan ibuku membawaku ke kotoran gajah yang kehitaman yang masih aku ingat. Beliau diangkat menjadi nabi pada usia empat puluh tahun.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Yahya bin Abdullah bin Bukair menceritakan kepada kami, Nu’aim yaitu Ibnu Maisarah menceritakan kepada kami dari sebagian mereka dari Suwaid bin Ghaflah bahwa ia berkata: Aku seumuran dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku dilahirkan pada tahun Gajah. Al-Baihaqi berkata: Dan diriwayatkan dari Suwaid bin Ghaflah bahwa ia berkata: Aku lebih muda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua tahun. Ya’qub bin Sufyan berkata: Ibrahim bin al-Mundzir menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Abi Tsabit menceritakan kepadaku, Abdullah bin Utsman bin Abi Sulaiman an-Naufali menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah, Ukaz terjadi lima belas tahun setelahnya, Baitullah (Ka’bah) dibangun pada usia dua puluh lima tahun dari tahun Gajah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi pada usia empat puluh tahun dari tahun Gajah. Intinya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun Gajah, menurut pendapat jumhur. Ada yang mengatakan: sebulan setelahnya. Ada yang mengatakan: empat puluh hari. Ada yang mengatakan: lima puluh hari, dan ini yang paling masyhur. Dari Abu Ja’far al-Baqir: Kedatangan pasukan gajah adalah pertengahan bulan Muharram, dan kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lima puluh lima malam setelahnya. Yang lain berkata: Tahun Gajah adalah sepuluh tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini dikatakan oleh Ibnu Abza. Ada yang mengatakan: dua puluh tiga tahun, diriwayatkan oleh Syu’aib bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya sebagaimana telah disebutkan. Ada yang mengatakan: setelah peristiwa Gajah tiga puluh tahun, dikatakan oleh Musa bin Uqbah dari az-Zuhri rahimahullah, dan dipilih juga oleh Musa bin Uqbah rahimahullah. Abu Zakariya al-Ajlani berkata: Setelah peristiwa Gajah empat puluh tahun, diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Ini sangat aneh, dan lebih aneh lagi apa yang dikatakan Khalifah bin Khayyath: Syu’aib bin Hayyan menceritakan kepadaku dari Abdul Wahid bin Abi Amr dari al-Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan lima belas tahun sebelum peristiwa Gajah. Ini hadits aneh, munkar (sangat aneh), dan juga lemah. Khalifah bin Khayyath berkata: Yang disepakati adalah bahwa beliau ‘alaihissalam dilahirkan pada tahun Gajah.

Sifat Kelahiran Beliau yang Mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Abdul Muththalib ketika menyembelih seratus ekor unta untuk anaknya Abdullah karena ia pernah bernazar untuk menyembelihnya, lalu Allah selamatkannya, karena telah ditakdirkan sejak azali munculnya Nabi yang ummi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penutup para rasul dan pemimpin anak Adam dari keturunannya. Maka ia pergi sebagaimana telah disebutkan dan menikahkannya dengan wanita paling mulia di Quraisy, Aminah binti Wahb bin Abdul Manaf bin Zuhrah az-Zuhriyyah. Ketika ia masuk kepadanya dan menggaulinya, ia mengandung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Qinaal Raqiqah binti Naufal, saudari Waraqah bin Naufal, melihat cahaya yang ada di antara kedua mata Abdullah sebelum ia menggauli Aminah, dan ia berharap cahaya itu berhubungan dengannya karena apa yang ia dengar dari saudaranya tentang kabar gembira akan keberadaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa zamannya sudah dekat, maka ia menawarkan dirinya kepadanya.

Sebagian dari mereka berkata: Agar ia menikahinya, dan ini lebih jelas. Wallahu a’lam. Lalu ia menolaknya. Setelah cahaya yang cemerlang itu berpindah ke Aminah dengan menggaulinya, seolah-olah ia menyesal atas apa yang pernah ditawarkan kepadanya, maka ia berusaha mendekatinya agar ia kembali lagi. Ia berkata: “Aku tidak memerlukanmu,” dan ia menyesali apa yang telah ia lewatkan, dan ia membacakan dalam hal itu syair yang fasih dan balig sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Penjagaan ini terhadap Abdullah bukanlah untuknya, melainkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sebagaimana firman Allah: Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya (QS. al-An’am: 124). Dan telah disebutkan sebelumnya hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang baik bahwa beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda: “Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah, bukan dari perzinaan.”

Intinya adalah bahwa ketika ibunya mengandungnya, ayahnya Abdullah wafat sementara ia masih dalam kandungan ibunya, menurut pendapat yang masyhur. Muhammad bin Sa’d berkata: Muhammad bin Umar yaitu al-Waqidi menceritakan kepada kami, Musa bin Ubaidah ar-Rabadzi menceritakan kepada kami dan dari Muhammad bin Ka’b, Sa’id bin Abi Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah, keduanya berkata: Abdullah bin Abdul Muththalib pergi ke Syam (Suriah) ke Ghazzah dalam rombongan kafilah dagang Quraisy membawa barang-barang dagangan. Mereka selesai berdagang, lalu pulang dan melewati Madinah, sementara Abdullah bin Abdul Muththalib saat itu sedang sakit. Ia berkata: “Aku akan tinggal di tempat pamanku dari pihak ibu, Bani Adiy bin an-Najjar.” Ia tinggal di rumah mereka dalam keadaan sakit selama sebulan, dan teman-temannya melanjutkan perjalanan lalu tiba di Makkah. Abdul Muththalib bertanya kepada mereka tentang anaknya Abdullah. Mereka berkata: “Kami meninggalkannya di rumah pamannya dari pihak ibu Bani Adiy bin an-Najjar dan ia sedang sakit.” Maka Abdul Muththalib mengutus anak sulungnya al-Harits kepadanya. Ia menemukan bahwa ia telah wafat dan dikuburkan di rumah an-Nabighah. Ia kembali kepada ayahnya dan memberitahunya. Abdul Muththalib dan saudara-saudara laki-laki serta perempuannya sangat bersedih atasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu masih dalam kandungan. Abdullah bin Abdul Muththalib wafat dalam usia dua puluh lima tahun.

Al-Waqidi berkata: Ini adalah pendapat yang paling kuat tentang wafatnya Abdullah dan usianya menurut kami. Al-Waqidi berkata: Ma’mar menceritakan kepadaku dari Az-Zuhri bahwa Abdul Muththalib mengutus Abdullah ke Madinah untuk membeli kurma bagi mereka, lalu dia meninggal. Muhammad bin Sa’d berkata: Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi telah memberitahukan kepada kami dari ayahnya, dan dari ‘Awanah bin Al-Hakam, keduanya berkata: Abdullah bin Abdul Muththalib wafat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia dua puluh delapan bulan, dan ada yang mengatakan: tujuh bulan. Muhammad bin Sa’d berkata: Yang pertama lebih kuat; bahwa dia wafat saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih dalam kandungan.

Az-Zubair bin Bakkar berkata, Muhammad bin Hasan menceritakan kepadaku dari Abdul Salam dari Ibnu Kharbuudz yang berkata: Abdullah wafat di Madinah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia dua bulan, ibunya meninggal saat dia berusia empat tahun, dan kakeknya meninggal saat dia berusia delapan tahun, lalu dia berwasiat kepadanya kepada pamannya Abu Thalib. Yang dikuatkan oleh Al-Waqidi dan penulis biografinya, Al-Hafizh Muhammad bin Sa’d, adalah bahwa ‘alaihish shalaatu wassalaam, ayahnya wafat saat dia masih janin dalam kandungan ibunya. Dan ini adalah kesempurnaan yatim dan tingkatan tertingginya. Telah disebutkan sebelumnya dalam hadits, dan mimpi ibuku yang dia lihat ketika mengandungku seakan keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Syam.

Muhammad bin Ishaq berkata: Aminah binti Wahb, ibu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bahwa dia didatangi ketika mengandung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya engkau mengandung pemimpin umat ini, maka jika dia jatuh ke tanah, ucapkanlah: Aku berlindung dengannya kepada Yang Maha Esa dari kejahatan setiap orang yang hasad, dalam setiap kebaikan yang disengaja, dan setiap hamba yang mengembara, datangnya yang tidak mengusir, sesungguhnya dia adalah hamba Yang Maha Terpuji lagi Mulia, hingga aku melihatnya telah sampai pada tempat-tempat saksi. Dan tandanya adalah akan keluar bersamanya cahaya yang memenuhi istana-istana Bashrah di negeri Syam. Maka jika dia lahir, namailah dia Muhammad, karena namanya dalam Taurat adalah Ahmad, dia dipuji oleh penduduk langit dan penduduk bumi, dan namanya dalam Injil adalah Ahmad, dia dipuji oleh penduduk langit dan penduduk bumi, dan namanya dalam Al-Qur’an adalah Muhammad.

Ini dan itu menunjukkan bahwa dia melihat ketika mengandungnya ‘alaihis salaam seakan keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Syam, kemudian ketika melahirkannya, dia melihat secara nyata takwil dari itu sebagaimana dia melihatnya sebelum itu di sini. Wallahu a’lam.

Muhammad bin Sa’d berkata: Muhammad bin Umar yaitu Al-Waqidi memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Muslim menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri. Al-Waqidi berkata: Musa bin ‘Ubaidah menceritakan kepada kami dari saudaranya, dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi. Dan Abdullah bin Ja’far Az-Zuhri menceritakan kepadaku dari bibinya Ummu Bakr binti Al-Miswar dari ayahnya. Dan Abdurrahman bin Ibrahim Al-Madani dan Ziyad bin Hasraj menceritakan kepada kami dari ayah, dan Juzah. Dan Ma’mar menceritakan kepada kami dari Abu Najih dari Mujahid. Dan Thalhah bin ‘Amr menceritakan kepada kami dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas – hadits sebagian mereka masuk dalam hadits sebagian yang lain – bahwa Aminah binti Wahb berkata: Sungguh aku mengandungnya – maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – dan aku tidak merasakan kesulitan darinya hingga melahirkannya. Ketika dia terpisah dariku, keluar bersamanya cahaya yang menerangi untuknya antara timur hingga barat, kemudian jatuh ke tanah bertumpu pada kedua tangannya, lalu mengambil segenggam tanah dan menggenggamnya, dan mengangkat kepalanya ke langit. Sebagian mereka berkata: Dan dia jatuh berlutut di atas kedua lututnya, dan keluar bersamanya cahaya yang menerangi untuknya istana-istana Syam dan pasar-pasarnya hingga aku melihat leher-leher unta di Bashrah sambil mengangkat kepalanya ke langit.

Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqi berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Isma’il memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abu Bisyr Mubasysyir bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Muhammad Az-Zuhri menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin ‘Imran menceritakan kepada kami, Abdullah bin Utsman bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Ibnu Abi Suwaid Ats-Tsaqafi dari Utsman bin Abi Al-‘Ash, ibuku menceritakan kepadaku bahwa dia menyaksikan kelahiran Aminah binti Wahb terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam dia melahirkannya. Dia berkata: Tidak ada sesuatu pun yang aku lihat di dalam rumah kecuali cahaya, dan aku melihat bintang-bintang mendekat hingga aku berkata: sungguh akan jatuh kepadaku.

Qadhi ‘Iyadh menyebutkan dari Asy-Syifa’ ibu Abdurrahman bin ‘Auf bahwa dia adalah bidannya, dan bahwa dia memberitahukan tentangnya ketika jatuh di tangannya dan menangis, dia mendengar seseorang berkata: Semoga Allah merahmatimu. Dan sesungguhnya terpancar darinya cahaya yang terlihat darinya istana-istana Romawi.

Muhammad bin Ishaq berkata: Ketika melahirkannya, dia mengutus budaknya kepada Abdul Muththalib – dan ayahnya telah meninggal sementara dia hamil – dan dikatakan: sesungguhnya Abdullah meninggal saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusia dua puluh delapan bulan, maka Allahu a’lam mana yang benar – lalu dia berkata: Telah lahir untukmu malam ini seorang anak laki-laki, maka lihatlah dia. Ketika dia datang kepadanya, dia memberitahukan kepadanya dan menceritakan kepadanya apa yang dia lihat ketika mengandungnya dan apa yang dikatakan kepadanya tentangnya dan apa yang dia diperintahkan untuk menamainya. Maka Abdul Muththalib mengambilnya dan membawanya masuk kepada Hubal di dalam Ka’bah, lalu Abdul Muththalib berdoa dan bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla, dan berkata:

Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Anak ini yang baik dan harum Telah menjadi pemimpin di buaian atas anak-anak Aku berlindungkan dia kepada Allah pemilik rukun-rukun Hingga dia menjadi tingkat pemuda Hingga aku melihatnya mencapai bangunan Aku berlindungkan dia dari setiap orang yang benci Dari orang yang hasad yang bingung kendalinya … Yang mempunyai keinginan yang tidak punya mata Hingga aku melihatnya mengangkat lisan Engkau yang disebutkan dalam Al-Furqan Dalam kitab-kitab yang tetap yang berulang Ahmad yang tertulis di atas lisan

Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Hatim Ad-Darabijirdi di Marw memberitahukan kepada kami, Abu Abdullah Al-Busyanji menceritakan kepada kami, Abu Ayyub Sulaiman bin Salamah Al-Khaba’iri menceritakan kepada kami, Yunus bin ‘Atha’ bin Utsman bin Rabi’ah bin Ziyad bin Al-Harits Ash-Shada’i di Mesir menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas dari ayahnya Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dalam keadaan sudah dikhitan dan terpotong tali pusarnya. Dia berkata: Maka kakeknya Abdul Muththalib kagum dan senang kepadanya, dan berkata: Sungguh akan ada urusan bagi anakku ini. Maka ada urusan untuknya. Dan hadits ini dalam keshahihannya ada keraguan. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkannya dari hadits Sufyan bin Muhammad Al-Mishishi dari Husyaim dari Yunus bin ‘Ubaid dari Al-Hasan dari Anas yang berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Di antara kemuliaan bagiku di sisi Allah adalah bahwa aku lahir dalam keadaan sudah dikhitan, dan tidak ada seorang pun yang melihat auratku. Kemudian dia menyebutkannya dari jalan Al-Hasan bin ‘Arafah dari Husyaim dengannya. Kemudian dia menyebutkannya dari jalan Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman yaitu Al-Baghandi, Abdurrahman bin Ayyub Al-Himshi menceritakan kepada kami, Musa bin Abi Musa Al-Maqdisi menceritakan kepada kami, Khalid bin Salamah menceritakan kepadaku dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dengan tali pusar terpotong dan sudah dikhitan.

Abu Nu’aim berkata: Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad Al-Ghuthrifi menceritakan kepada kami, Al-Husain bin Ahmad bin Abdullah Al-Maliki menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Salamah Al-Khaba’iri menceritakan kepada kami, Yunus bin ‘Atha’ menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, ‘Ikrimah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abbas dari ayahnya Al-Abbas yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dalam keadaan sudah dikhitan dan terpotong tali pusarnya, maka hal itu mengagumkan kakeknya Abdul Muththalib dan senang kepadanya, dan dia berkata: Sungguh akan ada urusan bagi anakku ini. Maka ada urusan untuknya. Sebagian mereka mengklaim keshahihannya karena apa yang datang untuknya dari jalan-jalan hingga sebagian mereka menduga bahwa itu mutawatir, dan dalam semua ini ada keraguan. Makna dikhitan yaitu: terpotong khitannya, dan terpotong tali pusar yaitu: terpotong tali pusarnya dari perut ibunya.

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalan Abdurrahman bin ‘Uyainah Al-Bashri, Ali bin Muhammad Al-Mada’ini As-Sulami menceritakan kepada kami, Salamah bin Muharib bin Salm bin Ziyad menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Abu Bakrah: Bahwa Jibril mengkhitan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membersihkan hatinya. Dan ini sangat aneh. Dan telah diriwayatkan bahwa kakeknya Abdul Muththalib mengkhitannya, dan membuat untuknya undangan yang mengumpulkan orang-orang Quraisy padanya. Wallahu a’lam.

Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Kamil Al-Qadhi memberitahukan kepadaku secara lisan bahwa Muhammad bin Isma’il menceritakan kepadanya yaitu As-Sulami, Abu Shalih Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari Abu Al-Hakam At-Tanukhi yang berkata: Apabila seorang bayi lahir di Quraisy, mereka menyerahkannya kepada perempuan-perempuan dari Quraisy hingga pagi sambil menutupinya dengan periuk. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir, Abdul Muththalib menyerahkannya kepada perempuan-perempuan, lalu mereka menutupinya dengan periuk. Ketika pagi mereka datang, lalu menemukan periuk telah terbelah darinya menjadi dua, dan menemukan dia dengan mata terbuka menatap ke langit. Maka Abdul Muththalib datang kepada mereka, lalu mereka berkata kepadanya: Kami tidak pernah melihat bayi seperti dia, kami menemukan dia telah terbelah periuk darinya, dan kami menemukan dia dengan mata terbuka menatap ke langit. Maka dia berkata: Jagalah dia, sesungguhnya aku berharap akan ada urusan untuknya atau dia mendapat kebaikan. Ketika hari ketujuh, dia menyembelih untuknya, dan mengundang orang Quraisy. Ketika mereka makan, mereka berkata: Wahai Abdul Muththalib, bagaimana pendapatmu tentang anakmu ini yang engkau muliakan kami karena wajahnya, apa engkau namai dia? Dia berkata: Aku menamai dia Muhammad. Mereka berkata: Mengapa engkau tidak mengikuti nama-nama keluarganya? Dia berkata: Aku ingin agar Allah memujinya di langit, dan makhluk-Nya di bumi.

Ahli bahasa berkata: Setiap orang yang mengumpulkan sifat-sifat kebaikan dinamai Muhammad, sebagaimana sebagian mereka berkata: Kepadamu – semoga engkau tidak terkutuk – aku arahkan untaku, Kepada yang mulia, dermawan, pemurah yang terpuji.

Sebagian ulama berkata: Allah ‘azza wa jalla mengilhami mereka agar menamainya Muhammad karena apa yang ada padanya dari sifat-sifat terpuji agar bertemu nama dan perbuatan, dan sesuai nama dan yang dinamai dalam bentuk dan makna, sebagaimana pamannya Abu Thalib berkata, dan diriwayatkan untuk Hassan:

Dan Dia memisahkan untuknya dari nama-Nya untuk memuliakannya Maka pemilik Arasy Mahmud (terpuji) dan ini Muhammad

Kami akan menyebutkan nama-namanya ‘alaihish shalaatu wassalaam dan ciri-cirinya yaitu sifat-sifatnya yang zhahir, dan akhlaknya yang suci, dan dalil-dalil kenabian, dan keutamaan kedudukannya di akhir sirah insya Allah.

Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Abu Al-Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Ahmad bin Syaiban Ar-Ramli menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ibrahim Al-Halabi menceritakan kepada kami, Al-Haitsam bin Jamil menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami dari Muharib bin Ditsar dari ‘Amr bin Yatsribi dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib yang berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, yang mendorongku untuk masuk ke dalam agamamu adalah tanda kenabianmu yang aku lihat saat engkau di buaian berbicara dengan bulan, dan engkau menunjuk kepadanya dengan jarimu, maka ke mana engkau menunjuknya, dia condong. Dia berkata: Sesungguhnya aku berbicara dengannya dan dia berbicara denganku dan menghiburku dari tangisan, dan aku mendengar suaranya ketika dia sujud di bawah Arasy. Kemudian dia berkata: Al-Laitsi menyendiri dengannya dan dia majhul (tidak dikenal).

Pasal Tentang Tanda-Tanda yang Terjadi pada Malam Kelahirannya ‘Alaihish Shalaatu Wassalaam

Kami telah menyebutkan dalam bab suara jin tentang apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang jatuhnya banyak berhala malam itu ke wajah mereka dan jatuhnya mereka dari tempat-tempat mereka, dan apa yang dilihat oleh Najasyi raja Habasyah, dan munculnya cahaya bersamanya hingga menerangi untuknya istana-istana Syam ketika dia lahir, dan apa yang terjadi dari jatuhnya dia berlutut sambil mengangkat kepalanya ke langit, dan terbelahnya periuk itu dari wajahnya yang mulia, dan apa yang disaksikan dari cahaya di rumah tempat dia dilahirkan, dan mendekatnya bintang-bintang kepada mereka, dan selain itu.

As-Suhaili menceritakan dari tafsir Baqi bin Makhlad Al-Hafizh: Bahwa Iblis merintih empat kali rintihan; ketika dilaknat, dan ketika diturunkan, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir, dan ketika Al-Fatihah diturunkan.

Muhammad bin Ishaq berkata: Dan Hisyam bin ‘Urwah menceritakan dari ayahnya dari Aisyah yang berkata: Ada seorang Yahudi yang telah tinggal di Makkah berdagang di sana. Ketika malam tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan di dalamnya, dia berkata di majelis orang Quraisy: Wahai kelompok Quraisy, apakah ada yang lahir di kalian malam ini? Maka kaum itu berkata: Demi Allah, kami tidak mengetahuinya. Maka dia berkata: Allahu Akbar, adapun jika kalian terlewat maka tidak apa-apa, lihatlah dan ingatlah apa yang aku katakan kepada kalian: Lahir malam ini nabi umat terakhir ini, di antara dua bahunya ada tanda di dalamnya beberapa helai rambut yang berurutan seakan-akan surai kuda, dia tidak menyusu dua malam; dan itu karena setan dari jin memasukkan jarinya ke dalam mulutnya sehingga mencegahnya menyusu. Maka kaum itu berpencar dari majelis mereka, dan mereka heran dengan perkataannya dan ceritanya. Ketika mereka sampai di rumah-rumah mereka, setiap orang dari mereka memberitahukan keluarganya, lalu mereka berkata: Demi Allah, telah lahir untuk Abdullah bin Abdul Muththalib seorang anak laki-laki yang mereka namakan Muhammad. Maka kaum itu bertemu lalu berkata: Apakah kalian mendengar cerita Yahudi itu? Dan apakah sampai kepada kalian kelahiran anak ini? Maka mereka pergi hingga datang kepada Yahudi lalu memberitahukan kepadanya berita itu. Dia berkata: Maka pergilah bersamaku hingga aku melihatnya. Maka mereka keluar bersamanya hingga memasukkannya kepada Aminah, lalu mereka berkata: Keluarkan kepada kami anakmu. Maka dia mengeluarkannya, dan mereka membuka untuknya punggungnya, lalu dia melihat tanda itu. Maka Yahudi itu jatuh pingsan. Ketika sadar, mereka berkata kepadanya: Ada apa denganmu? Celakalah engkau! Dia berkata: Telah pergi demi Allah kenabian dari Bani Israil, apakah kalian senang dengannya wahai kelompok Quraisy? Demi Allah, sungguh akan menyerang kalian serangan yang keluar beritanya dari timur dan barat.

Muhammad bin Ishaq berkata: Shalih bin Ibrahim menceritakan kepadaku dari Yahya bin Abdurrahman bin As’ad bin Zurarah, ia berkata: Orang yang aku percayai dari kaum kami menceritakan kepadaku dari Hassan bin Tsabit, ia berkata: Aku adalah seorang anak muda yang kuat berusia tujuh atau delapan tahun, aku masih ingat apa yang aku lihat dan dengar ketika seorang Yahudi di Yatsrib berteriak pada suatu pagi: Wahai kaum Yahudi! Maka mereka berkumpul kepadanya, dan aku mendengar. Mereka bertanya: Celakalah kamu, ada apa denganmu? Dia menjawab: Bintang Ahmad telah terbit, yang menandakan kelahirannya pada malam ini.

Imam Hafizh Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab Dalailun Nubuwwah dari hadits Abu Bakar bin Abdullah Al-Amiri dari Sulaiman bin Suhaim, dan Rubaih bin Abdurrahman, keduanya dari Abdurrahman bin Abi Sa’id dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar ayahku Malik bin Sinan berkata: Aku datang ke Bani Abdul Asyhal suatu hari untuk berbincang dengan mereka, dan kami pada hari itu sedang dalam gencatan senjata perang. Lalu aku mendengar Yusya’ Al-Yahudi berkata: Sudah dekat munculnya seorang nabi yang disebut Ahmad, ia akan keluar dari tanah Haram. Maka Khalifah bin Tsa’labah Al-Asyhali bertanya kepadanya seolah mengejeknya: Apa ciri-cirinya? Dia menjawab: Seorang laki-laki yang tidak pendek dan tidak tinggi, di matanya ada kemerahan, mengenakan pakaian biasa, mengendarai keledai, pedangnya di pundaknya, dan negeri ini adalah tempat hijrahnya. Ia berkata: Maka aku kembali ke kaumku Bani Khudrah, dan aku pada hari itu heran dengan apa yang dikatakan Yusya’. Lalu aku mendengar seorang laki-laki dari kami berkata: Apakah Yusya’ yang mengatakan ini sendirian?! Semua orang Yahudi Yatsrib mengatakan hal ini. Ayahku Malik bin Sinan berkata: Maka aku pergi hingga datang ke Bani Quraizhah dan menemukan sekelompok orang yang membicarakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Zubair bin Batha berkata: Bintang merah telah terbit yang tidak terbit kecuali untuk keluarnya dan munculnya seorang nabi, dan tidak ada yang tersisa kecuali Ahmad, dan ini adalah tempat hijrahnya. Abu Sa’id berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, ayahku mengabarkan berita ini kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seandainya Al-Zubair dan keluarganya dari pemuka-pemuka Yahudi masuk Islam, sesungguhnya mereka hanyalah pengikutnya.

Abu Nu’aim berkata: Umar bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin As-Sindi menceritakan kepada kami, An-Nadhr bin Salamah menceritakan kepada kami, Ismail bin Qais bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit menceritakan kepada kami dari Ummu Sa’d binti Sa’d bin Ar-Rabi’, aku mendengar Zaid bin Tsabit berkata: Pendeta-pendeta Yahudi Bani Quraizhah dan An-Nadhir menyebutkan sifat-sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika bintang merah terbit, mereka mengabarkan bahwa dia adalah seorang nabi, tidak ada nabi setelahnya, namanya Ahmad, dan tempat hijrahnya ke Yatsrib. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka mengingkarinya, dengki, dan kafir. Hafizh Abu Nu’aim telah menguraikan kisah ini dalam kitabnya dari jalur-jalur lain, dan segala puji bagi Allah.

Abu Nu’aim berkata: Abu Muhammad bin Hayyan menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abi Ashim menceritakan kepada kami, Wahb bin Baqiyyah menceritakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dan Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Zaid bin Amr bin Nufail berkata kepadaku: Seorang pendeta dari pendeta-pendeta Syam berkata kepadaku: Sungguh telah keluar di negerimu seorang nabi atau ia akan keluar, sungguh bintangnya telah terbit, maka kembalilah, benarkan dia, dan ikutilah dia.

Penyebutan Guncangnya Istana Kisra, Runtuhnya Menara-menara, Padamnya Api, Mimpi Maubadzan, dan Tanda-tanda Lainnya

Imam Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin Sahl Al-Khara’ithi berkata dalam kitab Hawatiful Jan: Ali bin Harb menceritakan kepada kami, Abu Ayyub Ya’la bin Imran – dari keluarga Jarir bin Abdullah Al-Bajali – menceritakan kepada kami, Makhzum bin Hani’ Al-Makhzumi menceritakan kepadaku dari ayahnya – yang telah berusia seratus lima puluh tahun – ia berkata: Ketika malam kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istana Kisra berguncang, empat belas menaranya runtuh, api Persia padam, dan api itu tidak pernah padam sebelumnya selama seribu tahun, danau Sawah surut, dan Maubadzan melihat unta-unta liar yang memimpin kuda-kuda Arab telah menyeberangi Sungai Tigris dan tersebar di negeri mereka. Ketika pagi tiba, Kisra sangat ketakutan dengan hal itu, tetapi ia bersabar dan berusaha tegar, kemudian ia merasa tidak boleh menyembunyikan hal itu dari para pembesar istananya, maka ia mengumpulkan mereka, mengenakan mahkotanya, dan duduk di singgasananya, kemudian mengirim utusan kepada mereka. Ketika mereka berkumpul di hadapannya, ia berkata: Tahukah kalian mengapa aku memanggil kalian? Mereka menjawat: Tidak, kecuali jika raja memberitahukan kami. Sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang surat tentang padamnya api, maka bertambah kesedihannya. Kemudian ia memberitahukan kepada mereka tentang apa yang ia lihat dan apa yang menakutkannya. Maka Maubadzan berkata: Dan aku – semoga Allah memperbaiki raja – juga telah melihat mimpi pada malam ini. Kemudian ia menceritakan mimpinya tentang unta kepada raja. Raja berkata: Apa makna semua ini wahai Maubadzan? Dia menjawab: Suatu peristiwa akan terjadi di wilayah Arab. Dan ia adalah orang yang paling tahu di antara mereka. Maka Kisra, raja di atas segala raja, menulis surat kepada An-Nu’man bin Al-Mundzir: Amma ba’du, kirimkan kepadaku seorang laki-laki yang mengetahui apa yang ingin kutanyakan kepadanya. Maka ia mengirimkan kepadanya Abdul Masih bin Amr bin Hayyan bin Baqilah Al-Ghassani. Ketika ia datang kepadanya, raja berkata: Apakah kamu memiliki pengetahuan tentang apa yang ingin aku tanyakan kepadamu? Dia menjawab: Biarlah raja memberitahuku atau bertanya kepadaku tentang apa yang ia kehendaki. Jika aku memiliki pengetahuan tentangnya, aku akan memberitahunya, jika tidak, aku akan memberitahukan siapa yang mengetahuinya. Maka raja memberitahukannya tentang apa yang menjadi tujuan pengutusan kepadanya. Ia berkata: Pengetahuan tentang itu ada pada pamanku yang tinggal di perbatasan Syam bernama Sathih. Ia berkata: Datangilah dia dan tanyakan kepadanya tentang apa yang aku tanyakan kepadamu, kemudian kembalilah kepadaku dengan penjelasannya. Maka Abdul Masih berangkat hingga sampai kepada Sathih, saat ia hampir mati. Ia memberi salam dan berbicara kepadanya tetapi Sathih tidak menjawab. Maka ia membaca syair:

Apakah tuli ataukah mendengar sang pemimpin Yaman, ataukah telah pergi sehingga ia kehilangan kemampuan Wahai pemutus masalah yang membuat orang lain tidak berdaya, dan pembuka kesusahan dari wajah yang kusut Datang kepadamu pemuka kaum dari keluarga Sinan, dan ibunya dari keluarga Dzi’b bin Hajn Biru taringnya, penggiling telinga, putih lebar jubah dan badan Utusan raja Persia berjalan di waktu senja, tidak takut guntur atau ujian zaman Mengarungi bumi bersamaku unta kuat keras kepala, mengangkatku dengan cepat dan menurunkanku dengan cepat Hingga datang ke yang tanpa pakaian dan celana, terbungkus angin dan debu Seolah-olah terdorong dari kandang yang kokoh

Ia berkata: Ketika Sathih mendengar syairnya, ia mengangkat kepalanya dan berkata: Abdul Masih dengan unta cepat datang kepada Sathih, saat ia telah hampir mati, kamu diutus oleh raja Bani Sasan karena guncangnya istana, padamnya api, dan mimpi Maubadzan; ia melihat unta-unta liar memimpin kuda-kuda Arab telah menyeberangi Tigris dan tersebar di negerinya. Wahai Abdul Masih, apabila banyak bacaan Al-Quran, muncul pemilik tongkat, meluap lembah As-Samawah, surut danau Sawah, dan padam api Persia, maka Syam bukan lagi Syam bagi Sathih. Akan memerintah dari mereka raja-raja dan ratu-ratu sejumlah menara yang runtuh, dan semua yang akan datang pasti datang. Kemudian Sathih meninggal di tempatnya. Maka Abdul Masih bangkit menuju untanya sambil berkata:

Bergeraklah karena sesungguhnya kamu adalah orang yang teguh kuat tekadnya, jangan takut dengan perpecahan dan perubahan Jika kerajaan Bani Sasan telah berlebihan bagi mereka, maka sesungguhnya zaman ini memiliki masa-masa yang berganti Karena terkadang, terkadang mereka berada di posisi yang ditakuti serangannya oleh singa-singa yang ganas Di antara mereka saudara istana Bahram dan saudara-saudaranya, Al-Harmazan, Syabur, dan Sabur Dan manusia adalah anak-anak ibu tiri, maka siapa yang mereka ketahui telah miskin, maka ia dihina dan ditinggalkan Dan ada kaum yang memiliki sahabat pemilik telinga, yang muncul menghibur mereka dengan alat musik Dan mereka adalah anak-anak satu ibu jika mereka melihat kekayaan, maka itu dijaga oleh yang gaib dan ditolong Dan kebaikan dan kejahatan berpasangan dalam satu masa, maka kebaikan diikuti dan kejahatan dihindari

Ia berkata: Ketika Abdul Masih datang kepada Kisra, ia memberitahukan apa yang dikatakan Sathih kepadanya. Maka Kisra berkata: Sampai memerintah dari kami empat belas raja, akan terjadi berbagai peristiwa dan urusan. Maka memerintah dari mereka sepuluh orang dalam empat tahun, dan sisanya memerintah hingga masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dan Al-Baihaqi meriwayatkannya dari hadits Abdurrahman bin Muhammad bin Idris dari Ali bin Harb Al-Maushili dengan cara yang sama.

Aku katakan: Raja terakhir mereka – yang diambil darinya kerajaan – adalah Yazdjird bin Syahriyar bin Abruwiz bin Hurmuz bin Anusyirwan. Dan dialah yang pada zamannya istana itu retak. Pendahulu-pendahulunya telah berkuasa selama tiga ribu seratus enam puluh empat tahun. Dan raja pertama mereka adalah Khayumarts bin Umaim bin Lawadz bin Sam bin Nuh ‘alaihissalam.

Adapun Sathih ini, Imam Hafizh Ibnu Asakir berkata dalam tarikhnya: Ia adalah Ar-Rabi’ bin Rabi’ah bin Mas’ud bin Mazin bin Dzi’b bin Adi bin Mazin bin Al-Azd. Dan dikatakan: Ar-Rabi’ bin Mas’ud. Dan ibunya adalah Rad’a binti Sa’d bin Al-Harits Al-Hajuri. Dan disebutkan selain itu dalam nasabnya. Ia berkata: Dan ia tinggal di Al-Jabiyah. Kemudian ia meriwayatkan dari Abu Hatim As-Sijistani, ia berkata: Aku mendengar para syaikh di antara mereka Abu Ubaidah dan lainnya berkata: Ia lahir setelah Luqman bin ‘Ad, lahir pada zaman banjir bendungan ‘Arim, dan hidup hingga masa pemerintahan Dzu Nuwas, yaitu sekitar tiga puluh generasi. Tempat tinggalnya adalah Bahrain. Kabilah Abdul Qais mengklaim bahwa ia dari mereka, dan kabilah Al-Azd mengklaim bahwa ia dari mereka. Kebanyakan ahli hadits mengatakan: Ia dari Al-Azd, dan kami tidak tahu dari mana ia berasal? Namun keturunannya mengatakan: Sesungguhnya ia dari Al-Azd. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Tidak ada dari anak Adam yang menyerupai Sathih, ia hanyalah daging di atas tulang, tidak ada di dalamnya tulang atau urat kecuali di kepalanya, matanya, dan tangannya. Dan ia dapat dilipat seperti pakaian dilipat dari kakinya hingga lehernya, dan tidak ada sesuatu yang bergerak darinya kecuali lidahnya. Dan yang lain berkata: Sesungguhnya ia jika marah, ia mengembang dan duduk. Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan bahwa ia datang ke Makkah dan disambut oleh sekelompok pemuka mereka di antaranya Abdu Syams dan Abdu Manaf, keduanya anak Qushay. Mereka mengujinya dalam beberapa hal, maka ia menjawab mereka dengan benar.

Mereka bertanya kepadanya tentang apa yang akan terjadi di akhir zaman. Ia berkata: Ambillah dariku dan dari ilham Allah kepadaku; kalian sekarang wahai kaum Arab berada di zaman tua renta, pandangan kalian dan pandangan orang Persia sama, tidak ada ilmu pada kalian dan tidak ada pemahaman, dan akan muncul dari keturunan kalian orang-orang yang memiliki pemahaman yang mencari berbagai jenis ilmu, mereka akan menghancurkan berhala, mengikuti yang benar, membunuh orang Persia, dan mencari harta rampasan. Kemudian ia berkata: Demi Yang Kekal Abadi, Pencipta Yang Menentukan takdir, sungguh akan keluar dari negeri ini seorang nabi yang mendapat petunjuk, memberi petunjuk kepada kebenaran, menolak Yaguts dan berhala, berlepas diri dari penyembahan tandingan, menyembah Tuhan Yang Esa. Kemudian Allah mewafatkannya dengan tempat terbaik, terpuji di bumi meskipun ditinggalkan, dan di langit disaksikan. Kemudian yang mengurus urusannya adalah Ash-Shiddiq, jika ia memutuskan, ia benar, dan dalam mengembalikan hak-hak tidak gegabah dan tidak tergesa-gesa. Kemudian yang mengurus urusannya adalah Al-Hanif yang berpengalaman dan mulia, yang telah melayani tamu, dan menyempurnakan ketegasan. Kemudian ia menyebutkan Utsman dan terbunuhnya serta apa yang terjadi setelah itu dari masa Bani Umayyah, kemudian Bani Abbas dan apa yang terjadi setelah itu dari fitnah dan peperangan. Ibnu Asakir meriwayatkannya dengan sanadnya dari Ibnu Abbas secara panjang lebar.

Dan kami telah mendahului perkataannya kepada Rabi’ah bin Nashr, raja Yaman, ketika ia memberitahukannya tentang mimpinya sebelum ia memberitahukannya, kemudian apa yang akan terjadi di negeri Yaman dari berbagai fitnah dan perubahan negara hingga kembali kepada Saif bin Dzi Yazan. Maka ia bertanya kepadanya: Apakah kekuasaannya itu akan langgeng ataukah terputus? Ia menjawab: Bahkan akan terputus. Ia bertanya: Siapa yang akan memutuskannya? Ia menjawab: Seorang nabi suci yang datang kepadanya wahyu dari Yang Maha Tinggi. Ia bertanya: Dan dari siapakah nabi ini? Ia menjawab: Dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr, kerajaan akan ada dalam kaumnya hingga akhir zaman. Ia bertanya: Dan apakah zaman itu ada akhirnya? Ia menjawab: Ya, yaitu hari dikumpulkannya orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, berbahagialah di dalamnya orang-orang yang berbuat baik, dan merugilah di dalamnya orang-orang yang berbuat jahat. Ia bertanya: Benarkah apa yang kamu kabarkan? Ia menjawab: Ya, demi senja, demi kegelapan, dan demi bulan ketika purnama, sesungguhnya apa yang aku kabarkan kepadamu itu adalah kebenaran. Dan Syiq menyetujuinya tentang hal itu sama persis dengan ungkapan lain sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan dari syair Sathih adalah ucapannya:

Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dalam tersembunyi dan terang-terangan, dan jangan mencampurkan kebenaran amanah dengan pengkhianatan Dan jadilah bagi tetangga benteng dan perlindungan, ketika menimpanya bencana dari zaman

Imam Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan hal itu, kemudian Al-Mu’afa bin Zakariya Al-Jariri menguraikannya dan berkata: Dan kabar-kabar tentang Sathih banyak dan telah dikumpulkan oleh lebih dari satu ahli ilmu. Dan yang masyhur bahwa ia adalah seorang dukun, dan ia telah mengabarkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang sifat dan diutusnya. Dan diriwayatkan kepada kami dengan sanad yang hanya Allah yang lebih tahu kebenarannya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang Sathih, maka beliau bersabda: Seorang nabi yang disia-siakan oleh kaumnya. Aku katakan: Adapun hadits ini tidak memiliki dasar dalam kitab-kitab Islam yang dikenal, dan aku tidak melihatnya dengan sanad sama sekali. Dan diriwayatkan yang serupa dalam kabar Khalid bin Sinan Al-Absi dan juga tidak shahih. Dan lahiriah ungkapan-ungkapan ini menunjukkan ilmu yang baik bagi Sathih, dan di dalamnya ada aroma pembenaran, tetapi ia tidak sempat merasakan Islam sebagaimana dikatakan Al-Jariri. Karena sungguh kami telah menyebutkan dalam riwayat ini bahwa ia berkata kepada anak saudara perempuannya: Wahai Abdul Masih, apabila banyak bacaan Al-Quran, muncul pemilik tongkat, meluap lembah As-Samawah, surut danau Sawah, dan padam api Persia, maka Syam bukan lagi Syam bagi Sathih. Akan memerintah dari mereka raja-raja dan ratu-ratu sejumlah menara yang runtuh, dan semua yang akan datang pasti datang. Kemudian Sathih meninggal di tempatnya. Dan hal itu terjadi setelah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebulan – atau kurang sedikit darinya – dan kematiannya di pinggiran Syam yang berbatasan dengan tanah Irak. Maka Allah lebih mengetahui tentang urusannya dan apa yang menjadi nasibnya. Ibnu Tharrar Al-Jariri menyebutkan bahwa ia hidup tujuh ratus tahun, dan yang lain mengatakan: lima ratus tahun, dan dikatakan tiga ratus tahun. Maka Allah lebih mengetahui.

Ibn Asakir meriwayatkan bahwa seorang raja bertanya kepada Sathih tentang nasab seorang anak yang diperselisihkan, lalu Sathih memberinya penjelasan terang dalam ucapan yang panjang, indah, dan fasih. Raja itu berkata kepadanya: “Wahai Sathih, tidakkah engkau memberitahuku tentang ilmumu ini?” Sathih menjawab: “Sesungguhnya ilmuku ini bukan dari diriku sendiri, bukan dengan praduga dan bukan dengan persangkaan, tetapi aku mengambilnya dari saudaraku yang jin yang telah mendengar wahyu di Bukit Sinai.” Raja berkata kepadanya: “Bagaimana menurutmu saudaramu yang jin ini, apakah dia bersamamu dan tidak pernah meninggalkanmu?” Sathih menjawab: “Dia berpindah ke mana aku berpindah, dan aku tidak berbicara kecuali dengan apa yang dia katakan.”

Telah disebutkan sebelumnya bahwa dia dan Syiqq bin Mush’ab bin Yaskur bin Rahm bin Bisr bin Uqbah—sang peramal yang lain—dilahirkan pada hari yang sama, lalu mereka berdua dibawa kepada peramal wanita Tharifah binti al-Husain al-Himyariyyah. Dia meludahi mulut mereka berdua, maka mereka mewarisi ilmu peramalan darinya, dan dia meninggal pada hari itu juga. Sathih adalah setengah manusia. Dikatakan bahwa Khalid bin Abdullah al-Qasri adalah keturunannya. Adapun Syiqq telah meninggal sebelum Sathih dalam waktu yang lama.

Adapun Abdul Masih bin Amr bin Qais bin Hayyan bin Baqilah al-Ghassani an-Nasrani, dia termasuk orang yang berumur panjang dan telah diterjemahkan biografinya oleh al-Hafizh Ibn Asakir dalam kitab sejarahnya. Ibn Asakir berkata: Dialah yang membuat perjanjian damai dengan Khalid bin al-Walid di Hirah, dan disebutkan kisah panjang dengannya, bahwa dia memakan racun yang mematikan dari tangan Khalid namun tidak terkena bahaya apa pun; karena ketika dia mengambilnya, dia berkata: “Dengan nama Allah dan dengan Allah, Tuhan bumi dan langit yang tidak membahayakan bersama nama-Nya sesuatu yang berbahaya,” kemudian dia memakannya. Dia mengalami pingsan lalu memukul dadanya dengan tangannya, kemudian berkeringat dan sadar kembali, semoga Allah meridhainya. Disebutkan untuk Abdul Masih syair-syair selain yang telah disebutkan sebelumnya.

Abu Nu’aim berkata: Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan menceritakan kepada kami, Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Uqbah bin Mukrim menceritakan kepada kami, al-Musayyab bin Syarik menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syarik menceritakan kepada kami dari Syu’aib bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Di Marr azh-Zhahran ada seorang pendeta dari kalangan pendeta yang bernama Isha dari penduduk Syam, dan dia dilindungi oleh al-Ash bin Wa’il. Allah telah memberikan kepadanya ilmu yang banyak dan menjadikan padanya banyak manfaat bagi penduduk Makkah berupa pengobatan, kebaikan, dan ilmu. Dia menetap di biara miliknya dan masuk ke Makkah setiap tahun untuk bertemu dengan orang-orang. Dia berkata: “Tidak lama lagi akan lahir di antara kalian wahai penduduk Makkah seorang anak yang bangsa Arab akan tunduk kepadanya dan dia akan menguasai bangsa Persia. Ini zamannya, barangsiapa yang mendapatinya dan mengikutinya akan memperoleh keperluannya, dan barangsiapa yang mendapatinya lalu menentangnya akan kehilangan keperluannya. Demi Allah, aku tidak meninggalkan negeri anggur, roti, dan keamanan, dan tidak tinggal di negeri kelaparan, kesengsaraan, dan ketakutan kecuali dalam pencariannya.” Setiap kali ada anak yang lahir di Makkah, dia menanyakannya lalu berkata: “Belum datang,” kemudian ditanyakan kepadanya: “Sebutkanlah ciri-cirinya,” dia menjawab: “Tidak,” dan dia menyembunyikan hal itu karena yang telah dia ketahui bahwa dia akan menghadapi perlawanan dari kaumnya, dia takut terhadap dirinya sendiri agar hal itu tidak menjadi sebab terdekat bagi bahaya yang akan menimpanya suatu hari.

Ketika pagi hari lahirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abdullah bin Abdul Muththalib keluar hingga datang kepada Isha lalu berdiri di bawah biaranya, kemudian memanggil: “Wahai Isha!” Isha menjawab: “Siapa ini?” Dia berkata: “Aku Abdullah,” maka Isha memandangnya dan berkata: “Jadilah ayahnya, karena telah lahir anak yang selama ini kuceritakan kepada kalian pada hari Senin, dia akan diutus pada hari Senin, dan akan meninggal pada hari Senin.” Abdullah berkata: “Sesungguhnya telah lahir bagiku bersama fajar seorang anak.” Isha berkata: “Apa yang kau namakan dia?” Dia menjawab: “Muhammad.” Isha berkata: “Demi Allah, sungguh aku menginginkan anak yang lahir ini ada di antara kalian Ahlul Bait; karena tiga ciri yang kami kenali padanya, di antaranya bahwa bintangnya terbit semalam, dia lahir hari ini, dan namanya Muhammad. Pergilah kepadanya, karena yang selama ini kuceritakan kepada kalian adalah anakmu.” Abdullah berkata: “Bagaimana engkau tahu bahwa dia anakku, boleh jadi pada hari ini lahir anak lain selainnya?” Isha berkata: “Anakmu telah sesuai dengan namanya, dan Allah tidak akan menyamarkan ilmu-Nya terhadap para ulama, karena itu adalah hujah. Dan tandanya adalah bahwa dia sekarang sakit dan akan sakit selama tiga hari, tampak padanya kelaparan selama tiga hari, kemudian akan sembuh. Jagalah lidahmu, karena tidak ada seorang pun yang dicemburui seperti dicemburuinya dia, dan tidak ada seorang pun yang dizhalimi seperti dizhalimi dirinya. Jika engkau hidup hingga perkatannya tersebar, kemudian dia berdakwah, maka akan tampak bagimu dari kaummu apa yang tidak bisa engkau tanggung kecuali dengan kesabaran dan kehinaan. Jagalah lidahmu dan menjauh darinya.” Abdullah berkata: “Berapa umurnya?” Isha berkata: “Jika umurnya panjang atau pendek, dia tidak akan mencapai tujuh puluh tahun, dia akan meninggal pada bilangan ganjil sebelumnya dari enam puluh, pada usia enam puluh satu atau enam puluh tiga, dalam rentang umur kebanyakan umatnya.” Perawi berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikandung pada hari Asyura bulan Muharram, dan lahir pada hari Senin dua belas hari berlalu dari bulan Ramadhan tahun dua puluh tiga dari peristiwa pasukan bergajah. Demikianlah Abu Nu’aim meriwayatkannya, dan di dalamnya ada keanehan.

Penyebutan Para Pengasuh dan Penyusunya Alaihish Shalaatu was Salaam

Ummu Aiman, namanya Barakah, mengasuhnya. Dia telah diwariskan kepada Nabi alaihish shalaatu was salaam dari ayahnya. Ketika beliau dewasa, beliau memerdekakannya dan menikahkannya dengan budaknya Zaid bin Haritsah, lalu Ummu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid untuknya, semoga Allah meridhai mereka semua. Dan menyusuinya bersama ibunya alaihish shalaatu was salaam adalah budak perempuan pamannya Abu Lahab yaitu Tsuwaibah sebelum Halimah as-Sa’diyyah.

Bukhari dan Muslim mengeluarkan dalam kitab shahih mereka dari hadits az-Zuhri dari Urwah bin az-Zubair dari Zainab binti Umm Salamah dari Umm Habibah binti Abi Sufyan, dia berkata: “Wahai Rasulullah, nikahkanlah saudaraku perempuan binti Abi Sufyan,” dan menurut Muslim: “Izzah binti Abi Sufyan,” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah engkau menyukai hal itu?” Aku berkata: “Ya, aku bukan milikmu sendiri, dan aku senang jika saudaraku perempuan bersekutu denganku dalam kebaikan.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hal itu tidak halal bagiku.” Umm Habibah berkata: “Sesungguhnya kami mendengar bahwa engkau ingin menikahi putri Abu Salamah,” dan dalam riwayat: “Durrah binti Abi Salamah.” Beliau bersabda: “Putri Umm Salamah?” Aku berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seandainya dia bukan anak tiri dalam asuhanku, dia tidak halal bagiku; sesungguhnya dia adalah anak saudara laki-lakiku dari sesusuan. Tsuwaibah menyusui aku dan Abu Salamah. Maka janganlah kalian tawarkan kepada putri-putri kalian dan saudara-saudara perempuan kalian.” Bukhari menambahkan: Urwah berkata: Dan Tsuwaibah adalah budak perempuan Abu Lahab yang dimerdekakannya, lalu dia menyusui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Abu Lahab meninggal, dia dilihat oleh sebagian keluarganya dalam keadaan buruk. Keluarganya berkata kepadanya: “Apa yang engkau alami?” Abu Lahab berkata: “Aku tidak mendapat kebaikan setelah kalian, kecuali aku diberi minum di sini karena kemerdekaanku terhadap Tsuwaibah,” dan dia menunjuk ke lekukan antara ibu jari dan jari yang di sebelahnya.

As-Suhaili dan yang lainnya menyebutkan bahwa yang melihatnya dalam mimpi adalah saudaranya al-Abbas, dan itu terjadi setelah satu tahun dari wafat Abu Lahab setelah peristiwa Badar. Dalam mimpi itu Abu Lahab berkata kepada al-Abbas: “Sesungguhnya siksaan diringankan atasku pada hari Senin.” Mereka berkata: Karena ketika Tsuwaibah memberinya kabar gembira tentang kelahiran anak saudaranya Muhammad bin Abdullah, dia memerdekakannya pada saat itu juga, maka dia mendapat balasan karena hal itu.

Penyebutan Penyusuannya Alaihish Shalaatu was Salaam dari Halimah binti Abi Dzu’aib as-Sa’diyyah, dan Apa yang Tampak Padanya Berupa Keberkahan dan Tanda-Tanda Kenabian

Muhammad bin Ishaq berkata: Dan dimintakanlah untuknya alaihish shalaatu was salaam ibu susuan dari Halimah binti Abi Dzu’aib, namanya adalah Abdullah bin al-Harits bin Syajanah bin Jabir bin Razam bin Nashirah bin Sa’d bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashfah bin Qais bin Ailan bin Mudhar. Perawi berkata: Nama bapak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menyusuinya—yakni suami Halimah—adalah al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa’ah bin Milan bin Nashirah bin Sa’d bin Bakr bin Hawazin. Saudara-saudaranya alaihish shalaatu was salaam—yakni dari sesusuan—adalah Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, dan Hudzafah binti al-Harits yang juga disebut asy-Syaima’. Disebutkan bahwa dia mengasuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama ibunya ketika beliau berada bersama mereka.

Ibn Ishaq berkata: Jahm bin Abi Jahm menceritakan kepadaku—dia adalah budak bagi seorang wanita dari Bani Tamim yang menjadi istri al-Harits bin Hathib, dan dia juga disebut budak al-Harits bin Hathib—dia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berkata: Aku diberitahu dari Halimah binti al-Harits bahwa dia berkata: Aku datang ke Makkah bersama para wanita—al-Waqidi menyebutkan dengan sanadnya bahwa mereka adalah sepuluh wanita dari Bani Sa’d bin Bakr yang mencari anak susuan—dari Bani Sa’d untuk mencari anak susuan, pada tahun kemarau. Aku datang dengan seekor keledai betinaku yang berwarna putih keabuan yang telah memperlambat rombongan. Bersamaku anak kami dan seekor unta tua kami. Demi Allah, dia tidak mengeluarkan setetes susu pun, dan kami tidak tidur sepanjang malam itu bersama anak kami yang menangis, kami tidak menemukan di payudaraku apa yang bisa mengenyangkannya dan tidak pula pada unta tua kami yang bisa memberinya makan, tetapi kami mengharapkan hujan dan kelapangan. Aku keluar dengan keledai betinaku itu, dan sungguh dia telah memperlambat rombongan hingga menyulitkan mereka karena lemah dan kurusnya. Kami tiba di Makkah. Demi Allah, aku tidak tahu ada wanita dari kami kecuali telah ditawarkan kepadanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu dia menolaknya. Ketika dikatakan: “Dia yatim,” kami meninggalkannya dan berkata: “Apa yang akan dilakukan ibunya kepada kami? Kami hanya mengharapkan kebaikan dari ayah anak itu. Adapun ibunya, apa yang bisa dilakukannya untuk kami?” Demi Allah, tidak tersisa dari teman-temanku seorang wanita pun kecuali telah mengambil anak susuan selain aku. Ketika kami tidak menemukan yang lain, dan kami bersiap untuk berangkat, aku berkata kepada suamiku al-Harits bin Abdul Uzza: “Demi Allah, aku tidak suka kembali dari antara teman-temanku tanpa membawa anak susuan. Aku akan pergi kepada yatim itu dan mengambilnya.” Suamiku berkata: “Tidak mengapa jika engkau melakukannya, mudah-mudahan Allah menjadikan padanya keberkahan bagi kita.” Maka aku pergi dan mengambilnya. Demi Allah, aku tidak mengambilnya kecuali karena tidak menemukan yang lain. Begitu aku mengambilnya dan membawanya ke tempat tinggalku, maka payudaraku mengeluarkan susu sebanyak yang dia inginkan. Dia minum hingga kenyang, dan saudara laki-lakinya minum hingga kenyang. Suamiku pergi ke unta tua kami itu, ternyata dia penuh air susu. Dia memerahnya hingga kami berdua minum hingga kenyang. Kami bermalam dengan malam yang penuh kebaikan. Suamiku berkata ketika pagi: “Wahai Halimah, demi Allah, sungguh aku melihat engkau telah mengambil jiwa yang diberkahi; tidakkah engkau lihat kebaikan dan keberkahan yang kami rasakan tadi malam sejak mengambilnya!” Allah Azza wa Jalla terus menambahkan kebaikan kepada kami. Kemudian kami keluar pulang ke negeri kami. Demi Allah, keledai betinaku melewati rombongan hingga tidak ada keledai yang bisa menyamainya, hingga teman-temanku berkata: “Celakalah engkau wahai binti Abi Dzu’aib, apakah ini keledai betinamu yang engkau keluarkan bersamanya bersama kami?” Aku berkata: “Ya, demi Allah, dia memang dia,” mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya padanya ada sesuatu yang luar biasa.” Hingga kami tiba di negeri Bani Sa’d. Aku tidak tahu ada tanah dari tanah Allah yang lebih tandus darinya. Jika kambing-kambingku digembalakan, kemudian pulang dengan kenyang dan penuh susu, kami memerah sebanyak yang kami inginkan. Sedangkan tidak ada seorang pun di sekitar kami yang kambing-kambingnya mengeluarkan setetes susu. Kambing-kambing mereka pulang dalam keadaan lapar, hingga mereka berkata kepada para penggembalanya: “Celakalah kalian, lihatlah ke mana kambing binti Abi Dzu’aib digembalakan, gembalakanlah bersama mereka.” Maka mereka menggembala bersama kambingku ke tempat di mana kambingku digembalakan, namun kambing-kambing mereka pulang dalam keadaan lapar tidak ada setetes susu pun padanya, sedangkan kambing-kambingku pulang kenyang dan penuh susu, kami memerah sebanyak yang kami inginkan. Allah terus menunjukkan keberkahan kepada kami yang kami kenali hingga dia berusia dua tahun. Dia tumbuh dengan pertumbuhan yang tidak seperti anak-anak lain. Demi Allah, belum sampai dua tahun, dia sudah menjadi anak yang besar dan kuat. Kami membawanya kepada ibunya, padahal kami sangat sayang kepadanya karena keberkahan yang kami lihat padanya.

Ketika ibunya melihatnya, kami berkata kepadanya: “Wahai ibu, biarkanlah kami membawa anak kami ini kembali tahun yang lain karena kami khawatir terhadap wabah di Makkah.” Demi Allah, kami terus memaksanya hingga dia berkata: “Baiklah.” Maka kami membawanya kembali bersama kami. Kami tinggal bersamanya selama dua atau tiga bulan. Ketika dia berada di belakang rumah-rumah kami bersama saudara laki-lakinya dari susuan dalam kawanan kambing kami, saudara laki-lakinya datang berlari dan berkata: “Saudara laki-lakiku orang Quraisy itu, datang kepadanya dua orang laki-laki berpakaian putih lalu membaringkannya dan membelah perutnya.” Aku dan ayahnya keluar berlari ke arahnya, dan kami temui dia berdiri dengan wajah pucat. Ayahnya memeluknya dan berkata: “Wahai anakku, apa yang terjadi?” Dia berkata: “Datang kepadaku dua orang laki-laki berpakaian putih, mereka membaringkanku dan membelah perutku, kemudian mengeluarkan sesuatu darinya dan membuangnya, kemudian mengembalikannya seperti semula.” Kami kembali bersamanya. Ayahnya berkata: “Wahai Halimah, sungguh aku khawatir anakku ini telah terkena sesuatu, maka marilah kita kembalikan dia kepada keluarganya sebelum tampak padanya apa yang kita khawatirkan.” Halimah berkata: Maka kami membawanya, dan ibunya tidak menyangka kecuali dengan kedatangan kami bersamanya. Kami datang kepadanya lalu dia berkata: “Apa yang membuat kalian berdua mengembalikannya padahal kalian sangat ingin memilikinya?” Kami berkata: “Tidak, demi Allah, hanya saja Allah telah menunaikan kewajiban kami dan kami telah melaksanakan yang seharusnya kami lakukan, dan kami berkata: Kami khawatir terjadi kerusakan dan kejadian-kejadian, maka kami kembalikan dia kepada keluarganya.” Dia berkata: “Tidak demikian dengan kalian berdua, maka katakanlah yang sebenarnya tentang urusan kalian.” Dia tidak meninggalkan kami hingga kami memberitahunya kabar tentangnya. Dia berkata: “Apakah kalian khawatir terhadapnya dari setan? Tidak, demi Allah, setan tidak memiliki jalan terhadapnya. Demi Allah, sesungguhnya anakku ini akan memiliki suatu urusan yang besar. Maukah aku beritahu kalian kabarnya?” Kami berkata: “Ya.” Dia berkata: “Aku mengandungnya, dan aku tidak pernah mengandung kehamilan yang lebih ringan darinya. Aku melihat dalam mimpi ketika mengandungnya seolah keluar dariku cahaya yang menerangi istana-istana Syam. Kemudian ketika melahirkannya, dia jatuh dengan jatuhan yang tidak seperti jatuhan bayi pada umumnya, bertumpu pada kedua tangannya sambil mengangkat kepalanya ke langit. Biarkanlah dia bersama kalian.” Hadits ini telah diriwayatkan dari jalur-jalur lain dan termasuk hadits-hadits yang masyhur dan beredar di kalangan ahli sirah dan maghazi.

Dan berkata Al-Waqidi, telah menceritakan kepadaku Mu’adz bin Muhammad bin ‘Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Halimah keluar mencari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia telah mendapati kambing-kambingnya sedang berteduh. Lalu ia menemukannya bersama saudara perempuannya. Maka ia berkata: Di tengah panas seperti ini! Maka saudara perempuannya berkata: Wahai ibuku, saudaraku tidak merasakan panas. Aku melihat awan yang menaunginya, jika ia berhenti maka awan itu berhenti, dan jika ia berjalan maka awan itu berjalan sampai ia sampai di tempat ini.

Dan berkata Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan dari sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka berkata kepadanya, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu. Ia berkata: Baiklah, aku adalah doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa ‘alaihimas salam. Dan ibuku melihat ketika mengandungku bahwa keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Syam. Dan aku disusukan di Bani Sa’d bin Bakr. Ketika aku berada di dekat kambing-kambing kami, datanglah kepadaku dua orang laki-laki mengenakan pakaian putih, bersama mereka ada baskom dari emas yang penuh dengan salju. Lalu mereka membaringkanku dan membelah perutku, kemudian mengeluarkan jantungku dan membelahnya, lalu mengeluarkan darinya gumpalan hitam dan membuangnya. Kemudian mereka mencuci jantungku dan perutku dengan salju itu hingga ketika keduanya bersih, mereka mengembalikannya seperti semula. Kemudian salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Timbang ia dengan sepuluh orang dari umatnya, maka ia menimbangku dengan sepuluh orang dan aku lebih berat dari mereka. Kemudian ia berkata: Timbang ia dengan seratus orang dari umatnya, maka ia menimbangku dengan seratus orang dan aku lebih berat dari mereka. Kemudian ia berkata: Timbang ia dengan seribu orang dari umatnya, maka ia menimbangku dengan seribu orang dan aku lebih berat dari mereka. Maka ia berkata: Tinggalkan ia, karena jika engkau menimbangnya dengan umatnya niscaya ia akan lebih berat dari mereka. Dan ini sanad yang baik dan kuat. Dan telah meriwayatkan Abu Nu’aim Al-Hafizh dalam Ad-Dala’il dari jalan Umar bin Ash-Shabh dan dia adalah Abu Nu’aim dari Tsaur bin Yazid dari Makhul dari Syaddad bin Aus kisah ini dengan sangat panjang, tetapi Umar bin Shabh ini adalah orang yang ditinggalkan, pendusta, dituduh melakukan pemalsuan; karena itu kami tidak menyebutkan lafazh hadits karena tidak ada faedahnya. Kemudian ia berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Amr bin Hamdan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr bin Utsman, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Walid dari Buhair bin Sa’id dari Khalid bin Ma’dan dari Abdurrahman bin Amr As-Sulami dari Utbah bin Abdi, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, bagaimana awal perkaramu wahai Rasulullah? Ia berkata: Pengasuhku adalah dari Bani Sa’d bin Bakr, lalu aku pergi bersama anak laki-lakinya di kambing-kambing kami, dan kami tidak membawa bekal. Maka aku berkata: Wahai saudaraku, pergilah dan bawakannya bekal dari ibuku. Maka saudaraku pergi dan aku tinggal di dekat kambing-kambing. Lalu datang dua burung putih seperti burung rajawali, maka salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Apakah dia? Ia berkata: Ya. Maka keduanya mendatangiku dengan cepat dan mengambilku, lalu membaringkanku telentang dan membelah perutku, kemudian mengeluarkan jantungku dan membelahnya, lalu mengeluarkan darinya dua gumpalan hitam. Maka salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Bawakannya air salju, maka mereka mencuci dengannya perutku. Kemudian ia berkata: Bawakannya air dingin, maka mereka mencuci dengannya jantungku. Kemudian ia berkata: Bawakannya ketenangan, maka ditaburkannya di jantungku. Kemudian salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Jahitlah ia, maka ia menjahitnya, dan memberi cap pada jantungku dengan cap kenabian. Maka salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Letakkan ia di satu sisi timbangan, dan letakkan seribu orang dari umatnya di sisi lain, maka tiba-tiba aku melihat seribu orang di atasku, aku khawatir akan jatuh sebagian dari mereka kepadaku. Maka ia berkata: Seandainya umatnya ditimbang dengannya niscaya ia akan lebih berat dari mereka. Kemudian keduanya pergi dan meninggalkanku, dan aku sangat ketakutan. Kemudian aku pergi kepada ibuku dan mengabarkan kepadanya apa yang aku alami, maka ia khawatir bahwa telah terjadi sesuatu padaku. Maka ia berkata: Aku berlindung dengan Allah untukmu, lalu ia menyiapkan untanya, dan membawaku di atas pelana, dan naik di belakangku hingga kami sampai kepada ibuku. Maka ia berkata: Aku telah menunaikan amanahku dan kewajibanku, dan menceritakan kepadanya apa yang aku alami, maka ia tidak takut, dan berkata: Sesungguhnya aku melihat keluar dariku cahaya yang menerangi istana-istana Syam.

Dan telah meriwayatkannya Ahmad dari hadits Baqiyyah bin Al-Walid dengannya. Dan demikianlah telah meriwayatkannya Abdullah bin Al-Mubarak dan lainnya dari Baqiyyah bin Al-Walid dengannya. Dan telah meriwayatkannya Ibnu Asakir dari jalan Abu Dawud Ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Abdullah bin Utsman Al-Qurasyiy, telah mengabarkan kepadaku Umar bin Urwah bin Az-Zubair, ia berkata, aku mendengar Urwah bin Az-Zubair menceritakan dari Abu Dzarr Al-Ghifari, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengetahui bahwa engkau adalah nabi ketika engkau mengetahui itu, dan yakin bahwa engkau adalah nabi? Ia berkata: Wahai Abu Dzarr, datang kepadaku dua malaikat, dan aku berada di suatu tempat dataran Makkah, lalu salah satu dari mereka jatuh ke bumi dan yang lain berada di antara langit dan bumi, maka salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: Apakah dia? Ia berkata: Dialah dia. Ia berkata: Maka timbanglah ia dengan seorang laki-laki, maka aku ditimbang dengan seorang laki-laki dan aku lebih berat darinya. Dan ia menyebutkan sempurnanya dan menyebutkan pembelahan dadanya dan penjahitannya, dan diletakkannya cap di antara kedua bahunya. Ia berkata: Tidak lain ketika keduanya meninggalkanku, maka seolah-olah aku melihat perkara itu dengan jelas.

Kemudian Ibnu Asakir menyebutkan dari Ubay bin Ka’ab seperti itu, dan dari hadits Syaddad bin Aus dengan lebih terperinci dari itu.

Dan telah tetap dalam Shahih Muslim dari jalan Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril ‘alaihis salam sementara ia sedang bermain bersama anak-anak, lalu ia mengambilnya dan merobohkannya, lalu membelah jantungnya dan mengeluarkan jantung itu, dan mengeluarkan darinya gumpalan, lalu berkata: Ini adalah bagian setan darimu, kemudian mencucinya di baskom dari emas dengan air zamzam, kemudian menjahitnya, kemudian mengembalikannya ke tempatnya. Dan datanglah anak-anak berlari kepada ibunya – yaitu ibu susuannya – lalu mereka berkata: Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh, maka mereka menyambutnya sementara ia pucat wajahnya. Anas berkata: Dan sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dadanya. Dan telah meriwayatkannya Ibnu Asakir dari jalan Ibnu Wahb dari Amr bin Al-Harits dari Abdurrabbihi bin Sa’id dari Tsabit Al-Bunani dari Anas, bahwa shalat diwajibkan di Madinah, dan bahwa dua malaikat datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu membawanya ke zamzam, lalu membelah perutnya dan mengeluarkan isi perutnya di baskom dari emas, lalu mencucinya dengan air zamzam, kemudian mengisi perutnya dengan hikmah dan ilmu.

Dan dari jalan Ibnu Wahb juga dari Ya’qub bin Abdurrahman Az-Zuhri dari ayahnya dari Abdurrahman bin Amir bin Utbah bin Abi Waqqash dari Anas, ia berkata: Didatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga malam, ia berkata: Ambillah yang terbaik dari mereka dan pemimpin mereka, maka mereka mengambil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dibawa ke zamzam dan dibelah perutnya, kemudian didatangkan dengan mangkuk dari emas, lalu dicuci perutnya, kemudian diisi dengan hikmah dan iman. Dan telah tetap dari riwayat Sulaiman bin Al-Mughirah dari Tsabit dari Anas, dan dalam dua Shahih dari jalan Syarik bin Abi Namir dari Anas, dan dari Az-Zuhri dari Anas dari Abu Dzarr dan Qatadah dari Anas dan dari Malik bin Sha’sha’ah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Isra’ sebagaimana akan datang, kisah pembelahan dada pada malam itu, dan bahwa ia dicuci dengan air zamzam dan tidak ada pertentangan; karena kemungkinan terjadinya itu dua kali; sekali ketika ia masih kecil, dan sekali pada malam Isra’ agar siap untuk datang kepada Malaikat Tertinggi, dan untuk bermunajat kepada Rabb ‘azza wa jalla dan menghadap di hadapan-Nya tabaaraka wa ta’aala.

Dan berkata Ibnu Ishaq: Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabat-sahabatnya, aku adalah yang paling fasih berbahasa Arab di antara kalian, aku orang Quraisy, dan disusukan di Bani Sa’d bin Bakr. Dan menyebutkan Ibnu Ishaq bahwa Halimah ketika mengembalikannya kepada ibunya setelah menyapihnya, ia melewatinya kepada rombongan orang-orang Nashrani, lalu mereka mendatanginya ‘alaihish shalaatu was salam, lalu membolak-balikkannya, dan berkata: Sesungguhnya kami akan membawa anak ini kepada raja kami karena ia akan mempunyai urusan, maka ia tidak dapat melepaskan diri dari mereka kecuali setelah kesulitan. Dan ia menyebutkan bahwa ketika ia mengembalikannya ketika ia khawatir kepadanya bahwa telah menimpanya gangguan, maka ketika ia dekat dari Makkah ia kehilangannya, lalu tidak menemukannya, lalu ia datang kepada kakeknya Abdul Muththalib, maka ia keluar bersama sekelompok orang untuk mencarinya, lalu Waraqah bin Naufal menemukannya, dan seorang laki-laki lain dari Quraisy, lalu keduanya datang dengannya kepada kakeknya, maka ia mengambilnya di bahunya dan pergi, lalu mengelilingi dengannya sambil memohon perlindungan untuknya dan berdoa untuknya, kemudian mengembalikannya kepada ibunya Aminah.

Dan menyebutkan Al-Umawi dari jalan Utsman bin Abdurrahman Al-Waqqashi – dan ia lemah – dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyab kisah kelahirannya ‘alaihish shalaatu was salam, dan penyusuannya dari Halimah dengan selain riwayat Muhammad bin Ishaq. Dan ia menyebutkan bahwa Abdul Muththalib memerintahkan anaknya Abdullah untuk mengambilnya dan mengelilinginya di perkampungan-perkampungan Arab agar menemukan untuknya ibu susuan, lalu ia berkeliling hingga menyewa Halimah untuk menyusuinya. Dan ia menyebutkan bahwa ia tinggal di tempatnya enam tahun, kakeknya mengunjunginya setiap tahun, maka ketika terjadi pembelahan dadanya di tempat mereka seperti yang terjadi, mereka mengembalikannya kepada mereka, lalu ia tinggal di tempat ibunya hingga umurnya delapan tahun, ibunya meninggal, maka kakeknya Abdul Muththalib merawatnya, lalu ia meninggal sementara baginya ‘alaihish shalaatu was salam sepuluh tahun, maka merawatnya paman-pamannya yang saudara kandung ayahnya Az-Zubair, dan Abu Thalib. Maka ketika umurnya belasan tahun, ia keluar bersama pamannya Az-Zubair ke Yaman, lalu ia menyebutkan bahwa mereka melihat darinya tanda-tanda dalam perjalanan itu, di antaranya; bahwa unta jantan dari unta-unta yang telah memotong sebagian jalan di lembah, jalan mereka melewatinya, maka ketika ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersujud hingga menggosokkan dadanya ke tanah, lalu ia mengendarainya ‘alaihish shalaatu was salam. Dan di antaranya bahwa ia menyeberangi bagi mereka banjir besar, maka Allah ta’aala mengeringkannya hingga mereka melewatinya. Kemudian pamannya Az-Zubair meninggal, dan umurnya empat belas tahun, maka Abu Thalib menyendiri dengannya.

Dan yang dimaksudkan adalah bahwa berkahnya ‘alaihish shalaatu was salam menimpa kepada Halimah As-Sa’diyyah dan keluarganya sementara ia masih kecil, kemudian kembali kepada Hawazin semua dengan kesempurnaan kebaikannya ketika menawan mereka setelah peperangan mereka, dan itu setelah penaklukan Makkah sebulan, lalu mereka memohon kepadanya dengan penyusuannya, maka ia memerdekakan mereka, dan berbelas kasihan kepada mereka, dan berbuat baik kepada mereka, sebagaimana akan datang terperinci di tempatnya insya Allah ta’aala.

Berkata Muhammad bin Ishaq: Dalam perang Hawazin: dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Hunain, maka ketika ia mendapatkan dari harta-harta mereka dan tawanan-tawanan mereka, datang kepadanya utusan Hawazin di Al-Ji’ranah dan mereka telah masuk Islam, lalu mereka berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah asal usul dan keluarga, dan telah menimpa kami dari bencana apa yang tidak tersembunyi bagimu, maka berkebaikan kepada kami, semoga Allah berbelas kasih kepadamu. Dan berdiri pembicara mereka Zuhair bin Shurad, lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya apa yang ada di kandang-kandang dari tawanan adalah bibi-bibimu, dan pengasuh-pengasuhmu yang dahulu merawatmu. Seandainya kami menyusui anak Abu Syamir atau An-Nu’man bin Al-Mundzir, kemudian menimpa kami dari mereka berdua seperti yang menimpa kami darimu, kami berharap belas kasihan dan kebaikan mereka, dan engkau adalah sebaik-baik orang yang dirawat. Kemudian ia bersyair:

Berbelas kasihlah kepada kami wahai Rasulullah dengan kemuliaan Karena sesungguhnya engkau adalah orang yang kami harapkan dan kami simpan Berbelas kasihlah kepada keturunan yang telah dilanda takdir Yang tercerai-berai persatuannya dalam masanya yang berubah Masa telah menyisakan bagi kami tangisan di atas kesedihan Di atas hati-hati mereka kegelapan dan kekelaman Jika tidak menyelamatkannya nikmat yang menyebarkannya Wahai orang yang paling bijaksana manusia ketika diuji Berbelas kasihlah kepada wanita-wanita yang dahulu engkau menyusu kepadanya Ketika mulutmu dipenuhi oleh susunya yang murni Berbelas kasihlah kepada wanita-wanita yang dahulu engkau menyusu kepadanya Dan ketika mereka melihatmu apa yang engkau lakukan dan apa yang engkau tinggalkan Jangan jadikan kami seperti orang yang burung untanya pergi Dan sisakan dari kami karena sesungguhnya kami adalah kaum yang mulia Sesungguhnya kami bersyukur atas nikmat walaupun ia dikufurkan Dan di sisi kami setelah hari ini ada yang disimpan

Dan telah diriwayatkan kisah ini dari jalan Ubaidullah bin Rumahis Al-Kalbi Ar-Ramli dari Ziyad bin Thariq Al-Jusyami dari Abu Shurad Zuhair bin Jarwal – dan ia adalah pemimpin kaumnya – ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawan kami pada hari Hunain, maka ketika ia sedang memisahkan antara laki-laki dan wanita, aku melompat hingga aku duduk di hadapannya, dan aku memperdengarkan kepadanya syair yang aku ingatkan kepadanya ketika ia tumbuh dan berkembang di Hawazin di mana mereka menyusuinya:

Berbelas kasihlah kepada kami wahai Rasulullah dengan permohonan Karena sesungguhnya engkau adalah orang yang kami harapkan dan kami nantikan Berbelas kasihlah kepada keturunan yang telah dilanda takdir Yang tercerai-berai persatuannya dalam masanya yang berubah Perang telah menyisakan bagi kami tangisan di atas kesedihan Di atas hati-hati mereka kegelapan dan kekelaman Jika tidak menyelamatkannya nikmat yang menyebarkannya Wahai orang yang paling bijaksana manusia ketika diuji Berbelas kasihlah kepada wanita-wanita yang dahulu engkau menyusu kepadanya Ketika mulutmu dipenuhi oleh susunya yang murni Ketika engkau anak kecil yang sedang engkau menyusu kepadanya Dan ketika mereka melihatmu apa yang engkau lakukan dan apa yang engkau tinggalkan Jangan jadikan kami seperti orang yang burung untanya pergi Dan sisakan dari kami karena sesungguhnya kami adalah kaum yang mulia Sesungguhnya kami bersyukur atas nikmat walaupun ia dikufurkan Dan di sisi kami setelah hari ini ada yang disimpan Maka kenakanlah maaf kepada orang yang dahulu engkau menyusu kepadanya Dari ibu-ibumu, sesungguhnya maaf itu diinginkan Sesungguhnya kami berharap maaf darimu yang engkau kenakan Makhluk ini ketika engkau memaafkan dan engkau menolong Maka maafkanlah, semoga Allah memaafkan apa yang engkau takuti Pada hari kiamat ketika diberikan kepadamu kemenangan

Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Adapun apa yang untukku dan untuk Bani Abdul Muththalib maka ia untuk Allah dan untuk kalian. Maka berkata kaum Anshar: Dan apa yang untuk kami adalah untuk Allah dan untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan akan datang bahwa ia ‘alaihish shalaatu was salam melepaskan untuk mereka keturunan, dan jumlahnya enam ribu antara anak-anak dan wanita, dan memberikan kepada mereka hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak hingga berkata Abu Al-Husain bin Faris: Maka adalah nilai apa yang ia lepaskan untuk mereka pada hari itu lima ratus ribu ribu dirham. Maka ini semua dari berkahnya yang segera di dunia, lalu bagaimana dengan berkahnya atas orang yang mengikutinya di akhirat.

PASAL

Ibnu Ishaq berkata setelah menyebutkan kembalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibunya Aminah setelah disusui oleh Halimah: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ibunya Aminah binti Wahab dan kakeknya Abdul Muthalib dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah, Allah menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik untuk kemuliaan yang dikehendaki-Nya baginya. Tatkala ia berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab meninggal dunia.

Ibnu Ishaq berkata, Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm menceritakan kepadaku bahwa ibu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aminah, meninggal dunia ketika beliau berusia enam tahun di Abwa, antara Mekah dan Madinah. Ia telah membawanya berkunjung kepada saudara-saudara laki-lakinya dari Bani Adi bin Najjar untuk bertemu mereka, lalu ia meninggal ketika dalam perjalanan kembali bersamanya ke Mekah. Al-Waqidi menyebutkan dengan sanad-sanadnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa keluar oleh ibunya menuju Madinah, dan bersamanya Ummu Aiman, ketika ia berusia enam tahun untuk mengunjungi saudara-saudara laki-lakinya. Ummu Aiman berkata: Pada suatu hari datang kepadaku dua orang laki-laki Yahudi dari Madinah, lalu mereka berkata kepadaku: Keluarkan Ahmad kepada kami agar kami dapat melihatnya. Maka mereka melihatnya dan membolak-balikkannya. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: Ini adalah nabi umat ini, dan inilah negeri hijrahnya, dan akan terjadi di dalamnya pembunuhan dan penawanan yang sangat besar. Ketika ibunya mendengar hal itu, ia merasa takut dan kembali bersamanya. Lalu ia meninggal di Abwa ketika dalam perjalanan pulang.

Imam Ahmad berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ayyub bin Jabir menceritakan kepada kami dari Simak dari Al-Qasim bin Abdurrahman dari Ibnu Buraidah dari ayahnya yang berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga ketika kami berada di Waddan, beliau berkata: “Tetaplah di tempat kalian sampai aku datang kepada kalian.” Lalu beliau pergi kemudian datang kepada kami dalam keadaan sedih, lalu berkata: “Sesungguhnya aku telah mendatangi kubur ibu Muhammad, lalu aku memohon kepada Tuhanku syafaat—yaitu untuknya—maka Dia menolakku. Sesungguhnya aku telah melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahilah. Dan aku melarang kalian dari daging kurban setelah tiga hari, maka makanlah dan simpanlah sesuka kalian. Dan aku melarang kalian dari minuman dalam wadah-wadah ini, maka minumlah sesuka kalian.”

Al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari jalur Sufyan Ats-Tsauri dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya yang berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada bekas kubur lalu duduk dan orang-orang duduk banyak di sekelilingnya. Lalu beliau mulai menggerakkan kepalanya seperti orang yang berbicara, kemudian menangis. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menghadapnya dan berkata: Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Beliau berkata: “Ini adalah kubur Aminah binti Wahab. Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk mengunjungi kuburnya maka Dia mengizinkanku, dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memohonkan ampunan baginya maka Dia menolakku, dan aku merasakan kelembutan hati kepadanya maka aku menangis.” Ia berkata: Aku tidak pernah melihat waktu yang lebih banyak orang menangis daripada waktu itu. Muharib bin Ditsar mengikutinya dari Buraidah dari ayahnya.

Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Bahr bin Nashr dari Abdullah bin Wahab, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Ayyub bin Hani dari Masruq bin Al-Ajda’ dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk melihat pekuburan dan kami keluar bersamanya. Lalu beliau memerintahkan kami untuk duduk, kemudian beliau melangkahi kubur-kubur hingga sampai pada salah satu kubur dari kubur-kubur itu, lalu berbicara panjang dengannya. Kemudian meninggilah tangisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis, maka kami menangis karena tangisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, maka Umar bin Khattab menemuinya dan berkata: Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis? Sungguh engkau telah membuat kami menangis dan takut. Lalu beliau datang dan duduk bersama kami, lalu berkata: “Apakah tangisanku menakutkan kalian?” Kami berkata: Ya. Beliau berkata: “Sesungguhnya kubur yang kalian lihat aku berbicara dengannya adalah kubur Aminah binti Wahab, dan sesungguhnya aku meminta izin kepada Tuhanku untuk mengunjunginya maka Dia mengizinkanku, dan aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampunan baginya maka Dia tidak mengizinkanku, dan turunlah kepadaku: “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka setelah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya” (QS. At-Taubah: 113-114). Maka menghinggapiku rasa kasih yang menghampiri anak terhadap orang tuanya, maka itulah yang membuatku menangis.” Gharib (aneh), dan mereka tidak mengeluarkannya.

Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Muhammad bin Ubaid dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah yang berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kubur ibunya lalu menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya menangis, kemudian berkata: “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahi kubur ibuku maka Dia mengizinkanku, dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memohonkan ampunan baginya maka Dia tidak mengizinkanku. Maka ziarahilah kubur karena ia mengingatkan kalian pada kematian.” Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Affan dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, di mana ayahku? Beliau berkata: “Di neraka.” Ketika ia berbalik, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.”

Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari hadits Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dari Ibrahim bin Sa’d dari Az-Zuhri dari Amir bin Sa’d dari ayahnya yang berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku adalah orang yang menyambung silaturahmi dan begini dan begini, maka di mana ia? Beliau berkata: “Di neraka.” Ia berkata: Sepertinya orang Arab Badui itu merasakan hal itu, lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, maka di mana ayahmu? Beliau berkata: “Di manapun kamu melewati kubur orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka.” Ia berkata: Maka orang Arab Badui itu masuk Islam setelahnya dan berkata: Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membebani aku dengan kesulitan, tidaklah aku melewati kubur orang kafir melainkan aku memberinya kabar gembira dengan neraka. Gharib (aneh), dan mereka tidak mengeluarkannya dari jalur ini.

Imam Ahmad berkata: Abu Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sa’id yaitu Ibnu Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Rabi’ah bin Saif Al-Ma’afiri menceritakan kepada kami dari Abu Abdurrahman Al-Hubuli dari Abdullah bin Amr yang berkata: Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau melihat seorang perempuan yang kami tidak menyangka bahwa beliau mengenalinya. Ketika ia berada di tengah jalan, beliau berhenti hingga perempuan itu sampai kepadanya, ternyata ia adalah Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: “Apa yang mengeluarkanmu dari rumahmu wahai Fathimah?” Ia berkata: Aku mendatangi keluarga rumah ini untuk meratapi jenazah mereka dan menghibur mereka. Beliau berkata: “Jangan-jangan kamu sampai ke kubur bersama mereka.” Ia berkata: Aku berlindung kepada Allah bahwa aku sampai ke sana bersama mereka, dan sungguh aku telah mendengarmu menyebutkan tentang hal itu apa yang kamu sebutkan. Beliau berkata: “Seandainya kamu sampai ke sana bersama mereka, niscaya kamu tidak akan melihat surga hingga kakek ayahmu melihatnya.”

Kemudian Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi meriwayatkannya dari hadits Rabi’ah bin Saif bin Mati’ Al-Ma’afiri Ash-Shanami Al-Iskandari. Imam Al-Bukhari telah berkata: Padanya ada hadits-hadits yang mungkar. An-Nasa’i berkata: Tidak ada masalah dengannya. Dan ia berkata pada waktu lain: Jujur. Dan dalam satu naskah: Lemah. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat dan berkata: Ia sering salah. Ad-Daruquthni berkata: Saleh. Ibnu Yunus berkata dalam Tarikh Misr: Dalam haditsnya ada hal-hal yang mungkar. Ia meninggal mendekati tahun seratus dua puluh. Yang dimaksud dengan Al-Kuda adalah kubur-kubur. Dan ada yang berkata: Ratapan.

Yang dimaksud adalah bahwa Abdul Muthalib meninggal dalam keadaan yang ia berada padanya dari agama Jahiliyah, berbeda dengan kelompok Syiah tentang dirinya dan tentang anaknya Abu Thalib sebagaimana yang akan datang dalam wafat Abu Thalib. Al-Baihaqi telah berkata setelah meriwayatkan hadits-hadits ini dalam kitabnya Dala’il An-Nubuwwah: Dan bagaimana mungkin tidak demikian keadaan kedua orang tuanya dan kakeknya ‘alaihish shalatu was salam di akhirat padahal mereka menyembah berhala hingga mereka meninggal, dan mereka tidak menganut agama Isa bin Maryam ‘alaihis salam, dan kekafiran mereka tidak mencela nasabnya ‘alaihish shalatu was salam karena sesungguhnya pernikahan-pernikahan orang-orang kafir adalah sah. Tidakkah engkau melihat mereka masuk Islam bersama istri-istri mereka maka tidak diwajibkan kepada mereka memperbarui akad dan tidak menceraikan mereka jika seperti itu dibolehkan dalam Islam, dan dengan Allah taufik. Selesai perkataannya.

Aku berkata: Dan pengabarannya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua orang tuanya dan kakeknya Abdul Muthalib bahwa mereka termasuk penghuni neraka, tidak bertentangan dengan hadits yang datang darinya dari berbagai jalur bahwa ahli fatrah (orang-orang yang hidup di masa kekosongan tidak ada rasul), anak-anak, orang-orang gila, dan orang-orang tuli akan diuji di tanah mahsyar pada hari kiamat, sebagaimana kami jelaskan secara terperinci sanad dan matannya dalam tafsir kami pada firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (QS. Al-Isra: 15). Maka akan ada di antara mereka yang menjawab dan di antara mereka yang tidak menjawab, maka mereka ini termasuk dari golongan orang yang tidak menjawab, maka tidak ada pertentangan dan segala puji bagi Allah dan karunia-Nya.

Adapun hadits yang disebutkan oleh As-Suhaili, dan ia menyebutkan bahwa dalam sanadnya ada orang-orang yang majhul (tidak diketahui) sampai kepada Ibnu Abi Az-Zinad dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Tuhannya untuk menghidupkan kedua orang tuanya, maka Allah menghidupkan keduanya dan keduanya beriman kepadanya, maka itu adalah hadits yang sangat mungkar (tercela), meskipun hal itu mungkin dengan pertimbangan qudrat Allah Ta’ala, tetapi yang telah tetap dalam Shahih menentangnya. Wallahu a’lam.

Pasal Tentang Pengasuhan Kakeknya Abdul Muthalib Baginya ‘Alaihis Salam Setelah Wafat Ibunya

Ibnu Ishaq berkata: Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim—yaitu setelah wafat ibunya Aminah binti Wahab—maka diletakkan untuk Abdul Muthalib hamparan di bawah naungan Ka’bah. Adalah anak-anaknya duduk di sekeliling hamparannya itu hingga ia keluar kepadanya, tidak ada seorang pun dari anak-anaknya yang duduk di atasnya karena mengagungkannya. Ia berkata: Maka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ketika ia anak kecil sampai ia duduk di atasnya. Maka paman-pamannya mengambilnya untuk menundanya darinya. Maka Abdul Muthalib berkata ketika ia melihat hal itu dari mereka: Biarkanlah anakku, demi Allah sesungguhnya baginya ada urusan besar. Kemudian ia mendudukkannya bersamanya di atas hamparannya dan mengusap punggungnya dengan tangannya, dan ia senang dengan apa yang ia lihat dilakukannya.

Al-Waqidi berkata, Muhammad bin Abdullah menceritakan kepadaku dari Az-Zuhri, dan Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Abdul Wahid bin Hamzah bin Abdullah, dan Hasyim bin Ashim Al-Aslami menceritakan kepada kami dari Al-Mundzir bin Jaham, dan Ma’mar menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, dan Abdurrahman bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami dari Abul Huwairits, dan Ibnu Abi Sabrah menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Suhaim dari Nafi’ bin Jubair—masuk hadits sebagian mereka ke dalam sebagian—mereka berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ibunya Aminah binti Wahab. Tatkala ia meninggal, kakeknya Abdul Muthalib memungutnya dan memeluknya serta merasakan kelembutan hati kepadanya yang tidak ia rasakan kepada anak-anaknya. Ia mendekatkannya dan mendekatkannya, dan memasukannya kepadanya ketika ia sendirian dan ketika ia tidur. Ia biasa duduk di atas hamparannya, maka Abdul Muthalib berkata ketika melihat hal itu: Biarkanlah anakku, sesungguhnya ia akan menggantikan raja.

Sekelompok orang dari Bani Mudlij berkata kepada Abdul Muthalib: Jagalah ia karena kami tidak pernah melihat telapak kaki yang lebih mirip dengan telapak kaki yang ada di Maqam daripada telapak kakinya. Maka Abdul Muthalib berkata kepada Abu Thalib: Dengarlah apa yang dikatakan orang-orang ini! Maka adalah Abu Thalib menjaganya. Abdul Muthalib berkata kepada Ummu Aiman—dan ia adalah yang mengasuhnya—: Wahai Barakah, jangan lengah dari anakku karena sesungguhnya aku mendapatinya bersama anak-anak kecil dekat pohon bidara, dan sesungguhnya ahli Kitab mengklaim bahwa anakku ini adalah nabi umat ini. Adalah Abdul Muthalib tidak makan makanan melainkan ia berkata: Bawalah anakku kepadaku, maka ia dibawa kepadanya. Tatkala Abdul Muthalib menjelang wafat, ia berwasiat kepada Abu Thalib untuk menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melindunginya. Kemudian Abdul Muthalib meninggal, dan dikubur di Hajun.

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai usia delapan tahun, kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim meninggal. Kemudian ia menyebutkan pengumpulannya anak-anak perempuannya, dan perintahnya kepada mereka agar mereka meratapi dia, dan mereka adalah Arwa, Umaimah, Barrah, Shafiyyah, Atikah, dan Ummu Hakim Al-Baidha. Dan ia menyebutkan syair-syair mereka dan apa yang mereka ucapkan dalam meratapi ayah mereka dan ia mendengar sebelum wafatnya. Dan ini adalah ratapan yang paling berlebihan, dan ia memperluas pembahasan tentang hal itu. Ibnu Hisyam telah berkata: Dan aku tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu dengan syair yang mengenali syair ini.

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abdul Muthalib bin Hasyim meninggal, yang memegang urusan siqayah (memberi minum jamaah haji) dan Zamzam setelahnya adalah anaknya Al-Abbas dan ia adalah yang paling muda di antara saudara-saudaranya. Maka tidak berhenti berada padanya hingga Islam datang, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkannya di tangannya.

Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kakeknya Abdul Muthalib bersama pamannya Abu Thalib karena wasiat Abdul Muthalib kepadanya tentangnya, dan karena ia adalah saudara sekandung ayahnya Abdullah, ibu mereka berdua adalah Fathimah binti Amr bin A’idz bin Imran bin Makhzum. Ia berkata: Maka adalah Abu Thalib yang mengurusi urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berada padanya, dan bersamanya.

Al-Waqidi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Junaih dari Mujahid, dan telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Muhammad al-Anshari dari Atha’ dari Ibnu Abbas, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih dan Abdullah bin Ja’far dan Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah – hadits sebagian mereka masuk ke dalam hadits sebagian yang lain – mereka berkata: Ketika Abdul Muthalib wafat, Abu Thalib mengambil alih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau tinggal bersamanya. Abu Thalib tidak memiliki harta, dan dia sangat mencintai beliau dengan kecintaan yang sangat mendalam, tidak dia cintai anak-anaknya sendiri seperti itu. Beliau tidak tidur kecuali di sampingnya, dan dia keluar maka beliau keluar bersamanya. Abu Thalib sangat sayang kepada beliau dengan kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan terhadap sesuatu pun sebelumnya. Dia mengkhususkan makanan untuk beliau. Ketika anak-anak Abu Thalib makan semua bersama-sama atau sendiri-sendiri, mereka tidak kenyang. Namun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan bersama mereka, mereka kenyang. Maka ketika dia ingin memberi mereka makan siang, dia berkata: “Tunggulah sampai anak saya datang,” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan makan bersama mereka, maka mereka memiliki sisa makanan. Jika beliau tidak bersama mereka, mereka tidak kenyang. Maka Abu Thalib berkata: “Sungguh engkau membawa berkah.”

Anak-anak itu bangun pagi dengan mata belekan dan rambut kusut, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan berminyak wangi dan bercelak.

Al-Hasan bin Arafah berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Tsabit dari Thalhah bin Amr, aku mendengar Atha’ bin Abi Rabah, aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Anak-anak Abu Thalib bangun pagi dengan mata belekan dan berselaput, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan bersih dan berminyak wangi. Abu Thalib mendekatkan makanan kepada anak-anak pada pagi buta, maka mereka duduk dan berebut mengambilnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan tangannya dan tidak ikut berebut bersama mereka. Ketika pamannya melihat hal itu, dia memisahkan makanan beliau tersendiri.

Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abbad bin Abdullah bin az-Zubair bahwa ayahnya menceritakan kepadanya bahwa ada seorang dari Lahab yang merupakan peramal. Ketika dia datang ke Mekah, orang-orang Quraisy datang kepadanya dengan anak-anak mereka untuk dilihat dan dia meramal tentang mereka. Dia berkata: Maka Abu Thalib datang membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika masih kanak-kanak bersama orang-orang yang datang kepadanya. Dia berkata: Maka dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian sesuatu menyibukkannya dari beliau. Ketika dia selesai, dia berkata: “Anak itu, datangkan dia kepadaku!” Ketika Abu Thalib melihat ketertarikannya yang besar kepada beliau, dia menyembunyikan beliau darinya. Maka dia berkata: “Celakalah kalian! Kembalikanlah kepadaku anak yang tadi kulihat! Demi Allah, pasti akan ada urusan besar baginya.” Dia berkata: Lalu Abu Thalib pergi membawa beliau.

Bab tentang Keberangkatannya ‘alaihish shalatu wassalam bersama Pamannya Abu Thalib ke Syam, dan Kisahnya dengan Bahira Sang Rahib

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abu Thalib berangkat dalam sebuah rombongan dagang ke Syam. Ketika dia bersiap untuk berangkat dan berniat untuk pergi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat merindukan untuk ikut dengannya – menurut mereka yang menyebutkan – maka Abu Thalib merasa kasihan kepadanya. Dia berkata: “Demi Allah, aku akan membawanya bersamaku dan aku tidak akan berpisah darinya dan dia tidak akan berpisah dariku selamanya,” atau seperti itu ucapannya, maka dia berangkat membawa beliau. Ketika rombongan singgah di Bushra dari tanah Syam, di sana ada seorang rahib yang bernama Bahira di biaranya. Kepadanya ada pengetahuan ahli Nashrani, dan tidak pernah di biara itu kecuali ada rahib yang mendapat ilmu mereka dari sebuah kitab – menurut mereka yang menyebutkan – mereka mewariskannya secara turun-temurun. Ketika mereka singgah tahun itu di tempat Bahira, padahal mereka sering melewatinya sebelum itu namun dia tidak berbicara kepada mereka dan tidak menghiraukan mereka, sampai tahun itu. Ketika mereka singgah dekat biaranya, dia membuat makanan yang banyak untuk mereka. Hal itu – menurut mereka yang menyebutkan – karena sesuatu yang dilihatnya ketika dia berada di biaranya. Mereka menyebutkan bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rombongan ketika mereka datang, dan ada awan yang menaungi beliau dari antara orang-orang. Kemudian mereka datang dan singgah di bawah naungan sebuah pohon dekat darinya. Maka dia melihat awan itu ketika menaungi pohon, dan cabang-cabang pohon itu condong ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau berteduh di bawahnya. Ketika Bahira melihat hal itu, dia turun dari biaranya dan telah memerintahkan untuk membuat makanan. Kemudian dia mengutus kepada mereka seraya berkata: “Aku telah membuat makanan untuk kalian wahai sekalian Quraisy, dan aku ingin kalian hadir semua, orang tua dan muda kalian, budak dan orang merdeka kalian.”

Maka seorang dari mereka berkata kepadanya: “Demi Allah wahai Bahira, sungguh engkau memiliki urusan hari ini! Engkau tidak pernah melakukan ini kepada kami padahal kami sering melewatimu. Apa urusanmu hari ini?” Bahira berkata kepadanya: “Engkau benar, memang seperti yang kau katakan, tetapi kalian adalah tamu dan aku ingin memuliakan kalian serta membuat makanan untuk kalian agar kalian memakannya semua.” Maka mereka berkumpul kepadanya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertinggal dari antara orang-orang karena masih muda usianya di tempat barang-barang rombongan di bawah pohon. Ketika Bahira melihat mereka, dia tidak melihat sifat yang dia ketahui dan dia dapati pada dirinya. Maka dia berkata: “Wahai sekalian Quraisy, jangan ada seorang pun dari kalian yang tidak hadir dari makanku!” Mereka berkata: “Wahai Bahira, tidak ada yang tertinggal seorang pun yang seharusnya datang kepadamu kecuali seorang anak dan dialah yang termuda di antara kami, dia tertinggal di barang-barang kami.” Dia berkata: “Jangan lakukan itu! Panggillah dia agar hadir makanan ini bersama kalian.” Dia berkata: Maka seorang dari Quraisy bersama rombongan berkata: “Demi Lata dan Uzza, sungguh memalukan bagi kita jika Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib tertinggal dari makanan dari antara kita.” Kemudian dia berdiri menghampirinya, lalu memeluknya dan mendudukkannya bersama rombongan. Ketika Bahira melihatnya, dia terus memperhatikannya dengan sangat tajam dan melihat hal-hal dari tubuhnya yang telah dia dapati pada dirinya dari sifatnya, sampai ketika rombongan selesai dari makanan mereka dan berpencar, Bahira berdiri menghampiri beliau.

Dia berkata kepadanya: “Wahai anak, aku bertanya kepadamu demi hak Lata dan Uzza agar engkau memberitahuku tentang apa yang aku tanyakan kepadamu!” Bahira mengucapkan hal itu kepadanya karena dia mendengar kaumnya bersumpah dengan keduanya. Maka mereka menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Jangan bertanya kepadaku dengan menyebut Lata dan Uzza, demi Allah aku tidak pernah membenci sesuatu sebenci aku kepada keduanya.” Maka Bahira berkata kepadanya: “Kalau begitu demi Allah, beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepadamu!” Beliau berkata kepadanya: “Tanyakanlah apa yang terlintas bagimu.” Maka dia mulai bertanya kepadanya tentang hal-hal dari keadaannya, dari tidurnya, penampilannya, dan urusan-urusannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepadanya, dan hal itu sesuai dengan apa yang ada pada Bahira dari sifatnya. Kemudian dia melihat punggungnya dan melihat stempel kenabian di antara kedua bahunya pada tempatnya dari sifat yang ada padanya. Ketika dia selesai, dia menghadap kepada pamannya Abu Thalib lalu berkata: “Apa hubungan anak ini denganmu?” Dia berkata: “Anakku.” Bahira berkata: “Dia bukan anakmu dan tidak seharusnya anak ini memiliki ayah yang masih hidup.” Dia berkata: “Kalau begitu dia anak saudaraku.” Dia berkata: “Lalu apa yang terjadi dengan ayahnya?” Dia berkata: “Dia meninggal ketika ibunya sedang mengandungnya.” Dia berkata: “Engkau benar. Kembalikan anak saudaramu ke negerinya dan berhati-hatilah atas dirinya dari orang-orang Yahudi. Demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengetahui darinya apa yang aku ketahui, mereka pasti akan mencelakainya. Sungguh anak saudaramu ini akan memiliki urusan yang besar, maka segeralah membawanya ke negerinya.” Maka pamannya Abu Thalib segera berangkat membawanya sampai membawanya ke Mekah ketika selesai dari perdagangannya di Syam.

Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka menyebutkan – dalam apa yang diriwayatkan orang-orang – bahwa Zurir, Tammam, dan Durais – mereka adalah beberapa orang dari Ahli Kitab – telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti apa yang dilihat Bahira dalam perjalanan itu ketika beliau bersama pamannya Abu Thalib. Mereka menginginkan beliau, namun Bahira menghalangi mereka darinya. Dia mengingatkan mereka kepada Allah dan apa yang mereka dapati dalam Kitab tentang penyebutan dan sifatnya, dan bahwa jika mereka berkeinginan untuk melakukan apa yang mereka inginkan terhadap beliau, mereka tidak akan sampai kepadanya, sampai mereka mengetahui apa yang dia katakan kepada mereka dan membenarkannya dalam apa yang dia katakan. Maka mereka meninggalkannya dan pergi darinya.

Yunus bin Bukair telah menyebutkan dari Ibnu Ishaq bahwa Abu Thalib mengatakan dalam hal itu tiga qasidah, demikian Ibnu Ishaq menyebutkan kisah ini tanpa sanad darinya. Sungguh telah diriwayatkan yang serupa dengannya dari jalan musnad yang marfu’. Al-Hafizh Abu Bakar al-Khara’ithi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Qarrad Abu Nuh, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Abu Ishaq dari Abu Bakar bin Abi Musa dari ayahnya, dia berkata: Abu Thalib berangkat ke Syam, dan bersamanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama orang-orang tua dari Quraisy. Ketika mereka menghadap kepada rahib – yaitu Bahira – mereka turun dan membuka beban mereka. Maka rahib keluar kepada mereka, padahal sebelum itu mereka melewatinya namun dia tidak keluar dan tidak menoleh kepada mereka. Dia berkata: Maka dia turun sementara mereka sedang membuka beban mereka. Dia mulai berjalan di antara mereka sampai datang dan mengambil tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Ini adalah pemimpin alam semesta,” dan dalam riwayat al-Baihaqi ada tambahan: “Ini adalah utusan Tuhan semesta alam, ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.” Maka orang-orang tua dari Quraisy berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu tahu?” Dia berkata: “Sungguh kalian ketika muncul dari bukit, tidak tersisa pohon dan batu kecuali sujud, dan mereka tidak sujud kecuali untuk seorang nabi. Dan aku mengenalinya dengan stempel kenabian di bawah tulang belikat bahunya.” Kemudian dia kembali dan membuat makanan untuk mereka.

Ketika dia datang membawa makanan kepada mereka – dan beliau sedang menggembalakan unta – maka dia berkata: “Utuslah orang untuk memanggilnya!” Maka beliau datang dan awan menaunginya. Ketika beliau mendekat kepada rombongan, dia berkata: “Lihatlah dia, ada awan di atasnya!” Ketika beliau mendekat kepada rombongan, mereka mendapati mereka telah mendahului ke tempat teduh pohon. Ketika beliau duduk, condong teduh pohon ke arahnya. Dia berkata: “Lihatlah teduh pohon condong ke arahnya!” Dia berkata: Sementara dia berdiri bersama mereka dan dia meminta kepada mereka agar tidak membawa beliau ke negeri Romawi, karena jika orang Romawi melihatnya, mereka akan mengenalinya dengan sifatnya lalu membunuhnya. Dia menoleh dan ternyata ada tujuh orang dari Romawi telah datang. Dia berkata: Maka dia menyambut mereka lalu berkata: “Apa yang membawa kalian?” Mereka berkata: “Kami datang karena nabi ini keluar pada bulan ini, maka tidak tersisa jalan kecuali diutus kepadanya orang-orang, dan kami diberi tahu tentang beritanya ke jalanmu ini.” Dia berkata: “Apakah kalian meninggalkan seorang pun yang lebih baik dari kalian?” Mereka berkata: “Tidak, kami hanya diberi tahu beritanya ke jalanmu ini.” Dia berkata: “Apakah kalian melihat suatu urusan yang Allah ingin menetapkannya, apakah ada seorang pun dari manusia yang mampu menolaknya?” Maka mereka berkata: “Tidak.” Dia berkata: Maka mereka membai’atnya dan tinggal bersamanya di sana. Dia berkata: Maka sang rahib berkata: “Aku meminta kalian demi Allah, siapa walinya?” Mereka berkata: “Abu Thalib.” Maka dia terus memintanya sampai dia mengembalikannya. Abu Bakar mengirim Bilal bersamanya, dan sang rahib membekali mereka dengan ka’ak (roti kering) dan minyak.

Demikian diriwayatkan at-Tirmidzi dari Abu al-Abbas al-Fadhl bin Sahl al-A’raj dari Qarrad Abu Nuh dengannya, dan al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ibnu Asakir dari jalan Abu al-Abbas Muhammad bin Ya’qub al-Asham dari Abbas bin Muhammad ad-Dauri dengannya. Demikian diriwayatkan oleh lebih dari satu hafizh dari hadits Abu Nuh Abdurrahman bin Ghazwan al-Khuza’i maula mereka, dan dikatakan kepadanya ad-Dhabbi, dan dia dikenal dengan Qarrad. Dia tinggal di Baghdad dan dia termasuk orang-orang tsiqah yang haditsnya dikeluarkan oleh al-Bukhari. Sejumlah imam dan hafizh mentsiqahkannya, dan aku tidak melihat seorang pun yang men-jarh-nya. Meskipun demikian, dalam haditsnya ini ada keanehan. At-Tirmidzi berkata: Hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. Abbas ad-Dauri berkata: Tidak ada seorang pun di dunia yang menceritakannya selain Qarrad Abu Nuh. Sungguh telah mendengarnya darinya Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Yahya bin Ma’in karena keanehannya dan kesendirian riwayatnya, demikian yang disebutkan al-Baihaqi dan Ibnu Asakir.

Aku katakan: Di dalamnya ada keanehan-keanehan, bahwa dia termasuk mursal sahabat, karena Abu Musa al-Asy’ari baru datang pada tahun Khaibar tahun tujuh Hijriyah. Tidak dihiraukan perkataan Ibnu Ishaq dalam menjadikannya termasuk orang yang hijrah ke tanah Habasyah dari Mekah. Dalam setiap perkiraan dia adalah mursal, karena kisah ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia – menurut apa yang disebutkan sebagian mereka – dua belas tahun. Mungkin Abu Musa menerimanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga menjadi lebih kuat, atau dari sebagian sahabat besar radhiyallahu ‘anhum, atau hal ini sudah masyhur dan disebutkan, diambilnya dari jalan istifadhah (keterangan yang tersebar luas).

Yang kedua: Bahwa awan tidak disebutkan dalam hadits yang lebih shahih dari ini.

Yang ketiga: Bahwa perkataannya “Abu Bakar mengirim bersamanya Bilal,” jika usia beliau ‘alaihish shalatu wassalam saat itu dua belas tahun, maka usia Abu Bakar saat itu sembilan atau sepuluh tahun, dan usia Bilal lebih muda dari itu. Di mana Abu Bakar saat itu? Kemudian di mana Bilal? Keduanya aneh. Kecuali jika dikatakan: Bahwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah besar, baik dengan perjalanannya setelah ini atau jika perkataan bahwa usianya saat itu dua belas tahun tidak terpelihara, karena dia hanya menyebutkannya terikat dengan ini oleh al-Waqidi. As-Suhaili menceritakan dari sebagian mereka bahwa usia beliau ‘alaihish shalatu wassalam saat itu sembilan tahun. Wallahu a’lam.

Al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Shalih dan Abdullah bin Ja’far dan Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah dari Dawud bin al-Husain, mereka berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia dua belas tahun, pamannya Abu Thalib berangkat bersamanya ke Syam dalam karavan yang dia ikuti untuk berdagang. Mereka singgah di tempat rahib Bahira, maka dia berkata kepada Abu Thalib secara rahasia apa yang dia katakan, dan memerintahkannya agar menjaganya. Maka Abu Thalib mengembalikannya bersamanya ke Mekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tumbuh bersama Abu Thalib, Allah menjaganya, melindunginya, dan menghindarkannya dari urusan-urusan Jahiliyah dan aib-aibnya karena apa yang Allah kehendaki dari kemuliaannya, sampai beliau dewasa menjadi orang terbaik kaumnya dalam kemurahan, paling baik akhlaknya, paling mulia pergaulannya, paling baik bertetangga, paling agung kesabarannya dan amanahnya, paling jujur perkataannya, paling jauh dari kekejian dan gangguan. Tidak pernah terlihat beliau mencaci atau berdebat dengan seorang pun, sampai kaumnya menamai beliau al-Amin karena apa yang Allah kumpulkan padanya dari urusan-urusan yang shalih. Abu Thalib menjaganya, melindunginya, menolongnya, dan membantunya sampai dia meninggal.

Muhammad bin Sa’d berkata: Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Khidasy, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman, aku mendengar ayahku menceritakan dari Abu Mijlaz bahwa Abdul Muthalib – atau Abu Thalib, Khalid ragu – berkata: Ketika Abdullah meninggal, dia melindungi Muhammad. Maka dia tidak melakukan perjalanan kecuali Muhammad bersamanya di dalamnya. Dan sungguh dia menuju ke arah Syam lalu singgah di suatu tempat, maka datang kepadanya seorang rahib di sana lalu berkata: “Sungguh di antara kalian ada seorang yang shalih.” Kemudian dia berkata: “Di mana ayah anak ini?” Dia berkata: Maka dia berkata: “Ini aku, walinya,” atau dikatakan: “Ini walinya.” Dia berkata: “Jagalah anak ini dan jangan pergi dengannya ke Syam, sungguh orang-orang Yahudi dengki, dan aku khawatir terhadapnya.” Dia berkata: “Engkau tidak mengatakan itu, tetapi Allah yang mengatakannya.” Maka dia mengembalikannya dan berkata: “Ya Allah, aku menitipkan Muhammad kepada-Mu.” Kemudian dia meninggal.

Kisah Bahira

Suhaili meriwayatkan dari kitab Sirah karya Zuhri bahwa Bahira adalah seorang pendeta dari kalangan pendeta-pendeta Yahudi. Saya (penulis) berpendapat: yang tampak dari alur kisah ini bahwa ia adalah seorang pendeta Nasrani. Wallahu a’lam. Dari Mas’udi disebutkan bahwa ia berasal dari suku Abdul Qais dan namanya adalah Sarjis. Dalam kitab Al-Ma’arif karya Ibnu Qutaibah disebutkan bahwa pada masa Jahiliah, sedikit sebelum Islam, terdengar suara gaib yang berseru, “Ketahuilah bahwa sebaik-baik penduduk bumi ada tiga: Bahira, Ri’ab Asy-Syanni, dan yang ketiga adalah yang ditunggu-tunggu.” Dan yang ketiga yang ditunggu-tunggu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Qutaibah berkata: Makam Ri’ab Asy-Syanni dan makam anaknya setelahnya tidak pernah berhenti terlihat di dekatnya thasy yaitu hujan yang ringan.

 

 

Bab: Masa Pertumbuhan Beliau ‘Alaihish Shalaatu Wassalam

Cara Beliau Dibesarkan dan Pemeliharaan Allah terhadap Beliau, Penjagaan-Nya, dan Bagaimana Beliau Yatim lalu Allah Melindunginya dan Miskin lalu Allah Mencukupinya

Muhammad bin Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tumbuh dalam pemeliharaan Allah, perlindungan-Nya, dan penjagaan-Nya dari kotoran-kotoran zaman Jahiliah, karena kehendak Allah akan kemuliaan dan risalah-Nya, hingga beliau menjadi seorang laki-laki yang paling mulia di antara kaumnya dalam sifat kesatria, paling baik akhlaknya, paling mulia keturunannya, paling baik dalam bertetangga, paling agung kesabarannya, paling jujur perkataannya, paling besar amanahnya, dan paling jauh dari keburukan dan akhlak-akhlak yang mencemari lelaki karena kesucian dan kemuliaan, hingga tidak ada julukan untuknya di kalangan kaumnya kecuali Al-Amin (yang dapat dipercaya) karena semua sifat baik yang dikumpulkan Allah pada dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – menurut apa yang diriwayatkan kepadaku – menceritakan tentang bagaimana Allah memeliharanya di masa kecilnya dan urusan jahiliahnya. Beliau bersabda: “Sungguh aku melihat diriku bersama anak-anak Quraisy yang sedang mengangkut batu untuk sesuatu yang dimainkan anak-anak. Kami semua telah melepas pakaian dan meletakkan kainnya di leher untuk mengangkut batu di atasnya. Aku sedang berjalan ke depan dan ke belakang bersama mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada yang memukul aku dengan pukulan yang aku tidak melihatnya, pukulan yang menyakitkan, lalu berkata: ‘Kenakan kembali kain sarungmu!’ Beliau bersabda: Maka aku mengambilnya dan mengenakan kembali, lalu aku mengangkut batu di leherku sementara kain sarungku terpasang padaku, sementara teman-temanku tidak demikian.”

Kisah ini mirip dengan yang ada di dalam Shahih tentang pembangunan Ka’bah ketika beliau mengangkut bersama pamannya Abbas. Jika bukan kisah itu sendiri, maka ini terjadi sebelumnya sebagai pendahuluan baginya. Wallahu a’lam.

Abdur Razzaq berkata: Ibnu Juraij memberitahukan kepada kami, Amr bin Dinar memberitahukan kepadaku bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Ketika Ka’bah dibangun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi mengangkut batu. Abbas berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Letakkan kain sarungmu di pundakmu untuk melindungi dari batu.” Beliau melakukannya, maka beliau jatuh ke tanah dan matanya menatap ke langit. Kemudian beliau berdiri dan berkata: “Kain sarungku!” Lalu kain sarung diikatkan padanya. Bukhari dan Muslim mengeluarkannya dalam Shahihain dari hadits Abdur Razzaq, dan keduanya juga mengeluarkannya dari hadits Rauh bin Ubadah dari Zakariya bin Abi Ishaq dari Amr bin Dinar dari Jabir dengan makna yang sama.

Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh dan Abu Sa’id bin Abi Amr memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bukair Al-Hadhrami menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Abdullah Ad-Dusytaki menceritakan kepada kami, Amr bin Abi Qais menceritakan kepada kami dari Simak dari Ikrimah yang menceritakan kepadaku Ibnu Abbas dari ayahnya bahwa ia mengangkut batu ke Baitullah ketika Quraisy membangun Baitullah. Ia berkata: Quraisy membagi orang-orang menjadi dua-dua, laki-laki mengangkut batu dan perempuan mengangkut kapur. Ia berkata: Aku dan anak saudaraku mengangkut di pundak kami, dan kain sarung kami di bawah batu. Jika kami berada di tengah orang banyak, kami mengenakan kain sarung. Ketika aku sedang berjalan dan Muhammad di depanku, tiba-tiba ia jatuh tersungkur dengan wajahnya, lalu aku berlari mendekat dan menjatuhkan batuku sementara ia melihat ke langit. Aku bertanya: “Apa yang terjadi denganmu?” Ia berdiri dan mengambil kain sarungnya. Ia berkata: “Aku dilarang berjalan dalam keadaan telanjang.” Ia berkata: Aku menyembunyikan hal itu dari orang-orang karena takut mereka berkata ‘gila’.

Baihaqi meriwayatkan dari hadits Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq: Muhammad bin Abdullah bin Qais bin Makhramah menceritakan kepadaku dari Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dari ayahnya dari kakeknya Ali bin Abi Thalib. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak pernah berniat terhadap sesuatu yang biasa diniatkan oleh orang-orang Jahiliah tentang perempuan, kecuali dua malam, keduanya Allah ‘azza wajalla menjagaku padanya. Aku berkata pada suatu malam kepada salah seorang pemuda Mekah – sementara kami sedang menggembalakan kambing penduduknya – aku berkata kepada temanku: ‘Jagakan kambingku hingga aku masuk ke Mekah untuk begadang di sana sebagaimana pemuda-pemuda begadang.’ Ia berkata: ‘Baik.’ Beliau bersabda: Aku masuk hingga datang ke rumah pertama dari rumah-rumah Mekah. Aku mendengar permainan musik dengan alat-alat musik. Aku bertanya: ‘Apa ini?’ Mereka berkata: ‘Si Fulan menikahi si Fulanah.’ Aku duduk melihat, lalu Allah menutup telingaku. Demi Allah, tidak ada yang membangunkanku kecuali sentuhan matahari. Aku kembali kepada temanku. Ia bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan?’ Aku berkata: ‘Aku tidak melakukan apa-apa,’ lalu aku memberitahukan kepadanya apa yang aku lihat. Kemudian pada malam lain aku berkata kepadanya: ‘Jagakan kambingku hingga aku begadang.’ Ia melakukannya, lalu aku masuk. Ketika aku sampai di Mekah, aku mendengar seperti yang aku dengar pada malam itu, lalu aku bertanya dan dikatakan: ‘Si Fulan menikahi si Fulanah.’ Aku duduk melihat, lalu Allah menutup telingaku. Demi Allah, tidak ada yang membangunkanku kecuali sentuhan matahari. Aku kembali kepada temanku. Ia bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan?’ Aku berkata: ‘Tidak ada,’ lalu aku memberitahukan kepadanya kejadian tersebut. Demi Allah, aku tidak berniat dan tidak kembali setelah keduanya untuk sesuatu dari hal itu hingga Allah ‘azza wajalla memuliakanku dengan kenabiannya.”

Ini hadits yang sangat gharib (langka) dan mungkin ini dari Ali sendiri, dan kata-katanya di akhir “hingga Allah ‘azza wajalla memuliakanku dengan kenabiannya” adalah sisipan. Wallahu a’lam.

Guru Ibnu Ishaq ini disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat, dan sebagian orang mengklaim bahwa ia termasuk perawi Shahih. Guru kami berkata dalam Tahdzibnya: “Aku tidak menemukan hal itu.” Wallahu a’lam.

Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh menceritakan kepadaku, Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Hasan bin Ali bin Affan Al-Amiri menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami dari Abu Salamah dan Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Usamah bin Zaid dari Zaid bin Haritsah. Ia berkata: Ada patung dari tembaga yang disebut Isaf atau Nailah yang diusap oleh orang-orang musyrik ketika mereka thawaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf dan aku thawaf bersamanya. Ketika aku melewatinya, aku mengusapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan menyentuhnya!” Zaid berkata: Kami thawaf lalu aku berkata dalam hatiku: “Aku akan menyentuhnya hingga aku melihat apa yang akan terjadi,” lalu aku mengusapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukankah kamu telah dilarang?”

Baihaqi berkata: Selain dia menambahkan dari Muhammad bin Amr dengan sanadnya, Zaid berkata: “Demi Yang memuliakannya dan menurunkan Kitab kepadanya, ia tidak pernah mengusap patung hingga Allah Ta’ala memuliakannya dengan apa yang Dia muliakan dan menurunkan (wahyu) kepadanya.”

Telah disebutkan sebelumnya sabda beliau ‘alaihish shalaatu wassalam kepada Bahira ketika ia bertanya kepadanya dengan nama Lata dan Uzza: “Jangan bertanya kepadaku dengan keduanya. Demi Allah, aku tidak membenci sesuatu seperti aku membenci keduanya.”

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi: Abu Sa’d Al-Malini memberitahukan kepada kami, Abu Ahmad bin Adiy Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Ibrahim bin Asbath menceritakan kepada kami, Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Sufyan Ats-Tsauri dari Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan bersama orang-orang musyrik acara-acara mereka.” Ia berkata: “Lalu ia mendengar dua malaikat di belakangnya, salah satu berkata kepada yang lain: ‘Mari kita pergi hingga kita berdiri di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Yang lain berkata: ‘Bagaimana kita berdiri di belakangnya, sementara baru saja ia mengusap patung-patung sebelumnya?’ Setelah itu ia tidak pernah kembali untuk menyaksikan acara-acara orang musyrik.”

Maka ini adalah hadits yang diingkari oleh lebih dari satu imam terhadap Utsman bin Abi Syaibah, hingga Imam Ahmad berkata tentangnya: “Saudaranya tidak pernah mengucapkan sesuatu dari ini.” Baihaqi menceritakan dari sebagian mereka bahwa maknanya adalah bahwa ia menyaksikan bersama orang-orang yang mengusap patung-patung, dan itu sebelum wahyu diturunkan kepadanya. Wallahu a’lam. Telah disebutkan sebelumnya dalam hadits Zaid bin Haritsah bahwa ia menghindari untuk menyaksikan acara-acara orang musyrik hingga Allah memuliakannya dengan risalah-Nya. Dan telah tetap dalam hadits bahwa ia tidak berwuquf di Muzdalifah pada malam Arafah, tetapi ia berwuquf bersama orang-orang di Arafat, sebagaimana yang dikatakan oleh Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq: Abdullah bin Abi Bakar menceritakan kepadaku dari Utsman bin Abi Sulaiman dari pamannya Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya Jubair. Ia berkata: “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia berada pada agama kaumnya, ia berwuquf di atas untanya di Arafat di antara kaumnya hingga ia bergerak bersama mereka, sebagai taufiq dari Allah ‘azza wajalla untuknya.”

Baihaqi berkata: Makna kata-katanya “pada agama kaumnya” adalah apa yang masih tersisa dari warisan Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam, dan ia tidak pernah menyekutukan Allah sama sekali, shalawaatullahi wasalaamuhu ‘alaihi da’iman. Saya (penulis) berkata: Dan dipahami dari perkataannya ini juga bahwa ia berwuquf di Arafat sebelum wahyu diturunkan kepadanya, dan ini adalah taufiq dari Allah untuknya. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Ya’qub dari Muhammad bin Ishaq dengannya, dengan lafazh: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum (wahyu) diturunkan kepadanya, sungguh ia berwuquf di atas untanya bersama orang-orang di Arafat hingga ia bergerak bersama mereka sebagai taufiq dari Allah.”

Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Amr dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya. Ia berkata: “Aku kehilangan untaku di Arafah, lalu aku pergi mencarinya. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berwuquf. Aku berkata: ‘Sungguh orang ini dari kalangan Hums (Quraisy yang tidak keluar ke Arafah), apa urusannya di sini?'” Bukhari dan Muslim mengeluarkannya dari hadits Sufyan bin Uyainah dengannya.

Penyaksian Beliau ‘Alaihish Shalaatu Wassalam terhadap Perang Fijar

Ibnu Ishaq berkata: Perang Fijar terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia dua puluh tahun. Ia dinamakan hari Fijar karena yang dihalalkan oleh dua kelompok ini – Kinanah dan Qais Ailan – dari hal-hal yang diharamkan di antara mereka. Pemimpin Quraisy dan Kinanah adalah Harb bin Umayyah bin Abdus Syams. Kemenangan pada awal hari adalah untuk Qais atas Kinanah, hingga ketika pertengahan hari, kemenangan menjadi untuk Kinanah atas Qais.

Ibnu Hisyam berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencapai usia empat belas atau lima belas tahun – menurut apa yang diceritakan kepadaku oleh Abu Ubaidah An-Nahwi dari Abu Amr bin Al-Ala’ – terjadilah perang Fijar antara Quraisy dan yang bersama mereka dari Kinanah dengan Qais Ailan. Yang memicu perang ini adalah bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja’far bin Kilab bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakar bin Hawazin melindungi kafilah dagang milik Nu’man bin Mundzir. Lalu Baradh bin Qais – salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakar bin Abdul Manaf bin Kinanah – berkata: “Apakah kamu melindunginya dari Kinanah?” Ia berkata: “Ya, dan dari semua makhluk.” Maka Urwah Ar-Rahhal keluar bersamanya, dan Baradh keluar mencari kelengahannya. Hingga ketika tiba di Taiman Dzi Zhilal di Aliyah, Urwah lengah, maka Baradh menyerangnya dan membunuhnya di bulan haram, karena itulah dinamakan Fijar.

Baradh berkata tentang hal itu:

Sebelumku ada bencana yang mengkhawatirkan manusia
Yang kukuatkan untuk itu Bani Bakar rusukku
Aku robohkan dengannya rumah-rumah Bani Kilab
Dan aku beri minum para budak dengan susu murni
Aku angkat tanganku untuknya di Dzi Zhilal
Maka ia jatuh bergoyang seperti batang pohon yang terpotong

Labid bin Rabi’ah bin Malik bin Ja’far bin Kilab berkata:

Sampaikanlah jika kamu bertemu Bani Kilab
Dan Amir, sedang bencana-bencana punya giliran
Dan sampaikanlah jika kamu bertemu Bani Numair
Dan para paman yang terbunuh dari Bani Hilal
Bahwa yang datang Ar-Rahhal kini tinggal
Menetap di dekat Taiman Dzi Zhilal

Ibnu Hisyam berkata: Maka datanglah seseorang kepada Quraisy dan berkata: “Sungguh Baradh telah membunuh Urwah di bulan haram di Ukaz!” Maka mereka berangkat sementara Hawazin tidak menyadarinya. Kemudian berita sampai kepada mereka, lalu mereka mengejar hingga menyusul mereka sebelum masuk ke tanah haram. Mereka berperang hingga malam tiba. Mereka masuk ke tanah haram, maka Hawazin menahan diri dari mereka. Kemudian mereka bertemu setelah hari ini beberapa hari, dan kedua kelompok saling membela, pada setiap kabilah dari Quraisy dan Kinanah ada pemimpinnya, dan pada setiap kabilah dari Qais ada pemimpinnya.

Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan beberapa harinya, diikutsertakan oleh paman-pamannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku memungut anak panah untuk paman-pamanku,” yaitu mengembalikan kepada mereka anak panah musuh mereka jika mereka dilempari dengannya.

Ibnu Hisyam berkata: Kisah Fijar lebih panjang dari yang aku sebutkan, tetapi yang menghalangiku untuk merincikannya adalah karena memutus kisah sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Suhaili berkata: Fijar dengan kasrah huruf fa’ dengan timbangan qital (perang). Fijar-fijar di kalangan Arab ada empat, disebutkan oleh Mas’udi, dan yang terakhir adalah Fijar Baradh ini. Pertempuran di dalamnya terjadi dalam empat hari: hari Syamthah, hari Abla’ – keduanya dekat Ukaz -, hari Syarb – yang paling besar harinya – dan inilah yang dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada hari itu dua pemimpin Quraisy dan Bani Kinanah – yaitu Harb bin Umayyah dan saudaranya Sufyan – mengikat diri mereka agar tidak lari. Pada hari itu Qais kalah kecuali Bani Nadhr, mereka bertahan. Dan hari Harairah dekat Nakhlah. Kemudian mereka berjanji untuk bertemu tahun berikutnya di Ukaz.

Ketika mereka memenuhi janji, Utbah bin Rabi’ah mengendarai untanya dan menyeru: “Wahai sekalian Mudhar, untuk apa kalian berperang?” Hawazin berkata kepadanya: “Apa yang kamu serukan?” Ia berkata: “Perdamaian.” Mereka berkata: “Bagaimana caranya?” Ia berkata: “Kami memberikan diyat (denda darah) untuk orang-orang yang kami bunuh, dan kami memberikan sandera kepada kalian untuk itu, dan kami memaafkan darah kami.” Mereka berkata: “Siapa yang menjamin hal itu untuk kami?” Ia berkata: “Aku.” Mereka berkata: “Siapa kamu?” Ia berkata: “Utbah bin Rabi’ah.” Maka perdamaian terjadi atas dasar itu, dan mereka mengutus kepada mereka empat puluh orang, di antara mereka Hakim bin Hizam. Ketika Bani Amir bin Sha’sha’ah melihat sandera di tangan mereka, mereka memaafkan darah mereka, dan berakhirlah perang Fijar.

Amawy menyebutkan perang-perang Fijar dan hari-harinya, serta merincikannya secara panjang lebar dalam apa yang diriwayatkannya dari Atsram, yaitu Mughirah bin Ali, dari Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna, lalu ia menyebutkan hal itu.

Bagian

Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Abu Sa’d Al-Malini mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad Ibnu ‘Adi Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, Yahya bin ‘Ali bin Hasyim Al-Khaffaf menceritakan kepada kami, Abu ‘Abdirrahman Al-Azrami menceritakan kepada kami, Isma’il Ibnu ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Ishaq dari Az-Zuhri dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah menyaksikan bersama paman-pamanku Persekutuan Al-Muthayyabin, dan aku tidak suka untuk mengingkarinya – atau kata-kata semacam itu – sekalipun aku mendapatkan unta-unta merah.” Ia berkata: Demikian pula diriwayatkan oleh Bisyr bin Al-Mufadhdhal dari ‘Abdurrahman. Ia berkata: Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, Abu ‘Amr bin Mathar menceritakan kepada kami, Abu Bakr bin Ahmad bin Dawud As-Simnani menceritakan kepada kami, Mu’alla bin Mahdi menceritakan kepada kami, Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Umar bin Abi Salamah dari ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah aku menyaksikan persekutuan Quraisy kecuali Persekutuan Al-Muthayyabin, dan aku tidak suka mendapatkan unta-unta merah dan aku membatalkannya.” Ia berkata: Al-Muthayyabun adalah Hasyim, Umayyah, Zuhrah, dan Makhzum.

Al-Baihaqi berkata: Demikianlah diriwayatkan penjelasan ini yang disisipkan dalam hadits, dan aku tidak tahu siapa yang mengatakannya. Sebagian ahli sirah menganggap bahwa yang dimaksud adalah Persekutuan Al-Fudhul karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sempat menyaksikan Persekutuan Al-Muthayyabin.

Saya berkata: Ini tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya Quraisy bersekutu setelah wafatnya Qushayy, dan mereka berselisih tentang apa yang dijadikan Qushayy untuk anaknya ‘Abdu Ad-Dar, yaitu urusan siqayah (penyediaan air untuk jamaah haji), rifadah (penyediaan makanan), panji, dar an-nadwah (balai pertemuan), dan hijabah (kunci Ka’bah). Bani ‘Abdu Manaf menentang mereka dalam hal itu, dan masing-masing kelompok didukung oleh suku-suku dari Quraisy. Mereka bersekutu untuk saling membantu kelompok mereka. Para pendukung Bani ‘Abdu Manaf menghadirkan wadah besar yang berisi minyak wangi, lalu mereka memasukkan tangan-tangan mereka ke dalamnya dan bersekutu. Ketika mereka berdiri, mereka mengusapkan tangan-tangan mereka pada rukun-rukun Baitullah, maka mereka disebut Al-Muthayyabun (yang harum) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ini terjadi pada masa lampau. Namun yang dimaksud dengan persekutuan ini adalah Persekutuan Al-Fudhul, yang berlangsung di rumah ‘Abdullah bin Jud’an, sebagaimana diriwayatkan Al-Humaidi dari Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Abdullah bin Muhammad dan ‘Abdurrahman, keduanya anak-anak Abu Bakr. Keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah menyaksikan di rumah ‘Abdullah bin Jud’an sebuah persekutuan, seandainya aku diajak untuk ikut dalam persekutuan seperti itu dalam Islam, niscaya aku akan menyambutnya. Mereka bersekutu untuk mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya, dan agar tidak ada orang zalim yang menang atas orang yang terzalimi.” Mereka berkata: Persekutuan Al-Fudhul terjadi dua puluh tahun sebelum kenabian pada bulan Dzulqa’dah, dan empat bulan setelah Perang Fijar. Itu karena Fijar terjadi pada bulan Sya’ban tahun itu, sedangkan Persekutuan Al-Fudhul adalah persekutuan paling mulia dan terhormat yang pernah didengar di kalangan Arab. Orang pertama yang membicarakan dan mengajaknya adalah Az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib. Sebabnya adalah seorang laki-laki dari Zabid datang ke Makkah dengan membawa dagangan, lalu Al-‘Ash bin Wa’il membelinya darinya tetapi menahan haknya. Laki-laki Zabid itu meminta bantuan kepada Al-Ahlaf (sekutu-sekutu); ‘Abdu Ad-Dar, Makhzum, Jumah, Sahm, dan ‘Adiy bin Ka’ab, tetapi mereka menolak untuk membantunya melawan Al-‘Ash bin Wa’il dan menghardiknya. Ketika laki-laki Zabid itu melihat keburukan tersebut, ia naik ke Gunung Abu Qubais saat matahari terbit – sementara Quraisy berada di perkumpulan-perkumpulan mereka di sekitar Ka’bah – lalu ia berseru dengan suara keras:

“Wahai keturunan Fihr, untuk orang yang terzalimi dagangannya
Di tengah Makkah, jauh dari rumah dan kaumnya
Dalam keadaan ihram yang kusut, belum selesai umrahnya
Wahai para lelaki, antara Hajar Aswad dan Rukun
Sesungguhnya tanah haram itu bagi orang yang kehormatannya sempurna
Dan tidak ada kehormatan bagi pakaian orang fasik yang pengkhianat”

Maka Az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib bangkit dalam masalah tersebut dan berkata: “Ini tidak boleh dibiarkan.” Maka berkumpullah Hasyim, Zuhrah, dan Taim bin Murrah di rumah ‘Abdullah bin Jud’an. Ia menyiapkan makanan untuk mereka, dan mereka bersekutu pada bulan Dzulqa’dah di bulan haram. Mereka berjanji dan bersumpah kepada Allah: mereka akan menjadi satu tangan bersama orang yang terzalimi melawan orang zalim sampai haknya dikembalikan kepadanya selama lautan Shufah masih basah dan selama Gunung Tsabir dan Hira masih berdiri di tempatnya, serta untuk saling membantu dalam kehidupan. Maka Quraisy menyebut persekutuan itu Persekutuan Al-Fudhul (persekutuan keutamaan), dan mereka berkata: “Sungguh orang-orang ini telah masuk dalam keutamaan urusan.” Kemudian mereka mendatangi Al-‘Ash bin Wa’il lalu merebut barang dagangan laki-laki Zabid darinya dan menyerahkannya kepadanya. Az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib berkata tentang hal itu:

“Aku bersumpah sungguh kami akan mengikat persekutuan atas mereka
Meskipun kami semua adalah penghuni satu rumah
Kami namakan Al-Fudhul ketika kami mengikatnya
Yang akan memuliakan orang asing dengan tetangga
Dan mengetahui orang-orang di sekitar Baitullah bahwa kami
Orang-orang yang menolak kezaliman dan mencegah setiap aib”

Az-Zubair juga berkata:

“Sesungguhnya Al-Fudhul telah bersekutu dan bersumpah
Agar tidak tinggal di tengah Makkah orang zalim
Urusan yang mereka sepakati dan teguhkan
Maka tetangga dan orang yang meminta perlindungan di antara mereka aman”

Qasim bin Tsabit menyebutkan dalam Gharib Al-Hadits, bahwa seorang laki-laki dari Khats’am datang ke Makkah untuk haji – atau umrah – dengan membawa putrinya yang dipanggil Al-Qatul, salah satu wanita tercantik di dunia. Nabih bin Al-Hajjaj merampasnya secara paksa dan menyembunyikannya dari ayahnya. Laki-laki Khats’am itu berkata: “Siapa yang akan membantuku melawan laki-laki ini?” Dikatakan kepadanya: “Mintalah bantuan Persekutuan Al-Fudhul.” Maka ia berdiri di Ka’bah dan menyeru, “Wahai Persekutuan Al-Fudhul!” Tiba-tiba mereka bergegas datang kepadanya dari segala penjuru dengan pedang-pedang mereka terhunus, mereka berkata: “Pertolongan telah datang kepadamu, ada apa?” Ia berkata: “Sesungguhnya Nabih telah menzalimiku dalam masalah putriku dan merebutnya dariku secara paksa.” Mereka berjalan bersamanya hingga berdiri di depan pintu rumahnya. Ia keluar menemui mereka, lalu mereka berkata kepadanya: “Keluarkan gadis itu, celakalah kamu! Kamu tahu siapa kami dan apa yang kami sepakati.” Ia berkata: “Aku akan melakukannya, tetapi biarkan aku bersamanya malam ini.” Mereka berkata: “Tidak, demi Allah, bahkan tidak sekalipun perahan susu unta betina.” Maka ia mengeluarkan gadis itu kepada mereka sambil berkata:

“Teman-temanku pergi, dan aku tidak menyapa Al-Qatul
Aku tidak mengucapkan salam perpisahan yang baik kepada mereka
Ketika Al-Fudhul bersikeras untuk mencegahnya
Sungguh aku melihatku dan aku tidak takut Al-Fudhul
Jangan kau kira bahwa aku di sore hari ketika rombongan berangkat
Aku dihina olehmu sehingga aku tidak berkata”

Dan ia menyebutkan syair-syair lain selain ini. Dikatakan bahwa persekutuan ini dinamakan Persekutuan Al-Fudhul karena ia menyerupai persekutuan yang dibuat oleh suku Jurhum tentang hal seperti ini, yaitu menolong orang yang terzalimi terhadap orang yang menzaliminya. Yang mengajak persekutuan itu adalah tiga orang dari para pemuka mereka, setiap orang dari mereka bernama Fadhl, yaitu: Al-Fadhl bin Fadhalah, Al-Fadhl bin Wada’ah, dan Al-Fudhail bin Al-Harits. Ini pendapat Ibnu Qutaibah. Yang lain berkata: mereka adalah Al-Fudhail bin Syura’ah, Al-Fadhl bin Wada’ah, dan Al-Fadhl bin Qudha’ah. As-Suhaili telah menyebutkan ini, rahimahullah.

Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: Beberapa suku dari Quraisy saling mengajak untuk bersekutu, maka mereka berkumpul untuk itu di rumah ‘Abdullah bin Jud’an karena kemuliaan dan usianya yang tua. Persekutuan mereka di rumahnya dihadiri oleh Bani Hasyim, Bani ‘Abdul Muththalib, Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Zuhrah bin Kilab, dan Taim bin Murrah. Mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak mendapati orang yang terzalimi di Makkah, baik dari penduduknya maupun dari orang lain yang memasukinya dari berbagai manusia, kecuali mereka akan bersamanya dan melawan orang yang menzaliminya sampai kezalimannya dikembalikan kepadanya. Maka Quraisy menyebut persekutuan itu Persekutuan Al-Fudhul.

Muhammad bin Ishaq berkata: Muhammad bin Zaid bin Al-Muhajir Qunfudz At-Taimi menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf Az-Zuhri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah menyaksikan di rumah ‘Abdullah bin Jud’an sebuah persekutuan yang aku tidak suka menukarnya dengan unta-unta merah, dan seandainya aku diajak untuk ikut dalam persekutuan seperti itu dalam Islam, niscaya aku akan menyambutnya.”

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin ‘Abdullah bin Usamah bin Al-Hadi Al-Laitsi menceritakan kepadaku bahwa Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi menceritakan kepadanya bahwa terjadi perselisihan antara Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib dengan Al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan – saat itu Al-Walid adalah amir Madinah yang diangkat oleh pamannya Mu’awiyah bin Abi Sufyan – mengenai harta yang ada di antara mereka keduanya di Dzi Al-Marwah. Al-Walid berlaku sewenang-wenang terhadap Al-Husain dalam haknya karena kekuasaannya. Maka Al-Husain berkata kepadanya: “Aku bersumpah demi Allah, sungguh engkau harus berbuat adil kepadaku dalam hakku, atau aku akan mengambil pedangku, kemudian aku akan berdiri di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku akan menyerukan Persekutuan Al-Fudhul.” Ia berkata: Maka ‘Abdullah bin Az-Zubair – yang berada di sisi Al-Walid ketika Al-Husain mengatakan apa yang ia katakan – berkata: “Dan aku bersumpah demi Allah, jika ia menyerukan persekutuan itu, sungguh aku akan mengambil pedangku, kemudian aku akan berdiri bersamanya sampai ia mendapatkan haknya atau kami mati bersama-sama.” Ia berkata: Hal itu sampai kepada Al-Miswar bin Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, maka ia berkata seperti itu. Dan sampai kepada ‘Abdurrahman bin ‘Utsman bin ‘Ubaidillah At-Taimi, maka ia berkata seperti itu. Ketika hal itu sampai kepada Al-Walid bin ‘Utbah, ia berbuat adil kepada Al-Husain dalam haknya sampai ia ridha.

Pernikahannya ‘alaihish shalatu wassalam dengan Khadijah binti Khuwailid

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang yang memiliki kehormatan dan harta. Ia menyewa laki-laki untuk mengelola hartanya secara mudharabah (bagi hasil). Ketika sampai kepadanya tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang sampai kepadanya tentang kejujuran perkataannya, kebesaran amanahnya, dan kemuliaan akhlaknya, ia mengirim utusan kepadanya lalu menawarkan kepadanya untuk pergi dengan membawa hartanya berdagang ke Syam, dan ia akan memberinya lebih baik dari apa yang ia berikan kepada pedagang-pedagang lain, bersama seorang budaknya yang bernama Maisarah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerimanya darinya dan berangkat dengan membawa hartanya, dan Maisarah budaknya berangkat bersamanya hingga sampai ke Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di bawah naungan pohon dekat biara seorang rahib dari para rahib. Rahib itu memandang Maisarah lalu berkata: “Siapakah laki-laki yang berhenti di bawah pohon ini?” Maisarah berkata: “Ini adalah seorang laki-laki dari Quraisy, dari penduduk tanah haram.” Rahib itu berkata kepadanya: “Tidak ada yang berhenti di bawah pohon ini kecuali seorang nabi.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjual barang dagangannya yang ia bawa, dan membeli apa yang ia ingin beli, kemudian kembali pulang ke Makkah, dan Maisarah bersamanya. Maisarah – sebagaimana mereka katakan – apabila waktu tengah hari tiba dan panas menjadi terik, ia melihat dua malaikat menaunginya dari matahari ketika ia berjalan di atas untanya.

Ketika ia tiba di Makkah menemui Khadijah dengan membawa hartanya, Khadijah menjual apa yang ia bawa sehingga berlipat ganda atau hampir, dan Maisarah menceritakan kepadanya tentang perkataan rahib, dan tentang apa yang ia lihat berupa naungan dua malaikat kepadanya. Khadijah adalah wanita yang cerdas, mulia, dan cerdik, di samping apa yang Allah kehendaki baginya berupa kemuliaan. Ketika Maisarah mengabarkan kepadanya apa yang ia abarkan, ia mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya – sebagaimana mereka katakan -: “Wahai anak pamanku, sesungguhnya aku tertarik kepadamu karena kerabatmu, kedudukanmu di tengah kaummu, amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran perkataanmu.” Kemudian ia menawarkan dirinya kepadanya. Ia adalah wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling besar kehormatannya, dan paling banyak hartanya. Setiap orang dari kaumnya sangat mengharapkan hal itu darinya seandainya ia mampu. Ketika ia mengatakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia menyebutkan hal itu kepada paman-pamannya. Maka pamannya Hamzah keluar bersamanya hingga masuk menemui Khuwailid bin Asad lalu melamarnya untuknya. Maka ia menikah dengannya ‘alaihish shalatu wassalam.

Ibnu Hisyam berkata: Maka ia memberinya mahar dua puluh ekor unta muda. Ia adalah wanita pertama yang ia nikahi, dan ia tidak menikahi wanita lain selain dia sampai ia wafat. Ibnu Ishaq berkata: Ia melahirkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semua anaknya – kecuali Ibrahim -: Al-Qasim, dan dengannya ia dikunjiai, Ath-Thayyib, Ath-Thahir, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Ibnu Hisyam berkata: Yang tertua di antara mereka adalah Al-Qasim, kemudian Ath-Thayyib, kemudian Ath-Thahir. Yang tertua di antara putri-putrinya adalah Ruqayyah, kemudian Zainab, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fathimah.

Al-Baihaqi berkata dari Al-Hakim: Aku membaca dengan tulisan Abu Bakr bin Abi Khaitsamah, Mush’ab bin ‘Abdullah Az-Zubairi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yang tertua di antara anak-anaknya ‘alaihish shalatu wassalam adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, kemudian ‘Abdullah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fathimah, kemudian Ruqayyah. Orang pertama yang meninggal dari anak-anaknya adalah Al-Qasim, kemudian ‘Abdullah. Khadijah mencapai usia enam puluh lima tahun, dan dikatakan lima puluh tahun, dan ini lebih benar. Yang lain berkata: Al-Qasim sempat mengendarai kendaraan dan unta hingga ia meninggal setelah kenabian. Ada yang berkata: ia meninggal dalam keadaan masih menyusu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ia memiliki wanita yang menyusuinya di surga yang akan menyempurnakan susuannya.” Yang diketahui adalah bahwa ini mengenai Ibrahim.

Yunus bin Bukair berkata: Ibrahim bin ‘Utsman menceritakan kepada kami dari Al-Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Khadijah melahirkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua anak laki-laki dan empat anak perempuan; Al-Qasim dan ‘Abdullah, serta Fathimah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ruqayyah. Az-Zubair bin Bakkar berkata: ‘Abdullah adalah Ath-Thayyib dan ia adalah Ath-Thahir, dinamakan demikian karena ia lahir setelah kenabian. Mereka meninggal sebelum kenabian. Adapun putri-putrinya, mereka semua menyaksikan kenabian, masuk Islam, dan hijrah bersamanya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Hisyam berkata: Adapun Ibrahim, maka dari Mariyah Al-Qibthiyyah yang dihadiahkan kepadanya oleh Al-Muqauqis penguasa Iskandariah dari Hafn dari wilayah Ansana. Kita akan membicarakan tentang istri-istri dan anak-anaknya ‘alaihish shalatu wassalam dalam bab khusus untuk itu di akhir sirah, insya Allah ta’ala, dan kepada-Nya-lah tempat bertawakkal.

Berkata Ibnu Hisyam: Usia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menikahi Khadijah adalah dua puluh lima tahun, sebagaimana yang diceritakan kepadaku oleh lebih dari satu orang ahli ilmu, di antaranya adalah Abu Amru al-Madani. Berkata Ya’qub bin Sufyan: Aku mencatat dari Ibrahim bin al-Mundzir, ia bercerita kepadaku, Umar bin Abi Bakr al-Maushili bercerita kepadaku, lebih dari satu orang bercerita kepadaku bahwa Amru bin Asad menikahkan Khadijah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan usianya dua puluh lima tahun, dan Quraisy sedang membangun Ka’bah. Demikian pula yang dinukil oleh al-Baihaqi dari al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menikahi Khadijah adalah dua puluh lima tahun, sedangkan usia Khadijah saat itu adalah tiga puluh lima tahun, dan ada yang mengatakan dua puluh lima tahun.

Berkata al-Baihaqi: Bab tentang apa yang menjadi kesibukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum menikahi Khadijah.

Mengabarkan kepada kami Abu Abdillah al-Hafizh, mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Abdillah, mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Sufyan, bercerita kepada kami Suwaid bin Sa’id, bercerita kepada kami Amru bin Abi Yahya bin Sa’id al-Qurasyi dari kakeknya Sa’id dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak mengutus seorang nabi pun melainkan dia adalah penggembala kambing.” Para sahabatnya bertanya kepadanya: “Apakah Anda juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjadi: “Ya, aku pun menggembalakannya untuk penduduk Mekah dengan upah beberapa qiraath.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ahmad bin Muhammad al-Makki dari Amru bin Yahya dengannya. Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur ar-Rabi’ bin Badr—yang merupakan perawi lemah—dari Abu az-Zubair dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku menyewakan diriku kepada Khadijah untuk dua perjalanan dengan upah seekor unta betina.” Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Ammar bin Abi Ammar dari Ibnu Abbas bahwa ayah Khadijah menikahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengannya dalam keadaan—menurutku dia berkata—mabuk.

Kemudian berkata al-Baihaqi: Mengabarkan kepada kami Abu al-Husain bin al-Fadhl al-Qaththan, mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far, bercerita kepada kami Ya’qub bin Sufyan, ia berkata: Bercerita kepadaku Ibrahim bin al-Mundzir, bercerita kepadaku Umar bin Abi Bakr al-Maushili, bercerita kepadaku Abdullah bin Abi Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir dari ayahnya dari Miqsam bin Abi al-Qasim, budak Abdullah bin al-Harits bin Naufal, bahwa Abdullah bin al-Harits menceritakan kepadanya bahwa Ammar bin Yasir apabila mendengar apa yang diceritakan orang-orang tentang pernikahan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan Khadijah dan apa yang mereka perbanyak di dalamnya, ia berkata: Aku adalah orang yang paling tahu tentang pernikahannya dengannya karena aku adalah temannya sejak kecil, sahabatnya, dan teman karibnya. Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu hari hingga ketika kami berada di Hazurah, kami melewati saudara perempuan Khadijah yang sedang duduk di atas kulit menjualnya. Dia memanggilku, lalu aku menghampirinya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menungguku. Dia berkata: “Apakah temanmu ini tidak memiliki keperluan untuk menikahi Khadijah?” Ammar berkata: Maka aku kembali kepadanya dan mengabarkannya. Beliau berkata: “Ya, demi Allah.” Lalu aku menyampaikan kepada saudara perempuan Khadijah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia berkata: “Datanglah kepada kami besok pagi.” Maka kami mendatangi mereka keesokan harinya dan menemukan mereka telah menyembelih seekor sapi, mengenakan pakaian indah kepada ayah Khadijah, dan menyemir janggutnya. Saudara perempuannya berbicara dengan saudaranya, lalu saudaranya berbicara dengan ayahnya yang telah diberi minum khamr. Maka disebutkan kepada ayahnya tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kedudukannya, dan diminta untuk menikahkannya dengannya, maka ia menikahkan Khadijah kepadanya. Mereka membuat makanan dari sapi itu, lalu kami memakannya. Ayahnya tidur kemudian bangun dalam keadaan sadar lalu berkata: “Apa pakaian ini, apa semir ini, dan apa makanan ini?” Putrinya yang telah berbicara dengan Ammar berkata kepadanya: “Ini adalah pakaian yang diberikan kepadamu oleh Muhammad bin Abdullah, menantumu, dan sapi yang dihadiahkan kepadamu lalu kami sembelih ketika kami menikahkanmu dengan Khadijah.” Maka ia mengingkari bahwa ia telah menikahkannya, dan keluar berteriak hingga sampai di Hijr. Bani Hasyim keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu mendatanginya dan berbicara dengannya. Ia berkata: “Di mana teman kalian yang kalian klaim telah aku nikahkan dengan Khadijah?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam muncul kepadanya. Ketika ia melihatnya, ia berkata: “Jika aku telah menikahkannya denganmu, itulah jalannya. Dan jika aku belum melakukannya, maka aku menikahkannya denganmu.”

Telah disebutkan oleh az-Zuhri dalam riwayat biografinya bahwa ayahnya menikahkannya dengannya dalam keadaan mabuk, dan ia menyebutkan seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, sebagaimana yang dikutip oleh as-Suhaili. Berkata al-Maushili: Yang disepakati adalah bahwa pamannya Amru bin Asad adalah yang menikahkannya dengannya. Inilah yang dikuatkan oleh as-Suhaili, dan ia mengutipnya dari Ibnu Abbas dan Aisyah. Ia berkata: Khuwailid telah meninggal sebelum Perang Fijar, dan dialah yang menentang Tubba’ ketika ia hendak mengambil Hajar Aswad ke Yaman. Maka Khuwailid bangkit menentangnya, dan bersama dengannya sejumlah orang Quraisy. Kemudian Tubba’ melihat dalam tidurnya sesuatu yang membuatnya takut, sehingga ia berhenti dari niatnya dan meninggalkan Hajar Aswad di tempatnya.

Ibnu Ishaq menyebutkan di akhir Sirah bahwa saudaranya Amru bin Khuwailid adalah yang menikahkan Khadijah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Allah yang lebih mengetahui.

Pasal

Berkata Ibnu Ishaq: Khadijah binti Khuwailid telah menyebutkan kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay—ia adalah anak pamannya, dan ia adalah seorang Nasrani yang telah menelusuri kitab-kitab dan memiliki ilmu dari ilmu manusia—tentang apa yang disebutkan oleh budaknya tentang perkataan rahib dan apa yang ia lihat darinya ketika dua malaikat menaunginya. Maka berkata Waraqah: “Sungguh jika ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Aku telah mengetahui bahwa akan ada nabi untuk umat ini yang dinanti-nantikan, ini adalah zamannya,” atau sebagaimana ia berkata. Maka Waraqah menganggap lambat urusan itu dan berkata: “Sampai kapan?” Dan ia berkata tentang hal itu:

Aku bersikeras, padahal aku dalam peringatan adalah orang yang keras kepala Bagi mereka, sudah lama aku mengirimkan isak tangis Dan deskripsi dari Khadijah setelah deskripsi Sungguh penantianku telah lama, wahai Khadijah Di perut Makkah dengan harapanku Kisahmu bahwa aku melihat darinya kemunculan Dengan apa yang kau kabarkan kepada kami dari perkataan seorang pendeta Dari para rahib, aku tidak suka jika ia menyimpang Bahwa Muhammad akan menjadi pemimpin di antara kami Dan akan mengalahkan siapa pun yang menjadi lawannya dalam berdebat Dan ia akan menampakkan di negeri-negeri cahaya terang Ia akan tegakkan dengan itu manusia agar tidak bergoncang Maka akan mengalami kerugian siapa yang memeranginya Dan akan mengalami kemenangan siapa yang berdamai dengannya Betapa aku berharap ketika itu terjadi Aku menyaksikan dan menjadi yang pertama masuk Masuk ke dalam apa yang dibenci Quraisy Sekalipun mereka berteriak di Makkah dengan teriakan keras Aku berharap dengan apa yang mereka benci semuanya Kepada Pemilik Arsy, jika mereka merendah maka naik Dan apakah urusan kerendahan selain kekufuran Kepada siapa yang dipilih dari ketinggian bintang-bintang Jika mereka tetap ada dan aku tetap ada, akan terjadi urusan-urusan Yang akan membuat orang-orang kafir berteriak terhadapnya dengan teriakan Dan jika aku binasa, setiap pemuda akan mengalami Dari takdir kehancuran yang membinasakan

Dan berkata Waraqah juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq darinya:

Apakah kau pagi-pagi atau kau sore harinya pergi Dan di dalam dada dari penyimpanan kesedihanmu yang menggores Untuk perpisahan kaum yang aku tidak suka perpisahan mereka Seolah-olah kau dari mereka setelah dua hari pergi menjauh Dan berita-berita jujur yang dikabarkan tentang Muhammad Yang mengabarkannya tentangnya ketika ia tidak hadir, seorang penasehat Budakmu yang kau kirimkan, wahai sebaik-baik wanita merdeka Ke Ghur dan ke dua Najd di mana dataran-dataran luas Ke pasar Bushra dalam kafilah-kafilah yang pergi Dan mereka dari beban-beban adalah unta-unta betina yang gemuk dan kuat Maka ia mengabarkan kepada kami tentang setiap kebaikan dengan ilmunya Dan untuk kebenaran ada pintu-pintu yang memiliki kunci-kunci Bahwa putra Abdullah, Ahmad adalah rasul Kepada setiap orang yang diliputi olehnya perut-perut Makkah Dan sangkaanku kepadanya bahwa ia akan diutus dengan jujur Sebagaimana diutus dua hamba Allah, Hud dan Shalih Dan Musa dan Ibrahim hingga terlihat baginya Keagungan dan kemasyhuran dari dzikir yang jelas Dan akan mengikutinya kabilah Luay dan Ghalib Pemuda-pemuda mereka dan orang-orang tua yang berambut putih Maka jika aku tetap hidup hingga manusia menemui zamannya Maka sesungguhnya aku dengannya gembira dengan kasih sayang yang senang Dan jika tidak, wahai Khadijah maka ketahuilah Dari tanahmu di bumi yang luas aku adalah pengembara

Dan ditambahkan oleh al-Umawi:

Maka aku mengikuti agama orang yang meletakkan bangunan Dan adalah baginya keutamaan atas manusia yang kembali Dan meletakkan bangunan di Makkah yang kokoh Yang bersinar di dalamnya dalam kegelapan lampu-lampu Tempat kembali bagi cabang-cabang suku semuanya Yang berlari kepadanya unta-unta betina yang cepat berlari Yang sangat lelah seperti busur-busur pendek dari perjalanan panjang Yang bergantung di pergelangan kaki mereka gelang-gelang kaki

Dan dari syairnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu al-Qasim as-Suhaili dalam Raudhnya:

Sungguh aku telah menasehati kepada kaum-kaum dan berkata kepada mereka Aku adalah pemberi peringatan, maka janganlah kalian tertipu oleh siapa pun Jangan menyembah tuhan selain Pencipta kalian Jika mereka mengajak kalian maka katakanlah, di antara kami ada batasan Maha Suci Pemilik Arsy, kesucian yang kekal bagi-Nya Dan sebelum kami telah bertasbih gunung Judi dan bukit Jamad Yang ditundukkan segala apa yang ada di bawah langit bagi-Nya Tidak layak menandingi kekuasaan-Nya seorang pun Tidak ada dari apa yang kita lihat yang kecerahannya kekal Yang kekal adalah Allah dan akan binasa harta dan anak Tidak menyelamatkan Hormuz pada suatu hari perbendaharaannya Dan keabadian telah dicoba oleh kaum Ad namun mereka tidak kekal Dan tidak pula Sulaiman ketika angin berjalan untuknya Dan jin dan manusia di antaranya ada yang taat Di mana para raja yang ada karena keagungannya Dari setiap penjuru kepadanya datang utusan yang berdatangan Ada telaga di sana yang didatangi tanpa dusta Tidak ada jalan lain selain mendatanginya pada suatu hari sebagaimana mereka mendatanginya

Kemudian ia berkata: Demikianlah Abu al-Faraj menisbatkannya kepada Waraqah. Ia berkata: Dan di dalamnya ada bait-bait yang dinisbatkan kepada Umayyah bin Abi ash-Shalt.

Aku berkata: Dan kami telah meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu bahwa ia bersaksi dalam beberapa kesempatan dengan sebagian dari bait-bait ini. Dan Allah yang lebih mengetahui.

Pasal tentang pembaharuan bangunan Ka’bah oleh Quraisy lima tahun sebelum kenabian

Al-Baihaqi menyebutkan dalam pembangunan Ka’bah sebelum pernikahannya alaihish shalaatu wassalam dengan Khadijah, sedangkan yang masyhur adalah bahwa pembangunan Ka’bah oleh Quraisy adalah setelah pernikahan dengan Khadijah sepuluh tahun sebagaimana yang telah kami sebutkan. Kemudian al-Baihaqi mulai menyebutkan pembangunan Ka’bah di zaman Ibrahim sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam kisahnya, dan mengutip hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, dan menyebutkan apa yang datang dari Israiliyyat tentang pembangunannya di zaman Adam namun itu tidak shahih, karena zhahir al-Quran menunjukkan bahwa Ibrahim adalah orang pertama yang membangunnya dari awal, dan orang pertama yang meletakkan fondasi dasarnya, sedangkan tempatnya telah diagungkan sebelum itu dan diperhatikan serta dimuliakan di seluruh masa dan waktu. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah itu) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Surah Ali Imran: 96-97) Dan telah tsabit dalam dua kitab Shahih dari Abu Dzar, ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, masjid mana yang pertama kali dibangun?” Beliau bersabda: “Masjidil Haram.” Aku bertanya: “Kemudian yang mana?” Beliau bersabda: “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau bersabda: “Empat puluh tahun.” Dan kami telah membicarakan hal ini sebelumnya, bahwa Masjidil Aqsha didirikan oleh Israil yaitu Ya’qub alaihissalam. Dan dalam dua kitab Shahih disebutkan bahwa negeri ini diharamkan oleh Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, maka ia haram dengan keharaman Allah hingga hari kiamat.

Berkata al-Baihaqi: Mengabarkan kepada kami Abu Abdillah al-Hafizh, bercerita kepada kami Abu Abdillah ash-Shaffar, bercerita kepada kami Ahmad bin Mahran, bercerita kepada kami Ubaidillah, bercerita kepada kami Israil dari Abu Yahya dari Mujahid dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Baitullah ada sebelum bumi dua ribu tahun. “Dan apabila bumi dihamparkan” (Surah al-Insyiqaq: 3), ia berkata: Dari bawahnya dihamparkan. Ia berkata: Dan telah memutaba’ahkannya Manshur dari Mujahid.

Aku berkata: Ini sangat aneh dan sepertinya dari dua beban yang diperoleh oleh Abdullah bin Amru pada hari Perang Yarmuk, yang di dalamnya ada Israiliyyat yang ia ceritakan darinya, dan di dalamnya ada hal-hal yang munkar dan aneh.

Kemudian berkata al-Baihaqi: Mengabarkan kepada kami Abu Abdillah al-Hafizh, mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Abdillah al-Baghdadi, bercerita kepada kami Yahya bin Utsman bin Shalih, bercerita kepada kami Abu Shalih al-Juhani, bercerita kepadaku Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abi al-Khair dari Abdullah bin Amru bin al-Ash, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah mengutus Jibril kepada Adam dan Hawa lalu berkata kepada keduanya: Bangunlah untukku sebuah rumah. Maka Jibril menggaris untuk keduanya, lalu Adam menggali dan Hawa mengangkut hingga air menyahutnya, dipanggil dari bawahnya: Cukup wahai Adam. Ketika keduanya membangunnya, Allah mewahyukan kepadanya agar ia berthawaf mengelilinginya, dan dikatakan kepadanya: Kamu adalah manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama. Kemudian berturut-turut generasi hingga Nuh berhaji kepadanya, kemudian berturut-turut generasi hingga Ibrahim mengangkat fondasinya.”

Berkata al-Baihaqi: Hanya Ibnu Lahi’ah yang menyendiri dengannya demikian dalam bentuk marfu’.

Aku berkata: Dan ia lemah, sedangkan mauqufkannya kepada Abdullah bin Amru lebih kuat dan lebih tsabit. Dan Allah yang lebih mengetahui.

Berkata ar-Rabi’: Mengabarkan kepada kami asy-Syafi’i, mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abi Labid dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi atau selainnya, ia berkata: Adam berhaji, lalu para malaikat menemuinya dan berkata: “Semoga manasikmu diberkahi wahai Adam, sungguh kami telah berhaji sebelummu dua ribu tahun.” Berkata Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq, bercerita kepadaku Baqiyyah atau ia berkata seorang yang tsiqah dari penduduk Madinah dari Urwah bin az-Zubair bahwa ia berkata: Tidak ada nabi melainkan ia telah berhaji ke Baitullah, kecuali Hud dan Shalih.

Saya katakan: Dan sungguh telah kami kemukakan sebelumnya tentang haji mereka berdua ke sana dan yang dimaksud adalah haji ke tempatnya, ke tanah sucinya meskipun di sana tidak ada bangunan. Dan Allah lebih mengetahui. Kemudian Al-Baihaqi menyebutkan hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya dalam kisah Ibrahim alaihissalam secara panjang lebar dan lengkap dan hadits itu terdapat dalam Shahih Bukhari, kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Simak bin Harb dari Khalid bin Ar’arah ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Ali tentang firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Surah Ali Imran: 96) Apakah itu rumah pertama yang dibangun di bumi? Ia berkata: Tidak, tetapi itu adalah rumah pertama yang di dalamnya diletakkan keberkahan bagi manusia dan petunjuk, serta maqam Ibrahim dan barangsiapa memasukinya maka ia aman, dan jika engkau mau aku kabarkan kepadamu bagaimana bangunannya; sesungguhnya Allah Ta’ala mewahyukan kepada Ibrahim: Bangunlah untukku sebuah rumah di bumi, maka ia merasa kesulitan, lalu Allah mengirimkan kepadanya As-Sakinah, yaitu angin kencang yang memiliki kepala, lalu salah satunya mengikuti yang lain hingga ia sampai, kemudian ia melingkari tempat Baitullah seperti lingkaran ular, maka Ibrahim membangun hingga sampai pada tempat hajar (batu), ia berkata kepada anaknya: Carikan untukku sebuah batu. Maka ia mencari batu hingga ia membawanya kepadanya, lalu ia menemukan Hajar Aswad (batu hitam) telah terpasang, maka ia berkata kepada ayahnya: Dari mana engkau mendapat ini? Ia berkata: Yang datang dengan ini adalah yang tidak mengandalkan bangunanmu, Jibril datang membawanya dari langit, lalu ia menyempurnakannya. Ia berkata: Maka masa berlalu atasnya lalu runtuh, maka bangsa Amaliqah membangunnya, kemudian runtuh lagi maka Jurhum membangunnya, kemudian runtuh lagi maka Quraisy membangunnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu adalah seorang pemuda, maka ketika mereka hendak mengangkat Hajar Aswad mereka berselisih mengenainya, lalu mereka berkata: Yang memutuskan di antara kita adalah orang pertama yang keluar dari jalan ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang keluar kepada mereka, lalu ia memutuskan di antara mereka agar mereka meletakkannya di kain, kemudian semua kabilah mengangkatnya bersama-sama.

Dan Abu Dawud At-Tayalisi berkata: Hammad bin Salamah, Qais dan Salam semuanya meriwayatkan kepada kami dari Simak bin Harb dari Khalid bin Ar’arah dari Ali bin Abi Thalib ia berkata: Ketika Baitullah runtuh setelah Jurhum, Quraisy membangunnya, maka ketika mereka hendak meletakkan hajar mereka bertengkar siapa yang meletakkannya? Maka mereka sepakat bahwa yang meletakkannya adalah orang pertama yang masuk dari pintu ini, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dari pintu Bani Syaibah, maka ia memerintahkan agar dibawakan kain lalu meletakkan hajar di tengahnya, dan ia memerintahkan setiap suku agar mereka memegang bagian dari kain itu, lalu mereka mengangkatnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya lalu meletakkannya.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Ashbagh bin Faraj mengabarkan kepadaku, Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku dari Yunus dari Ibnu Syihab ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai masa balig (dewasa), seorang wanita membakar dupa di Ka’bah, lalu percikan api dari pembakar dupanya terbang ke kain Ka’bah maka terbakar, lalu mereka meruntuhkannya hingga ketika mereka membangunnya dan sampai pada tempat rukun (sudut), Quraisy berselisih tentang rukun, kabilah mana yang berhak mengangkatnya? Maka mereka berkata: Mari kita jadikan orang pertama yang datang kepada kita sebagai hakam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka dan ia adalah seorang pemuda yang mengenakan selendang bergaris, maka mereka menjadikannya hakam, lalu ia memerintahkan agar rukun diletakkan di kain, kemudian ia mengeluarkan pemimpin setiap kabilah lalu memberikan kepadanya bagian dari kain itu, kemudian ia naik dan mereka mengangkat kepadanya rukun itu, maka dialah yang meletakkannya, maka ia tidak bertambah usianya kecuali bertambah pula keridhaan hingga mereka menyebutnya Al-Amin (yang terpercaya) sebelum wahyu turun kepadanya, maka mereka tidak menyembelih unta kecuali mereka mencarinya agar ia berdoa untuk mereka dalam hal itu.

Dan ini adalah riwayat yang baik dan ia dari sirah Az-Zuhri, dan di dalamnya terdapat keanehan yaitu ucapannya: Ketika ia mencapai masa balig, sedangkan yang masyhur adalah bahwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia tiga puluh lima tahun, dan itulah yang ditegaskan oleh Muhammad bin Ishaq bin Yasar rahimahullah.

Dan Musa bin Uqbah berkata: Pembangunan Ka’bah adalah lima belas tahun sebelum diutus menjadi Nabi, dan demikian pula Mujahid, Urwah, Muhammad bin Jubair bin Muth’im dan lain-lain berkata, maka Allah lebih mengetahui.

Dan Musa bin Uqbah berkata: Antara perang Fijar dan pembangunan Ka’bah adalah lima belas tahun. Saya katakan: Dan perang Fijar serta Hilf Al-Fudhul terjadi dalam satu tahun ketika umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua puluh tahun. Dan ini menguatkan apa yang dikatakan Muhammad bin Ishaq. Dan Allah lebih mengetahui.

Musa bin Uqbah berkata: Dan sesungguhnya yang mendorong Quraisy untuk membangunnya adalah bahwa banjir datang dari atasnya dari atas tanggul yang mereka buat sehingga rusak karenanya, maka mereka khawatir air akan masuk ke dalamnya, dan ada seorang laki-laki yang disebut Mulaih mencuri harum-haruman Ka’bah, maka mereka ingin memperkuat bangunannya, dan meninggikan pintunya sehingga tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali yang mereka kehendaki, maka mereka menyiapkan untuk itu biaya dan pekerja, kemudian mereka datang kepadanya untuk meruntuhkannya dengan penuh kekhawatiran dan hati-hati jangan sampai Allah mencegah mereka dari apa yang mereka inginkan, maka orang pertama yang naik ke atasnya dan meruntuhkan sesuatu darinya adalah Al-Walid bin Al-Mughirah, maka ketika mereka melihat apa yang dilakukan Al-Walid, mereka berturut-turut melakukannya lalu meruntuhkannya, maka mereka senang dengan itu, maka ketika mereka hendak mulai membangunnya mereka menghadirkan pekerja-pekerja mereka, maka tidak seorang pun dari mereka mampu melewati di depannya tempat pijakan kaki.

Mereka menyatakan bahwa mereka melihat seekor ular yang telah mengelilingi Baitullah, kepalanya di ekornya, maka mereka sangat takut darinya dengan rasa takut yang sangat, dan mereka khawatir bahwa mereka telah jatuh dari apa yang mereka lakukan dalam kebinasaan. Dan Ka’bah adalah benteng mereka dan perlindungan mereka dari manusia, dan kemuliaan bagi mereka, maka ketika mereka merasa menyesal dan urusan mereka menjadi membingungkan, Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum berdiri di hadapan mereka lalu menyebutkan apa yang menjadi nasihatnya kepada mereka, dan perintahnya kepada mereka agar tidak bertengkar dan tidak saling dengki dalam membangunnya, dan agar mereka membaginya menjadi empat bagian, dan agar mereka tidak memasukkan dalam bangunannya harta yang haram. Dan ia menyebutkan bahwa ketika mereka bertekad untuk itu, ular itu pergi ke langit dan menghilang dari mereka, dan mereka melihat bahwa itu dari Allah Azza wa Jalla. Ia berkata: Dan sebagian orang berkata: Sesungguhnya seekor burung menyambarnya, dan membuangnya ke arah Ajyad.

Dan Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai usia tiga puluh lima tahun, Quraisy berkumpul untuk membangun Ka’bah, mereka ingin melakukan itu; agar memberikan atap padanya dan mereka takut meruntuhkannya, dan sesungguhnya itu hanyalah batu yang ditumpuk setinggi tinggi orang berdiri, maka mereka ingin meninggikannya dan memberikan atap padanya; dan itu karena sekelompok orang mencuri harta simpanan Ka’bah, dan sesungguhnya itu ada di sumur di dalam Ka’bah, dan yang ditemukan padanya harta simpanan itu adalah Duwaik budak Bani Mulayh bin Amr bin Khuza’ah, maka Quraisy memotong tangannya, dan Quraisy menyatakan bahwa orang-orang yang mencurinya meletakkannya pada Duwaik. Dan laut telah melemparkan sebuah kapal ke Jeddah milik seorang pedagang Romawi lalu hancur, maka mereka mengambil kayunya dan menyiapkannya untuk atapnya. Al-Umawi berkata: Kapal ini adalah milik Kaisar raja Romawi yang membawa peralatan bangunan dari marmer, kayu dan besi, dikirim oleh Kaisar bersama Baqum Ar-Rumi ke gereja yang dibakar oleh Persia untuk Habasyah, maka ketika sampai di pelabuhannya di Jeddah, Allah mengirimkan padanya angin lalu menghancurkannya.

Ibnu Ishaq berkata: Dan di Mekah ada seorang laki-laki Qibthi yang tukang kayu, maka tersedia bagi mereka dalam diri mereka sebagian dari apa yang memperbaikinya. Dan ada seekor ular yang keluar dari sumur Ka’bah – yang dilemparkan ke dalamnya apa yang dipersembahkan kepadanya setiap hari – lalu berjemur di atas dinding Ka’bah, dan itu adalah sesuatu yang mereka takuti, dan itu karena tidak ada seorang pun yang mendekatinya kecuali ia meloncat dan mengeluarkan suara dan membuka mulutnya, maka mereka takut padanya, maka sementara ia suatu hari berjemur di atas dinding Ka’bah sebagaimana ia biasa melakukan, Allah mengirimkan padanya seekor burung lalu menyambarnya dan membawanya pergi, maka Quraisy berkata: Sesungguhnya kami berharap bahwa Allah Ta’ala telah meridhai apa yang kami inginkan, pada kami ada pekerja yang terampil, dan pada kami ada kayu, dan Allah telah mencukupi kami dari ular.

Dan As-Suhaili meriwayatkan dari Razin: Bahwa seorang pencuri masuk ke Ka’bah di masa Jurhum untuk mencuri harta simpanannya, maka sumur itu runtuh atasnya hingga mereka datang lalu mengeluarkannya dan mengambil darinya apa yang telah ia ambil, kemudian sumur ini ditempati oleh seekor ular yang kepalanya seperti kepala kambing dan perutnya putih dan punggungnya hitam, maka ia tinggal di dalamnya lima ratus tahun, dan itulah yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq.

Muhammad bin Ishaq berkata: Maka ketika mereka mengumpulkan urusan mereka untuk meruntuhkan dan membangunnya, Abu Wahb Amr bin A’idz bin Abd bin Imran bin Makhzum berdiri – dan Ibnu Hisyam berkata: A’idz bin Imran bin Makhzum – lalu mengambil dari Ka’bah sebuah batu, maka ia meloncat dari tangannya hingga kembali ke tempatnya, maka ia berkata: Wahai sekalian Quraisy, janganlah kalian memasukkan dalam bangunannya dari usaha kalian kecuali yang baik; tidak boleh masuk ke dalamnya mahar pelacur dan tidak hasil riba dan tidak kezaliman terhadap seseorang dari manusia. Dan orang-orang menisbahkan ucapan ini kepada Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum, kemudian Ibnu Ishaq menguatkan bahwa yang mengucapkan itu adalah Abu Wahb bin Amr. Ia berkata: Dan ia adalah paman ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia adalah orang yang mulia yang dipuji. Dan Ibnu Ishaq berkata: Kemudian sesungguhnya Quraisy membagi Ka’bah; maka sisi pintu untuk Bani Abdul Manaf dan Zuhrah, dan antara Rukun Aswad dan Rukun Yamani untuk Bani Makhzum, dan beberapa kabilah dari Quraisy yang bergabung dengan mereka, dan bagian belakang Ka’bah untuk Bani Jumah dan Sahm, dan sisi Hijr untuk Bani Abdul Dar bin Qushay, dan untuk Bani Asad bin Abdul Uzza, dan untuk Bani Adiy bin Ka’ab, dan itulah Al-Hathim, kemudian sesungguhnya orang-orang takut meruntuhkannya dan merasa cemas darinya, maka Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: Aku akan memulai kalian dalam meruntuhkannya, maka ia mengambil beliung kemudian berdiri di atasnya dan ia berkata: Ya Allah janganlah Engkau takuti, Ya Allah sesungguhnya kami tidak menginginkan kecuali kebaikan, kemudian ia meruntuhkan dari sisi dua rukun, maka orang-orang menunggu malam itu, dan berkata: Kita lihat, jika ia tertimpa musibah kita tidak meruntuhkan darinya sesuatu pun, dan kita kembalikan sebagaimana keadaannya, dan jika tidak menimpanya sesuatu maka Allah telah meridhai apa yang kita lakukan dalam meruntuhkannya, maka Al-Walid di pagi hari datang ke pekerjaannya lalu meruntuhkan dan orang-orang meruntuhkan bersamanya hingga ketika runtuhan mereka sampai ke fondasi – fondasi Ibrahim alaihissalam, mereka menemukan batu-batu hijau seperti lidah tombak saling mengait satu sama lain, dan terdapat dalam Shahih Bukhari dari Yazid bin Ruman: Seperti punuk unta. As-Suhaili berkata: Dan aku melihat riwayat sirah seperti lidah dan keduanya keliru. Dan Allah lebih mengetahui.

Ibnu Ishaq berkata: Lalu sebagian orang yang meriwayatkan hadits menceritakan kepadaku bahwa seorang laki-laki dari Quraisy dari orang-orang yang meruntuhkannya memasukkan linggis di antara dua batu darinya untuk mencabut salah satunya, maka ketika batu itu bergerak Mekah seluruhnya bergetar, maka mereka berhenti dari fondasi itu.

Dan Musa bin Uqbah berkata: Dan Abdullah bin Abbas menyatakan bahwa orang-orang tua Quraisy dahulu menceritakan bahwa seorang laki-laki dari Quraisy ketika mereka berkumpul untuk mencabut batu-batu, dan sampai ke fondasi Ibrahim dan Ismail alaihimassalam, seorang laki-laki dari mereka mendekati sebuah batu dari fondasi yang pertama lalu mengangkatnya dan ia tidak tahu bahwa itu dari fondasi yang pertama, maka kaum melihat kilatan cahaya di bawah batu hampir menyilaukan mata laki-laki itu, dan batu itu meloncat dari tangannya lalu jatuh di tempatnya, dan laki-laki itu serta para pembangun terkejut, maka ketika batu itu menutupi dari mereka apa yang di bawahnya ke tempatnya, mereka kembali ke bangunan mereka, dan berkata: Jangan gerakkan batu ini dan tidak sesuatu pun yang sejajar dengannya.

Ibnu Ishaq berkata: Dan aku diceritakan bahwa Quraisy menemukan di rukun sebuah tulisan dengan bahasa Suryani, maka mereka tidak tahu apa itu hingga dibacakan kepada mereka oleh seorang laki-laki dari Yahudi, maka ternyata itu: Aku adalah Allah pemilik Bakkah, Aku menciptakannya pada hari Aku menciptakan langit dan bumi, dan Aku membentuk matahari dan bulan, dan Aku mengelilinginya dengan tujuh malaikat hunafa (lurus), ia tidak akan bergeser hingga kedua gunungnya bergeser – Ibnu Hisyam berkata: yaitu dua gunungnya – diberkahi bagi penduduknya dalam air dan susu. Ibnu Ishaq berkata: Dan aku diceritakan bahwa mereka menemukan di maqam sebuah tulisan di dalamnya: Mekah haram Allah, datang padanya rezeki dari tiga jalan, tidak menghalalkannya orang pertama dari penduduknya. Ia berkata: Dan Laits bin Abi Sulaim menyatakan bahwa mereka menemukan di Ka’bah empat puluh tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus – jika apa yang disebutkan itu benar – tertulis di dalamnya: Barangsiapa menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan, dan barangsiapa menanam kejahatan akan menuai penyesalan, kalian berbuat kejahatan dan diberi balasan kebaikan! Tentu saja seperti dipetik dari duri buah anggur.

Dan Sa’id bin Yahya Al-Umawi berkata: Ma’mar bin Sulaiman Ar-Raqi menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Basyir Az-Zuhri ia mengangkat hadits kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: Ditemukan di maqam tiga lempengan; di lempengan pertama: Sesungguhnya Aku adalah Allah pemilik Bakkah, Aku membuatnya pada hari Aku membuat matahari dan bulan, dan Aku mengelilinginya dengan tujuh malaikat hunafa, dan Aku memberkahi bagi penduduknya dalam daging dan susu. Dan di lempengan kedua: Sesungguhnya Aku adalah Allah pemilik Bakkah, Aku menciptakan rahim, dan Aku memisahkan untuknya dari nama-Ku, maka barangsiapa menyambungnya Aku sambung dan barangsiapa memutuskannya Aku putuskan. Dan di lempengan ketiga: Sesungguhnya Aku adalah Allah pemilik Bakkah, Aku menciptakan kebaikan dan kejahatan dan Aku menakdirkannya, maka beruntunglah orang yang Aku alirkan kebaikan melalui tangannya, dan celakalah orang yang Aku alirkan kejahatan melalui tangannya.

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian sesungguhnya kabilah-kabilah dari Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk bangunannya, setiap kabilah mengumpulkan sendiri-sendiri, kemudian mereka membangunnya hingga bangunan sampai tempat rukun, maka mereka berselisih mengenainya, setiap kabilah ingin mengangkatnya ke tempatnya tanpa yang lain hingga mereka saling bermusuhan dan saling bersumpah dan menyiapkan untuk perang, maka Bani Abdul Dar membawa sebuah mangkuk yang penuh darah, kemudian mereka bersumpah setia mereka dan Bani Adiy bin Ka’ab bin Luay atas kematian, dan mereka memasukkan tangan-tangan mereka dalam darah itu di mangkuk itu, maka mereka disebut penjilat darah, maka Quraisy tetap atas itu empat malam atau lima, kemudian sesungguhnya mereka berkumpul di masjid lalu bermusyawarah dan saling bersikap adil, maka sebagian ahli riwayat menyatakan bahwa Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum – dan ia pada saat itu adalah orang tertua Quraisy semuanya – berkata: Wahai sekalian Quraisy, jadikanlah antara kalian dalam apa yang kalian perselisihkan padanya orang pertama yang masuk dari pintu masjid ini untuk memutuskan antara kalian padanya, maka mereka melakukannya, maka orang pertama yang masuk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika mereka melihatnya mereka berkata: Ini Al-Amin (yang terpercaya), kami ridha, ini Muhammad, maka ketika ia sampai kepada mereka dan mereka mengabarkan kepadanya berita itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Bawalah kepadaku sebuah kain, maka didatangkan kepadanya lalu ia mengambil rukun dan meletakkannya di dalamnya dengan tangannya, kemudian berkata: Hendaklah setiap kabilah mengambil tepi dari kain, kemudian angkat bersama-sama, maka mereka melakukannya hingga ketika mereka membawanya sampai tempatnya, ia meletakkannya dengan tangannya shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membangun di atasnya, dan Quraisy menyebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Amin.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Shamad, telah menceritakan kepada kami Tsabit – yaitu Abu Zaid – telah menceritakan kepada kami Hilal – yaitu Ibnu Khabbab – dari Mujahid dari tuannya – yaitu As-Sa’ib bin Abdullah – bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa ia termasuk di antara orang-orang yang membangun Ka’bah pada masa Jahiliah. Ia berkata: Aku memiliki sebuah batu yang aku pahat sendiri, aku menyembahnya selain Allah. Ia berkata: Aku biasa datang membawa susu kental yang sangat aku jaga untuk diriku sendiri, lalu aku tuangkan di atasnya, kemudian datanglah anjing yang menjilatnya, kemudian mengangkat kakinya dan kencing di atasnya. Ia berkata: Kami terus membangun hingga sampai pada tempat Hajar Aswad, dan tidak ada seorang pun yang melihat batu itu. Tiba-tiba batu itu berada di tengah-tengah batu-batu kami sebesar kepala manusia, hampir terlihat wajah seseorang darinya. Lalu sebuah kabilah dari Quraisy berkata: Kami yang akan meletakkannya. Dan yang lain berkata: Kami yang akan meletakkannya. Mereka berkata: Jadikanlah di antara kalian seorang hakam (penengah). Mereka berkata: Orang pertama yang muncul dari celah gunung. Maka datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata: Yang dapat dipercaya telah datang kepada kalian. Mereka berkata kepadanya, lalu beliau meletakkannya di dalam kain, kemudian beliau memanggil kabilah-kabilah mereka dan mereka mengangkat sisi-sisinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang meletakkannya.

Ibnu Ishaq berkata: Ka’bah pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah delapan belas hasta, dan dahulu dilapisi dengan kain qibathi, kemudian setelahnya dilapisi dengan kain burud, dan orang pertama yang melapisinya dengan sutera adalah Al-Hajjaj bin Yusuf.

Aku katakan: Mereka telah mengeluarkan dari Ka’bah bagian Hijr, yaitu enam atau tujuh hasta dari arah Syam – hal itu karena dana mereka tidak mencukupi, yakni mereka tidak mampu membangunnya di atas fondasi Ibrahim, dan mereka membuat untuk Ka’bah satu pintu dari arah Timur, dan mereka menjadikannya tinggi agar tidak semua orang dapat masuk ke dalamnya sehingga mereka memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan mencegah siapa yang mereka kehendaki.

Dan telah shahih dalam Shahihain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah engkau lihat bahwa kaummu tidak memiliki dana yang cukup, dan seandainya bukan karena kaummu baru saja keluar dari kekufuran, niscaya aku akan meruntuhkan Ka’bah, dan aku akan membuatkan untuknya pintu timur dan pintu barat, dan aku akan memasukkan ke dalamnya bagian Hijr.” Oleh karena itu, ketika Ibnu Zubair memiliki kekuasaan, ia membangunnya sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ka’bah menjadi sangat indah, bagus, dan megah, lengkap di atas fondasi Al-Khalil (Ibrahim), memiliki dua pintu yang menempel di tanah, di timur dan barat, orang-orang masuk dari yang ini dan keluar dari yang lain. Ketika Al-Hajjaj membunuh Ibnu Zubair, ia menulis surat kepada Abdul Malik bin Marwan yang merupakan khalifah pada saat itu tentang apa yang telah dilakukan Ibnu Zubair, dan mereka mengira bahwa ia melakukan itu atas kemauannya sendiri, maka ia memerintahkan untuk mengembalikannya ke kondisi semula. Mereka menuju ke dinding Syam lalu meruntuhkannya dan mengeluarkan Hijr darinya, serta menyusun batu-batunya di tanah Ka’bah sehingga pintunya menjadi tinggi, dan mereka menutup pintu barat, dan pintu timur tetap seperti semula. Ketika pada masa Al-Mahdi atau ayahnya Al-Manshur, ia meminta nasihat Malik tentang mengembalikannya ke apa yang telah dilakukan Ibnu Zubair. Malik rahimahullah berkata: Aku tidak suka jika para raja menjadikannya mainan. Maka ia meninggalkannya dalam kondisinya. Hingga sekarang masih seperti itu.

Adapun Masjidil Haram, orang pertama yang menjauhkan rumah-rumah dari sekitar Ka’bah adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia membelinya dari pemiliknya dan meruntuhkannya. Ketika masa Utsman, ia membeli rumah-rumah dan menambahkannya ke dalamnya. Ketika Ibnu Zubair berkuasa, ia menguatkan bangunannya dan memperbaiki dinding-dindingnya dan memperbanyak pintu-pintunya, tetapi ia tidak meluaskannya lebih lanjut. Ketika Abdul Malik bin Marwan memegang kendali penuh atas urusan, ia menambah tinggi dinding-dindingnya, dan memerintahkan Ka’bah untuk dilapisi dengan sutera. Yang menangani hal itu atas perintahnya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf. Kami telah menyebutkan kisah pembangunan Baitullah dan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu dalam tafsir Surah Al-Baqarah pada firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.” (Al-Baqarah: 127).

Ibnu Ishaq berkata: Ketika mereka selesai dari pembangunan dan membangunnya sesuai dengan yang mereka inginkan, Az-Zubair bin Abdul Muththalib berkata dalam syair tentang peristiwa ular yang membuat Quraisy takut untuk membangun Ka’bah karenanya:

Aku heran ketika burung elang menukik Ke arah ular sedang ia dalam kegelisahan Padahal biasanya ia mendesis Dan kadang ia melompat

Ketika kami hendak memulai pembangunan, ia menyerang Kami takut untuk membangun dan kami memang takut Ketika kami khawatir akan penyakit, datanglah Burung elang yang siap menerkam dengan menukik

Ia meraihnya ke arahnya, kemudian pergilah Bagi kami pembangunan tanpa ada penghalang Maka kami berdiri berbondong-bondong untuk membangun Kami memiliki darinya fondasi dan tanah

Di pagi hari kami mengangkat fondasinya Dan tidak ada pakaian pada para pekerja kami Yang Maha Perkasa mengagungkan dengan itu Bani Lu’ay Tidak akan lenyap asal-usul mereka dari mereka

Dan telah berkumpul di sana Bani Adi Dan Murrah telah mendahului mereka Kilab Maka Yang Maha Perkasa menempatkan kami dengan itu dalam kemuliaan Dan kepada Allah dimintakan pahala

Kami telah menyebutkan dalam bab tentang apa yang Allah jaga bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kekotoran Jahiliah, bahwa beliau dan pamannya Al-Abbas sedang mengangkut batu-batu, dan bahwa beliau ‘alaihish shalatu wassalam ketika meletakkan kain sarungnya di bawah batu-batu di bahunya, beliau dilarang melepas sarungnya, maka beliau mengembalikannya ke kebiasaannya yang pertama.

Pasal

Ibnu Ishaq menyebutkan apa yang telah dibuat-buat oleh Quraisy dalam penamaan mereka sebagai Al-Hums, yaitu keras dalam agama dan kokoh; hal itu karena mereka mengagungkan tanah Haram dengan pengagungan yang berlebihan sehingga menyebabkan mereka berkomitmen untuk tidak keluar darinya pada malam Arafah. Mereka berkata: Kami adalah anak-anak tanah Haram dan penghuni Baitullah. Mereka tidak wukuf di Arafah padahal mereka tahu bahwa itu adalah salah satu syi’ar Ibrahim ‘alaihis salam, hanya agar mereka tidak keluar dari sistem yang telah mereka tetapkan dari bid’ah yang rusak. Mereka tidak menyimpan dari susu berupa keju atau mentega dan tidak memanaskan lemak ketika mereka dalam keadaan ihram. Mereka tidak memasuki rumah dari bulu dan tidak berteduh kecuali di bawah rumah dari kulit. Mereka melarang para haji dan umrah selama mereka berihram untuk makan kecuali dari makanan Quraisy dan tidak tawaf kecuali dengan pakaian Quraisy. Jika seseorang dari mereka tidak mendapatkan pakaian salah seorang dari Al-Hums – yaitu Quraisy dan keturunan mereka serta yang bergabung dengan mereka dari Kinanah dan Khuza’ah – ia tawaf dalam keadaan telanjang, meskipun ia seorang wanita. Oleh karena itu, jika seorang wanita kebetulan melakukan tawaf seperti itu, ia meletakkan tangannya di kemaluannya dan berkata:

Hari ini akan terlihat sebagian atau semuanya Dan apa yang terlihat darinya, aku tidak menghalalkannya

Jika seseorang yang mendapatkan pakaian orang Hums merasa mulia kemudian tawaf dengan pakaiannya sendiri, maka ia harus melemparkannya setelah selesai tawaf dan tidak boleh mengambil manfaat darinya setelah itu, dan tidak boleh baginya maupun orang lain untuk menyentuhnya. Orang Arab menyebut pakaian-pakaian itu sebagai Al-Laqa. Seorang penyair berkata:

Cukup menyedihkan tawaranku atasnya seolah-olah ia Sebuah laqa di hadapan orang-orang yang tawaf, diharamkan

Ibnu Ishaq berkata: Mereka tetap seperti itu hingga Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menurunkan kepada beliau Al-Qur’an sebagai sanggahan terhadap mereka dalam apa yang mereka buat-buat. Allah berfirman: “Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak” (Al-Baqarah: 199), yaitu mayoritas orang Arab dari Arafah, “dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 199). Kami telah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wukuf di Arafah sebelum diturunkan kepadanya sebagai taufik dari Allah untuknya. Dan Allah menurunkan kepada beliau sebagai sanggahan terhadap mereka dalam apa yang mereka haramkan dari pakaian dan makanan kepada manusia: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” sampai akhir ayat (Al-A’raf: 31-32). Ziyad Al-Baka’i berkata dari Ibnu Ishaq: Aku tidak tahu apakah pembuatan bid’ah mereka itu sebelum peristiwa Gajah atau sesudahnya.

Kitab Tentang Diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Dengan banyak salam, dan penyebutan beberapa kabar gembira tentang hal itu.

Muhammad bin Ishaq rahimahullah berkata: Para pendeta dari Yahudi, para rahib dari Nashrani, dan para dukun dari Arab telah membicarakan tentang urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau diutus ketika waktunya sudah dekat. Adapun para pendeta dari Yahudi dan para rahib dari Nashrani, itu berdasarkan apa yang mereka temukan dalam kitab-kitab mereka tentang sifat beliau dan sifat zamannya serta apa yang menjadi wasiat para nabi mereka kepada mereka tentang beliau. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka” sampai akhir ayat (Al-A’raf: 157). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (Ash-Shaff: 6). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil” sampai akhir ayat (Al-Fath: 29). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali ‘Imran: 81).

Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas ia berkata: Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali Dia mengambil perjanjian darinya bahwa jika Muhammad diutus dan ia masih hidup, ia pasti akan beriman kepadanya dan pasti akan menolongnya, dan ia memerintahkannya untuk mengambil perjanjian dari umatnya bahwa jika Muhammad diutus dan mereka masih hidup, mereka pasti akan beriman kepadanya dan pasti akan menolongnya dan pasti akan mengikutinya. Diketahui dari ini bahwa semua nabi memberikan kabar gembira dan diperintahkan untuk mengikutinya.

Ibrahim ‘alaihis salam telah berkata dalam doanya untuk penduduk Makkah: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau” sampai akhir ayat (Al-Baqarah: 129). Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj bin Fadhalah, telah menceritakan kepada kami Luqman bin ‘Amir, aku mendengar Abu Umamah berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa permulaan urusanmu? Beliau menjawab: “Doa bapakku Ibrahim, dan kabar gembira Isa, dan ibuku melihat bahwa keluar darinya cahaya yang menerangi untuknya istana-istana Syam.” Muhammad bin Ishaq telah meriwayatkan dari Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Mi’dan dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari beliau seperti itu. Makna ini adalah bahwa beliau bermaksud permulaan urusannya di antara manusia, ketenaran dan penyebaran namanya. Maka beliau menyebutkan doa Ibrahim yang orang Arab dinisbatkan kepadanya, kemudian kabar gembira Isa yang merupakan penutup para nabi Bani Israil, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa para nabi yang ada di antara keduanya juga memberikan kabar gembira tentang beliau.

Adapun di Malaikat Tinggi (Malaa’ A’la), urusan beliau sudah terkenal, disebutkan, dan diketahui sejak sebelum penciptaan Adam ‘alaihish shalatu wassalam, sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Sa’id bin Suwaid Al-Kalbi dari Abdul A’la bin Hilal As-Sulami dari Al-‘Irbadh bin Sariyah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, penutup para nabi, sedangkan Adam masih tergeletak dalam tanah linya, dan aku akan memberitahukan kepadamu tentang permulaan itu: doa bapakku Ibrahim, dan kabar gembira Isa tentangku, dan mimpi ibuku yang ia lihat, demikian pula ibu-ibu para nabi melihat.” Al-Laits telah meriwayatkannya dari Mu’awiyah bin Shalih, dan ia berkata: Bahwa ibunya melihat – ketika melahirkannya – cahaya yang menerangi darinya istana-istana Syam.

Imam Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Manshur bin Sa’d dari Budail bin Maisarah dari Abdullah bin Syaqiq dari Maisarah Al-Fajr ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi nabi? Beliau menjawab: “Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad.” Hanya Ahmad yang menyendiri dengan hadits-hadits ini.

Umar bin Ahmad bin Syahin telah meriwayatkannya dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah dari hadits Abu Hurairah. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz – yaitu Abu Al-Qasim Al-Baghawi – telah menceritakan kepada kami Abu Hammam Al-Walid bin Muslim dari Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Kapan kenabian wajib bagimu? Beliau menjawab: “Di antara penciptaan Adam dan peniupan ruh kepadanya.” Ia meriwayatkannya dari jalur lain dari Al-Auza’i dengannya, dan ia berkata: “Ketika Adam tergeletak dalam tanah linya.”

Diriwayatkan juga dari Al-Baghawi dari Ahmad bin Al-Miqdam dari Baqiyyah bin Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Abu Hurairah secara marfu’ tentang firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh” (Al-Ahzab: 7), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah yang pertama dari para nabi dalam penciptaan, dan yang terakhir mereka dalam pengutusan.” Dari hadits Ibnu Muzahim dari Qais bin Ar-Rabi’ dari Jabir dari Asy-Sya’bi dari Ibnu Abbas dikatakan: Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi nabi? Beliau menjawab: “Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad.”

Adapun para dukun dari bangsa Arab, maka jin-jin dari kalangan setan mendatangkan kepada mereka kabar yang mereka curi dengarkan, karena dahulu mereka tidak terhalang dari hal itu dengan dilempari bintang-bintang. Seorang dukun laki-laki dan perempuan tidak henti-hentinya menyebutkan sebagian urusan-urusan Nabi, namun bangsa Arab tidak begitu menanggapinya hingga Allah Ta’ala mengutus beliau, dan peristiwa-peristiwa yang dahulu mereka sebutkan itu terjadi maka mereka mengenalinya. Ketika waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin dekat dan masa pengutusan beliau tiba, para setan terhalang dari mendengar dan mereka dihalangi dari tempat-tempat duduk yang biasa mereka pakai untuk mencuri dengar, lalu mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka jin-jin mengetahui bahwa hal itu karena ada urusan yang terjadi dari urusan Allah ‘Azza wa Jalla.

Dia berkata: Dalam hal itu Allah menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Katakanlah (Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an), yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.”‘” (Al-Jin: 1-2) hingga akhir surat. Dan kami telah menyebutkan tafsir semua itu dalam kitab Tafsir kami, demikian juga firman-Nya Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.'” (Al-Ahqaf: 29-30). Kami telah menyebutkan tafsir semua itu di sana.

Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin ‘Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnash bahwa dia menceritakan bahwa orang Arab pertama yang terkejut dengan lemparan bintang-bintang ketika dilempari adalah kabilah Tsaqif ini, dan bahwa mereka datang kepada seorang laki-laki dari kalangan mereka yang disebut ‘Amr bin Umayyah, salah satu dari Bani ‘Ilaj, dan dia adalah orang Arab yang paling cerdik dan paling bijak pendapatnya. Maka mereka berkata kepadanya: Wahai ‘Amr, tidakkah kamu melihat apa yang terjadi di langit dengan lemparan bintang-bintang ini? Dia berkata: Ya, maka perhatikanlah, jika bintang-bintang yang menjadi tanda yang digunakan untuk mencari petunjuk di darat dan laut, dan yang digunakan untuk mengetahui perubahan musim panas dan dingin untuk kemaslahatan manusia dalam kehidupan mereka adalah yang dilempari, maka demi Allah ini adalah kehancuran dunia dan kebinasaan makhluk ini. Namun jika itu bintang-bintang lain, sedangkan bintang-bintang itu tetap pada keadaannya, maka ini adalah urusan yang Allah kehendaki bagi makhluk ini, maka perhatikanlah apa itu?

Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu bahwa seorang wanita dari Bani Sahm yang disebut Al-Ghaithalah adalah seorang kahina (dukun perempuan) di masa Jahiliyah. Sahabat jinnya datang kepadanya pada suatu malam, lalu menukik di bawahnya, kemudian berkata: “Aku mengetahui apa yang aku ketahui, hari penyembelihan dan pembantaian.” Quraisy berkata ketika berita itu sampai kepada mereka: Apa yang dia maksudkan? Kemudian jin itu datang kepadanya pada malam lain, lalu menukik di bawahnya, kemudian berkata: “Syu’ub, apa itu Syu’ub? Di sana Ka’b akan tersungkur menghadap ke selatan.” Ketika hal itu sampai kepada Quraisy, mereka berkata: Apa yang dia maksudkan? Sesungguhnya ini adalah urusan yang akan terjadi, maka perhatikanlah apa itu. Mereka tidak mengetahuinya hingga terjadi perang Badar dan Uhud di Syu’b, maka mereka tahu bahwa itulah yang dibawa oleh jin kepada kahina-nya.

Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku ‘Ali bin Nafi’ Al-Jurasyi bahwa Janab – sebuah kabilah dari Yaman – memiliki seorang dukun pada masa Jahiliyah. Ketika urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan dan tersebar di kalangan bangsa Arab, kabilah Janab berkata kepadanya: Periksalah untuk kami urusan orang ini. Mereka berkumpul untuknya di kaki gunungnya, lalu dia turun kepada mereka ketika matahari terbit, dia berdiri di hadapan mereka berdiri bersandar pada busurnya. Dia mengangkat kepalanya ke langit lama, kemudian melompat-lompat, kemudian berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memuliakan Muhammad dan memilihnya serta menyucikan hatinya dan isi perutnya. Tinggalnya di antara kalian wahai manusia sedikit.” Kemudian dia naik dengan cepat ke gunungnya kembali dari mana dia datang. Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan kisah Sawad bin Qarib dan kami telah mengakhirkannya ke bagian suara-suara jin.

Pasal

Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah dari para lelaki kaumnya, mereka berkata: Sesungguhnya di antara yang mendorong kami kepada Islam – bersama rahmat Allah Ta’ala dan petunjuk-Nya kepada kami – adalah bahwa kami mendengar dari seorang laki-laki dari Yahudi, sedangkan kami adalah ahli syirik, pemilik berhala-berhala. Mereka adalah ahli kitab yang memiliki ilmu yang tidak kami miliki. Tidak henti-hentinya terjadi permusuhan antara kami dan mereka. Jika kami melakukan sesuatu kepada mereka yang mereka benci, mereka berkata kepada kami: Sesungguhnya telah dekat masa seorang Nabi yang akan diutus sekarang, kami akan membunuh kalian bersamanya seperti pembunuhan ‘Ad dan Iram. Kami sering mendengar hal itu dari mereka. Ketika Allah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mengikutinya ketika dia menyeru kami kepada Allah, dan kami mengetahui apa yang dahulu mereka ancamkan kepada kami dengannya, maka kami mendahuluinya dan beriman kepadanya sedangkan mereka mengingkarinya. Maka tentang kami dan mereka turunlah ayat ini: “Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89).

Waraqa’ berkata dari Ibnu Abi Najih dari ‘Ali Al-Azdi: Orang-orang Yahudi berkata: “Ya Allah, utuslah untuk kami Nabi ini agar dia memutuskan hukum antara kami dan manusia.” Mereka meminta kemenangan dengannya, yakni meminta pertolongan dengannya. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Kemudian dia meriwayatkan dari jalur ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya dari kakeknya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Orang-orang Yahudi di Khaibar berperang melawan Ghathafan, setiap kali mereka bertemu, Yahudi Khaibar kalah, maka orang-orang Yahudi memohon pertolongan dengan doa ini, mereka berkata: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi yang ummi yang Engkau janjikan akan Engkau keluarkan untuk kami di akhir zaman, semoga Engkau menolong kami atas mereka.” Dia berkata: Setiap kali mereka bertemu, mereka berdoa dengan doa ini lalu Ghathafan kalah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, mereka mengingkarinya, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan: “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir” ayat tersebut. Dan ‘Athiyyah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas seperti itu, dan diriwayatkan dari ‘Ikrimah dari perkataannya seperti itu juga.

Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Shalih bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf dari Mahmud bin Labid dari Salamah bin Salamah bin Waqsy – dan dia termasuk orang yang hadir di Badar – dia berkata: Kami memiliki tetangga dari Yahudi di Bani ‘Abdul Asyhal. Dia berkata: Lalu dia keluar kepada kami suatu hari dari rumahnya hingga berdiri di hadapan Bani ‘Abdul Asyhal. Salamah berkata: Dan aku pada hari itu adalah yang termuda dari mereka, mengenakan kain untukku, berbaring dengannya di halaman keluargaku. Lalu dia menyebutkan hari Kiamat, kebangkitan, hisab, timbangan, surga dan neraka. Dia berkata: Dia mengatakan hal itu kepada suatu kaum yang ahli syirik, pemilik berhala-berhala, yang tidak meyakini akan ada kebangkitan setelah kematian. Maka mereka berkata kepadanya: Celakalah kamu wahai fulan, apakah kamu melihat hal ini akan terjadi bahwa manusia akan dibangkitkan setelah kematian mereka ke tempat di mana ada surga dan neraka, mereka dibalas di dalamnya dengan amal-amal mereka? Dia berkata: Ya, demi yang dia bersumpah dengan-Nya, dan dia berharap bahwa untuknya bagian dari api itu adalah tungku terbesar di rumah yang mereka panaskan kemudian mereka memasukkannya ke dalamnya lalu mereka menutupinya dengan tanah liat, agar dia selamat dari api itu besok. Mereka berkata kepadanya: Celakalah kamu wahai fulan, lalu apa tandanya? Dia berkata: “Seorang Nabi yang diutus dari arah negeri ini,” dan dia menunjuk dengan tangannya ke arah Mekah dan Yaman. Mereka berkata: Kapan kamu melihatnya? Dia berkata: Lalu dia melihat kepadaku dan aku adalah yang termuda dari mereka, lalu dia berkata: “Jika anak muda ini menghabiskan umurnya, dia akan mendapatinya.” Salamah berkata: Demi Allah, tidak berlalu siang dan malam hingga Allah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia masih hidup di antara kami, maka kami beriman kepadanya sedangkan dia mengingkarinya karena iri hati dan dengki. Dia berkata: Maka kami berkata kepadanya: Celakalah kamu wahai fulan, bukankah kamu yang mengatakan kepada kami tentangnya apa yang kamu katakan? Dia berkata: Ya, tetapi ini bukan dia. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ya’qub dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas, dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim dengan sanadnya dari jalur Yunus bin Bukair. Dan Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Dala’il dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah dari Mahmud bin Labid dari Muhammad bin Salamah, dia berkata: Tidak ada di Bani ‘Abdul Asyhal kecuali seorang Yahudi yang disebut Yusya’. Aku mendengarnya berkata – sedangkan aku adalah anak muda berkain sarung – “Sungguh telah dekat keluarnya seorang Nabi yang diutus dari arah rumah ini” – kemudian dia menunjuk dengan tangannya ke arah Baitullah – “Barangsiapa mendapatinya hendaklah dia membenarkannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, lalu kami masuk Islam sedangkan dia masih di antara kami, dia tidak masuk Islam karena iri hati dan dengki. Dan kami telah menyebutkan sebelumnya hadits Abu Sa’id dari ayahnya tentang berita Yusya’ ini tentang keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sifat dan ciri-cirinya, dan berita Az-Zubair bin Battha tentang munculnya bintang kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah dari seorang syaikh dari Bani Quraizhah, dia berkata: Dia berkata kepadaku: Apakah kamu tahu tentang apa Islamnya Tsa’labah bin Sa’iyah, Usaid bin Sa’iyah dan Asad bin ‘Ubaid, beberapa orang dari Bani Hadal, saudara-saudara Bani Quraizhah yang dahulu bersama mereka pada masa Jahiliyah mereka, kemudian mereka adalah pemimpin-pemimpin mereka dalam Islam? Dia berkata: Aku berkata: Tidak. Dia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki dari Yahudi dari negeri Syam yang disebut Ibnu Al-Haiban datang kepada kami sebelum Islam beberapa tahun, lalu dia tinggal di antara kami. Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang laki-laki yang tidak melaksanakan shalat lima waktu yang lebih utama darinya. Dia tinggal di sisi kami. Jika hujan terlambat turun kepada kami, kami berkata kepadanya: Keluarlah wahai Ibnu Al-Haiban, lalu mintakan hujan untuk kami. Dia berkata: “Tidak, demi Allah, hingga kalian memberikan sedekah di hadapan keluarnya kalian.” Kami berkata kepadanya: Berapa? Dia berkata: “Satu sha’ kurma atau dua mud gandum.” Dia berkata: Maka kami mengeluarkannya, kemudian dia keluar bersama kami ke luar perkampungan kami, lalu meminta hujan untuk kami. Demi Allah, dia tidak meninggalkan tempat duduknya hingga awan berlalu dan kami mendapat hujan. Dia melakukan hal itu tidak hanya sekali, dua kali atau tiga kali. Dia berkata: Kemudian kematian mendatanginya di sisi kami. Ketika dia tahu bahwa dia akan meninggal, dia berkata: “Wahai kaum Yahudi, menurut kalian apa yang mengeluarkanku dari negeri anggur dan roti ke negeri kesengsaraan dan kelaparan?” Dia berkata: Kami berkata: Kamu lebih tahu. Dia berkata: “Sesungguhnya aku datang ke negeri ini menunggu keluarnya seorang Nabi yang telah dekat masanya, negeri ini adalah tempat hijrahnya. Aku berharap dia diutus lalu aku mengikutinya. Telah dekat masa kalian dengannya, wahai kaum Yahudi, janganlah mendahului kalian kepadanya. Sesungguhnya dia diutus dengan penumpahan darah dan penawanan anak-anak perempuan dari orang yang menentangnya, janganlah hal itu menghalangi kalian darinya.” Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dan mengepung Bani Quraizhah, para pemuda ini berkata – sedangkan mereka adalah pemuda-pemuda muda -: Wahai Bani Quraizhah, demi Allah, dialah Nabi yang Ibnu Al-Haiban berpesan kepada kalian tentangnya. Mereka berkata: Bukan dia. Mereka berkata: Ya, demi Allah, sesungguhnya dialah dengan sifatnya. Maka mereka turun lalu masuk Islam, lalu mereka memelihara darah mereka, harta mereka dan keluarga mereka.

Ibnu Ishaq berkata: Ini adalah apa yang sampai kepada kami tentang berita-berita Yahudi.

Aku (penulis) berkata: Dan kami telah menyebutkan sebelumnya tentang kedatangan Tubba’ Al-Yamani – dan dia adalah Abu Karib Tubban – As’ad ke Madinah, dan pengepungannya terhadapnya, dan bahwa keluar kepadanya dua orang habar dari Yahudi lalu mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya tidak ada jalan bagimu atasnya karena dia adalah tempat hijrah seorang Nabi yang akan ada di akhir zaman.” Maka hal itu membuatnya berbalik darinya. Dan Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Dala’il dari jalur Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hamzah bin Yusuf bin ‘Abdullah bin Salam dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: ‘Abdullah bin Salam berkata: Ketika Allah menghendaki petunjuk Zaid bin Sana’ah, Zaid berkata: “Tidak tersisa dari tanda-tanda kenabian kecuali aku telah mengetahuinya di wajah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika aku melihat kepadanya kecuali dua, yang belum aku uji darinya: kesabarannya mendahului kemarahannya, dan tidak bertambah beratnya kebodohan atasnya kecuali kesabaran.” Dia berkata: “Maka aku mencari cara halus untuk bergaul dengannya agar aku mengetahui kesabarannya dan kemarahannya.” Lalu dia menyebutkan kisah dia memberikan pinjaman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kurma. Dia berkata: Ketika jatuh tempo tiba, aku mendatanginya lalu aku memegang ujung baju dan selendangnya sedangkan dia di pemakaman bersama sahabat-sahabatnya, dan aku memandang kepadanya dengan wajah kasar, dan aku berkata: Wahai Muhammad, tidakkah kamu membayar hakku? Demi Allah, aku tidak mengetahui kalian Bani ‘Abdul Muthalib kecuali sebagai penagguh. Dia berkata: Lalu ‘Umar memandang kepadaku dan matanya berputar di wajahnya seperti falak yang berputar, kemudian berkata: “Wahai musuh Allah, apakah kamu mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang aku dengar, dan melakukan apa yang aku lihat? Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, seandainya bukan karena aku khawatir kehilangannya, niscaya aku pukul dengan pedangku kepalamu.” Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandang kepada ‘Umar dengan tenang, tabah dan tersenyum, kemudian berkata: “Aku dan dia lebih membutuhkan selain ini darimu wahai ‘Umar, yaitu kamu menyuruhku dengan pembayaran yang baik, dan menyuruhnya dengan penagihan yang baik. Pergilah dengannya wahai ‘Umar, lalu bayarkan haknya dan tambahkan dua puluh sha’ kurma.” Maka Zaid bin Sana’ah radiyallahu ‘anhu masuk Islam, dan menyaksikan sisa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meninggal pada tahun Tabuk rahimahullah.

Kemudian Ibnu Ishaq rahimahullah menyebutkan kisah keislaman Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu wa ardhaahu, beliau berkata: telah menceritakan kepadaku Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari dari Mahmud bin Labid dari Abdullah bin Abbas yang berkata: Salman Al-Farisi telah menceritakan kepadaku langsung dari mulutnya sendiri, beliau berkata: Aku adalah seorang laki-laki Persia dari penduduk Isfahan, dari penduduk sebuah kampung yang disebut Jayy. Ayahku adalah kepala kampung di kampungnya, dan aku adalah makhluk Allah yang paling dicintainya. Kecintaannya kepadaku terus berlanjut hingga ia mengurungku di rumah sebagaimana seorang budak perempuan dikurung. Aku bersungguh-sungguh dalam (mempelajari) agama Majusi hingga aku menjadi penjaga api yang menyalakannya dan tidak membiarkannya padam sedetik pun. Beliau berkata: Ayahku memiliki perkebunan yang sangat luas. Beliau berkata: Suatu hari ayahku sibuk dengan bangunannya, lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku, sesungguhnya hari ini aku sibuk dengan bangunanku ini dari perkebunanku, maka pergilah ke sana dan periksalah, dan ia memerintahkanku dengan beberapa hal yang ia inginkan di sana. Kemudian ia berkata kepadaku: Dan jangan terlambat dariku, karena jika kamu terlambat dariku, kamu akan lebih penting bagiku daripada perkebunanku, dan kamu akan menyibukkanku dari segala urusanku. Beliau berkata: Maka aku keluar menuju perkebunannya yang ia utus aku ke sana, lalu aku melewati sebuah gereja dari gereja-gereja orang Nasrani, lalu aku mendengar suara-suara mereka di dalamnya saat mereka sedang salat. Aku tidak mengetahui urusan manusia karena ayahku mengurungku di rumah. Ketika aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk ke tempat mereka untuk melihat apa yang mereka lakukan. Ketika aku melihat mereka, salat mereka membuatku kagum dan aku tertarik dengan urusan mereka, lalu aku berkata: Demi Allah, ini lebih baik daripada agama yang kami anut. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam, dan aku meninggalkan perkebunan ayahku sehingga aku tidak mendatanginya. Kemudian aku berkata kepada mereka: Di mana asal agama ini? Mereka berkata: Di negeri Syam. Maka aku kembali kepada ayahku, dan ia telah mengirim orang untuk mencariku, dan aku telah menyibukkannya dari semua urusannya. Ketika aku datang, ia berkata: Wahai anakku, di mana kamu? Bukankah aku telah mewasiatkan kepadamu apa yang aku wasiatkan?

Beliau berkata: Aku berkata: Wahai ayahku, aku melewati sekelompok orang yang salat di gereja mereka, lalu aku kagum dengan apa yang aku lihat dari agama mereka. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam. Ia berkata: Wahai anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik darinya. Beliau berkata: Aku berkata: Tidak, demi Allah, sesungguhnya ia lebih baik daripada agama kami. Beliau berkata: Maka ia takut kepadaku lalu ia memasang belenggu di kakiku kemudian mengurungku di rumahnya. Beliau berkata: Dan aku mengutus kepada orang-orang Nasrani lalu aku berkata kepada mereka: Jika rombongan dari Syam datang kepada kalian, maka beritahukan aku tentang mereka. Beliau berkata: Lalu rombongan dari Syam datang kepada mereka, yaitu pedagang-pedagang dari orang Nasrani, lalu mereka memberitahuku tentang mereka. Maka aku berkata kepada mereka: Jika mereka telah menyelesaikan keperluan mereka dan ingin kembali ke negeri mereka, maka beritahukan aku. Beliau berkata: Ketika mereka ingin kembali ke negeri mereka, mereka memberitahuku tentang mereka, maka aku melepaskan besi dari kakiku, kemudian aku keluar bersama mereka hingga aku tiba di Syam. Ketika aku tiba di sana, aku berkata: Siapa orang yang paling utama dari ahli agama ini dalam ilmu? Mereka berkata: Uskup di gereja. Beliau berkata: Maka aku mendatanginya lalu aku berkata kepadanya: Sesungguhnya aku telah tertarik dengan agama ini dan aku ingin bersama denganmu dan melayanimu di gerejamu serta belajar darimu dan salat bersamamu. Ia berkata: Masuklah, maka aku masuk bersamanya. Ternyata ia adalah orang yang buruk, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan mendorong mereka untuk itu. Jika mereka mengumpulkan sesuatu untuknya, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikannya kepada orang-orang miskin, hingga terkumpul tujuh tempayan emas dan perak. Beliau berkata: Dan aku sangat membencinya karena apa yang aku lihat ia lakukan. Kemudian ia meninggal, dan orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburkannya. Maka aku berkata kepada mereka: Sesungguhnya orang ini adalah orang yang buruk, ia memerintahkan kalian untuk bersedekah dan mendorong kalian untuk itu, tetapi jika kalian mendatanginya dengan sedekah, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada orang-orang miskin sedikitpun. Beliau berkata: Maka mereka berkata kepadaku: Apa yang kamu ketahui tentang itu? Beliau berkata: Maka aku berkata kepada mereka: Aku akan menunjukkan kalian kepada simpanannya. Mereka berkata: Tunjukkan kepada kami. Beliau berkata: Maka aku menunjukkan kepada mereka tempatnya, lalu mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata: Kami tidak akan menguburkannya selamanya. Beliau berkata: Maka mereka menyalibnya dan melemparinya dengan batu, dan mereka mendatangkan laki-laki lain dan menjadikannya sebagai penggantinya. Beliau berkata: Salman berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang tidak salat lima waktu yang aku anggap lebih utama darinya, lebih zuhud terhadap dunia, tidak lebih menginginkan akhirat, dan tidak lebih tekun siang dan malam. Beliau berkata: Maka aku mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku cintai sesuatu sebelumnya seperti itu.

Beliau berkata: Maka aku tinggal bersamanya beberapa waktu, kemudian kematiannya datang. Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya aku telah bersamamu dan aku mencintaimu dengan cinta yang tidak pernah aku cintai sesuatu sebelummu, dan telah datang kepadamu apa yang kamu lihat dari urusan Allah Ta’ala, maka kepada siapa kamu wasiatkan aku dan apa yang kamu perintahkan kepadaku? Ia berkata: Wahai anakku, demi Allah aku tidak mengetahui hari ini ada seorang pun yang berada pada apa yang aku berada padanya, karena manusia telah binasa dan berubah serta meninggalkan kebanyakan dari apa yang mereka berada padanya, kecuali seorang laki-laki di Mausil, yaitu fulan, dan ia berada pada apa yang aku berada padanya, maka pergilah kepadanya. Beliau berkata: Ketika ia meninggal dan dikuburkan, aku pergi kepada sahabat Mausil. Maka aku berkata: Wahai fulan, sesungguhnya fulan telah mewasiatkan aku ketika meninggalnya agar aku pergi kepadamu, dan ia memberitahuku bahwa kamu berada pada urusannya. Maka ia berkata kepadaku: Tinggallah bersamaku. Maka aku tinggal bersamanya, lalu aku mendapatinya sebagai sebaik-baik laki-laki berada pada urusan sahabatnya. Ia tidak lama kemudian meninggal. Ketika kematiannya datang, aku berkata kepadanya: Wahai fulan, sesungguhnya fulan telah mewasiatkan aku kepadamu dan memerintahkanku untuk pergi kepadamu, dan telah datang kepadamu dari urusan Allah apa yang kamu lihat, maka kepada siapa kamu wasiatkan aku dan apa yang kamu perintahkan kepadaku? Ia berkata: Wahai anakku, demi Allah aku tidak mengetahui seorang laki-laki pun yang berada pada seperti apa yang kami berada padanya kecuali seorang laki-laki di Nashiibiin, yaitu fulan, maka pergilah kepadanya. Ketika ia meninggal dan dikuburkan, aku pergi kepada sahabat Nashiibiin lalu aku memberitahunya kisahku dan apa yang kedua sahabatku perintahkan kepadaku. Maka ia berkata: Tinggallah bersamaku. Maka aku tinggal bersamanya, lalu aku mendapatinya berada pada urusan kedua sahabatku. Aku tinggal bersama sebaik-baik laki-laki. Demi Allah, ia tidak lama kemudian kematian turun kepadanya. Ketika ia hadir, aku berkata kepadanya: Wahai fulan, sesungguhnya fulan telah mewasiatkan aku kepada fulan, kemudian fulan mewasiatkan aku kepada fulan, kemudian fulan mewasiatkan aku kepadamu, maka kepada siapa kamu wasiatkan aku dan apa yang kamu perintahkan kepadaku? Ia berkata: Wahai anakku, demi Allah aku tidak mengetahui masih ada seorang pun yang berada pada urusan kami yang aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seorang laki-laki di ‘Amuuriyyah dari negeri Romawi, karena sesungguhnya ia berada pada seperti apa yang kami berada padanya. Jika kamu suka, maka datangilah ia, karena sesungguhnya ia berada pada urusan kami.

Ketika ia meninggal dan dikuburkan, aku pergi kepada sahabat ‘Amuuriyyah lalu aku memberitahunya kisahku. Maka ia berkata: Tinggallah bersamaku. Maka aku tinggal bersama sebaik-baik laki-laki yang berada pada petunjuk para sahabatnya dan urusan mereka. Beliau berkata: Dan aku bekerja hingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Beliau berkata: Kemudian urusan Allah turun kepadanya. Ketika ia hadir, aku berkata kepadanya: Wahai fulan, sesungguhnya aku bersama fulan lalu ia mewasiatkan aku kepada fulan, kemudian fulan mewasiatkan aku kepada fulan, kemudian fulan mewasiatkan aku kepada fulan, kemudian fulan mewasiatkan aku kepadamu, maka kepada siapa kamu wasiatkan aku dan apa yang kamu perintahkan kepadaku? Ia berkata: Wahai anakku, demi Allah aku tidak mengetahui ada seorang pun hari ini yang berada pada seperti apa yang kami berada padanya dari manusia yang aku perintahkan kamu untuk mendatanginya, tetapi sesungguhnya telah dekat zaman seorang Nabi yang diutus dengan agama Ibrahim, ia akan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah ke negeri yang di antara dua tanah berbatu yang di antara keduanya terdapat pohon kurma. Padanya ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi: ia makan hadiah dan tidak makan sedekah, di antara kedua bahunya terdapat stempel kenabian. Jika kamu mampu untuk pergi ke negeri itu, maka lakukanlah. Beliau berkata: Kemudian ia meninggal dan dikuburkan, dan aku tinggal di ‘Amuuriyyah sekehendak Allah aku tinggal. Kemudian sekelompok orang dari suku Kalb yang merupakan pedagang melewatiku. Maka aku berkata kepada mereka: Bawa aku ke negeri Arab, dan aku akan memberikan kalian sapi-sapiku ini dan kambing-kambingku ini. Mereka berkata: Ya. Maka aku memberikan kepada mereka sapi dan kambingku, dan mereka membawaku bersama mereka hingga ketika mereka tiba di Wadi Al-Qura, mereka mendzalimiku lalu menjualku kepada seorang laki-laki Yahudi sebagai budak. Maka aku berada bersamanya, dan aku melihat pohon kurma, lalu aku berharap bahwa ini adalah negeri yang sahabatku jelaskan kepadaku, tetapi hal itu belum mantap dalam diriku.

Ketika aku bersamanya, tiba-tiba saudara sepupunya dari Bani Quraidhah dari Madinah datang kepadanya lalu ia membeliku darinya dan membawaku ke Madinah. Demi Allah, tidak lain ketika aku melihatnya, aku mengenalinya dengan sifat sahabatku tentangnya. Maka aku tinggal di sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dan beliau tinggal di Makkah selama yang beliau tinggal, dan aku tidak mendengar penyebutan beliau karena kesibukkanku dengan perbudakan. Kemudian beliau hijrah ke Madinah. Demi Allah, sesungguhnya aku sedang berada di atas puncak pohon kurma milik tuanku sedang bekerja di sana dengan beberapa pekerjaan, dan tuanku duduk di bawahku. Tiba-tiba saudara sepupunya datang hingga berdiri di sisinya lalu berkata: Wahai fulan, semoga Allah membinasakan Bani Qailah! Demi Allah, sesungguhnya mereka sekarang sedang berkumpul di Quba bersama seorang laki-laki yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengklaim bahwa ia adalah seorang Nabi. Salman berkata: Ketika aku mendengarnya, aku gemetar hingga aku mengira aku akan jatuh ke atas tuanku. Maka aku turun dari pohon kurma lalu aku terus berkata kepada saudara sepupunya: Apa yang kamu katakan? Apa yang kamu katakan? Beliau berkata: Maka tuanku marah lalu memukulku dengan pukulan yang keras, kemudian berkata: Ada apa denganmu dengan ini? Kembalilah kepada pekerjaanmu. Beliau berkata: Maka aku berkata: Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memastikan tentang apa yang ia katakan.

Beliau berkata: Dan aku telah memiliki sesuatu yang telah aku kumpulkan. Ketika sore tiba, aku mengambilnya, kemudian aku pergi dengannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di Quba. Maka aku masuk ke tempat beliau lalu aku berkata kepadanya: Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau adalah laki-laki yang saleh, dan bersamamu terdapat sahabat-sahabatmu yang merantau dan membutuhkan. Dan ini adalah sesuatu yang ada padaku untuk sedekah, lalu aku melihat kalian lebih berhak dengannya daripada yang lain. Beliau berkata: Maka aku mendekatkannya kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sahabat-sahabatnya: Makanlah, dan beliau menahan tangannya sehingga tidak makan. Maka aku berkata dalam diriku: Ini yang pertama. Kemudian aku pergi dari beliau lalu aku mengumpulkan sesuatu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pindah ke Madinah. Kemudian aku datang kepada beliau lalu aku berkata kepadanya: Sesungguhnya aku telah melihatmu tidak makan sedekah, dan ini adalah hadiah yang aku muliakan engkau dengannya. Beliau berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan darinya dan memerintahkan sahabat-sahabatnya lalu mereka makan bersamanya. Beliau berkata: Maka aku berkata dalam diriku: Ini yang kedua. Beliau berkata: Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di Baqi’ Al-Gharqad telah mengikuti jenazah seorang laki-laki dari sahabat-sahabatnya, dan pada beliau ada dua kain dan beliau sedang duduk di tengah sahabat-sahabatnya. Maka aku memberi salam kepadanya, kemudian aku berdiri di belakang beliau untuk melihat ke punggung beliau apakah aku melihat stempel yang sahabatku jelaskan kepadaku. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku berdiri di belakang beliau, beliau mengetahui bahwa aku memastikan sesuatu yang dijelaskan kepadaku, maka beliau melepaskan selendangnya dari punggung beliau. Maka aku melihat stempel lalu aku mengenalinya. Maka aku mencium stempel itu sambil menangis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Berputarlah. Maka aku berputar di hadapan beliau, lalu aku menceritakan kepadanya kisahku sebagaimana aku ceritakan kepadamu wahai Ibnu Abbas. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang agar sahabat-sahabat beliau mendengar hal itu.

Kemudian perbudakan menyibukkan Salman hingga ia tertinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam (perang) Badar dan Uhud. Salman berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Buatlah perjanjian pembebasan wahai Salman. Maka aku membuat perjanjian pembebasan dengan tuanku dengan tiga ratus pohon kurma yang akan aku hidupkan untuknya dengan cara mencangkok, dan empat puluh uqiyah (perak). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sahabat-sahabat beliau: Tolonglah saudara kalian. Maka mereka menolongku dalam pohon kurma, ada yang memberi tiga puluh bibit, ada yang memberi dua puluh bibit, ada yang memberi lima belas bibit, ada yang memberi sepuluh, setiap orang menolong sesuai kemampuannya hingga terkumpul bagiku tiga ratus bibit. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Pergilah wahai Salman, lalu buatlah lubang untuknya. Jika kamu telah selesai, maka datanglah kepadaku, aku akan menanamnya dengan tanganku sendiri. Beliau berkata: Maka aku membuat lubang dan sahabat-sahabatku menolongku hingga ketika aku selesai, aku datang kepada beliau lalu memberitahunya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku ke sana. Kami mendekati beliau dengan bibit, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanamnya dengan tangan beliau hingga ketika kami selesai, maka demi Dzat yang jiwa Salman ada di tangan-Nya, tidak ada satu bibit pun yang mati. Maka aku telah menunaikan (kewajiban) pohon kurma dan masih tersisa bagiku (kewajiban) uang. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi dengan sesuatu seperti telur ayam dari emas dari salah satu tambang. Maka beliau berkata: Bagaimana kabar orang Persia yang membuat perjanjian pembebasan? Beliau berkata: Maka aku dipanggil untuk beliau. Beliau berkata: Ambillah ini lalu tunaikan dengannya apa yang ada padamu wahai Salman. Beliau berkata: Aku berkata: Dan di mana sesuatu ini bisa menunaikan wahai Rasulullah dari apa yang ada padaku? Beliau berkata: Ambillah, karena sesungguhnya Allah akan menunaikan dengannya untukmu. Beliau berkata: Maka aku mengambilnya lalu aku menimbang untuk mereka darinya—dan demi Dzat yang jiwa Salman ada di tangan-Nya—empat puluh uqiyah, maka aku menunaikan hak mereka. Dan Salman merdeka, lalu aku menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (perang) Khandaq sebagai orang merdeka. Kemudian tidak ada peperangan pun yang aku tertinggal bersamanya. Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib dari seorang laki-laki dari Abd Al-Qais dari Salman bahwa ia berkata: Ketika aku berkata: Dan di mana sesuatu ini akan menunaikan dari apa yang ada padaku wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya lalu membolak-balikkannya di atas lidah beliau, kemudian berkata: Ambillah lalu tunaikan kepada mereka darinya. Maka aku mengambilnya lalu aku menunaikan kepada mereka darinya semua hak mereka empat puluh uqiyah.

Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Ashim bin Umar bin Qatadah, telah menceritakan kepadaku orang yang tidak aku tuduh (bohong) dari Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, ia berkata: Aku diceritakan dari Salman bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia memberitahu beliau kisahnya bahwa sahabat ‘Amuuriyyah berkata kepadanya: Datanglah ke tempat sekian dan sekian dari negeri Syam, karena di sana ada seorang laki-laki di antara dua rumpun (pohon) yang keluar setiap tahun dari rumpun ini melewati untuk mengecek, para penderita penyakit menghadangnya, lalu ia tidak berdoa untuk seorang pun dari mereka kecuali ia sembuh. Maka tanyakan kepadanya tentang agama ini yang kamu cari, karena ia akan memberitahumu tentangnya. Salman berkata: Maka aku keluar hingga aku tiba di tempat yang ia jelaskan kepadaku, lalu aku mendapati orang-orang telah berkumpul dengan orang-orang sakit mereka di sana hingga ia keluar untuk mereka malam itu melewati dari salah satu rumpun ke rumpun yang lain. Orang-orang menghampirinya dengan orang-orang sakit mereka, ia tidak berdoa untuk seorang sakit pun kecuali ia sembuh, dan mereka mendominasi aku atasnya sehingga aku tidak bisa mendekat kepadanya hingga ia masuk ke rumpun yang ia ingin masuk kecuali bahunya. Beliau berkata: Maka aku meraih bahunya lalu ia berkata: Siapa ini? Dan ia berbalik kepadaku. Beliau berkata: Aku berkata: Semoga Allah merahmatimumu, beritahukan kepadaku tentang Hanifiyyah, agama Ibrahim. Ia berkata: Sesungguhnya kamu bertanya tentang sesuatu yang manusia tidak bertanya tentangnya hari ini. Telah dekat waktumu dengan zaman seorang Nabi yang diutus dengan agama ini dari penduduk Haram, maka datangilah ia, karena ia akan membawamu kepadanya. Kemudian ia masuk. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Salman: Jika kamu telah jujur kepadaku wahai Salman, sungguh kamu telah bertemu dengan Isa bin Maryam.

Demikianlah yang terdapat dalam riwayat ini, dan di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya, yaitu syaikh Ashim bin Umar bin Qatadah, dan telah dikatakan bahwa ia adalah Al-Hasan bin Umarah. Kemudian riwayat ini terputus, bahkan lemah antara Umar bin Abdul Aziz dan Salman radhiyallahu ‘anhu. Dan perkataannya: Jika kamu telah jujur kepadaku wahai Salman, sungguh kamu telah bertemu dengan Isa bin Maryam, sangat aneh bahkan mungkar (diingkari). Karena masa Fatrah (kekosongan) paling sedikit yang dikatakan tentangnya adalah empat ratus tahun, dan dikatakan enam ratus tahun dengan tahun matahari. Sedangkan Salman, paling banyak yang dikatakan bahwa ia hidup tiga ratus lima puluh tahun. Dan Al-Abbas bin Yazid Al-Bahrani menceritakan ijmak (kesepakatan) para syaikhnya bahwa ia hidup dua ratus lima puluh tahun, dan mereka berselisih dalam tambahan hingga tiga ratus lima puluh tahun. Wallahu a’lam (Allah Maha Mengetahui). Dan yang tampak bahwa ia berkata: Sungguh kamu telah bertemu dengan wasiat Isa bin Maryam. Maka ini mungkin terjadi jika orang itu hidup dalam masa yang panjang, dan Salman hidup setelahnya dalam masa yang lain. Wallahu a’lam bish-shawab (Allah Maha Mengetahui yang benar).

Dan As-Suhaili berkata: Laki-laki yang tidak disebutkan namanya adalah Al-Hasan bin Umarah dan ia lemah. Jika benar, tidak ada keanehan di dalamnya, karena Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Al-Masih (Isa) turun dari langit setelah ia diangkat lalu menemukan ibunya dan seorang perempuan lain menangis di samping batang kayu yang disalibkan, lalu ia memberitahu mereka bahwa ia tidak dibunuh, dan ia mengutus para Hawariyyun (murid-murid) setelah itu. Ia berkata: Dan jika boleh turunnya sekali, boleh juga turunnya berkali-kali. Kemudian turunnya yang nyata adalah ketika ia memecahkan salib, membunuh babi, dan ketika itu ia menikahi seorang perempuan dari Bani Judzam. Dan ketika ia meninggal, ia dikuburkan di Hujrah Raudhah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Baihaqi telah meriwayatkan dalam kitab Dalailun Nubuwwah (Tanda-tanda Kenabian) kisah Salman ini melalui jalur Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Beliau juga meriwayatkannya dari Al-Hakim dari Al-Ashom dari Yahya bin Abi Thalib, bercerita kepada kami Ali bin Ashim, bercerita kepada kami Hatim bin Abi Shaghirah dari Simak bin Harb dari Zaid bin Shouhan bahwa ia mendengar Salman menceritakan bagaimana awal keislamannya, lalu ia menyebutkan kisah yang panjang. Disebutkan bahwa ia berasal dari Ramhurmuz dan ia memiliki seorang saudara laki-laki yang lebih tua darinya yang kaya, sedangkan Salman miskin dalam tanggungan saudaranya. Dan bahwa anak bangsawan daerah itu adalah temannya dan ia sering pergi bersamanya ke tempat guru mereka. Dan bahwa anak tersebut sering pergi ke tempat para penyembah dari kalangan Nasrani di sebuah gua mereka. Maka Salman meminta agar ia membawanya bersamanya kepada mereka. Anak itu berkata kepadanya: “Engkau masih anak-anak, dan aku khawatir engkau akan melaporkan mereka sehingga ayahku membunuh mereka.” Maka Salman berjanji kepadanya bahwa tidak akan ada darinya sesuatu yang tidak disukai. Lalu ia pergi bersamanya dan ternyata mereka berjumlah enam atau tujuh orang, seakan-akan roh telah keluar dari mereka karena ibadah, berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, memakan pepohonan dan apa yang mereka temukan. Disebutkan tentang mereka bahwa mereka beriman kepada rasul-rasul terdahulu, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, putra hamba-Nya yang diperkuat dengan mukjizat-mukjizat.

Mereka berkata kepadanya: “Wahai anak muda, sesungguhnya engkau memiliki Tuhan dan sesungguhnya engkau memiliki hari pembalasan, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka, dan sesungguhnya orang-orang yang menyembah api ini adalah orang-orang kafir dan sesat, Allah tidak meridhai apa yang mereka lakukan dan mereka bukan pengikut agama-Nya.” Kemudian Salman mulai sering pergi bersama anak itu kepada mereka, kemudian Salman bergabung dengan mereka sepenuhnya. Kemudian raja negeri itu—yaitu ayah dari anak yang menemani Salman kepada mereka—mengusir mereka dari negerinya, dan raja menahan anaknya di sisinya. Salman menawarkan agama mereka kepada saudaranya yang lebih tua darinya, tetapi saudaranya berkata: “Aku sibuk dengan diriku sendiri dalam mencari penghidupan.” Maka Salman pergi bersama mereka hingga mereka memasuki gereja Mausil, lalu penduduknya memberi salam kepada mereka. Kemudian mereka ingin meninggalkan aku di sana, tetapi aku menolak kecuali menemani mereka. Maka kami keluar hingga tiba di sebuah lembah di antara gunung-gunung, lalu para rahib di daerah itu turun kepada mereka untuk memberi salam dan berkumpul bersama mereka. Mereka mulai menanyakan tentang ketidakhadiran mereka, dan menanyakan tentangku, maka mereka memuji aku dengan kebaikan. Datanglah seorang laki-laki yang diagungkan di antara mereka lalu berkhutbah kepada mereka, memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, menyebutkan para rasul dan apa yang menjadi penguatan bagi mereka, menyebutkan Isa putra Maryam dan bahwa ia adalah hamba Allah dan rasul-Nya, menyuruh mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari keburukan. Kemudian ketika mereka hendak pergi, Salman mengikutinya dan bergabung dengannya.

Ia berkata: “Ia berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari dari hari Ahad ke hari Ahad, lalu keluar kepada mereka dan memberi nasihat, menyuruh dan melarang mereka.” Salman tinggal seperti itu untuk waktu yang lama. Kemudian ia ingin mengunjungi Baitul Maqdis, maka Salman menemaninya ke sana. Ia berkata: “Dalam perjalanan ia berjalan sambil menoleh kepadaku dan menghadapiku lalu memberi nasihat kepadaku, mengabarkan kepadaku bahwa aku memiliki Tuhan, dan bahwa di hadapanku ada surga dan neraka serta perhitungan, mengajariku dan mengingatkanku seperti yang biasa ia ingatkan kepada kaum pada hari Ahad.” Ia berkata: “Di antara yang ia katakan kepadaku: ‘Wahai Salman, sesungguhnya Allah akan mengutus seorang rasul yang bernama Ahmad yang keluar dari Tihamah, ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, di antara kedua pundaknya ada stempel kenabian. Dan ini zamannya ketika ia akan keluar dan sudah dekat. Adapun aku, maka aku sudah tua dan tidak mengira akan menemuinya. Jika engkau menemuinya, maka percayailah dan ikutilah dia.'” Aku berkata kepadanya: “Walaupun ia menyuruhku meninggalkan agamamu dan apa yang engkau anut?” Ia berkata: “Walaupun ia menyuruhmu, karena sesungguhnya kebenaran ada pada apa yang ia bawa, dan keridhaan Ar-Rahman ada pada apa yang ia katakan.” Kemudian disebutkan kedatangan mereka ke Baitul Maqdis, dan bahwa sahabatnya shalat di sana-sini. Kemudian ia tidur dan telah berwasiat kepadanya bahwa jika bayangan telah sampai di tempat tertentu agar membangunkannya. Maka Salman membiarkannya waktu yang lebih lama dari yang ia katakan agar ia beristirahat. Ketika ia bangun, ia berdzikir kepada Allah dan menegur Salman karena meninggalkan apa yang ia perintahkan. Kemudian mereka keluar dari Baitul Maqdis lalu seorang lumpuh meminta-minta kepada mereka. Ia berkata: “Wahai hamba Allah, aku telah meminta kepadamu ketika engkau tiba tetapi engkau tidak memberiku sesuatu, dan sekarang aku meminta kepadamu.” Ia melihat tidak menemukan seorangpun, lalu memegang tangannya dan berkata: “Berdiri dengan nama Allah.” Maka ia berdiri dan tidak ada masalah padanya, seakan-akan terlepas dari ikatan. Ia berkata kepadaku: “Wahai hamba Allah, bawalah bagasiku hingga aku pergi ke keluargaku untuk mengabarkan kabar gembira kepada mereka.” Aku pun sibuk dengannya, kemudian aku menyusul orang itu tetapi tidak menemuinya dan tidak tahu kemana ia pergi.

Setiap kali aku bertanya tentangnya kepada suatu kaum, mereka berkata: “Di depanmu,” hingga aku bertemu dengan kafilah dari bangsa Arab dari Bani Kalb. Aku bertanya kepada mereka, dan ketika mereka mendengar bahasaku, seorang dari mereka menggiring untanya lalu membawaku di belakangnya hingga mereka membawaku ke negeri mereka dan menjualku. Maka seorang wanita dari Anshar membeliku dan menempatkanku di kebunnya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba. Kemudian disebutkan perginya ke beliau dengan sedekah dan hadiah untuk mengetahui apa yang dikatakan sahabatnya, kemudian ia mencari untuk melihat stempel kenabian. Ketika ia melihatnya, ia beriman pada saat itu juga dan mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kisahnya yang terjadi padanya. Ia berkata: “Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk membelinya dari tuannya lalu memerdekakannya.” Kemudian ia berkata: “Aku bertanya kepada beliau suatu hari tentang agama Nasrani, maka beliau bersabda: ‘Tidak ada kebaikan pada mereka.'” Ia berkata: “Maka terlintas dalam hatiku tentang orang-orang yang telah aku temani dan tentang laki-laki shalih yang bersamaku di Baitul Maqdis, dan masuk kepadaku tentang hal itu suatu perkara yang besar hingga Allah menurunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‘Sungguh akan kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang yang musyrik. Dan sungguh akan kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.’ (Al-Ma’idah: 82)” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilku, lalu aku datang dalam keadaan takut dan duduk di hadapan beliau. Beliau membaca: “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” ayat-ayat tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Salman, orang-orang yang engkau temani dan sahabatmu, mereka bukan Nasrani, mereka adalah Muslim.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, ia telah memerintahkanku untuk mengikutimu. Aku berkata kepadanya: ‘Walaupun ia menyuruhku meninggalkan agamamu dan apa yang engkau anut?’ Ia berkata: ‘Ya, tinggalkanlah, karena sesungguhnya kebenaran dan apa yang diridhai Allah ada pada apa yang ia perintahkan kepadamu.'” Dalam kisah ini ada banyak keanehan, dan di dalamnya ada beberapa perbedaan dengan kisah Muhammad bin Ishaq. Jalur Muhammad bin Ishaq lebih kuat sanadnya, lebih baik penuturannya, dan lebih dekat dengan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya dari hadits Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhan At-Taimi dari ayahnya dari Abu Utsman An-Nahdi dari Salman Al-Farisi bahwa ia berpindah-pindah tangan belasan kali dari tuan ke tuan, yaitu dari guru ke guru, dan dari pendidik ke yang sepertinya. Wallahu a’lam.

As-Suhaili berkata: “Ia berpindah tangan tiga puluh tuan dari tuan ke tuan, wallahu a’lam.” Demikian pula Al-Hafizh Abu Nu’aim telah memaparkan secara lengkap kisah keislamannya dalam Ad-Dala’il, dan menyebutkan sanad-sanad dan lafal-lafal yang banyak. Dalam sebagiannya disebutkan bahwa nama nyonya yang membebaskannya melalui perjanjian adalah Hulaisah, wallahu a’lam.

Penyebutan Berita-berita Aneh tentang Hal Itu

Abu Nu’aim berkata dalam Ad-Dala’il: Bercerita kepada kami Sulaiman bin Ahmad, bercerita kepada kami Muhammad bin Zakariya Al-Ghallabi, bercerita kepada kami Al-Ala’ bin Al-Fadhl bin Abdul Malik bin Abi Suwayah Al-Munqari, bercerita kepada kami Abbad bin Kusaib dari ayahnya dari Abu Atwarah Al-Khuza’i dari Sa’r bin Sawadah Al-Amiri, ia berkata: “Aku adalah seorang ajir bagi seorang wanita mulia dari kaum, aku menunggangi untanya yang sulit dan yang jinak, tidak aku tinggalkan negeri yang aku berharap keuntungan dalam perdagangan kecuali aku datangi. Aku kembali dari Syam dengan barang-barang dan perabotan yang ingin aku jual di musim haji dan kepada orang-orang Arab. Aku memasuki Makkah di malam yang gelap, lalu aku tinggal hingga malam meninggalkanku. Aku mengangkat kepalaku dan tiba-tiba ada tenda-tenda yang disejajarkan di puncak-puncak gunung yang dipasang dengan kulit-kulit Thaif, dan ada unta yang disembelih dan lainnya digiring, dan ada orang-orang yang makan dan menyuruh para juru masak dengan tergesa-gesa, mereka berkata: ‘Cepatlah, cepatlah!’ Dan ada seorang laki-laki yang berseru dengan lantang di tempat yang tinggi dari tanah memanggil: ‘Wahai delegasi Allah, datanglah untuk makan pagi!’ Dan ada dua orang di jalan yang berkata: ‘Wahai delegasi Allah, barangsiapa yang telah makan hendaklah pergi untuk makan malam.’ Aku terkejut dengan apa yang aku lihat, lalu aku datang ingin menemui pemimpin kaum. Seorang laki-laki mengerti apa yang terjadi padaku dan berkata: ‘Di depanmu.’ Dan tiba-tiba ada seorang tua seakan-akan di pipinya ada urat-urat yang menonjol dan seakan-akan bintang Syi’ra menyala dari dahinya, telah melilitkan di kepalanya serban hitam yang telah memperlihatkan dari lipatannya rambut lebat seperti biji wijen.” Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Di bawahnya ada kursi dari pohon sus.” “Dan di bawahnya ada bantal, di tangannya ada tongkat yang ia pegang untuk bersandar, di sekelilingnya ada para tetua yang agung menundukkan dagunya, tidak ada seorangpun dari mereka yang berbicara sepatah katapun.”

“Telah sampai kepadaku dari seorang pendeta dari kalangan pendeta Syam bahwa Nabi yang ummi ini waktunya sudah tiba. Ketika aku melihatnya, aku mengira ia adalah orang itu. Aku berkata: ‘Assalamu’alaikum wahai Rasulullah.’ Ia berkata: ‘Tidak, tidak, seakan-akan engkau telah mewakilkannya kepadaku!’ Aku berkata: ‘Siapa orang tua ini?’ Mereka berkata: ‘Ini adalah Abu Nadhlah, ini adalah Hasyim bin Abdul Manaf.’ Aku pergi sambil berkata: ‘Inilah demi Allah kemuliaan, bukan kemuliaan keluarga Jafnah,'” maksudnya adalah raja-raja Arab Syam dari Ghassān yang disebut keluarga Jafnah. Tugas yang diceritakan tentang Hasyim ini adalah ar-rifādah, yaitu memberi makan para jamaah haji pada musim haji.

Abu Nu’aim berkata: Bercerita kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja’far, bercerita kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abi Yahya, bercerita kepada kami Sa’id bin Utsman, bercerita kepada kami Ali bin Qutaibah Al-Khurasani, bercerita kepada kami Khalid bin Ilyas dari Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Al-Jahm dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Aku mendengar Abu Thalib bercerita dari Abdul Muththalib, ia berkata: ‘Ketika aku sedang tidur di Hijr, aku bermimpi yang sangat mengejutkanku, aku sangat ketakutan karenanya. Maka aku mendatangi seorang dukun wanita Quraisy, aku mengenakan jubah sutera dan rambutku menyentuh pundakku. Ketika ia melihatku, ia mengetahui perubahan di wajahku, sedangkan aku pada waktu itu adalah pemimpin kaumku. Ia berkata: “Ada apa dengan tuan kami datang kepada kami dengan wajah yang berubah? Apakah ada sesuatu dari peristiwa zaman yang mengganggunya?” Aku berkata kepadanya: “Ya.” Tidak ada seorangpun yang berbicara dengannya kecuali ia mencium tangan kanannya, kemudian meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian menyebutkan keperluannya. Aku tidak melakukannya karena aku pemimpin kaumku. Aku duduk dan berkata: “Aku melihat tadi malam ketika aku tidur di Hijr seakan-akan sebuah pohon tumbuh yang puncaknya mencapai langit, dan cabang-cabangnya menyentuh timur dan barat. Aku tidak pernah melihat cahaya yang lebih terang darinya, lebih besar dari matahari tujuh puluh kali lipat.”‘”

“‘Aku melihat orang-orang Arab dan Ajam bersujud kepadanya, dan ia semakin bertambah besar, bercahaya, dan tinggi setiap waktu. Kadang ia tersembunyi dan kadang bersinar. Aku melihat sekelompok dari Quraisy telah bergantung pada cabang-cabangnya, dan aku melihat beberapa orang dari Quraisy yang ingin memotongnya. Ketika mereka mendekatinya, seorang pemuda yang belum pernah aku lihat orang yang lebih tampan wajahnya dan lebih harum baunya mengusir mereka, mematahkan punggung mereka dan mencabut mata mereka. Aku mengangkat tanganku untuk mengambil bagian darinya, tetapi pemuda itu mencegahku. Aku berkata: “Untuk siapa bagian ini?” Ia berkata: “Bagian ini untuk orang-orang yang telah bergantung padanya dan mendahuluimu kepadanya.” Maka aku terbangun dengan ketakutan dan kecemasan. Aku melihat wajah dukun wanita itu telah berubah, kemudian ia berkata: “Jika mimpimu benar, sungguh akan keluar dari sulbimu seorang laki-laki yang akan menguasai timur dan barat, dan manusia akan tunduk kepadanya.”‘ Kemudian ia berkata—yaitu Abdul Muththalib—kepada Abu Thalib: ‘Mudah-mudahan engkau adalah anak yang dilahirkan itu.'” Ia berkata: “Abu Thalib biasa menceritakan hadits ini setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilahirkan dan setelah diutus, kemudian berkata: ‘Pohon itu—wallahu a’lam—adalah Abul Qasim Al-Amin.’ Maka dikatakan kepada Abu Thalib: ‘Mengapa engkau tidak beriman?’ Ia berkata: ‘Celaan dan aib.'”

Abu Nu’aim berkata: Bercerita kepada kami Sulaiman bin Ahmad, bercerita kepada kami Muhammad bin Zakariya Al-Ghallabi, bercerita kepada kami Al-Abbas bin Bakkar Adh-Dhabbi, bercerita kepada kami Abu Bakar Al-Hudzali dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Al-Abbas berkata: “Aku keluar berdagang ke Yaman dalam rombongan yang di antaranya ada Abu Sufyan bin Harb. Aku tiba di Yaman dan aku biasa membuat makanan pada suatu hari, dan mengundang Abu Sufyan dan beberapa orang. Abu Sufyan juga membuat makanan pada suatu hari dan melakukan hal yang sama. Ia berkata kepadaku pada hariku ketika aku biasa membuat makanan: ‘Apakah engkau mau wahai Abul Fadhl pergi ke rumahku, dan mengirimkan makan siangmu kepadaku?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Maka aku pergi bersama beberapa orang ke rumahnya, dan aku mengirimkan makanan. Ketika kaum telah makan siang, mereka berdiri dan ia menahan aku. Ia berkata: ‘Apakah engkau tahu wahai Abul Fadhl bahwa anak saudaramu mengaku bahwa ia adalah rasul Allah?’ Aku berkata: ‘Anak saudara yang mana?’ Abu Sufyan berkata: ‘Apakah engkau menyembunyikan dariku? Anak saudara mana yang pantas mengatakan ini kecuali satu orang?!’ Aku berkata: ‘Dan siapakah di antara mereka yang seperti itu?’ Ia berkata: ‘Ia adalah Muhammad bin Abdullah.’ Aku berkata: ‘Ia telah melakukannya.’ Ia berkata: ‘Ya, ia telah melakukannya.’ Ia mengeluarkan sebuah surat dari anaknya Handzhalah bin Abi Sufyan yang isinya: ‘Aku mengabarkan kepadamu bahwa Muhammad berdiri di Abthah dan berkata: “Aku adalah rasul yang menyeru kalian kepada Allah Azza wa Jalla.”‘ Al-Abbas berkata: ‘Aku berkata: “Mungkin wahai Aba Handzhalah ia jujur.” Ia berkata: “Sabar wahai Abul Fadhl, demi Allah aku tidak suka jika ia mengatakan seperti ini. Aku tidak khawatir akan ada bahaya bagiku dari pembicaraan ini. Wahai Bani Abdul Muththalib, sesungguhnya demi Allah Quraisy tidak berhenti mengira bahwa kalian memiliki kelebihan dan kelebihan, masing-masing adalah puncak. Aku bersumpah kepadamu wahai Abul Fadhl, apakah engkau mendengar hal itu?” Aku berkata: “Ya, aku telah mendengar.” Ia berkata: “Inilah demi Allah kemalangan kalian.” Aku berkata: “Mungkin ini keberuntungan kami.” Ia berkata: “Setelah itu tidak ada kecuali beberapa malam hingga Abdullah bin Hudzafah datang dengan berita dan ia adalah mukmin. Berita itu tersebar di majelis-majelis Yaman. Abu Sufyan biasa duduk di sebuah majelis di Yaman yang di dalamnya ada seorang pendeta dari pendeta-pendeta Yahudi.”

“Pendeta Yahudi itu berkata kepadanya: ‘Apa berita ini? Telah sampai kepadaku bahwa di antara kalian ada paman orang yang mengatakan apa yang ia katakan?’ Abu Sufyan berkata: ‘Benar, dan akulah pamannya.’ Pendeta Yahudi berkata: ‘Saudara ayahnya?’ Ia berkata: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Ceritakan kepadaku tentangnya.’ Ia berkata: ‘Jangan tanyakan aku, aku tidak suka ia mengklaim perkara ini selamanya, dan aku tidak suka mencacatnya, padahal yang lain lebih baik darinya.’ Pendeta Yahudi melihat bahwa ia menutupinya dan tidak suka mencacatnya. Pendeta Yahudi berkata: ‘Tidak ada masalah baginya, tidak ada bahaya bagi orang-orang Yahudi, demi Taurat Musa.'” Al-Abbas berkata: “Pendeta itu memanggilku, maka aku datang dan keluar hingga aku duduk di majelis itu keesokan harinya, dan di dalamnya ada Abu Sufyan bin Harb dan pendeta itu. Aku berkata kepada pendeta: ‘Telah sampai kepadaku bahwa engkau bertanya kepada anak pamanku tentang seorang laki-laki dari kami yang mengaku bahwa ia adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu ia mengabarimu bahwa ia adalah pamannya, padahal ia bukan pamannya, tetapi anak pamannya. Dan akulah pamannya dan saudara ayahnya.’ Ia berkata: ‘Saudara ayahnya?’ Aku berkata: ‘Saudara ayahnya.’ Maka ia menghadap kepada Abu Sufyan dan berkata: ‘Benar?’ Ia berkata: ‘Ya, benar.’ Aku berkata: ‘Tanyakan aku, jika aku berdusta maka hendaklah ia membantahku.’ Ia menghadap kepadaku dan berkata: ‘Aku bersumpah kepadamu, apakah anak saudaramu pernah melakukan kekeliruan atau perbuatan bodoh?’ Aku berkata: ‘Tidak, demi Tuhan Abdul Muththalib, dan tidak pernah berdusta dan tidak pernah berkhianat, dan sesungguhnya namanya di kalangan Quraisy adalah Al-Amin (yang dapat dipercaya).’ Ia berkata: ‘Apakah ia pernah menulis dengan tangannya?'” Al-Abbas berkata: “Aku mengira bahwa lebih baik baginya jika ia bisa menulis dengan tangannya, maka aku ingin mengatakannya. Kemudian aku teringat keberadaan Abu Sufyan bahwa ia akan mendustakan aku dan membantahku.”

Aku berkata: Tidak ditulis. Maka bangkitlah pendeta Yahudi itu dan meninggalkan selendangnya, seraya berkata: Yahudi telah disembelih dan dibunuh. Abbas berkata: Ketika kami kembali ke rumah kami, Abu Sufyan berkata: Wahai Abul Fadhl, sesungguhnya orang-orang Yahudi takut kepada keponakanmu? Aku berkata: Engkau telah melihat apa yang engkau lihat, maka apakah engkau mau wahai Abu Sufyan beriman kepadanya? Jika ia benar, engkau telah mendahului orang lain, dan jika ia batil, maka bersamamu ada orang lain dari sederajatmu. Ia berkata: Aku tidak akan beriman kepadanya hingga aku melihat kuda-kuda di Kada (nama sebuah gunung di Makkah). Aku berkata: Apa yang engkau katakan? Ia berkata: Suatu perkataan yang keluar dari mulutku, namun sesungguhnya aku tahu bahwa Allah tidak akan membiarkan kuda-kuda muncul dari Kada. Abbas berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Makkah, dan kami melihat kuda-kuda telah muncul dari Kada, aku berkata: Wahai Abu Sufyan, ingatkah engkau perkataan itu? Ia berkata: Ya demi Allah, sungguh aku mengingatnya, maka segala puji bagi Allah yang telah memberiku petunjuk kepada Islam. Dan ini adalah riwayat yang baik yang memiliki keindahan, cahaya, dan sinar kebenaran, walaupun dalam perawi-perawinya ada yang dipermasalahkan. Wallahu a’lam.

Dan sungguh telah berlalu apa yang kami sebutkan dalam kisah Abu Sufyan bersama Umayyah bin Abi Shalt yang serupa dengan bab ini dan ia termasuk berita-berita yang paling mengagumkan, dan riwayat-riwayat yang paling baik serta di atasnya terdapat cahaya, dan juga akan datang kisah Abu Sufyan bersama Heraklius raja Romawi ketika ia bertanya kepadanya tentang sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan keadaan-keadaannya, serta dalil-dalilnya dengan itu atas kebenaran, kenabian dan kerasulannya, dan ia berkata kepadanya: Aku telah mengetahui bahwa ia akan keluar, tetapi aku tidak menyangka bahwa ia ada di antara kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, niscaya aku akan menanggung kesulitan untuk bertemu dengannya, dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membasuh kedua kakinya, dan sesungguhnya jika apa yang engkau katakan itu benar, maka sungguh ia akan menguasai tempat kedua kakiku ini. Dan demikianlah yang terjadi, segala puji dan karunia bagi Allah.

Dan sungguh Al-Hafizh Abu Nu’aim telah banyak menyebutkan atsar-atsar dan berita-berita dari para rahib, pendeta, dan orang-orang Arab, maka ia memperbanyak, memperpanjang, dan membaguskan serta mempermanis, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.

Kisah Amr bin Murrah Al-Juhani

Ath-Thabrani berkata: Ali bin Ibrahim Al-Khuza’i Al-Ahwazi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Dawud bin Dalhaats bin Ismail bin Abdullah bin Syuraih bin Yasir bin Suwaid shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari ayahnya Dalhaats dari ayahnya Ismail bahwa ayahnya Abdullah menceritakan kepadanya dari ayahnya bahwa ayahnya Yasir bin Suwaid menceritakan kepadanya dari Amr bin Murrah Al-Juhani, ia berkata: Aku berangkat berhaji bersama sekelompok kaumku pada masa Jahiliyah, maka aku melihat dalam mimpiku ketika aku di Makkah cahaya yang memancar dari Ka’bah hingga sampai ke gunung Yatsrib (Madinah) dan Asy’ar Juhaynah, maka aku mendengar suara dari cahaya itu yang berkata: Kegelapan telah hilang, cahaya telah bersinar, dan diutus penutup para nabi. Kemudian cahaya itu bersinar lagi hingga aku melihat istana-istana Al-Hirah dan putihnya Al-Mada’in (ibu kota Persia), dan aku mendengar suara dari cahaya itu yang berkata: Islam telah menang, berhala-berhala telah hancur, dan silaturahmi telah tersambung. Maka aku terbangun dengan terkejut, lalu aku berkata kepada kaumku: Demi Allah, sungguh akan terjadi peristiwa pada kaum Quraisy ini. Dan aku memberitahukan kepada mereka apa yang aku lihat. Ketika kami sampai ke negeri kami, datanglah seorang laki-laki kepadaku yang bernama Ahmad yang telah diutus, maka aku mendatanginya dan mengabarkan kepadanya apa yang aku lihat. Maka ia berkata: Wahai Amr bin Murrah, aku adalah nabi yang diutus kepada seluruh hamba, aku menyeru mereka kepada Islam, dan memerintahkan mereka untuk menjaga darah, menyambung silaturahmi, menyembah Allah, menolak berhala-berhala, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan dari dua belas bulan. Barangsiapa menaati maka baginya surga, dan barangsiapa bermaksiat maka baginya neraka. Maka berimanlah kepada Allah wahai Amr, Allah akan melindungimu dari dahsyatnya neraka Jahannam. Maka aku berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwasanya engkau adalah utusan Allah. Aku beriman dengan apa yang engkau bawa berupa halal dan haram, walaupun hal itu dibenci oleh banyak kaum. Kemudian aku membacakan kepadanya syair-syair yang aku buat ketika aku mendengar tentangnya. Dan kami memiliki berhala yang ayahku menjadi penjaganya, maka aku mendatanginya dan menghancurkannya, kemudian aku bergabung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku berkata:

Aku bersaksi bahwa Allah adalah hak dan sesungguhnya aku … bagi berhala-berhala batu adalah orang pertama yang meninggalkan

Dan aku menyingsingkan kain dari kaki berhijrah … kepadamu melintasi padang pasir setelah dataran-dataran

Untuk menemani sebaik-baik manusia jiwa dan orang tuanya … utusan Raja manusia di atas langit-langit

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Selamat datang kepadamu wahai Amr bin Murrah. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, utuslah aku kepada kaumku, mudah-mudahan Allah memberi karunia kepada mereka melaluiku sebagaimana Dia memberi karunia kepadaku melaluimu. Maka beliau mengutusku kepada mereka, dan bersabda: Hendaklah engkau bersikap lemah lembut dan berkata yang benar, dan janganlah engkau bersikap kasar, sombong, ataupun dengki. Maka disebutkan bahwa ia mendatangi kaumnya dan menyeru mereka kepada apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serukan kepadanya, maka mereka semua masuk Islam kecuali seorang laki-laki di antara mereka, dan bahwa ia datang bersama mereka sebagai utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menyambut mereka dengan gembira dan memberikan salam kepada mereka, dan menulis surat untuk mereka, ini salinannya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat dari Allah atas lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tulisan yang benar dan kebenaran yang berbicara, bersama Amr bin Murrah Al-Juhani untuk Juhaynah bin Zaid: Sesungguhnya bagi kalian perut bumi dan datarnya, dan lembah-lembah serta punggung-punggungnya, kalian menanami tanamannya dan meminum airnya yang jernih, dengan syarat kalian menetapkan seperlima dan shalat lima waktu. Dan pada anak sapi dan kambing betina yang sudah besar, jika keduanya berkumpul maka dua ekor kambing, dan jika keduanya terpisah maka seekor demi seekor. Tidak ada sedekah atas ahli perdagangan dan tidak pula atas yang datang untuk menimba air. Dan bersaksilah atas Nabi kami shallallahu ‘alaihi wasallam orang-orang Muslim yang hadir dengan tulisan Qays bin Syammas.” Dan disebutkan syair yang diucapkan Amr bin Murrah dalam hal itu sebagaimana yang dijelaskan secara luas dalam Musnad Kabir, dan kepada Allah-lah kita berserah diri dan kepada-Nya kita bertawakal.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat (Surat Al-Ahzab: 7). Banyak ahli tafsir berkata: Ketika Allah mengambil perjanjian dari anak cucu Adam pada hari Dia berfirman: Bukankah Aku ini Tuhanmu? (Surat Al-A’raf: 172), Dia mengambil dari para nabi perjanjian khusus, dan menegaskan bersama lima orang ini yang memiliki keteguhan, pemilik syariat-syariat besar, yang pertama mereka adalah Nuh dan terakhir mereka adalah Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua.

Dan sungguh Al-Hafizh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam kitab Dala’il An-Nubuwwah dari beberapa jalur dari Al-Walid bin Muslim, Al-Auza’i menceritakan kepada kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami dari Abu Salamah dari Abu Hurairah: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Kapan kenabian ditetapkan bagimu? Beliau bersabda: Di antara penciptaan Adam dan peniupan ruh padanya. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Tirmidzi dari jalur Al-Walid bin Muslim, dan ia berkata: Hasan gharib dari hadits Abu Hurairah, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.

Dan Abu Nu’aim berkata: Sulaiman bin Ahmad menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ishaq bin Az-Zubair Al-Halabi menceritakan kepada kami, Abu Ja’far An-Nufaili menceritakan kepada kami, Amr bin Waqid menceritakan kepada kami dari Urwah bin Ruwaim dari Ash-Shanabahi, ia berkata: Umar berkata: Wahai Rasulullah, kapan engkau dijadikan nabi? Beliau bersabda: Ketika Adam terbujur dalam tanah liat. Kemudian ia meriwayatkannya dari hadits Nashr bin Muzahim dari Qays bin Ar-Rabi’ dari Jabir Al-Ju’fi dari Asy-Sya’bi dari Ibnu Abbas, ia berkata: Dikatakan: Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi nabi? Beliau bersabda: Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad. Dan dalam hadits yang kami sebutkan dalam kisah Adam ketika Allah mengeluarkan dari tulang punggungnya keturunannya, beliau mengkhususkan para nabi dengan cahaya di antara mata mereka, dan yang zhahir – wallahu a’lam – bahwa itu sesuai dengan kedudukan dan derajat mereka di sisi Allah. Dan jika demikian halnya, maka cahaya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang paling nampak, paling besar, dan paling agung dari mereka semua. Dan ini adalah penghormatan yang besar, dan penjelasan yang nyata atas kemuliaan dan tingginya derajatnya. Dan dalam makna ini adalah hadits yang Imam Ahmad riwayatkan: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Suwaid Al-Kalbi dari Abdul A’la bin Hilal As-Sulami dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku di sisi Allah adalah penutup para nabi ketika Adam masih terbujur dalam tanah liatnya, dan aku akan memberitakan kalian tentang permulaan hal itu, yaitu doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa tentangku, dan mimpi ibuku yang ia lihat, dan demikian pula ibu-ibu para nabi melihat. Dan diriwayatkan oleh Al-Laits, Ibnu Wahb, Abdurrahman bin Mahdi, dan Abdullah bin Shalih dari Mu’awiyah bin Shalih, dan ditambahkan: Sesungguhnya ibunya melihat ketika melahirkannya cahaya yang menerangi istana-istana Syam.

Dan Imam Ahmad berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, Manshur bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Budail dari Abdullah bin Syaqiq dari Maysarah Al-Fajr, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kapan engkau ditetapkan sebagai nabi? Beliau bersabda: Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad. Dan sanadnya baik juga, dan demikian pula diriwayatkan oleh Ibrahim bin Thahman, Hammad bin Zaid, dan Khalid Al-Hadzdza’ dari Budail bin Maysarah dengannya. Dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Muhammad bin Umar bin Aslam dari Muhammad bin Bakr bin Amr Al-Bahili dari Syaiban dari Al-Hasan bin Dinar dari Abdullah bin Syaqiq dari Maysarah Al-Fajr, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi nabi? Beliau bersabda: Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad.

Dan Al-Hafizh Abu Nu’aim berkata dalam kitabnya Dala’il An-Nubuwwah: Abu Amr bin Hamdan menceritakan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami, Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami dari Khulaid bin Da’laj dan Sa’id dari Qatadah dari Al-Hasan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang firman-Nya: Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi (Surat Al-Ahzab: 7), beliau bersabda: Aku adalah yang pertama dari para nabi dalam penciptaan dan terakhir mereka dalam pengutusan. Kemudian ia meriwayatkannya dari jalur Hisyam bin Ammar dari Baqiyyah dari Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Al-Hasan dari Abu Hurairah secara marfu’ sepertinya.

Dan sungguh ia meriwayatkannya dari jalur Sa’id bin Abi Arubah dan Syaiban dari Qatadah, ia berkata: Disebutkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sepertinya. Dan ini lebih tsabit dan lebih shahih. Wallahu a’lam. Dan ini adalah pemberitaan tentang penghormatan dengan menyebutnya di alam atas, dan bahwa ia dikenal dengan itu di antara mereka bahwa ia adalah penutup para nabi, ketika Adam belum ditiupkan ruh padanya, karena ilmu Allah Ta’ala tentang itu mendahului sebelum penciptaan langit dan bumi tanpa keraguan, maka tidak tersisa kecuali ini yang kami sebutkan tentang pemberitahuan tentangnya di alam atas. Wallahu a’lam.

Dan sungguh Abu Nu’aim telah menyebutkan dari hadits Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah hadits yang disepakati: Kami adalah orang-orang yang terakhir tetapi yang mendahului pada hari kiamat yang diputuskan untuk mereka sebelum makhluk-makhluk, dengan tangan mereka telah diberi kitab sebelum kami dan kami diberi setelah mereka. Dan Abu Nu’aim menambahkan di akhirnya: Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang terakhir dari mereka dalam pengutusan dan dengannya kenabian ditutup, dan ia adalah yang mendahului pada hari kiamat karena ia adalah yang pertama ditetapkan dalam kenabian dan perjanjian. Kemudian ia berkata: Maka dalam hadits ini terdapat keutamaan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah telah mewajibkan kenabian baginya sebelum sempurnanya penciptaan Adam. Dan dimungkinkan bahwa kewajiban ini adalah apa yang Allah beritahukan kepada malaikat-malaikat-Nya tentang apa yang telah mendahului dalam ilmu dan ketentuan-Nya, tentang pengutusan-Nya untuknya di akhir zaman. Dan perkataan ini sesuai dengan apa yang kami sebutkan, segala puji bagi Allah.

Dan Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari hadits Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan di dalamnya ada kritikan, dari ayahnya dari kakeknya dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata: Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad agar Engkau ampuni aku. Maka Allah berfirman: Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya? Ia berkata: Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat pada tiang-tiang Arsy tertulis: Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasulullah. Maka aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan pada nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai. Allah berfirman: Benar wahai Adam, sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai, dan karena engkau telah memohon kepada-Ku dengan haknya maka sungguh Aku telah mengampunimu, dan seandainya bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu. Al-Baihaqi berkata: Hanya diriwayatkan olehnya oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ia lemah. Wallahu a’lam.

Dan sungguh Allah Ta’ala berfirman: Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian itu? Mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah dan Aku bersama kamu menjadi saksi. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (Surat Ali Imran: 81-82). Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Allah tidak mengutus seorang nabi pun dari para nabi melainkan Dia mengambil perjanjian darinya, jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dan ia masih hidup, maka ia harus beriman kepadanya dan menolongnya, dan memerintahkannya agar mengambil perjanjian atas umatnya, jika Muhammad diutus sedangkan mereka masih hidup, maka mereka harus beriman kepadanya dan menolongnya.

Ini adalah pemberitahuan dan peringatan tentang kemuliaan dan keagungannya di seluruh umat, dan di lidah para Nabi, serta pemberitahuan kepada mereka dan dari mereka tentang kerasulannya di akhir zaman, dan bahwa dia adalah yang paling mulia dari para Rasul dan penutup para Nabi. Dan telah memperjelas urusannya, mengungkap beritanya, menjelaskan rahasianya, dan menyingkap kejayaan, kelahiran, dan negerinya, Ibrahim Al-Khalil dalam ucapannya alaihis salam ketika selesai dari membangun Baitullah “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Al-Baqarah: 129). Maka yang pertama kali menjelaskan urusannya secara terang dan jelas di antara penduduk bumi adalah di lidah Ibrahim Al-Khalil, Nabi yang paling mulia di sisi Allah setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan atas seluruh para Nabi. Dan karena ini Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj yaitu Ibnu Fadhalah, telah menceritakan kepada kami Luqman bin Amir, aku mendengar Abu Umamah berkata: aku bertanya: Wahai Nabi Allah, apakah permulaan urusanmu? Beliau menjawab: “Doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa, dan ibuku melihat bahwa keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Syam.” Hadits ini diriwayatkan tersendiri oleh Imam Ahmad, dan tidak ada seorangpun dari pemilik kitab yang enam yang mengeluarkannya. Dan meriwayatkan Al-Hafizh Abu Bakr bin Abi Ashim dalam kitab Al-Maulid dari jalur Baqiyyah dari Shafwan bin Amr, dari Hajar bin Hajar, dari Abu Maryam bahwa seorang Arab Badui berkata: Wahai Rasulullah, apakah yang pertama dari urusan kenabian engkau? Maka beliau bersabda: “Allah mengambil perjanjian dariku sebagaimana Dia mengambil dari para Nabi perjanjian mereka, dan ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat dalam mimpinya bahwa keluar dari antara kedua kakinya pelita yang menerangi istana-istana Syam.”

Dan berkata Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar: telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa mereka berkata: Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang dirimu. Beliau bersabda: “Doa ayahku Ibrahim, dan kabar gembira Isa, dan ibuku melihat ketika mengandung seakan-akan keluar darinya cahaya yang menerangi Bushra dari negeri Syam.” Sanadnya juga baik, dan di dalamnya kabar gembira untuk penduduk kota kami negeri Bushra, bahwa ia adalah tempat pertama dari negeri Syam yang sampai kepadanya cahaya kenabian, dan segala puji dan nikmat bagi Allah. Dan karena ini ia adalah kota pertama yang dibuka dari negeri Syam dan pembukaannya secara damai dalam khilafah Abu Bakar radhiyallahu anhu sebagaimana akan datang penjelasannya. Dan sungguh telah mendatanginya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dua kali dalam perjalanan bersama pamannya Abu Thalib dan beliau berumur dua belas tahun. Dan di sana terjadi kisah Bahira Ar-Rahib sebagaimana telah kami jelaskan. Dan yang kedua, bersama Maisarah budak Khadijah dalam perdagangan untuknya. Dan di sana tempat berhentinya unta yang dikatakan: bahwa unta Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhenti di atasnya sehingga meninggalkan bekas di sana, menurut yang disebutkan. Kemudian dipindahkan dan dibangun di atasnya masjid yang terkenal hari ini. Dan ia adalah kota yang leher-leher unta bercahaya di sana dari cahaya api yang keluar dari tanah Hijaz tahun enam ratus lima puluh empat, sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Akan keluar api dari tanah Hijaz yang akan menerangi leher-leher unta di Bushra.” Dan akan datang pembahasan tentang itu di tempatnya insya Allah, dan kepada-Nya kepercayaan, dan kepada-Nya tawakkal.

Dan Allah Taala berfirman “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat makruf dan melarang mereka dari berbuat mungkar dan menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157). Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Ismail dari Al-Jurairi dari Abu Shakhr Al-Aqili, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari orang Arab Badui, dia berkata: aku membawa barang dagangan ke Madinah dalam masa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ketika aku selesai dari jual beliku aku berkata: aku akan menemui orang ini dan mendengar darinya. Dia berkata: maka aku bertemu dengannya di antara Abu Bakar dan Umar yang sedang berjalan, lalu aku mengikuti mereka hingga mereka mendatangi seorang laki-laki dari Yahudi yang membuka Taurat membacanya, menghibur dirinya tentang anaknya yang meninggal sebagai pemuda yang paling tampan dan paling gagah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku bertanya kepadamu dengan Yang menurunkan Taurat, apakah kamu mendapati dalam kitabmu ini sifatku dan tempat keluarku?” Maka dia berkata dengan kepalanya begini, yaitu: tidak. Maka anaknya berkata: “Ya, demi Yang menurunkan Taurat, sesungguhnya kami mendapati dalam kitab kami sifatmu dan tempat keluarmu, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.” Maka beliau bersabda: “Jauhkan Yahudi itu dari saudara kalian.” Kemudian beliau mengurus mengkafaninya dan menshalatkannya. Ini sanad yang baik, dan ada penguat-penguatnya dalam Shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

Dan berkata Abu Al-Qasim Al-Baghawi: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ghiyats Abu Bahr, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Al-Faltan bin Ashim, dan dia menyebutkan bahwa pamannya berkata: aku sedang duduk di sisi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang laki-laki, ternyata seorang Yahudi yang mengenakan baju dan celana dan sandal. Dia berkata: maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mulai berbicara dengannya dan dia berkata: Wahai Rasulullah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Dia berkata: tidak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu membaca Taurat?” Dia berkata: ya. Beliau bersabda: “Apakah kamu membaca Injil?” Dia berkata: ya. Beliau bersabda: “Dan Al-Quran?” Jika kamu mau aku membacanya. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Lalu dengan apa kamu membaca Taurat dan Injil, apakah kamu mendapatiku sebagai Nabi?” Dia berkata: “Kami mendapati sifatmu dan tempat keluarmu, ketika kamu keluar kami berharap bahwa kamu akan ada di antara kami, ketika kami melihatmu kami mengenali bahwa kamu bukan dia.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mengapa wahai Yahudi?” Dia berkata: “Kami mendapatinya tertulis akan masuk dari umatnya surga tujuh puluh ribu tanpa hisab dan tidak kami lihat bersamamu kecuali orang yang sedikit.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya umatku lebih banyak dari tujuh puluh ribu dan tujuh puluh ribu.” Ini hadits gharib dari jalur ini, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Dan berkata Muhammad bin Ishaq: dari Salim budak Abdullah bin Muthi’ dari Abu Hurairah dia berkata: datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam orang-orang Yahudi, maka beliau bersabda: “Keluarkan yang paling alim kalian.” Mereka berkata: Abdullah bin Shuriya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyendiri dengannya dan meminta dengan agamanya dan apa yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, dan memberi makan mereka dari manna dan salwa, dan menaungi mereka dari awan: “Apakah kamu mengetahui aku sebagai Rasulullah?” Dia berkata: “Ya Allah. Dan sesungguhnya kaum itu mengetahui apa yang aku ketahui, dan sesungguhnya sifatmu dan ciri-cirimu jelas dalam Taurat, tetapi mereka dengki kepadamu.” Beliau bersabda: “Lalu apa yang menghalangimu?” Dia berkata: “Aku tidak suka menyelisihi kaumku, dan mudah-mudahan mereka akan mengikutimu dan masuk Islam,” maka dia masuk Islam. Dan berkata Salamah bin Al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: menulis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Yahudi Khaibar: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah sahabat Musa dan saudaranya dan yang membenarkan apa yang dibawa oleh Musa. Ketahuilah bahwa Allah berfirman kepada kalian: Wahai golongan Yahudi, dan ahli Taurat, sesungguhnya kalian mendapati itu dalam kitab kalian ‘Bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat mereka dalam Taurat dan sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan benih itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.’ (Al-Fath: 29). Dan sesungguhnya aku meminta kepada kalian dengan Allah, dan dengan apa yang diturunkan kepada kalian, dan aku meminta kepada kalian dengan Yang memberi makan kepada siapa yang sebelum kalian dari nenek moyang kalian dan suku-suku kalian manna dan salwa, dan aku meminta kepada kalian dengan Yang mengeringkan lautan untuk bapak-bapak kalian hingga menyelamatkan kalian dari Firaun dan perbuatannya, kecuali kalian memberitahukan kami: apakah kalian mendapati di dalam apa yang diturunkan Allah kepada kalian bahwa kalian beriman kepada Muhammad? Maka jika kalian tidak mendapati itu dalam kitab kalian maka tidak ada paksaan atas kalian, ‘Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari yang sesat.’ Dan aku menyeru kalian kepada Allah dan kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam.”

Dan telah menyebutkan Ishaq bin Bisyr dalam kitab Al-Mubtada dari Sa’id bin Busyair dari Qatadah dari Ka’ab Al-Ahbar, dan meriwayatkan selain dia dari Wahb bin Munabbih bahwa Bukhtanashshar setelah dia menghancurkan Baitul Maqdis, dan merendahkan Bani Israel selama tujuh tahun, dia melihat dalam mimpinya mimpi yang besar yang menakutkannya, maka dia mengumpulkan para dukun dan peramal dan bertanya kepada mereka tentang mimpinya itu. Mereka berkata: “Hendaknya raja menceritakannya hingga kami memberitahukan kepadanya takwilnya.” Maka dia berkata: “Sesungguhnya aku lupa, dan jika kalian tidak memberitahuku tentangnya hingga tiga hari aku akan membunuh kalian sampai terakhir.” Maka mereka pergi dalam ketakutan dan kegelisahan dari ancamannya. Maka mendengar tentang itu Daniyal alaihis salam dan dia dalam penjara, maka dia berkata kepada sipir penjara: “Pergilah kepadanya dan katakan kepadanya: sesungguhnya ada di sini seorang laki-laki yang ada padanya ilmu mimpimu dan takwilnya.” Maka dia pergi kepadanya lalu memberitahunya, maka dia memintanya. Ketika dia masuk kepadanya dia tidak bersujud kepadanya. Maka dia berkata kepadanya: “Apa yang menghalangimu dari bersujud kepadaku?” Maka dia berkata: “Sesungguhnya Allah memberi aku ilmu, dan memerintahku agar tidak bersujud kepada selain-Nya.” Maka Bukhtanashshar berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku mencintai orang-orang yang menepati janji kepada tuhan-tuhan mereka, maka beritahukan kepadaku tentang mimpiku.” Daniyal berkata kepadanya: “Engkau melihat patung yang besar, kedua kakinya di bumi dan kepalanya di langit, bagian atasnya dari emas, dan tengahnya dari perak, dan bagian bawahnya dari tembaga, dan kedua betisnya dari besi, dan kedua kakinya dari tanah liat. Ketika engkau sedang melihatnya dan mengagumi keindahan dan kesempurnaan pembuatannya, Allah melemparkannya dengan batu dari langit lalu jatuh di puncak kepalanya hingga menghancurkannya, dan bercampur emas, perak, tembaga, besi dan tanah liatnya hingga tergambar kepadamu bahwa seandainya berkumpul manusia dan jin untuk memisahkan sebagiannya dari sebagian tidak akan mampu melakukan itu, dan engkau melihat batu yang dilemparkan padanya tumbuh dan membesar dan menyebar hingga memenuhi seluruh bumi sehingga engkau tidak melihat kecuali batu dan langit.” Maka Bukhtanashshar berkata kepadanya: “Engkau benar, ini mimpi yang aku lihat, lalu apa takwilnya?”

Maka Daniyal berkata: “Adapun patung, maka ia adalah umat-umat yang berbeda di awal zaman dan di tengahnya, dan di akhirnya. Dan adapun batu yang dilemparkan pada patung, maka ia adalah agama yang dilemparkan Allah dengannya umat-umat ini di akhir zaman lalu menampakkannya atas mereka. Maka Allah akan mengutus Nabi yang ummi dari bangsa Arab, lalu Dia menaklukkan dengannya umat-umat dan agama-agama, sebagaimana engkau melihat batu menaklukkan jenis-jenis patung, dan menampakkannya atas agama-agama dan umat-umat, sebagaimana engkau melihat batu tampak atas seluruh bumi, maka Allah akan memurnikan dengannya kebenaran, dan melenyapkan dengannya kebatilan, dan memberi petunjuk dengannya ahli kesesatan, dan mengajarkan dengannya orang-orang yang buta huruf, dan menguatkan dengannya orang-orang yang lemah, dan memuliakan dengannya orang-orang yang hina, dan menolong dengannya orang-orang yang tertindas.” Dan menyebutkan sisa kisah dalam pembebasan Bukhtanashshar Bani Israel atas tangan Daniyal alaihis salam. Dan menyebutkan Al-Waqidi dengan sanad-sanadnya dari Al-Mughirah bin Syu’bah dalam kisah kedatangannya kepada Al-Muqauqis raja Iskandariah, dan pertanyaannya kepadanya tentang sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hampir seperti pertanyaan Heraklius kepada Abu Sufyan Shakhr bin Harb, dan menyebutkan bahwa dia bertanya kepada para uskup Nasrani di gereja-gereja tentang sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan mereka memberitahukan kepadanya tentang itu, dan ini kisah yang panjang yang disebutkan oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il. Dan tetap dalam Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati sekolah-sekolah Yahudi maka beliau bersabda kepada mereka: “Wahai golongan Yahudi, masuklah Islam, maka demi Yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya kalian benar-benar mendapati sifatku dalam kitab-kitab kalian.” Hadits.

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari Hilal bin Ali dari Atha’ bin Yasar dia berkata: aku bertemu Abdullah bin Amr bin Al-Ash, maka aku berkata: “Beritahukan kepadaku tentang sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam Taurat.” Maka dia berkata: “Ya, demi Allah sesungguhnya dia benar-benar disifatkan dalam Taurat dengan sifatnya dalam Al-Quran ‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu menjadi saksi, dan pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan’ (Al-Ahzab: 45), dan benteng untuk orang-orang yang buta huruf, dan engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku beri nama engkau Al-Mutawakkil (yang bertawakkal), tidak kasar dan tidak keras dan tidak berteriak-teriak di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan mengampuni, dan Aku tidak akan mencabutnya hingga mereka menegakkan agama yang bengkok, dengan mengucapkan: tidak ada tuhan selain Allah. Akan dibukakan dengannya mata-mata yang buta dan telinga-telinga yang tuli dan hati-hati yang tertutup.” Dan meriwayatkannya Al-Bukhari dari Muhammad bin Sinan Al-Aufi dari Fulaih dengannya. Dan meriwayatkannya juga dari Abdullah – dikatakan: Ibnu Raja’, dan dikatakan: Ibnu Shalih – dari Abdul Aziz bin Abi Salamah dari Hilal bin Ali dengannya, dan lafazhnya dekat dari ini, dan di dalamnya tambahan.

Dan meriwayatkannya Ibnu Jarir dari hadits Fulaih dari Hilal dari Atha’ dan menambahkan: berkata Atha’: maka aku bertemu Ka’ab lalu aku bertanya kepadanya tentang itu, maka tidak berbeda satu huruf pun. Dan berkata dalam Al-Buyu’: dan berkata Sa’id dari Hilal dari Atha’ dari Abdullah bin Salam. Berkata Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqi: memberitahukan kepada kami Abu Al-Husain bin Al-Mufaddhal Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abi Hilal dari Hilal bin Usamah dari Atha’ bin Yasar dari Ibnu Salam bahwa dia berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar mendapati sifat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ‘Sesungguhnya Kami mengutusmu menjadi saksi, dan pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan,’ dan benteng untuk orang-orang yang buta huruf, engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku beri nama engkau Al-Mutawakkil, bukan kasar dan tidak keras dan tidak berteriak-teriak di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan dengan semisalnya, tetapi memaafkan dan mengampuni, dan Aku tidak akan mencabutnya hingga dia menegakkan agama yang bengkok, dengan mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Akan dibukakan dengannya mata-mata yang buta dan telinga-telinga yang tuli dan hati-hati yang tertutup.” Dan berkata Atha’ bin Yasar, dan memberitahukan kepadaku Al-Laitsi bahwa dia mendengar Ka’ab Al-Ahbar berkata seperti apa yang dikatakan Ibnu Salam.

Aku berkata: dan ini dari Abdullah bin Salam lebih mirip, tetapi riwayat dari Abdullah bin Amr lebih banyak, dengan bahwa dia telah menemukan pada hari Yarmuk dua kantong dari kitab-kitab ahli Kitab dan dia banyak menceritakan darinya, dan hendaknya diketahui bahwa banyak dari Salaf yang memutlakkan Taurat pada kitab-kitab ahli Kitab, maka ia pada mereka lebih umum dari yang diturunkan Allah kepada Musa, dan sungguh telah tetap bukti itu dari hadits.

Dan berkata Yunus dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Tsabit bin Syarahbil dari Ummu Darda, ia berkata: Aku berkata kepada Ka’ab Al-Ahbar: Bagaimana kalian menemukan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Taurat? Ia berkata: Kami menemukannya Muhammad Rasulullah, namanya Al-Mutawakkil (yang bertawakal), tidak kasar, tidak keras, dan tidak berteriak-teriak di pasar-pasar, dan diberikan kepadanya kunci-kunci maka Allah membukakan dengannya mata-mata yang buta, mendengarkan telinga-telinga yang tuli, dan menegakkan dengannya lidah-lidah yang bengkok hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, ia menolong orang yang teraniaya dan melindunginya. Dan telah diriwayatkan dari Ka’ab dari jalur selain ini. Dan telah meriwayatkan Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Abu Al-Walid Al-Faqih dari Al-Hasan bin Sufyan, telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Mukrim, telah menceritakan kepada kami Abu Qathan Amr bin Al-Haitsam, telah menceritakan kepada kami Hamzah Az-Zayyat dari Sulaiman Al-A’masy dari Ali bin Mudrik dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah tentang ayat dan kamu tidak berada di lereng gunung Thur ketika Kami menyeru (Qs. Al-Qashash: 46), ia berkata: mereka diseru: Wahai umat Muhammad, Aku telah mengabulkan bagi kalian sebelum kalian berdoa kepada-Ku, dan Aku telah memberi kalian sebelum kalian meminta kepada-Ku.

Dan menyebutkan Wahb bin Munabbih bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Dawud dalam Zabur: Wahai Dawud, sesungguhnya akan datang setelahmu seorang nabi yang namanya Ahmad dan Muhammad, seorang yang jujur dan pemimpin, Aku tidak akan murka kepadanya selama-lamanya dan ia tidak akan memurkai-Ku selama-lamanya, dan sungguh telah Aku ampuni baginya sebelum ia bermaksiat kepada-Ku apa yang telah lalu dari dosanya dan apa yang akan datang, dan umatnya adalah umat yang dirahmati, Aku telah memberi mereka dari amalan-amalan sunnah seperti apa yang Aku berikan kepada para nabi, dan Aku wajibkan atas mereka kewajiban-kewajiban yang telah Aku wajibkan atas para nabi dan rasul hingga mereka datang kepada-Ku pada hari kiamat dan cahaya mereka seperti cahaya para nabi. Hingga ia berkata: Wahai Dawud, sesungguhnya Aku telah mengutamakan Muhammad dan umatnya atas semua umat.

Dan pengetahuan bahwa ia disebutkan dalam kitab-kitab Ahli Kitab adalah termasuk yang diketahui dari agama secara pasti, dan telah menunjukkan hal itu ayat-ayat yang banyak dalam Al-Quran Al-Karim yang telah kami bicarakan di tempat-tempatnya, dan bagi Allah segala pujian. Di antaranya firman-Nya: orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka sebelumnya, mereka beriman kepadanya. Dan apabila dibacakan kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri sebelumnya” (Qs. Al-Qashash: 52-53). Dan Allah Ta’ala berfirman: orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (Qs. Al-Baqarah: 146). Dan Allah Ta’ala berfirman: sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (Qs. Al-Isra: 107-108), yakni: sesungguhnya janji Tuhan kami tentang keberadaan Muhammad dan pengutusan beliau pasti terjadi tidak terelakkan, maka Maha Suci Yang Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang menghalangi-Nya sedikitpun.

Dan Allah Ta’ala berfirman sebagai kabar tentang para pendeta dan rahib: dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menyaksikan” (Qs. Al-Ma’idah: 83). Dan dalam kisah Najasyi, Salman, Abdullah bin Salam dan lain-lain sebagaimana akan datang, terdapat banyak bukti untuk makna ini, dan bagi Allah segala pujian dan karunia.

Dan kami telah menyebutkan dalam uraian kisah-kisah para nabi, apa yang telah disebut sebelumnya berupa isyarat mereka tentang pengutusannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sifat beliau serta negeri tempat kelahiran beliau dan tempat hijrah beliau, dan sifat umat beliau dalam kisah Musa, Asy’iya, Irmiya, Danyal dan lain-lain. Dan Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang nabi terakhir Bani Israil dan penutup mereka, Isa putra Maryam, bahwa ia berdiri di hadapan Bani Israil sebagai khatib berkata kepada mereka: sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan apa yang sebelumku dari Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, namanya Ahmad (Qs. Ash-Shaff: 6). Dan dalam Injil terdapat kabar gembira tentang Barqalith yang dimaksud dengannya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan meriwayatkan Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus bin Bukair dari Yunus bin Amr dari Al-Izar bin Harb dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tertulis dalam Injil: tidak kasar, tidak keras, tidak berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan yang serupa tetapi ia memaafkan dan memberi maaf.”

Dan berkata Ya’qub bin Sufyan: telah menceritakan kepada kami Faidh Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Salam bin Miskin dari Muqatil bin Hayyan, ia berkata: Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Isa putra Maryam: “Bersungguh-sungguhlah dalam urusan-Ku, dan dengarlah serta taatlah wahai putra yang suci, perawan, murni. Aku menciptakanmu tanpa ayah lalu menjadikanmu sebagai tanda bagi seluruh alam, maka kepada-Ku hendaknya engkau beribadah. Sampaikanlah kepada penduduk Suran dengan bahasa Suryani, sampaikan kepada orang-orang di hadapanmu bahwa Aku adalah Kebenaran yang tegak berdiri yang tidak akan lenyap. Percayalah kepada nabi yang ummi, Arab, pemilik unta, memakai baju besi dan surban yaitu mahkota, memakai sandal dan tongkat yaitu pentungan, keriting rambutnya, rata dahinya, bersambung alisnya, lebar matanya, lebat bulu matanya, hitam pekat matanya, mancung hidungnya, jelas pipinya, lebat janggutnya, keringatnya di wajahnya seperti mutiara, aroma minyak kesturi mengalir darinya, seolah-olah lehernya teko perak dan seolah-olah emas mengalir di tenggorokannya, baginya terdapat rambut dari dadanya sampai pusarnya mengalir seperti tongkat, tidak ada rambut di perutnya selain itu, besar telapak tangan dan kakinya, jika ia datang bersama orang banyak ia melampaui mereka, dan jika ia berjalan seolah-olah ia tercabut dari batu dan turun dari lereng, memiliki keturunan yang sedikit.” Dan seolah-olah ia bermaksud anak laki-laki dari sulbi beliau. Demikianlah diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah dari jalur Ya’qub bin Sufyan.

Dan meriwayatkan Al-Baihaqi dari Umar bin Al-Hakam bin Rafi’ bin Sinan, telah menceritakan kepadaku sebagian paman-pamanku dan ayah-ayahku bahwa mereka memiliki sebuah lembaran yang mereka wariskan di masa Jahiliyyah hingga Allah mendatangkan Islam dan lembaran itu ada pada mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka menyebutkannya kepada beliau dan mendatangi beliau dengannya, tertulis di dalamnya: Dengan nama Allah dan perkataan-Nya adalah kebenaran, dan perkataan orang-orang zalim dalam kebinasaan, ini adalah peringatan bagi suatu umat yang datang di akhir zaman, mereka menurunkan ujung pakaian mereka dan memakai sarung di pinggang mereka, dan menyeberangi lautan menuju musuh-musuh mereka. Pada mereka ada shalat yang seandainya ada pada kaum Nuh niscaya mereka tidak dibinasakan dengan banjir, dan pada kaum Aad niscaya mereka tidak dibinasakan dengan angin, dan pada kaum Tsamud niscaya mereka tidak dibinasakan dengan teriakan yang keras. Dengan nama Allah dan perkataan-Nya adalah kebenaran, dan perkataan orang-orang zalim dalam kebinasaan. Kemudian ia menyebutkan kisah lain, ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam takjub ketika dibacakan kepadanya karena apa yang ada di dalamnya.

Dan kami telah menyebutkan pada firman-Nya Ta’ala dalam surah Al-A’raf: yang mereka dapati tertulis pada mereka dalam Taurat dan Injil (Qs. Al-A’raf: 157), kisah Hisyam bin Al-Ash Al-Umawi ketika diutus oleh Ash-Shiddiq dalam pasukan kecil menuju Heraklius, mengajaknya kepada Allah Azza wa Jalla. Ia menyebutkan bahwa ia mengeluarkan untuk mereka gambar-gambar para nabi dalam ukuran kecil, dari Adam hingga Muhammad, shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka semua, sesuai sifat dan bentuk yang mereka miliki. Kemudian ia menyebutkan bahwa ketika ia mengeluarkan gambar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Kemudian ia duduk dan terus melihat dan memperhatikannya. Ia berkata: Kami berkata kepadanya: Dari mana engkau mendapatkan gambar-gambar ini? Ia berkata: Sesungguhnya Adam meminta kepada Tuhannya agar diperlihatkan kepadanya para nabi dari keturunannya, maka Allah menurunkan kepadanya gambar-gambar mereka. Gambar-gambar itu berada dalam perbendaharaan Adam alaihissalam di tempat terbenamnya matahari, lalu Dzulqarnain mengeluarkannya dan menyerahkannya kepada Danyal. Kemudian ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya jiwaku telah rela untuk keluar dari kerajaanku, dan seandainya aku menjadi budak bagi yang paling rendah dari kalian sebagai seorang raja sampai aku mati. Kemudian ia memberi hadiah kepada kami dan memberikan hadiah yang baik kepada kami dan melepaskan kami.

Ketika kami mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu menceritakan kepadanya tentang apa yang kami lihat dan apa yang ia hadiahkan kepada kami dan apa yang ia katakan kepada kami. Ia berkata: Maka Abu Bakar menangis dan berkata: Kasihan, seandainya Allah menghendaki kebaikan baginya niscaya Dia lakukan. Kemudian ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kami bahwa mereka dan Yahudi menemukan sifat Muhammad pada mereka. Diriwayatkan oleh Al-Hakim secara lengkap, dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah.

Dan berkata Al-Umawi: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ziyad dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Abdullah bin Ja’far bin Amr bin Umayyah dari ayahnya dari kakeknya Amr bin Umayyah, ia berkata: Aku datang dengan budak-budak dari Najasyi yang ia berikan kepadaku, maka mereka berkata kepadaku: Wahai Amr, seandainya kami melihat Rasulullah niscaya kami mengenalnya tanpa engkau memberitahu kami. Lalu Abu Bakar lewat, aku berkata: Apakah ini dia? Mereka berkata: Tidak. Lalu Umar lewat, aku berkata: Apakah ini dia? Mereka berkata: Tidak. Lalu kami masuk ke rumah maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat, mereka memanggilku: Wahai Amr, ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku melihat ternyata benar-benar beliau, tanpa ada seorang pun yang memberitahu mereka, mereka mengenalnya dengan apa yang mereka dapati tertulis pada mereka.

Dan telah disebutkan sebelumnya peringatan Saba kepada kaumnya, dan kabar gembira beliau kepada mereka tentang keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam syair yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam biografinya sehingga tidak perlu diulang, dan telah disebutkan perkataan dua orang ahli dari Yahudi kepada Tubba’ Al-Yamani, ketika ia mengepung penduduk Madinah bahwa Madinah adalah tempat hijrah seorang nabi yang akan ada di akhir zaman, maka ia mundur darinya, dan menggubah syair yang mencakup salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kisah Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari, dan kabar gembira beliau tentang Nabi yang ummi

Dan berkata Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin Sahl Al-Khara’ithi dalam kitabnya Hawatif Al-Jann: telah menceritakan kepada kami Ali bin Harb, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman bin Hakim, telah menceritakan kepada kami Amr bin Bakr – yaitu Ibnu Bakkar Al-Qa’nabi – dari Ahmad bin Al-Qasim dari Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Ketika Saif bin Dzi Yazan – berkata Ibnu Al-Mundzir: dan namanya adalah An-Nu’man bin Qais – menang atas Habasyah, dan itu setelah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua tahun, datanglah kepadanya utusan-utusan Arab dan para penyairnya, memberi selamat dan memujinya serta menyebutkan apa yang telah ia lakukan dengan baik. Dan datanglah kepadanya di antara yang datang utusan Quraisy, di antaranya Abdul Muththalib bin Hasyim, Umayyah bin Abdi Syams, Abdullah bin Jud’an, Khuwailid bin Asad bersama beberapa orang dari pembesar Quraisy. Mereka mendatanginya di Shan’a, ternyata ia berada di puncak Ghamdan yang disebutkan oleh Umayyah bin Abi Ash-Shalt: Minumlah dengan nikmat atasmu mahkota yang ditinggikan, di puncak Ghamdan sebagai tempat tinggal bagimu yang kokoh.

Maka masuklah penjaga kepada beliau lalu mengabarkan kepada beliau tentang keberadaan mereka, lalu ia mengizinkan mereka. Maka Abdul Muththalib mendekat lalu meminta izin kepadanya untuk berbicara, maka ia berkata kepadanya: Jika engkau termasuk orang yang berbicara di hadapan raja-raja maka kami telah mengizinkanmu. Maka Abdul Muththalib berkata kepadanya: Sesungguhnya Allah telah menempatkanmu wahai raja di tempat yang tinggi, sulit, kokoh, menjulang tinggi, dan menumbuhkanmu di tempat tumbuh yang baik pondasinya, mulia asal-usulnya, kokoh akarnya, dan menjulang cabangnya, di tempat paling mulia dan tambang paling baik. Maka engkau – semoga engkau terlindung dari celaan – adalah raja Arab, dan musim semi mereka yang dengan beliau negeri-negeri menjadi subur, dan kepala Arab yang kepadanya tunduk, dan tiang mereka yang atasnya sandaran, dan benteng mereka yang kepadanya rakyat berlindung, dan pendahulu engkau adalah sebaik-baik pendahulu, dan engkau bagi kami dari mereka adalah sebaik-baik pengganti. Maka tidak akan padam api orang yang mereka adalah pendahulunya, dan tidak akan binasa orang yang engkau adalah penggantinya. Dan kami wahai raja adalah ahli Haram Allah, dan penjaga rumah-Nya, apa yang menggembirakan kami dari penyingkapanmu terhadap kesusahan yang telah memberatkan kami, telah menggerakkan kami kepadamu, sebagai utusan pemberi selamat bukan utusan yang meminta belasungkawa. Ia berkata: Dan siapakah engkau wahai yang berbicara? Ia berkata: Aku Abdul Muththalib bin Hasyim. Ia berkata: Putra bibi kami? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Mendekatlah. Maka ia mendekatkannya kemudian menghadap kepadanya dan kepada kaum tersebut lalu berkata: Selamat datang dan salam sejahtera dan unta dan tunggangannya dan tempat menghentikan unta yang mudah, dan raja yang menguntungkan, memberi pemberian yang banyak, raja telah mendengar perkataan kalian, dan mengetahui kekerabatan kalian, dan menerima perantaraan kalian. Maka kalian adalah ahli malam dan siang, dan bagi kalian kemuliaan selama kalian tinggal dan hadiah ketika kalian berangkat. Kemudian pergilah ke rumah kemuliaan dan utusan-utusan. Maka mereka tinggal sebulan tidak dapat berjumpa dengannya dan tidak diizinkan untuk pulang.

Kemudian ia bangun untuk mereka dengan perhatian, lalu mengutus kepada Abdul Muththalib, mendekatkan tempat duduknya dan mengasingkannya, kemudian berkata: Wahai Abdul Muththalib, sesungguhnya aku akan menyampaikan kepadamu dari rahasia ilmuku, sesuatu yang seandainya selain engkau niscaya tidak aku ungkapkan, tetapi aku melihat engkau adalah tempatnya, maka aku mengabarkannya kepadamu sebagai berita. Jadikanlah itu tersimpan padamu hingga Allah mengizinkannya karena sesungguhnya Allah Maha melaksanakan urusan-Nya. Sesungguhnya aku mendapati dalam kitab yang tersimpan dan ilmu yang terjaga yang kami pilih untuk diri kami sendiri, dan kami tutup dari selain kami, kebaikan yang besar, dan urusan yang agung. Di dalamnya kemuliaan kehidupan, dan keutamaan kematian bagi manusia secara umum dan bagi kaummu secara menyeluruh dan bagimu secara khusus.

Maka Abdul Muthalib berkata: Wahai Raja, engkau seperti yang menyembunyikan dan berbuat baik, apa itu? Tebuslah dengan penduduk padang gurun secara bergelombang. Raja berkata: Jika lahir seorang bayi di Tihamah, seorang anak laki-laki yang padanya ada tanda, di antara kedua bahunya ada tanda lahir, maka baginya kepemimpinan, dan bagi kalian bersamanya kepemimpinan hingga hari kiamat. Abdul Muthalib berkata: Semoga engkau terhindar dari celaan, sungguh engkau telah menginap dengan kebaikan yang datang padanya sebagai utusan, dan seandainya bukan karena kehormatan Raja dan penghormatan serta pengagungan terhadapnya, sungguh aku akan bertanya kepadanya tentang apa yang membuatku semakin gembira. Ibnu Dzi Yazan berkata: Ini adalah waktunya dia akan dilahirkan, atau sudah dilahirkan dan namanya Muhammad, ayahnya dan ibunya akan meninggal, kakek dan pamannya akan mengasuhnya, kami telah melahirkannya berulang kali dan Allah akan mengutusnya secara terang-terangan, dan menjadikan baginya dari kami para penolong, dengannya Dia akan memuliakan para walinya, dan dengannya Dia akan menghinakan musuh-musuhnya, dan dengannya dia akan memukul manusia dari segala penjuru, dan dengannya dia akan menghalalkan tempat-tempat termulia di bumi, dia akan menghancurkan berhala-berhala, dan memadamkan api-api, dan menyembah Yang Maha Pengasih dan mengusir setan, perkataannya tegas dan keputusannya adil, dia menyuruh kepada kebaikan dan melakukannya, dan melarang dari kemungkaran dan membatalkannya.

Maka Abdul Muthalib berkata: Wahai Raja, mulia kebesaranmu, tinggi kedudukanmu, langgeng kerajaanmu, dan panjang umurmu, maka ini adalah berita gembiraku, apakah Raja memberitahuku dengan jelas, karena telah jelas bagiku sebagian penjelasannya. Maka Ibnu Dzi Yazan berkata: Demi Baitullah yang bertirai dan tanda-tanda di atas naqab, sesungguhnya engkau wahai Abdul Muthalib adalah kakeknya tanpa dusta. Maka Abdul Muthalib sujud. Lalu dia berkata: Angkat kepalamu, legakah dadamu, dan tinggi urusanmu, apakah engkau merasakan sesuatu dari apa yang aku sebutkan padamu? Maka dia berkata: Wahai Raja, aku memiliki seorang putra dan aku sangat kagum padanya, dan sangat penyayang padanya, lalu aku menikahkannya dengan wanita mulia dari kaum yang mulia yaitu Aminah binti Wahab, lalu dia melahirkan seorang anak laki-laki yang aku namakan Muhammad, lalu ayahnya meninggal dan ibunya, dan aku dan pamannya yang mengasuhnya. Ibnu Dzi Yazan berkata: Sesungguhnya apa yang kau katakan kepadaku seperti yang kau katakan, maka jagalah putramu, dan berhati-hatilah atas dirinya dari orang-orang Yahudi karena mereka adalah musuhnya, dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi mereka terhadapnya, dan simpanlah apa yang aku sebutkan padamu dari kelompok orang-orang yang bersamamu ini, karena aku tidak merasa aman bahwa mereka akan dimasuki rasa iri karena kepemimpinan akan menjadi milik kalian, lalu mereka akan mencari kecelakaan untuknya, dan memasang jebakan untuknya, mereka akan melakukannya atau anak-anak mereka, dan seandainya bukan karena aku tahu bahwa kematian akan menyapuku sebelum dia diutus, sungguh aku akan berjalan dengan pasukan berkuda dan berjalan kakiku hingga aku menjadikan Yathrib sebagai negeri kerajaanku, karena aku menemukan dalam kitab yang berbicara dan ilmu yang mendahului bahwa di Yathrib adalah penguatan urusannya, dan orang-orang yang menolongnya, dan tempat kuburnya, dan seandainya bukan karena aku menjaganya dari bencana-bencana, dan berhati-hati atas dirinya dari musibah-musibah, sungguh aku akan mengumumkan – di usia mudanya – urusannya, dan aku akan menginjak-injak dengan gigi orang-orang Arab, tetapi aku menyerahkan hal itu kepadamu, tanpa mengurangi orang-orang yang bersamamu. Katanya: Kemudian dia memerintahkan untuk setiap orang dari mereka sepuluh budak lelaki dan sepuluh budak perempuan, dan seratus unta, dan dua helai kain brokat, dan lima rithl emas dan sepuluh rithl perak, dan perut yang penuh ambar, dan dia memerintahkan untuk Abdul Muthalib sepuluh kali lipat dari itu, dan berkata kepadanya: Jika telah berlalu setahun maka datanglah kepadaku. Maka Ibnu Dzi Yazan meninggal sebelum berlalu setahun. Maka Abdul Muthalib sering berkata: Janganlah seorang pun dari kalian iri kepadaku dengan pemberian Raja yang melimpah karena itu akan habis, tetapi hendaklah dia iri kepadaku dengan apa yang akan tetap bagiku dan bagi keturunanku setelahku yaitu penyebutan, kebanggaan dan kehormatannya. Jika dikatakan kepadanya: Kapan itu? Dia berkata: Akan diketahui meskipun setelah beberapa waktu. Katanya: Dan tentang itu Umayyah bin Abdi Syams berkata:

Kami membawa nasihat yang dipikul oleh kendaraan … Di atas punggung unta-unta jantan dan betina
Yang dibawa jauh dari tempat penggembalaan menuju ke atas … Ke Sana’a dari lembah yang dalam
Kami menuju Ibnu Dzi Yazan dan menggoda … Dengan apa yang ada di dalam perut mereka celaan perjalanan
Dan merumput dari ladang-ladangnya kilat-kilat … Yang bersambung cahayanya kepada kilat
Maka tatkala memasuki Sana’a mereka turun … Di istana Raja dan keturunan yang mulia

Dan demikianlah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il, dari jalur Amr bin Bakr bin Bakkar Al-Qa’nabi dengannya. Kemudian Abu Nu’aim berkata: Aku diberitahu dari Abu Al-Hasan Ali bin Ibrahim bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz bin Afir bin Abdul Aziz bin Ash-Shaqr bin Afir bin Zur’ah bin Saif bin Dzi Yazan, diceritakan kepadaku oleh ayahku Abu Yazan Ibrahim, diceritakan kepada kami oleh pamanku Ahmad bin Muhammad Abu Raja, diceritakan kepada kami oleh pamanku Muhammad bin Abdul Aziz, diceritakan kepadaku oleh Abdul Aziz bin Afir dari ayahnya dari Zur’ah bin Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari, dia berkata: Ketika kakekku Saif bin Dzi Yazan menang atas Habasyah dan dia menyebutkannya dengan panjang lebar.

Dan Abu Bakr Al-Khara’ithi berkata: Diceritakan kepada kami oleh Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Qalusi, diceritakan kepada kami oleh Al-Ala’ bin Al-Fadhl bin Abi Suwayyah, memberitahuku ayahku dari ayahnya Abdul Malik bin Abi Suwayyah dari kakeknya Abi Suwayyah dari ayahnya Khalifah, dia berkata: Aku bertanya kepada Muhammad bin Utsman bin Rabi’ah bin Sawah bin Khath’am bin Sa’d lalu aku berkata: Mengapa ayahmu menamaimu Muhammad? Maka dia berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang engkau tanyakan kepadaku, lalu dia berkata: Aku keluar bersama tiga orang lainnya dari Bani Tamim, aku salah satunya bersama Sufyan bin Mujasyi’ bin Darim dan Usamah bin Malik bin Junduub bin Al-Aqid dan Yazid bin Rabi’ah bin Kinanah bin Harbush bin Mazin, dan kami menuju Ibnu Jafnah raja Ghassan, maka tatkala kami mendekati Syam kami turun di sebuah kolam air yang di atasnya ada pepohonan, lalu kami berbincang-bincang, maka seorang rahib mendengar pembicaraan kami lalu dia melihat kepada kami dan berkata: Sesungguhnya ini adalah bahasa yang bukan bahasa negeri ini. Kami berkata: Ya, kami adalah kaum dari Mudhar. Dia berkata: Dari Mudhar yang mana? Kami berkata: Dari Khindif. Dia berkata: Sesungguhnya sebentar lagi akan diutus seorang nabi penutup para nabi, maka segeralah kepada dia, dan ambillah bagianmu darinya, niscaya kalian akan mendapat petunjuk. Maka kami berkata kepadanya: Apa namanya? Dia berkata: Namanya Muhammad. Katanya: Maka kami kembali dari sisi Ibnu Jafnah lalu lahir bagi setiap orang dari kami seorang anak laki-laki lalu dia menamainya Muhammad, maksudnya bahwa setiap orang dari mereka mengharapkan agar nabi yang dikabarkan itu adalah anaknya.

Dan Al-Hafizh Abu Bakr Al-Khara’ithi berkata: Diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Abi Sa’d, diceritakan kepada kami oleh Hazim bin Iqqal bin Az-Zuhar bin Habib bin Al-Mundzir bin Abi Al-Hushain bin As-Samaw’al bin Adiya, diceritakan kepadaku oleh Jabir bin Hayran bin Jami’ bin Utsman bin Simak bin Al-Husain bin As-Samaw’al bin Adiya, dia berkata: Ketika Al-Aws bin Haritsah bin Tsa’labah bin Amr bin Amir akan meninggal, kaumnya dari Ghassan berkumpul kepadanya lalu berkata: Sesungguhnya telah datang kepadamu dari urusan Allah apa yang engkau lihat, dan kami memerintahkanmu untuk menikah di masa mudamu tetapi engkau menolak, dan ini saudaramu Al-Khazraj memiliki lima anak laki-laki, dan engkau tidak memiliki anak selain Malik. Maka dia berkata: Tidak akan binasa orang yang binasa meninggalkan seperti Malik. Sesungguhnya Dia yang mengeluarkan api dari pohon kering, mampu menjadikan bagi Malik keturunan dan laki-laki yang berani, dan semuanya kepada kematian. Kemudian dia menghadap kepada Malik, dan berkata: Wahai anakku, kematian dan bukan kehinaan, hukuman dan bukan celaan, ketabahan dan bukan kemalasan, kubur lebih baik daripada kemiskinan, sesungguhnya barang siapa yang sedikit maka hina, dan barang siapa yang menghadapi maka lari, dan dari kemuliaan orang yang mulia adalah membela kehormatan, dan masa itu dua hari; yaitu hari untukmu dan hari melawanmu, jika hari itu untukmu maka janganlah engkau sombong, dan jika hari itu melawanmu maka bersabarlah, dan keduanya akan berlalu. Tidak akan selamat dari keduanya raja yang bermahkota dan bukan orang hina yang tercemar. Selamatlah harimu menuju Tuhanmu. Kemudian dia mulai berkata:

Aku menyaksikan tawanan pada hari Al Muhrraq … Dan masaku merasakan teriakan Allah di Al-Hijr
Maka aku tidak melihat pemilik kerajaan dari manusia seorang pun … Dan bukan rakyat jelata kecuali kepada kematian dan kubur
Semoga Dia yang membinasakan Tsamud dan Jurham … Akan memberi keturunan bagiku di akhir masa
Yang akan menyenangkan hati mereka dari keluarga Amr bin Amir … Mata-mata di sisi penyeru untuk membalas dendam
Jika masa-masa belum melapukkan kehebatanku … Dan memutihkan kepalaku dan uban bersama usia
Maka sesungguhnya bagi kami ada Tuhan yang tinggi di atas ‘Arsy-Nya … Maha Mengetahui apa yang datang dari kebaikan dan keburukan
Tidakkah datang kepada kaumku bahwa Allah memiliki seruan … Yang akan menang dengannya orang-orang yang bahagia dan berbuat baik
Ketika diutus orang yang diutus dari keluarga Ghalib … Di Mekah antara Mekah dan Al-Hijr
Di sana maka carilah pertolongannya di negeri kalian … Wahai Bani Amir, sesungguhnya kebahagiaan ada dalam pertolongan

Katanya: Kemudian dia meninggal pada saat itu juga.

Bab tentang Suara-suara Jin

Yaitu apa yang diucapkan oleh jin melalui lidah para dukun, dan yang terdengar dari berhala-berhala

Dan Al-Bukhari berkata: Diceritakan kepada kami oleh Yahya bin Sulaiman Al-Ja’fi, diceritakan kepadaku oleh Ibnu Wahb, diceritakan kepadaku oleh Umar – yaitu Muhammad bin Zaid – bahwa Salim menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Aku tidak pernah mendengar Umar berkata tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku menduganya,” kecuali hal itu terjadi seperti yang dia duga. Ketika Umar bin Al-Khaththab sedang duduk, tiba-tiba lewat di hadapannya seorang laki-laki tampan, lalu dia berkata: Sungguh dugaanku salah, atau sesungguhnya orang ini masih menganut agamanya di masa jahiliyah, atau dia adalah dukun mereka. Panggilkan laki-laki itu kepadaku. Maka dia dipanggil, lalu dia berkata kepadanya demikian. Maka dia berkata: Aku tidak pernah melihat seperti hari ini, disambut seperti ini seorang laki-laki muslim. Dia berkata: Maka sesungguhnya aku bersumpah kepadamu agar engkau memberitahuku. Dia berkata: Aku adalah dukun mereka di masa jahiliyah. Dia berkata: Apa yang paling mengherankan yang datang kepadamu dari jin perempuanmu? Dia berkata: Ketika aku sedang berada di pasar suatu hari, dia datang kepadaku, aku mengenali di dalamnya ketakutan, lalu dia berkata:

Tidakkah engkau lihat jin dan keputusasaannya … Dan keputusasaannya setelah kekalahan-kalahannya
Dan bergabungnya dengan unta-unta dan pelananya

Umar berkata: Benar, ketika aku sedang tidur di sisi berhala-berhala mereka, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan seekor anak sapi lalu menyembelihnya, maka berteriaklah kepadanya seorang penggedor yang aku tidak pernah mendengar penggedor yang lebih keras suaranya darinya, dia berkata: Wahai Julaih, urusan yang berhasil, seorang laki-laki yang fasih berkata: Tidak ada tuhan selain Allah. Maka orang-orang melompat, lalu aku berkata: Aku tidak akan bergerak hingga aku mengetahui apa di balik ini. Kemudian dia memanggil: Wahai Julaih, urusan yang berhasil, seorang laki-laki yang fasih berkata: Tidak ada tuhan selain Allah. Maka aku berdiri, lalu tidak lama kemudian dikatakan: Ini adalah seorang nabi. Diriwayatkan sendirian oleh Al-Bukhari.

Dan laki-laki ini adalah Sawad bin Qarib Al-Azdi, dan dikatakan: As-Sadusi dari penduduk As-Sarah dari pegunungan Al-Balqa’, dia memiliki persahabatan, dan perwakilan. Abu Hatim berkata, dan Ibnu Mandah: Meriwayatkan darinya Sa’id bin Jubair, dan Abu Ja’far Muhammad bin Ali. Dan Al-Bukhari berkata: Dia memiliki persahabatan, dan demikian dia disebutkan dalam nama-nama sahabat oleh Ahmad bin Ruh Al-Bardza’i Al-Hafizh dan Ad-Daruquthni dan lainnya. Dan Al-Hafizh Abdul Ghani bin Sa’id Al-Mishri berkata: Sawad bin Qarib dengan takhfif. Dan Utsman Al-Waqashi berkata dari Muhammad bin Ka’b Al-Quradhi: Dia adalah salah satu dari pemuka penduduk Yaman, disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il. Dan haditsnya telah diriwayatkan dari jalur-jalur lain dengan lebih panjang dan lebih luas dari riwayat Al-Bukhari. Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Diceritakan kepadaku oleh seseorang yang tidak aku tuduh dari Abdullah bin Ka’b maula Utsman bin Affan bahwa dia menceritakan bahwa Umar bin Al-Khaththab semoga Allah meridhainya, ketika dia sedang duduk bersama orang-orang di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Arab masuk ke dalam masjid ingin menemui Umar bin Al-Khaththab. Maka tatkala Umar melihat kepadanya, dia berkata: Sesungguhnya laki-laki itu masih dalam kesyirikannya, belum meninggalkannya atau dia adalah dukun di masa jahiliyah. Maka laki-laki itu memberi salam kepadanya kemudian duduk. Lalu Umar berkata kepadanya: Apakah engkau telah masuk Islam? Dia berkata: Ya, wahai Amirul Mukminin. Dia berkata: Apakah engkau adalah dukun di masa jahiliyah? Maka laki-laki itu berkata: Subhanallah wahai Amirul Mukminin, sungguh engkau telah menyendiri padaku dan menyambutku dengan perkara yang aku tidak melihatmu mengatakannya kepada salah seorang dari rakyatmu sejak engkau memerintah apa yang engkau pimpin. Maka Umar berkata: Ya Allah ampuni, sungguh kami di masa jahiliyah lebih buruk dari ini, kami menyembah berhala-berhala, dan memeluk patung-patung hingga Allah memuliakan kami dengan Rasul-Nya dan dengan Islam. Dia berkata: Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin, sungguh aku adalah dukun di masa jahiliyah. Dia berkata: Maka beritahuku apa yang dibawa oleh temanmu. Dia berkata: Dia datang kepadaku sebelum Islam sebulan atau hampir itu lalu berkata:

Tidakkah engkau lihat jin dan keputusasaannya … Dan keputusasaannya setelah kekalahan-kalahannya
Dan bergabungnya dengan unta-unta dan pelananya

Ibnu Ishaq berkata: Perkataan ini adalah sajak bukan syair. Abdullah bin Ka’ab berkata: Maka Umar berkata pada saat itu seraya menceritakan kepada orang-orang: Demi Allah, sesungguhnya aku berada di sisi berhala dari berhala-berhala jahiliyah bersama sejumlah orang dari Quraisy, telah disembelih untuknya oleh seorang laki-laki dari Arab seekor anak sapi, maka kami menunggu pembagiannya agar dibagikan kepada kami darinya, tiba-tiba aku mendengar dari dalam anak sapi itu suara yang aku tidak pernah mendengar suara yang lebih keras darinya, dan itu sebelum Islam sebulan atau hampir itu, dia berkata: Wahai Dzarih, urusan yang berhasil, seorang laki-laki yang berteriak, berkata: Tidak ada tuhan selain Allah. Ibnu Hisyam berkata: Dan dikatakan: Seorang laki-laki yang berteriak dengan lidah yang fasih berkata: Tidak ada tuhan selain Allah. Katanya: Dan telah membacakan syair kepadaku sebagian ahli ilmu tentang syair:

Aku heran dengan jin dan keputusasaannya … Dan mengikat unta-unta dengan pelananya
Bergegas ke Mekah mencari petunjuk … Tidaklah orang-orang mukmin dari jin seperti orang-orang najis

Dan berkata Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hajar bin An-Nu’man Asy-Syami, telah menceritakan kepada kami Ali bin Manshur Al-Anbari, dari Muhammad bin Abdurrahman Al-Waqashi, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi, ia berkata: Pada suatu hari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sedang duduk, tiba-tiba seorang laki-laki lewat di hadapannya, lalu dikatakan: Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau mengenal laki-laki yang lewat ini? Ia berkata: Siapa dia? Mereka berkata: Ini adalah Sawad bin Qarib yang telah didatangi oleh jin pengikutnya dengan kabar tentang kerasulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: Maka Umar mengirim utusan kepadanya lalu berkata kepadanya: Apakah engkau Sawad bin Qarib? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Apakah engkau masih seperti keadaanmu dahulu dalam perdukunanmu? Ia berkata: Maka ia marah dan berkata: Tidak ada seorang pun yang menyambutku dengan ucapan seperti ini sejak aku masuk Islam, wahai Amirul Mukminin. Maka Umar berkata: Wahai Subhanallah, apa yang dahulu kami lakukan dalam kemusyrikan lebih besar daripada apa yang engkau lakukan dalam perdukunanmu. Maka ceritakanlah kepadaku tentang kedatangan jin pengikutmu kepadamu dengan kabar kerasulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: Ya, wahai Amirul Mukminin, ketika aku pada suatu malam antara tidur dan terjaga, tiba-tiba jin pengikutku datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya dan berkata: Bangunlah wahai Sawad bin Qarib dan dengarkanlah ucapanku, dan pahamilah jika engkau dapat memahami. Sesungguhnya telah diutus seorang rasul dari Luayy bin Ghalib yang menyeru kepada Allah dan kepada ibadah kepada-Nya. Kemudian ia membaca syair:

Aku heran kepada jin dan pencariannya Dan pelana yang diikatkan pada unta-untanya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah jin yang jujur seperti jin yang pendusta Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Tidaklah yang di depannya seperti yang di belakangnya

Ia berkata: Aku berkata: Biarkanlah aku tidur, karena aku merasa sangat mengantuk. Ia berkata: Ketika tiba malam kedua, ia datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya dan berkata: Bangunlah wahai Sawad bin Qarib dan dengarkanlah ucapanku, dan pahamilah jika engkau dapat memahami. Sesungguhnya telah diutus seorang rasul dari Luayy bin Ghalib yang menyeru kepada Allah dan kepada ibadah kepada-Nya. Kemudian ia membaca syair:

Aku heran kepada jin dan pilihannya Dan pelana yang diikatkan pada punuk-punuknya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah jin yang beriman seperti jin yang kafir Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Di antara bukit-bukitnya dan batu-batunya

Ia berkata: Aku berkata: Biarkanlah aku tidur, karena aku merasa sangat mengantuk. Ketika tiba malam ketiga, ia datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya dan berkata: Bangunlah wahai Sawad bin Qarib, dengarkanlah ucapanku dan pahamilah jika engkau dapat memahami. Sesungguhnya telah diutus seorang rasul dari Luayy bin Ghalib yang menyeru kepada Allah dan kepada ibadah kepada-Nya. Kemudian ia membaca syair:

Aku heran kepada jin dan kewaspadaannya Dan pelana yang diikatkan pada selimut-selimutnya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah sebaik-baik jin seperti jin yang najis Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Dan lihatlah dengan matamu kepada kepalanya

Ia berkata: Maka aku bangun dan berkata: Allah telah menguji hatiku. Lalu aku berangkat dengan untaku, kemudian aku datang ke Madinah, maksudnya Makkah, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di tengah para sahabatnya. Maka aku mendekat lalu berkata: Dengarkanlah ucapanku wahai Rasulullah. Beliau berkata: Sampaikan. Maka aku membaca syair:

Jin pengikutku datang kepadaku setelah keheningan dan tidur Dan ia tidak pernah berdusta dalam apa yang telah ia sampaikan Tiga malam ucapannya setiap malam Telah datang kepadamu seorang rasul dari Luayy bin Ghalib Maka aku menyingsingkan ujung kainku dan aku tunggangi Unta betina yang tangguh melewati padang pasir yang berdebu Maka aku bersaksi bahwa Allah tidak ada sesuatu selain-Nya Dan bahwa engkau adalah orang yang terpercaya atas setiap yang gaib Dan bahwa engkau adalah yang paling dekat dari para rasul sebagai perantara Kepada Allah wahai anak dari orang-orang yang paling mulia dan paling baik Maka perintahkanlah kami dengan apa yang datang kepadamu wahai sebaik-baik orang yang berjalan Meskipun dalam apa yang datang itu membuat ubanan di pelipis Dan jadilah pemberi syafaat bagiku pada hari tidak ada yang memberi syafaat Selain engkau yang berguna bagi Sawad bin Qarib

Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bergembira dengan ucapanku dengan kegembiraan yang sangat hingga tampak kegembiraan itu di wajah mereka. Ia berkata: Maka Umar bin Al-Khaththab berdiri mendatanginya lalu memeluknya dan berkata: Sesungguhnya aku sangat ingin mendengar hadits ini darimu. Apakah jin pengikutmu masih datang kepadamu hari ini? Ia berkata: Adapun sejak aku membaca Al-Quran maka tidak, dan sebaik-baik pengganti dari jin adalah Kitabullah. Kemudian Umar berkata: Kami pada suatu hari berada di sebuah kampung dari Quraisy yang disebut Bani Dzuraih, dan mereka telah menyembelih seekor sapi betina untuk mereka dan tukang jagal sedang mengurusnya, tiba-tiba kami mendengar suara dari dalam perut sapi betina itu dan kami tidak melihat sesuatu pun. Ia berkata: Wahai Bani Dzuraih, urusan yang berhasil, yang berseru berteriak, dengan lisan yang fasih, bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan ini terputus dari jalur ini, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menyaksikan bahwa orang yang mendengar suara dari sapi betina itu adalah Umar bin Al-Khaththab. Wallahu a’lam.

Dan berkata Al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Ja’far bin Sahl Al-Khara’ithi dalam kitabnya yang ia kumpulkan tentang bisikan jin: telah menceritakan kepada kami Abu Musa Imran bin Musa Al-Mu’addib, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Imran bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Layla, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Ubaidillah Al-Washshafi, dari ayahnya, dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali, ia berkata: Sawad bin Qarib As-Sudusi masuk menemui Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu ia berkata: Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah wahai Sawad bin Qarib, apakah engkau masih pandai dalam perdukunanmu hari ini? Maka ia berkata: Subhanallah wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah menyambut seorang pun dari orang-orang yang duduk bersamamu dengan seperti yang engkau sambutku dengannya. Ia berkata: Subhanallah wahai Sawad, apa yang dahulu kami lakukan dalam kemusyrikan kami lebih besar daripada apa yang engkau lakukan dalam perdukunanmu. Demi Allah wahai Sawad, sungguh telah sampai kepadaku tentangmu sebuah hadits yang sangat menakjubkan. Ia berkata: Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya itu sangat menakjubkan. Ia berkata: Maka ceritakanlah kepadaku. Ia berkata: Aku adalah seorang dukun di masa Jahiliyah, ketika aku pada suatu malam sedang tidur, tiba-tiba jin pengikutku datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya, kemudian berkata: Wahai Sawad dengarlah akan kukatakan kepadamu. Aku berkata: Sampaikan. Ia berkata:

Aku heran kepada jin dan jin-jin yang najis Dan tunggangannya pada unta-unta dengan selimut-selimutnya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah jin yang beriman seperti jin yang najis Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Dan lihatlah dengan matamu kepada kepalanya

Ia berkata: Maka aku tidur dan tidak mempedulikan ucapannya sedikitpun. Ketika tiba malam kedua, ia datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya, kemudian berkata kepadaku: Bangunlah wahai Sawad bin Qarib, dengarlah akan kukatakan kepadamu. Aku berkata: Sampaikan. Ia berkata:

Aku heran kepada jin dan pencariannya Dan pelana yang diikatkan pada unta-untanya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah jin yang jujur seperti jin yang pendusta Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Tidaklah yang terdepan seperti yang di belakang

Ia berkata: Maka ucapannya menggerakkan sesuatu dalam diriku, dan aku tidur. Ketika tiba malam ketiga, ia datang kepadaku lalu menendangku dengan kakinya, kemudian berkata: Wahai Sawad bin Qarib, apakah engkau berakal atau tidak berakal? Aku berkata: Apa itu? Ia berkata: Telah muncul di Makkah seorang nabi yang menyeru kepada ibadah kepada Tuhannya, maka datangilah ia. Dengarlah akan kukatakan kepadamu. Aku berkata: Sampaikan. Ia berkata:

Aku heran kepada jin dan pelariannya Dan tunggangannya pada unta-unta dengan punuk-punuknya Yang menuju Makkah mencari petunjuk Tidaklah jin yang beriman seperti jin yang kafir Maka berangkatlah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim Di antara bukit-bukitnya dan batu-batunya

Ia berkata: Maka aku tahu bahwa Allah menghendaki kebaikan bagiku, lalu aku bangun menuju kain penutupku lalu aku robek dan aku pakai, dan aku letakkan kakiku di pelana unta, dan aku berangkat hingga aku sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menawarkan Islam kepadaku maka aku masuk Islam, dan aku kabarkan berita itu kepadanya. Maka beliau berkata: Jika kaum muslimin berkumpul maka beritahukanlah kepada mereka. Ketika kaum muslimin berkumpul, aku berdiri lalu berkata:

Jin pengikutku datang kepadaku setelah keheningan dan tidur Dan ia tidak pernah berdusta dalam apa yang telah aku alami Tiga malam ucapannya setiap malam Telah datang kepadamu seorang rasul dari Luayy bin Ghalib Maka aku menyingsingkan ujung kainku dan aku tunggangi Unta betina yang tangguh melewati padang pasir yang berdebu Dan aku tahu bahwa Allah tidak ada Tuhan selain-Nya Dan bahwa engkau adalah orang yang terpercaya atas setiap yang gaib Dan bahwa engkau adalah yang paling dekat dari para rasul sebagai perantara Kepada Allah wahai anak dari orang-orang yang paling mulia dan paling baik Maka perintahkanlah kami dengan apa yang datang kepadamu wahai sebaik-baik rasul Meskipun dalam apa yang datang itu membuat ubanan di pelipis

Ia berkata: Maka kaum muslimin bergembira dengan itu. Lalu Umar berkata: Apakah engkau merasakan hari ini sesuatu darinya? Ia berkata: Adapun sejak Allah mengajariku Al-Quran maka tidak.

Dan telah meriwayatkannya Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, dari ayahnya, dari Umar bin Hafsh, ia berkata: Ketika Sawad bin Qarib datang kepada Umar, ia berkata: Wahai Sawad bin Qarib, apa yang tersisa dari perdukunanmu? Maka ia marah dan berkata: Aku tidak mengira wahai Amirul Mukminin engkau menyambut seseorang dari bangsa Arab dengan seperti ini. Ketika ia melihat kemarahan di wajahnya, ia berkata: Lihatlah Sawad, apa yang dahulu kami lakukan sebelum hari ini dalam kemusyrikan lebih besar. Kemudian ia berkata: Wahai Sawad, ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang aku sangat ingin mendengarnya darimu. Ia berkata: Ya, ketika aku berada di tengah unta-untaku di As-Sarah pada suatu malam dan aku sedang tidur, dan aku memiliki jin pengikut dari kalangan jin, lalu ia datang kepadaku dan menendangku dengan kakinya lalu berkata kepadaku: Bangunlah wahai Sawad bin Qarib, karena telah muncul di Tihamah seorang nabi yang menyeru kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Lalu ia menyebutkan kisah itu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan ia menambahkan di akhir syair:

Dan jadilah pemberi syafaat bagiku pada hari tidak ada yang memiliki kekerabatan Selain engkau yang berguna bagi Sawad bin Qarib

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Pergilah di tengah kaummu dan ucapkanlah syair ini di tengah mereka.

Dan telah meriwayatkannya Al-Hafizh Ibnu Asakir dari jalan Sulaiman bin Abdurrahman, dari Al-Hakam bin Ya’la bin Atha’ Al-Muharibi, dari Abbad bin Abdul-Shamad, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sawad bin Qarib Al-Azdi, ia berkata: Aku sedang tidur di sebuah gunung dari gunung-gunung As-Sarah, lalu datang kepadaku seseorang yang menendangku dengan kakinya, dan ia menyebutkan kisah itu juga.

Dan telah meriwayatkannya juga dari jalan Muhammad bin Al-Bara’, dari Abu Bakr bin Ayyasy, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata: Sawad bin Qarib berkata: Aku sedang tinggal di Hind, lalu jin pengikutku datang kepadaku pada suatu malam. Lalu ia menyebutkan kisah itu dan berkata setelah membaca syair yang terakhir: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi taringnya dan berkata: Engkau beruntung wahai Sawad.

Dan telah meriwayatkan Al-Hafizh Abu Nu’aim dari hadits Abdullah bin Muhammad bin Uqail, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Sesungguhnya berita pertama yang ada di Madinah tentang kerasulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bahwa seorang perempuan di Madinah memiliki jin pengikut dari kalangan jin, lalu ia datang dalam bentuk burung putih lalu hinggap di dinding mereka. Maka ia berkata kepadanya: Mengapa engkau tidak turun kepada kami lalu berbincang-bincang dengan kami dan kami berbincang-bincang denganmu, dan engkau memberi kabar kepada kami dan kami memberi kabar kepadamu? Maka ia berkata kepadanya: Sesungguhnya telah diutus seorang nabi di Makkah yang mengharamkan zina dan melarang kami untuk menetap.

Dan berkata Al-Waqidi: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdul-Aziz, dari Az-Zuhri, dari Ali bin Al-Husain, ia berkata: Sesungguhnya berita pertama yang datang ke Madinah tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bahwa seorang perempuan yang dipanggil Fathimah memiliki jin pengikut, lalu ia datang kepadanya pada suatu hari lalu berdiri di atas dinding. Maka ia berkata: Tidakkah engkau turun? Maka ia berkata: Tidak, sesungguhnya telah diutus rasul yang mengharamkan zina.

Dan telah meriwayatkannya sebagian Tabi’in juga secara mursal, dan ia menamainya dengan Ibnu Laudzan, dan ia menyebutkan bahwa ia telah tidak hadir darinya beberapa waktu, kemudian ketika ia datang, ia menegurnya. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku datang kepada rasul lalu aku mendengarnya mengharamkan zina, maka semoga keselamatan untukmu.

Dan berkata Al-Waqidi: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Shalih, dari Ashim bin Umar bin Qatadah, ia berkata: Utsman bin Affan berkata: Kami keluar dalam kafilah dagang ke Syam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Ketika kami berada di pinggiran Syam, dan di sana ada seorang perempuan dukun, maka ia menghadang kami lalu berkata: Temanku datang kepadaku lalu berdiri di pintuku, maka aku berkata: Tidakkah engkau masuk? Maka ia berkata: Tidak ada jalan untuk itu, telah keluar Ahmad dan datang urusan yang tidak dapat ditahan. Kemudian aku kembali, lalu aku kembali ke Makkah dan aku dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah keluar di Makkah menyeru kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan berkata Al-Waqidi: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah, dari Az-Zuhri, ia berkata: Wahyu dapat didengar, ketika Islam datang maka mereka dicegah. Dan ada seorang perempuan dari Bani Asad yang disebut Su’airah, ia memiliki jin pengikut dari kalangan jin. Ketika ia melihat wahyu tidak dapat didekati, ia datang kepadanya lalu masuk ke dadanya, lalu berteriak di dadanya, maka hilang akalnya. Lalu ia berkata dari dadanya: Diturunkan pelukan dan dicegah teman-teman, dan datang urusan yang tidak dapat ditahan, dan Ahmad mengharamkan zina.

Dan Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khara’ithi berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Balawi di Mesir, telah menceritakan kepada kami Umarah bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yazid dari Shalih bin Kaisan dari orang yang menceritakan kepadanya dari Mirdas bin Qais As-Sadusi, ia berkata: Aku menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perdukunan disebutkan di hadapannya, dan apa yang terjadi berupa perubahannya saat kedatangannya – maka aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kalangan kami ada sesuatu tentang hal itu yang akan aku kabarkan kepadamu bahwa di kalangan kami ada seorang budak perempuan yang dipanggil Al-Khalshah yang tidak diketahui padanya kecuali kebaikan. Ketika ia datang kepada kami, ia berkata: Wahai kaum Daus, ajaib sekali ajaib sekali atas apa yang menimpaku, tidakkah kalian mengetahui kecuali kebaikan? Kami berkata: Apa itu? Ia berkata: Aku sedang bersama kambingku ketika kegelapan menyelimutiku, dan aku merasakan seperti sentuhan lelaki dengan perempuan, maka aku khawatir aku telah hamil, hingga ketika waktu kelahirannya mendekat, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang lentik dengan dua telinga seperti telinga anjing, lalu ia tinggal di tengah-tengah kami hingga ia bermain-main bersama anak-anak laki-laki. Tiba-tiba ia melompat dan melempar kain sarungnya, lalu berteriak dengan suara paling kerasnya dan mulai berkata: Ya wailah ya wailah, ya ‘aulah ya ‘aulah, celaka bagi kambing, celaka bagi fahm (pengertian) dari qabis (penyalaan) api, demi Allah kuda-kuda di belakang aqabah (pendakian), di dalamnya ada pemuda-pemuda tampan pilihan.

Ia berkata: Maka kami mengendarai kuda dan mengambil peralatan, dan kami berkata: Celakalah engkau, apa yang engkau lihat? Maka ia berkata: Apakah ada gadis yang sedang haid? Kami berkata: Siapa yang punya untukmu? Maka seorang syekh dari kami berkata: Demi Allah ia ada padaku, ibunya suci. Maka kami berkata: Segerakanlah dia, lalu ia membawa gadis itu dan naik ke gunung, dan berkata kepada gadis itu: Lemparkan pakaianmu dan keluarlah menghadap mereka. Dan kaum berkata: Ikutilah jejaknya, dan ia berkata kepada seorang lelaki dari kami yang dipanggil Ahmar bin Habis: Wahai Ahmar bin Habis, tanggunglah penunggang kuda pertama, maka Ahmar menyerang dan menusuk penunggang kuda pertama lalu menjatuhkannya dan mereka kalah, lalu kami mengambil rampasan dari mereka. Ia berkata: Maka kami membangun sebuah rumah atas mereka dan menamakannya Dzul Khalshah, dan ia tidak pernah mengatakan sesuatu kepada kami kecuali terjadi seperti yang ia katakan hingga ketika misi pengutusan engkau wahai Rasulullah, ia berkata kepada kami suatu hari: Wahai kaum Daus, Banu Al-Harits bin Ka’ab telah turun, maka berkendaralah, lalu kami naik kuda. Ia berkata kepada kami: Kumpulkan kuda-kuda dalam satu kelompok, seraplah kaum dengan serangan, seranglah mereka di pagi hari dan minumlah arak di sore hari. Ia berkata: Maka kami menemui mereka dan mereka mengalahkan kami dan menguasai kami, lalu kami kembali kepadanya dan berkata: Bagaimana keadaanmu dan apa yang telah engkau perbuat kepada kami? Maka kami melihat kepadanya dan ternyata kedua matanya memerah, kedua telinganya tegak, ia marah hingga hampir meledak, lalu ia bangkit dan kami naik kuda, dan kami memaafkannya untuk hal ini. Kami tinggal setelah itu beberapa waktu, kemudian ia memanggil kami dan berkata: Apakah kalian mau peperangan yang memberikan kalian kemuliaan, menjadikan kalian perlindungan, dan menjadi harta di tangan kalian? Kami berkata: Betapa kami sangat membutuhkan itu. Maka ia berkata: Berkendaralah, lalu kami naik kuda dan berkata: Apa yang engkau katakan? Ia berkata: Banu Al-Harits bin Maslamah, kemudian berkata: Berhentilah, maka kami berhenti.

Kemudian ia berkata: Seranglah Fahm, kemudian berkata: Tidak ada celaan bagi kalian pada mereka, seranglah Mudhar, mereka pemilik kuda dan ternak, kemudian berkata: Bukan rombongan Duraid bin Ash-Shimmah, sedikit jumlahnya dan dalam perlindungan, kemudian berkata: Tidak, tetapi seranglah Ka’ab bin Rabi’ah, dan syukurilah perbuatan baik Amir bin Sha’sha’ah maka hendaklah penyerangan terjadi pada mereka. Ia berkata: Maka kami menemui mereka dan mereka mengalahkan kami dan mempermalukan kami, lalu kami kembali dan berkata: Celakalah engkau, apa yang engkau perbuat kepada kami? Ia berkata: Aku tidak tahu, yang dulu membenarkanku telah mendustakan aku, penjarakanlah aku di rumahku selama tiga hari, kemudian datanglah kepadaku. Maka kami melakukan hal itu kepadanya, kemudian kami mendatanginya setelah hari ketiga, lalu kami membukanya dan ternyata ia seperti bara api. Ia berkata: Wahai kaum Daus, langit telah dijaga, dan telah keluar sebaik-baik nabi. Kami berkata: Di mana? Ia berkata: Di Mekah, dan aku akan mati maka kuburkanlah aku di puncak gunung karena aku akan menyala api, dan jika kalian meninggalkanku aku akan menjadi aib bagi kalian. Jika kalian melihat aku menyala dan berkobar maka lemparlah aku dengan tiga batu, kemudian katakanlah dengan setiap batu: Dengan nama-Mu ya Allah, maka aku akan diam dan padam. Ia berkata: Dan sesungguhnya ia mati lalu menyala api, maka kami melakukan kepadanya apa yang ia perintahkan dan kami melemparnya dengan tiga batu sambil berkata dengan setiap batu: Dengan nama-Mu ya Allah, maka ia padam dan mati. Kami tinggal hingga datang kepada kami orang-orang haji lalu mereka mengabarkan kepada kami tentang pengutusan engkau wahai Rasulullah. Ini sangat aneh.

Dan Al-Waqidi meriwayatkan dari ayahnya dari Ibnu Abi Dzi’b dari Muslim bin Jundub dari An-Nadhr bin Sufyan Al-Hudzali dari ayahnya, ia berkata: Kami keluar dalam kafilah dagangan kami ke Syam, ketika kami berada di antara Az-Zarqa dan Ma’an kami telah bermalam, tiba-tiba ada penunggang kuda berkata sementara ia berada di antara langit dan bumi: Wahai orang-orang yang tidur bangunlah, ini bukan waktu tidur, telah keluar Ahmad dan jin telah diusir ke setiap tempat pengusiran. Maka kami terkejut, dan kami adalah rombongan Hazawirah yang semuanya telah mendengar hal ini, lalu kami kembali kepada keluarga kami dan ternyata mereka menyebutkan perselisihan di Mekah antara Quraisy tentang nabi yang telah keluar di antara mereka dari Bani Abdul Muththalib namanya Ahmad. Ini disebutkan oleh Abu Nu’aim.

Dan Al-Khara’ithi berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Balawi di Mesir, telah menceritakan kepada kami Umarah bin Zaid, telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Al-‘Ala, telah menceritakan kepadaku Yahya bin ‘Urwah dari ayahnya bahwa beberapa orang dari Quraisy di antara mereka Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay dan Zaid bin Amr bin Nufail, dan Ubaidullah bin Jahsy bin Ri’ab, dan Utsman bin Al-Huwairits, mereka berada di samping patung mereka yang mereka kumpuli, mereka telah menjadikan hari itu dari setiap tahun sebagai hari raya yang mereka agungkan, dan mereka menyembelih unta untuknya, kemudian mereka makan dan minum arak, dan berkaf padanya. Mereka masuk kepadanya di malam hari lalu melihatnya terjungkal di atas wajahnya, maka mereka mengingkari hal itu lalu mereka mengambilnya dan mengembalikannya ke keadaannya, tetapi tidak lama ia terbalik dengan terbalik yang keras, lalu mereka mengambilnya dan mengembalikannya ke keadaannya, lalu ia terbalik yang ketiga kalinya. Ketika mereka melihat hal itu mereka sedih karenanya dan menganggap hal itu besar. Maka Utsman bin Al-Huwairits berkata: Ada apa dengannya, ia terlalu banyak terbalik, ini adalah perkara yang telah terjadi, dan itu pada malam di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, lalu Utsman mulai berkata:

Wahai patung hari raya yang di sekelilingnya berdiri Orang-orang terhormat utusan dari jauh dan dari dekat Engkau terbalik terkalahkan maka apa itu katakan kepada kami Apakah itu orang bodoh ataukah engkau terbalik karena celaan Jika itu karena dosa yang kami perbuat maka sesungguhnya kami Mengakui dengan pengakuan dan kami berpaling dari dosa Dan jika engkau terkalahkan terbalik hina Maka engkau bukan tuhan yang mulia di antara patung-patung

Ia berkata: Maka mereka mengambil patung itu dan mengembalikannya ke keadaannya, ketika ia tegak berteriaklah kepada mereka seorang yang berteriak dari patung itu dengan suara yang nyaring dan ia berkata:

Ia terbalik karena bayi yang cahayanya menerangi Semua jalan bumi di timur dan barat Dan patung-patung jatuh semuanya dan gemetar Hati raja-raja bumi semuanya karena ketakutan Dan api semua Persia padam dan gelap Dan shah Persia bermalam dalam kesusahan terbesar Dan jin dihalangi dari kahin-kahin dengan hal gaib Maka tidak ada pemberi kabar dari mereka dengan benar atau dusta Maka wahai keturunan Qushay kembalilah dari kesesatan kalian Dan datanglah kepada Islam dan tempat turun yang lapang

Ia berkata: Ketika mereka mendengar itu mereka berbisik rahasia, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: Jujurlah, dan hendaklah sebagian kalian merahasiakan sebagian. Maka mereka berkata: Baik. Maka Waraqah bin Naufal berkata kepada mereka: Kalian tahu – demi Allah – kaummu tidak di atas agama, dan sungguh mereka telah salah hujah dan meninggalkan agama Ibrahim, apa batu yang kalian tawaf padanya yang tidak mendengar dan tidak melihat dan tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudarat? Wahai kaum, carilah untuk diri kalian agama. Ia berkata: Maka mereka keluar setelah itu mengelilingi bumi dan bertanya tentang Hanifiyah agama Ibrahim ‘alaihissalam. Adapun Waraqah bin Naufal maka ia menjadi Nasrani dan membaca kitab-kitab hingga ia berilmu. Dan adapun Utsman bin Al-Huwairits maka ia pergi kepada Qaishar lalu menjadi Nasrani dan baik kedudukannya di sisinya. Dan adapun Zaid bin Amr bin Nufail maka ia ingin keluar tetapi ditahan, kemudian ia keluar setelah itu lalu mengelilingi bumi hingga sampai ke Ar-Raqqah dari tanah Jazirah, lalu ia bertemu di sana dengan seorang rahib yang berilmu, lalu ia mengabarkan kepadanya tentang yang ia cari. Maka rahib itu berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau mencari agama yang engkau tidak akan menemukan orang yang membawamu padanya, tetapi telah dekat bagimu zaman nabi yang keluar dari negerimu yang diutus dengan agama Hanifiyah. Ketika ia berkata kepadanya seperti itu ia kembali menuju Mekah, lalu suku Lakhm menyerangnya dan membunuhnya. Dan adapun Ubaidullah bin Jahsy maka ia tinggal di Mekah hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, kemudian ia keluar bersama orang yang keluar ke tanah Habasyah, ketika ia sampai di sana ia menjadi Nasrani dan meninggalkan Islam, lalu ia berada di sana hingga ia binasa di sana sebagai Nasrani. Telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat hidup Zaid bin Amr bin Nufail yang menjadi saksinya.

Dan Al-Khara’ithi berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq bin Shalih Abu Bakar Al-Warraq, telah menceritakan kepada kami Amr bin Utsman, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdul Aziz dari Az-Zuhri dari Abdurrahman bin Anas As-Sulami dari Al-Abbas bin Mirdas bahwa ia berada di Ghamrah bersama unta-untanya di tengah siang, tiba-tiba muncul kepadanya burung unta putih dengan penunggangnya mengenakan pakaian putih seperti susu, lalu ia berkata: Wahai Abbas bin Mirdas, tidakkah engkau melihat bahwa langit menjaga penjagaannya, dan bahwa perang menelan nafasnya, dan bahwa kuda-kuda melepaskan pelananya, dan bahwa yang turun dengan kebaikan dan takwa pada hari Senin malam Selasa, pemilik unta Qashwa. Ia berkata: Maka aku kembali ketakutan, aku takut dengan apa yang aku lihat dan dengar hingga aku datang ke patung kami yang dipanggil Adh-Dhimar, dan kami menyembahnya dan berbicara dari perutnya. Lalu aku menyapu apa yang di sekelilingnya, kemudian aku mengusapnya dan menciumnya, tiba-tiba ada yang berteriak dari perutnya berkata:

Katakan kepada suku-suku dari Sulaim semuanya Binasa Adh-Dhimar dan menang ahli masjid Binasa Adh-Dhimar dan ia pernah disembah dulu Sebelum kitab bersama Nabi Muhammad Sesungguhnya yang mewarisi kenabian dan petunjuk Setelah putra Maryam dari Quraisy yang mendapat petunjuk

Ia berkata: Maka aku keluar ketakutan hingga aku mendatangi kaumku lalu aku ceritakan kepada mereka kejadiannya dan aku kabarkan kepada mereka beritanya. Dan aku keluar dengan tiga ratus dari kaumku Bani Haritsah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau di Madinah, lalu kami masuk ke masjid. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku, beliau berkata kepadaku: Wahai Abbas bagaimana keislamanmu? Maka aku ceritakan kepadanya kejadiannya. Ia berkata: Maka beliau gembira dengan itu, dan aku masuk Islam beserta kaumku.

Dan meriwayatkannya Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il dari hadits Abu Bakar bin Abi Ashim dari Amr bin Utsman dengannya. Kemudian ia meriwayatkannya juga dari jalan Al-Ashma’i, telah menceritakan kepadaku Al-Washshafi dari Manshur bin Al-Mu’tamir dari Qabisah bin Amr bin Ishaq Al-Khuza’i dari Al-Abbas bin Mirdas As-Sulami, ia berkata: Permulaan keislamanku adalah ketika Mirdas ayahku ketika kematian mendatanginya, ia berwasiat kepadaku dengan patung miliknya yang dipanggil Dhimar, maka aku menempatkannya di rumah dan aku mendatanginya setiap hari satu kali. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul, aku mendengar suara terkirim di tengah malam yang membuatku takut, lalu aku melompat kepada Dhimar meminta pertolongan, dan tiba-tiba suara dari perutnya dan ia berkata:

Katakan kepada suku dari Sulaim semuanya Binasa yang jinak dan hidup ahli masjid Hilang Dhimar dan ia pernah disembah dulu Sebelum kitab kepada Nabi Muhammad Sesungguhnya yang mewarisi kenabian dan petunjuk Setelah putra Maryam dari Quraisy yang mendapat petunjuk

Ia berkata: Maka aku merahasiakannya dari manusia. Ketika manusia kembali dari Al-Ahzab, ketika aku bersama unta-untaku di ujung Al-Aqiq dari Dzat Irq sedang tidur, aku mendengar suara dan tiba-tiba seorang lelaki di atas sayap burung unta dan ia berkata: Cahaya yang jatuh malam Selasa, bersama pemilik unta Adhba’, di daerah saudara-saudara Bani Al-‘Anqa’. Maka menjawabnya orang yang berteriak dari kirinya dan ia berkata:

Kabarkanlah kepada jin dan kejelekannya Bahwa telah diletakkan kendaraan pelananya Dan langit menjaga penjagaannya

Ia berkata: Maka aku melompat ketakutan dan aku tahu bahwa Muhammad adalah rasul, lalu aku naik kudaku dan aku percepat perjalanan hingga aku sampai kepadanya lalu aku berbaiat kepadanya. Kemudian aku pergi ke Dhimar lalu aku bakar ia dengan api, kemudian aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku melantunkan kepadanya syair aku berkata di dalamnya:

Demi umurmu sesungguhnya aku pada hari aku menjadikan dengan bodoh Dhimar sebagai tuhan Rabb semesta alam yang menyekutukan Dan meninggalkanku Rasulullah dan Al-Aus di sekelilingnya Mereka itu adalah penolong baginya betapa mereka itu Seperti yang meninggalkan tanah yang mudah dan yang kasar dia mencari Untuk berjalan dalam kesulitan urusan-urusan jalan-jalan Maka aku beriman kepada Allah yang aku adalah hamba-Nya Dan aku menyelisihi orang yang telah bermalam ingin kebinasaan Dan aku hadapkan wajahku menuju Mekah dengan maksud Aku berbaiat dengan nabi yang paling mulia yang diberkahi Nabi yang datang kepada kami setelah Isa dengan yang berbicara Dari kebenaran di dalamnya pemisahan di dalamnya demikian Terpercaya atas Al-Quran pertama yang memberi syafaat Dan pertama yang diutus menjawab malaikat-malaikat Ia memperbaiki tali-tali Islam setelah terbukanya Maka ia menguatkannya hingga ia menegakkan syi’ar-syi’ar Maksudku engkau wahai sebaik-baik makhluk semuanya Engkau berada di tengah dua cabang dan kemuliaan Malik Dan engkau yang disucikan dari Quraisy jika naik Di atas tulang punggung mereka tetap generasi-generasi yang diberkahi Jika dinisbahkan dua kabilah Ka’ab dan Malik Kami dapati engkau murni dan perempuan-perempuan yang berpaling

Al-Kharaiti berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Balawi di Mesir, telah menceritakan kepada kami Umarah bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyr dan Salamah bin al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku seorang syekh dari kaum Anshar yang disebut Abdullah bin Mahmud dari keluarga Muhammad bin Maslamah, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa sekelompok orang dari suku Khats’am berkata: Sesungguhnya di antara yang mendorong kami masuk Islam adalah bahwa kami adalah kaum yang menyembah berhala. Suatu hari ketika kami berada di dekat berhala kami, datanglah beberapa orang yang meminta keputusan kepadanya, mengharapkan jalan keluar darinya untuk suatu masalah yang terjadi di antara mereka. Tiba-tiba ada suara yang memanggil mereka dari berhala itu, seraya berkata:

Wahai manusia yang memiliki jasad-jasad Dari yang tua-tua hingga yang muda Apa urusan kalian dengan pikiran yang sembarangan Dan menyerahkan hukum kepada berhala-berhala Apakah kalian semua dalam kebingungan orang yang tidur Ataukah kalian tidak melihat apa yang kulihat di depanku Dari cahaya yang menerangi kegelapan yang kelam Yang telah terlihat oleh yang melihat dari Tihamah Itulah seorang nabi penghulu manusia Yang telah datang setelah kekufiran dengan Islam Allah Yang Maha Pengasih telah memuliakannya sebagai imam Dan sebagai rasul yang benar ucapannya Paling adil yang memiliki hukum di antara segala hukum Menyuruh dengan shalat dan puasa Dan kebajikan serta menyambung tali kekerabatan Dan mencegah manusia dari dosa-dosa Dan kekejian dan berhala-berhala dan yang haram Dari Bani Hasyim di puncak kemuliaan Yang terkenal di negeri Haram

Ia berkata: Ketika kami mendengar itu, kami berpencar darinya dan mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu kami masuk Islam.

Al-Kharaiti berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah al-Balawi, telah menceritakan kepada kami Umarah, telah menceritakan kepadaku Ubaidillah bin al-Ala’, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Akbar dari Sa’id bin Jubair bahwa seorang laki-laki dari Bani Tamim yang disebut Rafi’ bin Umair, dan ia adalah orang yang paling pandai menunjukkan jalan, paling berani berjalan di malam hari, dan paling berani menghadapi bahaya. Bangsa Arab menyebutnya karena itu Da’mush al-Arab, karena kepandaiannya menunjukkan jalan dan keberaniannya dalam perjalanan. Maka ia menceritakan tentang awal masuk Islamnya, ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berjalan di pasir Alij suatu malam, tiba-tiba rasa kantuk menguasaiku maka aku turun dari untaku dan menambatkannya lalu aku bersandar pada lengannya dan tidur. Aku telah berlindung sebelum tidurku dan berkata: Aku berlindung dengan penghulu besar lembah ini dari jin, agar aku tidak diganggu atau diserang. Lalu aku melihat dalam mimpiku seorang laki-laki muda yang mengintai untaku, dan di tangannya ada tombak yang ingin ditusukkannya ke dada untaku. Aku terbangun karena itu dengan ketakutan, lalu aku melihat ke kanan dan kiri tetapi tidak melihat sesuatu pun. Maka aku berkata: Ini adalah mimpi. Kemudian aku kembali tertidur, lalu aku melihat dalam mimpiku seperti penglihatanku yang pertama. Aku terbangun lalu berkeliling mengelilingi untaku tetapi tidak melihat sesuatu pun, dan ternyata untaku bergetar. Kemudian aku tertidur lagi dan melihat seperti itu juga, lalu aku terbangun dan melihat untaku berguncang. Aku menoleh dan ternyata aku melihat seorang laki-laki muda seperti yang kulihat dalam mimpi, di tangannya ada tombak, dan seorang laki-laki tua memegang tangannya menahan dia darinya, dan ia berkata:

Wahai Malik bin Muhalhal bin Ditsar Tunggu dulu, demi selendang dan sarungku Dari unta si manusia, jangan ganggu dia Dan pilihlah darinya apa yang engkau mau dari lembu-lembuku Sungguh telah tampak bagiku darimu apa yang tidak kusangka Tidakkah engkau menghormati hubungan kekerabatanku dan perlindunganku Engkau menuju kepadanya dengan tombak yang beracun Celaka perbuatanmu wahai Abu al-Ghaffar Kalau bukan karena malu dan bahwa keluargamu adalah tetangga Niscaya engkau akan tahu apa yang kuungkapkan dari berita-beritaku

Ia berkata: Lalu pemuda itu menjawabnya dan ia berkata:

Apakah engkau ingin tinggi dan merendahkan sebutan kami Tanpa kehinaan wahai Abu al-Aizar Tidak ada di antara mereka pemimpin di masa lalu Sesungguhnya orang-orang pilihan adalah anak-anak orang pilihan Maka tetaplah pada tujuanmu wahai Mu’akbir, sesungguhnya Yang memberi perlindungan adalah Muhalhal bin Ditsar

Ia berkata: Sementara keduanya bertengkar, tiba-tiba muncul tiga ekor lembu liar, maka syekh itu berkata kepada pemuda: Bangunlah wahai keponakan, ambillah mana saja yang engkau mau sebagai tebusan untuk unta tetanggaku si manusia. Maka pemuda itu bangkit dan mengambil seekor lembu di antaranya lalu pergi. Kemudian aku menoleh kepada syekh itu lalu berkata: Wahai ini, apabila engkau turun di suatu lembah dan takut akan bahayanya maka katakanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan Muhammad dari bahaya lembah ini, dan jangan berlindung kepada salah seorang dari jin karena urusan mereka telah batal. Ia berkata: Lalu aku berkata kepadanya: Dan siapakah Muhammad ini? Ia berkata: Seorang nabi Arab, bukan timur dan bukan barat, diutus pada hari Senin. Aku berkata: Dan di mana tempat tinggalnya? Ia berkata: Yatsrib yang memiliki pohon kurma. Ia berkata: Maka aku mengendarai untaku ketika fajar telah menyingsing bagiku dan aku mempercepat perjalanan hingga aku tiba di Madinah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihatku lalu menceritakan kepadaku kisahku sebelum aku menyebutkan sesuatu kepadanya darinya, dan beliau mendakwahiku kepada Islam maka aku masuk Islam. Sa’id bin Jubair berkata: Kami melihat bahwa dialah yang Allah turunkan ayat tentangnya “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (Surah al-Jinn: 6).

Al-Kharaiti meriwayatkan dari jalur Ibrahim bin Ismail bin Hammad bin Abi Habibah dari Daud bin al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Ali yang berkata: Apabila engkau berada di lembah dan takut akan singa maka katakanlah: Aku berlindung dengan Daniel dan sumur dari kejahatan singa.

Al-Balawi meriwayatkan dari Umarah bin Zaid dari Ibrahim bin Sa’d, dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abdullah bin al-Harits dari ayahnya dari Ibnu Abbas kisah pertempuran Ali melawan jin di sumur Dzat al-Alam yang berada di Juhfah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengurusnya untuk mengambil air bagi mereka, lalu mereka ingin mencegahnya dan memotong timbanya, maka ia turun kepada mereka. Dan itu adalah kisah yang panjang yang sangat munkar. Wallahu a’lam.

Al-Kharaiti berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu al-Harits Muhammad bin Mush’ab ad-Dimasyqi dan lainnya, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bint Syurahbil ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Abdul Quddus bin al-Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Mujalid bin Sa’id dari asy-Sya’bi dari seorang laki-laki yang berkata: Aku berada dalam majelis Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu, dan bersamanya sekelompok sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang sedang bertukar cerita tentang keutamaan Al-Quran. Sebagian dari mereka berkata: Akhir-akhir Surah an-Nahl, dan sebagian dari mereka berkata: Surah Yasin. Dan Ali radhiyallahu anhu berkata: Lalu di mana kalian dari keutamaan Ayat Kursi? Ketahuilah bahwa ia adalah lima puluh kata, dalam setiap kata ada tujuh puluh berkah. Ia berkata: Dan dalam kaum itu ada Amr bin Ma’di Karb yang tidak membalas jawaban, maka ia berkata: Di mana kalian dari Bismillahirrahmanirrahim? Lalu Umar berkata: Ceritakan kepada kami wahai Abu Tsaur. Ia berkata: Ketika aku di masa Jahiliyah, kelaparan menekanku, lalu aku memacu kudaku ke padang pasir, tetapi aku tidak mendapat sesuatu kecuali telur burung unta. Sementara aku sedang berjalan, tiba-tiba aku melihat seorang syekh Arab di sebuah tenda, dan di sampingnya ada seorang budak perempuan seakan-akan matahari yang terbit, dan bersamanya ada kambing-kambing kecilnya. Maka aku berkata kepadanya: Menyerahlah, semoga ibumu kehilangan anaknya. Ia mengangkat kepalanya kepadaku dan berkata: Wahai pemuda, jika engkau ingin dijamu maka turunlah, dan jika engkau ingin bantuan kami akan membantumu. Maka aku berkata kepadanya: Menyerahlah. Ia berkata:

Kami tawarkan kepadamu jamuan dari kami dengan murah hati

Tetapi engkau tidak mundur karena kebodohan seperti perbuatan orang-orang yang sial

Dan engkau datang dengan kebohongan dan dusta, dan tanpa

Apa yang engkau inginkan dengan pedang-pedang putih adalah hantaman pisau cukur

Ia berkata: Ia melompat kepadaku dengan satu lompatan, dan ia berkata: Bismillahirrahmanirrahim, maka seakan-akan aku tergambar di bawahnya. Kemudian ia berkata: Apakah aku membunuhmu atau melepaskanmu? Aku berkata: Bahkan lepaskan aku. Ia berkata: Maka ia melepaskanku. Kemudian jiwaku membisikkan kepadaku untuk mengulanginya maka aku berkata: Menyerahlah, semoga ibumu kehilangan anaknya. Ia berkata:

Dengan Bismillahirrahman kami menang

Di sana dan dengan Rahim kami menaklukkan

Dan tidak berguna keberanian pemilik kehormatan

Apabila suatu hari untuk pertempuran kami muncul

Kemudian ia melompat kepadaku dengan satu lompatan seakan-akan aku tergambar di bawahnya lalu berkata: Apakah aku membunuhmu atau melepaskanmu? Ia berkata: Aku berkata: Bahkan lepaskan aku, maka ia melepaskanku lalu aku pergi tidak jauh. Kemudian aku berkata dalam diriku: Wahai Amr, apakah engkau ditaklukkan oleh syekh ini, demi Allah kematian lebih baik bagimu daripada kehidupan. Maka aku kembali kepadanya dan berkata kepadanya: Menyerahlah, semoga ibumu kehilangan anaknya. Ia melompat kepadaku dengan satu lompatan dan ia berkata: Bismillahirrahmanirrahim, maka seakan-akan aku tergambar di bawahnya lalu berkata: Apakah aku membunuhmu atau melepaskanmu? Aku berkata: Bahkan lepaskan aku. Ia berkata: Jauh sekali, wahai budak perempuan, bawalah kepadaku pisau. Maka ia membawakan kepadanya pisau lalu ia memotong rambutku di depan. Dan bangsa Arab apabila menguasai seorang laki-laki lalu memotong rambutnya di depan maka ia memperbudaknya. Maka aku bersamanya melayaninya beberapa waktu. Kemudian ia berkata: Wahai Amr, aku ingin engkau mengendarai bersamaku ke padang pasir, dan tidak ada rasa takut padaku darimu; dan sesungguhnya aku dengan Bismillahirrahmanirrahim sangat yakin. Ia berkata: Maka kami berjalan hingga kami tiba di lembah yang lebat, menakutkan, dan mengerikan. Ia memanggil dengan suara yang keras: Bismillahirrahmanirrahim, maka tidak tersisa burung dalam sarangnya kecuali terbang. Kemudian ia mengulangi suaranya maka tidak tersisa binatang buas dalam tempat istirahatnya kecuali lari. Kemudian ia mengulangi suaranya maka tiba-tiba kami melihat seorang Habsyi telah keluar kepada kami dari lembah seperti pohon kurma yang tinggi. Ia berkata kepadaku: Wahai Amr, apabila engkau melihat kami telah bersatu maka katakanlah: Temanku mengalahkannya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Ia berkata: Ketika aku melihat keduanya telah bersatu, aku berkata: Temanku mengalahkannya dengan Latta dan Uzza, tetapi syekh itu tidak melakukan sesuatu pun, lalu ia kembali kepadaku dan berkata: Aku telah tahu bahwa engkau telah menyelisihi ucapanku. Aku berkata: Benar dan aku tidak akan mengulanginya. Ia berkata: Apabila engkau melihat kami telah bersatu maka katakanlah: Temanku mengalahkannya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Maka aku berkata: Benar. Ketika aku melihat keduanya telah bersatu, aku berkata: Temanku mengalahkannya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Ia berkata: Maka syekh itu bersandar kepadanya lalu menusuknya dengan pedangnya hingga merobek perutnya, lalu mengeluarkan darinya sesuatu seperti lentera hitam. Kemudian ia berkata: Wahai Amr, ini adalah penipuan dan pengkhianatannya. Kemudian ia berkata: Tahukah engkau siapa budak perempuan itu? Aku berkata: Tidak. Ia berkata: Itu adalah al-Fari’ah binti as-Sulail al-Jurhumi, dan ayahnya adalah di antara orang baik dari kalangan jin, dan mereka adalah keluarganya dan anak-anak pamannya menyerangku, setiap tahun ada seorang laki-laki dari mereka, Allah menolongku atas mereka dengan Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian ia berkata: Engkau telah melihat apa yang terjadi dariku kepada si Habsyi, dan kelaparan telah menguasaiku, maka datangkan kepadaku sesuatu untuk kumakan.

Maka aku memacu kudaku ke padang pasir, tetapi aku tidak mendapat sesuatu kecuali telur burung unta, lalu aku datang kepadanya dengannya dan mendapatinya sedang tidur. Dan ternyata di bawah kepalanya ada sesuatu seperti kayu, maka aku mencabutnya, ternyata itu adalah pedang lebarnya sejengkal dalam tujuh jengkal, lalu aku memukul kedua kakinya satu pukulan yang memutuskan kedua betis dengan kedua telapak kaki, maka ia duduk tegak di atas tulang punggungnya, dan ia berkata: Semoga Allah membunuhmu, sungguh pengkhianatmu wahai pengkhianat. Umar berkata: Kemudian apa yang engkau lakukan? Aku berkata: Maka aku tidak berhenti memukulnya dengan pedangku hingga aku memotongnya anggota demi anggota. Ia berkata: Ia terdiam karena itu, kemudian mulai berkata:

Dengan pengkhianatan engkau dapatkan saudara Islam dari dekat

Aku tidak pernah mendengar seperti ini dalam bangsa Arab yang terdahulu

Dan bangsa Ajam enggan dari apa yang engkau lakukan dengan murah hati

Celaka apa yang engkau lakukan pada pemimpin yang mulia

Sesungguhnya aku heran bahwa aku mendapat pembunuhannya

Atau bagaimana Allah membalasmu pada dosa yang tidak engkau bertobat darinya

Seorang pemimpin yang memaafkanmu berkali-kali dan sungguh telah melekat

Pada tubuhmu darinya kedua tangannya tempat hukuman

Kalau aku mengambil dalam Islam apa yang mereka lakukan

Dalam masa Jahiliyah ahli syirik dan salib Niscaya akan menimpamu dari keadilanku pedang yang tajam

Memanggil bagi yang merasakannya dengan celaka dan perang

Ia berkata: Kemudian bagaimana keadaan budak perempuan itu? Aku berkata: Kemudian aku mendatangi budak perempuan itu, ketika ia melihatku ia berkata: Apa yang dilakukan syekh itu? Aku berkata: Si Habsyi membunuhnya. Ia berkata: Engkau bohong, bahkan engkau yang membunuhnya dengan pengkhianatanmu. Kemudian ia mulai berkata:

Wahai mata, tangislah untuk penunggang kuda yang pemberani

Kemudian tangislah dengan air mata yang lebat

Jangan bosan menangis ketika masa

Menghianatimu dengan yang menepati janji, sesungguhnya sabar

Dan bertakwa dan pemilik kehormatan dan kelembutan

Dan keseimbangan kebanggaan pada hari kebanggaan

Betapa sedihnya diriku atas kelangsungan hidupmu wahai Amr

Umur-umur menyerahkanmu kepada takdir

Demi umurku, kalau bukan karena engkau melemparkan dia dengan pengkhianatan

Engkau telah melempar singa dengan pedang yang tajam lagi memutus

Ia berkata: Maka aku menghafalkan perkataannya, lalu aku menghunus pedangku dan masuk ke dalam kemah untuk membunuhnya, tetapi aku tidak melihat seorang pun di dalam kemah. Kemudian kambingku meminum air, dan aku kembali kepada keluargaku. Ini adalah atsar yang menakjubkan, dan yang jelas adalah bahwa syekh itu berasal dari golongan jin, dan ia termasuk yang telah masuk Islam dan mempelajari Alquran, dan di antara yang dipelajarinya adalah Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan ia berlindung dengannya.

Al-Khara’ithi berkata: Abdullah bin Muhammad al-Balawi menceritakan kepada kami, Amarah bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin al-Ala menceritakan kepadaku dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari neneknya Asma binti Abu Bakar, ia berkata: Zaid bin Amr bin Nufail dan Waraqah bin Naufal menyebutkan bahwa keduanya mendatangi Najasyi setelah Abrahah kembali dari Mekah. Keduanya berkata: Ketika kami masuk menemuinya, ia berkata kepada kami: Jujurlah kepadaku wahai dua orang Quraisy, apakah lahir di kalangan kalian seorang bayi yang ayahnya ingin menyembelihnya, lalu diundi dengan anak panah dan selamat, kemudian disembelihlah unta yang banyak untuknya? Kami berkata: Ya. Ia berkata: Apakah kalian tahu apa yang terjadi dengannya? Kami berkata: Ia menikahi seorang perempuan bernama Aminah binti Wahab, ia meninggalkannya dalam keadaan hamil lalu pergi. Ia berkata: Apakah kalian tahu ia sudah lahir atau belum? Waraqah bin Naufal berkata: Akan kuberitahukan kepadamu wahai raja, bahwa pada suatu malam aku bermalam di samping berhala kami yang biasa kami thawaf kelilingi dan kami sembah, tiba-tiba aku mendengar dari dalam perutnya suara yang mengatakan:

Nabi telah lahir maka tunduk para berhala

Kesesatan menjauh dan kemusyrikan berlalu

Kemudian berhala itu jatuh tertelungkup pada wajahnya. Maka Zaid bin Amr bin Nufail berkata: Aku memiliki berita seperti beritanya wahai raja. Ia berkata: Katakanlah. Ia berkata: Aku pada malam seperti ini yang ia sebutkan di dalamnya peristiwanya, aku keluar dari keluargaku dan mereka menyebutkan kehamilannya Aminah, hingga aku sampai di gunung Abu Qubais; aku ingin menyendiri di sana untuk suatu urusan yang mengkhawatirkanku, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki turun dari langit memiliki dua sayap hijau, lalu ia berdiri di atas Abu Qubais, kemudian ia memandang ke Mekah dan berkata: Setan telah terhina, dan berhala-berhala telah batal, dan yang terpercaya telah lahir. Kemudian ia membentangkan kain yang bersamanya dan menurunkannya ke arah timur dan barat, maka aku melihatnya telah menutupi apa yang di bawah langit, dan terpancar cahaya yang hampir merenggut penglihatanku, dan aku takut dengan apa yang aku lihat, dan penyeru itu mengibas-ibaskan sayapnya hingga jatuh di atas Kakbah, maka terpancar untuknya cahaya yang menyinari dengannya Tihamah, dan ia berkata: Bumi telah subur dan menunaikan musim semi-nya. Dan ia menunjuk ke berhala-berhala yang ada di atas Kakbah, maka semuanya jatuh. Najasyi berkata: Celaka kalian! Akan kuberitahukan kepada kalian apa yang menimpaku. Aku sedang tidur pada malam yang kalian sebutkan di dalam kubah waktu kesendirianku, tiba-tiba keluar kepadaku dari bumi seekor leher dan kepala dan ia berkata: Celaka menimpa pemilik gajah, mereka dilempari oleh burung Ababil, dengan batu dari tanah liat yang keras, binasalah orang bermata belang, yang melampaui batas yang berdosa, dan lahirlah Nabi yang ummi, orang Mekah yang haram, barangsiapa menjawab seruannya akan bahagia, dan barangsiapa menolaknya akan celaka.

Kemudian ia masuk ke bumi dan menghilang, maka aku pergi berteriak tetapi aku tidak mampu berbicara, dan aku ingin berdiri tetapi aku tidak mampu berdiri, maka aku robohkan kubah dengan tanganku, lalu keluargaku mendengar hal itu maka mereka mendatangiku, lalu aku berkata: Tutuplah dariku orang-orang Habasyah, maka mereka menutup mereka dariku, kemudian dilepaskanlah lidahku dan kakiku.

Al-Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir meriwayatkan dalam tarikh-nya dalam biografi al-Harits bin Hani bin al-Mudalaj bin al-Miqdad bin Zamal bin Amr al-Udzri dari ayahnya dari kakeknya dari ayahnya dari Zamal bin Amr al-Udzri, ia berkata: Bani Udzrah memiliki berhala yang disebut Hamam. Mereka mengagungkannya dan ia berada di Bani Hind bin Haram bin Dhinnah bin Abd bin Katsir bin Udzrah, dan penjaganya adalah seorang laki-laki yang disebut Thariq, dan mereka menyembelih untuknya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam muncul, kami mendengar suara yang berkata: Wahai Bani Hind bin Haram, kebenaran telah muncul dan Hamam telah binasa, dan Islam telah mengalahkan kemusyrikan. Ia berkata: Maka kami terkejut dengan hal itu dan takut karenanya, lalu kami tinggal beberapa hari kemudian kami mendengar suara dan ia berkata: Wahai Thariq, wahai Thariq, Nabi yang jujur telah diutus, dengan wahyu yang berbicara, pembelah yang benar di tanah Tihamah, bagi penolongnya keselamatan, dan bagi penolaknya penyesalan, ini perpisahan dariku hingga hari kiamat. Zamal berkata: Maka berhala itu jatuh pada wajahnya. Zamal berkata: Maka aku membeli seekor unta, dan aku berangkat hingga aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama beberapa orang dari kaumku, dan aku membacakan kepadanya syair yang aku katakan:

Kepadamu wahai Rasulullah aku bekerja di dalamnya

Dan aku membebaninya dengan gunung dan gundukan dari pasir

Untuk menolong sebaik-baik manusia dengan pertolongan yang pasti

Dan aku mengikat tali dari tali-talimu di dalam taliku

Dan aku bersaksi bahwa Allah tidak ada sesuatu selain-Nya

Aku beragama dengan-Nya selama kakiku dibebani oleh sandalku

Ia berkata: Maka aku masuk Islam dan berbaiat kepadanya, dan kami mengabarkan kepadanya dengan apa yang kami dengar, maka ia berkata: Itu dari perkataan jin. Kemudian ia berkata: Wahai sekalian orang Arab, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua manusia, aku menyeru mereka kepada penyembahan Allah semata, dan bahwa aku adalah utusan-Nya dan hamba-Nya, dan hendaklah mereka berhaji ke Baitullah dan berpuasa sebulan dari dua belas bulan yaitu bulan Ramadhan, maka barangsiapa menjawabku maka baginya surga sebagai tempat tinggal, dan barangsiapa mendurhakaiku maka api neraka baginya sebagai tempat kembali. Ia berkata: Maka kami masuk Islam dan ia mengikatkan untuk kami bendera, dan ia menulis untuk kami surat yang naskahnya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah untuk Zamal bin Amr dan orang yang masuk Islam bersamanya secara khusus, sesungguhnya aku mengutusnya kepada kaumnya dengan sengaja, maka barangsiapa masuk Islam maka ia di golongan Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa menolak maka baginya perlindungan dua bulan. Menjadi saksi Ali bin Abu Thalib dan Muhammad bin Maslamah al-Anshari. Kemudian Ibnu Asakir berkata: Sangat gharib (aneh).

Abu Nuaim berkata dalam kitab Dala’il al-Nubuwwah: Abdullah bin Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin al-Hasan menceritakan kepada kami, Ali bin Harb menceritakan kepada kami, Abu al-Mundzir Hisyam bin Muhammad bin al-Sa’ib menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Abdullah al-Amani, ia berkata: Ada di antara kami seorang laki-laki yang disebut Mazin bin al-Ghadhubah. Ia menjaga berhala di sebuah kampung yang disebut Sumaiya dari Oman, dan Bani al-Shamit dan Bani Hathamah dan Mahrah mengagungkannya, dan mereka adalah paman-paman Mazin, ibunya Zainab binti Abdullah bin Rabiah bin Huwaish salah seorang dari Bani Numran. Mazin berkata: Maka kami menyembelih pada suatu hari di samping berhala itu sembelihan, yaitu penyembelihan, lalu aku mendengar suara dari berhala itu berkata: Wahai Mazin, dengarlah agar engkau senang, muncul kebaikan dan tersembunyi keburukan, diutus seorang nabi dari Mudhar, dengan agama Allah Yang Maha Besar, maka tinggalkanlah batu yang diukir dari batu; agar engkau selamat dari panasnya api neraka. Ia berkata: Maka aku sangat terkejut dengan hal itu kemudian kami menyembelih setelah beberapa hari sembelihan lain, lalu aku mendengar suara dari berhala itu berkata: Mendekatlah kepadaku mendekatlah, engkau akan mendengar apa yang tidak engkau abaikan, ini adalah nabi yang diutus, datang dengan kebenaran yang diturunkan, maka berimanlah kepadanya agar engkau berlaku adil, dari panasnya api yang menyala, bahan bakarnya adalah batu. Mazin berkata: Maka aku berkata: Sesungguhnya ini adalah keajaiban, dan sesungguhnya ini adalah kebaikan yang dikehendaki untukku. Dan seorang laki-laki dari Hijaz datang kepada kami, lalu aku berkata: Apa kabar di belakangmu? Maka ia berkata: Muncul seorang laki-laki yang disebut Ahmad, ia berkata kepada orang yang datang kepadanya: Sambut penyeru Allah. Maka aku berkata: Ini adalah berita tentang apa yang aku dengar, lalu aku bangkit menuju berhala itu, lalu aku hancurkan ia berkeping-keping, dan aku naiki untaku hingga aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah melapangkan dadaku untuk Islam, lalu aku masuk Islam dan aku berkata:

Aku hancurkan Bajir berkeping-keping padahal ia adalah untuk kami

Tuhan yang kami thawaf kepadanya dengan kesesatan karena kesesatan

Dengan al-Hasyimi membimbingku dari kesesatan kami

Dan tidak pernah agamanya dariku dalam ingatan

Wahai pengendara sampaikan kepada Amr dan saudara-saudaranya

Bahwa aku terhadap orang yang berkata Tuhan-ku adalah Bajir, seorang yang berkata

Maksudnya adalah Amr al-Shamit dan saudara-saudaranya Hathamah. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang tergila-gila dengan musik dan dengan perempuan-perempuan yang tercela, dan minum khamr, dan kemarau telah melanda kami, maka ia menghilangkan harta-harta dan melemahkan budak-budak, dan tidak ada bagiku anak, maka berdoalah kepada Allah agar menghilangkan dariku apa yang aku rasakan, dan mendatangkan kepada kami hujan, dan menganugerahkan kepadaku anak. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: Ya Allah, gantikanlah baginya dengan musik bacaan Alquran, dan dengan yang haram yang halal, dan dengan dosa dan dengan perzinaan kesucian, dan datangkanlah kepadanya hujan, dan anugerahkan kepadanya anak. Ia berkata: Maka Allah menghilangkan dariku apa yang aku rasakan, dan Oman menjadi subur, dan aku menikahi empat orang merdeka, dan aku hafal setengah Alquran, dan dianugerahkan kepadaku Hayyan bin Mazin, dan ia mulai berkata:

Kepadamu Rasulullah aku perjalankan kendaraanku

Melintasi padang tandus dari Oman hingga al-Araj

Agar engkau memberi syafaat untukku wahai sebaik-baik orang yang menginjak kerikil

Maka Tuhanku mengampuniku, lalu aku kembali dengan kemenangan

Kepada sekelompok orang yang aku menyelisihi dalam Allah agama mereka

Maka tidak pendapat mereka pendapatku dan tidak jalan mereka jalanku

Dan aku adalah seorang laki-laki dengan khamr dan perzinaan yang tergila-gila

Masa mudaku hingga tubuh memberitahu dengan kelemahannya

Maka Dia menggantinya untukku dengan khamr ketakutan dan ketakwaan

Dan dengan perzinaan keterjagaan maka dijaga untukku kemaluanku

Maka aku menjadi kesungguhanku dalam jihad dan niatku

Maka untuk Allah puasaku dan untuk Allah hajiku

Ia berkata: Ketika aku datang kepada kaumku, mereka mencelaku dan mencaciku, dan mereka memerintahkan seorang penyair mereka lalu ia menghina aku, maka aku berkata: Jika aku membalasnya maka sesungguhnya aku hanya menghina diriku sendiri, lalu aku pergi dari mereka, maka datang kepadaku dari mereka kelompok besar, dan aku adalah yang mengurus urusan-urusan mereka, maka mereka berkata: Wahai anak paman, kami mencela kepadamu suatu perkara dan kami membenci hal itu, maka jika engkau menolak hal itu maka kembalilah dan aturlah urusan-urusan kami, dan urusanmu dan apa yang engkau beragama dengannya. Maka aku kembali bersama mereka dan aku berkata:

Karena kebencian kalian di sisi kami pahit rasanya

Dan kebencian kami di sisi kalian wahai kaumku adalah susu

Tidak mengerti masa jika aku sebarkan aib-aib kalian

Dan kalian semua ketika disebutkan aib kami mengerti

Penyair kami terbungkam dari kalian dan penyair kalian

Dalam mencela kami menyampaikan dalam mencaci kami fasih

Tidak ada dalam hati terhadap kalian maka ketahuilah

Kecuali kedengkian dan dalam hati kalian kebencian dan kesumat

Mazin berkata: Maka Allah membimbing mereka setelah itu kepada Islam semuanya. Said bin Yahya bin Said al-Umawi berkata dalam maghazi-nya: Muhammad bin Said yaitu pamannya menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Munkadir berkata: Sesungguhnya disebutkan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata: Seorang penyeru dari jin berseru di atas Abu Qubais lalu ia berkata:

Buruk Allah pendapat kalian wahai keluarga Fahr

Betapa lemahnya akal dan pemahaman

Ketika kalian mendurhakai orang yang mencela terhadapnya

Agama nenek moyang mereka yang penjaga yang mulia

Bersekutu jin jin Bushra terhadap kalian

Dan laki-laki pohon kurma dan benteng-benteng

Hampir kuda-kuda bahwa kalian melihatnya diperlakukan dengan lembut

Membunuh kaum dalam haram dengan tombak

Apakah ada orang mulia dari kalian yang memiliki jiwa yang merdeka

Mulia kedua orang tuanya dan paman-pamannya

Pemukul pukulan yang menjadi pelajaran

Dan kembali dari kesedihan dan kegelisahan

Ibnu Abbas berkata: Maka syair ini menjadi pembicaraan bagi penduduk Mekah, mereka saling menyanyikannya di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Ini adalah setan yang berbicara kepada manusia tentang berhala-berhala yang disebut Mis’ar, dan Allah akan menghinakannya. Maka mereka tinggal tiga hari, tiba-tiba seorang penyeru berseru di atas gunung, ia berkata:

Kami membunuh dalam tiga hari Mis’ar

Ketika ia menyia-nyiakan jin dan melakukan yang mungkar

Aku pukulkan kepadanya pedang yang tajam yang terhunus

Karena menghina nabi kami yang suci

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Ini adalah ifrit dari jin yang namanya Samaj, ia beriman kepadaku, aku memberinya nama Abdullah, ia mengabarkan kepadaku bahwa ia mencarinya selama tiga hari. Maka Ali berkata: Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan wahai Rasulullah. Al-Hafizh Abu Nuaim meriwayatkan dalam al-Dala’il, ia berkata: Abdullah bin Muhammad bin Jafar menceritakan kepada kami, Abu al-Fadhl Muhammad bin Abdurrahman bin Musa bin Abu Harb al-Shaffar menceritakan kepada kami, Abbas bin al-Faraj al-Riyasyi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Abdul Aziz bin Abu Tsabit menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Abdul Hamid bin Bahram, dari Syahr bin Hausyab dari Ibnu Abbas dari Saad bin Ubadah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusku ke Hadhramaut dalam suatu keperluan sebelum hijrah, hingga ketika aku berada di sebagian jalan pada waktu malam, lalu aku mendengar seorang penyeru berkata:

Wahai Abu Amr menjadikanku susah tidur

Dan perginya tidur dan tertolak istirahat

Untuk mengingat sekelompok yang telah pergi dan punah

Dan semua makhluk takdir mereka akan binasa

Mereka pergi menuju kematian

Kolam-kolam yang bukan tempat minumnya tempat air

Mereka pergi untuk jalan mereka dan aku tinggal sebagai pengganti

Sendirian tidak ada yang menolong aku seorang yang sendirian

Sia-sia tidak dapat merawat suatu urusan

Ketika dirawat anak-anak yang kecil

Maka sangat lama aku tinggal untuk manusia

Dan sungguh telah bermalam dengan kebinasaannya

Tsamud Dan Ad dan abad-abad dengan Dzu Syu’ub

Sama-sama mereka semua Iram yang dipanen

Ia berkata: Kemudian ia diteriaki oleh yang lain: Wahai Khar’ab, kesombongan telah membawamu pergi, sesungguhnya keajaiban setiap keajaiban, antara Zuhrah dan Yatsrib. Ia berkata: Apa itu wahai Syahib? Ia berkata: Nabi perdamaian, diutus dengan sebaik-baik perkataan, kepada semua manusia, maka keluarlah dari negeri yang haram, ke pohon kurma dan benteng-benteng. Ia berkata: Siapa nabi yang diutus ini, dan kitab yang diturunkan, dan yang ummi yang diutamakan? Ia berkata: Seorang laki-laki dari keturunan Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr bin Kinanah. Ia berkata: Jauh sekali, berlalu dari ini usiaku dan pergi dari-nya zamanku, sungguh aku melihat diriku dan al-Nadhr bin Kinanah memanah sasaran yang satu dan meminum susu yang dingin, dan sungguh aku keluar dengannya dari pohon pada pagi hari yang dingin, dan terbit bersama matahari dan terbenam bersamanya, meriwayatkan apa yang ia dengar dan menetapkan apa yang ia lihat, dan jika ini dari keturunannya sungguh terhunus pedang, dan pergi ketakutan, dan terhapus zina dan binasa riba. Ia berkata: Maka beritahu aku apa yang akan terjadi? Ia berkata: Pergi kegembiraan dan kelaparan, dan kesulitan dan keberanian, kecuali sisa di Khuzaah. Dan pergi kesusahan dan kesengsaraan, dan akhlak yang tercela, kecuali sisa dari Khazraj dan Aus. Dan pergi kesombongan dan kebanggaan, dan adu domba dan pengkhianatan, kecuali sisa di Bani Bakr – maksudnya bin Hawazin – dan pergi perbuatan yang menyesal, dan amal yang berdosa, kecuali sisa di Khats’am. Ia berkata: Beritahu aku apa yang akan terjadi? Ia berkata: Jika budak perempuan menang, dan perempuan merdeka ditampar, maka keluarlah dari negeri hijrah, dan jika dicegah salam, dan diputuskan silaturahmi, maka keluarlah dari negeri yang haram. Ia berkata: Beritahu aku apa yang akan terjadi? Ia berkata: Kalau saja ada telinga yang mendengar, dan mata yang melihat; akan kuberitahukan kepadamu dengan apa yang menakutkan. Kemudian ia berkata:

Tidak ada tidur yang engkau tenangkan dengan kenikmatan

Wahai bin Ghauth dan tidak pagi yang datang kepada kami

Ia berkata: Kemudian ia berbunyi dengung seperti dengungan hamil, maka pergi fajar, lalu aku pergi untuk melihat, tiba-tiba seekor kadal dan ular mati. Ia berkata: Maka aku tidak tahu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah kecuali dengan hadits ini. Kemudian ia meriwayatkannya dari Muhammad bin Jafar dari Ibrahim bin Ali dari al-Nadhr bin Salamah dari Hassan bin Abadah bin Musa dari Abdul Hamid bin Bahram, dari Syahr dari Ibnu Abbas dari Saad bin Ubadah, ia berkata: Ketika kami membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam baiah Aqabah, aku keluar ke Hadhramaut untuk sebagian keperluan, ia berkata: Maka aku menyelesaikan keperluanku kemudian aku datang hingga ketika aku berada di sebagian jalan aku tidur, lalu aku terkejut dari malam dengan yang berteriak berkata:

Wahai Abu Amr menjadikanku susah tidur

Dan perginya tidur dan terputusnya istirahat

Dan disebutkan sepertinya dengan panjangnya.

Dan Abu Nuaim berkata: Umar bin Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ali menceritakan kepada kami, An-Nadhr bin Salamah menceritakan kepada kami, Abu Ghaziyah Muhammad bin Musa menceritakan kepada kami dari Al-Atthaf bin Khalid Al-Wabishi dari Khalid bin Sa’id dari ayahnya, ia berkata: Saya mendengar Tamim Ad-Dari berkata: Saya berada di negeri Syam ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus, lalu saya keluar untuk suatu keperluan. Malam tiba menghampiri saya, maka saya berkata: Saya berada dalam perlindungan penguasa besar lembah ini malam ini. Ia berkata: Tatkala saya mengambil tempat tidur, tiba-tiba ada yang menyeru yang tidak saya lihat: Mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya jin tidak dapat melindungi seorang pun terhadap (kehendak) Allah. Maka saya berkata: Demi Allah, apa yang engkau katakan? Ia berkata: Sungguh telah diutus Rasul dari golongan yang ummi, Rasulullah, dan kami telah shalat di belakangnya di Hajun, lalu kami masuk Islam dan mengikutinya. Tipu daya jin telah lenyap dan kami dilempari dengan meteor. Maka pergilah engkau kepada Muhammad Rasulullah Rabb semesta alam dan masuklah Islam. Tamim berkata: Ketika pagi tiba, saya pergi ke biara Ayyub lalu saya bertanya kepada seorang rahib dan memberitahunya tentang kejadian tersebut. Maka rahib itu berkata: Mereka telah jujur kepadamu. Ia keluar dari tanah haram, dan tempat hijrahnya adalah tanah haram, dan ia adalah sebaik-baik para nabi, maka janganlah engkau mendahuluinya. Tamim berkata: Maka saya berusaha keras untuk berangkat hingga saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu saya masuk Islam.

Dan Hatim bin Ismail berkata dari Abdullah bin Yazid Al-Hudzali dari Abdullah bin Sa’idah Al-Hudzali dari ayahnya, ia berkata: Kami berada di dekat patung kami Suwa’, dan kami telah membawa kambing-kambing kami kepadanya, dua ratus ekor yang terkena kudis, lalu kami mendekatkannya kepadanya untuk memohon berkahnya. Lalu saya mendengar penyeru dari dalam perut patung itu menyeru: Tipu daya jin telah lenyap dan kami dilempari dengan meteor untuk seorang nabi yang namanya Ahmad. Ia berkata: Maka saya berkata: Demi Allah, engkau telah sesat. Lalu saya memalingkan kambing-kambing saya menuju ke arah timur laut kepada keluargaku. Lalu saya bertemu dengan seorang laki-laki yang mengabarkan kepada saya tentang kemunculan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Abu Nuaim menyebutkan demikian secara mu’allaq kemudian berkata: Umar bin Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin As-Sindi menceritakan kepada kami, An-Nadhr bin Salamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Maslamah Al-Makhzumi menceritakan kepada kami, Yahya bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Hakim bin Atha’ Azh-Zhufri – dari Bani Sulaim dari keturunan Rasyid bin Abd Rabbihi – dari ayahnya dari kakeknya dari Rasyid bin Abd Rabbihi, ia berkata: Patung yang disebut Suwa’ berada di Al-Mu’alla dari Rahat, Hudzail dan Bani Zhufar bin Sulaim beragama kepadanya. Maka Bani Zhufar mengutus Rasyid bin Abd Rabbihi dengan hadiah dari Sulaim kepada Suwa’. Rasyid berkata: Saya melewati pada waktu fajar ke patung sebelum patung Suwa’, tiba-tiba ada yang berteriak dari dalam perutnya: Keajaiban, segala keajaiban, dari keluarnya seorang nabi dari Bani Abdul Muththalib, mengharamkan zina dan riba serta penyembelihan untuk patung-patung, dan langit telah dijaga, dan kami dilempari dengan meteor, keajaiban, segala keajaiban. Kemudian patung lain memanggil dari dalam perutnya Meninggalkan Adh-Dhamar yang dahulu disembah, Ahmad telah keluar, shalat dan memerintahkan zakat, puasa, kebaikan dan menyambung silaturahmi. Kemudian dari dalam perut patung yang lain memanggil seorang yang memanggil yang berkata:

Sesungguhnya yang mewarisi kenabian dan petunjuk … setelah Ibnu Maryam dari Quraisy yang mendapat petunjuk

Nabi yang datang mengabarkan apa yang telah terjadi … dan apa yang akan terjadi esok hari

Rasyid berkata: Maka saya menemukan Suwa’ pada waktu fajar dan dua rubah menjilat apa yang ada di sekitarnya dan memakan apa yang dihadiahkan kepadanya, kemudian mereka naik kepadanya dengan kencing mereka. Maka pada saat itu Rasyid bin Abd Rabbihi berkata:

Tuhan yang rubah-rubah kencing di kepalanya … sungguh hinanya orang yang rubah-rubah kencing kepadanya

Dan itu terjadi pada saat keluarnya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hijrahnya ke Madinah dan orang-orang mendengar tentangnya. Maka Rasyid keluar hingga ia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam di Madinah, dan bersamanya anjingnya. Dan nama Rasyid pada hari itu adalah Zhalim dan nama anjingnya adalah Rasyid. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: Siapa namamu? Ia berkata: Zhalim. Nabi bertanya: Lalu apa nama anjingmu? Ia berkata: Rasyid. Nabi bersabda: Namamu adalah Rasyid dan nama anjingmu adalah Zhalim. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam tertawa dan membaiat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ia tinggal di Makkah bersamanya. Kemudian ia meminta dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebidang tanah di Rahat, dan menggambarkannya kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan kepadanya di Al-Mu’alla dari Rahat sejauh lari kuda dan lemparan batu tiga kali, dan memberinya sebuah wadah yang penuh dengan air dan meludah di dalamnya, dan bersabda kepadanya: Tumpahkan di bagian atas bidang tanah itu dan jangan engkau cegah orang-orang dari kelebihannya. Maka ia melakukannya. Maka air itu menjadi mata air yang mengalir hingga hari ini, lalu ia menanam pohon kurma di atasnya, dan dikatakan bahwa seluruh Rahat minum darinya. Maka orang-orang menamakannya Air Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam. Dan penduduk Rahat mandi dengannya dan lemparan Rasyid mencapai bukit yang disebut Rakib Al-Hajar. Dan Rasyid pergi ke Suwa’ lalu menghancurkannya.

Dan Abu Nuaim berkata: Sulaiman bin Ahmad menceritakan kepada kami, Ali bin Ibrahim Al-Khuza’i Al-Ahwazi menceritakan kepada kami, Abu Muhammad Abdullah bin Dawud bin Dalhat bin Ismail bin Musri’ bin Yasir bin Suwaid, sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami, ayah saya menceritakan kepada kami dari ayahnya Dalhat dari ayahnya Ismail bahwa ayahnya Abdullah menceritakan kepadanya dari ayahnya Musri’ bin Yasir bahwa ayahnya Yasir menceritakan kepadanya dari Amr bin Murrah Al-Juhani bahwa ia pernah menceritakan, ia berkata: Saya keluar berhaji bersama sekelompok dari kaumku pada masa jahiliyah. Lalu saya melihat dalam mimpi ketika saya berada di Makkah cahaya yang memancar dari Ka’bah hingga menerangi gunung Yatsrib dan gunung-gunung Juhainah. Lalu saya mendengar suara dalam cahaya itu dan ia berkata: Kegelapan telah sirna dan cahaya telah bersinar dan penutup para nabi telah diutus. Kemudian ia menerangi penerangan lain hingga saya melihat istana-istana Al-Hirah dan Abyadh Al-Mada’in. Lalu saya mendengar suara dalam cahaya itu dan ia berkata: Islam telah muncul dan patung-patung telah dihancurkan dan silaturahmi telah disambung. Maka saya bangun dengan ketakutan, lalu saya berkata kepada kaumku: Demi Allah, sungguh akan terjadi pada kaum Quraisy ini suatu peristiwa. Dan saya mengabarkan kepada mereka apa yang saya lihat. Ketika kami sampai ke negeri kami, datang kepada kami seorang laki-laki lalu mengabarkan kepada kami bahwa seorang laki-laki yang disebut Ahmad telah diutus. Maka saya mendatanginya dan mengabarkan kepadanya apa yang saya lihat. Maka ia bersabda: Wahai Amr bin Murrah, sesungguhnya saya diutus kepada para hamba secara keseluruhan, aku menyeru mereka kepada Islam dan memerintahkan mereka untuk menjaga darah dan menyambung silaturahmi dan beribadah kepada Allah dan menolak patung-patung dan haji ke Baitullah dan puasa bulan Ramadhan, sebuah bulan dari dua belas bulan. Barangsiapa yang menjawab maka baginya surga dan barangsiapa yang membangkang maka baginya neraka. Maka berimanlah wahai Amr bin Murrah, niscaya Allah melindungimu dari api neraka Jahannam. Maka saya berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Saya beriman dengan semua yang engkau bawa dari yang halal dan yang haram, meskipun hal itu dibenci oleh banyak kaum. Kemudian saya membacakan syair-syair kepadanya yang saya ucapkan ketika saya mendengar tentangnya, dan kami memiliki patung dan ayah saya adalah penjaganya. Maka saya bangkit kepadanya lalu menghancurkannya kemudian bergabung dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan saya berkata:

Saya bersaksi bahwa Allah itu benar dan bahwa saya … terhadap tuhan-tuhan batu adalah orang pertama yang meninggalkan

Maka saya singsingkan kain dari betis saya, kain orang yang berhijrah … kepadamu aku berlari melewati Al-Ghaur setelah Ad-Dakadik untuk menemani sebaik-baik manusia jiwa dan orang tuanya … utusan Raja manusia di atas Al-Haba’ik

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Selamat datang kepadamu wahai Amr bin Murrah. Maka saya berkata: Wahai Rasulullah, demi ayahku dan ibuku untuk engkau, utuslah saya kepada kaumku, mudah-mudahan Allah memberi karunia kepada mereka melalui saya sebagaimana Dia memberi karunia kepadaku melalui engkau. Maka ia mengutusku kepada mereka dan bersabda: Hendaklah engkau berkata yang benar dan janganlah menjadi kasar, jangan sombong, dan jangan dengki. Maka saya mendatangi kaumku lalu saya berkata kepada mereka: Wahai Bani Rifa’ah, kemudian wahai Bani Juhainah, sesungguhnya saya adalah utusan dari Rasulullah kepada kalian, saya menyeru kalian kepada surga, dan saya memperingatkan kalian dari neraka, dan saya memerintahkan kalian untuk menjaga darah, dan menyambung silaturahmi, dan beribadah kepada Allah, dan menolak patung-patung, dan haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan, sebuah bulan dari dua belas bulan. Barangsiapa yang menjawab maka baginya surga dan barangsiapa yang membangkang maka baginya neraka. Wahai seluruh Juhainah, sesungguhnya Allah – dan bagi-Nya segala puji – menjadikan kalian pilihan dari siapa kalian berasal, dan membenci kepada kalian pada masa jahiliyah kalian apa yang dicintai oleh orang lain dari perbuatan keji; karena mereka dulu mengumpulkan antara dua saudara perempuan dan seorang laki-laki menikahi istri ayahnya, dan permusuhan pada bulan haram. Maka jawablah nabi yang diutus shallallahu alaihi wasallam dari Bani Luay bin Ghalib ini, kalian akan mendapatkan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat. Segeralah, segeralah dalam hal itu agar kalian memiliki keutamaan di sisi Allah. Maka mereka menjawab kecuali seorang laki-laki dari mereka yang bangkit lalu berkata: Wahai Amr bin Murrah, Allah merusak hidupmu, apakah engkau memerintahkan kami untuk menolak tuhan-tuhan kami, dan memecah belah persatuan kami dengan menyelisihi agama nenek moyang kami kepada apa yang didakwahkan orang Quraisy dari penduduk Tihamah ini?! Tidak dan tidak ada sambutan dan tidak ada kehormatan. Kemudian ia mulai berkata Sesungguhnya Ibnu Murrah telah datang dengan perkataan … bukan perkataan orang yang menginginkan kebaikan

Sesungguhnya saya menduga perkataannya dan perbuatannya … suatu hari dan meskipun zaman panjang, sia-sia

Apakah engkau menghina orang-orang tua dari yang telah berlalu … barangsiapa menginginkan itu, ia tidak akan mendapat keberuntungan

Maka Amr bin Murrah berkata: Pendusta dari saya dan darimu, Allah merusak kehidupannya dan membisukan lidahnya dan membutakan penglihatannya. Amr bin Murrah berkata: Demi Allah, ia tidak mati hingga mulutnya jatuh dan ia tidak menemukan rasa makanan dan menjadi buta dan bisu. Dan Amr bin Murrah keluar dan yang masuk Islam dari kaumnya hingga mereka mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka ia menyambut mereka dan memberi mereka hadiah dan menulis untuk mereka surat yang isinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat dari Allah atas lisan Rasul-Nya dengan tulisan yang benar dan kebenaran yang berbicara bersama Amr bin Murrah Al-Juhani untuk Juhainah bin Zaid: Sesungguhnya bagi kalian perut-perut bumi dan dataran-datarannya dan lembah-lembah serta punggung-punggungnya, kalian menggembalakan tumbuhannya dan minum airnya yang jernih dengan syarat kalian mengakui seperlima, dan melaksanakan shalat lima waktu, dan pada binatang yang diikuti dan yang dipisahkan dua ekor kambing jika berkumpul dan jika terpisah maka seekor kambing seekor kambing, tidak ada sedekah atas orang yang membawa perbekalan, dan tidak ada pada yang datang untuk membeli, dan menyaksikan bagi kami yang hadir dari kaum muslimin dengan tulisan Qais bin Syammas, semoga Allah meridhai mereka. Dan itu ketika Amr bin Murrah berkata

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menampakkan agama-Nya … dan menjelaskan bukti Al-Quran untuk Amir

Kitab dari Ar-Rahman cahaya untuk jamaah kami … dan sekutu-sekutu kami di setiap orang badui dan yang menetap

Kepada sebaik-baik orang yang berjalan di atas bumi seluruhnya … dan paling utama mereka ketika kesulitan berat

Kami taat kepada Rasulullah ketika terpotong-potong … perut-perut musuh dengan pedang dan tombak

Maka kami adalah kaum yang kemuliaan telah dibangun di sekitar kami … ketika ditampakkan dalam perang kepala-kepala para pembesar

Anak-anak perang, kami mengusirnya dengan tangan-tangan yang panjang … dan pedang-pedang yang berkilau di telapak tangan para pemberani

Engkau melihat di sekelilingnya para Anshar melindungi pemimpin mereka … dengan tombak-tombak panjang dan pedang-pedang yang tajam

Ketika perang berputar pada setiap kesulitan besar … dan pusarannya berputar dengan singa-singa yang menerkam wajahnya bersinar dan semakin bertambah wajahnya … seperti cahaya bulan di antara bintang-bintang yang bercahaya

Dan Abu Utsman Said bin Yahya Al-Umawi berkata dalam kitab maghazi-nya: Abdullah menceritakan kepada kami, Abu Abdullah menceritakan kepada kami, Al-Mujalid bin Sa’id dan Al-Ajlah menceritakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, seorang syaikh dari Juhainah menceritakan kepada saya, ia berkata: Salah seorang dari kami sakit dengan sakit yang parah hingga berat, hingga kami menggali kuburan untuknya, dan menyiapkan urusannya. Lalu ia pingsan, kemudian membuka matanya dan sadar lalu berkata: Apakah kalian menggali untukku? Mereka berkata: Ya. Ia berkata: Lalu apa yang dilakukan Al-Fadhl? Dan ia adalah sepupu bagi dia. Kami berkata: Baik, ia baru saja lewat menanyakan tentangmu. Ia berkata: Ketahuilah bahwa ia hampir saja ditempatkan di lubangku. Sesungguhnya seseorang datang kepadaku ketika aku pingsan lalu berkata: Menangislah Hubal, tidakkah engkau melihat kuburanmu akan terbongkar, dan ibumu hampir kehilangan anak? Bagaimana pendapatmu jika kami mengalihkannya darimu dengan perpindahan, kemudian mengisinya dengan batu, dan kami lemparkan ke dalamnya Al-Fadhl, yang telah pergi lalu mencukupimu, dan ia mengira bahwa tidak akan dilakukan, apakah engkau bersyukur kepada Tuhanmu dan menyambung silaturahmi dan meninggalkan agama orang yang menyekutukan dan sesat? Ia berkata: Saya berkata: Ya. Ia berkata: Bangunlah, engkau telah sembuh. Ia berkata: Maka laki-laki itu sembuh dan Al-Fadhl meninggal, lalu dimasukkan ke dalam kuburnya. Al-Juhani berkata: Maka saya melihat Al-Juhani setelah itu shalat dan mencaci patung-patung dan mencelanya.

Dan Al-Umawi berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berada di suatu majelis, mereka berbincang-bincang tentang jin, maka Khuraim bin Fatik Al-Asadi berkata: Maukah aku ceritakan kepadamu bagaimana keislamanku? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya saya suatu hari dalam mencari unta-untaku, saya mengikuti jejak mereka, mereka naik dan mendaki, hingga ketika saya berada di Abraq Al-Iraq, saya menidurkan untaku dan berkata: Saya berlindung dengan penguasa besar negeri ini, saya berlindung dengan pemimpin lembah ini. Maka tiba-tiba ada yang memanggil memanggilku

Celakalah engkau, berlindunglah kepada Allah Dzat Keagungan … dan kemuliaan dan nikmat dan pemberian

Kemudian bacalah ayat-ayat dari Al-Anfal … dan tauhidkan Allah dan jangan engkau khawatir

Ia berkata: Maka saya ketakutan dengan ketakutan yang sangat kemudian saya kembali kepada diriku lalu saya berkata:

Wahai penyeru itu, apa yang engkau katakan … apakah ada petunjuk padamu atau penyesatan

Jelaskanlah, semoga Allah memberimu petunjuk, apa kegelisahan itu

Dia (perawi) berkata: Maka dia (jin itu) berkata:

Ini adalah Rasulullah pemilik kebaikan-kebaikan … di Yatsrib (Madinah) yang menyeru kepada keselamatan Dia memerintahkan kepada kebaikan dan shalat … dan mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan keji

Dia (perawi) berkata: Aku berkata kepadanya: Demi Allah, aku tidak akan bergerak dari sini hingga aku mendatanginya dan beriman kepadanya. Maka aku memasukkan kakiku ke dalam sanggurdi untaku dan berkata:

Tunjukkanlah aku, tunjukkanlah aku, semoga engkau diberi petunjuk … semoga aku tidak lapar selama aku hidup dan tidak telanjang Dan semoga engkau tetap menjadi pemimpin yang memberi makan … janganlah engkau mengutamakan kebaikan yang telah engkau datangi atas seluruh jin selama engkau ada

Maka dia berkata:

Semoga Allah menemanimu dan menyampaikan perjalananmu … dan mengagungkan pahala serta menyehatkan dirimu Berimanlah kepadanya, semoga Tuhanku memenangkan hakmu … dan menolonglah dia, semoga Tuhanku memuliakan pertolonganmu

Dia (perawi) berkata: Aku berkata: Siapakah engkau, semoga Allah memberimu kesehatan, sehingga aku dapat memberitahunya ketika aku datang kepadanya? Maka dia berkata: Aku adalah Malik bin Malik dan aku adalah pemimpinnya atas jin Nashiibiin, dan aku akan menjaga unta-untamu hingga aku kumpulkan kepada keluargamu insya Allah. Dia (perawi) berkata: Maka aku berangkat hingga aku tiba di Madinah pada hari Jumat dan orang-orang berbondong-bondong menuju masjid, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas mimbar seperti bulan purnama sedang berkhutbah kepada manusia. Maka aku berkata (dalam hati): Aku akan mengikatkan (unta) di pintu masjid hingga beliau selesai shalat, lalu aku akan masuk kepadanya dan menyatakan keislamanku serta memberitahunya tentang keislamanku. Ketika aku mengikatkan (unta), keluarlah Abu Dzar kepadaku dan berkata: Selamat datang, marhaban, ahlan wa sahlan, sungguh telah sampai kepada kami berita tentang keislamanmu, maka masuklah dan shalatlah. Maka aku melakukan hal itu, kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu beliau memberitahuku tentang keislamanku maka aku berkata: Segala puji bagi Allah. Beliau bersabda: Adapun temanmu (jin itu) sungguh telah menepati janjinya kepadamu dan dia adalah ahlinya, dan telah menyampaikan unta-untamu kepada keluargamu.

Dan telah meriwayatkannya Ath-Thabarani dalam biografi Khuraim bin Fatik dari Mu’jamnya Al-Kabir dengan berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ishaq Al-Yusairi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Asy-Syami, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa Al-Iskandari, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah, dia berkata: Khuraim bin Fatik berkata kepada Umar bin Al-Khaththab: Wahai Amirul Mukminin, maukah aku memberitahumu bagaimana awal mula keislamanku? Dia berkata: Ya. Maka dia menyebutkannya, hanya saja dia berkata: Maka keluarlah kepadaku Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu berkata: Masuklah, karena sungguh telah sampai kepada kami berita tentang keislamanmu. Maka aku berkata: Aku tidak pandai berwudhu, maka ajarkanlah aku. Lalu aku masuk masjid dan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti bulan purnama, dan beliau sedang bersabda: Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian shalat dengan shalat yang dia jaga dan dia fahami kecuali dia akan masuk surga. Maka Umar berkata kepadaku: Datangkanlah kepadaku saksi atas hal ini atau aku akan menghukummu. Maka syaikh Quraisy Utsman bin Affan bersaksi untukku, lalu dia membenarkan kesaksiannya. Kemudian dia meriwayatkannya dari Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dari Muhammad bin Tasnim dari Muhammad bin Khalifah dari Al-Hasan bin Muhammad dari ayahnya, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab berkata kepada Khuraim bin Fatik: Ceritakanlah kepadaku hadits yang membuatku kagum. Maka dia menyebutkan seperti alur yang pertama dengan sama.

Dan berkata Abu Nu’aim: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik Ahmad bin Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman bin Binti Syurahbil, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy dari Yahya bin Abi Amr Asy-Syaibani dari Abdullah bin Ad-Dailami, dia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas lalu berkata: Sampai kepada kami bahwa engkau menyebutkan Sathih, engkau mengklaim bahwa Allah menciptakannya dan tidak menciptakan dari anak Adam sesuatu yang menyerupainya? Dia (Ibnu Abbas) berkata: Ya, sesungguhnya Allah menciptakan Sathih Al-Ghassani sebagai daging di atas wadham (alas tidur) dan tidak ada padanya tulang atau urat kecuali tengkorak dan dua telapak tangan, dan dia dilipat dari kedua kakinya hingga tulang dadanya sebagaimana kain dilipat, dan tidak ada padanya sesuatu yang bergerak kecuali lidahnya. Ketika hendak keluar menuju Makkah, dia diangkut di atas wadhamnya lalu dibawa ke Makkah. Maka keluarlah kepadanya empat orang dari Quraisy: Abdu Syams dan Hasyim, dua anak Abdi Manaf bin Qushayy, dan Al-Ahwash bin Fahr, dan Aqil bin Abi Waqqash, lalu mereka menyembunyikan nasab mereka yang sebenarnya.

Dan mereka berkata: Kami adalah orang-orang dari Jumah yang datang kepadamu, telah sampai kepada kami berita kedatanganmu maka kami melihat bahwa kedatangan kami kepadamu adalah hak bagimu yang wajib atas kami. Dan Aqil menghadiahkan kepadanya pedang India dan tombak Rudiniyyah lalu diletakkan di pintu Baitulharam agar mereka melihat apakah Sathih akan melihatnya atau tidak. Maka dia berkata: Wahai Aqil, berikan tanganmu kepadaku. Maka dia memberikan tangannya kepadanya, lalu dia berkata: Wahai Aqil, demi Yang Mengetahui yang tersembunyi, dan Yang Mengampuni kesalahan, dan perjanjian yang ditepati, dan Ka’bah yang dibangun, sesungguhnya engkau datang dengan hadiah, pedang India, dan tombak Rudiniyyah. Mereka berkata: Engkau benar wahai Sathih. Maka dia berkata: Demi yang datang dengan kegembiraan, dan pelangi, dan seluruh kegembiraan, dan laut yang terbentang, dan pohon kurma, buah basah dan buah kering, sesungguhnya burung gagak ketika lewat adalah pertanda baik, maka beritahukanlah bahwa kaum itu bukanlah dari Jumah, dan bahwa nasab mereka dari Quraisy pemilik Bathha. Mereka berkata: Engkau benar wahai Sathih, kami adalah ahli Baitulharam yang datang kepadamu untuk mengunjungimu karena apa yang telah sampai kepada kami dari ilmumu, maka beritahukanlah kepada kami tentang apa yang akan terjadi di zaman kami ini dan apa yang akan terjadi setelahnya, mudah-mudahan engkau memiliki ilmu tentang hal itu.

Dia berkata: Sekarang kalian berkata jujur, ambillah dariku dan dari ilham Allah kepadaku: Kalian wahai sekalian Arab berada di zaman yang tua, sama saja penglihatan batin kalian dengan penglihatan batin orang Ajam, tidak ada ilmu pada kalian dan tidak ada pemahaman, dan akan tumbuh dari keturunan kalian orang-orang yang memiliki pemahaman yang mencari berbagai jenis ilmu, maka mereka akan menghancurkan berhala dan mencapai benteng dan membunuh orang Ajam, mereka mencari harta rampasan. Mereka berkata: Wahai Sathih, siapakah mereka itu? Maka dia berkata kepada mereka: Demi Bait pemilik rukun-rukun, dan keamanan serta ketentraman, sungguh akan tumbuh dari keturunan kalian anak-anak yang akan menghancurkan berhala-berhala, dan mengingkari penyembahan setan, dan mentauhidkan Ar-Rahman, dan menyebarkan agama Ad-Dayyan (Yang Maha Menghukum), mereka akan meninggikan bangunan, dan menaklukkan negeri-negeri. Mereka berkata: Wahai Sathih, dari keturunan siapakah mereka itu? Dia berkata: Demi yang paling mulia dari para bangsawan, dan yang mengakhiri pemborosan, dan yang menggoncangkan bukit-bukit pasir, dan yang melipat gandakan kelipatan, sungguh akan tumbuh ribuan orang dari Abdu Syams dan Abdi Manaf, pertumbuhan yang di dalamnya akan terjadi perselisihan. Mereka berkata: Wahai celaka kami wahai Sathih, maka apa yang engkau beritahukan kepada kami dari ilmu tentang urusan mereka dan dari negeri manakah mereka akan keluar?

Maka dia berkata: Demi Yang Kekal selamanya, dan Yang mencapai batas waktu, sungguh akan keluar dari negeri ini pemuda yang memberi petunjuk kepada kebenaran, dia menolak Yaguts dan Al-Fand, dia berlepas diri dari penyembahan tandingan-tandingan, dia menyembah Tuhan Yang Esa, kemudian Allah akan mewafatkannya dalam keadaan terpuji, hilang dari bumi, dan disaksikan di langit, kemudian akan menggantikan urusannya Ash-Shiddiq, jika dia memutuskan perkara dia benar, dan dalam mengembalikan hak-hak tidak ceroboh dan tidak tergesa-gesa, kemudian akan menggantikan urusannya Al-Haniif, berpengalaman dan gagah, dan meninggalkan perkataan yang keras, dia telah menjamu tamu, dan menyempurnakan ketakwaan, kemudian akan menggantikan urusannya penyeru untuk urusannya yang berpengalaman, maka akan berkumpul untuknya kelompok-kelompok dan golongan-golongan, lalu mereka membunuhnya sebagai pembalasan dan kemarahan terhadapnya, maka syaikh itu diambil lalu disembelih berkeping-keping, maka akan bangkit untuk hal itu orang-orang yang pandai berpidato, kemudian akan menggantikan urusannya An-Nashir, dia mencampurkan pendapat dengan pendapat yang mengingkari, dia menampakkan pasukan-pasukan di bumi, kemudian akan menggantikan setelahnya anaknya yang mengambil kelompoknya, dan sedikit pujian untuknya, dan dia mengambil harta, dan makan sendiri, dan harta bertambah banyak untuk keturunannya setelahnya, kemudian akan menggantikan setelahnya beberapa raja, tidak diragukan darah di antara mereka tertumpah, kemudian akan menggantikan setelah mereka Ash-Sha’luuk, dia melipat mereka seperti lipatan kain tebal, kemudian akan menggantikan setelahnya yang tampak yang menjauhkan makhluk dan mendekatkan Mudhar, dia menaklukkan bumi dengan penaklukan yang mengingkari, kemudian akan menggantikan yang pendek perawakannya, di punggungnya ada tanda, dia mati dengan kematian dan keselamatan, kemudian akan menggantikan sebentar yang pagi-pagi, dia meninggalkan kerajaan dalam keadaan rusak, kemudian akan menggantikan saudaranya dengan sunnahnya berjalan, dia mengkhususkan dengan harta-harta dan mimbar-mimbar, kemudian akan menggantikan setelahnya yang bodoh, pemilik dunia dan kenikmatan yang dihimpun, orang-orang yang bergaul dengannya dan kerabatnya bermusyawarah dengannya, mereka bangkit kepadanya mencopotnya dengan mengambil kerajaan dan membunuhnya, kemudian akan menggantikan urusannya setelahnya yang ketujuh, dia meninggalkan kerajaan dalam keadaan kosong dan sia-sia, anak-anaknya dalam kerajaannya seperti orang yang cacat lapar, pada saat itu akan tamak terhadap kerajaan setiap orang yang telanjang, dan akan menggantikan urusannya yang penuh penyesalan, dia menyenangkan Nizar dan mengumpulkan Qahthan, ketika bertemu mereka berdua di Damaskus dua kelompok, antara bangunan dan Lubnan, Yaman pada hari itu terbagi dua golongan, golongan yang gembira dan golongan yang dikhianati, tidak terlihat kecuali tali yang terurai, dan tawanan yang dibelenggu, antara busur dan kuda-kuda, pada saat itu rumah-rumah dirusak, dan janda-janda dirampas, dan wanita hamil keguguran, dan gempa-gempa muncul, dan Wail mencari khilafah, maka Nizar marah, lalu dia mendekatkan budak-budak dan orang-orang jahat, dan menjauhkan orang-orang yang setara dan orang-orang baik, dan harga-harga melonjak, pada bulan Shafar yang gersang, dibelenggu setiap penguasa darinya, kemudian mereka berjalan menuju parit-parit dan sesungguhnya itu memiliki syair-syair dan pohon-pohon, sungai-sungai menghalanginya, dan mereka dikalahkan di awal siang, orang-orang baik tampak, maka tidak bermanfaat bagi mereka tidur dan tidak istirahat, hingga dia masuk ke salah satu negeri dari negeri-negeri, maka ketetapan dan takdir mengejarnya.

Kemudian datanglah para pemanah, memutar dengan berjalan kaki, untuk membunuh para kesatria, dan menawan para pelindung, dan membinasakan orang-orang yang sesat, di sanalah dia tertangkap di bagian atas air-air, kemudian agama rusak dan urusan-urusan terbalik, dan Zabur dikufurkan, dan jembatan-jembatan diputus, maka tidak akan selamat kecuali orang yang berada di pulau-pulau laut, kemudian biji-bijian rusak, dan orang-orang Arab badui muncul, tidak ada di antara mereka yang cacat, terhadap ahli kefasikan dan keraguan, di zaman yang sulit, seandainya kaum itu memiliki malu dan tidak berguna angan-angan. Mereka berkata: Kemudian apa wahai Sathih? Dia berkata: Kemudian akan muncul seorang laki-laki dari ahli Yaman, seperti setan, Allah menghilangkan di atas kepalanya fitnah-fitnah.

Dan ini adalah atsar yang aneh, kami menuliskannya karena keanehannya dan apa yang terkandung di dalamnya dari fitnah-fitnah dan peperangan-peperangan. Dan telah disebutkan sebelumnya kisah Syiqq dan Sathih dengan Rabi’ah bin Nashr, raja Yaman, dan bagaimana mereka berdua memberi kabar gembira tentang keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demikian juga telah disebutkan sebelumnya kisah Sathih dengan keponakan saudara perempuannya Abdul Masiih ketika raja Bani Sasan mengutusnya karena retak iwan (istana Kisra) dan padamnya api-api dan mimpi Mubadzan, dan itu terjadi pada malam kelahiran orang yang dengan syariatnya menghapus seluruh agama-agama.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 9 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB